Busana Tradisional Dayak Taman

Penulis Aat Soeratin, Jonny Purba Pada awalnya orang Dayak Taman mulai mengenal pakaian yang disebut king baba (king = cawat; baba = laki-laki) untuk laki-laki, clan king bibinge untuk perempuan (bibinge = wanita). Pakaian tersebut terbuat dari kulit kayu yang diproses hingga menjadi lunak seperti kain. Kulit kayu yang bisa difungsikan sebagai kain untuk membuat cawat, celana, baju, clan selimut itu disebut kapua atau ampuro. Namun kebudayaan kelompok etnik lain yang datang bergelombang menciptakan akulturasi yang setidaknya juga berimbas pada perkembangan tata busana masyarakat Dayak Taman. Maka jenis busana king baba clan king bibinge kini sudah hampir tak tampak dipergunakan lagi, kecuali dibuat sebagai hiasan atau perlengkapan kesenian clan, tak jarang, untuk koleksi cendera mata. Masyarakat Dayak Taman pun mengenal teknik menenun untuk membuat busana. Bahkan hingga kini masyarakat Dayak Taman dikenal sebagai penenun yang terampil. Dulu, yang ditenun adalah serat benang yang dihasilkan dari kulit pohon tengang. Warna dasar serat yang kuat clan liat ini coklat sangat muda. Untuk memperoleh warna hitam atau merah hati, warna yang dominan pada tenunan tradisional Dayak Taman, serat tengang itu dicelup dengan getah pohon yang dilarutkan dalam air. Tenunan yang beredar sekarang dengan warna-warna kuning, merah muda, putih, clan sebagainya, dibuat dari benang kapas yang diperoleh dari luar daerah. Kini telah sangat jarang dijumpai tenunan yang dibuat dari serat tengang sehingga busana adat masyarakat Taman pun menggunakan tenunan benang kapas. Busana Pengantin Ada dua jenis busana adat tradisional yang biasa dipakai oleh pengantin dalam masyarakat Dayak Taman. Kedua macam busana itu disebut baju burai king burai clan baju manik king manik. Baju burai king burai dipakai oleh para pendamping pengantin sedangkan kedua mempelai mengenakan baju manik king manik. Baju burai king burai terbuat dari bahan beludru berwarna hitam. Dibentuk seperti kebaya atau rompi panjang mirip baju tanpa lengan. Sebagai hiasannya dijahitkan kulit kerang kecil berwarna putih disusun membentuk motif daun dan bunga. Hiasan ini diterapkan pada seluruh permukaan kain namun masih menyisakan bidang polos sehingga masih tampak kain dasarnya. Kini, kulit kerang atau keong kecil, yang konon harus didatangkan dari Kalimantan Selatan itu, sulit didapatkan sehingga sebagai gantinya dipakai kancing kecil berwarna putih mengkilap. Sebagai busana bawahnya, kaum perempuan mengenakan

semacam rok yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut, dari bahan yang sama dengan baju, juga diberi hiasan sejenis dengan hiasan bajunya. Sedangkan para lelaki memakai celana panjang sebatas lutut, juga dari kain yang sama, dan memakai semacam dodot dari kain yang telah diberi hiasan. Baju manik king manik bisa dikatakan sebagai pengembangan dari baju burai king burai. Hiasan baju manik king manik adalah rangkaian manik-manik halus yang menutup hampir seluruh bidang baju sehingga kain dasarnya nyaris tak tampak lagi. Pada seputar ujung bawah baju atau rok digantungkan untaian uang logam perak sehingga baju manik king manik lebih berat ketimbang baju burai king burai. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik, jelas, dibutuhkan kesabaran, ketelitian, clan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi daripada baju burai king burai. Maka, tak mengherankan, jika mempelai mengenakan baju manik king manik sedangkan para pendamping pengantin "hanya" memakai baju burai king burai. Sebagai pelengkap busana, pada masyarakat Dayak Taman dikenal pula berbagai ragam perhiasan berupa ikat kepala, topi atau kopiah, subang penghias telinga, kalung, gelanggelang, dan sebagainya. Penghias kepala clan rambut kaum wanita disebut tengkulas yang dibuat dari kain bermotif kembang-kembang, garis-garis diagonal dan horisontal berbentuk wajik, atau batik, clan lebih disukai yang berwarna mencolok: merah, hitam atau kuning. Jika tengkulas itu sepenuhnya dibuat dari anyaman untaian manik-manik disebut indulu manik. Pada tengkulas atau indulu manik ditambahkan bulu burung ruai, sejenis burung merak yang hidup di haerah hulu Kapuas. Untuk lelaki dikenal semacam topi yang bernama kambu manik dan kambu pirak. Kambu manik dibuat dari jalinan serat sejenis pohon pandan, atau semacam rumput, atau dari rotan yang diserit tipis clan pipih, yang dianyam menjadi bentuk topi. Lalu diimbuhkan untaian manik sepenuh bidang kambu. Sedangkan kambu pirak dibuat dari lempengan tipis logam perak yang dibentuk menjadi topi kemudian ditatahkan - menjadi bentuk kerawang, tapi bisa juga hanya takikan yang tidak tembus motif-motif bunga dan dedaunan pada permukaan luar kambu. Sebagai pemanis disematkan bulu burung ruai sekeliling kambu pirak itu. Bulu burung ruai yang disematkan pada tengkulas, indulu manik, maupun kambu, disebut tajuk bulu aruae. Penghias telinga berupa subang disebut poosong. Dulu, kaum wanita clan para pria memakai poosong, tapi kini hampir tak ada lelaki, juga sangat sedikit para perempuan, yang memakainya. Poosong dibuat dari kayu yang dibentuk bulat berdiameter 3 - 6 cm, dengan ketebalan, lebih-kurang, 1 cm. Kemudian diukir dan dilapisi plat emas, perak, perunggu/tembaga, atau kaca. Poosong yang tidak berlapis logam disebut poosong surat, yang dilapisi dengan emas dinamai poosong emas. Poosong pernah dianggap sebagai identitas wanita dayak Taman. Cuping telinga yang dipasangi poosong menjadi lebar,

Hiasan manik-manik yang mengisi seluruh bidang membuat baju manik king manik lebih berat daripada baju burai king burai. dua macam sasawak: sasawak lampit karumut dan sasawak tali murung. Misalnya saja kalong manik pirak. baju kuurung dokot tangan yakni baju kuurung lengan pendek. sehingga nampak sangat unik dan khas. Kalung ini dibuat dari logam perak yang dicairkan kemudian dicetak pada solongsong bambu berdiameter kecil. Ada beberapa macam kalung. Pada seputar ujung rok dan baju digantungkan untaian logam perak. bila terbuat dari untaian manik disebut tangkalae manik. Lalu dibekukan dan dikalungkan pada leher. Di antaranya adalah bulang (baju) kuurung. seperti galang bontok yang dibuat dari perak. dan galang gading yang dibuat dari gading gajah. Model baju kuurung . ketelitian dan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi dari baju burai king burai. Sasawak lampit karumut dipakai oleh kaum perempuan. galang manik yaitu untaian manik-manik pada serat daun nenas.menggelayut. Rotan yang sudah dibelah dimasukkan pada lobang "manik-manik perak" itu. penghias leher. Dibuat dari manikmanik yang diuntai oleh tali akar tengang. Ikat pinggang untuk mempercantik penampilan dinamai sasawak. Bagian depan rok bawah baju manik king manik yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik jelas dibutuhkan kesabaran. clan baju kuurung langke tangan ialah baju kuurung lengan panjang. kalung yang biasa dipakai perempuan dan lelaki. ikat pinggang itu disebut sasawak tali murung. antara lain. Dikenal. Yang dibuat dari kayu tapang dinamai tangkalae tapang. Kaum lelaki memakai satu hingga tiga buah gelang pada bagian lengan di atas siku. galang pasan berupa anyaman serat tumbuhan. Kalung ini dipakai saat upacara adat. Ada beberapa macam model: baju kuurung sapek tangan yaitu baju kuurung tidak berlengan. Jika tali penguntainya juga dibuat dari kawat logam perak. Dibuat dari logam perak clan rotan. Gelanggelang ini biasanya dipakai saat upacara adat keagamaan. Ada juga yang dinamakan kalong manik lawang. Gelang itu disebut tangkalae atau sumpae. kiri clan kanan. Ada beberapa macam gelang-gelang yang biasanya dipakai pada upacara adat. Busana Adat Lainnya Meskipun kini sudah jarang ditemukan. pada masyarakat Dayak Taman. clan yang dari jalinan tali ijuk dikenal sebagai tangkalae ijuk. tapi umumnya hanya dipakai perempuan. Bahan clan hiasannya sama dengan baju. Perak dilebur hingga cair kemudian dicetak menjadi semacam manik-manik. masyarakat Dayak Taman juga menciptakan beberapa jenis busana untuk pelbagai keperluan acara adat.

Sekarang hanya dipakai oleh dukun-dukun wanita. Yada pita itu dipasang kancing-kancing yang hanya berfungsi sebagai hiasan. Kain berupa pita berwarna lain daripada warna bajunya dijahitkan pada bagian tepi baju. Ketika masyarakat dayak Taman baru mengenal baju dari kulit kayu modelnya berbentuk baju kuurung. Dahulu. agaknya. Sekarang. Baju berlubang leher bentuk bulat atau segitiga ini tidak berkerah clan polos tidak bersaku. clan orang tua. baju kalaawat ini dipakai oleh setiap wanita remaja. yang kerap digunakan pada peristiwa-peristiwa penting sepertiperhelatan adat atau perkawinan. clan berlengan pendek. Terutama baju burai king burai. dan wanita lanjut usia.sesungguhnya sudah tua. Yang dipakai oleh para balien wanita disebut bulang kalaawat. baju burai king burai clan baju manik king manik. Bentuknya sama dengan bulang kuurung hanya bagian depannya terbelah seperti kemeja pria biasa. Dari berbagai ragam busana tradisional yang dimiliki masyarakat Dayak Taman. . baju kuurung hanya dipakai oleh para balien (dukun) dengan memilih warna hitam clan pada bagian-bagian pinggir bajunya diberi les atau pita kain warna merah yang lebarnya sekitar 3 cm. Sebagai kancing untuk mempertemukan kedua sisi baju dibuat dari tali kain berwarna. dewasa. yang paling popular sehingga hampir setiap keluarga Dayak Taman memilikinya.

.

Bagi laki-laki dewasa yang ingin bepergian mengenakan kopiah hitam. Yang kerap dipakai para remaja dan orang tua kaum perempuan Banjar adalah baju kubaya (kebaya) berpasangan dengan tapih batik bakarung (kain batik). Tetapi sekarang banyak dipakai kain wool. yang mengacu pada lam alif dalam Al-Qur`an. Untuk mengikat digunakan tali yang dimasukkan pada lubang (uluh-uluh). Ujung tangan dan kantong diberi piIit (les) dengan warna berbeda dari bahan baju. yaitu sandal kalipik. yaitu kemeja berlengan panjang dengan leher baju bulat tanpa kerah dilengkapi dengan kancing lima dan berkantong tiga buah. kalau mengenakan jas tutup harus bersabuk di pinggang. Sebagai penutup kepala digunakan kopiah (kupiah) dari kain beludru. Untuk wanita dewasa dikenakan baju kubaya basawiwi (basujab). dan krem. Bagian tumpal sabuk yang bermotif pucuk rebung harus diletakkan di belakang. seperi biru muda. ekstrimin. Motif ini melambangkan sikap waspada. Pada saat-saat tertentu kelengkapan pakaian ini ditambah dengan tapih (kain sarung) yang disampirkan di bahu. Baju kiyama berbentuk baju lengan panjang dengan kerah berlipat neyerupai jas. dan jenis lain yang . Laki-laki tua Banjar sehari-hari mengenakan baju palimbangan. Baju ini berkancing lima biji. belini dan friend ship. Menjadi kebiasaan di daerah ini setiap perempuan menata rambutnya dengan cara disanggul (galung). berbentuk segi tiga. Mengikatnya harus mengikuti pola yang berlaku. sandal tali silang. kain satin (kupiah Padang) atau kupiah jangang. Buntut pada sanggul menunjukkan pemakainya masih gadis. Baju ini dipadukan dengan celana panjang (salawar panjang). Busana Upacara Adat Dalam menghadiri upacara resmi para lelaki remaja sampai dewasa mengenakan baju jas tutup. lurus tanpa kantong. di depan dada dan kiri-kanan bawah dengan model masuk (bukan kantong tempel). yaitu sabuk air guci (payet) dan sabuk kain tenun Pegatan dengan berbagai pilihan warna. hanya tanpa saku. Pasangannya disebut celana kiyama memiliki bentuk sederhana. Warna pakaian ini biasanya dipilih yang muda. Kantongnya ada tiga buah. Alas kakinya ada berbagai jenis. Dilengkapi kantong tiga buah. kain Pagatan. ujungnya diberi hiasan tiga biji kancing . Sedangkan dalam acara-acara resmi seperti menghadiri upacara adat salawar diganti dengan tapih. Ada dua cara menata rambut yang disebut galung malang babuntut dan galung malang. Sebagai pasangannya dikenakan baju taluk balanga (kemeja lengan panjang) dengan leher baju bulat dan sedikit mencuat ke atas. kebaya biasa yang diberi variasi kain yang memanjang di bagian depan yang dinamakan sawiwi atau sujab selebar 10 cm. tanpa kantong. Tutup kepala ini terbuat dari bahan beludru. dari bahan kain poplin babalur (bergaris-garis vertikal) atau tetoron. biasanya dipilih yang kontras dengan warna baju. Pasangannya digunakan tapih. Lehernya bundar dengan kerah kecil agak tegak. dominan warna kuning. dan selop. Bagian dada terbelah berkancing tiga. Ada dua pilihan sabuk. baju kiyama. sejenis sarung terbuat dari katun atau sutra bermotif garis-garis melintang dan membujur. kuning muda. yang lazim disebut tapih kaling. yaitu lam jalalah. satu di dada kiri. Bahan baju dari kain lena. Pada waktu bepergian mereka mengenakan baju kurung basisit.Busana Tradisional Masyarakat Banjar Penulis Dewi Indrawati Busana tradisional yang biasa dipakai sehari-hari oleh remaja dan orang dewasa kaum lelaki Banjar adalah salawar panjang (celana panjang) yang menutup kaki sampai ke mata kaki. tajam pemandangan dan kekuasaan yang tinggi. dan jenis lain yang agak tebal. Fungsinya untuk menolak bahaya atau maksud-maksud jahat lainnya. Warna yang digunakan oleh remaja lebih mencolok. Menjadi aturan. Bentuknya sama dengan pantalon biasa. baju yang dilengkapi dengan tali pengikat di belakang leher dan kedua ujung lengan. Sebagai tutup kepala dikenakan laung tajak siak. dua di bagian bawah kiri dan kanan. Alas kakinya adalah selop dari beludru dan berkerudung kain sutra atau sasirangan. Sanggul ini berbentuk bundar seperti angka delapan. salawar kiyama dan sandal silang. Lengan baju sampai pergelangan tangan.

Ornamen lain untuk rambut antara lain baquet dengan pita rambut. Cincin dari bunga mayang. yang dipenuhi oleh rangkaian bunga (palimbaian). Mempelai laki-laki mengenakan kemeja putih lengan pendek. Sabuk berhias air guci dengan motif lelipan dipakai sebagai simbol kekuasaan dan kemuliaan. dengan segitiga lebih tinggi. Sebagai hiasan digunakan sulaman benang emas dan air guci dengan motif pucuk rebung. Kelengkapan lainnya meliputi kerabu menganyun. Pemakaiannya rnulai dikembangkan dalam masyarakat Banjar sejak abad XIX. Kemudian dikenakan jas terbuka tanpa kancing. Pakaian Pengantin Baamar Galung Pancaran Matahari merupakan pakaian pengantin yang paling digemari oleh semua golongan masyarakat Banjar. Kaki mengenakan selop dari beludru. Rambutnya disanggul model amar galung bertahtakan mahkota dihias dengan kembang goyang. untaian bunga depan dan belakang. Pantalon terbuat dari bahan dan warna yang sama dengan jas. bunga mawar merah dan bunga melati. terdiri dari daun sirih. Sementara kalung samban rangkap tiga dan kalung marjan menghiasi bagian leher. Pagatan. Mempelai wanita mengenakan baju poko berlengan pendek ditutupi dengan kida-kida. dari kain sutra amban (sutra tipis) atau kain sasirangan yang dihiasi motif gigi haruan pada kedua sisinya. . Pada telinga dipasang anting-anting beruntai. Dikenakan sarung dan penutup pinggang (tali gapu) berhiaskan air guci. Kepalanya ditutup dengan kakamban/serudung (kerudung) berbentuk segi empat. dan untaian bunga warna keemasan. bunga jepun berbentuk jepitan. Sebagai pengikat digunakan tali wenang berupa kain berwarna. Bagi kaum perempuan dalam upacara resmi dikenakan baju kurung basisit lengkap dengan tapihnya. Masyarakat Hindu dan Jawa banyak mempengaruhi pemakaian busana ini. Warna laung tajak siak harus sama dengan warna sabuk yang dikenakan. Sepasang pengantin ini dipersandingkan di ba-tatai. untaian metalik. Kepalanya dibalut destar model siak melayu. kalung bermotif bunga-bungaan. Terakhir dikenakan selop pada kedua kakinya dari bahan beludru dan kulit. Bahan baju dapat dibuat dari kain sutra atau sasirangan. Baju ini dikombinasi dengan tapih Lasem. Kakinya beralaskan selop beludru bersulam benang emas. bunga melati yang diatur berbaris. Perhiasannya berupa samban. Bagian depan dihias dengan berbagai hiasan diikat di bagian belakang dengan buhul lam jalalah. sabuk pinggang warna emas.agak keras. dan air guci. yaitu mantel sempit berhias yang berfungsi untuk menutup dada. Kemudian keris yang dihiasi bogam bermotif bunga merah diselipkan di pinggang. Disebut baju kurung basisit karena pada bagian leher dan tangan dilengkapi tali pengikat (tali penyisit). Galang (gelang) karuncung melingkar di lengan. serta bangle dipakai di lengan atas dan pergelangan kaki terbuat dari karet berbentuk lekuk akar atau irisan buncis. Aksesori penghias rambut terdiri dari kembang goyang (kambang goyang) dibedakan antara yang berapun (berumpun) dan tunggal berbentuk melati sebagai lambang kesucian. Kalung panjang bogam dan liris-liris bunga. Pada bagian dada dihias renda menutupi semua kancing. kalung. Hiasan ini ditancapkan pada sanggul. sedangkan jari manisnya berhias cincin litring.

Maka baju kulit kayu sederhana itu pun lalu dilengkapi dengan aksesori ikat kepala (salutup hatue untuk kaum lelaki dan sal utup bawi untuk para perempuan). Celananya adalah cawat yang. warna asli kayu. lalu tenunan serat alam yang "kasar". bunga. . warna putih dari tanah putih dicampur air. burung. Corak hias yang digambarkan pada busana juga diilhami oleh apa yang mereka lihat di alam sekelilingnya. selain tampil artistik. diatur pula pemakaian corak hias busana adat . yang disebut ewah. akar pohon.bagi para pemuka kelompok. Bajunya berupa rompi unisex tanpa hiasan apapun. warna kuning dari kunyit. Sinkretisme itu melahirkan pelbagai keyakinan dan mitologi dan mengilhami lahirnya corak hias naga. upacara pengobatan belian obat kelengkapannya adalah busana dengan corak hias batang garing. Rompi sederhana ini dalam bahasa Ngaju disebut sangkarut. Awalnya kulit kayu. Maka tampillah stilasi bentuk flora dan fauna. mengusik hasrat masyarakat Dayak Ngaju untuk "mempercantik" penampilan. tak pula diwarnai. warna hitam dari jelaga. misalnya. melahirkan apa yang kemudian dikenal sebagai agama Hindu Kaharingan. para tetua adat. Selain itu. Misalnya saja. semua itu adalah fenomena yang menyiratkan bergesernya nilai-nilai tata cara berbusana dan seni berdandan masyarakat Dayak Ngaju. giwang (suwang). Bahan pewarna itu secara kreatif diolah dari yang tersedia pada alam sekitar mereka. Hal itu nyata terlihat dengan berkembangnya seni berbusana masyarakat asli Pulau Kalimantan ini. gelang dibikin dari tulang binatang buruan. yang cenderung animistik. yang bahannya juga dipungut dari alam sekitar. yang konon telah bangkit pada hati setiap manusia sejak ribuan tahun silam. Akan tetapi naluri berdandan. Corak hias ini sangat berarti bagi masyarakat Dayak Ngaju sehingga busana adat untuk upacaraupacara penting . Pengaruh agama Hindu pada kepercayaan asal masyarakat Ngaju. rajah (tatoo) pada bagian-bagian tubuh tertentu. Dan kesederhanaan pakaian kulit kayu itu kemudian memancarkan esensi keindahan karena imbuhan warnawarni flora dan fauna yang ditambahkan sebagai pelengkap busana. yang bermakna sangat filosofis. Model busananya sangatlah sederhana dan semata fungsional. kemudian kain tenun halus. kepala suku. dan berbagai aksesori lainnya yang mendaurulangkan limbah keseharian mereka.Busana Tradisional Dayak Ngaju Mengalirnya waktu dan berbaurnya pelbagai budaya menyebabkan perkembangan estetika masyarakat Dayak Ngaju yang semakin bergeser dari nilai-nilai asalnya meski tak menghilangkan substansinya. manusia. Keyakinan dan alam mitologi juga memberi inspirasi pada penciptaan ragam corak hias busana adat sehingga gambar-gambar itu. dan sebagainya. warna merah dari buah rotan. Busana Kulit Kayu Beratus tahun lalu masyarakat Dayak membuat busana dengan bahan dasar kulit kayu yang disebut kulit nyamu. giwang dari kayu keras. ketika dikenakan.berbeda untuk perempuan dan lelaki . Kulit kayu dari pohon keras itu ditempa dengan pemukul semacam palu kayu hingga menjadi lemas seperti kain.misalnya upacara tiwah. gelang. menjadi corak hias busana adat. Biji-bijian. tak diberi hiasan. sehingga kesannya sangat alamiah. Setelah dianggap halus "kain" itu dipotong untuk dibuat baju dan celana. dalam kepercayaan Kaharingan. Pada perkembangan selanjutnya masyarakat Dayak Ngaju pun mulai membubuhkan warna dan corak hias pada busana mereka. dedaunan. panglima perang. kemudian desain yang tak lagi sekadar fungsional. untuk mengantar ruh manusia yang meninggal dunia ke peristirahatannya. kulit kerang. upacara meminta hujan. Salah satu mitologi masyarakat Dayak Ngaju yang terkenal adalah tentang penciptaan alam yang melahirkan simbolisasi "pohon hayat" atau "pohon kehidupan" dalam bentuk corak hias yang dikenal dengan nama batang goring. dan ahli pengobatan. Busana itu berwarna coklat muda. bagian depannya ditutup lembaran kain nyamu berbentuk persegi panjang. dan sebagainya. kalung. harimau akar. gigi dan taring binatang dirangkai menjadi kalung. pun punya makna simbolik.

Betapa tidak. Maka diadaptasilah teknik menenun kain halus itu dan kreativitas para penenun masyarakat Ngaju kemudian melahirkan juga kain tenun halus. Orang-orang Cina dan India memperkenalkan manik-manik yang terbuat dari logam. Selain untuk aksesori. juga dari beludru atau satin. lawung bawi. fauna. kebanyakan dibuat dari kain beludru. Busana Kain Tenun Halus Para pedagang Gujarat dari India yang datang ke Nusantara membawa serta kain-kain tenun halus sebagai barang dagangan. dan mitologi. Celananya disebut selawar gobeh. atau sutra. dan aplikasi manik-manik dan arguci. umpamanya saja. Kain-kain tersebut ditenun dari serat kapas atau sutra. tampil pula dalam ekspresi yang lain. untuk kostum tarian. celana . koleksi museum. Mereka pun lalu menciptakan alat penjalin untuk "merangkai" serat demi serat menjadi bentangan bahan busana untuk baju. atau cendera mata. Busana tradisional masyarakat Ngaju yang beredar sekarang ini hampir seluruhnya dibuat dari kain tenun halus serat kapas atau sutra. disebut salui. Akan tetapi.Busana Jalinan Serat Alam Inovasi yang paling signifikan pada rancangan busana masyarakat Dayak adalah penguasaan keterampilan menjalin serat alam. memberikan apresiasi positif terhadap bahan busana yang sebelumnya tidak ada pada khasanah karya tenun mereka itu. melengkapi yang sebelumnya telah dibuat masyarakat Ngaju dari biji-bijian. dari kain yang sama yang juga diberi corak hias berupa penggayaan bentuk flora atau fauna. dan tombak. sumpit. akar tumbuhan. Akan tetapi corak hias dan modelnya tidak bergeser jauh dari bentuk asalnya. berhiaskan gambar pewarna alam. jalinan serat alam. Hasilnya adalah tata busana yang memadukan kulit kayu. konon. ujung lengan baju. terutama yang bermukim di daerah pesisir dan pusat kerajaan. Dari kulit kayu yang telah dihaluskan mereka membuat serat yang dicelup oleh bahan pewarna alam sehingga dihasilkan benang yang tak tunggal warna. yang pada bagian bawahnya diberi corak hias stilasi bentuk flora atau fauna. Umpamanya saja sangkarut perang dari jalinan rotan (sangkarut perang) untuk penahan tusukan anak panah. Teknik menenun. Maka kulit kayu yang semula hanya ditempa menjadi lembaran-lembaran "kain". Busana kaum perempuan terdiri dari baju kurung ngasuhui berlengan panjang atau pendek. diberi hiasan. keramik. kostum taritarian. manikmanik itu juga kemudian diaplikasikan menjadi hiasan busana. Pada kerah. ular. model baju pria Melayu tapi berkerah. awan. harimau akar. kayu. manusia. dan tulang. Eksplorasi terus dilakukan untuk mencari bahan-bahan lain yang bisa dibuat benang. Rancangan dan fungsi busana pun turut berkembang. dan bagian dada. Busana pengantin. Dan kini pucuk rebung. Rambut yang disanggul bentuk sanggul lipat atau dibiarkan terurai dihias ikat kepala. pakaian acara-acara adat. ikat kepala. Maka busana masyarakat Ngaju jadi semakin ornamentik dan semarak warna. celana. Pakaian yang dibuat bukan lagi hanya untuk fungsi yang paling mendasar yakni baju dan celana untuk melindungi bagian tubuh yang dianggap paling penting saja. Masyarakat Ngaju. dan sebagainya. Baju kaum lelaki disebut baju palembangan. jenis rumputrumputan. Pakaian tradisional masyarakat Ngaju yang sekarang dianggap sebagai busana daerah Kalimantan Tengah untuk pelbagai upacara adat adalah pengembangan dari busana tradisonal masa lampau. dari kain satin atau beludru. hiasannya tetap mengekspresikan keakraban mereka dengan alam. dan kelengkapan lainnya. dari kain yang sewarna dengan baju dengan sehelai bulu burung haruei yang diselipkan pada ikat kepala bagian belakang. kini diolah dengan teknik yang memerlukan kesabaran dan konsentrasi tinggi. dan anting-anting atau suwang. satin. batang garing. Temuan-temuan baru itu kemudian dikembangkan lagi secara kreatif oleh para perancang busana masyarakat Ngaju. tapi diperluas untuk keperluan lainnya. burung enggang. Corak hiasnya masih menampilkan alam flora. Paduannya rok panjang sebatas betis. diperkenalkan kepada masyarakat Ngaju oleh orang-orang Bugis. karena ternyata alam Nusatara yang kaya raya juga menyediakan kapas dan sutra. Mereka kemudian melirik rotan. Jenis-jenis busana seperti ini sekarang pun masih bisa dibuat untuk berbagai keperluan. sehingga "kain" yang dihasilkan menjadi beragam. Dan aksesori yang dikenakannya adalah kalung manik-manik.

Penulis Aat Soeratin . Sedangkan penutup kepala dibuat dari kain yang dibentuk seperti peci atau kopiah yang disebut lawung siam.panjang "komprang" (tidak ketat) dari kain yang sama dengan bajunya.

Busana Tradisional Kutai Kutai Tradional Dress Penulis Aat Soeratin, Jonny Purba Seperti telah disinggung di muka, masyarakat Kutai mengalami persentuhan budaya dengan masyarakat Bugis yang datang dan menetap di daerah pesisir. Akulturasi itu, antara lain, mewartakan adanya tradisi menenun yang ekspresinya sangat berlainan dengan yang telah dikenal oleh masyarakat asli Kalimantan Timur. Dan sejalan dengan luruhnya perbauran antar budaya terlahirlah beragam hasil tenunan yang menunjukkan keindahan tersendiri yang kemudian semakin memperkaya khasanah kain tenun Nusantara. Tenun sutra dengan ragam hias floral yang dikenal sebagai "Kain Samarinda" misalnya, masyhur sebagai hasil tenunan yang khas Kalimantan Timur. Seperti lazim berlaku pada setiap kelompok etnik manapun, berdasarkan fungsinya, jenis-jenis pakaian dapat dibedakan sebagai pakaian sehari-hari, pakaian kerja, pakaian bepergian, pakaian pesta/upacara adat, dan sebagainya. Masing-masing fungsi busana itu juga dapat dibedakan berdasarkan jenis kelamin, umur, dan status sosial pemakainya. Pakaian sehari-hari yang dikenakan masyarakat Kutai disesuaikan dengan suhu udara daerah itu yang relatif panas. Oleh karenanya dipilih kain yang tipis, namun tidak tembus pandang, dari bahan katun untuk baju, celana, kain panjang, yang dipakai sehari-hari. Busana keseharian khas masyarakat Kutai yang hingg sekarang masih sering dijumpai adalah pelembangan dan baju Cina. Baju pelembangan, yang modelnya seperti piyama, dipakai oleh kaum lelaki. Pakaian bawahnya adalah seluar sekoncong, celana panjang dengan pipa celana yang longgar agar tak terasa panas, atau kain sarung pelekat. Jika bepergian memakai ikat fepala, destar, dari kain batik. Akan tetapi kini amat jarang para lelaki Kutai yang sehari-harinya memakai destar. Kaum perempuannya mengenakan baju Cina, semacam kebaya tidak berkerah, berkancing lima buah dan dipasangi dua buah kantong/saku di kiri-kanan bagian bawah bajunya. Para gadis atau ibu-ibu muda memakai sarung caul, yaitu kain panjang batik yang sudah dijahit berbentuk sarung. Jika bepergian paduan busana itu dilengkapi dengan babat (kain pinggang) dari kain Samarinda. Sedangkan wanita lanjut usia biasanya memakai sarung pelekat. Agar tampil rapi, rambut kaum wanita disanggul bentuk gelung Kutai, dan diberi kerudung ketika bepergian. Busana tradisional Kutai, sebagian diantaranya, dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa dan Melayu. Pakaian adat tradisional inilah yang hingga kini relatif masih bertahan dari pengaruh perkembangan mode busana. Dan di antara beragam pakaian adat atau busana upacara, salah satu yang paling kerap dijumpai adalah pakaian pengantin yang dikenal sebagai baju takwo dan baju kustim. Baju Takwo Pakaian adat Kutai yang menunjukkan perbedaan yang mencolok dengan pakaian adat suku-suku lain di Kalimantan Timur ialah baju takwo. Dahulu, baju takwo adalah pakaian kaum bangsawan atau busana para penari saat mengikuti upacara adat. Akan tetapi kini, masyarakat banyak pun mengenakan baju takwo sebagai busana pengantin. Saat upacara pernikahan berlangsung, mempelai wanita memakai baju takwo. Bentuk baju takwo mirip jas tutup tapi berleher tinggi. Di bagian depannya diimbuhkan sepotong kain, disebut jelapah, yang menutup bagian tengah dada dari bawah leher hingga pinggul. Di bagian pinggir kiri dan kanan jelapah diimbuhkan lima pasang kancing, sedang pada bagian lehernya dipasang dua buah kancing. Baju takwo kerap dibuat dari kain katun, linen, atau beludru. Paduannya adalah kain panjang biasanya bermotif parang rusak yang bagian sisinya diberi ornamen berupa rumbai-rumbai keemasan. Kain panjang ini dipakai hingga menutup mata kaki dan dibebatkan sedemikian rupa sehingga sisi kain yang berumbai berlipat-lipat di bagian depan dan nampak artistik. Rambut mempelai wanita disanggul berbentuk gelung siput, dihiasi gerak

gempa (kembang goyang) berwujud bunga melati yang dibuat dari emas atau perak bersepuh emas. Selop atau alas kaki yang digunakan biasanya berwarna hitam atau coklat. Mempelai pria juga mengenakan baju takwo, dipadukan dengan celana panjang. Kain panjang yang sama motifnya dengan yang dipakai mempelai wanita difungsikan sebagai dodot. Kain itu dibebatkan seputar pinggang, bagian depannya hanya sebatas lutut dan bagian sisi yang berumbai menjuntai dari bagian belakang hingga ke mata kaki. Sebagai hiasan kepala dipakai sentorong, sejenis peci atau kopiah berbentuk bundar, tingginya 15 cm dan dibuat dari kain beludru hitam. Sedangkan selop yang dipakai berwarna coklat atau hitam. Mempelai pria juga mengenakan baju takwo, dipadukan dengan celana panjang. Kain panjang yang sama motifnya dengan yang dipakai mempelai wanita difungsikan sebagai dodot. Kain itu dibebatkan seputar pinggang, bagian depannya hanya sebatas lutut clan bagian sisi yang berumbai menjuntai dari bagian belakang hingga ke mata kaki. Sebagai hiasan kepala dipakai sentorong, sejenis peci atau kopiah berbentuk bundar, tingginya 15 cm dan dibuat dari kain beludru hitam. Sedangkan selop yang dipakai berwarna coklat atau hitam. Baju Kustim Busana pengantin yang sekarang biasa dipakai oleh golongan menengah-atas masyarakat Kutai disebut baju kustim. Nama kustim berasal dari kata "kostum" yang bermakna "baju tanda kebesaran". Bentuk baju kustim sama dengan baju takwo hanya saja untuk baju kustim pada sisi jelapah, leher baju, dan ujung lengan baju dihiaskan pasmen, yaitu sulaman stilasi bentuk bunga atau flora dari benang emas. Pasmen yang terbuat dari benang serat logam mulia (emas) tak bisa dikerjakan sembarang orang. Ada perajin khusus yang menekuni profesi membuat pasmen benang logam emas ini. Rambut wanita disanggul bentuk gelung siput, diimbuh hiasan kembang gempa. Prianya memakai sentorong dengan pasmen benang keemasan. Di bagian depan sentorong dipasang wapen, semacam lencana, atau lambang yang menunjukkan derajat sosial pemakainya. Alhasil, pasmen dan wapen inilah yang mebedakan baju takwo dan baju kustim sebagai busana pengantin masyarakat Kutai. Maka tak jarang pengantin Kutai masa kini menggunakan kedua jenis busana ini. Ketika akad nikah mereka mengenakan busana dengan baju takwo, dan tatkala perayaan pernikahan memakai pakaian pengantin berbaju kustim. BUSANA ADAT DAYAK BENUAQ Aat Soeratin J onny Purba Salah satu suku bangsa yang mendiami daerah hulu sungai Mahakam adalah suku bangsa Dayak Benuaq. Daerah persebarannya mencakup Kecamatan Danau Jempang, terutama di desa Tanjung Isuy, Pentat, Muara Nayan, dan Lempunah, serta sebagian di Kec. Tenggarong. Bahan yang terkenal untuk pakaian adat tradisional Dayak Benuaq adalah kain tenunan serat daun doyo (Curculigo latifolia). Secara almiah tumbuhan sejenis pandan ini berkembang dengan subur di daerah Tanjung Isuy. Dari tumbuhan inilah masyarakat Dayak Benuaq membuat benang yang kuat untuk ditenun. Daun doyo dipotong sepanjang 1-1,5 meter dan direndam di dalam air. Setelah daging daun hancur lalu seratnya diambil. Biasanya warna tenunan kain doyo (ulap doyo) memiliki tiga warna: merah, hitam, dan warna coklat muda. Ulap doyo dianggap sebagai tenun ikat yang sangat khas Dayak Benuaq. Motifnya stilasi dari bentuk flora, fauna, dan alam mitologi, sebagaimana lazimnya motif hias masyarakat Dayak lainnya. Pada bidang yang berwarna terang, pada kain bercorak hias itu muncul titik-titik hitam yang dihasilkan dari pengikatan sebelum dicelup bahan pewarna. Titik-titik hitam inilah yang hampir tak ditemui pada tenun ikat manapun di daerah lain. Dari kain tenun serat doyo ini dibuatlah destar, kopiah, baju, sarung, dan sebagainya.

Akulturasi dengan budaya lain juga meresap hingga ke pedalaman. Maka masyarakat Benuaq pun kemudian mengenal kain tenun kapas dengan warna-warni yang sangat kontras dengan warna serat tenun mereka. Dan dengan sangat kreatif masyarakat Benuaq mengaplikasikan kain-kain tersebut pada karya tenun ikat mereka. Hasilnya adalah busana upacara yang dibuat dari kombinasi tenunan serat doyo dengan kain warna-warni sebagai corak hias yang artistik, misalnya busana adat yang dipakai oleh para pemeliaten (ahli pengobatan tradisional). Busana Adat Dalam pelbagai upacara adat seperti misalnya upacara kematian, upacara pengobatan, upacara panen hasil bumi, dan sebagainya, kaum perempuan mengenakan ulap doyo yang berfungsi seperti kain panjang (tapeh). Agar bebas bergerak ulap ini diberi belahan yang jika dipakai belahan itu berada di bagian belakang. Ulap yang berbelah ini disebut ulap sela. Ulap yang dikenakan sehari-hari biasanya berwarna hitam sedangkan yang dikenakan saat mengikuti upacara adat, diberi hiasan kain perca warna-warni bermotif bunga atau dedaunan. Sebagai baju biasanya dipakai kebaya tanpa lengan atau yang berlengan panjang. Sedangkan kaum pria biasanya menggunakan tenunan serat doyo ini untuk baju tanpa lengan dan celana pendek. Dalam masyarakat Dayak masa lalu terjadi pelapisan sosial karena dulu masih terdapat raja pada setiap sukunya. Turunan para raja kemudian menurunkan para bangsawan yang disebut golongan mantiq, sedangkan masyarakat kebanyakan dinamakan kelompok merantikaq (keturunan orang-orang biasa). Golongan mantiq dan merantikaq dapat dibedakan dari ragam hias yang diimbuhkan pada pelbagai pelengkap acara adat. Misalnya motif jautn nguku. Jautn berarti awan, sedang nguku berarti berarak. Ragam hias ini menggambarkan kebesaran seseorang dalam suasana kebahagiaan. motif ini biasanya dilukis pada templaq/tinaq (tempat penyimpanan tulang-belulang jenazah) golongan bangsawan atau raja-araja. Atau motif waniq ngelukng. Waniq berarti lebah dan ngelukng berarti menyerupai sarang lebah. Maknanya, bahwa orang yang sudah mempunyai cukup harta benda dapat melaksanakan upacara kematian. Ragam hias ini dilukiskan pada templaq/ tinaq tempat tulang belulang orang mati untuk golongan orang merantikaq tapi bisa juga untuk golongan bangsawan. Kini tak ada lagi raja. Maka yang dianggap sebagai pemuka masyarakat adalah kepala adat, kepala suku, dan para ahli belian (ahli penyembuhan penyakit) yang disebut pemeliaten. Kepala adat suku Benuaq sekarang tampil lebih sederhana, hampir tidak nampak atribut tanda status pada busana yang dikenakannya. Mereka biasanya memakai destar atau leukng dari serat doyo atau kain biasa. Berbaju kemeja tanpa lengan dari kain serat doyo berwarna merah atau hitam. Dahulu kepala adat menggantungkan jimat-jimat, manik-manik, taring harimau dahan, taring beruang, dan patungpatung yang mempunyai kekuatan magis atau disebut tonoi. Dan memakai cawat atau cancut yang juga dibuat dari tenunan serat doyo. Kepala adat yang merangkap kepala suku mengenakan topi yang berhiaskan bulu burung enggang, baju perang dari kulit kayu atau kulit harimau dahan, memakai cawat, dan tanpa alas kaki. Perisai di tangan kiri dan tombak digengggam di tangan kanan. Di pinggangnya tesengkelit sebilah mandau perang (parang/golok panjang) yang hulunya dihiasi dengan aneka warna bulu burung. Sarung mandaunya berukir dan pada ujungnya juga dihias bulubulu burung yang indah. Para pemeliaten tampil dengan ekspresi lain. Mereka tidak mengenakan baju tapi di bagian dadanya disilangkan kalung manik-manik, taring binatang buruan, dan patung-patung kayu kecil (jorokng) yang dipercaya sebagai sebagai tonoi. Busana bawahannya berupa tapeh bel ian yaitu kain panjang serupa rok maksi yang menutup hingga mata kaki, dan diberi hiasan aplikasi berupa tempelan kain warnawarni motif floral yang sangat artistik. Pada pinggang dililitkan sempilit, kain panjang yang berhias pada ujungnya, dan berjuntai sepanjang kiri dan kanan kaki. Ragam hias pada tapeh dan sempilit belian juga menunjukkan tingkat pengetahuan atau "kesaktian" pemakainya. Jika terdapat hiasan berupa garis-garis pada bagian bawah tapeh menunjukkan bahwa pemeliaten itu berilmu tinggi.

Busana adat. dan perhiasan yang dikenakan pada pelbagai upacara adat itu adalah sarana untuk memudahkan hubungan dengan mahluk-mahluk gaib. . Bunyi-bunyian magis sebagai musik repetitif ditimbulkan oleh beradunya gelang-gelang ketika pemeliaten menggucang-guncangkan tangannya. dan uang logam kuno. Di pergelangan tangannya dipakai gelang-gelang berukuran relatif besar. biasanya terbuat dari logam. Pemeliaten juga memakai destar (laukng) yang warnanya juga mempunyai arti simbolik. yang juga berfungsi sebagai musik pengiring saat upacara. taring binatang.Untuk menahan tapeh dan sempilit dikenakan babat (semacam ikat pinggang) yang dihiasi dengan manikmanik. Laukng berwarna hitam menandakan bahwa pemakainya (pemeliaten) mampu menangkal berbagai bentuk sihir hitam. ragam hias. Babat ini berfungsi pula sebagai tempat menyimpan pelbagai jimat penolak pengaruh jahat sihir hitam. Jika laukng hitam itu berimbuhkan garis-garis putih bermakna pemeliaten tersebut belum mampu menolak ilmu hitam.

Dihiasi dengan kelengkapan dan karakteristik lainnya. memperlihatkan adanya perbedaan cukup spesifik antar kelompok masyarakat yang secara sosial memiliki kedudukan yang berlainan. ada pula busana adat lainnya yang khusus dikenakan oleh kaum remaja putri dan remaja pria yang berasal dari golongan bangsawan. leher jas. dan saku jas yang terletak di bagian luar berwarna merah. Adapun busana adat untuk kaum wanita meliputi kebaya panjang dan kain panjang. remaja contohnya. berikut toala polulu di kepalanya. dan upacara pengukuhan atau uko se bonofo. Tidak lupa. Beberapa di antaranya yang masih dikenal hingga kini adalah upacara makan secara adat atau sidego. Konon warna tersebut melambangkan keperkasaan dari pemakainya. yakni semacam jubah panjang dengan warna-warna muda seperti biru muda dan kuning muda. Sementara itu. . serta kain panjang. Sementara itu. mereka pun menyertakan berbagai perhiasan seperti taksuma. Konon warna tersebut untuk melambangkan jiwa muda dari para pemakainya yang masih remaja. Para remaja putri biasanya memakai busana yang terdiri atas kain panjang dan kimun gia kancing atau kebaya panjang berwarna kuning. pada umumnya memang menggambarkan kesederhanaan. berlian. Perhiasan lainnya yang dikenakan oleh permaisuri tersebut meliputi kalung. Ada beberapa jenis busana yang dikenakan dalam upacara. atau hijau muda dengan tangan yang berkancing sembilan di sebelah kiri dan kanannya. dilengkapi dengan perhiasan yang disesuaikan dengan tingkatan sosial mereka. berupa upacara-upacara adat kesultanan pada masa itu maupun upacara yang berkaitan dengan siklus hidup manusia. celana panjang. merupakan kawasan bekas kesultanan Ternate dan kesultanan Tidore. anting dua susun. keberadaan keturunan sultan di dalam lingkungan masyarakatnya memiliki gaya hidup yang khas. upacara injak tanah atau joko kaha. sedangkan konde kecil biasanya dipakai oleh pembantu permaisuri. Selain itu. Busana yang biasa dikenakan oleh kaum wanita dalam melakukan aktivitas sehari-hari terdiri atas kain kololuncu dan baju susun dengan bagian tangan yang ditarik hingga ke pertengahan sikut. sedangkan giwang tidak boleh dipakai oleh mereka. Busana yang dikenakan oleh masyarakat pada umumnya atau rakyat biasa ditandai dengan kesederhanaan dalam berbagai hal. Baju tersebut umumnya berwarna polos. dan peniti yang terbuat dari intan. Selain busana adat yang disebutkan tadi.upacara adat. Secara umum busana adat tradisional yang dikenakan oleh kaum pria yang berasal dari golongan bangsawan terdiri atas jubah panjang yang menjuntai hingga betis atau lutut. dan ikat kepala. yang melambangkan status sosial dan usia dari orang yang memakainya. mereka juga mengenakan hiasan lainnya yang berupa konde yang berukuran besar. Kekhasan tersebut tampak dalam tata cara berbusana mereka. Di samping itu. Busana yang dikenakan oleh istri sultan terdiri atas kebaya panjang atau kimun gia. berbeda dengan busana yang dipakai oleh kelompok masyarakat yang memiliki kedudukan sosial tinggi. Busana yang dikenakan oleh sultan disebut manteren lamo yang terdiri atas celana panjang hitam dengan bis merah memanjang dari atas ke abawah. atau diselaraskan dengan usia mereka. pembantu permaisuri. atau emas. busana adat yang dikenakan oleh rakyat biasa untuk busana sehari-hari maupun busana yang dikenakan pada upacaraupacara adat. yakni kalung rantai emas yang dibuat dalam dua lingkaran. penampilan busana yang dikenakan oleh sultan tersebut dilengkapi dengan destar untuk menutup kepala. Baju koja tersebut biasanya berpasangan dengan celana panjang berwarna putih atau hitam. Apalagi kehidupan mereka senantiasa diwarnai dengan berbagai acara seremonial. Sudah tentu. bros. oranye. yang terbuat dari kain satin berwarna putih dengan pengikat pinggang yang terbuat dari emas. Hal ini dikarenakan Ternate dan Tidore yang secara administratif kini termasuk ke dalam wilayah kabupaten Maluku Utara. ujung tangan. baik sebagai permasuri. Busana adat yang dipakai oleh remaja pria disebut baju koja. baju berbentuk jas tertutup dengan kancing besar terbuat dari perak berjumlah sembilan . serta alas kaki yang disebut tarupa.Busana Tradisional Ternate dan Tidore Penulis Ria Andayani Somantri Gambaran fisik busana adat masyarakat Ternate dan Tidore.

Sama halnya dengan busana wanita. yakni tutup kepala berwarna kuning muda. Pada waktu mereka menghadiri berbagai upacara adat. yakni baju berwarna hitam yang panjangnya mencapai pinggul serta berlengan panjang. celana dino. .Busana kerja dalam keadaan bersih. lengkap dengan lengso duhu. biasanya dipakai juga sebagai baju untuk di rumah. mereka pun hanya mengenakan kain songket dan baju susun. Adakalanya. Busana kerja yang digunakan oleh kaum pria terdiri atas kebaya popoh. busana kerja pria biasanya digunakan pula sebagai pakaian sehari-hari untuk di rumah. dan celana popoh. yakni celana setinggi betis yang berwarna hitam pula. yakni celana dari kain tenun berwartna jingga atau kuning. sedangkan kaum wanitanya mengenakan baju susun dan kain songket. Adapun ketua adat yang memimpin upacara-upacara adat tersebut mengenakan jubah panjang yang mencapai betis berwarna kuning muda yang disebut takoa. busana yang dikenakan oleh kaum pria maupun wanitanya tidak berbeda. Kaum pria mengenakan celana panjang dan kemeja panjang.

Busana wanitanya terdiri atas baju dan kain hitam atau kebaya dan kain hitam. jenis busananya masih tetap berupa kebaya cita berlengan panjang hingga ujung jari yang kemudian dilipat. Kecuali pada saat upacara sidi yakni upacara pengukuhan pemuda clan pemudi untuk menjadi pengiring Kristus yang setia. Kebaya jenis ini bisanya berpasangan dengan kain palekat. Selain busana sehari-hari yang telah disebutkan tadi. baju cele tersebut dijahit dengan panjang lengan hingga sikut. Busana dalam upacara keagamaan biasanya lebih lengkap lagi. Untuk busana kerja di rumah atau dikebun. Jenis busana lain. Sementara itu kaum pria di Ambon mengenakan busana yang terdiri atas baju kurung yang berlengan pendek dan tidak berkancing. Sedangkan busana yang dikenakan pada saat bepergian. Walaupun model bajunya sama. Meskipun busana adat yang biasa dipakai dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari termasuk jarang digunakan lagi saat ini. biasanya dipakai sebagai busana kerja yang disebut kebaya waong. melainkan tampak juga dalam busana seharihari. Kebaya manampal. dari bagian leher ke arah dada terbelah sepanjang 15 sentimeter tanpa kancing. Keberadaan busana adat Ambon. lenso pinggang. tidak hanya didominasi oleh busana yang dikenakan pada saat menghadiri upacaraupacara saja. kole. Kebaya manapal yang sudah tampak jelek atau sudah tidak pantas lagi untuk dikenakan di rumah. Sementara itu busana prianya terdiri atas baniang. Ada beberapa contoh busana yang pada zaman dahulu pernah menjadi busana sehari-hari yang digunakan untuk bekerja atau di rumah. tapi kualitas bahan yang digunakan berbeda. Celana kes atau hansop. Pada saat itu busana hitam ini ditabukan atau dilarang digunakan. dan celana panjang. yakni sejenis kebaya berlengan pendek. mereka akan melengkapinya dengan sapu tangan. Khusus untuk kaum pria yang telah lanjut usia. Bila mereka akan bepergian. Pasangannya adalah celana panjang berikut topi yang dikenakan di kepala. kebaya hitam. yakni sapu tangan berwarna putih yang kini telah jarang diletakkan di pinggang melainkan hanya dipegang saja. Penampilan gaya berbusana warga masyarakat Ambon pada saat menghadiri upacara adat clan upacara keagamaan berbeda dengan yang dikenakan sehari-hari. yakni baju dalam atau kutang yang dipakai sebelum mengenakan baju atau kebaya hitam. dengan leher agak tertutup. lengkap dengan kain pelekat. atau masyarakat menyebutnya baju cele tangan sepanggal. khususnya dalam upacara sidi. Bila akan bepergian. biasanya terdiri atas baju baniang yakni baju berbentuk kemeja yang berlengan panjang dan berkancing. yakni celana anak-anak yang dibuat dari beraneka macam kain dan dijahit sesuai dengan selera masing-masing. yaitu kebaya cita berlengan hingga sikut yang dijahit dengan cara menambal beberapa potong kain yang telah diatur dan disusun sedemikian rupa dengan rapih. Dilengkapi dengan kaeng pikol. celana yang dipakainya disebut celana Makasar yang panjangnya sedikit di bawah lutut dan sangat longgar. yang sudah tidak dipakai untuk berpergian oleh kaum wanita. Busana adat yang dikenakan dalam kesempatan tersebut biasanya hitam polos atau warna dasar hitam. keberadaannya tetap penting untuk diungkapkan sebagai gambaran kekhasan busana mereka di masa lalu. dipakai . dilengkapi dengan celana kartou yakni celana yang pada bagian atasnya terdapat tali yang dapat ditarik dan diikatkan. masih ada lagi busana lain yang khususnya dipakai oleh untuk kaum wanita yang merupakan pendatang dari kepulauan Lease dan telah menetap di Ambon ratusan tahun lamanya. Mereka biasanya mengenakan baju cele. yakni kain hitam berhiaskan manik-manik yang disandang di bahu kiri.Busana Tradisional Busana Tradisional Ambon Ambon Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Ambon merupakan ibukota propinsi Maluku yang berada di kawasan Maluku Tengah.

dan lain-lain pada dasarnya hampir sama. dan seperangkat busana yang terdiri atas baju putih panjang. lenso bodasi dililitkan di leher. dan topi. Sedangkan pria dewasa lainnya hanya mengenakan baju hitam dan celana panjang hitam tanpa menggunakan alas kaki. Begitu pula kaum wanitanya yang memakai baju hitam seperti baju cele . Adapun busana yang dikenakan pada saat berlangsung upacara adat seperti pelantikan raja. Busana raja terdiri atas baju hitam. busana rok. patala di pinggang. bersepatu dengan kaus kaki putih. salempang. ikat poro atau ikat pinggang. Para tua-tua adat mengenakan baju hitam.oleh kaum remaja yang berasal dari golongan bangsawan diantaranya baju tangan kancing. . celana hitam. yakni baju cele berlengan panjang dengan kancing pada pergelangan tangannya. yang terdiri atas kebaya putih berlengan panjang dan berkancing pada pergelangannya. penerimaan tamu. dan kaus tangan berwarna putih. Hanya ada penambahan tertentu pada kelengkapan busana mereka. celana panjang atau celana Makasar. sepatu berwarna putih. pembersihan negeri. patala disalempang di dada. pending pengikat pinggang yang terbuat dari perak.

dan sebagainya. Tidak heran bila belusu yang beredar saat ini merupakan salah satu benda warisan dari nenek moyang mereka. pelepasan arwah. Warna dasar tais pada umumnya adalah coklat. Mereka biasanya menari dalam upacara penghormatan jenazah dan upacara pelepasan arwah orang-orang yang dihormati. serta lean. Para penari yang terdiri atas kaum ibu tersebut. keberadaannya tetap merupakan aset potensial yang dapat memberikan daya dukung positif bagi pelestarian dan pengembangan keberadaan busana adat tradisional di kawasan tersebut. . yakni untaian yang tergantung di belakang leher. Mengingat saat ini sudah tidak ada lagi pengrajin yang membuat gelang-gelang besar seperti itu. ada kalanya belusu pun dijadikan sebagai mas kawin. somalea. Pada dasarnya. yaitu kalung yang terdiri atas lima lapis dan diletakkan di bagian depan. Pada masa lalu. Wanita Tanimbar dalam kehidupan sehari-hari. dan warna hitam melambangkan pemakainya adalah golongan rakyat biasa. mereka menyempurnakan penampilannya dengan mengenakan sejumlah asesoris yang khas. penghormatan jenazah. yang bernuansa keagamaan ataupun yang berkaitan dengan siklus hidup manusia. pernikahan. yakni baju sejenis kebaya untuk bagian atasnya. selain mengenakan busana adat juga memakai aneka perhiasan yang lengkap. ada kelengkapan khusus yarig senantiasa digunakan oleh kaum wanita dalam berbagai upacara. ketua adat misalnya. meliputi sinune. Pemakaiannya sangat bergantung pada kemampuan dari orang yang akan mengenakannya. hitam kebiru-biruan. Masyarakat menamakan kain tenunan seperti itu dengan sebutan tais maran. dan lekbutir.terbatas pada gelang atau bel usu. berbagai kalung atau ngore. Selain itu. Kalaupun ada yang mengenakannya. Busana yang dipilih terdiri atas kutang liman malawan. Misalnya. yang berlengan pendek maupun panjang. itupun terbatas pada kaum yang sudah berumur. upacara-upacara gerejani. hitam kebirubiruan mencerminkan golo-ngan menengah. yang menggantung dengan indah di telinga. yakni sinune dan somalea. Artinya. Busana adat wanita Tanimbar biasanya dipakai pada saat mereka menghadiri atau terlibat dalam penyelenggaraan upacara adat. Saat ini. ~ Kain tenun dengan warna dasar coklat melambangkan kedudukan pemakainya sebagai golongan bangsawan. yaitu anting-anting. maka belusu kini menjadi barang yang cukup langka. memang ada salah satu yang tampak paling lengkap yakni busana penari. dan hitam. Adapun busana bagian bawahnya berupa kain sarung yang biasanya ditenun sendiri. Bahkan. Di antara berbagai busana yang dikenakan oleh kaum wanita dalam sejumlah acara. yaitu hiasan dari cendrawasih yang telah dikeringkan dan menjadi hiasan yang diletakkan di kepala atau dahi. yakni selempang atau selendang yang disampirkan pada bahu sebelah kiri. Misalnya noras aboyenan. Saat menghadiri upacara-upacara tersebut.Busana Tradisional Tanimbar Tanimbar Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Wilayah Tanimbar sejak duhulu dikenal sebagai sentra pengrajin busana tradisional di Kabupaten Maluku Tenggara. yakni seperangkat busana terdiri atas kebaya dan kain tenun yang disebut tais matau atau tais wangin. Berbagai kelengkapan busana dan perhiasan tradisional tersebut memang tidak mutlak digunakan. umumnya hampir tidak ada yang memakai perhiasan. atau barang bawaan seorang wanita sewaktu meninggalkan keluarganya untuk pindah dan menetap bersama suaminya. ketentuan tersebut sudah tidak berlaku lagi. Kalaupun ada yang masih mengenakannya. memakai rantai maupun tidak. kaum wanita biasanya mengenakan busana adat yang khas. busana adat masyarakat Tanimbar kini tidak lagi digunakan dalam kehidupan mereka sehari-hari. keberadaan warna-warna tersebut memang memiliki makna tersendiri yang erat kaitannya dengan status sosial seseorang. belusu. Meskipun jumlah mereka saat ini sudah mulai menyusut. Keberadaan belusu yang terbuat dari gading gajah ini cukup penting dalam kehidupan masyarakat Tanimbar. Meskipun begitu. setiap orang boleh mengenakan kain dengan warna apa saja.

Melihat gambaran busana adat tradisonal masyarakat Tanimbar secara umum memang tidak hanya menampakkan fungsi alamiah semata.Sementara itu. . sinune. walaupun hanya dengan menambahkan umpan yang diikatkan di pinggang. pahlawan. Tidak lupa mereka pun menambahnya dengan berbagai kelengkapan busana lain yang sama khasnya dengan apa yang dikenakan oleh kaum wanita. yakni untuk melindungi anggota tubuh dari berbagai keadaan cuaca yang tidak menguntungkan. Kecuali bagi mereka yang memiliki tugas khusus. berhiaskan somalea. atau para tua adat. yakni selembar kain tenun yang diikatkan di pinggang. mengandung makna simbolis tertentu yang barangkali saat ini sudah mulai terlupakan keberadaannya. prajurit. Namun lebih dalam lagi. kain penutup kepala. kebesaran. tutuban ulu melambangkan keberanian. dan keperkasaan seorang pemimpin. Kecenderungan yang tampak sekarang. Mereka sudah merasa berbusana tradisional. tutuban ulu. Konon pada masa lalu. busana adat pria Tanimbar terdiri atas celana panjang dan kemeja panjang. Kelengkapan tersebut meliputi umpan. Selain itu kepada jenazah dalam upacara adat pelepasan jenazah biasanya dipakaikann busana tradisional secara lengkap. misalnya yang membacakan syair dalam upacara tersebut. kaum pria tidak mengenakan busana adat selengkap itu pada berbagai upacara keagamaan atau upacara adat. atau ketua adat.

Arab dan India. kecuali mungkin pada halus tidaknya tenunan.Busana Tradisional Busana Tradisional Sikka Sikka Traditional Dress Penulis Biranul Anas Masyarakat Sikka atau suku Sikka. tutup kepala pria terbuat dari kain batik soga dan dikenakan dengan pola ikatan tertentu sehingga ujungujungnya turun menempel pada kedua sisi wajah dekat telinga. bercorak flora atau fauna dalam teknik ikat lungsi. berbentuk mirip kemeja berlengan panjang terbuat dari sutera atau kain yang bagus mutunya. biru dan kuning secara melintang. Indonesia. yakni pada pembagian bidang-bidang dan corak yang diilhami oleh kain patola. Dimasa lalu bangsawan memakai lipa dengan ragi yang masih baru. Hitam misalnya biasanya dipakai untuk melayat orang meninggal. Busana Adat Wanita Seperti halnya pada kaum pria. Labu wanita ini terbuka sedikit pada pangkal leher guna memudahkan pemakaian sebab polanya tidak menyerupai kemeja atau blus yang lazim berkancing pada bagian depannya. kebudayaan masyarakat Sikka mencerminkan adanya pengaruhpengaruh asing seperti Bugis. utan lewak. Pada tatacara berbusana tampak jelas bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok antara keturunan ningrat dan rakyat. Busana Adat Pria Perangkat busana adat pria secara umum terdiri atas kain penutup badan dan penutup kepala. kuning atau merah. Tatawarna kain Sikka umumnya tampil dalam nada-nada gelap seperti hitam atau biru tua dengan ragi yang lebih cerah berwarna putih. Destar. Utan lewak. Namun dewasa ini hal tersebut sudah ditinggalkan. Pada bagian pinggang dikenakan utan atau utan werung yaitu sejenis sarung berwarna gelap. berwarna dasar gelap dengan paduan-paduan antara warna-warna merah. Selembar lensu sembar diselendangkan pada dada. putih. Kain atau baju penutup badan terdiri atas labu bertangan panjang. Belanda. Walaupun demikian masyarakat Sikka tetap mampu mempertahankan ungkapan budaya tradisionalnya lewat busana serta tatariasnya. Portugis. busana adat wanita Sikka tidak (lagi) mengenal perbedaan strata sosial yang mencolok. Kain sarung wanita. Warna-warna kain wanita melambangkan berbagai suasana hati atau kekuatan-kekuatan magis. Perhiasan yang penting tetapi jarang dikenakan adalah keris yang disisipkan pada pinggang sebagai pertanda keperkasaan dan kesaktian. Cina. fauna dalam lajur-lajur bergaris. sejenis selendang yang diselempangkan melintang dada. Istilah untuk sarung selain utan adalah lipa. Diatas labu dikenakan dong. Bagianbagian busana wanita Sikka terdiri atas penutup badan berupa labu liman berun. biasanya berwarna putih mirip kemeja gaya barat. Merah dan coklat melambangkan keagungan dan status sosial yang . coklat. Seperti halnya dengan daerah-daerah lain di wilayah Nusa Tenggara Timur. Sedangkan pengaruh India amat nyata pula hasil tenunan. mendiami daerah kabupaten Sikka di pulau Flores dengan kota terbesar sekaligus ibukota yaitu Maumere. ragi werung. bergaris biru melintang. dihiasi dengan ragam-ragam flora. jahitan dan ukiranukiran perangkat perhiasannya. Dimasa lalu suku Sikka mengenal tingkatan sosial yakni bangsawan dan masyarakat umum. arti harfiahnya adalah kain tiga lembar. bahkan di. Dibidang agama tampak benar pengaruh Portugis dan Belanda yang membawa agama Katolik dan Protestan serta tatabusana barat yang dewasa ini sudah menjadi pakaian sehari-hari masyarakat.

sebaliknya warna-warna muda adalah untuk suasana suka ria. Pada pergelangan tangan dipakai kalar yang terbuat dari gading dan perak. Hiasan kepala tersemat pada sanggul atau konde dalam bentuk tusuk konde biasanya terbuat dari ukiran keemasan. sedangkan warna-warna cerah digemari oleh kaum muda. Demikian pula hal dengan warna dong. Warna-warna yang gelap biasanya dipakai oleh orang tua. pesta dan sebagainya. delapan dan seterusnya. Jumlah kalar gading dan perak (atau emas) biasanya genap. apabila gelap mencerminkan duka. Penggunaanya disesuaikan dengan suasana peristiwa seperti upacara-upacara atau pesta-pesta adat. Paduan warna juga menunjuk pada usia. Perhiasan pada rambut dewasa ini sudah amat bervariasi karena pengaruh-pengaruh dari sukusuku lainnya di Nusa Tenggara Timur. Kaum berada atau ningrat biasanya mengenakan lebih banyak namun tetap dalam bilangan genap seperti enam. Cara mengenakan utan selain sebagaimana tersebut di atas juga dengan menyampirkan sebagian pinggir kain di atas bahu dengan melintangkan tangan kanan (atau kiri sesuai pembawaan masing-masing) di bawah dada seperti hendak menjepit kain.tinggi. Perlambang warna dan cara-cara menyandang utan berlaku pula pada kaum pria Sikka. Yakni dua atau empat gading dengan dua perak pada setiap tangan. . Perhiasan lainnya adalah kilo yang tergantung pada telinga.

Ragam-ragam hias yang terdapat pada hinggi dan tiara terutama berkaitan dengan alam lingkungan mahluk hidup seperti abstraksi manusia (tengkorak). alam pikiran serta kepercayaan mendalam terhadap marapu. Hinggi kaworu atau terkadang juga hinggi raukadama digunakan sebagai pelengkap. upacara. pesta-pesta dan sejenisnya. yang terbuat dalam teknik tenun ikat dan pahikung serta aplikasi muti dan hada terungkap berbagai perlambangan dalam konteks sosial. kuda. Dewasa ini perbedaan pada busana lebih ditunjukkan oleh tingkat kepentingan peristiwa seperti pada pesta-pesta adat. buaya. rusa. udang. Kepercayaan khas daerah Marapu. rumahrumah ibadat (umaratu) rumah-rumah adat dan tata cara rancang bangunnya. Bagian terpenting dari perangkat pakaian adat Sumba terletak pada penutup badan berupa lembar-lembar besar kain hinggi untuk pria dan lau untuk wanita. samping kiri atau samping kanan sesuai dengan maksud perlambang yang ingin dikemukakan. setengah leluhur. Sebagai penutup badan digunakan dua lembar hinggi yaitu hinggi kombu dan hinggi kaworu. ayam. Jambul inilah dapat diletakkan di depan. Khususnya yang terbuat dengan teknik pahikung disebut tiara pahudu. masih amat hidup ditengah-tengah masyarakat Sumba ash. Sedangkan busana lama atau usang biasanya dipakai di rumah atau untuk bekerja sehari-hari. ikan. sejenis penutup kepala dengan lilitan dan ikatan tertentu yang menampilkan jambul. kerbau sampai dengan corak-corak yang dipengaruhi oleh kebudayaan asing (Cina dan Belanda) yakni naga. Sumba Barat dan Sumba Timur. ekonomi serta religi suku sumba. setengah dewa. Hinggi dan tiara terbuat dari tenunan dalam teknik ikat dan pahikung. Menilik halhal tersebut maka pembahasan busana pria sumba ditujukan pada pakaian tradisional yang dikenakan pada peristiwa besar. naga. Jambul di depan misalnya melambangkan kebijaksanaan dan kemandirian. burung. tetapi komponen serta tampak keseluruhannya sama. ragam-ragam hias ukiran-ukiran dan tekstil sampai dengan pembuatan perangkat busana seperti kain-kain hinggi dan lau serta perlengkapan perhiasan dan senjata. Di Sumba Timur strata sosial antara kaum bangsawan (maramba). Namun masih ada perbedaan-perbedaan kecil. bendera tiga warna. mahkota dan singa. Marapu menjadi falsafah dasar bagi berbagai ungkapan budaya Sumba mulai dari upacara-upacara adat. Busana pria Sumba terdiri atas bagianbagian penutup kepala.Busana Tradisional Sumba Timur East Sumba Traditional Dress Penulis Biranul Anas Pulau Sumba didiami oleh suku Sumba dan terbagi atas dua kabupaten. pemuka agama (kabisu) dan rakyat jelata (ata) masih berlaku. Karena pada saat-saat seperti itulah ia tampil dalam keadaan terbaiknya. Misalnya busana pria bangsawan biasanya terbuat dari kain-kain dan aksesoris yang lebih halus daripada kepunyaan rakyat jelata. upacara-upacara perkawinan dan kematian dimana komponenkomponen busana yang dipakai adalah buatan baru. Di kepala dililitkan tiara patang. Hinggi kombu dipakai pada pinggul dan diperkuat letaknya dengan sebuah ikat pinggang kulit yang lebar. Dari kain-kain hinggi dan lau tersebut. Kesemuanya memiliki arti serta perlambang yang berangkat dari mitologi. ular. Warna hinggi juga . walaupun tidak setajam dimasa lalu dan jelas juga tidak pula tampak lagi secara nyata pada tata rias dan busananya. cumi-cumi. penyu. Busana pria Sebagaimana telah disebutkan busana masyarakat Sumba dewasa mi cenderung lebih ditekankan pada tingkat kepentingan serta suasana lingkungan suatu kejadian daripada hirarki status sosial. Masyarakat Sumba cukup mampu mempertahankan kebudayaan aslinya ditengah-tengah arus pengaruh asing yang telah singgah di kepulauan Nusa Tenggara Timur sejak dahulu kala. penutup badan dan sejumlah penunjangnya berupa perhiasan dan senjata tajam.

Sebagian besar penduduknya dewasa ini pun memeluk agama Nasrani.mencerminkan nilai estetis dan status sosial. pencipta mahluk hidup sumber segala yang ada. namun dewasa ini perlengkapan tersebut semakin banyak digunakan khususnya didearah perkotaan. Timor Amarasi. lau mutikau dan lau pahudu kiku. keperkasaan serta budi baik seseorang. Sedangkan pergelangan tangan kiri dipakai kanatar dan mutisalak. coklat. Suatu kebiasaan yang umum di Nusa Tenggara Timur khususnya Timor (dan Sumba) adalah disandangnya kapisak atau aluk yang terbuat dari anyaman-anyaman daun atau kain persegi empat dengan corak geometris dan muti sebagai . menjurai ke bagian dada. Sebagaimana dengan kebiasaan serta budaya yang ada pada daerahdaerah lain di Nusa Tenggara Timor pelapisan sosial kemasyarakatan yang dahulu kala amat kuat dianut. biru dan merah bata yang ditunjang oleh berbagai aksesoris di kepala. Masyarakat Amarasi merupakan bagian dari suku Dawan yang tersebar di seluruh kabupaten di Timor bagian barat. wujud tertinggi penguasa jagad raya. memanjang dalam paduan warna-warna jingga. Di kepala terikat tiara berwarna polos yang dilengkapi dengan hiduhai atau hai kara. Kain-kain tenunan dalam teknik futus dan sotis dalam paduan warna-warna putih. Busana Adat Wanita Pakaian pesta dan upacara wanita Sumba Timur selalu melibatkan pilihan beberapa kain yang diberi nama sesuai dengan teknik pembuatannya seperti lau kaworu. Secara tradisional busana pria tidak menggunakan alas kaki. Kainkain tersebut dikenakan sebagai sarung setinggi dada (lau pahudu kiku) dengan bagian bahu tertutup taba huku yang sewarna dengan sarung. Di kepala dikenakan pilu dari batik. Corak khas pada beti gaya Amarasi adalah dominasi warnawarna coklat dengan bidang tengah berwarna putih sebesar ± 3040 cm. Hal ini tampak nyata pada ungkapan berbusana masyarakatnya yang sehari-hari memakai pakaian bergaya barat akibat pengaruhpengaruh asing yang masuk ke daerah tersebut sudah lama. Busana Tradisional Amarasi. dan po`uk. lau pahudu. Po`uk sebesar ± 30 cm bercorak garis-garis. Demikian pula halnya perhiasan-perhiasan lainnya. Selanjutnya busana pria Sumba dilengkapi dengan sebilah kabiala yang disisipkan pada sebelah kiri ikat pinggang. Pakaian Adat Pria Secara mendasar pria mengenakan komponen-komponen busana yang sama dengan daerah-daerah lain di Nusa Tenggara Timur yaitu kain penutup badan yang terdiri atas beti atau taimuti. Kabiala adalah lambang kejantanan. Timor. merah bata. Hinggi terbaik adalah hinggi kombu kemudian hinggi kawaru lalu hinggi raukadana dan terakhir adalah hinggi panda paingu. Namun hal-hal tersebut tidak menghilangkan tradisi untuk mengungkapkan ungkapan budaya asli mereka. sedangkan di telinga tergantung mamuli perhiasan berupa kalung-kalung keemasan juga digunakan pada sekitar leher. tangan dan pinggang diperagakan dengan keindahan yang amat mempesona pada peristiwa-peristiwa seperti tersebut di atas. Pada dahi disematkan perhiasan logam (emas atau sepuhan) yaitu maraga. telinga. dewasa ini sudah jauh berkurang. dikenal dengan sebutan iteke. putih dan biru. Sedangkan kalung dileher terbuat dari logam dengan hiasan berbentuk lingkaran dari logam berukir bergaris tengah 10 cm. Timor Traditional Dress Penulis Biranul Anas Amarasi termasuk ke dalam wilayah administrasi Kabupaten Kupang. Selain itu manifestasi tradisi kebudayaan asli juga masih hidup dalam tatacara berpakaian khususnya dalam menghadapi pesta-pesta adat atau upacara-upacara penting lainnya. Secara menyeluruh hiasan dan penunjang busana ini merupakan simbol kearifan. muti salak menyatakan kemampuan ekonomi serta tingkat sosial. Bentuk-bentuk kepercayaan lokal masih mewarnai kehidupan sehari-hari seperti ritus-ritus penghormatan terhadap Usi Neno.

dalam membalas pihak lelaki. Kedua telinga dihiasi falo noni. Demikianlah oleh terbentuk dasar hubungan kekeluargaan yang erat dan saling mendukung dalam berbagai permasalahan kehidupan. Terkadang aluk juga sebagian berhiaskan ornamen perak. Sebaliknya pun. kejantanan serta kesucian bagi penyandangnya. khususnya pada adat istiadat perkawinan dimana barang-barang tersebut merupakan mas kawin pihak lelaki kepada pihak perempuan. sedangkan pinggang dililit oleh futi noni. gading dan manik-manik amat dihargai dan bernilai tinggi. Hiasan logam kening di dahi berbentuk bulan sabit. Lembar kedua adalah selempang yang terikat di depan dada berbentuk huruf V dengan kedua ujungnya terletak di kedua bahu bagian belakang. Emas. Corak-coraknya berwarna meriah paduan jingga. Di kepala terdapat seperangkat perhiasan yang tersemat pada sanggul yaitu kili noni dan tusuk-tusuk konde. Pergelangan tangan dihiasi dengan niti keke. Pakaian serta perhiasan dan perlengkapan busana pria ini oleh masyarakat setempat dianggap dapat memberikan sifat keagungan. perak. Hakekat pemakaian busana dan perhiasan pelengkapnya di Nusa Tenggara Timur erat kaitannya dengan berbagai kefungsiannya dalam peri kehidupan penyandangnya. kuning. pihak wanita menyerahkan kain tenunan. baik sebagai citra kehormatan diri maupun dalam konteks hubungan sosial kekeluargaan. Pakaian Adat Wanita Wanita Amarasi memakai dua lembar tenunan sebagai penutup badannya. Pertama adalah tais atau tarunat yang dipasang setinggi dada hingga mata kaki. berukiran dan terkenal dengan istilah pato eban. . Perhiasan dan bahanbahan pembuatnya selain mencerminkan status sosial juga menyatakan kemampuan ekonomi. Di depan dada tergantung kalung dengan bentuk hiasan bulat dari logam (emas. perak atau sepuhannya) yang disebut noni bena. putih dan biru tua dalam lajur bergaris sempit yang dipadukan dengan corak-corak ikat putih berlatar hitam/biru tua.hiasannya. Corak tenunan menunjuk pada status sosial alam fikiran serta kepercayaan yang dianut.

dan teken nae (gelang kaki). Para lelaki memakai kelambi (baju) model kemeja pria berlengan pendek atau panjang. ular naga. estetika pun berkembang. teken ima (gelang tangan). ali-ali (cincin). meski tentu. dan gelang kaki (teken nae). Hiasan pelengkap penampilannya adalah kancing baju (buak tangkong) emas. dan pertemuan kedua sisinya dijahit sehingga hasil akhirnya menjadi semacam kebaya longgar berlengan pendek. Kain-kain tenun inilah yang digunakan sebagai busana adat. panjangnya sebatas pinggang. Busana bagian bawahnya adalah kemben (sarung) yang juga berwarna hitam dan pada bagian tertentu diberi hiasan motif flora. Corak hias pada kain untuk perempuan pun dibedakan dengan ragam hias kain bagi laki-laki. yang dieksplorasi dari kehidupan alam sekitar dan mitologi. kesaktian. burung. berfungsi seperti ikat pinggang. Busana Pengantin Sasak Yang akan diuraikan berikut ini adalah busana pengantin yang umum dikenakan oleh masyarakat Sasak. misalnya saja kehilangan kewibawaan. memanjang hingga sebatas betis dan pada bagian muka ujung kain dibuat berlipat-lipat menjuntai hingga hampir menyentuh tanah. dinamai sapu. pada bentangan kain-kain tenunan mereka. disebut bebet. menghadiri perkawinan. tak menghilangkan identitas jatidirinya. Yang banyak dipakai adalah kain songket. gelang tangan (teken). . Busana Adat Sehari-hari Persentuhan dengan suku Bali yang datang sekitar abad XVI. tapi dalam perkembangannya ada yang diberi imbuhan hiasan pada pinggiran bajunya. Bahkan kemudian ditumbuhkan kepercayaan jika kaum lelaki memakai kain dengan corak hias yang sesungguhnya diperuntukkan bagi kaum perempuan begitu pula sebaliknya . Kaum perempuan mengenakan lamung (baju) berwarna hitam yang modelnya relatif sederhana: selembar kain dilipat sehingga berbentuk segi empat lalu diberi "lubang leher" berbentuk segi tiga. upacara kematian. tokoh pewayangan. sehari-hari maupun upacara. dan semacamnya. Mempelai wanitanya memakai tangkong (baju) semacam kebaya yang biasanya berwarna hitam polos. Untuk mengikuti acara adat. Untuk memperkuat kemben dipakai sabuk anteng (ikat pinggang). Penahan kereng adalah lilitan kain. Sebagai pelengkap penampilan dipakai aksesori berupa sengkang (anting-anting).maka pemakainya akan ditimpa kemalangan.Busana Tradisional Sasak Sasak Traditional Dress Penulis Aat Soeratin Diperkirakan sejak abad XIV masyarakat Sasak telah mengenal teknik menenun kain. Stilasi pohon mawar. seperti yang telah disinggung di muka. kalung emas. kerap muncul menjadi ragam hias yang artistik pada tenunan masyarakat Sasak. biasanya berwarna hitam tapi tak jarang menggunakan kain batik. Konon. Dan ketika keterampilan menenun semakin dikuasai. masyarakat Sasak. lalu terciptalah corak hias simbolik. memberikan nuansa pada tata cara berbusana adat keseharian suku Sasak. Dipadukan dengan kereng (kain panjang) yang dililitkan seputar pinggang. Pada kening tersaput ikat kepala. pengetahuan itu dibawa para pedagang Gujarat dari India. ikat pinggang (gendit/pending) emas. masyarakat Sasak mengenakan busana yang khusus dirancang untuk keperluan tersebut. misalnya upacara potong gigi. Sebagai pakaian bawahya dipakai kain panjang yang disebut kereng.

Pengantin pria mengenakan kelambi dari bahan yang sama dengan mempelai wanita, bermodel jas tutup dengan potongan agak meruncing pada bagian bawah belakangnya, untuk mempermudah menyengkelitkan keris. Kereng (kain panjang) yang dipakai adalah songket dengan motif khas Lombok. Kemudian ditambahkan dodot (kampuh), kain yang biasanya bercorak sama dengan yang dipakai pengantin wanita. Kelengkapan lainnya adalah sapu (destar/ikat kepala) dari kain songket yang biasanya diberi tambahan hiasan keemasan yang diselipkan pada ikatan sapu bagian depan. Dan dari balik punggungnya, sedikit melewai bahu sebelah kanan, tersembul keris panjang.

Busana Tradisional Semawa dan Bima Semawa and Bima Traditional Dress Penulisi Aat Soeratin Masyarakat asli Pulau Sumbawa terkenal memiliki kain songket hasil keterampilan para penenun yang diperoleh akibat persentuhannya dengan kebudayaan masyarakat Bugis. Songket Sumbawa umumnya menggunakan benang emas, benang perak, juga benang katun. Yang kita kenal sebagai kain selungka, misalnya, adalah songket yang menggunakan benang emas dan perak, dan tampilannya menyiratkan pengaruh kebudayaan Bugis. Jenis lainnya, antara lain, kain tenun motif kotak-kotak yang disebut mbali pida, dan ^. Seperti halnya saudara mereka di Pulau Lombok, estetika masyarakat Sumbawa pun melahirkan corak hias simbolis, stilasi bentuk flora untuk kain perempuan dan penggayaan bentuk fauna atau manusia pada kain kaum lelaki. Kain songket inilah yang kemudian memberi aksentuasi yang khas pada pakaian adat masyarakat Sumbawa. Dalam kesehariannya kaum perempuan masyarakat Semawa mengenakan kain sarung bermotif kotak-kotak (tembe lompa) warna hitam dan merah. Bajunya disebut lamung pene, baju serupa kebaya polos sederhana, berlengan pendek. Para prianya memakai sarung pelekat, baju lengan panjang, dan berkopiah. Sedangkan para wanita masyarakat Bima dan Dompu memakai baju poro, baju polos tanpa hiasan, berkain sarung palekat yang ditenun dengan hiasan corak kota-kotak kecil. Terkadang mengenakan rimpu (kerudung penutup rambut). Adapun para lelakinya memakai sarung pelekat, disebut tembe ngguli, berkemeja lengan pendek atau panjang, dan kadangkala memakai ikat kepala yang dinamai sambolo songke. Akan tetapi, untuk acara-acara adat seperti upacara potong gigi, kematian, perkawinan, dan sebagainya, masyarakat Semawa pun masyarakat Bima merancang busana adat tersendiri. Busana Adat Suku Semawa

Busana adat masyarakat Semawa, dulu, biasanya dikenakan saat mengikuti pelbagai upacara tradisional seperti upacara turun tanah bagi balita yang diharapkan segera bisa berjalan; tradisi potong gigi; naik dewasa (inisiasi) untuk remaja yang memasuki masa akil balig; upacara adat eneng hujan (memohon hujan); dan sebagainya. Sekarang, upacara-upacara tersebut masih dilakukan dan pakaian adat pun masih dikenakan para peserta upacara meski tak seketat kebiasaan masa lalu. Lamung pene adalah sebutan untuk baju adat kaum perempuan, semacam kebaya berlengan pendek dari kain halus. Paduannya adalah kre alang, kain sarung songket yang dipakai sebatas mata kaki dan ikat pinggang (pending) perak. Pada bahu kiri disampirkan sapu to`a, sejenis sapu tangan dan aksesorinya berupa kalung leher, bengkar troweh (hiasan telinga), gelang tangan. Dan para gadis yang belum menikah biasanya memakai kerudung. Kaum prianya memakai lamung seperti jas tutup berlengan panjang, saluar belo (celana panjang) polos tanpa hiasan, ditambah pabasa alang, semacam selendang songket berukuran agak lebar ketimbang selendang biasa, yang difungsikan sebagai dodot. Dan ikat kepala, yang disebut sapu, dibuat dari tenunan benang katun bermotif kotak-kotak. Buhul ikatan sapu pada kening ada di bagian belakang kepala sedangkan untuk bagian depan kepala sudut sapu dipasang tegak sehingga tampak tinggi dan meruncing.

Busana Pengantin Suku Semawa Mempelai wanita dari golongan bangsawan mengenakan busana adat berupa lamung (baju) lengan pendek bermodel baju bodo Sulawesi dari kain halus dan berhiaskan sulaman benang emas berbentuk cepa (bunga) hampir di seluruh bidang baju. Pada bahu sebelah kiri disampirkan kida sanging, semacam saputangan yang diberi hiasan motif dedaunan dari benang perak atau emas. Pakaian Bawahnya tope belo (rok panjang) dan tope pene (rok pendek), juga berhiaskan cepa, yang dipakai secara bertumpuk. Aksesori lainnya adalah sua`, hiasan kepala dilengkapi kembang goyang. Sanggul rambutnya disebut puyung lakang. Dan perhiasan yang dipakai berupa gelang tangan bernama ponto atau kelaru, kalung, anting-anting, dan hiasan kuku ibu jari tangan kiri dari emas yang dibentuk seperti kuku panjang, yang disebut sisin kuku. Kakinya beralaskan selop. Pengantin prianya memakai gadu, baju berlengan panjang warna hitam berhiaskan cepa emas. Simbangan adalah selempang kain yang disilangkan di atas baju, terbuat dari kain merah diberi hiasan motif bunga. Pakaian bawahnya saluar celana panjang berwarna hitam dengan aplikasi hias pada pinggiran kaki celananya. Ditambah tope, semacam rok dari kain halus berwarna merah berhiaskan cepa emas yang agak besar. Ikat pinggang (pending) emas dikenakan untuk menahan tope. Kepalanya bertutup mahkota yang dibuat dari kain yang dilipat-lipat, dibentuk seperti kipas, berhiaskan cepa emas sehingga tampil sangat artistik. Mahkota itu disebut pasigar. Dan keris disengkelitkan pada pending, disimpan di bagian muka badan.

Busana Adat Suku Bima Untuk menghadiri upacara adat inisiasi, potong gisi, kematian, perkawinan, dan sebagainya, kaum wanita masyarakat Bima mengenakan busana adat yang selengkapnya terdiri dari baju, kain panjang, berbagai aksesori, dan alas kaki. Bajunya disebut baju poro yang dibuat dari kain tipis namun tidak tembus pandang, biasanya berwarna hitam, biru tua, coklat tua, ungu. Bersarung pelekat, tembe kafa, corak mbali pida hingga menutup mata kaki. Aksesorinya berupa gelang tangan, anting-anting, dan semacamnya, namun tidak boleh berlebihan. Kaum prianya memakai kemeja lengan pendek atau model jas tutup berlengan panjang berwarna hitam, putih, atau warna-warna cerah lainnya. Bersarung pelekat tembe kafa mbali pida, dipinggangnya dililitkan salampe berwarna dasar putih, kuning, merah, atau hijau. Dan lelaki dewasa biasanya menyengkelitkan pisau mone (pisau khas Bima), pada salampe, di bagian depan badan.

Busana Pengantin Suku Bima Pakaian pengantin yang banyak dipakai masyarakat Bima sekarang adalah jenis busana tradisional yang dulu hanya untuk golongan bangsawan dan golongan menengah saja. Busana pengantin golongan menengah dan golongan bangsawan Bima pada dasarnya hampir tidak berbeda. Hanya saja kelengkapan busana atau aksesori yang dipakai pengantin dari golongan menengah relatif lebih sedikit, sehingga tampil lebih sederhana. Berikut ini uraian serba singkat mengenai busana tradisional pengantin golongan bangsawan Suku Bima. Mempelai wanitanya mengenakan baju poro rante yang dibuat dari kain halus berwarna merah dengan taburan cepa benang emas di seluruh permukaan baju dan memakai tembe songke, sarung songket. Selepe, ikat pinggangnya, berwarna keemasan. Tangan kanannya memegang pasapu (saputangan) dari kain sutra bersulamkan benang perak. Rambutnya disanggul, diberi hiasan unik yang dinamai karaba. Karaba dibuat dari gabah (bulir padi yang belum dikelupas kulitnya) yang digoreng tanpa minyak sehingga mekar dan nampak warna putih berasnya secara dominan. Karaba ini kemudian ditempelkan pada rambut dengan perekat malam atau lilin hingga warna putihnya nampak mencolok di atas hitamnya rambut. Tataan rambut berhiaskan karaba ini disebut wange. Sedangkan aksesori lainnya juga berwarna keemasan berupa bangka dondo (anting-anting panjang), dan ponto (gelang tangan). Pengantin pria memakai pasangi yaitu baju dan celana yang terbuat dari kain yang sama, yang berhiaskan cepa dan sulaman benang emas. Kemudian siki, sebutan untuk kain songket (tembe songke), dipakai, seperti memakai sarung, sebatas lutut. Penahan siki adalah baba, kain berukuran lebih lebar ketimbang ikat pinggang biasa, yang juga berfungsi untuk menyelipkan keris. Di atas baba dilingkarkan selepe mone, ikat pinggang dari logam keemasan. Keris yang pada hulunya diikatkan saputangan berhiaskan sulaman benang perak, seperti ditulis di muka, diselipkan pada baba. Baju pengantin laki-laki lainnya adalah karoro, semacam jubah hitam dihiasi cepa berwarna keemasan. Mahkotanya disebut siga (sama dengan pasigar, mahkota pengantin pria Semawa) Namun ada tata cara yang agak khusus untuk pemakaian karoro Yakni mempelai pria tidak boleh memakai karoro sekaligus dengan siki. Karoro biasanya hanya dimiliki oleh sultan atau para petinggi Kesultanan Bima.

dan atu atau golongan para budak. Bila tutup kepala pada busana adat pria Makasar dihiasi dengan benang emas. busana adat merupakan salah satu aspek yang cukup penting. Gambaran model tersebut sama untuk kedua jenis baju pria. tidak mampu membayar utang. Jeneponto. serta diberi kancing yang terbuat dari emas atau perak dan dipasang pada leher baju.Busana Tradisional Makassar Makassar Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Di wilayah Sulawesi Selatan suku bangsa Makasar menempati daerah Kabupaten Takalar. Adapun bahan baju bella dada tampak lebih tipis. Khusus untuk tutup kepala. dan Kepulauan selayar. bahkan juga status sosial pemakainya di dalam masyarakat. Bantaeng. Melihat kebiasaan mereka dalam berbusana. Yang dimaksud dengan busana adat di sini adalah pakaian berikut aksesori yang dikenakan dalam berbagai upacara adat seperti perkawinan. busana adat Makasar tentu saja dapat dibedakan atas busana pria dan busana wanita. masyarakat menyebutnya mbiring. leher berkrah. dan yang melanggar adat. bahan yang biasa digunakan berasal dari kain pasapu yang terbuat dari serat daun lontar yang dianyam. Dalam kebudayaan Makasar. busana adat pria dengan baju bella dada dan jas tutunya sedangkan busana adat wanita dengan baju bodo dan baju labbunya. Pemakaian tutup kepala pada busana pria mempunyai makna-makna dan simbol-simbol tertentu yang melambangkan satus sosial pemakainya. bentuk maupun corak. Biasanya. Meskipun demikian. yakni lapisan yang ditempati oleh kerabat raja dan bangsawan. yakni lapisan orangorang yang kalah dalam peperangan. yakni lapisan orang merdeka atau masyarakat kebanyakan. Baju yang dikenakan pada tubuh bagian atas berbentuk jas tutup atau jas tutu dan baju belah dada atau bella dada. Pada dasarnya. berdasarkan jenis kelamin pemakainya. Pada masa dulu. melainkan lebih menunjukkan selera pemakainya. berwarna terang dan mencolok seperti merah. sebenarnya dapat dikatakan bahwa busana adat Makasar menunjukkan kemiripan dengan busana yang biasa dipakai oleh orang Bugis. . atau hari-hari besar adat lainnya. yang mengenakan pasapu guru adalah mereka yang berstatus sebagai guru di kampung. yaitu berasal dari kain lipa sabbe atau lipa garusuk yang polos. Sementara itu. pasapu guru sebutannya. saku di kanan dan kiri baju. dan tutup kepala atau passapu. ada beberapa ciri. Gowa. busana yang dipakai tidak lagi melambangkan suatu kedudukan sosial seseorang. keberadaan dan pemakaian busana adat pada suatu upacara tertentu akan melambangkan keagungan upacara itu sendiri. Bukan saja berfungsi sebagai penghias tubuh. busana yang khas milik pendukung kebudayaan Makasar dan tidak dapat disamakan dengan busana milik masyarakat Bugis. baik untuk jas tutu maupun baju bella dada. dan hijau. Model baju yang tampak adalah berlengan panjang. Masing-masing busana tersebut memiliki karakteristik tersendiri. Maros. Hanya dalam hal warna dan bahan yang dipakai terdapat perbedaan di antara keduanya. Bahan untuk jas tutu biasanya tebal dan berwarna biru atau coklat tua. tu maradeka. celana atau paroci. penjemputan tamu. Busana adat pria Makasar terdiri atas baju. busana adat orang Makasar dapat menunjukkan status perkawinan. Ketiga strata sosial tersebut adalah ono karaeng. Hal itu disebabkan masyarakat Makasar terbagi atas tiga lapisan sosial. Namun jika keadaan sebaliknya atau tutup kepala tidak berhias benang emas. Pangkajene. tetapi juga sebagai kelengkapan suatu upacara adat. kain sarung atau lipa garusuk. Namun dewasa ini.

bahkan dapat digantungi sejenis jimat yang disebut maili. coklat tua. wanita makasar pun memakai berbagai perhiasan untuk melengkapi tampilan busana yang dikenakannya Unsur perhiasan yang terdapat di kepala adalah mahkota (saloko). berwarna tua dengan corak bunga-bunga. . tampak jelas pada seorang pria yang sedang melangsungkan upacara pernikahan. yakni baju bodo dan baju labbu dengan kekhasannya tersendiri. yang terbuat dari benang biasa atau lipa garusuk maupun kain sarung sutera atau lipa sabbe dengan warna dan corak yang beragam. sapu tangan berhias atau passapu ambara. dikenal dengan sebutan pasattimpo atau tatarapeng. Sementara itu.Kelengkapan busana adat pria Makasar yang tidak pernah lupa untuk dikenakan adalah perhiasan seperti keris. Kaum wanita dari berbagai kalangan manapun bisa mengenakan baju labbu. tidak berlengan. Begitu pula halnya dengan para pengiring pengantin. Ada dua jenis baju yang biasa dikenakan oleh kaum wanita. Keris yang senantiasa digunakan adalah keris dengan kepala dan sarung yang terbuat dari emas. dan hiasan pada penutup kepala atau sigarak. dengan hiasan motif kecilkecil yang disebut corak cadii. Gambaran busana adat pria Makasar lengkap dengan semua jenis perhiasan seperti itu. selempang atau rante sembang. dan pada bagian atas dilubangi untuk memasukkan kepala yang sekaligus juga merupakan leher baju. Lebih tepatnya dikenakan sebagai busana pengantin pria. maka diberi pengikat yang disebut talibannang. dan berbagai aksesori lainnya. Jenis keris ini merupakan benda pusaka yang dikeramatkan oleh pemiliknya. Agar keris tidak mudah lepas dan tetap pada tempatnya. sisi samping kain dijahit. dan anting panjang (bangkarak). Sama halnya dengan pria. kalung panjang (rantekote). gelang. hanya saja perhiasan yang dikenakannya tidak selengkap itu. biasanya berbentuk baju kurung berlengan panjang dan ketat mulai dari siku sampai pergelangan tangan. dan kalung besar (geno sibatu). Pasangan baju bodo dan baju labbu adalah kain sarung atau lipa. biasanya berbentuk ular naga dan terbuat dari emas atau disebut ponto naga. Namun pada umumnya. Adapun baju labbu atau disebut juga baju bodo panjang. Bahan dasar yang kerap digunakan untuk membuat baju labbu seperti itu adalah kain sutera tipis. Adapun gelang yang menjadi perhiasan para pria Makasar. Perhiasan di leher antara lain kalung berantai (geno ma`bule). Penggunaan busana adat wanita Makasar yang lengkap dengan berbagai aksesorinya terlihat pada busana pengantin wanita. Baju bodo berbentuk segi empat. sanggul berhiaskan bunga dengan tangkainya (pinang goyang). busana adat wanita Makasar terdiri atas baju dan sarung atau lipa. warna dasar sarung Makasar adalah hitam. atau biru tua.

Pada bagian pinggang. pada abad ke-XV wilayah Mandar ini meliputi Kerajaan Balanipa. Majeng. Gelang berukuran besar yang dipakai masing-masing lima buah di tangan kanan maupun di tangan kiri. Dalam kehidupan sosialnya. Pembauang dan Cenrana di pantai utara Teluk Mandar. wanita Mandar akan mengenakan sarung sutera berwarna hitam atau putih. Dalam berbusana .Busana Tradisional Busana Tradisional Mandar Mandar Traditional Dress Penulis Siti Dloyana Kusumah Suku Bangsa Mandar terbilang penduduk asal di propinsi Sulawesi Selatan. begitu pula busana rakyat biasa dengan kalangan bangsawan akan berbeda. kipas dan berbagai perhiasan dari emas. Bajunya kebaya pendek berlengan tiga oerempat. Menurut catatan sejarah. kemudian ditutup dengan pending yang terbuat dari logam berwarna emas dengan gesper berhias di bagian depan. kabupaten Majenen dan kabupaten Polewali Mamasa (Polmas). Sederet bunga serampa dan bunga seruni menghiasi seputar sanggul. Masyarakat Mandar sangat membedakan busana untuk anak-anak. wanita Mandar membuat sanggul yang letaknya agak rendah dengan hiasan tusuk sanggul emas dan kembang goyang. Hiasan yang mempercantik penampilan adalah penambahan kepingankepingan logam warna emas di seluruh pinggiran kebaya atau kepingan-kepingan bulat di seluruh permukaan kebaya. Ada pula sanggul agak rendah. wanita Mandar pada umumnya mengenakan perhiasan meliputi. adapun wanita muda umumnya lebih menyukai anting-anting yang berderet-deret dan menjuntai di kedua telinganya. tata rias rambut dan kepala akan ditambah dengan beberapa aksesori seperti. masyarakat Mandar sangat memperhatikan ketentuan adat dan tradisi yang telah dijalani selama berabad-abad lamanya. Semua kalangan masyarakat Mandar. rambut ditata dengan model sasak sedikit tinggi (sigara). Namun dalam keadaan yang lebih resmi. Salah satu contoh yang tetap bertahan hingga kini antara lain adalah tata cara berbusana. dengan hiasan liontin atau medalion besar. Dalam kesempatan menghadiri upacara adat. Tali ikat dari kain yang berfungsi untuk mengencangkan lilitan sarung. Kelengkapan busana lainnya adalah penggunaan sehelai selendang tipis yang ujung-ujungnya dihiasi dengan bundaran-bundaran emas atau perak. setelah mengencangkan lilitan sarung dengan tali kain. dan mempunyai peranan sama pentingnya dengan tiga suku bangsa lainnya yaitu Bugis. Untuk tata rias rambut dan kepala. tua maupun muda. Orang-orang Mandar menempati wilayah administratif kabupaten Mamuju. menggunakan giwang emas berukuran besar dan di antara lubang telinga dengan giwang diselipkan sejumput kapas putih. menggunakan alas kaki berupa selop atau sepatu . Ciri khas sarung tenun Mandar adalah motif kotak-kotak besar dan kecil dengan hiasan warna emas pada garisgarisnya. dengan ukuran panjang melampaui pinggul atau kurang lebih lima centimeter di bawah pusar. Makassar dan Toraja. Untuk wanita yang usianya agak tua. terbuat dari bahan sutera atau kain halus lain tetapi tidak tembus pandang. serta wilayah di bagian utara Selat Makassar. berhias tusuk konde dan di bagian pelipis kanan diselipkan serangkaian kembang goyang berwarna emas. remaja dan orang tua. Jadi tidak mengherankan apabila masyarakat suku bangsa Mandar mempunyai tradisi berbusana yang sangat indah dan mencerminkan kebesaran suku ini di masa silam. kalung emas yang berjuntai agak panjang.

Untuk penututp kepala. terutama menggunakan warna kuning sebagai warna dasarnya. dengan kekuatan tradisi dan adat istiadat sebagai daya tarik utamanya.pantovel berwarna hitam. Bagaimana pun juga busana merupakan salah satu kelengkapan yang cukup penting dalam penyelenggaraan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan tradisi. Ketentuan adat di Toraja membedakan dua suasana yang menyertai penyelenggaraan berbagai upacara adat. Sebagai kelompok masyarakat yang cukup konsisten dalam memelihara dan mempertahankan adat istiadat warisan nenek moyang mereka. Pria Mandar melengkapi busananya dengan melekatkan rantai emas yang diberi liontin atau medalion dari taring macan bahkan bisa juga terbuat dari taji ayam. berdasarkan adat rambu solo. mulai dari aktivitas seharihari hingga yang bersifat ritual. Ria Andayani Somantri Toraja merupakan salah satu suku bangsa terbesar yang menempati kawasan Provinsi Sulawesi Selatan. Busana yang dikenakan oleh warga masyarakat Toraja dalam berbagai kesempatan. pada dasarnya dapat dibedakan ke dalam dua jenis. Hanya saja hal penting yang memberi nuansa pada karakteristik busana tersebut adalah berkaitan dengan tujuan atau makna acaranya. pria Mandar menggunakan kopiah atau lazim disebut songkok tobone dengan warna yang serasi antara baju bagian atas dengan jas atau sarungnya. memasuki rumah baru. Busana pria Mandar lebih sederhana karena hanya terdiri dari baju jas tutup terbuat dari bahan sutera bercorak bebas dengan warna hitam atau warna cerah. Hiasan tersebut diselipkan sebagian di saku jas tutupnya dan sebagian lagi dibiarkan menjuntai ke luar. Sementara itu. yakni pelaksanaan upacara adat yang erat kaitannya dengan suasana kegembiraan atau memiliki makna kebahagiaan. busana yang dikenakan akan tampil warna-warni. yakni busana pria dan busana wanita. . tercatat sebagai tempat tujuan wisata budaya yang memiliki keunikan tersendiri. busana misalnya. Dengan tetap memelihara adat istiadat seperti itu. Pada kesempatan seperti itu. Misalnya dalam upacara panen padi. secara tidak langsung juga dapat mempertahankan keberadaan berbagai aspek yang terkait erat di dalamnya. dan upacara pernikahan. Alas kaki yang dipakai biasanya sepatu pantovel atau sandal yang dibuat dari kulit. Paduannya kain sarung tenun Mandar atau seringkali ada yang memakai celana panjang kemuidian ditutup dengan sarung hingga sebatas lutut. Tana Toraja yang menjadi tempat menetap sebagian besar suku tersebut. tentu saja tidaklah heran bila hingga saat ini mereka masih tetap menyelenggarakan berbagai upacara adat dan tradisi lainnya. Pertama adalah yang berdasarkan adat rambu tuka. aktivitas sosial dan stratifikasi sosial. Busana Tradisional Tana Toraja Tana Toraja Traditional Dress Penulis Mira Indiwara Pakan.

diikatkan di pinggang atau. seperti yang terlihat pada penyelenggaraan upacara kematian dikenakan busana serba hitam. Sementara itu. tali-tali biang.upacara-upacara yang diadakan memiliki makna kesedihan. terutama digunakan pada acara-acara yang bersifat resmi seperti pertemuan dan pesta. Passapu. yang bisa dikenakan oleh siapa pun disebut pote. Sementara itu. Adapun jika berlengan panjang disebut kalando limanan. yaitu keris yang dibawa pada waktu mereka akan menikah. atau tembaga dan. yaitu hiasan pada sanggul. Secara umum. Cara memakai sarung untuk kaum wanita pun sangat sederhana. keberadaan tutup kepala pun beragam pula jenisnya dan berbeda pula peruntukannya. biasanya disertai dengan sarung yang dinamakan dodo. Selain itu. atau hanya disampirkan di bahu. dan pa`toko. dan passapo timbo. perak. dan sarung atau dodo untuk bagian bawahnya. jenisnya dapat dibedakan menurut aktivitasnya. lengan. yaitu tutup kepala dari jenis tanaman tertentu yang dikenakan oleh para orang tua atau orang yang telah dewasa. ada juga tas kecil atau sepu. sepu. yakni semacam tutup kepala yang terbuat dari kulit bambu dan dipakai oleh anak muda. dan sarong atau tudung kepala. leher. tutup kepala. yang khusus digunakan pada saat bekerja. yakni ikat kepala. Bahkan akan disebut busana adat resmi para bangsawan Toraja. tali pang`kabi. yaitu jenis baju yang biasa digunakan oleh wanita tua pada saat cuaca sedang dingin. dan yang diletakkan di pinggang dinamakan ambero. Perhiasan dan kelengkapan busana lainnya yang dipakai oleh para pria Toraja meliputi manik kata dan rara atau perhiasan sejenis kalung. busana adat pria Toraja terdiri atas baju atau bayu. mulai dari hiasan di kepala. ada kalanya unsur perhiasan yang dikenakan oleh mereka pun memiliki makna simbolis tertentu. dengan perbedaan hanya terletak pada kualitas bahannya. Untuk bekerja menggunakan celana pendek dan untuk kesempatan resmi memakai celana panjang. Kaum wanita Toraja tampaknya cukup gandrung mengenakan perhiasan untuk menambah keindahan penampilan mereka dalam berbusana. Kedua bayu bussuk siku. rara. Terbukti dari beragamnya aksesori yang biasa dikenakan oleh mereka. yakni baju berlengan sangat pendek hingga mendekati bahu pemakainya dan dipakai untuk bekerja di dapur atau di sawah. Selain memperlihatkan fungsi estetis. seperti di sawah dan membangun rumah. Bila baju tersebut berlengan pendek maka dinamakan kondi limanan. Penggunaan semua jenis baju yang telah disebutkan tadi. Aksesori di lengan terdiri atas gelang atau komba dalam berbagai bentuk dan cincin. dan sarung atau sambuk. yakni sarung berwarna putih yang hanya dapat dipergunakan oleh kaum pria yang menempati kedudukan sosial tinggi. Kedua jenis tutup kepala yang disebutkan terakhir pun hanya dikenakan oleh mereka yang termasuk ke dalam lapisan atas. atau pakaian pesta. Ketiga adalah bayu kalandon limanan. yakni tas kecil untuk menyimpan sirih. Cara mengenakan sarung-sarung tersebut cukup beragam. baju wanita dibedakan ke dalam tiga model. yakni kalung yang terbuat dari emas. yang disebut sambuk langkan. oran-oran atau kalung berbentuk batang padi yang terbuat dari logam dan manik-manik. hingga jari jemari. bila penampilannya dilengkapi dengan jas hitam dan destar atau tutup kepala. Beberapa contoh asesoris yang terletak di kepala di antaranya sa`pi. adalah tutup kepala yang terbuat dari kain batik dan hanya digunakan oleh golongan bangsawan. sebagai bagian integral dari busana adat pria. berhubungan erat dengan kedudukan sosial seseorang di dalam lingkungan masyarakatnya. hanya dengan cara melipatnya dari sebelah kiri ke sebelah kanan. yakni . tas pinggang yang berfungsi sebagai ikat pinggang tempat menaruh pedang atu parang. Pertama bayu poko. Baju yang dikenakan oleh kaum pria Toraja dapat dibedakan ke dalam dua model. yaitu baju dengan bentuk lengan yang sangat ketat atau pas menempel di tangan serta tingginya di atas sikut. Perhiasan dari manik-manik yang dipakai di bahu disebut sokong bayu. bahu. Selain itu. khususnya para sesepuh masyarakat. bisa dibiarkan terjurai hingga mata kaki. Baju tersebut dikenakan sebagai pakaian sehari-hari. Perhiasan di leher meliputi beraneka macam kalung seperti rnastura. manik kata. Berdasarkan fungsinya. Sama halnya dengan sarung. celana atau sepa tallu buku. dan tali banu . ada juga sarung yang hanya berfungsi sebagai penghangat badan. busana adat wanita Toraja terdiri atas baju atau bayu untuk bagian atasnya. Sarung. Celana yang dipakai oleh kaum pria. dalam acara adat orang meninggal. pakaian resmi. Ikat kepala ini biasanya dipakai oleh kaum pria dari keluarga yang sedang berkabung. pinggang. Misalnya sambuk busa.

Bintauna. Pada masa itu. ketentuan adat mengatur setiap anggota masyarakat agar menggunakan busana sesuai dengan kedudukan nya. atau busana yang khusus digunakan untuk bekerja. busana . merupakan kelengkapan busana yang harus dibawa pada saat seorang wanita menikah. Busana Tradisional Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Busana adat tradisional daerah Bolaang Mongondow. busana bayi. tampak jelas antara lain pada busana warga masyarakat daerah Bolaang Mongondow yang dikenakan pada kesempatan-kesempatan tertentu. dan Kerajaan Kaidipang Besar. Keempat kerajaan tersebut terdiri atas Kerajaan Bolaang Mongondow.tempat menyimpan peralatan menginang yang biasanya digantungkan di bahu. Struktur masyarakat dengan kehidupan bernuansa kerajaan pada waktu itu. yang berhubungan dengan kegiatan kerajaan maupun yang berkaitan dengan upacara di seputar lingkaran hidup mereka. melahirkan stratifikasi sosial yang tegas. sangat erat kaitannya dengan latar belakang kehidupan masyarakat pada masa lalu. Bolaang Uki. Hal ini dikarenakan kegiatan sosial mereka yang sarat dengan acaraacara seremonial. Busana yang pada umumnya dikenakan oleh kaum bangsawan terlihat lebih beragam bila dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. Masyarakat terbagi ke dalam beberapa lapisan sosial. Beberapa contoh di antaranya adalah busana kebesaran raja atau busana yang dipakai oleh golongan bangsawan pada saat berlangsung upacara penobatan raja. tidaklah heran bila busana adat mereka relatif lebih banyak karena setiap lapisan masyarakat memiliki busana tersendiri. atau yang kini lebih dikenal sebagai busana adat tradisional mereka. menghadiri undangan-undangan resmi. Oleh karena itu. Adapun keris atau gayang. Aktualisasi dari semua itu. menerima tamu-tamu kerajaan. Secara historis wilayah ini terbentuk dari penggabungan empat kerajaan yang hidup pada masa penjajahan Belanda. mulai dari golongan rakyat biasa hingga kaum bangsawan yang menempati kedudukan paling tinggi di dalam masyarakat.

pemilihan warna sangat dominan untuk mengekspresikan emosi mereka pada saat-saat seperti itu. informasi di balik keberadaan busana tersebut memang selayaknya tidak sirna. nama Sangir-Talaud secara keseluruhan berarti orang yang berasal dari laut atau samudra. tepatnya digunakan pada upacara perkawinan. para bangsawan pun memiliki busana kedukaan. terdapat berbagai perbedaan pendapat mengenai hal tersebut. busana kohongian. Selain busana kebesaran seperti itu. Selain itu. busana adat tradisional kaum bangsawan tampil dengan satu citra tersendiri. Sama halnya dengan busana kohongian. Adapun busana yang biasa dikenakan oleh anggota masyarakat di luar golongan bangsawan. tentu saja tampilannya berbeda dengan busana milik para bangsawan. Khusus mengenai perhiasan. keemaasan. busana adat yang dikenakan oleh kaum bangsawan maupun golongan masyarakat lainnya tampak serupa. pengantin wanita maupun pengantin pria. juga ada larangan untuk mengenakan berbagai perhiasan jenis apa pun. baju atau baniang. Pada umumnya.pengantin. Ada . tampak pengaruh Melayu begitu kental dan dominan mewarnai tampilannya. Beberapa di antaranya berkaitan dengan sistem kepercayaan. atau bahkan berhubungan erat dengan sejumlah fenomena sosial pada masa itu. dan hijau dipadu dengan aksesori yang terbuat dari emas. kelengkapan aksesori yang menempel pada tubuh. Sementara itu. Semakin rendah status seseorang di dalam tingkatan sosial masyarakatnya. Misalnya. Dalam hal ini. mereka yang termasuk ke dalam lapisan kohongian atau golongan simpal tidak mengenakan perhiasan yang terbuat dari emas melainkan perhiasan perak. memang tidak terlepas dari simbolisasi sebuah makna yang ingin disampaikan. sedangkan busana kaum prianya meliputi ikat kepala atau mangilenso. Busana kerja guha-ngea. detil busana. Salah satunya tampak pada busana kebesaran raja berikut busana pengantinnya. busana simpal. sistem religi. yaitu busana kerja para pemangku adat yang dipakai pada saat berlangsung upacara-upacara kerajaan. Keberanian dalam memilih warna-warna busana yang terang dan mencolok seperti merah. Sedangkan menurut asal-usulnya. dan busana yang dikenakan pada saat upacara kehamilan dan kematian. Melihat wujud busana adat tradsional daerah Bolaang Mongondow. Di samping itu. Secara umum. yakni busana berwarna hitam yang dikenakan pada waktu menghadiri upacara kematian. Sama pula halnya dengan aksesorinya yang demikian lengkap. Pemilihan dan penentuan unsur berikut kelengkapan busana adat tradisional daerah tersebut. Busana Tradisional Sangir-Talaud Sangir-Talaud Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Menurut asal katanya. ada juga busana rakyat biasa yang kerapkali tampak pada saat melakukan panen padi. Akan tetapi. tidak diragukan lagi melahirkan satu sosok busana yang cukup indah dan menawan. seakan ingin mengukuhkan kedudukan mereka yang menempati tingkatan sosial tertinggi. semakin sederhana pula busana yang mereka miliki. busana simpal pun dikenakan pada upacara perkawinan. Hal tersebut terletak pada detil pakaian. kuning. busana yang dikenakan oleh kaum wanita terdiri atas kain dan kebaya atau salu. Detil yang tampak pada busana mereka memang lebih banyak bila dibandingkan dengan busana dari kelompok masyarakt lainnya. ketinggian ikat kepala akan lebih rendah daripada ikat kepala yang dipakai oleh kaum bangsawan. ungu. ada bagian busana yang dapat membedakan kedudukan seseorang. yakni busana yang pada masa itu dikenakan oleh anggota masyarakat yang menempati status sosial satu tingkat di bawah kaum bangsawan. Bahkan akan jauh lebih sederhana lagi pada busana adat yang boleh dikenakan oleh rakyat biasa. serta kualitas bahan yang paling baik. serta kualitas bahan yang digunakan. Kekhasan lain yang tampak istimewa terletak pada ikat kepala pria yang menjulang tinggi. Dalam hal ikat kepala pria misalnya. ada beberapa contoh busana adat lainnya yang dipakai oleh mereka yang berasal dari golongan di luar bangsawan. Meskipun saat ini pemahaman warga masyarakat Bolaang Mongondow terhadap fungsi busana adat tradisional mereka tidak setegas dahulu. Kesederhanaan tersebut tampak dari kulitas bahan yang dipakai. yaitu busana yang khusus digunakan oleh warga masyarakat yang termasuk ke dalam golongan pendamping pemerintah dalam kerajaan. celana dan sarung tenun. serta aksesorinya. Dalam hal ini.

Namun saat ini. yakni baju panjang yang biasa dikenakan oleh wanita maupun pria. dan yang teristimewa di sini adalah ikat kepala. Sementara itu. Untuk mendapatkan warna yang diinginkan. serta berlengan panjang. Namun terlepas dari semua itu. hijau. dengan penutup bagian bawahnya menggunakan kain sarung. Nama busana tersebut adalah laku tepu. Untuk kaum wanita panjangnya bisa mencapai betis. dan hijau tua. kerap diganti dengan rok panjang yang sudah dilipit (plooi). dan terbelah di tengah pada bagian belakangnya. dan ujung yang satunya lagi dapat dipegang. celana panjang. untuk kaum pria bisa mencapai telapak kaki atau hanya sebatas lutut. pemakaian ikat kepala sebagai simbol pembeda status sosial seseorang masih tetap berlaku. Ada busana adat yang sering dikenakan dalam berbagai kesempatan yang erat kaitannya dengan tradisi masyarakat setempat seperti perkawinan. pada zaman dulu terbuat dari kain . krah baju berbentuk bulat dan terbelah di bagian depannya. Khusus untuk selendang. serta selendang (bawandang liku). peminangan. Dalam hal ini upacara perkawinan merupakan satu momen yang dapat memperlihatkan busana adat daerah Sangir-Talaud secara lengkap. Sementara itu. ikat pinggang atau salikuku yang terbuat dari kain dengan simpul ikatan ditempatkan di sebelah kiri pinggang. Hingga saat ini. kuning. Pada saat menghadiri acaraacara tersebut. kekhasan lainnya juga tampak pada kelengkapan busana yang dikenakan pada upacaraupacara ritual maupun formal lainnya. dan daun-daunan atau akar-akaran tertentu yang dapat menghasilkan warna biru. busana adat pengantin wanita terdiri atas kain sarung lengkap dengan baju panjang atau laku tepu yang berlengan panjang. Adapun ujungnya diikatkan di belakang kepala. dan ikat kepala berbentuk segitiga. penasbihan desa. keberadaan kain sarung yang dikenakan untuk menutup badan bagian bawah. kalung panjang bersusun tiga yang disebut soko u wanua. atau merah darah. atau bahkan campuran dari sejumlah suku bangsa tertentu. kuning tua. atau bahkan untuk pakaian sehari-hari. bagian yang menjulangnya diletakkan di bagian depan kepala. Dalam hal ini. yakni warna terang dan mencolok. antinganting. dengan celana panjang sebagai penutup pada bagian bawahnya. ada beberapa contoh ikat kepala yang melambangkan status sosial pemakainya seperti paporong lingkaheng yang melambangkan pemakainya tidak . kaum pria mengenakan busana adat yang terdiri atas baju panjang. sebagai penduduk asli Sulawesi Utara. orang Sangir-Talaud saat ini merupakan sekelompok masyarakat yang menempati wilayah Sulawesi Utara Sekitar abad ke-16. penduduk keturunan bangsa Filipina. sunting (topotopo) yang dipasang tegak lurus pada konde di atas kepala. di kanan kiri baju terdapat belahan yang tingginya mencapai pinggul. ungu. Namun warna yang dipakai masih tetap mengacu pada tradisi sebelumnya. keberadaan kain kofo telah digantikan dengan berbagai bahan lainnya yang sesuai untuk dibuat baju panjang. Kelengkapan busana yang dikenakan oleh pengantin pria meliputi kalung panjang atau soko u wanua. Keberadaan kerajaan-kerjaan itu sendiri memberi nuansa yang khas pada kebiasaan warga masyarakatnya dalam hal berbusana. Laku tepu pada umumnya berwarna terang dan mencolok se-perti merah. Keberadaan ikat kepala di sini biasanya melambangkan status atau kedudukan seseorang di tengah-tengah masyarakat. Khusus untuk ikat kepala. Saat ini. krah baju berbentuk bulat. penduduk Sangir-Talaud terbagi ke dalam beberapa kerajaan kecil yang tersebar di seluruh Kepulauan SangirTalaud.yang menyebutnya sebagai bagian dari rumpun bangsa Melayu-Polenisia yang berpindah lewat Ternate. Baju jenis ini. Kelengkapan buasana lainnya yang dipakai oleh mempelai wanita adalah sepatu atau sandal. ikat pinggang. pemakaiannya disampirkan di bahu kanan melingkar ke kiri dengan salah satu ujungnya terurai sampai ke tanah. sebelum dijahit harus dicelupkan ke dalam cairan air nira untuk warna merah misalnya. keris (sandang) yang diselipkan di pinggang sebelah kanan.kofo dengan dua bahan baku utamanya adalah serat manila hennep dan serat kulit kayu. Busana adat pengantin pria terdiri atas celana panjang dan laku tepu yang panjangnya hingga lutut atau telapak kaki. Selain pada kelengkapan busana pengantin. Satu hal yang cukup penting dan dapat membedakan upacara yang satu dengan yang lainnya adalah kelengkapan busana. Perbedaannya hanya terletak pada ukuran panjang baju dan pasangannya. gelang. Setiap kerajaan selalu berusaha memperluas wilayah dan pengaruhnya dengan mengadakan perkawinan penduduk antarkerajaan.

memiliki kedudukan di dalam masyarakat. Cara memakainya. Sementara itu. yang menandakan pemakainya seorang pegawai pemerintah. yang disebut hulontalangi. paporong tingkulu. Mereka percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari pengembara yang turun dari langit. Perbedaan status sosial yang ada di dalamnya tampak pada cara pemakaian selendang. Busana Tradisional Gorontalo Gorontalo Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Gorontalo adalah salah satu suku bangsa yang tinggal di wilayah Sulawesi Utara. selendang memiliki makna simbolis yang erat kaitannya dengan status sosial pemakainya. Seorang wanita yang berstatus sebagai permaisuri. yakni hanya dengan menyampirkannya di bahu sebelah kanan. hanya saja pada bagian kepalanya diberi atau disematkan perhiasan tertentu. paporong datu bouwawina. dan beberapa jenis ikat kepala untuk para penari. Pemakaian dengan cara seperti ini dilakukan pula oleh seorang gadis yang akan menikah. Sebelum kedatangan bangsa Eropa. Seperti halnya ikat kepala pada busana adat pria. yakni dengan menempatkan selendang sebelah menyebelah bahu. yakni ikat kepala yang digunakan oleh raja atau pejabat pemerintah tertinggi. yang panjangnya mencapai dua meter dengan lebar 15 sentimeter. Sekarang wilayah itu termasuk dalam wilayah administratif Daerah Tingkat II Kabupaten Gorontalo dan Kodya Gorontalo. . Berbeda halnya dengan cara memakai selendang yang dilakukan oleh para istri bangsawan. biasanya mengenakan selendang yang terbuat dari kain kofo berwarna kuning tua dan merah. busana adat yang dikenakan oleh kaum wanita pada berbagai upacara ritual atau acara formal meliputi baju panjang berikut pelengkap utamanya yaitu selendang. Selendang tersebut dinamakan kaduku. daerah Gorontalo sudah mendapat pengaruh dari Ternate.

beludru. kain beludru warna hitam yang menempel di leher. Busana yang dipakai oleh pengantin wanita adalah baju madipungu. Busana pria yang dikenakan pada acara akad nikah adalah baju boqo takowa atau takowa. Busana bagian bawah berupa sarung atau rok panjang yang dipakai di luar baju. sedangkan bagian lainnya diberi hiasan warna kuning keemasan. kuning. merah. ungu dan merah hati. Bentuk baju madipungu adalah baju blus lengan panjang seperti baju kurung dengan model pada bagian leher membentuk huruf "V". yaitu tutup kepala yang dihiasi kain warna-warni. hijau dan ungu. Aksesori lainnya adalah ikat pinggang (etango). Busana ini bagi wanita Gorontalo dapat melambangkan peralihan dari masa remaja ke masa ibu rumah tangga. seperti kuning. yang terbuat dari emas sepuhan serta keris pusaka (patatimbo) yang diselipkan di bagian depan pinggang. Perhiasan dan aksesori yang dipakai pada busana ini adalah tusuk konde (sunthi) yang dibuat dari logam yang disepuh keemasan terdiri dari 12 buah. . Seperti halnya baju. Bahan baju wolimomo terbuat dari jenis kain beludru. Sehingga. rante madale (kalung leher) dan padeta (gelang) yang melekat di kedua pergelangan tangan. brokat atau jenis bahan lainnya yang sesuai. Aksesori yang menempel di baju maupun perhiasan yang dikenakan menunjukkan status pemakainya. Bentuk sunthi biasanya menyerupai kepala burung. Kelengkapan pada baju madipungu biasanya berupa aksesori. Warna yang dipilih adalah salah satu dari warna merah. Bentuk baju sama dengan baju kemeja lengan panjang. Warna baju yang umumnya dipakai adalah warna-warna terang dan mencolok. disebut hotu. Sama halnya yang dialami dengan pembuatan bahan sandang. Bagian dada baju dan saku diberi hiasan corak kain krawang dengan memakai benang emas. celana panjang juga diberi hiasan tambio (hiasan corak keemasan). seperti kain lapis dada warna hitam yang dihiasi kuning emas. maka acuannya adalah busana yang dikenakan pada upacara-upacara resmi. disebut hamsei. sedangkan mempelai wanita memakai busana pengantin. demikian juga dengan busana yang dipakai oleh pengantin wanita. Busana wolimomo terdiri dari baju blus berlengan pendek seperti bolero dan kain sarung. Tahap kedua dalam masa perkawinan adat Gorontalo adalah akad nikah (akaji). Tahap pertama adalah upacara mengantar harta (modutu). pengantin wanita maupun pria memakai beberapa jenis busana yang disesuaikan dengan tahapan upacara. bisa juga memakai baju gelenggo atau boqo tunggohu. selimut (waluto). Pada upacara ini. brokat atau bahan kain lainnya. Warna celana yang dipakai biasanya sama dengan baju atas. Pilihan warna itu menunjukkan bahwa di masa dulu pernah terdapat lima kerajaan di Gorontalo. Bahan yang digunakan biasanya kain satin. oleh karena itu disebut sunthi burungi. Pada bagian depan baju diberi selembar kain yang dirempel. Di bagian depan baju diberi kancing dan tiga buah saku. biasanya mempelai pria hanya tinggal di rumah dengan memakai busana bebas. satu di kiri atas dan sisanya di bawah. Sedangkan pada kedua sisi kiri dan kanan celana ditempeli pita warna kuning keemasan disebut pihi. cara berbusana orang Gorontalo pun dari masa ke masa mengalami perkembangan. hijau. tetapi kerahnya berdiri tegak. Kelengkapan busana madipungu terdiri dari baju. kalau berbicara mengenai busana adat.Tidore dan Bugis yang datang lebih dulu. Sedangkan perhiasan yang dipakai adalah sunthi (tusuk konde) dan huheyidu (hiasan rambut) pada bagian kepala. Perbedaan ketiga jenis baju ini terletak pada panjang dan pendeknya lengan baju. Jenis aksesori yang dipakai pada baju takowa adalah payunga. kain sarung dan berbagai aksesori. Busana adat perkawinan pada masyarakat Gorontalo sangat kaya akan berbagai perhiasan yang dikenakannya. yaitu penyerahan sejumlah harta berupa uang atau barang kepada pihak mempelai wanita. Hat ini terlihat dari agama Islam yang dianut dan cara berpakaian. celana panjang (talala) dan aksesori. dan hiasan emas pada baju dan kain (tambio). seperti menghadiri pesta atau busana yang dipakai oleh mempelai dalam suatu upacara perkawinan. Busana Adat Perkawinan Dalam melaksanakan rangkaian upacara adat perkawinan pada masyarakat Gorontalo. disebut wolimomo.

yaitu sama dengan baju takowa yang terdiri dari baju dan celana panjang. Potongan baju tatutu adalah berlengan panjang. terdiri atas baju lengan panjang. Busana yang dipakai oleh pengantin wanita adalah busana kebesaran yang dipakai oleh istri raja di jaman dulu. Motif dalam busana ini adalah motif bunga padi. celana panjang. sarong motif kaki seribu. baju tanpa lengan dan bentuknya lurus. Busana pengantin baju jas tertutup ini. kalung mutiara (simban). bintang. Selain itu. potongan baju lurus. Busana pria pengaruh Spanyol adalah baju lengan panjang (baniang) yang modelnya berubah menyerupai jas tutup dengan celana panjang. berwarna hitam terbuat dari ijuk. Celana yang dipakai masih sederhana. . Aksesori tersebut mempunyai berbagai variasi bentuk dan motif. Model busana pengantin wanita ini dinamakan baju ikan duyung. Sebagai kelengkapan baju dipakai topi warna merah yang dihiasi motif bunga padi warna kuning keemasan pula. Aksesori yang dipakai dalam busana pengantin wanita adalah sanggul atau bentuk konde. pengantin wanita mengenakan busana yang terdiri dari baju kebaya warna putih dan kain sarong bersulam warna putih dengan sulaman motif sisik ikan. yang bahannya terbuat dari tenunan bentenan. yang terdapat pada hiasan topi. lebih lengkap dan menunjukkan keagungan. selendang pinggang dan topi (porong). memakai krah dan saku disebut baju baniang. Semua motif berwarna kuning keemasan. disebut wuyang (pakaian kulit kayu). sayap burung cendrawasih dan motif ekor burung cendrawasih. ada juga bentuk baju yang berlengan panjang. ujung lengan dan sepanjang ujung baju bagian depan yang terbelah. selendang pinggang dan kedua lengan baju. kalung leher (kelana). disebut model kaki seribu dan sarong motif bunga. leher baju. Selain sarong yang bermotifkan ikan duyung. Sedangkan busana pengantin pria memakai baju paluwala. mereka pun memakai blus atau gaun yang disebut pasalongan rinegetan. sedangkan Konde yang memakai 5 tangkai kembang goyang disebut konde pinkan. terdapat juga sarong motif sarang burung. Di masa lalu busana sehari-hari wanita Minahasa terdiri dari baju sejenis kebaya. Warna baju hitam dengan hiasan motif bunga padi pada leher baju. berkancing tanpa saku. Busana kebesaran ini disebut biliu. Dalam kehidupan sehari-hari ada kecenderungan bagi suku bangsa Minahasa untuk menyebut diri mereka sebagai orang Manado. disebut model salimburung. Konde yang menggunakan 9 bunga Manduru putih disebut konde lumalundung. mahkota (kronci). disebut laborci-laborci. kain panjang atau sekarang dapat diganti dengan rok panjang. yaitu mulai dari bentuk celana pendek sampai celana panjang seperti bentuk celana piyama. Busana Pemuka Adat Busana Tonaas Wangko adalah baju kemeja lengan panjang berkerah tinggi. Sedangkan pengaruh Cina adalah kebaya warna putih dengan kain batik Cina dengan motif burung dan bunga-bungaan. Busana Tradisional Minahasa Minahasa Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Minahasa adalah salah satu suku bangsa yang mendiami wilayah Propinsi Sulawesi Utara. Busana wanita yang memperoleh pengaruh kebudayaan Spanyol terdiri dari baju kebaya lengan panjang dengan rok yang bervariasi. Pada perkembangan selanjutnya busana Minahasa mendapatkan pengaruh dari bangsa Eropa dan Cina. Perbedaannya terletak pada aksesori dan perhiasan yang digunakan. Pada busana pria pengaruh Cina tidak begitu tampak Baju Ikan Duyung Pada upacara perkawinan. Selain baju karai. disebut busana tatutu. tidak memiliki krah dan saku.Rangkaian terakhir dari upacara perkawinan adat Gorontalo adalah bersanding di pelaminan (mopo pipide). seperti motif biasa. Pengantin pria memakai busana yang terdiri dari baju jas tertutup atau terbuka. Motif Mahkota pun bermacam-macam. Bahan baju ini terbuat dari kain blacu warna putih. aksesori dan perhiasan. anting dan gelang. Sedangkan kaum pria memakai baju karai.

selop. Dilengkapi selempang warna kuning atau merah. Busana ini dapat juga dipakai pada saat berpergian. Sarung ketiga atau paling atas digulung melilit dada terkepit ketiak. busana adat tersebut menumbuhkan kebanggaan bagi masyarakatnya. coklat atau warna gelap lainnya dengan corak garis-garis horizontal. wanita Muna memakai baju berlengan pendek yang disebut kuta kutango. dan berkerah. Bahan baju terbuat dari kain satin warna merah atau biru. Gelang yang terbuat dari emas dipakai pada tangan. kain sarong batik warna gelap dan topi mahkota (kronci). perlambang penyatuan 2 unsur alam. memakai baju kebaya panjang warna putih atau ungu. Potongan baju tanpa kerah dan kancing. Warna baju putih dengan hiasan corak bunga padi. saku. Bentuk baju dapat berupa baju berlengan pendek dan baju berlengan panjang dengan lubang pada bagian atas baju untuk memasukkan kepala. Busana Tradisional Muna Muna Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Pakaian sehari-hari atau di rumah yang dikenakan oleh kaum pria terdiri atas baju (bhadu). yang dililitkan di dada menjurai sampai dengan di atas lutut. Selain sebagai penunjuk identitas kebudayaan. dunia dan alam baka. Sarung yang dipakai. sedangkan lubang leher dengan warna kuning emas. yaitu langit dan bumi. Warna baju umumnya putih. hitam. Kalangan wanita mengenakan busana yang terdiri atas bhadu. untuk pakaian sehari-hari di rumah. hanya saja lebih panjang seperti jubah. sarung (bheta).Busana Walian Wangko pria merupakan modifikasi bentuk dari baju Tonaas Wangko. juga untuk menyelipkan senjata tajam. dan ujung lilitannya dipegang oleh salah satu tangan. Sedangkan Walian Wangko wanita. Sarung kedua untuk membalut baju. selain dipakai untuk bepergian dapat juga dipakai untuk menghadiri . Sarung yang mereka pakai umumnya berwarna merah. Bentuk dan jenis busana Tonaas dan Walian Wangko inilah yang kemudian menjadi model dari jenis-jenis pakaian adat Minahasa untuk berbagai keperluan upacara. bheta. biru. Jenis-jenis dan bentuk busana di atas merupakan kekayaan budaya Minahasa yang tak ternilai harganya. gelang yang terbuat dari logam warna putih atau kuning dikenakan pada kaki. Baju berlengan pendek ini diberi hiasan renda pada setiap ujung lengan. bagi warga maupun aparatur pemertintah setempat. dan kain ikat pinggang yang disebut simpulan kagogo. Baju katango ini. Perhiasan yang dipakai sebagai kelengkapannya adalah kalung bulat yang terbuat dari logam untuk bagian leher. Lapisan dalam adalah sarung atau rok warna putih yang dililitkan di pinggang. Umumnya. Ikat kepala yang dipakai berupa kain bercorak batik. Sarung yang dipakai oleh wanita terdiri atas tiga lapis. yaitu terdapat kancing. Dilengkapi topi porong nimiles. Baju yang dipakai berlengan pendek dengan model baju seperti sekarang. kalung leher dan sanggul. Fungsi ikat pinggang ini selain untuk penguat sarung agar tidak mudah lepas. celana (sala) dan kopiah (songko) atau dapat diganti dengan ikat kepala (kampurui). yang dibuat dari lilitan dua buah kain berwarna merahhitam dan kuning-emas. Sedangkan ikat pinggang terbuat dari logam berwarna kuning. Hiasan yang dipakai adalah motif bunga terompet. biasanya berwarna merah bercorak geometris horizontal berwarna hitam.

perkawinan misalnya. dan ikat pinggang (sulepe). sebetulnya tidak berbeda dengan busana sehari-hari wanita Muna. dengan penguat lilitan selembar kain ikat pinggang. Cara melilitkan ikat pinggang tersebut diatur sedemikian rupa agar rumbai-rumbai tersebut berada di depan. dan perhiasan logam. Dua diantaranya yang adalah upacara memingit gadis yang disebut posuo dan upacara sunatan. Sementara itu upacara sunatan sebagai bagian penting dari upacara daur hidup seorang pria sbelum mencapai usia remaja atau dewasa. Penulis Mira Indiwara Pakan . maka dililitkan kain ikat pinggang yang diberi hiasan jambuljambul atau rumbai-rumbai disebut kabokena tango. sarung dua lapis. perhiasan yang dipakai adalah gelang. tusuk konde (panto). Sanggul seperti ini disebut popungu kelu-kelu. Adapun yang membedakannya dengan busana untuk upacara lain adalah terletak pada penggunaan perhiasan. Anak yang akan disunat ini memakai busana adat yang dinamakan ajo tandaki. Tandaki adalah mahkota. Ikat kepala dililitkan di tengah kepala sehingga membentuk lipatan-lipatan yang meninggi di sebelah kanan kepala. Pada sanggul dililitkan pita dari kain berwarna merah atau warna baju yang dipakainya. Bentuk bhadu dan bheta yang dikenakan pada upacara ini. sarung berhias (bia ibolaki). terdiri atas unsur pakaian baju dan kain sarung motif kotak-kotak kecil yang disebut bia-bia itanu. ikat pinggang. Selain pakaian sehari-hari. anting-anting di telinga dan kalung menghiasi leher. manik-manik. Perhiasan yang dipakai terdiri atas gelang tangan (simbi). seorang gadis memakai busana adat beserta perhiasannya yang terdiri dari bhadu. Hiasan sanggul terbuat dari kain atau logam yang berwarna kuning membentuk kembang cempaka. dan kain bersulam benang emas berbentuk pita (kabunsale).pesta-pesta upacara adat atau menerima tamu. bulu burung cendrawasih dan berbagai hiasan dari logam. Sarung dililitkan di pinggang membalut atau menutupi sebagian baju. Bentuk baju berlengan pendek dan tidak berkancing. anting-anting (dali). Dalam upacara ini. Pakaian sehari-hari di kalangan wanita disebut baju kombowa. Mereka memakai baju kambowa serta sarung yang bermotif (bia-bia itanu kumbea). Selain itu. bheta. kalung (tongko). Pakaian ajo tandaki terdiri atas mahkota. Kedua sarung tersebut dililitkan di atas pinggang. Perhiasan lainnya adalah gelang di kedua belah tangan. Perhiasan yang dipakai adalah ikat pinggang (sulepe) terbuat dari logam. gelang kaki (kurondo). dan anak yang boleh memakainya harus berasal dari golongan masyarakat bangsawan (kaomu). terdiri atas sarung dan ikat kepala tanpa baju. Agar sarung tampak kuat. masyarakat Buton pun memiliki pakaian khusus yang dikenakan pada saat berlangsung upacara adat tertentu. Berbusana secara lengkap berikut berbagai perhiasannya juga dikenakan oleh kaum wanita yang akan menghadiri upacara resmi. khususnya yang berhubungan dengan daur hidup manusia. cincin dan anting yang terbuat dari emas. Ciri seorang gadis yang sudah dipingit adalah memakai gelang yang sudah dihiasi manik-manik pada pergelangan kirinya disebut kabokena limo. Salah satu upacara adat yang hingga saat ini masih dipertahankan oleh masyarakat Muna adalah upacara pingitan gadis (karia). bercorak sama tetapi dengan warna berbeda. gadis yang dipingit diharuskan memakai busana kalambe yang terdiri atas baju kambowa. selendang (salenda). Upacara posuo merupakan salah satu upacara yang harus dilalui oleh seorang gadis yang telah menginjak dewasa. Pada upacara tersebut. Sedangkan perhiasan yang terdapat pada sanggul adalah pita pengikat konde (kawutu). dan ikat pinggang (sulepe). yang disebut biru-biru. Sarung yang di dalam dililitkan pada pinggang lebih panjang dari pada sarung yang di luar (tampak berlapis). Perhiasan yang digunakan adalah sanggul yang diberi hiasan. Busana Tradisional Buton Penulis Jaya Purnawijaya Pakaian keseharian orang kebanyakan (golongan walaka) disebut pakaian biru-biru. Perbedaannya hanya pada tata rias dan perhiasan yang dikenakannya. Mahkota dibuat dari kain merah. Sarung yang dikenakan ada dua. dan sanggul. Kelengkapan busana ini hanya dipakai oleh kalangan wanita bangsawan (kaomu)..

Selain baju-baju tersebut. Jenis sanggul yang kedua bernama unte pompule pasiki. Jenis-jenis perhiasan itu sendiri pada umumnya berupa kalung bersusun. Untuk keperluan pakaian sehari-hari. Salah satunya tampak pada unsur busana adat yang menjadi milik masyarakat Kaili. . Pada zaman dahulu. dan baju pasua. perhiasan yang dipilihnya terbuat dari manik-manik atau bahkan juga terbuat dari emas. tudung kepala yang biasa dikenakan oleh kaum wanita tersebut berbentuk seperti kerucut. Bahkan khusus untuk kaum wanita bangsawan. yakni kain yang terbuat dari serat kulit kayu. pending. Namun kini kain fuya telah ditinggalkan dan diganti dengan bahan katun atau jenis kain lainnya yang dapat dibeli dengan mudah. Berbicara mengenai perhiasan yang biasa dipasang pada bagian kepala kaum wanita Kaili. kaum wanita Kaili kerapkali mengenakan kelengkapan busana lainnya yang cukup khas seperti ikat kepala dan tudung kepala. atribut tersebut masih dapat ditemukan dalam beberapa hat. dengan bahan bakunya berasal dari rotan yang dianyam sedemikian rupa. sistem pelapisan tersebut tidak lagi bertahan sepenuhnya. yakni baju poko. Busana wanita Kaili. pada zaman dahulu terdiri atas kain sarung lengkap dengan bajunya yang berupa blus berlengan pendek. yakni baju yang berlengan panjang dan baju yang berlengan pendek. Ada golongan raja (maradika). Jenis sanggul seperti ini hanya diperuntukkan bagi para pengantin wanita saja. ada belahan pada bagian dadanya dan diberi sejumlah kancing. lebih halus dan dilengkapi dengan hiasan yang berupa aplikasi beraneka warna. pembungkus hasta dan pergelangan tangan. tidak heran bila di daerah tersebut terdapat beraneka ragam jenis sanggul. Bahan baju tersebut beradal dari kain fuya. Untuk mempercantik penampilan mereka dalam berbusana. Masyarakat di tempat tersebut menamakan ikat kepala yang biasa dikenakan oleh kaum wanita dengan sebutan tali bonto. kain fuya yang digunakan agak kasar. Keduanya sama-sama berleher bundar dan tanpa krah pada baju bagian atasnya. ada tiga model sanggul yang senantiasa ditampilkan oleh para wanita kaili. Pertama adalah unte tandu. tak lupa dikenakan perhiasan-perhiasan sebagai pelengkapnya. dan hiasan untuk penutup rambut. yakni model sanggul dengan ciri khasnya terletak pada ujung rambut yang disanggul sedikit diuraikan ke bagian samping hingga mencapai bahu.Kaili merupakan salah satu suku bangsa yang menempati wilayah Provinsi Sulawesi Tengah. bermacam-macam gelang mulai dari lengan hingga siku mereka. berlengan panjang dengan kancing pada bagian pergelangan tangannya. baju gembe. kalung panjang. Pada setiap lapisan sosial biasanya terdapat sejumlah atribut berupa lambang atau simbol-simbol tertentu. Model sanggul seperti ini akan tampak pada saat wanita Kaili melakukan berbagai rutinitas kegiatan sehari-hari mereka. dan budak (batua). Bahan yang digunakan untuk membuat ikat kepala tersebut adalah rotan yang tipis atau fuya. Paling tidak. masyarakat Kaili mengenal sistem pelapisan sosial dengan empat tingkatan sosial di dalamnya. keberadaan tudung kepala memang mendapat tempat tersendiri dalam kehidupan kaum wanita Kaili. sekalipun itu tidak banyak. yakni bentuk sanggul yang didapatkan dengan cara menyisipkan gulungan rambut mereka ke dalam rambut itu sendiri. Busana yang disebut dengan baju poko itu sendiri ada dua macam. Biasanya. Selain memiliki busana yang cukup beragam. rakyat kebanyakan (todea). Oleh karena itu. Sementara itu. Model rambut yang paling terakhir disebut unte pambeo. Secara fisik. Baju gembe adalah baju yang memiliki bentuk dan potongan sejenis dengan baju bodo yang terdapat dalam kebudayaan Bugis. Meskipun saat ini. Lain halnya dengan kain fuya yang digunakan untuk membuat busana pesta. Berbicara mengenai busana adat masyarakat Kaili tampaknya akan lebih didominasi oleh busana yang biasa dikenakan oleh kaum wanitanya. Adapun gambaran mengenai baju pasua adalah jenis baju yang memiliki bentuk leher bundar. yakni bentuk sanggul tanduk yang biasanya diletakkan di bagian belakang kepala. sangat erat dengan kebiasaan mereka yang gemar menyanggul rambut. Sementara itu. gambaran mengenai busana adat pria Kaili tampak jauh lebih sederhana. dengan jenis yang cukup beragam. bangsawan (toguua mungana). Busana adat wanita Kaili dapat dibedakan ke dalam tiga jenis model baju. kelengkapan busana berikut aksesori lainnya pun tidak kalah bervariasinya. mereka mengenakan tudung kepala pada saat melakukan kegiatan sehari-hari.

sebelah Selatan dengan kabupaten Merauke. Kelengkapan busana lain yang tidak kalah pentingnya adalah ikat kepala. Jonny Purba Masyarakat Dani mendiami wilayah kabupaten Jayawijaya. Ada satu tujuan utama yang hendak dicapai. ada juga kelengkapan busana lainnya yang senantiasa dikenakan oleh mereka. sebelah Timur Laut dengan kabupaten Jayapura. Pada masa itu. Secara historis. sebelah Barat Daya dengan kabupaten Fakfak. baru mereka memakai baju untuk menutupi anggota tubuh bagian atasnya. Satu kelengkapan lainnya yang senantiasa dibawa oleh kaum pria Kaili adalah kampuh yang berisi sirih pinang dan beraneka macam benda-benda yang digunakan untuk meramal oleh pemiliknya. dan sebelah Timur berbatasan dengan negara Papua Niugini (Papua Neuw Guinea/ PNG). ikat kepala dan kampuh. Tentu saja bukannya tanpa alasan bila mereka mengenakannya seperti itu. Ada beberapa jenis kelengkapan busana adat pria Kaili. yakni berperang dan tradisi pengayauan. yang pemakaiannya tidak dilakukan untuk menutupi badan bagian bawah melainkan hanya disampirkan di bahunya. Salah satu di antaranyanya adalah biji jagung kering. Kampuh yang sarat dengan berbagai macam benda tersebut biasanya dikalungkan pada leher mereka. justru berbeda dengan kondisi mengenai busana adat kaum pria Kaili. yang dikenal dengan istilah mengayau. Adapun pada anggota tubuh bagian atas kerapkali hanya bertelanjang dada. yakni untuk menghangatkan tubuh atau berfungsi sebagai penahan hawa dingin. Tentu saja pemilihan warna dan motif tersebut akan disesuaikan dengan status sosial pemakainya. Pusat-pusat permukiman orang Dani .Bila gambaran mengenai busana adat wanita Kaili begitu kaya akan berbagai informasi di seputar masalah tersebut. sebelah Barat Laut dengan kabupaten Paniai. Di sebelah Utara berbatasan dengan kabupaten Yapen-Waropen. yakni kain sarung. pemakaian ikat kepala ini sangat erat kaitannya dengan aktivitas mereka di masa lalu. Ikat kepala yang dipakai oleh kaum pria tersebut memiliki warna yang beragam serta bermotif. Selain kedua unsur busan tersebut. Namun bila akan bepergian. akan tampak bagaimana sebenarnya busana adat mereka yang pernah ada selama ini. Busana yang digunakan kaum pria untuk menutupi anggota badan bagian bawah adalah cawat dan celana pendek yang pipa celananya sedikit di atas lutut. Unsur yang pertama adalah sarung. Busana Tradisional Masyarakat Dani Dani People Traditional Dress Penulis Aat Soeratin. Dengan mengungkapkan profil pria Kaili. memang ada satu kebiasaan masyarakat Kaili untuk memenggal kepala musuh pada saat berperang.

seperti waktu mengerjakan ladang. Biasanya yokal berwarna hitam. Kehidupannya mengelompok berbentuk desa yang dinamakan silimo (asilimo). Dwart. belum pernah melakukan persebadanan. Apalahapsili. yokal dan sali. Welarak. Hiasan itu untuk menimbulkan daya tarik bagi kaum perempuan. Dalam perkembangannya fungsi dan kegunaan holim mulai digantikan dengan pakaian sehari-hari yang terbuat dari tekstil. Holim sebagai pakaian sehari-hari digunakan dalam seluruh kegiatan keseharian. kuning. Makna simbolik lainnya mengisyaratkan. di antaranya koteka (holim). dikorek dengan kayu yang diruncingkan. Sinak. Illu. memiliki status sosial yang tinggi atau mempunyai kedudukan sebagai bangsawan. Kalabasah yang berdiameter relatif besar itu dipotong hampir setengahnya sehingga ujungnya bolong (terbuka) yang ketika dipakai biasanya bolong itu ditutup dengan daun. Busana Adat Masyarakat Dani Ada beberapa jenis busana dan tata rias Masyarakat Dani yang sangat khas bila dibandingkan dengan kelompok etnis lainnya di Irian Jaya. terutama di Kecamatan Wamena Kota. Ada tiga pola penggunaan koteka. disebut yokal. Beberapa lembah yang terkenal. laki-laki sejati. dan Oholim. Yalimo. Ada dua ukuran koteka yakni holim kecil (halus) dan holim pendek besar. Jenis holim ini halus. Kecamatan Asologaima dan Kecamatan Kurulu. sedangkan sebelumnya disebut "Ndani". yakni masyarakat Moni dan Damal untuk menunjukkan suku tetangganya (masyarakat Dani). Setelah itu buah labu kembali dikeringkan di sekitar perapian. pria yang memakainya masih perjaka. Miring ke samping kiri: bermakna pria dewasa yang berasal dari golongan menengah dan memiliki sifat kejantanan ejati. mereka menggunakan holim sebagai pakaian adat sekaligus sebagai perlengkapan upacara. agar tidak jatuh. Kadang-kadang bagian ujungnya diberi hiasan bulu burung atau bulu ayam hutan. pemilik harta kekayaan yang melimpah. Juga menunjukkan pemakainya adalah keturunan Panglima Perang (apendabogur). yaitu tegak lurus: menandakan bahwa pemakainya adalah "pria sejati". Busana penutup alat kelamin pria ini dibuat dari kalabasah. Konda. saat berada di honai. Tiom. sejenis labu Cina. "Kanan" menandakan kekuatan bekerja. isi buah labu dikeluarkan. Bahan pewarna tersebut . yaitu tegak lurus: menandakan bahwa pemakainya koteka. Istilah "Dani" digunakan oleh ekspedisi Sterling tahun 1926. upacara adat misalnya. bermakna bahwa penggunanya adalah pria gagah berani. Jenis koteka kecil terdapat di daerah lembah Baliem. Buah labu yang sudah tua. Illaga. Secara etnis masyarakat Dani dikenal dalam dua kelompok yaitu Wita dan Waya. Pas Valley dan Piet River. Bentuk rumah tinggalnya disebut honai (honae) untuk laki-laki dan obe-ae rumah khusus kaum perempuan. kemudian dibersihkan. Masyarakat Dani sendiri menamakan dirinya "Nit Baliemege". artinya "Kami orang Baliem". Di samping itu biasanya terdapat juga humila sebagai dapur tempat memasak dan wam aele sebagai kandang babi.umumnya berada di wilayah lembah dan lereng-lereng gunung. Namun dalam kegiatan tertentu. Sebagian masyarakat Dani mengenakan koteka yang ukurannya pendek dan besar. dan kemerah-merahan. Sedangkan jenis holim besar terdapat di lembah Baliem. Banyak kemudian yang menambahkan semacam sekat di antara pangkal dan ujung "selongsong" koteka bolong itu untuk tempat menyimpan benda-benda yang dianggap keramat atau bendabenda yang dianggap bernilai tinggi. Yokal Sejenis rok wanita masyarakat Dani yang dibuat dari serat tali hutan (tumbuhan rambat) yang dipintal dengan rapi. Koteka (Holim) Koteka atau disebut juga holim adalah pakaian laki-laki masyarakat Dani dan Ekari. dipetik lalu dikeringkan di perapian. Ilaga. Miring ke samping kanan: simbol kejantanan. berwarna kuning kemerah-merahan. Kosarek. lembah Baliem (Lembah Agung). Setelah kering. penutup kelamin pria ini diikatkan ke seputar pinggang dengan tali halus yang biasanya berwarna hitam. misalnya "uang merah" (eka merah). Istilah "Ndani" berasal dari kata "Lani" yang digunakan oleh penduduk lembah Baliem Utara dan Barat. antara lain. dan pengayom rakyat. keterampilan memipin. ketika berternak babi. Mulia. Ketika dikenakan. Ukuran bagian bawahnya sedang dan atasnya runcing.

Walimo yaitu hiasan dada. atau dibentuk menjadi pipih dan diselipkan pada cuping hidung bagian tengah yang dilubangi sehingga mirip seperti misai panjang. ke gereja. Yokal digunakan sehari-hari untuk melakukan pelbagai pekerjaan. Dibuat berupa untaian sebagai kalung. diambil seratnya kemudian dikeringkan pada perapian atau dijemur pada panas matahari. senjata ampuh pria sejati Dani. Banyaknya kulit kerang menunjukkan jumlah musuh yang dibunuhnya dalam perang suku. Yokal dibuat dari kulit kayu wam. Biasanya seorang wanita Dani mengenakan sejumlah noken yang digantungkan pada kening dan berjuntai ke punggungnya hingga menutup bagian pinggul. karena para lelakilah yang lebih kerap tampil ketika harus berinteraksi dengan masyarakat di luar kelompoknya. Pada tubuh para lelaki nampak lebih banyak aksesori ketimbang yang dikenakan para perempuan. memelihara babi. Selain sebagai aksesori. menyiapkan makanan. Diwarnai dengan getah kulit atau bunga anggrek. berderet-deret dan disusun rapi. Ngisi adalah rambut yang dianyam rapi dan dilumuri dengan lemak babi. seperti mengerjakan kebun. misalnya saat ke ladang. noken berfungsi untuk menyimpan dan mengangkut bahan makanan. gelang anyaman rotan yang dipakai pada lengan maupun pergelangan tangan.didapat dari getah kulit atau bunga anggrek. anak panah dan busur. dibuat dari anyaman serat kulit kayu yang ketika dikenakan akan nampak seperti dasi. Benda laut ini didatangkan ke daerah pegunungan melalui sistem barter. sejenis topi berbentuk bulat dibuat dari bulu burung. Konon. Sekan. Cipat. antara lain: swesi. juga untuk membawa babi. Sali dipakai dengan cara melilitkannya ke seputar pinggang dan menyimpulkan kedua ujung tali penahannya pada bagian perut (pusar). termasuk saat mengikuti upacara adat. setelah kering dianyam pada seutas tali sepanjang seputar pinggang. Noken juga dipercaya sebagai simbol kehidupan dan kesuburan. Noken (su labak yapma) yaitu sejenis tas dibuat dari serat kulit kayu yang dianyam menyerupai karung. Selanjutnya dipintal dan dirajut menjadi rok. Siluki inon. Pekerjaan ini biasanya dilakukan wanita dewasa. bepergian. Sege adalah tombak panjang yang melambangkan pria sejati. Mul. Wam maik adalah aksesori dengan bahan taring babi. semacam "baju besi" dibuat dari serat rotan yang dianyam rapat sehingga berfungsi sebagai perisai dari tusukan anak panah dan tombak. Wali moken sebutan untuk kulit kerang yang diikat hingga seolah menempel pada dahi seorang laki-laki. yang melambangkan kemahiran berburu dan keberanian. Yokal melambangkan wanita pemakainya sudah tidak gadis lagi atau wanita yang telah menikah. menjual hasil pertanian. Wayeske. Perlengkapan merias diri kaum lelaki masyarakat Dani yang dikenakan saat upacara dan aktivitas sehari-hari lainnya. Yokal biasanya dikenakan oleh wanita dewasa yang sudah menikah. Kulit kayu tersebut dikelupas dari batangnya. bahan tersebut dijemur atau diasapi. ke sekolah. sehingga seorang wanita Dani biasanya membawa beberapa noken dengan isi yang berlainan. Ngisi mengisyaratkan pemuda yang telah siap untuk menikah. Sedemikian besar fungsinya. Sali Pakaian sehari-hari anak gadis masyarakat Dani adalah sali yang dibuat dari bahan serat kem atau dari sejenis daun pandan. Akseori ini biasanya warisan turun-temurun dari nenek moyang. Pada sepenuh permukaan walimo ditempelkan. Sali mengisyaratkan pemakainya Tata Rias Masyarakat Dani Yang lebih banyak merias diri pada masyarakat Dani adalah kaum laki-laki. mengasuh anak. antara lain: sekan yaitu gelang yang dibuat dari rotan. . gendongan bayi. puluhan rumah siput kecil yang dianggap mampu mendatangkan kekuatan gaib. Aksesori yang dikenakan para wanita Dani. topi dari bulu kuskus warna hitam. Seperti proses membuat yokal. kalung berupa tali penangkal guna-guna. dikenakan pada lengan maupun pergelangan tangan. Sali dipakai sehari-hari oleh anak gadis. sehari-hari atau saat upacara adat. Oleh karena itu aksesori yang digunakan mengandung makna simbolik sekaligus menunjukkan identitas pemakai maupun masyarakatnya.

dan Pantai Kasuari. Busana dan tata rias yang dikenakan juga menunjukkan status sosial maupun jenis kelamin. Sejauh ini yang ditemukan hanya yang berupa "rok mini" dan cawat sebagai penutup aurat kaum lelaki dan perempuan. Pada rambut diselipkan hiasan yang disebut sokmet. mereka menjalinnya hingga bisa "berdiri". bulu bangau yang diikatkan pada . Sawa Erma. ikat pinggang dari anyaman rotan. dahulu. Marind. disebut tali bow. dan Mimika. Suku bangsa Asmat adalah suku bangsa terbesar di antara suku-suku bangsa lainnya di bagian selatan Irian. Ketika menginginkan rambutnya nampak lurus. Atsy. Sedangkan kaum perempuannya memakai tok. Dan peni. semacam cawat atau celana dalam. Mereka bermukim di daerah rawa yang sangat luas. Rumbai-rumbai pummi dilepas begitu saja hingga terurai di sekeliling pinggul dan paha. masyarakat Asmat merancang dan mengembangkan berbagai jenis busana dan tata rias untuk dipakai seharihari maupun untuk keperluan upacara adat. Untuk menutup payudara. Laki-laki Asmat biasanya memakai pummi semacam rok mini yang dibuat dari anyaman daun sagu. Seperti halnya sukusuku bangsa lainnya.Busana Tradisional Asmat Asmat Traditional Asmat Wilayah pantai (Selatan) Irian Jaya didiami sukubangsa Muyu. Tok adalah pummi yang rumbai-rumbai bagian depannya dikumpulkan lalu ditarik ke bagian belakang pinggul melalui celah paha sehingga menyerupai cawat. dan masing-masing aksesori itu memiliki makna simbolik. semakin banyak ragam rias yang dikenakannya. bahkan di kawasan propinsi Irian Jaya. Rambut orang Asmat pada umumnya keriting atau bergelombang. Tali pengikatnya dibuat dari akar pandan. Penahan pummi adalah asenem. Menjalin rambut ini disebut wi atau owusapor dan biasanya dilakukan pria remaja. Jenis atau ragam busana Asmat tidaklah banyak. Daerah persebarannya meliputi Kecamatan Agats. Asmat. Semakin tinggi status sosial seseorang. wanita Asmat membuat semacam kutang dari anyaman daun sagu muda yang disebut peni atau samsur. hanya dipakai oleh istri panglima perang.

sehingga bila saat berduka benda ini tidak ditampilkan. Noken dibuat dari anyaman daun pandan dan pada salah satu sisinya diberi hiasan bulu sayap burung kakak tua atau bulu sayap burung bangau. menggunakan gulungan daun sagu atau daun nipah yang disebut bi awok sebagai penghias hidung mereka. yang dibuat dari biji tumbuhan tisen. sehingga seringkali digunakan sebagai mas kawin seperti halnya kapak batu. Juwursis biasanya dipakai oleh panglima perang. pemukul tifa. pergelangan tangan. sangat mengagumi burung kakatua raja lantaran satwa ini nampak elok dan gagah. Senjata ini diselipkan pada sinenke. pemimpin tungku (keluarga luas). Aksesori lainnya yang sangat khas adalah subang penghias telinga. Masyarakat Asmat juga menciptakan semacam topi berbentuk kopiyah/peci/songkok yang terbuka bagian atasnya yang dibuat dari bulu kuskus. Ada pula o effo yakni ekor babi hutan yang dililitkan di bagian pangkal tangan. subang penghias hidung. dan biasanya disandang oleh panglima perang. terutama istri panglima perang dan para tetua adat. dari bahan yang sama. dan diberi hiasan bulu burung kakatua atau burung bangau yang disebut panicep solme. 0 effo juga dipakai sebagai cerminan perasaan sukacita. terutama ketika mereka berada di dalam jew (rumah panjang). pemukul tifa. pun kebanyakan masyarakat asli Irian Jaya. Sebagai kalung. Tali penahan agar kasuomer tidak jatuh dibuat dari jalinan daun sagu muda. bukan hasil buruan dengan bantuan anjing atau tombak. panah. Noken yang polos tanpa hiasan dipakai oleh wanita dan laki-laki kebanyakan sedangkan yang dibubuhi hiasan. Maka untuk bisa tampil segagah burung yang elok itu mereka. Yang dikenakan pada pergelangan tangan. Atau pomak camkan yang dibuat dari anyaman daun sagu muda yang biasa dipakai saat pesta ulat sagu dan upacara patung mbis (patung leluhur). Topi ini disebut kasuomer dan kerap dihiasi bitwan (kulit kerang). Topi ini disebut juprew. yang supaya nampak indah dihias bulu burung cendrawasih (jabopan). agar ujung hidung tertarik sehingga mancung dan melengkung seperti paruh kakatua raja. Benda pakai yang juga kerap dijadikan pelengkap penampilan adalah noken. semacam pisau belati dibuat dari tulang kering burung kasuari yang salah satu ujungnya diruncingkan dan pangkalnya dihias oleh bulu-bulu halus burung kasuari. juwursis merupakan benda yang bernilai tinggi. untaian gigi taring anjing yang dikombinasikan dengan taring babi hutan. Kalung lainnya adalah juwursis (juwur = anjing). biasanya dipakai oleh panglima perang. panjangnya kira-kira 30 cm. dituntut untuk mahir menggunakan senjata: pisau. dan pangkal betis. Kaum wanita Asmat. Masyarakat Asmat. dan gelang yang dipakai pada lengan. Sof betan atau sinenke adalah gelang untuk pangkal lengan dari anyaman rotan.lidi. Sedangkan yang dipakai pada pangkal lutut dinamakan barok. Sebagai masyarakat peramu yang hidup dari berburu. tapi sekarang dipakai juga oleh para tetua adat. terutama kaum lelaki. melubangi cuping tengah hidung mereka dan "menyumpalnya" dengan aksesori berupa benda yang terkadang berukuran lebih besar daripada lubang hidung. Begitu pentingnya fungsi senjata-bagi lelaki Asmat sehingga bukan hanya dipakai sebagai peralatan berburu belaka tapi juga sebagai alat pelengkap penampilan agar nampak berwibawa. dan tombak. Wanita yang mengenakan benda ini adalah istri dari orang yang gemar berburu babi hutan. Sedangkan para lelaki memakai bipane. Dulunya barok hanya dipakai oleh panglima perang. penyanyi. . konon. Pada kebudayaan Asmat. Ada juga penutup kepala yang dibuat dari anyaman daun sagu dan akar kayu. disebut betan. Senjata yang hampir selalu disandang sebagai aksesori pada pelbagai upacara adat ialah pisuwe. sokmet masih dipakai pria Asmat. Subang penghias telinga disebut jemcankan yang dibuat dari kayu fum atau dari semacam manik-manik biji tumbuhan dek atau omdu atau tisen. sejenis tas yang disandang di leher laki-laki atau di kening perempuan. dan kepala-kepala tungku (kepala keluarga luas). dan pemukul tifa. masyarakat Asmat. kalung. biasanya diimbuh hiasan beberapa tangkai sokmet. aksesori yang dibuat dari kulit siput/ kerang yang dibentuk mirip bulan sabit atau ada juga yang menyerupai misai panjang gergulung. disebut wisaper. tanpa membedakan status sosial. terutama saat melaksanakan upacara adat. penyanyi. kaum wanita dan lelaki Asmat memakai tisen pe. Bipane biasanya dipakai oleh panglima perang. Hingga sekarang. kepala adat. dan penyanyi pengiring upacara. Ekor babi untuk o effo harus berasal dari babi hutan yang terkena perangkap (siso).

Jonny Purba Busana tradisional Bengkulu Tidak hanya terkenal di pulau Jawa saja. panjangnya sekitar 1. dan tombak logam besi disebut frin. dan hijau tampil kuat pada latar kulit yang hitam berkilat. Kemudian panah yang disebut ces atau jimar. melainkan sudah menjadi seragam tetap beberapa sekolah dan pakaian dinas pemerintah daerah setempat. Agar lebih variatif. sedangkan warna hijau dari dedaunan. Ada juga jenis tombak khusus untuk berburu buaya. disebut vom. fum. Batik Besurek sudah menjadi salah satu kerajinan tangan khas Kota Bengkulu. putih. Pada hakekatnya besurek memiliki arti bersurat atau tulisan yang tradisinya sudah diwariskan secara turun temurun. hitam.5 meter. Masyarakat Asmat mengenal beberapa jenis tombak dan masingmasing dinamai sesuai dengan bahannya. Warna hitam dari arang pembakaran. Penulis Aat Soeratin. Warna putih didapat dengan cara membakar kulit siput. ternyata Provinsi Bengkulu juga memiliki kerajinan tradisional batik yang cukup mumpuni yaitu Besurek. Warna merah berasal dari tanah merah yang diperoleh dari pegunungan Lorentz. Hingga kini batik Besurek tidak hanya digunakan oleh kalangan bangsawan saat upacara adat saja. relung paku yang meliuk liuk seperti tanaman pakis. dari bambu dinamai firokom. yakni rias tubuh berupa gambar corak hias garis sejajar atau liris yang sangat ekspresif di sekujur tubuh terutama saat melaksanakan upacara adat. Namun juga mengombinasikan beberapa motif. . yang tak boleh dilupakan adalah wasse mbi. yang dibuat dari kayu keras disebut fir. Tombak kayu besi dinamai viwu. kemudian ditumbuk hingga halus dan dicampur dengan air. saat ini para pengrajin tak hanya menuliskan huruf kaligrafi. Konon. Disebut demikian karena motifnya bertuliskan kaligrafi Arab. batik besurek diperkenalkan para pedagang Arab dan pekerja asal India pada abad XVII. dan motif rembulan serta bunga rafflesia.Senjata lainnya adalah tombak. Busurnya dibuat dari jenis kayu bakau. Komposisi warna merah. Dan. Anak panahnya agak beragam. yang dari besi dikenal sebagai sok. Tombak yang pertama kali digunakan dibuat dari kayu nibung yang dinamai ocan atau kamen. sowen. seperti relung kua yang bergambar burung.

Selanjutnya karena banyaknya orang-orang Cina dan Arab yang datang merantau ke pulau Bangka terutama ke Kota Mentok yang merupakan pusat pemerintahan pada waktu itu diantaranya ada yang melakukan perkawinan maka banyaklah penduduk pulau Bangka yang meniru pakaian tersebut. pada perkawinan inilah mereka memakai pakaian adat masing-masing. Kembang goyang 3. Baju pengantin perempuan menurut keterangan orang tua-tua berasal dari negeri Cina. Gelang 12. Sepit udang 6. Daun bambu 4. Bagi mempelai laki-laki memakai “Sorban” atau disebut “Sungkon”. Pagar tenggalung 7. Tutup sanggul atau kembang hong 9. Pakaian tersebut terdiri dari : * Pakaian Pengantin Perempuan * Pakaian Pengantin Laki-laki * Tata Rias dan Hiasan Pakaian Pengantin Perempuan: Pakaian pengantin perempuan adalah baju kurung dengan bahan beludru merah yang dilengkapi dengan teratai atau penutup dada serta menggunakan kain cual yaitu kain tenun asli Bangka yang berasal dari Mentok. Sari bulan 8. konon menurut cerita ada saudagar dari Arab yang datang ke negeri Cina untuk berdagang sambil menyiarkan agama Islam dan jatuh cinta dengan seorang gadis Cina kemudian melangsungkan perkawinan dengan gadis Cina tersebut. dengan hiasan kepala yang biasa kita sebut Paksian dan dilengkapi dengan asesoris : 1. Kuntum cempaka 5. Kembang cempaka 2.Busana Tradisional Pangkalpinang Pakaian adat pengantin Kota Pangkalpinang untuk perempuan adalah baju kurung merah yang biasanya terbuat dari bahan sutra atau beludru yang jaman dulu disebut baju Seting dan kain yang dipakai adalah kain bersusur atau kain lasem atau disebut juga kain cual yang merupakan kain tenun asli dari Mentok. Anting panjang 11. Pada kepalanya memakai mahkota yang dinamakan “Paksian”. Kalung 10. Pakaian pengantin tersebut pada akhirnya kita sebut dengan nama “Paksian”. Pending untuk pinggang .

2. Melayu Bengkalis Riau. Tata Rias dan Hiasan: 1. Bentuk Sanggul: Konde tilang yang terbuat dari gulungan daun pandan atau lipatan daun pandan yang diisi dengan bunga rampai yang terdiri dari mawar.Baju pengantin perempuan ditambah dengan hiasan payet atau manik-manik dan dilengkapi dengan hiasan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan). Sebagai salah satu daerah yang kental dengan budaya Melayu. 6. pakaian adat Indragiri. Variasi pakaian adat Riau diantaranya. 5. melati. Hiasan Dahi: Hiasan DahiMemakai penutup dahi yang diberi nama “Paksian” dan di dahi dipasang Saribulan. pakaian yang dipakai berupa baju kurung. 3. 4. Selain itu. Melayu Siak Riau dan lain-lain. baju yang dipakai adalah baju Melayu berupa atasan yang disebut Teluk Belanga. Untuk pakaian pria. Pakaian Pengantin Laki-laki: Adapun untuk pakaian pengantin laki-laki terdiri dari : 1. kain sampin. Kain sampin biasanya meiliki warna dan corak yang sama dengan baju atasannya. 2. Pagar Tanggalung dan Sepit Udang pada samping kiri kanan telinga (Godeg). Pada zaman dahulu yang dipakai adalah sanggul cumpok atau cepul. kain dan . Untuk perempuan. pakaian adat Riau terdiri dari busana Melayu. Pakaian adat ini disebut dengan baju Melayu teluk belanga. Busana Tradisional Kepulauan Riau Pakaian adat merupakan salah satu ciri budaya suatu daerah dan setiap daerah tentunya memiliki pakaian adat yang beragam. busana ini terdiri celana. dan songkok atau penutup kepala. kenanga dan irisan daun pandan. seperti pakaian adat Kepulauan Riau. Jubah panjang sebatas betis Selempang yang dipakai pada bahu sebelah kanan Celana Penutup kepala seperti sorban (sungkon) Pending Selop / Sendal Arab Pakaian pengantin laki-laki ini berwarna merah dan biasanya dari bahan beludru dengan hiasan manik-manik dan sama dengan pengantin perempuan dilengkapi dengan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan). Pakaian adat Kepulauan Riau memiliki variasi pakaian adat.

Pakaiannya yang tertutup mencerminkan makna. dikenakan ikat pinggang (pending) terbuat dari besi kuningan. pakaian haruslah menutup aurat. merah atau biru dengan motif 'subi' atau 'bomba'. baju jas dengan leher tertutup (jas tutup) dan keris yang terselip di pinggang. Busana Tradisional Yogyakarta Dalam hal berpakaian masyarakat Yogyakarta membedakan antara yang dikenakan kaum pria dan kaum wanita. sarung yang dikenakan sampai menutup kaki. dengan leher baju berbentuk bulat. serta ikat kepala yang disebut 'dadasa'. hijau. busana yang disebut dengan istilah baju Melayu Cekak Musang dipakai saat acara keluarga. Variasi pakaian adat Riau membedakan pula waktu pemakaiannya. yang disekelilingnya dihias dengan benang emas. Pakaian adat ini dibedakan untuk kaum pria dan wanita. Pakaian adat yang dikenakan oleh kaum pria terdiri atas tutup kepala (destar). Busana yang disebut dengan istilah baju Melayu Gunting Cina dipakai saat tidak resmi atau saat dirumah. Ia juga mengenakan kain batik yang mempunyai motif sama dengan yang dipakai wanitanya. baju tangan pendek dengan leher baju terbuka. serta dilengkapi dengan sebilah keris yang terselip dipinggang. Sebagai pelengkap dikenakan hiasan berupa kalung susun (geno kambora). Busana Tradisional Sulawesi Tengah Secara tradisional. Pada umumnya kaum pria mengenakan pakaian adat yang terdiri dari: ikat kepala (siga) yang dihias dengan manik-manik. sarung berwarna kuning. celana panjang warna gelap yang juga dihias dengan benang emas. Selendang dipakai dengan disampirkan dibahu. .selendang. masyarakat Sulawesi Tengah memiliki seperangkat pakaian adat yang dibuat dari kulit kayu 'ivo' (sejenis pohon beringin) yang halus dan tinggi mutunya. selain berfungsi melindungi tubuh dari cuaca. Tradisi melayu Riau memang bersumber dari nilai-nilai Islam. Selain itu agar pakaian tampak pas di tubuh. gelang (pontade) dan anting-anting (dali). Sedangkan kaum wanita mengenakan pakaian yang disebut 'patimah lola' berupa baju 'gamba' yang panjangnya sampai di pinggul. Busana Melayu Riau ini identik dengan nilai-nilai Islam.

yaitu pakaian kaum laki-laki dan kaum wanita. Sedangkan pakaian yang di kenakan oleh kaum wanita mirip dengan yang dikenakan oleh kaum pria yaitu mahkota serta kalung bersusun. kalung dan gelang. Busana Tradisional Sulawesi Tenggara Pakaian adat yang bias digunakan oleh orang Kendari untuk pria biasanya berupa tutup kepala (destar). Sedangkan untuk kaum wanitanya berupa baju kebaya. kain selempang dan sarung. . baju model jas tertutup. sarung sebatas dengkul. Busana Tradisional Sumatera Selatan Masyarakat daerah Sumatera Selatan secara tradisional membagi pakaian adat mejadi dua macam. kalung bersusun dengan baju khas dengan memakai celana panjang dan kain songket pada bagian tengah badan. gelang di kedua belah tangan dan songket yang melingkar di bagian tengah badan. Sebagai hiasan kepala digunakan kembang serta perhiasan antara lain berupa antinganting. Perhiasan lain yang dikenakan biasanya berupa anting-anting dan cincin. dan celana panjang. Pakaian adat kaum pria biasanya berupa mahkota.Sedangkan pakaian kaum wanitanya terdiri atas kebaya dan kain batik dengan rambut yang disanggul dan diberi hiasan konde. diletakkan ditengah-tengah sanggul. pending.

4. Pakaian pengantin Maluku Tenggara disebut sanikir. Baju Cele Kain Salele. melayu.Busana Tradisional Maluku Utara Pakaian daerah Maluku dilihat dari segi motif dan cara memakainya cukup sederhana. atau dipakai oleh anak-anak keturunan raja. Hiasan yang dipakai untuk menambah anggunnya pakaian ini adalah gelang. acara resmi lainnya. pakaian nelayan serta pakaian sesehari lainnya yang tidak disebut satu persatu. Pakain pengantin ini mirip dengan pakaian pengantin Donggala. Pakaian petani. Pakaian-pakaian pengantin: Pakaian pengantin Maluku Utara disebut pakaian Koci-koci. 2. serta emas perak yang kesemuanyaterbuat dari gading atau kerang laut. adalah pakaian sesehari kaum wanita. Alas kaki yang dipakai disebut Canela dimana bagian depannya melingkar keatas. kalung. Selain pakaian-pakaian tersebut diatas. juga sudah merupakan pakaian konsumsi sesehari masyarakat Maluku. Sekarang sudah merupakan pakaian yang dimodifikasi dan dipakai sebagai pakaian untuk pakaian upacara adat. Pakain ini kelihatan lebih anggun berwarna merah menyala dihiasi manic-manik serta kombinasi kebaya cele putih. • • • . ada juga pakaian untuk ke gereja yang disebut pakaian Itang. pesta. Nona rok adalah sejenis pakaian wanita yang dulunya dipakai oleh kalangan atas. Kain kebaya merah adalah jenis pakaian daerah lain yang menjadi pakaian sesehari gadis dan ibu-ibu di desa. biasanya dipakai untuk acara pesta atau acara besar lainnya. pakaian ini juga sering dipakai oleh kalangan menengah kebawah seperti mereka yang berjualan di pasar dan lain sebagainya. hal ini tergambar dari beberapa contoh pakaian daerah dibawah ini: 1. warnanya juga antara hijau dan kuning. 5. Baniang dan kebaya dansa adalah pakaian sesehari untuk kaum pria. 3. Pakaian ini sudah menjadi pakaian nasional untuk seluruh masyarakat Maluku. serta merupakan pakaian yang dianggap baik. 6. Biasanya dipakai untuk upacara dan hari besar lainnya. Pakaian pengantin Maluku Tengah disebut baju Pono atau dapat juga disebut Mistisa. Pakaian ini kebanyakan dibuat dari tenunan tradisional Tanimbar dikombinasi dengan kain satin putih. Pakaian ini bercirikan Islam.

namun tetap menjunjung tinggi sikap kemudahan hati. maka dipilihlah nama yang diambil dari bangunan. dimana dan oleh siapa pakaian tersebut dapat digunakan. Untuk mempermudah penyebutan nama-nama motif batik dan gampang diingat. Selain itu. ruangan. Sebagian penggembala kerbau misalnya. jenis dan pemakaiannya. Banten ternyata memiliki busana khas dengan pola Batik. Menurut keterangan warga setempat. . dan pada zaman dulu komprang biasa dikenakan masyarakat Sunda setiap harinya. dan karakter kuat. Konon warna tersebut memang sesuai dengan watak masyarakat Banten yang penuh dengan harapan. pakaian tradisional tersebut juga merupakan salah satu pakaian khas dari Jawa Barat. Busana Tradisional Kalimantan Selatan Suku bangsa Banjar mengenal berbagai jenis pakaian tradisional menurut fungsi. Pada pakaian-pakaian tertentu makna simbolis dari motif ragam hias dan perhiasan yang melengkapi menentukan kapan. Sedangkan masyarakat Sunda lain mengikat sarung pada bagian pinggangnya. mengenakan pangsi dan komprang dengan menambahkan sarung yang dikalungkan di bahu. Batik Banten mempunyai padu padan warna. Sebagaimana batik kebanyakan. Namun tidak hanya di Provinsi Banten saja. termasuk Banten ketika masih belum terpisah. baju pangsi biasa digunakan masyarakat Sunda ketika berlatih pencak silat. Cara menggunakan pakaian itu bermacam-macam. Hal inilah yang mengubah warna motif meriah berubah lembut pada saat proses pencelupan. pengambilan nama motif juga ada yang berasal dari nama gelar kesultanan. Selain celana komprang dan baju pangsi. ataupun nama lokasi seluruh lapisan warga keraton berada semasa kesultanan yang ada di Banten lama. tetapi dipakai di seluruh Provinsi itu.Busana Tradisional Banten Baju pangsi dan celana komprang menjadi salah satu busana tradisional di Banten. Perpaduan ini ternyata sangatlah erat kaitannya dengan pengaruh air di bawah tanah. Batik Banten juga memiliki motif yang menjadi ciri khas. Komprang tidak berasal dari daerah tertentu di Jawa Barat. Warna Batik Banten cenderung meriah namun tetap terasa hangat dipandang dan lembut di mata. semangat.

yang penggunaannya hampir selalu dikaitkan dengan fungsi sosial tertentu. walaupun lapang dibatasi oleh ukua (ukur) dan jangko (jangka) diwujudkan melalui sulaman benang emas pada pinggirnya (minsai). Masyarakat juga mengenal adanya salawar panjang atau celana panjang semata kaki yang tidak berkantong. Biasanya pakaian ini digunakan oleh kaum pria baik yang berusia remaja maupun pria dewasa. Termasuk menghadiri suatu upacara adat. seperangkat kain yang membungkus tubuhnya bukan saja berfungsi melindungi tubuh tetapi mengandung makna-makna simbolis yang harus dipegang teguh. Pakaian Panghulu Seorang panghulu atau ninik mamak. kain sandang. Dikenakan pula kain samping . Oleh karena itu ia memiliki pakaian kebesaran. Celana lapang ini melambangkan kesiagaan. sesamping. Jenis lainnya yang juga disukai adalah kubaya barenda. Hal ini melambangkan keterbukaan dan kelapangan dada seorang pemimpin yang tidak suka mengunting dalam lipatan. Masing-masing daerah adat di Minangkabau memiliki variasi yang berbeda. Umumnya tiap ornament disulamkan dalam hitungan ganjil. Baju Kurung Basisit: Adalah jenis pakaian lain yang biasanya digunakan oleh kaum wanita jika bepergian. adalah baju yang dipakai anak-anak kecil sehari-hari. Di bagian bawah baju diberi sulaman dengan mempergunakan benang emas atau air guci. Salawar. keris. Bagian muka saluak ditata berkerut-kerut berjenjang dengan bagian atas datar. Umumnya dipakai celana (sarawa) lapang warna hitam. jangka pendek tak dapat singkat. jangko singkek tak dapek panjang. belah sampai ke dada tanpa kancing. seperti penghulu dan bundo kanduang. Untuk tapih ini biasanya didatangkan dari pekalongan. Pada masa lalu. Jenis pakaian ini bermacammacam. celana hitam lebar. baju hitam longgar. Salawar panjang ini biasanya digunakan sebagai pasangan baju taluk balanga. Biasa disebut saluak batimba (seluk bertimba) terbuat dari kain batik. yang menjadi pakaian sehari-hari kaum pria. Baju Taluk Balanga. terdiri dari destar sebagai penutup kepala. dan tongkat. Kemudian dikenakan baju lengan hitam longgar (besar lengan) dengan leher lepas tidak berkatuk. Bagian depan terbelah dan diberi kancing. Untuk wanita dewasa biasanya digunakan kubaya basawiwi (basujab). Penggunaan baju kubaya juga dilengkapi dengan tutup kepala berupa kakamban (serudung) yang dibuat dari kain sutra atau sejenisnya yang tembus pandang. merupakan pakaian sehari-hari yang biasa dikenakan pada seorang bayi.• • • • • Lampin. artinya ukur panjang tak dapat singkat. yang digelari datuk oleh masyarakat memegang peranan penting sebagai pemimpin kaumnya dan berhak mengatur sanak keluarga yang terhimpun dalam kaumnya. Pakaian kebesaran ini juga disebut pakaian adat. Bagi masyarakat Banjar pada umumnya bilangan ganjil mengandung makna kebai Busana Tradisional Minangkabau Minangkabau Traditional Dress Masyarakat Minangkabau mengenal berbagai jenis busana tradisional. Baju Kubaya. Apalagi kalau orang itu memegang peranan penting dalam masyarakatnya. yang di beberapa masyarakat lain dikenal dengan ‘baju kodok’ ini dapat digunakan oleh anak laki-laki maupun anak wanita. pakaian sehari-hari ini digunakan oleh para wanita. Model baju. adalah kemeja bertangan panjang dengan leher baju bulat dan sedikit kerah keras mencuat ke atas. Sebagai pakaian sehari-hari baju taluk balanga ini dilengkapi dengan tutup kepala berupa kopiah beludru hitam atau kopiah jangang. Kerutan-kerutan tersebut melambangkan aturan hidup orang Minangkabau yang diungkapkan melalui pepatah berjenjang naik bertangga turun. lampin dibuat dari tapih (sarung) atau bahalai (kain sarung) yang dipotong menjadi beberapa bagian dengan bentuk segi empat panjang. Pasangan baju kubaya ini adalah tapih atau sarung. namun secara umum terdiri dari destar. Dalam pepatah dinyatakan ukua panjang tak buliah singkek.

seperi kalung. Baju kurungnya berwarna hitam. kata-katanya didengar. melambangkan tanggungjawab yang harus dipikul oleh bundo kanduang untuk melanjutkan keturunan. bila ada sulaman menandakan kerajinan anak kemenakan yang mempergunakan waktu sebaik- . Tidak semua wanita dapat menjadi bundo kandungan. anting-anting serta cincin. kalung gadang. Sarung ini berfungsi religius bagi pemakainya. dan berhiaskan anting-anting serta kalung. yang juga disebut kain sarung dapat berupa kain songket. baju putih model gunting cina dan peci/kopiah. merah. Pemakaian gelang melambangkan bahwa semua yang dikerjakan harus dalam batas-batas kemampuan. lambak/kodek atau kain sarung. Penutup badan bawah digunakan kain sarung (kodek) balapak bersulam emas. Sesamping ini dipakai terutama saat bepergian dan kebanyakan dipilih warna merah sebagai lambang keberanian serta tanggungjawab. dan kalung kaban. kain selempang. batik. sarung bugis ataupun kain pelekat. sehari-hari mengenakan celana batik tanpa pisak. Pada hakekatnya tongkat adalah komando anak kemenakan. Pilihan warna putih pada baju melambangkan kebersihan dan kemurnian para pemakainya. Perhiasan yang dikenakan adalah subang atau anting-anting dari emas. Di bahu kanannya berselempang ke rusuk kiri kain balapak. yaitu kalung kuda. Tangannya dihiasi gelang gadang (besar). khususnya yang telah berumur dalam kesehariannya mengenakan baju kurung ke luar. Seperti juga pada pakaian penghulu. Keris dengan posisi miring ke kiri terselip di perut melambangkan keberanian tanpa bermaksud menghadang musuh melainkan untuk menjadi hakim. Lambak atau kodek. kain sarung. Baju kurung ke luar lengannya panjang dan dalamnya sampai di bawah lutut terbuat dari berbagai jenis bahan sesuai kemampauan. sebagi simbol meletakkan sesuatu pada tempatnya seperti pepatah memakan habis-habis. sementara selendang tersampir di bahu. Pakaian sehari-hari Para wanita. Pemakaian samping seperti niru tergantung ini melambangkan kehati-hatian pemakai dalam segala tindak-tanduknya dalam masuarakat. artinya tempat atau pemegang harta pusaka kaumnya. Ragi benang emas yang menghiasinya disebut cukia menandakan bahwa pemakainya memiliki pengetahuan yang cukup di bidangnya. menyuruk (bersembunyi) hilang-hilang. Tutup kepalanya dari selendang pendek dengan ujung tergerai ke belakang. Pemakaian tengkuluk ini melambangkan bahwa perempuan sebagai pemilik rumah gadang. pergi tempat bertanya dan pulang tempat berita. masing-masing daerah adat di Minangkabau memiliki variasinya masing-masing.(sesamping) yang melilit pinggang di atas lutut dengan sudutnya seperti niru tergantung. Bahannya berasal dari kain balapak tenunan Pandai Sikat Padang Panjang . Bentuknya seperti tanduk kerbau dengan kedua ujung runcing berumbai dari emas atau loyang sepuhan. biru atau lembayung ditaburi dengan benang emas. Ia juga merupakan peti ambon puruak . Variasi lain dikenakan tengkuluk. Ia haruslah orang yang arif bijaksana. Bahunya berselempang kain sandang atau kain kaciak dari kain cindai sebagai lambang kebesaran seorang penghulu (ninik mamak). Juga melambangkan bahwa tiap-tiap keputusan yang telah dibuat harus ditegakkan penuh wibawa. Model gunting cina merupakan model pakaian longgar menujukkan pakaian sehari-hari. Dimaksudkan supaya kokoh luar dan dalam. untuk mengingatkan bahwa penghulu punya penongkat atau pembantu dalam menjalankan jabatannya. Kalung dari beberapa macam. Seorang bundo kandung mengenakan tengkuluk tanduk atau tengkuluk ikek sebagai penutup kepala. baju kurung. gelang bapahek dan gelang ular. Oleh karena itu memiliki pakaian adat yang berbeda dengan wanita lainnya. Khusus pada pakaian penghulu. Biasanya masih ditambah dengan tongkat untuk berjalan di malam hari atau berdiri lama. Pakaian Bundo Kanduang Seorang wanita yang telah diangkat menjadi bundo kanduang (bunda kandung) memegang peranan penting dalam kaumnya. Tetapi umumnya kelengkapan pakaian bundo kanduang terdiri dari tengkuluk. kalung pinyaram. Kadang-kadang juga dilengkapi dengan pemakaian beberapa perhiasan. Pinggangnya dililit cawek (ikat pinggang) dari sutra berjumbai (bajambua alai). Sebagai alas kaki dikenakan selop dari beludru. Kaum prianya. Pinggirnya dihias minsai sebagai lambang demokrasi tetapi dalam batas-batas yang patut. dan selendang pendek.

Sampai dengan ± 50 tahun yang lalu masyarakat Mentawai masih hidup dalam kebudayaan neolitik berikut segenap tata cara adat istiadat. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" Penulis : Dewi Indrawati/Biranul Anas Busana Tradisional Mentawai Mentawai Traditional Dress Penulis : Biranul Anas Suku bangsa Mentawai mendiami rangkaian kepulauan Mentawai. dalam tatanan masyarakat tidak ada strata-strata sosial. Pembedaan busana lebih ditentukan pada kejadian. Islam dan Barat. Pemakaian peci oleh penghulu masih dibalut dengan destar hitam yang mempunyai kerutan-kerutan. Walaupun dewasa ini sudah semakin jarang dijumpai. Tidak ketinggalan tongkat "manau sonsang" ikut melengkapi pakaian yang dikenakan oleh penghulu. yang pada saat waktu sholat dapat digunakan semestinya. orang-orang Mentawai dapat dikatakan tidak menggunakan apa-apa lagi yang benar- . Salah satu kelengkapan busana suku Mentawai. perikehidupan serta ungkapan budaya material masyarakat Mentawai patut dikemukakan sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia yang unik. lepas pantai propinsi Sumatera Barat. Selain itu busana juga mengungkapkan ciri-ciri kedekatan penyandangnya dengan alam lingkungan yang tropis. Pagai Utara dan Pagai Selatan. Selain kabit dan sokgumai. penutup aurat. yang terdiri dari pulau-pulau Siberut. tidak terpengaruh oleh Hinduisme. peristiwa. yang khususnya dipakai kaum pria adalah cawat. Sipora. perikehidupan serta ungkapan budayanya. terbuat dari kulit kayu pohon baguk dan sebut kabit. berhutan lebat berikut keaneka ragaman floranya. Hal ini antara lain tampak pada banyaknya hiasan floral yang dikenakan. Tatabusana masyarakat asli Mentawai mencerminkan azasazas egaliter. Sebagian besar dari mereka menganut kepercayaan animistik dimana setiap benda apakah itu batu. Lelaki muda lebih suka mengenakan peci dari bahan beludru warna hitam sebagai penutup kepala. pimpinan atau anak buah. disebut sokgumai. upacara yang dalam hal ini adalah upacara khusus tentang penghormatan arwah (punen). Sebagai pelengkap dibahunya tersampir kain bugis (bugih). bertanggan naik.baiknya. Kaum wanita memakai sejenis rok yang terbuat dari dedaunan pisang yang diolah secara khusus dan dililitkan kepinggang untuk menutupi aurat. Budisme. binatang atau manusia memiliki roh. Destar dengan kerutan ini melambangkan aturan adat berjenjang turun. bermakna seseorang tidak boleh menurut kehendak sendiri.

Tato adalah busana kebanggaan. kepercayaan serta alam fikiran suku bangsa Mentawai. rakgok. suatu ritus yang ditujukan untuk menghormati roh nenek moyang. Kalung manik-manik yang sangat impresif yaitu ngaleu menghiasi leher dalam jumlah yang dapat mencapai puluhan. Peristiwa ini melaksanakan praktek sikerei. gelang-gelang. Tampilan busana selengkapnya suku Mentawai ini dikenakan pada upacara punen. suatu kegiatan perdukunan. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" Busana Tradisional Melayu Malay Traditional Dress Penulis : Bernau Ompusunggu Biranul Anas Pakaian Upacara Tradisi Melayu menempatkan upacara pernikahan sebagai peristiwa yang penting. terakhir pangkal kaki antara lutut dan pergelangan kaki. Ini berpengaruh pada busana upacara pernikahan Melayu yang tampil secara lengkap dan indah. Ritus ini dipimpin oleh seorang kerei (dukun) dalam busana kerei yang sebenarnya adalah busana tradisional Mentawai yang dihiasi dan ditaburi berbagai dekorasi yang lebih banyak dari pada keadaan sehari-hari. terbuat dari gelas berwarna merah. atau tik-tik dalam bahasa daerah Mentawai juga merupakan identifikasi marga atau daerah asal penyandangnya. Tato juga menjadi ungkapan keindahan dan selain mendatangkan kekuatan juga dipercaya sebagai pembawa keselamatan serta kerukunan dalam kehidupan sosial masyarakat. lei-lei . cermin raksa. Kedua pergelangan tangan juga dihiasi dengan gelang-gelang manik-manik. Setiap marga (klan) dan dapat memiliki corak tatonya masingmasing. Warna tato biasanya biru kehitaman dan diungkapkan dalam garis-garis kontur geometris simetris. Bagian yang biasanya dihiasi tato adalah pipi dan punggung. mulai dari busana sampai dengan . paha dan pantat. dianggap abadi dan dipakai serta dikenakan hingga ajal. dada. sejenis subang pada kedua telinga. Pencacahan tubuh memiliki berbagai perlambangan baik sosial maupun psikologis yang berangkat dari faham-faham adat. rnahkota dari bulu-buluan dan bunga-bungaan. bunga-bungaan dan daundaunan. Lalu disusul dengan tangan. bergantung pada kalung depan dada. Proses tato dilaksanakan pada tahap-tahap tertentu dalam umur manusia. pakalo. sejenis kain penutup aurat bercorak dibagian depan kabit. Sedangkan gelang manik pangkal lengan disebut lekkeu. Ikat kepala ini dinamakan sorat. botol kecil tempat ramuan obat-obatan. ikat pinggang dari lilitan kain polos. kuning. diawali pada usia 7-11 tahun dan dilanjutkan secara bertahap hingga usia 18-19 tahun. Tato merupakan simbol kejantanan. Aspek yang terpenting dan amat berarti dalam tatacara busana serta rias tubuh adalah tato (cacah). Demikian pula pada kedua pangkal lengan dan pada bagian kepala berbaur dengan aneka bunga dan daun-daunan. Selain itu tato. kedewasaan dan keperkasaan bagi kaun pria. Busana kerei ini selain terdiri atas kabit dan sorat juga dilengkapi • • • • • • sobok.benar menutup tubuhnya selain aneka perhiasan serta dekorasi tubuh yang terbuat dari untaian manik-manik. putih dan hitam atau hijau. ogok. biasanya merah.

Alas kaki berupa selop sewarna dengan baju. bunga mas dan hiasan batu permata sehingga menampilkan kesan kebesaran dan kegagahan. hijau atau kuning dan dililit dengan sarung songket. Lengan atasnya mengenakan kilat bahu dan sidat sebagai lambang keteguhan hati. yaitu tengkulok yang terbuat dari kain songket. rantai panjang dan tanggang walaupun dewasa ini sudah amat jarang dijumpai. Pada sanggul ini ditempatkan hiasan-hiasan keemasan. Lengan bajunya sangat lebar dan panjangnya sampai pergelangan tangan. cincin bermata. mastura. Keris dianggap lambang kegagahan dan kemampuan menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Di daerah Deli untuk kaum bangsawan mengenakannya secara melintang. berseluar (celana panjang) dan bersamping. sedangkan bagi pria kebanyakan memasangnya dengan posisi belah utak. Terbuat dari rotan yang berbentuk parabola. Di daerah leher dan dada biasanya tergantung kalung dari corakcorak rantai mentimun. Di Serdang cara-cara pemakaiannya justru kebalikan dari daerah Deli. Baju kurung ini dipadukan dengan kain songket buatan Batubara atau tenunan Malaysia. Pakaian Sehari-hari Wanita-wanita Melayu dari Medan di sebelah pantai timur Sumatera Utara membuat baju mereka sangat panjang (baju panjang). Kaum pria memakai dua pilihan tutup kepala. dari bahan brokat (kain senduri). Penutup badan pria adalah teluk belanga yang terdiri dari atas baju berkrag kocak musang. renda. berlapis tiga dan dibalut dengan beludru atau kain berwarna kuning. ikatan serdang dan sebagainya. Pada jari terpasang aneka ragam cincin seperti cinci-n genta. . Sebagai alas kaki dipakai selop bertekad yaitu sejenis sandal bersulam corak-corak keemasan. Pada leher pria digantungkan beberapa hiasan rantai. Hiasan rambut berupa sanggul yang sederhana. Ikatan tengkulok ini ada beberapa jenis. Bajunya berupa kemeja kurung terbelah dibagian dada saja dari bahan sutra berwarna merah. rantai serati. Pada pinggang depan sebelah kanan disisipkan sebilah keris yang bergagang emas. Celana panjang lebar dengan bahan dan warna yang sama dengan baju. sutera. kain bertabur atau destar. sekar sukun. Tutup kepala yang sejak dulu dipakai disebut destar. Kadang-kadang baju dan kain kedua-duanya terbuat dari bahan yang sama.perlengkapan perhiasannya. Bagian pinggang dihiasi oleh bengkong dan pending. gelang ikol dan keroncong. Sebagaimana pada kaum wanita kain pembuat teluk belangapun adalah dari jenis yang bermutu seperti satin atau sutra. Bagian kepala disalut oleh selendang bersulam corak-corak emas yang menutupi tata rambut dalam gaya sanggul khusus yakni sanggul lipat padan atau sanggul tegang. Pakaian ini tidak memakai selendang. Gelang juga dipakai pada kaki. cincin patah biram dan cincin pancaragam. muslin atau viole yang halus yang bercorak kotak-kotak besar. Diberi hiasan gerak gempa. yaitu ikatan bendahara (Kedah). Pada upacara ini Wanita Melayu mengenakan Kebaya panjang atau baju kurung yang terbuat dari jenis-jenis kain yang bermutu tinggi seperti brokat atau sutra bersematkan peniti-peniti emas. Tengkulok adalah lambang kebesaran dan kegagahan seorang pria Melayu. gogok rantai lilit. Sementara untuk pakaian laki-laki berupa pakaian Teluk Belanga: Pakaian ini terdiri dari tutup kepala berupa kopiah atau topi dari bahan sutra berbentuk kepala kapal. Pada bagian pinggang dipakai bengkong dan pending. Pengantin wanita juga memakai gelang kerukut yang beraneka jenis seperti gelang tepang. berwarna sesuai dengan baju dan celananya. gelang kana. Baju panjang ini dipakai dengan sehelai kain yang terbuat daripada katun biasa berwarna polos. sarung yang bercorak kotakkotak besar atau kain songket.

Dalam keseharian perempuan Batak aslinya memakai kain blacu hitam (dapat diganti dengan ulos disebut haen ) dengan dan baju kurung panjang yang umumnya berwarna hitam. dan dilengkapi dengan sarung suji. Dalam upacara perkawinan kain ulos lebih tampak pada pakaian pengantin. Saat ini kain blacu hitam selain diganti dengan ulos. dan bila dipakai berupa selendang disebut ampe-ampe. Karo dan Simalungun menggunakan ulos yang berbentuk tudung sebagai pelindung panasnya matahari. sedangkan bagian bawahnya disebut singkot. kain dan ulosnya. sedangkan bagian bawah memakai ulos dari jenis ragi pane. Khusus bagi suku Batak Pak pak dan Dairi. sedangkan bagian bawah memakai sarung sungkit yang dililit dengan kain ulos. Misalnya ulos jugia. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbagai upacara adat. ulos (disebut Uis oleh suku bangsa Batak Karo ) adalah pakaian sehari-hari. juga telah diganti dengan sarung tenunan bercorak kotak-kotak. sabesabe atau detar. Muangthai dan Laos. Pada upacara secara umum wanita Batak menggunakan ulos sebagai penghias bahu/selendang. khususnya pada ikat kepala. Pada suku Batak Simalungun pakaian yang dipakai antara lain bulang yang terbuat dari kain ulos dengan motif gatip dan pakaian sehari-hari yang terbuat dari ulos yang disebut jobit. bagian bawah disebut haen. Sebelum orang Batak (Toba. dilengkapi dengan sarung. Untuk penutup punggung disebut hoba-hoba. tali-tali (tutup kepala) serta baju berbentuk kemeja kurung berwarna hitam. Khusus pada perempuan suku bangsa Batak Pak pak/Dairi. Karo. Pada suku Batak Toba. tidak terlepas dari penggunaan kain ulos. dipercaya mengandung "kekuatan" yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya istimewa untuk memberikan perlindungan. Bila dipakai oleh laki-laki bagian atasnya disebut ande-hande. Disamping bulang ada juga ulos surisuri sebagai tutup kepala. dilengkapi dengan ulos di kepala (biasanya ulos mangiring) dan setengah badan. umumnya diselempangkan di pinggangnya atau juga sebagai selendang. Untuk tutup kepala disebut saong. Sudah barang tentu tidak semua ulos dapat dipakai dalam kehidupan sehari-hari. memperlihatkan kemiripan dengan bangsa Karen di perbatasan Myanmar. Apabila seorang wanita sedang menggendong anak disebut parompa. Menurut beberapa penelitian penggunaan ulos oleh suku bangsa Batak. laki-laki Batak menggunakan sarung tenun bermotif kotak-kotak (terkadang diganti dengan ulos yang disebut singkot). Sebagai penutup kepala disebut tali-tali. ulos yang digunakan dominan berwarna hitam. ragidup. hanya dapat dipakai pada waktu-waktu tertentu. Simalungun) mengenal tekstil buatan luar. serta tutup kepala yang disebut saong. Bila ulos dipakai oleh perempuan Batak Toba. penutup kepala dan juga sebagai penutup dada. baju dan celana. Ulos pada mulanya identik dengan ajimat. Mempelai laki-laki memakai baju jas tutup warna putih. dipakai hingga batas dada. bulang-bulang. Kadang-kadang diselempangkan (menggunakan ulos ragihotang). ragi hotang. Kain ulos yang dipakai orang-orang Batak pada upacara-upacara adat. dan runjat. Pakaian pengantin perempuan Batak Karo terdiri dari baju tutup dengan lengan panjang. Pada busana pengantin perempuan Batak Toba hampir semua pakaian yang dipakai terdiri dari kain ulos yang salah satunya diselempangkan pada kedua bahu . mereka memakai pakaian biasa. Dalam keseharian. sadum. tanpa alas kaki.Busana Tradisional Batak Batak Traditional Dress Penulis : Biranul Anas / Jonny Purba Kehidupan masyarakat suku bangsa Batak.

tetapi kini sudah banyak yang terbuat dari logam yang diberi sepuhan emas. kedua pengantin memakai tudung kepala yang terbuat dari ulos suri-suri. bertingkat dua atau disebut bulang hambeng (bulang kambing) dan tidak bertingkat. Baju pengantin ini disebut baju godang atau baju kebesaran. Ampu merupakan mahkota yang biasanya dipergunakan oleh raja-raja di Mandailing dan Angkola pada masa lalu. Arti perlambang pada selendang adalah lambang dalihan na tolu.sampai ke badan (biasanya jenis ulos sadum). Alas kaki menggunakan selop atau sandal yang biasanya tertutup pada bagian depan atasnya. Pada daerah pinggang dipakai Bobat atau ikat pinggang yang dahulu terbuat dari emas dan kadang-kadang berkepala dengan ornamen kepala ular naga yang melambangkan keagungan. Untuk selendang pengantin. Tetapi sekarang sudah umum menggunakan ikat pinggang biasa. Bagian samping kanan ampu yang salah satu ujungnya mengarah ke atas dan satu lagi ke bawah mengandung arti bahwa yang paling berkuasa adalah Tuhan dan manusia pada akhirnya mati dan dikubur. tetapi ujungnya dilipat ke arah kening sehingga terjuntai sedikit di atas kening bersama renda atau rumbai yang terbuat dari benang emas. masing-masing bertingkat bertingkat tiga disebut bulang harbo (bulang kerbau). ikat pinggang terbuat dari emas atau perak sebagai lambang kebesaran. Warna hitam ampu mengandung fungsi magis sedangkan warna emas mengandung lambang kebesaran. Dua lembar selendang yang disilangkan pada bagian dada sampai ke punggung. Bulang terdiri dari tiga macam. Bagian penutup selop kadangkadang diberi hiasan. selendang terbuat dari kain tonun petani (kain tenunan petani). Bulang mengandung makna sebagai lambang kebesaran atau kemuliaan sekaligus sebagai simbol dari struktur masyarakat. dan dililit dengan ulos ragi hotang. seperti sulaman benang emas yang hanya berfungsi estetika tanpa arti perlambang. Pada masa sekarang menggunakan jas biasa berwarna hitam yang dilengkapi dengan kemeja lengan panjang dan dasi. kadang-kadang juga menggunakan kain polos tanpa warna tertentu. Baju. tampak dari segitiga yang dibentuk dengan selendang yang disilangkan itu. Bagian atas badan tertutup oleh baju berwarna hitam yang dahulu dibuat dari kain beludru berbentuk baju kurung tanpa diberi hiasan atau sulaman. Cara memakainya hampir sama dengan destar atau tengkuluk (topi). Pada masa lalu. Tetapi sekarang menggunakan kain songket. Dewasa ini selendang terbuat dari kain songket. Pada masa lalu. dan bagian bawah melambangkan anak boru (kerabat penerima gadis). Diberi ornamen warna emas makna simbolik sebagai lambang keagungan orang yang memakainya. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" . Belakangan ini baju pengantin wanita kadang-kadang diberi sulaman. Baju Godang mengandung makna keagungan. tergantung selera pemakai. Selop hanya berfungsi praktis tanpa mengadung arti perlambang. Celana panjang atau pantalon tanpa warna tertentu. Sisi kiri melambangkan mora (kerabat pemberi anak gadis). Bagian bawah badan tertutup kain songket dengan warna yang tidak ditentukan. Bulang terbuat dari emas. Misalnya penggunaan bulang bertingkat tiga bila hewan yang disemblih adalah kerbau. Penamaan bulang ini dikaitkan dengan jenis hewan yang disemblih. Pada masa dahulu. terbuat dari kain lakan berwarna hitam. Untuk si samping pada masa dahulu menggunakan abit Bugis (kain Bugis) atau kain sarung. Pengantin pria menggunakan busana yang terdiri dari : ampu atau penutup kepala dengan bentuk khas Mandailing/Angkola yang terbuat dari kain dan bahan lain. Pada pesta perkawinan wanita suku bangsa Mandailing/Angkola menurut adat menggunakan tata busana yang terdiri dari : bulang yang diikatkan pada kening. pengantin pria kadangkadang mengenakan tutup kepala yang dinamakan serong barendo yang terbuat dari kain warna hitam yang diberi renda atau rumbairumbai. Sepatu sebagai alas kaki dahulu menggunakan alas kaki atau selop yang dinamakan capal yang terbuat dari kulit. Bobat (ikat pinggang) yang dahulu biasanya terbuat dari emas atau perak. godang (baju kebesaran) yang pada masa lalu berbentuk jas tutup. sisi kanan melambangkan kahanggi (kerabat satu marga). Sisamping (kain sesamping) yang dibelitkan dari batas pinggang sampai ke lutut. Pada suku bangsa Batak Simalungun.

Untuk menghadiri upacara adat. yang disebut takula. Selain model rompi ada juga baju berlengan tanpa kancing yang juga terbuat dari bahan kulit kayu. busana kaum laki-laki Nias. kalung yang terbuat dari lilitan perak atau emas dan nifato-fato. kalung yang terbuat dari lempengan kuningan. yaitu baru lema`a. masih banyak lagi jenis tutup kepala lainnya. Busana ini dilengkapi dengan aja kola. Busana asli wanita suku bangsa Nias hanya terdiri dari lembaran kain (bahan blacu hitam atau kulit kayu). penduduk pulau Nias di pantai Selatan Sumatera memiliki variasi busana tradisional yang menambah keanekaragaman busana sukubangsa-sukubangsa di Sumatera Utara. Selain itu masih ada jenis lain seperti balahogo rate. Cara penggunaannya adalah hanya dengan melilitkannya di pinggang dan kekenakan tanpa baju. Untuk upacara.Busana Tradisional Nias Nias Traditional Dress Penulis : Bernali Ompusungu Orang Nias. yaitu anting logam besar. Orang-orang Nias pada masa lampau adalah prajurut-prajurit perang yang gagah berani. biasanya dikenakan baju berbentuk jaket atau jubah berbahan katun. Salah satu bentuk tutup kepala yang digunakan adalah saembu oti. terbuat dari daun palem. Tutup kepala ini terbuat dari bahan rotan dililit kain akantun berwarna biru. Kalabubu adalah kalung untuk lakilaki yang terbuat dari kuningan dan dilapis dengan potongan kayu kelapa (aslinya dilapisi dengan emas). terdiri dari baru atau baju yang aslinya terbuat dari bahan kulit kayu. yang terbuat dari rajutan rotan dilengkapi dengan daun pelem sebagai penutup di bagian belakang. namun saat ini sudah merupakan gabungan dengan kain katun. Selain itu. Bagian bawah . Dalam keseharian masyarakat Nias mengenal busana asli yang belum memperoleh pengaruh luar. yaitu baju dengan motif kulit harimau. Dunia peperangan yang begitu dekat dalam kehidupan masyarakatnya membentuk "budaya perang" yang juga perpengaruh pada busana tradisional orang Nias. yaitu gelang yang terbuat dari bahan gulungan kuningan dengan berat mencapai 1 kilogram (khusus untuk perempuan dewasa mengenakan dua buah gelang). tanpa busana atas (baju penutup dada). dan hitam. yaitu salah satu jenis penutup baju bagian atas (seperti kalung) yang terbuat dari bahan batubatuan. yang biasanya hanya dikenakan pada telinga kanan saja. kuning. merah dan putih. aya ba mbagi bobotora. Laki-laki Nias kebanyakan menggunakan kalabubu sebagai penghias leher. khususnya busana kaum prianya. Jenis kalung lainnya adalah nifatali. Baik dari jenis yang hanya dikenakan oleh kaum bangsawan serta tutup kepala khusus untuk kepala wilayah. dan saro dalinga. Busana ini dilengkapi dengan balahogo sokondra. Sementara itu. Perlengkapan busana ini adalah tombak dan pisau kecil. yaitu cawat atau celana yang terbuat dari bahan kulit kayu. Ada juga tutup kepala. berlengan kuning dihias motif sisir berwarna hijau atau kehitaman. Baju berbentuk rompi tidak berkancing ini berwarna dasar coklat atau hitam dan dengan ornamen berwarna merah. rotan dan pelepah kelapa. Tutup kepala ini digunakan pada saat upacara saja. perak atau emas. Salah satu jenis baru yang dikenal masyarakat Nias adalah baru ni`ola`a harimao. yang berwarna merah. salah satu jenis tutup kepala khusus untuk perang disebut tete naulu.

separuh leher dan lengan. kain hitam dengan ornamen geometris segitiga berbaris di sisi pinggirnya. Apabila di masa lalu. dan emas mendominasi busana pengantin Nias. Untuk perlengkapannya mempelai wanita mengenakan seledra (selendang) dan boba datu (ikat pinggang). merah. adalah nama jenis anting yang digunakan oleh masyarakat kebanyakan. yang terbuat dari panel warna kuning dihiasi oleh bermacam ornamen dipinggirnya. dikenakan untuk menutupi pinggang ke bawah (bentuknya mirip dengan kain panjang). Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" . Gela gela dan tali hu.busana wanita Nias disebut mukha. Lembe. Sebagai kelengkapan busana upacara. Adapun kelengkapan busana ini adalah rai. Warna hitam. salah satu jenis mahkota yang terbuat dari emas berbentuk ikat kepala dengan ornament barisan koin emas memanjang horizontal dan ditengah bagian belakang terdapat kepala mahkota berbentuk bunga dan daundaunan. baju kuning berpotongan serong dari beludru yang diberi ornamen berwarna merah. sebagaimana menggambarkan kehidupan masyarakatnya yang bersahaja. Selain itu. yang hanya digunakan oleh wanita bangsawan. sebelum mengenal pengaruh luar. Busana pengantin Nias secara? keseluruhan pun nampak sederhana. hanya bahannya bukan terbuat dari emas. Saat ini mahkota ini banyak digunakan sebagai bagian dari pakaian tari. Rambut wanita Nias disanggul tanpa sasak dengan memakai sunggar. masih ada bola-bola. maka kini untuk busana pengantinnya digunakan bahan beludru. Pengantin pria mengenakan celana hitam selutut. kala bobu.lingkaran terbuka dari bahan perunggu dengan hiasan batubatuan atau kerang. adalah salah satu jenis anting terbuat dari emas. Perhiasan yang dipergunakan adalah sialu fondreun (anting-anting). Baju berbentuk jubah hitam ayng berhiaskan motif binatang dari beludru merah dipadukan dengan kabo. tampak adanya unsur-unsur Melayu. yang juga banyak digunakan oleh kaum bangsawan. Demikian pula rai ni woli woli. yang disarungkan arah ke kiri. mahkota berbentuk ikat kepala dengan ujung meruncing segitiga ke atas. wanita Nias mengenal beberapa jenis asesoris. alga kala bubu (kalung) dan gala (gelang). sebuah selendang katun bermotif bunga berwarana kuning dan segitiga berbaris dilapisi pinggir dari bahan berwarna gelap kehitaman menjadi pelengkap busana ini. yaitu selendang warna kuning dililitkan di pinggang. Kemudian dihias dengan mahkota atau rai. yaitu kalung warna hitam dan yang tidak boleh ketinggalan adalah talogu atau pedang. kuning di bagian depan. terbuat dari . yaitu asesoris wanita berbentuk tas berbahan bambu dengan hiasan manik-manik berwarna-warni. Dalam busana pengantin ini. Selembar ondora. Fondruru ana`a. Bagian belakang baju ini lebih panjang dan bergambar matahari dan buaya. pakain tradisional Nias menggunakan bahan Wit kayu. kuning.

yakni dengan adanya kebiasaan untuk memakai celana dan kemeja yang dilengkapi dengan jas. Kelengkapan pada kepala tersebut meliputi. Untuk menghadiri acara formal. Adakalanya perhiasan tersebut terbuat dari bahan suasa. Biasanya busana macam ini bahannya terbuat dari kain songket. Dalam pandangan masyarakat Riau. Sandal atau kasut merupakan alas kaki yang lazim dipakai oleh kaum wanita dan pria Riau. Di kalangan bangsawan atau keturunan raja-raja Riau. Pada kesempatan yang lebih formal atau ketika menghadiri upacara. tusuk sanggul. Kaum pria biasa menggunakan tutup kepala yang disebut kopiah atau songkok. sepit rambut. antinganting. atau baju pesak sebelah dengan kain sarung atau celana. meliputi juga kelengkapan kepala. Cincin dari emas dan perhiasan lainnya biasa dipakai kaum pria Riau terutama pada saat menghadiri pertemuan formal atau perhelatan. kita kenal juga istilah baju teluk belanga.Busana Tradisional Riau Riau Traditional Dress Penulis : Siti Dloyana Kusumah Bagi masyarakat Melayu Riau. kaum pria dan wanita di Riau biasa mengenakan baju kurung yang disebut baju gunting cina. Pakaian seharihari baik untuk di rumah atau di luar rumah berbeda dengan busana dan kelengkapannya untuk peristiwa khusus seperti upacara atau perjamuan resmi. Hiasan kepala yang dipakai pada upacara perkawinan Riau kepulauan terlihat lebih sederhana dibanding dengan Riau daratan. Berbeda dengan busana kaum pria. kelengkapan busana kaum wanita Riau umumnya lebih semarak. sering pula digunakan kain tudung kepala. akan tetapi kain tudung kepala menutupi hampir seluruh tubuh pemakainya. gelang tangan. kaum wanita di Riau juga memakai perhiasan yang terdiri dari kalung. sedangkan kaum wanitanya menutup kepala dengan sepotong kain yang berupa selendang. Pengaruh kebudayaan barat tampak juga pada busana kaum pria. namun pemakainya terbatas pada kalangan rakyat kebanyakan. Busana ini umumnya dipakai ketika badan sudah bersih dan akan menunaikan shalat atau hendak menerima tamu yang berkunjung kerumahnya. cincin yang terbuat dari emas. Perbedaan busana pengantin Riau daratan dengan Riau kepulauan terletak pada hiasan kepala sebagai mahkota. semakin banyak perhiasan yang dipakai seseorang ia akan semakin disegani dan dikagumi. Bagian kepala ditutupi dengan peci atau songkok. badan dan tangan masing-masing dilengkapi dengan kain selempang. sanggul biasa atau sanggul dua. Selain memakai selendang untuk menutup kepala. Akan tetapi baju teluk belanga ini biasa dilengkapi dengan sebilah keris yang diselipkan di pinggang. Selendang tidak mutlak dipakai. Dalam kehidupan sehari-hari. sapu tangan kecil dan di pinggang melilit sebuah pending. dalam pemakaian maupun kelengkapan yang dipakai. kembang goyang. . Sesungguhnya busana tersebut bentuknya tidak jauh berbeda dengan baju cekak musang. Meski fungsinya sama. Namun jika akan memakai selendang warnanya harus disesuaikan dengan warna baju kurung. kaum wanita Riau umumnya memakai baju kurung satu sut. baju kurung leher tulang belut atau cekak musang dengan celana berikut kain samping dari bahan songket yang digunakan menutupi celana hingga sebatas lutut. satin atau sutera. dan gelang kaki untuk bagian bawah. Adapun busana yang dikenakan kaum pria Riau adalah baju gunting cina. Untuk bagian dada. jurai. penggunaan busana dan kelengkapannya sangat tergantung pada si pemakai. Penggunaan selendang biasanya dipadukan dengan baju kebaya pendek.

Pada perkembangan berikutnya dikenal adanya pakaian adat. Sebagai hiasan terdapat lukisan flora dari daun. hanya bagian hulu yang menyembul dari balik kain. Pada umumnya ketika seorang pria mengenakan baju teluk belanga. dengan julangan yang lebih tinggi pada bagian depannya. orang Riau pun mempunyai ketentuan khusus dalam menggunakan warna. Sedangkan kaum prianya mengenakan celana setengah ruas yang melebar pada bagian betisnya dan umumnya berwarna hitam. Menurut anggapan mereka warna kuning adalah simbol warna kerajaan oleh sebab itu hanya boleh digunakan oleh orang-orang dari kalangan bangsawan atau keturunan raja-raja Riau. bagian kepala dan rambut menggunakan penutup kepala yang disebut tanjak laksmana atau bisa juga bentuk tanjak temenggung dan tanjak menyongsong angin. begitu juga dengan perhiasan. Masyarakat awam atau rakyat kebanyakan tidak diperbolehkan menggunakan warna kuning sebab dianggap tidak beradab. dan sebagainya. Warna kuning pun dipakai untuk busana pengantin. Sebutan ini dimaksudkan untuk membedakan dengan suku Melayu yang berdiam di daerah lain. Lacak ini terbuat dari kain beludru warna merah yang diberi kertas tebal di dalammnya agar menjadikannya keras. Pakaian untuk pria ini dilengkapi dengan kopiah sebagai penutup kepala. Dalam sistem kemasyarakatan Riau. tangkai clan bunga yang akan mekar. Selain dari segi kualitas yang membedakan kedudukan seseorang dalam masyarakat. namun bahan pembuatannya benar-benar berbeda. Meskipun bentuk dan coraknya sama. karena ia mendapat julukan raja sehari. Dalam berbusana sehari-hari pada awalnya hanya dikenal kain dan baju tanpa lengan. Pakaian adat ini lebih mewah daripada pakaian sehari-hari yang dihiasi dengan sulaman benang emas dan pemakaian perhiasan sebagai pelengkapnya. Sumatera Selatan. Tutup kepala ini memiliki dua bagian yang menjulang tinggi. propinsi Jambi. Pakaian Adat Pria Laki-laki suku Melayu Jambi dalam berpakaian adat mengenakan lacak di kepalanya.Aturan pemakaian keris ini adalah tidak nampak menonjol. sehingga lebih leluasa geraknya dalam melakukan kegiatan seharihari. Perbedaannya yakni tambahan mutu manikam atau intan berlian yang dibubuhkan pada perhiasan kaum bangsawan tersebut. Perbedaan bentuk ikat kepala tersebut. Bagian pinggir . pakaian sehari-hari berkembang menjadi baju kurung dan selendang sebagai penutup kepala untuk kaum perempuan. biasanya disesuaikan dengan kedudukan seseorang dalam masyarakat atau bisa juga bentuk acara yang akan dihadiri. Busana Tradisional Melayu Jambi Jambi Malay Traditional Dress Suku Melayu Jambi adalah sebutan bagi orang-orang Melayu yang mendiami daerah sepanjang sungai Batang Hari. seperti Riau. Kain sutera sangat biasa dijumpai dalam pembuatan busana kaum bangsawan. kepangkatan atau garis keturunan menjadi dasar pada perbedaan cara berbusana. Setelah adanya proses akulturasi dengan berbagai kebudayaan.

kembang tagapo. Sudah menjadi kebiasaan di daerah Jambi mengenakan kain sarung songket yang dililitkan di pinggul. Bungo runci ini berwarna putih dirangkai dengan benang. sedang bagian pinggirnya bermotifkan kembang berangkai atau pucuk rebung. Keris diselipkan di perut menyerong ke kanan melambangkan kebesaran sekaligus untuk berjaga-jaga. seperi pohon beringin. bunga matahari. Kalungnya terdiri dari tiga .sebelah kanan diberi lukisan tali runci. sejenis kalung bermakna adanya pembagian kerja clan harus tolong-menolong. Bajunya disebut baju kurung tanggung berlengan panjang. Sedangkan selop atau alas kaki yang berbentuk setengah sepatu berfungsi untuk melindungi kaki saat berjaalan. Hiasan kepala ini masih dilengkapi dengan berbagai macam tumbuhan. Konon. Penempatan pohon beringin lebih tinggi dari bunga-bunga lain di sekeliling pesangkon. bungo runci letaknya dibagi rata untuk mengisi bagian sebelah kiri clan kanan. Bahannya terbuat dari beludru warna merah diberi sulaman benang emas. Penutup bagian bawah disebut cangge (celana). Kelengkapan lainnya adalah keris clan selop. Sementara bunga pandan digunakan sebagai hiasan kepala bagian belakang yang dibuat menjurai ke bawah dan dilekatkan pada sanggul lintang. Kelengkapan busana perempuan lebih banyak dibandingkan dengan yang dikenakan oleh pria. yang diimbangi oleh penempatan bungo runci di sebelah kiri. Lukisan naga ini mengandung makna bila seseorang telah diberi kekuasaan janganlah diganggu. Bentuknya bergerigi menyerupai pucuk rebung atau bambu yang baru tumbuh. kembang cempaka. Disebut tanggung karena panjangnya hanya sedikit di bawah siku tidak sampai ke pergelangan tangan. bunga matahari. Bajunya disebut baju kurung tanggung bersulam benang emas dengan motif hiasan bunga melati. Ada juga yang menyebut duri pandan karena pada bagian depan tutup kepala ini diberi hiasan dari logam berwarna kuning berbentuk duri pandan. Pada perempuan dikenakan anting-anting atau antan dengan motif kupu-kupu atau gelang banjar. Kedua tangan dihiasi gelang kilat bahu terbuat dari logam celupan berlukiskan naga kuning. Bagian tengahnya terdapat motif kembang bertabur atau kembang tagapo dan kembang melati. clan bunga pandan. Untuk memperkuat bagian pinggang ini digunakan pending berupa rantai dengan sabuk sebagai kepala terbuat dari logam. Pakaian Adat Wanita Busana untuk perempuan terdiri dari kain sarung songket clan selendang songket warna merah. Bunga cempaka. Bagian pinggangnya dihiasi dengan selendang tipis warna merah jambu yang pada ujung ujungnya diberi umbai-umbai warna kuning. bungo runci. dapat berupa bunga asli atau tiruannya. dan pucuk rebung. Tutup dadanya disebut teratai dada. Tutup kepalanya disebut pesangkon yang terbuat dari kain beludru merah dengan bagian dalam diberi kertas karton agar keras. karena bentuknya seperti bunga teratai dipasang melingkar leher sehingga menyerupai kerah. ini dimaksudkan untuk menjaga sopan santun clan kehormatan kaum wanita (permaisuri raja). Sebagai hiasan dada dikenakan rantai sembilan. Hal ini mengandung makna seseorang harus tangkas clan cekatan dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan. Bahannya masih dari beludru yang dilengkapi dengan tali sebagai ikat pinggang. Untuk lebih memperindah diberi sulaman emas dengan motif bunga melati pecah. Dalam mengikat tali ini digunakan teknik ikatan kajut untuk memudahkan dalam membuka nantinya. Selain itu juga melambangkan sepucuk Jambi sembilan lurah. Dikenakan pula selempang yang menyilang badan terbuat dari songket warna merah keungu-unguan sebagai pasangan kain sarung dengan motif bunga berangkai clan beranting.

Motifnya digunakan daun pakis dan terawang yang diletakkan memanjang dari ujung ke ujung. Khusus untuk gelang buku beban bahannya berasal dari permata putih. Teknik clan cara pertanian yang dijalankannya masih terhitung sederhana. Penulis : Dewi Indrawati . dan karenanya memerlukan kerja sama atau bergotong-royong. yang disebut baselang atau pelarian. yaitu kalung tapak. baju kurung berlengan tanggung yang letaknya di luar kain. Sementara untuk kaki dikenakan gelang nago betapo dan gelang ular melingkar. Selebihnya polos. Kemudian baju kurung tanggung warna merah agak keungu-unguan dari beludru yang diberi sulaman pada bagian setengah badan ke bawah dengan motif bola-bola kecil berukir. Selendang songket yang dikenakan sebagai penutup kepala diberi sulaman benang emas dan umbai-umbai di ujungnya. Disebut demikian karena bentuknya yang menyerupai naga dalam dongeng sedang tidur clan ular yang melingkar membentuk bulatan. khususnya yang dikenakan para gadis. gelang ukuran sedang dua buah clan ikat pinggang yang berbentuk kotakkotak berangkai satu sama lainnya. dan selop hampir sama dengan yang dikenakan pria. Kesemuanya di pasang di lengan. Pembedaan ini mempengaruhi pada variasi pakaian yang dikenakan. Pada acara besar pakaian dibedakan untuk upacara dan bekerja. di mana sebagian besar kegiatan dilakukan oleh bujang clan gadis. selendang. Dilengkapi dengan selempang warna kuning dari bahan tetoron. selendang warna merah dililitkan di kepala serta membawa perlengkapan lain seperti ani-ani clan kiding (tempat padi). gelang ceper dan gelang buku beban. Kain songketn berwarna merah tua bermotifkan kembang melati pecah dan bagian pinggir bermotifkan daun pakis. Jika acaranya kecil maka pakaian yang dikenakan berfungsi ganda sebagai pakaian upacara maupun bekerja. kecuali bagian leher sebelah depan. Pada jari-jarinya terpasang cincin pacat kenyang dan cincin kijang atau capung. Acaranya sendiri dibedakan menjadi dua. Terlebih saat menuai. pending dan sabuk (ikat pinggang). kecil dan besar.jenis. Jumlah gelang yang dipakai pun lebih banyak meliputi gelang kilat bahu masing-masing lengan dua buah. Sedangkan unsur-unsur kelengkapan yang lain seperti teratai dada (tutup dada). Pakaian Baselang Masyarakat suku Melayu Jambi yang mendiami sepanjang sungai Batang Hari sebagian besar hidup dari bertani. Bedanya bentuk motif yang lebih besar pada teratai dada dan pending. Kelengkapannya terdiri dari sarung warna merah yang dipakai sedikit di bawah lutut (tanggung). Masih ditambah dengan gelang kano. Dalam rangkaian upacara tersebut terdapat hiburan sehingga pakaian yang dikenakan pun lebih bagus. kalung jayo atau kalung bertingkat dan kalung rantai sembilan.

Busana Tradisional Bengkulu Bengkulu Traditional Dress Dimasa kini busana adat Bengkulu yang populer adalah gaya Melayu Bengkulu yang tampak mendapat pengaruh dari gaya-gaya Melayu yang pada dasarnya terdapat dari seluruh Sumatera khususnya Minangkabau. Sehelai kampuh dari satin sutra bersulam emas. Gaya busana ini dikenakan masyarakat untuk menghadiri pesta-pesta adat yang penting. Samping biasanya terbuat dalam teknik songket benang emas atau perak dan disebut sarung segantung. bertabur corak-corak. dan jumbaijumbai kiri dan kanan. Demikian pula untuk celananya terbuat dari bahan dan warna yang sama. lembayung atau hitam. Sebagian pelengkap busana pada kepala dipakai detar dari kain songket emas atau perak. celana panjang. biru tua. Bahan baju kurung umumnya beludru dalam warna-warna merah tua. cokonde balon. bersama-sama dengan antinganting berukir dari emas. Pakaian adat pria Susunan busana adat pria terdiri atas jas. alas kaki yang dilengkapi dengan tutup kepala dan sebuah keris. Sarung dikenakan sebagai samping di bawah jas sampai sedikit di atas lutut. Versi lain dari jas adalah sejenis jas tertutup dari bahan beludru hitam. alas kaki beludru dengan corak-corak keemasan. yang sebenarnya merupakan kepanjangan dari kembang goyang di kepala sedemikian rupa sehingga seolah-olah bergantung disebelah daun telinga. Pada bagian dada tergantung sebentuk lidah penutup. Hiasan di sanggul atau konde biasanya terdiri dari sikek berbentuk bulan sabut. Jambi dan Riau. Perhiasan keemasan disematkan sebagai sunting-sunting pada sanggul di kepala. Jas tersebut dari kain bermutu seperti wol dan sejenisnya dan biasanya berwarna gelap seperti hitam atau biru tua. Sarung songket benang emas atau perak dalam warna serasi dari sutra merupakan perangkat busana yang dikenakan dari pinggang sampai dengan mata kaki. dipadukan dengan tusuk konde. Pakaian adat wanita Kaum wanita Melayu Bengkulu mengenakan baju kurung berlengan panjang. sarung. . sulaman emas berbentuk lempengan�lempengen bulat seperti uang logam. diselempang pada bagian dada kebelakang punggung membentuk huruf V. sebilah keris dan gelang emas di tangan kanan. merah tua atau biru tua yang bertaburkan corak-corak sulaman atau lempeng-lempeng emas. menyentuh bahu. Celana paduannya terbuat dari beludru dengan taburan corak�corak benang emas juga walaupun tidak selalu dalam warna yang sama dengan jas. mirip dasi dengan hiasan-hiasan benang emas.

Pergelangan tangan dan jari jemari dilingkari dengan mandering dan cincin permata. Pemakaian kawai kemija ini sudah biasa untuk menyertai kain dan peci. Kaum wanita Lampung sehari-hari memakai kanduk/kakambut atau kudung sebagai penutup kepala yang .Di dada pada bagian atas kampuh bergantungan gelamor berukir. Alas kaki memakai selop bersulam emas. Dalam keseharian laki-laki Lampung mengikat kepalanya dengan kikat. Penulis : Biranul Anas Busana Tradisional Lampung Lampung Traditional Dress Daerah Lampung dikenal sebagai penghasil kain tapis. Bahannya dari kain batik. yaitu bentuk kemeja seperti pakaian sekolah atau moderen. Baju ini terbuat dari bahan kain tetoron atau belacu dan lebih disukai yang berwarna terang. serta di salah satu sudutnya terdapat sulaman benang emas berupa bunga tanjung dan bunga cengkeh. Bagian bawah mengenakan senjang. menurun sampai daerah pinggang yang dilingkari oleh sebuah pending berangkai yang terbuat dari emas. Kain ini dibuat oleh wanita. yaitu tutup kepala berbentuk segi empat berwarna hitam terbuat dari kain tebal. ketika menghadiri upacara adat sekalipun. seperti perkawinan. yaitu baju berbentuk teluk belanga belah buluh atau jas. apalagi kalau ingin bertemu dengan gadis. Bila dipakai dalam kerapatan adat dipadukan dengan baju teluk belanga dan kain. Untuk mengiring pengantin dikenakan kekat akkin. yaitu kain yang dibuat dari kain Samarinda. yaitu destar dengan bagian tepi dihias bunga-bunga dari benang emas dan bagian tengah berhiaskan siger. Tetapi sekarang telah dikenal adanya celanou (celana) pendek dan panjang sebagai penganti kain. Bugis atau batik Jawa. tapis yang dipenuhi sulaman benang emas dengan motif yang indah merupakan kelengkapan busana adat daerah Lampung. kain tenun bersulam benang emas yang indah. Sebagai penutup badan dikenakan kawai. Tetapi sekarang banyak digunakan kawai kemija. Lelaki muda Lampung lebih menyukai memakai kepiah/ketupung. Pada penyelenggaraan upacara adat. berlapis-lapisan dalam jumlah banyak.

Selikap yang terbuat dari kain yang mahal dipakai saat menghadiri upacara adat dan untuk melakukan ibadah ke masjid. biasanya memiliki bentuk seperti badan ular (kalai ulai). Sebagai kain dikenakan senjang atau cawol. yang dikenal sebagai kain tapis atau kain Lampung. yaitu kalung leher (monte) berangkai kecil-kecil dilengkapi dengan leontin dari batu permata yang ikat dengan emas. perak atau suasa diberi mata dari permata. sedangkan wanitanya menggunakan setagen. pada saat menghadiri upacara perkawinan mengenakan kawai/kebayou (kebaya) beludru warna hitam dengan hiasan rekatan atau sulaman benang emas pada ujung-ujung kebaya dan bagian punggungnya. kain ini dipakai sebagai kain basahan. Kelai pungew. tetapi ada yang disulam hampir di seluruh kain. Mulai dari kepala sampai ke kaki terlihat warna kuning emas. Dikenakan senjang/ cawol yang penuhi hiasan terbuat dari bahan tenun bertatah sulam benang emas. menyanggul rambutnya (belatung buwok). kecuali saat pergi ke ladang. Selain itu. Kemudian rajutan tadi ditusuk dengan bunga kawat yang dapat bergerak-gerak (kembang goyang). yaitu kain selendang yang dipakai untuk penahan panas atau dingin yang dililitkan di leher. di tengahnya bermotifkan siger yang di kelilingi bunga tanjung. Untuk menghadiri upacara adat. Cara menyanggul seperti ini memerlukan rambut tambahan untuk melilit rambut ash dengan bantuan rajutan benang hitam halus. memiliki bentuk seperti baju kurung. Selambok/rattai galah. Lawai kurung digunakan sebagai penutup badan. Untuk memperindah dirinya dipergunakan berbagai asesoris terbuat dari emas. Bahannya dari kain halus tipis atau sutera. Para ibu muda dan pengantin baru dalam menghadiri upacara adat mengenakan kain tapis bermotif dasar bergaris dari bahan katun bersulam benang emas dan kepingan kaca. Busana Tradisional Palembang Palembang Traditional Dress Penulis Sri Murni Biranul Anas . Sulaman benang emas ada yang dibuat berselang-seling. Kalai kukut ini dipakai sebagai perlengkapan pakaian masyarakat yang hidup di desa. baik yang gadis maupun yang sudah kawin. yaitu selendang sutra bersulam benang emas dengan motif tumpal dan bunga tanjung. Dikenakan pula kalai kukut. yaitu selendang sutra disulam dengan emas dengan motif pucuk rebung. Khusus bagi wanita yang baru menikah. Pada jari tengah atau manis diberi cincin (alali) dari emas. Pakaian mewah dipenuhi dengan warna kuning keemasan dapat dijumpai pada busana yang dikenakan pengantin daerah Lampung. seperti perkawinan kaum wanita.dililitkan. Untuk mempererat ikatan kain (senjang) dan celana di pinggang laki-laki digunakan bebet (ikat pinggang). Baju ini terbuat dari bahan tipis atau sutra dan pada tepi muka serta lengan biasa dihiasi rajutan renda halus. Perlengkapan lain yang dikenakan oleh laki-laki Lampung adalah selikap. kaum ibu kadangkadang menggunakannya sebagai kain pengendong anak kecil. yaitu gelang kaki yang biasanya berbentuk badan ular melingkar serta dapat dirangkaikan. juga dapat dikenakan selekap balak. Selain itu. yaitu gelang yang dipakai di lengan kanan atau kiri. Di bahunya tersampir tuguk jung sarat. Pada waktu mandi di sungai. bunga cengkeh dan hiasan berupa ayam jantan.

dan diberi angkinan dari kain batik yang didatangkan dari Gresik. perak. Mulai dari bagian bawah lutut sampai ke arah mata kaki disulam (diangkeen) dengan benang emas. Jenis celana ini tidak disulam dengan benang emas. Kain ini dibuat dengan cara ditenun. Tutup kepala juga dibuat sendiri dengan cara ditenun. Jenis tutup kepala yang biasa dikenakan adalah kopiah (kopca). Pakaian untuk di rumah tidak dilengkapi dengan alas kaki. Kain (sewet) biasanya ditenun sendiri atau dibeli dari pulau Jawa. tergantung pada taraf ekonomi pemakainya. Demikian juga baju (kelambi) biasa ditenun sendiri. Kemudian pada bagian bawah selebar lebih kurang 10 atau 12 cm. Saat ini sudah jarang orang yang memakai tanjak. atau dapat juga dicap dengan cairan emas perada (diperadan). Jenis celana yang lain disebut dengan celano lok cuan (celana pangsi. Keris ini diselipkan pada lambung sebelah kiri. sebagai gantinya dikenakan kopiah sebagai penutup kepala. dan memakai kantong terawangan. yang dianggap jenis yang paling istimewa karena memiliki khasiat ampuh. disulam. Pakaian kebesaran untuk lakilaki dilengkapi dengan tanjak (tutup kepala) yang terbuat dari kain batik atau kain tenunan. Hanya seorang raja yang boleh memakai keris dengan gagangnya menghadap keluar. Pakaian bagian bawah berupa celana panjang yang dinamakan celano belabas. Busana ini juga dilengkapi dengan alas kaki jenis terompah. atau perak dengan tatahan bermotif bunga. tanjak meler dan tanjak bela mumbang. Indramayu. atau Eropa. Tutup dada biasanya diberi hiasan permata. dan ukuran celananya lebih lebar. badeek. Tanjak dibedakan atas tanjak kepudang. serta diberi tumpal benang emas. diberi pinggiran benang emas. Laki-laki Palembang gemar memakai baju jenis bela booloo. celana yang panjangnya sebatas lutut). Badong ini terbuat dari campuran berbagai bahan logam. Selanjutnya busana ini dilengkapi dengan sejenis senjata tajam. tumbak lado. baik waktu bepergian maupun ketika sedang di rumah. iket-iket atau kopiah (kopca). Busana ini dilengkapi dengan ikat pinggang yang disebut badong. Setelah celana panjang dikenakan selembar kain yang disebut sewet bumpak. maupun diperadan. Baju ini dibuat dari kain yang ditenun dan disulam dengan benang emas maupun benang biasa yang berwarna. Ada pula yang disulam dari bagian pinggul sampai ke mata kaki dengan motif lajur. atau Betawi. yang dibedakan atas tiga jenis yaitu: memakai kancing (bemben). Ada juga yang memakai seluar (celana) panjang atau celana model pangsi (lok cuan). Semuanya terbuat dari kain songket (kain tenunan tradisional) Palembang. seperti kayu meranti payo atau ngerawan. Sarung keris (pendok) terbuat dari emas. baju (kelambi).Busana ini sebenarnya berasal dari masa-masa kesultanan Palembang sekitar abad ke 16 sampai pertengahan abad ke 19. Lasem. dan memakai alas kaki yang disebut gamparan atau terompah. Pada bagian dalam dikenakan penutup dada yang disebut kutang. suasa. yang terbuat dari kain yang ditenun. Pakaian sehari-hari Pakaian orang laki-laki (wong lanang) terdiri dari kain (sewet). terbuat dari suasa. India. atau tembaga yang dilapisi emas. atau jembio. karena mereka menganggap tutup kepala lebih penting dari baju. Badong yang terkenal disebut badong jadam. Untuk alas kaki yang berbentuk gamparan terbuat dari potongan kayu yang bermutu. Pelengkap busana yang lain adalah keris. memakai kantong biasa. Ada juga yang diberi batu permata. dan dikenakan oleh golongan keturunan raja-raja yang disebut Priyai. seperti keris. atau membeli bahan baju dari Jawa. Cina. Pada bagian luarnya ditatah dengan abjad atau angka-angka Arab. . ditaburi dengan bunga-bunga kecil dari benang emas. Pada umumnya mereka mengenakan tutup kepala. tutup kepala dengan jenisnya disebut tanjak. yang diyakini dapat membawa berkah dan keselamatan bagi pemakainya. terbuat dari kain yang ditenun. orang laki-laki umumnya mengenakan kain (sewet sempol) dan baju beta booloo. atau bisa juga mengenakan kebaya landoong atau kelemkari yaitu kebaya panjang hingga di bawah lutut. Sebagai pakaian sehari-hari. Baju yang dikenakan disebut kebaya pendek. rambi ayam. dan sarungnya tidak kelihatan karena ditutupi kain atau celana.

dada. dan untuk orang muda mengenakan cenela atau selop tungkak tinggi (sandal bertumit tinggi). pakaian yang lazim dikenakan terdiri atas kain sarung (sewet saroong) batik yang halus. yang disebut geloongan coompook atau geloongan temakoo setebek. yang halus dari jenis tajung Bugis atau gebeng Palembang. mereka selalu mengenakan pakaian yang terbaik dan rapi. Selendang tersebut biasanya diberi rumbai-rumbai (rumbe rumbe). Kemudian rambut ditata dengan sanggul. Pakaian ini dilengkapi dengan ikat pinggang (cak pinggang) terbuat dari kulit. Untuk ikat pinggang dikenakan sejenis pending yang disebut badong atau angkin. dan dahi. Sebagai alas kaki adalah terompah atau sepatu tanpa tali. gelang (jenis gelang yang terkenal disebut gelang kepalak ulo). Busana Tradisional Priangan dan Cirebon Priangan and Cirebon Traditional Dress . bahu. Tetapi saat ini jenis ikat pinggang tersebut sudah jarang dikenakan. dan Singapura. berasal dari Jawa). Saat ini orang Palembang sudah dapat membuat sendiri busana mereka dengan bahan-bahan yang diperoleh dari alam sekitarnya. sebagai penggantinya dipakai setagen (kain kecil yang sangat panjang yang dikenakan melilit perut. Bagi orang kaya tidak ketinggalan jam kantong dengan medalion. sedangkan perempuan muda memakai baju kebaya. Baju yang dikenakan disebut baju kooroong (kurung) terbuat dari kain belacu. Baju kurung ini lazim dikenakan oleh perempuan yang sudah tua. sehingga yang nampak hanya mata dan hidung pemakainya. Sedangkan sebagai alas kaki dikenakan terompah dengan sulaman klingkan bagi perempuan yang sudah tua. rambut disanggul. Untuk menghadiri suatu upacara adat yang disebut penganten mungga. menandakan kekayaan keluarga yang bersangkutan. Pada saat menghadiri suatu upacara adat. Busana ini dilengkapi dengan sehelai selendang besar yang dipakai dengan rapi menutupi kepala sampai bahu. dan tutup kepala (tengkoolook). Semakin halus songket yang dimilikinya. Pada masa lalu. Dari mutu kain songket tersebut dapat terlihat kekayaan atau kemampuan keluarga yang memilikinya. Baju yang dikenakan berupa jas tutup terbuat dari bahan linen. yang disebut koodoong (kerudung) kajang atau koodoong trendak. semua bahan pembuatan busana tersebut didatangkan dari Jawa. Mereka juga mengenakan selendang (kemben). Sebagai kelengkapan busana serba songket ini sama dengan perhiasan yang lazim dikenakan untuk menghadiri upacara-upacara adat lainnya. Wanita yang sudah menikah atau yang sudah tua lazim memakai selendang sebagai tutup kepala. Busana untuk bepergian tersebut juga lazim dikenakan kaum laki-laki pada kegiatan-kegiatan perayaan. Busana untuk perempuan (wong betino) terdiri dari kain (sewet saroong).Pada saat akan bepergian. Songket ini merupakan pemberian suami ketika mereka menikah sebagai salah satu mas kawin. serta dicampur dengan bunga-bunga yang harum). rangkaian peniti terbuat dari emas atau perak. dan terompah atau selop. Mereka biasa mengenakan kain pelekat. dan mengalami perubahan fungsi sebagai tudung saji atau tutup makanan. baju kurung yang panjangnya sampai lutut atau kebaya yang tepinya diberi renda hingga menutup dada (untuk remaja putri). atau las. Sebagai pakaian sehari-hari. yang dikenakan pada kepala. serta gelang kaki (yang terkenal adalah gelang sekel kepalak nago). Sebagai perhiasan pelengkap busana ini adalah kalung emas dengan liontin permata berlian atau intan. kamhar. kaum perempuan lazim mengenakan kain (tenunan tradisional Palembang atau kain batik dari Jawa). baju kurung (kooroong) dengan panjang sebatas lutut. Cina. Busana ini hanya boleh dikenakan oleh perempuan yang sudah bersuami. busana yang dikenakan kaum wanita adalah serba songket. Rambut disisir dengan rapi dan diberi minyak lengo (minyak kelapa yang dicampur dengan daun pandan yang diiris halus. India. umumnya batik Betawi atau yang dinamakan sewet mascot. Namun sejak tahun 1942 koodoong kajang sudah tidak pernah dipakai lagi.

Dari masa ke masa. Cara mengenakan sarung ini sangat bervariasi sesuai dengan kebutuhan. Sebagai penyambung belahan kebaya. baik di kalangan rakyat biasa maupun di kalangan bangsawan. sedangkan kaum bangsawan menggunakan kain batik halus. Celana panjang model komprang digunakan oleh laki-laki di Priangan dan Cirebon. Umumnya yang digunakan mereka adalah kain-kain batik buatan setempat seperti batik garutan. Model ini sesungguhnya adalah bentuk dasar celana kaum bangsawan yang dihias dengan pasmen memanjang dari atas ke bawah pada bagian tengah samping sekeliling lubang celana. Bentuk pakaian/busana tersebut merupakan perpaduan antara tradisi Sunda. dari rakyat biasa sampai kalangan bangsawan Priangan maupun Cirebon. pernah dikeluarkan peraturan tentang bentuk dan cara berpakaian bagi para bangsawan dan pejabat pemerintah pria saat itu. masyarakat Jawa Barat khususnya di Priangan dan Cirebon terus mengembangkan model busana sesuai dengan perkembangan zaman dan berbagai ketentuan pemerintah yang turut pula mengatur tata cara berbusana masyarakat Jawa Barat. baik di Priangan maupun di Cirebon. Sama halnya dengan kebaya. Berkain kebaya pada dasarnya digunakan oleh kaum perempuan disemua lapisan. bahan kebaya yang digunakan berbeda dari rakyat biasa. kain batik pun digunakan pula oleh semua lapisan masyarakat. Khusus para bangsawan Cirebon menggunakan kain wulung. Pada bagian kebaya dari leher sampai ujung bawah kebaya surawe terdapat hiasan dari pasmen. dan dihiasi dengan pasmen. Laki-laki di Priangan dan Cirebon pada umumnya mengenakan sarung (poleng. digunakan peniti. Busana jajaka adalah baju takwa dan celana warna hitam dilengkapi dengan kain dodot dan tutup kepala bendo terbuat dari kain batik halus bermotif sama dengan kain dodot. Zaman dahulu. Yang membedakan keduanya adalah. Aturan tersebut berupa keseragaman pakaian pada saat-saat tertentu. demikian pula pada sekeliling lengan dan pada seputar bawah kebaya. Adakalanya peniti itu terbuat dari logam mulia yang disambung-sambungkan dengan rantai kecil disebut panitih rantay. Biasanya mereka menggunakan bahan yang berkualitas tinggi seperti sutera atau beludru serta corak hias yang lebih anggun. . Untuk memperkuat dililitkan beulitan atau sabuk pada pinggang pemakai. warna hitam atau putih. ciamisan bagi masyarakat Priangan dan batik dermayon atau trusmi untuk orang Cirebon Penggunaan kain batik yakni dililitkan pada bagian bawah badan. Pada masa pemerintahan Belanda. Namun demikian kalangan bangsawan tidak pernah menggunakan sarung pada kesempatan resmi. mereka lebih suka memakai kain batik halus. Meskipun bentuk dasarnya sama namun terdapat variasi terutama dalam hiasan yang disesuaikan dengan keinginan/kebutuhan pemakainya. baik rakyat biasa maupun kalangan Keraton mengenakan baju sorong atau baju kurung. Jawa dan Eropa terutama Belanda. Oleh karena itulah pada busana pejabat atau bangsawan terdapat hiasan dari pasmen yang disesuaikan dengan tinggi rendahnya jabatan. Bentuk kampret tersebut juga menjadi bentuk dasar dari model busana para pejabat dan kalangan bangsawan. Untuk kesempatan resmi busana resmi wanita priangan dilengkapi dengan sehelai selendang berwarna sama dengan kebaya dan alas kakinya berupa sandal selop. Yang membedakannya hanyalah bahan dasar iket tersebut. Adapun masyarakat Cirebon. Di kalangan istri pembesar. polekat). Di kalangan rakyat biasa baju yang dikenakan adalah potongan kampret. diikatkan pada pinggang atau dililitkan. Cara memakai kain batik tersebut ada beberapa bentuk. perempuan di Priangan dan Cirebon tidak mengenal lamban atau lepe (melipat bagian pinggir kain) namun kebiasaan tersebut baru dikenal sekitar dekade ketiga atau keempat abad 20 ini. dari pinggang hingga ke pergelangan kaki. pada busana pejabat terdapat lidah-lidah pada bagian leher yang berkancing kait atau kancing pentul. Di kalangan rakyat kebanyakan terbuat dari batik kasar. Kaum laki-laki di Priangan dan Cirebon mengenakan iket sebagai penutup kepala. sebatas lutut dan sedikit di atas lutut. Iket tersebut kemudian berkembang menjadi bendo yakni tutup kepala yang terbuat dari kain batik yang dicetak menurut ukuran kepala tertentu. dilepas sampai pergelangan kaki. Adakalanya dikerudungkan.

Dengan demikian. Untuk alas kaki. namun kini sandal.Bendo di Priangan dan Cirebon berbeda terutama pada bagian depan. untuk tampil cantik cukup memakai busana sederhana dengan perhiasan gelang emas /perak. selop atau kelom sudah menjadi bagian dari berbusana. mereka baru memakai perhiasan dalam batas-batas tertentu. Di bagian belakang bendo Priangan terdapat ikatan simpul ujung-ujung kain. Kaum perempuan di kalangan rakyat kebanyakan. Bendo biasa digunakan oleh kalangan bangsawan atau pejabat pemerintahan. sebaliknya cara berbusana kalangan atas/bangsawan lebih banyak memperhatikan fungsi estetisnya. Jika perhiasan kaum perempuan agak kompleks dan beragam. Sebagai alas kaki bisa memakai selop atau sepatu. tidak demikian halnya dengan kaum laki-laki. Adapun perempuan di kalangan bangsawan Priangan dan Cirebon melengkapi busananya dengan seperangkat perhiasan yang terdiri dari kalung emas. Kelengkapan Busana Priangan dan Cirebon Pada kalangan rakyat kebanyakan mengenakan busana biasanya lebih ditekankan kepada fungsi praktisnya. gelang emas dan giwang emas. suweng pelenis baik yang terbuat dari emas atau perak. berpengaruh kuat pada penggunaan kelengkapan busananya seperti perhiasan dan alas kaki. gelang bahar. ali meneng. hiasan jas di bagian dada terdiri dari rantai emas/perak dengan liontin dari kuku harimau. Meskipun catatan sejarah mengatakan bahwa zaman dahulu mereka tidak menggunakan alas kaki. mereka memakai selop yang pada bagian ujung atasnya dihiasi dengan manik-manik. Seringkali pula perhiasan tersebut terdiri bukan hanya dari emas tetapi ditaburi dengan kilauan intan berlian. Dalam berbagai kesempatan khusus. Penulis : Siti Dloyana Kusumah Busana Tradisional Baduy Baduy Traditional Dress Penulis : Jaya Purnawijaya . Perhiasan tersebut umumnya berupa cincin emas. sedangkan rakyat kebanyakan tetap memakai iket. Bagian depan bendo Cirebon terdapat garis selebar 4 cm yang makin ke dalam makin kecil.

ada yang beranggapan bahwa busana suku Baduy saat ini merupakan bentuk busana yang digunakan oleh masyarakat Jawa Barat pada masa silam. Tak ada listrik. Selain baju dan kain sarung yang dililitkan tadi. kecamatan Leuwidamar. untuk laki-laki memakai baju lengan panjang yang disebut jamang sangsang. Baduy Dalam. yaitu Baduy Luar. kosmetik. model dan warnanya saja. disebut Panamping yang tinggal di 36 kampung luar dan Baduy Dalam. Ikat kepala ini berfungsi sebagai penutup rambut mereka yang panjang. karena cara memakainya hanya disangsangkan atau dilekatkan di badan. Bagian bawahnya memakai kain serupa sarung warna biru kehitaman. tidak pakai kancing dan tidak memakai kantong baju. tingkat umur maupun fungsinya. Semuanya itu tabu (pamali). seluruh penduduknya adalah suku Baduy dan tidak bercampur dengan penduduk luar. Cara berpakaian suku Baduy Panamping memamg ada sedikit kelonggaran bila dibandingkan dengan Baduy Dalam. Suku Baduy terdiri dari dua kelompok masyarakat. Letak perkampungan biasanya berada di celah-celah bukit dan lembah yang ditumbuhi pepohonan besar. Penduduknya menjaga. dengan ciri sub dialek Banten. radio dan televisi. piring. yang memiliki keyakinan.Ciri khas suku Baduy yang tinggal di pegunungan Kendeng. Warna busana mereka umunnya adalah serba putih. Ciri bahasa yang digunakan suku Baduy adalah tidak memiliki tinggi-rendah bahasa dengan aksen tinggi dalam lagu kalimat. Peraturan adat sangat menentukan dalam sikap hidup suku Baduy. desa Kanekes. Potongannya tidak memakai kerah. tangtu Cikertawana dan tangtu Cikeusik. yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Perbedaan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar seperti itu dapat dilihat dari cara busananya berdasarkan status sosial. Ini berbeda dengan Baduy Luar yang sudah mulai mengenal kebudayaan luar. Sedangkan potongan bajunya mengunakan kantong. Barangbarang "modern" seperti sabun. seperti baju yang biasa dipakai khalayak ramai. yang hanya dililitkan pada bagian pinggang. Dalam pandangan suku Baduy. Bagi suku Baduy Luar. Mereka bertutur dalam bahasa Sunda Buhun atau Sunda Kuno. kancing dan bahan dasarnya tidak diharuskan dari benang kapas murni. Bahan dasarnya pun harus terbuat dari benang kapas asli yang ditenun. Baduy Dalam merupakan paroh masyarakat yang masih tetap mempertahankan dengan kuat nilai-nilai?? ?budaya? ?? warisan leluhurnya dan tidak terpengaruh oleh kebudayaan luar. mengelompok menurut asal keturunan (tangtu) mereka. cita-cita. tingkah laku. Banten Selatan adalah masih kokohnya tradisi yang diwariskan oleh karuhun mereka. perbedaan itu hanya terletak pada bahan dasar. Kehidupan sehari-harinya bersahaja. melindungi pohon dan hutan di sekitarnya dengan baik. Baduy Dalam. menunjukan bahwa kehidupan mereka sudah terpengaruh oleh budaya luar. baik untuk keseimbangan hidup antar sesama maupun kelestarian kehidupan alamnya. Jarak antara satu kampung dengan kampung lainnya berjauhan. gelas dan peralatan pabrik dilarang dipakai. sarung tadi diikat dengan selembar kain. model maupun corak busana Baduy Luar. Lebak. busana yang mereka pakai adalah baju kampret berwarna hitam. Agar kuat dan tidak melorot. Salah satu tradisi yang masih bertahan adalah menenun dan cara berbusana. Melihat warna. Wilayah desa Kanekes merupakan tanah adat suku Baduy. Kemudian dipadukan dengan selendang atau hasduk yang melingkar di lehernya. Pembuatannya hanya menggunakan tangan dan tidak boleh dijahit dengan mesin. karena pakaian tersebut dianggap barang tabu. mereka berasal dari satu keturunan. termasuk busana yang dikenakannya pun adalah sama. Pakaian Baduy Dalam yang bercorak serba putih polos itu dapat mengandung makna bahwa kehidupan mereka masih suci dan belum terpengaruh budaya luar. Mereka tidak memakai celana. yaitu tangtu Cibeo. kelengkapan busana pada bagian kepala menggunakan ikat kepala berwarna putih pula. Perbedaan busana hanya didasarkan pada jenis kelamin dan tingkat kepatuhan pada adat saja. Desain baju sangsang hanya dilobangi/dicoak pada bagian leher sampai bagian dada saja. Kalaupun ada perbedaan dalam berbusana. Desain bajunya terbelah dua sampai ke bawah. Ikat kepalanya juga berwarna biru tua dengan corak batik. Oleh karena itu. disebut Kajeroan yang tinggal di tiga kampung utama. .

ada kerajinan yang dilakukan oleh kalangan pria di antaranya adalah membuat golok dan tas koja. Mereka percaya bahwa semuanya itu merupakan warisan yang dituturkan oleh karuhun atau nenek moyang mereka untuk dijaga. baik Kajeroan maupun Panamping tidak menampakkan perbedaan yang mencolok. Pakaian ini biasanya masih dilengkapi pula dengan tas kain atau tas koja yang dicangklek (disandang) di pundaknya. karembong. Selain itu. biru tua dan putih.20 cm dan dililit dengan . biru. biasanya menggunakan tutup kepala yang disebut alpia atau alpie. Model. Warna baju untuk Baduy Dalam adalah putih dan bahan dasarnya dibuat dari benang kapas yang ditenun sendiri. Penggunaan warna pakaian untuk keperluan busana hanya menggunakan warna hitam. Untuk pakain bepergian. Jenis busana yang dikerjakan antara lain. kain ikat pinggang dan selendang. yaitu dasar hitam dengan garis-garis putih. yang dipadukan dengan warna merah. biasanya wanita Baduy memakai kebaya. pakaian bagi suku Baduy bukanlah sekedar untuk melindungi tubuh saja. Mereka mengenakan busana semacam sarung warna biru kehitam-hitaman dari tumit sampai dada. Busana Tradisional Betawi Betawi Traditional Dress Pengantin laki-laki dengan dandanan cara haji. Bagi Baduy Dalam maupun Luar kalau bepergian selalu membawa senjata berupa golok yang diselipkan di balik pinggangnya. melainkan lebih bersifat sebagai identitas budaya yang melekatnya. Kain sarung atau kain wanita hampir sama coraknya. Dimulai dari menanam biji kapas.Kelengkapan busana bagi kalangan kali-laki Baduy adalah amat penting. Rasanya busana laki-laki belum lengkap apabila tidak memakai senjata. yang terbuat dari kulit pohon teureup ataupun benang yang dicelup. Bagi wanita yang sudah menikah. potongan dan cara berbusananya saja. Untuk memenuhi kebutuhan pakaiannya. ditenun sampai dicelup menurut motifnya khasnya. Sedangkan. masyarakat suku Baduy menenun sendiri dan dilakukan oleh kaum wanita. sedangkan bagi para gadis buah dadanya harus tertutup. kain wanita. Busana seperti ini biasanya dikenakan untuk pakaian sehari-hari di rumah. Memang. kemuduan dipanen. sedangkan selendang berwana putih. kecuali baju adalah sama. selendang dan ikat kepala. Topi pengantin laki-laki yang berasal dari tanah suci Mekah ini tingginya 15 . potongan dan warna pakaian. kain sarung. Bertenun biasanya dilakukan oleh wanita pada saat setelah panen. kain tenunan sarung berwarna biru kehitamhitaman. dipintal. Semua hasil tenunan tersebut umumnya tidak dijual tetapi dipakai sendiri. secara sepintas orang akan tahu bahwa itu adalah suku Baduy. biasanya membiarkan dadanya terbuka secara bebas. busana yang dipakai di kalangan wanita Baduy. Dari model. baju.

Bagian jubah ini. Saat ini banyak digunakan mote pasir dengan gumpalan benang wol merah di ujungnya. serta gemerlapan hiasan tuaki dan kun ini melambangkan suka cita dan keceriaan kedua pengantin dan seluruh kelua-rganya. Letak sanggul di tengah-tengah agak ke atas memperlihatkan tengkuk pengantin. Gamis lebih panjang sekitar 10 cm dari jubah. namun saat ini umumnya menggunakan mute. yaitu perhiasan penutup dada dan bahu adalah salah satu ciri yang sangat khas. merupakan pertanda apakah pengantin wanita mampu menjadi ibu rumah tangga yang mampu memelihara kebersihan fisik dan rohani dalam kehidupan berumah tangga atau tidak. masih ada pula pengantin yang mengenakan selop atau terompah. Model baju yang sangat sederhana pada busana adat pengantin wanita Betawi ini. kubah mesjid dan lain sebagainya. Tuaki bentuk baju kurung. Sebagai alas kaki. Panjang cadarnya 30 cm. Warna yang terbuat dari bahan polos ini pun disesuaikan dengan warna tuaki. Terkadang di bagian atas disematkan sepasang kembang goyang. biasanya dihiasi dengan emas dan manik-manik bermotif burung hong. dan model baju kurung (Melayu). warna putih. Ron je atau untaian bunga melati yang ujung bawahnya ditutup bunga cempaka dan ujung atasnya diberi sekuntum mawar merah. Hiasan kepala yang digunakan cukup kompleks. yaitu model shianghai (Cina). Aslinya adalah emas. Busana yang dikenakan berupa jubah terbuka. diletakkan sigar atau mahkota dengan motif bungabungaan yang dipenuhi permata. yang kemudian dipadatkan dengan tusuk konde. sehingga membentuk 3 (tiga) tingkat lingkaran. Teratai ini berjumlah 8 (delapan) lembar kecil. Caranya adalah dengan melilitkan secara berputar. tampil begitu meriah dengan perlengkapan yang serba unik. mote atau manik-manik yang diletakan di ujung lengan. Hiasan rambut lainnya adalah tusuk paku atau kembang paku berjumlah . Dipakai di belakang sanggul sebagai penutup ikatan siangko bercadar. biasanya seorang pengantin laki-laki memakai gamis (baju dalam) polos berwarna muda yang panjangnya kira-kira sampai mata kaki -dan tidak boleh melebihnya. bunga-bungaan. Ketiga tingkat lingkaran ini melambangkan siklus kehidupan yang dimulai dari kelahiran. Panjang lengan agak longgar. biasanya digunakan sepatu kulit dengan kaos kaki yang merupakan pengaruh Belanda sejak abad ke 19. Kun juga di beri hiasan benang tebar dengan kombinasi sesuai tatahan motif pada tuaki. kehidupan dan kematian. Biasanya kumis dan cabang juga dirapihkan agar tampak bersih.sorban kain. gading atau kadang-kadang kuning. Ciri khas model shianghai adalah krahnya yang tertutup. Bersih atau tidaknya tengkuk yang tampak. terbuat dari manik-manik. yang kemudian dirangkai menjadi susunan delapan daun teratai yang simetris. Keterpaduan berbagai unsur budaya muncul dalam kekayaan busana pengantin wanita Betawi yang terkesan meriah. Biasanya dihiasi batu-batu permata. Biasanya diberi pemanis dengan tambahan kain pada pinggiran bawah tuaki yang dirimpel keliling. Hiasan ini terbuat dari bahan beludru bertatahkan hiasan logam pada permukaannya dengan motif bunga tanjung. yang agak longgar dan besar. tidak ada yang khusus. Teratai. baik dari bahan satin ataupun beludru. Rambut disanggul dengan model buatun atau konde cepol tanpa sasakan. yaitu rok melebar ke bawah dengan panjang sampai ke mata kaki. bahkan ada yang bertahtakan intan berlian. Namun. Siangko bercadar yang berfungsi menutupi wajah pengantin wanita merupakan lambang kesuciannya. atau bahan perak. Warna-warna cerah yang dipilih. karena aslinya terbuat dari emas. bunga-bunga sampai motif burung hong. Sebuah selempang berhiaskan mute sebagai tanda kebesaran pun dikenakan boleh di dalam maupun di luar jubah. Sebelum mengenakan jubah. Motif-motif hiasan emas. Siangko bercadar selalu berwarna emas. Keunikan lainnya terdapat pada tata rias di bagian kepala. panjangnya sebatas pinggul. Syarat utama dari tuaki ini adalah bahannya yang polos. Dari ragam hias geometris. daerah sekitar dada. Padanan tuaki adalah kun. bagian bawah baju sangat bervariasi. Model yang mengikuti bentuk badan sipemakai. diletakkan sebanyak 3 (tiga) untai di pinggir kiri alpia. Di atas Siangko bercadar ini. Salah satunya yang unik adalah siangko bercadar yang melambangkan kesucian seorang gadis. Lengan panjangnya diberi benang karet pada pergelangan. siangko lainnya jumlah 3 (tiga) buah. Tuaki. adalah baju bagian atas (blus) yang dikenal memiliki 2 (dua) model. Hanya sedikit bedak yang ditaburkan di wajah agar terkesan rapi. Selain yang bercadar. Mengenai tata rias wajah. modelnya seperti baju kurung Melayu umumnya. yang disimbolkan dengan tidak boleh dilihatnya wajah mempelai putri oleh orang lain.

yang juga dilengkapi dengan mahkota dan kacamata. pengantin laki-laki mengenakan stelan jas lengkap dengan kopiah hitam dan kacamata hitam. Kembang goyang yang berjumlah 20 buah. dengan busana wanita Betawi sehari-hari. bagi mempelai pria terdiri dari jas tutup. Busana pengantin rias bakal. yaitu sebuah kerudung dari kain halus dan tipis. Gelang listring dan gelang selendang mayang. sejahtera dan bahagia. maka kembang kelapa merupakan simbol pengharapan agar perkawinan yang dilakukan tetap kokoh. dengan ujung melengkung ke atas dan dihias dengan tatahan emas dan manikmanik. Sementara pengantin wanita memakai slayer dan sarung tangan putih. Dari hiasan kepala pengantin wanita yang telah dikemukakan. Apabila kembang goyang melambangkan pengakuan terhadap 20 sifat kebesaran Allah. Seperti misalnya di daerah pinggiran. Aslinya seluruh perhiasan yang dikenakan oleh pengantin wanita Betawi terbuat dari emas dan dihiasi intan permata. Keunikan juga tampak pada alas kaki yang digunakan. Hiasan burung hong atau dikenal dengan sebutan kembang besar atau kembang gede adalah hiasan lain yang tidak boleh ketinggalan. burung hong sendiri dianggap sebagai simbol burung surga yang melambangkan kebahagiaan kedua pengantin. Jumlahnya yang empat buah melambangkan 4 (empat) sahabat Rasullullah. Sebelum rerurub atau ruruban. Variasi pakaian pengantin Betawi ini dapat ditemui di beberapa daerah. Tanda bulan sabit berwarna merah ini merupakan perlambang bahwa di gadis telah menjadi pengantin. Mempelai putri menggunakan baju kurung tabur. Selain sunting. Tusuk konde berupa pasak berbentuk huruf leam (huruf Arab) merupakan simbol pengakuan akan keesaan Allah ditusukkan di atas siangko kecil penutup simpul tali cadar. yang berkaitan dengan kecocokan antara pihak keluarga kedua pengantin. biasanya telinga pengantin dihias dengan sepasang kerabu. Apabila sunting ini dipakai oleh seorang pengantin yang tidak perawan atau tidak gadis lagi. sedangkan hiasannya lebih banyak menggunakan mute. sarung songket. ditutupkan ke seluruh riasan wajah pengantin wanita. bros dan untaian melati. kuat seperti pohon kelapa. Selain perhiasan untuk kepala. Perlengkapan busana ini adalah kuku macan.10 buah atau lebih yang dimaksudkan sebagai penolak bala. sehingga akan menjadi perkawinan yang langgeng. Mempelai wanita mengenakan selop berbentuk perahu kolek. pengantin wanita juga mengenakan perhiasan berupa kalung tebar yang dipakai melingkar leher di atas teratai Betawi. ikat pinggang dan iiskoi motif lokcan. Tusuk bunga atau kembang tancep berjumlah 5 buah yang melambangkan rukun Silam. serta cincin emas yang berhiaskan permata menjadi hiasan lengan. maka si pemakai akan pusing-pusing dan bahkan pingsan. Nabi Besar Muhammad SAW. Penulis Endang Mariani . di beberapa daerah di atas dahi pengantin diberi tanda berbentuk bulan sabit. celana panjang. sebagai pelengkap yang menunjang keserasian. Sementara itu. juga dikarenakan sebagai hiasan rambut bersama dengan 2-4 buah kembang kelapa yang dipasang di kiri dan kanan sanggul. atau mute. pergelangan tangan dan jari pengantin wanita. kewajiban yang harus dijalankan oleh pengantin sebagai seorang Muslim. satu bentuk perhiasan yang dipercaya memiliki kekuatan magis adalah sunting atau sumping telinga. Kerabu ini merupakan perpaduan anting dan giwang yang dijadikan satu. Sementara ruruban merupakan tanda kesuciannya. umumnya hanya merupakan sepuhan warna emas. Letak burung hong ini juga memiliki arti tersendiri. Namun saat ini. yang wajib diturunkan dan diajarkan pada anak keturunannya kelak. Sementara hiasan kepalanya tidak serumit dandanan rias besar putri. Busana ini biasanya dikenakan setelah akad nikah. Adapun pakaian yang kini dikenal dengan busana "Abang dan None Jakarta" merupakan kombinasi dari busana pengantin rias bakal untuk pria. selendang dan celemek. gelang bahar. pisau raut.

hijau. khususnya di lingkungan budaya Yogyakarta dan Surakarta. lurik atau bahan-bahan sintetis. dan dilengkapi dengan perhiasan yang dipakai seperti subang. Pada busana upacara seperti yang dipakai oleh seorang garwo dalem misalnya. kalung dan gelang serta kipas biasanya tidak ketinggalan. biru dan sebagainya maupun bahan katun yang berbunga atau bersulam. Kebaya pendek dapat dibuat dari berbagai jenis bahan katun. Baju kebaya di sini adalah berupa blus berlengan panjang yang dipakai di luar kain panjang bercorak atau sarung yang menutupi bagian bawah dari badan (dari mata kaki sampai pinggang). Kemben dipakai untuk menutupi payudara. kain sunduri (brocade). Baju kebaya dikenakan oleh kalangan wanita bangsawan maupun kalangan rakyat biasa baik sebagai busana sehari-hari maupun pakaian upacara. baju kebaya menggunakan peniti renteng dipadukan dengan kain sinjang atau jarik corak batik. baju kebaya pada umumnya hanya dipakai pada harihari tertentu saja. bagian kepala rambutnya digelung (sanggul). sutera yang berbunga maupun . yaitu kebaya pendek yang berukuran sampai pinggul dan kebaya panjang yang berukuran sampai ke lutut. Sedangkan. brokat. ketiak dan punggung.Busana Tradisional Jawa-Solo Javanese Solo Traditional Dress Busana Kebaya Jenis busana dan kelengkapannya yang dipakai oleh kalangan wanita Jawa. kemben dan kain tapih pinjung dengan stagen. wanita Jawa mengenal dua macam kebaya. putih. Saat ini. nilon. kuning. kebaya pendek dapat dibuat dari bahan sutera. Panjangnya kebaya bervariasi. baik yang polos dengan salah satu warna seperti merah. mulai dari yang berukuran di sekitar pinggul atas sampai dengan ukuran yang di atas lutut. kebaya panjang lebih banyak menggunakan bahan beludru. seperti pada upacara adat misalnya. cincin. sebab kain kemben ini cukup lebar dan panjang. Sedangkan stagen dililitkan pada bagian perut untuk mengikat tapihan pinjung agar kuat dan tidak mudah lepas. Dewasa ini. Jawa Tengah adalah baju kebaya. Untuk busana sehari-hari umumnya wanita Jawa cukup memakai kemben yang dipadukan dengan stagen dan kain jarik. Oleh karena itu.

ungu dengan hitam. Dan umumnya digunakan juga oleh mempelai wanita Sunda. dapat juga memakai kain gabardine yang bercorak kotak-kotak halus dengan kombinasi warna sebagai berikut: hijau tua dengan hitam. yang dihiasi pita emas di tepi pinggiran baju. maka tata rias rambutnya tanpa untaian bunga melati dan tusuk konde. Mengenai teknik dan cara membuat baju kebaya sangat sederhana. yang juga dipakai di Sumatera Selatan. kain lurik yang serasi atau kain ikat celup. Selain kain lurik. Pada umumnya kebaya panjang terbuat dari kain beludru hitam atau merah tua. tiap-tiap jenis busana tersebut menunjukkan tahapan-tahapan tertentu dan siapa si pemakaiannya. baju kebaya panjang merupakan pakaian untuk upacara perkawinan. kuning tua dengan hitam dan merah bata dengan hitam. Kelengkapan perhiasannya dapat dipakai yang sederhana berupa subang kecil dengan kalung dan liontin yang serasi. sutera maupun nilon yang bersulam. Busana adat tradisional rakyat biasa banyak digunakan oleh petani di desa. panggih dan sesudah upacara panggih. Panjang baju kebaya ini sampai ke lutut. Semua potongan tersebut dapatdikerjakan dengan mesin jahit ataupun dijahit dengan tangan. Sedangkan. bagi orang tua mempelai biasanya mereka memakai kain jarik dan sabuk sindur. ikat pinggang besar. Meskipun seni busana berkembang baik di lingkungan keraton. Ini dimaksudkan agar benar-benar membentuk badan pada bagian pinggang dan payudara dan sedikit melebar pada bagian pinggul. Sedangkan busana di kalangan pria. Kalangan wanita di Jawa. ijab. perhiasan yang dipakai juga sederhana. Jawa Tengah. gelang dan sepasang tusuk konde pada sanggul.nilon yang bersulam. seorang wanita dan pria kalangan keraton mengenakan beberapa jenis busana. biru sedang dengan hitam. Busana yang dipakai adalah celana kolor warna hitam. Baju kebaya dipakai dengan kain sinjang jarik/ tapih dimana pada bagian depan sebelah kiri dibuat wiron (lipatan) yang dililitkan dari kiri ke kanan.bagian depan yang berfungsi sebagai penyambung. baju lengan panjang. Pada upacara midodareni. Pada bagian badan kebaya dipotong sedemikian rupa sehingga tidak memerlukan krup. Bajunya beskap atau sikepan dan pada bagian kepala memakai destar. Sedangkan. dan Timor sebenarnya serupa dengan blus. pada kepala memakai destar (blankon). brokat. Bali dan Madura. kain samping jarik. dapat pula memakai tambahan bahan di bagian muka akan tetapi tidak berlengkung leher (krah). Sanggulnya dihiasi dengan untaian bunga melati dan tusuk konde dari emas. ikat kepala dan kalau sore pakai sarung. Selendang yang dipakai tersebut sebaiknya terbuat dari batik. Modelnya dapat ditambah dengan sepotong bahan berbentuk persegi panjang yang dipakai sebagai penyambung antara kedua potongan bagian muka. Namun pada saat upacara perkawinan. keris dan alas kaki (cemila). yaitu sehelai bagian depan dan sehelai lagi potongan bagian belakang. biasanya baju kebaya mereka diberi tambahan bahan berbentuk persegi panjang di . Busana ini dinamakan Jawi Jangkep. stagen untuk mengikat kain samping. Sebab. khususnya kerabat keraton adalah memakai memakai baju beskap kembang-kembang atau motif bunga lainnya. Kepulauan Sumbawa. yang disesuaikan dengan tahapan upacara. Dewasa ini. Baju kebaya panjang biasanya menggunakan bahan beludru. Busana Basahan Salah satu jenis busana adat yang terindah dan terlengkap di Indonesia terdapat di keraton Surakarta. yaitu midodareni. Baju kebaya panjang yang dipakai sebagai busana upacara biasa. Lengkung ini harus cukup lebar sehingga dapat dilipat ke dalam untuk vuring kemudian dilipat lagi keluar untuk membentuk lengkung leher. Lengkung leher baju menjadi satu dengan bagian depan kebaya. serta dua buah lengan baju. yaitu busana pria Jawa secara lengkap dengan keris. yaitu sebuah sisir berbentuk hampir setengah lingkaran yang dipakai di sebelah depan pusat kepala. Baju ini terdiri dari dua helai potongan. Dalam adat busana perkawinan misalnya. Kain jarik batik yang berlipat (wiron) tetap diperlukan untuk pakaian ini. lipatan bawah bagian belakang dan samping harus sama lebarnya dan menuju ke bagian depan dengan agak meruncing. cincin. tetapi biasanya tanpa memakai selendang. tidak berarti busana di lingkungan rakyat biasa tidak ada yang khas. daerah pantai Kalimantan. Potongan dan model kebaya Jawa. pengantin wanita memakai busana kejawen dengan . Untuk menutupi stagen digunakan selendang pelangi dari tenun ikat celup yang berwarna cerah.

keris dan selop. tumbuh-tumbuhan (bunga teratai. kain jarik. Tujuannya adalah agar mempelai wanita kelihatan lebih cantik dan angun dan pengantin pria lebih gagah dan tampan. yang terdiri dari kuluk kanigoro. kerbau. gelang. sabuk timang. baju takwo. udeng. mata. kolong karis. Bagi pengantin pria. Saat upacara ijab. cincin. swastika (misalnya bintang dan matahari). Kemudian fungsi pakaian menjadi lebih beragam. stagen dan kain jarik dengan corak batik. kalung. awalnya digunakan sebagai alat untuk melindungi tubuh dari cuaca dingin maupun panas. selop dan perhiasan kalung ulur. centung. pada upacara setelah panggih. alis. sebagai unsur pelengkap upacara yang menyandang nilai tertentu. busana yang dipakai pengantin wanita adalah baju kebaya dan kain jarik. dodot bangun tulak. dalam busana adat perkawinan. naga). perhiasan yang biasa dipakai adalah cunduk mentul. hewan (misal : burung. warna dasar merah yang dihiasi bunga berwarna hitam dan putih. pipi dan bibir. stagen. Motif berupa garis-garis potong yang disebut motif tangga merupakan simbolisasi dari nenek moyang naik tangga sedang menuju surga. celana cinde sekar abrit. maka baik pengantin wanita maupun pria biasanya dirias pada bagian wajah dan sanggul. dodot bangun tulak. timang/epek. berupa dodot bangun tulak. maupun sebagai alat pemenuhan kebutuhan akan keindahan. sikepan. Sama halnya dengan pengantin wanita. Sebagai kelengkapan. basahan. sabuk timang. terdiri dari kuluk matak biru muda. Busana basahan adalah tidak memakai baju. Sedangkan pengantin pria menggunakan busana kepangeranan. stagen dan selop. melati) maupun alam dan manusia. Jenis ragam hias yang dikenal di daerah Surakarta maupun Jogyakarta adalah kain yang bermotifkan tematema geometris. Pada upacara panggih ini. bros dan buntal. Busana Jawa baik pakaian sehari-hari maupun pakaian upacara sangat kaya akan ragam hias yang tak jarang memiliki makna simbolik dibaliknya. Busana basahan pengantin pria disini terdiri dari kuluk matak petak. Sedangkan kain sido mukti. kain jarik. misalnya untuk menutup aurat. Perhiasan yang biasa digunakan oleh mempelai pria adalah kalung ulur. pengatin pria pun memakai busana adat basahan. sabuk timang. seperti kain sindur dan truntum yang dipakai oleh orang tua mempelai. epek. melainkan terdiri dari semekan atau kemben. Begitu pula pada upacara panggih kedua mempelai memakai jenis busana yang sudah ditetapkan. Cara mengenakan kain ini seperti kain jarik tetapi tidak ada lipatan (wiron). Kemben disini berfungsi sebagai pengganti baju dan pelengkap untuk menutupi payudara. ular. . Pengantin wanita memakai busana adat bersama. Kain dodot yang menggunakan corak batik alas-alasan panjangnya kirakira 4-5 meter. dan merupakan baju pokok dalam busana basahan. yaitu terdiri dari baju kebaya. pilin. dodot bangun tulak atau kampuh. yang melambangkan kesuburan. jungkat. keris warangka ladrang. Motif geometris diantaranya adalah kain batik yang bercorak ikal. subang dan timang atau epek. Pada busana-busana khusus untuk upacara perkawinan dikenal juga motif pada batik tulis. Berbeda dengan tahapan upacara sebelumnya. Bahkan motif yang paling dikenal oleh masyarakat Surakarta adalah motif tumpal berbentuk segi tiga yang disebut untu walang. pengantin wanita memakai busana kanigaran. bros. stagen.warna sawitan. kain jarik. keris warangka ladrang dan selop. cara meriasnya tidak sedemikian rumit dan teliti sebagaimana pengantin wanita yang harus dirias pada bagian wajahnya mulai dari muka. Busana sawitan terdiri dari kebaya lengan panjang. Fungsi pakaian. keris warangka ladrang dan selop. biasanya kedua mempelai pengantin melengkapi busana basahan dengan aneka perhiasan. sabuk lengkap dengan timang dan cinde. Sedangkan pengantin prianya memakai busana cara Jawi Jangkep. cincin. stagen. kain sido luhur dan sido mulyo merupakan pakaian mempelai. sampur atau selendang sekar cinde abrit dan kain jarik cinde sekar merah. celana panjang warna putih. Semekan atau kemben terbuat dari kain batik dengan corak alas-alasan warna dasar hijau atau biru dengan hiasan kuning emas atau putih. sedangkan pengantin pria memakai busana basahan. ikal rangkap dan pilin ganda. Selendang cinde sekar abrit terbuat dari kain warna dasar merah dengan corak bunga hitam dan kain jarik cinde sekar abrit terbuat dari kain gloyar. yang terdiri dari baju atela. Sedangkan bagi pengantin wanita.

dan bagian bawah. . pada saat-saat tertentu akan muncul kembali dalam suatu upacara adat yang meriah dan menarik perhatian masyarakat umum. Secara keseluruhan seperangkat pakaian terdiri atas bagian atas. Sejalan dengan perkembangan zaman. yakni menghias tubuh agar kelihatan lebih cantik dan menarik. Pakaian tersebut dikenal sebagai pakaian adat tradisional yang resmi dan khas Yogyakarta. kemudian disusul dengan masa kemerdekaan. bagian tengah terdiri dari baju (kebaya. Oleh karena itu. Dari pembagian tersebut dapat digolongkan lagi jenis-jenis pakaian berdasarkan jenis kelamin. Demikianlah secara keseluruhan pakaian adat itu tidak pernah musnah dilanda kemajuan zaman. di man dikenakan. dan saat bepergian. fungsi estetis. religius. serta bagian bawah berupa alas kaki. Mereka terdiri dari golongan-golongan sesuai dengan fungsi dan jabatannya. cara berpakaian biasanya sudah dibakukan secara adat. di samping pakaian sehari-hari yang secara rutin dikenakan. kapan dikenakan. Pemakainya dapat digolongkan berdasarkan jenis kelamin. merupakan lembaga resmi yang dipimpin oleh seorang raja dan para kerabatnya yang disebut pegawai istana atau abdidalem. pakaian resmi semacam itu lama kelamaan tidak lagi dikenakan secara lengkap. Dalam perkembangan selanjutnya. Sejak kecil putra-putri Sultan telah mengenal beberapa peraturan yang membedakan dirinya dengan status individu lainnya. tetapi tetap terpelihara dengan baik dan selalu dimunculkan pada saat-saat penting. Lebih-lebih pada saat penyelenggaraan upacara adat pakaian tersebut dikenakan secara lengkap. serta memakai stagen sekuat mungkin agar tidak mudah lepas. dan sebagainya). dan status sosial pemakainya. pakaian ini diterima di kalangan masyarakat Jawa yang tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta. Misalnya pada masa penjajahan Jepang (1942 . sebagai miliknya sendiri dan pemberi identitas. sosial dan simbolik. Adapun yang dimaksud dengan pengertian pakaian sehari-hari di sini adalah seperangkat pakaian yang dikenakan di rumah. Namun demikian. diantaranya melalui bentuk pakaian yang harus dikenakan.1945). dan siapa yang mengenakannya. bagian tengah. pakaian atau busana menurut kepangkatan tidak begitu diperhatikan lagi. Penulis Jaya Purnawijaya Busana Tradisional Yogyakarta Yogyakarta Traditional Dress Kraton sebagai suatu pusat institusi dan tata pemerintahan. Bagian atas meliputi tutup kepala dan tata rias rambut (sanggul. seperti pada masyarakat bangsawan pakaian mempunyai fungsi praktis. dan status sosial. Seperti kain kebaya fungsi praktisnya adalah untuk menjaga kehangatan dan kesehatan badan. dan lain-lain) dan perhiasan (aksesori). Pakaian khusus itu akan muncul secara menarik dan berwibawa. Pakaian adat tradisional Kraton Yogyakarta yang sudah jarang dijumpai lagi akhir-akhir ini. usia. Kelengkapan berbusana tersebut merupakan ciri khusus pemberi identitas bagi pemakainya yang meliputi fungsi dan peranannya. saat bekerja. Pakaian adat tradisional masyarakat Yogyakarta terdiri dari seperangkat pakaian yang memiliki unsur unsur yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. yang mana pada waktu itu ekonomi negara kita dalam keadaan kacau. Demikian pula pakaian dari suatu daerah dapat dibedakan atas pakaian sehari-hari/kerja dan pakaian upacara/pesta adat. fungsi sosial yakni belajar menjaga kehormatan diri seorang wanita agar tidak mudah menyerahkan kewanitaannya dengan cara berpakaian serapat dan serapi mungkin. dan yang pada gilirannya jarang dijumpai lagi. konde. yang secara visual ditandai pula oleh cara dan bentuk pakaian. usia. khususnya di Surakarta fungsi pakaian cukup beragam. pakaian adat tradisional kraton Yogyakarta yang sempat dikenal di kalangan masyarakat luas banyak dikenakan oleh golongan masyarakat biasa. estetis.Pada masyarakat di Jawa Tengah.

gelang berbentuk ular (gligen) atau model sigar penjalin. memakai lonthong tritik. lonthong tritik. yang panjangnya diukur dari dada sampai di atas pusar. baju katun. moga renda berwarna kuning. kalung dinar. Busana kebesaran yang dikenakan dalam semua kegiatan ini disebut busana keprabon. kalung emas dengan liontin berbentuk mata uang (dinar). kampuh konca setunggal. Remaja putri mengenakan busana yang disebut pinjung. tanpa baju. Pengertian kata semekan berupa kain panjang yang lebarnya separuh dari lebar kain panjang biasa. pethat jeruk sak ajar. dan keris branggah. Kainnya bermotif parang. ikat pinggang berupa kamus songketan dengan cathok atau timang terbuat dari suwasa (emas berkadar rendah). kamus songketan. gelang. serta sapu tangan merah. kain batik dengan wiru di tengah. burung garuda. Perhiasannya berupa subang.Busana yang dirancang untuk anak-anak terdiri dari busana kencongan untuk anak laki-laki. Rangkaian busana ini terdiri dari nyamping batik. dan kaprajuritan. dan cincin. timang (kretep). ikat pinggang kamus songketan bermotif flora atau fauna. Busana untuk anak laki-laki model kencongan terdiri dari kain batik yang dikenakan dengan model kencongan. ceplok. baju kebaya katun. Untuk putri yang sudah dewasa mengenakan busana semekanan dalam kesehariannya. Sedangkan busana harian bagi putri raja yang sudah menikah terdiri atas semekan tritik dengan tengahan. Agustusan. serta pisowanan dalam upacara perkawinan. supitan. Perhiasan yang dikenakan sebagai pelengkap terdiri dari subang. karset. Sedangkan busana seharihari bagi pria remaja dan dewasa terdiri dari baju surjan. Sebagai perhiasannya adalah subang. kain batik. Busana ini dikenakan dengan cara melipat ujung kain sebelah dalam dibentuk segitiga sebagai penutup dada. semekan tritik. yang menunjukkan status sosial pemakainya sebagai putri Sultan sampai dengan cicit Sultan. dana cindhe gubeg. sanggul tekuk polos tanpa hiasan. Sanggulnya berbentuk sanggul tekuk polos tanpa hiasan. Lipatan kain (wiru) berada di sebelah kiri. cincin. Busana ini lazim dikenakan pada upacara garebeg. jumenengan dalem (penobatan raja). Rangkaian busana ini terdiri dari kain (nyamping) batik. dan busana sabukwala untuk anak perempuan. serta mengenakan perhiasan berupa subang. kanigaran. lonthong tritik. serta mengenakan cathok dari perak berbentuk kupu-kupu. Kelengkapan pinjung padintenan terdiri atas kain batik. kamus songketan. maka busana kanigaran ini dilengkapi dengan baju sikepan bludiran. kamus. garebeg. baju kebaya katun. Rangkaian busana dodotan terdiri dari kuluk biru dengan hiasan mundri (nyamat). atau gringsing. udhet tritik (semacam selendang sebagai hiasan pinggang). Kelengkapan busana kanigaran pada dasarnya sama dengan busana dodotan. sanggul tekuk polos tanpa hiasan. Penulis Dewi Indrawati . timang. lonthong tritik. gelang. baju surjan. Jenis busana ini lazim dikenakan pada upacara Agustusan. atau merak. Jenis busana ini dibedakan atas busana dodotan. perkawinan. Busana Kebesaran Untuk Upacara Ageng Pengertian upacara ageng adalah kegiatan seremonial dari rangkaian upacara supitan. tingalan dalem tahunan. Busana sabukwala padintenan dikenakan oleh anak perempuan berusia 3-10 tahun. rante. tingalan dalem tahunan. dan perkawinan. jumenengan dalem. serta mengenakan dhestar sebagai tutup kepala. berfungsi sebagai penutup dada. serta sedan (pemakaman jenazah raja). Hanya saja jika busana dodotan dikenakan tanpa baju. Bagi yang berambut panjang disanggul dengan model konde. yang khusus dikenakan para putra Sultan.

celana gomboran dan kaos oblong ini memiliki perbedaan fungsi bila dilihat dari cara memakainya. terutama kaos bergaris yang digunakan. Sebaliknya para nelayan. bera` songay atau toh biru. yaitu hitam dan putih. umumnya hanya menggunkan celana gomboran dengan kaos oblong. Sebenarnya. dalam menghadapi segala hal. masyarakat mengenal baju pesa`an dalam dua warna. Dalam penggunaannya. Terompah atau tropa merupakan alas kaki yang umumnya dipakai. Jaman dahulu. Berbeda dengan rakyat kebanyakan. Masyarakat umum mengenal pakaian khas Madura. Adanya pengaruh cara berpakaian pelaut dari Eropa. maka jenis dan bentuk busananya pun memiliki beberapa kesamaan dengan busana dari daerah-daerah lain di Pulau Jawa. baju pesa`an warna hitamlah yang menjadi ciri khas. Perbedaannya adalah pada odheng. baju pesa`an. yaitu hitam serba longgar dengan kaos bergaris merah putih atau merah hitam. jenis kelamin. Sarung palekat kotak-kotak dengan warna menyolok dan sabuk katemang. baik sebagai busana sehari-hari maupun untuk keperluan upacara. Garis-garis tegas merah. Warna hitam ini melambangkan keberanian. Perlengkapan busana . secara umum sebagaimana busana Solo dan Yogya. Secara umum masyarakat sukubangsa Madura mengenal perbedaan busana berdasarkan usia. dipadu dengan sarung motif kotak-kotak biasa.Busana Tradisional Madura Madura Traditional Dress Penulis Endang Mariani Meskipun Madura adalah sebuah pulau yang terpisah dari Pulau Jawa. Sikap gagah dan pantang mundur ini merupakan salah satu etos budaya yang dimiliki masyarakat Madura. di dalamnya. Bentuk baju yang serba longgar dan pemakaiannya yang terbuka melambangkan sifat kebebasan dan keterbukaan orang Madura. lengkap dengan tutup kepala dan kain sarung. tutup kepala yang dikenakan. Baju pesa`an biasanya dipakai oleh guru agama atau molang. kalangan bangsawan biasanya menggunakan rasughan totop (jas tutup) polos dengan samper kembeng (kain panjang) di bagian bawah. Kesederhanaan bentuk baju ini pun menunjukkan kesederhanaan masyarakatnya. Pada masa sekarang. ikat pinggang kulit lebar dengan kantong penghimpun uang di depannya adalah perlengkapan lainnya. pakaian yang terdiri dari baju pesa`an dan celana gomboran ini merupakan pakaian pria untuk rakyat kebanyakan. teguh dan keras. putih atau hitam yang terdapat pada kaos yang digunakan pun memperhatikan sikap tegas serta semangat juang yang sangat kuat. kebudayaan Jawa dalam arti luas berpengaruh sangat besar dalam berbagai segi kehidupan masyarakat sukubangsa Madura. seringkali mempergunakan baju pesa`an dan kaos oblong warna putih. Oleh karena kebudayaan Madura termasuk dalam daerah kebudayaan Jawa. status sosial maupun kegunaannya. Kalangan pedagang kecil. baik sebagai busana sehari-hari maupun sebagai busana resmi. Untuk sehari-hari odheng yang digunakan adalah odheng peredhan dengan motif storjan.

Sebum dhungket atau tongkat. hijau atau biru terang yang kontras dengan warna dan bahan kebaya yang tipis tembus pandang atau menerawang. terdiri dari beberapa keping mata uang dollar. Hal tersebut merupakan salah satu perwujudan nilai budaya yang hidup di kalangan wanita Madura. Bentuk dan cara memakai odheng juga menunjukkan derajat kebangsawanan seseorang. semakin tinggi dewajat kebangsawananan. mulai dari kepala sampai kaki. bentuknya agak lonjong dan pipih letaknyapun miring.5 meter. Hiasan rambut berupa cucuk sisir dan cucuk dinar. maka derajat kebangsawanan semakin rendah. Ukuran odheng tongkosan yang lebih kecil dari kepala. Keindahan lekuk tubuh si pemakai akan tampak jelas dengan bentuk kebaya rancongan dengan kutang pas badan ini. Semakin miring kelopaknya. storjan atau lasem. umumnya digunakan bersama sarung batik motif tumpal. Jumlah untaian mata uang ini tergantung kemampuan si pemakai. jam saku. biasanya disisir ke belakang. pemberani. Pilihan warna yang kuat dan menyolok pada masyarakat Madura menunjukkan karakter mereka yang tidak pernah ragu-ragu dalam bertindak. yang merupakan simbol dari kalimat pengakuan akan keesaan Allah (Laa illaahaillallaah). jepit kain. Harnal bubut dari emas. Warna biasanya merah. padat dengan kuncir sisa rambut yang terletak tepat di tengah-tengah rambut. Arloji rantai acap digunakan. Pada odhet terdapat ponjin atau kempelan. perhiasanpun menjadi pelengkap yang utama bagi busana kaum wanitanya. Demikian pula berbagai pantangan makanan yang tidak boleh dilanggar. Semakin tegak kelopak odheng tongkosan. yaitu saku untuk menyimpan uang atau benda berharga lainnya. sabuk katemang. Kebaya dengan panjang tepat di atas pinggang dengan bagian depan berbentuk runcing menyerong khas roncongan Madura. sehingga membuat si pemakai harus sedikit mendongak ke atas agar odheng tetap dapat bertengger di atas kepalanya. Warna dasarnya putih dengan motif didominasi warna merah. sayap atau ujung kain dipilin dan tetap terbeber bila si pemakai masih relatif muda. serta bersifat terbuka dan terus terang. dulcendul. Cucuk sisir biasanya terdiri dari untaian mata uang emas atau uang talenan dan ukonan. mengandung makna "betapapun beratnya beban tugas yang harus dipikul hendaknya diterima dengan lapangan dada". Sebagaimana senjata bagi laki-laki Madura. namun ada pula yang memakai kain panjang dengan motif tabiruan. serta pemakaian penggel. Oleh karenaitu mereka tidak mengenal warna-warna lembut. pelintiran ujung simpul bagian belakang yang tegak lurus melambangkan huruf alif. kuning atau hitam. Termasuk dalam memilih warna pakaian maupun aksesoris lainnya.seperti sap osap (sapu tangan). Odhet adalah semacam stagen Jawa. Alas kaki yang digunakan adalah sandal jepit. Ikatan odheng juga memiliki arti tertentu. Pada odheng peredhan. Rambut wanita Madura itu sendiri. Bentuknya seperti busur. Adapun cucuk dinar. termasuk kelengkapan pakaian yang membedakan penampilan dan kewibawaan seorang bangsawan dengan rakyat biasa. Hampir sama dengan gelung wanita Bali. Sementara itu. dengan ukuran lebar 15 cm dan panjang sekitar 1. kemudian digelung sendhal. Kaum wanita Madura umumnya mengenakan kebaya sebagai pakaian sehari-hari maupun pada acara resmi. Perhiasan yang dikenakan oleh wanita Madura. Ciri khas kebaya Madura adalah penggunaan kutang polos dengan warna-warna menyolok seperti merah. bermata selong dengan . Semuanya dimaksudkan untuk membentuk tubuh yang indah dan padat. garik atau jingga. Bentuknya agak bulat dan penuh. Kebaya tanpa kutu baru atau kebaya rancongan digunakan oleh masyarakat kebanyakan. bermotif modang. baik dari ukuran. Untuk penguat kain digunakan odhet. pada odheng tongkosan kota. juga memiliki daya tarik yang unik. dan perhiasan lainnya terutama selok (seser) atau cincin geleng akar (gelang dari akar bahar). Ramuan jamu-jamu Madura diberikan semenjak seorang gadis cilik hendak berangkat remaja. Panjang kutang dengan bukaan depan ini ada yang pendek dan ada pula yang sampai perut. yaitu huruf awal dalam bahasa Arab. keduanya terbuat dari emas. Kutang ini ukurannya ketat pas badan. Odheng pada masyarakat Madura memiliki arti simbolis yang cukup kompleks. yang sangat menghargai keindahan tubuh. motif maupun cara pemakaian. Sementara di daerah Madura Timur. Letak sanggul umumnya agak tinggi. Untuk orang yang sudah sepuh (tua). terbuat dari tenunan bermotif polos. rasughan totop umumnya berwarna hitam digunakan lengkap dengan odheng tongkosan kota. stagen. Pada saat menghadiri acara resmi. simpul mati di bagian belakang dibentuk menyerupai huruf lam alif.

digunakan peniti dinar renteng. menjadi ciri tersendiri pada kelengkapan wanita Madura. lebih banyak dihiasi intan atau berlian. di dalamnya diberi potongan daun pandan sebagai penguat. Sementara sepasang cincin dengan motif yang sama dengan gelang dikenakan sebagai hiasan jari. bermotif polos dengan berbentuk bulat utuh sebesar biji jagung. kiri atau dahi. Peniti cecek atau pako malang adalah hiasan kebaya berbentuk paku yang melintang bersusun tiga dan dihubungkan dengan rantai emas. yang terbuat dari handul besar atau kain tebal disebut leng o leng. Dahulu leng pelengan dibuat dengan cubitan tangan. Warna gelap dan tidak bermotif. tatarias wajah wanita Madura pun cukup unik. Bentuknya sama dengan gelung malang. Busana Tradisional Tengger Tengger Traditional Dress Penulis Endang Mariani . Bentuknya seperti angka delapan melintang yang melambangkan tulisan Allah. Giwang kerambu dan kalung rantai berliontin markis yang terbuat dari emas bertaburan berlian juga dikenakan. Hiasan rambut terdiri dari cucuk emas dengan motif ular atau bunga matahari. serta motif mon temon berupa untaian emas berbentuk biji mentimun. telinga. Penggel merupakan hiasan kaki dari emas atau perak yang dipakai pada pergelangan kaki kiri dan kanan. Sebagai pelengkap kebaya rancongan. wanita bangsawan tidak menonjolkan kekayaannya melalui bentukbentuk perhiasan yang menyolok dan cenderung berat. berbentuk seperti keratan tebu merupakan kelengkapan lain yang sering dipakai. Mata dihiasi dengan celak Arab. Penggel adalah simbol kebanggaan wanita Madura. Berat kalung itu rata-rata 5-10 gram. Tergantung kemampuan si pemakai. Selain fungsi ekonomi yang juga dapat menunjukkan status ekonomi si pemakai. dilengkapi dengan karang melok dan duwek remek. tangan dan kaki umumnya kecil. Gelang kaki yang terbuat dari emas atau perak. terbuat dari emas dan bermotif polos. Untuk wanita yang sudah berumur dan berpangkat. Bentuk perhiasan yang digunakan untuk rambut. bahkan lebih. kebanyakan berupan olesan alat kosmetik berupa garis membujur sekitar 1-2 cm dan berwarna merah. Sebuah tutup kepala. Bahan kebaya biasanya beludru. tetapi semua ukelnya diisi kembang tanjung dan kembang pandan. Selain busana dan perhiasan khas wanita Madura. Berbeda dengan yang dikenakan rakyat kebanyakan. leher. semakin panjang untaiannya berarti semakin tinggi kemampuan ekonomi pemakainya. penggel juga berfungsi untuk membentuk keindahan tubuh wanita Madura. baik dari kalangan bangsawan maupun rakyat biasa. yaitu hiasan dari bunga-bungaan. Ujung bawah kebaya berbentuk bulat. dengan berat perak ada yang mencapai 3 kg. Namun. Saat ini. Anteng atau anting ini dikenakan di telinga. Alas kakinya berupa selop tutup. aapabila digunakan untuk berjalan dan melakukan aktivitas sehari-hari tentunya akan menguatkan otot-otot tertentu. Tempat yang dijimpit disebut leng pelengan. namun adapula yang mencapai 100 gram. Demikian pula gelang tangan dan hiasan jari berupa cincin emas bermata berlian. Dari seluruh jenis perhiasan yang biasa dikenakan wanita Madura. Perhiasan lain yang umumnya dikenakan sebagai kelengkapan busana adalah anteng atau shentar penthol yang terbuat dari emas. Motif hiasan kalung Madurapun terkenal karena ciri khasnya. digunakan gelung mager sereh. Untuk acara resmi wanita bangsawan Madura mengenakan kebaya panjang dengan kain batik tulis Jawa atau khas Madura. Semakin banyak jumlah dinarnya. Liontin atau bandul yang digunakan biasanya berbentuk mata uang dollar (dinar) atau bunga matahari. Sepasang gelang emas di tangan kanan dan kiri dengan motif tebu saeres. Selain itu masih ada motif pale obi yang menyerupai batang ubi melintir. Kalung brondong yang berupa rentangan emas berbentuk biji jagung adalah kalung khas Madura yang biasanya dikenakan bersama liontin. penggel adalah salah satu yang paling unik. Rambut wanita muda digelung malang. berupa lapisan gigi yang terbuat dari emas atau platina. sedangkan gigi dihiasi dengan apa egan. Wajah dihiasi dengan jimpit di bagian kening kanan.panjang sekitaar 12 cm berukuran agak lebih besar dari harnal pada umumnya juga dipakai untuk menghiasi rambut.

dengan segala perlengkapannya. kemudian disampirkan ke pundak bagian belakang dan kedua ujungnya diikat jadi satu. yang disebut sampiran. Biasanya mereka memakai baju longgar dan celana panjang di atas mata kaki. Salah satunya yang sangat dikenal adalah mitologi Resi Ki Dadap Putih serta Rara Anteng dan Djaka Seger. Keluhuran budi. Kaum prianya berpakaian sehari-hari sebagaimana masyarakat pertanian di Jawa. masyarakat Tengger memiliki banyak upacara yang tidak saja berkaitan dengan siklus kehidupan. jas tutup warna gelap. dan Pasuruan. Untuk bekerja. genta dan talam. celana panjang warna gelap dan selempang . Untuk pakaian resmi pun mereka menggunakan beskap. baju warna putih. Malang. bahkan dengan masyarakat Jawa Timur pada umumnya. yang tetap dilaksanakan dan mengundang perhatian masyarakat luar. seperti bekerja diladang atau pekerjaanpekerjaan lain yang memerlukan tenaga lebih besar. Dalam hal berbusana. yaitu upacara adat kasada dan karo. Dengan ikatan di bagian belakang kepala kain sarung dikerudungkan sampai menutupi seluruh bagian kepala. Saat bertamu. Cara bersarung seperti ini tidak boleh digunakan untuk bertamu dan melayat. Setelah disarungkan pada tubuh. jarik (kain) batik yang dibebatkan. Tidak kurang dari 7 (tujuh) cara bersarung yang mereka kenal. pakaian sehari-hari yang dikenakan masyarakat Tengger memang tidaklah jauh berbeda dari masyarakat Jawa. Agar terlihat rapi pada saat bepergian mereka menggunakan cara sengkletan. yang memiliki hubungan historis dengan kerajaan Majapahit. Masing. bagian atas dilipat untuk menutupi kedua bagian tangannya. Setidaknya ada dua upacara besar. mereka mengenakan sarung sebagaimana masyarakat umumnya. memakai kaos oblong. Udeng dan sarung tidak tertinggal. mereka menggunakan kain sarung yang dilipat dua. Kain sarung disampirkan di bagian atas punggung. Probolinggo. mereka menggunakan sarung dengan cara kekemul.Masyarakat Tengger merupakan penduduk ash yang mendiami daerah Lereng Pegunungan Tengger dan Semeru. Sarung dilingkarkan pada pinggang kemudian diikatkan seperti dodot (di dada) agar tidak mudah terlepas. Kawasan ini meliputi 4 (empat) Wilayah Kabupaten. melainkan juga yang berhubungan dengan alam. kedamaian dan kesederhanaan tergambar sebagai etos budaya masyarakat Tengger. pada saat santai dan sekedar berjalan-jalan.masing cara ini memiliki istilah dan kegunaan sendiri. yang juga merupakan pemimpin upacara adat di Tengger sangat dihormati oleh masyarakat. Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat yang sangat diyakini dan telah dilaksanakan secara turun menurun. Upacara-upacara adat yang secara turun menurun telah dilaksanakan selama ratusan tahun serta kondisi alam dan geografis yang spesifik. Biasanya busana yang dikenakan oleh seorang dukun adalah ikat kepala atau udeng batik. sebagaimana yang digunakan di Jawa. membuat masyarakat Tengger memiliki ciri khas yang berbeda dengan masyarakat Jawa. termasuk wisatawan. yang dimaksudkan agar bebas bergerak pada waktu ketempat mengambil air atau kepasar.tempat upacara atau keramaian lainnya di malam hari adalah cara kekodong. Kaum wanitanya menggunakan kebaya pendek dan kain panjang tanpa wiron atau sarung tutup kepala dan selendang batik lebar. Cara ini disebut Sempetan. Cara ini disebut kakawung. menciptakan suatu keunikan masyarakat yang religius. Sedang untuk pekerjaan yang lebih berat. Sementara itu. yaitu : Lumajang. Anak-anak muda Tengger pun memiliki cara bersarung tersendiri. Kedudukan seorang dukun. yaitu yang disebut baju anta kusuma atau rasukan dukun. Kain sarung cukup disampirkan pada pundak secara terlepas atau bergantung menyilang pada dada. Di bagian dalam.Budha yang terpadu dengan adat kepercayaan lokal yang oleh sebagian masyarakat disebut Agami Jawi dan dihayati oleh masyarakat Tengger. Kedua bagian lubangnya dimasukkan pada bagian ketiak dan disangga ke depan oleh kedua tangannya. Pengaruh Hindu . di Jawa Timur. berwarna hitam. yang sering dijumpai pada saat masyarakat Tengger berkumpul di tempat . kain wiron dan udeng. lengkap dengan peralatan upacara seperti prasen. kemudian digantungkan di pundak. mereka menggunakan sarung dengan cara sesembong. yaitu ujung sarung dilipat sampai kegaris pinggang. Keunikan pakaian sehari-hari masyarakat Tengger adalah cara mereka bersarung (memakai sarung) yang berfungsi sebagai pengusir hawa dingin yang memang akrab dengan keseharian mereka. Cara lain yang sangat khas. Busana yang digunakan seorang dukun pada saat memimpin upacara cukup unik. Banyak legenda dan mitologi yang dimiliki oleh masyarakat Tengger. sehingga yang terlihat hanya mata saja.

umumnya selempang ini dilepas dan disimpan kembali. Kancrik adalah sehelai selendang yang berfungsi sebagai penutup tubuh atau saput. maupun dari kasta manapun mereka berasal. bepergian ataupun beraktivitas tanpa penutup dada pada masyarakat Bali. dari segala jenis usia. kemben bukanlah penutup dada.selain kegunaannya sebagai alat untuk menahan rambut agar tetap rapi. meskipun dimasa lalu perangkat busana Bali lazimnya tanpa baju. Kancrik juga digunakan sebagai tengkuluk.panjang warna hitam batikan. masyarakat Bali mengenal dengan baik kebiasaan mengenakan baju. Pakaian untuk pria secara lengkap adalah destar. Setelah ujub upacara. kuning. Meskipun demikian pada situasi-situasi tertentu mereka acap menggunakan kancrik atau tengkuluk sebagai anteng penutup dada. yang terkadang digunakan untuk menjunjung beban sekaligus melindungi wajah dari sinar matahari. berupa kain pembalut tubuh. yaitu tutup kepala wanita Bali yang juga berfungsi sebagai alas penjunjung beban . Kebiasaan bertelanjang dada pada masyarakat Bali adalah tradisi yang telah berlangsung turun temurun selama ratusan tahun. Selempang ini dianggap sebagai lambang keagungan dan tanda jabatan yang dipangkunya. Namun ada pula dukun yang menggunakan jas tutup dan celana panjang warna putih. maupun putih dan ke arah krem. tetapi lebih berfungsi sebagai penyangga payudara. yang menjadi bentuk dan model dasar busana tradisional Bali. sehingga keindahan bentuknya tetap terjaga. sabuk. serta tengkuluk untuk kepala merupakan pakaian wanita Bali dalam keseharian. Namun. Selempang pun ada yang berwarna hitam. Kaum wanitanya sering mengenakan kebaya. baik untuk pria maupun wanita. saput dan anteng. saput dan kemben. Bagi wanita Bali. Pada masa lalu. Kemben. Sementara anteng adalah selembar kain atau kancrik yang berfungsi sebagai penutup buah dada. Untuk kebaya berlengan panjang hingga . termasuk kaum wanitanya adalah hal yang biasa. Busana Tradisional Bali Bali Traditional Dress Kemben merupakan jenis pakaian.

Selain cara menenun dan proses pemintalan benangnya yang cukup memerlukan kesabaran dan ketelitian. . Jas tutup dan kemeja biasa digunakan. tampak tiga warna dominan. Warna-warna ini juga muncul pada pinggiran kain. Kebaya ini umumnya terbuat dari bahan yang dibeli di pasar. Kain batik sebagai kemben dan destar adalah pelengkapnya. endek. Geringsing dengan ukuran yang paling besar disebut geringsingan perangdasa. atau pegawai pada masa pemerintahaan Belanda. Selain warna. juga dibedakan menurut ukurannya. Menurut sejarah. Kain geringsing merupakan salah satu yang terkenal karena keindahan dan keunikannya. lubeng. Songket. sedangkan warna merah tidak terlihat. perada. Umumnya kain geringsing memiliki tiga warna dasar. yaitu putih susu atau kuning muda. yaitu kuning muda. Pola ragam hiasnya pun tampak lebih lebar. karena proses pengikatannya yang berjarak lebih longgar. sementara yang berlengan longgar sampai di bawah siku. yang memiliki ciri keistimewaan pada teknik tenun dobel ikatnya ini. Berdasarkan warna. hitam dan merah. batik dan sutra adalah beberapa di antaranya. Sebagian besar inspirasinya diperoleh dari dunia flora dan fauna. merah dan hitam. Budaya memakai baju ini tumbuh dan hidup umumnya pada lingkungan masyarakat yang telah mendapat pengaruh dari luar. pemerintah Belanda lah yang memperkenalkannya. Kain-kain yang digunakan sebagai bagian dari busana Bali terdiri dari beragam jenis. Beberapa motif geringsing adalah motif wayang. Adapun pada geringsingan barak atau geringsing merah. proses pewarnaan kain geringsing sangat menentukan kualitas dan keindahannya. geringsing dapat dibedakan menjadi geringsing selem (geringsing hitam) dan geringsing barak (geringsing merah). mereka sebut potongan Jawa. Geringsing sabuk. anteng dan cawat adalah geringsing dengan ukuran paling kecil. kain geringsing. Warna hitam dan putih saja yang tampak pada bagian geringsing ini. Pada geringsing selem warna merah tampak pada bagian ujung geringsing saja. Morif geringsing cukup banyak ragamnya. disebut potongan Bali. Geringsing berukuran menengah disebut geringsing wayang.pergelangan tangan. pemakaian baju dimulai oleh para ambtenaar. wayang putri. meskipun ada juga yang khusus menenunnya. sementara yang lebih kecil adalah geringsingan patlikur. Demikian pula pada kaum pria.

namun tetap berpadu dengan nilai-nilai budaya Indonesia asli. Gelung biasanya dihias dengan bunga-bungaan. untuk hiasan kepala atau petitis. cempaka putih. Sementara itu. Gelung kucir. dikenakan selembar penuh tapih atau sinjang dari sutra berornamen penuh peperadaan mengurai ke luar melewati kemben. Dalam mapusungan (pembuatan sanggul). di balik kemben. Berdasarkan corak busana yang dipakai. Pada saat melakukan suatu upacara seperti potong gigi atau pernikahan. cempaka kuning dan mawar. yaitu sanggul tambahan berbentuk bulat melingkar dan terbuat dari ijuk menjadi salah satu pembeda. patlikur. seperti kenanga. perbedaan terletak pada bahan yang digunakan. dan sebagainya. Motif ragam hias kain geringsing dari Tenganan Pageringsingan menampakan pengaruh unsur-unsur ragam hias dari kebudayaan asing. masyarakat Bali mengenal adanya tiga jenis busana dan tata rias pengantin. saput atau kapuh dan kemben atau wastra. Dalam upacara perkawinan. busana tersebut terdiri dari udeng atau destar sebagai ikat kepala. dapat diketahui status sosial dan ekonomi seseorang. masyarakat biasanya mengenakan kain tenunan Bali tradisional sebagai busana lengkap dari bahan songket dan peperadan. Untuk menahan kapuh. . Secara keseluruhan. madya. Umpal geringsing adalah yang paling dikagumi. kebo. penggunaan gelung kuncir ini berfungsi sebagai penambahan hiasan. tidak digunakan lagi bunga-bunga hidup.cecepakan. seluruh busana dibuat dari bahan perada. Mesir yang berasimilasi dengan pengaruh Hindu yang kuat. Perhiasan yang dikenalkan oleh sepasang pengantin payes agunglah yang tampak jelas membedakan dengan tata rias dan busana tingkat nista maupun madya. yaitu nista. Bagi kaum pria. kain geringsing merupakan perwujudan dari kebudayaan Bali yang memiliki unsur keindahan seni yang tinggi dan terkesan mewah. sabuk prada yang membelit dari pinggul sampai dada dan selendang songket untuk menutup tubuh. tidak ada perbedaan yang menyolok. yang disebut umpal. Wanitanya memakai kemben songket. dan utama atau yang juga dikenal dengan payes agung. seperti India (patola). Perhiasan tingkat ini utama ini memang memperlihatkan suatu kekhususan. di ujungnya diikatkan secarik kain panjang sejenis selendang. melainkan bunga-bunga yang terbuat dari emas. Sementara dalam tata busana. dari bahu ke bawah. Untuk tingkat utama. cemplong. Untuk tata rias wajah tubuh dan kaki. Cina.

Bahkan hingga kini masyarakat Dayak Taman dikenal sebagai penenun yang terampil. kecuali dibuat sebagai hiasan atau perlengkapan kesenian clan. Penulis Endang Mariani Busana Tradisional Dayak Taman Pada awalnya orang Dayak Taman mulai mengenal pakaian yang disebut king baba (king = cawat. baju. bebekeng atau pending. clan king bibinge untuk perempuan (bibinge = wanita). Kulit kayu yang bisa difungsikan sebagai kain untuk membuat cawat. yang ditenun adalah serat benang yang dihasilkan dari kulit pohon tengang. gelang kana untuk lengan atas dan badong untuk leher semuanya terbuat dari emas demikian pula sepasang gelang naga satru. Pakaian tersebut terbuat dari kulit kayu yang diproses hingga menjadi lunak seperti kain. untuk koleksi cendera mata. Warna dasar serat . baba = laki-laki) untuk laki-laki. Dulu. celana. clan selimut itu disebut kapua atau ampuro. serta cincin. Maka jenis busana king baba clan king bibinge kini sudah hampir tak tampak dipergunakan lagi. Namun kebudayaan kelompok etnik lain yang datang bergelombang menciptakan akulturasi yang setidaknya juga berimbas pada perkembangan tata busana masyarakat Dayak Taman. Masyarakat Dayak Taman pun mengenal teknik menenun untuk membuat busana.Pelengkap petitis yaitu tajug dan perhiasan lain seperti subeng cerorot. tak jarang.

Kini telah sangat jarang dijumpai tenunan yang dibuat dari serat tengang sehingga busana adat masyarakat Taman pun menggunakan tenunan benang kapas. dibutuhkan kesabaran. Baju burai king burai dipakai oleh para pendamping pengantin sedangkan kedua mempelai mengenakan baju manik king manik. warna yang dominan pada tenunan tradisional Dayak Taman. dari bahan yang sama dengan baju. kalung. sulit didapatkan sehingga sebagai gantinya dipakai kancing kecil berwarna putih mengkilap. gelanggelang. Kini. clan sebagainya. Baju burai king burai terbuat dari bahan beludru berwarna hitam. dan sebagainya. kulit kerang atau keong kecil. clan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi daripada baju burai king burai. Baju manik king manik bisa dikatakan sebagai pengembangan dari baju burai king burai. putih. jika mempelai mengenakan baju manik king manik sedangkan para pendamping pengantin "hanya" memakai baju burai king burai. Pada seputar ujung bawah baju atau rok digantungkan untaian uang logam perak sehingga baju manik king manik lebih berat ketimbang baju burai king burai. Sebagai busana bawahnya. Maka. . Hiasan baju manik king manik adalah rangkaian manik-manik halus yang menutup hampir seluruh bidang baju sehingga kain dasarnya nyaris tak tampak lagi. Busana Pengantin Ada dua jenis busana adat tradisional yang biasa dipakai oleh pengantin dalam masyarakat Dayak Taman. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik. dan memakai semacam dodot dari kain yang telah diberi hiasan. merah muda. subang penghias telinga. Tenunan yang beredar sekarang dengan warna-warna kuning.yang kuat clan liat ini coklat sangat muda. dibuat dari benang kapas yang diperoleh dari luar daerah. tak mengherankan. yang konon harus didatangkan dari Kalimantan Selatan itu. Sebagai pelengkap busana. Sedangkan para lelaki memakai celana panjang sebatas lutut. Dibentuk seperti kebaya atau rompi panjang mirip baju tanpa lengan. Hiasan ini diterapkan pada seluruh permukaan kain namun masih menyisakan bidang polos sehingga masih tampak kain dasarnya. Untuk memperoleh warna hitam atau merah hati. juga diberi hiasan sejenis dengan hiasan bajunya. jelas. juga dari kain yang sama. topi atau kopiah. Sebagai hiasannya dijahitkan kulit kerang kecil berwarna putih disusun membentuk motif daun dan bunga. kaum perempuan mengenakan semacam rok yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. Kedua macam busana itu disebut baju burai king burai clan baju manik king manik. serat tengang itu dicelup dengan getah pohon yang dilarutkan dalam air. ketelitian. pada masyarakat Dayak Taman dikenal pula berbagai ragam perhiasan berupa ikat kepala.

maupun kambu. dengan ketebalan. 1 cm. Kalung ini dibuat dari logam perak yang dicairkan kemudian dicetak pada solongsong bambu berdiameter kecil. Jika tengkulas itu sepenuhnya dibuat dari anyaman untaian manik-manik disebut indulu manik. Ada juga yang dinamakan kalong manik lawang. Pada seputar ujung rok dan baju . yang dilapisi dengan emas dinamai poosong emas. Kemudian diukir dan dilapisi plat emas. Untuk lelaki dikenal semacam topi yang bernama kambu manik dan kambu pirak. Penghias telinga berupa subang disebut poosong. Poosong dibuat dari kayu yang dibentuk bulat berdiameter 3 . Kalung ini dipakai saat upacara adat. menggelayut. Bagian depan rok bawah baju manik king manik yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. antara lain. yang dianyam menjadi bentuk topi. dua macam sasawak: sasawak lampit karumut dan sasawak tali murung. Misalnya saja kalong manik pirak. Cuping telinga yang dipasangi poosong menjadi lebar.6 cm. kaum wanita clan para pria memakai poosong.motif-motif bunga dan dedaunan pada permukaan luar kambu. disebut tajuk bulu aruae. penghias leher. Jika tali penguntainya juga dibuat dari kawat logam perak. Pada tengkulas atau indulu manik ditambahkan bulu burung ruai. yang memakainya. Bulu burung ruai yang disematkan pada tengkulas. atau batik. Lalu dibekukan dan dikalungkan pada leher. sehingga nampak sangat unik dan khas. atau kaca. Dulu. Dikenal. Sasawak lampit karumut dipakai oleh kaum perempuan. ikat pinggang itu disebut sasawak tali murung. Dibuat dari manikmanik yang diuntai oleh tali akar tengang.Penghias kepala clan rambut kaum wanita disebut tengkulas yang dibuat dari kain bermotif kembang-kembang.menjadi bentuk kerawang. juga sangat sedikit para perempuan. Poosong pernah dianggap sebagai identitas wanita dayak Taman. lebih-kurang. Dibuat dari logam perak clan rotan. perunggu/tembaga. clan lebih disukai yang berwarna mencolok: merah. Kambu manik dibuat dari jalinan serat sejenis pohon pandan. kalung yang biasa dipakai perempuan dan lelaki. Ikat pinggang untuk mempercantik penampilan dinamai sasawak. Lalu diimbuhkan untaian manik sepenuh bidang kambu. perak. Ada beberapa macam kalung. indulu manik. tapi umumnya hanya dipakai perempuan. Perak dilebur hingga cair kemudian dicetak menjadi semacam manik-manik. Bahan clan hiasannya sama dengan baju. hitam atau kuning. Poosong yang tidak berlapis logam disebut poosong surat. tapi bisa juga hanya takikan yang tidak tembus . Sedangkan kambu pirak dibuat dari lempengan tipis logam perak yang dibentuk menjadi topi kemudian ditatahkan . atau semacam rumput. atau dari rotan yang diserit tipis clan pipih. garis-garis diagonal dan horisontal berbentuk wajik. Sebagai pemanis disematkan bulu burung ruai sekeliling kambu pirak itu. tapi kini hampir tak ada lelaki. pada masyarakat Dayak Taman. sejenis burung merak yang hidup di haerah hulu Kapuas. Rotan yang sudah dibelah dimasukkan pada lobang "manik-manik perak" itu.

Gelang-gelang ini biasanya dipakai saat upacara adat keagamaan. dan wanita lanjut usia. bila terbuat dari untaian manik disebut tangkalae manik. clan orang tua. Ada beberapa macam model: baju kuurung sapek tangan yaitu baju kuurung tidak berlengan. agaknya. Gelang itu disebut tangkalae atau sumpae. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik jelas dibutuhkan kesabaran. yang paling popular sehingga hampir setiap keluarga Dayak Taman memilikinya. Yada pita itu dipasang kancing-kancing yang hanya berfungsi sebagai hiasan. galang pasan berupa anyaman serat tumbuhan. Model baju kuurung sesungguhnya sudah tua. Sekarang. Bentuknya sama dengan bulang kuurung hanya bagian depannya terbelah seperti kemeja pria biasa. baju kalaawat ini dipakai oleh setiap wanita remaja. kiri clan kanan. dan galang gading yang dibuat dari gading gajah. Dari berbagai ragam busana tradisional yang dimiliki masyarakat Dayak Taman. seperti galang bontok yang dibuat dari perak. Ada beberapa macam gelang-gelang yang biasanya dipakai pada upacara adat. . Sebagai kancing untuk mempertemukan kedua sisi baju dibuat dari tali kain berwarna. ketelitian dan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi dari baju burai king burai. baju kuurung hanya dipakai oleh para balien (dukun) dengan memilih warna hitam clan pada bagian-bagian pinggir bajunya diberi les atau pita kain warna merah yang lebarnya sekitar 3 cm. baju kuurung dokot tangan yakni baju kuurung lengan pendek. Kain berupa pita berwarna lain daripada warna bajunya dijahitkan pada bagian tepi baju. Busana Adat Lainnya Meskipun kini sudah jarang ditemukan. Yang dipakai oleh para balien wanita disebut bulang kalaawat. clan berlengan pendek. Sekarang hanya dipakai oleh dukun-dukun wanita. Yang dibuat dari kayu tapang dinamai tangkalae tapang. clan baju kuurung langke tangan ialah baju kuurung lengan panjang. masyarakat Dayak Taman juga menciptakan beberapa jenis busana untuk pelbagai keperluan acara adat. Kaum lelaki memakai satu hingga tiga buah gelang pada bagian lengan di atas siku. Hiasan manik-manik yang mengisi seluruh bidang membuat baju manik king manik lebih berat daripada baju burai king burai. yang kerap digunakan pada peristiwa-peristiwa penting seperti perhelatan adat atau perkawinan.digantungkan untaian logam perak. baju burai king burai clan baju manik king manik. Ketika masyarakat dayak Taman baru mengenal baju dari kulit kayu modelnya berbentuk baju kuurung. Terutama baju burai king burai. dewasa. clan yang dari jalinan tali ijuk dikenal sebagai tangkalae ijuk. galang manik yaitu untaian manik-manik pada serat daun nenas. Di antaranya adalah bulang (baju) kuurung. Baju berlubang leher bentuk bulat atau segitiga ini tidak berkerah clan polos tidak bersaku. Dahulu.

Sebagai pasangannya dikenakan baju taluk balanga (kemeja lengan panjang) dengan leher baju bulat dan sedikit mencuat ke atas. Sedangkan dalam acara-acara resmi seperti menghadiri upacara adat salawar diganti dengan tapih. Sebagai penutup kepala digunakan kopiah (kupiah) dari kain beludru. salawar kiyama dan sandal silang. sandal tali silang. Baju kiyama berbentuk baju lengan panjang dengan kerah berlipat . dominan warna kuning. Warna yang digunakan oleh remaja lebih mencolok. yang lazim disebut tapih kaling. yaitu sandal kalipik. kain satin (kupiah Padang) atau kupiah jangang. Bagian dada terbelah berkancing tiga. Pasangannya digunakan tapih. Bagi laki-laki dewasa yang ingin bepergian mengenakan kopiah hitam. dan selop. Laki-laki tua Banjar sehari-hari mengenakan baju palimbangan. yaitu kemeja berlengan panjang dengan leher baju bulat tanpa kerah dilengkapi dengan kancing lima dan berkantong tiga buah. sejenis sarung terbuat dari katun atau sutra bermotif garis-garis melintang dan membujur.Busana Tradisional Masyarakat Banjar Penulis Dewi Indrawati Busana tradisional yang biasa dipakai sehari-hari oleh remaja dan orang dewasa kaum lelaki Banjar adalah salawar panjang (celana panjang) yang menutup kaki sampai ke mata kaki. Alas kakinya ada berbagai jenis. tanpa kantong. baju kiyama. Pada saat-saat tertentu kelengkapan pakaian ini ditambah dengan tapih (kain sarung) yang disampirkan di bahu.

Warna pakaian ini biasanya dipilih yang muda. Untuk mengikat digunakan tali yang dimasukkan pada lubang (uluh-uluh). Kantongnya ada tiga buah. Baju ini berkancing lima biji. Pasangannya disebut celana kiyama memiliki bentuk sederhana. hanya tanpa saku. kebaya biasa yang diberi variasi kain yang memanjang di bagian depan yang dinamakan sawiwi atau sujab selebar 10 cm. satu di dada kiri. kalau mengenakan jas tutup harus bersabuk di pinggang. kuning muda. Ujung tangan dan kantong diberi piIit (les) dengan warna berbeda dari bahan baju. biasanya dipilih yang kontras dengan warna baju. kain Pagatan. dan jenis lain yang agak keras. ekstrimin. Bahan baju dari kain lena. Sanggul ini berbentuk bundar seperti angka delapan. yang mengacu pada lam alif dalam AlQur`an. Motif ini melambangkan sikap waspada. dan jenis lain yang agak tebal. Sebagai tutup kepala dikenakan laung tajak siak. Busana Upacara Adat Dalam menghadiri upacara resmi para lelaki remaja sampai dewasa mengenakan baju jas tutup. yaitu lam jalalah. Bagian tumpal sabuk yang bermotif pucuk rebung harus diletakkan di belakang. dari bahan kain poplin babalur (bergaris-garis vertikal) atau tetoron. Tutup kepala ini terbuat dari bahan beludru. Ada dua cara menata rambut yang disebut galung malang babuntut dan galung malang.neyerupai jas. Menjadi kebiasaan di daerah ini setiap perempuan menata rambutnya dengan cara disanggul (galung). Tetapi sekarang banyak dipakai kain wool. Fungsinya untuk menolak bahaya atau maksud-maksud jahat lainnya. Bentuknya sama dengan pantalon biasa. di depan dada dan kiri-kanan bawah dengan model masuk (bukan kantong tempel). tajam pemandangan dan kekuasaan yang tinggi. Baju ini dipadukan dengan celana panjang (salawar panjang). seperi biru muda. Ada dua pilihan sabuk. Mengikatnya harus mengikuti pola yang berlaku. Alas kakinya adalah selop dari beludru dan berkerudung kain sutra atau sasirangan. dan krem. belini dan friend ship. Dilengkapi kantong tiga buah. Untuk wanita dewasa dikenakan baju kubaya basawiwi (basujab). berbentuk segi tiga. Pada waktu bepergian mereka mengenakan baju kurung basisit. lurus tanpa kantong. Warna laung tajak siak harus sama dengan warna sabuk yang dikenakan. Yang kerap dipakai para remaja dan orang tua kaum perempuan Banjar adalah baju kubaya (kebaya) berpasangan dengan tapih batik bakarung (kain batik). Lengan baju sampai pergelangan tangan. dua di bagian bawah kiri dan kanan. Lehernya bundar dengan kerah kecil agak tegak. . Menjadi aturan. Terakhir dikenakan selop pada kedua kakinya dari bahan beludru dan kulit. Buntut pada sanggul menunjukkan pemakainya masih gadis. ujungnya diberi hiasan tiga biji kancing . yaitu sabuk air guci (payet) dan sabuk kain tenun Pegatan dengan berbagai pilihan warna. baju yang dilengkapi dengan tali pengikat di belakang leher dan kedua ujung lengan.

dan air guci. Bahan baju dapat dibuat dari kain sutra atau sasirangan. Kemudian keris yang dihiasi bogam bermotif bunga merah diselipkan di pinggang. Masyarakat Hindu dan Jawa banyak mempengaruhi pemakaian busana ini. Pemakaiannya rnulai dikembangkan dalam masyarakat Banjar sejak abad XIX. Dikenakan sarung dan penutup pinggang (tali gapu) berhiaskan air guci. Kemudian dikenakan jas terbuka tanpa kancing. Mempelai wanita mengenakan baju poko berlengan pendek ditutupi dengan kida-kida. Kepalanya ditutup dengan kakamban/serudung (kerudung) berbentuk segi empat. Sabuk berhias air guci dengan motif lelipan dipakai sebagai simbol kekuasaan dan kemuliaan. Bagian depan dihias dengan berbagai hiasan diikat di bagian belakang dengan buhul lam jalalah. Sebagai pengikat digunakan tali wenang berupa kain berwarna. Mempelai laki-laki mengenakan kemeja putih lengan pendek. kalung bermotif bunga-bungaan. Pada bagian dada dihias renda menutupi semua kancing. yaitu mantel sempit berhias yang berfungsi untuk menutup dada. Hiasan ini ditancapkan pada sanggul. . Pakaian Pengantin Baamar Galung Pancaran Matahari merupakan pakaian pengantin yang paling digemari oleh semua golongan masyarakat Banjar. Kalung panjang bogam dan liris-liris bunga.Bagi kaum perempuan dalam upacara resmi dikenakan baju kurung basisit lengkap dengan tapihnya. Pantalon terbuat dari bahan dan warna yang sama dengan jas. Sementara kalung samban rangkap tiga dan kalung marjan menghiasi bagian leher. Pagatan. Kaki mengenakan selop dari beludru. Sebagai hiasan digunakan sulaman benang emas dan air guci dengan motif pucuk rebung. Galang (gelang) karuncung melingkar di lengan. dengan segitiga lebih tinggi. Pada telinga dipasang anting-anting beruntai. sedangkan jari manisnya berhias cincin litring. Disebut baju kurung basisit karena pada bagian leher dan tangan dilengkapi tali pengikat (tali penyisit). dari kain sutra amban (sutra tipis) atau kain sasirangan yang dihiasi motif gigi haruan pada kedua sisinya. Perhiasannya berupa samban. Kepalanya dibalut destar model siak melayu. Aksesori penghias rambut terdiri dari kembang goyang (kambang goyang) dibedakan antara yang berapun (berumpun) dan tunggal berbentuk melati sebagai lambang kesucian. Baju ini dikombinasi dengan tapih Lasem.

yang dipenuhi oleh rangkaian bunga (palimbaian). bunga mawar merah dan bunga melati. Kakinya beralaskan selop beludru bersulam benang emas. untaian bunga depan dan belakang. Ornamen lain untuk rambut antara lain baquet dengan pita rambut. sabuk pinggang warna emas. dan untaian bunga warna keemasan. Cincin dari bunga mayang. untaian metalik. bunga melati yang diatur berbaris. Sepasang pengantin ini dipersandingkan di ba-tatai. bunga jepun berbentuk jepitan. Kelengkapan lainnya meliputi kerabu menganyun. kalung.Rambutnya disanggul model amar galung bertahtakan mahkota dihias dengan kembang goyang. terdiri dari daun sirih. serta bangle dipakai di lengan atas dan pergelangan kaki terbuat dari karet berbentuk lekuk akar atau irisan buncis. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful