P. 1
Pemanfaatan Lahan Kering Marginal Melalui Integrasi Tanaman Pangan, Tanaman Pakan, Dan Ternak Ruminansiax

Pemanfaatan Lahan Kering Marginal Melalui Integrasi Tanaman Pangan, Tanaman Pakan, Dan Ternak Ruminansiax

|Views: 168|Likes:
Published by Askari Zakariah

More info:

Published by: Askari Zakariah on Feb 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/19/2013

pdf

text

original

PEMANFAATAN LAHAN KERING MARGINAL MELALUI INTEGRASI TANAMAN PANGAN, TANAMAN PAKAN, DAN TERNAK RUMINANSIA

Latar Belakang Semakin menyempitnya lahan pertanian subur karena banyak digunakan sebagai pemukiman, perkantoran, maupun fasilitas umum lainnya, menyebabkan perlunya upaya pemanfaatan lahan kering secara lebih intensif untuk budi daya tanaman pangan, perkebunan dan tanaman pakan serta peternakan. Perlunya peningkatan produktivitas lahan kering dipicu pula oleh adanya kondisi gizi buruk di masyarakat, merebaknya penyakit-penyakit seperti busung lapar, polio, deman berdarah dan lainlain penyakit berbahaya yang disebabkan oleh kondisi tubuh yang melemah akibat kekurangan gizi. Yudo Husodo (2005) dalam Karda dan Spudiati (2012) menyatakan bahwa pengembangan subsektor peternakan memiliki arti penting dipandang dari sudut peningkatan SDM (sumber daya manusia) karena kualitas SDM sangat ditentukan oleh konsumsi protein hewani yang pada gilirannya menentukan kualitas pertumbuhan fisik dan kecerdasan bangsa disamping pendidikan dan layanan kesehatan yang baik. Lebih lanjut dinyatakan bahwa SDM lebih dominan mempengaruhi kemajuan suatu bangsa dibandingkan kekayaan sumber daya alamnya. Sumber pakan dilahan kering cukup beragam dan bervariasi, selain yang bersumber dari lahan penggembalaan atau lahan umum yang selama ini berfungsi sebagai penyuplai HMT. Tanpa adanya upaya-upaya perbaikan dan pelestarian vegetasi maka akan terjadi penurunan kemampuan daya suplainya. Berkaitan dengan bertambahnya populasi ternak tanpa adanya eksplorasi sumber pakan maka akan terjadi kekurangan pakan pada musim kemarau, hal ini yang seringkali terjadi pada daerah lahan kering. Namun bila kita melihat pola usahatani yang ada di suatu wilayah pedesaan memiliki potensi sebagai sumber-sumber

1

pakan

alternatif.

Disamping

itu

lahan-lahan

usahatani

masih

memungkinkan untuk ditanami jenis hijauan pakan ternak unggul dengan kriteria tahan kekeringan, produksi tinggi dan memiliki kandungan nutrisi yang baik sehingga akan menjamin kontinuitas pakan ternak sepanjang tahun (Sasongko dkk, 2012). Potensi lahan kering di NTB yang cukup besar memiliki ekosistem yang rapuh dan mudah terdegradasi apabila pengelolaannya tidak dilakukan dengan cara-cara yang tepat, topografi umumnya berbukit dan bergunung, ketersediaan air tanah yang terbatas, lapisan oleh tanah dangkal, mudah tererosi, teknologi diadopsi dari teknologi lahan basah yang tidak sesuai untuk lahan kering, infrasturktur tidak memadai, sumberdaya manusia rendah, kelembagaan sosial ekonomi lemah (Suwardji dan Tejowulan, 2003 dalam

Sasongko dkk, 2012). Ada tiga komponen teknologi utama dalam sistem integrasi tanaman-ternak di lahan kering : (a) teknologi budidaya ternak; (b) teknologi budidaya tanaman; (c) teknologi pengolahan limbah pertanian untuk pakan dan pembuatan kompos. Teknologi dalam budidaya ternak adalah pengandangan ternak dalam pola kelompok, yang dibarengi dengan penerapan teknologi pemeliharaan ternak, termasuk strategi pemberian pakan. Teknologi budidaya tanaman yang biasa diusahakan di lahan kering berupa sistim tumpang sari. Teknologi pengolahan limbah pertanian sebagai pakan ternak menjadi salah satu kunci keberhasilan sistem integrasi tanaman-ternak, disamping teknologi pengolahan dan pemanfaatan kompos untuk meningkatkan kesuburan lahan. Agar

komponen teknologi tersebut dapat diintegrasikan secara sinergis, maka pengembangan sistem integrasi tanaman-ternak dilakukan dengan pendekatan kelembagaan sebab kalau diserahkan kepada petani secara perorangan tidak akan menguntungkan mengingat penguasaan lahan yang sempit dan pemilikan ternak yang terbatas (Haryanto et al., 2002 dalam Sukar et al., 2005).

2

Azas pengolahan lahan kering adalah menciptakan lingkungan perakaran yang dalam, mempertahankan kemampuan tanah menyimpan air dan mengedarkan udara. Tindakan terakhir adalah memperkaya tanah dengan zat hara tersedia untuk akar (Go Ban Hong, 1976 dalam Hasnudi dan Saleh, 2004). Lingkungan perakaran yang dalam mensyaratkan pembuangan kelebihan air melalui rembesan dalam dan melalui aliran permukaan untuk memantapkan zarah-zarah (hara) tanah. Humus sebagai salah satu hasil perombakan zat organik membentuk zarah majemuk dan mantap (Hasnudi dan Saleh, 2004). Untuk mencapai keberhasilan dalam usaha tani berkelanjutan di lahan kering diperlukan pengetahuan yang cukup tentang beberapa faktor yang mendukung peningkatan produksi serta berbagai kendala yang dapat mempengaruhi degradasi lahan. Hal ini sangat menentukan dalam pengelolaan lahan dan konservasinya pada dua tipe lahan kering (lahan kering beriklim basah dan lahan kering beriklim kering) yang agak berbeda (Sopandie dan Utomo, 1995).

Sumberdaya Lahan Kering dan Permasalahannya

Lahan Kering Beriklim Basah

Berdasarkan kemiringan lereng, lahan kering yang dinilai potensial untuk pertanian adalah yang berkemiringan <15%, yang luasnya diperkirakan 34,6 juta ha, tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya. Dari luasan tersebut 20,7 juta ha (60%) didominasi oleh tanam masam podsolik merah kuning yang umumnya tersebar pada daerah beriklim basah dengan bahan induk yang miskin unsur hara, dengan produktivitas rendah. Kesuburan tanah sangat tergantung pada lapisan tanah yang bersifat labil dan cepat menurun, sehingga tanpa pengolahan bahan organik secara memadai produktivitas lahan akan cepat menurun (Partohardjono et al., 1993 dalam Sopandie dan

3

Utomo, 1995).

Berdasarkan curah hujan, lahan kering beriklim basah

berada pada wilayah dengan tipe iklim A (9 bulan basah) dan B (7-9 bulan basah). Umumnya curah hujan pada daerah ini lebih dari 2.200 mm/tahun dengan distribusi relatif merata dan cukup menunjang untuk bertanam sepanjang tahun. Kendala yang penting pada lahan kering beriklim basah adalah pH yang masam, keracunana Al dan Fe, erosi yang tinggi, dan gangguan penyakit blas (Sopandie dan Utomo, 1995). Kemasaman merupakan kendala utama di tanah sulfat masam. Sumber kemasaman ini berasal dari senyawa pirit (FeS2) yang teroksidasi melepaskan ion-ion hidrogen dan sulfat yang diikuti oleh penurunan pH menjadi sekitar 3. Keadaan tersebut menyebabkan kelarutan Al meningkat sehingga hampir semua tanaman budidaya, termasuk padi tidak dapat tumbuh secara normal. Pengapuran pada awalnya dianggap mampu mengatasi permasalahan tersebut, akan tetapi karena tanah sulfat masam memiliki pH yang berfluktuasi bergantung musim, maka ternyata pengapuran tersebut tidak efektif. Hal tersebut dicirikan pada tanaman padi yang mengalami keracunan Al walaupun telah dilakukan pemberian kapur sebelum penanaman. Akibatnya produksi padi pada tanah sulfat masam menjadi sangat rendah bahkan sampai tidak menghasilkan (Ahfyanti dan Dwi, 2008). Tingginya tingkat kelarutan Al pada tanah-tanah masam ditanggulangi membutuhkan melalui biaya pemberian tinggi serta kapur (Ca++), namun dapat ini

cara

cenderung

merusak

lingkungan.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa batuan kapur alami juga mengandung logam-logam berat yang dapat membahayakan lingkungan. Di samping itu pemberian kapur yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan berkurangnya tingkat ketersediaan hara-hara mikro tanah yang diperlukan tanaman. Dengan demikian perlu dicarikan alternatif penurunan kadar Al terlarut ini dengan mempertimbangkan faktor-faktor lingkungan. Salah satu cara yang mungkin dapat dikembangkan adalah memanfaatkan jenis-jenis tumbuhan yang mampu mengakumulasi Al pada jaringannya

4

tanpa

mengakibatkan

keracunan

unsur

ini

pada

tanaman

yang

bersangkutan.

Melastoma malabathricum L. adalah salah satu jenis

tumbuhan yang dikenal mampu menyerap Al dalam jumlah yang tinggi dan tidak menunjukkan al. (1998) gejala dalam keracunan Suhardi Al. Hasil penelitian

Watanabe et

(2012)

menunjukkan

bahwa Melastoma malabathricum L. mampu mengakumulasi Al pada daun muda, dewasa, tua dan akar masing-masing sebanyak 8.000, 9.200, 14.400 dan 10.400 ppm Al dengan tidak menunjukkan keracunan Al. Penurunan kadar Al ini diharapkan pada gilirannya juga akan

meningkatkan ketersediaan P serta memperbaiki efisiensi serapan P oleh tanaman. Dengan demikian pemanfaatan Melastoma malabathricum L. ini untuk menurunkan kandungan Al larut serta meningkatkan ketersediaan P tanah adalah sangat mungkin (Suhardi, 2012). Keracunan Fe atau bronzing dapat menyebabkan pertumbuhan padi terhambat, menurunkan produktivitas tanaman dan kematian tanaman (Jenning et al., 1979 dalam Suhartini, 2004). Penyebab utama dari keracunan Fe di berbagai daerah dapat beragam, keracunan Fe dapat terjadi pada keadaan pH rendah, besi terlarut tinggi, kadar kation rendah, KTK rendah atau kombinasi berbagai faktor tersebut

(Ottow et al., 1982 dalam Suhartini, 2004). Keracunan Fe merupakan gejala fisiologis yang kompleks yang disebabkan oleh kondisi tanaman meliputi fisik, hara, fisiologik, dan kondisi tanah yang mengandung Fe berlebihan (Ottow et al., 1989 dalam Suhartini, 2004). Gejala tanaman padi keracunan Fe ditandai oleh daun berwarna oranye atau bronzing, pembungaan terhambat, proses sintesis terhenti, tanaman menjadi kerdil, bagian akar menebal dan berwarna coklat, kasar, dan pendek. Pada kondisi yang parah batang dan daun menjadi busuk dan tanaman akhirnya mati. Tahapan keracunan besi pada padi menurut Ottow et al. (1989) dalam Suhartini (2004) terdiri atas dua fase. Pertama, fase 7 hari setelah penggenangan (stress pemindahan bibit). Pada fase ini akar belum mampu mengoksidasi kelebihan ferro menjadi ferri selama

5

penggenangan. Dengan kata lain, mekanisme excluding powernya belum berfungsi. Akibatnya ion ferro yang berlebihan akan banyak terserap oleh tanaman. Kedua, fase antara primordia dan berbunga yang disebabkan oleh tidak efektifnya mekanisme akar untuk menolak ferro akibat makin permeabilitasnya akar tanaman. Namun gejala keracunan Fe dapat terlihat pada setiap stadia pertumbuhan, dan sebaiknya dievaluasi pada fase anakan maksimum dan primordia (Van Breeman and Moormann, 1978 dalam Suhartini, 2004). Tanaman yang kekurangan hara makro

akan menunjukkan perubahan drastis dalam metabolisme. Kekurangan K atau Ca menambah permeabilitas dan kerusakan metabolit. Pada tanaman yang kekurangan K dan molekul penyusun metabolit tanaman rendah akan mengalami hambatan dalam menyusun bentuk molekul tinggi karena beberapa proses sintesis terhenti. Dengan demikian, tanaman yang kecukupan hara mampu melindungi lapisan akar, permeabilitas akar terkontrol dan akar tanaman memiliki kapasitas oksidasi yang kuat dan reduksi besi rendah (Suhartini, 2004). Kombinasi pemupukan N, P, K

dengan pengapuran dan penggunaan bahan organik merupakan teknologi yang baik untuk menanggulangi keracunan Fe (Kasno, 2009). Upaya atau teknologi yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah keracunan Fe pada tanaman padi adalah dengan penggunaan asam humat yang diperoleh dari berbagai jenis bahan organik dan pengelolaan air. Pengendalian keracunan Fe dengan pengelolaan air

dapat terjadi melalui pencucian Fe larut dan oksidasi besi larut (Fe2+) menjadi besi tidak larut (Fe3+). Denganpengelolaan air secara terus

menerus selama pertumbuhan tanaman padi diharapkan dapat menekan bahaya keracunan Fe. Pengaturan drainase dapat menurunkan kadar Fe2+ dan Mn2+ di tanah, meningkatkan serapan hara makro dan menurunkan kadar Fe dan Mn di tanaman. Namun interval drainase yang tepat belum ditemukan, untuk itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Asam humat memiliki peranan besar dalam memperbaiki tingkat kesuburan tanah baik secara kimia, fisika maupun biologi. Asam humat

6

dapat memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kapasitas memegang air tanah dan kapasitas tukar kation tanah serta dapat menurunkan kelarutan unsur yang dapat meracun seperti Fe dan Al melalui pembentukan senyawa metal organo komplek atau khelat. Asam humat dapat diekstrak dari sisa-sisa tanaman, pupuk organik, dan berbagai jenis bahan organik yang telah didekomposisikan seperti tanah gambut, jerami padi, pupuk kandang, sampah kota, dan alang-alang (Anonimous, 2011).

Lahan Kering Beriklim Kering

Lahan kering beriklim kering banyak dijumpai di wilayah timur Indonesia (Nusa Tenggara, Timor Timur, Sulawesi, dan Maluku). Dari

segi kimia tanah relatif lebih baik dibandingkan dengan lahan kering beriklim basah, karena pH mendekati netral dan pelindiannya terbatas, sehingga relatif kaya unsur-unsur basa seperti K, Ca, dan Mg. Curah hujan yang rendah dan umumnya juga bersifat eratik merupakan kendala utama bagi pengembangan tanaman pangan (Partohardjo et al., 1993 dalam Soepandi dan Utomo, 1995). Lahan kering beriklim kering dicirikan dengan curah hujan rendah 1.000-1.500 mm/tahun selama 3-4 bulan

dengan distribusi tidak teratur. Fluktuasi curah hujan sangat tinggi, pada suatu saat bisa mencapai 100 mm per hari atau bisa berhenti sama sekali selama 2-3 minggu.

Pengelolaan Lahan dan Teknik Konservasi

Degradasi lahan diartikan sebagai suatu penurunan produksi lahan, baik kualitatif maupun kuantitatif, sebagai akibat berbagai proses seperti erosi, salinasi, pencucian hara tanaman, pengrusakan struktur tanah dan polusi. Di lahan kering beriklim basah yang topografinya bervariasi dari datar sampai bergunung, erosi telah merupakan salah satu penyebab degradasi lahan yang dominan. Selanjutnya, pencucian (leaching),

7

akumulasi unsur-unsur beracun (toxic) dan polusi yang diakibatkan pemberian pestisida yang tidak terkendali dapat menyebabkan degradasi lahan. Pada lahan kering beriklim kering, sering terjadi pembukaan lahan di daerah hulu DAS yang tidak terkendali menyebabkan erosi dan rusaknya fungsi hidrologi. Sebenarnya penyebab degradasi lahan yang mendasar adalah kesalahan dalam pengelolaan. Untuk mencapai keberhasilan usaha tani berkelanjutan di lahan kering perlu memperhatikan beberapa faktor yang mendukung

peningkatan produksi serta faktor-faktor yang mempengaruhi proses degradasi lahan. Peningkatan produksi di lahan kering dapat dicapai

melalui cara budidaya tanaman yang tepat seperti : diversifikasi tanaman (multiple cropping), penggunaan varietas unggul, pengolahan tanah yang tepat, pola tanam sesuai ekosistem, pemupukan, pengelolaan air, pengendalian hama terpadu, pengendalian gulma, serta upaya konservasi tanah dan air.

Diversifikasi Tanaman

Diversifikasi tanaman merupakan salah satu strategi penting dalam usahatani pada lahan kering. Kombinasi berbagai komoditas tanaman

pangan, tanaman tahunan dan pemeliharaan ternak dinilai dapat menjamin produktifitas dan keberlanjutan usaha tani. Pada kandungan lahan bahan kering masam organik pada (lahan podsolik kering beriklim merah kuning basah), dapat

dipertahankan dengan menerapkan daur ulang, yaitu pemanfaatan pupuk kandang dan limbah pertanian (Partohadjono et al., 1993 dalam Soepandi dan Utomo, 1995). Budidaya lorong (alley cropping) dengan

menggunakan leguminosa sebagai tanaman pagar (misalnya lamtoro) dinilai mampu meningkatkan keberadaan bahan organik tanah. Pada

lahan kering di daerah beriklim kering, pengembangan usaha tani diarahkan untuk memanfaatkan lahan datar di pelembahan, dengan

8

kendala populasi gulma yang tinggi. Pada kondisi demikian tampaknya sistem tumpang sari dan introduksi tanaman tahunan cukup memberikan harapan. Keberhasilan dari pola pertanaman multiple cropping ini tampaknya dikaitkan pada dua keuntungan, yaitu pemanfaatan ruang kosong secara optimal dan cepatnya penutupan tanah oleh vegetasi yang memperkecil laju erosi.

Pola Tanam Berdasarkan Ekosistem

Dengan adanya perbedaan karakteristik ekosistem antara lahan kering beriklim basah dengan lahan kering beriklim kering, maka pola tanam tentunya akan berbeda. Pada lahan kering beriklim basah, curah hujan merata sepanjang tahun, maka dapat dipilih komoditi tanaman sela yang dapat menutup tanah sepanjang tahun seperti jagung dan kacangkacangan. Urutan penanamannya diatur secara tumpang sari.

Pengolahan Tanah

Dengan ciri lapisan bahan organik yang tipis pada kebanyakan lahan kering, maka yang diperlukan ialah tindakan yang sekecil mungkin yang menyebabkan gangguan di permukaan tanah. Teknik tanpa olah tanah (TOT) atau pengolahan tanah minimum diikuti dengan perlakuan herbisida yang terkendali serta pemberian mulsa dapat dilakukan pada lahan kering. Pemberian pupuk N yang memadai dapat membantu dalam mempercepat dekomposisi gulma yang mati oleh herbisida. Herbisida

yang diberikan harus selektif, dimana kehidupan mikroorganisme tanah yang berguna tetap terpelihara kelestariannya. Beberapa penelitian

menunjukkan bahwa pemberian herbisida glisofat pada teknik TOT tidak mengganggu perkembangan organisme tanah.

9

Pemberian Mulsa

Pemanfaatan sisa tanaman sebagai mulsa cukup efektif untuk mempertahankan kadar bahan organik tanah dan produktivitas lahan (Kurnia dan Suwardjo, 1989 dalam Soepandi dan Utomo, 1995). Selain sisa tanaman, bahan mulsa dapat diperoleh dengan sistem tanaman lorong dengan tanaman legum yang dipangkas secara berkala. Efektifitas penggunaan mulsa dalam mengurangi erosi masih terlihat pada lahan dengan kemiringan sampai 15%.

Pemupukan

Pemberian pupuk perlu disesuai dengan kesuburan tanah. Pupuk urea, TSP, dan KCl diberikan untuk meningkatkan kesuburan tanah.

Konservasi Lahan

Karena besarnya variasi lingkungan lahan kering, maka teknologi yang diperlukan juga bervariasi sesuai kondisi setempat. Pada lahan

dengan kemiringan lebih dari 15%, pembuatan teras (bangku, kredit, atau gulud) dengan penanaman rumput perlu dipertimbangkan. Pada

pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang bertujuan optimal sebaiknya dikaitkan dengan beberapa upaya pokok antara lain : (a) pengolahan lahan yang berlandaskan kaidah konservasi tanah dan air dalam arti luas, (b) pendayagunaan sumberdaya air dan iklim secara optimal, (c) pengelolaan vegetasi hutan, pangan dan pakan, (d) pembinaan sumber daya manusia secara bijaksana, dan (e) pemilihan komoditi sesuai agroekologi (Abas et al., 1989 dalam Soepandi dan Utomo, 1995). Konservasi air dapat ditentukan melalui cara-cara yang dapat mengendalikan evaporasim transpirasi, dan aliran permukaan. Pada

10

lahan kering, teknik konservasi air yang penting meliputi : pengendalian aliran permukaan, penyadapan/pemanenan air, meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah, pengolahan tanah minimum dan beberapa upaya pengelolaan air tanah. Pada hakekatnya beberapa tindakan konservasi tanah adalah merupakan tindakan konservasi air.

Tanaman Pakan Penambat Nitrogen

Hampir tidak ada tanaman dapat bertumbuh tanpa adanya nitrogen (N) dan kebanyakan tanah di daerah tropis telah diketahui memiliki cadangan N rendah. Namun, tidak demikian halnya dengan tanaman penambat N, mereka semata-mata tidak tergantung dengan cadangan N dalam tanah tetapi mereka mampu menambatnya melalui simbiosis dengan mikroba tanah. Oleh karena itu beberapa spesies tanaman

penambat N menjadi penting bagi kelangsungan hidup keluarga pedesaan di daerah tropis sebagai penyedia berbagai produk dan jasa.

Roshetko (2001) dalam Karda dan Spudiati (2012) melaporkan berbagai fungsi tanaman penambat N antara lain sebagai sumber kayu api dan arang, pakan, penyubur tanah, kayu bangunan dan sebagai pangan untuk manusia. Dengan demikian tanaman panambat N sangat ideal digunakan sebagai tanaman integrasi dalam sistem pertanian terpadu. Hal ini disebabkan oleh beberapa sifat-sifat yang menguntungkan seperti 1) memiliki tajuk kecil dan tipis sehingga rawang sinar matahari, 2) mampu bertunas kembali dengan cepat setelah pemangkasan, 3) memiliki sistem perakaran yang dalam dengan sedikit percabangan akar lateral dekat permukaan tanah agar tidak bersaing dengan akar tanaman pertanian, 4) guguran daun dapat terdekomposisi dalam jumlah tertentu yang dapat menghasilkan unsur hara pada saat unsur hara tersebut diperlukan dalam daur tanaman pertanian, 5) mampu mengikat N dari udara dan juga dapat menghasilkan kayu, pakan ternak, obat-obtan dan hasil-hasil lainnya,

11

6) dapat tumbuh dengan baik pada lahan dengan keterbatasanketerbatasan tertentu seperti keasaman tanah, kekeringan,

penggenangan air, angin keras, hama serangga dan lain-lain (Lahjie, 2001 dalam Karda dan Spudiati, 2012).

Integrasi Tanaman Kelapa dan Tanaman Penambat N

Keberhasilan

tumpang

sari

pada

perkebunan

kelapa

telah

dilaporkan oleh beberapa peneliti seperti Opio (1986) di Samoa Barat dan Liyanage (1984) di Sri Lanka disitasi oleh Roshetko (2001) dalam Karda dan Spudiati (2012) yaitu berupa peningkatan buah kelapa sehingga pendapatan menjadi dua kali lipat dari hasil kelapa. Tanaman tumpang sari yang diusahakan adalah cengkeh, lada hitam, coklat, kopi dan tanaman semusim lainnya. Dengan semakin diperlukan peningkatan produksi dan pengelolaan lahan secara berkelanjutan, maka integrasi tanaman pakan penambat N ke dalam perkebunan kelapa menjadi makin popular karena tanaman pakan dapat menambah N ke dalam tanah perkebunan kelapa yang pada umumnya miskin N, terutama pada daerah-daerah pantai dimana tanahnya didominasi oleh bahan karang yang miskin unsur hara. Pada saat yang sama tanaman pakan dapat menyediakan hasil-hasil berupa kayu api dan pakan bergizi tinggi sebagai pakan tambahan pakan basal sehingga dapat menurunkan tekanan penggembalaan. Tanaman

penambat N yang dipercaya baik pada saat ini digunakan sebagai tanaman tumpang sari kelapa adalah lamtoro gung (Leucaena

leucocephala) dan gamal (Gliricidia sepium). Tiga sistem integrasi tanaman pakan ke dalam perkebunan kelapa akan diuraikan yang dipersiapkan dari buku Agroforestry Species and Technologies oleh Roshetko (2001 dalam Karda dan Spudiati 2012). 1. Kelapa, coklat dan gamal. Pada sistem ini, gamal menyediakan naungan kepada tanaman coklat, terutama pada perkebunan kelapa

12

yang baru dibentuk dimana kelapa yang masih muda usianya tidak menyediakan naungan secara mencukupi untuk tanaman coklat. Gamal ditanam dari potongan batang dengan jarak tanam 3 x 3 atau 6 x 6 m. Bilamana gamal dipandang telah cukup menyediakan naungan, maka coklat dapat ditanam di bawahnya dengan jarak tanam 2 x 2 m. Gamal sebaiknya dipangkas secara teratur sampai setinggi 2-3 m untuk menyeragamkan tajuk, penghasil pupuk hijau dan kayu api. 2. Kelapa, gamal dan sapi. Pada sistem ini gamal ditanam dibawah pohon kelapa yang telah dewasa baik di daerah basah maupun kering. Potongan batang sepanjang 1,5 m dengan diameter 2,5 cm ditanam dengan jarak tanam 2,0 x 0,9 m dalam dua barisan tanaman diselasela tanaman kelapa. Pemangkasan gamal dilaksanakan setelah tanaman berumur satu tahun setinggi 1 m dan setelah itu setiap enam bulan. Hasil pangkasan dapat digunakan sebagai pupuk hijau atau sebagai pakan sapi. Bila digunakan sebagai pupuk hijau maka dilaporkan dapat meningkatkan berat buah kelapa secara significan. Denikian pula bila digunakan sebagai pakan tambahan untuk sapi (50%/50%) gamal dan rumput cori (Brachiaria miliformis) dapat menghasilkan tambahan berat badan sapi 700 gr/ekor/hari. 3. Kelapa, lamtoro dan pastura. Pada sistem ini sering kali lamtoro ditanam ke dalam pastura dibawah pohon kelapa untuk menambah gizi padangan bila dilakungan penggembalaan. Lamtoro ditanam dalam dua barisan secara rapat (jarak tanam 0,5 x 0,5 m). Untuk memperoleh hasil yang memuaskan disarankan agar penggembalaan dilakukan secara berrotasi sehingga dapat memberikan kesempatan bagi pertumbuhan kembali lamtoro secara baik.

Managemen Tanaman Kelapa

1. Jarak tanam dan pengaturan penanaman. Jarak tanam yang direkomendasikan agar diperoleh produksi pastura dan kelapa yang

13

optimal adalah 10 x 10 m pada lahan datar dan 9 x 9 m pada lahan miring dengan pengaturan penanaman bersegitiga dibandingkan bersegiempat. 2. Pemupukan. Pemberian pupuk potas (potassium muriate) dengan jalan membuat lubang disekitar pangkal batang setiap tanaman kelapa telah pula direkomendasikan. 3. Siklus pertumbuhan dan penggembalaan. Fase I, 0-5 tahun penggembalaan sapi dihindarkan agar tidak merusak tanaman kelapa yang masih muda. Karena banyak tersedia sinar matahari maka dapat ditanami tanaman yang memerlukan sinar matahari bayak seperti cabai, kol, dan ketela pohon dan pakan ternak yang dipotong dan dibawa ke kandang. Fase II, 5-20 tahun, produksi pastura rendah karena naungan pohon kelapa semakin meningkat, maka penanaman tanaman yang tahan naungan dapat disarankan seperti coklat. Fase III, 20 tahun hingga penggantian pohon kelapa merupakan waktu ideal untuk penggembalaan. Untuk pengembangan lebih lanjut perlu penelitian integrasi tanaman pakan dan ternak dengan perkebunan mangga, pisang, jambu mete untuk meningkatkan pendapatan petani lahan kering, terutama sebelum tanaman buah-buahan berproduksi menyangkut jarak tanam yang ideal serta pendapatan total dibandingkan dengan pertanaman monokultur. Di Kapet Bima dilaporkan tersedia lahan seluas 205.194 ha untuk penanaman jambu mete (Ichsan, 2001 dalam Karda dan Spudiati, 2012) yang perlu diintegrasikan dengan tanaman pakan dan ternak untuk meningkatkan pendapatan petani.

Bank Pakan pada Lahan Kering/Lahan Tidur

Bank pakan biasanya terdiri dari tanaman pohon atau semak dari jenis leguminosa yang dikelola secara intensif. Menurut para akhli, bank

14

pakan bertujuan untuk menjembatani kekurangan pakan pada saat musim kemarau yang terjadi setiap tahun. Pada umumnya ditanam melalui biji pada lahan yang telah dipersiapkan dengan baik. Meskipun demikian bank pakan dapat juga dibuat melalui penanaman tanaman muda atau stek tetapi karena diperlukan dalam jumlah banyak maka cara ini tidak praktis. Bilamana menggunakan stek jarak tanam yang disarankan adalah 50 x 50 cm atau 1 x 1 m. Stek gamal (Gliricidia sepium ) biasanya digunakan dalam bank pakan. Bank pakan biasanya dibuat dalam dua barisan tanaman dengan jarak barisan 50 cm dan jarak antara dua barisan satu dengan dua barisan yang lainnya adalah 1-1,5 m. Rumputrumputan biasanya dibiarkan tumbuh diantara dua barisan satu dengan yang lainnya.

Managemen Bank Pakan

1. Pemberantasan gulma. Karena pertumbuhan fase awal dari bank pakan lambat maka diperlukan pemberantasan gulma setiap 2-4 minggu sampai tanaman berumur 6 bulan pada saat mana tanaman telah memiliki tajuk sedemikian rupa sehingga dapat menekan pertumbuhan gulma. 2. Umur pemanenan pertama. Tergantung dari kondisi lingkungan dan pertumbuhan bank pakan maka pemanenan pertama dapat dilakukan pada umur tanaman 9-21 bulan. 3. Tinggi pemotongan. Standar tinggi pemotongan yang disarankan adalah 50-150 cm agar produksi optimal, pertumbuhan kembali dan kelangsunagn hidup tanaman dapat dipertahankan. Perkecualian pada tanaman turi sebaiknya yang dipangkas adalah percabangan lateral dan hindari pemotongan batang utama sampai setinggi kurang dari 150 cm.agar tanaman tidak mati. Namun. pada tanaman lamtoro yang telah berumur 2-3 tahun disarankan bahwa tanaman harus dipangkas

15

sampai tinggi 25 cm untuk menghilangkan bagian-bagian kayu yang telah mati dan merangsang pertumbuhan daun muda. 4. Frekuensi pemangkasan. Standar frekuensi pemangkasan adalah 612 minggu. Lebih jarang dipotong maka produksi pakan meningkat namun proporsi kayu berukuran kecil meningkat. Lebih sering dipangkas menurunkan total produksi pakan namun kualitas dan palatabilitas pakan meningkat. 5. Pengelolaan saat musim kering. Enam sampai delapan mingu sebelum mulai musim kemarau maka tanaman sebaiknya dipangkas setinggi standar pemotongan sehingga daun yang baru tumbuh selama beberapa minggu akan dapat tersedia pada saat dibutuhkan sekali. Bilamana perioda musim panasnya panjang dan meliputi bank pakan yang luas maka pemangkasan sebelum datangnya musim panas dapat dilaksanakan secara bertahap dan kelebihan hasil dapat diawetkan dan disimpan. Bank pakan mungkin lebih sulit diadopsi oleh petani pada lahan kering dan lahan tidur lainnya, dibandingkan integrasi tanaman pakan pada lahan perkebunan seperti disebutkan diatas. Oleh karena itu disarankan pada lahan-lahan demikian integrasi tanaman pakan dan ternak dengan tanaman perkebunan yang relatif tahan kekeringan seperti mangga, jambu mete dan tanaman industri seperi jarak dapat

dilaksanakan. Bank pakan mungkin lebih cocok bagi peternakan sekala menengah dan komersial dibandingkan peternakan subsisten.

Sistim Pemberian Pakan

Setelah tersedia hijauan secara mencukupi baik melalui integrasi tanaman pakan dengan tanaman perkebunan maupun melalui bank pakan maka penggunaannya ditujukan sebagai pakan tambahan yang bernilai gizi tinggi terhadap pakan basal yang kualitasnya relatif rendah dengan level pemberian berkisar dari 30 sampai 50% bahan kering. Penggunaan

16

daun-daunan legum pohon atau semak sebagai suplemen sangat penting baik pada waktu musim hujan dimana ransum ternak terdiri dari rerumputan yang masih hijau maupun pada waktu musim kemarua dimana ransum basal ternak terdiri dari rerumputan yang sudah mongering/limbah pertanian. Rumput muda yang masih hijau meskipun memiliki kadar N relatif tinggi namun karena memiliki kelarutan N dalam rumen sangat tinggi maka proporsi bypass proteinnya rendah. Untuk menurunkan kelarutan N rumput dalam rumen maka diperlukan proteksi, dimana proteksi dapat dilakukan secara alami oleh tanin yang ada pada daun-daun legum pohon atau semak tadi. Para akhli melaporkan bahwa legum pohon atau semak memiliki kadar tanin lebih tinggi dibandingkan legum yang tumbuh rendah. Diperlukan paling sedikit kadar tanin 4% dari bahan kering legum pohon atau semak agar terbentuk bypass protein yang optimal pada usus halus ternak ruminansia. Legum tumbuh rendah pada umumnya mengandung tanin kurang dari 3% dari bahan keringnya. Bypass protein sangat

dibutuhkan bagi ternak yang bertumbuh cepat dan saat laktasi.

Penanganan Pasca Panen

Penanganan pasca panen sangat dibutuhkan terutama saat produksi melimpah untuk menjamin adanya nilai tambah bagi petani. Sebagai contoh pada saat pucak produksi rambutan, mangga, pisang, nangka dan lain-lain, harga sangat rendah sehingga petani merugi. Oleh karena itu penanganan pasca panen tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan kegiatan produksi lainnya dalam meningkatkan pendapatan petani.

17

Sistem Integrasi Kelapa-Jagung-Sapi

Setiap 1 ha lahan kelapa dengan jarak tanam 9 x 9 m2 terdapat sekitar 123 pohon. Dari luas tersebut terdapat paling sedikit sekitar 90%nya atau 9.000 m2 dapat ditanami jagung setelah dikoreksi dengan luas lahan yang tergunakan untuk setiap pohon kelapa yaitu lingkaran sekeliling tegakan pohon kelapa dengan luas sekitar 3,14 m2. Dengan demikian jumlah populasi tanam jagung yang direkomendasikan adalah 66.000 rumpun per ha (Puslitbangtan, 2007 dalam Paat, 2012), maka pada lahan perkebunan kelapa hanya dapat ditanaman 59.400 rumpun atau 90%-nya. Jerami jagung merupakan stok pakan sapi, namun karena ketersediaannya hanya tertumpuk pada saat panen maka Rumput Raja (Pennisetum sp) dibudidayakan pada sisi luar lahan sebagai sumber pakan harian yang juga berfungsi pagar hidup.

Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pada musim kemarau yang agak ekstrim di perkebunan kelapa Desa Tawaang Kabupaten Minsel (Tabel 1), produktivitas jagung komposit varietas Lamuru diperoleh 2,73 t/ha (Paat dkk, 2005 dalam Paat 2012) dengan bahan kering jerami 12,59 t/ha, sedangkan jagung QPM varietas Srikandi Kuning sebesar 3,45 t /ha

18

(Malia dkk, 2006dalam Paat 2012). Pada perkebunan kelapa di Pandu Kabupaten Minut pada musim hujan diperoleh produktivitas jagung Srikandi Kuning sebesar 4,90 t/ha dengan bobot bahan kering jerami 10,48 t/ha (Paat dkk, 2006 dalam Paat 2012). Adanya budidaya jagung di lahan kelapa kenyataannya berpengaruh positif pada produksi kelapa. Produktivitas kelapa di Desa Tawaang meningkat dari 6 menjadi 12 butir per tandan pada integrasi kelapa dengan jagung Srikandi kuning (Malia dkk, 2006). Hal yang sama terjadi pada integrasi kelapa dengan jagung Lamuru di Pandu Kabupaten Minahasa Utara terjadi peningkatan produksi kelapa dari 5 sebelum integrasi menjadi 9 butir per tandan setelah integrasi (Paat dkk, 2006 dalam Paat 2012). Peningkatan produktivitas kelapa pada pertanian integrasi ini sangat mungkin disebabkan pengaruh pengolahan lahan 2 kali bajak dan penyiangan jagung 1 kali cangkul dan pembumbunan telah

menggemburkan tanah dan memberantas gulma. Selain itu pemupukan berimbang tanaman jagung secara otomatis juga dapat diserap oleh akar kelapa yang umumnya berakar panjang. Di sisi lain relatif rendahnya

produktivitas jagung sebagaimana yang dipaparkan di atas disebabkan terjadinya persaingan penggunaan hara dan pupuk antara tanaman jagung dan tanaman kelapa yang ditanami pada lahan yang sama. Hasil kumulatif per tahun bahan kering rumput raja sebagai pakan sapi pada sisi luar lahan (0,1 ha) adalah 9,60 ton per ha. Dengan demikian hasil perhitungan potensi daya tampung (carrying capacity) ternak sapi untuk 1 ha yang bersumber dari jerami jagung dan rumput raja, secara kumulatif adalah sekitar 20,08 t untuk jagung Srikandi Kuning dengan rumput raja, atau 22,19 ton untuk Lamuru dengan rumput raja. Dengan demikian jika kebutuhan seekor sapi sekitar 4 ton per Unit Ternak per tahun maka daya tampung (carrying capacity) adalah 5-6 Unit Ternak. Hasil kajian introduksi sapi betina produktif sebanyak 12 ekor pada satu kelompok tani pada sistem integrasi kelapa – jagung – sapi menunjukkan bahwa jumlah populasi pada setahun kemudian mencapai

19

23 ekor. Ini berarti bahwa dari 12 ekor yang dipelihara sudah terdapat 11 ekor yang beranak (Tabel 2). Tenaga kerja ternak digunakan untuk mengolah lahan pertanian dan transportasi hasil pertanian menggunakan gerobak. Rata-rata hari kerja ternak per bulan adalah sekitar 15 hari. Harga upah tenaga kerja ternak sapi dan operator bervariasi tergantung jenis pekerjaan, untuk mengolah lahan Rp.75.000,- per hari sedangkan untuk transportasi umumnya masih lebih besar karena bersifat borongan. Penggunaan ternak sebagai tenaga kerja mengolah lahan dan

transportasi sarana dan hasil pertanian ternyata belum berpengaruh terhadap vertilitas dan reproduktivitas sapi betina produktif. Ketersediaan pakan yang surplus yang bersumber dari rumput raja yang dipotong secara rotasi pada tiap hari dan jerami jagung yang tersedia berlimpah di waktu panen, tentu saja membuat kondisi ternak tetap bertahan. Akumulasi jumlah kotoran satu ekor sapi yang dapat dibuat kompos adalah sekitar 1 ton bobot kering, lebih sedikit dari potensinya sebesar 2 ton, hal ini disebabkan ternak sapi umumnya berada dikandang hanya pada malam hari, sedangkan pada siang hari umunya ternak pekerjakan. Dengan demikian jenis pemeliharaan adalah semi intensif, hanya pada hari-hari kerja ternak keluar kandang hampir sepanjang hari sedangkan pada malam hari dikandangkan. Pada hari-hari istirahatsiang dan malam ternak dipelihara secara intensif dalan kandang. Sistim integrasi tanaman jagung-kacang tanah-ternak pada lahan kering di Bali juga dapat digunakan sebagai salah satu cara mengatasi kekurangan pakan ternak pada musim kering dengan memanfaatkan limbah hasil pertanian tersebut. Penanaman jagung dengan kualitas

unggul (Arjuna, Bisma, Hibrida CPI-1) pada lahan kering memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan varietas lokal

(Adijaya dkk, 2012).

20

Penanaman kacang tanah varietas unggul (Kijang dan Kelinci) juga dapat dijadikan sebagai pola integrasi ternak-tanaman di lahan kering di Bali dimana kacang tanah varietas unggul menghasilkan produksi yang lebih baik dibandingkan varietas lokal (Adijaya dkk, 2012).

21

Usaha ternak sapi di Sulawesi Utara masih bersifat tradisional dan merupakan usaha sambilan. Upaya untuk meningkatkan manfaat ternak sapi adalah mengusahakannya secara terpadu dengan tanaman atau dikenal dengan sistem integrasi tanaman-ternak. Sistem ini memberikan keuntungan kepada petani-peternak karena : 1) pupuk kompos dari kotoran ternak sapi dapat meningkatkan kesuburan tanah dan sebagai sumber pendapatan, 2) ternak dapat dimanfaatkan sebagai tenaga kerja dan juga sumber pendapatan bila disewa oleh petani lain yang tidak memiliki ternak sapi, 3) limbah jagung bermanfaat sebagai pakan

sehingga mengurangi biaya penyediaan pakan, dan 4) lahan di antara pohon kelapa dapat ditanami hijauan berupa rumput Brachiaria brizanta dan leguminosa Arachis pintoi untuk meningkatkan kesuburan tanah, sumber pakan yang berkualitas, dan sumber pendapatan bisa dijual (Elly dkk, 2008).

Inovasi Sistem Integrasi Kelapa-Vanili-Kambing

Pada dasarnya perkebunan kelapa monokultur terdapat surplus lahan sebesar 8500 – 9500 m2 per ha. Pada model ini terdapat surplus pakan ternak berupa daun gamal dari pohon gamal yang digunakan untuk tiang panjatan vanili. Pada frekuensi pemangkasan ranting gamal 3 bulan dapat menghasilkan daun gamal antara antara 2 – 5 kg bobot segar 22

per pohon. Jika rata-rata jumlah konsumsi hijauan pakan segar per ekor kambing kacang dewasa adalah 1 – 2 kg, maka setiap satu pohon gamal pada frekuensi panen 3 bulan dapat mensuplai daun gamal untuk kebutuhan sehari 1 – 2 ekor. Dengan jarak tanam vanili di lapangan yang umumnya 1,5 x 1,25 m (Tjahjadi, 1989) maka populasi gamal dan vanili pada lahan kelapa 1 ha dapat mencapai 4.000 pohon maka secara potensi, kambing yang dapat dipelihara adalah sekitar 45 ekor dengan pakan non stop, yang diperoleh dari hasil bagi antara 4.000 pohon dengan 90 hari. Hasil kajian Malia dkk (2005) dan Paat dkk (2006) dalam Paat (2012) menunjukkan bahwa akumulasi produktivitas kopra per tahun tanpa pemupukan adalah 1000 kg/ha. Pada kasus lahan kelapa yang vanilinya dipupuk dengan pupuk kandang 10 t/5 ha dan urea 75,00 kg ha akumulasi hasil kopra meningkat dua kali lipat menjadi sekitar 2000 kg/ha. Hasil kopra varietas Kelapa Dalam dengan pemupukan dapat mencapai 2,45 t/ha/tahun (Badan Litang Pertanian, 2003 dalam Paat 2012). Produktivitas vanili segar per tahun tanpa pupuk adalah 2000 kg/ha (Paat dkk, 2006 dalam Paat 2012). Produktivitas vanili bobot segar per tahun dengan pupuk kandang 10 t/ha dan urea 75,00 kg/ ha adalah sekitar 3000-4000 kg. Sementara itu 1 ha lahan terdapat 1.650 pohon gamal, baik sebagai panjatan vanili maupun sebagai pagar hidup yang ditanam di ke empat sisi batas lahan. Produktivitas daun gamal bobot segar per

pohon per 3 bulan panen bervariasi antara 2,1 – 6,0 kg, tergantung umur gamal. Produktivitas daun gamal segar pada umur pohon 1 ; 2 ; dan 3 tahun menghasilkan berturut-turut 2,11; 3,50 ; dan 8,08 kg per pohon pada interval panen 90 hari. Akan tetapi dengan berlakunya manajemen pemangkasan mengikuti jadual bergilir pengaturan sulur vanili yang juga setiap 90 hari sebanyak sekitar 3 cabang maka produksi daun gamal menjadi hanya sekitar separuhnya yaitu berkisar antara 1,5 – 4,5 kg. Produktivitas kayu bakar dari ranting gamal bobot segar per pohon per 3 bulan panen bervariasi antara 4,6 – 10,3 kg, tergantung umur gamal.

23

Pengamatan pada umur 1 ; 2 ; dan 3 tahun menghasilkan berturut-turut 4,66 ; 7,42 ; dan 10,30 kg batang gamal segar per pohon pada interval panen 90 hari. Akan tetapi dengan berlakunya manajemen pemangkasan mengikuti jadual pengaturan sulur vanili yang juga setiap 90 hari sebanyak sekitar 3 cabang maka produksi batang gamal menjadi hanya sekitar separuhnya yaitu berkisar antara 2 - 5 kg. Jika rata-rata produksi kayu gamal adalah 3,5 kg per pohon per 90 hari maka potensi produksi per tahun adalah 23.100 ton bobot segar per tahun. Hasil kajian introduksi terbatas 20 ekor Kambing Kacang dewasa pada sekelompok tani di desa Tokin yang terletak di sentra produksi “Kelapa – Vanili” Sulut. Ternak betina dipelihara oleh 9 petani masingmasing 2 ekor, sedangkan ternak pejantan dipelihara kolektif. Introduksi terbatas ini dilakukan karena ternak kambing masih merupakan komoditas introduksi. Dalam sejarah sebelumnya memang tidak pernah ada orang yang memasukkan dan memelihara kambing di wilayah tersebut. Performan ternak kambing secara ekterior nampak kondisi badan berisi cenderung gemuk, dan bulu relatif mengkilap. Hal ini berbeda

dibandingkan kondisi ternak saat introduksi yaitu badan cenderung kurus dan berbulu kusut. Tabel diintegrasikan 3 menyajikan pada SITT data kinerja – produksi kambing yang

“Kelapa

Vanili”.

Relatif

rendahnya

pertambahan bobot badan disebabkan hijauan yang diberikan tidak disuplemen dengan pakan penguat sebagai sumber energi. Pertambahan bobot badan kambing dengan tambahan suplemen blok dalam pakan memberikan pertambahan bobot badan 76,8 g/ekor/hari (Prabowo dkk, 2004 dalam Paat 2012). Produksi kumulatif kotoran ternak yang berhasil dikumpulkan mencapai sekitar 2 ton segar per tahun per 2 ekor. Pada sistem ini, kambing dapat menghasilkan kotoran sekitar 2,88 kg/hari (Mathius, 2003 dalam Paat 2012) atau sekitar 1 ton/ekor/tahun.

24

Kesimpulan

1. Pemberdayaan lahan marginal memerlukan tindakan yang nyata dan segera sebagai wujud nyata ekstensifikasi pertanian berkenaan

dengan semakin menyusutnya luas lahan pertanian subur akibat dijadikan pemukiman, perkantoran dan fasilitas umum lainnya. Pemberdayaan dapat diupayakan melalui integrasi tanaman pakan dan ternak dengan perkebunan lahan kering maupun pembentukan bank pakan pada lahan tidur atau lahan tidur sementara melalui pendekatan partisipasi aktif petani. 2. Sistem integrasi tanaman – ternak, baik tanaman perkebunan maupun tanaman pangan merupakan salah satu alternatif potensial, yang dapat memecahkan permasalahan pada usahatani perkebunan, tanaman pangan, bahkan permasalahan peternakan itu sendiri.

25

3. Usahatani terpadu menghasilkan berlimpah limbah pertanian dan biomasa tanaman yang secara langsung atau melalui proses pengolahan menjadi pakan ternak yang murah.

26

DAFTAR PUSTAKA

Adijaya, I.N., Suprapto, I.M.R. Yasa, dan P. Suratmini. 2012. Pemberdayaan Masyarakat Miskin di Lahan Kering bali Utara melalui Integrasi Tanaman dan Ternak Sapi. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali. ntb.litbang.deptan.go.id diakses tanggal 1 Mei 2012. Ahfyanti dan W.W. Dwi. 2008. Pemilihan Bahan Amelioran Untuk Mengatasi Keracunan Aluminium Pada Tanaman Padi di Tanah Sulfat Masam. http://repository.ipb.ac.id diakses tanggal 28 Mei 2012. Anonimous. 2011. Upaya Pengendalian Keracunan Besi (Fe) dengan Asam Humat dan Pengelolaan Air Untuk Meningkatkan Produktifitas Tanah Sawah Bukaan Baru. http://www.hydro.co.id diakses tanggal 28 Mei 2012. Elly, F.H., B.M. Sinaga, S.U. Kuntjoro, dan N. Kusnadi. 2008. Pengembangan Usaha Ternak Sapi Rakyat Melalui Integrasi Sapi-Tanaman di Sulawesi Utara. Jurnal Litbang Pertanian, 27 (2). Hasnudi dan E. Saleh. 2004. Rencana Pemanfaatan Lahan Kering untuk Pengembangan Usaha Peternakan Ruminansia dan Usaha Tani Terpadu di Indonesia. Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Karda, I.W. dan Spudiati. 2012. Meningkatkan Produktifitas Lahan Marginal Melalui Integrasi Tanaman Pakan dan Ternak Ruminansia. Fakultas Peternakan Universitas Mataram. ntb.litbang.deptan.go.id diakses tanggal 1 Mei 2012. Kasno, A. 2009. Keracunan Besi Sawah Bukaan Baru dan Penanggulangannya. http://pustaka.litbang.deptan.go.id akses tanggal 28 Mei 2012. Paat, P.C. 2012. Sistem Integrasi Tanaman dan Ternak pada Lahan Kering Berbasis Kelapa di Sulawesi Utara. Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian Mendukung Program Pembangunan Pertanian Provinsi Sulawesi Utara. sulut.litbang.deptan.go.id diakses tanggal 1 Mei 2012.

27

Paat, P.C. 2012. Analisis Potensi Sumber Daya Pakan dan Kebutuhan Inovasi Ternak Ruminansia di Kabupaten Minahasa Tenggara Sulawesi Utara. Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian Mendukung Program Pembangunan Pertanian Provinsi Sulawesi Utara. sulut.litbang.deptan.go.id diakses tanggal 1 Mei 2012. Sasongko, W.R., Y.G. Bulu, dan A. Surahman. 2012. Pola Pemeliharaan Ternak Sapi Bali di Lahan Kering Dataran Rendah Lombok Timur. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB. www.infodiknas.com diakses tanggal 1 Mei 2012. Sopandie, D., dan I. H. Utomo. 1995. Pengelolaan Lahan dan Teknik Konservasi di Lahan Kering. Makalah Penunjang Diskusi Pengembangan Teknologi Tepat Guna di Lahan Kering untuk Mendukung Pertanian Berkelanjutan. Bogor, 27 September 1995. Suhardi. 2012. Peran Tumbuhan Akumulator Alumunium (Melastoma malabathricum L.) terhadap Ketersediaan P pada Tanah Ultisol. Program Studi Tanah Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UNIB. http://www.himita.freehomepage.com diakses tanggal 28 Mei 2012.

Suhartini, T. 2004. Perbaikan Varietas Padi untuk Lahan Keracunan Fe. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor. Buletin Plasma Nutfah Vol.10 No.1. Sukar, W.I. Werdhani, dan Soeharsono. 2005. Sistem Integrasi Tanaman-Ternak di Lahan Kering. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta.

28

TUGAS MAKALAH BUDIDAYA HIJAUAN PAKAN DAN PASTURA (PTN 6201)

Oleh : Firman Nasiu 11/324748/PPT/00795

FAKULTAS PETERNAKAN PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS GAJAH MADA YOGYAKARTA 2012
29

30

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->