P. 1
Mengintegrasikan Internet Dan Media Sosial Sebagai Media Dakwah

Mengintegrasikan Internet Dan Media Sosial Sebagai Media Dakwah

|Views: 20|Likes:
Published by Rizky M Faisal

More info:

Published by: Rizky M Faisal on Feb 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/04/2013

pdf

text

original

Yesterday Mengintegrasikan Internet dan Media Sosial sebagai Media Dakwah

Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si Internet di abad 21 ini telah makin mutakhir. Setiap detik, laku, langkah dan aktivitas manusia mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi tak lepas dari internet. Hiruk-pikuk pasar gadget tak kalah ramai dengan pasar sembako, yang merupakan penyedia bahan kebutuhan pokok masyarakat. Ekstrimnya, seseorang ibarat lebih rela lapar daripada tidak curhat atau cuap-cuap di internet, seperti meng-update status atau berkicau di media sosial. Potensi Internet, Dahsyatnya Media Sosial Mari kita perhatikan data berikut ini (sumber: Bestedsides.com, Internetworldstats.com, Thesocialskinny.com, APJII):

Perkembangan Pengakses di dunia Pengakses di Indonesia Lama akses Jumlah situs web Kecepatan Membuka hlm situs web Media sosial Webrowser

2002 569 juta (9,1%) 4,5 juta (4,24%) 46 menit per hari 3 juta 12,5 menit unduh 1 lagu dengan modem 56K 16 detik Friendster (3 juta) Internet explorer lainnya 5% 95%,

2012 2,27 milyar (33%) 55 juta (22,1%) 4 jam per hari 555 juta 18 detik 6 detik Facebook (900 jt), Twitter (500 jt), Linkedln (135 jt) Chrome 43,6%, Firefox 32,7%, internet exlplorer 16%, safari 4%, opera 2%

Kenaikan 399% 1.222% 522% 18.500% 4.167% 267% 51.167% -

Data tersebut bicara tentang perkembangan satu dasa warsa internet. Persentase kontribusi internet dalam kehidupan manusia telah meningkat drastis. Hal ini menunjukkan makin tingginya intensitas akses pada dunia informasi digital. Dan dengannya, bisa dinilai bahwa internet berpotensi sebagai media massa dan jaringan opini yang luar biasa efek penyebarannya. Kuatnya pengaruh jejaring sosial dalam menyampaikan pesan dalam skala yang luas mendapat pengakuan dari pimpinan tertinggi umat Katolik sedunia, Paus Benediktus XVI. Buktinya, Paus Benediktus dikabarkan membuka akun Twitter untuk menyebarkan pesan-pesan dan pertanyaan yang ditujukan kepada Gereja Katolik Roma (BBC, 04/12/2012). “Paus akan menjawab pertanyaan itu dalam bahasa Inggris serta tujuh bahasa lain termasuk Arab, Prancis, dan Spanyol,” jelas Greg Burke, salah seorang pejabat Vatikan. Pejabat Vatikan mengatakan Paus menggunakan nama @pontifex di akun Twitter. Sebagian besar pesan Paus akan berisi inti misa mingguan dan pesan-pesan khusus menyangkut peristiwa besar dunia, termasuk bencana alam. Jaringan informasi digital ini ditargetkan untuk berkomunikasi dengan umat, terutama anak muda. Sarana lain yang juga digunakan adalah SMS dan YouTube. Akun Twitter Vatikan sendiri diikuti oleh sekitar 110.000 orang (BBC, 04/12/2012). Maka, tak berlebihan jika Paus menyebut media-media sosial sebagai “portal kebenaran dan keyakinan” serta alat yang praktis untuk menyebarkan ajaran agama (VOA, 25/01/2013). Bahkan akhir tahun 2012 lalu, Paus memberkati lebih dari satu juta pengikutnya di Twitter dalam pesan pertama dari akun barunya di jaringan sosial itu. Dalam waktu satu jam setelah mengirim pesan Twitter itu, Paus mengirim dan menjawab sebuah pertanyaan yang dikirim kepadanya melalui Twitter (VOA, 12/12/2012). Bayangkan jika seorang Khalifah kaum muslimin menyebarkan dakwah Islam ke seluruh penjuru negeri muslim sebagaimana yang dilakukan Paus, maka bukankah integrasi terhadap dakwah ini akan sangat mudah meluas dan cepat tepat sasaran? Jika Paus saja meyakini efek besar penyebaran opini via media sosial, mengapa kaum muslimin belum?
istanaparamufakkirsiyasi.blogspot.com/2013/02/mengintegrasikan-internet-dan-media.html 1/4

Mari tengok lebih dalam, siapa yang tak kenal Ustadz Felix Siauw? Tiga tahun belakangan, ia dikenal sebagai aktivis dakwah di media sosial. Kicauannya di Twitter begitu populer, padat, mantap dan berpengaruh. Tercatat hingga semalam (tanggal 17 Februari 2013 pukul 20.23 wib), jumlah follower-nya mencapai 214.229 orang. Angka tersebut mengalami peningkatan 19 orang hanya dalam waktu kurang dari 30 menit. Karena jumlah follower-nya pada pukul 19.54 wib baru mencapai 214.210 orang. Bayangkan! Fantastis bukan? Internet dan Islam Dalam Islam, internet terkategori dalam kelompok madaniyah, yaitu bentuk-bentuk fisik dari benda-benda yang terindera yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan. Madaniyah ini bisa bersifat khusus, dan juga bisa bersifat umum. Madaniyah khusus adalah madaniyah yang wujudnya dipengaruhi atau mengandung pemahaman tertentu tentang kehidupan (peradaban), seperti patung atau bangunan. Madaniyah umum adalah madaniyah yang menjadi produk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Kitab Nizhomul Islam). Berdasarkan faktanya, internet merupakan hasil perkembangan teknologi, sehingga termasuk ke dalam madaniyah umum. Oleh karena itu, internet boleh (mubah) digunakan seluas-luasnya oleh manusia, siapapun dia. Akan tetapi, sebagai manusia yang punya nafsu, seringkali aktivitas OL (online) menjadi godaan yang justru melalaikan. Tentu sangat disayangkan jika konten yang diakses merupakan sesuatu yang tidak ada kaitan atau tidak dalam rangka mendukung perkara yang fardhu (wajib). Mari kita ingat bahwa bagi kaum muslimin, terdapat kaidah syara’ terkait dengan hukum benda yang menyebutkan bahwa “Setiap benda adalah mubah sampai ada dalil yang mengharomkannya”. Juga kaidah syara’ bahwa “Hukum asal perbuatan manusia adalah terikat dengan hukum syara” (Kitab Ushul Fiqih). Sesuatu yang bersifat mubah (boleh), jika ditinggalkan maka tidak menyebabkan dosa sebagaimana sholat fardhu ataupun aktivitas dakwah. Definisi mubah adalah apa yang dituju oleh dalil wahyu terhadap seruan Allah Swt yang di dalamnya terdapat pilihan, antara melakukan atau meninggalkannya (Kitab Nizhomul Islam). Firman Allah Swt berikut ini hendaknya membuat kita hati-hati: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbanggabanggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (TQS al-Hadid [57]: 20). Demikian halnya dengan sabda Rasul saw: “Nyanyian dan permainan hiburan yang melalaikan menumbuhkan kemunafikan dalam hati.” (HR. ad-Dailami). Oleh karenanya, jangan sampai terlena pada pembicaraan (chatting, atau sejenisnya) yang mengasyikkan di dunia maya. Belum lagi jika waktu OL kebetulan sudah dekat dengan jadwal sholat fardhu, bisa jadi yang muncul justru rasa berat meninggalkan obrolan di udara tersebut, na’udzubillaah. Dalam hal ini, kaum muslimin seharusnya merasa rugi, saat tidak sholat tepat waktu, tidak optimal berdakwah, meninggalkan ibadah nafilah, bahkan keteteran ujian akibat begadang keasyikkan OL di malam sebelumnya, dsb. Islam Mengatur Peran Media Informasi Kebebasan penggunaan internet saat ini terjadi karena internet telah menjadi alat bagi sistem demokrasi untuk menghasilkan keuntungan material dan menyebarkan ide-ide rusaknya. Dengan demikian, diperlukan counter attack oleh Islam untuk bicara tentang media informasi, termasuk internet. Karena bagaimanapun, peran penting media informasi di dalam masyarakat, khususnya Daulah Khilafah, tidak boleh dipandang rendah. Hal ini karena tugas media informasi adalah untuk melaksanakan kewajiban menegakkan yang makruf dan mencegah yang munkar, yang juga merupakan tugas dari semua warga negara. Rasulullah SAW bersabda: “Demi Dia yang nyawaku berada di tangan-Nya, kalian wajib menyeru pada kebaikan dan mencegah kemunkaran, atau (kalau hal itu tidak dilakukan) Allah akan menimpakan siksa-Nya atasmu dan jika engkau memohon pada-Nya, maka Dia tidak akan menjawab doamu.”
istanaparamufakkirsiyasi.blogspot.com/2013/02/mengintegrasikan-internet-dan-media.html 2/4

Media dan informasi juga erat kaitannya dengan perjalanan pembentukan sebuah generasi bangsa. Media informasi diperlukan untuk menggambarkan Islam dengan benar dan membina kepribadian generasi sehingga terdorong untuk hidup dengan cara yang Islami dan menjadikan syariah Islam sebagai tolok ukur dalam segala kegiatan hidupnya. Media informasi juga berperan dalam mengungkap kesalahan pemikiran, paham, dan ideologi serta aturan-aturan sekuler. Dengan cara itu, generasi bangsa akan menjadi paham tentang mana yang benar dan mana yang salah, serta terhindar dari pemikiran, pemahaman, dan gaya hidup yang tidak Islami. Bila generasi memiliki pemahaman Islam yang tinggi, maka mudah bagi negara untuk mandiri dengan menyingkirkan nilai-nilai sekularisme dan mengokohkan nilai-nilai Islam yang agung itu di tengah masyarakat. Pada era sekarang ini, informasi bersifat interaktif, bukan satu arah, sehingga terjadi sebuah komunikasi. Generasi bangsa akan dengan cepat dan mudah merespon informasi yang mereka dapatkan sesuai dengan pemahaman mereka. Media tidak bisa berjalan sendiri karena media merupakan salah satu referensi pusat informasi harus menyuguhkan fakta-fakta aktual yang bermanfaat bagi publik. Setiap media setidaknya harus memiliki politik pemberitaan atau kebijakan pemberitaan yang mempunyai warna tersendiri. Fakta adalah fakta, tetapi interpretasi terhadap fakta bisa bermacam-macam. Fakta yang sederhana mampu menjadi booming pada saat media informasi yang menyuguhkannya. Informasi yang sehat merupakan perkara penting bagi negara, yaitu untuk menyatukan negeri-negeri Muslim dan mengemban dakwah Islam ke seluruh umat manusia. Adanya strategi informasi yang spesifik untuk memaparkan Islam dengan pemaparan yang kuat dan membekas akan mampu menggerakkan akal manusia agar mengarahkan pandangannya pada Islam serta mempelajari dan memikirkan muatan-muatan Islam. Hal ini dilakukan dengan dikeluarkannya undang-undang yang menjelaskan garis-garis umum politik negara dalam mengatur informasi sesuai dengan ketentuan hukum-hukum syariah. Hal itu dalam rangka menjalankan kewajiban negara dalam melayani kemaslahatan Islam dan kaum Muslim; juga dalam rangka membangun masyarakat Islami yang kuat, selalu berpegang teguh dan terikat dengan tali agama Allah Swt, serta menyebarluaskan kebaikan dari dan di dalam masyarakat Islami tersebut. Media informasi yang beroperasi di Daulah Khilafah memiliki hak penuh untuk menilai Khalifah dan pemerintahannya, menginvestigasi adanya kesewenang-wenangan pemerintah atau isu lain yang memiliki muatan bahaya atau termasuk kepentingan publik dalam skala besar. Media berhak menginvestigasi dan menerbitkan semua itu tanpa perlu diliputi ketakutan akan kemungkinan tekanan atau penahanan. Media informasi juga mempunyai tanggung jawab besar untuk mempropagandakan kekuatan militer dan pertahanan Daulah Khilafah kepada masyarakat luar. Dengan demikian, media informasi memainkan peranan penting dalam membantu meraih tujuan-tujuan politik luar negeri Daulah Khilafah. Disamping itu, ada informasi-informasi tertentu yang sangat erat kaitannya dengan urusan negara, sehingga tidak dapat dipublikasikan secara bebas. Misalnya, informasi menyangkut pertahanan dan keamanan, seperti tentang gerak pasukan, atau berita tentang kemenangan dan kekalahan. Jenis informasi seperti ini harus dihubungkan secara langsung kepada Khalifah, sehingga bisa diputuskan mana yang harus dirahasiakan dan mana yang bisa dipublikasikan. Allah Swt berfirman: “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” (QS. An-Nisaa’[04]: 83) (Buku Jalan Baru Intelektual Muslimah 2012). Arief Suditomo, Pimred RCTI (tercantum dalam Buku “Dosa-dosa Media Amerika” 2006), menyatakan, “Tak bisa disangkal, peran media massa pun cukup mempengaruhi kehidupan masyarakat. Opini atau keputusan kita selaku warga negara atau sekedar penyimak media berkorelasi dengan pola kita mengkonsumsi media.” Maka sungguh, media massa memang potensial menjadi sarana propaganda. Disamping itu, media massa juga merupakan simbol kebanggaan dan superioritas. Bahkan dijamin mampu mencuci otak dan menipu pola pikir (Buku “Dosa-dosa Media Amerika” 2006). Bukan mustahil jika dahsyatnya pemberitaan di media massa akhirnya mampu menentukan
istanaparamufakkirsiyasi.blogspot.com/2013/02/mengintegrasikan-internet-dan-media.html 3/4

kualitas animo masyarakat terhadap sebuah isu dan perguliran fakta. Khatimah Internet dengan media sosialnya merupakan bentuk visual yang diterima oleh panca indera kita, yang kemudian diolah oleh akal kita hingga menjadi sebuah pemahaman dan perilaku. Kaitannya dengan hal ini, Islam juga memerintahkan kita untuk menjaga akal. Islam pun menganjurkan untuk menuntut ilmu, merenung (tadabbur) dan berijtihad sebagai usaha untuk mengembangkan kemampuan akal pada diri manusia (Kitab “Dirosah al-Fikr”). Maka, penggunaan media sosial sebagai sarana propaganda hendaknya berperan menampilkan kemampuan dan kekuatan Islam dalam mewujudkan rahmatan lil alamin, bukan menampilkan akses yang melalaikan. Karena jelas, Islam tidak membiarkan akal manusia hanya dibuai oleh kenikmatan visual. Mengingat media sosial saat ini masih menjadi bagian produk andalan media massa kapitalistik-sekuler yang berstandar kebahagiaan duniawi yang semu. Walhasil, berdasarkan uraian di atas, sah-sah saja mengakses dan menggunakan internet, termasuk media sosial. Akan tetapi tetap harus proporsional, tidak kelewatan dan sesuai aturan Islam. Wallaahu a’lam bish showab [].

Posted Yesterday by Nindira Aryudhani Labels: fakta, media sosial, media informasi, propaganda, media massa, facebook, internet, Felix Siauw, twitter, integrasi dakwah, Paus Benediktus XVI, Khilafah
0

Add a comment

Mska kmna Ad.. aukn oetr na.

Beri komentar sebagai:

istanaparamufakkirsiyasi.blogspot.com/2013/02/mengintegrasikan-internet-dan-media.html

4/4

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->