Busana Tradisional Dayak Taman

Penulis Aat Soeratin, Jonny Purba Pada awalnya orang Dayak Taman mulai mengenal pakaian yang disebut king baba (king = cawat; baba = laki-laki) untuk laki-laki, clan king bibinge untuk perempuan (bibinge = wanita). Pakaian tersebut terbuat dari kulit kayu yang diproses hingga menjadi lunak seperti kain. Kulit kayu yang bisa difungsikan sebagai kain untuk membuat cawat, celana, baju, clan selimut itu disebut kapua atau ampuro. Namun kebudayaan kelompok etnik lain yang datang bergelombang menciptakan akulturasi yang setidaknya juga berimbas pada perkembangan tata busana masyarakat Dayak Taman. Maka jenis busana king baba clan king bibinge kini sudah hampir tak tampak dipergunakan lagi, kecuali dibuat sebagai hiasan atau perlengkapan kesenian clan, tak jarang, untuk koleksi cendera mata. Masyarakat Dayak Taman pun mengenal teknik menenun untuk membuat busana. Bahkan hingga kini masyarakat Dayak Taman dikenal sebagai penenun yang terampil. Dulu, yang ditenun adalah serat benang yang dihasilkan dari kulit pohon tengang. Warna dasar serat yang kuat clan liat ini coklat sangat muda. Untuk memperoleh warna hitam atau merah hati, warna yang dominan pada tenunan tradisional Dayak Taman, serat tengang itu dicelup dengan getah pohon yang dilarutkan dalam air. Tenunan yang beredar sekarang dengan warna-warna kuning, merah muda, putih, clan sebagainya, dibuat dari benang kapas yang diperoleh dari luar daerah. Kini telah sangat jarang dijumpai tenunan yang dibuat dari serat tengang sehingga busana adat masyarakat Taman pun menggunakan tenunan benang kapas. Busana Pengantin Ada dua jenis busana adat tradisional yang biasa dipakai oleh pengantin dalam masyarakat Dayak Taman. Kedua macam busana itu disebut baju burai king burai clan baju manik king manik. Baju burai king burai dipakai oleh para pendamping pengantin sedangkan kedua mempelai mengenakan baju manik king manik. Baju burai king burai terbuat dari bahan beludru berwarna hitam. Dibentuk seperti kebaya atau rompi panjang mirip baju tanpa lengan. Sebagai hiasannya dijahitkan kulit kerang kecil berwarna putih disusun membentuk motif daun dan bunga. Hiasan ini diterapkan pada seluruh permukaan kain namun masih menyisakan bidang polos sehingga masih tampak kain dasarnya. Kini, kulit kerang atau keong kecil, yang konon harus didatangkan dari Kalimantan Selatan itu, sulit didapatkan sehingga sebagai gantinya dipakai kancing kecil berwarna putih mengkilap. Sebagai busana bawahnya, kaum perempuan mengenakan

semacam rok yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut, dari bahan yang sama dengan baju, juga diberi hiasan sejenis dengan hiasan bajunya. Sedangkan para lelaki memakai celana panjang sebatas lutut, juga dari kain yang sama, dan memakai semacam dodot dari kain yang telah diberi hiasan. Baju manik king manik bisa dikatakan sebagai pengembangan dari baju burai king burai. Hiasan baju manik king manik adalah rangkaian manik-manik halus yang menutup hampir seluruh bidang baju sehingga kain dasarnya nyaris tak tampak lagi. Pada seputar ujung bawah baju atau rok digantungkan untaian uang logam perak sehingga baju manik king manik lebih berat ketimbang baju burai king burai. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik, jelas, dibutuhkan kesabaran, ketelitian, clan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi daripada baju burai king burai. Maka, tak mengherankan, jika mempelai mengenakan baju manik king manik sedangkan para pendamping pengantin "hanya" memakai baju burai king burai. Sebagai pelengkap busana, pada masyarakat Dayak Taman dikenal pula berbagai ragam perhiasan berupa ikat kepala, topi atau kopiah, subang penghias telinga, kalung, gelanggelang, dan sebagainya. Penghias kepala clan rambut kaum wanita disebut tengkulas yang dibuat dari kain bermotif kembang-kembang, garis-garis diagonal dan horisontal berbentuk wajik, atau batik, clan lebih disukai yang berwarna mencolok: merah, hitam atau kuning. Jika tengkulas itu sepenuhnya dibuat dari anyaman untaian manik-manik disebut indulu manik. Pada tengkulas atau indulu manik ditambahkan bulu burung ruai, sejenis burung merak yang hidup di haerah hulu Kapuas. Untuk lelaki dikenal semacam topi yang bernama kambu manik dan kambu pirak. Kambu manik dibuat dari jalinan serat sejenis pohon pandan, atau semacam rumput, atau dari rotan yang diserit tipis clan pipih, yang dianyam menjadi bentuk topi. Lalu diimbuhkan untaian manik sepenuh bidang kambu. Sedangkan kambu pirak dibuat dari lempengan tipis logam perak yang dibentuk menjadi topi kemudian ditatahkan - menjadi bentuk kerawang, tapi bisa juga hanya takikan yang tidak tembus motif-motif bunga dan dedaunan pada permukaan luar kambu. Sebagai pemanis disematkan bulu burung ruai sekeliling kambu pirak itu. Bulu burung ruai yang disematkan pada tengkulas, indulu manik, maupun kambu, disebut tajuk bulu aruae. Penghias telinga berupa subang disebut poosong. Dulu, kaum wanita clan para pria memakai poosong, tapi kini hampir tak ada lelaki, juga sangat sedikit para perempuan, yang memakainya. Poosong dibuat dari kayu yang dibentuk bulat berdiameter 3 - 6 cm, dengan ketebalan, lebih-kurang, 1 cm. Kemudian diukir dan dilapisi plat emas, perak, perunggu/tembaga, atau kaca. Poosong yang tidak berlapis logam disebut poosong surat, yang dilapisi dengan emas dinamai poosong emas. Poosong pernah dianggap sebagai identitas wanita dayak Taman. Cuping telinga yang dipasangi poosong menjadi lebar,

Busana Adat Lainnya Meskipun kini sudah jarang ditemukan. ketelitian dan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi dari baju burai king burai. galang pasan berupa anyaman serat tumbuhan. masyarakat Dayak Taman juga menciptakan beberapa jenis busana untuk pelbagai keperluan acara adat. Dibuat dari manikmanik yang diuntai oleh tali akar tengang. Hiasan manik-manik yang mengisi seluruh bidang membuat baju manik king manik lebih berat daripada baju burai king burai. Gelanggelang ini biasanya dipakai saat upacara adat keagamaan. seperti galang bontok yang dibuat dari perak. antara lain. pada masyarakat Dayak Taman. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik jelas dibutuhkan kesabaran. penghias leher. Perak dilebur hingga cair kemudian dicetak menjadi semacam manik-manik. galang manik yaitu untaian manik-manik pada serat daun nenas. kiri clan kanan. dua macam sasawak: sasawak lampit karumut dan sasawak tali murung. baju kuurung dokot tangan yakni baju kuurung lengan pendek. Kalung ini dipakai saat upacara adat. Rotan yang sudah dibelah dimasukkan pada lobang "manik-manik perak" itu. Misalnya saja kalong manik pirak. Kaum lelaki memakai satu hingga tiga buah gelang pada bagian lengan di atas siku. Pada seputar ujung rok dan baju digantungkan untaian logam perak.menggelayut. Ada beberapa macam model: baju kuurung sapek tangan yaitu baju kuurung tidak berlengan. clan baju kuurung langke tangan ialah baju kuurung lengan panjang. dan galang gading yang dibuat dari gading gajah. Kalung ini dibuat dari logam perak yang dicairkan kemudian dicetak pada solongsong bambu berdiameter kecil. Ikat pinggang untuk mempercantik penampilan dinamai sasawak. Di antaranya adalah bulang (baju) kuurung. kalung yang biasa dipakai perempuan dan lelaki. tapi umumnya hanya dipakai perempuan. ikat pinggang itu disebut sasawak tali murung. bila terbuat dari untaian manik disebut tangkalae manik. Model baju kuurung . Ada beberapa macam kalung. Bahan clan hiasannya sama dengan baju. Dikenal. Gelang itu disebut tangkalae atau sumpae. Ada juga yang dinamakan kalong manik lawang. Bagian depan rok bawah baju manik king manik yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. Ada beberapa macam gelang-gelang yang biasanya dipakai pada upacara adat. clan yang dari jalinan tali ijuk dikenal sebagai tangkalae ijuk. sehingga nampak sangat unik dan khas. Sasawak lampit karumut dipakai oleh kaum perempuan. Jika tali penguntainya juga dibuat dari kawat logam perak. Dibuat dari logam perak clan rotan. Yang dibuat dari kayu tapang dinamai tangkalae tapang. Lalu dibekukan dan dikalungkan pada leher.

Bentuknya sama dengan bulang kuurung hanya bagian depannya terbelah seperti kemeja pria biasa. baju kalaawat ini dipakai oleh setiap wanita remaja. . Terutama baju burai king burai.sesungguhnya sudah tua. baju kuurung hanya dipakai oleh para balien (dukun) dengan memilih warna hitam clan pada bagian-bagian pinggir bajunya diberi les atau pita kain warna merah yang lebarnya sekitar 3 cm. Yang dipakai oleh para balien wanita disebut bulang kalaawat. baju burai king burai clan baju manik king manik. yang kerap digunakan pada peristiwa-peristiwa penting sepertiperhelatan adat atau perkawinan. Sekarang hanya dipakai oleh dukun-dukun wanita. Sebagai kancing untuk mempertemukan kedua sisi baju dibuat dari tali kain berwarna. clan berlengan pendek. Dahulu. Yada pita itu dipasang kancing-kancing yang hanya berfungsi sebagai hiasan. clan orang tua. yang paling popular sehingga hampir setiap keluarga Dayak Taman memilikinya. dan wanita lanjut usia. Sekarang. dewasa. agaknya. Ketika masyarakat dayak Taman baru mengenal baju dari kulit kayu modelnya berbentuk baju kuurung. Kain berupa pita berwarna lain daripada warna bajunya dijahitkan pada bagian tepi baju. Baju berlubang leher bentuk bulat atau segitiga ini tidak berkerah clan polos tidak bersaku. Dari berbagai ragam busana tradisional yang dimiliki masyarakat Dayak Taman.

.

Menjadi kebiasaan di daerah ini setiap perempuan menata rambutnya dengan cara disanggul (galung). Sanggul ini berbentuk bundar seperti angka delapan. Pada saat-saat tertentu kelengkapan pakaian ini ditambah dengan tapih (kain sarung) yang disampirkan di bahu. di depan dada dan kiri-kanan bawah dengan model masuk (bukan kantong tempel). Baju ini berkancing lima biji. kebaya biasa yang diberi variasi kain yang memanjang di bagian depan yang dinamakan sawiwi atau sujab selebar 10 cm. sejenis sarung terbuat dari katun atau sutra bermotif garis-garis melintang dan membujur. berbentuk segi tiga. Tetapi sekarang banyak dipakai kain wool. salawar kiyama dan sandal silang. sandal tali silang. Pasangannya disebut celana kiyama memiliki bentuk sederhana. dominan warna kuning. kalau mengenakan jas tutup harus bersabuk di pinggang. Laki-laki tua Banjar sehari-hari mengenakan baju palimbangan. Alas kakinya adalah selop dari beludru dan berkerudung kain sutra atau sasirangan. Bentuknya sama dengan pantalon biasa. Bagian dada terbelah berkancing tiga. yaitu kemeja berlengan panjang dengan leher baju bulat tanpa kerah dilengkapi dengan kancing lima dan berkantong tiga buah. Untuk wanita dewasa dikenakan baju kubaya basawiwi (basujab). Lehernya bundar dengan kerah kecil agak tegak. Ada dua pilihan sabuk. ekstrimin. baju yang dilengkapi dengan tali pengikat di belakang leher dan kedua ujung lengan. dan selop. Bagian tumpal sabuk yang bermotif pucuk rebung harus diletakkan di belakang. dari bahan kain poplin babalur (bergaris-garis vertikal) atau tetoron. kain satin (kupiah Padang) atau kupiah jangang. Busana Upacara Adat Dalam menghadiri upacara resmi para lelaki remaja sampai dewasa mengenakan baju jas tutup.Busana Tradisional Masyarakat Banjar Penulis Dewi Indrawati Busana tradisional yang biasa dipakai sehari-hari oleh remaja dan orang dewasa kaum lelaki Banjar adalah salawar panjang (celana panjang) yang menutup kaki sampai ke mata kaki. yang mengacu pada lam alif dalam Al-Qur`an. Baju kiyama berbentuk baju lengan panjang dengan kerah berlipat neyerupai jas. Untuk mengikat digunakan tali yang dimasukkan pada lubang (uluh-uluh). yang lazim disebut tapih kaling. satu di dada kiri. Sebagai pasangannya dikenakan baju taluk balanga (kemeja lengan panjang) dengan leher baju bulat dan sedikit mencuat ke atas. Bahan baju dari kain lena. Motif ini melambangkan sikap waspada. dan krem. Yang kerap dipakai para remaja dan orang tua kaum perempuan Banjar adalah baju kubaya (kebaya) berpasangan dengan tapih batik bakarung (kain batik). Mengikatnya harus mengikuti pola yang berlaku. dan jenis lain yang . hanya tanpa saku. baju kiyama. Warna yang digunakan oleh remaja lebih mencolok. Warna pakaian ini biasanya dipilih yang muda. yaitu sandal kalipik. lurus tanpa kantong. Alas kakinya ada berbagai jenis. Ada dua cara menata rambut yang disebut galung malang babuntut dan galung malang. Sedangkan dalam acara-acara resmi seperti menghadiri upacara adat salawar diganti dengan tapih. Lengan baju sampai pergelangan tangan. yaitu lam jalalah. Kantongnya ada tiga buah. Menjadi aturan. biasanya dipilih yang kontras dengan warna baju. tanpa kantong. belini dan friend ship. Dilengkapi kantong tiga buah. Pada waktu bepergian mereka mengenakan baju kurung basisit. Bagi laki-laki dewasa yang ingin bepergian mengenakan kopiah hitam. Sebagai penutup kepala digunakan kopiah (kupiah) dari kain beludru. yaitu sabuk air guci (payet) dan sabuk kain tenun Pegatan dengan berbagai pilihan warna. kain Pagatan. seperi biru muda. Baju ini dipadukan dengan celana panjang (salawar panjang). Tutup kepala ini terbuat dari bahan beludru. dan jenis lain yang agak tebal. kuning muda. tajam pemandangan dan kekuasaan yang tinggi. ujungnya diberi hiasan tiga biji kancing . dua di bagian bawah kiri dan kanan. Ujung tangan dan kantong diberi piIit (les) dengan warna berbeda dari bahan baju. Buntut pada sanggul menunjukkan pemakainya masih gadis. Sebagai tutup kepala dikenakan laung tajak siak. Fungsinya untuk menolak bahaya atau maksud-maksud jahat lainnya. Pasangannya digunakan tapih.

kalung bermotif bunga-bungaan. Kakinya beralaskan selop beludru bersulam benang emas. Masyarakat Hindu dan Jawa banyak mempengaruhi pemakaian busana ini. terdiri dari daun sirih. Bagian depan dihias dengan berbagai hiasan diikat di bagian belakang dengan buhul lam jalalah. Hiasan ini ditancapkan pada sanggul. Kaki mengenakan selop dari beludru. yang dipenuhi oleh rangkaian bunga (palimbaian). Terakhir dikenakan selop pada kedua kakinya dari bahan beludru dan kulit. Sepasang pengantin ini dipersandingkan di ba-tatai. Baju ini dikombinasi dengan tapih Lasem. Kemudian keris yang dihiasi bogam bermotif bunga merah diselipkan di pinggang. yaitu mantel sempit berhias yang berfungsi untuk menutup dada. Dikenakan sarung dan penutup pinggang (tali gapu) berhiaskan air guci. Sebagai hiasan digunakan sulaman benang emas dan air guci dengan motif pucuk rebung. Ornamen lain untuk rambut antara lain baquet dengan pita rambut. Kelengkapan lainnya meliputi kerabu menganyun. Pada telinga dipasang anting-anting beruntai. Pagatan. dari kain sutra amban (sutra tipis) atau kain sasirangan yang dihiasi motif gigi haruan pada kedua sisinya. Kalung panjang bogam dan liris-liris bunga. Warna laung tajak siak harus sama dengan warna sabuk yang dikenakan. untaian bunga depan dan belakang. . sedangkan jari manisnya berhias cincin litring. Cincin dari bunga mayang. sabuk pinggang warna emas. Disebut baju kurung basisit karena pada bagian leher dan tangan dilengkapi tali pengikat (tali penyisit). Sabuk berhias air guci dengan motif lelipan dipakai sebagai simbol kekuasaan dan kemuliaan. Bahan baju dapat dibuat dari kain sutra atau sasirangan. untaian metalik.agak keras. serta bangle dipakai di lengan atas dan pergelangan kaki terbuat dari karet berbentuk lekuk akar atau irisan buncis. dan air guci. Perhiasannya berupa samban. Kepalanya dibalut destar model siak melayu. Sementara kalung samban rangkap tiga dan kalung marjan menghiasi bagian leher. Kepalanya ditutup dengan kakamban/serudung (kerudung) berbentuk segi empat. bunga mawar merah dan bunga melati. Pada bagian dada dihias renda menutupi semua kancing. Aksesori penghias rambut terdiri dari kembang goyang (kambang goyang) dibedakan antara yang berapun (berumpun) dan tunggal berbentuk melati sebagai lambang kesucian. Galang (gelang) karuncung melingkar di lengan. bunga jepun berbentuk jepitan. kalung. dengan segitiga lebih tinggi. Bagi kaum perempuan dalam upacara resmi dikenakan baju kurung basisit lengkap dengan tapihnya. Mempelai laki-laki mengenakan kemeja putih lengan pendek. Mempelai wanita mengenakan baju poko berlengan pendek ditutupi dengan kida-kida. Pantalon terbuat dari bahan dan warna yang sama dengan jas. bunga melati yang diatur berbaris. Sebagai pengikat digunakan tali wenang berupa kain berwarna. Kemudian dikenakan jas terbuka tanpa kancing. Pakaian Pengantin Baamar Galung Pancaran Matahari merupakan pakaian pengantin yang paling digemari oleh semua golongan masyarakat Banjar. Rambutnya disanggul model amar galung bertahtakan mahkota dihias dengan kembang goyang. Pemakaiannya rnulai dikembangkan dalam masyarakat Banjar sejak abad XIX. dan untaian bunga warna keemasan.

melahirkan apa yang kemudian dikenal sebagai agama Hindu Kaharingan. dedaunan. Busana itu berwarna coklat muda. warna merah dari buah rotan. diatur pula pemakaian corak hias busana adat . Dan kesederhanaan pakaian kulit kayu itu kemudian memancarkan esensi keindahan karena imbuhan warnawarni flora dan fauna yang ditambahkan sebagai pelengkap busana. Bahan pewarna itu secara kreatif diolah dari yang tersedia pada alam sekitar mereka. Corak hias ini sangat berarti bagi masyarakat Dayak Ngaju sehingga busana adat untuk upacaraupacara penting . yang konon telah bangkit pada hati setiap manusia sejak ribuan tahun silam. upacara pengobatan belian obat kelengkapannya adalah busana dengan corak hias batang garing. Sinkretisme itu melahirkan pelbagai keyakinan dan mitologi dan mengilhami lahirnya corak hias naga. warna hitam dari jelaga. Akan tetapi naluri berdandan. yang disebut ewah. Celananya adalah cawat yang. Misalnya saja. kulit kerang. harimau akar. dan sebagainya. panglima perang. dan berbagai aksesori lainnya yang mendaurulangkan limbah keseharian mereka. Kulit kayu dari pohon keras itu ditempa dengan pemukul semacam palu kayu hingga menjadi lemas seperti kain. Setelah dianggap halus "kain" itu dipotong untuk dibuat baju dan celana. Pengaruh agama Hindu pada kepercayaan asal masyarakat Ngaju. bunga. dan ahli pengobatan. kemudian kain tenun halus. yang bahannya juga dipungut dari alam sekitar. Salah satu mitologi masyarakat Dayak Ngaju yang terkenal adalah tentang penciptaan alam yang melahirkan simbolisasi "pohon hayat" atau "pohon kehidupan" dalam bentuk corak hias yang dikenal dengan nama batang goring. Maka tampillah stilasi bentuk flora dan fauna. lalu tenunan serat alam yang "kasar".misalnya upacara tiwah. selain tampil artistik. Model busananya sangatlah sederhana dan semata fungsional. kepala suku. dan sebagainya. gelang. rajah (tatoo) pada bagian-bagian tubuh tertentu. gelang dibikin dari tulang binatang buruan. untuk mengantar ruh manusia yang meninggal dunia ke peristirahatannya. kemudian desain yang tak lagi sekadar fungsional. gigi dan taring binatang dirangkai menjadi kalung. kalung.Busana Tradisional Dayak Ngaju Mengalirnya waktu dan berbaurnya pelbagai budaya menyebabkan perkembangan estetika masyarakat Dayak Ngaju yang semakin bergeser dari nilai-nilai asalnya meski tak menghilangkan substansinya. giwang (suwang). mengusik hasrat masyarakat Dayak Ngaju untuk "mempercantik" penampilan. Keyakinan dan alam mitologi juga memberi inspirasi pada penciptaan ragam corak hias busana adat sehingga gambar-gambar itu. tak diberi hiasan. bagian depannya ditutup lembaran kain nyamu berbentuk persegi panjang. akar pohon. pun punya makna simbolik. Biji-bijian. Maka baju kulit kayu sederhana itu pun lalu dilengkapi dengan aksesori ikat kepala (salutup hatue untuk kaum lelaki dan sal utup bawi untuk para perempuan). Rompi sederhana ini dalam bahasa Ngaju disebut sangkarut. warna putih dari tanah putih dicampur air. para tetua adat. Bajunya berupa rompi unisex tanpa hiasan apapun. Awalnya kulit kayu. warna kuning dari kunyit. yang cenderung animistik. sehingga kesannya sangat alamiah. ketika dikenakan. tak pula diwarnai. . menjadi corak hias busana adat.berbeda untuk perempuan dan lelaki . semua itu adalah fenomena yang menyiratkan bergesernya nilai-nilai tata cara berbusana dan seni berdandan masyarakat Dayak Ngaju. giwang dari kayu keras.bagi para pemuka kelompok. Busana Kulit Kayu Beratus tahun lalu masyarakat Dayak membuat busana dengan bahan dasar kulit kayu yang disebut kulit nyamu. Selain itu. dalam kepercayaan Kaharingan. misalnya. Hal itu nyata terlihat dengan berkembangnya seni berbusana masyarakat asli Pulau Kalimantan ini. burung. warna asli kayu. upacara meminta hujan. manusia. Corak hias yang digambarkan pada busana juga diilhami oleh apa yang mereka lihat di alam sekelilingnya. Pada perkembangan selanjutnya masyarakat Dayak Ngaju pun mulai membubuhkan warna dan corak hias pada busana mereka. yang bermakna sangat filosofis.

Kain-kain tersebut ditenun dari serat kapas atau sutra. jalinan serat alam. dan aplikasi manik-manik dan arguci. dari kain yang sama yang juga diberi corak hias berupa penggayaan bentuk flora atau fauna. batang garing. kostum taritarian. dan mitologi. Dan kini pucuk rebung. dan kelengkapan lainnya. Jenis-jenis busana seperti ini sekarang pun masih bisa dibuat untuk berbagai keperluan. yang pada bagian bawahnya diberi corak hias stilasi bentuk flora atau fauna. Paduannya rok panjang sebatas betis. Dan aksesori yang dikenakannya adalah kalung manik-manik. kini diolah dengan teknik yang memerlukan kesabaran dan konsentrasi tinggi. disebut salui. Busana kaum perempuan terdiri dari baju kurung ngasuhui berlengan panjang atau pendek. kebanyakan dibuat dari kain beludru. Busana tradisional masyarakat Ngaju yang beredar sekarang ini hampir seluruhnya dibuat dari kain tenun halus serat kapas atau sutra. model baju pria Melayu tapi berkerah. Pakaian yang dibuat bukan lagi hanya untuk fungsi yang paling mendasar yakni baju dan celana untuk melindungi bagian tubuh yang dianggap paling penting saja. lawung bawi. tapi diperluas untuk keperluan lainnya. kayu. harimau akar. Umpamanya saja sangkarut perang dari jalinan rotan (sangkarut perang) untuk penahan tusukan anak panah. Maka diadaptasilah teknik menenun kain halus itu dan kreativitas para penenun masyarakat Ngaju kemudian melahirkan juga kain tenun halus. Rancangan dan fungsi busana pun turut berkembang. Maka kulit kayu yang semula hanya ditempa menjadi lembaran-lembaran "kain". Akan tetapi. dan tulang. Orang-orang Cina dan India memperkenalkan manik-manik yang terbuat dari logam. juga dari beludru atau satin. memberikan apresiasi positif terhadap bahan busana yang sebelumnya tidak ada pada khasanah karya tenun mereka itu. celana . manusia. karena ternyata alam Nusatara yang kaya raya juga menyediakan kapas dan sutra. Pada kerah. satin. akar tumbuhan. dan bagian dada. Masyarakat Ngaju. Corak hiasnya masih menampilkan alam flora. Rambut yang disanggul bentuk sanggul lipat atau dibiarkan terurai dihias ikat kepala. Teknik menenun.Busana Jalinan Serat Alam Inovasi yang paling signifikan pada rancangan busana masyarakat Dayak adalah penguasaan keterampilan menjalin serat alam. pakaian acara-acara adat. keramik. atau cendera mata. ujung lengan baju. Temuan-temuan baru itu kemudian dikembangkan lagi secara kreatif oleh para perancang busana masyarakat Ngaju. sumpit. Pakaian tradisional masyarakat Ngaju yang sekarang dianggap sebagai busana daerah Kalimantan Tengah untuk pelbagai upacara adat adalah pengembangan dari busana tradisonal masa lampau. sehingga "kain" yang dihasilkan menjadi beragam. Busana pengantin. berhiaskan gambar pewarna alam. koleksi museum. Baju kaum lelaki disebut baju palembangan. awan. dan anting-anting atau suwang. jenis rumputrumputan. atau sutra. Mereka pun lalu menciptakan alat penjalin untuk "merangkai" serat demi serat menjadi bentangan bahan busana untuk baju. Akan tetapi corak hias dan modelnya tidak bergeser jauh dari bentuk asalnya. dan tombak. dan sebagainya. Dari kulit kayu yang telah dihaluskan mereka membuat serat yang dicelup oleh bahan pewarna alam sehingga dihasilkan benang yang tak tunggal warna. dari kain yang sewarna dengan baju dengan sehelai bulu burung haruei yang diselipkan pada ikat kepala bagian belakang. Eksplorasi terus dilakukan untuk mencari bahan-bahan lain yang bisa dibuat benang. konon. Mereka kemudian melirik rotan. melengkapi yang sebelumnya telah dibuat masyarakat Ngaju dari biji-bijian. hiasannya tetap mengekspresikan keakraban mereka dengan alam. umpamanya saja. diperkenalkan kepada masyarakat Ngaju oleh orang-orang Bugis. Betapa tidak. dari kain satin atau beludru. Hasilnya adalah tata busana yang memadukan kulit kayu. ular. tampil pula dalam ekspresi yang lain. Selain untuk aksesori. fauna. Celananya disebut selawar gobeh. manikmanik itu juga kemudian diaplikasikan menjadi hiasan busana. diberi hiasan. celana. burung enggang. ikat kepala. Busana Kain Tenun Halus Para pedagang Gujarat dari India yang datang ke Nusantara membawa serta kain-kain tenun halus sebagai barang dagangan. Maka busana masyarakat Ngaju jadi semakin ornamentik dan semarak warna. untuk kostum tarian. terutama yang bermukim di daerah pesisir dan pusat kerajaan.

Penulis Aat Soeratin .panjang "komprang" (tidak ketat) dari kain yang sama dengan bajunya. Sedangkan penutup kepala dibuat dari kain yang dibentuk seperti peci atau kopiah yang disebut lawung siam.

Busana Tradisional Kutai Kutai Tradional Dress Penulis Aat Soeratin, Jonny Purba Seperti telah disinggung di muka, masyarakat Kutai mengalami persentuhan budaya dengan masyarakat Bugis yang datang dan menetap di daerah pesisir. Akulturasi itu, antara lain, mewartakan adanya tradisi menenun yang ekspresinya sangat berlainan dengan yang telah dikenal oleh masyarakat asli Kalimantan Timur. Dan sejalan dengan luruhnya perbauran antar budaya terlahirlah beragam hasil tenunan yang menunjukkan keindahan tersendiri yang kemudian semakin memperkaya khasanah kain tenun Nusantara. Tenun sutra dengan ragam hias floral yang dikenal sebagai "Kain Samarinda" misalnya, masyhur sebagai hasil tenunan yang khas Kalimantan Timur. Seperti lazim berlaku pada setiap kelompok etnik manapun, berdasarkan fungsinya, jenis-jenis pakaian dapat dibedakan sebagai pakaian sehari-hari, pakaian kerja, pakaian bepergian, pakaian pesta/upacara adat, dan sebagainya. Masing-masing fungsi busana itu juga dapat dibedakan berdasarkan jenis kelamin, umur, dan status sosial pemakainya. Pakaian sehari-hari yang dikenakan masyarakat Kutai disesuaikan dengan suhu udara daerah itu yang relatif panas. Oleh karenanya dipilih kain yang tipis, namun tidak tembus pandang, dari bahan katun untuk baju, celana, kain panjang, yang dipakai sehari-hari. Busana keseharian khas masyarakat Kutai yang hingg sekarang masih sering dijumpai adalah pelembangan dan baju Cina. Baju pelembangan, yang modelnya seperti piyama, dipakai oleh kaum lelaki. Pakaian bawahnya adalah seluar sekoncong, celana panjang dengan pipa celana yang longgar agar tak terasa panas, atau kain sarung pelekat. Jika bepergian memakai ikat fepala, destar, dari kain batik. Akan tetapi kini amat jarang para lelaki Kutai yang sehari-harinya memakai destar. Kaum perempuannya mengenakan baju Cina, semacam kebaya tidak berkerah, berkancing lima buah dan dipasangi dua buah kantong/saku di kiri-kanan bagian bawah bajunya. Para gadis atau ibu-ibu muda memakai sarung caul, yaitu kain panjang batik yang sudah dijahit berbentuk sarung. Jika bepergian paduan busana itu dilengkapi dengan babat (kain pinggang) dari kain Samarinda. Sedangkan wanita lanjut usia biasanya memakai sarung pelekat. Agar tampil rapi, rambut kaum wanita disanggul bentuk gelung Kutai, dan diberi kerudung ketika bepergian. Busana tradisional Kutai, sebagian diantaranya, dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa dan Melayu. Pakaian adat tradisional inilah yang hingga kini relatif masih bertahan dari pengaruh perkembangan mode busana. Dan di antara beragam pakaian adat atau busana upacara, salah satu yang paling kerap dijumpai adalah pakaian pengantin yang dikenal sebagai baju takwo dan baju kustim. Baju Takwo Pakaian adat Kutai yang menunjukkan perbedaan yang mencolok dengan pakaian adat suku-suku lain di Kalimantan Timur ialah baju takwo. Dahulu, baju takwo adalah pakaian kaum bangsawan atau busana para penari saat mengikuti upacara adat. Akan tetapi kini, masyarakat banyak pun mengenakan baju takwo sebagai busana pengantin. Saat upacara pernikahan berlangsung, mempelai wanita memakai baju takwo. Bentuk baju takwo mirip jas tutup tapi berleher tinggi. Di bagian depannya diimbuhkan sepotong kain, disebut jelapah, yang menutup bagian tengah dada dari bawah leher hingga pinggul. Di bagian pinggir kiri dan kanan jelapah diimbuhkan lima pasang kancing, sedang pada bagian lehernya dipasang dua buah kancing. Baju takwo kerap dibuat dari kain katun, linen, atau beludru. Paduannya adalah kain panjang biasanya bermotif parang rusak yang bagian sisinya diberi ornamen berupa rumbai-rumbai keemasan. Kain panjang ini dipakai hingga menutup mata kaki dan dibebatkan sedemikian rupa sehingga sisi kain yang berumbai berlipat-lipat di bagian depan dan nampak artistik. Rambut mempelai wanita disanggul berbentuk gelung siput, dihiasi gerak

gempa (kembang goyang) berwujud bunga melati yang dibuat dari emas atau perak bersepuh emas. Selop atau alas kaki yang digunakan biasanya berwarna hitam atau coklat. Mempelai pria juga mengenakan baju takwo, dipadukan dengan celana panjang. Kain panjang yang sama motifnya dengan yang dipakai mempelai wanita difungsikan sebagai dodot. Kain itu dibebatkan seputar pinggang, bagian depannya hanya sebatas lutut dan bagian sisi yang berumbai menjuntai dari bagian belakang hingga ke mata kaki. Sebagai hiasan kepala dipakai sentorong, sejenis peci atau kopiah berbentuk bundar, tingginya 15 cm dan dibuat dari kain beludru hitam. Sedangkan selop yang dipakai berwarna coklat atau hitam. Mempelai pria juga mengenakan baju takwo, dipadukan dengan celana panjang. Kain panjang yang sama motifnya dengan yang dipakai mempelai wanita difungsikan sebagai dodot. Kain itu dibebatkan seputar pinggang, bagian depannya hanya sebatas lutut clan bagian sisi yang berumbai menjuntai dari bagian belakang hingga ke mata kaki. Sebagai hiasan kepala dipakai sentorong, sejenis peci atau kopiah berbentuk bundar, tingginya 15 cm dan dibuat dari kain beludru hitam. Sedangkan selop yang dipakai berwarna coklat atau hitam. Baju Kustim Busana pengantin yang sekarang biasa dipakai oleh golongan menengah-atas masyarakat Kutai disebut baju kustim. Nama kustim berasal dari kata "kostum" yang bermakna "baju tanda kebesaran". Bentuk baju kustim sama dengan baju takwo hanya saja untuk baju kustim pada sisi jelapah, leher baju, dan ujung lengan baju dihiaskan pasmen, yaitu sulaman stilasi bentuk bunga atau flora dari benang emas. Pasmen yang terbuat dari benang serat logam mulia (emas) tak bisa dikerjakan sembarang orang. Ada perajin khusus yang menekuni profesi membuat pasmen benang logam emas ini. Rambut wanita disanggul bentuk gelung siput, diimbuh hiasan kembang gempa. Prianya memakai sentorong dengan pasmen benang keemasan. Di bagian depan sentorong dipasang wapen, semacam lencana, atau lambang yang menunjukkan derajat sosial pemakainya. Alhasil, pasmen dan wapen inilah yang mebedakan baju takwo dan baju kustim sebagai busana pengantin masyarakat Kutai. Maka tak jarang pengantin Kutai masa kini menggunakan kedua jenis busana ini. Ketika akad nikah mereka mengenakan busana dengan baju takwo, dan tatkala perayaan pernikahan memakai pakaian pengantin berbaju kustim. BUSANA ADAT DAYAK BENUAQ Aat Soeratin J onny Purba Salah satu suku bangsa yang mendiami daerah hulu sungai Mahakam adalah suku bangsa Dayak Benuaq. Daerah persebarannya mencakup Kecamatan Danau Jempang, terutama di desa Tanjung Isuy, Pentat, Muara Nayan, dan Lempunah, serta sebagian di Kec. Tenggarong. Bahan yang terkenal untuk pakaian adat tradisional Dayak Benuaq adalah kain tenunan serat daun doyo (Curculigo latifolia). Secara almiah tumbuhan sejenis pandan ini berkembang dengan subur di daerah Tanjung Isuy. Dari tumbuhan inilah masyarakat Dayak Benuaq membuat benang yang kuat untuk ditenun. Daun doyo dipotong sepanjang 1-1,5 meter dan direndam di dalam air. Setelah daging daun hancur lalu seratnya diambil. Biasanya warna tenunan kain doyo (ulap doyo) memiliki tiga warna: merah, hitam, dan warna coklat muda. Ulap doyo dianggap sebagai tenun ikat yang sangat khas Dayak Benuaq. Motifnya stilasi dari bentuk flora, fauna, dan alam mitologi, sebagaimana lazimnya motif hias masyarakat Dayak lainnya. Pada bidang yang berwarna terang, pada kain bercorak hias itu muncul titik-titik hitam yang dihasilkan dari pengikatan sebelum dicelup bahan pewarna. Titik-titik hitam inilah yang hampir tak ditemui pada tenun ikat manapun di daerah lain. Dari kain tenun serat doyo ini dibuatlah destar, kopiah, baju, sarung, dan sebagainya.

Akulturasi dengan budaya lain juga meresap hingga ke pedalaman. Maka masyarakat Benuaq pun kemudian mengenal kain tenun kapas dengan warna-warni yang sangat kontras dengan warna serat tenun mereka. Dan dengan sangat kreatif masyarakat Benuaq mengaplikasikan kain-kain tersebut pada karya tenun ikat mereka. Hasilnya adalah busana upacara yang dibuat dari kombinasi tenunan serat doyo dengan kain warna-warni sebagai corak hias yang artistik, misalnya busana adat yang dipakai oleh para pemeliaten (ahli pengobatan tradisional). Busana Adat Dalam pelbagai upacara adat seperti misalnya upacara kematian, upacara pengobatan, upacara panen hasil bumi, dan sebagainya, kaum perempuan mengenakan ulap doyo yang berfungsi seperti kain panjang (tapeh). Agar bebas bergerak ulap ini diberi belahan yang jika dipakai belahan itu berada di bagian belakang. Ulap yang berbelah ini disebut ulap sela. Ulap yang dikenakan sehari-hari biasanya berwarna hitam sedangkan yang dikenakan saat mengikuti upacara adat, diberi hiasan kain perca warna-warni bermotif bunga atau dedaunan. Sebagai baju biasanya dipakai kebaya tanpa lengan atau yang berlengan panjang. Sedangkan kaum pria biasanya menggunakan tenunan serat doyo ini untuk baju tanpa lengan dan celana pendek. Dalam masyarakat Dayak masa lalu terjadi pelapisan sosial karena dulu masih terdapat raja pada setiap sukunya. Turunan para raja kemudian menurunkan para bangsawan yang disebut golongan mantiq, sedangkan masyarakat kebanyakan dinamakan kelompok merantikaq (keturunan orang-orang biasa). Golongan mantiq dan merantikaq dapat dibedakan dari ragam hias yang diimbuhkan pada pelbagai pelengkap acara adat. Misalnya motif jautn nguku. Jautn berarti awan, sedang nguku berarti berarak. Ragam hias ini menggambarkan kebesaran seseorang dalam suasana kebahagiaan. motif ini biasanya dilukis pada templaq/tinaq (tempat penyimpanan tulang-belulang jenazah) golongan bangsawan atau raja-araja. Atau motif waniq ngelukng. Waniq berarti lebah dan ngelukng berarti menyerupai sarang lebah. Maknanya, bahwa orang yang sudah mempunyai cukup harta benda dapat melaksanakan upacara kematian. Ragam hias ini dilukiskan pada templaq/ tinaq tempat tulang belulang orang mati untuk golongan orang merantikaq tapi bisa juga untuk golongan bangsawan. Kini tak ada lagi raja. Maka yang dianggap sebagai pemuka masyarakat adalah kepala adat, kepala suku, dan para ahli belian (ahli penyembuhan penyakit) yang disebut pemeliaten. Kepala adat suku Benuaq sekarang tampil lebih sederhana, hampir tidak nampak atribut tanda status pada busana yang dikenakannya. Mereka biasanya memakai destar atau leukng dari serat doyo atau kain biasa. Berbaju kemeja tanpa lengan dari kain serat doyo berwarna merah atau hitam. Dahulu kepala adat menggantungkan jimat-jimat, manik-manik, taring harimau dahan, taring beruang, dan patungpatung yang mempunyai kekuatan magis atau disebut tonoi. Dan memakai cawat atau cancut yang juga dibuat dari tenunan serat doyo. Kepala adat yang merangkap kepala suku mengenakan topi yang berhiaskan bulu burung enggang, baju perang dari kulit kayu atau kulit harimau dahan, memakai cawat, dan tanpa alas kaki. Perisai di tangan kiri dan tombak digengggam di tangan kanan. Di pinggangnya tesengkelit sebilah mandau perang (parang/golok panjang) yang hulunya dihiasi dengan aneka warna bulu burung. Sarung mandaunya berukir dan pada ujungnya juga dihias bulubulu burung yang indah. Para pemeliaten tampil dengan ekspresi lain. Mereka tidak mengenakan baju tapi di bagian dadanya disilangkan kalung manik-manik, taring binatang buruan, dan patung-patung kayu kecil (jorokng) yang dipercaya sebagai sebagai tonoi. Busana bawahannya berupa tapeh bel ian yaitu kain panjang serupa rok maksi yang menutup hingga mata kaki, dan diberi hiasan aplikasi berupa tempelan kain warnawarni motif floral yang sangat artistik. Pada pinggang dililitkan sempilit, kain panjang yang berhias pada ujungnya, dan berjuntai sepanjang kiri dan kanan kaki. Ragam hias pada tapeh dan sempilit belian juga menunjukkan tingkat pengetahuan atau "kesaktian" pemakainya. Jika terdapat hiasan berupa garis-garis pada bagian bawah tapeh menunjukkan bahwa pemeliaten itu berilmu tinggi.

Jika laukng hitam itu berimbuhkan garis-garis putih bermakna pemeliaten tersebut belum mampu menolak ilmu hitam. dan uang logam kuno. taring binatang. dan perhiasan yang dikenakan pada pelbagai upacara adat itu adalah sarana untuk memudahkan hubungan dengan mahluk-mahluk gaib.Untuk menahan tapeh dan sempilit dikenakan babat (semacam ikat pinggang) yang dihiasi dengan manikmanik. Laukng berwarna hitam menandakan bahwa pemakainya (pemeliaten) mampu menangkal berbagai bentuk sihir hitam. yang juga berfungsi sebagai musik pengiring saat upacara. Di pergelangan tangannya dipakai gelang-gelang berukuran relatif besar. Busana adat. Pemeliaten juga memakai destar (laukng) yang warnanya juga mempunyai arti simbolik. Babat ini berfungsi pula sebagai tempat menyimpan pelbagai jimat penolak pengaruh jahat sihir hitam. biasanya terbuat dari logam. ragam hias. Bunyi-bunyian magis sebagai musik repetitif ditimbulkan oleh beradunya gelang-gelang ketika pemeliaten menggucang-guncangkan tangannya. .

upacara injak tanah atau joko kaha. berikut toala polulu di kepalanya. yakni kalung rantai emas yang dibuat dalam dua lingkaran. mereka juga mengenakan hiasan lainnya yang berupa konde yang berukuran besar. keberadaan keturunan sultan di dalam lingkungan masyarakatnya memiliki gaya hidup yang khas. serta alas kaki yang disebut tarupa. anting dua susun.upacara adat. baik sebagai permasuri. dilengkapi dengan perhiasan yang disesuaikan dengan tingkatan sosial mereka. Busana yang dikenakan oleh istri sultan terdiri atas kebaya panjang atau kimun gia. ada pula busana adat lainnya yang khusus dikenakan oleh kaum remaja putri dan remaja pria yang berasal dari golongan bangsawan. memperlihatkan adanya perbedaan cukup spesifik antar kelompok masyarakat yang secara sosial memiliki kedudukan yang berlainan. atau hijau muda dengan tangan yang berkancing sembilan di sebelah kiri dan kanannya. celana panjang. mereka pun menyertakan berbagai perhiasan seperti taksuma. Apalagi kehidupan mereka senantiasa diwarnai dengan berbagai acara seremonial. Perhiasan lainnya yang dikenakan oleh permaisuri tersebut meliputi kalung. atau emas. Tidak lupa. Secara umum busana adat tradisional yang dikenakan oleh kaum pria yang berasal dari golongan bangsawan terdiri atas jubah panjang yang menjuntai hingga betis atau lutut. Konon warna tersebut untuk melambangkan jiwa muda dari para pemakainya yang masih remaja. Di samping itu. Kekhasan tersebut tampak dalam tata cara berbusana mereka. sedangkan giwang tidak boleh dipakai oleh mereka. berlian. dan peniti yang terbuat dari intan. Adapun busana adat untuk kaum wanita meliputi kebaya panjang dan kain panjang. atau diselaraskan dengan usia mereka. Baju koja tersebut biasanya berpasangan dengan celana panjang berwarna putih atau hitam. bros. Sementara itu. merupakan kawasan bekas kesultanan Ternate dan kesultanan Tidore. Beberapa di antaranya yang masih dikenal hingga kini adalah upacara makan secara adat atau sidego. Selain busana adat yang disebutkan tadi. dan upacara pengukuhan atau uko se bonofo. Busana yang dikenakan oleh sultan disebut manteren lamo yang terdiri atas celana panjang hitam dengan bis merah memanjang dari atas ke abawah. penampilan busana yang dikenakan oleh sultan tersebut dilengkapi dengan destar untuk menutup kepala. Dihiasi dengan kelengkapan dan karakteristik lainnya. yakni semacam jubah panjang dengan warna-warna muda seperti biru muda dan kuning muda. serta kain panjang. leher jas. sedangkan konde kecil biasanya dipakai oleh pembantu permaisuri. Konon warna tersebut melambangkan keperkasaan dari pemakainya. Baju tersebut umumnya berwarna polos. Sudah tentu. pada umumnya memang menggambarkan kesederhanaan. Selain itu. berbeda dengan busana yang dipakai oleh kelompok masyarakat yang memiliki kedudukan sosial tinggi. Busana yang biasa dikenakan oleh kaum wanita dalam melakukan aktivitas sehari-hari terdiri atas kain kololuncu dan baju susun dengan bagian tangan yang ditarik hingga ke pertengahan sikut. Sementara itu. oranye. pembantu permaisuri. . Ada beberapa jenis busana yang dikenakan dalam upacara.Busana Tradisional Ternate dan Tidore Penulis Ria Andayani Somantri Gambaran fisik busana adat masyarakat Ternate dan Tidore. dan saku jas yang terletak di bagian luar berwarna merah. Hal ini dikarenakan Ternate dan Tidore yang secara administratif kini termasuk ke dalam wilayah kabupaten Maluku Utara. ujung tangan. berupa upacara-upacara adat kesultanan pada masa itu maupun upacara yang berkaitan dengan siklus hidup manusia. yang terbuat dari kain satin berwarna putih dengan pengikat pinggang yang terbuat dari emas. remaja contohnya. dan ikat kepala. Para remaja putri biasanya memakai busana yang terdiri atas kain panjang dan kimun gia kancing atau kebaya panjang berwarna kuning. Busana yang dikenakan oleh masyarakat pada umumnya atau rakyat biasa ditandai dengan kesederhanaan dalam berbagai hal. Busana adat yang dipakai oleh remaja pria disebut baju koja. yang melambangkan status sosial dan usia dari orang yang memakainya. baju berbentuk jas tertutup dengan kancing besar terbuat dari perak berjumlah sembilan . busana adat yang dikenakan oleh rakyat biasa untuk busana sehari-hari maupun busana yang dikenakan pada upacaraupacara adat.

dan celana popoh.Busana kerja dalam keadaan bersih. yakni tutup kepala berwarna kuning muda. Pada waktu mereka menghadiri berbagai upacara adat. yakni celana setinggi betis yang berwarna hitam pula. Busana kerja yang digunakan oleh kaum pria terdiri atas kebaya popoh. yakni celana dari kain tenun berwartna jingga atau kuning. celana dino. sedangkan kaum wanitanya mengenakan baju susun dan kain songket. busana kerja pria biasanya digunakan pula sebagai pakaian sehari-hari untuk di rumah. Sama halnya dengan busana wanita. biasanya dipakai juga sebagai baju untuk di rumah. Kaum pria mengenakan celana panjang dan kemeja panjang. Adakalanya. yakni baju berwarna hitam yang panjangnya mencapai pinggul serta berlengan panjang. . lengkap dengan lengso duhu. busana yang dikenakan oleh kaum pria maupun wanitanya tidak berbeda. mereka pun hanya mengenakan kain songket dan baju susun. Adapun ketua adat yang memimpin upacara-upacara adat tersebut mengenakan jubah panjang yang mencapai betis berwarna kuning muda yang disebut takoa.

tidak hanya didominasi oleh busana yang dikenakan pada saat menghadiri upacaraupacara saja. dengan leher agak tertutup. Kebaya manapal yang sudah tampak jelek atau sudah tidak pantas lagi untuk dikenakan di rumah. yakni sejenis kebaya berlengan pendek. lengkap dengan kain pelekat. keberadaannya tetap penting untuk diungkapkan sebagai gambaran kekhasan busana mereka di masa lalu. celana yang dipakainya disebut celana Makasar yang panjangnya sedikit di bawah lutut dan sangat longgar. Sementara itu busana prianya terdiri atas baniang. Sementara itu kaum pria di Ambon mengenakan busana yang terdiri atas baju kurung yang berlengan pendek dan tidak berkancing.Busana Tradisional Busana Tradisional Ambon Ambon Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Ambon merupakan ibukota propinsi Maluku yang berada di kawasan Maluku Tengah. Untuk busana kerja di rumah atau dikebun. Selain busana sehari-hari yang telah disebutkan tadi. Penampilan gaya berbusana warga masyarakat Ambon pada saat menghadiri upacara adat clan upacara keagamaan berbeda dengan yang dikenakan sehari-hari. Kecuali pada saat upacara sidi yakni upacara pengukuhan pemuda clan pemudi untuk menjadi pengiring Kristus yang setia. Meskipun busana adat yang biasa dipakai dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari termasuk jarang digunakan lagi saat ini. Sedangkan busana yang dikenakan pada saat bepergian. dipakai . dilengkapi dengan celana kartou yakni celana yang pada bagian atasnya terdapat tali yang dapat ditarik dan diikatkan. Kebaya jenis ini bisanya berpasangan dengan kain palekat. Bila akan bepergian. Busana adat yang dikenakan dalam kesempatan tersebut biasanya hitam polos atau warna dasar hitam. masih ada lagi busana lain yang khususnya dipakai oleh untuk kaum wanita yang merupakan pendatang dari kepulauan Lease dan telah menetap di Ambon ratusan tahun lamanya. melainkan tampak juga dalam busana seharihari. Mereka biasanya mengenakan baju cele. dan celana panjang. Pasangannya adalah celana panjang berikut topi yang dikenakan di kepala. Celana kes atau hansop. yang sudah tidak dipakai untuk berpergian oleh kaum wanita. Pada saat itu busana hitam ini ditabukan atau dilarang digunakan. Bila mereka akan bepergian. Busana dalam upacara keagamaan biasanya lebih lengkap lagi. yakni celana anak-anak yang dibuat dari beraneka macam kain dan dijahit sesuai dengan selera masing-masing. jenis busananya masih tetap berupa kebaya cita berlengan panjang hingga ujung jari yang kemudian dilipat. baju cele tersebut dijahit dengan panjang lengan hingga sikut. tapi kualitas bahan yang digunakan berbeda. kebaya hitam. yaitu kebaya cita berlengan hingga sikut yang dijahit dengan cara menambal beberapa potong kain yang telah diatur dan disusun sedemikian rupa dengan rapih. Busana wanitanya terdiri atas baju dan kain hitam atau kebaya dan kain hitam. Ada beberapa contoh busana yang pada zaman dahulu pernah menjadi busana sehari-hari yang digunakan untuk bekerja atau di rumah. yakni kain hitam berhiaskan manik-manik yang disandang di bahu kiri. lenso pinggang. Walaupun model bajunya sama. mereka akan melengkapinya dengan sapu tangan. Khusus untuk kaum pria yang telah lanjut usia. kole. yakni sapu tangan berwarna putih yang kini telah jarang diletakkan di pinggang melainkan hanya dipegang saja. yakni baju dalam atau kutang yang dipakai sebelum mengenakan baju atau kebaya hitam. Dilengkapi dengan kaeng pikol. Kebaya manampal. atau masyarakat menyebutnya baju cele tangan sepanggal. dari bagian leher ke arah dada terbelah sepanjang 15 sentimeter tanpa kancing. biasanya terdiri atas baju baniang yakni baju berbentuk kemeja yang berlengan panjang dan berkancing. Jenis busana lain. Keberadaan busana adat Ambon. khususnya dalam upacara sidi. biasanya dipakai sebagai busana kerja yang disebut kebaya waong.

Busana raja terdiri atas baju hitam. Sedangkan pria dewasa lainnya hanya mengenakan baju hitam dan celana panjang hitam tanpa menggunakan alas kaki. ikat poro atau ikat pinggang. penerimaan tamu. patala disalempang di dada. celana hitam. pending pengikat pinggang yang terbuat dari perak. celana panjang atau celana Makasar. dan seperangkat busana yang terdiri atas baju putih panjang. pembersihan negeri. lenso bodasi dililitkan di leher. dan kaus tangan berwarna putih.oleh kaum remaja yang berasal dari golongan bangsawan diantaranya baju tangan kancing. yakni baju cele berlengan panjang dengan kancing pada pergelangan tangannya. patala di pinggang. . Hanya ada penambahan tertentu pada kelengkapan busana mereka. Begitu pula kaum wanitanya yang memakai baju hitam seperti baju cele . salempang. Para tua-tua adat mengenakan baju hitam. bersepatu dengan kaus kaki putih. Adapun busana yang dikenakan pada saat berlangsung upacara adat seperti pelantikan raja. dan topi. sepatu berwarna putih. busana rok. dan lain-lain pada dasarnya hampir sama. yang terdiri atas kebaya putih berlengan panjang dan berkancing pada pergelangannya.

Busana Tradisional Tanimbar Tanimbar Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Wilayah Tanimbar sejak duhulu dikenal sebagai sentra pengrajin busana tradisional di Kabupaten Maluku Tenggara. Bahkan. yakni selempang atau selendang yang disampirkan pada bahu sebelah kiri. keberadaan warna-warna tersebut memang memiliki makna tersendiri yang erat kaitannya dengan status sosial seseorang. yang bernuansa keagamaan ataupun yang berkaitan dengan siklus hidup manusia. dan sebagainya. Misalnya noras aboyenan. Berbagai kelengkapan busana dan perhiasan tradisional tersebut memang tidak mutlak digunakan. . kaum wanita biasanya mengenakan busana adat yang khas. mereka menyempurnakan penampilannya dengan mengenakan sejumlah asesoris yang khas. yakni untaian yang tergantung di belakang leher. selain mengenakan busana adat juga memakai aneka perhiasan yang lengkap. maka belusu kini menjadi barang yang cukup langka. yang berlengan pendek maupun panjang. keberadaannya tetap merupakan aset potensial yang dapat memberikan daya dukung positif bagi pelestarian dan pengembangan keberadaan busana adat tradisional di kawasan tersebut. Masyarakat menamakan kain tenunan seperti itu dengan sebutan tais maran. ~ Kain tenun dengan warna dasar coklat melambangkan kedudukan pemakainya sebagai golongan bangsawan. Meskipun begitu. ketua adat misalnya. Kalaupun ada yang mengenakannya. memakai rantai maupun tidak. dan lekbutir. Wanita Tanimbar dalam kehidupan sehari-hari. Warna dasar tais pada umumnya adalah coklat. Selain itu. Saat ini. Adapun busana bagian bawahnya berupa kain sarung yang biasanya ditenun sendiri. penghormatan jenazah. setiap orang boleh mengenakan kain dengan warna apa saja. Kalaupun ada yang masih mengenakannya. dan warna hitam melambangkan pemakainya adalah golongan rakyat biasa. Mereka biasanya menari dalam upacara penghormatan jenazah dan upacara pelepasan arwah orang-orang yang dihormati. Misalnya.terbatas pada gelang atau bel usu. yang menggantung dengan indah di telinga. atau barang bawaan seorang wanita sewaktu meninggalkan keluarganya untuk pindah dan menetap bersama suaminya. Busana adat wanita Tanimbar biasanya dipakai pada saat mereka menghadiri atau terlibat dalam penyelenggaraan upacara adat. yakni seperangkat busana terdiri atas kebaya dan kain tenun yang disebut tais matau atau tais wangin. yaitu kalung yang terdiri atas lima lapis dan diletakkan di bagian depan. somalea. Di antara berbagai busana yang dikenakan oleh kaum wanita dalam sejumlah acara. ketentuan tersebut sudah tidak berlaku lagi. pelepasan arwah. dan hitam. Pada masa lalu. ada kalanya belusu pun dijadikan sebagai mas kawin. Tidak heran bila belusu yang beredar saat ini merupakan salah satu benda warisan dari nenek moyang mereka. serta lean. Mengingat saat ini sudah tidak ada lagi pengrajin yang membuat gelang-gelang besar seperti itu. hitam kebirubiruan mencerminkan golo-ngan menengah. yakni baju sejenis kebaya untuk bagian atasnya. pernikahan. busana adat masyarakat Tanimbar kini tidak lagi digunakan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Meskipun jumlah mereka saat ini sudah mulai menyusut. yaitu hiasan dari cendrawasih yang telah dikeringkan dan menjadi hiasan yang diletakkan di kepala atau dahi. Pemakaiannya sangat bergantung pada kemampuan dari orang yang akan mengenakannya. ada kelengkapan khusus yarig senantiasa digunakan oleh kaum wanita dalam berbagai upacara. yaitu anting-anting. Artinya. itupun terbatas pada kaum yang sudah berumur. yakni sinune dan somalea. belusu. berbagai kalung atau ngore. Busana yang dipilih terdiri atas kutang liman malawan. Keberadaan belusu yang terbuat dari gading gajah ini cukup penting dalam kehidupan masyarakat Tanimbar. Saat menghadiri upacara-upacara tersebut. umumnya hampir tidak ada yang memakai perhiasan. Pada dasarnya. memang ada salah satu yang tampak paling lengkap yakni busana penari. meliputi sinune. hitam kebiru-biruan. Para penari yang terdiri atas kaum ibu tersebut. upacara-upacara gerejani.

tutuban ulu. Konon pada masa lalu. Mereka sudah merasa berbusana tradisional. yakni selembar kain tenun yang diikatkan di pinggang. berhiaskan somalea. . kaum pria tidak mengenakan busana adat selengkap itu pada berbagai upacara keagamaan atau upacara adat. Tidak lupa mereka pun menambahnya dengan berbagai kelengkapan busana lain yang sama khasnya dengan apa yang dikenakan oleh kaum wanita. kain penutup kepala. atau ketua adat. Melihat gambaran busana adat tradisonal masyarakat Tanimbar secara umum memang tidak hanya menampakkan fungsi alamiah semata. Kelengkapan tersebut meliputi umpan. busana adat pria Tanimbar terdiri atas celana panjang dan kemeja panjang. kebesaran. Kecenderungan yang tampak sekarang. sinune. mengandung makna simbolis tertentu yang barangkali saat ini sudah mulai terlupakan keberadaannya. prajurit. pahlawan. tutuban ulu melambangkan keberanian. walaupun hanya dengan menambahkan umpan yang diikatkan di pinggang. yakni untuk melindungi anggota tubuh dari berbagai keadaan cuaca yang tidak menguntungkan. Selain itu kepada jenazah dalam upacara adat pelepasan jenazah biasanya dipakaikann busana tradisional secara lengkap. Namun lebih dalam lagi. atau para tua adat. misalnya yang membacakan syair dalam upacara tersebut. dan keperkasaan seorang pemimpin.Sementara itu. Kecuali bagi mereka yang memiliki tugas khusus.

Portugis. biasanya berwarna putih mirip kemeja gaya barat. mendiami daerah kabupaten Sikka di pulau Flores dengan kota terbesar sekaligus ibukota yaitu Maumere. coklat. Perhiasan yang penting tetapi jarang dikenakan adalah keris yang disisipkan pada pinggang sebagai pertanda keperkasaan dan kesaktian. Diatas labu dikenakan dong. Dibidang agama tampak benar pengaruh Portugis dan Belanda yang membawa agama Katolik dan Protestan serta tatabusana barat yang dewasa ini sudah menjadi pakaian sehari-hari masyarakat. Merah dan coklat melambangkan keagungan dan status sosial yang . biru dan kuning secara melintang. Kain atau baju penutup badan terdiri atas labu bertangan panjang. sejenis selendang yang diselempangkan melintang dada. utan lewak. Cina. fauna dalam lajur-lajur bergaris. putih. berwarna dasar gelap dengan paduan-paduan antara warna-warna merah. Namun dewasa ini hal tersebut sudah ditinggalkan. Pada bagian pinggang dikenakan utan atau utan werung yaitu sejenis sarung berwarna gelap. Dimasa lalu bangsawan memakai lipa dengan ragi yang masih baru. arti harfiahnya adalah kain tiga lembar. bercorak flora atau fauna dalam teknik ikat lungsi. tutup kepala pria terbuat dari kain batik soga dan dikenakan dengan pola ikatan tertentu sehingga ujungujungnya turun menempel pada kedua sisi wajah dekat telinga. dihiasi dengan ragam-ragam flora. yakni pada pembagian bidang-bidang dan corak yang diilhami oleh kain patola. bahkan di. Selembar lensu sembar diselendangkan pada dada. Walaupun demikian masyarakat Sikka tetap mampu mempertahankan ungkapan budaya tradisionalnya lewat busana serta tatariasnya. kuning atau merah. Hitam misalnya biasanya dipakai untuk melayat orang meninggal. kebudayaan masyarakat Sikka mencerminkan adanya pengaruhpengaruh asing seperti Bugis. Belanda. Seperti halnya dengan daerah-daerah lain di wilayah Nusa Tenggara Timur. Destar. Indonesia. Bagianbagian busana wanita Sikka terdiri atas penutup badan berupa labu liman berun. Busana Adat Pria Perangkat busana adat pria secara umum terdiri atas kain penutup badan dan penutup kepala. busana adat wanita Sikka tidak (lagi) mengenal perbedaan strata sosial yang mencolok. Labu wanita ini terbuka sedikit pada pangkal leher guna memudahkan pemakaian sebab polanya tidak menyerupai kemeja atau blus yang lazim berkancing pada bagian depannya. jahitan dan ukiranukiran perangkat perhiasannya. bergaris biru melintang. Sedangkan pengaruh India amat nyata pula hasil tenunan. Warna-warna kain wanita melambangkan berbagai suasana hati atau kekuatan-kekuatan magis. Kain sarung wanita. Istilah untuk sarung selain utan adalah lipa. Dimasa lalu suku Sikka mengenal tingkatan sosial yakni bangsawan dan masyarakat umum. ragi werung. Tatawarna kain Sikka umumnya tampil dalam nada-nada gelap seperti hitam atau biru tua dengan ragi yang lebih cerah berwarna putih. Arab dan India. Utan lewak. Busana Adat Wanita Seperti halnya pada kaum pria. kecuali mungkin pada halus tidaknya tenunan.Busana Tradisional Busana Tradisional Sikka Sikka Traditional Dress Penulis Biranul Anas Masyarakat Sikka atau suku Sikka. berbentuk mirip kemeja berlengan panjang terbuat dari sutera atau kain yang bagus mutunya. Pada tatacara berbusana tampak jelas bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok antara keturunan ningrat dan rakyat.

pesta dan sebagainya. Perlambang warna dan cara-cara menyandang utan berlaku pula pada kaum pria Sikka. Perhiasan lainnya adalah kilo yang tergantung pada telinga.tinggi. apabila gelap mencerminkan duka. Paduan warna juga menunjuk pada usia. sedangkan warna-warna cerah digemari oleh kaum muda. Yakni dua atau empat gading dengan dua perak pada setiap tangan. Perhiasan pada rambut dewasa ini sudah amat bervariasi karena pengaruh-pengaruh dari sukusuku lainnya di Nusa Tenggara Timur. Warna-warna yang gelap biasanya dipakai oleh orang tua. Cara mengenakan utan selain sebagaimana tersebut di atas juga dengan menyampirkan sebagian pinggir kain di atas bahu dengan melintangkan tangan kanan (atau kiri sesuai pembawaan masing-masing) di bawah dada seperti hendak menjepit kain. Hiasan kepala tersemat pada sanggul atau konde dalam bentuk tusuk konde biasanya terbuat dari ukiran keemasan. Jumlah kalar gading dan perak (atau emas) biasanya genap. . Demikian pula hal dengan warna dong. delapan dan seterusnya. Kaum berada atau ningrat biasanya mengenakan lebih banyak namun tetap dalam bilangan genap seperti enam. Pada pergelangan tangan dipakai kalar yang terbuat dari gading dan perak. sebaliknya warna-warna muda adalah untuk suasana suka ria. Penggunaanya disesuaikan dengan suasana peristiwa seperti upacara-upacara atau pesta-pesta adat.

rusa. sejenis penutup kepala dengan lilitan dan ikatan tertentu yang menampilkan jambul. Jambul di depan misalnya melambangkan kebijaksanaan dan kemandirian. ragam-ragam hias ukiran-ukiran dan tekstil sampai dengan pembuatan perangkat busana seperti kain-kain hinggi dan lau serta perlengkapan perhiasan dan senjata. upacara-upacara perkawinan dan kematian dimana komponenkomponen busana yang dipakai adalah buatan baru. tetapi komponen serta tampak keseluruhannya sama. Hinggi kaworu atau terkadang juga hinggi raukadama digunakan sebagai pelengkap. ayam. burung. Sumba Barat dan Sumba Timur. upacara. cumi-cumi. Bagian terpenting dari perangkat pakaian adat Sumba terletak pada penutup badan berupa lembar-lembar besar kain hinggi untuk pria dan lau untuk wanita. penyu. Di kepala dililitkan tiara patang. Dewasa ini perbedaan pada busana lebih ditunjukkan oleh tingkat kepentingan peristiwa seperti pada pesta-pesta adat. buaya. mahkota dan singa. kerbau sampai dengan corak-corak yang dipengaruhi oleh kebudayaan asing (Cina dan Belanda) yakni naga. Khususnya yang terbuat dengan teknik pahikung disebut tiara pahudu. Kesemuanya memiliki arti serta perlambang yang berangkat dari mitologi. kuda. Jambul inilah dapat diletakkan di depan. penutup badan dan sejumlah penunjangnya berupa perhiasan dan senjata tajam. pemuka agama (kabisu) dan rakyat jelata (ata) masih berlaku. Kepercayaan khas daerah Marapu. rumahrumah ibadat (umaratu) rumah-rumah adat dan tata cara rancang bangunnya. Karena pada saat-saat seperti itulah ia tampil dalam keadaan terbaiknya. ikan. Busana pria Sumba terdiri atas bagianbagian penutup kepala. Busana pria Sebagaimana telah disebutkan busana masyarakat Sumba dewasa mi cenderung lebih ditekankan pada tingkat kepentingan serta suasana lingkungan suatu kejadian daripada hirarki status sosial. alam pikiran serta kepercayaan mendalam terhadap marapu. masih amat hidup ditengah-tengah masyarakat Sumba ash. ekonomi serta religi suku sumba. Hinggi dan tiara terbuat dari tenunan dalam teknik ikat dan pahikung. Hinggi kombu dipakai pada pinggul dan diperkuat letaknya dengan sebuah ikat pinggang kulit yang lebar. setengah leluhur. Masyarakat Sumba cukup mampu mempertahankan kebudayaan aslinya ditengah-tengah arus pengaruh asing yang telah singgah di kepulauan Nusa Tenggara Timur sejak dahulu kala. Namun masih ada perbedaan-perbedaan kecil.Busana Tradisional Sumba Timur East Sumba Traditional Dress Penulis Biranul Anas Pulau Sumba didiami oleh suku Sumba dan terbagi atas dua kabupaten. naga. samping kiri atau samping kanan sesuai dengan maksud perlambang yang ingin dikemukakan. udang. pesta-pesta dan sejenisnya. Warna hinggi juga . Ragam-ragam hias yang terdapat pada hinggi dan tiara terutama berkaitan dengan alam lingkungan mahluk hidup seperti abstraksi manusia (tengkorak). Dari kain-kain hinggi dan lau tersebut. Menilik halhal tersebut maka pembahasan busana pria sumba ditujukan pada pakaian tradisional yang dikenakan pada peristiwa besar. bendera tiga warna. walaupun tidak setajam dimasa lalu dan jelas juga tidak pula tampak lagi secara nyata pada tata rias dan busananya. setengah dewa. Marapu menjadi falsafah dasar bagi berbagai ungkapan budaya Sumba mulai dari upacara-upacara adat. Misalnya busana pria bangsawan biasanya terbuat dari kain-kain dan aksesoris yang lebih halus daripada kepunyaan rakyat jelata. ular. Sebagai penutup badan digunakan dua lembar hinggi yaitu hinggi kombu dan hinggi kaworu. Sedangkan busana lama atau usang biasanya dipakai di rumah atau untuk bekerja sehari-hari. yang terbuat dalam teknik tenun ikat dan pahikung serta aplikasi muti dan hada terungkap berbagai perlambangan dalam konteks sosial. Di Sumba Timur strata sosial antara kaum bangsawan (maramba).

dikenal dengan sebutan iteke. Kabiala adalah lambang kejantanan. Di kepala dikenakan pilu dari batik. wujud tertinggi penguasa jagad raya. dan po`uk. sedangkan di telinga tergantung mamuli perhiasan berupa kalung-kalung keemasan juga digunakan pada sekitar leher. Sedangkan pergelangan tangan kiri dipakai kanatar dan mutisalak. Timor Traditional Dress Penulis Biranul Anas Amarasi termasuk ke dalam wilayah administrasi Kabupaten Kupang. Secara menyeluruh hiasan dan penunjang busana ini merupakan simbol kearifan. Bentuk-bentuk kepercayaan lokal masih mewarnai kehidupan sehari-hari seperti ritus-ritus penghormatan terhadap Usi Neno. Selanjutnya busana pria Sumba dilengkapi dengan sebilah kabiala yang disisipkan pada sebelah kiri ikat pinggang. Corak khas pada beti gaya Amarasi adalah dominasi warnawarna coklat dengan bidang tengah berwarna putih sebesar ± 3040 cm. Selain itu manifestasi tradisi kebudayaan asli juga masih hidup dalam tatacara berpakaian khususnya dalam menghadapi pesta-pesta adat atau upacara-upacara penting lainnya. Timor Amarasi. Sedangkan kalung dileher terbuat dari logam dengan hiasan berbentuk lingkaran dari logam berukir bergaris tengah 10 cm. Kainkain tersebut dikenakan sebagai sarung setinggi dada (lau pahudu kiku) dengan bagian bahu tertutup taba huku yang sewarna dengan sarung. merah bata. menjurai ke bagian dada. Pada dahi disematkan perhiasan logam (emas atau sepuhan) yaitu maraga. biru dan merah bata yang ditunjang oleh berbagai aksesoris di kepala. muti salak menyatakan kemampuan ekonomi serta tingkat sosial. Sebagian besar penduduknya dewasa ini pun memeluk agama Nasrani. tangan dan pinggang diperagakan dengan keindahan yang amat mempesona pada peristiwa-peristiwa seperti tersebut di atas. Po`uk sebesar ± 30 cm bercorak garis-garis. Masyarakat Amarasi merupakan bagian dari suku Dawan yang tersebar di seluruh kabupaten di Timor bagian barat. namun dewasa ini perlengkapan tersebut semakin banyak digunakan khususnya didearah perkotaan. Suatu kebiasaan yang umum di Nusa Tenggara Timur khususnya Timor (dan Sumba) adalah disandangnya kapisak atau aluk yang terbuat dari anyaman-anyaman daun atau kain persegi empat dengan corak geometris dan muti sebagai . Demikian pula halnya perhiasan-perhiasan lainnya. Sebagaimana dengan kebiasaan serta budaya yang ada pada daerahdaerah lain di Nusa Tenggara Timor pelapisan sosial kemasyarakatan yang dahulu kala amat kuat dianut. pencipta mahluk hidup sumber segala yang ada. Hinggi terbaik adalah hinggi kombu kemudian hinggi kawaru lalu hinggi raukadana dan terakhir adalah hinggi panda paingu. Secara tradisional busana pria tidak menggunakan alas kaki. memanjang dalam paduan warna-warna jingga. Busana Adat Wanita Pakaian pesta dan upacara wanita Sumba Timur selalu melibatkan pilihan beberapa kain yang diberi nama sesuai dengan teknik pembuatannya seperti lau kaworu. keperkasaan serta budi baik seseorang. Timor.mencerminkan nilai estetis dan status sosial. Namun hal-hal tersebut tidak menghilangkan tradisi untuk mengungkapkan ungkapan budaya asli mereka. dewasa ini sudah jauh berkurang. putih dan biru. telinga. lau pahudu. Hal ini tampak nyata pada ungkapan berbusana masyarakatnya yang sehari-hari memakai pakaian bergaya barat akibat pengaruhpengaruh asing yang masuk ke daerah tersebut sudah lama. coklat. Busana Tradisional Amarasi. Kain-kain tenunan dalam teknik futus dan sotis dalam paduan warna-warna putih. Pakaian Adat Pria Secara mendasar pria mengenakan komponen-komponen busana yang sama dengan daerah-daerah lain di Nusa Tenggara Timur yaitu kain penutup badan yang terdiri atas beti atau taimuti. lau mutikau dan lau pahudu kiku. Di kepala terikat tiara berwarna polos yang dilengkapi dengan hiduhai atau hai kara.

Kedua telinga dihiasi falo noni. Demikianlah oleh terbentuk dasar hubungan kekeluargaan yang erat dan saling mendukung dalam berbagai permasalahan kehidupan. kuning. Sebaliknya pun. perak. sedangkan pinggang dililit oleh futi noni. baik sebagai citra kehormatan diri maupun dalam konteks hubungan sosial kekeluargaan. Di kepala terdapat seperangkat perhiasan yang tersemat pada sanggul yaitu kili noni dan tusuk-tusuk konde. gading dan manik-manik amat dihargai dan bernilai tinggi. Pergelangan tangan dihiasi dengan niti keke. Pertama adalah tais atau tarunat yang dipasang setinggi dada hingga mata kaki. perak atau sepuhannya) yang disebut noni bena. Corak tenunan menunjuk pada status sosial alam fikiran serta kepercayaan yang dianut. putih dan biru tua dalam lajur bergaris sempit yang dipadukan dengan corak-corak ikat putih berlatar hitam/biru tua. Lembar kedua adalah selempang yang terikat di depan dada berbentuk huruf V dengan kedua ujungnya terletak di kedua bahu bagian belakang. Terkadang aluk juga sebagian berhiaskan ornamen perak. Pakaian serta perhiasan dan perlengkapan busana pria ini oleh masyarakat setempat dianggap dapat memberikan sifat keagungan. dalam membalas pihak lelaki. Hakekat pemakaian busana dan perhiasan pelengkapnya di Nusa Tenggara Timur erat kaitannya dengan berbagai kefungsiannya dalam peri kehidupan penyandangnya. khususnya pada adat istiadat perkawinan dimana barang-barang tersebut merupakan mas kawin pihak lelaki kepada pihak perempuan. . Perhiasan dan bahanbahan pembuatnya selain mencerminkan status sosial juga menyatakan kemampuan ekonomi. kejantanan serta kesucian bagi penyandangnya. berukiran dan terkenal dengan istilah pato eban. Di depan dada tergantung kalung dengan bentuk hiasan bulat dari logam (emas. pihak wanita menyerahkan kain tenunan. Hiasan logam kening di dahi berbentuk bulan sabit.hiasannya. Corak-coraknya berwarna meriah paduan jingga. Emas. Pakaian Adat Wanita Wanita Amarasi memakai dua lembar tenunan sebagai penutup badannya.

tak menghilangkan identitas jatidirinya. Kain-kain tenun inilah yang digunakan sebagai busana adat. Pada kening tersaput ikat kepala. Mempelai wanitanya memakai tangkong (baju) semacam kebaya yang biasanya berwarna hitam polos. Konon.maka pemakainya akan ditimpa kemalangan. teken ima (gelang tangan). yang dieksplorasi dari kehidupan alam sekitar dan mitologi. Dipadukan dengan kereng (kain panjang) yang dililitkan seputar pinggang. Para lelaki memakai kelambi (baju) model kemeja pria berlengan pendek atau panjang. sehari-hari maupun upacara. memanjang hingga sebatas betis dan pada bagian muka ujung kain dibuat berlipat-lipat menjuntai hingga hampir menyentuh tanah. Untuk mengikuti acara adat. Penahan kereng adalah lilitan kain. burung. Sebagai pakaian bawahya dipakai kain panjang yang disebut kereng. gelang tangan (teken). disebut bebet. Kaum perempuan mengenakan lamung (baju) berwarna hitam yang modelnya relatif sederhana: selembar kain dilipat sehingga berbentuk segi empat lalu diberi "lubang leher" berbentuk segi tiga. kesaktian. tokoh pewayangan. panjangnya sebatas pinggang.Busana Tradisional Sasak Sasak Traditional Dress Penulis Aat Soeratin Diperkirakan sejak abad XIV masyarakat Sasak telah mengenal teknik menenun kain. . lalu terciptalah corak hias simbolik. dinamai sapu. biasanya berwarna hitam tapi tak jarang menggunakan kain batik. kalung emas. tapi dalam perkembangannya ada yang diberi imbuhan hiasan pada pinggiran bajunya. ikat pinggang (gendit/pending) emas. Untuk memperkuat kemben dipakai sabuk anteng (ikat pinggang). pengetahuan itu dibawa para pedagang Gujarat dari India. kerap muncul menjadi ragam hias yang artistik pada tenunan masyarakat Sasak. menghadiri perkawinan. dan teken nae (gelang kaki). berfungsi seperti ikat pinggang. seperti yang telah disinggung di muka. misalnya saja kehilangan kewibawaan. ali-ali (cincin). estetika pun berkembang. Busana bagian bawahnya adalah kemben (sarung) yang juga berwarna hitam dan pada bagian tertentu diberi hiasan motif flora. upacara kematian. Yang banyak dipakai adalah kain songket. ular naga. dan pertemuan kedua sisinya dijahit sehingga hasil akhirnya menjadi semacam kebaya longgar berlengan pendek. masyarakat Sasak mengenakan busana yang khusus dirancang untuk keperluan tersebut. Bahkan kemudian ditumbuhkan kepercayaan jika kaum lelaki memakai kain dengan corak hias yang sesungguhnya diperuntukkan bagi kaum perempuan begitu pula sebaliknya . Busana Pengantin Sasak Yang akan diuraikan berikut ini adalah busana pengantin yang umum dikenakan oleh masyarakat Sasak. dan semacamnya. masyarakat Sasak. Corak hias pada kain untuk perempuan pun dibedakan dengan ragam hias kain bagi laki-laki. memberikan nuansa pada tata cara berbusana adat keseharian suku Sasak. dan gelang kaki (teken nae). Hiasan pelengkap penampilannya adalah kancing baju (buak tangkong) emas. Stilasi pohon mawar. Dan ketika keterampilan menenun semakin dikuasai. Busana Adat Sehari-hari Persentuhan dengan suku Bali yang datang sekitar abad XVI. misalnya upacara potong gigi. meski tentu. pada bentangan kain-kain tenunan mereka. Sebagai pelengkap penampilan dipakai aksesori berupa sengkang (anting-anting).

Pengantin pria mengenakan kelambi dari bahan yang sama dengan mempelai wanita, bermodel jas tutup dengan potongan agak meruncing pada bagian bawah belakangnya, untuk mempermudah menyengkelitkan keris. Kereng (kain panjang) yang dipakai adalah songket dengan motif khas Lombok. Kemudian ditambahkan dodot (kampuh), kain yang biasanya bercorak sama dengan yang dipakai pengantin wanita. Kelengkapan lainnya adalah sapu (destar/ikat kepala) dari kain songket yang biasanya diberi tambahan hiasan keemasan yang diselipkan pada ikatan sapu bagian depan. Dan dari balik punggungnya, sedikit melewai bahu sebelah kanan, tersembul keris panjang.

Busana Tradisional Semawa dan Bima Semawa and Bima Traditional Dress Penulisi Aat Soeratin Masyarakat asli Pulau Sumbawa terkenal memiliki kain songket hasil keterampilan para penenun yang diperoleh akibat persentuhannya dengan kebudayaan masyarakat Bugis. Songket Sumbawa umumnya menggunakan benang emas, benang perak, juga benang katun. Yang kita kenal sebagai kain selungka, misalnya, adalah songket yang menggunakan benang emas dan perak, dan tampilannya menyiratkan pengaruh kebudayaan Bugis. Jenis lainnya, antara lain, kain tenun motif kotak-kotak yang disebut mbali pida, dan ^. Seperti halnya saudara mereka di Pulau Lombok, estetika masyarakat Sumbawa pun melahirkan corak hias simbolis, stilasi bentuk flora untuk kain perempuan dan penggayaan bentuk fauna atau manusia pada kain kaum lelaki. Kain songket inilah yang kemudian memberi aksentuasi yang khas pada pakaian adat masyarakat Sumbawa. Dalam kesehariannya kaum perempuan masyarakat Semawa mengenakan kain sarung bermotif kotak-kotak (tembe lompa) warna hitam dan merah. Bajunya disebut lamung pene, baju serupa kebaya polos sederhana, berlengan pendek. Para prianya memakai sarung pelekat, baju lengan panjang, dan berkopiah. Sedangkan para wanita masyarakat Bima dan Dompu memakai baju poro, baju polos tanpa hiasan, berkain sarung palekat yang ditenun dengan hiasan corak kota-kotak kecil. Terkadang mengenakan rimpu (kerudung penutup rambut). Adapun para lelakinya memakai sarung pelekat, disebut tembe ngguli, berkemeja lengan pendek atau panjang, dan kadangkala memakai ikat kepala yang dinamai sambolo songke. Akan tetapi, untuk acara-acara adat seperti upacara potong gigi, kematian, perkawinan, dan sebagainya, masyarakat Semawa pun masyarakat Bima merancang busana adat tersendiri. Busana Adat Suku Semawa

Busana adat masyarakat Semawa, dulu, biasanya dikenakan saat mengikuti pelbagai upacara tradisional seperti upacara turun tanah bagi balita yang diharapkan segera bisa berjalan; tradisi potong gigi; naik dewasa (inisiasi) untuk remaja yang memasuki masa akil balig; upacara adat eneng hujan (memohon hujan); dan sebagainya. Sekarang, upacara-upacara tersebut masih dilakukan dan pakaian adat pun masih dikenakan para peserta upacara meski tak seketat kebiasaan masa lalu. Lamung pene adalah sebutan untuk baju adat kaum perempuan, semacam kebaya berlengan pendek dari kain halus. Paduannya adalah kre alang, kain sarung songket yang dipakai sebatas mata kaki dan ikat pinggang (pending) perak. Pada bahu kiri disampirkan sapu to`a, sejenis sapu tangan dan aksesorinya berupa kalung leher, bengkar troweh (hiasan telinga), gelang tangan. Dan para gadis yang belum menikah biasanya memakai kerudung. Kaum prianya memakai lamung seperti jas tutup berlengan panjang, saluar belo (celana panjang) polos tanpa hiasan, ditambah pabasa alang, semacam selendang songket berukuran agak lebar ketimbang selendang biasa, yang difungsikan sebagai dodot. Dan ikat kepala, yang disebut sapu, dibuat dari tenunan benang katun bermotif kotak-kotak. Buhul ikatan sapu pada kening ada di bagian belakang kepala sedangkan untuk bagian depan kepala sudut sapu dipasang tegak sehingga tampak tinggi dan meruncing.

Busana Pengantin Suku Semawa Mempelai wanita dari golongan bangsawan mengenakan busana adat berupa lamung (baju) lengan pendek bermodel baju bodo Sulawesi dari kain halus dan berhiaskan sulaman benang emas berbentuk cepa (bunga) hampir di seluruh bidang baju. Pada bahu sebelah kiri disampirkan kida sanging, semacam saputangan yang diberi hiasan motif dedaunan dari benang perak atau emas. Pakaian Bawahnya tope belo (rok panjang) dan tope pene (rok pendek), juga berhiaskan cepa, yang dipakai secara bertumpuk. Aksesori lainnya adalah sua`, hiasan kepala dilengkapi kembang goyang. Sanggul rambutnya disebut puyung lakang. Dan perhiasan yang dipakai berupa gelang tangan bernama ponto atau kelaru, kalung, anting-anting, dan hiasan kuku ibu jari tangan kiri dari emas yang dibentuk seperti kuku panjang, yang disebut sisin kuku. Kakinya beralaskan selop. Pengantin prianya memakai gadu, baju berlengan panjang warna hitam berhiaskan cepa emas. Simbangan adalah selempang kain yang disilangkan di atas baju, terbuat dari kain merah diberi hiasan motif bunga. Pakaian bawahnya saluar celana panjang berwarna hitam dengan aplikasi hias pada pinggiran kaki celananya. Ditambah tope, semacam rok dari kain halus berwarna merah berhiaskan cepa emas yang agak besar. Ikat pinggang (pending) emas dikenakan untuk menahan tope. Kepalanya bertutup mahkota yang dibuat dari kain yang dilipat-lipat, dibentuk seperti kipas, berhiaskan cepa emas sehingga tampil sangat artistik. Mahkota itu disebut pasigar. Dan keris disengkelitkan pada pending, disimpan di bagian muka badan.

Busana Adat Suku Bima Untuk menghadiri upacara adat inisiasi, potong gisi, kematian, perkawinan, dan sebagainya, kaum wanita masyarakat Bima mengenakan busana adat yang selengkapnya terdiri dari baju, kain panjang, berbagai aksesori, dan alas kaki. Bajunya disebut baju poro yang dibuat dari kain tipis namun tidak tembus pandang, biasanya berwarna hitam, biru tua, coklat tua, ungu. Bersarung pelekat, tembe kafa, corak mbali pida hingga menutup mata kaki. Aksesorinya berupa gelang tangan, anting-anting, dan semacamnya, namun tidak boleh berlebihan. Kaum prianya memakai kemeja lengan pendek atau model jas tutup berlengan panjang berwarna hitam, putih, atau warna-warna cerah lainnya. Bersarung pelekat tembe kafa mbali pida, dipinggangnya dililitkan salampe berwarna dasar putih, kuning, merah, atau hijau. Dan lelaki dewasa biasanya menyengkelitkan pisau mone (pisau khas Bima), pada salampe, di bagian depan badan.

Busana Pengantin Suku Bima Pakaian pengantin yang banyak dipakai masyarakat Bima sekarang adalah jenis busana tradisional yang dulu hanya untuk golongan bangsawan dan golongan menengah saja. Busana pengantin golongan menengah dan golongan bangsawan Bima pada dasarnya hampir tidak berbeda. Hanya saja kelengkapan busana atau aksesori yang dipakai pengantin dari golongan menengah relatif lebih sedikit, sehingga tampil lebih sederhana. Berikut ini uraian serba singkat mengenai busana tradisional pengantin golongan bangsawan Suku Bima. Mempelai wanitanya mengenakan baju poro rante yang dibuat dari kain halus berwarna merah dengan taburan cepa benang emas di seluruh permukaan baju dan memakai tembe songke, sarung songket. Selepe, ikat pinggangnya, berwarna keemasan. Tangan kanannya memegang pasapu (saputangan) dari kain sutra bersulamkan benang perak. Rambutnya disanggul, diberi hiasan unik yang dinamai karaba. Karaba dibuat dari gabah (bulir padi yang belum dikelupas kulitnya) yang digoreng tanpa minyak sehingga mekar dan nampak warna putih berasnya secara dominan. Karaba ini kemudian ditempelkan pada rambut dengan perekat malam atau lilin hingga warna putihnya nampak mencolok di atas hitamnya rambut. Tataan rambut berhiaskan karaba ini disebut wange. Sedangkan aksesori lainnya juga berwarna keemasan berupa bangka dondo (anting-anting panjang), dan ponto (gelang tangan). Pengantin pria memakai pasangi yaitu baju dan celana yang terbuat dari kain yang sama, yang berhiaskan cepa dan sulaman benang emas. Kemudian siki, sebutan untuk kain songket (tembe songke), dipakai, seperti memakai sarung, sebatas lutut. Penahan siki adalah baba, kain berukuran lebih lebar ketimbang ikat pinggang biasa, yang juga berfungsi untuk menyelipkan keris. Di atas baba dilingkarkan selepe mone, ikat pinggang dari logam keemasan. Keris yang pada hulunya diikatkan saputangan berhiaskan sulaman benang perak, seperti ditulis di muka, diselipkan pada baba. Baju pengantin laki-laki lainnya adalah karoro, semacam jubah hitam dihiasi cepa berwarna keemasan. Mahkotanya disebut siga (sama dengan pasigar, mahkota pengantin pria Semawa) Namun ada tata cara yang agak khusus untuk pemakaian karoro Yakni mempelai pria tidak boleh memakai karoro sekaligus dengan siki. Karoro biasanya hanya dimiliki oleh sultan atau para petinggi Kesultanan Bima.

saku di kanan dan kiri baju. berwarna terang dan mencolok seperti merah. bahkan juga status sosial pemakainya di dalam masyarakat. Bantaeng. bahan yang biasa digunakan berasal dari kain pasapu yang terbuat dari serat daun lontar yang dianyam. Hanya dalam hal warna dan bahan yang dipakai terdapat perbedaan di antara keduanya. Adapun bahan baju bella dada tampak lebih tipis. yaitu berasal dari kain lipa sabbe atau lipa garusuk yang polos. Dalam kebudayaan Makasar. Pemakaian tutup kepala pada busana pria mempunyai makna-makna dan simbol-simbol tertentu yang melambangkan satus sosial pemakainya. ada beberapa ciri. dan atu atau golongan para budak. Sementara itu. dan Kepulauan selayar. dan yang melanggar adat. yakni lapisan orangorang yang kalah dalam peperangan. Gowa. Gambaran model tersebut sama untuk kedua jenis baju pria. atau hari-hari besar adat lainnya. dan hijau. busana yang khas milik pendukung kebudayaan Makasar dan tidak dapat disamakan dengan busana milik masyarakat Bugis. tetapi juga sebagai kelengkapan suatu upacara adat. leher berkrah. Pada masa dulu. melainkan lebih menunjukkan selera pemakainya. baik untuk jas tutu maupun baju bella dada. Bahan untuk jas tutu biasanya tebal dan berwarna biru atau coklat tua. penjemputan tamu. busana adat Makasar tentu saja dapat dibedakan atas busana pria dan busana wanita. . busana adat merupakan salah satu aspek yang cukup penting. Bukan saja berfungsi sebagai penghias tubuh. masyarakat menyebutnya mbiring. Ketiga strata sosial tersebut adalah ono karaeng.Busana Tradisional Makassar Makassar Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Di wilayah Sulawesi Selatan suku bangsa Makasar menempati daerah Kabupaten Takalar. celana atau paroci. Melihat kebiasaan mereka dalam berbusana. Pada dasarnya. sebenarnya dapat dikatakan bahwa busana adat Makasar menunjukkan kemiripan dengan busana yang biasa dipakai oleh orang Bugis. Baju yang dikenakan pada tubuh bagian atas berbentuk jas tutup atau jas tutu dan baju belah dada atau bella dada. pasapu guru sebutannya. busana yang dipakai tidak lagi melambangkan suatu kedudukan sosial seseorang. Bila tutup kepala pada busana adat pria Makasar dihiasi dengan benang emas. busana adat pria dengan baju bella dada dan jas tutunya sedangkan busana adat wanita dengan baju bodo dan baju labbunya. yakni lapisan yang ditempati oleh kerabat raja dan bangsawan. Namun jika keadaan sebaliknya atau tutup kepala tidak berhias benang emas. Jeneponto. Meskipun demikian. bentuk maupun corak. Namun dewasa ini. serta diberi kancing yang terbuat dari emas atau perak dan dipasang pada leher baju. Yang dimaksud dengan busana adat di sini adalah pakaian berikut aksesori yang dikenakan dalam berbagai upacara adat seperti perkawinan. tidak mampu membayar utang. Masing-masing busana tersebut memiliki karakteristik tersendiri. dan tutup kepala atau passapu. yang mengenakan pasapu guru adalah mereka yang berstatus sebagai guru di kampung. busana adat orang Makasar dapat menunjukkan status perkawinan. keberadaan dan pemakaian busana adat pada suatu upacara tertentu akan melambangkan keagungan upacara itu sendiri. kain sarung atau lipa garusuk. Khusus untuk tutup kepala. Biasanya. Model baju yang tampak adalah berlengan panjang. tu maradeka. berdasarkan jenis kelamin pemakainya. Maros. Busana adat pria Makasar terdiri atas baju. Pangkajene. Hal itu disebabkan masyarakat Makasar terbagi atas tiga lapisan sosial. yakni lapisan orang merdeka atau masyarakat kebanyakan.

Namun pada umumnya. Jenis keris ini merupakan benda pusaka yang dikeramatkan oleh pemiliknya. tidak berlengan. dikenal dengan sebutan pasattimpo atau tatarapeng. Kaum wanita dari berbagai kalangan manapun bisa mengenakan baju labbu. coklat tua. wanita makasar pun memakai berbagai perhiasan untuk melengkapi tampilan busana yang dikenakannya Unsur perhiasan yang terdapat di kepala adalah mahkota (saloko). busana adat wanita Makasar terdiri atas baju dan sarung atau lipa. selempang atau rante sembang. Begitu pula halnya dengan para pengiring pengantin. maka diberi pengikat yang disebut talibannang. Sama halnya dengan pria. dan kalung besar (geno sibatu). tampak jelas pada seorang pria yang sedang melangsungkan upacara pernikahan. dan berbagai aksesori lainnya. Agar keris tidak mudah lepas dan tetap pada tempatnya. gelang. Lebih tepatnya dikenakan sebagai busana pengantin pria. biasanya berbentuk ular naga dan terbuat dari emas atau disebut ponto naga. bahkan dapat digantungi sejenis jimat yang disebut maili. Sementara itu. Adapun baju labbu atau disebut juga baju bodo panjang. dan anting panjang (bangkarak). dan hiasan pada penutup kepala atau sigarak. Penggunaan busana adat wanita Makasar yang lengkap dengan berbagai aksesorinya terlihat pada busana pengantin wanita. atau biru tua. warna dasar sarung Makasar adalah hitam. Ada dua jenis baju yang biasa dikenakan oleh kaum wanita. sapu tangan berhias atau passapu ambara. Gambaran busana adat pria Makasar lengkap dengan semua jenis perhiasan seperti itu. dan pada bagian atas dilubangi untuk memasukkan kepala yang sekaligus juga merupakan leher baju. Adapun gelang yang menjadi perhiasan para pria Makasar. kalung panjang (rantekote). yang terbuat dari benang biasa atau lipa garusuk maupun kain sarung sutera atau lipa sabbe dengan warna dan corak yang beragam. Bahan dasar yang kerap digunakan untuk membuat baju labbu seperti itu adalah kain sutera tipis. biasanya berbentuk baju kurung berlengan panjang dan ketat mulai dari siku sampai pergelangan tangan. . Perhiasan di leher antara lain kalung berantai (geno ma`bule). dengan hiasan motif kecilkecil yang disebut corak cadii. Pasangan baju bodo dan baju labbu adalah kain sarung atau lipa. Baju bodo berbentuk segi empat. sanggul berhiaskan bunga dengan tangkainya (pinang goyang). berwarna tua dengan corak bunga-bunga. hanya saja perhiasan yang dikenakannya tidak selengkap itu. yakni baju bodo dan baju labbu dengan kekhasannya tersendiri.Kelengkapan busana adat pria Makasar yang tidak pernah lupa untuk dikenakan adalah perhiasan seperti keris. sisi samping kain dijahit. Keris yang senantiasa digunakan adalah keris dengan kepala dan sarung yang terbuat dari emas.

Majeng. wanita Mandar akan mengenakan sarung sutera berwarna hitam atau putih. Pada bagian pinggang. Makassar dan Toraja. berhias tusuk konde dan di bagian pelipis kanan diselipkan serangkaian kembang goyang berwarna emas. wanita Mandar membuat sanggul yang letaknya agak rendah dengan hiasan tusuk sanggul emas dan kembang goyang. rambut ditata dengan model sasak sedikit tinggi (sigara). tua maupun muda. Gelang berukuran besar yang dipakai masing-masing lima buah di tangan kanan maupun di tangan kiri. dan mempunyai peranan sama pentingnya dengan tiga suku bangsa lainnya yaitu Bugis. pada abad ke-XV wilayah Mandar ini meliputi Kerajaan Balanipa. Ada pula sanggul agak rendah. Masyarakat Mandar sangat membedakan busana untuk anak-anak. kemudian ditutup dengan pending yang terbuat dari logam berwarna emas dengan gesper berhias di bagian depan. Sederet bunga serampa dan bunga seruni menghiasi seputar sanggul. menggunakan alas kaki berupa selop atau sepatu . Salah satu contoh yang tetap bertahan hingga kini antara lain adalah tata cara berbusana. Dalam berbusana . Menurut catatan sejarah. Orang-orang Mandar menempati wilayah administratif kabupaten Mamuju. kalung emas yang berjuntai agak panjang. Semua kalangan masyarakat Mandar. Pembauang dan Cenrana di pantai utara Teluk Mandar. adapun wanita muda umumnya lebih menyukai anting-anting yang berderet-deret dan menjuntai di kedua telinganya. Bajunya kebaya pendek berlengan tiga oerempat. tata rias rambut dan kepala akan ditambah dengan beberapa aksesori seperti. Ciri khas sarung tenun Mandar adalah motif kotak-kotak besar dan kecil dengan hiasan warna emas pada garisgarisnya. remaja dan orang tua. Dalam kesempatan menghadiri upacara adat.Busana Tradisional Busana Tradisional Mandar Mandar Traditional Dress Penulis Siti Dloyana Kusumah Suku Bangsa Mandar terbilang penduduk asal di propinsi Sulawesi Selatan. serta wilayah di bagian utara Selat Makassar. Tali ikat dari kain yang berfungsi untuk mengencangkan lilitan sarung. dengan hiasan liontin atau medalion besar. dengan ukuran panjang melampaui pinggul atau kurang lebih lima centimeter di bawah pusar. begitu pula busana rakyat biasa dengan kalangan bangsawan akan berbeda. setelah mengencangkan lilitan sarung dengan tali kain. Dalam kehidupan sosialnya. wanita Mandar pada umumnya mengenakan perhiasan meliputi. Untuk wanita yang usianya agak tua. masyarakat Mandar sangat memperhatikan ketentuan adat dan tradisi yang telah dijalani selama berabad-abad lamanya. menggunakan giwang emas berukuran besar dan di antara lubang telinga dengan giwang diselipkan sejumput kapas putih. Untuk tata rias rambut dan kepala. Kelengkapan busana lainnya adalah penggunaan sehelai selendang tipis yang ujung-ujungnya dihiasi dengan bundaran-bundaran emas atau perak. terbuat dari bahan sutera atau kain halus lain tetapi tidak tembus pandang. kipas dan berbagai perhiasan dari emas. Jadi tidak mengherankan apabila masyarakat suku bangsa Mandar mempunyai tradisi berbusana yang sangat indah dan mencerminkan kebesaran suku ini di masa silam. Namun dalam keadaan yang lebih resmi. kabupaten Majenen dan kabupaten Polewali Mamasa (Polmas). Hiasan yang mempercantik penampilan adalah penambahan kepingankepingan logam warna emas di seluruh pinggiran kebaya atau kepingan-kepingan bulat di seluruh permukaan kebaya.

aktivitas sosial dan stratifikasi sosial. Hanya saja hal penting yang memberi nuansa pada karakteristik busana tersebut adalah berkaitan dengan tujuan atau makna acaranya. dan upacara pernikahan. pria Mandar menggunakan kopiah atau lazim disebut songkok tobone dengan warna yang serasi antara baju bagian atas dengan jas atau sarungnya. mulai dari aktivitas seharihari hingga yang bersifat ritual. Sebagai kelompok masyarakat yang cukup konsisten dalam memelihara dan mempertahankan adat istiadat warisan nenek moyang mereka. Pada kesempatan seperti itu. Busana yang dikenakan oleh warga masyarakat Toraja dalam berbagai kesempatan. terutama menggunakan warna kuning sebagai warna dasarnya. memasuki rumah baru. Bagaimana pun juga busana merupakan salah satu kelengkapan yang cukup penting dalam penyelenggaraan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan tradisi. Sementara itu. busana yang dikenakan akan tampil warna-warni. . Pertama adalah yang berdasarkan adat rambu tuka. Hiasan tersebut diselipkan sebagian di saku jas tutupnya dan sebagian lagi dibiarkan menjuntai ke luar. Paduannya kain sarung tenun Mandar atau seringkali ada yang memakai celana panjang kemuidian ditutup dengan sarung hingga sebatas lutut. Busana Tradisional Tana Toraja Tana Toraja Traditional Dress Penulis Mira Indiwara Pakan. Dengan tetap memelihara adat istiadat seperti itu. berdasarkan adat rambu solo. Ria Andayani Somantri Toraja merupakan salah satu suku bangsa terbesar yang menempati kawasan Provinsi Sulawesi Selatan. secara tidak langsung juga dapat mempertahankan keberadaan berbagai aspek yang terkait erat di dalamnya. yakni busana pria dan busana wanita. pada dasarnya dapat dibedakan ke dalam dua jenis. Misalnya dalam upacara panen padi. Busana pria Mandar lebih sederhana karena hanya terdiri dari baju jas tutup terbuat dari bahan sutera bercorak bebas dengan warna hitam atau warna cerah. tercatat sebagai tempat tujuan wisata budaya yang memiliki keunikan tersendiri. Untuk penututp kepala. tentu saja tidaklah heran bila hingga saat ini mereka masih tetap menyelenggarakan berbagai upacara adat dan tradisi lainnya.pantovel berwarna hitam. busana misalnya. Ketentuan adat di Toraja membedakan dua suasana yang menyertai penyelenggaraan berbagai upacara adat. yakni pelaksanaan upacara adat yang erat kaitannya dengan suasana kegembiraan atau memiliki makna kebahagiaan. Alas kaki yang dipakai biasanya sepatu pantovel atau sandal yang dibuat dari kulit. Pria Mandar melengkapi busananya dengan melekatkan rantai emas yang diberi liontin atau medalion dari taring macan bahkan bisa juga terbuat dari taji ayam. dengan kekuatan tradisi dan adat istiadat sebagai daya tarik utamanya. Tana Toraja yang menjadi tempat menetap sebagian besar suku tersebut.

yaitu tutup kepala dari jenis tanaman tertentu yang dikenakan oleh para orang tua atau orang yang telah dewasa. yakni tas kecil untuk menyimpan sirih. yang disebut sambuk langkan. sepu. Sama halnya dengan sarung. yang bisa dikenakan oleh siapa pun disebut pote. Kaum wanita Toraja tampaknya cukup gandrung mengenakan perhiasan untuk menambah keindahan penampilan mereka dalam berbusana. biasanya disertai dengan sarung yang dinamakan dodo. Celana yang dipakai oleh kaum pria. busana adat wanita Toraja terdiri atas baju atau bayu untuk bagian atasnya. dengan perbedaan hanya terletak pada kualitas bahannya. rara. manik kata. Aksesori di lengan terdiri atas gelang atau komba dalam berbagai bentuk dan cincin. keberadaan tutup kepala pun beragam pula jenisnya dan berbeda pula peruntukannya. dan sarung atau sambuk. dalam acara adat orang meninggal. atau hanya disampirkan di bahu. mulai dari hiasan di kepala. Ketiga adalah bayu kalandon limanan. Perhiasan dan kelengkapan busana lainnya yang dipakai oleh para pria Toraja meliputi manik kata dan rara atau perhiasan sejenis kalung. Sementara itu. Misalnya sambuk busa. Selain itu. yaitu jenis baju yang biasa digunakan oleh wanita tua pada saat cuaca sedang dingin. tali-tali biang. yaitu keris yang dibawa pada waktu mereka akan menikah. Adapun jika berlengan panjang disebut kalando limanan. Selain itu. Pertama bayu poko. baju wanita dibedakan ke dalam tiga model. pakaian resmi. yaitu hiasan pada sanggul. tali pang`kabi. Perhiasan dari manik-manik yang dipakai di bahu disebut sokong bayu. Kedua jenis tutup kepala yang disebutkan terakhir pun hanya dikenakan oleh mereka yang termasuk ke dalam lapisan atas. bisa dibiarkan terjurai hingga mata kaki. bila penampilannya dilengkapi dengan jas hitam dan destar atau tutup kepala. lengan. terutama digunakan pada acara-acara yang bersifat resmi seperti pertemuan dan pesta. dan pa`toko. Sarung. jenisnya dapat dibedakan menurut aktivitasnya. busana adat pria Toraja terdiri atas baju atau bayu. berhubungan erat dengan kedudukan sosial seseorang di dalam lingkungan masyarakatnya. dan passapo timbo. Sementara itu. Beberapa contoh asesoris yang terletak di kepala di antaranya sa`pi. perak. Kedua bayu bussuk siku. Cara mengenakan sarung-sarung tersebut cukup beragam. adalah tutup kepala yang terbuat dari kain batik dan hanya digunakan oleh golongan bangsawan. dan tali banu . seperti yang terlihat pada penyelenggaraan upacara kematian dikenakan busana serba hitam. bahu. Untuk bekerja menggunakan celana pendek dan untuk kesempatan resmi memakai celana panjang. yaitu baju dengan bentuk lengan yang sangat ketat atau pas menempel di tangan serta tingginya di atas sikut. Baju tersebut dikenakan sebagai pakaian sehari-hari. yakni ikat kepala. Baju yang dikenakan oleh kaum pria Toraja dapat dibedakan ke dalam dua model. tutup kepala. hanya dengan cara melipatnya dari sebelah kiri ke sebelah kanan.upacara-upacara yang diadakan memiliki makna kesedihan. leher. Selain memperlihatkan fungsi estetis. Perhiasan di leher meliputi beraneka macam kalung seperti rnastura. dan sarung atau dodo untuk bagian bawahnya. pinggang. Terbukti dari beragamnya aksesori yang biasa dikenakan oleh mereka. hingga jari jemari. Ikat kepala ini biasanya dipakai oleh kaum pria dari keluarga yang sedang berkabung. dan yang diletakkan di pinggang dinamakan ambero. ada juga sarung yang hanya berfungsi sebagai penghangat badan. diikatkan di pinggang atau. Bahkan akan disebut busana adat resmi para bangsawan Toraja. dan sarong atau tudung kepala. oran-oran atau kalung berbentuk batang padi yang terbuat dari logam dan manik-manik. Bila baju tersebut berlengan pendek maka dinamakan kondi limanan. Secara umum. yakni baju berlengan sangat pendek hingga mendekati bahu pemakainya dan dipakai untuk bekerja di dapur atau di sawah. Berdasarkan fungsinya. khususnya para sesepuh masyarakat. yakni sarung berwarna putih yang hanya dapat dipergunakan oleh kaum pria yang menempati kedudukan sosial tinggi. yang khusus digunakan pada saat bekerja. yakni . Penggunaan semua jenis baju yang telah disebutkan tadi. tas pinggang yang berfungsi sebagai ikat pinggang tempat menaruh pedang atu parang. ada juga tas kecil atau sepu. seperti di sawah dan membangun rumah. Passapu. sebagai bagian integral dari busana adat pria. ada kalanya unsur perhiasan yang dikenakan oleh mereka pun memiliki makna simbolis tertentu. celana atau sepa tallu buku. atau pakaian pesta. Cara memakai sarung untuk kaum wanita pun sangat sederhana. yakni semacam tutup kepala yang terbuat dari kulit bambu dan dipakai oleh anak muda. yakni kalung yang terbuat dari emas. atau tembaga dan.

atau busana yang khusus digunakan untuk bekerja. sangat erat kaitannya dengan latar belakang kehidupan masyarakat pada masa lalu. Busana Tradisional Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Busana adat tradisional daerah Bolaang Mongondow. tampak jelas antara lain pada busana warga masyarakat daerah Bolaang Mongondow yang dikenakan pada kesempatan-kesempatan tertentu. Struktur masyarakat dengan kehidupan bernuansa kerajaan pada waktu itu. Bolaang Uki. atau yang kini lebih dikenal sebagai busana adat tradisional mereka. ketentuan adat mengatur setiap anggota masyarakat agar menggunakan busana sesuai dengan kedudukan nya. mulai dari golongan rakyat biasa hingga kaum bangsawan yang menempati kedudukan paling tinggi di dalam masyarakat. Secara historis wilayah ini terbentuk dari penggabungan empat kerajaan yang hidup pada masa penjajahan Belanda. Pada masa itu. menerima tamu-tamu kerajaan. Keempat kerajaan tersebut terdiri atas Kerajaan Bolaang Mongondow. merupakan kelengkapan busana yang harus dibawa pada saat seorang wanita menikah. Beberapa contoh di antaranya adalah busana kebesaran raja atau busana yang dipakai oleh golongan bangsawan pada saat berlangsung upacara penobatan raja.tempat menyimpan peralatan menginang yang biasanya digantungkan di bahu. busana bayi. Masyarakat terbagi ke dalam beberapa lapisan sosial. tidaklah heran bila busana adat mereka relatif lebih banyak karena setiap lapisan masyarakat memiliki busana tersendiri. melahirkan stratifikasi sosial yang tegas. Busana yang pada umumnya dikenakan oleh kaum bangsawan terlihat lebih beragam bila dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. Adapun keris atau gayang. Bintauna. dan Kerajaan Kaidipang Besar. yang berhubungan dengan kegiatan kerajaan maupun yang berkaitan dengan upacara di seputar lingkaran hidup mereka. menghadiri undangan-undangan resmi. Oleh karena itu. Hal ini dikarenakan kegiatan sosial mereka yang sarat dengan acaraacara seremonial. Aktualisasi dari semua itu. busana .

busana kohongian. nama Sangir-Talaud secara keseluruhan berarti orang yang berasal dari laut atau samudra. Khusus mengenai perhiasan. keemaasan. ungu. Sama halnya dengan busana kohongian. Selain itu. Misalnya. busana simpal. tampak pengaruh Melayu begitu kental dan dominan mewarnai tampilannya. Keberanian dalam memilih warna-warna busana yang terang dan mencolok seperti merah. juga ada larangan untuk mengenakan berbagai perhiasan jenis apa pun. serta kualitas bahan yang paling baik. dan busana yang dikenakan pada saat upacara kehamilan dan kematian. Kesederhanaan tersebut tampak dari kulitas bahan yang dipakai. atau bahkan berhubungan erat dengan sejumlah fenomena sosial pada masa itu. informasi di balik keberadaan busana tersebut memang selayaknya tidak sirna. para bangsawan pun memiliki busana kedukaan. Busana Tradisional Sangir-Talaud Sangir-Talaud Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Menurut asal katanya. tepatnya digunakan pada upacara perkawinan.pengantin. Sedangkan menurut asal-usulnya. kelengkapan aksesori yang menempel pada tubuh. sedangkan busana kaum prianya meliputi ikat kepala atau mangilenso. Adapun busana yang biasa dikenakan oleh anggota masyarakat di luar golongan bangsawan. ada beberapa contoh busana adat lainnya yang dipakai oleh mereka yang berasal dari golongan di luar bangsawan. ada juga busana rakyat biasa yang kerapkali tampak pada saat melakukan panen padi. Di samping itu. yakni busana berwarna hitam yang dikenakan pada waktu menghadiri upacara kematian. Pada umumnya. Akan tetapi. pengantin wanita maupun pengantin pria. dan hijau dipadu dengan aksesori yang terbuat dari emas. Hal tersebut terletak pada detil pakaian. tentu saja tampilannya berbeda dengan busana milik para bangsawan. yaitu busana yang khusus digunakan oleh warga masyarakat yang termasuk ke dalam golongan pendamping pemerintah dalam kerajaan. busana adat tradisional kaum bangsawan tampil dengan satu citra tersendiri. tidak diragukan lagi melahirkan satu sosok busana yang cukup indah dan menawan. seakan ingin mengukuhkan kedudukan mereka yang menempati tingkatan sosial tertinggi. Dalam hal ini. serta aksesorinya. Busana kerja guha-ngea. memang tidak terlepas dari simbolisasi sebuah makna yang ingin disampaikan. Bahkan akan jauh lebih sederhana lagi pada busana adat yang boleh dikenakan oleh rakyat biasa. celana dan sarung tenun. Semakin rendah status seseorang di dalam tingkatan sosial masyarakatnya. Melihat wujud busana adat tradsional daerah Bolaang Mongondow. Selain busana kebesaran seperti itu. Dalam hal ini. yaitu busana kerja para pemangku adat yang dipakai pada saat berlangsung upacara-upacara kerajaan. busana yang dikenakan oleh kaum wanita terdiri atas kain dan kebaya atau salu. Sama pula halnya dengan aksesorinya yang demikian lengkap. serta kualitas bahan yang digunakan. Salah satunya tampak pada busana kebesaran raja berikut busana pengantinnya. detil busana. terdapat berbagai perbedaan pendapat mengenai hal tersebut. busana simpal pun dikenakan pada upacara perkawinan. baju atau baniang. ada bagian busana yang dapat membedakan kedudukan seseorang. Pemilihan dan penentuan unsur berikut kelengkapan busana adat tradisional daerah tersebut. mereka yang termasuk ke dalam lapisan kohongian atau golongan simpal tidak mengenakan perhiasan yang terbuat dari emas melainkan perhiasan perak. Secara umum. Dalam hal ikat kepala pria misalnya. Detil yang tampak pada busana mereka memang lebih banyak bila dibandingkan dengan busana dari kelompok masyarakt lainnya. Sementara itu. sistem religi. Meskipun saat ini pemahaman warga masyarakat Bolaang Mongondow terhadap fungsi busana adat tradisional mereka tidak setegas dahulu. Ada . pemilihan warna sangat dominan untuk mengekspresikan emosi mereka pada saat-saat seperti itu. kuning. Beberapa di antaranya berkaitan dengan sistem kepercayaan. ketinggian ikat kepala akan lebih rendah daripada ikat kepala yang dipakai oleh kaum bangsawan. Kekhasan lain yang tampak istimewa terletak pada ikat kepala pria yang menjulang tinggi. busana adat yang dikenakan oleh kaum bangsawan maupun golongan masyarakat lainnya tampak serupa. semakin sederhana pula busana yang mereka miliki. yakni busana yang pada masa itu dikenakan oleh anggota masyarakat yang menempati status sosial satu tingkat di bawah kaum bangsawan.

gelang. dan hijau tua. atau bahkan campuran dari sejumlah suku bangsa tertentu. celana panjang. pemakaiannya disampirkan di bahu kanan melingkar ke kiri dengan salah satu ujungnya terurai sampai ke tanah. hijau. Untuk kaum wanita panjangnya bisa mencapai betis. di kanan kiri baju terdapat belahan yang tingginya mencapai pinggul. atau bahkan untuk pakaian sehari-hari. Kelengkapan buasana lainnya yang dipakai oleh mempelai wanita adalah sepatu atau sandal. Adapun ujungnya diikatkan di belakang kepala. dan daun-daunan atau akar-akaran tertentu yang dapat menghasilkan warna biru. kuning.kofo dengan dua bahan baku utamanya adalah serat manila hennep dan serat kulit kayu. serta berlengan panjang. kalung panjang bersusun tiga yang disebut soko u wanua. Dalam hal ini upacara perkawinan merupakan satu momen yang dapat memperlihatkan busana adat daerah Sangir-Talaud secara lengkap. Laku tepu pada umumnya berwarna terang dan mencolok se-perti merah. Khusus untuk selendang. dengan celana panjang sebagai penutup pada bagian bawahnya. keris (sandang) yang diselipkan di pinggang sebelah kanan. Kelengkapan busana yang dikenakan oleh pengantin pria meliputi kalung panjang atau soko u wanua. dengan penutup bagian bawahnya menggunakan kain sarung. sunting (topotopo) yang dipasang tegak lurus pada konde di atas kepala. Baju jenis ini. yakni warna terang dan mencolok. Keberadaan kerajaan-kerjaan itu sendiri memberi nuansa yang khas pada kebiasaan warga masyarakatnya dalam hal berbusana. Untuk mendapatkan warna yang diinginkan. pada zaman dulu terbuat dari kain . Dalam hal ini. orang Sangir-Talaud saat ini merupakan sekelompok masyarakat yang menempati wilayah Sulawesi Utara Sekitar abad ke-16. dan terbelah di tengah pada bagian belakangnya. krah baju berbentuk bulat. busana adat pengantin wanita terdiri atas kain sarung lengkap dengan baju panjang atau laku tepu yang berlengan panjang. untuk kaum pria bisa mencapai telapak kaki atau hanya sebatas lutut. antinganting. penduduk keturunan bangsa Filipina. Saat ini. dan ikat kepala berbentuk segitiga. ikat pinggang atau salikuku yang terbuat dari kain dengan simpul ikatan ditempatkan di sebelah kiri pinggang. Namun warna yang dipakai masih tetap mengacu pada tradisi sebelumnya. keberadaan kain kofo telah digantikan dengan berbagai bahan lainnya yang sesuai untuk dibuat baju panjang. krah baju berbentuk bulat dan terbelah di bagian depannya. keberadaan kain sarung yang dikenakan untuk menutup badan bagian bawah. kerap diganti dengan rok panjang yang sudah dilipit (plooi). ungu. penasbihan desa. Namun saat ini. Ada busana adat yang sering dikenakan dalam berbagai kesempatan yang erat kaitannya dengan tradisi masyarakat setempat seperti perkawinan. Sementara itu. kekhasan lainnya juga tampak pada kelengkapan busana yang dikenakan pada upacaraupacara ritual maupun formal lainnya. Keberadaan ikat kepala di sini biasanya melambangkan status atau kedudukan seseorang di tengah-tengah masyarakat. Khusus untuk ikat kepala. Hingga saat ini. dan ujung yang satunya lagi dapat dipegang. pemakaian ikat kepala sebagai simbol pembeda status sosial seseorang masih tetap berlaku. kaum pria mengenakan busana adat yang terdiri atas baju panjang. ada beberapa contoh ikat kepala yang melambangkan status sosial pemakainya seperti paporong lingkaheng yang melambangkan pemakainya tidak . peminangan. serta selendang (bawandang liku). sebagai penduduk asli Sulawesi Utara. Sementara itu. dan yang teristimewa di sini adalah ikat kepala. Setiap kerajaan selalu berusaha memperluas wilayah dan pengaruhnya dengan mengadakan perkawinan penduduk antarkerajaan. Satu hal yang cukup penting dan dapat membedakan upacara yang satu dengan yang lainnya adalah kelengkapan busana. yakni baju panjang yang biasa dikenakan oleh wanita maupun pria. ikat pinggang. Perbedaannya hanya terletak pada ukuran panjang baju dan pasangannya. Selain pada kelengkapan busana pengantin. penduduk Sangir-Talaud terbagi ke dalam beberapa kerajaan kecil yang tersebar di seluruh Kepulauan SangirTalaud. Nama busana tersebut adalah laku tepu. Pada saat menghadiri acaraacara tersebut. atau merah darah. Namun terlepas dari semua itu.yang menyebutnya sebagai bagian dari rumpun bangsa Melayu-Polenisia yang berpindah lewat Ternate. sebelum dijahit harus dicelupkan ke dalam cairan air nira untuk warna merah misalnya. kuning tua. Busana adat pengantin pria terdiri atas celana panjang dan laku tepu yang panjangnya hingga lutut atau telapak kaki. bagian yang menjulangnya diletakkan di bagian depan kepala.

selendang memiliki makna simbolis yang erat kaitannya dengan status sosial pemakainya. Berbeda halnya dengan cara memakai selendang yang dilakukan oleh para istri bangsawan. yakni hanya dengan menyampirkannya di bahu sebelah kanan. yang disebut hulontalangi. Sekarang wilayah itu termasuk dalam wilayah administratif Daerah Tingkat II Kabupaten Gorontalo dan Kodya Gorontalo. biasanya mengenakan selendang yang terbuat dari kain kofo berwarna kuning tua dan merah. paporong datu bouwawina. Cara memakainya. Seorang wanita yang berstatus sebagai permaisuri. yang menandakan pemakainya seorang pegawai pemerintah. yakni ikat kepala yang digunakan oleh raja atau pejabat pemerintah tertinggi.memiliki kedudukan di dalam masyarakat. yang panjangnya mencapai dua meter dengan lebar 15 sentimeter. Mereka percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari pengembara yang turun dari langit. Seperti halnya ikat kepala pada busana adat pria. dan beberapa jenis ikat kepala untuk para penari. daerah Gorontalo sudah mendapat pengaruh dari Ternate. Selendang tersebut dinamakan kaduku. hanya saja pada bagian kepalanya diberi atau disematkan perhiasan tertentu. Sementara itu. Perbedaan status sosial yang ada di dalamnya tampak pada cara pemakaian selendang. . yakni dengan menempatkan selendang sebelah menyebelah bahu. paporong tingkulu. Pemakaian dengan cara seperti ini dilakukan pula oleh seorang gadis yang akan menikah. Busana Tradisional Gorontalo Gorontalo Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Gorontalo adalah salah satu suku bangsa yang tinggal di wilayah Sulawesi Utara. busana adat yang dikenakan oleh kaum wanita pada berbagai upacara ritual atau acara formal meliputi baju panjang berikut pelengkap utamanya yaitu selendang. Sebelum kedatangan bangsa Eropa.

kalau berbicara mengenai busana adat. Sedangkan pada kedua sisi kiri dan kanan celana ditempeli pita warna kuning keemasan disebut pihi. hijau. Seperti halnya baju.Tidore dan Bugis yang datang lebih dulu. Hat ini terlihat dari agama Islam yang dianut dan cara berpakaian. kain sarung dan berbagai aksesori. pengantin wanita maupun pria memakai beberapa jenis busana yang disesuaikan dengan tahapan upacara. dan hiasan emas pada baju dan kain (tambio). ungu dan merah hati. sedangkan bagian lainnya diberi hiasan warna kuning keemasan. disebut wolimomo. . Sama halnya yang dialami dengan pembuatan bahan sandang. demikian juga dengan busana yang dipakai oleh pengantin wanita. sedangkan mempelai wanita memakai busana pengantin. celana panjang juga diberi hiasan tambio (hiasan corak keemasan). Jenis aksesori yang dipakai pada baju takowa adalah payunga. maka acuannya adalah busana yang dikenakan pada upacara-upacara resmi. Tahap kedua dalam masa perkawinan adat Gorontalo adalah akad nikah (akaji). hijau dan ungu. Di bagian depan baju diberi kancing dan tiga buah saku. Warna baju yang umumnya dipakai adalah warna-warna terang dan mencolok. Busana pria yang dikenakan pada acara akad nikah adalah baju boqo takowa atau takowa. yang terbuat dari emas sepuhan serta keris pusaka (patatimbo) yang diselipkan di bagian depan pinggang. merah. seperti menghadiri pesta atau busana yang dipakai oleh mempelai dalam suatu upacara perkawinan. Perhiasan dan aksesori yang dipakai pada busana ini adalah tusuk konde (sunthi) yang dibuat dari logam yang disepuh keemasan terdiri dari 12 buah. yaitu penyerahan sejumlah harta berupa uang atau barang kepada pihak mempelai wanita. biasanya mempelai pria hanya tinggal di rumah dengan memakai busana bebas. selimut (waluto). Pada upacara ini. Tahap pertama adalah upacara mengantar harta (modutu). Busana bagian bawah berupa sarung atau rok panjang yang dipakai di luar baju. seperti kuning. Bagian dada baju dan saku diberi hiasan corak kain krawang dengan memakai benang emas. Busana Adat Perkawinan Dalam melaksanakan rangkaian upacara adat perkawinan pada masyarakat Gorontalo. Warna celana yang dipakai biasanya sama dengan baju atas. yaitu tutup kepala yang dihiasi kain warna-warni. Kelengkapan pada baju madipungu biasanya berupa aksesori. Kelengkapan busana madipungu terdiri dari baju. bisa juga memakai baju gelenggo atau boqo tunggohu. Aksesori yang menempel di baju maupun perhiasan yang dikenakan menunjukkan status pemakainya. rante madale (kalung leher) dan padeta (gelang) yang melekat di kedua pergelangan tangan. Pilihan warna itu menunjukkan bahwa di masa dulu pernah terdapat lima kerajaan di Gorontalo. Aksesori lainnya adalah ikat pinggang (etango). cara berbusana orang Gorontalo pun dari masa ke masa mengalami perkembangan. beludru. Sedangkan perhiasan yang dipakai adalah sunthi (tusuk konde) dan huheyidu (hiasan rambut) pada bagian kepala. Bentuk baju sama dengan baju kemeja lengan panjang. Warna yang dipilih adalah salah satu dari warna merah. kuning. Sehingga. Busana adat perkawinan pada masyarakat Gorontalo sangat kaya akan berbagai perhiasan yang dikenakannya. Busana wolimomo terdiri dari baju blus berlengan pendek seperti bolero dan kain sarung. seperti kain lapis dada warna hitam yang dihiasi kuning emas. satu di kiri atas dan sisanya di bawah. Bentuk sunthi biasanya menyerupai kepala burung. disebut hotu. Bahan yang digunakan biasanya kain satin. kain beludru warna hitam yang menempel di leher. brokat atau jenis bahan lainnya yang sesuai. disebut hamsei. celana panjang (talala) dan aksesori. Perbedaan ketiga jenis baju ini terletak pada panjang dan pendeknya lengan baju. Bentuk baju madipungu adalah baju blus lengan panjang seperti baju kurung dengan model pada bagian leher membentuk huruf "V". oleh karena itu disebut sunthi burungi. Pada bagian depan baju diberi selembar kain yang dirempel. Busana ini bagi wanita Gorontalo dapat melambangkan peralihan dari masa remaja ke masa ibu rumah tangga. tetapi kerahnya berdiri tegak. Bahan baju wolimomo terbuat dari jenis kain beludru. Busana yang dipakai oleh pengantin wanita adalah baju madipungu. brokat atau bahan kain lainnya.

Bahan baju ini terbuat dari kain blacu warna putih. leher baju. Sedangkan busana pengantin pria memakai baju paluwala. Busana Tradisional Minahasa Minahasa Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Minahasa adalah salah satu suku bangsa yang mendiami wilayah Propinsi Sulawesi Utara. selendang pinggang dan topi (porong). Di masa lalu busana sehari-hari wanita Minahasa terdiri dari baju sejenis kebaya.Rangkaian terakhir dari upacara perkawinan adat Gorontalo adalah bersanding di pelaminan (mopo pipide). ujung lengan dan sepanjang ujung baju bagian depan yang terbelah. mereka pun memakai blus atau gaun yang disebut pasalongan rinegetan. Aksesori yang dipakai dalam busana pengantin wanita adalah sanggul atau bentuk konde. seperti motif biasa. Busana yang dipakai oleh pengantin wanita adalah busana kebesaran yang dipakai oleh istri raja di jaman dulu. Warna baju hitam dengan hiasan motif bunga padi pada leher baju. disebut wuyang (pakaian kulit kayu). disebut model kaki seribu dan sarong motif bunga. Celana yang dipakai masih sederhana. Busana pengantin baju jas tertutup ini. ada juga bentuk baju yang berlengan panjang. Dalam kehidupan sehari-hari ada kecenderungan bagi suku bangsa Minahasa untuk menyebut diri mereka sebagai orang Manado. pengantin wanita mengenakan busana yang terdiri dari baju kebaya warna putih dan kain sarong bersulam warna putih dengan sulaman motif sisik ikan. anting dan gelang. kain panjang atau sekarang dapat diganti dengan rok panjang. Pada perkembangan selanjutnya busana Minahasa mendapatkan pengaruh dari bangsa Eropa dan Cina. yaitu mulai dari bentuk celana pendek sampai celana panjang seperti bentuk celana piyama. Motif Mahkota pun bermacam-macam. Selain itu. yang terdapat pada hiasan topi. Motif dalam busana ini adalah motif bunga padi. Konde yang menggunakan 9 bunga Manduru putih disebut konde lumalundung. Busana wanita yang memperoleh pengaruh kebudayaan Spanyol terdiri dari baju kebaya lengan panjang dengan rok yang bervariasi. Sedangkan kaum pria memakai baju karai. berkancing tanpa saku. Sedangkan pengaruh Cina adalah kebaya warna putih dengan kain batik Cina dengan motif burung dan bunga-bungaan. celana panjang. Busana Pemuka Adat Busana Tonaas Wangko adalah baju kemeja lengan panjang berkerah tinggi. Model busana pengantin wanita ini dinamakan baju ikan duyung. Aksesori tersebut mempunyai berbagai variasi bentuk dan motif. sedangkan Konde yang memakai 5 tangkai kembang goyang disebut konde pinkan. sarong motif kaki seribu. Selain sarong yang bermotifkan ikan duyung. Pengantin pria memakai busana yang terdiri dari baju jas tertutup atau terbuka. terdapat juga sarong motif sarang burung. disebut model salimburung. yang bahannya terbuat dari tenunan bentenan. berwarna hitam terbuat dari ijuk. Perbedaannya terletak pada aksesori dan perhiasan yang digunakan. Semua motif berwarna kuning keemasan. memakai krah dan saku disebut baju baniang. Potongan baju tatutu adalah berlengan panjang. terdiri atas baju lengan panjang. mahkota (kronci). yaitu sama dengan baju takowa yang terdiri dari baju dan celana panjang. bintang. tidak memiliki krah dan saku. lebih lengkap dan menunjukkan keagungan. sayap burung cendrawasih dan motif ekor burung cendrawasih. Sebagai kelengkapan baju dipakai topi warna merah yang dihiasi motif bunga padi warna kuning keemasan pula. kalung leher (kelana). Pada busana pria pengaruh Cina tidak begitu tampak Baju Ikan Duyung Pada upacara perkawinan. disebut laborci-laborci. disebut busana tatutu. . Busana kebesaran ini disebut biliu. Selain baju karai. baju tanpa lengan dan bentuknya lurus. Busana pria pengaruh Spanyol adalah baju lengan panjang (baniang) yang modelnya berubah menyerupai jas tutup dengan celana panjang. aksesori dan perhiasan. kalung mutiara (simban). selendang pinggang dan kedua lengan baju. potongan baju lurus.

dan berkerah.Busana Walian Wangko pria merupakan modifikasi bentuk dari baju Tonaas Wangko. Gelang yang terbuat dari emas dipakai pada tangan. Bentuk dan jenis busana Tonaas dan Walian Wangko inilah yang kemudian menjadi model dari jenis-jenis pakaian adat Minahasa untuk berbagai keperluan upacara. Baju katango ini. yaitu terdapat kancing. selop. hitam. yaitu langit dan bumi. Bahan baju terbuat dari kain satin warna merah atau biru. dan ujung lilitannya dipegang oleh salah satu tangan. hanya saja lebih panjang seperti jubah. sedangkan lubang leher dengan warna kuning emas. Sedangkan ikat pinggang terbuat dari logam berwarna kuning. Perhiasan yang dipakai sebagai kelengkapannya adalah kalung bulat yang terbuat dari logam untuk bagian leher. Sarung ketiga atau paling atas digulung melilit dada terkepit ketiak. Selain sebagai penunjuk identitas kebudayaan. busana adat tersebut menumbuhkan kebanggaan bagi masyarakatnya. Dilengkapi topi porong nimiles. Hiasan yang dipakai adalah motif bunga terompet. memakai baju kebaya panjang warna putih atau ungu. celana (sala) dan kopiah (songko) atau dapat diganti dengan ikat kepala (kampurui). Sarung yang dipakai. Fungsi ikat pinggang ini selain untuk penguat sarung agar tidak mudah lepas. Sarung kedua untuk membalut baju. Umumnya. biasanya berwarna merah bercorak geometris horizontal berwarna hitam. Bentuk baju dapat berupa baju berlengan pendek dan baju berlengan panjang dengan lubang pada bagian atas baju untuk memasukkan kepala. Kalangan wanita mengenakan busana yang terdiri atas bhadu. biru. Dilengkapi selempang warna kuning atau merah. Warna baju putih dengan hiasan corak bunga padi. dunia dan alam baka. yang dililitkan di dada menjurai sampai dengan di atas lutut. gelang yang terbuat dari logam warna putih atau kuning dikenakan pada kaki. selain dipakai untuk bepergian dapat juga dipakai untuk menghadiri . bheta. perlambang penyatuan 2 unsur alam. Sedangkan Walian Wangko wanita. Busana Tradisional Muna Muna Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Pakaian sehari-hari atau di rumah yang dikenakan oleh kaum pria terdiri atas baju (bhadu). Potongan baju tanpa kerah dan kancing. yang dibuat dari lilitan dua buah kain berwarna merahhitam dan kuning-emas. sarung (bheta). Sarung yang mereka pakai umumnya berwarna merah. Sarung yang dipakai oleh wanita terdiri atas tiga lapis. kalung leher dan sanggul. saku. kain sarong batik warna gelap dan topi mahkota (kronci). Jenis-jenis dan bentuk busana di atas merupakan kekayaan budaya Minahasa yang tak ternilai harganya. wanita Muna memakai baju berlengan pendek yang disebut kuta kutango. Baju berlengan pendek ini diberi hiasan renda pada setiap ujung lengan. Ikat kepala yang dipakai berupa kain bercorak batik. coklat atau warna gelap lainnya dengan corak garis-garis horizontal. untuk pakaian sehari-hari di rumah. Busana ini dapat juga dipakai pada saat berpergian. Baju yang dipakai berlengan pendek dengan model baju seperti sekarang. Warna baju umumnya putih. bagi warga maupun aparatur pemertintah setempat. Lapisan dalam adalah sarung atau rok warna putih yang dililitkan di pinggang. juga untuk menyelipkan senjata tajam. dan kain ikat pinggang yang disebut simpulan kagogo.

Dalam upacara ini. Selain itu. perhiasan yang dipakai adalah gelang. Upacara posuo merupakan salah satu upacara yang harus dilalui oleh seorang gadis yang telah menginjak dewasa. Sarung yang dikenakan ada dua. sebetulnya tidak berbeda dengan busana sehari-hari wanita Muna. Agar sarung tampak kuat. bercorak sama tetapi dengan warna berbeda. anting-anting (dali). Ciri seorang gadis yang sudah dipingit adalah memakai gelang yang sudah dihiasi manik-manik pada pergelangan kirinya disebut kabokena limo. dan perhiasan logam. dan ikat pinggang (sulepe). dan kain bersulam benang emas berbentuk pita (kabunsale). seorang gadis memakai busana adat beserta perhiasannya yang terdiri dari bhadu. Perhiasan yang dipakai adalah ikat pinggang (sulepe) terbuat dari logam. maka dililitkan kain ikat pinggang yang diberi hiasan jambuljambul atau rumbai-rumbai disebut kabokena tango. Cara melilitkan ikat pinggang tersebut diatur sedemikian rupa agar rumbai-rumbai tersebut berada di depan. Sarung dililitkan di pinggang membalut atau menutupi sebagian baju. Perhiasan yang dipakai terdiri atas gelang tangan (simbi). Bentuk bhadu dan bheta yang dikenakan pada upacara ini. Pakaian sehari-hari di kalangan wanita disebut baju kombowa. dan ikat pinggang (sulepe). Ikat kepala dililitkan di tengah kepala sehingga membentuk lipatan-lipatan yang meninggi di sebelah kanan kepala. Sementara itu upacara sunatan sebagai bagian penting dari upacara daur hidup seorang pria sbelum mencapai usia remaja atau dewasa. anting-anting di telinga dan kalung menghiasi leher. yang disebut biru-biru. khususnya yang berhubungan dengan daur hidup manusia. bheta. Bentuk baju berlengan pendek dan tidak berkancing. dan sanggul. Adapun yang membedakannya dengan busana untuk upacara lain adalah terletak pada penggunaan perhiasan. dengan penguat lilitan selembar kain ikat pinggang. ikat pinggang. Salah satu upacara adat yang hingga saat ini masih dipertahankan oleh masyarakat Muna adalah upacara pingitan gadis (karia). Penulis Mira Indiwara Pakan . cincin dan anting yang terbuat dari emas. Perbedaannya hanya pada tata rias dan perhiasan yang dikenakannya. kalung (tongko). Sanggul seperti ini disebut popungu kelu-kelu. Pakaian ajo tandaki terdiri atas mahkota. sarung berhias (bia ibolaki).. Kelengkapan busana ini hanya dipakai oleh kalangan wanita bangsawan (kaomu). Sedangkan perhiasan yang terdapat pada sanggul adalah pita pengikat konde (kawutu). terdiri atas sarung dan ikat kepala tanpa baju. Pada sanggul dililitkan pita dari kain berwarna merah atau warna baju yang dipakainya. Anak yang akan disunat ini memakai busana adat yang dinamakan ajo tandaki. sarung dua lapis. selendang (salenda). Berbusana secara lengkap berikut berbagai perhiasannya juga dikenakan oleh kaum wanita yang akan menghadiri upacara resmi. perkawinan misalnya. Selain pakaian sehari-hari. Kedua sarung tersebut dililitkan di atas pinggang. Pada upacara tersebut. Tandaki adalah mahkota. terdiri atas unsur pakaian baju dan kain sarung motif kotak-kotak kecil yang disebut bia-bia itanu. Perhiasan yang digunakan adalah sanggul yang diberi hiasan. manik-manik. gelang kaki (kurondo).pesta-pesta upacara adat atau menerima tamu. bulu burung cendrawasih dan berbagai hiasan dari logam. gadis yang dipingit diharuskan memakai busana kalambe yang terdiri atas baju kambowa. masyarakat Buton pun memiliki pakaian khusus yang dikenakan pada saat berlangsung upacara adat tertentu. Mahkota dibuat dari kain merah. tusuk konde (panto). Hiasan sanggul terbuat dari kain atau logam yang berwarna kuning membentuk kembang cempaka. Sarung yang di dalam dililitkan pada pinggang lebih panjang dari pada sarung yang di luar (tampak berlapis). Mereka memakai baju kambowa serta sarung yang bermotif (bia-bia itanu kumbea). dan anak yang boleh memakainya harus berasal dari golongan masyarakat bangsawan (kaomu). Busana Tradisional Buton Penulis Jaya Purnawijaya Pakaian keseharian orang kebanyakan (golongan walaka) disebut pakaian biru-biru. Perhiasan lainnya adalah gelang di kedua belah tangan. Dua diantaranya yang adalah upacara memingit gadis yang disebut posuo dan upacara sunatan.

sekalipun itu tidak banyak. Masyarakat di tempat tersebut menamakan ikat kepala yang biasa dikenakan oleh kaum wanita dengan sebutan tali bonto. kalung panjang. Secara fisik. Model sanggul seperti ini akan tampak pada saat wanita Kaili melakukan berbagai rutinitas kegiatan sehari-hari mereka. Lain halnya dengan kain fuya yang digunakan untuk membuat busana pesta. Ada golongan raja (maradika). Model rambut yang paling terakhir disebut unte pambeo. Pertama adalah unte tandu. ada belahan pada bagian dadanya dan diberi sejumlah kancing. Jenis sanggul seperti ini hanya diperuntukkan bagi para pengantin wanita saja. Pada setiap lapisan sosial biasanya terdapat sejumlah atribut berupa lambang atau simbol-simbol tertentu. sangat erat dengan kebiasaan mereka yang gemar menyanggul rambut. kain fuya yang digunakan agak kasar. bangsawan (toguua mungana). dan baju pasua. . Baju gembe adalah baju yang memiliki bentuk dan potongan sejenis dengan baju bodo yang terdapat dalam kebudayaan Bugis. Bahan yang digunakan untuk membuat ikat kepala tersebut adalah rotan yang tipis atau fuya. pada zaman dahulu terdiri atas kain sarung lengkap dengan bajunya yang berupa blus berlengan pendek. ada tiga model sanggul yang senantiasa ditampilkan oleh para wanita kaili. tudung kepala yang biasa dikenakan oleh kaum wanita tersebut berbentuk seperti kerucut. Salah satunya tampak pada unsur busana adat yang menjadi milik masyarakat Kaili. tak lupa dikenakan perhiasan-perhiasan sebagai pelengkapnya. Namun kini kain fuya telah ditinggalkan dan diganti dengan bahan katun atau jenis kain lainnya yang dapat dibeli dengan mudah. baju gembe. Busana adat wanita Kaili dapat dibedakan ke dalam tiga jenis model baju. berlengan panjang dengan kancing pada bagian pergelangan tangannya. yakni baju yang berlengan panjang dan baju yang berlengan pendek. sistem pelapisan tersebut tidak lagi bertahan sepenuhnya. Oleh karena itu. Pada zaman dahulu. Sementara itu. Jenis sanggul yang kedua bernama unte pompule pasiki. Busana yang disebut dengan baju poko itu sendiri ada dua macam. Selain memiliki busana yang cukup beragam. pembungkus hasta dan pergelangan tangan. Sementara itu. Berbicara mengenai busana adat masyarakat Kaili tampaknya akan lebih didominasi oleh busana yang biasa dikenakan oleh kaum wanitanya. dengan jenis yang cukup beragam. mereka mengenakan tudung kepala pada saat melakukan kegiatan sehari-hari. Meskipun saat ini. yakni model sanggul dengan ciri khasnya terletak pada ujung rambut yang disanggul sedikit diuraikan ke bagian samping hingga mencapai bahu. Adapun gambaran mengenai baju pasua adalah jenis baju yang memiliki bentuk leher bundar.Kaili merupakan salah satu suku bangsa yang menempati wilayah Provinsi Sulawesi Tengah. pending. dan hiasan untuk penutup rambut. Untuk keperluan pakaian sehari-hari. dengan bahan bakunya berasal dari rotan yang dianyam sedemikian rupa. yakni kain yang terbuat dari serat kulit kayu. lebih halus dan dilengkapi dengan hiasan yang berupa aplikasi beraneka warna. perhiasan yang dipilihnya terbuat dari manik-manik atau bahkan juga terbuat dari emas. Paling tidak. Selain baju-baju tersebut. Biasanya. keberadaan tudung kepala memang mendapat tempat tersendiri dalam kehidupan kaum wanita Kaili. dan budak (batua). kelengkapan busana berikut aksesori lainnya pun tidak kalah bervariasinya. masyarakat Kaili mengenal sistem pelapisan sosial dengan empat tingkatan sosial di dalamnya. Berbicara mengenai perhiasan yang biasa dipasang pada bagian kepala kaum wanita Kaili. Busana wanita Kaili. Bahan baju tersebut beradal dari kain fuya. tidak heran bila di daerah tersebut terdapat beraneka ragam jenis sanggul. Jenis-jenis perhiasan itu sendiri pada umumnya berupa kalung bersusun. atribut tersebut masih dapat ditemukan dalam beberapa hat. Bahkan khusus untuk kaum wanita bangsawan. Untuk mempercantik penampilan mereka dalam berbusana. Keduanya sama-sama berleher bundar dan tanpa krah pada baju bagian atasnya. bermacam-macam gelang mulai dari lengan hingga siku mereka. rakyat kebanyakan (todea). yakni bentuk sanggul yang didapatkan dengan cara menyisipkan gulungan rambut mereka ke dalam rambut itu sendiri. kaum wanita Kaili kerapkali mengenakan kelengkapan busana lainnya yang cukup khas seperti ikat kepala dan tudung kepala. gambaran mengenai busana adat pria Kaili tampak jauh lebih sederhana. yakni baju poko. yakni bentuk sanggul tanduk yang biasanya diletakkan di bagian belakang kepala.

Tentu saja bukannya tanpa alasan bila mereka mengenakannya seperti itu. Pusat-pusat permukiman orang Dani . Busana Tradisional Masyarakat Dani Dani People Traditional Dress Penulis Aat Soeratin. Ikat kepala yang dipakai oleh kaum pria tersebut memiliki warna yang beragam serta bermotif. Salah satu di antaranyanya adalah biji jagung kering. Adapun pada anggota tubuh bagian atas kerapkali hanya bertelanjang dada. ada juga kelengkapan busana lainnya yang senantiasa dikenakan oleh mereka. sebelah Barat Daya dengan kabupaten Fakfak. memang ada satu kebiasaan masyarakat Kaili untuk memenggal kepala musuh pada saat berperang. baru mereka memakai baju untuk menutupi anggota tubuh bagian atasnya. Ada beberapa jenis kelengkapan busana adat pria Kaili. yakni untuk menghangatkan tubuh atau berfungsi sebagai penahan hawa dingin. sebelah Barat Laut dengan kabupaten Paniai. Di sebelah Utara berbatasan dengan kabupaten Yapen-Waropen. ikat kepala dan kampuh. Kelengkapan busana lain yang tidak kalah pentingnya adalah ikat kepala. akan tampak bagaimana sebenarnya busana adat mereka yang pernah ada selama ini. Pada masa itu. pemakaian ikat kepala ini sangat erat kaitannya dengan aktivitas mereka di masa lalu. justru berbeda dengan kondisi mengenai busana adat kaum pria Kaili. Unsur yang pertama adalah sarung. yang pemakaiannya tidak dilakukan untuk menutupi badan bagian bawah melainkan hanya disampirkan di bahunya. sebelah Selatan dengan kabupaten Merauke. yang dikenal dengan istilah mengayau. Ada satu tujuan utama yang hendak dicapai. Selain kedua unsur busan tersebut. Busana yang digunakan kaum pria untuk menutupi anggota badan bagian bawah adalah cawat dan celana pendek yang pipa celananya sedikit di atas lutut. Namun bila akan bepergian. yakni berperang dan tradisi pengayauan. Satu kelengkapan lainnya yang senantiasa dibawa oleh kaum pria Kaili adalah kampuh yang berisi sirih pinang dan beraneka macam benda-benda yang digunakan untuk meramal oleh pemiliknya. sebelah Timur Laut dengan kabupaten Jayapura. Kampuh yang sarat dengan berbagai macam benda tersebut biasanya dikalungkan pada leher mereka.Bila gambaran mengenai busana adat wanita Kaili begitu kaya akan berbagai informasi di seputar masalah tersebut. yakni kain sarung. Tentu saja pemilihan warna dan motif tersebut akan disesuaikan dengan status sosial pemakainya. Jonny Purba Masyarakat Dani mendiami wilayah kabupaten Jayawijaya. Dengan mengungkapkan profil pria Kaili. dan sebelah Timur berbatasan dengan negara Papua Niugini (Papua Neuw Guinea/ PNG). Secara historis.

artinya "Kami orang Baliem". Istilah "Dani" digunakan oleh ekspedisi Sterling tahun 1926. Dwart. Masyarakat Dani sendiri menamakan dirinya "Nit Baliemege". memiliki status sosial yang tinggi atau mempunyai kedudukan sebagai bangsawan. Yalimo. Ada tiga pola penggunaan koteka. misalnya "uang merah" (eka merah). upacara adat misalnya. Apalahapsili. Holim sebagai pakaian sehari-hari digunakan dalam seluruh kegiatan keseharian. disebut yokal. penutup kelamin pria ini diikatkan ke seputar pinggang dengan tali halus yang biasanya berwarna hitam. Illu. agar tidak jatuh. seperti waktu mengerjakan ladang. Pas Valley dan Piet River. yokal dan sali. sedangkan sebelumnya disebut "Ndani". Makna simbolik lainnya mengisyaratkan. ketika berternak babi. Welarak. Sebagian masyarakat Dani mengenakan koteka yang ukurannya pendek dan besar. dikorek dengan kayu yang diruncingkan. Busana penutup alat kelamin pria ini dibuat dari kalabasah. Beberapa lembah yang terkenal. Jenis koteka kecil terdapat di daerah lembah Baliem. mereka menggunakan holim sebagai pakaian adat sekaligus sebagai perlengkapan upacara. keterampilan memipin. Kehidupannya mengelompok berbentuk desa yang dinamakan silimo (asilimo). Illaga. Setelah kering. Konda. Ilaga. Ukuran bagian bawahnya sedang dan atasnya runcing. Mulia. laki-laki sejati. yaitu tegak lurus: menandakan bahwa pemakainya adalah "pria sejati". isi buah labu dikeluarkan. Bentuk rumah tinggalnya disebut honai (honae) untuk laki-laki dan obe-ae rumah khusus kaum perempuan. Kalabasah yang berdiameter relatif besar itu dipotong hampir setengahnya sehingga ujungnya bolong (terbuka) yang ketika dipakai biasanya bolong itu ditutup dengan daun. bermakna bahwa penggunanya adalah pria gagah berani. Yokal Sejenis rok wanita masyarakat Dani yang dibuat dari serat tali hutan (tumbuhan rambat) yang dipintal dengan rapi. kuning. terutama di Kecamatan Wamena Kota. Ketika dikenakan. lembah Baliem (Lembah Agung). Busana Adat Masyarakat Dani Ada beberapa jenis busana dan tata rias Masyarakat Dani yang sangat khas bila dibandingkan dengan kelompok etnis lainnya di Irian Jaya. belum pernah melakukan persebadanan. Hiasan itu untuk menimbulkan daya tarik bagi kaum perempuan. yaitu tegak lurus: menandakan bahwa pemakainya koteka. Setelah itu buah labu kembali dikeringkan di sekitar perapian. dipetik lalu dikeringkan di perapian. Secara etnis masyarakat Dani dikenal dalam dua kelompok yaitu Wita dan Waya. saat berada di honai. Buah labu yang sudah tua. Koteka (Holim) Koteka atau disebut juga holim adalah pakaian laki-laki masyarakat Dani dan Ekari. dan kemerah-merahan. Kosarek. Di samping itu biasanya terdapat juga humila sebagai dapur tempat memasak dan wam aele sebagai kandang babi. Ada dua ukuran koteka yakni holim kecil (halus) dan holim pendek besar. Jenis holim ini halus. antara lain. dan Oholim. Sinak. kemudian dibersihkan. sejenis labu Cina. yakni masyarakat Moni dan Damal untuk menunjukkan suku tetangganya (masyarakat Dani).umumnya berada di wilayah lembah dan lereng-lereng gunung. Banyak kemudian yang menambahkan semacam sekat di antara pangkal dan ujung "selongsong" koteka bolong itu untuk tempat menyimpan benda-benda yang dianggap keramat atau bendabenda yang dianggap bernilai tinggi. Dalam perkembangannya fungsi dan kegunaan holim mulai digantikan dengan pakaian sehari-hari yang terbuat dari tekstil. Namun dalam kegiatan tertentu. Biasanya yokal berwarna hitam. Tiom. Sedangkan jenis holim besar terdapat di lembah Baliem. Juga menunjukkan pemakainya adalah keturunan Panglima Perang (apendabogur). dan pengayom rakyat. "Kanan" menandakan kekuatan bekerja. pemilik harta kekayaan yang melimpah. Kecamatan Asologaima dan Kecamatan Kurulu. pria yang memakainya masih perjaka. Istilah "Ndani" berasal dari kata "Lani" yang digunakan oleh penduduk lembah Baliem Utara dan Barat. Miring ke samping kanan: simbol kejantanan. Kadang-kadang bagian ujungnya diberi hiasan bulu burung atau bulu ayam hutan. berwarna kuning kemerah-merahan. di antaranya koteka (holim). Miring ke samping kiri: bermakna pria dewasa yang berasal dari golongan menengah dan memiliki sifat kejantanan ejati. Bahan pewarna tersebut .

Biasanya seorang wanita Dani mengenakan sejumlah noken yang digantungkan pada kening dan berjuntai ke punggungnya hingga menutup bagian pinggul. puluhan rumah siput kecil yang dianggap mampu mendatangkan kekuatan gaib. Banyaknya kulit kerang menunjukkan jumlah musuh yang dibunuhnya dalam perang suku. atau dibentuk menjadi pipih dan diselipkan pada cuping hidung bagian tengah yang dilubangi sehingga mirip seperti misai panjang. bahan tersebut dijemur atau diasapi. Yokal dibuat dari kulit kayu wam. ke gereja. anak panah dan busur. Noken (su labak yapma) yaitu sejenis tas dibuat dari serat kulit kayu yang dianyam menyerupai karung. juga untuk membawa babi. Yokal melambangkan wanita pemakainya sudah tidak gadis lagi atau wanita yang telah menikah. Sedemikian besar fungsinya. Oleh karena itu aksesori yang digunakan mengandung makna simbolik sekaligus menunjukkan identitas pemakai maupun masyarakatnya. gelang anyaman rotan yang dipakai pada lengan maupun pergelangan tangan. gendongan bayi. Benda laut ini didatangkan ke daerah pegunungan melalui sistem barter. mengasuh anak. dikenakan pada lengan maupun pergelangan tangan. Sali dipakai dengan cara melilitkannya ke seputar pinggang dan menyimpulkan kedua ujung tali penahannya pada bagian perut (pusar). . Perlengkapan merias diri kaum lelaki masyarakat Dani yang dikenakan saat upacara dan aktivitas sehari-hari lainnya. seperti mengerjakan kebun. yang melambangkan kemahiran berburu dan keberanian. Cipat. Pekerjaan ini biasanya dilakukan wanita dewasa. topi dari bulu kuskus warna hitam. ke sekolah. kalung berupa tali penangkal guna-guna. Ngisi mengisyaratkan pemuda yang telah siap untuk menikah. setelah kering dianyam pada seutas tali sepanjang seputar pinggang. Konon. Diwarnai dengan getah kulit atau bunga anggrek. diambil seratnya kemudian dikeringkan pada perapian atau dijemur pada panas matahari. bepergian. Siluki inon. Dibuat berupa untaian sebagai kalung. semacam "baju besi" dibuat dari serat rotan yang dianyam rapat sehingga berfungsi sebagai perisai dari tusukan anak panah dan tombak. sejenis topi berbentuk bulat dibuat dari bulu burung. termasuk saat mengikuti upacara adat. senjata ampuh pria sejati Dani. Walimo yaitu hiasan dada. Pada tubuh para lelaki nampak lebih banyak aksesori ketimbang yang dikenakan para perempuan. karena para lelakilah yang lebih kerap tampil ketika harus berinteraksi dengan masyarakat di luar kelompoknya. berderet-deret dan disusun rapi. sehingga seorang wanita Dani biasanya membawa beberapa noken dengan isi yang berlainan. Ngisi adalah rambut yang dianyam rapi dan dilumuri dengan lemak babi. Yokal biasanya dikenakan oleh wanita dewasa yang sudah menikah. menyiapkan makanan. noken berfungsi untuk menyimpan dan mengangkut bahan makanan.didapat dari getah kulit atau bunga anggrek. Sali dipakai sehari-hari oleh anak gadis. Sekan. Pada sepenuh permukaan walimo ditempelkan. Wam maik adalah aksesori dengan bahan taring babi. misalnya saat ke ladang. memelihara babi. Wali moken sebutan untuk kulit kerang yang diikat hingga seolah menempel pada dahi seorang laki-laki. Wayeske. sehari-hari atau saat upacara adat. dibuat dari anyaman serat kulit kayu yang ketika dikenakan akan nampak seperti dasi. Seperti proses membuat yokal. Kulit kayu tersebut dikelupas dari batangnya. Mul. Sali mengisyaratkan pemakainya Tata Rias Masyarakat Dani Yang lebih banyak merias diri pada masyarakat Dani adalah kaum laki-laki. Sali Pakaian sehari-hari anak gadis masyarakat Dani adalah sali yang dibuat dari bahan serat kem atau dari sejenis daun pandan. Selanjutnya dipintal dan dirajut menjadi rok. Selain sebagai aksesori. antara lain: swesi. antara lain: sekan yaitu gelang yang dibuat dari rotan. Aksesori yang dikenakan para wanita Dani. Yokal digunakan sehari-hari untuk melakukan pelbagai pekerjaan. Sege adalah tombak panjang yang melambangkan pria sejati. menjual hasil pertanian. Noken juga dipercaya sebagai simbol kehidupan dan kesuburan. Akseori ini biasanya warisan turun-temurun dari nenek moyang.

Ketika menginginkan rambutnya nampak lurus. Sedangkan kaum perempuannya memakai tok. Rambut orang Asmat pada umumnya keriting atau bergelombang. bulu bangau yang diikatkan pada . Laki-laki Asmat biasanya memakai pummi semacam rok mini yang dibuat dari anyaman daun sagu. Tok adalah pummi yang rumbai-rumbai bagian depannya dikumpulkan lalu ditarik ke bagian belakang pinggul melalui celah paha sehingga menyerupai cawat. wanita Asmat membuat semacam kutang dari anyaman daun sagu muda yang disebut peni atau samsur. Marind. Atsy. dan Mimika. Sawa Erma. Sejauh ini yang ditemukan hanya yang berupa "rok mini" dan cawat sebagai penutup aurat kaum lelaki dan perempuan. Menjalin rambut ini disebut wi atau owusapor dan biasanya dilakukan pria remaja. Untuk menutup payudara. mereka menjalinnya hingga bisa "berdiri". Jenis atau ragam busana Asmat tidaklah banyak. semakin banyak ragam rias yang dikenakannya. dahulu. Asmat. bahkan di kawasan propinsi Irian Jaya. Rumbai-rumbai pummi dilepas begitu saja hingga terurai di sekeliling pinggul dan paha. masyarakat Asmat merancang dan mengembangkan berbagai jenis busana dan tata rias untuk dipakai seharihari maupun untuk keperluan upacara adat. Tali pengikatnya dibuat dari akar pandan.Busana Tradisional Asmat Asmat Traditional Asmat Wilayah pantai (Selatan) Irian Jaya didiami sukubangsa Muyu. dan Pantai Kasuari. Busana dan tata rias yang dikenakan juga menunjukkan status sosial maupun jenis kelamin. semacam cawat atau celana dalam. Seperti halnya sukusuku bangsa lainnya. dan masing-masing aksesori itu memiliki makna simbolik. Dan peni. Semakin tinggi status sosial seseorang. hanya dipakai oleh istri panglima perang. Mereka bermukim di daerah rawa yang sangat luas. disebut tali bow. ikat pinggang dari anyaman rotan. Pada rambut diselipkan hiasan yang disebut sokmet. Daerah persebarannya meliputi Kecamatan Agats. Suku bangsa Asmat adalah suku bangsa terbesar di antara suku-suku bangsa lainnya di bagian selatan Irian. Penahan pummi adalah asenem.

dan kepala-kepala tungku (kepala keluarga luas). Topi ini disebut kasuomer dan kerap dihiasi bitwan (kulit kerang). terutama istri panglima perang dan para tetua adat. melubangi cuping tengah hidung mereka dan "menyumpalnya" dengan aksesori berupa benda yang terkadang berukuran lebih besar daripada lubang hidung. tapi sekarang dipakai juga oleh para tetua adat. Sedangkan yang dipakai pada pangkal lutut dinamakan barok. Noken dibuat dari anyaman daun pandan dan pada salah satu sisinya diberi hiasan bulu sayap burung kakak tua atau bulu sayap burung bangau. tanpa membedakan status sosial. biasanya diimbuh hiasan beberapa tangkai sokmet. Masyarakat Asmat juga menciptakan semacam topi berbentuk kopiyah/peci/songkok yang terbuka bagian atasnya yang dibuat dari bulu kuskus. terutama kaum lelaki. Wanita yang mengenakan benda ini adalah istri dari orang yang gemar berburu babi hutan. dan diberi hiasan bulu burung kakatua atau burung bangau yang disebut panicep solme. menggunakan gulungan daun sagu atau daun nipah yang disebut bi awok sebagai penghias hidung mereka. Hingga sekarang. panjangnya kira-kira 30 cm. dan biasanya disandang oleh panglima perang. kalung. pemukul tifa. penyanyi. panah. biasanya dipakai oleh panglima perang. konon. Ada pula o effo yakni ekor babi hutan yang dililitkan di bagian pangkal tangan. Sebagai masyarakat peramu yang hidup dari berburu. pemimpin tungku (keluarga luas). pergelangan tangan. Aksesori lainnya yang sangat khas adalah subang penghias telinga. disebut wisaper. Masyarakat Asmat. pun kebanyakan masyarakat asli Irian Jaya. pemukul tifa. Yang dikenakan pada pergelangan tangan. yang dibuat dari biji tumbuhan tisen. dari bahan yang sama. sokmet masih dipakai pria Asmat. sangat mengagumi burung kakatua raja lantaran satwa ini nampak elok dan gagah. Dulunya barok hanya dipakai oleh panglima perang. aksesori yang dibuat dari kulit siput/ kerang yang dibentuk mirip bulan sabit atau ada juga yang menyerupai misai panjang gergulung. juwursis merupakan benda yang bernilai tinggi. terutama saat melaksanakan upacara adat. Subang penghias telinga disebut jemcankan yang dibuat dari kayu fum atau dari semacam manik-manik biji tumbuhan dek atau omdu atau tisen. agar ujung hidung tertarik sehingga mancung dan melengkung seperti paruh kakatua raja. Maka untuk bisa tampil segagah burung yang elok itu mereka. Topi ini disebut juprew. untaian gigi taring anjing yang dikombinasikan dengan taring babi hutan. disebut betan. Sof betan atau sinenke adalah gelang untuk pangkal lengan dari anyaman rotan. Senjata yang hampir selalu disandang sebagai aksesori pada pelbagai upacara adat ialah pisuwe. Kaum wanita Asmat. Ekor babi untuk o effo harus berasal dari babi hutan yang terkena perangkap (siso). dan pemukul tifa. . Atau pomak camkan yang dibuat dari anyaman daun sagu muda yang biasa dipakai saat pesta ulat sagu dan upacara patung mbis (patung leluhur). dan pangkal betis. terutama ketika mereka berada di dalam jew (rumah panjang). kaum wanita dan lelaki Asmat memakai tisen pe. dan penyanyi pengiring upacara. Ada juga penutup kepala yang dibuat dari anyaman daun sagu dan akar kayu. Kalung lainnya adalah juwursis (juwur = anjing). masyarakat Asmat. Sedangkan para lelaki memakai bipane. bukan hasil buruan dengan bantuan anjing atau tombak. dan gelang yang dipakai pada lengan. sehingga seringkali digunakan sebagai mas kawin seperti halnya kapak batu. Juwursis biasanya dipakai oleh panglima perang.lidi. 0 effo juga dipakai sebagai cerminan perasaan sukacita. Begitu pentingnya fungsi senjata-bagi lelaki Asmat sehingga bukan hanya dipakai sebagai peralatan berburu belaka tapi juga sebagai alat pelengkap penampilan agar nampak berwibawa. Noken yang polos tanpa hiasan dipakai oleh wanita dan laki-laki kebanyakan sedangkan yang dibubuhi hiasan. Bipane biasanya dipakai oleh panglima perang. Sebagai kalung. dituntut untuk mahir menggunakan senjata: pisau. Benda pakai yang juga kerap dijadikan pelengkap penampilan adalah noken. semacam pisau belati dibuat dari tulang kering burung kasuari yang salah satu ujungnya diruncingkan dan pangkalnya dihias oleh bulu-bulu halus burung kasuari. Tali penahan agar kasuomer tidak jatuh dibuat dari jalinan daun sagu muda. yang supaya nampak indah dihias bulu burung cendrawasih (jabopan). kepala adat. Pada kebudayaan Asmat. dan tombak. sejenis tas yang disandang di leher laki-laki atau di kening perempuan. penyanyi. subang penghias hidung. sehingga bila saat berduka benda ini tidak ditampilkan. Senjata ini diselipkan pada sinenke.

yang dari besi dikenal sebagai sok. sedangkan warna hijau dari dedaunan. melainkan sudah menjadi seragam tetap beberapa sekolah dan pakaian dinas pemerintah daerah setempat. Komposisi warna merah. kemudian ditumbuk hingga halus dan dicampur dengan air. Dan. saat ini para pengrajin tak hanya menuliskan huruf kaligrafi. Anak panahnya agak beragam. Tombak kayu besi dinamai viwu. dan motif rembulan serta bunga rafflesia. Ada juga jenis tombak khusus untuk berburu buaya. . yang tak boleh dilupakan adalah wasse mbi. panjangnya sekitar 1. Masyarakat Asmat mengenal beberapa jenis tombak dan masingmasing dinamai sesuai dengan bahannya. Warna putih didapat dengan cara membakar kulit siput.5 meter. sowen. Tombak yang pertama kali digunakan dibuat dari kayu nibung yang dinamai ocan atau kamen. yakni rias tubuh berupa gambar corak hias garis sejajar atau liris yang sangat ekspresif di sekujur tubuh terutama saat melaksanakan upacara adat. Namun juga mengombinasikan beberapa motif. Hingga kini batik Besurek tidak hanya digunakan oleh kalangan bangsawan saat upacara adat saja. yang dibuat dari kayu keras disebut fir. Busurnya dibuat dari jenis kayu bakau. seperti relung kua yang bergambar burung. dan hijau tampil kuat pada latar kulit yang hitam berkilat. Batik Besurek sudah menjadi salah satu kerajinan tangan khas Kota Bengkulu. Penulis Aat Soeratin. relung paku yang meliuk liuk seperti tanaman pakis. dan tombak logam besi disebut frin. Kemudian panah yang disebut ces atau jimar. ternyata Provinsi Bengkulu juga memiliki kerajinan tradisional batik yang cukup mumpuni yaitu Besurek. Konon. putih. Warna hitam dari arang pembakaran. hitam. Agar lebih variatif. disebut vom.Senjata lainnya adalah tombak. batik besurek diperkenalkan para pedagang Arab dan pekerja asal India pada abad XVII. fum. Pada hakekatnya besurek memiliki arti bersurat atau tulisan yang tradisinya sudah diwariskan secara turun temurun. Disebut demikian karena motifnya bertuliskan kaligrafi Arab. Jonny Purba Busana tradisional Bengkulu Tidak hanya terkenal di pulau Jawa saja. dari bambu dinamai firokom. Warna merah berasal dari tanah merah yang diperoleh dari pegunungan Lorentz.

Kalung 10. Baju pengantin perempuan menurut keterangan orang tua-tua berasal dari negeri Cina.Busana Tradisional Pangkalpinang Pakaian adat pengantin Kota Pangkalpinang untuk perempuan adalah baju kurung merah yang biasanya terbuat dari bahan sutra atau beludru yang jaman dulu disebut baju Seting dan kain yang dipakai adalah kain bersusur atau kain lasem atau disebut juga kain cual yang merupakan kain tenun asli dari Mentok. konon menurut cerita ada saudagar dari Arab yang datang ke negeri Cina untuk berdagang sambil menyiarkan agama Islam dan jatuh cinta dengan seorang gadis Cina kemudian melangsungkan perkawinan dengan gadis Cina tersebut. Gelang 12. Anting panjang 11. Pada kepalanya memakai mahkota yang dinamakan “Paksian”. Kembang cempaka 2. Tutup sanggul atau kembang hong 9. Pagar tenggalung 7. Pakaian pengantin tersebut pada akhirnya kita sebut dengan nama “Paksian”. dengan hiasan kepala yang biasa kita sebut Paksian dan dilengkapi dengan asesoris : 1. Sari bulan 8. Bagi mempelai laki-laki memakai “Sorban” atau disebut “Sungkon”. pada perkawinan inilah mereka memakai pakaian adat masing-masing. Pakaian tersebut terdiri dari : * Pakaian Pengantin Perempuan * Pakaian Pengantin Laki-laki * Tata Rias dan Hiasan Pakaian Pengantin Perempuan: Pakaian pengantin perempuan adalah baju kurung dengan bahan beludru merah yang dilengkapi dengan teratai atau penutup dada serta menggunakan kain cual yaitu kain tenun asli Bangka yang berasal dari Mentok. Kembang goyang 3. Pending untuk pinggang . Daun bambu 4. Sepit udang 6. Kuntum cempaka 5. Selanjutnya karena banyaknya orang-orang Cina dan Arab yang datang merantau ke pulau Bangka terutama ke Kota Mentok yang merupakan pusat pemerintahan pada waktu itu diantaranya ada yang melakukan perkawinan maka banyaklah penduduk pulau Bangka yang meniru pakaian tersebut.

Melayu Bengkalis Riau. Pakaian adat Kepulauan Riau memiliki variasi pakaian adat. melati. 4. 3. pakaian yang dipakai berupa baju kurung. Melayu Siak Riau dan lain-lain. Selain itu.Baju pengantin perempuan ditambah dengan hiasan payet atau manik-manik dan dilengkapi dengan hiasan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan). pakaian adat Riau terdiri dari busana Melayu. Untuk perempuan. 2. Untuk pakaian pria. baju yang dipakai adalah baju Melayu berupa atasan yang disebut Teluk Belanga. busana ini terdiri celana. Busana Tradisional Kepulauan Riau Pakaian adat merupakan salah satu ciri budaya suatu daerah dan setiap daerah tentunya memiliki pakaian adat yang beragam. Jubah panjang sebatas betis Selempang yang dipakai pada bahu sebelah kanan Celana Penutup kepala seperti sorban (sungkon) Pending Selop / Sendal Arab Pakaian pengantin laki-laki ini berwarna merah dan biasanya dari bahan beludru dengan hiasan manik-manik dan sama dengan pengantin perempuan dilengkapi dengan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan). seperti pakaian adat Kepulauan Riau. 2. Pada zaman dahulu yang dipakai adalah sanggul cumpok atau cepul. dan songkok atau penutup kepala. Hiasan Dahi: Hiasan DahiMemakai penutup dahi yang diberi nama “Paksian” dan di dahi dipasang Saribulan. kenanga dan irisan daun pandan. 5. Pagar Tanggalung dan Sepit Udang pada samping kiri kanan telinga (Godeg). Sebagai salah satu daerah yang kental dengan budaya Melayu. Variasi pakaian adat Riau diantaranya. Tata Rias dan Hiasan: 1. kain dan . Pakaian Pengantin Laki-laki: Adapun untuk pakaian pengantin laki-laki terdiri dari : 1. 6. pakaian adat Indragiri. Kain sampin biasanya meiliki warna dan corak yang sama dengan baju atasannya. Bentuk Sanggul: Konde tilang yang terbuat dari gulungan daun pandan atau lipatan daun pandan yang diisi dengan bunga rampai yang terdiri dari mawar. kain sampin. Pakaian adat ini disebut dengan baju Melayu teluk belanga.

Busana Tradisional Yogyakarta Dalam hal berpakaian masyarakat Yogyakarta membedakan antara yang dikenakan kaum pria dan kaum wanita. hijau. Ia juga mengenakan kain batik yang mempunyai motif sama dengan yang dipakai wanitanya. sarung berwarna kuning. serta dilengkapi dengan sebilah keris yang terselip dipinggang. Pakaiannya yang tertutup mencerminkan makna. Tradisi melayu Riau memang bersumber dari nilai-nilai Islam. . Variasi pakaian adat Riau membedakan pula waktu pemakaiannya. baju tangan pendek dengan leher baju terbuka. Sebagai pelengkap dikenakan hiasan berupa kalung susun (geno kambora). Sedangkan kaum wanita mengenakan pakaian yang disebut 'patimah lola' berupa baju 'gamba' yang panjangnya sampai di pinggul. Pada umumnya kaum pria mengenakan pakaian adat yang terdiri dari: ikat kepala (siga) yang dihias dengan manik-manik. dikenakan ikat pinggang (pending) terbuat dari besi kuningan. Selain itu agar pakaian tampak pas di tubuh. sarung yang dikenakan sampai menutup kaki. Busana yang disebut dengan istilah baju Melayu Gunting Cina dipakai saat tidak resmi atau saat dirumah. Selendang dipakai dengan disampirkan dibahu. dengan leher baju berbentuk bulat. serta ikat kepala yang disebut 'dadasa'. pakaian haruslah menutup aurat. busana yang disebut dengan istilah baju Melayu Cekak Musang dipakai saat acara keluarga.selendang. yang disekelilingnya dihias dengan benang emas. Busana Melayu Riau ini identik dengan nilai-nilai Islam. masyarakat Sulawesi Tengah memiliki seperangkat pakaian adat yang dibuat dari kulit kayu 'ivo' (sejenis pohon beringin) yang halus dan tinggi mutunya. celana panjang warna gelap yang juga dihias dengan benang emas. Pakaian adat ini dibedakan untuk kaum pria dan wanita. gelang (pontade) dan anting-anting (dali). selain berfungsi melindungi tubuh dari cuaca. Busana Tradisional Sulawesi Tengah Secara tradisional. baju jas dengan leher tertutup (jas tutup) dan keris yang terselip di pinggang. merah atau biru dengan motif 'subi' atau 'bomba'. Pakaian adat yang dikenakan oleh kaum pria terdiri atas tutup kepala (destar).

sarung sebatas dengkul. Pakaian adat kaum pria biasanya berupa mahkota. kain selempang dan sarung. kalung dan gelang. Sedangkan pakaian yang di kenakan oleh kaum wanita mirip dengan yang dikenakan oleh kaum pria yaitu mahkota serta kalung bersusun. gelang di kedua belah tangan dan songket yang melingkar di bagian tengah badan. Sedangkan untuk kaum wanitanya berupa baju kebaya. . Perhiasan lain yang dikenakan biasanya berupa anting-anting dan cincin. Busana Tradisional Sumatera Selatan Masyarakat daerah Sumatera Selatan secara tradisional membagi pakaian adat mejadi dua macam. diletakkan ditengah-tengah sanggul. dan celana panjang. pending. Sebagai hiasan kepala digunakan kembang serta perhiasan antara lain berupa antinganting. Busana Tradisional Sulawesi Tenggara Pakaian adat yang bias digunakan oleh orang Kendari untuk pria biasanya berupa tutup kepala (destar). kalung bersusun dengan baju khas dengan memakai celana panjang dan kain songket pada bagian tengah badan. yaitu pakaian kaum laki-laki dan kaum wanita.Sedangkan pakaian kaum wanitanya terdiri atas kebaya dan kain batik dengan rambut yang disanggul dan diberi hiasan konde. baju model jas tertutup.

serta merupakan pakaian yang dianggap baik. adalah pakaian sesehari kaum wanita. Alas kaki yang dipakai disebut Canela dimana bagian depannya melingkar keatas. Nona rok adalah sejenis pakaian wanita yang dulunya dipakai oleh kalangan atas. Baju Cele Kain Salele. 5. 4. kalung. Pakaian ini kebanyakan dibuat dari tenunan tradisional Tanimbar dikombinasi dengan kain satin putih. 2. pakaian nelayan serta pakaian sesehari lainnya yang tidak disebut satu persatu. pakaian ini juga sering dipakai oleh kalangan menengah kebawah seperti mereka yang berjualan di pasar dan lain sebagainya. Pakaian ini bercirikan Islam. pesta. Biasanya dipakai untuk upacara dan hari besar lainnya. • • • . acara resmi lainnya. 3. Selain pakaian-pakaian tersebut diatas. Pakaian pengantin Maluku Tengah disebut baju Pono atau dapat juga disebut Mistisa. serta emas perak yang kesemuanyaterbuat dari gading atau kerang laut. atau dipakai oleh anak-anak keturunan raja. juga sudah merupakan pakaian konsumsi sesehari masyarakat Maluku. 6. Pakain ini kelihatan lebih anggun berwarna merah menyala dihiasi manic-manik serta kombinasi kebaya cele putih. Pakaian-pakaian pengantin: Pakaian pengantin Maluku Utara disebut pakaian Koci-koci. Pakaian ini sudah menjadi pakaian nasional untuk seluruh masyarakat Maluku. ada juga pakaian untuk ke gereja yang disebut pakaian Itang.Busana Tradisional Maluku Utara Pakaian daerah Maluku dilihat dari segi motif dan cara memakainya cukup sederhana. Kain kebaya merah adalah jenis pakaian daerah lain yang menjadi pakaian sesehari gadis dan ibu-ibu di desa. melayu. warnanya juga antara hijau dan kuning. Pakain pengantin ini mirip dengan pakaian pengantin Donggala. Baniang dan kebaya dansa adalah pakaian sesehari untuk kaum pria. Hiasan yang dipakai untuk menambah anggunnya pakaian ini adalah gelang. Sekarang sudah merupakan pakaian yang dimodifikasi dan dipakai sebagai pakaian untuk pakaian upacara adat. biasanya dipakai untuk acara pesta atau acara besar lainnya. hal ini tergambar dari beberapa contoh pakaian daerah dibawah ini: 1. Pakaian pengantin Maluku Tenggara disebut sanikir. Pakaian petani.

dimana dan oleh siapa pakaian tersebut dapat digunakan. Warna Batik Banten cenderung meriah namun tetap terasa hangat dipandang dan lembut di mata. Selain itu. Untuk mempermudah penyebutan nama-nama motif batik dan gampang diingat. termasuk Banten ketika masih belum terpisah. Batik Banten juga memiliki motif yang menjadi ciri khas.Busana Tradisional Banten Baju pangsi dan celana komprang menjadi salah satu busana tradisional di Banten. dan pada zaman dulu komprang biasa dikenakan masyarakat Sunda setiap harinya. Menurut keterangan warga setempat. mengenakan pangsi dan komprang dengan menambahkan sarung yang dikalungkan di bahu. Hal inilah yang mengubah warna motif meriah berubah lembut pada saat proses pencelupan. Sebagian penggembala kerbau misalnya. ataupun nama lokasi seluruh lapisan warga keraton berada semasa kesultanan yang ada di Banten lama. Busana Tradisional Kalimantan Selatan Suku bangsa Banjar mengenal berbagai jenis pakaian tradisional menurut fungsi. Namun tidak hanya di Provinsi Banten saja. Sebagaimana batik kebanyakan. baju pangsi biasa digunakan masyarakat Sunda ketika berlatih pencak silat. Sedangkan masyarakat Sunda lain mengikat sarung pada bagian pinggangnya. ruangan. dan karakter kuat. . Perpaduan ini ternyata sangatlah erat kaitannya dengan pengaruh air di bawah tanah. Cara menggunakan pakaian itu bermacam-macam. Pada pakaian-pakaian tertentu makna simbolis dari motif ragam hias dan perhiasan yang melengkapi menentukan kapan. maka dipilihlah nama yang diambil dari bangunan. tetapi dipakai di seluruh Provinsi itu. pengambilan nama motif juga ada yang berasal dari nama gelar kesultanan. jenis dan pemakaiannya. namun tetap menjunjung tinggi sikap kemudahan hati. Banten ternyata memiliki busana khas dengan pola Batik. Konon warna tersebut memang sesuai dengan watak masyarakat Banten yang penuh dengan harapan. Selain celana komprang dan baju pangsi. Komprang tidak berasal dari daerah tertentu di Jawa Barat. pakaian tradisional tersebut juga merupakan salah satu pakaian khas dari Jawa Barat. semangat. Batik Banten mempunyai padu padan warna.

Untuk tapih ini biasanya didatangkan dari pekalongan. Dikenakan pula kain samping . jangka pendek tak dapat singkat. Biasa disebut saluak batimba (seluk bertimba) terbuat dari kain batik. Di bagian bawah baju diberi sulaman dengan mempergunakan benang emas atau air guci. Jenis pakaian ini bermacammacam. Umumnya dipakai celana (sarawa) lapang warna hitam. Kerutan-kerutan tersebut melambangkan aturan hidup orang Minangkabau yang diungkapkan melalui pepatah berjenjang naik bertangga turun. adalah kemeja bertangan panjang dengan leher baju bulat dan sedikit kerah keras mencuat ke atas. yang digelari datuk oleh masyarakat memegang peranan penting sebagai pemimpin kaumnya dan berhak mengatur sanak keluarga yang terhimpun dalam kaumnya. Bagian depan terbelah dan diberi kancing. celana hitam lebar. merupakan pakaian sehari-hari yang biasa dikenakan pada seorang bayi. Hal ini melambangkan keterbukaan dan kelapangan dada seorang pemimpin yang tidak suka mengunting dalam lipatan. yang menjadi pakaian sehari-hari kaum pria. adalah baju yang dipakai anak-anak kecil sehari-hari. namun secara umum terdiri dari destar. Umumnya tiap ornament disulamkan dalam hitungan ganjil. Pasangan baju kubaya ini adalah tapih atau sarung. jangko singkek tak dapek panjang. yang penggunaannya hampir selalu dikaitkan dengan fungsi sosial tertentu. Salawar panjang ini biasanya digunakan sebagai pasangan baju taluk balanga. Untuk wanita dewasa biasanya digunakan kubaya basawiwi (basujab). keris. sesamping. Penggunaan baju kubaya juga dilengkapi dengan tutup kepala berupa kakamban (serudung) yang dibuat dari kain sutra atau sejenisnya yang tembus pandang. belah sampai ke dada tanpa kancing. walaupun lapang dibatasi oleh ukua (ukur) dan jangko (jangka) diwujudkan melalui sulaman benang emas pada pinggirnya (minsai). Apalagi kalau orang itu memegang peranan penting dalam masyarakatnya. Salawar. seperti penghulu dan bundo kanduang. Kemudian dikenakan baju lengan hitam longgar (besar lengan) dengan leher lepas tidak berkatuk. seperangkat kain yang membungkus tubuhnya bukan saja berfungsi melindungi tubuh tetapi mengandung makna-makna simbolis yang harus dipegang teguh. Dalam pepatah dinyatakan ukua panjang tak buliah singkek. Masyarakat juga mengenal adanya salawar panjang atau celana panjang semata kaki yang tidak berkantong. Oleh karena itu ia memiliki pakaian kebesaran. Celana lapang ini melambangkan kesiagaan. yang di beberapa masyarakat lain dikenal dengan ‘baju kodok’ ini dapat digunakan oleh anak laki-laki maupun anak wanita. dan tongkat. Jenis lainnya yang juga disukai adalah kubaya barenda. Pakaian kebesaran ini juga disebut pakaian adat.• • • • • Lampin. Sebagai pakaian sehari-hari baju taluk balanga ini dilengkapi dengan tutup kepala berupa kopiah beludru hitam atau kopiah jangang. Biasanya pakaian ini digunakan oleh kaum pria baik yang berusia remaja maupun pria dewasa. Pada masa lalu. Model baju. Masing-masing daerah adat di Minangkabau memiliki variasi yang berbeda. Pakaian Panghulu Seorang panghulu atau ninik mamak. pakaian sehari-hari ini digunakan oleh para wanita. baju hitam longgar. Bagi masyarakat Banjar pada umumnya bilangan ganjil mengandung makna kebai Busana Tradisional Minangkabau Minangkabau Traditional Dress Masyarakat Minangkabau mengenal berbagai jenis busana tradisional. lampin dibuat dari tapih (sarung) atau bahalai (kain sarung) yang dipotong menjadi beberapa bagian dengan bentuk segi empat panjang. Baju Taluk Balanga. kain sandang. terdiri dari destar sebagai penutup kepala. Baju Kurung Basisit: Adalah jenis pakaian lain yang biasanya digunakan oleh kaum wanita jika bepergian. Termasuk menghadiri suatu upacara adat. Baju Kubaya. artinya ukur panjang tak dapat singkat. Bagian muka saluak ditata berkerut-kerut berjenjang dengan bagian atas datar.

Seorang bundo kandung mengenakan tengkuluk tanduk atau tengkuluk ikek sebagai penutup kepala. Di bahu kanannya berselempang ke rusuk kiri kain balapak. seperi kalung. yang juga disebut kain sarung dapat berupa kain songket. sarung bugis ataupun kain pelekat. Juga melambangkan bahwa tiap-tiap keputusan yang telah dibuat harus ditegakkan penuh wibawa. Kaum prianya. masing-masing daerah adat di Minangkabau memiliki variasinya masing-masing. anting-anting serta cincin. Sarung ini berfungsi religius bagi pemakainya. sebagi simbol meletakkan sesuatu pada tempatnya seperti pepatah memakan habis-habis. dan kalung kaban. baju kurung. Sebagai alas kaki dikenakan selop dari beludru. Pinggangnya dililit cawek (ikat pinggang) dari sutra berjumbai (bajambua alai). Keris dengan posisi miring ke kiri terselip di perut melambangkan keberanian tanpa bermaksud menghadang musuh melainkan untuk menjadi hakim. Tidak semua wanita dapat menjadi bundo kandungan. Tangannya dihiasi gelang gadang (besar). khususnya yang telah berumur dalam kesehariannya mengenakan baju kurung ke luar. Bahunya berselempang kain sandang atau kain kaciak dari kain cindai sebagai lambang kebesaran seorang penghulu (ninik mamak). Perhiasan yang dikenakan adalah subang atau anting-anting dari emas. Kalung dari beberapa macam.(sesamping) yang melilit pinggang di atas lutut dengan sudutnya seperti niru tergantung. menyuruk (bersembunyi) hilang-hilang. yaitu kalung kuda. Pakaian Bundo Kanduang Seorang wanita yang telah diangkat menjadi bundo kanduang (bunda kandung) memegang peranan penting dalam kaumnya. kata-katanya didengar. kain sarung. Ragi benang emas yang menghiasinya disebut cukia menandakan bahwa pemakainya memiliki pengetahuan yang cukup di bidangnya. Tetapi umumnya kelengkapan pakaian bundo kanduang terdiri dari tengkuluk. baju putih model gunting cina dan peci/kopiah. Bentuknya seperti tanduk kerbau dengan kedua ujung runcing berumbai dari emas atau loyang sepuhan. pergi tempat bertanya dan pulang tempat berita. Seperti juga pada pakaian penghulu. Dimaksudkan supaya kokoh luar dan dalam. Model gunting cina merupakan model pakaian longgar menujukkan pakaian sehari-hari. Khusus pada pakaian penghulu. merah. Pinggirnya dihias minsai sebagai lambang demokrasi tetapi dalam batas-batas yang patut. artinya tempat atau pemegang harta pusaka kaumnya. dan berhiaskan anting-anting serta kalung. Baju kurungnya berwarna hitam. Penutup badan bawah digunakan kain sarung (kodek) balapak bersulam emas. Pemakaian samping seperti niru tergantung ini melambangkan kehati-hatian pemakai dalam segala tindak-tanduknya dalam masuarakat. sementara selendang tersampir di bahu. Lambak atau kodek. Ia juga merupakan peti ambon puruak . Biasanya masih ditambah dengan tongkat untuk berjalan di malam hari atau berdiri lama. Oleh karena itu memiliki pakaian adat yang berbeda dengan wanita lainnya. bila ada sulaman menandakan kerajinan anak kemenakan yang mempergunakan waktu sebaik- . kalung pinyaram. Pakaian sehari-hari Para wanita. kain selempang. Sesamping ini dipakai terutama saat bepergian dan kebanyakan dipilih warna merah sebagai lambang keberanian serta tanggungjawab. Pemakaian gelang melambangkan bahwa semua yang dikerjakan harus dalam batas-batas kemampuan. Ia haruslah orang yang arif bijaksana. Variasi lain dikenakan tengkuluk. melambangkan tanggungjawab yang harus dipikul oleh bundo kanduang untuk melanjutkan keturunan. batik. Pilihan warna putih pada baju melambangkan kebersihan dan kemurnian para pemakainya. dan selendang pendek. untuk mengingatkan bahwa penghulu punya penongkat atau pembantu dalam menjalankan jabatannya. sehari-hari mengenakan celana batik tanpa pisak. biru atau lembayung ditaburi dengan benang emas. Tutup kepalanya dari selendang pendek dengan ujung tergerai ke belakang. Baju kurung ke luar lengannya panjang dan dalamnya sampai di bawah lutut terbuat dari berbagai jenis bahan sesuai kemampauan. Pada hakekatnya tongkat adalah komando anak kemenakan. gelang bapahek dan gelang ular. Pemakaian tengkuluk ini melambangkan bahwa perempuan sebagai pemilik rumah gadang. kalung gadang. Bahannya berasal dari kain balapak tenunan Pandai Sikat Padang Panjang . Kadang-kadang juga dilengkapi dengan pemakaian beberapa perhiasan. lambak/kodek atau kain sarung.

tidak terpengaruh oleh Hinduisme. perikehidupan serta ungkapan budaya material masyarakat Mentawai patut dikemukakan sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia yang unik.baiknya. yang pada saat waktu sholat dapat digunakan semestinya. perikehidupan serta ungkapan budayanya. Hal ini antara lain tampak pada banyaknya hiasan floral yang dikenakan. Sebagai pelengkap dibahunya tersampir kain bugis (bugih). pimpinan atau anak buah. Pembedaan busana lebih ditentukan pada kejadian. disebut sokgumai. Islam dan Barat. Budisme. Selain itu busana juga mengungkapkan ciri-ciri kedekatan penyandangnya dengan alam lingkungan yang tropis. Sampai dengan ± 50 tahun yang lalu masyarakat Mentawai masih hidup dalam kebudayaan neolitik berikut segenap tata cara adat istiadat. Walaupun dewasa ini sudah semakin jarang dijumpai. peristiwa. terbuat dari kulit kayu pohon baguk dan sebut kabit. upacara yang dalam hal ini adalah upacara khusus tentang penghormatan arwah (punen). Salah satu kelengkapan busana suku Mentawai. binatang atau manusia memiliki roh. Pemakaian peci oleh penghulu masih dibalut dengan destar hitam yang mempunyai kerutan-kerutan. Pagai Utara dan Pagai Selatan. Tidak ketinggalan tongkat "manau sonsang" ikut melengkapi pakaian yang dikenakan oleh penghulu. Kaum wanita memakai sejenis rok yang terbuat dari dedaunan pisang yang diolah secara khusus dan dililitkan kepinggang untuk menutupi aurat. Sebagian besar dari mereka menganut kepercayaan animistik dimana setiap benda apakah itu batu. bertanggan naik. yang khususnya dipakai kaum pria adalah cawat. yang terdiri dari pulau-pulau Siberut. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" Penulis : Dewi Indrawati/Biranul Anas Busana Tradisional Mentawai Mentawai Traditional Dress Penulis : Biranul Anas Suku bangsa Mentawai mendiami rangkaian kepulauan Mentawai. berhutan lebat berikut keaneka ragaman floranya. Lelaki muda lebih suka mengenakan peci dari bahan beludru warna hitam sebagai penutup kepala. dalam tatanan masyarakat tidak ada strata-strata sosial. Selain kabit dan sokgumai. Destar dengan kerutan ini melambangkan aturan adat berjenjang turun. Tatabusana masyarakat asli Mentawai mencerminkan azasazas egaliter. bermakna seseorang tidak boleh menurut kehendak sendiri. lepas pantai propinsi Sumatera Barat. orang-orang Mentawai dapat dikatakan tidak menggunakan apa-apa lagi yang benar- . Sipora. penutup aurat.

Sedangkan gelang manik pangkal lengan disebut lekkeu. kedewasaan dan keperkasaan bagi kaun pria. suatu kegiatan perdukunan. Kalung manik-manik yang sangat impresif yaitu ngaleu menghiasi leher dalam jumlah yang dapat mencapai puluhan. dada. Aspek yang terpenting dan amat berarti dalam tatacara busana serta rias tubuh adalah tato (cacah). biasanya merah. ogok. dianggap abadi dan dipakai serta dikenakan hingga ajal. Proses tato dilaksanakan pada tahap-tahap tertentu dalam umur manusia. Kedua pergelangan tangan juga dihiasi dengan gelang-gelang manik-manik. Lalu disusul dengan tangan. Tato adalah busana kebanggaan. ikat pinggang dari lilitan kain polos. kuning. terbuat dari gelas berwarna merah. sejenis kain penutup aurat bercorak dibagian depan kabit. botol kecil tempat ramuan obat-obatan. rakgok.benar menutup tubuhnya selain aneka perhiasan serta dekorasi tubuh yang terbuat dari untaian manik-manik. Busana kerei ini selain terdiri atas kabit dan sorat juga dilengkapi • • • • • • sobok. Ritus ini dipimpin oleh seorang kerei (dukun) dalam busana kerei yang sebenarnya adalah busana tradisional Mentawai yang dihiasi dan ditaburi berbagai dekorasi yang lebih banyak dari pada keadaan sehari-hari. paha dan pantat. bergantung pada kalung depan dada. Setiap marga (klan) dan dapat memiliki corak tatonya masingmasing. mulai dari busana sampai dengan . suatu ritus yang ditujukan untuk menghormati roh nenek moyang. Warna tato biasanya biru kehitaman dan diungkapkan dalam garis-garis kontur geometris simetris. bunga-bungaan dan daundaunan. atau tik-tik dalam bahasa daerah Mentawai juga merupakan identifikasi marga atau daerah asal penyandangnya. sejenis subang pada kedua telinga. kepercayaan serta alam fikiran suku bangsa Mentawai. Selain itu tato. Tato merupakan simbol kejantanan. Tato juga menjadi ungkapan keindahan dan selain mendatangkan kekuatan juga dipercaya sebagai pembawa keselamatan serta kerukunan dalam kehidupan sosial masyarakat. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" Busana Tradisional Melayu Malay Traditional Dress Penulis : Bernau Ompusunggu Biranul Anas Pakaian Upacara Tradisi Melayu menempatkan upacara pernikahan sebagai peristiwa yang penting. rnahkota dari bulu-buluan dan bunga-bungaan. Ini berpengaruh pada busana upacara pernikahan Melayu yang tampil secara lengkap dan indah. gelang-gelang. Tampilan busana selengkapnya suku Mentawai ini dikenakan pada upacara punen. pakalo. Ikat kepala ini dinamakan sorat. Bagian yang biasanya dihiasi tato adalah pipi dan punggung. terakhir pangkal kaki antara lutut dan pergelangan kaki. Demikian pula pada kedua pangkal lengan dan pada bagian kepala berbaur dengan aneka bunga dan daun-daunan. diawali pada usia 7-11 tahun dan dilanjutkan secara bertahap hingga usia 18-19 tahun. Peristiwa ini melaksanakan praktek sikerei. cermin raksa. lei-lei . Pencacahan tubuh memiliki berbagai perlambangan baik sosial maupun psikologis yang berangkat dari faham-faham adat. putih dan hitam atau hijau.

Ikatan tengkulok ini ada beberapa jenis. Tengkulok adalah lambang kebesaran dan kegagahan seorang pria Melayu. Di daerah leher dan dada biasanya tergantung kalung dari corakcorak rantai mentimun. Di Serdang cara-cara pemakaiannya justru kebalikan dari daerah Deli. renda. Baju panjang ini dipakai dengan sehelai kain yang terbuat daripada katun biasa berwarna polos. Bagian kepala disalut oleh selendang bersulam corak-corak emas yang menutupi tata rambut dalam gaya sanggul khusus yakni sanggul lipat padan atau sanggul tegang. Kadang-kadang baju dan kain kedua-duanya terbuat dari bahan yang sama. bunga mas dan hiasan batu permata sehingga menampilkan kesan kebesaran dan kegagahan. Bagian pinggang dihiasi oleh bengkong dan pending. sekar sukun. Pada pinggang depan sebelah kanan disisipkan sebilah keris yang bergagang emas. Pakaian Sehari-hari Wanita-wanita Melayu dari Medan di sebelah pantai timur Sumatera Utara membuat baju mereka sangat panjang (baju panjang). dari bahan brokat (kain senduri). Pada jari terpasang aneka ragam cincin seperti cinci-n genta. Diberi hiasan gerak gempa. gogok rantai lilit.perlengkapan perhiasannya. Pada upacara ini Wanita Melayu mengenakan Kebaya panjang atau baju kurung yang terbuat dari jenis-jenis kain yang bermutu tinggi seperti brokat atau sutra bersematkan peniti-peniti emas. cincin patah biram dan cincin pancaragam. sutera. Kaum pria memakai dua pilihan tutup kepala. Hiasan rambut berupa sanggul yang sederhana. Keris dianggap lambang kegagahan dan kemampuan menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Alas kaki berupa selop sewarna dengan baju. Lengan bajunya sangat lebar dan panjangnya sampai pergelangan tangan. muslin atau viole yang halus yang bercorak kotak-kotak besar. Di daerah Deli untuk kaum bangsawan mengenakannya secara melintang. Pengantin wanita juga memakai gelang kerukut yang beraneka jenis seperti gelang tepang. Pada bagian pinggang dipakai bengkong dan pending. sedangkan bagi pria kebanyakan memasangnya dengan posisi belah utak. Lengan atasnya mengenakan kilat bahu dan sidat sebagai lambang keteguhan hati. yaitu tengkulok yang terbuat dari kain songket. rantai panjang dan tanggang walaupun dewasa ini sudah amat jarang dijumpai. Pada sanggul ini ditempatkan hiasan-hiasan keemasan. mastura. Terbuat dari rotan yang berbentuk parabola. Celana panjang lebar dengan bahan dan warna yang sama dengan baju. Bajunya berupa kemeja kurung terbelah dibagian dada saja dari bahan sutra berwarna merah. Pakaian ini tidak memakai selendang. kain bertabur atau destar. Pada leher pria digantungkan beberapa hiasan rantai. . berlapis tiga dan dibalut dengan beludru atau kain berwarna kuning. Sebagai alas kaki dipakai selop bertekad yaitu sejenis sandal bersulam corak-corak keemasan. sarung yang bercorak kotakkotak besar atau kain songket. hijau atau kuning dan dililit dengan sarung songket. gelang ikol dan keroncong. Penutup badan pria adalah teluk belanga yang terdiri dari atas baju berkrag kocak musang. cincin bermata. berseluar (celana panjang) dan bersamping. berwarna sesuai dengan baju dan celananya. yaitu ikatan bendahara (Kedah). Sementara untuk pakaian laki-laki berupa pakaian Teluk Belanga: Pakaian ini terdiri dari tutup kepala berupa kopiah atau topi dari bahan sutra berbentuk kepala kapal. rantai serati. Tutup kepala yang sejak dulu dipakai disebut destar. gelang kana. Baju kurung ini dipadukan dengan kain songket buatan Batubara atau tenunan Malaysia. Sebagaimana pada kaum wanita kain pembuat teluk belangapun adalah dari jenis yang bermutu seperti satin atau sutra. ikatan serdang dan sebagainya. Gelang juga dipakai pada kaki.

serta tutup kepala yang disebut saong. sedangkan bagian bawah memakai sarung sungkit yang dililit dengan kain ulos. Pada busana pengantin perempuan Batak Toba hampir semua pakaian yang dipakai terdiri dari kain ulos yang salah satunya diselempangkan pada kedua bahu . Kain ulos yang dipakai orang-orang Batak pada upacara-upacara adat. ulos yang digunakan dominan berwarna hitam.Busana Tradisional Batak Batak Traditional Dress Penulis : Biranul Anas / Jonny Purba Kehidupan masyarakat suku bangsa Batak. Sebelum orang Batak (Toba. Karo dan Simalungun menggunakan ulos yang berbentuk tudung sebagai pelindung panasnya matahari. dipakai hingga batas dada. kain dan ulosnya. juga telah diganti dengan sarung tenunan bercorak kotak-kotak. bagian bawah disebut haen. sadum. dan bila dipakai berupa selendang disebut ampe-ampe. Misalnya ulos jugia. baju dan celana. ulos (disebut Uis oleh suku bangsa Batak Karo ) adalah pakaian sehari-hari. Dalam keseharian perempuan Batak aslinya memakai kain blacu hitam (dapat diganti dengan ulos disebut haen ) dengan dan baju kurung panjang yang umumnya berwarna hitam. penutup kepala dan juga sebagai penutup dada. Pada suku Batak Toba. laki-laki Batak menggunakan sarung tenun bermotif kotak-kotak (terkadang diganti dengan ulos yang disebut singkot). khususnya pada ikat kepala. dilengkapi dengan sarung. memperlihatkan kemiripan dengan bangsa Karen di perbatasan Myanmar. sabesabe atau detar. ragi hotang. Apabila seorang wanita sedang menggendong anak disebut parompa. tidak terlepas dari penggunaan kain ulos. Saat ini kain blacu hitam selain diganti dengan ulos. tanpa alas kaki. dipercaya mengandung "kekuatan" yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya istimewa untuk memberikan perlindungan. Untuk tutup kepala disebut saong. umumnya diselempangkan di pinggangnya atau juga sebagai selendang. Bila dipakai oleh laki-laki bagian atasnya disebut ande-hande. Disamping bulang ada juga ulos surisuri sebagai tutup kepala. Sebagai penutup kepala disebut tali-tali. Khusus pada perempuan suku bangsa Batak Pak pak/Dairi. Menurut beberapa penelitian penggunaan ulos oleh suku bangsa Batak. Dalam keseharian. sedangkan bagian bawahnya disebut singkot. Simalungun) mengenal tekstil buatan luar. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbagai upacara adat. dan dilengkapi dengan sarung suji. hanya dapat dipakai pada waktu-waktu tertentu. sedangkan bagian bawah memakai ulos dari jenis ragi pane. Mempelai laki-laki memakai baju jas tutup warna putih. Pakaian pengantin perempuan Batak Karo terdiri dari baju tutup dengan lengan panjang. Karo. Kadang-kadang diselempangkan (menggunakan ulos ragihotang). Pada upacara secara umum wanita Batak menggunakan ulos sebagai penghias bahu/selendang. tali-tali (tutup kepala) serta baju berbentuk kemeja kurung berwarna hitam. Muangthai dan Laos. dan runjat. Khusus bagi suku Batak Pak pak dan Dairi. bulang-bulang. Untuk penutup punggung disebut hoba-hoba. Dalam upacara perkawinan kain ulos lebih tampak pada pakaian pengantin. Pada suku Batak Simalungun pakaian yang dipakai antara lain bulang yang terbuat dari kain ulos dengan motif gatip dan pakaian sehari-hari yang terbuat dari ulos yang disebut jobit. Ulos pada mulanya identik dengan ajimat. ragidup. mereka memakai pakaian biasa. Bila ulos dipakai oleh perempuan Batak Toba. dilengkapi dengan ulos di kepala (biasanya ulos mangiring) dan setengah badan. Sudah barang tentu tidak semua ulos dapat dipakai dalam kehidupan sehari-hari.

Pada daerah pinggang dipakai Bobat atau ikat pinggang yang dahulu terbuat dari emas dan kadang-kadang berkepala dengan ornamen kepala ular naga yang melambangkan keagungan. Tetapi sekarang menggunakan kain songket. Penamaan bulang ini dikaitkan dengan jenis hewan yang disemblih. Selop hanya berfungsi praktis tanpa mengadung arti perlambang. tetapi kini sudah banyak yang terbuat dari logam yang diberi sepuhan emas. dan bagian bawah melambangkan anak boru (kerabat penerima gadis). Dewasa ini selendang terbuat dari kain songket. dan dililit dengan ulos ragi hotang. tampak dari segitiga yang dibentuk dengan selendang yang disilangkan itu. Arti perlambang pada selendang adalah lambang dalihan na tolu. Diberi ornamen warna emas makna simbolik sebagai lambang keagungan orang yang memakainya. Pada masa lalu. pengantin pria kadangkadang mengenakan tutup kepala yang dinamakan serong barendo yang terbuat dari kain warna hitam yang diberi renda atau rumbairumbai. godang (baju kebesaran) yang pada masa lalu berbentuk jas tutup. Bulang terbuat dari emas. tetapi ujungnya dilipat ke arah kening sehingga terjuntai sedikit di atas kening bersama renda atau rumbai yang terbuat dari benang emas. bertingkat dua atau disebut bulang hambeng (bulang kambing) dan tidak bertingkat. Pada suku bangsa Batak Simalungun. Baju Godang mengandung makna keagungan. seperti sulaman benang emas yang hanya berfungsi estetika tanpa arti perlambang. tergantung selera pemakai. Bagian penutup selop kadangkadang diberi hiasan. Pada masa lalu. Cara memakainya hampir sama dengan destar atau tengkuluk (topi). Untuk si samping pada masa dahulu menggunakan abit Bugis (kain Bugis) atau kain sarung. Bagian samping kanan ampu yang salah satu ujungnya mengarah ke atas dan satu lagi ke bawah mengandung arti bahwa yang paling berkuasa adalah Tuhan dan manusia pada akhirnya mati dan dikubur. Bagian atas badan tertutup oleh baju berwarna hitam yang dahulu dibuat dari kain beludru berbentuk baju kurung tanpa diberi hiasan atau sulaman. Tetapi sekarang sudah umum menggunakan ikat pinggang biasa. Belakangan ini baju pengantin wanita kadang-kadang diberi sulaman. ikat pinggang terbuat dari emas atau perak sebagai lambang kebesaran. Sisamping (kain sesamping) yang dibelitkan dari batas pinggang sampai ke lutut.sampai ke badan (biasanya jenis ulos sadum). kedua pengantin memakai tudung kepala yang terbuat dari ulos suri-suri. sisi kanan melambangkan kahanggi (kerabat satu marga). selendang terbuat dari kain tonun petani (kain tenunan petani). Alas kaki menggunakan selop atau sandal yang biasanya tertutup pada bagian depan atasnya. Ampu merupakan mahkota yang biasanya dipergunakan oleh raja-raja di Mandailing dan Angkola pada masa lalu. Pada pesta perkawinan wanita suku bangsa Mandailing/Angkola menurut adat menggunakan tata busana yang terdiri dari : bulang yang diikatkan pada kening. Baju pengantin ini disebut baju godang atau baju kebesaran. terbuat dari kain lakan berwarna hitam. Warna hitam ampu mengandung fungsi magis sedangkan warna emas mengandung lambang kebesaran. Bulang terdiri dari tiga macam. Untuk selendang pengantin. Pada masa sekarang menggunakan jas biasa berwarna hitam yang dilengkapi dengan kemeja lengan panjang dan dasi. Bagian bawah badan tertutup kain songket dengan warna yang tidak ditentukan. Sisi kiri melambangkan mora (kerabat pemberi anak gadis). Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" . Pengantin pria menggunakan busana yang terdiri dari : ampu atau penutup kepala dengan bentuk khas Mandailing/Angkola yang terbuat dari kain dan bahan lain. masing-masing bertingkat bertingkat tiga disebut bulang harbo (bulang kerbau). Dua lembar selendang yang disilangkan pada bagian dada sampai ke punggung. Bulang mengandung makna sebagai lambang kebesaran atau kemuliaan sekaligus sebagai simbol dari struktur masyarakat. Baju. Misalnya penggunaan bulang bertingkat tiga bila hewan yang disemblih adalah kerbau. Pada masa dahulu. Bobat (ikat pinggang) yang dahulu biasanya terbuat dari emas atau perak. kadang-kadang juga menggunakan kain polos tanpa warna tertentu. Sepatu sebagai alas kaki dahulu menggunakan alas kaki atau selop yang dinamakan capal yang terbuat dari kulit. Celana panjang atau pantalon tanpa warna tertentu.

kalung yang terbuat dari lempengan kuningan. Busana ini dilengkapi dengan aja kola. aya ba mbagi bobotora. Selain itu masih ada jenis lain seperti balahogo rate. tanpa busana atas (baju penutup dada). busana kaum laki-laki Nias. Tutup kepala ini terbuat dari bahan rotan dililit kain akantun berwarna biru. Baik dari jenis yang hanya dikenakan oleh kaum bangsawan serta tutup kepala khusus untuk kepala wilayah. Selain itu. kalung yang terbuat dari lilitan perak atau emas dan nifato-fato. Dalam keseharian masyarakat Nias mengenal busana asli yang belum memperoleh pengaruh luar. Tutup kepala ini digunakan pada saat upacara saja. yaitu gelang yang terbuat dari bahan gulungan kuningan dengan berat mencapai 1 kilogram (khusus untuk perempuan dewasa mengenakan dua buah gelang). Busana ini dilengkapi dengan balahogo sokondra. dan hitam. Baju berbentuk rompi tidak berkancing ini berwarna dasar coklat atau hitam dan dengan ornamen berwarna merah. Untuk upacara. Laki-laki Nias kebanyakan menggunakan kalabubu sebagai penghias leher. Cara penggunaannya adalah hanya dengan melilitkannya di pinggang dan kekenakan tanpa baju. yaitu baju dengan motif kulit harimau. yang disebut takula. merah dan putih. perak atau emas. Busana asli wanita suku bangsa Nias hanya terdiri dari lembaran kain (bahan blacu hitam atau kulit kayu). yang berwarna merah. Jenis kalung lainnya adalah nifatali. yang terbuat dari rajutan rotan dilengkapi dengan daun pelem sebagai penutup di bagian belakang. Perlengkapan busana ini adalah tombak dan pisau kecil. yang biasanya hanya dikenakan pada telinga kanan saja. masih banyak lagi jenis tutup kepala lainnya. yaitu baru lema`a. Salah satu bentuk tutup kepala yang digunakan adalah saembu oti. terbuat dari daun palem. terdiri dari baru atau baju yang aslinya terbuat dari bahan kulit kayu. Bagian bawah . yaitu anting logam besar. yaitu salah satu jenis penutup baju bagian atas (seperti kalung) yang terbuat dari bahan batubatuan. Sementara itu. Ada juga tutup kepala. Selain model rompi ada juga baju berlengan tanpa kancing yang juga terbuat dari bahan kulit kayu. kuning. dan saro dalinga. Kalabubu adalah kalung untuk lakilaki yang terbuat dari kuningan dan dilapis dengan potongan kayu kelapa (aslinya dilapisi dengan emas). salah satu jenis tutup kepala khusus untuk perang disebut tete naulu.Busana Tradisional Nias Nias Traditional Dress Penulis : Bernali Ompusungu Orang Nias. penduduk pulau Nias di pantai Selatan Sumatera memiliki variasi busana tradisional yang menambah keanekaragaman busana sukubangsa-sukubangsa di Sumatera Utara. biasanya dikenakan baju berbentuk jaket atau jubah berbahan katun. Dunia peperangan yang begitu dekat dalam kehidupan masyarakatnya membentuk "budaya perang" yang juga perpengaruh pada busana tradisional orang Nias. khususnya busana kaum prianya. Salah satu jenis baru yang dikenal masyarakat Nias adalah baru ni`ola`a harimao. namun saat ini sudah merupakan gabungan dengan kain katun. berlengan kuning dihias motif sisir berwarna hijau atau kehitaman. rotan dan pelepah kelapa. Orang-orang Nias pada masa lampau adalah prajurut-prajurit perang yang gagah berani. Untuk menghadiri upacara adat. yaitu cawat atau celana yang terbuat dari bahan kulit kayu.

Demikian pula rai ni woli woli. yang terbuat dari panel warna kuning dihiasi oleh bermacam ornamen dipinggirnya. yaitu kalung warna hitam dan yang tidak boleh ketinggalan adalah talogu atau pedang. Warna hitam. kala bobu. adalah salah satu jenis anting terbuat dari emas. hanya bahannya bukan terbuat dari emas. maka kini untuk busana pengantinnya digunakan bahan beludru. Dalam busana pengantin ini. yaitu asesoris wanita berbentuk tas berbahan bambu dengan hiasan manik-manik berwarna-warni. Adapun kelengkapan busana ini adalah rai. terbuat dari . kuning. alga kala bubu (kalung) dan gala (gelang). yaitu selendang warna kuning dililitkan di pinggang. salah satu jenis mahkota yang terbuat dari emas berbentuk ikat kepala dengan ornament barisan koin emas memanjang horizontal dan ditengah bagian belakang terdapat kepala mahkota berbentuk bunga dan daundaunan. baju kuning berpotongan serong dari beludru yang diberi ornamen berwarna merah. yang disarungkan arah ke kiri. dan emas mendominasi busana pengantin Nias. sebuah selendang katun bermotif bunga berwarana kuning dan segitiga berbaris dilapisi pinggir dari bahan berwarna gelap kehitaman menjadi pelengkap busana ini. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" . pakain tradisional Nias menggunakan bahan Wit kayu. Perhiasan yang dipergunakan adalah sialu fondreun (anting-anting). Selembar ondora. Bagian belakang baju ini lebih panjang dan bergambar matahari dan buaya. kuning di bagian depan. dikenakan untuk menutupi pinggang ke bawah (bentuknya mirip dengan kain panjang). Lembe. yang hanya digunakan oleh wanita bangsawan. mahkota berbentuk ikat kepala dengan ujung meruncing segitiga ke atas. Busana pengantin Nias secara? keseluruhan pun nampak sederhana. Sebagai kelengkapan busana upacara. Pengantin pria mengenakan celana hitam selutut.lingkaran terbuka dari bahan perunggu dengan hiasan batubatuan atau kerang. Rambut wanita Nias disanggul tanpa sasak dengan memakai sunggar. sebagaimana menggambarkan kehidupan masyarakatnya yang bersahaja. Untuk perlengkapannya mempelai wanita mengenakan seledra (selendang) dan boba datu (ikat pinggang). adalah nama jenis anting yang digunakan oleh masyarakat kebanyakan. wanita Nias mengenal beberapa jenis asesoris. Kemudian dihias dengan mahkota atau rai. masih ada bola-bola. Selain itu. Gela gela dan tali hu. yang juga banyak digunakan oleh kaum bangsawan. sebelum mengenal pengaruh luar.busana wanita Nias disebut mukha. Baju berbentuk jubah hitam ayng berhiaskan motif binatang dari beludru merah dipadukan dengan kabo. Fondruru ana`a. tampak adanya unsur-unsur Melayu. Apabila di masa lalu. separuh leher dan lengan. merah. Saat ini mahkota ini banyak digunakan sebagai bagian dari pakaian tari. kain hitam dengan ornamen geometris segitiga berbaris di sisi pinggirnya.

Selendang tidak mutlak dipakai. sering pula digunakan kain tudung kepala. Selain memakai selendang untuk menutup kepala. kelengkapan busana kaum wanita Riau umumnya lebih semarak. Pada kesempatan yang lebih formal atau ketika menghadiri upacara. sedangkan kaum wanitanya menutup kepala dengan sepotong kain yang berupa selendang. penggunaan busana dan kelengkapannya sangat tergantung pada si pemakai. Dalam pandangan masyarakat Riau. antinganting. Biasanya busana macam ini bahannya terbuat dari kain songket. Kelengkapan pada kepala tersebut meliputi. Pengaruh kebudayaan barat tampak juga pada busana kaum pria. sapu tangan kecil dan di pinggang melilit sebuah pending. kaum pria dan wanita di Riau biasa mengenakan baju kurung yang disebut baju gunting cina. Meski fungsinya sama. tusuk sanggul. Kaum pria biasa menggunakan tutup kepala yang disebut kopiah atau songkok. Penggunaan selendang biasanya dipadukan dengan baju kebaya pendek. kaum wanita di Riau juga memakai perhiasan yang terdiri dari kalung. sanggul biasa atau sanggul dua. Adakalanya perhiasan tersebut terbuat dari bahan suasa. yakni dengan adanya kebiasaan untuk memakai celana dan kemeja yang dilengkapi dengan jas. Sesungguhnya busana tersebut bentuknya tidak jauh berbeda dengan baju cekak musang. Namun jika akan memakai selendang warnanya harus disesuaikan dengan warna baju kurung. Sandal atau kasut merupakan alas kaki yang lazim dipakai oleh kaum wanita dan pria Riau. Untuk menghadiri acara formal. akan tetapi kain tudung kepala menutupi hampir seluruh tubuh pemakainya. Hiasan kepala yang dipakai pada upacara perkawinan Riau kepulauan terlihat lebih sederhana dibanding dengan Riau daratan. sepit rambut. dan gelang kaki untuk bagian bawah. Berbeda dengan busana kaum pria. Akan tetapi baju teluk belanga ini biasa dilengkapi dengan sebilah keris yang diselipkan di pinggang. baju kurung leher tulang belut atau cekak musang dengan celana berikut kain samping dari bahan songket yang digunakan menutupi celana hingga sebatas lutut. satin atau sutera. kita kenal juga istilah baju teluk belanga. badan dan tangan masing-masing dilengkapi dengan kain selempang. Pakaian seharihari baik untuk di rumah atau di luar rumah berbeda dengan busana dan kelengkapannya untuk peristiwa khusus seperti upacara atau perjamuan resmi. kembang goyang. Perbedaan busana pengantin Riau daratan dengan Riau kepulauan terletak pada hiasan kepala sebagai mahkota. Untuk bagian dada. Cincin dari emas dan perhiasan lainnya biasa dipakai kaum pria Riau terutama pada saat menghadiri pertemuan formal atau perhelatan. semakin banyak perhiasan yang dipakai seseorang ia akan semakin disegani dan dikagumi.Busana Tradisional Riau Riau Traditional Dress Penulis : Siti Dloyana Kusumah Bagi masyarakat Melayu Riau. Adapun busana yang dikenakan kaum pria Riau adalah baju gunting cina. Dalam kehidupan sehari-hari. atau baju pesak sebelah dengan kain sarung atau celana. gelang tangan. namun pemakainya terbatas pada kalangan rakyat kebanyakan. kaum wanita Riau umumnya memakai baju kurung satu sut. dalam pemakaian maupun kelengkapan yang dipakai. Bagian kepala ditutupi dengan peci atau songkok. jurai. meliputi juga kelengkapan kepala. Busana ini umumnya dipakai ketika badan sudah bersih dan akan menunaikan shalat atau hendak menerima tamu yang berkunjung kerumahnya. Di kalangan bangsawan atau keturunan raja-raja Riau. . cincin yang terbuat dari emas.

sehingga lebih leluasa geraknya dalam melakukan kegiatan seharihari. dan sebagainya. Bagian pinggir . Sebagai hiasan terdapat lukisan flora dari daun. hanya bagian hulu yang menyembul dari balik kain. propinsi Jambi. Warna kuning pun dipakai untuk busana pengantin. biasanya disesuaikan dengan kedudukan seseorang dalam masyarakat atau bisa juga bentuk acara yang akan dihadiri. Setelah adanya proses akulturasi dengan berbagai kebudayaan. namun bahan pembuatannya benar-benar berbeda. Meskipun bentuk dan coraknya sama. bagian kepala dan rambut menggunakan penutup kepala yang disebut tanjak laksmana atau bisa juga bentuk tanjak temenggung dan tanjak menyongsong angin. Kain sutera sangat biasa dijumpai dalam pembuatan busana kaum bangsawan. pakaian sehari-hari berkembang menjadi baju kurung dan selendang sebagai penutup kepala untuk kaum perempuan. Pakaian adat ini lebih mewah daripada pakaian sehari-hari yang dihiasi dengan sulaman benang emas dan pemakaian perhiasan sebagai pelengkapnya. Pakaian untuk pria ini dilengkapi dengan kopiah sebagai penutup kepala. Selain dari segi kualitas yang membedakan kedudukan seseorang dalam masyarakat. tangkai clan bunga yang akan mekar. seperti Riau. Menurut anggapan mereka warna kuning adalah simbol warna kerajaan oleh sebab itu hanya boleh digunakan oleh orang-orang dari kalangan bangsawan atau keturunan raja-raja Riau. orang Riau pun mempunyai ketentuan khusus dalam menggunakan warna. Pada perkembangan berikutnya dikenal adanya pakaian adat. karena ia mendapat julukan raja sehari.Aturan pemakaian keris ini adalah tidak nampak menonjol. Sumatera Selatan. Busana Tradisional Melayu Jambi Jambi Malay Traditional Dress Suku Melayu Jambi adalah sebutan bagi orang-orang Melayu yang mendiami daerah sepanjang sungai Batang Hari. Sebutan ini dimaksudkan untuk membedakan dengan suku Melayu yang berdiam di daerah lain. Sedangkan kaum prianya mengenakan celana setengah ruas yang melebar pada bagian betisnya dan umumnya berwarna hitam. Lacak ini terbuat dari kain beludru warna merah yang diberi kertas tebal di dalammnya agar menjadikannya keras. Pada umumnya ketika seorang pria mengenakan baju teluk belanga. dengan julangan yang lebih tinggi pada bagian depannya. begitu juga dengan perhiasan. Pakaian Adat Pria Laki-laki suku Melayu Jambi dalam berpakaian adat mengenakan lacak di kepalanya. kepangkatan atau garis keturunan menjadi dasar pada perbedaan cara berbusana. Perbedaan bentuk ikat kepala tersebut. Dalam berbusana sehari-hari pada awalnya hanya dikenal kain dan baju tanpa lengan. Tutup kepala ini memiliki dua bagian yang menjulang tinggi. Masyarakat awam atau rakyat kebanyakan tidak diperbolehkan menggunakan warna kuning sebab dianggap tidak beradab. Perbedaannya yakni tambahan mutu manikam atau intan berlian yang dibubuhkan pada perhiasan kaum bangsawan tersebut. Dalam sistem kemasyarakatan Riau.

Hal ini mengandung makna seseorang harus tangkas clan cekatan dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan. Bajunya disebut baju kurung tanggung bersulam benang emas dengan motif hiasan bunga melati. Bunga cempaka. Konon. karena bentuknya seperti bunga teratai dipasang melingkar leher sehingga menyerupai kerah. yang diimbangi oleh penempatan bungo runci di sebelah kiri. Penempatan pohon beringin lebih tinggi dari bunga-bunga lain di sekeliling pesangkon. Bungo runci ini berwarna putih dirangkai dengan benang. Bahannya terbuat dari beludru warna merah diberi sulaman benang emas. Bentuknya bergerigi menyerupai pucuk rebung atau bambu yang baru tumbuh. Sedangkan selop atau alas kaki yang berbentuk setengah sepatu berfungsi untuk melindungi kaki saat berjaalan.sebelah kanan diberi lukisan tali runci. bungo runci. ini dimaksudkan untuk menjaga sopan santun clan kehormatan kaum wanita (permaisuri raja). Untuk lebih memperindah diberi sulaman emas dengan motif bunga melati pecah. bungo runci letaknya dibagi rata untuk mengisi bagian sebelah kiri clan kanan. Bagian pinggangnya dihiasi dengan selendang tipis warna merah jambu yang pada ujung ujungnya diberi umbai-umbai warna kuning. Penutup bagian bawah disebut cangge (celana). Ada juga yang menyebut duri pandan karena pada bagian depan tutup kepala ini diberi hiasan dari logam berwarna kuning berbentuk duri pandan. Hiasan kepala ini masih dilengkapi dengan berbagai macam tumbuhan. Sebagai hiasan dada dikenakan rantai sembilan. Kelengkapan busana perempuan lebih banyak dibandingkan dengan yang dikenakan oleh pria. Bagian tengahnya terdapat motif kembang bertabur atau kembang tagapo dan kembang melati. kembang cempaka. Untuk memperkuat bagian pinggang ini digunakan pending berupa rantai dengan sabuk sebagai kepala terbuat dari logam. Pakaian Adat Wanita Busana untuk perempuan terdiri dari kain sarung songket clan selendang songket warna merah. dan pucuk rebung. Selain itu juga melambangkan sepucuk Jambi sembilan lurah. Kelengkapan lainnya adalah keris clan selop. Sudah menjadi kebiasaan di daerah Jambi mengenakan kain sarung songket yang dililitkan di pinggul. Keris diselipkan di perut menyerong ke kanan melambangkan kebesaran sekaligus untuk berjaga-jaga. Disebut tanggung karena panjangnya hanya sedikit di bawah siku tidak sampai ke pergelangan tangan. Dikenakan pula selempang yang menyilang badan terbuat dari songket warna merah keungu-unguan sebagai pasangan kain sarung dengan motif bunga berangkai clan beranting. kembang tagapo. bunga matahari. clan bunga pandan. Bahannya masih dari beludru yang dilengkapi dengan tali sebagai ikat pinggang. Dalam mengikat tali ini digunakan teknik ikatan kajut untuk memudahkan dalam membuka nantinya. Kedua tangan dihiasi gelang kilat bahu terbuat dari logam celupan berlukiskan naga kuning. Pada perempuan dikenakan anting-anting atau antan dengan motif kupu-kupu atau gelang banjar. sedang bagian pinggirnya bermotifkan kembang berangkai atau pucuk rebung. Sementara bunga pandan digunakan sebagai hiasan kepala bagian belakang yang dibuat menjurai ke bawah dan dilekatkan pada sanggul lintang. Tutup dadanya disebut teratai dada. Bajunya disebut baju kurung tanggung berlengan panjang. Tutup kepalanya disebut pesangkon yang terbuat dari kain beludru merah dengan bagian dalam diberi kertas karton agar keras. dapat berupa bunga asli atau tiruannya. Kalungnya terdiri dari tiga . bunga matahari. Lukisan naga ini mengandung makna bila seseorang telah diberi kekuasaan janganlah diganggu. sejenis kalung bermakna adanya pembagian kerja clan harus tolong-menolong. seperi pohon beringin.

Masih ditambah dengan gelang kano. Teknik clan cara pertanian yang dijalankannya masih terhitung sederhana. gelang ukuran sedang dua buah clan ikat pinggang yang berbentuk kotakkotak berangkai satu sama lainnya. Penulis : Dewi Indrawati . kecil dan besar.jenis. Selebihnya polos. Jika acaranya kecil maka pakaian yang dikenakan berfungsi ganda sebagai pakaian upacara maupun bekerja. yang disebut baselang atau pelarian. Dalam rangkaian upacara tersebut terdapat hiburan sehingga pakaian yang dikenakan pun lebih bagus. Kemudian baju kurung tanggung warna merah agak keungu-unguan dari beludru yang diberi sulaman pada bagian setengah badan ke bawah dengan motif bola-bola kecil berukir. selendang warna merah dililitkan di kepala serta membawa perlengkapan lain seperti ani-ani clan kiding (tempat padi). khususnya yang dikenakan para gadis. di mana sebagian besar kegiatan dilakukan oleh bujang clan gadis. Pada acara besar pakaian dibedakan untuk upacara dan bekerja. Selendang songket yang dikenakan sebagai penutup kepala diberi sulaman benang emas dan umbai-umbai di ujungnya. yaitu kalung tapak. pending dan sabuk (ikat pinggang). Khusus untuk gelang buku beban bahannya berasal dari permata putih. Dilengkapi dengan selempang warna kuning dari bahan tetoron. Kain songketn berwarna merah tua bermotifkan kembang melati pecah dan bagian pinggir bermotifkan daun pakis. Motifnya digunakan daun pakis dan terawang yang diletakkan memanjang dari ujung ke ujung. selendang. Terlebih saat menuai. Sementara untuk kaki dikenakan gelang nago betapo dan gelang ular melingkar. dan karenanya memerlukan kerja sama atau bergotong-royong. Bedanya bentuk motif yang lebih besar pada teratai dada dan pending. Kesemuanya di pasang di lengan. Pembedaan ini mempengaruhi pada variasi pakaian yang dikenakan. Kelengkapannya terdiri dari sarung warna merah yang dipakai sedikit di bawah lutut (tanggung). Pakaian Baselang Masyarakat suku Melayu Jambi yang mendiami sepanjang sungai Batang Hari sebagian besar hidup dari bertani. Sedangkan unsur-unsur kelengkapan yang lain seperti teratai dada (tutup dada). Acaranya sendiri dibedakan menjadi dua. baju kurung berlengan tanggung yang letaknya di luar kain. dan selop hampir sama dengan yang dikenakan pria. kalung jayo atau kalung bertingkat dan kalung rantai sembilan. Jumlah gelang yang dipakai pun lebih banyak meliputi gelang kilat bahu masing-masing lengan dua buah. Pada jari-jarinya terpasang cincin pacat kenyang dan cincin kijang atau capung. kecuali bagian leher sebelah depan. gelang ceper dan gelang buku beban. Disebut demikian karena bentuknya yang menyerupai naga dalam dongeng sedang tidur clan ular yang melingkar membentuk bulatan.

Celana paduannya terbuat dari beludru dengan taburan corak�corak benang emas juga walaupun tidak selalu dalam warna yang sama dengan jas. Pada bagian dada tergantung sebentuk lidah penutup. Perhiasan keemasan disematkan sebagai sunting-sunting pada sanggul di kepala. bersama-sama dengan antinganting berukir dari emas. bertabur corak-corak. merah tua atau biru tua yang bertaburkan corak-corak sulaman atau lempeng-lempeng emas. diselempang pada bagian dada kebelakang punggung membentuk huruf V. Samping biasanya terbuat dalam teknik songket benang emas atau perak dan disebut sarung segantung. dan jumbaijumbai kiri dan kanan. Pakaian adat pria Susunan busana adat pria terdiri atas jas. Jambi dan Riau. . biru tua. Sarung dikenakan sebagai samping di bawah jas sampai sedikit di atas lutut. Pakaian adat wanita Kaum wanita Melayu Bengkulu mengenakan baju kurung berlengan panjang. alas kaki beludru dengan corak-corak keemasan. mirip dasi dengan hiasan-hiasan benang emas. Gaya busana ini dikenakan masyarakat untuk menghadiri pesta-pesta adat yang penting. Sebagian pelengkap busana pada kepala dipakai detar dari kain songket emas atau perak. Bahan baju kurung umumnya beludru dalam warna-warna merah tua. Demikian pula untuk celananya terbuat dari bahan dan warna yang sama. yang sebenarnya merupakan kepanjangan dari kembang goyang di kepala sedemikian rupa sehingga seolah-olah bergantung disebelah daun telinga. celana panjang. Versi lain dari jas adalah sejenis jas tertutup dari bahan beludru hitam. sarung. dipadukan dengan tusuk konde. sebilah keris dan gelang emas di tangan kanan. alas kaki yang dilengkapi dengan tutup kepala dan sebuah keris. cokonde balon. Jas tersebut dari kain bermutu seperti wol dan sejenisnya dan biasanya berwarna gelap seperti hitam atau biru tua. lembayung atau hitam. Hiasan di sanggul atau konde biasanya terdiri dari sikek berbentuk bulan sabut.Busana Tradisional Bengkulu Bengkulu Traditional Dress Dimasa kini busana adat Bengkulu yang populer adalah gaya Melayu Bengkulu yang tampak mendapat pengaruh dari gaya-gaya Melayu yang pada dasarnya terdapat dari seluruh Sumatera khususnya Minangkabau. menyentuh bahu. Sehelai kampuh dari satin sutra bersulam emas. Sarung songket benang emas atau perak dalam warna serasi dari sutra merupakan perangkat busana yang dikenakan dari pinggang sampai dengan mata kaki. sulaman emas berbentuk lempengan�lempengen bulat seperti uang logam.

Bila dipakai dalam kerapatan adat dipadukan dengan baju teluk belanga dan kain. yaitu tutup kepala berbentuk segi empat berwarna hitam terbuat dari kain tebal.Di dada pada bagian atas kampuh bergantungan gelamor berukir. yaitu baju berbentuk teluk belanga belah buluh atau jas. Tetapi sekarang banyak digunakan kawai kemija. Bahannya dari kain batik. menurun sampai daerah pinggang yang dilingkari oleh sebuah pending berangkai yang terbuat dari emas. Penulis : Biranul Anas Busana Tradisional Lampung Lampung Traditional Dress Daerah Lampung dikenal sebagai penghasil kain tapis. yaitu bentuk kemeja seperti pakaian sekolah atau moderen. kain tenun bersulam benang emas yang indah. Pemakaian kawai kemija ini sudah biasa untuk menyertai kain dan peci. serta di salah satu sudutnya terdapat sulaman benang emas berupa bunga tanjung dan bunga cengkeh. Kaum wanita Lampung sehari-hari memakai kanduk/kakambut atau kudung sebagai penutup kepala yang . Lelaki muda Lampung lebih menyukai memakai kepiah/ketupung. tapis yang dipenuhi sulaman benang emas dengan motif yang indah merupakan kelengkapan busana adat daerah Lampung. ketika menghadiri upacara adat sekalipun. yaitu kain yang dibuat dari kain Samarinda. Pergelangan tangan dan jari jemari dilingkari dengan mandering dan cincin permata. Bugis atau batik Jawa. Pada penyelenggaraan upacara adat. Bagian bawah mengenakan senjang. Kain ini dibuat oleh wanita. berlapis-lapisan dalam jumlah banyak. Tetapi sekarang telah dikenal adanya celanou (celana) pendek dan panjang sebagai penganti kain. yaitu destar dengan bagian tepi dihias bunga-bunga dari benang emas dan bagian tengah berhiaskan siger. Dalam keseharian laki-laki Lampung mengikat kepalanya dengan kikat. Untuk mengiring pengantin dikenakan kekat akkin. seperti perkawinan. Alas kaki memakai selop bersulam emas. apalagi kalau ingin bertemu dengan gadis. Sebagai penutup badan dikenakan kawai. Baju ini terbuat dari bahan kain tetoron atau belacu dan lebih disukai yang berwarna terang.

Untuk mempererat ikatan kain (senjang) dan celana di pinggang laki-laki digunakan bebet (ikat pinggang). perak atau suasa diberi mata dari permata. baik yang gadis maupun yang sudah kawin. yang dikenal sebagai kain tapis atau kain Lampung. pada saat menghadiri upacara perkawinan mengenakan kawai/kebayou (kebaya) beludru warna hitam dengan hiasan rekatan atau sulaman benang emas pada ujung-ujung kebaya dan bagian punggungnya. Para ibu muda dan pengantin baru dalam menghadiri upacara adat mengenakan kain tapis bermotif dasar bergaris dari bahan katun bersulam benang emas dan kepingan kaca. Selain itu. yaitu gelang kaki yang biasanya berbentuk badan ular melingkar serta dapat dirangkaikan. Selain itu. yaitu gelang yang dipakai di lengan kanan atau kiri. Kalai kukut ini dipakai sebagai perlengkapan pakaian masyarakat yang hidup di desa. Cara menyanggul seperti ini memerlukan rambut tambahan untuk melilit rambut ash dengan bantuan rajutan benang hitam halus. Baju ini terbuat dari bahan tipis atau sutra dan pada tepi muka serta lengan biasa dihiasi rajutan renda halus. bunga cengkeh dan hiasan berupa ayam jantan. memiliki bentuk seperti baju kurung. Kemudian rajutan tadi ditusuk dengan bunga kawat yang dapat bergerak-gerak (kembang goyang). Pada jari tengah atau manis diberi cincin (alali) dari emas. Untuk menghadiri upacara adat. kain ini dipakai sebagai kain basahan. Bahannya dari kain halus tipis atau sutera. Kelai pungew. juga dapat dikenakan selekap balak. yaitu selendang sutra disulam dengan emas dengan motif pucuk rebung. Pakaian mewah dipenuhi dengan warna kuning keemasan dapat dijumpai pada busana yang dikenakan pengantin daerah Lampung. Pada waktu mandi di sungai. Selikap yang terbuat dari kain yang mahal dipakai saat menghadiri upacara adat dan untuk melakukan ibadah ke masjid. di tengahnya bermotifkan siger yang di kelilingi bunga tanjung. Sulaman benang emas ada yang dibuat berselang-seling.dililitkan. yaitu selendang sutra bersulam benang emas dengan motif tumpal dan bunga tanjung. Dikenakan senjang/ cawol yang penuhi hiasan terbuat dari bahan tenun bertatah sulam benang emas. biasanya memiliki bentuk seperti badan ular (kalai ulai). Perlengkapan lain yang dikenakan oleh laki-laki Lampung adalah selikap. Sebagai kain dikenakan senjang atau cawol. Selambok/rattai galah. menyanggul rambutnya (belatung buwok). Busana Tradisional Palembang Palembang Traditional Dress Penulis Sri Murni Biranul Anas . tetapi ada yang disulam hampir di seluruh kain. sedangkan wanitanya menggunakan setagen. Untuk memperindah dirinya dipergunakan berbagai asesoris terbuat dari emas. yaitu kalung leher (monte) berangkai kecil-kecil dilengkapi dengan leontin dari batu permata yang ikat dengan emas. seperti perkawinan kaum wanita. Di bahunya tersampir tuguk jung sarat. kaum ibu kadangkadang menggunakannya sebagai kain pengendong anak kecil. kecuali saat pergi ke ladang. yaitu kain selendang yang dipakai untuk penahan panas atau dingin yang dililitkan di leher. Dikenakan pula kalai kukut. Mulai dari kepala sampai ke kaki terlihat warna kuning emas. Khusus bagi wanita yang baru menikah. Lawai kurung digunakan sebagai penutup badan.

atau Eropa. Sebagai pakaian sehari-hari. Jenis celana yang lain disebut dengan celano lok cuan (celana pangsi. seperti kayu meranti payo atau ngerawan. Jenis celana ini tidak disulam dengan benang emas. India. Semuanya terbuat dari kain songket (kain tenunan tradisional) Palembang. Badong ini terbuat dari campuran berbagai bahan logam. Cina. baju (kelambi). Tutup kepala juga dibuat sendiri dengan cara ditenun. terbuat dari suasa. atau tembaga yang dilapisi emas. yang dibedakan atas tiga jenis yaitu: memakai kancing (bemben). karena mereka menganggap tutup kepala lebih penting dari baju. sebagai gantinya dikenakan kopiah sebagai penutup kepala. dan sarungnya tidak kelihatan karena ditutupi kain atau celana. badeek. dan memakai kantong terawangan. Lasem. tergantung pada taraf ekonomi pemakainya. celana yang panjangnya sebatas lutut). yang diyakini dapat membawa berkah dan keselamatan bagi pemakainya. Kain (sewet) biasanya ditenun sendiri atau dibeli dari pulau Jawa. tumbak lado. rambi ayam. Kemudian pada bagian bawah selebar lebih kurang 10 atau 12 cm. Badong yang terkenal disebut badong jadam. dan ukuran celananya lebih lebar. Pakaian untuk di rumah tidak dilengkapi dengan alas kaki. Pakaian sehari-hari Pakaian orang laki-laki (wong lanang) terdiri dari kain (sewet). atau Betawi. atau perak dengan tatahan bermotif bunga. tutup kepala dengan jenisnya disebut tanjak. Tutup dada biasanya diberi hiasan permata. seperti keris. orang laki-laki umumnya mengenakan kain (sewet sempol) dan baju beta booloo. diberi pinggiran benang emas. yang dianggap jenis yang paling istimewa karena memiliki khasiat ampuh. Ada juga yang diberi batu permata. disulam.Busana ini sebenarnya berasal dari masa-masa kesultanan Palembang sekitar abad ke 16 sampai pertengahan abad ke 19. terbuat dari kain yang ditenun. Busana ini dilengkapi dengan ikat pinggang yang disebut badong. Saat ini sudah jarang orang yang memakai tanjak. Pelengkap busana yang lain adalah keris. Sarung keris (pendok) terbuat dari emas. ditaburi dengan bunga-bunga kecil dari benang emas. Pada bagian luarnya ditatah dengan abjad atau angka-angka Arab. baik waktu bepergian maupun ketika sedang di rumah. yang terbuat dari kain yang ditenun. Baju yang dikenakan disebut kebaya pendek. Busana ini juga dilengkapi dengan alas kaki jenis terompah. tanjak meler dan tanjak bela mumbang. Mulai dari bagian bawah lutut sampai ke arah mata kaki disulam (diangkeen) dengan benang emas. Untuk alas kaki yang berbentuk gamparan terbuat dari potongan kayu yang bermutu. Kain ini dibuat dengan cara ditenun. Hanya seorang raja yang boleh memakai keris dengan gagangnya menghadap keluar. memakai kantong biasa. Keris ini diselipkan pada lambung sebelah kiri. Jenis tutup kepala yang biasa dikenakan adalah kopiah (kopca). dan diberi angkinan dari kain batik yang didatangkan dari Gresik. dan memakai alas kaki yang disebut gamparan atau terompah. Pada umumnya mereka mengenakan tutup kepala. perak. suasa. dan dikenakan oleh golongan keturunan raja-raja yang disebut Priyai. Tanjak dibedakan atas tanjak kepudang. atau membeli bahan baju dari Jawa. Demikian juga baju (kelambi) biasa ditenun sendiri. Ada juga yang memakai seluar (celana) panjang atau celana model pangsi (lok cuan). Indramayu. serta diberi tumpal benang emas. Pakaian bagian bawah berupa celana panjang yang dinamakan celano belabas. iket-iket atau kopiah (kopca). Setelah celana panjang dikenakan selembar kain yang disebut sewet bumpak. Laki-laki Palembang gemar memakai baju jenis bela booloo. . Pakaian kebesaran untuk lakilaki dilengkapi dengan tanjak (tutup kepala) yang terbuat dari kain batik atau kain tenunan. Ada pula yang disulam dari bagian pinggul sampai ke mata kaki dengan motif lajur. atau dapat juga dicap dengan cairan emas perada (diperadan). maupun diperadan. Selanjutnya busana ini dilengkapi dengan sejenis senjata tajam. Baju ini dibuat dari kain yang ditenun dan disulam dengan benang emas maupun benang biasa yang berwarna. atau bisa juga mengenakan kebaya landoong atau kelemkari yaitu kebaya panjang hingga di bawah lutut. Pada bagian dalam dikenakan penutup dada yang disebut kutang. atau jembio.

Pada saat akan bepergian. dan untuk orang muda mengenakan cenela atau selop tungkak tinggi (sandal bertumit tinggi). yang disebut geloongan coompook atau geloongan temakoo setebek. rambut disanggul. yang halus dari jenis tajung Bugis atau gebeng Palembang. Pada saat menghadiri suatu upacara adat. Tetapi saat ini jenis ikat pinggang tersebut sudah jarang dikenakan. dada. bahu. Kemudian rambut ditata dengan sanggul. Songket ini merupakan pemberian suami ketika mereka menikah sebagai salah satu mas kawin. Busana ini dilengkapi dengan sehelai selendang besar yang dipakai dengan rapi menutupi kepala sampai bahu. serta dicampur dengan bunga-bunga yang harum). berasal dari Jawa). Wanita yang sudah menikah atau yang sudah tua lazim memakai selendang sebagai tutup kepala. Sebagai alas kaki adalah terompah atau sepatu tanpa tali. menandakan kekayaan keluarga yang bersangkutan. Busana Tradisional Priangan dan Cirebon Priangan and Cirebon Traditional Dress . Mereka biasa mengenakan kain pelekat. Rambut disisir dengan rapi dan diberi minyak lengo (minyak kelapa yang dicampur dengan daun pandan yang diiris halus. dan dahi. Saat ini orang Palembang sudah dapat membuat sendiri busana mereka dengan bahan-bahan yang diperoleh dari alam sekitarnya. dan terompah atau selop. mereka selalu mengenakan pakaian yang terbaik dan rapi. Sebagai perhiasan pelengkap busana ini adalah kalung emas dengan liontin permata berlian atau intan. yang dikenakan pada kepala. rangkaian peniti terbuat dari emas atau perak. Baju kurung ini lazim dikenakan oleh perempuan yang sudah tua. semua bahan pembuatan busana tersebut didatangkan dari Jawa. umumnya batik Betawi atau yang dinamakan sewet mascot. Pada masa lalu. Baju yang dikenakan berupa jas tutup terbuat dari bahan linen. kamhar. Busana untuk bepergian tersebut juga lazim dikenakan kaum laki-laki pada kegiatan-kegiatan perayaan. sebagai penggantinya dipakai setagen (kain kecil yang sangat panjang yang dikenakan melilit perut. pakaian yang lazim dikenakan terdiri atas kain sarung (sewet saroong) batik yang halus. baju kurung (kooroong) dengan panjang sebatas lutut. Untuk ikat pinggang dikenakan sejenis pending yang disebut badong atau angkin. India. baju kurung yang panjangnya sampai lutut atau kebaya yang tepinya diberi renda hingga menutup dada (untuk remaja putri). Semakin halus songket yang dimilikinya. atau las. dan mengalami perubahan fungsi sebagai tudung saji atau tutup makanan. Selendang tersebut biasanya diberi rumbai-rumbai (rumbe rumbe). sedangkan perempuan muda memakai baju kebaya. Untuk menghadiri suatu upacara adat yang disebut penganten mungga. Busana untuk perempuan (wong betino) terdiri dari kain (sewet saroong). dan tutup kepala (tengkoolook). serta gelang kaki (yang terkenal adalah gelang sekel kepalak nago). yang disebut koodoong (kerudung) kajang atau koodoong trendak. busana yang dikenakan kaum wanita adalah serba songket. Namun sejak tahun 1942 koodoong kajang sudah tidak pernah dipakai lagi. sehingga yang nampak hanya mata dan hidung pemakainya. dan Singapura. Mereka juga mengenakan selendang (kemben). Baju yang dikenakan disebut baju kooroong (kurung) terbuat dari kain belacu. Cina. Sedangkan sebagai alas kaki dikenakan terompah dengan sulaman klingkan bagi perempuan yang sudah tua. Sebagai kelengkapan busana serba songket ini sama dengan perhiasan yang lazim dikenakan untuk menghadiri upacara-upacara adat lainnya. Sebagai pakaian sehari-hari. Dari mutu kain songket tersebut dapat terlihat kekayaan atau kemampuan keluarga yang memilikinya. Pakaian ini dilengkapi dengan ikat pinggang (cak pinggang) terbuat dari kulit. kaum perempuan lazim mengenakan kain (tenunan tradisional Palembang atau kain batik dari Jawa). gelang (jenis gelang yang terkenal disebut gelang kepalak ulo). Busana ini hanya boleh dikenakan oleh perempuan yang sudah bersuami. Bagi orang kaya tidak ketinggalan jam kantong dengan medalion.

Namun demikian kalangan bangsawan tidak pernah menggunakan sarung pada kesempatan resmi. diikatkan pada pinggang atau dililitkan. Sebagai penyambung belahan kebaya. Yang membedakannya hanyalah bahan dasar iket tersebut. baik di Priangan maupun di Cirebon. Aturan tersebut berupa keseragaman pakaian pada saat-saat tertentu. Busana jajaka adalah baju takwa dan celana warna hitam dilengkapi dengan kain dodot dan tutup kepala bendo terbuat dari kain batik halus bermotif sama dengan kain dodot. Pada bagian kebaya dari leher sampai ujung bawah kebaya surawe terdapat hiasan dari pasmen. Khusus para bangsawan Cirebon menggunakan kain wulung. Pada masa pemerintahan Belanda. demikian pula pada sekeliling lengan dan pada seputar bawah kebaya. sedangkan kaum bangsawan menggunakan kain batik halus. Jawa dan Eropa terutama Belanda. Untuk kesempatan resmi busana resmi wanita priangan dilengkapi dengan sehelai selendang berwarna sama dengan kebaya dan alas kakinya berupa sandal selop.Dari masa ke masa. kain batik pun digunakan pula oleh semua lapisan masyarakat. Berkain kebaya pada dasarnya digunakan oleh kaum perempuan disemua lapisan. warna hitam atau putih. Adakalanya dikerudungkan. ciamisan bagi masyarakat Priangan dan batik dermayon atau trusmi untuk orang Cirebon Penggunaan kain batik yakni dililitkan pada bagian bawah badan. Adakalanya peniti itu terbuat dari logam mulia yang disambung-sambungkan dengan rantai kecil disebut panitih rantay. Zaman dahulu. Kaum laki-laki di Priangan dan Cirebon mengenakan iket sebagai penutup kepala. Biasanya mereka menggunakan bahan yang berkualitas tinggi seperti sutera atau beludru serta corak hias yang lebih anggun. Model ini sesungguhnya adalah bentuk dasar celana kaum bangsawan yang dihias dengan pasmen memanjang dari atas ke bawah pada bagian tengah samping sekeliling lubang celana. Cara memakai kain batik tersebut ada beberapa bentuk. Meskipun bentuk dasarnya sama namun terdapat variasi terutama dalam hiasan yang disesuaikan dengan keinginan/kebutuhan pemakainya. Yang membedakan keduanya adalah. Cara mengenakan sarung ini sangat bervariasi sesuai dengan kebutuhan. dari pinggang hingga ke pergelangan kaki. baik rakyat biasa maupun kalangan Keraton mengenakan baju sorong atau baju kurung. Adapun masyarakat Cirebon. bahan kebaya yang digunakan berbeda dari rakyat biasa. pada busana pejabat terdapat lidah-lidah pada bagian leher yang berkancing kait atau kancing pentul. Untuk memperkuat dililitkan beulitan atau sabuk pada pinggang pemakai. masyarakat Jawa Barat khususnya di Priangan dan Cirebon terus mengembangkan model busana sesuai dengan perkembangan zaman dan berbagai ketentuan pemerintah yang turut pula mengatur tata cara berbusana masyarakat Jawa Barat. pernah dikeluarkan peraturan tentang bentuk dan cara berpakaian bagi para bangsawan dan pejabat pemerintah pria saat itu. Di kalangan rakyat kebanyakan terbuat dari batik kasar. Sama halnya dengan kebaya. Oleh karena itulah pada busana pejabat atau bangsawan terdapat hiasan dari pasmen yang disesuaikan dengan tinggi rendahnya jabatan. Iket tersebut kemudian berkembang menjadi bendo yakni tutup kepala yang terbuat dari kain batik yang dicetak menurut ukuran kepala tertentu. dan dihiasi dengan pasmen. Bentuk kampret tersebut juga menjadi bentuk dasar dari model busana para pejabat dan kalangan bangsawan. Celana panjang model komprang digunakan oleh laki-laki di Priangan dan Cirebon. digunakan peniti. polekat). dari rakyat biasa sampai kalangan bangsawan Priangan maupun Cirebon. perempuan di Priangan dan Cirebon tidak mengenal lamban atau lepe (melipat bagian pinggir kain) namun kebiasaan tersebut baru dikenal sekitar dekade ketiga atau keempat abad 20 ini. . baik di kalangan rakyat biasa maupun di kalangan bangsawan. dilepas sampai pergelangan kaki. Laki-laki di Priangan dan Cirebon pada umumnya mengenakan sarung (poleng. Di kalangan rakyat biasa baju yang dikenakan adalah potongan kampret. Di kalangan istri pembesar. Bentuk pakaian/busana tersebut merupakan perpaduan antara tradisi Sunda. mereka lebih suka memakai kain batik halus. Umumnya yang digunakan mereka adalah kain-kain batik buatan setempat seperti batik garutan. sebatas lutut dan sedikit di atas lutut.

Jika perhiasan kaum perempuan agak kompleks dan beragam. Perhiasan tersebut umumnya berupa cincin emas. Adapun perempuan di kalangan bangsawan Priangan dan Cirebon melengkapi busananya dengan seperangkat perhiasan yang terdiri dari kalung emas. Penulis : Siti Dloyana Kusumah Busana Tradisional Baduy Baduy Traditional Dress Penulis : Jaya Purnawijaya . gelang emas dan giwang emas. Di bagian belakang bendo Priangan terdapat ikatan simpul ujung-ujung kain. untuk tampil cantik cukup memakai busana sederhana dengan perhiasan gelang emas /perak. sebaliknya cara berbusana kalangan atas/bangsawan lebih banyak memperhatikan fungsi estetisnya. mereka memakai selop yang pada bagian ujung atasnya dihiasi dengan manik-manik. Sebagai alas kaki bisa memakai selop atau sepatu. Kaum perempuan di kalangan rakyat kebanyakan. Bagian depan bendo Cirebon terdapat garis selebar 4 cm yang makin ke dalam makin kecil. gelang bahar. Meskipun catatan sejarah mengatakan bahwa zaman dahulu mereka tidak menggunakan alas kaki. Kelengkapan Busana Priangan dan Cirebon Pada kalangan rakyat kebanyakan mengenakan busana biasanya lebih ditekankan kepada fungsi praktisnya. namun kini sandal.Bendo di Priangan dan Cirebon berbeda terutama pada bagian depan. Seringkali pula perhiasan tersebut terdiri bukan hanya dari emas tetapi ditaburi dengan kilauan intan berlian. Bendo biasa digunakan oleh kalangan bangsawan atau pejabat pemerintahan. Untuk alas kaki. hiasan jas di bagian dada terdiri dari rantai emas/perak dengan liontin dari kuku harimau. Dalam berbagai kesempatan khusus. selop atau kelom sudah menjadi bagian dari berbusana. mereka baru memakai perhiasan dalam batas-batas tertentu. ali meneng. suweng pelenis baik yang terbuat dari emas atau perak. tidak demikian halnya dengan kaum laki-laki. Dengan demikian. sedangkan rakyat kebanyakan tetap memakai iket. berpengaruh kuat pada penggunaan kelengkapan busananya seperti perhiasan dan alas kaki.

Baduy Dalam merupakan paroh masyarakat yang masih tetap mempertahankan dengan kuat nilai-nilai?? ?budaya? ?? warisan leluhurnya dan tidak terpengaruh oleh kebudayaan luar. Agar kuat dan tidak melorot. Warna busana mereka umunnya adalah serba putih. kancing dan bahan dasarnya tidak diharuskan dari benang kapas murni. disebut Panamping yang tinggal di 36 kampung luar dan Baduy Dalam. Suku Baduy terdiri dari dua kelompok masyarakat. Bagi suku Baduy Luar. dengan ciri sub dialek Banten. Desain baju sangsang hanya dilobangi/dicoak pada bagian leher sampai bagian dada saja. Kehidupan sehari-harinya bersahaja. termasuk busana yang dikenakannya pun adalah sama. Peraturan adat sangat menentukan dalam sikap hidup suku Baduy. Desain bajunya terbelah dua sampai ke bawah. ada yang beranggapan bahwa busana suku Baduy saat ini merupakan bentuk busana yang digunakan oleh masyarakat Jawa Barat pada masa silam. Ini berbeda dengan Baduy Luar yang sudah mulai mengenal kebudayaan luar. kelengkapan busana pada bagian kepala menggunakan ikat kepala berwarna putih pula. yaitu tangtu Cibeo. Mereka bertutur dalam bahasa Sunda Buhun atau Sunda Kuno. Ciri bahasa yang digunakan suku Baduy adalah tidak memiliki tinggi-rendah bahasa dengan aksen tinggi dalam lagu kalimat. kosmetik. model dan warnanya saja. Letak perkampungan biasanya berada di celah-celah bukit dan lembah yang ditumbuhi pepohonan besar. Mereka tidak memakai celana. untuk laki-laki memakai baju lengan panjang yang disebut jamang sangsang. kecamatan Leuwidamar. cita-cita. menunjukan bahwa kehidupan mereka sudah terpengaruh oleh budaya luar. Dalam pandangan suku Baduy. baik untuk keseimbangan hidup antar sesama maupun kelestarian kehidupan alamnya. sarung tadi diikat dengan selembar kain. tingkat umur maupun fungsinya. Bahan dasarnya pun harus terbuat dari benang kapas asli yang ditenun. karena cara memakainya hanya disangsangkan atau dilekatkan di badan. piring. Oleh karena itu. Semuanya itu tabu (pamali). Baduy Dalam. karena pakaian tersebut dianggap barang tabu. Tak ada listrik. busana yang mereka pakai adalah baju kampret berwarna hitam. Ikat kepalanya juga berwarna biru tua dengan corak batik. Potongannya tidak memakai kerah. Sedangkan potongan bajunya mengunakan kantong. Pakaian Baduy Dalam yang bercorak serba putih polos itu dapat mengandung makna bahwa kehidupan mereka masih suci dan belum terpengaruh budaya luar. yaitu Baduy Luar. Pembuatannya hanya menggunakan tangan dan tidak boleh dijahit dengan mesin. radio dan televisi. desa Kanekes. Jarak antara satu kampung dengan kampung lainnya berjauhan. . Barangbarang "modern" seperti sabun. melindungi pohon dan hutan di sekitarnya dengan baik. tidak pakai kancing dan tidak memakai kantong baju. gelas dan peralatan pabrik dilarang dipakai. Ikat kepala ini berfungsi sebagai penutup rambut mereka yang panjang. Melihat warna. Selain baju dan kain sarung yang dililitkan tadi. Perbedaan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar seperti itu dapat dilihat dari cara busananya berdasarkan status sosial. tangtu Cikertawana dan tangtu Cikeusik. Salah satu tradisi yang masih bertahan adalah menenun dan cara berbusana. Penduduknya menjaga. Perbedaan busana hanya didasarkan pada jenis kelamin dan tingkat kepatuhan pada adat saja. yang hanya dililitkan pada bagian pinggang. mengelompok menurut asal keturunan (tangtu) mereka. Banten Selatan adalah masih kokohnya tradisi yang diwariskan oleh karuhun mereka. perbedaan itu hanya terletak pada bahan dasar. Kemudian dipadukan dengan selendang atau hasduk yang melingkar di lehernya. yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Kalaupun ada perbedaan dalam berbusana. disebut Kajeroan yang tinggal di tiga kampung utama. Cara berpakaian suku Baduy Panamping memamg ada sedikit kelonggaran bila dibandingkan dengan Baduy Dalam.Ciri khas suku Baduy yang tinggal di pegunungan Kendeng. yang memiliki keyakinan. model maupun corak busana Baduy Luar. Bagian bawahnya memakai kain serupa sarung warna biru kehitaman. seluruh penduduknya adalah suku Baduy dan tidak bercampur dengan penduduk luar. Wilayah desa Kanekes merupakan tanah adat suku Baduy. Baduy Dalam. mereka berasal dari satu keturunan. Lebak. tingkah laku. seperti baju yang biasa dipakai khalayak ramai.

karembong. Kain sarung atau kain wanita hampir sama coraknya. Rasanya busana laki-laki belum lengkap apabila tidak memakai senjata. Mereka mengenakan busana semacam sarung warna biru kehitam-hitaman dari tumit sampai dada. Penggunaan warna pakaian untuk keperluan busana hanya menggunakan warna hitam. Sedangkan. Untuk memenuhi kebutuhan pakaiannya. Mereka percaya bahwa semuanya itu merupakan warisan yang dituturkan oleh karuhun atau nenek moyang mereka untuk dijaga. potongan dan cara berbusananya saja. Model. biru. melainkan lebih bersifat sebagai identitas budaya yang melekatnya. ada kerajinan yang dilakukan oleh kalangan pria di antaranya adalah membuat golok dan tas koja. dipintal. biasanya membiarkan dadanya terbuka secara bebas. baju. kain tenunan sarung berwarna biru kehitamhitaman. Dimulai dari menanam biji kapas. Topi pengantin laki-laki yang berasal dari tanah suci Mekah ini tingginya 15 . Warna baju untuk Baduy Dalam adalah putih dan bahan dasarnya dibuat dari benang kapas yang ditenun sendiri. selendang dan ikat kepala. Jenis busana yang dikerjakan antara lain. yang terbuat dari kulit pohon teureup ataupun benang yang dicelup. pakaian bagi suku Baduy bukanlah sekedar untuk melindungi tubuh saja. Selain itu. Pakaian ini biasanya masih dilengkapi pula dengan tas kain atau tas koja yang dicangklek (disandang) di pundaknya.20 cm dan dililit dengan .Kelengkapan busana bagi kalangan kali-laki Baduy adalah amat penting. yaitu dasar hitam dengan garis-garis putih. Semua hasil tenunan tersebut umumnya tidak dijual tetapi dipakai sendiri. Bagi Baduy Dalam maupun Luar kalau bepergian selalu membawa senjata berupa golok yang diselipkan di balik pinggangnya. sedangkan selendang berwana putih. kecuali baju adalah sama. Untuk pakain bepergian. Memang. masyarakat suku Baduy menenun sendiri dan dilakukan oleh kaum wanita. Dari model. kain wanita. kain sarung. potongan dan warna pakaian. secara sepintas orang akan tahu bahwa itu adalah suku Baduy. Bertenun biasanya dilakukan oleh wanita pada saat setelah panen. yang dipadukan dengan warna merah. biru tua dan putih. kemuduan dipanen. baik Kajeroan maupun Panamping tidak menampakkan perbedaan yang mencolok. Busana Tradisional Betawi Betawi Traditional Dress Pengantin laki-laki dengan dandanan cara haji. ditenun sampai dicelup menurut motifnya khasnya. biasanya menggunakan tutup kepala yang disebut alpia atau alpie. busana yang dipakai di kalangan wanita Baduy. Bagi wanita yang sudah menikah. biasanya wanita Baduy memakai kebaya. sedangkan bagi para gadis buah dadanya harus tertutup. kain ikat pinggang dan selendang. Busana seperti ini biasanya dikenakan untuk pakaian sehari-hari di rumah.

Dari ragam hias geometris. Syarat utama dari tuaki ini adalah bahannya yang polos. adalah baju bagian atas (blus) yang dikenal memiliki 2 (dua) model. Warna-warna cerah yang dipilih. Di atas Siangko bercadar ini. diletakkan sebanyak 3 (tiga) untai di pinggir kiri alpia. tampil begitu meriah dengan perlengkapan yang serba unik. Mengenai tata rias wajah. sehingga membentuk 3 (tiga) tingkat lingkaran. yang agak longgar dan besar. merupakan pertanda apakah pengantin wanita mampu menjadi ibu rumah tangga yang mampu memelihara kebersihan fisik dan rohani dalam kehidupan berumah tangga atau tidak. gading atau kadang-kadang kuning. kehidupan dan kematian. kubah mesjid dan lain sebagainya. serta gemerlapan hiasan tuaki dan kun ini melambangkan suka cita dan keceriaan kedua pengantin dan seluruh kelua-rganya. Selain yang bercadar. bahkan ada yang bertahtakan intan berlian. yaitu model shianghai (Cina). Warna yang terbuat dari bahan polos ini pun disesuaikan dengan warna tuaki. Aslinya adalah emas. masih ada pula pengantin yang mengenakan selop atau terompah. Kun juga di beri hiasan benang tebar dengan kombinasi sesuai tatahan motif pada tuaki. siangko lainnya jumlah 3 (tiga) buah. Teratai. Sebagai alas kaki. bagian bawah baju sangat bervariasi.sorban kain. Gamis lebih panjang sekitar 10 cm dari jubah. Tuaki bentuk baju kurung. modelnya seperti baju kurung Melayu umumnya. Biasanya kumis dan cabang juga dirapihkan agar tampak bersih. Bagian jubah ini. yang disimbolkan dengan tidak boleh dilihatnya wajah mempelai putri oleh orang lain. Letak sanggul di tengah-tengah agak ke atas memperlihatkan tengkuk pengantin. Teratai ini berjumlah 8 (delapan) lembar kecil. Salah satunya yang unik adalah siangko bercadar yang melambangkan kesucian seorang gadis. Model baju yang sangat sederhana pada busana adat pengantin wanita Betawi ini. Busana yang dikenakan berupa jubah terbuka. biasanya dihiasi dengan emas dan manik-manik bermotif burung hong. Padanan tuaki adalah kun. bunga-bungaan. yaitu rok melebar ke bawah dengan panjang sampai ke mata kaki. baik dari bahan satin ataupun beludru. namun saat ini umumnya menggunakan mute. Hiasan kepala yang digunakan cukup kompleks. Ciri khas model shianghai adalah krahnya yang tertutup. Biasanya diberi pemanis dengan tambahan kain pada pinggiran bawah tuaki yang dirimpel keliling. Model yang mengikuti bentuk badan sipemakai. Keterpaduan berbagai unsur budaya muncul dalam kekayaan busana pengantin wanita Betawi yang terkesan meriah. karena aslinya terbuat dari emas. diletakkan sigar atau mahkota dengan motif bungabungaan yang dipenuhi permata. dan model baju kurung (Melayu). Saat ini banyak digunakan mote pasir dengan gumpalan benang wol merah di ujungnya. Namun. yaitu perhiasan penutup dada dan bahu adalah salah satu ciri yang sangat khas. Motif-motif hiasan emas. terbuat dari manik-manik. Sebelum mengenakan jubah. atau bahan perak. Caranya adalah dengan melilitkan secara berputar. Siangko bercadar yang berfungsi menutupi wajah pengantin wanita merupakan lambang kesuciannya. Bersih atau tidaknya tengkuk yang tampak. Sebuah selempang berhiaskan mute sebagai tanda kebesaran pun dikenakan boleh di dalam maupun di luar jubah. Hanya sedikit bedak yang ditaburkan di wajah agar terkesan rapi. Panjang cadarnya 30 cm. Siangko bercadar selalu berwarna emas. panjangnya sebatas pinggul. yang kemudian dipadatkan dengan tusuk konde. Ron je atau untaian bunga melati yang ujung bawahnya ditutup bunga cempaka dan ujung atasnya diberi sekuntum mawar merah. biasanya seorang pengantin laki-laki memakai gamis (baju dalam) polos berwarna muda yang panjangnya kira-kira sampai mata kaki -dan tidak boleh melebihnya. Rambut disanggul dengan model buatun atau konde cepol tanpa sasakan. warna putih. Terkadang di bagian atas disematkan sepasang kembang goyang. Dipakai di belakang sanggul sebagai penutup ikatan siangko bercadar. daerah sekitar dada. Hiasan rambut lainnya adalah tusuk paku atau kembang paku berjumlah . yang kemudian dirangkai menjadi susunan delapan daun teratai yang simetris. Keunikan lainnya terdapat pada tata rias di bagian kepala. Hiasan ini terbuat dari bahan beludru bertatahkan hiasan logam pada permukaannya dengan motif bunga tanjung. mote atau manik-manik yang diletakan di ujung lengan. Biasanya dihiasi batu-batu permata. biasanya digunakan sepatu kulit dengan kaos kaki yang merupakan pengaruh Belanda sejak abad ke 19. Panjang lengan agak longgar. Lengan panjangnya diberi benang karet pada pergelangan. bunga-bunga sampai motif burung hong. Tuaki. tidak ada yang khusus. Ketiga tingkat lingkaran ini melambangkan siklus kehidupan yang dimulai dari kelahiran.

10 buah atau lebih yang dimaksudkan sebagai penolak bala. Apabila sunting ini dipakai oleh seorang pengantin yang tidak perawan atau tidak gadis lagi. yang juga dilengkapi dengan mahkota dan kacamata. Tusuk bunga atau kembang tancep berjumlah 5 buah yang melambangkan rukun Silam. bros dan untaian melati. Jumlahnya yang empat buah melambangkan 4 (empat) sahabat Rasullullah. kewajiban yang harus dijalankan oleh pengantin sebagai seorang Muslim. pergelangan tangan dan jari pengantin wanita. maka kembang kelapa merupakan simbol pengharapan agar perkawinan yang dilakukan tetap kokoh. Kembang goyang yang berjumlah 20 buah. sarung songket. Kerabu ini merupakan perpaduan anting dan giwang yang dijadikan satu. atau mute. Mempelai wanita mengenakan selop berbentuk perahu kolek. selendang dan celemek. Variasi pakaian pengantin Betawi ini dapat ditemui di beberapa daerah. biasanya telinga pengantin dihias dengan sepasang kerabu. bagi mempelai pria terdiri dari jas tutup. juga dikarenakan sebagai hiasan rambut bersama dengan 2-4 buah kembang kelapa yang dipasang di kiri dan kanan sanggul. Busana ini biasanya dikenakan setelah akad nikah. sejahtera dan bahagia. sebagai pelengkap yang menunjang keserasian. Letak burung hong ini juga memiliki arti tersendiri. Sebelum rerurub atau ruruban. dengan busana wanita Betawi sehari-hari. Sementara hiasan kepalanya tidak serumit dandanan rias besar putri. ikat pinggang dan iiskoi motif lokcan. Gelang listring dan gelang selendang mayang. gelang bahar. Selain perhiasan untuk kepala. pengantin laki-laki mengenakan stelan jas lengkap dengan kopiah hitam dan kacamata hitam. Selain sunting. Penulis Endang Mariani . Apabila kembang goyang melambangkan pengakuan terhadap 20 sifat kebesaran Allah. serta cincin emas yang berhiaskan permata menjadi hiasan lengan. dengan ujung melengkung ke atas dan dihias dengan tatahan emas dan manikmanik. yang wajib diturunkan dan diajarkan pada anak keturunannya kelak. Keunikan juga tampak pada alas kaki yang digunakan. burung hong sendiri dianggap sebagai simbol burung surga yang melambangkan kebahagiaan kedua pengantin. yaitu sebuah kerudung dari kain halus dan tipis. Perlengkapan busana ini adalah kuku macan. satu bentuk perhiasan yang dipercaya memiliki kekuatan magis adalah sunting atau sumping telinga. Seperti misalnya di daerah pinggiran. Mempelai putri menggunakan baju kurung tabur. sehingga akan menjadi perkawinan yang langgeng. Tusuk konde berupa pasak berbentuk huruf leam (huruf Arab) merupakan simbol pengakuan akan keesaan Allah ditusukkan di atas siangko kecil penutup simpul tali cadar. ditutupkan ke seluruh riasan wajah pengantin wanita. Namun saat ini. sedangkan hiasannya lebih banyak menggunakan mute. Busana pengantin rias bakal. kuat seperti pohon kelapa. Dari hiasan kepala pengantin wanita yang telah dikemukakan. Tanda bulan sabit berwarna merah ini merupakan perlambang bahwa di gadis telah menjadi pengantin. yang berkaitan dengan kecocokan antara pihak keluarga kedua pengantin. celana panjang. pisau raut. maka si pemakai akan pusing-pusing dan bahkan pingsan. umumnya hanya merupakan sepuhan warna emas. Nabi Besar Muhammad SAW. Sementara itu. pengantin wanita juga mengenakan perhiasan berupa kalung tebar yang dipakai melingkar leher di atas teratai Betawi. Aslinya seluruh perhiasan yang dikenakan oleh pengantin wanita Betawi terbuat dari emas dan dihiasi intan permata. Sementara pengantin wanita memakai slayer dan sarung tangan putih. di beberapa daerah di atas dahi pengantin diberi tanda berbentuk bulan sabit. Hiasan burung hong atau dikenal dengan sebutan kembang besar atau kembang gede adalah hiasan lain yang tidak boleh ketinggalan. Sementara ruruban merupakan tanda kesuciannya. Adapun pakaian yang kini dikenal dengan busana "Abang dan None Jakarta" merupakan kombinasi dari busana pengantin rias bakal untuk pria.

putih. brokat. kemben dan kain tapih pinjung dengan stagen. yaitu kebaya pendek yang berukuran sampai pinggul dan kebaya panjang yang berukuran sampai ke lutut. seperti pada upacara adat misalnya. Oleh karena itu. baju kebaya menggunakan peniti renteng dipadukan dengan kain sinjang atau jarik corak batik. Baju kebaya di sini adalah berupa blus berlengan panjang yang dipakai di luar kain panjang bercorak atau sarung yang menutupi bagian bawah dari badan (dari mata kaki sampai pinggang). sebab kain kemben ini cukup lebar dan panjang. dan dilengkapi dengan perhiasan yang dipakai seperti subang. baik yang polos dengan salah satu warna seperti merah. bagian kepala rambutnya digelung (sanggul). Saat ini. sutera yang berbunga maupun . kuning. Dewasa ini. Sedangkan stagen dililitkan pada bagian perut untuk mengikat tapihan pinjung agar kuat dan tidak mudah lepas. baju kebaya pada umumnya hanya dipakai pada harihari tertentu saja. Pada busana upacara seperti yang dipakai oleh seorang garwo dalem misalnya. biru dan sebagainya maupun bahan katun yang berbunga atau bersulam. khususnya di lingkungan budaya Yogyakarta dan Surakarta. Kemben dipakai untuk menutupi payudara. lurik atau bahan-bahan sintetis. nilon. kain sunduri (brocade). kebaya pendek dapat dibuat dari bahan sutera. Untuk busana sehari-hari umumnya wanita Jawa cukup memakai kemben yang dipadukan dengan stagen dan kain jarik. ketiak dan punggung. Panjangnya kebaya bervariasi. wanita Jawa mengenal dua macam kebaya. hijau. Kebaya pendek dapat dibuat dari berbagai jenis bahan katun. cincin. Sedangkan. Jawa Tengah adalah baju kebaya. Baju kebaya dikenakan oleh kalangan wanita bangsawan maupun kalangan rakyat biasa baik sebagai busana sehari-hari maupun pakaian upacara. mulai dari yang berukuran di sekitar pinggul atas sampai dengan ukuran yang di atas lutut. kalung dan gelang serta kipas biasanya tidak ketinggalan.Busana Tradisional Jawa-Solo Javanese Solo Traditional Dress Busana Kebaya Jenis busana dan kelengkapannya yang dipakai oleh kalangan wanita Jawa. kebaya panjang lebih banyak menggunakan bahan beludru.

Panjang baju kebaya ini sampai ke lutut. tetapi biasanya tanpa memakai selendang. yang disesuaikan dengan tahapan upacara. gelang dan sepasang tusuk konde pada sanggul. ikat pinggang besar. Kelengkapan perhiasannya dapat dipakai yang sederhana berupa subang kecil dengan kalung dan liontin yang serasi. keris dan alas kaki (cemila). biru sedang dengan hitam. dan Timor sebenarnya serupa dengan blus. Pada umumnya kebaya panjang terbuat dari kain beludru hitam atau merah tua. Meskipun seni busana berkembang baik di lingkungan keraton. Kalangan wanita di Jawa. Kepulauan Sumbawa. baju lengan panjang. Bajunya beskap atau sikepan dan pada bagian kepala memakai destar. Busana Basahan Salah satu jenis busana adat yang terindah dan terlengkap di Indonesia terdapat di keraton Surakarta. Baju kebaya panjang yang dipakai sebagai busana upacara biasa.nilon yang bersulam. pada kepala memakai destar (blankon). stagen untuk mengikat kain samping. Selain kain lurik. Baju ini terdiri dari dua helai potongan. Untuk menutupi stagen digunakan selendang pelangi dari tenun ikat celup yang berwarna cerah. bagi orang tua mempelai biasanya mereka memakai kain jarik dan sabuk sindur. ungu dengan hitam. tiap-tiap jenis busana tersebut menunjukkan tahapan-tahapan tertentu dan siapa si pemakaiannya. yaitu midodareni. ikat kepala dan kalau sore pakai sarung. ijab. Semua potongan tersebut dapatdikerjakan dengan mesin jahit ataupun dijahit dengan tangan. kain lurik yang serasi atau kain ikat celup. Bali dan Madura. Sedangkan busana di kalangan pria. Busana yang dipakai adalah celana kolor warna hitam. seorang wanita dan pria kalangan keraton mengenakan beberapa jenis busana. Mengenai teknik dan cara membuat baju kebaya sangat sederhana. Selendang yang dipakai tersebut sebaiknya terbuat dari batik. cincin. yaitu sehelai bagian depan dan sehelai lagi potongan bagian belakang. Sanggulnya dihiasi dengan untaian bunga melati dan tusuk konde dari emas. Modelnya dapat ditambah dengan sepotong bahan berbentuk persegi panjang yang dipakai sebagai penyambung antara kedua potongan bagian muka. Lengkung ini harus cukup lebar sehingga dapat dilipat ke dalam untuk vuring kemudian dilipat lagi keluar untuk membentuk lengkung leher. Busana ini dinamakan Jawi Jangkep. lipatan bawah bagian belakang dan samping harus sama lebarnya dan menuju ke bagian depan dengan agak meruncing. Baju kebaya dipakai dengan kain sinjang jarik/ tapih dimana pada bagian depan sebelah kiri dibuat wiron (lipatan) yang dililitkan dari kiri ke kanan. Dewasa ini. brokat. Pada upacara midodareni. Dalam adat busana perkawinan misalnya. Namun pada saat upacara perkawinan. Baju kebaya panjang biasanya menggunakan bahan beludru. Sedangkan. dapat pula memakai tambahan bahan di bagian muka akan tetapi tidak berlengkung leher (krah). Ini dimaksudkan agar benar-benar membentuk badan pada bagian pinggang dan payudara dan sedikit melebar pada bagian pinggul. kuning tua dengan hitam dan merah bata dengan hitam. baju kebaya panjang merupakan pakaian untuk upacara perkawinan. pengantin wanita memakai busana kejawen dengan . Lengkung leher baju menjadi satu dengan bagian depan kebaya. Potongan dan model kebaya Jawa. sutera maupun nilon yang bersulam. dapat juga memakai kain gabardine yang bercorak kotak-kotak halus dengan kombinasi warna sebagai berikut: hijau tua dengan hitam. biasanya baju kebaya mereka diberi tambahan bahan berbentuk persegi panjang di . maka tata rias rambutnya tanpa untaian bunga melati dan tusuk konde. Sedangkan. daerah pantai Kalimantan.bagian depan yang berfungsi sebagai penyambung. Pada bagian badan kebaya dipotong sedemikian rupa sehingga tidak memerlukan krup. tidak berarti busana di lingkungan rakyat biasa tidak ada yang khas. khususnya kerabat keraton adalah memakai memakai baju beskap kembang-kembang atau motif bunga lainnya. Sebab. yang juga dipakai di Sumatera Selatan. Dan umumnya digunakan juga oleh mempelai wanita Sunda. panggih dan sesudah upacara panggih. Jawa Tengah. yang dihiasi pita emas di tepi pinggiran baju. Busana adat tradisional rakyat biasa banyak digunakan oleh petani di desa. Kain jarik batik yang berlipat (wiron) tetap diperlukan untuk pakaian ini. yaitu busana pria Jawa secara lengkap dengan keris. perhiasan yang dipakai juga sederhana. yaitu sebuah sisir berbentuk hampir setengah lingkaran yang dipakai di sebelah depan pusat kepala. kain samping jarik. serta dua buah lengan baju.

keris warangka ladrang dan selop. pilin. Busana basahan pengantin pria disini terdiri dari kuluk matak petak. terdiri dari kuluk matak biru muda. melainkan terdiri dari semekan atau kemben. bros. epek. Motif geometris diantaranya adalah kain batik yang bercorak ikal. jungkat. tumbuh-tumbuhan (bunga teratai. pada upacara setelah panggih. sikepan. keris warangka ladrang. Sama halnya dengan pengantin wanita. busana yang dipakai pengantin wanita adalah baju kebaya dan kain jarik. yaitu terdiri dari baju kebaya. basahan. maka baik pengantin wanita maupun pria biasanya dirias pada bagian wajah dan sanggul. keris warangka ladrang dan selop. Kain dodot yang menggunakan corak batik alas-alasan panjangnya kirakira 4-5 meter. kain jarik. biasanya kedua mempelai pengantin melengkapi busana basahan dengan aneka perhiasan. Sebagai kelengkapan. cara meriasnya tidak sedemikian rumit dan teliti sebagaimana pengantin wanita yang harus dirias pada bagian wajahnya mulai dari muka. stagen. Sedangkan pengantin pria menggunakan busana kepangeranan. hewan (misal : burung. sabuk timang. subang dan timang atau epek. yang melambangkan kesuburan. dodot bangun tulak. dodot bangun tulak. awalnya digunakan sebagai alat untuk melindungi tubuh dari cuaca dingin maupun panas. dodot bangun tulak atau kampuh. warna dasar merah yang dihiasi bunga berwarna hitam dan putih. timang/epek. Saat upacara ijab. gelang. pengatin pria pun memakai busana adat basahan. Begitu pula pada upacara panggih kedua mempelai memakai jenis busana yang sudah ditetapkan. pipi dan bibir. sabuk lengkap dengan timang dan cinde. Sedangkan bagi pengantin wanita. stagen. pengantin wanita memakai busana kanigaran. alis. Berbeda dengan tahapan upacara sebelumnya. naga). Jenis ragam hias yang dikenal di daerah Surakarta maupun Jogyakarta adalah kain yang bermotifkan tematema geometris. . celana panjang warna putih. sampur atau selendang sekar cinde abrit dan kain jarik cinde sekar merah. Tujuannya adalah agar mempelai wanita kelihatan lebih cantik dan angun dan pengantin pria lebih gagah dan tampan. stagen. Pada busana-busana khusus untuk upacara perkawinan dikenal juga motif pada batik tulis. perhiasan yang biasa dipakai adalah cunduk mentul. Semekan atau kemben terbuat dari kain batik dengan corak alas-alasan warna dasar hijau atau biru dengan hiasan kuning emas atau putih. sedangkan pengantin pria memakai busana basahan. sabuk timang. cincin. kain jarik. Kemben disini berfungsi sebagai pengganti baju dan pelengkap untuk menutupi payudara. Pengantin wanita memakai busana adat bersama. ular.warna sawitan. Motif berupa garis-garis potong yang disebut motif tangga merupakan simbolisasi dari nenek moyang naik tangga sedang menuju surga. Sedangkan kain sido mukti. Fungsi pakaian. kain sido luhur dan sido mulyo merupakan pakaian mempelai. ikal rangkap dan pilin ganda. kain jarik. dan merupakan baju pokok dalam busana basahan. kolong karis. Bahkan motif yang paling dikenal oleh masyarakat Surakarta adalah motif tumpal berbentuk segi tiga yang disebut untu walang. Busana Jawa baik pakaian sehari-hari maupun pakaian upacara sangat kaya akan ragam hias yang tak jarang memiliki makna simbolik dibaliknya. stagen dan selop. sebagai unsur pelengkap upacara yang menyandang nilai tertentu. maupun sebagai alat pemenuhan kebutuhan akan keindahan. cincin. sabuk timang. yang terdiri dari baju atela. misalnya untuk menutup aurat. dalam busana adat perkawinan. kerbau. kalung. udeng. melati) maupun alam dan manusia. celana cinde sekar abrit. seperti kain sindur dan truntum yang dipakai oleh orang tua mempelai. keris dan selop. berupa dodot bangun tulak. bros dan buntal. stagen dan kain jarik dengan corak batik. mata. Busana basahan adalah tidak memakai baju. baju takwo. Cara mengenakan kain ini seperti kain jarik tetapi tidak ada lipatan (wiron). Busana sawitan terdiri dari kebaya lengan panjang. Bagi pengantin pria. Pada upacara panggih ini. centung. Kemudian fungsi pakaian menjadi lebih beragam. swastika (misalnya bintang dan matahari). Selendang cinde sekar abrit terbuat dari kain warna dasar merah dengan corak bunga hitam dan kain jarik cinde sekar abrit terbuat dari kain gloyar. yang terdiri dari kuluk kanigoro. Sedangkan pengantin prianya memakai busana cara Jawi Jangkep. Perhiasan yang biasa digunakan oleh mempelai pria adalah kalung ulur. selop dan perhiasan kalung ulur.

dan lain-lain) dan perhiasan (aksesori). Adapun yang dimaksud dengan pengertian pakaian sehari-hari di sini adalah seperangkat pakaian yang dikenakan di rumah. Seperti kain kebaya fungsi praktisnya adalah untuk menjaga kehangatan dan kesehatan badan. yakni menghias tubuh agar kelihatan lebih cantik dan menarik. sosial dan simbolik. Demikian pula pakaian dari suatu daerah dapat dibedakan atas pakaian sehari-hari/kerja dan pakaian upacara/pesta adat. Namun demikian. tetapi tetap terpelihara dengan baik dan selalu dimunculkan pada saat-saat penting. pakaian ini diterima di kalangan masyarakat Jawa yang tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta.Pada masyarakat di Jawa Tengah. seperti pada masyarakat bangsawan pakaian mempunyai fungsi praktis. Pakaian khusus itu akan muncul secara menarik dan berwibawa. bagian tengah terdiri dari baju (kebaya. pada saat-saat tertentu akan muncul kembali dalam suatu upacara adat yang meriah dan menarik perhatian masyarakat umum. Kelengkapan berbusana tersebut merupakan ciri khusus pemberi identitas bagi pemakainya yang meliputi fungsi dan peranannya. usia. Oleh karena itu.1945). fungsi estetis. kapan dikenakan. . Mereka terdiri dari golongan-golongan sesuai dengan fungsi dan jabatannya. dan bagian bawah. dan yang pada gilirannya jarang dijumpai lagi. Misalnya pada masa penjajahan Jepang (1942 . konde. dan status sosial pemakainya. Lebih-lebih pada saat penyelenggaraan upacara adat pakaian tersebut dikenakan secara lengkap. dan siapa yang mengenakannya. merupakan lembaga resmi yang dipimpin oleh seorang raja dan para kerabatnya yang disebut pegawai istana atau abdidalem. pakaian resmi semacam itu lama kelamaan tidak lagi dikenakan secara lengkap. fungsi sosial yakni belajar menjaga kehormatan diri seorang wanita agar tidak mudah menyerahkan kewanitaannya dengan cara berpakaian serapat dan serapi mungkin. Pakaian adat tradisional masyarakat Yogyakarta terdiri dari seperangkat pakaian yang memiliki unsur unsur yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. di samping pakaian sehari-hari yang secara rutin dikenakan. Pemakainya dapat digolongkan berdasarkan jenis kelamin. bagian tengah. kemudian disusul dengan masa kemerdekaan. estetis. religius. yang mana pada waktu itu ekonomi negara kita dalam keadaan kacau. dan saat bepergian. usia. yang secara visual ditandai pula oleh cara dan bentuk pakaian. serta memakai stagen sekuat mungkin agar tidak mudah lepas. Dari pembagian tersebut dapat digolongkan lagi jenis-jenis pakaian berdasarkan jenis kelamin. sebagai miliknya sendiri dan pemberi identitas. pakaian adat tradisional kraton Yogyakarta yang sempat dikenal di kalangan masyarakat luas banyak dikenakan oleh golongan masyarakat biasa. saat bekerja. serta bagian bawah berupa alas kaki. Dalam perkembangan selanjutnya. Sejalan dengan perkembangan zaman. khususnya di Surakarta fungsi pakaian cukup beragam. Pakaian adat tradisional Kraton Yogyakarta yang sudah jarang dijumpai lagi akhir-akhir ini. Penulis Jaya Purnawijaya Busana Tradisional Yogyakarta Yogyakarta Traditional Dress Kraton sebagai suatu pusat institusi dan tata pemerintahan. Demikianlah secara keseluruhan pakaian adat itu tidak pernah musnah dilanda kemajuan zaman. cara berpakaian biasanya sudah dibakukan secara adat. Secara keseluruhan seperangkat pakaian terdiri atas bagian atas. diantaranya melalui bentuk pakaian yang harus dikenakan. Bagian atas meliputi tutup kepala dan tata rias rambut (sanggul. pakaian atau busana menurut kepangkatan tidak begitu diperhatikan lagi. Pakaian tersebut dikenal sebagai pakaian adat tradisional yang resmi dan khas Yogyakarta. dan status sosial. di man dikenakan. dan sebagainya). Sejak kecil putra-putri Sultan telah mengenal beberapa peraturan yang membedakan dirinya dengan status individu lainnya.

dan perkawinan. dan cincin. ikat pinggang kamus songketan bermotif flora atau fauna. tingalan dalem tahunan. garebeg. yang menunjukkan status sosial pemakainya sebagai putri Sultan sampai dengan cicit Sultan. baju katun. pethat jeruk sak ajar. Sebagai perhiasannya adalah subang. Jenis busana ini dibedakan atas busana dodotan. kalung dinar. Perhiasan yang dikenakan sebagai pelengkap terdiri dari subang. Kelengkapan busana kanigaran pada dasarnya sama dengan busana dodotan. serta mengenakan cathok dari perak berbentuk kupu-kupu. timang. burung garuda. Rangkaian busana ini terdiri dari kain (nyamping) batik. serta sedan (pemakaman jenazah raja). Untuk putri yang sudah dewasa mengenakan busana semekanan dalam kesehariannya. berfungsi sebagai penutup dada. Busana kebesaran yang dikenakan dalam semua kegiatan ini disebut busana keprabon. atau gringsing. Penulis Dewi Indrawati . ceplok. jumenengan dalem. Lipatan kain (wiru) berada di sebelah kiri. dan keris branggah. sanggul tekuk polos tanpa hiasan. rante. lonthong tritik. semekan tritik. udhet tritik (semacam selendang sebagai hiasan pinggang). Busana sabukwala padintenan dikenakan oleh anak perempuan berusia 3-10 tahun. maka busana kanigaran ini dilengkapi dengan baju sikepan bludiran. timang (kretep). sanggul tekuk polos tanpa hiasan. Kelengkapan pinjung padintenan terdiri atas kain batik. kain batik dengan wiru di tengah. karset. baju surjan. kanigaran. kain batik. Busana ini dikenakan dengan cara melipat ujung kain sebelah dalam dibentuk segitiga sebagai penutup dada. Kainnya bermotif parang. gelang. Remaja putri mengenakan busana yang disebut pinjung. baju kebaya katun. supitan. Busana untuk anak laki-laki model kencongan terdiri dari kain batik yang dikenakan dengan model kencongan. yang khusus dikenakan para putra Sultan. tanpa baju. ikat pinggang berupa kamus songketan dengan cathok atau timang terbuat dari suwasa (emas berkadar rendah). Sedangkan busana seharihari bagi pria remaja dan dewasa terdiri dari baju surjan. Rangkaian busana dodotan terdiri dari kuluk biru dengan hiasan mundri (nyamat). moga renda berwarna kuning. gelang. serta mengenakan dhestar sebagai tutup kepala. perkawinan. dan busana sabukwala untuk anak perempuan. Agustusan. Pengertian kata semekan berupa kain panjang yang lebarnya separuh dari lebar kain panjang biasa. yang panjangnya diukur dari dada sampai di atas pusar. kampuh konca setunggal. gelang berbentuk ular (gligen) atau model sigar penjalin. Busana Kebesaran Untuk Upacara Ageng Pengertian upacara ageng adalah kegiatan seremonial dari rangkaian upacara supitan. lonthong tritik. serta mengenakan perhiasan berupa subang. kalung emas dengan liontin berbentuk mata uang (dinar). Bagi yang berambut panjang disanggul dengan model konde. atau merak. Rangkaian busana ini terdiri dari nyamping batik. kamus songketan. cincin. kamus songketan.Busana yang dirancang untuk anak-anak terdiri dari busana kencongan untuk anak laki-laki. Jenis busana ini lazim dikenakan pada upacara Agustusan. Hanya saja jika busana dodotan dikenakan tanpa baju. kamus. tingalan dalem tahunan. baju kebaya katun. lonthong tritik. serta sapu tangan merah. dan kaprajuritan. serta pisowanan dalam upacara perkawinan. Perhiasannya berupa subang. Busana ini lazim dikenakan pada upacara garebeg. dana cindhe gubeg. jumenengan dalem (penobatan raja). memakai lonthong tritik. Sedangkan busana harian bagi putri raja yang sudah menikah terdiri atas semekan tritik dengan tengahan. Sanggulnya berbentuk sanggul tekuk polos tanpa hiasan.

Secara umum masyarakat sukubangsa Madura mengenal perbedaan busana berdasarkan usia. Bentuk baju yang serba longgar dan pemakaiannya yang terbuka melambangkan sifat kebebasan dan keterbukaan orang Madura. yaitu hitam dan putih. umumnya hanya menggunkan celana gomboran dengan kaos oblong. Sebaliknya para nelayan. status sosial maupun kegunaannya. baju pesa`an. Untuk sehari-hari odheng yang digunakan adalah odheng peredhan dengan motif storjan. baju pesa`an warna hitamlah yang menjadi ciri khas. Sarung palekat kotak-kotak dengan warna menyolok dan sabuk katemang. maka jenis dan bentuk busananya pun memiliki beberapa kesamaan dengan busana dari daerah-daerah lain di Pulau Jawa. terutama kaos bergaris yang digunakan. dipadu dengan sarung motif kotak-kotak biasa. tutup kepala yang dikenakan. Sebenarnya. ikat pinggang kulit lebar dengan kantong penghimpun uang di depannya adalah perlengkapan lainnya. Jaman dahulu. Kalangan pedagang kecil. lengkap dengan tutup kepala dan kain sarung. baik sebagai busana sehari-hari maupun untuk keperluan upacara. Terompah atau tropa merupakan alas kaki yang umumnya dipakai. Berbeda dengan rakyat kebanyakan. jenis kelamin. Dalam penggunaannya. celana gomboran dan kaos oblong ini memiliki perbedaan fungsi bila dilihat dari cara memakainya. masyarakat mengenal baju pesa`an dalam dua warna. Warna hitam ini melambangkan keberanian. Kesederhanaan bentuk baju ini pun menunjukkan kesederhanaan masyarakatnya. bera` songay atau toh biru. baik sebagai busana sehari-hari maupun sebagai busana resmi. Sikap gagah dan pantang mundur ini merupakan salah satu etos budaya yang dimiliki masyarakat Madura. kebudayaan Jawa dalam arti luas berpengaruh sangat besar dalam berbagai segi kehidupan masyarakat sukubangsa Madura. Garis-garis tegas merah. Oleh karena kebudayaan Madura termasuk dalam daerah kebudayaan Jawa. yaitu hitam serba longgar dengan kaos bergaris merah putih atau merah hitam. dalam menghadapi segala hal. teguh dan keras. Perlengkapan busana . pakaian yang terdiri dari baju pesa`an dan celana gomboran ini merupakan pakaian pria untuk rakyat kebanyakan. Pada masa sekarang. Perbedaannya adalah pada odheng. secara umum sebagaimana busana Solo dan Yogya. seringkali mempergunakan baju pesa`an dan kaos oblong warna putih. di dalamnya. putih atau hitam yang terdapat pada kaos yang digunakan pun memperhatikan sikap tegas serta semangat juang yang sangat kuat. Baju pesa`an biasanya dipakai oleh guru agama atau molang. kalangan bangsawan biasanya menggunakan rasughan totop (jas tutup) polos dengan samper kembeng (kain panjang) di bagian bawah.Busana Tradisional Madura Madura Traditional Dress Penulis Endang Mariani Meskipun Madura adalah sebuah pulau yang terpisah dari Pulau Jawa. Masyarakat umum mengenal pakaian khas Madura. Adanya pengaruh cara berpakaian pelaut dari Eropa.

bermata selong dengan . Harnal bubut dari emas. bermotif modang. Kebaya dengan panjang tepat di atas pinggang dengan bagian depan berbentuk runcing menyerong khas roncongan Madura. terbuat dari tenunan bermotif polos. kuning atau hitam. Sebagaimana senjata bagi laki-laki Madura. Termasuk dalam memilih warna pakaian maupun aksesoris lainnya. Panjang kutang dengan bukaan depan ini ada yang pendek dan ada pula yang sampai perut. jepit kain. bentuknya agak lonjong dan pipih letaknyapun miring. Bentuknya seperti busur. storjan atau lasem. sehingga membuat si pemakai harus sedikit mendongak ke atas agar odheng tetap dapat bertengger di atas kepalanya. Adapun cucuk dinar. pelintiran ujung simpul bagian belakang yang tegak lurus melambangkan huruf alif. keduanya terbuat dari emas. maka derajat kebangsawanan semakin rendah. Demikian pula berbagai pantangan makanan yang tidak boleh dilanggar. Bentuk dan cara memakai odheng juga menunjukkan derajat kebangsawanan seseorang. Jumlah untaian mata uang ini tergantung kemampuan si pemakai. Keindahan lekuk tubuh si pemakai akan tampak jelas dengan bentuk kebaya rancongan dengan kutang pas badan ini. serta pemakaian penggel. mulai dari kepala sampai kaki. Bentuknya agak bulat dan penuh. Odheng pada masyarakat Madura memiliki arti simbolis yang cukup kompleks. Sementara di daerah Madura Timur. sayap atau ujung kain dipilin dan tetap terbeber bila si pemakai masih relatif muda. Kaum wanita Madura umumnya mengenakan kebaya sebagai pakaian sehari-hari maupun pada acara resmi. rasughan totop umumnya berwarna hitam digunakan lengkap dengan odheng tongkosan kota. jam saku. Letak sanggul umumnya agak tinggi. Warna dasarnya putih dengan motif didominasi warna merah. Arloji rantai acap digunakan. kemudian digelung sendhal. Perhiasan yang dikenakan oleh wanita Madura. Rambut wanita Madura itu sendiri. umumnya digunakan bersama sarung batik motif tumpal. Pada saat menghadiri acara resmi. semakin tinggi dewajat kebangsawananan. Alas kaki yang digunakan adalah sandal jepit. serta bersifat terbuka dan terus terang. padat dengan kuncir sisa rambut yang terletak tepat di tengah-tengah rambut. Cucuk sisir biasanya terdiri dari untaian mata uang emas atau uang talenan dan ukonan. yang sangat menghargai keindahan tubuh. stagen. terdiri dari beberapa keping mata uang dollar. namun ada pula yang memakai kain panjang dengan motif tabiruan. Pilihan warna yang kuat dan menyolok pada masyarakat Madura menunjukkan karakter mereka yang tidak pernah ragu-ragu dalam bertindak. Kebaya tanpa kutu baru atau kebaya rancongan digunakan oleh masyarakat kebanyakan. hijau atau biru terang yang kontras dengan warna dan bahan kebaya yang tipis tembus pandang atau menerawang. Untuk penguat kain digunakan odhet. pada odheng tongkosan kota. dengan ukuran lebar 15 cm dan panjang sekitar 1. Semakin miring kelopaknya. Untuk orang yang sudah sepuh (tua). Hiasan rambut berupa cucuk sisir dan cucuk dinar. Pada odheng peredhan. Warna biasanya merah. Pada odhet terdapat ponjin atau kempelan. Ciri khas kebaya Madura adalah penggunaan kutang polos dengan warna-warna menyolok seperti merah. perhiasanpun menjadi pelengkap yang utama bagi busana kaum wanitanya. termasuk kelengkapan pakaian yang membedakan penampilan dan kewibawaan seorang bangsawan dengan rakyat biasa. baik dari ukuran. dulcendul. mengandung makna "betapapun beratnya beban tugas yang harus dipikul hendaknya diterima dengan lapangan dada". Sementara itu. Odhet adalah semacam stagen Jawa. yaitu saku untuk menyimpan uang atau benda berharga lainnya. biasanya disisir ke belakang. Hal tersebut merupakan salah satu perwujudan nilai budaya yang hidup di kalangan wanita Madura. sabuk katemang.seperti sap osap (sapu tangan). garik atau jingga. Ikatan odheng juga memiliki arti tertentu. Ukuran odheng tongkosan yang lebih kecil dari kepala. Semuanya dimaksudkan untuk membentuk tubuh yang indah dan padat. Sebum dhungket atau tongkat. Kutang ini ukurannya ketat pas badan. Oleh karenaitu mereka tidak mengenal warna-warna lembut. motif maupun cara pemakaian. Hampir sama dengan gelung wanita Bali. yang merupakan simbol dari kalimat pengakuan akan keesaan Allah (Laa illaahaillallaah). yaitu huruf awal dalam bahasa Arab. juga memiliki daya tarik yang unik. pemberani. Ramuan jamu-jamu Madura diberikan semenjak seorang gadis cilik hendak berangkat remaja.5 meter. Semakin tegak kelopak odheng tongkosan. simpul mati di bagian belakang dibentuk menyerupai huruf lam alif. dan perhiasan lainnya terutama selok (seser) atau cincin geleng akar (gelang dari akar bahar).

semakin panjang untaiannya berarti semakin tinggi kemampuan ekonomi pemakainya. Berat kalung itu rata-rata 5-10 gram. baik dari kalangan bangsawan maupun rakyat biasa. Motif hiasan kalung Madurapun terkenal karena ciri khasnya. Wajah dihiasi dengan jimpit di bagian kening kanan. Penggel merupakan hiasan kaki dari emas atau perak yang dipakai pada pergelangan kaki kiri dan kanan. Demikian pula gelang tangan dan hiasan jari berupa cincin emas bermata berlian. sedangkan gigi dihiasi dengan apa egan. Tempat yang dijimpit disebut leng pelengan. Gelang kaki yang terbuat dari emas atau perak. Alas kakinya berupa selop tutup. penggel adalah salah satu yang paling unik. tatarias wajah wanita Madura pun cukup unik. tangan dan kaki umumnya kecil. Ujung bawah kebaya berbentuk bulat. kebanyakan berupan olesan alat kosmetik berupa garis membujur sekitar 1-2 cm dan berwarna merah. Peniti cecek atau pako malang adalah hiasan kebaya berbentuk paku yang melintang bersusun tiga dan dihubungkan dengan rantai emas.panjang sekitaar 12 cm berukuran agak lebih besar dari harnal pada umumnya juga dipakai untuk menghiasi rambut. Bahan kebaya biasanya beludru. Saat ini. Dahulu leng pelengan dibuat dengan cubitan tangan. berbentuk seperti keratan tebu merupakan kelengkapan lain yang sering dipakai. Sebagai pelengkap kebaya rancongan. dilengkapi dengan karang melok dan duwek remek. bermotif polos dengan berbentuk bulat utuh sebesar biji jagung. Untuk wanita yang sudah berumur dan berpangkat. Selain busana dan perhiasan khas wanita Madura. aapabila digunakan untuk berjalan dan melakukan aktivitas sehari-hari tentunya akan menguatkan otot-otot tertentu. Busana Tradisional Tengger Tengger Traditional Dress Penulis Endang Mariani . Bentuknya sama dengan gelung malang. Perhiasan lain yang umumnya dikenakan sebagai kelengkapan busana adalah anteng atau shentar penthol yang terbuat dari emas. Rambut wanita muda digelung malang. Bentuk perhiasan yang digunakan untuk rambut. leher. berupa lapisan gigi yang terbuat dari emas atau platina. lebih banyak dihiasi intan atau berlian. Giwang kerambu dan kalung rantai berliontin markis yang terbuat dari emas bertaburan berlian juga dikenakan. Warna gelap dan tidak bermotif. penggel juga berfungsi untuk membentuk keindahan tubuh wanita Madura. Anteng atau anting ini dikenakan di telinga. Kalung brondong yang berupa rentangan emas berbentuk biji jagung adalah kalung khas Madura yang biasanya dikenakan bersama liontin. Liontin atau bandul yang digunakan biasanya berbentuk mata uang dollar (dinar) atau bunga matahari. Untuk acara resmi wanita bangsawan Madura mengenakan kebaya panjang dengan kain batik tulis Jawa atau khas Madura. namun adapula yang mencapai 100 gram. kiri atau dahi. Hiasan rambut terdiri dari cucuk emas dengan motif ular atau bunga matahari. Selain fungsi ekonomi yang juga dapat menunjukkan status ekonomi si pemakai. Semakin banyak jumlah dinarnya. Dari seluruh jenis perhiasan yang biasa dikenakan wanita Madura. Berbeda dengan yang dikenakan rakyat kebanyakan. wanita bangsawan tidak menonjolkan kekayaannya melalui bentukbentuk perhiasan yang menyolok dan cenderung berat. terbuat dari emas dan bermotif polos. Sebuah tutup kepala. bahkan lebih. dengan berat perak ada yang mencapai 3 kg. Sepasang gelang emas di tangan kanan dan kiri dengan motif tebu saeres. menjadi ciri tersendiri pada kelengkapan wanita Madura. yang terbuat dari handul besar atau kain tebal disebut leng o leng. telinga. digunakan gelung mager sereh. Namun. Selain itu masih ada motif pale obi yang menyerupai batang ubi melintir. Sementara sepasang cincin dengan motif yang sama dengan gelang dikenakan sebagai hiasan jari. yaitu hiasan dari bunga-bungaan. Penggel adalah simbol kebanggaan wanita Madura. Mata dihiasi dengan celak Arab. serta motif mon temon berupa untaian emas berbentuk biji mentimun. tetapi semua ukelnya diisi kembang tanjung dan kembang pandan. Bentuknya seperti angka delapan melintang yang melambangkan tulisan Allah. digunakan peniti dinar renteng. di dalamnya diberi potongan daun pandan sebagai penguat. Tergantung kemampuan si pemakai.

Sementara itu. masyarakat Tengger memiliki banyak upacara yang tidak saja berkaitan dengan siklus kehidupan. Cara ini disebut Sempetan. yang disebut sampiran. yaitu ujung sarung dilipat sampai kegaris pinggang. di Jawa Timur. dengan segala perlengkapannya. pada saat santai dan sekedar berjalan-jalan. Cara bersarung seperti ini tidak boleh digunakan untuk bertamu dan melayat. Probolinggo. mereka menggunakan kain sarung yang dilipat dua. yang memiliki hubungan historis dengan kerajaan Majapahit. kedamaian dan kesederhanaan tergambar sebagai etos budaya masyarakat Tengger. celana panjang warna gelap dan selempang . Kain sarung disampirkan di bagian atas punggung. Keunikan pakaian sehari-hari masyarakat Tengger adalah cara mereka bersarung (memakai sarung) yang berfungsi sebagai pengusir hawa dingin yang memang akrab dengan keseharian mereka. Untuk pakaian resmi pun mereka menggunakan beskap. Kain sarung cukup disampirkan pada pundak secara terlepas atau bergantung menyilang pada dada. mereka menggunakan sarung dengan cara sesembong. jarik (kain) batik yang dibebatkan. Anak-anak muda Tengger pun memiliki cara bersarung tersendiri. Malang. Untuk bekerja. genta dan talam. Pengaruh Hindu . Biasanya mereka memakai baju longgar dan celana panjang di atas mata kaki. seperti bekerja diladang atau pekerjaanpekerjaan lain yang memerlukan tenaga lebih besar. bahkan dengan masyarakat Jawa Timur pada umumnya. memakai kaos oblong. Busana yang digunakan seorang dukun pada saat memimpin upacara cukup unik. Banyak legenda dan mitologi yang dimiliki oleh masyarakat Tengger. Cara ini disebut kakawung. yaitu yang disebut baju anta kusuma atau rasukan dukun. Salah satunya yang sangat dikenal adalah mitologi Resi Ki Dadap Putih serta Rara Anteng dan Djaka Seger. Dengan ikatan di bagian belakang kepala kain sarung dikerudungkan sampai menutupi seluruh bagian kepala.masing cara ini memiliki istilah dan kegunaan sendiri. Dalam hal berbusana. Saat bertamu. Udeng dan sarung tidak tertinggal. melainkan juga yang berhubungan dengan alam. Biasanya busana yang dikenakan oleh seorang dukun adalah ikat kepala atau udeng batik. Sedang untuk pekerjaan yang lebih berat. Kaum wanitanya menggunakan kebaya pendek dan kain panjang tanpa wiron atau sarung tutup kepala dan selendang batik lebar. Keluhuran budi. Di bagian dalam. Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat yang sangat diyakini dan telah dilaksanakan secara turun menurun. yang tetap dilaksanakan dan mengundang perhatian masyarakat luar. kemudian digantungkan di pundak. Kedudukan seorang dukun. Kaum prianya berpakaian sehari-hari sebagaimana masyarakat pertanian di Jawa. sebagaimana yang digunakan di Jawa. yang dimaksudkan agar bebas bergerak pada waktu ketempat mengambil air atau kepasar. Setidaknya ada dua upacara besar. yang sering dijumpai pada saat masyarakat Tengger berkumpul di tempat . jas tutup warna gelap. dan Pasuruan. yang juga merupakan pemimpin upacara adat di Tengger sangat dihormati oleh masyarakat. Kawasan ini meliputi 4 (empat) Wilayah Kabupaten. yaitu upacara adat kasada dan karo. mereka mengenakan sarung sebagaimana masyarakat umumnya. Cara lain yang sangat khas. Masing. kain wiron dan udeng. yaitu : Lumajang. Tidak kurang dari 7 (tujuh) cara bersarung yang mereka kenal. mereka menggunakan sarung dengan cara kekemul. Sarung dilingkarkan pada pinggang kemudian diikatkan seperti dodot (di dada) agar tidak mudah terlepas.tempat upacara atau keramaian lainnya di malam hari adalah cara kekodong. termasuk wisatawan. pakaian sehari-hari yang dikenakan masyarakat Tengger memang tidaklah jauh berbeda dari masyarakat Jawa. menciptakan suatu keunikan masyarakat yang religius. lengkap dengan peralatan upacara seperti prasen. kemudian disampirkan ke pundak bagian belakang dan kedua ujungnya diikat jadi satu. Upacara-upacara adat yang secara turun menurun telah dilaksanakan selama ratusan tahun serta kondisi alam dan geografis yang spesifik. Kedua bagian lubangnya dimasukkan pada bagian ketiak dan disangga ke depan oleh kedua tangannya. Setelah disarungkan pada tubuh. baju warna putih. Agar terlihat rapi pada saat bepergian mereka menggunakan cara sengkletan. bagian atas dilipat untuk menutupi kedua bagian tangannya.Budha yang terpadu dengan adat kepercayaan lokal yang oleh sebagian masyarakat disebut Agami Jawi dan dihayati oleh masyarakat Tengger. berwarna hitam.Masyarakat Tengger merupakan penduduk ash yang mendiami daerah Lereng Pegunungan Tengger dan Semeru. sehingga yang terlihat hanya mata saja. membuat masyarakat Tengger memiliki ciri khas yang berbeda dengan masyarakat Jawa.

Sementara anteng adalah selembar kain atau kancrik yang berfungsi sebagai penutup buah dada. Setelah ujub upacara. Pakaian untuk pria secara lengkap adalah destar. Selempang pun ada yang berwarna hitam. serta tengkuluk untuk kepala merupakan pakaian wanita Bali dalam keseharian. maupun putih dan ke arah krem. Meskipun demikian pada situasi-situasi tertentu mereka acap menggunakan kancrik atau tengkuluk sebagai anteng penutup dada. Kancrik adalah sehelai selendang yang berfungsi sebagai penutup tubuh atau saput. maupun dari kasta manapun mereka berasal. Bagi wanita Bali. Kemben. dari segala jenis usia. saput dan anteng.panjang warna hitam batikan. Namun ada pula dukun yang menggunakan jas tutup dan celana panjang warna putih. Kaum wanitanya sering mengenakan kebaya. saput dan kemben. yang menjadi bentuk dan model dasar busana tradisional Bali.selain kegunaannya sebagai alat untuk menahan rambut agar tetap rapi. kuning. termasuk kaum wanitanya adalah hal yang biasa. yaitu tutup kepala wanita Bali yang juga berfungsi sebagai alas penjunjung beban . yang terkadang digunakan untuk menjunjung beban sekaligus melindungi wajah dari sinar matahari. masyarakat Bali mengenal dengan baik kebiasaan mengenakan baju. umumnya selempang ini dilepas dan disimpan kembali. meskipun dimasa lalu perangkat busana Bali lazimnya tanpa baju. kemben bukanlah penutup dada. Selempang ini dianggap sebagai lambang keagungan dan tanda jabatan yang dipangkunya. Kebiasaan bertelanjang dada pada masyarakat Bali adalah tradisi yang telah berlangsung turun temurun selama ratusan tahun. bepergian ataupun beraktivitas tanpa penutup dada pada masyarakat Bali. tetapi lebih berfungsi sebagai penyangga payudara. berupa kain pembalut tubuh. Kancrik juga digunakan sebagai tengkuluk. sabuk. baik untuk pria maupun wanita. Pada masa lalu. Untuk kebaya berlengan panjang hingga . sehingga keindahan bentuknya tetap terjaga. Namun. Busana Tradisional Bali Bali Traditional Dress Kemben merupakan jenis pakaian.

Kebaya ini umumnya terbuat dari bahan yang dibeli di pasar. . juga dibedakan menurut ukurannya. merah dan hitam. meskipun ada juga yang khusus menenunnya. endek.pergelangan tangan. Sebagian besar inspirasinya diperoleh dari dunia flora dan fauna. Warna hitam dan putih saja yang tampak pada bagian geringsing ini. Jas tutup dan kemeja biasa digunakan. Morif geringsing cukup banyak ragamnya. tampak tiga warna dominan. proses pewarnaan kain geringsing sangat menentukan kualitas dan keindahannya. Pola ragam hiasnya pun tampak lebih lebar. Geringsing sabuk. Selain cara menenun dan proses pemintalan benangnya yang cukup memerlukan kesabaran dan ketelitian. batik dan sutra adalah beberapa di antaranya. kain geringsing. pemerintah Belanda lah yang memperkenalkannya. Geringsing berukuran menengah disebut geringsing wayang. Beberapa motif geringsing adalah motif wayang. lubeng. yaitu kuning muda. Menurut sejarah. Kain geringsing merupakan salah satu yang terkenal karena keindahan dan keunikannya. Geringsing dengan ukuran yang paling besar disebut geringsingan perangdasa. Kain-kain yang digunakan sebagai bagian dari busana Bali terdiri dari beragam jenis. pemakaian baju dimulai oleh para ambtenaar. Adapun pada geringsingan barak atau geringsing merah. Pada geringsing selem warna merah tampak pada bagian ujung geringsing saja. anteng dan cawat adalah geringsing dengan ukuran paling kecil. hitam dan merah. yaitu putih susu atau kuning muda. sementara yang berlengan longgar sampai di bawah siku. Kain batik sebagai kemben dan destar adalah pelengkapnya. Warna-warna ini juga muncul pada pinggiran kain. sementara yang lebih kecil adalah geringsingan patlikur. karena proses pengikatannya yang berjarak lebih longgar. sedangkan warna merah tidak terlihat. Berdasarkan warna. atau pegawai pada masa pemerintahaan Belanda. Demikian pula pada kaum pria. wayang putri. geringsing dapat dibedakan menjadi geringsing selem (geringsing hitam) dan geringsing barak (geringsing merah). Selain warna. Songket. mereka sebut potongan Jawa. yang memiliki ciri keistimewaan pada teknik tenun dobel ikatnya ini. Umumnya kain geringsing memiliki tiga warna dasar. disebut potongan Bali. Budaya memakai baju ini tumbuh dan hidup umumnya pada lingkungan masyarakat yang telah mendapat pengaruh dari luar. perada.

dari bahu ke bawah. yaitu nista. tidak ada perbedaan yang menyolok. madya. seperti India (patola). Bagi kaum pria. Pada saat melakukan suatu upacara seperti potong gigi atau pernikahan. Gelung biasanya dihias dengan bunga-bungaan. seluruh busana dibuat dari bahan perada. melainkan bunga-bunga yang terbuat dari emas. Motif ragam hias kain geringsing dari Tenganan Pageringsingan menampakan pengaruh unsur-unsur ragam hias dari kebudayaan asing. sabuk prada yang membelit dari pinggul sampai dada dan selendang songket untuk menutup tubuh. yaitu sanggul tambahan berbentuk bulat melingkar dan terbuat dari ijuk menjadi salah satu pembeda. cempaka kuning dan mawar. Wanitanya memakai kemben songket. Sementara dalam tata busana. tidak digunakan lagi bunga-bunga hidup. dan sebagainya.cecepakan. busana tersebut terdiri dari udeng atau destar sebagai ikat kepala. cemplong. perbedaan terletak pada bahan yang digunakan. cempaka putih. dan utama atau yang juga dikenal dengan payes agung. Cina. Untuk menahan kapuh. di ujungnya diikatkan secarik kain panjang sejenis selendang. . untuk hiasan kepala atau petitis. namun tetap berpadu dengan nilai-nilai budaya Indonesia asli. di balik kemben. Perhiasan tingkat ini utama ini memang memperlihatkan suatu kekhususan. patlikur. Berdasarkan corak busana yang dipakai. saput atau kapuh dan kemben atau wastra. kain geringsing merupakan perwujudan dari kebudayaan Bali yang memiliki unsur keindahan seni yang tinggi dan terkesan mewah. Umpal geringsing adalah yang paling dikagumi. yang disebut umpal. Dalam upacara perkawinan. Mesir yang berasimilasi dengan pengaruh Hindu yang kuat. dapat diketahui status sosial dan ekonomi seseorang. seperti kenanga. Perhiasan yang dikenalkan oleh sepasang pengantin payes agunglah yang tampak jelas membedakan dengan tata rias dan busana tingkat nista maupun madya. kebo. masyarakat Bali mengenal adanya tiga jenis busana dan tata rias pengantin. penggunaan gelung kuncir ini berfungsi sebagai penambahan hiasan. dikenakan selembar penuh tapih atau sinjang dari sutra berornamen penuh peperadaan mengurai ke luar melewati kemben. Untuk tingkat utama. Secara keseluruhan. Sementara itu. Untuk tata rias wajah tubuh dan kaki. masyarakat biasanya mengenakan kain tenunan Bali tradisional sebagai busana lengkap dari bahan songket dan peperadan. Dalam mapusungan (pembuatan sanggul). Gelung kucir.

Namun kebudayaan kelompok etnik lain yang datang bergelombang menciptakan akulturasi yang setidaknya juga berimbas pada perkembangan tata busana masyarakat Dayak Taman. Warna dasar serat . celana. gelang kana untuk lengan atas dan badong untuk leher semuanya terbuat dari emas demikian pula sepasang gelang naga satru. yang ditenun adalah serat benang yang dihasilkan dari kulit pohon tengang. clan king bibinge untuk perempuan (bibinge = wanita). Maka jenis busana king baba clan king bibinge kini sudah hampir tak tampak dipergunakan lagi. Masyarakat Dayak Taman pun mengenal teknik menenun untuk membuat busana. kecuali dibuat sebagai hiasan atau perlengkapan kesenian clan. serta cincin. Bahkan hingga kini masyarakat Dayak Taman dikenal sebagai penenun yang terampil. tak jarang. Pakaian tersebut terbuat dari kulit kayu yang diproses hingga menjadi lunak seperti kain. untuk koleksi cendera mata. Penulis Endang Mariani Busana Tradisional Dayak Taman Pada awalnya orang Dayak Taman mulai mengenal pakaian yang disebut king baba (king = cawat. baju. Dulu. Kulit kayu yang bisa difungsikan sebagai kain untuk membuat cawat.Pelengkap petitis yaitu tajug dan perhiasan lain seperti subeng cerorot. baba = laki-laki) untuk laki-laki. bebekeng atau pending. clan selimut itu disebut kapua atau ampuro.

clan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi daripada baju burai king burai. Untuk memperoleh warna hitam atau merah hati. gelanggelang. subang penghias telinga. Hiasan ini diterapkan pada seluruh permukaan kain namun masih menyisakan bidang polos sehingga masih tampak kain dasarnya. kulit kerang atau keong kecil. topi atau kopiah. Dibentuk seperti kebaya atau rompi panjang mirip baju tanpa lengan. dan sebagainya. Baju burai king burai terbuat dari bahan beludru berwarna hitam. jika mempelai mengenakan baju manik king manik sedangkan para pendamping pengantin "hanya" memakai baju burai king burai. yang konon harus didatangkan dari Kalimantan Selatan itu. serat tengang itu dicelup dengan getah pohon yang dilarutkan dalam air. putih. Sedangkan para lelaki memakai celana panjang sebatas lutut. warna yang dominan pada tenunan tradisional Dayak Taman. Maka. Baju manik king manik bisa dikatakan sebagai pengembangan dari baju burai king burai. Sebagai pelengkap busana. dari bahan yang sama dengan baju. Busana Pengantin Ada dua jenis busana adat tradisional yang biasa dipakai oleh pengantin dalam masyarakat Dayak Taman. sulit didapatkan sehingga sebagai gantinya dipakai kancing kecil berwarna putih mengkilap. merah muda. dan memakai semacam dodot dari kain yang telah diberi hiasan. dibuat dari benang kapas yang diperoleh dari luar daerah. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik. Baju burai king burai dipakai oleh para pendamping pengantin sedangkan kedua mempelai mengenakan baju manik king manik. Pada seputar ujung bawah baju atau rok digantungkan untaian uang logam perak sehingga baju manik king manik lebih berat ketimbang baju burai king burai.yang kuat clan liat ini coklat sangat muda. pada masyarakat Dayak Taman dikenal pula berbagai ragam perhiasan berupa ikat kepala. Sebagai busana bawahnya. kalung. . juga diberi hiasan sejenis dengan hiasan bajunya. Hiasan baju manik king manik adalah rangkaian manik-manik halus yang menutup hampir seluruh bidang baju sehingga kain dasarnya nyaris tak tampak lagi. Tenunan yang beredar sekarang dengan warna-warna kuning. Kini. ketelitian. Kedua macam busana itu disebut baju burai king burai clan baju manik king manik. juga dari kain yang sama. Kini telah sangat jarang dijumpai tenunan yang dibuat dari serat tengang sehingga busana adat masyarakat Taman pun menggunakan tenunan benang kapas. clan sebagainya. kaum perempuan mengenakan semacam rok yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. Sebagai hiasannya dijahitkan kulit kerang kecil berwarna putih disusun membentuk motif daun dan bunga. tak mengherankan. dibutuhkan kesabaran. jelas.

antara lain. Kalung ini dipakai saat upacara adat. Jika tali penguntainya juga dibuat dari kawat logam perak. Jika tengkulas itu sepenuhnya dibuat dari anyaman untaian manik-manik disebut indulu manik. Ada beberapa macam kalung.6 cm. perunggu/tembaga. Penghias telinga berupa subang disebut poosong. clan lebih disukai yang berwarna mencolok: merah. Dibuat dari manikmanik yang diuntai oleh tali akar tengang. Kemudian diukir dan dilapisi plat emas. Poosong dibuat dari kayu yang dibentuk bulat berdiameter 3 . lebih-kurang. Pada seputar ujung rok dan baju . tapi kini hampir tak ada lelaki. atau batik. dua macam sasawak: sasawak lampit karumut dan sasawak tali murung. Ikat pinggang untuk mempercantik penampilan dinamai sasawak. penghias leher. Ada juga yang dinamakan kalong manik lawang. Pada tengkulas atau indulu manik ditambahkan bulu burung ruai. tapi bisa juga hanya takikan yang tidak tembus . Poosong yang tidak berlapis logam disebut poosong surat. kaum wanita clan para pria memakai poosong. Dikenal. garis-garis diagonal dan horisontal berbentuk wajik.motif-motif bunga dan dedaunan pada permukaan luar kambu. atau dari rotan yang diserit tipis clan pipih. Cuping telinga yang dipasangi poosong menjadi lebar. tapi umumnya hanya dipakai perempuan. Kalung ini dibuat dari logam perak yang dicairkan kemudian dicetak pada solongsong bambu berdiameter kecil. Sasawak lampit karumut dipakai oleh kaum perempuan. Bagian depan rok bawah baju manik king manik yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. Perak dilebur hingga cair kemudian dicetak menjadi semacam manik-manik. Sedangkan kambu pirak dibuat dari lempengan tipis logam perak yang dibentuk menjadi topi kemudian ditatahkan . kalung yang biasa dipakai perempuan dan lelaki. Misalnya saja kalong manik pirak.Penghias kepala clan rambut kaum wanita disebut tengkulas yang dibuat dari kain bermotif kembang-kembang. Poosong pernah dianggap sebagai identitas wanita dayak Taman. Untuk lelaki dikenal semacam topi yang bernama kambu manik dan kambu pirak. disebut tajuk bulu aruae. Dibuat dari logam perak clan rotan. dengan ketebalan. Lalu diimbuhkan untaian manik sepenuh bidang kambu. pada masyarakat Dayak Taman. indulu manik. hitam atau kuning. sejenis burung merak yang hidup di haerah hulu Kapuas. ikat pinggang itu disebut sasawak tali murung. sehingga nampak sangat unik dan khas. Sebagai pemanis disematkan bulu burung ruai sekeliling kambu pirak itu. atau semacam rumput. yang memakainya. Rotan yang sudah dibelah dimasukkan pada lobang "manik-manik perak" itu.menjadi bentuk kerawang. juga sangat sedikit para perempuan. atau kaca. 1 cm. Kambu manik dibuat dari jalinan serat sejenis pohon pandan. perak. Bahan clan hiasannya sama dengan baju. Dulu. yang dilapisi dengan emas dinamai poosong emas. menggelayut. Lalu dibekukan dan dikalungkan pada leher. Bulu burung ruai yang disematkan pada tengkulas. maupun kambu. yang dianyam menjadi bentuk topi.

Ketika masyarakat dayak Taman baru mengenal baju dari kulit kayu modelnya berbentuk baju kuurung. Gelang itu disebut tangkalae atau sumpae. baju burai king burai clan baju manik king manik. baju kalaawat ini dipakai oleh setiap wanita remaja. Di antaranya adalah bulang (baju) kuurung. clan berlengan pendek. baju kuurung dokot tangan yakni baju kuurung lengan pendek. Bentuknya sama dengan bulang kuurung hanya bagian depannya terbelah seperti kemeja pria biasa. . dan galang gading yang dibuat dari gading gajah. Dahulu. Terutama baju burai king burai. Sekarang. ketelitian dan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi dari baju burai king burai. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik jelas dibutuhkan kesabaran. Gelang-gelang ini biasanya dipakai saat upacara adat keagamaan. baju kuurung hanya dipakai oleh para balien (dukun) dengan memilih warna hitam clan pada bagian-bagian pinggir bajunya diberi les atau pita kain warna merah yang lebarnya sekitar 3 cm. clan yang dari jalinan tali ijuk dikenal sebagai tangkalae ijuk. bila terbuat dari untaian manik disebut tangkalae manik. Yada pita itu dipasang kancing-kancing yang hanya berfungsi sebagai hiasan. kiri clan kanan. seperti galang bontok yang dibuat dari perak. Ada beberapa macam model: baju kuurung sapek tangan yaitu baju kuurung tidak berlengan. Sebagai kancing untuk mempertemukan kedua sisi baju dibuat dari tali kain berwarna. clan orang tua. Baju berlubang leher bentuk bulat atau segitiga ini tidak berkerah clan polos tidak bersaku. dewasa. agaknya. galang manik yaitu untaian manik-manik pada serat daun nenas. Ada beberapa macam gelang-gelang yang biasanya dipakai pada upacara adat. Yang dipakai oleh para balien wanita disebut bulang kalaawat. Model baju kuurung sesungguhnya sudah tua. Hiasan manik-manik yang mengisi seluruh bidang membuat baju manik king manik lebih berat daripada baju burai king burai.digantungkan untaian logam perak. yang paling popular sehingga hampir setiap keluarga Dayak Taman memilikinya. Dari berbagai ragam busana tradisional yang dimiliki masyarakat Dayak Taman. Kaum lelaki memakai satu hingga tiga buah gelang pada bagian lengan di atas siku. Yang dibuat dari kayu tapang dinamai tangkalae tapang. galang pasan berupa anyaman serat tumbuhan. Sekarang hanya dipakai oleh dukun-dukun wanita. dan wanita lanjut usia. Kain berupa pita berwarna lain daripada warna bajunya dijahitkan pada bagian tepi baju. masyarakat Dayak Taman juga menciptakan beberapa jenis busana untuk pelbagai keperluan acara adat. clan baju kuurung langke tangan ialah baju kuurung lengan panjang. yang kerap digunakan pada peristiwa-peristiwa penting seperti perhelatan adat atau perkawinan. Busana Adat Lainnya Meskipun kini sudah jarang ditemukan.

Sedangkan dalam acara-acara resmi seperti menghadiri upacara adat salawar diganti dengan tapih. salawar kiyama dan sandal silang. yaitu kemeja berlengan panjang dengan leher baju bulat tanpa kerah dilengkapi dengan kancing lima dan berkantong tiga buah. Baju kiyama berbentuk baju lengan panjang dengan kerah berlipat . Sebagai penutup kepala digunakan kopiah (kupiah) dari kain beludru. Warna yang digunakan oleh remaja lebih mencolok. Bagian dada terbelah berkancing tiga. Pada saat-saat tertentu kelengkapan pakaian ini ditambah dengan tapih (kain sarung) yang disampirkan di bahu. dominan warna kuning. Laki-laki tua Banjar sehari-hari mengenakan baju palimbangan. yang lazim disebut tapih kaling. Alas kakinya ada berbagai jenis. baju kiyama. kain satin (kupiah Padang) atau kupiah jangang. yaitu sandal kalipik. Sebagai pasangannya dikenakan baju taluk balanga (kemeja lengan panjang) dengan leher baju bulat dan sedikit mencuat ke atas. sandal tali silang. sejenis sarung terbuat dari katun atau sutra bermotif garis-garis melintang dan membujur. Pasangannya digunakan tapih. Bagi laki-laki dewasa yang ingin bepergian mengenakan kopiah hitam.Busana Tradisional Masyarakat Banjar Penulis Dewi Indrawati Busana tradisional yang biasa dipakai sehari-hari oleh remaja dan orang dewasa kaum lelaki Banjar adalah salawar panjang (celana panjang) yang menutup kaki sampai ke mata kaki. dan selop. tanpa kantong.

Untuk wanita dewasa dikenakan baju kubaya basawiwi (basujab). Busana Upacara Adat Dalam menghadiri upacara resmi para lelaki remaja sampai dewasa mengenakan baju jas tutup. Lengan baju sampai pergelangan tangan. Ujung tangan dan kantong diberi piIit (les) dengan warna berbeda dari bahan baju. Bentuknya sama dengan pantalon biasa. yaitu lam jalalah. kuning muda. Baju ini berkancing lima biji. dan jenis lain yang agak tebal. yang mengacu pada lam alif dalam AlQur`an. Menjadi aturan. hanya tanpa saku. ekstrimin. di depan dada dan kiri-kanan bawah dengan model masuk (bukan kantong tempel). Baju ini dipadukan dengan celana panjang (salawar panjang). Bagian tumpal sabuk yang bermotif pucuk rebung harus diletakkan di belakang. Fungsinya untuk menolak bahaya atau maksud-maksud jahat lainnya. kebaya biasa yang diberi variasi kain yang memanjang di bagian depan yang dinamakan sawiwi atau sujab selebar 10 cm. Dilengkapi kantong tiga buah. Tutup kepala ini terbuat dari bahan beludru. Warna laung tajak siak harus sama dengan warna sabuk yang dikenakan. ujungnya diberi hiasan tiga biji kancing . Mengikatnya harus mengikuti pola yang berlaku. kain Pagatan. Pasangannya disebut celana kiyama memiliki bentuk sederhana. Pada waktu bepergian mereka mengenakan baju kurung basisit. Ada dua cara menata rambut yang disebut galung malang babuntut dan galung malang. Kantongnya ada tiga buah. dan krem. biasanya dipilih yang kontras dengan warna baju. yaitu sabuk air guci (payet) dan sabuk kain tenun Pegatan dengan berbagai pilihan warna. Buntut pada sanggul menunjukkan pemakainya masih gadis. Terakhir dikenakan selop pada kedua kakinya dari bahan beludru dan kulit. belini dan friend ship. Warna pakaian ini biasanya dipilih yang muda. Yang kerap dipakai para remaja dan orang tua kaum perempuan Banjar adalah baju kubaya (kebaya) berpasangan dengan tapih batik bakarung (kain batik). Untuk mengikat digunakan tali yang dimasukkan pada lubang (uluh-uluh). Ada dua pilihan sabuk. lurus tanpa kantong. baju yang dilengkapi dengan tali pengikat di belakang leher dan kedua ujung lengan. dan jenis lain yang agak keras. Lehernya bundar dengan kerah kecil agak tegak. Sanggul ini berbentuk bundar seperti angka delapan. kalau mengenakan jas tutup harus bersabuk di pinggang. dua di bagian bawah kiri dan kanan. Sebagai tutup kepala dikenakan laung tajak siak. Menjadi kebiasaan di daerah ini setiap perempuan menata rambutnya dengan cara disanggul (galung). seperi biru muda.neyerupai jas. dari bahan kain poplin babalur (bergaris-garis vertikal) atau tetoron. tajam pemandangan dan kekuasaan yang tinggi. Bahan baju dari kain lena. Alas kakinya adalah selop dari beludru dan berkerudung kain sutra atau sasirangan. Tetapi sekarang banyak dipakai kain wool. satu di dada kiri. Motif ini melambangkan sikap waspada. . berbentuk segi tiga.

Kepalanya dibalut destar model siak melayu. Kaki mengenakan selop dari beludru. Sebagai pengikat digunakan tali wenang berupa kain berwarna. dengan segitiga lebih tinggi. Sementara kalung samban rangkap tiga dan kalung marjan menghiasi bagian leher. Kemudian dikenakan jas terbuka tanpa kancing. Pantalon terbuat dari bahan dan warna yang sama dengan jas. Pada telinga dipasang anting-anting beruntai. Kalung panjang bogam dan liris-liris bunga. Bahan baju dapat dibuat dari kain sutra atau sasirangan. Pemakaiannya rnulai dikembangkan dalam masyarakat Banjar sejak abad XIX. Aksesori penghias rambut terdiri dari kembang goyang (kambang goyang) dibedakan antara yang berapun (berumpun) dan tunggal berbentuk melati sebagai lambang kesucian. kalung bermotif bunga-bungaan. dari kain sutra amban (sutra tipis) atau kain sasirangan yang dihiasi motif gigi haruan pada kedua sisinya. Pakaian Pengantin Baamar Galung Pancaran Matahari merupakan pakaian pengantin yang paling digemari oleh semua golongan masyarakat Banjar. sedangkan jari manisnya berhias cincin litring. Kemudian keris yang dihiasi bogam bermotif bunga merah diselipkan di pinggang. . dan air guci. Sabuk berhias air guci dengan motif lelipan dipakai sebagai simbol kekuasaan dan kemuliaan. Baju ini dikombinasi dengan tapih Lasem.Bagi kaum perempuan dalam upacara resmi dikenakan baju kurung basisit lengkap dengan tapihnya. Disebut baju kurung basisit karena pada bagian leher dan tangan dilengkapi tali pengikat (tali penyisit). yaitu mantel sempit berhias yang berfungsi untuk menutup dada. Perhiasannya berupa samban. Bagian depan dihias dengan berbagai hiasan diikat di bagian belakang dengan buhul lam jalalah. Kepalanya ditutup dengan kakamban/serudung (kerudung) berbentuk segi empat. Mempelai wanita mengenakan baju poko berlengan pendek ditutupi dengan kida-kida. Masyarakat Hindu dan Jawa banyak mempengaruhi pemakaian busana ini. Sebagai hiasan digunakan sulaman benang emas dan air guci dengan motif pucuk rebung. Dikenakan sarung dan penutup pinggang (tali gapu) berhiaskan air guci. Hiasan ini ditancapkan pada sanggul. Pada bagian dada dihias renda menutupi semua kancing. Pagatan. Galang (gelang) karuncung melingkar di lengan. Mempelai laki-laki mengenakan kemeja putih lengan pendek.

yang dipenuhi oleh rangkaian bunga (palimbaian). Kakinya beralaskan selop beludru bersulam benang emas. bunga jepun berbentuk jepitan. Kelengkapan lainnya meliputi kerabu menganyun. untaian bunga depan dan belakang. dan untaian bunga warna keemasan. Cincin dari bunga mayang.Rambutnya disanggul model amar galung bertahtakan mahkota dihias dengan kembang goyang. bunga melati yang diatur berbaris. . bunga mawar merah dan bunga melati. serta bangle dipakai di lengan atas dan pergelangan kaki terbuat dari karet berbentuk lekuk akar atau irisan buncis. sabuk pinggang warna emas. terdiri dari daun sirih. kalung. untaian metalik. Ornamen lain untuk rambut antara lain baquet dengan pita rambut. Sepasang pengantin ini dipersandingkan di ba-tatai.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful