Busana Tradisional Dayak Taman

Penulis Aat Soeratin, Jonny Purba Pada awalnya orang Dayak Taman mulai mengenal pakaian yang disebut king baba (king = cawat; baba = laki-laki) untuk laki-laki, clan king bibinge untuk perempuan (bibinge = wanita). Pakaian tersebut terbuat dari kulit kayu yang diproses hingga menjadi lunak seperti kain. Kulit kayu yang bisa difungsikan sebagai kain untuk membuat cawat, celana, baju, clan selimut itu disebut kapua atau ampuro. Namun kebudayaan kelompok etnik lain yang datang bergelombang menciptakan akulturasi yang setidaknya juga berimbas pada perkembangan tata busana masyarakat Dayak Taman. Maka jenis busana king baba clan king bibinge kini sudah hampir tak tampak dipergunakan lagi, kecuali dibuat sebagai hiasan atau perlengkapan kesenian clan, tak jarang, untuk koleksi cendera mata. Masyarakat Dayak Taman pun mengenal teknik menenun untuk membuat busana. Bahkan hingga kini masyarakat Dayak Taman dikenal sebagai penenun yang terampil. Dulu, yang ditenun adalah serat benang yang dihasilkan dari kulit pohon tengang. Warna dasar serat yang kuat clan liat ini coklat sangat muda. Untuk memperoleh warna hitam atau merah hati, warna yang dominan pada tenunan tradisional Dayak Taman, serat tengang itu dicelup dengan getah pohon yang dilarutkan dalam air. Tenunan yang beredar sekarang dengan warna-warna kuning, merah muda, putih, clan sebagainya, dibuat dari benang kapas yang diperoleh dari luar daerah. Kini telah sangat jarang dijumpai tenunan yang dibuat dari serat tengang sehingga busana adat masyarakat Taman pun menggunakan tenunan benang kapas. Busana Pengantin Ada dua jenis busana adat tradisional yang biasa dipakai oleh pengantin dalam masyarakat Dayak Taman. Kedua macam busana itu disebut baju burai king burai clan baju manik king manik. Baju burai king burai dipakai oleh para pendamping pengantin sedangkan kedua mempelai mengenakan baju manik king manik. Baju burai king burai terbuat dari bahan beludru berwarna hitam. Dibentuk seperti kebaya atau rompi panjang mirip baju tanpa lengan. Sebagai hiasannya dijahitkan kulit kerang kecil berwarna putih disusun membentuk motif daun dan bunga. Hiasan ini diterapkan pada seluruh permukaan kain namun masih menyisakan bidang polos sehingga masih tampak kain dasarnya. Kini, kulit kerang atau keong kecil, yang konon harus didatangkan dari Kalimantan Selatan itu, sulit didapatkan sehingga sebagai gantinya dipakai kancing kecil berwarna putih mengkilap. Sebagai busana bawahnya, kaum perempuan mengenakan

semacam rok yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut, dari bahan yang sama dengan baju, juga diberi hiasan sejenis dengan hiasan bajunya. Sedangkan para lelaki memakai celana panjang sebatas lutut, juga dari kain yang sama, dan memakai semacam dodot dari kain yang telah diberi hiasan. Baju manik king manik bisa dikatakan sebagai pengembangan dari baju burai king burai. Hiasan baju manik king manik adalah rangkaian manik-manik halus yang menutup hampir seluruh bidang baju sehingga kain dasarnya nyaris tak tampak lagi. Pada seputar ujung bawah baju atau rok digantungkan untaian uang logam perak sehingga baju manik king manik lebih berat ketimbang baju burai king burai. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik, jelas, dibutuhkan kesabaran, ketelitian, clan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi daripada baju burai king burai. Maka, tak mengherankan, jika mempelai mengenakan baju manik king manik sedangkan para pendamping pengantin "hanya" memakai baju burai king burai. Sebagai pelengkap busana, pada masyarakat Dayak Taman dikenal pula berbagai ragam perhiasan berupa ikat kepala, topi atau kopiah, subang penghias telinga, kalung, gelanggelang, dan sebagainya. Penghias kepala clan rambut kaum wanita disebut tengkulas yang dibuat dari kain bermotif kembang-kembang, garis-garis diagonal dan horisontal berbentuk wajik, atau batik, clan lebih disukai yang berwarna mencolok: merah, hitam atau kuning. Jika tengkulas itu sepenuhnya dibuat dari anyaman untaian manik-manik disebut indulu manik. Pada tengkulas atau indulu manik ditambahkan bulu burung ruai, sejenis burung merak yang hidup di haerah hulu Kapuas. Untuk lelaki dikenal semacam topi yang bernama kambu manik dan kambu pirak. Kambu manik dibuat dari jalinan serat sejenis pohon pandan, atau semacam rumput, atau dari rotan yang diserit tipis clan pipih, yang dianyam menjadi bentuk topi. Lalu diimbuhkan untaian manik sepenuh bidang kambu. Sedangkan kambu pirak dibuat dari lempengan tipis logam perak yang dibentuk menjadi topi kemudian ditatahkan - menjadi bentuk kerawang, tapi bisa juga hanya takikan yang tidak tembus motif-motif bunga dan dedaunan pada permukaan luar kambu. Sebagai pemanis disematkan bulu burung ruai sekeliling kambu pirak itu. Bulu burung ruai yang disematkan pada tengkulas, indulu manik, maupun kambu, disebut tajuk bulu aruae. Penghias telinga berupa subang disebut poosong. Dulu, kaum wanita clan para pria memakai poosong, tapi kini hampir tak ada lelaki, juga sangat sedikit para perempuan, yang memakainya. Poosong dibuat dari kayu yang dibentuk bulat berdiameter 3 - 6 cm, dengan ketebalan, lebih-kurang, 1 cm. Kemudian diukir dan dilapisi plat emas, perak, perunggu/tembaga, atau kaca. Poosong yang tidak berlapis logam disebut poosong surat, yang dilapisi dengan emas dinamai poosong emas. Poosong pernah dianggap sebagai identitas wanita dayak Taman. Cuping telinga yang dipasangi poosong menjadi lebar,

Bahan clan hiasannya sama dengan baju. Hiasan manik-manik yang mengisi seluruh bidang membuat baju manik king manik lebih berat daripada baju burai king burai. kalung yang biasa dipakai perempuan dan lelaki. masyarakat Dayak Taman juga menciptakan beberapa jenis busana untuk pelbagai keperluan acara adat. Gelang itu disebut tangkalae atau sumpae. Ada beberapa macam model: baju kuurung sapek tangan yaitu baju kuurung tidak berlengan. sehingga nampak sangat unik dan khas. Jika tali penguntainya juga dibuat dari kawat logam perak. Misalnya saja kalong manik pirak. pada masyarakat Dayak Taman. Ada beberapa macam kalung. Kalung ini dibuat dari logam perak yang dicairkan kemudian dicetak pada solongsong bambu berdiameter kecil. Model baju kuurung .menggelayut. antara lain. Rotan yang sudah dibelah dimasukkan pada lobang "manik-manik perak" itu. Ikat pinggang untuk mempercantik penampilan dinamai sasawak. dua macam sasawak: sasawak lampit karumut dan sasawak tali murung. tapi umumnya hanya dipakai perempuan. clan yang dari jalinan tali ijuk dikenal sebagai tangkalae ijuk. Busana Adat Lainnya Meskipun kini sudah jarang ditemukan. Ada beberapa macam gelang-gelang yang biasanya dipakai pada upacara adat. kiri clan kanan. Perak dilebur hingga cair kemudian dicetak menjadi semacam manik-manik. dan galang gading yang dibuat dari gading gajah. Gelanggelang ini biasanya dipakai saat upacara adat keagamaan. ketelitian dan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi dari baju burai king burai. Ada juga yang dinamakan kalong manik lawang. baju kuurung dokot tangan yakni baju kuurung lengan pendek. seperti galang bontok yang dibuat dari perak. Kalung ini dipakai saat upacara adat. Pada seputar ujung rok dan baju digantungkan untaian logam perak. penghias leher. Di antaranya adalah bulang (baju) kuurung. Yang dibuat dari kayu tapang dinamai tangkalae tapang. Bagian depan rok bawah baju manik king manik yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. ikat pinggang itu disebut sasawak tali murung. Lalu dibekukan dan dikalungkan pada leher. bila terbuat dari untaian manik disebut tangkalae manik. Dibuat dari manikmanik yang diuntai oleh tali akar tengang. galang pasan berupa anyaman serat tumbuhan. Sasawak lampit karumut dipakai oleh kaum perempuan. Dikenal. Kaum lelaki memakai satu hingga tiga buah gelang pada bagian lengan di atas siku. galang manik yaitu untaian manik-manik pada serat daun nenas. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik jelas dibutuhkan kesabaran. Dibuat dari logam perak clan rotan. clan baju kuurung langke tangan ialah baju kuurung lengan panjang.

Dahulu. Yang dipakai oleh para balien wanita disebut bulang kalaawat. Sebagai kancing untuk mempertemukan kedua sisi baju dibuat dari tali kain berwarna. baju kalaawat ini dipakai oleh setiap wanita remaja. Kain berupa pita berwarna lain daripada warna bajunya dijahitkan pada bagian tepi baju. baju kuurung hanya dipakai oleh para balien (dukun) dengan memilih warna hitam clan pada bagian-bagian pinggir bajunya diberi les atau pita kain warna merah yang lebarnya sekitar 3 cm. dewasa. Ketika masyarakat dayak Taman baru mengenal baju dari kulit kayu modelnya berbentuk baju kuurung. yang kerap digunakan pada peristiwa-peristiwa penting sepertiperhelatan adat atau perkawinan. agaknya. Dari berbagai ragam busana tradisional yang dimiliki masyarakat Dayak Taman. Yada pita itu dipasang kancing-kancing yang hanya berfungsi sebagai hiasan. yang paling popular sehingga hampir setiap keluarga Dayak Taman memilikinya. Terutama baju burai king burai. Bentuknya sama dengan bulang kuurung hanya bagian depannya terbelah seperti kemeja pria biasa. Baju berlubang leher bentuk bulat atau segitiga ini tidak berkerah clan polos tidak bersaku. . clan orang tua. baju burai king burai clan baju manik king manik. Sekarang.sesungguhnya sudah tua. Sekarang hanya dipakai oleh dukun-dukun wanita. clan berlengan pendek. dan wanita lanjut usia.

.

Ada dua cara menata rambut yang disebut galung malang babuntut dan galung malang. belini dan friend ship. Warna pakaian ini biasanya dipilih yang muda. baju kiyama. tanpa kantong. Buntut pada sanggul menunjukkan pemakainya masih gadis. Dilengkapi kantong tiga buah. dari bahan kain poplin babalur (bergaris-garis vertikal) atau tetoron. hanya tanpa saku. Warna yang digunakan oleh remaja lebih mencolok. kebaya biasa yang diberi variasi kain yang memanjang di bagian depan yang dinamakan sawiwi atau sujab selebar 10 cm. kuning muda. kain satin (kupiah Padang) atau kupiah jangang. Fungsinya untuk menolak bahaya atau maksud-maksud jahat lainnya. di depan dada dan kiri-kanan bawah dengan model masuk (bukan kantong tempel). Menjadi aturan. Ujung tangan dan kantong diberi piIit (les) dengan warna berbeda dari bahan baju. Alas kakinya ada berbagai jenis. Pasangannya disebut celana kiyama memiliki bentuk sederhana. Menjadi kebiasaan di daerah ini setiap perempuan menata rambutnya dengan cara disanggul (galung). Laki-laki tua Banjar sehari-hari mengenakan baju palimbangan. Pada waktu bepergian mereka mengenakan baju kurung basisit. kain Pagatan. Lengan baju sampai pergelangan tangan. Tetapi sekarang banyak dipakai kain wool. Alas kakinya adalah selop dari beludru dan berkerudung kain sutra atau sasirangan. yang lazim disebut tapih kaling. dan selop. yaitu sabuk air guci (payet) dan sabuk kain tenun Pegatan dengan berbagai pilihan warna. Motif ini melambangkan sikap waspada. dan jenis lain yang . Bagian tumpal sabuk yang bermotif pucuk rebung harus diletakkan di belakang. dan krem. Pada saat-saat tertentu kelengkapan pakaian ini ditambah dengan tapih (kain sarung) yang disampirkan di bahu. Bentuknya sama dengan pantalon biasa. kalau mengenakan jas tutup harus bersabuk di pinggang. Baju kiyama berbentuk baju lengan panjang dengan kerah berlipat neyerupai jas. seperi biru muda. sejenis sarung terbuat dari katun atau sutra bermotif garis-garis melintang dan membujur. Kantongnya ada tiga buah. Bagian dada terbelah berkancing tiga. Mengikatnya harus mengikuti pola yang berlaku. yaitu kemeja berlengan panjang dengan leher baju bulat tanpa kerah dilengkapi dengan kancing lima dan berkantong tiga buah. lurus tanpa kantong. Untuk wanita dewasa dikenakan baju kubaya basawiwi (basujab). Baju ini dipadukan dengan celana panjang (salawar panjang). Untuk mengikat digunakan tali yang dimasukkan pada lubang (uluh-uluh). Sedangkan dalam acara-acara resmi seperti menghadiri upacara adat salawar diganti dengan tapih. Sebagai penutup kepala digunakan kopiah (kupiah) dari kain beludru. dan jenis lain yang agak tebal. Sebagai pasangannya dikenakan baju taluk balanga (kemeja lengan panjang) dengan leher baju bulat dan sedikit mencuat ke atas. ekstrimin. Tutup kepala ini terbuat dari bahan beludru. Yang kerap dipakai para remaja dan orang tua kaum perempuan Banjar adalah baju kubaya (kebaya) berpasangan dengan tapih batik bakarung (kain batik). sandal tali silang. yaitu lam jalalah. dua di bagian bawah kiri dan kanan. Bahan baju dari kain lena. berbentuk segi tiga. salawar kiyama dan sandal silang. Sanggul ini berbentuk bundar seperti angka delapan. ujungnya diberi hiasan tiga biji kancing .Busana Tradisional Masyarakat Banjar Penulis Dewi Indrawati Busana tradisional yang biasa dipakai sehari-hari oleh remaja dan orang dewasa kaum lelaki Banjar adalah salawar panjang (celana panjang) yang menutup kaki sampai ke mata kaki. Sebagai tutup kepala dikenakan laung tajak siak. Lehernya bundar dengan kerah kecil agak tegak. yang mengacu pada lam alif dalam Al-Qur`an. dominan warna kuning. baju yang dilengkapi dengan tali pengikat di belakang leher dan kedua ujung lengan. biasanya dipilih yang kontras dengan warna baju. satu di dada kiri. tajam pemandangan dan kekuasaan yang tinggi. Ada dua pilihan sabuk. Pasangannya digunakan tapih. Busana Upacara Adat Dalam menghadiri upacara resmi para lelaki remaja sampai dewasa mengenakan baju jas tutup. Baju ini berkancing lima biji. Bagi laki-laki dewasa yang ingin bepergian mengenakan kopiah hitam. yaitu sandal kalipik.

Sebagai pengikat digunakan tali wenang berupa kain berwarna. bunga melati yang diatur berbaris. Sebagai hiasan digunakan sulaman benang emas dan air guci dengan motif pucuk rebung. Masyarakat Hindu dan Jawa banyak mempengaruhi pemakaian busana ini. Kaki mengenakan selop dari beludru. Perhiasannya berupa samban. Dikenakan sarung dan penutup pinggang (tali gapu) berhiaskan air guci. bunga mawar merah dan bunga melati. dengan segitiga lebih tinggi. Kemudian keris yang dihiasi bogam bermotif bunga merah diselipkan di pinggang. kalung. bunga jepun berbentuk jepitan. untaian metalik. untaian bunga depan dan belakang. Ornamen lain untuk rambut antara lain baquet dengan pita rambut. Mempelai laki-laki mengenakan kemeja putih lengan pendek. Warna laung tajak siak harus sama dengan warna sabuk yang dikenakan. serta bangle dipakai di lengan atas dan pergelangan kaki terbuat dari karet berbentuk lekuk akar atau irisan buncis. Galang (gelang) karuncung melingkar di lengan. kalung bermotif bunga-bungaan. Kemudian dikenakan jas terbuka tanpa kancing. Bagi kaum perempuan dalam upacara resmi dikenakan baju kurung basisit lengkap dengan tapihnya. Sepasang pengantin ini dipersandingkan di ba-tatai. . Pakaian Pengantin Baamar Galung Pancaran Matahari merupakan pakaian pengantin yang paling digemari oleh semua golongan masyarakat Banjar. dan air guci. Pantalon terbuat dari bahan dan warna yang sama dengan jas. Rambutnya disanggul model amar galung bertahtakan mahkota dihias dengan kembang goyang. yang dipenuhi oleh rangkaian bunga (palimbaian). Kepalanya ditutup dengan kakamban/serudung (kerudung) berbentuk segi empat.agak keras. Kalung panjang bogam dan liris-liris bunga. Cincin dari bunga mayang. dari kain sutra amban (sutra tipis) atau kain sasirangan yang dihiasi motif gigi haruan pada kedua sisinya. Baju ini dikombinasi dengan tapih Lasem. Pada bagian dada dihias renda menutupi semua kancing. Kakinya beralaskan selop beludru bersulam benang emas. Pagatan. Kelengkapan lainnya meliputi kerabu menganyun. terdiri dari daun sirih. Aksesori penghias rambut terdiri dari kembang goyang (kambang goyang) dibedakan antara yang berapun (berumpun) dan tunggal berbentuk melati sebagai lambang kesucian. sedangkan jari manisnya berhias cincin litring. yaitu mantel sempit berhias yang berfungsi untuk menutup dada. Bagian depan dihias dengan berbagai hiasan diikat di bagian belakang dengan buhul lam jalalah. dan untaian bunga warna keemasan. Bahan baju dapat dibuat dari kain sutra atau sasirangan. Sementara kalung samban rangkap tiga dan kalung marjan menghiasi bagian leher. sabuk pinggang warna emas. Kepalanya dibalut destar model siak melayu. Mempelai wanita mengenakan baju poko berlengan pendek ditutupi dengan kida-kida. Hiasan ini ditancapkan pada sanggul. Disebut baju kurung basisit karena pada bagian leher dan tangan dilengkapi tali pengikat (tali penyisit). Sabuk berhias air guci dengan motif lelipan dipakai sebagai simbol kekuasaan dan kemuliaan. Pada telinga dipasang anting-anting beruntai. Terakhir dikenakan selop pada kedua kakinya dari bahan beludru dan kulit. Pemakaiannya rnulai dikembangkan dalam masyarakat Banjar sejak abad XIX.

Rompi sederhana ini dalam bahasa Ngaju disebut sangkarut. gelang. harimau akar. Hal itu nyata terlihat dengan berkembangnya seni berbusana masyarakat asli Pulau Kalimantan ini.bagi para pemuka kelompok. Bahan pewarna itu secara kreatif diolah dari yang tersedia pada alam sekitar mereka. gigi dan taring binatang dirangkai menjadi kalung. tak diberi hiasan. Keyakinan dan alam mitologi juga memberi inspirasi pada penciptaan ragam corak hias busana adat sehingga gambar-gambar itu. Setelah dianggap halus "kain" itu dipotong untuk dibuat baju dan celana. menjadi corak hias busana adat. yang bermakna sangat filosofis. warna merah dari buah rotan. giwang dari kayu keras. melahirkan apa yang kemudian dikenal sebagai agama Hindu Kaharingan. para tetua adat. Corak hias ini sangat berarti bagi masyarakat Dayak Ngaju sehingga busana adat untuk upacaraupacara penting . bagian depannya ditutup lembaran kain nyamu berbentuk persegi panjang. Misalnya saja. dan sebagainya. kemudian kain tenun halus. misalnya. Dan kesederhanaan pakaian kulit kayu itu kemudian memancarkan esensi keindahan karena imbuhan warnawarni flora dan fauna yang ditambahkan sebagai pelengkap busana. gelang dibikin dari tulang binatang buruan. Maka tampillah stilasi bentuk flora dan fauna.misalnya upacara tiwah. mengusik hasrat masyarakat Dayak Ngaju untuk "mempercantik" penampilan. Salah satu mitologi masyarakat Dayak Ngaju yang terkenal adalah tentang penciptaan alam yang melahirkan simbolisasi "pohon hayat" atau "pohon kehidupan" dalam bentuk corak hias yang dikenal dengan nama batang goring. kemudian desain yang tak lagi sekadar fungsional. warna kuning dari kunyit. dan berbagai aksesori lainnya yang mendaurulangkan limbah keseharian mereka. kalung. kepala suku. upacara meminta hujan. lalu tenunan serat alam yang "kasar". yang konon telah bangkit pada hati setiap manusia sejak ribuan tahun silam. Pada perkembangan selanjutnya masyarakat Dayak Ngaju pun mulai membubuhkan warna dan corak hias pada busana mereka. tak pula diwarnai. Maka baju kulit kayu sederhana itu pun lalu dilengkapi dengan aksesori ikat kepala (salutup hatue untuk kaum lelaki dan sal utup bawi untuk para perempuan). Busana Kulit Kayu Beratus tahun lalu masyarakat Dayak membuat busana dengan bahan dasar kulit kayu yang disebut kulit nyamu. Pengaruh agama Hindu pada kepercayaan asal masyarakat Ngaju. Awalnya kulit kayu. Sinkretisme itu melahirkan pelbagai keyakinan dan mitologi dan mengilhami lahirnya corak hias naga. Bajunya berupa rompi unisex tanpa hiasan apapun. Selain itu. warna asli kayu. dan sebagainya. sehingga kesannya sangat alamiah. Akan tetapi naluri berdandan. Kulit kayu dari pohon keras itu ditempa dengan pemukul semacam palu kayu hingga menjadi lemas seperti kain. upacara pengobatan belian obat kelengkapannya adalah busana dengan corak hias batang garing.berbeda untuk perempuan dan lelaki . . Model busananya sangatlah sederhana dan semata fungsional. warna hitam dari jelaga. selain tampil artistik.Busana Tradisional Dayak Ngaju Mengalirnya waktu dan berbaurnya pelbagai budaya menyebabkan perkembangan estetika masyarakat Dayak Ngaju yang semakin bergeser dari nilai-nilai asalnya meski tak menghilangkan substansinya. diatur pula pemakaian corak hias busana adat . akar pohon. yang cenderung animistik. Celananya adalah cawat yang. Busana itu berwarna coklat muda. yang disebut ewah. warna putih dari tanah putih dicampur air. untuk mengantar ruh manusia yang meninggal dunia ke peristirahatannya. burung. rajah (tatoo) pada bagian-bagian tubuh tertentu. ketika dikenakan. semua itu adalah fenomena yang menyiratkan bergesernya nilai-nilai tata cara berbusana dan seni berdandan masyarakat Dayak Ngaju. giwang (suwang). bunga. Corak hias yang digambarkan pada busana juga diilhami oleh apa yang mereka lihat di alam sekelilingnya. dedaunan. pun punya makna simbolik. manusia. Biji-bijian. yang bahannya juga dipungut dari alam sekitar. dalam kepercayaan Kaharingan. kulit kerang. panglima perang. dan ahli pengobatan.

Busana kaum perempuan terdiri dari baju kurung ngasuhui berlengan panjang atau pendek. harimau akar. atau cendera mata. memberikan apresiasi positif terhadap bahan busana yang sebelumnya tidak ada pada khasanah karya tenun mereka itu. yang pada bagian bawahnya diberi corak hias stilasi bentuk flora atau fauna. melengkapi yang sebelumnya telah dibuat masyarakat Ngaju dari biji-bijian. berhiaskan gambar pewarna alam. Dan aksesori yang dikenakannya adalah kalung manik-manik. kini diolah dengan teknik yang memerlukan kesabaran dan konsentrasi tinggi. Rancangan dan fungsi busana pun turut berkembang. Betapa tidak. manusia. karena ternyata alam Nusatara yang kaya raya juga menyediakan kapas dan sutra. sehingga "kain" yang dihasilkan menjadi beragam. juga dari beludru atau satin. dan tulang. jenis rumputrumputan. Busana pengantin. Selain untuk aksesori. Masyarakat Ngaju. dan tombak. diperkenalkan kepada masyarakat Ngaju oleh orang-orang Bugis. Hasilnya adalah tata busana yang memadukan kulit kayu. Pakaian tradisional masyarakat Ngaju yang sekarang dianggap sebagai busana daerah Kalimantan Tengah untuk pelbagai upacara adat adalah pengembangan dari busana tradisonal masa lampau. konon. atau sutra. burung enggang. dari kain yang sama yang juga diberi corak hias berupa penggayaan bentuk flora atau fauna. Celananya disebut selawar gobeh. Dari kulit kayu yang telah dihaluskan mereka membuat serat yang dicelup oleh bahan pewarna alam sehingga dihasilkan benang yang tak tunggal warna. lawung bawi. akar tumbuhan. pakaian acara-acara adat. Akan tetapi. dan anting-anting atau suwang. Mereka kemudian melirik rotan. awan. Akan tetapi corak hias dan modelnya tidak bergeser jauh dari bentuk asalnya. untuk kostum tarian. hiasannya tetap mengekspresikan keakraban mereka dengan alam. celana . dari kain yang sewarna dengan baju dengan sehelai bulu burung haruei yang diselipkan pada ikat kepala bagian belakang. diberi hiasan. kayu. ular. Mereka pun lalu menciptakan alat penjalin untuk "merangkai" serat demi serat menjadi bentangan bahan busana untuk baju. Baju kaum lelaki disebut baju palembangan. ikat kepala. keramik. Dan kini pucuk rebung. Eksplorasi terus dilakukan untuk mencari bahan-bahan lain yang bisa dibuat benang. umpamanya saja. Corak hiasnya masih menampilkan alam flora. Busana Kain Tenun Halus Para pedagang Gujarat dari India yang datang ke Nusantara membawa serta kain-kain tenun halus sebagai barang dagangan. Maka kulit kayu yang semula hanya ditempa menjadi lembaran-lembaran "kain". kostum taritarian. Jenis-jenis busana seperti ini sekarang pun masih bisa dibuat untuk berbagai keperluan. jalinan serat alam. manikmanik itu juga kemudian diaplikasikan menjadi hiasan busana. model baju pria Melayu tapi berkerah. dan aplikasi manik-manik dan arguci. koleksi museum. dari kain satin atau beludru. sumpit. Orang-orang Cina dan India memperkenalkan manik-manik yang terbuat dari logam. Kain-kain tersebut ditenun dari serat kapas atau sutra. dan mitologi. dan sebagainya. Pada kerah. celana. terutama yang bermukim di daerah pesisir dan pusat kerajaan.Busana Jalinan Serat Alam Inovasi yang paling signifikan pada rancangan busana masyarakat Dayak adalah penguasaan keterampilan menjalin serat alam. ujung lengan baju. Temuan-temuan baru itu kemudian dikembangkan lagi secara kreatif oleh para perancang busana masyarakat Ngaju. dan kelengkapan lainnya. kebanyakan dibuat dari kain beludru. Paduannya rok panjang sebatas betis. Teknik menenun. fauna. Umpamanya saja sangkarut perang dari jalinan rotan (sangkarut perang) untuk penahan tusukan anak panah. batang garing. disebut salui. dan bagian dada. Maka diadaptasilah teknik menenun kain halus itu dan kreativitas para penenun masyarakat Ngaju kemudian melahirkan juga kain tenun halus. Maka busana masyarakat Ngaju jadi semakin ornamentik dan semarak warna. tapi diperluas untuk keperluan lainnya. Rambut yang disanggul bentuk sanggul lipat atau dibiarkan terurai dihias ikat kepala. satin. Busana tradisional masyarakat Ngaju yang beredar sekarang ini hampir seluruhnya dibuat dari kain tenun halus serat kapas atau sutra. tampil pula dalam ekspresi yang lain. Pakaian yang dibuat bukan lagi hanya untuk fungsi yang paling mendasar yakni baju dan celana untuk melindungi bagian tubuh yang dianggap paling penting saja.

Sedangkan penutup kepala dibuat dari kain yang dibentuk seperti peci atau kopiah yang disebut lawung siam.panjang "komprang" (tidak ketat) dari kain yang sama dengan bajunya. Penulis Aat Soeratin .

Busana Tradisional Kutai Kutai Tradional Dress Penulis Aat Soeratin, Jonny Purba Seperti telah disinggung di muka, masyarakat Kutai mengalami persentuhan budaya dengan masyarakat Bugis yang datang dan menetap di daerah pesisir. Akulturasi itu, antara lain, mewartakan adanya tradisi menenun yang ekspresinya sangat berlainan dengan yang telah dikenal oleh masyarakat asli Kalimantan Timur. Dan sejalan dengan luruhnya perbauran antar budaya terlahirlah beragam hasil tenunan yang menunjukkan keindahan tersendiri yang kemudian semakin memperkaya khasanah kain tenun Nusantara. Tenun sutra dengan ragam hias floral yang dikenal sebagai "Kain Samarinda" misalnya, masyhur sebagai hasil tenunan yang khas Kalimantan Timur. Seperti lazim berlaku pada setiap kelompok etnik manapun, berdasarkan fungsinya, jenis-jenis pakaian dapat dibedakan sebagai pakaian sehari-hari, pakaian kerja, pakaian bepergian, pakaian pesta/upacara adat, dan sebagainya. Masing-masing fungsi busana itu juga dapat dibedakan berdasarkan jenis kelamin, umur, dan status sosial pemakainya. Pakaian sehari-hari yang dikenakan masyarakat Kutai disesuaikan dengan suhu udara daerah itu yang relatif panas. Oleh karenanya dipilih kain yang tipis, namun tidak tembus pandang, dari bahan katun untuk baju, celana, kain panjang, yang dipakai sehari-hari. Busana keseharian khas masyarakat Kutai yang hingg sekarang masih sering dijumpai adalah pelembangan dan baju Cina. Baju pelembangan, yang modelnya seperti piyama, dipakai oleh kaum lelaki. Pakaian bawahnya adalah seluar sekoncong, celana panjang dengan pipa celana yang longgar agar tak terasa panas, atau kain sarung pelekat. Jika bepergian memakai ikat fepala, destar, dari kain batik. Akan tetapi kini amat jarang para lelaki Kutai yang sehari-harinya memakai destar. Kaum perempuannya mengenakan baju Cina, semacam kebaya tidak berkerah, berkancing lima buah dan dipasangi dua buah kantong/saku di kiri-kanan bagian bawah bajunya. Para gadis atau ibu-ibu muda memakai sarung caul, yaitu kain panjang batik yang sudah dijahit berbentuk sarung. Jika bepergian paduan busana itu dilengkapi dengan babat (kain pinggang) dari kain Samarinda. Sedangkan wanita lanjut usia biasanya memakai sarung pelekat. Agar tampil rapi, rambut kaum wanita disanggul bentuk gelung Kutai, dan diberi kerudung ketika bepergian. Busana tradisional Kutai, sebagian diantaranya, dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa dan Melayu. Pakaian adat tradisional inilah yang hingga kini relatif masih bertahan dari pengaruh perkembangan mode busana. Dan di antara beragam pakaian adat atau busana upacara, salah satu yang paling kerap dijumpai adalah pakaian pengantin yang dikenal sebagai baju takwo dan baju kustim. Baju Takwo Pakaian adat Kutai yang menunjukkan perbedaan yang mencolok dengan pakaian adat suku-suku lain di Kalimantan Timur ialah baju takwo. Dahulu, baju takwo adalah pakaian kaum bangsawan atau busana para penari saat mengikuti upacara adat. Akan tetapi kini, masyarakat banyak pun mengenakan baju takwo sebagai busana pengantin. Saat upacara pernikahan berlangsung, mempelai wanita memakai baju takwo. Bentuk baju takwo mirip jas tutup tapi berleher tinggi. Di bagian depannya diimbuhkan sepotong kain, disebut jelapah, yang menutup bagian tengah dada dari bawah leher hingga pinggul. Di bagian pinggir kiri dan kanan jelapah diimbuhkan lima pasang kancing, sedang pada bagian lehernya dipasang dua buah kancing. Baju takwo kerap dibuat dari kain katun, linen, atau beludru. Paduannya adalah kain panjang biasanya bermotif parang rusak yang bagian sisinya diberi ornamen berupa rumbai-rumbai keemasan. Kain panjang ini dipakai hingga menutup mata kaki dan dibebatkan sedemikian rupa sehingga sisi kain yang berumbai berlipat-lipat di bagian depan dan nampak artistik. Rambut mempelai wanita disanggul berbentuk gelung siput, dihiasi gerak

gempa (kembang goyang) berwujud bunga melati yang dibuat dari emas atau perak bersepuh emas. Selop atau alas kaki yang digunakan biasanya berwarna hitam atau coklat. Mempelai pria juga mengenakan baju takwo, dipadukan dengan celana panjang. Kain panjang yang sama motifnya dengan yang dipakai mempelai wanita difungsikan sebagai dodot. Kain itu dibebatkan seputar pinggang, bagian depannya hanya sebatas lutut dan bagian sisi yang berumbai menjuntai dari bagian belakang hingga ke mata kaki. Sebagai hiasan kepala dipakai sentorong, sejenis peci atau kopiah berbentuk bundar, tingginya 15 cm dan dibuat dari kain beludru hitam. Sedangkan selop yang dipakai berwarna coklat atau hitam. Mempelai pria juga mengenakan baju takwo, dipadukan dengan celana panjang. Kain panjang yang sama motifnya dengan yang dipakai mempelai wanita difungsikan sebagai dodot. Kain itu dibebatkan seputar pinggang, bagian depannya hanya sebatas lutut clan bagian sisi yang berumbai menjuntai dari bagian belakang hingga ke mata kaki. Sebagai hiasan kepala dipakai sentorong, sejenis peci atau kopiah berbentuk bundar, tingginya 15 cm dan dibuat dari kain beludru hitam. Sedangkan selop yang dipakai berwarna coklat atau hitam. Baju Kustim Busana pengantin yang sekarang biasa dipakai oleh golongan menengah-atas masyarakat Kutai disebut baju kustim. Nama kustim berasal dari kata "kostum" yang bermakna "baju tanda kebesaran". Bentuk baju kustim sama dengan baju takwo hanya saja untuk baju kustim pada sisi jelapah, leher baju, dan ujung lengan baju dihiaskan pasmen, yaitu sulaman stilasi bentuk bunga atau flora dari benang emas. Pasmen yang terbuat dari benang serat logam mulia (emas) tak bisa dikerjakan sembarang orang. Ada perajin khusus yang menekuni profesi membuat pasmen benang logam emas ini. Rambut wanita disanggul bentuk gelung siput, diimbuh hiasan kembang gempa. Prianya memakai sentorong dengan pasmen benang keemasan. Di bagian depan sentorong dipasang wapen, semacam lencana, atau lambang yang menunjukkan derajat sosial pemakainya. Alhasil, pasmen dan wapen inilah yang mebedakan baju takwo dan baju kustim sebagai busana pengantin masyarakat Kutai. Maka tak jarang pengantin Kutai masa kini menggunakan kedua jenis busana ini. Ketika akad nikah mereka mengenakan busana dengan baju takwo, dan tatkala perayaan pernikahan memakai pakaian pengantin berbaju kustim. BUSANA ADAT DAYAK BENUAQ Aat Soeratin J onny Purba Salah satu suku bangsa yang mendiami daerah hulu sungai Mahakam adalah suku bangsa Dayak Benuaq. Daerah persebarannya mencakup Kecamatan Danau Jempang, terutama di desa Tanjung Isuy, Pentat, Muara Nayan, dan Lempunah, serta sebagian di Kec. Tenggarong. Bahan yang terkenal untuk pakaian adat tradisional Dayak Benuaq adalah kain tenunan serat daun doyo (Curculigo latifolia). Secara almiah tumbuhan sejenis pandan ini berkembang dengan subur di daerah Tanjung Isuy. Dari tumbuhan inilah masyarakat Dayak Benuaq membuat benang yang kuat untuk ditenun. Daun doyo dipotong sepanjang 1-1,5 meter dan direndam di dalam air. Setelah daging daun hancur lalu seratnya diambil. Biasanya warna tenunan kain doyo (ulap doyo) memiliki tiga warna: merah, hitam, dan warna coklat muda. Ulap doyo dianggap sebagai tenun ikat yang sangat khas Dayak Benuaq. Motifnya stilasi dari bentuk flora, fauna, dan alam mitologi, sebagaimana lazimnya motif hias masyarakat Dayak lainnya. Pada bidang yang berwarna terang, pada kain bercorak hias itu muncul titik-titik hitam yang dihasilkan dari pengikatan sebelum dicelup bahan pewarna. Titik-titik hitam inilah yang hampir tak ditemui pada tenun ikat manapun di daerah lain. Dari kain tenun serat doyo ini dibuatlah destar, kopiah, baju, sarung, dan sebagainya.

Akulturasi dengan budaya lain juga meresap hingga ke pedalaman. Maka masyarakat Benuaq pun kemudian mengenal kain tenun kapas dengan warna-warni yang sangat kontras dengan warna serat tenun mereka. Dan dengan sangat kreatif masyarakat Benuaq mengaplikasikan kain-kain tersebut pada karya tenun ikat mereka. Hasilnya adalah busana upacara yang dibuat dari kombinasi tenunan serat doyo dengan kain warna-warni sebagai corak hias yang artistik, misalnya busana adat yang dipakai oleh para pemeliaten (ahli pengobatan tradisional). Busana Adat Dalam pelbagai upacara adat seperti misalnya upacara kematian, upacara pengobatan, upacara panen hasil bumi, dan sebagainya, kaum perempuan mengenakan ulap doyo yang berfungsi seperti kain panjang (tapeh). Agar bebas bergerak ulap ini diberi belahan yang jika dipakai belahan itu berada di bagian belakang. Ulap yang berbelah ini disebut ulap sela. Ulap yang dikenakan sehari-hari biasanya berwarna hitam sedangkan yang dikenakan saat mengikuti upacara adat, diberi hiasan kain perca warna-warni bermotif bunga atau dedaunan. Sebagai baju biasanya dipakai kebaya tanpa lengan atau yang berlengan panjang. Sedangkan kaum pria biasanya menggunakan tenunan serat doyo ini untuk baju tanpa lengan dan celana pendek. Dalam masyarakat Dayak masa lalu terjadi pelapisan sosial karena dulu masih terdapat raja pada setiap sukunya. Turunan para raja kemudian menurunkan para bangsawan yang disebut golongan mantiq, sedangkan masyarakat kebanyakan dinamakan kelompok merantikaq (keturunan orang-orang biasa). Golongan mantiq dan merantikaq dapat dibedakan dari ragam hias yang diimbuhkan pada pelbagai pelengkap acara adat. Misalnya motif jautn nguku. Jautn berarti awan, sedang nguku berarti berarak. Ragam hias ini menggambarkan kebesaran seseorang dalam suasana kebahagiaan. motif ini biasanya dilukis pada templaq/tinaq (tempat penyimpanan tulang-belulang jenazah) golongan bangsawan atau raja-araja. Atau motif waniq ngelukng. Waniq berarti lebah dan ngelukng berarti menyerupai sarang lebah. Maknanya, bahwa orang yang sudah mempunyai cukup harta benda dapat melaksanakan upacara kematian. Ragam hias ini dilukiskan pada templaq/ tinaq tempat tulang belulang orang mati untuk golongan orang merantikaq tapi bisa juga untuk golongan bangsawan. Kini tak ada lagi raja. Maka yang dianggap sebagai pemuka masyarakat adalah kepala adat, kepala suku, dan para ahli belian (ahli penyembuhan penyakit) yang disebut pemeliaten. Kepala adat suku Benuaq sekarang tampil lebih sederhana, hampir tidak nampak atribut tanda status pada busana yang dikenakannya. Mereka biasanya memakai destar atau leukng dari serat doyo atau kain biasa. Berbaju kemeja tanpa lengan dari kain serat doyo berwarna merah atau hitam. Dahulu kepala adat menggantungkan jimat-jimat, manik-manik, taring harimau dahan, taring beruang, dan patungpatung yang mempunyai kekuatan magis atau disebut tonoi. Dan memakai cawat atau cancut yang juga dibuat dari tenunan serat doyo. Kepala adat yang merangkap kepala suku mengenakan topi yang berhiaskan bulu burung enggang, baju perang dari kulit kayu atau kulit harimau dahan, memakai cawat, dan tanpa alas kaki. Perisai di tangan kiri dan tombak digengggam di tangan kanan. Di pinggangnya tesengkelit sebilah mandau perang (parang/golok panjang) yang hulunya dihiasi dengan aneka warna bulu burung. Sarung mandaunya berukir dan pada ujungnya juga dihias bulubulu burung yang indah. Para pemeliaten tampil dengan ekspresi lain. Mereka tidak mengenakan baju tapi di bagian dadanya disilangkan kalung manik-manik, taring binatang buruan, dan patung-patung kayu kecil (jorokng) yang dipercaya sebagai sebagai tonoi. Busana bawahannya berupa tapeh bel ian yaitu kain panjang serupa rok maksi yang menutup hingga mata kaki, dan diberi hiasan aplikasi berupa tempelan kain warnawarni motif floral yang sangat artistik. Pada pinggang dililitkan sempilit, kain panjang yang berhias pada ujungnya, dan berjuntai sepanjang kiri dan kanan kaki. Ragam hias pada tapeh dan sempilit belian juga menunjukkan tingkat pengetahuan atau "kesaktian" pemakainya. Jika terdapat hiasan berupa garis-garis pada bagian bawah tapeh menunjukkan bahwa pemeliaten itu berilmu tinggi.

Laukng berwarna hitam menandakan bahwa pemakainya (pemeliaten) mampu menangkal berbagai bentuk sihir hitam. Jika laukng hitam itu berimbuhkan garis-garis putih bermakna pemeliaten tersebut belum mampu menolak ilmu hitam. ragam hias. Di pergelangan tangannya dipakai gelang-gelang berukuran relatif besar. Busana adat. yang juga berfungsi sebagai musik pengiring saat upacara. Bunyi-bunyian magis sebagai musik repetitif ditimbulkan oleh beradunya gelang-gelang ketika pemeliaten menggucang-guncangkan tangannya.Untuk menahan tapeh dan sempilit dikenakan babat (semacam ikat pinggang) yang dihiasi dengan manikmanik. taring binatang. biasanya terbuat dari logam. Pemeliaten juga memakai destar (laukng) yang warnanya juga mempunyai arti simbolik. . dan uang logam kuno. dan perhiasan yang dikenakan pada pelbagai upacara adat itu adalah sarana untuk memudahkan hubungan dengan mahluk-mahluk gaib. Babat ini berfungsi pula sebagai tempat menyimpan pelbagai jimat penolak pengaruh jahat sihir hitam.

Busana yang biasa dikenakan oleh kaum wanita dalam melakukan aktivitas sehari-hari terdiri atas kain kololuncu dan baju susun dengan bagian tangan yang ditarik hingga ke pertengahan sikut. Hal ini dikarenakan Ternate dan Tidore yang secara administratif kini termasuk ke dalam wilayah kabupaten Maluku Utara. upacara injak tanah atau joko kaha. memperlihatkan adanya perbedaan cukup spesifik antar kelompok masyarakat yang secara sosial memiliki kedudukan yang berlainan. Busana yang dikenakan oleh sultan disebut manteren lamo yang terdiri atas celana panjang hitam dengan bis merah memanjang dari atas ke abawah. merupakan kawasan bekas kesultanan Ternate dan kesultanan Tidore. atau emas. Apalagi kehidupan mereka senantiasa diwarnai dengan berbagai acara seremonial. sedangkan giwang tidak boleh dipakai oleh mereka. berbeda dengan busana yang dipakai oleh kelompok masyarakat yang memiliki kedudukan sosial tinggi. sedangkan konde kecil biasanya dipakai oleh pembantu permaisuri. baik sebagai permasuri. Di samping itu. bros. Dihiasi dengan kelengkapan dan karakteristik lainnya. Selain itu. Baju koja tersebut biasanya berpasangan dengan celana panjang berwarna putih atau hitam. atau hijau muda dengan tangan yang berkancing sembilan di sebelah kiri dan kanannya. Baju tersebut umumnya berwarna polos. pada umumnya memang menggambarkan kesederhanaan. dan saku jas yang terletak di bagian luar berwarna merah. pembantu permaisuri. Selain busana adat yang disebutkan tadi. ada pula busana adat lainnya yang khusus dikenakan oleh kaum remaja putri dan remaja pria yang berasal dari golongan bangsawan. . berikut toala polulu di kepalanya. yakni kalung rantai emas yang dibuat dalam dua lingkaran. Kekhasan tersebut tampak dalam tata cara berbusana mereka. Sementara itu.upacara adat. Busana adat yang dipakai oleh remaja pria disebut baju koja. leher jas. Konon warna tersebut melambangkan keperkasaan dari pemakainya. atau diselaraskan dengan usia mereka. anting dua susun. dan upacara pengukuhan atau uko se bonofo. yang melambangkan status sosial dan usia dari orang yang memakainya. Konon warna tersebut untuk melambangkan jiwa muda dari para pemakainya yang masih remaja. Beberapa di antaranya yang masih dikenal hingga kini adalah upacara makan secara adat atau sidego. busana adat yang dikenakan oleh rakyat biasa untuk busana sehari-hari maupun busana yang dikenakan pada upacaraupacara adat. yakni semacam jubah panjang dengan warna-warna muda seperti biru muda dan kuning muda. Secara umum busana adat tradisional yang dikenakan oleh kaum pria yang berasal dari golongan bangsawan terdiri atas jubah panjang yang menjuntai hingga betis atau lutut. serta alas kaki yang disebut tarupa. oranye. dan ikat kepala. remaja contohnya. baju berbentuk jas tertutup dengan kancing besar terbuat dari perak berjumlah sembilan . mereka juga mengenakan hiasan lainnya yang berupa konde yang berukuran besar. serta kain panjang.Busana Tradisional Ternate dan Tidore Penulis Ria Andayani Somantri Gambaran fisik busana adat masyarakat Ternate dan Tidore. Busana yang dikenakan oleh masyarakat pada umumnya atau rakyat biasa ditandai dengan kesederhanaan dalam berbagai hal. Adapun busana adat untuk kaum wanita meliputi kebaya panjang dan kain panjang. Sudah tentu. keberadaan keturunan sultan di dalam lingkungan masyarakatnya memiliki gaya hidup yang khas. berupa upacara-upacara adat kesultanan pada masa itu maupun upacara yang berkaitan dengan siklus hidup manusia. dilengkapi dengan perhiasan yang disesuaikan dengan tingkatan sosial mereka. penampilan busana yang dikenakan oleh sultan tersebut dilengkapi dengan destar untuk menutup kepala. yang terbuat dari kain satin berwarna putih dengan pengikat pinggang yang terbuat dari emas. Sementara itu. Para remaja putri biasanya memakai busana yang terdiri atas kain panjang dan kimun gia kancing atau kebaya panjang berwarna kuning. celana panjang. dan peniti yang terbuat dari intan. berlian. ujung tangan. Perhiasan lainnya yang dikenakan oleh permaisuri tersebut meliputi kalung. Ada beberapa jenis busana yang dikenakan dalam upacara. mereka pun menyertakan berbagai perhiasan seperti taksuma. Busana yang dikenakan oleh istri sultan terdiri atas kebaya panjang atau kimun gia. Tidak lupa.

busana kerja pria biasanya digunakan pula sebagai pakaian sehari-hari untuk di rumah. Busana kerja yang digunakan oleh kaum pria terdiri atas kebaya popoh. yakni celana dari kain tenun berwartna jingga atau kuning. Sama halnya dengan busana wanita.Busana kerja dalam keadaan bersih. mereka pun hanya mengenakan kain songket dan baju susun. dan celana popoh. yakni celana setinggi betis yang berwarna hitam pula. yakni baju berwarna hitam yang panjangnya mencapai pinggul serta berlengan panjang. Adakalanya. Pada waktu mereka menghadiri berbagai upacara adat. . Adapun ketua adat yang memimpin upacara-upacara adat tersebut mengenakan jubah panjang yang mencapai betis berwarna kuning muda yang disebut takoa. busana yang dikenakan oleh kaum pria maupun wanitanya tidak berbeda. Kaum pria mengenakan celana panjang dan kemeja panjang. celana dino. yakni tutup kepala berwarna kuning muda. biasanya dipakai juga sebagai baju untuk di rumah. lengkap dengan lengso duhu. sedangkan kaum wanitanya mengenakan baju susun dan kain songket.

Kebaya manapal yang sudah tampak jelek atau sudah tidak pantas lagi untuk dikenakan di rumah. tapi kualitas bahan yang digunakan berbeda. melainkan tampak juga dalam busana seharihari. lengkap dengan kain pelekat. biasanya dipakai sebagai busana kerja yang disebut kebaya waong. yakni baju dalam atau kutang yang dipakai sebelum mengenakan baju atau kebaya hitam. masih ada lagi busana lain yang khususnya dipakai oleh untuk kaum wanita yang merupakan pendatang dari kepulauan Lease dan telah menetap di Ambon ratusan tahun lamanya. yang sudah tidak dipakai untuk berpergian oleh kaum wanita. Ada beberapa contoh busana yang pada zaman dahulu pernah menjadi busana sehari-hari yang digunakan untuk bekerja atau di rumah. Mereka biasanya mengenakan baju cele. lenso pinggang. celana yang dipakainya disebut celana Makasar yang panjangnya sedikit di bawah lutut dan sangat longgar. yakni sapu tangan berwarna putih yang kini telah jarang diletakkan di pinggang melainkan hanya dipegang saja. Kebaya manampal. Busana wanitanya terdiri atas baju dan kain hitam atau kebaya dan kain hitam. Pada saat itu busana hitam ini ditabukan atau dilarang digunakan. Jenis busana lain. Khusus untuk kaum pria yang telah lanjut usia. dipakai .Busana Tradisional Busana Tradisional Ambon Ambon Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Ambon merupakan ibukota propinsi Maluku yang berada di kawasan Maluku Tengah. yakni sejenis kebaya berlengan pendek. Selain busana sehari-hari yang telah disebutkan tadi. atau masyarakat menyebutnya baju cele tangan sepanggal. yakni kain hitam berhiaskan manik-manik yang disandang di bahu kiri. Sementara itu busana prianya terdiri atas baniang. Penampilan gaya berbusana warga masyarakat Ambon pada saat menghadiri upacara adat clan upacara keagamaan berbeda dengan yang dikenakan sehari-hari. khususnya dalam upacara sidi. Sementara itu kaum pria di Ambon mengenakan busana yang terdiri atas baju kurung yang berlengan pendek dan tidak berkancing. Dilengkapi dengan kaeng pikol. kebaya hitam. Celana kes atau hansop. Busana dalam upacara keagamaan biasanya lebih lengkap lagi. dengan leher agak tertutup. Pasangannya adalah celana panjang berikut topi yang dikenakan di kepala. Bila akan bepergian. mereka akan melengkapinya dengan sapu tangan. dilengkapi dengan celana kartou yakni celana yang pada bagian atasnya terdapat tali yang dapat ditarik dan diikatkan. dan celana panjang. keberadaannya tetap penting untuk diungkapkan sebagai gambaran kekhasan busana mereka di masa lalu. tidak hanya didominasi oleh busana yang dikenakan pada saat menghadiri upacaraupacara saja. kole. Walaupun model bajunya sama. biasanya terdiri atas baju baniang yakni baju berbentuk kemeja yang berlengan panjang dan berkancing. Untuk busana kerja di rumah atau dikebun. dari bagian leher ke arah dada terbelah sepanjang 15 sentimeter tanpa kancing. yaitu kebaya cita berlengan hingga sikut yang dijahit dengan cara menambal beberapa potong kain yang telah diatur dan disusun sedemikian rupa dengan rapih. jenis busananya masih tetap berupa kebaya cita berlengan panjang hingga ujung jari yang kemudian dilipat. Meskipun busana adat yang biasa dipakai dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari termasuk jarang digunakan lagi saat ini. baju cele tersebut dijahit dengan panjang lengan hingga sikut. Kecuali pada saat upacara sidi yakni upacara pengukuhan pemuda clan pemudi untuk menjadi pengiring Kristus yang setia. yakni celana anak-anak yang dibuat dari beraneka macam kain dan dijahit sesuai dengan selera masing-masing. Busana adat yang dikenakan dalam kesempatan tersebut biasanya hitam polos atau warna dasar hitam. Sedangkan busana yang dikenakan pada saat bepergian. Kebaya jenis ini bisanya berpasangan dengan kain palekat. Bila mereka akan bepergian. Keberadaan busana adat Ambon.

. pembersihan negeri. penerimaan tamu. Para tua-tua adat mengenakan baju hitam. celana hitam. yakni baju cele berlengan panjang dengan kancing pada pergelangan tangannya. lenso bodasi dililitkan di leher. patala disalempang di dada. Sedangkan pria dewasa lainnya hanya mengenakan baju hitam dan celana panjang hitam tanpa menggunakan alas kaki. dan topi. Hanya ada penambahan tertentu pada kelengkapan busana mereka. Busana raja terdiri atas baju hitam. dan seperangkat busana yang terdiri atas baju putih panjang. busana rok. celana panjang atau celana Makasar. ikat poro atau ikat pinggang. patala di pinggang. yang terdiri atas kebaya putih berlengan panjang dan berkancing pada pergelangannya. Begitu pula kaum wanitanya yang memakai baju hitam seperti baju cele . Adapun busana yang dikenakan pada saat berlangsung upacara adat seperti pelantikan raja. bersepatu dengan kaus kaki putih.oleh kaum remaja yang berasal dari golongan bangsawan diantaranya baju tangan kancing. salempang. dan lain-lain pada dasarnya hampir sama. sepatu berwarna putih. pending pengikat pinggang yang terbuat dari perak. dan kaus tangan berwarna putih.

Saat menghadiri upacara-upacara tersebut. yaitu hiasan dari cendrawasih yang telah dikeringkan dan menjadi hiasan yang diletakkan di kepala atau dahi. Pemakaiannya sangat bergantung pada kemampuan dari orang yang akan mengenakannya. yaitu kalung yang terdiri atas lima lapis dan diletakkan di bagian depan. memakai rantai maupun tidak. hitam kebirubiruan mencerminkan golo-ngan menengah. itupun terbatas pada kaum yang sudah berumur. ada kelengkapan khusus yarig senantiasa digunakan oleh kaum wanita dalam berbagai upacara. dan hitam. Tidak heran bila belusu yang beredar saat ini merupakan salah satu benda warisan dari nenek moyang mereka. yaitu anting-anting.terbatas pada gelang atau bel usu. Mengingat saat ini sudah tidak ada lagi pengrajin yang membuat gelang-gelang besar seperti itu. Artinya. Saat ini. ketentuan tersebut sudah tidak berlaku lagi. Meskipun jumlah mereka saat ini sudah mulai menyusut. Masyarakat menamakan kain tenunan seperti itu dengan sebutan tais maran. yakni untaian yang tergantung di belakang leher. berbagai kalung atau ngore. Kalaupun ada yang mengenakannya. keberadaannya tetap merupakan aset potensial yang dapat memberikan daya dukung positif bagi pelestarian dan pengembangan keberadaan busana adat tradisional di kawasan tersebut. keberadaan warna-warna tersebut memang memiliki makna tersendiri yang erat kaitannya dengan status sosial seseorang. dan lekbutir. yang menggantung dengan indah di telinga.Busana Tradisional Tanimbar Tanimbar Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Wilayah Tanimbar sejak duhulu dikenal sebagai sentra pengrajin busana tradisional di Kabupaten Maluku Tenggara. mereka menyempurnakan penampilannya dengan mengenakan sejumlah asesoris yang khas. maka belusu kini menjadi barang yang cukup langka. umumnya hampir tidak ada yang memakai perhiasan. pernikahan. Pada masa lalu. hitam kebiru-biruan. Misalnya noras aboyenan. dan sebagainya. setiap orang boleh mengenakan kain dengan warna apa saja. Kalaupun ada yang masih mengenakannya. yakni sinune dan somalea. yakni seperangkat busana terdiri atas kebaya dan kain tenun yang disebut tais matau atau tais wangin. Busana yang dipilih terdiri atas kutang liman malawan. meliputi sinune. belusu. upacara-upacara gerejani. Mereka biasanya menari dalam upacara penghormatan jenazah dan upacara pelepasan arwah orang-orang yang dihormati. Pada dasarnya. Busana adat wanita Tanimbar biasanya dipakai pada saat mereka menghadiri atau terlibat dalam penyelenggaraan upacara adat. pelepasan arwah. Misalnya. Adapun busana bagian bawahnya berupa kain sarung yang biasanya ditenun sendiri. somalea. busana adat masyarakat Tanimbar kini tidak lagi digunakan dalam kehidupan mereka sehari-hari. penghormatan jenazah. kaum wanita biasanya mengenakan busana adat yang khas. yakni baju sejenis kebaya untuk bagian atasnya. ada kalanya belusu pun dijadikan sebagai mas kawin. yang berlengan pendek maupun panjang. Selain itu. Berbagai kelengkapan busana dan perhiasan tradisional tersebut memang tidak mutlak digunakan. yakni selempang atau selendang yang disampirkan pada bahu sebelah kiri. . ketua adat misalnya. memang ada salah satu yang tampak paling lengkap yakni busana penari. serta lean. Di antara berbagai busana yang dikenakan oleh kaum wanita dalam sejumlah acara. Keberadaan belusu yang terbuat dari gading gajah ini cukup penting dalam kehidupan masyarakat Tanimbar. dan warna hitam melambangkan pemakainya adalah golongan rakyat biasa. atau barang bawaan seorang wanita sewaktu meninggalkan keluarganya untuk pindah dan menetap bersama suaminya. Warna dasar tais pada umumnya adalah coklat. Wanita Tanimbar dalam kehidupan sehari-hari. selain mengenakan busana adat juga memakai aneka perhiasan yang lengkap. ~ Kain tenun dengan warna dasar coklat melambangkan kedudukan pemakainya sebagai golongan bangsawan. Bahkan. yang bernuansa keagamaan ataupun yang berkaitan dengan siklus hidup manusia. Para penari yang terdiri atas kaum ibu tersebut. Meskipun begitu.

yakni selembar kain tenun yang diikatkan di pinggang. Kecenderungan yang tampak sekarang. Tidak lupa mereka pun menambahnya dengan berbagai kelengkapan busana lain yang sama khasnya dengan apa yang dikenakan oleh kaum wanita. atau ketua adat. Namun lebih dalam lagi. Konon pada masa lalu. atau para tua adat. tutuban ulu. prajurit. . walaupun hanya dengan menambahkan umpan yang diikatkan di pinggang. dan keperkasaan seorang pemimpin. misalnya yang membacakan syair dalam upacara tersebut. Melihat gambaran busana adat tradisonal masyarakat Tanimbar secara umum memang tidak hanya menampakkan fungsi alamiah semata. kaum pria tidak mengenakan busana adat selengkap itu pada berbagai upacara keagamaan atau upacara adat. kain penutup kepala.Sementara itu. pahlawan. Selain itu kepada jenazah dalam upacara adat pelepasan jenazah biasanya dipakaikann busana tradisional secara lengkap. berhiaskan somalea. tutuban ulu melambangkan keberanian. busana adat pria Tanimbar terdiri atas celana panjang dan kemeja panjang. kebesaran. yakni untuk melindungi anggota tubuh dari berbagai keadaan cuaca yang tidak menguntungkan. sinune. mengandung makna simbolis tertentu yang barangkali saat ini sudah mulai terlupakan keberadaannya. Kelengkapan tersebut meliputi umpan. Kecuali bagi mereka yang memiliki tugas khusus. Mereka sudah merasa berbusana tradisional.

Labu wanita ini terbuka sedikit pada pangkal leher guna memudahkan pemakaian sebab polanya tidak menyerupai kemeja atau blus yang lazim berkancing pada bagian depannya. coklat. Tatawarna kain Sikka umumnya tampil dalam nada-nada gelap seperti hitam atau biru tua dengan ragi yang lebih cerah berwarna putih. Dibidang agama tampak benar pengaruh Portugis dan Belanda yang membawa agama Katolik dan Protestan serta tatabusana barat yang dewasa ini sudah menjadi pakaian sehari-hari masyarakat. Pada bagian pinggang dikenakan utan atau utan werung yaitu sejenis sarung berwarna gelap. Kain atau baju penutup badan terdiri atas labu bertangan panjang. Seperti halnya dengan daerah-daerah lain di wilayah Nusa Tenggara Timur. kecuali mungkin pada halus tidaknya tenunan. dihiasi dengan ragam-ragam flora. Istilah untuk sarung selain utan adalah lipa. biasanya berwarna putih mirip kemeja gaya barat. bahkan di. bergaris biru melintang. Portugis. Bagianbagian busana wanita Sikka terdiri atas penutup badan berupa labu liman berun. mendiami daerah kabupaten Sikka di pulau Flores dengan kota terbesar sekaligus ibukota yaitu Maumere. Utan lewak. Selembar lensu sembar diselendangkan pada dada. Indonesia. Belanda. berbentuk mirip kemeja berlengan panjang terbuat dari sutera atau kain yang bagus mutunya. berwarna dasar gelap dengan paduan-paduan antara warna-warna merah. utan lewak. fauna dalam lajur-lajur bergaris. Arab dan India. Hitam misalnya biasanya dipakai untuk melayat orang meninggal. busana adat wanita Sikka tidak (lagi) mengenal perbedaan strata sosial yang mencolok. Destar. Dimasa lalu suku Sikka mengenal tingkatan sosial yakni bangsawan dan masyarakat umum. Warna-warna kain wanita melambangkan berbagai suasana hati atau kekuatan-kekuatan magis. Merah dan coklat melambangkan keagungan dan status sosial yang . tutup kepala pria terbuat dari kain batik soga dan dikenakan dengan pola ikatan tertentu sehingga ujungujungnya turun menempel pada kedua sisi wajah dekat telinga. yakni pada pembagian bidang-bidang dan corak yang diilhami oleh kain patola. Sedangkan pengaruh India amat nyata pula hasil tenunan. putih. Cina. Namun dewasa ini hal tersebut sudah ditinggalkan. Dimasa lalu bangsawan memakai lipa dengan ragi yang masih baru. kebudayaan masyarakat Sikka mencerminkan adanya pengaruhpengaruh asing seperti Bugis. Walaupun demikian masyarakat Sikka tetap mampu mempertahankan ungkapan budaya tradisionalnya lewat busana serta tatariasnya. ragi werung. jahitan dan ukiranukiran perangkat perhiasannya. kuning atau merah. arti harfiahnya adalah kain tiga lembar. bercorak flora atau fauna dalam teknik ikat lungsi. Kain sarung wanita. Busana Adat Wanita Seperti halnya pada kaum pria. Pada tatacara berbusana tampak jelas bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok antara keturunan ningrat dan rakyat. sejenis selendang yang diselempangkan melintang dada.Busana Tradisional Busana Tradisional Sikka Sikka Traditional Dress Penulis Biranul Anas Masyarakat Sikka atau suku Sikka. Diatas labu dikenakan dong. Busana Adat Pria Perangkat busana adat pria secara umum terdiri atas kain penutup badan dan penutup kepala. biru dan kuning secara melintang. Perhiasan yang penting tetapi jarang dikenakan adalah keris yang disisipkan pada pinggang sebagai pertanda keperkasaan dan kesaktian.

tinggi. Warna-warna yang gelap biasanya dipakai oleh orang tua. delapan dan seterusnya. Cara mengenakan utan selain sebagaimana tersebut di atas juga dengan menyampirkan sebagian pinggir kain di atas bahu dengan melintangkan tangan kanan (atau kiri sesuai pembawaan masing-masing) di bawah dada seperti hendak menjepit kain. Jumlah kalar gading dan perak (atau emas) biasanya genap. Perlambang warna dan cara-cara menyandang utan berlaku pula pada kaum pria Sikka. Pada pergelangan tangan dipakai kalar yang terbuat dari gading dan perak. Yakni dua atau empat gading dengan dua perak pada setiap tangan. sedangkan warna-warna cerah digemari oleh kaum muda. Demikian pula hal dengan warna dong. Penggunaanya disesuaikan dengan suasana peristiwa seperti upacara-upacara atau pesta-pesta adat. Hiasan kepala tersemat pada sanggul atau konde dalam bentuk tusuk konde biasanya terbuat dari ukiran keemasan. Perhiasan lainnya adalah kilo yang tergantung pada telinga. pesta dan sebagainya. apabila gelap mencerminkan duka. sebaliknya warna-warna muda adalah untuk suasana suka ria. . Paduan warna juga menunjuk pada usia. Kaum berada atau ningrat biasanya mengenakan lebih banyak namun tetap dalam bilangan genap seperti enam. Perhiasan pada rambut dewasa ini sudah amat bervariasi karena pengaruh-pengaruh dari sukusuku lainnya di Nusa Tenggara Timur.

tetapi komponen serta tampak keseluruhannya sama. Masyarakat Sumba cukup mampu mempertahankan kebudayaan aslinya ditengah-tengah arus pengaruh asing yang telah singgah di kepulauan Nusa Tenggara Timur sejak dahulu kala. ikan. naga. Warna hinggi juga . ragam-ragam hias ukiran-ukiran dan tekstil sampai dengan pembuatan perangkat busana seperti kain-kain hinggi dan lau serta perlengkapan perhiasan dan senjata. Jambul inilah dapat diletakkan di depan. kerbau sampai dengan corak-corak yang dipengaruhi oleh kebudayaan asing (Cina dan Belanda) yakni naga. Hinggi kombu dipakai pada pinggul dan diperkuat letaknya dengan sebuah ikat pinggang kulit yang lebar. Hinggi kaworu atau terkadang juga hinggi raukadama digunakan sebagai pelengkap. Khususnya yang terbuat dengan teknik pahikung disebut tiara pahudu. ekonomi serta religi suku sumba. ayam. Jambul di depan misalnya melambangkan kebijaksanaan dan kemandirian. Kesemuanya memiliki arti serta perlambang yang berangkat dari mitologi. Misalnya busana pria bangsawan biasanya terbuat dari kain-kain dan aksesoris yang lebih halus daripada kepunyaan rakyat jelata. Busana pria Sumba terdiri atas bagianbagian penutup kepala. bendera tiga warna. udang. Sumba Barat dan Sumba Timur. Dewasa ini perbedaan pada busana lebih ditunjukkan oleh tingkat kepentingan peristiwa seperti pada pesta-pesta adat. yang terbuat dalam teknik tenun ikat dan pahikung serta aplikasi muti dan hada terungkap berbagai perlambangan dalam konteks sosial. upacara-upacara perkawinan dan kematian dimana komponenkomponen busana yang dipakai adalah buatan baru. Dari kain-kain hinggi dan lau tersebut. setengah dewa. samping kiri atau samping kanan sesuai dengan maksud perlambang yang ingin dikemukakan. buaya. pesta-pesta dan sejenisnya. burung. Busana pria Sebagaimana telah disebutkan busana masyarakat Sumba dewasa mi cenderung lebih ditekankan pada tingkat kepentingan serta suasana lingkungan suatu kejadian daripada hirarki status sosial. penutup badan dan sejumlah penunjangnya berupa perhiasan dan senjata tajam. Menilik halhal tersebut maka pembahasan busana pria sumba ditujukan pada pakaian tradisional yang dikenakan pada peristiwa besar. Kepercayaan khas daerah Marapu. rumahrumah ibadat (umaratu) rumah-rumah adat dan tata cara rancang bangunnya. Sebagai penutup badan digunakan dua lembar hinggi yaitu hinggi kombu dan hinggi kaworu. Di Sumba Timur strata sosial antara kaum bangsawan (maramba).Busana Tradisional Sumba Timur East Sumba Traditional Dress Penulis Biranul Anas Pulau Sumba didiami oleh suku Sumba dan terbagi atas dua kabupaten. kuda. penyu. mahkota dan singa. masih amat hidup ditengah-tengah masyarakat Sumba ash. cumi-cumi. upacara. ular. Sedangkan busana lama atau usang biasanya dipakai di rumah atau untuk bekerja sehari-hari. rusa. Karena pada saat-saat seperti itulah ia tampil dalam keadaan terbaiknya. pemuka agama (kabisu) dan rakyat jelata (ata) masih berlaku. setengah leluhur. alam pikiran serta kepercayaan mendalam terhadap marapu. Ragam-ragam hias yang terdapat pada hinggi dan tiara terutama berkaitan dengan alam lingkungan mahluk hidup seperti abstraksi manusia (tengkorak). Di kepala dililitkan tiara patang. sejenis penutup kepala dengan lilitan dan ikatan tertentu yang menampilkan jambul. Namun masih ada perbedaan-perbedaan kecil. walaupun tidak setajam dimasa lalu dan jelas juga tidak pula tampak lagi secara nyata pada tata rias dan busananya. Marapu menjadi falsafah dasar bagi berbagai ungkapan budaya Sumba mulai dari upacara-upacara adat. Hinggi dan tiara terbuat dari tenunan dalam teknik ikat dan pahikung. Bagian terpenting dari perangkat pakaian adat Sumba terletak pada penutup badan berupa lembar-lembar besar kain hinggi untuk pria dan lau untuk wanita.

pencipta mahluk hidup sumber segala yang ada. Secara tradisional busana pria tidak menggunakan alas kaki. Di kepala dikenakan pilu dari batik. lau pahudu. putih dan biru. keperkasaan serta budi baik seseorang. Sebagian besar penduduknya dewasa ini pun memeluk agama Nasrani. dikenal dengan sebutan iteke. Timor Traditional Dress Penulis Biranul Anas Amarasi termasuk ke dalam wilayah administrasi Kabupaten Kupang. Secara menyeluruh hiasan dan penunjang busana ini merupakan simbol kearifan. Suatu kebiasaan yang umum di Nusa Tenggara Timur khususnya Timor (dan Sumba) adalah disandangnya kapisak atau aluk yang terbuat dari anyaman-anyaman daun atau kain persegi empat dengan corak geometris dan muti sebagai . dewasa ini sudah jauh berkurang. Hal ini tampak nyata pada ungkapan berbusana masyarakatnya yang sehari-hari memakai pakaian bergaya barat akibat pengaruhpengaruh asing yang masuk ke daerah tersebut sudah lama. sedangkan di telinga tergantung mamuli perhiasan berupa kalung-kalung keemasan juga digunakan pada sekitar leher. lau mutikau dan lau pahudu kiku. Sedangkan pergelangan tangan kiri dipakai kanatar dan mutisalak. Bentuk-bentuk kepercayaan lokal masih mewarnai kehidupan sehari-hari seperti ritus-ritus penghormatan terhadap Usi Neno. memanjang dalam paduan warna-warna jingga. menjurai ke bagian dada. Kainkain tersebut dikenakan sebagai sarung setinggi dada (lau pahudu kiku) dengan bagian bahu tertutup taba huku yang sewarna dengan sarung. dan po`uk. Po`uk sebesar ± 30 cm bercorak garis-garis. biru dan merah bata yang ditunjang oleh berbagai aksesoris di kepala. Sedangkan kalung dileher terbuat dari logam dengan hiasan berbentuk lingkaran dari logam berukir bergaris tengah 10 cm. Busana Adat Wanita Pakaian pesta dan upacara wanita Sumba Timur selalu melibatkan pilihan beberapa kain yang diberi nama sesuai dengan teknik pembuatannya seperti lau kaworu. Masyarakat Amarasi merupakan bagian dari suku Dawan yang tersebar di seluruh kabupaten di Timor bagian barat.mencerminkan nilai estetis dan status sosial. Selanjutnya busana pria Sumba dilengkapi dengan sebilah kabiala yang disisipkan pada sebelah kiri ikat pinggang. Pakaian Adat Pria Secara mendasar pria mengenakan komponen-komponen busana yang sama dengan daerah-daerah lain di Nusa Tenggara Timur yaitu kain penutup badan yang terdiri atas beti atau taimuti. Hinggi terbaik adalah hinggi kombu kemudian hinggi kawaru lalu hinggi raukadana dan terakhir adalah hinggi panda paingu. Namun hal-hal tersebut tidak menghilangkan tradisi untuk mengungkapkan ungkapan budaya asli mereka. tangan dan pinggang diperagakan dengan keindahan yang amat mempesona pada peristiwa-peristiwa seperti tersebut di atas. Kabiala adalah lambang kejantanan. merah bata. Sebagaimana dengan kebiasaan serta budaya yang ada pada daerahdaerah lain di Nusa Tenggara Timor pelapisan sosial kemasyarakatan yang dahulu kala amat kuat dianut. Demikian pula halnya perhiasan-perhiasan lainnya. Selain itu manifestasi tradisi kebudayaan asli juga masih hidup dalam tatacara berpakaian khususnya dalam menghadapi pesta-pesta adat atau upacara-upacara penting lainnya. coklat. Timor. Corak khas pada beti gaya Amarasi adalah dominasi warnawarna coklat dengan bidang tengah berwarna putih sebesar ± 3040 cm. Pada dahi disematkan perhiasan logam (emas atau sepuhan) yaitu maraga. Kain-kain tenunan dalam teknik futus dan sotis dalam paduan warna-warna putih. wujud tertinggi penguasa jagad raya. muti salak menyatakan kemampuan ekonomi serta tingkat sosial. Timor Amarasi. Busana Tradisional Amarasi. Di kepala terikat tiara berwarna polos yang dilengkapi dengan hiduhai atau hai kara. telinga. namun dewasa ini perlengkapan tersebut semakin banyak digunakan khususnya didearah perkotaan.

Kedua telinga dihiasi falo noni. pihak wanita menyerahkan kain tenunan. berukiran dan terkenal dengan istilah pato eban. Corak-coraknya berwarna meriah paduan jingga. gading dan manik-manik amat dihargai dan bernilai tinggi. Pertama adalah tais atau tarunat yang dipasang setinggi dada hingga mata kaki. dalam membalas pihak lelaki. baik sebagai citra kehormatan diri maupun dalam konteks hubungan sosial kekeluargaan. Pergelangan tangan dihiasi dengan niti keke. . Hiasan logam kening di dahi berbentuk bulan sabit. Terkadang aluk juga sebagian berhiaskan ornamen perak. putih dan biru tua dalam lajur bergaris sempit yang dipadukan dengan corak-corak ikat putih berlatar hitam/biru tua. perak.hiasannya. Lembar kedua adalah selempang yang terikat di depan dada berbentuk huruf V dengan kedua ujungnya terletak di kedua bahu bagian belakang. Sebaliknya pun. Di depan dada tergantung kalung dengan bentuk hiasan bulat dari logam (emas. Demikianlah oleh terbentuk dasar hubungan kekeluargaan yang erat dan saling mendukung dalam berbagai permasalahan kehidupan. kejantanan serta kesucian bagi penyandangnya. khususnya pada adat istiadat perkawinan dimana barang-barang tersebut merupakan mas kawin pihak lelaki kepada pihak perempuan. Corak tenunan menunjuk pada status sosial alam fikiran serta kepercayaan yang dianut. Emas. kuning. perak atau sepuhannya) yang disebut noni bena. Perhiasan dan bahanbahan pembuatnya selain mencerminkan status sosial juga menyatakan kemampuan ekonomi. Pakaian Adat Wanita Wanita Amarasi memakai dua lembar tenunan sebagai penutup badannya. sedangkan pinggang dililit oleh futi noni. Pakaian serta perhiasan dan perlengkapan busana pria ini oleh masyarakat setempat dianggap dapat memberikan sifat keagungan. Di kepala terdapat seperangkat perhiasan yang tersemat pada sanggul yaitu kili noni dan tusuk-tusuk konde. Hakekat pemakaian busana dan perhiasan pelengkapnya di Nusa Tenggara Timur erat kaitannya dengan berbagai kefungsiannya dalam peri kehidupan penyandangnya.

. berfungsi seperti ikat pinggang. Busana Pengantin Sasak Yang akan diuraikan berikut ini adalah busana pengantin yang umum dikenakan oleh masyarakat Sasak. memanjang hingga sebatas betis dan pada bagian muka ujung kain dibuat berlipat-lipat menjuntai hingga hampir menyentuh tanah. Hiasan pelengkap penampilannya adalah kancing baju (buak tangkong) emas. Dan ketika keterampilan menenun semakin dikuasai. Stilasi pohon mawar. gelang tangan (teken). menghadiri perkawinan. Busana bagian bawahnya adalah kemben (sarung) yang juga berwarna hitam dan pada bagian tertentu diberi hiasan motif flora. Bahkan kemudian ditumbuhkan kepercayaan jika kaum lelaki memakai kain dengan corak hias yang sesungguhnya diperuntukkan bagi kaum perempuan begitu pula sebaliknya . Busana Adat Sehari-hari Persentuhan dengan suku Bali yang datang sekitar abad XVI. meski tentu. Yang banyak dipakai adalah kain songket. tapi dalam perkembangannya ada yang diberi imbuhan hiasan pada pinggiran bajunya. dan pertemuan kedua sisinya dijahit sehingga hasil akhirnya menjadi semacam kebaya longgar berlengan pendek. panjangnya sebatas pinggang. Dipadukan dengan kereng (kain panjang) yang dililitkan seputar pinggang. tak menghilangkan identitas jatidirinya. biasanya berwarna hitam tapi tak jarang menggunakan kain batik. tokoh pewayangan. kesaktian. pada bentangan kain-kain tenunan mereka.maka pemakainya akan ditimpa kemalangan. Penahan kereng adalah lilitan kain. Para lelaki memakai kelambi (baju) model kemeja pria berlengan pendek atau panjang. Sebagai pakaian bawahya dipakai kain panjang yang disebut kereng. seperti yang telah disinggung di muka. ular naga. dan semacamnya. burung. Sebagai pelengkap penampilan dipakai aksesori berupa sengkang (anting-anting). yang dieksplorasi dari kehidupan alam sekitar dan mitologi. Kaum perempuan mengenakan lamung (baju) berwarna hitam yang modelnya relatif sederhana: selembar kain dilipat sehingga berbentuk segi empat lalu diberi "lubang leher" berbentuk segi tiga. upacara kematian. dan gelang kaki (teken nae). Kain-kain tenun inilah yang digunakan sebagai busana adat. Pada kening tersaput ikat kepala. disebut bebet. kerap muncul menjadi ragam hias yang artistik pada tenunan masyarakat Sasak. memberikan nuansa pada tata cara berbusana adat keseharian suku Sasak. masyarakat Sasak mengenakan busana yang khusus dirancang untuk keperluan tersebut. kalung emas. lalu terciptalah corak hias simbolik. Corak hias pada kain untuk perempuan pun dibedakan dengan ragam hias kain bagi laki-laki. ikat pinggang (gendit/pending) emas. pengetahuan itu dibawa para pedagang Gujarat dari India. teken ima (gelang tangan).Busana Tradisional Sasak Sasak Traditional Dress Penulis Aat Soeratin Diperkirakan sejak abad XIV masyarakat Sasak telah mengenal teknik menenun kain. dan teken nae (gelang kaki). Untuk mengikuti acara adat. dinamai sapu. Konon. sehari-hari maupun upacara. misalnya saja kehilangan kewibawaan. Mempelai wanitanya memakai tangkong (baju) semacam kebaya yang biasanya berwarna hitam polos. masyarakat Sasak. misalnya upacara potong gigi. Untuk memperkuat kemben dipakai sabuk anteng (ikat pinggang). estetika pun berkembang. ali-ali (cincin).

Pengantin pria mengenakan kelambi dari bahan yang sama dengan mempelai wanita, bermodel jas tutup dengan potongan agak meruncing pada bagian bawah belakangnya, untuk mempermudah menyengkelitkan keris. Kereng (kain panjang) yang dipakai adalah songket dengan motif khas Lombok. Kemudian ditambahkan dodot (kampuh), kain yang biasanya bercorak sama dengan yang dipakai pengantin wanita. Kelengkapan lainnya adalah sapu (destar/ikat kepala) dari kain songket yang biasanya diberi tambahan hiasan keemasan yang diselipkan pada ikatan sapu bagian depan. Dan dari balik punggungnya, sedikit melewai bahu sebelah kanan, tersembul keris panjang.

Busana Tradisional Semawa dan Bima Semawa and Bima Traditional Dress Penulisi Aat Soeratin Masyarakat asli Pulau Sumbawa terkenal memiliki kain songket hasil keterampilan para penenun yang diperoleh akibat persentuhannya dengan kebudayaan masyarakat Bugis. Songket Sumbawa umumnya menggunakan benang emas, benang perak, juga benang katun. Yang kita kenal sebagai kain selungka, misalnya, adalah songket yang menggunakan benang emas dan perak, dan tampilannya menyiratkan pengaruh kebudayaan Bugis. Jenis lainnya, antara lain, kain tenun motif kotak-kotak yang disebut mbali pida, dan ^. Seperti halnya saudara mereka di Pulau Lombok, estetika masyarakat Sumbawa pun melahirkan corak hias simbolis, stilasi bentuk flora untuk kain perempuan dan penggayaan bentuk fauna atau manusia pada kain kaum lelaki. Kain songket inilah yang kemudian memberi aksentuasi yang khas pada pakaian adat masyarakat Sumbawa. Dalam kesehariannya kaum perempuan masyarakat Semawa mengenakan kain sarung bermotif kotak-kotak (tembe lompa) warna hitam dan merah. Bajunya disebut lamung pene, baju serupa kebaya polos sederhana, berlengan pendek. Para prianya memakai sarung pelekat, baju lengan panjang, dan berkopiah. Sedangkan para wanita masyarakat Bima dan Dompu memakai baju poro, baju polos tanpa hiasan, berkain sarung palekat yang ditenun dengan hiasan corak kota-kotak kecil. Terkadang mengenakan rimpu (kerudung penutup rambut). Adapun para lelakinya memakai sarung pelekat, disebut tembe ngguli, berkemeja lengan pendek atau panjang, dan kadangkala memakai ikat kepala yang dinamai sambolo songke. Akan tetapi, untuk acara-acara adat seperti upacara potong gigi, kematian, perkawinan, dan sebagainya, masyarakat Semawa pun masyarakat Bima merancang busana adat tersendiri. Busana Adat Suku Semawa

Busana adat masyarakat Semawa, dulu, biasanya dikenakan saat mengikuti pelbagai upacara tradisional seperti upacara turun tanah bagi balita yang diharapkan segera bisa berjalan; tradisi potong gigi; naik dewasa (inisiasi) untuk remaja yang memasuki masa akil balig; upacara adat eneng hujan (memohon hujan); dan sebagainya. Sekarang, upacara-upacara tersebut masih dilakukan dan pakaian adat pun masih dikenakan para peserta upacara meski tak seketat kebiasaan masa lalu. Lamung pene adalah sebutan untuk baju adat kaum perempuan, semacam kebaya berlengan pendek dari kain halus. Paduannya adalah kre alang, kain sarung songket yang dipakai sebatas mata kaki dan ikat pinggang (pending) perak. Pada bahu kiri disampirkan sapu to`a, sejenis sapu tangan dan aksesorinya berupa kalung leher, bengkar troweh (hiasan telinga), gelang tangan. Dan para gadis yang belum menikah biasanya memakai kerudung. Kaum prianya memakai lamung seperti jas tutup berlengan panjang, saluar belo (celana panjang) polos tanpa hiasan, ditambah pabasa alang, semacam selendang songket berukuran agak lebar ketimbang selendang biasa, yang difungsikan sebagai dodot. Dan ikat kepala, yang disebut sapu, dibuat dari tenunan benang katun bermotif kotak-kotak. Buhul ikatan sapu pada kening ada di bagian belakang kepala sedangkan untuk bagian depan kepala sudut sapu dipasang tegak sehingga tampak tinggi dan meruncing.

Busana Pengantin Suku Semawa Mempelai wanita dari golongan bangsawan mengenakan busana adat berupa lamung (baju) lengan pendek bermodel baju bodo Sulawesi dari kain halus dan berhiaskan sulaman benang emas berbentuk cepa (bunga) hampir di seluruh bidang baju. Pada bahu sebelah kiri disampirkan kida sanging, semacam saputangan yang diberi hiasan motif dedaunan dari benang perak atau emas. Pakaian Bawahnya tope belo (rok panjang) dan tope pene (rok pendek), juga berhiaskan cepa, yang dipakai secara bertumpuk. Aksesori lainnya adalah sua`, hiasan kepala dilengkapi kembang goyang. Sanggul rambutnya disebut puyung lakang. Dan perhiasan yang dipakai berupa gelang tangan bernama ponto atau kelaru, kalung, anting-anting, dan hiasan kuku ibu jari tangan kiri dari emas yang dibentuk seperti kuku panjang, yang disebut sisin kuku. Kakinya beralaskan selop. Pengantin prianya memakai gadu, baju berlengan panjang warna hitam berhiaskan cepa emas. Simbangan adalah selempang kain yang disilangkan di atas baju, terbuat dari kain merah diberi hiasan motif bunga. Pakaian bawahnya saluar celana panjang berwarna hitam dengan aplikasi hias pada pinggiran kaki celananya. Ditambah tope, semacam rok dari kain halus berwarna merah berhiaskan cepa emas yang agak besar. Ikat pinggang (pending) emas dikenakan untuk menahan tope. Kepalanya bertutup mahkota yang dibuat dari kain yang dilipat-lipat, dibentuk seperti kipas, berhiaskan cepa emas sehingga tampil sangat artistik. Mahkota itu disebut pasigar. Dan keris disengkelitkan pada pending, disimpan di bagian muka badan.

Busana Adat Suku Bima Untuk menghadiri upacara adat inisiasi, potong gisi, kematian, perkawinan, dan sebagainya, kaum wanita masyarakat Bima mengenakan busana adat yang selengkapnya terdiri dari baju, kain panjang, berbagai aksesori, dan alas kaki. Bajunya disebut baju poro yang dibuat dari kain tipis namun tidak tembus pandang, biasanya berwarna hitam, biru tua, coklat tua, ungu. Bersarung pelekat, tembe kafa, corak mbali pida hingga menutup mata kaki. Aksesorinya berupa gelang tangan, anting-anting, dan semacamnya, namun tidak boleh berlebihan. Kaum prianya memakai kemeja lengan pendek atau model jas tutup berlengan panjang berwarna hitam, putih, atau warna-warna cerah lainnya. Bersarung pelekat tembe kafa mbali pida, dipinggangnya dililitkan salampe berwarna dasar putih, kuning, merah, atau hijau. Dan lelaki dewasa biasanya menyengkelitkan pisau mone (pisau khas Bima), pada salampe, di bagian depan badan.

Busana Pengantin Suku Bima Pakaian pengantin yang banyak dipakai masyarakat Bima sekarang adalah jenis busana tradisional yang dulu hanya untuk golongan bangsawan dan golongan menengah saja. Busana pengantin golongan menengah dan golongan bangsawan Bima pada dasarnya hampir tidak berbeda. Hanya saja kelengkapan busana atau aksesori yang dipakai pengantin dari golongan menengah relatif lebih sedikit, sehingga tampil lebih sederhana. Berikut ini uraian serba singkat mengenai busana tradisional pengantin golongan bangsawan Suku Bima. Mempelai wanitanya mengenakan baju poro rante yang dibuat dari kain halus berwarna merah dengan taburan cepa benang emas di seluruh permukaan baju dan memakai tembe songke, sarung songket. Selepe, ikat pinggangnya, berwarna keemasan. Tangan kanannya memegang pasapu (saputangan) dari kain sutra bersulamkan benang perak. Rambutnya disanggul, diberi hiasan unik yang dinamai karaba. Karaba dibuat dari gabah (bulir padi yang belum dikelupas kulitnya) yang digoreng tanpa minyak sehingga mekar dan nampak warna putih berasnya secara dominan. Karaba ini kemudian ditempelkan pada rambut dengan perekat malam atau lilin hingga warna putihnya nampak mencolok di atas hitamnya rambut. Tataan rambut berhiaskan karaba ini disebut wange. Sedangkan aksesori lainnya juga berwarna keemasan berupa bangka dondo (anting-anting panjang), dan ponto (gelang tangan). Pengantin pria memakai pasangi yaitu baju dan celana yang terbuat dari kain yang sama, yang berhiaskan cepa dan sulaman benang emas. Kemudian siki, sebutan untuk kain songket (tembe songke), dipakai, seperti memakai sarung, sebatas lutut. Penahan siki adalah baba, kain berukuran lebih lebar ketimbang ikat pinggang biasa, yang juga berfungsi untuk menyelipkan keris. Di atas baba dilingkarkan selepe mone, ikat pinggang dari logam keemasan. Keris yang pada hulunya diikatkan saputangan berhiaskan sulaman benang perak, seperti ditulis di muka, diselipkan pada baba. Baju pengantin laki-laki lainnya adalah karoro, semacam jubah hitam dihiasi cepa berwarna keemasan. Mahkotanya disebut siga (sama dengan pasigar, mahkota pengantin pria Semawa) Namun ada tata cara yang agak khusus untuk pemakaian karoro Yakni mempelai pria tidak boleh memakai karoro sekaligus dengan siki. Karoro biasanya hanya dimiliki oleh sultan atau para petinggi Kesultanan Bima.

Namun dewasa ini. Busana adat pria Makasar terdiri atas baju. busana adat Makasar tentu saja dapat dibedakan atas busana pria dan busana wanita. baik untuk jas tutu maupun baju bella dada. berdasarkan jenis kelamin pemakainya. bahkan juga status sosial pemakainya di dalam masyarakat. Namun jika keadaan sebaliknya atau tutup kepala tidak berhias benang emas. bahan yang biasa digunakan berasal dari kain pasapu yang terbuat dari serat daun lontar yang dianyam. dan atu atau golongan para budak. celana atau paroci. Pada dasarnya. Yang dimaksud dengan busana adat di sini adalah pakaian berikut aksesori yang dikenakan dalam berbagai upacara adat seperti perkawinan. Hanya dalam hal warna dan bahan yang dipakai terdapat perbedaan di antara keduanya. leher berkrah. atau hari-hari besar adat lainnya. yakni lapisan orangorang yang kalah dalam peperangan. Sementara itu.Busana Tradisional Makassar Makassar Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Di wilayah Sulawesi Selatan suku bangsa Makasar menempati daerah Kabupaten Takalar. yakni lapisan orang merdeka atau masyarakat kebanyakan. Bahan untuk jas tutu biasanya tebal dan berwarna biru atau coklat tua. dan hijau. Hal itu disebabkan masyarakat Makasar terbagi atas tiga lapisan sosial. busana adat merupakan salah satu aspek yang cukup penting. Maros. yang mengenakan pasapu guru adalah mereka yang berstatus sebagai guru di kampung. Adapun bahan baju bella dada tampak lebih tipis. Melihat kebiasaan mereka dalam berbusana. Gambaran model tersebut sama untuk kedua jenis baju pria. Ketiga strata sosial tersebut adalah ono karaeng. tidak mampu membayar utang. busana yang khas milik pendukung kebudayaan Makasar dan tidak dapat disamakan dengan busana milik masyarakat Bugis. Jeneponto. Meskipun demikian. Model baju yang tampak adalah berlengan panjang. dan tutup kepala atau passapu. busana adat orang Makasar dapat menunjukkan status perkawinan. melainkan lebih menunjukkan selera pemakainya. Dalam kebudayaan Makasar. Masing-masing busana tersebut memiliki karakteristik tersendiri. . sebenarnya dapat dikatakan bahwa busana adat Makasar menunjukkan kemiripan dengan busana yang biasa dipakai oleh orang Bugis. keberadaan dan pemakaian busana adat pada suatu upacara tertentu akan melambangkan keagungan upacara itu sendiri. Pemakaian tutup kepala pada busana pria mempunyai makna-makna dan simbol-simbol tertentu yang melambangkan satus sosial pemakainya. serta diberi kancing yang terbuat dari emas atau perak dan dipasang pada leher baju. Pangkajene. Pada masa dulu. Biasanya. busana adat pria dengan baju bella dada dan jas tutunya sedangkan busana adat wanita dengan baju bodo dan baju labbunya. penjemputan tamu. saku di kanan dan kiri baju. Khusus untuk tutup kepala. ada beberapa ciri. Bukan saja berfungsi sebagai penghias tubuh. Bantaeng. tetapi juga sebagai kelengkapan suatu upacara adat. Gowa. berwarna terang dan mencolok seperti merah. Bila tutup kepala pada busana adat pria Makasar dihiasi dengan benang emas. dan Kepulauan selayar. masyarakat menyebutnya mbiring. bentuk maupun corak. Baju yang dikenakan pada tubuh bagian atas berbentuk jas tutup atau jas tutu dan baju belah dada atau bella dada. yakni lapisan yang ditempati oleh kerabat raja dan bangsawan. busana yang dipakai tidak lagi melambangkan suatu kedudukan sosial seseorang. pasapu guru sebutannya. kain sarung atau lipa garusuk. dan yang melanggar adat. yaitu berasal dari kain lipa sabbe atau lipa garusuk yang polos. tu maradeka.

coklat tua. Penggunaan busana adat wanita Makasar yang lengkap dengan berbagai aksesorinya terlihat pada busana pengantin wanita.Kelengkapan busana adat pria Makasar yang tidak pernah lupa untuk dikenakan adalah perhiasan seperti keris. bahkan dapat digantungi sejenis jimat yang disebut maili. Jenis keris ini merupakan benda pusaka yang dikeramatkan oleh pemiliknya. dan hiasan pada penutup kepala atau sigarak. dan pada bagian atas dilubangi untuk memasukkan kepala yang sekaligus juga merupakan leher baju. sisi samping kain dijahit. maka diberi pengikat yang disebut talibannang. Kaum wanita dari berbagai kalangan manapun bisa mengenakan baju labbu. Begitu pula halnya dengan para pengiring pengantin. dan anting panjang (bangkarak). warna dasar sarung Makasar adalah hitam. selempang atau rante sembang. tidak berlengan. atau biru tua. tampak jelas pada seorang pria yang sedang melangsungkan upacara pernikahan. yang terbuat dari benang biasa atau lipa garusuk maupun kain sarung sutera atau lipa sabbe dengan warna dan corak yang beragam. . wanita makasar pun memakai berbagai perhiasan untuk melengkapi tampilan busana yang dikenakannya Unsur perhiasan yang terdapat di kepala adalah mahkota (saloko). Baju bodo berbentuk segi empat. Pasangan baju bodo dan baju labbu adalah kain sarung atau lipa. hanya saja perhiasan yang dikenakannya tidak selengkap itu. Perhiasan di leher antara lain kalung berantai (geno ma`bule). biasanya berbentuk ular naga dan terbuat dari emas atau disebut ponto naga. Sementara itu. dengan hiasan motif kecilkecil yang disebut corak cadii. gelang. dikenal dengan sebutan pasattimpo atau tatarapeng. Adapun baju labbu atau disebut juga baju bodo panjang. Namun pada umumnya. yakni baju bodo dan baju labbu dengan kekhasannya tersendiri. dan berbagai aksesori lainnya. dan kalung besar (geno sibatu). biasanya berbentuk baju kurung berlengan panjang dan ketat mulai dari siku sampai pergelangan tangan. sanggul berhiaskan bunga dengan tangkainya (pinang goyang). Bahan dasar yang kerap digunakan untuk membuat baju labbu seperti itu adalah kain sutera tipis. sapu tangan berhias atau passapu ambara. berwarna tua dengan corak bunga-bunga. Adapun gelang yang menjadi perhiasan para pria Makasar. Ada dua jenis baju yang biasa dikenakan oleh kaum wanita. Lebih tepatnya dikenakan sebagai busana pengantin pria. Agar keris tidak mudah lepas dan tetap pada tempatnya. Sama halnya dengan pria. kalung panjang (rantekote). Keris yang senantiasa digunakan adalah keris dengan kepala dan sarung yang terbuat dari emas. Gambaran busana adat pria Makasar lengkap dengan semua jenis perhiasan seperti itu. busana adat wanita Makasar terdiri atas baju dan sarung atau lipa.

Orang-orang Mandar menempati wilayah administratif kabupaten Mamuju. tua maupun muda. Dalam kehidupan sosialnya. berhias tusuk konde dan di bagian pelipis kanan diselipkan serangkaian kembang goyang berwarna emas. Pada bagian pinggang. Hiasan yang mempercantik penampilan adalah penambahan kepingankepingan logam warna emas di seluruh pinggiran kebaya atau kepingan-kepingan bulat di seluruh permukaan kebaya. menggunakan alas kaki berupa selop atau sepatu . setelah mengencangkan lilitan sarung dengan tali kain. Bajunya kebaya pendek berlengan tiga oerempat. wanita Mandar membuat sanggul yang letaknya agak rendah dengan hiasan tusuk sanggul emas dan kembang goyang. pada abad ke-XV wilayah Mandar ini meliputi Kerajaan Balanipa. Tali ikat dari kain yang berfungsi untuk mengencangkan lilitan sarung. Dalam berbusana . kabupaten Majenen dan kabupaten Polewali Mamasa (Polmas). rambut ditata dengan model sasak sedikit tinggi (sigara). Namun dalam keadaan yang lebih resmi. dengan ukuran panjang melampaui pinggul atau kurang lebih lima centimeter di bawah pusar. Sederet bunga serampa dan bunga seruni menghiasi seputar sanggul. tata rias rambut dan kepala akan ditambah dengan beberapa aksesori seperti. Dalam kesempatan menghadiri upacara adat. adapun wanita muda umumnya lebih menyukai anting-anting yang berderet-deret dan menjuntai di kedua telinganya. wanita Mandar pada umumnya mengenakan perhiasan meliputi. kipas dan berbagai perhiasan dari emas. masyarakat Mandar sangat memperhatikan ketentuan adat dan tradisi yang telah dijalani selama berabad-abad lamanya. Majeng. Jadi tidak mengherankan apabila masyarakat suku bangsa Mandar mempunyai tradisi berbusana yang sangat indah dan mencerminkan kebesaran suku ini di masa silam. kalung emas yang berjuntai agak panjang. Untuk wanita yang usianya agak tua.Busana Tradisional Busana Tradisional Mandar Mandar Traditional Dress Penulis Siti Dloyana Kusumah Suku Bangsa Mandar terbilang penduduk asal di propinsi Sulawesi Selatan. Kelengkapan busana lainnya adalah penggunaan sehelai selendang tipis yang ujung-ujungnya dihiasi dengan bundaran-bundaran emas atau perak. dan mempunyai peranan sama pentingnya dengan tiga suku bangsa lainnya yaitu Bugis. begitu pula busana rakyat biasa dengan kalangan bangsawan akan berbeda. dengan hiasan liontin atau medalion besar. kemudian ditutup dengan pending yang terbuat dari logam berwarna emas dengan gesper berhias di bagian depan. terbuat dari bahan sutera atau kain halus lain tetapi tidak tembus pandang. remaja dan orang tua. Gelang berukuran besar yang dipakai masing-masing lima buah di tangan kanan maupun di tangan kiri. Ciri khas sarung tenun Mandar adalah motif kotak-kotak besar dan kecil dengan hiasan warna emas pada garisgarisnya. Menurut catatan sejarah. Makassar dan Toraja. Ada pula sanggul agak rendah. Semua kalangan masyarakat Mandar. menggunakan giwang emas berukuran besar dan di antara lubang telinga dengan giwang diselipkan sejumput kapas putih. Pembauang dan Cenrana di pantai utara Teluk Mandar. Salah satu contoh yang tetap bertahan hingga kini antara lain adalah tata cara berbusana. wanita Mandar akan mengenakan sarung sutera berwarna hitam atau putih. Masyarakat Mandar sangat membedakan busana untuk anak-anak. Untuk tata rias rambut dan kepala. serta wilayah di bagian utara Selat Makassar.

yakni busana pria dan busana wanita. yakni pelaksanaan upacara adat yang erat kaitannya dengan suasana kegembiraan atau memiliki makna kebahagiaan. Paduannya kain sarung tenun Mandar atau seringkali ada yang memakai celana panjang kemuidian ditutup dengan sarung hingga sebatas lutut. dengan kekuatan tradisi dan adat istiadat sebagai daya tarik utamanya. Bagaimana pun juga busana merupakan salah satu kelengkapan yang cukup penting dalam penyelenggaraan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan tradisi. tercatat sebagai tempat tujuan wisata budaya yang memiliki keunikan tersendiri. terutama menggunakan warna kuning sebagai warna dasarnya. dan upacara pernikahan. berdasarkan adat rambu solo. Busana yang dikenakan oleh warga masyarakat Toraja dalam berbagai kesempatan. Misalnya dalam upacara panen padi. Busana pria Mandar lebih sederhana karena hanya terdiri dari baju jas tutup terbuat dari bahan sutera bercorak bebas dengan warna hitam atau warna cerah. Ketentuan adat di Toraja membedakan dua suasana yang menyertai penyelenggaraan berbagai upacara adat. pada dasarnya dapat dibedakan ke dalam dua jenis. tentu saja tidaklah heran bila hingga saat ini mereka masih tetap menyelenggarakan berbagai upacara adat dan tradisi lainnya. busana misalnya. Hanya saja hal penting yang memberi nuansa pada karakteristik busana tersebut adalah berkaitan dengan tujuan atau makna acaranya. Busana Tradisional Tana Toraja Tana Toraja Traditional Dress Penulis Mira Indiwara Pakan. secara tidak langsung juga dapat mempertahankan keberadaan berbagai aspek yang terkait erat di dalamnya. mulai dari aktivitas seharihari hingga yang bersifat ritual. aktivitas sosial dan stratifikasi sosial. Pertama adalah yang berdasarkan adat rambu tuka. Sebagai kelompok masyarakat yang cukup konsisten dalam memelihara dan mempertahankan adat istiadat warisan nenek moyang mereka.pantovel berwarna hitam. . Pria Mandar melengkapi busananya dengan melekatkan rantai emas yang diberi liontin atau medalion dari taring macan bahkan bisa juga terbuat dari taji ayam. Dengan tetap memelihara adat istiadat seperti itu. Ria Andayani Somantri Toraja merupakan salah satu suku bangsa terbesar yang menempati kawasan Provinsi Sulawesi Selatan. Untuk penututp kepala. busana yang dikenakan akan tampil warna-warni. Hiasan tersebut diselipkan sebagian di saku jas tutupnya dan sebagian lagi dibiarkan menjuntai ke luar. Pada kesempatan seperti itu. Tana Toraja yang menjadi tempat menetap sebagian besar suku tersebut. Alas kaki yang dipakai biasanya sepatu pantovel atau sandal yang dibuat dari kulit. Sementara itu. pria Mandar menggunakan kopiah atau lazim disebut songkok tobone dengan warna yang serasi antara baju bagian atas dengan jas atau sarungnya. memasuki rumah baru.

tas pinggang yang berfungsi sebagai ikat pinggang tempat menaruh pedang atu parang. Baju yang dikenakan oleh kaum pria Toraja dapat dibedakan ke dalam dua model. yakni kalung yang terbuat dari emas. baju wanita dibedakan ke dalam tiga model. Celana yang dipakai oleh kaum pria. perak. ada kalanya unsur perhiasan yang dikenakan oleh mereka pun memiliki makna simbolis tertentu. ada juga tas kecil atau sepu. Sarung. yaitu baju dengan bentuk lengan yang sangat ketat atau pas menempel di tangan serta tingginya di atas sikut. khususnya para sesepuh masyarakat. mulai dari hiasan di kepala. Perhiasan di leher meliputi beraneka macam kalung seperti rnastura. Kedua jenis tutup kepala yang disebutkan terakhir pun hanya dikenakan oleh mereka yang termasuk ke dalam lapisan atas. keberadaan tutup kepala pun beragam pula jenisnya dan berbeda pula peruntukannya. Penggunaan semua jenis baju yang telah disebutkan tadi. Beberapa contoh asesoris yang terletak di kepala di antaranya sa`pi. Terbukti dari beragamnya aksesori yang biasa dikenakan oleh mereka. yaitu keris yang dibawa pada waktu mereka akan menikah. diikatkan di pinggang atau. Ketiga adalah bayu kalandon limanan. Selain itu. Kedua bayu bussuk siku. dan sarung atau dodo untuk bagian bawahnya. busana adat wanita Toraja terdiri atas baju atau bayu untuk bagian atasnya. berhubungan erat dengan kedudukan sosial seseorang di dalam lingkungan masyarakatnya. Pertama bayu poko. Sama halnya dengan sarung. dengan perbedaan hanya terletak pada kualitas bahannya. Perhiasan dari manik-manik yang dipakai di bahu disebut sokong bayu. Adapun jika berlengan panjang disebut kalando limanan. sepu. Bila baju tersebut berlengan pendek maka dinamakan kondi limanan. dan sarong atau tudung kepala. yang bisa dikenakan oleh siapa pun disebut pote. Misalnya sambuk busa. tutup kepala. Ikat kepala ini biasanya dipakai oleh kaum pria dari keluarga yang sedang berkabung. seperti di sawah dan membangun rumah. busana adat pria Toraja terdiri atas baju atau bayu. sebagai bagian integral dari busana adat pria. oran-oran atau kalung berbentuk batang padi yang terbuat dari logam dan manik-manik. tali-tali biang. atau hanya disampirkan di bahu. Secara umum. biasanya disertai dengan sarung yang dinamakan dodo. Perhiasan dan kelengkapan busana lainnya yang dipakai oleh para pria Toraja meliputi manik kata dan rara atau perhiasan sejenis kalung. Selain memperlihatkan fungsi estetis. pakaian resmi. hanya dengan cara melipatnya dari sebelah kiri ke sebelah kanan. Cara mengenakan sarung-sarung tersebut cukup beragam. Bahkan akan disebut busana adat resmi para bangsawan Toraja. bahu. Sementara itu. dan pa`toko. yaitu jenis baju yang biasa digunakan oleh wanita tua pada saat cuaca sedang dingin. yang disebut sambuk langkan. tali pang`kabi. yakni . yakni baju berlengan sangat pendek hingga mendekati bahu pemakainya dan dipakai untuk bekerja di dapur atau di sawah. dan yang diletakkan di pinggang dinamakan ambero. atau tembaga dan. jenisnya dapat dibedakan menurut aktivitasnya. manik kata. yaitu tutup kepala dari jenis tanaman tertentu yang dikenakan oleh para orang tua atau orang yang telah dewasa. terutama digunakan pada acara-acara yang bersifat resmi seperti pertemuan dan pesta. Passapu. yakni semacam tutup kepala yang terbuat dari kulit bambu dan dipakai oleh anak muda. lengan. atau pakaian pesta. Untuk bekerja menggunakan celana pendek dan untuk kesempatan resmi memakai celana panjang. Cara memakai sarung untuk kaum wanita pun sangat sederhana. ada juga sarung yang hanya berfungsi sebagai penghangat badan. dan sarung atau sambuk. bila penampilannya dilengkapi dengan jas hitam dan destar atau tutup kepala. dan tali banu . bisa dibiarkan terjurai hingga mata kaki. Baju tersebut dikenakan sebagai pakaian sehari-hari. leher. rara. yang khusus digunakan pada saat bekerja. yakni ikat kepala. adalah tutup kepala yang terbuat dari kain batik dan hanya digunakan oleh golongan bangsawan. yakni sarung berwarna putih yang hanya dapat dipergunakan oleh kaum pria yang menempati kedudukan sosial tinggi. seperti yang terlihat pada penyelenggaraan upacara kematian dikenakan busana serba hitam. dalam acara adat orang meninggal. celana atau sepa tallu buku. Selain itu.upacara-upacara yang diadakan memiliki makna kesedihan. Kaum wanita Toraja tampaknya cukup gandrung mengenakan perhiasan untuk menambah keindahan penampilan mereka dalam berbusana. hingga jari jemari. pinggang. Berdasarkan fungsinya. Sementara itu. yaitu hiasan pada sanggul. yakni tas kecil untuk menyimpan sirih. Aksesori di lengan terdiri atas gelang atau komba dalam berbagai bentuk dan cincin. dan passapo timbo.

menerima tamu-tamu kerajaan. Adapun keris atau gayang. atau yang kini lebih dikenal sebagai busana adat tradisional mereka. Aktualisasi dari semua itu. Secara historis wilayah ini terbentuk dari penggabungan empat kerajaan yang hidup pada masa penjajahan Belanda. Oleh karena itu. Bolaang Uki. Busana Tradisional Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Busana adat tradisional daerah Bolaang Mongondow. yang berhubungan dengan kegiatan kerajaan maupun yang berkaitan dengan upacara di seputar lingkaran hidup mereka. dan Kerajaan Kaidipang Besar. Busana yang pada umumnya dikenakan oleh kaum bangsawan terlihat lebih beragam bila dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. menghadiri undangan-undangan resmi. busana . tampak jelas antara lain pada busana warga masyarakat daerah Bolaang Mongondow yang dikenakan pada kesempatan-kesempatan tertentu. Bintauna. mulai dari golongan rakyat biasa hingga kaum bangsawan yang menempati kedudukan paling tinggi di dalam masyarakat. Keempat kerajaan tersebut terdiri atas Kerajaan Bolaang Mongondow. Pada masa itu. Beberapa contoh di antaranya adalah busana kebesaran raja atau busana yang dipakai oleh golongan bangsawan pada saat berlangsung upacara penobatan raja. Masyarakat terbagi ke dalam beberapa lapisan sosial. busana bayi. tidaklah heran bila busana adat mereka relatif lebih banyak karena setiap lapisan masyarakat memiliki busana tersendiri. ketentuan adat mengatur setiap anggota masyarakat agar menggunakan busana sesuai dengan kedudukan nya. atau busana yang khusus digunakan untuk bekerja. sangat erat kaitannya dengan latar belakang kehidupan masyarakat pada masa lalu. merupakan kelengkapan busana yang harus dibawa pada saat seorang wanita menikah.tempat menyimpan peralatan menginang yang biasanya digantungkan di bahu. melahirkan stratifikasi sosial yang tegas. Struktur masyarakat dengan kehidupan bernuansa kerajaan pada waktu itu. Hal ini dikarenakan kegiatan sosial mereka yang sarat dengan acaraacara seremonial.

tampak pengaruh Melayu begitu kental dan dominan mewarnai tampilannya. yakni busana yang pada masa itu dikenakan oleh anggota masyarakat yang menempati status sosial satu tingkat di bawah kaum bangsawan. serta kualitas bahan yang paling baik. kuning. Adapun busana yang biasa dikenakan oleh anggota masyarakat di luar golongan bangsawan. Beberapa di antaranya berkaitan dengan sistem kepercayaan. Selain itu. yakni busana berwarna hitam yang dikenakan pada waktu menghadiri upacara kematian. seakan ingin mengukuhkan kedudukan mereka yang menempati tingkatan sosial tertinggi. juga ada larangan untuk mengenakan berbagai perhiasan jenis apa pun. ada bagian busana yang dapat membedakan kedudukan seseorang. ada beberapa contoh busana adat lainnya yang dipakai oleh mereka yang berasal dari golongan di luar bangsawan. Selain busana kebesaran seperti itu. Kesederhanaan tersebut tampak dari kulitas bahan yang dipakai. serta kualitas bahan yang digunakan. pemilihan warna sangat dominan untuk mengekspresikan emosi mereka pada saat-saat seperti itu. busana simpal. nama Sangir-Talaud secara keseluruhan berarti orang yang berasal dari laut atau samudra. tepatnya digunakan pada upacara perkawinan.pengantin. Dalam hal ini. Sama pula halnya dengan aksesorinya yang demikian lengkap. detil busana. sistem religi. ketinggian ikat kepala akan lebih rendah daripada ikat kepala yang dipakai oleh kaum bangsawan. Pemilihan dan penentuan unsur berikut kelengkapan busana adat tradisional daerah tersebut. Pada umumnya. serta aksesorinya. kelengkapan aksesori yang menempel pada tubuh. Busana kerja guha-ngea. busana adat tradisional kaum bangsawan tampil dengan satu citra tersendiri. Khusus mengenai perhiasan. Misalnya. busana kohongian. informasi di balik keberadaan busana tersebut memang selayaknya tidak sirna. mereka yang termasuk ke dalam lapisan kohongian atau golongan simpal tidak mengenakan perhiasan yang terbuat dari emas melainkan perhiasan perak. Secara umum. Sementara itu. ada juga busana rakyat biasa yang kerapkali tampak pada saat melakukan panen padi. Dalam hal ini. semakin sederhana pula busana yang mereka miliki. celana dan sarung tenun. yaitu busana kerja para pemangku adat yang dipakai pada saat berlangsung upacara-upacara kerajaan. baju atau baniang. Hal tersebut terletak pada detil pakaian. terdapat berbagai perbedaan pendapat mengenai hal tersebut. Semakin rendah status seseorang di dalam tingkatan sosial masyarakatnya. Kekhasan lain yang tampak istimewa terletak pada ikat kepala pria yang menjulang tinggi. ungu. Di samping itu. Bahkan akan jauh lebih sederhana lagi pada busana adat yang boleh dikenakan oleh rakyat biasa. para bangsawan pun memiliki busana kedukaan. Sedangkan menurut asal-usulnya. Melihat wujud busana adat tradsional daerah Bolaang Mongondow. Dalam hal ikat kepala pria misalnya. memang tidak terlepas dari simbolisasi sebuah makna yang ingin disampaikan. Ada . pengantin wanita maupun pengantin pria. yaitu busana yang khusus digunakan oleh warga masyarakat yang termasuk ke dalam golongan pendamping pemerintah dalam kerajaan. tentu saja tampilannya berbeda dengan busana milik para bangsawan. Sama halnya dengan busana kohongian. sedangkan busana kaum prianya meliputi ikat kepala atau mangilenso. busana adat yang dikenakan oleh kaum bangsawan maupun golongan masyarakat lainnya tampak serupa. dan hijau dipadu dengan aksesori yang terbuat dari emas. keemaasan. Detil yang tampak pada busana mereka memang lebih banyak bila dibandingkan dengan busana dari kelompok masyarakt lainnya. busana simpal pun dikenakan pada upacara perkawinan. Meskipun saat ini pemahaman warga masyarakat Bolaang Mongondow terhadap fungsi busana adat tradisional mereka tidak setegas dahulu. Akan tetapi. tidak diragukan lagi melahirkan satu sosok busana yang cukup indah dan menawan. dan busana yang dikenakan pada saat upacara kehamilan dan kematian. Busana Tradisional Sangir-Talaud Sangir-Talaud Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Menurut asal katanya. busana yang dikenakan oleh kaum wanita terdiri atas kain dan kebaya atau salu. Salah satunya tampak pada busana kebesaran raja berikut busana pengantinnya. atau bahkan berhubungan erat dengan sejumlah fenomena sosial pada masa itu. Keberanian dalam memilih warna-warna busana yang terang dan mencolok seperti merah.

peminangan. Dalam hal ini. Ada busana adat yang sering dikenakan dalam berbagai kesempatan yang erat kaitannya dengan tradisi masyarakat setempat seperti perkawinan. atau bahkan untuk pakaian sehari-hari. Adapun ujungnya diikatkan di belakang kepala. Perbedaannya hanya terletak pada ukuran panjang baju dan pasangannya. serta selendang (bawandang liku). hijau. yakni baju panjang yang biasa dikenakan oleh wanita maupun pria. Namun warna yang dipakai masih tetap mengacu pada tradisi sebelumnya. kekhasan lainnya juga tampak pada kelengkapan busana yang dikenakan pada upacaraupacara ritual maupun formal lainnya. krah baju berbentuk bulat dan terbelah di bagian depannya.yang menyebutnya sebagai bagian dari rumpun bangsa Melayu-Polenisia yang berpindah lewat Ternate. kuning tua. Sementara itu. Dalam hal ini upacara perkawinan merupakan satu momen yang dapat memperlihatkan busana adat daerah Sangir-Talaud secara lengkap. dengan celana panjang sebagai penutup pada bagian bawahnya. atau bahkan campuran dari sejumlah suku bangsa tertentu. Hingga saat ini. celana panjang. dan daun-daunan atau akar-akaran tertentu yang dapat menghasilkan warna biru. sebelum dijahit harus dicelupkan ke dalam cairan air nira untuk warna merah misalnya. sebagai penduduk asli Sulawesi Utara. Saat ini.kofo dengan dua bahan baku utamanya adalah serat manila hennep dan serat kulit kayu. penduduk Sangir-Talaud terbagi ke dalam beberapa kerajaan kecil yang tersebar di seluruh Kepulauan SangirTalaud. Satu hal yang cukup penting dan dapat membedakan upacara yang satu dengan yang lainnya adalah kelengkapan busana. pemakaian ikat kepala sebagai simbol pembeda status sosial seseorang masih tetap berlaku. Khusus untuk ikat kepala. Untuk kaum wanita panjangnya bisa mencapai betis. kalung panjang bersusun tiga yang disebut soko u wanua. Selain pada kelengkapan busana pengantin. Nama busana tersebut adalah laku tepu. orang Sangir-Talaud saat ini merupakan sekelompok masyarakat yang menempati wilayah Sulawesi Utara Sekitar abad ke-16. kerap diganti dengan rok panjang yang sudah dilipit (plooi). Sementara itu. dan yang teristimewa di sini adalah ikat kepala. kuning. Namun saat ini. bagian yang menjulangnya diletakkan di bagian depan kepala. pemakaiannya disampirkan di bahu kanan melingkar ke kiri dengan salah satu ujungnya terurai sampai ke tanah. busana adat pengantin wanita terdiri atas kain sarung lengkap dengan baju panjang atau laku tepu yang berlengan panjang. dan hijau tua. ikat pinggang. Pada saat menghadiri acaraacara tersebut. ungu. Kelengkapan busana yang dikenakan oleh pengantin pria meliputi kalung panjang atau soko u wanua. Untuk mendapatkan warna yang diinginkan. serta berlengan panjang. Khusus untuk selendang. Busana adat pengantin pria terdiri atas celana panjang dan laku tepu yang panjangnya hingga lutut atau telapak kaki. penduduk keturunan bangsa Filipina. keberadaan kain kofo telah digantikan dengan berbagai bahan lainnya yang sesuai untuk dibuat baju panjang. Namun terlepas dari semua itu. keris (sandang) yang diselipkan di pinggang sebelah kanan. dan ikat kepala berbentuk segitiga. pada zaman dulu terbuat dari kain . untuk kaum pria bisa mencapai telapak kaki atau hanya sebatas lutut. dengan penutup bagian bawahnya menggunakan kain sarung. keberadaan kain sarung yang dikenakan untuk menutup badan bagian bawah. ikat pinggang atau salikuku yang terbuat dari kain dengan simpul ikatan ditempatkan di sebelah kiri pinggang. ada beberapa contoh ikat kepala yang melambangkan status sosial pemakainya seperti paporong lingkaheng yang melambangkan pemakainya tidak . Baju jenis ini. Keberadaan ikat kepala di sini biasanya melambangkan status atau kedudukan seseorang di tengah-tengah masyarakat. dan terbelah di tengah pada bagian belakangnya. di kanan kiri baju terdapat belahan yang tingginya mencapai pinggul. gelang. kaum pria mengenakan busana adat yang terdiri atas baju panjang. sunting (topotopo) yang dipasang tegak lurus pada konde di atas kepala. atau merah darah. dan ujung yang satunya lagi dapat dipegang. Keberadaan kerajaan-kerjaan itu sendiri memberi nuansa yang khas pada kebiasaan warga masyarakatnya dalam hal berbusana. penasbihan desa. yakni warna terang dan mencolok. Setiap kerajaan selalu berusaha memperluas wilayah dan pengaruhnya dengan mengadakan perkawinan penduduk antarkerajaan. Kelengkapan buasana lainnya yang dipakai oleh mempelai wanita adalah sepatu atau sandal. Laku tepu pada umumnya berwarna terang dan mencolok se-perti merah. antinganting. krah baju berbentuk bulat.

. yang panjangnya mencapai dua meter dengan lebar 15 sentimeter. paporong tingkulu. busana adat yang dikenakan oleh kaum wanita pada berbagai upacara ritual atau acara formal meliputi baju panjang berikut pelengkap utamanya yaitu selendang. Cara memakainya. Busana Tradisional Gorontalo Gorontalo Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Gorontalo adalah salah satu suku bangsa yang tinggal di wilayah Sulawesi Utara. Sekarang wilayah itu termasuk dalam wilayah administratif Daerah Tingkat II Kabupaten Gorontalo dan Kodya Gorontalo. Mereka percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari pengembara yang turun dari langit. Selendang tersebut dinamakan kaduku. Perbedaan status sosial yang ada di dalamnya tampak pada cara pemakaian selendang. Seorang wanita yang berstatus sebagai permaisuri. yang menandakan pemakainya seorang pegawai pemerintah. biasanya mengenakan selendang yang terbuat dari kain kofo berwarna kuning tua dan merah. Sebelum kedatangan bangsa Eropa. dan beberapa jenis ikat kepala untuk para penari. yakni dengan menempatkan selendang sebelah menyebelah bahu. paporong datu bouwawina. yakni hanya dengan menyampirkannya di bahu sebelah kanan. Sementara itu. hanya saja pada bagian kepalanya diberi atau disematkan perhiasan tertentu. Berbeda halnya dengan cara memakai selendang yang dilakukan oleh para istri bangsawan. Pemakaian dengan cara seperti ini dilakukan pula oleh seorang gadis yang akan menikah. daerah Gorontalo sudah mendapat pengaruh dari Ternate. yang disebut hulontalangi. Seperti halnya ikat kepala pada busana adat pria. selendang memiliki makna simbolis yang erat kaitannya dengan status sosial pemakainya. yakni ikat kepala yang digunakan oleh raja atau pejabat pemerintah tertinggi.memiliki kedudukan di dalam masyarakat.

Aksesori lainnya adalah ikat pinggang (etango). seperti kain lapis dada warna hitam yang dihiasi kuning emas. kuning. Aksesori yang menempel di baju maupun perhiasan yang dikenakan menunjukkan status pemakainya. maka acuannya adalah busana yang dikenakan pada upacara-upacara resmi. beludru. Perbedaan ketiga jenis baju ini terletak pada panjang dan pendeknya lengan baju. Busana adat perkawinan pada masyarakat Gorontalo sangat kaya akan berbagai perhiasan yang dikenakannya. celana panjang juga diberi hiasan tambio (hiasan corak keemasan). Busana wolimomo terdiri dari baju blus berlengan pendek seperti bolero dan kain sarung. yaitu penyerahan sejumlah harta berupa uang atau barang kepada pihak mempelai wanita. Busana yang dipakai oleh pengantin wanita adalah baju madipungu. biasanya mempelai pria hanya tinggal di rumah dengan memakai busana bebas. Tahap kedua dalam masa perkawinan adat Gorontalo adalah akad nikah (akaji). merah. . seperti kuning. yang terbuat dari emas sepuhan serta keris pusaka (patatimbo) yang diselipkan di bagian depan pinggang. Sedangkan pada kedua sisi kiri dan kanan celana ditempeli pita warna kuning keemasan disebut pihi. brokat atau jenis bahan lainnya yang sesuai. Bentuk baju madipungu adalah baju blus lengan panjang seperti baju kurung dengan model pada bagian leher membentuk huruf "V". brokat atau bahan kain lainnya. kain beludru warna hitam yang menempel di leher. Jenis aksesori yang dipakai pada baju takowa adalah payunga. Busana pria yang dikenakan pada acara akad nikah adalah baju boqo takowa atau takowa. disebut hotu. Tahap pertama adalah upacara mengantar harta (modutu). kain sarung dan berbagai aksesori. rante madale (kalung leher) dan padeta (gelang) yang melekat di kedua pergelangan tangan. selimut (waluto). Pada bagian depan baju diberi selembar kain yang dirempel. Bagian dada baju dan saku diberi hiasan corak kain krawang dengan memakai benang emas.Tidore dan Bugis yang datang lebih dulu. Perhiasan dan aksesori yang dipakai pada busana ini adalah tusuk konde (sunthi) yang dibuat dari logam yang disepuh keemasan terdiri dari 12 buah. Bentuk sunthi biasanya menyerupai kepala burung. Kelengkapan busana madipungu terdiri dari baju. pengantin wanita maupun pria memakai beberapa jenis busana yang disesuaikan dengan tahapan upacara. kalau berbicara mengenai busana adat. hijau dan ungu. demikian juga dengan busana yang dipakai oleh pengantin wanita. sedangkan mempelai wanita memakai busana pengantin. sedangkan bagian lainnya diberi hiasan warna kuning keemasan. disebut hamsei. Pilihan warna itu menunjukkan bahwa di masa dulu pernah terdapat lima kerajaan di Gorontalo. yaitu tutup kepala yang dihiasi kain warna-warni. Pada upacara ini. Sehingga. satu di kiri atas dan sisanya di bawah. disebut wolimomo. Hat ini terlihat dari agama Islam yang dianut dan cara berpakaian. Busana Adat Perkawinan Dalam melaksanakan rangkaian upacara adat perkawinan pada masyarakat Gorontalo. dan hiasan emas pada baju dan kain (tambio). Bahan baju wolimomo terbuat dari jenis kain beludru. tetapi kerahnya berdiri tegak. Busana ini bagi wanita Gorontalo dapat melambangkan peralihan dari masa remaja ke masa ibu rumah tangga. Warna yang dipilih adalah salah satu dari warna merah. Warna baju yang umumnya dipakai adalah warna-warna terang dan mencolok. seperti menghadiri pesta atau busana yang dipakai oleh mempelai dalam suatu upacara perkawinan. Di bagian depan baju diberi kancing dan tiga buah saku. bisa juga memakai baju gelenggo atau boqo tunggohu. Sama halnya yang dialami dengan pembuatan bahan sandang. hijau. cara berbusana orang Gorontalo pun dari masa ke masa mengalami perkembangan. Busana bagian bawah berupa sarung atau rok panjang yang dipakai di luar baju. Bentuk baju sama dengan baju kemeja lengan panjang. Kelengkapan pada baju madipungu biasanya berupa aksesori. Warna celana yang dipakai biasanya sama dengan baju atas. celana panjang (talala) dan aksesori. Sedangkan perhiasan yang dipakai adalah sunthi (tusuk konde) dan huheyidu (hiasan rambut) pada bagian kepala. ungu dan merah hati. Bahan yang digunakan biasanya kain satin. Seperti halnya baju. oleh karena itu disebut sunthi burungi.

kalung mutiara (simban). Busana Pemuka Adat Busana Tonaas Wangko adalah baju kemeja lengan panjang berkerah tinggi. . Sedangkan pengaruh Cina adalah kebaya warna putih dengan kain batik Cina dengan motif burung dan bunga-bungaan. Sedangkan kaum pria memakai baju karai. Selain sarong yang bermotifkan ikan duyung. leher baju. Dalam kehidupan sehari-hari ada kecenderungan bagi suku bangsa Minahasa untuk menyebut diri mereka sebagai orang Manado. Sebagai kelengkapan baju dipakai topi warna merah yang dihiasi motif bunga padi warna kuning keemasan pula. sedangkan Konde yang memakai 5 tangkai kembang goyang disebut konde pinkan. baju tanpa lengan dan bentuknya lurus. berkancing tanpa saku. Di masa lalu busana sehari-hari wanita Minahasa terdiri dari baju sejenis kebaya. disebut laborci-laborci. sarong motif kaki seribu. Motif Mahkota pun bermacam-macam. disebut model salimburung. Busana yang dipakai oleh pengantin wanita adalah busana kebesaran yang dipakai oleh istri raja di jaman dulu. Selain baju karai. Busana pengantin baju jas tertutup ini. celana panjang. ada juga bentuk baju yang berlengan panjang. yaitu mulai dari bentuk celana pendek sampai celana panjang seperti bentuk celana piyama. mereka pun memakai blus atau gaun yang disebut pasalongan rinegetan. disebut wuyang (pakaian kulit kayu). terdapat juga sarong motif sarang burung. Pada perkembangan selanjutnya busana Minahasa mendapatkan pengaruh dari bangsa Eropa dan Cina. disebut busana tatutu. tidak memiliki krah dan saku. selendang pinggang dan kedua lengan baju. Busana kebesaran ini disebut biliu. Aksesori tersebut mempunyai berbagai variasi bentuk dan motif. Busana wanita yang memperoleh pengaruh kebudayaan Spanyol terdiri dari baju kebaya lengan panjang dengan rok yang bervariasi. pengantin wanita mengenakan busana yang terdiri dari baju kebaya warna putih dan kain sarong bersulam warna putih dengan sulaman motif sisik ikan. Busana pria pengaruh Spanyol adalah baju lengan panjang (baniang) yang modelnya berubah menyerupai jas tutup dengan celana panjang. Busana Tradisional Minahasa Minahasa Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Minahasa adalah salah satu suku bangsa yang mendiami wilayah Propinsi Sulawesi Utara. berwarna hitam terbuat dari ijuk. Sedangkan busana pengantin pria memakai baju paluwala. Warna baju hitam dengan hiasan motif bunga padi pada leher baju. yaitu sama dengan baju takowa yang terdiri dari baju dan celana panjang. ujung lengan dan sepanjang ujung baju bagian depan yang terbelah. potongan baju lurus. Bahan baju ini terbuat dari kain blacu warna putih. memakai krah dan saku disebut baju baniang. Semua motif berwarna kuning keemasan. Motif dalam busana ini adalah motif bunga padi. anting dan gelang. seperti motif biasa. yang bahannya terbuat dari tenunan bentenan. Perbedaannya terletak pada aksesori dan perhiasan yang digunakan. sayap burung cendrawasih dan motif ekor burung cendrawasih. selendang pinggang dan topi (porong). Aksesori yang dipakai dalam busana pengantin wanita adalah sanggul atau bentuk konde. bintang. kain panjang atau sekarang dapat diganti dengan rok panjang.Rangkaian terakhir dari upacara perkawinan adat Gorontalo adalah bersanding di pelaminan (mopo pipide). Celana yang dipakai masih sederhana. lebih lengkap dan menunjukkan keagungan. Selain itu. terdiri atas baju lengan panjang. Konde yang menggunakan 9 bunga Manduru putih disebut konde lumalundung. yang terdapat pada hiasan topi. kalung leher (kelana). disebut model kaki seribu dan sarong motif bunga. Pengantin pria memakai busana yang terdiri dari baju jas tertutup atau terbuka. mahkota (kronci). Pada busana pria pengaruh Cina tidak begitu tampak Baju Ikan Duyung Pada upacara perkawinan. aksesori dan perhiasan. Potongan baju tatutu adalah berlengan panjang. Model busana pengantin wanita ini dinamakan baju ikan duyung.

Selain sebagai penunjuk identitas kebudayaan. dan ujung lilitannya dipegang oleh salah satu tangan. Busana ini dapat juga dipakai pada saat berpergian. Bahan baju terbuat dari kain satin warna merah atau biru. sedangkan lubang leher dengan warna kuning emas. Potongan baju tanpa kerah dan kancing. Baju berlengan pendek ini diberi hiasan renda pada setiap ujung lengan. Warna baju putih dengan hiasan corak bunga padi. Warna baju umumnya putih. selop. kain sarong batik warna gelap dan topi mahkota (kronci). selain dipakai untuk bepergian dapat juga dipakai untuk menghadiri . yaitu langit dan bumi. Dilengkapi selempang warna kuning atau merah. saku. hanya saja lebih panjang seperti jubah. Lapisan dalam adalah sarung atau rok warna putih yang dililitkan di pinggang. Busana Tradisional Muna Muna Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Pakaian sehari-hari atau di rumah yang dikenakan oleh kaum pria terdiri atas baju (bhadu). perlambang penyatuan 2 unsur alam. biasanya berwarna merah bercorak geometris horizontal berwarna hitam. Dilengkapi topi porong nimiles. Bentuk dan jenis busana Tonaas dan Walian Wangko inilah yang kemudian menjadi model dari jenis-jenis pakaian adat Minahasa untuk berbagai keperluan upacara. Kalangan wanita mengenakan busana yang terdiri atas bhadu. Sarung yang mereka pakai umumnya berwarna merah. wanita Muna memakai baju berlengan pendek yang disebut kuta kutango. Bentuk baju dapat berupa baju berlengan pendek dan baju berlengan panjang dengan lubang pada bagian atas baju untuk memasukkan kepala. hitam. Sarung kedua untuk membalut baju. dunia dan alam baka. yaitu terdapat kancing. Baju yang dipakai berlengan pendek dengan model baju seperti sekarang. gelang yang terbuat dari logam warna putih atau kuning dikenakan pada kaki. memakai baju kebaya panjang warna putih atau ungu. Gelang yang terbuat dari emas dipakai pada tangan. dan berkerah. biru. dan kain ikat pinggang yang disebut simpulan kagogo. Hiasan yang dipakai adalah motif bunga terompet. sarung (bheta).Busana Walian Wangko pria merupakan modifikasi bentuk dari baju Tonaas Wangko. bheta. Sarung ketiga atau paling atas digulung melilit dada terkepit ketiak. Baju katango ini. Sedangkan Walian Wangko wanita. busana adat tersebut menumbuhkan kebanggaan bagi masyarakatnya. Umumnya. untuk pakaian sehari-hari di rumah. juga untuk menyelipkan senjata tajam. kalung leher dan sanggul. celana (sala) dan kopiah (songko) atau dapat diganti dengan ikat kepala (kampurui). Jenis-jenis dan bentuk busana di atas merupakan kekayaan budaya Minahasa yang tak ternilai harganya. Fungsi ikat pinggang ini selain untuk penguat sarung agar tidak mudah lepas. Sedangkan ikat pinggang terbuat dari logam berwarna kuning. bagi warga maupun aparatur pemertintah setempat. yang dibuat dari lilitan dua buah kain berwarna merahhitam dan kuning-emas. Perhiasan yang dipakai sebagai kelengkapannya adalah kalung bulat yang terbuat dari logam untuk bagian leher. yang dililitkan di dada menjurai sampai dengan di atas lutut. Ikat kepala yang dipakai berupa kain bercorak batik. coklat atau warna gelap lainnya dengan corak garis-garis horizontal. Sarung yang dipakai oleh wanita terdiri atas tiga lapis. Sarung yang dipakai.

Anak yang akan disunat ini memakai busana adat yang dinamakan ajo tandaki. cincin dan anting yang terbuat dari emas. dan ikat pinggang (sulepe). yang disebut biru-biru. sarung berhias (bia ibolaki). ikat pinggang. khususnya yang berhubungan dengan daur hidup manusia. tusuk konde (panto). terdiri atas unsur pakaian baju dan kain sarung motif kotak-kotak kecil yang disebut bia-bia itanu. Perhiasan yang digunakan adalah sanggul yang diberi hiasan. dan perhiasan logam. seorang gadis memakai busana adat beserta perhiasannya yang terdiri dari bhadu.. Bentuk baju berlengan pendek dan tidak berkancing. bulu burung cendrawasih dan berbagai hiasan dari logam. sarung dua lapis. Selain itu. Sarung yang dikenakan ada dua. Penulis Mira Indiwara Pakan . Perhiasan yang dipakai terdiri atas gelang tangan (simbi). Pada upacara tersebut. maka dililitkan kain ikat pinggang yang diberi hiasan jambuljambul atau rumbai-rumbai disebut kabokena tango. Sementara itu upacara sunatan sebagai bagian penting dari upacara daur hidup seorang pria sbelum mencapai usia remaja atau dewasa. Busana Tradisional Buton Penulis Jaya Purnawijaya Pakaian keseharian orang kebanyakan (golongan walaka) disebut pakaian biru-biru. Pada sanggul dililitkan pita dari kain berwarna merah atau warna baju yang dipakainya. dan sanggul. masyarakat Buton pun memiliki pakaian khusus yang dikenakan pada saat berlangsung upacara adat tertentu. bercorak sama tetapi dengan warna berbeda. Ciri seorang gadis yang sudah dipingit adalah memakai gelang yang sudah dihiasi manik-manik pada pergelangan kirinya disebut kabokena limo. Dalam upacara ini. gelang kaki (kurondo). perkawinan misalnya.pesta-pesta upacara adat atau menerima tamu. bheta. Pakaian ajo tandaki terdiri atas mahkota. Adapun yang membedakannya dengan busana untuk upacara lain adalah terletak pada penggunaan perhiasan. Sedangkan perhiasan yang terdapat pada sanggul adalah pita pengikat konde (kawutu). Ikat kepala dililitkan di tengah kepala sehingga membentuk lipatan-lipatan yang meninggi di sebelah kanan kepala. dan kain bersulam benang emas berbentuk pita (kabunsale). Perhiasan yang dipakai adalah ikat pinggang (sulepe) terbuat dari logam. Sarung yang di dalam dililitkan pada pinggang lebih panjang dari pada sarung yang di luar (tampak berlapis). Kedua sarung tersebut dililitkan di atas pinggang. sebetulnya tidak berbeda dengan busana sehari-hari wanita Muna. Sanggul seperti ini disebut popungu kelu-kelu. Dua diantaranya yang adalah upacara memingit gadis yang disebut posuo dan upacara sunatan. selendang (salenda). Mahkota dibuat dari kain merah. Agar sarung tampak kuat. dengan penguat lilitan selembar kain ikat pinggang. dan anak yang boleh memakainya harus berasal dari golongan masyarakat bangsawan (kaomu). Bentuk bhadu dan bheta yang dikenakan pada upacara ini. Perhiasan lainnya adalah gelang di kedua belah tangan. perhiasan yang dipakai adalah gelang. Perbedaannya hanya pada tata rias dan perhiasan yang dikenakannya. anting-anting di telinga dan kalung menghiasi leher. Pakaian sehari-hari di kalangan wanita disebut baju kombowa. dan ikat pinggang (sulepe). Salah satu upacara adat yang hingga saat ini masih dipertahankan oleh masyarakat Muna adalah upacara pingitan gadis (karia). manik-manik. terdiri atas sarung dan ikat kepala tanpa baju. Kelengkapan busana ini hanya dipakai oleh kalangan wanita bangsawan (kaomu). Mereka memakai baju kambowa serta sarung yang bermotif (bia-bia itanu kumbea). kalung (tongko). Selain pakaian sehari-hari. Tandaki adalah mahkota. Berbusana secara lengkap berikut berbagai perhiasannya juga dikenakan oleh kaum wanita yang akan menghadiri upacara resmi. Hiasan sanggul terbuat dari kain atau logam yang berwarna kuning membentuk kembang cempaka. Cara melilitkan ikat pinggang tersebut diatur sedemikian rupa agar rumbai-rumbai tersebut berada di depan. gadis yang dipingit diharuskan memakai busana kalambe yang terdiri atas baju kambowa. Upacara posuo merupakan salah satu upacara yang harus dilalui oleh seorang gadis yang telah menginjak dewasa. Sarung dililitkan di pinggang membalut atau menutupi sebagian baju. anting-anting (dali).

bermacam-macam gelang mulai dari lengan hingga siku mereka. Salah satunya tampak pada unsur busana adat yang menjadi milik masyarakat Kaili. Model sanggul seperti ini akan tampak pada saat wanita Kaili melakukan berbagai rutinitas kegiatan sehari-hari mereka. ada tiga model sanggul yang senantiasa ditampilkan oleh para wanita kaili. Berbicara mengenai busana adat masyarakat Kaili tampaknya akan lebih didominasi oleh busana yang biasa dikenakan oleh kaum wanitanya. ada belahan pada bagian dadanya dan diberi sejumlah kancing. Untuk keperluan pakaian sehari-hari. yakni model sanggul dengan ciri khasnya terletak pada ujung rambut yang disanggul sedikit diuraikan ke bagian samping hingga mencapai bahu. baju gembe. tudung kepala yang biasa dikenakan oleh kaum wanita tersebut berbentuk seperti kerucut. kain fuya yang digunakan agak kasar. Model rambut yang paling terakhir disebut unte pambeo. Masyarakat di tempat tersebut menamakan ikat kepala yang biasa dikenakan oleh kaum wanita dengan sebutan tali bonto. Secara fisik. dan budak (batua). Sementara itu. Biasanya. pada zaman dahulu terdiri atas kain sarung lengkap dengan bajunya yang berupa blus berlengan pendek. dengan bahan bakunya berasal dari rotan yang dianyam sedemikian rupa. kalung panjang. Pertama adalah unte tandu. Ada golongan raja (maradika). yakni bentuk sanggul tanduk yang biasanya diletakkan di bagian belakang kepala. tidak heran bila di daerah tersebut terdapat beraneka ragam jenis sanggul. Sementara itu. dengan jenis yang cukup beragam. yakni kain yang terbuat dari serat kulit kayu. . atribut tersebut masih dapat ditemukan dalam beberapa hat. Baju gembe adalah baju yang memiliki bentuk dan potongan sejenis dengan baju bodo yang terdapat dalam kebudayaan Bugis. Jenis sanggul seperti ini hanya diperuntukkan bagi para pengantin wanita saja. Untuk mempercantik penampilan mereka dalam berbusana. Selain memiliki busana yang cukup beragam. Oleh karena itu. Bahan yang digunakan untuk membuat ikat kepala tersebut adalah rotan yang tipis atau fuya. yakni baju poko. Pada setiap lapisan sosial biasanya terdapat sejumlah atribut berupa lambang atau simbol-simbol tertentu. Pada zaman dahulu. gambaran mengenai busana adat pria Kaili tampak jauh lebih sederhana.Kaili merupakan salah satu suku bangsa yang menempati wilayah Provinsi Sulawesi Tengah. Busana yang disebut dengan baju poko itu sendiri ada dua macam. Namun kini kain fuya telah ditinggalkan dan diganti dengan bahan katun atau jenis kain lainnya yang dapat dibeli dengan mudah. yakni baju yang berlengan panjang dan baju yang berlengan pendek. rakyat kebanyakan (todea). Lain halnya dengan kain fuya yang digunakan untuk membuat busana pesta. dan hiasan untuk penutup rambut. Bahkan khusus untuk kaum wanita bangsawan. kelengkapan busana berikut aksesori lainnya pun tidak kalah bervariasinya. sekalipun itu tidak banyak. dan baju pasua. pending. Jenis-jenis perhiasan itu sendiri pada umumnya berupa kalung bersusun. sangat erat dengan kebiasaan mereka yang gemar menyanggul rambut. kaum wanita Kaili kerapkali mengenakan kelengkapan busana lainnya yang cukup khas seperti ikat kepala dan tudung kepala. Busana wanita Kaili. berlengan panjang dengan kancing pada bagian pergelangan tangannya. Jenis sanggul yang kedua bernama unte pompule pasiki. lebih halus dan dilengkapi dengan hiasan yang berupa aplikasi beraneka warna. yakni bentuk sanggul yang didapatkan dengan cara menyisipkan gulungan rambut mereka ke dalam rambut itu sendiri. perhiasan yang dipilihnya terbuat dari manik-manik atau bahkan juga terbuat dari emas. pembungkus hasta dan pergelangan tangan. sistem pelapisan tersebut tidak lagi bertahan sepenuhnya. Keduanya sama-sama berleher bundar dan tanpa krah pada baju bagian atasnya. Paling tidak. keberadaan tudung kepala memang mendapat tempat tersendiri dalam kehidupan kaum wanita Kaili. bangsawan (toguua mungana). Busana adat wanita Kaili dapat dibedakan ke dalam tiga jenis model baju. Selain baju-baju tersebut. Meskipun saat ini. tak lupa dikenakan perhiasan-perhiasan sebagai pelengkapnya. masyarakat Kaili mengenal sistem pelapisan sosial dengan empat tingkatan sosial di dalamnya. Berbicara mengenai perhiasan yang biasa dipasang pada bagian kepala kaum wanita Kaili. Adapun gambaran mengenai baju pasua adalah jenis baju yang memiliki bentuk leher bundar. Bahan baju tersebut beradal dari kain fuya. mereka mengenakan tudung kepala pada saat melakukan kegiatan sehari-hari.

Pada masa itu. sebelah Barat Laut dengan kabupaten Paniai. justru berbeda dengan kondisi mengenai busana adat kaum pria Kaili. Pusat-pusat permukiman orang Dani . ada juga kelengkapan busana lainnya yang senantiasa dikenakan oleh mereka.Bila gambaran mengenai busana adat wanita Kaili begitu kaya akan berbagai informasi di seputar masalah tersebut. yakni berperang dan tradisi pengayauan. Di sebelah Utara berbatasan dengan kabupaten Yapen-Waropen. Dengan mengungkapkan profil pria Kaili. sebelah Timur Laut dengan kabupaten Jayapura. dan sebelah Timur berbatasan dengan negara Papua Niugini (Papua Neuw Guinea/ PNG). Namun bila akan bepergian. Secara historis. Adapun pada anggota tubuh bagian atas kerapkali hanya bertelanjang dada. Selain kedua unsur busan tersebut. baru mereka memakai baju untuk menutupi anggota tubuh bagian atasnya. ikat kepala dan kampuh. Kampuh yang sarat dengan berbagai macam benda tersebut biasanya dikalungkan pada leher mereka. Busana yang digunakan kaum pria untuk menutupi anggota badan bagian bawah adalah cawat dan celana pendek yang pipa celananya sedikit di atas lutut. yang dikenal dengan istilah mengayau. yakni untuk menghangatkan tubuh atau berfungsi sebagai penahan hawa dingin. Satu kelengkapan lainnya yang senantiasa dibawa oleh kaum pria Kaili adalah kampuh yang berisi sirih pinang dan beraneka macam benda-benda yang digunakan untuk meramal oleh pemiliknya. akan tampak bagaimana sebenarnya busana adat mereka yang pernah ada selama ini. Kelengkapan busana lain yang tidak kalah pentingnya adalah ikat kepala. Ada satu tujuan utama yang hendak dicapai. Salah satu di antaranyanya adalah biji jagung kering. Tentu saja pemilihan warna dan motif tersebut akan disesuaikan dengan status sosial pemakainya. Ada beberapa jenis kelengkapan busana adat pria Kaili. Unsur yang pertama adalah sarung. sebelah Selatan dengan kabupaten Merauke. memang ada satu kebiasaan masyarakat Kaili untuk memenggal kepala musuh pada saat berperang. sebelah Barat Daya dengan kabupaten Fakfak. Busana Tradisional Masyarakat Dani Dani People Traditional Dress Penulis Aat Soeratin. Tentu saja bukannya tanpa alasan bila mereka mengenakannya seperti itu. pemakaian ikat kepala ini sangat erat kaitannya dengan aktivitas mereka di masa lalu. Jonny Purba Masyarakat Dani mendiami wilayah kabupaten Jayawijaya. yakni kain sarung. Ikat kepala yang dipakai oleh kaum pria tersebut memiliki warna yang beragam serta bermotif. yang pemakaiannya tidak dilakukan untuk menutupi badan bagian bawah melainkan hanya disampirkan di bahunya.

Sedangkan jenis holim besar terdapat di lembah Baliem. Illaga. Dalam perkembangannya fungsi dan kegunaan holim mulai digantikan dengan pakaian sehari-hari yang terbuat dari tekstil. yakni masyarakat Moni dan Damal untuk menunjukkan suku tetangganya (masyarakat Dani). Kosarek. kuning. Busana Adat Masyarakat Dani Ada beberapa jenis busana dan tata rias Masyarakat Dani yang sangat khas bila dibandingkan dengan kelompok etnis lainnya di Irian Jaya. Miring ke samping kanan: simbol kejantanan. terutama di Kecamatan Wamena Kota. Yalimo. Ukuran bagian bawahnya sedang dan atasnya runcing. laki-laki sejati. Beberapa lembah yang terkenal. dan Oholim. Juga menunjukkan pemakainya adalah keturunan Panglima Perang (apendabogur). Kadang-kadang bagian ujungnya diberi hiasan bulu burung atau bulu ayam hutan. dan pengayom rakyat. misalnya "uang merah" (eka merah). "Kanan" menandakan kekuatan bekerja. memiliki status sosial yang tinggi atau mempunyai kedudukan sebagai bangsawan. Ketika dikenakan. pria yang memakainya masih perjaka. yokal dan sali. isi buah labu dikeluarkan. Setelah itu buah labu kembali dikeringkan di sekitar perapian. yaitu tegak lurus: menandakan bahwa pemakainya adalah "pria sejati". Pas Valley dan Piet River. Buah labu yang sudah tua. pemilik harta kekayaan yang melimpah. Istilah "Ndani" berasal dari kata "Lani" yang digunakan oleh penduduk lembah Baliem Utara dan Barat. penutup kelamin pria ini diikatkan ke seputar pinggang dengan tali halus yang biasanya berwarna hitam. sejenis labu Cina. Bahan pewarna tersebut . Hiasan itu untuk menimbulkan daya tarik bagi kaum perempuan. Di samping itu biasanya terdapat juga humila sebagai dapur tempat memasak dan wam aele sebagai kandang babi. artinya "Kami orang Baliem". antara lain. agar tidak jatuh. Kehidupannya mengelompok berbentuk desa yang dinamakan silimo (asilimo). Sinak. Illu. upacara adat misalnya. Tiom. mereka menggunakan holim sebagai pakaian adat sekaligus sebagai perlengkapan upacara. Dwart. Makna simbolik lainnya mengisyaratkan. saat berada di honai. di antaranya koteka (holim). Mulia. disebut yokal. Namun dalam kegiatan tertentu. seperti waktu mengerjakan ladang. Kecamatan Asologaima dan Kecamatan Kurulu. Biasanya yokal berwarna hitam. Ilaga. Banyak kemudian yang menambahkan semacam sekat di antara pangkal dan ujung "selongsong" koteka bolong itu untuk tempat menyimpan benda-benda yang dianggap keramat atau bendabenda yang dianggap bernilai tinggi. Ada dua ukuran koteka yakni holim kecil (halus) dan holim pendek besar. Istilah "Dani" digunakan oleh ekspedisi Sterling tahun 1926. berwarna kuning kemerah-merahan. Yokal Sejenis rok wanita masyarakat Dani yang dibuat dari serat tali hutan (tumbuhan rambat) yang dipintal dengan rapi. bermakna bahwa penggunanya adalah pria gagah berani. Miring ke samping kiri: bermakna pria dewasa yang berasal dari golongan menengah dan memiliki sifat kejantanan ejati. Setelah kering. Bentuk rumah tinggalnya disebut honai (honae) untuk laki-laki dan obe-ae rumah khusus kaum perempuan. kemudian dibersihkan. lembah Baliem (Lembah Agung). dikorek dengan kayu yang diruncingkan. Ada tiga pola penggunaan koteka. Sebagian masyarakat Dani mengenakan koteka yang ukurannya pendek dan besar. sedangkan sebelumnya disebut "Ndani". Apalahapsili. dipetik lalu dikeringkan di perapian. belum pernah melakukan persebadanan. Kalabasah yang berdiameter relatif besar itu dipotong hampir setengahnya sehingga ujungnya bolong (terbuka) yang ketika dipakai biasanya bolong itu ditutup dengan daun. Masyarakat Dani sendiri menamakan dirinya "Nit Baliemege". ketika berternak babi. Welarak. Koteka (Holim) Koteka atau disebut juga holim adalah pakaian laki-laki masyarakat Dani dan Ekari. Jenis koteka kecil terdapat di daerah lembah Baliem. dan kemerah-merahan. Secara etnis masyarakat Dani dikenal dalam dua kelompok yaitu Wita dan Waya. Konda.umumnya berada di wilayah lembah dan lereng-lereng gunung. Holim sebagai pakaian sehari-hari digunakan dalam seluruh kegiatan keseharian. keterampilan memipin. Busana penutup alat kelamin pria ini dibuat dari kalabasah. Jenis holim ini halus. yaitu tegak lurus: menandakan bahwa pemakainya koteka.

semacam "baju besi" dibuat dari serat rotan yang dianyam rapat sehingga berfungsi sebagai perisai dari tusukan anak panah dan tombak. Sali dipakai sehari-hari oleh anak gadis. Diwarnai dengan getah kulit atau bunga anggrek. Sege adalah tombak panjang yang melambangkan pria sejati. Pada sepenuh permukaan walimo ditempelkan. ke gereja. Sedemikian besar fungsinya. Pekerjaan ini biasanya dilakukan wanita dewasa. diambil seratnya kemudian dikeringkan pada perapian atau dijemur pada panas matahari. kalung berupa tali penangkal guna-guna. juga untuk membawa babi. Akseori ini biasanya warisan turun-temurun dari nenek moyang. gendongan bayi. Yokal melambangkan wanita pemakainya sudah tidak gadis lagi atau wanita yang telah menikah. Selanjutnya dipintal dan dirajut menjadi rok. menjual hasil pertanian. Siluki inon. Kulit kayu tersebut dikelupas dari batangnya. gelang anyaman rotan yang dipakai pada lengan maupun pergelangan tangan. menyiapkan makanan. Yokal biasanya dikenakan oleh wanita dewasa yang sudah menikah. topi dari bulu kuskus warna hitam. Aksesori yang dikenakan para wanita Dani. bahan tersebut dijemur atau diasapi. karena para lelakilah yang lebih kerap tampil ketika harus berinteraksi dengan masyarakat di luar kelompoknya. Biasanya seorang wanita Dani mengenakan sejumlah noken yang digantungkan pada kening dan berjuntai ke punggungnya hingga menutup bagian pinggul. Pada tubuh para lelaki nampak lebih banyak aksesori ketimbang yang dikenakan para perempuan. Yokal dibuat dari kulit kayu wam. Ngisi mengisyaratkan pemuda yang telah siap untuk menikah. Sali mengisyaratkan pemakainya Tata Rias Masyarakat Dani Yang lebih banyak merias diri pada masyarakat Dani adalah kaum laki-laki.didapat dari getah kulit atau bunga anggrek. Wayeske. puluhan rumah siput kecil yang dianggap mampu mendatangkan kekuatan gaib. Sali Pakaian sehari-hari anak gadis masyarakat Dani adalah sali yang dibuat dari bahan serat kem atau dari sejenis daun pandan. sehingga seorang wanita Dani biasanya membawa beberapa noken dengan isi yang berlainan. Mul. Walimo yaitu hiasan dada. bepergian. Konon. Cipat. dikenakan pada lengan maupun pergelangan tangan. Seperti proses membuat yokal. dibuat dari anyaman serat kulit kayu yang ketika dikenakan akan nampak seperti dasi. Dibuat berupa untaian sebagai kalung. mengasuh anak. ke sekolah. Ngisi adalah rambut yang dianyam rapi dan dilumuri dengan lemak babi. sejenis topi berbentuk bulat dibuat dari bulu burung. sehari-hari atau saat upacara adat. . misalnya saat ke ladang. antara lain: sekan yaitu gelang yang dibuat dari rotan. Sekan. Selain sebagai aksesori. memelihara babi. Banyaknya kulit kerang menunjukkan jumlah musuh yang dibunuhnya dalam perang suku. yang melambangkan kemahiran berburu dan keberanian. Noken juga dipercaya sebagai simbol kehidupan dan kesuburan. atau dibentuk menjadi pipih dan diselipkan pada cuping hidung bagian tengah yang dilubangi sehingga mirip seperti misai panjang. senjata ampuh pria sejati Dani. anak panah dan busur. seperti mengerjakan kebun. Oleh karena itu aksesori yang digunakan mengandung makna simbolik sekaligus menunjukkan identitas pemakai maupun masyarakatnya. Wam maik adalah aksesori dengan bahan taring babi. berderet-deret dan disusun rapi. noken berfungsi untuk menyimpan dan mengangkut bahan makanan. Yokal digunakan sehari-hari untuk melakukan pelbagai pekerjaan. setelah kering dianyam pada seutas tali sepanjang seputar pinggang. Benda laut ini didatangkan ke daerah pegunungan melalui sistem barter. termasuk saat mengikuti upacara adat. Noken (su labak yapma) yaitu sejenis tas dibuat dari serat kulit kayu yang dianyam menyerupai karung. Sali dipakai dengan cara melilitkannya ke seputar pinggang dan menyimpulkan kedua ujung tali penahannya pada bagian perut (pusar). Wali moken sebutan untuk kulit kerang yang diikat hingga seolah menempel pada dahi seorang laki-laki. Perlengkapan merias diri kaum lelaki masyarakat Dani yang dikenakan saat upacara dan aktivitas sehari-hari lainnya. antara lain: swesi.

Suku bangsa Asmat adalah suku bangsa terbesar di antara suku-suku bangsa lainnya di bagian selatan Irian. Sawa Erma. ikat pinggang dari anyaman rotan. dan masing-masing aksesori itu memiliki makna simbolik. wanita Asmat membuat semacam kutang dari anyaman daun sagu muda yang disebut peni atau samsur. Pada rambut diselipkan hiasan yang disebut sokmet. Atsy. Marind. dahulu. hanya dipakai oleh istri panglima perang. mereka menjalinnya hingga bisa "berdiri". Ketika menginginkan rambutnya nampak lurus. Seperti halnya sukusuku bangsa lainnya. Asmat. Jenis atau ragam busana Asmat tidaklah banyak. masyarakat Asmat merancang dan mengembangkan berbagai jenis busana dan tata rias untuk dipakai seharihari maupun untuk keperluan upacara adat. Daerah persebarannya meliputi Kecamatan Agats. Menjalin rambut ini disebut wi atau owusapor dan biasanya dilakukan pria remaja. Rumbai-rumbai pummi dilepas begitu saja hingga terurai di sekeliling pinggul dan paha. Penahan pummi adalah asenem. dan Pantai Kasuari. semakin banyak ragam rias yang dikenakannya. bulu bangau yang diikatkan pada . Tok adalah pummi yang rumbai-rumbai bagian depannya dikumpulkan lalu ditarik ke bagian belakang pinggul melalui celah paha sehingga menyerupai cawat.Busana Tradisional Asmat Asmat Traditional Asmat Wilayah pantai (Selatan) Irian Jaya didiami sukubangsa Muyu. Tali pengikatnya dibuat dari akar pandan. Semakin tinggi status sosial seseorang. dan Mimika. Laki-laki Asmat biasanya memakai pummi semacam rok mini yang dibuat dari anyaman daun sagu. bahkan di kawasan propinsi Irian Jaya. Sejauh ini yang ditemukan hanya yang berupa "rok mini" dan cawat sebagai penutup aurat kaum lelaki dan perempuan. Sedangkan kaum perempuannya memakai tok. Dan peni. semacam cawat atau celana dalam. disebut tali bow. Rambut orang Asmat pada umumnya keriting atau bergelombang. Untuk menutup payudara. Busana dan tata rias yang dikenakan juga menunjukkan status sosial maupun jenis kelamin. Mereka bermukim di daerah rawa yang sangat luas.

Dulunya barok hanya dipakai oleh panglima perang. disebut wisaper. dan gelang yang dipakai pada lengan. subang penghias hidung. sokmet masih dipakai pria Asmat. Masyarakat Asmat juga menciptakan semacam topi berbentuk kopiyah/peci/songkok yang terbuka bagian atasnya yang dibuat dari bulu kuskus. sehingga bila saat berduka benda ini tidak ditampilkan. juwursis merupakan benda yang bernilai tinggi. Pada kebudayaan Asmat. Subang penghias telinga disebut jemcankan yang dibuat dari kayu fum atau dari semacam manik-manik biji tumbuhan dek atau omdu atau tisen. pergelangan tangan. biasanya diimbuh hiasan beberapa tangkai sokmet. Sof betan atau sinenke adalah gelang untuk pangkal lengan dari anyaman rotan. Juwursis biasanya dipakai oleh panglima perang. Aksesori lainnya yang sangat khas adalah subang penghias telinga. dan kepala-kepala tungku (kepala keluarga luas). yang supaya nampak indah dihias bulu burung cendrawasih (jabopan). penyanyi. masyarakat Asmat. 0 effo juga dipakai sebagai cerminan perasaan sukacita. pemukul tifa. biasanya dipakai oleh panglima perang. bukan hasil buruan dengan bantuan anjing atau tombak. konon. Kalung lainnya adalah juwursis (juwur = anjing). terutama saat melaksanakan upacara adat. Masyarakat Asmat. Bipane biasanya dipakai oleh panglima perang. Yang dikenakan pada pergelangan tangan. dan penyanyi pengiring upacara. . Noken dibuat dari anyaman daun pandan dan pada salah satu sisinya diberi hiasan bulu sayap burung kakak tua atau bulu sayap burung bangau. Sebagai masyarakat peramu yang hidup dari berburu. Ada pula o effo yakni ekor babi hutan yang dililitkan di bagian pangkal tangan. Senjata yang hampir selalu disandang sebagai aksesori pada pelbagai upacara adat ialah pisuwe. sejenis tas yang disandang di leher laki-laki atau di kening perempuan. Atau pomak camkan yang dibuat dari anyaman daun sagu muda yang biasa dipakai saat pesta ulat sagu dan upacara patung mbis (patung leluhur). tanpa membedakan status sosial. dan pemukul tifa. menggunakan gulungan daun sagu atau daun nipah yang disebut bi awok sebagai penghias hidung mereka. dituntut untuk mahir menggunakan senjata: pisau. kepala adat. Maka untuk bisa tampil segagah burung yang elok itu mereka. Sedangkan para lelaki memakai bipane. Hingga sekarang. terutama kaum lelaki. pemimpin tungku (keluarga luas). dan pangkal betis. tapi sekarang dipakai juga oleh para tetua adat. Wanita yang mengenakan benda ini adalah istri dari orang yang gemar berburu babi hutan. sehingga seringkali digunakan sebagai mas kawin seperti halnya kapak batu. Topi ini disebut kasuomer dan kerap dihiasi bitwan (kulit kerang). Noken yang polos tanpa hiasan dipakai oleh wanita dan laki-laki kebanyakan sedangkan yang dibubuhi hiasan. yang dibuat dari biji tumbuhan tisen. panah. kaum wanita dan lelaki Asmat memakai tisen pe. pun kebanyakan masyarakat asli Irian Jaya. panjangnya kira-kira 30 cm. terutama istri panglima perang dan para tetua adat. untaian gigi taring anjing yang dikombinasikan dengan taring babi hutan. sangat mengagumi burung kakatua raja lantaran satwa ini nampak elok dan gagah. melubangi cuping tengah hidung mereka dan "menyumpalnya" dengan aksesori berupa benda yang terkadang berukuran lebih besar daripada lubang hidung. Sebagai kalung. dari bahan yang sama. dan diberi hiasan bulu burung kakatua atau burung bangau yang disebut panicep solme. Topi ini disebut juprew. Begitu pentingnya fungsi senjata-bagi lelaki Asmat sehingga bukan hanya dipakai sebagai peralatan berburu belaka tapi juga sebagai alat pelengkap penampilan agar nampak berwibawa.lidi. penyanyi. Kaum wanita Asmat. semacam pisau belati dibuat dari tulang kering burung kasuari yang salah satu ujungnya diruncingkan dan pangkalnya dihias oleh bulu-bulu halus burung kasuari. aksesori yang dibuat dari kulit siput/ kerang yang dibentuk mirip bulan sabit atau ada juga yang menyerupai misai panjang gergulung. Ekor babi untuk o effo harus berasal dari babi hutan yang terkena perangkap (siso). terutama ketika mereka berada di dalam jew (rumah panjang). Sedangkan yang dipakai pada pangkal lutut dinamakan barok. Senjata ini diselipkan pada sinenke. Tali penahan agar kasuomer tidak jatuh dibuat dari jalinan daun sagu muda. kalung. pemukul tifa. dan tombak. dan biasanya disandang oleh panglima perang. Benda pakai yang juga kerap dijadikan pelengkap penampilan adalah noken. disebut betan. agar ujung hidung tertarik sehingga mancung dan melengkung seperti paruh kakatua raja. Ada juga penutup kepala yang dibuat dari anyaman daun sagu dan akar kayu.

Anak panahnya agak beragam. Masyarakat Asmat mengenal beberapa jenis tombak dan masingmasing dinamai sesuai dengan bahannya. Pada hakekatnya besurek memiliki arti bersurat atau tulisan yang tradisinya sudah diwariskan secara turun temurun. kemudian ditumbuk hingga halus dan dicampur dengan air.5 meter. yakni rias tubuh berupa gambar corak hias garis sejajar atau liris yang sangat ekspresif di sekujur tubuh terutama saat melaksanakan upacara adat. Ada juga jenis tombak khusus untuk berburu buaya. hitam. Dan. sowen. putih. Batik Besurek sudah menjadi salah satu kerajinan tangan khas Kota Bengkulu. disebut vom. sedangkan warna hijau dari dedaunan. Kemudian panah yang disebut ces atau jimar. Warna merah berasal dari tanah merah yang diperoleh dari pegunungan Lorentz. Busurnya dibuat dari jenis kayu bakau. Konon. panjangnya sekitar 1. Hingga kini batik Besurek tidak hanya digunakan oleh kalangan bangsawan saat upacara adat saja. Disebut demikian karena motifnya bertuliskan kaligrafi Arab. ternyata Provinsi Bengkulu juga memiliki kerajinan tradisional batik yang cukup mumpuni yaitu Besurek. dari bambu dinamai firokom. yang dari besi dikenal sebagai sok. dan hijau tampil kuat pada latar kulit yang hitam berkilat. dan tombak logam besi disebut frin. . Warna putih didapat dengan cara membakar kulit siput. Warna hitam dari arang pembakaran. Tombak yang pertama kali digunakan dibuat dari kayu nibung yang dinamai ocan atau kamen. Agar lebih variatif. Namun juga mengombinasikan beberapa motif. Komposisi warna merah. melainkan sudah menjadi seragam tetap beberapa sekolah dan pakaian dinas pemerintah daerah setempat. Penulis Aat Soeratin. seperti relung kua yang bergambar burung. relung paku yang meliuk liuk seperti tanaman pakis. yang dibuat dari kayu keras disebut fir. batik besurek diperkenalkan para pedagang Arab dan pekerja asal India pada abad XVII. Tombak kayu besi dinamai viwu. saat ini para pengrajin tak hanya menuliskan huruf kaligrafi. Jonny Purba Busana tradisional Bengkulu Tidak hanya terkenal di pulau Jawa saja. dan motif rembulan serta bunga rafflesia. yang tak boleh dilupakan adalah wasse mbi. fum.Senjata lainnya adalah tombak.

Daun bambu 4. Pada kepalanya memakai mahkota yang dinamakan “Paksian”. Selanjutnya karena banyaknya orang-orang Cina dan Arab yang datang merantau ke pulau Bangka terutama ke Kota Mentok yang merupakan pusat pemerintahan pada waktu itu diantaranya ada yang melakukan perkawinan maka banyaklah penduduk pulau Bangka yang meniru pakaian tersebut. Tutup sanggul atau kembang hong 9. Sepit udang 6.Busana Tradisional Pangkalpinang Pakaian adat pengantin Kota Pangkalpinang untuk perempuan adalah baju kurung merah yang biasanya terbuat dari bahan sutra atau beludru yang jaman dulu disebut baju Seting dan kain yang dipakai adalah kain bersusur atau kain lasem atau disebut juga kain cual yang merupakan kain tenun asli dari Mentok. Baju pengantin perempuan menurut keterangan orang tua-tua berasal dari negeri Cina. pada perkawinan inilah mereka memakai pakaian adat masing-masing. Bagi mempelai laki-laki memakai “Sorban” atau disebut “Sungkon”. Kembang cempaka 2. Gelang 12. Kembang goyang 3. Pending untuk pinggang . konon menurut cerita ada saudagar dari Arab yang datang ke negeri Cina untuk berdagang sambil menyiarkan agama Islam dan jatuh cinta dengan seorang gadis Cina kemudian melangsungkan perkawinan dengan gadis Cina tersebut. Pagar tenggalung 7. dengan hiasan kepala yang biasa kita sebut Paksian dan dilengkapi dengan asesoris : 1. Pakaian tersebut terdiri dari : * Pakaian Pengantin Perempuan * Pakaian Pengantin Laki-laki * Tata Rias dan Hiasan Pakaian Pengantin Perempuan: Pakaian pengantin perempuan adalah baju kurung dengan bahan beludru merah yang dilengkapi dengan teratai atau penutup dada serta menggunakan kain cual yaitu kain tenun asli Bangka yang berasal dari Mentok. Pakaian pengantin tersebut pada akhirnya kita sebut dengan nama “Paksian”. Anting panjang 11. Sari bulan 8. Kuntum cempaka 5. Kalung 10.

Melayu Bengkalis Riau. 4. 5. Pakaian Pengantin Laki-laki: Adapun untuk pakaian pengantin laki-laki terdiri dari : 1. baju yang dipakai adalah baju Melayu berupa atasan yang disebut Teluk Belanga. 2. melati. Untuk pakaian pria. Jubah panjang sebatas betis Selempang yang dipakai pada bahu sebelah kanan Celana Penutup kepala seperti sorban (sungkon) Pending Selop / Sendal Arab Pakaian pengantin laki-laki ini berwarna merah dan biasanya dari bahan beludru dengan hiasan manik-manik dan sama dengan pengantin perempuan dilengkapi dengan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan). pakaian yang dipakai berupa baju kurung. busana ini terdiri celana. Sebagai salah satu daerah yang kental dengan budaya Melayu. Bentuk Sanggul: Konde tilang yang terbuat dari gulungan daun pandan atau lipatan daun pandan yang diisi dengan bunga rampai yang terdiri dari mawar. Hiasan Dahi: Hiasan DahiMemakai penutup dahi yang diberi nama “Paksian” dan di dahi dipasang Saribulan. kenanga dan irisan daun pandan. Busana Tradisional Kepulauan Riau Pakaian adat merupakan salah satu ciri budaya suatu daerah dan setiap daerah tentunya memiliki pakaian adat yang beragam. Pagar Tanggalung dan Sepit Udang pada samping kiri kanan telinga (Godeg). Pada zaman dahulu yang dipakai adalah sanggul cumpok atau cepul. 6. Kain sampin biasanya meiliki warna dan corak yang sama dengan baju atasannya. Melayu Siak Riau dan lain-lain. Variasi pakaian adat Riau diantaranya. kain dan . pakaian adat Riau terdiri dari busana Melayu. Untuk perempuan. 2. Pakaian adat Kepulauan Riau memiliki variasi pakaian adat. 3.Baju pengantin perempuan ditambah dengan hiasan payet atau manik-manik dan dilengkapi dengan hiasan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan). pakaian adat Indragiri. dan songkok atau penutup kepala. Pakaian adat ini disebut dengan baju Melayu teluk belanga. Selain itu. seperti pakaian adat Kepulauan Riau. Tata Rias dan Hiasan: 1. kain sampin.

Selendang dipakai dengan disampirkan dibahu. Selain itu agar pakaian tampak pas di tubuh. Pakaiannya yang tertutup mencerminkan makna. serta ikat kepala yang disebut 'dadasa'. gelang (pontade) dan anting-anting (dali). Pada umumnya kaum pria mengenakan pakaian adat yang terdiri dari: ikat kepala (siga) yang dihias dengan manik-manik. baju tangan pendek dengan leher baju terbuka. celana panjang warna gelap yang juga dihias dengan benang emas. Tradisi melayu Riau memang bersumber dari nilai-nilai Islam. dikenakan ikat pinggang (pending) terbuat dari besi kuningan. yang disekelilingnya dihias dengan benang emas. sarung yang dikenakan sampai menutup kaki. busana yang disebut dengan istilah baju Melayu Cekak Musang dipakai saat acara keluarga. selain berfungsi melindungi tubuh dari cuaca. pakaian haruslah menutup aurat. Busana yang disebut dengan istilah baju Melayu Gunting Cina dipakai saat tidak resmi atau saat dirumah. merah atau biru dengan motif 'subi' atau 'bomba'. hijau.selendang. sarung berwarna kuning. serta dilengkapi dengan sebilah keris yang terselip dipinggang. . Sedangkan kaum wanita mengenakan pakaian yang disebut 'patimah lola' berupa baju 'gamba' yang panjangnya sampai di pinggul. masyarakat Sulawesi Tengah memiliki seperangkat pakaian adat yang dibuat dari kulit kayu 'ivo' (sejenis pohon beringin) yang halus dan tinggi mutunya. baju jas dengan leher tertutup (jas tutup) dan keris yang terselip di pinggang. Pakaian adat ini dibedakan untuk kaum pria dan wanita. Busana Melayu Riau ini identik dengan nilai-nilai Islam. Sebagai pelengkap dikenakan hiasan berupa kalung susun (geno kambora). Busana Tradisional Sulawesi Tengah Secara tradisional. Pakaian adat yang dikenakan oleh kaum pria terdiri atas tutup kepala (destar). dengan leher baju berbentuk bulat. Variasi pakaian adat Riau membedakan pula waktu pemakaiannya. Ia juga mengenakan kain batik yang mempunyai motif sama dengan yang dipakai wanitanya. Busana Tradisional Yogyakarta Dalam hal berpakaian masyarakat Yogyakarta membedakan antara yang dikenakan kaum pria dan kaum wanita.

Sedangkan untuk kaum wanitanya berupa baju kebaya. kalung bersusun dengan baju khas dengan memakai celana panjang dan kain songket pada bagian tengah badan. diletakkan ditengah-tengah sanggul.Sedangkan pakaian kaum wanitanya terdiri atas kebaya dan kain batik dengan rambut yang disanggul dan diberi hiasan konde. Busana Tradisional Sulawesi Tenggara Pakaian adat yang bias digunakan oleh orang Kendari untuk pria biasanya berupa tutup kepala (destar). baju model jas tertutup. Perhiasan lain yang dikenakan biasanya berupa anting-anting dan cincin. yaitu pakaian kaum laki-laki dan kaum wanita. sarung sebatas dengkul. Sebagai hiasan kepala digunakan kembang serta perhiasan antara lain berupa antinganting. Busana Tradisional Sumatera Selatan Masyarakat daerah Sumatera Selatan secara tradisional membagi pakaian adat mejadi dua macam. pending. . kain selempang dan sarung. Pakaian adat kaum pria biasanya berupa mahkota. kalung dan gelang. Sedangkan pakaian yang di kenakan oleh kaum wanita mirip dengan yang dikenakan oleh kaum pria yaitu mahkota serta kalung bersusun. gelang di kedua belah tangan dan songket yang melingkar di bagian tengah badan. dan celana panjang.

Pakaian ini bercirikan Islam. kalung. Nona rok adalah sejenis pakaian wanita yang dulunya dipakai oleh kalangan atas. 2. 6. adalah pakaian sesehari kaum wanita. pakaian ini juga sering dipakai oleh kalangan menengah kebawah seperti mereka yang berjualan di pasar dan lain sebagainya. 3. Sekarang sudah merupakan pakaian yang dimodifikasi dan dipakai sebagai pakaian untuk pakaian upacara adat. Alas kaki yang dipakai disebut Canela dimana bagian depannya melingkar keatas. Pakaian petani. warnanya juga antara hijau dan kuning. melayu. Biasanya dipakai untuk upacara dan hari besar lainnya. 5. Kain kebaya merah adalah jenis pakaian daerah lain yang menjadi pakaian sesehari gadis dan ibu-ibu di desa. pakaian nelayan serta pakaian sesehari lainnya yang tidak disebut satu persatu. ada juga pakaian untuk ke gereja yang disebut pakaian Itang. • • • . Pakaian pengantin Maluku Tengah disebut baju Pono atau dapat juga disebut Mistisa. Pakain pengantin ini mirip dengan pakaian pengantin Donggala. biasanya dipakai untuk acara pesta atau acara besar lainnya. 4. serta emas perak yang kesemuanyaterbuat dari gading atau kerang laut. Pakaian ini sudah menjadi pakaian nasional untuk seluruh masyarakat Maluku. Baju Cele Kain Salele. Pakaian pengantin Maluku Tenggara disebut sanikir. Pakaian ini kebanyakan dibuat dari tenunan tradisional Tanimbar dikombinasi dengan kain satin putih. hal ini tergambar dari beberapa contoh pakaian daerah dibawah ini: 1. serta merupakan pakaian yang dianggap baik. juga sudah merupakan pakaian konsumsi sesehari masyarakat Maluku.Busana Tradisional Maluku Utara Pakaian daerah Maluku dilihat dari segi motif dan cara memakainya cukup sederhana. atau dipakai oleh anak-anak keturunan raja. Baniang dan kebaya dansa adalah pakaian sesehari untuk kaum pria. Pakaian-pakaian pengantin: Pakaian pengantin Maluku Utara disebut pakaian Koci-koci. acara resmi lainnya. Selain pakaian-pakaian tersebut diatas. pesta. Hiasan yang dipakai untuk menambah anggunnya pakaian ini adalah gelang. Pakain ini kelihatan lebih anggun berwarna merah menyala dihiasi manic-manik serta kombinasi kebaya cele putih.

dan pada zaman dulu komprang biasa dikenakan masyarakat Sunda setiap harinya. ataupun nama lokasi seluruh lapisan warga keraton berada semasa kesultanan yang ada di Banten lama. namun tetap menjunjung tinggi sikap kemudahan hati. pakaian tradisional tersebut juga merupakan salah satu pakaian khas dari Jawa Barat. maka dipilihlah nama yang diambil dari bangunan. . pengambilan nama motif juga ada yang berasal dari nama gelar kesultanan. Sebagaimana batik kebanyakan. Selain itu. dimana dan oleh siapa pakaian tersebut dapat digunakan. Batik Banten juga memiliki motif yang menjadi ciri khas. semangat. Hal inilah yang mengubah warna motif meriah berubah lembut pada saat proses pencelupan. Pada pakaian-pakaian tertentu makna simbolis dari motif ragam hias dan perhiasan yang melengkapi menentukan kapan. Busana Tradisional Kalimantan Selatan Suku bangsa Banjar mengenal berbagai jenis pakaian tradisional menurut fungsi. Warna Batik Banten cenderung meriah namun tetap terasa hangat dipandang dan lembut di mata. Selain celana komprang dan baju pangsi. Untuk mempermudah penyebutan nama-nama motif batik dan gampang diingat. Komprang tidak berasal dari daerah tertentu di Jawa Barat. tetapi dipakai di seluruh Provinsi itu. Sedangkan masyarakat Sunda lain mengikat sarung pada bagian pinggangnya. Batik Banten mempunyai padu padan warna.Busana Tradisional Banten Baju pangsi dan celana komprang menjadi salah satu busana tradisional di Banten. jenis dan pemakaiannya. dan karakter kuat. termasuk Banten ketika masih belum terpisah. ruangan. Menurut keterangan warga setempat. Perpaduan ini ternyata sangatlah erat kaitannya dengan pengaruh air di bawah tanah. Konon warna tersebut memang sesuai dengan watak masyarakat Banten yang penuh dengan harapan. Cara menggunakan pakaian itu bermacam-macam. Banten ternyata memiliki busana khas dengan pola Batik. mengenakan pangsi dan komprang dengan menambahkan sarung yang dikalungkan di bahu. Namun tidak hanya di Provinsi Banten saja. baju pangsi biasa digunakan masyarakat Sunda ketika berlatih pencak silat. Sebagian penggembala kerbau misalnya.

Masyarakat juga mengenal adanya salawar panjang atau celana panjang semata kaki yang tidak berkantong. Baju Taluk Balanga. artinya ukur panjang tak dapat singkat. pakaian sehari-hari ini digunakan oleh para wanita. jangka pendek tak dapat singkat. Bagian depan terbelah dan diberi kancing. adalah baju yang dipakai anak-anak kecil sehari-hari. baju hitam longgar. terdiri dari destar sebagai penutup kepala. Oleh karena itu ia memiliki pakaian kebesaran. Pakaian Panghulu Seorang panghulu atau ninik mamak. Biasanya pakaian ini digunakan oleh kaum pria baik yang berusia remaja maupun pria dewasa. yang digelari datuk oleh masyarakat memegang peranan penting sebagai pemimpin kaumnya dan berhak mengatur sanak keluarga yang terhimpun dalam kaumnya. Pada masa lalu. Sebagai pakaian sehari-hari baju taluk balanga ini dilengkapi dengan tutup kepala berupa kopiah beludru hitam atau kopiah jangang. belah sampai ke dada tanpa kancing. yang di beberapa masyarakat lain dikenal dengan ‘baju kodok’ ini dapat digunakan oleh anak laki-laki maupun anak wanita. kain sandang. Celana lapang ini melambangkan kesiagaan. walaupun lapang dibatasi oleh ukua (ukur) dan jangko (jangka) diwujudkan melalui sulaman benang emas pada pinggirnya (minsai). Umumnya dipakai celana (sarawa) lapang warna hitam. Biasa disebut saluak batimba (seluk bertimba) terbuat dari kain batik. adalah kemeja bertangan panjang dengan leher baju bulat dan sedikit kerah keras mencuat ke atas. Kemudian dikenakan baju lengan hitam longgar (besar lengan) dengan leher lepas tidak berkatuk. keris. Jenis pakaian ini bermacammacam. merupakan pakaian sehari-hari yang biasa dikenakan pada seorang bayi. jangko singkek tak dapek panjang. namun secara umum terdiri dari destar. Kerutan-kerutan tersebut melambangkan aturan hidup orang Minangkabau yang diungkapkan melalui pepatah berjenjang naik bertangga turun. Dalam pepatah dinyatakan ukua panjang tak buliah singkek. Dikenakan pula kain samping . sesamping. Untuk wanita dewasa biasanya digunakan kubaya basawiwi (basujab). Termasuk menghadiri suatu upacara adat. Di bagian bawah baju diberi sulaman dengan mempergunakan benang emas atau air guci.• • • • • Lampin. Salawar panjang ini biasanya digunakan sebagai pasangan baju taluk balanga. Penggunaan baju kubaya juga dilengkapi dengan tutup kepala berupa kakamban (serudung) yang dibuat dari kain sutra atau sejenisnya yang tembus pandang. seperangkat kain yang membungkus tubuhnya bukan saja berfungsi melindungi tubuh tetapi mengandung makna-makna simbolis yang harus dipegang teguh. seperti penghulu dan bundo kanduang. Bagi masyarakat Banjar pada umumnya bilangan ganjil mengandung makna kebai Busana Tradisional Minangkabau Minangkabau Traditional Dress Masyarakat Minangkabau mengenal berbagai jenis busana tradisional. Bagian muka saluak ditata berkerut-kerut berjenjang dengan bagian atas datar. yang penggunaannya hampir selalu dikaitkan dengan fungsi sosial tertentu. Umumnya tiap ornament disulamkan dalam hitungan ganjil. lampin dibuat dari tapih (sarung) atau bahalai (kain sarung) yang dipotong menjadi beberapa bagian dengan bentuk segi empat panjang. Untuk tapih ini biasanya didatangkan dari pekalongan. Salawar. Hal ini melambangkan keterbukaan dan kelapangan dada seorang pemimpin yang tidak suka mengunting dalam lipatan. Baju Kurung Basisit: Adalah jenis pakaian lain yang biasanya digunakan oleh kaum wanita jika bepergian. Apalagi kalau orang itu memegang peranan penting dalam masyarakatnya. Pasangan baju kubaya ini adalah tapih atau sarung. Pakaian kebesaran ini juga disebut pakaian adat. celana hitam lebar. Jenis lainnya yang juga disukai adalah kubaya barenda. Masing-masing daerah adat di Minangkabau memiliki variasi yang berbeda. dan tongkat. yang menjadi pakaian sehari-hari kaum pria. Baju Kubaya. Model baju.

baju putih model gunting cina dan peci/kopiah. Pemakaian samping seperti niru tergantung ini melambangkan kehati-hatian pemakai dalam segala tindak-tanduknya dalam masuarakat. Variasi lain dikenakan tengkuluk. Kaum prianya. Dimaksudkan supaya kokoh luar dan dalam. bila ada sulaman menandakan kerajinan anak kemenakan yang mempergunakan waktu sebaik- . Perhiasan yang dikenakan adalah subang atau anting-anting dari emas. untuk mengingatkan bahwa penghulu punya penongkat atau pembantu dalam menjalankan jabatannya. yaitu kalung kuda. Seperti juga pada pakaian penghulu. kain sarung. Baju kurungnya berwarna hitam. artinya tempat atau pemegang harta pusaka kaumnya. yang juga disebut kain sarung dapat berupa kain songket. Keris dengan posisi miring ke kiri terselip di perut melambangkan keberanian tanpa bermaksud menghadang musuh melainkan untuk menjadi hakim. Kalung dari beberapa macam. melambangkan tanggungjawab yang harus dipikul oleh bundo kanduang untuk melanjutkan keturunan. kalung gadang. sebagi simbol meletakkan sesuatu pada tempatnya seperti pepatah memakan habis-habis. pergi tempat bertanya dan pulang tempat berita. Bahunya berselempang kain sandang atau kain kaciak dari kain cindai sebagai lambang kebesaran seorang penghulu (ninik mamak). Tidak semua wanita dapat menjadi bundo kandungan. Pakaian sehari-hari Para wanita. Pemakaian gelang melambangkan bahwa semua yang dikerjakan harus dalam batas-batas kemampuan. Lambak atau kodek. Oleh karena itu memiliki pakaian adat yang berbeda dengan wanita lainnya. gelang bapahek dan gelang ular. dan selendang pendek. Penutup badan bawah digunakan kain sarung (kodek) balapak bersulam emas. Tutup kepalanya dari selendang pendek dengan ujung tergerai ke belakang. Pilihan warna putih pada baju melambangkan kebersihan dan kemurnian para pemakainya. Juga melambangkan bahwa tiap-tiap keputusan yang telah dibuat harus ditegakkan penuh wibawa. Model gunting cina merupakan model pakaian longgar menujukkan pakaian sehari-hari. Ragi benang emas yang menghiasinya disebut cukia menandakan bahwa pemakainya memiliki pengetahuan yang cukup di bidangnya. Pada hakekatnya tongkat adalah komando anak kemenakan. baju kurung. Bentuknya seperti tanduk kerbau dengan kedua ujung runcing berumbai dari emas atau loyang sepuhan. batik. Pakaian Bundo Kanduang Seorang wanita yang telah diangkat menjadi bundo kanduang (bunda kandung) memegang peranan penting dalam kaumnya. sehari-hari mengenakan celana batik tanpa pisak. dan berhiaskan anting-anting serta kalung. Pinggangnya dililit cawek (ikat pinggang) dari sutra berjumbai (bajambua alai). Sarung ini berfungsi religius bagi pemakainya. merah. seperi kalung. masing-masing daerah adat di Minangkabau memiliki variasinya masing-masing. Tangannya dihiasi gelang gadang (besar). Baju kurung ke luar lengannya panjang dan dalamnya sampai di bawah lutut terbuat dari berbagai jenis bahan sesuai kemampauan. anting-anting serta cincin. Tetapi umumnya kelengkapan pakaian bundo kanduang terdiri dari tengkuluk. lambak/kodek atau kain sarung. Bahannya berasal dari kain balapak tenunan Pandai Sikat Padang Panjang . Khusus pada pakaian penghulu. Ia juga merupakan peti ambon puruak . khususnya yang telah berumur dalam kesehariannya mengenakan baju kurung ke luar. Ia haruslah orang yang arif bijaksana. sarung bugis ataupun kain pelekat. Sebagai alas kaki dikenakan selop dari beludru. biru atau lembayung ditaburi dengan benang emas. kain selempang. Sesamping ini dipakai terutama saat bepergian dan kebanyakan dipilih warna merah sebagai lambang keberanian serta tanggungjawab. menyuruk (bersembunyi) hilang-hilang. kalung pinyaram. Di bahu kanannya berselempang ke rusuk kiri kain balapak. Kadang-kadang juga dilengkapi dengan pemakaian beberapa perhiasan. kata-katanya didengar. sementara selendang tersampir di bahu. Seorang bundo kandung mengenakan tengkuluk tanduk atau tengkuluk ikek sebagai penutup kepala.(sesamping) yang melilit pinggang di atas lutut dengan sudutnya seperti niru tergantung. dan kalung kaban. Pemakaian tengkuluk ini melambangkan bahwa perempuan sebagai pemilik rumah gadang. Biasanya masih ditambah dengan tongkat untuk berjalan di malam hari atau berdiri lama. Pinggirnya dihias minsai sebagai lambang demokrasi tetapi dalam batas-batas yang patut.

Lelaki muda lebih suka mengenakan peci dari bahan beludru warna hitam sebagai penutup kepala. Pemakaian peci oleh penghulu masih dibalut dengan destar hitam yang mempunyai kerutan-kerutan. yang pada saat waktu sholat dapat digunakan semestinya. perikehidupan serta ungkapan budaya material masyarakat Mentawai patut dikemukakan sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia yang unik. yang terdiri dari pulau-pulau Siberut. terbuat dari kulit kayu pohon baguk dan sebut kabit. orang-orang Mentawai dapat dikatakan tidak menggunakan apa-apa lagi yang benar- . perikehidupan serta ungkapan budayanya. Tatabusana masyarakat asli Mentawai mencerminkan azasazas egaliter. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" Penulis : Dewi Indrawati/Biranul Anas Busana Tradisional Mentawai Mentawai Traditional Dress Penulis : Biranul Anas Suku bangsa Mentawai mendiami rangkaian kepulauan Mentawai. Selain itu busana juga mengungkapkan ciri-ciri kedekatan penyandangnya dengan alam lingkungan yang tropis. yang khususnya dipakai kaum pria adalah cawat. Selain kabit dan sokgumai. pimpinan atau anak buah. Pagai Utara dan Pagai Selatan. Sebagian besar dari mereka menganut kepercayaan animistik dimana setiap benda apakah itu batu. Walaupun dewasa ini sudah semakin jarang dijumpai. Kaum wanita memakai sejenis rok yang terbuat dari dedaunan pisang yang diolah secara khusus dan dililitkan kepinggang untuk menutupi aurat. Pembedaan busana lebih ditentukan pada kejadian. Sebagai pelengkap dibahunya tersampir kain bugis (bugih). disebut sokgumai. Budisme. lepas pantai propinsi Sumatera Barat. peristiwa.baiknya. bermakna seseorang tidak boleh menurut kehendak sendiri. Islam dan Barat. Sampai dengan ± 50 tahun yang lalu masyarakat Mentawai masih hidup dalam kebudayaan neolitik berikut segenap tata cara adat istiadat. Salah satu kelengkapan busana suku Mentawai. bertanggan naik. tidak terpengaruh oleh Hinduisme. Tidak ketinggalan tongkat "manau sonsang" ikut melengkapi pakaian yang dikenakan oleh penghulu. Destar dengan kerutan ini melambangkan aturan adat berjenjang turun. upacara yang dalam hal ini adalah upacara khusus tentang penghormatan arwah (punen). dalam tatanan masyarakat tidak ada strata-strata sosial. binatang atau manusia memiliki roh. penutup aurat. Hal ini antara lain tampak pada banyaknya hiasan floral yang dikenakan. berhutan lebat berikut keaneka ragaman floranya. Sipora.

pakalo. Tato juga menjadi ungkapan keindahan dan selain mendatangkan kekuatan juga dipercaya sebagai pembawa keselamatan serta kerukunan dalam kehidupan sosial masyarakat. Pencacahan tubuh memiliki berbagai perlambangan baik sosial maupun psikologis yang berangkat dari faham-faham adat. Aspek yang terpenting dan amat berarti dalam tatacara busana serta rias tubuh adalah tato (cacah). Ikat kepala ini dinamakan sorat. terakhir pangkal kaki antara lutut dan pergelangan kaki. kuning. bunga-bungaan dan daundaunan. ikat pinggang dari lilitan kain polos. rnahkota dari bulu-buluan dan bunga-bungaan. gelang-gelang. Ini berpengaruh pada busana upacara pernikahan Melayu yang tampil secara lengkap dan indah. Kedua pergelangan tangan juga dihiasi dengan gelang-gelang manik-manik. kepercayaan serta alam fikiran suku bangsa Mentawai. rakgok. botol kecil tempat ramuan obat-obatan. atau tik-tik dalam bahasa daerah Mentawai juga merupakan identifikasi marga atau daerah asal penyandangnya. diawali pada usia 7-11 tahun dan dilanjutkan secara bertahap hingga usia 18-19 tahun. Demikian pula pada kedua pangkal lengan dan pada bagian kepala berbaur dengan aneka bunga dan daun-daunan. Selain itu tato. Tato adalah busana kebanggaan. paha dan pantat. Ritus ini dipimpin oleh seorang kerei (dukun) dalam busana kerei yang sebenarnya adalah busana tradisional Mentawai yang dihiasi dan ditaburi berbagai dekorasi yang lebih banyak dari pada keadaan sehari-hari. dada. ogok. Tampilan busana selengkapnya suku Mentawai ini dikenakan pada upacara punen. Setiap marga (klan) dan dapat memiliki corak tatonya masingmasing. Tato merupakan simbol kejantanan. Warna tato biasanya biru kehitaman dan diungkapkan dalam garis-garis kontur geometris simetris. Lalu disusul dengan tangan. suatu kegiatan perdukunan. mulai dari busana sampai dengan . cermin raksa. Bagian yang biasanya dihiasi tato adalah pipi dan punggung. Kalung manik-manik yang sangat impresif yaitu ngaleu menghiasi leher dalam jumlah yang dapat mencapai puluhan. suatu ritus yang ditujukan untuk menghormati roh nenek moyang. kedewasaan dan keperkasaan bagi kaun pria. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" Busana Tradisional Melayu Malay Traditional Dress Penulis : Bernau Ompusunggu Biranul Anas Pakaian Upacara Tradisi Melayu menempatkan upacara pernikahan sebagai peristiwa yang penting. terbuat dari gelas berwarna merah. Proses tato dilaksanakan pada tahap-tahap tertentu dalam umur manusia. biasanya merah. Peristiwa ini melaksanakan praktek sikerei. lei-lei . Busana kerei ini selain terdiri atas kabit dan sorat juga dilengkapi • • • • • • sobok.benar menutup tubuhnya selain aneka perhiasan serta dekorasi tubuh yang terbuat dari untaian manik-manik. Sedangkan gelang manik pangkal lengan disebut lekkeu. bergantung pada kalung depan dada. dianggap abadi dan dipakai serta dikenakan hingga ajal. putih dan hitam atau hijau. sejenis subang pada kedua telinga. sejenis kain penutup aurat bercorak dibagian depan kabit.

berseluar (celana panjang) dan bersamping. kain bertabur atau destar. dari bahan brokat (kain senduri). Baju panjang ini dipakai dengan sehelai kain yang terbuat daripada katun biasa berwarna polos. bunga mas dan hiasan batu permata sehingga menampilkan kesan kebesaran dan kegagahan. Celana panjang lebar dengan bahan dan warna yang sama dengan baju. hijau atau kuning dan dililit dengan sarung songket. Pakaian ini tidak memakai selendang. Kadang-kadang baju dan kain kedua-duanya terbuat dari bahan yang sama. Sementara untuk pakaian laki-laki berupa pakaian Teluk Belanga: Pakaian ini terdiri dari tutup kepala berupa kopiah atau topi dari bahan sutra berbentuk kepala kapal. Di Serdang cara-cara pemakaiannya justru kebalikan dari daerah Deli. yaitu tengkulok yang terbuat dari kain songket. Pada sanggul ini ditempatkan hiasan-hiasan keemasan. cincin bermata. Diberi hiasan gerak gempa. gelang kana. Gelang juga dipakai pada kaki. Alas kaki berupa selop sewarna dengan baju. . Terbuat dari rotan yang berbentuk parabola. sedangkan bagi pria kebanyakan memasangnya dengan posisi belah utak. Pada pinggang depan sebelah kanan disisipkan sebilah keris yang bergagang emas. yaitu ikatan bendahara (Kedah). muslin atau viole yang halus yang bercorak kotak-kotak besar. sekar sukun. Lengan atasnya mengenakan kilat bahu dan sidat sebagai lambang keteguhan hati. Pada jari terpasang aneka ragam cincin seperti cinci-n genta. rantai panjang dan tanggang walaupun dewasa ini sudah amat jarang dijumpai. Keris dianggap lambang kegagahan dan kemampuan menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Ikatan tengkulok ini ada beberapa jenis. Di daerah Deli untuk kaum bangsawan mengenakannya secara melintang. renda. Pakaian Sehari-hari Wanita-wanita Melayu dari Medan di sebelah pantai timur Sumatera Utara membuat baju mereka sangat panjang (baju panjang). mastura. Bagian kepala disalut oleh selendang bersulam corak-corak emas yang menutupi tata rambut dalam gaya sanggul khusus yakni sanggul lipat padan atau sanggul tegang. Di daerah leher dan dada biasanya tergantung kalung dari corakcorak rantai mentimun. berlapis tiga dan dibalut dengan beludru atau kain berwarna kuning. sarung yang bercorak kotakkotak besar atau kain songket. Baju kurung ini dipadukan dengan kain songket buatan Batubara atau tenunan Malaysia. Bajunya berupa kemeja kurung terbelah dibagian dada saja dari bahan sutra berwarna merah. gelang ikol dan keroncong. Penutup badan pria adalah teluk belanga yang terdiri dari atas baju berkrag kocak musang. Bagian pinggang dihiasi oleh bengkong dan pending. berwarna sesuai dengan baju dan celananya. sutera. Tengkulok adalah lambang kebesaran dan kegagahan seorang pria Melayu. Pada leher pria digantungkan beberapa hiasan rantai. Pada bagian pinggang dipakai bengkong dan pending.perlengkapan perhiasannya. Pada upacara ini Wanita Melayu mengenakan Kebaya panjang atau baju kurung yang terbuat dari jenis-jenis kain yang bermutu tinggi seperti brokat atau sutra bersematkan peniti-peniti emas. gogok rantai lilit. Hiasan rambut berupa sanggul yang sederhana. ikatan serdang dan sebagainya. Pengantin wanita juga memakai gelang kerukut yang beraneka jenis seperti gelang tepang. Sebagaimana pada kaum wanita kain pembuat teluk belangapun adalah dari jenis yang bermutu seperti satin atau sutra. Tutup kepala yang sejak dulu dipakai disebut destar. Lengan bajunya sangat lebar dan panjangnya sampai pergelangan tangan. cincin patah biram dan cincin pancaragam. Kaum pria memakai dua pilihan tutup kepala. rantai serati. Sebagai alas kaki dipakai selop bertekad yaitu sejenis sandal bersulam corak-corak keemasan.

dan runjat. Simalungun) mengenal tekstil buatan luar. Sebagai penutup kepala disebut tali-tali. laki-laki Batak menggunakan sarung tenun bermotif kotak-kotak (terkadang diganti dengan ulos yang disebut singkot). Untuk tutup kepala disebut saong. juga telah diganti dengan sarung tenunan bercorak kotak-kotak. serta tutup kepala yang disebut saong. Apabila seorang wanita sedang menggendong anak disebut parompa. ulos (disebut Uis oleh suku bangsa Batak Karo ) adalah pakaian sehari-hari. Pada upacara secara umum wanita Batak menggunakan ulos sebagai penghias bahu/selendang. ulos yang digunakan dominan berwarna hitam. dan dilengkapi dengan sarung suji. Khusus bagi suku Batak Pak pak dan Dairi. tidak terlepas dari penggunaan kain ulos. umumnya diselempangkan di pinggangnya atau juga sebagai selendang. bagian bawah disebut haen.Busana Tradisional Batak Batak Traditional Dress Penulis : Biranul Anas / Jonny Purba Kehidupan masyarakat suku bangsa Batak. Disamping bulang ada juga ulos surisuri sebagai tutup kepala. dipakai hingga batas dada. Ulos pada mulanya identik dengan ajimat. sabesabe atau detar. ragidup. Pada suku Batak Toba. tali-tali (tutup kepala) serta baju berbentuk kemeja kurung berwarna hitam. Khusus pada perempuan suku bangsa Batak Pak pak/Dairi. Pada suku Batak Simalungun pakaian yang dipakai antara lain bulang yang terbuat dari kain ulos dengan motif gatip dan pakaian sehari-hari yang terbuat dari ulos yang disebut jobit. Kain ulos yang dipakai orang-orang Batak pada upacara-upacara adat. ragi hotang. Mempelai laki-laki memakai baju jas tutup warna putih. sedangkan bagian bawah memakai ulos dari jenis ragi pane. kain dan ulosnya. Dalam upacara perkawinan kain ulos lebih tampak pada pakaian pengantin. hanya dapat dipakai pada waktu-waktu tertentu. mereka memakai pakaian biasa. Bila ulos dipakai oleh perempuan Batak Toba. dilengkapi dengan sarung. sedangkan bagian bawahnya disebut singkot. bulang-bulang. Untuk penutup punggung disebut hoba-hoba. dilengkapi dengan ulos di kepala (biasanya ulos mangiring) dan setengah badan. Karo. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbagai upacara adat. Sebelum orang Batak (Toba. sedangkan bagian bawah memakai sarung sungkit yang dililit dengan kain ulos. Dalam keseharian perempuan Batak aslinya memakai kain blacu hitam (dapat diganti dengan ulos disebut haen ) dengan dan baju kurung panjang yang umumnya berwarna hitam. Sudah barang tentu tidak semua ulos dapat dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Pakaian pengantin perempuan Batak Karo terdiri dari baju tutup dengan lengan panjang. dipercaya mengandung "kekuatan" yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya istimewa untuk memberikan perlindungan. Misalnya ulos jugia. Pada busana pengantin perempuan Batak Toba hampir semua pakaian yang dipakai terdiri dari kain ulos yang salah satunya diselempangkan pada kedua bahu . Muangthai dan Laos. Saat ini kain blacu hitam selain diganti dengan ulos. Menurut beberapa penelitian penggunaan ulos oleh suku bangsa Batak. khususnya pada ikat kepala. memperlihatkan kemiripan dengan bangsa Karen di perbatasan Myanmar. sadum. tanpa alas kaki. Bila dipakai oleh laki-laki bagian atasnya disebut ande-hande. Kadang-kadang diselempangkan (menggunakan ulos ragihotang). Karo dan Simalungun menggunakan ulos yang berbentuk tudung sebagai pelindung panasnya matahari. Dalam keseharian. baju dan celana. dan bila dipakai berupa selendang disebut ampe-ampe. penutup kepala dan juga sebagai penutup dada.

Ampu merupakan mahkota yang biasanya dipergunakan oleh raja-raja di Mandailing dan Angkola pada masa lalu. Sisi kiri melambangkan mora (kerabat pemberi anak gadis). dan dililit dengan ulos ragi hotang. Belakangan ini baju pengantin wanita kadang-kadang diberi sulaman. seperti sulaman benang emas yang hanya berfungsi estetika tanpa arti perlambang. Misalnya penggunaan bulang bertingkat tiga bila hewan yang disemblih adalah kerbau. Pada masa sekarang menggunakan jas biasa berwarna hitam yang dilengkapi dengan kemeja lengan panjang dan dasi. Bulang terdiri dari tiga macam. Sisamping (kain sesamping) yang dibelitkan dari batas pinggang sampai ke lutut. Pada daerah pinggang dipakai Bobat atau ikat pinggang yang dahulu terbuat dari emas dan kadang-kadang berkepala dengan ornamen kepala ular naga yang melambangkan keagungan. Baju Godang mengandung makna keagungan. Selop hanya berfungsi praktis tanpa mengadung arti perlambang. Bagian penutup selop kadangkadang diberi hiasan. sisi kanan melambangkan kahanggi (kerabat satu marga). Sepatu sebagai alas kaki dahulu menggunakan alas kaki atau selop yang dinamakan capal yang terbuat dari kulit. Baju. ikat pinggang terbuat dari emas atau perak sebagai lambang kebesaran. masing-masing bertingkat bertingkat tiga disebut bulang harbo (bulang kerbau). Bulang terbuat dari emas. selendang terbuat dari kain tonun petani (kain tenunan petani). Bagian bawah badan tertutup kain songket dengan warna yang tidak ditentukan. dan bagian bawah melambangkan anak boru (kerabat penerima gadis). Bulang mengandung makna sebagai lambang kebesaran atau kemuliaan sekaligus sebagai simbol dari struktur masyarakat. Pada masa lalu. kadang-kadang juga menggunakan kain polos tanpa warna tertentu. Baju pengantin ini disebut baju godang atau baju kebesaran. Untuk si samping pada masa dahulu menggunakan abit Bugis (kain Bugis) atau kain sarung. Pada masa dahulu. Tetapi sekarang sudah umum menggunakan ikat pinggang biasa. Pada suku bangsa Batak Simalungun. Cara memakainya hampir sama dengan destar atau tengkuluk (topi). Dewasa ini selendang terbuat dari kain songket. Pada masa lalu. godang (baju kebesaran) yang pada masa lalu berbentuk jas tutup. Warna hitam ampu mengandung fungsi magis sedangkan warna emas mengandung lambang kebesaran. Diberi ornamen warna emas makna simbolik sebagai lambang keagungan orang yang memakainya. tergantung selera pemakai. bertingkat dua atau disebut bulang hambeng (bulang kambing) dan tidak bertingkat. tetapi ujungnya dilipat ke arah kening sehingga terjuntai sedikit di atas kening bersama renda atau rumbai yang terbuat dari benang emas. tampak dari segitiga yang dibentuk dengan selendang yang disilangkan itu. kedua pengantin memakai tudung kepala yang terbuat dari ulos suri-suri. Tetapi sekarang menggunakan kain songket. Untuk selendang pengantin. Arti perlambang pada selendang adalah lambang dalihan na tolu. pengantin pria kadangkadang mengenakan tutup kepala yang dinamakan serong barendo yang terbuat dari kain warna hitam yang diberi renda atau rumbairumbai. Pengantin pria menggunakan busana yang terdiri dari : ampu atau penutup kepala dengan bentuk khas Mandailing/Angkola yang terbuat dari kain dan bahan lain. Bagian atas badan tertutup oleh baju berwarna hitam yang dahulu dibuat dari kain beludru berbentuk baju kurung tanpa diberi hiasan atau sulaman.sampai ke badan (biasanya jenis ulos sadum). terbuat dari kain lakan berwarna hitam. Penamaan bulang ini dikaitkan dengan jenis hewan yang disemblih. Celana panjang atau pantalon tanpa warna tertentu. Bagian samping kanan ampu yang salah satu ujungnya mengarah ke atas dan satu lagi ke bawah mengandung arti bahwa yang paling berkuasa adalah Tuhan dan manusia pada akhirnya mati dan dikubur. Dua lembar selendang yang disilangkan pada bagian dada sampai ke punggung. tetapi kini sudah banyak yang terbuat dari logam yang diberi sepuhan emas. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" . Bobat (ikat pinggang) yang dahulu biasanya terbuat dari emas atau perak. Alas kaki menggunakan selop atau sandal yang biasanya tertutup pada bagian depan atasnya. Pada pesta perkawinan wanita suku bangsa Mandailing/Angkola menurut adat menggunakan tata busana yang terdiri dari : bulang yang diikatkan pada kening.

Dalam keseharian masyarakat Nias mengenal busana asli yang belum memperoleh pengaruh luar. Salah satu bentuk tutup kepala yang digunakan adalah saembu oti.Busana Tradisional Nias Nias Traditional Dress Penulis : Bernali Ompusungu Orang Nias. Perlengkapan busana ini adalah tombak dan pisau kecil. yaitu anting logam besar. penduduk pulau Nias di pantai Selatan Sumatera memiliki variasi busana tradisional yang menambah keanekaragaman busana sukubangsa-sukubangsa di Sumatera Utara. Selain itu masih ada jenis lain seperti balahogo rate. rotan dan pelepah kelapa. yaitu baju dengan motif kulit harimau. Salah satu jenis baru yang dikenal masyarakat Nias adalah baru ni`ola`a harimao. yang disebut takula. Busana asli wanita suku bangsa Nias hanya terdiri dari lembaran kain (bahan blacu hitam atau kulit kayu). Ada juga tutup kepala. Orang-orang Nias pada masa lampau adalah prajurut-prajurit perang yang gagah berani. biasanya dikenakan baju berbentuk jaket atau jubah berbahan katun. masih banyak lagi jenis tutup kepala lainnya. Jenis kalung lainnya adalah nifatali. terbuat dari daun palem. Tutup kepala ini digunakan pada saat upacara saja. Untuk upacara. Dunia peperangan yang begitu dekat dalam kehidupan masyarakatnya membentuk "budaya perang" yang juga perpengaruh pada busana tradisional orang Nias. Cara penggunaannya adalah hanya dengan melilitkannya di pinggang dan kekenakan tanpa baju. yaitu gelang yang terbuat dari bahan gulungan kuningan dengan berat mencapai 1 kilogram (khusus untuk perempuan dewasa mengenakan dua buah gelang). yang biasanya hanya dikenakan pada telinga kanan saja. Laki-laki Nias kebanyakan menggunakan kalabubu sebagai penghias leher. aya ba mbagi bobotora. merah dan putih. dan hitam. terdiri dari baru atau baju yang aslinya terbuat dari bahan kulit kayu. kuning. dan saro dalinga. Selain itu. Tutup kepala ini terbuat dari bahan rotan dililit kain akantun berwarna biru. Baik dari jenis yang hanya dikenakan oleh kaum bangsawan serta tutup kepala khusus untuk kepala wilayah. yaitu baru lema`a. Untuk menghadiri upacara adat. namun saat ini sudah merupakan gabungan dengan kain katun. yang terbuat dari rajutan rotan dilengkapi dengan daun pelem sebagai penutup di bagian belakang. yaitu salah satu jenis penutup baju bagian atas (seperti kalung) yang terbuat dari bahan batubatuan. kalung yang terbuat dari lempengan kuningan. Sementara itu. salah satu jenis tutup kepala khusus untuk perang disebut tete naulu. Kalabubu adalah kalung untuk lakilaki yang terbuat dari kuningan dan dilapis dengan potongan kayu kelapa (aslinya dilapisi dengan emas). berlengan kuning dihias motif sisir berwarna hijau atau kehitaman. yang berwarna merah. khususnya busana kaum prianya. Busana ini dilengkapi dengan aja kola. Bagian bawah . perak atau emas. tanpa busana atas (baju penutup dada). yaitu cawat atau celana yang terbuat dari bahan kulit kayu. kalung yang terbuat dari lilitan perak atau emas dan nifato-fato. Baju berbentuk rompi tidak berkancing ini berwarna dasar coklat atau hitam dan dengan ornamen berwarna merah. busana kaum laki-laki Nias. Busana ini dilengkapi dengan balahogo sokondra. Selain model rompi ada juga baju berlengan tanpa kancing yang juga terbuat dari bahan kulit kayu.

Selembar ondora. wanita Nias mengenal beberapa jenis asesoris. salah satu jenis mahkota yang terbuat dari emas berbentuk ikat kepala dengan ornament barisan koin emas memanjang horizontal dan ditengah bagian belakang terdapat kepala mahkota berbentuk bunga dan daundaunan. kuning.busana wanita Nias disebut mukha. Baju berbentuk jubah hitam ayng berhiaskan motif binatang dari beludru merah dipadukan dengan kabo. yaitu kalung warna hitam dan yang tidak boleh ketinggalan adalah talogu atau pedang. alga kala bubu (kalung) dan gala (gelang). Lembe. maka kini untuk busana pengantinnya digunakan bahan beludru. Sebagai kelengkapan busana upacara. Saat ini mahkota ini banyak digunakan sebagai bagian dari pakaian tari. dan emas mendominasi busana pengantin Nias. sebuah selendang katun bermotif bunga berwarana kuning dan segitiga berbaris dilapisi pinggir dari bahan berwarna gelap kehitaman menjadi pelengkap busana ini. Rambut wanita Nias disanggul tanpa sasak dengan memakai sunggar. yaitu selendang warna kuning dililitkan di pinggang. Demikian pula rai ni woli woli. kuning di bagian depan. Pengantin pria mengenakan celana hitam selutut. dikenakan untuk menutupi pinggang ke bawah (bentuknya mirip dengan kain panjang). yang juga banyak digunakan oleh kaum bangsawan. yang terbuat dari panel warna kuning dihiasi oleh bermacam ornamen dipinggirnya. Apabila di masa lalu. kain hitam dengan ornamen geometris segitiga berbaris di sisi pinggirnya. baju kuning berpotongan serong dari beludru yang diberi ornamen berwarna merah. terbuat dari . pakain tradisional Nias menggunakan bahan Wit kayu. yang disarungkan arah ke kiri. Kemudian dihias dengan mahkota atau rai. adalah salah satu jenis anting terbuat dari emas. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" .lingkaran terbuka dari bahan perunggu dengan hiasan batubatuan atau kerang. Perhiasan yang dipergunakan adalah sialu fondreun (anting-anting). masih ada bola-bola. Adapun kelengkapan busana ini adalah rai. yang hanya digunakan oleh wanita bangsawan. kala bobu. mahkota berbentuk ikat kepala dengan ujung meruncing segitiga ke atas. separuh leher dan lengan. Selain itu. tampak adanya unsur-unsur Melayu. merah. Busana pengantin Nias secara? keseluruhan pun nampak sederhana. Warna hitam. sebagaimana menggambarkan kehidupan masyarakatnya yang bersahaja. Dalam busana pengantin ini. Fondruru ana`a. adalah nama jenis anting yang digunakan oleh masyarakat kebanyakan. sebelum mengenal pengaruh luar. Bagian belakang baju ini lebih panjang dan bergambar matahari dan buaya. Gela gela dan tali hu. hanya bahannya bukan terbuat dari emas. yaitu asesoris wanita berbentuk tas berbahan bambu dengan hiasan manik-manik berwarna-warni. Untuk perlengkapannya mempelai wanita mengenakan seledra (selendang) dan boba datu (ikat pinggang).

Pada kesempatan yang lebih formal atau ketika menghadiri upacara. antinganting. kaum pria dan wanita di Riau biasa mengenakan baju kurung yang disebut baju gunting cina. akan tetapi kain tudung kepala menutupi hampir seluruh tubuh pemakainya. Perbedaan busana pengantin Riau daratan dengan Riau kepulauan terletak pada hiasan kepala sebagai mahkota. Biasanya busana macam ini bahannya terbuat dari kain songket. semakin banyak perhiasan yang dipakai seseorang ia akan semakin disegani dan dikagumi. Kelengkapan pada kepala tersebut meliputi. Selendang tidak mutlak dipakai. Untuk menghadiri acara formal. Dalam kehidupan sehari-hari. kaum wanita di Riau juga memakai perhiasan yang terdiri dari kalung. Sandal atau kasut merupakan alas kaki yang lazim dipakai oleh kaum wanita dan pria Riau. sapu tangan kecil dan di pinggang melilit sebuah pending. meliputi juga kelengkapan kepala. namun pemakainya terbatas pada kalangan rakyat kebanyakan. Adakalanya perhiasan tersebut terbuat dari bahan suasa. Hiasan kepala yang dipakai pada upacara perkawinan Riau kepulauan terlihat lebih sederhana dibanding dengan Riau daratan. jurai. sepit rambut. Meski fungsinya sama. Penggunaan selendang biasanya dipadukan dengan baju kebaya pendek. penggunaan busana dan kelengkapannya sangat tergantung pada si pemakai. Pengaruh kebudayaan barat tampak juga pada busana kaum pria. atau baju pesak sebelah dengan kain sarung atau celana. Busana ini umumnya dipakai ketika badan sudah bersih dan akan menunaikan shalat atau hendak menerima tamu yang berkunjung kerumahnya. kita kenal juga istilah baju teluk belanga. sedangkan kaum wanitanya menutup kepala dengan sepotong kain yang berupa selendang. dan gelang kaki untuk bagian bawah. Berbeda dengan busana kaum pria. badan dan tangan masing-masing dilengkapi dengan kain selempang. sanggul biasa atau sanggul dua. Bagian kepala ditutupi dengan peci atau songkok. kembang goyang. Kaum pria biasa menggunakan tutup kepala yang disebut kopiah atau songkok. kaum wanita Riau umumnya memakai baju kurung satu sut. kelengkapan busana kaum wanita Riau umumnya lebih semarak. Cincin dari emas dan perhiasan lainnya biasa dipakai kaum pria Riau terutama pada saat menghadiri pertemuan formal atau perhelatan. Dalam pandangan masyarakat Riau. Di kalangan bangsawan atau keturunan raja-raja Riau. tusuk sanggul. yakni dengan adanya kebiasaan untuk memakai celana dan kemeja yang dilengkapi dengan jas. satin atau sutera. Akan tetapi baju teluk belanga ini biasa dilengkapi dengan sebilah keris yang diselipkan di pinggang. baju kurung leher tulang belut atau cekak musang dengan celana berikut kain samping dari bahan songket yang digunakan menutupi celana hingga sebatas lutut. sering pula digunakan kain tudung kepala. Sesungguhnya busana tersebut bentuknya tidak jauh berbeda dengan baju cekak musang. Adapun busana yang dikenakan kaum pria Riau adalah baju gunting cina. Selain memakai selendang untuk menutup kepala. Namun jika akan memakai selendang warnanya harus disesuaikan dengan warna baju kurung.Busana Tradisional Riau Riau Traditional Dress Penulis : Siti Dloyana Kusumah Bagi masyarakat Melayu Riau. Pakaian seharihari baik untuk di rumah atau di luar rumah berbeda dengan busana dan kelengkapannya untuk peristiwa khusus seperti upacara atau perjamuan resmi. . dalam pemakaian maupun kelengkapan yang dipakai. cincin yang terbuat dari emas. Untuk bagian dada. gelang tangan.

Busana Tradisional Melayu Jambi Jambi Malay Traditional Dress Suku Melayu Jambi adalah sebutan bagi orang-orang Melayu yang mendiami daerah sepanjang sungai Batang Hari. Lacak ini terbuat dari kain beludru warna merah yang diberi kertas tebal di dalammnya agar menjadikannya keras. Pakaian untuk pria ini dilengkapi dengan kopiah sebagai penutup kepala. Tutup kepala ini memiliki dua bagian yang menjulang tinggi. seperti Riau. karena ia mendapat julukan raja sehari. Sebutan ini dimaksudkan untuk membedakan dengan suku Melayu yang berdiam di daerah lain. Dalam sistem kemasyarakatan Riau. Menurut anggapan mereka warna kuning adalah simbol warna kerajaan oleh sebab itu hanya boleh digunakan oleh orang-orang dari kalangan bangsawan atau keturunan raja-raja Riau. kepangkatan atau garis keturunan menjadi dasar pada perbedaan cara berbusana. propinsi Jambi. Meskipun bentuk dan coraknya sama. dengan julangan yang lebih tinggi pada bagian depannya. Perbedaan bentuk ikat kepala tersebut. tangkai clan bunga yang akan mekar. Pakaian adat ini lebih mewah daripada pakaian sehari-hari yang dihiasi dengan sulaman benang emas dan pemakaian perhiasan sebagai pelengkapnya. begitu juga dengan perhiasan. Kain sutera sangat biasa dijumpai dalam pembuatan busana kaum bangsawan. Dalam berbusana sehari-hari pada awalnya hanya dikenal kain dan baju tanpa lengan. Perbedaannya yakni tambahan mutu manikam atau intan berlian yang dibubuhkan pada perhiasan kaum bangsawan tersebut. Selain dari segi kualitas yang membedakan kedudukan seseorang dalam masyarakat. hanya bagian hulu yang menyembul dari balik kain. namun bahan pembuatannya benar-benar berbeda. Masyarakat awam atau rakyat kebanyakan tidak diperbolehkan menggunakan warna kuning sebab dianggap tidak beradab. Sebagai hiasan terdapat lukisan flora dari daun. biasanya disesuaikan dengan kedudukan seseorang dalam masyarakat atau bisa juga bentuk acara yang akan dihadiri.Aturan pemakaian keris ini adalah tidak nampak menonjol. Pakaian Adat Pria Laki-laki suku Melayu Jambi dalam berpakaian adat mengenakan lacak di kepalanya. pakaian sehari-hari berkembang menjadi baju kurung dan selendang sebagai penutup kepala untuk kaum perempuan. orang Riau pun mempunyai ketentuan khusus dalam menggunakan warna. Sumatera Selatan. bagian kepala dan rambut menggunakan penutup kepala yang disebut tanjak laksmana atau bisa juga bentuk tanjak temenggung dan tanjak menyongsong angin. Pada perkembangan berikutnya dikenal adanya pakaian adat. Setelah adanya proses akulturasi dengan berbagai kebudayaan. Pada umumnya ketika seorang pria mengenakan baju teluk belanga. Bagian pinggir . sehingga lebih leluasa geraknya dalam melakukan kegiatan seharihari. Warna kuning pun dipakai untuk busana pengantin. dan sebagainya. Sedangkan kaum prianya mengenakan celana setengah ruas yang melebar pada bagian betisnya dan umumnya berwarna hitam.

clan bunga pandan. Untuk lebih memperindah diberi sulaman emas dengan motif bunga melati pecah. Kelengkapan lainnya adalah keris clan selop. kembang tagapo. Bagian tengahnya terdapat motif kembang bertabur atau kembang tagapo dan kembang melati. Penutup bagian bawah disebut cangge (celana). Dikenakan pula selempang yang menyilang badan terbuat dari songket warna merah keungu-unguan sebagai pasangan kain sarung dengan motif bunga berangkai clan beranting. Dalam mengikat tali ini digunakan teknik ikatan kajut untuk memudahkan dalam membuka nantinya. sedang bagian pinggirnya bermotifkan kembang berangkai atau pucuk rebung. Hiasan kepala ini masih dilengkapi dengan berbagai macam tumbuhan. Selain itu juga melambangkan sepucuk Jambi sembilan lurah. Bunga cempaka. bunga matahari. Bentuknya bergerigi menyerupai pucuk rebung atau bambu yang baru tumbuh. Kelengkapan busana perempuan lebih banyak dibandingkan dengan yang dikenakan oleh pria. Keris diselipkan di perut menyerong ke kanan melambangkan kebesaran sekaligus untuk berjaga-jaga. Bagian pinggangnya dihiasi dengan selendang tipis warna merah jambu yang pada ujung ujungnya diberi umbai-umbai warna kuning. Bungo runci ini berwarna putih dirangkai dengan benang. Pada perempuan dikenakan anting-anting atau antan dengan motif kupu-kupu atau gelang banjar. dan pucuk rebung. Lukisan naga ini mengandung makna bila seseorang telah diberi kekuasaan janganlah diganggu. Sedangkan selop atau alas kaki yang berbentuk setengah sepatu berfungsi untuk melindungi kaki saat berjaalan. Kalungnya terdiri dari tiga . ini dimaksudkan untuk menjaga sopan santun clan kehormatan kaum wanita (permaisuri raja). dapat berupa bunga asli atau tiruannya.sebelah kanan diberi lukisan tali runci. Sudah menjadi kebiasaan di daerah Jambi mengenakan kain sarung songket yang dililitkan di pinggul. bunga matahari. kembang cempaka. Konon. Hal ini mengandung makna seseorang harus tangkas clan cekatan dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan. Sementara bunga pandan digunakan sebagai hiasan kepala bagian belakang yang dibuat menjurai ke bawah dan dilekatkan pada sanggul lintang. bungo runci. Disebut tanggung karena panjangnya hanya sedikit di bawah siku tidak sampai ke pergelangan tangan. Bajunya disebut baju kurung tanggung berlengan panjang. Tutup dadanya disebut teratai dada. seperi pohon beringin. bungo runci letaknya dibagi rata untuk mengisi bagian sebelah kiri clan kanan. Kedua tangan dihiasi gelang kilat bahu terbuat dari logam celupan berlukiskan naga kuning. Pakaian Adat Wanita Busana untuk perempuan terdiri dari kain sarung songket clan selendang songket warna merah. sejenis kalung bermakna adanya pembagian kerja clan harus tolong-menolong. Penempatan pohon beringin lebih tinggi dari bunga-bunga lain di sekeliling pesangkon. Bahannya masih dari beludru yang dilengkapi dengan tali sebagai ikat pinggang. Untuk memperkuat bagian pinggang ini digunakan pending berupa rantai dengan sabuk sebagai kepala terbuat dari logam. Tutup kepalanya disebut pesangkon yang terbuat dari kain beludru merah dengan bagian dalam diberi kertas karton agar keras. Bahannya terbuat dari beludru warna merah diberi sulaman benang emas. Bajunya disebut baju kurung tanggung bersulam benang emas dengan motif hiasan bunga melati. Sebagai hiasan dada dikenakan rantai sembilan. karena bentuknya seperti bunga teratai dipasang melingkar leher sehingga menyerupai kerah. yang diimbangi oleh penempatan bungo runci di sebelah kiri. Ada juga yang menyebut duri pandan karena pada bagian depan tutup kepala ini diberi hiasan dari logam berwarna kuning berbentuk duri pandan.

yang disebut baselang atau pelarian. gelang ukuran sedang dua buah clan ikat pinggang yang berbentuk kotakkotak berangkai satu sama lainnya. Kelengkapannya terdiri dari sarung warna merah yang dipakai sedikit di bawah lutut (tanggung). kalung jayo atau kalung bertingkat dan kalung rantai sembilan. Kain songketn berwarna merah tua bermotifkan kembang melati pecah dan bagian pinggir bermotifkan daun pakis. Penulis : Dewi Indrawati . Sedangkan unsur-unsur kelengkapan yang lain seperti teratai dada (tutup dada). selendang warna merah dililitkan di kepala serta membawa perlengkapan lain seperti ani-ani clan kiding (tempat padi). Selebihnya polos.jenis. di mana sebagian besar kegiatan dilakukan oleh bujang clan gadis. Dilengkapi dengan selempang warna kuning dari bahan tetoron. Kesemuanya di pasang di lengan. Selendang songket yang dikenakan sebagai penutup kepala diberi sulaman benang emas dan umbai-umbai di ujungnya. Jumlah gelang yang dipakai pun lebih banyak meliputi gelang kilat bahu masing-masing lengan dua buah. gelang ceper dan gelang buku beban. dan karenanya memerlukan kerja sama atau bergotong-royong. Pada acara besar pakaian dibedakan untuk upacara dan bekerja. yaitu kalung tapak. selendang. Masih ditambah dengan gelang kano. Pembedaan ini mempengaruhi pada variasi pakaian yang dikenakan. Disebut demikian karena bentuknya yang menyerupai naga dalam dongeng sedang tidur clan ular yang melingkar membentuk bulatan. Bedanya bentuk motif yang lebih besar pada teratai dada dan pending. dan selop hampir sama dengan yang dikenakan pria. Motifnya digunakan daun pakis dan terawang yang diletakkan memanjang dari ujung ke ujung. Kemudian baju kurung tanggung warna merah agak keungu-unguan dari beludru yang diberi sulaman pada bagian setengah badan ke bawah dengan motif bola-bola kecil berukir. pending dan sabuk (ikat pinggang). Dalam rangkaian upacara tersebut terdapat hiburan sehingga pakaian yang dikenakan pun lebih bagus. Pada jari-jarinya terpasang cincin pacat kenyang dan cincin kijang atau capung. Terlebih saat menuai. kecuali bagian leher sebelah depan. Sementara untuk kaki dikenakan gelang nago betapo dan gelang ular melingkar. Teknik clan cara pertanian yang dijalankannya masih terhitung sederhana. baju kurung berlengan tanggung yang letaknya di luar kain. kecil dan besar. Acaranya sendiri dibedakan menjadi dua. Pakaian Baselang Masyarakat suku Melayu Jambi yang mendiami sepanjang sungai Batang Hari sebagian besar hidup dari bertani. Khusus untuk gelang buku beban bahannya berasal dari permata putih. khususnya yang dikenakan para gadis. Jika acaranya kecil maka pakaian yang dikenakan berfungsi ganda sebagai pakaian upacara maupun bekerja.

Jas tersebut dari kain bermutu seperti wol dan sejenisnya dan biasanya berwarna gelap seperti hitam atau biru tua. alas kaki yang dilengkapi dengan tutup kepala dan sebuah keris. merah tua atau biru tua yang bertaburkan corak-corak sulaman atau lempeng-lempeng emas. Celana paduannya terbuat dari beludru dengan taburan corak�corak benang emas juga walaupun tidak selalu dalam warna yang sama dengan jas. diselempang pada bagian dada kebelakang punggung membentuk huruf V. dipadukan dengan tusuk konde. sulaman emas berbentuk lempengan�lempengen bulat seperti uang logam. Pakaian adat wanita Kaum wanita Melayu Bengkulu mengenakan baju kurung berlengan panjang. lembayung atau hitam. yang sebenarnya merupakan kepanjangan dari kembang goyang di kepala sedemikian rupa sehingga seolah-olah bergantung disebelah daun telinga. Bahan baju kurung umumnya beludru dalam warna-warna merah tua. sarung. Sarung dikenakan sebagai samping di bawah jas sampai sedikit di atas lutut. dan jumbaijumbai kiri dan kanan. alas kaki beludru dengan corak-corak keemasan. Jambi dan Riau. menyentuh bahu. celana panjang. Perhiasan keemasan disematkan sebagai sunting-sunting pada sanggul di kepala. .Busana Tradisional Bengkulu Bengkulu Traditional Dress Dimasa kini busana adat Bengkulu yang populer adalah gaya Melayu Bengkulu yang tampak mendapat pengaruh dari gaya-gaya Melayu yang pada dasarnya terdapat dari seluruh Sumatera khususnya Minangkabau. Pada bagian dada tergantung sebentuk lidah penutup. Pakaian adat pria Susunan busana adat pria terdiri atas jas. sebilah keris dan gelang emas di tangan kanan. cokonde balon. Sebagian pelengkap busana pada kepala dipakai detar dari kain songket emas atau perak. bersama-sama dengan antinganting berukir dari emas. Sarung songket benang emas atau perak dalam warna serasi dari sutra merupakan perangkat busana yang dikenakan dari pinggang sampai dengan mata kaki. biru tua. mirip dasi dengan hiasan-hiasan benang emas. bertabur corak-corak. Demikian pula untuk celananya terbuat dari bahan dan warna yang sama. Samping biasanya terbuat dalam teknik songket benang emas atau perak dan disebut sarung segantung. Versi lain dari jas adalah sejenis jas tertutup dari bahan beludru hitam. Gaya busana ini dikenakan masyarakat untuk menghadiri pesta-pesta adat yang penting. Sehelai kampuh dari satin sutra bersulam emas. Hiasan di sanggul atau konde biasanya terdiri dari sikek berbentuk bulan sabut.

yaitu kain yang dibuat dari kain Samarinda. Bagian bawah mengenakan senjang. yaitu bentuk kemeja seperti pakaian sekolah atau moderen. Pergelangan tangan dan jari jemari dilingkari dengan mandering dan cincin permata. Tetapi sekarang telah dikenal adanya celanou (celana) pendek dan panjang sebagai penganti kain. Penulis : Biranul Anas Busana Tradisional Lampung Lampung Traditional Dress Daerah Lampung dikenal sebagai penghasil kain tapis. Bila dipakai dalam kerapatan adat dipadukan dengan baju teluk belanga dan kain. ketika menghadiri upacara adat sekalipun. Pemakaian kawai kemija ini sudah biasa untuk menyertai kain dan peci. Alas kaki memakai selop bersulam emas. yaitu destar dengan bagian tepi dihias bunga-bunga dari benang emas dan bagian tengah berhiaskan siger. Sebagai penutup badan dikenakan kawai. Baju ini terbuat dari bahan kain tetoron atau belacu dan lebih disukai yang berwarna terang. Tetapi sekarang banyak digunakan kawai kemija. Untuk mengiring pengantin dikenakan kekat akkin. yaitu baju berbentuk teluk belanga belah buluh atau jas. Bahannya dari kain batik. Lelaki muda Lampung lebih menyukai memakai kepiah/ketupung. menurun sampai daerah pinggang yang dilingkari oleh sebuah pending berangkai yang terbuat dari emas. seperti perkawinan. Bugis atau batik Jawa. Kain ini dibuat oleh wanita. Dalam keseharian laki-laki Lampung mengikat kepalanya dengan kikat. tapis yang dipenuhi sulaman benang emas dengan motif yang indah merupakan kelengkapan busana adat daerah Lampung. apalagi kalau ingin bertemu dengan gadis. Kaum wanita Lampung sehari-hari memakai kanduk/kakambut atau kudung sebagai penutup kepala yang . berlapis-lapisan dalam jumlah banyak. Pada penyelenggaraan upacara adat.Di dada pada bagian atas kampuh bergantungan gelamor berukir. serta di salah satu sudutnya terdapat sulaman benang emas berupa bunga tanjung dan bunga cengkeh. yaitu tutup kepala berbentuk segi empat berwarna hitam terbuat dari kain tebal. kain tenun bersulam benang emas yang indah.

Kelai pungew. Kalai kukut ini dipakai sebagai perlengkapan pakaian masyarakat yang hidup di desa. yaitu selendang sutra disulam dengan emas dengan motif pucuk rebung. Pada jari tengah atau manis diberi cincin (alali) dari emas. pada saat menghadiri upacara perkawinan mengenakan kawai/kebayou (kebaya) beludru warna hitam dengan hiasan rekatan atau sulaman benang emas pada ujung-ujung kebaya dan bagian punggungnya. yang dikenal sebagai kain tapis atau kain Lampung. memiliki bentuk seperti baju kurung. Sebagai kain dikenakan senjang atau cawol. Selikap yang terbuat dari kain yang mahal dipakai saat menghadiri upacara adat dan untuk melakukan ibadah ke masjid. yaitu kalung leher (monte) berangkai kecil-kecil dilengkapi dengan leontin dari batu permata yang ikat dengan emas. Kemudian rajutan tadi ditusuk dengan bunga kawat yang dapat bergerak-gerak (kembang goyang). Selain itu. Pada waktu mandi di sungai. Sulaman benang emas ada yang dibuat berselang-seling. Dikenakan pula kalai kukut. Selain itu. yaitu gelang yang dipakai di lengan kanan atau kiri. kecuali saat pergi ke ladang. Lawai kurung digunakan sebagai penutup badan. seperti perkawinan kaum wanita. Di bahunya tersampir tuguk jung sarat. kain ini dipakai sebagai kain basahan. Dikenakan senjang/ cawol yang penuhi hiasan terbuat dari bahan tenun bertatah sulam benang emas.dililitkan. juga dapat dikenakan selekap balak. Untuk mempererat ikatan kain (senjang) dan celana di pinggang laki-laki digunakan bebet (ikat pinggang). Bahannya dari kain halus tipis atau sutera. Busana Tradisional Palembang Palembang Traditional Dress Penulis Sri Murni Biranul Anas . yaitu selendang sutra bersulam benang emas dengan motif tumpal dan bunga tanjung. biasanya memiliki bentuk seperti badan ular (kalai ulai). bunga cengkeh dan hiasan berupa ayam jantan. Selambok/rattai galah. Perlengkapan lain yang dikenakan oleh laki-laki Lampung adalah selikap. Cara menyanggul seperti ini memerlukan rambut tambahan untuk melilit rambut ash dengan bantuan rajutan benang hitam halus. Pakaian mewah dipenuhi dengan warna kuning keemasan dapat dijumpai pada busana yang dikenakan pengantin daerah Lampung. Khusus bagi wanita yang baru menikah. Para ibu muda dan pengantin baru dalam menghadiri upacara adat mengenakan kain tapis bermotif dasar bergaris dari bahan katun bersulam benang emas dan kepingan kaca. Untuk memperindah dirinya dipergunakan berbagai asesoris terbuat dari emas. yaitu gelang kaki yang biasanya berbentuk badan ular melingkar serta dapat dirangkaikan. sedangkan wanitanya menggunakan setagen. perak atau suasa diberi mata dari permata. Mulai dari kepala sampai ke kaki terlihat warna kuning emas. menyanggul rambutnya (belatung buwok). Untuk menghadiri upacara adat. di tengahnya bermotifkan siger yang di kelilingi bunga tanjung. Baju ini terbuat dari bahan tipis atau sutra dan pada tepi muka serta lengan biasa dihiasi rajutan renda halus. kaum ibu kadangkadang menggunakannya sebagai kain pengendong anak kecil. yaitu kain selendang yang dipakai untuk penahan panas atau dingin yang dililitkan di leher. tetapi ada yang disulam hampir di seluruh kain. baik yang gadis maupun yang sudah kawin.

Badong yang terkenal disebut badong jadam. terbuat dari suasa. iket-iket atau kopiah (kopca). atau dapat juga dicap dengan cairan emas perada (diperadan). badeek. Ada juga yang diberi batu permata. atau perak dengan tatahan bermotif bunga. orang laki-laki umumnya mengenakan kain (sewet sempol) dan baju beta booloo. Keris ini diselipkan pada lambung sebelah kiri. tutup kepala dengan jenisnya disebut tanjak. tumbak lado. . Pelengkap busana yang lain adalah keris. dan memakai alas kaki yang disebut gamparan atau terompah. yang dianggap jenis yang paling istimewa karena memiliki khasiat ampuh. yang dibedakan atas tiga jenis yaitu: memakai kancing (bemben). Mulai dari bagian bawah lutut sampai ke arah mata kaki disulam (diangkeen) dengan benang emas. Ada juga yang memakai seluar (celana) panjang atau celana model pangsi (lok cuan). Tutup kepala juga dibuat sendiri dengan cara ditenun. Selanjutnya busana ini dilengkapi dengan sejenis senjata tajam. Laki-laki Palembang gemar memakai baju jenis bela booloo. Lasem. Jenis celana ini tidak disulam dengan benang emas. seperti keris. Baju yang dikenakan disebut kebaya pendek. Pada bagian luarnya ditatah dengan abjad atau angka-angka Arab. atau jembio. Untuk alas kaki yang berbentuk gamparan terbuat dari potongan kayu yang bermutu. Cina. Sebagai pakaian sehari-hari. Pakaian untuk di rumah tidak dilengkapi dengan alas kaki. Pada bagian dalam dikenakan penutup dada yang disebut kutang. maupun diperadan. atau tembaga yang dilapisi emas. atau membeli bahan baju dari Jawa. Baju ini dibuat dari kain yang ditenun dan disulam dengan benang emas maupun benang biasa yang berwarna. Setelah celana panjang dikenakan selembar kain yang disebut sewet bumpak. Pakaian bagian bawah berupa celana panjang yang dinamakan celano belabas. Pakaian kebesaran untuk lakilaki dilengkapi dengan tanjak (tutup kepala) yang terbuat dari kain batik atau kain tenunan. sebagai gantinya dikenakan kopiah sebagai penutup kepala. Semuanya terbuat dari kain songket (kain tenunan tradisional) Palembang. Saat ini sudah jarang orang yang memakai tanjak. Pada umumnya mereka mengenakan tutup kepala. celana yang panjangnya sebatas lutut). Demikian juga baju (kelambi) biasa ditenun sendiri. India. dan dikenakan oleh golongan keturunan raja-raja yang disebut Priyai. Indramayu. Jenis tutup kepala yang biasa dikenakan adalah kopiah (kopca). Tanjak dibedakan atas tanjak kepudang. Badong ini terbuat dari campuran berbagai bahan logam. Kemudian pada bagian bawah selebar lebih kurang 10 atau 12 cm. dan diberi angkinan dari kain batik yang didatangkan dari Gresik. dan sarungnya tidak kelihatan karena ditutupi kain atau celana. serta diberi tumpal benang emas. yang terbuat dari kain yang ditenun. Tutup dada biasanya diberi hiasan permata. tergantung pada taraf ekonomi pemakainya. yang diyakini dapat membawa berkah dan keselamatan bagi pemakainya. disulam. Ada pula yang disulam dari bagian pinggul sampai ke mata kaki dengan motif lajur. seperti kayu meranti payo atau ngerawan. Sarung keris (pendok) terbuat dari emas. ditaburi dengan bunga-bunga kecil dari benang emas. Hanya seorang raja yang boleh memakai keris dengan gagangnya menghadap keluar. rambi ayam. diberi pinggiran benang emas. Busana ini juga dilengkapi dengan alas kaki jenis terompah. memakai kantong biasa. karena mereka menganggap tutup kepala lebih penting dari baju. Jenis celana yang lain disebut dengan celano lok cuan (celana pangsi.Busana ini sebenarnya berasal dari masa-masa kesultanan Palembang sekitar abad ke 16 sampai pertengahan abad ke 19. terbuat dari kain yang ditenun. atau Betawi. suasa. Pakaian sehari-hari Pakaian orang laki-laki (wong lanang) terdiri dari kain (sewet). baju (kelambi). Kain (sewet) biasanya ditenun sendiri atau dibeli dari pulau Jawa. baik waktu bepergian maupun ketika sedang di rumah. Kain ini dibuat dengan cara ditenun. dan memakai kantong terawangan. Busana ini dilengkapi dengan ikat pinggang yang disebut badong. perak. tanjak meler dan tanjak bela mumbang. atau Eropa. dan ukuran celananya lebih lebar. atau bisa juga mengenakan kebaya landoong atau kelemkari yaitu kebaya panjang hingga di bawah lutut.

Tetapi saat ini jenis ikat pinggang tersebut sudah jarang dikenakan. sedangkan perempuan muda memakai baju kebaya. dan dahi. serta dicampur dengan bunga-bunga yang harum). Baju yang dikenakan disebut baju kooroong (kurung) terbuat dari kain belacu. Wanita yang sudah menikah atau yang sudah tua lazim memakai selendang sebagai tutup kepala. atau las. yang disebut geloongan coompook atau geloongan temakoo setebek. Cina. mereka selalu mengenakan pakaian yang terbaik dan rapi. menandakan kekayaan keluarga yang bersangkutan. berasal dari Jawa). Sebagai pakaian sehari-hari. Kemudian rambut ditata dengan sanggul. dan terompah atau selop. yang dikenakan pada kepala. Songket ini merupakan pemberian suami ketika mereka menikah sebagai salah satu mas kawin. dada. Selendang tersebut biasanya diberi rumbai-rumbai (rumbe rumbe). Sebagai perhiasan pelengkap busana ini adalah kalung emas dengan liontin permata berlian atau intan. Namun sejak tahun 1942 koodoong kajang sudah tidak pernah dipakai lagi. Sebagai kelengkapan busana serba songket ini sama dengan perhiasan yang lazim dikenakan untuk menghadiri upacara-upacara adat lainnya. rangkaian peniti terbuat dari emas atau perak. Pakaian ini dilengkapi dengan ikat pinggang (cak pinggang) terbuat dari kulit. yang disebut koodoong (kerudung) kajang atau koodoong trendak. sebagai penggantinya dipakai setagen (kain kecil yang sangat panjang yang dikenakan melilit perut. kaum perempuan lazim mengenakan kain (tenunan tradisional Palembang atau kain batik dari Jawa). Dari mutu kain songket tersebut dapat terlihat kekayaan atau kemampuan keluarga yang memilikinya. Mereka juga mengenakan selendang (kemben). Bagi orang kaya tidak ketinggalan jam kantong dengan medalion. pakaian yang lazim dikenakan terdiri atas kain sarung (sewet saroong) batik yang halus. Pada saat menghadiri suatu upacara adat. Sebagai alas kaki adalah terompah atau sepatu tanpa tali. Pada masa lalu. dan Singapura. kamhar. Busana Tradisional Priangan dan Cirebon Priangan and Cirebon Traditional Dress . Busana ini hanya boleh dikenakan oleh perempuan yang sudah bersuami. Sedangkan sebagai alas kaki dikenakan terompah dengan sulaman klingkan bagi perempuan yang sudah tua. yang halus dari jenis tajung Bugis atau gebeng Palembang.Pada saat akan bepergian. Baju yang dikenakan berupa jas tutup terbuat dari bahan linen. Untuk ikat pinggang dikenakan sejenis pending yang disebut badong atau angkin. Saat ini orang Palembang sudah dapat membuat sendiri busana mereka dengan bahan-bahan yang diperoleh dari alam sekitarnya. umumnya batik Betawi atau yang dinamakan sewet mascot. Untuk menghadiri suatu upacara adat yang disebut penganten mungga. baju kurung (kooroong) dengan panjang sebatas lutut. India. Semakin halus songket yang dimilikinya. Rambut disisir dengan rapi dan diberi minyak lengo (minyak kelapa yang dicampur dengan daun pandan yang diiris halus. dan tutup kepala (tengkoolook). gelang (jenis gelang yang terkenal disebut gelang kepalak ulo). semua bahan pembuatan busana tersebut didatangkan dari Jawa. serta gelang kaki (yang terkenal adalah gelang sekel kepalak nago). rambut disanggul. Baju kurung ini lazim dikenakan oleh perempuan yang sudah tua. Busana ini dilengkapi dengan sehelai selendang besar yang dipakai dengan rapi menutupi kepala sampai bahu. dan untuk orang muda mengenakan cenela atau selop tungkak tinggi (sandal bertumit tinggi). Mereka biasa mengenakan kain pelekat. busana yang dikenakan kaum wanita adalah serba songket. Busana untuk bepergian tersebut juga lazim dikenakan kaum laki-laki pada kegiatan-kegiatan perayaan. sehingga yang nampak hanya mata dan hidung pemakainya. baju kurung yang panjangnya sampai lutut atau kebaya yang tepinya diberi renda hingga menutup dada (untuk remaja putri). dan mengalami perubahan fungsi sebagai tudung saji atau tutup makanan. bahu. Busana untuk perempuan (wong betino) terdiri dari kain (sewet saroong).

Di kalangan istri pembesar. Sama halnya dengan kebaya. baik di Priangan maupun di Cirebon. sedangkan kaum bangsawan menggunakan kain batik halus. sebatas lutut dan sedikit di atas lutut. Namun demikian kalangan bangsawan tidak pernah menggunakan sarung pada kesempatan resmi. bahan kebaya yang digunakan berbeda dari rakyat biasa. polekat). Meskipun bentuk dasarnya sama namun terdapat variasi terutama dalam hiasan yang disesuaikan dengan keinginan/kebutuhan pemakainya. ciamisan bagi masyarakat Priangan dan batik dermayon atau trusmi untuk orang Cirebon Penggunaan kain batik yakni dililitkan pada bagian bawah badan. Aturan tersebut berupa keseragaman pakaian pada saat-saat tertentu. digunakan peniti. Adakalanya peniti itu terbuat dari logam mulia yang disambung-sambungkan dengan rantai kecil disebut panitih rantay. pada busana pejabat terdapat lidah-lidah pada bagian leher yang berkancing kait atau kancing pentul. Cara mengenakan sarung ini sangat bervariasi sesuai dengan kebutuhan. Iket tersebut kemudian berkembang menjadi bendo yakni tutup kepala yang terbuat dari kain batik yang dicetak menurut ukuran kepala tertentu. Jawa dan Eropa terutama Belanda. Pada bagian kebaya dari leher sampai ujung bawah kebaya surawe terdapat hiasan dari pasmen. dari rakyat biasa sampai kalangan bangsawan Priangan maupun Cirebon. Yang membedakan keduanya adalah. dilepas sampai pergelangan kaki. Untuk kesempatan resmi busana resmi wanita priangan dilengkapi dengan sehelai selendang berwarna sama dengan kebaya dan alas kakinya berupa sandal selop. kain batik pun digunakan pula oleh semua lapisan masyarakat. Zaman dahulu. Di kalangan rakyat biasa baju yang dikenakan adalah potongan kampret. Umumnya yang digunakan mereka adalah kain-kain batik buatan setempat seperti batik garutan. pernah dikeluarkan peraturan tentang bentuk dan cara berpakaian bagi para bangsawan dan pejabat pemerintah pria saat itu. Adapun masyarakat Cirebon. Yang membedakannya hanyalah bahan dasar iket tersebut. Adakalanya dikerudungkan. baik di kalangan rakyat biasa maupun di kalangan bangsawan. Khusus para bangsawan Cirebon menggunakan kain wulung. Model ini sesungguhnya adalah bentuk dasar celana kaum bangsawan yang dihias dengan pasmen memanjang dari atas ke bawah pada bagian tengah samping sekeliling lubang celana. dari pinggang hingga ke pergelangan kaki. masyarakat Jawa Barat khususnya di Priangan dan Cirebon terus mengembangkan model busana sesuai dengan perkembangan zaman dan berbagai ketentuan pemerintah yang turut pula mengatur tata cara berbusana masyarakat Jawa Barat. Bentuk kampret tersebut juga menjadi bentuk dasar dari model busana para pejabat dan kalangan bangsawan. Biasanya mereka menggunakan bahan yang berkualitas tinggi seperti sutera atau beludru serta corak hias yang lebih anggun. diikatkan pada pinggang atau dililitkan. perempuan di Priangan dan Cirebon tidak mengenal lamban atau lepe (melipat bagian pinggir kain) namun kebiasaan tersebut baru dikenal sekitar dekade ketiga atau keempat abad 20 ini. Laki-laki di Priangan dan Cirebon pada umumnya mengenakan sarung (poleng. Untuk memperkuat dililitkan beulitan atau sabuk pada pinggang pemakai.Dari masa ke masa. Bentuk pakaian/busana tersebut merupakan perpaduan antara tradisi Sunda. Cara memakai kain batik tersebut ada beberapa bentuk. Sebagai penyambung belahan kebaya. demikian pula pada sekeliling lengan dan pada seputar bawah kebaya. baik rakyat biasa maupun kalangan Keraton mengenakan baju sorong atau baju kurung. Berkain kebaya pada dasarnya digunakan oleh kaum perempuan disemua lapisan. Busana jajaka adalah baju takwa dan celana warna hitam dilengkapi dengan kain dodot dan tutup kepala bendo terbuat dari kain batik halus bermotif sama dengan kain dodot. Oleh karena itulah pada busana pejabat atau bangsawan terdapat hiasan dari pasmen yang disesuaikan dengan tinggi rendahnya jabatan. dan dihiasi dengan pasmen. Kaum laki-laki di Priangan dan Cirebon mengenakan iket sebagai penutup kepala. Celana panjang model komprang digunakan oleh laki-laki di Priangan dan Cirebon. Pada masa pemerintahan Belanda. Di kalangan rakyat kebanyakan terbuat dari batik kasar. warna hitam atau putih. mereka lebih suka memakai kain batik halus. .

tidak demikian halnya dengan kaum laki-laki. Bagian depan bendo Cirebon terdapat garis selebar 4 cm yang makin ke dalam makin kecil. untuk tampil cantik cukup memakai busana sederhana dengan perhiasan gelang emas /perak. suweng pelenis baik yang terbuat dari emas atau perak. Jika perhiasan kaum perempuan agak kompleks dan beragam. berpengaruh kuat pada penggunaan kelengkapan busananya seperti perhiasan dan alas kaki. Dalam berbagai kesempatan khusus. hiasan jas di bagian dada terdiri dari rantai emas/perak dengan liontin dari kuku harimau. Dengan demikian. sebaliknya cara berbusana kalangan atas/bangsawan lebih banyak memperhatikan fungsi estetisnya. Kelengkapan Busana Priangan dan Cirebon Pada kalangan rakyat kebanyakan mengenakan busana biasanya lebih ditekankan kepada fungsi praktisnya. Di bagian belakang bendo Priangan terdapat ikatan simpul ujung-ujung kain. namun kini sandal.Bendo di Priangan dan Cirebon berbeda terutama pada bagian depan. mereka baru memakai perhiasan dalam batas-batas tertentu. Bendo biasa digunakan oleh kalangan bangsawan atau pejabat pemerintahan. sedangkan rakyat kebanyakan tetap memakai iket. Sebagai alas kaki bisa memakai selop atau sepatu. gelang emas dan giwang emas. ali meneng. selop atau kelom sudah menjadi bagian dari berbusana. Seringkali pula perhiasan tersebut terdiri bukan hanya dari emas tetapi ditaburi dengan kilauan intan berlian. Kaum perempuan di kalangan rakyat kebanyakan. Meskipun catatan sejarah mengatakan bahwa zaman dahulu mereka tidak menggunakan alas kaki. gelang bahar. mereka memakai selop yang pada bagian ujung atasnya dihiasi dengan manik-manik. Adapun perempuan di kalangan bangsawan Priangan dan Cirebon melengkapi busananya dengan seperangkat perhiasan yang terdiri dari kalung emas. Untuk alas kaki. Penulis : Siti Dloyana Kusumah Busana Tradisional Baduy Baduy Traditional Dress Penulis : Jaya Purnawijaya . Perhiasan tersebut umumnya berupa cincin emas.

Desain bajunya terbelah dua sampai ke bawah. sarung tadi diikat dengan selembar kain. desa Kanekes. ada yang beranggapan bahwa busana suku Baduy saat ini merupakan bentuk busana yang digunakan oleh masyarakat Jawa Barat pada masa silam. Warna busana mereka umunnya adalah serba putih. Pakaian Baduy Dalam yang bercorak serba putih polos itu dapat mengandung makna bahwa kehidupan mereka masih suci dan belum terpengaruh budaya luar. kancing dan bahan dasarnya tidak diharuskan dari benang kapas murni. Ikat kepalanya juga berwarna biru tua dengan corak batik. Kehidupan sehari-harinya bersahaja. seluruh penduduknya adalah suku Baduy dan tidak bercampur dengan penduduk luar. Letak perkampungan biasanya berada di celah-celah bukit dan lembah yang ditumbuhi pepohonan besar. tangtu Cikertawana dan tangtu Cikeusik. disebut Kajeroan yang tinggal di tiga kampung utama. dengan ciri sub dialek Banten. Tak ada listrik. Baduy Dalam. piring. Melihat warna. kecamatan Leuwidamar. yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Oleh karena itu. Kalaupun ada perbedaan dalam berbusana. Cara berpakaian suku Baduy Panamping memamg ada sedikit kelonggaran bila dibandingkan dengan Baduy Dalam. Barangbarang "modern" seperti sabun. Perbedaan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar seperti itu dapat dilihat dari cara busananya berdasarkan status sosial.Ciri khas suku Baduy yang tinggal di pegunungan Kendeng. Potongannya tidak memakai kerah. melindungi pohon dan hutan di sekitarnya dengan baik. Wilayah desa Kanekes merupakan tanah adat suku Baduy. Bagi suku Baduy Luar. Desain baju sangsang hanya dilobangi/dicoak pada bagian leher sampai bagian dada saja. yang memiliki keyakinan. model dan warnanya saja. Semuanya itu tabu (pamali). Mereka tidak memakai celana. yaitu Baduy Luar. tidak pakai kancing dan tidak memakai kantong baju. Jarak antara satu kampung dengan kampung lainnya berjauhan. Bahan dasarnya pun harus terbuat dari benang kapas asli yang ditenun. Sedangkan potongan bajunya mengunakan kantong. seperti baju yang biasa dipakai khalayak ramai. karena cara memakainya hanya disangsangkan atau dilekatkan di badan. kosmetik. model maupun corak busana Baduy Luar. mengelompok menurut asal keturunan (tangtu) mereka. Banten Selatan adalah masih kokohnya tradisi yang diwariskan oleh karuhun mereka. Mereka bertutur dalam bahasa Sunda Buhun atau Sunda Kuno. gelas dan peralatan pabrik dilarang dipakai. Peraturan adat sangat menentukan dalam sikap hidup suku Baduy. cita-cita. kelengkapan busana pada bagian kepala menggunakan ikat kepala berwarna putih pula. Baduy Dalam. Ciri bahasa yang digunakan suku Baduy adalah tidak memiliki tinggi-rendah bahasa dengan aksen tinggi dalam lagu kalimat. baik untuk keseimbangan hidup antar sesama maupun kelestarian kehidupan alamnya. Salah satu tradisi yang masih bertahan adalah menenun dan cara berbusana. yang hanya dililitkan pada bagian pinggang. tingkat umur maupun fungsinya. Penduduknya menjaga. Suku Baduy terdiri dari dua kelompok masyarakat. karena pakaian tersebut dianggap barang tabu. perbedaan itu hanya terletak pada bahan dasar. termasuk busana yang dikenakannya pun adalah sama. Ini berbeda dengan Baduy Luar yang sudah mulai mengenal kebudayaan luar. untuk laki-laki memakai baju lengan panjang yang disebut jamang sangsang. radio dan televisi. Dalam pandangan suku Baduy. yaitu tangtu Cibeo. Perbedaan busana hanya didasarkan pada jenis kelamin dan tingkat kepatuhan pada adat saja. tingkah laku. . Pembuatannya hanya menggunakan tangan dan tidak boleh dijahit dengan mesin. Bagian bawahnya memakai kain serupa sarung warna biru kehitaman. busana yang mereka pakai adalah baju kampret berwarna hitam. disebut Panamping yang tinggal di 36 kampung luar dan Baduy Dalam. Selain baju dan kain sarung yang dililitkan tadi. Baduy Dalam merupakan paroh masyarakat yang masih tetap mempertahankan dengan kuat nilai-nilai?? ?budaya? ?? warisan leluhurnya dan tidak terpengaruh oleh kebudayaan luar. Ikat kepala ini berfungsi sebagai penutup rambut mereka yang panjang. Kemudian dipadukan dengan selendang atau hasduk yang melingkar di lehernya. mereka berasal dari satu keturunan. menunjukan bahwa kehidupan mereka sudah terpengaruh oleh budaya luar. Lebak. Agar kuat dan tidak melorot.

Semua hasil tenunan tersebut umumnya tidak dijual tetapi dipakai sendiri. Dari model. biru tua dan putih. yang terbuat dari kulit pohon teureup ataupun benang yang dicelup. Penggunaan warna pakaian untuk keperluan busana hanya menggunakan warna hitam. biasanya menggunakan tutup kepala yang disebut alpia atau alpie. Rasanya busana laki-laki belum lengkap apabila tidak memakai senjata. Warna baju untuk Baduy Dalam adalah putih dan bahan dasarnya dibuat dari benang kapas yang ditenun sendiri. biru. Bertenun biasanya dilakukan oleh wanita pada saat setelah panen. ditenun sampai dicelup menurut motifnya khasnya. Topi pengantin laki-laki yang berasal dari tanah suci Mekah ini tingginya 15 . Jenis busana yang dikerjakan antara lain. Sedangkan. pakaian bagi suku Baduy bukanlah sekedar untuk melindungi tubuh saja. busana yang dipakai di kalangan wanita Baduy. Bagi Baduy Dalam maupun Luar kalau bepergian selalu membawa senjata berupa golok yang diselipkan di balik pinggangnya. Selain itu. Untuk memenuhi kebutuhan pakaiannya. yang dipadukan dengan warna merah. biasanya membiarkan dadanya terbuka secara bebas. potongan dan cara berbusananya saja. masyarakat suku Baduy menenun sendiri dan dilakukan oleh kaum wanita. baju. Mereka percaya bahwa semuanya itu merupakan warisan yang dituturkan oleh karuhun atau nenek moyang mereka untuk dijaga. melainkan lebih bersifat sebagai identitas budaya yang melekatnya. kecuali baju adalah sama. yaitu dasar hitam dengan garis-garis putih. Mereka mengenakan busana semacam sarung warna biru kehitam-hitaman dari tumit sampai dada. karembong. Untuk pakain bepergian. secara sepintas orang akan tahu bahwa itu adalah suku Baduy. kain tenunan sarung berwarna biru kehitamhitaman. Model. Busana Tradisional Betawi Betawi Traditional Dress Pengantin laki-laki dengan dandanan cara haji. biasanya wanita Baduy memakai kebaya.Kelengkapan busana bagi kalangan kali-laki Baduy adalah amat penting. sedangkan bagi para gadis buah dadanya harus tertutup. baik Kajeroan maupun Panamping tidak menampakkan perbedaan yang mencolok. sedangkan selendang berwana putih. Pakaian ini biasanya masih dilengkapi pula dengan tas kain atau tas koja yang dicangklek (disandang) di pundaknya. kain sarung. Kain sarung atau kain wanita hampir sama coraknya. kemuduan dipanen. kain ikat pinggang dan selendang. Bagi wanita yang sudah menikah. ada kerajinan yang dilakukan oleh kalangan pria di antaranya adalah membuat golok dan tas koja.20 cm dan dililit dengan . selendang dan ikat kepala. dipintal. Dimulai dari menanam biji kapas. kain wanita. Memang. Busana seperti ini biasanya dikenakan untuk pakaian sehari-hari di rumah. potongan dan warna pakaian.

Gamis lebih panjang sekitar 10 cm dari jubah. Padanan tuaki adalah kun. namun saat ini umumnya menggunakan mute. sehingga membentuk 3 (tiga) tingkat lingkaran. siangko lainnya jumlah 3 (tiga) buah. yaitu perhiasan penutup dada dan bahu adalah salah satu ciri yang sangat khas. Hanya sedikit bedak yang ditaburkan di wajah agar terkesan rapi. yaitu rok melebar ke bawah dengan panjang sampai ke mata kaki. tampil begitu meriah dengan perlengkapan yang serba unik.sorban kain. Motif-motif hiasan emas. Teratai. Warna yang terbuat dari bahan polos ini pun disesuaikan dengan warna tuaki. Sebagai alas kaki. Biasanya kumis dan cabang juga dirapihkan agar tampak bersih. Hiasan ini terbuat dari bahan beludru bertatahkan hiasan logam pada permukaannya dengan motif bunga tanjung. kehidupan dan kematian. Aslinya adalah emas. Panjang lengan agak longgar. daerah sekitar dada. yang disimbolkan dengan tidak boleh dilihatnya wajah mempelai putri oleh orang lain. karena aslinya terbuat dari emas. Siangko bercadar selalu berwarna emas. Ron je atau untaian bunga melati yang ujung bawahnya ditutup bunga cempaka dan ujung atasnya diberi sekuntum mawar merah. terbuat dari manik-manik. merupakan pertanda apakah pengantin wanita mampu menjadi ibu rumah tangga yang mampu memelihara kebersihan fisik dan rohani dalam kehidupan berumah tangga atau tidak. dan model baju kurung (Melayu). biasanya dihiasi dengan emas dan manik-manik bermotif burung hong. gading atau kadang-kadang kuning. yang kemudian dirangkai menjadi susunan delapan daun teratai yang simetris. Biasanya dihiasi batu-batu permata. Letak sanggul di tengah-tengah agak ke atas memperlihatkan tengkuk pengantin. Lengan panjangnya diberi benang karet pada pergelangan. modelnya seperti baju kurung Melayu umumnya. Model baju yang sangat sederhana pada busana adat pengantin wanita Betawi ini. bunga-bunga sampai motif burung hong. Biasanya diberi pemanis dengan tambahan kain pada pinggiran bawah tuaki yang dirimpel keliling. Panjang cadarnya 30 cm. Warna-warna cerah yang dipilih. kubah mesjid dan lain sebagainya. tidak ada yang khusus. Terkadang di bagian atas disematkan sepasang kembang goyang. Keunikan lainnya terdapat pada tata rias di bagian kepala. Mengenai tata rias wajah. Sebelum mengenakan jubah. biasanya digunakan sepatu kulit dengan kaos kaki yang merupakan pengaruh Belanda sejak abad ke 19. Rambut disanggul dengan model buatun atau konde cepol tanpa sasakan. adalah baju bagian atas (blus) yang dikenal memiliki 2 (dua) model. Caranya adalah dengan melilitkan secara berputar. yang kemudian dipadatkan dengan tusuk konde. Selain yang bercadar. atau bahan perak. diletakkan sigar atau mahkota dengan motif bungabungaan yang dipenuhi permata. bunga-bungaan. diletakkan sebanyak 3 (tiga) untai di pinggir kiri alpia. Teratai ini berjumlah 8 (delapan) lembar kecil. Ketiga tingkat lingkaran ini melambangkan siklus kehidupan yang dimulai dari kelahiran. Bagian jubah ini. Hiasan kepala yang digunakan cukup kompleks. Kun juga di beri hiasan benang tebar dengan kombinasi sesuai tatahan motif pada tuaki. Namun. yang agak longgar dan besar. bagian bawah baju sangat bervariasi. Busana yang dikenakan berupa jubah terbuka. masih ada pula pengantin yang mengenakan selop atau terompah. Di atas Siangko bercadar ini. Ciri khas model shianghai adalah krahnya yang tertutup. Keterpaduan berbagai unsur budaya muncul dalam kekayaan busana pengantin wanita Betawi yang terkesan meriah. panjangnya sebatas pinggul. Bersih atau tidaknya tengkuk yang tampak. Salah satunya yang unik adalah siangko bercadar yang melambangkan kesucian seorang gadis. warna putih. Tuaki. baik dari bahan satin ataupun beludru. Hiasan rambut lainnya adalah tusuk paku atau kembang paku berjumlah . Dipakai di belakang sanggul sebagai penutup ikatan siangko bercadar. Sebuah selempang berhiaskan mute sebagai tanda kebesaran pun dikenakan boleh di dalam maupun di luar jubah. Siangko bercadar yang berfungsi menutupi wajah pengantin wanita merupakan lambang kesuciannya. biasanya seorang pengantin laki-laki memakai gamis (baju dalam) polos berwarna muda yang panjangnya kira-kira sampai mata kaki -dan tidak boleh melebihnya. mote atau manik-manik yang diletakan di ujung lengan. yaitu model shianghai (Cina). Dari ragam hias geometris. serta gemerlapan hiasan tuaki dan kun ini melambangkan suka cita dan keceriaan kedua pengantin dan seluruh kelua-rganya. Tuaki bentuk baju kurung. Model yang mengikuti bentuk badan sipemakai. Saat ini banyak digunakan mote pasir dengan gumpalan benang wol merah di ujungnya. bahkan ada yang bertahtakan intan berlian. Syarat utama dari tuaki ini adalah bahannya yang polos.

kewajiban yang harus dijalankan oleh pengantin sebagai seorang Muslim. yang juga dilengkapi dengan mahkota dan kacamata. Perlengkapan busana ini adalah kuku macan. sedangkan hiasannya lebih banyak menggunakan mute. kuat seperti pohon kelapa. Variasi pakaian pengantin Betawi ini dapat ditemui di beberapa daerah. Gelang listring dan gelang selendang mayang. bros dan untaian melati. yang wajib diturunkan dan diajarkan pada anak keturunannya kelak. Aslinya seluruh perhiasan yang dikenakan oleh pengantin wanita Betawi terbuat dari emas dan dihiasi intan permata. umumnya hanya merupakan sepuhan warna emas. Tusuk konde berupa pasak berbentuk huruf leam (huruf Arab) merupakan simbol pengakuan akan keesaan Allah ditusukkan di atas siangko kecil penutup simpul tali cadar. ikat pinggang dan iiskoi motif lokcan. Mempelai wanita mengenakan selop berbentuk perahu kolek. yang berkaitan dengan kecocokan antara pihak keluarga kedua pengantin. Sebelum rerurub atau ruruban. dengan busana wanita Betawi sehari-hari. maka kembang kelapa merupakan simbol pengharapan agar perkawinan yang dilakukan tetap kokoh. Seperti misalnya di daerah pinggiran. Selain sunting.10 buah atau lebih yang dimaksudkan sebagai penolak bala. burung hong sendiri dianggap sebagai simbol burung surga yang melambangkan kebahagiaan kedua pengantin. Kembang goyang yang berjumlah 20 buah. yaitu sebuah kerudung dari kain halus dan tipis. serta cincin emas yang berhiaskan permata menjadi hiasan lengan. Namun saat ini. bagi mempelai pria terdiri dari jas tutup. celana panjang. Busana pengantin rias bakal. di beberapa daerah di atas dahi pengantin diberi tanda berbentuk bulan sabit. Tusuk bunga atau kembang tancep berjumlah 5 buah yang melambangkan rukun Silam. satu bentuk perhiasan yang dipercaya memiliki kekuatan magis adalah sunting atau sumping telinga. Sementara itu. selendang dan celemek. sarung songket. Apabila sunting ini dipakai oleh seorang pengantin yang tidak perawan atau tidak gadis lagi. Mempelai putri menggunakan baju kurung tabur. sejahtera dan bahagia. Hiasan burung hong atau dikenal dengan sebutan kembang besar atau kembang gede adalah hiasan lain yang tidak boleh ketinggalan. Apabila kembang goyang melambangkan pengakuan terhadap 20 sifat kebesaran Allah. biasanya telinga pengantin dihias dengan sepasang kerabu. Sementara hiasan kepalanya tidak serumit dandanan rias besar putri. sebagai pelengkap yang menunjang keserasian. Sementara pengantin wanita memakai slayer dan sarung tangan putih. Busana ini biasanya dikenakan setelah akad nikah. pergelangan tangan dan jari pengantin wanita. sehingga akan menjadi perkawinan yang langgeng. Jumlahnya yang empat buah melambangkan 4 (empat) sahabat Rasullullah. dengan ujung melengkung ke atas dan dihias dengan tatahan emas dan manikmanik. juga dikarenakan sebagai hiasan rambut bersama dengan 2-4 buah kembang kelapa yang dipasang di kiri dan kanan sanggul. pengantin laki-laki mengenakan stelan jas lengkap dengan kopiah hitam dan kacamata hitam. Dari hiasan kepala pengantin wanita yang telah dikemukakan. Adapun pakaian yang kini dikenal dengan busana "Abang dan None Jakarta" merupakan kombinasi dari busana pengantin rias bakal untuk pria. Sementara ruruban merupakan tanda kesuciannya. Selain perhiasan untuk kepala. Nabi Besar Muhammad SAW. pisau raut. pengantin wanita juga mengenakan perhiasan berupa kalung tebar yang dipakai melingkar leher di atas teratai Betawi. atau mute. ditutupkan ke seluruh riasan wajah pengantin wanita. Keunikan juga tampak pada alas kaki yang digunakan. maka si pemakai akan pusing-pusing dan bahkan pingsan. gelang bahar. Kerabu ini merupakan perpaduan anting dan giwang yang dijadikan satu. Penulis Endang Mariani . Tanda bulan sabit berwarna merah ini merupakan perlambang bahwa di gadis telah menjadi pengantin. Letak burung hong ini juga memiliki arti tersendiri.

Busana Tradisional Jawa-Solo Javanese Solo Traditional Dress Busana Kebaya Jenis busana dan kelengkapannya yang dipakai oleh kalangan wanita Jawa. kebaya pendek dapat dibuat dari bahan sutera. yaitu kebaya pendek yang berukuran sampai pinggul dan kebaya panjang yang berukuran sampai ke lutut. Untuk busana sehari-hari umumnya wanita Jawa cukup memakai kemben yang dipadukan dengan stagen dan kain jarik. dan dilengkapi dengan perhiasan yang dipakai seperti subang. Saat ini. baik yang polos dengan salah satu warna seperti merah. kemben dan kain tapih pinjung dengan stagen. wanita Jawa mengenal dua macam kebaya. baju kebaya pada umumnya hanya dipakai pada harihari tertentu saja. baju kebaya menggunakan peniti renteng dipadukan dengan kain sinjang atau jarik corak batik. Baju kebaya di sini adalah berupa blus berlengan panjang yang dipakai di luar kain panjang bercorak atau sarung yang menutupi bagian bawah dari badan (dari mata kaki sampai pinggang). khususnya di lingkungan budaya Yogyakarta dan Surakarta. ketiak dan punggung. Dewasa ini. kuning. Oleh karena itu. biru dan sebagainya maupun bahan katun yang berbunga atau bersulam. sutera yang berbunga maupun . cincin. Jawa Tengah adalah baju kebaya. nilon. brokat. Kebaya pendek dapat dibuat dari berbagai jenis bahan katun. kain sunduri (brocade). putih. Baju kebaya dikenakan oleh kalangan wanita bangsawan maupun kalangan rakyat biasa baik sebagai busana sehari-hari maupun pakaian upacara. lurik atau bahan-bahan sintetis. Kemben dipakai untuk menutupi payudara. bagian kepala rambutnya digelung (sanggul). Sedangkan. mulai dari yang berukuran di sekitar pinggul atas sampai dengan ukuran yang di atas lutut. hijau. Pada busana upacara seperti yang dipakai oleh seorang garwo dalem misalnya. kalung dan gelang serta kipas biasanya tidak ketinggalan. seperti pada upacara adat misalnya. sebab kain kemben ini cukup lebar dan panjang. Sedangkan stagen dililitkan pada bagian perut untuk mengikat tapihan pinjung agar kuat dan tidak mudah lepas. kebaya panjang lebih banyak menggunakan bahan beludru. Panjangnya kebaya bervariasi.

Jawa Tengah. ikat kepala dan kalau sore pakai sarung. yang dihiasi pita emas di tepi pinggiran baju. yang disesuaikan dengan tahapan upacara. dapat juga memakai kain gabardine yang bercorak kotak-kotak halus dengan kombinasi warna sebagai berikut: hijau tua dengan hitam.bagian depan yang berfungsi sebagai penyambung. Selain kain lurik. serta dua buah lengan baju.nilon yang bersulam. Bali dan Madura. Lengkung leher baju menjadi satu dengan bagian depan kebaya. Dan umumnya digunakan juga oleh mempelai wanita Sunda. Pada upacara midodareni. daerah pantai Kalimantan. maka tata rias rambutnya tanpa untaian bunga melati dan tusuk konde. Modelnya dapat ditambah dengan sepotong bahan berbentuk persegi panjang yang dipakai sebagai penyambung antara kedua potongan bagian muka. Kelengkapan perhiasannya dapat dipakai yang sederhana berupa subang kecil dengan kalung dan liontin yang serasi. stagen untuk mengikat kain samping. Kepulauan Sumbawa. Bajunya beskap atau sikepan dan pada bagian kepala memakai destar. yaitu midodareni. Kalangan wanita di Jawa. Untuk menutupi stagen digunakan selendang pelangi dari tenun ikat celup yang berwarna cerah. cincin. yang juga dipakai di Sumatera Selatan. Sedangkan. dapat pula memakai tambahan bahan di bagian muka akan tetapi tidak berlengkung leher (krah). pengantin wanita memakai busana kejawen dengan . Baju ini terdiri dari dua helai potongan. Busana yang dipakai adalah celana kolor warna hitam. Busana adat tradisional rakyat biasa banyak digunakan oleh petani di desa. Busana Basahan Salah satu jenis busana adat yang terindah dan terlengkap di Indonesia terdapat di keraton Surakarta. seorang wanita dan pria kalangan keraton mengenakan beberapa jenis busana. Selendang yang dipakai tersebut sebaiknya terbuat dari batik. Potongan dan model kebaya Jawa. panggih dan sesudah upacara panggih. Pada bagian badan kebaya dipotong sedemikian rupa sehingga tidak memerlukan krup. Sedangkan. brokat. yaitu sehelai bagian depan dan sehelai lagi potongan bagian belakang. Baju kebaya dipakai dengan kain sinjang jarik/ tapih dimana pada bagian depan sebelah kiri dibuat wiron (lipatan) yang dililitkan dari kiri ke kanan. Dewasa ini. Ini dimaksudkan agar benar-benar membentuk badan pada bagian pinggang dan payudara dan sedikit melebar pada bagian pinggul. Sedangkan busana di kalangan pria. kain lurik yang serasi atau kain ikat celup. baju kebaya panjang merupakan pakaian untuk upacara perkawinan. Meskipun seni busana berkembang baik di lingkungan keraton. Lengkung ini harus cukup lebar sehingga dapat dilipat ke dalam untuk vuring kemudian dilipat lagi keluar untuk membentuk lengkung leher. yaitu busana pria Jawa secara lengkap dengan keris. Namun pada saat upacara perkawinan. sutera maupun nilon yang bersulam. Dalam adat busana perkawinan misalnya. lipatan bawah bagian belakang dan samping harus sama lebarnya dan menuju ke bagian depan dengan agak meruncing. baju lengan panjang. ungu dengan hitam. Busana ini dinamakan Jawi Jangkep. Pada umumnya kebaya panjang terbuat dari kain beludru hitam atau merah tua. tidak berarti busana di lingkungan rakyat biasa tidak ada yang khas. ikat pinggang besar. Kain jarik batik yang berlipat (wiron) tetap diperlukan untuk pakaian ini. kuning tua dengan hitam dan merah bata dengan hitam. keris dan alas kaki (cemila). Baju kebaya panjang biasanya menggunakan bahan beludru. Semua potongan tersebut dapatdikerjakan dengan mesin jahit ataupun dijahit dengan tangan. dan Timor sebenarnya serupa dengan blus. biasanya baju kebaya mereka diberi tambahan bahan berbentuk persegi panjang di . biru sedang dengan hitam. yaitu sebuah sisir berbentuk hampir setengah lingkaran yang dipakai di sebelah depan pusat kepala. gelang dan sepasang tusuk konde pada sanggul. bagi orang tua mempelai biasanya mereka memakai kain jarik dan sabuk sindur. perhiasan yang dipakai juga sederhana. khususnya kerabat keraton adalah memakai memakai baju beskap kembang-kembang atau motif bunga lainnya. Baju kebaya panjang yang dipakai sebagai busana upacara biasa. Mengenai teknik dan cara membuat baju kebaya sangat sederhana. kain samping jarik. Panjang baju kebaya ini sampai ke lutut. tiap-tiap jenis busana tersebut menunjukkan tahapan-tahapan tertentu dan siapa si pemakaiannya. tetapi biasanya tanpa memakai selendang. Sebab. Sanggulnya dihiasi dengan untaian bunga melati dan tusuk konde dari emas. ijab. pada kepala memakai destar (blankon).

Sedangkan bagi pengantin wanita. kain jarik. swastika (misalnya bintang dan matahari). sabuk timang. keris warangka ladrang dan selop. dalam busana adat perkawinan. sebagai unsur pelengkap upacara yang menyandang nilai tertentu. Bahkan motif yang paling dikenal oleh masyarakat Surakarta adalah motif tumpal berbentuk segi tiga yang disebut untu walang. Pada upacara panggih ini. Tujuannya adalah agar mempelai wanita kelihatan lebih cantik dan angun dan pengantin pria lebih gagah dan tampan. Sedangkan pengantin prianya memakai busana cara Jawi Jangkep. Fungsi pakaian. Cara mengenakan kain ini seperti kain jarik tetapi tidak ada lipatan (wiron). hewan (misal : burung. pada upacara setelah panggih. Sebagai kelengkapan. sampur atau selendang sekar cinde abrit dan kain jarik cinde sekar merah. Kemben disini berfungsi sebagai pengganti baju dan pelengkap untuk menutupi payudara. sabuk timang. sedangkan pengantin pria memakai busana basahan. stagen dan kain jarik dengan corak batik. dodot bangun tulak. stagen. kolong karis. keris warangka ladrang. mata. cara meriasnya tidak sedemikian rumit dan teliti sebagaimana pengantin wanita yang harus dirias pada bagian wajahnya mulai dari muka. tumbuh-tumbuhan (bunga teratai. . celana panjang warna putih. berupa dodot bangun tulak. Semekan atau kemben terbuat dari kain batik dengan corak alas-alasan warna dasar hijau atau biru dengan hiasan kuning emas atau putih.warna sawitan. Motif geometris diantaranya adalah kain batik yang bercorak ikal. keris dan selop. baju takwo. Bagi pengantin pria. maka baik pengantin wanita maupun pria biasanya dirias pada bagian wajah dan sanggul. sikepan. udeng. gelang. celana cinde sekar abrit. Busana basahan pengantin pria disini terdiri dari kuluk matak petak. ikal rangkap dan pilin ganda. warna dasar merah yang dihiasi bunga berwarna hitam dan putih. Perhiasan yang biasa digunakan oleh mempelai pria adalah kalung ulur. basahan. Pada busana-busana khusus untuk upacara perkawinan dikenal juga motif pada batik tulis. cincin. Saat upacara ijab. sabuk lengkap dengan timang dan cinde. terdiri dari kuluk matak biru muda. yang terdiri dari kuluk kanigoro. stagen. pilin. stagen dan selop. keris warangka ladrang dan selop. cincin. Busana Jawa baik pakaian sehari-hari maupun pakaian upacara sangat kaya akan ragam hias yang tak jarang memiliki makna simbolik dibaliknya. Pengantin wanita memakai busana adat bersama. kain sido luhur dan sido mulyo merupakan pakaian mempelai. melati) maupun alam dan manusia. yang terdiri dari baju atela. misalnya untuk menutup aurat. bros. Begitu pula pada upacara panggih kedua mempelai memakai jenis busana yang sudah ditetapkan. seperti kain sindur dan truntum yang dipakai oleh orang tua mempelai. kerbau. epek. Jenis ragam hias yang dikenal di daerah Surakarta maupun Jogyakarta adalah kain yang bermotifkan tematema geometris. Selendang cinde sekar abrit terbuat dari kain warna dasar merah dengan corak bunga hitam dan kain jarik cinde sekar abrit terbuat dari kain gloyar. dodot bangun tulak. kain jarik. Kain dodot yang menggunakan corak batik alas-alasan panjangnya kirakira 4-5 meter. naga). yaitu terdiri dari baju kebaya. dan merupakan baju pokok dalam busana basahan. dodot bangun tulak atau kampuh. centung. perhiasan yang biasa dipakai adalah cunduk mentul. busana yang dipakai pengantin wanita adalah baju kebaya dan kain jarik. Motif berupa garis-garis potong yang disebut motif tangga merupakan simbolisasi dari nenek moyang naik tangga sedang menuju surga. Kemudian fungsi pakaian menjadi lebih beragam. ular. pengantin wanita memakai busana kanigaran. sabuk timang. kalung. Busana basahan adalah tidak memakai baju. alis. bros dan buntal. Busana sawitan terdiri dari kebaya lengan panjang. Sama halnya dengan pengantin wanita. melainkan terdiri dari semekan atau kemben. kain jarik. Sedangkan kain sido mukti. maupun sebagai alat pemenuhan kebutuhan akan keindahan. yang melambangkan kesuburan. pengatin pria pun memakai busana adat basahan. timang/epek. selop dan perhiasan kalung ulur. Sedangkan pengantin pria menggunakan busana kepangeranan. subang dan timang atau epek. jungkat. biasanya kedua mempelai pengantin melengkapi busana basahan dengan aneka perhiasan. Berbeda dengan tahapan upacara sebelumnya. pipi dan bibir. stagen. awalnya digunakan sebagai alat untuk melindungi tubuh dari cuaca dingin maupun panas.

pada saat-saat tertentu akan muncul kembali dalam suatu upacara adat yang meriah dan menarik perhatian masyarakat umum. yang secara visual ditandai pula oleh cara dan bentuk pakaian. diantaranya melalui bentuk pakaian yang harus dikenakan. Pemakainya dapat digolongkan berdasarkan jenis kelamin. Penulis Jaya Purnawijaya Busana Tradisional Yogyakarta Yogyakarta Traditional Dress Kraton sebagai suatu pusat institusi dan tata pemerintahan. religius. seperti pada masyarakat bangsawan pakaian mempunyai fungsi praktis. khususnya di Surakarta fungsi pakaian cukup beragam. dan saat bepergian. Seperti kain kebaya fungsi praktisnya adalah untuk menjaga kehangatan dan kesehatan badan. bagian tengah. di samping pakaian sehari-hari yang secara rutin dikenakan. Dalam perkembangan selanjutnya.Pada masyarakat di Jawa Tengah. Mereka terdiri dari golongan-golongan sesuai dengan fungsi dan jabatannya. fungsi estetis. Lebih-lebih pada saat penyelenggaraan upacara adat pakaian tersebut dikenakan secara lengkap. pakaian adat tradisional kraton Yogyakarta yang sempat dikenal di kalangan masyarakat luas banyak dikenakan oleh golongan masyarakat biasa. sosial dan simbolik. Oleh karena itu. dan bagian bawah. Dari pembagian tersebut dapat digolongkan lagi jenis-jenis pakaian berdasarkan jenis kelamin. konde. tetapi tetap terpelihara dengan baik dan selalu dimunculkan pada saat-saat penting. serta memakai stagen sekuat mungkin agar tidak mudah lepas. Sejalan dengan perkembangan zaman. dan yang pada gilirannya jarang dijumpai lagi. Pakaian khusus itu akan muncul secara menarik dan berwibawa. usia. usia. Pakaian tersebut dikenal sebagai pakaian adat tradisional yang resmi dan khas Yogyakarta. Secara keseluruhan seperangkat pakaian terdiri atas bagian atas. yang mana pada waktu itu ekonomi negara kita dalam keadaan kacau. cara berpakaian biasanya sudah dibakukan secara adat. Demikian pula pakaian dari suatu daerah dapat dibedakan atas pakaian sehari-hari/kerja dan pakaian upacara/pesta adat. kapan dikenakan. Sejak kecil putra-putri Sultan telah mengenal beberapa peraturan yang membedakan dirinya dengan status individu lainnya.1945). Bagian atas meliputi tutup kepala dan tata rias rambut (sanggul. dan sebagainya). di man dikenakan. dan status sosial pemakainya. saat bekerja. yakni menghias tubuh agar kelihatan lebih cantik dan menarik. pakaian ini diterima di kalangan masyarakat Jawa yang tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta. dan status sosial. Pakaian adat tradisional masyarakat Yogyakarta terdiri dari seperangkat pakaian yang memiliki unsur unsur yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. estetis. Misalnya pada masa penjajahan Jepang (1942 . Namun demikian. dan lain-lain) dan perhiasan (aksesori). fungsi sosial yakni belajar menjaga kehormatan diri seorang wanita agar tidak mudah menyerahkan kewanitaannya dengan cara berpakaian serapat dan serapi mungkin. dan siapa yang mengenakannya. merupakan lembaga resmi yang dipimpin oleh seorang raja dan para kerabatnya yang disebut pegawai istana atau abdidalem. Kelengkapan berbusana tersebut merupakan ciri khusus pemberi identitas bagi pemakainya yang meliputi fungsi dan peranannya. . bagian tengah terdiri dari baju (kebaya. Adapun yang dimaksud dengan pengertian pakaian sehari-hari di sini adalah seperangkat pakaian yang dikenakan di rumah. Pakaian adat tradisional Kraton Yogyakarta yang sudah jarang dijumpai lagi akhir-akhir ini. pakaian resmi semacam itu lama kelamaan tidak lagi dikenakan secara lengkap. pakaian atau busana menurut kepangkatan tidak begitu diperhatikan lagi. sebagai miliknya sendiri dan pemberi identitas. serta bagian bawah berupa alas kaki. kemudian disusul dengan masa kemerdekaan. Demikianlah secara keseluruhan pakaian adat itu tidak pernah musnah dilanda kemajuan zaman.

yang khusus dikenakan para putra Sultan. serta sedan (pemakaman jenazah raja). garebeg. gelang. Jenis busana ini dibedakan atas busana dodotan. kain batik dengan wiru di tengah. berfungsi sebagai penutup dada. jumenengan dalem (penobatan raja). dan perkawinan. dana cindhe gubeg. baju surjan. tingalan dalem tahunan. Rangkaian busana dodotan terdiri dari kuluk biru dengan hiasan mundri (nyamat). kamus. Sedangkan busana harian bagi putri raja yang sudah menikah terdiri atas semekan tritik dengan tengahan. Perhiasan yang dikenakan sebagai pelengkap terdiri dari subang. ikat pinggang kamus songketan bermotif flora atau fauna. udhet tritik (semacam selendang sebagai hiasan pinggang). Kelengkapan pinjung padintenan terdiri atas kain batik. perkawinan. Busana untuk anak laki-laki model kencongan terdiri dari kain batik yang dikenakan dengan model kencongan. kamus songketan. semekan tritik. memakai lonthong tritik. kampuh konca setunggal. atau merak. Busana Kebesaran Untuk Upacara Ageng Pengertian upacara ageng adalah kegiatan seremonial dari rangkaian upacara supitan. pethat jeruk sak ajar. maka busana kanigaran ini dilengkapi dengan baju sikepan bludiran. lonthong tritik. dan keris branggah. Agustusan. ceplok. Perhiasannya berupa subang. ikat pinggang berupa kamus songketan dengan cathok atau timang terbuat dari suwasa (emas berkadar rendah). Sedangkan busana seharihari bagi pria remaja dan dewasa terdiri dari baju surjan. kalung dinar.Busana yang dirancang untuk anak-anak terdiri dari busana kencongan untuk anak laki-laki. dan cincin. Sebagai perhiasannya adalah subang. Kelengkapan busana kanigaran pada dasarnya sama dengan busana dodotan. atau gringsing. baju kebaya katun. tingalan dalem tahunan. moga renda berwarna kuning. baju kebaya katun. Rangkaian busana ini terdiri dari nyamping batik. lonthong tritik. Kainnya bermotif parang. serta pisowanan dalam upacara perkawinan. cincin. serta mengenakan perhiasan berupa subang. Busana ini lazim dikenakan pada upacara garebeg. jumenengan dalem. dan kaprajuritan. yang panjangnya diukur dari dada sampai di atas pusar. lonthong tritik. Untuk putri yang sudah dewasa mengenakan busana semekanan dalam kesehariannya. rante. baju katun. gelang. kanigaran. tanpa baju. timang. supitan. yang menunjukkan status sosial pemakainya sebagai putri Sultan sampai dengan cicit Sultan. dan busana sabukwala untuk anak perempuan. Lipatan kain (wiru) berada di sebelah kiri. sanggul tekuk polos tanpa hiasan. serta mengenakan dhestar sebagai tutup kepala. Penulis Dewi Indrawati . Remaja putri mengenakan busana yang disebut pinjung. Busana kebesaran yang dikenakan dalam semua kegiatan ini disebut busana keprabon. kain batik. Busana sabukwala padintenan dikenakan oleh anak perempuan berusia 3-10 tahun. gelang berbentuk ular (gligen) atau model sigar penjalin. timang (kretep). Hanya saja jika busana dodotan dikenakan tanpa baju. Pengertian kata semekan berupa kain panjang yang lebarnya separuh dari lebar kain panjang biasa. sanggul tekuk polos tanpa hiasan. Busana ini dikenakan dengan cara melipat ujung kain sebelah dalam dibentuk segitiga sebagai penutup dada. Rangkaian busana ini terdiri dari kain (nyamping) batik. Sanggulnya berbentuk sanggul tekuk polos tanpa hiasan. serta mengenakan cathok dari perak berbentuk kupu-kupu. serta sapu tangan merah. Jenis busana ini lazim dikenakan pada upacara Agustusan. kamus songketan. burung garuda. karset. kalung emas dengan liontin berbentuk mata uang (dinar). Bagi yang berambut panjang disanggul dengan model konde.

Sikap gagah dan pantang mundur ini merupakan salah satu etos budaya yang dimiliki masyarakat Madura. Terompah atau tropa merupakan alas kaki yang umumnya dipakai. status sosial maupun kegunaannya. baik sebagai busana sehari-hari maupun sebagai busana resmi. baju pesa`an. tutup kepala yang dikenakan. Perlengkapan busana . celana gomboran dan kaos oblong ini memiliki perbedaan fungsi bila dilihat dari cara memakainya. yaitu hitam serba longgar dengan kaos bergaris merah putih atau merah hitam. yaitu hitam dan putih. Secara umum masyarakat sukubangsa Madura mengenal perbedaan busana berdasarkan usia. Kesederhanaan bentuk baju ini pun menunjukkan kesederhanaan masyarakatnya. Garis-garis tegas merah. pakaian yang terdiri dari baju pesa`an dan celana gomboran ini merupakan pakaian pria untuk rakyat kebanyakan. Berbeda dengan rakyat kebanyakan. kalangan bangsawan biasanya menggunakan rasughan totop (jas tutup) polos dengan samper kembeng (kain panjang) di bagian bawah. Masyarakat umum mengenal pakaian khas Madura. di dalamnya. Sebaliknya para nelayan. Sarung palekat kotak-kotak dengan warna menyolok dan sabuk katemang. Pada masa sekarang. Adanya pengaruh cara berpakaian pelaut dari Eropa. Sebenarnya. putih atau hitam yang terdapat pada kaos yang digunakan pun memperhatikan sikap tegas serta semangat juang yang sangat kuat. seringkali mempergunakan baju pesa`an dan kaos oblong warna putih. bera` songay atau toh biru. jenis kelamin. Untuk sehari-hari odheng yang digunakan adalah odheng peredhan dengan motif storjan. Bentuk baju yang serba longgar dan pemakaiannya yang terbuka melambangkan sifat kebebasan dan keterbukaan orang Madura. ikat pinggang kulit lebar dengan kantong penghimpun uang di depannya adalah perlengkapan lainnya. baju pesa`an warna hitamlah yang menjadi ciri khas. Kalangan pedagang kecil. kebudayaan Jawa dalam arti luas berpengaruh sangat besar dalam berbagai segi kehidupan masyarakat sukubangsa Madura. Jaman dahulu. Perbedaannya adalah pada odheng. baik sebagai busana sehari-hari maupun untuk keperluan upacara. Warna hitam ini melambangkan keberanian. umumnya hanya menggunkan celana gomboran dengan kaos oblong. secara umum sebagaimana busana Solo dan Yogya. masyarakat mengenal baju pesa`an dalam dua warna. Oleh karena kebudayaan Madura termasuk dalam daerah kebudayaan Jawa. teguh dan keras. lengkap dengan tutup kepala dan kain sarung. maka jenis dan bentuk busananya pun memiliki beberapa kesamaan dengan busana dari daerah-daerah lain di Pulau Jawa. Dalam penggunaannya.Busana Tradisional Madura Madura Traditional Dress Penulis Endang Mariani Meskipun Madura adalah sebuah pulau yang terpisah dari Pulau Jawa. terutama kaos bergaris yang digunakan. dipadu dengan sarung motif kotak-kotak biasa. dalam menghadapi segala hal. Baju pesa`an biasanya dipakai oleh guru agama atau molang.

Demikian pula berbagai pantangan makanan yang tidak boleh dilanggar. mengandung makna "betapapun beratnya beban tugas yang harus dipikul hendaknya diterima dengan lapangan dada". jepit kain. Perhiasan yang dikenakan oleh wanita Madura. yaitu huruf awal dalam bahasa Arab. Kebaya dengan panjang tepat di atas pinggang dengan bagian depan berbentuk runcing menyerong khas roncongan Madura. Pada saat menghadiri acara resmi. terdiri dari beberapa keping mata uang dollar. Keindahan lekuk tubuh si pemakai akan tampak jelas dengan bentuk kebaya rancongan dengan kutang pas badan ini. Semakin tegak kelopak odheng tongkosan. bentuknya agak lonjong dan pipih letaknyapun miring. padat dengan kuncir sisa rambut yang terletak tepat di tengah-tengah rambut. Ciri khas kebaya Madura adalah penggunaan kutang polos dengan warna-warna menyolok seperti merah. yaitu saku untuk menyimpan uang atau benda berharga lainnya. umumnya digunakan bersama sarung batik motif tumpal. dengan ukuran lebar 15 cm dan panjang sekitar 1. Kaum wanita Madura umumnya mengenakan kebaya sebagai pakaian sehari-hari maupun pada acara resmi. Jumlah untaian mata uang ini tergantung kemampuan si pemakai. perhiasanpun menjadi pelengkap yang utama bagi busana kaum wanitanya. Sebum dhungket atau tongkat. dan perhiasan lainnya terutama selok (seser) atau cincin geleng akar (gelang dari akar bahar). Pada odhet terdapat ponjin atau kempelan. Hal tersebut merupakan salah satu perwujudan nilai budaya yang hidup di kalangan wanita Madura. Rambut wanita Madura itu sendiri. Bentuknya seperti busur. Semuanya dimaksudkan untuk membentuk tubuh yang indah dan padat. Kebaya tanpa kutu baru atau kebaya rancongan digunakan oleh masyarakat kebanyakan. yang merupakan simbol dari kalimat pengakuan akan keesaan Allah (Laa illaahaillallaah). terbuat dari tenunan bermotif polos. garik atau jingga. simpul mati di bagian belakang dibentuk menyerupai huruf lam alif. Warna biasanya merah. Untuk orang yang sudah sepuh (tua). Odhet adalah semacam stagen Jawa. Letak sanggul umumnya agak tinggi. Oleh karenaitu mereka tidak mengenal warna-warna lembut.5 meter. motif maupun cara pemakaian. dulcendul. pemberani. Untuk penguat kain digunakan odhet. mulai dari kepala sampai kaki. Pada odheng peredhan. stagen. bermata selong dengan . hijau atau biru terang yang kontras dengan warna dan bahan kebaya yang tipis tembus pandang atau menerawang. pada odheng tongkosan kota. serta pemakaian penggel. Semakin miring kelopaknya. Arloji rantai acap digunakan. Kutang ini ukurannya ketat pas badan. Odheng pada masyarakat Madura memiliki arti simbolis yang cukup kompleks. Termasuk dalam memilih warna pakaian maupun aksesoris lainnya. Harnal bubut dari emas. rasughan totop umumnya berwarna hitam digunakan lengkap dengan odheng tongkosan kota. Pilihan warna yang kuat dan menyolok pada masyarakat Madura menunjukkan karakter mereka yang tidak pernah ragu-ragu dalam bertindak. bermotif modang. Ukuran odheng tongkosan yang lebih kecil dari kepala. Sebagaimana senjata bagi laki-laki Madura. Hiasan rambut berupa cucuk sisir dan cucuk dinar. Cucuk sisir biasanya terdiri dari untaian mata uang emas atau uang talenan dan ukonan. Adapun cucuk dinar. Alas kaki yang digunakan adalah sandal jepit. maka derajat kebangsawanan semakin rendah. keduanya terbuat dari emas. storjan atau lasem. jam saku. semakin tinggi dewajat kebangsawananan. serta bersifat terbuka dan terus terang. Bentuk dan cara memakai odheng juga menunjukkan derajat kebangsawanan seseorang. Panjang kutang dengan bukaan depan ini ada yang pendek dan ada pula yang sampai perut.seperti sap osap (sapu tangan). kuning atau hitam. pelintiran ujung simpul bagian belakang yang tegak lurus melambangkan huruf alif. baik dari ukuran. Sementara di daerah Madura Timur. sehingga membuat si pemakai harus sedikit mendongak ke atas agar odheng tetap dapat bertengger di atas kepalanya. Hampir sama dengan gelung wanita Bali. Bentuknya agak bulat dan penuh. biasanya disisir ke belakang. sabuk katemang. Warna dasarnya putih dengan motif didominasi warna merah. juga memiliki daya tarik yang unik. termasuk kelengkapan pakaian yang membedakan penampilan dan kewibawaan seorang bangsawan dengan rakyat biasa. Ramuan jamu-jamu Madura diberikan semenjak seorang gadis cilik hendak berangkat remaja. namun ada pula yang memakai kain panjang dengan motif tabiruan. sayap atau ujung kain dipilin dan tetap terbeber bila si pemakai masih relatif muda. Ikatan odheng juga memiliki arti tertentu. Sementara itu. kemudian digelung sendhal. yang sangat menghargai keindahan tubuh.

yang terbuat dari handul besar atau kain tebal disebut leng o leng. tangan dan kaki umumnya kecil. digunakan peniti dinar renteng. semakin panjang untaiannya berarti semakin tinggi kemampuan ekonomi pemakainya. Tempat yang dijimpit disebut leng pelengan. Rambut wanita muda digelung malang. Bentuk perhiasan yang digunakan untuk rambut. Selain itu masih ada motif pale obi yang menyerupai batang ubi melintir. baik dari kalangan bangsawan maupun rakyat biasa. serta motif mon temon berupa untaian emas berbentuk biji mentimun. Namun. telinga. Semakin banyak jumlah dinarnya. Bentuknya seperti angka delapan melintang yang melambangkan tulisan Allah. Wajah dihiasi dengan jimpit di bagian kening kanan. digunakan gelung mager sereh. Selain fungsi ekonomi yang juga dapat menunjukkan status ekonomi si pemakai. yaitu hiasan dari bunga-bungaan. dilengkapi dengan karang melok dan duwek remek. Warna gelap dan tidak bermotif. Sebuah tutup kepala. Mata dihiasi dengan celak Arab. sedangkan gigi dihiasi dengan apa egan. penggel juga berfungsi untuk membentuk keindahan tubuh wanita Madura. dengan berat perak ada yang mencapai 3 kg. Penggel merupakan hiasan kaki dari emas atau perak yang dipakai pada pergelangan kaki kiri dan kanan. Berat kalung itu rata-rata 5-10 gram. Motif hiasan kalung Madurapun terkenal karena ciri khasnya. Selain busana dan perhiasan khas wanita Madura. Ujung bawah kebaya berbentuk bulat. lebih banyak dihiasi intan atau berlian. aapabila digunakan untuk berjalan dan melakukan aktivitas sehari-hari tentunya akan menguatkan otot-otot tertentu. kebanyakan berupan olesan alat kosmetik berupa garis membujur sekitar 1-2 cm dan berwarna merah. bermotif polos dengan berbentuk bulat utuh sebesar biji jagung.panjang sekitaar 12 cm berukuran agak lebih besar dari harnal pada umumnya juga dipakai untuk menghiasi rambut. Hiasan rambut terdiri dari cucuk emas dengan motif ular atau bunga matahari. Perhiasan lain yang umumnya dikenakan sebagai kelengkapan busana adalah anteng atau shentar penthol yang terbuat dari emas. Penggel adalah simbol kebanggaan wanita Madura. Tergantung kemampuan si pemakai. Sepasang gelang emas di tangan kanan dan kiri dengan motif tebu saeres. Dahulu leng pelengan dibuat dengan cubitan tangan. Anteng atau anting ini dikenakan di telinga. kiri atau dahi. di dalamnya diberi potongan daun pandan sebagai penguat. penggel adalah salah satu yang paling unik. Sementara sepasang cincin dengan motif yang sama dengan gelang dikenakan sebagai hiasan jari. tatarias wajah wanita Madura pun cukup unik. Giwang kerambu dan kalung rantai berliontin markis yang terbuat dari emas bertaburan berlian juga dikenakan. leher. Bentuknya sama dengan gelung malang. Sebagai pelengkap kebaya rancongan. wanita bangsawan tidak menonjolkan kekayaannya melalui bentukbentuk perhiasan yang menyolok dan cenderung berat. Gelang kaki yang terbuat dari emas atau perak. Bahan kebaya biasanya beludru. berbentuk seperti keratan tebu merupakan kelengkapan lain yang sering dipakai. Untuk wanita yang sudah berumur dan berpangkat. Liontin atau bandul yang digunakan biasanya berbentuk mata uang dollar (dinar) atau bunga matahari. Dari seluruh jenis perhiasan yang biasa dikenakan wanita Madura. terbuat dari emas dan bermotif polos. Alas kakinya berupa selop tutup. Demikian pula gelang tangan dan hiasan jari berupa cincin emas bermata berlian. Untuk acara resmi wanita bangsawan Madura mengenakan kebaya panjang dengan kain batik tulis Jawa atau khas Madura. Busana Tradisional Tengger Tengger Traditional Dress Penulis Endang Mariani . namun adapula yang mencapai 100 gram. menjadi ciri tersendiri pada kelengkapan wanita Madura. tetapi semua ukelnya diisi kembang tanjung dan kembang pandan. Kalung brondong yang berupa rentangan emas berbentuk biji jagung adalah kalung khas Madura yang biasanya dikenakan bersama liontin. Saat ini. Peniti cecek atau pako malang adalah hiasan kebaya berbentuk paku yang melintang bersusun tiga dan dihubungkan dengan rantai emas. Berbeda dengan yang dikenakan rakyat kebanyakan. bahkan lebih. berupa lapisan gigi yang terbuat dari emas atau platina.

Biasanya busana yang dikenakan oleh seorang dukun adalah ikat kepala atau udeng batik. Anak-anak muda Tengger pun memiliki cara bersarung tersendiri. baju warna putih. termasuk wisatawan. Cara lain yang sangat khas. Malang. Kain sarung disampirkan di bagian atas punggung. Kawasan ini meliputi 4 (empat) Wilayah Kabupaten. Probolinggo. Keluhuran budi.Masyarakat Tengger merupakan penduduk ash yang mendiami daerah Lereng Pegunungan Tengger dan Semeru. yang memiliki hubungan historis dengan kerajaan Majapahit. genta dan talam. melainkan juga yang berhubungan dengan alam. Tidak kurang dari 7 (tujuh) cara bersarung yang mereka kenal. yaitu yang disebut baju anta kusuma atau rasukan dukun. Kain sarung cukup disampirkan pada pundak secara terlepas atau bergantung menyilang pada dada. Kedudukan seorang dukun. yang tetap dilaksanakan dan mengundang perhatian masyarakat luar. jarik (kain) batik yang dibebatkan. Sementara itu. Setidaknya ada dua upacara besar. lengkap dengan peralatan upacara seperti prasen. dan Pasuruan. berwarna hitam.masing cara ini memiliki istilah dan kegunaan sendiri. Untuk pakaian resmi pun mereka menggunakan beskap. yang sering dijumpai pada saat masyarakat Tengger berkumpul di tempat . masyarakat Tengger memiliki banyak upacara yang tidak saja berkaitan dengan siklus kehidupan. sehingga yang terlihat hanya mata saja. kain wiron dan udeng. bagian atas dilipat untuk menutupi kedua bagian tangannya.tempat upacara atau keramaian lainnya di malam hari adalah cara kekodong. Banyak legenda dan mitologi yang dimiliki oleh masyarakat Tengger. Di bagian dalam. Dalam hal berbusana. Salah satunya yang sangat dikenal adalah mitologi Resi Ki Dadap Putih serta Rara Anteng dan Djaka Seger. Udeng dan sarung tidak tertinggal. Upacara-upacara adat yang secara turun menurun telah dilaksanakan selama ratusan tahun serta kondisi alam dan geografis yang spesifik. Sarung dilingkarkan pada pinggang kemudian diikatkan seperti dodot (di dada) agar tidak mudah terlepas. membuat masyarakat Tengger memiliki ciri khas yang berbeda dengan masyarakat Jawa. yaitu ujung sarung dilipat sampai kegaris pinggang. Cara ini disebut kakawung. sebagaimana yang digunakan di Jawa. yaitu upacara adat kasada dan karo. mereka mengenakan sarung sebagaimana masyarakat umumnya. bahkan dengan masyarakat Jawa Timur pada umumnya. Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat yang sangat diyakini dan telah dilaksanakan secara turun menurun. seperti bekerja diladang atau pekerjaanpekerjaan lain yang memerlukan tenaga lebih besar. Keunikan pakaian sehari-hari masyarakat Tengger adalah cara mereka bersarung (memakai sarung) yang berfungsi sebagai pengusir hawa dingin yang memang akrab dengan keseharian mereka. kemudian disampirkan ke pundak bagian belakang dan kedua ujungnya diikat jadi satu. celana panjang warna gelap dan selempang . memakai kaos oblong. Cara bersarung seperti ini tidak boleh digunakan untuk bertamu dan melayat. Biasanya mereka memakai baju longgar dan celana panjang di atas mata kaki. Pengaruh Hindu . Setelah disarungkan pada tubuh. Untuk bekerja. menciptakan suatu keunikan masyarakat yang religius. Busana yang digunakan seorang dukun pada saat memimpin upacara cukup unik. kemudian digantungkan di pundak. mereka menggunakan sarung dengan cara sesembong. mereka menggunakan kain sarung yang dilipat dua. mereka menggunakan sarung dengan cara kekemul. Kedua bagian lubangnya dimasukkan pada bagian ketiak dan disangga ke depan oleh kedua tangannya. yang disebut sampiran. kedamaian dan kesederhanaan tergambar sebagai etos budaya masyarakat Tengger. pada saat santai dan sekedar berjalan-jalan. di Jawa Timur. dengan segala perlengkapannya. Saat bertamu. Cara ini disebut Sempetan. Kaum prianya berpakaian sehari-hari sebagaimana masyarakat pertanian di Jawa. Agar terlihat rapi pada saat bepergian mereka menggunakan cara sengkletan. yang dimaksudkan agar bebas bergerak pada waktu ketempat mengambil air atau kepasar. pakaian sehari-hari yang dikenakan masyarakat Tengger memang tidaklah jauh berbeda dari masyarakat Jawa. Kaum wanitanya menggunakan kebaya pendek dan kain panjang tanpa wiron atau sarung tutup kepala dan selendang batik lebar. yaitu : Lumajang. jas tutup warna gelap. Dengan ikatan di bagian belakang kepala kain sarung dikerudungkan sampai menutupi seluruh bagian kepala. Sedang untuk pekerjaan yang lebih berat.Budha yang terpadu dengan adat kepercayaan lokal yang oleh sebagian masyarakat disebut Agami Jawi dan dihayati oleh masyarakat Tengger. Masing. yang juga merupakan pemimpin upacara adat di Tengger sangat dihormati oleh masyarakat.

Pakaian untuk pria secara lengkap adalah destar. maupun dari kasta manapun mereka berasal. termasuk kaum wanitanya adalah hal yang biasa. sehingga keindahan bentuknya tetap terjaga. Selempang ini dianggap sebagai lambang keagungan dan tanda jabatan yang dipangkunya. Busana Tradisional Bali Bali Traditional Dress Kemben merupakan jenis pakaian. Kemben. bepergian ataupun beraktivitas tanpa penutup dada pada masyarakat Bali. Namun ada pula dukun yang menggunakan jas tutup dan celana panjang warna putih. Untuk kebaya berlengan panjang hingga . Kebiasaan bertelanjang dada pada masyarakat Bali adalah tradisi yang telah berlangsung turun temurun selama ratusan tahun. yang terkadang digunakan untuk menjunjung beban sekaligus melindungi wajah dari sinar matahari. Kancrik juga digunakan sebagai tengkuluk. maupun putih dan ke arah krem. meskipun dimasa lalu perangkat busana Bali lazimnya tanpa baju. Meskipun demikian pada situasi-situasi tertentu mereka acap menggunakan kancrik atau tengkuluk sebagai anteng penutup dada. yaitu tutup kepala wanita Bali yang juga berfungsi sebagai alas penjunjung beban . Kancrik adalah sehelai selendang yang berfungsi sebagai penutup tubuh atau saput. berupa kain pembalut tubuh. Pada masa lalu. saput dan anteng. kuning.panjang warna hitam batikan. Setelah ujub upacara.selain kegunaannya sebagai alat untuk menahan rambut agar tetap rapi. serta tengkuluk untuk kepala merupakan pakaian wanita Bali dalam keseharian. baik untuk pria maupun wanita. masyarakat Bali mengenal dengan baik kebiasaan mengenakan baju. kemben bukanlah penutup dada. tetapi lebih berfungsi sebagai penyangga payudara. umumnya selempang ini dilepas dan disimpan kembali. Namun. Bagi wanita Bali. dari segala jenis usia. yang menjadi bentuk dan model dasar busana tradisional Bali. Sementara anteng adalah selembar kain atau kancrik yang berfungsi sebagai penutup buah dada. Selempang pun ada yang berwarna hitam. Kaum wanitanya sering mengenakan kebaya. saput dan kemben. sabuk.

Kebaya ini umumnya terbuat dari bahan yang dibeli di pasar. sedangkan warna merah tidak terlihat. pemakaian baju dimulai oleh para ambtenaar. Geringsing sabuk. perada. sementara yang berlengan longgar sampai di bawah siku. disebut potongan Bali. Warna-warna ini juga muncul pada pinggiran kain. Pada geringsing selem warna merah tampak pada bagian ujung geringsing saja. batik dan sutra adalah beberapa di antaranya. . Morif geringsing cukup banyak ragamnya. Adapun pada geringsingan barak atau geringsing merah.pergelangan tangan. yaitu kuning muda. Budaya memakai baju ini tumbuh dan hidup umumnya pada lingkungan masyarakat yang telah mendapat pengaruh dari luar. Kain geringsing merupakan salah satu yang terkenal karena keindahan dan keunikannya. sementara yang lebih kecil adalah geringsingan patlikur. Geringsing berukuran menengah disebut geringsing wayang. pemerintah Belanda lah yang memperkenalkannya. karena proses pengikatannya yang berjarak lebih longgar. tampak tiga warna dominan. yaitu putih susu atau kuning muda. meskipun ada juga yang khusus menenunnya. Selain cara menenun dan proses pemintalan benangnya yang cukup memerlukan kesabaran dan ketelitian. Menurut sejarah. anteng dan cawat adalah geringsing dengan ukuran paling kecil. Warna hitam dan putih saja yang tampak pada bagian geringsing ini. Kain-kain yang digunakan sebagai bagian dari busana Bali terdiri dari beragam jenis. wayang putri. mereka sebut potongan Jawa. Berdasarkan warna. geringsing dapat dibedakan menjadi geringsing selem (geringsing hitam) dan geringsing barak (geringsing merah). atau pegawai pada masa pemerintahaan Belanda. kain geringsing. hitam dan merah. Geringsing dengan ukuran yang paling besar disebut geringsingan perangdasa. Umumnya kain geringsing memiliki tiga warna dasar. proses pewarnaan kain geringsing sangat menentukan kualitas dan keindahannya. Pola ragam hiasnya pun tampak lebih lebar. lubeng. Beberapa motif geringsing adalah motif wayang. endek. Songket. merah dan hitam. Jas tutup dan kemeja biasa digunakan. Selain warna. juga dibedakan menurut ukurannya. Demikian pula pada kaum pria. Kain batik sebagai kemben dan destar adalah pelengkapnya. Sebagian besar inspirasinya diperoleh dari dunia flora dan fauna. yang memiliki ciri keistimewaan pada teknik tenun dobel ikatnya ini.

Cina. patlikur. seperti India (patola). . perbedaan terletak pada bahan yang digunakan. Berdasarkan corak busana yang dipakai. Untuk menahan kapuh. di balik kemben. Bagi kaum pria. cemplong. Wanitanya memakai kemben songket. penggunaan gelung kuncir ini berfungsi sebagai penambahan hiasan. dari bahu ke bawah. tidak digunakan lagi bunga-bunga hidup. sabuk prada yang membelit dari pinggul sampai dada dan selendang songket untuk menutup tubuh. masyarakat biasanya mengenakan kain tenunan Bali tradisional sebagai busana lengkap dari bahan songket dan peperadan. madya. cempaka putih. saput atau kapuh dan kemben atau wastra. melainkan bunga-bunga yang terbuat dari emas. seluruh busana dibuat dari bahan perada. seperti kenanga. kebo. Mesir yang berasimilasi dengan pengaruh Hindu yang kuat. di ujungnya diikatkan secarik kain panjang sejenis selendang. kain geringsing merupakan perwujudan dari kebudayaan Bali yang memiliki unsur keindahan seni yang tinggi dan terkesan mewah. tidak ada perbedaan yang menyolok. Umpal geringsing adalah yang paling dikagumi. masyarakat Bali mengenal adanya tiga jenis busana dan tata rias pengantin. Dalam mapusungan (pembuatan sanggul). Sementara dalam tata busana. Untuk tata rias wajah tubuh dan kaki. dapat diketahui status sosial dan ekonomi seseorang. Dalam upacara perkawinan. dan utama atau yang juga dikenal dengan payes agung. dan sebagainya. dikenakan selembar penuh tapih atau sinjang dari sutra berornamen penuh peperadaan mengurai ke luar melewati kemben. cempaka kuning dan mawar. untuk hiasan kepala atau petitis. yaitu sanggul tambahan berbentuk bulat melingkar dan terbuat dari ijuk menjadi salah satu pembeda. namun tetap berpadu dengan nilai-nilai budaya Indonesia asli. yaitu nista. Secara keseluruhan. Untuk tingkat utama. yang disebut umpal. Perhiasan tingkat ini utama ini memang memperlihatkan suatu kekhususan. Gelung biasanya dihias dengan bunga-bungaan. Perhiasan yang dikenalkan oleh sepasang pengantin payes agunglah yang tampak jelas membedakan dengan tata rias dan busana tingkat nista maupun madya. busana tersebut terdiri dari udeng atau destar sebagai ikat kepala. Motif ragam hias kain geringsing dari Tenganan Pageringsingan menampakan pengaruh unsur-unsur ragam hias dari kebudayaan asing. Gelung kucir. Sementara itu.cecepakan. Pada saat melakukan suatu upacara seperti potong gigi atau pernikahan.

baju. Penulis Endang Mariani Busana Tradisional Dayak Taman Pada awalnya orang Dayak Taman mulai mengenal pakaian yang disebut king baba (king = cawat. yang ditenun adalah serat benang yang dihasilkan dari kulit pohon tengang. tak jarang. Maka jenis busana king baba clan king bibinge kini sudah hampir tak tampak dipergunakan lagi. gelang kana untuk lengan atas dan badong untuk leher semuanya terbuat dari emas demikian pula sepasang gelang naga satru. clan selimut itu disebut kapua atau ampuro.Pelengkap petitis yaitu tajug dan perhiasan lain seperti subeng cerorot. serta cincin. Dulu. bebekeng atau pending. Pakaian tersebut terbuat dari kulit kayu yang diproses hingga menjadi lunak seperti kain. celana. Warna dasar serat . clan king bibinge untuk perempuan (bibinge = wanita). Bahkan hingga kini masyarakat Dayak Taman dikenal sebagai penenun yang terampil. Masyarakat Dayak Taman pun mengenal teknik menenun untuk membuat busana. Kulit kayu yang bisa difungsikan sebagai kain untuk membuat cawat. Namun kebudayaan kelompok etnik lain yang datang bergelombang menciptakan akulturasi yang setidaknya juga berimbas pada perkembangan tata busana masyarakat Dayak Taman. untuk koleksi cendera mata. baba = laki-laki) untuk laki-laki. kecuali dibuat sebagai hiasan atau perlengkapan kesenian clan.

juga diberi hiasan sejenis dengan hiasan bajunya. merah muda. Baju manik king manik bisa dikatakan sebagai pengembangan dari baju burai king burai. kalung. Kini telah sangat jarang dijumpai tenunan yang dibuat dari serat tengang sehingga busana adat masyarakat Taman pun menggunakan tenunan benang kapas. dari bahan yang sama dengan baju. kulit kerang atau keong kecil. Sebagai hiasannya dijahitkan kulit kerang kecil berwarna putih disusun membentuk motif daun dan bunga. Sedangkan para lelaki memakai celana panjang sebatas lutut. juga dari kain yang sama. warna yang dominan pada tenunan tradisional Dayak Taman. Sebagai pelengkap busana. clan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi daripada baju burai king burai. tak mengherankan. Busana Pengantin Ada dua jenis busana adat tradisional yang biasa dipakai oleh pengantin dalam masyarakat Dayak Taman. . gelanggelang. kaum perempuan mengenakan semacam rok yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. Sebagai busana bawahnya. Maka. dan memakai semacam dodot dari kain yang telah diberi hiasan. Kini. Pada seputar ujung bawah baju atau rok digantungkan untaian uang logam perak sehingga baju manik king manik lebih berat ketimbang baju burai king burai. sulit didapatkan sehingga sebagai gantinya dipakai kancing kecil berwarna putih mengkilap. Tenunan yang beredar sekarang dengan warna-warna kuning. Untuk memperoleh warna hitam atau merah hati.yang kuat clan liat ini coklat sangat muda. ketelitian. jelas. Dibentuk seperti kebaya atau rompi panjang mirip baju tanpa lengan. dibutuhkan kesabaran. topi atau kopiah. jika mempelai mengenakan baju manik king manik sedangkan para pendamping pengantin "hanya" memakai baju burai king burai. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik. clan sebagainya. Hiasan ini diterapkan pada seluruh permukaan kain namun masih menyisakan bidang polos sehingga masih tampak kain dasarnya. pada masyarakat Dayak Taman dikenal pula berbagai ragam perhiasan berupa ikat kepala. Hiasan baju manik king manik adalah rangkaian manik-manik halus yang menutup hampir seluruh bidang baju sehingga kain dasarnya nyaris tak tampak lagi. dibuat dari benang kapas yang diperoleh dari luar daerah. serat tengang itu dicelup dengan getah pohon yang dilarutkan dalam air. Baju burai king burai terbuat dari bahan beludru berwarna hitam. Baju burai king burai dipakai oleh para pendamping pengantin sedangkan kedua mempelai mengenakan baju manik king manik. Kedua macam busana itu disebut baju burai king burai clan baju manik king manik. yang konon harus didatangkan dari Kalimantan Selatan itu. subang penghias telinga. dan sebagainya. putih.

Jika tali penguntainya juga dibuat dari kawat logam perak. yang memakainya. perunggu/tembaga. dua macam sasawak: sasawak lampit karumut dan sasawak tali murung. Bagian depan rok bawah baju manik king manik yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. Penghias telinga berupa subang disebut poosong. Dulu. perak. ikat pinggang itu disebut sasawak tali murung. Bulu burung ruai yang disematkan pada tengkulas. yang dilapisi dengan emas dinamai poosong emas. 1 cm. juga sangat sedikit para perempuan. Rotan yang sudah dibelah dimasukkan pada lobang "manik-manik perak" itu. dengan ketebalan. Untuk lelaki dikenal semacam topi yang bernama kambu manik dan kambu pirak. Bahan clan hiasannya sama dengan baju. Kalung ini dibuat dari logam perak yang dicairkan kemudian dicetak pada solongsong bambu berdiameter kecil. penghias leher.Penghias kepala clan rambut kaum wanita disebut tengkulas yang dibuat dari kain bermotif kembang-kembang. lebih-kurang. disebut tajuk bulu aruae. Sedangkan kambu pirak dibuat dari lempengan tipis logam perak yang dibentuk menjadi topi kemudian ditatahkan . hitam atau kuning. Pada seputar ujung rok dan baju .6 cm. yang dianyam menjadi bentuk topi. Pada tengkulas atau indulu manik ditambahkan bulu burung ruai. Lalu dibekukan dan dikalungkan pada leher. Poosong pernah dianggap sebagai identitas wanita dayak Taman. Ikat pinggang untuk mempercantik penampilan dinamai sasawak. menggelayut. Kambu manik dibuat dari jalinan serat sejenis pohon pandan. atau semacam rumput. Poosong dibuat dari kayu yang dibentuk bulat berdiameter 3 . atau dari rotan yang diserit tipis clan pipih. Ada beberapa macam kalung.motif-motif bunga dan dedaunan pada permukaan luar kambu. kalung yang biasa dipakai perempuan dan lelaki. clan lebih disukai yang berwarna mencolok: merah. maupun kambu. Ada juga yang dinamakan kalong manik lawang. Lalu diimbuhkan untaian manik sepenuh bidang kambu. kaum wanita clan para pria memakai poosong. Dibuat dari logam perak clan rotan. Perak dilebur hingga cair kemudian dicetak menjadi semacam manik-manik. atau batik. sehingga nampak sangat unik dan khas. Sasawak lampit karumut dipakai oleh kaum perempuan. Kemudian diukir dan dilapisi plat emas. Jika tengkulas itu sepenuhnya dibuat dari anyaman untaian manik-manik disebut indulu manik. indulu manik. tapi kini hampir tak ada lelaki. antara lain. Misalnya saja kalong manik pirak. tapi umumnya hanya dipakai perempuan.menjadi bentuk kerawang. tapi bisa juga hanya takikan yang tidak tembus . pada masyarakat Dayak Taman. garis-garis diagonal dan horisontal berbentuk wajik. Kalung ini dipakai saat upacara adat. sejenis burung merak yang hidup di haerah hulu Kapuas. atau kaca. Dibuat dari manikmanik yang diuntai oleh tali akar tengang. Dikenal. Cuping telinga yang dipasangi poosong menjadi lebar. Poosong yang tidak berlapis logam disebut poosong surat. Sebagai pemanis disematkan bulu burung ruai sekeliling kambu pirak itu.

dewasa. Sebagai kancing untuk mempertemukan kedua sisi baju dibuat dari tali kain berwarna. Yang dipakai oleh para balien wanita disebut bulang kalaawat. dan galang gading yang dibuat dari gading gajah. yang kerap digunakan pada peristiwa-peristiwa penting seperti perhelatan adat atau perkawinan. baju kuurung hanya dipakai oleh para balien (dukun) dengan memilih warna hitam clan pada bagian-bagian pinggir bajunya diberi les atau pita kain warna merah yang lebarnya sekitar 3 cm. . Baju berlubang leher bentuk bulat atau segitiga ini tidak berkerah clan polos tidak bersaku. Yang dibuat dari kayu tapang dinamai tangkalae tapang. Hiasan manik-manik yang mengisi seluruh bidang membuat baju manik king manik lebih berat daripada baju burai king burai. Ada beberapa macam gelang-gelang yang biasanya dipakai pada upacara adat. Busana Adat Lainnya Meskipun kini sudah jarang ditemukan. clan berlengan pendek. Sekarang hanya dipakai oleh dukun-dukun wanita. Terutama baju burai king burai. Model baju kuurung sesungguhnya sudah tua. Dahulu.digantungkan untaian logam perak. seperti galang bontok yang dibuat dari perak. baju burai king burai clan baju manik king manik. baju kalaawat ini dipakai oleh setiap wanita remaja. clan baju kuurung langke tangan ialah baju kuurung lengan panjang. masyarakat Dayak Taman juga menciptakan beberapa jenis busana untuk pelbagai keperluan acara adat. Yada pita itu dipasang kancing-kancing yang hanya berfungsi sebagai hiasan. Kaum lelaki memakai satu hingga tiga buah gelang pada bagian lengan di atas siku. Dari berbagai ragam busana tradisional yang dimiliki masyarakat Dayak Taman. Gelang-gelang ini biasanya dipakai saat upacara adat keagamaan. bila terbuat dari untaian manik disebut tangkalae manik. baju kuurung dokot tangan yakni baju kuurung lengan pendek. Di antaranya adalah bulang (baju) kuurung. yang paling popular sehingga hampir setiap keluarga Dayak Taman memilikinya. agaknya. Kain berupa pita berwarna lain daripada warna bajunya dijahitkan pada bagian tepi baju. galang pasan berupa anyaman serat tumbuhan. Ada beberapa macam model: baju kuurung sapek tangan yaitu baju kuurung tidak berlengan. Bentuknya sama dengan bulang kuurung hanya bagian depannya terbelah seperti kemeja pria biasa. Ketika masyarakat dayak Taman baru mengenal baju dari kulit kayu modelnya berbentuk baju kuurung. clan orang tua. galang manik yaitu untaian manik-manik pada serat daun nenas. ketelitian dan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi dari baju burai king burai. clan yang dari jalinan tali ijuk dikenal sebagai tangkalae ijuk. dan wanita lanjut usia. Sekarang. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik jelas dibutuhkan kesabaran. kiri clan kanan. Gelang itu disebut tangkalae atau sumpae.

Bagi laki-laki dewasa yang ingin bepergian mengenakan kopiah hitam. tanpa kantong.Busana Tradisional Masyarakat Banjar Penulis Dewi Indrawati Busana tradisional yang biasa dipakai sehari-hari oleh remaja dan orang dewasa kaum lelaki Banjar adalah salawar panjang (celana panjang) yang menutup kaki sampai ke mata kaki. sandal tali silang. Pada saat-saat tertentu kelengkapan pakaian ini ditambah dengan tapih (kain sarung) yang disampirkan di bahu. Baju kiyama berbentuk baju lengan panjang dengan kerah berlipat . dan selop. salawar kiyama dan sandal silang. Sebagai pasangannya dikenakan baju taluk balanga (kemeja lengan panjang) dengan leher baju bulat dan sedikit mencuat ke atas. yaitu kemeja berlengan panjang dengan leher baju bulat tanpa kerah dilengkapi dengan kancing lima dan berkantong tiga buah. Sebagai penutup kepala digunakan kopiah (kupiah) dari kain beludru. sejenis sarung terbuat dari katun atau sutra bermotif garis-garis melintang dan membujur. Pasangannya digunakan tapih. Warna yang digunakan oleh remaja lebih mencolok. yang lazim disebut tapih kaling. Bagian dada terbelah berkancing tiga. Sedangkan dalam acara-acara resmi seperti menghadiri upacara adat salawar diganti dengan tapih. baju kiyama. dominan warna kuning. yaitu sandal kalipik. Laki-laki tua Banjar sehari-hari mengenakan baju palimbangan. kain satin (kupiah Padang) atau kupiah jangang. Alas kakinya ada berbagai jenis.

Warna laung tajak siak harus sama dengan warna sabuk yang dikenakan. berbentuk segi tiga. Ujung tangan dan kantong diberi piIit (les) dengan warna berbeda dari bahan baju. Tutup kepala ini terbuat dari bahan beludru. Sebagai tutup kepala dikenakan laung tajak siak. satu di dada kiri. baju yang dilengkapi dengan tali pengikat di belakang leher dan kedua ujung lengan. . Lehernya bundar dengan kerah kecil agak tegak. Kantongnya ada tiga buah. Pasangannya disebut celana kiyama memiliki bentuk sederhana. Buntut pada sanggul menunjukkan pemakainya masih gadis. Sanggul ini berbentuk bundar seperti angka delapan. Baju ini berkancing lima biji. Bahan baju dari kain lena. Alas kakinya adalah selop dari beludru dan berkerudung kain sutra atau sasirangan. Untuk wanita dewasa dikenakan baju kubaya basawiwi (basujab). tajam pemandangan dan kekuasaan yang tinggi. Warna pakaian ini biasanya dipilih yang muda. Lengan baju sampai pergelangan tangan. Yang kerap dipakai para remaja dan orang tua kaum perempuan Banjar adalah baju kubaya (kebaya) berpasangan dengan tapih batik bakarung (kain batik). Ada dua pilihan sabuk. dua di bagian bawah kiri dan kanan. Busana Upacara Adat Dalam menghadiri upacara resmi para lelaki remaja sampai dewasa mengenakan baju jas tutup. dan jenis lain yang agak keras. Untuk mengikat digunakan tali yang dimasukkan pada lubang (uluh-uluh). Menjadi aturan. Baju ini dipadukan dengan celana panjang (salawar panjang). Motif ini melambangkan sikap waspada. di depan dada dan kiri-kanan bawah dengan model masuk (bukan kantong tempel). ekstrimin. Terakhir dikenakan selop pada kedua kakinya dari bahan beludru dan kulit. Mengikatnya harus mengikuti pola yang berlaku. kebaya biasa yang diberi variasi kain yang memanjang di bagian depan yang dinamakan sawiwi atau sujab selebar 10 cm. seperi biru muda. belini dan friend ship. dan krem. Dilengkapi kantong tiga buah. yaitu sabuk air guci (payet) dan sabuk kain tenun Pegatan dengan berbagai pilihan warna. yaitu lam jalalah. Bentuknya sama dengan pantalon biasa. Menjadi kebiasaan di daerah ini setiap perempuan menata rambutnya dengan cara disanggul (galung). Bagian tumpal sabuk yang bermotif pucuk rebung harus diletakkan di belakang. kuning muda. lurus tanpa kantong. kain Pagatan. hanya tanpa saku. dan jenis lain yang agak tebal. ujungnya diberi hiasan tiga biji kancing . biasanya dipilih yang kontras dengan warna baju. kalau mengenakan jas tutup harus bersabuk di pinggang. Ada dua cara menata rambut yang disebut galung malang babuntut dan galung malang. dari bahan kain poplin babalur (bergaris-garis vertikal) atau tetoron.neyerupai jas. Pada waktu bepergian mereka mengenakan baju kurung basisit. Tetapi sekarang banyak dipakai kain wool. yang mengacu pada lam alif dalam AlQur`an. Fungsinya untuk menolak bahaya atau maksud-maksud jahat lainnya.

yaitu mantel sempit berhias yang berfungsi untuk menutup dada. Hiasan ini ditancapkan pada sanggul. Galang (gelang) karuncung melingkar di lengan. Sebagai hiasan digunakan sulaman benang emas dan air guci dengan motif pucuk rebung. Aksesori penghias rambut terdiri dari kembang goyang (kambang goyang) dibedakan antara yang berapun (berumpun) dan tunggal berbentuk melati sebagai lambang kesucian. kalung bermotif bunga-bungaan. sedangkan jari manisnya berhias cincin litring. Perhiasannya berupa samban. Sabuk berhias air guci dengan motif lelipan dipakai sebagai simbol kekuasaan dan kemuliaan. Kalung panjang bogam dan liris-liris bunga. Sementara kalung samban rangkap tiga dan kalung marjan menghiasi bagian leher. Sebagai pengikat digunakan tali wenang berupa kain berwarna. Pantalon terbuat dari bahan dan warna yang sama dengan jas.Bagi kaum perempuan dalam upacara resmi dikenakan baju kurung basisit lengkap dengan tapihnya. dengan segitiga lebih tinggi. Kemudian dikenakan jas terbuka tanpa kancing. Bagian depan dihias dengan berbagai hiasan diikat di bagian belakang dengan buhul lam jalalah. Pakaian Pengantin Baamar Galung Pancaran Matahari merupakan pakaian pengantin yang paling digemari oleh semua golongan masyarakat Banjar. Dikenakan sarung dan penutup pinggang (tali gapu) berhiaskan air guci. . dan air guci. Kemudian keris yang dihiasi bogam bermotif bunga merah diselipkan di pinggang. Mempelai wanita mengenakan baju poko berlengan pendek ditutupi dengan kida-kida. Pada telinga dipasang anting-anting beruntai. dari kain sutra amban (sutra tipis) atau kain sasirangan yang dihiasi motif gigi haruan pada kedua sisinya. Kaki mengenakan selop dari beludru. Pemakaiannya rnulai dikembangkan dalam masyarakat Banjar sejak abad XIX. Mempelai laki-laki mengenakan kemeja putih lengan pendek. Pagatan. Kepalanya dibalut destar model siak melayu. Baju ini dikombinasi dengan tapih Lasem. Masyarakat Hindu dan Jawa banyak mempengaruhi pemakaian busana ini. Disebut baju kurung basisit karena pada bagian leher dan tangan dilengkapi tali pengikat (tali penyisit). Bahan baju dapat dibuat dari kain sutra atau sasirangan. Pada bagian dada dihias renda menutupi semua kancing. Kepalanya ditutup dengan kakamban/serudung (kerudung) berbentuk segi empat.

. Cincin dari bunga mayang. yang dipenuhi oleh rangkaian bunga (palimbaian). untaian bunga depan dan belakang. bunga mawar merah dan bunga melati. Kakinya beralaskan selop beludru bersulam benang emas. serta bangle dipakai di lengan atas dan pergelangan kaki terbuat dari karet berbentuk lekuk akar atau irisan buncis. terdiri dari daun sirih. untaian metalik. Ornamen lain untuk rambut antara lain baquet dengan pita rambut.Rambutnya disanggul model amar galung bertahtakan mahkota dihias dengan kembang goyang. Kelengkapan lainnya meliputi kerabu menganyun. dan untaian bunga warna keemasan. bunga melati yang diatur berbaris. sabuk pinggang warna emas. bunga jepun berbentuk jepitan. Sepasang pengantin ini dipersandingkan di ba-tatai. kalung.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful