PERBANDINGAN KURIKULUM

Perbandingan Kurikulum Pendidikan di Indonesia dalam Tinjauan Historis dan Ideologis

I.

Pendahuluan Perjalanan sejarah bangsa telah mencatat bahwa perubahan pergantian kurikulum pendidikan yang semestinya mengantarkan bangsa dan rakyat Indonesia untuk eksis dalam percaturan global ternyata justru terbalik dengan kenyataan yang ada. Negeri ini malah kian terpuruk dan tertinggal dengan bangsa-bangsa lain. Oleh karena itu, dengan membuka lembaran sejarah kurikulum di Indonesia, diharapkan pemerintah dan segenap komponen bangsa yang terkait langsung menangani pendidikan di Indonesia untuk mencari formulasi yang ideal dalam mengembangkan kurikulum yang bernuansa global, kuat dalam visi dan tidak menghilangkan nuansa kepribadian bangsa Indonesia. Menilik benang merah sejarah Indonesia merdeka, haruslah diakui bahwa politik “etis” kolonial Belanda sekitar tahun 1900-an yang bersifat setengah hati, karena tuntutan abad pencerahan di Eropa, telah memberikan semangat nasionalisme dan intelektualisme. Pendidikan diyakini sebagai jembatan emas menuju pencerahan dan kemerdekaan bangsa. Tokoh-tokoh seperti Wahidin Sudirohusodo, Soewardi Suryaningrat atau yang dikenal sebagai Ki Hajar Dewantoro, Soekarno dan Muhammad Hatta adalah contohnya. Jika kemudian, setelah 60 tahun lebih Indonesia merdeka, tunas-tunas bangsa tidak semuanya dapat mengenyam pendidikan yang layak bagi kemanusiaan, inilah persoalan bangsa yang seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah dan semua pihak. Sementara itu, bagaimana peran kurikulum dalam proses pendidikan ? Hal ini tentu saja merupakan faktor yang sangat penting untuk diperhatikan, sebab kurikulum adalah jantungnya pendidikan. Oleh sebab itu, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana telah diamanatkan UUD 1945, adalah menjadi tugas utama pendidikan yang digariskan dalam kurikulumnya. Undang-undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dari pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar (Pasal 1). Demikian pula bahwa untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional kurikulum disusun, dengan memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan kesesuaiannya dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional. Perkembangan IPTEK, serta kesenian sesuai dengan jenis dan jenjang masing-masing satuan pendidikan (Pasal 37). Mencermati pasal 1 dan 37 Undang-undang tersebut dalam perkembangan masyarakat global, khususnya yang menyangkut IPTEK, seharusnya Indonesia menjadi bagian dari kompetisi itu. Untuk itu, segala perkembangan masyarakat dunia perlu menjadi masukan sebagai bahan kajian serta diterapkan dalam pola-pola kehidupan masyarakat Indonesia. Fenomena tersebut akan menjadi bahan acuan dalam upaya pengembangan kehidupan masyarakat di segala bidang, khususnya dalam penyusunan kurikulum pendidikan. Dengan demikian peran dan fungsi kurikulum bagi proses pendidikan adalah sebagai acuan pokok di dalam pelaksanaan proses pendidikan. Dengan demikian, maka seharusnya kurikulum tidak mengatur secara detail mengenai bagaimana proses atau teknisnya, tetapi persoalan ini diberikan kepada sekolah untuk pengelolaannya dengan manajemen berbasis sekolah (MBS), alasannya adalah tidak semua sekolah di Indonesia memiliki karakteristik yang sama. Oleh karena itu muatan lokal kurikulum diberikan kepada sekolah atau daerah.

Hal itu sesuai dengan pasal 38 ayat 3 UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, bahwa kurikulum Dikdasmen dikembangkan sesuai dengan relevansi setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah atau madrasah (Nyoman S, 2000) Implementasi kurikulum pendidikan pada tingkat pembelajaran di sekolah merupakan tanggung jawab guru dan sekolah dalam bentuk kegiatan belajar mengajar, baik besaran atau banyaknya jam pelajaran, maupun evaluasinya sebagai bagian terpadu dari strategi belajar mengajar yang direncanakan dengan baik (S. Prasetyo Utomo, 2006).

I.

Permasalahan Mencermati uraian di atas, ada tiga permasalahan yang akan dikupas dalam makalah ini, yaitu :

I. 1. 2. 3. I. 1. 1. Pendidikan dan Kepentingan Birokratis Politis
Sejak kurikulum pendidikan pertama diberlakukan (kurikulum 1947) hingga sekarang, tampaknya ada degenerasi dalam hal tujuan pendidikan. Bahkan elitisme dan komersialisasi pendidikan semakin mereduksi makna pendidikan dan mengancam nilai-nilai moral dan idealisme pendidikan itu sendiri. Catatan Shindunata dalam sampul majalah Basis menggaris bawahi, “Bahwa pendidikan hanya menghasilkan air mata”. Ilustrasinya berupa air mata meleleh dari kelopak mata seorang ayah yang tertusuk pulpen Banyak ahli dan pemerhati pendidikan sangat prihatin. Bahkan ada yang menarik tali sejarah lebih panjang lagi ke zaman Jepang sejak masuknya tahun 1942 sebagai masa yang dilansir oleh Selamet Imam Santoso (1995). Praktik pendidikan di Indonesia sudah mengalami keterpurukan sejak zaman Jepang dan bersambung sampai zaman kemerdekaan. Ada mitologi yang berkembang, bahwa baik tidaknya pendidikan nasional, senantiasa hanya dilihat sebagai solusi keterpurukan bangsa (Sularto, ST, 2005). Empat bulan setelah Indonesia merdeka, dunia pendidikan nasional mulai dibenahi. Pada tahun 1947 terbentuklah “Sistem Persekolahan” sesuai dengan UUD 1945, termasuk Sekolah Rakyat (SR) enam tahun. Sistem itu sempat dipraktikkan dan dikembangkan, barulah tahun 1960 tersusun undangundang yang menjadi paying hukum kegiatan pendidikan. Sesuai dengan keputusan MPRS No. II/MPRS/1960 tentang Manusia Sosialis Indonesia, disusunlah rumusan Induk Sistem Pendidikan Nasional berdasarkan Keppres No. 14 Tahun 1965. Kemudian keluar dari Keppres No. 19 Tahun 1965 tentang pokok-pokok Sistem Pendidikan Nasional Pancasila. Jiwa dan Visi kurikulum adalah gotong royong dan demokrasi terpimpin. Orde lama runtuh, keluar Ketetapan MPRS No. XXVII / MPRS /1966 yang berisi tentang tujuan pendidikan nasional “membentuk manusia Pancasila sejati berdasarkan ketentuan seperti yang Bagaimana kurikulum pendidikan menjadi bagian dari kepentingan birokratis politis ? Bagaimana perbandingan kurikulum di Indonesia ditinjau dari sejarah pelaksanaannya ? Bagaimana sebaiknya guru dan sekolah menyikapi perubahan kurikulum pendidikan ?

Pembahasan

Soewandi. 4 tahun 1950 merumuskan pula tujuan kurikulum menurut jenjang pendidikan. Menurut kurikulum ini. Muatan materi masingmasing mata pelajaran masih bersifat teoritis dan belum terikat erat dengan keadaan nyata dalam lingkungan sekitar. b) menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di sekolah. 1. Pengorganisasian mata pelajaran secara korelasional itu berangsur-angsur mengarah kepada pendekatan pelajaran yang sudah terpisah-pisah berdasarkan disiplin ilmu pada sekolah-sekolah yang lebih tinggi. 1. b) jumlah mata pelajaran SD-10 bidang studi. 1. 1. serta membina dan mengembangkan fisik yang kuat dan sehat. SMP-18 bidang studi (Bahasa Indonesia dibedakan atas Bahasa Indonesia I dan II). tujuan pendidikan nasional adalah : mempertinggi mental. 1. Kurikulum 1968 Kurikulum 1968 ditandai dengan pendekatan peng-organisasian materi pelajaran dengan pengelompokan suatu pelajaran yang berbeda. Berikut ini ciri-ciri Kurikulum 1947 : a) sifat kurikulum Separated Subject Curriculum (1946-1947). SH (1968 – 1973). c) jumlah mata pelajaran : Sekolah Rakyat (SR) – 16 bidang studi. I. dan d) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mashuri. Kurikulum 1947 Kurikulum yang pertama kali diberlakukan di sekolah Indonesia pada awal kemerdekaan ialah kurikulum 1947 yang dimaksudkan untuk melayani kepentingan bangsa Indonesia. dan d) materi pendidikan dan pengajaran : Mr. yaitu mata pelajaran yang satu dikorelasikan dengan mata pelajaran yang lain. Sekolah mengharuskan menyempurnakan kurikulum 1947 agar lebih disesuaikan dengan kebutuhan dan kepentingan bangsa Indonesia.termaktub dalam Pembukaan UUD 1945”. Kurikulum 1975 Di dalam kurikulum 1975. I. pada setiap bidang studi dicantumkan tujuan kurikulum. c) penjurusan di SMA dilakukan di kelas II. yang dilakukan secara korelasional (correlated subject curriculum). yaitu Sastra Sosial Budaya dan Ilmu Pasti Pengetahuan Alam (PASPAL). mempertinggi kecerdasan dan keterampilan. walaupun batas demarkasi antar mata pelajaran masih terlihat jelas. Gambaran dan Ciri-ciri Kurikulum Pendidikan di Indonesia dalam Perkembangan Sejarah Berikut ini sekilas diuraikan tentang gambaran dan ciri-ciri kurikulum pendidikan di Indonesia sebagaimana dikemukakan oleh Azwar Abdullah (2007. 1. Penerbitan UU No. budi pekerti dan memperkuat keyakinan beragama. 1. sedangkan pada setiap pokok bahasan diberikan tujuan instruksional umum yang dijabarkan lebih lanjut dalam berbagai satuan bahasan yang memiliki tujuan instruksional khusus. dan disederhanakan menjadi dua jurusan. 1. SMA jurusan A-18 bidang studi. I. Dalam . Berikut ciri-ciri kurikulum 1968 : a) sifat kurikulum correlated subject. 243-250). Lalu kurikulum 1968 lahir sebagai sebuah pedoman praktik pendidikan yang tersusun untuk pertama kalinya. SMP-17 bidang studi dan SMA jurusan B-19 bidang studi. moral.

IPS dan Bahasa. harapan itu sepertinya tidak terwujud sebagaimana diperlihatkan oleh sedemikian banyak dan gencarnya keluhan pengelola pendidikan mengenai berbagai kelemahan dan kekurangan kurikulum 1994. Nugroho Notosusanto (1983-1985). perlu senantiasa dinilai dan dikembangkan secara terus menerus sesuai dengan kondisi dan perkembangan masyarakat. 1. Kurikulum 1994 Dengan mendasarkan kepada seluruh proses penyusunan kurikulum pada ketentuanketentuan yuridis dan akademis di atas. nama SMA diganti SMU (Sekolah Menengah Umum). Adapun ciri-ciri kurikulum 1994 adalah sebagai berikut : a) sifat kurikulum objective based curriculum. g) SMK memperkenalkan program pendidikan sistem ganda (PSG) dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan adalah Prof. 1. yaitu jurusan IPA. e) penjurusan di SMU dilakukan di kelas II. b) jumlah mata pelajaran berdasarkan tingkatan SD mempunyai struktur program. Akibatnya adalah siswa enggan belajar lama di sekolah. yang terdiri atas 9 bidang studi termasuk mata pelajaran PSPB. Kurikulum 1984 Kurikulum 1984 pada hakikatnya merupakan penyempurnaan dari kurikulum 1975. b) program mata pelajaran mencakup 11 bidang studi. penjurusan dimulai di kelas I. JUmlah mata pelajaran di SMP dan SMA menjadi 11 bidang studi. maka mereka akan menjadi bosan dan kegiatan belajar mengajar menjadi menyebalkan. Namun. guru harus berusaha agar tujuan instruksional khusus dapat dicapai oleh peserta didik. I. pada permulaan semester II. sehingga mutu pendidikan pun semakin terpuruk. sehingga sangat membebani siswa yang berpengaruh pada merosotnya semangat belajar siswa. yaitu : program A1 (ilmu fisika). Berikut ciri-ciri kurikulum 1984 : a) sifat kurikulum content based curriculum. 1. d) program pengajaran di SMU disusun dalam 10 mata pelajaran. Aspek yang dikedepankan dalam kurikulum 1994 ialah terlalu padat. c) penjurusan di SMA dibagi atas 3 yaitu : jurusan IPA. c) jumlah mata pelajaran di SMP 11 bidang studi. c) mata pelajaran PSBP dan keterampilan ditiadakan. Asumsi yang mendasari penyempurnaan kurikulum 1975 ini adalah bahwa kurikulum merupakan wadah atau tempat proses belajar mengajar berlangsung yang secara dinamis. Dr. b) nama SMP dan SLTP kejuruan diganti menjadi SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama). Wadiman Djoyonegoro (1993-1998). program pengajaran SD dan SLTP disusun dalam 13 mata pelajaran. Berikut ini ciri-ciri kurikulum 1975 : a) sifat kurikulum Integrated Curriculum Organization. dan Bahasa. 1. Melalui PPSI ini dibuat satuan pelajaran yang berupa rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Dr. program A2 (ilmu biologi). Metode penyampaian satun bahasa ini disebut prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). dan d) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dr. program A5 (ilmu agama). setelah mata pelajaran atau pokok bahasan tertentu disajikan oleh guru. f) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. f) penjurusan dibagi atas tiga jurusan.proses pembelajaran. Jika sejak awal siswa dicemaskan dengan mata pelajaran yang menjadi momok di sekolah. pelajaran ilmu alam dan ilmu hayat digabung menjadi satu dengan nama Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). e) penjurusan di SMA dibagi atas 5 (lima) jurusan. program A3 (ilmu sosial). program A4 (ilmu budaya). maka diharapkan kurikulum 1994 telah mampu menjembatani semua kesenjangan yang terdapat dalam dunia pendidikan di sekolah. . d) jumlah mata pelajaran di SMA-15 bidang studi untuk program inti dan 4 bidang studi untuk program pilihan. Syarif Thayeb (1973-1978). Pelajaran Ilmu Aljabar dan Ilmu Ukur digabung menjadi satu dengan nama Matematika. IPS. I. Ing.

hanya sekitar 10 % saja yang lolos. baik bagi siswa maupun bagi guru. kecuali dengan bekal yang diperolehnya dari materi program pengajaran umum dan khusus. karena apabila murid diberikan kebebasan mengajukan pendapat. sehingga target kurikulum sulit untuk tercapai. Kurikulum 2004 Harapan masyarakat terhadap kurikulum pendidikan di Indonesia. dan kompetensi kepribadian. Hal ini tampaknya berlandaskan pada isyarat pasal 3 ayat (1) PP No. Ilmu Sosial. 29 / 1990. lulusan SMU memang ditampung oleh Perguruan Tinggi Swasta (PTS). dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah. dan Bahasa. tapi itu hanya ada separuhnya. Kurikulum yang padat juga melanggengkan konsep pengajaran satu arah. Abdul Malik Fajar (2001-2004). Selebihnya mengambil kursus atau terjun langsung ke masyarakat dan mencari kerja. penetapan target kurikulum 1994 dinilai dan dikecam berbagai pihak antara lain sebagai dosa teramat besar dari departemen pendidikan dan kebudayaan yang mengakibatkan kemerosotan kualitas pendidikan secara berkesinambungan tanpa henti (Darmawan. I. adalah jenjang sekolah ini memberikan tekanan kuat. Jadi. Padahal mereka tidak disiapkan untuk itu. Belajar menyenangkan itulah sebenarnya konsep pendidikan yang dapat membawa peserta didik (siswa) untuk menguasai kompetensi akademik. Berikut ini ciri-ciri kurikulum 2004 (KBK) : a) sifat kurikulum Competency Based Curriculum. penilaian.” Memang. yang menyatakan.Selain itu. 1997). H. mereka dihadapkan pada situasi antara berenang dan tenggelam (Dedi Supriadi. h) penjurusan dibagi atas 3 jurusan. “Pendidikan menengah umum mengutamakan persiapan siswa untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi. c) penyebutan SMU menjadi SMA. Kesan umum dari kurikulum 1994 pada tingkat SMU. pada hakikatnya adalah adanya komunikasi dua arah yang memungkinkan kegiatan belajar mengajar menjadi interaktif dan menyenangkan. Sebagian. maka diperlukan banyak waktu. Praktis tidak ada ruang yang secara langsung dimaksudkan untuk menyiapkan siswa memasuki dunia kerja. tidak semua lulusan SMU setiap tahun yang mengikuti UMPTN dapat diterima. Kurikulum 1994 yang padat dengan beban yang telah menghambat diberlakukannya paradigma baru pendidikan dari siswa kepada guru. Tapi dalam kenyataannya. yang memfokuskan pada wujud pertumbuhan dan perkembangan potensi peserta didik. 1. e) program pengajaran di SMP disusun dalam 11 mata pelajaran. Berhubung kurikulum 2004 yang memfokuskan aspek kompetensi siswa. Suara Pembaharuan. kegiatan belajar mengajar. KBK merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai oleh siswa. secara ideal itu sah-sah saja. dan dihapuskannya mata pelajaran keterampilan. antara lain tampak dari tiadanya jam muatan lokal. yaitu : Ilmu Alam. Harapan-harapan inilah yang seharusnya diakomodasi di dalam penyusunan kurikulum. 2002) bahwa adanya target kurikulum telah menjadi salah satu factor pemicu untuk penggantian kurikulum baru. 1. d) program pengajaran di SD disusun dalam 7 mata pelajaran. dan i) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. kompetensi sosial. pada upaya mengarahkan siswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. yang menuntut banyak waktu untuk menyampaikan pandangan dalam rangka pengelolaan pendidikan. dari guru murid. f) program pengajaran di SMA disusun dalam 17 mata pelajaran. b) penyebutan SLTP menjadi SMP. g) penjurusan di SMA dilakukan di kelas II. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang hanya berlaku sampai tahun 2006 di sekolah-sekolah pada dasarnya adalah merupakan gagasan dari Kurikulum Berbasis Kemampuan Dasar (KBKD) yang pernah diperkenalkan oleh Boediono dan Ella (1999). maka prinsip pembelajaran adalah berpusat pada siswa dan menggunakan pendekatan menyeluruh dan .

pembinaan professional tenaga kependidikan. Oleh karenanya. Peran dan tanggung jawab dalam pengelolaan kurikulum berbasis sekolah diberikan kepada sekolah. Peran dan tanggung jawab sekolah untuk meningkatkan komunikasi dengan berbagai pihak untuk mensosialisasikan konsep KBK. dan 4) evaluasi dengan penilaian berbasis kelas. Pola ini dilengkapi pula dengan gagasan pembentukan jaringan kurikulum (curriculum council).kemitraan. Oleh karena itu. 4. yaitu : 1) kurikulum dan hasil belajar. guru bukan satu-satunya sumber ilmu pengetahuan (siswa dapat belajar dari apa saja) . 2002) KBK dikembangkan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. menekankan pada pencapaian kompetensi siswa 2. tidak berlebihan apabila dalam diskusi mengenai “Potret Pendidikan di Indonesia dan Peran Guru Swasta”. Balitbang Depdikbud. 3. pengembangan perangkat kurikulum. serta mengutamakan proses pembelajaran dengan pendekatan kontekstual (contextual teaching and learning atau CTL) Dalam pelaksanaan kurikulum yang memegang peranan penting adalah guru. dan pengembangan sistem informasi kurikulum. Dinas Pendidikan Provinsi dan Tingkat Pusat. Drost (2002) menegaskan bahwa materi kurikulum. Yang membedakannya adalah cara guru mengajar di depan kelas. Dinas Pendidikan Kabupaten / Kota. sasaran dan pelaksanaan penilaian berkelanjutan yang lebih akurat dan konsisten sebagai akuntabilitas publik melalui identifikasi kompetensi atau hasil belajar yang telah dicapai. diperdalam dan disesuaikan dengan potensi siswa. berpusat pada siswa. Kurikulum dan hasil belajar memuat perencanaan pengembangan kompetensi peserta didik yang perlu dicapai secara keseluruhan sejak lahir sampai usia 18 tahun. memberdayakan semua sumber daya dan dana sekolah. pendekatan dan metode yang digunakan beragam dan bersifat kontekstual 6. Kegiatan belajar mengajar memuat gagasan pokok tentang pembelajaran dan pengajaran untuk mencapai kompetensi yang ditetapkan. Keberhasilan kurikulum lebih banyak ditentukan oleh kualitas dan kompetensi guru. Guru diibaratkan manusia dibalik senjata kosong yang tidak berpeluru. serta peta kemajuan belajar siswa dan pelaporan. Inti dari KBK atau kurikulum 2004 adalah terletak pada empat aspek utama. serta gagasan-gagasan pedagogis dan andragogis yang mengelola pembelajaran agar tidak mekanistik. Kurikulum dan hasil belajar ini memuat kompetensi. termasuk dalam melibatkan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah untuk pelaksanaan kurikulum secara bermutu (Puskur. menata ulang KBK penempatan guru pada kelas secara optimal. antara lain silabus. hasil belajar dan indikator dari TK (Taman Kanak-kanak) dan Raudhatul Athfal (RA) sampai dengan kelas XII (kelas III SMA). 3) kegiatan belajar mengajar. menetapkan tahap dan administrasi KBK. di seluruh dunia pada dasarnya sama. berorientasi pada proses dan hasil. terutama untuk mata pelajaran dasar. kurikulum dapat diperluas. Penilaian berbasis kelas memuat prinsip. diperlukan kreativitas guru untuk mengisi senjata itu dan membidiknya dengan cermat dan tepat mengenai sasaran. 2) pengelolaan kurikulum berbasis sekolah. pernyataan yang jelas tentang standar yang harus dan telah dicapai. 5. J. Pengelolaan kurikulum berbasis sekolah memuat berbagai pola pemberdayaan tenaga kependidikan dan sumber daya lain untuk meningkatkan mutu hasil belajar.

sedangkan KTSP merupakan kurikulum operasional yang dikembangkan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan karakteristik dan perbedaan daerah (desentralistik). Relevan dengan kebutuhan masa kini dan masa datang. Sumber belajar bukan hanya guru. 2. KTSP memiliki peluang untuk dikembangkan oleh satuan pendidikan dengan berpedoman pada prinsip-prinsip: 1. Tanggap terhadap perkembangan Iptek . 1. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan. 5. Kurikulum 2006 (KTSP) Kurikulum 2006 atau yang dikenal dengan nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum operasional pendidikan yang disusun dan dilaksanakan di masingmasing satuan pendidikan yang berlaku dewasa ini di Indonesia.7. 4. dan silabus. Berpusat pada potensi. 3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi. struktur dan muatan kurikulum. kebutuhan. Beragam dan terpadu. dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Salah satu perbedaan KTSP dibandingkan dengan kurikulum yang pernah berlaku sebelumnya di Indonesia adalah terletak pada sistem pengembangannya. 8. Sebagai kurikulum operasional di tingkat satuan pendidikan. Kurikulum ini lahir seiring dengan pemberlakuan Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional serta Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. kurikulum 2006 memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1. Dengan demikian. tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsure edukatif. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi. 3. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa. Akan tetapi. Secara substantive. belajar sepanjang hayat dengan bertumpu pada empat pilar pendidikan kesejagatan: – belajar mengetahui (learning how to know) – belajar melakukan (learning how to do) – belajar menjadi diri sendiri (learning how to be) – belajar hidup dalam keberagaman (learning how to live together) I. KTSP diberlakukan mulai tahun ajaran 2006/2007 yang menggantikan kurikulum 2004 (KBK). esensi isi dan arah pengembangan pembelajaran tetap masih bercirikan tercapainya paket-paket kompetensi (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar) dan bukan pada tuntas tidaknya sebuah subject matter. buku pelajaran bukan satu-satunya sumber belajar. perkembangan. 1. pemberlakuan kurikulum 2006 merupakan implementasi regulasi yang telah dikeluarkan yaitu PP no 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan. baik secara individual. Pengembangan kurikulum sebelum KTSP dilakukan secara terpusat (sentralistik). 4. Berorientasi pada hasil belajar (learning out comes) dan keberagaman. . maupun klasikal. 2. kalender pendidikan.

Menyeluruh dan berkesinambungan 6. (3) sumber belajar yang tersedia. namun pada akhirnya setelah melihat kondisi liberatif. mulai dari penyalahgunaan Dana Bantuan Operasional (BOS) sekolah. 11 Juli 2005). Perbedaan mendasar yang terdapat dalam kurikulum 2006 dibandingkan kurikulum sebelumnya adalah kurikulum 2006 bersifat desentralistik artinya sekolah diberi kewenangan secara penuh untuk menyusun rencana pendidikan dengan mengacu pada standar yang telah ditetapkan (SI dan SKL) mulai dari tujuan. tidak membuat praktek pendidikan di tanah air semakin membaik. Dalam pelaksanaannya kurikulum terbaru tersebut mengalami berbagai kendala. 23 dan 24 tentang Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) serta peraturan pelaksanaannya. seperti penggunaan system modul atau sekolah pembangunan yang berorientasi pada kerja. Kenyataannya sampai saat ini kurikulum 2006 itu terkesan masih dijalankan dengan setengah hati karena berbagai kebijakan dan landasan yuridisnya belum dipenuhi secara konsekuen oleh pemerintah.Timbul banyak masalah. sampai pada uji coba sistem cara belajar siswa aktif (CBSA). Pada hakikatnya KTSP merupakan kelanjutan dari kurikulum 2004. Ketika kurikulum 1968 dicabut dan digantikan dengan kurikulum 1975. Kini otonomi daerah diberlakukan seiring dengan reformasi pemerintahan. Seimbang antara kepentingan nasional dan daerah.5. visi dan misi. Kompas. dan (4) kekhasan daerah. beban belajar. mulai dari apresiasi atas peran swasta. 1. Namun lagi-lagi. Pendidikan yang tadinya liberatif desentralistis. tidak lebih baik dari sebelumnya. Belum lagi soal kerepotan dan kerumitan nilai dalam proses evaluasi belajarnya. Kesempatan memberikan apresiasi pada peran swasta pada awalnya tampak bagus. Dengan dasar Permendiknas Nomor 22. tetapi sebagai pesaing. orang tua dan masyarakat dapat berperan dan terlibat secara aktif sebagai mitra sekolah dalam mengembangkan program pendidikannya. pemerintah kemudian mengambil alih kendali seluruh praktik pendidikan. (2) kemampuan peserta didik. Namun. Terutama persoalan minimnya sosialisasi dan kesiapan sarana dan prasarana pendukung pendidikan dan terutama sekali kesiapan guru dan sekolah untuk menyusun dan mengembangkan kurikulum sendiri. Pihak swasta tidak lagi dipandang sebagai partner. kalender pendidikan. 1. Dalam pelaksanaannya. Bahkan ketika sekolah belum semua menggunakan . tampaknya tidak menyurutkan hasrat pemerintah untuk selalu melakukan berbagai upaya penggantian dan uji coba kurikulum. ditarik kembali ke semangat deliberatif dan sentralistis. struktur dan muatan kurikulum. maka kurikulum 2006 diberlakukan untuk menyempurnakan kurikulum sebelumnya yang baru berusia dua tahun. Bongkar Pasang Kurikulum Dikembangkannya berbagai uji coba kurikulum. hingga pengembangan silabusnya. Namun oleh Depdiknas persoalan itu diantisipasi dengan diluncurkannya panduan KTSP yang disusun oleh BSNP. Yang tampak jelas berubah adalah penentuan mata pelajaran masing-masing bidang studi dengan penjabaran aspek-aspeknya. Belajar sepanjang hayat 7. masalah pendidikan yang diotonomikan di daerah di seluruh Indonesia. sampai pada pengangkatan Guru Bantu dan Tenaga Honorer yang carut marut (Susanto dan Rejeki. Persoalan baru itulah yang dirasakan oleh guru menjadi beban berat. kewenangan dan kebebasan sekolah tersebut dalam penyelenggaraan program pendidikannya tetap harus disesuaikan dengan (1) Kondisi lingkungan sekolah. Sebab tidak banyak perubahan berarti yang dilakukan.

Kurikulum 1984 kemudian dianggap sangat sarat dengan beban. yang isinya memuat sejumlah kompetensi yang harus dikuasai oleh setiap lulusan (Permanasari. namun perlu mendapatkan pengkajian dan riset terlebih dahulu dari berbagai aspek. apalagi untuk kesejahteraan guru dan dosen. Pertimbangannya adalah apabila penggantian kurikulum tidak dibarengi dengan pembenahan infrastruktur dan standar pelayanan yang baik. hal yang penting menjadi pertimbangan bagi para pengambil keputusan di bidang pendidikan. ST. mulai dirasakan. bahwa pembatalan kurikulum KBK. bahwa kurikulum ini sudah tidak bisa mengejar kemajuan pesat masyarakat. maka memang Indonesia (Pemerintah) benar-benar tidak memiliki visi dan misi yang jelas tentang arah dan tujuan pendidikan nasional. Sebagai tindak lanjutnya maka pemerintah menerbitkan UU No. Bersamaan dengan lahirnya Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional yang baru. Kompas. tetap tidak terhindarkan dari kegiatan perombakan kebijakan. Kompas 27 Februari 2006). di banyak daerah pedalaman Indonesia. 2 Tahun 1989. tanpa mempertimbangkan aspek muatan lokal. termasuk memperhitungkan kelengkapan sarana persekolahan. ketimbang kepentingan masyarakat. masing-masing Ridwan Dalimunthe dan Raja Dima Siregar (Sularto. Dalam praktek di lapangan. guru dan sekolah tidak menjadi korban perubahan tersebut (Elin. Kompas. Hal tersebut perlu untuk membentengi diri jangan timbul kesan bahwa perubahan kurikulum dilakukan. sebaiknya berani bersikap mandiri dan tidak dibingungkan oleh keputusan pemerintah yang berencana mengubah kurikulum. tanpa ada pengkajian dan riset yang mendalam. ST. . 16 Agustus 2005) Meskipun selalu dibungkus dengan istilah penyempurnaan pergantian kurikulum. bahwa rencana perubahan kurikulum yang setiap waktu lebih bersifat mega proyek. Kompas. 30 Desember 2005). yang dalam penerapannya mungkin saja sangat detail. masih ada sekolah yang belum sempat mempraktekkan kurikulum 1994. 22 Februari 2006). karena adanya ketidaksiapan guru dalam pelaksanaan kurikulum (Suparno. budaya masyarakat di daerah tempat sekolah berada. guru dan murid harus yakin dengan pendiriannya (Ali. I. tetapi perlu perencanaan yang matang. 24 Juli 2006). Kompas. Dalam konteks ini. 21 Februari 2006). 28 Februari 2006). Lagi-lagi kepentingan politik praktis lebih menonjol ketimbang berpijak dan berpihak pada kepentingan guru dan anak didik. Anggaran pendidikan kita selama ini hanya habis untuk urusan uji coba. adalah bahwa hendaknya perubahan kebijakan yang diambil tidak dilakukan secara mendadak. Yang jelas dan penting bagi guru adalah kesadaran untuk menerapkan prinsip-prinsip dan idealisme dalam pendidikan. lantas muncul lagi kurikulum baru 1994 yang lebih sederhana. sekolah. bangsa dan Negara. yang membutuhkan pelayanan pendidikan secara baik (Sularto. Kita menghargai adanye pembenahan kurikulum yang belum sempat tersosialisasi dengan baik. 2 tahun 1989 pun dibanti. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. sangat jauh dari harapan kita semua (Abduhzen.kurikulum 1975. Kemudian lahirlah kurikulum 1984. jangankan KBK. seperti yang diungkapkan oleh dua orang guru dari pedalaman Tapanuli Selatan Sumatera Utara. kondisi sosial. Kecenderungannya adalah akan terbukti. maka hadir pula kurikulum baru 2004 atau kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Tidak kalah pentingnya. baru terealisasi pada tahun 2003. dan sosialisasi merupakan kata kunci yang penting untuk menjamin siswa. Bagaimana Sekolah dan Guru Menyikapi Guru dan pihak sekolah. ujung-ujungnya adalah kurikulum baru akan tetap tidak merakyat dan membumi di dalam proses belajar mengajar. Dan praktek pendidikan secara keseluruhan. Kompas. mencerminkan kebijakan pemerintah di bidang pendidikan di Indonesia yang selama ini hanya dilakukan dengan kurikulum cobacoba. Dengan demikian. Sekolah yang memiliki kemampuan untuk mengemas dan merekayasa kurikulum sendiri diharapkan tetap punya keyakinan untuk tidak didikte oleh kurikulum nasional. Undang-undang yang dihasilkan secara terencana lewat sebuah panitia penilai pun tidak lepas dari kritik. Kompas. Bahkan bisa muncul lagi kurikulum baru yang dikutak-katik oleh pejabat atau Mendiknas yang baru. Jadi. jangankan untuk meningkatkan mutu pendidikan. dan kesiapan guru dan murid. dan setelah lewat proses yang panjang dan menuai banyak kritik. Kalau demikian adanya.

meskipun kurikulum baru ditetapkan. pemberian akses kesempatan belajar yang seluasluasnya bagi anak-anak didik sebagai garda terdepan bangsa dalam memajukan pendidikan nasional. teks kurikulum yang sudah ditatar dengan kurikulum baru itu diterjunkan ke seluruh daerah untuk membantu sosialisasi. guru di seluruh Indonesia harus dibantu memahami isi dan hakekat kurikulum yang baru itu. Catatan sejarah tentang pelapukan terhadap praktik pendidikan dan kurikulumnya. sekolah yang telah runtuh dimakan usia. harus segera diperbaiki kembali dengan memfokuskan perhatian pada isi. melainkan kita harus memusatkan perhatian yang serius pada pembenahan infrastruktur persekolahan yang banyak mengalami kerusakan. Kalau tidak segera pendidikan di tanah air dijadikan prioritas utama pembangunan. I. sehingga tidak menjadi bingung. Sekarang saja kita jauh tertinggal dengan Negara-negara sesama anggota ASEAN lainnya. perlu sosialisasi yang sungguh merata di seluruh Indonesia. 3) media komunikasi. Selain itu perhatian serius juga harus dipusatkan pada peningkatan kesejahteraan tenaga guru dan dosen. maka ada lima hal yang perlu dilakukan suatu pergantian kurikulum atau pemberlakuan kurikulum baru. guru masih tetap menjadi pilar utama dan ujung tombak dalam proses pencerdasan kehidupan bangsa tanpa harus terbelenggu dan terkungkung oleh perubahan kurikulum pendidikan yang diberlakukan. 1. sebelum ada pengkajian dan riset yang mendalam.I. visi. 5) sangat penting bagi guru untuk mengembangkan sikap terbuka dan kemandirian dan percaya diri. Saya khawatir sepuluh tahun yang akan dating bangsa kita akan menjadi bangsa buruh atau kuli di negerinya sendiri. Sebab bagaimanapun juga. yaitu : 1) sebelum kurikulum baru ditetapkan. Dampak berikutnya. seperti gedunggedung. telah menyebabkan sekor pendidikan di tanah air belum mampu mengatasi ketertinggalan bangsa ini dalam mengikuti kompetisi regional dan global. sehingga dapat terjangkau lebih cepat di seluruh pelosok Indonesia. Pemerintah tidak boleh berasumsi atau menganggap bahwa guru akan tahu sendiri. atau mereka akan belajar sendiri setelah kurikulum ditetapkan. Guru perlu dibantu bersikap cerdas untuk mengambil hal yang sungguh baik dan berguna dari kurikulum KBK ataupun kurikulum lama. Saatnyalah pemerintah menjadikan pilar pendidikan sebagai prioritas utama pembangunan nasional bangsa ke depan. Simpulan Perjalanan pendidikan dan kurikulumnya sepanjang sejarah bangsa Indonesia merdeka. namun mereka telah terbantu dalam proses kegiatan belajar mengajar KBK. 1. sebenarnya secara kultural. Semoga hal ini tidak terjadi dan menjadi mimpi buruk bagi bangsa kita.wordpress. Begitu mudah berubah. 1. Guru perlu menyadari. surat kabar. menunjukkan praktek pendidikan tidak pernah lepas dari metode uji coba kebijaksanaan di bidang pendidikan. bangsa ini sudah menggali liang lahatnya sendiri. banyak kebijakan yang dilakukan sebagai kebijakan yang bersifat instant dan tidak didasari atas pertimbangan pedagogis edukatif. 2) untuk mempercepat sosialisasi. 4) guru perlu dibantu agar dapat menyikapi kurikulum apapun secara bijak. sebagaimana yang telah diuraikan di atas. Kurikulum pendidikan yang seharusnya tidak gampang diubah.com/perbandingan-kurikulum/ . Sumber http://ridwanudin. Saran Memperhatikan situasi dan kondisi pengelolaan pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu. Simpulan dan Saran 1. Ke depan yang perlu dilakukan bukan mengkutak-katik kurikulum yang sudah ada. I. dan jaringan internet dapat digunakan sebagai media sosialisasi kurikulum yang baru. bahwa meskipun kurikulum nantinya tidak lagi menggunakan KBK. misi dan orientasi pendidikan yang berlandaskan pada pendidikan untuk semua rakyat Indonesia tanpa terkecuali.

.

Saking biasanya. maka pembelajaran dianggap berhasil. sampai sekarang masih beredar di masyarakat sebuah pameo. Fenomena inilah yang mendorong penulis untuk mencoba menelusuri kembali perubahan kurikulum dari masa ke masa. yang memaksa orangtua merogoh kocek yang sudah semakin kempis.22 Tahun 1961 tentang Perguruan Tinggi. Juga UU No.19 PNPS Tahun 1965 tentang Pokok-Pokok Sistem Pendidikan Nasional Pancasila. Lalu. KURIKULUM ‘76 Kurikulum ‟76. Artinya bahwa di dalam kurikulum. masyarakat menjadi tidak kaget lagi. terdapat sejumlah materi yang harus disampaikan pada siswa.KURIKULUM YANG PERNAH DITERAPKAN DI INDONESIA DALAM dunia pendidikan kita. UU No. 1. Yang menjadi pertanyaan adalah benarkah tiap ganti menteri mesti ganti aturan? Adakah ini berarti bahwa masyarakat tidak menghendaki adanya aturan baru?. Berdasarkan UU sebagaimana tersebut di muka itulah lahir Kurikulum „76 dan Kurikulum „84. . penulis menyempatkan melihat undang-undang yang menjadi dasar rujukan kurikulum. Namun. landasan pijak pendidikan kita masih tetap menggunakan UU No. Jika sampai dengan waktu yang ditentukan keseluruhan materi sudah tersampaikan. Dan hasilnya sungguh sangat mengejutkan. sebelum menyentuh soal ini. Sebab. ganti aturan”. UU No.4 Tahun 1950 dari Republik Indonesia Dahulu tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah untuk Seluruh Indonesia. maka ketika muncul sebuah aturan (Kurikulum) baru. Betapa tidak? Ternyata. sampai dengan 26 Maret 1989. ekses dari sebuah aturan baru biasanya dikaitkan dengan pembelian buku pelajaran baru.14 PRPS Tahun 1965 tentang Majelis Pendidikan Nasional dan UU No.4 Tahun 1950 tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah. berorientasi pada materi. seperti bisa diduga. “ganti menteri.12 Tahun 1954 tentang Pernyataan Berlakunya UU No.

Atas kritik tersebut serta didorong oleh keinginan mencerdaskan bangsa. KURIKULUM ‘84 Yang membedakan dengan kurikulum ‟76 dalam struktur program. para ahli pendidikan lalu mencari model pembelajaran yang lebih sesuai. Dan penghayatan terhadap sejarah perjuangan bangsa pun dipandang perlu ditumbuhkan kembali. Karena menjadi pusat pembelajaran. yang memuat : 1. 2. Karena. adalah masuknya mata pelajaran PSPB pada tahun 1984.Keadaan seperti itu membawa efek pola mengajar Teacher Centered Learning. yang dikenal dengan Kurikulum „‟84. model pembelajaran Teacher Centered Learning dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan kemajuan zaman. 2. Tujuan Kurikuler Tujuan Instruksional Umum (TIU) dan Bahan Pengajaran . Karena siswa bukanlah benda mati yang hanya bisa dijejali oleh sejumlah pengetahuan. maka gurulah yang aktif menyampaikan materi pelajaran. berubah menjadi siswa sebagai pusat pembelajaran (Student Centered Learning). Perubahan paradigma itu diwadahi dalam kurikulum baru. Artinya bahwa kurikulum disusun dalam bentuk tujuan yang berjenjang. Yakni guru sebagai pusat pembelajaran. Siswa mestilah aktif mencari dan menemukan pengetahuan yang dibutuhkan. Dalam kurikulum pemerintah menetapkan GBPP (Garis-garis Besar Program Pengajaran). Terjadi pembalikan 180o. Kurikulum ‟84. berorientasi pada Tujuan. Para pemerhati pendidikan melihat sistem pendidikan yang demikian dianggap tidak cocok. Dari guru sebagai pusat pembelajaran. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Masuknya mata pelajaran PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) dilatarbelakangi kajian pemerintah yang melihat adanya kemerosotan pemahaman sejarah perjuangan bangsa di kalangan generasi muda. Siswa hanya duduk manis mendengarkan. Dan hasilnya sungguh luar biasa. 3.

hanya memiliki satu orientasi. Dunia terus mengglobal. Jika tidak ingin kalah dalam persaingan. dijabarkan ke dalam kata kerja operasional yang terukur keberhasilannya.Guru diberi kewenangan menyusun TIK (Tujuan Instruksional Khusus). Karena itulah TIK bersifat khusus. dibutuhkan SDM (sumber daya manusia) yang berkualitas pula. Dianggap sebagai sebuah model yang baik. Karena yang aktif siswa. yang selanjutnya dikenal dengan nama kurikulum ’94. Sementara untuk menghasilkan barang-barang yang berkualitas. Diikuti kemudian dengan keluarnya Keputusan Mendikbud No. maka model pembelajaran yang sesuai adalah CBSA (cara belajar siswa aktif). Menjawab tantangan tersebut. model CBSA ini bisa diterima oleh masyarakat. Implikasi dari pasar bebas adalah bebasnya produk dari negara satu masuk ke negara lain. Sekolah sebagai sebuah lembaga harus menghasilkan out-put yang mampu memenuhi kebutuhan pasar. Dalam mencapai TIK. yakni mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 3. maka dipastikan masyarakat memilih barang negara lain yang lebih berkualitas. pemerintah meluncurkan Undang-Undang RI No. Dalam CBSA terjadi Student Centered Learning.060/U/1993 tanggal 25 Februari 1993 tentang Kurikulum Pendidikan Dasar. maka pemerintah harus mampu membuat produk yang berkualitas. keterampilan. Semua Proses Belajar Mengajar (PBM). Untuk beberapa waktu.2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada 27 Maret 1989. yang merupakan penjabaran dari TIU. untuk barang yang sama. Tetapi zaman terus berkembang. digunakan pendekatan keterampilan proses yang bertujuan mengaktifkan siswa dalam belajar. Jika produk sebuah negara kalah kualitas dibandingkan dengan produk negara lain yang masuk. KURIKULUM ‘94 . baik dari sisi pengetahuan. Mampu mengikuti perkembangan zaman. Pasar bebas pun tak bisa dihindari. Dan persoalan ini kembalinya ke sekolah. sikap maupun teknologi.

dan sosial. Rincian minggu efektif setiap cawu sebagai berikut: Cawu 1 = 12 minggu. Tujuan Pokok Bahasan dan Subpokok Bahasan beserta uraian kegiatan. dan berubahnya mata pelajaran PMP menjadi PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) Orientasi pembelajaran terletak pada Pengalaman Belajar. guru tinggal melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang tersedia. Pendekatan pembelajaran dalam pelaksanaan KBM. Artinya bahwa dalam proses pembelajaran diharapkan siswa merasakannya sebagai sebuah pengalaman. merupakan tolok ukur pengalaman belajar yang harus dicapai oleh siswa setelah mempelajari satu atau beberapa pokok Bahasan. cawu 2 = 12 minggu dan cawu 3 = 10 minggu. alokasi waktu untuk setiap pokok bahasan sudah dipatok. Uraian kegiatan dalam pokok bahasan/subpokok bahasan bukan merupakan urutan. berbentuk uraian. diharapkan guru menerapkan prinsip belajar aktif. Yaitu pembelajaran yang melibatkan siswa secara fisik. Alokasi waktu hanya disajikan untuk setiap cawu agar guru leluasa mengatur waktu sesuai dengan kebutuhan untuk setiap pokok/subpokok bahasan. yang meliputi: 1. .Yang membedakan dengan kurikulum „84 adalah menghilangnya mata pelajaran PSPB pada tahun pelajaran 96/97. 3. Sementara pada kurikulum terdahulu. merupakan materi pokok yang akan dibahas secara teratur berdasarkan pembagian cawu (catur wulan) dan sekaligus sebagai petunjuk tingkat kedalaman serta keluasan materi yang diuraikan dan cara pembelajarannya. Pokok Bahasan/subpokok bahasan. yang membuatnya selalu mengingat pelajaran tersebut GBPP pada kurikulum‟94. 2. Tujuan. mental (pemikiran dan perasaan). tetapi dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Khusus cawu 3 kelas 3 hanya ada 8 Minggu efektif.

45. pasal 31. keterampilan. demi optimalnya perkembangan pengetahuan. Memenuhi amanat yang terkandung dalam UU No. 4. Hanya pada masa orde reformasi inilah. menggantikan kemapanan orde baru. Model pembelajarannya pun diharapkan berbentuk CTL (Contextual Teaching and Learning). pasal 21. keterampilan. mengalami pembedahan.45 yang selama 32 tahun dianggap sakral dan sempurna. Orde yang baru lahir itu kemudian dinamakan orde reformasi. dan sarana yang seharusnya digunakan dalam KBM dapat ditentukan oleh guru sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. 37 dan 38 maka lahirlah kurikulum 2004 yang dikenal sebagai Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). UUD . Penilaian. Bab X pasal 36. Mengingat pasal 20. KURIKULUM 2004 (KBK) Yang membedakan dengan kurikulum sebelumnya adalah munculnya Pembiasaan dalam struktur. dengan persetujuan bersama DPR dan Presiden RI memutuskan. Terjadilah amandemen UUD .Metode. Kompetensi merupakan pengetahuan. pasal 28 C ayat (1). yang memberikan ruang gerak cukup luas bagi guru untuk memperkembangkan dirinya. Sesuatu yang belum pernah ada. yang memberikan ruang bagi kepentingan sekolah. . sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. sikap dan kepribadian anak. Kompetensi ini dapat dicapai melalui pengalaman belajar yang dikaitkan dengan bahan kajian dan bahan pelajaran secara kontekstual. dan pasal 32 UUD-45. Yaitu lahirnya sebuah orde. menetapkan Undang-Undang Tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN). pada tanggal 08 Juli 2003. Tetapi sejarah mencatat. Kelihatannya ini sebuah kurikulum ideal. Yakni suatu model pembelajaran yang mengaitkan materi pembelajaran diharapkan sesuai dengan konteksnya. yang dapat dikenali melalui sejumlah indikator yang dapat diukur dan diamati. ada peristiwa besar yang terjadi pada tahun 1998.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

dilandasi oleh prinsip: 1. keterampilan. baik pada pendidikan prasekolah. diarahkan untuk mendorong individu belajar sepanjang hayat dan mewujudkan masyarakat belajar. Kurikulum 2004 yang selama kurun waktu dua tahun dilaksanakan. 2) 3) Indikator : merupakan pernyataan ukuran-ukuran kinerja hasil belajar tertentu. . Standar Kompetensi Mata Pelajaran merupakan seperangkat kompetensi yang dibakukan sebagai hasil belajar mata pelajaran tertentu dalam satuan pendidikan (sekolah). 4. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Kelas disajikan dalam bentuk : 1) Kompetensi Dasar : merupakan kecakapan inti yang mencakup mengetahuan.Tujuan. Kegiatan belajar mengajar. Standar ini merupakan kompetensi bidang pengembangan dan mata pelajaran per satuan pendidikan dan perkelas selama masa persekolahan. sebenarnya baru merupakan draft yang belum ditandatangani oleh menteri. 2. sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. berpusat pada peserta didik mengembangkan kreativitas peserta didik menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang mengembangkan beragam kemampuan yang bermuatan nilai menyediakan pengalaman belajar yang beragam dan belajar melalui berbuat. proses. Dalam hal pembelajaran. 5. bidang ajar. gugus isi dan atau konteks. 3. 6. Pokok Bahasan dan Subpokok Bahasan beserta uraian kegiatan yang terdapat dalam kurikulum ‟94. dan Materi pokok : merupakan bagian dari struktur keilmuan suatu bahan kajian yang dapat berupa pengertian konseptual. dan keterampilan yang dipilih sebagai bahan pembelajaran untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. pendidikan dasar maupun pendidikan menengah. Sebagai gantinya adalah Standar Kompetensi Mata Pelajaran. sudah tidak ada lagi dalam kurikulum 2004.

memasuki orde reformasi‟. sebenarnya merupakan uji coba sebuah kurikulum. pemerintah menemukan sebuah format kurikulum yang pas. SDLB: Tahun I Tahun II Tahun III : kelas 1 dan 4 : kelas 1. Dan pelaksanaan KBK di lapangan. melaksanakan Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 dan Nomor 23 Tahun 2006 secara bertahap dalam waktu paling lama 3 tahun dengan tahapan: o    Untuk SD. setelah sebelumnya dilakukan piloting KBK di beberapa sekolah yang ditunjuk. SMA. dan SMALB: Tahun I Tahun II Tahun III : kelas 1 : kelas 1 dan 2 : kelas 1. 2. 4 dan 5 : kelas 1. MTs. yaitu KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang diluncurkan mulai tahun pelajaran 2006/2007 secara serentak di seluruh wilayah indonesia. kenapa baru berupa draft kok sudah dilaksanakan? Jawabannya adalah. 5. MA. MI.dan 6 o    Untuk SMP. untuk mendapatkan sebuah format kurikulum yang pas. 2. dengan ketentuan. Setelah pelaksanaan Piloting dan uji coba KBK. . „semua berpulang pada keinginan pemerintah menjawab tantangan revolusi pendidikan yang terjadi. SMK. 4.Mungkin kita bertanya.2 dan 3 Satuan pendidikan dasar dan menengah yang telah melaksanakan uji coba kurikulum 2004 secara menyeluruh dapat menerapkan secara menyeluruh Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 dan Nomor 23 tahun 2006 untuk semua tingkatan kelasnya mulai tahun ajaran 2006/2007. Satuan pendidikan dasar dan menengah yang belum melaksanakan uji coba kurikulum 2004. 3. MAK. SMPLB.

Komponen KTSP terdiri dari: 1. Masing-masing satuan pendidikan (sebut: sekolah). isi.19 Tahun 2005 tentang SNP (Standar Nasional Pendidikan) pasal 17. apa toh yang dimaksud dengan kurikulum? Apa pula KTSP? Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan. 3. SMP atau SMA. Yang ada adalah Kurikulum SD. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. kita perlu mengetahui. Visi. kepribadian. Sedang Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan. Pemerintah pusat hanya memberikan acuan operasional penyusunannya. dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. 4. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) Untuk memperjelas pemahaman tentang kurikulum. akhlak mulia. sosial budaya masyarakat. 2) Sekolah dan komite sekolah/madrasah mengembangkan kurikulum satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan serta berpedoman pada panduan yg disusun oleh BSNP Dengan demikian kurikulum yang biasanya sudah berupa „buku paket‟ seragam yang dibuat oleh pemerintah pusat. Misi. 5. dan karakteristik peserta didik. potensi/karakteristik daerah. sudah ada dan dimiliki oleh setiap satuan pendidikan. 2. yang menyebutkan bahwa : 1) Kurikulum tingkat satuan pendidikan dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan. .5. tidak ada lagi. dan Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan Struktur dan Muatan KTSP Kalender Pendidikan Silabus RPP Visi dan Misi. Pengembangan KTSP didasarkan pada PP No. membuat kurikulum sendiri dan dilaksanakan sendiri. Sedang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan (sekolah). pengetahuan.

Keragaman potensi dan karakter daerah dan lingkungan Tuntutan pembangunan daerah dan nasional Tuntutan dunia kerja Sumber http://akudwnda.com/2011/07/kurikulum-yang-pernah-diterapkan-di. 2.Acuan Operasional penyusunan KTSP adalah sebagai berikut : 1. 4. Peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia Peningkatan potensi.html . kecerdasan. dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik 3.blogspot. 5.

Kelas masyarakat mengajarkan keterampilan. Pada masa itu juga dibentuk Kelas Masyarakat. RENCANA PELAJARAN TERURAI 1952 . Pada awalnya pelajaran agama diberikan mulai kelas IV. kesadaran bernegara. Ilmu Alam mengajarkan bagaimana proses kejadian sehari-hari. yang dikenal dengan istilah Rencana Pelajaran Terurai 1952. Ilmu Hayat. Seorang guru mengajar satu mata pelajaran”. maka Rencana Pelajaran 1947. Menulis. bagaimana mempergunakan berbagai perkakas sederhana (pompa. Gerak Badan. mengapa nelayan melaut pada malam hari. perhatian terhadap kesenian. dan Madura diberikan bahasa daerah. Ilmu Alam. dan Pendidikan Agama. yang orientasi pendidikan dan pengajarannya ditujukan untuk kepentingan kolonialis Belanda. Daftar pelajarannya adalah Bahasa Indonesia. Susunan Rencana Pelajaran 1947 sangat sederhana. membaca. RENCANA PELAJARAN 1947 Kurikulum pertama pada masa kemerdekaan namanya Rencana Pelajaran 1947. Berhitung. B. Ilmu Bumi. yang tidak mau lagi melihat dunia pendidikan masih menerapkan kurikulum Belanda. dan menulis. Tujuannya agar anak tak mampu sekolah ke jenjang SMP. Seni Suara. Ketika itu penyebutannya lebih populer menggunakan leer plan (rencana pelajaran) ketimbang istilah curriculum dalam bahasa Inggris. tentu yang kita harapkan adalah perubahan untuk menuju keperbaikan dan sebuah perubahan selalu di sertai dengan konsekuensi-konsekuensi yang sudah selayaknya di pertimbangkan agar tumbuh kebijakan bijaksana. Asas pendidikan ditetapkan Pancasila. baru diterapkan pada tahun 1950. dan perikanan. Bahasa Daerah. Pada perkembangannya.MACAM-MACAM KURIKULUM DI INDONESIA Posted by labphysics On 17. Oleh karena itu Rencana Pelajaran 1947 sering juga disebut kurikulum 1950. namun sejak 1951 agama juga diajarkan sejak kelas 1. Kebersihan dan Kesehatan. Ini adalah perkembangan Kurikulum Pendidikan Kita: A. Menggambar. Sejarah. yaitu sekolah khusus bagi lulusan SR 6 tahun yang tidak melanjutkan ke SMP. Mata pelajaran untuk tingkat Sekolah Rakyat ada 16. pertukangan. Didikan Budi Pekerti. manfaat bes berani). serta garis-garis besar pengajarannya. seperti pertanian. Situasi perpolitikan dengan gejolak perang revolusi. dan pendidikan jasmani. hanya memuat dua hal pokok. bisa langsung bekerja. Salah satu konsep terpenting untuk maju adalah “melakukan perubahan”. timbangan. khusus di Jawa. pelajaran bahasa mengajarkan bagaimana cara bercakapcakap. dan bagaimana menyambung kabel listrik. dan bermasyarakat. Garis-garis besar pengajaran pada saat itu menekankan pada cara guru mengajar dan cara murid mempelajari. Pekerjaan Keputrian.39 No comments Deskripsi singkat tentang kurikulum apa saja yang pernah dikembangkan dalam program pendidikan di negeri tercinta Indonesia. Sunda. “Silabus mata pelajarannya jelas sekali. yaitu daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya. misalnya mengapa lokomotif diisi air dan kayu. Misalnya. dan menyelidiki berbagai peristiwa sehari-hari. Rencana Pelajaran 1947 bersifat politis. Rencana Pelajaran 1947 lebih mengutamakan pendidikan watak. Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari. daripada pendidikan pikiran. rencana pelajaran lebih dirinci lagi setiap pelajarannya. Pekerjaan Tangan.

” katanya. Di penghujung era Presiden Soekarno. emosional/artistik. mengelompokkan. seorang guru mengajar satu mata pelajaran. Jumlah pelajarannya 9. . hingga melaporkan. alat pelajaran. agar pendidikan lebih efisien dan efektif. Direktur Pendidikan Dasar Depdiknas periode 1991-1995. Fokusnya pada pengembangan daya cipta. Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral. Mudjito. Kurikulum 1975 banyak dikritik. tapi faktor tujuan tetap penting. karya. yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL). Sayangnya. kecerdasan. KURIKULUM 1968 Kelahiran Kurikulum 1968 bersifat politis: mengganti Rencana Pendidikan 1964 yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Muatan materi pelajaran bersifat teoritis. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis. Tujuannya pada pembentukan manusia Pancasila sejati. Direktur Pembinaan TK dan SD Depdiknas. Semiawan.” kata Djauzak Ahmad. Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan Pancasila. pengetahuan dasar. Conny R. Kepala Pusat Kurikulum Depdiknas periode 1980-1986 yang juga Rektor IKIP Jakarta sekarang Universitas Negeri Jakarta periode 19841992. Metode. Ketika itu. “Silabus mata pelajarannya jelas sekali. Meski mengutamakan pendekatan proses. Setiap satuan pelajaran dirinci lagi: petunjuk umum. MSi. rasa. dan kecakapan khusus. tujuan instruksional khusus (TIK). Konsep CBSA yang elok secara teoritis dan bagus hasilnya di sekolah-sekolah yang diujicobakan. Zaman ini dikenal istilah “satuan pelajaran”. yaitu MBO (management by objective) yang terkenal saat itu. Guru dibikin sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran. kegiatan belajar-mengajar. C. dan evaluasi. Titik beratnya pada materi apa saja yang tepat diberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan. mendiskusikan. Riau. karsa. dan moral (Pancawardhana). dan jasmaniah. materi pelajaran. materi. keprigelan (keterampilan). Djauzak menyebut Kurikulum 1968 sebagai kurikulum bulat. D. Dari mengamati sesuatu. dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Kurikulum ini juga sering disebut “Kurikulum 1975 yang disempurnakan”. tak mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan. KURIKULUM 1984 Kurikulum 1984 mengusung process skill approach.Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang disebut Rencana Pelajaran Terurai 1952. di usia 16 tahun Djauzak adalah guru SD Tambelan dan Tanjung Pinang. “Yang melatarbelakangi adalah pengaruh konsep di bidang manejemen. mengalami banyak deviasi dan reduksi saat diterapkan secara nasional. “Hanya memuat mata pelajaran pokok-pokok saja. Tokoh penting dibalik lahirnya Kurikulum 1984 adalah Profesor Dr. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. KURIKULUM 1975 Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan.” kata Drs. Ak. E. muncul Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum 1964.

Dari muatan nasional hingga lokal. perpaduan tujuan dan proses belum berhasil. misalnya bahasa daerah kesenian. Bila target kompetensi yang ingin dicapai. Hal ini disebabkan karangka dasar (KD). seperti silabus dan sistem penilaian merupakan kewenangan satuan pendidikan (sekolah) dibawah koordinasi dan supervisi pemerintah Kabupaten/Kota. toh di sejumlah sekolah kota-kota di Pulau Jawa. Jadi pengambangan perangkat pembelajaran. Yang terlihat adalah suasana gaduh di ruang kelas lantaran siswa berdiskusi. Tapi perubahannya lebih pada menambal sejumlah materi. dan lain-lain. lantaran beban belajar siswa dinilai terlalu berat. Pelajaran KTSP masih tersendat. kerancuan muncul bila dikaitkan dengan alat ukur kompetensi siswa.” kata Mudjito menjelaskan. Perbedaan yang paling menonjol adalah guru lebih diberikan kebebasan untuk merencanakan pembelajaran sesuai dengan lingkungan dan kondisi siswa serta kondisi sekolah berada. H. Sayang. Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat. KTSP 2006 Awal 2006 ujicoba KBK dihentikan. Hasilnya tak memuaskan.banyak sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA. standar kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD) setiap mata pelajaran untuk setiap satuan pendidikan telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. yakni ujian. (TIAR) http://ahmadmuhaiminalfarisy. KURIKULUM 1994 dan SUPLEMEN KURIKULUM 1999 Kurikulum 1994 bergulir lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya. standar kompetensi lulusan (SKL). evaluasinya tentu lebih banyak pada praktik atau soal uraian yang mampu mengukur seberapa besar pemahaman dan kompetensi siswa. Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesakkan agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum. Kejatuhan rezim Soeharto pada 1998. Ujian akhir sekolah maupun nasional masih berupa soal pilihan ganda. di sana-sini ada tempelan gambar. Kritik bertebaran. dan kota besar di luar Pulau Jawa telah menerapkan KBK. Penolakan CBSA bermunculan. Sayangnya.wordpress. keterampilan daerah.com/2013/02/18/perwajahan-pendidikan-di-indonesia/ . antara pendekatan proses. KURIKULUM 2004 Bahasa kerennya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Muncullah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. F. dan yang menyolok guru tak lagi mengajar model berceramah. Setiap pelajaran diurai berdasar kompetensi apakah yang mesti dicapai siswa. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masingmasing. Meski baru diujicobakan. diikuti kehadiran Suplemen Kurikulum 1999. G. Guru-guru pun tak paham betul apa sebenarnya kompetensi yang diinginkan pembuat kurikulum. “Jiwanya ingin mengkombinasikan antara Kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984. Tinjauan dari segi isi dan proses pencapaian target kompetensi pelajaran oleh siswa hingga teknis evaluasi tidaklah banyak perbedaan dengan Kurikulum 2004. Walhasil.