P. 1
LAPORAN PRAK. FARMAKOGNOSI (KEL 5).docx

LAPORAN PRAK. FARMAKOGNOSI (KEL 5).docx

|Views: 931|Likes:

More info:

Published by: Okky Maretha Octadevi on Feb 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/31/2014

pdf

text

original

LAPORAN PRAKTIKUM

FARMAKOGNOSI

Oleh :

KELOMPOK 5

INAHA KHOIRUNISA BISAROH

(M3511030)

INDAH KARUNIA DEWI

(M3511031)

INDRAWATI NUR CAHYANI

(M3511032)

ISNANI ISTIYANA

(M351 1033)

KARUNIA PUTRI PAMUNGKAS

(M3511034)

MARDHIYANTI KHAMIDA

(M3511035)

MELINA ANGGRAENI

(M3511036)

D3 FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2012

ACARA I

IDENTIFIKASI KANDUNGAN KIMIA SIMPLISIA

I.

TUJUAN

1. Mahasiswa mampu melakukan identifikasi kandungan kimia simplisia

2. Mahasiswa mampu melakukan uji secara kualitatif terhadap simplisia yang

digunakan

3. Mahasiswa dapat mengidentifikasi ada atau tidaknya senyawa alkaloid,

antrakinon, polifenol,tanin, saponin, flavonoid dan terpen pada simplisia

yang digunakan

II.

DASAR TEORI

Definisi Simplisia

Simplisia adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat dan belum

mengalami pengolahan tertentu, kecuali dinyatakan lain berupa bahan yang telah

dikeringkan. Menurut sumber bahan yang digunakan jenis simplisia dapat berupa

simplisia nabati, simplisia hewani, simplisia pelikan. Simplisia nabati adalah

simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman, atau eksudat tanaman. Eksudat

tanaman ialah isi sel yang secara keluar dari tanaman atau isi sel yang dengan cara

tertentu dikeluarkan dari selnya,atau zat nabati lainnya yang dengan cara tertentu

dipisahkan dari tanamannya dan belum berupa zat kimia murni (Anonim, 1979).

Simplisia hewani adalah simplisia yang berupa hewan utuh bagian hewan

atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia

murninya. Sedangkan, simplisia pelikan (mineral) ialah simplisia yang berupa bahan

pelikan ( mineral) yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan

belum berupa zat kimianya (Anonim, 1979)

Syarat baku simplisia

Semua paparan yang tertera dalam persyaratan simplisia, kecuali tentang Isi

dan Penggunaan simplisia merupakan syarat baku bagi simplisia yang bersangkutan.

Suatu simplisia tidak dapat dinyatakan bermutu Materia Medika Indonesia jika tidak

memenuhi syarat baku tersebut. Syarat baku yang tertera dalam Materia Medika

Indonesia berlaku untuk simplisia yang akan dipergunakan untuk keperluan

pengobatan, tetapi tidak berlaku bagi bahan yang dipergunakan untuk keperluan lain

yang dijual dengan nama yang sama (Anonim, 1980).

Identifikasi kandungan kimia

Identifikasi kandungan kimia atau skrining fitokimia adalah suatu metode

untuk mengetahui golongan kimia pada suatu sampel dengan menguji secara

kualitatif adanya senyawa kandungan dalam sampel yang digunakan seperti misalnya

tanin, saponin, flavonoid, steroid terpenoid, alkaloid, serta kandungan kimia lainnya

(Mutiatikum, dkk., 2010).

Uji pendahuluan dilakukan untuk mengetahui golongan senyawa yang

terdapat pada suatu tanaman. Hal ini berfungsi sebagai data awal untuk menentukan

metode ekstraksi yang akan digunakan agar komponen aktif yang terdapat pada

sampel dapat diekstrasi secara optimal (Mutiatikum, dkk., 2010).

Antrakinon

Dipipet 5 ml filtrat fraksi kloroform , dikeringkan dengan evaporator,

ditambahkan 10 ml air. Dikocok dan disaring. Pada 5 ml filtrat ditambahkan 5 ml

boraks 5%, dikocok dan dilihat dibawah sinar UV. Panjang gelombang 366 nm

sebelum 30 menit untuk uji semi kualitatif ditimbang 20 mg antrakinon dilarutkan

dengan 10 ml kloroform. Dipipet masing-masing dari larutan ini 10, 20, 40, 60, 80

dan 100 pl kedalam tabung reaksi, dikeringkan dengan evaporator, ditambahkan 5 ml

boraks 5% dikocok dan dilihat pancaran floresensinya dibawah sinar UV. Larutan

contoh di bandingkan dengan standar (Stahl, 1969).

Uji Polifenol

Ditimbang sebanyak 1 gram simplisia kedalam tabung reaksi. Ditambahkan

5 ml air suling, diekstrak dengan ultrasonik selama 20 menit, didinginkan dalam

campuran air dan es batu. Disentrifuse selama 20 menit dengan kecepatan 2000 rpm.

Sebanyak 25 pl dari larutan pipet kedalam tabung reaksi . Ditambahkan air suling

hingga volume 1 ml. Ditambahkan berturut- turut 0.5ml larutan Folin Ciocalteau dan

2,5ml larutan sodium karbonat 20%. Dikocok hingga homogen. Dibiarkan selama 40

menit dan warna biru yang terbentuk dibaca dengan spektrofotometer pada panjang

gelombang 725 rpm . Untuk larutan standar ditimbang 10 mg katekin . Dilarutkan

dengan 50 ml air, dipipet masing-masing dari larutan standar 10. 20. 30. 40. 50. 60.

70. 80. 90 dan 100 pl. Penambahan pereaksi selanjutnya sama seperti pada contoh

(Singleton dan Rossi, 1965).

Tanin

Tanin terdapat luas dalam tumbuhan berpembuluh dalam angiospermae

terdapat khusus pada jaringan kayu.menurut batasannya tanin dapat bereaksi dengan

proteina membentuk kopolimer mantap yang tak larut dalam air. Di dalam tumbuhan,

letak tanin terpisah dari protein dan enzim sitoplasma, tetapi bila jaringan rusak

misalnya bila hewan memakannya, maka reaksi penyamakan dapat terjadi. Reaksi ini

menebabkan protein lebih sukar dicapai oleh cairan pencerna hewan. Salah satu

fungsi utama tanin dalam tumbuhan ialah sebagai penolak hewan pemakan tumbuhan

(J.B Harborne, 1996).

Sebanyak 50 mg contoh ditimbang kedalam tabung reaksi yang bertutup

ditambahkan 5 ml aseton 70%, diekstrak dengan ultrasonik selama 20 menit.

Didinginkan dalam wadah berisi air dan es batu. Disentrifuse selama 20 menit dengan

kecepatan 2000 rpm. Sebanyak 100 pd dari masing-masing contoh dipipet kedalam

tabung reaksi. Ditambahkan air suling hingga volumenya 1 ml. Ditambahkan

berturut-turut 0,5 ml Folin Ciocalteau, 2,5 ml larutan sodium karbonat 20%. Dikocok

dan dibaca dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 725 nm. Dilakukan

juga penambahan pereaksi yang sama pada standar yang dipipet dari larutan stok 10

mg asam tanat dalam 50 ml aseton 70%,dimana deret standar adalah

10.20.30.40.50.60.70.80.90 dan 100 pl (Singleton dan Rossi, 1965).

Khususnya untuk daun dilakukan penghilangan zat warna klorofil sebelum

dianalisis taninnya. Yaitu dengan penambahan dietil eter yang mengandung 1% asam

asetat. Atau untuk penghilangan zat warna dilakukan dengan menimbang 5 gram

contoh dilarutkan dalam 50 ml dietil eter yang mengandung 1% asam asetat,

dikocok, disaring, dikeringkan dan selanjutnya contoh ditimbang seperti analisis

tannin (Makkar, 1999).

Uji kandungan tanin dan total fenol dilakukan langsung secara kuantitatif. 4

kali ulangan untuk masing -masing contoh. Uji komposisi tanin dilakukan dengan

ekstraksi aseton 70% dan total fenol dengan ekstraksi air. Untuk contoh daun yang

mengandung zat warna klorofil tinggi. dilakukan penghilangan klorofil terlebih

dahulu sebelum dianalisis taninnya. Hal ini disebabkan karena warna hijau dari

klorofil terlarut dalam aseton 70% akan mengganggu warna pada pembuatan di

spektrofotometer. Kandungan senyawa antrakinon dilakukan masing-masing dari

kloroform dan methanol (Makkar, 1999)..

Flavonoid

Flavonoid menurut strukturnya merupakan turunan senyawa induk flavon

yang terdapat berupa tepung putih pada tumbuhan primula dan semuanya mempunyai

sejumlah sifat yang sama. Dikenal sekitar sepuluh kelas flavonoid. Flavonoid

terutama berupa senyawa yang larut dalam air. Mereka dapat diekstraksi dengan

etanol 70 % dan tetap ada dalam lapisan air setelah ekstrak ini dikocok dengan eter

minyak bumi. Flavonoid berupa senyawa fenol, karena itu warnanya berubah bila

ditambah basa atau amonia, jadi mereka mudah dideteksi pada kromatogram atau

dalam larutan (J.B Harborne, 1996).

Saponin

Saponin adalah glikosida triterpena dan sterol dan telah terdeteksi dalam

lebih dari 90 suku tumbuhan. Saponin merupakan senyawa aktif permukaan dan

bersifat seperti sabun, serta dapat dideteksi berdasarkan kemampuannya membentuk

busa dan menghemolisis sel darah (J.B Harborne, 1996).

Alkaloid

Alkaloid adalah basa organik yang mengandung amina sekunder, tersier atau

siklik. Diperkirakan ada 5500 alkaloid telah diketahui, dan alkaloid adalah yang

containing Some 5500 alkaloids are known, yang merupakan golongan senyawa

metabolit sekunder terbesar dari tanaman. Tidak ada satupun definisi yang

memuaskan tentang alkaloid, tetapi alkaloid umumnya mencakup senyawa-senyawa

bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya sebagai

bagian dari sistem siklik. Secara kimia, alkaloid adalah golongan yang sangat

heterogen berkisar dari senyawa-senyawa yang sederhana seperti coniine sampai ke

struktur pentasiklik strychnine. Banyak alkaloid adalah terpenoid di alam dan

beberapa adalah steroid. Lainnya adalah senyawa-senyawa aromatik, contohnya

colchicine (Makkar, et.al., 1993).

Diketahui bahwa senyawa alkaloid yang berasal baik dari tanaman maupun

hewan menunjukkan beragam aktivitas biologi. Di Brazil, beberapa perusahaan

farmasi telah menggunakan tanaman ini sebagai bahan baku fitokimia. Kebutuhannya

senantiasa meningkat setiap tahun sehingga mendorong para peneliti untuk

mengembangkan penelitian tanaman ini terutama di bidang pertanian dan obat-

obatan. Penggunaan tanaman ini secara tradisional dan dapat menyembuhkan

berbagai jenis penyakit menunjukkan bahwa A. conyzoides bisa menjadi sumber

ekonomi yang penting bagi Indonesia (Makkar, et.al., 1993).

Kandungan Citrus aurantifolia L.

Pada kulit bagian luar (perikarpium) buah masak atau hampir masak yang

dikeringkan dari tanaman Citrus aurantifolia L. dari famili Rutaceae mengandung

minyak atsiri 0,2 % di dalamnya terdapat komponen Linalila-setat 8-25%, limonen

dan terpenalkohol, ester asam antranilat, jasmon, serta farnesol. Penggunaan Citrus

aurantifolia L. sebagai stomakik serta korigen rasa dan bau dalam minuman atau obat

(Wiryowidagdo, 2007)

Kandungan isi secara terperinci adalah kulit jeruk pahit kering mengandung

tidak kurang dari 2,5% munyak atsiri (DAB 10 mensyaratkan 1%), vitamin C,

glikosida flavonoid hesperidin, dan neohesperidin. Pada kulit jeruk yang belum

masak, kadar neohesperidin 5-14% tetapi secara bertahap berkurang pada proses

pemasakan (Wiryowidagdo, 2007).

Secara umum, buah Citrus mengandung berbagai jenis glikosida flavonon,

seperti yang sudah disebutkan, yaitu hesperidin yang terdapat di dalam jeruk manis

maupun pahit. Isomernya, neohesperidin, didapatkan di dalam jeruk Seville, begitu

juga naringin yang merupakan komponen flavonoid utama di dalam anggur. Terdapat

juga koniferin yang dilaporkan ditemukan di dalam C. sinesis dan menambah kuat

efek limonin dan naringin (Wiryowidagdo, 2007).

Bagian-bagian utama jeruk jika dilihat dari bagian luar sampai kedalam

adalah kulit yang tersusun atas epidermis, Flavedo, kelenjar minyak dan ikatan

pembuluh, segmen-segmen yang terdiri atas dinding segmen, rongga cairan dan biji

serta core atau bagian tengah yang terdiri dari ikatan pembuluh dan jaringan

parenkim (Albrigo dan Carter, 1977).

Kulit jeruk dapat dibagi menjadi dua bagian utama yaitu flavedo (kulit

bagian luar yang berbatasan dengan epidermis) dan albedo (kulit bagian dalam yang

berupa jaringan busa). Epidermis merupakan bagian luar yang melindungi buah

terdiri dari lapisan lilin, matriks kutin, dinding sel primer dan sel epidermal. Flavedo

sebagai lapisan kedua ditandai dengan adanya warna hijau, kuning, oranye, kelenjar

minyak dan tidak terdapat ikatan pembuluh. Pigmen yang terdapat pada flavedo

adalah kloroplas dan karotenoid. Kloroplas akan terdegradasi sehingga buah yang

tadinya hijau sebelum matang menjadi berwarna oranye. Kelenjar minyak merupakan

sumber dan tempat berakumulasinya minyak atsiri (Albrigo dan Carter, 1977).

Selain karena adanya senyawa flavanon, rasa pahit dari bagian jeruk juga

disebabkan oleh senyawa triterpenoid (misalnya limonin). Rasa pahit glikosida

flavanon bergantung pada substitusi rantai samping fenil dan juga karena ikatan

kedua gula di dalam neohesperidosa (2-O-α-L-ramnopiranosil-D-glukopiranosa).

Gikosida flavanon hesperidin yang mengandung isomer rutinosa (6-O-α-L-

ramnopiranosil-D-glukopiranosa) tidak berasa pahit (Wiryowidagdo, 2007).

Limonin berada di dalam buah, karena itu perasan kulit tidak pahit karena

adanya asam monolakton limonin. Namun di dalam suasana asam atau jika perasan

dibiarkan beberapa lama akan terjadi laktonisasi menjadi limonin yang pahit

(Wiryowidagdo, 2007).

III. ALAT DAN BAHAN

Alat

:

1. Tabung Reaksi

5 buah

2. Pipet Tetes

5 buah

3. Erlenmeyer

2 buah

4. Kertas Saring

5 buah

Bahan

:

1. Citrus Aurantifolia, untuk :

Maserasi dengan klorofom

5 g

Maserasi dengan etanol (95%)

5 g

Uji Pendahuluan

2 g

Uji Antrakinon

100 mg

Uji Polifenol

500 mg

Uji Tanin

500 mg

Uji Saponin

100 mg

2. Larutan KOH 0.5 N

Secukupnya

3. H2O2

3 tetes

4. Kloroform

100 ml

5. Etanol (95%) p

100 ml

6. Toluena

3 m l

7. Aquadest

Secukupnya

8. FeCl3

3 tetes

9. Gelatin 1%

2 ml

10. NaCl

1 ml

IV. CARA KERJA

A. UJI PENDAHULUAN

100 mg sampel

Filtrat

Larutan

Warna larutan

Ada tidaknya perubahan warna

3 tetes KOH

10 ml air

ditambah

dipanaskan selama 30 menit

disaring

diamati

ditambah

diamati

B. UJI POLIFENOL

C. UJI ANTRAKINON

500 mg sampel

Larutan

Warna pada
larutan

Filtrat
dingin

Pereaksi FeCl3 3
tetes

Filtrat

Air 5
ml

ditambah

dipanaskan 10 menit

disaring panas

didinginkan

ditambah

diamati

100 mg sampel

Larutan

Filtrat

Larutan dengan pH = 5

Lapisan atas

Warna yang terjadi pada
lapisan air (basa)

KOH 0,5 N

Tabung reaksi

Toluena 3
ml

CH3COOH

KOH 0,5 N 2 ml dan 3 tetes H2O2

ditambah

dipanaskan 2 menit

didinginkan, disaring melalui kertas saring

ditambah

hingga

ditambah

dipisahkan, diambil

dimasukkan

ditambah

diamati

D. UJI TANIN

ditambah

dipanaskan 30 menit

disaring

diamati

jika ada endapan

diambil

dianalis

ditambah

E. UJI SAPONIN

dimasukkan

ditambah

ditutup

diamati , 30 menit

100 mg sampel

Ada tidaknya
endapan

10 mL air

Larutan NaCl 2 %

Filtrat

Larutan

Filtrat

Disaring

Ada tidaknya
endapan

Larutan gelatine
1% 2 mL

100 mg sampel

Tabung reaksi

Air suling 10 mL

Ada tidaknya buih
pada larutan

Dikocok kuat
selama 30 detik

V.

HASIL PENGAMATAN

Tabel hasil uji identifikasi golongan kandungan senyawa kimia simplisia

Citrus aurantifolia secara kualitatif

NO

UJI IDENTIFIKASI

+ / -

1.

Pendahuluan (Fenolik)

+

2.

Flavonoid

-

3.

Saponin

+

4.

Tanin

-

5.

Polifenol

-

6.

Antrakinon

-

7.

Alkaloid

-

Keterangan :

+ : menunjukkan adanya kandungan zat yang dianalisis

- : tidak menunjukkan adanya kandungan zat yang dianalisis

VI. PEMBAHASAN

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->