Busana Tradisional Dayak Taman

Penulis Aat Soeratin, Jonny Purba Pada awalnya orang Dayak Taman mulai mengenal pakaian yang disebut king baba (king = cawat; baba = laki-laki) untuk laki-laki, clan king bibinge untuk perempuan (bibinge = wanita). Pakaian tersebut terbuat dari kulit kayu yang diproses hingga menjadi lunak seperti kain. Kulit kayu yang bisa difungsikan sebagai kain untuk membuat cawat, celana, baju, clan selimut itu disebut kapua atau ampuro. Namun kebudayaan kelompok etnik lain yang datang bergelombang menciptakan akulturasi yang setidaknya juga berimbas pada perkembangan tata busana masyarakat Dayak Taman. Maka jenis busana king baba clan king bibinge kini sudah hampir tak tampak dipergunakan lagi, kecuali dibuat sebagai hiasan atau perlengkapan kesenian clan, tak jarang, untuk koleksi cendera mata. Masyarakat Dayak Taman pun mengenal teknik menenun untuk membuat busana. Bahkan hingga kini masyarakat Dayak Taman dikenal sebagai penenun yang terampil. Dulu, yang ditenun adalah serat benang yang dihasilkan dari kulit pohon tengang. Warna dasar serat yang kuat clan liat ini coklat sangat muda. Untuk memperoleh warna hitam atau merah hati, warna yang dominan pada tenunan tradisional Dayak Taman, serat tengang itu dicelup dengan getah pohon yang dilarutkan dalam air. Tenunan yang beredar sekarang dengan warna-warna kuning, merah muda, putih, clan sebagainya, dibuat dari benang kapas yang diperoleh dari luar daerah. Kini telah sangat jarang dijumpai tenunan yang dibuat dari serat tengang sehingga busana adat masyarakat Taman pun menggunakan tenunan benang kapas. Busana Pengantin Ada dua jenis busana adat tradisional yang biasa dipakai oleh pengantin dalam masyarakat Dayak Taman. Kedua macam busana itu disebut baju burai king burai clan baju manik king manik. Baju burai king burai dipakai oleh para pendamping pengantin sedangkan kedua mempelai mengenakan baju manik king manik. Baju burai king burai terbuat dari bahan beludru berwarna hitam. Dibentuk seperti kebaya atau rompi panjang mirip baju tanpa lengan. Sebagai hiasannya dijahitkan kulit kerang kecil berwarna putih disusun membentuk motif daun dan bunga. Hiasan ini diterapkan pada seluruh permukaan kain namun masih menyisakan bidang polos sehingga masih tampak kain dasarnya. Kini, kulit kerang atau keong kecil, yang konon harus didatangkan dari Kalimantan Selatan itu, sulit didapatkan sehingga sebagai gantinya dipakai kancing kecil berwarna putih mengkilap. Sebagai busana bawahnya, kaum perempuan mengenakan

semacam rok yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut, dari bahan yang sama dengan baju, juga diberi hiasan sejenis dengan hiasan bajunya. Sedangkan para lelaki memakai celana panjang sebatas lutut, juga dari kain yang sama, dan memakai semacam dodot dari kain yang telah diberi hiasan. Baju manik king manik bisa dikatakan sebagai pengembangan dari baju burai king burai. Hiasan baju manik king manik adalah rangkaian manik-manik halus yang menutup hampir seluruh bidang baju sehingga kain dasarnya nyaris tak tampak lagi. Pada seputar ujung bawah baju atau rok digantungkan untaian uang logam perak sehingga baju manik king manik lebih berat ketimbang baju burai king burai. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik, jelas, dibutuhkan kesabaran, ketelitian, clan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi daripada baju burai king burai. Maka, tak mengherankan, jika mempelai mengenakan baju manik king manik sedangkan para pendamping pengantin "hanya" memakai baju burai king burai. Sebagai pelengkap busana, pada masyarakat Dayak Taman dikenal pula berbagai ragam perhiasan berupa ikat kepala, topi atau kopiah, subang penghias telinga, kalung, gelanggelang, dan sebagainya. Penghias kepala clan rambut kaum wanita disebut tengkulas yang dibuat dari kain bermotif kembang-kembang, garis-garis diagonal dan horisontal berbentuk wajik, atau batik, clan lebih disukai yang berwarna mencolok: merah, hitam atau kuning. Jika tengkulas itu sepenuhnya dibuat dari anyaman untaian manik-manik disebut indulu manik. Pada tengkulas atau indulu manik ditambahkan bulu burung ruai, sejenis burung merak yang hidup di haerah hulu Kapuas. Untuk lelaki dikenal semacam topi yang bernama kambu manik dan kambu pirak. Kambu manik dibuat dari jalinan serat sejenis pohon pandan, atau semacam rumput, atau dari rotan yang diserit tipis clan pipih, yang dianyam menjadi bentuk topi. Lalu diimbuhkan untaian manik sepenuh bidang kambu. Sedangkan kambu pirak dibuat dari lempengan tipis logam perak yang dibentuk menjadi topi kemudian ditatahkan - menjadi bentuk kerawang, tapi bisa juga hanya takikan yang tidak tembus motif-motif bunga dan dedaunan pada permukaan luar kambu. Sebagai pemanis disematkan bulu burung ruai sekeliling kambu pirak itu. Bulu burung ruai yang disematkan pada tengkulas, indulu manik, maupun kambu, disebut tajuk bulu aruae. Penghias telinga berupa subang disebut poosong. Dulu, kaum wanita clan para pria memakai poosong, tapi kini hampir tak ada lelaki, juga sangat sedikit para perempuan, yang memakainya. Poosong dibuat dari kayu yang dibentuk bulat berdiameter 3 - 6 cm, dengan ketebalan, lebih-kurang, 1 cm. Kemudian diukir dan dilapisi plat emas, perak, perunggu/tembaga, atau kaca. Poosong yang tidak berlapis logam disebut poosong surat, yang dilapisi dengan emas dinamai poosong emas. Poosong pernah dianggap sebagai identitas wanita dayak Taman. Cuping telinga yang dipasangi poosong menjadi lebar,

sehingga nampak sangat unik dan khas. ikat pinggang itu disebut sasawak tali murung.menggelayut. Jika tali penguntainya juga dibuat dari kawat logam perak. Gelanggelang ini biasanya dipakai saat upacara adat keagamaan. clan yang dari jalinan tali ijuk dikenal sebagai tangkalae ijuk. Kalung ini dipakai saat upacara adat. Bagian depan rok bawah baju manik king manik yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. Ikat pinggang untuk mempercantik penampilan dinamai sasawak. Kalung ini dibuat dari logam perak yang dicairkan kemudian dicetak pada solongsong bambu berdiameter kecil. Rotan yang sudah dibelah dimasukkan pada lobang "manik-manik perak" itu. Ada beberapa macam model: baju kuurung sapek tangan yaitu baju kuurung tidak berlengan. kiri clan kanan. masyarakat Dayak Taman juga menciptakan beberapa jenis busana untuk pelbagai keperluan acara adat. clan baju kuurung langke tangan ialah baju kuurung lengan panjang. Busana Adat Lainnya Meskipun kini sudah jarang ditemukan. penghias leher. Model baju kuurung . Lalu dibekukan dan dikalungkan pada leher. Misalnya saja kalong manik pirak. Dikenal. baju kuurung dokot tangan yakni baju kuurung lengan pendek. galang manik yaitu untaian manik-manik pada serat daun nenas. Hiasan manik-manik yang mengisi seluruh bidang membuat baju manik king manik lebih berat daripada baju burai king burai. dan galang gading yang dibuat dari gading gajah. Dibuat dari manikmanik yang diuntai oleh tali akar tengang. pada masyarakat Dayak Taman. Ada beberapa macam gelang-gelang yang biasanya dipakai pada upacara adat. Sasawak lampit karumut dipakai oleh kaum perempuan. seperti galang bontok yang dibuat dari perak. galang pasan berupa anyaman serat tumbuhan. tapi umumnya hanya dipakai perempuan. ketelitian dan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi dari baju burai king burai. Ada juga yang dinamakan kalong manik lawang. Yang dibuat dari kayu tapang dinamai tangkalae tapang. Dibuat dari logam perak clan rotan. Perak dilebur hingga cair kemudian dicetak menjadi semacam manik-manik. kalung yang biasa dipakai perempuan dan lelaki. Di antaranya adalah bulang (baju) kuurung. bila terbuat dari untaian manik disebut tangkalae manik. Bahan clan hiasannya sama dengan baju. antara lain. dua macam sasawak: sasawak lampit karumut dan sasawak tali murung. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik jelas dibutuhkan kesabaran. Gelang itu disebut tangkalae atau sumpae. Ada beberapa macam kalung. Kaum lelaki memakai satu hingga tiga buah gelang pada bagian lengan di atas siku. Pada seputar ujung rok dan baju digantungkan untaian logam perak.

Sekarang. Sebagai kancing untuk mempertemukan kedua sisi baju dibuat dari tali kain berwarna. . Kain berupa pita berwarna lain daripada warna bajunya dijahitkan pada bagian tepi baju. clan berlengan pendek. baju kuurung hanya dipakai oleh para balien (dukun) dengan memilih warna hitam clan pada bagian-bagian pinggir bajunya diberi les atau pita kain warna merah yang lebarnya sekitar 3 cm. baju burai king burai clan baju manik king manik. agaknya. Baju berlubang leher bentuk bulat atau segitiga ini tidak berkerah clan polos tidak bersaku. Terutama baju burai king burai. yang kerap digunakan pada peristiwa-peristiwa penting sepertiperhelatan adat atau perkawinan. Ketika masyarakat dayak Taman baru mengenal baju dari kulit kayu modelnya berbentuk baju kuurung. Dari berbagai ragam busana tradisional yang dimiliki masyarakat Dayak Taman. clan orang tua. dan wanita lanjut usia. baju kalaawat ini dipakai oleh setiap wanita remaja. Bentuknya sama dengan bulang kuurung hanya bagian depannya terbelah seperti kemeja pria biasa. dewasa.sesungguhnya sudah tua. Dahulu. Sekarang hanya dipakai oleh dukun-dukun wanita. Yada pita itu dipasang kancing-kancing yang hanya berfungsi sebagai hiasan. yang paling popular sehingga hampir setiap keluarga Dayak Taman memilikinya. Yang dipakai oleh para balien wanita disebut bulang kalaawat.

.

yaitu lam jalalah. Pasangannya disebut celana kiyama memiliki bentuk sederhana. Bagian dada terbelah berkancing tiga. Mengikatnya harus mengikuti pola yang berlaku. Menjadi aturan. sejenis sarung terbuat dari katun atau sutra bermotif garis-garis melintang dan membujur. Menjadi kebiasaan di daerah ini setiap perempuan menata rambutnya dengan cara disanggul (galung). dari bahan kain poplin babalur (bergaris-garis vertikal) atau tetoron. dan jenis lain yang . biasanya dipilih yang kontras dengan warna baju. yang lazim disebut tapih kaling. Untuk mengikat digunakan tali yang dimasukkan pada lubang (uluh-uluh). dua di bagian bawah kiri dan kanan. Laki-laki tua Banjar sehari-hari mengenakan baju palimbangan. Sedangkan dalam acara-acara resmi seperti menghadiri upacara adat salawar diganti dengan tapih. Kantongnya ada tiga buah. Motif ini melambangkan sikap waspada. dan jenis lain yang agak tebal. Yang kerap dipakai para remaja dan orang tua kaum perempuan Banjar adalah baju kubaya (kebaya) berpasangan dengan tapih batik bakarung (kain batik). kebaya biasa yang diberi variasi kain yang memanjang di bagian depan yang dinamakan sawiwi atau sujab selebar 10 cm. baju kiyama. baju yang dilengkapi dengan tali pengikat di belakang leher dan kedua ujung lengan. kain satin (kupiah Padang) atau kupiah jangang. Warna pakaian ini biasanya dipilih yang muda. Warna yang digunakan oleh remaja lebih mencolok. Ada dua pilihan sabuk. Baju ini dipadukan dengan celana panjang (salawar panjang). Bagi laki-laki dewasa yang ingin bepergian mengenakan kopiah hitam. Sebagai tutup kepala dikenakan laung tajak siak. belini dan friend ship. seperi biru muda. Lengan baju sampai pergelangan tangan. Sebagai penutup kepala digunakan kopiah (kupiah) dari kain beludru. Sebagai pasangannya dikenakan baju taluk balanga (kemeja lengan panjang) dengan leher baju bulat dan sedikit mencuat ke atas. Alas kakinya adalah selop dari beludru dan berkerudung kain sutra atau sasirangan. Baju ini berkancing lima biji. Lehernya bundar dengan kerah kecil agak tegak. dan krem. tanpa kantong. Tetapi sekarang banyak dipakai kain wool. ujungnya diberi hiasan tiga biji kancing . hanya tanpa saku. kuning muda. kalau mengenakan jas tutup harus bersabuk di pinggang. sandal tali silang. Dilengkapi kantong tiga buah. kain Pagatan. Pada saat-saat tertentu kelengkapan pakaian ini ditambah dengan tapih (kain sarung) yang disampirkan di bahu. Busana Upacara Adat Dalam menghadiri upacara resmi para lelaki remaja sampai dewasa mengenakan baju jas tutup. yaitu sabuk air guci (payet) dan sabuk kain tenun Pegatan dengan berbagai pilihan warna. Sanggul ini berbentuk bundar seperti angka delapan. Alas kakinya ada berbagai jenis. Untuk wanita dewasa dikenakan baju kubaya basawiwi (basujab). tajam pemandangan dan kekuasaan yang tinggi. Pada waktu bepergian mereka mengenakan baju kurung basisit. berbentuk segi tiga. Ujung tangan dan kantong diberi piIit (les) dengan warna berbeda dari bahan baju. Bentuknya sama dengan pantalon biasa. yang mengacu pada lam alif dalam Al-Qur`an. dominan warna kuning. Fungsinya untuk menolak bahaya atau maksud-maksud jahat lainnya. Baju kiyama berbentuk baju lengan panjang dengan kerah berlipat neyerupai jas. salawar kiyama dan sandal silang. Ada dua cara menata rambut yang disebut galung malang babuntut dan galung malang.Busana Tradisional Masyarakat Banjar Penulis Dewi Indrawati Busana tradisional yang biasa dipakai sehari-hari oleh remaja dan orang dewasa kaum lelaki Banjar adalah salawar panjang (celana panjang) yang menutup kaki sampai ke mata kaki. lurus tanpa kantong. satu di dada kiri. Bagian tumpal sabuk yang bermotif pucuk rebung harus diletakkan di belakang. Pasangannya digunakan tapih. Bahan baju dari kain lena. Buntut pada sanggul menunjukkan pemakainya masih gadis. di depan dada dan kiri-kanan bawah dengan model masuk (bukan kantong tempel). yaitu sandal kalipik. Tutup kepala ini terbuat dari bahan beludru. yaitu kemeja berlengan panjang dengan leher baju bulat tanpa kerah dilengkapi dengan kancing lima dan berkantong tiga buah. ekstrimin. dan selop.

Pada telinga dipasang anting-anting beruntai. Ornamen lain untuk rambut antara lain baquet dengan pita rambut. dengan segitiga lebih tinggi. . Bagian depan dihias dengan berbagai hiasan diikat di bagian belakang dengan buhul lam jalalah. serta bangle dipakai di lengan atas dan pergelangan kaki terbuat dari karet berbentuk lekuk akar atau irisan buncis. bunga mawar merah dan bunga melati. Galang (gelang) karuncung melingkar di lengan. Kepalanya ditutup dengan kakamban/serudung (kerudung) berbentuk segi empat. Pantalon terbuat dari bahan dan warna yang sama dengan jas. terdiri dari daun sirih. Terakhir dikenakan selop pada kedua kakinya dari bahan beludru dan kulit. sabuk pinggang warna emas. yang dipenuhi oleh rangkaian bunga (palimbaian). Pagatan. Kemudian keris yang dihiasi bogam bermotif bunga merah diselipkan di pinggang. Bahan baju dapat dibuat dari kain sutra atau sasirangan. Perhiasannya berupa samban. Dikenakan sarung dan penutup pinggang (tali gapu) berhiaskan air guci. Kaki mengenakan selop dari beludru. sedangkan jari manisnya berhias cincin litring. Pakaian Pengantin Baamar Galung Pancaran Matahari merupakan pakaian pengantin yang paling digemari oleh semua golongan masyarakat Banjar. Kemudian dikenakan jas terbuka tanpa kancing. Rambutnya disanggul model amar galung bertahtakan mahkota dihias dengan kembang goyang. Aksesori penghias rambut terdiri dari kembang goyang (kambang goyang) dibedakan antara yang berapun (berumpun) dan tunggal berbentuk melati sebagai lambang kesucian. Cincin dari bunga mayang. dan air guci. Sabuk berhias air guci dengan motif lelipan dipakai sebagai simbol kekuasaan dan kemuliaan. untaian bunga depan dan belakang.agak keras. Kalung panjang bogam dan liris-liris bunga. Pada bagian dada dihias renda menutupi semua kancing. Kakinya beralaskan selop beludru bersulam benang emas. kalung bermotif bunga-bungaan. Bagi kaum perempuan dalam upacara resmi dikenakan baju kurung basisit lengkap dengan tapihnya. Hiasan ini ditancapkan pada sanggul. untaian metalik. bunga melati yang diatur berbaris. kalung. Sementara kalung samban rangkap tiga dan kalung marjan menghiasi bagian leher. Sebagai pengikat digunakan tali wenang berupa kain berwarna. Pemakaiannya rnulai dikembangkan dalam masyarakat Banjar sejak abad XIX. Sebagai hiasan digunakan sulaman benang emas dan air guci dengan motif pucuk rebung. yaitu mantel sempit berhias yang berfungsi untuk menutup dada. bunga jepun berbentuk jepitan. Kepalanya dibalut destar model siak melayu. Baju ini dikombinasi dengan tapih Lasem. Warna laung tajak siak harus sama dengan warna sabuk yang dikenakan. Disebut baju kurung basisit karena pada bagian leher dan tangan dilengkapi tali pengikat (tali penyisit). Mempelai wanita mengenakan baju poko berlengan pendek ditutupi dengan kida-kida. Masyarakat Hindu dan Jawa banyak mempengaruhi pemakaian busana ini. Sepasang pengantin ini dipersandingkan di ba-tatai. Kelengkapan lainnya meliputi kerabu menganyun. dan untaian bunga warna keemasan. dari kain sutra amban (sutra tipis) atau kain sasirangan yang dihiasi motif gigi haruan pada kedua sisinya. Mempelai laki-laki mengenakan kemeja putih lengan pendek.

mengusik hasrat masyarakat Dayak Ngaju untuk "mempercantik" penampilan. warna hitam dari jelaga. menjadi corak hias busana adat. gelang. yang disebut ewah. Maka tampillah stilasi bentuk flora dan fauna. para tetua adat. misalnya. dan sebagainya. yang konon telah bangkit pada hati setiap manusia sejak ribuan tahun silam. tak diberi hiasan. Misalnya saja. yang bahannya juga dipungut dari alam sekitar. warna putih dari tanah putih dicampur air. Setelah dianggap halus "kain" itu dipotong untuk dibuat baju dan celana. Corak hias ini sangat berarti bagi masyarakat Dayak Ngaju sehingga busana adat untuk upacaraupacara penting . lalu tenunan serat alam yang "kasar". Pengaruh agama Hindu pada kepercayaan asal masyarakat Ngaju. Busana itu berwarna coklat muda. yang bermakna sangat filosofis. Salah satu mitologi masyarakat Dayak Ngaju yang terkenal adalah tentang penciptaan alam yang melahirkan simbolisasi "pohon hayat" atau "pohon kehidupan" dalam bentuk corak hias yang dikenal dengan nama batang goring. gigi dan taring binatang dirangkai menjadi kalung. upacara meminta hujan. melahirkan apa yang kemudian dikenal sebagai agama Hindu Kaharingan. warna merah dari buah rotan. Dan kesederhanaan pakaian kulit kayu itu kemudian memancarkan esensi keindahan karena imbuhan warnawarni flora dan fauna yang ditambahkan sebagai pelengkap busana.berbeda untuk perempuan dan lelaki . kalung. manusia. Akan tetapi naluri berdandan. bunga. Maka baju kulit kayu sederhana itu pun lalu dilengkapi dengan aksesori ikat kepala (salutup hatue untuk kaum lelaki dan sal utup bawi untuk para perempuan). panglima perang. pun punya makna simbolik. giwang (suwang). kepala suku. upacara pengobatan belian obat kelengkapannya adalah busana dengan corak hias batang garing. Celananya adalah cawat yang. Sinkretisme itu melahirkan pelbagai keyakinan dan mitologi dan mengilhami lahirnya corak hias naga. Bajunya berupa rompi unisex tanpa hiasan apapun. akar pohon. Corak hias yang digambarkan pada busana juga diilhami oleh apa yang mereka lihat di alam sekelilingnya. Busana Kulit Kayu Beratus tahun lalu masyarakat Dayak membuat busana dengan bahan dasar kulit kayu yang disebut kulit nyamu. Pada perkembangan selanjutnya masyarakat Dayak Ngaju pun mulai membubuhkan warna dan corak hias pada busana mereka. gelang dibikin dari tulang binatang buruan. dan berbagai aksesori lainnya yang mendaurulangkan limbah keseharian mereka. Rompi sederhana ini dalam bahasa Ngaju disebut sangkarut. dalam kepercayaan Kaharingan.Busana Tradisional Dayak Ngaju Mengalirnya waktu dan berbaurnya pelbagai budaya menyebabkan perkembangan estetika masyarakat Dayak Ngaju yang semakin bergeser dari nilai-nilai asalnya meski tak menghilangkan substansinya. rajah (tatoo) pada bagian-bagian tubuh tertentu.misalnya upacara tiwah. ketika dikenakan. warna asli kayu. kemudian kain tenun halus. untuk mengantar ruh manusia yang meninggal dunia ke peristirahatannya.bagi para pemuka kelompok. warna kuning dari kunyit. harimau akar. Kulit kayu dari pohon keras itu ditempa dengan pemukul semacam palu kayu hingga menjadi lemas seperti kain. Hal itu nyata terlihat dengan berkembangnya seni berbusana masyarakat asli Pulau Kalimantan ini. tak pula diwarnai. dan sebagainya. dedaunan. kemudian desain yang tak lagi sekadar fungsional. selain tampil artistik. Awalnya kulit kayu. yang cenderung animistik. burung. Biji-bijian. Bahan pewarna itu secara kreatif diolah dari yang tersedia pada alam sekitar mereka. sehingga kesannya sangat alamiah. Selain itu. . semua itu adalah fenomena yang menyiratkan bergesernya nilai-nilai tata cara berbusana dan seni berdandan masyarakat Dayak Ngaju. Model busananya sangatlah sederhana dan semata fungsional. bagian depannya ditutup lembaran kain nyamu berbentuk persegi panjang. giwang dari kayu keras. Keyakinan dan alam mitologi juga memberi inspirasi pada penciptaan ragam corak hias busana adat sehingga gambar-gambar itu. kulit kerang. dan ahli pengobatan. diatur pula pemakaian corak hias busana adat .

Mereka kemudian melirik rotan. atau sutra. jalinan serat alam. Busana kaum perempuan terdiri dari baju kurung ngasuhui berlengan panjang atau pendek. Pada kerah. tampil pula dalam ekspresi yang lain. koleksi museum. Eksplorasi terus dilakukan untuk mencari bahan-bahan lain yang bisa dibuat benang. Hasilnya adalah tata busana yang memadukan kulit kayu. celana. Maka diadaptasilah teknik menenun kain halus itu dan kreativitas para penenun masyarakat Ngaju kemudian melahirkan juga kain tenun halus. Kain-kain tersebut ditenun dari serat kapas atau sutra. dan bagian dada. berhiaskan gambar pewarna alam. atau cendera mata. Maka kulit kayu yang semula hanya ditempa menjadi lembaran-lembaran "kain". Mereka pun lalu menciptakan alat penjalin untuk "merangkai" serat demi serat menjadi bentangan bahan busana untuk baju. batang garing. celana . sumpit. dan anting-anting atau suwang. Dan aksesori yang dikenakannya adalah kalung manik-manik. Corak hiasnya masih menampilkan alam flora. Temuan-temuan baru itu kemudian dikembangkan lagi secara kreatif oleh para perancang busana masyarakat Ngaju. Betapa tidak. manikmanik itu juga kemudian diaplikasikan menjadi hiasan busana.Busana Jalinan Serat Alam Inovasi yang paling signifikan pada rancangan busana masyarakat Dayak adalah penguasaan keterampilan menjalin serat alam. Busana tradisional masyarakat Ngaju yang beredar sekarang ini hampir seluruhnya dibuat dari kain tenun halus serat kapas atau sutra. Paduannya rok panjang sebatas betis. Pakaian yang dibuat bukan lagi hanya untuk fungsi yang paling mendasar yakni baju dan celana untuk melindungi bagian tubuh yang dianggap paling penting saja. Akan tetapi corak hias dan modelnya tidak bergeser jauh dari bentuk asalnya. Masyarakat Ngaju. disebut salui. lawung bawi. Orang-orang Cina dan India memperkenalkan manik-manik yang terbuat dari logam. tapi diperluas untuk keperluan lainnya. manusia. untuk kostum tarian. awan. Busana Kain Tenun Halus Para pedagang Gujarat dari India yang datang ke Nusantara membawa serta kain-kain tenun halus sebagai barang dagangan. satin. diperkenalkan kepada masyarakat Ngaju oleh orang-orang Bugis. Teknik menenun. kayu. kebanyakan dibuat dari kain beludru. Umpamanya saja sangkarut perang dari jalinan rotan (sangkarut perang) untuk penahan tusukan anak panah. yang pada bagian bawahnya diberi corak hias stilasi bentuk flora atau fauna. juga dari beludru atau satin. Akan tetapi. dari kain satin atau beludru. ujung lengan baju. keramik. hiasannya tetap mengekspresikan keakraban mereka dengan alam. burung enggang. akar tumbuhan. ular. kini diolah dengan teknik yang memerlukan kesabaran dan konsentrasi tinggi. Pakaian tradisional masyarakat Ngaju yang sekarang dianggap sebagai busana daerah Kalimantan Tengah untuk pelbagai upacara adat adalah pengembangan dari busana tradisonal masa lampau. Dan kini pucuk rebung. harimau akar. konon. sehingga "kain" yang dihasilkan menjadi beragam. diberi hiasan. terutama yang bermukim di daerah pesisir dan pusat kerajaan. pakaian acara-acara adat. memberikan apresiasi positif terhadap bahan busana yang sebelumnya tidak ada pada khasanah karya tenun mereka itu. melengkapi yang sebelumnya telah dibuat masyarakat Ngaju dari biji-bijian. model baju pria Melayu tapi berkerah. Busana pengantin. ikat kepala. Baju kaum lelaki disebut baju palembangan. Rambut yang disanggul bentuk sanggul lipat atau dibiarkan terurai dihias ikat kepala. kostum taritarian. dan mitologi. fauna. dan sebagainya. dari kain yang sama yang juga diberi corak hias berupa penggayaan bentuk flora atau fauna. jenis rumputrumputan. dan tombak. umpamanya saja. dan aplikasi manik-manik dan arguci. Celananya disebut selawar gobeh. dari kain yang sewarna dengan baju dengan sehelai bulu burung haruei yang diselipkan pada ikat kepala bagian belakang. Selain untuk aksesori. Jenis-jenis busana seperti ini sekarang pun masih bisa dibuat untuk berbagai keperluan. Maka busana masyarakat Ngaju jadi semakin ornamentik dan semarak warna. karena ternyata alam Nusatara yang kaya raya juga menyediakan kapas dan sutra. Rancangan dan fungsi busana pun turut berkembang. dan kelengkapan lainnya. Dari kulit kayu yang telah dihaluskan mereka membuat serat yang dicelup oleh bahan pewarna alam sehingga dihasilkan benang yang tak tunggal warna. dan tulang.

panjang "komprang" (tidak ketat) dari kain yang sama dengan bajunya. Sedangkan penutup kepala dibuat dari kain yang dibentuk seperti peci atau kopiah yang disebut lawung siam. Penulis Aat Soeratin .

Busana Tradisional Kutai Kutai Tradional Dress Penulis Aat Soeratin, Jonny Purba Seperti telah disinggung di muka, masyarakat Kutai mengalami persentuhan budaya dengan masyarakat Bugis yang datang dan menetap di daerah pesisir. Akulturasi itu, antara lain, mewartakan adanya tradisi menenun yang ekspresinya sangat berlainan dengan yang telah dikenal oleh masyarakat asli Kalimantan Timur. Dan sejalan dengan luruhnya perbauran antar budaya terlahirlah beragam hasil tenunan yang menunjukkan keindahan tersendiri yang kemudian semakin memperkaya khasanah kain tenun Nusantara. Tenun sutra dengan ragam hias floral yang dikenal sebagai "Kain Samarinda" misalnya, masyhur sebagai hasil tenunan yang khas Kalimantan Timur. Seperti lazim berlaku pada setiap kelompok etnik manapun, berdasarkan fungsinya, jenis-jenis pakaian dapat dibedakan sebagai pakaian sehari-hari, pakaian kerja, pakaian bepergian, pakaian pesta/upacara adat, dan sebagainya. Masing-masing fungsi busana itu juga dapat dibedakan berdasarkan jenis kelamin, umur, dan status sosial pemakainya. Pakaian sehari-hari yang dikenakan masyarakat Kutai disesuaikan dengan suhu udara daerah itu yang relatif panas. Oleh karenanya dipilih kain yang tipis, namun tidak tembus pandang, dari bahan katun untuk baju, celana, kain panjang, yang dipakai sehari-hari. Busana keseharian khas masyarakat Kutai yang hingg sekarang masih sering dijumpai adalah pelembangan dan baju Cina. Baju pelembangan, yang modelnya seperti piyama, dipakai oleh kaum lelaki. Pakaian bawahnya adalah seluar sekoncong, celana panjang dengan pipa celana yang longgar agar tak terasa panas, atau kain sarung pelekat. Jika bepergian memakai ikat fepala, destar, dari kain batik. Akan tetapi kini amat jarang para lelaki Kutai yang sehari-harinya memakai destar. Kaum perempuannya mengenakan baju Cina, semacam kebaya tidak berkerah, berkancing lima buah dan dipasangi dua buah kantong/saku di kiri-kanan bagian bawah bajunya. Para gadis atau ibu-ibu muda memakai sarung caul, yaitu kain panjang batik yang sudah dijahit berbentuk sarung. Jika bepergian paduan busana itu dilengkapi dengan babat (kain pinggang) dari kain Samarinda. Sedangkan wanita lanjut usia biasanya memakai sarung pelekat. Agar tampil rapi, rambut kaum wanita disanggul bentuk gelung Kutai, dan diberi kerudung ketika bepergian. Busana tradisional Kutai, sebagian diantaranya, dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa dan Melayu. Pakaian adat tradisional inilah yang hingga kini relatif masih bertahan dari pengaruh perkembangan mode busana. Dan di antara beragam pakaian adat atau busana upacara, salah satu yang paling kerap dijumpai adalah pakaian pengantin yang dikenal sebagai baju takwo dan baju kustim. Baju Takwo Pakaian adat Kutai yang menunjukkan perbedaan yang mencolok dengan pakaian adat suku-suku lain di Kalimantan Timur ialah baju takwo. Dahulu, baju takwo adalah pakaian kaum bangsawan atau busana para penari saat mengikuti upacara adat. Akan tetapi kini, masyarakat banyak pun mengenakan baju takwo sebagai busana pengantin. Saat upacara pernikahan berlangsung, mempelai wanita memakai baju takwo. Bentuk baju takwo mirip jas tutup tapi berleher tinggi. Di bagian depannya diimbuhkan sepotong kain, disebut jelapah, yang menutup bagian tengah dada dari bawah leher hingga pinggul. Di bagian pinggir kiri dan kanan jelapah diimbuhkan lima pasang kancing, sedang pada bagian lehernya dipasang dua buah kancing. Baju takwo kerap dibuat dari kain katun, linen, atau beludru. Paduannya adalah kain panjang biasanya bermotif parang rusak yang bagian sisinya diberi ornamen berupa rumbai-rumbai keemasan. Kain panjang ini dipakai hingga menutup mata kaki dan dibebatkan sedemikian rupa sehingga sisi kain yang berumbai berlipat-lipat di bagian depan dan nampak artistik. Rambut mempelai wanita disanggul berbentuk gelung siput, dihiasi gerak

gempa (kembang goyang) berwujud bunga melati yang dibuat dari emas atau perak bersepuh emas. Selop atau alas kaki yang digunakan biasanya berwarna hitam atau coklat. Mempelai pria juga mengenakan baju takwo, dipadukan dengan celana panjang. Kain panjang yang sama motifnya dengan yang dipakai mempelai wanita difungsikan sebagai dodot. Kain itu dibebatkan seputar pinggang, bagian depannya hanya sebatas lutut dan bagian sisi yang berumbai menjuntai dari bagian belakang hingga ke mata kaki. Sebagai hiasan kepala dipakai sentorong, sejenis peci atau kopiah berbentuk bundar, tingginya 15 cm dan dibuat dari kain beludru hitam. Sedangkan selop yang dipakai berwarna coklat atau hitam. Mempelai pria juga mengenakan baju takwo, dipadukan dengan celana panjang. Kain panjang yang sama motifnya dengan yang dipakai mempelai wanita difungsikan sebagai dodot. Kain itu dibebatkan seputar pinggang, bagian depannya hanya sebatas lutut clan bagian sisi yang berumbai menjuntai dari bagian belakang hingga ke mata kaki. Sebagai hiasan kepala dipakai sentorong, sejenis peci atau kopiah berbentuk bundar, tingginya 15 cm dan dibuat dari kain beludru hitam. Sedangkan selop yang dipakai berwarna coklat atau hitam. Baju Kustim Busana pengantin yang sekarang biasa dipakai oleh golongan menengah-atas masyarakat Kutai disebut baju kustim. Nama kustim berasal dari kata "kostum" yang bermakna "baju tanda kebesaran". Bentuk baju kustim sama dengan baju takwo hanya saja untuk baju kustim pada sisi jelapah, leher baju, dan ujung lengan baju dihiaskan pasmen, yaitu sulaman stilasi bentuk bunga atau flora dari benang emas. Pasmen yang terbuat dari benang serat logam mulia (emas) tak bisa dikerjakan sembarang orang. Ada perajin khusus yang menekuni profesi membuat pasmen benang logam emas ini. Rambut wanita disanggul bentuk gelung siput, diimbuh hiasan kembang gempa. Prianya memakai sentorong dengan pasmen benang keemasan. Di bagian depan sentorong dipasang wapen, semacam lencana, atau lambang yang menunjukkan derajat sosial pemakainya. Alhasil, pasmen dan wapen inilah yang mebedakan baju takwo dan baju kustim sebagai busana pengantin masyarakat Kutai. Maka tak jarang pengantin Kutai masa kini menggunakan kedua jenis busana ini. Ketika akad nikah mereka mengenakan busana dengan baju takwo, dan tatkala perayaan pernikahan memakai pakaian pengantin berbaju kustim. BUSANA ADAT DAYAK BENUAQ Aat Soeratin J onny Purba Salah satu suku bangsa yang mendiami daerah hulu sungai Mahakam adalah suku bangsa Dayak Benuaq. Daerah persebarannya mencakup Kecamatan Danau Jempang, terutama di desa Tanjung Isuy, Pentat, Muara Nayan, dan Lempunah, serta sebagian di Kec. Tenggarong. Bahan yang terkenal untuk pakaian adat tradisional Dayak Benuaq adalah kain tenunan serat daun doyo (Curculigo latifolia). Secara almiah tumbuhan sejenis pandan ini berkembang dengan subur di daerah Tanjung Isuy. Dari tumbuhan inilah masyarakat Dayak Benuaq membuat benang yang kuat untuk ditenun. Daun doyo dipotong sepanjang 1-1,5 meter dan direndam di dalam air. Setelah daging daun hancur lalu seratnya diambil. Biasanya warna tenunan kain doyo (ulap doyo) memiliki tiga warna: merah, hitam, dan warna coklat muda. Ulap doyo dianggap sebagai tenun ikat yang sangat khas Dayak Benuaq. Motifnya stilasi dari bentuk flora, fauna, dan alam mitologi, sebagaimana lazimnya motif hias masyarakat Dayak lainnya. Pada bidang yang berwarna terang, pada kain bercorak hias itu muncul titik-titik hitam yang dihasilkan dari pengikatan sebelum dicelup bahan pewarna. Titik-titik hitam inilah yang hampir tak ditemui pada tenun ikat manapun di daerah lain. Dari kain tenun serat doyo ini dibuatlah destar, kopiah, baju, sarung, dan sebagainya.

Akulturasi dengan budaya lain juga meresap hingga ke pedalaman. Maka masyarakat Benuaq pun kemudian mengenal kain tenun kapas dengan warna-warni yang sangat kontras dengan warna serat tenun mereka. Dan dengan sangat kreatif masyarakat Benuaq mengaplikasikan kain-kain tersebut pada karya tenun ikat mereka. Hasilnya adalah busana upacara yang dibuat dari kombinasi tenunan serat doyo dengan kain warna-warni sebagai corak hias yang artistik, misalnya busana adat yang dipakai oleh para pemeliaten (ahli pengobatan tradisional). Busana Adat Dalam pelbagai upacara adat seperti misalnya upacara kematian, upacara pengobatan, upacara panen hasil bumi, dan sebagainya, kaum perempuan mengenakan ulap doyo yang berfungsi seperti kain panjang (tapeh). Agar bebas bergerak ulap ini diberi belahan yang jika dipakai belahan itu berada di bagian belakang. Ulap yang berbelah ini disebut ulap sela. Ulap yang dikenakan sehari-hari biasanya berwarna hitam sedangkan yang dikenakan saat mengikuti upacara adat, diberi hiasan kain perca warna-warni bermotif bunga atau dedaunan. Sebagai baju biasanya dipakai kebaya tanpa lengan atau yang berlengan panjang. Sedangkan kaum pria biasanya menggunakan tenunan serat doyo ini untuk baju tanpa lengan dan celana pendek. Dalam masyarakat Dayak masa lalu terjadi pelapisan sosial karena dulu masih terdapat raja pada setiap sukunya. Turunan para raja kemudian menurunkan para bangsawan yang disebut golongan mantiq, sedangkan masyarakat kebanyakan dinamakan kelompok merantikaq (keturunan orang-orang biasa). Golongan mantiq dan merantikaq dapat dibedakan dari ragam hias yang diimbuhkan pada pelbagai pelengkap acara adat. Misalnya motif jautn nguku. Jautn berarti awan, sedang nguku berarti berarak. Ragam hias ini menggambarkan kebesaran seseorang dalam suasana kebahagiaan. motif ini biasanya dilukis pada templaq/tinaq (tempat penyimpanan tulang-belulang jenazah) golongan bangsawan atau raja-araja. Atau motif waniq ngelukng. Waniq berarti lebah dan ngelukng berarti menyerupai sarang lebah. Maknanya, bahwa orang yang sudah mempunyai cukup harta benda dapat melaksanakan upacara kematian. Ragam hias ini dilukiskan pada templaq/ tinaq tempat tulang belulang orang mati untuk golongan orang merantikaq tapi bisa juga untuk golongan bangsawan. Kini tak ada lagi raja. Maka yang dianggap sebagai pemuka masyarakat adalah kepala adat, kepala suku, dan para ahli belian (ahli penyembuhan penyakit) yang disebut pemeliaten. Kepala adat suku Benuaq sekarang tampil lebih sederhana, hampir tidak nampak atribut tanda status pada busana yang dikenakannya. Mereka biasanya memakai destar atau leukng dari serat doyo atau kain biasa. Berbaju kemeja tanpa lengan dari kain serat doyo berwarna merah atau hitam. Dahulu kepala adat menggantungkan jimat-jimat, manik-manik, taring harimau dahan, taring beruang, dan patungpatung yang mempunyai kekuatan magis atau disebut tonoi. Dan memakai cawat atau cancut yang juga dibuat dari tenunan serat doyo. Kepala adat yang merangkap kepala suku mengenakan topi yang berhiaskan bulu burung enggang, baju perang dari kulit kayu atau kulit harimau dahan, memakai cawat, dan tanpa alas kaki. Perisai di tangan kiri dan tombak digengggam di tangan kanan. Di pinggangnya tesengkelit sebilah mandau perang (parang/golok panjang) yang hulunya dihiasi dengan aneka warna bulu burung. Sarung mandaunya berukir dan pada ujungnya juga dihias bulubulu burung yang indah. Para pemeliaten tampil dengan ekspresi lain. Mereka tidak mengenakan baju tapi di bagian dadanya disilangkan kalung manik-manik, taring binatang buruan, dan patung-patung kayu kecil (jorokng) yang dipercaya sebagai sebagai tonoi. Busana bawahannya berupa tapeh bel ian yaitu kain panjang serupa rok maksi yang menutup hingga mata kaki, dan diberi hiasan aplikasi berupa tempelan kain warnawarni motif floral yang sangat artistik. Pada pinggang dililitkan sempilit, kain panjang yang berhias pada ujungnya, dan berjuntai sepanjang kiri dan kanan kaki. Ragam hias pada tapeh dan sempilit belian juga menunjukkan tingkat pengetahuan atau "kesaktian" pemakainya. Jika terdapat hiasan berupa garis-garis pada bagian bawah tapeh menunjukkan bahwa pemeliaten itu berilmu tinggi.

biasanya terbuat dari logam. yang juga berfungsi sebagai musik pengiring saat upacara. Laukng berwarna hitam menandakan bahwa pemakainya (pemeliaten) mampu menangkal berbagai bentuk sihir hitam. dan perhiasan yang dikenakan pada pelbagai upacara adat itu adalah sarana untuk memudahkan hubungan dengan mahluk-mahluk gaib. Busana adat. ragam hias.Untuk menahan tapeh dan sempilit dikenakan babat (semacam ikat pinggang) yang dihiasi dengan manikmanik. Jika laukng hitam itu berimbuhkan garis-garis putih bermakna pemeliaten tersebut belum mampu menolak ilmu hitam. taring binatang. Pemeliaten juga memakai destar (laukng) yang warnanya juga mempunyai arti simbolik. Babat ini berfungsi pula sebagai tempat menyimpan pelbagai jimat penolak pengaruh jahat sihir hitam. Bunyi-bunyian magis sebagai musik repetitif ditimbulkan oleh beradunya gelang-gelang ketika pemeliaten menggucang-guncangkan tangannya. Di pergelangan tangannya dipakai gelang-gelang berukuran relatif besar. dan uang logam kuno. .

Tidak lupa. berikut toala polulu di kepalanya. memperlihatkan adanya perbedaan cukup spesifik antar kelompok masyarakat yang secara sosial memiliki kedudukan yang berlainan. upacara injak tanah atau joko kaha. Para remaja putri biasanya memakai busana yang terdiri atas kain panjang dan kimun gia kancing atau kebaya panjang berwarna kuning. dan peniti yang terbuat dari intan. mereka pun menyertakan berbagai perhiasan seperti taksuma. baju berbentuk jas tertutup dengan kancing besar terbuat dari perak berjumlah sembilan . pembantu permaisuri. ada pula busana adat lainnya yang khusus dikenakan oleh kaum remaja putri dan remaja pria yang berasal dari golongan bangsawan. Busana yang biasa dikenakan oleh kaum wanita dalam melakukan aktivitas sehari-hari terdiri atas kain kololuncu dan baju susun dengan bagian tangan yang ditarik hingga ke pertengahan sikut. oranye. baik sebagai permasuri. dan ikat kepala. dan saku jas yang terletak di bagian luar berwarna merah. leher jas. mereka juga mengenakan hiasan lainnya yang berupa konde yang berukuran besar. Konon warna tersebut untuk melambangkan jiwa muda dari para pemakainya yang masih remaja. Selain itu. Busana yang dikenakan oleh istri sultan terdiri atas kebaya panjang atau kimun gia. merupakan kawasan bekas kesultanan Ternate dan kesultanan Tidore. dilengkapi dengan perhiasan yang disesuaikan dengan tingkatan sosial mereka. atau emas. Selain busana adat yang disebutkan tadi. ujung tangan. yang melambangkan status sosial dan usia dari orang yang memakainya. Apalagi kehidupan mereka senantiasa diwarnai dengan berbagai acara seremonial. penampilan busana yang dikenakan oleh sultan tersebut dilengkapi dengan destar untuk menutup kepala. bros. Baju koja tersebut biasanya berpasangan dengan celana panjang berwarna putih atau hitam. sedangkan giwang tidak boleh dipakai oleh mereka. sedangkan konde kecil biasanya dipakai oleh pembantu permaisuri.Busana Tradisional Ternate dan Tidore Penulis Ria Andayani Somantri Gambaran fisik busana adat masyarakat Ternate dan Tidore. dan upacara pengukuhan atau uko se bonofo. serta alas kaki yang disebut tarupa. Beberapa di antaranya yang masih dikenal hingga kini adalah upacara makan secara adat atau sidego. Sementara itu. . berlian. keberadaan keturunan sultan di dalam lingkungan masyarakatnya memiliki gaya hidup yang khas. Adapun busana adat untuk kaum wanita meliputi kebaya panjang dan kain panjang. Konon warna tersebut melambangkan keperkasaan dari pemakainya. Busana adat yang dipakai oleh remaja pria disebut baju koja. atau hijau muda dengan tangan yang berkancing sembilan di sebelah kiri dan kanannya.upacara adat. busana adat yang dikenakan oleh rakyat biasa untuk busana sehari-hari maupun busana yang dikenakan pada upacaraupacara adat. Perhiasan lainnya yang dikenakan oleh permaisuri tersebut meliputi kalung. yang terbuat dari kain satin berwarna putih dengan pengikat pinggang yang terbuat dari emas. pada umumnya memang menggambarkan kesederhanaan. Sementara itu. serta kain panjang. atau diselaraskan dengan usia mereka. Secara umum busana adat tradisional yang dikenakan oleh kaum pria yang berasal dari golongan bangsawan terdiri atas jubah panjang yang menjuntai hingga betis atau lutut. Kekhasan tersebut tampak dalam tata cara berbusana mereka. berbeda dengan busana yang dipakai oleh kelompok masyarakat yang memiliki kedudukan sosial tinggi. Ada beberapa jenis busana yang dikenakan dalam upacara. anting dua susun. yakni semacam jubah panjang dengan warna-warna muda seperti biru muda dan kuning muda. yakni kalung rantai emas yang dibuat dalam dua lingkaran. Busana yang dikenakan oleh sultan disebut manteren lamo yang terdiri atas celana panjang hitam dengan bis merah memanjang dari atas ke abawah. Hal ini dikarenakan Ternate dan Tidore yang secara administratif kini termasuk ke dalam wilayah kabupaten Maluku Utara. Dihiasi dengan kelengkapan dan karakteristik lainnya. remaja contohnya. Di samping itu. Baju tersebut umumnya berwarna polos. Busana yang dikenakan oleh masyarakat pada umumnya atau rakyat biasa ditandai dengan kesederhanaan dalam berbagai hal. Sudah tentu. celana panjang. berupa upacara-upacara adat kesultanan pada masa itu maupun upacara yang berkaitan dengan siklus hidup manusia.

yakni celana dari kain tenun berwartna jingga atau kuning. Adapun ketua adat yang memimpin upacara-upacara adat tersebut mengenakan jubah panjang yang mencapai betis berwarna kuning muda yang disebut takoa. sedangkan kaum wanitanya mengenakan baju susun dan kain songket. busana yang dikenakan oleh kaum pria maupun wanitanya tidak berbeda. yakni baju berwarna hitam yang panjangnya mencapai pinggul serta berlengan panjang. dan celana popoh. mereka pun hanya mengenakan kain songket dan baju susun. yakni tutup kepala berwarna kuning muda. lengkap dengan lengso duhu. biasanya dipakai juga sebagai baju untuk di rumah. Sama halnya dengan busana wanita. Kaum pria mengenakan celana panjang dan kemeja panjang. Adakalanya. busana kerja pria biasanya digunakan pula sebagai pakaian sehari-hari untuk di rumah. celana dino. . Busana kerja yang digunakan oleh kaum pria terdiri atas kebaya popoh. yakni celana setinggi betis yang berwarna hitam pula.Busana kerja dalam keadaan bersih. Pada waktu mereka menghadiri berbagai upacara adat.

lenso pinggang. Pasangannya adalah celana panjang berikut topi yang dikenakan di kepala. Selain busana sehari-hari yang telah disebutkan tadi. baju cele tersebut dijahit dengan panjang lengan hingga sikut. yaitu kebaya cita berlengan hingga sikut yang dijahit dengan cara menambal beberapa potong kain yang telah diatur dan disusun sedemikian rupa dengan rapih. Busana dalam upacara keagamaan biasanya lebih lengkap lagi. Kebaya manapal yang sudah tampak jelek atau sudah tidak pantas lagi untuk dikenakan di rumah. melainkan tampak juga dalam busana seharihari. Untuk busana kerja di rumah atau dikebun. khususnya dalam upacara sidi. Bila mereka akan bepergian. yang sudah tidak dipakai untuk berpergian oleh kaum wanita. kole. dipakai . Sementara itu busana prianya terdiri atas baniang. yakni kain hitam berhiaskan manik-manik yang disandang di bahu kiri. Meskipun busana adat yang biasa dipakai dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari termasuk jarang digunakan lagi saat ini. Kecuali pada saat upacara sidi yakni upacara pengukuhan pemuda clan pemudi untuk menjadi pengiring Kristus yang setia.Busana Tradisional Busana Tradisional Ambon Ambon Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Ambon merupakan ibukota propinsi Maluku yang berada di kawasan Maluku Tengah. masih ada lagi busana lain yang khususnya dipakai oleh untuk kaum wanita yang merupakan pendatang dari kepulauan Lease dan telah menetap di Ambon ratusan tahun lamanya. tapi kualitas bahan yang digunakan berbeda. dari bagian leher ke arah dada terbelah sepanjang 15 sentimeter tanpa kancing. Busana adat yang dikenakan dalam kesempatan tersebut biasanya hitam polos atau warna dasar hitam. Walaupun model bajunya sama. Celana kes atau hansop. Mereka biasanya mengenakan baju cele. Penampilan gaya berbusana warga masyarakat Ambon pada saat menghadiri upacara adat clan upacara keagamaan berbeda dengan yang dikenakan sehari-hari. celana yang dipakainya disebut celana Makasar yang panjangnya sedikit di bawah lutut dan sangat longgar. dilengkapi dengan celana kartou yakni celana yang pada bagian atasnya terdapat tali yang dapat ditarik dan diikatkan. Ada beberapa contoh busana yang pada zaman dahulu pernah menjadi busana sehari-hari yang digunakan untuk bekerja atau di rumah. Bila akan bepergian. dan celana panjang. biasanya terdiri atas baju baniang yakni baju berbentuk kemeja yang berlengan panjang dan berkancing. yakni sejenis kebaya berlengan pendek. atau masyarakat menyebutnya baju cele tangan sepanggal. Sedangkan busana yang dikenakan pada saat bepergian. Khusus untuk kaum pria yang telah lanjut usia. Keberadaan busana adat Ambon. Pada saat itu busana hitam ini ditabukan atau dilarang digunakan. Dilengkapi dengan kaeng pikol. Kebaya manampal. dengan leher agak tertutup. mereka akan melengkapinya dengan sapu tangan. tidak hanya didominasi oleh busana yang dikenakan pada saat menghadiri upacaraupacara saja. kebaya hitam. yakni celana anak-anak yang dibuat dari beraneka macam kain dan dijahit sesuai dengan selera masing-masing. jenis busananya masih tetap berupa kebaya cita berlengan panjang hingga ujung jari yang kemudian dilipat. Jenis busana lain. Kebaya jenis ini bisanya berpasangan dengan kain palekat. biasanya dipakai sebagai busana kerja yang disebut kebaya waong. lengkap dengan kain pelekat. keberadaannya tetap penting untuk diungkapkan sebagai gambaran kekhasan busana mereka di masa lalu. Busana wanitanya terdiri atas baju dan kain hitam atau kebaya dan kain hitam. yakni baju dalam atau kutang yang dipakai sebelum mengenakan baju atau kebaya hitam. yakni sapu tangan berwarna putih yang kini telah jarang diletakkan di pinggang melainkan hanya dipegang saja. Sementara itu kaum pria di Ambon mengenakan busana yang terdiri atas baju kurung yang berlengan pendek dan tidak berkancing.

penerimaan tamu.oleh kaum remaja yang berasal dari golongan bangsawan diantaranya baju tangan kancing. dan kaus tangan berwarna putih. celana panjang atau celana Makasar. salempang. Para tua-tua adat mengenakan baju hitam. yakni baju cele berlengan panjang dengan kancing pada pergelangan tangannya. Sedangkan pria dewasa lainnya hanya mengenakan baju hitam dan celana panjang hitam tanpa menggunakan alas kaki. dan seperangkat busana yang terdiri atas baju putih panjang. patala di pinggang. Busana raja terdiri atas baju hitam. lenso bodasi dililitkan di leher. bersepatu dengan kaus kaki putih. busana rok. patala disalempang di dada. . celana hitam. Hanya ada penambahan tertentu pada kelengkapan busana mereka. dan topi. pending pengikat pinggang yang terbuat dari perak. Adapun busana yang dikenakan pada saat berlangsung upacara adat seperti pelantikan raja. yang terdiri atas kebaya putih berlengan panjang dan berkancing pada pergelangannya. ikat poro atau ikat pinggang. dan lain-lain pada dasarnya hampir sama. Begitu pula kaum wanitanya yang memakai baju hitam seperti baju cele . sepatu berwarna putih. pembersihan negeri.

Pemakaiannya sangat bergantung pada kemampuan dari orang yang akan mengenakannya. hitam kebiru-biruan. yang menggantung dengan indah di telinga. Kalaupun ada yang mengenakannya. ketentuan tersebut sudah tidak berlaku lagi. selain mengenakan busana adat juga memakai aneka perhiasan yang lengkap. yang bernuansa keagamaan ataupun yang berkaitan dengan siklus hidup manusia. ~ Kain tenun dengan warna dasar coklat melambangkan kedudukan pemakainya sebagai golongan bangsawan. keberadaan warna-warna tersebut memang memiliki makna tersendiri yang erat kaitannya dengan status sosial seseorang. Wanita Tanimbar dalam kehidupan sehari-hari. Saat menghadiri upacara-upacara tersebut. Pada masa lalu. pernikahan. ketua adat misalnya. kaum wanita biasanya mengenakan busana adat yang khas. ada kelengkapan khusus yarig senantiasa digunakan oleh kaum wanita dalam berbagai upacara. dan warna hitam melambangkan pemakainya adalah golongan rakyat biasa. Masyarakat menamakan kain tenunan seperti itu dengan sebutan tais maran. keberadaannya tetap merupakan aset potensial yang dapat memberikan daya dukung positif bagi pelestarian dan pengembangan keberadaan busana adat tradisional di kawasan tersebut. mereka menyempurnakan penampilannya dengan mengenakan sejumlah asesoris yang khas. Tidak heran bila belusu yang beredar saat ini merupakan salah satu benda warisan dari nenek moyang mereka. Busana adat wanita Tanimbar biasanya dipakai pada saat mereka menghadiri atau terlibat dalam penyelenggaraan upacara adat. Adapun busana bagian bawahnya berupa kain sarung yang biasanya ditenun sendiri. ada kalanya belusu pun dijadikan sebagai mas kawin. . Bahkan. memakai rantai maupun tidak. belusu. busana adat masyarakat Tanimbar kini tidak lagi digunakan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Meskipun begitu. yakni untaian yang tergantung di belakang leher. Misalnya noras aboyenan. penghormatan jenazah. Berbagai kelengkapan busana dan perhiasan tradisional tersebut memang tidak mutlak digunakan. itupun terbatas pada kaum yang sudah berumur. Keberadaan belusu yang terbuat dari gading gajah ini cukup penting dalam kehidupan masyarakat Tanimbar. yang berlengan pendek maupun panjang. yaitu kalung yang terdiri atas lima lapis dan diletakkan di bagian depan. Meskipun jumlah mereka saat ini sudah mulai menyusut. setiap orang boleh mengenakan kain dengan warna apa saja.Busana Tradisional Tanimbar Tanimbar Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Wilayah Tanimbar sejak duhulu dikenal sebagai sentra pengrajin busana tradisional di Kabupaten Maluku Tenggara. Warna dasar tais pada umumnya adalah coklat. dan hitam. yaitu anting-anting. Mereka biasanya menari dalam upacara penghormatan jenazah dan upacara pelepasan arwah orang-orang yang dihormati. Kalaupun ada yang masih mengenakannya. yakni selempang atau selendang yang disampirkan pada bahu sebelah kiri. Selain itu. Artinya. serta lean. memang ada salah satu yang tampak paling lengkap yakni busana penari. meliputi sinune. Misalnya. dan lekbutir. upacara-upacara gerejani.terbatas pada gelang atau bel usu. yakni seperangkat busana terdiri atas kebaya dan kain tenun yang disebut tais matau atau tais wangin. Para penari yang terdiri atas kaum ibu tersebut. hitam kebirubiruan mencerminkan golo-ngan menengah. maka belusu kini menjadi barang yang cukup langka. yakni baju sejenis kebaya untuk bagian atasnya. Busana yang dipilih terdiri atas kutang liman malawan. Di antara berbagai busana yang dikenakan oleh kaum wanita dalam sejumlah acara. pelepasan arwah. atau barang bawaan seorang wanita sewaktu meninggalkan keluarganya untuk pindah dan menetap bersama suaminya. dan sebagainya. berbagai kalung atau ngore. yakni sinune dan somalea. Mengingat saat ini sudah tidak ada lagi pengrajin yang membuat gelang-gelang besar seperti itu. Pada dasarnya. umumnya hampir tidak ada yang memakai perhiasan. Saat ini. somalea. yaitu hiasan dari cendrawasih yang telah dikeringkan dan menjadi hiasan yang diletakkan di kepala atau dahi.

atau para tua adat. Melihat gambaran busana adat tradisonal masyarakat Tanimbar secara umum memang tidak hanya menampakkan fungsi alamiah semata. kebesaran. walaupun hanya dengan menambahkan umpan yang diikatkan di pinggang.Sementara itu. dan keperkasaan seorang pemimpin. Namun lebih dalam lagi. . yakni untuk melindungi anggota tubuh dari berbagai keadaan cuaca yang tidak menguntungkan. Kecenderungan yang tampak sekarang. kaum pria tidak mengenakan busana adat selengkap itu pada berbagai upacara keagamaan atau upacara adat. sinune. berhiaskan somalea. atau ketua adat. yakni selembar kain tenun yang diikatkan di pinggang. misalnya yang membacakan syair dalam upacara tersebut. Mereka sudah merasa berbusana tradisional. Kelengkapan tersebut meliputi umpan. Konon pada masa lalu. Kecuali bagi mereka yang memiliki tugas khusus. tutuban ulu melambangkan keberanian. busana adat pria Tanimbar terdiri atas celana panjang dan kemeja panjang. prajurit. tutuban ulu. Selain itu kepada jenazah dalam upacara adat pelepasan jenazah biasanya dipakaikann busana tradisional secara lengkap. mengandung makna simbolis tertentu yang barangkali saat ini sudah mulai terlupakan keberadaannya. pahlawan. Tidak lupa mereka pun menambahnya dengan berbagai kelengkapan busana lain yang sama khasnya dengan apa yang dikenakan oleh kaum wanita. kain penutup kepala.

Portugis. bergaris biru melintang. Dimasa lalu suku Sikka mengenal tingkatan sosial yakni bangsawan dan masyarakat umum. Pada bagian pinggang dikenakan utan atau utan werung yaitu sejenis sarung berwarna gelap. Seperti halnya dengan daerah-daerah lain di wilayah Nusa Tenggara Timur. Indonesia. Pada tatacara berbusana tampak jelas bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok antara keturunan ningrat dan rakyat. yakni pada pembagian bidang-bidang dan corak yang diilhami oleh kain patola. tutup kepala pria terbuat dari kain batik soga dan dikenakan dengan pola ikatan tertentu sehingga ujungujungnya turun menempel pada kedua sisi wajah dekat telinga. Dimasa lalu bangsawan memakai lipa dengan ragi yang masih baru. jahitan dan ukiranukiran perangkat perhiasannya.Busana Tradisional Busana Tradisional Sikka Sikka Traditional Dress Penulis Biranul Anas Masyarakat Sikka atau suku Sikka. kecuali mungkin pada halus tidaknya tenunan. bercorak flora atau fauna dalam teknik ikat lungsi. biasanya berwarna putih mirip kemeja gaya barat. Diatas labu dikenakan dong. Labu wanita ini terbuka sedikit pada pangkal leher guna memudahkan pemakaian sebab polanya tidak menyerupai kemeja atau blus yang lazim berkancing pada bagian depannya. Kain sarung wanita. kuning atau merah. Selembar lensu sembar diselendangkan pada dada. arti harfiahnya adalah kain tiga lembar. Istilah untuk sarung selain utan adalah lipa. bahkan di. berwarna dasar gelap dengan paduan-paduan antara warna-warna merah. busana adat wanita Sikka tidak (lagi) mengenal perbedaan strata sosial yang mencolok. Cina. Kain atau baju penutup badan terdiri atas labu bertangan panjang. utan lewak. Sedangkan pengaruh India amat nyata pula hasil tenunan. Hitam misalnya biasanya dipakai untuk melayat orang meninggal. Perhiasan yang penting tetapi jarang dikenakan adalah keris yang disisipkan pada pinggang sebagai pertanda keperkasaan dan kesaktian. ragi werung. mendiami daerah kabupaten Sikka di pulau Flores dengan kota terbesar sekaligus ibukota yaitu Maumere. Arab dan India. Warna-warna kain wanita melambangkan berbagai suasana hati atau kekuatan-kekuatan magis. Walaupun demikian masyarakat Sikka tetap mampu mempertahankan ungkapan budaya tradisionalnya lewat busana serta tatariasnya. Busana Adat Wanita Seperti halnya pada kaum pria. coklat. Busana Adat Pria Perangkat busana adat pria secara umum terdiri atas kain penutup badan dan penutup kepala. Belanda. dihiasi dengan ragam-ragam flora. Dibidang agama tampak benar pengaruh Portugis dan Belanda yang membawa agama Katolik dan Protestan serta tatabusana barat yang dewasa ini sudah menjadi pakaian sehari-hari masyarakat. Destar. Bagianbagian busana wanita Sikka terdiri atas penutup badan berupa labu liman berun. kebudayaan masyarakat Sikka mencerminkan adanya pengaruhpengaruh asing seperti Bugis. Utan lewak. berbentuk mirip kemeja berlengan panjang terbuat dari sutera atau kain yang bagus mutunya. biru dan kuning secara melintang. fauna dalam lajur-lajur bergaris. sejenis selendang yang diselempangkan melintang dada. putih. Namun dewasa ini hal tersebut sudah ditinggalkan. Merah dan coklat melambangkan keagungan dan status sosial yang . Tatawarna kain Sikka umumnya tampil dalam nada-nada gelap seperti hitam atau biru tua dengan ragi yang lebih cerah berwarna putih.

pesta dan sebagainya. Yakni dua atau empat gading dengan dua perak pada setiap tangan. apabila gelap mencerminkan duka.tinggi. Cara mengenakan utan selain sebagaimana tersebut di atas juga dengan menyampirkan sebagian pinggir kain di atas bahu dengan melintangkan tangan kanan (atau kiri sesuai pembawaan masing-masing) di bawah dada seperti hendak menjepit kain. Demikian pula hal dengan warna dong. Pada pergelangan tangan dipakai kalar yang terbuat dari gading dan perak. Paduan warna juga menunjuk pada usia. Perhiasan lainnya adalah kilo yang tergantung pada telinga. Kaum berada atau ningrat biasanya mengenakan lebih banyak namun tetap dalam bilangan genap seperti enam. delapan dan seterusnya. . sedangkan warna-warna cerah digemari oleh kaum muda. Warna-warna yang gelap biasanya dipakai oleh orang tua. Perlambang warna dan cara-cara menyandang utan berlaku pula pada kaum pria Sikka. Penggunaanya disesuaikan dengan suasana peristiwa seperti upacara-upacara atau pesta-pesta adat. Hiasan kepala tersemat pada sanggul atau konde dalam bentuk tusuk konde biasanya terbuat dari ukiran keemasan. Jumlah kalar gading dan perak (atau emas) biasanya genap. sebaliknya warna-warna muda adalah untuk suasana suka ria. Perhiasan pada rambut dewasa ini sudah amat bervariasi karena pengaruh-pengaruh dari sukusuku lainnya di Nusa Tenggara Timur.

Masyarakat Sumba cukup mampu mempertahankan kebudayaan aslinya ditengah-tengah arus pengaruh asing yang telah singgah di kepulauan Nusa Tenggara Timur sejak dahulu kala. udang. mahkota dan singa. upacara-upacara perkawinan dan kematian dimana komponenkomponen busana yang dipakai adalah buatan baru. buaya. Di Sumba Timur strata sosial antara kaum bangsawan (maramba). kerbau sampai dengan corak-corak yang dipengaruhi oleh kebudayaan asing (Cina dan Belanda) yakni naga. penyu. Di kepala dililitkan tiara patang. ayam. Hinggi kombu dipakai pada pinggul dan diperkuat letaknya dengan sebuah ikat pinggang kulit yang lebar. upacara. Khususnya yang terbuat dengan teknik pahikung disebut tiara pahudu. Warna hinggi juga . Marapu menjadi falsafah dasar bagi berbagai ungkapan budaya Sumba mulai dari upacara-upacara adat. Kesemuanya memiliki arti serta perlambang yang berangkat dari mitologi. tetapi komponen serta tampak keseluruhannya sama. walaupun tidak setajam dimasa lalu dan jelas juga tidak pula tampak lagi secara nyata pada tata rias dan busananya. bendera tiga warna. Dewasa ini perbedaan pada busana lebih ditunjukkan oleh tingkat kepentingan peristiwa seperti pada pesta-pesta adat. alam pikiran serta kepercayaan mendalam terhadap marapu. sejenis penutup kepala dengan lilitan dan ikatan tertentu yang menampilkan jambul. penutup badan dan sejumlah penunjangnya berupa perhiasan dan senjata tajam. Dari kain-kain hinggi dan lau tersebut. samping kiri atau samping kanan sesuai dengan maksud perlambang yang ingin dikemukakan. Namun masih ada perbedaan-perbedaan kecil. ular. Ragam-ragam hias yang terdapat pada hinggi dan tiara terutama berkaitan dengan alam lingkungan mahluk hidup seperti abstraksi manusia (tengkorak). cumi-cumi. burung. Jambul di depan misalnya melambangkan kebijaksanaan dan kemandirian. yang terbuat dalam teknik tenun ikat dan pahikung serta aplikasi muti dan hada terungkap berbagai perlambangan dalam konteks sosial. ekonomi serta religi suku sumba. Sebagai penutup badan digunakan dua lembar hinggi yaitu hinggi kombu dan hinggi kaworu. ikan. Busana pria Sebagaimana telah disebutkan busana masyarakat Sumba dewasa mi cenderung lebih ditekankan pada tingkat kepentingan serta suasana lingkungan suatu kejadian daripada hirarki status sosial. pesta-pesta dan sejenisnya. setengah leluhur. rusa. Sedangkan busana lama atau usang biasanya dipakai di rumah atau untuk bekerja sehari-hari. Hinggi kaworu atau terkadang juga hinggi raukadama digunakan sebagai pelengkap. Karena pada saat-saat seperti itulah ia tampil dalam keadaan terbaiknya. pemuka agama (kabisu) dan rakyat jelata (ata) masih berlaku. naga. Menilik halhal tersebut maka pembahasan busana pria sumba ditujukan pada pakaian tradisional yang dikenakan pada peristiwa besar. ragam-ragam hias ukiran-ukiran dan tekstil sampai dengan pembuatan perangkat busana seperti kain-kain hinggi dan lau serta perlengkapan perhiasan dan senjata. setengah dewa. Hinggi dan tiara terbuat dari tenunan dalam teknik ikat dan pahikung. Sumba Barat dan Sumba Timur. rumahrumah ibadat (umaratu) rumah-rumah adat dan tata cara rancang bangunnya. Bagian terpenting dari perangkat pakaian adat Sumba terletak pada penutup badan berupa lembar-lembar besar kain hinggi untuk pria dan lau untuk wanita. Jambul inilah dapat diletakkan di depan. Kepercayaan khas daerah Marapu. Misalnya busana pria bangsawan biasanya terbuat dari kain-kain dan aksesoris yang lebih halus daripada kepunyaan rakyat jelata.Busana Tradisional Sumba Timur East Sumba Traditional Dress Penulis Biranul Anas Pulau Sumba didiami oleh suku Sumba dan terbagi atas dua kabupaten. Busana pria Sumba terdiri atas bagianbagian penutup kepala. masih amat hidup ditengah-tengah masyarakat Sumba ash. kuda.

Secara menyeluruh hiasan dan penunjang busana ini merupakan simbol kearifan. Corak khas pada beti gaya Amarasi adalah dominasi warnawarna coklat dengan bidang tengah berwarna putih sebesar ± 3040 cm. Suatu kebiasaan yang umum di Nusa Tenggara Timur khususnya Timor (dan Sumba) adalah disandangnya kapisak atau aluk yang terbuat dari anyaman-anyaman daun atau kain persegi empat dengan corak geometris dan muti sebagai . namun dewasa ini perlengkapan tersebut semakin banyak digunakan khususnya didearah perkotaan. Kain-kain tenunan dalam teknik futus dan sotis dalam paduan warna-warna putih. Pada dahi disematkan perhiasan logam (emas atau sepuhan) yaitu maraga. biru dan merah bata yang ditunjang oleh berbagai aksesoris di kepala. keperkasaan serta budi baik seseorang. coklat. memanjang dalam paduan warna-warna jingga. Busana Tradisional Amarasi.mencerminkan nilai estetis dan status sosial. Timor Traditional Dress Penulis Biranul Anas Amarasi termasuk ke dalam wilayah administrasi Kabupaten Kupang. Namun hal-hal tersebut tidak menghilangkan tradisi untuk mengungkapkan ungkapan budaya asli mereka. Busana Adat Wanita Pakaian pesta dan upacara wanita Sumba Timur selalu melibatkan pilihan beberapa kain yang diberi nama sesuai dengan teknik pembuatannya seperti lau kaworu. Sedangkan pergelangan tangan kiri dipakai kanatar dan mutisalak. Masyarakat Amarasi merupakan bagian dari suku Dawan yang tersebar di seluruh kabupaten di Timor bagian barat. wujud tertinggi penguasa jagad raya. Hal ini tampak nyata pada ungkapan berbusana masyarakatnya yang sehari-hari memakai pakaian bergaya barat akibat pengaruhpengaruh asing yang masuk ke daerah tersebut sudah lama. Pakaian Adat Pria Secara mendasar pria mengenakan komponen-komponen busana yang sama dengan daerah-daerah lain di Nusa Tenggara Timur yaitu kain penutup badan yang terdiri atas beti atau taimuti. muti salak menyatakan kemampuan ekonomi serta tingkat sosial. Timor Amarasi. tangan dan pinggang diperagakan dengan keindahan yang amat mempesona pada peristiwa-peristiwa seperti tersebut di atas. telinga. Secara tradisional busana pria tidak menggunakan alas kaki. Demikian pula halnya perhiasan-perhiasan lainnya. lau mutikau dan lau pahudu kiku. Po`uk sebesar ± 30 cm bercorak garis-garis. Bentuk-bentuk kepercayaan lokal masih mewarnai kehidupan sehari-hari seperti ritus-ritus penghormatan terhadap Usi Neno. Kabiala adalah lambang kejantanan. putih dan biru. Hinggi terbaik adalah hinggi kombu kemudian hinggi kawaru lalu hinggi raukadana dan terakhir adalah hinggi panda paingu. Sebagian besar penduduknya dewasa ini pun memeluk agama Nasrani. merah bata. Kainkain tersebut dikenakan sebagai sarung setinggi dada (lau pahudu kiku) dengan bagian bahu tertutup taba huku yang sewarna dengan sarung. dan po`uk. sedangkan di telinga tergantung mamuli perhiasan berupa kalung-kalung keemasan juga digunakan pada sekitar leher. Selain itu manifestasi tradisi kebudayaan asli juga masih hidup dalam tatacara berpakaian khususnya dalam menghadapi pesta-pesta adat atau upacara-upacara penting lainnya. Selanjutnya busana pria Sumba dilengkapi dengan sebilah kabiala yang disisipkan pada sebelah kiri ikat pinggang. Sebagaimana dengan kebiasaan serta budaya yang ada pada daerahdaerah lain di Nusa Tenggara Timor pelapisan sosial kemasyarakatan yang dahulu kala amat kuat dianut. dewasa ini sudah jauh berkurang. Timor. Di kepala dikenakan pilu dari batik. Di kepala terikat tiara berwarna polos yang dilengkapi dengan hiduhai atau hai kara. Sedangkan kalung dileher terbuat dari logam dengan hiasan berbentuk lingkaran dari logam berukir bergaris tengah 10 cm. pencipta mahluk hidup sumber segala yang ada. dikenal dengan sebutan iteke. lau pahudu. menjurai ke bagian dada.

Pertama adalah tais atau tarunat yang dipasang setinggi dada hingga mata kaki. Kedua telinga dihiasi falo noni. Di kepala terdapat seperangkat perhiasan yang tersemat pada sanggul yaitu kili noni dan tusuk-tusuk konde. Hakekat pemakaian busana dan perhiasan pelengkapnya di Nusa Tenggara Timur erat kaitannya dengan berbagai kefungsiannya dalam peri kehidupan penyandangnya. Perhiasan dan bahanbahan pembuatnya selain mencerminkan status sosial juga menyatakan kemampuan ekonomi. Pergelangan tangan dihiasi dengan niti keke. Terkadang aluk juga sebagian berhiaskan ornamen perak. Corak-coraknya berwarna meriah paduan jingga. berukiran dan terkenal dengan istilah pato eban. Demikianlah oleh terbentuk dasar hubungan kekeluargaan yang erat dan saling mendukung dalam berbagai permasalahan kehidupan.hiasannya. baik sebagai citra kehormatan diri maupun dalam konteks hubungan sosial kekeluargaan. Lembar kedua adalah selempang yang terikat di depan dada berbentuk huruf V dengan kedua ujungnya terletak di kedua bahu bagian belakang. perak. kejantanan serta kesucian bagi penyandangnya. Pakaian Adat Wanita Wanita Amarasi memakai dua lembar tenunan sebagai penutup badannya. sedangkan pinggang dililit oleh futi noni. dalam membalas pihak lelaki. Corak tenunan menunjuk pada status sosial alam fikiran serta kepercayaan yang dianut. Sebaliknya pun. perak atau sepuhannya) yang disebut noni bena. khususnya pada adat istiadat perkawinan dimana barang-barang tersebut merupakan mas kawin pihak lelaki kepada pihak perempuan. Pakaian serta perhiasan dan perlengkapan busana pria ini oleh masyarakat setempat dianggap dapat memberikan sifat keagungan. pihak wanita menyerahkan kain tenunan. Hiasan logam kening di dahi berbentuk bulan sabit. Di depan dada tergantung kalung dengan bentuk hiasan bulat dari logam (emas. Emas. kuning. gading dan manik-manik amat dihargai dan bernilai tinggi. putih dan biru tua dalam lajur bergaris sempit yang dipadukan dengan corak-corak ikat putih berlatar hitam/biru tua. .

Kain-kain tenun inilah yang digunakan sebagai busana adat. ali-ali (cincin). biasanya berwarna hitam tapi tak jarang menggunakan kain batik. dan pertemuan kedua sisinya dijahit sehingga hasil akhirnya menjadi semacam kebaya longgar berlengan pendek. estetika pun berkembang. meski tentu. panjangnya sebatas pinggang. memberikan nuansa pada tata cara berbusana adat keseharian suku Sasak. ular naga. Bahkan kemudian ditumbuhkan kepercayaan jika kaum lelaki memakai kain dengan corak hias yang sesungguhnya diperuntukkan bagi kaum perempuan begitu pula sebaliknya . Stilasi pohon mawar. teken ima (gelang tangan). Pada kening tersaput ikat kepala. dan teken nae (gelang kaki). kesaktian. misalnya upacara potong gigi. dan gelang kaki (teken nae). Untuk mengikuti acara adat. Corak hias pada kain untuk perempuan pun dibedakan dengan ragam hias kain bagi laki-laki. berfungsi seperti ikat pinggang. tapi dalam perkembangannya ada yang diberi imbuhan hiasan pada pinggiran bajunya. Dan ketika keterampilan menenun semakin dikuasai. disebut bebet. Sebagai pakaian bawahya dipakai kain panjang yang disebut kereng. sehari-hari maupun upacara. memanjang hingga sebatas betis dan pada bagian muka ujung kain dibuat berlipat-lipat menjuntai hingga hampir menyentuh tanah. Yang banyak dipakai adalah kain songket. Para lelaki memakai kelambi (baju) model kemeja pria berlengan pendek atau panjang. gelang tangan (teken). misalnya saja kehilangan kewibawaan. dan semacamnya. tak menghilangkan identitas jatidirinya. Sebagai pelengkap penampilan dipakai aksesori berupa sengkang (anting-anting). Hiasan pelengkap penampilannya adalah kancing baju (buak tangkong) emas. masyarakat Sasak. Untuk memperkuat kemben dipakai sabuk anteng (ikat pinggang). pengetahuan itu dibawa para pedagang Gujarat dari India. pada bentangan kain-kain tenunan mereka. burung. Penahan kereng adalah lilitan kain. dinamai sapu. Busana Adat Sehari-hari Persentuhan dengan suku Bali yang datang sekitar abad XVI. ikat pinggang (gendit/pending) emas. Dipadukan dengan kereng (kain panjang) yang dililitkan seputar pinggang. kalung emas. masyarakat Sasak mengenakan busana yang khusus dirancang untuk keperluan tersebut. Busana bagian bawahnya adalah kemben (sarung) yang juga berwarna hitam dan pada bagian tertentu diberi hiasan motif flora. upacara kematian. yang dieksplorasi dari kehidupan alam sekitar dan mitologi.maka pemakainya akan ditimpa kemalangan. Busana Pengantin Sasak Yang akan diuraikan berikut ini adalah busana pengantin yang umum dikenakan oleh masyarakat Sasak. menghadiri perkawinan. Konon. Mempelai wanitanya memakai tangkong (baju) semacam kebaya yang biasanya berwarna hitam polos. tokoh pewayangan. Kaum perempuan mengenakan lamung (baju) berwarna hitam yang modelnya relatif sederhana: selembar kain dilipat sehingga berbentuk segi empat lalu diberi "lubang leher" berbentuk segi tiga.Busana Tradisional Sasak Sasak Traditional Dress Penulis Aat Soeratin Diperkirakan sejak abad XIV masyarakat Sasak telah mengenal teknik menenun kain. . seperti yang telah disinggung di muka. lalu terciptalah corak hias simbolik. kerap muncul menjadi ragam hias yang artistik pada tenunan masyarakat Sasak.

Pengantin pria mengenakan kelambi dari bahan yang sama dengan mempelai wanita, bermodel jas tutup dengan potongan agak meruncing pada bagian bawah belakangnya, untuk mempermudah menyengkelitkan keris. Kereng (kain panjang) yang dipakai adalah songket dengan motif khas Lombok. Kemudian ditambahkan dodot (kampuh), kain yang biasanya bercorak sama dengan yang dipakai pengantin wanita. Kelengkapan lainnya adalah sapu (destar/ikat kepala) dari kain songket yang biasanya diberi tambahan hiasan keemasan yang diselipkan pada ikatan sapu bagian depan. Dan dari balik punggungnya, sedikit melewai bahu sebelah kanan, tersembul keris panjang.

Busana Tradisional Semawa dan Bima Semawa and Bima Traditional Dress Penulisi Aat Soeratin Masyarakat asli Pulau Sumbawa terkenal memiliki kain songket hasil keterampilan para penenun yang diperoleh akibat persentuhannya dengan kebudayaan masyarakat Bugis. Songket Sumbawa umumnya menggunakan benang emas, benang perak, juga benang katun. Yang kita kenal sebagai kain selungka, misalnya, adalah songket yang menggunakan benang emas dan perak, dan tampilannya menyiratkan pengaruh kebudayaan Bugis. Jenis lainnya, antara lain, kain tenun motif kotak-kotak yang disebut mbali pida, dan ^. Seperti halnya saudara mereka di Pulau Lombok, estetika masyarakat Sumbawa pun melahirkan corak hias simbolis, stilasi bentuk flora untuk kain perempuan dan penggayaan bentuk fauna atau manusia pada kain kaum lelaki. Kain songket inilah yang kemudian memberi aksentuasi yang khas pada pakaian adat masyarakat Sumbawa. Dalam kesehariannya kaum perempuan masyarakat Semawa mengenakan kain sarung bermotif kotak-kotak (tembe lompa) warna hitam dan merah. Bajunya disebut lamung pene, baju serupa kebaya polos sederhana, berlengan pendek. Para prianya memakai sarung pelekat, baju lengan panjang, dan berkopiah. Sedangkan para wanita masyarakat Bima dan Dompu memakai baju poro, baju polos tanpa hiasan, berkain sarung palekat yang ditenun dengan hiasan corak kota-kotak kecil. Terkadang mengenakan rimpu (kerudung penutup rambut). Adapun para lelakinya memakai sarung pelekat, disebut tembe ngguli, berkemeja lengan pendek atau panjang, dan kadangkala memakai ikat kepala yang dinamai sambolo songke. Akan tetapi, untuk acara-acara adat seperti upacara potong gigi, kematian, perkawinan, dan sebagainya, masyarakat Semawa pun masyarakat Bima merancang busana adat tersendiri. Busana Adat Suku Semawa

Busana adat masyarakat Semawa, dulu, biasanya dikenakan saat mengikuti pelbagai upacara tradisional seperti upacara turun tanah bagi balita yang diharapkan segera bisa berjalan; tradisi potong gigi; naik dewasa (inisiasi) untuk remaja yang memasuki masa akil balig; upacara adat eneng hujan (memohon hujan); dan sebagainya. Sekarang, upacara-upacara tersebut masih dilakukan dan pakaian adat pun masih dikenakan para peserta upacara meski tak seketat kebiasaan masa lalu. Lamung pene adalah sebutan untuk baju adat kaum perempuan, semacam kebaya berlengan pendek dari kain halus. Paduannya adalah kre alang, kain sarung songket yang dipakai sebatas mata kaki dan ikat pinggang (pending) perak. Pada bahu kiri disampirkan sapu to`a, sejenis sapu tangan dan aksesorinya berupa kalung leher, bengkar troweh (hiasan telinga), gelang tangan. Dan para gadis yang belum menikah biasanya memakai kerudung. Kaum prianya memakai lamung seperti jas tutup berlengan panjang, saluar belo (celana panjang) polos tanpa hiasan, ditambah pabasa alang, semacam selendang songket berukuran agak lebar ketimbang selendang biasa, yang difungsikan sebagai dodot. Dan ikat kepala, yang disebut sapu, dibuat dari tenunan benang katun bermotif kotak-kotak. Buhul ikatan sapu pada kening ada di bagian belakang kepala sedangkan untuk bagian depan kepala sudut sapu dipasang tegak sehingga tampak tinggi dan meruncing.

Busana Pengantin Suku Semawa Mempelai wanita dari golongan bangsawan mengenakan busana adat berupa lamung (baju) lengan pendek bermodel baju bodo Sulawesi dari kain halus dan berhiaskan sulaman benang emas berbentuk cepa (bunga) hampir di seluruh bidang baju. Pada bahu sebelah kiri disampirkan kida sanging, semacam saputangan yang diberi hiasan motif dedaunan dari benang perak atau emas. Pakaian Bawahnya tope belo (rok panjang) dan tope pene (rok pendek), juga berhiaskan cepa, yang dipakai secara bertumpuk. Aksesori lainnya adalah sua`, hiasan kepala dilengkapi kembang goyang. Sanggul rambutnya disebut puyung lakang. Dan perhiasan yang dipakai berupa gelang tangan bernama ponto atau kelaru, kalung, anting-anting, dan hiasan kuku ibu jari tangan kiri dari emas yang dibentuk seperti kuku panjang, yang disebut sisin kuku. Kakinya beralaskan selop. Pengantin prianya memakai gadu, baju berlengan panjang warna hitam berhiaskan cepa emas. Simbangan adalah selempang kain yang disilangkan di atas baju, terbuat dari kain merah diberi hiasan motif bunga. Pakaian bawahnya saluar celana panjang berwarna hitam dengan aplikasi hias pada pinggiran kaki celananya. Ditambah tope, semacam rok dari kain halus berwarna merah berhiaskan cepa emas yang agak besar. Ikat pinggang (pending) emas dikenakan untuk menahan tope. Kepalanya bertutup mahkota yang dibuat dari kain yang dilipat-lipat, dibentuk seperti kipas, berhiaskan cepa emas sehingga tampil sangat artistik. Mahkota itu disebut pasigar. Dan keris disengkelitkan pada pending, disimpan di bagian muka badan.

Busana Adat Suku Bima Untuk menghadiri upacara adat inisiasi, potong gisi, kematian, perkawinan, dan sebagainya, kaum wanita masyarakat Bima mengenakan busana adat yang selengkapnya terdiri dari baju, kain panjang, berbagai aksesori, dan alas kaki. Bajunya disebut baju poro yang dibuat dari kain tipis namun tidak tembus pandang, biasanya berwarna hitam, biru tua, coklat tua, ungu. Bersarung pelekat, tembe kafa, corak mbali pida hingga menutup mata kaki. Aksesorinya berupa gelang tangan, anting-anting, dan semacamnya, namun tidak boleh berlebihan. Kaum prianya memakai kemeja lengan pendek atau model jas tutup berlengan panjang berwarna hitam, putih, atau warna-warna cerah lainnya. Bersarung pelekat tembe kafa mbali pida, dipinggangnya dililitkan salampe berwarna dasar putih, kuning, merah, atau hijau. Dan lelaki dewasa biasanya menyengkelitkan pisau mone (pisau khas Bima), pada salampe, di bagian depan badan.

Busana Pengantin Suku Bima Pakaian pengantin yang banyak dipakai masyarakat Bima sekarang adalah jenis busana tradisional yang dulu hanya untuk golongan bangsawan dan golongan menengah saja. Busana pengantin golongan menengah dan golongan bangsawan Bima pada dasarnya hampir tidak berbeda. Hanya saja kelengkapan busana atau aksesori yang dipakai pengantin dari golongan menengah relatif lebih sedikit, sehingga tampil lebih sederhana. Berikut ini uraian serba singkat mengenai busana tradisional pengantin golongan bangsawan Suku Bima. Mempelai wanitanya mengenakan baju poro rante yang dibuat dari kain halus berwarna merah dengan taburan cepa benang emas di seluruh permukaan baju dan memakai tembe songke, sarung songket. Selepe, ikat pinggangnya, berwarna keemasan. Tangan kanannya memegang pasapu (saputangan) dari kain sutra bersulamkan benang perak. Rambutnya disanggul, diberi hiasan unik yang dinamai karaba. Karaba dibuat dari gabah (bulir padi yang belum dikelupas kulitnya) yang digoreng tanpa minyak sehingga mekar dan nampak warna putih berasnya secara dominan. Karaba ini kemudian ditempelkan pada rambut dengan perekat malam atau lilin hingga warna putihnya nampak mencolok di atas hitamnya rambut. Tataan rambut berhiaskan karaba ini disebut wange. Sedangkan aksesori lainnya juga berwarna keemasan berupa bangka dondo (anting-anting panjang), dan ponto (gelang tangan). Pengantin pria memakai pasangi yaitu baju dan celana yang terbuat dari kain yang sama, yang berhiaskan cepa dan sulaman benang emas. Kemudian siki, sebutan untuk kain songket (tembe songke), dipakai, seperti memakai sarung, sebatas lutut. Penahan siki adalah baba, kain berukuran lebih lebar ketimbang ikat pinggang biasa, yang juga berfungsi untuk menyelipkan keris. Di atas baba dilingkarkan selepe mone, ikat pinggang dari logam keemasan. Keris yang pada hulunya diikatkan saputangan berhiaskan sulaman benang perak, seperti ditulis di muka, diselipkan pada baba. Baju pengantin laki-laki lainnya adalah karoro, semacam jubah hitam dihiasi cepa berwarna keemasan. Mahkotanya disebut siga (sama dengan pasigar, mahkota pengantin pria Semawa) Namun ada tata cara yang agak khusus untuk pemakaian karoro Yakni mempelai pria tidak boleh memakai karoro sekaligus dengan siki. Karoro biasanya hanya dimiliki oleh sultan atau para petinggi Kesultanan Bima.

Bahan untuk jas tutu biasanya tebal dan berwarna biru atau coklat tua. sebenarnya dapat dikatakan bahwa busana adat Makasar menunjukkan kemiripan dengan busana yang biasa dipakai oleh orang Bugis. Dalam kebudayaan Makasar. busana adat orang Makasar dapat menunjukkan status perkawinan. yakni lapisan yang ditempati oleh kerabat raja dan bangsawan. saku di kanan dan kiri baju. kain sarung atau lipa garusuk. Biasanya. tetapi juga sebagai kelengkapan suatu upacara adat. Bila tutup kepala pada busana adat pria Makasar dihiasi dengan benang emas. berdasarkan jenis kelamin pemakainya. busana adat merupakan salah satu aspek yang cukup penting. yaitu berasal dari kain lipa sabbe atau lipa garusuk yang polos. Hal itu disebabkan masyarakat Makasar terbagi atas tiga lapisan sosial. bahkan juga status sosial pemakainya di dalam masyarakat. busana yang khas milik pendukung kebudayaan Makasar dan tidak dapat disamakan dengan busana milik masyarakat Bugis. Meskipun demikian. Maros. Adapun bahan baju bella dada tampak lebih tipis. yakni lapisan orang merdeka atau masyarakat kebanyakan. Namun jika keadaan sebaliknya atau tutup kepala tidak berhias benang emas. melainkan lebih menunjukkan selera pemakainya. Model baju yang tampak adalah berlengan panjang. Gowa. busana adat Makasar tentu saja dapat dibedakan atas busana pria dan busana wanita. Bukan saja berfungsi sebagai penghias tubuh. Busana adat pria Makasar terdiri atas baju. Yang dimaksud dengan busana adat di sini adalah pakaian berikut aksesori yang dikenakan dalam berbagai upacara adat seperti perkawinan. bentuk maupun corak. Pemakaian tutup kepala pada busana pria mempunyai makna-makna dan simbol-simbol tertentu yang melambangkan satus sosial pemakainya. Bantaeng. pasapu guru sebutannya. dan yang melanggar adat. leher berkrah. Masing-masing busana tersebut memiliki karakteristik tersendiri. keberadaan dan pemakaian busana adat pada suatu upacara tertentu akan melambangkan keagungan upacara itu sendiri. Melihat kebiasaan mereka dalam berbusana.Busana Tradisional Makassar Makassar Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Di wilayah Sulawesi Selatan suku bangsa Makasar menempati daerah Kabupaten Takalar. busana adat pria dengan baju bella dada dan jas tutunya sedangkan busana adat wanita dengan baju bodo dan baju labbunya. penjemputan tamu. Namun dewasa ini. tu maradeka. yakni lapisan orangorang yang kalah dalam peperangan. dan atu atau golongan para budak. tidak mampu membayar utang. Baju yang dikenakan pada tubuh bagian atas berbentuk jas tutup atau jas tutu dan baju belah dada atau bella dada. bahan yang biasa digunakan berasal dari kain pasapu yang terbuat dari serat daun lontar yang dianyam. Ketiga strata sosial tersebut adalah ono karaeng. Gambaran model tersebut sama untuk kedua jenis baju pria. Jeneponto. ada beberapa ciri. Pada masa dulu. berwarna terang dan mencolok seperti merah. dan tutup kepala atau passapu. yang mengenakan pasapu guru adalah mereka yang berstatus sebagai guru di kampung. celana atau paroci. Sementara itu. busana yang dipakai tidak lagi melambangkan suatu kedudukan sosial seseorang. . dan hijau. masyarakat menyebutnya mbiring. Pangkajene. serta diberi kancing yang terbuat dari emas atau perak dan dipasang pada leher baju. dan Kepulauan selayar. baik untuk jas tutu maupun baju bella dada. Pada dasarnya. atau hari-hari besar adat lainnya. Khusus untuk tutup kepala. Hanya dalam hal warna dan bahan yang dipakai terdapat perbedaan di antara keduanya.

Bahan dasar yang kerap digunakan untuk membuat baju labbu seperti itu adalah kain sutera tipis. tidak berlengan. selempang atau rante sembang. Kaum wanita dari berbagai kalangan manapun bisa mengenakan baju labbu. Namun pada umumnya. Jenis keris ini merupakan benda pusaka yang dikeramatkan oleh pemiliknya. sapu tangan berhias atau passapu ambara. Adapun baju labbu atau disebut juga baju bodo panjang. sanggul berhiaskan bunga dengan tangkainya (pinang goyang). Baju bodo berbentuk segi empat. biasanya berbentuk baju kurung berlengan panjang dan ketat mulai dari siku sampai pergelangan tangan. dan kalung besar (geno sibatu). yakni baju bodo dan baju labbu dengan kekhasannya tersendiri. kalung panjang (rantekote). tampak jelas pada seorang pria yang sedang melangsungkan upacara pernikahan. warna dasar sarung Makasar adalah hitam. Begitu pula halnya dengan para pengiring pengantin. yang terbuat dari benang biasa atau lipa garusuk maupun kain sarung sutera atau lipa sabbe dengan warna dan corak yang beragam. sisi samping kain dijahit. dan berbagai aksesori lainnya. Lebih tepatnya dikenakan sebagai busana pengantin pria. wanita makasar pun memakai berbagai perhiasan untuk melengkapi tampilan busana yang dikenakannya Unsur perhiasan yang terdapat di kepala adalah mahkota (saloko). Adapun gelang yang menjadi perhiasan para pria Makasar. dan hiasan pada penutup kepala atau sigarak. atau biru tua. busana adat wanita Makasar terdiri atas baju dan sarung atau lipa. . dan anting panjang (bangkarak). berwarna tua dengan corak bunga-bunga. Ada dua jenis baju yang biasa dikenakan oleh kaum wanita. Sama halnya dengan pria. Penggunaan busana adat wanita Makasar yang lengkap dengan berbagai aksesorinya terlihat pada busana pengantin wanita. dikenal dengan sebutan pasattimpo atau tatarapeng. Pasangan baju bodo dan baju labbu adalah kain sarung atau lipa. maka diberi pengikat yang disebut talibannang. gelang. Sementara itu. Gambaran busana adat pria Makasar lengkap dengan semua jenis perhiasan seperti itu. Keris yang senantiasa digunakan adalah keris dengan kepala dan sarung yang terbuat dari emas. hanya saja perhiasan yang dikenakannya tidak selengkap itu. dan pada bagian atas dilubangi untuk memasukkan kepala yang sekaligus juga merupakan leher baju. coklat tua. Perhiasan di leher antara lain kalung berantai (geno ma`bule). biasanya berbentuk ular naga dan terbuat dari emas atau disebut ponto naga.Kelengkapan busana adat pria Makasar yang tidak pernah lupa untuk dikenakan adalah perhiasan seperti keris. bahkan dapat digantungi sejenis jimat yang disebut maili. Agar keris tidak mudah lepas dan tetap pada tempatnya. dengan hiasan motif kecilkecil yang disebut corak cadii.

Namun dalam keadaan yang lebih resmi. begitu pula busana rakyat biasa dengan kalangan bangsawan akan berbeda. Tali ikat dari kain yang berfungsi untuk mengencangkan lilitan sarung. Bajunya kebaya pendek berlengan tiga oerempat. rambut ditata dengan model sasak sedikit tinggi (sigara). Salah satu contoh yang tetap bertahan hingga kini antara lain adalah tata cara berbusana. wanita Mandar akan mengenakan sarung sutera berwarna hitam atau putih. serta wilayah di bagian utara Selat Makassar. pada abad ke-XV wilayah Mandar ini meliputi Kerajaan Balanipa. masyarakat Mandar sangat memperhatikan ketentuan adat dan tradisi yang telah dijalani selama berabad-abad lamanya. Masyarakat Mandar sangat membedakan busana untuk anak-anak. Gelang berukuran besar yang dipakai masing-masing lima buah di tangan kanan maupun di tangan kiri. Ada pula sanggul agak rendah. dengan hiasan liontin atau medalion besar. dan mempunyai peranan sama pentingnya dengan tiga suku bangsa lainnya yaitu Bugis. kabupaten Majenen dan kabupaten Polewali Mamasa (Polmas). Kelengkapan busana lainnya adalah penggunaan sehelai selendang tipis yang ujung-ujungnya dihiasi dengan bundaran-bundaran emas atau perak. Pada bagian pinggang. Dalam berbusana . wanita Mandar pada umumnya mengenakan perhiasan meliputi. Sederet bunga serampa dan bunga seruni menghiasi seputar sanggul. menggunakan giwang emas berukuran besar dan di antara lubang telinga dengan giwang diselipkan sejumput kapas putih. kipas dan berbagai perhiasan dari emas. berhias tusuk konde dan di bagian pelipis kanan diselipkan serangkaian kembang goyang berwarna emas. Jadi tidak mengherankan apabila masyarakat suku bangsa Mandar mempunyai tradisi berbusana yang sangat indah dan mencerminkan kebesaran suku ini di masa silam. Ciri khas sarung tenun Mandar adalah motif kotak-kotak besar dan kecil dengan hiasan warna emas pada garisgarisnya. adapun wanita muda umumnya lebih menyukai anting-anting yang berderet-deret dan menjuntai di kedua telinganya. remaja dan orang tua. Dalam kesempatan menghadiri upacara adat. tua maupun muda. Pembauang dan Cenrana di pantai utara Teluk Mandar. Dalam kehidupan sosialnya. wanita Mandar membuat sanggul yang letaknya agak rendah dengan hiasan tusuk sanggul emas dan kembang goyang. kemudian ditutup dengan pending yang terbuat dari logam berwarna emas dengan gesper berhias di bagian depan. Menurut catatan sejarah. dengan ukuran panjang melampaui pinggul atau kurang lebih lima centimeter di bawah pusar. terbuat dari bahan sutera atau kain halus lain tetapi tidak tembus pandang. Semua kalangan masyarakat Mandar.Busana Tradisional Busana Tradisional Mandar Mandar Traditional Dress Penulis Siti Dloyana Kusumah Suku Bangsa Mandar terbilang penduduk asal di propinsi Sulawesi Selatan. tata rias rambut dan kepala akan ditambah dengan beberapa aksesori seperti. kalung emas yang berjuntai agak panjang. setelah mengencangkan lilitan sarung dengan tali kain. Untuk tata rias rambut dan kepala. Makassar dan Toraja. Orang-orang Mandar menempati wilayah administratif kabupaten Mamuju. menggunakan alas kaki berupa selop atau sepatu . Hiasan yang mempercantik penampilan adalah penambahan kepingankepingan logam warna emas di seluruh pinggiran kebaya atau kepingan-kepingan bulat di seluruh permukaan kebaya. Majeng. Untuk wanita yang usianya agak tua.

Pada kesempatan seperti itu. Sebagai kelompok masyarakat yang cukup konsisten dalam memelihara dan mempertahankan adat istiadat warisan nenek moyang mereka. Paduannya kain sarung tenun Mandar atau seringkali ada yang memakai celana panjang kemuidian ditutup dengan sarung hingga sebatas lutut. Alas kaki yang dipakai biasanya sepatu pantovel atau sandal yang dibuat dari kulit. busana yang dikenakan akan tampil warna-warni. Busana Tradisional Tana Toraja Tana Toraja Traditional Dress Penulis Mira Indiwara Pakan. Tana Toraja yang menjadi tempat menetap sebagian besar suku tersebut. yakni pelaksanaan upacara adat yang erat kaitannya dengan suasana kegembiraan atau memiliki makna kebahagiaan. aktivitas sosial dan stratifikasi sosial. Busana pria Mandar lebih sederhana karena hanya terdiri dari baju jas tutup terbuat dari bahan sutera bercorak bebas dengan warna hitam atau warna cerah. Sementara itu. secara tidak langsung juga dapat mempertahankan keberadaan berbagai aspek yang terkait erat di dalamnya. Pria Mandar melengkapi busananya dengan melekatkan rantai emas yang diberi liontin atau medalion dari taring macan bahkan bisa juga terbuat dari taji ayam. pada dasarnya dapat dibedakan ke dalam dua jenis. busana misalnya. Untuk penututp kepala. Ria Andayani Somantri Toraja merupakan salah satu suku bangsa terbesar yang menempati kawasan Provinsi Sulawesi Selatan. pria Mandar menggunakan kopiah atau lazim disebut songkok tobone dengan warna yang serasi antara baju bagian atas dengan jas atau sarungnya. terutama menggunakan warna kuning sebagai warna dasarnya. Dengan tetap memelihara adat istiadat seperti itu. Ketentuan adat di Toraja membedakan dua suasana yang menyertai penyelenggaraan berbagai upacara adat. Misalnya dalam upacara panen padi. Pertama adalah yang berdasarkan adat rambu tuka.pantovel berwarna hitam. Hanya saja hal penting yang memberi nuansa pada karakteristik busana tersebut adalah berkaitan dengan tujuan atau makna acaranya. memasuki rumah baru. tercatat sebagai tempat tujuan wisata budaya yang memiliki keunikan tersendiri. Bagaimana pun juga busana merupakan salah satu kelengkapan yang cukup penting dalam penyelenggaraan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan tradisi. tentu saja tidaklah heran bila hingga saat ini mereka masih tetap menyelenggarakan berbagai upacara adat dan tradisi lainnya. dan upacara pernikahan. . berdasarkan adat rambu solo. dengan kekuatan tradisi dan adat istiadat sebagai daya tarik utamanya. Busana yang dikenakan oleh warga masyarakat Toraja dalam berbagai kesempatan. yakni busana pria dan busana wanita. mulai dari aktivitas seharihari hingga yang bersifat ritual. Hiasan tersebut diselipkan sebagian di saku jas tutupnya dan sebagian lagi dibiarkan menjuntai ke luar.

Untuk bekerja menggunakan celana pendek dan untuk kesempatan resmi memakai celana panjang. diikatkan di pinggang atau. atau tembaga dan. rara. sebagai bagian integral dari busana adat pria. Perhiasan di leher meliputi beraneka macam kalung seperti rnastura. yang khusus digunakan pada saat bekerja. Kedua bayu bussuk siku.upacara-upacara yang diadakan memiliki makna kesedihan. jenisnya dapat dibedakan menurut aktivitasnya. yaitu hiasan pada sanggul. leher. sepu. dan yang diletakkan di pinggang dinamakan ambero. busana adat wanita Toraja terdiri atas baju atau bayu untuk bagian atasnya. dalam acara adat orang meninggal. Perhiasan dari manik-manik yang dipakai di bahu disebut sokong bayu. Berdasarkan fungsinya. yakni ikat kepala. khususnya para sesepuh masyarakat. seperti di sawah dan membangun rumah. Bila baju tersebut berlengan pendek maka dinamakan kondi limanan. yakni baju berlengan sangat pendek hingga mendekati bahu pemakainya dan dipakai untuk bekerja di dapur atau di sawah. terutama digunakan pada acara-acara yang bersifat resmi seperti pertemuan dan pesta. manik kata. tutup kepala. yaitu jenis baju yang biasa digunakan oleh wanita tua pada saat cuaca sedang dingin. dan sarong atau tudung kepala. Kaum wanita Toraja tampaknya cukup gandrung mengenakan perhiasan untuk menambah keindahan penampilan mereka dalam berbusana. biasanya disertai dengan sarung yang dinamakan dodo. dan passapo timbo. yaitu baju dengan bentuk lengan yang sangat ketat atau pas menempel di tangan serta tingginya di atas sikut. Cara memakai sarung untuk kaum wanita pun sangat sederhana. ada juga tas kecil atau sepu. Aksesori di lengan terdiri atas gelang atau komba dalam berbagai bentuk dan cincin. hingga jari jemari. busana adat pria Toraja terdiri atas baju atau bayu. Beberapa contoh asesoris yang terletak di kepala di antaranya sa`pi. Baju yang dikenakan oleh kaum pria Toraja dapat dibedakan ke dalam dua model. yaitu keris yang dibawa pada waktu mereka akan menikah. bila penampilannya dilengkapi dengan jas hitam dan destar atau tutup kepala. dan sarung atau dodo untuk bagian bawahnya. ada juga sarung yang hanya berfungsi sebagai penghangat badan. Perhiasan dan kelengkapan busana lainnya yang dipakai oleh para pria Toraja meliputi manik kata dan rara atau perhiasan sejenis kalung. yang disebut sambuk langkan. baju wanita dibedakan ke dalam tiga model. keberadaan tutup kepala pun beragam pula jenisnya dan berbeda pula peruntukannya. Ketiga adalah bayu kalandon limanan. Sementara itu. yakni . atau hanya disampirkan di bahu. yaitu tutup kepala dari jenis tanaman tertentu yang dikenakan oleh para orang tua atau orang yang telah dewasa. adalah tutup kepala yang terbuat dari kain batik dan hanya digunakan oleh golongan bangsawan. yakni semacam tutup kepala yang terbuat dari kulit bambu dan dipakai oleh anak muda. Adapun jika berlengan panjang disebut kalando limanan. Bahkan akan disebut busana adat resmi para bangsawan Toraja. tas pinggang yang berfungsi sebagai ikat pinggang tempat menaruh pedang atu parang. Sementara itu. berhubungan erat dengan kedudukan sosial seseorang di dalam lingkungan masyarakatnya. dan pa`toko. Selain itu. pinggang. yang bisa dikenakan oleh siapa pun disebut pote. atau pakaian pesta. yakni sarung berwarna putih yang hanya dapat dipergunakan oleh kaum pria yang menempati kedudukan sosial tinggi. Selain itu. lengan. Pertama bayu poko. Celana yang dipakai oleh kaum pria. dan sarung atau sambuk. bisa dibiarkan terjurai hingga mata kaki. dengan perbedaan hanya terletak pada kualitas bahannya. dan tali banu . seperti yang terlihat pada penyelenggaraan upacara kematian dikenakan busana serba hitam. Secara umum. Selain memperlihatkan fungsi estetis. ada kalanya unsur perhiasan yang dikenakan oleh mereka pun memiliki makna simbolis tertentu. tali-tali biang. perak. Misalnya sambuk busa. hanya dengan cara melipatnya dari sebelah kiri ke sebelah kanan. Baju tersebut dikenakan sebagai pakaian sehari-hari. Ikat kepala ini biasanya dipakai oleh kaum pria dari keluarga yang sedang berkabung. yakni kalung yang terbuat dari emas. mulai dari hiasan di kepala. Passapu. Sama halnya dengan sarung. tali pang`kabi. Penggunaan semua jenis baju yang telah disebutkan tadi. oran-oran atau kalung berbentuk batang padi yang terbuat dari logam dan manik-manik. Sarung. yakni tas kecil untuk menyimpan sirih. Terbukti dari beragamnya aksesori yang biasa dikenakan oleh mereka. Kedua jenis tutup kepala yang disebutkan terakhir pun hanya dikenakan oleh mereka yang termasuk ke dalam lapisan atas. pakaian resmi. celana atau sepa tallu buku. Cara mengenakan sarung-sarung tersebut cukup beragam. bahu.

mulai dari golongan rakyat biasa hingga kaum bangsawan yang menempati kedudukan paling tinggi di dalam masyarakat. menghadiri undangan-undangan resmi. atau busana yang khusus digunakan untuk bekerja. merupakan kelengkapan busana yang harus dibawa pada saat seorang wanita menikah. dan Kerajaan Kaidipang Besar. yang berhubungan dengan kegiatan kerajaan maupun yang berkaitan dengan upacara di seputar lingkaran hidup mereka.tempat menyimpan peralatan menginang yang biasanya digantungkan di bahu. Hal ini dikarenakan kegiatan sosial mereka yang sarat dengan acaraacara seremonial. menerima tamu-tamu kerajaan. Aktualisasi dari semua itu. Masyarakat terbagi ke dalam beberapa lapisan sosial. melahirkan stratifikasi sosial yang tegas. Secara historis wilayah ini terbentuk dari penggabungan empat kerajaan yang hidup pada masa penjajahan Belanda. busana . Struktur masyarakat dengan kehidupan bernuansa kerajaan pada waktu itu. atau yang kini lebih dikenal sebagai busana adat tradisional mereka. sangat erat kaitannya dengan latar belakang kehidupan masyarakat pada masa lalu. Busana Tradisional Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Busana adat tradisional daerah Bolaang Mongondow. Bolaang Uki. busana bayi. tampak jelas antara lain pada busana warga masyarakat daerah Bolaang Mongondow yang dikenakan pada kesempatan-kesempatan tertentu. Bintauna. Beberapa contoh di antaranya adalah busana kebesaran raja atau busana yang dipakai oleh golongan bangsawan pada saat berlangsung upacara penobatan raja. Adapun keris atau gayang. ketentuan adat mengatur setiap anggota masyarakat agar menggunakan busana sesuai dengan kedudukan nya. Busana yang pada umumnya dikenakan oleh kaum bangsawan terlihat lebih beragam bila dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. Pada masa itu. Oleh karena itu. Keempat kerajaan tersebut terdiri atas Kerajaan Bolaang Mongondow. tidaklah heran bila busana adat mereka relatif lebih banyak karena setiap lapisan masyarakat memiliki busana tersendiri.

tentu saja tampilannya berbeda dengan busana milik para bangsawan. Hal tersebut terletak pada detil pakaian. mereka yang termasuk ke dalam lapisan kohongian atau golongan simpal tidak mengenakan perhiasan yang terbuat dari emas melainkan perhiasan perak. sedangkan busana kaum prianya meliputi ikat kepala atau mangilenso. tampak pengaruh Melayu begitu kental dan dominan mewarnai tampilannya. busana adat tradisional kaum bangsawan tampil dengan satu citra tersendiri. Meskipun saat ini pemahaman warga masyarakat Bolaang Mongondow terhadap fungsi busana adat tradisional mereka tidak setegas dahulu. Salah satunya tampak pada busana kebesaran raja berikut busana pengantinnya. ada bagian busana yang dapat membedakan kedudukan seseorang. kelengkapan aksesori yang menempel pada tubuh. pemilihan warna sangat dominan untuk mengekspresikan emosi mereka pada saat-saat seperti itu. juga ada larangan untuk mengenakan berbagai perhiasan jenis apa pun. Semakin rendah status seseorang di dalam tingkatan sosial masyarakatnya. tidak diragukan lagi melahirkan satu sosok busana yang cukup indah dan menawan. terdapat berbagai perbedaan pendapat mengenai hal tersebut. ungu. celana dan sarung tenun. serta kualitas bahan yang paling baik. Detil yang tampak pada busana mereka memang lebih banyak bila dibandingkan dengan busana dari kelompok masyarakt lainnya. busana yang dikenakan oleh kaum wanita terdiri atas kain dan kebaya atau salu. yakni busana berwarna hitam yang dikenakan pada waktu menghadiri upacara kematian.pengantin. busana adat yang dikenakan oleh kaum bangsawan maupun golongan masyarakat lainnya tampak serupa. yakni busana yang pada masa itu dikenakan oleh anggota masyarakat yang menempati status sosial satu tingkat di bawah kaum bangsawan. serta kualitas bahan yang digunakan. Pemilihan dan penentuan unsur berikut kelengkapan busana adat tradisional daerah tersebut. nama Sangir-Talaud secara keseluruhan berarti orang yang berasal dari laut atau samudra. busana simpal. sistem religi. Selain itu. Di samping itu. detil busana. Keberanian dalam memilih warna-warna busana yang terang dan mencolok seperti merah. Selain busana kebesaran seperti itu. dan busana yang dikenakan pada saat upacara kehamilan dan kematian. Sementara itu. Khusus mengenai perhiasan. Akan tetapi. kuning. Sama halnya dengan busana kohongian. Busana Tradisional Sangir-Talaud Sangir-Talaud Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Menurut asal katanya. memang tidak terlepas dari simbolisasi sebuah makna yang ingin disampaikan. Ada . yaitu busana kerja para pemangku adat yang dipakai pada saat berlangsung upacara-upacara kerajaan. semakin sederhana pula busana yang mereka miliki. yaitu busana yang khusus digunakan oleh warga masyarakat yang termasuk ke dalam golongan pendamping pemerintah dalam kerajaan. Secara umum. Beberapa di antaranya berkaitan dengan sistem kepercayaan. Pada umumnya. Dalam hal ikat kepala pria misalnya. serta aksesorinya. busana kohongian. keemaasan. Sedangkan menurut asal-usulnya. informasi di balik keberadaan busana tersebut memang selayaknya tidak sirna. Kesederhanaan tersebut tampak dari kulitas bahan yang dipakai. busana simpal pun dikenakan pada upacara perkawinan. Bahkan akan jauh lebih sederhana lagi pada busana adat yang boleh dikenakan oleh rakyat biasa. ada beberapa contoh busana adat lainnya yang dipakai oleh mereka yang berasal dari golongan di luar bangsawan. Sama pula halnya dengan aksesorinya yang demikian lengkap. Dalam hal ini. para bangsawan pun memiliki busana kedukaan. atau bahkan berhubungan erat dengan sejumlah fenomena sosial pada masa itu. ada juga busana rakyat biasa yang kerapkali tampak pada saat melakukan panen padi. dan hijau dipadu dengan aksesori yang terbuat dari emas. Adapun busana yang biasa dikenakan oleh anggota masyarakat di luar golongan bangsawan. Dalam hal ini. Misalnya. tepatnya digunakan pada upacara perkawinan. Kekhasan lain yang tampak istimewa terletak pada ikat kepala pria yang menjulang tinggi. seakan ingin mengukuhkan kedudukan mereka yang menempati tingkatan sosial tertinggi. Melihat wujud busana adat tradsional daerah Bolaang Mongondow. ketinggian ikat kepala akan lebih rendah daripada ikat kepala yang dipakai oleh kaum bangsawan. pengantin wanita maupun pengantin pria. Busana kerja guha-ngea. baju atau baniang.

Setiap kerajaan selalu berusaha memperluas wilayah dan pengaruhnya dengan mengadakan perkawinan penduduk antarkerajaan. serta selendang (bawandang liku). dan yang teristimewa di sini adalah ikat kepala. sunting (topotopo) yang dipasang tegak lurus pada konde di atas kepala. keberadaan kain kofo telah digantikan dengan berbagai bahan lainnya yang sesuai untuk dibuat baju panjang. atau bahkan campuran dari sejumlah suku bangsa tertentu. busana adat pengantin wanita terdiri atas kain sarung lengkap dengan baju panjang atau laku tepu yang berlengan panjang. kuning tua. Saat ini. dengan celana panjang sebagai penutup pada bagian bawahnya. pada zaman dulu terbuat dari kain . keberadaan kain sarung yang dikenakan untuk menutup badan bagian bawah. Dalam hal ini. Namun terlepas dari semua itu. Satu hal yang cukup penting dan dapat membedakan upacara yang satu dengan yang lainnya adalah kelengkapan busana.kofo dengan dua bahan baku utamanya adalah serat manila hennep dan serat kulit kayu. untuk kaum pria bisa mencapai telapak kaki atau hanya sebatas lutut. penasbihan desa. kuning. dan daun-daunan atau akar-akaran tertentu yang dapat menghasilkan warna biru. kerap diganti dengan rok panjang yang sudah dilipit (plooi). keris (sandang) yang diselipkan di pinggang sebelah kanan. Pada saat menghadiri acaraacara tersebut. dan hijau tua. Perbedaannya hanya terletak pada ukuran panjang baju dan pasangannya. atau merah darah. Ada busana adat yang sering dikenakan dalam berbagai kesempatan yang erat kaitannya dengan tradisi masyarakat setempat seperti perkawinan. ikat pinggang atau salikuku yang terbuat dari kain dengan simpul ikatan ditempatkan di sebelah kiri pinggang. Baju jenis ini. dan terbelah di tengah pada bagian belakangnya. Hingga saat ini.yang menyebutnya sebagai bagian dari rumpun bangsa Melayu-Polenisia yang berpindah lewat Ternate. sebelum dijahit harus dicelupkan ke dalam cairan air nira untuk warna merah misalnya. peminangan. Kelengkapan busana yang dikenakan oleh pengantin pria meliputi kalung panjang atau soko u wanua. ungu. pemakaiannya disampirkan di bahu kanan melingkar ke kiri dengan salah satu ujungnya terurai sampai ke tanah. Untuk mendapatkan warna yang diinginkan. krah baju berbentuk bulat. Sementara itu. celana panjang. ada beberapa contoh ikat kepala yang melambangkan status sosial pemakainya seperti paporong lingkaheng yang melambangkan pemakainya tidak . kaum pria mengenakan busana adat yang terdiri atas baju panjang. Untuk kaum wanita panjangnya bisa mencapai betis. kalung panjang bersusun tiga yang disebut soko u wanua. atau bahkan untuk pakaian sehari-hari. Keberadaan ikat kepala di sini biasanya melambangkan status atau kedudukan seseorang di tengah-tengah masyarakat. orang Sangir-Talaud saat ini merupakan sekelompok masyarakat yang menempati wilayah Sulawesi Utara Sekitar abad ke-16. Kelengkapan buasana lainnya yang dipakai oleh mempelai wanita adalah sepatu atau sandal. Laku tepu pada umumnya berwarna terang dan mencolok se-perti merah. Adapun ujungnya diikatkan di belakang kepala. ikat pinggang. Busana adat pengantin pria terdiri atas celana panjang dan laku tepu yang panjangnya hingga lutut atau telapak kaki. Sementara itu. dan ikat kepala berbentuk segitiga. Dalam hal ini upacara perkawinan merupakan satu momen yang dapat memperlihatkan busana adat daerah Sangir-Talaud secara lengkap. penduduk keturunan bangsa Filipina. Namun warna yang dipakai masih tetap mengacu pada tradisi sebelumnya. Nama busana tersebut adalah laku tepu. yakni warna terang dan mencolok. kekhasan lainnya juga tampak pada kelengkapan busana yang dikenakan pada upacaraupacara ritual maupun formal lainnya. Selain pada kelengkapan busana pengantin. pemakaian ikat kepala sebagai simbol pembeda status sosial seseorang masih tetap berlaku. dan ujung yang satunya lagi dapat dipegang. di kanan kiri baju terdapat belahan yang tingginya mencapai pinggul. Keberadaan kerajaan-kerjaan itu sendiri memberi nuansa yang khas pada kebiasaan warga masyarakatnya dalam hal berbusana. krah baju berbentuk bulat dan terbelah di bagian depannya. sebagai penduduk asli Sulawesi Utara. penduduk Sangir-Talaud terbagi ke dalam beberapa kerajaan kecil yang tersebar di seluruh Kepulauan SangirTalaud. Khusus untuk selendang. Khusus untuk ikat kepala. hijau. gelang. bagian yang menjulangnya diletakkan di bagian depan kepala. antinganting. dengan penutup bagian bawahnya menggunakan kain sarung. yakni baju panjang yang biasa dikenakan oleh wanita maupun pria. Namun saat ini. serta berlengan panjang.

Busana Tradisional Gorontalo Gorontalo Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Gorontalo adalah salah satu suku bangsa yang tinggal di wilayah Sulawesi Utara. yang disebut hulontalangi. paporong datu bouwawina. yakni dengan menempatkan selendang sebelah menyebelah bahu. Sekarang wilayah itu termasuk dalam wilayah administratif Daerah Tingkat II Kabupaten Gorontalo dan Kodya Gorontalo. busana adat yang dikenakan oleh kaum wanita pada berbagai upacara ritual atau acara formal meliputi baju panjang berikut pelengkap utamanya yaitu selendang. yang panjangnya mencapai dua meter dengan lebar 15 sentimeter. selendang memiliki makna simbolis yang erat kaitannya dengan status sosial pemakainya.memiliki kedudukan di dalam masyarakat. daerah Gorontalo sudah mendapat pengaruh dari Ternate. Seperti halnya ikat kepala pada busana adat pria. biasanya mengenakan selendang yang terbuat dari kain kofo berwarna kuning tua dan merah. Cara memakainya. Seorang wanita yang berstatus sebagai permaisuri. dan beberapa jenis ikat kepala untuk para penari. Sebelum kedatangan bangsa Eropa. yang menandakan pemakainya seorang pegawai pemerintah. Pemakaian dengan cara seperti ini dilakukan pula oleh seorang gadis yang akan menikah. . yakni hanya dengan menyampirkannya di bahu sebelah kanan. Berbeda halnya dengan cara memakai selendang yang dilakukan oleh para istri bangsawan. Sementara itu. yakni ikat kepala yang digunakan oleh raja atau pejabat pemerintah tertinggi. paporong tingkulu. Mereka percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari pengembara yang turun dari langit. Selendang tersebut dinamakan kaduku. hanya saja pada bagian kepalanya diberi atau disematkan perhiasan tertentu. Perbedaan status sosial yang ada di dalamnya tampak pada cara pemakaian selendang.

Bahan yang digunakan biasanya kain satin. sedangkan mempelai wanita memakai busana pengantin. seperti menghadiri pesta atau busana yang dipakai oleh mempelai dalam suatu upacara perkawinan. brokat atau jenis bahan lainnya yang sesuai. Seperti halnya baju. Tahap kedua dalam masa perkawinan adat Gorontalo adalah akad nikah (akaji). yaitu penyerahan sejumlah harta berupa uang atau barang kepada pihak mempelai wanita. Busana adat perkawinan pada masyarakat Gorontalo sangat kaya akan berbagai perhiasan yang dikenakannya. yang terbuat dari emas sepuhan serta keris pusaka (patatimbo) yang diselipkan di bagian depan pinggang. Busana pria yang dikenakan pada acara akad nikah adalah baju boqo takowa atau takowa. pengantin wanita maupun pria memakai beberapa jenis busana yang disesuaikan dengan tahapan upacara. Aksesori yang menempel di baju maupun perhiasan yang dikenakan menunjukkan status pemakainya. rante madale (kalung leher) dan padeta (gelang) yang melekat di kedua pergelangan tangan. Bentuk baju sama dengan baju kemeja lengan panjang. kain sarung dan berbagai aksesori. Bentuk sunthi biasanya menyerupai kepala burung. Busana yang dipakai oleh pengantin wanita adalah baju madipungu. Sedangkan perhiasan yang dipakai adalah sunthi (tusuk konde) dan huheyidu (hiasan rambut) pada bagian kepala. beludru. . Sehingga. Bagian dada baju dan saku diberi hiasan corak kain krawang dengan memakai benang emas. Busana Adat Perkawinan Dalam melaksanakan rangkaian upacara adat perkawinan pada masyarakat Gorontalo. Sama halnya yang dialami dengan pembuatan bahan sandang. Tahap pertama adalah upacara mengantar harta (modutu). brokat atau bahan kain lainnya. Warna baju yang umumnya dipakai adalah warna-warna terang dan mencolok. Bahan baju wolimomo terbuat dari jenis kain beludru. kain beludru warna hitam yang menempel di leher. disebut hamsei. dan hiasan emas pada baju dan kain (tambio). Pada upacara ini. Hat ini terlihat dari agama Islam yang dianut dan cara berpakaian. Busana ini bagi wanita Gorontalo dapat melambangkan peralihan dari masa remaja ke masa ibu rumah tangga. ungu dan merah hati. Jenis aksesori yang dipakai pada baju takowa adalah payunga. Warna celana yang dipakai biasanya sama dengan baju atas.Tidore dan Bugis yang datang lebih dulu. Perbedaan ketiga jenis baju ini terletak pada panjang dan pendeknya lengan baju. Bentuk baju madipungu adalah baju blus lengan panjang seperti baju kurung dengan model pada bagian leher membentuk huruf "V". yaitu tutup kepala yang dihiasi kain warna-warni. celana panjang (talala) dan aksesori. Sedangkan pada kedua sisi kiri dan kanan celana ditempeli pita warna kuning keemasan disebut pihi. Busana bagian bawah berupa sarung atau rok panjang yang dipakai di luar baju. Pilihan warna itu menunjukkan bahwa di masa dulu pernah terdapat lima kerajaan di Gorontalo. Kelengkapan pada baju madipungu biasanya berupa aksesori. satu di kiri atas dan sisanya di bawah. cara berbusana orang Gorontalo pun dari masa ke masa mengalami perkembangan. biasanya mempelai pria hanya tinggal di rumah dengan memakai busana bebas. merah. Kelengkapan busana madipungu terdiri dari baju. Aksesori lainnya adalah ikat pinggang (etango). celana panjang juga diberi hiasan tambio (hiasan corak keemasan). bisa juga memakai baju gelenggo atau boqo tunggohu. seperti kuning. disebut wolimomo. Pada bagian depan baju diberi selembar kain yang dirempel. hijau. Perhiasan dan aksesori yang dipakai pada busana ini adalah tusuk konde (sunthi) yang dibuat dari logam yang disepuh keemasan terdiri dari 12 buah. oleh karena itu disebut sunthi burungi. disebut hotu. Di bagian depan baju diberi kancing dan tiga buah saku. tetapi kerahnya berdiri tegak. seperti kain lapis dada warna hitam yang dihiasi kuning emas. Warna yang dipilih adalah salah satu dari warna merah. Busana wolimomo terdiri dari baju blus berlengan pendek seperti bolero dan kain sarung. kalau berbicara mengenai busana adat. selimut (waluto). sedangkan bagian lainnya diberi hiasan warna kuning keemasan. maka acuannya adalah busana yang dikenakan pada upacara-upacara resmi. demikian juga dengan busana yang dipakai oleh pengantin wanita. hijau dan ungu. kuning.

tidak memiliki krah dan saku. ada juga bentuk baju yang berlengan panjang. baju tanpa lengan dan bentuknya lurus. Selain sarong yang bermotifkan ikan duyung. anting dan gelang. disebut laborci-laborci. seperti motif biasa. disebut wuyang (pakaian kulit kayu). Sedangkan pengaruh Cina adalah kebaya warna putih dengan kain batik Cina dengan motif burung dan bunga-bungaan. disebut busana tatutu. memakai krah dan saku disebut baju baniang. kalung leher (kelana). Perbedaannya terletak pada aksesori dan perhiasan yang digunakan. celana panjang. pengantin wanita mengenakan busana yang terdiri dari baju kebaya warna putih dan kain sarong bersulam warna putih dengan sulaman motif sisik ikan. ujung lengan dan sepanjang ujung baju bagian depan yang terbelah. Busana Pemuka Adat Busana Tonaas Wangko adalah baju kemeja lengan panjang berkerah tinggi. yaitu sama dengan baju takowa yang terdiri dari baju dan celana panjang. Busana pria pengaruh Spanyol adalah baju lengan panjang (baniang) yang modelnya berubah menyerupai jas tutup dengan celana panjang. Bahan baju ini terbuat dari kain blacu warna putih. Motif dalam busana ini adalah motif bunga padi. sarong motif kaki seribu. Pada perkembangan selanjutnya busana Minahasa mendapatkan pengaruh dari bangsa Eropa dan Cina. Busana pengantin baju jas tertutup ini. yang bahannya terbuat dari tenunan bentenan. selendang pinggang dan topi (porong). Sedangkan busana pengantin pria memakai baju paluwala. . Aksesori tersebut mempunyai berbagai variasi bentuk dan motif. bintang. disebut model kaki seribu dan sarong motif bunga. kain panjang atau sekarang dapat diganti dengan rok panjang. sayap burung cendrawasih dan motif ekor burung cendrawasih. berkancing tanpa saku. Warna baju hitam dengan hiasan motif bunga padi pada leher baju. Busana Tradisional Minahasa Minahasa Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Minahasa adalah salah satu suku bangsa yang mendiami wilayah Propinsi Sulawesi Utara. berwarna hitam terbuat dari ijuk. Pada busana pria pengaruh Cina tidak begitu tampak Baju Ikan Duyung Pada upacara perkawinan. yang terdapat pada hiasan topi. Sedangkan kaum pria memakai baju karai. Selain itu. disebut model salimburung. Celana yang dipakai masih sederhana. Busana wanita yang memperoleh pengaruh kebudayaan Spanyol terdiri dari baju kebaya lengan panjang dengan rok yang bervariasi. lebih lengkap dan menunjukkan keagungan. Model busana pengantin wanita ini dinamakan baju ikan duyung. mahkota (kronci). potongan baju lurus. Di masa lalu busana sehari-hari wanita Minahasa terdiri dari baju sejenis kebaya. Semua motif berwarna kuning keemasan. aksesori dan perhiasan. Sebagai kelengkapan baju dipakai topi warna merah yang dihiasi motif bunga padi warna kuning keemasan pula. Konde yang menggunakan 9 bunga Manduru putih disebut konde lumalundung. Motif Mahkota pun bermacam-macam. Pengantin pria memakai busana yang terdiri dari baju jas tertutup atau terbuka. sedangkan Konde yang memakai 5 tangkai kembang goyang disebut konde pinkan. Aksesori yang dipakai dalam busana pengantin wanita adalah sanggul atau bentuk konde. Busana kebesaran ini disebut biliu. leher baju. Dalam kehidupan sehari-hari ada kecenderungan bagi suku bangsa Minahasa untuk menyebut diri mereka sebagai orang Manado. kalung mutiara (simban).Rangkaian terakhir dari upacara perkawinan adat Gorontalo adalah bersanding di pelaminan (mopo pipide). Selain baju karai. yaitu mulai dari bentuk celana pendek sampai celana panjang seperti bentuk celana piyama. terdiri atas baju lengan panjang. selendang pinggang dan kedua lengan baju. Potongan baju tatutu adalah berlengan panjang. mereka pun memakai blus atau gaun yang disebut pasalongan rinegetan. Busana yang dipakai oleh pengantin wanita adalah busana kebesaran yang dipakai oleh istri raja di jaman dulu. terdapat juga sarong motif sarang burung.

selop. perlambang penyatuan 2 unsur alam. dan ujung lilitannya dipegang oleh salah satu tangan. Bentuk baju dapat berupa baju berlengan pendek dan baju berlengan panjang dengan lubang pada bagian atas baju untuk memasukkan kepala. Dilengkapi selempang warna kuning atau merah. Warna baju umumnya putih. untuk pakaian sehari-hari di rumah. Lapisan dalam adalah sarung atau rok warna putih yang dililitkan di pinggang. coklat atau warna gelap lainnya dengan corak garis-garis horizontal. busana adat tersebut menumbuhkan kebanggaan bagi masyarakatnya. Perhiasan yang dipakai sebagai kelengkapannya adalah kalung bulat yang terbuat dari logam untuk bagian leher. Busana Tradisional Muna Muna Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Pakaian sehari-hari atau di rumah yang dikenakan oleh kaum pria terdiri atas baju (bhadu). yang dibuat dari lilitan dua buah kain berwarna merahhitam dan kuning-emas. Sarung yang dipakai oleh wanita terdiri atas tiga lapis. bagi warga maupun aparatur pemertintah setempat. yaitu terdapat kancing. saku. biasanya berwarna merah bercorak geometris horizontal berwarna hitam. Bentuk dan jenis busana Tonaas dan Walian Wangko inilah yang kemudian menjadi model dari jenis-jenis pakaian adat Minahasa untuk berbagai keperluan upacara. Sedangkan ikat pinggang terbuat dari logam berwarna kuning. Gelang yang terbuat dari emas dipakai pada tangan. Busana ini dapat juga dipakai pada saat berpergian. Baju yang dipakai berlengan pendek dengan model baju seperti sekarang. dan kain ikat pinggang yang disebut simpulan kagogo. Potongan baju tanpa kerah dan kancing. Warna baju putih dengan hiasan corak bunga padi. wanita Muna memakai baju berlengan pendek yang disebut kuta kutango. yang dililitkan di dada menjurai sampai dengan di atas lutut. bheta. dan berkerah. yaitu langit dan bumi. Sarung kedua untuk membalut baju. Sedangkan Walian Wangko wanita. Umumnya. memakai baju kebaya panjang warna putih atau ungu. Dilengkapi topi porong nimiles. selain dipakai untuk bepergian dapat juga dipakai untuk menghadiri . Kalangan wanita mengenakan busana yang terdiri atas bhadu. Jenis-jenis dan bentuk busana di atas merupakan kekayaan budaya Minahasa yang tak ternilai harganya. Bahan baju terbuat dari kain satin warna merah atau biru. Fungsi ikat pinggang ini selain untuk penguat sarung agar tidak mudah lepas. kalung leher dan sanggul. dunia dan alam baka. celana (sala) dan kopiah (songko) atau dapat diganti dengan ikat kepala (kampurui). Hiasan yang dipakai adalah motif bunga terompet. Ikat kepala yang dipakai berupa kain bercorak batik. Sarung ketiga atau paling atas digulung melilit dada terkepit ketiak. kain sarong batik warna gelap dan topi mahkota (kronci). sedangkan lubang leher dengan warna kuning emas. Sarung yang dipakai. Baju katango ini. Selain sebagai penunjuk identitas kebudayaan. hanya saja lebih panjang seperti jubah. gelang yang terbuat dari logam warna putih atau kuning dikenakan pada kaki. Baju berlengan pendek ini diberi hiasan renda pada setiap ujung lengan.Busana Walian Wangko pria merupakan modifikasi bentuk dari baju Tonaas Wangko. sarung (bheta). biru. juga untuk menyelipkan senjata tajam. Sarung yang mereka pakai umumnya berwarna merah. hitam.

kalung (tongko). anting-anting (dali). Perhiasan yang dipakai terdiri atas gelang tangan (simbi). Sarung yang dikenakan ada dua. gelang kaki (kurondo). bheta. Sementara itu upacara sunatan sebagai bagian penting dari upacara daur hidup seorang pria sbelum mencapai usia remaja atau dewasa. terdiri atas unsur pakaian baju dan kain sarung motif kotak-kotak kecil yang disebut bia-bia itanu. Perhiasan lainnya adalah gelang di kedua belah tangan. sarung berhias (bia ibolaki). Kelengkapan busana ini hanya dipakai oleh kalangan wanita bangsawan (kaomu).pesta-pesta upacara adat atau menerima tamu. Perhiasan yang digunakan adalah sanggul yang diberi hiasan. perkawinan misalnya. sarung dua lapis. Agar sarung tampak kuat. yang disebut biru-biru. Busana Tradisional Buton Penulis Jaya Purnawijaya Pakaian keseharian orang kebanyakan (golongan walaka) disebut pakaian biru-biru. Pakaian sehari-hari di kalangan wanita disebut baju kombowa. Upacara posuo merupakan salah satu upacara yang harus dilalui oleh seorang gadis yang telah menginjak dewasa. dengan penguat lilitan selembar kain ikat pinggang. Perhiasan yang dipakai adalah ikat pinggang (sulepe) terbuat dari logam. terdiri atas sarung dan ikat kepala tanpa baju. Mereka memakai baju kambowa serta sarung yang bermotif (bia-bia itanu kumbea). Adapun yang membedakannya dengan busana untuk upacara lain adalah terletak pada penggunaan perhiasan. Perbedaannya hanya pada tata rias dan perhiasan yang dikenakannya. tusuk konde (panto). dan kain bersulam benang emas berbentuk pita (kabunsale). perhiasan yang dipakai adalah gelang. Bentuk bhadu dan bheta yang dikenakan pada upacara ini. Selain itu. ikat pinggang. Kedua sarung tersebut dililitkan di atas pinggang. dan ikat pinggang (sulepe). maka dililitkan kain ikat pinggang yang diberi hiasan jambuljambul atau rumbai-rumbai disebut kabokena tango. Sarung dililitkan di pinggang membalut atau menutupi sebagian baju. anting-anting di telinga dan kalung menghiasi leher. dan anak yang boleh memakainya harus berasal dari golongan masyarakat bangsawan (kaomu). Sedangkan perhiasan yang terdapat pada sanggul adalah pita pengikat konde (kawutu). Ikat kepala dililitkan di tengah kepala sehingga membentuk lipatan-lipatan yang meninggi di sebelah kanan kepala. bulu burung cendrawasih dan berbagai hiasan dari logam. Anak yang akan disunat ini memakai busana adat yang dinamakan ajo tandaki. Berbusana secara lengkap berikut berbagai perhiasannya juga dikenakan oleh kaum wanita yang akan menghadiri upacara resmi. dan sanggul.. cincin dan anting yang terbuat dari emas. Selain pakaian sehari-hari. seorang gadis memakai busana adat beserta perhiasannya yang terdiri dari bhadu. khususnya yang berhubungan dengan daur hidup manusia. Hiasan sanggul terbuat dari kain atau logam yang berwarna kuning membentuk kembang cempaka. dan ikat pinggang (sulepe). Pada sanggul dililitkan pita dari kain berwarna merah atau warna baju yang dipakainya. Bentuk baju berlengan pendek dan tidak berkancing. dan perhiasan logam. bercorak sama tetapi dengan warna berbeda. selendang (salenda). Tandaki adalah mahkota. Ciri seorang gadis yang sudah dipingit adalah memakai gelang yang sudah dihiasi manik-manik pada pergelangan kirinya disebut kabokena limo. manik-manik. Pada upacara tersebut. Pakaian ajo tandaki terdiri atas mahkota. Salah satu upacara adat yang hingga saat ini masih dipertahankan oleh masyarakat Muna adalah upacara pingitan gadis (karia). Penulis Mira Indiwara Pakan . Dalam upacara ini. gadis yang dipingit diharuskan memakai busana kalambe yang terdiri atas baju kambowa. masyarakat Buton pun memiliki pakaian khusus yang dikenakan pada saat berlangsung upacara adat tertentu. Sanggul seperti ini disebut popungu kelu-kelu. sebetulnya tidak berbeda dengan busana sehari-hari wanita Muna. Cara melilitkan ikat pinggang tersebut diatur sedemikian rupa agar rumbai-rumbai tersebut berada di depan. Dua diantaranya yang adalah upacara memingit gadis yang disebut posuo dan upacara sunatan. Sarung yang di dalam dililitkan pada pinggang lebih panjang dari pada sarung yang di luar (tampak berlapis). Mahkota dibuat dari kain merah.

gambaran mengenai busana adat pria Kaili tampak jauh lebih sederhana. Keduanya sama-sama berleher bundar dan tanpa krah pada baju bagian atasnya. berlengan panjang dengan kancing pada bagian pergelangan tangannya. yakni bentuk sanggul yang didapatkan dengan cara menyisipkan gulungan rambut mereka ke dalam rambut itu sendiri. atribut tersebut masih dapat ditemukan dalam beberapa hat. Salah satunya tampak pada unsur busana adat yang menjadi milik masyarakat Kaili. tidak heran bila di daerah tersebut terdapat beraneka ragam jenis sanggul. dan hiasan untuk penutup rambut. dan baju pasua. Baju gembe adalah baju yang memiliki bentuk dan potongan sejenis dengan baju bodo yang terdapat dalam kebudayaan Bugis. yakni baju yang berlengan panjang dan baju yang berlengan pendek. Model rambut yang paling terakhir disebut unte pambeo. Pada zaman dahulu. tudung kepala yang biasa dikenakan oleh kaum wanita tersebut berbentuk seperti kerucut. Bahan baju tersebut beradal dari kain fuya. yakni kain yang terbuat dari serat kulit kayu. Pertama adalah unte tandu. Model sanggul seperti ini akan tampak pada saat wanita Kaili melakukan berbagai rutinitas kegiatan sehari-hari mereka. Berbicara mengenai perhiasan yang biasa dipasang pada bagian kepala kaum wanita Kaili. bangsawan (toguua mungana). Jenis-jenis perhiasan itu sendiri pada umumnya berupa kalung bersusun. perhiasan yang dipilihnya terbuat dari manik-manik atau bahkan juga terbuat dari emas. yakni model sanggul dengan ciri khasnya terletak pada ujung rambut yang disanggul sedikit diuraikan ke bagian samping hingga mencapai bahu. . baju gembe. kalung panjang. Selain memiliki busana yang cukup beragam. yakni bentuk sanggul tanduk yang biasanya diletakkan di bagian belakang kepala. Jenis sanggul seperti ini hanya diperuntukkan bagi para pengantin wanita saja. Ada golongan raja (maradika). Bahkan khusus untuk kaum wanita bangsawan. ada tiga model sanggul yang senantiasa ditampilkan oleh para wanita kaili. kaum wanita Kaili kerapkali mengenakan kelengkapan busana lainnya yang cukup khas seperti ikat kepala dan tudung kepala. ada belahan pada bagian dadanya dan diberi sejumlah kancing. dengan bahan bakunya berasal dari rotan yang dianyam sedemikian rupa. masyarakat Kaili mengenal sistem pelapisan sosial dengan empat tingkatan sosial di dalamnya. Busana yang disebut dengan baju poko itu sendiri ada dua macam. Adapun gambaran mengenai baju pasua adalah jenis baju yang memiliki bentuk leher bundar. Busana adat wanita Kaili dapat dibedakan ke dalam tiga jenis model baju. Busana wanita Kaili. rakyat kebanyakan (todea). Oleh karena itu.Kaili merupakan salah satu suku bangsa yang menempati wilayah Provinsi Sulawesi Tengah. keberadaan tudung kepala memang mendapat tempat tersendiri dalam kehidupan kaum wanita Kaili. yakni baju poko. Meskipun saat ini. sistem pelapisan tersebut tidak lagi bertahan sepenuhnya. Untuk keperluan pakaian sehari-hari. sekalipun itu tidak banyak. sangat erat dengan kebiasaan mereka yang gemar menyanggul rambut. pending. kain fuya yang digunakan agak kasar. Lain halnya dengan kain fuya yang digunakan untuk membuat busana pesta. Bahan yang digunakan untuk membuat ikat kepala tersebut adalah rotan yang tipis atau fuya. tak lupa dikenakan perhiasan-perhiasan sebagai pelengkapnya. Namun kini kain fuya telah ditinggalkan dan diganti dengan bahan katun atau jenis kain lainnya yang dapat dibeli dengan mudah. lebih halus dan dilengkapi dengan hiasan yang berupa aplikasi beraneka warna. pada zaman dahulu terdiri atas kain sarung lengkap dengan bajunya yang berupa blus berlengan pendek. Berbicara mengenai busana adat masyarakat Kaili tampaknya akan lebih didominasi oleh busana yang biasa dikenakan oleh kaum wanitanya. Masyarakat di tempat tersebut menamakan ikat kepala yang biasa dikenakan oleh kaum wanita dengan sebutan tali bonto. pembungkus hasta dan pergelangan tangan. Sementara itu. kelengkapan busana berikut aksesori lainnya pun tidak kalah bervariasinya. Paling tidak. Selain baju-baju tersebut. dan budak (batua). Sementara itu. Pada setiap lapisan sosial biasanya terdapat sejumlah atribut berupa lambang atau simbol-simbol tertentu. Jenis sanggul yang kedua bernama unte pompule pasiki. mereka mengenakan tudung kepala pada saat melakukan kegiatan sehari-hari. Untuk mempercantik penampilan mereka dalam berbusana. dengan jenis yang cukup beragam. Biasanya. Secara fisik. bermacam-macam gelang mulai dari lengan hingga siku mereka.

Tentu saja pemilihan warna dan motif tersebut akan disesuaikan dengan status sosial pemakainya. akan tampak bagaimana sebenarnya busana adat mereka yang pernah ada selama ini. dan sebelah Timur berbatasan dengan negara Papua Niugini (Papua Neuw Guinea/ PNG). Kampuh yang sarat dengan berbagai macam benda tersebut biasanya dikalungkan pada leher mereka. Ada satu tujuan utama yang hendak dicapai. Salah satu di antaranyanya adalah biji jagung kering. Busana yang digunakan kaum pria untuk menutupi anggota badan bagian bawah adalah cawat dan celana pendek yang pipa celananya sedikit di atas lutut. yakni untuk menghangatkan tubuh atau berfungsi sebagai penahan hawa dingin. sebelah Barat Daya dengan kabupaten Fakfak. Dengan mengungkapkan profil pria Kaili. Adapun pada anggota tubuh bagian atas kerapkali hanya bertelanjang dada. Pada masa itu. sebelah Selatan dengan kabupaten Merauke. yang pemakaiannya tidak dilakukan untuk menutupi badan bagian bawah melainkan hanya disampirkan di bahunya. Ada beberapa jenis kelengkapan busana adat pria Kaili. ada juga kelengkapan busana lainnya yang senantiasa dikenakan oleh mereka. ikat kepala dan kampuh. justru berbeda dengan kondisi mengenai busana adat kaum pria Kaili. yang dikenal dengan istilah mengayau. Unsur yang pertama adalah sarung. pemakaian ikat kepala ini sangat erat kaitannya dengan aktivitas mereka di masa lalu. Pusat-pusat permukiman orang Dani . Kelengkapan busana lain yang tidak kalah pentingnya adalah ikat kepala. Busana Tradisional Masyarakat Dani Dani People Traditional Dress Penulis Aat Soeratin. Namun bila akan bepergian. yakni berperang dan tradisi pengayauan. Selain kedua unsur busan tersebut. memang ada satu kebiasaan masyarakat Kaili untuk memenggal kepala musuh pada saat berperang. sebelah Timur Laut dengan kabupaten Jayapura. Secara historis. baru mereka memakai baju untuk menutupi anggota tubuh bagian atasnya. Satu kelengkapan lainnya yang senantiasa dibawa oleh kaum pria Kaili adalah kampuh yang berisi sirih pinang dan beraneka macam benda-benda yang digunakan untuk meramal oleh pemiliknya. yakni kain sarung. Ikat kepala yang dipakai oleh kaum pria tersebut memiliki warna yang beragam serta bermotif.Bila gambaran mengenai busana adat wanita Kaili begitu kaya akan berbagai informasi di seputar masalah tersebut. Tentu saja bukannya tanpa alasan bila mereka mengenakannya seperti itu. Jonny Purba Masyarakat Dani mendiami wilayah kabupaten Jayawijaya. sebelah Barat Laut dengan kabupaten Paniai. Di sebelah Utara berbatasan dengan kabupaten Yapen-Waropen.

Sedangkan jenis holim besar terdapat di lembah Baliem. di antaranya koteka (holim). Di samping itu biasanya terdapat juga humila sebagai dapur tempat memasak dan wam aele sebagai kandang babi. Kehidupannya mengelompok berbentuk desa yang dinamakan silimo (asilimo). Beberapa lembah yang terkenal. Koteka (Holim) Koteka atau disebut juga holim adalah pakaian laki-laki masyarakat Dani dan Ekari. Illu. Dalam perkembangannya fungsi dan kegunaan holim mulai digantikan dengan pakaian sehari-hari yang terbuat dari tekstil. Konda. Sebagian masyarakat Dani mengenakan koteka yang ukurannya pendek dan besar. Banyak kemudian yang menambahkan semacam sekat di antara pangkal dan ujung "selongsong" koteka bolong itu untuk tempat menyimpan benda-benda yang dianggap keramat atau bendabenda yang dianggap bernilai tinggi. Welarak. isi buah labu dikeluarkan. Ilaga. Makna simbolik lainnya mengisyaratkan. keterampilan memipin. Yokal Sejenis rok wanita masyarakat Dani yang dibuat dari serat tali hutan (tumbuhan rambat) yang dipintal dengan rapi. yaitu tegak lurus: menandakan bahwa pemakainya adalah "pria sejati". Sinak. penutup kelamin pria ini diikatkan ke seputar pinggang dengan tali halus yang biasanya berwarna hitam. yaitu tegak lurus: menandakan bahwa pemakainya koteka.umumnya berada di wilayah lembah dan lereng-lereng gunung. Bahan pewarna tersebut . berwarna kuning kemerah-merahan. dan Oholim. pria yang memakainya masih perjaka. Istilah "Ndani" berasal dari kata "Lani" yang digunakan oleh penduduk lembah Baliem Utara dan Barat. Biasanya yokal berwarna hitam. Apalahapsili. belum pernah melakukan persebadanan. mereka menggunakan holim sebagai pakaian adat sekaligus sebagai perlengkapan upacara. Jenis koteka kecil terdapat di daerah lembah Baliem. Jenis holim ini halus. Secara etnis masyarakat Dani dikenal dalam dua kelompok yaitu Wita dan Waya. dipetik lalu dikeringkan di perapian. artinya "Kami orang Baliem". disebut yokal. Dwart. sejenis labu Cina. Namun dalam kegiatan tertentu. lembah Baliem (Lembah Agung). terutama di Kecamatan Wamena Kota. Pas Valley dan Piet River. Buah labu yang sudah tua. Hiasan itu untuk menimbulkan daya tarik bagi kaum perempuan. memiliki status sosial yang tinggi atau mempunyai kedudukan sebagai bangsawan. Miring ke samping kiri: bermakna pria dewasa yang berasal dari golongan menengah dan memiliki sifat kejantanan ejati. misalnya "uang merah" (eka merah). ketika berternak babi. Setelah itu buah labu kembali dikeringkan di sekitar perapian. pemilik harta kekayaan yang melimpah. kuning. kemudian dibersihkan. Kalabasah yang berdiameter relatif besar itu dipotong hampir setengahnya sehingga ujungnya bolong (terbuka) yang ketika dipakai biasanya bolong itu ditutup dengan daun. Ada dua ukuran koteka yakni holim kecil (halus) dan holim pendek besar. Ketika dikenakan. Tiom. dikorek dengan kayu yang diruncingkan. Kosarek. Holim sebagai pakaian sehari-hari digunakan dalam seluruh kegiatan keseharian. Mulia. upacara adat misalnya. dan pengayom rakyat. sedangkan sebelumnya disebut "Ndani". Busana penutup alat kelamin pria ini dibuat dari kalabasah. Bentuk rumah tinggalnya disebut honai (honae) untuk laki-laki dan obe-ae rumah khusus kaum perempuan. Kadang-kadang bagian ujungnya diberi hiasan bulu burung atau bulu ayam hutan. seperti waktu mengerjakan ladang. "Kanan" menandakan kekuatan bekerja. bermakna bahwa penggunanya adalah pria gagah berani. Ukuran bagian bawahnya sedang dan atasnya runcing. saat berada di honai. agar tidak jatuh. Illaga. Istilah "Dani" digunakan oleh ekspedisi Sterling tahun 1926. Juga menunjukkan pemakainya adalah keturunan Panglima Perang (apendabogur). Miring ke samping kanan: simbol kejantanan. Masyarakat Dani sendiri menamakan dirinya "Nit Baliemege". yakni masyarakat Moni dan Damal untuk menunjukkan suku tetangganya (masyarakat Dani). Kecamatan Asologaima dan Kecamatan Kurulu. yokal dan sali. Ada tiga pola penggunaan koteka. Setelah kering. laki-laki sejati. Busana Adat Masyarakat Dani Ada beberapa jenis busana dan tata rias Masyarakat Dani yang sangat khas bila dibandingkan dengan kelompok etnis lainnya di Irian Jaya. Yalimo. antara lain. dan kemerah-merahan.

Wali moken sebutan untuk kulit kerang yang diikat hingga seolah menempel pada dahi seorang laki-laki. memelihara babi. bepergian. Konon. Pada sepenuh permukaan walimo ditempelkan. sejenis topi berbentuk bulat dibuat dari bulu burung. Wam maik adalah aksesori dengan bahan taring babi. Akseori ini biasanya warisan turun-temurun dari nenek moyang.didapat dari getah kulit atau bunga anggrek. topi dari bulu kuskus warna hitam. Walimo yaitu hiasan dada. Mul. anak panah dan busur. Sali mengisyaratkan pemakainya Tata Rias Masyarakat Dani Yang lebih banyak merias diri pada masyarakat Dani adalah kaum laki-laki. Benda laut ini didatangkan ke daerah pegunungan melalui sistem barter. Cipat. Sedemikian besar fungsinya. atau dibentuk menjadi pipih dan diselipkan pada cuping hidung bagian tengah yang dilubangi sehingga mirip seperti misai panjang. Yokal dibuat dari kulit kayu wam. setelah kering dianyam pada seutas tali sepanjang seputar pinggang. Dibuat berupa untaian sebagai kalung. Wayeske. Selain sebagai aksesori. termasuk saat mengikuti upacara adat. menjual hasil pertanian. Banyaknya kulit kerang menunjukkan jumlah musuh yang dibunuhnya dalam perang suku. Aksesori yang dikenakan para wanita Dani. Noken (su labak yapma) yaitu sejenis tas dibuat dari serat kulit kayu yang dianyam menyerupai karung. . antara lain: sekan yaitu gelang yang dibuat dari rotan. sehingga seorang wanita Dani biasanya membawa beberapa noken dengan isi yang berlainan. dikenakan pada lengan maupun pergelangan tangan. Sekan. misalnya saat ke ladang. Yokal melambangkan wanita pemakainya sudah tidak gadis lagi atau wanita yang telah menikah. Diwarnai dengan getah kulit atau bunga anggrek. ke sekolah. Sali dipakai sehari-hari oleh anak gadis. noken berfungsi untuk menyimpan dan mengangkut bahan makanan. Selanjutnya dipintal dan dirajut menjadi rok. ke gereja. puluhan rumah siput kecil yang dianggap mampu mendatangkan kekuatan gaib. Siluki inon. senjata ampuh pria sejati Dani. bahan tersebut dijemur atau diasapi. Pekerjaan ini biasanya dilakukan wanita dewasa. Perlengkapan merias diri kaum lelaki masyarakat Dani yang dikenakan saat upacara dan aktivitas sehari-hari lainnya. menyiapkan makanan. Noken juga dipercaya sebagai simbol kehidupan dan kesuburan. Yokal digunakan sehari-hari untuk melakukan pelbagai pekerjaan. Yokal biasanya dikenakan oleh wanita dewasa yang sudah menikah. Pada tubuh para lelaki nampak lebih banyak aksesori ketimbang yang dikenakan para perempuan. antara lain: swesi. Sali dipakai dengan cara melilitkannya ke seputar pinggang dan menyimpulkan kedua ujung tali penahannya pada bagian perut (pusar). Ngisi adalah rambut yang dianyam rapi dan dilumuri dengan lemak babi. Oleh karena itu aksesori yang digunakan mengandung makna simbolik sekaligus menunjukkan identitas pemakai maupun masyarakatnya. sehari-hari atau saat upacara adat. gelang anyaman rotan yang dipakai pada lengan maupun pergelangan tangan. dibuat dari anyaman serat kulit kayu yang ketika dikenakan akan nampak seperti dasi. Sege adalah tombak panjang yang melambangkan pria sejati. Ngisi mengisyaratkan pemuda yang telah siap untuk menikah. seperti mengerjakan kebun. yang melambangkan kemahiran berburu dan keberanian. Biasanya seorang wanita Dani mengenakan sejumlah noken yang digantungkan pada kening dan berjuntai ke punggungnya hingga menutup bagian pinggul. kalung berupa tali penangkal guna-guna. gendongan bayi. semacam "baju besi" dibuat dari serat rotan yang dianyam rapat sehingga berfungsi sebagai perisai dari tusukan anak panah dan tombak. Seperti proses membuat yokal. juga untuk membawa babi. berderet-deret dan disusun rapi. karena para lelakilah yang lebih kerap tampil ketika harus berinteraksi dengan masyarakat di luar kelompoknya. mengasuh anak. Kulit kayu tersebut dikelupas dari batangnya. diambil seratnya kemudian dikeringkan pada perapian atau dijemur pada panas matahari. Sali Pakaian sehari-hari anak gadis masyarakat Dani adalah sali yang dibuat dari bahan serat kem atau dari sejenis daun pandan.

Menjalin rambut ini disebut wi atau owusapor dan biasanya dilakukan pria remaja. Jenis atau ragam busana Asmat tidaklah banyak. semakin banyak ragam rias yang dikenakannya. Marind. Tali pengikatnya dibuat dari akar pandan. bulu bangau yang diikatkan pada . disebut tali bow. Seperti halnya sukusuku bangsa lainnya. Penahan pummi adalah asenem. Busana dan tata rias yang dikenakan juga menunjukkan status sosial maupun jenis kelamin. Suku bangsa Asmat adalah suku bangsa terbesar di antara suku-suku bangsa lainnya di bagian selatan Irian. Sawa Erma. Semakin tinggi status sosial seseorang. wanita Asmat membuat semacam kutang dari anyaman daun sagu muda yang disebut peni atau samsur. dan masing-masing aksesori itu memiliki makna simbolik. dahulu. Rambut orang Asmat pada umumnya keriting atau bergelombang. Mereka bermukim di daerah rawa yang sangat luas. Asmat. Dan peni. Daerah persebarannya meliputi Kecamatan Agats. mereka menjalinnya hingga bisa "berdiri". Pada rambut diselipkan hiasan yang disebut sokmet. semacam cawat atau celana dalam. Laki-laki Asmat biasanya memakai pummi semacam rok mini yang dibuat dari anyaman daun sagu. Ketika menginginkan rambutnya nampak lurus. dan Mimika. masyarakat Asmat merancang dan mengembangkan berbagai jenis busana dan tata rias untuk dipakai seharihari maupun untuk keperluan upacara adat. Sejauh ini yang ditemukan hanya yang berupa "rok mini" dan cawat sebagai penutup aurat kaum lelaki dan perempuan. dan Pantai Kasuari. Tok adalah pummi yang rumbai-rumbai bagian depannya dikumpulkan lalu ditarik ke bagian belakang pinggul melalui celah paha sehingga menyerupai cawat. hanya dipakai oleh istri panglima perang. Atsy. Sedangkan kaum perempuannya memakai tok. Rumbai-rumbai pummi dilepas begitu saja hingga terurai di sekeliling pinggul dan paha. ikat pinggang dari anyaman rotan. Untuk menutup payudara. bahkan di kawasan propinsi Irian Jaya.Busana Tradisional Asmat Asmat Traditional Asmat Wilayah pantai (Selatan) Irian Jaya didiami sukubangsa Muyu.

dan gelang yang dipakai pada lengan. terutama ketika mereka berada di dalam jew (rumah panjang).lidi. Noken dibuat dari anyaman daun pandan dan pada salah satu sisinya diberi hiasan bulu sayap burung kakak tua atau bulu sayap burung bangau. sejenis tas yang disandang di leher laki-laki atau di kening perempuan. yang dibuat dari biji tumbuhan tisen. dan pemukul tifa. Sebagai masyarakat peramu yang hidup dari berburu. Maka untuk bisa tampil segagah burung yang elok itu mereka. dari bahan yang sama. Noken yang polos tanpa hiasan dipakai oleh wanita dan laki-laki kebanyakan sedangkan yang dibubuhi hiasan. Bipane biasanya dipakai oleh panglima perang. Tali penahan agar kasuomer tidak jatuh dibuat dari jalinan daun sagu muda. pun kebanyakan masyarakat asli Irian Jaya. Begitu pentingnya fungsi senjata-bagi lelaki Asmat sehingga bukan hanya dipakai sebagai peralatan berburu belaka tapi juga sebagai alat pelengkap penampilan agar nampak berwibawa. tanpa membedakan status sosial. Wanita yang mengenakan benda ini adalah istri dari orang yang gemar berburu babi hutan. Juwursis biasanya dipakai oleh panglima perang. panjangnya kira-kira 30 cm. masyarakat Asmat. Dulunya barok hanya dipakai oleh panglima perang. terutama saat melaksanakan upacara adat. kaum wanita dan lelaki Asmat memakai tisen pe. bukan hasil buruan dengan bantuan anjing atau tombak. yang supaya nampak indah dihias bulu burung cendrawasih (jabopan). pemukul tifa. dan penyanyi pengiring upacara. penyanyi. juwursis merupakan benda yang bernilai tinggi. dan tombak. kepala adat. Masyarakat Asmat juga menciptakan semacam topi berbentuk kopiyah/peci/songkok yang terbuka bagian atasnya yang dibuat dari bulu kuskus. Kaum wanita Asmat. aksesori yang dibuat dari kulit siput/ kerang yang dibentuk mirip bulan sabit atau ada juga yang menyerupai misai panjang gergulung. Atau pomak camkan yang dibuat dari anyaman daun sagu muda yang biasa dipakai saat pesta ulat sagu dan upacara patung mbis (patung leluhur). kalung. agar ujung hidung tertarik sehingga mancung dan melengkung seperti paruh kakatua raja. dituntut untuk mahir menggunakan senjata: pisau. Sebagai kalung. Yang dikenakan pada pergelangan tangan. pemimpin tungku (keluarga luas). Benda pakai yang juga kerap dijadikan pelengkap penampilan adalah noken. Topi ini disebut juprew. terutama kaum lelaki. sehingga bila saat berduka benda ini tidak ditampilkan. Sedangkan para lelaki memakai bipane. menggunakan gulungan daun sagu atau daun nipah yang disebut bi awok sebagai penghias hidung mereka. biasanya diimbuh hiasan beberapa tangkai sokmet. Hingga sekarang. semacam pisau belati dibuat dari tulang kering burung kasuari yang salah satu ujungnya diruncingkan dan pangkalnya dihias oleh bulu-bulu halus burung kasuari. melubangi cuping tengah hidung mereka dan "menyumpalnya" dengan aksesori berupa benda yang terkadang berukuran lebih besar daripada lubang hidung. Ada pula o effo yakni ekor babi hutan yang dililitkan di bagian pangkal tangan. Kalung lainnya adalah juwursis (juwur = anjing). Ada juga penutup kepala yang dibuat dari anyaman daun sagu dan akar kayu. Sedangkan yang dipakai pada pangkal lutut dinamakan barok. Masyarakat Asmat. terutama istri panglima perang dan para tetua adat. tapi sekarang dipakai juga oleh para tetua adat. Senjata ini diselipkan pada sinenke. Aksesori lainnya yang sangat khas adalah subang penghias telinga. Subang penghias telinga disebut jemcankan yang dibuat dari kayu fum atau dari semacam manik-manik biji tumbuhan dek atau omdu atau tisen. disebut wisaper. pemukul tifa. subang penghias hidung. dan pangkal betis. dan diberi hiasan bulu burung kakatua atau burung bangau yang disebut panicep solme. sokmet masih dipakai pria Asmat. . panah. konon. dan kepala-kepala tungku (kepala keluarga luas). Pada kebudayaan Asmat. penyanyi. disebut betan. Topi ini disebut kasuomer dan kerap dihiasi bitwan (kulit kerang). Sof betan atau sinenke adalah gelang untuk pangkal lengan dari anyaman rotan. sangat mengagumi burung kakatua raja lantaran satwa ini nampak elok dan gagah. sehingga seringkali digunakan sebagai mas kawin seperti halnya kapak batu. untaian gigi taring anjing yang dikombinasikan dengan taring babi hutan. Ekor babi untuk o effo harus berasal dari babi hutan yang terkena perangkap (siso). biasanya dipakai oleh panglima perang. Senjata yang hampir selalu disandang sebagai aksesori pada pelbagai upacara adat ialah pisuwe. 0 effo juga dipakai sebagai cerminan perasaan sukacita. pergelangan tangan. dan biasanya disandang oleh panglima perang.

fum. saat ini para pengrajin tak hanya menuliskan huruf kaligrafi. Hingga kini batik Besurek tidak hanya digunakan oleh kalangan bangsawan saat upacara adat saja. Busurnya dibuat dari jenis kayu bakau. yakni rias tubuh berupa gambar corak hias garis sejajar atau liris yang sangat ekspresif di sekujur tubuh terutama saat melaksanakan upacara adat. Agar lebih variatif. melainkan sudah menjadi seragam tetap beberapa sekolah dan pakaian dinas pemerintah daerah setempat.Senjata lainnya adalah tombak. Kemudian panah yang disebut ces atau jimar. Disebut demikian karena motifnya bertuliskan kaligrafi Arab. seperti relung kua yang bergambar burung. Pada hakekatnya besurek memiliki arti bersurat atau tulisan yang tradisinya sudah diwariskan secara turun temurun. ternyata Provinsi Bengkulu juga memiliki kerajinan tradisional batik yang cukup mumpuni yaitu Besurek. Anak panahnya agak beragam. Namun juga mengombinasikan beberapa motif. dari bambu dinamai firokom. Dan. . sedangkan warna hijau dari dedaunan. yang dibuat dari kayu keras disebut fir. Warna merah berasal dari tanah merah yang diperoleh dari pegunungan Lorentz. Warna putih didapat dengan cara membakar kulit siput. dan hijau tampil kuat pada latar kulit yang hitam berkilat. panjangnya sekitar 1. Jonny Purba Busana tradisional Bengkulu Tidak hanya terkenal di pulau Jawa saja. Konon. batik besurek diperkenalkan para pedagang Arab dan pekerja asal India pada abad XVII. Penulis Aat Soeratin. yang dari besi dikenal sebagai sok. putih. disebut vom. Komposisi warna merah. relung paku yang meliuk liuk seperti tanaman pakis. Warna hitam dari arang pembakaran. dan motif rembulan serta bunga rafflesia. Masyarakat Asmat mengenal beberapa jenis tombak dan masingmasing dinamai sesuai dengan bahannya. yang tak boleh dilupakan adalah wasse mbi. Batik Besurek sudah menjadi salah satu kerajinan tangan khas Kota Bengkulu. hitam. sowen. Tombak kayu besi dinamai viwu. dan tombak logam besi disebut frin. Tombak yang pertama kali digunakan dibuat dari kayu nibung yang dinamai ocan atau kamen. kemudian ditumbuk hingga halus dan dicampur dengan air.5 meter. Ada juga jenis tombak khusus untuk berburu buaya.

Baju pengantin perempuan menurut keterangan orang tua-tua berasal dari negeri Cina. Kalung 10. pada perkawinan inilah mereka memakai pakaian adat masing-masing. Pada kepalanya memakai mahkota yang dinamakan “Paksian”. Anting panjang 11. dengan hiasan kepala yang biasa kita sebut Paksian dan dilengkapi dengan asesoris : 1. Kembang cempaka 2.Busana Tradisional Pangkalpinang Pakaian adat pengantin Kota Pangkalpinang untuk perempuan adalah baju kurung merah yang biasanya terbuat dari bahan sutra atau beludru yang jaman dulu disebut baju Seting dan kain yang dipakai adalah kain bersusur atau kain lasem atau disebut juga kain cual yang merupakan kain tenun asli dari Mentok. Daun bambu 4. Sari bulan 8. Pending untuk pinggang . Pakaian pengantin tersebut pada akhirnya kita sebut dengan nama “Paksian”. konon menurut cerita ada saudagar dari Arab yang datang ke negeri Cina untuk berdagang sambil menyiarkan agama Islam dan jatuh cinta dengan seorang gadis Cina kemudian melangsungkan perkawinan dengan gadis Cina tersebut. Pagar tenggalung 7. Kembang goyang 3. Tutup sanggul atau kembang hong 9. Gelang 12. Bagi mempelai laki-laki memakai “Sorban” atau disebut “Sungkon”. Selanjutnya karena banyaknya orang-orang Cina dan Arab yang datang merantau ke pulau Bangka terutama ke Kota Mentok yang merupakan pusat pemerintahan pada waktu itu diantaranya ada yang melakukan perkawinan maka banyaklah penduduk pulau Bangka yang meniru pakaian tersebut. Kuntum cempaka 5. Sepit udang 6. Pakaian tersebut terdiri dari : * Pakaian Pengantin Perempuan * Pakaian Pengantin Laki-laki * Tata Rias dan Hiasan Pakaian Pengantin Perempuan: Pakaian pengantin perempuan adalah baju kurung dengan bahan beludru merah yang dilengkapi dengan teratai atau penutup dada serta menggunakan kain cual yaitu kain tenun asli Bangka yang berasal dari Mentok.

pakaian yang dipakai berupa baju kurung. Pakaian Pengantin Laki-laki: Adapun untuk pakaian pengantin laki-laki terdiri dari : 1. kain dan . pakaian adat Indragiri. Busana Tradisional Kepulauan Riau Pakaian adat merupakan salah satu ciri budaya suatu daerah dan setiap daerah tentunya memiliki pakaian adat yang beragam. Pakaian adat ini disebut dengan baju Melayu teluk belanga. baju yang dipakai adalah baju Melayu berupa atasan yang disebut Teluk Belanga. Variasi pakaian adat Riau diantaranya. Bentuk Sanggul: Konde tilang yang terbuat dari gulungan daun pandan atau lipatan daun pandan yang diisi dengan bunga rampai yang terdiri dari mawar. Pada zaman dahulu yang dipakai adalah sanggul cumpok atau cepul. kain sampin. Sebagai salah satu daerah yang kental dengan budaya Melayu. Untuk perempuan. 2.Baju pengantin perempuan ditambah dengan hiasan payet atau manik-manik dan dilengkapi dengan hiasan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan). 3. Melayu Bengkalis Riau. kenanga dan irisan daun pandan. Pagar Tanggalung dan Sepit Udang pada samping kiri kanan telinga (Godeg). seperti pakaian adat Kepulauan Riau. Hiasan Dahi: Hiasan DahiMemakai penutup dahi yang diberi nama “Paksian” dan di dahi dipasang Saribulan. Tata Rias dan Hiasan: 1. pakaian adat Riau terdiri dari busana Melayu. Pakaian adat Kepulauan Riau memiliki variasi pakaian adat. 6. Kain sampin biasanya meiliki warna dan corak yang sama dengan baju atasannya. melati. busana ini terdiri celana. dan songkok atau penutup kepala. Jubah panjang sebatas betis Selempang yang dipakai pada bahu sebelah kanan Celana Penutup kepala seperti sorban (sungkon) Pending Selop / Sendal Arab Pakaian pengantin laki-laki ini berwarna merah dan biasanya dari bahan beludru dengan hiasan manik-manik dan sama dengan pengantin perempuan dilengkapi dengan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan). 2. 5. Selain itu. Untuk pakaian pria. Melayu Siak Riau dan lain-lain. 4.

Busana Tradisional Sulawesi Tengah Secara tradisional. Tradisi melayu Riau memang bersumber dari nilai-nilai Islam. merah atau biru dengan motif 'subi' atau 'bomba'. dikenakan ikat pinggang (pending) terbuat dari besi kuningan. baju tangan pendek dengan leher baju terbuka. hijau. Variasi pakaian adat Riau membedakan pula waktu pemakaiannya. serta dilengkapi dengan sebilah keris yang terselip dipinggang. Selain itu agar pakaian tampak pas di tubuh. serta ikat kepala yang disebut 'dadasa'. masyarakat Sulawesi Tengah memiliki seperangkat pakaian adat yang dibuat dari kulit kayu 'ivo' (sejenis pohon beringin) yang halus dan tinggi mutunya. selain berfungsi melindungi tubuh dari cuaca. Busana Tradisional Yogyakarta Dalam hal berpakaian masyarakat Yogyakarta membedakan antara yang dikenakan kaum pria dan kaum wanita. baju jas dengan leher tertutup (jas tutup) dan keris yang terselip di pinggang. dengan leher baju berbentuk bulat. sarung yang dikenakan sampai menutup kaki. Selendang dipakai dengan disampirkan dibahu. Busana yang disebut dengan istilah baju Melayu Gunting Cina dipakai saat tidak resmi atau saat dirumah. gelang (pontade) dan anting-anting (dali). yang disekelilingnya dihias dengan benang emas. busana yang disebut dengan istilah baju Melayu Cekak Musang dipakai saat acara keluarga. Pakaian adat ini dibedakan untuk kaum pria dan wanita. Pakaiannya yang tertutup mencerminkan makna. Ia juga mengenakan kain batik yang mempunyai motif sama dengan yang dipakai wanitanya. .selendang. Sebagai pelengkap dikenakan hiasan berupa kalung susun (geno kambora). Sedangkan kaum wanita mengenakan pakaian yang disebut 'patimah lola' berupa baju 'gamba' yang panjangnya sampai di pinggul. sarung berwarna kuning. Pakaian adat yang dikenakan oleh kaum pria terdiri atas tutup kepala (destar). Busana Melayu Riau ini identik dengan nilai-nilai Islam. pakaian haruslah menutup aurat. celana panjang warna gelap yang juga dihias dengan benang emas. Pada umumnya kaum pria mengenakan pakaian adat yang terdiri dari: ikat kepala (siga) yang dihias dengan manik-manik.

kain selempang dan sarung.Sedangkan pakaian kaum wanitanya terdiri atas kebaya dan kain batik dengan rambut yang disanggul dan diberi hiasan konde. Perhiasan lain yang dikenakan biasanya berupa anting-anting dan cincin. pending. gelang di kedua belah tangan dan songket yang melingkar di bagian tengah badan. Sebagai hiasan kepala digunakan kembang serta perhiasan antara lain berupa antinganting. . Busana Tradisional Sulawesi Tenggara Pakaian adat yang bias digunakan oleh orang Kendari untuk pria biasanya berupa tutup kepala (destar). yaitu pakaian kaum laki-laki dan kaum wanita. Sedangkan pakaian yang di kenakan oleh kaum wanita mirip dengan yang dikenakan oleh kaum pria yaitu mahkota serta kalung bersusun. sarung sebatas dengkul. Busana Tradisional Sumatera Selatan Masyarakat daerah Sumatera Selatan secara tradisional membagi pakaian adat mejadi dua macam. kalung dan gelang. Pakaian adat kaum pria biasanya berupa mahkota. dan celana panjang. kalung bersusun dengan baju khas dengan memakai celana panjang dan kain songket pada bagian tengah badan. baju model jas tertutup. diletakkan ditengah-tengah sanggul. Sedangkan untuk kaum wanitanya berupa baju kebaya.

Sekarang sudah merupakan pakaian yang dimodifikasi dan dipakai sebagai pakaian untuk pakaian upacara adat.Busana Tradisional Maluku Utara Pakaian daerah Maluku dilihat dari segi motif dan cara memakainya cukup sederhana. Pakaian ini sudah menjadi pakaian nasional untuk seluruh masyarakat Maluku. pakaian nelayan serta pakaian sesehari lainnya yang tidak disebut satu persatu. Pakaian ini kebanyakan dibuat dari tenunan tradisional Tanimbar dikombinasi dengan kain satin putih. Selain pakaian-pakaian tersebut diatas. hal ini tergambar dari beberapa contoh pakaian daerah dibawah ini: 1. Nona rok adalah sejenis pakaian wanita yang dulunya dipakai oleh kalangan atas. pesta. • • • . Pakaian-pakaian pengantin: Pakaian pengantin Maluku Utara disebut pakaian Koci-koci. Alas kaki yang dipakai disebut Canela dimana bagian depannya melingkar keatas. adalah pakaian sesehari kaum wanita. 3. Pakaian petani. warnanya juga antara hijau dan kuning. melayu. Pakaian ini bercirikan Islam. 6. acara resmi lainnya. kalung. 4. juga sudah merupakan pakaian konsumsi sesehari masyarakat Maluku. Hiasan yang dipakai untuk menambah anggunnya pakaian ini adalah gelang. Baju Cele Kain Salele. Kain kebaya merah adalah jenis pakaian daerah lain yang menjadi pakaian sesehari gadis dan ibu-ibu di desa. biasanya dipakai untuk acara pesta atau acara besar lainnya. Baniang dan kebaya dansa adalah pakaian sesehari untuk kaum pria. 5. Pakain ini kelihatan lebih anggun berwarna merah menyala dihiasi manic-manik serta kombinasi kebaya cele putih. atau dipakai oleh anak-anak keturunan raja. 2. Biasanya dipakai untuk upacara dan hari besar lainnya. ada juga pakaian untuk ke gereja yang disebut pakaian Itang. pakaian ini juga sering dipakai oleh kalangan menengah kebawah seperti mereka yang berjualan di pasar dan lain sebagainya. serta emas perak yang kesemuanyaterbuat dari gading atau kerang laut. Pakain pengantin ini mirip dengan pakaian pengantin Donggala. Pakaian pengantin Maluku Tengah disebut baju Pono atau dapat juga disebut Mistisa. serta merupakan pakaian yang dianggap baik. Pakaian pengantin Maluku Tenggara disebut sanikir.

semangat. Perpaduan ini ternyata sangatlah erat kaitannya dengan pengaruh air di bawah tanah. Konon warna tersebut memang sesuai dengan watak masyarakat Banten yang penuh dengan harapan. maka dipilihlah nama yang diambil dari bangunan. Sedangkan masyarakat Sunda lain mengikat sarung pada bagian pinggangnya. Sebagian penggembala kerbau misalnya. dimana dan oleh siapa pakaian tersebut dapat digunakan. Warna Batik Banten cenderung meriah namun tetap terasa hangat dipandang dan lembut di mata. Banten ternyata memiliki busana khas dengan pola Batik. pakaian tradisional tersebut juga merupakan salah satu pakaian khas dari Jawa Barat. Selain itu. Komprang tidak berasal dari daerah tertentu di Jawa Barat. pengambilan nama motif juga ada yang berasal dari nama gelar kesultanan. dan karakter kuat. mengenakan pangsi dan komprang dengan menambahkan sarung yang dikalungkan di bahu. Selain celana komprang dan baju pangsi. Sebagaimana batik kebanyakan. Batik Banten juga memiliki motif yang menjadi ciri khas. ruangan. Hal inilah yang mengubah warna motif meriah berubah lembut pada saat proses pencelupan.Busana Tradisional Banten Baju pangsi dan celana komprang menjadi salah satu busana tradisional di Banten. termasuk Banten ketika masih belum terpisah. Menurut keterangan warga setempat. Busana Tradisional Kalimantan Selatan Suku bangsa Banjar mengenal berbagai jenis pakaian tradisional menurut fungsi. Pada pakaian-pakaian tertentu makna simbolis dari motif ragam hias dan perhiasan yang melengkapi menentukan kapan. . tetapi dipakai di seluruh Provinsi itu. Namun tidak hanya di Provinsi Banten saja. jenis dan pemakaiannya. dan pada zaman dulu komprang biasa dikenakan masyarakat Sunda setiap harinya. baju pangsi biasa digunakan masyarakat Sunda ketika berlatih pencak silat. Cara menggunakan pakaian itu bermacam-macam. Batik Banten mempunyai padu padan warna. Untuk mempermudah penyebutan nama-nama motif batik dan gampang diingat. ataupun nama lokasi seluruh lapisan warga keraton berada semasa kesultanan yang ada di Banten lama. namun tetap menjunjung tinggi sikap kemudahan hati.

Oleh karena itu ia memiliki pakaian kebesaran. terdiri dari destar sebagai penutup kepala. baju hitam longgar. artinya ukur panjang tak dapat singkat. Jenis lainnya yang juga disukai adalah kubaya barenda. Masyarakat juga mengenal adanya salawar panjang atau celana panjang semata kaki yang tidak berkantong.• • • • • Lampin. Umumnya tiap ornament disulamkan dalam hitungan ganjil. Celana lapang ini melambangkan kesiagaan. seperangkat kain yang membungkus tubuhnya bukan saja berfungsi melindungi tubuh tetapi mengandung makna-makna simbolis yang harus dipegang teguh. Bagian depan terbelah dan diberi kancing. Baju Kubaya. Di bagian bawah baju diberi sulaman dengan mempergunakan benang emas atau air guci. merupakan pakaian sehari-hari yang biasa dikenakan pada seorang bayi. Model baju. Kemudian dikenakan baju lengan hitam longgar (besar lengan) dengan leher lepas tidak berkatuk. Bagi masyarakat Banjar pada umumnya bilangan ganjil mengandung makna kebai Busana Tradisional Minangkabau Minangkabau Traditional Dress Masyarakat Minangkabau mengenal berbagai jenis busana tradisional. Jenis pakaian ini bermacammacam. Termasuk menghadiri suatu upacara adat. adalah kemeja bertangan panjang dengan leher baju bulat dan sedikit kerah keras mencuat ke atas. lampin dibuat dari tapih (sarung) atau bahalai (kain sarung) yang dipotong menjadi beberapa bagian dengan bentuk segi empat panjang. Dikenakan pula kain samping . sesamping. Pakaian Panghulu Seorang panghulu atau ninik mamak. namun secara umum terdiri dari destar. pakaian sehari-hari ini digunakan oleh para wanita. Pada masa lalu. dan tongkat. jangka pendek tak dapat singkat. Baju Taluk Balanga. kain sandang. walaupun lapang dibatasi oleh ukua (ukur) dan jangko (jangka) diwujudkan melalui sulaman benang emas pada pinggirnya (minsai). Pasangan baju kubaya ini adalah tapih atau sarung. Kerutan-kerutan tersebut melambangkan aturan hidup orang Minangkabau yang diungkapkan melalui pepatah berjenjang naik bertangga turun. Umumnya dipakai celana (sarawa) lapang warna hitam. celana hitam lebar. jangko singkek tak dapek panjang. Salawar panjang ini biasanya digunakan sebagai pasangan baju taluk balanga. Penggunaan baju kubaya juga dilengkapi dengan tutup kepala berupa kakamban (serudung) yang dibuat dari kain sutra atau sejenisnya yang tembus pandang. Hal ini melambangkan keterbukaan dan kelapangan dada seorang pemimpin yang tidak suka mengunting dalam lipatan. Untuk tapih ini biasanya didatangkan dari pekalongan. yang penggunaannya hampir selalu dikaitkan dengan fungsi sosial tertentu. Untuk wanita dewasa biasanya digunakan kubaya basawiwi (basujab). yang di beberapa masyarakat lain dikenal dengan ‘baju kodok’ ini dapat digunakan oleh anak laki-laki maupun anak wanita. Biasa disebut saluak batimba (seluk bertimba) terbuat dari kain batik. Biasanya pakaian ini digunakan oleh kaum pria baik yang berusia remaja maupun pria dewasa. Dalam pepatah dinyatakan ukua panjang tak buliah singkek. Bagian muka saluak ditata berkerut-kerut berjenjang dengan bagian atas datar. yang digelari datuk oleh masyarakat memegang peranan penting sebagai pemimpin kaumnya dan berhak mengatur sanak keluarga yang terhimpun dalam kaumnya. Masing-masing daerah adat di Minangkabau memiliki variasi yang berbeda. adalah baju yang dipakai anak-anak kecil sehari-hari. Salawar. Baju Kurung Basisit: Adalah jenis pakaian lain yang biasanya digunakan oleh kaum wanita jika bepergian. keris. belah sampai ke dada tanpa kancing. Sebagai pakaian sehari-hari baju taluk balanga ini dilengkapi dengan tutup kepala berupa kopiah beludru hitam atau kopiah jangang. Apalagi kalau orang itu memegang peranan penting dalam masyarakatnya. seperti penghulu dan bundo kanduang. yang menjadi pakaian sehari-hari kaum pria. Pakaian kebesaran ini juga disebut pakaian adat.

Bahannya berasal dari kain balapak tenunan Pandai Sikat Padang Panjang . yang juga disebut kain sarung dapat berupa kain songket. Seorang bundo kandung mengenakan tengkuluk tanduk atau tengkuluk ikek sebagai penutup kepala. Juga melambangkan bahwa tiap-tiap keputusan yang telah dibuat harus ditegakkan penuh wibawa. dan kalung kaban. kalung gadang. Di bahu kanannya berselempang ke rusuk kiri kain balapak. anting-anting serta cincin. sehari-hari mengenakan celana batik tanpa pisak. dan selendang pendek. Pemakaian tengkuluk ini melambangkan bahwa perempuan sebagai pemilik rumah gadang. Ia juga merupakan peti ambon puruak . khususnya yang telah berumur dalam kesehariannya mengenakan baju kurung ke luar. gelang bapahek dan gelang ular. sarung bugis ataupun kain pelekat. Ragi benang emas yang menghiasinya disebut cukia menandakan bahwa pemakainya memiliki pengetahuan yang cukup di bidangnya. Bahunya berselempang kain sandang atau kain kaciak dari kain cindai sebagai lambang kebesaran seorang penghulu (ninik mamak). Kalung dari beberapa macam. Perhiasan yang dikenakan adalah subang atau anting-anting dari emas. kain selempang. Lambak atau kodek. untuk mengingatkan bahwa penghulu punya penongkat atau pembantu dalam menjalankan jabatannya. dan berhiaskan anting-anting serta kalung. Kadang-kadang juga dilengkapi dengan pemakaian beberapa perhiasan. Pemakaian samping seperti niru tergantung ini melambangkan kehati-hatian pemakai dalam segala tindak-tanduknya dalam masuarakat. Keris dengan posisi miring ke kiri terselip di perut melambangkan keberanian tanpa bermaksud menghadang musuh melainkan untuk menjadi hakim. bila ada sulaman menandakan kerajinan anak kemenakan yang mempergunakan waktu sebaik- . sebagi simbol meletakkan sesuatu pada tempatnya seperti pepatah memakan habis-habis. lambak/kodek atau kain sarung. Baju kurungnya berwarna hitam. Baju kurung ke luar lengannya panjang dan dalamnya sampai di bawah lutut terbuat dari berbagai jenis bahan sesuai kemampauan. Bentuknya seperti tanduk kerbau dengan kedua ujung runcing berumbai dari emas atau loyang sepuhan. Tangannya dihiasi gelang gadang (besar). seperi kalung. kata-katanya didengar. baju putih model gunting cina dan peci/kopiah. batik. masing-masing daerah adat di Minangkabau memiliki variasinya masing-masing. Pinggirnya dihias minsai sebagai lambang demokrasi tetapi dalam batas-batas yang patut. Tutup kepalanya dari selendang pendek dengan ujung tergerai ke belakang. pergi tempat bertanya dan pulang tempat berita. merah. Biasanya masih ditambah dengan tongkat untuk berjalan di malam hari atau berdiri lama. menyuruk (bersembunyi) hilang-hilang. Oleh karena itu memiliki pakaian adat yang berbeda dengan wanita lainnya. Pilihan warna putih pada baju melambangkan kebersihan dan kemurnian para pemakainya. baju kurung. kain sarung.(sesamping) yang melilit pinggang di atas lutut dengan sudutnya seperti niru tergantung. Pemakaian gelang melambangkan bahwa semua yang dikerjakan harus dalam batas-batas kemampuan. Dimaksudkan supaya kokoh luar dan dalam. melambangkan tanggungjawab yang harus dipikul oleh bundo kanduang untuk melanjutkan keturunan. Pinggangnya dililit cawek (ikat pinggang) dari sutra berjumbai (bajambua alai). Ia haruslah orang yang arif bijaksana. Model gunting cina merupakan model pakaian longgar menujukkan pakaian sehari-hari. sementara selendang tersampir di bahu. Sesamping ini dipakai terutama saat bepergian dan kebanyakan dipilih warna merah sebagai lambang keberanian serta tanggungjawab. Tidak semua wanita dapat menjadi bundo kandungan. Sebagai alas kaki dikenakan selop dari beludru. Khusus pada pakaian penghulu. Variasi lain dikenakan tengkuluk. yaitu kalung kuda. Tetapi umumnya kelengkapan pakaian bundo kanduang terdiri dari tengkuluk. kalung pinyaram. biru atau lembayung ditaburi dengan benang emas. Pakaian sehari-hari Para wanita. Kaum prianya. Penutup badan bawah digunakan kain sarung (kodek) balapak bersulam emas. Seperti juga pada pakaian penghulu. artinya tempat atau pemegang harta pusaka kaumnya. Pakaian Bundo Kanduang Seorang wanita yang telah diangkat menjadi bundo kanduang (bunda kandung) memegang peranan penting dalam kaumnya. Sarung ini berfungsi religius bagi pemakainya. Pada hakekatnya tongkat adalah komando anak kemenakan.

Tatabusana masyarakat asli Mentawai mencerminkan azasazas egaliter. Sebagai pelengkap dibahunya tersampir kain bugis (bugih). Lelaki muda lebih suka mengenakan peci dari bahan beludru warna hitam sebagai penutup kepala. terbuat dari kulit kayu pohon baguk dan sebut kabit. bertanggan naik. Selain itu busana juga mengungkapkan ciri-ciri kedekatan penyandangnya dengan alam lingkungan yang tropis. tidak terpengaruh oleh Hinduisme. dalam tatanan masyarakat tidak ada strata-strata sosial. Tidak ketinggalan tongkat "manau sonsang" ikut melengkapi pakaian yang dikenakan oleh penghulu. Hal ini antara lain tampak pada banyaknya hiasan floral yang dikenakan. Sampai dengan ± 50 tahun yang lalu masyarakat Mentawai masih hidup dalam kebudayaan neolitik berikut segenap tata cara adat istiadat. orang-orang Mentawai dapat dikatakan tidak menggunakan apa-apa lagi yang benar- . peristiwa. Salah satu kelengkapan busana suku Mentawai. Sipora. Selain kabit dan sokgumai. Sebagian besar dari mereka menganut kepercayaan animistik dimana setiap benda apakah itu batu. berhutan lebat berikut keaneka ragaman floranya. perikehidupan serta ungkapan budayanya. binatang atau manusia memiliki roh. penutup aurat. Pembedaan busana lebih ditentukan pada kejadian. pimpinan atau anak buah. yang terdiri dari pulau-pulau Siberut. lepas pantai propinsi Sumatera Barat. perikehidupan serta ungkapan budaya material masyarakat Mentawai patut dikemukakan sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia yang unik. Kaum wanita memakai sejenis rok yang terbuat dari dedaunan pisang yang diolah secara khusus dan dililitkan kepinggang untuk menutupi aurat. Pemakaian peci oleh penghulu masih dibalut dengan destar hitam yang mempunyai kerutan-kerutan. Islam dan Barat. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" Penulis : Dewi Indrawati/Biranul Anas Busana Tradisional Mentawai Mentawai Traditional Dress Penulis : Biranul Anas Suku bangsa Mentawai mendiami rangkaian kepulauan Mentawai. Budisme. Destar dengan kerutan ini melambangkan aturan adat berjenjang turun. Pagai Utara dan Pagai Selatan.baiknya. bermakna seseorang tidak boleh menurut kehendak sendiri. upacara yang dalam hal ini adalah upacara khusus tentang penghormatan arwah (punen). yang khususnya dipakai kaum pria adalah cawat. Walaupun dewasa ini sudah semakin jarang dijumpai. yang pada saat waktu sholat dapat digunakan semestinya. disebut sokgumai.

cermin raksa. rnahkota dari bulu-buluan dan bunga-bungaan. Setiap marga (klan) dan dapat memiliki corak tatonya masingmasing. Ini berpengaruh pada busana upacara pernikahan Melayu yang tampil secara lengkap dan indah. ikat pinggang dari lilitan kain polos. Tato adalah busana kebanggaan. bergantung pada kalung depan dada. kepercayaan serta alam fikiran suku bangsa Mentawai. Busana kerei ini selain terdiri atas kabit dan sorat juga dilengkapi • • • • • • sobok. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" Busana Tradisional Melayu Malay Traditional Dress Penulis : Bernau Ompusunggu Biranul Anas Pakaian Upacara Tradisi Melayu menempatkan upacara pernikahan sebagai peristiwa yang penting. terbuat dari gelas berwarna merah.benar menutup tubuhnya selain aneka perhiasan serta dekorasi tubuh yang terbuat dari untaian manik-manik. sejenis subang pada kedua telinga. Aspek yang terpenting dan amat berarti dalam tatacara busana serta rias tubuh adalah tato (cacah). Demikian pula pada kedua pangkal lengan dan pada bagian kepala berbaur dengan aneka bunga dan daun-daunan. suatu kegiatan perdukunan. pakalo. Ikat kepala ini dinamakan sorat. Selain itu tato. Peristiwa ini melaksanakan praktek sikerei. Ritus ini dipimpin oleh seorang kerei (dukun) dalam busana kerei yang sebenarnya adalah busana tradisional Mentawai yang dihiasi dan ditaburi berbagai dekorasi yang lebih banyak dari pada keadaan sehari-hari. Kedua pergelangan tangan juga dihiasi dengan gelang-gelang manik-manik. Sedangkan gelang manik pangkal lengan disebut lekkeu. gelang-gelang. diawali pada usia 7-11 tahun dan dilanjutkan secara bertahap hingga usia 18-19 tahun. ogok. Bagian yang biasanya dihiasi tato adalah pipi dan punggung. paha dan pantat. Proses tato dilaksanakan pada tahap-tahap tertentu dalam umur manusia. rakgok. kuning. dianggap abadi dan dipakai serta dikenakan hingga ajal. Pencacahan tubuh memiliki berbagai perlambangan baik sosial maupun psikologis yang berangkat dari faham-faham adat. suatu ritus yang ditujukan untuk menghormati roh nenek moyang. Warna tato biasanya biru kehitaman dan diungkapkan dalam garis-garis kontur geometris simetris. kedewasaan dan keperkasaan bagi kaun pria. putih dan hitam atau hijau. lei-lei . botol kecil tempat ramuan obat-obatan. atau tik-tik dalam bahasa daerah Mentawai juga merupakan identifikasi marga atau daerah asal penyandangnya. dada. Tato merupakan simbol kejantanan. biasanya merah. Kalung manik-manik yang sangat impresif yaitu ngaleu menghiasi leher dalam jumlah yang dapat mencapai puluhan. terakhir pangkal kaki antara lutut dan pergelangan kaki. mulai dari busana sampai dengan . sejenis kain penutup aurat bercorak dibagian depan kabit. Tato juga menjadi ungkapan keindahan dan selain mendatangkan kekuatan juga dipercaya sebagai pembawa keselamatan serta kerukunan dalam kehidupan sosial masyarakat. bunga-bungaan dan daundaunan. Lalu disusul dengan tangan. Tampilan busana selengkapnya suku Mentawai ini dikenakan pada upacara punen.

Tengkulok adalah lambang kebesaran dan kegagahan seorang pria Melayu. Celana panjang lebar dengan bahan dan warna yang sama dengan baju.perlengkapan perhiasannya. Keris dianggap lambang kegagahan dan kemampuan menghadapi masa depan yang penuh tantangan. . kain bertabur atau destar. Pada bagian pinggang dipakai bengkong dan pending. renda. gelang kana. Gelang juga dipakai pada kaki. Alas kaki berupa selop sewarna dengan baju. Pada leher pria digantungkan beberapa hiasan rantai. Kadang-kadang baju dan kain kedua-duanya terbuat dari bahan yang sama. berlapis tiga dan dibalut dengan beludru atau kain berwarna kuning. Sebagai alas kaki dipakai selop bertekad yaitu sejenis sandal bersulam corak-corak keemasan. yaitu ikatan bendahara (Kedah). yaitu tengkulok yang terbuat dari kain songket. Di daerah Deli untuk kaum bangsawan mengenakannya secara melintang. gelang ikol dan keroncong. Sebagaimana pada kaum wanita kain pembuat teluk belangapun adalah dari jenis yang bermutu seperti satin atau sutra. sekar sukun. Pakaian Sehari-hari Wanita-wanita Melayu dari Medan di sebelah pantai timur Sumatera Utara membuat baju mereka sangat panjang (baju panjang). berseluar (celana panjang) dan bersamping. Pada pinggang depan sebelah kanan disisipkan sebilah keris yang bergagang emas. Diberi hiasan gerak gempa. Kaum pria memakai dua pilihan tutup kepala. hijau atau kuning dan dililit dengan sarung songket. Sementara untuk pakaian laki-laki berupa pakaian Teluk Belanga: Pakaian ini terdiri dari tutup kepala berupa kopiah atau topi dari bahan sutra berbentuk kepala kapal. Pada sanggul ini ditempatkan hiasan-hiasan keemasan. muslin atau viole yang halus yang bercorak kotak-kotak besar. Tutup kepala yang sejak dulu dipakai disebut destar. sedangkan bagi pria kebanyakan memasangnya dengan posisi belah utak. rantai serati. Terbuat dari rotan yang berbentuk parabola. mastura. Pada upacara ini Wanita Melayu mengenakan Kebaya panjang atau baju kurung yang terbuat dari jenis-jenis kain yang bermutu tinggi seperti brokat atau sutra bersematkan peniti-peniti emas. sutera. Pada jari terpasang aneka ragam cincin seperti cinci-n genta. Baju kurung ini dipadukan dengan kain songket buatan Batubara atau tenunan Malaysia. Penutup badan pria adalah teluk belanga yang terdiri dari atas baju berkrag kocak musang. rantai panjang dan tanggang walaupun dewasa ini sudah amat jarang dijumpai. Ikatan tengkulok ini ada beberapa jenis. cincin bermata. Bagian kepala disalut oleh selendang bersulam corak-corak emas yang menutupi tata rambut dalam gaya sanggul khusus yakni sanggul lipat padan atau sanggul tegang. Pakaian ini tidak memakai selendang. Bajunya berupa kemeja kurung terbelah dibagian dada saja dari bahan sutra berwarna merah. Di daerah leher dan dada biasanya tergantung kalung dari corakcorak rantai mentimun. Baju panjang ini dipakai dengan sehelai kain yang terbuat daripada katun biasa berwarna polos. bunga mas dan hiasan batu permata sehingga menampilkan kesan kebesaran dan kegagahan. Hiasan rambut berupa sanggul yang sederhana. Pengantin wanita juga memakai gelang kerukut yang beraneka jenis seperti gelang tepang. gogok rantai lilit. dari bahan brokat (kain senduri). Di Serdang cara-cara pemakaiannya justru kebalikan dari daerah Deli. cincin patah biram dan cincin pancaragam. sarung yang bercorak kotakkotak besar atau kain songket. berwarna sesuai dengan baju dan celananya. Lengan bajunya sangat lebar dan panjangnya sampai pergelangan tangan. Bagian pinggang dihiasi oleh bengkong dan pending. Lengan atasnya mengenakan kilat bahu dan sidat sebagai lambang keteguhan hati. ikatan serdang dan sebagainya.

Pakaian pengantin perempuan Batak Karo terdiri dari baju tutup dengan lengan panjang. ragidup. ulos (disebut Uis oleh suku bangsa Batak Karo ) adalah pakaian sehari-hari. dan dilengkapi dengan sarung suji. Dalam upacara perkawinan kain ulos lebih tampak pada pakaian pengantin. Ulos pada mulanya identik dengan ajimat. sadum. umumnya diselempangkan di pinggangnya atau juga sebagai selendang. Disamping bulang ada juga ulos surisuri sebagai tutup kepala. Pada busana pengantin perempuan Batak Toba hampir semua pakaian yang dipakai terdiri dari kain ulos yang salah satunya diselempangkan pada kedua bahu . Untuk tutup kepala disebut saong. Bila dipakai oleh laki-laki bagian atasnya disebut ande-hande. Karo. serta tutup kepala yang disebut saong. Sebagai penutup kepala disebut tali-tali. Simalungun) mengenal tekstil buatan luar. Karo dan Simalungun menggunakan ulos yang berbentuk tudung sebagai pelindung panasnya matahari. Khusus pada perempuan suku bangsa Batak Pak pak/Dairi. dan runjat. bagian bawah disebut haen. laki-laki Batak menggunakan sarung tenun bermotif kotak-kotak (terkadang diganti dengan ulos yang disebut singkot). tali-tali (tutup kepala) serta baju berbentuk kemeja kurung berwarna hitam. mereka memakai pakaian biasa. dipercaya mengandung "kekuatan" yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya istimewa untuk memberikan perlindungan. tanpa alas kaki. Pada upacara secara umum wanita Batak menggunakan ulos sebagai penghias bahu/selendang. Muangthai dan Laos. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbagai upacara adat. Bila ulos dipakai oleh perempuan Batak Toba. sedangkan bagian bawah memakai ulos dari jenis ragi pane. sedangkan bagian bawah memakai sarung sungkit yang dililit dengan kain ulos. hanya dapat dipakai pada waktu-waktu tertentu. khususnya pada ikat kepala. juga telah diganti dengan sarung tenunan bercorak kotak-kotak. Mempelai laki-laki memakai baju jas tutup warna putih. Untuk penutup punggung disebut hoba-hoba. Pada suku Batak Toba. Menurut beberapa penelitian penggunaan ulos oleh suku bangsa Batak. penutup kepala dan juga sebagai penutup dada. baju dan celana. Dalam keseharian perempuan Batak aslinya memakai kain blacu hitam (dapat diganti dengan ulos disebut haen ) dengan dan baju kurung panjang yang umumnya berwarna hitam. ragi hotang. dilengkapi dengan sarung. Khusus bagi suku Batak Pak pak dan Dairi.Busana Tradisional Batak Batak Traditional Dress Penulis : Biranul Anas / Jonny Purba Kehidupan masyarakat suku bangsa Batak. Dalam keseharian. memperlihatkan kemiripan dengan bangsa Karen di perbatasan Myanmar. Kadang-kadang diselempangkan (menggunakan ulos ragihotang). Sebelum orang Batak (Toba. bulang-bulang. ulos yang digunakan dominan berwarna hitam. Kain ulos yang dipakai orang-orang Batak pada upacara-upacara adat. Sudah barang tentu tidak semua ulos dapat dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Apabila seorang wanita sedang menggendong anak disebut parompa. Pada suku Batak Simalungun pakaian yang dipakai antara lain bulang yang terbuat dari kain ulos dengan motif gatip dan pakaian sehari-hari yang terbuat dari ulos yang disebut jobit. Misalnya ulos jugia. dilengkapi dengan ulos di kepala (biasanya ulos mangiring) dan setengah badan. dan bila dipakai berupa selendang disebut ampe-ampe. tidak terlepas dari penggunaan kain ulos. dipakai hingga batas dada. sedangkan bagian bawahnya disebut singkot. Saat ini kain blacu hitam selain diganti dengan ulos. kain dan ulosnya. sabesabe atau detar.

Bulang mengandung makna sebagai lambang kebesaran atau kemuliaan sekaligus sebagai simbol dari struktur masyarakat. Bulang terdiri dari tiga macam. Diberi ornamen warna emas makna simbolik sebagai lambang keagungan orang yang memakainya.sampai ke badan (biasanya jenis ulos sadum). Misalnya penggunaan bulang bertingkat tiga bila hewan yang disemblih adalah kerbau. Sisamping (kain sesamping) yang dibelitkan dari batas pinggang sampai ke lutut. Sisi kiri melambangkan mora (kerabat pemberi anak gadis). Warna hitam ampu mengandung fungsi magis sedangkan warna emas mengandung lambang kebesaran. Pada masa lalu. Bagian samping kanan ampu yang salah satu ujungnya mengarah ke atas dan satu lagi ke bawah mengandung arti bahwa yang paling berkuasa adalah Tuhan dan manusia pada akhirnya mati dan dikubur. sisi kanan melambangkan kahanggi (kerabat satu marga). Celana panjang atau pantalon tanpa warna tertentu. Pada masa dahulu. Untuk si samping pada masa dahulu menggunakan abit Bugis (kain Bugis) atau kain sarung. Pada daerah pinggang dipakai Bobat atau ikat pinggang yang dahulu terbuat dari emas dan kadang-kadang berkepala dengan ornamen kepala ular naga yang melambangkan keagungan. pengantin pria kadangkadang mengenakan tutup kepala yang dinamakan serong barendo yang terbuat dari kain warna hitam yang diberi renda atau rumbairumbai. Tetapi sekarang menggunakan kain songket. Bagian atas badan tertutup oleh baju berwarna hitam yang dahulu dibuat dari kain beludru berbentuk baju kurung tanpa diberi hiasan atau sulaman. Bulang terbuat dari emas. Pada masa sekarang menggunakan jas biasa berwarna hitam yang dilengkapi dengan kemeja lengan panjang dan dasi. seperti sulaman benang emas yang hanya berfungsi estetika tanpa arti perlambang. Baju Godang mengandung makna keagungan. Pada suku bangsa Batak Simalungun. Selop hanya berfungsi praktis tanpa mengadung arti perlambang. Sepatu sebagai alas kaki dahulu menggunakan alas kaki atau selop yang dinamakan capal yang terbuat dari kulit. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" . dan dililit dengan ulos ragi hotang. selendang terbuat dari kain tonun petani (kain tenunan petani). Bobat (ikat pinggang) yang dahulu biasanya terbuat dari emas atau perak. dan bagian bawah melambangkan anak boru (kerabat penerima gadis). tetapi ujungnya dilipat ke arah kening sehingga terjuntai sedikit di atas kening bersama renda atau rumbai yang terbuat dari benang emas. Baju pengantin ini disebut baju godang atau baju kebesaran. Penamaan bulang ini dikaitkan dengan jenis hewan yang disemblih. Arti perlambang pada selendang adalah lambang dalihan na tolu. Pada pesta perkawinan wanita suku bangsa Mandailing/Angkola menurut adat menggunakan tata busana yang terdiri dari : bulang yang diikatkan pada kening. kadang-kadang juga menggunakan kain polos tanpa warna tertentu. bertingkat dua atau disebut bulang hambeng (bulang kambing) dan tidak bertingkat. Cara memakainya hampir sama dengan destar atau tengkuluk (topi). Ampu merupakan mahkota yang biasanya dipergunakan oleh raja-raja di Mandailing dan Angkola pada masa lalu. terbuat dari kain lakan berwarna hitam. Pengantin pria menggunakan busana yang terdiri dari : ampu atau penutup kepala dengan bentuk khas Mandailing/Angkola yang terbuat dari kain dan bahan lain. kedua pengantin memakai tudung kepala yang terbuat dari ulos suri-suri. Bagian bawah badan tertutup kain songket dengan warna yang tidak ditentukan. Untuk selendang pengantin. Belakangan ini baju pengantin wanita kadang-kadang diberi sulaman. Baju. masing-masing bertingkat bertingkat tiga disebut bulang harbo (bulang kerbau). Pada masa lalu. Alas kaki menggunakan selop atau sandal yang biasanya tertutup pada bagian depan atasnya. tergantung selera pemakai. Bagian penutup selop kadangkadang diberi hiasan. Dewasa ini selendang terbuat dari kain songket. godang (baju kebesaran) yang pada masa lalu berbentuk jas tutup. ikat pinggang terbuat dari emas atau perak sebagai lambang kebesaran. tampak dari segitiga yang dibentuk dengan selendang yang disilangkan itu. Tetapi sekarang sudah umum menggunakan ikat pinggang biasa. Dua lembar selendang yang disilangkan pada bagian dada sampai ke punggung. tetapi kini sudah banyak yang terbuat dari logam yang diberi sepuhan emas.

yaitu anting logam besar. terbuat dari daun palem. Busana asli wanita suku bangsa Nias hanya terdiri dari lembaran kain (bahan blacu hitam atau kulit kayu). khususnya busana kaum prianya. namun saat ini sudah merupakan gabungan dengan kain katun. Tutup kepala ini terbuat dari bahan rotan dililit kain akantun berwarna biru. Dalam keseharian masyarakat Nias mengenal busana asli yang belum memperoleh pengaruh luar. Bagian bawah . Dunia peperangan yang begitu dekat dalam kehidupan masyarakatnya membentuk "budaya perang" yang juga perpengaruh pada busana tradisional orang Nias. yaitu cawat atau celana yang terbuat dari bahan kulit kayu. yaitu salah satu jenis penutup baju bagian atas (seperti kalung) yang terbuat dari bahan batubatuan. Laki-laki Nias kebanyakan menggunakan kalabubu sebagai penghias leher. berlengan kuning dihias motif sisir berwarna hijau atau kehitaman. Tutup kepala ini digunakan pada saat upacara saja. tanpa busana atas (baju penutup dada). Busana ini dilengkapi dengan balahogo sokondra. salah satu jenis tutup kepala khusus untuk perang disebut tete naulu. Orang-orang Nias pada masa lampau adalah prajurut-prajurit perang yang gagah berani. Sementara itu. merah dan putih. Baik dari jenis yang hanya dikenakan oleh kaum bangsawan serta tutup kepala khusus untuk kepala wilayah. biasanya dikenakan baju berbentuk jaket atau jubah berbahan katun. penduduk pulau Nias di pantai Selatan Sumatera memiliki variasi busana tradisional yang menambah keanekaragaman busana sukubangsa-sukubangsa di Sumatera Utara. yaitu baju dengan motif kulit harimau. Ada juga tutup kepala. yaitu gelang yang terbuat dari bahan gulungan kuningan dengan berat mencapai 1 kilogram (khusus untuk perempuan dewasa mengenakan dua buah gelang). Jenis kalung lainnya adalah nifatali. Kalabubu adalah kalung untuk lakilaki yang terbuat dari kuningan dan dilapis dengan potongan kayu kelapa (aslinya dilapisi dengan emas). Selain itu masih ada jenis lain seperti balahogo rate. masih banyak lagi jenis tutup kepala lainnya. yang disebut takula. kuning. dan saro dalinga. Perlengkapan busana ini adalah tombak dan pisau kecil. rotan dan pelepah kelapa. Untuk upacara. busana kaum laki-laki Nias. aya ba mbagi bobotora. Selain model rompi ada juga baju berlengan tanpa kancing yang juga terbuat dari bahan kulit kayu. yang biasanya hanya dikenakan pada telinga kanan saja. dan hitam. terdiri dari baru atau baju yang aslinya terbuat dari bahan kulit kayu. Salah satu bentuk tutup kepala yang digunakan adalah saembu oti. kalung yang terbuat dari lempengan kuningan. Salah satu jenis baru yang dikenal masyarakat Nias adalah baru ni`ola`a harimao. Busana ini dilengkapi dengan aja kola. Cara penggunaannya adalah hanya dengan melilitkannya di pinggang dan kekenakan tanpa baju. kalung yang terbuat dari lilitan perak atau emas dan nifato-fato. yaitu baru lema`a. yang terbuat dari rajutan rotan dilengkapi dengan daun pelem sebagai penutup di bagian belakang. Untuk menghadiri upacara adat. Selain itu. yang berwarna merah. Baju berbentuk rompi tidak berkancing ini berwarna dasar coklat atau hitam dan dengan ornamen berwarna merah.Busana Tradisional Nias Nias Traditional Dress Penulis : Bernali Ompusungu Orang Nias. perak atau emas.

kuning. yaitu kalung warna hitam dan yang tidak boleh ketinggalan adalah talogu atau pedang. maka kini untuk busana pengantinnya digunakan bahan beludru. yaitu asesoris wanita berbentuk tas berbahan bambu dengan hiasan manik-manik berwarna-warni. Rambut wanita Nias disanggul tanpa sasak dengan memakai sunggar. salah satu jenis mahkota yang terbuat dari emas berbentuk ikat kepala dengan ornament barisan koin emas memanjang horizontal dan ditengah bagian belakang terdapat kepala mahkota berbentuk bunga dan daundaunan. Kemudian dihias dengan mahkota atau rai. Selembar ondora. yang terbuat dari panel warna kuning dihiasi oleh bermacam ornamen dipinggirnya. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" . yang juga banyak digunakan oleh kaum bangsawan.busana wanita Nias disebut mukha. adalah nama jenis anting yang digunakan oleh masyarakat kebanyakan.lingkaran terbuka dari bahan perunggu dengan hiasan batubatuan atau kerang. Gela gela dan tali hu. Untuk perlengkapannya mempelai wanita mengenakan seledra (selendang) dan boba datu (ikat pinggang). sebelum mengenal pengaruh luar. adalah salah satu jenis anting terbuat dari emas. yang disarungkan arah ke kiri. baju kuning berpotongan serong dari beludru yang diberi ornamen berwarna merah. alga kala bubu (kalung) dan gala (gelang). sebuah selendang katun bermotif bunga berwarana kuning dan segitiga berbaris dilapisi pinggir dari bahan berwarna gelap kehitaman menjadi pelengkap busana ini. Demikian pula rai ni woli woli. sebagaimana menggambarkan kehidupan masyarakatnya yang bersahaja. Warna hitam. Perhiasan yang dipergunakan adalah sialu fondreun (anting-anting). pakain tradisional Nias menggunakan bahan Wit kayu. Saat ini mahkota ini banyak digunakan sebagai bagian dari pakaian tari. mahkota berbentuk ikat kepala dengan ujung meruncing segitiga ke atas. Dalam busana pengantin ini. terbuat dari . Bagian belakang baju ini lebih panjang dan bergambar matahari dan buaya. kuning di bagian depan. Busana pengantin Nias secara? keseluruhan pun nampak sederhana. kala bobu. merah. kain hitam dengan ornamen geometris segitiga berbaris di sisi pinggirnya. separuh leher dan lengan. yang hanya digunakan oleh wanita bangsawan. Apabila di masa lalu. Selain itu. yaitu selendang warna kuning dililitkan di pinggang. Lembe. Adapun kelengkapan busana ini adalah rai. masih ada bola-bola. dan emas mendominasi busana pengantin Nias. Sebagai kelengkapan busana upacara. Fondruru ana`a. wanita Nias mengenal beberapa jenis asesoris. Pengantin pria mengenakan celana hitam selutut. Baju berbentuk jubah hitam ayng berhiaskan motif binatang dari beludru merah dipadukan dengan kabo. dikenakan untuk menutupi pinggang ke bawah (bentuknya mirip dengan kain panjang). tampak adanya unsur-unsur Melayu. hanya bahannya bukan terbuat dari emas.

gelang tangan. baju kurung leher tulang belut atau cekak musang dengan celana berikut kain samping dari bahan songket yang digunakan menutupi celana hingga sebatas lutut. meliputi juga kelengkapan kepala. Busana ini umumnya dipakai ketika badan sudah bersih dan akan menunaikan shalat atau hendak menerima tamu yang berkunjung kerumahnya. Dalam pandangan masyarakat Riau. . Adakalanya perhiasan tersebut terbuat dari bahan suasa. kaum pria dan wanita di Riau biasa mengenakan baju kurung yang disebut baju gunting cina. Kaum pria biasa menggunakan tutup kepala yang disebut kopiah atau songkok. Untuk bagian dada. Berbeda dengan busana kaum pria. jurai. sepit rambut. dan gelang kaki untuk bagian bawah. Untuk menghadiri acara formal. tusuk sanggul. Meski fungsinya sama. kita kenal juga istilah baju teluk belanga. Biasanya busana macam ini bahannya terbuat dari kain songket. kelengkapan busana kaum wanita Riau umumnya lebih semarak. Kelengkapan pada kepala tersebut meliputi. Dalam kehidupan sehari-hari. Namun jika akan memakai selendang warnanya harus disesuaikan dengan warna baju kurung. Cincin dari emas dan perhiasan lainnya biasa dipakai kaum pria Riau terutama pada saat menghadiri pertemuan formal atau perhelatan. semakin banyak perhiasan yang dipakai seseorang ia akan semakin disegani dan dikagumi. sering pula digunakan kain tudung kepala. satin atau sutera. Di kalangan bangsawan atau keturunan raja-raja Riau. kembang goyang.Busana Tradisional Riau Riau Traditional Dress Penulis : Siti Dloyana Kusumah Bagi masyarakat Melayu Riau. dalam pemakaian maupun kelengkapan yang dipakai. sedangkan kaum wanitanya menutup kepala dengan sepotong kain yang berupa selendang. Perbedaan busana pengantin Riau daratan dengan Riau kepulauan terletak pada hiasan kepala sebagai mahkota. sapu tangan kecil dan di pinggang melilit sebuah pending. Pakaian seharihari baik untuk di rumah atau di luar rumah berbeda dengan busana dan kelengkapannya untuk peristiwa khusus seperti upacara atau perjamuan resmi. Pada kesempatan yang lebih formal atau ketika menghadiri upacara. kaum wanita Riau umumnya memakai baju kurung satu sut. namun pemakainya terbatas pada kalangan rakyat kebanyakan. yakni dengan adanya kebiasaan untuk memakai celana dan kemeja yang dilengkapi dengan jas. penggunaan busana dan kelengkapannya sangat tergantung pada si pemakai. Sandal atau kasut merupakan alas kaki yang lazim dipakai oleh kaum wanita dan pria Riau. Bagian kepala ditutupi dengan peci atau songkok. kaum wanita di Riau juga memakai perhiasan yang terdiri dari kalung. sanggul biasa atau sanggul dua. Akan tetapi baju teluk belanga ini biasa dilengkapi dengan sebilah keris yang diselipkan di pinggang. atau baju pesak sebelah dengan kain sarung atau celana. Selendang tidak mutlak dipakai. Sesungguhnya busana tersebut bentuknya tidak jauh berbeda dengan baju cekak musang. Pengaruh kebudayaan barat tampak juga pada busana kaum pria. antinganting. cincin yang terbuat dari emas. akan tetapi kain tudung kepala menutupi hampir seluruh tubuh pemakainya. Selain memakai selendang untuk menutup kepala. Penggunaan selendang biasanya dipadukan dengan baju kebaya pendek. Hiasan kepala yang dipakai pada upacara perkawinan Riau kepulauan terlihat lebih sederhana dibanding dengan Riau daratan. Adapun busana yang dikenakan kaum pria Riau adalah baju gunting cina. badan dan tangan masing-masing dilengkapi dengan kain selempang.

Tutup kepala ini memiliki dua bagian yang menjulang tinggi. Menurut anggapan mereka warna kuning adalah simbol warna kerajaan oleh sebab itu hanya boleh digunakan oleh orang-orang dari kalangan bangsawan atau keturunan raja-raja Riau. Sebutan ini dimaksudkan untuk membedakan dengan suku Melayu yang berdiam di daerah lain. Perbedaan bentuk ikat kepala tersebut. Pakaian adat ini lebih mewah daripada pakaian sehari-hari yang dihiasi dengan sulaman benang emas dan pemakaian perhiasan sebagai pelengkapnya. dan sebagainya. Sedangkan kaum prianya mengenakan celana setengah ruas yang melebar pada bagian betisnya dan umumnya berwarna hitam. propinsi Jambi. Pada umumnya ketika seorang pria mengenakan baju teluk belanga. Dalam sistem kemasyarakatan Riau. Warna kuning pun dipakai untuk busana pengantin. Dalam berbusana sehari-hari pada awalnya hanya dikenal kain dan baju tanpa lengan. sehingga lebih leluasa geraknya dalam melakukan kegiatan seharihari. Selain dari segi kualitas yang membedakan kedudukan seseorang dalam masyarakat. Meskipun bentuk dan coraknya sama. Pakaian Adat Pria Laki-laki suku Melayu Jambi dalam berpakaian adat mengenakan lacak di kepalanya. bagian kepala dan rambut menggunakan penutup kepala yang disebut tanjak laksmana atau bisa juga bentuk tanjak temenggung dan tanjak menyongsong angin. Kain sutera sangat biasa dijumpai dalam pembuatan busana kaum bangsawan. Bagian pinggir . pakaian sehari-hari berkembang menjadi baju kurung dan selendang sebagai penutup kepala untuk kaum perempuan. Lacak ini terbuat dari kain beludru warna merah yang diberi kertas tebal di dalammnya agar menjadikannya keras. orang Riau pun mempunyai ketentuan khusus dalam menggunakan warna. Setelah adanya proses akulturasi dengan berbagai kebudayaan.Aturan pemakaian keris ini adalah tidak nampak menonjol. Perbedaannya yakni tambahan mutu manikam atau intan berlian yang dibubuhkan pada perhiasan kaum bangsawan tersebut. Pada perkembangan berikutnya dikenal adanya pakaian adat. namun bahan pembuatannya benar-benar berbeda. karena ia mendapat julukan raja sehari. biasanya disesuaikan dengan kedudukan seseorang dalam masyarakat atau bisa juga bentuk acara yang akan dihadiri. Pakaian untuk pria ini dilengkapi dengan kopiah sebagai penutup kepala. dengan julangan yang lebih tinggi pada bagian depannya. Sumatera Selatan. seperti Riau. hanya bagian hulu yang menyembul dari balik kain. tangkai clan bunga yang akan mekar. begitu juga dengan perhiasan. Masyarakat awam atau rakyat kebanyakan tidak diperbolehkan menggunakan warna kuning sebab dianggap tidak beradab. Busana Tradisional Melayu Jambi Jambi Malay Traditional Dress Suku Melayu Jambi adalah sebutan bagi orang-orang Melayu yang mendiami daerah sepanjang sungai Batang Hari. Sebagai hiasan terdapat lukisan flora dari daun. kepangkatan atau garis keturunan menjadi dasar pada perbedaan cara berbusana.

Bajunya disebut baju kurung tanggung berlengan panjang. Bentuknya bergerigi menyerupai pucuk rebung atau bambu yang baru tumbuh. dapat berupa bunga asli atau tiruannya. Bahannya terbuat dari beludru warna merah diberi sulaman benang emas. Ada juga yang menyebut duri pandan karena pada bagian depan tutup kepala ini diberi hiasan dari logam berwarna kuning berbentuk duri pandan. Untuk memperkuat bagian pinggang ini digunakan pending berupa rantai dengan sabuk sebagai kepala terbuat dari logam. karena bentuknya seperti bunga teratai dipasang melingkar leher sehingga menyerupai kerah. dan pucuk rebung. clan bunga pandan. Bajunya disebut baju kurung tanggung bersulam benang emas dengan motif hiasan bunga melati. bungo runci. Sementara bunga pandan digunakan sebagai hiasan kepala bagian belakang yang dibuat menjurai ke bawah dan dilekatkan pada sanggul lintang. yang diimbangi oleh penempatan bungo runci di sebelah kiri. Penempatan pohon beringin lebih tinggi dari bunga-bunga lain di sekeliling pesangkon. Tutup kepalanya disebut pesangkon yang terbuat dari kain beludru merah dengan bagian dalam diberi kertas karton agar keras. Selain itu juga melambangkan sepucuk Jambi sembilan lurah. kembang cempaka. sedang bagian pinggirnya bermotifkan kembang berangkai atau pucuk rebung. Konon. Keris diselipkan di perut menyerong ke kanan melambangkan kebesaran sekaligus untuk berjaga-jaga. Kelengkapan busana perempuan lebih banyak dibandingkan dengan yang dikenakan oleh pria. Kelengkapan lainnya adalah keris clan selop. Hiasan kepala ini masih dilengkapi dengan berbagai macam tumbuhan. Untuk lebih memperindah diberi sulaman emas dengan motif bunga melati pecah. Bungo runci ini berwarna putih dirangkai dengan benang. Dikenakan pula selempang yang menyilang badan terbuat dari songket warna merah keungu-unguan sebagai pasangan kain sarung dengan motif bunga berangkai clan beranting. bunga matahari. Sebagai hiasan dada dikenakan rantai sembilan. Kedua tangan dihiasi gelang kilat bahu terbuat dari logam celupan berlukiskan naga kuning. Bagian tengahnya terdapat motif kembang bertabur atau kembang tagapo dan kembang melati. Bunga cempaka. seperi pohon beringin. Kalungnya terdiri dari tiga .sebelah kanan diberi lukisan tali runci. Sudah menjadi kebiasaan di daerah Jambi mengenakan kain sarung songket yang dililitkan di pinggul. Pada perempuan dikenakan anting-anting atau antan dengan motif kupu-kupu atau gelang banjar. kembang tagapo. Sedangkan selop atau alas kaki yang berbentuk setengah sepatu berfungsi untuk melindungi kaki saat berjaalan. Pakaian Adat Wanita Busana untuk perempuan terdiri dari kain sarung songket clan selendang songket warna merah. Tutup dadanya disebut teratai dada. bungo runci letaknya dibagi rata untuk mengisi bagian sebelah kiri clan kanan. ini dimaksudkan untuk menjaga sopan santun clan kehormatan kaum wanita (permaisuri raja). Bagian pinggangnya dihiasi dengan selendang tipis warna merah jambu yang pada ujung ujungnya diberi umbai-umbai warna kuning. Lukisan naga ini mengandung makna bila seseorang telah diberi kekuasaan janganlah diganggu. Hal ini mengandung makna seseorang harus tangkas clan cekatan dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan. Bahannya masih dari beludru yang dilengkapi dengan tali sebagai ikat pinggang. sejenis kalung bermakna adanya pembagian kerja clan harus tolong-menolong. Disebut tanggung karena panjangnya hanya sedikit di bawah siku tidak sampai ke pergelangan tangan. Dalam mengikat tali ini digunakan teknik ikatan kajut untuk memudahkan dalam membuka nantinya. Penutup bagian bawah disebut cangge (celana). bunga matahari.

selendang. Khusus untuk gelang buku beban bahannya berasal dari permata putih. kalung jayo atau kalung bertingkat dan kalung rantai sembilan. gelang ukuran sedang dua buah clan ikat pinggang yang berbentuk kotakkotak berangkai satu sama lainnya. Pakaian Baselang Masyarakat suku Melayu Jambi yang mendiami sepanjang sungai Batang Hari sebagian besar hidup dari bertani. gelang ceper dan gelang buku beban. khususnya yang dikenakan para gadis. Pembedaan ini mempengaruhi pada variasi pakaian yang dikenakan. Terlebih saat menuai. dan selop hampir sama dengan yang dikenakan pria. Kemudian baju kurung tanggung warna merah agak keungu-unguan dari beludru yang diberi sulaman pada bagian setengah badan ke bawah dengan motif bola-bola kecil berukir. baju kurung berlengan tanggung yang letaknya di luar kain. Masih ditambah dengan gelang kano. Pada acara besar pakaian dibedakan untuk upacara dan bekerja. yang disebut baselang atau pelarian. yaitu kalung tapak. Kelengkapannya terdiri dari sarung warna merah yang dipakai sedikit di bawah lutut (tanggung). Jumlah gelang yang dipakai pun lebih banyak meliputi gelang kilat bahu masing-masing lengan dua buah. Penulis : Dewi Indrawati .jenis. kecil dan besar. Pada jari-jarinya terpasang cincin pacat kenyang dan cincin kijang atau capung. Selebihnya polos. Kesemuanya di pasang di lengan. Jika acaranya kecil maka pakaian yang dikenakan berfungsi ganda sebagai pakaian upacara maupun bekerja. Selendang songket yang dikenakan sebagai penutup kepala diberi sulaman benang emas dan umbai-umbai di ujungnya. Dalam rangkaian upacara tersebut terdapat hiburan sehingga pakaian yang dikenakan pun lebih bagus. Bedanya bentuk motif yang lebih besar pada teratai dada dan pending. Sedangkan unsur-unsur kelengkapan yang lain seperti teratai dada (tutup dada). dan karenanya memerlukan kerja sama atau bergotong-royong. Teknik clan cara pertanian yang dijalankannya masih terhitung sederhana. Motifnya digunakan daun pakis dan terawang yang diletakkan memanjang dari ujung ke ujung. di mana sebagian besar kegiatan dilakukan oleh bujang clan gadis. Disebut demikian karena bentuknya yang menyerupai naga dalam dongeng sedang tidur clan ular yang melingkar membentuk bulatan. Acaranya sendiri dibedakan menjadi dua. Sementara untuk kaki dikenakan gelang nago betapo dan gelang ular melingkar. Dilengkapi dengan selempang warna kuning dari bahan tetoron. selendang warna merah dililitkan di kepala serta membawa perlengkapan lain seperti ani-ani clan kiding (tempat padi). kecuali bagian leher sebelah depan. pending dan sabuk (ikat pinggang). Kain songketn berwarna merah tua bermotifkan kembang melati pecah dan bagian pinggir bermotifkan daun pakis.

sebilah keris dan gelang emas di tangan kanan. Pakaian adat pria Susunan busana adat pria terdiri atas jas. . Versi lain dari jas adalah sejenis jas tertutup dari bahan beludru hitam. menyentuh bahu. Demikian pula untuk celananya terbuat dari bahan dan warna yang sama. sarung. sulaman emas berbentuk lempengan�lempengen bulat seperti uang logam. Pada bagian dada tergantung sebentuk lidah penutup. celana panjang. Gaya busana ini dikenakan masyarakat untuk menghadiri pesta-pesta adat yang penting. Sebagian pelengkap busana pada kepala dipakai detar dari kain songket emas atau perak. mirip dasi dengan hiasan-hiasan benang emas. Samping biasanya terbuat dalam teknik songket benang emas atau perak dan disebut sarung segantung. alas kaki beludru dengan corak-corak keemasan.Busana Tradisional Bengkulu Bengkulu Traditional Dress Dimasa kini busana adat Bengkulu yang populer adalah gaya Melayu Bengkulu yang tampak mendapat pengaruh dari gaya-gaya Melayu yang pada dasarnya terdapat dari seluruh Sumatera khususnya Minangkabau. yang sebenarnya merupakan kepanjangan dari kembang goyang di kepala sedemikian rupa sehingga seolah-olah bergantung disebelah daun telinga. bersama-sama dengan antinganting berukir dari emas. Celana paduannya terbuat dari beludru dengan taburan corak�corak benang emas juga walaupun tidak selalu dalam warna yang sama dengan jas. diselempang pada bagian dada kebelakang punggung membentuk huruf V. Bahan baju kurung umumnya beludru dalam warna-warna merah tua. Pakaian adat wanita Kaum wanita Melayu Bengkulu mengenakan baju kurung berlengan panjang. Sehelai kampuh dari satin sutra bersulam emas. Jas tersebut dari kain bermutu seperti wol dan sejenisnya dan biasanya berwarna gelap seperti hitam atau biru tua. cokonde balon. merah tua atau biru tua yang bertaburkan corak-corak sulaman atau lempeng-lempeng emas. Perhiasan keemasan disematkan sebagai sunting-sunting pada sanggul di kepala. biru tua. Sarung dikenakan sebagai samping di bawah jas sampai sedikit di atas lutut. dipadukan dengan tusuk konde. alas kaki yang dilengkapi dengan tutup kepala dan sebuah keris. Sarung songket benang emas atau perak dalam warna serasi dari sutra merupakan perangkat busana yang dikenakan dari pinggang sampai dengan mata kaki. bertabur corak-corak. dan jumbaijumbai kiri dan kanan. Hiasan di sanggul atau konde biasanya terdiri dari sikek berbentuk bulan sabut. lembayung atau hitam. Jambi dan Riau.

Sebagai penutup badan dikenakan kawai. Pergelangan tangan dan jari jemari dilingkari dengan mandering dan cincin permata. Baju ini terbuat dari bahan kain tetoron atau belacu dan lebih disukai yang berwarna terang. Tetapi sekarang telah dikenal adanya celanou (celana) pendek dan panjang sebagai penganti kain. apalagi kalau ingin bertemu dengan gadis. Lelaki muda Lampung lebih menyukai memakai kepiah/ketupung. tapis yang dipenuhi sulaman benang emas dengan motif yang indah merupakan kelengkapan busana adat daerah Lampung. Bahannya dari kain batik. Untuk mengiring pengantin dikenakan kekat akkin. Pada penyelenggaraan upacara adat. yaitu destar dengan bagian tepi dihias bunga-bunga dari benang emas dan bagian tengah berhiaskan siger. berlapis-lapisan dalam jumlah banyak. yaitu baju berbentuk teluk belanga belah buluh atau jas. ketika menghadiri upacara adat sekalipun. serta di salah satu sudutnya terdapat sulaman benang emas berupa bunga tanjung dan bunga cengkeh. Bugis atau batik Jawa. Alas kaki memakai selop bersulam emas. kain tenun bersulam benang emas yang indah.Di dada pada bagian atas kampuh bergantungan gelamor berukir. seperti perkawinan. Pemakaian kawai kemija ini sudah biasa untuk menyertai kain dan peci. Bila dipakai dalam kerapatan adat dipadukan dengan baju teluk belanga dan kain. Penulis : Biranul Anas Busana Tradisional Lampung Lampung Traditional Dress Daerah Lampung dikenal sebagai penghasil kain tapis. yaitu tutup kepala berbentuk segi empat berwarna hitam terbuat dari kain tebal. Bagian bawah mengenakan senjang. menurun sampai daerah pinggang yang dilingkari oleh sebuah pending berangkai yang terbuat dari emas. yaitu bentuk kemeja seperti pakaian sekolah atau moderen. Tetapi sekarang banyak digunakan kawai kemija. Dalam keseharian laki-laki Lampung mengikat kepalanya dengan kikat. yaitu kain yang dibuat dari kain Samarinda. Kaum wanita Lampung sehari-hari memakai kanduk/kakambut atau kudung sebagai penutup kepala yang . Kain ini dibuat oleh wanita.

sedangkan wanitanya menggunakan setagen. tetapi ada yang disulam hampir di seluruh kain. Dikenakan pula kalai kukut. Sebagai kain dikenakan senjang atau cawol. Mulai dari kepala sampai ke kaki terlihat warna kuning emas. pada saat menghadiri upacara perkawinan mengenakan kawai/kebayou (kebaya) beludru warna hitam dengan hiasan rekatan atau sulaman benang emas pada ujung-ujung kebaya dan bagian punggungnya. Perlengkapan lain yang dikenakan oleh laki-laki Lampung adalah selikap. Bahannya dari kain halus tipis atau sutera. Di bahunya tersampir tuguk jung sarat. memiliki bentuk seperti baju kurung. Pakaian mewah dipenuhi dengan warna kuning keemasan dapat dijumpai pada busana yang dikenakan pengantin daerah Lampung. juga dapat dikenakan selekap balak. Kalai kukut ini dipakai sebagai perlengkapan pakaian masyarakat yang hidup di desa. Selain itu. yang dikenal sebagai kain tapis atau kain Lampung. Selikap yang terbuat dari kain yang mahal dipakai saat menghadiri upacara adat dan untuk melakukan ibadah ke masjid. Kemudian rajutan tadi ditusuk dengan bunga kawat yang dapat bergerak-gerak (kembang goyang). Dikenakan senjang/ cawol yang penuhi hiasan terbuat dari bahan tenun bertatah sulam benang emas. Busana Tradisional Palembang Palembang Traditional Dress Penulis Sri Murni Biranul Anas . Baju ini terbuat dari bahan tipis atau sutra dan pada tepi muka serta lengan biasa dihiasi rajutan renda halus. Khusus bagi wanita yang baru menikah. yaitu kain selendang yang dipakai untuk penahan panas atau dingin yang dililitkan di leher. Selambok/rattai galah. yaitu kalung leher (monte) berangkai kecil-kecil dilengkapi dengan leontin dari batu permata yang ikat dengan emas. biasanya memiliki bentuk seperti badan ular (kalai ulai). Untuk menghadiri upacara adat. baik yang gadis maupun yang sudah kawin. menyanggul rambutnya (belatung buwok). yaitu selendang sutra bersulam benang emas dengan motif tumpal dan bunga tanjung. di tengahnya bermotifkan siger yang di kelilingi bunga tanjung. Untuk mempererat ikatan kain (senjang) dan celana di pinggang laki-laki digunakan bebet (ikat pinggang). yaitu gelang kaki yang biasanya berbentuk badan ular melingkar serta dapat dirangkaikan. kaum ibu kadangkadang menggunakannya sebagai kain pengendong anak kecil. kecuali saat pergi ke ladang. Lawai kurung digunakan sebagai penutup badan. Sulaman benang emas ada yang dibuat berselang-seling. Para ibu muda dan pengantin baru dalam menghadiri upacara adat mengenakan kain tapis bermotif dasar bergaris dari bahan katun bersulam benang emas dan kepingan kaca. seperti perkawinan kaum wanita. Kelai pungew. Pada waktu mandi di sungai. Pada jari tengah atau manis diberi cincin (alali) dari emas. Cara menyanggul seperti ini memerlukan rambut tambahan untuk melilit rambut ash dengan bantuan rajutan benang hitam halus. Untuk memperindah dirinya dipergunakan berbagai asesoris terbuat dari emas. perak atau suasa diberi mata dari permata. kain ini dipakai sebagai kain basahan.dililitkan. yaitu gelang yang dipakai di lengan kanan atau kiri. Selain itu. yaitu selendang sutra disulam dengan emas dengan motif pucuk rebung. bunga cengkeh dan hiasan berupa ayam jantan.

Keris ini diselipkan pada lambung sebelah kiri. Pakaian untuk di rumah tidak dilengkapi dengan alas kaki. terbuat dari suasa. Kain ini dibuat dengan cara ditenun. Jenis celana yang lain disebut dengan celano lok cuan (celana pangsi. seperti keris. baju (kelambi). yang dibedakan atas tiga jenis yaitu: memakai kancing (bemben). perak. tutup kepala dengan jenisnya disebut tanjak. dan memakai alas kaki yang disebut gamparan atau terompah. atau dapat juga dicap dengan cairan emas perada (diperadan). Ada pula yang disulam dari bagian pinggul sampai ke mata kaki dengan motif lajur. Tutup kepala juga dibuat sendiri dengan cara ditenun. yang diyakini dapat membawa berkah dan keselamatan bagi pemakainya. India. Baju yang dikenakan disebut kebaya pendek. Saat ini sudah jarang orang yang memakai tanjak. Badong yang terkenal disebut badong jadam. dan dikenakan oleh golongan keturunan raja-raja yang disebut Priyai. diberi pinggiran benang emas. atau perak dengan tatahan bermotif bunga. dan diberi angkinan dari kain batik yang didatangkan dari Gresik. seperti kayu meranti payo atau ngerawan. Laki-laki Palembang gemar memakai baju jenis bela booloo. Busana ini juga dilengkapi dengan alas kaki jenis terompah. . Cina. ditaburi dengan bunga-bunga kecil dari benang emas. dan ukuran celananya lebih lebar. memakai kantong biasa. tanjak meler dan tanjak bela mumbang. iket-iket atau kopiah (kopca). Sebagai pakaian sehari-hari. atau Betawi. atau membeli bahan baju dari Jawa. maupun diperadan. Pakaian bagian bawah berupa celana panjang yang dinamakan celano belabas. Kain (sewet) biasanya ditenun sendiri atau dibeli dari pulau Jawa. disulam.Busana ini sebenarnya berasal dari masa-masa kesultanan Palembang sekitar abad ke 16 sampai pertengahan abad ke 19. Pakaian kebesaran untuk lakilaki dilengkapi dengan tanjak (tutup kepala) yang terbuat dari kain batik atau kain tenunan. Baju ini dibuat dari kain yang ditenun dan disulam dengan benang emas maupun benang biasa yang berwarna. yang terbuat dari kain yang ditenun. Pelengkap busana yang lain adalah keris. Pada bagian luarnya ditatah dengan abjad atau angka-angka Arab. Untuk alas kaki yang berbentuk gamparan terbuat dari potongan kayu yang bermutu. baik waktu bepergian maupun ketika sedang di rumah. atau tembaga yang dilapisi emas. Jenis tutup kepala yang biasa dikenakan adalah kopiah (kopca). celana yang panjangnya sebatas lutut). atau bisa juga mengenakan kebaya landoong atau kelemkari yaitu kebaya panjang hingga di bawah lutut. Mulai dari bagian bawah lutut sampai ke arah mata kaki disulam (diangkeen) dengan benang emas. tergantung pada taraf ekonomi pemakainya. Semuanya terbuat dari kain songket (kain tenunan tradisional) Palembang. dan sarungnya tidak kelihatan karena ditutupi kain atau celana. yang dianggap jenis yang paling istimewa karena memiliki khasiat ampuh. Tutup dada biasanya diberi hiasan permata. Ada juga yang memakai seluar (celana) panjang atau celana model pangsi (lok cuan). atau Eropa. Kemudian pada bagian bawah selebar lebih kurang 10 atau 12 cm. Setelah celana panjang dikenakan selembar kain yang disebut sewet bumpak. karena mereka menganggap tutup kepala lebih penting dari baju. Demikian juga baju (kelambi) biasa ditenun sendiri. Badong ini terbuat dari campuran berbagai bahan logam. Lasem. Pakaian sehari-hari Pakaian orang laki-laki (wong lanang) terdiri dari kain (sewet). rambi ayam. Selanjutnya busana ini dilengkapi dengan sejenis senjata tajam. Tanjak dibedakan atas tanjak kepudang. Indramayu. Hanya seorang raja yang boleh memakai keris dengan gagangnya menghadap keluar. dan memakai kantong terawangan. Busana ini dilengkapi dengan ikat pinggang yang disebut badong. atau jembio. Pada bagian dalam dikenakan penutup dada yang disebut kutang. Pada umumnya mereka mengenakan tutup kepala. Jenis celana ini tidak disulam dengan benang emas. Sarung keris (pendok) terbuat dari emas. sebagai gantinya dikenakan kopiah sebagai penutup kepala. suasa. orang laki-laki umumnya mengenakan kain (sewet sempol) dan baju beta booloo. tumbak lado. serta diberi tumpal benang emas. badeek. Ada juga yang diberi batu permata. terbuat dari kain yang ditenun.

pakaian yang lazim dikenakan terdiri atas kain sarung (sewet saroong) batik yang halus. Sebagai kelengkapan busana serba songket ini sama dengan perhiasan yang lazim dikenakan untuk menghadiri upacara-upacara adat lainnya. gelang (jenis gelang yang terkenal disebut gelang kepalak ulo). Tetapi saat ini jenis ikat pinggang tersebut sudah jarang dikenakan. Sebagai alas kaki adalah terompah atau sepatu tanpa tali. Pakaian ini dilengkapi dengan ikat pinggang (cak pinggang) terbuat dari kulit. Busana ini dilengkapi dengan sehelai selendang besar yang dipakai dengan rapi menutupi kepala sampai bahu. serta gelang kaki (yang terkenal adalah gelang sekel kepalak nago). Busana untuk perempuan (wong betino) terdiri dari kain (sewet saroong). Busana ini hanya boleh dikenakan oleh perempuan yang sudah bersuami. Cina. Dari mutu kain songket tersebut dapat terlihat kekayaan atau kemampuan keluarga yang memilikinya. Pada saat menghadiri suatu upacara adat. Songket ini merupakan pemberian suami ketika mereka menikah sebagai salah satu mas kawin. Sebagai pakaian sehari-hari. serta dicampur dengan bunga-bunga yang harum). dan untuk orang muda mengenakan cenela atau selop tungkak tinggi (sandal bertumit tinggi). Baju yang dikenakan disebut baju kooroong (kurung) terbuat dari kain belacu. Mereka juga mengenakan selendang (kemben). Selendang tersebut biasanya diberi rumbai-rumbai (rumbe rumbe). dan mengalami perubahan fungsi sebagai tudung saji atau tutup makanan. Busana untuk bepergian tersebut juga lazim dikenakan kaum laki-laki pada kegiatan-kegiatan perayaan. dan tutup kepala (tengkoolook). bahu. Saat ini orang Palembang sudah dapat membuat sendiri busana mereka dengan bahan-bahan yang diperoleh dari alam sekitarnya. Semakin halus songket yang dimilikinya. Baju yang dikenakan berupa jas tutup terbuat dari bahan linen. busana yang dikenakan kaum wanita adalah serba songket. Rambut disisir dengan rapi dan diberi minyak lengo (minyak kelapa yang dicampur dengan daun pandan yang diiris halus. semua bahan pembuatan busana tersebut didatangkan dari Jawa. Bagi orang kaya tidak ketinggalan jam kantong dengan medalion. sehingga yang nampak hanya mata dan hidung pemakainya. baju kurung yang panjangnya sampai lutut atau kebaya yang tepinya diberi renda hingga menutup dada (untuk remaja putri). India. Untuk menghadiri suatu upacara adat yang disebut penganten mungga. umumnya batik Betawi atau yang dinamakan sewet mascot. rambut disanggul. dan dahi. Untuk ikat pinggang dikenakan sejenis pending yang disebut badong atau angkin. atau las. Pada masa lalu. mereka selalu mengenakan pakaian yang terbaik dan rapi. Sebagai perhiasan pelengkap busana ini adalah kalung emas dengan liontin permata berlian atau intan. yang dikenakan pada kepala. baju kurung (kooroong) dengan panjang sebatas lutut. sedangkan perempuan muda memakai baju kebaya. dan terompah atau selop. Wanita yang sudah menikah atau yang sudah tua lazim memakai selendang sebagai tutup kepala. rangkaian peniti terbuat dari emas atau perak. yang disebut geloongan coompook atau geloongan temakoo setebek. Kemudian rambut ditata dengan sanggul. Namun sejak tahun 1942 koodoong kajang sudah tidak pernah dipakai lagi. yang halus dari jenis tajung Bugis atau gebeng Palembang. dan Singapura. kaum perempuan lazim mengenakan kain (tenunan tradisional Palembang atau kain batik dari Jawa). berasal dari Jawa).Pada saat akan bepergian. Sedangkan sebagai alas kaki dikenakan terompah dengan sulaman klingkan bagi perempuan yang sudah tua. menandakan kekayaan keluarga yang bersangkutan. yang disebut koodoong (kerudung) kajang atau koodoong trendak. Mereka biasa mengenakan kain pelekat. Baju kurung ini lazim dikenakan oleh perempuan yang sudah tua. kamhar. sebagai penggantinya dipakai setagen (kain kecil yang sangat panjang yang dikenakan melilit perut. dada. Busana Tradisional Priangan dan Cirebon Priangan and Cirebon Traditional Dress .

Celana panjang model komprang digunakan oleh laki-laki di Priangan dan Cirebon. warna hitam atau putih. Adakalanya peniti itu terbuat dari logam mulia yang disambung-sambungkan dengan rantai kecil disebut panitih rantay. pernah dikeluarkan peraturan tentang bentuk dan cara berpakaian bagi para bangsawan dan pejabat pemerintah pria saat itu. Khusus para bangsawan Cirebon menggunakan kain wulung. Yang membedakan keduanya adalah. Bentuk pakaian/busana tersebut merupakan perpaduan antara tradisi Sunda. Pada masa pemerintahan Belanda. baik di Priangan maupun di Cirebon. digunakan peniti. dari rakyat biasa sampai kalangan bangsawan Priangan maupun Cirebon. baik rakyat biasa maupun kalangan Keraton mengenakan baju sorong atau baju kurung. Bentuk kampret tersebut juga menjadi bentuk dasar dari model busana para pejabat dan kalangan bangsawan. masyarakat Jawa Barat khususnya di Priangan dan Cirebon terus mengembangkan model busana sesuai dengan perkembangan zaman dan berbagai ketentuan pemerintah yang turut pula mengatur tata cara berbusana masyarakat Jawa Barat. Meskipun bentuk dasarnya sama namun terdapat variasi terutama dalam hiasan yang disesuaikan dengan keinginan/kebutuhan pemakainya. dan dihiasi dengan pasmen. Model ini sesungguhnya adalah bentuk dasar celana kaum bangsawan yang dihias dengan pasmen memanjang dari atas ke bawah pada bagian tengah samping sekeliling lubang celana. Cara memakai kain batik tersebut ada beberapa bentuk. Untuk kesempatan resmi busana resmi wanita priangan dilengkapi dengan sehelai selendang berwarna sama dengan kebaya dan alas kakinya berupa sandal selop. . Biasanya mereka menggunakan bahan yang berkualitas tinggi seperti sutera atau beludru serta corak hias yang lebih anggun. Adapun masyarakat Cirebon. Jawa dan Eropa terutama Belanda. Laki-laki di Priangan dan Cirebon pada umumnya mengenakan sarung (poleng. Busana jajaka adalah baju takwa dan celana warna hitam dilengkapi dengan kain dodot dan tutup kepala bendo terbuat dari kain batik halus bermotif sama dengan kain dodot. Adakalanya dikerudungkan. kain batik pun digunakan pula oleh semua lapisan masyarakat. Cara mengenakan sarung ini sangat bervariasi sesuai dengan kebutuhan. Namun demikian kalangan bangsawan tidak pernah menggunakan sarung pada kesempatan resmi. bahan kebaya yang digunakan berbeda dari rakyat biasa. dari pinggang hingga ke pergelangan kaki.Dari masa ke masa. polekat). baik di kalangan rakyat biasa maupun di kalangan bangsawan. Pada bagian kebaya dari leher sampai ujung bawah kebaya surawe terdapat hiasan dari pasmen. sedangkan kaum bangsawan menggunakan kain batik halus. dilepas sampai pergelangan kaki. Di kalangan rakyat kebanyakan terbuat dari batik kasar. Umumnya yang digunakan mereka adalah kain-kain batik buatan setempat seperti batik garutan. demikian pula pada sekeliling lengan dan pada seputar bawah kebaya. diikatkan pada pinggang atau dililitkan. Zaman dahulu. Oleh karena itulah pada busana pejabat atau bangsawan terdapat hiasan dari pasmen yang disesuaikan dengan tinggi rendahnya jabatan. Yang membedakannya hanyalah bahan dasar iket tersebut. sebatas lutut dan sedikit di atas lutut. Berkain kebaya pada dasarnya digunakan oleh kaum perempuan disemua lapisan. Sebagai penyambung belahan kebaya. Di kalangan rakyat biasa baju yang dikenakan adalah potongan kampret. Sama halnya dengan kebaya. Untuk memperkuat dililitkan beulitan atau sabuk pada pinggang pemakai. Aturan tersebut berupa keseragaman pakaian pada saat-saat tertentu. Kaum laki-laki di Priangan dan Cirebon mengenakan iket sebagai penutup kepala. Iket tersebut kemudian berkembang menjadi bendo yakni tutup kepala yang terbuat dari kain batik yang dicetak menurut ukuran kepala tertentu. Di kalangan istri pembesar. perempuan di Priangan dan Cirebon tidak mengenal lamban atau lepe (melipat bagian pinggir kain) namun kebiasaan tersebut baru dikenal sekitar dekade ketiga atau keempat abad 20 ini. mereka lebih suka memakai kain batik halus. pada busana pejabat terdapat lidah-lidah pada bagian leher yang berkancing kait atau kancing pentul. ciamisan bagi masyarakat Priangan dan batik dermayon atau trusmi untuk orang Cirebon Penggunaan kain batik yakni dililitkan pada bagian bawah badan.

Seringkali pula perhiasan tersebut terdiri bukan hanya dari emas tetapi ditaburi dengan kilauan intan berlian. sebaliknya cara berbusana kalangan atas/bangsawan lebih banyak memperhatikan fungsi estetisnya. mereka baru memakai perhiasan dalam batas-batas tertentu. Kaum perempuan di kalangan rakyat kebanyakan. Kelengkapan Busana Priangan dan Cirebon Pada kalangan rakyat kebanyakan mengenakan busana biasanya lebih ditekankan kepada fungsi praktisnya. Penulis : Siti Dloyana Kusumah Busana Tradisional Baduy Baduy Traditional Dress Penulis : Jaya Purnawijaya . berpengaruh kuat pada penggunaan kelengkapan busananya seperti perhiasan dan alas kaki. Perhiasan tersebut umumnya berupa cincin emas. Sebagai alas kaki bisa memakai selop atau sepatu. Bendo biasa digunakan oleh kalangan bangsawan atau pejabat pemerintahan. Di bagian belakang bendo Priangan terdapat ikatan simpul ujung-ujung kain. Dengan demikian. Adapun perempuan di kalangan bangsawan Priangan dan Cirebon melengkapi busananya dengan seperangkat perhiasan yang terdiri dari kalung emas. gelang bahar.Bendo di Priangan dan Cirebon berbeda terutama pada bagian depan. gelang emas dan giwang emas. ali meneng. suweng pelenis baik yang terbuat dari emas atau perak. Meskipun catatan sejarah mengatakan bahwa zaman dahulu mereka tidak menggunakan alas kaki. selop atau kelom sudah menjadi bagian dari berbusana. Jika perhiasan kaum perempuan agak kompleks dan beragam. Dalam berbagai kesempatan khusus. mereka memakai selop yang pada bagian ujung atasnya dihiasi dengan manik-manik. untuk tampil cantik cukup memakai busana sederhana dengan perhiasan gelang emas /perak. tidak demikian halnya dengan kaum laki-laki. sedangkan rakyat kebanyakan tetap memakai iket. namun kini sandal. Bagian depan bendo Cirebon terdapat garis selebar 4 cm yang makin ke dalam makin kecil. hiasan jas di bagian dada terdiri dari rantai emas/perak dengan liontin dari kuku harimau. Untuk alas kaki.

model maupun corak busana Baduy Luar. radio dan televisi. desa Kanekes. Melihat warna. Ikat kepala ini berfungsi sebagai penutup rambut mereka yang panjang. Semuanya itu tabu (pamali). tingkat umur maupun fungsinya. Jarak antara satu kampung dengan kampung lainnya berjauhan. model dan warnanya saja. Cara berpakaian suku Baduy Panamping memamg ada sedikit kelonggaran bila dibandingkan dengan Baduy Dalam. Bagian bawahnya memakai kain serupa sarung warna biru kehitaman. kelengkapan busana pada bagian kepala menggunakan ikat kepala berwarna putih pula. yang hanya dililitkan pada bagian pinggang. Suku Baduy terdiri dari dua kelompok masyarakat. Perbedaan busana hanya didasarkan pada jenis kelamin dan tingkat kepatuhan pada adat saja. cita-cita. karena cara memakainya hanya disangsangkan atau dilekatkan di badan. seluruh penduduknya adalah suku Baduy dan tidak bercampur dengan penduduk luar. perbedaan itu hanya terletak pada bahan dasar. Barangbarang "modern" seperti sabun. Pakaian Baduy Dalam yang bercorak serba putih polos itu dapat mengandung makna bahwa kehidupan mereka masih suci dan belum terpengaruh budaya luar. kecamatan Leuwidamar. Penduduknya menjaga. seperti baju yang biasa dipakai khalayak ramai. yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Perbedaan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar seperti itu dapat dilihat dari cara busananya berdasarkan status sosial. karena pakaian tersebut dianggap barang tabu. tangtu Cikertawana dan tangtu Cikeusik. tingkah laku. Baduy Dalam. Mereka tidak memakai celana. Desain bajunya terbelah dua sampai ke bawah. menunjukan bahwa kehidupan mereka sudah terpengaruh oleh budaya luar. Baduy Dalam. tidak pakai kancing dan tidak memakai kantong baju. Desain baju sangsang hanya dilobangi/dicoak pada bagian leher sampai bagian dada saja. piring. Kemudian dipadukan dengan selendang atau hasduk yang melingkar di lehernya. Lebak. Bahan dasarnya pun harus terbuat dari benang kapas asli yang ditenun. yaitu Baduy Luar. Ikat kepalanya juga berwarna biru tua dengan corak batik. Ciri bahasa yang digunakan suku Baduy adalah tidak memiliki tinggi-rendah bahasa dengan aksen tinggi dalam lagu kalimat. Ini berbeda dengan Baduy Luar yang sudah mulai mengenal kebudayaan luar. Pembuatannya hanya menggunakan tangan dan tidak boleh dijahit dengan mesin. mengelompok menurut asal keturunan (tangtu) mereka. Dalam pandangan suku Baduy. kancing dan bahan dasarnya tidak diharuskan dari benang kapas murni. Sedangkan potongan bajunya mengunakan kantong. busana yang mereka pakai adalah baju kampret berwarna hitam. Bagi suku Baduy Luar. Oleh karena itu. untuk laki-laki memakai baju lengan panjang yang disebut jamang sangsang. yaitu tangtu Cibeo. ada yang beranggapan bahwa busana suku Baduy saat ini merupakan bentuk busana yang digunakan oleh masyarakat Jawa Barat pada masa silam. Selain baju dan kain sarung yang dililitkan tadi. Letak perkampungan biasanya berada di celah-celah bukit dan lembah yang ditumbuhi pepohonan besar. Kalaupun ada perbedaan dalam berbusana. Wilayah desa Kanekes merupakan tanah adat suku Baduy. Agar kuat dan tidak melorot. yang memiliki keyakinan. Potongannya tidak memakai kerah. Mereka bertutur dalam bahasa Sunda Buhun atau Sunda Kuno. Kehidupan sehari-harinya bersahaja. disebut Kajeroan yang tinggal di tiga kampung utama. Baduy Dalam merupakan paroh masyarakat yang masih tetap mempertahankan dengan kuat nilai-nilai?? ?budaya? ?? warisan leluhurnya dan tidak terpengaruh oleh kebudayaan luar. Tak ada listrik. sarung tadi diikat dengan selembar kain. termasuk busana yang dikenakannya pun adalah sama. Salah satu tradisi yang masih bertahan adalah menenun dan cara berbusana. kosmetik. baik untuk keseimbangan hidup antar sesama maupun kelestarian kehidupan alamnya. melindungi pohon dan hutan di sekitarnya dengan baik. Peraturan adat sangat menentukan dalam sikap hidup suku Baduy. Banten Selatan adalah masih kokohnya tradisi yang diwariskan oleh karuhun mereka. mereka berasal dari satu keturunan.Ciri khas suku Baduy yang tinggal di pegunungan Kendeng. Warna busana mereka umunnya adalah serba putih. gelas dan peralatan pabrik dilarang dipakai. dengan ciri sub dialek Banten. . disebut Panamping yang tinggal di 36 kampung luar dan Baduy Dalam.

ada kerajinan yang dilakukan oleh kalangan pria di antaranya adalah membuat golok dan tas koja. baik Kajeroan maupun Panamping tidak menampakkan perbedaan yang mencolok. Warna baju untuk Baduy Dalam adalah putih dan bahan dasarnya dibuat dari benang kapas yang ditenun sendiri. Memang. Dimulai dari menanam biji kapas. potongan dan cara berbusananya saja. kemuduan dipanen. yang terbuat dari kulit pohon teureup ataupun benang yang dicelup. yaitu dasar hitam dengan garis-garis putih. Bertenun biasanya dilakukan oleh wanita pada saat setelah panen. Busana Tradisional Betawi Betawi Traditional Dress Pengantin laki-laki dengan dandanan cara haji. biasanya wanita Baduy memakai kebaya. melainkan lebih bersifat sebagai identitas budaya yang melekatnya. karembong.Kelengkapan busana bagi kalangan kali-laki Baduy adalah amat penting. Bagi wanita yang sudah menikah. sedangkan bagi para gadis buah dadanya harus tertutup. secara sepintas orang akan tahu bahwa itu adalah suku Baduy. biru tua dan putih. Mereka percaya bahwa semuanya itu merupakan warisan yang dituturkan oleh karuhun atau nenek moyang mereka untuk dijaga. Kain sarung atau kain wanita hampir sama coraknya. Model. dipintal. Selain itu. yang dipadukan dengan warna merah. baju. Semua hasil tenunan tersebut umumnya tidak dijual tetapi dipakai sendiri. Penggunaan warna pakaian untuk keperluan busana hanya menggunakan warna hitam. pakaian bagi suku Baduy bukanlah sekedar untuk melindungi tubuh saja. kain tenunan sarung berwarna biru kehitamhitaman. Bagi Baduy Dalam maupun Luar kalau bepergian selalu membawa senjata berupa golok yang diselipkan di balik pinggangnya. biasanya menggunakan tutup kepala yang disebut alpia atau alpie. kain ikat pinggang dan selendang. biasanya membiarkan dadanya terbuka secara bebas. Mereka mengenakan busana semacam sarung warna biru kehitam-hitaman dari tumit sampai dada. Topi pengantin laki-laki yang berasal dari tanah suci Mekah ini tingginya 15 . Rasanya busana laki-laki belum lengkap apabila tidak memakai senjata. Sedangkan. kain wanita. kecuali baju adalah sama. Untuk memenuhi kebutuhan pakaiannya. kain sarung. masyarakat suku Baduy menenun sendiri dan dilakukan oleh kaum wanita. selendang dan ikat kepala. Jenis busana yang dikerjakan antara lain. Untuk pakain bepergian. sedangkan selendang berwana putih. Busana seperti ini biasanya dikenakan untuk pakaian sehari-hari di rumah.20 cm dan dililit dengan . potongan dan warna pakaian. Dari model. busana yang dipakai di kalangan wanita Baduy. Pakaian ini biasanya masih dilengkapi pula dengan tas kain atau tas koja yang dicangklek (disandang) di pundaknya. ditenun sampai dicelup menurut motifnya khasnya. biru.

Ketiga tingkat lingkaran ini melambangkan siklus kehidupan yang dimulai dari kelahiran. Dari ragam hias geometris. bunga-bungaan. mote atau manik-manik yang diletakan di ujung lengan. Panjang cadarnya 30 cm. diletakkan sebanyak 3 (tiga) untai di pinggir kiri alpia. Aslinya adalah emas. namun saat ini umumnya menggunakan mute. Kun juga di beri hiasan benang tebar dengan kombinasi sesuai tatahan motif pada tuaki. biasanya seorang pengantin laki-laki memakai gamis (baju dalam) polos berwarna muda yang panjangnya kira-kira sampai mata kaki -dan tidak boleh melebihnya. Mengenai tata rias wajah. Namun. Keterpaduan berbagai unsur budaya muncul dalam kekayaan busana pengantin wanita Betawi yang terkesan meriah. kubah mesjid dan lain sebagainya. tidak ada yang khusus. yaitu model shianghai (Cina). kehidupan dan kematian. Tuaki. yaitu rok melebar ke bawah dengan panjang sampai ke mata kaki. karena aslinya terbuat dari emas. Panjang lengan agak longgar. yang agak longgar dan besar. yang kemudian dirangkai menjadi susunan delapan daun teratai yang simetris. Model yang mengikuti bentuk badan sipemakai. Siangko bercadar selalu berwarna emas. Hiasan kepala yang digunakan cukup kompleks. Di atas Siangko bercadar ini. Hiasan ini terbuat dari bahan beludru bertatahkan hiasan logam pada permukaannya dengan motif bunga tanjung. Busana yang dikenakan berupa jubah terbuka. gading atau kadang-kadang kuning. adalah baju bagian atas (blus) yang dikenal memiliki 2 (dua) model. Teratai. Biasanya dihiasi batu-batu permata. Teratai ini berjumlah 8 (delapan) lembar kecil. Ciri khas model shianghai adalah krahnya yang tertutup. bahkan ada yang bertahtakan intan berlian. Saat ini banyak digunakan mote pasir dengan gumpalan benang wol merah di ujungnya. Warna-warna cerah yang dipilih. diletakkan sigar atau mahkota dengan motif bungabungaan yang dipenuhi permata. serta gemerlapan hiasan tuaki dan kun ini melambangkan suka cita dan keceriaan kedua pengantin dan seluruh kelua-rganya. Sebagai alas kaki. Biasanya diberi pemanis dengan tambahan kain pada pinggiran bawah tuaki yang dirimpel keliling. merupakan pertanda apakah pengantin wanita mampu menjadi ibu rumah tangga yang mampu memelihara kebersihan fisik dan rohani dalam kehidupan berumah tangga atau tidak. Padanan tuaki adalah kun. Lengan panjangnya diberi benang karet pada pergelangan. Sebelum mengenakan jubah. Biasanya kumis dan cabang juga dirapihkan agar tampak bersih.sorban kain. bunga-bunga sampai motif burung hong. warna putih. Dipakai di belakang sanggul sebagai penutup ikatan siangko bercadar. modelnya seperti baju kurung Melayu umumnya. yaitu perhiasan penutup dada dan bahu adalah salah satu ciri yang sangat khas. Motif-motif hiasan emas. atau bahan perak. dan model baju kurung (Melayu). Terkadang di bagian atas disematkan sepasang kembang goyang. Model baju yang sangat sederhana pada busana adat pengantin wanita Betawi ini. Hiasan rambut lainnya adalah tusuk paku atau kembang paku berjumlah . panjangnya sebatas pinggul. baik dari bahan satin ataupun beludru. Hanya sedikit bedak yang ditaburkan di wajah agar terkesan rapi. Rambut disanggul dengan model buatun atau konde cepol tanpa sasakan. tampil begitu meriah dengan perlengkapan yang serba unik. Sebuah selempang berhiaskan mute sebagai tanda kebesaran pun dikenakan boleh di dalam maupun di luar jubah. siangko lainnya jumlah 3 (tiga) buah. sehingga membentuk 3 (tiga) tingkat lingkaran. Bagian jubah ini. Tuaki bentuk baju kurung. terbuat dari manik-manik. biasanya dihiasi dengan emas dan manik-manik bermotif burung hong. Keunikan lainnya terdapat pada tata rias di bagian kepala. Gamis lebih panjang sekitar 10 cm dari jubah. Letak sanggul di tengah-tengah agak ke atas memperlihatkan tengkuk pengantin. Selain yang bercadar. Salah satunya yang unik adalah siangko bercadar yang melambangkan kesucian seorang gadis. Ron je atau untaian bunga melati yang ujung bawahnya ditutup bunga cempaka dan ujung atasnya diberi sekuntum mawar merah. Siangko bercadar yang berfungsi menutupi wajah pengantin wanita merupakan lambang kesuciannya. Caranya adalah dengan melilitkan secara berputar. Bersih atau tidaknya tengkuk yang tampak. yang kemudian dipadatkan dengan tusuk konde. biasanya digunakan sepatu kulit dengan kaos kaki yang merupakan pengaruh Belanda sejak abad ke 19. masih ada pula pengantin yang mengenakan selop atau terompah. daerah sekitar dada. yang disimbolkan dengan tidak boleh dilihatnya wajah mempelai putri oleh orang lain. Warna yang terbuat dari bahan polos ini pun disesuaikan dengan warna tuaki. Syarat utama dari tuaki ini adalah bahannya yang polos. bagian bawah baju sangat bervariasi.

Tanda bulan sabit berwarna merah ini merupakan perlambang bahwa di gadis telah menjadi pengantin. sedangkan hiasannya lebih banyak menggunakan mute. Variasi pakaian pengantin Betawi ini dapat ditemui di beberapa daerah. Tusuk konde berupa pasak berbentuk huruf leam (huruf Arab) merupakan simbol pengakuan akan keesaan Allah ditusukkan di atas siangko kecil penutup simpul tali cadar. Selain perhiasan untuk kepala. ditutupkan ke seluruh riasan wajah pengantin wanita. selendang dan celemek. yang wajib diturunkan dan diajarkan pada anak keturunannya kelak. biasanya telinga pengantin dihias dengan sepasang kerabu. Dari hiasan kepala pengantin wanita yang telah dikemukakan. serta cincin emas yang berhiaskan permata menjadi hiasan lengan. celana panjang. Sementara hiasan kepalanya tidak serumit dandanan rias besar putri. juga dikarenakan sebagai hiasan rambut bersama dengan 2-4 buah kembang kelapa yang dipasang di kiri dan kanan sanggul. umumnya hanya merupakan sepuhan warna emas. Selain sunting. yang juga dilengkapi dengan mahkota dan kacamata. Mempelai putri menggunakan baju kurung tabur. burung hong sendiri dianggap sebagai simbol burung surga yang melambangkan kebahagiaan kedua pengantin. dengan busana wanita Betawi sehari-hari. sebagai pelengkap yang menunjang keserasian. Kembang goyang yang berjumlah 20 buah. Sementara itu. Kerabu ini merupakan perpaduan anting dan giwang yang dijadikan satu. pergelangan tangan dan jari pengantin wanita. bagi mempelai pria terdiri dari jas tutup. gelang bahar. ikat pinggang dan iiskoi motif lokcan. pengantin wanita juga mengenakan perhiasan berupa kalung tebar yang dipakai melingkar leher di atas teratai Betawi. Letak burung hong ini juga memiliki arti tersendiri. sehingga akan menjadi perkawinan yang langgeng. Sementara pengantin wanita memakai slayer dan sarung tangan putih. Nabi Besar Muhammad SAW. Gelang listring dan gelang selendang mayang. Perlengkapan busana ini adalah kuku macan. Hiasan burung hong atau dikenal dengan sebutan kembang besar atau kembang gede adalah hiasan lain yang tidak boleh ketinggalan. sarung songket. Seperti misalnya di daerah pinggiran. Penulis Endang Mariani . Aslinya seluruh perhiasan yang dikenakan oleh pengantin wanita Betawi terbuat dari emas dan dihiasi intan permata. satu bentuk perhiasan yang dipercaya memiliki kekuatan magis adalah sunting atau sumping telinga. Sebelum rerurub atau ruruban. yang berkaitan dengan kecocokan antara pihak keluarga kedua pengantin. atau mute. bros dan untaian melati. dengan ujung melengkung ke atas dan dihias dengan tatahan emas dan manikmanik. Apabila kembang goyang melambangkan pengakuan terhadap 20 sifat kebesaran Allah. Adapun pakaian yang kini dikenal dengan busana "Abang dan None Jakarta" merupakan kombinasi dari busana pengantin rias bakal untuk pria.10 buah atau lebih yang dimaksudkan sebagai penolak bala. Tusuk bunga atau kembang tancep berjumlah 5 buah yang melambangkan rukun Silam. pisau raut. Sementara ruruban merupakan tanda kesuciannya. di beberapa daerah di atas dahi pengantin diberi tanda berbentuk bulan sabit. Busana ini biasanya dikenakan setelah akad nikah. maka si pemakai akan pusing-pusing dan bahkan pingsan. kuat seperti pohon kelapa. pengantin laki-laki mengenakan stelan jas lengkap dengan kopiah hitam dan kacamata hitam. Keunikan juga tampak pada alas kaki yang digunakan. Mempelai wanita mengenakan selop berbentuk perahu kolek. Jumlahnya yang empat buah melambangkan 4 (empat) sahabat Rasullullah. kewajiban yang harus dijalankan oleh pengantin sebagai seorang Muslim. Apabila sunting ini dipakai oleh seorang pengantin yang tidak perawan atau tidak gadis lagi. Busana pengantin rias bakal. sejahtera dan bahagia. maka kembang kelapa merupakan simbol pengharapan agar perkawinan yang dilakukan tetap kokoh. Namun saat ini. yaitu sebuah kerudung dari kain halus dan tipis.

Oleh karena itu. khususnya di lingkungan budaya Yogyakarta dan Surakarta. kuning. biru dan sebagainya maupun bahan katun yang berbunga atau bersulam. kemben dan kain tapih pinjung dengan stagen. Untuk busana sehari-hari umumnya wanita Jawa cukup memakai kemben yang dipadukan dengan stagen dan kain jarik. baik yang polos dengan salah satu warna seperti merah. kain sunduri (brocade). Sedangkan. baju kebaya pada umumnya hanya dipakai pada harihari tertentu saja. Dewasa ini. baju kebaya menggunakan peniti renteng dipadukan dengan kain sinjang atau jarik corak batik. Kemben dipakai untuk menutupi payudara. dan dilengkapi dengan perhiasan yang dipakai seperti subang. yaitu kebaya pendek yang berukuran sampai pinggul dan kebaya panjang yang berukuran sampai ke lutut. brokat. Kebaya pendek dapat dibuat dari berbagai jenis bahan katun. hijau. kalung dan gelang serta kipas biasanya tidak ketinggalan. lurik atau bahan-bahan sintetis. Baju kebaya di sini adalah berupa blus berlengan panjang yang dipakai di luar kain panjang bercorak atau sarung yang menutupi bagian bawah dari badan (dari mata kaki sampai pinggang). Saat ini. wanita Jawa mengenal dua macam kebaya. Baju kebaya dikenakan oleh kalangan wanita bangsawan maupun kalangan rakyat biasa baik sebagai busana sehari-hari maupun pakaian upacara. kebaya panjang lebih banyak menggunakan bahan beludru. Pada busana upacara seperti yang dipakai oleh seorang garwo dalem misalnya. Panjangnya kebaya bervariasi. sutera yang berbunga maupun . Jawa Tengah adalah baju kebaya. kebaya pendek dapat dibuat dari bahan sutera.Busana Tradisional Jawa-Solo Javanese Solo Traditional Dress Busana Kebaya Jenis busana dan kelengkapannya yang dipakai oleh kalangan wanita Jawa. ketiak dan punggung. sebab kain kemben ini cukup lebar dan panjang. cincin. putih. nilon. seperti pada upacara adat misalnya. Sedangkan stagen dililitkan pada bagian perut untuk mengikat tapihan pinjung agar kuat dan tidak mudah lepas. bagian kepala rambutnya digelung (sanggul). mulai dari yang berukuran di sekitar pinggul atas sampai dengan ukuran yang di atas lutut.

Busana yang dipakai adalah celana kolor warna hitam. Semua potongan tersebut dapatdikerjakan dengan mesin jahit ataupun dijahit dengan tangan. Pada bagian badan kebaya dipotong sedemikian rupa sehingga tidak memerlukan krup. kuning tua dengan hitam dan merah bata dengan hitam. Pada upacara midodareni. baju lengan panjang. Baju ini terdiri dari dua helai potongan. gelang dan sepasang tusuk konde pada sanggul. Pada umumnya kebaya panjang terbuat dari kain beludru hitam atau merah tua. Lengkung leher baju menjadi satu dengan bagian depan kebaya. sutera maupun nilon yang bersulam. tidak berarti busana di lingkungan rakyat biasa tidak ada yang khas. Baju kebaya panjang yang dipakai sebagai busana upacara biasa. Bajunya beskap atau sikepan dan pada bagian kepala memakai destar. Panjang baju kebaya ini sampai ke lutut. Lengkung ini harus cukup lebar sehingga dapat dilipat ke dalam untuk vuring kemudian dilipat lagi keluar untuk membentuk lengkung leher. Sebab. Kalangan wanita di Jawa. Sedangkan. khususnya kerabat keraton adalah memakai memakai baju beskap kembang-kembang atau motif bunga lainnya. Jawa Tengah. biasanya baju kebaya mereka diberi tambahan bahan berbentuk persegi panjang di . Baju kebaya dipakai dengan kain sinjang jarik/ tapih dimana pada bagian depan sebelah kiri dibuat wiron (lipatan) yang dililitkan dari kiri ke kanan. Mengenai teknik dan cara membuat baju kebaya sangat sederhana. Baju kebaya panjang biasanya menggunakan bahan beludru. dapat pula memakai tambahan bahan di bagian muka akan tetapi tidak berlengkung leher (krah). Potongan dan model kebaya Jawa. Namun pada saat upacara perkawinan. yang dihiasi pita emas di tepi pinggiran baju. Dalam adat busana perkawinan misalnya. ungu dengan hitam. Kain jarik batik yang berlipat (wiron) tetap diperlukan untuk pakaian ini. Selain kain lurik. pada kepala memakai destar (blankon). maka tata rias rambutnya tanpa untaian bunga melati dan tusuk konde. yaitu sehelai bagian depan dan sehelai lagi potongan bagian belakang. Dan umumnya digunakan juga oleh mempelai wanita Sunda. keris dan alas kaki (cemila). Modelnya dapat ditambah dengan sepotong bahan berbentuk persegi panjang yang dipakai sebagai penyambung antara kedua potongan bagian muka. cincin. perhiasan yang dipakai juga sederhana. Busana ini dinamakan Jawi Jangkep. Bali dan Madura. Meskipun seni busana berkembang baik di lingkungan keraton. Dewasa ini. Sedangkan. pengantin wanita memakai busana kejawen dengan . panggih dan sesudah upacara panggih. yang juga dipakai di Sumatera Selatan. baju kebaya panjang merupakan pakaian untuk upacara perkawinan. Busana adat tradisional rakyat biasa banyak digunakan oleh petani di desa. Kepulauan Sumbawa. ijab.bagian depan yang berfungsi sebagai penyambung. bagi orang tua mempelai biasanya mereka memakai kain jarik dan sabuk sindur. ikat kepala dan kalau sore pakai sarung. tetapi biasanya tanpa memakai selendang. Sedangkan busana di kalangan pria. dapat juga memakai kain gabardine yang bercorak kotak-kotak halus dengan kombinasi warna sebagai berikut: hijau tua dengan hitam. Kelengkapan perhiasannya dapat dipakai yang sederhana berupa subang kecil dengan kalung dan liontin yang serasi. kain samping jarik. yaitu midodareni. tiap-tiap jenis busana tersebut menunjukkan tahapan-tahapan tertentu dan siapa si pemakaiannya. Ini dimaksudkan agar benar-benar membentuk badan pada bagian pinggang dan payudara dan sedikit melebar pada bagian pinggul. lipatan bawah bagian belakang dan samping harus sama lebarnya dan menuju ke bagian depan dengan agak meruncing. Sanggulnya dihiasi dengan untaian bunga melati dan tusuk konde dari emas. ikat pinggang besar. brokat. dan Timor sebenarnya serupa dengan blus. stagen untuk mengikat kain samping. seorang wanita dan pria kalangan keraton mengenakan beberapa jenis busana. yang disesuaikan dengan tahapan upacara. daerah pantai Kalimantan. Busana Basahan Salah satu jenis busana adat yang terindah dan terlengkap di Indonesia terdapat di keraton Surakarta. kain lurik yang serasi atau kain ikat celup. yaitu busana pria Jawa secara lengkap dengan keris.nilon yang bersulam. yaitu sebuah sisir berbentuk hampir setengah lingkaran yang dipakai di sebelah depan pusat kepala. Selendang yang dipakai tersebut sebaiknya terbuat dari batik. serta dua buah lengan baju. biru sedang dengan hitam. Untuk menutupi stagen digunakan selendang pelangi dari tenun ikat celup yang berwarna cerah.

sabuk timang. selop dan perhiasan kalung ulur. timang/epek. melainkan terdiri dari semekan atau kemben. Bagi pengantin pria. dan merupakan baju pokok dalam busana basahan. keris dan selop. celana panjang warna putih. kain jarik. kain jarik. kain sido luhur dan sido mulyo merupakan pakaian mempelai. melati) maupun alam dan manusia. pada upacara setelah panggih. Kemudian fungsi pakaian menjadi lebih beragam. Busana basahan adalah tidak memakai baju. sikepan. . tumbuh-tumbuhan (bunga teratai. kerbau. gelang. mata. Perhiasan yang biasa digunakan oleh mempelai pria adalah kalung ulur. sampur atau selendang sekar cinde abrit dan kain jarik cinde sekar merah. Sedangkan bagi pengantin wanita. Pada busana-busana khusus untuk upacara perkawinan dikenal juga motif pada batik tulis. kalung. kolong karis. stagen dan selop. sabuk timang. Kemben disini berfungsi sebagai pengganti baju dan pelengkap untuk menutupi payudara. awalnya digunakan sebagai alat untuk melindungi tubuh dari cuaca dingin maupun panas. kain jarik. yaitu terdiri dari baju kebaya. Berbeda dengan tahapan upacara sebelumnya. naga). Pada upacara panggih ini. cincin. dalam busana adat perkawinan. busana yang dipakai pengantin wanita adalah baju kebaya dan kain jarik. swastika (misalnya bintang dan matahari). epek. Kain dodot yang menggunakan corak batik alas-alasan panjangnya kirakira 4-5 meter. pengantin wanita memakai busana kanigaran. maupun sebagai alat pemenuhan kebutuhan akan keindahan. Sedangkan pengantin prianya memakai busana cara Jawi Jangkep. stagen. dodot bangun tulak. hewan (misal : burung. baju takwo. stagen dan kain jarik dengan corak batik. Saat upacara ijab. Jenis ragam hias yang dikenal di daerah Surakarta maupun Jogyakarta adalah kain yang bermotifkan tematema geometris. Fungsi pakaian. basahan. pengatin pria pun memakai busana adat basahan. sabuk timang. sedangkan pengantin pria memakai busana basahan. warna dasar merah yang dihiasi bunga berwarna hitam dan putih. misalnya untuk menutup aurat. Busana Jawa baik pakaian sehari-hari maupun pakaian upacara sangat kaya akan ragam hias yang tak jarang memiliki makna simbolik dibaliknya. cincin. ular. cara meriasnya tidak sedemikian rumit dan teliti sebagaimana pengantin wanita yang harus dirias pada bagian wajahnya mulai dari muka. seperti kain sindur dan truntum yang dipakai oleh orang tua mempelai. sabuk lengkap dengan timang dan cinde. sebagai unsur pelengkap upacara yang menyandang nilai tertentu. udeng. Begitu pula pada upacara panggih kedua mempelai memakai jenis busana yang sudah ditetapkan. Cara mengenakan kain ini seperti kain jarik tetapi tidak ada lipatan (wiron). pipi dan bibir. berupa dodot bangun tulak. subang dan timang atau epek. celana cinde sekar abrit. bros. maka baik pengantin wanita maupun pria biasanya dirias pada bagian wajah dan sanggul. yang terdiri dari baju atela. Sedangkan pengantin pria menggunakan busana kepangeranan. stagen. Motif geometris diantaranya adalah kain batik yang bercorak ikal. jungkat. Busana sawitan terdiri dari kebaya lengan panjang. keris warangka ladrang dan selop. Busana basahan pengantin pria disini terdiri dari kuluk matak petak. keris warangka ladrang. Bahkan motif yang paling dikenal oleh masyarakat Surakarta adalah motif tumpal berbentuk segi tiga yang disebut untu walang. biasanya kedua mempelai pengantin melengkapi busana basahan dengan aneka perhiasan. Sedangkan kain sido mukti. Selendang cinde sekar abrit terbuat dari kain warna dasar merah dengan corak bunga hitam dan kain jarik cinde sekar abrit terbuat dari kain gloyar. Semekan atau kemben terbuat dari kain batik dengan corak alas-alasan warna dasar hijau atau biru dengan hiasan kuning emas atau putih.warna sawitan. keris warangka ladrang dan selop. alis. Sama halnya dengan pengantin wanita. yang terdiri dari kuluk kanigoro. perhiasan yang biasa dipakai adalah cunduk mentul. dodot bangun tulak. yang melambangkan kesuburan. bros dan buntal. Sebagai kelengkapan. stagen. centung. ikal rangkap dan pilin ganda. pilin. dodot bangun tulak atau kampuh. Pengantin wanita memakai busana adat bersama. Motif berupa garis-garis potong yang disebut motif tangga merupakan simbolisasi dari nenek moyang naik tangga sedang menuju surga. Tujuannya adalah agar mempelai wanita kelihatan lebih cantik dan angun dan pengantin pria lebih gagah dan tampan. terdiri dari kuluk matak biru muda.

Pada masyarakat di Jawa Tengah. yakni menghias tubuh agar kelihatan lebih cantik dan menarik. bagian tengah terdiri dari baju (kebaya. fungsi sosial yakni belajar menjaga kehormatan diri seorang wanita agar tidak mudah menyerahkan kewanitaannya dengan cara berpakaian serapat dan serapi mungkin. kapan dikenakan. Oleh karena itu. Pakaian adat tradisional Kraton Yogyakarta yang sudah jarang dijumpai lagi akhir-akhir ini. Pemakainya dapat digolongkan berdasarkan jenis kelamin. Mereka terdiri dari golongan-golongan sesuai dengan fungsi dan jabatannya. Kelengkapan berbusana tersebut merupakan ciri khusus pemberi identitas bagi pemakainya yang meliputi fungsi dan peranannya. dan sebagainya). Adapun yang dimaksud dengan pengertian pakaian sehari-hari di sini adalah seperangkat pakaian yang dikenakan di rumah. Pakaian tersebut dikenal sebagai pakaian adat tradisional yang resmi dan khas Yogyakarta. konde. Pakaian khusus itu akan muncul secara menarik dan berwibawa. Sejak kecil putra-putri Sultan telah mengenal beberapa peraturan yang membedakan dirinya dengan status individu lainnya. kemudian disusul dengan masa kemerdekaan. dan status sosial pemakainya. Secara keseluruhan seperangkat pakaian terdiri atas bagian atas. Demikian pula pakaian dari suatu daerah dapat dibedakan atas pakaian sehari-hari/kerja dan pakaian upacara/pesta adat. Pakaian adat tradisional masyarakat Yogyakarta terdiri dari seperangkat pakaian yang memiliki unsur unsur yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. pada saat-saat tertentu akan muncul kembali dalam suatu upacara adat yang meriah dan menarik perhatian masyarakat umum. estetis. dan lain-lain) dan perhiasan (aksesori). pakaian adat tradisional kraton Yogyakarta yang sempat dikenal di kalangan masyarakat luas banyak dikenakan oleh golongan masyarakat biasa. saat bekerja. serta memakai stagen sekuat mungkin agar tidak mudah lepas. yang secara visual ditandai pula oleh cara dan bentuk pakaian. Dalam perkembangan selanjutnya. khususnya di Surakarta fungsi pakaian cukup beragam. merupakan lembaga resmi yang dipimpin oleh seorang raja dan para kerabatnya yang disebut pegawai istana atau abdidalem. dan status sosial. Demikianlah secara keseluruhan pakaian adat itu tidak pernah musnah dilanda kemajuan zaman. Penulis Jaya Purnawijaya Busana Tradisional Yogyakarta Yogyakarta Traditional Dress Kraton sebagai suatu pusat institusi dan tata pemerintahan. fungsi estetis. di samping pakaian sehari-hari yang secara rutin dikenakan. sebagai miliknya sendiri dan pemberi identitas. religius. diantaranya melalui bentuk pakaian yang harus dikenakan. di man dikenakan. Bagian atas meliputi tutup kepala dan tata rias rambut (sanggul. pakaian atau busana menurut kepangkatan tidak begitu diperhatikan lagi. cara berpakaian biasanya sudah dibakukan secara adat. . pakaian ini diterima di kalangan masyarakat Jawa yang tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta. tetapi tetap terpelihara dengan baik dan selalu dimunculkan pada saat-saat penting. Misalnya pada masa penjajahan Jepang (1942 . yang mana pada waktu itu ekonomi negara kita dalam keadaan kacau. sosial dan simbolik. Lebih-lebih pada saat penyelenggaraan upacara adat pakaian tersebut dikenakan secara lengkap. dan saat bepergian. dan bagian bawah. bagian tengah. serta bagian bawah berupa alas kaki. usia. seperti pada masyarakat bangsawan pakaian mempunyai fungsi praktis. Seperti kain kebaya fungsi praktisnya adalah untuk menjaga kehangatan dan kesehatan badan. Dari pembagian tersebut dapat digolongkan lagi jenis-jenis pakaian berdasarkan jenis kelamin. Namun demikian. usia. dan yang pada gilirannya jarang dijumpai lagi. pakaian resmi semacam itu lama kelamaan tidak lagi dikenakan secara lengkap. dan siapa yang mengenakannya. Sejalan dengan perkembangan zaman.1945).

Hanya saja jika busana dodotan dikenakan tanpa baju. supitan. Sanggulnya berbentuk sanggul tekuk polos tanpa hiasan. pethat jeruk sak ajar. ikat pinggang kamus songketan bermotif flora atau fauna. tanpa baju. baju surjan. Rangkaian busana ini terdiri dari kain (nyamping) batik. cincin. Pengertian kata semekan berupa kain panjang yang lebarnya separuh dari lebar kain panjang biasa. Perhiasannya berupa subang. Kelengkapan pinjung padintenan terdiri atas kain batik. Lipatan kain (wiru) berada di sebelah kiri. kalung dinar. dan cincin. dan perkawinan. kain batik dengan wiru di tengah. burung garuda. Agustusan. ikat pinggang berupa kamus songketan dengan cathok atau timang terbuat dari suwasa (emas berkadar rendah). Penulis Dewi Indrawati . serta mengenakan dhestar sebagai tutup kepala. Jenis busana ini lazim dikenakan pada upacara Agustusan. serta mengenakan cathok dari perak berbentuk kupu-kupu. timang (kretep). Rangkaian busana ini terdiri dari nyamping batik. tingalan dalem tahunan. kalung emas dengan liontin berbentuk mata uang (dinar). kamus songketan. jumenengan dalem. Busana untuk anak laki-laki model kencongan terdiri dari kain batik yang dikenakan dengan model kencongan. serta sapu tangan merah. karset. gelang. dana cindhe gubeg. yang menunjukkan status sosial pemakainya sebagai putri Sultan sampai dengan cicit Sultan. Untuk putri yang sudah dewasa mengenakan busana semekanan dalam kesehariannya. moga renda berwarna kuning. atau gringsing. kamus. udhet tritik (semacam selendang sebagai hiasan pinggang). Bagi yang berambut panjang disanggul dengan model konde. Jenis busana ini dibedakan atas busana dodotan. lonthong tritik. sanggul tekuk polos tanpa hiasan. gelang berbentuk ular (gligen) atau model sigar penjalin. Busana ini dikenakan dengan cara melipat ujung kain sebelah dalam dibentuk segitiga sebagai penutup dada. Remaja putri mengenakan busana yang disebut pinjung. tingalan dalem tahunan. Sedangkan busana harian bagi putri raja yang sudah menikah terdiri atas semekan tritik dengan tengahan. kamus songketan. baju katun. berfungsi sebagai penutup dada. lonthong tritik. garebeg. timang. kampuh konca setunggal. Rangkaian busana dodotan terdiri dari kuluk biru dengan hiasan mundri (nyamat). dan keris branggah. ceplok. serta pisowanan dalam upacara perkawinan. memakai lonthong tritik. baju kebaya katun. atau merak. gelang. semekan tritik. serta sedan (pemakaman jenazah raja). kanigaran. Perhiasan yang dikenakan sebagai pelengkap terdiri dari subang. serta mengenakan perhiasan berupa subang. Busana kebesaran yang dikenakan dalam semua kegiatan ini disebut busana keprabon. Sebagai perhiasannya adalah subang. yang khusus dikenakan para putra Sultan. Busana ini lazim dikenakan pada upacara garebeg. Busana Kebesaran Untuk Upacara Ageng Pengertian upacara ageng adalah kegiatan seremonial dari rangkaian upacara supitan. dan busana sabukwala untuk anak perempuan. Kainnya bermotif parang. perkawinan. dan kaprajuritan. yang panjangnya diukur dari dada sampai di atas pusar. maka busana kanigaran ini dilengkapi dengan baju sikepan bludiran. Busana sabukwala padintenan dikenakan oleh anak perempuan berusia 3-10 tahun. sanggul tekuk polos tanpa hiasan. Sedangkan busana seharihari bagi pria remaja dan dewasa terdiri dari baju surjan. kain batik. jumenengan dalem (penobatan raja). Kelengkapan busana kanigaran pada dasarnya sama dengan busana dodotan.Busana yang dirancang untuk anak-anak terdiri dari busana kencongan untuk anak laki-laki. rante. baju kebaya katun. lonthong tritik.

Kalangan pedagang kecil.Busana Tradisional Madura Madura Traditional Dress Penulis Endang Mariani Meskipun Madura adalah sebuah pulau yang terpisah dari Pulau Jawa. dalam menghadapi segala hal. di dalamnya. Masyarakat umum mengenal pakaian khas Madura. secara umum sebagaimana busana Solo dan Yogya. Warna hitam ini melambangkan keberanian. Untuk sehari-hari odheng yang digunakan adalah odheng peredhan dengan motif storjan. kebudayaan Jawa dalam arti luas berpengaruh sangat besar dalam berbagai segi kehidupan masyarakat sukubangsa Madura. Sikap gagah dan pantang mundur ini merupakan salah satu etos budaya yang dimiliki masyarakat Madura. terutama kaos bergaris yang digunakan. Garis-garis tegas merah. baju pesa`an warna hitamlah yang menjadi ciri khas. Baju pesa`an biasanya dipakai oleh guru agama atau molang. Adanya pengaruh cara berpakaian pelaut dari Eropa. Perbedaannya adalah pada odheng. Terompah atau tropa merupakan alas kaki yang umumnya dipakai. status sosial maupun kegunaannya. baik sebagai busana sehari-hari maupun untuk keperluan upacara. seringkali mempergunakan baju pesa`an dan kaos oblong warna putih. Bentuk baju yang serba longgar dan pemakaiannya yang terbuka melambangkan sifat kebebasan dan keterbukaan orang Madura. teguh dan keras. Sebenarnya. Sebaliknya para nelayan. celana gomboran dan kaos oblong ini memiliki perbedaan fungsi bila dilihat dari cara memakainya. maka jenis dan bentuk busananya pun memiliki beberapa kesamaan dengan busana dari daerah-daerah lain di Pulau Jawa. umumnya hanya menggunkan celana gomboran dengan kaos oblong. Pada masa sekarang. Sarung palekat kotak-kotak dengan warna menyolok dan sabuk katemang. baju pesa`an. Perlengkapan busana . masyarakat mengenal baju pesa`an dalam dua warna. ikat pinggang kulit lebar dengan kantong penghimpun uang di depannya adalah perlengkapan lainnya. Dalam penggunaannya. dipadu dengan sarung motif kotak-kotak biasa. lengkap dengan tutup kepala dan kain sarung. yaitu hitam serba longgar dengan kaos bergaris merah putih atau merah hitam. Secara umum masyarakat sukubangsa Madura mengenal perbedaan busana berdasarkan usia. bera` songay atau toh biru. yaitu hitam dan putih. baik sebagai busana sehari-hari maupun sebagai busana resmi. Kesederhanaan bentuk baju ini pun menunjukkan kesederhanaan masyarakatnya. Jaman dahulu. pakaian yang terdiri dari baju pesa`an dan celana gomboran ini merupakan pakaian pria untuk rakyat kebanyakan. tutup kepala yang dikenakan. kalangan bangsawan biasanya menggunakan rasughan totop (jas tutup) polos dengan samper kembeng (kain panjang) di bagian bawah. putih atau hitam yang terdapat pada kaos yang digunakan pun memperhatikan sikap tegas serta semangat juang yang sangat kuat. Oleh karena kebudayaan Madura termasuk dalam daerah kebudayaan Jawa. jenis kelamin. Berbeda dengan rakyat kebanyakan.

motif maupun cara pemakaian. simpul mati di bagian belakang dibentuk menyerupai huruf lam alif. sayap atau ujung kain dipilin dan tetap terbeber bila si pemakai masih relatif muda. Semakin tegak kelopak odheng tongkosan. Semakin miring kelopaknya. bermotif modang. juga memiliki daya tarik yang unik. Letak sanggul umumnya agak tinggi. pemberani. dulcendul. jepit kain. Oleh karenaitu mereka tidak mengenal warna-warna lembut. Semuanya dimaksudkan untuk membentuk tubuh yang indah dan padat.seperti sap osap (sapu tangan). Sementara di daerah Madura Timur. Adapun cucuk dinar. Panjang kutang dengan bukaan depan ini ada yang pendek dan ada pula yang sampai perut. Pada saat menghadiri acara resmi. Hiasan rambut berupa cucuk sisir dan cucuk dinar. Demikian pula berbagai pantangan makanan yang tidak boleh dilanggar. pelintiran ujung simpul bagian belakang yang tegak lurus melambangkan huruf alif. Untuk orang yang sudah sepuh (tua). Bentuk dan cara memakai odheng juga menunjukkan derajat kebangsawanan seseorang. Harnal bubut dari emas. Kutang ini ukurannya ketat pas badan.5 meter. umumnya digunakan bersama sarung batik motif tumpal. sabuk katemang. storjan atau lasem. Ukuran odheng tongkosan yang lebih kecil dari kepala. semakin tinggi dewajat kebangsawananan. serta pemakaian penggel. jam saku. dengan ukuran lebar 15 cm dan panjang sekitar 1. termasuk kelengkapan pakaian yang membedakan penampilan dan kewibawaan seorang bangsawan dengan rakyat biasa. Pada odheng peredhan. padat dengan kuncir sisa rambut yang terletak tepat di tengah-tengah rambut. Ciri khas kebaya Madura adalah penggunaan kutang polos dengan warna-warna menyolok seperti merah. mulai dari kepala sampai kaki. Pilihan warna yang kuat dan menyolok pada masyarakat Madura menunjukkan karakter mereka yang tidak pernah ragu-ragu dalam bertindak. stagen. namun ada pula yang memakai kain panjang dengan motif tabiruan. Kebaya dengan panjang tepat di atas pinggang dengan bagian depan berbentuk runcing menyerong khas roncongan Madura. Untuk penguat kain digunakan odhet. Odhet adalah semacam stagen Jawa. hijau atau biru terang yang kontras dengan warna dan bahan kebaya yang tipis tembus pandang atau menerawang. terdiri dari beberapa keping mata uang dollar. garik atau jingga. Ikatan odheng juga memiliki arti tertentu. Termasuk dalam memilih warna pakaian maupun aksesoris lainnya. Bentuknya agak bulat dan penuh. rasughan totop umumnya berwarna hitam digunakan lengkap dengan odheng tongkosan kota. keduanya terbuat dari emas. kuning atau hitam. bermata selong dengan . Warna dasarnya putih dengan motif didominasi warna merah. Cucuk sisir biasanya terdiri dari untaian mata uang emas atau uang talenan dan ukonan. bentuknya agak lonjong dan pipih letaknyapun miring. Kebaya tanpa kutu baru atau kebaya rancongan digunakan oleh masyarakat kebanyakan. Jumlah untaian mata uang ini tergantung kemampuan si pemakai. maka derajat kebangsawanan semakin rendah. Hampir sama dengan gelung wanita Bali. sehingga membuat si pemakai harus sedikit mendongak ke atas agar odheng tetap dapat bertengger di atas kepalanya. Hal tersebut merupakan salah satu perwujudan nilai budaya yang hidup di kalangan wanita Madura. biasanya disisir ke belakang. yang sangat menghargai keindahan tubuh. Sebagaimana senjata bagi laki-laki Madura. Kaum wanita Madura umumnya mengenakan kebaya sebagai pakaian sehari-hari maupun pada acara resmi. Bentuknya seperti busur. dan perhiasan lainnya terutama selok (seser) atau cincin geleng akar (gelang dari akar bahar). yaitu saku untuk menyimpan uang atau benda berharga lainnya. Perhiasan yang dikenakan oleh wanita Madura. yang merupakan simbol dari kalimat pengakuan akan keesaan Allah (Laa illaahaillallaah). Sementara itu. baik dari ukuran. Rambut wanita Madura itu sendiri. kemudian digelung sendhal. Odheng pada masyarakat Madura memiliki arti simbolis yang cukup kompleks. Pada odhet terdapat ponjin atau kempelan. Alas kaki yang digunakan adalah sandal jepit. mengandung makna "betapapun beratnya beban tugas yang harus dipikul hendaknya diterima dengan lapangan dada". pada odheng tongkosan kota. Keindahan lekuk tubuh si pemakai akan tampak jelas dengan bentuk kebaya rancongan dengan kutang pas badan ini. serta bersifat terbuka dan terus terang. Ramuan jamu-jamu Madura diberikan semenjak seorang gadis cilik hendak berangkat remaja. Warna biasanya merah. yaitu huruf awal dalam bahasa Arab. perhiasanpun menjadi pelengkap yang utama bagi busana kaum wanitanya. terbuat dari tenunan bermotif polos. Sebum dhungket atau tongkat. Arloji rantai acap digunakan.

Gelang kaki yang terbuat dari emas atau perak. Bahan kebaya biasanya beludru. Penggel adalah simbol kebanggaan wanita Madura. tangan dan kaki umumnya kecil. Dari seluruh jenis perhiasan yang biasa dikenakan wanita Madura. telinga. lebih banyak dihiasi intan atau berlian. Selain busana dan perhiasan khas wanita Madura. Sebagai pelengkap kebaya rancongan. leher. baik dari kalangan bangsawan maupun rakyat biasa. Selain itu masih ada motif pale obi yang menyerupai batang ubi melintir. bermotif polos dengan berbentuk bulat utuh sebesar biji jagung. Untuk acara resmi wanita bangsawan Madura mengenakan kebaya panjang dengan kain batik tulis Jawa atau khas Madura. dengan berat perak ada yang mencapai 3 kg. sedangkan gigi dihiasi dengan apa egan. Saat ini. namun adapula yang mencapai 100 gram. menjadi ciri tersendiri pada kelengkapan wanita Madura. Penggel merupakan hiasan kaki dari emas atau perak yang dipakai pada pergelangan kaki kiri dan kanan. Kalung brondong yang berupa rentangan emas berbentuk biji jagung adalah kalung khas Madura yang biasanya dikenakan bersama liontin. digunakan gelung mager sereh. di dalamnya diberi potongan daun pandan sebagai penguat. penggel juga berfungsi untuk membentuk keindahan tubuh wanita Madura. yaitu hiasan dari bunga-bungaan. Bentuknya sama dengan gelung malang. Semakin banyak jumlah dinarnya. kiri atau dahi. Selain fungsi ekonomi yang juga dapat menunjukkan status ekonomi si pemakai. bahkan lebih. Hiasan rambut terdiri dari cucuk emas dengan motif ular atau bunga matahari. Liontin atau bandul yang digunakan biasanya berbentuk mata uang dollar (dinar) atau bunga matahari. Busana Tradisional Tengger Tengger Traditional Dress Penulis Endang Mariani . penggel adalah salah satu yang paling unik. Warna gelap dan tidak bermotif. berupa lapisan gigi yang terbuat dari emas atau platina. Motif hiasan kalung Madurapun terkenal karena ciri khasnya. Tempat yang dijimpit disebut leng pelengan. Tergantung kemampuan si pemakai. Bentuk perhiasan yang digunakan untuk rambut. Mata dihiasi dengan celak Arab. Berbeda dengan yang dikenakan rakyat kebanyakan. berbentuk seperti keratan tebu merupakan kelengkapan lain yang sering dipakai. kebanyakan berupan olesan alat kosmetik berupa garis membujur sekitar 1-2 cm dan berwarna merah. wanita bangsawan tidak menonjolkan kekayaannya melalui bentukbentuk perhiasan yang menyolok dan cenderung berat. Wajah dihiasi dengan jimpit di bagian kening kanan. Rambut wanita muda digelung malang. tetapi semua ukelnya diisi kembang tanjung dan kembang pandan. Dahulu leng pelengan dibuat dengan cubitan tangan. digunakan peniti dinar renteng. Demikian pula gelang tangan dan hiasan jari berupa cincin emas bermata berlian. Perhiasan lain yang umumnya dikenakan sebagai kelengkapan busana adalah anteng atau shentar penthol yang terbuat dari emas. dilengkapi dengan karang melok dan duwek remek. Giwang kerambu dan kalung rantai berliontin markis yang terbuat dari emas bertaburan berlian juga dikenakan. Sebuah tutup kepala. Berat kalung itu rata-rata 5-10 gram. Anteng atau anting ini dikenakan di telinga. yang terbuat dari handul besar atau kain tebal disebut leng o leng. Ujung bawah kebaya berbentuk bulat. terbuat dari emas dan bermotif polos. Sementara sepasang cincin dengan motif yang sama dengan gelang dikenakan sebagai hiasan jari. serta motif mon temon berupa untaian emas berbentuk biji mentimun. tatarias wajah wanita Madura pun cukup unik.panjang sekitaar 12 cm berukuran agak lebih besar dari harnal pada umumnya juga dipakai untuk menghiasi rambut. Untuk wanita yang sudah berumur dan berpangkat. semakin panjang untaiannya berarti semakin tinggi kemampuan ekonomi pemakainya. aapabila digunakan untuk berjalan dan melakukan aktivitas sehari-hari tentunya akan menguatkan otot-otot tertentu. Peniti cecek atau pako malang adalah hiasan kebaya berbentuk paku yang melintang bersusun tiga dan dihubungkan dengan rantai emas. Bentuknya seperti angka delapan melintang yang melambangkan tulisan Allah. Alas kakinya berupa selop tutup. Namun. Sepasang gelang emas di tangan kanan dan kiri dengan motif tebu saeres.

Tidak kurang dari 7 (tujuh) cara bersarung yang mereka kenal. Keunikan pakaian sehari-hari masyarakat Tengger adalah cara mereka bersarung (memakai sarung) yang berfungsi sebagai pengusir hawa dingin yang memang akrab dengan keseharian mereka. celana panjang warna gelap dan selempang . Anak-anak muda Tengger pun memiliki cara bersarung tersendiri. Di bagian dalam. pada saat santai dan sekedar berjalan-jalan. yang sering dijumpai pada saat masyarakat Tengger berkumpul di tempat . yang memiliki hubungan historis dengan kerajaan Majapahit. Cara ini disebut Sempetan.tempat upacara atau keramaian lainnya di malam hari adalah cara kekodong.Masyarakat Tengger merupakan penduduk ash yang mendiami daerah Lereng Pegunungan Tengger dan Semeru. masyarakat Tengger memiliki banyak upacara yang tidak saja berkaitan dengan siklus kehidupan.Budha yang terpadu dengan adat kepercayaan lokal yang oleh sebagian masyarakat disebut Agami Jawi dan dihayati oleh masyarakat Tengger. kemudian digantungkan di pundak. Biasanya mereka memakai baju longgar dan celana panjang di atas mata kaki. Banyak legenda dan mitologi yang dimiliki oleh masyarakat Tengger. baju warna putih. bagian atas dilipat untuk menutupi kedua bagian tangannya. seperti bekerja diladang atau pekerjaanpekerjaan lain yang memerlukan tenaga lebih besar. bahkan dengan masyarakat Jawa Timur pada umumnya. Dengan ikatan di bagian belakang kepala kain sarung dikerudungkan sampai menutupi seluruh bagian kepala. mereka menggunakan sarung dengan cara sesembong. membuat masyarakat Tengger memiliki ciri khas yang berbeda dengan masyarakat Jawa. di Jawa Timur. Busana yang digunakan seorang dukun pada saat memimpin upacara cukup unik. Saat bertamu. Kain sarung disampirkan di bagian atas punggung. Udeng dan sarung tidak tertinggal. Sedang untuk pekerjaan yang lebih berat. termasuk wisatawan.masing cara ini memiliki istilah dan kegunaan sendiri. Biasanya busana yang dikenakan oleh seorang dukun adalah ikat kepala atau udeng batik. jarik (kain) batik yang dibebatkan. yang tetap dilaksanakan dan mengundang perhatian masyarakat luar. yang dimaksudkan agar bebas bergerak pada waktu ketempat mengambil air atau kepasar. Untuk pakaian resmi pun mereka menggunakan beskap. mereka mengenakan sarung sebagaimana masyarakat umumnya. berwarna hitam. Malang. yaitu : Lumajang. Probolinggo. Kawasan ini meliputi 4 (empat) Wilayah Kabupaten. lengkap dengan peralatan upacara seperti prasen. Keluhuran budi. Masing. mereka menggunakan kain sarung yang dilipat dua. Dalam hal berbusana. Untuk bekerja. kemudian disampirkan ke pundak bagian belakang dan kedua ujungnya diikat jadi satu. sehingga yang terlihat hanya mata saja. Kaum prianya berpakaian sehari-hari sebagaimana masyarakat pertanian di Jawa. pakaian sehari-hari yang dikenakan masyarakat Tengger memang tidaklah jauh berbeda dari masyarakat Jawa. menciptakan suatu keunikan masyarakat yang religius. Setidaknya ada dua upacara besar. jas tutup warna gelap. yang juga merupakan pemimpin upacara adat di Tengger sangat dihormati oleh masyarakat. melainkan juga yang berhubungan dengan alam. Sarung dilingkarkan pada pinggang kemudian diikatkan seperti dodot (di dada) agar tidak mudah terlepas. Kain sarung cukup disampirkan pada pundak secara terlepas atau bergantung menyilang pada dada. mereka menggunakan sarung dengan cara kekemul. Upacara-upacara adat yang secara turun menurun telah dilaksanakan selama ratusan tahun serta kondisi alam dan geografis yang spesifik. Agar terlihat rapi pada saat bepergian mereka menggunakan cara sengkletan. kedamaian dan kesederhanaan tergambar sebagai etos budaya masyarakat Tengger. sebagaimana yang digunakan di Jawa. Kedua bagian lubangnya dimasukkan pada bagian ketiak dan disangga ke depan oleh kedua tangannya. kain wiron dan udeng. Kaum wanitanya menggunakan kebaya pendek dan kain panjang tanpa wiron atau sarung tutup kepala dan selendang batik lebar. dengan segala perlengkapannya. Kedudukan seorang dukun. dan Pasuruan. Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat yang sangat diyakini dan telah dilaksanakan secara turun menurun. Cara ini disebut kakawung. Cara lain yang sangat khas. yang disebut sampiran. genta dan talam. Pengaruh Hindu . Salah satunya yang sangat dikenal adalah mitologi Resi Ki Dadap Putih serta Rara Anteng dan Djaka Seger. yaitu yang disebut baju anta kusuma atau rasukan dukun. Cara bersarung seperti ini tidak boleh digunakan untuk bertamu dan melayat. yaitu ujung sarung dilipat sampai kegaris pinggang. yaitu upacara adat kasada dan karo. memakai kaos oblong. Sementara itu. Setelah disarungkan pada tubuh.

Selempang pun ada yang berwarna hitam. umumnya selempang ini dilepas dan disimpan kembali. Kaum wanitanya sering mengenakan kebaya. berupa kain pembalut tubuh. Bagi wanita Bali. sabuk. Namun. Namun ada pula dukun yang menggunakan jas tutup dan celana panjang warna putih. Kemben. Pada masa lalu. baik untuk pria maupun wanita. Busana Tradisional Bali Bali Traditional Dress Kemben merupakan jenis pakaian. Sementara anteng adalah selembar kain atau kancrik yang berfungsi sebagai penutup buah dada. masyarakat Bali mengenal dengan baik kebiasaan mengenakan baju. yang menjadi bentuk dan model dasar busana tradisional Bali. kuning. sehingga keindahan bentuknya tetap terjaga. maupun putih dan ke arah krem. yaitu tutup kepala wanita Bali yang juga berfungsi sebagai alas penjunjung beban . Kancrik adalah sehelai selendang yang berfungsi sebagai penutup tubuh atau saput. Selempang ini dianggap sebagai lambang keagungan dan tanda jabatan yang dipangkunya. saput dan kemben.panjang warna hitam batikan.selain kegunaannya sebagai alat untuk menahan rambut agar tetap rapi. saput dan anteng. Setelah ujub upacara. kemben bukanlah penutup dada. dari segala jenis usia. Meskipun demikian pada situasi-situasi tertentu mereka acap menggunakan kancrik atau tengkuluk sebagai anteng penutup dada. Kancrik juga digunakan sebagai tengkuluk. Kebiasaan bertelanjang dada pada masyarakat Bali adalah tradisi yang telah berlangsung turun temurun selama ratusan tahun. Untuk kebaya berlengan panjang hingga . termasuk kaum wanitanya adalah hal yang biasa. serta tengkuluk untuk kepala merupakan pakaian wanita Bali dalam keseharian. meskipun dimasa lalu perangkat busana Bali lazimnya tanpa baju. bepergian ataupun beraktivitas tanpa penutup dada pada masyarakat Bali. yang terkadang digunakan untuk menjunjung beban sekaligus melindungi wajah dari sinar matahari. maupun dari kasta manapun mereka berasal. Pakaian untuk pria secara lengkap adalah destar. tetapi lebih berfungsi sebagai penyangga payudara.

karena proses pengikatannya yang berjarak lebih longgar. Warna hitam dan putih saja yang tampak pada bagian geringsing ini. merah dan hitam. endek. geringsing dapat dibedakan menjadi geringsing selem (geringsing hitam) dan geringsing barak (geringsing merah). Kebaya ini umumnya terbuat dari bahan yang dibeli di pasar. Geringsing dengan ukuran yang paling besar disebut geringsingan perangdasa. Budaya memakai baju ini tumbuh dan hidup umumnya pada lingkungan masyarakat yang telah mendapat pengaruh dari luar. yaitu kuning muda. Umumnya kain geringsing memiliki tiga warna dasar. lubeng. proses pewarnaan kain geringsing sangat menentukan kualitas dan keindahannya. batik dan sutra adalah beberapa di antaranya. pemakaian baju dimulai oleh para ambtenaar. Kain geringsing merupakan salah satu yang terkenal karena keindahan dan keunikannya. Selain cara menenun dan proses pemintalan benangnya yang cukup memerlukan kesabaran dan ketelitian. sedangkan warna merah tidak terlihat. pemerintah Belanda lah yang memperkenalkannya. disebut potongan Bali. Menurut sejarah. tampak tiga warna dominan. yang memiliki ciri keistimewaan pada teknik tenun dobel ikatnya ini. anteng dan cawat adalah geringsing dengan ukuran paling kecil. meskipun ada juga yang khusus menenunnya. kain geringsing. yaitu putih susu atau kuning muda. Berdasarkan warna. Morif geringsing cukup banyak ragamnya. atau pegawai pada masa pemerintahaan Belanda. perada.pergelangan tangan. Beberapa motif geringsing adalah motif wayang. Pola ragam hiasnya pun tampak lebih lebar. Kain-kain yang digunakan sebagai bagian dari busana Bali terdiri dari beragam jenis. Adapun pada geringsingan barak atau geringsing merah. mereka sebut potongan Jawa. . Geringsing sabuk. Warna-warna ini juga muncul pada pinggiran kain. Demikian pula pada kaum pria. Geringsing berukuran menengah disebut geringsing wayang. sementara yang lebih kecil adalah geringsingan patlikur. Songket. juga dibedakan menurut ukurannya. Selain warna. hitam dan merah. Jas tutup dan kemeja biasa digunakan. Kain batik sebagai kemben dan destar adalah pelengkapnya. sementara yang berlengan longgar sampai di bawah siku. Pada geringsing selem warna merah tampak pada bagian ujung geringsing saja. Sebagian besar inspirasinya diperoleh dari dunia flora dan fauna. wayang putri.

saput atau kapuh dan kemben atau wastra. dan sebagainya. Perhiasan tingkat ini utama ini memang memperlihatkan suatu kekhususan. perbedaan terletak pada bahan yang digunakan. di balik kemben. masyarakat biasanya mengenakan kain tenunan Bali tradisional sebagai busana lengkap dari bahan songket dan peperadan. kain geringsing merupakan perwujudan dari kebudayaan Bali yang memiliki unsur keindahan seni yang tinggi dan terkesan mewah. dari bahu ke bawah. tidak digunakan lagi bunga-bunga hidup. seperti India (patola). cemplong. di ujungnya diikatkan secarik kain panjang sejenis selendang. patlikur. cempaka kuning dan mawar. Secara keseluruhan. penggunaan gelung kuncir ini berfungsi sebagai penambahan hiasan. yaitu sanggul tambahan berbentuk bulat melingkar dan terbuat dari ijuk menjadi salah satu pembeda. seperti kenanga. Untuk tata rias wajah tubuh dan kaki. Mesir yang berasimilasi dengan pengaruh Hindu yang kuat. Gelung biasanya dihias dengan bunga-bungaan. yaitu nista. Gelung kucir. Umpal geringsing adalah yang paling dikagumi. Berdasarkan corak busana yang dipakai. Untuk menahan kapuh. Sementara dalam tata busana. seluruh busana dibuat dari bahan perada. cempaka putih. . melainkan bunga-bunga yang terbuat dari emas. dan utama atau yang juga dikenal dengan payes agung. Dalam upacara perkawinan. Pada saat melakukan suatu upacara seperti potong gigi atau pernikahan. Wanitanya memakai kemben songket. dikenakan selembar penuh tapih atau sinjang dari sutra berornamen penuh peperadaan mengurai ke luar melewati kemben. Bagi kaum pria.cecepakan. Untuk tingkat utama. Sementara itu. masyarakat Bali mengenal adanya tiga jenis busana dan tata rias pengantin. dapat diketahui status sosial dan ekonomi seseorang. tidak ada perbedaan yang menyolok. namun tetap berpadu dengan nilai-nilai budaya Indonesia asli. Dalam mapusungan (pembuatan sanggul). busana tersebut terdiri dari udeng atau destar sebagai ikat kepala. untuk hiasan kepala atau petitis. kebo. yang disebut umpal. madya. Motif ragam hias kain geringsing dari Tenganan Pageringsingan menampakan pengaruh unsur-unsur ragam hias dari kebudayaan asing. sabuk prada yang membelit dari pinggul sampai dada dan selendang songket untuk menutup tubuh. Cina. Perhiasan yang dikenalkan oleh sepasang pengantin payes agunglah yang tampak jelas membedakan dengan tata rias dan busana tingkat nista maupun madya.

untuk koleksi cendera mata. kecuali dibuat sebagai hiasan atau perlengkapan kesenian clan. Namun kebudayaan kelompok etnik lain yang datang bergelombang menciptakan akulturasi yang setidaknya juga berimbas pada perkembangan tata busana masyarakat Dayak Taman. Pakaian tersebut terbuat dari kulit kayu yang diproses hingga menjadi lunak seperti kain. yang ditenun adalah serat benang yang dihasilkan dari kulit pohon tengang. gelang kana untuk lengan atas dan badong untuk leher semuanya terbuat dari emas demikian pula sepasang gelang naga satru. bebekeng atau pending. Masyarakat Dayak Taman pun mengenal teknik menenun untuk membuat busana. Dulu. Bahkan hingga kini masyarakat Dayak Taman dikenal sebagai penenun yang terampil. baba = laki-laki) untuk laki-laki. Warna dasar serat . serta cincin. celana. Kulit kayu yang bisa difungsikan sebagai kain untuk membuat cawat. Maka jenis busana king baba clan king bibinge kini sudah hampir tak tampak dipergunakan lagi. clan selimut itu disebut kapua atau ampuro. baju.Pelengkap petitis yaitu tajug dan perhiasan lain seperti subeng cerorot. tak jarang. clan king bibinge untuk perempuan (bibinge = wanita). Penulis Endang Mariani Busana Tradisional Dayak Taman Pada awalnya orang Dayak Taman mulai mengenal pakaian yang disebut king baba (king = cawat.

Sedangkan para lelaki memakai celana panjang sebatas lutut. Sebagai pelengkap busana. sulit didapatkan sehingga sebagai gantinya dipakai kancing kecil berwarna putih mengkilap. Kini telah sangat jarang dijumpai tenunan yang dibuat dari serat tengang sehingga busana adat masyarakat Taman pun menggunakan tenunan benang kapas. juga diberi hiasan sejenis dengan hiasan bajunya. gelanggelang. dibuat dari benang kapas yang diperoleh dari luar daerah. putih. juga dari kain yang sama. topi atau kopiah. Kedua macam busana itu disebut baju burai king burai clan baju manik king manik. Dibentuk seperti kebaya atau rompi panjang mirip baju tanpa lengan. Baju burai king burai terbuat dari bahan beludru berwarna hitam.yang kuat clan liat ini coklat sangat muda. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik. Baju burai king burai dipakai oleh para pendamping pengantin sedangkan kedua mempelai mengenakan baju manik king manik. clan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi daripada baju burai king burai. dari bahan yang sama dengan baju. pada masyarakat Dayak Taman dikenal pula berbagai ragam perhiasan berupa ikat kepala. Hiasan baju manik king manik adalah rangkaian manik-manik halus yang menutup hampir seluruh bidang baju sehingga kain dasarnya nyaris tak tampak lagi. kaum perempuan mengenakan semacam rok yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. jelas. clan sebagainya. . Pada seputar ujung bawah baju atau rok digantungkan untaian uang logam perak sehingga baju manik king manik lebih berat ketimbang baju burai king burai. merah muda. kulit kerang atau keong kecil. Hiasan ini diterapkan pada seluruh permukaan kain namun masih menyisakan bidang polos sehingga masih tampak kain dasarnya. jika mempelai mengenakan baju manik king manik sedangkan para pendamping pengantin "hanya" memakai baju burai king burai. yang konon harus didatangkan dari Kalimantan Selatan itu. Untuk memperoleh warna hitam atau merah hati. Baju manik king manik bisa dikatakan sebagai pengembangan dari baju burai king burai. dan sebagainya. dan memakai semacam dodot dari kain yang telah diberi hiasan. Sebagai busana bawahnya. ketelitian. subang penghias telinga. dibutuhkan kesabaran. Kini. serat tengang itu dicelup dengan getah pohon yang dilarutkan dalam air. tak mengherankan. kalung. Maka. Busana Pengantin Ada dua jenis busana adat tradisional yang biasa dipakai oleh pengantin dalam masyarakat Dayak Taman. Sebagai hiasannya dijahitkan kulit kerang kecil berwarna putih disusun membentuk motif daun dan bunga. warna yang dominan pada tenunan tradisional Dayak Taman. Tenunan yang beredar sekarang dengan warna-warna kuning.

Untuk lelaki dikenal semacam topi yang bernama kambu manik dan kambu pirak. Pada seputar ujung rok dan baju . Dibuat dari manikmanik yang diuntai oleh tali akar tengang. Perak dilebur hingga cair kemudian dicetak menjadi semacam manik-manik. sejenis burung merak yang hidup di haerah hulu Kapuas. kaum wanita clan para pria memakai poosong. perak. atau semacam rumput. Lalu dibekukan dan dikalungkan pada leher. Kalung ini dipakai saat upacara adat. hitam atau kuning. Pada tengkulas atau indulu manik ditambahkan bulu burung ruai.Penghias kepala clan rambut kaum wanita disebut tengkulas yang dibuat dari kain bermotif kembang-kembang. Kemudian diukir dan dilapisi plat emas. Dikenal. Sasawak lampit karumut dipakai oleh kaum perempuan. Penghias telinga berupa subang disebut poosong. Ada juga yang dinamakan kalong manik lawang. tapi bisa juga hanya takikan yang tidak tembus . Jika tengkulas itu sepenuhnya dibuat dari anyaman untaian manik-manik disebut indulu manik. Kalung ini dibuat dari logam perak yang dicairkan kemudian dicetak pada solongsong bambu berdiameter kecil. ikat pinggang itu disebut sasawak tali murung. menggelayut. dengan ketebalan. tapi kini hampir tak ada lelaki. sehingga nampak sangat unik dan khas. Lalu diimbuhkan untaian manik sepenuh bidang kambu. kalung yang biasa dipakai perempuan dan lelaki. Bulu burung ruai yang disematkan pada tengkulas. maupun kambu. Jika tali penguntainya juga dibuat dari kawat logam perak. Cuping telinga yang dipasangi poosong menjadi lebar. juga sangat sedikit para perempuan. clan lebih disukai yang berwarna mencolok: merah.6 cm. Ada beberapa macam kalung.menjadi bentuk kerawang. Poosong pernah dianggap sebagai identitas wanita dayak Taman. yang memakainya. yang dilapisi dengan emas dinamai poosong emas. indulu manik. antara lain. Rotan yang sudah dibelah dimasukkan pada lobang "manik-manik perak" itu. Poosong yang tidak berlapis logam disebut poosong surat. penghias leher. 1 cm. Poosong dibuat dari kayu yang dibentuk bulat berdiameter 3 . atau batik. Bahan clan hiasannya sama dengan baju. atau dari rotan yang diserit tipis clan pipih. pada masyarakat Dayak Taman. perunggu/tembaga. disebut tajuk bulu aruae. Sedangkan kambu pirak dibuat dari lempengan tipis logam perak yang dibentuk menjadi topi kemudian ditatahkan . Kambu manik dibuat dari jalinan serat sejenis pohon pandan. Bagian depan rok bawah baju manik king manik yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. garis-garis diagonal dan horisontal berbentuk wajik. Misalnya saja kalong manik pirak. yang dianyam menjadi bentuk topi. tapi umumnya hanya dipakai perempuan. lebih-kurang. atau kaca. Ikat pinggang untuk mempercantik penampilan dinamai sasawak. Dibuat dari logam perak clan rotan. dua macam sasawak: sasawak lampit karumut dan sasawak tali murung. Dulu.motif-motif bunga dan dedaunan pada permukaan luar kambu. Sebagai pemanis disematkan bulu burung ruai sekeliling kambu pirak itu.

Baju berlubang leher bentuk bulat atau segitiga ini tidak berkerah clan polos tidak bersaku. dewasa. clan orang tua. yang paling popular sehingga hampir setiap keluarga Dayak Taman memilikinya. clan baju kuurung langke tangan ialah baju kuurung lengan panjang. Busana Adat Lainnya Meskipun kini sudah jarang ditemukan. Sebagai kancing untuk mempertemukan kedua sisi baju dibuat dari tali kain berwarna. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik jelas dibutuhkan kesabaran. Gelang itu disebut tangkalae atau sumpae. . Gelang-gelang ini biasanya dipakai saat upacara adat keagamaan. baju kalaawat ini dipakai oleh setiap wanita remaja. Kain berupa pita berwarna lain daripada warna bajunya dijahitkan pada bagian tepi baju. baju kuurung dokot tangan yakni baju kuurung lengan pendek. baju kuurung hanya dipakai oleh para balien (dukun) dengan memilih warna hitam clan pada bagian-bagian pinggir bajunya diberi les atau pita kain warna merah yang lebarnya sekitar 3 cm. dan wanita lanjut usia. masyarakat Dayak Taman juga menciptakan beberapa jenis busana untuk pelbagai keperluan acara adat. Terutama baju burai king burai. Bentuknya sama dengan bulang kuurung hanya bagian depannya terbelah seperti kemeja pria biasa. Kaum lelaki memakai satu hingga tiga buah gelang pada bagian lengan di atas siku.digantungkan untaian logam perak. Yang dipakai oleh para balien wanita disebut bulang kalaawat. clan berlengan pendek. Sekarang hanya dipakai oleh dukun-dukun wanita. clan yang dari jalinan tali ijuk dikenal sebagai tangkalae ijuk. bila terbuat dari untaian manik disebut tangkalae manik. Yang dibuat dari kayu tapang dinamai tangkalae tapang. dan galang gading yang dibuat dari gading gajah. ketelitian dan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi dari baju burai king burai. Dari berbagai ragam busana tradisional yang dimiliki masyarakat Dayak Taman. Ketika masyarakat dayak Taman baru mengenal baju dari kulit kayu modelnya berbentuk baju kuurung. Model baju kuurung sesungguhnya sudah tua. seperti galang bontok yang dibuat dari perak. agaknya. galang manik yaitu untaian manik-manik pada serat daun nenas. Yada pita itu dipasang kancing-kancing yang hanya berfungsi sebagai hiasan. kiri clan kanan. galang pasan berupa anyaman serat tumbuhan. Hiasan manik-manik yang mengisi seluruh bidang membuat baju manik king manik lebih berat daripada baju burai king burai. baju burai king burai clan baju manik king manik. Ada beberapa macam model: baju kuurung sapek tangan yaitu baju kuurung tidak berlengan. Sekarang. Dahulu. Ada beberapa macam gelang-gelang yang biasanya dipakai pada upacara adat. Di antaranya adalah bulang (baju) kuurung. yang kerap digunakan pada peristiwa-peristiwa penting seperti perhelatan adat atau perkawinan.

Laki-laki tua Banjar sehari-hari mengenakan baju palimbangan. Sebagai penutup kepala digunakan kopiah (kupiah) dari kain beludru. sejenis sarung terbuat dari katun atau sutra bermotif garis-garis melintang dan membujur. salawar kiyama dan sandal silang. Alas kakinya ada berbagai jenis. Pada saat-saat tertentu kelengkapan pakaian ini ditambah dengan tapih (kain sarung) yang disampirkan di bahu. dominan warna kuning. Bagi laki-laki dewasa yang ingin bepergian mengenakan kopiah hitam. yaitu sandal kalipik. Baju kiyama berbentuk baju lengan panjang dengan kerah berlipat . Bagian dada terbelah berkancing tiga. Sedangkan dalam acara-acara resmi seperti menghadiri upacara adat salawar diganti dengan tapih. Warna yang digunakan oleh remaja lebih mencolok. Pasangannya digunakan tapih. baju kiyama. sandal tali silang. yang lazim disebut tapih kaling. kain satin (kupiah Padang) atau kupiah jangang. tanpa kantong.Busana Tradisional Masyarakat Banjar Penulis Dewi Indrawati Busana tradisional yang biasa dipakai sehari-hari oleh remaja dan orang dewasa kaum lelaki Banjar adalah salawar panjang (celana panjang) yang menutup kaki sampai ke mata kaki. yaitu kemeja berlengan panjang dengan leher baju bulat tanpa kerah dilengkapi dengan kancing lima dan berkantong tiga buah. Sebagai pasangannya dikenakan baju taluk balanga (kemeja lengan panjang) dengan leher baju bulat dan sedikit mencuat ke atas. dan selop.

Baju ini berkancing lima biji. Sanggul ini berbentuk bundar seperti angka delapan. hanya tanpa saku. ekstrimin. Menjadi aturan. Baju ini dipadukan dengan celana panjang (salawar panjang). dua di bagian bawah kiri dan kanan. lurus tanpa kantong. Bagian tumpal sabuk yang bermotif pucuk rebung harus diletakkan di belakang. Tutup kepala ini terbuat dari bahan beludru. yaitu lam jalalah. Busana Upacara Adat Dalam menghadiri upacara resmi para lelaki remaja sampai dewasa mengenakan baju jas tutup. dan krem. satu di dada kiri. kebaya biasa yang diberi variasi kain yang memanjang di bagian depan yang dinamakan sawiwi atau sujab selebar 10 cm. belini dan friend ship. kalau mengenakan jas tutup harus bersabuk di pinggang. Pada waktu bepergian mereka mengenakan baju kurung basisit. kain Pagatan. Untuk wanita dewasa dikenakan baju kubaya basawiwi (basujab). Warna pakaian ini biasanya dipilih yang muda. . kuning muda. Bentuknya sama dengan pantalon biasa. yang mengacu pada lam alif dalam AlQur`an. ujungnya diberi hiasan tiga biji kancing . yaitu sabuk air guci (payet) dan sabuk kain tenun Pegatan dengan berbagai pilihan warna. dan jenis lain yang agak keras. di depan dada dan kiri-kanan bawah dengan model masuk (bukan kantong tempel). Terakhir dikenakan selop pada kedua kakinya dari bahan beludru dan kulit. Alas kakinya adalah selop dari beludru dan berkerudung kain sutra atau sasirangan. berbentuk segi tiga. Motif ini melambangkan sikap waspada. Lengan baju sampai pergelangan tangan. Warna laung tajak siak harus sama dengan warna sabuk yang dikenakan. Yang kerap dipakai para remaja dan orang tua kaum perempuan Banjar adalah baju kubaya (kebaya) berpasangan dengan tapih batik bakarung (kain batik).neyerupai jas. Menjadi kebiasaan di daerah ini setiap perempuan menata rambutnya dengan cara disanggul (galung). Pasangannya disebut celana kiyama memiliki bentuk sederhana. tajam pemandangan dan kekuasaan yang tinggi. seperi biru muda. Ada dua cara menata rambut yang disebut galung malang babuntut dan galung malang. Mengikatnya harus mengikuti pola yang berlaku. Tetapi sekarang banyak dipakai kain wool. Fungsinya untuk menolak bahaya atau maksud-maksud jahat lainnya. Kantongnya ada tiga buah. Ada dua pilihan sabuk. Sebagai tutup kepala dikenakan laung tajak siak. biasanya dipilih yang kontras dengan warna baju. Lehernya bundar dengan kerah kecil agak tegak. dari bahan kain poplin babalur (bergaris-garis vertikal) atau tetoron. Dilengkapi kantong tiga buah. Buntut pada sanggul menunjukkan pemakainya masih gadis. Ujung tangan dan kantong diberi piIit (les) dengan warna berbeda dari bahan baju. Bahan baju dari kain lena. dan jenis lain yang agak tebal. Untuk mengikat digunakan tali yang dimasukkan pada lubang (uluh-uluh). baju yang dilengkapi dengan tali pengikat di belakang leher dan kedua ujung lengan.

Mempelai laki-laki mengenakan kemeja putih lengan pendek. Baju ini dikombinasi dengan tapih Lasem. Bahan baju dapat dibuat dari kain sutra atau sasirangan. Galang (gelang) karuncung melingkar di lengan. Sementara kalung samban rangkap tiga dan kalung marjan menghiasi bagian leher. Kalung panjang bogam dan liris-liris bunga.Bagi kaum perempuan dalam upacara resmi dikenakan baju kurung basisit lengkap dengan tapihnya. sedangkan jari manisnya berhias cincin litring. Dikenakan sarung dan penutup pinggang (tali gapu) berhiaskan air guci. Mempelai wanita mengenakan baju poko berlengan pendek ditutupi dengan kida-kida. dan air guci. Kemudian keris yang dihiasi bogam bermotif bunga merah diselipkan di pinggang. Disebut baju kurung basisit karena pada bagian leher dan tangan dilengkapi tali pengikat (tali penyisit). kalung bermotif bunga-bungaan. Kepalanya dibalut destar model siak melayu. yaitu mantel sempit berhias yang berfungsi untuk menutup dada. Pantalon terbuat dari bahan dan warna yang sama dengan jas. Aksesori penghias rambut terdiri dari kembang goyang (kambang goyang) dibedakan antara yang berapun (berumpun) dan tunggal berbentuk melati sebagai lambang kesucian. Kaki mengenakan selop dari beludru. Sebagai hiasan digunakan sulaman benang emas dan air guci dengan motif pucuk rebung. Kemudian dikenakan jas terbuka tanpa kancing. Kepalanya ditutup dengan kakamban/serudung (kerudung) berbentuk segi empat. dengan segitiga lebih tinggi. Hiasan ini ditancapkan pada sanggul. . Pakaian Pengantin Baamar Galung Pancaran Matahari merupakan pakaian pengantin yang paling digemari oleh semua golongan masyarakat Banjar. Perhiasannya berupa samban. Pada telinga dipasang anting-anting beruntai. Sabuk berhias air guci dengan motif lelipan dipakai sebagai simbol kekuasaan dan kemuliaan. Pada bagian dada dihias renda menutupi semua kancing. Masyarakat Hindu dan Jawa banyak mempengaruhi pemakaian busana ini. Bagian depan dihias dengan berbagai hiasan diikat di bagian belakang dengan buhul lam jalalah. Pemakaiannya rnulai dikembangkan dalam masyarakat Banjar sejak abad XIX. Pagatan. dari kain sutra amban (sutra tipis) atau kain sasirangan yang dihiasi motif gigi haruan pada kedua sisinya. Sebagai pengikat digunakan tali wenang berupa kain berwarna.

untaian bunga depan dan belakang. . terdiri dari daun sirih. Ornamen lain untuk rambut antara lain baquet dengan pita rambut. Kelengkapan lainnya meliputi kerabu menganyun. Cincin dari bunga mayang. yang dipenuhi oleh rangkaian bunga (palimbaian). Sepasang pengantin ini dipersandingkan di ba-tatai. bunga jepun berbentuk jepitan. bunga melati yang diatur berbaris. Kakinya beralaskan selop beludru bersulam benang emas. serta bangle dipakai di lengan atas dan pergelangan kaki terbuat dari karet berbentuk lekuk akar atau irisan buncis. sabuk pinggang warna emas.Rambutnya disanggul model amar galung bertahtakan mahkota dihias dengan kembang goyang. bunga mawar merah dan bunga melati. untaian metalik. kalung. dan untaian bunga warna keemasan.