http://www.scribd.

com/doc/49862906/DEMENSIA-PASCA-STROKE

Demensia adalah sindrom gangguan daya ingat disertai dua atau lebih domain kognitif lainnya (atensi, fungsi bahasa, fungsi visuospasial, fungsi eksekutif, emosi) yang sudah mengganggu aktivitas kehidupan sehari hari dan tidak disebabkan oleh gangguan pada fisik. Demensia terbagi menjadi dua yakni Demensia Alzheimer dan Demensia Vaskuler. Demensia Alzheimer merupakan kasus demensia terbanyak di negara maju Amerika dan Eropa sekitar 50-70%. Demensia vaskuler penyebab kedua sekitar 15-20% sisanya 15- 35% disebabkan demensia lainnya. Di Jepang dan Cina demensia vaskuler 50 – 60 % dan 30 – 40 % demensia akibat penyakit Alzheimer. Demensia Alzheimer berlangsung progresif, gangguan yang tidak dapat membaik yang menyerang otak dan akibatnya kehilangan daya ingat, kebingungan, gangguan penilaian dan perubahan kepribadian. Penyakit ini adalah penyebab yang paling umum dari gangguan intelektual yang berat pada orang lanjut usia dan kenyataannya merupakan suatu masalah dalam perawatan orang usia lanjut di rumah. Harus dapat dibedakan apakah penurunan daya ingat normal sesuai usia (’age associated memory impairment’ disingkat AAMI) atau menderita gangguan kognitif ringan (’Mild Cognitive Impairment’ disingkat MCI), yang mana pada hasil penelitian, 20 – 60 % MCI akan ber lanjut setelah 3-4 tahun menjadi demensia. Gangguan kognitif ringan merupakan kontinuum dari demensia Alzheimer. Kriteria MCI antara lain adanya keluhan gangguan memori, aktifitas hidup sehari-hari normal, fungsi kognitif umum normal, tidak ada demensia serta penurunan fungsi memori tidak normal sesuai usia dan pendidikan. Adapun gejala dari Demensia Alzheimer adalah kehilangan daya ingat secara perlahan-lahan dan progresif, kesulitan dalam mengikuti perintah dan melakukan kegiatan sehari-hari, gangguan penilaian, penalaran, konsentrasi dan orientasi, kebingungan dan kegelisahan, perubahan kepribadian an kehilangan kemampuan untuk mengurus diri sendiri. Faktor resiko Demensia Alzheimer (DA) terjadi pada usia lanjut, wanita, trauma kapitis berat, pendidikan rendah dan menyangkut faktor genetik kasusnya 1- 5%. Sementara, pembahasan mengenai Demensia Vaskuler disampaikan Dr. Hartono Prabowo, Sp.S dari RS Honoris dan RS Usada Insani, Tangerang serta Staf Pengajar FK UPH dan FK Untar dengan judul malakah "Management of Vascular Dementia." Menurut pria kelahiran Pekalongan, Agutus 1957 ini, demensia vaskuler diartikan sebagai demensia yang disebabkan oleh gangguan serebrovaskuler (iskemik / perdarahan), anoksik atau hipoksik otak dengan penurunan kognitip ringan sampai berat dan meliputi semua domain, tidak harus gangguan gangguan memori yang menonjol. Secara klinis, kemungkinan diagnosa demensia vaskuler (probable, possible atau definit

demensia vaskuler subkortikal. Secara klinis demensia vaskuler dibedakan dalam demensia vaskuler pasca stroke (infark / perdarahan).2. Jellinger. disorientasi). Erkinjutti (2004) melaporkan kejadian demensia vaskuler pada populasi usia lebih dari 65 tahun sekitar 1.7% dalam kelompok usia 65 – 69 tahun hingga mencapai 8. Onset gejala demensia vaskuler dapat bersifat gradual ataupun dramatik yang secara garis besar dapat berupa gangguan kognitip (gangguan konsentrasi. Ischemic Hachinski Score (IHS) yang dapat membedakan demensia vaskuler dengan demensia Alzheimer. bahkan diantara keduanya sering terjadi bersamaan 6.8. apraksia. Stroke kemungkinan secara langsung menyebabkan demensia atau stroke merupakan factor presipitasi proses degeneratip pada demensia seperti pada demensia Alzheimer. Erkinjutti (2005) melaporkan hasil penelitian patologi melalui proses otopsi. tergantung pada lokasi lesi kelainan vaskuler pada otak. Activity Daily Living (ADL) dan Instrumental Activity Daily Living (IADL). klinis adanya deficit neurologis dan diperkuat dengan pencitraan otak). Demensia vaskuler dan demensia Alzheimer merupakan penyebab utama demensia. Adanya riwayat CVD (stroke) dan adanya kelainan neurologis yang diperkuat adanya kelainan pada pencitraan otak (Brain CT-scan / MRI) memastikan adanya demensia vaskuler. pada 50% penderita demensia Alzheimer terlihat adanya CVD dan pada 80% penderita demensia vaskuler didapatkan kelainan sesuai dengan Alzheimer. Disability Assessment fo Dementia (DAD). dan demensia vaskuler tipe campuran .1% pada kelompok usia diatas 90 tahun. dan gangguan fisik (paresis. Diagnosa demensia vaskuler ditegakkan dengan sarana yang tidak berbeda dengan sarana diagnosa demensia Alzheimer 1. dengan angka kejadian demensia vaskuler tidak berbeda jauh dengan angka kejadian demensia Alzheimer. agnosia).demensia vaskuler) ditegakkan apabila didapatkan penderita dengan demensia yang berkaitan dengan latar belakang CVD (riwayat CVD.2% dan pada kelompok usia diatas 65 tahun menunjukkan peningkatan angka kejadian dari 0.dkk (2002) mengutarakan bahwa angka kejadian demensia vaskuler sekitar 47% dari populasi demensia secara keseluruhan (demensia Alzheimer 48% dan demensia oleh sebab lain 5%). gangguan komunikasi (afasia. gangguan kontrol kandung kencing) dan lain-lain. Demensia vaskuler merupakan jenis demensia terbanyak ke 2 setelah demensia Alzheimer. memori. Oleh karenanya demensia vaskuler sering disebut sebagai demensa pasca stroke atau demensia multi-infark. CDT (Clock Drawing Test). gangguan kemampuan eksekusi atau pengambilan keputusan.7. pemeriksaan neurologis) dilakukan pemeriksaan MMSE (sensitivity 71% to 92% dan specificity 56% to 96%7). Gangguan memori tidak selalu menonjol dan terjadi secara bertahap dan relatip dalam masa yang lebih singkat dibandingkan dengan proses terjadinya demensia Alzheimer.2 – 4. Sebagai test penyaring (setelah pemeriksaan fisik umum. Gejala klinis demensia vaskuler bervariasi. dan jika diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan neuropsikiatri. Angka kejadian demensia vaskuler ini kemungkinan akan bertambah seiring dengan meningkatnya kejadian CVD. Sekitar 70% penderita stroke mengalami gangguan kognitif (ringan – berat) dan sekitar 2530% diantaranya berkembang menjadi demensia.

Terhadap penderita dapat dibuat program agar penderita menjalani perilaku hidup sehat. oleh karena pengasuhlah yang sangat berperan dalam keberhasilan pelaksanaan program-program yang direncanakan baik terhadap penderita maupun lingkungan. yang dikaitkan dengan penurunan neurotransmitter kolinergik (Acethylcoline). . terapi rehabilitasi termasuk stimulasi kognitip. olah raga. Galantamine) dapat digunakan dalam penatalaksanaan penderita demensia vaskuler dan memberikan hasil yang cukup memuaskan. Pengarahan kepada pengasuh (caregiver) adalah suatu hal yang tidak dapat diabaikan. konseling. baik demensia Alzheimer. hingga kini belum ada preparat yang diakui Badan Pengawasan Obat AS ( FDA ) sebagai bahan untuk pengobatan demensia vaskuler. terapi musik serta terapi wicara dan okupasi. demensia vaskuler ataupun demensia tipe lain. penyediaan fasilitas perawatan dan lain-lain. keluarga maupun lingkungannya. Guna memaksimalkan fungsi kognisi yang masih ada. baik program yang ditujukan kepada penderita. Rivastigmin. Terhadap lingkungan antara lain dengan menyediakan fasilitas bagi penderita untuk melakukan akitivitas yang dibutuhkan. edukasi.(Alzheimer dan vaskuler). Meskipun demikian. Dengan dasar hal tersebut maka beberapa preparat Acethylcoline Esterase Inhibitor (Donepezil. terapi non-farmakologik harus diprogramkan. tata ruang yang memadai. Peran keluarga dan caregiver sangat menentukan keberhasilan program penanganan penderita demensia. disesuaikan dengan kebutuhan yang ada. maupun pengasuh (caregiver).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful