P. 1
materi-termodinamika-2010

materi-termodinamika-2010

|Views: 43|Likes:
Published by bella_ds

More info:

Published by: bella_ds on Feb 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/07/2013

pdf

text

original

1

BAGIAN I : KONSEP DASAR
2

BAB I. TEMPERATUR

1.1. PANDANGAN MAKROSKOPIS

Kuantitas yang diacu sebagai ciri umum atau sifat skala besar dari sistem disebut koordinat
makroskopis. Contoh : dalam sebuah silinder mesin mobil dapat diperinci empat kuantitas
yakni : komposisi, volume, tekanan dan temperatur.

Koordinat makroskopis memiliki ciri khas mencakup :
1. koordinat tidak menyangkutkan pengandaian khusus mengenai struktur materi,
2. jumlah koordinatnya sedikit,
3. koordinat ini dipilih melalui daya terima indera kita secara langsung,
4. koordinat ini dapat diukur.

1.2. PANDANGAN MIKROSKOPIS

Dalam mekanika statistik, sistem diandaikan terdiri dari sejumlah besar N molekul (tidak
nampak dengan mata atau mikroskopis).
Koordinat mikroskopis memiliki ciri khas mencakup :
1. terdapat pengandaian mengenai struktur materi, yaitu molekul dianggap ada,
2. banyak kuantitas yang harus diperinci,
3. kuantitas yang diperinci tidak didasarkan penerimaan indera kita,
4. kuantitas ini tidak dapat diukur.

1.3. RUANG LINGKUP TERMODINAMIKA

Kuantitas makroskopis (P, V, u) yang berkaitan dengan keadaan internal suatu sistem disebut
koordinat termodinamika.

Tujuan termodinamika adalah mencari hubungan umum antara koordinat termodinamika
yang taat asas dengan hukum pokok termodinamika.

1.4. KESETIMBANGAN TERMAL

Kesetimbangan termal adalah keadaan yang dicapai oleh dua (atau lebih) sistem yang
dicirikan oleh keterbatasan harga koordinat sistem itu setelah sistem saling berinteraksi (salah
satu contoh : asas Black)

1.5. KONSEP TEMPERATUR

Sistem temperatur adalah suatu sifat yang menentukan apakah sistem dalam kesetimbangan
termal dengan sistem lainnya.

3
BAB II. SISTEM TERMODINAMIKA
SEDERHANA

2.1. PERSAMAAN KEADAAN

Dalam keadaan nyata, sangat sulit mengungkapkan kelakuan lengkap zat dalam seluruh
pengukuran harga koordinat termodinamika (P, V, u) dengan memakai persamaan sederhana.

Terdapat lebih dari 60 persamaan keadaan yang telah diajukan untuk menggambarkan cairan
saja, uap saja dan daerah uap-cairan.

Di antaranya :
1. Persamaan gas ideal :
u R Pv =
(2.1)
yang hanya berlaku pada tekanan (P) rendah dalam daerah uap dan gas.

2. Persamaan keadaan van der Waals :
( ) u R b v
v
a
P = ÷ |
.
|

\
|
+
2
(2.2)
yang berlaku dengan baik dalam daerah cairan, uap dan di dekat serta di atas titik kritis.

2.2. PERUBAHAN DIFERENSIAL KEADAAN

Setiap infinitesimal dalam koordinat termodinamika (P, V, u ) harus memenuhi persyaratan
bahwa ia menggambarkan perubahan kuantitas yang kecil terhadap kuantitasnya sendiri tetapi
perubahan kuantitas yang besar terhadap efek yang ditimbulkan oleh kelakuan beberapa
molekul.

Persamaan keadaan suatu sistem dapat dibayangkan bahwa persamaan keadaan tersebut dapat
dipecahkan untuk menyatakan setiap koordinatnya dalam dua koordinat lainnya.
Analisisnya :

1. V = fungsi (u , P) (2.3)
Maka diferensial parsialnya :

dP
P
V
d
V
dV
P u
u
u
|
.
|

\
|
c
c
+
|
.
|

\
|
c
c
=
(2.4)

Kuantitas kemuaian volume rata didefinisikan :

Muai volume rata =
temperatur perubahan
volume satuan per volume perubahan
,
pada kondisi tekanan tetap.
4

Jika perubahan temperatur dibuat sangat kecil, maka perubahan volume juga menjadi sangat
kecil, maka :
kemuaian volume sesaat (β) dirumuskan :
P
V
V
|
.
|

\
|
c
c
=
u
|
1
(2.5)

Sebenarnya β merupakan fungsi dari (u , P), tetapi dalam percobaan menunjukkan bahwa
banyak zat yang β – nya tidak peka pada perubahan tekanan (dP) dan hanya berubah sedikit
terhadap suhu (u).

Efek perubahan tekanan pada volume sistem hidrostatik etjika temperaturnya dibuat tetap,
dinyatakan oleh kuantitas yang disebut ketermampatan isotermik (κ dibaca kappa) yang
dirumuskan :
u
k
|
.
|

\
|
c
c
÷ =
P
V
V
1
(2.6)

2. P = fungsi (u , V) (2.7)
Maka diferensial parsialnya :

dV
V
P
d
P
dP
V u
u
u
|
.
|

\
|
c
c
+ |
.
|

\
|
c
c
=
(2.8)

3. u = fungsi (P, V) (2.9)
Maka diferensial parsialnya :

dV
V
dP
P
d
P V
|
.
|

\
|
c
c
+
|
.
|

\
|
c
c
=
u u
u
(2.10)

2.3. TEOREMA MATEMATIS

Andaikan ada hubungan antara ketiga koordinat x, y, z, maka
f (x,y,z) = 0 (2.11)
dengan
x = fungsi (y,z) maka :
dz
z
x
dy
y
x
dx
y
z
|
.
|

\
|
c
c
+
|
|
.
|

\
|
c
c
=
(2.12)
Dan y = fungsi (x,z) maka :
dz
z
y
dx
x
y
dy
x z
|
.
|

\
|
c
c
+
|
.
|

\
|
c
c
=
(2.13)
5

dengan menyulihkan persamaan (2.13) ke dalam (2.12) diperoleh :
x = fungsi (y,z) maka :
dz
z
x
dz
z
y
dx
x
y
y
x
dx
y x z
z
|
.
|

\
|
c
c
+
(
¸
(

¸

|
.
|

\
|
c
c
+
|
.
|

\
|
c
c
|
|
.
|

\
|
c
c
=
(2.14)
atau
dz
z
x
z
y
y
x
dx
x
y
y
x
dx
y x
z
z
z
(
(
¸
(

¸

|
.
|

\
|
c
c
+
|
.
|

\
|
c
c
|
|
.
|

\
|
c
c
+
|
.
|

\
|
c
c
|
|
.
|

\
|
c
c
=
(2.15)

Sekarang dari ketiga koordinat itu hanya dua yang bebas (x,z). Jika dz = 0 dan dx ≠ 0,
diperoleh :
1 =
|
.
|

\
|
c
c
|
|
.
|

\
|
c
c
z
z
x
y
y
x
(2.16)
z
z
x
y y
x
|
.
|

\
|
c
c
=
|
|
.
|

\
|
c
c 1
(2.17)
Jika dx = 0 dan dz ≠ 0, diperoleh :

0 =
|
.
|

\
|
c
c
+
|
.
|

\
|
c
c
|
|
.
|

\
|
c
c
y x
z
z
x
z
y
y
x
(2.18)
y x
z
z
x
z
y
y
x
|
.
|

\
|
c
c
÷ =
|
.
|

\
|
c
c
|
|
.
|

\
|
c
c
(2.19)
1 ÷ =
|
.
|

\
|
c
c
|
.
|

\
|
c
c
|
|
.
|

\
|
c
c
y x
z
x
z
z
y
y
x
(2.20)

Kembali ke sistem hidrostatik berdasarkan persamaan (2.19), diperoleh :
V P
P V
V
P
|
.
|

\
|
c
c
÷ =
|
.
|

\
|
c
c
|
.
|

\
|
c
c
u u
u
(2.21)
atau
V
P
P
P
V
V
|
.
|

\
|
c
c
÷ =
|
.
|

\
|
c
c
|
.
|

\
|
c
c
u
u
u
(2.22)
6
Dari persamaan (2.5) dan (2.6)
P
V
V
|
.
|

\
|
c
c
=
u
|
1

u
k |
.
|

\
|
c
c
÷ =
P
V
V
1

disulihkan ke dalam persamaan (2.21) diperoleh :
k
|
u
= |
.
|

\
|
c
c
V
P
(2.23)

Kembali ke persamaan (2.8)

dV
V
P
d
P
dP
V u
u
u
|
.
|

\
|
c
c
+ |
.
|

\
|
c
c
=

berdasarkan persamaan (2.6) dan (2.23)
u
k |
.
|

\
|
c
c
÷ =
P
V
V
1

k
|
u
= |
.
|

\
|
c
c
V
P

diperoleh :
dV
V
d dP
k
u
k
| 1
÷ = (2.24)

Lalu pada volume tetap (dV = 0), diperoleh :

u
k
|
d dP =
(2.25)
Dengan mengintegrasikan kedua keadaan tersebut, diperoleh :
u
k
|
u
u
d dP
f
i
f
i
P
P
} }
= (2.26)
Dan

( )
i f i f
P P u u
k
|
÷ = ÷
(2.27)

7
Latihan soal :
1. Persamaan keadaan gas ideal yaitu : u R Pv = . Buktikanlah bahwa :
a.
u
|
1
=

b.
P
1
= k


Jawab :
a. Koordinat termodinamika (P, V, u), maka
V = fungsi (P, u ), namun karena β terjadi pada tekanan tetap berarti V = fungsi (u ) saja.
Lalu persamaan :
u R Pv =
menggunakan perubahan diferensial keadaan menjadi :
P
R v
Rd Pdv
P
=
|
.
|

\
|
c
c
¬ =
u
u
, karena
maka
P
R
V
V
V
P
,
1 1
=
|
.
|

\
|
c
c
=
u
|

terbukti ¬ =
u
|
1


b. κ terjadi pada suhu tetap berarti V = fungsi (P) saja.
karena
P
R
P
v
dP
P
R
dP P R dv P R v R Pv
,
2
2
2 1
u
u
u u u
u
÷ =
|
.
|

\
|
c
c
¬ ÷ = ÷ = ¬ = ¬ =
÷ ÷

maka
P
x
PV
R
P
R
x
V P
V
V
,
1 1 1
2
u u
k
u
= ÷ ÷ =
|
.
|

\
|
c
c
÷ =

terbukti
P
¬ =
1
k

8

2. Diketahui :
1 11
1 6
10 82 , 3
10 181
÷ ÷
÷ ÷
=
=
Pa x
K x
raksa air
raksa air
k
|

Massa air raksa pada tekanan 1 atmosfir (1,01325x10
5
Pa) dan temperatur 0
o
C diusahakan
agar volume tetap. Temperatur dinaikkan hingga 10
o
C, berapa Pa tekanan akhirnya ?

Jawab :
Menggunakan persmaan (2.27)

( )
i f i f
P P u u
k
|
÷ = ÷

Diperoleh :

11
6
5
10 82 , 3
10 10 181
10 01325 , 1
÷
÷
= ÷
x
x x
x P
f


5
11
6
10 01325 , 1
10 82 , 3
10 10 181
x
x
x x
P
f
+ =
÷
÷


5 5
10 01325 , 1 10 473 x P
f
+ =

Pa P
f
5
10 01325 , 474 =



2.4. KUANTITAS INTENSIF DAN EKSTENSIF

Kuantitas dalam bagian sistem yang tetap sama (massanya sama) disebut kuantitas intensif
(tekanan dan temperatur). Kuantitas dalam bagian sistem yang berubah (massanya berubah)
disebut kuantitas ekstensif (volume). Koordinat termodinamika dirangkum dalam Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Kuantitas intensif dan ekstensif

Sistem sederhana Koordinat
intensif
Koordinat ekstensif
Sistem hidrostatik Tekanan (P) Volume (V)
Kawat teregang Gaya tegang (F) Panjang (L)
Selaput permukaan Tegangan permukaan (γ) Luas (A)
Sel listrik Elektromotansi (ε) Muatan (Z)
Lempengan dielektrik Medan listrik (E) Polarisasi (Π)
Batang paramagnetik Medan magnetik (H) Magnetik (M)


9

3. Jika seutas kawat yang panjangnya L, kemuaian linier (α) dan modulus Young
isotermik (Y) mengalami perubahan sangat kecil dari keadaan setimbang awal
keadaan setimbang akhir akibat gaya (F), buktikanlah bahwa perubahan gaya
tegangannya sama dengan :
dL
L
AY
d Y A dF + ÷ = u o


Jawab :
F = fungsi (u , L)
Maka diferensial parsialnya :

dL
L
F
d
F
dF
L u
u
u
|
.
|

\
|
c
c
+
|
.
|

\
|
c
c
=

¬
|
.
|

\
|
c
c
= = =
u
L
F
A
L
L
dL
A
dF
strain
stress
Y

L
YA
L
F
=
|
.
|

\
|
c
c
u

¬
|
.
|

\
|
c
c
= =
F
L
L d
L
dL
u u
o
1

L
L
F
o
u
=
|
.
|

\
|
c
c

Berdasarkan persamaan (2.19) dan (2.20) untuk fungsi (F, θ, L) :
1 ÷ =
|
.
|

\
|
c
c
|
.
|

\
|
c
c
|
|
.
|

\
|
c
c
y x
z
z
x
z
y
y
x

y x
z
x
z
z
y
y
x
|
.
|

\
|
c
c
÷ = |
.
|

\
|
c
c
|
|
.
|

\
|
c
c

Maka :
1 ÷ =
|
.
|

\
|
c
c
|
.
|

\
|
c
c
|
.
|

\
|
c
c
u
u
u F
L
L
F
F L

u
u u
|
.
|

\
|
c
c
|
.
|

\
|
c
c
÷ =
|
.
|

\
|
c
c
L
F L F
F L

10
L
AY
L
F
L
o
u
÷ =
|
.
|

\
|
c
c

AY
F
L
o
u
÷ =
|
.
|

\
|
c
c


Kembali ke persamaan :

dL
L
F
d
F
dF
L u
u
u
|
.
|

\
|
c
c
+
|
.
|

\
|
c
c
=

Akhirnya diperoleh :

terbukti dL
L
AY
d AY dF ¬ + ÷ = u o


4. Seutas kawat logam dengan luas penampang
0,0085 cm
2
, gaya tegang 20 N dan temperatur 20
o
C, terentang antara dua dukungan
tegar berjarak 1,2 m. Jika temperaturnya dikurangi sehingga menjadi 8
o
C,
α = 1,5 x 10
-5
K
-1
, Y = 2,0 x 10
11
N/m
2
. Berapa N-kah tegangan akhirnya :

Jawab :
Berdasarkan persamaan :

dL
L
AY
d AY dF + ÷ = u o

Karena tidak ada perubahan panjang berarti dL = 0, maka
u o d AY dF ÷ =
( ) 20 8 10 2 10 5 , 8 10 5 , 1
11 7 5
÷ ÷ =
÷ ÷
x x x x x x dF
20 6 , 30 10 306
1
+ = ¬ = ÷
÷
akhir awal akhir
F x F F

N F
akhir
6 , 50 =


5. Jika sebagai tambahan pada kondisi dalam soal no. 4, Dukungan tersebut saling
mendekati dengan jarak 0,012 cm, berapa N-kah gaya tegangan akhirnya ?

Jawab :
Berdasarkan persamaan :
dL
L
AY
d AY dF + ÷ = u o

( )
4
11 7
11 7 5
10 2 , 1
2 , 1
10 2 10 5 , 8
20 8 10 2 10 5 , 8 10 5 , 1
÷
÷
÷ ÷
+ ÷ ÷ = x x
x x x
x x x x x x dF
20 6 , 47 17 6 , 30 + = ¬ + = ÷
akhir awal akhir
F F F

N F
akhir
6 , 67 =

11
2.5. PEKERJAAN RUMAH

1. Persamaan keadaan hampiran gas nyata pada tekanan
sedang, yang dibentuk untuk memperhitungkan ukuran berhingga molekul
dirumuskan :
( ) u R b v P = ÷
,
dengan R dan b tetapan. Buktikanlah bahwa :

u
u
|
R
bP
a
+
=
1
1
.

u
k
R
bP
P
b
+
=
1
1
.


2 Logam yang kemuaian voluemnya 5,0 x 10
-5
K
-1
dan kemampatan isotermiknya
1,2 x 10
-11
Pa
-1
berada dalam tekanan 1 x 10
5
Pa dan suhunya 20
o
C. Logam ini
dilingkungi secara pas oleh invar tebal yang kemuaian dan kemampatannya dapat
diabaikan.
a. Berapa Pa-kah tekanan akhrinya jika suhu dinaikkan 32
o
C?
b. Jika lengkungan penutup dapat menahan tekanan maksimum 1,2 x 10
8
Pa,
berapa
o
C-kah suhu tertinggi sistem itu ?

3 Logam yang kemuaian voluemnya 5,0 x 10
-5
K
-1
dan kemampatan isotermiknya
1,2 x 10
-11
Pa
-1
berada dalam tekanan 1 x 10
5
Pa, suhu 20
o
C dan volumenya 5 liter,
mengalami kenaikan suhu 12 derajat dan pertambahan volumenya 0,5 cm
3
. Berapa
Pa-kah tekanan akhirnya ?

4. Dengan menggunakan koordinat termodinamika
(P, V, u ), buktikanlah persamaan :

dP d
V
dV
k u | ÷ =


5. Pada suhu kritis diketahui bahwa :

0 =
|
.
|

\
|
c
c
T
V
P
.
Buktikanlah bahwa pada titik kritis, kemuaian volume (β) dan ketermampatan
isotermiknya (κ) menjadi tak berhingga !

12
6. Persamaan keadaan zat elastik ideal dirumuskan :

|
|
.
|

\
|
÷ =
2
2
0
0
L
L
L
L
K F u
,
dengan K tetapan dan L
0
(harga L pada gaya tegang nol) hanya merupakan fungsi dari
suhu.
a. Buktikanlah bahwa modulus Young isotermiknya dirumuskan :

|
|
.
|

\
|
+ =
2
2
0
0
2
L
L
L
L
A
K
Y
u

b. Buktikanlah bahwa modulus Young isotermiknya pada gaya tegangan nol
dirumuskan :

A
K
Y
u 3
=
13
BAB 3. KERJA

3.1. KERJA

Jika sistem mengalami pergeseran karena beraksinya gaya, disebut kerja.
Kerja yang dilakukan oleh bagian sistem pada sistem yang lain disebut kerja internal,
sedangkan kerja yang dilakukan sistem ke lingkungan atau sebaliknya disebut kerja eksternal.
Yang berperan dalam termodinamika bukan kerja internal, melainkan kerja eksternal.

3.2. PROSES KUASI-STATIK

Proses kuasi-statik adalah proses dalam keadaan ideal dengan hanya mengubah sedikit saja
gaya eksternal yang beraksi pada sistem sehingga gaya takberimbangnya sangat kecil. Proses
kuasi-statik merupakan suatu pengidealan yang dapat diterapkan untuk segala sistem
termodinamika, termasuk sistem listrik dan magnetik.

3.3. KERJA DALAM SISTEM SEDERHANA

Tabel 3.1. Kerja dalam sistem sederhana

Sistem sederhana Kuantitas
Intensif (gaya
rampatan)
Kuantitas ekstensif
(pergeseran
rampatan)
Kerja (J)
Sistem hidrostatik Tekanan (P) Volume (V) P dV
Kawat teregang Gaya tegang (F) Panjang (L) F dL
Selaput permukaan Tegangan permukaan
(γ)
Luas (A) γ dA
Sel listrik terbalikkan Elektromotansi (ε) Muatan (Z) ε dZ
Lempengan
dielektrik
Medan listrik (E) Polarisasi (Π) E dΠ
Batang magnetik Medan magnetik (H) Magnetik (M) μ
0
H dM

3.4. KERJA DALAM PROSES KUASI-STATIK

Kasus I :
Pemuaian atau pemampatan isotermik yang kuasi-statik dari gas ideal, diperoleh kerja :
dV P dW = diintegralkan maka
} } }
= ¬ =
2
1
2
1
V
V
V
V
dV P W dV P dW
(3.1)
14
Gas ideal PV = nRθ, maka :
V
nR
P
u
=
, disulikah ke dalam persamaan (3.1), diperoleh :
| | | |
1 2
ln ln ln
2
1
2
1
2
1
V V nR V nR
V
dV
nR dV
V
nR
W
V
V
V
V
V
V
÷ = = = =
} }
u u u
u
(
¸
(

¸

=
(
¸
(

¸

=
1
2
1
2
log 30 , 2 ln
V
V
nR
V
V
nR W u u
(3.2)

Latihan soal :

1. Dalam gas ideal terdapat 2 kmol gas yang dipertahankan pada suhu tetap 0
o
C,
dimana gas itu dimampatkan dari volume 4 m
3
menjadi 1 m
3
. Jika R = 8,314 J/mol
K, berapa kJ-kah kerja yang timbul?

Jawab :
Berdasarkan persamaan (3.2)
(
¸
(

¸

=
(
¸
(

¸

=
4
1
ln 273 314 , 8 10 2 ln
3
1
2
x x x
V
V
nR W u

kJ J x W 6300 10 6300
3
÷ = ÷ =

Harga W “negatif“ berarti bahwa kerja terjadi dari lingkungan ke sistem gas.

Kasus II :
Pertambahan tekanan isotermik kuasi-statik pada zat padat, diperoleh kerja :
dV P W
}
=
(3.a)
V = fungsi (θ, P), maka diferensial parsialnya :
dP
P
V
d
V
dV
P u
u
u
|
.
|

\
|
c
c
+
|
.
|

\
|
c
c
=
(3.b)
Karena :
1.
u
k
|
.
|

\
|
c
c
÷ =
P
V
V
1

2. isotermik (dθ = 0), persamaan (3.a) menjadi :

dP V x
V
dV
P
k
u
÷
|
.
|

\
|
c
c
= 0
=
dP V dV k ÷ = (3.c)
15
Lalu persamaan (3.c) disulihkan ke persamaan (3.a), diperoleh :
| |
2
1
2
1
2
2
P
P
P
P
P
V
dP P V W
k
k ÷ = ÷ =
}

| | | |
2
1
2
2
2
1
2
2
2 2
P P
m
P P
V
W ÷ ÷ = ÷ ÷ =
µ
k
k
(3.3)
dimana :
V
m
= µ .

2. Tekanan pada tembaga padat bermassa 100 kg ditambah secara kuasi-statik dan
isotermik pada suhu 0
o
C dari 0 atm hingga 1000 atm (1 atm = 1,01325 x 10
5
Pa).
Jika diketahui ρ = 8930 kg/m
3
, κ = 7,16 x 10
-12
Pa
-1
, berapa kJ-kah kerja yang
timbul ?

Jawab :
Berdasarkan persamaan (3.3)
| | | |
2 2 8
12
2
1
2
2
) 0 ( ) 10 01325 , 1 (
8930 2
100 10 16 , 7
2
÷ ÷ = ÷ ÷ =
÷
x
x
x x
P P
m
W
µ
k
kJ J x W 411 , 0 10 411 , 0
3
÷ = ÷ =
Harga W “negatif“ berarti kerja dilakukan dari lingkungan ke sistem tembaga.

3. Suatu dielektrik dari bahan ferroelektrik barium stronsium titanat (Ba
x
Sr
1-x
TiO
3
)
mempunyai persamaan keadaan :
E
V
_ =
[
,
dengan χ merupakan fungsi dari θ saja. Buktikanlah bahwa kerja yang dilakukan
dalam perubahan isotermik kuasi-statik dari keadaan itu dirumuskan :
| | | |
2
1
2
2
2
1
2
2
2
1
2
[ ÷ [ = ÷ =
_
_
V
E E
V
W
(3.4)

Jawab :
Berdasarkan tabel 3.1 diketahui :
}
[ = d E W
Diferensial parsialnya :
dE
E
d d
E u
u
u
|
.
|

\
|
c
[ c
+ |
.
|

\
|
c
[ c
= [

Karena isotermik maka dθ = 0, maka :
dE
E
d
u
|
.
|

\
|
c
[ c
= [

16

_ _ _
u
V
E
E V E
V
= |
.
|

\
|
c
[ c
¬ = [ ¬ =
[


Lalu :
dE V d _ = [
, disulihkan ke persamaan :
} } }
= = [ =
2
1
2
1
E
E
E
E
dE E V dE V E d E W _ _


| | terbukti E E
V
W ¬ ÷ =
2
1
2
2
2
_


Karena :
_
_
V
E E
V
[
= ¬ =
[
, maka disulihkan :

} } }
[
[
[
[
[ [ = [
[
= [ =
2
1
2
1
1
d
V
d
V
d E W
_ _

| | terbukti
V
W ¬ [ ÷ [ =
2
1
2
2
2
1
_


4. Dalam pemuaian adiabatik gas ideal kuasi-statik, diketahui bahwa tekanannya pada
setiap saat memenuhi persamaan (3.5) :
K V P =
¸
, (3.5)
dimana : C
P
= C
V
+ nR,
V
P
C
C
= ¸
dan K merupakan tetapan (Laplace).
Buktikanlah bahwa kerja yang dilakukan untuk pemuaian dari keadaan (P
1
, V
1
) ke
keadaan (P
2
,V
2
) dirumuskan dengan persamaan :
( )
1
2 2 1 1
÷
÷
÷ =
¸
V P V P
W
(3.6)
Jawab :
Berdasarkan persamaan (3.5) diperoleh :

¸
¸
¸ ÷
= = ¬ = V K
V
K
P K V P

Karena kerja
| |
2
1
2
1
2
1
1
1
1
V
V
V
V
V
V
V K dV V K dV P W
+ ÷ ÷
+ ÷
= = =
} }
¸ ¸
¸

17

| | | |
1 1 2 2
1
1
1
2
1
1
1
1
V KV V KV KV KV W
¸ ¸ ¸ ¸
¸ ¸
÷ ÷ + ÷ + ÷
÷
÷
= ÷
+ ÷
=

| | terbukti V P V P W ¬ ÷
÷
=
1 1 2 2
1
1
¸

18

3.5. PEKERJAAN RUMAH

1. Gaya tegang seutas kawat dinaikkan secara kuasi-statik isotermik dari F
1
ke F
2
. Jika
panjang, penampang dan modulus Young kawat itu secara praktis tetap, buktikanlah
bahwa kerja yang dilakukan dirumuskan dalam persamaan (3.5) :
| |
2
1
2
2
2
F F
Y A
L
W ÷ =
(3.7)

2. Gaya tegang seutas kawat logam yang panjangnya 1 m dan luasnya 1 x 10
-7
m
2

dinaikkan secara kuasi-statik isotermik pada suhu 0
o
C dari 0 N hingga 100 N. Jika
diketahui
Y = 2,5 x 10
11
N/m
2
, berapa joule-kah kerja yang dilakukan ?

3. Buktikanlah bahwa kerja yang dilakukan untuk meniup gelembung sabun berbentuk
bola berjejari R dalam proses isotermik kuasi-statik dari keadaan itu dirumuskan
dalam persamaan (3.6) :
2
8 R W ¸ t =
(3.8)

4. Tekanan pada 0,1 kg logam dinaikkan secara isotermik kuasi-statik dari 0 hingga
10
8
Pa. Jika diketahui : κ = 6,75 x 10
-12
Pa
-1
dan ρ = 10
4
kg/m
3
, berapa joule-kah
kerja yang dilakukan ?

5. Dalam pemuaian adiabatik gas ideal kuasi-statik, buktikanlah bahwa tekanannya
pada setiap saat memenuhi persamaan (3.7) :
K V P =
¸
,
dimana : C
P
= C
V
+ nR,
V
P
C
C
= ¸
dan K merupakan tetapan (Laplace).

6. Dalam pemuaian adiabatik gas ideal kuasi-statik, buktikanlah bahwa suhunya pada
setiap saat memenuhi persamaan (3.8) :
K V =
÷1 ¸
u , (3.9)
dimana : C
P
= C
V
+ nR,
V
P
C
C
= ¸
dan K merupakan tetapan (Laplace).

19
BAB IV. KALOR DAN HUKUM PERTAMA
TERMODINAMIKA

4.1. KALOR :

Definisi kalor ialah : berpindahnya „sesuatu“ dari benda bersuhu lebih tinggi ke benda
bersuhu lebih rendah, dan “sesuatu” ini disebut kalor.

4.2. HUKUM PERTAMA TERMODINAMIKA

Definisi :
Bila suatu sistem yang lingkungannya bersuhu berbeda dan kerja dapat dilakukan
padanya, mengalami suatu proses, maka energi yang dipindahkan dengan cara non
mekanis yang sama dengan perbedaan antara perubahan energi internal (U) dan kerja
(W) yang dilakukan, disebut kalor (Q).
Persamaan Hukum Pertama Termodinamika :
Q = U +W (4.1)

4.3. Bentuk diferensial hukum pertama termodinamika

dQ = dU +dW (4.2)

Untuk proses kuasi statik infinitesimal darsi sistem hidrostatik, hukum pertama
menjadi:
dU = dQ - P dV (4.3)
U merupakan fungsi dari dua antara tiga koordinat termodinamika (P, V, θ)
P merupakan fungsi dari (V, θ)

Tabel 4.1. Kerja dalam sistem sederhana
Sistem sederhana Kerja (J) Hukum pertama termodinamika U fungsi dari
dua antara
Sistem hidrostatik P dV dU = dQ - P dV P, V, θ
Kawat teregang F dL dU = dQ - F dL F, L, θ
Selaput permukaan γ dA dU = dQ - γ dA γ, A, θ
Sel listrik
terbalikkan
ε dZ dU = dQ - ε dZ ε, Z, θ
Lempengan
dielektrik
E dΠ dU = dQ - E dΠ E, Π, θ
Batang
paramagnetik
μ
0
H dM dU = dQ - μ
0
H dM H, M, θ

20
Bentuk diferensial Pfaff :
Untuk mengatasi sistem yang lebih rumit, dengan cara mengganti dW dalam hukum
termodinamika dengan dua atau lebih ungkapan.
Misalnya,
Dalam kasus sistem gabungan yang terdiri dari dua bagian hidrostatik yang dipisahkan oleh
dinding diatermik, dirumuskan :
dQ = dU + PdV + P’dV’ (4.4)

sedangkan untuk kasus gas paramagnetik :
dQ = dU + PdV + μ
0
H dM (4.5)

4.4. KAPASITAS KALOR DAN PENGUKURANNYA

Kapasitas kalor rata-rata =
1 2
u u u u ÷
=
÷
Q Q
awal akhir
(4.6)
Ketika keduanya, Q dan (θ
2
– θ
1
) mengecil, maka
Harga kapasitas kalor sesaat (C) :
u u u
u u
d
dQ Q
C
l
=
÷
=
÷
2
1 2
lim (4.7)
Kapasitas kalor molar dirumuskan :
u d
dQ
n n
C
c
1
= =
(4.8)

Kapasitas kalor pada tekanan tetap dirumuskan :

P
P
d
dQ
C |
.
|

\
|
=
u
(4.9)
Umumnya C
P
merupakan fungsi (P, θ).

Kapasitas kalor pada volume tetap dirumuskan :

V
V
d
dQ
C
|
.
|

\
|
=
u
(4.10)
Umumnya C
V
merupakan fungsi (V, θ).
Setiap kapasitas kalor merupakan fungsi dari dua peubah. Namun dalam selang kecil
variasi koordinat, kapasitas kalor dapat dianggap praktis tetap.
21

Tabel 4.2. Kapasitas kalor dalam sistem sederhana
Sistem sederhana Kapasitas kalor Lambang
Sistem hidrostatik Pada tekanan tetap
Pada volume tetap
C
P
C
V

Kawat teregang Pada gaya tegang tetap
Pada panjang tetap
C
F
C
L

Selaput permukaan Pada tegangan permukaan tetap
Pada luas tetap
C
γ
C
A

Sel listrik
terbalikkan
Pada elektromontasi tetap
Pada muatan tetap
C
ε
C
Z

Lempengan
dielektrik
Pada medan listrik tetap
Pada polarisasi tetap
C
E
C
Π

Batang
paramagnetik
Pada medan magnetik tetap
Pada magnetisasi tetap
C
H
C
M


Pengukuran kapasitas kalor zat padat, cair dan gas merupakan salah satu proyek percobaan
fisika modern yang paling penting, karena harga numerik kapasitas kalor memberikan sarana
paling langsung untuk membuktikan perhitungan fisikawan teoritis dan menentukan
kesahihan pengandaian beberapa teori modern.

4.5. PERSAMAAN UNTUK SISTEM HIDROSTATIK

Berdasarkan hukum pertama termodinamika dalam tabel 4.1 :
dQ = dU +PdV

U merupakan fungsi dua peubah di antara (P, V, θ).

Kasus :
U merupakan fungsi dua peubah di antara (θ, V), diperoleh :
dV
V
U
d
U
dU
V u
u
u
|
.
|

\
|
c
c
+
|
.
|

\
|
c
c
=

Maka hukum pertama termodinamika dirumuskan :
PdV dV
V
U
d
U
dQ
V
+
|
.
|

\
|
c
c
+
|
.
|

\
|
c
c
=
u
u
u

dV P
V
U
d
U
dQ
V
(
¸
(

¸

+
|
.
|

\
|
c
c
+
|
.
|

\
|
c
c
=
u
u
u


Dengan membagi dengan dθ, diperoleh :

u u u
u
d
dV
P
V
U U
d
dQ
V
(
¸
(

¸

+ |
.
|

\
|
c
c
+ |
.
|

\
|
c
c
=
(4.11)
22
1. Jika V tetap, dV = 0 diperoleh :

V V
U
d
dQ
|
.
|

\
|
c
c
=
|
.
|

\
|
u u

V
V
U
C
|
.
|

\
|
c
c
=
u
(4.12)
Dalam bentuk integral :

}
=
2
1
u
u
u d C Q
V V
(4.13)

2. Jika P tetap, dP = 0, persamaan (4.11) menjadi :

P V P
V
P
V
U U
d
dQ
|
.
|

\
|
c
c
(
¸
(

¸

+
|
.
|

\
|
c
c
+
|
.
|

\
|
c
c
=
|
.
|

\
|
u u u
u

Karena
P
P
d
dQ
C |
.
|

\
|
=
u
dan bentuk integral nya :
}
=
2
1
u
u
u d C Q
P P
serta
|
u
V
V
P
=
|
.
|

\
|
c
c
, maka :
|
u
V P
V
U
C C
V P (
¸
(

¸

+
|
.
|

\
|
c
c
+ =

P
V
C C
V
U
V P
÷
÷
=
|
.
|

\
|
c
c
|
u
(4.14)
diukur bisa C C kauntitas namun
terukur tidak
V
U
kuantitas
V P
|
u
, ,
|
.
|

\
|
c
c


Latihan soal :

1. Kapasitas kalor molar suatu logam pada suhu rendah bervariasi terhadap suhu
menurut persamaan :

u u b
a
c +
O
=
3
3

Dengan a, b, Θ tetapan. Berapakah banyaknya kalor per mol dipindahkan selama
berlangsungnya proses sehingga suhunya berubah dari 0,01 Θ menjadi 0,02 Θ ?
23
Jawab :
Diketahui :
u u b
a
c +
O
=
3
3

Karena
u u u u
u
u
u
u
d b
a
d c Q
|
.
|

\
|
+
O
= =
} }
3
3
2
1
2
1


¬
|
.
|

\
|
+
O
=
2
1
2 4
3
2 4
u
u
u u
b a
Q

O
O
|
.
|

\
|
+
O
=
02 , 0
01 , 0
2 4
3
2 4
u u
b a
Q

( ) ( ) | | ( ) ( ) | |
|
.
|

\
|
O ÷ O + O ÷ O
O
=
2 2 4 4
3
01 , 0 02 , 0
2
01 , 0 02 , 0
4
b a
Q

( )
2 4 8
10 5 , 1 10 75 , 3 O + O =
÷ ÷
b x a x Q


2. Pada suhu kritis diketahui bahwa :

0 =
|
.
|

\
|
c
c
T
V
P
dan
0
2
2
=
|
|
.
|

\
|
c
c
T
V
P

Diketahui persamaan van der waals dirumuskan dalam persamaan (2.2) bab 2 yang
terdahulu:
( ) u R b v
v
a
P = ÷
|
.
|

\
|
+
2


Tentukanlah:
a. Volume titik kritik nya (v
c
)
b. Suhu titik kritik nya (θ
c
) ?
c. Tekanan titik kritik nya (P
c
) ?
d. nilai :
c
c c
R
v P
u
?

Jawab :
a. Karena
( ) u R b v
v
a
P = ÷
|
.
|

\
|
+
2
, maka :
2
v
a
b v
R
P ÷
÷
=
u

Lalu : 0 =
|
.
|

\
|
c
c
T
V
P
dan
0
2
2
=
|
|
.
|

\
|
c
c
T
V
P

( )
0
2
3 2
= +
÷
÷ = |
.
|

\
|
c
c
v
a
b v
R
v
P
T
u
lalu
( )
3 2
2
v
a
b v
R
=
÷
u

24

( )
0
6 2
4 3 2
2
= ÷
÷
=
|
|
.
|

\
|
c
c
v
a
b v
R
v
P
T
u
lalu
( )
4 3
3
v
a
b v
R
=
÷
u

Pada titik kritis berarti :
v = v
c
; θ = θ
c
; P = P
c
,
Maka pemecahan di atas dibagi saja menjadi :

( )
( )
b v v
v b v
v
a
v
a
b v
R
b v
R
3 3 2
2
3 1
2
3
3
4
2
3
÷ = ¬ =
÷
¬ =
÷
÷
u
u


b v v
c
3 = =

b. Mencari nilai θ
c
; hasil v
c
disulihkan ke dalam persamaan
( )
( )
( )
( )
R
b b
b
a
R
b v
v
a
v
a
b v
R
2
3
2
3 3 2
3
3
2 2 2 ÷
=
÷
= ¬ =
÷
u
u

Rb
a
c
27
8
= =u u

c. Mencari nilai P
c
; hasil v
c
dan θ
c
disulihkan ke dalam persamaan
( )
2 2 2 2 2 2
54
2
9 54
8
9 2
27
8
3 3
27
8
b
a
b
a
b
a
b
a
b
b
a
b
a
b b
bR
a
R
v
a
b v
R
P
c c
c
c
= ÷ = ÷ = ÷
÷
|
.
|

\
|
= ÷
÷
=
u

2
27b
a
P
c
=
d. Mencari nilai
c
c c
RT
v P
; hasil v
c
, θ
c
dan P
c
disulihkan

= = =
b
a
b
a
bR
a
R
b
b
a
R
v P
c
c c
27
8
9
27
8
3
27
2
u

8
3
=
c
c c
R
v P
u

25

4.6. PENGHANTARAN KALOR

Definisi penghantaran kalor :
Transport energi antara elemen volume bertetangga, yang ditimbulkan oleh perbedaan
suhu antar elemen itu.
Tiga jenis penghantaran kalor mencakup : konduksi, konveksi dan radiasi.

4.7. KONDUKTIVITAS TERMAL (K)

Penghantaran kalor dalam satu dimensi, diirumuskan :

dx
d
KA
dt
dQ
H
u
÷ = =
(4.15)
H = kalor yang mengalir, A = luas penampang, t = waktu, θ = suhu, dx = ketebalan
bahan.
=
dx
du
gradien suhu.

Latihan soal :
3. Andaikanlah koduksi kalor terjadi pada laju yang tetap H melalui dinding silinder
berongga dengan jejari-dalam r
1
pada temperatur θ
1
dan jejari-luar r
2
pada temperatur
θ
2
. Untuk silinder yang panjangnya L dan konduktivitas termal tetap K, buktikanlah
bahwa perbedaan suhu antara kedua permukaan dinding dirumuskan dalam pesamaan
:

1
2
2 1
ln
2 r
r
LK
H
t
u u = ÷
(4.16)
Jawab :
Berdasarkan persamaan (4.16)
dx
d
KA H
u
÷ =

Luas selimut silinder (A) = 2πrL, maka
u t
u
t d L K
r
dr
H
dr
d
L r K H 2 ) 2 ( ÷ = ¬ ÷ =

diintegralkan :
, 2
2
1
2
1
u t
u
u
d L K
r
dr
H
r
r
} }
÷ =
diperoleh :
| | | |
2
1
2
1
2 ln
u
u
u t L K r H
r
r
÷ =


| |
2 1
1
2
2 ln u u t ÷ =
(
¸
(

¸

L K
r
r
H

Akhirnya diperoleh :

( ) terbukti
r
r
KL
H
¬ = ÷
1
2
2 1
ln
2t
u u

26
4. Kalor mengalir secara radial ke arah luar melalui penyekat silindris berjejari-luar r
2

yang menyelimuti pipa uap berjejari-dalam r
1
. Suhu permukaan dalam penyekat
sebesar θ
1
dan permukaan luarnya bersuhu θ
2
. Pada jarak radial berapakah yang
diukur dari pusat pipa, agar suhunya tepat sama dengan tengah-tengah antara θ
1
dan
θ
2
?

Jawab :
Berdasarkan persamaan (4.16) :

1
2
2 1
ln
2 r
r
LK
H
t
u u = ÷
Jika suhu θ
3
merupakan suhu berada di tengah-tengah antara θ
1
dan θ
2
, berarti Δθ = θ
1
– θ
3
=
θ
3
– θ
2
, maka

dan
r
r
LK
H
1
3
3 1
ln
2t
u u = ÷

3
2
2 3
ln
2 r
r
LK
H
t
u u = ÷
lalu
3
2
1
3
ln
2
ln
2 r
r
KL
H
r
r
LK
H
t t
=

Berarti
3
2
1
3
ln ln
r
r
r
r
= , akhirnya diperoleh :
2 1 3
r r r =


5. Dua cangkang sferis sepusat berjejari 0,05 m dan 0,15 m; rongga di antaranya diisi
dengan arang. Jika energi dikirimkan dengan laju tunak 10,8 W ke pemanas di
pusatnya, maka perbedaan suhu sebesar 50
o
C terdapat

antara kedua bola itu. Berapa
kah
K meter
mW
÷
nilai konduktvitas termal arang itu ?
Jawab :
Berdasarkan persamaan (4.19) dirumuskan (dalam PR no. 4.4 silahkan dibuktikan):

|
|
.
|

\
|
÷ = ÷
2 1
2 1
1 1
4 r r K
H
t
u u

Berarti :

( )
|
.
|

\
|
÷ =
|
|
.
|

\
|
÷
÷
=
÷ ÷ 2 2
2 1 2 1
10 15
1
10 5
1
50 4
8 , 10 1 1
4 x x x r r
H
K
t u u t

229 = K
K meter
mW


4.8. KONVEKSI KALOR

Konveksi kalor diirumuskan :
u d hA H = (4.17)
H = kalor yang mengalir, A = luas penampang, dθ = perbedaan suhu.
27

4.9. HUKUM STEFAN-BOLTZMANN

Kalor yang dipindahkan oleh radiasi antara benda pada suhu tinggi θ
1
ke suhu rendah
θ
2
, dirumuskan:
( )
4
2
4
1
u u oo ÷ = A P
(4.18)
P = daya kalor yang mengalir, A = luas penampang,
α = keserapan bahan, σ = tetapan Stefan-Boltzmann = 5,67 x 10
-8
W/(m
2
K
4
)

Latihan soal :

6. Suhu kerja filamen tungsten suatu lampu pijar sebesar 2460 K dan keserapannya 0,35.
Berapa cm
2
-kah luas permukaan filamen suatu lampu berdaya 100 W ?
Jawab :
Berdasarkan persamaan (4.16)
( )
4
1
u oo A P =


( )
4 8 4
2460 10 67 , 5 35 , 0
100
÷
= =
x x
P
A
oou


2 2 4
38 , 1 10 38 , 1 cm m x A = =
÷

28

4.10. PEKERJAAN RUMAH

1 Bila arus listrik diperthankan supaya mengalir dalam sel elekrolit air yang diasamkan
dan 1 mol air terelektrolisis menjadi hidrogen dan oksigen, muatan listrik sebesar
2 faraday dipindahkan melalui baterai dengan elektromontasi ε (1 faraday =
96.500 C). Perubahan energi sisem sebesar + 286.500 J dan 50.000 J kalor yang
diserap. Berapa volt-kah elektromontasi ?

2 Berkaitan dengan energi internal sistem hidrostatik yang merupakan fungsi dari θ, P,
buktikanlah persamaan beiut ini :
a.
dP
P
V
P
P
U
d
P
V
P
U
dQ
P P
(
¸
(

¸

|
.
|

\
|
c
c
+
|
.
|

\
|
c
c
+
(
¸
(

¸

|
.
|

\
|
c
c
+
|
.
|

\
|
c
c
=
u u
u
u
(4.19)
b.
|
u
PV C
U
P
P
÷ =
|
.
|

\
|
c
c
(4.20)

3. Diketahui persamaan van der waals dirumuskan dalam persamaan (2.2) bab 2 yang
terdahulu :
( ) RT b v
v
a
P = ÷ |
.
|

\
|
+
2

a. Buktikanlah bahwa kemuaian volume sesaat (β) dirumuskan dalam persamaan
(4.21) :

( )
( )
2 3
2
2 b v a RTv
b v Rv
÷ ÷
÷
= |
(4.21)
b. Dari persamaan (4.21) jika a = b = 0,
berapakah nilai β ?

4. Andaikanlah koduksi kalor terjadi pada laju yang tetap H dalam bola berongga
dengan jejari-dalam r
1
pada temperatur θ
1
dan jejari-luar r
2
pada temperatur θ
2
. Untuk
konduktivitas termal tetap K, buktikanlah bahwa perbedaan suhu antara kedua
permukaan dinding dirumuskan dalam persamaan :

|
|
.
|

\
|
÷ = ÷
2 1
2 1
1 1
4 r r K
H
t
u u (4.22)

5. Kalor mengalir secara radial ke arah luar melalui penyekat bola berjejari-luar r
2
yang
menyelimuti pipa uap berjejari-dalam r
1
. Suhu permukaan dalam penyekat sebesar θ
1

dan permukaan luarnya bersuhu θ
2
. Pada jarak radial berapakah yang diukur dari
pusat bola, agar suhunya tepat sama dengan tengah-tengah antara θ
1
dan θ
2
?
29

6. Batang tembaga silindris padatan panjangnya 0,1 m, salah satu ujungnya
dipertahankan pada suhu 20 K. Ujung yang lain dihitamkan dan dibiarkan kena
radiasi termal dari suatu benda 300 K, tanpa ada energi yang hilang atau ditambahkan.
Ketika kesetimbangan tercapai, berapa derajakat kelvin-kah perbedaan suhu antara
kedua ujungnya ?

7. Tabung logam silindris yang dihitamkan bagian luarnya, tingginya 0,1 meter dan
diameternya 0,05 meter, berisi helium pada titik didih normalnya 4,2 K ketika kalor
penguapannya 21 KJ/kg. Tabung helium itu dilingkungi oleh dinding yang suhunya
dipertahankan pada suhu nitrogen cair 82 K dan ruang di antaranya dihampakan.
Berapa gram-kah banyaknya helium yang menguap perjam ?

8. Seutas kawat tembaga yang panjangnya 1,302 m dan diameternya 3,26 cm
dihitamkan dan diletakkan sepanjang sumbu tabung gelas yang dihampakan. Kawat

dihubungkan

dengan baterai, reostat dan ammeter, serta voltmeter dan arusnya
dinaikkan sampai kawat itu hampir meleleh. Pada saat tersebut ammeter
menunjukkan 12,8 A dan voltmeter menunjukkan 20,2 volt. Andaikan semua energi
yang diberikan diradiasikan dan radiasi dari tabung gelas bisa diabaikan. Berapa
kelvin-kah suhu leleh tembaga ?

9. Pada suhu kritis diketahui bahwa :

0 =
|
.
|

\
|
c
c
T
V
P
dan
0
2
2
=
|
|
.
|

\
|
c
c
T
V
P

Diketahui persamaan Dieterici dirumuskan dalam persamaan :
( ) RT e b v P
vRT
a
= ÷
|
.
|

\
|
(4.23)
Tentukanlah:
a. Volume titik kritik nya (v
c
)
b. Suhu titik kritik nya (T
c
) ?
c. Tekanan titik kritik nya (P
c
) ?
d. nilai :
c
c c
RT
v P
?

30
BAB V. GAS IDEAL

5.1. ENERGI INTERNAL GAS (KOEFISIEN JOULE)

Dari hukum pertama termodinamika, mengingat Q dan W nol, maka energi
internalnya tidak berubah selama pemuaian bebas.
Koefisien joule (efek pemuaian bebas) mengukur kuantitas :
U
V
|
.
|

\
|
c
cu
.
Pada umumnya, energi gas merupakan fungsi setiap dua koordinat (P, V, θ).

Kasus I :
U merupakan fungsi (θ, V), diperoleh :
dV
V
U
d
U
dU
V u
u
u
|
.
|

\
|
c
c
+
|
.
|

\
|
c
c
=

Jika tidak ada perubahan suhu (dθ = 0) pada pemuaian bebas (dU = 0), berarti
0 = |
.
|

\
|
c
c
u
V
U
, atau dengan perkataan lain U tidak bergantung pada V.

Kasus II:
U merupakan fungsi (θ, P), diperoleh :
dP
P
U
d
U
dU
P u
u
u
|
.
|

\
|
c
c
+ |
.
|

\
|
c
c
=

Jika tidak ada perubahan suhu (dθ = 0) pada pemuaian bebas (dU = 0), berarti
0 = |
.
|

\
|
c
c
u
P
U
, atau dengan perkataan lain U tidak bergantung pada P.
Jadi, jika tidak ada perubahan suhu ketika terjadi pemuaian bebas, maka U tidak
bergantung pada V dan P, dan U hanya bergantung pada θ.

5.2. PERSAMAAN GAS IDEAL (GAS SEJATI)

Definisi gas ideal :
Tekanan mendekati nol (tekanan rendah sekali atau kevakuman tinggi sekali), di mana
energi internal gas ideal merupakan fungsi tekanan maupun suhu.
Persamaan gas ideal dirumuskan :
u nR PV = (gas ideal) (5.1)

0 = |
.
|

\
|
c
c
u
P
U
(gas ideal) (5.2)
31
Persyaratan bahwa
0 =
|
.
|

\
|
c
c
u
P
U
dapat ditulis dengan cara lain, diperoleh :
u u u
|
.
|

\
|
c
c
|
.
|

\
|
c
c
=
|
.
|

\
|
c
c
V
P
P
U
V
U
, karena :
V
P
V
nR
V
P
÷ = ÷ =
|
.
|

\
|
c
c
2
u
u
, (5.3)
sehingga hasilnya tidak nol, sedangkan
0 = |
.
|

\
|
c
c
u
P
U
, maka untuk gas ideal
0 = |
.
|

\
|
c
c
u
V
U
(gas ideal) (5.4)
( ) saja fungsi U u = (gas ideal) (5.5)
Untuk proses kausi statik infinitesimal dari sistem hidrostatik, hukum pertama
termodinamika :
PdV dU dQ + =

V
V
U
C
|
.
|

\
|
c
c
=
u

Dalam kasus khusus untuk gas ideal, U merupakan fungsi dari θ saja, sehingga
turunan parsial terhadap θ sama dengan turunan totalnya. Jadi

u d
dU
C
V
=

Diperoleh :

PdV d C dQ
V
+ = u
(gas ideal) (5.6)
Berdasarkan : u nR PV = , untuk proses kuasi statik infinitesimalnya diperoleh :
dP V d nR dV P d nR dP V dV P ÷ = ¬ = + u u
Dengan menyulihkan ke dalam persamaan (5.6) diperoleh :

dP V d nR d C dQ
V
÷ + = u u


( ) dP V d nR C dQ
V
÷ + = u

Dibagi dθ diperoleh :

( )
u u d
dP
V nR C
d
dQ
V
÷ + =

Pada tekanan tetap (dP = 0) dperoleh :

( )
u u d
V nR C
d
dQ
V
P
0
÷ + =
|
.
|

\
|

( ) nR C C
V P
+ =
(gas ideal) (5.7)
Lalu :
dP V d C dQ
P
÷ = u
(gas ideal) (5.8)
32
5.3. PROSES ADIABATIK KUASI-STATIK

Berdasarkan persamaan (5.5) dan (5.7) tapa

PdV d C dQ
V
+ = u
dan
dP V d C dQ
P
÷ = u

Karena dalam proses adiabatik (dQ = 0), maka

dP V d C
P
= u
dan

PdV d C
V
= ÷ u

Kedau persmaan tersebut dibagi diperoleh :
V
dV
V
dV
C
C
P
dP
C
C
dV P
dP V
V
P
V
P
¸ ÷ = ÷ = ¬ ÷ =

Lalu diintegasikan :

V
dV
P
dP
¸ ÷ =
} }


tetapan V P ln ln ln + ÷ = ¸


tetapan V P ln ln ln = +¸


K V P = +
¸
ln ln

( ) ¬ = K PV
¸
ln
K V P =
¸
(gas ideal) (5.9)

Mencari kemiringan kurva persamaan (5.9) dengan menganggap P fungsi V diperoleh :

¸
¸
¸ ÷
= = ¬ = V K
V
K
P K V P


V V
V
V
V
P
Q
¸
¸
¸
¸ ¸
¸ ÷ = ÷ = ÷ =
|
.
|

\
|
c
c
+
÷ ÷
1
1

V
P
V
P
Q
¸
÷ =
|
.
|

\
|
c
c
(gas ideal) (5.10)
Q menandai proses adiabatik. Berdasarkan persamaan (5.3)

V
P
V
P
÷ = |
.
|

\
|
c
c
u

Maka berarti kurva adiabatik mempunyai kemiringan negatif lebih curam daripada kurva
isotermal pada titik yang sama.

33
5.4. METODE RUCHHARDT UNTUK MENGUKUR γ

Metode kerja :
Gas ditempatkan dalam bejana besar bervolume V. Pada bejana itu dipasang tabung gelas
dengan lubang berpenampang sama berluas A. Ke dalam lubang itu dimasukkan bola logam
bermassa m yang tepat menutup lubang tapi masih dapat bergerak bebas sehingga berlaku
sebagai piston. Karena gas agak tertekan oleh bola baja yang ada di dalam kedudukan
kesetimbangan, tekanan gas sedikit lebih besar daripada tekanan atmosfer P
o
. Dengan
mengabaikan gesekan, diperoleh :
A
mg
P
V
mgh
P gh P P P P
o o o h o
+ = + = + = + = µ
(5.11)
Simpangan positif (y) kecil menyebabkan perubahan volume yang sangat kecil pula,
sehingga:
A y dV = (5.12)
Simpangan positif (y) kecil menyebabkan pula penurunan tekanan yang sangat kecil. Karena
gaya resultan (F) yang beraksi pada bola sama dengan A dP, dengan mengabaikan gesekan
diperoleh :

A
F
dP =
(5.13)
Perhatian : bila y positif, dP negatif, sehingga F menjadi negatif, jadi F merupakan gaya
pemulih.

Karena bola bergetar cukup cepat, perubahan P dan V berlangsung secara adiabatic. Karena
perubahannya sangat kecil, keadaan yang dilalui gas dapat dianggap mendekati keadaan
setimbang yang menunjukkan proses kuasi statik adiabatik, diperoleh :
K V P =
¸

Dan 0
1
= +
÷
dP V dV V P
¸ ¸
¸ (5.14)
Dengan menyulihkan persamaan (5.12) dan (5.13) ke dalam (5.14) diperoleh :

0
1
= +
÷
A
F
V A y V P
¸ ¸
¸

Dibagi dengan V
γ-1
diperoleh :

A y P
A
FV
A
F
V A y P ¸ ¸ ÷ = ¬ = + 0

lalu :
y
V
A P
F
2
¸
÷ =
(5.15)
Persamaan (5.1) merupakan persyaratan untuk gerak selaras sederhana (Hukum Hooke),
maka periode (τ) dirumuskan :
2 2
2 2 2 2
A P
mV
V
A P
m
y
F
m
k
m
¸
t
¸
t t t t = = = =

Akhirnya :
2 2
2
4
t
t
¸
P A
mV
= (5.16)
34
5.5. Latihan soal :

5.1. Bola baja bermassa 10 gram diletakkan dalam sebuah tabung berpenampang
melintang 1 cm
2
. Tabung itu dihubungkan dengan tangki udara bervolume 5 liter,
yang tertekanan udaran 76 cm Hg. Berapa detik-kah periode bola bergetar ?

Jawab :
Berdasarkan persamaan (5.16) :
( )
2
4 5
3 2
2
10 4 , 1 10 01325 , 1
10 5 10
2 2
÷
÷ ÷
= =
x x x
x x
A P
mV
t
¸
t t

ik det 18 , 1 = t

5.2. a. Jika y menyatakan ketinggian di atas
permukaan laut, buktikanlah bahwa penurunan tekanan atmosfir yang
ditimbulkan oleh kenaikan dy pada gas ideal dirumuskan :
dy
R
mg
P
dP
u
÷ =
(5.17)
Jawab :
dy g dP gy P
h
µ µ ÷ = ¬ ÷ = , karena gas ideal
V
R
P R PV
u
u = ¬ =
, maka
dy
R
Vg
V
R
dy g
P
dP
u
µ
u
µ ÷
=
÷
=

terbukti dy
R
mg
P
dP
¬
÷
=
u


5.2. b. Jika penurunan tekanan dalam soal 5.5.a ditimbulkan oleh pemuaian
abdiabatik :
K P =
|
|
.
|

\
| ÷
¸
¸
u
1
, buktikanlah bahwa :
u
u
¸
¸ d
P
dP
1 ÷
=
. (5.18)
35
Jawab :
Pemuaian adiabatik : K P =
|
|
.
|

\
| ÷
¸
¸
u
1
memiliki diferensial parsial :

0
1
1
1 1
=
|
|
.
|

\
| ÷
+
÷
|
|
.
|

\
| ÷
|
|
.
|

\
| ÷
dP P d P
¸
¸
¸
¸
¸
¸
u u

dP P d P
1
1 1
1
÷
|
|
.
|

\
| ÷
|
|
.
|

\
| ÷
|
|
.
|

\
| ÷
÷ =
¸
¸
¸
¸
¸
¸
u u

P
dP
dP
P
P
d
|
|
.
|

\
| ÷
÷ =
|
|
.
|

\
| ÷
÷ =
|
|
.
|

\
| ÷
÷
|
|
.
|

\
| ÷
¸
¸ ¸
¸
u
u
¸
¸
¸
¸
1
1
1
1
1

u
u
¸
¸ d
P
dP
|
|
.
|

\
|
÷
÷ =
1
, maka
terbukti
d
P
dP
¬
÷
=
u
u
¸
¸
1


5.2. c. Dari (a) dan (b), jika diketahui suatu gas ideal bermassa = 28,96 gram/mol dan
γ = 1,4, hitunglah berapa K/km-kah nilai
dy
du
?
Jawab :
Karena :
dy
R
mg
P
dP
u
÷ =
dan
u
u
¸
¸ d
P
dP
1 ÷
=
,maka
u
u
¸
¸
u
d
dy
R
mg
1 ÷
= ÷


314 , 8
10 10 96 , 28
4 , 1
1 4 , 1 1
3
x x
R
mg
dy
d
÷
|
.
|

\
| ÷
÷ =
|
|
.
|

\
| ÷
÷ =
¸
¸ u


meter K x
dy
d
/ 10 95 , 9
3 ÷
÷ =
u


km K
dy
d
/ 95 , 9 ÷ =
u

36

5.6. PEKERJAAN RUMAH

1. Buktikanlah bahwa kerja yang dilakukan oleh gas ideal yang kapasitas kalornya tetap
selama pemuaian adiabatik kuasi statik dirumuskan :
a.
( )
akhir awal V
C W u u ÷ = (5.19)
b.
( )
1 ÷
÷
=
¸
awal awal akhir akhir
V P V P
W
(5.20)
c.
(
(
(
¸
(

¸

|
|
.
|

\
|
÷
÷
=
÷
¸
¸
¸
1
1
1
akhir
awal akhir akhir
P
P V P
W
(5.21)
2. a. Buktikanlah banyaknya kalor yang dipindahkan selama porses kuasi statik
infinitesimal suatu gas ideal dirumuskan :

dV P
nR
C
dP V
nR
C
dQ
P V
+ =
(5.22)
b. Gas ideal bervolume 0,05 m
3
dan tekanan 120 N/m
2
mengalami pemuaian
adiabatik sampai tekanannya turun menjadi 15 N/m
2
. Anggap γ = 1,4,
tentukanlah :
b.1. berapa m
3
-kah volume akhirnya ?
b.2. berapa joule-kah kerja yang dilakukan ?

3. Bola baja bermassa 10 gram diletakkan dalam
sebuah tabung berpenampang melintang tertentu. Tabung itu dihubungkan dengan
tangki udara bervolume 5 liter, yang tertekanan udara 76 cm Hg dan periode bola
bergetar 0,96 detik . Berapa cm
2
-kah penampang melintangnya ?

4. Karbondioksida terdapat dalam bejana
bervolume 5270 cm
3
. Bola bermassa 16,65 gram diletakkan dala tabung
berpenampang melintang 2,01 cm
2
, bergetar dengan periode 0,834 detik. Berapa-kah
nilai γ bila barometer menunjuk 7,23 cm ?

5. Buktikanlah bahwa :
a. kemuaian volume sesaat dirumuskan :
P
|
.
|

\
|
c
c
÷ =
u
µ
µ
|
1
(5.23)
b. ketermampatan isotermik dirumuskan :
u
µ
µ
k
|
.
|

\
|
c
c
=
P
1
(5.24)

37
BAB VI. ENTROPI

6.1. KONSEP ENTROPI

Konsep entropi (S) mula-mula diperkenalkan oleh : R.J. Clausius (abad 19).
Entropi suatu sistem merupakan fungsi koordinat termodinamik yang perubahannya sama
dengan integral
T
dQ
R
antara keadaan awal dan akhir, diintegrasikan sepanjang lintasan dapat
balik (reversible) sekehendak yang menghubungkan kedua keadaan tersebut.
T
dQ
dS
R
= (6.1)
R = dapat balik (reversible)
S = entropi
dS = perubahan entropi
dQ = pemindahan kalor
T = suhu
Dalam bentuk integral :
T
dQ
dS
akhir
awal R
S
S
akhir
awal
} }
=

T
dQ
S
akhir
awal R
}
=
(6.2)
0 =
}
T
dQ
R
(6.3)

6.2. ENTROPI GAS IDEAL

Jika suatu sistem menyerap sejumlah infinitesimal kalor dQ
R
selama proses dapat
balik, perubahan entropi sama dengan persamaan (6.1):
T
dQ
dS
R
=


Kasus I :
Tinjaulah bahwa dQ
R
untuk gas ideal, dimana entropi gas ideal sebagai fungsi T dan P
diperoleh :
dP V dT C dQ
P R
÷ =

Dengan membaginya dengan T, diperoleh :
dP
T
V
T
dT
C
T
dQ
P
R
÷ =

P
dP
nR
T
dT
C dS
P
÷ =
(6.4)
38

Perubahan entropi gas ΔS antara keadaan awal dan akhir dengan pengintegrasian persamaan
(6.4) diperoleh :
P
dP
nR
T
dT
C S
P
P
T
T
P
} }
÷ = A
2
1
2
1

( ) ( )
1 2 1 2
ln ln ln ln P P nR T T C S
P
÷ ÷ ÷ =

( )
0
ln S P nR
T
dT
C S
P
+ ÷ =
}

Untuk C
P
tetap,
( ) ( )
0
ln ln S P nR T C S
P
+ ÷ =
(6.5)

Kasus II :
Tinjaulah bahwa dQ
R
untuk gas ideal, dimana entropi gas ideal sebagai fungsi T dan V
diperoleh :
dV P dT C dQ
V R
+ =

Dengan membaginya dengan T, diperoleh :
dV
T
P
T
dT
C
T
dQ
V
R
+ =

V
dV
nR
T
dT
C dS
V
+ =
(6.6)
Perubahan entropi gas ΔS antara keadaan awal dan akhir dengan pengintegrasian persamaan
(7.6) diperoleh :

( )
0
ln S V nR
T
dT
C S
V
+ + =
}

Untuk C
V
tetap,
( ) ( )
0
ln ln S V nR T C S
V
+ + =
(6.7)

6.3. DIAGRAM TS
Dalam persamaan :
T
dQ
dS
R
=
, jika dalam proses adiabatik dapat balik berarti dQ
R

= 0, maka dS = 0 dan S adalah tetapan. Disebut proses isentropik (isotropik).
Jika dua keadaan setimbang berdekatan infinitesimalnya :
dT
dS
T
dT
dQ
dS T dQ = ¬ =

Pada isokhorik (dV = 0)
V
V
V
dT
dS
T C
dT
dQ
|
.
|

\
|
= = |
.
|

\
|
(6.8)
39
Pada isobarik (dP = 0)
P
P
P
dT
dS
T C
dT
dQ
|
.
|

\
|
= =
|
.
|

\
|
(6.9)

Jika dilakukan variasi suhu C
V
diketahui, perubahan entropi selama proses isokhorik
(isovolumik) berlangsung dapat dihitung dari persamaan :

T
dT
C S S
V awal akhir
}
= ÷
,
dalam proses isobarik :

T
dT
C S S
P awal akhir
}
= ÷

Persamaan tersebut memberikan cara umum untuk menghitung perubahan entropi, tetapi
bukan cara untuk menghitung entropi mutlak suatu sistem dalam keadaan tertentu.

Jika sekumpulan tabel diperlukan untuk mendapatkan perbedaan entropi dan bukan entropi
mutlak, prosedurnya dapat dipermudah dengan memilih keadaan baku sekehendak dan
menghitung perubahan entropi sistem dari keadaan baku ke keadaaan lainnya.
Dalam kasus air, keadaan bakunya dipilih air jenuh pada 0,01
o
C dan tekanan uapnya 611 Pa,
maka entropinya dihitung terhadap keadaan acuan ini.

Kemiringan kurva pada diagram TS yang menggambarkan proses isokhorik dapat balik
berdasarkan persamaan (6.8) dirumuskan :
V V
C
T
dS
dT
=
|
.
|

\
|
(6.10)
Dalam proses isokhorik dapat balik berdasarkan persamaan (6.9) dirumuskan :
P V
C
T
dS
dT
=
|
.
|

\
|
(6.11)
40









Gambar 6.1. Kurva yang menggambarkan proses dapat balik sistem hidrostatik pada
diagram TS

6.4. Perubahan entropi semesta (total) dalam proses dapat balik
(reversible)

Jika dQ
R
diserap oleh sistem, maka :
0 = + =
¬ + = ÷ =
lingkungan sistem semesta
R
lingkungan
R
sistem
dS dS dS
T
dQ
dS dan
T
dQ
dS
(6.12)

Jika dQ
R
dibuang oleh sistem, maka :
0 = + =
¬ ÷ = + =
lingkungan sistem semesta
R
lingkungan
R
sistem
dS dS dS
T
dQ
dS dan
T
dQ
dS
(6.13)
S (entropi)
isotermik
T (Suhu)
isentropik
isobarik
isokhorik
isentalpik
41

6.5. Perubahan entropi semesta (total) dalam proses tidak dapat balik
(irreversible)

Jika sistem mengalami proses tidak dapat dlik (irreversible) antara keadaan setimbang awal
dan keadaan setimbang akhir, perubahan entropi sistem dirumuskan :
T
dQ
S S S
akhir
awal R
awal akhir sistem
}
= ÷ = A
(6.14)

Tabel 6.1 Perubahan entropi semesta tidak dapat balik akibat proses alamiah

Jenis tidak
dapat balik
Proses tidak dapat
balik
AS
sistem
AS
lingkungan
AS
semesta

Mekanis
eksternal
Lesapan isotermik
dari kerja melalui
sistem menjadi
energi internal
sebuah tandon
0
T
W

T
W

Lesapan adiabatik
dari kerja menjadi
energi internal
sistem
i
f
P
T
T
C ln
0
i
f
P
T
T
C ln

Mekanis
internal
Pemuaian bebas
gas ideal
i
f
V
V
nR ln

0
i
f
V
V
nR ln
Termal
eksternal
Pemindahan kalor
melalui medium
dari tandon panas
ke tandon lebih
dingin
0
i
T
Q
T
Q
÷
2

i
T
Q
T
Q
÷
2

Kimia Difusi dua macam
gas ideal yang
lembam
2 ln 2R
0
2 ln 2R

6.6. Mesin Carnot dan refrigerator

a. Efisiensi mesin Carnot :

1
2
1
2
1
2 1
1
1 1
T
T
Q
Q
Q
Q Q
Q
W
÷ = ÷ =
÷
= = q
(6.15)
W = kerja yang dilakukan mesin
Q
1
= kalor yang diserap mesin
Q
2
= kalor yang dibuang mesin
T
1
= suhu yang diserap mesin
T
2
= suhu yang dibuang mesin
42

b. Unjuk kerja mesin refreigerator (c)
1 2
1
1 2
1 1
T T
T
Q Q
Q
W
Q
c
÷
=
÷
= =
(6.16)
W = kerja yang dilakukan mesin
Q
1
= kalor yang diserap mesin pada suhu
rendah T
1

Q
2
= kalor yang terbentuk dalam mesin pada
suhu tinggi T
2

T
1
= suhu rendah mesin
T
2
= suhu tinggi mesin

Ringkasan :
1.
balik dapat entropi perubahan dS
semesta
¬ = 0

2.
balik dapat tidak entropi perubahan dS
semesta
¬ ) 0

3. Pergantian fase yang terkenal yakni :
- peleburan
- penguapan
- penyubliman
4. Pergantian fase yang “relatif kurang terkenal namun sekarang sedang berkembang ”
yakni :
- perubahan bentuk kristal
5. Pada pergantian fase di atas diperoleh :
- suhu dan tekanannya selalu tetap
- entropi dan volumenya berubah
6. Pergantian fase terjadi dalam proses dapat balik, kalor (l) (biasa dikenal sebagai kalor
laten) yang dipindahkan per molnya dirumuskan :
( )
( )
awal akhir
awal akhir
s s T
m
S S
T l ÷ =
÷
=
(6.17)
Jadi keberadaan kalor laten mengandung arti fisis bahwa terdapat perubahan entropi.












uap
T (Suhu)
padat
Q (kalor)
cair
43

6.7. LATIHAN SOAL

1. Dalam proses pergantian fase air menjadi uap air pada tekanan 1 atmosfir dan suhu
373 K, kalor laten l
23
= 2,26 x 10
6
J kg
-1
. Berapa J kg
-1
K
-1
-kah perubahan entropi
spesifik (s) nya ?

Jawab :
Berdasarkan persamaan (6.17) :

( )
awal akhir
s s T l ÷ =
, maka

( )
1 1
6
23
2 3
6060
373
10 26 , 2
÷ ÷
= = = ÷ K kg J
x
T
l
s s


2. Jika diketahui kapasitas panas pada tekanan tetap air dalam selang suhu T
1
= 273 K
sampai T
2
= 373 K (C
P
dianggap tetap) sebesar 4,18 x 10
3
J kg
-1
K
-1
.
Berapa J kg
-1
K
-1
-kah perubahan entropi spesifik (s) nya ?

Jawab :
Pada proses tekanan tetap dalam tabel 6.1, pindah panas (Q) yang terjadi sebesar C
P

dT, maka :
( )
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
= = = ÷
} }
273
373
ln 10 18 , 4 ln
3
1
2
1 2
2
1
2
1
x
T
T
C
T
dT
C
T
dQ
s s
P P
T
T
T
T
P

( )
1 1
1 2
1310
÷ ÷
= ÷ K kg J s s
P


3. Berapa J K
-1
kah perubahan entropi dalam sistem yang mengalami proses :
a. 10 gram es pada suhu 0
o
C dan tekanan 1 atm yang melebur pada suhu dan
tekanan tetap ? (Diketahui : kalor laten lebur = 3,34 x 10
5
J kg
-1
K
-1
)
b. 1 kg air pada suhu 100
o
C dan tekanan 1 atm yang menguap pada suhu dan
tekanan tetap? (Diketahui : kalor laten uap = 2,26 x 10
6
J kg
-1
K
-1
)

Jawab :
a. Berdasarkan persamaan (6.17) :

( )
m
S S
T l
awal akhir
÷
=
, maka

( )
273
10 34 , 3 01 , 0
5
21
1 2
x x
T
mL
S S = = ÷

( )
1
1 2
23 , 12
÷
= ÷ kg J S S

b. Berdasarkan persamaan (7.15) :

( )
373
10 26 , 2 1
6
21
1 2
x x
T
mL
S S = = ÷

( )
1 3
1 2
10 06 , 6
÷
= ÷ kg J x S S
44
4.












Gambar 6.2. Diagram P-V untuk sistem sederhana dapat balik dalam daur a-b-c-d-a.

Perhatikanlah gambar 6.2. Diketahui C
V
pada suhu bebas = 8 J K
-1
dan C
P
pada suhu bebas =
10 J K
-1
. Tentukanlah :
a. Berapakah nilai tetapan laplace (¸) ?
b. berapa joule-kah pindah panas
( ) dQ
}
pada setiap daurnya ?
c. berdasarkan hukum termodinamika I, berapa joule-kah jumlah pindah panas (W)
dalam keseluruhan daur ?
d. Jika V
1
= 9 liter dan V
2
= 20 liter, berapa Pa-kah perbedaan tekanannya (P
2
– P
1
) ?
e. berapa J K
-1
-kah perubahan entropi
(
¸
(

¸

}
T
dQ
pada setiap daurnya ?
f. berdasarkan hukum termodinamika II, buktikanlah bahwa jumlah perubahan entropi
dapat balik dalam keseluruhan daur dirumuskan :
}
= 0
T
dQ
?
Jawab :
a.
8
10
= =
V
P
C
C
¸
, maka 25 , 1 = ¸
b.
( ) ( ) ) 273 85 , 0 ( ) 273 85 , 274 ( 8 + ÷ + = ÷ = =
} }
÷
x T T C dT C dQ
a b
T
T
V V b a
b
a

J dQ
b a
2192 =
}
÷

P (tekanan)
P
1

V (volume)
548,85 C
P
2

V
1
V
2

a
b c
d
0,85 C
274,85 C
1370,85 C
45

( ) ( ) 85 , 274 85 , 1370 10 ÷ = ÷ = =
} }
÷
x T T C dT C dQ
b c
T
T
P P c b
c
b
J dQ
c b
10960 =
}
÷

( ) ( ) 85 , 1370 85 , 548 8 ÷ = ÷ = =
} }
÷
x T T C dT C dQ
c d
T
T
V V d c
d
c

J dQ
b a
6576 ÷ =
}
÷

( ) ( ) 85 , 548 85 , 0 10 ÷ = ÷ = =
} }
÷
x T T C dT C dQ
d a
T
T
V P a d
a
d

J dQ
b a
5480 ÷ =
}
÷

c. berdasarkan hukum termodinamika I, jumlah pindah panas (W) dirumuskan :

} } } }
÷ ÷ ÷ ÷
+ + + =
a d d c c b b a
dQ dQ dQ dQ W

5480 6576 10960 2192 ÷ ÷ + = W
J W 1096 =
d.
( )
3 3 3
10 11
1096
10 9 10 20
1096
÷ ÷ ÷
=
÷
=
A
= A ¬ A A =
x x x V
W
P V P W

Pa x P
4
10 96 , 9 = A


e.
|
.
|

\
|
+
+
=
|
|
.
|

\
|
= =
}
÷
273 85 , 0
273 85 , 274
ln 8 ln
a
b
T
T
V V b a
T
T
C
T
dT
C dS
b
a


1
54 , 5
÷
÷
= K J dS
b a

|
.
|

\
|
+
+
=
|
|
.
|

\
|
= =
}
÷
273 85 , 274
273 85 , 1370
ln 10 ln
b
c
T
T
P P c b
T
T
C
T
dT
C dS
c
b


1
11
÷
÷
= K J dS
c b

|
.
|

\
|
+
+
=
|
|
.
|

\
|
= =
}
÷
273 85 , 1370
273 85 , 548
ln 8 ln
c
d
T
T
V V d c
T
T
C
T
dT
C dS
d
c


1
54 , 5
÷
÷
÷ = K J dS
c b

|
.
|

\
|
+
+
=
|
|
.
|

\
|
= =
}
÷
273 85 , 548
273 85 , 0
ln 10 ln
d
a
T
T
P P a d
T
T
C
T
dT
C dS
a
d


1
11
÷
÷
÷ = K J dS
a d

46
f. berdasarkan hukum termodinamika II,
11 54 , 5 11 54 , 5 ÷ ÷ + = =
÷ ÷ ÷ ÷
}
a d c b a
dS
T
dQ

terbukti
T
dQ
¬ =
}
0


5. Sebuah resistor 25 O dialiri arus listrik 10 A pada suhu tetap 27
o
C selama 1 detik.
a. Berapa J K
-1
perubahan entropi pada resistor?
b. Berapa J K
-1
perubahan entropi semesta?
Jika arus yang sama dipertahankan dalam resistor yang sama, tetapi resistor
sekarang disekat secara termal (adiabatik), dengan suhu awal =27
o
C, massa
resistor = 10 gram, c
P
= 0,84 kJ/(kg K), hitunglah :
c. Berapa J K
-1
perubahan entropi pada resistor?
d. Berapa J K
-1
perubahan entropi semesta?

Jawab :
a.
maka J resistor listrik energi karena
T
dQ
S
resistor
, 0 , = = A

¬ = = A
300
0
T
dQ
S
resistor
1
0
÷
= A kg J S
resistor

b.
300
1 25 10
0
2 2
x x
T
Rt i
T
dQ
S S S
lingkungan resistor semesta
= = + = A + A = A
1
33 , 8
÷
= A K J S
semesta

c. Karena disekat secara adiabatik berarti dalam resistor terjadi kenaikan suhu, mencari
suhu akhir menggunakan azas black :

) (
2
awal akhir P P listrik
T T mC Rt i T mxC dQ ÷ = ¬ A =


K
x
x x
T
mC
Rt i
T
awal
P
akhir
598 300
840 01 , 0
1 25 10
2 2
= + = + =

|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
= A
300
598
ln 840 01 , 0 ln x x
T
T
mC S
awal
akhir
P resistor


1
8 , 5
÷
= A K J S
resistor

d.
0 8 , 5 + = A + A = A
lingkungan resistor semesta
S S S

1
8 , 5
÷
= A K J S
semesta




47
6.












Gambar 6.3. Diagram T-S untuk sistem sederhana dapat balik dalam daur a-b-c-d-a.

Perhatikanlah gambar 6.3. Dalam daur gambar 6.3 dapat berlaku pada mesin Carnot maupun
refrigerator. Tentukanlah :
a. berapa-kah (dalam satuan R) pindah panas
( ) dQ
}
yang dilakukan pada setiap
daurnya ?
b. berdasarkan hukum termodinamika I, berapa-kah (dalam satuan R) jumlah pindah
panas (W) dalam keseluruhan daur ?
c. berapa %-kah efisiensi mesin Carnotnya ?
d. berapa %-kah unjuk kerja refrigeratornya ?

Jawab :
) ( 0 isotropik daur karena dS T dQ
a b a
= =
}
÷

J dQ
b a
0 =
}
÷

( ) isotermik daur R
R R
x S S x T dS T dQ
a c b b c b
¬ =
|
.
|

\
|
÷ = ÷ = =
}
÷
250
4 4
3
500
J R dQ
c b
250 =
}
÷

) ( 0 isotropik daur karena dS T dQ
c d c
= =
}
÷

J dQ
b a
0 =
}
÷

T (K)
200
S
500
S
1
=R/4 S
2
=3R/4
a
b c
d
48

( ) ) ( 100
4
3
4
200 isotermik daur R
R R
x S S x T dS T dQ
d a d d a d
÷ = |
.
|

\
|
÷ = ÷ = =
}
÷
J R dQ
a d
100 ÷ =
}
÷


b. berdasarkan hukum termodinamika I, jumlah pindah panas (W) dirumuskan :

} } } }
÷ ÷ ÷ ÷
+ + + =
a d d c c b b a
dQ dQ dQ dQ W

0 100 0 250 + ÷ + = R R W
J R W 150 =
c.
= = = % 100
250
150
1
x
R
R
Q
W
q

% 60 = q
d.
% 100
150
100
1
x
R
R
W
Q
c = =

% 67 = c
49

6.8. PEKERJAAN RUMAH

1. Sebuah resistor 10 O dialiri arus listrik 1 A pada suhu tetap 27
o
C selama 1 detik.
a. Berapa J K
-1
perubahan entropi pada resistor?
b. Berapa J K
-1
perubahan entropi semesta?
Jika arus yang sama dipertahankan dalam resistor yang sama, tetapi resistor
sekarang disekat secara termal (adiabatik), dengan suhu awal =27
o
C, massa
resistor = 5 gram, c
P
= 0,84 kJ/(kg K), hitunglah :
c. Berapa J K
-1
perubahan entropi pada resistor?
d. Berapa J K
-1
perubahan entropi semesta?

2. Untuk gas ideal dengan kapasitas kalor tetap, buktikanlah bahwa :
a. Entropinya :
K V C P C S
P V
+ + = ln ln (6.16)
b. ketermampatan adiabatiknya :

P dP
dV
V
K
S
S
¸
1 1
=
|
.
|

\
|
÷ = (6.17)

3. Menurut hukum Debye, kapasitas kalor molar pada colume tetap (c
V
) dari intan
berubah terhadap suhu menurut persamaan :

3
4
5
4
3
|
.
|

\
|
O
=
T
R c
V
t
(7.18)
Berapa perubahan entropi (dalam satuan R) dari intan bermassa 1,2 gram, jika
dipanaskan pada volume tetap dari 10 sampai 350 K? Diketahui massa atom karbon =
12 dan O = 2230 K.

4. Satu kg air diberikan kalor dapat balik dari koil listrik dengan suhu awal 20
o
C
menjadi 80
o
C. Diketahui kalor jenis air (c
air
) =4180 J/kg, tentukanlah :
a. berapa J/K – kah perubahan entropi sistem?
b. berapa J/K – kah perubahan entropi lingkungan?

5. Massa air 10 kg pada suhu 20
o
C dicampur dengan 2 kg es pada suhu – 5
o
C pada
tekanan 1 atm sehingga dicapai suhu setimbang. Jika diketahui c
P
(air) =
4180 J/(kg K), c
P
(es) = 2090 J/(kg K), kalor lebur es = 3,34x10
5
J/kg, tentukanlah :
a. berapa derajat kelvin-kah suhu setimbang?
b. berapa J/K-kah perubahan entropi sistem ?

6. Sepuluh gram air pada suhu 20
o
C dikonversikan menjadi es pada suhu – 10
o
C pada
tekanan atmosfir sama. Jika diketahui :
c
P
(air) = 4180 J/(kg K), c
P
(es) = 2090 J/(kg K), kalor lebur es = 3,34x10
5
J/kg,
tentukanlah berapa J/K-kah perubahan entropi sistem ?
50
BAB VII. ENTALPI DAN ZAT MURNI

7.1. Entalpi (H)

Entalpi (H) dirumuskan :
PV U H + = (7.1)
Tinjaulah perubahan entalpi (AH) yang terjadi jika sistem mengalami proses infinitesimal
dari keadaan setimbang awal ke keadaan setimbang akhir, diperoleh :
VdP PdV dU dH + + = (7.2)
Dalam bab sebelumnya diketahui ; dQ = dU + P dV, maka
VdP dQ dH + = (7.3)
Dengan membagi kedua ruas persamaan dengan dT, diperoleh :

dT
dP
V
dT
dQ
dT
dH
+ =

Pada tekanan tetap, diperoleh :
P
P P
C
T
Q
T
H
=
|
.
|

\
|
c
c
=
|
.
|

\
|
c
c
(7.4)
Seperti dalam konsep entropi, bahwa perubahan entalpi selama proses isobarik sama dengan
kalor yang dipindahkan, yang dinamakan kalor laten (l), yang diukur ketika terjadi perubahan
fase pada tekanan tetap, maka :
dT C Q H H
P awal akhir
}
= = ÷
(7.5)
Dalam zat murni yang mengalami proses dapat balik infinitesimal, dapat dirumuskan :
VdP TdS dH + = (7.6)
maka diperoleh :
T
S
H
P
= |
.
|

\
|
c
c
dan (7.7)
V
P
H
S
= |
.
|

\
|
c
c
(7.8)
Hubungan yang ditunjukkan dalam persamaan (7.7) dan (7.8) memberi petunjuk bahwa sifat
zat murni dapat ditampilkan secara menguntungkan pada diagram yang menggambarkan H
sebagai fungsi dari S dan P.
51

Tabel 7.1 Perbandingan antara U dan H
Energi dalam (U) Entalpi (H)
Pada umumnya
dU = dQ – PdV
V
V
C
T
U
=
|
.
|

\
|
c
c

Pada umumnya
dH = dQ + V dP
P
P
C
T
H
=
|
.
|

\
|
c
c

Proses isokhorik
U
f
- U
i
= Q
dT C U U
V i f
}
= ÷

Proses isobarik
H
f
- H
i
= Q
dT C H H
P i f
}
= ÷

Proses adiabtik
dV P U U
i f
}
÷ = ÷

Proses adiabtik
dP V H H
i f
}
= ÷
Pemuaian bebas
U
i
= U
f

Proses sernak
H
i
= H
f

Untuk gas ideal
tetapan dT C U
V
+ =
}

Untuk gas ideal
tetapan dT C H
P
+ =
}

Keadaan setimbang yang berdekatan
T
S
U
V
=
|
.
|

\
|
c
c

P
V
U
S
÷ = |
.
|

\
|
c
c

Keadaan setimbang yang berdekatan
T
S
H
P
= |
.
|

\
|
c
c

V
P
H
S
= |
.
|

\
|
c
c


7.2. Fungsi Helmholtz

Fungsi Helmholtz ( sering disebut energi bebas Helmholtz) dirumuskan ;
TS U F ÷ = (7.9)
Untuk proses dapat balik infinitesimal diperoleh :
SdT TdS dU dF ÷ ÷ =
Karena PdV dU TdS + = , maka :
SdT PdV dF ÷ ÷ = (7.10)
Kasus I:
Untuk proses isotermik dapat balik, diperoleh :
PdV dF ÷ = (7.11)
PdV F F
f
i
i f
}
÷ = ÷
(7.12)
Jadi perubahan fungsi Helmholtz selama proses isotermik dapat balik sama dengan kerja
yang dilakukan pada sistem.
52
Kasus II :
Untuk proses isokhorik dan isotermik dapat balik, diperoleh :
0 = dF (7.13)
tetap F = (7.14)
Sifat ini sangat banyak digunakan dalam ilmu kimia dan berguna untuk meninjau reaksi
kimia yang berlangsung isotermik dan isokhorik.
Peran utama dari fungsi Helmholtz adalah dalam mekanika statistik yang berkaitan erat
dengan fungsi partisi Z (tunggu tanggal mainnya).

Kembali ke parsamaan (7.9)
SdT PdV dF ÷ ÷ =
Entropi dan tekanannya daat dihitung dengan memakai diferensiasi sederhana :
S
T
F
V
÷ =
|
.
|

\
|
c
c
dan (7.15)
P
V
F
T
÷ = |
.
|

\
|
c
c
(7.16)

7.3. Fungsi Gibbs

Fungsi Gibbs (sering disebut energi bebas Gibbs) dirumuskan ;
TS H G ÷ =
(7.17)
Untuk proses dapat balik infinitesimal diperoleh :
SdT TdS dH dG ÷ ÷ =

Karena
VdP TdS dH + =
, maka :
SdT VdP dG ÷ = (7.18)
Untuk proses isobarik dan isotermik dapat balik, diperoleh :
0 = dG (7.19)
tetap G =
(7.20)

Hasil ini penting, khususnya dalam kaitannya dengan proses yang melibatkan perubahan fase.
Sublimasi, peleburan, penguapan berlangsung secara isotermik dan isobarik serta dapat
dipandang sebagai proses dapat balik.
Jadi ketika proses ini berlangsung, fungsi Gibbs dari sistem tetap.
Jika digunakan lambang g’, g’’, g’’’ berturut-turut untuk fungsi Gibbs molar dari zat padat
jenuh, zat cair jenuh, uang jenuh, maka persamaan kurva peleburan dirumuskan :
' ' ' g g =
(7.21)
sedangkan persamaan kurva penguapan dirumuskan :
' ' ' ' ' g g =
(7.22)
dan persamaan kurva sublimasih/penghabluran dirumuskan :
' ' ' ' g g =
(7.23)
Pada titik tripel kdua persamaan itu berlaku serentak, yaitu :
' ' ' ' ' ' g g g = =
(7.24)
53

Semua g dapat dipandang sebagai fungsi dati T dan P saja, sehingga kedua persamaan itu
dapat diapaki untuk menentukan T dan P pada titik tripel secara unik. Fungsi Gibbs sangat
penting dalam ilmu fisika-kimia dan ilmu teknik, karena reaksi kimia dapat dipandang
berlangsung pada T dan P tetap.

7.4. Dua teorema matematis

Teorema pertama,
Jika terdapat suatu hubungan x, y, z, maka dapat membayangkan z dinyatakan sebagai fungsi
dari x dan y, sehingga :
dy
y
z
dx
x
z
dz
x
y
|
|
.
|

\
|
c
c
+
|
.
|

\
|
c
c
=
.
Anggaplah :
x
y
y
z
N dan
x
z
M
|
|
.
|

\
|
c
c
=
|
.
|

\
|
c
c
=

Maka : dy N dx M dz + = ,
dengan z, M, N, semuanya fungsi dari x dan y.
Dengan melakukan diferensial parsial M terhadap y dan N terhadap x, diperoleh :

|
|
.
|

\
|
c c
c
=
|
.
|

\
|
c
c
|
|
.
|

\
|
c c
c
=
|
|
.
|

\
|
c
c
x y
z
x
N
dan
y x
z
y
M
y
x
2 2

Karena ruas kanan bernilai sama bersar, maka
y
x
x
N
y
M
|
.
|

\
|
c
c
=
|
|
.
|

\
|
c
c
(7.25)
Persamaan ini dikenal sebagai persyaratan untuk diferensial seksama.

Teorema kedua,
Jika suatu kuantitas f merupakan fungsi dari x, y, z dan terdapat suatu hubungan antara x, y, z,
maka f dapat dipandang sebagai fungsi dari setiap pasangan x, y, z.
Demikian juga salah satu dari x, y, z dapat dipandang sebagai fungsi dari f dan salah satu dari
x, y, z.
Jadi dengan memandang x sebagai fungsi dari f dan y, maka :
dy
y
x
df
f
x
dx
f y
|
|
.
|

\
|
c
c
+
|
|
.
|

\
|
c
c
=
.
Dengan menganggap y sebagai fungsi dari f dan z, maka :
dz
z
y
df
f
y
dy
f
z
|
.
|

\
|
c
c
+
|
|
.
|

\
|
c
c
=
.
54
Dengan menyulihkan persamaan dy ke dalam persamaan dx, diperoleh :
(
(
¸
(

¸

|
.
|

\
|
c
c
+
|
|
.
|

\
|
c
c
|
|
.
|

\
|
c
c
+
|
|
.
|

\
|
c
c
= dz
z
y
df
f
y
y
x
df
f
x
dx
f
z f y

dz
z
y
y
x
df
f
y
y
x
f
x
dx
f
f z f y
(
(
¸
(

¸

|
.
|

\
|
c
c
|
|
.
|

\
|
c
c
+
(
(
¸
(

¸

|
|
.
|

\
|
c
c
|
|
.
|

\
|
c
c
+
|
|
.
|

\
|
c
c
=

Dengan menganggap pula x sebagai fungsi dari f dan z, maka :
dz
z
x
df
f
x
dx
f
z
|
.
|

\
|
c
c
+
|
|
.
|

\
|
c
c
=
.
Dengan mempadankan kedua persamaan dx di atas, diperoleh :
(
(
¸
(

¸

|
.
|

\
|
c
c
|
|
.
|

\
|
c
c
=
|
.
|

\
|
c
c
f
f
f
z
y
y
x
z
x
(7.26)
1 =
|
.
|

\
|
c
c
|
.
|

\
|
c
c
|
|
.
|

\
|
c
c
f f
f
x
z
z
y
y
x
(7.27)

7.5. Hubungan Maxwell

Dalam sub bab sebelumnya diperoleh hubungan :
1. Energi dalam U,
2. Entalpi H = U + PV,
3. Fungsi Helmholtz F = U - TS,
4. Fungsi Gibbs G = H – TS.

Dengan menggunakan dua buah teorema matematis dalam sub bab sebelumnya dapat
dinyatakan bahwa salah satu dari delapan kuantitas (koordinat termodinamik)
P, V, T, U, S, H, F, G dapat diungkapkan sebagai fungsi dari pasangan lainnya.
Sekarang diasumsikan sistem hidrostatik yang mengalami proses dapat balik infinitesimal
dari suatu keadaan setimbng ke keadaan lainnya, diperoleh :
1. Energi dalamnya berubah sebesar :
dU =dQ – P dV
dU = T dS – P dV,
dengan U, T, P dipandang sebagai fungsi dari S dan V.
2. Entalpinya berubah sebesar :
dH =dU + P dV + V dP,
dH = T dS + V dP,
dengan H, T, V dipandang sebagai fungsi dari S dan P.
55
3. Fungsi Helmholtznya berubah sebesar :
dF =dU – T dS – S dT
dF = – S dT – P dV,
dengan F, S, P dipandang sebagai fungsi dari T dan V.
4. Fungsi Gibbsnya berubah sebesar :
dG =dH – T dS – S dT
dG = – S dT + V dP,
dengan G, S, V dipandang sebagai fungsi dari T dan P.

Karena U, H, F, G semuanya merupakan fungsi yang sebenarnya, diferensialnya seksama
berjenis :
dy N dx M dz + = ,
dan berdasarkan persyaratan untuk diferensial seksama dalam persamaan (7.25)
y
x
x
N
y
M
|
.
|

\
|
c
c
=
|
|
.
|

\
|
c
c

maka dengan menerapkan hasil ini pada diferensial seksama dU, dH, dF, dG, diperoleh :
1. ¬ ÷ = dV P dS T dU
V S
S
P
V
T
|
.
|

\
|
c
c
÷ =
|
.
|

\
|
c
c
(7.28)
2. ¬ + = dP V dS T dH
P S
S
V
P
T
|
.
|

\
|
c
c
=
|
.
|

\
|
c
c
(7.29)
3. ¬ ÷ ÷ = dV P dT S dF
V T
T
P
V
S
|
.
|

\
|
c
c
=
|
.
|

\
|
c
c
(7.30)
4. ¬ + ÷ = dP V dT S dG
P T
T
V
P
S
|
.
|

\
|
c
c
÷ =
|
.
|

\
|
c
c
(7.31)
Keempat persamaan di sebelah kanan dikenal sebagai hubungan Maxwell.

Hubungan Maxwell sangat berguna karena menyajikan hubungan antara kuantitas yang dapat
diukur dan kuantitas yang tidak dapat diukur atau yang sukar diukur.

7.6. Persamaan T dS

7.6.1. Persamaan pertama T dS.
Jika Entropi zat murni dapat dipandang sebagai fungsi dari suhu dan volume, maka :

dV
V
S
dT
T
S
dS
T V
|
.
|

\
|
c
c
+ |
.
|

\
|
c
c
=
,
dan
dV
V
S
dT
T
S
T TdS
T V
|
.
|

\
|
c
c
+
|
.
|

\
|
c
c
=

karena T dS = dQ untuk proses dapat balik, maka :
V
V
C
T
S
T =
|
.
|

\
|
c
c

56

Dari hubungan Maxwell ketiga,
V T
T
P
V
S
|
.
|

\
|
c
c
=
|
.
|

\
|
c
c
, maka
dV
T
P
T dT C TdS
V
V
|
.
|

\
|
c
c
+ =
(7.32)
Persamaan (7.32) dikenal dengan nama persamaan pertama T dS.

7.6.2. Persamaan kedua T dS.

Jika Entropi zat murni dapat dipandang sebagai fungsi dari suhu dan tekanan, maka :

dP
P
S
dT
T
S
dS
T P
|
.
|

\
|
c
c
+
|
.
|

\
|
c
c
=
,
dan
dP
P
S
dT
T
S
T TdS
T P
|
.
|

\
|
c
c
+
|
.
|

\
|
c
c
=

karena T dS = dQ untuk proses dapat balik, maka :
P
P
C
T
S
T =
|
.
|

\
|
c
c

Dari hubungan Maxwell keempat,
P T
T
V
P
S
|
.
|

\
|
c
c
÷ =
|
.
|

\
|
c
c
, maka
dP
T
V
T dT C TdS
P
P
|
.
|

\
|
c
c
÷ =
(7.33)
Persamaan (7.33) dikenal dengan nama persamaan kedua T dS.

Dalam termodinamika dikenal pula persamaan ketiga T dS. Dalam rangka penguasaan
mahasiswa/i terhadap konsep termodinamika buktikan persamaan ketiga T dS yang tertera
dalam sub bab pekerjaan rumah no. Soal 2 dan 3.

Kasus I :
Perubahan tekanan secara isotermik dapat balik. Jika T tetap, maka persamaan (7.33)
menjadi:

dP
T
V
T TdS
P
|
.
|

\
|
c
c
÷ =
dan
dP
T
V
T Q
P
|
.
|

\
|
c
c
÷ =
}
,
karena :koefisien muai volume :
P
T
V
V
|
.
|

\
|
c
c
=
1
|
, maka
dP V T Q |
}
÷ =

hal ini dapat diintergrasikan jika kebergantungan V dan | pada tekanan diketahui. Jika V dan
| tidak peka terhadap perubahan tekanan, maka berlaku V rata-rata dan | rata-rata
|
|
.
|

\
|
__ __
| dan V .
57
Diperoleh :
( )
i f
P
P
P P V T dP V T Q
f
i
÷ ÷ = ÷ =
}
__ __ __ __
| |
(8.34)
Untuk kalor yang dibebaskan selama pemampatan diperoleh :

}
= dV P W

Karena V merupakan fungsi T dan P, maka

dP
P
V
dT
T
V
dV
T P
|
.
|

\
|
c
c
+
|
.
|

\
|
c
c
=

Pada suhu tetap berlaku :
dP
P
V
dV
T
|
.
|

\
|
c
c
=
dan karena
T
P
V
V
|
.
|

\
|
c
c
=
1
k

Maka kerja diperoleh :

}
= dP V P W k

Karena ketermampatan isotermik tidak peka terhadap perubahan tekanan maka digunakan
nilai ketermampatan rata-rata, diperoleh :

}
÷ =
f
i
P
P
dP P V W
__ __
k

( )
2 2
__ __
2
1
i f
P P V W ÷ ÷ = k
(7.35)
Kasus II :
Perubahan tekanan secara adiabatik dapat balik. Jika S tetap, maka persamaan (8.33) menjadi:
dP
T
V
T dT C
P
P
|
.
|

\
|
c
c
÷ = 0
maka
dP
T
V
C
T
dT
P P
|
.
|

\
|
c
c
=
,
dP
C
TV
dT
P
|
=
(7.36)
Dalam zat padat atau cair, pertambahan tekakan sebesar 1000 atm hanya menimbulkan
perubahan suhu yang kecil. Juga percobaan menunjukkan bahwa C
P
hampir tidah berubah
walau pertambahan tekanannya mencapai 10.000 atm. Persamaan (7.36) jika diterapkan
untuk zat padat atau cair, dapat dirumuskan :
( )
i f
P
P P
C
V T
T ÷ = A
__
__ __
|
(7.36)
58
7.7. Persamaan Energi

7.7.1. Persamaan pertama energi
Jika zat murni mengalami proses dapat balik infinitesimal antara dua kesetimbangan termal,
perubahan energi dalamnya dirumuskan :
dV P dS T dU ÷ =
Dengan membaginya dengan dV, maka

P
dV
dS
T
dV
dU
÷ =

Dengan U, S, P dianggap sebagai fungsi T dan V.
Jika T tetap, maka turunannya mejadi turunan parsial, diperoleh :

P
V
S
T
V
U
T T
÷
|
.
|

\
|
c
c
=
|
.
|

\
|
c
c

Dengan memakai hubungan ketiga Maxwell,

V T
T
P
V
S
|
.
|

\
|
c
c
=
|
.
|

\
|
c
c
, diperoleh :
P
T
P
T
V
U
T T
÷
|
.
|

\
|
c
c
=
|
.
|

\
|
c
c
(7.37)
Persamaan (7.37) dinamai persamaan pertama energi.
Dua contoh kegunaan persamaan pertama energi yakni :
1. gas ideal dan
2. gas van der waals.

7.7.2. Persamaan kedua energi

Persamaan kedua energi memperlihatkan kebergantungan energi pada tekanan. Karena :
dV P dS T dU ÷ = ,
dan dengan membaginya dengan dP, diperoleh :

dP
dV
P
dP
dS
T
dP
dU
÷ =

Dengan U, S, V dianggap sebagai fungsi T dan P.
Jika T tetap, maka turunannya mejadi turunan parsial, diperoleh :

T T T
P
V
P
P
S
T
P
U
|
.
|

\
|
c
c
÷
|
.
|

\
|
c
c
=
|
.
|

\
|
c
c

Dengan memakai hubungan keempat Maxwell,

P T
T
V
P
S
|
.
|

\
|
c
c
÷ =
|
.
|

\
|
c
c
, diperoleh :
T T T
P
V
P
T
V
T
P
U
|
.
|

\
|
c
c
÷
|
.
|

\
|
c
c
÷ =
|
.
|

\
|
c
c
(7.38)
Persamaan (7.38) dinamai persamaan kedua energi.
59
7.8. Persamaan kapasitas kalor

Kasus I :
Berdasarkan persamaan pertama dan kedua T dS persamaan (7.32) dan (7.33)
dV
T
P
T dT C TdS
V
V
|
.
|

\
|
c
c
+ =
dan
dP
T
V
T dT C TdS
P
P
|
.
|

\
|
c
c
÷ =
,
maka
dP
T
V
T dT C dV
T
P
T dT C
P
P
V
V
|
.
|

\
|
c
c
÷ =
|
.
|

\
|
c
c
+

Dengan mencari nilai dT, diperoleh :

( ) dP
T
V
T dV
T
P
T dT C C
P V
V P
|
.
|

\
|
c
c
+
|
.
|

\
|
c
c
= ÷


dP
C C
T
V
T
dV
C C
T
P
T
dT
V P
P
V P
V
÷
|
.
|

\
|
c
c
+
÷
|
.
|

\
|
c
c
=

Karena T merupakan fungsi V dan P, maka infinitesimalnya :

dP
P
T
dV
V
T
dT
V P
|
.
|

\
|
c
c
+
|
.
|

\
|
c
c
=


Dengan mempadankan kedua persamaan tersebut, diperoleh :
V P
P
V V P
V
P
C C
T
V
T
P
T
dan
C C
T
P
T
V
T
÷
|
.
|

\
|
c
c
=
|
.
|

\
|
c
c
÷
|
.
|

\
|
c
c
=
|
.
|

\
|
c
c

Kedua persamaan tersebut menghasilkan :

V P
V P
T
P
T
V
T C C
|
.
|

\
|
c
c
|
.
|

\
|
c
c
= ÷

Berdasarkan teorema matematis dalam bab 2, telah dipelajari bahwa :

1 ÷ =
|
.
|

\
|
c
c
|
.
|

\
|
c
c
|
.
|

\
|
c
c
T P V
P
V
V
T
T
P

Maka
T P V
V
P
T
V
T
P
|
.
|

\
|
c
c
|
.
|

\
|
c
c
÷ =
|
.
|

\
|
c
c
, sehingga :

(
¸
(

¸

|
.
|

\
|
c
c
|
.
|

\
|
c
c
÷
|
.
|

\
|
c
c
= ÷
T P P
V P
V
P
T
V
T
V
T C C

Akhirnya :
T P
V P
V
P
T
V
T C C
|
.
|

\
|
c
c
|
.
|

\
|
c
c
÷ = ÷
2
(7.39)
60
Persamaan (7.39) merupakan salah satu yang terpenting dalam termodinamika dan
menunjukkan bahwa :
1. karena
T
V
P
|
.
|

\
|
c
c
selalu negatif untuk semua zat
dan
2
P
T
V
|
.
|

\
|
c
c
selalu positif, maka C
P
- C
V
selalu positif atau C
P
tidak pernah lebih kecil
daripada C
V
,
2. Ketika T  0, C
P
 C
V
atau pada suhu nol
mutlak, kedua kapasitas kalor bernilai sama.
3. C
P
= C
V
, jika
0 = |
.
|

\
|
c
c
P
T
V
.

Ini terjadi pada suhu 4
o
C (anomali air), ketika kerapatan air maksimum. Pengukuran
kapasitas kalor zat padat dan cair di laboratorium biasanya berlangsung pada tekanan tetap,
sehingga menghasilkan C
P
. Sukar sekali untuk mengukur C
V
secara cermat baik untuk zat
padat maupun cair. Namun harga C
V
perlu diketahui untuk perbandingan dengan teori.
Persamaan yang menunjukkan perbedaan kapasitas kalor (C
P
- C
V
) ini sangat berguna untuk
menghitung C
V
yang dinyatakan dalam C
P
serta kuantitas lainnya.

Kasus II
Berdasarkan persamaan pertama dan kedua T dS persamaan (8.32) dan (8.33)
dV
T
P
T dT C TdS
V
V
|
.
|

\
|
c
c
+ =
dan
dP
T
V
T dT C TdS
P
P
|
.
|

\
|
c
c
÷ =
,
Pada S tetap (isotropik) diperoleh :
S
P
S P
dP
T
V
T dT C
|
.
|

\
|
c
c
=


S
V
S V
dV
T
P
T dT C |
.
|

\
|
c
c
÷ = ÷

Dengan membaginya, diperoleh

S
V
P
V
P
V
P
T
P
T
V
C
C
|
.
|

\
|
c
c
(
(
(
(
¸
(

¸

|
.
|

\
|
c
c
|
.
|

\
|
c
c
÷ =

S V P V
P
V
P
P
T
T
V
C
C
|
.
|

\
|
c
c
|
.
|

\
|
c
c
|
.
|

\
|
c
c
÷ =

61
Berdasarkan teorema matematis
S T V
P
V
P
P
V
C
C
|
.
|

\
|
c
c
|
.
|

\
|
c
c
=

T
S
V
P
V
P
V
P
C
C
|
.
|

\
|
c
c
|
.
|

\
|
c
c
=
(7.40)
Ketermampatan adiabatik didefinisikan :
S
S
P
V
V
|
.
|

\
|
c
c
÷ =
1
k
(7.41)
dan ketermampatan isotermik didefinisikan :
T
P
V
V
|
.
|

\
|
c
c
÷ =
1
k

Akhirnya :
S V
P
C
C
k
k
¸ = =
(7.42)

7.9. Latihan soal

1. Satu mol gas van der waals :

( ) RT b v
v
a
P = ÷ |
.
|

\
|
+
2

mengalami pemuaian Isotermik dapat balik dari volume v
i
ke v
f
. Buktikanlah bahwa
kalor yang dipindahkan dirumuskan :
|
|
.
|

\
|
÷
÷
=
b v
b v
RT q
i
f
ln


Jawab :
Dari persamaan van der waals diperoleh :

( )
2
v
a
b v
RT
P ÷
÷
=
maka
( ) b v
R
T
P
V
÷
=
|
.
|

\
|
c
c

Persamaan pertama T dS menjadi :
b v
dv
RT dT c TdS
V
÷
+ =

62
Karena T tetap, maka
b v
dv
RT TdS
÷
=
dan prosesnya dapat balik, maka

} }
÷
= =
f
i
v
v
b v
dv
RT dS T q

Akhirnya diperoleh :

terbukti
b v
b v
RT q
i
f
¬
|
|
.
|

\
|
÷
÷
= ln


2. Jika tekanan pada 15 cm
3
air raksa pada 0
o
C ditambah secara dapat balik dan
isotermik dari 0 hingga 1000 atm, koefisien muai volume rata-rata (|)= 178 x 10
-6
K
-
1
, ketermampatan rata-rata (k) = 3,38 x 10
-6
atm
-1
, tentukanlah :
a. berapa joule-kah perpindahan kalor yang terjadi?
b. berapa joule-kah kerja yang selama pemampatan ?
c. berapa joule-kah energi dalam yang tersimpan ?

Jawab :
a. Berdasarkan persamaan (7.34), diperoleh :
( ) ( )
8 6 6
__ __
10 013 , 1 10 178 10 15 273 x x x x x P P V T Q
i f
÷ ÷
÷ = ÷ ÷ = |

J Q 8 , 73 ÷ =
b. Berdasarkan persamaan (8.35), diperoleh :

( )
2 2
__ __
2
1
i f
P P V W ÷ ÷ = k


( ) ( )
2
2
8 11 5
0 10 013 , 1 10 83 , 3 10 5 , 1
2
1
÷ ÷ =
÷ ÷
x x x x x x W

J W 95 , 2 ÷ =

c. ( ) 95 , 2 8 , 73 ÷ ÷ ÷ = ÷ = A W Q U ,
J U 8 , 70 ÷ = A


3. Jika tekanan pada 15 cm
3
air raksa pada 0
o
C ditambah secara isoentropik dari nol
mejadi 1000 atm, dan kapasitas kalor rata-ratanya = 28,6 J/K, koefisien muai volume
rata-rata (|)= 178 x 10
-6
K
-1
, ketermampatan rata-rata (k) = 3,38 x 10
-6
atm
-1
, berapa
K-kah perubahan suhunya ?
63

Jawab :
Berdasarkan persamaan (7.36), diperoleh :

( ) = ÷ = A
i f
P
P P
C
V T
T
__
__ __
|

( )
6 , 28
0 10 013 , 1 10 178 10 5 , 1 273
8 6 5
÷
= A
÷ ÷
x x x x x x
T


K T 58 , 2 = A


4. Berdasarkan konsep persamaan pertama energi
P
T
P
T
V
U
T T
÷
|
.
|

\
|
c
c
=
|
.
|

\
|
c
c
(7.37)
Untuk gas van der Waals (1 mol):

( ) RT b v
v
a
P = ÷
|
.
|

\
|
+
2

Buktikanlah bahwa energi dalam gas van der Waals bertambah ketika volumenya
bertambah pada suhu tetap yang dirumuskan :

2
v
a
V
U
T
= |
.
|

\
|
c
c
, dan
tetapan
v
a
dT c u
V
+ ÷ =
}


Jawab :
Berdasarkan konsep persamaan pertama energi
P
T
P
T
V
U
T T
÷
|
.
|

\
|
c
c
=
|
.
|

\
|
c
c
(7.37)
Untuk gas van der Waals (1 mol):

( ) RT b v
v
a
P = ÷
|
.
|

\
|
+
2


b v
R
T
P
v
a
b v
RT
P
v
÷
=
|
.
|

\
|
c
c
¬ ÷
÷
=
2

Dengan menyulihkan ke dalam persamaan (8.37)
2
v
a
b v
RT
b v
R
T P
b v
R
T
V
U
T
+
÷
÷
÷
= ÷
÷
=
|
.
|

\
|
c
c
, maka
terbukti
v
a
V
U
T
¬ =
|
.
|

\
|
c
c
2

64

Karena
dv
v
a
dT c du
V
2
+ =
, diintegrasikan

dv
v
a
dT c du
V 2 } } }
+ =

Akhirnya
terbukti tetapan
v
a
dT c u
V
¬ + ÷ =
}


5. Dengan mengingat bahwa :
P
T
V
V
|
.
|

\
|
c
c
=
1
| dan
T
P
V
V
|
.
|

\
|
c
c
÷ =
1
k , buktikanlah bahwa :
k
|
2
TV
C C
V P
= ÷
(7.43)
Jawab :
Diketahui bahwa :

P
T
V
V
|
.
|

\
|
c
c
=
1
| dan
T
P
V
V
|
.
|

\
|
c
c
÷ =
1
k
maka persamaan (7.39) dapat ditulis :
T P
V P
V
P
T
V
T C C
|
.
|

\
|
c
c
|
.
|

\
|
c
c
÷ = ÷
2


T
P
V P
P
V
V
T
V
V
TV
C C
|
.
|

\
|
c
c
÷
(
¸
(

¸

|
.
|

\
|
c
c
= ÷
1
1
2

terbukti
TV
C C
V P
¬ = ÷
k
|
2


65
7.10. Pekerjaan rumah

1. Berdasarkan konsep persamaan pertama energi
P
T
P
T
V
U
T T
÷
|
.
|

\
|
c
c
=
|
.
|

\
|
c
c
(7.37)
Buktikanlah untuk gas ideal bahwa energi dalam gas ideal tidak bergantung volume
yang dirumuskan :
0 =
|
.
|

\
|
c
c
T
V
U


2. Buktikanlah persamaan ketiga T dS yang dirumuskan :
dV
V
T
C dP
P
T
C TdS
P
P
V
V
|
.
|

\
|
c
c
+
|
.
|

\
|
c
c
=
(7.44)

3. Buktikanlah bahwa ketiga persamaan T dS dapat dirumuskan :
a.
dV
T
dT C TdS
V
k
|
+ =
(7.45)
b. dP T V dT C TdS
P
| ÷ = (7.46)
c.
dV
V
C
dP
C
TdS
P V
| |
k
+ =
(7.47)

4. Buktikanlah bahwa diferensial dari tiga fungsi termodinamika U, H, F dapat
dirumuskan :
a.
( ) ( )dP T P V dT PV C dU
P
| k | ÷ + ÷ =
(7.48)
b.
dP T V dT C dH
P
) 1 ( | ÷ ÷ =
(7.49)
c.
( ) dP PV dT S PV dF k | + + ÷ =
(7.50)

5. Dari percobaan terhadap volume air raksa sebanyak 1,47 x 10
-5
m
3
/mol diperoleh
bahwa kapasitas kalor molar air raksa pada tekanan tetap 1 atm dan suhu 0
o
C (c
P
)
sebesar 28 J/(mol K). Jika diketahui | = 181 x 10
-6
K
-1
dan k = 3,89 x 10
-11
Pa
-1
.
Tentukanlah :
a. berapa J/(mol K)-kah kapasitas kalor molar air raksa pada volume tetap ?
b. berapa-kah tetapan Laplace nya?


66
BAB VIII. PERUBAHAN FASE

Telah kita pelajari dalam bab 7 mengenai entropi bahwa :
1. Pergantian fase yang terkenal yakni :
- peleburan
- penguapan
- penyubliman
2. Pergantian fase yang “relatif kurang terkenal
namun sekarang sedang berkembang ” yakni :
- perubahan bentuk kristal
3. Pada pergantian fase di atas diperoleh :
- suhu dan tekanannya selalu tetap
- entropi dan volumenya berubah
4. Pergantian fase terjadi dalam proses dapat balik,
kalor (l) (biasa dikenal sebagai kalor laten) yang
dipindahkan per molnya dirumuskan :
( )
( )
awal akhir
awal akhir
s s T
m
S S
T l ÷ =
÷
=

Jadi keberadaan kalor laten mengandung arti fisis bahwa terdapat perubahan entropi.

Berdasarkan turunan fungsi Gibbs diperoleh :
vdP sdT dg + ÷ =
P
T
g
s
|
.
|

\
|
c
c
÷ =
dan
T
P
g
v |
.
|

\
|
c
c
=
(8.1)

Kita dapat mencirikan dalam perubahan fase yang terkenal dengan salah satu pernyataan
yakni :
1. terdapat perubahan entropi dan volume;
2. turunan pertama fungsi Gibbs berubah secara
takmalar (diskrit)
3. setiap perubahan fase yang memenuhi
persyaratan tersebut dikenal sebagai perubahan fase orde pertama

Untuk perubahan fase seperti ini, variasi suhu dari G, S, V dan C
P
dapat diperllihatkan sesuai
gambar 8.1.
Perubahan fase dapat dianggap terjadi secara dapat balik dalam dua arah. Gambar keempat
yang memperlihatkan kelakuan C
P
sangatlah penting karena C
P
dari campuran dua fase
selama terjadi perubahan fase menjadi tak berhingga. Hal ini berlaku karena perubahan
terjadi pada T dan P yang tetap. Bila P tetap, dT = 0; atau Bila T tetap, dP = 0.
67
Jadi,
· = |
.
|

\
|
c
c
=
P
P
T
S
T C
(8.2)
· = |
.
|

\
|
c
c
=
P
T
V
V
1
|
(8.3)
· =
|
.
|

\
|
c
c
÷ =
T
P
V
V
1
k
(8.4)












Gambar 8.1. Ciri perubahan fase orde pertama
Fase awal Fase akhir
Fungsi Gibbs
T
entropi
Fase awal Fase akhir
a b
G
V C
P

volume Kapasitas kalor
Fase awal
Fase awal
Fase akhir
Fase akhir
S
T
T T
Menuju ~
c
d
68
Persamaan T dS kedua memberikan hasil yang tak tertentu bla diterapkan pada perubahan
fase orde pertama. Karena :

dP TV dT C TdS
P
| ÷ =

Dimana
· =
P
C
0 = dT · = | 0 = dP
Namun untuk persamaan T dS pertama bisa diintegraskan melalui perubahan fase. Bila 1 mol
zat diubah secara dapat balik, isotermik dan isobarik dari fase awal (f (i)) ke fase akhir (f (f)),
persamaan T dS nya adalah :

dv
T
P
T dT c Tds
V
V
|
.
|

\
|
c
c
+ =

dapat diintegrasikan dengan pengertian bahwa berbagai T dan P ketika terjadi perubahan fase
memenuhi hubungan yang menyatakan bahwa P merupakan fungsi dari T saja, tak
bergantung pada V, sehingga
dT
dP
T
P
V
= |
.
|

\
|
c
c
.
Jadi
( ) ( )
) ( ) ( ) ( ) ( i f i f
v v
dT
dP
T l s s T Tds ÷ = = ÷ =

maka diperoleh :
) (
) ( ) ( i f
v v T
l
dT
dP
÷
=
(8.5)
Persamaan 8.5 dikenal dengan persamaan Clapeyron yang berlaku untuk setiap perubahan
fase orde pertama dan berlangsung pada T dan P tetap.

Dengan langkah lain, dalam bab 7 bahwa fungsi Gibbs tetap selama suatu proses dapat balik
berlangsung pada T dan P tetap. Jadi suatu perubahan fase pada T dan P,
) ( ) ( f i
g g =
(8.6)
Dan untuk perubahan fase pada T + dT dan P + dP
) ( ) ( ) ( ) ( f f i i
dg g dg g + = + (8.7)
Dengan mensulihkan persamaan 14.6, maka :
) ( ) ( f i
dg dg =
(8.8)
dP v dT s dP v dT s
f f i i ) ( ) ( ) ( ) (
+ ÷ = + ÷
) ( ) (
) ( ) (
i f
i f
v v
s s
dT
dP
÷
÷
=

Dengan mengalikan T, diperoleh :
( )
( )
) ( ) (
) ( ) (
i f
i f
v v T
s s T
dT
dP
÷
÷
=

Akhirnya diperoleh :

( )
) ( ) ( i f
v v T
l
dT
dP
÷
=
 terbukti
Dalam pembahasan selanjutnya diberikan perjanjian untuk fase padat, cair, uap masing-
masing diberi tanda aksen (’), dwi aksen (’’), tri aksen (’’’).
69
8.1. Peleburan

Metode paling sederhana untuk mengukur kalor lebur zat padat adalah dengan mengirimkan
energi listrik dengan laju tetap dan mengukur suhunya pada selang waktu tertentu yang
dirumuskan dengan persamaan :
n
I
l
F
t c A
=
(8.9)

Dalam tahun 1929 Prof. F.E. Simon dan Prof. G. Glatzel emngusulkan suatu persamaan yang
cukup berhasil untuk meyatakan data pada kurva peleburan, yakni :
(
(
¸
(

¸

÷
|
|
.
|

\
|
= ÷ 1
c
TP
TP
T
T
a P P
(8.10)
Dengan T
TP
dan P
TP
menyatakan koordinat titik tripel dan a dan serta c merupkakan tetapan
yang bergantung pada zatnya. Pada suhu tinggi P
TP
dapat diabaikan, maka diperoleh :
(
(
¸
(

¸

÷
|
|
.
|

\
|
= 1
c
TP
T
T
a
P
(8.11)

Tabel 8.1. Parameter peleburan untuk gas mulia yang terkondensasi
(menurut Prof. S.E. Babb)
Gas muia
terpadatkan
T
TP

(K)
P
TP
(kPa) a
(MPa)
C
Ne 24,6 43,2 103,6 1,60
Ar 83,8 69,0 227,0 1,50
Kr 116,0 73,3 305,0 1,40
Xe 161,0 81,7 345,5 1,31

Teori mengenai proses yang sebenarnya terjadi bila suatu zat padat melebur telah menarik
perhatian fisikawan/wati selama bertahun-tahun. Teori yang mua-mula diusulkan oleh Prof.
Lindemann menyatakan bahwa zat padat melebur bila amplitudo getaran kisi menjadi cukup
besar untuk mematahkan gaya tarik yang memegang kisi itu; dalam kalimat yang sederhana
”Dalam peleburan, zat padat mengguncangkan dirinya sehingga pecah”. Dengan pandangan
ini, Prof. Lindemann menurunkan rumus :
M
T
mv
2
3
2
O
(8.12)
Dimana : m dan v merupakan massa molekul dan volume molar, O suhu karakteristik Debye
dan T
M
suhu lebur.
70
8.2. Penguapan; persamaan Trouton

Kalor penguapan cairan titik didih normal dari 250 K sampai sekitar 550 K pada umumnya
diukur langsung dengan kalorimeter.
Sama dengan peleburan, metode paling sederhana untuk mengukur kalor uap zat cair adalah
dengan mengirimkan energi listrik dengan laju tetap dan mengukur suhunya pada selang
waktu tertentu yang dirumuskan dengan persamaan :
n
I
l
F
t c A
=
(8.13)
Hal yang lebih menarik adalah cairan kriogenik dengan titik didih normal di sekitar 100 K
atau kurang. Untuk cairan ini (Nitrogen cair dan argon cair), orang harus memilih informasi
yang terdapat dalam pegangan keteknikan yaitu tekakan, entropi, entalpi dan volume dari
cairan jenuh pada suhu titik tripel hingga titik kritis.

Kembali ke persaman Clapeyron, untuk proses penguapan dirumuskan :

( )
' ' ' ' '
v v T
l
dT
dP
V
÷
=

Asumsi :
Pada daerah suhu yang kecil yang cukup jauh dari titik kritis, maka l
V
sebagai suatu tetapan
disekitar titik didih normalnya dan v’’’ serta v’’ dapat diabaikan, tekanan uapnya cukup kecil
untuk dihampiri oelh persamaan keadaan gas ideal atau v’’’ =RT/P, diperoleh persamaan
Clapeyron menjadi:

( )
P
RT
l
P
RT
T
l
v v T
l
dT
dP
V V V
2 ' ' ' ' '
=
|
.
|

\
|
=
÷
=

|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
÷ =
|
.
|

\
|
÷ = =
T
d
P
P
d
T
d
P d
T
dT
P
dP
R
l
C V
1
ln
1
ln
2
(8.14)
Di mana P
C
= tekanan titik kritis.

Jika persamaan 8.14 kita integrasi melalui selang suhu kecil sekitar T
B
dengan l
V
memiliki
harga tetap l
VB
, diperoleh rumus empiris :
RT
l
tetapan
P
P
VB
C
÷ = ln
(8.15)
C
VB
T
R
l
4 , 5 =
(8.16)

Berdasarkan kaidah Prof Trouton, kenaikan suhu cukup kecil sehingga hampiran kasar
didapatkan dengan mengambil
9 ~
B
VB
RT
l
(8.17)
Kaidah Trouton ini sangat penting bila T
C
belum diketahui.
71
8.3. Sublimasi; persamaan Kirchhoff

Persamaan Clapeyron untuk sublimasi :
( )
' ' ' '
v v T
l
dT
dP
S
÷
=
(8.18)
Sublimasi biasanya terjadi pada tekanan rendah, uapnya bisa dipandang sebagai gas ideal,
maka :
P
RT
v ~ ' ' '
(8.19)
Karena P kecil, v’’’ menjadi besar, benar-benar jauh leih besar dari pada volume molar
padatan (v’), sehingga v’ bisa diabaikan, maka :
v v v ~ ÷ ' ' ' ' (8.20)
Persamaan Clapeyron (8.18) menjadi :
R
l
T
dT
P
dP
P
RT
T
l
dT
dP
S S
= ==> =
2

|
.
|

\
|
÷ =
|
.
|

\
|
÷ = =
T
d
P d
R
T
d
P d
R
T
dT
P
dP
R l
S
1
log
30 , 2
1
ln
2
(8.21)
Sehingga dapat dilihat bahwa l
S
sama dengan – 2,30R kali kemiringan kurva yang diperoleh
bila log P dirajah terhadap 1/T.

Tekanan uap padatan biasanya diukur untuk selang suhu kecil. Dalam selang ini grafik log P
terhadap 1/T praktis merupakan gars lurus, diperoleh :
tetapan
T
tetapan
P + ÷ = log
(8.22)
Misalnya, dalam selang suhu dari 700 K hingga 739 K, tekanan uap magnesium (Mg)
memenuhi persamaan :
589 , 8
7527
log + ÷ =
T
P
(8.23)
Sedangkan dalam selang suhu dari 575 K hingga 630 K, tekanan uap seng (Zn) memenuhi
persamaan :
972 , 8
6787
log + ÷ =
T
P
(8.24)
Jadi dari suhu dari 700 K hingga 739 K, kalor sublimasi (l
S
) Mg sebesar 2,30 R x 7527 =
144 kJ/mol, sedangkan dari suhu dari 575 K hingga 630 K, kalor sublimasi (l
S
) Zn sebesar
2,30 R x 76787 =130 kJ/mol.

72
Selanjutnya kita menurunkan persamaan Kirchhoff untuk kalor sublimasi (l
S
) pada suhu
sekehendak kita.

Dari bab 7, suatu perubahan infinitesimal eltalpi molar anatara dua keadaan kesetimbangan
suatu sistem kimia diberikan :
vdP Tds dh + =
(8.25)
Masukkan persamaan T ds kedua, diperoleh :
dP
T
v
T v dT c dh
P
P (
¸
(

¸

|
.
|

\
|
c
c
÷ + =

( )dP T v dT c dh
P
| ÷ + = 1

Perubahan entalpi yang berhingga antara dua keadaan P
i
T
i
dan P
f
T
f
, diperoleh :
( )dP T v dT c h h
f
i
P
f
i
i f
| ÷ + = ÷
} }
1
(8.26)
Karena
' ' ' ' h h l
S
÷ =
(8.27)
Maka :
0
'
0
' ' '
0
l dT c dT c l
P
T
P
T
S
+ ÷ =
} }
(8.28)
l
0
adalah kalor sublimasi pada nol mutlak.
Persamaan 8.28 dikenal dengan persamaan Kirchhoff.
73
8.4. Latihan soal :

01. Dalam persamaan Clayperon, proses perubahan fase orde satu, suhu titik lebur zat
timbal hitam (Pb) = 600 K dan kalor laten peleburannya = 300 kJ/mol. Jika dalam
proses tersebut selisih volume spesifik fase cair dengan volume spesifik fase padatnya
= 25 liter/mol, berapa Pa/K-kah rasio perubahan tekanan dan perubahan suhu
|
.
|

\
|
dT
dP
?

Jawab :
Berdasarkan persamaan Clapeyron :
( ) ' " v v T
l
dT
dP
lebur
÷
=
|
.
|

\
|
, maka
( ) ( )
K Pa x x
x x
x
v v T
l
dT
dP
lebur
/ 10 2 10
50
1
10 25 600
10 300
' "
4 6
3
3
= = =
÷
=
|
.
|

\
|
÷



8.5. Pekerjaan Rumah :

01. Dalam proses perubahan fase orde satu, suhu titik lebur zat litium (Li) = 460 K dan
kalor laten peleburannya = 4,60 kJ/mol. Jika dalam proses tersebut rasio perubahan
tekanan dan perubahan suhu
= |
.
|

\
|
dT
dP
10
4
Pa/K, berapa liter/mol-kah selisih volume
spesifik fase cair dengan volume spesifik fase padatnya ?




74












BAGIAN II : PENERAPAN KONSEP DASAR

75
BAB IX. PENDAHULUAN MEKANIKA
STATISTIK

9.1. Prinsip pokok

Dalam pembahasansebelumnya diketahui bahwa molekul suatu gas ideal tidak bisa dianggap
bebas sempurna satu terhadap lainnya, karena jika demikian, molekul tidak bisa mencapai
distribusi kecepatan setimbang.
Jadi harus ada anggapa bahwa :
terjadi antar aksi, tetapi hanya ketika bertumbukan dengan molekul lain dan dengan
dinding.
Untuk memerikan bentuk antar aksi yang terbatas diacu bahwa molekul sebagai „antar aksi
lemah“ atau „kuasi bebas“. Sedangkan pemebahasan partikel „berantar aksi kuat“ berada di
luar lingkup pembahasan sekarang (tunggu tanggal mainnya pada mata kuliah : Fisika
Statistik dan Mekanika Kuantum).

Selain memiliki sifat kuasi bebas, molekul gas ideal memiliki ciri lain, yakni :
1. semua molekul terbedakan, karena bertempat dalam ruang,
2. semua molekul memiliki kecepatan tertentu.

Sedangkan sifat kuasi statik (dalam bab sebelumnya), molekul gas ideal memiliki ciri yakni :
1. semua molekul tak terbedakan, karena tak bertempat dalam ruang,
2. semua molekul tak memiliki kecepatan tertentu.

Partikel yang menempati kedudukan kisi yang teratur dalam kristal bisa dibedakan, karena
partikel itu bergetar terbatas di sekitar titik tetap, sehingga satu partikel bisa dibedakan dari
partikel tetangganya menurut tempatnya.

9.2. Perlakuan statistik dari gas ideal

Perlakuan statistik dari gas ideal sebagai sejumlah partikel kuasi-bebas (antar kasi
lemah) terbedakan. Andaikan gas ideal ekaatomik terdiri dari N partikel sekitar 10
20
partikel,
berada dalam wadah berbentuk kubus yang panjang sisinya L. (Langkah pertama) seluruh
energi c untuk masing-masing partikel dianggap merupakan energi kinetik translasi.

Dalam arah x energinya :
m
p
m
x m
x m
x
x
2 2
) (
2
1
2
2
2
=
|
.
|

\
|
=
|
.
|

\
|
=
-
-
c (9.1)
Dengan p
x
merpakan komponen x dari momentum.

Jika partikel diandaikan bergerak bebas bolak balik antara dua bidang datar berjarak L, maka
bentuk mekanika kuantum yang paling sederhana menyatakan bahwa dalam satu daur
lengkap (dari dinding ke dinding lain dan kembali ke dinding semula), yang berjarak 2L,
momentum teptan p
x
dikalikan dengan lintasan total 2L harus merupakan bilangan bulat
dikalikan dengan tetapan Planck h.
76
Jadi
h n L p
x x
= 2
(9.2)
Dengan menyulihkan persamaan (9.2) ke dalam (9.1) diperoleh :
2
2
2
8mL
h
n
x x
= c
(9.3)
x x
m
h
L
n c 8 =
(9.4)
Harga energi kinetik c
x
yang diperoleh adalah diskret, sesuai dengan harga bilangan bulat n
x
;
namun jika n
x
berubahn dengan satu, maka perubahan yang bersesuaian dalam c
x
sangat kecil,
karena n
x
biasanya merupakan bilangan yang sangat besar.

Dengan memperhitungkan ketiga komponen momentum, untuk energi kinetik total suatu
partikel diperoleh :
( )
2 2 2
2
2
2 2 2
8 2
z y x
z y x
x
n n n
mL
h
m
p p p
+ + =
+ +
= c
(9.5)

Perincian bilngan bulat untuk masing-masing n
x
, n
y
, n
z
merupakan perincian keadaan
kuantum partikel. Semua keadaan yan dicirikan dengan harga n sedemikian rupa sehingga
n
x
2
+ n
y
2
+ n
z
2
= tetap,
akan memiliki energi kinetik yang sama.

Contoh keadaan kuantum Guggenheim,:
Pemakaian keadaan kuantum yang diberikan Prof. Guggenheim, memperlihatkan
bahwa semua keadaan kuantum yang bersesuaian dengan harga n
x
, n
y
, n
z
dalam table 9.1
memiliki energi
.
8
66
2
2
mL
h
= c

Terdapat dua belas keadaan kuantum yang berkaitan dengan tingkat energi yang sama,
sehingga diacu terdapat tingkat energi yang memeiliki 12 degenerasi (turunan). Dalam setiap
kasus yang sebenarnya, n
x
2
+ n
y
2
+ n
z
2
merupakan suatu bilangan yang sangat besar, sehingga
degenerasi tingkat energi yang sebenarnya juga sangat besar.

Bagaimana pun dekatnya, tetap saja, hanya sejumlah diskret tingkat energi yang dapat
dimiliki oleh molekul gas ideal.

Tabel 9.1 Keadaan kuantum dengan harga n
x
2
+ n
y
2
+ n
z
2
= 66
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
n
x
8 1 1 7 7 4 4 1 1 5 5 4
n
y
1 8 1 4 1 7 1 7 4 5 4 5
n
z
1 1 8 1 4 1 7 4 7 4 5 5

77
Jadi salah satu persoalan pokok dalam mekanika statistic adalah menentukan populasi tingkat
energi ini dalam kesetimbangan yakni bilangan banyaknya partikel N
1
yang memiliki energi
c
1
, banyaknya partikel N
2
yang memiliki energi c
2
, dan seterusnya. Dengan mudah dapat
ditunjukkan bahwa banyaknya keadaan kuantum g
i
yang bersesuaian dengan tingkat energi c
i

(degenerasi tingkatan itu) jauh lebih besar daripada banyaknya partikel yang menempati
tingkatan itu.
Jadi :
i i
N g >
(9.6)

Dengan demikian sangatlah mustahil bahwa lebih dari satu partikel akan menempati keadaan
kauntum yang sama pada saat yang sama.

Pada setiap saat beberapa partikel bergerak sangat cepat dan beberapa yang lain bergerak
lambat, sehingga partikel tersebar di antara sejumlah besar keadaan kuantum yang berbeda.
Dengan berjalannya waktu, partikel saling bertumbukan dan bertumbukan dengan dinidng
atau memancarkan dan menyerap foton, sehingga masing-masing partikel mengalami banyak
perubahan dari satu keadaan kuantum ke keadaan kuantum lainnya.

Pengandaian pokok dari mekanika statistik menyatakan bahwa :
„Semua keadaan kuantum mempunyai peluang yang sama untuk dihuni. Peluang
didapatkannya suatu partikel dalam suatu keadaan kuantum tertentu sama utnuk
semua keadaan.“

Tinjaulah N
i
partikel dalam salah satu keadaan kauntum g
i
yang berkaitan dengan energi c
i
.
Setiap partikel memiliki g
i
pilihan untuk menempati g
i
keadaan kuantum yang berbeda.
Partikel kedua memiliki banyak pilihan g
i
yang sama, dan seterusnya. Banyaknya cara N
i

partikel terbedakan dapat didistribusikan di antara g
i
keadaan kuantum menjadi
N
i
g
, tetapi
jumlah
N
i
g
terlalu besar, karena ini berlaku untuk partikel terbedakan seperti A, B, C dalam
tabel 9.2. Tabel 9.2 menunjukkan enam cara yang berbeda, bahwa tiga partikel terbedakan
(A, B, C) dapat menempati keadaan kuantum 2, 7, 10. Jika partikel tidak mempunyai
identitas, maka hanya ada satu cara saja untuk menempati keadaan kuantum khusus ini. Ini
berarti kita harus membaginya dengan 6 yaitu 3 !. Banyaknya permutasi dari N
i
benda yang
terbedakan ialah N
i
!. Jika kuantitas
i
N
i
g
dibagi dengan faktor ini, maka ungkapan yang
dihasilkan akan berlaku untuk partikel takterbedakan.

Tabel 9.2. Terdapat enam cara untuk tiga partikel terbedakan (A, B, C) untuk dapat
menempati tiga keadaan kuantum yang diberikan (2, 7, 10)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
A B C
A C B
B A C
B C A
C A B
C B A

78

Jadi :
!
i
N
i
i
i
N
g
g kuantum keadaan antara di
sikan didistribu dapat kan takterbeda
partikel N cara banyaknya
i
=
¦
¦
)
¦
¦
`
¹
¦
¦
¹
¦
¦
´
¦
(9.7)

9.3. Peluang termodinamika suatu keadaan makro tertentu (O)

Banyaknya distribusi keadaan kuantum yang bersesuaian dengan tingkat energi yang sama
dan bahwa degenerasi masing-masing tingkatan jauh lebih besar daripada banyaknya partikel
yang dapat diperoleh pada salah satu tingkatan pada suatu waktu. Perincian bahwa pada saat
tertentu terdapat :
N
1
partikel pada tingkat energi c
1
dengan degenerasi g
1

N
2
partikel pada tingkat energi c
2
dengan degenerasi g
2

. . .
. . .
. . .
N
i
partikel pada tingkat energi c
i
dengan degenerasi g
i

dalam suatu wadah bervolume V jika gas terdiri atas N partikel dan energi dalam U adalah
suatu pemerian keadaan makro gas.
Banyaknya cara distribusi keadaan untuk mendapatkan suatu keadaan makro dari N partikel
takterbedakan, maka peluang termodinamika suatu keadaan makro tertentu (O) dirumuskan :
........
! !
2
2
1
1
2 1
N
g
N
g
N N
= O
(9.8)
Sedangkan banyaknya cara distribusi keadaan untuk mendapatkan suatu keadaan makro dari
N partikel terbedakan, maka peluang termodinamika suatu keadaan makro tertentu
(O) dirumuskan :
........
! !
!
2
2
1
1
2 1
N
g
N
g
N
N N
= O
(9.9)

9.4. Statistik Bose-Einstein

Banyaknya distibusi keadaan untuk tingkatan energi ke-i dirumuskan :
( )
( ) ! ! 1
! 1
i i
i i
i
N g
N g
÷
+ ÷
= e
(9.10)
Contoh :
Pada tingkatan energi ke-i terdapat 3 keadaan (g
i
= 3) dan 2 partikel (N
i
= 2), maka
banyaknya cara /kemungkinan distribusi berdasarkan persamaan (9.10) adalah :

( )
( )
( )
( )
( )
! 2 ! 2
! 4
! 2 ! 1 3
! 2 1 3
! ! 1
! 1
=
÷
+ ÷
=
÷
+ ÷
=
i i
i i
i
N g
N g
e


6 =
i
e

79
Tabel 9.3. Banyaknya cara/kemungkinan distribusi Keadaan dari 2 partikel terbedakan
pada 3 tingkatan energi berdasarkan statistik Bose-Einstein
1 2 3
• •
• •
• •
• •
• •
• •

Keenam cara tersebut digambarkan sesuai tabel 9.3.

Untuk masing-masing distribusi cara tingkatan energi, hanya terdapat satu kemungkinan yang
terjadi.
Sedangkan total banyaknya cara/kemungkinan distribusi keadaan atau peluang
termodinamika pada keadaan makro tertentu untuk setiap tingkatan energi berdasarkan
statistik Bose-Einstein (B-E) dirumuskan:
( )
( ) ! ! 1
! 1
i i
i i
i i
i k E B
N g
N g
W W
÷
+ ÷
= = =
[ [ ÷
e
(9.11)

Contoh :
Pada tingkatan energi p dan q dengan degenerasi pada tingkatan energi p (g
p
) = 3 dan
banyaknya partikel (N
p
) = 2, serta degenerasi pada tingkatan energi q (g
q
) = 2 dan banyaknya
partikel (N
q
) = 1, maka peluang termodinamika pada keadaan makro ke-k yang terdapat N
p
=
2, N
q
= 1, berdasarkan statistik B-E adalah (menggunakan persamaan 9.11) :
( )
( ) ! ! 1
! 1
i i
i i
i i
i k E B
N g
N g
W W
÷
+ ÷
= = =
[ [ ÷
e

( )
( )
( )
( ) ! 1 ! 1 2
! 1 1 2
! 2 ! 1 3
! 2 1 3
÷
+ ÷
÷
+ ÷
= =
÷ k E B
W W

2 6
! 1 ! 1
! 2
! 2 ! 2
! 4
x W W
k E B
= = =
÷
12 = =
÷ k E B
W W

80

9.5. Latihan soal :

1. Jika terdapat partikel takterbedakan mengikuti
Statistik Bose-Eisntein (B-E), dimana terdapat 7 kemungkinan tingkatan energi dari
keadaan makro (macrostate) dengan kondisi N = 6, U = 6c, g
i
= 3, Tentukanlah :
a. gambarkan dalam bentuk tabel seluruh kedudukan partikel dalam seluruh
keadaan dari distribusi statistik B-E ?
b. berapakah banyaknya keadaan makro (macrostate) yang terbentuk ?
c. banyaknya peluang termodinamika pada masing-masing keadaan makro ?
d. banyaknya total peluang termodinamika ?
e. banyaknya rata-rata kedudukan partikel pada setiap tingkatan energi ?
f. banyaknya total kedudukan partikel ?

Jawab :
a. Gambar dalam bentuk tabel seluruh kedudukan partikel dalam seluruh keadaan dari
distribusi statistik B-E

k 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
__
i
N
6c • 0,041
5c • 0,088
4c • • 0,205
3c •• • • 0,410
2c • • ••• •• • 0,830
c
• •• • ••• •• ••
••
•••
•••
1,600
0 •••
••
••
••
••
••
••
••
•••

•••

••• •• •• • 2,830
W
k
63 135 135 90 180 270 100 180 216 135 28 1532

O


b. banyaknya keadaan makro (macrostate) yang terbentuk adalah 11.

c. banyaknya peluang termodinamika pada masing-masing keadaan makro ?
Berdasarkan persamaan (9.11) :
( )
( ) ! ! 1
! 1
i i
i i
i i
i k E B
N g
N g
W W
÷
+ ÷
= = =
[ [ ÷
e

( )
( )
( )
( )
21 3
! 5 ! 2
! 7
! 1 ! 2
! 3
! 5 ! 1 3
! 5 1 3
! 1 ! 1 3
! 1 1 3
1
x W W
E B
= =
÷
+ ÷
÷
+ ÷
= =
÷

63
1
= =
÷
W W
E B

81

( )
( )
( )
( )
( )
( )
15 3 3
! 4 ! 2
! 6
! 1 ! 2
! 3
! 1 ! 2
! 3
! 4 ! 1 3
! 4 1 3
! 1 ! 1 3
! 1 1 3
! 1 ! 1 3
! 1 1 3
3 2
x x
W W W
E B
= =
÷
+ ÷
÷
+ ÷
÷
+ ÷
= = =
÷

135
3 2
= = =
÷
W W W
E B

( )
( )
( )
( )
15 6
! 4 ! 2
! 6
! 2 ! 2
! 4
! 4 ! 1 3
! 4 1 3
! 2 ! 1 3
! 2 1 3
4
x W W
E B
= =
÷
+ ÷
÷
+ ÷
= =
÷

90
4
= =
÷
W W
E B

( )
( )
( )
( )
( )
( )
3 6 10
! 1 ! 2
! 3
! 2 ! 2
! 4
! 3 ! 2
! 5
! 1 ! 1 3
! 1 1 3
! 2 ! 1 3
! 2 1 3
! 3 ! 1 3
! 3 1 3
8 5
x x
W W W
E B
= =
÷
+ ÷
÷
+ ÷
÷
+ ÷
= = =
÷

180
8 5
= = =
÷
W W W
E B

( )
( )
( )
( )
27 10
! 1 ! 2
! 3
! 3 ! 2
! 5
! 1 ! 1 3
! 1 1 3
! 3 ! 1 3
! 3 1 3
3
3
6
x W W
E B
=
(
¸
(

¸

=
(
¸
(

¸

÷
+ ÷
÷
+ ÷
= =
÷

270
6
= =
÷
W W
E B

( )
( )
( )
( )
10 10
! 3 ! 2
! 5
! 3 ! 2
! 5
! 3 ! 1 3
! 3 1 3
! 3 ! 1 3
! 3 1 3
7
x W W
E B
= =
÷
+ ÷
÷
+ ÷
= =
÷

100
7
= =
÷
W W
E B

( )
( )
( )
3
3
3
9
6
! 2 ! 2
! 4
! 2 ! 1 3
! 2 1 3
=
(
¸
(

¸

=
(
¸
(

¸

÷
+ ÷
= =
÷
W W
E B
216
9
= =
÷
W W
E B

( )
( )
( )
( )
9 15
! 1 ! 2
! 3
! 4 ! 2
! 6
! 1 ! 1 3
! 1 1 3
! 4 ! 1 3
! 4 1 3
2
2
10
x W W
E B
=
(
¸
(

¸

=
(
¸
(

¸

÷
+ ÷
÷
+ ÷
= =
÷

135
10
= =
÷
W W
E B

( )
( )
= =
÷
+ ÷
= =
÷
! 6 ! 2
! 8
! 6 ! 1 3
! 6 1 3
11
W W
E B

28
11
= =
÷
W W
E B

82

d. banyaknya total peluang termodinamika ?

¿
+ + + + = = O
11
1
28 ...... 135 135 63
i
W

1532 = O
e. banyaknya rata-rata kedudukan partikel pada setiap tingkatan energi :
k
k
k i
W N N
¿
O
=
2
__
1
(9.12)
( )
1532
4332
135 1 ..... 135 4 135 4 63 5
1532
1
__
0
= + + + + = x x x x N

830 , 2
__
0
= N
( ) 28 6 ..... 270 1 180 2 135 1
1532
1
__
1
x x x x N + + + + =

600 , 1
__
1
= N
( ) 135 1 ..... 100 3 270 1 135 1
1532
1
__
2
x x x x N + + + + =

830 , 0
__
2
= N
( ) 180 1 270 1 90 2
1532
1
__
3
x x x N + + =

411 , 0
__
3
= N
( ) 180 1 135 1
1532
1
__
4
x x N + =

205 , 0
__
4
= N
( ) 135 1
1532
1
__
5
x N =
088 , 0
__
5
= N
( ) 63 1
1532
1
__
6
x N =
041 , 0
__
6
= N
83
f. banyaknya total kedudukan partikel adalah :
i i
i
N N
¿
=
__
(9.13)
041 , 0 088 , 0 205 , 0 411 , 0 830 , 0 600 , 1 830 , 2
__
¿
+ + + + + + = =
i
i i
N N
6
__
= =
¿
i
i
i
N N

2. Berdasarkan tabel dalam jawaban soal 1.a, jika
sebuah partikel pada tingkatan energi kedua melompat keluar (menghilang) dari
distribusi tersebut, tentukanlah :
a. gambarkan dalam bentuk tabel seluruh
kedudukan partikel dalam seluruh keadaan dari distribusi statistik B-E ?
b. berapakah banyaknya keadaan makro
(macrostate) yang terbentuk ?
c. banyaknya peluang termodinamika pada
masing-masing keadaan makro ?
d. banyaknya total peluang termodinamika ?
e. banyaknya rata-rata kedudukan partikel
pada setiap tingkatan energi ?
f. banyaknya total kedudukan partikel ?

Jawab :
a. Gambar dalam bentuk tabel seluruh kedudukan partikel dalam seluruh keadaan dari
distribusi statistik B-E, jika sebuah partikel pada tingkatan energi kedua melompat
keluar (menghilang) dari distribusi tersebut

k 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 __
i
N

6c
5c
4c • 0,129
3c • 0,259
2c •• • 0,655
c
• •• ••
••
1,400
0 ••
••
•••

••• •• • 2,560
W
k
45 90 60 108 45 348

O


b. banyaknya keadaan makro (macrostate) yang terbentuk adalah 5.
84

c. banyaknya peluang termodinamika pada masing-masing keadaan makro ?
Berdasarkan persamaan (9.11) :
( )
( ) ! ! 1
! 1
i i
i i
i i
i k E B
N g
N g
W W
÷
+ ÷
= = =
[ [ ÷
e

( )
( )
( )
( )
15 3
! 4 ! 2
! 6
! 1 ! 2
! 3
! 4 ! 1 3
! 4 1 3
! 1 ! 1 3
! 1 1 3
3
x W W
E B
= =
÷
+ ÷
÷
+ ÷
= =
÷

45
3
= =
÷
W W
E B

( )
( )
( )
( )
( )
( )
10 3 3
! 3 ! 2
! 5
! 1 ! 2
! 3
! 1 ! 2
! 3
! 3 ! 1 3
! 3 1 3
! 1 ! 1 3
! 1 1 3
! 1 ! 1 3
! 1 1 3
6
x x
W W
E B
= =
÷
+ ÷
÷
+ ÷
÷
+ ÷
= =
÷

90
6
= =
÷
W W
E B

( )
( )
( )
( )
10 6
! 3 ! 2
! 5
! 2 ! 2
! 4
! 3 ! 1 3
! 3 1 3
! 2 ! 1 3
! 2 1 3
7
x W W
E B
= =
÷
+ ÷
÷
+ ÷
= =
÷

90
7
= =
÷
W W
E B

( )
( )
( )
( )
( )
( )
3 6 6
! 1 ! 2
! 3
! 2 ! 2
! 4
! 2 ! 2
! 4
! 1 ! 1 3
! 1 1 3
! 2 ! 1 3
! 2 1 3
! 2 ! 1 3
! 2 1 3
9
x x
W W
E B
= =
÷
+ ÷
÷
+ ÷
÷
+ ÷
= =
÷

108
8 5
= = =
÷
W W W
E B

( )
( )
( )
( )
3 15
! 1 ! 2
! 3
! 4 ! 2
! 6
! 1 ! 1 3
! 1 1 3
! 4 ! 1 3
! 4 1 3
10
x W W
E B
=
(
¸
(

¸

=
(
¸
(

¸

÷
+ ÷
÷
+ ÷
= =
÷

45
10
= =
÷
W W
E B


d. banyaknya total peluang termodinamika ?
¿
+ + + + = = O
10
3
45 108 60 90 45
i
W

348 = O
85

e. banyaknya rata-rata kedudukan partikel pada setiap tingkatan energi :
k
k
k i
W N N
¿
O
=
2
__
1
(9.12)
( )
348
891
45 1 108 2 60 3 90 3 45 4
348
1
__
0
= + + + + = x x x x x N
560 , 2
__
0
= N
( ) 45 4 108 2 90 1
348
1
__
1
x x x N + + =

400 , 1
__
1
= N
( ) 108 1 60 2
348
1
__
2
x x N + =

655 , 0
__
2
= N
( ) 90 1
348
1
__
3
x N =

256 , 0
__
3
= N
( ) 45 1
348
1
__
4
x N =

129 , 0
__
4
= N

f. banyaknya total kedudukan partikel adalah :
i i
i
N N
¿
=
__
(9.13)
¿
+ + + + = =
i
i i
N N 129 , 0 258 , 0 655 , 0 400 , 1 560 , 2
__

5
__
= =
¿
i
i
i
N N

86
9.6. Pekerjaan rumah :

1. Jika terdapat partikel takterbedakan mengikuti
Statistik Bose-Eisntein (B-E), dimana terdapat 7 kemungkinan tingkatan energi dari
keadaan makro (macrostate) dengan kondisi N = 7, U = 6c, g
i
= 3, Tentukanlah :
a. gambarkan dalam bentuk tabel seluruh
kedudukan partikel dalam seluruh keadaan dari distribusi statistik B-E ?
b. berapakah banyaknya keadaan makro (macrostate) yang terbentuk ?
c. banyaknya peluang termodinamika pada masing-masing keadaan makro ?
d. banyaknya total peluang termodinamika ?
e. banyaknya rata-rata kedudukan partikel pada setiap tingkatan energi ?
f. banyaknya total kedudukan partikel ?

2. Jika terdapat partikel takterbedakan mengikuti
Statistik Bose-Eisntein (B-E), dimana terdapat 8 kemungkinan tingkatan energi dari
keadaan makro (macrostate) dengan kondisi N = 6, U = 7c, g
i
= 3, Tentukanlah :
a. gambarkan dalam bentuk tabel seluruh
kedudukan partikel dalam seluruh keadaan dari distribusi statistik B-E ?
b. berapakah banyaknya keadaan makro (macrostate) yang terbentuk ?
c. banyaknya peluang termodinamika pada masing-masing keadaan makro ?
d. banyaknya total peluang termodinamika ?
e. banyaknya rata-rata kedudukan partikel pada setiap tingkatan energi ?
f. banyaknya total kedudukan partikel ?







87
BAB X. PENDAHULUAN MEKANIKA
STATISTIK

10.1. Statistik Fermi-Dirac (F-D)

Banyaknya distibusi keadaan untuk tingkatan energi ke-i dirumuskan :
( ) ! !
!
i i i
i
i
N N g
g
÷
= e
(10.1)
Syarat dalam statistik F-D bahwa
i i
N g > (degenerasi (g
i
) harus lebih besar sama dengan
partikel dalam kotak).

Contoh :
Pada tingkatan energi ke-i terdapat 3 keadaan (g
i
= 3) dan 2 partikel (N
i
= 2), maka
banyaknya cara /kemungkinan distribusi berdasarkan persamaan (10.1) adalah :

( ) ( )
( )
! 2 ! 1
! 3
! 2 ! 2 3
! 3
! !
!
=
÷
=
÷
=
i i i
i
i
N N g
g
e


3 =
i
e

Ketiga cara tersebut digambarkan sesuai tabel 10.1.

Tabel 10.1. Banyaknya cara/kemungkinan distribusi Keadaan dari 2 partikel terbedakan
pada 3 tingkatan energi berdasarkan statistik Fermi-Dirac
1 2 3
• •
• •
• •

Untuk masing-masing distribusi cara tingkatan energi, hanya terdapat satu kemungkinan yang
terjadi. Sedangkan total banyaknya cara/kemungkinan distribusi keadaan atau peluang
termodinamika pada keadaan makro tertentu untuk setiap tingkatan energi berdasarkan
statistik Fermi-Dirac (F-D) dirumuskan:
( ) ! !
!
i i i
i
i i
i k D F
N N g
g
W W
÷
= = =
[ [ ÷
e
(10.2)
10.2. Latihan soal :
1. Jika terdapat partikel takterbedakan mengikuti
Statistik Fermi-Dirac (F-D), dimana terdapat 5 kemungkinan tingkatan energi dari
keadaan makro (macrostate) dengan kondisi N = 6, U = 6c, g
i
= 3, Tentukanlah :
a. gambarkan dalam bentuk tabel seluruh
kedudukan partikel dalam seluruh keadaan dari distribusi statistik F-D ?
b. berapakah banyaknya keadaan makro (macrostate) yang terbentuk ?
c. banyaknya peluang termodinamika pada masing-masing keadaan makro ?
d. banyaknya total peluang termodinamika ?
e. banyaknya rata-rata kedudukan partikel pada setiap tingkatan energi ?
f. banyaknya total kedudukan partikel ?
88
Jawab :
a. Gambar dalam bentuk tabel seluruh kedudukan partikel dalam seluruh keadaan dari
distribusi statistik F-D

k 1 2 3 4 5
__
i
N
4c • 0,123
3c • • 0,494
2c • ••• •• 1,150
c
•• • ••• •• 1,730
0 •••

•••

••• •• •• 2,510
W
k
9 27 1 9 27 73

O

b. banyaknya keadaan makro (macrostate) yang terbentuk adalah 5.

c. banyaknya peluang termodinamika pada masing-masing keadaan makro ?
Berdasarkan persamaan (10.2) :
( ) ! !
!
i i i
i
i i
i k D F
N N g
g
W W
÷
= = =
[ [ ÷
e
( ) ( ) ( )
3 3 1
! 1 ! 1 3
! 3
! 2 ! 2 3
! 3
! 3 ! 3 3
! 3
4 1
x x W W W
D F
=
÷ ÷ ÷
= = =
÷

9
4 1
= = =
÷
W W W
D F

( ) ( )
( )
3
3
2
3 1
! 1 ! 1 3
! 3
! 3 ! 3 3
! 3
x W W
D F
=
(
¸
(

¸

÷ ÷
= =
÷

27
2
= =
÷
W W
D F

( )
( )
2
2
3
1
! 3 ! 3 3
! 3
=
(
¸
(

¸

÷
= =
÷
W W
D F
1
3
= =
÷
W W
D F

( )
( )
3
3
5
3
! 2 ! 2 3
! 3
=
(
¸
(

¸

÷
= =
÷
W W
D F
27
5
= =
÷
W W
D F


d. banyaknya total peluang termodinamika ?
¿
+ + + + = = O
11
1
27 9 1 27 9
i
W

73 = O
89
e. banyaknya rata-rata kedudukan partikel pada setiap tingkatan energi dalam statistik
M-B sama dengan B-E :
k
k
k i
W N N
¿
O
=
2
__
1
(10.3)
( )
73
189
27 2 9 2 3 1 27 3 9 3
73
1
__
0
= + + + + = x x x X x N

510 , 2
__
0
= N

( ) 27 2 9 3 27 1 9 2
73
1
__
1
x x x x N + + + =

730 , 1
__
1
= N
( ) 27 2 1 3 27 1
73
1
__
2
x x x N + + =

150 , 1
__
2
= N
( ) 9 1 27 1
73
1
__
3
x x N + =

494 , 0
__
3
= N
( ) 9 1
73
1
__
4
x N =

123 , 0
__
4
= N

f. banyaknya total kedudukan partikel (sama seperti statistik B-E) adalah :
i i
i
N N
¿
=
__
(10.4)
¿
+ + + + = =
i
i i
N N 123 , 0 494 , 0 150 , 1 730 , 1 510 , 2
__

007 , 6
__
= =
¿
i
i
i
N N

2. Berdasarkan tabel dalam jawaban soal 1.a, jika
sebuah partikel pada tingkatan energi kedua melompat keluar (menghilang) dari
distribusi tersebut, tentukanlah :
a. gambarkan dalam bentuk tabel seluruh kedudukan partikel dalam seluruh
keadaan dari distribusi statistik F-D ?
b. berapakah banyaknya keadaan makro (macrostate) yang terbentuk ?
c. banyaknya peluang termodinamika pada masing-masing keadaan makro ?
d. banyaknya total peluang termodinamika ?
e. banyaknya rata-rata kedudukan partikel pada setiap tingkatan energi ?
f. banyaknya total kedudukan partikel ?
90
Jawab :
a. Gambar dalam bentuk tabel seluruh kedudukan partikel dalam seluruh keadaan dari
distribusi statistik F-D, jika sebuah partikel pada tingkatan energi kedua melompat
keluar (menghilang) dari distribusi tersebut

k 1 2 3 4 5
__
i
N
4c 0,123
3c • 0,494
2c •• • 1,150
c
• •• 1,730
0 •••

••• •• 2,510
W
k
27 1 27 73

O

b. banyaknya keadaan makro (macrostate) yang terbentuk adalah 3.

c. banyaknya peluang termodinamika pada masing-masing keadaan makro ?
Berdasarkan persamaan (10.2) :
( ) ! !
!
i i i
i
i i
i k D F
N N g
g
W W
÷
= = =
[ [ ÷
e
( ) ( )
( )
2
2
2
3 1
! 1 ! 1 3
! 3
! 3 ! 3 3
! 3
x W W
D F
=
(
¸
(

¸

÷ ÷
= =
÷

9
2
= =
÷
W W
D F

( ) ( )
3 1
! 2 ! 2 3
! 3
! 3 ! 3 3
! 3
3
x W W
D F
=
÷ ÷
= =
÷

3
3
= =
÷
W W
D F

( ) ( )
( ) 3 3
! 1 ! 1 3
! 3
! 2 ! 2 3
! 3
2
2
5
x W W
D F
=
÷
(
¸
(

¸

÷
= =
÷

27
5
= =
÷
W W
D F


d. banyaknya total peluang termodinamika ?

¿
+ + = = O
5
27 3 9
i
W

39 = O

91
e. banyaknya rata-rata kedudukan partikel pada setiap tingkatan energi dalam
statistik F-D:
k
k
k i
W N N
¿
O
=
2
__
1
(10.3)
( )
39
90
27 2 3 3 9 3
39
1
__
0
= + + = x x x N
310 , 2
__
0
= N
( ) 27 2 9 1
39
1
__
1
x x N + =
620 , 1
__
1
= N
( ) 27 1 3 2
39
1
__
2
x x N + =

846 , 0
__
2
= N
( ) 9 1
39
1
__
3
x N =

231 , 0
__
3
= N

f. banyaknya total kedudukan partikel adalah :
i i
i
N N
¿
=
__
(10.4)
¿
+ + + = =
i
i i
N N 231 , 0 846 , 0 620 , 1 310 , 2
__

007 , 5
__
= =
¿
i
i
i
N N

10.3. Statistik Maxwell-Boltzmann

Banyaknya distibusi keadaan untuk tingkatan energi ke-i dirumuskan :
i
N
i i
g = e
(10.5)
Contoh :
Pada tingkatan energi ke-i terdapat 3 keadaan (g
i
= 3) dan 2 partikel (N
i
= 2), maka
banyaknya cara /kemungkinan distribusi berdasarkan persamaan (12.3) adalah :

2
3 = =
i
N
i i
g e


9 =
i
e

Kesembilan cara tersebut digambarkan sesuai tabel 10.2.
92
Tabel 10.2. Banyaknya cara/kemungkinan distribusi Keadaan dari 2 partikel terbedakan
pada 3 tingkatan energi berdasarkan statistik Maxwell-Boltzmann
1 2 3
a b
a b
a b
a b
b a
a b
b a
a b
b a

Dalam statistik M-B setiap partikel dalam kotak dibedakan.
Untuk masing-masing distribusi cara tingkatan energi, hanya terdapat satu kemungkinan yang
terjadi. Sedangkan total banyaknya cara/kemungkinan distribusi keadaan atau peluang
termodinamika pada keadaan makro tertentu untuk setiap tingkatan energi berdasarkan
statistik Maxwell-Boltzmann (M-B) dirumuskan:
!
!
i
N
i
i
k B M
N
g
N W W
i
[
= =
÷
(10.6)

10.4. Latihan soal :

1. Jika terdapat partikel terbedakan mengikuti Statistik Maxwell-Boltzmann (M-B),
dimana terdapat 7 kemungkinan tingkatan energi dari keadaan makro (macrostate)
dengan kondisi N = 6, U = 6c, g
i
= 3, Tentukanlah :
a. gambarkan dalam bentuk tabel seluruh kedudukan partikel dalam seluruh
keadaan dari distribusi statistik M-B ?
b. berapakah banyaknya keadaan makro (macrostate) yang terbentuk ?
c. banyaknya peluang termodinamika pada masing-masing keadaan makro ?
d. banyaknya total peluang termodinamika ?
e. banyaknya rata-rata kedudukan partikel pada setiap tingkatan energi ?
f. banyaknya total kedudukan partikel ?

93
Jawab :
a. Gambar dalam bentuk tabel seluruh kedudukan partikel dalam seluruh keadaan dari
distribusi statistik M-B

k 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
__
i
N
6c • 0,013
5c • 0,065
4c • • 0,195
3c •• • • 0,455
2c • • ••• •• • 0,910
c
• •• • ••• •• ••
••
•••
•••
1,640
0 •••
••
••
••
••
••
••
••
•••

•••

••• •• •• • 2,730
W
k
18 90 90 45 180 360 60 180 270 90 3 1386x3
5

3
5
3
5
3
5
3
5
3
5
3
5
3
5
3
5
3
5
3
5
3
5

O

b. banyaknya keadaan makro (macrostate) yang terbentuk adalah 11.

c. banyaknya peluang termodinamika pada masing-masing keadaan makro ?
Berdasarkan persamaan (10.4) :
!
!
i
N
i
i
k B M
N
g
N W W
i
[
= =
÷

= = =
÷
! 1
3
! 5
3
! 6
1 5
1
W W
B M

5
1
3 18 x W W
B M
= =
÷

5
2
1 4
3 2
3 3 30
! 1
3
! 4
3
! 6 x x W W W
B M
=
|
|
.
|

\
|
= = =
÷

5
3 2
3 90 x W W W
B M
= = =
÷

2
3 3 30
! 2
3
! 4
3
! 6
5 2 4
4
x x
W W
B M
= = =
÷

5
4
3 45 x W W
B M
= =
÷

2
3 3 120
! 1
3
! 2
3
! 3
3
! 6
5 1 2 3
8 5
x x
W W W
B M
= = = =
÷

5
8 5
3 180 x W W W
B M
= = =
÷

5
3
1 3
6
3 3 120
! 1
3
! 3
3
! 6 x x W W
B M
=
|
|
.
|

\
|
= =
÷

5
6
3 360 x W W
B M
= =
÷

94
8
3 3
! 6
! 2
3
! 6
5
3
2
9
x
W W
B M
=
|
|
.
|

\
|
= =
÷

5
9
3 270 x W W
B M
= =
÷

! 4
3 3
! 6
! 4
3
! 1
3
! 6
5 4
2
1
10
x
W W
B M
=
|
|
.
|

\
|
= =
÷
5
10
3 90 x W W
B M
= =
÷

5
6
11
3 3
! 6
3
! 6 x W W
B M
= = =
÷

5
11
3 3 x W W
B M
= =
÷


d. banyaknya total peluang termodinamika ?
¿
+ + + = = O
11
1
5 5 5
3 3 ...... 3 90 3 18 x x x W
i
5
3 1386x = O

e. banyaknya rata-rata kedudukan partikel pada setiap tingkatan energi :
k
k
k i
W N N
¿
O
=
2
__
1
(10.7)
( )
5 5 5
5
__
0
3 90 1 ..... 3 90 4 3 18 5
3 1386
1
x x x x x x
x
N + + + =

730 , 2
__
0
= N

( )
5 5 5
5
__
1
3 3 6 ..... 3 360 1 3 90 1
3 1386
1
x x x x x x
x
N + + + =

640 , 1
__
1
= N
( )
5 5 5
5
__
2
3 90 1 ..... 3 360 1 3 90 1
3 1386
1
x x x x x x
x
N + + + =

910 , 0
__
2
= N
( )
5 5 5
5
__
3
3 180 1 3 360 1 3 45 2
3 1386
1
x x x x x x
x
N + + =

455 , 0
__
3
= N
95
( )
5 5
5
__
4
3 180 1 3 90 1
3 1386
1
x x x x
x
N + =


195 , 0
__
4
= N

( )
5
5
__
5
3 90 1
3 1386
1
x x
x
N =

065 , 0
__
5
= N
( )
5
5
__
6
3 18 1
3 1386
1
x x
x
N =

013 , 0
__
6
= N

f. banyaknya total kedudukan partikel adalah :
i i
i
N N
¿
=
__
(10.8)
013 , 0 065 , 0 195 , 0 455 , 0 910 , 0 640 , 1 730 , 2
__
¿
+ + + + + + = =
i
i i
N N

6
__
= =
¿
i
i
i
N N


2. Berdasarkan tabel dalam jawaban soal 1.a, jika sebuah partikel pada tingkatan energi
kedua melompat keluar (menghilang) dari distribusi tersebut, tentukanlah :
a. gambarkan dalam bentuk tabel seluruh kedudukan partikel dalam seluruh
keadaan dari distribusi statistik M-B ?
b. berapakah banyaknya keadaan makro (macrostate) yang terbentuk ?
c. banyaknya peluang termodinamika pada masing-masing keadaan makro ?
d. banyaknya total peluang termodinamika ?
e. banyaknya rata-rata kedudukan partikel pada setiap tingkatan energi ?
f. banyaknya total kedudukan partikel ?
96
Jawab :
a. Gambar dalam bentuk tabel seluruh kedudukan partikel dalam seluruh keadaan dari
distribusi statistik M-B, jika sebuah partikel pada tingkatan energi kedua melompat
keluar (menghilang) dari distribusi tersebut

k 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
__
i
N
6c
5c
4c • 0,074
3c • 0,286
2c •• • 0,714
c
• •• ••
••
1,430
0 ••
••
•••

••• •• • 2,500
W
k
5 20 10 30 5 70x3
5

3
5
3
5
3
5
3
5
3
5

O


b. banyaknya keadaan makro (macrostate) yang terbentuk adalah 5.

c. banyaknya peluang termodinamika pada masing-masing keadaan makro ?
Berdasarkan persamaan (10.11) :
!
!
i
N
i
i
k B M
N
g
N W W
i
[
= =
÷

|
|
.
|

\
|
= = =
÷
! 1
3
! 4
3
! 5
1 4
10 3
W W W
B M
5
10 3
3 5 x W W W
B M
= = =
÷

5
2
1 3
6
3 20
! 1
3
! 3
3
! 5 x W W
B M
=
|
|
.
|

\
|
= =
÷

5
6
3 20 x W W
B M
= =
÷

2
3 20
! 2
3
! 3
3
! 5
5 2 3
8
x
W W
B M
=
|
|
.
|

\
|
= =
÷

5
8
3 10 x W W
B M
= =
÷

4
3 ! 5
! 1
3
! 2
3
! 5
5 1
2
2
9
x
W W
B M
=
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
= =
÷

5
6
3 30 x W W
B M
= =
÷

97
d. banyaknya total peluang termodinamika ?

¿
+ + + + = = O
10
3
5 5 5 5 5
3 5 3 30 3 10 3 20 3 5 x x x x x W
i

5
3 70x = O

e. banyaknya rata-rata kedudukan partikel pada setiap tingkatan energi :
k
k
k i
W N N
¿
O
=
2
__
1
(10.9)
( )
5 5 5 5 5
5
__
0
3 5 1 3 30 2 3 10 3 3 20 3 3 5 4
3 70
1
x x x x x x x x x x
x
N + + + + =

500 , 2
__
0
= N
( )
5 5 5
5
__
1
3 5 4 3 30 2 3 20 1
3 70
1
x x x x x x
x
N + + =

430 , 1
__
1
= N
( )
5 5
5
__
2
3 30 1 3 10 2
3 70
1
x x x x
x
N + =

714 , 0
__
2
= N
( )
5
5
__
3
3 20 1
3 70
1
x x
x
N =

286 , 0
__
3
= N
( )
5
5
__
4
3 5 1
3 70
1
x x
x
N =

074 , 0
__
4
= N

f. banyaknya total kedudukan partikel adalah :
i i
i
N N
¿
=
__
(10.10)
¿
+ + + + = =
i
i i
N N 074 , 0 286 , 0 714 , 0 430 , 1 500 , 2
__

5
__
= =
¿
i
i
i
N N


98
10.5. Pekerjaan rumah :

1. Jika terdapat partikel takterbedakan mengikuti
Statistik Fermi-Dirac (F-D), dimana terdapat 5 kemungkinan tingkatan energi dari
keadaan makro (macrostate) dengan kondisi N = 6, U = 7c, g
i
= 3, Tentukanlah :
a. gambarkan dalam bentuk tabel seluruh kedudukan partikel dalam seluruh
keadaan dari distribusi statistik F-D ?
b. berapakah banyaknya keadaan makro (macrostate) yang terbentuk ?
c. banyaknya peluang termodinamika pada masing-masing keadaan makro ?
d. banyaknya total peluang termodinamika ?
e. banyaknya rata-rata kedudukan partikel pada setiap tingkatan energi ?
f. banyaknya total kedudukan partikel ?

2. Jika terdapat partikel terbedakan mengikuti Statistik Maxwell-Boltzaman (M-B),
dimana terdapat 5 kemungkinan tingkatan energi dari keadaan makro (macrostate)
dengan kondisi N = 6, U = 7c, g
i
= 3, Tentukanlah :
a. gambarkan dalam bentuk tabel seluruh kedudukan partikel dalam seluruh
keadaan dari distribusi statistik M-D ?
b. berapakah banyaknya keadaan makro (macrostate) yang terbentuk ?
c. banyaknya peluang termodinamika pada masing-masing keadaan makro ?
d. banyaknya total peluang termodinamika ?
e. banyaknya rata-rata kedudukan partikel pada setiap tingkatan energi ?
f. banyaknya total kedudukan partikel ?




99
Bab XI.
Fungsi Gamma dalam termodinamika

11.1. Fungsi Gamma (fungsi Faktorial)

Dapat didefinisikan sebagai
A. Integral tertentu

}
·
÷ ÷
=
0
1
dt
z
t
t
e z
Re(z)>0
B. Limit tak hingga

) ( )......... 2 )( 1 (
. ) 1 .........( 3 . 2 . 1
lim
n z z z z
z
n n n
n
z
+ + +
÷
· ÷
=

Bukti:

}
÷
|
.
|

\
|
÷ =
n
dt
z
t
n
n
t
n z F
0
1
1 ) , (


}
÷
|
.
|

\
|
÷
· ÷
=
}
÷
|
.
|

\
|
÷
· ÷
=
· ÷
n
dt
z
t
n
n
t
n
n
dt
z
t
n
n
t
n
n z F
n
0
1
1 lim
0
1
1 lim ) , ( lim

Diketahui :
t
e
n
n
t
n
÷
= |
.
|

\
|
÷
· ÷
1 lim

Bukti:
Ambil :
A
n
n
t
n
= |
.
|

\
|
÷
· ÷
1 lim
, dikalikan ln sehingga menjadi

|
.
|

\
|
÷
· ÷
= |
.
|

\
|
÷
· ÷
=
n
t
n
n
m
n
t
n
A 1 ln lim 1 ln
lim
ln

0
0
0
1 ln
1
1 ln
1
1 ln
lim = =
·
|
.
|

\
|
·
÷
=
|
.
|

\
|
÷
· ÷
=
t
n
m
n
t
n
(TD)
100
Memakai Metode Lophital
|
.
|

\
|
÷
÷
· ÷
=
÷
·
|
.
|

\
|
÷
· ÷
=
|
.
|

\
|
÷
· ÷
=
n
t
t
n
n
n
t
n
t
n
n
n
t
n
A
1
lim
2
1
2
1
1
lim
1
1 ln
lim ln

t
t
t
t
A ÷ =
÷
÷
=
|
.
|

\
|
·
÷
÷
=
0 1
1
ln

t
e A
÷
=

Jadi
t
e
n
n
t
n
÷
= |
.
|

\
|
÷
· ÷
1 lim

Kasus khusus untuk t = -1 maka

( )
e
n
n
n
e
n
n
n
= |
.
|

\
|
+
· ÷
÷ ÷
= |
.
|

\
| ÷
÷
· ÷
1
1 lim
1
) 1 (
1 lim


Kembali ke definisi I

( )
}
·
÷
|
.
|

\
|
÷ =
0
1
1 , dt
z
t
n
n
t
n z F


}
·
÷ ÷
=
0
1
dt
z
t
t
e z
(terbukti)

Kembai ke definisi II

( )
}
÷
|
.
|

\
|
÷ =
n
dt
z
t
n
n
t
n z F
0
1
1 ,

Misal
nu t
n
t
u = ¬ =

ndu dt =

101
Syarat batas 0 0
1 1
= ¬ = u t
1
2 2
= ¬ = u n t

( ) ( ) ( ) ndu nu u n z F
z
n
1
1
0
1 ,
÷
}
÷ =


( ) du u n n u
z z
n
1 1 1
1
0
1
÷ ÷
}
÷ =


( ) ( )
( )
z
u d
u n du u u n
z
n
z z
n
z
} }
÷ = ÷ =
÷
1
0
1
1
0
1 1


( ) ( )
}
÷ =
1
0
1
z n
z
u d u
z
n

Memakai Metode Integral Parsial

} }
÷ = qdp q p pdq .


( ) ( )
8
1
0
1 u d u
n
}
÷
( )
n
u p ÷ = 1
( )
z
u d dq =


( ) du u n dp
n 1
1
÷
÷ ÷ =

z
u q =


( ) ( ) ( ) | | ( )
} }
÷
÷ ÷ ÷ ÷ = ÷
1
0
1
1
0
1
0
1 . . 1 1 du u n u u u u d u
n
z z
n
z
n


( ) ( )
( )
( )
} }
+
÷ = ÷ + =
+
÷ ÷
1
0
1
0
1
1 1
1
1 1
z
u d
u n du u u n
z
n
z
n

Kembali memakai integral parsial

( )
1
1
÷
÷ =
n
u p

( )
1 +
=
z
u d dq


( )( ) du u n dp
n 2
1 1
÷
÷ ÷ ÷ =

1 +
=
z
u q


( ) ( )
( )
( ) | | ( )( )
} }
)
`
¹
¹
´
¦
÷ ÷ ÷ ÷ ÷
+
= ÷
÷
+ +
÷
1
0
1
0
2
1
1
0
1
1
1 1 . . 1
1
1 du u n u u u
z
n
u d u
n
z z
n
z
n


( )
( ) ( )
)
`
¹
¹
´
¦
÷ ÷
+
=
}
+ ÷
1
0
1
1 1
1
du u u n
z
n
z z n


( ) ( )
( )
( )
( )
( )
( )
} }
+
÷
+
÷
= ÷
+
÷
1
0
1
0
2
2
2
. 1
1
1
1
z
u d
u
z
n n
u d u
z
n
z
n

.... dan seterusnya maka :
102


( ) ( ) ( )
}
÷ =
1
0
1 ,
z n
z
u d u
z
n
n z F


( )( )
( )( ) ( )
)
`
¹
¹
´
¦
+ + +
÷ ÷
=
n z z z
n n n
z
n
... 2 1
1 . 2 . 3 ... 2 1


( )
( )( )
( )( ) ( ) n z z z z
n n n n
n z F
z
+ + +
÷ ÷
=
... 2 1
. . 1 2 ... 3 . 2 . 1
,

Jadi
( )( )
( )( ) ( ) n z z z z
z
n n n n
n
z
+ + +
÷ ÷
· ÷
=
... 2 1
. 1 2 ... 3 . 2 . 1
lim
(terbukti)

Selanjutnya kita bisa mencari hubungan rekursinya (Fungsi Gamma/Fungsi Faktorial)
( )( )
( )( ) ( ) n z z z z
z
n n n n
n
z
+ + +
÷ ÷
· ÷
=
... 2 1
. . 1 2 ... 3 . 2 . 1
lim


( )( )
( )( )( ) ( )( ) n z n z z z z
z
n n n
n
z
+ + + + + +
+
÷
· ÷
= +
1 ... 3 2 1
1
1 ... 3 . 2 . 1
lim 1


( )
( )
( )( )( ) ( ) n z z z z z
z
n n n
n z
z n
n
+ + + +
÷
+ +
· ÷
=
... 3 2 1
. . 1 ... 3 . 2 . 1
.
1
.
lim


( )
( )
( )( ) ( ) n z z z z
z
n n n
n
n z
z n
n
+ + +
÷
· ÷
+ +
· ÷
=
... 2 1
. . 1 ... 3 . 2 . 1
lim .
1
.
lim

z z z = +1


Fungsi Gamma merupakan fungsi faktorial untuk harga 1 > z (bilangan bulat)
*
( )
( ) 1 ... 3 . 2 . 1
. . 1 ... 3 . 2 . 1
lim 1
+
÷
· ÷
=
n n
z
n n n
n


1
lim
+
· ÷
=
n
n
n


! 0 1 1 = =

103

*
( )
( )( ) 2 1 . ... 4 . 3 . 2
2
. . 1 ... 3 . 2 . 1
lim 2
+ +
÷
· ÷
=
n n n
n n n
n


( )( )
2 3
2
2
lim
2 1
2
lim
+ +
· ÷
=
+ +
· ÷
=
n n
n
n
n n
n
n


! 1 1 2 = =


*
( )
( ) ( )( )( ) 3 2 1 1 ... 5 . 4 . 3
3
. 1 ... 3 . 2 . 1
lim 3
+ + + ÷
÷
· ÷
=
n n n n n
n n n
n


( )( )( ) 3 2 1
3
lim . 2 . 1 3
+ + +
· ÷
=
n n n
n
n


2 ! 2 2 . 1 3 = = =


*
( )
( )( )( )( ) 4 3 2 1 ... 6 . 5 . 4
4
. . 1 ... 5 . 4 . 3 . 2 . 1
lim 4
+ + + +
÷
· ÷
=
n n n n n
n n n
n


( )( )( )( ) 4 3 2 1
4
lim . 3 . 2 . 1
+ + + +
· ÷
=
n n n n
n
n


! 3 3 . 2 . 1 4 = =


Jadi
! 1 z z z z = = +


11.2. Latihan Soal
1. Buktikanlah bahwa:
}
·
÷ ÷
=
0
1
dt
z
t
t
e z
dapat ditulis:
a.
}
·
÷ ÷
=
0
1 2
2 dy
z
y
y
e z

b.
}
÷
|
|
.
|

\
|
=
1
0
1
1
ln dy
y
z
z

104
Jawab :
a.
}
·
÷ ÷
=
}
·
÷ ÷
=
0
1 2
2
0
1 2
2
dy
z
y
y
e dt t
t
e z

misal
ydy dt y t 2
2
= ¬ =


( )
}
·
÷ ÷
=
0
2
1 2
2
ydy
z
y
y
e z


}
·
÷ ÷
=
0
1 2
2
2
dy
z
y
y
e z
, terbukti

b.
}
÷
|
|
.
|

\
|
=
}
·
÷ ÷
=
1
0
1 2
1
ln
0
1
dy
y
dt
z
t
t
e z

misal
y y
y
t ln ln
1
ln
1
÷ = =
|
|
.
|

\
|
=
÷


t
e y t y y t
÷
= ¬ ÷ = ¬ ÷ = ln ln


dt e dy
t ÷
÷ =

dy dt e
t
÷ =
÷

Syarat batas:

1 0
0
1 1
= = ÷ =
÷
e y t


0
1
2 2
=
· ÷
=
· ÷
= ÷ · =
e
e y t


}
·
÷ ÷
=
0
1
dt
z
t
t
e z


}
·
÷ ÷
=
0
1
dt
z
t
t
e z


}
÷
|
|
.
|

\
|
=
÷
0
1
1
.
1
ln dy
y
z


}
÷
|
|
.
|

\
|
=
1
0
1
1
ln dy
y
z
z
, terbukti
105

2. Diketahui bahwa:
z
z z
t
t
sin
1 = ÷ ·
, untuk 0<z<1.
Buktikanlah bahwa
t =
2
1

Jawab:

t
t
t
t
= =
|
.
|

\
|
= ÷ · ¬ =
90 sin
2
1
sin
2
1
1
2
1
2
1
z


t =
|
|
.
|

\
|
2
2
1

t = =
|
.
|

\
|
÷ ¬
2
1
!
2
1
, terbukti

3. Diketahui bahwa

z z z = +1


( )! 1 ! ÷ = z z z


( )
z
z
z
!
! 1 = ÷

Maka
1
1
! 1
! 0 1 = = =


· = = = ÷ =
0
1
0
! 0
! 1 0

±· = = + ! 1 n n
, n = bilangan bulat negatif
Lalu didapat
( )
z
z
z z
t
t
sin
! ! = ÷

106
4. Berdasarkan soal no. 2 dan 3, kita dapat mencari hubungan rekursi fungsi gamma
/fungsi faktorial pecahan
2
1
. Tentukanlah:
a.
!
2
3
2
1
|
.
|

\
|
÷ = ÷
c. !
2
7
2
5
|
.
|

\
|
÷ = ÷ e. !
2
3
2
5
|
.
|

\
|
=
b. !
2
5
2
3
|
.
|

\
|
÷ = ÷ d. !
2
1
2
3
|
.
|

\
|
=

Jawab
a.
z
z
z z z z
1
1
+
= ¬ = +


( )! 1 ! ÷ = z z z


( )
z
z
z
!
! 1 = ÷


2
1
2
1
1
2
1
1
2
1
÷ ÷ = + ÷ = + ¬ ÷ = z z


2
1
2
1
2
1
÷ ÷ =


t 2 !
2
1
2
2
1
2
2
1
÷ = |
.
|

\
|
÷ ÷ = ÷ = ÷ ¬


z
z
z
1 +
=

Untuk
2
3
÷ = z


t 2
2
1
2
2
1
1
2
1
2
1
÷ = ÷ =
÷
+ ÷
= ÷

107
b.
z
z
z
1 +
=

untuk
2
1
3
2
2
3
1
2
3
2
3
2
3
÷ ÷ =
÷
+ ÷
= ÷ ¬ ÷ = z


t t
3
4
2
3
2
2
3
= ÷ · ÷ = ÷


c.
z
z
z
1 +
=

untuk
2
3
5
2
2
5
2
3
2
5
2
5
÷ ÷ =
÷
÷
= ÷ ¬ ÷ = z


t
t
15
8
3
4
5
2
2
5
÷ = · ÷ = ÷


d.
z
z
z
1 +
=


z z z = +1
Untuk
t
2
1
2
1
2
1
2
3
2
1
= = ¬ = z

e.
z z z = +1

untuk
t
2
1
2
3
2
3
2
3
2
5
2
3
· = = ¬ = z


t
4
3
2
5
=

108

5. Dari soal no.4, gambarkanlah sketsa fungsi gamma/fungsi faktorial

Jawab:
Dari soal no.4 didapatkan :

t 2 !
2
3
2
1
÷ =
|
.
|

\
|
÷ = ÷


t
3
4
!
2
5
2
3
=
|
.
|

\
|
÷ = ÷

t
15
8
!
2
7
2
5
÷ = |
.
|

\
|
÷ = ÷

~ ! ± = z
untuk 1 ÷ s z ,
z = bilangan bulat negatif
t =
|
.
|

\
|
÷ = !
2
1
2
1


t
2
1
!
2
1
2
3
= |
.
|

\
|
=

t
4
3
!
2
3
2
5
=
|
.
|

\
|
=
, dan seterusnya


1 2 3 4 0 -2
-1
-3 -4
-5
z!
z
t
t ÷
t
3
4
t
15
8
÷
t 2 ÷
109

11.3. Pekerjaan rumah

1. Buktikanlah bahwa :
a.
4
5
!
4
1
0
4
= |
.
|

\
|
=
}
·
÷
dx
x
e

b.
27
2
4
3
1 1
ln
4
1
0
3
2
=
|
.
|

\
|
=
|
.
|

\
|
}
dx
x
x

110
BAB XII. Penerapan Fungsi Gamma dalam
distribusi Maxwell (Teori kinetika gas)

12.1. Penerapan fungsi gamma

Distribusi Maxwell merupakan distribusi kecepatan partikel dalam kinetika gas
digambarkan sebagai berikut :


N
jumlah
partikel
T3>T2>T1




T3 T2 T1


V(kecepatan)

N






N+dN



dN

N




dV



V V+dV V



Jumlah partikel yang memiliki kecepatan antara v dan v+dv dirumuskan

dv v
kT
mv
kT
m
N
N
2
2
2
3
0
2
exp
2
4
|
|
.
|

\
| ÷
|
.
|

\
|
=
c
t
t

Jika harga ekspektasi (harga rata-rata)
n
v adalah

}
·
=
0 0
N
dN
v v
n n

111

12.2. LATIHAN SOAL :

Buktikan bahwa
1.
!
2
1
!
2
1
2
2
3
2
3
2 2 2
|
.
|

\
| +
|
.
|

\
|
=
|
.
|

\
| +
|
.
|

\
|
=
n
m
kT
n
m
kT
v
n n
n

2.
m
kT
rata rata kecepa v
t
8
tan = ÷ =

3.
m
kT
v v
rms
3
2
= =


Jawab :
1.
dv v e
kT
m
v
N
dN
v v
kT
mv
n n n 2
2
2
3
0 0
2
2
4
÷
· ·
} }
|
.
|

\
|
= =
t
t


dv e v
kT
m
v
kT
mv
n n
2
0
2
2
3
2
2
4
÷
·
+
}
|
.
|

\
|
=
t
t


dt e t
kT
m
v
t z n
2
0
1 2
2
3
2
2
2
÷
·
÷
}
|
.
|

\
|
÷
t
t

Misal
v
kT
m
t v
kT
m
t
2
1
2 2
2 2
|
.
|

\
|
= ¬ =


t
m
kT
v
2
1
2
|
.
|

\
|
=


dt
m
kT
dv
2
1
2
|
.
|

\
|
=


dt
m
kT
e t
m
kT
kT
m
v
t
n
n
2
1
2
2
1
0
2
3
2 2
2
2
2
2
|
.
|

\
|
|
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
÷
+
·
}
t
t


112


dt e t
m
kT
m
kT
kT
m
v
t n
n
n
2
2
2
2
0
2
1
2
3
2
2
2
2
2
÷ +
+
·
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
}
t
t


dt e t
m
kT
m
kT
kT
m
v
t n
n
n
2
2
0
2
2
2
1
2
3
2
2 2
2
2
÷ +
·
+
}
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
t
t


dt e t
m
kT
kT
m
v
t n
n
n
2
2
0
2
3
2 2
3
2
2
2
2
÷ +
·
+
}
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
t
t


dt e t
m
kT
m
kT
kT
m
v
t n
n
n
2
2
0
2 2
3
2
3
2
3
2
2 2
2
1
2
÷ +
·
}
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
t
t


dt e t
m
kT
v
t z
n
n
2
1 2
0
2
2
2 1
2
÷ ÷
·
}
|
.
|

\
|
=
t t
t


2
3
3 2 2 1 2
2 2
2
+
= ¬ + = ¬ + = ÷ ¬
|
.
|

\
|
=
n
z n z n z
m
kT
v
n
n
t


2
3
2
3
2
2
2
3
2 2 2
|
.
|

\
| +
|
.
|

\
|
=
|
.
|

\
| +
|
.
|

\
|
=
n
m
kT
n
m
kT
v
n n
n
t


!
2
1
!
2
1
2
2
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
+
|
.
|

\
|
=
n
m
kT
v
n
n
TERBUKTI
113
2. Kecepatan rata-rata = ekspektasi kecepatan

m
kT
m
kT
m
kT
m
kT
v
n
t
t
t
8 2 2
2
1
! 1 2
!
2
1
!
2
1 1
2
2
1
2
1
= =
|
.
|

\
|
=
|
.
|

\
|
|
.
|

\
| +
|
.
|

\
|
=
TERBUKTI

3. v
rms
= Kecepatan root mean square

2
1
2
2
2
1
2 2
!
2
1
!
2
1 2
2
¦
¦
)
¦
¦
`
¹
¦
¦
¹
¦
¦
´
¦
|
.
|

\
| +
|
.
|

\
|
= = =
m
kT
v v v
rms


2
1
2
1
2
1
2
3
!
2
1
!
2
1
2
3
2
!
2
1
!
2
3
2
)
`
¹
¹
´
¦
=
¦
¦
)
¦
¦
`
¹
¦
¦
¹
¦
¦
´
¦
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
¦
¦
)
¦
¦
`
¹
¦
¦
¹
¦
¦
´
¦
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
= =
m
kT
m
kT
m
kT
v v
rms

m
kT
v v
rms
3
2
= =
TERBUKTi

02. Diketahui distribusi gamma dirumuskan sebagai berikut :
( )
( ) 0 , 0
0 ,
1
1
1
s =
> =
÷
÷
x x f
x e x x f
x
| o
o
o |


Jika harga ekspetasi jarak x
n
adalah
( ) x x f x x
n n
c =
}
·
0

Buktikanlah bahwa :

a
o
o
|
n
x
n n
+
=

b harga ekspetasi =
o| = x

c varian =
2
2
2 2
o| o = ÷ = x x


114
Jawab :
1.
x e x x x
x
n n
c =
÷
÷
·
}
| o
o
o |
1
1
0
1


x e x x
x
n n
c =
÷
+ ÷
·
}
| o
o
o |
1
1
0
1

Misal
t x t x x t c = c ¬ = ÷ + = | |
|
1


( ) t e t x
t n n
c =
÷ + ÷
·
}
| |
o |
o
o
1
0
1


t e t x
t n n n
c =
÷ + ÷
·
+ ÷
}
1
0
1
1
o o
o
| |
o |


t e t x
t z
n
n
c =
÷ ÷
·
+
}
1
0
o |
|
o
o


n z n z x
n
n
+ = ¬ + ÷ = ÷ ¬ = o o
o
|
1 1


o
o
|
n
x
n n
+
=
TERBUKTI

2.
o
o
|o
o
o
| =
+
=
1
1
x


|o = x
TERBUKTI

3.
2
2 2
x x ÷ = o


( )
o
o
o o |
o
o
| 1
2
2 2 2
+ =
+
= x
, maka
2 2 2 2
o| | o + = x


( )
2 2
2
2
| o o| = = x
dan
2 2 2 2 2
2
2 2
| o o| | o o ÷ + = ÷ = x x


2 2
o| = x
TERBUKTI
115

12.3. PEKERJAAN RUMAH


01. Diketahui bahwa fungsi distribusi kelajuan molekul dirumuskan :

kT
mv
e v F
2
2
2
÷
=
,
buktikanlah bahwa kelajuan maksimumnya sebesar :
m
kT
v
2
max
=
!

02. Jika diketahui peluruhan radioaktif dirumuskan sebagai berikut :
( )
t
e N t N
ì ÷
=
0
, di mana ì = konstanta peluruhan dan waktu rata-rata yang
dibutuhkan partikel untuk meluruh (mean lifetime = t ) antara t dan t + dt dirumuskan
sebagai berikut :

dt
t
t N
dt
t
t N
t
c
c
c
c
=
}
}
·
·
) (
) (
0
0
t
. Berbantuan penyelesaian fungsi gamma,
buktikanlah bahwa :
ì
t
1
=



116
DAFTAR PUSTAKA

1. Arfken, G.B., and H.J. Weber. Mathematical Methods for Physicists, 4th edn,
Academic Press, Inc., San Diego, (1995).
2. Debye, P. Polar Molecules. Dover Publications, Inc., New York, (1945).
3. Fraden, J. Handbook of Modern Sensors : Physics, Designs and Applications.
Springer-Verlag New York, Second Edition, (1996).
4. F.W. Sears and G.L. Salinger. Thermodynamics, kinetic and statistical mechanics.
Addison-Wesley Publishing Co, Inc., Reading. (1975).
5. Irzaman, Y. Darvina, A. Fuad, P. Arifin, M. Budiman, and M. Barmawi. Physical and
Pyroelectric Properties of Tantalum Oxide Doped Lead Zirconium Titanate
[Pb
0.9950
(Zr
0.525
Ti
0.465
Ta
0.010
)O
3
] Thin Films and Its Application for IR Sensor. Journal
of Physica Status Solidi (a), 199 (3), (2003).
6. M.W. Zemansky and R.H. Dittman. Heat and thermodynamics. 6
th
edition. McGraw
Hill Inc. 1982. (maupun terjemahannya).
7. Sze, S.M. Physics of Semiconductor Devices. 2nd edn. John Wiley & Sons,
Singapore, (1981).
8. Uchino, K. Ferroelectric Devices, Marcel Dekker, Inc. New York. (2000).


You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->