Busana Tradisional Dayak Taman

Penulis Aat Soeratin, Jonny Purba Pada awalnya orang Dayak Taman mulai mengenal pakaian yang disebut king baba (king = cawat; baba = laki-laki) untuk laki-laki, clan king bibinge untuk perempuan (bibinge = wanita). Pakaian tersebut terbuat dari kulit kayu yang diproses hingga menjadi lunak seperti kain. Kulit kayu yang bisa difungsikan sebagai kain untuk membuat cawat, celana, baju, clan selimut itu disebut kapua atau ampuro. Namun kebudayaan kelompok etnik lain yang datang bergelombang menciptakan akulturasi yang setidaknya juga berimbas pada perkembangan tata busana masyarakat Dayak Taman. Maka jenis busana king baba clan king bibinge kini sudah hampir tak tampak dipergunakan lagi, kecuali dibuat sebagai hiasan atau perlengkapan kesenian clan, tak jarang, untuk koleksi cendera mata. Masyarakat Dayak Taman pun mengenal teknik menenun untuk membuat busana. Bahkan hingga kini masyarakat Dayak Taman dikenal sebagai penenun yang terampil. Dulu, yang ditenun adalah serat benang yang dihasilkan dari kulit pohon tengang. Warna dasar serat yang kuat clan liat ini coklat sangat muda. Untuk memperoleh warna hitam atau merah hati, warna yang dominan pada tenunan tradisional Dayak Taman, serat tengang itu dicelup dengan getah pohon yang dilarutkan dalam air. Tenunan yang beredar sekarang dengan warna-warna kuning, merah muda, putih, clan sebagainya, dibuat dari benang kapas yang diperoleh dari luar daerah. Kini telah sangat jarang dijumpai tenunan yang dibuat dari serat tengang sehingga busana adat masyarakat Taman pun menggunakan tenunan benang kapas. Busana Pengantin Ada dua jenis busana adat tradisional yang biasa dipakai oleh pengantin dalam masyarakat Dayak Taman. Kedua macam busana itu disebut baju burai king burai clan baju manik king manik. Baju burai king burai dipakai oleh para pendamping pengantin sedangkan kedua mempelai mengenakan baju manik king manik. Baju burai king burai terbuat dari bahan beludru berwarna hitam. Dibentuk seperti kebaya atau rompi panjang mirip baju tanpa lengan. Sebagai hiasannya dijahitkan kulit kerang kecil berwarna putih disusun membentuk motif daun dan bunga. Hiasan ini diterapkan pada seluruh permukaan kain namun masih menyisakan bidang polos sehingga masih tampak kain dasarnya. Kini, kulit kerang atau keong kecil, yang konon harus didatangkan dari Kalimantan Selatan itu, sulit didapatkan sehingga sebagai gantinya dipakai kancing kecil berwarna putih mengkilap. Sebagai busana bawahnya, kaum perempuan mengenakan

semacam rok yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut, dari bahan yang sama dengan baju, juga diberi hiasan sejenis dengan hiasan bajunya. Sedangkan para lelaki memakai celana panjang sebatas lutut, juga dari kain yang sama, dan memakai semacam dodot dari kain yang telah diberi hiasan. Baju manik king manik bisa dikatakan sebagai pengembangan dari baju burai king burai. Hiasan baju manik king manik adalah rangkaian manik-manik halus yang menutup hampir seluruh bidang baju sehingga kain dasarnya nyaris tak tampak lagi. Pada seputar ujung bawah baju atau rok digantungkan untaian uang logam perak sehingga baju manik king manik lebih berat ketimbang baju burai king burai. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik, jelas, dibutuhkan kesabaran, ketelitian, clan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi daripada baju burai king burai. Maka, tak mengherankan, jika mempelai mengenakan baju manik king manik sedangkan para pendamping pengantin "hanya" memakai baju burai king burai. Sebagai pelengkap busana, pada masyarakat Dayak Taman dikenal pula berbagai ragam perhiasan berupa ikat kepala, topi atau kopiah, subang penghias telinga, kalung, gelanggelang, dan sebagainya. Penghias kepala clan rambut kaum wanita disebut tengkulas yang dibuat dari kain bermotif kembang-kembang, garis-garis diagonal dan horisontal berbentuk wajik, atau batik, clan lebih disukai yang berwarna mencolok: merah, hitam atau kuning. Jika tengkulas itu sepenuhnya dibuat dari anyaman untaian manik-manik disebut indulu manik. Pada tengkulas atau indulu manik ditambahkan bulu burung ruai, sejenis burung merak yang hidup di haerah hulu Kapuas. Untuk lelaki dikenal semacam topi yang bernama kambu manik dan kambu pirak. Kambu manik dibuat dari jalinan serat sejenis pohon pandan, atau semacam rumput, atau dari rotan yang diserit tipis clan pipih, yang dianyam menjadi bentuk topi. Lalu diimbuhkan untaian manik sepenuh bidang kambu. Sedangkan kambu pirak dibuat dari lempengan tipis logam perak yang dibentuk menjadi topi kemudian ditatahkan - menjadi bentuk kerawang, tapi bisa juga hanya takikan yang tidak tembus motif-motif bunga dan dedaunan pada permukaan luar kambu. Sebagai pemanis disematkan bulu burung ruai sekeliling kambu pirak itu. Bulu burung ruai yang disematkan pada tengkulas, indulu manik, maupun kambu, disebut tajuk bulu aruae. Penghias telinga berupa subang disebut poosong. Dulu, kaum wanita clan para pria memakai poosong, tapi kini hampir tak ada lelaki, juga sangat sedikit para perempuan, yang memakainya. Poosong dibuat dari kayu yang dibentuk bulat berdiameter 3 - 6 cm, dengan ketebalan, lebih-kurang, 1 cm. Kemudian diukir dan dilapisi plat emas, perak, perunggu/tembaga, atau kaca. Poosong yang tidak berlapis logam disebut poosong surat, yang dilapisi dengan emas dinamai poosong emas. Poosong pernah dianggap sebagai identitas wanita dayak Taman. Cuping telinga yang dipasangi poosong menjadi lebar,

Gelanggelang ini biasanya dipakai saat upacara adat keagamaan. Ada beberapa macam kalung. Sasawak lampit karumut dipakai oleh kaum perempuan. bila terbuat dari untaian manik disebut tangkalae manik. masyarakat Dayak Taman juga menciptakan beberapa jenis busana untuk pelbagai keperluan acara adat. clan yang dari jalinan tali ijuk dikenal sebagai tangkalae ijuk. Gelang itu disebut tangkalae atau sumpae. Kaum lelaki memakai satu hingga tiga buah gelang pada bagian lengan di atas siku. penghias leher. Bahan clan hiasannya sama dengan baju. Lalu dibekukan dan dikalungkan pada leher. Busana Adat Lainnya Meskipun kini sudah jarang ditemukan. Bagian depan rok bawah baju manik king manik yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. Rotan yang sudah dibelah dimasukkan pada lobang "manik-manik perak" itu. dan galang gading yang dibuat dari gading gajah. kiri clan kanan. galang pasan berupa anyaman serat tumbuhan. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik jelas dibutuhkan kesabaran. Yang dibuat dari kayu tapang dinamai tangkalae tapang. Jika tali penguntainya juga dibuat dari kawat logam perak. seperti galang bontok yang dibuat dari perak. sehingga nampak sangat unik dan khas.menggelayut. Kalung ini dipakai saat upacara adat. tapi umumnya hanya dipakai perempuan. Ada beberapa macam gelang-gelang yang biasanya dipakai pada upacara adat. Di antaranya adalah bulang (baju) kuurung. Ada juga yang dinamakan kalong manik lawang. Ikat pinggang untuk mempercantik penampilan dinamai sasawak. Dibuat dari manikmanik yang diuntai oleh tali akar tengang. ketelitian dan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi dari baju burai king burai. Hiasan manik-manik yang mengisi seluruh bidang membuat baju manik king manik lebih berat daripada baju burai king burai. baju kuurung dokot tangan yakni baju kuurung lengan pendek. galang manik yaitu untaian manik-manik pada serat daun nenas. pada masyarakat Dayak Taman. Perak dilebur hingga cair kemudian dicetak menjadi semacam manik-manik. dua macam sasawak: sasawak lampit karumut dan sasawak tali murung. ikat pinggang itu disebut sasawak tali murung. Kalung ini dibuat dari logam perak yang dicairkan kemudian dicetak pada solongsong bambu berdiameter kecil. kalung yang biasa dipakai perempuan dan lelaki. Ada beberapa macam model: baju kuurung sapek tangan yaitu baju kuurung tidak berlengan. Dibuat dari logam perak clan rotan. Model baju kuurung . antara lain. Dikenal. clan baju kuurung langke tangan ialah baju kuurung lengan panjang. Misalnya saja kalong manik pirak. Pada seputar ujung rok dan baju digantungkan untaian logam perak.

clan berlengan pendek. baju burai king burai clan baju manik king manik. Dahulu. agaknya. dan wanita lanjut usia. yang kerap digunakan pada peristiwa-peristiwa penting sepertiperhelatan adat atau perkawinan. Sebagai kancing untuk mempertemukan kedua sisi baju dibuat dari tali kain berwarna. Sekarang hanya dipakai oleh dukun-dukun wanita. Yang dipakai oleh para balien wanita disebut bulang kalaawat. Dari berbagai ragam busana tradisional yang dimiliki masyarakat Dayak Taman.sesungguhnya sudah tua. Ketika masyarakat dayak Taman baru mengenal baju dari kulit kayu modelnya berbentuk baju kuurung. clan orang tua. Bentuknya sama dengan bulang kuurung hanya bagian depannya terbelah seperti kemeja pria biasa. Yada pita itu dipasang kancing-kancing yang hanya berfungsi sebagai hiasan. baju kuurung hanya dipakai oleh para balien (dukun) dengan memilih warna hitam clan pada bagian-bagian pinggir bajunya diberi les atau pita kain warna merah yang lebarnya sekitar 3 cm. Sekarang. . Kain berupa pita berwarna lain daripada warna bajunya dijahitkan pada bagian tepi baju. dewasa. Baju berlubang leher bentuk bulat atau segitiga ini tidak berkerah clan polos tidak bersaku. yang paling popular sehingga hampir setiap keluarga Dayak Taman memilikinya. Terutama baju burai king burai. baju kalaawat ini dipakai oleh setiap wanita remaja.

.

Fungsinya untuk menolak bahaya atau maksud-maksud jahat lainnya. tajam pemandangan dan kekuasaan yang tinggi. ujungnya diberi hiasan tiga biji kancing . Pada saat-saat tertentu kelengkapan pakaian ini ditambah dengan tapih (kain sarung) yang disampirkan di bahu. yaitu sandal kalipik. kebaya biasa yang diberi variasi kain yang memanjang di bagian depan yang dinamakan sawiwi atau sujab selebar 10 cm. ekstrimin. Sebagai penutup kepala digunakan kopiah (kupiah) dari kain beludru. salawar kiyama dan sandal silang. yang mengacu pada lam alif dalam Al-Qur`an. Bagi laki-laki dewasa yang ingin bepergian mengenakan kopiah hitam. baju kiyama. Tetapi sekarang banyak dipakai kain wool. Alas kakinya ada berbagai jenis.Busana Tradisional Masyarakat Banjar Penulis Dewi Indrawati Busana tradisional yang biasa dipakai sehari-hari oleh remaja dan orang dewasa kaum lelaki Banjar adalah salawar panjang (celana panjang) yang menutup kaki sampai ke mata kaki. dan selop. Baju ini dipadukan dengan celana panjang (salawar panjang). Warna pakaian ini biasanya dipilih yang muda. kalau mengenakan jas tutup harus bersabuk di pinggang. Bagian dada terbelah berkancing tiga. tanpa kantong. Untuk mengikat digunakan tali yang dimasukkan pada lubang (uluh-uluh). hanya tanpa saku. kain satin (kupiah Padang) atau kupiah jangang. yaitu lam jalalah. yang lazim disebut tapih kaling. Pada waktu bepergian mereka mengenakan baju kurung basisit. Ada dua pilihan sabuk. Bagian tumpal sabuk yang bermotif pucuk rebung harus diletakkan di belakang. Motif ini melambangkan sikap waspada. Mengikatnya harus mengikuti pola yang berlaku. sandal tali silang. dominan warna kuning. Ujung tangan dan kantong diberi piIit (les) dengan warna berbeda dari bahan baju. satu di dada kiri. Sanggul ini berbentuk bundar seperti angka delapan. lurus tanpa kantong. sejenis sarung terbuat dari katun atau sutra bermotif garis-garis melintang dan membujur. Menjadi aturan. biasanya dipilih yang kontras dengan warna baju. Tutup kepala ini terbuat dari bahan beludru. baju yang dilengkapi dengan tali pengikat di belakang leher dan kedua ujung lengan. dan jenis lain yang . Bahan baju dari kain lena. Baju ini berkancing lima biji. Sebagai tutup kepala dikenakan laung tajak siak. dan krem. yaitu kemeja berlengan panjang dengan leher baju bulat tanpa kerah dilengkapi dengan kancing lima dan berkantong tiga buah. Ada dua cara menata rambut yang disebut galung malang babuntut dan galung malang. Dilengkapi kantong tiga buah. Lehernya bundar dengan kerah kecil agak tegak. Menjadi kebiasaan di daerah ini setiap perempuan menata rambutnya dengan cara disanggul (galung). Yang kerap dipakai para remaja dan orang tua kaum perempuan Banjar adalah baju kubaya (kebaya) berpasangan dengan tapih batik bakarung (kain batik). dari bahan kain poplin babalur (bergaris-garis vertikal) atau tetoron. Warna yang digunakan oleh remaja lebih mencolok. Busana Upacara Adat Dalam menghadiri upacara resmi para lelaki remaja sampai dewasa mengenakan baju jas tutup. Laki-laki tua Banjar sehari-hari mengenakan baju palimbangan. belini dan friend ship. seperi biru muda. berbentuk segi tiga. kain Pagatan. dua di bagian bawah kiri dan kanan. Pasangannya disebut celana kiyama memiliki bentuk sederhana. Alas kakinya adalah selop dari beludru dan berkerudung kain sutra atau sasirangan. Bentuknya sama dengan pantalon biasa. yaitu sabuk air guci (payet) dan sabuk kain tenun Pegatan dengan berbagai pilihan warna. Pasangannya digunakan tapih. di depan dada dan kiri-kanan bawah dengan model masuk (bukan kantong tempel). kuning muda. Sebagai pasangannya dikenakan baju taluk balanga (kemeja lengan panjang) dengan leher baju bulat dan sedikit mencuat ke atas. Kantongnya ada tiga buah. Buntut pada sanggul menunjukkan pemakainya masih gadis. Lengan baju sampai pergelangan tangan. dan jenis lain yang agak tebal. Untuk wanita dewasa dikenakan baju kubaya basawiwi (basujab). Sedangkan dalam acara-acara resmi seperti menghadiri upacara adat salawar diganti dengan tapih. Baju kiyama berbentuk baju lengan panjang dengan kerah berlipat neyerupai jas.

Kalung panjang bogam dan liris-liris bunga. Kaki mengenakan selop dari beludru.agak keras. Sementara kalung samban rangkap tiga dan kalung marjan menghiasi bagian leher. Rambutnya disanggul model amar galung bertahtakan mahkota dihias dengan kembang goyang. yang dipenuhi oleh rangkaian bunga (palimbaian). Kepalanya ditutup dengan kakamban/serudung (kerudung) berbentuk segi empat. Bagi kaum perempuan dalam upacara resmi dikenakan baju kurung basisit lengkap dengan tapihnya. Pakaian Pengantin Baamar Galung Pancaran Matahari merupakan pakaian pengantin yang paling digemari oleh semua golongan masyarakat Banjar. Mempelai wanita mengenakan baju poko berlengan pendek ditutupi dengan kida-kida. Pagatan. untaian metalik. Bahan baju dapat dibuat dari kain sutra atau sasirangan. Kakinya beralaskan selop beludru bersulam benang emas. Disebut baju kurung basisit karena pada bagian leher dan tangan dilengkapi tali pengikat (tali penyisit). Pantalon terbuat dari bahan dan warna yang sama dengan jas. Dikenakan sarung dan penutup pinggang (tali gapu) berhiaskan air guci. Cincin dari bunga mayang. serta bangle dipakai di lengan atas dan pergelangan kaki terbuat dari karet berbentuk lekuk akar atau irisan buncis. sabuk pinggang warna emas. Kemudian dikenakan jas terbuka tanpa kancing. Pada telinga dipasang anting-anting beruntai. Mempelai laki-laki mengenakan kemeja putih lengan pendek. Sabuk berhias air guci dengan motif lelipan dipakai sebagai simbol kekuasaan dan kemuliaan. . Sepasang pengantin ini dipersandingkan di ba-tatai. bunga melati yang diatur berbaris. Pemakaiannya rnulai dikembangkan dalam masyarakat Banjar sejak abad XIX. Galang (gelang) karuncung melingkar di lengan. Baju ini dikombinasi dengan tapih Lasem. Terakhir dikenakan selop pada kedua kakinya dari bahan beludru dan kulit. Masyarakat Hindu dan Jawa banyak mempengaruhi pemakaian busana ini. Aksesori penghias rambut terdiri dari kembang goyang (kambang goyang) dibedakan antara yang berapun (berumpun) dan tunggal berbentuk melati sebagai lambang kesucian. Sebagai pengikat digunakan tali wenang berupa kain berwarna. yaitu mantel sempit berhias yang berfungsi untuk menutup dada. dan air guci. dengan segitiga lebih tinggi. bunga jepun berbentuk jepitan. Bagian depan dihias dengan berbagai hiasan diikat di bagian belakang dengan buhul lam jalalah. kalung. Kelengkapan lainnya meliputi kerabu menganyun. untaian bunga depan dan belakang. sedangkan jari manisnya berhias cincin litring. Ornamen lain untuk rambut antara lain baquet dengan pita rambut. bunga mawar merah dan bunga melati. dari kain sutra amban (sutra tipis) atau kain sasirangan yang dihiasi motif gigi haruan pada kedua sisinya. dan untaian bunga warna keemasan. Kepalanya dibalut destar model siak melayu. Perhiasannya berupa samban. Sebagai hiasan digunakan sulaman benang emas dan air guci dengan motif pucuk rebung. Warna laung tajak siak harus sama dengan warna sabuk yang dikenakan. Hiasan ini ditancapkan pada sanggul. kalung bermotif bunga-bungaan. terdiri dari daun sirih. Kemudian keris yang dihiasi bogam bermotif bunga merah diselipkan di pinggang. Pada bagian dada dihias renda menutupi semua kancing.

giwang (suwang). warna asli kayu. Akan tetapi naluri berdandan. manusia. warna hitam dari jelaga. dan sebagainya. Rompi sederhana ini dalam bahasa Ngaju disebut sangkarut. kemudian desain yang tak lagi sekadar fungsional. upacara meminta hujan. gelang. tak diberi hiasan. Pada perkembangan selanjutnya masyarakat Dayak Ngaju pun mulai membubuhkan warna dan corak hias pada busana mereka. Salah satu mitologi masyarakat Dayak Ngaju yang terkenal adalah tentang penciptaan alam yang melahirkan simbolisasi "pohon hayat" atau "pohon kehidupan" dalam bentuk corak hias yang dikenal dengan nama batang goring. bunga. dan berbagai aksesori lainnya yang mendaurulangkan limbah keseharian mereka. panglima perang. Corak hias ini sangat berarti bagi masyarakat Dayak Ngaju sehingga busana adat untuk upacaraupacara penting . warna putih dari tanah putih dicampur air. gigi dan taring binatang dirangkai menjadi kalung.berbeda untuk perempuan dan lelaki . kemudian kain tenun halus. Hal itu nyata terlihat dengan berkembangnya seni berbusana masyarakat asli Pulau Kalimantan ini.bagi para pemuka kelompok. lalu tenunan serat alam yang "kasar". . ketika dikenakan. rajah (tatoo) pada bagian-bagian tubuh tertentu. yang bahannya juga dipungut dari alam sekitar. kulit kerang. sehingga kesannya sangat alamiah. harimau akar. yang konon telah bangkit pada hati setiap manusia sejak ribuan tahun silam. yang disebut ewah. tak pula diwarnai. giwang dari kayu keras. Dan kesederhanaan pakaian kulit kayu itu kemudian memancarkan esensi keindahan karena imbuhan warnawarni flora dan fauna yang ditambahkan sebagai pelengkap busana. warna merah dari buah rotan. dan ahli pengobatan. Bajunya berupa rompi unisex tanpa hiasan apapun. misalnya.misalnya upacara tiwah. Corak hias yang digambarkan pada busana juga diilhami oleh apa yang mereka lihat di alam sekelilingnya. upacara pengobatan belian obat kelengkapannya adalah busana dengan corak hias batang garing. Celananya adalah cawat yang. Sinkretisme itu melahirkan pelbagai keyakinan dan mitologi dan mengilhami lahirnya corak hias naga. pun punya makna simbolik. burung. mengusik hasrat masyarakat Dayak Ngaju untuk "mempercantik" penampilan. yang bermakna sangat filosofis. diatur pula pemakaian corak hias busana adat . akar pohon. Selain itu. Biji-bijian. untuk mengantar ruh manusia yang meninggal dunia ke peristirahatannya. selain tampil artistik. dedaunan. Busana Kulit Kayu Beratus tahun lalu masyarakat Dayak membuat busana dengan bahan dasar kulit kayu yang disebut kulit nyamu. yang cenderung animistik. para tetua adat. dalam kepercayaan Kaharingan. bagian depannya ditutup lembaran kain nyamu berbentuk persegi panjang. semua itu adalah fenomena yang menyiratkan bergesernya nilai-nilai tata cara berbusana dan seni berdandan masyarakat Dayak Ngaju. Setelah dianggap halus "kain" itu dipotong untuk dibuat baju dan celana. Kulit kayu dari pohon keras itu ditempa dengan pemukul semacam palu kayu hingga menjadi lemas seperti kain. warna kuning dari kunyit. gelang dibikin dari tulang binatang buruan. Maka tampillah stilasi bentuk flora dan fauna. Misalnya saja. Keyakinan dan alam mitologi juga memberi inspirasi pada penciptaan ragam corak hias busana adat sehingga gambar-gambar itu. Awalnya kulit kayu. Busana itu berwarna coklat muda. kalung. dan sebagainya. melahirkan apa yang kemudian dikenal sebagai agama Hindu Kaharingan. Bahan pewarna itu secara kreatif diolah dari yang tersedia pada alam sekitar mereka. Maka baju kulit kayu sederhana itu pun lalu dilengkapi dengan aksesori ikat kepala (salutup hatue untuk kaum lelaki dan sal utup bawi untuk para perempuan). Model busananya sangatlah sederhana dan semata fungsional. Pengaruh agama Hindu pada kepercayaan asal masyarakat Ngaju.Busana Tradisional Dayak Ngaju Mengalirnya waktu dan berbaurnya pelbagai budaya menyebabkan perkembangan estetika masyarakat Dayak Ngaju yang semakin bergeser dari nilai-nilai asalnya meski tak menghilangkan substansinya. kepala suku. menjadi corak hias busana adat.

tapi diperluas untuk keperluan lainnya. Betapa tidak. konon. Busana kaum perempuan terdiri dari baju kurung ngasuhui berlengan panjang atau pendek. umpamanya saja. jenis rumputrumputan. Maka busana masyarakat Ngaju jadi semakin ornamentik dan semarak warna. yang pada bagian bawahnya diberi corak hias stilasi bentuk flora atau fauna. Paduannya rok panjang sebatas betis. Umpamanya saja sangkarut perang dari jalinan rotan (sangkarut perang) untuk penahan tusukan anak panah. model baju pria Melayu tapi berkerah. terutama yang bermukim di daerah pesisir dan pusat kerajaan. Selain untuk aksesori. Busana pengantin. Akan tetapi. ujung lengan baju. keramik. burung enggang. Orang-orang Cina dan India memperkenalkan manik-manik yang terbuat dari logam. Dan aksesori yang dikenakannya adalah kalung manik-manik. Hasilnya adalah tata busana yang memadukan kulit kayu. dari kain yang sewarna dengan baju dengan sehelai bulu burung haruei yang diselipkan pada ikat kepala bagian belakang. hiasannya tetap mengekspresikan keakraban mereka dengan alam. Dan kini pucuk rebung. atau cendera mata. kostum taritarian. batang garing. Baju kaum lelaki disebut baju palembangan. sumpit. pakaian acara-acara adat. ikat kepala. Maka kulit kayu yang semula hanya ditempa menjadi lembaran-lembaran "kain". awan. dan tulang. kayu. Mereka kemudian melirik rotan. manusia. memberikan apresiasi positif terhadap bahan busana yang sebelumnya tidak ada pada khasanah karya tenun mereka itu. koleksi museum. jalinan serat alam. ular. dan mitologi. dan aplikasi manik-manik dan arguci. melengkapi yang sebelumnya telah dibuat masyarakat Ngaju dari biji-bijian. Busana Kain Tenun Halus Para pedagang Gujarat dari India yang datang ke Nusantara membawa serta kain-kain tenun halus sebagai barang dagangan. satin. kini diolah dengan teknik yang memerlukan kesabaran dan konsentrasi tinggi. harimau akar. Maka diadaptasilah teknik menenun kain halus itu dan kreativitas para penenun masyarakat Ngaju kemudian melahirkan juga kain tenun halus. Corak hiasnya masih menampilkan alam flora. dan sebagainya. Celananya disebut selawar gobeh. atau sutra.Busana Jalinan Serat Alam Inovasi yang paling signifikan pada rancangan busana masyarakat Dayak adalah penguasaan keterampilan menjalin serat alam. Masyarakat Ngaju. diperkenalkan kepada masyarakat Ngaju oleh orang-orang Bugis. diberi hiasan. Temuan-temuan baru itu kemudian dikembangkan lagi secara kreatif oleh para perancang busana masyarakat Ngaju. dan bagian dada. lawung bawi. juga dari beludru atau satin. karena ternyata alam Nusatara yang kaya raya juga menyediakan kapas dan sutra. berhiaskan gambar pewarna alam. Teknik menenun. Jenis-jenis busana seperti ini sekarang pun masih bisa dibuat untuk berbagai keperluan. Rambut yang disanggul bentuk sanggul lipat atau dibiarkan terurai dihias ikat kepala. Busana tradisional masyarakat Ngaju yang beredar sekarang ini hampir seluruhnya dibuat dari kain tenun halus serat kapas atau sutra. dari kain yang sama yang juga diberi corak hias berupa penggayaan bentuk flora atau fauna. Rancangan dan fungsi busana pun turut berkembang. tampil pula dalam ekspresi yang lain. untuk kostum tarian. dan kelengkapan lainnya. manikmanik itu juga kemudian diaplikasikan menjadi hiasan busana. Akan tetapi corak hias dan modelnya tidak bergeser jauh dari bentuk asalnya. Kain-kain tersebut ditenun dari serat kapas atau sutra. celana. disebut salui. sehingga "kain" yang dihasilkan menjadi beragam. akar tumbuhan. dan tombak. celana . Pakaian yang dibuat bukan lagi hanya untuk fungsi yang paling mendasar yakni baju dan celana untuk melindungi bagian tubuh yang dianggap paling penting saja. kebanyakan dibuat dari kain beludru. Pakaian tradisional masyarakat Ngaju yang sekarang dianggap sebagai busana daerah Kalimantan Tengah untuk pelbagai upacara adat adalah pengembangan dari busana tradisonal masa lampau. Pada kerah. Mereka pun lalu menciptakan alat penjalin untuk "merangkai" serat demi serat menjadi bentangan bahan busana untuk baju. fauna. Dari kulit kayu yang telah dihaluskan mereka membuat serat yang dicelup oleh bahan pewarna alam sehingga dihasilkan benang yang tak tunggal warna. Eksplorasi terus dilakukan untuk mencari bahan-bahan lain yang bisa dibuat benang. dari kain satin atau beludru. dan anting-anting atau suwang.

Penulis Aat Soeratin . Sedangkan penutup kepala dibuat dari kain yang dibentuk seperti peci atau kopiah yang disebut lawung siam.panjang "komprang" (tidak ketat) dari kain yang sama dengan bajunya.

Busana Tradisional Kutai Kutai Tradional Dress Penulis Aat Soeratin, Jonny Purba Seperti telah disinggung di muka, masyarakat Kutai mengalami persentuhan budaya dengan masyarakat Bugis yang datang dan menetap di daerah pesisir. Akulturasi itu, antara lain, mewartakan adanya tradisi menenun yang ekspresinya sangat berlainan dengan yang telah dikenal oleh masyarakat asli Kalimantan Timur. Dan sejalan dengan luruhnya perbauran antar budaya terlahirlah beragam hasil tenunan yang menunjukkan keindahan tersendiri yang kemudian semakin memperkaya khasanah kain tenun Nusantara. Tenun sutra dengan ragam hias floral yang dikenal sebagai "Kain Samarinda" misalnya, masyhur sebagai hasil tenunan yang khas Kalimantan Timur. Seperti lazim berlaku pada setiap kelompok etnik manapun, berdasarkan fungsinya, jenis-jenis pakaian dapat dibedakan sebagai pakaian sehari-hari, pakaian kerja, pakaian bepergian, pakaian pesta/upacara adat, dan sebagainya. Masing-masing fungsi busana itu juga dapat dibedakan berdasarkan jenis kelamin, umur, dan status sosial pemakainya. Pakaian sehari-hari yang dikenakan masyarakat Kutai disesuaikan dengan suhu udara daerah itu yang relatif panas. Oleh karenanya dipilih kain yang tipis, namun tidak tembus pandang, dari bahan katun untuk baju, celana, kain panjang, yang dipakai sehari-hari. Busana keseharian khas masyarakat Kutai yang hingg sekarang masih sering dijumpai adalah pelembangan dan baju Cina. Baju pelembangan, yang modelnya seperti piyama, dipakai oleh kaum lelaki. Pakaian bawahnya adalah seluar sekoncong, celana panjang dengan pipa celana yang longgar agar tak terasa panas, atau kain sarung pelekat. Jika bepergian memakai ikat fepala, destar, dari kain batik. Akan tetapi kini amat jarang para lelaki Kutai yang sehari-harinya memakai destar. Kaum perempuannya mengenakan baju Cina, semacam kebaya tidak berkerah, berkancing lima buah dan dipasangi dua buah kantong/saku di kiri-kanan bagian bawah bajunya. Para gadis atau ibu-ibu muda memakai sarung caul, yaitu kain panjang batik yang sudah dijahit berbentuk sarung. Jika bepergian paduan busana itu dilengkapi dengan babat (kain pinggang) dari kain Samarinda. Sedangkan wanita lanjut usia biasanya memakai sarung pelekat. Agar tampil rapi, rambut kaum wanita disanggul bentuk gelung Kutai, dan diberi kerudung ketika bepergian. Busana tradisional Kutai, sebagian diantaranya, dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa dan Melayu. Pakaian adat tradisional inilah yang hingga kini relatif masih bertahan dari pengaruh perkembangan mode busana. Dan di antara beragam pakaian adat atau busana upacara, salah satu yang paling kerap dijumpai adalah pakaian pengantin yang dikenal sebagai baju takwo dan baju kustim. Baju Takwo Pakaian adat Kutai yang menunjukkan perbedaan yang mencolok dengan pakaian adat suku-suku lain di Kalimantan Timur ialah baju takwo. Dahulu, baju takwo adalah pakaian kaum bangsawan atau busana para penari saat mengikuti upacara adat. Akan tetapi kini, masyarakat banyak pun mengenakan baju takwo sebagai busana pengantin. Saat upacara pernikahan berlangsung, mempelai wanita memakai baju takwo. Bentuk baju takwo mirip jas tutup tapi berleher tinggi. Di bagian depannya diimbuhkan sepotong kain, disebut jelapah, yang menutup bagian tengah dada dari bawah leher hingga pinggul. Di bagian pinggir kiri dan kanan jelapah diimbuhkan lima pasang kancing, sedang pada bagian lehernya dipasang dua buah kancing. Baju takwo kerap dibuat dari kain katun, linen, atau beludru. Paduannya adalah kain panjang biasanya bermotif parang rusak yang bagian sisinya diberi ornamen berupa rumbai-rumbai keemasan. Kain panjang ini dipakai hingga menutup mata kaki dan dibebatkan sedemikian rupa sehingga sisi kain yang berumbai berlipat-lipat di bagian depan dan nampak artistik. Rambut mempelai wanita disanggul berbentuk gelung siput, dihiasi gerak

gempa (kembang goyang) berwujud bunga melati yang dibuat dari emas atau perak bersepuh emas. Selop atau alas kaki yang digunakan biasanya berwarna hitam atau coklat. Mempelai pria juga mengenakan baju takwo, dipadukan dengan celana panjang. Kain panjang yang sama motifnya dengan yang dipakai mempelai wanita difungsikan sebagai dodot. Kain itu dibebatkan seputar pinggang, bagian depannya hanya sebatas lutut dan bagian sisi yang berumbai menjuntai dari bagian belakang hingga ke mata kaki. Sebagai hiasan kepala dipakai sentorong, sejenis peci atau kopiah berbentuk bundar, tingginya 15 cm dan dibuat dari kain beludru hitam. Sedangkan selop yang dipakai berwarna coklat atau hitam. Mempelai pria juga mengenakan baju takwo, dipadukan dengan celana panjang. Kain panjang yang sama motifnya dengan yang dipakai mempelai wanita difungsikan sebagai dodot. Kain itu dibebatkan seputar pinggang, bagian depannya hanya sebatas lutut clan bagian sisi yang berumbai menjuntai dari bagian belakang hingga ke mata kaki. Sebagai hiasan kepala dipakai sentorong, sejenis peci atau kopiah berbentuk bundar, tingginya 15 cm dan dibuat dari kain beludru hitam. Sedangkan selop yang dipakai berwarna coklat atau hitam. Baju Kustim Busana pengantin yang sekarang biasa dipakai oleh golongan menengah-atas masyarakat Kutai disebut baju kustim. Nama kustim berasal dari kata "kostum" yang bermakna "baju tanda kebesaran". Bentuk baju kustim sama dengan baju takwo hanya saja untuk baju kustim pada sisi jelapah, leher baju, dan ujung lengan baju dihiaskan pasmen, yaitu sulaman stilasi bentuk bunga atau flora dari benang emas. Pasmen yang terbuat dari benang serat logam mulia (emas) tak bisa dikerjakan sembarang orang. Ada perajin khusus yang menekuni profesi membuat pasmen benang logam emas ini. Rambut wanita disanggul bentuk gelung siput, diimbuh hiasan kembang gempa. Prianya memakai sentorong dengan pasmen benang keemasan. Di bagian depan sentorong dipasang wapen, semacam lencana, atau lambang yang menunjukkan derajat sosial pemakainya. Alhasil, pasmen dan wapen inilah yang mebedakan baju takwo dan baju kustim sebagai busana pengantin masyarakat Kutai. Maka tak jarang pengantin Kutai masa kini menggunakan kedua jenis busana ini. Ketika akad nikah mereka mengenakan busana dengan baju takwo, dan tatkala perayaan pernikahan memakai pakaian pengantin berbaju kustim. BUSANA ADAT DAYAK BENUAQ Aat Soeratin J onny Purba Salah satu suku bangsa yang mendiami daerah hulu sungai Mahakam adalah suku bangsa Dayak Benuaq. Daerah persebarannya mencakup Kecamatan Danau Jempang, terutama di desa Tanjung Isuy, Pentat, Muara Nayan, dan Lempunah, serta sebagian di Kec. Tenggarong. Bahan yang terkenal untuk pakaian adat tradisional Dayak Benuaq adalah kain tenunan serat daun doyo (Curculigo latifolia). Secara almiah tumbuhan sejenis pandan ini berkembang dengan subur di daerah Tanjung Isuy. Dari tumbuhan inilah masyarakat Dayak Benuaq membuat benang yang kuat untuk ditenun. Daun doyo dipotong sepanjang 1-1,5 meter dan direndam di dalam air. Setelah daging daun hancur lalu seratnya diambil. Biasanya warna tenunan kain doyo (ulap doyo) memiliki tiga warna: merah, hitam, dan warna coklat muda. Ulap doyo dianggap sebagai tenun ikat yang sangat khas Dayak Benuaq. Motifnya stilasi dari bentuk flora, fauna, dan alam mitologi, sebagaimana lazimnya motif hias masyarakat Dayak lainnya. Pada bidang yang berwarna terang, pada kain bercorak hias itu muncul titik-titik hitam yang dihasilkan dari pengikatan sebelum dicelup bahan pewarna. Titik-titik hitam inilah yang hampir tak ditemui pada tenun ikat manapun di daerah lain. Dari kain tenun serat doyo ini dibuatlah destar, kopiah, baju, sarung, dan sebagainya.

Akulturasi dengan budaya lain juga meresap hingga ke pedalaman. Maka masyarakat Benuaq pun kemudian mengenal kain tenun kapas dengan warna-warni yang sangat kontras dengan warna serat tenun mereka. Dan dengan sangat kreatif masyarakat Benuaq mengaplikasikan kain-kain tersebut pada karya tenun ikat mereka. Hasilnya adalah busana upacara yang dibuat dari kombinasi tenunan serat doyo dengan kain warna-warni sebagai corak hias yang artistik, misalnya busana adat yang dipakai oleh para pemeliaten (ahli pengobatan tradisional). Busana Adat Dalam pelbagai upacara adat seperti misalnya upacara kematian, upacara pengobatan, upacara panen hasil bumi, dan sebagainya, kaum perempuan mengenakan ulap doyo yang berfungsi seperti kain panjang (tapeh). Agar bebas bergerak ulap ini diberi belahan yang jika dipakai belahan itu berada di bagian belakang. Ulap yang berbelah ini disebut ulap sela. Ulap yang dikenakan sehari-hari biasanya berwarna hitam sedangkan yang dikenakan saat mengikuti upacara adat, diberi hiasan kain perca warna-warni bermotif bunga atau dedaunan. Sebagai baju biasanya dipakai kebaya tanpa lengan atau yang berlengan panjang. Sedangkan kaum pria biasanya menggunakan tenunan serat doyo ini untuk baju tanpa lengan dan celana pendek. Dalam masyarakat Dayak masa lalu terjadi pelapisan sosial karena dulu masih terdapat raja pada setiap sukunya. Turunan para raja kemudian menurunkan para bangsawan yang disebut golongan mantiq, sedangkan masyarakat kebanyakan dinamakan kelompok merantikaq (keturunan orang-orang biasa). Golongan mantiq dan merantikaq dapat dibedakan dari ragam hias yang diimbuhkan pada pelbagai pelengkap acara adat. Misalnya motif jautn nguku. Jautn berarti awan, sedang nguku berarti berarak. Ragam hias ini menggambarkan kebesaran seseorang dalam suasana kebahagiaan. motif ini biasanya dilukis pada templaq/tinaq (tempat penyimpanan tulang-belulang jenazah) golongan bangsawan atau raja-araja. Atau motif waniq ngelukng. Waniq berarti lebah dan ngelukng berarti menyerupai sarang lebah. Maknanya, bahwa orang yang sudah mempunyai cukup harta benda dapat melaksanakan upacara kematian. Ragam hias ini dilukiskan pada templaq/ tinaq tempat tulang belulang orang mati untuk golongan orang merantikaq tapi bisa juga untuk golongan bangsawan. Kini tak ada lagi raja. Maka yang dianggap sebagai pemuka masyarakat adalah kepala adat, kepala suku, dan para ahli belian (ahli penyembuhan penyakit) yang disebut pemeliaten. Kepala adat suku Benuaq sekarang tampil lebih sederhana, hampir tidak nampak atribut tanda status pada busana yang dikenakannya. Mereka biasanya memakai destar atau leukng dari serat doyo atau kain biasa. Berbaju kemeja tanpa lengan dari kain serat doyo berwarna merah atau hitam. Dahulu kepala adat menggantungkan jimat-jimat, manik-manik, taring harimau dahan, taring beruang, dan patungpatung yang mempunyai kekuatan magis atau disebut tonoi. Dan memakai cawat atau cancut yang juga dibuat dari tenunan serat doyo. Kepala adat yang merangkap kepala suku mengenakan topi yang berhiaskan bulu burung enggang, baju perang dari kulit kayu atau kulit harimau dahan, memakai cawat, dan tanpa alas kaki. Perisai di tangan kiri dan tombak digengggam di tangan kanan. Di pinggangnya tesengkelit sebilah mandau perang (parang/golok panjang) yang hulunya dihiasi dengan aneka warna bulu burung. Sarung mandaunya berukir dan pada ujungnya juga dihias bulubulu burung yang indah. Para pemeliaten tampil dengan ekspresi lain. Mereka tidak mengenakan baju tapi di bagian dadanya disilangkan kalung manik-manik, taring binatang buruan, dan patung-patung kayu kecil (jorokng) yang dipercaya sebagai sebagai tonoi. Busana bawahannya berupa tapeh bel ian yaitu kain panjang serupa rok maksi yang menutup hingga mata kaki, dan diberi hiasan aplikasi berupa tempelan kain warnawarni motif floral yang sangat artistik. Pada pinggang dililitkan sempilit, kain panjang yang berhias pada ujungnya, dan berjuntai sepanjang kiri dan kanan kaki. Ragam hias pada tapeh dan sempilit belian juga menunjukkan tingkat pengetahuan atau "kesaktian" pemakainya. Jika terdapat hiasan berupa garis-garis pada bagian bawah tapeh menunjukkan bahwa pemeliaten itu berilmu tinggi.

dan perhiasan yang dikenakan pada pelbagai upacara adat itu adalah sarana untuk memudahkan hubungan dengan mahluk-mahluk gaib. Pemeliaten juga memakai destar (laukng) yang warnanya juga mempunyai arti simbolik. ragam hias. Jika laukng hitam itu berimbuhkan garis-garis putih bermakna pemeliaten tersebut belum mampu menolak ilmu hitam. yang juga berfungsi sebagai musik pengiring saat upacara. Laukng berwarna hitam menandakan bahwa pemakainya (pemeliaten) mampu menangkal berbagai bentuk sihir hitam. Busana adat. Babat ini berfungsi pula sebagai tempat menyimpan pelbagai jimat penolak pengaruh jahat sihir hitam. dan uang logam kuno. Bunyi-bunyian magis sebagai musik repetitif ditimbulkan oleh beradunya gelang-gelang ketika pemeliaten menggucang-guncangkan tangannya.Untuk menahan tapeh dan sempilit dikenakan babat (semacam ikat pinggang) yang dihiasi dengan manikmanik. biasanya terbuat dari logam. taring binatang. . Di pergelangan tangannya dipakai gelang-gelang berukuran relatif besar.

atau hijau muda dengan tangan yang berkancing sembilan di sebelah kiri dan kanannya. oranye. Busana yang dikenakan oleh istri sultan terdiri atas kebaya panjang atau kimun gia. berupa upacara-upacara adat kesultanan pada masa itu maupun upacara yang berkaitan dengan siklus hidup manusia. yakni semacam jubah panjang dengan warna-warna muda seperti biru muda dan kuning muda. Tidak lupa. Konon warna tersebut untuk melambangkan jiwa muda dari para pemakainya yang masih remaja. dan ikat kepala. Baju tersebut umumnya berwarna polos. leher jas. yakni kalung rantai emas yang dibuat dalam dua lingkaran. atau diselaraskan dengan usia mereka. mereka juga mengenakan hiasan lainnya yang berupa konde yang berukuran besar. bros. Dihiasi dengan kelengkapan dan karakteristik lainnya. Baju koja tersebut biasanya berpasangan dengan celana panjang berwarna putih atau hitam. Sudah tentu. celana panjang. dan peniti yang terbuat dari intan. dan upacara pengukuhan atau uko se bonofo. Perhiasan lainnya yang dikenakan oleh permaisuri tersebut meliputi kalung. berbeda dengan busana yang dipakai oleh kelompok masyarakat yang memiliki kedudukan sosial tinggi. Busana yang biasa dikenakan oleh kaum wanita dalam melakukan aktivitas sehari-hari terdiri atas kain kololuncu dan baju susun dengan bagian tangan yang ditarik hingga ke pertengahan sikut. Busana adat yang dipakai oleh remaja pria disebut baju koja. mereka pun menyertakan berbagai perhiasan seperti taksuma. remaja contohnya. Selain itu. sedangkan konde kecil biasanya dipakai oleh pembantu permaisuri. . upacara injak tanah atau joko kaha. keberadaan keturunan sultan di dalam lingkungan masyarakatnya memiliki gaya hidup yang khas. anting dua susun.upacara adat. busana adat yang dikenakan oleh rakyat biasa untuk busana sehari-hari maupun busana yang dikenakan pada upacaraupacara adat. Busana yang dikenakan oleh sultan disebut manteren lamo yang terdiri atas celana panjang hitam dengan bis merah memanjang dari atas ke abawah. dan saku jas yang terletak di bagian luar berwarna merah. Selain busana adat yang disebutkan tadi. berlian. Konon warna tersebut melambangkan keperkasaan dari pemakainya. Adapun busana adat untuk kaum wanita meliputi kebaya panjang dan kain panjang. Sementara itu. penampilan busana yang dikenakan oleh sultan tersebut dilengkapi dengan destar untuk menutup kepala. Para remaja putri biasanya memakai busana yang terdiri atas kain panjang dan kimun gia kancing atau kebaya panjang berwarna kuning. Busana yang dikenakan oleh masyarakat pada umumnya atau rakyat biasa ditandai dengan kesederhanaan dalam berbagai hal. memperlihatkan adanya perbedaan cukup spesifik antar kelompok masyarakat yang secara sosial memiliki kedudukan yang berlainan. yang terbuat dari kain satin berwarna putih dengan pengikat pinggang yang terbuat dari emas. Di samping itu.Busana Tradisional Ternate dan Tidore Penulis Ria Andayani Somantri Gambaran fisik busana adat masyarakat Ternate dan Tidore. berikut toala polulu di kepalanya. serta kain panjang. pada umumnya memang menggambarkan kesederhanaan. Ada beberapa jenis busana yang dikenakan dalam upacara. baju berbentuk jas tertutup dengan kancing besar terbuat dari perak berjumlah sembilan . Apalagi kehidupan mereka senantiasa diwarnai dengan berbagai acara seremonial. dilengkapi dengan perhiasan yang disesuaikan dengan tingkatan sosial mereka. atau emas. sedangkan giwang tidak boleh dipakai oleh mereka. Kekhasan tersebut tampak dalam tata cara berbusana mereka. pembantu permaisuri. merupakan kawasan bekas kesultanan Ternate dan kesultanan Tidore. yang melambangkan status sosial dan usia dari orang yang memakainya. ujung tangan. Sementara itu. ada pula busana adat lainnya yang khusus dikenakan oleh kaum remaja putri dan remaja pria yang berasal dari golongan bangsawan. Hal ini dikarenakan Ternate dan Tidore yang secara administratif kini termasuk ke dalam wilayah kabupaten Maluku Utara. Secara umum busana adat tradisional yang dikenakan oleh kaum pria yang berasal dari golongan bangsawan terdiri atas jubah panjang yang menjuntai hingga betis atau lutut. Beberapa di antaranya yang masih dikenal hingga kini adalah upacara makan secara adat atau sidego. baik sebagai permasuri. serta alas kaki yang disebut tarupa.

biasanya dipakai juga sebagai baju untuk di rumah. sedangkan kaum wanitanya mengenakan baju susun dan kain songket. dan celana popoh. mereka pun hanya mengenakan kain songket dan baju susun. yakni celana dari kain tenun berwartna jingga atau kuning. busana kerja pria biasanya digunakan pula sebagai pakaian sehari-hari untuk di rumah. Kaum pria mengenakan celana panjang dan kemeja panjang. Sama halnya dengan busana wanita.Busana kerja dalam keadaan bersih. yakni baju berwarna hitam yang panjangnya mencapai pinggul serta berlengan panjang. lengkap dengan lengso duhu. yakni tutup kepala berwarna kuning muda. Adapun ketua adat yang memimpin upacara-upacara adat tersebut mengenakan jubah panjang yang mencapai betis berwarna kuning muda yang disebut takoa. yakni celana setinggi betis yang berwarna hitam pula. Adakalanya. celana dino. Busana kerja yang digunakan oleh kaum pria terdiri atas kebaya popoh. busana yang dikenakan oleh kaum pria maupun wanitanya tidak berbeda. Pada waktu mereka menghadiri berbagai upacara adat. .

keberadaannya tetap penting untuk diungkapkan sebagai gambaran kekhasan busana mereka di masa lalu. celana yang dipakainya disebut celana Makasar yang panjangnya sedikit di bawah lutut dan sangat longgar. kebaya hitam. mereka akan melengkapinya dengan sapu tangan. yakni sapu tangan berwarna putih yang kini telah jarang diletakkan di pinggang melainkan hanya dipegang saja. Jenis busana lain. Busana wanitanya terdiri atas baju dan kain hitam atau kebaya dan kain hitam. Sedangkan busana yang dikenakan pada saat bepergian. dilengkapi dengan celana kartou yakni celana yang pada bagian atasnya terdapat tali yang dapat ditarik dan diikatkan.Busana Tradisional Busana Tradisional Ambon Ambon Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Ambon merupakan ibukota propinsi Maluku yang berada di kawasan Maluku Tengah. dan celana panjang. yaitu kebaya cita berlengan hingga sikut yang dijahit dengan cara menambal beberapa potong kain yang telah diatur dan disusun sedemikian rupa dengan rapih. Ada beberapa contoh busana yang pada zaman dahulu pernah menjadi busana sehari-hari yang digunakan untuk bekerja atau di rumah. Bila mereka akan bepergian. khususnya dalam upacara sidi. biasanya terdiri atas baju baniang yakni baju berbentuk kemeja yang berlengan panjang dan berkancing. Bila akan bepergian. lengkap dengan kain pelekat. Mereka biasanya mengenakan baju cele. Kebaya jenis ini bisanya berpasangan dengan kain palekat. dari bagian leher ke arah dada terbelah sepanjang 15 sentimeter tanpa kancing. melainkan tampak juga dalam busana seharihari. jenis busananya masih tetap berupa kebaya cita berlengan panjang hingga ujung jari yang kemudian dilipat. Busana adat yang dikenakan dalam kesempatan tersebut biasanya hitam polos atau warna dasar hitam. masih ada lagi busana lain yang khususnya dipakai oleh untuk kaum wanita yang merupakan pendatang dari kepulauan Lease dan telah menetap di Ambon ratusan tahun lamanya. yakni baju dalam atau kutang yang dipakai sebelum mengenakan baju atau kebaya hitam. Selain busana sehari-hari yang telah disebutkan tadi. Pasangannya adalah celana panjang berikut topi yang dikenakan di kepala. Khusus untuk kaum pria yang telah lanjut usia. biasanya dipakai sebagai busana kerja yang disebut kebaya waong. atau masyarakat menyebutnya baju cele tangan sepanggal. Keberadaan busana adat Ambon. Busana dalam upacara keagamaan biasanya lebih lengkap lagi. dengan leher agak tertutup. yakni celana anak-anak yang dibuat dari beraneka macam kain dan dijahit sesuai dengan selera masing-masing. Kecuali pada saat upacara sidi yakni upacara pengukuhan pemuda clan pemudi untuk menjadi pengiring Kristus yang setia. Penampilan gaya berbusana warga masyarakat Ambon pada saat menghadiri upacara adat clan upacara keagamaan berbeda dengan yang dikenakan sehari-hari. Kebaya manampal. yakni kain hitam berhiaskan manik-manik yang disandang di bahu kiri. yang sudah tidak dipakai untuk berpergian oleh kaum wanita. Sementara itu kaum pria di Ambon mengenakan busana yang terdiri atas baju kurung yang berlengan pendek dan tidak berkancing. Untuk busana kerja di rumah atau dikebun. yakni sejenis kebaya berlengan pendek. Dilengkapi dengan kaeng pikol. Sementara itu busana prianya terdiri atas baniang. tidak hanya didominasi oleh busana yang dikenakan pada saat menghadiri upacaraupacara saja. Celana kes atau hansop. kole. Walaupun model bajunya sama. lenso pinggang. tapi kualitas bahan yang digunakan berbeda. Kebaya manapal yang sudah tampak jelek atau sudah tidak pantas lagi untuk dikenakan di rumah. Pada saat itu busana hitam ini ditabukan atau dilarang digunakan. baju cele tersebut dijahit dengan panjang lengan hingga sikut. Meskipun busana adat yang biasa dipakai dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari termasuk jarang digunakan lagi saat ini. dipakai .

Hanya ada penambahan tertentu pada kelengkapan busana mereka. pending pengikat pinggang yang terbuat dari perak. patala disalempang di dada. lenso bodasi dililitkan di leher. penerimaan tamu.oleh kaum remaja yang berasal dari golongan bangsawan diantaranya baju tangan kancing. Busana raja terdiri atas baju hitam. ikat poro atau ikat pinggang. patala di pinggang. Begitu pula kaum wanitanya yang memakai baju hitam seperti baju cele . Adapun busana yang dikenakan pada saat berlangsung upacara adat seperti pelantikan raja. celana panjang atau celana Makasar. busana rok. dan topi. bersepatu dengan kaus kaki putih. yakni baju cele berlengan panjang dengan kancing pada pergelangan tangannya. dan kaus tangan berwarna putih. sepatu berwarna putih. Para tua-tua adat mengenakan baju hitam. salempang. yang terdiri atas kebaya putih berlengan panjang dan berkancing pada pergelangannya. celana hitam. dan lain-lain pada dasarnya hampir sama. . Sedangkan pria dewasa lainnya hanya mengenakan baju hitam dan celana panjang hitam tanpa menggunakan alas kaki. dan seperangkat busana yang terdiri atas baju putih panjang. pembersihan negeri.

Bahkan. ketentuan tersebut sudah tidak berlaku lagi. Artinya. Misalnya. yaitu kalung yang terdiri atas lima lapis dan diletakkan di bagian depan. ada kalanya belusu pun dijadikan sebagai mas kawin. ada kelengkapan khusus yarig senantiasa digunakan oleh kaum wanita dalam berbagai upacara. Meskipun jumlah mereka saat ini sudah mulai menyusut. memakai rantai maupun tidak. maka belusu kini menjadi barang yang cukup langka. Meskipun begitu. keberadaannya tetap merupakan aset potensial yang dapat memberikan daya dukung positif bagi pelestarian dan pengembangan keberadaan busana adat tradisional di kawasan tersebut. Keberadaan belusu yang terbuat dari gading gajah ini cukup penting dalam kehidupan masyarakat Tanimbar. Pada dasarnya. Adapun busana bagian bawahnya berupa kain sarung yang biasanya ditenun sendiri. dan warna hitam melambangkan pemakainya adalah golongan rakyat biasa. atau barang bawaan seorang wanita sewaktu meninggalkan keluarganya untuk pindah dan menetap bersama suaminya. Berbagai kelengkapan busana dan perhiasan tradisional tersebut memang tidak mutlak digunakan. hitam kebirubiruan mencerminkan golo-ngan menengah.terbatas pada gelang atau bel usu. somalea. Kalaupun ada yang masih mengenakannya. Tidak heran bila belusu yang beredar saat ini merupakan salah satu benda warisan dari nenek moyang mereka. Kalaupun ada yang mengenakannya. Selain itu. ketua adat misalnya. Saat ini. yakni baju sejenis kebaya untuk bagian atasnya. belusu. yang menggantung dengan indah di telinga. Wanita Tanimbar dalam kehidupan sehari-hari. yaitu anting-anting. setiap orang boleh mengenakan kain dengan warna apa saja. selain mengenakan busana adat juga memakai aneka perhiasan yang lengkap. Di antara berbagai busana yang dikenakan oleh kaum wanita dalam sejumlah acara. Para penari yang terdiri atas kaum ibu tersebut. Warna dasar tais pada umumnya adalah coklat. memang ada salah satu yang tampak paling lengkap yakni busana penari. yang bernuansa keagamaan ataupun yang berkaitan dengan siklus hidup manusia. dan sebagainya. Pada masa lalu. busana adat masyarakat Tanimbar kini tidak lagi digunakan dalam kehidupan mereka sehari-hari. kaum wanita biasanya mengenakan busana adat yang khas. Misalnya noras aboyenan. yakni selempang atau selendang yang disampirkan pada bahu sebelah kiri. penghormatan jenazah. pernikahan. berbagai kalung atau ngore. Pemakaiannya sangat bergantung pada kemampuan dari orang yang akan mengenakannya. Masyarakat menamakan kain tenunan seperti itu dengan sebutan tais maran. itupun terbatas pada kaum yang sudah berumur. Mereka biasanya menari dalam upacara penghormatan jenazah dan upacara pelepasan arwah orang-orang yang dihormati. meliputi sinune.Busana Tradisional Tanimbar Tanimbar Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Wilayah Tanimbar sejak duhulu dikenal sebagai sentra pengrajin busana tradisional di Kabupaten Maluku Tenggara. serta lean. Busana adat wanita Tanimbar biasanya dipakai pada saat mereka menghadiri atau terlibat dalam penyelenggaraan upacara adat. pelepasan arwah. upacara-upacara gerejani. Saat menghadiri upacara-upacara tersebut. hitam kebiru-biruan. yakni sinune dan somalea. dan hitam. umumnya hampir tidak ada yang memakai perhiasan. yakni seperangkat busana terdiri atas kebaya dan kain tenun yang disebut tais matau atau tais wangin. yang berlengan pendek maupun panjang. ~ Kain tenun dengan warna dasar coklat melambangkan kedudukan pemakainya sebagai golongan bangsawan. keberadaan warna-warna tersebut memang memiliki makna tersendiri yang erat kaitannya dengan status sosial seseorang. yaitu hiasan dari cendrawasih yang telah dikeringkan dan menjadi hiasan yang diletakkan di kepala atau dahi. yakni untaian yang tergantung di belakang leher. . Mengingat saat ini sudah tidak ada lagi pengrajin yang membuat gelang-gelang besar seperti itu. Busana yang dipilih terdiri atas kutang liman malawan. dan lekbutir. mereka menyempurnakan penampilannya dengan mengenakan sejumlah asesoris yang khas.

Namun lebih dalam lagi. kebesaran. atau para tua adat. yakni untuk melindungi anggota tubuh dari berbagai keadaan cuaca yang tidak menguntungkan. kaum pria tidak mengenakan busana adat selengkap itu pada berbagai upacara keagamaan atau upacara adat. berhiaskan somalea. tutuban ulu melambangkan keberanian. Tidak lupa mereka pun menambahnya dengan berbagai kelengkapan busana lain yang sama khasnya dengan apa yang dikenakan oleh kaum wanita. tutuban ulu. prajurit. Kecuali bagi mereka yang memiliki tugas khusus. misalnya yang membacakan syair dalam upacara tersebut. dan keperkasaan seorang pemimpin. Mereka sudah merasa berbusana tradisional. pahlawan. atau ketua adat.Sementara itu. sinune. Kecenderungan yang tampak sekarang. Kelengkapan tersebut meliputi umpan. Melihat gambaran busana adat tradisonal masyarakat Tanimbar secara umum memang tidak hanya menampakkan fungsi alamiah semata. yakni selembar kain tenun yang diikatkan di pinggang. kain penutup kepala. . Selain itu kepada jenazah dalam upacara adat pelepasan jenazah biasanya dipakaikann busana tradisional secara lengkap. Konon pada masa lalu. mengandung makna simbolis tertentu yang barangkali saat ini sudah mulai terlupakan keberadaannya. busana adat pria Tanimbar terdiri atas celana panjang dan kemeja panjang. walaupun hanya dengan menambahkan umpan yang diikatkan di pinggang.

bercorak flora atau fauna dalam teknik ikat lungsi. Kain atau baju penutup badan terdiri atas labu bertangan panjang. coklat. jahitan dan ukiranukiran perangkat perhiasannya. Destar. Hitam misalnya biasanya dipakai untuk melayat orang meninggal. berwarna dasar gelap dengan paduan-paduan antara warna-warna merah. bergaris biru melintang. Labu wanita ini terbuka sedikit pada pangkal leher guna memudahkan pemakaian sebab polanya tidak menyerupai kemeja atau blus yang lazim berkancing pada bagian depannya. Pada tatacara berbusana tampak jelas bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok antara keturunan ningrat dan rakyat. Belanda. Utan lewak. ragi werung.Busana Tradisional Busana Tradisional Sikka Sikka Traditional Dress Penulis Biranul Anas Masyarakat Sikka atau suku Sikka. kebudayaan masyarakat Sikka mencerminkan adanya pengaruhpengaruh asing seperti Bugis. Diatas labu dikenakan dong. Perhiasan yang penting tetapi jarang dikenakan adalah keris yang disisipkan pada pinggang sebagai pertanda keperkasaan dan kesaktian. Istilah untuk sarung selain utan adalah lipa. biru dan kuning secara melintang. Namun dewasa ini hal tersebut sudah ditinggalkan. Merah dan coklat melambangkan keagungan dan status sosial yang . Cina. arti harfiahnya adalah kain tiga lembar. kuning atau merah. Dibidang agama tampak benar pengaruh Portugis dan Belanda yang membawa agama Katolik dan Protestan serta tatabusana barat yang dewasa ini sudah menjadi pakaian sehari-hari masyarakat. Dimasa lalu suku Sikka mengenal tingkatan sosial yakni bangsawan dan masyarakat umum. Walaupun demikian masyarakat Sikka tetap mampu mempertahankan ungkapan budaya tradisionalnya lewat busana serta tatariasnya. fauna dalam lajur-lajur bergaris. yakni pada pembagian bidang-bidang dan corak yang diilhami oleh kain patola. sejenis selendang yang diselempangkan melintang dada. Bagianbagian busana wanita Sikka terdiri atas penutup badan berupa labu liman berun. berbentuk mirip kemeja berlengan panjang terbuat dari sutera atau kain yang bagus mutunya. Tatawarna kain Sikka umumnya tampil dalam nada-nada gelap seperti hitam atau biru tua dengan ragi yang lebih cerah berwarna putih. biasanya berwarna putih mirip kemeja gaya barat. Busana Adat Pria Perangkat busana adat pria secara umum terdiri atas kain penutup badan dan penutup kepala. kecuali mungkin pada halus tidaknya tenunan. putih. Busana Adat Wanita Seperti halnya pada kaum pria. dihiasi dengan ragam-ragam flora. Portugis. busana adat wanita Sikka tidak (lagi) mengenal perbedaan strata sosial yang mencolok. Arab dan India. Dimasa lalu bangsawan memakai lipa dengan ragi yang masih baru. Seperti halnya dengan daerah-daerah lain di wilayah Nusa Tenggara Timur. Sedangkan pengaruh India amat nyata pula hasil tenunan. utan lewak. tutup kepala pria terbuat dari kain batik soga dan dikenakan dengan pola ikatan tertentu sehingga ujungujungnya turun menempel pada kedua sisi wajah dekat telinga. bahkan di. Pada bagian pinggang dikenakan utan atau utan werung yaitu sejenis sarung berwarna gelap. Selembar lensu sembar diselendangkan pada dada. mendiami daerah kabupaten Sikka di pulau Flores dengan kota terbesar sekaligus ibukota yaitu Maumere. Indonesia. Warna-warna kain wanita melambangkan berbagai suasana hati atau kekuatan-kekuatan magis. Kain sarung wanita.

apabila gelap mencerminkan duka. Perlambang warna dan cara-cara menyandang utan berlaku pula pada kaum pria Sikka. Penggunaanya disesuaikan dengan suasana peristiwa seperti upacara-upacara atau pesta-pesta adat. pesta dan sebagainya. Demikian pula hal dengan warna dong. Perhiasan pada rambut dewasa ini sudah amat bervariasi karena pengaruh-pengaruh dari sukusuku lainnya di Nusa Tenggara Timur. sedangkan warna-warna cerah digemari oleh kaum muda.tinggi. . Kaum berada atau ningrat biasanya mengenakan lebih banyak namun tetap dalam bilangan genap seperti enam. Pada pergelangan tangan dipakai kalar yang terbuat dari gading dan perak. Yakni dua atau empat gading dengan dua perak pada setiap tangan. sebaliknya warna-warna muda adalah untuk suasana suka ria. delapan dan seterusnya. Warna-warna yang gelap biasanya dipakai oleh orang tua. Jumlah kalar gading dan perak (atau emas) biasanya genap. Cara mengenakan utan selain sebagaimana tersebut di atas juga dengan menyampirkan sebagian pinggir kain di atas bahu dengan melintangkan tangan kanan (atau kiri sesuai pembawaan masing-masing) di bawah dada seperti hendak menjepit kain. Hiasan kepala tersemat pada sanggul atau konde dalam bentuk tusuk konde biasanya terbuat dari ukiran keemasan. Paduan warna juga menunjuk pada usia. Perhiasan lainnya adalah kilo yang tergantung pada telinga.

alam pikiran serta kepercayaan mendalam terhadap marapu. Dari kain-kain hinggi dan lau tersebut. Hinggi kombu dipakai pada pinggul dan diperkuat letaknya dengan sebuah ikat pinggang kulit yang lebar. Hinggi dan tiara terbuat dari tenunan dalam teknik ikat dan pahikung. pemuka agama (kabisu) dan rakyat jelata (ata) masih berlaku. upacara. Busana pria Sumba terdiri atas bagianbagian penutup kepala. Sebagai penutup badan digunakan dua lembar hinggi yaitu hinggi kombu dan hinggi kaworu. Busana pria Sebagaimana telah disebutkan busana masyarakat Sumba dewasa mi cenderung lebih ditekankan pada tingkat kepentingan serta suasana lingkungan suatu kejadian daripada hirarki status sosial. ular.Busana Tradisional Sumba Timur East Sumba Traditional Dress Penulis Biranul Anas Pulau Sumba didiami oleh suku Sumba dan terbagi atas dua kabupaten. Kesemuanya memiliki arti serta perlambang yang berangkat dari mitologi. burung. Sumba Barat dan Sumba Timur. ikan. Di kepala dililitkan tiara patang. mahkota dan singa. Jambul di depan misalnya melambangkan kebijaksanaan dan kemandirian. penyu. Jambul inilah dapat diletakkan di depan. udang. masih amat hidup ditengah-tengah masyarakat Sumba ash. upacara-upacara perkawinan dan kematian dimana komponenkomponen busana yang dipakai adalah buatan baru. ekonomi serta religi suku sumba. Marapu menjadi falsafah dasar bagi berbagai ungkapan budaya Sumba mulai dari upacara-upacara adat. samping kiri atau samping kanan sesuai dengan maksud perlambang yang ingin dikemukakan. Kepercayaan khas daerah Marapu. yang terbuat dalam teknik tenun ikat dan pahikung serta aplikasi muti dan hada terungkap berbagai perlambangan dalam konteks sosial. kuda. Khususnya yang terbuat dengan teknik pahikung disebut tiara pahudu. buaya. pesta-pesta dan sejenisnya. cumi-cumi. tetapi komponen serta tampak keseluruhannya sama. walaupun tidak setajam dimasa lalu dan jelas juga tidak pula tampak lagi secara nyata pada tata rias dan busananya. bendera tiga warna. Dewasa ini perbedaan pada busana lebih ditunjukkan oleh tingkat kepentingan peristiwa seperti pada pesta-pesta adat. Bagian terpenting dari perangkat pakaian adat Sumba terletak pada penutup badan berupa lembar-lembar besar kain hinggi untuk pria dan lau untuk wanita. sejenis penutup kepala dengan lilitan dan ikatan tertentu yang menampilkan jambul. rusa. Misalnya busana pria bangsawan biasanya terbuat dari kain-kain dan aksesoris yang lebih halus daripada kepunyaan rakyat jelata. Warna hinggi juga . penutup badan dan sejumlah penunjangnya berupa perhiasan dan senjata tajam. ayam. ragam-ragam hias ukiran-ukiran dan tekstil sampai dengan pembuatan perangkat busana seperti kain-kain hinggi dan lau serta perlengkapan perhiasan dan senjata. Masyarakat Sumba cukup mampu mempertahankan kebudayaan aslinya ditengah-tengah arus pengaruh asing yang telah singgah di kepulauan Nusa Tenggara Timur sejak dahulu kala. Ragam-ragam hias yang terdapat pada hinggi dan tiara terutama berkaitan dengan alam lingkungan mahluk hidup seperti abstraksi manusia (tengkorak). Namun masih ada perbedaan-perbedaan kecil. Di Sumba Timur strata sosial antara kaum bangsawan (maramba). Hinggi kaworu atau terkadang juga hinggi raukadama digunakan sebagai pelengkap. Karena pada saat-saat seperti itulah ia tampil dalam keadaan terbaiknya. Menilik halhal tersebut maka pembahasan busana pria sumba ditujukan pada pakaian tradisional yang dikenakan pada peristiwa besar. kerbau sampai dengan corak-corak yang dipengaruhi oleh kebudayaan asing (Cina dan Belanda) yakni naga. rumahrumah ibadat (umaratu) rumah-rumah adat dan tata cara rancang bangunnya. setengah dewa. Sedangkan busana lama atau usang biasanya dipakai di rumah atau untuk bekerja sehari-hari. setengah leluhur. naga.

mencerminkan nilai estetis dan status sosial. Selain itu manifestasi tradisi kebudayaan asli juga masih hidup dalam tatacara berpakaian khususnya dalam menghadapi pesta-pesta adat atau upacara-upacara penting lainnya. putih dan biru. Kainkain tersebut dikenakan sebagai sarung setinggi dada (lau pahudu kiku) dengan bagian bahu tertutup taba huku yang sewarna dengan sarung. Sebagian besar penduduknya dewasa ini pun memeluk agama Nasrani. Selanjutnya busana pria Sumba dilengkapi dengan sebilah kabiala yang disisipkan pada sebelah kiri ikat pinggang. pencipta mahluk hidup sumber segala yang ada. Hal ini tampak nyata pada ungkapan berbusana masyarakatnya yang sehari-hari memakai pakaian bergaya barat akibat pengaruhpengaruh asing yang masuk ke daerah tersebut sudah lama. lau pahudu. Hinggi terbaik adalah hinggi kombu kemudian hinggi kawaru lalu hinggi raukadana dan terakhir adalah hinggi panda paingu. muti salak menyatakan kemampuan ekonomi serta tingkat sosial. coklat. memanjang dalam paduan warna-warna jingga. Timor Traditional Dress Penulis Biranul Anas Amarasi termasuk ke dalam wilayah administrasi Kabupaten Kupang. Sedangkan pergelangan tangan kiri dipakai kanatar dan mutisalak. sedangkan di telinga tergantung mamuli perhiasan berupa kalung-kalung keemasan juga digunakan pada sekitar leher. Busana Adat Wanita Pakaian pesta dan upacara wanita Sumba Timur selalu melibatkan pilihan beberapa kain yang diberi nama sesuai dengan teknik pembuatannya seperti lau kaworu. Secara menyeluruh hiasan dan penunjang busana ini merupakan simbol kearifan. Bentuk-bentuk kepercayaan lokal masih mewarnai kehidupan sehari-hari seperti ritus-ritus penghormatan terhadap Usi Neno. Corak khas pada beti gaya Amarasi adalah dominasi warnawarna coklat dengan bidang tengah berwarna putih sebesar ± 3040 cm. Sedangkan kalung dileher terbuat dari logam dengan hiasan berbentuk lingkaran dari logam berukir bergaris tengah 10 cm. menjurai ke bagian dada. Demikian pula halnya perhiasan-perhiasan lainnya. Kabiala adalah lambang kejantanan. telinga. merah bata. dan po`uk. Po`uk sebesar ± 30 cm bercorak garis-garis. Suatu kebiasaan yang umum di Nusa Tenggara Timur khususnya Timor (dan Sumba) adalah disandangnya kapisak atau aluk yang terbuat dari anyaman-anyaman daun atau kain persegi empat dengan corak geometris dan muti sebagai . Namun hal-hal tersebut tidak menghilangkan tradisi untuk mengungkapkan ungkapan budaya asli mereka. wujud tertinggi penguasa jagad raya. dikenal dengan sebutan iteke. Kain-kain tenunan dalam teknik futus dan sotis dalam paduan warna-warna putih. Pada dahi disematkan perhiasan logam (emas atau sepuhan) yaitu maraga. Secara tradisional busana pria tidak menggunakan alas kaki. tangan dan pinggang diperagakan dengan keindahan yang amat mempesona pada peristiwa-peristiwa seperti tersebut di atas. Di kepala terikat tiara berwarna polos yang dilengkapi dengan hiduhai atau hai kara. Timor. Pakaian Adat Pria Secara mendasar pria mengenakan komponen-komponen busana yang sama dengan daerah-daerah lain di Nusa Tenggara Timur yaitu kain penutup badan yang terdiri atas beti atau taimuti. Masyarakat Amarasi merupakan bagian dari suku Dawan yang tersebar di seluruh kabupaten di Timor bagian barat. Busana Tradisional Amarasi. Sebagaimana dengan kebiasaan serta budaya yang ada pada daerahdaerah lain di Nusa Tenggara Timor pelapisan sosial kemasyarakatan yang dahulu kala amat kuat dianut. Di kepala dikenakan pilu dari batik. keperkasaan serta budi baik seseorang. lau mutikau dan lau pahudu kiku. Timor Amarasi. biru dan merah bata yang ditunjang oleh berbagai aksesoris di kepala. dewasa ini sudah jauh berkurang. namun dewasa ini perlengkapan tersebut semakin banyak digunakan khususnya didearah perkotaan.

perak. Di kepala terdapat seperangkat perhiasan yang tersemat pada sanggul yaitu kili noni dan tusuk-tusuk konde. Hiasan logam kening di dahi berbentuk bulan sabit. dalam membalas pihak lelaki.hiasannya. kejantanan serta kesucian bagi penyandangnya. gading dan manik-manik amat dihargai dan bernilai tinggi. Corak-coraknya berwarna meriah paduan jingga. sedangkan pinggang dililit oleh futi noni. berukiran dan terkenal dengan istilah pato eban. Emas. Di depan dada tergantung kalung dengan bentuk hiasan bulat dari logam (emas. Pertama adalah tais atau tarunat yang dipasang setinggi dada hingga mata kaki. Pakaian Adat Wanita Wanita Amarasi memakai dua lembar tenunan sebagai penutup badannya. Sebaliknya pun. Hakekat pemakaian busana dan perhiasan pelengkapnya di Nusa Tenggara Timur erat kaitannya dengan berbagai kefungsiannya dalam peri kehidupan penyandangnya. baik sebagai citra kehormatan diri maupun dalam konteks hubungan sosial kekeluargaan. Lembar kedua adalah selempang yang terikat di depan dada berbentuk huruf V dengan kedua ujungnya terletak di kedua bahu bagian belakang. Terkadang aluk juga sebagian berhiaskan ornamen perak. pihak wanita menyerahkan kain tenunan. . Corak tenunan menunjuk pada status sosial alam fikiran serta kepercayaan yang dianut. perak atau sepuhannya) yang disebut noni bena. Perhiasan dan bahanbahan pembuatnya selain mencerminkan status sosial juga menyatakan kemampuan ekonomi. Demikianlah oleh terbentuk dasar hubungan kekeluargaan yang erat dan saling mendukung dalam berbagai permasalahan kehidupan. Pakaian serta perhiasan dan perlengkapan busana pria ini oleh masyarakat setempat dianggap dapat memberikan sifat keagungan. kuning. Pergelangan tangan dihiasi dengan niti keke. Kedua telinga dihiasi falo noni. khususnya pada adat istiadat perkawinan dimana barang-barang tersebut merupakan mas kawin pihak lelaki kepada pihak perempuan. putih dan biru tua dalam lajur bergaris sempit yang dipadukan dengan corak-corak ikat putih berlatar hitam/biru tua.

ikat pinggang (gendit/pending) emas. kalung emas. . Mempelai wanitanya memakai tangkong (baju) semacam kebaya yang biasanya berwarna hitam polos. Para lelaki memakai kelambi (baju) model kemeja pria berlengan pendek atau panjang. Hiasan pelengkap penampilannya adalah kancing baju (buak tangkong) emas. tapi dalam perkembangannya ada yang diberi imbuhan hiasan pada pinggiran bajunya. meski tentu. masyarakat Sasak mengenakan busana yang khusus dirancang untuk keperluan tersebut.maka pemakainya akan ditimpa kemalangan. ali-ali (cincin). disebut bebet. gelang tangan (teken). ular naga. Untuk mengikuti acara adat. seperti yang telah disinggung di muka. Konon. memberikan nuansa pada tata cara berbusana adat keseharian suku Sasak. menghadiri perkawinan. dan teken nae (gelang kaki). tak menghilangkan identitas jatidirinya. Yang banyak dipakai adalah kain songket. Sebagai pakaian bawahya dipakai kain panjang yang disebut kereng. berfungsi seperti ikat pinggang. Busana bagian bawahnya adalah kemben (sarung) yang juga berwarna hitam dan pada bagian tertentu diberi hiasan motif flora. Kaum perempuan mengenakan lamung (baju) berwarna hitam yang modelnya relatif sederhana: selembar kain dilipat sehingga berbentuk segi empat lalu diberi "lubang leher" berbentuk segi tiga. Penahan kereng adalah lilitan kain. upacara kematian. misalnya saja kehilangan kewibawaan. Sebagai pelengkap penampilan dipakai aksesori berupa sengkang (anting-anting). Kain-kain tenun inilah yang digunakan sebagai busana adat. kerap muncul menjadi ragam hias yang artistik pada tenunan masyarakat Sasak. pengetahuan itu dibawa para pedagang Gujarat dari India. masyarakat Sasak. Busana Pengantin Sasak Yang akan diuraikan berikut ini adalah busana pengantin yang umum dikenakan oleh masyarakat Sasak. misalnya upacara potong gigi. dan gelang kaki (teken nae). burung. kesaktian. Corak hias pada kain untuk perempuan pun dibedakan dengan ragam hias kain bagi laki-laki. dinamai sapu. Dipadukan dengan kereng (kain panjang) yang dililitkan seputar pinggang. pada bentangan kain-kain tenunan mereka. Dan ketika keterampilan menenun semakin dikuasai. Busana Adat Sehari-hari Persentuhan dengan suku Bali yang datang sekitar abad XVI. panjangnya sebatas pinggang. biasanya berwarna hitam tapi tak jarang menggunakan kain batik. teken ima (gelang tangan). tokoh pewayangan. yang dieksplorasi dari kehidupan alam sekitar dan mitologi.Busana Tradisional Sasak Sasak Traditional Dress Penulis Aat Soeratin Diperkirakan sejak abad XIV masyarakat Sasak telah mengenal teknik menenun kain. sehari-hari maupun upacara. lalu terciptalah corak hias simbolik. dan semacamnya. Pada kening tersaput ikat kepala. Stilasi pohon mawar. Untuk memperkuat kemben dipakai sabuk anteng (ikat pinggang). dan pertemuan kedua sisinya dijahit sehingga hasil akhirnya menjadi semacam kebaya longgar berlengan pendek. estetika pun berkembang. memanjang hingga sebatas betis dan pada bagian muka ujung kain dibuat berlipat-lipat menjuntai hingga hampir menyentuh tanah. Bahkan kemudian ditumbuhkan kepercayaan jika kaum lelaki memakai kain dengan corak hias yang sesungguhnya diperuntukkan bagi kaum perempuan begitu pula sebaliknya .

Pengantin pria mengenakan kelambi dari bahan yang sama dengan mempelai wanita, bermodel jas tutup dengan potongan agak meruncing pada bagian bawah belakangnya, untuk mempermudah menyengkelitkan keris. Kereng (kain panjang) yang dipakai adalah songket dengan motif khas Lombok. Kemudian ditambahkan dodot (kampuh), kain yang biasanya bercorak sama dengan yang dipakai pengantin wanita. Kelengkapan lainnya adalah sapu (destar/ikat kepala) dari kain songket yang biasanya diberi tambahan hiasan keemasan yang diselipkan pada ikatan sapu bagian depan. Dan dari balik punggungnya, sedikit melewai bahu sebelah kanan, tersembul keris panjang.

Busana Tradisional Semawa dan Bima Semawa and Bima Traditional Dress Penulisi Aat Soeratin Masyarakat asli Pulau Sumbawa terkenal memiliki kain songket hasil keterampilan para penenun yang diperoleh akibat persentuhannya dengan kebudayaan masyarakat Bugis. Songket Sumbawa umumnya menggunakan benang emas, benang perak, juga benang katun. Yang kita kenal sebagai kain selungka, misalnya, adalah songket yang menggunakan benang emas dan perak, dan tampilannya menyiratkan pengaruh kebudayaan Bugis. Jenis lainnya, antara lain, kain tenun motif kotak-kotak yang disebut mbali pida, dan ^. Seperti halnya saudara mereka di Pulau Lombok, estetika masyarakat Sumbawa pun melahirkan corak hias simbolis, stilasi bentuk flora untuk kain perempuan dan penggayaan bentuk fauna atau manusia pada kain kaum lelaki. Kain songket inilah yang kemudian memberi aksentuasi yang khas pada pakaian adat masyarakat Sumbawa. Dalam kesehariannya kaum perempuan masyarakat Semawa mengenakan kain sarung bermotif kotak-kotak (tembe lompa) warna hitam dan merah. Bajunya disebut lamung pene, baju serupa kebaya polos sederhana, berlengan pendek. Para prianya memakai sarung pelekat, baju lengan panjang, dan berkopiah. Sedangkan para wanita masyarakat Bima dan Dompu memakai baju poro, baju polos tanpa hiasan, berkain sarung palekat yang ditenun dengan hiasan corak kota-kotak kecil. Terkadang mengenakan rimpu (kerudung penutup rambut). Adapun para lelakinya memakai sarung pelekat, disebut tembe ngguli, berkemeja lengan pendek atau panjang, dan kadangkala memakai ikat kepala yang dinamai sambolo songke. Akan tetapi, untuk acara-acara adat seperti upacara potong gigi, kematian, perkawinan, dan sebagainya, masyarakat Semawa pun masyarakat Bima merancang busana adat tersendiri. Busana Adat Suku Semawa

Busana adat masyarakat Semawa, dulu, biasanya dikenakan saat mengikuti pelbagai upacara tradisional seperti upacara turun tanah bagi balita yang diharapkan segera bisa berjalan; tradisi potong gigi; naik dewasa (inisiasi) untuk remaja yang memasuki masa akil balig; upacara adat eneng hujan (memohon hujan); dan sebagainya. Sekarang, upacara-upacara tersebut masih dilakukan dan pakaian adat pun masih dikenakan para peserta upacara meski tak seketat kebiasaan masa lalu. Lamung pene adalah sebutan untuk baju adat kaum perempuan, semacam kebaya berlengan pendek dari kain halus. Paduannya adalah kre alang, kain sarung songket yang dipakai sebatas mata kaki dan ikat pinggang (pending) perak. Pada bahu kiri disampirkan sapu to`a, sejenis sapu tangan dan aksesorinya berupa kalung leher, bengkar troweh (hiasan telinga), gelang tangan. Dan para gadis yang belum menikah biasanya memakai kerudung. Kaum prianya memakai lamung seperti jas tutup berlengan panjang, saluar belo (celana panjang) polos tanpa hiasan, ditambah pabasa alang, semacam selendang songket berukuran agak lebar ketimbang selendang biasa, yang difungsikan sebagai dodot. Dan ikat kepala, yang disebut sapu, dibuat dari tenunan benang katun bermotif kotak-kotak. Buhul ikatan sapu pada kening ada di bagian belakang kepala sedangkan untuk bagian depan kepala sudut sapu dipasang tegak sehingga tampak tinggi dan meruncing.

Busana Pengantin Suku Semawa Mempelai wanita dari golongan bangsawan mengenakan busana adat berupa lamung (baju) lengan pendek bermodel baju bodo Sulawesi dari kain halus dan berhiaskan sulaman benang emas berbentuk cepa (bunga) hampir di seluruh bidang baju. Pada bahu sebelah kiri disampirkan kida sanging, semacam saputangan yang diberi hiasan motif dedaunan dari benang perak atau emas. Pakaian Bawahnya tope belo (rok panjang) dan tope pene (rok pendek), juga berhiaskan cepa, yang dipakai secara bertumpuk. Aksesori lainnya adalah sua`, hiasan kepala dilengkapi kembang goyang. Sanggul rambutnya disebut puyung lakang. Dan perhiasan yang dipakai berupa gelang tangan bernama ponto atau kelaru, kalung, anting-anting, dan hiasan kuku ibu jari tangan kiri dari emas yang dibentuk seperti kuku panjang, yang disebut sisin kuku. Kakinya beralaskan selop. Pengantin prianya memakai gadu, baju berlengan panjang warna hitam berhiaskan cepa emas. Simbangan adalah selempang kain yang disilangkan di atas baju, terbuat dari kain merah diberi hiasan motif bunga. Pakaian bawahnya saluar celana panjang berwarna hitam dengan aplikasi hias pada pinggiran kaki celananya. Ditambah tope, semacam rok dari kain halus berwarna merah berhiaskan cepa emas yang agak besar. Ikat pinggang (pending) emas dikenakan untuk menahan tope. Kepalanya bertutup mahkota yang dibuat dari kain yang dilipat-lipat, dibentuk seperti kipas, berhiaskan cepa emas sehingga tampil sangat artistik. Mahkota itu disebut pasigar. Dan keris disengkelitkan pada pending, disimpan di bagian muka badan.

Busana Adat Suku Bima Untuk menghadiri upacara adat inisiasi, potong gisi, kematian, perkawinan, dan sebagainya, kaum wanita masyarakat Bima mengenakan busana adat yang selengkapnya terdiri dari baju, kain panjang, berbagai aksesori, dan alas kaki. Bajunya disebut baju poro yang dibuat dari kain tipis namun tidak tembus pandang, biasanya berwarna hitam, biru tua, coklat tua, ungu. Bersarung pelekat, tembe kafa, corak mbali pida hingga menutup mata kaki. Aksesorinya berupa gelang tangan, anting-anting, dan semacamnya, namun tidak boleh berlebihan. Kaum prianya memakai kemeja lengan pendek atau model jas tutup berlengan panjang berwarna hitam, putih, atau warna-warna cerah lainnya. Bersarung pelekat tembe kafa mbali pida, dipinggangnya dililitkan salampe berwarna dasar putih, kuning, merah, atau hijau. Dan lelaki dewasa biasanya menyengkelitkan pisau mone (pisau khas Bima), pada salampe, di bagian depan badan.

Busana Pengantin Suku Bima Pakaian pengantin yang banyak dipakai masyarakat Bima sekarang adalah jenis busana tradisional yang dulu hanya untuk golongan bangsawan dan golongan menengah saja. Busana pengantin golongan menengah dan golongan bangsawan Bima pada dasarnya hampir tidak berbeda. Hanya saja kelengkapan busana atau aksesori yang dipakai pengantin dari golongan menengah relatif lebih sedikit, sehingga tampil lebih sederhana. Berikut ini uraian serba singkat mengenai busana tradisional pengantin golongan bangsawan Suku Bima. Mempelai wanitanya mengenakan baju poro rante yang dibuat dari kain halus berwarna merah dengan taburan cepa benang emas di seluruh permukaan baju dan memakai tembe songke, sarung songket. Selepe, ikat pinggangnya, berwarna keemasan. Tangan kanannya memegang pasapu (saputangan) dari kain sutra bersulamkan benang perak. Rambutnya disanggul, diberi hiasan unik yang dinamai karaba. Karaba dibuat dari gabah (bulir padi yang belum dikelupas kulitnya) yang digoreng tanpa minyak sehingga mekar dan nampak warna putih berasnya secara dominan. Karaba ini kemudian ditempelkan pada rambut dengan perekat malam atau lilin hingga warna putihnya nampak mencolok di atas hitamnya rambut. Tataan rambut berhiaskan karaba ini disebut wange. Sedangkan aksesori lainnya juga berwarna keemasan berupa bangka dondo (anting-anting panjang), dan ponto (gelang tangan). Pengantin pria memakai pasangi yaitu baju dan celana yang terbuat dari kain yang sama, yang berhiaskan cepa dan sulaman benang emas. Kemudian siki, sebutan untuk kain songket (tembe songke), dipakai, seperti memakai sarung, sebatas lutut. Penahan siki adalah baba, kain berukuran lebih lebar ketimbang ikat pinggang biasa, yang juga berfungsi untuk menyelipkan keris. Di atas baba dilingkarkan selepe mone, ikat pinggang dari logam keemasan. Keris yang pada hulunya diikatkan saputangan berhiaskan sulaman benang perak, seperti ditulis di muka, diselipkan pada baba. Baju pengantin laki-laki lainnya adalah karoro, semacam jubah hitam dihiasi cepa berwarna keemasan. Mahkotanya disebut siga (sama dengan pasigar, mahkota pengantin pria Semawa) Namun ada tata cara yang agak khusus untuk pemakaian karoro Yakni mempelai pria tidak boleh memakai karoro sekaligus dengan siki. Karoro biasanya hanya dimiliki oleh sultan atau para petinggi Kesultanan Bima.

ada beberapa ciri. Bantaeng. penjemputan tamu. Bahan untuk jas tutu biasanya tebal dan berwarna biru atau coklat tua. atau hari-hari besar adat lainnya. baik untuk jas tutu maupun baju bella dada. pasapu guru sebutannya. Melihat kebiasaan mereka dalam berbusana. bahkan juga status sosial pemakainya di dalam masyarakat. Adapun bahan baju bella dada tampak lebih tipis. busana yang dipakai tidak lagi melambangkan suatu kedudukan sosial seseorang. dan Kepulauan selayar. Yang dimaksud dengan busana adat di sini adalah pakaian berikut aksesori yang dikenakan dalam berbagai upacara adat seperti perkawinan. Namun jika keadaan sebaliknya atau tutup kepala tidak berhias benang emas. yakni lapisan orang merdeka atau masyarakat kebanyakan. berdasarkan jenis kelamin pemakainya. busana adat orang Makasar dapat menunjukkan status perkawinan. Hal itu disebabkan masyarakat Makasar terbagi atas tiga lapisan sosial. Gambaran model tersebut sama untuk kedua jenis baju pria. Pemakaian tutup kepala pada busana pria mempunyai makna-makna dan simbol-simbol tertentu yang melambangkan satus sosial pemakainya. yakni lapisan yang ditempati oleh kerabat raja dan bangsawan. keberadaan dan pemakaian busana adat pada suatu upacara tertentu akan melambangkan keagungan upacara itu sendiri. dan yang melanggar adat. dan atu atau golongan para budak. celana atau paroci. Masing-masing busana tersebut memiliki karakteristik tersendiri. busana adat pria dengan baju bella dada dan jas tutunya sedangkan busana adat wanita dengan baju bodo dan baju labbunya. Gowa. kain sarung atau lipa garusuk. serta diberi kancing yang terbuat dari emas atau perak dan dipasang pada leher baju. Pada masa dulu. dan hijau. . sebenarnya dapat dikatakan bahwa busana adat Makasar menunjukkan kemiripan dengan busana yang biasa dipakai oleh orang Bugis. yang mengenakan pasapu guru adalah mereka yang berstatus sebagai guru di kampung. Maros. yaitu berasal dari kain lipa sabbe atau lipa garusuk yang polos. Biasanya. Bila tutup kepala pada busana adat pria Makasar dihiasi dengan benang emas. busana adat merupakan salah satu aspek yang cukup penting. Sementara itu. Jeneponto. tetapi juga sebagai kelengkapan suatu upacara adat. bahan yang biasa digunakan berasal dari kain pasapu yang terbuat dari serat daun lontar yang dianyam. Pangkajene. dan tutup kepala atau passapu. tidak mampu membayar utang. Ketiga strata sosial tersebut adalah ono karaeng. berwarna terang dan mencolok seperti merah. Bukan saja berfungsi sebagai penghias tubuh. Hanya dalam hal warna dan bahan yang dipakai terdapat perbedaan di antara keduanya. masyarakat menyebutnya mbiring. busana yang khas milik pendukung kebudayaan Makasar dan tidak dapat disamakan dengan busana milik masyarakat Bugis. Meskipun demikian. busana adat Makasar tentu saja dapat dibedakan atas busana pria dan busana wanita. Pada dasarnya. Baju yang dikenakan pada tubuh bagian atas berbentuk jas tutup atau jas tutu dan baju belah dada atau bella dada. bentuk maupun corak. leher berkrah. Busana adat pria Makasar terdiri atas baju. Dalam kebudayaan Makasar. melainkan lebih menunjukkan selera pemakainya. Namun dewasa ini. saku di kanan dan kiri baju. yakni lapisan orangorang yang kalah dalam peperangan.Busana Tradisional Makassar Makassar Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Di wilayah Sulawesi Selatan suku bangsa Makasar menempati daerah Kabupaten Takalar. Khusus untuk tutup kepala. Model baju yang tampak adalah berlengan panjang. tu maradeka.

berwarna tua dengan corak bunga-bunga. dikenal dengan sebutan pasattimpo atau tatarapeng. busana adat wanita Makasar terdiri atas baju dan sarung atau lipa. dan hiasan pada penutup kepala atau sigarak. dan pada bagian atas dilubangi untuk memasukkan kepala yang sekaligus juga merupakan leher baju. Jenis keris ini merupakan benda pusaka yang dikeramatkan oleh pemiliknya. gelang. Agar keris tidak mudah lepas dan tetap pada tempatnya. bahkan dapat digantungi sejenis jimat yang disebut maili. dengan hiasan motif kecilkecil yang disebut corak cadii. Adapun gelang yang menjadi perhiasan para pria Makasar. Bahan dasar yang kerap digunakan untuk membuat baju labbu seperti itu adalah kain sutera tipis. warna dasar sarung Makasar adalah hitam. Ada dua jenis baju yang biasa dikenakan oleh kaum wanita. maka diberi pengikat yang disebut talibannang. biasanya berbentuk ular naga dan terbuat dari emas atau disebut ponto naga. Baju bodo berbentuk segi empat. tampak jelas pada seorang pria yang sedang melangsungkan upacara pernikahan. Sama halnya dengan pria. sisi samping kain dijahit. dan anting panjang (bangkarak). Kaum wanita dari berbagai kalangan manapun bisa mengenakan baju labbu. Penggunaan busana adat wanita Makasar yang lengkap dengan berbagai aksesorinya terlihat pada busana pengantin wanita. sapu tangan berhias atau passapu ambara. biasanya berbentuk baju kurung berlengan panjang dan ketat mulai dari siku sampai pergelangan tangan. yang terbuat dari benang biasa atau lipa garusuk maupun kain sarung sutera atau lipa sabbe dengan warna dan corak yang beragam. hanya saja perhiasan yang dikenakannya tidak selengkap itu. dan berbagai aksesori lainnya. yakni baju bodo dan baju labbu dengan kekhasannya tersendiri. Lebih tepatnya dikenakan sebagai busana pengantin pria. atau biru tua. tidak berlengan. Pasangan baju bodo dan baju labbu adalah kain sarung atau lipa. wanita makasar pun memakai berbagai perhiasan untuk melengkapi tampilan busana yang dikenakannya Unsur perhiasan yang terdapat di kepala adalah mahkota (saloko). Adapun baju labbu atau disebut juga baju bodo panjang. kalung panjang (rantekote). coklat tua. Sementara itu. Begitu pula halnya dengan para pengiring pengantin. . Perhiasan di leher antara lain kalung berantai (geno ma`bule). Namun pada umumnya. sanggul berhiaskan bunga dengan tangkainya (pinang goyang). Keris yang senantiasa digunakan adalah keris dengan kepala dan sarung yang terbuat dari emas.Kelengkapan busana adat pria Makasar yang tidak pernah lupa untuk dikenakan adalah perhiasan seperti keris. dan kalung besar (geno sibatu). selempang atau rante sembang. Gambaran busana adat pria Makasar lengkap dengan semua jenis perhiasan seperti itu.

Untuk tata rias rambut dan kepala. tua maupun muda. menggunakan alas kaki berupa selop atau sepatu . Bajunya kebaya pendek berlengan tiga oerempat. dengan ukuran panjang melampaui pinggul atau kurang lebih lima centimeter di bawah pusar. Untuk wanita yang usianya agak tua. menggunakan giwang emas berukuran besar dan di antara lubang telinga dengan giwang diselipkan sejumput kapas putih. Jadi tidak mengherankan apabila masyarakat suku bangsa Mandar mempunyai tradisi berbusana yang sangat indah dan mencerminkan kebesaran suku ini di masa silam. kalung emas yang berjuntai agak panjang. Masyarakat Mandar sangat membedakan busana untuk anak-anak. rambut ditata dengan model sasak sedikit tinggi (sigara). berhias tusuk konde dan di bagian pelipis kanan diselipkan serangkaian kembang goyang berwarna emas. Salah satu contoh yang tetap bertahan hingga kini antara lain adalah tata cara berbusana. Tali ikat dari kain yang berfungsi untuk mengencangkan lilitan sarung. kipas dan berbagai perhiasan dari emas. masyarakat Mandar sangat memperhatikan ketentuan adat dan tradisi yang telah dijalani selama berabad-abad lamanya. remaja dan orang tua. kabupaten Majenen dan kabupaten Polewali Mamasa (Polmas). Ciri khas sarung tenun Mandar adalah motif kotak-kotak besar dan kecil dengan hiasan warna emas pada garisgarisnya. Majeng. wanita Mandar membuat sanggul yang letaknya agak rendah dengan hiasan tusuk sanggul emas dan kembang goyang. Pembauang dan Cenrana di pantai utara Teluk Mandar. wanita Mandar akan mengenakan sarung sutera berwarna hitam atau putih. kemudian ditutup dengan pending yang terbuat dari logam berwarna emas dengan gesper berhias di bagian depan. serta wilayah di bagian utara Selat Makassar. terbuat dari bahan sutera atau kain halus lain tetapi tidak tembus pandang. dengan hiasan liontin atau medalion besar. begitu pula busana rakyat biasa dengan kalangan bangsawan akan berbeda. adapun wanita muda umumnya lebih menyukai anting-anting yang berderet-deret dan menjuntai di kedua telinganya. Menurut catatan sejarah. Gelang berukuran besar yang dipakai masing-masing lima buah di tangan kanan maupun di tangan kiri. tata rias rambut dan kepala akan ditambah dengan beberapa aksesori seperti. pada abad ke-XV wilayah Mandar ini meliputi Kerajaan Balanipa. Ada pula sanggul agak rendah. wanita Mandar pada umumnya mengenakan perhiasan meliputi. Orang-orang Mandar menempati wilayah administratif kabupaten Mamuju. dan mempunyai peranan sama pentingnya dengan tiga suku bangsa lainnya yaitu Bugis. Dalam kesempatan menghadiri upacara adat. Dalam kehidupan sosialnya. Makassar dan Toraja. setelah mengencangkan lilitan sarung dengan tali kain. Dalam berbusana . Namun dalam keadaan yang lebih resmi. Hiasan yang mempercantik penampilan adalah penambahan kepingankepingan logam warna emas di seluruh pinggiran kebaya atau kepingan-kepingan bulat di seluruh permukaan kebaya. Sederet bunga serampa dan bunga seruni menghiasi seputar sanggul.Busana Tradisional Busana Tradisional Mandar Mandar Traditional Dress Penulis Siti Dloyana Kusumah Suku Bangsa Mandar terbilang penduduk asal di propinsi Sulawesi Selatan. Pada bagian pinggang. Semua kalangan masyarakat Mandar. Kelengkapan busana lainnya adalah penggunaan sehelai selendang tipis yang ujung-ujungnya dihiasi dengan bundaran-bundaran emas atau perak.

Paduannya kain sarung tenun Mandar atau seringkali ada yang memakai celana panjang kemuidian ditutup dengan sarung hingga sebatas lutut. Sementara itu. Bagaimana pun juga busana merupakan salah satu kelengkapan yang cukup penting dalam penyelenggaraan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan tradisi. Busana Tradisional Tana Toraja Tana Toraja Traditional Dress Penulis Mira Indiwara Pakan. busana misalnya. . yakni pelaksanaan upacara adat yang erat kaitannya dengan suasana kegembiraan atau memiliki makna kebahagiaan. Ketentuan adat di Toraja membedakan dua suasana yang menyertai penyelenggaraan berbagai upacara adat. Busana yang dikenakan oleh warga masyarakat Toraja dalam berbagai kesempatan. Pria Mandar melengkapi busananya dengan melekatkan rantai emas yang diberi liontin atau medalion dari taring macan bahkan bisa juga terbuat dari taji ayam. pria Mandar menggunakan kopiah atau lazim disebut songkok tobone dengan warna yang serasi antara baju bagian atas dengan jas atau sarungnya.pantovel berwarna hitam. Pertama adalah yang berdasarkan adat rambu tuka. Hanya saja hal penting yang memberi nuansa pada karakteristik busana tersebut adalah berkaitan dengan tujuan atau makna acaranya. yakni busana pria dan busana wanita. berdasarkan adat rambu solo. Pada kesempatan seperti itu. Hiasan tersebut diselipkan sebagian di saku jas tutupnya dan sebagian lagi dibiarkan menjuntai ke luar. Sebagai kelompok masyarakat yang cukup konsisten dalam memelihara dan mempertahankan adat istiadat warisan nenek moyang mereka. Alas kaki yang dipakai biasanya sepatu pantovel atau sandal yang dibuat dari kulit. Misalnya dalam upacara panen padi. Tana Toraja yang menjadi tempat menetap sebagian besar suku tersebut. Busana pria Mandar lebih sederhana karena hanya terdiri dari baju jas tutup terbuat dari bahan sutera bercorak bebas dengan warna hitam atau warna cerah. busana yang dikenakan akan tampil warna-warni. memasuki rumah baru. dengan kekuatan tradisi dan adat istiadat sebagai daya tarik utamanya. Untuk penututp kepala. tentu saja tidaklah heran bila hingga saat ini mereka masih tetap menyelenggarakan berbagai upacara adat dan tradisi lainnya. aktivitas sosial dan stratifikasi sosial. secara tidak langsung juga dapat mempertahankan keberadaan berbagai aspek yang terkait erat di dalamnya. tercatat sebagai tempat tujuan wisata budaya yang memiliki keunikan tersendiri. pada dasarnya dapat dibedakan ke dalam dua jenis. Dengan tetap memelihara adat istiadat seperti itu. Ria Andayani Somantri Toraja merupakan salah satu suku bangsa terbesar yang menempati kawasan Provinsi Sulawesi Selatan. mulai dari aktivitas seharihari hingga yang bersifat ritual. dan upacara pernikahan. terutama menggunakan warna kuning sebagai warna dasarnya.

upacara-upacara yang diadakan memiliki makna kesedihan. lengan. yaitu tutup kepala dari jenis tanaman tertentu yang dikenakan oleh para orang tua atau orang yang telah dewasa. yakni sarung berwarna putih yang hanya dapat dipergunakan oleh kaum pria yang menempati kedudukan sosial tinggi. seperti yang terlihat pada penyelenggaraan upacara kematian dikenakan busana serba hitam. dan tali banu . dan pa`toko. yakni semacam tutup kepala yang terbuat dari kulit bambu dan dipakai oleh anak muda. yakni ikat kepala. tali-tali biang. Passapu. yaitu hiasan pada sanggul. tutup kepala. Sementara itu. dalam acara adat orang meninggal. Bila baju tersebut berlengan pendek maka dinamakan kondi limanan. perak. tas pinggang yang berfungsi sebagai ikat pinggang tempat menaruh pedang atu parang. Untuk bekerja menggunakan celana pendek dan untuk kesempatan resmi memakai celana panjang. jenisnya dapat dibedakan menurut aktivitasnya. Penggunaan semua jenis baju yang telah disebutkan tadi. yang khusus digunakan pada saat bekerja. atau hanya disampirkan di bahu. terutama digunakan pada acara-acara yang bersifat resmi seperti pertemuan dan pesta. Selain itu. rara. atau pakaian pesta. dengan perbedaan hanya terletak pada kualitas bahannya. bahu. keberadaan tutup kepala pun beragam pula jenisnya dan berbeda pula peruntukannya. adalah tutup kepala yang terbuat dari kain batik dan hanya digunakan oleh golongan bangsawan. biasanya disertai dengan sarung yang dinamakan dodo. diikatkan di pinggang atau. Celana yang dipakai oleh kaum pria. Pertama bayu poko. Perhiasan dari manik-manik yang dipakai di bahu disebut sokong bayu. yaitu baju dengan bentuk lengan yang sangat ketat atau pas menempel di tangan serta tingginya di atas sikut. Beberapa contoh asesoris yang terletak di kepala di antaranya sa`pi. Selain memperlihatkan fungsi estetis. Cara mengenakan sarung-sarung tersebut cukup beragam. yang bisa dikenakan oleh siapa pun disebut pote. yaitu keris yang dibawa pada waktu mereka akan menikah. Sementara itu. yaitu jenis baju yang biasa digunakan oleh wanita tua pada saat cuaca sedang dingin. Bahkan akan disebut busana adat resmi para bangsawan Toraja. Perhiasan dan kelengkapan busana lainnya yang dipakai oleh para pria Toraja meliputi manik kata dan rara atau perhiasan sejenis kalung. oran-oran atau kalung berbentuk batang padi yang terbuat dari logam dan manik-manik. sepu. Kedua jenis tutup kepala yang disebutkan terakhir pun hanya dikenakan oleh mereka yang termasuk ke dalam lapisan atas. Sama halnya dengan sarung. Selain itu. Secara umum. dan sarung atau dodo untuk bagian bawahnya. khususnya para sesepuh masyarakat. Terbukti dari beragamnya aksesori yang biasa dikenakan oleh mereka. yang disebut sambuk langkan. dan yang diletakkan di pinggang dinamakan ambero. Ikat kepala ini biasanya dipakai oleh kaum pria dari keluarga yang sedang berkabung. bila penampilannya dilengkapi dengan jas hitam dan destar atau tutup kepala. dan passapo timbo. baju wanita dibedakan ke dalam tiga model. manik kata. mulai dari hiasan di kepala. bisa dibiarkan terjurai hingga mata kaki. yakni tas kecil untuk menyimpan sirih. ada kalanya unsur perhiasan yang dikenakan oleh mereka pun memiliki makna simbolis tertentu. seperti di sawah dan membangun rumah. Kedua bayu bussuk siku. tali pang`kabi. sebagai bagian integral dari busana adat pria. busana adat pria Toraja terdiri atas baju atau bayu. Baju tersebut dikenakan sebagai pakaian sehari-hari. Ketiga adalah bayu kalandon limanan. yakni baju berlengan sangat pendek hingga mendekati bahu pemakainya dan dipakai untuk bekerja di dapur atau di sawah. hingga jari jemari. yakni kalung yang terbuat dari emas. Adapun jika berlengan panjang disebut kalando limanan. busana adat wanita Toraja terdiri atas baju atau bayu untuk bagian atasnya. pinggang. ada juga sarung yang hanya berfungsi sebagai penghangat badan. celana atau sepa tallu buku. Cara memakai sarung untuk kaum wanita pun sangat sederhana. Sarung. Perhiasan di leher meliputi beraneka macam kalung seperti rnastura. Misalnya sambuk busa. dan sarung atau sambuk. hanya dengan cara melipatnya dari sebelah kiri ke sebelah kanan. Baju yang dikenakan oleh kaum pria Toraja dapat dibedakan ke dalam dua model. atau tembaga dan. berhubungan erat dengan kedudukan sosial seseorang di dalam lingkungan masyarakatnya. Kaum wanita Toraja tampaknya cukup gandrung mengenakan perhiasan untuk menambah keindahan penampilan mereka dalam berbusana. yakni . Aksesori di lengan terdiri atas gelang atau komba dalam berbagai bentuk dan cincin. leher. ada juga tas kecil atau sepu. Berdasarkan fungsinya. dan sarong atau tudung kepala. pakaian resmi.

Busana Tradisional Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Busana adat tradisional daerah Bolaang Mongondow. tampak jelas antara lain pada busana warga masyarakat daerah Bolaang Mongondow yang dikenakan pada kesempatan-kesempatan tertentu. Hal ini dikarenakan kegiatan sosial mereka yang sarat dengan acaraacara seremonial. Aktualisasi dari semua itu. mulai dari golongan rakyat biasa hingga kaum bangsawan yang menempati kedudukan paling tinggi di dalam masyarakat. Secara historis wilayah ini terbentuk dari penggabungan empat kerajaan yang hidup pada masa penjajahan Belanda. Bintauna. atau busana yang khusus digunakan untuk bekerja. Pada masa itu. busana bayi. Busana yang pada umumnya dikenakan oleh kaum bangsawan terlihat lebih beragam bila dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. tidaklah heran bila busana adat mereka relatif lebih banyak karena setiap lapisan masyarakat memiliki busana tersendiri. merupakan kelengkapan busana yang harus dibawa pada saat seorang wanita menikah.tempat menyimpan peralatan menginang yang biasanya digantungkan di bahu. ketentuan adat mengatur setiap anggota masyarakat agar menggunakan busana sesuai dengan kedudukan nya. Beberapa contoh di antaranya adalah busana kebesaran raja atau busana yang dipakai oleh golongan bangsawan pada saat berlangsung upacara penobatan raja. Keempat kerajaan tersebut terdiri atas Kerajaan Bolaang Mongondow. dan Kerajaan Kaidipang Besar. yang berhubungan dengan kegiatan kerajaan maupun yang berkaitan dengan upacara di seputar lingkaran hidup mereka. menghadiri undangan-undangan resmi. menerima tamu-tamu kerajaan. busana . sangat erat kaitannya dengan latar belakang kehidupan masyarakat pada masa lalu. Struktur masyarakat dengan kehidupan bernuansa kerajaan pada waktu itu. Masyarakat terbagi ke dalam beberapa lapisan sosial. Adapun keris atau gayang. Bolaang Uki. atau yang kini lebih dikenal sebagai busana adat tradisional mereka. melahirkan stratifikasi sosial yang tegas. Oleh karena itu.

Kesederhanaan tersebut tampak dari kulitas bahan yang dipakai. busana adat tradisional kaum bangsawan tampil dengan satu citra tersendiri. yaitu busana yang khusus digunakan oleh warga masyarakat yang termasuk ke dalam golongan pendamping pemerintah dalam kerajaan. informasi di balik keberadaan busana tersebut memang selayaknya tidak sirna. mereka yang termasuk ke dalam lapisan kohongian atau golongan simpal tidak mengenakan perhiasan yang terbuat dari emas melainkan perhiasan perak. Ada . Adapun busana yang biasa dikenakan oleh anggota masyarakat di luar golongan bangsawan. serta aksesorinya. ada beberapa contoh busana adat lainnya yang dipakai oleh mereka yang berasal dari golongan di luar bangsawan. Pemilihan dan penentuan unsur berikut kelengkapan busana adat tradisional daerah tersebut. Dalam hal ini. busana simpal. Melihat wujud busana adat tradsional daerah Bolaang Mongondow. Salah satunya tampak pada busana kebesaran raja berikut busana pengantinnya. Meskipun saat ini pemahaman warga masyarakat Bolaang Mongondow terhadap fungsi busana adat tradisional mereka tidak setegas dahulu. baju atau baniang. yakni busana berwarna hitam yang dikenakan pada waktu menghadiri upacara kematian. Sama pula halnya dengan aksesorinya yang demikian lengkap. Selain itu. ketinggian ikat kepala akan lebih rendah daripada ikat kepala yang dipakai oleh kaum bangsawan. Keberanian dalam memilih warna-warna busana yang terang dan mencolok seperti merah. Sementara itu. ada juga busana rakyat biasa yang kerapkali tampak pada saat melakukan panen padi. Akan tetapi. Selain busana kebesaran seperti itu. ungu. Khusus mengenai perhiasan. Secara umum. serta kualitas bahan yang digunakan. Sedangkan menurut asal-usulnya. busana yang dikenakan oleh kaum wanita terdiri atas kain dan kebaya atau salu. Busana kerja guha-ngea. yaitu busana kerja para pemangku adat yang dipakai pada saat berlangsung upacara-upacara kerajaan. tepatnya digunakan pada upacara perkawinan. kelengkapan aksesori yang menempel pada tubuh. pengantin wanita maupun pengantin pria. tampak pengaruh Melayu begitu kental dan dominan mewarnai tampilannya. Beberapa di antaranya berkaitan dengan sistem kepercayaan. terdapat berbagai perbedaan pendapat mengenai hal tersebut. Kekhasan lain yang tampak istimewa terletak pada ikat kepala pria yang menjulang tinggi. serta kualitas bahan yang paling baik. Misalnya. Dalam hal ini. busana simpal pun dikenakan pada upacara perkawinan. celana dan sarung tenun. tentu saja tampilannya berbeda dengan busana milik para bangsawan. sistem religi. Detil yang tampak pada busana mereka memang lebih banyak bila dibandingkan dengan busana dari kelompok masyarakt lainnya. pemilihan warna sangat dominan untuk mengekspresikan emosi mereka pada saat-saat seperti itu. keemaasan. nama Sangir-Talaud secara keseluruhan berarti orang yang berasal dari laut atau samudra. busana adat yang dikenakan oleh kaum bangsawan maupun golongan masyarakat lainnya tampak serupa. atau bahkan berhubungan erat dengan sejumlah fenomena sosial pada masa itu. dan busana yang dikenakan pada saat upacara kehamilan dan kematian. Busana Tradisional Sangir-Talaud Sangir-Talaud Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Menurut asal katanya. juga ada larangan untuk mengenakan berbagai perhiasan jenis apa pun. tidak diragukan lagi melahirkan satu sosok busana yang cukup indah dan menawan. detil busana. para bangsawan pun memiliki busana kedukaan.pengantin. Hal tersebut terletak pada detil pakaian. Pada umumnya. Semakin rendah status seseorang di dalam tingkatan sosial masyarakatnya. yakni busana yang pada masa itu dikenakan oleh anggota masyarakat yang menempati status sosial satu tingkat di bawah kaum bangsawan. Di samping itu. Dalam hal ikat kepala pria misalnya. seakan ingin mengukuhkan kedudukan mereka yang menempati tingkatan sosial tertinggi. kuning. busana kohongian. Bahkan akan jauh lebih sederhana lagi pada busana adat yang boleh dikenakan oleh rakyat biasa. memang tidak terlepas dari simbolisasi sebuah makna yang ingin disampaikan. ada bagian busana yang dapat membedakan kedudukan seseorang. Sama halnya dengan busana kohongian. dan hijau dipadu dengan aksesori yang terbuat dari emas. sedangkan busana kaum prianya meliputi ikat kepala atau mangilenso. semakin sederhana pula busana yang mereka miliki.

dengan celana panjang sebagai penutup pada bagian bawahnya. ikat pinggang. Untuk kaum wanita panjangnya bisa mencapai betis. kekhasan lainnya juga tampak pada kelengkapan busana yang dikenakan pada upacaraupacara ritual maupun formal lainnya. gelang. di kanan kiri baju terdapat belahan yang tingginya mencapai pinggul. celana panjang. ada beberapa contoh ikat kepala yang melambangkan status sosial pemakainya seperti paporong lingkaheng yang melambangkan pemakainya tidak . Kelengkapan buasana lainnya yang dipakai oleh mempelai wanita adalah sepatu atau sandal. antinganting. Namun saat ini. kuning tua. peminangan. kalung panjang bersusun tiga yang disebut soko u wanua.yang menyebutnya sebagai bagian dari rumpun bangsa Melayu-Polenisia yang berpindah lewat Ternate. Baju jenis ini. Busana adat pengantin pria terdiri atas celana panjang dan laku tepu yang panjangnya hingga lutut atau telapak kaki. pemakaian ikat kepala sebagai simbol pembeda status sosial seseorang masih tetap berlaku. orang Sangir-Talaud saat ini merupakan sekelompok masyarakat yang menempati wilayah Sulawesi Utara Sekitar abad ke-16. busana adat pengantin wanita terdiri atas kain sarung lengkap dengan baju panjang atau laku tepu yang berlengan panjang. dan daun-daunan atau akar-akaran tertentu yang dapat menghasilkan warna biru. Laku tepu pada umumnya berwarna terang dan mencolok se-perti merah. Kelengkapan busana yang dikenakan oleh pengantin pria meliputi kalung panjang atau soko u wanua. bagian yang menjulangnya diletakkan di bagian depan kepala. atau bahkan campuran dari sejumlah suku bangsa tertentu. Sementara itu. penduduk Sangir-Talaud terbagi ke dalam beberapa kerajaan kecil yang tersebar di seluruh Kepulauan SangirTalaud. dan terbelah di tengah pada bagian belakangnya. atau bahkan untuk pakaian sehari-hari. yakni warna terang dan mencolok. Perbedaannya hanya terletak pada ukuran panjang baju dan pasangannya.kofo dengan dua bahan baku utamanya adalah serat manila hennep dan serat kulit kayu. keris (sandang) yang diselipkan di pinggang sebelah kanan. dengan penutup bagian bawahnya menggunakan kain sarung. Namun warna yang dipakai masih tetap mengacu pada tradisi sebelumnya. dan ikat kepala berbentuk segitiga. ikat pinggang atau salikuku yang terbuat dari kain dengan simpul ikatan ditempatkan di sebelah kiri pinggang. Untuk mendapatkan warna yang diinginkan. pemakaiannya disampirkan di bahu kanan melingkar ke kiri dengan salah satu ujungnya terurai sampai ke tanah. keberadaan kain kofo telah digantikan dengan berbagai bahan lainnya yang sesuai untuk dibuat baju panjang. serta berlengan panjang. Nama busana tersebut adalah laku tepu. krah baju berbentuk bulat dan terbelah di bagian depannya. Ada busana adat yang sering dikenakan dalam berbagai kesempatan yang erat kaitannya dengan tradisi masyarakat setempat seperti perkawinan. Hingga saat ini. dan ujung yang satunya lagi dapat dipegang. keberadaan kain sarung yang dikenakan untuk menutup badan bagian bawah. dan hijau tua. kerap diganti dengan rok panjang yang sudah dilipit (plooi). penduduk keturunan bangsa Filipina. serta selendang (bawandang liku). Namun terlepas dari semua itu. sebagai penduduk asli Sulawesi Utara. sunting (topotopo) yang dipasang tegak lurus pada konde di atas kepala. atau merah darah. kaum pria mengenakan busana adat yang terdiri atas baju panjang. ungu. Setiap kerajaan selalu berusaha memperluas wilayah dan pengaruhnya dengan mengadakan perkawinan penduduk antarkerajaan. Saat ini. Adapun ujungnya diikatkan di belakang kepala. yakni baju panjang yang biasa dikenakan oleh wanita maupun pria. Khusus untuk selendang. dan yang teristimewa di sini adalah ikat kepala. hijau. Dalam hal ini. Satu hal yang cukup penting dan dapat membedakan upacara yang satu dengan yang lainnya adalah kelengkapan busana. Selain pada kelengkapan busana pengantin. sebelum dijahit harus dicelupkan ke dalam cairan air nira untuk warna merah misalnya. kuning. Pada saat menghadiri acaraacara tersebut. pada zaman dulu terbuat dari kain . krah baju berbentuk bulat. Dalam hal ini upacara perkawinan merupakan satu momen yang dapat memperlihatkan busana adat daerah Sangir-Talaud secara lengkap. Keberadaan ikat kepala di sini biasanya melambangkan status atau kedudukan seseorang di tengah-tengah masyarakat. Keberadaan kerajaan-kerjaan itu sendiri memberi nuansa yang khas pada kebiasaan warga masyarakatnya dalam hal berbusana. Sementara itu. Khusus untuk ikat kepala. penasbihan desa. untuk kaum pria bisa mencapai telapak kaki atau hanya sebatas lutut.

Selendang tersebut dinamakan kaduku. paporong datu bouwawina. . yang menandakan pemakainya seorang pegawai pemerintah. Seperti halnya ikat kepala pada busana adat pria. Sekarang wilayah itu termasuk dalam wilayah administratif Daerah Tingkat II Kabupaten Gorontalo dan Kodya Gorontalo. yakni ikat kepala yang digunakan oleh raja atau pejabat pemerintah tertinggi. selendang memiliki makna simbolis yang erat kaitannya dengan status sosial pemakainya. Cara memakainya. Sementara itu. Pemakaian dengan cara seperti ini dilakukan pula oleh seorang gadis yang akan menikah. dan beberapa jenis ikat kepala untuk para penari. yakni hanya dengan menyampirkannya di bahu sebelah kanan. Seorang wanita yang berstatus sebagai permaisuri. yang disebut hulontalangi. paporong tingkulu. Mereka percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari pengembara yang turun dari langit. daerah Gorontalo sudah mendapat pengaruh dari Ternate.memiliki kedudukan di dalam masyarakat. busana adat yang dikenakan oleh kaum wanita pada berbagai upacara ritual atau acara formal meliputi baju panjang berikut pelengkap utamanya yaitu selendang. Perbedaan status sosial yang ada di dalamnya tampak pada cara pemakaian selendang. Sebelum kedatangan bangsa Eropa. yang panjangnya mencapai dua meter dengan lebar 15 sentimeter. hanya saja pada bagian kepalanya diberi atau disematkan perhiasan tertentu. Busana Tradisional Gorontalo Gorontalo Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Gorontalo adalah salah satu suku bangsa yang tinggal di wilayah Sulawesi Utara. biasanya mengenakan selendang yang terbuat dari kain kofo berwarna kuning tua dan merah. Berbeda halnya dengan cara memakai selendang yang dilakukan oleh para istri bangsawan. yakni dengan menempatkan selendang sebelah menyebelah bahu.

kain sarung dan berbagai aksesori. Busana Adat Perkawinan Dalam melaksanakan rangkaian upacara adat perkawinan pada masyarakat Gorontalo. Warna yang dipilih adalah salah satu dari warna merah. disebut wolimomo. seperti kain lapis dada warna hitam yang dihiasi kuning emas. oleh karena itu disebut sunthi burungi. Sama halnya yang dialami dengan pembuatan bahan sandang. Bagian dada baju dan saku diberi hiasan corak kain krawang dengan memakai benang emas. ungu dan merah hati. brokat atau jenis bahan lainnya yang sesuai. Bentuk baju madipungu adalah baju blus lengan panjang seperti baju kurung dengan model pada bagian leher membentuk huruf "V". satu di kiri atas dan sisanya di bawah. Tahap pertama adalah upacara mengantar harta (modutu). rante madale (kalung leher) dan padeta (gelang) yang melekat di kedua pergelangan tangan. Warna baju yang umumnya dipakai adalah warna-warna terang dan mencolok. kuning. Busana adat perkawinan pada masyarakat Gorontalo sangat kaya akan berbagai perhiasan yang dikenakannya. celana panjang juga diberi hiasan tambio (hiasan corak keemasan). kalau berbicara mengenai busana adat. Perbedaan ketiga jenis baju ini terletak pada panjang dan pendeknya lengan baju. sedangkan mempelai wanita memakai busana pengantin.Tidore dan Bugis yang datang lebih dulu. Jenis aksesori yang dipakai pada baju takowa adalah payunga. disebut hamsei. Bahan baju wolimomo terbuat dari jenis kain beludru. Bentuk sunthi biasanya menyerupai kepala burung. brokat atau bahan kain lainnya. hijau dan ungu. maka acuannya adalah busana yang dikenakan pada upacara-upacara resmi. Hat ini terlihat dari agama Islam yang dianut dan cara berpakaian. bisa juga memakai baju gelenggo atau boqo tunggohu. demikian juga dengan busana yang dipakai oleh pengantin wanita. Busana yang dipakai oleh pengantin wanita adalah baju madipungu. Busana ini bagi wanita Gorontalo dapat melambangkan peralihan dari masa remaja ke masa ibu rumah tangga. yang terbuat dari emas sepuhan serta keris pusaka (patatimbo) yang diselipkan di bagian depan pinggang. seperti kuning. hijau. yaitu penyerahan sejumlah harta berupa uang atau barang kepada pihak mempelai wanita. Kelengkapan pada baju madipungu biasanya berupa aksesori. beludru. Pada bagian depan baju diberi selembar kain yang dirempel. seperti menghadiri pesta atau busana yang dipakai oleh mempelai dalam suatu upacara perkawinan. disebut hotu. Tahap kedua dalam masa perkawinan adat Gorontalo adalah akad nikah (akaji). Busana bagian bawah berupa sarung atau rok panjang yang dipakai di luar baju. . Aksesori lainnya adalah ikat pinggang (etango). Busana wolimomo terdiri dari baju blus berlengan pendek seperti bolero dan kain sarung. sedangkan bagian lainnya diberi hiasan warna kuning keemasan. Di bagian depan baju diberi kancing dan tiga buah saku. Seperti halnya baju. Sehingga. Pada upacara ini. Kelengkapan busana madipungu terdiri dari baju. biasanya mempelai pria hanya tinggal di rumah dengan memakai busana bebas. pengantin wanita maupun pria memakai beberapa jenis busana yang disesuaikan dengan tahapan upacara. kain beludru warna hitam yang menempel di leher. celana panjang (talala) dan aksesori. cara berbusana orang Gorontalo pun dari masa ke masa mengalami perkembangan. Warna celana yang dipakai biasanya sama dengan baju atas. selimut (waluto). Bentuk baju sama dengan baju kemeja lengan panjang. Perhiasan dan aksesori yang dipakai pada busana ini adalah tusuk konde (sunthi) yang dibuat dari logam yang disepuh keemasan terdiri dari 12 buah. Bahan yang digunakan biasanya kain satin. yaitu tutup kepala yang dihiasi kain warna-warni. merah. Sedangkan perhiasan yang dipakai adalah sunthi (tusuk konde) dan huheyidu (hiasan rambut) pada bagian kepala. tetapi kerahnya berdiri tegak. Sedangkan pada kedua sisi kiri dan kanan celana ditempeli pita warna kuning keemasan disebut pihi. Busana pria yang dikenakan pada acara akad nikah adalah baju boqo takowa atau takowa. dan hiasan emas pada baju dan kain (tambio). Aksesori yang menempel di baju maupun perhiasan yang dikenakan menunjukkan status pemakainya. Pilihan warna itu menunjukkan bahwa di masa dulu pernah terdapat lima kerajaan di Gorontalo.

ada juga bentuk baju yang berlengan panjang.Rangkaian terakhir dari upacara perkawinan adat Gorontalo adalah bersanding di pelaminan (mopo pipide). aksesori dan perhiasan. Busana yang dipakai oleh pengantin wanita adalah busana kebesaran yang dipakai oleh istri raja di jaman dulu. Konde yang menggunakan 9 bunga Manduru putih disebut konde lumalundung. celana panjang. kalung leher (kelana). Pengantin pria memakai busana yang terdiri dari baju jas tertutup atau terbuka. pengantin wanita mengenakan busana yang terdiri dari baju kebaya warna putih dan kain sarong bersulam warna putih dengan sulaman motif sisik ikan. potongan baju lurus. Sebagai kelengkapan baju dipakai topi warna merah yang dihiasi motif bunga padi warna kuning keemasan pula. sarong motif kaki seribu. selendang pinggang dan kedua lengan baju. . mereka pun memakai blus atau gaun yang disebut pasalongan rinegetan. Celana yang dipakai masih sederhana. disebut wuyang (pakaian kulit kayu). bintang. Model busana pengantin wanita ini dinamakan baju ikan duyung. anting dan gelang. Motif Mahkota pun bermacam-macam. Potongan baju tatutu adalah berlengan panjang. Motif dalam busana ini adalah motif bunga padi. yang terdapat pada hiasan topi. Dalam kehidupan sehari-hari ada kecenderungan bagi suku bangsa Minahasa untuk menyebut diri mereka sebagai orang Manado. berkancing tanpa saku. sedangkan Konde yang memakai 5 tangkai kembang goyang disebut konde pinkan. Busana kebesaran ini disebut biliu. yang bahannya terbuat dari tenunan bentenan. memakai krah dan saku disebut baju baniang. Warna baju hitam dengan hiasan motif bunga padi pada leher baju. Busana Pemuka Adat Busana Tonaas Wangko adalah baju kemeja lengan panjang berkerah tinggi. Selain itu. disebut busana tatutu. Di masa lalu busana sehari-hari wanita Minahasa terdiri dari baju sejenis kebaya. Sedangkan kaum pria memakai baju karai. baju tanpa lengan dan bentuknya lurus. terdiri atas baju lengan panjang. mahkota (kronci). Pada perkembangan selanjutnya busana Minahasa mendapatkan pengaruh dari bangsa Eropa dan Cina. Selain baju karai. selendang pinggang dan topi (porong). kain panjang atau sekarang dapat diganti dengan rok panjang. leher baju. disebut model salimburung. seperti motif biasa. Busana wanita yang memperoleh pengaruh kebudayaan Spanyol terdiri dari baju kebaya lengan panjang dengan rok yang bervariasi. disebut model kaki seribu dan sarong motif bunga. lebih lengkap dan menunjukkan keagungan. Busana pria pengaruh Spanyol adalah baju lengan panjang (baniang) yang modelnya berubah menyerupai jas tutup dengan celana panjang. Pada busana pria pengaruh Cina tidak begitu tampak Baju Ikan Duyung Pada upacara perkawinan. Perbedaannya terletak pada aksesori dan perhiasan yang digunakan. Selain sarong yang bermotifkan ikan duyung. yaitu sama dengan baju takowa yang terdiri dari baju dan celana panjang. Busana pengantin baju jas tertutup ini. berwarna hitam terbuat dari ijuk. disebut laborci-laborci. sayap burung cendrawasih dan motif ekor burung cendrawasih. Aksesori tersebut mempunyai berbagai variasi bentuk dan motif. Semua motif berwarna kuning keemasan. kalung mutiara (simban). terdapat juga sarong motif sarang burung. Sedangkan busana pengantin pria memakai baju paluwala. yaitu mulai dari bentuk celana pendek sampai celana panjang seperti bentuk celana piyama. tidak memiliki krah dan saku. Aksesori yang dipakai dalam busana pengantin wanita adalah sanggul atau bentuk konde. Busana Tradisional Minahasa Minahasa Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Minahasa adalah salah satu suku bangsa yang mendiami wilayah Propinsi Sulawesi Utara. Sedangkan pengaruh Cina adalah kebaya warna putih dengan kain batik Cina dengan motif burung dan bunga-bungaan. Bahan baju ini terbuat dari kain blacu warna putih. ujung lengan dan sepanjang ujung baju bagian depan yang terbelah.

kain sarong batik warna gelap dan topi mahkota (kronci). Ikat kepala yang dipakai berupa kain bercorak batik. selain dipakai untuk bepergian dapat juga dipakai untuk menghadiri . dan ujung lilitannya dipegang oleh salah satu tangan. hanya saja lebih panjang seperti jubah. dunia dan alam baka. gelang yang terbuat dari logam warna putih atau kuning dikenakan pada kaki.Busana Walian Wangko pria merupakan modifikasi bentuk dari baju Tonaas Wangko. juga untuk menyelipkan senjata tajam. Sarung yang dipakai. Jenis-jenis dan bentuk busana di atas merupakan kekayaan budaya Minahasa yang tak ternilai harganya. celana (sala) dan kopiah (songko) atau dapat diganti dengan ikat kepala (kampurui). dan kain ikat pinggang yang disebut simpulan kagogo. selop. kalung leher dan sanggul. hitam. Bahan baju terbuat dari kain satin warna merah atau biru. yang dililitkan di dada menjurai sampai dengan di atas lutut. untuk pakaian sehari-hari di rumah. sedangkan lubang leher dengan warna kuning emas. memakai baju kebaya panjang warna putih atau ungu. Perhiasan yang dipakai sebagai kelengkapannya adalah kalung bulat yang terbuat dari logam untuk bagian leher. Baju berlengan pendek ini diberi hiasan renda pada setiap ujung lengan. busana adat tersebut menumbuhkan kebanggaan bagi masyarakatnya. Sarung yang mereka pakai umumnya berwarna merah. Baju katango ini. yaitu terdapat kancing. wanita Muna memakai baju berlengan pendek yang disebut kuta kutango. dan berkerah. sarung (bheta). Fungsi ikat pinggang ini selain untuk penguat sarung agar tidak mudah lepas. coklat atau warna gelap lainnya dengan corak garis-garis horizontal. Bentuk baju dapat berupa baju berlengan pendek dan baju berlengan panjang dengan lubang pada bagian atas baju untuk memasukkan kepala. Sedangkan ikat pinggang terbuat dari logam berwarna kuning. Sarung kedua untuk membalut baju. Sarung yang dipakai oleh wanita terdiri atas tiga lapis. Dilengkapi selempang warna kuning atau merah. perlambang penyatuan 2 unsur alam. Sarung ketiga atau paling atas digulung melilit dada terkepit ketiak. Hiasan yang dipakai adalah motif bunga terompet. Baju yang dipakai berlengan pendek dengan model baju seperti sekarang. biru. Selain sebagai penunjuk identitas kebudayaan. Kalangan wanita mengenakan busana yang terdiri atas bhadu. Busana Tradisional Muna Muna Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Pakaian sehari-hari atau di rumah yang dikenakan oleh kaum pria terdiri atas baju (bhadu). yaitu langit dan bumi. Warna baju umumnya putih. bagi warga maupun aparatur pemertintah setempat. Dilengkapi topi porong nimiles. Potongan baju tanpa kerah dan kancing. Sedangkan Walian Wangko wanita. Busana ini dapat juga dipakai pada saat berpergian. Bentuk dan jenis busana Tonaas dan Walian Wangko inilah yang kemudian menjadi model dari jenis-jenis pakaian adat Minahasa untuk berbagai keperluan upacara. Umumnya. Gelang yang terbuat dari emas dipakai pada tangan. yang dibuat dari lilitan dua buah kain berwarna merahhitam dan kuning-emas. bheta. Warna baju putih dengan hiasan corak bunga padi. saku. biasanya berwarna merah bercorak geometris horizontal berwarna hitam. Lapisan dalam adalah sarung atau rok warna putih yang dililitkan di pinggang.

manik-manik. Perhiasan yang dipakai terdiri atas gelang tangan (simbi). Hiasan sanggul terbuat dari kain atau logam yang berwarna kuning membentuk kembang cempaka. ikat pinggang. terdiri atas sarung dan ikat kepala tanpa baju. maka dililitkan kain ikat pinggang yang diberi hiasan jambuljambul atau rumbai-rumbai disebut kabokena tango. sarung berhias (bia ibolaki). Ikat kepala dililitkan di tengah kepala sehingga membentuk lipatan-lipatan yang meninggi di sebelah kanan kepala. Pakaian ajo tandaki terdiri atas mahkota. Busana Tradisional Buton Penulis Jaya Purnawijaya Pakaian keseharian orang kebanyakan (golongan walaka) disebut pakaian biru-biru. Sarung yang dikenakan ada dua. bheta. sarung dua lapis. perkawinan misalnya. masyarakat Buton pun memiliki pakaian khusus yang dikenakan pada saat berlangsung upacara adat tertentu. Kedua sarung tersebut dililitkan di atas pinggang. Perbedaannya hanya pada tata rias dan perhiasan yang dikenakannya. dengan penguat lilitan selembar kain ikat pinggang. Mereka memakai baju kambowa serta sarung yang bermotif (bia-bia itanu kumbea). Cara melilitkan ikat pinggang tersebut diatur sedemikian rupa agar rumbai-rumbai tersebut berada di depan. Pada sanggul dililitkan pita dari kain berwarna merah atau warna baju yang dipakainya. Perhiasan yang digunakan adalah sanggul yang diberi hiasan. dan ikat pinggang (sulepe). Sedangkan perhiasan yang terdapat pada sanggul adalah pita pengikat konde (kawutu). yang disebut biru-biru. Kelengkapan busana ini hanya dipakai oleh kalangan wanita bangsawan (kaomu). dan anak yang boleh memakainya harus berasal dari golongan masyarakat bangsawan (kaomu). selendang (salenda). Sanggul seperti ini disebut popungu kelu-kelu. anting-anting di telinga dan kalung menghiasi leher. khususnya yang berhubungan dengan daur hidup manusia. bulu burung cendrawasih dan berbagai hiasan dari logam. gelang kaki (kurondo). Sarung yang di dalam dililitkan pada pinggang lebih panjang dari pada sarung yang di luar (tampak berlapis). kalung (tongko). dan sanggul. Salah satu upacara adat yang hingga saat ini masih dipertahankan oleh masyarakat Muna adalah upacara pingitan gadis (karia). Pada upacara tersebut.pesta-pesta upacara adat atau menerima tamu. seorang gadis memakai busana adat beserta perhiasannya yang terdiri dari bhadu. Sarung dililitkan di pinggang membalut atau menutupi sebagian baju. Upacara posuo merupakan salah satu upacara yang harus dilalui oleh seorang gadis yang telah menginjak dewasa. Agar sarung tampak kuat. Adapun yang membedakannya dengan busana untuk upacara lain adalah terletak pada penggunaan perhiasan. Bentuk bhadu dan bheta yang dikenakan pada upacara ini. gadis yang dipingit diharuskan memakai busana kalambe yang terdiri atas baju kambowa. tusuk konde (panto). Perhiasan yang dipakai adalah ikat pinggang (sulepe) terbuat dari logam. Perhiasan lainnya adalah gelang di kedua belah tangan. Anak yang akan disunat ini memakai busana adat yang dinamakan ajo tandaki. Dalam upacara ini. Tandaki adalah mahkota. Sementara itu upacara sunatan sebagai bagian penting dari upacara daur hidup seorang pria sbelum mencapai usia remaja atau dewasa. Dua diantaranya yang adalah upacara memingit gadis yang disebut posuo dan upacara sunatan. dan kain bersulam benang emas berbentuk pita (kabunsale). terdiri atas unsur pakaian baju dan kain sarung motif kotak-kotak kecil yang disebut bia-bia itanu. Mahkota dibuat dari kain merah. anting-anting (dali). Bentuk baju berlengan pendek dan tidak berkancing. dan perhiasan logam. perhiasan yang dipakai adalah gelang. Pakaian sehari-hari di kalangan wanita disebut baju kombowa. Selain itu.. cincin dan anting yang terbuat dari emas. sebetulnya tidak berbeda dengan busana sehari-hari wanita Muna. Selain pakaian sehari-hari. dan ikat pinggang (sulepe). Penulis Mira Indiwara Pakan . Berbusana secara lengkap berikut berbagai perhiasannya juga dikenakan oleh kaum wanita yang akan menghadiri upacara resmi. Ciri seorang gadis yang sudah dipingit adalah memakai gelang yang sudah dihiasi manik-manik pada pergelangan kirinya disebut kabokena limo. bercorak sama tetapi dengan warna berbeda.

Untuk mempercantik penampilan mereka dalam berbusana. Pada zaman dahulu. Pertama adalah unte tandu. Busana yang disebut dengan baju poko itu sendiri ada dua macam. dan baju pasua. pembungkus hasta dan pergelangan tangan. kain fuya yang digunakan agak kasar. yakni model sanggul dengan ciri khasnya terletak pada ujung rambut yang disanggul sedikit diuraikan ke bagian samping hingga mencapai bahu. Salah satunya tampak pada unsur busana adat yang menjadi milik masyarakat Kaili. Lain halnya dengan kain fuya yang digunakan untuk membuat busana pesta. Ada golongan raja (maradika). bangsawan (toguua mungana). Selain memiliki busana yang cukup beragam. dan hiasan untuk penutup rambut. Busana wanita Kaili. Jenis sanggul yang kedua bernama unte pompule pasiki. Oleh karena itu. Busana adat wanita Kaili dapat dibedakan ke dalam tiga jenis model baju. pending. Jenis sanggul seperti ini hanya diperuntukkan bagi para pengantin wanita saja. kalung panjang. dengan jenis yang cukup beragam. Berbicara mengenai perhiasan yang biasa dipasang pada bagian kepala kaum wanita Kaili. Keduanya sama-sama berleher bundar dan tanpa krah pada baju bagian atasnya. rakyat kebanyakan (todea). yakni baju poko. yakni baju yang berlengan panjang dan baju yang berlengan pendek. berlengan panjang dengan kancing pada bagian pergelangan tangannya. baju gembe. kaum wanita Kaili kerapkali mengenakan kelengkapan busana lainnya yang cukup khas seperti ikat kepala dan tudung kepala. gambaran mengenai busana adat pria Kaili tampak jauh lebih sederhana. sangat erat dengan kebiasaan mereka yang gemar menyanggul rambut. Adapun gambaran mengenai baju pasua adalah jenis baju yang memiliki bentuk leher bundar. Bahan baju tersebut beradal dari kain fuya. yakni bentuk sanggul tanduk yang biasanya diletakkan di bagian belakang kepala. atribut tersebut masih dapat ditemukan dalam beberapa hat. perhiasan yang dipilihnya terbuat dari manik-manik atau bahkan juga terbuat dari emas. Biasanya. Bahan yang digunakan untuk membuat ikat kepala tersebut adalah rotan yang tipis atau fuya. Secara fisik. Jenis-jenis perhiasan itu sendiri pada umumnya berupa kalung bersusun. keberadaan tudung kepala memang mendapat tempat tersendiri dalam kehidupan kaum wanita Kaili. Namun kini kain fuya telah ditinggalkan dan diganti dengan bahan katun atau jenis kain lainnya yang dapat dibeli dengan mudah. dan budak (batua). Sementara itu. Bahkan khusus untuk kaum wanita bangsawan. yakni kain yang terbuat dari serat kulit kayu. Baju gembe adalah baju yang memiliki bentuk dan potongan sejenis dengan baju bodo yang terdapat dalam kebudayaan Bugis. tudung kepala yang biasa dikenakan oleh kaum wanita tersebut berbentuk seperti kerucut. Masyarakat di tempat tersebut menamakan ikat kepala yang biasa dikenakan oleh kaum wanita dengan sebutan tali bonto. Pada setiap lapisan sosial biasanya terdapat sejumlah atribut berupa lambang atau simbol-simbol tertentu. dengan bahan bakunya berasal dari rotan yang dianyam sedemikian rupa. sekalipun itu tidak banyak. masyarakat Kaili mengenal sistem pelapisan sosial dengan empat tingkatan sosial di dalamnya.Kaili merupakan salah satu suku bangsa yang menempati wilayah Provinsi Sulawesi Tengah. Selain baju-baju tersebut. Paling tidak. Model sanggul seperti ini akan tampak pada saat wanita Kaili melakukan berbagai rutinitas kegiatan sehari-hari mereka. bermacam-macam gelang mulai dari lengan hingga siku mereka. . lebih halus dan dilengkapi dengan hiasan yang berupa aplikasi beraneka warna. sistem pelapisan tersebut tidak lagi bertahan sepenuhnya. mereka mengenakan tudung kepala pada saat melakukan kegiatan sehari-hari. Untuk keperluan pakaian sehari-hari. Berbicara mengenai busana adat masyarakat Kaili tampaknya akan lebih didominasi oleh busana yang biasa dikenakan oleh kaum wanitanya. tak lupa dikenakan perhiasan-perhiasan sebagai pelengkapnya. ada belahan pada bagian dadanya dan diberi sejumlah kancing. tidak heran bila di daerah tersebut terdapat beraneka ragam jenis sanggul. Sementara itu. kelengkapan busana berikut aksesori lainnya pun tidak kalah bervariasinya. Meskipun saat ini. yakni bentuk sanggul yang didapatkan dengan cara menyisipkan gulungan rambut mereka ke dalam rambut itu sendiri. pada zaman dahulu terdiri atas kain sarung lengkap dengan bajunya yang berupa blus berlengan pendek. Model rambut yang paling terakhir disebut unte pambeo. ada tiga model sanggul yang senantiasa ditampilkan oleh para wanita kaili.

Pada masa itu. Tentu saja bukannya tanpa alasan bila mereka mengenakannya seperti itu. yakni berperang dan tradisi pengayauan. Dengan mengungkapkan profil pria Kaili. Pusat-pusat permukiman orang Dani . yakni untuk menghangatkan tubuh atau berfungsi sebagai penahan hawa dingin. Kelengkapan busana lain yang tidak kalah pentingnya adalah ikat kepala. sebelah Timur Laut dengan kabupaten Jayapura. Busana yang digunakan kaum pria untuk menutupi anggota badan bagian bawah adalah cawat dan celana pendek yang pipa celananya sedikit di atas lutut. sebelah Barat Laut dengan kabupaten Paniai. ada juga kelengkapan busana lainnya yang senantiasa dikenakan oleh mereka. memang ada satu kebiasaan masyarakat Kaili untuk memenggal kepala musuh pada saat berperang. Satu kelengkapan lainnya yang senantiasa dibawa oleh kaum pria Kaili adalah kampuh yang berisi sirih pinang dan beraneka macam benda-benda yang digunakan untuk meramal oleh pemiliknya. baru mereka memakai baju untuk menutupi anggota tubuh bagian atasnya. justru berbeda dengan kondisi mengenai busana adat kaum pria Kaili. Secara historis. pemakaian ikat kepala ini sangat erat kaitannya dengan aktivitas mereka di masa lalu. Namun bila akan bepergian. Salah satu di antaranyanya adalah biji jagung kering. Ada satu tujuan utama yang hendak dicapai. yakni kain sarung. yang dikenal dengan istilah mengayau. dan sebelah Timur berbatasan dengan negara Papua Niugini (Papua Neuw Guinea/ PNG). Ikat kepala yang dipakai oleh kaum pria tersebut memiliki warna yang beragam serta bermotif. Ada beberapa jenis kelengkapan busana adat pria Kaili. Busana Tradisional Masyarakat Dani Dani People Traditional Dress Penulis Aat Soeratin. sebelah Barat Daya dengan kabupaten Fakfak.Bila gambaran mengenai busana adat wanita Kaili begitu kaya akan berbagai informasi di seputar masalah tersebut. yang pemakaiannya tidak dilakukan untuk menutupi badan bagian bawah melainkan hanya disampirkan di bahunya. Jonny Purba Masyarakat Dani mendiami wilayah kabupaten Jayawijaya. Selain kedua unsur busan tersebut. Unsur yang pertama adalah sarung. ikat kepala dan kampuh. Kampuh yang sarat dengan berbagai macam benda tersebut biasanya dikalungkan pada leher mereka. Tentu saja pemilihan warna dan motif tersebut akan disesuaikan dengan status sosial pemakainya. akan tampak bagaimana sebenarnya busana adat mereka yang pernah ada selama ini. Adapun pada anggota tubuh bagian atas kerapkali hanya bertelanjang dada. sebelah Selatan dengan kabupaten Merauke. Di sebelah Utara berbatasan dengan kabupaten Yapen-Waropen.

Secara etnis masyarakat Dani dikenal dalam dua kelompok yaitu Wita dan Waya. laki-laki sejati. sedangkan sebelumnya disebut "Ndani". di antaranya koteka (holim). lembah Baliem (Lembah Agung). Hiasan itu untuk menimbulkan daya tarik bagi kaum perempuan. Yalimo. penutup kelamin pria ini diikatkan ke seputar pinggang dengan tali halus yang biasanya berwarna hitam. Jenis holim ini halus. Bahan pewarna tersebut . Sedangkan jenis holim besar terdapat di lembah Baliem. Masyarakat Dani sendiri menamakan dirinya "Nit Baliemege". terutama di Kecamatan Wamena Kota. Istilah "Dani" digunakan oleh ekspedisi Sterling tahun 1926. dipetik lalu dikeringkan di perapian. Di samping itu biasanya terdapat juga humila sebagai dapur tempat memasak dan wam aele sebagai kandang babi. dan kemerah-merahan. Makna simbolik lainnya mengisyaratkan. antara lain. dikorek dengan kayu yang diruncingkan. dan pengayom rakyat. Tiom. Ketika dikenakan. Miring ke samping kanan: simbol kejantanan. yakni masyarakat Moni dan Damal untuk menunjukkan suku tetangganya (masyarakat Dani). memiliki status sosial yang tinggi atau mempunyai kedudukan sebagai bangsawan. Apalahapsili. Ada tiga pola penggunaan koteka. Konda. Miring ke samping kiri: bermakna pria dewasa yang berasal dari golongan menengah dan memiliki sifat kejantanan ejati. keterampilan memipin. pemilik harta kekayaan yang melimpah. Setelah kering. Bentuk rumah tinggalnya disebut honai (honae) untuk laki-laki dan obe-ae rumah khusus kaum perempuan. Koteka (Holim) Koteka atau disebut juga holim adalah pakaian laki-laki masyarakat Dani dan Ekari. upacara adat misalnya. dan Oholim. ketika berternak babi. Ukuran bagian bawahnya sedang dan atasnya runcing. Dwart. "Kanan" menandakan kekuatan bekerja. Juga menunjukkan pemakainya adalah keturunan Panglima Perang (apendabogur). Buah labu yang sudah tua. artinya "Kami orang Baliem". seperti waktu mengerjakan ladang. kemudian dibersihkan. mereka menggunakan holim sebagai pakaian adat sekaligus sebagai perlengkapan upacara. Busana penutup alat kelamin pria ini dibuat dari kalabasah. yaitu tegak lurus: menandakan bahwa pemakainya adalah "pria sejati". yokal dan sali. Setelah itu buah labu kembali dikeringkan di sekitar perapian. Kosarek. Sebagian masyarakat Dani mengenakan koteka yang ukurannya pendek dan besar. Illaga. Mulia. saat berada di honai. Pas Valley dan Piet River. Illu. belum pernah melakukan persebadanan. Kalabasah yang berdiameter relatif besar itu dipotong hampir setengahnya sehingga ujungnya bolong (terbuka) yang ketika dipakai biasanya bolong itu ditutup dengan daun. Yokal Sejenis rok wanita masyarakat Dani yang dibuat dari serat tali hutan (tumbuhan rambat) yang dipintal dengan rapi. kuning. pria yang memakainya masih perjaka. Kehidupannya mengelompok berbentuk desa yang dinamakan silimo (asilimo).umumnya berada di wilayah lembah dan lereng-lereng gunung. Biasanya yokal berwarna hitam. sejenis labu Cina. Welarak. bermakna bahwa penggunanya adalah pria gagah berani. Banyak kemudian yang menambahkan semacam sekat di antara pangkal dan ujung "selongsong" koteka bolong itu untuk tempat menyimpan benda-benda yang dianggap keramat atau bendabenda yang dianggap bernilai tinggi. agar tidak jatuh. Namun dalam kegiatan tertentu. Holim sebagai pakaian sehari-hari digunakan dalam seluruh kegiatan keseharian. Busana Adat Masyarakat Dani Ada beberapa jenis busana dan tata rias Masyarakat Dani yang sangat khas bila dibandingkan dengan kelompok etnis lainnya di Irian Jaya. Kecamatan Asologaima dan Kecamatan Kurulu. yaitu tegak lurus: menandakan bahwa pemakainya koteka. Ilaga. isi buah labu dikeluarkan. misalnya "uang merah" (eka merah). Kadang-kadang bagian ujungnya diberi hiasan bulu burung atau bulu ayam hutan. Jenis koteka kecil terdapat di daerah lembah Baliem. Sinak. berwarna kuning kemerah-merahan. disebut yokal. Beberapa lembah yang terkenal. Istilah "Ndani" berasal dari kata "Lani" yang digunakan oleh penduduk lembah Baliem Utara dan Barat. Dalam perkembangannya fungsi dan kegunaan holim mulai digantikan dengan pakaian sehari-hari yang terbuat dari tekstil. Ada dua ukuran koteka yakni holim kecil (halus) dan holim pendek besar.

Wayeske. Sali Pakaian sehari-hari anak gadis masyarakat Dani adalah sali yang dibuat dari bahan serat kem atau dari sejenis daun pandan. yang melambangkan kemahiran berburu dan keberanian. Ngisi adalah rambut yang dianyam rapi dan dilumuri dengan lemak babi. Noken juga dipercaya sebagai simbol kehidupan dan kesuburan. dibuat dari anyaman serat kulit kayu yang ketika dikenakan akan nampak seperti dasi. Diwarnai dengan getah kulit atau bunga anggrek. antara lain: sekan yaitu gelang yang dibuat dari rotan. Dibuat berupa untaian sebagai kalung. Seperti proses membuat yokal. sejenis topi berbentuk bulat dibuat dari bulu burung. noken berfungsi untuk menyimpan dan mengangkut bahan makanan. semacam "baju besi" dibuat dari serat rotan yang dianyam rapat sehingga berfungsi sebagai perisai dari tusukan anak panah dan tombak. dikenakan pada lengan maupun pergelangan tangan. bepergian. topi dari bulu kuskus warna hitam. Yokal digunakan sehari-hari untuk melakukan pelbagai pekerjaan. Aksesori yang dikenakan para wanita Dani. sehari-hari atau saat upacara adat. setelah kering dianyam pada seutas tali sepanjang seputar pinggang. Biasanya seorang wanita Dani mengenakan sejumlah noken yang digantungkan pada kening dan berjuntai ke punggungnya hingga menutup bagian pinggul. gelang anyaman rotan yang dipakai pada lengan maupun pergelangan tangan. Perlengkapan merias diri kaum lelaki masyarakat Dani yang dikenakan saat upacara dan aktivitas sehari-hari lainnya. ke gereja. Sege adalah tombak panjang yang melambangkan pria sejati. kalung berupa tali penangkal guna-guna. Noken (su labak yapma) yaitu sejenis tas dibuat dari serat kulit kayu yang dianyam menyerupai karung. mengasuh anak. anak panah dan busur. Wam maik adalah aksesori dengan bahan taring babi. Benda laut ini didatangkan ke daerah pegunungan melalui sistem barter. Selain sebagai aksesori. Pada sepenuh permukaan walimo ditempelkan. Cipat. Oleh karena itu aksesori yang digunakan mengandung makna simbolik sekaligus menunjukkan identitas pemakai maupun masyarakatnya. bahan tersebut dijemur atau diasapi. . Yokal biasanya dikenakan oleh wanita dewasa yang sudah menikah. antara lain: swesi. Akseori ini biasanya warisan turun-temurun dari nenek moyang. Ngisi mengisyaratkan pemuda yang telah siap untuk menikah. juga untuk membawa babi. Mul. gendongan bayi.didapat dari getah kulit atau bunga anggrek. seperti mengerjakan kebun. Pekerjaan ini biasanya dilakukan wanita dewasa. berderet-deret dan disusun rapi. Banyaknya kulit kerang menunjukkan jumlah musuh yang dibunuhnya dalam perang suku. Siluki inon. Selanjutnya dipintal dan dirajut menjadi rok. senjata ampuh pria sejati Dani. misalnya saat ke ladang. Wali moken sebutan untuk kulit kerang yang diikat hingga seolah menempel pada dahi seorang laki-laki. karena para lelakilah yang lebih kerap tampil ketika harus berinteraksi dengan masyarakat di luar kelompoknya. Walimo yaitu hiasan dada. Sali dipakai dengan cara melilitkannya ke seputar pinggang dan menyimpulkan kedua ujung tali penahannya pada bagian perut (pusar). Sali dipakai sehari-hari oleh anak gadis. Sekan. Sedemikian besar fungsinya. termasuk saat mengikuti upacara adat. ke sekolah. Pada tubuh para lelaki nampak lebih banyak aksesori ketimbang yang dikenakan para perempuan. atau dibentuk menjadi pipih dan diselipkan pada cuping hidung bagian tengah yang dilubangi sehingga mirip seperti misai panjang. memelihara babi. Konon. Yokal melambangkan wanita pemakainya sudah tidak gadis lagi atau wanita yang telah menikah. diambil seratnya kemudian dikeringkan pada perapian atau dijemur pada panas matahari. Kulit kayu tersebut dikelupas dari batangnya. menyiapkan makanan. Yokal dibuat dari kulit kayu wam. sehingga seorang wanita Dani biasanya membawa beberapa noken dengan isi yang berlainan. puluhan rumah siput kecil yang dianggap mampu mendatangkan kekuatan gaib. menjual hasil pertanian. Sali mengisyaratkan pemakainya Tata Rias Masyarakat Dani Yang lebih banyak merias diri pada masyarakat Dani adalah kaum laki-laki.

dan masing-masing aksesori itu memiliki makna simbolik. Pada rambut diselipkan hiasan yang disebut sokmet. mereka menjalinnya hingga bisa "berdiri". Jenis atau ragam busana Asmat tidaklah banyak. Atsy. disebut tali bow. bahkan di kawasan propinsi Irian Jaya. ikat pinggang dari anyaman rotan. Tali pengikatnya dibuat dari akar pandan. bulu bangau yang diikatkan pada . Untuk menutup payudara. Busana dan tata rias yang dikenakan juga menunjukkan status sosial maupun jenis kelamin. wanita Asmat membuat semacam kutang dari anyaman daun sagu muda yang disebut peni atau samsur. Tok adalah pummi yang rumbai-rumbai bagian depannya dikumpulkan lalu ditarik ke bagian belakang pinggul melalui celah paha sehingga menyerupai cawat. semakin banyak ragam rias yang dikenakannya. Penahan pummi adalah asenem. Semakin tinggi status sosial seseorang. Daerah persebarannya meliputi Kecamatan Agats. semacam cawat atau celana dalam. Sejauh ini yang ditemukan hanya yang berupa "rok mini" dan cawat sebagai penutup aurat kaum lelaki dan perempuan. dan Pantai Kasuari. dan Mimika.Busana Tradisional Asmat Asmat Traditional Asmat Wilayah pantai (Selatan) Irian Jaya didiami sukubangsa Muyu. dahulu. Sawa Erma. Mereka bermukim di daerah rawa yang sangat luas. Ketika menginginkan rambutnya nampak lurus. hanya dipakai oleh istri panglima perang. masyarakat Asmat merancang dan mengembangkan berbagai jenis busana dan tata rias untuk dipakai seharihari maupun untuk keperluan upacara adat. Suku bangsa Asmat adalah suku bangsa terbesar di antara suku-suku bangsa lainnya di bagian selatan Irian. Dan peni. Laki-laki Asmat biasanya memakai pummi semacam rok mini yang dibuat dari anyaman daun sagu. Rambut orang Asmat pada umumnya keriting atau bergelombang. Rumbai-rumbai pummi dilepas begitu saja hingga terurai di sekeliling pinggul dan paha. Asmat. Sedangkan kaum perempuannya memakai tok. Marind. Menjalin rambut ini disebut wi atau owusapor dan biasanya dilakukan pria remaja. Seperti halnya sukusuku bangsa lainnya.

Sof betan atau sinenke adalah gelang untuk pangkal lengan dari anyaman rotan. terutama kaum lelaki. Bipane biasanya dipakai oleh panglima perang. Aksesori lainnya yang sangat khas adalah subang penghias telinga. kalung. panah. sangat mengagumi burung kakatua raja lantaran satwa ini nampak elok dan gagah. disebut wisaper. Topi ini disebut kasuomer dan kerap dihiasi bitwan (kulit kerang). konon. tanpa membedakan status sosial. Ada juga penutup kepala yang dibuat dari anyaman daun sagu dan akar kayu. sehingga bila saat berduka benda ini tidak ditampilkan. Noken yang polos tanpa hiasan dipakai oleh wanita dan laki-laki kebanyakan sedangkan yang dibubuhi hiasan. untaian gigi taring anjing yang dikombinasikan dengan taring babi hutan. terutama istri panglima perang dan para tetua adat. Maka untuk bisa tampil segagah burung yang elok itu mereka. pemukul tifa. . bukan hasil buruan dengan bantuan anjing atau tombak. dan diberi hiasan bulu burung kakatua atau burung bangau yang disebut panicep solme. disebut betan. Atau pomak camkan yang dibuat dari anyaman daun sagu muda yang biasa dipakai saat pesta ulat sagu dan upacara patung mbis (patung leluhur). yang supaya nampak indah dihias bulu burung cendrawasih (jabopan). Subang penghias telinga disebut jemcankan yang dibuat dari kayu fum atau dari semacam manik-manik biji tumbuhan dek atau omdu atau tisen. Sebagai masyarakat peramu yang hidup dari berburu. dan penyanyi pengiring upacara. semacam pisau belati dibuat dari tulang kering burung kasuari yang salah satu ujungnya diruncingkan dan pangkalnya dihias oleh bulu-bulu halus burung kasuari. agar ujung hidung tertarik sehingga mancung dan melengkung seperti paruh kakatua raja. dan pangkal betis. Masyarakat Asmat juga menciptakan semacam topi berbentuk kopiyah/peci/songkok yang terbuka bagian atasnya yang dibuat dari bulu kuskus. 0 effo juga dipakai sebagai cerminan perasaan sukacita. kepala adat. aksesori yang dibuat dari kulit siput/ kerang yang dibentuk mirip bulan sabit atau ada juga yang menyerupai misai panjang gergulung. pemukul tifa. pun kebanyakan masyarakat asli Irian Jaya. sejenis tas yang disandang di leher laki-laki atau di kening perempuan. Sebagai kalung. terutama saat melaksanakan upacara adat. yang dibuat dari biji tumbuhan tisen. Ada pula o effo yakni ekor babi hutan yang dililitkan di bagian pangkal tangan. juwursis merupakan benda yang bernilai tinggi. Sedangkan yang dipakai pada pangkal lutut dinamakan barok. Dulunya barok hanya dipakai oleh panglima perang. Begitu pentingnya fungsi senjata-bagi lelaki Asmat sehingga bukan hanya dipakai sebagai peralatan berburu belaka tapi juga sebagai alat pelengkap penampilan agar nampak berwibawa. dituntut untuk mahir menggunakan senjata: pisau. sokmet masih dipakai pria Asmat. kaum wanita dan lelaki Asmat memakai tisen pe. Senjata ini diselipkan pada sinenke. terutama ketika mereka berada di dalam jew (rumah panjang). biasanya diimbuh hiasan beberapa tangkai sokmet. dari bahan yang sama. masyarakat Asmat. penyanyi. penyanyi. Topi ini disebut juprew. Benda pakai yang juga kerap dijadikan pelengkap penampilan adalah noken. Masyarakat Asmat. sehingga seringkali digunakan sebagai mas kawin seperti halnya kapak batu. Senjata yang hampir selalu disandang sebagai aksesori pada pelbagai upacara adat ialah pisuwe. dan gelang yang dipakai pada lengan. dan pemukul tifa. Hingga sekarang. Noken dibuat dari anyaman daun pandan dan pada salah satu sisinya diberi hiasan bulu sayap burung kakak tua atau bulu sayap burung bangau. dan kepala-kepala tungku (kepala keluarga luas). pergelangan tangan. Pada kebudayaan Asmat. dan biasanya disandang oleh panglima perang. Tali penahan agar kasuomer tidak jatuh dibuat dari jalinan daun sagu muda. Kalung lainnya adalah juwursis (juwur = anjing). Yang dikenakan pada pergelangan tangan. Ekor babi untuk o effo harus berasal dari babi hutan yang terkena perangkap (siso). panjangnya kira-kira 30 cm. subang penghias hidung. Juwursis biasanya dipakai oleh panglima perang. melubangi cuping tengah hidung mereka dan "menyumpalnya" dengan aksesori berupa benda yang terkadang berukuran lebih besar daripada lubang hidung. dan tombak. Sedangkan para lelaki memakai bipane. Kaum wanita Asmat. menggunakan gulungan daun sagu atau daun nipah yang disebut bi awok sebagai penghias hidung mereka. pemimpin tungku (keluarga luas).lidi. Wanita yang mengenakan benda ini adalah istri dari orang yang gemar berburu babi hutan. tapi sekarang dipakai juga oleh para tetua adat. biasanya dipakai oleh panglima perang.

Ada juga jenis tombak khusus untuk berburu buaya. Agar lebih variatif. yang dibuat dari kayu keras disebut fir. Masyarakat Asmat mengenal beberapa jenis tombak dan masingmasing dinamai sesuai dengan bahannya.5 meter. Komposisi warna merah. sedangkan warna hijau dari dedaunan. dan hijau tampil kuat pada latar kulit yang hitam berkilat. Batik Besurek sudah menjadi salah satu kerajinan tangan khas Kota Bengkulu. kemudian ditumbuk hingga halus dan dicampur dengan air. fum. dan tombak logam besi disebut frin. dari bambu dinamai firokom. Jonny Purba Busana tradisional Bengkulu Tidak hanya terkenal di pulau Jawa saja. Tombak kayu besi dinamai viwu. Hingga kini batik Besurek tidak hanya digunakan oleh kalangan bangsawan saat upacara adat saja. Warna hitam dari arang pembakaran. putih. panjangnya sekitar 1. yang tak boleh dilupakan adalah wasse mbi. Konon.Senjata lainnya adalah tombak. Anak panahnya agak beragam. Penulis Aat Soeratin. Busurnya dibuat dari jenis kayu bakau. hitam. yang dari besi dikenal sebagai sok. saat ini para pengrajin tak hanya menuliskan huruf kaligrafi. ternyata Provinsi Bengkulu juga memiliki kerajinan tradisional batik yang cukup mumpuni yaitu Besurek. seperti relung kua yang bergambar burung. Pada hakekatnya besurek memiliki arti bersurat atau tulisan yang tradisinya sudah diwariskan secara turun temurun. Dan. batik besurek diperkenalkan para pedagang Arab dan pekerja asal India pada abad XVII. Warna merah berasal dari tanah merah yang diperoleh dari pegunungan Lorentz. Namun juga mengombinasikan beberapa motif. Kemudian panah yang disebut ces atau jimar. dan motif rembulan serta bunga rafflesia. yakni rias tubuh berupa gambar corak hias garis sejajar atau liris yang sangat ekspresif di sekujur tubuh terutama saat melaksanakan upacara adat. Tombak yang pertama kali digunakan dibuat dari kayu nibung yang dinamai ocan atau kamen. . melainkan sudah menjadi seragam tetap beberapa sekolah dan pakaian dinas pemerintah daerah setempat. disebut vom. Warna putih didapat dengan cara membakar kulit siput. relung paku yang meliuk liuk seperti tanaman pakis. sowen. Disebut demikian karena motifnya bertuliskan kaligrafi Arab.

Pending untuk pinggang .Busana Tradisional Pangkalpinang Pakaian adat pengantin Kota Pangkalpinang untuk perempuan adalah baju kurung merah yang biasanya terbuat dari bahan sutra atau beludru yang jaman dulu disebut baju Seting dan kain yang dipakai adalah kain bersusur atau kain lasem atau disebut juga kain cual yang merupakan kain tenun asli dari Mentok. Pakaian pengantin tersebut pada akhirnya kita sebut dengan nama “Paksian”. Pagar tenggalung 7. dengan hiasan kepala yang biasa kita sebut Paksian dan dilengkapi dengan asesoris : 1. Bagi mempelai laki-laki memakai “Sorban” atau disebut “Sungkon”. Kembang goyang 3. Gelang 12. Tutup sanggul atau kembang hong 9. Pada kepalanya memakai mahkota yang dinamakan “Paksian”. Sepit udang 6. Kuntum cempaka 5. Daun bambu 4. konon menurut cerita ada saudagar dari Arab yang datang ke negeri Cina untuk berdagang sambil menyiarkan agama Islam dan jatuh cinta dengan seorang gadis Cina kemudian melangsungkan perkawinan dengan gadis Cina tersebut. Selanjutnya karena banyaknya orang-orang Cina dan Arab yang datang merantau ke pulau Bangka terutama ke Kota Mentok yang merupakan pusat pemerintahan pada waktu itu diantaranya ada yang melakukan perkawinan maka banyaklah penduduk pulau Bangka yang meniru pakaian tersebut. Kembang cempaka 2. pada perkawinan inilah mereka memakai pakaian adat masing-masing. Kalung 10. Sari bulan 8. Pakaian tersebut terdiri dari : * Pakaian Pengantin Perempuan * Pakaian Pengantin Laki-laki * Tata Rias dan Hiasan Pakaian Pengantin Perempuan: Pakaian pengantin perempuan adalah baju kurung dengan bahan beludru merah yang dilengkapi dengan teratai atau penutup dada serta menggunakan kain cual yaitu kain tenun asli Bangka yang berasal dari Mentok. Baju pengantin perempuan menurut keterangan orang tua-tua berasal dari negeri Cina. Anting panjang 11.

6. Melayu Siak Riau dan lain-lain. kain dan . Pakaian Pengantin Laki-laki: Adapun untuk pakaian pengantin laki-laki terdiri dari : 1. Tata Rias dan Hiasan: 1. Sebagai salah satu daerah yang kental dengan budaya Melayu. Pagar Tanggalung dan Sepit Udang pada samping kiri kanan telinga (Godeg). Bentuk Sanggul: Konde tilang yang terbuat dari gulungan daun pandan atau lipatan daun pandan yang diisi dengan bunga rampai yang terdiri dari mawar. Kain sampin biasanya meiliki warna dan corak yang sama dengan baju atasannya. 2. dan songkok atau penutup kepala. pakaian yang dipakai berupa baju kurung. Untuk perempuan. pakaian adat Indragiri.Baju pengantin perempuan ditambah dengan hiasan payet atau manik-manik dan dilengkapi dengan hiasan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan). kain sampin. 2. Pada zaman dahulu yang dipakai adalah sanggul cumpok atau cepul. pakaian adat Riau terdiri dari busana Melayu. seperti pakaian adat Kepulauan Riau. kenanga dan irisan daun pandan. Pakaian adat Kepulauan Riau memiliki variasi pakaian adat. Jubah panjang sebatas betis Selempang yang dipakai pada bahu sebelah kanan Celana Penutup kepala seperti sorban (sungkon) Pending Selop / Sendal Arab Pakaian pengantin laki-laki ini berwarna merah dan biasanya dari bahan beludru dengan hiasan manik-manik dan sama dengan pengantin perempuan dilengkapi dengan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan). 3. 5. 4. Pakaian adat ini disebut dengan baju Melayu teluk belanga. Variasi pakaian adat Riau diantaranya. Selain itu. Busana Tradisional Kepulauan Riau Pakaian adat merupakan salah satu ciri budaya suatu daerah dan setiap daerah tentunya memiliki pakaian adat yang beragam. baju yang dipakai adalah baju Melayu berupa atasan yang disebut Teluk Belanga. melati. busana ini terdiri celana. Untuk pakaian pria. Hiasan Dahi: Hiasan DahiMemakai penutup dahi yang diberi nama “Paksian” dan di dahi dipasang Saribulan. Melayu Bengkalis Riau.

dengan leher baju berbentuk bulat. sarung yang dikenakan sampai menutup kaki. . celana panjang warna gelap yang juga dihias dengan benang emas. serta ikat kepala yang disebut 'dadasa'. Sedangkan kaum wanita mengenakan pakaian yang disebut 'patimah lola' berupa baju 'gamba' yang panjangnya sampai di pinggul. baju jas dengan leher tertutup (jas tutup) dan keris yang terselip di pinggang.selendang. busana yang disebut dengan istilah baju Melayu Cekak Musang dipakai saat acara keluarga. baju tangan pendek dengan leher baju terbuka. Sebagai pelengkap dikenakan hiasan berupa kalung susun (geno kambora). Ia juga mengenakan kain batik yang mempunyai motif sama dengan yang dipakai wanitanya. serta dilengkapi dengan sebilah keris yang terselip dipinggang. merah atau biru dengan motif 'subi' atau 'bomba'. hijau. Busana Melayu Riau ini identik dengan nilai-nilai Islam. Tradisi melayu Riau memang bersumber dari nilai-nilai Islam. masyarakat Sulawesi Tengah memiliki seperangkat pakaian adat yang dibuat dari kulit kayu 'ivo' (sejenis pohon beringin) yang halus dan tinggi mutunya. Selendang dipakai dengan disampirkan dibahu. pakaian haruslah menutup aurat. yang disekelilingnya dihias dengan benang emas. Busana yang disebut dengan istilah baju Melayu Gunting Cina dipakai saat tidak resmi atau saat dirumah. Pakaian adat ini dibedakan untuk kaum pria dan wanita. Selain itu agar pakaian tampak pas di tubuh. dikenakan ikat pinggang (pending) terbuat dari besi kuningan. selain berfungsi melindungi tubuh dari cuaca. gelang (pontade) dan anting-anting (dali). Busana Tradisional Sulawesi Tengah Secara tradisional. Pakaiannya yang tertutup mencerminkan makna. Busana Tradisional Yogyakarta Dalam hal berpakaian masyarakat Yogyakarta membedakan antara yang dikenakan kaum pria dan kaum wanita. Pada umumnya kaum pria mengenakan pakaian adat yang terdiri dari: ikat kepala (siga) yang dihias dengan manik-manik. Pakaian adat yang dikenakan oleh kaum pria terdiri atas tutup kepala (destar). sarung berwarna kuning. Variasi pakaian adat Riau membedakan pula waktu pemakaiannya.

Busana Tradisional Sumatera Selatan Masyarakat daerah Sumatera Selatan secara tradisional membagi pakaian adat mejadi dua macam. Pakaian adat kaum pria biasanya berupa mahkota. Perhiasan lain yang dikenakan biasanya berupa anting-anting dan cincin. pending. sarung sebatas dengkul. Busana Tradisional Sulawesi Tenggara Pakaian adat yang bias digunakan oleh orang Kendari untuk pria biasanya berupa tutup kepala (destar). Sedangkan pakaian yang di kenakan oleh kaum wanita mirip dengan yang dikenakan oleh kaum pria yaitu mahkota serta kalung bersusun. kalung dan gelang. yaitu pakaian kaum laki-laki dan kaum wanita. kain selempang dan sarung. diletakkan ditengah-tengah sanggul. . Sedangkan untuk kaum wanitanya berupa baju kebaya. kalung bersusun dengan baju khas dengan memakai celana panjang dan kain songket pada bagian tengah badan.Sedangkan pakaian kaum wanitanya terdiri atas kebaya dan kain batik dengan rambut yang disanggul dan diberi hiasan konde. dan celana panjang. gelang di kedua belah tangan dan songket yang melingkar di bagian tengah badan. baju model jas tertutup. Sebagai hiasan kepala digunakan kembang serta perhiasan antara lain berupa antinganting.

Pakaian-pakaian pengantin: Pakaian pengantin Maluku Utara disebut pakaian Koci-koci. Hiasan yang dipakai untuk menambah anggunnya pakaian ini adalah gelang. Pakain pengantin ini mirip dengan pakaian pengantin Donggala. juga sudah merupakan pakaian konsumsi sesehari masyarakat Maluku. Biasanya dipakai untuk upacara dan hari besar lainnya.Busana Tradisional Maluku Utara Pakaian daerah Maluku dilihat dari segi motif dan cara memakainya cukup sederhana. kalung. pakaian nelayan serta pakaian sesehari lainnya yang tidak disebut satu persatu. acara resmi lainnya. • • • . ada juga pakaian untuk ke gereja yang disebut pakaian Itang. adalah pakaian sesehari kaum wanita. melayu. serta emas perak yang kesemuanyaterbuat dari gading atau kerang laut. Alas kaki yang dipakai disebut Canela dimana bagian depannya melingkar keatas. Pakain ini kelihatan lebih anggun berwarna merah menyala dihiasi manic-manik serta kombinasi kebaya cele putih. biasanya dipakai untuk acara pesta atau acara besar lainnya. Pakaian petani. serta merupakan pakaian yang dianggap baik. Nona rok adalah sejenis pakaian wanita yang dulunya dipakai oleh kalangan atas. pakaian ini juga sering dipakai oleh kalangan menengah kebawah seperti mereka yang berjualan di pasar dan lain sebagainya. Pakaian ini kebanyakan dibuat dari tenunan tradisional Tanimbar dikombinasi dengan kain satin putih. hal ini tergambar dari beberapa contoh pakaian daerah dibawah ini: 1. Sekarang sudah merupakan pakaian yang dimodifikasi dan dipakai sebagai pakaian untuk pakaian upacara adat. Kain kebaya merah adalah jenis pakaian daerah lain yang menjadi pakaian sesehari gadis dan ibu-ibu di desa. Pakaian ini sudah menjadi pakaian nasional untuk seluruh masyarakat Maluku. 3. warnanya juga antara hijau dan kuning. Selain pakaian-pakaian tersebut diatas. atau dipakai oleh anak-anak keturunan raja. pesta. Pakaian ini bercirikan Islam. Pakaian pengantin Maluku Tengah disebut baju Pono atau dapat juga disebut Mistisa. 2. Baniang dan kebaya dansa adalah pakaian sesehari untuk kaum pria. Pakaian pengantin Maluku Tenggara disebut sanikir. Baju Cele Kain Salele. 5. 4. 6.

ataupun nama lokasi seluruh lapisan warga keraton berada semasa kesultanan yang ada di Banten lama. Sedangkan masyarakat Sunda lain mengikat sarung pada bagian pinggangnya. maka dipilihlah nama yang diambil dari bangunan. Konon warna tersebut memang sesuai dengan watak masyarakat Banten yang penuh dengan harapan. . ruangan. Sebagaimana batik kebanyakan. Komprang tidak berasal dari daerah tertentu di Jawa Barat. mengenakan pangsi dan komprang dengan menambahkan sarung yang dikalungkan di bahu. Pada pakaian-pakaian tertentu makna simbolis dari motif ragam hias dan perhiasan yang melengkapi menentukan kapan. Batik Banten juga memiliki motif yang menjadi ciri khas. Untuk mempermudah penyebutan nama-nama motif batik dan gampang diingat. Selain itu. tetapi dipakai di seluruh Provinsi itu. Hal inilah yang mengubah warna motif meriah berubah lembut pada saat proses pencelupan. pakaian tradisional tersebut juga merupakan salah satu pakaian khas dari Jawa Barat. termasuk Banten ketika masih belum terpisah. pengambilan nama motif juga ada yang berasal dari nama gelar kesultanan. dan pada zaman dulu komprang biasa dikenakan masyarakat Sunda setiap harinya. Banten ternyata memiliki busana khas dengan pola Batik. Cara menggunakan pakaian itu bermacam-macam. dimana dan oleh siapa pakaian tersebut dapat digunakan. Selain celana komprang dan baju pangsi. Busana Tradisional Kalimantan Selatan Suku bangsa Banjar mengenal berbagai jenis pakaian tradisional menurut fungsi. Menurut keterangan warga setempat. semangat. namun tetap menjunjung tinggi sikap kemudahan hati. Namun tidak hanya di Provinsi Banten saja.Busana Tradisional Banten Baju pangsi dan celana komprang menjadi salah satu busana tradisional di Banten. dan karakter kuat. baju pangsi biasa digunakan masyarakat Sunda ketika berlatih pencak silat. Batik Banten mempunyai padu padan warna. Perpaduan ini ternyata sangatlah erat kaitannya dengan pengaruh air di bawah tanah. jenis dan pemakaiannya. Warna Batik Banten cenderung meriah namun tetap terasa hangat dipandang dan lembut di mata. Sebagian penggembala kerbau misalnya.

Apalagi kalau orang itu memegang peranan penting dalam masyarakatnya. Kerutan-kerutan tersebut melambangkan aturan hidup orang Minangkabau yang diungkapkan melalui pepatah berjenjang naik bertangga turun. Baju Taluk Balanga. Salawar. belah sampai ke dada tanpa kancing. pakaian sehari-hari ini digunakan oleh para wanita. Pakaian Panghulu Seorang panghulu atau ninik mamak. Umumnya tiap ornament disulamkan dalam hitungan ganjil. Untuk wanita dewasa biasanya digunakan kubaya basawiwi (basujab). walaupun lapang dibatasi oleh ukua (ukur) dan jangko (jangka) diwujudkan melalui sulaman benang emas pada pinggirnya (minsai). Bagi masyarakat Banjar pada umumnya bilangan ganjil mengandung makna kebai Busana Tradisional Minangkabau Minangkabau Traditional Dress Masyarakat Minangkabau mengenal berbagai jenis busana tradisional. Biasa disebut saluak batimba (seluk bertimba) terbuat dari kain batik. Penggunaan baju kubaya juga dilengkapi dengan tutup kepala berupa kakamban (serudung) yang dibuat dari kain sutra atau sejenisnya yang tembus pandang. yang digelari datuk oleh masyarakat memegang peranan penting sebagai pemimpin kaumnya dan berhak mengatur sanak keluarga yang terhimpun dalam kaumnya. Hal ini melambangkan keterbukaan dan kelapangan dada seorang pemimpin yang tidak suka mengunting dalam lipatan. adalah kemeja bertangan panjang dengan leher baju bulat dan sedikit kerah keras mencuat ke atas. Kemudian dikenakan baju lengan hitam longgar (besar lengan) dengan leher lepas tidak berkatuk. Bagian depan terbelah dan diberi kancing. merupakan pakaian sehari-hari yang biasa dikenakan pada seorang bayi. Bagian muka saluak ditata berkerut-kerut berjenjang dengan bagian atas datar. keris. yang menjadi pakaian sehari-hari kaum pria. sesamping. jangko singkek tak dapek panjang. Jenis pakaian ini bermacammacam. Baju Kurung Basisit: Adalah jenis pakaian lain yang biasanya digunakan oleh kaum wanita jika bepergian. terdiri dari destar sebagai penutup kepala. Celana lapang ini melambangkan kesiagaan.• • • • • Lampin. baju hitam longgar. Masing-masing daerah adat di Minangkabau memiliki variasi yang berbeda. namun secara umum terdiri dari destar. Sebagai pakaian sehari-hari baju taluk balanga ini dilengkapi dengan tutup kepala berupa kopiah beludru hitam atau kopiah jangang. Termasuk menghadiri suatu upacara adat. celana hitam lebar. kain sandang. jangka pendek tak dapat singkat. Dikenakan pula kain samping . artinya ukur panjang tak dapat singkat. lampin dibuat dari tapih (sarung) atau bahalai (kain sarung) yang dipotong menjadi beberapa bagian dengan bentuk segi empat panjang. Dalam pepatah dinyatakan ukua panjang tak buliah singkek. Biasanya pakaian ini digunakan oleh kaum pria baik yang berusia remaja maupun pria dewasa. yang penggunaannya hampir selalu dikaitkan dengan fungsi sosial tertentu. dan tongkat. Pasangan baju kubaya ini adalah tapih atau sarung. Jenis lainnya yang juga disukai adalah kubaya barenda. adalah baju yang dipakai anak-anak kecil sehari-hari. yang di beberapa masyarakat lain dikenal dengan ‘baju kodok’ ini dapat digunakan oleh anak laki-laki maupun anak wanita. Di bagian bawah baju diberi sulaman dengan mempergunakan benang emas atau air guci. Model baju. seperangkat kain yang membungkus tubuhnya bukan saja berfungsi melindungi tubuh tetapi mengandung makna-makna simbolis yang harus dipegang teguh. Salawar panjang ini biasanya digunakan sebagai pasangan baju taluk balanga. seperti penghulu dan bundo kanduang. Pada masa lalu. Masyarakat juga mengenal adanya salawar panjang atau celana panjang semata kaki yang tidak berkantong. Pakaian kebesaran ini juga disebut pakaian adat. Umumnya dipakai celana (sarawa) lapang warna hitam. Baju Kubaya. Untuk tapih ini biasanya didatangkan dari pekalongan. Oleh karena itu ia memiliki pakaian kebesaran.

Sarung ini berfungsi religius bagi pemakainya. yaitu kalung kuda. Tangannya dihiasi gelang gadang (besar). baju putih model gunting cina dan peci/kopiah. dan selendang pendek. Bentuknya seperti tanduk kerbau dengan kedua ujung runcing berumbai dari emas atau loyang sepuhan. Pada hakekatnya tongkat adalah komando anak kemenakan. Bahunya berselempang kain sandang atau kain kaciak dari kain cindai sebagai lambang kebesaran seorang penghulu (ninik mamak). Pemakaian gelang melambangkan bahwa semua yang dikerjakan harus dalam batas-batas kemampuan. Keris dengan posisi miring ke kiri terselip di perut melambangkan keberanian tanpa bermaksud menghadang musuh melainkan untuk menjadi hakim. biru atau lembayung ditaburi dengan benang emas. Kadang-kadang juga dilengkapi dengan pemakaian beberapa perhiasan. artinya tempat atau pemegang harta pusaka kaumnya. Sesamping ini dipakai terutama saat bepergian dan kebanyakan dipilih warna merah sebagai lambang keberanian serta tanggungjawab. gelang bapahek dan gelang ular. Perhiasan yang dikenakan adalah subang atau anting-anting dari emas. Pinggirnya dihias minsai sebagai lambang demokrasi tetapi dalam batas-batas yang patut. Juga melambangkan bahwa tiap-tiap keputusan yang telah dibuat harus ditegakkan penuh wibawa. untuk mengingatkan bahwa penghulu punya penongkat atau pembantu dalam menjalankan jabatannya. sarung bugis ataupun kain pelekat. Tutup kepalanya dari selendang pendek dengan ujung tergerai ke belakang. Di bahu kanannya berselempang ke rusuk kiri kain balapak. lambak/kodek atau kain sarung. sehari-hari mengenakan celana batik tanpa pisak. Pakaian Bundo Kanduang Seorang wanita yang telah diangkat menjadi bundo kanduang (bunda kandung) memegang peranan penting dalam kaumnya. Sebagai alas kaki dikenakan selop dari beludru. Penutup badan bawah digunakan kain sarung (kodek) balapak bersulam emas. batik. Kalung dari beberapa macam. Tetapi umumnya kelengkapan pakaian bundo kanduang terdiri dari tengkuluk. Pilihan warna putih pada baju melambangkan kebersihan dan kemurnian para pemakainya. Lambak atau kodek. Khusus pada pakaian penghulu. masing-masing daerah adat di Minangkabau memiliki variasinya masing-masing.(sesamping) yang melilit pinggang di atas lutut dengan sudutnya seperti niru tergantung. sebagi simbol meletakkan sesuatu pada tempatnya seperti pepatah memakan habis-habis. Bahannya berasal dari kain balapak tenunan Pandai Sikat Padang Panjang . Variasi lain dikenakan tengkuluk. kalung pinyaram. seperi kalung. yang juga disebut kain sarung dapat berupa kain songket. melambangkan tanggungjawab yang harus dipikul oleh bundo kanduang untuk melanjutkan keturunan. baju kurung. Ia juga merupakan peti ambon puruak . Pakaian sehari-hari Para wanita. Pemakaian samping seperti niru tergantung ini melambangkan kehati-hatian pemakai dalam segala tindak-tanduknya dalam masuarakat. dan berhiaskan anting-anting serta kalung. menyuruk (bersembunyi) hilang-hilang. Dimaksudkan supaya kokoh luar dan dalam. dan kalung kaban. Seperti juga pada pakaian penghulu. Tidak semua wanita dapat menjadi bundo kandungan. Kaum prianya. Ia haruslah orang yang arif bijaksana. Pinggangnya dililit cawek (ikat pinggang) dari sutra berjumbai (bajambua alai). Baju kurungnya berwarna hitam. sementara selendang tersampir di bahu. Baju kurung ke luar lengannya panjang dan dalamnya sampai di bawah lutut terbuat dari berbagai jenis bahan sesuai kemampauan. Ragi benang emas yang menghiasinya disebut cukia menandakan bahwa pemakainya memiliki pengetahuan yang cukup di bidangnya. kalung gadang. bila ada sulaman menandakan kerajinan anak kemenakan yang mempergunakan waktu sebaik- . Biasanya masih ditambah dengan tongkat untuk berjalan di malam hari atau berdiri lama. Model gunting cina merupakan model pakaian longgar menujukkan pakaian sehari-hari. kain selempang. anting-anting serta cincin. pergi tempat bertanya dan pulang tempat berita. kata-katanya didengar. kain sarung. Seorang bundo kandung mengenakan tengkuluk tanduk atau tengkuluk ikek sebagai penutup kepala. Oleh karena itu memiliki pakaian adat yang berbeda dengan wanita lainnya. merah. khususnya yang telah berumur dalam kesehariannya mengenakan baju kurung ke luar. Pemakaian tengkuluk ini melambangkan bahwa perempuan sebagai pemilik rumah gadang.

upacara yang dalam hal ini adalah upacara khusus tentang penghormatan arwah (punen).baiknya. Sebagian besar dari mereka menganut kepercayaan animistik dimana setiap benda apakah itu batu. Walaupun dewasa ini sudah semakin jarang dijumpai. Lelaki muda lebih suka mengenakan peci dari bahan beludru warna hitam sebagai penutup kepala. Islam dan Barat. lepas pantai propinsi Sumatera Barat. tidak terpengaruh oleh Hinduisme. Selain itu busana juga mengungkapkan ciri-ciri kedekatan penyandangnya dengan alam lingkungan yang tropis. disebut sokgumai. yang khususnya dipakai kaum pria adalah cawat. Tidak ketinggalan tongkat "manau sonsang" ikut melengkapi pakaian yang dikenakan oleh penghulu. terbuat dari kulit kayu pohon baguk dan sebut kabit. Sipora. berhutan lebat berikut keaneka ragaman floranya. Selain kabit dan sokgumai. perikehidupan serta ungkapan budaya material masyarakat Mentawai patut dikemukakan sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia yang unik. orang-orang Mentawai dapat dikatakan tidak menggunakan apa-apa lagi yang benar- . Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" Penulis : Dewi Indrawati/Biranul Anas Busana Tradisional Mentawai Mentawai Traditional Dress Penulis : Biranul Anas Suku bangsa Mentawai mendiami rangkaian kepulauan Mentawai. Destar dengan kerutan ini melambangkan aturan adat berjenjang turun. Sampai dengan ± 50 tahun yang lalu masyarakat Mentawai masih hidup dalam kebudayaan neolitik berikut segenap tata cara adat istiadat. yang pada saat waktu sholat dapat digunakan semestinya. Pembedaan busana lebih ditentukan pada kejadian. bermakna seseorang tidak boleh menurut kehendak sendiri. Hal ini antara lain tampak pada banyaknya hiasan floral yang dikenakan. perikehidupan serta ungkapan budayanya. Tatabusana masyarakat asli Mentawai mencerminkan azasazas egaliter. Kaum wanita memakai sejenis rok yang terbuat dari dedaunan pisang yang diolah secara khusus dan dililitkan kepinggang untuk menutupi aurat. pimpinan atau anak buah. Pagai Utara dan Pagai Selatan. penutup aurat. Pemakaian peci oleh penghulu masih dibalut dengan destar hitam yang mempunyai kerutan-kerutan. Budisme. Sebagai pelengkap dibahunya tersampir kain bugis (bugih). binatang atau manusia memiliki roh. yang terdiri dari pulau-pulau Siberut. bertanggan naik. peristiwa. dalam tatanan masyarakat tidak ada strata-strata sosial. Salah satu kelengkapan busana suku Mentawai.

atau tik-tik dalam bahasa daerah Mentawai juga merupakan identifikasi marga atau daerah asal penyandangnya.benar menutup tubuhnya selain aneka perhiasan serta dekorasi tubuh yang terbuat dari untaian manik-manik. putih dan hitam atau hijau. mulai dari busana sampai dengan . Tato merupakan simbol kejantanan. kepercayaan serta alam fikiran suku bangsa Mentawai. ogok. Lalu disusul dengan tangan. Pencacahan tubuh memiliki berbagai perlambangan baik sosial maupun psikologis yang berangkat dari faham-faham adat. cermin raksa. terbuat dari gelas berwarna merah. Sedangkan gelang manik pangkal lengan disebut lekkeu. Proses tato dilaksanakan pada tahap-tahap tertentu dalam umur manusia. Busana kerei ini selain terdiri atas kabit dan sorat juga dilengkapi • • • • • • sobok. Peristiwa ini melaksanakan praktek sikerei. ikat pinggang dari lilitan kain polos. Bagian yang biasanya dihiasi tato adalah pipi dan punggung. rnahkota dari bulu-buluan dan bunga-bungaan. Selain itu tato. pakalo. gelang-gelang. sejenis kain penutup aurat bercorak dibagian depan kabit. terakhir pangkal kaki antara lutut dan pergelangan kaki. Setiap marga (klan) dan dapat memiliki corak tatonya masingmasing. kedewasaan dan keperkasaan bagi kaun pria. Kalung manik-manik yang sangat impresif yaitu ngaleu menghiasi leher dalam jumlah yang dapat mencapai puluhan. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" Busana Tradisional Melayu Malay Traditional Dress Penulis : Bernau Ompusunggu Biranul Anas Pakaian Upacara Tradisi Melayu menempatkan upacara pernikahan sebagai peristiwa yang penting. suatu kegiatan perdukunan. diawali pada usia 7-11 tahun dan dilanjutkan secara bertahap hingga usia 18-19 tahun. paha dan pantat. Ritus ini dipimpin oleh seorang kerei (dukun) dalam busana kerei yang sebenarnya adalah busana tradisional Mentawai yang dihiasi dan ditaburi berbagai dekorasi yang lebih banyak dari pada keadaan sehari-hari. Warna tato biasanya biru kehitaman dan diungkapkan dalam garis-garis kontur geometris simetris. kuning. Tampilan busana selengkapnya suku Mentawai ini dikenakan pada upacara punen. Kedua pergelangan tangan juga dihiasi dengan gelang-gelang manik-manik. sejenis subang pada kedua telinga. bunga-bungaan dan daundaunan. bergantung pada kalung depan dada. Tato adalah busana kebanggaan. Aspek yang terpenting dan amat berarti dalam tatacara busana serta rias tubuh adalah tato (cacah). lei-lei . dianggap abadi dan dipakai serta dikenakan hingga ajal. suatu ritus yang ditujukan untuk menghormati roh nenek moyang. Tato juga menjadi ungkapan keindahan dan selain mendatangkan kekuatan juga dipercaya sebagai pembawa keselamatan serta kerukunan dalam kehidupan sosial masyarakat. Ini berpengaruh pada busana upacara pernikahan Melayu yang tampil secara lengkap dan indah. botol kecil tempat ramuan obat-obatan. biasanya merah. rakgok. dada. Demikian pula pada kedua pangkal lengan dan pada bagian kepala berbaur dengan aneka bunga dan daun-daunan. Ikat kepala ini dinamakan sorat.

Keris dianggap lambang kegagahan dan kemampuan menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Pada jari terpasang aneka ragam cincin seperti cinci-n genta. Pada sanggul ini ditempatkan hiasan-hiasan keemasan. Di Serdang cara-cara pemakaiannya justru kebalikan dari daerah Deli. mastura. Bagian kepala disalut oleh selendang bersulam corak-corak emas yang menutupi tata rambut dalam gaya sanggul khusus yakni sanggul lipat padan atau sanggul tegang.perlengkapan perhiasannya. Di daerah leher dan dada biasanya tergantung kalung dari corakcorak rantai mentimun. Di daerah Deli untuk kaum bangsawan mengenakannya secara melintang. Diberi hiasan gerak gempa. sarung yang bercorak kotakkotak besar atau kain songket. dari bahan brokat (kain senduri). Pakaian ini tidak memakai selendang. Sementara untuk pakaian laki-laki berupa pakaian Teluk Belanga: Pakaian ini terdiri dari tutup kepala berupa kopiah atau topi dari bahan sutra berbentuk kepala kapal. cincin bermata. rantai panjang dan tanggang walaupun dewasa ini sudah amat jarang dijumpai. Lengan atasnya mengenakan kilat bahu dan sidat sebagai lambang keteguhan hati. yaitu tengkulok yang terbuat dari kain songket. Gelang juga dipakai pada kaki. kain bertabur atau destar. berwarna sesuai dengan baju dan celananya. Kaum pria memakai dua pilihan tutup kepala. Tengkulok adalah lambang kebesaran dan kegagahan seorang pria Melayu. ikatan serdang dan sebagainya. Pada bagian pinggang dipakai bengkong dan pending. hijau atau kuning dan dililit dengan sarung songket. Baju panjang ini dipakai dengan sehelai kain yang terbuat daripada katun biasa berwarna polos. gelang ikol dan keroncong. Pada upacara ini Wanita Melayu mengenakan Kebaya panjang atau baju kurung yang terbuat dari jenis-jenis kain yang bermutu tinggi seperti brokat atau sutra bersematkan peniti-peniti emas. berlapis tiga dan dibalut dengan beludru atau kain berwarna kuning. Sebagaimana pada kaum wanita kain pembuat teluk belangapun adalah dari jenis yang bermutu seperti satin atau sutra. bunga mas dan hiasan batu permata sehingga menampilkan kesan kebesaran dan kegagahan. rantai serati. sekar sukun. gogok rantai lilit. Celana panjang lebar dengan bahan dan warna yang sama dengan baju. Kadang-kadang baju dan kain kedua-duanya terbuat dari bahan yang sama. Alas kaki berupa selop sewarna dengan baju. yaitu ikatan bendahara (Kedah). Tutup kepala yang sejak dulu dipakai disebut destar. Terbuat dari rotan yang berbentuk parabola. renda. Baju kurung ini dipadukan dengan kain songket buatan Batubara atau tenunan Malaysia. Sebagai alas kaki dipakai selop bertekad yaitu sejenis sandal bersulam corak-corak keemasan. Pada leher pria digantungkan beberapa hiasan rantai. Bagian pinggang dihiasi oleh bengkong dan pending. sedangkan bagi pria kebanyakan memasangnya dengan posisi belah utak. Penutup badan pria adalah teluk belanga yang terdiri dari atas baju berkrag kocak musang. Pakaian Sehari-hari Wanita-wanita Melayu dari Medan di sebelah pantai timur Sumatera Utara membuat baju mereka sangat panjang (baju panjang). Pada pinggang depan sebelah kanan disisipkan sebilah keris yang bergagang emas. Bajunya berupa kemeja kurung terbelah dibagian dada saja dari bahan sutra berwarna merah. Lengan bajunya sangat lebar dan panjangnya sampai pergelangan tangan. Ikatan tengkulok ini ada beberapa jenis. gelang kana. berseluar (celana panjang) dan bersamping. muslin atau viole yang halus yang bercorak kotak-kotak besar. Pengantin wanita juga memakai gelang kerukut yang beraneka jenis seperti gelang tepang. Hiasan rambut berupa sanggul yang sederhana. . cincin patah biram dan cincin pancaragam. sutera.

Ulos pada mulanya identik dengan ajimat. Menurut beberapa penelitian penggunaan ulos oleh suku bangsa Batak. Sudah barang tentu tidak semua ulos dapat dipakai dalam kehidupan sehari-hari. dilengkapi dengan sarung. Pada suku Batak Simalungun pakaian yang dipakai antara lain bulang yang terbuat dari kain ulos dengan motif gatip dan pakaian sehari-hari yang terbuat dari ulos yang disebut jobit. kain dan ulosnya. Apabila seorang wanita sedang menggendong anak disebut parompa. Pada upacara secara umum wanita Batak menggunakan ulos sebagai penghias bahu/selendang. ulos (disebut Uis oleh suku bangsa Batak Karo ) adalah pakaian sehari-hari. Bila ulos dipakai oleh perempuan Batak Toba. Mempelai laki-laki memakai baju jas tutup warna putih. Simalungun) mengenal tekstil buatan luar. Pakaian pengantin perempuan Batak Karo terdiri dari baju tutup dengan lengan panjang. Khusus bagi suku Batak Pak pak dan Dairi. Pada busana pengantin perempuan Batak Toba hampir semua pakaian yang dipakai terdiri dari kain ulos yang salah satunya diselempangkan pada kedua bahu . Sebagai penutup kepala disebut tali-tali.Busana Tradisional Batak Batak Traditional Dress Penulis : Biranul Anas / Jonny Purba Kehidupan masyarakat suku bangsa Batak. dipakai hingga batas dada. Muangthai dan Laos. sedangkan bagian bawah memakai sarung sungkit yang dililit dengan kain ulos. juga telah diganti dengan sarung tenunan bercorak kotak-kotak. sadum. serta tutup kepala yang disebut saong. ulos yang digunakan dominan berwarna hitam. Dalam upacara perkawinan kain ulos lebih tampak pada pakaian pengantin. umumnya diselempangkan di pinggangnya atau juga sebagai selendang. Karo. sabesabe atau detar. Kadang-kadang diselempangkan (menggunakan ulos ragihotang). tali-tali (tutup kepala) serta baju berbentuk kemeja kurung berwarna hitam. memperlihatkan kemiripan dengan bangsa Karen di perbatasan Myanmar. penutup kepala dan juga sebagai penutup dada. Karo dan Simalungun menggunakan ulos yang berbentuk tudung sebagai pelindung panasnya matahari. ragidup. dipercaya mengandung "kekuatan" yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya istimewa untuk memberikan perlindungan. dan dilengkapi dengan sarung suji. Dalam keseharian perempuan Batak aslinya memakai kain blacu hitam (dapat diganti dengan ulos disebut haen ) dengan dan baju kurung panjang yang umumnya berwarna hitam. ragi hotang. bagian bawah disebut haen. Khusus pada perempuan suku bangsa Batak Pak pak/Dairi. Pada suku Batak Toba. dan bila dipakai berupa selendang disebut ampe-ampe. tidak terlepas dari penggunaan kain ulos. dilengkapi dengan ulos di kepala (biasanya ulos mangiring) dan setengah badan. Untuk tutup kepala disebut saong. tanpa alas kaki. Dalam keseharian. Misalnya ulos jugia. Disamping bulang ada juga ulos surisuri sebagai tutup kepala. mereka memakai pakaian biasa. sedangkan bagian bawahnya disebut singkot. laki-laki Batak menggunakan sarung tenun bermotif kotak-kotak (terkadang diganti dengan ulos yang disebut singkot). Bila dipakai oleh laki-laki bagian atasnya disebut ande-hande. hanya dapat dipakai pada waktu-waktu tertentu. dan runjat. bulang-bulang. sedangkan bagian bawah memakai ulos dari jenis ragi pane. Sebelum orang Batak (Toba. khususnya pada ikat kepala. Kain ulos yang dipakai orang-orang Batak pada upacara-upacara adat. Untuk penutup punggung disebut hoba-hoba. Saat ini kain blacu hitam selain diganti dengan ulos. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbagai upacara adat. baju dan celana.

Pada daerah pinggang dipakai Bobat atau ikat pinggang yang dahulu terbuat dari emas dan kadang-kadang berkepala dengan ornamen kepala ular naga yang melambangkan keagungan. Untuk si samping pada masa dahulu menggunakan abit Bugis (kain Bugis) atau kain sarung. tetapi ujungnya dilipat ke arah kening sehingga terjuntai sedikit di atas kening bersama renda atau rumbai yang terbuat dari benang emas. Bulang terdiri dari tiga macam. pengantin pria kadangkadang mengenakan tutup kepala yang dinamakan serong barendo yang terbuat dari kain warna hitam yang diberi renda atau rumbairumbai. Belakangan ini baju pengantin wanita kadang-kadang diberi sulaman. Dewasa ini selendang terbuat dari kain songket. Baju. Tetapi sekarang menggunakan kain songket. Bagian penutup selop kadangkadang diberi hiasan. Bobat (ikat pinggang) yang dahulu biasanya terbuat dari emas atau perak. Pada masa lalu. Celana panjang atau pantalon tanpa warna tertentu. bertingkat dua atau disebut bulang hambeng (bulang kambing) dan tidak bertingkat. godang (baju kebesaran) yang pada masa lalu berbentuk jas tutup. kedua pengantin memakai tudung kepala yang terbuat dari ulos suri-suri. Baju pengantin ini disebut baju godang atau baju kebesaran. masing-masing bertingkat bertingkat tiga disebut bulang harbo (bulang kerbau).sampai ke badan (biasanya jenis ulos sadum). terbuat dari kain lakan berwarna hitam. Bagian samping kanan ampu yang salah satu ujungnya mengarah ke atas dan satu lagi ke bawah mengandung arti bahwa yang paling berkuasa adalah Tuhan dan manusia pada akhirnya mati dan dikubur. seperti sulaman benang emas yang hanya berfungsi estetika tanpa arti perlambang. Bagian bawah badan tertutup kain songket dengan warna yang tidak ditentukan. Cara memakainya hampir sama dengan destar atau tengkuluk (topi). Alas kaki menggunakan selop atau sandal yang biasanya tertutup pada bagian depan atasnya. Pengantin pria menggunakan busana yang terdiri dari : ampu atau penutup kepala dengan bentuk khas Mandailing/Angkola yang terbuat dari kain dan bahan lain. Pada suku bangsa Batak Simalungun. Bulang mengandung makna sebagai lambang kebesaran atau kemuliaan sekaligus sebagai simbol dari struktur masyarakat. Arti perlambang pada selendang adalah lambang dalihan na tolu. Baju Godang mengandung makna keagungan. ikat pinggang terbuat dari emas atau perak sebagai lambang kebesaran. dan dililit dengan ulos ragi hotang. sisi kanan melambangkan kahanggi (kerabat satu marga). tetapi kini sudah banyak yang terbuat dari logam yang diberi sepuhan emas. Bagian atas badan tertutup oleh baju berwarna hitam yang dahulu dibuat dari kain beludru berbentuk baju kurung tanpa diberi hiasan atau sulaman. Pada masa sekarang menggunakan jas biasa berwarna hitam yang dilengkapi dengan kemeja lengan panjang dan dasi. Penamaan bulang ini dikaitkan dengan jenis hewan yang disemblih. Diberi ornamen warna emas makna simbolik sebagai lambang keagungan orang yang memakainya. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" . Tetapi sekarang sudah umum menggunakan ikat pinggang biasa. tampak dari segitiga yang dibentuk dengan selendang yang disilangkan itu. Ampu merupakan mahkota yang biasanya dipergunakan oleh raja-raja di Mandailing dan Angkola pada masa lalu. dan bagian bawah melambangkan anak boru (kerabat penerima gadis). Selop hanya berfungsi praktis tanpa mengadung arti perlambang. Sisamping (kain sesamping) yang dibelitkan dari batas pinggang sampai ke lutut. Misalnya penggunaan bulang bertingkat tiga bila hewan yang disemblih adalah kerbau. Dua lembar selendang yang disilangkan pada bagian dada sampai ke punggung. Pada pesta perkawinan wanita suku bangsa Mandailing/Angkola menurut adat menggunakan tata busana yang terdiri dari : bulang yang diikatkan pada kening. tergantung selera pemakai. selendang terbuat dari kain tonun petani (kain tenunan petani). Pada masa dahulu. Untuk selendang pengantin. Pada masa lalu. Sisi kiri melambangkan mora (kerabat pemberi anak gadis). Sepatu sebagai alas kaki dahulu menggunakan alas kaki atau selop yang dinamakan capal yang terbuat dari kulit. Warna hitam ampu mengandung fungsi magis sedangkan warna emas mengandung lambang kebesaran. Bulang terbuat dari emas. kadang-kadang juga menggunakan kain polos tanpa warna tertentu.

biasanya dikenakan baju berbentuk jaket atau jubah berbahan katun. kuning. Busana asli wanita suku bangsa Nias hanya terdiri dari lembaran kain (bahan blacu hitam atau kulit kayu). Busana ini dilengkapi dengan aja kola. Jenis kalung lainnya adalah nifatali. Salah satu bentuk tutup kepala yang digunakan adalah saembu oti. Sementara itu. Laki-laki Nias kebanyakan menggunakan kalabubu sebagai penghias leher. Dalam keseharian masyarakat Nias mengenal busana asli yang belum memperoleh pengaruh luar. Busana ini dilengkapi dengan balahogo sokondra. aya ba mbagi bobotora. merah dan putih.Busana Tradisional Nias Nias Traditional Dress Penulis : Bernali Ompusungu Orang Nias. Orang-orang Nias pada masa lampau adalah prajurut-prajurit perang yang gagah berani. yaitu baru lema`a. Selain itu. Salah satu jenis baru yang dikenal masyarakat Nias adalah baru ni`ola`a harimao. terbuat dari daun palem. perak atau emas. Cara penggunaannya adalah hanya dengan melilitkannya di pinggang dan kekenakan tanpa baju. Baju berbentuk rompi tidak berkancing ini berwarna dasar coklat atau hitam dan dengan ornamen berwarna merah. Baik dari jenis yang hanya dikenakan oleh kaum bangsawan serta tutup kepala khusus untuk kepala wilayah. salah satu jenis tutup kepala khusus untuk perang disebut tete naulu. Untuk menghadiri upacara adat. Bagian bawah . dan hitam. yang biasanya hanya dikenakan pada telinga kanan saja. yaitu cawat atau celana yang terbuat dari bahan kulit kayu. yang berwarna merah. yaitu salah satu jenis penutup baju bagian atas (seperti kalung) yang terbuat dari bahan batubatuan. Tutup kepala ini terbuat dari bahan rotan dililit kain akantun berwarna biru. yaitu anting logam besar. yaitu baju dengan motif kulit harimau. Selain model rompi ada juga baju berlengan tanpa kancing yang juga terbuat dari bahan kulit kayu. Tutup kepala ini digunakan pada saat upacara saja. Ada juga tutup kepala. penduduk pulau Nias di pantai Selatan Sumatera memiliki variasi busana tradisional yang menambah keanekaragaman busana sukubangsa-sukubangsa di Sumatera Utara. yaitu gelang yang terbuat dari bahan gulungan kuningan dengan berat mencapai 1 kilogram (khusus untuk perempuan dewasa mengenakan dua buah gelang). berlengan kuning dihias motif sisir berwarna hijau atau kehitaman. yang terbuat dari rajutan rotan dilengkapi dengan daun pelem sebagai penutup di bagian belakang. Dunia peperangan yang begitu dekat dalam kehidupan masyarakatnya membentuk "budaya perang" yang juga perpengaruh pada busana tradisional orang Nias. tanpa busana atas (baju penutup dada). khususnya busana kaum prianya. terdiri dari baru atau baju yang aslinya terbuat dari bahan kulit kayu. kalung yang terbuat dari lilitan perak atau emas dan nifato-fato. namun saat ini sudah merupakan gabungan dengan kain katun. Kalabubu adalah kalung untuk lakilaki yang terbuat dari kuningan dan dilapis dengan potongan kayu kelapa (aslinya dilapisi dengan emas). Perlengkapan busana ini adalah tombak dan pisau kecil. kalung yang terbuat dari lempengan kuningan. dan saro dalinga. Untuk upacara. rotan dan pelepah kelapa. masih banyak lagi jenis tutup kepala lainnya. yang disebut takula. Selain itu masih ada jenis lain seperti balahogo rate. busana kaum laki-laki Nias.

pakain tradisional Nias menggunakan bahan Wit kayu. Busana pengantin Nias secara? keseluruhan pun nampak sederhana. kuning di bagian depan. tampak adanya unsur-unsur Melayu. adalah salah satu jenis anting terbuat dari emas. dan emas mendominasi busana pengantin Nias. separuh leher dan lengan. yaitu selendang warna kuning dililitkan di pinggang. terbuat dari . Untuk perlengkapannya mempelai wanita mengenakan seledra (selendang) dan boba datu (ikat pinggang). wanita Nias mengenal beberapa jenis asesoris. Perhiasan yang dipergunakan adalah sialu fondreun (anting-anting). Saat ini mahkota ini banyak digunakan sebagai bagian dari pakaian tari. Fondruru ana`a. Rambut wanita Nias disanggul tanpa sasak dengan memakai sunggar. mahkota berbentuk ikat kepala dengan ujung meruncing segitiga ke atas. dikenakan untuk menutupi pinggang ke bawah (bentuknya mirip dengan kain panjang). merah. Baju berbentuk jubah hitam ayng berhiaskan motif binatang dari beludru merah dipadukan dengan kabo. sebelum mengenal pengaruh luar. sebuah selendang katun bermotif bunga berwarana kuning dan segitiga berbaris dilapisi pinggir dari bahan berwarna gelap kehitaman menjadi pelengkap busana ini. sebagaimana menggambarkan kehidupan masyarakatnya yang bersahaja. adalah nama jenis anting yang digunakan oleh masyarakat kebanyakan. Bagian belakang baju ini lebih panjang dan bergambar matahari dan buaya. Warna hitam. Selembar ondora. yaitu asesoris wanita berbentuk tas berbahan bambu dengan hiasan manik-manik berwarna-warni. yang juga banyak digunakan oleh kaum bangsawan. Selain itu.busana wanita Nias disebut mukha. Sebagai kelengkapan busana upacara. Lembe. Gela gela dan tali hu. Apabila di masa lalu. kain hitam dengan ornamen geometris segitiga berbaris di sisi pinggirnya. masih ada bola-bola. baju kuning berpotongan serong dari beludru yang diberi ornamen berwarna merah. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" . Kemudian dihias dengan mahkota atau rai. yang terbuat dari panel warna kuning dihiasi oleh bermacam ornamen dipinggirnya. yang hanya digunakan oleh wanita bangsawan. Pengantin pria mengenakan celana hitam selutut. maka kini untuk busana pengantinnya digunakan bahan beludru. kala bobu. Dalam busana pengantin ini. yaitu kalung warna hitam dan yang tidak boleh ketinggalan adalah talogu atau pedang. yang disarungkan arah ke kiri.lingkaran terbuka dari bahan perunggu dengan hiasan batubatuan atau kerang. hanya bahannya bukan terbuat dari emas. salah satu jenis mahkota yang terbuat dari emas berbentuk ikat kepala dengan ornament barisan koin emas memanjang horizontal dan ditengah bagian belakang terdapat kepala mahkota berbentuk bunga dan daundaunan. kuning. Adapun kelengkapan busana ini adalah rai. alga kala bubu (kalung) dan gala (gelang). Demikian pula rai ni woli woli.

Kelengkapan pada kepala tersebut meliputi. Di kalangan bangsawan atau keturunan raja-raja Riau. kita kenal juga istilah baju teluk belanga. Akan tetapi baju teluk belanga ini biasa dilengkapi dengan sebilah keris yang diselipkan di pinggang. baju kurung leher tulang belut atau cekak musang dengan celana berikut kain samping dari bahan songket yang digunakan menutupi celana hingga sebatas lutut. Meski fungsinya sama. Berbeda dengan busana kaum pria. Bagian kepala ditutupi dengan peci atau songkok. Pakaian seharihari baik untuk di rumah atau di luar rumah berbeda dengan busana dan kelengkapannya untuk peristiwa khusus seperti upacara atau perjamuan resmi. Adapun busana yang dikenakan kaum pria Riau adalah baju gunting cina. Selendang tidak mutlak dipakai. Biasanya busana macam ini bahannya terbuat dari kain songket. namun pemakainya terbatas pada kalangan rakyat kebanyakan. Dalam kehidupan sehari-hari. antinganting. Untuk menghadiri acara formal. atau baju pesak sebelah dengan kain sarung atau celana. Perbedaan busana pengantin Riau daratan dengan Riau kepulauan terletak pada hiasan kepala sebagai mahkota. meliputi juga kelengkapan kepala. kelengkapan busana kaum wanita Riau umumnya lebih semarak. sedangkan kaum wanitanya menutup kepala dengan sepotong kain yang berupa selendang. Adakalanya perhiasan tersebut terbuat dari bahan suasa. sepit rambut. Dalam pandangan masyarakat Riau. Sandal atau kasut merupakan alas kaki yang lazim dipakai oleh kaum wanita dan pria Riau. Pengaruh kebudayaan barat tampak juga pada busana kaum pria. Hiasan kepala yang dipakai pada upacara perkawinan Riau kepulauan terlihat lebih sederhana dibanding dengan Riau daratan. Untuk bagian dada. Busana ini umumnya dipakai ketika badan sudah bersih dan akan menunaikan shalat atau hendak menerima tamu yang berkunjung kerumahnya. sanggul biasa atau sanggul dua. Pada kesempatan yang lebih formal atau ketika menghadiri upacara.Busana Tradisional Riau Riau Traditional Dress Penulis : Siti Dloyana Kusumah Bagi masyarakat Melayu Riau. akan tetapi kain tudung kepala menutupi hampir seluruh tubuh pemakainya. Namun jika akan memakai selendang warnanya harus disesuaikan dengan warna baju kurung. dan gelang kaki untuk bagian bawah. kaum wanita di Riau juga memakai perhiasan yang terdiri dari kalung. Cincin dari emas dan perhiasan lainnya biasa dipakai kaum pria Riau terutama pada saat menghadiri pertemuan formal atau perhelatan. tusuk sanggul. kaum wanita Riau umumnya memakai baju kurung satu sut. gelang tangan. dalam pemakaian maupun kelengkapan yang dipakai. . kaum pria dan wanita di Riau biasa mengenakan baju kurung yang disebut baju gunting cina. Selain memakai selendang untuk menutup kepala. satin atau sutera. jurai. cincin yang terbuat dari emas. Penggunaan selendang biasanya dipadukan dengan baju kebaya pendek. Kaum pria biasa menggunakan tutup kepala yang disebut kopiah atau songkok. yakni dengan adanya kebiasaan untuk memakai celana dan kemeja yang dilengkapi dengan jas. badan dan tangan masing-masing dilengkapi dengan kain selempang. semakin banyak perhiasan yang dipakai seseorang ia akan semakin disegani dan dikagumi. kembang goyang. sering pula digunakan kain tudung kepala. Sesungguhnya busana tersebut bentuknya tidak jauh berbeda dengan baju cekak musang. penggunaan busana dan kelengkapannya sangat tergantung pada si pemakai. sapu tangan kecil dan di pinggang melilit sebuah pending.

Pakaian adat ini lebih mewah daripada pakaian sehari-hari yang dihiasi dengan sulaman benang emas dan pemakaian perhiasan sebagai pelengkapnya. Bagian pinggir . Dalam berbusana sehari-hari pada awalnya hanya dikenal kain dan baju tanpa lengan. Perbedaannya yakni tambahan mutu manikam atau intan berlian yang dibubuhkan pada perhiasan kaum bangsawan tersebut. Sedangkan kaum prianya mengenakan celana setengah ruas yang melebar pada bagian betisnya dan umumnya berwarna hitam. Masyarakat awam atau rakyat kebanyakan tidak diperbolehkan menggunakan warna kuning sebab dianggap tidak beradab. kepangkatan atau garis keturunan menjadi dasar pada perbedaan cara berbusana. Pada umumnya ketika seorang pria mengenakan baju teluk belanga. Pada perkembangan berikutnya dikenal adanya pakaian adat. namun bahan pembuatannya benar-benar berbeda. Menurut anggapan mereka warna kuning adalah simbol warna kerajaan oleh sebab itu hanya boleh digunakan oleh orang-orang dari kalangan bangsawan atau keturunan raja-raja Riau. propinsi Jambi. dengan julangan yang lebih tinggi pada bagian depannya. dan sebagainya. Tutup kepala ini memiliki dua bagian yang menjulang tinggi. karena ia mendapat julukan raja sehari. begitu juga dengan perhiasan. Selain dari segi kualitas yang membedakan kedudukan seseorang dalam masyarakat. Sumatera Selatan. orang Riau pun mempunyai ketentuan khusus dalam menggunakan warna. Perbedaan bentuk ikat kepala tersebut. Sebagai hiasan terdapat lukisan flora dari daun. hanya bagian hulu yang menyembul dari balik kain. Pakaian untuk pria ini dilengkapi dengan kopiah sebagai penutup kepala. tangkai clan bunga yang akan mekar. Busana Tradisional Melayu Jambi Jambi Malay Traditional Dress Suku Melayu Jambi adalah sebutan bagi orang-orang Melayu yang mendiami daerah sepanjang sungai Batang Hari. Kain sutera sangat biasa dijumpai dalam pembuatan busana kaum bangsawan. Meskipun bentuk dan coraknya sama.Aturan pemakaian keris ini adalah tidak nampak menonjol. bagian kepala dan rambut menggunakan penutup kepala yang disebut tanjak laksmana atau bisa juga bentuk tanjak temenggung dan tanjak menyongsong angin. Dalam sistem kemasyarakatan Riau. biasanya disesuaikan dengan kedudukan seseorang dalam masyarakat atau bisa juga bentuk acara yang akan dihadiri. Lacak ini terbuat dari kain beludru warna merah yang diberi kertas tebal di dalammnya agar menjadikannya keras. Warna kuning pun dipakai untuk busana pengantin. seperti Riau. Pakaian Adat Pria Laki-laki suku Melayu Jambi dalam berpakaian adat mengenakan lacak di kepalanya. pakaian sehari-hari berkembang menjadi baju kurung dan selendang sebagai penutup kepala untuk kaum perempuan. sehingga lebih leluasa geraknya dalam melakukan kegiatan seharihari. Sebutan ini dimaksudkan untuk membedakan dengan suku Melayu yang berdiam di daerah lain. Setelah adanya proses akulturasi dengan berbagai kebudayaan.

ini dimaksudkan untuk menjaga sopan santun clan kehormatan kaum wanita (permaisuri raja). kembang cempaka. Hal ini mengandung makna seseorang harus tangkas clan cekatan dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan. Pakaian Adat Wanita Busana untuk perempuan terdiri dari kain sarung songket clan selendang songket warna merah. Lukisan naga ini mengandung makna bila seseorang telah diberi kekuasaan janganlah diganggu. Tutup dadanya disebut teratai dada. Bagian pinggangnya dihiasi dengan selendang tipis warna merah jambu yang pada ujung ujungnya diberi umbai-umbai warna kuning. bunga matahari. karena bentuknya seperti bunga teratai dipasang melingkar leher sehingga menyerupai kerah. clan bunga pandan. Penutup bagian bawah disebut cangge (celana). yang diimbangi oleh penempatan bungo runci di sebelah kiri. Disebut tanggung karena panjangnya hanya sedikit di bawah siku tidak sampai ke pergelangan tangan. Bahannya masih dari beludru yang dilengkapi dengan tali sebagai ikat pinggang. Bahannya terbuat dari beludru warna merah diberi sulaman benang emas. Hiasan kepala ini masih dilengkapi dengan berbagai macam tumbuhan. Penempatan pohon beringin lebih tinggi dari bunga-bunga lain di sekeliling pesangkon. Bungo runci ini berwarna putih dirangkai dengan benang. Kalungnya terdiri dari tiga . Selain itu juga melambangkan sepucuk Jambi sembilan lurah. Dikenakan pula selempang yang menyilang badan terbuat dari songket warna merah keungu-unguan sebagai pasangan kain sarung dengan motif bunga berangkai clan beranting. Untuk lebih memperindah diberi sulaman emas dengan motif bunga melati pecah. Sedangkan selop atau alas kaki yang berbentuk setengah sepatu berfungsi untuk melindungi kaki saat berjaalan. Ada juga yang menyebut duri pandan karena pada bagian depan tutup kepala ini diberi hiasan dari logam berwarna kuning berbentuk duri pandan. Kelengkapan busana perempuan lebih banyak dibandingkan dengan yang dikenakan oleh pria. Konon. Bajunya disebut baju kurung tanggung bersulam benang emas dengan motif hiasan bunga melati. Sudah menjadi kebiasaan di daerah Jambi mengenakan kain sarung songket yang dililitkan di pinggul. sedang bagian pinggirnya bermotifkan kembang berangkai atau pucuk rebung. Kelengkapan lainnya adalah keris clan selop. Sementara bunga pandan digunakan sebagai hiasan kepala bagian belakang yang dibuat menjurai ke bawah dan dilekatkan pada sanggul lintang. bunga matahari. seperi pohon beringin. Dalam mengikat tali ini digunakan teknik ikatan kajut untuk memudahkan dalam membuka nantinya. bungo runci letaknya dibagi rata untuk mengisi bagian sebelah kiri clan kanan. Bunga cempaka. Keris diselipkan di perut menyerong ke kanan melambangkan kebesaran sekaligus untuk berjaga-jaga. Sebagai hiasan dada dikenakan rantai sembilan. Untuk memperkuat bagian pinggang ini digunakan pending berupa rantai dengan sabuk sebagai kepala terbuat dari logam.sebelah kanan diberi lukisan tali runci. dan pucuk rebung. Bagian tengahnya terdapat motif kembang bertabur atau kembang tagapo dan kembang melati. Pada perempuan dikenakan anting-anting atau antan dengan motif kupu-kupu atau gelang banjar. sejenis kalung bermakna adanya pembagian kerja clan harus tolong-menolong. Bajunya disebut baju kurung tanggung berlengan panjang. Tutup kepalanya disebut pesangkon yang terbuat dari kain beludru merah dengan bagian dalam diberi kertas karton agar keras. Kedua tangan dihiasi gelang kilat bahu terbuat dari logam celupan berlukiskan naga kuning. Bentuknya bergerigi menyerupai pucuk rebung atau bambu yang baru tumbuh. kembang tagapo. bungo runci. dapat berupa bunga asli atau tiruannya.

Kemudian baju kurung tanggung warna merah agak keungu-unguan dari beludru yang diberi sulaman pada bagian setengah badan ke bawah dengan motif bola-bola kecil berukir. pending dan sabuk (ikat pinggang). Kain songketn berwarna merah tua bermotifkan kembang melati pecah dan bagian pinggir bermotifkan daun pakis. Terlebih saat menuai. kecuali bagian leher sebelah depan. Jumlah gelang yang dipakai pun lebih banyak meliputi gelang kilat bahu masing-masing lengan dua buah. Motifnya digunakan daun pakis dan terawang yang diletakkan memanjang dari ujung ke ujung. Teknik clan cara pertanian yang dijalankannya masih terhitung sederhana.jenis. Dalam rangkaian upacara tersebut terdapat hiburan sehingga pakaian yang dikenakan pun lebih bagus. Masih ditambah dengan gelang kano. Selebihnya polos. gelang ukuran sedang dua buah clan ikat pinggang yang berbentuk kotakkotak berangkai satu sama lainnya. Kelengkapannya terdiri dari sarung warna merah yang dipakai sedikit di bawah lutut (tanggung). dan selop hampir sama dengan yang dikenakan pria. dan karenanya memerlukan kerja sama atau bergotong-royong. Bedanya bentuk motif yang lebih besar pada teratai dada dan pending. gelang ceper dan gelang buku beban. kecil dan besar. Pada acara besar pakaian dibedakan untuk upacara dan bekerja. Khusus untuk gelang buku beban bahannya berasal dari permata putih. Acaranya sendiri dibedakan menjadi dua. khususnya yang dikenakan para gadis. Jika acaranya kecil maka pakaian yang dikenakan berfungsi ganda sebagai pakaian upacara maupun bekerja. Selendang songket yang dikenakan sebagai penutup kepala diberi sulaman benang emas dan umbai-umbai di ujungnya. Pembedaan ini mempengaruhi pada variasi pakaian yang dikenakan. yang disebut baselang atau pelarian. Dilengkapi dengan selempang warna kuning dari bahan tetoron. selendang. di mana sebagian besar kegiatan dilakukan oleh bujang clan gadis. Disebut demikian karena bentuknya yang menyerupai naga dalam dongeng sedang tidur clan ular yang melingkar membentuk bulatan. baju kurung berlengan tanggung yang letaknya di luar kain. selendang warna merah dililitkan di kepala serta membawa perlengkapan lain seperti ani-ani clan kiding (tempat padi). Sementara untuk kaki dikenakan gelang nago betapo dan gelang ular melingkar. yaitu kalung tapak. Penulis : Dewi Indrawati . Pakaian Baselang Masyarakat suku Melayu Jambi yang mendiami sepanjang sungai Batang Hari sebagian besar hidup dari bertani. Kesemuanya di pasang di lengan. Sedangkan unsur-unsur kelengkapan yang lain seperti teratai dada (tutup dada). Pada jari-jarinya terpasang cincin pacat kenyang dan cincin kijang atau capung. kalung jayo atau kalung bertingkat dan kalung rantai sembilan.

Gaya busana ini dikenakan masyarakat untuk menghadiri pesta-pesta adat yang penting. dipadukan dengan tusuk konde. Sehelai kampuh dari satin sutra bersulam emas. mirip dasi dengan hiasan-hiasan benang emas. sarung. biru tua. . dan jumbaijumbai kiri dan kanan. Perhiasan keemasan disematkan sebagai sunting-sunting pada sanggul di kepala. cokonde balon. Sarung dikenakan sebagai samping di bawah jas sampai sedikit di atas lutut. Jas tersebut dari kain bermutu seperti wol dan sejenisnya dan biasanya berwarna gelap seperti hitam atau biru tua. bertabur corak-corak. Bahan baju kurung umumnya beludru dalam warna-warna merah tua. Celana paduannya terbuat dari beludru dengan taburan corak�corak benang emas juga walaupun tidak selalu dalam warna yang sama dengan jas. alas kaki yang dilengkapi dengan tutup kepala dan sebuah keris. Pakaian adat pria Susunan busana adat pria terdiri atas jas. Demikian pula untuk celananya terbuat dari bahan dan warna yang sama. Samping biasanya terbuat dalam teknik songket benang emas atau perak dan disebut sarung segantung. yang sebenarnya merupakan kepanjangan dari kembang goyang di kepala sedemikian rupa sehingga seolah-olah bergantung disebelah daun telinga. Hiasan di sanggul atau konde biasanya terdiri dari sikek berbentuk bulan sabut. Sarung songket benang emas atau perak dalam warna serasi dari sutra merupakan perangkat busana yang dikenakan dari pinggang sampai dengan mata kaki. celana panjang. lembayung atau hitam. sebilah keris dan gelang emas di tangan kanan. bersama-sama dengan antinganting berukir dari emas. merah tua atau biru tua yang bertaburkan corak-corak sulaman atau lempeng-lempeng emas. Pada bagian dada tergantung sebentuk lidah penutup. sulaman emas berbentuk lempengan�lempengen bulat seperti uang logam. Pakaian adat wanita Kaum wanita Melayu Bengkulu mengenakan baju kurung berlengan panjang. menyentuh bahu. Sebagian pelengkap busana pada kepala dipakai detar dari kain songket emas atau perak. Jambi dan Riau.Busana Tradisional Bengkulu Bengkulu Traditional Dress Dimasa kini busana adat Bengkulu yang populer adalah gaya Melayu Bengkulu yang tampak mendapat pengaruh dari gaya-gaya Melayu yang pada dasarnya terdapat dari seluruh Sumatera khususnya Minangkabau. diselempang pada bagian dada kebelakang punggung membentuk huruf V. alas kaki beludru dengan corak-corak keemasan. Versi lain dari jas adalah sejenis jas tertutup dari bahan beludru hitam.

Sebagai penutup badan dikenakan kawai. Alas kaki memakai selop bersulam emas. apalagi kalau ingin bertemu dengan gadis. yaitu destar dengan bagian tepi dihias bunga-bunga dari benang emas dan bagian tengah berhiaskan siger. menurun sampai daerah pinggang yang dilingkari oleh sebuah pending berangkai yang terbuat dari emas. Bagian bawah mengenakan senjang. tapis yang dipenuhi sulaman benang emas dengan motif yang indah merupakan kelengkapan busana adat daerah Lampung. yaitu kain yang dibuat dari kain Samarinda. Bahannya dari kain batik. Bila dipakai dalam kerapatan adat dipadukan dengan baju teluk belanga dan kain. berlapis-lapisan dalam jumlah banyak. Dalam keseharian laki-laki Lampung mengikat kepalanya dengan kikat. yaitu tutup kepala berbentuk segi empat berwarna hitam terbuat dari kain tebal. serta di salah satu sudutnya terdapat sulaman benang emas berupa bunga tanjung dan bunga cengkeh. Pemakaian kawai kemija ini sudah biasa untuk menyertai kain dan peci. Pada penyelenggaraan upacara adat. Pergelangan tangan dan jari jemari dilingkari dengan mandering dan cincin permata. Untuk mengiring pengantin dikenakan kekat akkin. ketika menghadiri upacara adat sekalipun. Kain ini dibuat oleh wanita. Kaum wanita Lampung sehari-hari memakai kanduk/kakambut atau kudung sebagai penutup kepala yang . Tetapi sekarang banyak digunakan kawai kemija. Penulis : Biranul Anas Busana Tradisional Lampung Lampung Traditional Dress Daerah Lampung dikenal sebagai penghasil kain tapis. Lelaki muda Lampung lebih menyukai memakai kepiah/ketupung. Tetapi sekarang telah dikenal adanya celanou (celana) pendek dan panjang sebagai penganti kain. yaitu baju berbentuk teluk belanga belah buluh atau jas. Bugis atau batik Jawa. kain tenun bersulam benang emas yang indah. yaitu bentuk kemeja seperti pakaian sekolah atau moderen.Di dada pada bagian atas kampuh bergantungan gelamor berukir. Baju ini terbuat dari bahan kain tetoron atau belacu dan lebih disukai yang berwarna terang. seperti perkawinan.

Untuk memperindah dirinya dipergunakan berbagai asesoris terbuat dari emas. Untuk mempererat ikatan kain (senjang) dan celana di pinggang laki-laki digunakan bebet (ikat pinggang). baik yang gadis maupun yang sudah kawin. Lawai kurung digunakan sebagai penutup badan. kecuali saat pergi ke ladang. Kelai pungew. bunga cengkeh dan hiasan berupa ayam jantan. sedangkan wanitanya menggunakan setagen. Busana Tradisional Palembang Palembang Traditional Dress Penulis Sri Murni Biranul Anas . Perlengkapan lain yang dikenakan oleh laki-laki Lampung adalah selikap. memiliki bentuk seperti baju kurung. Sulaman benang emas ada yang dibuat berselang-seling. yaitu selendang sutra bersulam benang emas dengan motif tumpal dan bunga tanjung. kain ini dipakai sebagai kain basahan. yaitu kalung leher (monte) berangkai kecil-kecil dilengkapi dengan leontin dari batu permata yang ikat dengan emas.dililitkan. Untuk menghadiri upacara adat. yang dikenal sebagai kain tapis atau kain Lampung. seperti perkawinan kaum wanita. biasanya memiliki bentuk seperti badan ular (kalai ulai). kaum ibu kadangkadang menggunakannya sebagai kain pengendong anak kecil. perak atau suasa diberi mata dari permata. Pakaian mewah dipenuhi dengan warna kuning keemasan dapat dijumpai pada busana yang dikenakan pengantin daerah Lampung. pada saat menghadiri upacara perkawinan mengenakan kawai/kebayou (kebaya) beludru warna hitam dengan hiasan rekatan atau sulaman benang emas pada ujung-ujung kebaya dan bagian punggungnya. Selambok/rattai galah. Kalai kukut ini dipakai sebagai perlengkapan pakaian masyarakat yang hidup di desa. tetapi ada yang disulam hampir di seluruh kain. Sebagai kain dikenakan senjang atau cawol. Kemudian rajutan tadi ditusuk dengan bunga kawat yang dapat bergerak-gerak (kembang goyang). Di bahunya tersampir tuguk jung sarat. Para ibu muda dan pengantin baru dalam menghadiri upacara adat mengenakan kain tapis bermotif dasar bergaris dari bahan katun bersulam benang emas dan kepingan kaca. Dikenakan senjang/ cawol yang penuhi hiasan terbuat dari bahan tenun bertatah sulam benang emas. yaitu gelang yang dipakai di lengan kanan atau kiri. Dikenakan pula kalai kukut. yaitu gelang kaki yang biasanya berbentuk badan ular melingkar serta dapat dirangkaikan. di tengahnya bermotifkan siger yang di kelilingi bunga tanjung. Baju ini terbuat dari bahan tipis atau sutra dan pada tepi muka serta lengan biasa dihiasi rajutan renda halus. Pada waktu mandi di sungai. Cara menyanggul seperti ini memerlukan rambut tambahan untuk melilit rambut ash dengan bantuan rajutan benang hitam halus. Khusus bagi wanita yang baru menikah. Mulai dari kepala sampai ke kaki terlihat warna kuning emas. Selain itu. Selain itu. Selikap yang terbuat dari kain yang mahal dipakai saat menghadiri upacara adat dan untuk melakukan ibadah ke masjid. yaitu kain selendang yang dipakai untuk penahan panas atau dingin yang dililitkan di leher. menyanggul rambutnya (belatung buwok). juga dapat dikenakan selekap balak. Pada jari tengah atau manis diberi cincin (alali) dari emas. Bahannya dari kain halus tipis atau sutera. yaitu selendang sutra disulam dengan emas dengan motif pucuk rebung.

atau perak dengan tatahan bermotif bunga. ditaburi dengan bunga-bunga kecil dari benang emas. Mulai dari bagian bawah lutut sampai ke arah mata kaki disulam (diangkeen) dengan benang emas.Busana ini sebenarnya berasal dari masa-masa kesultanan Palembang sekitar abad ke 16 sampai pertengahan abad ke 19. Baju ini dibuat dari kain yang ditenun dan disulam dengan benang emas maupun benang biasa yang berwarna. terbuat dari kain yang ditenun. Demikian juga baju (kelambi) biasa ditenun sendiri. atau tembaga yang dilapisi emas. Pakaian sehari-hari Pakaian orang laki-laki (wong lanang) terdiri dari kain (sewet). seperti keris. Sarung keris (pendok) terbuat dari emas. dan memakai alas kaki yang disebut gamparan atau terompah. yang dibedakan atas tiga jenis yaitu: memakai kancing (bemben). Tanjak dibedakan atas tanjak kepudang. Tutup kepala juga dibuat sendiri dengan cara ditenun. Untuk alas kaki yang berbentuk gamparan terbuat dari potongan kayu yang bermutu. Busana ini dilengkapi dengan ikat pinggang yang disebut badong. memakai kantong biasa. Ada juga yang diberi batu permata. iket-iket atau kopiah (kopca). Keris ini diselipkan pada lambung sebelah kiri. seperti kayu meranti payo atau ngerawan. . Tutup dada biasanya diberi hiasan permata. Busana ini juga dilengkapi dengan alas kaki jenis terompah. Kain ini dibuat dengan cara ditenun. India. Pada bagian dalam dikenakan penutup dada yang disebut kutang. yang diyakini dapat membawa berkah dan keselamatan bagi pemakainya. maupun diperadan. Baju yang dikenakan disebut kebaya pendek. Pada bagian luarnya ditatah dengan abjad atau angka-angka Arab. suasa. orang laki-laki umumnya mengenakan kain (sewet sempol) dan baju beta booloo. atau membeli bahan baju dari Jawa. Badong ini terbuat dari campuran berbagai bahan logam. Pakaian bagian bawah berupa celana panjang yang dinamakan celano belabas. sebagai gantinya dikenakan kopiah sebagai penutup kepala. dan diberi angkinan dari kain batik yang didatangkan dari Gresik. Pakaian untuk di rumah tidak dilengkapi dengan alas kaki. Pada umumnya mereka mengenakan tutup kepala. baju (kelambi). Laki-laki Palembang gemar memakai baju jenis bela booloo. tergantung pada taraf ekonomi pemakainya. Saat ini sudah jarang orang yang memakai tanjak. yang dianggap jenis yang paling istimewa karena memiliki khasiat ampuh. atau jembio. tumbak lado. celana yang panjangnya sebatas lutut). Selanjutnya busana ini dilengkapi dengan sejenis senjata tajam. dan memakai kantong terawangan. dan sarungnya tidak kelihatan karena ditutupi kain atau celana. Ada juga yang memakai seluar (celana) panjang atau celana model pangsi (lok cuan). rambi ayam. tutup kepala dengan jenisnya disebut tanjak. Kain (sewet) biasanya ditenun sendiri atau dibeli dari pulau Jawa. Jenis celana ini tidak disulam dengan benang emas. atau Eropa. Badong yang terkenal disebut badong jadam. Hanya seorang raja yang boleh memakai keris dengan gagangnya menghadap keluar. Pakaian kebesaran untuk lakilaki dilengkapi dengan tanjak (tutup kepala) yang terbuat dari kain batik atau kain tenunan. karena mereka menganggap tutup kepala lebih penting dari baju. Ada pula yang disulam dari bagian pinggul sampai ke mata kaki dengan motif lajur. atau bisa juga mengenakan kebaya landoong atau kelemkari yaitu kebaya panjang hingga di bawah lutut. Cina. dan ukuran celananya lebih lebar. Jenis celana yang lain disebut dengan celano lok cuan (celana pangsi. Pelengkap busana yang lain adalah keris. Indramayu. Lasem. Sebagai pakaian sehari-hari. baik waktu bepergian maupun ketika sedang di rumah. serta diberi tumpal benang emas. badeek. tanjak meler dan tanjak bela mumbang. terbuat dari suasa. Setelah celana panjang dikenakan selembar kain yang disebut sewet bumpak. atau Betawi. dan dikenakan oleh golongan keturunan raja-raja yang disebut Priyai. Semuanya terbuat dari kain songket (kain tenunan tradisional) Palembang. disulam. perak. yang terbuat dari kain yang ditenun. atau dapat juga dicap dengan cairan emas perada (diperadan). diberi pinggiran benang emas. Jenis tutup kepala yang biasa dikenakan adalah kopiah (kopca). Kemudian pada bagian bawah selebar lebih kurang 10 atau 12 cm.

baju kurung yang panjangnya sampai lutut atau kebaya yang tepinya diberi renda hingga menutup dada (untuk remaja putri). busana yang dikenakan kaum wanita adalah serba songket. kamhar. kaum perempuan lazim mengenakan kain (tenunan tradisional Palembang atau kain batik dari Jawa). serta dicampur dengan bunga-bunga yang harum). Rambut disisir dengan rapi dan diberi minyak lengo (minyak kelapa yang dicampur dengan daun pandan yang diiris halus. baju kurung (kooroong) dengan panjang sebatas lutut. sedangkan perempuan muda memakai baju kebaya.Pada saat akan bepergian. semua bahan pembuatan busana tersebut didatangkan dari Jawa. dan untuk orang muda mengenakan cenela atau selop tungkak tinggi (sandal bertumit tinggi). yang disebut geloongan coompook atau geloongan temakoo setebek. yang disebut koodoong (kerudung) kajang atau koodoong trendak. Busana untuk bepergian tersebut juga lazim dikenakan kaum laki-laki pada kegiatan-kegiatan perayaan. Cina. yang dikenakan pada kepala. bahu. menandakan kekayaan keluarga yang bersangkutan. Sedangkan sebagai alas kaki dikenakan terompah dengan sulaman klingkan bagi perempuan yang sudah tua. Pada masa lalu. Kemudian rambut ditata dengan sanggul. Wanita yang sudah menikah atau yang sudah tua lazim memakai selendang sebagai tutup kepala. Bagi orang kaya tidak ketinggalan jam kantong dengan medalion. Baju yang dikenakan berupa jas tutup terbuat dari bahan linen. Untuk menghadiri suatu upacara adat yang disebut penganten mungga. Mereka biasa mengenakan kain pelekat. atau las. Tetapi saat ini jenis ikat pinggang tersebut sudah jarang dikenakan. dan dahi. dan Singapura. dan mengalami perubahan fungsi sebagai tudung saji atau tutup makanan. Pakaian ini dilengkapi dengan ikat pinggang (cak pinggang) terbuat dari kulit. sehingga yang nampak hanya mata dan hidung pemakainya. sebagai penggantinya dipakai setagen (kain kecil yang sangat panjang yang dikenakan melilit perut. Sebagai kelengkapan busana serba songket ini sama dengan perhiasan yang lazim dikenakan untuk menghadiri upacara-upacara adat lainnya. Songket ini merupakan pemberian suami ketika mereka menikah sebagai salah satu mas kawin. Baju yang dikenakan disebut baju kooroong (kurung) terbuat dari kain belacu. mereka selalu mengenakan pakaian yang terbaik dan rapi. Selendang tersebut biasanya diberi rumbai-rumbai (rumbe rumbe). Sebagai alas kaki adalah terompah atau sepatu tanpa tali. dada. Busana untuk perempuan (wong betino) terdiri dari kain (sewet saroong). Saat ini orang Palembang sudah dapat membuat sendiri busana mereka dengan bahan-bahan yang diperoleh dari alam sekitarnya. Semakin halus songket yang dimilikinya. gelang (jenis gelang yang terkenal disebut gelang kepalak ulo). dan tutup kepala (tengkoolook). Mereka juga mengenakan selendang (kemben). umumnya batik Betawi atau yang dinamakan sewet mascot. dan terompah atau selop. Baju kurung ini lazim dikenakan oleh perempuan yang sudah tua. Untuk ikat pinggang dikenakan sejenis pending yang disebut badong atau angkin. yang halus dari jenis tajung Bugis atau gebeng Palembang. Busana ini hanya boleh dikenakan oleh perempuan yang sudah bersuami. Dari mutu kain songket tersebut dapat terlihat kekayaan atau kemampuan keluarga yang memilikinya. Busana ini dilengkapi dengan sehelai selendang besar yang dipakai dengan rapi menutupi kepala sampai bahu. pakaian yang lazim dikenakan terdiri atas kain sarung (sewet saroong) batik yang halus. Busana Tradisional Priangan dan Cirebon Priangan and Cirebon Traditional Dress . Sebagai pakaian sehari-hari. Namun sejak tahun 1942 koodoong kajang sudah tidak pernah dipakai lagi. Pada saat menghadiri suatu upacara adat. serta gelang kaki (yang terkenal adalah gelang sekel kepalak nago). rangkaian peniti terbuat dari emas atau perak. berasal dari Jawa). Sebagai perhiasan pelengkap busana ini adalah kalung emas dengan liontin permata berlian atau intan. rambut disanggul. India.

baik rakyat biasa maupun kalangan Keraton mengenakan baju sorong atau baju kurung. sebatas lutut dan sedikit di atas lutut. Pada bagian kebaya dari leher sampai ujung bawah kebaya surawe terdapat hiasan dari pasmen. Busana jajaka adalah baju takwa dan celana warna hitam dilengkapi dengan kain dodot dan tutup kepala bendo terbuat dari kain batik halus bermotif sama dengan kain dodot. polekat). Yang membedakan keduanya adalah. Adakalanya peniti itu terbuat dari logam mulia yang disambung-sambungkan dengan rantai kecil disebut panitih rantay. Oleh karena itulah pada busana pejabat atau bangsawan terdapat hiasan dari pasmen yang disesuaikan dengan tinggi rendahnya jabatan. Model ini sesungguhnya adalah bentuk dasar celana kaum bangsawan yang dihias dengan pasmen memanjang dari atas ke bawah pada bagian tengah samping sekeliling lubang celana. dilepas sampai pergelangan kaki. masyarakat Jawa Barat khususnya di Priangan dan Cirebon terus mengembangkan model busana sesuai dengan perkembangan zaman dan berbagai ketentuan pemerintah yang turut pula mengatur tata cara berbusana masyarakat Jawa Barat. Umumnya yang digunakan mereka adalah kain-kain batik buatan setempat seperti batik garutan. dari pinggang hingga ke pergelangan kaki. warna hitam atau putih. Bentuk kampret tersebut juga menjadi bentuk dasar dari model busana para pejabat dan kalangan bangsawan. Iket tersebut kemudian berkembang menjadi bendo yakni tutup kepala yang terbuat dari kain batik yang dicetak menurut ukuran kepala tertentu. Di kalangan istri pembesar. Laki-laki di Priangan dan Cirebon pada umumnya mengenakan sarung (poleng. diikatkan pada pinggang atau dililitkan. Namun demikian kalangan bangsawan tidak pernah menggunakan sarung pada kesempatan resmi.Dari masa ke masa. Cara memakai kain batik tersebut ada beberapa bentuk. sedangkan kaum bangsawan menggunakan kain batik halus. Yang membedakannya hanyalah bahan dasar iket tersebut. Zaman dahulu. Meskipun bentuk dasarnya sama namun terdapat variasi terutama dalam hiasan yang disesuaikan dengan keinginan/kebutuhan pemakainya. pada busana pejabat terdapat lidah-lidah pada bagian leher yang berkancing kait atau kancing pentul. Jawa dan Eropa terutama Belanda. Celana panjang model komprang digunakan oleh laki-laki di Priangan dan Cirebon. baik di Priangan maupun di Cirebon. kain batik pun digunakan pula oleh semua lapisan masyarakat. Pada masa pemerintahan Belanda. Aturan tersebut berupa keseragaman pakaian pada saat-saat tertentu. Biasanya mereka menggunakan bahan yang berkualitas tinggi seperti sutera atau beludru serta corak hias yang lebih anggun. Sebagai penyambung belahan kebaya. Sama halnya dengan kebaya. Cara mengenakan sarung ini sangat bervariasi sesuai dengan kebutuhan. Adakalanya dikerudungkan. dan dihiasi dengan pasmen. ciamisan bagi masyarakat Priangan dan batik dermayon atau trusmi untuk orang Cirebon Penggunaan kain batik yakni dililitkan pada bagian bawah badan. Di kalangan rakyat kebanyakan terbuat dari batik kasar. digunakan peniti. dari rakyat biasa sampai kalangan bangsawan Priangan maupun Cirebon. bahan kebaya yang digunakan berbeda dari rakyat biasa. perempuan di Priangan dan Cirebon tidak mengenal lamban atau lepe (melipat bagian pinggir kain) namun kebiasaan tersebut baru dikenal sekitar dekade ketiga atau keempat abad 20 ini. Untuk memperkuat dililitkan beulitan atau sabuk pada pinggang pemakai. Kaum laki-laki di Priangan dan Cirebon mengenakan iket sebagai penutup kepala. mereka lebih suka memakai kain batik halus. pernah dikeluarkan peraturan tentang bentuk dan cara berpakaian bagi para bangsawan dan pejabat pemerintah pria saat itu. Di kalangan rakyat biasa baju yang dikenakan adalah potongan kampret. Berkain kebaya pada dasarnya digunakan oleh kaum perempuan disemua lapisan. Untuk kesempatan resmi busana resmi wanita priangan dilengkapi dengan sehelai selendang berwarna sama dengan kebaya dan alas kakinya berupa sandal selop. Bentuk pakaian/busana tersebut merupakan perpaduan antara tradisi Sunda. . demikian pula pada sekeliling lengan dan pada seputar bawah kebaya. Adapun masyarakat Cirebon. baik di kalangan rakyat biasa maupun di kalangan bangsawan. Khusus para bangsawan Cirebon menggunakan kain wulung.

sebaliknya cara berbusana kalangan atas/bangsawan lebih banyak memperhatikan fungsi estetisnya. namun kini sandal. selop atau kelom sudah menjadi bagian dari berbusana. tidak demikian halnya dengan kaum laki-laki. Jika perhiasan kaum perempuan agak kompleks dan beragam. suweng pelenis baik yang terbuat dari emas atau perak. gelang bahar. Bagian depan bendo Cirebon terdapat garis selebar 4 cm yang makin ke dalam makin kecil. Bendo biasa digunakan oleh kalangan bangsawan atau pejabat pemerintahan. mereka memakai selop yang pada bagian ujung atasnya dihiasi dengan manik-manik. Kelengkapan Busana Priangan dan Cirebon Pada kalangan rakyat kebanyakan mengenakan busana biasanya lebih ditekankan kepada fungsi praktisnya. Adapun perempuan di kalangan bangsawan Priangan dan Cirebon melengkapi busananya dengan seperangkat perhiasan yang terdiri dari kalung emas. Perhiasan tersebut umumnya berupa cincin emas. berpengaruh kuat pada penggunaan kelengkapan busananya seperti perhiasan dan alas kaki. hiasan jas di bagian dada terdiri dari rantai emas/perak dengan liontin dari kuku harimau. Dalam berbagai kesempatan khusus. Di bagian belakang bendo Priangan terdapat ikatan simpul ujung-ujung kain. Sebagai alas kaki bisa memakai selop atau sepatu. mereka baru memakai perhiasan dalam batas-batas tertentu. Meskipun catatan sejarah mengatakan bahwa zaman dahulu mereka tidak menggunakan alas kaki. ali meneng. Penulis : Siti Dloyana Kusumah Busana Tradisional Baduy Baduy Traditional Dress Penulis : Jaya Purnawijaya . Kaum perempuan di kalangan rakyat kebanyakan. untuk tampil cantik cukup memakai busana sederhana dengan perhiasan gelang emas /perak. gelang emas dan giwang emas.Bendo di Priangan dan Cirebon berbeda terutama pada bagian depan. Seringkali pula perhiasan tersebut terdiri bukan hanya dari emas tetapi ditaburi dengan kilauan intan berlian. Dengan demikian. Untuk alas kaki. sedangkan rakyat kebanyakan tetap memakai iket.

Peraturan adat sangat menentukan dalam sikap hidup suku Baduy. disebut Panamping yang tinggal di 36 kampung luar dan Baduy Dalam. Tak ada listrik. yang memiliki keyakinan. dengan ciri sub dialek Banten. kelengkapan busana pada bagian kepala menggunakan ikat kepala berwarna putih pula. Pakaian Baduy Dalam yang bercorak serba putih polos itu dapat mengandung makna bahwa kehidupan mereka masih suci dan belum terpengaruh budaya luar. Kemudian dipadukan dengan selendang atau hasduk yang melingkar di lehernya. Potongannya tidak memakai kerah. Barangbarang "modern" seperti sabun. Oleh karena itu. piring. Pembuatannya hanya menggunakan tangan dan tidak boleh dijahit dengan mesin. melindungi pohon dan hutan di sekitarnya dengan baik. seperti baju yang biasa dipakai khalayak ramai. Ikat kepalanya juga berwarna biru tua dengan corak batik. Letak perkampungan biasanya berada di celah-celah bukit dan lembah yang ditumbuhi pepohonan besar. tingkah laku. Selain baju dan kain sarung yang dililitkan tadi. Kehidupan sehari-harinya bersahaja. Perbedaan busana hanya didasarkan pada jenis kelamin dan tingkat kepatuhan pada adat saja. Banten Selatan adalah masih kokohnya tradisi yang diwariskan oleh karuhun mereka. Mereka bertutur dalam bahasa Sunda Buhun atau Sunda Kuno. mengelompok menurut asal keturunan (tangtu) mereka. yaitu tangtu Cibeo. menunjukan bahwa kehidupan mereka sudah terpengaruh oleh budaya luar. yang hanya dililitkan pada bagian pinggang. kancing dan bahan dasarnya tidak diharuskan dari benang kapas murni. Lebak. Semuanya itu tabu (pamali). Kalaupun ada perbedaan dalam berbusana. Baduy Dalam merupakan paroh masyarakat yang masih tetap mempertahankan dengan kuat nilai-nilai?? ?budaya? ?? warisan leluhurnya dan tidak terpengaruh oleh kebudayaan luar. Bagi suku Baduy Luar. mereka berasal dari satu keturunan. karena pakaian tersebut dianggap barang tabu. yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Wilayah desa Kanekes merupakan tanah adat suku Baduy. radio dan televisi. yaitu Baduy Luar. Melihat warna. desa Kanekes. perbedaan itu hanya terletak pada bahan dasar. busana yang mereka pakai adalah baju kampret berwarna hitam. untuk laki-laki memakai baju lengan panjang yang disebut jamang sangsang. Warna busana mereka umunnya adalah serba putih. Salah satu tradisi yang masih bertahan adalah menenun dan cara berbusana. Jarak antara satu kampung dengan kampung lainnya berjauhan. Dalam pandangan suku Baduy. karena cara memakainya hanya disangsangkan atau dilekatkan di badan. Baduy Dalam. Bahan dasarnya pun harus terbuat dari benang kapas asli yang ditenun. baik untuk keseimbangan hidup antar sesama maupun kelestarian kehidupan alamnya. Cara berpakaian suku Baduy Panamping memamg ada sedikit kelonggaran bila dibandingkan dengan Baduy Dalam.Ciri khas suku Baduy yang tinggal di pegunungan Kendeng. . model dan warnanya saja. kosmetik. cita-cita. tangtu Cikertawana dan tangtu Cikeusik. kecamatan Leuwidamar. model maupun corak busana Baduy Luar. Sedangkan potongan bajunya mengunakan kantong. Perbedaan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar seperti itu dapat dilihat dari cara busananya berdasarkan status sosial. Suku Baduy terdiri dari dua kelompok masyarakat. sarung tadi diikat dengan selembar kain. gelas dan peralatan pabrik dilarang dipakai. Ini berbeda dengan Baduy Luar yang sudah mulai mengenal kebudayaan luar. ada yang beranggapan bahwa busana suku Baduy saat ini merupakan bentuk busana yang digunakan oleh masyarakat Jawa Barat pada masa silam. Penduduknya menjaga. disebut Kajeroan yang tinggal di tiga kampung utama. Mereka tidak memakai celana. Ikat kepala ini berfungsi sebagai penutup rambut mereka yang panjang. termasuk busana yang dikenakannya pun adalah sama. Desain baju sangsang hanya dilobangi/dicoak pada bagian leher sampai bagian dada saja. Baduy Dalam. tidak pakai kancing dan tidak memakai kantong baju. seluruh penduduknya adalah suku Baduy dan tidak bercampur dengan penduduk luar. Agar kuat dan tidak melorot. tingkat umur maupun fungsinya. Ciri bahasa yang digunakan suku Baduy adalah tidak memiliki tinggi-rendah bahasa dengan aksen tinggi dalam lagu kalimat. Bagian bawahnya memakai kain serupa sarung warna biru kehitaman. Desain bajunya terbelah dua sampai ke bawah.

secara sepintas orang akan tahu bahwa itu adalah suku Baduy. Model. busana yang dipakai di kalangan wanita Baduy. Dimulai dari menanam biji kapas. Kain sarung atau kain wanita hampir sama coraknya. dipintal. yaitu dasar hitam dengan garis-garis putih. biasanya wanita Baduy memakai kebaya. ada kerajinan yang dilakukan oleh kalangan pria di antaranya adalah membuat golok dan tas koja. yang terbuat dari kulit pohon teureup ataupun benang yang dicelup. potongan dan cara berbusananya saja.Kelengkapan busana bagi kalangan kali-laki Baduy adalah amat penting. kain ikat pinggang dan selendang. potongan dan warna pakaian. Untuk memenuhi kebutuhan pakaiannya. biru. Sedangkan. melainkan lebih bersifat sebagai identitas budaya yang melekatnya. yang dipadukan dengan warna merah. kain wanita. Bagi Baduy Dalam maupun Luar kalau bepergian selalu membawa senjata berupa golok yang diselipkan di balik pinggangnya. Bertenun biasanya dilakukan oleh wanita pada saat setelah panen.20 cm dan dililit dengan . Busana Tradisional Betawi Betawi Traditional Dress Pengantin laki-laki dengan dandanan cara haji. Pakaian ini biasanya masih dilengkapi pula dengan tas kain atau tas koja yang dicangklek (disandang) di pundaknya. Busana seperti ini biasanya dikenakan untuk pakaian sehari-hari di rumah. Untuk pakain bepergian. sedangkan selendang berwana putih. Mereka percaya bahwa semuanya itu merupakan warisan yang dituturkan oleh karuhun atau nenek moyang mereka untuk dijaga. Topi pengantin laki-laki yang berasal dari tanah suci Mekah ini tingginya 15 . karembong. selendang dan ikat kepala. Semua hasil tenunan tersebut umumnya tidak dijual tetapi dipakai sendiri. sedangkan bagi para gadis buah dadanya harus tertutup. Jenis busana yang dikerjakan antara lain. pakaian bagi suku Baduy bukanlah sekedar untuk melindungi tubuh saja. kecuali baju adalah sama. Dari model. kemuduan dipanen. Mereka mengenakan busana semacam sarung warna biru kehitam-hitaman dari tumit sampai dada. kain sarung. Penggunaan warna pakaian untuk keperluan busana hanya menggunakan warna hitam. masyarakat suku Baduy menenun sendiri dan dilakukan oleh kaum wanita. kain tenunan sarung berwarna biru kehitamhitaman. Selain itu. baju. ditenun sampai dicelup menurut motifnya khasnya. Bagi wanita yang sudah menikah. biasanya menggunakan tutup kepala yang disebut alpia atau alpie. biasanya membiarkan dadanya terbuka secara bebas. Rasanya busana laki-laki belum lengkap apabila tidak memakai senjata. Warna baju untuk Baduy Dalam adalah putih dan bahan dasarnya dibuat dari benang kapas yang ditenun sendiri. biru tua dan putih. baik Kajeroan maupun Panamping tidak menampakkan perbedaan yang mencolok. Memang.

Terkadang di bagian atas disematkan sepasang kembang goyang. Siangko bercadar yang berfungsi menutupi wajah pengantin wanita merupakan lambang kesuciannya. daerah sekitar dada. Panjang cadarnya 30 cm. Busana yang dikenakan berupa jubah terbuka. Ketiga tingkat lingkaran ini melambangkan siklus kehidupan yang dimulai dari kelahiran. yang agak longgar dan besar. bunga-bungaan. kubah mesjid dan lain sebagainya. diletakkan sigar atau mahkota dengan motif bungabungaan yang dipenuhi permata. Lengan panjangnya diberi benang karet pada pergelangan. Bersih atau tidaknya tengkuk yang tampak. Saat ini banyak digunakan mote pasir dengan gumpalan benang wol merah di ujungnya. Ciri khas model shianghai adalah krahnya yang tertutup. biasanya seorang pengantin laki-laki memakai gamis (baju dalam) polos berwarna muda yang panjangnya kira-kira sampai mata kaki -dan tidak boleh melebihnya. Selain yang bercadar. sehingga membentuk 3 (tiga) tingkat lingkaran. Keterpaduan berbagai unsur budaya muncul dalam kekayaan busana pengantin wanita Betawi yang terkesan meriah. Biasanya dihiasi batu-batu permata. tidak ada yang khusus. Hiasan ini terbuat dari bahan beludru bertatahkan hiasan logam pada permukaannya dengan motif bunga tanjung. karena aslinya terbuat dari emas. Tuaki bentuk baju kurung. Bagian jubah ini. Motif-motif hiasan emas. bunga-bunga sampai motif burung hong. warna putih.sorban kain. Syarat utama dari tuaki ini adalah bahannya yang polos. gading atau kadang-kadang kuning. yaitu model shianghai (Cina). panjangnya sebatas pinggul. tampil begitu meriah dengan perlengkapan yang serba unik. Sebagai alas kaki. bagian bawah baju sangat bervariasi. kehidupan dan kematian. baik dari bahan satin ataupun beludru. Sebelum mengenakan jubah. Gamis lebih panjang sekitar 10 cm dari jubah. terbuat dari manik-manik. Model yang mengikuti bentuk badan sipemakai. Di atas Siangko bercadar ini. Letak sanggul di tengah-tengah agak ke atas memperlihatkan tengkuk pengantin. Salah satunya yang unik adalah siangko bercadar yang melambangkan kesucian seorang gadis. Keunikan lainnya terdapat pada tata rias di bagian kepala. Biasanya kumis dan cabang juga dirapihkan agar tampak bersih. Model baju yang sangat sederhana pada busana adat pengantin wanita Betawi ini. diletakkan sebanyak 3 (tiga) untai di pinggir kiri alpia. Ron je atau untaian bunga melati yang ujung bawahnya ditutup bunga cempaka dan ujung atasnya diberi sekuntum mawar merah. siangko lainnya jumlah 3 (tiga) buah. Kun juga di beri hiasan benang tebar dengan kombinasi sesuai tatahan motif pada tuaki. Padanan tuaki adalah kun. yaitu rok melebar ke bawah dengan panjang sampai ke mata kaki. yang kemudian dirangkai menjadi susunan delapan daun teratai yang simetris. Dipakai di belakang sanggul sebagai penutup ikatan siangko bercadar. merupakan pertanda apakah pengantin wanita mampu menjadi ibu rumah tangga yang mampu memelihara kebersihan fisik dan rohani dalam kehidupan berumah tangga atau tidak. masih ada pula pengantin yang mengenakan selop atau terompah. Hiasan kepala yang digunakan cukup kompleks. Hiasan rambut lainnya adalah tusuk paku atau kembang paku berjumlah . Aslinya adalah emas. Dari ragam hias geometris. serta gemerlapan hiasan tuaki dan kun ini melambangkan suka cita dan keceriaan kedua pengantin dan seluruh kelua-rganya. Sebuah selempang berhiaskan mute sebagai tanda kebesaran pun dikenakan boleh di dalam maupun di luar jubah. biasanya digunakan sepatu kulit dengan kaos kaki yang merupakan pengaruh Belanda sejak abad ke 19. mote atau manik-manik yang diletakan di ujung lengan. biasanya dihiasi dengan emas dan manik-manik bermotif burung hong. Mengenai tata rias wajah. atau bahan perak. Teratai. Warna-warna cerah yang dipilih. Siangko bercadar selalu berwarna emas. Rambut disanggul dengan model buatun atau konde cepol tanpa sasakan. dan model baju kurung (Melayu). Tuaki. Warna yang terbuat dari bahan polos ini pun disesuaikan dengan warna tuaki. Namun. yang disimbolkan dengan tidak boleh dilihatnya wajah mempelai putri oleh orang lain. Teratai ini berjumlah 8 (delapan) lembar kecil. yang kemudian dipadatkan dengan tusuk konde. Panjang lengan agak longgar. bahkan ada yang bertahtakan intan berlian. Biasanya diberi pemanis dengan tambahan kain pada pinggiran bawah tuaki yang dirimpel keliling. yaitu perhiasan penutup dada dan bahu adalah salah satu ciri yang sangat khas. modelnya seperti baju kurung Melayu umumnya. namun saat ini umumnya menggunakan mute. adalah baju bagian atas (blus) yang dikenal memiliki 2 (dua) model. Hanya sedikit bedak yang ditaburkan di wajah agar terkesan rapi. Caranya adalah dengan melilitkan secara berputar.

bagi mempelai pria terdiri dari jas tutup. Nabi Besar Muhammad SAW. Adapun pakaian yang kini dikenal dengan busana "Abang dan None Jakarta" merupakan kombinasi dari busana pengantin rias bakal untuk pria.10 buah atau lebih yang dimaksudkan sebagai penolak bala. Mempelai putri menggunakan baju kurung tabur. bros dan untaian melati. pergelangan tangan dan jari pengantin wanita. juga dikarenakan sebagai hiasan rambut bersama dengan 2-4 buah kembang kelapa yang dipasang di kiri dan kanan sanggul. Keunikan juga tampak pada alas kaki yang digunakan. yang juga dilengkapi dengan mahkota dan kacamata. maka kembang kelapa merupakan simbol pengharapan agar perkawinan yang dilakukan tetap kokoh. Apabila kembang goyang melambangkan pengakuan terhadap 20 sifat kebesaran Allah. Sementara ruruban merupakan tanda kesuciannya. selendang dan celemek. serta cincin emas yang berhiaskan permata menjadi hiasan lengan. sehingga akan menjadi perkawinan yang langgeng. Sebelum rerurub atau ruruban. sedangkan hiasannya lebih banyak menggunakan mute. sejahtera dan bahagia. Variasi pakaian pengantin Betawi ini dapat ditemui di beberapa daerah. yang berkaitan dengan kecocokan antara pihak keluarga kedua pengantin. celana panjang. yaitu sebuah kerudung dari kain halus dan tipis. Kerabu ini merupakan perpaduan anting dan giwang yang dijadikan satu. kewajiban yang harus dijalankan oleh pengantin sebagai seorang Muslim. yang wajib diturunkan dan diajarkan pada anak keturunannya kelak. pengantin laki-laki mengenakan stelan jas lengkap dengan kopiah hitam dan kacamata hitam. Tanda bulan sabit berwarna merah ini merupakan perlambang bahwa di gadis telah menjadi pengantin. Tusuk bunga atau kembang tancep berjumlah 5 buah yang melambangkan rukun Silam. sebagai pelengkap yang menunjang keserasian. Seperti misalnya di daerah pinggiran. pengantin wanita juga mengenakan perhiasan berupa kalung tebar yang dipakai melingkar leher di atas teratai Betawi. Selain sunting. Sementara hiasan kepalanya tidak serumit dandanan rias besar putri. Sementara itu. dengan ujung melengkung ke atas dan dihias dengan tatahan emas dan manikmanik. gelang bahar. maka si pemakai akan pusing-pusing dan bahkan pingsan. pisau raut. sarung songket. kuat seperti pohon kelapa. Aslinya seluruh perhiasan yang dikenakan oleh pengantin wanita Betawi terbuat dari emas dan dihiasi intan permata. Apabila sunting ini dipakai oleh seorang pengantin yang tidak perawan atau tidak gadis lagi. Namun saat ini. Busana ini biasanya dikenakan setelah akad nikah. Kembang goyang yang berjumlah 20 buah. Mempelai wanita mengenakan selop berbentuk perahu kolek. Dari hiasan kepala pengantin wanita yang telah dikemukakan. ikat pinggang dan iiskoi motif lokcan. burung hong sendiri dianggap sebagai simbol burung surga yang melambangkan kebahagiaan kedua pengantin. Busana pengantin rias bakal. Sementara pengantin wanita memakai slayer dan sarung tangan putih. atau mute. Selain perhiasan untuk kepala. Gelang listring dan gelang selendang mayang. Hiasan burung hong atau dikenal dengan sebutan kembang besar atau kembang gede adalah hiasan lain yang tidak boleh ketinggalan. Penulis Endang Mariani . satu bentuk perhiasan yang dipercaya memiliki kekuatan magis adalah sunting atau sumping telinga. Letak burung hong ini juga memiliki arti tersendiri. ditutupkan ke seluruh riasan wajah pengantin wanita. di beberapa daerah di atas dahi pengantin diberi tanda berbentuk bulan sabit. Tusuk konde berupa pasak berbentuk huruf leam (huruf Arab) merupakan simbol pengakuan akan keesaan Allah ditusukkan di atas siangko kecil penutup simpul tali cadar. dengan busana wanita Betawi sehari-hari. Perlengkapan busana ini adalah kuku macan. biasanya telinga pengantin dihias dengan sepasang kerabu. umumnya hanya merupakan sepuhan warna emas. Jumlahnya yang empat buah melambangkan 4 (empat) sahabat Rasullullah.

Panjangnya kebaya bervariasi. khususnya di lingkungan budaya Yogyakarta dan Surakarta. kain sunduri (brocade). Dewasa ini. baik yang polos dengan salah satu warna seperti merah. mulai dari yang berukuran di sekitar pinggul atas sampai dengan ukuran yang di atas lutut. Sedangkan. kebaya panjang lebih banyak menggunakan bahan beludru.Busana Tradisional Jawa-Solo Javanese Solo Traditional Dress Busana Kebaya Jenis busana dan kelengkapannya yang dipakai oleh kalangan wanita Jawa. Jawa Tengah adalah baju kebaya. Sedangkan stagen dililitkan pada bagian perut untuk mengikat tapihan pinjung agar kuat dan tidak mudah lepas. sutera yang berbunga maupun . Untuk busana sehari-hari umumnya wanita Jawa cukup memakai kemben yang dipadukan dengan stagen dan kain jarik. dan dilengkapi dengan perhiasan yang dipakai seperti subang. biru dan sebagainya maupun bahan katun yang berbunga atau bersulam. Baju kebaya dikenakan oleh kalangan wanita bangsawan maupun kalangan rakyat biasa baik sebagai busana sehari-hari maupun pakaian upacara. Pada busana upacara seperti yang dipakai oleh seorang garwo dalem misalnya. baju kebaya pada umumnya hanya dipakai pada harihari tertentu saja. wanita Jawa mengenal dua macam kebaya. kuning. putih. kemben dan kain tapih pinjung dengan stagen. hijau. nilon. ketiak dan punggung. cincin. baju kebaya menggunakan peniti renteng dipadukan dengan kain sinjang atau jarik corak batik. seperti pada upacara adat misalnya. kebaya pendek dapat dibuat dari bahan sutera. Baju kebaya di sini adalah berupa blus berlengan panjang yang dipakai di luar kain panjang bercorak atau sarung yang menutupi bagian bawah dari badan (dari mata kaki sampai pinggang). bagian kepala rambutnya digelung (sanggul). Kemben dipakai untuk menutupi payudara. Kebaya pendek dapat dibuat dari berbagai jenis bahan katun. Saat ini. Oleh karena itu. kalung dan gelang serta kipas biasanya tidak ketinggalan. yaitu kebaya pendek yang berukuran sampai pinggul dan kebaya panjang yang berukuran sampai ke lutut. sebab kain kemben ini cukup lebar dan panjang. lurik atau bahan-bahan sintetis. brokat.

perhiasan yang dipakai juga sederhana. Baju ini terdiri dari dua helai potongan. daerah pantai Kalimantan. bagi orang tua mempelai biasanya mereka memakai kain jarik dan sabuk sindur. Untuk menutupi stagen digunakan selendang pelangi dari tenun ikat celup yang berwarna cerah. Jawa Tengah. dapat juga memakai kain gabardine yang bercorak kotak-kotak halus dengan kombinasi warna sebagai berikut: hijau tua dengan hitam. seorang wanita dan pria kalangan keraton mengenakan beberapa jenis busana. Dewasa ini.nilon yang bersulam. maka tata rias rambutnya tanpa untaian bunga melati dan tusuk konde. Busana yang dipakai adalah celana kolor warna hitam. Dalam adat busana perkawinan misalnya. Semua potongan tersebut dapatdikerjakan dengan mesin jahit ataupun dijahit dengan tangan. tetapi biasanya tanpa memakai selendang. baju lengan panjang. yaitu busana pria Jawa secara lengkap dengan keris. tidak berarti busana di lingkungan rakyat biasa tidak ada yang khas. ikat pinggang besar. baju kebaya panjang merupakan pakaian untuk upacara perkawinan. Pada upacara midodareni. Kain jarik batik yang berlipat (wiron) tetap diperlukan untuk pakaian ini. serta dua buah lengan baju. Baju kebaya panjang biasanya menggunakan bahan beludru. Baju kebaya panjang yang dipakai sebagai busana upacara biasa. Namun pada saat upacara perkawinan. khususnya kerabat keraton adalah memakai memakai baju beskap kembang-kembang atau motif bunga lainnya. yaitu sehelai bagian depan dan sehelai lagi potongan bagian belakang. Dan umumnya digunakan juga oleh mempelai wanita Sunda. Meskipun seni busana berkembang baik di lingkungan keraton. lipatan bawah bagian belakang dan samping harus sama lebarnya dan menuju ke bagian depan dengan agak meruncing. Selendang yang dipakai tersebut sebaiknya terbuat dari batik. cincin. Bajunya beskap atau sikepan dan pada bagian kepala memakai destar. panggih dan sesudah upacara panggih. Sedangkan. Busana adat tradisional rakyat biasa banyak digunakan oleh petani di desa. Kalangan wanita di Jawa. Mengenai teknik dan cara membuat baju kebaya sangat sederhana. Sanggulnya dihiasi dengan untaian bunga melati dan tusuk konde dari emas. yang disesuaikan dengan tahapan upacara. kain samping jarik. Baju kebaya dipakai dengan kain sinjang jarik/ tapih dimana pada bagian depan sebelah kiri dibuat wiron (lipatan) yang dililitkan dari kiri ke kanan. pengantin wanita memakai busana kejawen dengan . biasanya baju kebaya mereka diberi tambahan bahan berbentuk persegi panjang di . biru sedang dengan hitam. Kepulauan Sumbawa. Bali dan Madura. Selain kain lurik. kain lurik yang serasi atau kain ikat celup. keris dan alas kaki (cemila). Sebab. yang juga dipakai di Sumatera Selatan. yaitu midodareni. brokat. Busana ini dinamakan Jawi Jangkep. gelang dan sepasang tusuk konde pada sanggul. Kelengkapan perhiasannya dapat dipakai yang sederhana berupa subang kecil dengan kalung dan liontin yang serasi. Sedangkan busana di kalangan pria.bagian depan yang berfungsi sebagai penyambung. Potongan dan model kebaya Jawa. yang dihiasi pita emas di tepi pinggiran baju. dan Timor sebenarnya serupa dengan blus. tiap-tiap jenis busana tersebut menunjukkan tahapan-tahapan tertentu dan siapa si pemakaiannya. yaitu sebuah sisir berbentuk hampir setengah lingkaran yang dipakai di sebelah depan pusat kepala. kuning tua dengan hitam dan merah bata dengan hitam. Pada bagian badan kebaya dipotong sedemikian rupa sehingga tidak memerlukan krup. ikat kepala dan kalau sore pakai sarung. pada kepala memakai destar (blankon). ijab. Busana Basahan Salah satu jenis busana adat yang terindah dan terlengkap di Indonesia terdapat di keraton Surakarta. Lengkung leher baju menjadi satu dengan bagian depan kebaya. ungu dengan hitam. Lengkung ini harus cukup lebar sehingga dapat dilipat ke dalam untuk vuring kemudian dilipat lagi keluar untuk membentuk lengkung leher. dapat pula memakai tambahan bahan di bagian muka akan tetapi tidak berlengkung leher (krah). stagen untuk mengikat kain samping. Ini dimaksudkan agar benar-benar membentuk badan pada bagian pinggang dan payudara dan sedikit melebar pada bagian pinggul. Pada umumnya kebaya panjang terbuat dari kain beludru hitam atau merah tua. Panjang baju kebaya ini sampai ke lutut. Modelnya dapat ditambah dengan sepotong bahan berbentuk persegi panjang yang dipakai sebagai penyambung antara kedua potongan bagian muka. Sedangkan. sutera maupun nilon yang bersulam.

Kemudian fungsi pakaian menjadi lebih beragam. timang/epek. cincin. mata. Sedangkan pengantin pria menggunakan busana kepangeranan. Busana sawitan terdiri dari kebaya lengan panjang. sikepan. Pada upacara panggih ini. yaitu terdiri dari baju kebaya. Begitu pula pada upacara panggih kedua mempelai memakai jenis busana yang sudah ditetapkan. epek. swastika (misalnya bintang dan matahari). Semekan atau kemben terbuat dari kain batik dengan corak alas-alasan warna dasar hijau atau biru dengan hiasan kuning emas atau putih. jungkat. selop dan perhiasan kalung ulur. hewan (misal : burung. Fungsi pakaian. kain sido luhur dan sido mulyo merupakan pakaian mempelai. . keris warangka ladrang dan selop. centung. sedangkan pengantin pria memakai busana basahan. sebagai unsur pelengkap upacara yang menyandang nilai tertentu. basahan. awalnya digunakan sebagai alat untuk melindungi tubuh dari cuaca dingin maupun panas. tumbuh-tumbuhan (bunga teratai. Busana basahan adalah tidak memakai baju. kain jarik. alis. udeng. bros dan buntal. kolong karis. maupun sebagai alat pemenuhan kebutuhan akan keindahan. dodot bangun tulak atau kampuh. Jenis ragam hias yang dikenal di daerah Surakarta maupun Jogyakarta adalah kain yang bermotifkan tematema geometris. perhiasan yang biasa dipakai adalah cunduk mentul. Kain dodot yang menggunakan corak batik alas-alasan panjangnya kirakira 4-5 meter. dan merupakan baju pokok dalam busana basahan. berupa dodot bangun tulak. sabuk timang. stagen dan kain jarik dengan corak batik. Sedangkan kain sido mukti. melainkan terdiri dari semekan atau kemben. pada upacara setelah panggih. stagen. warna dasar merah yang dihiasi bunga berwarna hitam dan putih. Kemben disini berfungsi sebagai pengganti baju dan pelengkap untuk menutupi payudara. celana cinde sekar abrit. baju takwo. Motif geometris diantaranya adalah kain batik yang bercorak ikal. Bahkan motif yang paling dikenal oleh masyarakat Surakarta adalah motif tumpal berbentuk segi tiga yang disebut untu walang. keris warangka ladrang dan selop. Cara mengenakan kain ini seperti kain jarik tetapi tidak ada lipatan (wiron). yang terdiri dari kuluk kanigoro. cincin. dalam busana adat perkawinan. ikal rangkap dan pilin ganda. bros. Sama halnya dengan pengantin wanita. Tujuannya adalah agar mempelai wanita kelihatan lebih cantik dan angun dan pengantin pria lebih gagah dan tampan. Pada busana-busana khusus untuk upacara perkawinan dikenal juga motif pada batik tulis. kain jarik. celana panjang warna putih. dodot bangun tulak. keris dan selop. naga). pilin. sabuk timang. subang dan timang atau epek. kalung. maka baik pengantin wanita maupun pria biasanya dirias pada bagian wajah dan sanggul. pengatin pria pun memakai busana adat basahan. Sedangkan pengantin prianya memakai busana cara Jawi Jangkep. Bagi pengantin pria. dodot bangun tulak. Berbeda dengan tahapan upacara sebelumnya. Perhiasan yang biasa digunakan oleh mempelai pria adalah kalung ulur. stagen. gelang. keris warangka ladrang. cara meriasnya tidak sedemikian rumit dan teliti sebagaimana pengantin wanita yang harus dirias pada bagian wajahnya mulai dari muka. misalnya untuk menutup aurat. yang melambangkan kesuburan. seperti kain sindur dan truntum yang dipakai oleh orang tua mempelai. pengantin wanita memakai busana kanigaran. busana yang dipakai pengantin wanita adalah baju kebaya dan kain jarik. kerbau. Sebagai kelengkapan. sabuk timang. Busana Jawa baik pakaian sehari-hari maupun pakaian upacara sangat kaya akan ragam hias yang tak jarang memiliki makna simbolik dibaliknya. Sedangkan bagi pengantin wanita. Busana basahan pengantin pria disini terdiri dari kuluk matak petak. ular. terdiri dari kuluk matak biru muda. pipi dan bibir. sabuk lengkap dengan timang dan cinde. Saat upacara ijab. stagen. biasanya kedua mempelai pengantin melengkapi busana basahan dengan aneka perhiasan. yang terdiri dari baju atela. sampur atau selendang sekar cinde abrit dan kain jarik cinde sekar merah. stagen dan selop. Pengantin wanita memakai busana adat bersama. melati) maupun alam dan manusia. Selendang cinde sekar abrit terbuat dari kain warna dasar merah dengan corak bunga hitam dan kain jarik cinde sekar abrit terbuat dari kain gloyar.warna sawitan. kain jarik. Motif berupa garis-garis potong yang disebut motif tangga merupakan simbolisasi dari nenek moyang naik tangga sedang menuju surga.

Dalam perkembangan selanjutnya. di man dikenakan. konde. dan saat bepergian. kemudian disusul dengan masa kemerdekaan. dan lain-lain) dan perhiasan (aksesori). Pakaian tersebut dikenal sebagai pakaian adat tradisional yang resmi dan khas Yogyakarta. yang secara visual ditandai pula oleh cara dan bentuk pakaian. dan bagian bawah. tetapi tetap terpelihara dengan baik dan selalu dimunculkan pada saat-saat penting. Sejalan dengan perkembangan zaman. pakaian atau busana menurut kepangkatan tidak begitu diperhatikan lagi. Demikian pula pakaian dari suatu daerah dapat dibedakan atas pakaian sehari-hari/kerja dan pakaian upacara/pesta adat. usia. dan yang pada gilirannya jarang dijumpai lagi. Kelengkapan berbusana tersebut merupakan ciri khusus pemberi identitas bagi pemakainya yang meliputi fungsi dan peranannya. bagian tengah terdiri dari baju (kebaya. Penulis Jaya Purnawijaya Busana Tradisional Yogyakarta Yogyakarta Traditional Dress Kraton sebagai suatu pusat institusi dan tata pemerintahan. dan status sosial. di samping pakaian sehari-hari yang secara rutin dikenakan. dan siapa yang mengenakannya. Pakaian khusus itu akan muncul secara menarik dan berwibawa. Namun demikian. pada saat-saat tertentu akan muncul kembali dalam suatu upacara adat yang meriah dan menarik perhatian masyarakat umum. cara berpakaian biasanya sudah dibakukan secara adat. . sosial dan simbolik. bagian tengah. usia. pakaian resmi semacam itu lama kelamaan tidak lagi dikenakan secara lengkap. merupakan lembaga resmi yang dipimpin oleh seorang raja dan para kerabatnya yang disebut pegawai istana atau abdidalem. Pakaian adat tradisional masyarakat Yogyakarta terdiri dari seperangkat pakaian yang memiliki unsur unsur yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya.1945). yang mana pada waktu itu ekonomi negara kita dalam keadaan kacau. sebagai miliknya sendiri dan pemberi identitas. Oleh karena itu. fungsi sosial yakni belajar menjaga kehormatan diri seorang wanita agar tidak mudah menyerahkan kewanitaannya dengan cara berpakaian serapat dan serapi mungkin. dan sebagainya). yakni menghias tubuh agar kelihatan lebih cantik dan menarik. Bagian atas meliputi tutup kepala dan tata rias rambut (sanggul. dan status sosial pemakainya. fungsi estetis. diantaranya melalui bentuk pakaian yang harus dikenakan. Adapun yang dimaksud dengan pengertian pakaian sehari-hari di sini adalah seperangkat pakaian yang dikenakan di rumah.Pada masyarakat di Jawa Tengah. pakaian ini diterima di kalangan masyarakat Jawa yang tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pakaian adat tradisional Kraton Yogyakarta yang sudah jarang dijumpai lagi akhir-akhir ini. Seperti kain kebaya fungsi praktisnya adalah untuk menjaga kehangatan dan kesehatan badan. Dari pembagian tersebut dapat digolongkan lagi jenis-jenis pakaian berdasarkan jenis kelamin. Pemakainya dapat digolongkan berdasarkan jenis kelamin. Misalnya pada masa penjajahan Jepang (1942 . serta memakai stagen sekuat mungkin agar tidak mudah lepas. Sejak kecil putra-putri Sultan telah mengenal beberapa peraturan yang membedakan dirinya dengan status individu lainnya. religius. Mereka terdiri dari golongan-golongan sesuai dengan fungsi dan jabatannya. serta bagian bawah berupa alas kaki. kapan dikenakan. saat bekerja. Demikianlah secara keseluruhan pakaian adat itu tidak pernah musnah dilanda kemajuan zaman. pakaian adat tradisional kraton Yogyakarta yang sempat dikenal di kalangan masyarakat luas banyak dikenakan oleh golongan masyarakat biasa. khususnya di Surakarta fungsi pakaian cukup beragam. Secara keseluruhan seperangkat pakaian terdiri atas bagian atas. estetis. seperti pada masyarakat bangsawan pakaian mempunyai fungsi praktis. Lebih-lebih pada saat penyelenggaraan upacara adat pakaian tersebut dikenakan secara lengkap.

baju surjan. pethat jeruk sak ajar. timang. berfungsi sebagai penutup dada. kalung emas dengan liontin berbentuk mata uang (dinar). kamus songketan. baju kebaya katun. Rangkaian busana ini terdiri dari nyamping batik. ceplok. kain batik dengan wiru di tengah. Kainnya bermotif parang. karset. gelang berbentuk ular (gligen) atau model sigar penjalin. Busana untuk anak laki-laki model kencongan terdiri dari kain batik yang dikenakan dengan model kencongan. Kelengkapan pinjung padintenan terdiri atas kain batik. Perhiasannya berupa subang. Busana kebesaran yang dikenakan dalam semua kegiatan ini disebut busana keprabon. udhet tritik (semacam selendang sebagai hiasan pinggang). jumenengan dalem (penobatan raja). tingalan dalem tahunan. Penulis Dewi Indrawati . kain batik. kamus songketan. Rangkaian busana dodotan terdiri dari kuluk biru dengan hiasan mundri (nyamat). gelang. Sanggulnya berbentuk sanggul tekuk polos tanpa hiasan. Rangkaian busana ini terdiri dari kain (nyamping) batik. dan perkawinan. Busana ini dikenakan dengan cara melipat ujung kain sebelah dalam dibentuk segitiga sebagai penutup dada. baju katun. lonthong tritik. tingalan dalem tahunan. atau merak. atau gringsing. Busana Kebesaran Untuk Upacara Ageng Pengertian upacara ageng adalah kegiatan seremonial dari rangkaian upacara supitan. maka busana kanigaran ini dilengkapi dengan baju sikepan bludiran. kamus. kalung dinar. ikat pinggang berupa kamus songketan dengan cathok atau timang terbuat dari suwasa (emas berkadar rendah). Lipatan kain (wiru) berada di sebelah kiri. dan busana sabukwala untuk anak perempuan. yang menunjukkan status sosial pemakainya sebagai putri Sultan sampai dengan cicit Sultan. rante.Busana yang dirancang untuk anak-anak terdiri dari busana kencongan untuk anak laki-laki. yang khusus dikenakan para putra Sultan. Perhiasan yang dikenakan sebagai pelengkap terdiri dari subang. Sebagai perhiasannya adalah subang. dana cindhe gubeg. dan keris branggah. Jenis busana ini lazim dikenakan pada upacara Agustusan. perkawinan. serta sapu tangan merah. kampuh konca setunggal. semekan tritik. serta mengenakan cathok dari perak berbentuk kupu-kupu. serta mengenakan dhestar sebagai tutup kepala. tanpa baju. supitan. serta sedan (pemakaman jenazah raja). Sedangkan busana harian bagi putri raja yang sudah menikah terdiri atas semekan tritik dengan tengahan. Remaja putri mengenakan busana yang disebut pinjung. Pengertian kata semekan berupa kain panjang yang lebarnya separuh dari lebar kain panjang biasa. memakai lonthong tritik. burung garuda. Hanya saja jika busana dodotan dikenakan tanpa baju. Jenis busana ini dibedakan atas busana dodotan. Bagi yang berambut panjang disanggul dengan model konde. ikat pinggang kamus songketan bermotif flora atau fauna. dan kaprajuritan. sanggul tekuk polos tanpa hiasan. dan cincin. Sedangkan busana seharihari bagi pria remaja dan dewasa terdiri dari baju surjan. lonthong tritik. Untuk putri yang sudah dewasa mengenakan busana semekanan dalam kesehariannya. garebeg. yang panjangnya diukur dari dada sampai di atas pusar. Busana sabukwala padintenan dikenakan oleh anak perempuan berusia 3-10 tahun. baju kebaya katun. Kelengkapan busana kanigaran pada dasarnya sama dengan busana dodotan. sanggul tekuk polos tanpa hiasan. cincin. Busana ini lazim dikenakan pada upacara garebeg. moga renda berwarna kuning. serta mengenakan perhiasan berupa subang. timang (kretep). jumenengan dalem. lonthong tritik. gelang. serta pisowanan dalam upacara perkawinan. Agustusan. kanigaran.

Perlengkapan busana . secara umum sebagaimana busana Solo dan Yogya. Sebenarnya. baik sebagai busana sehari-hari maupun sebagai busana resmi. Sarung palekat kotak-kotak dengan warna menyolok dan sabuk katemang. Oleh karena kebudayaan Madura termasuk dalam daerah kebudayaan Jawa. baik sebagai busana sehari-hari maupun untuk keperluan upacara. baju pesa`an. celana gomboran dan kaos oblong ini memiliki perbedaan fungsi bila dilihat dari cara memakainya. bera` songay atau toh biru. Baju pesa`an biasanya dipakai oleh guru agama atau molang. Secara umum masyarakat sukubangsa Madura mengenal perbedaan busana berdasarkan usia. tutup kepala yang dikenakan. kalangan bangsawan biasanya menggunakan rasughan totop (jas tutup) polos dengan samper kembeng (kain panjang) di bagian bawah. ikat pinggang kulit lebar dengan kantong penghimpun uang di depannya adalah perlengkapan lainnya. Untuk sehari-hari odheng yang digunakan adalah odheng peredhan dengan motif storjan. teguh dan keras. Bentuk baju yang serba longgar dan pemakaiannya yang terbuka melambangkan sifat kebebasan dan keterbukaan orang Madura. pakaian yang terdiri dari baju pesa`an dan celana gomboran ini merupakan pakaian pria untuk rakyat kebanyakan. seringkali mempergunakan baju pesa`an dan kaos oblong warna putih. Berbeda dengan rakyat kebanyakan. di dalamnya. Masyarakat umum mengenal pakaian khas Madura. Garis-garis tegas merah. Kesederhanaan bentuk baju ini pun menunjukkan kesederhanaan masyarakatnya. Warna hitam ini melambangkan keberanian.Busana Tradisional Madura Madura Traditional Dress Penulis Endang Mariani Meskipun Madura adalah sebuah pulau yang terpisah dari Pulau Jawa. Adanya pengaruh cara berpakaian pelaut dari Eropa. masyarakat mengenal baju pesa`an dalam dua warna. Sebaliknya para nelayan. lengkap dengan tutup kepala dan kain sarung. Pada masa sekarang. dipadu dengan sarung motif kotak-kotak biasa. yaitu hitam dan putih. Dalam penggunaannya. Jaman dahulu. Sikap gagah dan pantang mundur ini merupakan salah satu etos budaya yang dimiliki masyarakat Madura. Perbedaannya adalah pada odheng. umumnya hanya menggunkan celana gomboran dengan kaos oblong. Kalangan pedagang kecil. terutama kaos bergaris yang digunakan. jenis kelamin. dalam menghadapi segala hal. putih atau hitam yang terdapat pada kaos yang digunakan pun memperhatikan sikap tegas serta semangat juang yang sangat kuat. yaitu hitam serba longgar dengan kaos bergaris merah putih atau merah hitam. kebudayaan Jawa dalam arti luas berpengaruh sangat besar dalam berbagai segi kehidupan masyarakat sukubangsa Madura. status sosial maupun kegunaannya. baju pesa`an warna hitamlah yang menjadi ciri khas. Terompah atau tropa merupakan alas kaki yang umumnya dipakai. maka jenis dan bentuk busananya pun memiliki beberapa kesamaan dengan busana dari daerah-daerah lain di Pulau Jawa.

Semakin tegak kelopak odheng tongkosan. Demikian pula berbagai pantangan makanan yang tidak boleh dilanggar. Bentuk dan cara memakai odheng juga menunjukkan derajat kebangsawanan seseorang. Hampir sama dengan gelung wanita Bali. juga memiliki daya tarik yang unik. kuning atau hitam. sabuk katemang. yaitu saku untuk menyimpan uang atau benda berharga lainnya. Hal tersebut merupakan salah satu perwujudan nilai budaya yang hidup di kalangan wanita Madura. Kebaya tanpa kutu baru atau kebaya rancongan digunakan oleh masyarakat kebanyakan. pemberani. Pada odhet terdapat ponjin atau kempelan. dengan ukuran lebar 15 cm dan panjang sekitar 1. storjan atau lasem. rasughan totop umumnya berwarna hitam digunakan lengkap dengan odheng tongkosan kota. garik atau jingga. Bentuknya agak bulat dan penuh. baik dari ukuran.seperti sap osap (sapu tangan). Letak sanggul umumnya agak tinggi. perhiasanpun menjadi pelengkap yang utama bagi busana kaum wanitanya. keduanya terbuat dari emas. Ramuan jamu-jamu Madura diberikan semenjak seorang gadis cilik hendak berangkat remaja. bermotif modang. pelintiran ujung simpul bagian belakang yang tegak lurus melambangkan huruf alif. Cucuk sisir biasanya terdiri dari untaian mata uang emas atau uang talenan dan ukonan. Keindahan lekuk tubuh si pemakai akan tampak jelas dengan bentuk kebaya rancongan dengan kutang pas badan ini. Pada saat menghadiri acara resmi. Pilihan warna yang kuat dan menyolok pada masyarakat Madura menunjukkan karakter mereka yang tidak pernah ragu-ragu dalam bertindak. Hiasan rambut berupa cucuk sisir dan cucuk dinar. Ikatan odheng juga memiliki arti tertentu. Semuanya dimaksudkan untuk membentuk tubuh yang indah dan padat. kemudian digelung sendhal. Kebaya dengan panjang tepat di atas pinggang dengan bagian depan berbentuk runcing menyerong khas roncongan Madura. Ukuran odheng tongkosan yang lebih kecil dari kepala. Panjang kutang dengan bukaan depan ini ada yang pendek dan ada pula yang sampai perut. semakin tinggi dewajat kebangsawananan. Untuk penguat kain digunakan odhet. hijau atau biru terang yang kontras dengan warna dan bahan kebaya yang tipis tembus pandang atau menerawang. Jumlah untaian mata uang ini tergantung kemampuan si pemakai. mengandung makna "betapapun beratnya beban tugas yang harus dipikul hendaknya diterima dengan lapangan dada". Sementara itu. maka derajat kebangsawanan semakin rendah. Alas kaki yang digunakan adalah sandal jepit. terbuat dari tenunan bermotif polos. Adapun cucuk dinar. stagen. Ciri khas kebaya Madura adalah penggunaan kutang polos dengan warna-warna menyolok seperti merah. dan perhiasan lainnya terutama selok (seser) atau cincin geleng akar (gelang dari akar bahar). Sebagaimana senjata bagi laki-laki Madura. bentuknya agak lonjong dan pipih letaknyapun miring. dulcendul. serta pemakaian penggel. Rambut wanita Madura itu sendiri. yaitu huruf awal dalam bahasa Arab. namun ada pula yang memakai kain panjang dengan motif tabiruan. Warna dasarnya putih dengan motif didominasi warna merah. Sementara di daerah Madura Timur. Warna biasanya merah. yang merupakan simbol dari kalimat pengakuan akan keesaan Allah (Laa illaahaillallaah). Pada odheng peredhan. motif maupun cara pemakaian.5 meter. Harnal bubut dari emas. biasanya disisir ke belakang. umumnya digunakan bersama sarung batik motif tumpal. Perhiasan yang dikenakan oleh wanita Madura. simpul mati di bagian belakang dibentuk menyerupai huruf lam alif. Arloji rantai acap digunakan. yang sangat menghargai keindahan tubuh. Odhet adalah semacam stagen Jawa. sayap atau ujung kain dipilin dan tetap terbeber bila si pemakai masih relatif muda. jam saku. Sebum dhungket atau tongkat. sehingga membuat si pemakai harus sedikit mendongak ke atas agar odheng tetap dapat bertengger di atas kepalanya. Kutang ini ukurannya ketat pas badan. Untuk orang yang sudah sepuh (tua). terdiri dari beberapa keping mata uang dollar. Semakin miring kelopaknya. Oleh karenaitu mereka tidak mengenal warna-warna lembut. serta bersifat terbuka dan terus terang. Bentuknya seperti busur. jepit kain. Termasuk dalam memilih warna pakaian maupun aksesoris lainnya. padat dengan kuncir sisa rambut yang terletak tepat di tengah-tengah rambut. bermata selong dengan . pada odheng tongkosan kota. Odheng pada masyarakat Madura memiliki arti simbolis yang cukup kompleks. termasuk kelengkapan pakaian yang membedakan penampilan dan kewibawaan seorang bangsawan dengan rakyat biasa. mulai dari kepala sampai kaki. Kaum wanita Madura umumnya mengenakan kebaya sebagai pakaian sehari-hari maupun pada acara resmi.

lebih banyak dihiasi intan atau berlian. tatarias wajah wanita Madura pun cukup unik. bermotif polos dengan berbentuk bulat utuh sebesar biji jagung. Untuk acara resmi wanita bangsawan Madura mengenakan kebaya panjang dengan kain batik tulis Jawa atau khas Madura. Sepasang gelang emas di tangan kanan dan kiri dengan motif tebu saeres. Liontin atau bandul yang digunakan biasanya berbentuk mata uang dollar (dinar) atau bunga matahari. dengan berat perak ada yang mencapai 3 kg. Namun. berupa lapisan gigi yang terbuat dari emas atau platina. kiri atau dahi. kebanyakan berupan olesan alat kosmetik berupa garis membujur sekitar 1-2 cm dan berwarna merah. Selain itu masih ada motif pale obi yang menyerupai batang ubi melintir.panjang sekitaar 12 cm berukuran agak lebih besar dari harnal pada umumnya juga dipakai untuk menghiasi rambut. dilengkapi dengan karang melok dan duwek remek. telinga. tetapi semua ukelnya diisi kembang tanjung dan kembang pandan. berbentuk seperti keratan tebu merupakan kelengkapan lain yang sering dipakai. Anteng atau anting ini dikenakan di telinga. Warna gelap dan tidak bermotif. Dari seluruh jenis perhiasan yang biasa dikenakan wanita Madura. Sebuah tutup kepala. Gelang kaki yang terbuat dari emas atau perak. Sebagai pelengkap kebaya rancongan. Semakin banyak jumlah dinarnya. Penggel adalah simbol kebanggaan wanita Madura. Berbeda dengan yang dikenakan rakyat kebanyakan. Peniti cecek atau pako malang adalah hiasan kebaya berbentuk paku yang melintang bersusun tiga dan dihubungkan dengan rantai emas. penggel adalah salah satu yang paling unik. leher. Selain busana dan perhiasan khas wanita Madura. Alas kakinya berupa selop tutup. Dahulu leng pelengan dibuat dengan cubitan tangan. sedangkan gigi dihiasi dengan apa egan. Sementara sepasang cincin dengan motif yang sama dengan gelang dikenakan sebagai hiasan jari. Untuk wanita yang sudah berumur dan berpangkat. penggel juga berfungsi untuk membentuk keindahan tubuh wanita Madura. serta motif mon temon berupa untaian emas berbentuk biji mentimun. Penggel merupakan hiasan kaki dari emas atau perak yang dipakai pada pergelangan kaki kiri dan kanan. digunakan gelung mager sereh. Bahan kebaya biasanya beludru. bahkan lebih. Ujung bawah kebaya berbentuk bulat. semakin panjang untaiannya berarti semakin tinggi kemampuan ekonomi pemakainya. Selain fungsi ekonomi yang juga dapat menunjukkan status ekonomi si pemakai. menjadi ciri tersendiri pada kelengkapan wanita Madura. aapabila digunakan untuk berjalan dan melakukan aktivitas sehari-hari tentunya akan menguatkan otot-otot tertentu. Motif hiasan kalung Madurapun terkenal karena ciri khasnya. Mata dihiasi dengan celak Arab. Saat ini. yang terbuat dari handul besar atau kain tebal disebut leng o leng. Bentuk perhiasan yang digunakan untuk rambut. Busana Tradisional Tengger Tengger Traditional Dress Penulis Endang Mariani . Kalung brondong yang berupa rentangan emas berbentuk biji jagung adalah kalung khas Madura yang biasanya dikenakan bersama liontin. Bentuknya sama dengan gelung malang. Hiasan rambut terdiri dari cucuk emas dengan motif ular atau bunga matahari. Wajah dihiasi dengan jimpit di bagian kening kanan. wanita bangsawan tidak menonjolkan kekayaannya melalui bentukbentuk perhiasan yang menyolok dan cenderung berat. Rambut wanita muda digelung malang. digunakan peniti dinar renteng. Berat kalung itu rata-rata 5-10 gram. Tempat yang dijimpit disebut leng pelengan. Perhiasan lain yang umumnya dikenakan sebagai kelengkapan busana adalah anteng atau shentar penthol yang terbuat dari emas. di dalamnya diberi potongan daun pandan sebagai penguat. yaitu hiasan dari bunga-bungaan. Demikian pula gelang tangan dan hiasan jari berupa cincin emas bermata berlian. namun adapula yang mencapai 100 gram. Tergantung kemampuan si pemakai. Giwang kerambu dan kalung rantai berliontin markis yang terbuat dari emas bertaburan berlian juga dikenakan. terbuat dari emas dan bermotif polos. Bentuknya seperti angka delapan melintang yang melambangkan tulisan Allah. baik dari kalangan bangsawan maupun rakyat biasa. tangan dan kaki umumnya kecil.

Budha yang terpadu dengan adat kepercayaan lokal yang oleh sebagian masyarakat disebut Agami Jawi dan dihayati oleh masyarakat Tengger. Setelah disarungkan pada tubuh. Sarung dilingkarkan pada pinggang kemudian diikatkan seperti dodot (di dada) agar tidak mudah terlepas. Untuk bekerja. yang tetap dilaksanakan dan mengundang perhatian masyarakat luar. Udeng dan sarung tidak tertinggal. Dengan ikatan di bagian belakang kepala kain sarung dikerudungkan sampai menutupi seluruh bagian kepala. Setidaknya ada dua upacara besar. yang juga merupakan pemimpin upacara adat di Tengger sangat dihormati oleh masyarakat. pada saat santai dan sekedar berjalan-jalan. lengkap dengan peralatan upacara seperti prasen. mereka menggunakan sarung dengan cara sesembong. Di bagian dalam. mereka mengenakan sarung sebagaimana masyarakat umumnya. Agar terlihat rapi pada saat bepergian mereka menggunakan cara sengkletan. Kaum prianya berpakaian sehari-hari sebagaimana masyarakat pertanian di Jawa. sebagaimana yang digunakan di Jawa. Masing.masing cara ini memiliki istilah dan kegunaan sendiri. Sedang untuk pekerjaan yang lebih berat. kain wiron dan udeng. bahkan dengan masyarakat Jawa Timur pada umumnya. Cara lain yang sangat khas. seperti bekerja diladang atau pekerjaanpekerjaan lain yang memerlukan tenaga lebih besar. termasuk wisatawan. yang dimaksudkan agar bebas bergerak pada waktu ketempat mengambil air atau kepasar. berwarna hitam. celana panjang warna gelap dan selempang . melainkan juga yang berhubungan dengan alam. yang disebut sampiran. masyarakat Tengger memiliki banyak upacara yang tidak saja berkaitan dengan siklus kehidupan. Kain sarung cukup disampirkan pada pundak secara terlepas atau bergantung menyilang pada dada. genta dan talam. Malang. sehingga yang terlihat hanya mata saja. yang sering dijumpai pada saat masyarakat Tengger berkumpul di tempat . Banyak legenda dan mitologi yang dimiliki oleh masyarakat Tengger. yaitu : Lumajang. di Jawa Timur. kemudian disampirkan ke pundak bagian belakang dan kedua ujungnya diikat jadi satu. Biasanya mereka memakai baju longgar dan celana panjang di atas mata kaki. yang memiliki hubungan historis dengan kerajaan Majapahit. Sementara itu. membuat masyarakat Tengger memiliki ciri khas yang berbeda dengan masyarakat Jawa. Kedudukan seorang dukun. yaitu yang disebut baju anta kusuma atau rasukan dukun. yaitu ujung sarung dilipat sampai kegaris pinggang. Cara ini disebut kakawung. baju warna putih. Salah satunya yang sangat dikenal adalah mitologi Resi Ki Dadap Putih serta Rara Anteng dan Djaka Seger. Kawasan ini meliputi 4 (empat) Wilayah Kabupaten.Masyarakat Tengger merupakan penduduk ash yang mendiami daerah Lereng Pegunungan Tengger dan Semeru. Kain sarung disampirkan di bagian atas punggung. Keluhuran budi. Upacara-upacara adat yang secara turun menurun telah dilaksanakan selama ratusan tahun serta kondisi alam dan geografis yang spesifik.tempat upacara atau keramaian lainnya di malam hari adalah cara kekodong. Probolinggo. mereka menggunakan kain sarung yang dilipat dua. memakai kaos oblong. Dalam hal berbusana. dan Pasuruan. jarik (kain) batik yang dibebatkan. Untuk pakaian resmi pun mereka menggunakan beskap. yaitu upacara adat kasada dan karo. menciptakan suatu keunikan masyarakat yang religius. pakaian sehari-hari yang dikenakan masyarakat Tengger memang tidaklah jauh berbeda dari masyarakat Jawa. Kedua bagian lubangnya dimasukkan pada bagian ketiak dan disangga ke depan oleh kedua tangannya. dengan segala perlengkapannya. jas tutup warna gelap. Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat yang sangat diyakini dan telah dilaksanakan secara turun menurun. Saat bertamu. Pengaruh Hindu . mereka menggunakan sarung dengan cara kekemul. Biasanya busana yang dikenakan oleh seorang dukun adalah ikat kepala atau udeng batik. Tidak kurang dari 7 (tujuh) cara bersarung yang mereka kenal. kedamaian dan kesederhanaan tergambar sebagai etos budaya masyarakat Tengger. kemudian digantungkan di pundak. Keunikan pakaian sehari-hari masyarakat Tengger adalah cara mereka bersarung (memakai sarung) yang berfungsi sebagai pengusir hawa dingin yang memang akrab dengan keseharian mereka. Cara ini disebut Sempetan. Busana yang digunakan seorang dukun pada saat memimpin upacara cukup unik. bagian atas dilipat untuk menutupi kedua bagian tangannya. Cara bersarung seperti ini tidak boleh digunakan untuk bertamu dan melayat. Anak-anak muda Tengger pun memiliki cara bersarung tersendiri. Kaum wanitanya menggunakan kebaya pendek dan kain panjang tanpa wiron atau sarung tutup kepala dan selendang batik lebar.

Setelah ujub upacara. meskipun dimasa lalu perangkat busana Bali lazimnya tanpa baju. yang menjadi bentuk dan model dasar busana tradisional Bali. Namun. dari segala jenis usia.panjang warna hitam batikan. Sementara anteng adalah selembar kain atau kancrik yang berfungsi sebagai penutup buah dada. Kemben. sehingga keindahan bentuknya tetap terjaga. serta tengkuluk untuk kepala merupakan pakaian wanita Bali dalam keseharian. tetapi lebih berfungsi sebagai penyangga payudara. Pada masa lalu. Kebiasaan bertelanjang dada pada masyarakat Bali adalah tradisi yang telah berlangsung turun temurun selama ratusan tahun. Busana Tradisional Bali Bali Traditional Dress Kemben merupakan jenis pakaian. Kancrik adalah sehelai selendang yang berfungsi sebagai penutup tubuh atau saput. yaitu tutup kepala wanita Bali yang juga berfungsi sebagai alas penjunjung beban .selain kegunaannya sebagai alat untuk menahan rambut agar tetap rapi. Kaum wanitanya sering mengenakan kebaya. kemben bukanlah penutup dada. Namun ada pula dukun yang menggunakan jas tutup dan celana panjang warna putih. saput dan kemben. baik untuk pria maupun wanita. berupa kain pembalut tubuh. termasuk kaum wanitanya adalah hal yang biasa. Untuk kebaya berlengan panjang hingga . sabuk. masyarakat Bali mengenal dengan baik kebiasaan mengenakan baju. maupun putih dan ke arah krem. umumnya selempang ini dilepas dan disimpan kembali. Meskipun demikian pada situasi-situasi tertentu mereka acap menggunakan kancrik atau tengkuluk sebagai anteng penutup dada. Pakaian untuk pria secara lengkap adalah destar. kuning. saput dan anteng. Bagi wanita Bali. Selempang pun ada yang berwarna hitam. Kancrik juga digunakan sebagai tengkuluk. Selempang ini dianggap sebagai lambang keagungan dan tanda jabatan yang dipangkunya. maupun dari kasta manapun mereka berasal. bepergian ataupun beraktivitas tanpa penutup dada pada masyarakat Bali. yang terkadang digunakan untuk menjunjung beban sekaligus melindungi wajah dari sinar matahari.

Jas tutup dan kemeja biasa digunakan. . anteng dan cawat adalah geringsing dengan ukuran paling kecil. pemakaian baju dimulai oleh para ambtenaar. Kebaya ini umumnya terbuat dari bahan yang dibeli di pasar. Menurut sejarah. Warna hitam dan putih saja yang tampak pada bagian geringsing ini. Adapun pada geringsingan barak atau geringsing merah. sementara yang berlengan longgar sampai di bawah siku. lubeng. endek. Beberapa motif geringsing adalah motif wayang. Budaya memakai baju ini tumbuh dan hidup umumnya pada lingkungan masyarakat yang telah mendapat pengaruh dari luar. Umumnya kain geringsing memiliki tiga warna dasar. Kain geringsing merupakan salah satu yang terkenal karena keindahan dan keunikannya. merah dan hitam. Warna-warna ini juga muncul pada pinggiran kain. Pola ragam hiasnya pun tampak lebih lebar. Berdasarkan warna. yaitu putih susu atau kuning muda. Sebagian besar inspirasinya diperoleh dari dunia flora dan fauna. disebut potongan Bali. Morif geringsing cukup banyak ragamnya. Selain cara menenun dan proses pemintalan benangnya yang cukup memerlukan kesabaran dan ketelitian. Geringsing dengan ukuran yang paling besar disebut geringsingan perangdasa. kain geringsing. yaitu kuning muda. mereka sebut potongan Jawa. pemerintah Belanda lah yang memperkenalkannya. Pada geringsing selem warna merah tampak pada bagian ujung geringsing saja. Kain-kain yang digunakan sebagai bagian dari busana Bali terdiri dari beragam jenis. Selain warna.pergelangan tangan. hitam dan merah. meskipun ada juga yang khusus menenunnya. Geringsing berukuran menengah disebut geringsing wayang. wayang putri. juga dibedakan menurut ukurannya. Demikian pula pada kaum pria. Kain batik sebagai kemben dan destar adalah pelengkapnya. atau pegawai pada masa pemerintahaan Belanda. sementara yang lebih kecil adalah geringsingan patlikur. proses pewarnaan kain geringsing sangat menentukan kualitas dan keindahannya. tampak tiga warna dominan. sedangkan warna merah tidak terlihat. Geringsing sabuk. batik dan sutra adalah beberapa di antaranya. perada. Songket. yang memiliki ciri keistimewaan pada teknik tenun dobel ikatnya ini. karena proses pengikatannya yang berjarak lebih longgar. geringsing dapat dibedakan menjadi geringsing selem (geringsing hitam) dan geringsing barak (geringsing merah).

Wanitanya memakai kemben songket. Gelung kucir. Untuk menahan kapuh. busana tersebut terdiri dari udeng atau destar sebagai ikat kepala. Motif ragam hias kain geringsing dari Tenganan Pageringsingan menampakan pengaruh unsur-unsur ragam hias dari kebudayaan asing. Untuk tingkat utama. Secara keseluruhan. Umpal geringsing adalah yang paling dikagumi. Berdasarkan corak busana yang dipakai. cempaka kuning dan mawar. Pada saat melakukan suatu upacara seperti potong gigi atau pernikahan. masyarakat Bali mengenal adanya tiga jenis busana dan tata rias pengantin. Gelung biasanya dihias dengan bunga-bungaan. melainkan bunga-bunga yang terbuat dari emas. madya. cemplong. patlikur. Perhiasan tingkat ini utama ini memang memperlihatkan suatu kekhususan. kebo. saput atau kapuh dan kemben atau wastra. perbedaan terletak pada bahan yang digunakan. Perhiasan yang dikenalkan oleh sepasang pengantin payes agunglah yang tampak jelas membedakan dengan tata rias dan busana tingkat nista maupun madya. dan utama atau yang juga dikenal dengan payes agung. yaitu nista. dapat diketahui status sosial dan ekonomi seseorang. yaitu sanggul tambahan berbentuk bulat melingkar dan terbuat dari ijuk menjadi salah satu pembeda. tidak ada perbedaan yang menyolok.cecepakan. seperti India (patola). namun tetap berpadu dengan nilai-nilai budaya Indonesia asli. . Sementara dalam tata busana. seperti kenanga. dari bahu ke bawah. penggunaan gelung kuncir ini berfungsi sebagai penambahan hiasan. di ujungnya diikatkan secarik kain panjang sejenis selendang. sabuk prada yang membelit dari pinggul sampai dada dan selendang songket untuk menutup tubuh. yang disebut umpal. Dalam upacara perkawinan. masyarakat biasanya mengenakan kain tenunan Bali tradisional sebagai busana lengkap dari bahan songket dan peperadan. dikenakan selembar penuh tapih atau sinjang dari sutra berornamen penuh peperadaan mengurai ke luar melewati kemben. seluruh busana dibuat dari bahan perada. dan sebagainya. tidak digunakan lagi bunga-bunga hidup. Mesir yang berasimilasi dengan pengaruh Hindu yang kuat. Dalam mapusungan (pembuatan sanggul). cempaka putih. Cina. kain geringsing merupakan perwujudan dari kebudayaan Bali yang memiliki unsur keindahan seni yang tinggi dan terkesan mewah. di balik kemben. Sementara itu. untuk hiasan kepala atau petitis. Bagi kaum pria. Untuk tata rias wajah tubuh dan kaki.

yang ditenun adalah serat benang yang dihasilkan dari kulit pohon tengang. gelang kana untuk lengan atas dan badong untuk leher semuanya terbuat dari emas demikian pula sepasang gelang naga satru. untuk koleksi cendera mata. Kulit kayu yang bisa difungsikan sebagai kain untuk membuat cawat.Pelengkap petitis yaitu tajug dan perhiasan lain seperti subeng cerorot. baba = laki-laki) untuk laki-laki. serta cincin. Dulu. baju. Warna dasar serat . Pakaian tersebut terbuat dari kulit kayu yang diproses hingga menjadi lunak seperti kain. tak jarang. Penulis Endang Mariani Busana Tradisional Dayak Taman Pada awalnya orang Dayak Taman mulai mengenal pakaian yang disebut king baba (king = cawat. bebekeng atau pending. celana. kecuali dibuat sebagai hiasan atau perlengkapan kesenian clan. Masyarakat Dayak Taman pun mengenal teknik menenun untuk membuat busana. Namun kebudayaan kelompok etnik lain yang datang bergelombang menciptakan akulturasi yang setidaknya juga berimbas pada perkembangan tata busana masyarakat Dayak Taman. clan selimut itu disebut kapua atau ampuro. Maka jenis busana king baba clan king bibinge kini sudah hampir tak tampak dipergunakan lagi. clan king bibinge untuk perempuan (bibinge = wanita). Bahkan hingga kini masyarakat Dayak Taman dikenal sebagai penenun yang terampil.

warna yang dominan pada tenunan tradisional Dayak Taman. Sebagai busana bawahnya. Sedangkan para lelaki memakai celana panjang sebatas lutut. dibutuhkan kesabaran. Baju manik king manik bisa dikatakan sebagai pengembangan dari baju burai king burai. Maka. Baju burai king burai dipakai oleh para pendamping pengantin sedangkan kedua mempelai mengenakan baju manik king manik. dari bahan yang sama dengan baju. Hiasan ini diterapkan pada seluruh permukaan kain namun masih menyisakan bidang polos sehingga masih tampak kain dasarnya. tak mengherankan. jika mempelai mengenakan baju manik king manik sedangkan para pendamping pengantin "hanya" memakai baju burai king burai. juga diberi hiasan sejenis dengan hiasan bajunya. kaum perempuan mengenakan semacam rok yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. putih. Dibentuk seperti kebaya atau rompi panjang mirip baju tanpa lengan. serat tengang itu dicelup dengan getah pohon yang dilarutkan dalam air. Sebagai pelengkap busana. Kini. Kini telah sangat jarang dijumpai tenunan yang dibuat dari serat tengang sehingga busana adat masyarakat Taman pun menggunakan tenunan benang kapas. yang konon harus didatangkan dari Kalimantan Selatan itu. topi atau kopiah. kalung. sulit didapatkan sehingga sebagai gantinya dipakai kancing kecil berwarna putih mengkilap. merah muda. Baju burai king burai terbuat dari bahan beludru berwarna hitam. subang penghias telinga. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik. Tenunan yang beredar sekarang dengan warna-warna kuning. pada masyarakat Dayak Taman dikenal pula berbagai ragam perhiasan berupa ikat kepala. Sebagai hiasannya dijahitkan kulit kerang kecil berwarna putih disusun membentuk motif daun dan bunga. juga dari kain yang sama. gelanggelang. Busana Pengantin Ada dua jenis busana adat tradisional yang biasa dipakai oleh pengantin dalam masyarakat Dayak Taman. . kulit kerang atau keong kecil. dan sebagainya.yang kuat clan liat ini coklat sangat muda. Kedua macam busana itu disebut baju burai king burai clan baju manik king manik. dan memakai semacam dodot dari kain yang telah diberi hiasan. Hiasan baju manik king manik adalah rangkaian manik-manik halus yang menutup hampir seluruh bidang baju sehingga kain dasarnya nyaris tak tampak lagi. jelas. dibuat dari benang kapas yang diperoleh dari luar daerah. clan sebagainya. ketelitian. clan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi daripada baju burai king burai. Untuk memperoleh warna hitam atau merah hati. Pada seputar ujung bawah baju atau rok digantungkan untaian uang logam perak sehingga baju manik king manik lebih berat ketimbang baju burai king burai.

penghias leher.menjadi bentuk kerawang. perunggu/tembaga. ikat pinggang itu disebut sasawak tali murung. Ada juga yang dinamakan kalong manik lawang. Misalnya saja kalong manik pirak.6 cm. garis-garis diagonal dan horisontal berbentuk wajik. Bagian depan rok bawah baju manik king manik yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. tapi bisa juga hanya takikan yang tidak tembus . yang dilapisi dengan emas dinamai poosong emas. lebih-kurang. dua macam sasawak: sasawak lampit karumut dan sasawak tali murung. kaum wanita clan para pria memakai poosong. Poosong dibuat dari kayu yang dibentuk bulat berdiameter 3 . Poosong yang tidak berlapis logam disebut poosong surat. Untuk lelaki dikenal semacam topi yang bernama kambu manik dan kambu pirak. Kemudian diukir dan dilapisi plat emas. indulu manik. tapi umumnya hanya dipakai perempuan. yang memakainya. yang dianyam menjadi bentuk topi. Poosong pernah dianggap sebagai identitas wanita dayak Taman. Cuping telinga yang dipasangi poosong menjadi lebar. kalung yang biasa dipakai perempuan dan lelaki. Jika tengkulas itu sepenuhnya dibuat dari anyaman untaian manik-manik disebut indulu manik. Bahan clan hiasannya sama dengan baju. Kalung ini dipakai saat upacara adat. Dibuat dari manikmanik yang diuntai oleh tali akar tengang. atau batik. antara lain. menggelayut. Kalung ini dibuat dari logam perak yang dicairkan kemudian dicetak pada solongsong bambu berdiameter kecil. Perak dilebur hingga cair kemudian dicetak menjadi semacam manik-manik. sehingga nampak sangat unik dan khas. atau semacam rumput.motif-motif bunga dan dedaunan pada permukaan luar kambu. pada masyarakat Dayak Taman. Ikat pinggang untuk mempercantik penampilan dinamai sasawak. juga sangat sedikit para perempuan. Penghias telinga berupa subang disebut poosong. Pada seputar ujung rok dan baju .Penghias kepala clan rambut kaum wanita disebut tengkulas yang dibuat dari kain bermotif kembang-kembang. atau kaca. clan lebih disukai yang berwarna mencolok: merah. hitam atau kuning. Dulu. Sasawak lampit karumut dipakai oleh kaum perempuan. Sebagai pemanis disematkan bulu burung ruai sekeliling kambu pirak itu. Kambu manik dibuat dari jalinan serat sejenis pohon pandan. disebut tajuk bulu aruae. Rotan yang sudah dibelah dimasukkan pada lobang "manik-manik perak" itu. Ada beberapa macam kalung. Bulu burung ruai yang disematkan pada tengkulas. perak. Lalu dibekukan dan dikalungkan pada leher. dengan ketebalan. sejenis burung merak yang hidup di haerah hulu Kapuas. atau dari rotan yang diserit tipis clan pipih. Pada tengkulas atau indulu manik ditambahkan bulu burung ruai. maupun kambu. Jika tali penguntainya juga dibuat dari kawat logam perak. Dibuat dari logam perak clan rotan. Lalu diimbuhkan untaian manik sepenuh bidang kambu. Sedangkan kambu pirak dibuat dari lempengan tipis logam perak yang dibentuk menjadi topi kemudian ditatahkan . 1 cm. Dikenal. tapi kini hampir tak ada lelaki.

Gelang-gelang ini biasanya dipakai saat upacara adat keagamaan. Dari berbagai ragam busana tradisional yang dimiliki masyarakat Dayak Taman.digantungkan untaian logam perak. galang pasan berupa anyaman serat tumbuhan. . dan galang gading yang dibuat dari gading gajah. baju kuurung dokot tangan yakni baju kuurung lengan pendek. masyarakat Dayak Taman juga menciptakan beberapa jenis busana untuk pelbagai keperluan acara adat. Sekarang hanya dipakai oleh dukun-dukun wanita. bila terbuat dari untaian manik disebut tangkalae manik. ketelitian dan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi dari baju burai king burai. yang paling popular sehingga hampir setiap keluarga Dayak Taman memilikinya. Terutama baju burai king burai. yang kerap digunakan pada peristiwa-peristiwa penting seperti perhelatan adat atau perkawinan. kiri clan kanan. galang manik yaitu untaian manik-manik pada serat daun nenas. Ada beberapa macam gelang-gelang yang biasanya dipakai pada upacara adat. baju kalaawat ini dipakai oleh setiap wanita remaja. Gelang itu disebut tangkalae atau sumpae. Bentuknya sama dengan bulang kuurung hanya bagian depannya terbelah seperti kemeja pria biasa. Kain berupa pita berwarna lain daripada warna bajunya dijahitkan pada bagian tepi baju. Yada pita itu dipasang kancing-kancing yang hanya berfungsi sebagai hiasan. dan wanita lanjut usia. clan yang dari jalinan tali ijuk dikenal sebagai tangkalae ijuk. seperti galang bontok yang dibuat dari perak. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik jelas dibutuhkan kesabaran. Baju berlubang leher bentuk bulat atau segitiga ini tidak berkerah clan polos tidak bersaku. Sebagai kancing untuk mempertemukan kedua sisi baju dibuat dari tali kain berwarna. Dahulu. Yang dibuat dari kayu tapang dinamai tangkalae tapang. Busana Adat Lainnya Meskipun kini sudah jarang ditemukan. clan berlengan pendek. baju burai king burai clan baju manik king manik. agaknya. Kaum lelaki memakai satu hingga tiga buah gelang pada bagian lengan di atas siku. Hiasan manik-manik yang mengisi seluruh bidang membuat baju manik king manik lebih berat daripada baju burai king burai. dewasa. Ada beberapa macam model: baju kuurung sapek tangan yaitu baju kuurung tidak berlengan. Yang dipakai oleh para balien wanita disebut bulang kalaawat. Sekarang. clan baju kuurung langke tangan ialah baju kuurung lengan panjang. Model baju kuurung sesungguhnya sudah tua. Ketika masyarakat dayak Taman baru mengenal baju dari kulit kayu modelnya berbentuk baju kuurung. clan orang tua. baju kuurung hanya dipakai oleh para balien (dukun) dengan memilih warna hitam clan pada bagian-bagian pinggir bajunya diberi les atau pita kain warna merah yang lebarnya sekitar 3 cm. Di antaranya adalah bulang (baju) kuurung.

Sebagai penutup kepala digunakan kopiah (kupiah) dari kain beludru. Laki-laki tua Banjar sehari-hari mengenakan baju palimbangan. kain satin (kupiah Padang) atau kupiah jangang. tanpa kantong.Busana Tradisional Masyarakat Banjar Penulis Dewi Indrawati Busana tradisional yang biasa dipakai sehari-hari oleh remaja dan orang dewasa kaum lelaki Banjar adalah salawar panjang (celana panjang) yang menutup kaki sampai ke mata kaki. Alas kakinya ada berbagai jenis. Sebagai pasangannya dikenakan baju taluk balanga (kemeja lengan panjang) dengan leher baju bulat dan sedikit mencuat ke atas. dan selop. Baju kiyama berbentuk baju lengan panjang dengan kerah berlipat . baju kiyama. yang lazim disebut tapih kaling. yaitu kemeja berlengan panjang dengan leher baju bulat tanpa kerah dilengkapi dengan kancing lima dan berkantong tiga buah. sandal tali silang. dominan warna kuning. Bagian dada terbelah berkancing tiga. salawar kiyama dan sandal silang. Pada saat-saat tertentu kelengkapan pakaian ini ditambah dengan tapih (kain sarung) yang disampirkan di bahu. yaitu sandal kalipik. Pasangannya digunakan tapih. Sedangkan dalam acara-acara resmi seperti menghadiri upacara adat salawar diganti dengan tapih. Warna yang digunakan oleh remaja lebih mencolok. Bagi laki-laki dewasa yang ingin bepergian mengenakan kopiah hitam. sejenis sarung terbuat dari katun atau sutra bermotif garis-garis melintang dan membujur.

dan jenis lain yang agak keras. hanya tanpa saku. Kantongnya ada tiga buah. kebaya biasa yang diberi variasi kain yang memanjang di bagian depan yang dinamakan sawiwi atau sujab selebar 10 cm. dan jenis lain yang agak tebal. Ada dua pilihan sabuk. Buntut pada sanggul menunjukkan pemakainya masih gadis. Yang kerap dipakai para remaja dan orang tua kaum perempuan Banjar adalah baju kubaya (kebaya) berpasangan dengan tapih batik bakarung (kain batik). Menjadi aturan. dua di bagian bawah kiri dan kanan. Menjadi kebiasaan di daerah ini setiap perempuan menata rambutnya dengan cara disanggul (galung). tajam pemandangan dan kekuasaan yang tinggi. Ujung tangan dan kantong diberi piIit (les) dengan warna berbeda dari bahan baju. Baju ini dipadukan dengan celana panjang (salawar panjang). dan krem. yaitu sabuk air guci (payet) dan sabuk kain tenun Pegatan dengan berbagai pilihan warna. dari bahan kain poplin babalur (bergaris-garis vertikal) atau tetoron. Untuk mengikat digunakan tali yang dimasukkan pada lubang (uluh-uluh). kalau mengenakan jas tutup harus bersabuk di pinggang. di depan dada dan kiri-kanan bawah dengan model masuk (bukan kantong tempel).neyerupai jas. Mengikatnya harus mengikuti pola yang berlaku. baju yang dilengkapi dengan tali pengikat di belakang leher dan kedua ujung lengan. lurus tanpa kantong. Baju ini berkancing lima biji. yaitu lam jalalah. Warna laung tajak siak harus sama dengan warna sabuk yang dikenakan. Bagian tumpal sabuk yang bermotif pucuk rebung harus diletakkan di belakang. seperi biru muda. ekstrimin. Tetapi sekarang banyak dipakai kain wool. Terakhir dikenakan selop pada kedua kakinya dari bahan beludru dan kulit. berbentuk segi tiga. Pasangannya disebut celana kiyama memiliki bentuk sederhana. Sanggul ini berbentuk bundar seperti angka delapan. Lengan baju sampai pergelangan tangan. Pada waktu bepergian mereka mengenakan baju kurung basisit. Dilengkapi kantong tiga buah. Bentuknya sama dengan pantalon biasa. Untuk wanita dewasa dikenakan baju kubaya basawiwi (basujab). satu di dada kiri. Busana Upacara Adat Dalam menghadiri upacara resmi para lelaki remaja sampai dewasa mengenakan baju jas tutup. Sebagai tutup kepala dikenakan laung tajak siak. Ada dua cara menata rambut yang disebut galung malang babuntut dan galung malang. Bahan baju dari kain lena. Tutup kepala ini terbuat dari bahan beludru. kuning muda. kain Pagatan. . ujungnya diberi hiasan tiga biji kancing . belini dan friend ship. Alas kakinya adalah selop dari beludru dan berkerudung kain sutra atau sasirangan. Fungsinya untuk menolak bahaya atau maksud-maksud jahat lainnya. Warna pakaian ini biasanya dipilih yang muda. yang mengacu pada lam alif dalam AlQur`an. Motif ini melambangkan sikap waspada. biasanya dipilih yang kontras dengan warna baju. Lehernya bundar dengan kerah kecil agak tegak.

Aksesori penghias rambut terdiri dari kembang goyang (kambang goyang) dibedakan antara yang berapun (berumpun) dan tunggal berbentuk melati sebagai lambang kesucian. Bahan baju dapat dibuat dari kain sutra atau sasirangan. Disebut baju kurung basisit karena pada bagian leher dan tangan dilengkapi tali pengikat (tali penyisit). Kalung panjang bogam dan liris-liris bunga. Kaki mengenakan selop dari beludru.Bagi kaum perempuan dalam upacara resmi dikenakan baju kurung basisit lengkap dengan tapihnya. Pada bagian dada dihias renda menutupi semua kancing. Bagian depan dihias dengan berbagai hiasan diikat di bagian belakang dengan buhul lam jalalah. Kepalanya dibalut destar model siak melayu. Dikenakan sarung dan penutup pinggang (tali gapu) berhiaskan air guci. Mempelai wanita mengenakan baju poko berlengan pendek ditutupi dengan kida-kida. Baju ini dikombinasi dengan tapih Lasem. Masyarakat Hindu dan Jawa banyak mempengaruhi pemakaian busana ini. Pantalon terbuat dari bahan dan warna yang sama dengan jas. Sementara kalung samban rangkap tiga dan kalung marjan menghiasi bagian leher. Sebagai hiasan digunakan sulaman benang emas dan air guci dengan motif pucuk rebung. Pemakaiannya rnulai dikembangkan dalam masyarakat Banjar sejak abad XIX. Sebagai pengikat digunakan tali wenang berupa kain berwarna. Pada telinga dipasang anting-anting beruntai. Kemudian dikenakan jas terbuka tanpa kancing. . Pagatan. dan air guci. sedangkan jari manisnya berhias cincin litring. Hiasan ini ditancapkan pada sanggul. Pakaian Pengantin Baamar Galung Pancaran Matahari merupakan pakaian pengantin yang paling digemari oleh semua golongan masyarakat Banjar. Mempelai laki-laki mengenakan kemeja putih lengan pendek. dari kain sutra amban (sutra tipis) atau kain sasirangan yang dihiasi motif gigi haruan pada kedua sisinya. Perhiasannya berupa samban. dengan segitiga lebih tinggi. Galang (gelang) karuncung melingkar di lengan. Kepalanya ditutup dengan kakamban/serudung (kerudung) berbentuk segi empat. Kemudian keris yang dihiasi bogam bermotif bunga merah diselipkan di pinggang. yaitu mantel sempit berhias yang berfungsi untuk menutup dada. Sabuk berhias air guci dengan motif lelipan dipakai sebagai simbol kekuasaan dan kemuliaan. kalung bermotif bunga-bungaan.

Kelengkapan lainnya meliputi kerabu menganyun. serta bangle dipakai di lengan atas dan pergelangan kaki terbuat dari karet berbentuk lekuk akar atau irisan buncis. untaian metalik. Sepasang pengantin ini dipersandingkan di ba-tatai. Cincin dari bunga mayang. kalung. sabuk pinggang warna emas. bunga melati yang diatur berbaris. terdiri dari daun sirih. Ornamen lain untuk rambut antara lain baquet dengan pita rambut. untaian bunga depan dan belakang. dan untaian bunga warna keemasan. bunga jepun berbentuk jepitan. yang dipenuhi oleh rangkaian bunga (palimbaian). bunga mawar merah dan bunga melati. .Rambutnya disanggul model amar galung bertahtakan mahkota dihias dengan kembang goyang. Kakinya beralaskan selop beludru bersulam benang emas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful