P. 1
74980883-Busana-Tradisional

74980883-Busana-Tradisional

|Views: 414|Likes:
Published by H4k1m3
ydhhfg
ydhhfg

More info:

Categories:Topics, Art & Design
Published by: H4k1m3 on Feb 18, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/29/2014

pdf

text

original

Busana Tradisional Dayak Taman

Penulis Aat Soeratin, Jonny Purba Pada awalnya orang Dayak Taman mulai mengenal pakaian yang disebut king baba (king = cawat; baba = laki-laki) untuk laki-laki, clan king bibinge untuk perempuan (bibinge = wanita). Pakaian tersebut terbuat dari kulit kayu yang diproses hingga menjadi lunak seperti kain. Kulit kayu yang bisa difungsikan sebagai kain untuk membuat cawat, celana, baju, clan selimut itu disebut kapua atau ampuro. Namun kebudayaan kelompok etnik lain yang datang bergelombang menciptakan akulturasi yang setidaknya juga berimbas pada perkembangan tata busana masyarakat Dayak Taman. Maka jenis busana king baba clan king bibinge kini sudah hampir tak tampak dipergunakan lagi, kecuali dibuat sebagai hiasan atau perlengkapan kesenian clan, tak jarang, untuk koleksi cendera mata. Masyarakat Dayak Taman pun mengenal teknik menenun untuk membuat busana. Bahkan hingga kini masyarakat Dayak Taman dikenal sebagai penenun yang terampil. Dulu, yang ditenun adalah serat benang yang dihasilkan dari kulit pohon tengang. Warna dasar serat yang kuat clan liat ini coklat sangat muda. Untuk memperoleh warna hitam atau merah hati, warna yang dominan pada tenunan tradisional Dayak Taman, serat tengang itu dicelup dengan getah pohon yang dilarutkan dalam air. Tenunan yang beredar sekarang dengan warna-warna kuning, merah muda, putih, clan sebagainya, dibuat dari benang kapas yang diperoleh dari luar daerah. Kini telah sangat jarang dijumpai tenunan yang dibuat dari serat tengang sehingga busana adat masyarakat Taman pun menggunakan tenunan benang kapas. Busana Pengantin Ada dua jenis busana adat tradisional yang biasa dipakai oleh pengantin dalam masyarakat Dayak Taman. Kedua macam busana itu disebut baju burai king burai clan baju manik king manik. Baju burai king burai dipakai oleh para pendamping pengantin sedangkan kedua mempelai mengenakan baju manik king manik. Baju burai king burai terbuat dari bahan beludru berwarna hitam. Dibentuk seperti kebaya atau rompi panjang mirip baju tanpa lengan. Sebagai hiasannya dijahitkan kulit kerang kecil berwarna putih disusun membentuk motif daun dan bunga. Hiasan ini diterapkan pada seluruh permukaan kain namun masih menyisakan bidang polos sehingga masih tampak kain dasarnya. Kini, kulit kerang atau keong kecil, yang konon harus didatangkan dari Kalimantan Selatan itu, sulit didapatkan sehingga sebagai gantinya dipakai kancing kecil berwarna putih mengkilap. Sebagai busana bawahnya, kaum perempuan mengenakan

semacam rok yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut, dari bahan yang sama dengan baju, juga diberi hiasan sejenis dengan hiasan bajunya. Sedangkan para lelaki memakai celana panjang sebatas lutut, juga dari kain yang sama, dan memakai semacam dodot dari kain yang telah diberi hiasan. Baju manik king manik bisa dikatakan sebagai pengembangan dari baju burai king burai. Hiasan baju manik king manik adalah rangkaian manik-manik halus yang menutup hampir seluruh bidang baju sehingga kain dasarnya nyaris tak tampak lagi. Pada seputar ujung bawah baju atau rok digantungkan untaian uang logam perak sehingga baju manik king manik lebih berat ketimbang baju burai king burai. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik, jelas, dibutuhkan kesabaran, ketelitian, clan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi daripada baju burai king burai. Maka, tak mengherankan, jika mempelai mengenakan baju manik king manik sedangkan para pendamping pengantin "hanya" memakai baju burai king burai. Sebagai pelengkap busana, pada masyarakat Dayak Taman dikenal pula berbagai ragam perhiasan berupa ikat kepala, topi atau kopiah, subang penghias telinga, kalung, gelanggelang, dan sebagainya. Penghias kepala clan rambut kaum wanita disebut tengkulas yang dibuat dari kain bermotif kembang-kembang, garis-garis diagonal dan horisontal berbentuk wajik, atau batik, clan lebih disukai yang berwarna mencolok: merah, hitam atau kuning. Jika tengkulas itu sepenuhnya dibuat dari anyaman untaian manik-manik disebut indulu manik. Pada tengkulas atau indulu manik ditambahkan bulu burung ruai, sejenis burung merak yang hidup di haerah hulu Kapuas. Untuk lelaki dikenal semacam topi yang bernama kambu manik dan kambu pirak. Kambu manik dibuat dari jalinan serat sejenis pohon pandan, atau semacam rumput, atau dari rotan yang diserit tipis clan pipih, yang dianyam menjadi bentuk topi. Lalu diimbuhkan untaian manik sepenuh bidang kambu. Sedangkan kambu pirak dibuat dari lempengan tipis logam perak yang dibentuk menjadi topi kemudian ditatahkan - menjadi bentuk kerawang, tapi bisa juga hanya takikan yang tidak tembus motif-motif bunga dan dedaunan pada permukaan luar kambu. Sebagai pemanis disematkan bulu burung ruai sekeliling kambu pirak itu. Bulu burung ruai yang disematkan pada tengkulas, indulu manik, maupun kambu, disebut tajuk bulu aruae. Penghias telinga berupa subang disebut poosong. Dulu, kaum wanita clan para pria memakai poosong, tapi kini hampir tak ada lelaki, juga sangat sedikit para perempuan, yang memakainya. Poosong dibuat dari kayu yang dibentuk bulat berdiameter 3 - 6 cm, dengan ketebalan, lebih-kurang, 1 cm. Kemudian diukir dan dilapisi plat emas, perak, perunggu/tembaga, atau kaca. Poosong yang tidak berlapis logam disebut poosong surat, yang dilapisi dengan emas dinamai poosong emas. Poosong pernah dianggap sebagai identitas wanita dayak Taman. Cuping telinga yang dipasangi poosong menjadi lebar,

clan yang dari jalinan tali ijuk dikenal sebagai tangkalae ijuk. Perak dilebur hingga cair kemudian dicetak menjadi semacam manik-manik. Ikat pinggang untuk mempercantik penampilan dinamai sasawak. antara lain. Ada beberapa macam kalung. Kalung ini dipakai saat upacara adat. penghias leher. Ada juga yang dinamakan kalong manik lawang. dua macam sasawak: sasawak lampit karumut dan sasawak tali murung. pada masyarakat Dayak Taman. Gelang itu disebut tangkalae atau sumpae.menggelayut. Bahan clan hiasannya sama dengan baju. galang manik yaitu untaian manik-manik pada serat daun nenas. ketelitian dan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi dari baju burai king burai. Lalu dibekukan dan dikalungkan pada leher. Pada seputar ujung rok dan baju digantungkan untaian logam perak. Bagian depan rok bawah baju manik king manik yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. bila terbuat dari untaian manik disebut tangkalae manik. tapi umumnya hanya dipakai perempuan. Kalung ini dibuat dari logam perak yang dicairkan kemudian dicetak pada solongsong bambu berdiameter kecil. dan galang gading yang dibuat dari gading gajah. seperti galang bontok yang dibuat dari perak. Yang dibuat dari kayu tapang dinamai tangkalae tapang. Di antaranya adalah bulang (baju) kuurung. clan baju kuurung langke tangan ialah baju kuurung lengan panjang. Sasawak lampit karumut dipakai oleh kaum perempuan. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik jelas dibutuhkan kesabaran. kalung yang biasa dipakai perempuan dan lelaki. Hiasan manik-manik yang mengisi seluruh bidang membuat baju manik king manik lebih berat daripada baju burai king burai. Jika tali penguntainya juga dibuat dari kawat logam perak. Rotan yang sudah dibelah dimasukkan pada lobang "manik-manik perak" itu. ikat pinggang itu disebut sasawak tali murung. Dibuat dari manikmanik yang diuntai oleh tali akar tengang. kiri clan kanan. Ada beberapa macam gelang-gelang yang biasanya dipakai pada upacara adat. Kaum lelaki memakai satu hingga tiga buah gelang pada bagian lengan di atas siku. masyarakat Dayak Taman juga menciptakan beberapa jenis busana untuk pelbagai keperluan acara adat. baju kuurung dokot tangan yakni baju kuurung lengan pendek. galang pasan berupa anyaman serat tumbuhan. Model baju kuurung . Dikenal. sehingga nampak sangat unik dan khas. Misalnya saja kalong manik pirak. Busana Adat Lainnya Meskipun kini sudah jarang ditemukan. Dibuat dari logam perak clan rotan. Ada beberapa macam model: baju kuurung sapek tangan yaitu baju kuurung tidak berlengan. Gelanggelang ini biasanya dipakai saat upacara adat keagamaan.

dewasa. Yada pita itu dipasang kancing-kancing yang hanya berfungsi sebagai hiasan. yang kerap digunakan pada peristiwa-peristiwa penting sepertiperhelatan adat atau perkawinan. Baju berlubang leher bentuk bulat atau segitiga ini tidak berkerah clan polos tidak bersaku. Yang dipakai oleh para balien wanita disebut bulang kalaawat. Terutama baju burai king burai. Sebagai kancing untuk mempertemukan kedua sisi baju dibuat dari tali kain berwarna. baju kuurung hanya dipakai oleh para balien (dukun) dengan memilih warna hitam clan pada bagian-bagian pinggir bajunya diberi les atau pita kain warna merah yang lebarnya sekitar 3 cm. yang paling popular sehingga hampir setiap keluarga Dayak Taman memilikinya. Kain berupa pita berwarna lain daripada warna bajunya dijahitkan pada bagian tepi baju. Sekarang hanya dipakai oleh dukun-dukun wanita. Sekarang. Ketika masyarakat dayak Taman baru mengenal baju dari kulit kayu modelnya berbentuk baju kuurung.sesungguhnya sudah tua. baju burai king burai clan baju manik king manik. dan wanita lanjut usia. Dari berbagai ragam busana tradisional yang dimiliki masyarakat Dayak Taman. clan orang tua. Dahulu. baju kalaawat ini dipakai oleh setiap wanita remaja. agaknya. clan berlengan pendek. Bentuknya sama dengan bulang kuurung hanya bagian depannya terbelah seperti kemeja pria biasa. .

.

Lehernya bundar dengan kerah kecil agak tegak. Sedangkan dalam acara-acara resmi seperti menghadiri upacara adat salawar diganti dengan tapih. ujungnya diberi hiasan tiga biji kancing . Yang kerap dipakai para remaja dan orang tua kaum perempuan Banjar adalah baju kubaya (kebaya) berpasangan dengan tapih batik bakarung (kain batik). kebaya biasa yang diberi variasi kain yang memanjang di bagian depan yang dinamakan sawiwi atau sujab selebar 10 cm. ekstrimin. belini dan friend ship. biasanya dipilih yang kontras dengan warna baju. yang mengacu pada lam alif dalam Al-Qur`an. Warna yang digunakan oleh remaja lebih mencolok. Warna pakaian ini biasanya dipilih yang muda. Alas kakinya adalah selop dari beludru dan berkerudung kain sutra atau sasirangan. baju kiyama. Untuk wanita dewasa dikenakan baju kubaya basawiwi (basujab). Lengan baju sampai pergelangan tangan. salawar kiyama dan sandal silang. Menjadi aturan. hanya tanpa saku. kain satin (kupiah Padang) atau kupiah jangang. seperi biru muda. dua di bagian bawah kiri dan kanan. kalau mengenakan jas tutup harus bersabuk di pinggang. Ada dua pilihan sabuk. dari bahan kain poplin babalur (bergaris-garis vertikal) atau tetoron. Baju ini dipadukan dengan celana panjang (salawar panjang). Bagian tumpal sabuk yang bermotif pucuk rebung harus diletakkan di belakang. Baju ini berkancing lima biji. Dilengkapi kantong tiga buah. yaitu lam jalalah. Pada waktu bepergian mereka mengenakan baju kurung basisit. yang lazim disebut tapih kaling. Sanggul ini berbentuk bundar seperti angka delapan. dan jenis lain yang . Motif ini melambangkan sikap waspada. Kantongnya ada tiga buah. dan selop. Bentuknya sama dengan pantalon biasa.Busana Tradisional Masyarakat Banjar Penulis Dewi Indrawati Busana tradisional yang biasa dipakai sehari-hari oleh remaja dan orang dewasa kaum lelaki Banjar adalah salawar panjang (celana panjang) yang menutup kaki sampai ke mata kaki. berbentuk segi tiga. baju yang dilengkapi dengan tali pengikat di belakang leher dan kedua ujung lengan. dominan warna kuning. Ujung tangan dan kantong diberi piIit (les) dengan warna berbeda dari bahan baju. Tutup kepala ini terbuat dari bahan beludru. Laki-laki tua Banjar sehari-hari mengenakan baju palimbangan. Buntut pada sanggul menunjukkan pemakainya masih gadis. Tetapi sekarang banyak dipakai kain wool. Pasangannya digunakan tapih. Sebagai tutup kepala dikenakan laung tajak siak. yaitu kemeja berlengan panjang dengan leher baju bulat tanpa kerah dilengkapi dengan kancing lima dan berkantong tiga buah. Bagian dada terbelah berkancing tiga. tajam pemandangan dan kekuasaan yang tinggi. Mengikatnya harus mengikuti pola yang berlaku. Menjadi kebiasaan di daerah ini setiap perempuan menata rambutnya dengan cara disanggul (galung). Pasangannya disebut celana kiyama memiliki bentuk sederhana. dan krem. yaitu sandal kalipik. Sebagai penutup kepala digunakan kopiah (kupiah) dari kain beludru. Bahan baju dari kain lena. sejenis sarung terbuat dari katun atau sutra bermotif garis-garis melintang dan membujur. Baju kiyama berbentuk baju lengan panjang dengan kerah berlipat neyerupai jas. yaitu sabuk air guci (payet) dan sabuk kain tenun Pegatan dengan berbagai pilihan warna. Untuk mengikat digunakan tali yang dimasukkan pada lubang (uluh-uluh). Fungsinya untuk menolak bahaya atau maksud-maksud jahat lainnya. Alas kakinya ada berbagai jenis. di depan dada dan kiri-kanan bawah dengan model masuk (bukan kantong tempel). sandal tali silang. Busana Upacara Adat Dalam menghadiri upacara resmi para lelaki remaja sampai dewasa mengenakan baju jas tutup. kain Pagatan. Bagi laki-laki dewasa yang ingin bepergian mengenakan kopiah hitam. tanpa kantong. Sebagai pasangannya dikenakan baju taluk balanga (kemeja lengan panjang) dengan leher baju bulat dan sedikit mencuat ke atas. dan jenis lain yang agak tebal. Pada saat-saat tertentu kelengkapan pakaian ini ditambah dengan tapih (kain sarung) yang disampirkan di bahu. satu di dada kiri. kuning muda. lurus tanpa kantong. Ada dua cara menata rambut yang disebut galung malang babuntut dan galung malang.

bunga mawar merah dan bunga melati. Hiasan ini ditancapkan pada sanggul. Aksesori penghias rambut terdiri dari kembang goyang (kambang goyang) dibedakan antara yang berapun (berumpun) dan tunggal berbentuk melati sebagai lambang kesucian. Cincin dari bunga mayang. untaian metalik. dengan segitiga lebih tinggi. bunga jepun berbentuk jepitan. Kaki mengenakan selop dari beludru. Kelengkapan lainnya meliputi kerabu menganyun. Terakhir dikenakan selop pada kedua kakinya dari bahan beludru dan kulit. yaitu mantel sempit berhias yang berfungsi untuk menutup dada. . Mempelai laki-laki mengenakan kemeja putih lengan pendek. Bagian depan dihias dengan berbagai hiasan diikat di bagian belakang dengan buhul lam jalalah. Galang (gelang) karuncung melingkar di lengan. dan air guci. Kemudian dikenakan jas terbuka tanpa kancing. Bahan baju dapat dibuat dari kain sutra atau sasirangan. Masyarakat Hindu dan Jawa banyak mempengaruhi pemakaian busana ini. Bagi kaum perempuan dalam upacara resmi dikenakan baju kurung basisit lengkap dengan tapihnya. Sabuk berhias air guci dengan motif lelipan dipakai sebagai simbol kekuasaan dan kemuliaan. Kepalanya dibalut destar model siak melayu. Kemudian keris yang dihiasi bogam bermotif bunga merah diselipkan di pinggang. Pada telinga dipasang anting-anting beruntai. kalung bermotif bunga-bungaan. Dikenakan sarung dan penutup pinggang (tali gapu) berhiaskan air guci. Sepasang pengantin ini dipersandingkan di ba-tatai. Warna laung tajak siak harus sama dengan warna sabuk yang dikenakan. yang dipenuhi oleh rangkaian bunga (palimbaian). dan untaian bunga warna keemasan. bunga melati yang diatur berbaris. Sebagai hiasan digunakan sulaman benang emas dan air guci dengan motif pucuk rebung. Rambutnya disanggul model amar galung bertahtakan mahkota dihias dengan kembang goyang. Pemakaiannya rnulai dikembangkan dalam masyarakat Banjar sejak abad XIX. Sebagai pengikat digunakan tali wenang berupa kain berwarna. Pantalon terbuat dari bahan dan warna yang sama dengan jas. Pakaian Pengantin Baamar Galung Pancaran Matahari merupakan pakaian pengantin yang paling digemari oleh semua golongan masyarakat Banjar. sedangkan jari manisnya berhias cincin litring. dari kain sutra amban (sutra tipis) atau kain sasirangan yang dihiasi motif gigi haruan pada kedua sisinya. serta bangle dipakai di lengan atas dan pergelangan kaki terbuat dari karet berbentuk lekuk akar atau irisan buncis. terdiri dari daun sirih. Perhiasannya berupa samban. untaian bunga depan dan belakang. Mempelai wanita mengenakan baju poko berlengan pendek ditutupi dengan kida-kida. Ornamen lain untuk rambut antara lain baquet dengan pita rambut. Pagatan. Kalung panjang bogam dan liris-liris bunga. sabuk pinggang warna emas. Kakinya beralaskan selop beludru bersulam benang emas. Sementara kalung samban rangkap tiga dan kalung marjan menghiasi bagian leher. Kepalanya ditutup dengan kakamban/serudung (kerudung) berbentuk segi empat. kalung. Disebut baju kurung basisit karena pada bagian leher dan tangan dilengkapi tali pengikat (tali penyisit). Pada bagian dada dihias renda menutupi semua kancing. Baju ini dikombinasi dengan tapih Lasem.agak keras.

Bahan pewarna itu secara kreatif diolah dari yang tersedia pada alam sekitar mereka. dan sebagainya. Busana itu berwarna coklat muda. Biji-bijian. Kulit kayu dari pohon keras itu ditempa dengan pemukul semacam palu kayu hingga menjadi lemas seperti kain. dan berbagai aksesori lainnya yang mendaurulangkan limbah keseharian mereka. Bajunya berupa rompi unisex tanpa hiasan apapun. rajah (tatoo) pada bagian-bagian tubuh tertentu. gelang dibikin dari tulang binatang buruan. Corak hias ini sangat berarti bagi masyarakat Dayak Ngaju sehingga busana adat untuk upacaraupacara penting . manusia. tak diberi hiasan. giwang (suwang). Dan kesederhanaan pakaian kulit kayu itu kemudian memancarkan esensi keindahan karena imbuhan warnawarni flora dan fauna yang ditambahkan sebagai pelengkap busana.bagi para pemuka kelompok. kemudian desain yang tak lagi sekadar fungsional. selain tampil artistik. Rompi sederhana ini dalam bahasa Ngaju disebut sangkarut. Corak hias yang digambarkan pada busana juga diilhami oleh apa yang mereka lihat di alam sekelilingnya. warna kuning dari kunyit. yang bahannya juga dipungut dari alam sekitar. dan ahli pengobatan. pun punya makna simbolik. dan sebagainya. lalu tenunan serat alam yang "kasar". giwang dari kayu keras. Pengaruh agama Hindu pada kepercayaan asal masyarakat Ngaju. warna merah dari buah rotan.berbeda untuk perempuan dan lelaki . gigi dan taring binatang dirangkai menjadi kalung. diatur pula pemakaian corak hias busana adat . akar pohon. upacara meminta hujan. Misalnya saja. . para tetua adat. Celananya adalah cawat yang. upacara pengobatan belian obat kelengkapannya adalah busana dengan corak hias batang garing. burung. dedaunan.misalnya upacara tiwah. Setelah dianggap halus "kain" itu dipotong untuk dibuat baju dan celana. dalam kepercayaan Kaharingan. menjadi corak hias busana adat. untuk mengantar ruh manusia yang meninggal dunia ke peristirahatannya. Pada perkembangan selanjutnya masyarakat Dayak Ngaju pun mulai membubuhkan warna dan corak hias pada busana mereka. Sinkretisme itu melahirkan pelbagai keyakinan dan mitologi dan mengilhami lahirnya corak hias naga. warna asli kayu. yang disebut ewah. mengusik hasrat masyarakat Dayak Ngaju untuk "mempercantik" penampilan. yang bermakna sangat filosofis. Akan tetapi naluri berdandan. ketika dikenakan. sehingga kesannya sangat alamiah. bagian depannya ditutup lembaran kain nyamu berbentuk persegi panjang. tak pula diwarnai. Model busananya sangatlah sederhana dan semata fungsional. gelang. warna putih dari tanah putih dicampur air. Selain itu. Salah satu mitologi masyarakat Dayak Ngaju yang terkenal adalah tentang penciptaan alam yang melahirkan simbolisasi "pohon hayat" atau "pohon kehidupan" dalam bentuk corak hias yang dikenal dengan nama batang goring. kepala suku. harimau akar. warna hitam dari jelaga. bunga. kulit kerang. kalung. yang cenderung animistik. kemudian kain tenun halus. semua itu adalah fenomena yang menyiratkan bergesernya nilai-nilai tata cara berbusana dan seni berdandan masyarakat Dayak Ngaju. melahirkan apa yang kemudian dikenal sebagai agama Hindu Kaharingan. panglima perang. Awalnya kulit kayu. yang konon telah bangkit pada hati setiap manusia sejak ribuan tahun silam. misalnya. Maka tampillah stilasi bentuk flora dan fauna.Busana Tradisional Dayak Ngaju Mengalirnya waktu dan berbaurnya pelbagai budaya menyebabkan perkembangan estetika masyarakat Dayak Ngaju yang semakin bergeser dari nilai-nilai asalnya meski tak menghilangkan substansinya. Keyakinan dan alam mitologi juga memberi inspirasi pada penciptaan ragam corak hias busana adat sehingga gambar-gambar itu. Hal itu nyata terlihat dengan berkembangnya seni berbusana masyarakat asli Pulau Kalimantan ini. Maka baju kulit kayu sederhana itu pun lalu dilengkapi dengan aksesori ikat kepala (salutup hatue untuk kaum lelaki dan sal utup bawi untuk para perempuan). Busana Kulit Kayu Beratus tahun lalu masyarakat Dayak membuat busana dengan bahan dasar kulit kayu yang disebut kulit nyamu.

Pakaian yang dibuat bukan lagi hanya untuk fungsi yang paling mendasar yakni baju dan celana untuk melindungi bagian tubuh yang dianggap paling penting saja. Masyarakat Ngaju. awan. dan tombak. Baju kaum lelaki disebut baju palembangan. atau sutra. fauna. berhiaskan gambar pewarna alam. Betapa tidak. umpamanya saja. karena ternyata alam Nusatara yang kaya raya juga menyediakan kapas dan sutra. melengkapi yang sebelumnya telah dibuat masyarakat Ngaju dari biji-bijian. Rambut yang disanggul bentuk sanggul lipat atau dibiarkan terurai dihias ikat kepala. konon. dan anting-anting atau suwang. Maka diadaptasilah teknik menenun kain halus itu dan kreativitas para penenun masyarakat Ngaju kemudian melahirkan juga kain tenun halus. Akan tetapi corak hias dan modelnya tidak bergeser jauh dari bentuk asalnya. dari kain yang sewarna dengan baju dengan sehelai bulu burung haruei yang diselipkan pada ikat kepala bagian belakang. Hasilnya adalah tata busana yang memadukan kulit kayu. kayu. Celananya disebut selawar gobeh. Dari kulit kayu yang telah dihaluskan mereka membuat serat yang dicelup oleh bahan pewarna alam sehingga dihasilkan benang yang tak tunggal warna. tapi diperluas untuk keperluan lainnya. Selain untuk aksesori. koleksi museum. Maka kulit kayu yang semula hanya ditempa menjadi lembaran-lembaran "kain". tampil pula dalam ekspresi yang lain. kostum taritarian. dan tulang. dari kain yang sama yang juga diberi corak hias berupa penggayaan bentuk flora atau fauna. sumpit. Busana pengantin. manikmanik itu juga kemudian diaplikasikan menjadi hiasan busana.Busana Jalinan Serat Alam Inovasi yang paling signifikan pada rancangan busana masyarakat Dayak adalah penguasaan keterampilan menjalin serat alam. Eksplorasi terus dilakukan untuk mencari bahan-bahan lain yang bisa dibuat benang. celana . Orang-orang Cina dan India memperkenalkan manik-manik yang terbuat dari logam. untuk kostum tarian. sehingga "kain" yang dihasilkan menjadi beragam. pakaian acara-acara adat. kebanyakan dibuat dari kain beludru. dan mitologi. jenis rumputrumputan. dari kain satin atau beludru. Pakaian tradisional masyarakat Ngaju yang sekarang dianggap sebagai busana daerah Kalimantan Tengah untuk pelbagai upacara adat adalah pengembangan dari busana tradisonal masa lampau. diberi hiasan. Corak hiasnya masih menampilkan alam flora. Mereka pun lalu menciptakan alat penjalin untuk "merangkai" serat demi serat menjadi bentangan bahan busana untuk baju. Busana tradisional masyarakat Ngaju yang beredar sekarang ini hampir seluruhnya dibuat dari kain tenun halus serat kapas atau sutra. Pada kerah. dan kelengkapan lainnya. ikat kepala. dan bagian dada. satin. lawung bawi. atau cendera mata. batang garing. dan aplikasi manik-manik dan arguci. ujung lengan baju. kini diolah dengan teknik yang memerlukan kesabaran dan konsentrasi tinggi. burung enggang. model baju pria Melayu tapi berkerah. Teknik menenun. yang pada bagian bawahnya diberi corak hias stilasi bentuk flora atau fauna. ular. Dan kini pucuk rebung. celana. akar tumbuhan. Mereka kemudian melirik rotan. Dan aksesori yang dikenakannya adalah kalung manik-manik. juga dari beludru atau satin. memberikan apresiasi positif terhadap bahan busana yang sebelumnya tidak ada pada khasanah karya tenun mereka itu. harimau akar. Busana kaum perempuan terdiri dari baju kurung ngasuhui berlengan panjang atau pendek. Umpamanya saja sangkarut perang dari jalinan rotan (sangkarut perang) untuk penahan tusukan anak panah. Temuan-temuan baru itu kemudian dikembangkan lagi secara kreatif oleh para perancang busana masyarakat Ngaju. terutama yang bermukim di daerah pesisir dan pusat kerajaan. diperkenalkan kepada masyarakat Ngaju oleh orang-orang Bugis. keramik. dan sebagainya. jalinan serat alam. Jenis-jenis busana seperti ini sekarang pun masih bisa dibuat untuk berbagai keperluan. manusia. Maka busana masyarakat Ngaju jadi semakin ornamentik dan semarak warna. Kain-kain tersebut ditenun dari serat kapas atau sutra. Rancangan dan fungsi busana pun turut berkembang. Busana Kain Tenun Halus Para pedagang Gujarat dari India yang datang ke Nusantara membawa serta kain-kain tenun halus sebagai barang dagangan. Akan tetapi. Paduannya rok panjang sebatas betis. hiasannya tetap mengekspresikan keakraban mereka dengan alam. disebut salui.

Sedangkan penutup kepala dibuat dari kain yang dibentuk seperti peci atau kopiah yang disebut lawung siam.panjang "komprang" (tidak ketat) dari kain yang sama dengan bajunya. Penulis Aat Soeratin .

Busana Tradisional Kutai Kutai Tradional Dress Penulis Aat Soeratin, Jonny Purba Seperti telah disinggung di muka, masyarakat Kutai mengalami persentuhan budaya dengan masyarakat Bugis yang datang dan menetap di daerah pesisir. Akulturasi itu, antara lain, mewartakan adanya tradisi menenun yang ekspresinya sangat berlainan dengan yang telah dikenal oleh masyarakat asli Kalimantan Timur. Dan sejalan dengan luruhnya perbauran antar budaya terlahirlah beragam hasil tenunan yang menunjukkan keindahan tersendiri yang kemudian semakin memperkaya khasanah kain tenun Nusantara. Tenun sutra dengan ragam hias floral yang dikenal sebagai "Kain Samarinda" misalnya, masyhur sebagai hasil tenunan yang khas Kalimantan Timur. Seperti lazim berlaku pada setiap kelompok etnik manapun, berdasarkan fungsinya, jenis-jenis pakaian dapat dibedakan sebagai pakaian sehari-hari, pakaian kerja, pakaian bepergian, pakaian pesta/upacara adat, dan sebagainya. Masing-masing fungsi busana itu juga dapat dibedakan berdasarkan jenis kelamin, umur, dan status sosial pemakainya. Pakaian sehari-hari yang dikenakan masyarakat Kutai disesuaikan dengan suhu udara daerah itu yang relatif panas. Oleh karenanya dipilih kain yang tipis, namun tidak tembus pandang, dari bahan katun untuk baju, celana, kain panjang, yang dipakai sehari-hari. Busana keseharian khas masyarakat Kutai yang hingg sekarang masih sering dijumpai adalah pelembangan dan baju Cina. Baju pelembangan, yang modelnya seperti piyama, dipakai oleh kaum lelaki. Pakaian bawahnya adalah seluar sekoncong, celana panjang dengan pipa celana yang longgar agar tak terasa panas, atau kain sarung pelekat. Jika bepergian memakai ikat fepala, destar, dari kain batik. Akan tetapi kini amat jarang para lelaki Kutai yang sehari-harinya memakai destar. Kaum perempuannya mengenakan baju Cina, semacam kebaya tidak berkerah, berkancing lima buah dan dipasangi dua buah kantong/saku di kiri-kanan bagian bawah bajunya. Para gadis atau ibu-ibu muda memakai sarung caul, yaitu kain panjang batik yang sudah dijahit berbentuk sarung. Jika bepergian paduan busana itu dilengkapi dengan babat (kain pinggang) dari kain Samarinda. Sedangkan wanita lanjut usia biasanya memakai sarung pelekat. Agar tampil rapi, rambut kaum wanita disanggul bentuk gelung Kutai, dan diberi kerudung ketika bepergian. Busana tradisional Kutai, sebagian diantaranya, dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa dan Melayu. Pakaian adat tradisional inilah yang hingga kini relatif masih bertahan dari pengaruh perkembangan mode busana. Dan di antara beragam pakaian adat atau busana upacara, salah satu yang paling kerap dijumpai adalah pakaian pengantin yang dikenal sebagai baju takwo dan baju kustim. Baju Takwo Pakaian adat Kutai yang menunjukkan perbedaan yang mencolok dengan pakaian adat suku-suku lain di Kalimantan Timur ialah baju takwo. Dahulu, baju takwo adalah pakaian kaum bangsawan atau busana para penari saat mengikuti upacara adat. Akan tetapi kini, masyarakat banyak pun mengenakan baju takwo sebagai busana pengantin. Saat upacara pernikahan berlangsung, mempelai wanita memakai baju takwo. Bentuk baju takwo mirip jas tutup tapi berleher tinggi. Di bagian depannya diimbuhkan sepotong kain, disebut jelapah, yang menutup bagian tengah dada dari bawah leher hingga pinggul. Di bagian pinggir kiri dan kanan jelapah diimbuhkan lima pasang kancing, sedang pada bagian lehernya dipasang dua buah kancing. Baju takwo kerap dibuat dari kain katun, linen, atau beludru. Paduannya adalah kain panjang biasanya bermotif parang rusak yang bagian sisinya diberi ornamen berupa rumbai-rumbai keemasan. Kain panjang ini dipakai hingga menutup mata kaki dan dibebatkan sedemikian rupa sehingga sisi kain yang berumbai berlipat-lipat di bagian depan dan nampak artistik. Rambut mempelai wanita disanggul berbentuk gelung siput, dihiasi gerak

gempa (kembang goyang) berwujud bunga melati yang dibuat dari emas atau perak bersepuh emas. Selop atau alas kaki yang digunakan biasanya berwarna hitam atau coklat. Mempelai pria juga mengenakan baju takwo, dipadukan dengan celana panjang. Kain panjang yang sama motifnya dengan yang dipakai mempelai wanita difungsikan sebagai dodot. Kain itu dibebatkan seputar pinggang, bagian depannya hanya sebatas lutut dan bagian sisi yang berumbai menjuntai dari bagian belakang hingga ke mata kaki. Sebagai hiasan kepala dipakai sentorong, sejenis peci atau kopiah berbentuk bundar, tingginya 15 cm dan dibuat dari kain beludru hitam. Sedangkan selop yang dipakai berwarna coklat atau hitam. Mempelai pria juga mengenakan baju takwo, dipadukan dengan celana panjang. Kain panjang yang sama motifnya dengan yang dipakai mempelai wanita difungsikan sebagai dodot. Kain itu dibebatkan seputar pinggang, bagian depannya hanya sebatas lutut clan bagian sisi yang berumbai menjuntai dari bagian belakang hingga ke mata kaki. Sebagai hiasan kepala dipakai sentorong, sejenis peci atau kopiah berbentuk bundar, tingginya 15 cm dan dibuat dari kain beludru hitam. Sedangkan selop yang dipakai berwarna coklat atau hitam. Baju Kustim Busana pengantin yang sekarang biasa dipakai oleh golongan menengah-atas masyarakat Kutai disebut baju kustim. Nama kustim berasal dari kata "kostum" yang bermakna "baju tanda kebesaran". Bentuk baju kustim sama dengan baju takwo hanya saja untuk baju kustim pada sisi jelapah, leher baju, dan ujung lengan baju dihiaskan pasmen, yaitu sulaman stilasi bentuk bunga atau flora dari benang emas. Pasmen yang terbuat dari benang serat logam mulia (emas) tak bisa dikerjakan sembarang orang. Ada perajin khusus yang menekuni profesi membuat pasmen benang logam emas ini. Rambut wanita disanggul bentuk gelung siput, diimbuh hiasan kembang gempa. Prianya memakai sentorong dengan pasmen benang keemasan. Di bagian depan sentorong dipasang wapen, semacam lencana, atau lambang yang menunjukkan derajat sosial pemakainya. Alhasil, pasmen dan wapen inilah yang mebedakan baju takwo dan baju kustim sebagai busana pengantin masyarakat Kutai. Maka tak jarang pengantin Kutai masa kini menggunakan kedua jenis busana ini. Ketika akad nikah mereka mengenakan busana dengan baju takwo, dan tatkala perayaan pernikahan memakai pakaian pengantin berbaju kustim. BUSANA ADAT DAYAK BENUAQ Aat Soeratin J onny Purba Salah satu suku bangsa yang mendiami daerah hulu sungai Mahakam adalah suku bangsa Dayak Benuaq. Daerah persebarannya mencakup Kecamatan Danau Jempang, terutama di desa Tanjung Isuy, Pentat, Muara Nayan, dan Lempunah, serta sebagian di Kec. Tenggarong. Bahan yang terkenal untuk pakaian adat tradisional Dayak Benuaq adalah kain tenunan serat daun doyo (Curculigo latifolia). Secara almiah tumbuhan sejenis pandan ini berkembang dengan subur di daerah Tanjung Isuy. Dari tumbuhan inilah masyarakat Dayak Benuaq membuat benang yang kuat untuk ditenun. Daun doyo dipotong sepanjang 1-1,5 meter dan direndam di dalam air. Setelah daging daun hancur lalu seratnya diambil. Biasanya warna tenunan kain doyo (ulap doyo) memiliki tiga warna: merah, hitam, dan warna coklat muda. Ulap doyo dianggap sebagai tenun ikat yang sangat khas Dayak Benuaq. Motifnya stilasi dari bentuk flora, fauna, dan alam mitologi, sebagaimana lazimnya motif hias masyarakat Dayak lainnya. Pada bidang yang berwarna terang, pada kain bercorak hias itu muncul titik-titik hitam yang dihasilkan dari pengikatan sebelum dicelup bahan pewarna. Titik-titik hitam inilah yang hampir tak ditemui pada tenun ikat manapun di daerah lain. Dari kain tenun serat doyo ini dibuatlah destar, kopiah, baju, sarung, dan sebagainya.

Akulturasi dengan budaya lain juga meresap hingga ke pedalaman. Maka masyarakat Benuaq pun kemudian mengenal kain tenun kapas dengan warna-warni yang sangat kontras dengan warna serat tenun mereka. Dan dengan sangat kreatif masyarakat Benuaq mengaplikasikan kain-kain tersebut pada karya tenun ikat mereka. Hasilnya adalah busana upacara yang dibuat dari kombinasi tenunan serat doyo dengan kain warna-warni sebagai corak hias yang artistik, misalnya busana adat yang dipakai oleh para pemeliaten (ahli pengobatan tradisional). Busana Adat Dalam pelbagai upacara adat seperti misalnya upacara kematian, upacara pengobatan, upacara panen hasil bumi, dan sebagainya, kaum perempuan mengenakan ulap doyo yang berfungsi seperti kain panjang (tapeh). Agar bebas bergerak ulap ini diberi belahan yang jika dipakai belahan itu berada di bagian belakang. Ulap yang berbelah ini disebut ulap sela. Ulap yang dikenakan sehari-hari biasanya berwarna hitam sedangkan yang dikenakan saat mengikuti upacara adat, diberi hiasan kain perca warna-warni bermotif bunga atau dedaunan. Sebagai baju biasanya dipakai kebaya tanpa lengan atau yang berlengan panjang. Sedangkan kaum pria biasanya menggunakan tenunan serat doyo ini untuk baju tanpa lengan dan celana pendek. Dalam masyarakat Dayak masa lalu terjadi pelapisan sosial karena dulu masih terdapat raja pada setiap sukunya. Turunan para raja kemudian menurunkan para bangsawan yang disebut golongan mantiq, sedangkan masyarakat kebanyakan dinamakan kelompok merantikaq (keturunan orang-orang biasa). Golongan mantiq dan merantikaq dapat dibedakan dari ragam hias yang diimbuhkan pada pelbagai pelengkap acara adat. Misalnya motif jautn nguku. Jautn berarti awan, sedang nguku berarti berarak. Ragam hias ini menggambarkan kebesaran seseorang dalam suasana kebahagiaan. motif ini biasanya dilukis pada templaq/tinaq (tempat penyimpanan tulang-belulang jenazah) golongan bangsawan atau raja-araja. Atau motif waniq ngelukng. Waniq berarti lebah dan ngelukng berarti menyerupai sarang lebah. Maknanya, bahwa orang yang sudah mempunyai cukup harta benda dapat melaksanakan upacara kematian. Ragam hias ini dilukiskan pada templaq/ tinaq tempat tulang belulang orang mati untuk golongan orang merantikaq tapi bisa juga untuk golongan bangsawan. Kini tak ada lagi raja. Maka yang dianggap sebagai pemuka masyarakat adalah kepala adat, kepala suku, dan para ahli belian (ahli penyembuhan penyakit) yang disebut pemeliaten. Kepala adat suku Benuaq sekarang tampil lebih sederhana, hampir tidak nampak atribut tanda status pada busana yang dikenakannya. Mereka biasanya memakai destar atau leukng dari serat doyo atau kain biasa. Berbaju kemeja tanpa lengan dari kain serat doyo berwarna merah atau hitam. Dahulu kepala adat menggantungkan jimat-jimat, manik-manik, taring harimau dahan, taring beruang, dan patungpatung yang mempunyai kekuatan magis atau disebut tonoi. Dan memakai cawat atau cancut yang juga dibuat dari tenunan serat doyo. Kepala adat yang merangkap kepala suku mengenakan topi yang berhiaskan bulu burung enggang, baju perang dari kulit kayu atau kulit harimau dahan, memakai cawat, dan tanpa alas kaki. Perisai di tangan kiri dan tombak digengggam di tangan kanan. Di pinggangnya tesengkelit sebilah mandau perang (parang/golok panjang) yang hulunya dihiasi dengan aneka warna bulu burung. Sarung mandaunya berukir dan pada ujungnya juga dihias bulubulu burung yang indah. Para pemeliaten tampil dengan ekspresi lain. Mereka tidak mengenakan baju tapi di bagian dadanya disilangkan kalung manik-manik, taring binatang buruan, dan patung-patung kayu kecil (jorokng) yang dipercaya sebagai sebagai tonoi. Busana bawahannya berupa tapeh bel ian yaitu kain panjang serupa rok maksi yang menutup hingga mata kaki, dan diberi hiasan aplikasi berupa tempelan kain warnawarni motif floral yang sangat artistik. Pada pinggang dililitkan sempilit, kain panjang yang berhias pada ujungnya, dan berjuntai sepanjang kiri dan kanan kaki. Ragam hias pada tapeh dan sempilit belian juga menunjukkan tingkat pengetahuan atau "kesaktian" pemakainya. Jika terdapat hiasan berupa garis-garis pada bagian bawah tapeh menunjukkan bahwa pemeliaten itu berilmu tinggi.

dan uang logam kuno. Babat ini berfungsi pula sebagai tempat menyimpan pelbagai jimat penolak pengaruh jahat sihir hitam. Busana adat. Bunyi-bunyian magis sebagai musik repetitif ditimbulkan oleh beradunya gelang-gelang ketika pemeliaten menggucang-guncangkan tangannya. biasanya terbuat dari logam. taring binatang. Pemeliaten juga memakai destar (laukng) yang warnanya juga mempunyai arti simbolik. Laukng berwarna hitam menandakan bahwa pemakainya (pemeliaten) mampu menangkal berbagai bentuk sihir hitam. . Jika laukng hitam itu berimbuhkan garis-garis putih bermakna pemeliaten tersebut belum mampu menolak ilmu hitam. ragam hias. Di pergelangan tangannya dipakai gelang-gelang berukuran relatif besar. yang juga berfungsi sebagai musik pengiring saat upacara.Untuk menahan tapeh dan sempilit dikenakan babat (semacam ikat pinggang) yang dihiasi dengan manikmanik. dan perhiasan yang dikenakan pada pelbagai upacara adat itu adalah sarana untuk memudahkan hubungan dengan mahluk-mahluk gaib.

dan ikat kepala. Konon warna tersebut untuk melambangkan jiwa muda dari para pemakainya yang masih remaja. Adapun busana adat untuk kaum wanita meliputi kebaya panjang dan kain panjang. upacara injak tanah atau joko kaha. dilengkapi dengan perhiasan yang disesuaikan dengan tingkatan sosial mereka. yakni semacam jubah panjang dengan warna-warna muda seperti biru muda dan kuning muda. atau diselaraskan dengan usia mereka. celana panjang. Busana yang dikenakan oleh istri sultan terdiri atas kebaya panjang atau kimun gia. atau emas. Sudah tentu.Busana Tradisional Ternate dan Tidore Penulis Ria Andayani Somantri Gambaran fisik busana adat masyarakat Ternate dan Tidore. Hal ini dikarenakan Ternate dan Tidore yang secara administratif kini termasuk ke dalam wilayah kabupaten Maluku Utara. berbeda dengan busana yang dipakai oleh kelompok masyarakat yang memiliki kedudukan sosial tinggi. pada umumnya memang menggambarkan kesederhanaan. berupa upacara-upacara adat kesultanan pada masa itu maupun upacara yang berkaitan dengan siklus hidup manusia. remaja contohnya. penampilan busana yang dikenakan oleh sultan tersebut dilengkapi dengan destar untuk menutup kepala. atau hijau muda dengan tangan yang berkancing sembilan di sebelah kiri dan kanannya. pembantu permaisuri. leher jas. busana adat yang dikenakan oleh rakyat biasa untuk busana sehari-hari maupun busana yang dikenakan pada upacaraupacara adat. yakni kalung rantai emas yang dibuat dalam dua lingkaran. Sementara itu. ujung tangan. serta alas kaki yang disebut tarupa. yang melambangkan status sosial dan usia dari orang yang memakainya. keberadaan keturunan sultan di dalam lingkungan masyarakatnya memiliki gaya hidup yang khas. Kekhasan tersebut tampak dalam tata cara berbusana mereka. sedangkan konde kecil biasanya dipakai oleh pembantu permaisuri. Baju tersebut umumnya berwarna polos. baik sebagai permasuri. serta kain panjang. mereka juga mengenakan hiasan lainnya yang berupa konde yang berukuran besar. Baju koja tersebut biasanya berpasangan dengan celana panjang berwarna putih atau hitam. dan upacara pengukuhan atau uko se bonofo. baju berbentuk jas tertutup dengan kancing besar terbuat dari perak berjumlah sembilan . Busana yang dikenakan oleh sultan disebut manteren lamo yang terdiri atas celana panjang hitam dengan bis merah memanjang dari atas ke abawah. Busana yang dikenakan oleh masyarakat pada umumnya atau rakyat biasa ditandai dengan kesederhanaan dalam berbagai hal. Apalagi kehidupan mereka senantiasa diwarnai dengan berbagai acara seremonial. Selain busana adat yang disebutkan tadi. Di samping itu. Konon warna tersebut melambangkan keperkasaan dari pemakainya. Perhiasan lainnya yang dikenakan oleh permaisuri tersebut meliputi kalung. mereka pun menyertakan berbagai perhiasan seperti taksuma. Sementara itu. Dihiasi dengan kelengkapan dan karakteristik lainnya. Busana adat yang dipakai oleh remaja pria disebut baju koja. berikut toala polulu di kepalanya. memperlihatkan adanya perbedaan cukup spesifik antar kelompok masyarakat yang secara sosial memiliki kedudukan yang berlainan. oranye. . dan saku jas yang terletak di bagian luar berwarna merah. ada pula busana adat lainnya yang khusus dikenakan oleh kaum remaja putri dan remaja pria yang berasal dari golongan bangsawan. Tidak lupa. Ada beberapa jenis busana yang dikenakan dalam upacara.upacara adat. berlian. bros. Para remaja putri biasanya memakai busana yang terdiri atas kain panjang dan kimun gia kancing atau kebaya panjang berwarna kuning. sedangkan giwang tidak boleh dipakai oleh mereka. Busana yang biasa dikenakan oleh kaum wanita dalam melakukan aktivitas sehari-hari terdiri atas kain kololuncu dan baju susun dengan bagian tangan yang ditarik hingga ke pertengahan sikut. Beberapa di antaranya yang masih dikenal hingga kini adalah upacara makan secara adat atau sidego. Secara umum busana adat tradisional yang dikenakan oleh kaum pria yang berasal dari golongan bangsawan terdiri atas jubah panjang yang menjuntai hingga betis atau lutut. yang terbuat dari kain satin berwarna putih dengan pengikat pinggang yang terbuat dari emas. anting dua susun. merupakan kawasan bekas kesultanan Ternate dan kesultanan Tidore. Selain itu. dan peniti yang terbuat dari intan.

sedangkan kaum wanitanya mengenakan baju susun dan kain songket. Adapun ketua adat yang memimpin upacara-upacara adat tersebut mengenakan jubah panjang yang mencapai betis berwarna kuning muda yang disebut takoa. Busana kerja yang digunakan oleh kaum pria terdiri atas kebaya popoh. mereka pun hanya mengenakan kain songket dan baju susun. . Sama halnya dengan busana wanita. yakni celana dari kain tenun berwartna jingga atau kuning.Busana kerja dalam keadaan bersih. lengkap dengan lengso duhu. biasanya dipakai juga sebagai baju untuk di rumah. Pada waktu mereka menghadiri berbagai upacara adat. yakni celana setinggi betis yang berwarna hitam pula. yakni baju berwarna hitam yang panjangnya mencapai pinggul serta berlengan panjang. Adakalanya. celana dino. yakni tutup kepala berwarna kuning muda. dan celana popoh. Kaum pria mengenakan celana panjang dan kemeja panjang. busana kerja pria biasanya digunakan pula sebagai pakaian sehari-hari untuk di rumah. busana yang dikenakan oleh kaum pria maupun wanitanya tidak berbeda.

Kecuali pada saat upacara sidi yakni upacara pengukuhan pemuda clan pemudi untuk menjadi pengiring Kristus yang setia. Penampilan gaya berbusana warga masyarakat Ambon pada saat menghadiri upacara adat clan upacara keagamaan berbeda dengan yang dikenakan sehari-hari. Kebaya manampal. masih ada lagi busana lain yang khususnya dipakai oleh untuk kaum wanita yang merupakan pendatang dari kepulauan Lease dan telah menetap di Ambon ratusan tahun lamanya. biasanya terdiri atas baju baniang yakni baju berbentuk kemeja yang berlengan panjang dan berkancing. yang sudah tidak dipakai untuk berpergian oleh kaum wanita. Jenis busana lain. dan celana panjang. biasanya dipakai sebagai busana kerja yang disebut kebaya waong.Busana Tradisional Busana Tradisional Ambon Ambon Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Ambon merupakan ibukota propinsi Maluku yang berada di kawasan Maluku Tengah. kebaya hitam. Dilengkapi dengan kaeng pikol. yakni sapu tangan berwarna putih yang kini telah jarang diletakkan di pinggang melainkan hanya dipegang saja. baju cele tersebut dijahit dengan panjang lengan hingga sikut. Pasangannya adalah celana panjang berikut topi yang dikenakan di kepala. Keberadaan busana adat Ambon. mereka akan melengkapinya dengan sapu tangan. kole. Khusus untuk kaum pria yang telah lanjut usia. atau masyarakat menyebutnya baju cele tangan sepanggal. lengkap dengan kain pelekat. melainkan tampak juga dalam busana seharihari. dari bagian leher ke arah dada terbelah sepanjang 15 sentimeter tanpa kancing. Selain busana sehari-hari yang telah disebutkan tadi. khususnya dalam upacara sidi. Ada beberapa contoh busana yang pada zaman dahulu pernah menjadi busana sehari-hari yang digunakan untuk bekerja atau di rumah. Bila akan bepergian. yaitu kebaya cita berlengan hingga sikut yang dijahit dengan cara menambal beberapa potong kain yang telah diatur dan disusun sedemikian rupa dengan rapih. Meskipun busana adat yang biasa dipakai dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari termasuk jarang digunakan lagi saat ini. dipakai . tidak hanya didominasi oleh busana yang dikenakan pada saat menghadiri upacaraupacara saja. Celana kes atau hansop. Untuk busana kerja di rumah atau dikebun. Kebaya manapal yang sudah tampak jelek atau sudah tidak pantas lagi untuk dikenakan di rumah. dilengkapi dengan celana kartou yakni celana yang pada bagian atasnya terdapat tali yang dapat ditarik dan diikatkan. yakni celana anak-anak yang dibuat dari beraneka macam kain dan dijahit sesuai dengan selera masing-masing. Busana adat yang dikenakan dalam kesempatan tersebut biasanya hitam polos atau warna dasar hitam. lenso pinggang. Busana dalam upacara keagamaan biasanya lebih lengkap lagi. yakni baju dalam atau kutang yang dipakai sebelum mengenakan baju atau kebaya hitam. celana yang dipakainya disebut celana Makasar yang panjangnya sedikit di bawah lutut dan sangat longgar. Kebaya jenis ini bisanya berpasangan dengan kain palekat. dengan leher agak tertutup. Sementara itu busana prianya terdiri atas baniang. Pada saat itu busana hitam ini ditabukan atau dilarang digunakan. yakni kain hitam berhiaskan manik-manik yang disandang di bahu kiri. yakni sejenis kebaya berlengan pendek. Sementara itu kaum pria di Ambon mengenakan busana yang terdiri atas baju kurung yang berlengan pendek dan tidak berkancing. keberadaannya tetap penting untuk diungkapkan sebagai gambaran kekhasan busana mereka di masa lalu. tapi kualitas bahan yang digunakan berbeda. Mereka biasanya mengenakan baju cele. jenis busananya masih tetap berupa kebaya cita berlengan panjang hingga ujung jari yang kemudian dilipat. Sedangkan busana yang dikenakan pada saat bepergian. Walaupun model bajunya sama. Bila mereka akan bepergian. Busana wanitanya terdiri atas baju dan kain hitam atau kebaya dan kain hitam.

Busana raja terdiri atas baju hitam. lenso bodasi dililitkan di leher. patala di pinggang. sepatu berwarna putih. Begitu pula kaum wanitanya yang memakai baju hitam seperti baju cele . patala disalempang di dada. celana hitam. dan topi. pembersihan negeri. dan lain-lain pada dasarnya hampir sama. dan seperangkat busana yang terdiri atas baju putih panjang. Hanya ada penambahan tertentu pada kelengkapan busana mereka. .oleh kaum remaja yang berasal dari golongan bangsawan diantaranya baju tangan kancing. dan kaus tangan berwarna putih. Adapun busana yang dikenakan pada saat berlangsung upacara adat seperti pelantikan raja. Sedangkan pria dewasa lainnya hanya mengenakan baju hitam dan celana panjang hitam tanpa menggunakan alas kaki. pending pengikat pinggang yang terbuat dari perak. bersepatu dengan kaus kaki putih. ikat poro atau ikat pinggang. penerimaan tamu. celana panjang atau celana Makasar. busana rok. yang terdiri atas kebaya putih berlengan panjang dan berkancing pada pergelangannya. salempang. yakni baju cele berlengan panjang dengan kancing pada pergelangan tangannya. Para tua-tua adat mengenakan baju hitam.

dan warna hitam melambangkan pemakainya adalah golongan rakyat biasa. yaitu hiasan dari cendrawasih yang telah dikeringkan dan menjadi hiasan yang diletakkan di kepala atau dahi. Wanita Tanimbar dalam kehidupan sehari-hari. Busana yang dipilih terdiri atas kutang liman malawan. hitam kebirubiruan mencerminkan golo-ngan menengah. mereka menyempurnakan penampilannya dengan mengenakan sejumlah asesoris yang khas. Di antara berbagai busana yang dikenakan oleh kaum wanita dalam sejumlah acara. atau barang bawaan seorang wanita sewaktu meninggalkan keluarganya untuk pindah dan menetap bersama suaminya. Misalnya noras aboyenan. yakni baju sejenis kebaya untuk bagian atasnya. Adapun busana bagian bawahnya berupa kain sarung yang biasanya ditenun sendiri. yaitu anting-anting. yaitu kalung yang terdiri atas lima lapis dan diletakkan di bagian depan. Artinya. ada kalanya belusu pun dijadikan sebagai mas kawin. berbagai kalung atau ngore. hitam kebiru-biruan. busana adat masyarakat Tanimbar kini tidak lagi digunakan dalam kehidupan mereka sehari-hari. keberadaan warna-warna tersebut memang memiliki makna tersendiri yang erat kaitannya dengan status sosial seseorang. yakni untaian yang tergantung di belakang leher. setiap orang boleh mengenakan kain dengan warna apa saja. Saat menghadiri upacara-upacara tersebut. pernikahan. dan lekbutir. Busana adat wanita Tanimbar biasanya dipakai pada saat mereka menghadiri atau terlibat dalam penyelenggaraan upacara adat. Misalnya. Warna dasar tais pada umumnya adalah coklat. Pada masa lalu. keberadaannya tetap merupakan aset potensial yang dapat memberikan daya dukung positif bagi pelestarian dan pengembangan keberadaan busana adat tradisional di kawasan tersebut. serta lean. Pemakaiannya sangat bergantung pada kemampuan dari orang yang akan mengenakannya. maka belusu kini menjadi barang yang cukup langka. Meskipun jumlah mereka saat ini sudah mulai menyusut. Kalaupun ada yang mengenakannya. Tidak heran bila belusu yang beredar saat ini merupakan salah satu benda warisan dari nenek moyang mereka. Bahkan. somalea. yakni sinune dan somalea. yang bernuansa keagamaan ataupun yang berkaitan dengan siklus hidup manusia. Mereka biasanya menari dalam upacara penghormatan jenazah dan upacara pelepasan arwah orang-orang yang dihormati. yang berlengan pendek maupun panjang. Meskipun begitu. dan sebagainya. memang ada salah satu yang tampak paling lengkap yakni busana penari. itupun terbatas pada kaum yang sudah berumur.terbatas pada gelang atau bel usu. selain mengenakan busana adat juga memakai aneka perhiasan yang lengkap. belusu. Masyarakat menamakan kain tenunan seperti itu dengan sebutan tais maran. Berbagai kelengkapan busana dan perhiasan tradisional tersebut memang tidak mutlak digunakan. memakai rantai maupun tidak. yakni seperangkat busana terdiri atas kebaya dan kain tenun yang disebut tais matau atau tais wangin. ada kelengkapan khusus yarig senantiasa digunakan oleh kaum wanita dalam berbagai upacara. ~ Kain tenun dengan warna dasar coklat melambangkan kedudukan pemakainya sebagai golongan bangsawan. penghormatan jenazah. umumnya hampir tidak ada yang memakai perhiasan. Mengingat saat ini sudah tidak ada lagi pengrajin yang membuat gelang-gelang besar seperti itu. yakni selempang atau selendang yang disampirkan pada bahu sebelah kiri.Busana Tradisional Tanimbar Tanimbar Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Wilayah Tanimbar sejak duhulu dikenal sebagai sentra pengrajin busana tradisional di Kabupaten Maluku Tenggara. Selain itu. ketentuan tersebut sudah tidak berlaku lagi. Kalaupun ada yang masih mengenakannya. kaum wanita biasanya mengenakan busana adat yang khas. Saat ini. ketua adat misalnya. . meliputi sinune. pelepasan arwah. yang menggantung dengan indah di telinga. upacara-upacara gerejani. Pada dasarnya. Keberadaan belusu yang terbuat dari gading gajah ini cukup penting dalam kehidupan masyarakat Tanimbar. Para penari yang terdiri atas kaum ibu tersebut. dan hitam.

tutuban ulu melambangkan keberanian. Kecenderungan yang tampak sekarang. Konon pada masa lalu. walaupun hanya dengan menambahkan umpan yang diikatkan di pinggang. yakni untuk melindungi anggota tubuh dari berbagai keadaan cuaca yang tidak menguntungkan. sinune. atau para tua adat. kain penutup kepala. busana adat pria Tanimbar terdiri atas celana panjang dan kemeja panjang. tutuban ulu. prajurit. Kelengkapan tersebut meliputi umpan. kebesaran. yakni selembar kain tenun yang diikatkan di pinggang. berhiaskan somalea. kaum pria tidak mengenakan busana adat selengkap itu pada berbagai upacara keagamaan atau upacara adat. misalnya yang membacakan syair dalam upacara tersebut. Tidak lupa mereka pun menambahnya dengan berbagai kelengkapan busana lain yang sama khasnya dengan apa yang dikenakan oleh kaum wanita. Kecuali bagi mereka yang memiliki tugas khusus. Melihat gambaran busana adat tradisonal masyarakat Tanimbar secara umum memang tidak hanya menampakkan fungsi alamiah semata. atau ketua adat. Mereka sudah merasa berbusana tradisional. . dan keperkasaan seorang pemimpin. mengandung makna simbolis tertentu yang barangkali saat ini sudah mulai terlupakan keberadaannya. Selain itu kepada jenazah dalam upacara adat pelepasan jenazah biasanya dipakaikann busana tradisional secara lengkap. Namun lebih dalam lagi.Sementara itu. pahlawan.

Namun dewasa ini hal tersebut sudah ditinggalkan. Istilah untuk sarung selain utan adalah lipa. biru dan kuning secara melintang. tutup kepala pria terbuat dari kain batik soga dan dikenakan dengan pola ikatan tertentu sehingga ujungujungnya turun menempel pada kedua sisi wajah dekat telinga. busana adat wanita Sikka tidak (lagi) mengenal perbedaan strata sosial yang mencolok. Dimasa lalu suku Sikka mengenal tingkatan sosial yakni bangsawan dan masyarakat umum. fauna dalam lajur-lajur bergaris. bercorak flora atau fauna dalam teknik ikat lungsi. Belanda. arti harfiahnya adalah kain tiga lembar. Busana Adat Wanita Seperti halnya pada kaum pria. Arab dan India. biasanya berwarna putih mirip kemeja gaya barat. jahitan dan ukiranukiran perangkat perhiasannya. putih. Selembar lensu sembar diselendangkan pada dada. Pada bagian pinggang dikenakan utan atau utan werung yaitu sejenis sarung berwarna gelap. Dibidang agama tampak benar pengaruh Portugis dan Belanda yang membawa agama Katolik dan Protestan serta tatabusana barat yang dewasa ini sudah menjadi pakaian sehari-hari masyarakat. berwarna dasar gelap dengan paduan-paduan antara warna-warna merah. Destar. Hitam misalnya biasanya dipakai untuk melayat orang meninggal. Tatawarna kain Sikka umumnya tampil dalam nada-nada gelap seperti hitam atau biru tua dengan ragi yang lebih cerah berwarna putih. Cina. mendiami daerah kabupaten Sikka di pulau Flores dengan kota terbesar sekaligus ibukota yaitu Maumere. utan lewak. Labu wanita ini terbuka sedikit pada pangkal leher guna memudahkan pemakaian sebab polanya tidak menyerupai kemeja atau blus yang lazim berkancing pada bagian depannya. Utan lewak. Sedangkan pengaruh India amat nyata pula hasil tenunan. Busana Adat Pria Perangkat busana adat pria secara umum terdiri atas kain penutup badan dan penutup kepala. Walaupun demikian masyarakat Sikka tetap mampu mempertahankan ungkapan budaya tradisionalnya lewat busana serta tatariasnya. dihiasi dengan ragam-ragam flora.Busana Tradisional Busana Tradisional Sikka Sikka Traditional Dress Penulis Biranul Anas Masyarakat Sikka atau suku Sikka. Warna-warna kain wanita melambangkan berbagai suasana hati atau kekuatan-kekuatan magis. Dimasa lalu bangsawan memakai lipa dengan ragi yang masih baru. bahkan di. Merah dan coklat melambangkan keagungan dan status sosial yang . Pada tatacara berbusana tampak jelas bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok antara keturunan ningrat dan rakyat. Perhiasan yang penting tetapi jarang dikenakan adalah keris yang disisipkan pada pinggang sebagai pertanda keperkasaan dan kesaktian. coklat. Diatas labu dikenakan dong. Seperti halnya dengan daerah-daerah lain di wilayah Nusa Tenggara Timur. yakni pada pembagian bidang-bidang dan corak yang diilhami oleh kain patola. berbentuk mirip kemeja berlengan panjang terbuat dari sutera atau kain yang bagus mutunya. ragi werung. kebudayaan masyarakat Sikka mencerminkan adanya pengaruhpengaruh asing seperti Bugis. bergaris biru melintang. kecuali mungkin pada halus tidaknya tenunan. sejenis selendang yang diselempangkan melintang dada. Indonesia. Bagianbagian busana wanita Sikka terdiri atas penutup badan berupa labu liman berun. Portugis. Kain sarung wanita. kuning atau merah. Kain atau baju penutup badan terdiri atas labu bertangan panjang.

Pada pergelangan tangan dipakai kalar yang terbuat dari gading dan perak. pesta dan sebagainya. sedangkan warna-warna cerah digemari oleh kaum muda. sebaliknya warna-warna muda adalah untuk suasana suka ria. Cara mengenakan utan selain sebagaimana tersebut di atas juga dengan menyampirkan sebagian pinggir kain di atas bahu dengan melintangkan tangan kanan (atau kiri sesuai pembawaan masing-masing) di bawah dada seperti hendak menjepit kain.tinggi. Demikian pula hal dengan warna dong. Hiasan kepala tersemat pada sanggul atau konde dalam bentuk tusuk konde biasanya terbuat dari ukiran keemasan. Penggunaanya disesuaikan dengan suasana peristiwa seperti upacara-upacara atau pesta-pesta adat. apabila gelap mencerminkan duka. Paduan warna juga menunjuk pada usia. delapan dan seterusnya. Perlambang warna dan cara-cara menyandang utan berlaku pula pada kaum pria Sikka. . Kaum berada atau ningrat biasanya mengenakan lebih banyak namun tetap dalam bilangan genap seperti enam. Yakni dua atau empat gading dengan dua perak pada setiap tangan. Perhiasan pada rambut dewasa ini sudah amat bervariasi karena pengaruh-pengaruh dari sukusuku lainnya di Nusa Tenggara Timur. Jumlah kalar gading dan perak (atau emas) biasanya genap. Warna-warna yang gelap biasanya dipakai oleh orang tua. Perhiasan lainnya adalah kilo yang tergantung pada telinga.

ular. ragam-ragam hias ukiran-ukiran dan tekstil sampai dengan pembuatan perangkat busana seperti kain-kain hinggi dan lau serta perlengkapan perhiasan dan senjata. sejenis penutup kepala dengan lilitan dan ikatan tertentu yang menampilkan jambul. Sebagai penutup badan digunakan dua lembar hinggi yaitu hinggi kombu dan hinggi kaworu. Hinggi dan tiara terbuat dari tenunan dalam teknik ikat dan pahikung. Di Sumba Timur strata sosial antara kaum bangsawan (maramba). rumahrumah ibadat (umaratu) rumah-rumah adat dan tata cara rancang bangunnya. Khususnya yang terbuat dengan teknik pahikung disebut tiara pahudu. Kepercayaan khas daerah Marapu. masih amat hidup ditengah-tengah masyarakat Sumba ash. Masyarakat Sumba cukup mampu mempertahankan kebudayaan aslinya ditengah-tengah arus pengaruh asing yang telah singgah di kepulauan Nusa Tenggara Timur sejak dahulu kala. udang. buaya. Sedangkan busana lama atau usang biasanya dipakai di rumah atau untuk bekerja sehari-hari. ikan. upacara-upacara perkawinan dan kematian dimana komponenkomponen busana yang dipakai adalah buatan baru. Bagian terpenting dari perangkat pakaian adat Sumba terletak pada penutup badan berupa lembar-lembar besar kain hinggi untuk pria dan lau untuk wanita. Menilik halhal tersebut maka pembahasan busana pria sumba ditujukan pada pakaian tradisional yang dikenakan pada peristiwa besar. Hinggi kombu dipakai pada pinggul dan diperkuat letaknya dengan sebuah ikat pinggang kulit yang lebar. Dewasa ini perbedaan pada busana lebih ditunjukkan oleh tingkat kepentingan peristiwa seperti pada pesta-pesta adat. pesta-pesta dan sejenisnya. Kesemuanya memiliki arti serta perlambang yang berangkat dari mitologi. tetapi komponen serta tampak keseluruhannya sama. Ragam-ragam hias yang terdapat pada hinggi dan tiara terutama berkaitan dengan alam lingkungan mahluk hidup seperti abstraksi manusia (tengkorak). yang terbuat dalam teknik tenun ikat dan pahikung serta aplikasi muti dan hada terungkap berbagai perlambangan dalam konteks sosial. ekonomi serta religi suku sumba. Misalnya busana pria bangsawan biasanya terbuat dari kain-kain dan aksesoris yang lebih halus daripada kepunyaan rakyat jelata. rusa. burung. kuda. alam pikiran serta kepercayaan mendalam terhadap marapu. mahkota dan singa. penyu. pemuka agama (kabisu) dan rakyat jelata (ata) masih berlaku. setengah dewa. Di kepala dililitkan tiara patang. kerbau sampai dengan corak-corak yang dipengaruhi oleh kebudayaan asing (Cina dan Belanda) yakni naga. Marapu menjadi falsafah dasar bagi berbagai ungkapan budaya Sumba mulai dari upacara-upacara adat. Busana pria Sebagaimana telah disebutkan busana masyarakat Sumba dewasa mi cenderung lebih ditekankan pada tingkat kepentingan serta suasana lingkungan suatu kejadian daripada hirarki status sosial. naga. Hinggi kaworu atau terkadang juga hinggi raukadama digunakan sebagai pelengkap. samping kiri atau samping kanan sesuai dengan maksud perlambang yang ingin dikemukakan. Dari kain-kain hinggi dan lau tersebut.Busana Tradisional Sumba Timur East Sumba Traditional Dress Penulis Biranul Anas Pulau Sumba didiami oleh suku Sumba dan terbagi atas dua kabupaten. ayam. Jambul inilah dapat diletakkan di depan. Jambul di depan misalnya melambangkan kebijaksanaan dan kemandirian. bendera tiga warna. upacara. Sumba Barat dan Sumba Timur. walaupun tidak setajam dimasa lalu dan jelas juga tidak pula tampak lagi secara nyata pada tata rias dan busananya. setengah leluhur. Namun masih ada perbedaan-perbedaan kecil. Warna hinggi juga . penutup badan dan sejumlah penunjangnya berupa perhiasan dan senjata tajam. Karena pada saat-saat seperti itulah ia tampil dalam keadaan terbaiknya. Busana pria Sumba terdiri atas bagianbagian penutup kepala. cumi-cumi.

Pakaian Adat Pria Secara mendasar pria mengenakan komponen-komponen busana yang sama dengan daerah-daerah lain di Nusa Tenggara Timur yaitu kain penutup badan yang terdiri atas beti atau taimuti. Sebagaimana dengan kebiasaan serta budaya yang ada pada daerahdaerah lain di Nusa Tenggara Timor pelapisan sosial kemasyarakatan yang dahulu kala amat kuat dianut. Hinggi terbaik adalah hinggi kombu kemudian hinggi kawaru lalu hinggi raukadana dan terakhir adalah hinggi panda paingu. namun dewasa ini perlengkapan tersebut semakin banyak digunakan khususnya didearah perkotaan.mencerminkan nilai estetis dan status sosial. Hal ini tampak nyata pada ungkapan berbusana masyarakatnya yang sehari-hari memakai pakaian bergaya barat akibat pengaruhpengaruh asing yang masuk ke daerah tersebut sudah lama. coklat. merah bata. Pada dahi disematkan perhiasan logam (emas atau sepuhan) yaitu maraga. lau pahudu. Demikian pula halnya perhiasan-perhiasan lainnya. Suatu kebiasaan yang umum di Nusa Tenggara Timur khususnya Timor (dan Sumba) adalah disandangnya kapisak atau aluk yang terbuat dari anyaman-anyaman daun atau kain persegi empat dengan corak geometris dan muti sebagai . putih dan biru. Busana Adat Wanita Pakaian pesta dan upacara wanita Sumba Timur selalu melibatkan pilihan beberapa kain yang diberi nama sesuai dengan teknik pembuatannya seperti lau kaworu. Kain-kain tenunan dalam teknik futus dan sotis dalam paduan warna-warna putih. memanjang dalam paduan warna-warna jingga. wujud tertinggi penguasa jagad raya. Secara tradisional busana pria tidak menggunakan alas kaki. Timor Traditional Dress Penulis Biranul Anas Amarasi termasuk ke dalam wilayah administrasi Kabupaten Kupang. Namun hal-hal tersebut tidak menghilangkan tradisi untuk mengungkapkan ungkapan budaya asli mereka. Po`uk sebesar ± 30 cm bercorak garis-garis. sedangkan di telinga tergantung mamuli perhiasan berupa kalung-kalung keemasan juga digunakan pada sekitar leher. Secara menyeluruh hiasan dan penunjang busana ini merupakan simbol kearifan. menjurai ke bagian dada. Sedangkan kalung dileher terbuat dari logam dengan hiasan berbentuk lingkaran dari logam berukir bergaris tengah 10 cm. muti salak menyatakan kemampuan ekonomi serta tingkat sosial. Corak khas pada beti gaya Amarasi adalah dominasi warnawarna coklat dengan bidang tengah berwarna putih sebesar ± 3040 cm. Di kepala dikenakan pilu dari batik. lau mutikau dan lau pahudu kiku. dikenal dengan sebutan iteke. Busana Tradisional Amarasi. Sebagian besar penduduknya dewasa ini pun memeluk agama Nasrani. Timor Amarasi. biru dan merah bata yang ditunjang oleh berbagai aksesoris di kepala. Kabiala adalah lambang kejantanan. Selanjutnya busana pria Sumba dilengkapi dengan sebilah kabiala yang disisipkan pada sebelah kiri ikat pinggang. tangan dan pinggang diperagakan dengan keindahan yang amat mempesona pada peristiwa-peristiwa seperti tersebut di atas. pencipta mahluk hidup sumber segala yang ada. Timor. Selain itu manifestasi tradisi kebudayaan asli juga masih hidup dalam tatacara berpakaian khususnya dalam menghadapi pesta-pesta adat atau upacara-upacara penting lainnya. Masyarakat Amarasi merupakan bagian dari suku Dawan yang tersebar di seluruh kabupaten di Timor bagian barat. dewasa ini sudah jauh berkurang. Kainkain tersebut dikenakan sebagai sarung setinggi dada (lau pahudu kiku) dengan bagian bahu tertutup taba huku yang sewarna dengan sarung. Bentuk-bentuk kepercayaan lokal masih mewarnai kehidupan sehari-hari seperti ritus-ritus penghormatan terhadap Usi Neno. Di kepala terikat tiara berwarna polos yang dilengkapi dengan hiduhai atau hai kara. telinga. Sedangkan pergelangan tangan kiri dipakai kanatar dan mutisalak. dan po`uk. keperkasaan serta budi baik seseorang.

perak atau sepuhannya) yang disebut noni bena. pihak wanita menyerahkan kain tenunan. dalam membalas pihak lelaki. Demikianlah oleh terbentuk dasar hubungan kekeluargaan yang erat dan saling mendukung dalam berbagai permasalahan kehidupan. Perhiasan dan bahanbahan pembuatnya selain mencerminkan status sosial juga menyatakan kemampuan ekonomi. khususnya pada adat istiadat perkawinan dimana barang-barang tersebut merupakan mas kawin pihak lelaki kepada pihak perempuan. Emas. Lembar kedua adalah selempang yang terikat di depan dada berbentuk huruf V dengan kedua ujungnya terletak di kedua bahu bagian belakang. Di depan dada tergantung kalung dengan bentuk hiasan bulat dari logam (emas. Hakekat pemakaian busana dan perhiasan pelengkapnya di Nusa Tenggara Timur erat kaitannya dengan berbagai kefungsiannya dalam peri kehidupan penyandangnya. . gading dan manik-manik amat dihargai dan bernilai tinggi. sedangkan pinggang dililit oleh futi noni. Pergelangan tangan dihiasi dengan niti keke. berukiran dan terkenal dengan istilah pato eban. kejantanan serta kesucian bagi penyandangnya. Corak-coraknya berwarna meriah paduan jingga. perak. Corak tenunan menunjuk pada status sosial alam fikiran serta kepercayaan yang dianut. Sebaliknya pun.hiasannya. Kedua telinga dihiasi falo noni. Di kepala terdapat seperangkat perhiasan yang tersemat pada sanggul yaitu kili noni dan tusuk-tusuk konde. kuning. Hiasan logam kening di dahi berbentuk bulan sabit. Pertama adalah tais atau tarunat yang dipasang setinggi dada hingga mata kaki. Pakaian Adat Wanita Wanita Amarasi memakai dua lembar tenunan sebagai penutup badannya. Terkadang aluk juga sebagian berhiaskan ornamen perak. baik sebagai citra kehormatan diri maupun dalam konteks hubungan sosial kekeluargaan. Pakaian serta perhiasan dan perlengkapan busana pria ini oleh masyarakat setempat dianggap dapat memberikan sifat keagungan. putih dan biru tua dalam lajur bergaris sempit yang dipadukan dengan corak-corak ikat putih berlatar hitam/biru tua.

yang dieksplorasi dari kehidupan alam sekitar dan mitologi. Untuk mengikuti acara adat. estetika pun berkembang. ali-ali (cincin). berfungsi seperti ikat pinggang. meski tentu.maka pemakainya akan ditimpa kemalangan. burung. memanjang hingga sebatas betis dan pada bagian muka ujung kain dibuat berlipat-lipat menjuntai hingga hampir menyentuh tanah. teken ima (gelang tangan). memberikan nuansa pada tata cara berbusana adat keseharian suku Sasak. lalu terciptalah corak hias simbolik. ikat pinggang (gendit/pending) emas. Konon. Busana Adat Sehari-hari Persentuhan dengan suku Bali yang datang sekitar abad XVI. misalnya saja kehilangan kewibawaan. Para lelaki memakai kelambi (baju) model kemeja pria berlengan pendek atau panjang. tokoh pewayangan. Corak hias pada kain untuk perempuan pun dibedakan dengan ragam hias kain bagi laki-laki. tapi dalam perkembangannya ada yang diberi imbuhan hiasan pada pinggiran bajunya. Bahkan kemudian ditumbuhkan kepercayaan jika kaum lelaki memakai kain dengan corak hias yang sesungguhnya diperuntukkan bagi kaum perempuan begitu pula sebaliknya .Busana Tradisional Sasak Sasak Traditional Dress Penulis Aat Soeratin Diperkirakan sejak abad XIV masyarakat Sasak telah mengenal teknik menenun kain. Busana Pengantin Sasak Yang akan diuraikan berikut ini adalah busana pengantin yang umum dikenakan oleh masyarakat Sasak. Kaum perempuan mengenakan lamung (baju) berwarna hitam yang modelnya relatif sederhana: selembar kain dilipat sehingga berbentuk segi empat lalu diberi "lubang leher" berbentuk segi tiga. upacara kematian. dinamai sapu. Dipadukan dengan kereng (kain panjang) yang dililitkan seputar pinggang. Hiasan pelengkap penampilannya adalah kancing baju (buak tangkong) emas. Stilasi pohon mawar. kesaktian. dan semacamnya. Dan ketika keterampilan menenun semakin dikuasai. seperti yang telah disinggung di muka. Yang banyak dipakai adalah kain songket. masyarakat Sasak mengenakan busana yang khusus dirancang untuk keperluan tersebut. Sebagai pakaian bawahya dipakai kain panjang yang disebut kereng. disebut bebet. biasanya berwarna hitam tapi tak jarang menggunakan kain batik. . misalnya upacara potong gigi. menghadiri perkawinan. Pada kening tersaput ikat kepala. sehari-hari maupun upacara. tak menghilangkan identitas jatidirinya. dan pertemuan kedua sisinya dijahit sehingga hasil akhirnya menjadi semacam kebaya longgar berlengan pendek. Untuk memperkuat kemben dipakai sabuk anteng (ikat pinggang). Mempelai wanitanya memakai tangkong (baju) semacam kebaya yang biasanya berwarna hitam polos. pada bentangan kain-kain tenunan mereka. Sebagai pelengkap penampilan dipakai aksesori berupa sengkang (anting-anting). Busana bagian bawahnya adalah kemben (sarung) yang juga berwarna hitam dan pada bagian tertentu diberi hiasan motif flora. kalung emas. masyarakat Sasak. panjangnya sebatas pinggang. dan gelang kaki (teken nae). ular naga. dan teken nae (gelang kaki). pengetahuan itu dibawa para pedagang Gujarat dari India. Penahan kereng adalah lilitan kain. Kain-kain tenun inilah yang digunakan sebagai busana adat. gelang tangan (teken). kerap muncul menjadi ragam hias yang artistik pada tenunan masyarakat Sasak.

Pengantin pria mengenakan kelambi dari bahan yang sama dengan mempelai wanita, bermodel jas tutup dengan potongan agak meruncing pada bagian bawah belakangnya, untuk mempermudah menyengkelitkan keris. Kereng (kain panjang) yang dipakai adalah songket dengan motif khas Lombok. Kemudian ditambahkan dodot (kampuh), kain yang biasanya bercorak sama dengan yang dipakai pengantin wanita. Kelengkapan lainnya adalah sapu (destar/ikat kepala) dari kain songket yang biasanya diberi tambahan hiasan keemasan yang diselipkan pada ikatan sapu bagian depan. Dan dari balik punggungnya, sedikit melewai bahu sebelah kanan, tersembul keris panjang.

Busana Tradisional Semawa dan Bima Semawa and Bima Traditional Dress Penulisi Aat Soeratin Masyarakat asli Pulau Sumbawa terkenal memiliki kain songket hasil keterampilan para penenun yang diperoleh akibat persentuhannya dengan kebudayaan masyarakat Bugis. Songket Sumbawa umumnya menggunakan benang emas, benang perak, juga benang katun. Yang kita kenal sebagai kain selungka, misalnya, adalah songket yang menggunakan benang emas dan perak, dan tampilannya menyiratkan pengaruh kebudayaan Bugis. Jenis lainnya, antara lain, kain tenun motif kotak-kotak yang disebut mbali pida, dan ^. Seperti halnya saudara mereka di Pulau Lombok, estetika masyarakat Sumbawa pun melahirkan corak hias simbolis, stilasi bentuk flora untuk kain perempuan dan penggayaan bentuk fauna atau manusia pada kain kaum lelaki. Kain songket inilah yang kemudian memberi aksentuasi yang khas pada pakaian adat masyarakat Sumbawa. Dalam kesehariannya kaum perempuan masyarakat Semawa mengenakan kain sarung bermotif kotak-kotak (tembe lompa) warna hitam dan merah. Bajunya disebut lamung pene, baju serupa kebaya polos sederhana, berlengan pendek. Para prianya memakai sarung pelekat, baju lengan panjang, dan berkopiah. Sedangkan para wanita masyarakat Bima dan Dompu memakai baju poro, baju polos tanpa hiasan, berkain sarung palekat yang ditenun dengan hiasan corak kota-kotak kecil. Terkadang mengenakan rimpu (kerudung penutup rambut). Adapun para lelakinya memakai sarung pelekat, disebut tembe ngguli, berkemeja lengan pendek atau panjang, dan kadangkala memakai ikat kepala yang dinamai sambolo songke. Akan tetapi, untuk acara-acara adat seperti upacara potong gigi, kematian, perkawinan, dan sebagainya, masyarakat Semawa pun masyarakat Bima merancang busana adat tersendiri. Busana Adat Suku Semawa

Busana adat masyarakat Semawa, dulu, biasanya dikenakan saat mengikuti pelbagai upacara tradisional seperti upacara turun tanah bagi balita yang diharapkan segera bisa berjalan; tradisi potong gigi; naik dewasa (inisiasi) untuk remaja yang memasuki masa akil balig; upacara adat eneng hujan (memohon hujan); dan sebagainya. Sekarang, upacara-upacara tersebut masih dilakukan dan pakaian adat pun masih dikenakan para peserta upacara meski tak seketat kebiasaan masa lalu. Lamung pene adalah sebutan untuk baju adat kaum perempuan, semacam kebaya berlengan pendek dari kain halus. Paduannya adalah kre alang, kain sarung songket yang dipakai sebatas mata kaki dan ikat pinggang (pending) perak. Pada bahu kiri disampirkan sapu to`a, sejenis sapu tangan dan aksesorinya berupa kalung leher, bengkar troweh (hiasan telinga), gelang tangan. Dan para gadis yang belum menikah biasanya memakai kerudung. Kaum prianya memakai lamung seperti jas tutup berlengan panjang, saluar belo (celana panjang) polos tanpa hiasan, ditambah pabasa alang, semacam selendang songket berukuran agak lebar ketimbang selendang biasa, yang difungsikan sebagai dodot. Dan ikat kepala, yang disebut sapu, dibuat dari tenunan benang katun bermotif kotak-kotak. Buhul ikatan sapu pada kening ada di bagian belakang kepala sedangkan untuk bagian depan kepala sudut sapu dipasang tegak sehingga tampak tinggi dan meruncing.

Busana Pengantin Suku Semawa Mempelai wanita dari golongan bangsawan mengenakan busana adat berupa lamung (baju) lengan pendek bermodel baju bodo Sulawesi dari kain halus dan berhiaskan sulaman benang emas berbentuk cepa (bunga) hampir di seluruh bidang baju. Pada bahu sebelah kiri disampirkan kida sanging, semacam saputangan yang diberi hiasan motif dedaunan dari benang perak atau emas. Pakaian Bawahnya tope belo (rok panjang) dan tope pene (rok pendek), juga berhiaskan cepa, yang dipakai secara bertumpuk. Aksesori lainnya adalah sua`, hiasan kepala dilengkapi kembang goyang. Sanggul rambutnya disebut puyung lakang. Dan perhiasan yang dipakai berupa gelang tangan bernama ponto atau kelaru, kalung, anting-anting, dan hiasan kuku ibu jari tangan kiri dari emas yang dibentuk seperti kuku panjang, yang disebut sisin kuku. Kakinya beralaskan selop. Pengantin prianya memakai gadu, baju berlengan panjang warna hitam berhiaskan cepa emas. Simbangan adalah selempang kain yang disilangkan di atas baju, terbuat dari kain merah diberi hiasan motif bunga. Pakaian bawahnya saluar celana panjang berwarna hitam dengan aplikasi hias pada pinggiran kaki celananya. Ditambah tope, semacam rok dari kain halus berwarna merah berhiaskan cepa emas yang agak besar. Ikat pinggang (pending) emas dikenakan untuk menahan tope. Kepalanya bertutup mahkota yang dibuat dari kain yang dilipat-lipat, dibentuk seperti kipas, berhiaskan cepa emas sehingga tampil sangat artistik. Mahkota itu disebut pasigar. Dan keris disengkelitkan pada pending, disimpan di bagian muka badan.

Busana Adat Suku Bima Untuk menghadiri upacara adat inisiasi, potong gisi, kematian, perkawinan, dan sebagainya, kaum wanita masyarakat Bima mengenakan busana adat yang selengkapnya terdiri dari baju, kain panjang, berbagai aksesori, dan alas kaki. Bajunya disebut baju poro yang dibuat dari kain tipis namun tidak tembus pandang, biasanya berwarna hitam, biru tua, coklat tua, ungu. Bersarung pelekat, tembe kafa, corak mbali pida hingga menutup mata kaki. Aksesorinya berupa gelang tangan, anting-anting, dan semacamnya, namun tidak boleh berlebihan. Kaum prianya memakai kemeja lengan pendek atau model jas tutup berlengan panjang berwarna hitam, putih, atau warna-warna cerah lainnya. Bersarung pelekat tembe kafa mbali pida, dipinggangnya dililitkan salampe berwarna dasar putih, kuning, merah, atau hijau. Dan lelaki dewasa biasanya menyengkelitkan pisau mone (pisau khas Bima), pada salampe, di bagian depan badan.

Busana Pengantin Suku Bima Pakaian pengantin yang banyak dipakai masyarakat Bima sekarang adalah jenis busana tradisional yang dulu hanya untuk golongan bangsawan dan golongan menengah saja. Busana pengantin golongan menengah dan golongan bangsawan Bima pada dasarnya hampir tidak berbeda. Hanya saja kelengkapan busana atau aksesori yang dipakai pengantin dari golongan menengah relatif lebih sedikit, sehingga tampil lebih sederhana. Berikut ini uraian serba singkat mengenai busana tradisional pengantin golongan bangsawan Suku Bima. Mempelai wanitanya mengenakan baju poro rante yang dibuat dari kain halus berwarna merah dengan taburan cepa benang emas di seluruh permukaan baju dan memakai tembe songke, sarung songket. Selepe, ikat pinggangnya, berwarna keemasan. Tangan kanannya memegang pasapu (saputangan) dari kain sutra bersulamkan benang perak. Rambutnya disanggul, diberi hiasan unik yang dinamai karaba. Karaba dibuat dari gabah (bulir padi yang belum dikelupas kulitnya) yang digoreng tanpa minyak sehingga mekar dan nampak warna putih berasnya secara dominan. Karaba ini kemudian ditempelkan pada rambut dengan perekat malam atau lilin hingga warna putihnya nampak mencolok di atas hitamnya rambut. Tataan rambut berhiaskan karaba ini disebut wange. Sedangkan aksesori lainnya juga berwarna keemasan berupa bangka dondo (anting-anting panjang), dan ponto (gelang tangan). Pengantin pria memakai pasangi yaitu baju dan celana yang terbuat dari kain yang sama, yang berhiaskan cepa dan sulaman benang emas. Kemudian siki, sebutan untuk kain songket (tembe songke), dipakai, seperti memakai sarung, sebatas lutut. Penahan siki adalah baba, kain berukuran lebih lebar ketimbang ikat pinggang biasa, yang juga berfungsi untuk menyelipkan keris. Di atas baba dilingkarkan selepe mone, ikat pinggang dari logam keemasan. Keris yang pada hulunya diikatkan saputangan berhiaskan sulaman benang perak, seperti ditulis di muka, diselipkan pada baba. Baju pengantin laki-laki lainnya adalah karoro, semacam jubah hitam dihiasi cepa berwarna keemasan. Mahkotanya disebut siga (sama dengan pasigar, mahkota pengantin pria Semawa) Namun ada tata cara yang agak khusus untuk pemakaian karoro Yakni mempelai pria tidak boleh memakai karoro sekaligus dengan siki. Karoro biasanya hanya dimiliki oleh sultan atau para petinggi Kesultanan Bima.

dan yang melanggar adat. Pada masa dulu. berwarna terang dan mencolok seperti merah. Pemakaian tutup kepala pada busana pria mempunyai makna-makna dan simbol-simbol tertentu yang melambangkan satus sosial pemakainya. Busana adat pria Makasar terdiri atas baju. Yang dimaksud dengan busana adat di sini adalah pakaian berikut aksesori yang dikenakan dalam berbagai upacara adat seperti perkawinan. tu maradeka. baik untuk jas tutu maupun baju bella dada. Khusus untuk tutup kepala. celana atau paroci. busana yang dipakai tidak lagi melambangkan suatu kedudukan sosial seseorang. saku di kanan dan kiri baju. Meskipun demikian. ada beberapa ciri. dan Kepulauan selayar. pasapu guru sebutannya. Pada dasarnya. bahkan juga status sosial pemakainya di dalam masyarakat. Masing-masing busana tersebut memiliki karakteristik tersendiri. yakni lapisan orang merdeka atau masyarakat kebanyakan. Bantaeng. busana adat Makasar tentu saja dapat dibedakan atas busana pria dan busana wanita. berdasarkan jenis kelamin pemakainya. Jeneponto. Baju yang dikenakan pada tubuh bagian atas berbentuk jas tutup atau jas tutu dan baju belah dada atau bella dada. kain sarung atau lipa garusuk. Dalam kebudayaan Makasar.Busana Tradisional Makassar Makassar Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Di wilayah Sulawesi Selatan suku bangsa Makasar menempati daerah Kabupaten Takalar. Model baju yang tampak adalah berlengan panjang. tetapi juga sebagai kelengkapan suatu upacara adat. Namun dewasa ini. Gambaran model tersebut sama untuk kedua jenis baju pria. serta diberi kancing yang terbuat dari emas atau perak dan dipasang pada leher baju. Bila tutup kepala pada busana adat pria Makasar dihiasi dengan benang emas. masyarakat menyebutnya mbiring. penjemputan tamu. Hal itu disebabkan masyarakat Makasar terbagi atas tiga lapisan sosial. Ketiga strata sosial tersebut adalah ono karaeng. Bukan saja berfungsi sebagai penghias tubuh. . keberadaan dan pemakaian busana adat pada suatu upacara tertentu akan melambangkan keagungan upacara itu sendiri. busana yang khas milik pendukung kebudayaan Makasar dan tidak dapat disamakan dengan busana milik masyarakat Bugis. Namun jika keadaan sebaliknya atau tutup kepala tidak berhias benang emas. busana adat pria dengan baju bella dada dan jas tutunya sedangkan busana adat wanita dengan baju bodo dan baju labbunya. yakni lapisan orangorang yang kalah dalam peperangan. melainkan lebih menunjukkan selera pemakainya. sebenarnya dapat dikatakan bahwa busana adat Makasar menunjukkan kemiripan dengan busana yang biasa dipakai oleh orang Bugis. Sementara itu. bahan yang biasa digunakan berasal dari kain pasapu yang terbuat dari serat daun lontar yang dianyam. yakni lapisan yang ditempati oleh kerabat raja dan bangsawan. dan tutup kepala atau passapu. yaitu berasal dari kain lipa sabbe atau lipa garusuk yang polos. Gowa. Biasanya. Adapun bahan baju bella dada tampak lebih tipis. Maros. atau hari-hari besar adat lainnya. busana adat orang Makasar dapat menunjukkan status perkawinan. Pangkajene. Bahan untuk jas tutu biasanya tebal dan berwarna biru atau coklat tua. Hanya dalam hal warna dan bahan yang dipakai terdapat perbedaan di antara keduanya. tidak mampu membayar utang. leher berkrah. dan atu atau golongan para budak. busana adat merupakan salah satu aspek yang cukup penting. Melihat kebiasaan mereka dalam berbusana. bentuk maupun corak. dan hijau. yang mengenakan pasapu guru adalah mereka yang berstatus sebagai guru di kampung.

dan anting panjang (bangkarak). Lebih tepatnya dikenakan sebagai busana pengantin pria.Kelengkapan busana adat pria Makasar yang tidak pernah lupa untuk dikenakan adalah perhiasan seperti keris. Namun pada umumnya. sisi samping kain dijahit. warna dasar sarung Makasar adalah hitam. dikenal dengan sebutan pasattimpo atau tatarapeng. wanita makasar pun memakai berbagai perhiasan untuk melengkapi tampilan busana yang dikenakannya Unsur perhiasan yang terdapat di kepala adalah mahkota (saloko). . Kaum wanita dari berbagai kalangan manapun bisa mengenakan baju labbu. Pasangan baju bodo dan baju labbu adalah kain sarung atau lipa. gelang. coklat tua. Adapun baju labbu atau disebut juga baju bodo panjang. bahkan dapat digantungi sejenis jimat yang disebut maili. hanya saja perhiasan yang dikenakannya tidak selengkap itu. biasanya berbentuk ular naga dan terbuat dari emas atau disebut ponto naga. Keris yang senantiasa digunakan adalah keris dengan kepala dan sarung yang terbuat dari emas. sapu tangan berhias atau passapu ambara. selempang atau rante sembang. biasanya berbentuk baju kurung berlengan panjang dan ketat mulai dari siku sampai pergelangan tangan. Ada dua jenis baju yang biasa dikenakan oleh kaum wanita. Perhiasan di leher antara lain kalung berantai (geno ma`bule). Adapun gelang yang menjadi perhiasan para pria Makasar. tampak jelas pada seorang pria yang sedang melangsungkan upacara pernikahan. dan pada bagian atas dilubangi untuk memasukkan kepala yang sekaligus juga merupakan leher baju. kalung panjang (rantekote). Baju bodo berbentuk segi empat. Penggunaan busana adat wanita Makasar yang lengkap dengan berbagai aksesorinya terlihat pada busana pengantin wanita. Sementara itu. yang terbuat dari benang biasa atau lipa garusuk maupun kain sarung sutera atau lipa sabbe dengan warna dan corak yang beragam. Sama halnya dengan pria. Agar keris tidak mudah lepas dan tetap pada tempatnya. Jenis keris ini merupakan benda pusaka yang dikeramatkan oleh pemiliknya. yakni baju bodo dan baju labbu dengan kekhasannya tersendiri. busana adat wanita Makasar terdiri atas baju dan sarung atau lipa. Begitu pula halnya dengan para pengiring pengantin. Bahan dasar yang kerap digunakan untuk membuat baju labbu seperti itu adalah kain sutera tipis. dan berbagai aksesori lainnya. Gambaran busana adat pria Makasar lengkap dengan semua jenis perhiasan seperti itu. tidak berlengan. maka diberi pengikat yang disebut talibannang. berwarna tua dengan corak bunga-bunga. dengan hiasan motif kecilkecil yang disebut corak cadii. sanggul berhiaskan bunga dengan tangkainya (pinang goyang). dan kalung besar (geno sibatu). dan hiasan pada penutup kepala atau sigarak. atau biru tua.

dengan hiasan liontin atau medalion besar. tata rias rambut dan kepala akan ditambah dengan beberapa aksesori seperti. dengan ukuran panjang melampaui pinggul atau kurang lebih lima centimeter di bawah pusar. Majeng. Hiasan yang mempercantik penampilan adalah penambahan kepingankepingan logam warna emas di seluruh pinggiran kebaya atau kepingan-kepingan bulat di seluruh permukaan kebaya. menggunakan alas kaki berupa selop atau sepatu . dan mempunyai peranan sama pentingnya dengan tiga suku bangsa lainnya yaitu Bugis. menggunakan giwang emas berukuran besar dan di antara lubang telinga dengan giwang diselipkan sejumput kapas putih. Dalam berbusana . Masyarakat Mandar sangat membedakan busana untuk anak-anak. begitu pula busana rakyat biasa dengan kalangan bangsawan akan berbeda. Jadi tidak mengherankan apabila masyarakat suku bangsa Mandar mempunyai tradisi berbusana yang sangat indah dan mencerminkan kebesaran suku ini di masa silam. wanita Mandar akan mengenakan sarung sutera berwarna hitam atau putih. Bajunya kebaya pendek berlengan tiga oerempat. wanita Mandar membuat sanggul yang letaknya agak rendah dengan hiasan tusuk sanggul emas dan kembang goyang. Dalam kesempatan menghadiri upacara adat. pada abad ke-XV wilayah Mandar ini meliputi Kerajaan Balanipa. Sederet bunga serampa dan bunga seruni menghiasi seputar sanggul. adapun wanita muda umumnya lebih menyukai anting-anting yang berderet-deret dan menjuntai di kedua telinganya. Namun dalam keadaan yang lebih resmi. masyarakat Mandar sangat memperhatikan ketentuan adat dan tradisi yang telah dijalani selama berabad-abad lamanya. Ada pula sanggul agak rendah. Menurut catatan sejarah. Untuk wanita yang usianya agak tua. Kelengkapan busana lainnya adalah penggunaan sehelai selendang tipis yang ujung-ujungnya dihiasi dengan bundaran-bundaran emas atau perak. kipas dan berbagai perhiasan dari emas. Dalam kehidupan sosialnya. serta wilayah di bagian utara Selat Makassar. Pada bagian pinggang. Orang-orang Mandar menempati wilayah administratif kabupaten Mamuju. kemudian ditutup dengan pending yang terbuat dari logam berwarna emas dengan gesper berhias di bagian depan. Tali ikat dari kain yang berfungsi untuk mengencangkan lilitan sarung. Salah satu contoh yang tetap bertahan hingga kini antara lain adalah tata cara berbusana. kalung emas yang berjuntai agak panjang. Ciri khas sarung tenun Mandar adalah motif kotak-kotak besar dan kecil dengan hiasan warna emas pada garisgarisnya. Semua kalangan masyarakat Mandar.Busana Tradisional Busana Tradisional Mandar Mandar Traditional Dress Penulis Siti Dloyana Kusumah Suku Bangsa Mandar terbilang penduduk asal di propinsi Sulawesi Selatan. remaja dan orang tua. kabupaten Majenen dan kabupaten Polewali Mamasa (Polmas). wanita Mandar pada umumnya mengenakan perhiasan meliputi. terbuat dari bahan sutera atau kain halus lain tetapi tidak tembus pandang. rambut ditata dengan model sasak sedikit tinggi (sigara). Gelang berukuran besar yang dipakai masing-masing lima buah di tangan kanan maupun di tangan kiri. Makassar dan Toraja. tua maupun muda. setelah mengencangkan lilitan sarung dengan tali kain. Pembauang dan Cenrana di pantai utara Teluk Mandar. Untuk tata rias rambut dan kepala. berhias tusuk konde dan di bagian pelipis kanan diselipkan serangkaian kembang goyang berwarna emas.

aktivitas sosial dan stratifikasi sosial.pantovel berwarna hitam. dan upacara pernikahan. Paduannya kain sarung tenun Mandar atau seringkali ada yang memakai celana panjang kemuidian ditutup dengan sarung hingga sebatas lutut. Pria Mandar melengkapi busananya dengan melekatkan rantai emas yang diberi liontin atau medalion dari taring macan bahkan bisa juga terbuat dari taji ayam. pria Mandar menggunakan kopiah atau lazim disebut songkok tobone dengan warna yang serasi antara baju bagian atas dengan jas atau sarungnya. Sebagai kelompok masyarakat yang cukup konsisten dalam memelihara dan mempertahankan adat istiadat warisan nenek moyang mereka. Busana Tradisional Tana Toraja Tana Toraja Traditional Dress Penulis Mira Indiwara Pakan. Busana yang dikenakan oleh warga masyarakat Toraja dalam berbagai kesempatan. mulai dari aktivitas seharihari hingga yang bersifat ritual. secara tidak langsung juga dapat mempertahankan keberadaan berbagai aspek yang terkait erat di dalamnya. Untuk penututp kepala. Alas kaki yang dipakai biasanya sepatu pantovel atau sandal yang dibuat dari kulit. Pertama adalah yang berdasarkan adat rambu tuka. yakni pelaksanaan upacara adat yang erat kaitannya dengan suasana kegembiraan atau memiliki makna kebahagiaan. Busana pria Mandar lebih sederhana karena hanya terdiri dari baju jas tutup terbuat dari bahan sutera bercorak bebas dengan warna hitam atau warna cerah. busana misalnya. Misalnya dalam upacara panen padi. Hiasan tersebut diselipkan sebagian di saku jas tutupnya dan sebagian lagi dibiarkan menjuntai ke luar. Dengan tetap memelihara adat istiadat seperti itu. Bagaimana pun juga busana merupakan salah satu kelengkapan yang cukup penting dalam penyelenggaraan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan tradisi. tentu saja tidaklah heran bila hingga saat ini mereka masih tetap menyelenggarakan berbagai upacara adat dan tradisi lainnya. yakni busana pria dan busana wanita. Ria Andayani Somantri Toraja merupakan salah satu suku bangsa terbesar yang menempati kawasan Provinsi Sulawesi Selatan. Tana Toraja yang menjadi tempat menetap sebagian besar suku tersebut. berdasarkan adat rambu solo. Ketentuan adat di Toraja membedakan dua suasana yang menyertai penyelenggaraan berbagai upacara adat. memasuki rumah baru. terutama menggunakan warna kuning sebagai warna dasarnya. . pada dasarnya dapat dibedakan ke dalam dua jenis. Pada kesempatan seperti itu. dengan kekuatan tradisi dan adat istiadat sebagai daya tarik utamanya. busana yang dikenakan akan tampil warna-warni. Hanya saja hal penting yang memberi nuansa pada karakteristik busana tersebut adalah berkaitan dengan tujuan atau makna acaranya. tercatat sebagai tempat tujuan wisata budaya yang memiliki keunikan tersendiri. Sementara itu.

Cara mengenakan sarung-sarung tersebut cukup beragam. dengan perbedaan hanya terletak pada kualitas bahannya. Sementara itu. Celana yang dipakai oleh kaum pria. yakni sarung berwarna putih yang hanya dapat dipergunakan oleh kaum pria yang menempati kedudukan sosial tinggi. Selain memperlihatkan fungsi estetis. Aksesori di lengan terdiri atas gelang atau komba dalam berbagai bentuk dan cincin. diikatkan di pinggang atau. yakni ikat kepala. Secara umum. bisa dibiarkan terjurai hingga mata kaki. berhubungan erat dengan kedudukan sosial seseorang di dalam lingkungan masyarakatnya. pakaian resmi. khususnya para sesepuh masyarakat. busana adat pria Toraja terdiri atas baju atau bayu. Sementara itu. Kedua jenis tutup kepala yang disebutkan terakhir pun hanya dikenakan oleh mereka yang termasuk ke dalam lapisan atas. seperti yang terlihat pada penyelenggaraan upacara kematian dikenakan busana serba hitam. Ikat kepala ini biasanya dipakai oleh kaum pria dari keluarga yang sedang berkabung.upacara-upacara yang diadakan memiliki makna kesedihan. yakni tas kecil untuk menyimpan sirih. Cara memakai sarung untuk kaum wanita pun sangat sederhana. Selain itu. jenisnya dapat dibedakan menurut aktivitasnya. yaitu tutup kepala dari jenis tanaman tertentu yang dikenakan oleh para orang tua atau orang yang telah dewasa. oran-oran atau kalung berbentuk batang padi yang terbuat dari logam dan manik-manik. ada kalanya unsur perhiasan yang dikenakan oleh mereka pun memiliki makna simbolis tertentu. Passapu. busana adat wanita Toraja terdiri atas baju atau bayu untuk bagian atasnya. Bahkan akan disebut busana adat resmi para bangsawan Toraja. dan sarung atau sambuk. terutama digunakan pada acara-acara yang bersifat resmi seperti pertemuan dan pesta. bila penampilannya dilengkapi dengan jas hitam dan destar atau tutup kepala. rara. dan pa`toko. Perhiasan di leher meliputi beraneka macam kalung seperti rnastura. hanya dengan cara melipatnya dari sebelah kiri ke sebelah kanan. perak. dan sarung atau dodo untuk bagian bawahnya. yakni semacam tutup kepala yang terbuat dari kulit bambu dan dipakai oleh anak muda. yaitu baju dengan bentuk lengan yang sangat ketat atau pas menempel di tangan serta tingginya di atas sikut. Bila baju tersebut berlengan pendek maka dinamakan kondi limanan. tali-tali biang. Perhiasan dari manik-manik yang dipakai di bahu disebut sokong bayu. Baju tersebut dikenakan sebagai pakaian sehari-hari. atau pakaian pesta. pinggang. Kaum wanita Toraja tampaknya cukup gandrung mengenakan perhiasan untuk menambah keindahan penampilan mereka dalam berbusana. Sama halnya dengan sarung. dalam acara adat orang meninggal. sebagai bagian integral dari busana adat pria. Adapun jika berlengan panjang disebut kalando limanan. dan passapo timbo. biasanya disertai dengan sarung yang dinamakan dodo. Beberapa contoh asesoris yang terletak di kepala di antaranya sa`pi. dan tali banu . yaitu keris yang dibawa pada waktu mereka akan menikah. atau hanya disampirkan di bahu. Penggunaan semua jenis baju yang telah disebutkan tadi. Pertama bayu poko. yang disebut sambuk langkan. yang bisa dikenakan oleh siapa pun disebut pote. tas pinggang yang berfungsi sebagai ikat pinggang tempat menaruh pedang atu parang. leher. ada juga sarung yang hanya berfungsi sebagai penghangat badan. mulai dari hiasan di kepala. seperti di sawah dan membangun rumah. Sarung. bahu. yang khusus digunakan pada saat bekerja. yaitu jenis baju yang biasa digunakan oleh wanita tua pada saat cuaca sedang dingin. Untuk bekerja menggunakan celana pendek dan untuk kesempatan resmi memakai celana panjang. Selain itu. ada juga tas kecil atau sepu. atau tembaga dan. tali pang`kabi. tutup kepala. adalah tutup kepala yang terbuat dari kain batik dan hanya digunakan oleh golongan bangsawan. yakni kalung yang terbuat dari emas. hingga jari jemari. dan sarong atau tudung kepala. celana atau sepa tallu buku. Misalnya sambuk busa. Berdasarkan fungsinya. keberadaan tutup kepala pun beragam pula jenisnya dan berbeda pula peruntukannya. baju wanita dibedakan ke dalam tiga model. Kedua bayu bussuk siku. sepu. yakni baju berlengan sangat pendek hingga mendekati bahu pemakainya dan dipakai untuk bekerja di dapur atau di sawah. yaitu hiasan pada sanggul. Ketiga adalah bayu kalandon limanan. Baju yang dikenakan oleh kaum pria Toraja dapat dibedakan ke dalam dua model. manik kata. yakni . lengan. Terbukti dari beragamnya aksesori yang biasa dikenakan oleh mereka. dan yang diletakkan di pinggang dinamakan ambero. Perhiasan dan kelengkapan busana lainnya yang dipakai oleh para pria Toraja meliputi manik kata dan rara atau perhiasan sejenis kalung.

Oleh karena itu. dan Kerajaan Kaidipang Besar. Keempat kerajaan tersebut terdiri atas Kerajaan Bolaang Mongondow. ketentuan adat mengatur setiap anggota masyarakat agar menggunakan busana sesuai dengan kedudukan nya. Pada masa itu. Secara historis wilayah ini terbentuk dari penggabungan empat kerajaan yang hidup pada masa penjajahan Belanda. Struktur masyarakat dengan kehidupan bernuansa kerajaan pada waktu itu.tempat menyimpan peralatan menginang yang biasanya digantungkan di bahu. menghadiri undangan-undangan resmi. Aktualisasi dari semua itu. melahirkan stratifikasi sosial yang tegas. busana bayi. Busana yang pada umumnya dikenakan oleh kaum bangsawan terlihat lebih beragam bila dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. Bintauna. Bolaang Uki. atau yang kini lebih dikenal sebagai busana adat tradisional mereka. Masyarakat terbagi ke dalam beberapa lapisan sosial. tampak jelas antara lain pada busana warga masyarakat daerah Bolaang Mongondow yang dikenakan pada kesempatan-kesempatan tertentu. Beberapa contoh di antaranya adalah busana kebesaran raja atau busana yang dipakai oleh golongan bangsawan pada saat berlangsung upacara penobatan raja. Adapun keris atau gayang. mulai dari golongan rakyat biasa hingga kaum bangsawan yang menempati kedudukan paling tinggi di dalam masyarakat. atau busana yang khusus digunakan untuk bekerja. tidaklah heran bila busana adat mereka relatif lebih banyak karena setiap lapisan masyarakat memiliki busana tersendiri. Hal ini dikarenakan kegiatan sosial mereka yang sarat dengan acaraacara seremonial. busana . yang berhubungan dengan kegiatan kerajaan maupun yang berkaitan dengan upacara di seputar lingkaran hidup mereka. menerima tamu-tamu kerajaan. merupakan kelengkapan busana yang harus dibawa pada saat seorang wanita menikah. sangat erat kaitannya dengan latar belakang kehidupan masyarakat pada masa lalu. Busana Tradisional Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Busana adat tradisional daerah Bolaang Mongondow.

informasi di balik keberadaan busana tersebut memang selayaknya tidak sirna. mereka yang termasuk ke dalam lapisan kohongian atau golongan simpal tidak mengenakan perhiasan yang terbuat dari emas melainkan perhiasan perak. pemilihan warna sangat dominan untuk mengekspresikan emosi mereka pada saat-saat seperti itu. ada beberapa contoh busana adat lainnya yang dipakai oleh mereka yang berasal dari golongan di luar bangsawan. Sementara itu. Khusus mengenai perhiasan. ungu. Kesederhanaan tersebut tampak dari kulitas bahan yang dipakai. Semakin rendah status seseorang di dalam tingkatan sosial masyarakatnya. busana yang dikenakan oleh kaum wanita terdiri atas kain dan kebaya atau salu. Dalam hal ini. Di samping itu. Misalnya. Sama halnya dengan busana kohongian. terdapat berbagai perbedaan pendapat mengenai hal tersebut. Pada umumnya. atau bahkan berhubungan erat dengan sejumlah fenomena sosial pada masa itu. Bahkan akan jauh lebih sederhana lagi pada busana adat yang boleh dikenakan oleh rakyat biasa. tepatnya digunakan pada upacara perkawinan. Beberapa di antaranya berkaitan dengan sistem kepercayaan. Hal tersebut terletak pada detil pakaian. dan busana yang dikenakan pada saat upacara kehamilan dan kematian. serta aksesorinya. busana simpal. Adapun busana yang biasa dikenakan oleh anggota masyarakat di luar golongan bangsawan. juga ada larangan untuk mengenakan berbagai perhiasan jenis apa pun. ada bagian busana yang dapat membedakan kedudukan seseorang. keemaasan. Ada . tentu saja tampilannya berbeda dengan busana milik para bangsawan. busana simpal pun dikenakan pada upacara perkawinan. Selain busana kebesaran seperti itu. nama Sangir-Talaud secara keseluruhan berarti orang yang berasal dari laut atau samudra. Keberanian dalam memilih warna-warna busana yang terang dan mencolok seperti merah. busana kohongian. Kekhasan lain yang tampak istimewa terletak pada ikat kepala pria yang menjulang tinggi. dan hijau dipadu dengan aksesori yang terbuat dari emas. Melihat wujud busana adat tradsional daerah Bolaang Mongondow. serta kualitas bahan yang paling baik. memang tidak terlepas dari simbolisasi sebuah makna yang ingin disampaikan. pengantin wanita maupun pengantin pria. tampak pengaruh Melayu begitu kental dan dominan mewarnai tampilannya. celana dan sarung tenun. seakan ingin mengukuhkan kedudukan mereka yang menempati tingkatan sosial tertinggi.pengantin. sistem religi. yakni busana yang pada masa itu dikenakan oleh anggota masyarakat yang menempati status sosial satu tingkat di bawah kaum bangsawan. baju atau baniang. kuning. Selain itu. busana adat yang dikenakan oleh kaum bangsawan maupun golongan masyarakat lainnya tampak serupa. tidak diragukan lagi melahirkan satu sosok busana yang cukup indah dan menawan. ketinggian ikat kepala akan lebih rendah daripada ikat kepala yang dipakai oleh kaum bangsawan. yakni busana berwarna hitam yang dikenakan pada waktu menghadiri upacara kematian. Pemilihan dan penentuan unsur berikut kelengkapan busana adat tradisional daerah tersebut. Salah satunya tampak pada busana kebesaran raja berikut busana pengantinnya. yaitu busana kerja para pemangku adat yang dipakai pada saat berlangsung upacara-upacara kerajaan. Dalam hal ikat kepala pria misalnya. Secara umum. Sama pula halnya dengan aksesorinya yang demikian lengkap. ada juga busana rakyat biasa yang kerapkali tampak pada saat melakukan panen padi. Detil yang tampak pada busana mereka memang lebih banyak bila dibandingkan dengan busana dari kelompok masyarakt lainnya. para bangsawan pun memiliki busana kedukaan. semakin sederhana pula busana yang mereka miliki. detil busana. Sedangkan menurut asal-usulnya. kelengkapan aksesori yang menempel pada tubuh. Busana kerja guha-ngea. yaitu busana yang khusus digunakan oleh warga masyarakat yang termasuk ke dalam golongan pendamping pemerintah dalam kerajaan. Dalam hal ini. Meskipun saat ini pemahaman warga masyarakat Bolaang Mongondow terhadap fungsi busana adat tradisional mereka tidak setegas dahulu. Busana Tradisional Sangir-Talaud Sangir-Talaud Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Menurut asal katanya. serta kualitas bahan yang digunakan. Akan tetapi. sedangkan busana kaum prianya meliputi ikat kepala atau mangilenso. busana adat tradisional kaum bangsawan tampil dengan satu citra tersendiri.

hijau. Saat ini. dan terbelah di tengah pada bagian belakangnya. penasbihan desa. untuk kaum pria bisa mencapai telapak kaki atau hanya sebatas lutut. atau bahkan untuk pakaian sehari-hari. kaum pria mengenakan busana adat yang terdiri atas baju panjang. bagian yang menjulangnya diletakkan di bagian depan kepala. Dalam hal ini upacara perkawinan merupakan satu momen yang dapat memperlihatkan busana adat daerah Sangir-Talaud secara lengkap. Namun warna yang dipakai masih tetap mengacu pada tradisi sebelumnya. Khusus untuk ikat kepala. ikat pinggang atau salikuku yang terbuat dari kain dengan simpul ikatan ditempatkan di sebelah kiri pinggang. di kanan kiri baju terdapat belahan yang tingginya mencapai pinggul. Ada busana adat yang sering dikenakan dalam berbagai kesempatan yang erat kaitannya dengan tradisi masyarakat setempat seperti perkawinan. Keberadaan ikat kepala di sini biasanya melambangkan status atau kedudukan seseorang di tengah-tengah masyarakat. Kelengkapan buasana lainnya yang dipakai oleh mempelai wanita adalah sepatu atau sandal. Dalam hal ini. busana adat pengantin wanita terdiri atas kain sarung lengkap dengan baju panjang atau laku tepu yang berlengan panjang. sunting (topotopo) yang dipasang tegak lurus pada konde di atas kepala. ikat pinggang. Namun saat ini. penduduk keturunan bangsa Filipina. atau merah darah. krah baju berbentuk bulat dan terbelah di bagian depannya. yakni warna terang dan mencolok. pemakaiannya disampirkan di bahu kanan melingkar ke kiri dengan salah satu ujungnya terurai sampai ke tanah. kekhasan lainnya juga tampak pada kelengkapan busana yang dikenakan pada upacaraupacara ritual maupun formal lainnya. Adapun ujungnya diikatkan di belakang kepala. keberadaan kain sarung yang dikenakan untuk menutup badan bagian bawah. Setiap kerajaan selalu berusaha memperluas wilayah dan pengaruhnya dengan mengadakan perkawinan penduduk antarkerajaan. dan yang teristimewa di sini adalah ikat kepala. celana panjang. Nama busana tersebut adalah laku tepu. dengan penutup bagian bawahnya menggunakan kain sarung. penduduk Sangir-Talaud terbagi ke dalam beberapa kerajaan kecil yang tersebar di seluruh Kepulauan SangirTalaud. Laku tepu pada umumnya berwarna terang dan mencolok se-perti merah. ungu. kuning. serta selendang (bawandang liku). yakni baju panjang yang biasa dikenakan oleh wanita maupun pria. orang Sangir-Talaud saat ini merupakan sekelompok masyarakat yang menempati wilayah Sulawesi Utara Sekitar abad ke-16. Untuk kaum wanita panjangnya bisa mencapai betis. krah baju berbentuk bulat. dan ikat kepala berbentuk segitiga. kalung panjang bersusun tiga yang disebut soko u wanua. ada beberapa contoh ikat kepala yang melambangkan status sosial pemakainya seperti paporong lingkaheng yang melambangkan pemakainya tidak . pada zaman dulu terbuat dari kain . Satu hal yang cukup penting dan dapat membedakan upacara yang satu dengan yang lainnya adalah kelengkapan busana. sebagai penduduk asli Sulawesi Utara. atau bahkan campuran dari sejumlah suku bangsa tertentu. pemakaian ikat kepala sebagai simbol pembeda status sosial seseorang masih tetap berlaku. Selain pada kelengkapan busana pengantin. dan hijau tua. sebelum dijahit harus dicelupkan ke dalam cairan air nira untuk warna merah misalnya. antinganting. Namun terlepas dari semua itu. keris (sandang) yang diselipkan di pinggang sebelah kanan. Kelengkapan busana yang dikenakan oleh pengantin pria meliputi kalung panjang atau soko u wanua. dan daun-daunan atau akar-akaran tertentu yang dapat menghasilkan warna biru. Baju jenis ini. dengan celana panjang sebagai penutup pada bagian bawahnya. Busana adat pengantin pria terdiri atas celana panjang dan laku tepu yang panjangnya hingga lutut atau telapak kaki.yang menyebutnya sebagai bagian dari rumpun bangsa Melayu-Polenisia yang berpindah lewat Ternate. kerap diganti dengan rok panjang yang sudah dilipit (plooi).kofo dengan dua bahan baku utamanya adalah serat manila hennep dan serat kulit kayu. Hingga saat ini. kuning tua. Khusus untuk selendang. Untuk mendapatkan warna yang diinginkan. dan ujung yang satunya lagi dapat dipegang. Perbedaannya hanya terletak pada ukuran panjang baju dan pasangannya. Pada saat menghadiri acaraacara tersebut. peminangan. Sementara itu. gelang. Sementara itu. serta berlengan panjang. Keberadaan kerajaan-kerjaan itu sendiri memberi nuansa yang khas pada kebiasaan warga masyarakatnya dalam hal berbusana. keberadaan kain kofo telah digantikan dengan berbagai bahan lainnya yang sesuai untuk dibuat baju panjang.

Pemakaian dengan cara seperti ini dilakukan pula oleh seorang gadis yang akan menikah. Berbeda halnya dengan cara memakai selendang yang dilakukan oleh para istri bangsawan. paporong datu bouwawina. yang panjangnya mencapai dua meter dengan lebar 15 sentimeter. yakni dengan menempatkan selendang sebelah menyebelah bahu. biasanya mengenakan selendang yang terbuat dari kain kofo berwarna kuning tua dan merah. yakni hanya dengan menyampirkannya di bahu sebelah kanan. Seperti halnya ikat kepala pada busana adat pria. Selendang tersebut dinamakan kaduku. busana adat yang dikenakan oleh kaum wanita pada berbagai upacara ritual atau acara formal meliputi baju panjang berikut pelengkap utamanya yaitu selendang. . yang menandakan pemakainya seorang pegawai pemerintah. dan beberapa jenis ikat kepala untuk para penari. Sebelum kedatangan bangsa Eropa. daerah Gorontalo sudah mendapat pengaruh dari Ternate.memiliki kedudukan di dalam masyarakat. Sementara itu. Busana Tradisional Gorontalo Gorontalo Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Gorontalo adalah salah satu suku bangsa yang tinggal di wilayah Sulawesi Utara. yang disebut hulontalangi. Perbedaan status sosial yang ada di dalamnya tampak pada cara pemakaian selendang. yakni ikat kepala yang digunakan oleh raja atau pejabat pemerintah tertinggi. Seorang wanita yang berstatus sebagai permaisuri. Sekarang wilayah itu termasuk dalam wilayah administratif Daerah Tingkat II Kabupaten Gorontalo dan Kodya Gorontalo. Cara memakainya. Mereka percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari pengembara yang turun dari langit. selendang memiliki makna simbolis yang erat kaitannya dengan status sosial pemakainya. paporong tingkulu. hanya saja pada bagian kepalanya diberi atau disematkan perhiasan tertentu.

disebut hotu. Perbedaan ketiga jenis baju ini terletak pada panjang dan pendeknya lengan baju. merah. Busana ini bagi wanita Gorontalo dapat melambangkan peralihan dari masa remaja ke masa ibu rumah tangga. Sehingga. demikian juga dengan busana yang dipakai oleh pengantin wanita. Bentuk baju sama dengan baju kemeja lengan panjang. Di bagian depan baju diberi kancing dan tiga buah saku. Pada bagian depan baju diberi selembar kain yang dirempel. Tahap kedua dalam masa perkawinan adat Gorontalo adalah akad nikah (akaji). hijau. seperti kain lapis dada warna hitam yang dihiasi kuning emas. satu di kiri atas dan sisanya di bawah. biasanya mempelai pria hanya tinggal di rumah dengan memakai busana bebas. kalau berbicara mengenai busana adat. Jenis aksesori yang dipakai pada baju takowa adalah payunga. disebut hamsei. brokat atau jenis bahan lainnya yang sesuai.Tidore dan Bugis yang datang lebih dulu. sedangkan bagian lainnya diberi hiasan warna kuning keemasan. Bentuk baju madipungu adalah baju blus lengan panjang seperti baju kurung dengan model pada bagian leher membentuk huruf "V". Busana bagian bawah berupa sarung atau rok panjang yang dipakai di luar baju. Bentuk sunthi biasanya menyerupai kepala burung. Perhiasan dan aksesori yang dipakai pada busana ini adalah tusuk konde (sunthi) yang dibuat dari logam yang disepuh keemasan terdiri dari 12 buah. seperti kuning. dan hiasan emas pada baju dan kain (tambio). Warna baju yang umumnya dipakai adalah warna-warna terang dan mencolok. maka acuannya adalah busana yang dikenakan pada upacara-upacara resmi. yaitu tutup kepala yang dihiasi kain warna-warni. kain beludru warna hitam yang menempel di leher. Kelengkapan busana madipungu terdiri dari baju. yaitu penyerahan sejumlah harta berupa uang atau barang kepada pihak mempelai wanita. rante madale (kalung leher) dan padeta (gelang) yang melekat di kedua pergelangan tangan. Bahan yang digunakan biasanya kain satin. Sedangkan perhiasan yang dipakai adalah sunthi (tusuk konde) dan huheyidu (hiasan rambut) pada bagian kepala. Tahap pertama adalah upacara mengantar harta (modutu). ungu dan merah hati. oleh karena itu disebut sunthi burungi. Sedangkan pada kedua sisi kiri dan kanan celana ditempeli pita warna kuning keemasan disebut pihi. disebut wolimomo. Bahan baju wolimomo terbuat dari jenis kain beludru. sedangkan mempelai wanita memakai busana pengantin. kuning. Bagian dada baju dan saku diberi hiasan corak kain krawang dengan memakai benang emas. Warna celana yang dipakai biasanya sama dengan baju atas. beludru. tetapi kerahnya berdiri tegak. Aksesori yang menempel di baju maupun perhiasan yang dikenakan menunjukkan status pemakainya. . Warna yang dipilih adalah salah satu dari warna merah. Aksesori lainnya adalah ikat pinggang (etango). Pada upacara ini. brokat atau bahan kain lainnya. selimut (waluto). hijau dan ungu. Sama halnya yang dialami dengan pembuatan bahan sandang. kain sarung dan berbagai aksesori. Busana Adat Perkawinan Dalam melaksanakan rangkaian upacara adat perkawinan pada masyarakat Gorontalo. yang terbuat dari emas sepuhan serta keris pusaka (patatimbo) yang diselipkan di bagian depan pinggang. Seperti halnya baju. Busana yang dipakai oleh pengantin wanita adalah baju madipungu. Busana adat perkawinan pada masyarakat Gorontalo sangat kaya akan berbagai perhiasan yang dikenakannya. Kelengkapan pada baju madipungu biasanya berupa aksesori. bisa juga memakai baju gelenggo atau boqo tunggohu. cara berbusana orang Gorontalo pun dari masa ke masa mengalami perkembangan. Busana wolimomo terdiri dari baju blus berlengan pendek seperti bolero dan kain sarung. celana panjang (talala) dan aksesori. Pilihan warna itu menunjukkan bahwa di masa dulu pernah terdapat lima kerajaan di Gorontalo. pengantin wanita maupun pria memakai beberapa jenis busana yang disesuaikan dengan tahapan upacara. Hat ini terlihat dari agama Islam yang dianut dan cara berpakaian. Busana pria yang dikenakan pada acara akad nikah adalah baju boqo takowa atau takowa. seperti menghadiri pesta atau busana yang dipakai oleh mempelai dalam suatu upacara perkawinan. celana panjang juga diberi hiasan tambio (hiasan corak keemasan).

yaitu mulai dari bentuk celana pendek sampai celana panjang seperti bentuk celana piyama. Busana Tradisional Minahasa Minahasa Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Minahasa adalah salah satu suku bangsa yang mendiami wilayah Propinsi Sulawesi Utara. Pada busana pria pengaruh Cina tidak begitu tampak Baju Ikan Duyung Pada upacara perkawinan. Potongan baju tatutu adalah berlengan panjang. baju tanpa lengan dan bentuknya lurus. disebut model kaki seribu dan sarong motif bunga. yaitu sama dengan baju takowa yang terdiri dari baju dan celana panjang. Celana yang dipakai masih sederhana. ujung lengan dan sepanjang ujung baju bagian depan yang terbelah. berwarna hitam terbuat dari ijuk. seperti motif biasa. Motif dalam busana ini adalah motif bunga padi. disebut model salimburung. Selain itu. Model busana pengantin wanita ini dinamakan baju ikan duyung. selendang pinggang dan kedua lengan baju. bintang. leher baju. Busana pria pengaruh Spanyol adalah baju lengan panjang (baniang) yang modelnya berubah menyerupai jas tutup dengan celana panjang. . Perbedaannya terletak pada aksesori dan perhiasan yang digunakan. disebut laborci-laborci. Di masa lalu busana sehari-hari wanita Minahasa terdiri dari baju sejenis kebaya. Dalam kehidupan sehari-hari ada kecenderungan bagi suku bangsa Minahasa untuk menyebut diri mereka sebagai orang Manado. kalung leher (kelana). Warna baju hitam dengan hiasan motif bunga padi pada leher baju. Aksesori yang dipakai dalam busana pengantin wanita adalah sanggul atau bentuk konde. pengantin wanita mengenakan busana yang terdiri dari baju kebaya warna putih dan kain sarong bersulam warna putih dengan sulaman motif sisik ikan. memakai krah dan saku disebut baju baniang. Sebagai kelengkapan baju dipakai topi warna merah yang dihiasi motif bunga padi warna kuning keemasan pula.Rangkaian terakhir dari upacara perkawinan adat Gorontalo adalah bersanding di pelaminan (mopo pipide). Sedangkan pengaruh Cina adalah kebaya warna putih dengan kain batik Cina dengan motif burung dan bunga-bungaan. sarong motif kaki seribu. selendang pinggang dan topi (porong). Pada perkembangan selanjutnya busana Minahasa mendapatkan pengaruh dari bangsa Eropa dan Cina. Sedangkan busana pengantin pria memakai baju paluwala. Selain sarong yang bermotifkan ikan duyung. yang bahannya terbuat dari tenunan bentenan. yang terdapat pada hiasan topi. lebih lengkap dan menunjukkan keagungan. aksesori dan perhiasan. Semua motif berwarna kuning keemasan. Konde yang menggunakan 9 bunga Manduru putih disebut konde lumalundung. terdiri atas baju lengan panjang. tidak memiliki krah dan saku. Busana pengantin baju jas tertutup ini. mereka pun memakai blus atau gaun yang disebut pasalongan rinegetan. kalung mutiara (simban). kain panjang atau sekarang dapat diganti dengan rok panjang. Busana wanita yang memperoleh pengaruh kebudayaan Spanyol terdiri dari baju kebaya lengan panjang dengan rok yang bervariasi. Motif Mahkota pun bermacam-macam. disebut wuyang (pakaian kulit kayu). Busana Pemuka Adat Busana Tonaas Wangko adalah baju kemeja lengan panjang berkerah tinggi. Aksesori tersebut mempunyai berbagai variasi bentuk dan motif. berkancing tanpa saku. Selain baju karai. disebut busana tatutu. anting dan gelang. potongan baju lurus. Pengantin pria memakai busana yang terdiri dari baju jas tertutup atau terbuka. terdapat juga sarong motif sarang burung. ada juga bentuk baju yang berlengan panjang. Busana kebesaran ini disebut biliu. Bahan baju ini terbuat dari kain blacu warna putih. celana panjang. sedangkan Konde yang memakai 5 tangkai kembang goyang disebut konde pinkan. Sedangkan kaum pria memakai baju karai. sayap burung cendrawasih dan motif ekor burung cendrawasih. mahkota (kronci). Busana yang dipakai oleh pengantin wanita adalah busana kebesaran yang dipakai oleh istri raja di jaman dulu.

Umumnya. selop. kain sarong batik warna gelap dan topi mahkota (kronci). yang dibuat dari lilitan dua buah kain berwarna merahhitam dan kuning-emas. juga untuk menyelipkan senjata tajam. Sarung yang mereka pakai umumnya berwarna merah. Warna baju umumnya putih. hanya saja lebih panjang seperti jubah. Sarung yang dipakai. memakai baju kebaya panjang warna putih atau ungu.Busana Walian Wangko pria merupakan modifikasi bentuk dari baju Tonaas Wangko. dan kain ikat pinggang yang disebut simpulan kagogo. Busana Tradisional Muna Muna Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Pakaian sehari-hari atau di rumah yang dikenakan oleh kaum pria terdiri atas baju (bhadu). dunia dan alam baka. Hiasan yang dipakai adalah motif bunga terompet. dan berkerah. Kalangan wanita mengenakan busana yang terdiri atas bhadu. untuk pakaian sehari-hari di rumah. Ikat kepala yang dipakai berupa kain bercorak batik. Bahan baju terbuat dari kain satin warna merah atau biru. celana (sala) dan kopiah (songko) atau dapat diganti dengan ikat kepala (kampurui). Sarung kedua untuk membalut baju. Potongan baju tanpa kerah dan kancing. Fungsi ikat pinggang ini selain untuk penguat sarung agar tidak mudah lepas. yang dililitkan di dada menjurai sampai dengan di atas lutut. bagi warga maupun aparatur pemertintah setempat. Warna baju putih dengan hiasan corak bunga padi. gelang yang terbuat dari logam warna putih atau kuning dikenakan pada kaki. yaitu terdapat kancing. sarung (bheta). Bentuk dan jenis busana Tonaas dan Walian Wangko inilah yang kemudian menjadi model dari jenis-jenis pakaian adat Minahasa untuk berbagai keperluan upacara. biasanya berwarna merah bercorak geometris horizontal berwarna hitam. busana adat tersebut menumbuhkan kebanggaan bagi masyarakatnya. biru. perlambang penyatuan 2 unsur alam. hitam. Perhiasan yang dipakai sebagai kelengkapannya adalah kalung bulat yang terbuat dari logam untuk bagian leher. Sedangkan Walian Wangko wanita. wanita Muna memakai baju berlengan pendek yang disebut kuta kutango. Gelang yang terbuat dari emas dipakai pada tangan. selain dipakai untuk bepergian dapat juga dipakai untuk menghadiri . saku. Sarung yang dipakai oleh wanita terdiri atas tiga lapis. yaitu langit dan bumi. Baju yang dipakai berlengan pendek dengan model baju seperti sekarang. Dilengkapi topi porong nimiles. Selain sebagai penunjuk identitas kebudayaan. Bentuk baju dapat berupa baju berlengan pendek dan baju berlengan panjang dengan lubang pada bagian atas baju untuk memasukkan kepala. sedangkan lubang leher dengan warna kuning emas. Sedangkan ikat pinggang terbuat dari logam berwarna kuning. kalung leher dan sanggul. Baju katango ini. Sarung ketiga atau paling atas digulung melilit dada terkepit ketiak. Jenis-jenis dan bentuk busana di atas merupakan kekayaan budaya Minahasa yang tak ternilai harganya. coklat atau warna gelap lainnya dengan corak garis-garis horizontal. Busana ini dapat juga dipakai pada saat berpergian. bheta. dan ujung lilitannya dipegang oleh salah satu tangan. Lapisan dalam adalah sarung atau rok warna putih yang dililitkan di pinggang. Baju berlengan pendek ini diberi hiasan renda pada setiap ujung lengan. Dilengkapi selempang warna kuning atau merah.

Pakaian ajo tandaki terdiri atas mahkota. kalung (tongko). Busana Tradisional Buton Penulis Jaya Purnawijaya Pakaian keseharian orang kebanyakan (golongan walaka) disebut pakaian biru-biru. Selain pakaian sehari-hari. cincin dan anting yang terbuat dari emas. Hiasan sanggul terbuat dari kain atau logam yang berwarna kuning membentuk kembang cempaka. manik-manik.. Tandaki adalah mahkota. bheta.pesta-pesta upacara adat atau menerima tamu. Pada sanggul dililitkan pita dari kain berwarna merah atau warna baju yang dipakainya. Penulis Mira Indiwara Pakan . selendang (salenda). Mahkota dibuat dari kain merah. gadis yang dipingit diharuskan memakai busana kalambe yang terdiri atas baju kambowa. Berbusana secara lengkap berikut berbagai perhiasannya juga dikenakan oleh kaum wanita yang akan menghadiri upacara resmi. Perhiasan yang dipakai terdiri atas gelang tangan (simbi). sarung dua lapis. perkawinan misalnya. dan anak yang boleh memakainya harus berasal dari golongan masyarakat bangsawan (kaomu). Perhiasan yang digunakan adalah sanggul yang diberi hiasan. Mereka memakai baju kambowa serta sarung yang bermotif (bia-bia itanu kumbea). Sanggul seperti ini disebut popungu kelu-kelu. tusuk konde (panto). Agar sarung tampak kuat. Selain itu. anting-anting di telinga dan kalung menghiasi leher. anting-anting (dali). dan perhiasan logam. dan ikat pinggang (sulepe). dan kain bersulam benang emas berbentuk pita (kabunsale). Sementara itu upacara sunatan sebagai bagian penting dari upacara daur hidup seorang pria sbelum mencapai usia remaja atau dewasa. Kelengkapan busana ini hanya dipakai oleh kalangan wanita bangsawan (kaomu). gelang kaki (kurondo). terdiri atas sarung dan ikat kepala tanpa baju. masyarakat Buton pun memiliki pakaian khusus yang dikenakan pada saat berlangsung upacara adat tertentu. dan ikat pinggang (sulepe). Pakaian sehari-hari di kalangan wanita disebut baju kombowa. sarung berhias (bia ibolaki). Dalam upacara ini. Bentuk bhadu dan bheta yang dikenakan pada upacara ini. Ciri seorang gadis yang sudah dipingit adalah memakai gelang yang sudah dihiasi manik-manik pada pergelangan kirinya disebut kabokena limo. Sarung yang di dalam dililitkan pada pinggang lebih panjang dari pada sarung yang di luar (tampak berlapis). Anak yang akan disunat ini memakai busana adat yang dinamakan ajo tandaki. Ikat kepala dililitkan di tengah kepala sehingga membentuk lipatan-lipatan yang meninggi di sebelah kanan kepala. Salah satu upacara adat yang hingga saat ini masih dipertahankan oleh masyarakat Muna adalah upacara pingitan gadis (karia). Perhiasan lainnya adalah gelang di kedua belah tangan. Upacara posuo merupakan salah satu upacara yang harus dilalui oleh seorang gadis yang telah menginjak dewasa. Kedua sarung tersebut dililitkan di atas pinggang. Bentuk baju berlengan pendek dan tidak berkancing. maka dililitkan kain ikat pinggang yang diberi hiasan jambuljambul atau rumbai-rumbai disebut kabokena tango. yang disebut biru-biru. bercorak sama tetapi dengan warna berbeda. terdiri atas unsur pakaian baju dan kain sarung motif kotak-kotak kecil yang disebut bia-bia itanu. Sedangkan perhiasan yang terdapat pada sanggul adalah pita pengikat konde (kawutu). khususnya yang berhubungan dengan daur hidup manusia. ikat pinggang. Pada upacara tersebut. dengan penguat lilitan selembar kain ikat pinggang. bulu burung cendrawasih dan berbagai hiasan dari logam. Sarung yang dikenakan ada dua. Perhiasan yang dipakai adalah ikat pinggang (sulepe) terbuat dari logam. seorang gadis memakai busana adat beserta perhiasannya yang terdiri dari bhadu. Dua diantaranya yang adalah upacara memingit gadis yang disebut posuo dan upacara sunatan. perhiasan yang dipakai adalah gelang. Perbedaannya hanya pada tata rias dan perhiasan yang dikenakannya. Adapun yang membedakannya dengan busana untuk upacara lain adalah terletak pada penggunaan perhiasan. Sarung dililitkan di pinggang membalut atau menutupi sebagian baju. dan sanggul. Cara melilitkan ikat pinggang tersebut diatur sedemikian rupa agar rumbai-rumbai tersebut berada di depan. sebetulnya tidak berbeda dengan busana sehari-hari wanita Muna.

bangsawan (toguua mungana). kaum wanita Kaili kerapkali mengenakan kelengkapan busana lainnya yang cukup khas seperti ikat kepala dan tudung kepala. Baju gembe adalah baju yang memiliki bentuk dan potongan sejenis dengan baju bodo yang terdapat dalam kebudayaan Bugis. baju gembe. Busana adat wanita Kaili dapat dibedakan ke dalam tiga jenis model baju. yakni kain yang terbuat dari serat kulit kayu. lebih halus dan dilengkapi dengan hiasan yang berupa aplikasi beraneka warna. Selain baju-baju tersebut. kelengkapan busana berikut aksesori lainnya pun tidak kalah bervariasinya. Keduanya sama-sama berleher bundar dan tanpa krah pada baju bagian atasnya. Untuk mempercantik penampilan mereka dalam berbusana. Sementara itu. pending. sistem pelapisan tersebut tidak lagi bertahan sepenuhnya. Oleh karena itu. yakni bentuk sanggul tanduk yang biasanya diletakkan di bagian belakang kepala. Berbicara mengenai perhiasan yang biasa dipasang pada bagian kepala kaum wanita Kaili. Sementara itu. Model sanggul seperti ini akan tampak pada saat wanita Kaili melakukan berbagai rutinitas kegiatan sehari-hari mereka. yakni model sanggul dengan ciri khasnya terletak pada ujung rambut yang disanggul sedikit diuraikan ke bagian samping hingga mencapai bahu. dengan bahan bakunya berasal dari rotan yang dianyam sedemikian rupa. kalung panjang. Bahan baju tersebut beradal dari kain fuya. ada belahan pada bagian dadanya dan diberi sejumlah kancing. Secara fisik. berlengan panjang dengan kancing pada bagian pergelangan tangannya. tudung kepala yang biasa dikenakan oleh kaum wanita tersebut berbentuk seperti kerucut. bermacam-macam gelang mulai dari lengan hingga siku mereka. Adapun gambaran mengenai baju pasua adalah jenis baju yang memiliki bentuk leher bundar. yakni baju yang berlengan panjang dan baju yang berlengan pendek. Masyarakat di tempat tersebut menamakan ikat kepala yang biasa dikenakan oleh kaum wanita dengan sebutan tali bonto. Meskipun saat ini. . kain fuya yang digunakan agak kasar. Busana wanita Kaili. Untuk keperluan pakaian sehari-hari. yakni bentuk sanggul yang didapatkan dengan cara menyisipkan gulungan rambut mereka ke dalam rambut itu sendiri. Namun kini kain fuya telah ditinggalkan dan diganti dengan bahan katun atau jenis kain lainnya yang dapat dibeli dengan mudah. ada tiga model sanggul yang senantiasa ditampilkan oleh para wanita kaili. mereka mengenakan tudung kepala pada saat melakukan kegiatan sehari-hari. Selain memiliki busana yang cukup beragam. pada zaman dahulu terdiri atas kain sarung lengkap dengan bajunya yang berupa blus berlengan pendek. Ada golongan raja (maradika). dan budak (batua). dan baju pasua. Biasanya. Berbicara mengenai busana adat masyarakat Kaili tampaknya akan lebih didominasi oleh busana yang biasa dikenakan oleh kaum wanitanya. tak lupa dikenakan perhiasan-perhiasan sebagai pelengkapnya. Busana yang disebut dengan baju poko itu sendiri ada dua macam. yakni baju poko. sekalipun itu tidak banyak. rakyat kebanyakan (todea). Pertama adalah unte tandu. atribut tersebut masih dapat ditemukan dalam beberapa hat. sangat erat dengan kebiasaan mereka yang gemar menyanggul rambut. perhiasan yang dipilihnya terbuat dari manik-manik atau bahkan juga terbuat dari emas. pembungkus hasta dan pergelangan tangan. Jenis sanggul seperti ini hanya diperuntukkan bagi para pengantin wanita saja. Lain halnya dengan kain fuya yang digunakan untuk membuat busana pesta. tidak heran bila di daerah tersebut terdapat beraneka ragam jenis sanggul. dan hiasan untuk penutup rambut.Kaili merupakan salah satu suku bangsa yang menempati wilayah Provinsi Sulawesi Tengah. gambaran mengenai busana adat pria Kaili tampak jauh lebih sederhana. Model rambut yang paling terakhir disebut unte pambeo. Paling tidak. Jenis sanggul yang kedua bernama unte pompule pasiki. dengan jenis yang cukup beragam. Salah satunya tampak pada unsur busana adat yang menjadi milik masyarakat Kaili. Bahan yang digunakan untuk membuat ikat kepala tersebut adalah rotan yang tipis atau fuya. Bahkan khusus untuk kaum wanita bangsawan. masyarakat Kaili mengenal sistem pelapisan sosial dengan empat tingkatan sosial di dalamnya. keberadaan tudung kepala memang mendapat tempat tersendiri dalam kehidupan kaum wanita Kaili. Pada setiap lapisan sosial biasanya terdapat sejumlah atribut berupa lambang atau simbol-simbol tertentu. Jenis-jenis perhiasan itu sendiri pada umumnya berupa kalung bersusun. Pada zaman dahulu.

yakni untuk menghangatkan tubuh atau berfungsi sebagai penahan hawa dingin. Di sebelah Utara berbatasan dengan kabupaten Yapen-Waropen. Satu kelengkapan lainnya yang senantiasa dibawa oleh kaum pria Kaili adalah kampuh yang berisi sirih pinang dan beraneka macam benda-benda yang digunakan untuk meramal oleh pemiliknya. dan sebelah Timur berbatasan dengan negara Papua Niugini (Papua Neuw Guinea/ PNG). Tentu saja pemilihan warna dan motif tersebut akan disesuaikan dengan status sosial pemakainya. Selain kedua unsur busan tersebut. ada juga kelengkapan busana lainnya yang senantiasa dikenakan oleh mereka. Tentu saja bukannya tanpa alasan bila mereka mengenakannya seperti itu. ikat kepala dan kampuh. Busana yang digunakan kaum pria untuk menutupi anggota badan bagian bawah adalah cawat dan celana pendek yang pipa celananya sedikit di atas lutut. Dengan mengungkapkan profil pria Kaili. baru mereka memakai baju untuk menutupi anggota tubuh bagian atasnya. yakni berperang dan tradisi pengayauan. justru berbeda dengan kondisi mengenai busana adat kaum pria Kaili. Kelengkapan busana lain yang tidak kalah pentingnya adalah ikat kepala. sebelah Barat Laut dengan kabupaten Paniai. Ada beberapa jenis kelengkapan busana adat pria Kaili. sebelah Barat Daya dengan kabupaten Fakfak. yang dikenal dengan istilah mengayau. yakni kain sarung. sebelah Timur Laut dengan kabupaten Jayapura. memang ada satu kebiasaan masyarakat Kaili untuk memenggal kepala musuh pada saat berperang. Salah satu di antaranyanya adalah biji jagung kering. Pusat-pusat permukiman orang Dani . Ada satu tujuan utama yang hendak dicapai. Ikat kepala yang dipakai oleh kaum pria tersebut memiliki warna yang beragam serta bermotif. Busana Tradisional Masyarakat Dani Dani People Traditional Dress Penulis Aat Soeratin. Jonny Purba Masyarakat Dani mendiami wilayah kabupaten Jayawijaya. Unsur yang pertama adalah sarung. Pada masa itu. sebelah Selatan dengan kabupaten Merauke. Adapun pada anggota tubuh bagian atas kerapkali hanya bertelanjang dada. Namun bila akan bepergian.Bila gambaran mengenai busana adat wanita Kaili begitu kaya akan berbagai informasi di seputar masalah tersebut. Kampuh yang sarat dengan berbagai macam benda tersebut biasanya dikalungkan pada leher mereka. yang pemakaiannya tidak dilakukan untuk menutupi badan bagian bawah melainkan hanya disampirkan di bahunya. Secara historis. akan tampak bagaimana sebenarnya busana adat mereka yang pernah ada selama ini. pemakaian ikat kepala ini sangat erat kaitannya dengan aktivitas mereka di masa lalu.

Hiasan itu untuk menimbulkan daya tarik bagi kaum perempuan. Busana Adat Masyarakat Dani Ada beberapa jenis busana dan tata rias Masyarakat Dani yang sangat khas bila dibandingkan dengan kelompok etnis lainnya di Irian Jaya.umumnya berada di wilayah lembah dan lereng-lereng gunung. Busana penutup alat kelamin pria ini dibuat dari kalabasah. Mulia. Kalabasah yang berdiameter relatif besar itu dipotong hampir setengahnya sehingga ujungnya bolong (terbuka) yang ketika dipakai biasanya bolong itu ditutup dengan daun. Makna simbolik lainnya mengisyaratkan. Konda. Ketika dikenakan. misalnya "uang merah" (eka merah). sedangkan sebelumnya disebut "Ndani". Illaga. Ada tiga pola penggunaan koteka. yaitu tegak lurus: menandakan bahwa pemakainya koteka. Dalam perkembangannya fungsi dan kegunaan holim mulai digantikan dengan pakaian sehari-hari yang terbuat dari tekstil. Bahan pewarna tersebut . yakni masyarakat Moni dan Damal untuk menunjukkan suku tetangganya (masyarakat Dani). penutup kelamin pria ini diikatkan ke seputar pinggang dengan tali halus yang biasanya berwarna hitam. kuning. disebut yokal. Holim sebagai pakaian sehari-hari digunakan dalam seluruh kegiatan keseharian. dikorek dengan kayu yang diruncingkan. dan kemerah-merahan. agar tidak jatuh. Pas Valley dan Piet River. bermakna bahwa penggunanya adalah pria gagah berani. Miring ke samping kanan: simbol kejantanan. Jenis holim ini halus. Ukuran bagian bawahnya sedang dan atasnya runcing. Istilah "Ndani" berasal dari kata "Lani" yang digunakan oleh penduduk lembah Baliem Utara dan Barat. Kecamatan Asologaima dan Kecamatan Kurulu. Tiom. Masyarakat Dani sendiri menamakan dirinya "Nit Baliemege". lembah Baliem (Lembah Agung). Dwart. isi buah labu dikeluarkan. Apalahapsili. Ada dua ukuran koteka yakni holim kecil (halus) dan holim pendek besar. Juga menunjukkan pemakainya adalah keturunan Panglima Perang (apendabogur). Namun dalam kegiatan tertentu. dan pengayom rakyat. antara lain. Sebagian masyarakat Dani mengenakan koteka yang ukurannya pendek dan besar. Ilaga. Biasanya yokal berwarna hitam. Yokal Sejenis rok wanita masyarakat Dani yang dibuat dari serat tali hutan (tumbuhan rambat) yang dipintal dengan rapi. seperti waktu mengerjakan ladang. Jenis koteka kecil terdapat di daerah lembah Baliem. pemilik harta kekayaan yang melimpah. di antaranya koteka (holim). upacara adat misalnya. Banyak kemudian yang menambahkan semacam sekat di antara pangkal dan ujung "selongsong" koteka bolong itu untuk tempat menyimpan benda-benda yang dianggap keramat atau bendabenda yang dianggap bernilai tinggi. kemudian dibersihkan. laki-laki sejati. Bentuk rumah tinggalnya disebut honai (honae) untuk laki-laki dan obe-ae rumah khusus kaum perempuan. Beberapa lembah yang terkenal. saat berada di honai. Welarak. keterampilan memipin. Yalimo. Secara etnis masyarakat Dani dikenal dalam dua kelompok yaitu Wita dan Waya. Illu. "Kanan" menandakan kekuatan bekerja. Kadang-kadang bagian ujungnya diberi hiasan bulu burung atau bulu ayam hutan. sejenis labu Cina. Kosarek. memiliki status sosial yang tinggi atau mempunyai kedudukan sebagai bangsawan. dipetik lalu dikeringkan di perapian. Buah labu yang sudah tua. berwarna kuning kemerah-merahan. artinya "Kami orang Baliem". Setelah kering. dan Oholim. mereka menggunakan holim sebagai pakaian adat sekaligus sebagai perlengkapan upacara. Sedangkan jenis holim besar terdapat di lembah Baliem. yokal dan sali. ketika berternak babi. Istilah "Dani" digunakan oleh ekspedisi Sterling tahun 1926. Setelah itu buah labu kembali dikeringkan di sekitar perapian. belum pernah melakukan persebadanan. Di samping itu biasanya terdapat juga humila sebagai dapur tempat memasak dan wam aele sebagai kandang babi. pria yang memakainya masih perjaka. Koteka (Holim) Koteka atau disebut juga holim adalah pakaian laki-laki masyarakat Dani dan Ekari. terutama di Kecamatan Wamena Kota. Kehidupannya mengelompok berbentuk desa yang dinamakan silimo (asilimo). Sinak. yaitu tegak lurus: menandakan bahwa pemakainya adalah "pria sejati". Miring ke samping kiri: bermakna pria dewasa yang berasal dari golongan menengah dan memiliki sifat kejantanan ejati.

Wali moken sebutan untuk kulit kerang yang diikat hingga seolah menempel pada dahi seorang laki-laki. Noken juga dipercaya sebagai simbol kehidupan dan kesuburan. memelihara babi. mengasuh anak. topi dari bulu kuskus warna hitam. Pada tubuh para lelaki nampak lebih banyak aksesori ketimbang yang dikenakan para perempuan. Pekerjaan ini biasanya dilakukan wanita dewasa. Yokal dibuat dari kulit kayu wam. ke sekolah. Akseori ini biasanya warisan turun-temurun dari nenek moyang. anak panah dan busur. Yokal biasanya dikenakan oleh wanita dewasa yang sudah menikah. kalung berupa tali penangkal guna-guna. noken berfungsi untuk menyimpan dan mengangkut bahan makanan. bepergian. Selanjutnya dipintal dan dirajut menjadi rok. Sekan. Oleh karena itu aksesori yang digunakan mengandung makna simbolik sekaligus menunjukkan identitas pemakai maupun masyarakatnya. misalnya saat ke ladang. semacam "baju besi" dibuat dari serat rotan yang dianyam rapat sehingga berfungsi sebagai perisai dari tusukan anak panah dan tombak. bahan tersebut dijemur atau diasapi. atau dibentuk menjadi pipih dan diselipkan pada cuping hidung bagian tengah yang dilubangi sehingga mirip seperti misai panjang. Selain sebagai aksesori. gendongan bayi. Pada sepenuh permukaan walimo ditempelkan.didapat dari getah kulit atau bunga anggrek. puluhan rumah siput kecil yang dianggap mampu mendatangkan kekuatan gaib. Sege adalah tombak panjang yang melambangkan pria sejati. Perlengkapan merias diri kaum lelaki masyarakat Dani yang dikenakan saat upacara dan aktivitas sehari-hari lainnya. antara lain: swesi. Wam maik adalah aksesori dengan bahan taring babi. Mul. Banyaknya kulit kerang menunjukkan jumlah musuh yang dibunuhnya dalam perang suku. Sali mengisyaratkan pemakainya Tata Rias Masyarakat Dani Yang lebih banyak merias diri pada masyarakat Dani adalah kaum laki-laki. Aksesori yang dikenakan para wanita Dani. sejenis topi berbentuk bulat dibuat dari bulu burung. Yokal melambangkan wanita pemakainya sudah tidak gadis lagi atau wanita yang telah menikah. Cipat. Konon. gelang anyaman rotan yang dipakai pada lengan maupun pergelangan tangan. ke gereja. Ngisi adalah rambut yang dianyam rapi dan dilumuri dengan lemak babi. karena para lelakilah yang lebih kerap tampil ketika harus berinteraksi dengan masyarakat di luar kelompoknya. yang melambangkan kemahiran berburu dan keberanian. diambil seratnya kemudian dikeringkan pada perapian atau dijemur pada panas matahari. Diwarnai dengan getah kulit atau bunga anggrek. Biasanya seorang wanita Dani mengenakan sejumlah noken yang digantungkan pada kening dan berjuntai ke punggungnya hingga menutup bagian pinggul. sehari-hari atau saat upacara adat. juga untuk membawa babi. Walimo yaitu hiasan dada. seperti mengerjakan kebun. senjata ampuh pria sejati Dani. Ngisi mengisyaratkan pemuda yang telah siap untuk menikah. Sali dipakai dengan cara melilitkannya ke seputar pinggang dan menyimpulkan kedua ujung tali penahannya pada bagian perut (pusar). menjual hasil pertanian. Siluki inon. Sali Pakaian sehari-hari anak gadis masyarakat Dani adalah sali yang dibuat dari bahan serat kem atau dari sejenis daun pandan. Benda laut ini didatangkan ke daerah pegunungan melalui sistem barter. sehingga seorang wanita Dani biasanya membawa beberapa noken dengan isi yang berlainan. . dibuat dari anyaman serat kulit kayu yang ketika dikenakan akan nampak seperti dasi. antara lain: sekan yaitu gelang yang dibuat dari rotan. Sali dipakai sehari-hari oleh anak gadis. Sedemikian besar fungsinya. Noken (su labak yapma) yaitu sejenis tas dibuat dari serat kulit kayu yang dianyam menyerupai karung. setelah kering dianyam pada seutas tali sepanjang seputar pinggang. Dibuat berupa untaian sebagai kalung. Wayeske. Seperti proses membuat yokal. Yokal digunakan sehari-hari untuk melakukan pelbagai pekerjaan. berderet-deret dan disusun rapi. termasuk saat mengikuti upacara adat. dikenakan pada lengan maupun pergelangan tangan. Kulit kayu tersebut dikelupas dari batangnya. menyiapkan makanan.

Tali pengikatnya dibuat dari akar pandan. Pada rambut diselipkan hiasan yang disebut sokmet. Penahan pummi adalah asenem. hanya dipakai oleh istri panglima perang. dan Mimika. masyarakat Asmat merancang dan mengembangkan berbagai jenis busana dan tata rias untuk dipakai seharihari maupun untuk keperluan upacara adat. dan Pantai Kasuari. Sejauh ini yang ditemukan hanya yang berupa "rok mini" dan cawat sebagai penutup aurat kaum lelaki dan perempuan. disebut tali bow. Marind. Dan peni. Mereka bermukim di daerah rawa yang sangat luas. bahkan di kawasan propinsi Irian Jaya. Sedangkan kaum perempuannya memakai tok. Atsy. semacam cawat atau celana dalam. Untuk menutup payudara. Tok adalah pummi yang rumbai-rumbai bagian depannya dikumpulkan lalu ditarik ke bagian belakang pinggul melalui celah paha sehingga menyerupai cawat. Menjalin rambut ini disebut wi atau owusapor dan biasanya dilakukan pria remaja. mereka menjalinnya hingga bisa "berdiri". Semakin tinggi status sosial seseorang. Busana dan tata rias yang dikenakan juga menunjukkan status sosial maupun jenis kelamin. wanita Asmat membuat semacam kutang dari anyaman daun sagu muda yang disebut peni atau samsur. Laki-laki Asmat biasanya memakai pummi semacam rok mini yang dibuat dari anyaman daun sagu. Asmat. Rambut orang Asmat pada umumnya keriting atau bergelombang. Jenis atau ragam busana Asmat tidaklah banyak. Rumbai-rumbai pummi dilepas begitu saja hingga terurai di sekeliling pinggul dan paha. dan masing-masing aksesori itu memiliki makna simbolik. semakin banyak ragam rias yang dikenakannya. bulu bangau yang diikatkan pada . Sawa Erma. Ketika menginginkan rambutnya nampak lurus. ikat pinggang dari anyaman rotan. dahulu. Daerah persebarannya meliputi Kecamatan Agats. Seperti halnya sukusuku bangsa lainnya.Busana Tradisional Asmat Asmat Traditional Asmat Wilayah pantai (Selatan) Irian Jaya didiami sukubangsa Muyu. Suku bangsa Asmat adalah suku bangsa terbesar di antara suku-suku bangsa lainnya di bagian selatan Irian.

Pada kebudayaan Asmat. kepala adat. Senjata yang hampir selalu disandang sebagai aksesori pada pelbagai upacara adat ialah pisuwe. terutama ketika mereka berada di dalam jew (rumah panjang). sejenis tas yang disandang di leher laki-laki atau di kening perempuan. Sebagai masyarakat peramu yang hidup dari berburu. Noken yang polos tanpa hiasan dipakai oleh wanita dan laki-laki kebanyakan sedangkan yang dibubuhi hiasan. semacam pisau belati dibuat dari tulang kering burung kasuari yang salah satu ujungnya diruncingkan dan pangkalnya dihias oleh bulu-bulu halus burung kasuari. tanpa membedakan status sosial. dan kepala-kepala tungku (kepala keluarga luas). pemimpin tungku (keluarga luas). terutama saat melaksanakan upacara adat. masyarakat Asmat. Topi ini disebut juprew. biasanya dipakai oleh panglima perang. Sof betan atau sinenke adalah gelang untuk pangkal lengan dari anyaman rotan. Ada juga penutup kepala yang dibuat dari anyaman daun sagu dan akar kayu. Bipane biasanya dipakai oleh panglima perang. dan penyanyi pengiring upacara. Hingga sekarang. penyanyi. dan biasanya disandang oleh panglima perang. disebut wisaper. menggunakan gulungan daun sagu atau daun nipah yang disebut bi awok sebagai penghias hidung mereka. bukan hasil buruan dengan bantuan anjing atau tombak. sangat mengagumi burung kakatua raja lantaran satwa ini nampak elok dan gagah. melubangi cuping tengah hidung mereka dan "menyumpalnya" dengan aksesori berupa benda yang terkadang berukuran lebih besar daripada lubang hidung.lidi. Tali penahan agar kasuomer tidak jatuh dibuat dari jalinan daun sagu muda. tapi sekarang dipakai juga oleh para tetua adat. Sedangkan yang dipakai pada pangkal lutut dinamakan barok. pergelangan tangan. dan pemukul tifa. konon. Topi ini disebut kasuomer dan kerap dihiasi bitwan (kulit kerang). panjangnya kira-kira 30 cm. pemukul tifa. Ada pula o effo yakni ekor babi hutan yang dililitkan di bagian pangkal tangan. panah. Subang penghias telinga disebut jemcankan yang dibuat dari kayu fum atau dari semacam manik-manik biji tumbuhan dek atau omdu atau tisen. Sebagai kalung. agar ujung hidung tertarik sehingga mancung dan melengkung seperti paruh kakatua raja. Juwursis biasanya dipakai oleh panglima perang. Aksesori lainnya yang sangat khas adalah subang penghias telinga. disebut betan. Ekor babi untuk o effo harus berasal dari babi hutan yang terkena perangkap (siso). untaian gigi taring anjing yang dikombinasikan dengan taring babi hutan. sokmet masih dipakai pria Asmat. kaum wanita dan lelaki Asmat memakai tisen pe. Yang dikenakan pada pergelangan tangan. dan pangkal betis. yang supaya nampak indah dihias bulu burung cendrawasih (jabopan). dari bahan yang sama. pemukul tifa. dan tombak. Masyarakat Asmat. juwursis merupakan benda yang bernilai tinggi. . dituntut untuk mahir menggunakan senjata: pisau. subang penghias hidung. biasanya diimbuh hiasan beberapa tangkai sokmet. sehingga seringkali digunakan sebagai mas kawin seperti halnya kapak batu. Kaum wanita Asmat. terutama kaum lelaki. Kalung lainnya adalah juwursis (juwur = anjing). 0 effo juga dipakai sebagai cerminan perasaan sukacita. Noken dibuat dari anyaman daun pandan dan pada salah satu sisinya diberi hiasan bulu sayap burung kakak tua atau bulu sayap burung bangau. sehingga bila saat berduka benda ini tidak ditampilkan. yang dibuat dari biji tumbuhan tisen. dan gelang yang dipakai pada lengan. Begitu pentingnya fungsi senjata-bagi lelaki Asmat sehingga bukan hanya dipakai sebagai peralatan berburu belaka tapi juga sebagai alat pelengkap penampilan agar nampak berwibawa. aksesori yang dibuat dari kulit siput/ kerang yang dibentuk mirip bulan sabit atau ada juga yang menyerupai misai panjang gergulung. Senjata ini diselipkan pada sinenke. Dulunya barok hanya dipakai oleh panglima perang. dan diberi hiasan bulu burung kakatua atau burung bangau yang disebut panicep solme. Sedangkan para lelaki memakai bipane. pun kebanyakan masyarakat asli Irian Jaya. Masyarakat Asmat juga menciptakan semacam topi berbentuk kopiyah/peci/songkok yang terbuka bagian atasnya yang dibuat dari bulu kuskus. Atau pomak camkan yang dibuat dari anyaman daun sagu muda yang biasa dipakai saat pesta ulat sagu dan upacara patung mbis (patung leluhur). terutama istri panglima perang dan para tetua adat. kalung. Wanita yang mengenakan benda ini adalah istri dari orang yang gemar berburu babi hutan. Maka untuk bisa tampil segagah burung yang elok itu mereka. Benda pakai yang juga kerap dijadikan pelengkap penampilan adalah noken. penyanyi.

Komposisi warna merah. Busurnya dibuat dari jenis kayu bakau. Dan. hitam. dan tombak logam besi disebut frin. Jonny Purba Busana tradisional Bengkulu Tidak hanya terkenal di pulau Jawa saja. yang tak boleh dilupakan adalah wasse mbi. Konon. Kemudian panah yang disebut ces atau jimar. disebut vom. putih. seperti relung kua yang bergambar burung. sowen. Ada juga jenis tombak khusus untuk berburu buaya. Warna merah berasal dari tanah merah yang diperoleh dari pegunungan Lorentz. Masyarakat Asmat mengenal beberapa jenis tombak dan masingmasing dinamai sesuai dengan bahannya. relung paku yang meliuk liuk seperti tanaman pakis. yang dibuat dari kayu keras disebut fir. dan motif rembulan serta bunga rafflesia.5 meter. Hingga kini batik Besurek tidak hanya digunakan oleh kalangan bangsawan saat upacara adat saja. Disebut demikian karena motifnya bertuliskan kaligrafi Arab. yakni rias tubuh berupa gambar corak hias garis sejajar atau liris yang sangat ekspresif di sekujur tubuh terutama saat melaksanakan upacara adat. Anak panahnya agak beragam. dan hijau tampil kuat pada latar kulit yang hitam berkilat. . fum. Penulis Aat Soeratin. Tombak yang pertama kali digunakan dibuat dari kayu nibung yang dinamai ocan atau kamen. Warna putih didapat dengan cara membakar kulit siput. Tombak kayu besi dinamai viwu. sedangkan warna hijau dari dedaunan. batik besurek diperkenalkan para pedagang Arab dan pekerja asal India pada abad XVII. dari bambu dinamai firokom.Senjata lainnya adalah tombak. Agar lebih variatif. Batik Besurek sudah menjadi salah satu kerajinan tangan khas Kota Bengkulu. kemudian ditumbuk hingga halus dan dicampur dengan air. Namun juga mengombinasikan beberapa motif. yang dari besi dikenal sebagai sok. melainkan sudah menjadi seragam tetap beberapa sekolah dan pakaian dinas pemerintah daerah setempat. Warna hitam dari arang pembakaran. saat ini para pengrajin tak hanya menuliskan huruf kaligrafi. Pada hakekatnya besurek memiliki arti bersurat atau tulisan yang tradisinya sudah diwariskan secara turun temurun. panjangnya sekitar 1. ternyata Provinsi Bengkulu juga memiliki kerajinan tradisional batik yang cukup mumpuni yaitu Besurek.

Gelang 12. dengan hiasan kepala yang biasa kita sebut Paksian dan dilengkapi dengan asesoris : 1. Tutup sanggul atau kembang hong 9. Pending untuk pinggang . Kuntum cempaka 5. Sepit udang 6. Pakaian pengantin tersebut pada akhirnya kita sebut dengan nama “Paksian”. Baju pengantin perempuan menurut keterangan orang tua-tua berasal dari negeri Cina. Kalung 10.Busana Tradisional Pangkalpinang Pakaian adat pengantin Kota Pangkalpinang untuk perempuan adalah baju kurung merah yang biasanya terbuat dari bahan sutra atau beludru yang jaman dulu disebut baju Seting dan kain yang dipakai adalah kain bersusur atau kain lasem atau disebut juga kain cual yang merupakan kain tenun asli dari Mentok. Kembang goyang 3. pada perkawinan inilah mereka memakai pakaian adat masing-masing. Bagi mempelai laki-laki memakai “Sorban” atau disebut “Sungkon”. Pada kepalanya memakai mahkota yang dinamakan “Paksian”. Anting panjang 11. Sari bulan 8. Selanjutnya karena banyaknya orang-orang Cina dan Arab yang datang merantau ke pulau Bangka terutama ke Kota Mentok yang merupakan pusat pemerintahan pada waktu itu diantaranya ada yang melakukan perkawinan maka banyaklah penduduk pulau Bangka yang meniru pakaian tersebut. konon menurut cerita ada saudagar dari Arab yang datang ke negeri Cina untuk berdagang sambil menyiarkan agama Islam dan jatuh cinta dengan seorang gadis Cina kemudian melangsungkan perkawinan dengan gadis Cina tersebut. Pagar tenggalung 7. Pakaian tersebut terdiri dari : * Pakaian Pengantin Perempuan * Pakaian Pengantin Laki-laki * Tata Rias dan Hiasan Pakaian Pengantin Perempuan: Pakaian pengantin perempuan adalah baju kurung dengan bahan beludru merah yang dilengkapi dengan teratai atau penutup dada serta menggunakan kain cual yaitu kain tenun asli Bangka yang berasal dari Mentok. Kembang cempaka 2. Daun bambu 4.

Melayu Bengkalis Riau. Tata Rias dan Hiasan: 1. Untuk perempuan. 4. baju yang dipakai adalah baju Melayu berupa atasan yang disebut Teluk Belanga. Untuk pakaian pria. Bentuk Sanggul: Konde tilang yang terbuat dari gulungan daun pandan atau lipatan daun pandan yang diisi dengan bunga rampai yang terdiri dari mawar. Variasi pakaian adat Riau diantaranya. 2. seperti pakaian adat Kepulauan Riau. Jubah panjang sebatas betis Selempang yang dipakai pada bahu sebelah kanan Celana Penutup kepala seperti sorban (sungkon) Pending Selop / Sendal Arab Pakaian pengantin laki-laki ini berwarna merah dan biasanya dari bahan beludru dengan hiasan manik-manik dan sama dengan pengantin perempuan dilengkapi dengan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan). Selain itu. dan songkok atau penutup kepala. Pada zaman dahulu yang dipakai adalah sanggul cumpok atau cepul. Pakaian adat Kepulauan Riau memiliki variasi pakaian adat. Busana Tradisional Kepulauan Riau Pakaian adat merupakan salah satu ciri budaya suatu daerah dan setiap daerah tentunya memiliki pakaian adat yang beragam. Hiasan Dahi: Hiasan DahiMemakai penutup dahi yang diberi nama “Paksian” dan di dahi dipasang Saribulan. 6. Pakaian Pengantin Laki-laki: Adapun untuk pakaian pengantin laki-laki terdiri dari : 1. Pagar Tanggalung dan Sepit Udang pada samping kiri kanan telinga (Godeg). pakaian adat Indragiri. 2. Kain sampin biasanya meiliki warna dan corak yang sama dengan baju atasannya. 5. busana ini terdiri celana. 3. Sebagai salah satu daerah yang kental dengan budaya Melayu. kenanga dan irisan daun pandan. kain dan . pakaian adat Riau terdiri dari busana Melayu. pakaian yang dipakai berupa baju kurung. kain sampin. Melayu Siak Riau dan lain-lain.Baju pengantin perempuan ditambah dengan hiasan payet atau manik-manik dan dilengkapi dengan hiasan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan). Pakaian adat ini disebut dengan baju Melayu teluk belanga. melati.

Selendang dipakai dengan disampirkan dibahu. Pada umumnya kaum pria mengenakan pakaian adat yang terdiri dari: ikat kepala (siga) yang dihias dengan manik-manik. Ia juga mengenakan kain batik yang mempunyai motif sama dengan yang dipakai wanitanya. Busana Melayu Riau ini identik dengan nilai-nilai Islam. sarung yang dikenakan sampai menutup kaki. pakaian haruslah menutup aurat. serta dilengkapi dengan sebilah keris yang terselip dipinggang. Variasi pakaian adat Riau membedakan pula waktu pemakaiannya. Tradisi melayu Riau memang bersumber dari nilai-nilai Islam. hijau. yang disekelilingnya dihias dengan benang emas. selain berfungsi melindungi tubuh dari cuaca. baju tangan pendek dengan leher baju terbuka. Pakaian adat ini dibedakan untuk kaum pria dan wanita. Pakaian adat yang dikenakan oleh kaum pria terdiri atas tutup kepala (destar). masyarakat Sulawesi Tengah memiliki seperangkat pakaian adat yang dibuat dari kulit kayu 'ivo' (sejenis pohon beringin) yang halus dan tinggi mutunya. . Sedangkan kaum wanita mengenakan pakaian yang disebut 'patimah lola' berupa baju 'gamba' yang panjangnya sampai di pinggul. sarung berwarna kuning. Busana Tradisional Sulawesi Tengah Secara tradisional. dikenakan ikat pinggang (pending) terbuat dari besi kuningan. dengan leher baju berbentuk bulat. merah atau biru dengan motif 'subi' atau 'bomba'. Busana yang disebut dengan istilah baju Melayu Gunting Cina dipakai saat tidak resmi atau saat dirumah. Selain itu agar pakaian tampak pas di tubuh. serta ikat kepala yang disebut 'dadasa'. gelang (pontade) dan anting-anting (dali). baju jas dengan leher tertutup (jas tutup) dan keris yang terselip di pinggang. Pakaiannya yang tertutup mencerminkan makna. Sebagai pelengkap dikenakan hiasan berupa kalung susun (geno kambora). Busana Tradisional Yogyakarta Dalam hal berpakaian masyarakat Yogyakarta membedakan antara yang dikenakan kaum pria dan kaum wanita. celana panjang warna gelap yang juga dihias dengan benang emas.selendang. busana yang disebut dengan istilah baju Melayu Cekak Musang dipakai saat acara keluarga.

Busana Tradisional Sulawesi Tenggara Pakaian adat yang bias digunakan oleh orang Kendari untuk pria biasanya berupa tutup kepala (destar). Perhiasan lain yang dikenakan biasanya berupa anting-anting dan cincin. .Sedangkan pakaian kaum wanitanya terdiri atas kebaya dan kain batik dengan rambut yang disanggul dan diberi hiasan konde. yaitu pakaian kaum laki-laki dan kaum wanita. pending. dan celana panjang. baju model jas tertutup. diletakkan ditengah-tengah sanggul. gelang di kedua belah tangan dan songket yang melingkar di bagian tengah badan. Sebagai hiasan kepala digunakan kembang serta perhiasan antara lain berupa antinganting. Sedangkan untuk kaum wanitanya berupa baju kebaya. kalung dan gelang. sarung sebatas dengkul. Sedangkan pakaian yang di kenakan oleh kaum wanita mirip dengan yang dikenakan oleh kaum pria yaitu mahkota serta kalung bersusun. Pakaian adat kaum pria biasanya berupa mahkota. kalung bersusun dengan baju khas dengan memakai celana panjang dan kain songket pada bagian tengah badan. kain selempang dan sarung. Busana Tradisional Sumatera Selatan Masyarakat daerah Sumatera Selatan secara tradisional membagi pakaian adat mejadi dua macam.

biasanya dipakai untuk acara pesta atau acara besar lainnya. Selain pakaian-pakaian tersebut diatas. Biasanya dipakai untuk upacara dan hari besar lainnya. serta emas perak yang kesemuanyaterbuat dari gading atau kerang laut. Hiasan yang dipakai untuk menambah anggunnya pakaian ini adalah gelang. 5. juga sudah merupakan pakaian konsumsi sesehari masyarakat Maluku. melayu. Pakaian ini sudah menjadi pakaian nasional untuk seluruh masyarakat Maluku.Busana Tradisional Maluku Utara Pakaian daerah Maluku dilihat dari segi motif dan cara memakainya cukup sederhana. Sekarang sudah merupakan pakaian yang dimodifikasi dan dipakai sebagai pakaian untuk pakaian upacara adat. Baniang dan kebaya dansa adalah pakaian sesehari untuk kaum pria. adalah pakaian sesehari kaum wanita. ada juga pakaian untuk ke gereja yang disebut pakaian Itang. pakaian ini juga sering dipakai oleh kalangan menengah kebawah seperti mereka yang berjualan di pasar dan lain sebagainya. Pakaian pengantin Maluku Tengah disebut baju Pono atau dapat juga disebut Mistisa. 6. warnanya juga antara hijau dan kuning. Pakaian petani. pesta. Pakaian ini kebanyakan dibuat dari tenunan tradisional Tanimbar dikombinasi dengan kain satin putih. Pakaian-pakaian pengantin: Pakaian pengantin Maluku Utara disebut pakaian Koci-koci. Pakain pengantin ini mirip dengan pakaian pengantin Donggala. kalung. 2. Kain kebaya merah adalah jenis pakaian daerah lain yang menjadi pakaian sesehari gadis dan ibu-ibu di desa. atau dipakai oleh anak-anak keturunan raja. pakaian nelayan serta pakaian sesehari lainnya yang tidak disebut satu persatu. Alas kaki yang dipakai disebut Canela dimana bagian depannya melingkar keatas. 3. hal ini tergambar dari beberapa contoh pakaian daerah dibawah ini: 1. Pakaian pengantin Maluku Tenggara disebut sanikir. • • • . serta merupakan pakaian yang dianggap baik. acara resmi lainnya. Pakain ini kelihatan lebih anggun berwarna merah menyala dihiasi manic-manik serta kombinasi kebaya cele putih. 4. Nona rok adalah sejenis pakaian wanita yang dulunya dipakai oleh kalangan atas. Pakaian ini bercirikan Islam. Baju Cele Kain Salele.

. Batik Banten mempunyai padu padan warna. namun tetap menjunjung tinggi sikap kemudahan hati. Hal inilah yang mengubah warna motif meriah berubah lembut pada saat proses pencelupan. dan pada zaman dulu komprang biasa dikenakan masyarakat Sunda setiap harinya. dan karakter kuat. Busana Tradisional Kalimantan Selatan Suku bangsa Banjar mengenal berbagai jenis pakaian tradisional menurut fungsi. Pada pakaian-pakaian tertentu makna simbolis dari motif ragam hias dan perhiasan yang melengkapi menentukan kapan. ruangan. mengenakan pangsi dan komprang dengan menambahkan sarung yang dikalungkan di bahu. maka dipilihlah nama yang diambil dari bangunan. Batik Banten juga memiliki motif yang menjadi ciri khas. Cara menggunakan pakaian itu bermacam-macam. Untuk mempermudah penyebutan nama-nama motif batik dan gampang diingat. dimana dan oleh siapa pakaian tersebut dapat digunakan. pakaian tradisional tersebut juga merupakan salah satu pakaian khas dari Jawa Barat. Perpaduan ini ternyata sangatlah erat kaitannya dengan pengaruh air di bawah tanah. Selain celana komprang dan baju pangsi. tetapi dipakai di seluruh Provinsi itu. ataupun nama lokasi seluruh lapisan warga keraton berada semasa kesultanan yang ada di Banten lama. jenis dan pemakaiannya. Komprang tidak berasal dari daerah tertentu di Jawa Barat. Sedangkan masyarakat Sunda lain mengikat sarung pada bagian pinggangnya. Menurut keterangan warga setempat. baju pangsi biasa digunakan masyarakat Sunda ketika berlatih pencak silat. Selain itu. Sebagian penggembala kerbau misalnya. pengambilan nama motif juga ada yang berasal dari nama gelar kesultanan. Sebagaimana batik kebanyakan. semangat.Busana Tradisional Banten Baju pangsi dan celana komprang menjadi salah satu busana tradisional di Banten. Konon warna tersebut memang sesuai dengan watak masyarakat Banten yang penuh dengan harapan. termasuk Banten ketika masih belum terpisah. Namun tidak hanya di Provinsi Banten saja. Warna Batik Banten cenderung meriah namun tetap terasa hangat dipandang dan lembut di mata. Banten ternyata memiliki busana khas dengan pola Batik.

Bagian depan terbelah dan diberi kancing. namun secara umum terdiri dari destar. Kemudian dikenakan baju lengan hitam longgar (besar lengan) dengan leher lepas tidak berkatuk. Salawar. Bagian muka saluak ditata berkerut-kerut berjenjang dengan bagian atas datar. Pakaian Panghulu Seorang panghulu atau ninik mamak. Jenis pakaian ini bermacammacam. lampin dibuat dari tapih (sarung) atau bahalai (kain sarung) yang dipotong menjadi beberapa bagian dengan bentuk segi empat panjang. kain sandang.• • • • • Lampin. Untuk tapih ini biasanya didatangkan dari pekalongan. pakaian sehari-hari ini digunakan oleh para wanita. Dalam pepatah dinyatakan ukua panjang tak buliah singkek. Dikenakan pula kain samping . Masing-masing daerah adat di Minangkabau memiliki variasi yang berbeda. yang penggunaannya hampir selalu dikaitkan dengan fungsi sosial tertentu. celana hitam lebar. Biasa disebut saluak batimba (seluk bertimba) terbuat dari kain batik. Untuk wanita dewasa biasanya digunakan kubaya basawiwi (basujab). Kerutan-kerutan tersebut melambangkan aturan hidup orang Minangkabau yang diungkapkan melalui pepatah berjenjang naik bertangga turun. keris. Celana lapang ini melambangkan kesiagaan. Sebagai pakaian sehari-hari baju taluk balanga ini dilengkapi dengan tutup kepala berupa kopiah beludru hitam atau kopiah jangang. artinya ukur panjang tak dapat singkat. dan tongkat. Salawar panjang ini biasanya digunakan sebagai pasangan baju taluk balanga. yang menjadi pakaian sehari-hari kaum pria. seperangkat kain yang membungkus tubuhnya bukan saja berfungsi melindungi tubuh tetapi mengandung makna-makna simbolis yang harus dipegang teguh. belah sampai ke dada tanpa kancing. Apalagi kalau orang itu memegang peranan penting dalam masyarakatnya. Hal ini melambangkan keterbukaan dan kelapangan dada seorang pemimpin yang tidak suka mengunting dalam lipatan. adalah baju yang dipakai anak-anak kecil sehari-hari. Termasuk menghadiri suatu upacara adat. merupakan pakaian sehari-hari yang biasa dikenakan pada seorang bayi. jangko singkek tak dapek panjang. jangka pendek tak dapat singkat. Masyarakat juga mengenal adanya salawar panjang atau celana panjang semata kaki yang tidak berkantong. Model baju. Bagi masyarakat Banjar pada umumnya bilangan ganjil mengandung makna kebai Busana Tradisional Minangkabau Minangkabau Traditional Dress Masyarakat Minangkabau mengenal berbagai jenis busana tradisional. yang di beberapa masyarakat lain dikenal dengan ‘baju kodok’ ini dapat digunakan oleh anak laki-laki maupun anak wanita. Penggunaan baju kubaya juga dilengkapi dengan tutup kepala berupa kakamban (serudung) yang dibuat dari kain sutra atau sejenisnya yang tembus pandang. Pakaian kebesaran ini juga disebut pakaian adat. walaupun lapang dibatasi oleh ukua (ukur) dan jangko (jangka) diwujudkan melalui sulaman benang emas pada pinggirnya (minsai). Baju Taluk Balanga. Pasangan baju kubaya ini adalah tapih atau sarung. Umumnya dipakai celana (sarawa) lapang warna hitam. Oleh karena itu ia memiliki pakaian kebesaran. Umumnya tiap ornament disulamkan dalam hitungan ganjil. Baju Kubaya. sesamping. yang digelari datuk oleh masyarakat memegang peranan penting sebagai pemimpin kaumnya dan berhak mengatur sanak keluarga yang terhimpun dalam kaumnya. Di bagian bawah baju diberi sulaman dengan mempergunakan benang emas atau air guci. seperti penghulu dan bundo kanduang. Baju Kurung Basisit: Adalah jenis pakaian lain yang biasanya digunakan oleh kaum wanita jika bepergian. terdiri dari destar sebagai penutup kepala. Jenis lainnya yang juga disukai adalah kubaya barenda. baju hitam longgar. adalah kemeja bertangan panjang dengan leher baju bulat dan sedikit kerah keras mencuat ke atas. Biasanya pakaian ini digunakan oleh kaum pria baik yang berusia remaja maupun pria dewasa. Pada masa lalu.

artinya tempat atau pemegang harta pusaka kaumnya. sementara selendang tersampir di bahu. Kaum prianya. Pilihan warna putih pada baju melambangkan kebersihan dan kemurnian para pemakainya. Oleh karena itu memiliki pakaian adat yang berbeda dengan wanita lainnya. Pemakaian samping seperti niru tergantung ini melambangkan kehati-hatian pemakai dalam segala tindak-tanduknya dalam masuarakat. Biasanya masih ditambah dengan tongkat untuk berjalan di malam hari atau berdiri lama. pergi tempat bertanya dan pulang tempat berita. kain selempang. Baju kurung ke luar lengannya panjang dan dalamnya sampai di bawah lutut terbuat dari berbagai jenis bahan sesuai kemampauan. Penutup badan bawah digunakan kain sarung (kodek) balapak bersulam emas. dan selendang pendek. Pinggirnya dihias minsai sebagai lambang demokrasi tetapi dalam batas-batas yang patut. baju kurung. gelang bapahek dan gelang ular. Tidak semua wanita dapat menjadi bundo kandungan. Pakaian Bundo Kanduang Seorang wanita yang telah diangkat menjadi bundo kanduang (bunda kandung) memegang peranan penting dalam kaumnya. seperi kalung. Kalung dari beberapa macam. Khusus pada pakaian penghulu. Pada hakekatnya tongkat adalah komando anak kemenakan. untuk mengingatkan bahwa penghulu punya penongkat atau pembantu dalam menjalankan jabatannya. Kadang-kadang juga dilengkapi dengan pemakaian beberapa perhiasan. Pakaian sehari-hari Para wanita. Juga melambangkan bahwa tiap-tiap keputusan yang telah dibuat harus ditegakkan penuh wibawa. menyuruk (bersembunyi) hilang-hilang. biru atau lembayung ditaburi dengan benang emas. Sesamping ini dipakai terutama saat bepergian dan kebanyakan dipilih warna merah sebagai lambang keberanian serta tanggungjawab. bila ada sulaman menandakan kerajinan anak kemenakan yang mempergunakan waktu sebaik- .(sesamping) yang melilit pinggang di atas lutut dengan sudutnya seperti niru tergantung. Tangannya dihiasi gelang gadang (besar). sarung bugis ataupun kain pelekat. kata-katanya didengar. sehari-hari mengenakan celana batik tanpa pisak. baju putih model gunting cina dan peci/kopiah. Pemakaian tengkuluk ini melambangkan bahwa perempuan sebagai pemilik rumah gadang. Ia juga merupakan peti ambon puruak . Bahunya berselempang kain sandang atau kain kaciak dari kain cindai sebagai lambang kebesaran seorang penghulu (ninik mamak). Tutup kepalanya dari selendang pendek dengan ujung tergerai ke belakang. Ragi benang emas yang menghiasinya disebut cukia menandakan bahwa pemakainya memiliki pengetahuan yang cukup di bidangnya. melambangkan tanggungjawab yang harus dipikul oleh bundo kanduang untuk melanjutkan keturunan. Sebagai alas kaki dikenakan selop dari beludru. Ia haruslah orang yang arif bijaksana. Baju kurungnya berwarna hitam. kalung pinyaram. dan berhiaskan anting-anting serta kalung. masing-masing daerah adat di Minangkabau memiliki variasinya masing-masing. Perhiasan yang dikenakan adalah subang atau anting-anting dari emas. kain sarung. Sarung ini berfungsi religius bagi pemakainya. Seorang bundo kandung mengenakan tengkuluk tanduk atau tengkuluk ikek sebagai penutup kepala. Bahannya berasal dari kain balapak tenunan Pandai Sikat Padang Panjang . dan kalung kaban. Model gunting cina merupakan model pakaian longgar menujukkan pakaian sehari-hari. khususnya yang telah berumur dalam kesehariannya mengenakan baju kurung ke luar. anting-anting serta cincin. Bentuknya seperti tanduk kerbau dengan kedua ujung runcing berumbai dari emas atau loyang sepuhan. yang juga disebut kain sarung dapat berupa kain songket. yaitu kalung kuda. lambak/kodek atau kain sarung. Tetapi umumnya kelengkapan pakaian bundo kanduang terdiri dari tengkuluk. Pinggangnya dililit cawek (ikat pinggang) dari sutra berjumbai (bajambua alai). batik. Variasi lain dikenakan tengkuluk. Seperti juga pada pakaian penghulu. Lambak atau kodek. Di bahu kanannya berselempang ke rusuk kiri kain balapak. merah. Pemakaian gelang melambangkan bahwa semua yang dikerjakan harus dalam batas-batas kemampuan. kalung gadang. Keris dengan posisi miring ke kiri terselip di perut melambangkan keberanian tanpa bermaksud menghadang musuh melainkan untuk menjadi hakim. sebagi simbol meletakkan sesuatu pada tempatnya seperti pepatah memakan habis-habis. Dimaksudkan supaya kokoh luar dan dalam.

Sampai dengan ± 50 tahun yang lalu masyarakat Mentawai masih hidup dalam kebudayaan neolitik berikut segenap tata cara adat istiadat. Sipora. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" Penulis : Dewi Indrawati/Biranul Anas Busana Tradisional Mentawai Mentawai Traditional Dress Penulis : Biranul Anas Suku bangsa Mentawai mendiami rangkaian kepulauan Mentawai. Islam dan Barat. Selain kabit dan sokgumai. Tidak ketinggalan tongkat "manau sonsang" ikut melengkapi pakaian yang dikenakan oleh penghulu. yang pada saat waktu sholat dapat digunakan semestinya. Hal ini antara lain tampak pada banyaknya hiasan floral yang dikenakan. lepas pantai propinsi Sumatera Barat. orang-orang Mentawai dapat dikatakan tidak menggunakan apa-apa lagi yang benar- . Pembedaan busana lebih ditentukan pada kejadian. Pemakaian peci oleh penghulu masih dibalut dengan destar hitam yang mempunyai kerutan-kerutan. pimpinan atau anak buah. Tatabusana masyarakat asli Mentawai mencerminkan azasazas egaliter. tidak terpengaruh oleh Hinduisme. disebut sokgumai. bertanggan naik. Sebagai pelengkap dibahunya tersampir kain bugis (bugih). upacara yang dalam hal ini adalah upacara khusus tentang penghormatan arwah (punen). Salah satu kelengkapan busana suku Mentawai. terbuat dari kulit kayu pohon baguk dan sebut kabit.baiknya. Selain itu busana juga mengungkapkan ciri-ciri kedekatan penyandangnya dengan alam lingkungan yang tropis. yang khususnya dipakai kaum pria adalah cawat. yang terdiri dari pulau-pulau Siberut. Pagai Utara dan Pagai Selatan. dalam tatanan masyarakat tidak ada strata-strata sosial. penutup aurat. perikehidupan serta ungkapan budayanya. bermakna seseorang tidak boleh menurut kehendak sendiri. Destar dengan kerutan ini melambangkan aturan adat berjenjang turun. berhutan lebat berikut keaneka ragaman floranya. Lelaki muda lebih suka mengenakan peci dari bahan beludru warna hitam sebagai penutup kepala. peristiwa. perikehidupan serta ungkapan budaya material masyarakat Mentawai patut dikemukakan sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia yang unik. Kaum wanita memakai sejenis rok yang terbuat dari dedaunan pisang yang diolah secara khusus dan dililitkan kepinggang untuk menutupi aurat. Sebagian besar dari mereka menganut kepercayaan animistik dimana setiap benda apakah itu batu. binatang atau manusia memiliki roh. Budisme. Walaupun dewasa ini sudah semakin jarang dijumpai.

kepercayaan serta alam fikiran suku bangsa Mentawai. Busana kerei ini selain terdiri atas kabit dan sorat juga dilengkapi • • • • • • sobok. Ritus ini dipimpin oleh seorang kerei (dukun) dalam busana kerei yang sebenarnya adalah busana tradisional Mentawai yang dihiasi dan ditaburi berbagai dekorasi yang lebih banyak dari pada keadaan sehari-hari. cermin raksa. kedewasaan dan keperkasaan bagi kaun pria. rnahkota dari bulu-buluan dan bunga-bungaan. bergantung pada kalung depan dada. dada. ogok. Peristiwa ini melaksanakan praktek sikerei. paha dan pantat. Ikat kepala ini dinamakan sorat. ikat pinggang dari lilitan kain polos. Aspek yang terpenting dan amat berarti dalam tatacara busana serta rias tubuh adalah tato (cacah). mulai dari busana sampai dengan . botol kecil tempat ramuan obat-obatan. suatu ritus yang ditujukan untuk menghormati roh nenek moyang. Sedangkan gelang manik pangkal lengan disebut lekkeu. diawali pada usia 7-11 tahun dan dilanjutkan secara bertahap hingga usia 18-19 tahun. putih dan hitam atau hijau. Tato merupakan simbol kejantanan. kuning.benar menutup tubuhnya selain aneka perhiasan serta dekorasi tubuh yang terbuat dari untaian manik-manik. dianggap abadi dan dipakai serta dikenakan hingga ajal. sejenis kain penutup aurat bercorak dibagian depan kabit. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" Busana Tradisional Melayu Malay Traditional Dress Penulis : Bernau Ompusunggu Biranul Anas Pakaian Upacara Tradisi Melayu menempatkan upacara pernikahan sebagai peristiwa yang penting. Lalu disusul dengan tangan. Proses tato dilaksanakan pada tahap-tahap tertentu dalam umur manusia. pakalo. Kalung manik-manik yang sangat impresif yaitu ngaleu menghiasi leher dalam jumlah yang dapat mencapai puluhan. Kedua pergelangan tangan juga dihiasi dengan gelang-gelang manik-manik. gelang-gelang. Pencacahan tubuh memiliki berbagai perlambangan baik sosial maupun psikologis yang berangkat dari faham-faham adat. biasanya merah. Selain itu tato. sejenis subang pada kedua telinga. Bagian yang biasanya dihiasi tato adalah pipi dan punggung. lei-lei . suatu kegiatan perdukunan. Ini berpengaruh pada busana upacara pernikahan Melayu yang tampil secara lengkap dan indah. Setiap marga (klan) dan dapat memiliki corak tatonya masingmasing. Demikian pula pada kedua pangkal lengan dan pada bagian kepala berbaur dengan aneka bunga dan daun-daunan. Tato adalah busana kebanggaan. atau tik-tik dalam bahasa daerah Mentawai juga merupakan identifikasi marga atau daerah asal penyandangnya. bunga-bungaan dan daundaunan. Tampilan busana selengkapnya suku Mentawai ini dikenakan pada upacara punen. rakgok. terbuat dari gelas berwarna merah. terakhir pangkal kaki antara lutut dan pergelangan kaki. Tato juga menjadi ungkapan keindahan dan selain mendatangkan kekuatan juga dipercaya sebagai pembawa keselamatan serta kerukunan dalam kehidupan sosial masyarakat. Warna tato biasanya biru kehitaman dan diungkapkan dalam garis-garis kontur geometris simetris.

Kaum pria memakai dua pilihan tutup kepala. Di daerah leher dan dada biasanya tergantung kalung dari corakcorak rantai mentimun. cincin patah biram dan cincin pancaragam. Sebagaimana pada kaum wanita kain pembuat teluk belangapun adalah dari jenis yang bermutu seperti satin atau sutra. gelang kana. hijau atau kuning dan dililit dengan sarung songket. Pada bagian pinggang dipakai bengkong dan pending. Kadang-kadang baju dan kain kedua-duanya terbuat dari bahan yang sama. rantai serati. cincin bermata. Tengkulok adalah lambang kebesaran dan kegagahan seorang pria Melayu. Pengantin wanita juga memakai gelang kerukut yang beraneka jenis seperti gelang tepang. Pada jari terpasang aneka ragam cincin seperti cinci-n genta. Pada upacara ini Wanita Melayu mengenakan Kebaya panjang atau baju kurung yang terbuat dari jenis-jenis kain yang bermutu tinggi seperti brokat atau sutra bersematkan peniti-peniti emas. kain bertabur atau destar. Bajunya berupa kemeja kurung terbelah dibagian dada saja dari bahan sutra berwarna merah. Pakaian Sehari-hari Wanita-wanita Melayu dari Medan di sebelah pantai timur Sumatera Utara membuat baju mereka sangat panjang (baju panjang). bunga mas dan hiasan batu permata sehingga menampilkan kesan kebesaran dan kegagahan. dari bahan brokat (kain senduri). . Diberi hiasan gerak gempa. ikatan serdang dan sebagainya. berlapis tiga dan dibalut dengan beludru atau kain berwarna kuning. Keris dianggap lambang kegagahan dan kemampuan menghadapi masa depan yang penuh tantangan. mastura. yaitu tengkulok yang terbuat dari kain songket.perlengkapan perhiasannya. berwarna sesuai dengan baju dan celananya. berseluar (celana panjang) dan bersamping. Bagian pinggang dihiasi oleh bengkong dan pending. yaitu ikatan bendahara (Kedah). Pakaian ini tidak memakai selendang. Pada sanggul ini ditempatkan hiasan-hiasan keemasan. renda. Gelang juga dipakai pada kaki. Alas kaki berupa selop sewarna dengan baju. Sebagai alas kaki dipakai selop bertekad yaitu sejenis sandal bersulam corak-corak keemasan. sutera. Lengan bajunya sangat lebar dan panjangnya sampai pergelangan tangan. gogok rantai lilit. Baju kurung ini dipadukan dengan kain songket buatan Batubara atau tenunan Malaysia. Tutup kepala yang sejak dulu dipakai disebut destar. Celana panjang lebar dengan bahan dan warna yang sama dengan baju. Penutup badan pria adalah teluk belanga yang terdiri dari atas baju berkrag kocak musang. Ikatan tengkulok ini ada beberapa jenis. Bagian kepala disalut oleh selendang bersulam corak-corak emas yang menutupi tata rambut dalam gaya sanggul khusus yakni sanggul lipat padan atau sanggul tegang. Terbuat dari rotan yang berbentuk parabola. rantai panjang dan tanggang walaupun dewasa ini sudah amat jarang dijumpai. Baju panjang ini dipakai dengan sehelai kain yang terbuat daripada katun biasa berwarna polos. Hiasan rambut berupa sanggul yang sederhana. Lengan atasnya mengenakan kilat bahu dan sidat sebagai lambang keteguhan hati. Sementara untuk pakaian laki-laki berupa pakaian Teluk Belanga: Pakaian ini terdiri dari tutup kepala berupa kopiah atau topi dari bahan sutra berbentuk kepala kapal. muslin atau viole yang halus yang bercorak kotak-kotak besar. sekar sukun. sedangkan bagi pria kebanyakan memasangnya dengan posisi belah utak. gelang ikol dan keroncong. Di Serdang cara-cara pemakaiannya justru kebalikan dari daerah Deli. Pada leher pria digantungkan beberapa hiasan rantai. Pada pinggang depan sebelah kanan disisipkan sebilah keris yang bergagang emas. sarung yang bercorak kotakkotak besar atau kain songket. Di daerah Deli untuk kaum bangsawan mengenakannya secara melintang.

ragi hotang. Misalnya ulos jugia.Busana Tradisional Batak Batak Traditional Dress Penulis : Biranul Anas / Jonny Purba Kehidupan masyarakat suku bangsa Batak. hanya dapat dipakai pada waktu-waktu tertentu. Sebagai penutup kepala disebut tali-tali. Kain ulos yang dipakai orang-orang Batak pada upacara-upacara adat. Simalungun) mengenal tekstil buatan luar. dilengkapi dengan ulos di kepala (biasanya ulos mangiring) dan setengah badan. serta tutup kepala yang disebut saong. ragidup. sedangkan bagian bawah memakai sarung sungkit yang dililit dengan kain ulos. dipakai hingga batas dada. dilengkapi dengan sarung. dan bila dipakai berupa selendang disebut ampe-ampe. tanpa alas kaki. Bila dipakai oleh laki-laki bagian atasnya disebut ande-hande. Dalam keseharian. mereka memakai pakaian biasa. bulang-bulang. sabesabe atau detar. Sebelum orang Batak (Toba. Ulos pada mulanya identik dengan ajimat. Apabila seorang wanita sedang menggendong anak disebut parompa. Pada busana pengantin perempuan Batak Toba hampir semua pakaian yang dipakai terdiri dari kain ulos yang salah satunya diselempangkan pada kedua bahu . dan runjat. Pakaian pengantin perempuan Batak Karo terdiri dari baju tutup dengan lengan panjang. sadum. tali-tali (tutup kepala) serta baju berbentuk kemeja kurung berwarna hitam. penutup kepala dan juga sebagai penutup dada. Dalam upacara perkawinan kain ulos lebih tampak pada pakaian pengantin. Khusus pada perempuan suku bangsa Batak Pak pak/Dairi. baju dan celana. dipercaya mengandung "kekuatan" yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya istimewa untuk memberikan perlindungan. Dalam keseharian perempuan Batak aslinya memakai kain blacu hitam (dapat diganti dengan ulos disebut haen ) dengan dan baju kurung panjang yang umumnya berwarna hitam. Karo dan Simalungun menggunakan ulos yang berbentuk tudung sebagai pelindung panasnya matahari. khususnya pada ikat kepala. kain dan ulosnya. Pada suku Batak Toba. tidak terlepas dari penggunaan kain ulos. Saat ini kain blacu hitam selain diganti dengan ulos. Bila ulos dipakai oleh perempuan Batak Toba. umumnya diselempangkan di pinggangnya atau juga sebagai selendang. juga telah diganti dengan sarung tenunan bercorak kotak-kotak. sedangkan bagian bawahnya disebut singkot. Sudah barang tentu tidak semua ulos dapat dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Muangthai dan Laos. Pada suku Batak Simalungun pakaian yang dipakai antara lain bulang yang terbuat dari kain ulos dengan motif gatip dan pakaian sehari-hari yang terbuat dari ulos yang disebut jobit. Kadang-kadang diselempangkan (menggunakan ulos ragihotang). Menurut beberapa penelitian penggunaan ulos oleh suku bangsa Batak. ulos (disebut Uis oleh suku bangsa Batak Karo ) adalah pakaian sehari-hari. Untuk tutup kepala disebut saong. Mempelai laki-laki memakai baju jas tutup warna putih. sedangkan bagian bawah memakai ulos dari jenis ragi pane. Pada upacara secara umum wanita Batak menggunakan ulos sebagai penghias bahu/selendang. Untuk penutup punggung disebut hoba-hoba. laki-laki Batak menggunakan sarung tenun bermotif kotak-kotak (terkadang diganti dengan ulos yang disebut singkot). dan dilengkapi dengan sarung suji. bagian bawah disebut haen. Khusus bagi suku Batak Pak pak dan Dairi. Karo. Disamping bulang ada juga ulos surisuri sebagai tutup kepala. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbagai upacara adat. ulos yang digunakan dominan berwarna hitam. memperlihatkan kemiripan dengan bangsa Karen di perbatasan Myanmar.

Bobat (ikat pinggang) yang dahulu biasanya terbuat dari emas atau perak. Pada masa lalu. Pada suku bangsa Batak Simalungun. Pada masa dahulu. terbuat dari kain lakan berwarna hitam. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" .sampai ke badan (biasanya jenis ulos sadum). Bulang terbuat dari emas. Untuk selendang pengantin. Arti perlambang pada selendang adalah lambang dalihan na tolu. dan dililit dengan ulos ragi hotang. Alas kaki menggunakan selop atau sandal yang biasanya tertutup pada bagian depan atasnya. Diberi ornamen warna emas makna simbolik sebagai lambang keagungan orang yang memakainya. Baju Godang mengandung makna keagungan. tampak dari segitiga yang dibentuk dengan selendang yang disilangkan itu. Warna hitam ampu mengandung fungsi magis sedangkan warna emas mengandung lambang kebesaran. Untuk si samping pada masa dahulu menggunakan abit Bugis (kain Bugis) atau kain sarung. kadang-kadang juga menggunakan kain polos tanpa warna tertentu. dan bagian bawah melambangkan anak boru (kerabat penerima gadis). kedua pengantin memakai tudung kepala yang terbuat dari ulos suri-suri. Bulang terdiri dari tiga macam. godang (baju kebesaran) yang pada masa lalu berbentuk jas tutup. Ampu merupakan mahkota yang biasanya dipergunakan oleh raja-raja di Mandailing dan Angkola pada masa lalu. Sisamping (kain sesamping) yang dibelitkan dari batas pinggang sampai ke lutut. Pada daerah pinggang dipakai Bobat atau ikat pinggang yang dahulu terbuat dari emas dan kadang-kadang berkepala dengan ornamen kepala ular naga yang melambangkan keagungan. Dua lembar selendang yang disilangkan pada bagian dada sampai ke punggung. Selop hanya berfungsi praktis tanpa mengadung arti perlambang. Misalnya penggunaan bulang bertingkat tiga bila hewan yang disemblih adalah kerbau. Penamaan bulang ini dikaitkan dengan jenis hewan yang disemblih. Pada pesta perkawinan wanita suku bangsa Mandailing/Angkola menurut adat menggunakan tata busana yang terdiri dari : bulang yang diikatkan pada kening. selendang terbuat dari kain tonun petani (kain tenunan petani). sisi kanan melambangkan kahanggi (kerabat satu marga). Tetapi sekarang menggunakan kain songket. Pada masa lalu. pengantin pria kadangkadang mengenakan tutup kepala yang dinamakan serong barendo yang terbuat dari kain warna hitam yang diberi renda atau rumbairumbai. Sisi kiri melambangkan mora (kerabat pemberi anak gadis). seperti sulaman benang emas yang hanya berfungsi estetika tanpa arti perlambang. Pada masa sekarang menggunakan jas biasa berwarna hitam yang dilengkapi dengan kemeja lengan panjang dan dasi. Bagian bawah badan tertutup kain songket dengan warna yang tidak ditentukan. Baju. Baju pengantin ini disebut baju godang atau baju kebesaran. tetapi kini sudah banyak yang terbuat dari logam yang diberi sepuhan emas. Belakangan ini baju pengantin wanita kadang-kadang diberi sulaman. Pengantin pria menggunakan busana yang terdiri dari : ampu atau penutup kepala dengan bentuk khas Mandailing/Angkola yang terbuat dari kain dan bahan lain. bertingkat dua atau disebut bulang hambeng (bulang kambing) dan tidak bertingkat. Tetapi sekarang sudah umum menggunakan ikat pinggang biasa. Dewasa ini selendang terbuat dari kain songket. tetapi ujungnya dilipat ke arah kening sehingga terjuntai sedikit di atas kening bersama renda atau rumbai yang terbuat dari benang emas. Bulang mengandung makna sebagai lambang kebesaran atau kemuliaan sekaligus sebagai simbol dari struktur masyarakat. Bagian penutup selop kadangkadang diberi hiasan. Celana panjang atau pantalon tanpa warna tertentu. Bagian samping kanan ampu yang salah satu ujungnya mengarah ke atas dan satu lagi ke bawah mengandung arti bahwa yang paling berkuasa adalah Tuhan dan manusia pada akhirnya mati dan dikubur. Cara memakainya hampir sama dengan destar atau tengkuluk (topi). ikat pinggang terbuat dari emas atau perak sebagai lambang kebesaran. Sepatu sebagai alas kaki dahulu menggunakan alas kaki atau selop yang dinamakan capal yang terbuat dari kulit. masing-masing bertingkat bertingkat tiga disebut bulang harbo (bulang kerbau). Bagian atas badan tertutup oleh baju berwarna hitam yang dahulu dibuat dari kain beludru berbentuk baju kurung tanpa diberi hiasan atau sulaman. tergantung selera pemakai.

yang biasanya hanya dikenakan pada telinga kanan saja. Busana ini dilengkapi dengan balahogo sokondra. salah satu jenis tutup kepala khusus untuk perang disebut tete naulu. Baik dari jenis yang hanya dikenakan oleh kaum bangsawan serta tutup kepala khusus untuk kepala wilayah. masih banyak lagi jenis tutup kepala lainnya. Selain itu masih ada jenis lain seperti balahogo rate. dan hitam. Tutup kepala ini digunakan pada saat upacara saja. penduduk pulau Nias di pantai Selatan Sumatera memiliki variasi busana tradisional yang menambah keanekaragaman busana sukubangsa-sukubangsa di Sumatera Utara. khususnya busana kaum prianya. Dunia peperangan yang begitu dekat dalam kehidupan masyarakatnya membentuk "budaya perang" yang juga perpengaruh pada busana tradisional orang Nias. Jenis kalung lainnya adalah nifatali. yang terbuat dari rajutan rotan dilengkapi dengan daun pelem sebagai penutup di bagian belakang. perak atau emas. biasanya dikenakan baju berbentuk jaket atau jubah berbahan katun. yaitu baru lema`a. yaitu baju dengan motif kulit harimau. kuning. yaitu cawat atau celana yang terbuat dari bahan kulit kayu. Baju berbentuk rompi tidak berkancing ini berwarna dasar coklat atau hitam dan dengan ornamen berwarna merah. yaitu gelang yang terbuat dari bahan gulungan kuningan dengan berat mencapai 1 kilogram (khusus untuk perempuan dewasa mengenakan dua buah gelang). Cara penggunaannya adalah hanya dengan melilitkannya di pinggang dan kekenakan tanpa baju. Tutup kepala ini terbuat dari bahan rotan dililit kain akantun berwarna biru. Untuk upacara. Salah satu bentuk tutup kepala yang digunakan adalah saembu oti. terdiri dari baru atau baju yang aslinya terbuat dari bahan kulit kayu. namun saat ini sudah merupakan gabungan dengan kain katun. rotan dan pelepah kelapa. kalung yang terbuat dari lempengan kuningan. Bagian bawah . terbuat dari daun palem. yang disebut takula. aya ba mbagi bobotora. yang berwarna merah. merah dan putih. Laki-laki Nias kebanyakan menggunakan kalabubu sebagai penghias leher. Untuk menghadiri upacara adat. Ada juga tutup kepala. yaitu salah satu jenis penutup baju bagian atas (seperti kalung) yang terbuat dari bahan batubatuan. kalung yang terbuat dari lilitan perak atau emas dan nifato-fato. Perlengkapan busana ini adalah tombak dan pisau kecil. Selain model rompi ada juga baju berlengan tanpa kancing yang juga terbuat dari bahan kulit kayu. Orang-orang Nias pada masa lampau adalah prajurut-prajurit perang yang gagah berani. Busana ini dilengkapi dengan aja kola. berlengan kuning dihias motif sisir berwarna hijau atau kehitaman. Busana asli wanita suku bangsa Nias hanya terdiri dari lembaran kain (bahan blacu hitam atau kulit kayu). busana kaum laki-laki Nias.Busana Tradisional Nias Nias Traditional Dress Penulis : Bernali Ompusungu Orang Nias. Kalabubu adalah kalung untuk lakilaki yang terbuat dari kuningan dan dilapis dengan potongan kayu kelapa (aslinya dilapisi dengan emas). Salah satu jenis baru yang dikenal masyarakat Nias adalah baru ni`ola`a harimao. Selain itu. Sementara itu. yaitu anting logam besar. tanpa busana atas (baju penutup dada). dan saro dalinga. Dalam keseharian masyarakat Nias mengenal busana asli yang belum memperoleh pengaruh luar.

tampak adanya unsur-unsur Melayu. Baju berbentuk jubah hitam ayng berhiaskan motif binatang dari beludru merah dipadukan dengan kabo. salah satu jenis mahkota yang terbuat dari emas berbentuk ikat kepala dengan ornament barisan koin emas memanjang horizontal dan ditengah bagian belakang terdapat kepala mahkota berbentuk bunga dan daundaunan. Gela gela dan tali hu. yaitu kalung warna hitam dan yang tidak boleh ketinggalan adalah talogu atau pedang.busana wanita Nias disebut mukha. kain hitam dengan ornamen geometris segitiga berbaris di sisi pinggirnya. sebuah selendang katun bermotif bunga berwarana kuning dan segitiga berbaris dilapisi pinggir dari bahan berwarna gelap kehitaman menjadi pelengkap busana ini. Selembar ondora. mahkota berbentuk ikat kepala dengan ujung meruncing segitiga ke atas. terbuat dari . pakain tradisional Nias menggunakan bahan Wit kayu. Demikian pula rai ni woli woli. merah. Saat ini mahkota ini banyak digunakan sebagai bagian dari pakaian tari. dan emas mendominasi busana pengantin Nias. Selain itu. Dalam busana pengantin ini. sebelum mengenal pengaruh luar. sebagaimana menggambarkan kehidupan masyarakatnya yang bersahaja. maka kini untuk busana pengantinnya digunakan bahan beludru. kala bobu. yang terbuat dari panel warna kuning dihiasi oleh bermacam ornamen dipinggirnya. Bagian belakang baju ini lebih panjang dan bergambar matahari dan buaya. kuning. Rambut wanita Nias disanggul tanpa sasak dengan memakai sunggar. adalah nama jenis anting yang digunakan oleh masyarakat kebanyakan.lingkaran terbuka dari bahan perunggu dengan hiasan batubatuan atau kerang. Warna hitam. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" . Pengantin pria mengenakan celana hitam selutut. kuning di bagian depan. yang hanya digunakan oleh wanita bangsawan. Adapun kelengkapan busana ini adalah rai. alga kala bubu (kalung) dan gala (gelang). Apabila di masa lalu. adalah salah satu jenis anting terbuat dari emas. yaitu asesoris wanita berbentuk tas berbahan bambu dengan hiasan manik-manik berwarna-warni. Perhiasan yang dipergunakan adalah sialu fondreun (anting-anting). wanita Nias mengenal beberapa jenis asesoris. separuh leher dan lengan. Sebagai kelengkapan busana upacara. Lembe. hanya bahannya bukan terbuat dari emas. dikenakan untuk menutupi pinggang ke bawah (bentuknya mirip dengan kain panjang). Untuk perlengkapannya mempelai wanita mengenakan seledra (selendang) dan boba datu (ikat pinggang). Fondruru ana`a. baju kuning berpotongan serong dari beludru yang diberi ornamen berwarna merah. masih ada bola-bola. yang juga banyak digunakan oleh kaum bangsawan. yaitu selendang warna kuning dililitkan di pinggang. Kemudian dihias dengan mahkota atau rai. Busana pengantin Nias secara? keseluruhan pun nampak sederhana. yang disarungkan arah ke kiri.

kembang goyang. satin atau sutera. Selendang tidak mutlak dipakai. Penggunaan selendang biasanya dipadukan dengan baju kebaya pendek. penggunaan busana dan kelengkapannya sangat tergantung pada si pemakai. Pengaruh kebudayaan barat tampak juga pada busana kaum pria. Perbedaan busana pengantin Riau daratan dengan Riau kepulauan terletak pada hiasan kepala sebagai mahkota. sanggul biasa atau sanggul dua. kaum pria dan wanita di Riau biasa mengenakan baju kurung yang disebut baju gunting cina. kita kenal juga istilah baju teluk belanga. Adapun busana yang dikenakan kaum pria Riau adalah baju gunting cina. badan dan tangan masing-masing dilengkapi dengan kain selempang. sepit rambut. sedangkan kaum wanitanya menutup kepala dengan sepotong kain yang berupa selendang. Biasanya busana macam ini bahannya terbuat dari kain songket. Dalam kehidupan sehari-hari. baju kurung leher tulang belut atau cekak musang dengan celana berikut kain samping dari bahan songket yang digunakan menutupi celana hingga sebatas lutut. atau baju pesak sebelah dengan kain sarung atau celana. Busana ini umumnya dipakai ketika badan sudah bersih dan akan menunaikan shalat atau hendak menerima tamu yang berkunjung kerumahnya. cincin yang terbuat dari emas. Akan tetapi baju teluk belanga ini biasa dilengkapi dengan sebilah keris yang diselipkan di pinggang. Pakaian seharihari baik untuk di rumah atau di luar rumah berbeda dengan busana dan kelengkapannya untuk peristiwa khusus seperti upacara atau perjamuan resmi. Namun jika akan memakai selendang warnanya harus disesuaikan dengan warna baju kurung. Meski fungsinya sama. jurai. Kaum pria biasa menggunakan tutup kepala yang disebut kopiah atau songkok. namun pemakainya terbatas pada kalangan rakyat kebanyakan. sapu tangan kecil dan di pinggang melilit sebuah pending. Berbeda dengan busana kaum pria. Kelengkapan pada kepala tersebut meliputi. Untuk menghadiri acara formal. akan tetapi kain tudung kepala menutupi hampir seluruh tubuh pemakainya. yakni dengan adanya kebiasaan untuk memakai celana dan kemeja yang dilengkapi dengan jas. Pada kesempatan yang lebih formal atau ketika menghadiri upacara. semakin banyak perhiasan yang dipakai seseorang ia akan semakin disegani dan dikagumi. kaum wanita di Riau juga memakai perhiasan yang terdiri dari kalung. Di kalangan bangsawan atau keturunan raja-raja Riau. Hiasan kepala yang dipakai pada upacara perkawinan Riau kepulauan terlihat lebih sederhana dibanding dengan Riau daratan. Untuk bagian dada. sering pula digunakan kain tudung kepala. tusuk sanggul. Sesungguhnya busana tersebut bentuknya tidak jauh berbeda dengan baju cekak musang. kaum wanita Riau umumnya memakai baju kurung satu sut. Sandal atau kasut merupakan alas kaki yang lazim dipakai oleh kaum wanita dan pria Riau. kelengkapan busana kaum wanita Riau umumnya lebih semarak. Bagian kepala ditutupi dengan peci atau songkok. Dalam pandangan masyarakat Riau. Selain memakai selendang untuk menutup kepala. gelang tangan. Cincin dari emas dan perhiasan lainnya biasa dipakai kaum pria Riau terutama pada saat menghadiri pertemuan formal atau perhelatan. antinganting. . meliputi juga kelengkapan kepala. dan gelang kaki untuk bagian bawah.Busana Tradisional Riau Riau Traditional Dress Penulis : Siti Dloyana Kusumah Bagi masyarakat Melayu Riau. dalam pemakaian maupun kelengkapan yang dipakai. Adakalanya perhiasan tersebut terbuat dari bahan suasa.

karena ia mendapat julukan raja sehari. Lacak ini terbuat dari kain beludru warna merah yang diberi kertas tebal di dalammnya agar menjadikannya keras. Masyarakat awam atau rakyat kebanyakan tidak diperbolehkan menggunakan warna kuning sebab dianggap tidak beradab. begitu juga dengan perhiasan. tangkai clan bunga yang akan mekar. biasanya disesuaikan dengan kedudukan seseorang dalam masyarakat atau bisa juga bentuk acara yang akan dihadiri.Aturan pemakaian keris ini adalah tidak nampak menonjol. pakaian sehari-hari berkembang menjadi baju kurung dan selendang sebagai penutup kepala untuk kaum perempuan. Dalam sistem kemasyarakatan Riau. orang Riau pun mempunyai ketentuan khusus dalam menggunakan warna. Dalam berbusana sehari-hari pada awalnya hanya dikenal kain dan baju tanpa lengan. seperti Riau. Sebagai hiasan terdapat lukisan flora dari daun. Meskipun bentuk dan coraknya sama. Setelah adanya proses akulturasi dengan berbagai kebudayaan. Perbedaannya yakni tambahan mutu manikam atau intan berlian yang dibubuhkan pada perhiasan kaum bangsawan tersebut. Kain sutera sangat biasa dijumpai dalam pembuatan busana kaum bangsawan. Pada perkembangan berikutnya dikenal adanya pakaian adat. Warna kuning pun dipakai untuk busana pengantin. dan sebagainya. dengan julangan yang lebih tinggi pada bagian depannya. hanya bagian hulu yang menyembul dari balik kain. Sebutan ini dimaksudkan untuk membedakan dengan suku Melayu yang berdiam di daerah lain. Busana Tradisional Melayu Jambi Jambi Malay Traditional Dress Suku Melayu Jambi adalah sebutan bagi orang-orang Melayu yang mendiami daerah sepanjang sungai Batang Hari. kepangkatan atau garis keturunan menjadi dasar pada perbedaan cara berbusana. Perbedaan bentuk ikat kepala tersebut. Tutup kepala ini memiliki dua bagian yang menjulang tinggi. Pada umumnya ketika seorang pria mengenakan baju teluk belanga. Menurut anggapan mereka warna kuning adalah simbol warna kerajaan oleh sebab itu hanya boleh digunakan oleh orang-orang dari kalangan bangsawan atau keturunan raja-raja Riau. bagian kepala dan rambut menggunakan penutup kepala yang disebut tanjak laksmana atau bisa juga bentuk tanjak temenggung dan tanjak menyongsong angin. Pakaian adat ini lebih mewah daripada pakaian sehari-hari yang dihiasi dengan sulaman benang emas dan pemakaian perhiasan sebagai pelengkapnya. Selain dari segi kualitas yang membedakan kedudukan seseorang dalam masyarakat. Sedangkan kaum prianya mengenakan celana setengah ruas yang melebar pada bagian betisnya dan umumnya berwarna hitam. Sumatera Selatan. Pakaian Adat Pria Laki-laki suku Melayu Jambi dalam berpakaian adat mengenakan lacak di kepalanya. Pakaian untuk pria ini dilengkapi dengan kopiah sebagai penutup kepala. propinsi Jambi. namun bahan pembuatannya benar-benar berbeda. sehingga lebih leluasa geraknya dalam melakukan kegiatan seharihari. Bagian pinggir .

ini dimaksudkan untuk menjaga sopan santun clan kehormatan kaum wanita (permaisuri raja). bunga matahari. Bunga cempaka. Sebagai hiasan dada dikenakan rantai sembilan. Pakaian Adat Wanita Busana untuk perempuan terdiri dari kain sarung songket clan selendang songket warna merah. Keris diselipkan di perut menyerong ke kanan melambangkan kebesaran sekaligus untuk berjaga-jaga. Kelengkapan busana perempuan lebih banyak dibandingkan dengan yang dikenakan oleh pria. Penutup bagian bawah disebut cangge (celana). Untuk lebih memperindah diberi sulaman emas dengan motif bunga melati pecah. Kedua tangan dihiasi gelang kilat bahu terbuat dari logam celupan berlukiskan naga kuning. Bagian pinggangnya dihiasi dengan selendang tipis warna merah jambu yang pada ujung ujungnya diberi umbai-umbai warna kuning. bungo runci letaknya dibagi rata untuk mengisi bagian sebelah kiri clan kanan. Tutup kepalanya disebut pesangkon yang terbuat dari kain beludru merah dengan bagian dalam diberi kertas karton agar keras. Penempatan pohon beringin lebih tinggi dari bunga-bunga lain di sekeliling pesangkon. Selain itu juga melambangkan sepucuk Jambi sembilan lurah. Kalungnya terdiri dari tiga . Ada juga yang menyebut duri pandan karena pada bagian depan tutup kepala ini diberi hiasan dari logam berwarna kuning berbentuk duri pandan. Sementara bunga pandan digunakan sebagai hiasan kepala bagian belakang yang dibuat menjurai ke bawah dan dilekatkan pada sanggul lintang. Tutup dadanya disebut teratai dada. seperi pohon beringin. Bentuknya bergerigi menyerupai pucuk rebung atau bambu yang baru tumbuh. Pada perempuan dikenakan anting-anting atau antan dengan motif kupu-kupu atau gelang banjar. bunga matahari. sedang bagian pinggirnya bermotifkan kembang berangkai atau pucuk rebung. Bungo runci ini berwarna putih dirangkai dengan benang. dan pucuk rebung. Bajunya disebut baju kurung tanggung bersulam benang emas dengan motif hiasan bunga melati. Lukisan naga ini mengandung makna bila seseorang telah diberi kekuasaan janganlah diganggu. kembang cempaka. Konon. Hal ini mengandung makna seseorang harus tangkas clan cekatan dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan. Dikenakan pula selempang yang menyilang badan terbuat dari songket warna merah keungu-unguan sebagai pasangan kain sarung dengan motif bunga berangkai clan beranting. karena bentuknya seperti bunga teratai dipasang melingkar leher sehingga menyerupai kerah. Sedangkan selop atau alas kaki yang berbentuk setengah sepatu berfungsi untuk melindungi kaki saat berjaalan. sejenis kalung bermakna adanya pembagian kerja clan harus tolong-menolong. Disebut tanggung karena panjangnya hanya sedikit di bawah siku tidak sampai ke pergelangan tangan. Sudah menjadi kebiasaan di daerah Jambi mengenakan kain sarung songket yang dililitkan di pinggul. Bajunya disebut baju kurung tanggung berlengan panjang. Untuk memperkuat bagian pinggang ini digunakan pending berupa rantai dengan sabuk sebagai kepala terbuat dari logam. Hiasan kepala ini masih dilengkapi dengan berbagai macam tumbuhan. Bahannya terbuat dari beludru warna merah diberi sulaman benang emas. Bagian tengahnya terdapat motif kembang bertabur atau kembang tagapo dan kembang melati. Dalam mengikat tali ini digunakan teknik ikatan kajut untuk memudahkan dalam membuka nantinya. Bahannya masih dari beludru yang dilengkapi dengan tali sebagai ikat pinggang. yang diimbangi oleh penempatan bungo runci di sebelah kiri.sebelah kanan diberi lukisan tali runci. kembang tagapo. Kelengkapan lainnya adalah keris clan selop. bungo runci. dapat berupa bunga asli atau tiruannya. clan bunga pandan.

Penulis : Dewi Indrawati . Kesemuanya di pasang di lengan. Bedanya bentuk motif yang lebih besar pada teratai dada dan pending. Selebihnya polos. Terlebih saat menuai. Masih ditambah dengan gelang kano. yang disebut baselang atau pelarian. Pakaian Baselang Masyarakat suku Melayu Jambi yang mendiami sepanjang sungai Batang Hari sebagian besar hidup dari bertani. khususnya yang dikenakan para gadis. Kelengkapannya terdiri dari sarung warna merah yang dipakai sedikit di bawah lutut (tanggung). yaitu kalung tapak. Teknik clan cara pertanian yang dijalankannya masih terhitung sederhana. kecil dan besar. Khusus untuk gelang buku beban bahannya berasal dari permata putih. Dalam rangkaian upacara tersebut terdapat hiburan sehingga pakaian yang dikenakan pun lebih bagus. Sementara untuk kaki dikenakan gelang nago betapo dan gelang ular melingkar. selendang. kecuali bagian leher sebelah depan. selendang warna merah dililitkan di kepala serta membawa perlengkapan lain seperti ani-ani clan kiding (tempat padi). Kemudian baju kurung tanggung warna merah agak keungu-unguan dari beludru yang diberi sulaman pada bagian setengah badan ke bawah dengan motif bola-bola kecil berukir. di mana sebagian besar kegiatan dilakukan oleh bujang clan gadis. Jika acaranya kecil maka pakaian yang dikenakan berfungsi ganda sebagai pakaian upacara maupun bekerja. Selendang songket yang dikenakan sebagai penutup kepala diberi sulaman benang emas dan umbai-umbai di ujungnya. Jumlah gelang yang dipakai pun lebih banyak meliputi gelang kilat bahu masing-masing lengan dua buah. baju kurung berlengan tanggung yang letaknya di luar kain. Kain songketn berwarna merah tua bermotifkan kembang melati pecah dan bagian pinggir bermotifkan daun pakis. Sedangkan unsur-unsur kelengkapan yang lain seperti teratai dada (tutup dada). Dilengkapi dengan selempang warna kuning dari bahan tetoron. dan selop hampir sama dengan yang dikenakan pria.jenis. Pada jari-jarinya terpasang cincin pacat kenyang dan cincin kijang atau capung. Pada acara besar pakaian dibedakan untuk upacara dan bekerja. dan karenanya memerlukan kerja sama atau bergotong-royong. Acaranya sendiri dibedakan menjadi dua. gelang ukuran sedang dua buah clan ikat pinggang yang berbentuk kotakkotak berangkai satu sama lainnya. Motifnya digunakan daun pakis dan terawang yang diletakkan memanjang dari ujung ke ujung. Pembedaan ini mempengaruhi pada variasi pakaian yang dikenakan. Disebut demikian karena bentuknya yang menyerupai naga dalam dongeng sedang tidur clan ular yang melingkar membentuk bulatan. pending dan sabuk (ikat pinggang). gelang ceper dan gelang buku beban. kalung jayo atau kalung bertingkat dan kalung rantai sembilan.

sebilah keris dan gelang emas di tangan kanan. biru tua. Pada bagian dada tergantung sebentuk lidah penutup. dipadukan dengan tusuk konde. bersama-sama dengan antinganting berukir dari emas. Pakaian adat pria Susunan busana adat pria terdiri atas jas. alas kaki beludru dengan corak-corak keemasan. . celana panjang. Bahan baju kurung umumnya beludru dalam warna-warna merah tua. menyentuh bahu. bertabur corak-corak. Samping biasanya terbuat dalam teknik songket benang emas atau perak dan disebut sarung segantung. Versi lain dari jas adalah sejenis jas tertutup dari bahan beludru hitam. Sehelai kampuh dari satin sutra bersulam emas. dan jumbaijumbai kiri dan kanan. Sarung dikenakan sebagai samping di bawah jas sampai sedikit di atas lutut. Jambi dan Riau. Hiasan di sanggul atau konde biasanya terdiri dari sikek berbentuk bulan sabut. mirip dasi dengan hiasan-hiasan benang emas. lembayung atau hitam. diselempang pada bagian dada kebelakang punggung membentuk huruf V. yang sebenarnya merupakan kepanjangan dari kembang goyang di kepala sedemikian rupa sehingga seolah-olah bergantung disebelah daun telinga. Celana paduannya terbuat dari beludru dengan taburan corak�corak benang emas juga walaupun tidak selalu dalam warna yang sama dengan jas. Gaya busana ini dikenakan masyarakat untuk menghadiri pesta-pesta adat yang penting. sulaman emas berbentuk lempengan�lempengen bulat seperti uang logam. Pakaian adat wanita Kaum wanita Melayu Bengkulu mengenakan baju kurung berlengan panjang.Busana Tradisional Bengkulu Bengkulu Traditional Dress Dimasa kini busana adat Bengkulu yang populer adalah gaya Melayu Bengkulu yang tampak mendapat pengaruh dari gaya-gaya Melayu yang pada dasarnya terdapat dari seluruh Sumatera khususnya Minangkabau. Sarung songket benang emas atau perak dalam warna serasi dari sutra merupakan perangkat busana yang dikenakan dari pinggang sampai dengan mata kaki. Demikian pula untuk celananya terbuat dari bahan dan warna yang sama. cokonde balon. merah tua atau biru tua yang bertaburkan corak-corak sulaman atau lempeng-lempeng emas. Jas tersebut dari kain bermutu seperti wol dan sejenisnya dan biasanya berwarna gelap seperti hitam atau biru tua. sarung. Perhiasan keemasan disematkan sebagai sunting-sunting pada sanggul di kepala. Sebagian pelengkap busana pada kepala dipakai detar dari kain songket emas atau perak. alas kaki yang dilengkapi dengan tutup kepala dan sebuah keris.

Tetapi sekarang banyak digunakan kawai kemija. Tetapi sekarang telah dikenal adanya celanou (celana) pendek dan panjang sebagai penganti kain. tapis yang dipenuhi sulaman benang emas dengan motif yang indah merupakan kelengkapan busana adat daerah Lampung. yaitu kain yang dibuat dari kain Samarinda. menurun sampai daerah pinggang yang dilingkari oleh sebuah pending berangkai yang terbuat dari emas. Baju ini terbuat dari bahan kain tetoron atau belacu dan lebih disukai yang berwarna terang. Bagian bawah mengenakan senjang. Pemakaian kawai kemija ini sudah biasa untuk menyertai kain dan peci.Di dada pada bagian atas kampuh bergantungan gelamor berukir. kain tenun bersulam benang emas yang indah. Untuk mengiring pengantin dikenakan kekat akkin. yaitu destar dengan bagian tepi dihias bunga-bunga dari benang emas dan bagian tengah berhiaskan siger. Pada penyelenggaraan upacara adat. yaitu tutup kepala berbentuk segi empat berwarna hitam terbuat dari kain tebal. Bila dipakai dalam kerapatan adat dipadukan dengan baju teluk belanga dan kain. yaitu baju berbentuk teluk belanga belah buluh atau jas. Alas kaki memakai selop bersulam emas. Bugis atau batik Jawa. yaitu bentuk kemeja seperti pakaian sekolah atau moderen. serta di salah satu sudutnya terdapat sulaman benang emas berupa bunga tanjung dan bunga cengkeh. Sebagai penutup badan dikenakan kawai. Penulis : Biranul Anas Busana Tradisional Lampung Lampung Traditional Dress Daerah Lampung dikenal sebagai penghasil kain tapis. Kain ini dibuat oleh wanita. seperti perkawinan. Kaum wanita Lampung sehari-hari memakai kanduk/kakambut atau kudung sebagai penutup kepala yang . Dalam keseharian laki-laki Lampung mengikat kepalanya dengan kikat. berlapis-lapisan dalam jumlah banyak. ketika menghadiri upacara adat sekalipun. Lelaki muda Lampung lebih menyukai memakai kepiah/ketupung. apalagi kalau ingin bertemu dengan gadis. Bahannya dari kain batik. Pergelangan tangan dan jari jemari dilingkari dengan mandering dan cincin permata.

yaitu selendang sutra bersulam benang emas dengan motif tumpal dan bunga tanjung. yang dikenal sebagai kain tapis atau kain Lampung. Busana Tradisional Palembang Palembang Traditional Dress Penulis Sri Murni Biranul Anas . seperti perkawinan kaum wanita. yaitu kain selendang yang dipakai untuk penahan panas atau dingin yang dililitkan di leher. Untuk mempererat ikatan kain (senjang) dan celana di pinggang laki-laki digunakan bebet (ikat pinggang). Selain itu. sedangkan wanitanya menggunakan setagen. yaitu gelang kaki yang biasanya berbentuk badan ular melingkar serta dapat dirangkaikan. Dikenakan pula kalai kukut. yaitu gelang yang dipakai di lengan kanan atau kiri. Kelai pungew. Selain itu. biasanya memiliki bentuk seperti badan ular (kalai ulai). tetapi ada yang disulam hampir di seluruh kain. Pakaian mewah dipenuhi dengan warna kuning keemasan dapat dijumpai pada busana yang dikenakan pengantin daerah Lampung. juga dapat dikenakan selekap balak. yaitu selendang sutra disulam dengan emas dengan motif pucuk rebung. kain ini dipakai sebagai kain basahan. Baju ini terbuat dari bahan tipis atau sutra dan pada tepi muka serta lengan biasa dihiasi rajutan renda halus. yaitu kalung leher (monte) berangkai kecil-kecil dilengkapi dengan leontin dari batu permata yang ikat dengan emas. Pada waktu mandi di sungai. Kemudian rajutan tadi ditusuk dengan bunga kawat yang dapat bergerak-gerak (kembang goyang). perak atau suasa diberi mata dari permata. Bahannya dari kain halus tipis atau sutera. Mulai dari kepala sampai ke kaki terlihat warna kuning emas. Selikap yang terbuat dari kain yang mahal dipakai saat menghadiri upacara adat dan untuk melakukan ibadah ke masjid. Cara menyanggul seperti ini memerlukan rambut tambahan untuk melilit rambut ash dengan bantuan rajutan benang hitam halus. Lawai kurung digunakan sebagai penutup badan. Untuk memperindah dirinya dipergunakan berbagai asesoris terbuat dari emas. Perlengkapan lain yang dikenakan oleh laki-laki Lampung adalah selikap. Pada jari tengah atau manis diberi cincin (alali) dari emas. bunga cengkeh dan hiasan berupa ayam jantan. memiliki bentuk seperti baju kurung. Selambok/rattai galah. Dikenakan senjang/ cawol yang penuhi hiasan terbuat dari bahan tenun bertatah sulam benang emas.dililitkan. baik yang gadis maupun yang sudah kawin. Di bahunya tersampir tuguk jung sarat. Sebagai kain dikenakan senjang atau cawol. Kalai kukut ini dipakai sebagai perlengkapan pakaian masyarakat yang hidup di desa. Sulaman benang emas ada yang dibuat berselang-seling. kecuali saat pergi ke ladang. Para ibu muda dan pengantin baru dalam menghadiri upacara adat mengenakan kain tapis bermotif dasar bergaris dari bahan katun bersulam benang emas dan kepingan kaca. menyanggul rambutnya (belatung buwok). kaum ibu kadangkadang menggunakannya sebagai kain pengendong anak kecil. Untuk menghadiri upacara adat. Khusus bagi wanita yang baru menikah. di tengahnya bermotifkan siger yang di kelilingi bunga tanjung. pada saat menghadiri upacara perkawinan mengenakan kawai/kebayou (kebaya) beludru warna hitam dengan hiasan rekatan atau sulaman benang emas pada ujung-ujung kebaya dan bagian punggungnya.

Busana ini sebenarnya berasal dari masa-masa kesultanan Palembang sekitar abad ke 16 sampai pertengahan abad ke 19. Pada bagian dalam dikenakan penutup dada yang disebut kutang. badeek. suasa. dan memakai kantong terawangan. tumbak lado. rambi ayam. Pakaian untuk di rumah tidak dilengkapi dengan alas kaki. Cina. Laki-laki Palembang gemar memakai baju jenis bela booloo. Ada juga yang diberi batu permata. Pakaian bagian bawah berupa celana panjang yang dinamakan celano belabas. Indramayu. baik waktu bepergian maupun ketika sedang di rumah. Lasem. dan diberi angkinan dari kain batik yang didatangkan dari Gresik. sebagai gantinya dikenakan kopiah sebagai penutup kepala. atau jembio. Tutup dada biasanya diberi hiasan permata. Sarung keris (pendok) terbuat dari emas. yang diyakini dapat membawa berkah dan keselamatan bagi pemakainya. yang terbuat dari kain yang ditenun. Pakaian sehari-hari Pakaian orang laki-laki (wong lanang) terdiri dari kain (sewet). seperti keris. baju (kelambi). Semuanya terbuat dari kain songket (kain tenunan tradisional) Palembang. seperti kayu meranti payo atau ngerawan. Ada pula yang disulam dari bagian pinggul sampai ke mata kaki dengan motif lajur. atau tembaga yang dilapisi emas. tergantung pada taraf ekonomi pemakainya. Kain (sewet) biasanya ditenun sendiri atau dibeli dari pulau Jawa. terbuat dari kain yang ditenun. atau Eropa. Kain ini dibuat dengan cara ditenun. Busana ini juga dilengkapi dengan alas kaki jenis terompah. tanjak meler dan tanjak bela mumbang. Badong ini terbuat dari campuran berbagai bahan logam. Kemudian pada bagian bawah selebar lebih kurang 10 atau 12 cm. Saat ini sudah jarang orang yang memakai tanjak. Keris ini diselipkan pada lambung sebelah kiri. memakai kantong biasa. Ada juga yang memakai seluar (celana) panjang atau celana model pangsi (lok cuan). Jenis celana yang lain disebut dengan celano lok cuan (celana pangsi. Pada bagian luarnya ditatah dengan abjad atau angka-angka Arab. yang dianggap jenis yang paling istimewa karena memiliki khasiat ampuh. Sebagai pakaian sehari-hari. atau dapat juga dicap dengan cairan emas perada (diperadan). perak. Demikian juga baju (kelambi) biasa ditenun sendiri. iket-iket atau kopiah (kopca). Untuk alas kaki yang berbentuk gamparan terbuat dari potongan kayu yang bermutu. Pakaian kebesaran untuk lakilaki dilengkapi dengan tanjak (tutup kepala) yang terbuat dari kain batik atau kain tenunan. karena mereka menganggap tutup kepala lebih penting dari baju. atau membeli bahan baju dari Jawa. Setelah celana panjang dikenakan selembar kain yang disebut sewet bumpak. Pada umumnya mereka mengenakan tutup kepala. atau bisa juga mengenakan kebaya landoong atau kelemkari yaitu kebaya panjang hingga di bawah lutut. Pelengkap busana yang lain adalah keris. Tutup kepala juga dibuat sendiri dengan cara ditenun. Hanya seorang raja yang boleh memakai keris dengan gagangnya menghadap keluar. disulam. atau perak dengan tatahan bermotif bunga. celana yang panjangnya sebatas lutut). ditaburi dengan bunga-bunga kecil dari benang emas. diberi pinggiran benang emas. serta diberi tumpal benang emas. Busana ini dilengkapi dengan ikat pinggang yang disebut badong. atau Betawi. Mulai dari bagian bawah lutut sampai ke arah mata kaki disulam (diangkeen) dengan benang emas. dan dikenakan oleh golongan keturunan raja-raja yang disebut Priyai. tutup kepala dengan jenisnya disebut tanjak. Jenis celana ini tidak disulam dengan benang emas. Badong yang terkenal disebut badong jadam. maupun diperadan. terbuat dari suasa. Baju yang dikenakan disebut kebaya pendek. dan memakai alas kaki yang disebut gamparan atau terompah. Baju ini dibuat dari kain yang ditenun dan disulam dengan benang emas maupun benang biasa yang berwarna. India. Selanjutnya busana ini dilengkapi dengan sejenis senjata tajam. yang dibedakan atas tiga jenis yaitu: memakai kancing (bemben). . dan ukuran celananya lebih lebar. dan sarungnya tidak kelihatan karena ditutupi kain atau celana. Tanjak dibedakan atas tanjak kepudang. orang laki-laki umumnya mengenakan kain (sewet sempol) dan baju beta booloo. Jenis tutup kepala yang biasa dikenakan adalah kopiah (kopca).

Saat ini orang Palembang sudah dapat membuat sendiri busana mereka dengan bahan-bahan yang diperoleh dari alam sekitarnya. yang dikenakan pada kepala. Pada saat menghadiri suatu upacara adat. gelang (jenis gelang yang terkenal disebut gelang kepalak ulo). kaum perempuan lazim mengenakan kain (tenunan tradisional Palembang atau kain batik dari Jawa). busana yang dikenakan kaum wanita adalah serba songket. umumnya batik Betawi atau yang dinamakan sewet mascot. Busana ini dilengkapi dengan sehelai selendang besar yang dipakai dengan rapi menutupi kepala sampai bahu. yang disebut koodoong (kerudung) kajang atau koodoong trendak. Semakin halus songket yang dimilikinya. Namun sejak tahun 1942 koodoong kajang sudah tidak pernah dipakai lagi. Dari mutu kain songket tersebut dapat terlihat kekayaan atau kemampuan keluarga yang memilikinya. sedangkan perempuan muda memakai baju kebaya. Selendang tersebut biasanya diberi rumbai-rumbai (rumbe rumbe). sebagai penggantinya dipakai setagen (kain kecil yang sangat panjang yang dikenakan melilit perut. Sebagai kelengkapan busana serba songket ini sama dengan perhiasan yang lazim dikenakan untuk menghadiri upacara-upacara adat lainnya. Baju yang dikenakan disebut baju kooroong (kurung) terbuat dari kain belacu. baju kurung yang panjangnya sampai lutut atau kebaya yang tepinya diberi renda hingga menutup dada (untuk remaja putri). kamhar. Mereka biasa mengenakan kain pelekat. Cina. pakaian yang lazim dikenakan terdiri atas kain sarung (sewet saroong) batik yang halus. Sebagai perhiasan pelengkap busana ini adalah kalung emas dengan liontin permata berlian atau intan.Pada saat akan bepergian. Kemudian rambut ditata dengan sanggul. bahu. Baju yang dikenakan berupa jas tutup terbuat dari bahan linen. Pakaian ini dilengkapi dengan ikat pinggang (cak pinggang) terbuat dari kulit. serta dicampur dengan bunga-bunga yang harum). rambut disanggul. Songket ini merupakan pemberian suami ketika mereka menikah sebagai salah satu mas kawin. Pada masa lalu. Bagi orang kaya tidak ketinggalan jam kantong dengan medalion. Busana Tradisional Priangan dan Cirebon Priangan and Cirebon Traditional Dress . berasal dari Jawa). rangkaian peniti terbuat dari emas atau perak. sehingga yang nampak hanya mata dan hidung pemakainya. Sebagai alas kaki adalah terompah atau sepatu tanpa tali. menandakan kekayaan keluarga yang bersangkutan. Sedangkan sebagai alas kaki dikenakan terompah dengan sulaman klingkan bagi perempuan yang sudah tua. Busana untuk bepergian tersebut juga lazim dikenakan kaum laki-laki pada kegiatan-kegiatan perayaan. dada. Baju kurung ini lazim dikenakan oleh perempuan yang sudah tua. dan dahi. serta gelang kaki (yang terkenal adalah gelang sekel kepalak nago). dan Singapura. semua bahan pembuatan busana tersebut didatangkan dari Jawa. atau las. Mereka juga mengenakan selendang (kemben). Busana ini hanya boleh dikenakan oleh perempuan yang sudah bersuami. Untuk menghadiri suatu upacara adat yang disebut penganten mungga. yang disebut geloongan coompook atau geloongan temakoo setebek. baju kurung (kooroong) dengan panjang sebatas lutut. dan terompah atau selop. Sebagai pakaian sehari-hari. Rambut disisir dengan rapi dan diberi minyak lengo (minyak kelapa yang dicampur dengan daun pandan yang diiris halus. Busana untuk perempuan (wong betino) terdiri dari kain (sewet saroong). Wanita yang sudah menikah atau yang sudah tua lazim memakai selendang sebagai tutup kepala. India. dan mengalami perubahan fungsi sebagai tudung saji atau tutup makanan. dan untuk orang muda mengenakan cenela atau selop tungkak tinggi (sandal bertumit tinggi). dan tutup kepala (tengkoolook). Tetapi saat ini jenis ikat pinggang tersebut sudah jarang dikenakan. Untuk ikat pinggang dikenakan sejenis pending yang disebut badong atau angkin. mereka selalu mengenakan pakaian yang terbaik dan rapi. yang halus dari jenis tajung Bugis atau gebeng Palembang.

Celana panjang model komprang digunakan oleh laki-laki di Priangan dan Cirebon. perempuan di Priangan dan Cirebon tidak mengenal lamban atau lepe (melipat bagian pinggir kain) namun kebiasaan tersebut baru dikenal sekitar dekade ketiga atau keempat abad 20 ini. Adakalanya dikerudungkan. ciamisan bagi masyarakat Priangan dan batik dermayon atau trusmi untuk orang Cirebon Penggunaan kain batik yakni dililitkan pada bagian bawah badan. diikatkan pada pinggang atau dililitkan. Pada masa pemerintahan Belanda. Biasanya mereka menggunakan bahan yang berkualitas tinggi seperti sutera atau beludru serta corak hias yang lebih anggun. Berkain kebaya pada dasarnya digunakan oleh kaum perempuan disemua lapisan. Meskipun bentuk dasarnya sama namun terdapat variasi terutama dalam hiasan yang disesuaikan dengan keinginan/kebutuhan pemakainya. polekat). baik di kalangan rakyat biasa maupun di kalangan bangsawan. Bentuk pakaian/busana tersebut merupakan perpaduan antara tradisi Sunda. warna hitam atau putih. Adapun masyarakat Cirebon. dilepas sampai pergelangan kaki. Yang membedakannya hanyalah bahan dasar iket tersebut. Cara mengenakan sarung ini sangat bervariasi sesuai dengan kebutuhan. Kaum laki-laki di Priangan dan Cirebon mengenakan iket sebagai penutup kepala. pernah dikeluarkan peraturan tentang bentuk dan cara berpakaian bagi para bangsawan dan pejabat pemerintah pria saat itu. Untuk kesempatan resmi busana resmi wanita priangan dilengkapi dengan sehelai selendang berwarna sama dengan kebaya dan alas kakinya berupa sandal selop. sedangkan kaum bangsawan menggunakan kain batik halus. Aturan tersebut berupa keseragaman pakaian pada saat-saat tertentu. dari pinggang hingga ke pergelangan kaki. Namun demikian kalangan bangsawan tidak pernah menggunakan sarung pada kesempatan resmi. Iket tersebut kemudian berkembang menjadi bendo yakni tutup kepala yang terbuat dari kain batik yang dicetak menurut ukuran kepala tertentu. Model ini sesungguhnya adalah bentuk dasar celana kaum bangsawan yang dihias dengan pasmen memanjang dari atas ke bawah pada bagian tengah samping sekeliling lubang celana. baik rakyat biasa maupun kalangan Keraton mengenakan baju sorong atau baju kurung. Sebagai penyambung belahan kebaya. Jawa dan Eropa terutama Belanda. baik di Priangan maupun di Cirebon. dan dihiasi dengan pasmen. dari rakyat biasa sampai kalangan bangsawan Priangan maupun Cirebon. Untuk memperkuat dililitkan beulitan atau sabuk pada pinggang pemakai. Umumnya yang digunakan mereka adalah kain-kain batik buatan setempat seperti batik garutan. kain batik pun digunakan pula oleh semua lapisan masyarakat. Laki-laki di Priangan dan Cirebon pada umumnya mengenakan sarung (poleng. Cara memakai kain batik tersebut ada beberapa bentuk. Bentuk kampret tersebut juga menjadi bentuk dasar dari model busana para pejabat dan kalangan bangsawan. masyarakat Jawa Barat khususnya di Priangan dan Cirebon terus mengembangkan model busana sesuai dengan perkembangan zaman dan berbagai ketentuan pemerintah yang turut pula mengatur tata cara berbusana masyarakat Jawa Barat. digunakan peniti. Oleh karena itulah pada busana pejabat atau bangsawan terdapat hiasan dari pasmen yang disesuaikan dengan tinggi rendahnya jabatan. demikian pula pada sekeliling lengan dan pada seputar bawah kebaya. Di kalangan rakyat kebanyakan terbuat dari batik kasar. Pada bagian kebaya dari leher sampai ujung bawah kebaya surawe terdapat hiasan dari pasmen. Khusus para bangsawan Cirebon menggunakan kain wulung. Di kalangan istri pembesar.Dari masa ke masa. . sebatas lutut dan sedikit di atas lutut. bahan kebaya yang digunakan berbeda dari rakyat biasa. Adakalanya peniti itu terbuat dari logam mulia yang disambung-sambungkan dengan rantai kecil disebut panitih rantay. mereka lebih suka memakai kain batik halus. Busana jajaka adalah baju takwa dan celana warna hitam dilengkapi dengan kain dodot dan tutup kepala bendo terbuat dari kain batik halus bermotif sama dengan kain dodot. Yang membedakan keduanya adalah. Zaman dahulu. Sama halnya dengan kebaya. Di kalangan rakyat biasa baju yang dikenakan adalah potongan kampret. pada busana pejabat terdapat lidah-lidah pada bagian leher yang berkancing kait atau kancing pentul.

selop atau kelom sudah menjadi bagian dari berbusana. Meskipun catatan sejarah mengatakan bahwa zaman dahulu mereka tidak menggunakan alas kaki. Bagian depan bendo Cirebon terdapat garis selebar 4 cm yang makin ke dalam makin kecil. Penulis : Siti Dloyana Kusumah Busana Tradisional Baduy Baduy Traditional Dress Penulis : Jaya Purnawijaya . Seringkali pula perhiasan tersebut terdiri bukan hanya dari emas tetapi ditaburi dengan kilauan intan berlian. Perhiasan tersebut umumnya berupa cincin emas. sedangkan rakyat kebanyakan tetap memakai iket. Sebagai alas kaki bisa memakai selop atau sepatu. berpengaruh kuat pada penggunaan kelengkapan busananya seperti perhiasan dan alas kaki. untuk tampil cantik cukup memakai busana sederhana dengan perhiasan gelang emas /perak. ali meneng. mereka baru memakai perhiasan dalam batas-batas tertentu. Kaum perempuan di kalangan rakyat kebanyakan. Untuk alas kaki. suweng pelenis baik yang terbuat dari emas atau perak. tidak demikian halnya dengan kaum laki-laki. Jika perhiasan kaum perempuan agak kompleks dan beragam. Kelengkapan Busana Priangan dan Cirebon Pada kalangan rakyat kebanyakan mengenakan busana biasanya lebih ditekankan kepada fungsi praktisnya. Adapun perempuan di kalangan bangsawan Priangan dan Cirebon melengkapi busananya dengan seperangkat perhiasan yang terdiri dari kalung emas. Bendo biasa digunakan oleh kalangan bangsawan atau pejabat pemerintahan. hiasan jas di bagian dada terdiri dari rantai emas/perak dengan liontin dari kuku harimau. Dengan demikian. mereka memakai selop yang pada bagian ujung atasnya dihiasi dengan manik-manik.Bendo di Priangan dan Cirebon berbeda terutama pada bagian depan. gelang bahar. gelang emas dan giwang emas. sebaliknya cara berbusana kalangan atas/bangsawan lebih banyak memperhatikan fungsi estetisnya. Dalam berbagai kesempatan khusus. namun kini sandal. Di bagian belakang bendo Priangan terdapat ikatan simpul ujung-ujung kain.

tangtu Cikertawana dan tangtu Cikeusik. busana yang mereka pakai adalah baju kampret berwarna hitam. tidak pakai kancing dan tidak memakai kantong baju. seperti baju yang biasa dipakai khalayak ramai. Kalaupun ada perbedaan dalam berbusana. Mereka bertutur dalam bahasa Sunda Buhun atau Sunda Kuno. Perbedaan busana hanya didasarkan pada jenis kelamin dan tingkat kepatuhan pada adat saja. yang hanya dililitkan pada bagian pinggang. disebut Panamping yang tinggal di 36 kampung luar dan Baduy Dalam. yaitu Baduy Luar. sarung tadi diikat dengan selembar kain. Ciri bahasa yang digunakan suku Baduy adalah tidak memiliki tinggi-rendah bahasa dengan aksen tinggi dalam lagu kalimat. Melihat warna. ada yang beranggapan bahwa busana suku Baduy saat ini merupakan bentuk busana yang digunakan oleh masyarakat Jawa Barat pada masa silam. Wilayah desa Kanekes merupakan tanah adat suku Baduy. melindungi pohon dan hutan di sekitarnya dengan baik. Desain baju sangsang hanya dilobangi/dicoak pada bagian leher sampai bagian dada saja. Potongannya tidak memakai kerah. kecamatan Leuwidamar. Oleh karena itu. Perbedaan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar seperti itu dapat dilihat dari cara busananya berdasarkan status sosial. Baduy Dalam. Banten Selatan adalah masih kokohnya tradisi yang diwariskan oleh karuhun mereka. perbedaan itu hanya terletak pada bahan dasar. Semuanya itu tabu (pamali). cita-cita. yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Baduy Dalam merupakan paroh masyarakat yang masih tetap mempertahankan dengan kuat nilai-nilai?? ?budaya? ?? warisan leluhurnya dan tidak terpengaruh oleh kebudayaan luar. radio dan televisi. kelengkapan busana pada bagian kepala menggunakan ikat kepala berwarna putih pula. Bagian bawahnya memakai kain serupa sarung warna biru kehitaman. seluruh penduduknya adalah suku Baduy dan tidak bercampur dengan penduduk luar. tingkah laku. Mereka tidak memakai celana. Bagi suku Baduy Luar. Ikat kepalanya juga berwarna biru tua dengan corak batik. model dan warnanya saja. Bahan dasarnya pun harus terbuat dari benang kapas asli yang ditenun. Salah satu tradisi yang masih bertahan adalah menenun dan cara berbusana. Warna busana mereka umunnya adalah serba putih. Penduduknya menjaga. Cara berpakaian suku Baduy Panamping memamg ada sedikit kelonggaran bila dibandingkan dengan Baduy Dalam. Suku Baduy terdiri dari dua kelompok masyarakat. kosmetik. mereka berasal dari satu keturunan. termasuk busana yang dikenakannya pun adalah sama. model maupun corak busana Baduy Luar. Kehidupan sehari-harinya bersahaja. desa Kanekes. gelas dan peralatan pabrik dilarang dipakai. yaitu tangtu Cibeo. baik untuk keseimbangan hidup antar sesama maupun kelestarian kehidupan alamnya. Pakaian Baduy Dalam yang bercorak serba putih polos itu dapat mengandung makna bahwa kehidupan mereka masih suci dan belum terpengaruh budaya luar. Ini berbeda dengan Baduy Luar yang sudah mulai mengenal kebudayaan luar. Barangbarang "modern" seperti sabun. piring. dengan ciri sub dialek Banten. kancing dan bahan dasarnya tidak diharuskan dari benang kapas murni. Letak perkampungan biasanya berada di celah-celah bukit dan lembah yang ditumbuhi pepohonan besar. Lebak. Ikat kepala ini berfungsi sebagai penutup rambut mereka yang panjang.Ciri khas suku Baduy yang tinggal di pegunungan Kendeng. Peraturan adat sangat menentukan dalam sikap hidup suku Baduy. yang memiliki keyakinan. Baduy Dalam. . Pembuatannya hanya menggunakan tangan dan tidak boleh dijahit dengan mesin. mengelompok menurut asal keturunan (tangtu) mereka. untuk laki-laki memakai baju lengan panjang yang disebut jamang sangsang. Sedangkan potongan bajunya mengunakan kantong. Jarak antara satu kampung dengan kampung lainnya berjauhan. Dalam pandangan suku Baduy. menunjukan bahwa kehidupan mereka sudah terpengaruh oleh budaya luar. disebut Kajeroan yang tinggal di tiga kampung utama. karena pakaian tersebut dianggap barang tabu. Selain baju dan kain sarung yang dililitkan tadi. karena cara memakainya hanya disangsangkan atau dilekatkan di badan. tingkat umur maupun fungsinya. Kemudian dipadukan dengan selendang atau hasduk yang melingkar di lehernya. Desain bajunya terbelah dua sampai ke bawah. Tak ada listrik. Agar kuat dan tidak melorot.

potongan dan warna pakaian. kain tenunan sarung berwarna biru kehitamhitaman. sedangkan selendang berwana putih. Semua hasil tenunan tersebut umumnya tidak dijual tetapi dipakai sendiri. biru. ada kerajinan yang dilakukan oleh kalangan pria di antaranya adalah membuat golok dan tas koja. biasanya membiarkan dadanya terbuka secara bebas. kain sarung. kecuali baju adalah sama. yang dipadukan dengan warna merah. Memang. biasanya wanita Baduy memakai kebaya. kain wanita. Sedangkan. yang terbuat dari kulit pohon teureup ataupun benang yang dicelup. Untuk memenuhi kebutuhan pakaiannya. dipintal. potongan dan cara berbusananya saja. Busana seperti ini biasanya dikenakan untuk pakaian sehari-hari di rumah. Bagi Baduy Dalam maupun Luar kalau bepergian selalu membawa senjata berupa golok yang diselipkan di balik pinggangnya. yaitu dasar hitam dengan garis-garis putih. Jenis busana yang dikerjakan antara lain. karembong. Topi pengantin laki-laki yang berasal dari tanah suci Mekah ini tingginya 15 . kemuduan dipanen. busana yang dipakai di kalangan wanita Baduy. Dari model. Dimulai dari menanam biji kapas. kain ikat pinggang dan selendang. melainkan lebih bersifat sebagai identitas budaya yang melekatnya. sedangkan bagi para gadis buah dadanya harus tertutup. selendang dan ikat kepala. Kain sarung atau kain wanita hampir sama coraknya. baik Kajeroan maupun Panamping tidak menampakkan perbedaan yang mencolok.20 cm dan dililit dengan . Untuk pakain bepergian. Selain itu. pakaian bagi suku Baduy bukanlah sekedar untuk melindungi tubuh saja.Kelengkapan busana bagi kalangan kali-laki Baduy adalah amat penting. Bertenun biasanya dilakukan oleh wanita pada saat setelah panen. Rasanya busana laki-laki belum lengkap apabila tidak memakai senjata. Bagi wanita yang sudah menikah. Busana Tradisional Betawi Betawi Traditional Dress Pengantin laki-laki dengan dandanan cara haji. Warna baju untuk Baduy Dalam adalah putih dan bahan dasarnya dibuat dari benang kapas yang ditenun sendiri. Mereka mengenakan busana semacam sarung warna biru kehitam-hitaman dari tumit sampai dada. Mereka percaya bahwa semuanya itu merupakan warisan yang dituturkan oleh karuhun atau nenek moyang mereka untuk dijaga. Model. ditenun sampai dicelup menurut motifnya khasnya. masyarakat suku Baduy menenun sendiri dan dilakukan oleh kaum wanita. Pakaian ini biasanya masih dilengkapi pula dengan tas kain atau tas koja yang dicangklek (disandang) di pundaknya. biru tua dan putih. baju. biasanya menggunakan tutup kepala yang disebut alpia atau alpie. Penggunaan warna pakaian untuk keperluan busana hanya menggunakan warna hitam. secara sepintas orang akan tahu bahwa itu adalah suku Baduy.

gading atau kadang-kadang kuning. Warna yang terbuat dari bahan polos ini pun disesuaikan dengan warna tuaki. Biasanya diberi pemanis dengan tambahan kain pada pinggiran bawah tuaki yang dirimpel keliling. Syarat utama dari tuaki ini adalah bahannya yang polos. Model baju yang sangat sederhana pada busana adat pengantin wanita Betawi ini. Bersih atau tidaknya tengkuk yang tampak. Panjang cadarnya 30 cm. Saat ini banyak digunakan mote pasir dengan gumpalan benang wol merah di ujungnya. Ciri khas model shianghai adalah krahnya yang tertutup. Dipakai di belakang sanggul sebagai penutup ikatan siangko bercadar. Di atas Siangko bercadar ini. Panjang lengan agak longgar. yaitu rok melebar ke bawah dengan panjang sampai ke mata kaki. Biasanya dihiasi batu-batu permata. terbuat dari manik-manik. Siangko bercadar yang berfungsi menutupi wajah pengantin wanita merupakan lambang kesuciannya. Hiasan kepala yang digunakan cukup kompleks. modelnya seperti baju kurung Melayu umumnya. diletakkan sigar atau mahkota dengan motif bungabungaan yang dipenuhi permata. Tuaki. merupakan pertanda apakah pengantin wanita mampu menjadi ibu rumah tangga yang mampu memelihara kebersihan fisik dan rohani dalam kehidupan berumah tangga atau tidak. bahkan ada yang bertahtakan intan berlian. Lengan panjangnya diberi benang karet pada pergelangan. Model yang mengikuti bentuk badan sipemakai. mote atau manik-manik yang diletakan di ujung lengan. Keunikan lainnya terdapat pada tata rias di bagian kepala. tidak ada yang khusus. Terkadang di bagian atas disematkan sepasang kembang goyang. serta gemerlapan hiasan tuaki dan kun ini melambangkan suka cita dan keceriaan kedua pengantin dan seluruh kelua-rganya. Kun juga di beri hiasan benang tebar dengan kombinasi sesuai tatahan motif pada tuaki. diletakkan sebanyak 3 (tiga) untai di pinggir kiri alpia. kubah mesjid dan lain sebagainya. Mengenai tata rias wajah. bagian bawah baju sangat bervariasi. namun saat ini umumnya menggunakan mute. Aslinya adalah emas. Namun. yang kemudian dipadatkan dengan tusuk konde. Gamis lebih panjang sekitar 10 cm dari jubah. yang kemudian dirangkai menjadi susunan delapan daun teratai yang simetris. biasanya digunakan sepatu kulit dengan kaos kaki yang merupakan pengaruh Belanda sejak abad ke 19. Bagian jubah ini. bunga-bungaan. yaitu model shianghai (Cina). Teratai ini berjumlah 8 (delapan) lembar kecil. Salah satunya yang unik adalah siangko bercadar yang melambangkan kesucian seorang gadis. Ketiga tingkat lingkaran ini melambangkan siklus kehidupan yang dimulai dari kelahiran. warna putih. Sebuah selempang berhiaskan mute sebagai tanda kebesaran pun dikenakan boleh di dalam maupun di luar jubah. Ron je atau untaian bunga melati yang ujung bawahnya ditutup bunga cempaka dan ujung atasnya diberi sekuntum mawar merah. atau bahan perak. masih ada pula pengantin yang mengenakan selop atau terompah. siangko lainnya jumlah 3 (tiga) buah. Keterpaduan berbagai unsur budaya muncul dalam kekayaan busana pengantin wanita Betawi yang terkesan meriah. Motif-motif hiasan emas. sehingga membentuk 3 (tiga) tingkat lingkaran. Tuaki bentuk baju kurung. Busana yang dikenakan berupa jubah terbuka. Warna-warna cerah yang dipilih. panjangnya sebatas pinggul. baik dari bahan satin ataupun beludru. Sebelum mengenakan jubah. Caranya adalah dengan melilitkan secara berputar. karena aslinya terbuat dari emas. Rambut disanggul dengan model buatun atau konde cepol tanpa sasakan. tampil begitu meriah dengan perlengkapan yang serba unik.sorban kain. kehidupan dan kematian. biasanya dihiasi dengan emas dan manik-manik bermotif burung hong. Biasanya kumis dan cabang juga dirapihkan agar tampak bersih. yang agak longgar dan besar. Hanya sedikit bedak yang ditaburkan di wajah agar terkesan rapi. Padanan tuaki adalah kun. Hiasan ini terbuat dari bahan beludru bertatahkan hiasan logam pada permukaannya dengan motif bunga tanjung. Selain yang bercadar. adalah baju bagian atas (blus) yang dikenal memiliki 2 (dua) model. daerah sekitar dada. dan model baju kurung (Melayu). Letak sanggul di tengah-tengah agak ke atas memperlihatkan tengkuk pengantin. yaitu perhiasan penutup dada dan bahu adalah salah satu ciri yang sangat khas. Dari ragam hias geometris. Teratai. yang disimbolkan dengan tidak boleh dilihatnya wajah mempelai putri oleh orang lain. Sebagai alas kaki. biasanya seorang pengantin laki-laki memakai gamis (baju dalam) polos berwarna muda yang panjangnya kira-kira sampai mata kaki -dan tidak boleh melebihnya. Hiasan rambut lainnya adalah tusuk paku atau kembang paku berjumlah . Siangko bercadar selalu berwarna emas. bunga-bunga sampai motif burung hong.

Gelang listring dan gelang selendang mayang. Penulis Endang Mariani . Busana ini biasanya dikenakan setelah akad nikah. Variasi pakaian pengantin Betawi ini dapat ditemui di beberapa daerah. pisau raut. Tanda bulan sabit berwarna merah ini merupakan perlambang bahwa di gadis telah menjadi pengantin. pengantin laki-laki mengenakan stelan jas lengkap dengan kopiah hitam dan kacamata hitam. sedangkan hiasannya lebih banyak menggunakan mute. Sementara itu. sebagai pelengkap yang menunjang keserasian. Namun saat ini. Busana pengantin rias bakal. maka si pemakai akan pusing-pusing dan bahkan pingsan. Aslinya seluruh perhiasan yang dikenakan oleh pengantin wanita Betawi terbuat dari emas dan dihiasi intan permata. Jumlahnya yang empat buah melambangkan 4 (empat) sahabat Rasullullah. selendang dan celemek. biasanya telinga pengantin dihias dengan sepasang kerabu. Seperti misalnya di daerah pinggiran. celana panjang. yang berkaitan dengan kecocokan antara pihak keluarga kedua pengantin. Tusuk bunga atau kembang tancep berjumlah 5 buah yang melambangkan rukun Silam. ditutupkan ke seluruh riasan wajah pengantin wanita. kuat seperti pohon kelapa. sejahtera dan bahagia. umumnya hanya merupakan sepuhan warna emas. yaitu sebuah kerudung dari kain halus dan tipis. sarung songket. Sementara pengantin wanita memakai slayer dan sarung tangan putih. Sementara hiasan kepalanya tidak serumit dandanan rias besar putri. di beberapa daerah di atas dahi pengantin diberi tanda berbentuk bulan sabit. Keunikan juga tampak pada alas kaki yang digunakan.10 buah atau lebih yang dimaksudkan sebagai penolak bala. Selain perhiasan untuk kepala. Mempelai wanita mengenakan selop berbentuk perahu kolek. dengan busana wanita Betawi sehari-hari. yang wajib diturunkan dan diajarkan pada anak keturunannya kelak. Letak burung hong ini juga memiliki arti tersendiri. gelang bahar. bagi mempelai pria terdiri dari jas tutup. Adapun pakaian yang kini dikenal dengan busana "Abang dan None Jakarta" merupakan kombinasi dari busana pengantin rias bakal untuk pria. maka kembang kelapa merupakan simbol pengharapan agar perkawinan yang dilakukan tetap kokoh. Hiasan burung hong atau dikenal dengan sebutan kembang besar atau kembang gede adalah hiasan lain yang tidak boleh ketinggalan. Kerabu ini merupakan perpaduan anting dan giwang yang dijadikan satu. pengantin wanita juga mengenakan perhiasan berupa kalung tebar yang dipakai melingkar leher di atas teratai Betawi. sehingga akan menjadi perkawinan yang langgeng. Selain sunting. satu bentuk perhiasan yang dipercaya memiliki kekuatan magis adalah sunting atau sumping telinga. ikat pinggang dan iiskoi motif lokcan. bros dan untaian melati. Perlengkapan busana ini adalah kuku macan. Sebelum rerurub atau ruruban. Apabila kembang goyang melambangkan pengakuan terhadap 20 sifat kebesaran Allah. yang juga dilengkapi dengan mahkota dan kacamata. serta cincin emas yang berhiaskan permata menjadi hiasan lengan. kewajiban yang harus dijalankan oleh pengantin sebagai seorang Muslim. Apabila sunting ini dipakai oleh seorang pengantin yang tidak perawan atau tidak gadis lagi. juga dikarenakan sebagai hiasan rambut bersama dengan 2-4 buah kembang kelapa yang dipasang di kiri dan kanan sanggul. Dari hiasan kepala pengantin wanita yang telah dikemukakan. pergelangan tangan dan jari pengantin wanita. atau mute. Sementara ruruban merupakan tanda kesuciannya. Kembang goyang yang berjumlah 20 buah. dengan ujung melengkung ke atas dan dihias dengan tatahan emas dan manikmanik. burung hong sendiri dianggap sebagai simbol burung surga yang melambangkan kebahagiaan kedua pengantin. Mempelai putri menggunakan baju kurung tabur. Nabi Besar Muhammad SAW. Tusuk konde berupa pasak berbentuk huruf leam (huruf Arab) merupakan simbol pengakuan akan keesaan Allah ditusukkan di atas siangko kecil penutup simpul tali cadar.

putih. Oleh karena itu. kalung dan gelang serta kipas biasanya tidak ketinggalan. Saat ini. wanita Jawa mengenal dua macam kebaya. Dewasa ini. Jawa Tengah adalah baju kebaya. sutera yang berbunga maupun . Pada busana upacara seperti yang dipakai oleh seorang garwo dalem misalnya. kain sunduri (brocade). ketiak dan punggung. biru dan sebagainya maupun bahan katun yang berbunga atau bersulam. khususnya di lingkungan budaya Yogyakarta dan Surakarta. mulai dari yang berukuran di sekitar pinggul atas sampai dengan ukuran yang di atas lutut. baik yang polos dengan salah satu warna seperti merah. kebaya panjang lebih banyak menggunakan bahan beludru. Kebaya pendek dapat dibuat dari berbagai jenis bahan katun. hijau. dan dilengkapi dengan perhiasan yang dipakai seperti subang. kemben dan kain tapih pinjung dengan stagen. brokat. Sedangkan. bagian kepala rambutnya digelung (sanggul). Sedangkan stagen dililitkan pada bagian perut untuk mengikat tapihan pinjung agar kuat dan tidak mudah lepas. Untuk busana sehari-hari umumnya wanita Jawa cukup memakai kemben yang dipadukan dengan stagen dan kain jarik. yaitu kebaya pendek yang berukuran sampai pinggul dan kebaya panjang yang berukuran sampai ke lutut. nilon. Kemben dipakai untuk menutupi payudara. Panjangnya kebaya bervariasi. sebab kain kemben ini cukup lebar dan panjang. baju kebaya menggunakan peniti renteng dipadukan dengan kain sinjang atau jarik corak batik. seperti pada upacara adat misalnya. baju kebaya pada umumnya hanya dipakai pada harihari tertentu saja. Baju kebaya dikenakan oleh kalangan wanita bangsawan maupun kalangan rakyat biasa baik sebagai busana sehari-hari maupun pakaian upacara. Baju kebaya di sini adalah berupa blus berlengan panjang yang dipakai di luar kain panjang bercorak atau sarung yang menutupi bagian bawah dari badan (dari mata kaki sampai pinggang).Busana Tradisional Jawa-Solo Javanese Solo Traditional Dress Busana Kebaya Jenis busana dan kelengkapannya yang dipakai oleh kalangan wanita Jawa. kuning. lurik atau bahan-bahan sintetis. kebaya pendek dapat dibuat dari bahan sutera. cincin.

Busana yang dipakai adalah celana kolor warna hitam. Meskipun seni busana berkembang baik di lingkungan keraton. baju kebaya panjang merupakan pakaian untuk upacara perkawinan. Untuk menutupi stagen digunakan selendang pelangi dari tenun ikat celup yang berwarna cerah. kuning tua dengan hitam dan merah bata dengan hitam. Pada bagian badan kebaya dipotong sedemikian rupa sehingga tidak memerlukan krup. Selendang yang dipakai tersebut sebaiknya terbuat dari batik. Sedangkan. Namun pada saat upacara perkawinan. lipatan bawah bagian belakang dan samping harus sama lebarnya dan menuju ke bagian depan dengan agak meruncing. Dalam adat busana perkawinan misalnya. Mengenai teknik dan cara membuat baju kebaya sangat sederhana. Potongan dan model kebaya Jawa. Ini dimaksudkan agar benar-benar membentuk badan pada bagian pinggang dan payudara dan sedikit melebar pada bagian pinggul. Baju ini terdiri dari dua helai potongan. pengantin wanita memakai busana kejawen dengan . yang disesuaikan dengan tahapan upacara.bagian depan yang berfungsi sebagai penyambung. Busana Basahan Salah satu jenis busana adat yang terindah dan terlengkap di Indonesia terdapat di keraton Surakarta.nilon yang bersulam. Baju kebaya panjang yang dipakai sebagai busana upacara biasa. Pada upacara midodareni. dapat juga memakai kain gabardine yang bercorak kotak-kotak halus dengan kombinasi warna sebagai berikut: hijau tua dengan hitam. Sanggulnya dihiasi dengan untaian bunga melati dan tusuk konde dari emas. Modelnya dapat ditambah dengan sepotong bahan berbentuk persegi panjang yang dipakai sebagai penyambung antara kedua potongan bagian muka. Kelengkapan perhiasannya dapat dipakai yang sederhana berupa subang kecil dengan kalung dan liontin yang serasi. panggih dan sesudah upacara panggih. yang dihiasi pita emas di tepi pinggiran baju. gelang dan sepasang tusuk konde pada sanggul. ikat pinggang besar. Sedangkan busana di kalangan pria. yaitu sebuah sisir berbentuk hampir setengah lingkaran yang dipakai di sebelah depan pusat kepala. Bali dan Madura. sutera maupun nilon yang bersulam. Baju kebaya dipakai dengan kain sinjang jarik/ tapih dimana pada bagian depan sebelah kiri dibuat wiron (lipatan) yang dililitkan dari kiri ke kanan. daerah pantai Kalimantan. Kalangan wanita di Jawa. yaitu busana pria Jawa secara lengkap dengan keris. Jawa Tengah. Panjang baju kebaya ini sampai ke lutut. brokat. keris dan alas kaki (cemila). stagen untuk mengikat kain samping. Sedangkan. pada kepala memakai destar (blankon). kain lurik yang serasi atau kain ikat celup. bagi orang tua mempelai biasanya mereka memakai kain jarik dan sabuk sindur. Baju kebaya panjang biasanya menggunakan bahan beludru. Busana adat tradisional rakyat biasa banyak digunakan oleh petani di desa. ijab. Lengkung leher baju menjadi satu dengan bagian depan kebaya. Sebab. yaitu sehelai bagian depan dan sehelai lagi potongan bagian belakang. Kain jarik batik yang berlipat (wiron) tetap diperlukan untuk pakaian ini. tiap-tiap jenis busana tersebut menunjukkan tahapan-tahapan tertentu dan siapa si pemakaiannya. dapat pula memakai tambahan bahan di bagian muka akan tetapi tidak berlengkung leher (krah). tidak berarti busana di lingkungan rakyat biasa tidak ada yang khas. cincin. biru sedang dengan hitam. Lengkung ini harus cukup lebar sehingga dapat dilipat ke dalam untuk vuring kemudian dilipat lagi keluar untuk membentuk lengkung leher. ikat kepala dan kalau sore pakai sarung. Bajunya beskap atau sikepan dan pada bagian kepala memakai destar. Selain kain lurik. khususnya kerabat keraton adalah memakai memakai baju beskap kembang-kembang atau motif bunga lainnya. Busana ini dinamakan Jawi Jangkep. yang juga dipakai di Sumatera Selatan. serta dua buah lengan baju. Kepulauan Sumbawa. Pada umumnya kebaya panjang terbuat dari kain beludru hitam atau merah tua. Dewasa ini. yaitu midodareni. baju lengan panjang. Dan umumnya digunakan juga oleh mempelai wanita Sunda. maka tata rias rambutnya tanpa untaian bunga melati dan tusuk konde. perhiasan yang dipakai juga sederhana. ungu dengan hitam. kain samping jarik. dan Timor sebenarnya serupa dengan blus. biasanya baju kebaya mereka diberi tambahan bahan berbentuk persegi panjang di . tetapi biasanya tanpa memakai selendang. seorang wanita dan pria kalangan keraton mengenakan beberapa jenis busana. Semua potongan tersebut dapatdikerjakan dengan mesin jahit ataupun dijahit dengan tangan.

. kerbau. mata. Fungsi pakaian. Tujuannya adalah agar mempelai wanita kelihatan lebih cantik dan angun dan pengantin pria lebih gagah dan tampan. stagen. Begitu pula pada upacara panggih kedua mempelai memakai jenis busana yang sudah ditetapkan. bros. Motif geometris diantaranya adalah kain batik yang bercorak ikal. Semekan atau kemben terbuat dari kain batik dengan corak alas-alasan warna dasar hijau atau biru dengan hiasan kuning emas atau putih. basahan. Saat upacara ijab. cincin. Kemudian fungsi pakaian menjadi lebih beragam. pilin. sedangkan pengantin pria memakai busana basahan. sikepan. sabuk timang. epek. kain jarik. kain jarik. Bahkan motif yang paling dikenal oleh masyarakat Surakarta adalah motif tumpal berbentuk segi tiga yang disebut untu walang. pengantin wanita memakai busana kanigaran. Sedangkan pengantin prianya memakai busana cara Jawi Jangkep. Motif berupa garis-garis potong yang disebut motif tangga merupakan simbolisasi dari nenek moyang naik tangga sedang menuju surga. seperti kain sindur dan truntum yang dipakai oleh orang tua mempelai. terdiri dari kuluk matak biru muda. Cara mengenakan kain ini seperti kain jarik tetapi tidak ada lipatan (wiron). Bagi pengantin pria. kain jarik. dodot bangun tulak. Sedangkan kain sido mukti. kolong karis. gelang. Perhiasan yang biasa digunakan oleh mempelai pria adalah kalung ulur. biasanya kedua mempelai pengantin melengkapi busana basahan dengan aneka perhiasan. yang melambangkan kesuburan. warna dasar merah yang dihiasi bunga berwarna hitam dan putih. naga). jungkat. stagen. Berbeda dengan tahapan upacara sebelumnya. Pengantin wanita memakai busana adat bersama. melainkan terdiri dari semekan atau kemben. selop dan perhiasan kalung ulur. keris warangka ladrang dan selop. berupa dodot bangun tulak. sabuk timang. keris dan selop. centung. misalnya untuk menutup aurat. hewan (misal : burung. cara meriasnya tidak sedemikian rumit dan teliti sebagaimana pengantin wanita yang harus dirias pada bagian wajahnya mulai dari muka. yang terdiri dari kuluk kanigoro. stagen dan selop. Busana basahan adalah tidak memakai baju. Busana sawitan terdiri dari kebaya lengan panjang. Busana basahan pengantin pria disini terdiri dari kuluk matak petak. kain sido luhur dan sido mulyo merupakan pakaian mempelai. tumbuh-tumbuhan (bunga teratai. melati) maupun alam dan manusia. udeng. dodot bangun tulak atau kampuh. dalam busana adat perkawinan. Busana Jawa baik pakaian sehari-hari maupun pakaian upacara sangat kaya akan ragam hias yang tak jarang memiliki makna simbolik dibaliknya. sabuk timang. pengatin pria pun memakai busana adat basahan. maupun sebagai alat pemenuhan kebutuhan akan keindahan. Kemben disini berfungsi sebagai pengganti baju dan pelengkap untuk menutupi payudara. bros dan buntal. Pada upacara panggih ini. stagen dan kain jarik dengan corak batik. Kain dodot yang menggunakan corak batik alas-alasan panjangnya kirakira 4-5 meter. dan merupakan baju pokok dalam busana basahan. Sedangkan pengantin pria menggunakan busana kepangeranan. maka baik pengantin wanita maupun pria biasanya dirias pada bagian wajah dan sanggul. Jenis ragam hias yang dikenal di daerah Surakarta maupun Jogyakarta adalah kain yang bermotifkan tematema geometris. yaitu terdiri dari baju kebaya. Selendang cinde sekar abrit terbuat dari kain warna dasar merah dengan corak bunga hitam dan kain jarik cinde sekar abrit terbuat dari kain gloyar. kalung. baju takwo. perhiasan yang biasa dipakai adalah cunduk mentul. swastika (misalnya bintang dan matahari). alis. subang dan timang atau epek. sampur atau selendang sekar cinde abrit dan kain jarik cinde sekar merah. Sebagai kelengkapan. ikal rangkap dan pilin ganda. awalnya digunakan sebagai alat untuk melindungi tubuh dari cuaca dingin maupun panas. timang/epek. busana yang dipakai pengantin wanita adalah baju kebaya dan kain jarik. Sedangkan bagi pengantin wanita. pipi dan bibir. Pada busana-busana khusus untuk upacara perkawinan dikenal juga motif pada batik tulis. celana panjang warna putih. stagen. celana cinde sekar abrit. dodot bangun tulak. sabuk lengkap dengan timang dan cinde. keris warangka ladrang.warna sawitan. Sama halnya dengan pengantin wanita. pada upacara setelah panggih. yang terdiri dari baju atela. ular. keris warangka ladrang dan selop. sebagai unsur pelengkap upacara yang menyandang nilai tertentu. cincin.

Adapun yang dimaksud dengan pengertian pakaian sehari-hari di sini adalah seperangkat pakaian yang dikenakan di rumah. saat bekerja. dan siapa yang mengenakannya. pakaian atau busana menurut kepangkatan tidak begitu diperhatikan lagi. Pakaian adat tradisional masyarakat Yogyakarta terdiri dari seperangkat pakaian yang memiliki unsur unsur yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. bagian tengah. pakaian resmi semacam itu lama kelamaan tidak lagi dikenakan secara lengkap. Pakaian tersebut dikenal sebagai pakaian adat tradisional yang resmi dan khas Yogyakarta.1945). Demikian pula pakaian dari suatu daerah dapat dibedakan atas pakaian sehari-hari/kerja dan pakaian upacara/pesta adat. yang secara visual ditandai pula oleh cara dan bentuk pakaian. yakni menghias tubuh agar kelihatan lebih cantik dan menarik. pada saat-saat tertentu akan muncul kembali dalam suatu upacara adat yang meriah dan menarik perhatian masyarakat umum. Dari pembagian tersebut dapat digolongkan lagi jenis-jenis pakaian berdasarkan jenis kelamin. Misalnya pada masa penjajahan Jepang (1942 . Penulis Jaya Purnawijaya Busana Tradisional Yogyakarta Yogyakarta Traditional Dress Kraton sebagai suatu pusat institusi dan tata pemerintahan. di samping pakaian sehari-hari yang secara rutin dikenakan. konde. Sejak kecil putra-putri Sultan telah mengenal beberapa peraturan yang membedakan dirinya dengan status individu lainnya. Pakaian khusus itu akan muncul secara menarik dan berwibawa. di man dikenakan. Kelengkapan berbusana tersebut merupakan ciri khusus pemberi identitas bagi pemakainya yang meliputi fungsi dan peranannya. cara berpakaian biasanya sudah dibakukan secara adat. religius. dan status sosial pemakainya. pakaian ini diterima di kalangan masyarakat Jawa yang tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta. dan saat bepergian. Pemakainya dapat digolongkan berdasarkan jenis kelamin. Secara keseluruhan seperangkat pakaian terdiri atas bagian atas. sosial dan simbolik. dan sebagainya). Namun demikian. sebagai miliknya sendiri dan pemberi identitas. bagian tengah terdiri dari baju (kebaya. seperti pada masyarakat bangsawan pakaian mempunyai fungsi praktis. diantaranya melalui bentuk pakaian yang harus dikenakan. dan yang pada gilirannya jarang dijumpai lagi. estetis. kemudian disusul dengan masa kemerdekaan. tetapi tetap terpelihara dengan baik dan selalu dimunculkan pada saat-saat penting. Pakaian adat tradisional Kraton Yogyakarta yang sudah jarang dijumpai lagi akhir-akhir ini. Dalam perkembangan selanjutnya. khususnya di Surakarta fungsi pakaian cukup beragam. usia. fungsi sosial yakni belajar menjaga kehormatan diri seorang wanita agar tidak mudah menyerahkan kewanitaannya dengan cara berpakaian serapat dan serapi mungkin. dan status sosial. fungsi estetis. dan bagian bawah. serta bagian bawah berupa alas kaki. Mereka terdiri dari golongan-golongan sesuai dengan fungsi dan jabatannya. serta memakai stagen sekuat mungkin agar tidak mudah lepas. usia. pakaian adat tradisional kraton Yogyakarta yang sempat dikenal di kalangan masyarakat luas banyak dikenakan oleh golongan masyarakat biasa. Bagian atas meliputi tutup kepala dan tata rias rambut (sanggul. merupakan lembaga resmi yang dipimpin oleh seorang raja dan para kerabatnya yang disebut pegawai istana atau abdidalem. Lebih-lebih pada saat penyelenggaraan upacara adat pakaian tersebut dikenakan secara lengkap. Sejalan dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu.Pada masyarakat di Jawa Tengah. dan lain-lain) dan perhiasan (aksesori). . kapan dikenakan. yang mana pada waktu itu ekonomi negara kita dalam keadaan kacau. Demikianlah secara keseluruhan pakaian adat itu tidak pernah musnah dilanda kemajuan zaman. Seperti kain kebaya fungsi praktisnya adalah untuk menjaga kehangatan dan kesehatan badan.

lonthong tritik. serta sapu tangan merah. Sebagai perhiasannya adalah subang. Untuk putri yang sudah dewasa mengenakan busana semekanan dalam kesehariannya. timang. kalung dinar. kampuh konca setunggal. kain batik dengan wiru di tengah. Penulis Dewi Indrawati . Busana Kebesaran Untuk Upacara Ageng Pengertian upacara ageng adalah kegiatan seremonial dari rangkaian upacara supitan. Bagi yang berambut panjang disanggul dengan model konde. tanpa baju. tingalan dalem tahunan. berfungsi sebagai penutup dada. supitan. memakai lonthong tritik. pethat jeruk sak ajar. kamus. serta mengenakan dhestar sebagai tutup kepala.Busana yang dirancang untuk anak-anak terdiri dari busana kencongan untuk anak laki-laki. atau merak. moga renda berwarna kuning. yang panjangnya diukur dari dada sampai di atas pusar. ceplok. Kainnya bermotif parang. jumenengan dalem. garebeg. lonthong tritik. atau gringsing. kalung emas dengan liontin berbentuk mata uang (dinar). perkawinan. sanggul tekuk polos tanpa hiasan. karset. dan busana sabukwala untuk anak perempuan. Kelengkapan pinjung padintenan terdiri atas kain batik. maka busana kanigaran ini dilengkapi dengan baju sikepan bludiran. Rangkaian busana ini terdiri dari nyamping batik. semekan tritik. dana cindhe gubeg. kamus songketan. Remaja putri mengenakan busana yang disebut pinjung. Rangkaian busana ini terdiri dari kain (nyamping) batik. Busana untuk anak laki-laki model kencongan terdiri dari kain batik yang dikenakan dengan model kencongan. baju surjan. yang menunjukkan status sosial pemakainya sebagai putri Sultan sampai dengan cicit Sultan. Hanya saja jika busana dodotan dikenakan tanpa baju. Pengertian kata semekan berupa kain panjang yang lebarnya separuh dari lebar kain panjang biasa. serta mengenakan cathok dari perak berbentuk kupu-kupu. Jenis busana ini lazim dikenakan pada upacara Agustusan. Sanggulnya berbentuk sanggul tekuk polos tanpa hiasan. dan keris branggah. dan perkawinan. baju kebaya katun. Busana ini lazim dikenakan pada upacara garebeg. jumenengan dalem (penobatan raja). kamus songketan. serta mengenakan perhiasan berupa subang. timang (kretep). yang khusus dikenakan para putra Sultan. Rangkaian busana dodotan terdiri dari kuluk biru dengan hiasan mundri (nyamat). Sedangkan busana harian bagi putri raja yang sudah menikah terdiri atas semekan tritik dengan tengahan. Busana kebesaran yang dikenakan dalam semua kegiatan ini disebut busana keprabon. Perhiasan yang dikenakan sebagai pelengkap terdiri dari subang. Sedangkan busana seharihari bagi pria remaja dan dewasa terdiri dari baju surjan. dan kaprajuritan. gelang. serta sedan (pemakaman jenazah raja). Lipatan kain (wiru) berada di sebelah kiri. dan cincin. baju katun. Busana sabukwala padintenan dikenakan oleh anak perempuan berusia 3-10 tahun. Perhiasannya berupa subang. cincin. Agustusan. tingalan dalem tahunan. Busana ini dikenakan dengan cara melipat ujung kain sebelah dalam dibentuk segitiga sebagai penutup dada. lonthong tritik. gelang berbentuk ular (gligen) atau model sigar penjalin. Kelengkapan busana kanigaran pada dasarnya sama dengan busana dodotan. Jenis busana ini dibedakan atas busana dodotan. sanggul tekuk polos tanpa hiasan. kanigaran. gelang. serta pisowanan dalam upacara perkawinan. kain batik. burung garuda. udhet tritik (semacam selendang sebagai hiasan pinggang). ikat pinggang berupa kamus songketan dengan cathok atau timang terbuat dari suwasa (emas berkadar rendah). rante. ikat pinggang kamus songketan bermotif flora atau fauna. baju kebaya katun.

Busana Tradisional Madura Madura Traditional Dress Penulis Endang Mariani Meskipun Madura adalah sebuah pulau yang terpisah dari Pulau Jawa. Pada masa sekarang. Garis-garis tegas merah. Untuk sehari-hari odheng yang digunakan adalah odheng peredhan dengan motif storjan. lengkap dengan tutup kepala dan kain sarung. Perlengkapan busana . kalangan bangsawan biasanya menggunakan rasughan totop (jas tutup) polos dengan samper kembeng (kain panjang) di bagian bawah. Secara umum masyarakat sukubangsa Madura mengenal perbedaan busana berdasarkan usia. Sikap gagah dan pantang mundur ini merupakan salah satu etos budaya yang dimiliki masyarakat Madura. Bentuk baju yang serba longgar dan pemakaiannya yang terbuka melambangkan sifat kebebasan dan keterbukaan orang Madura. terutama kaos bergaris yang digunakan. jenis kelamin. masyarakat mengenal baju pesa`an dalam dua warna. tutup kepala yang dikenakan. yaitu hitam dan putih. Kalangan pedagang kecil. yaitu hitam serba longgar dengan kaos bergaris merah putih atau merah hitam. secara umum sebagaimana busana Solo dan Yogya. Masyarakat umum mengenal pakaian khas Madura. dipadu dengan sarung motif kotak-kotak biasa. Sarung palekat kotak-kotak dengan warna menyolok dan sabuk katemang. maka jenis dan bentuk busananya pun memiliki beberapa kesamaan dengan busana dari daerah-daerah lain di Pulau Jawa. ikat pinggang kulit lebar dengan kantong penghimpun uang di depannya adalah perlengkapan lainnya. Adanya pengaruh cara berpakaian pelaut dari Eropa. Warna hitam ini melambangkan keberanian. Sebenarnya. di dalamnya. Dalam penggunaannya. Berbeda dengan rakyat kebanyakan. baik sebagai busana sehari-hari maupun sebagai busana resmi. baju pesa`an. Kesederhanaan bentuk baju ini pun menunjukkan kesederhanaan masyarakatnya. seringkali mempergunakan baju pesa`an dan kaos oblong warna putih. Terompah atau tropa merupakan alas kaki yang umumnya dipakai. bera` songay atau toh biru. Perbedaannya adalah pada odheng. baju pesa`an warna hitamlah yang menjadi ciri khas. dalam menghadapi segala hal. status sosial maupun kegunaannya. Oleh karena kebudayaan Madura termasuk dalam daerah kebudayaan Jawa. kebudayaan Jawa dalam arti luas berpengaruh sangat besar dalam berbagai segi kehidupan masyarakat sukubangsa Madura. baik sebagai busana sehari-hari maupun untuk keperluan upacara. Jaman dahulu. pakaian yang terdiri dari baju pesa`an dan celana gomboran ini merupakan pakaian pria untuk rakyat kebanyakan. celana gomboran dan kaos oblong ini memiliki perbedaan fungsi bila dilihat dari cara memakainya. teguh dan keras. putih atau hitam yang terdapat pada kaos yang digunakan pun memperhatikan sikap tegas serta semangat juang yang sangat kuat. Sebaliknya para nelayan. umumnya hanya menggunkan celana gomboran dengan kaos oblong. Baju pesa`an biasanya dipakai oleh guru agama atau molang.

biasanya disisir ke belakang. Rambut wanita Madura itu sendiri. keduanya terbuat dari emas.5 meter. Panjang kutang dengan bukaan depan ini ada yang pendek dan ada pula yang sampai perut. Odhet adalah semacam stagen Jawa. perhiasanpun menjadi pelengkap yang utama bagi busana kaum wanitanya. Bentuk dan cara memakai odheng juga menunjukkan derajat kebangsawanan seseorang. yaitu saku untuk menyimpan uang atau benda berharga lainnya. yang merupakan simbol dari kalimat pengakuan akan keesaan Allah (Laa illaahaillallaah). Oleh karenaitu mereka tidak mengenal warna-warna lembut. Arloji rantai acap digunakan. dan perhiasan lainnya terutama selok (seser) atau cincin geleng akar (gelang dari akar bahar). Harnal bubut dari emas. Hampir sama dengan gelung wanita Bali. pelintiran ujung simpul bagian belakang yang tegak lurus melambangkan huruf alif. Semakin tegak kelopak odheng tongkosan. namun ada pula yang memakai kain panjang dengan motif tabiruan. jepit kain. garik atau jingga. Cucuk sisir biasanya terdiri dari untaian mata uang emas atau uang talenan dan ukonan. Pada odheng peredhan. Warna dasarnya putih dengan motif didominasi warna merah. Kutang ini ukurannya ketat pas badan. Sementara itu. sayap atau ujung kain dipilin dan tetap terbeber bila si pemakai masih relatif muda. juga memiliki daya tarik yang unik. Pilihan warna yang kuat dan menyolok pada masyarakat Madura menunjukkan karakter mereka yang tidak pernah ragu-ragu dalam bertindak. serta bersifat terbuka dan terus terang. Semuanya dimaksudkan untuk membentuk tubuh yang indah dan padat. simpul mati di bagian belakang dibentuk menyerupai huruf lam alif. Bentuknya seperti busur. pemberani. umumnya digunakan bersama sarung batik motif tumpal. Kebaya dengan panjang tepat di atas pinggang dengan bagian depan berbentuk runcing menyerong khas roncongan Madura. kuning atau hitam. Letak sanggul umumnya agak tinggi. Untuk orang yang sudah sepuh (tua). Hiasan rambut berupa cucuk sisir dan cucuk dinar. Untuk penguat kain digunakan odhet. pada odheng tongkosan kota. motif maupun cara pemakaian. mengandung makna "betapapun beratnya beban tugas yang harus dipikul hendaknya diterima dengan lapangan dada". bermotif modang. Termasuk dalam memilih warna pakaian maupun aksesoris lainnya. Jumlah untaian mata uang ini tergantung kemampuan si pemakai. Keindahan lekuk tubuh si pemakai akan tampak jelas dengan bentuk kebaya rancongan dengan kutang pas badan ini. terdiri dari beberapa keping mata uang dollar. dulcendul. Pada saat menghadiri acara resmi. padat dengan kuncir sisa rambut yang terletak tepat di tengah-tengah rambut. yaitu huruf awal dalam bahasa Arab. maka derajat kebangsawanan semakin rendah. sabuk katemang. Alas kaki yang digunakan adalah sandal jepit. baik dari ukuran. serta pemakaian penggel. Hal tersebut merupakan salah satu perwujudan nilai budaya yang hidup di kalangan wanita Madura. semakin tinggi dewajat kebangsawananan. storjan atau lasem. dengan ukuran lebar 15 cm dan panjang sekitar 1. Warna biasanya merah. hijau atau biru terang yang kontras dengan warna dan bahan kebaya yang tipis tembus pandang atau menerawang. rasughan totop umumnya berwarna hitam digunakan lengkap dengan odheng tongkosan kota. bermata selong dengan . Semakin miring kelopaknya. Ciri khas kebaya Madura adalah penggunaan kutang polos dengan warna-warna menyolok seperti merah. Pada odhet terdapat ponjin atau kempelan. Sebum dhungket atau tongkat. jam saku. sehingga membuat si pemakai harus sedikit mendongak ke atas agar odheng tetap dapat bertengger di atas kepalanya. Odheng pada masyarakat Madura memiliki arti simbolis yang cukup kompleks. Perhiasan yang dikenakan oleh wanita Madura. bentuknya agak lonjong dan pipih letaknyapun miring. Demikian pula berbagai pantangan makanan yang tidak boleh dilanggar. Ukuran odheng tongkosan yang lebih kecil dari kepala. Ramuan jamu-jamu Madura diberikan semenjak seorang gadis cilik hendak berangkat remaja. terbuat dari tenunan bermotif polos. Bentuknya agak bulat dan penuh. termasuk kelengkapan pakaian yang membedakan penampilan dan kewibawaan seorang bangsawan dengan rakyat biasa. Adapun cucuk dinar. kemudian digelung sendhal. Sebagaimana senjata bagi laki-laki Madura. yang sangat menghargai keindahan tubuh. Ikatan odheng juga memiliki arti tertentu. mulai dari kepala sampai kaki. stagen. Kaum wanita Madura umumnya mengenakan kebaya sebagai pakaian sehari-hari maupun pada acara resmi.seperti sap osap (sapu tangan). Sementara di daerah Madura Timur. Kebaya tanpa kutu baru atau kebaya rancongan digunakan oleh masyarakat kebanyakan.

Alas kakinya berupa selop tutup. digunakan peniti dinar renteng. aapabila digunakan untuk berjalan dan melakukan aktivitas sehari-hari tentunya akan menguatkan otot-otot tertentu. tangan dan kaki umumnya kecil. Liontin atau bandul yang digunakan biasanya berbentuk mata uang dollar (dinar) atau bunga matahari. Bentuknya seperti angka delapan melintang yang melambangkan tulisan Allah. bahkan lebih. Motif hiasan kalung Madurapun terkenal karena ciri khasnya. tatarias wajah wanita Madura pun cukup unik. Sepasang gelang emas di tangan kanan dan kiri dengan motif tebu saeres. Sebuah tutup kepala. Tempat yang dijimpit disebut leng pelengan. dilengkapi dengan karang melok dan duwek remek. Mata dihiasi dengan celak Arab. Busana Tradisional Tengger Tengger Traditional Dress Penulis Endang Mariani . Saat ini. serta motif mon temon berupa untaian emas berbentuk biji mentimun. kebanyakan berupan olesan alat kosmetik berupa garis membujur sekitar 1-2 cm dan berwarna merah. Tergantung kemampuan si pemakai. Selain fungsi ekonomi yang juga dapat menunjukkan status ekonomi si pemakai. Rambut wanita muda digelung malang. Dari seluruh jenis perhiasan yang biasa dikenakan wanita Madura. Perhiasan lain yang umumnya dikenakan sebagai kelengkapan busana adalah anteng atau shentar penthol yang terbuat dari emas. Kalung brondong yang berupa rentangan emas berbentuk biji jagung adalah kalung khas Madura yang biasanya dikenakan bersama liontin. Peniti cecek atau pako malang adalah hiasan kebaya berbentuk paku yang melintang bersusun tiga dan dihubungkan dengan rantai emas. Dahulu leng pelengan dibuat dengan cubitan tangan. Sementara sepasang cincin dengan motif yang sama dengan gelang dikenakan sebagai hiasan jari. Selain itu masih ada motif pale obi yang menyerupai batang ubi melintir. kiri atau dahi. terbuat dari emas dan bermotif polos. dengan berat perak ada yang mencapai 3 kg. Untuk acara resmi wanita bangsawan Madura mengenakan kebaya panjang dengan kain batik tulis Jawa atau khas Madura. Penggel adalah simbol kebanggaan wanita Madura. berbentuk seperti keratan tebu merupakan kelengkapan lain yang sering dipakai. Wajah dihiasi dengan jimpit di bagian kening kanan.panjang sekitaar 12 cm berukuran agak lebih besar dari harnal pada umumnya juga dipakai untuk menghiasi rambut. leher. Gelang kaki yang terbuat dari emas atau perak. Bentuk perhiasan yang digunakan untuk rambut. Giwang kerambu dan kalung rantai berliontin markis yang terbuat dari emas bertaburan berlian juga dikenakan. Sebagai pelengkap kebaya rancongan. semakin panjang untaiannya berarti semakin tinggi kemampuan ekonomi pemakainya. wanita bangsawan tidak menonjolkan kekayaannya melalui bentukbentuk perhiasan yang menyolok dan cenderung berat. lebih banyak dihiasi intan atau berlian. bermotif polos dengan berbentuk bulat utuh sebesar biji jagung. yaitu hiasan dari bunga-bungaan. Semakin banyak jumlah dinarnya. Ujung bawah kebaya berbentuk bulat. Demikian pula gelang tangan dan hiasan jari berupa cincin emas bermata berlian. Berbeda dengan yang dikenakan rakyat kebanyakan. berupa lapisan gigi yang terbuat dari emas atau platina. telinga. Bahan kebaya biasanya beludru. Namun. penggel juga berfungsi untuk membentuk keindahan tubuh wanita Madura. Bentuknya sama dengan gelung malang. menjadi ciri tersendiri pada kelengkapan wanita Madura. yang terbuat dari handul besar atau kain tebal disebut leng o leng. namun adapula yang mencapai 100 gram. sedangkan gigi dihiasi dengan apa egan. Anteng atau anting ini dikenakan di telinga. digunakan gelung mager sereh. tetapi semua ukelnya diisi kembang tanjung dan kembang pandan. baik dari kalangan bangsawan maupun rakyat biasa. Berat kalung itu rata-rata 5-10 gram. di dalamnya diberi potongan daun pandan sebagai penguat. Untuk wanita yang sudah berumur dan berpangkat. Warna gelap dan tidak bermotif. Selain busana dan perhiasan khas wanita Madura. penggel adalah salah satu yang paling unik. Hiasan rambut terdiri dari cucuk emas dengan motif ular atau bunga matahari. Penggel merupakan hiasan kaki dari emas atau perak yang dipakai pada pergelangan kaki kiri dan kanan.

yang dimaksudkan agar bebas bergerak pada waktu ketempat mengambil air atau kepasar. jarik (kain) batik yang dibebatkan. Biasanya mereka memakai baju longgar dan celana panjang di atas mata kaki.tempat upacara atau keramaian lainnya di malam hari adalah cara kekodong. Saat bertamu. Untuk pakaian resmi pun mereka menggunakan beskap. Agar terlihat rapi pada saat bepergian mereka menggunakan cara sengkletan. Kedudukan seorang dukun. Kedua bagian lubangnya dimasukkan pada bagian ketiak dan disangga ke depan oleh kedua tangannya. Cara bersarung seperti ini tidak boleh digunakan untuk bertamu dan melayat. Kain sarung cukup disampirkan pada pundak secara terlepas atau bergantung menyilang pada dada. Banyak legenda dan mitologi yang dimiliki oleh masyarakat Tengger. Probolinggo. Setelah disarungkan pada tubuh. menciptakan suatu keunikan masyarakat yang religius. baju warna putih. Kawasan ini meliputi 4 (empat) Wilayah Kabupaten.Masyarakat Tengger merupakan penduduk ash yang mendiami daerah Lereng Pegunungan Tengger dan Semeru. membuat masyarakat Tengger memiliki ciri khas yang berbeda dengan masyarakat Jawa. Busana yang digunakan seorang dukun pada saat memimpin upacara cukup unik. Dengan ikatan di bagian belakang kepala kain sarung dikerudungkan sampai menutupi seluruh bagian kepala. genta dan talam. Keunikan pakaian sehari-hari masyarakat Tengger adalah cara mereka bersarung (memakai sarung) yang berfungsi sebagai pengusir hawa dingin yang memang akrab dengan keseharian mereka. kedamaian dan kesederhanaan tergambar sebagai etos budaya masyarakat Tengger. Anak-anak muda Tengger pun memiliki cara bersarung tersendiri. termasuk wisatawan. Sarung dilingkarkan pada pinggang kemudian diikatkan seperti dodot (di dada) agar tidak mudah terlepas. mereka mengenakan sarung sebagaimana masyarakat umumnya. Sedang untuk pekerjaan yang lebih berat. sebagaimana yang digunakan di Jawa. mereka menggunakan sarung dengan cara sesembong. yaitu ujung sarung dilipat sampai kegaris pinggang. yang sering dijumpai pada saat masyarakat Tengger berkumpul di tempat . mereka menggunakan sarung dengan cara kekemul. dan Pasuruan. yang memiliki hubungan historis dengan kerajaan Majapahit. Salah satunya yang sangat dikenal adalah mitologi Resi Ki Dadap Putih serta Rara Anteng dan Djaka Seger. Setidaknya ada dua upacara besar. berwarna hitam. celana panjang warna gelap dan selempang . Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat yang sangat diyakini dan telah dilaksanakan secara turun menurun. yaitu upacara adat kasada dan karo. kain wiron dan udeng. Untuk bekerja.masing cara ini memiliki istilah dan kegunaan sendiri. bahkan dengan masyarakat Jawa Timur pada umumnya. Tidak kurang dari 7 (tujuh) cara bersarung yang mereka kenal. yang disebut sampiran. kemudian digantungkan di pundak. Malang. sehingga yang terlihat hanya mata saja. yang juga merupakan pemimpin upacara adat di Tengger sangat dihormati oleh masyarakat. Kain sarung disampirkan di bagian atas punggung. jas tutup warna gelap. Cara ini disebut Sempetan. Keluhuran budi. seperti bekerja diladang atau pekerjaanpekerjaan lain yang memerlukan tenaga lebih besar. Sementara itu. yaitu yang disebut baju anta kusuma atau rasukan dukun. Masing. yaitu : Lumajang. bagian atas dilipat untuk menutupi kedua bagian tangannya. masyarakat Tengger memiliki banyak upacara yang tidak saja berkaitan dengan siklus kehidupan. pada saat santai dan sekedar berjalan-jalan. Udeng dan sarung tidak tertinggal. Kaum prianya berpakaian sehari-hari sebagaimana masyarakat pertanian di Jawa. pakaian sehari-hari yang dikenakan masyarakat Tengger memang tidaklah jauh berbeda dari masyarakat Jawa. Cara ini disebut kakawung. yang tetap dilaksanakan dan mengundang perhatian masyarakat luar. dengan segala perlengkapannya. kemudian disampirkan ke pundak bagian belakang dan kedua ujungnya diikat jadi satu. Upacara-upacara adat yang secara turun menurun telah dilaksanakan selama ratusan tahun serta kondisi alam dan geografis yang spesifik. Dalam hal berbusana. lengkap dengan peralatan upacara seperti prasen. di Jawa Timur. Pengaruh Hindu . memakai kaos oblong. melainkan juga yang berhubungan dengan alam. Di bagian dalam. Cara lain yang sangat khas. mereka menggunakan kain sarung yang dilipat dua. Kaum wanitanya menggunakan kebaya pendek dan kain panjang tanpa wiron atau sarung tutup kepala dan selendang batik lebar. Biasanya busana yang dikenakan oleh seorang dukun adalah ikat kepala atau udeng batik.Budha yang terpadu dengan adat kepercayaan lokal yang oleh sebagian masyarakat disebut Agami Jawi dan dihayati oleh masyarakat Tengger.

Busana Tradisional Bali Bali Traditional Dress Kemben merupakan jenis pakaian. Kaum wanitanya sering mengenakan kebaya. maupun putih dan ke arah krem. Untuk kebaya berlengan panjang hingga . Bagi wanita Bali. tetapi lebih berfungsi sebagai penyangga payudara. Namun ada pula dukun yang menggunakan jas tutup dan celana panjang warna putih. Meskipun demikian pada situasi-situasi tertentu mereka acap menggunakan kancrik atau tengkuluk sebagai anteng penutup dada. Sementara anteng adalah selembar kain atau kancrik yang berfungsi sebagai penutup buah dada. saput dan anteng. masyarakat Bali mengenal dengan baik kebiasaan mengenakan baju. Selempang pun ada yang berwarna hitam. saput dan kemben. Pakaian untuk pria secara lengkap adalah destar. Kancrik adalah sehelai selendang yang berfungsi sebagai penutup tubuh atau saput.selain kegunaannya sebagai alat untuk menahan rambut agar tetap rapi. umumnya selempang ini dilepas dan disimpan kembali. Pada masa lalu. dari segala jenis usia.panjang warna hitam batikan. Selempang ini dianggap sebagai lambang keagungan dan tanda jabatan yang dipangkunya. yaitu tutup kepala wanita Bali yang juga berfungsi sebagai alas penjunjung beban . Kemben. maupun dari kasta manapun mereka berasal. sehingga keindahan bentuknya tetap terjaga. serta tengkuluk untuk kepala merupakan pakaian wanita Bali dalam keseharian. sabuk. Namun. kemben bukanlah penutup dada. berupa kain pembalut tubuh. Kebiasaan bertelanjang dada pada masyarakat Bali adalah tradisi yang telah berlangsung turun temurun selama ratusan tahun. baik untuk pria maupun wanita. meskipun dimasa lalu perangkat busana Bali lazimnya tanpa baju. kuning. Setelah ujub upacara. yang terkadang digunakan untuk menjunjung beban sekaligus melindungi wajah dari sinar matahari. bepergian ataupun beraktivitas tanpa penutup dada pada masyarakat Bali. termasuk kaum wanitanya adalah hal yang biasa. Kancrik juga digunakan sebagai tengkuluk. yang menjadi bentuk dan model dasar busana tradisional Bali.

Morif geringsing cukup banyak ragamnya. sementara yang berlengan longgar sampai di bawah siku. karena proses pengikatannya yang berjarak lebih longgar.pergelangan tangan. Selain warna. geringsing dapat dibedakan menjadi geringsing selem (geringsing hitam) dan geringsing barak (geringsing merah). Warna-warna ini juga muncul pada pinggiran kain. anteng dan cawat adalah geringsing dengan ukuran paling kecil. Jas tutup dan kemeja biasa digunakan. disebut potongan Bali. atau pegawai pada masa pemerintahaan Belanda. . sementara yang lebih kecil adalah geringsingan patlikur. Geringsing berukuran menengah disebut geringsing wayang. Umumnya kain geringsing memiliki tiga warna dasar. Menurut sejarah. hitam dan merah. sedangkan warna merah tidak terlihat. Pada geringsing selem warna merah tampak pada bagian ujung geringsing saja. batik dan sutra adalah beberapa di antaranya. Kain batik sebagai kemben dan destar adalah pelengkapnya. yaitu kuning muda. Berdasarkan warna. Adapun pada geringsingan barak atau geringsing merah. Geringsing sabuk. meskipun ada juga yang khusus menenunnya. Selain cara menenun dan proses pemintalan benangnya yang cukup memerlukan kesabaran dan ketelitian. Songket. Sebagian besar inspirasinya diperoleh dari dunia flora dan fauna. Warna hitam dan putih saja yang tampak pada bagian geringsing ini. pemerintah Belanda lah yang memperkenalkannya. perada. Demikian pula pada kaum pria. Kain geringsing merupakan salah satu yang terkenal karena keindahan dan keunikannya. lubeng. endek. wayang putri. yaitu putih susu atau kuning muda. kain geringsing. proses pewarnaan kain geringsing sangat menentukan kualitas dan keindahannya. yang memiliki ciri keistimewaan pada teknik tenun dobel ikatnya ini. juga dibedakan menurut ukurannya. tampak tiga warna dominan. mereka sebut potongan Jawa. Budaya memakai baju ini tumbuh dan hidup umumnya pada lingkungan masyarakat yang telah mendapat pengaruh dari luar. pemakaian baju dimulai oleh para ambtenaar. Beberapa motif geringsing adalah motif wayang. Kebaya ini umumnya terbuat dari bahan yang dibeli di pasar. Geringsing dengan ukuran yang paling besar disebut geringsingan perangdasa. merah dan hitam. Kain-kain yang digunakan sebagai bagian dari busana Bali terdiri dari beragam jenis. Pola ragam hiasnya pun tampak lebih lebar.

namun tetap berpadu dengan nilai-nilai budaya Indonesia asli. seluruh busana dibuat dari bahan perada. madya. dikenakan selembar penuh tapih atau sinjang dari sutra berornamen penuh peperadaan mengurai ke luar melewati kemben. Sementara dalam tata busana. Perhiasan tingkat ini utama ini memang memperlihatkan suatu kekhususan. dari bahu ke bawah. . seperti India (patola). Untuk menahan kapuh. Bagi kaum pria. dan sebagainya. masyarakat Bali mengenal adanya tiga jenis busana dan tata rias pengantin. penggunaan gelung kuncir ini berfungsi sebagai penambahan hiasan. Secara keseluruhan. Motif ragam hias kain geringsing dari Tenganan Pageringsingan menampakan pengaruh unsur-unsur ragam hias dari kebudayaan asing. masyarakat biasanya mengenakan kain tenunan Bali tradisional sebagai busana lengkap dari bahan songket dan peperadan. busana tersebut terdiri dari udeng atau destar sebagai ikat kepala. yang disebut umpal. Pada saat melakukan suatu upacara seperti potong gigi atau pernikahan. Gelung kucir. Umpal geringsing adalah yang paling dikagumi. yaitu sanggul tambahan berbentuk bulat melingkar dan terbuat dari ijuk menjadi salah satu pembeda. untuk hiasan kepala atau petitis. saput atau kapuh dan kemben atau wastra. patlikur. sabuk prada yang membelit dari pinggul sampai dada dan selendang songket untuk menutup tubuh. Cina. kain geringsing merupakan perwujudan dari kebudayaan Bali yang memiliki unsur keindahan seni yang tinggi dan terkesan mewah. Mesir yang berasimilasi dengan pengaruh Hindu yang kuat. Berdasarkan corak busana yang dipakai. Sementara itu. seperti kenanga. perbedaan terletak pada bahan yang digunakan. cempaka kuning dan mawar. dapat diketahui status sosial dan ekonomi seseorang. melainkan bunga-bunga yang terbuat dari emas. Perhiasan yang dikenalkan oleh sepasang pengantin payes agunglah yang tampak jelas membedakan dengan tata rias dan busana tingkat nista maupun madya. Dalam upacara perkawinan. tidak digunakan lagi bunga-bunga hidup. cempaka putih. Untuk tingkat utama. Untuk tata rias wajah tubuh dan kaki. cemplong. Wanitanya memakai kemben songket. Gelung biasanya dihias dengan bunga-bungaan. yaitu nista. di balik kemben. dan utama atau yang juga dikenal dengan payes agung. tidak ada perbedaan yang menyolok.cecepakan. Dalam mapusungan (pembuatan sanggul). di ujungnya diikatkan secarik kain panjang sejenis selendang. kebo.

Bahkan hingga kini masyarakat Dayak Taman dikenal sebagai penenun yang terampil. Dulu. Namun kebudayaan kelompok etnik lain yang datang bergelombang menciptakan akulturasi yang setidaknya juga berimbas pada perkembangan tata busana masyarakat Dayak Taman. Pakaian tersebut terbuat dari kulit kayu yang diproses hingga menjadi lunak seperti kain. Warna dasar serat . Masyarakat Dayak Taman pun mengenal teknik menenun untuk membuat busana. clan king bibinge untuk perempuan (bibinge = wanita). clan selimut itu disebut kapua atau ampuro. celana. baba = laki-laki) untuk laki-laki.Pelengkap petitis yaitu tajug dan perhiasan lain seperti subeng cerorot. yang ditenun adalah serat benang yang dihasilkan dari kulit pohon tengang. bebekeng atau pending. untuk koleksi cendera mata. kecuali dibuat sebagai hiasan atau perlengkapan kesenian clan. baju. Penulis Endang Mariani Busana Tradisional Dayak Taman Pada awalnya orang Dayak Taman mulai mengenal pakaian yang disebut king baba (king = cawat. Maka jenis busana king baba clan king bibinge kini sudah hampir tak tampak dipergunakan lagi. serta cincin. Kulit kayu yang bisa difungsikan sebagai kain untuk membuat cawat. tak jarang. gelang kana untuk lengan atas dan badong untuk leher semuanya terbuat dari emas demikian pula sepasang gelang naga satru.

Maka. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik. Busana Pengantin Ada dua jenis busana adat tradisional yang biasa dipakai oleh pengantin dalam masyarakat Dayak Taman. Dibentuk seperti kebaya atau rompi panjang mirip baju tanpa lengan. Baju burai king burai terbuat dari bahan beludru berwarna hitam. Sebagai pelengkap busana. Sebagai hiasannya dijahitkan kulit kerang kecil berwarna putih disusun membentuk motif daun dan bunga. Baju burai king burai dipakai oleh para pendamping pengantin sedangkan kedua mempelai mengenakan baju manik king manik. clan sebagainya. Hiasan baju manik king manik adalah rangkaian manik-manik halus yang menutup hampir seluruh bidang baju sehingga kain dasarnya nyaris tak tampak lagi. pada masyarakat Dayak Taman dikenal pula berbagai ragam perhiasan berupa ikat kepala. jelas. Kedua macam busana itu disebut baju burai king burai clan baju manik king manik. kulit kerang atau keong kecil. dibuat dari benang kapas yang diperoleh dari luar daerah. merah muda. warna yang dominan pada tenunan tradisional Dayak Taman. topi atau kopiah. juga dari kain yang sama. clan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi daripada baju burai king burai. Tenunan yang beredar sekarang dengan warna-warna kuning. gelanggelang.yang kuat clan liat ini coklat sangat muda. kalung. dibutuhkan kesabaran. Kini telah sangat jarang dijumpai tenunan yang dibuat dari serat tengang sehingga busana adat masyarakat Taman pun menggunakan tenunan benang kapas. Baju manik king manik bisa dikatakan sebagai pengembangan dari baju burai king burai. kaum perempuan mengenakan semacam rok yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. ketelitian. Pada seputar ujung bawah baju atau rok digantungkan untaian uang logam perak sehingga baju manik king manik lebih berat ketimbang baju burai king burai. Sebagai busana bawahnya. Hiasan ini diterapkan pada seluruh permukaan kain namun masih menyisakan bidang polos sehingga masih tampak kain dasarnya. juga diberi hiasan sejenis dengan hiasan bajunya. yang konon harus didatangkan dari Kalimantan Selatan itu. dan sebagainya. putih. sulit didapatkan sehingga sebagai gantinya dipakai kancing kecil berwarna putih mengkilap. Kini. jika mempelai mengenakan baju manik king manik sedangkan para pendamping pengantin "hanya" memakai baju burai king burai. tak mengherankan. Sedangkan para lelaki memakai celana panjang sebatas lutut. dari bahan yang sama dengan baju. serat tengang itu dicelup dengan getah pohon yang dilarutkan dalam air. . dan memakai semacam dodot dari kain yang telah diberi hiasan. subang penghias telinga. Untuk memperoleh warna hitam atau merah hati.

Perak dilebur hingga cair kemudian dicetak menjadi semacam manik-manik. Dibuat dari logam perak clan rotan. Lalu diimbuhkan untaian manik sepenuh bidang kambu.Penghias kepala clan rambut kaum wanita disebut tengkulas yang dibuat dari kain bermotif kembang-kembang. maupun kambu. Bulu burung ruai yang disematkan pada tengkulas. tapi umumnya hanya dipakai perempuan.motif-motif bunga dan dedaunan pada permukaan luar kambu. 1 cm. hitam atau kuning. atau dari rotan yang diserit tipis clan pipih.menjadi bentuk kerawang. Poosong dibuat dari kayu yang dibentuk bulat berdiameter 3 . Ada juga yang dinamakan kalong manik lawang. Bahan clan hiasannya sama dengan baju. menggelayut. antara lain. juga sangat sedikit para perempuan. atau kaca. tapi kini hampir tak ada lelaki. Untuk lelaki dikenal semacam topi yang bernama kambu manik dan kambu pirak. Kemudian diukir dan dilapisi plat emas. Rotan yang sudah dibelah dimasukkan pada lobang "manik-manik perak" itu. indulu manik. sehingga nampak sangat unik dan khas. yang dianyam menjadi bentuk topi. ikat pinggang itu disebut sasawak tali murung. perunggu/tembaga. penghias leher. yang dilapisi dengan emas dinamai poosong emas. Sedangkan kambu pirak dibuat dari lempengan tipis logam perak yang dibentuk menjadi topi kemudian ditatahkan . Sebagai pemanis disematkan bulu burung ruai sekeliling kambu pirak itu. Poosong pernah dianggap sebagai identitas wanita dayak Taman. Kambu manik dibuat dari jalinan serat sejenis pohon pandan.6 cm. Poosong yang tidak berlapis logam disebut poosong surat. garis-garis diagonal dan horisontal berbentuk wajik. dengan ketebalan. Dibuat dari manikmanik yang diuntai oleh tali akar tengang. Ada beberapa macam kalung. perak. Pada seputar ujung rok dan baju . Misalnya saja kalong manik pirak. Sasawak lampit karumut dipakai oleh kaum perempuan. Kalung ini dibuat dari logam perak yang dicairkan kemudian dicetak pada solongsong bambu berdiameter kecil. clan lebih disukai yang berwarna mencolok: merah. Penghias telinga berupa subang disebut poosong. pada masyarakat Dayak Taman. Jika tali penguntainya juga dibuat dari kawat logam perak. Jika tengkulas itu sepenuhnya dibuat dari anyaman untaian manik-manik disebut indulu manik. sejenis burung merak yang hidup di haerah hulu Kapuas. Cuping telinga yang dipasangi poosong menjadi lebar. disebut tajuk bulu aruae. dua macam sasawak: sasawak lampit karumut dan sasawak tali murung. Kalung ini dipakai saat upacara adat. Pada tengkulas atau indulu manik ditambahkan bulu burung ruai. Ikat pinggang untuk mempercantik penampilan dinamai sasawak. yang memakainya. atau semacam rumput. Dulu. lebih-kurang. Lalu dibekukan dan dikalungkan pada leher. Bagian depan rok bawah baju manik king manik yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. kaum wanita clan para pria memakai poosong. tapi bisa juga hanya takikan yang tidak tembus . Dikenal. atau batik. kalung yang biasa dipakai perempuan dan lelaki.

Yang dipakai oleh para balien wanita disebut bulang kalaawat. Model baju kuurung sesungguhnya sudah tua. Sebagai kancing untuk mempertemukan kedua sisi baju dibuat dari tali kain berwarna. masyarakat Dayak Taman juga menciptakan beberapa jenis busana untuk pelbagai keperluan acara adat. baju kalaawat ini dipakai oleh setiap wanita remaja. clan berlengan pendek. kiri clan kanan. Kaum lelaki memakai satu hingga tiga buah gelang pada bagian lengan di atas siku. Gelang-gelang ini biasanya dipakai saat upacara adat keagamaan. Baju berlubang leher bentuk bulat atau segitiga ini tidak berkerah clan polos tidak bersaku. baju burai king burai clan baju manik king manik. Sekarang. Dari berbagai ragam busana tradisional yang dimiliki masyarakat Dayak Taman. ketelitian dan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi dari baju burai king burai. agaknya. bila terbuat dari untaian manik disebut tangkalae manik. Yada pita itu dipasang kancing-kancing yang hanya berfungsi sebagai hiasan. yang paling popular sehingga hampir setiap keluarga Dayak Taman memilikinya. galang pasan berupa anyaman serat tumbuhan. seperti galang bontok yang dibuat dari perak. Ketika masyarakat dayak Taman baru mengenal baju dari kulit kayu modelnya berbentuk baju kuurung. . baju kuurung dokot tangan yakni baju kuurung lengan pendek.digantungkan untaian logam perak. Terutama baju burai king burai. Dahulu. Sekarang hanya dipakai oleh dukun-dukun wanita. clan baju kuurung langke tangan ialah baju kuurung lengan panjang. Gelang itu disebut tangkalae atau sumpae. dan galang gading yang dibuat dari gading gajah. Ada beberapa macam model: baju kuurung sapek tangan yaitu baju kuurung tidak berlengan. Hiasan manik-manik yang mengisi seluruh bidang membuat baju manik king manik lebih berat daripada baju burai king burai. baju kuurung hanya dipakai oleh para balien (dukun) dengan memilih warna hitam clan pada bagian-bagian pinggir bajunya diberi les atau pita kain warna merah yang lebarnya sekitar 3 cm. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik jelas dibutuhkan kesabaran. clan orang tua. Bentuknya sama dengan bulang kuurung hanya bagian depannya terbelah seperti kemeja pria biasa. Kain berupa pita berwarna lain daripada warna bajunya dijahitkan pada bagian tepi baju. Ada beberapa macam gelang-gelang yang biasanya dipakai pada upacara adat. clan yang dari jalinan tali ijuk dikenal sebagai tangkalae ijuk. dan wanita lanjut usia. galang manik yaitu untaian manik-manik pada serat daun nenas. Yang dibuat dari kayu tapang dinamai tangkalae tapang. Busana Adat Lainnya Meskipun kini sudah jarang ditemukan. yang kerap digunakan pada peristiwa-peristiwa penting seperti perhelatan adat atau perkawinan. dewasa. Di antaranya adalah bulang (baju) kuurung.

salawar kiyama dan sandal silang. Bagian dada terbelah berkancing tiga. tanpa kantong. Warna yang digunakan oleh remaja lebih mencolok. sandal tali silang. Bagi laki-laki dewasa yang ingin bepergian mengenakan kopiah hitam. kain satin (kupiah Padang) atau kupiah jangang. Sebagai pasangannya dikenakan baju taluk balanga (kemeja lengan panjang) dengan leher baju bulat dan sedikit mencuat ke atas. Baju kiyama berbentuk baju lengan panjang dengan kerah berlipat . dominan warna kuning. sejenis sarung terbuat dari katun atau sutra bermotif garis-garis melintang dan membujur. Pada saat-saat tertentu kelengkapan pakaian ini ditambah dengan tapih (kain sarung) yang disampirkan di bahu. Sedangkan dalam acara-acara resmi seperti menghadiri upacara adat salawar diganti dengan tapih.Busana Tradisional Masyarakat Banjar Penulis Dewi Indrawati Busana tradisional yang biasa dipakai sehari-hari oleh remaja dan orang dewasa kaum lelaki Banjar adalah salawar panjang (celana panjang) yang menutup kaki sampai ke mata kaki. Pasangannya digunakan tapih. Alas kakinya ada berbagai jenis. dan selop. Laki-laki tua Banjar sehari-hari mengenakan baju palimbangan. yang lazim disebut tapih kaling. yaitu sandal kalipik. Sebagai penutup kepala digunakan kopiah (kupiah) dari kain beludru. baju kiyama. yaitu kemeja berlengan panjang dengan leher baju bulat tanpa kerah dilengkapi dengan kancing lima dan berkantong tiga buah.

Warna laung tajak siak harus sama dengan warna sabuk yang dikenakan. Baju ini dipadukan dengan celana panjang (salawar panjang). Yang kerap dipakai para remaja dan orang tua kaum perempuan Banjar adalah baju kubaya (kebaya) berpasangan dengan tapih batik bakarung (kain batik). Bentuknya sama dengan pantalon biasa. Lehernya bundar dengan kerah kecil agak tegak. dua di bagian bawah kiri dan kanan. kalau mengenakan jas tutup harus bersabuk di pinggang. Tutup kepala ini terbuat dari bahan beludru. Pasangannya disebut celana kiyama memiliki bentuk sederhana. yang mengacu pada lam alif dalam AlQur`an. Warna pakaian ini biasanya dipilih yang muda. di depan dada dan kiri-kanan bawah dengan model masuk (bukan kantong tempel). kebaya biasa yang diberi variasi kain yang memanjang di bagian depan yang dinamakan sawiwi atau sujab selebar 10 cm. kuning muda. berbentuk segi tiga.neyerupai jas. Alas kakinya adalah selop dari beludru dan berkerudung kain sutra atau sasirangan. dari bahan kain poplin babalur (bergaris-garis vertikal) atau tetoron. baju yang dilengkapi dengan tali pengikat di belakang leher dan kedua ujung lengan. Untuk mengikat digunakan tali yang dimasukkan pada lubang (uluh-uluh). Ada dua cara menata rambut yang disebut galung malang babuntut dan galung malang. Kantongnya ada tiga buah. Buntut pada sanggul menunjukkan pemakainya masih gadis. dan jenis lain yang agak tebal. yaitu sabuk air guci (payet) dan sabuk kain tenun Pegatan dengan berbagai pilihan warna. Fungsinya untuk menolak bahaya atau maksud-maksud jahat lainnya. tajam pemandangan dan kekuasaan yang tinggi. Lengan baju sampai pergelangan tangan. Dilengkapi kantong tiga buah. hanya tanpa saku. kain Pagatan. belini dan friend ship. seperi biru muda. satu di dada kiri. dan jenis lain yang agak keras. yaitu lam jalalah. Untuk wanita dewasa dikenakan baju kubaya basawiwi (basujab). Bahan baju dari kain lena. Mengikatnya harus mengikuti pola yang berlaku. ekstrimin. Tetapi sekarang banyak dipakai kain wool. Bagian tumpal sabuk yang bermotif pucuk rebung harus diletakkan di belakang. Baju ini berkancing lima biji. Pada waktu bepergian mereka mengenakan baju kurung basisit. ujungnya diberi hiasan tiga biji kancing . lurus tanpa kantong. Motif ini melambangkan sikap waspada. Ada dua pilihan sabuk. Busana Upacara Adat Dalam menghadiri upacara resmi para lelaki remaja sampai dewasa mengenakan baju jas tutup. Sebagai tutup kepala dikenakan laung tajak siak. Sanggul ini berbentuk bundar seperti angka delapan. Terakhir dikenakan selop pada kedua kakinya dari bahan beludru dan kulit. biasanya dipilih yang kontras dengan warna baju. Menjadi aturan. Menjadi kebiasaan di daerah ini setiap perempuan menata rambutnya dengan cara disanggul (galung). dan krem. . Ujung tangan dan kantong diberi piIit (les) dengan warna berbeda dari bahan baju.

Kepalanya dibalut destar model siak melayu. Pada bagian dada dihias renda menutupi semua kancing. . Disebut baju kurung basisit karena pada bagian leher dan tangan dilengkapi tali pengikat (tali penyisit). Masyarakat Hindu dan Jawa banyak mempengaruhi pemakaian busana ini. Sabuk berhias air guci dengan motif lelipan dipakai sebagai simbol kekuasaan dan kemuliaan. Kaki mengenakan selop dari beludru. Sebagai pengikat digunakan tali wenang berupa kain berwarna. Kemudian keris yang dihiasi bogam bermotif bunga merah diselipkan di pinggang. Bahan baju dapat dibuat dari kain sutra atau sasirangan. Pakaian Pengantin Baamar Galung Pancaran Matahari merupakan pakaian pengantin yang paling digemari oleh semua golongan masyarakat Banjar. kalung bermotif bunga-bungaan. dengan segitiga lebih tinggi. Pemakaiannya rnulai dikembangkan dalam masyarakat Banjar sejak abad XIX. Kemudian dikenakan jas terbuka tanpa kancing. Mempelai wanita mengenakan baju poko berlengan pendek ditutupi dengan kida-kida. Pada telinga dipasang anting-anting beruntai. Hiasan ini ditancapkan pada sanggul. yaitu mantel sempit berhias yang berfungsi untuk menutup dada. Pagatan. Perhiasannya berupa samban. Mempelai laki-laki mengenakan kemeja putih lengan pendek. dari kain sutra amban (sutra tipis) atau kain sasirangan yang dihiasi motif gigi haruan pada kedua sisinya. Kalung panjang bogam dan liris-liris bunga. Baju ini dikombinasi dengan tapih Lasem. dan air guci. Dikenakan sarung dan penutup pinggang (tali gapu) berhiaskan air guci. Sementara kalung samban rangkap tiga dan kalung marjan menghiasi bagian leher. Bagian depan dihias dengan berbagai hiasan diikat di bagian belakang dengan buhul lam jalalah. Galang (gelang) karuncung melingkar di lengan. Kepalanya ditutup dengan kakamban/serudung (kerudung) berbentuk segi empat. Pantalon terbuat dari bahan dan warna yang sama dengan jas. Sebagai hiasan digunakan sulaman benang emas dan air guci dengan motif pucuk rebung. sedangkan jari manisnya berhias cincin litring. Aksesori penghias rambut terdiri dari kembang goyang (kambang goyang) dibedakan antara yang berapun (berumpun) dan tunggal berbentuk melati sebagai lambang kesucian.Bagi kaum perempuan dalam upacara resmi dikenakan baju kurung basisit lengkap dengan tapihnya.

Kelengkapan lainnya meliputi kerabu menganyun. terdiri dari daun sirih. bunga jepun berbentuk jepitan. serta bangle dipakai di lengan atas dan pergelangan kaki terbuat dari karet berbentuk lekuk akar atau irisan buncis. . Cincin dari bunga mayang. bunga melati yang diatur berbaris. Ornamen lain untuk rambut antara lain baquet dengan pita rambut. Kakinya beralaskan selop beludru bersulam benang emas. yang dipenuhi oleh rangkaian bunga (palimbaian). untaian bunga depan dan belakang. Sepasang pengantin ini dipersandingkan di ba-tatai. sabuk pinggang warna emas. bunga mawar merah dan bunga melati. dan untaian bunga warna keemasan. kalung. untaian metalik.Rambutnya disanggul model amar galung bertahtakan mahkota dihias dengan kembang goyang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->