LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI

Oleh :

KELOMPOK

5
(M3511030) (M3511031) (M3511032) (M351 1033) (M3511034) (M3511035) (M3511036)

INAHA KHOIRUNISA BISAROH INDAH KARUNIA DEWI INDRAWATI NUR CAHYANI ISNANI ISTIYANA KARUNIA PUTRI PAMUNGKAS MARDHIYANTI KHAMIDA MELINA ANGGRAENI

D3 FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SEBELAS MARET 2012

ACARA I IDENTIFIKASI KANDUNGAN KIMIA SIMPLISIA

I.

TUJUAN 1. Mahasiswa mampu melakukan identifikasi kandungan kimia simplisia 2. Mahasiswa mampu melakukan uji secara kualitatif terhadap simplisia yang digunakan 3. Mahasiswa dapat mengidentifikasi ada atau tidaknya senyawa alkaloid, antrakinon, polifenol,tanin, saponin, flavonoid dan terpen pada simplisia yang digunakan

II.

DASAR TEORI Definisi Simplisia Simplisia adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat dan belum

mengalami pengolahan tertentu, kecuali dinyatakan lain berupa bahan yang telah dikeringkan. Menurut sumber bahan yang digunakan jenis simplisia dapat berupa simplisia nabati, simplisia hewani, simplisia pelikan. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman, atau eksudat tanaman. Eksudat tanaman ialah isi sel yang secara keluar dari tanaman atau isi sel yang dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya,atau zat nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tanamannya dan belum berupa zat kimia murni (Anonim, 1979). Simplisia hewani adalah simplisia yang berupa hewan utuh bagian hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murninya. Sedangkan, simplisia pelikan (mineral) ialah simplisia yang berupa bahan pelikan ( mineral) yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimianya (Anonim, 1979)

Syarat baku simplisia Semua paparan yang tertera dalam persyaratan simplisia, kecuali tentang Isi dan Penggunaan simplisia merupakan syarat baku bagi simplisia yang bersangkutan. Suatu simplisia tidak dapat dinyatakan bermutu Materia Medika Indonesia jika tidak memenuhi syarat baku tersebut. Syarat baku yang tertera dalam Materia Medika Indonesia berlaku untuk simplisia yang akan dipergunakan untuk keperluan pengobatan, tetapi tidak berlaku bagi bahan yang dipergunakan untuk keperluan lain yang dijual dengan nama yang sama (Anonim, 1980). Identifikasi kandungan kimia Identifikasi kandungan kimia atau skrining fitokimia adalah suatu metode untuk mengetahui golongan kimia pada suatu sampel dengan menguji secara kualitatif adanya senyawa kandungan dalam sampel yang digunakan seperti misalnya tanin, saponin, flavonoid, steroid terpenoid, alkaloid, serta kandungan kimia lainnya (Mutiatikum, dkk., 2010). Uji pendahuluan dilakukan untuk mengetahui golongan senyawa yang terdapat pada suatu tanaman. Hal ini berfungsi sebagai data awal untuk menentukan metode ekstraksi yang akan digunakan agar komponen aktif yang terdapat pada sampel dapat diekstrasi secara optimal (Mutiatikum, dkk., 2010). Antrakinon Dipipet 5 ml filtrat fraksi kloroform , dikeringkan dengan evaporator, ditambahkan 10 ml air. Dikocok dan disaring. Pada 5 ml filtrat ditambahkan 5 ml boraks 5%, dikocok dan dilihat dibawah sinar UV. Panjang gelombang 366 nm sebelum 30 menit untuk uji semi kualitatif ditimbang 20 mg antrakinon dilarutkan dengan 10 ml kloroform. Dipipet masing-masing dari larutan ini 10, 20, 40, 60, 80 dan 100 pl kedalam tabung reaksi, dikeringkan dengan evaporator, ditambahkan 5 ml boraks 5% dikocok dan dilihat pancaran floresensinya dibawah sinar UV. Larutan contoh di bandingkan dengan standar (Stahl, 1969).

Uji Polifenol Ditimbang sebanyak 1 gram simplisia kedalam tabung reaksi. Ditambahkan 5 ml air suling, diekstrak dengan ultrasonik selama 20 menit, didinginkan dalam campuran air dan es batu. Disentrifuse selama 20 menit dengan kecepatan 2000 rpm. Sebanyak 25 pl dari larutan pipet kedalam tabung reaksi . Ditambahkan air suling hingga volume 1 ml. Ditambahkan berturut- turut 0.5ml larutan Folin Ciocalteau dan 2,5ml larutan sodium karbonat 20%. Dikocok hingga homogen. Dibiarkan selama 40 menit dan warna biru yang terbentuk dibaca dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 725 rpm . Untuk larutan standar ditimbang 10 mg katekin . Dilarutkan dengan 50 ml air, dipipet masing-masing dari larutan standar 10. 20. 30. 40. 50. 60. 70. 80. 90 dan 100 pl. Penambahan pereaksi selanjutnya sama seperti pada contoh (Singleton dan Rossi, 1965). Tanin Tanin terdapat luas dalam tumbuhan berpembuluh dalam angiospermae terdapat khusus pada jaringan kayu.menurut batasannya tanin dapat bereaksi dengan proteina membentuk kopolimer mantap yang tak larut dalam air. Di dalam tumbuhan, letak tanin terpisah dari protein dan enzim sitoplasma, tetapi bila jaringan rusak misalnya bila hewan memakannya, maka reaksi penyamakan dapat terjadi. Reaksi ini menebabkan protein lebih sukar dicapai oleh cairan pencerna hewan. Salah satu fungsi utama tanin dalam tumbuhan ialah sebagai penolak hewan pemakan tumbuhan (J.B Harborne, 1996). Sebanyak 50 mg contoh ditimbang kedalam tabung reaksi yang bertutup ditambahkan 5 ml aseton 70%, diekstrak dengan ultrasonik selama 20 menit. Didinginkan dalam wadah berisi air dan es batu. Disentrifuse selama 20 menit dengan kecepatan 2000 rpm. Sebanyak 100 pd dari masing-masing contoh dipipet kedalam tabung reaksi. Ditambahkan air suling hingga volumenya 1 ml. Ditambahkan berturut-turut 0,5 ml Folin Ciocalteau, 2,5 ml larutan sodium karbonat 20%. Dikocok dan dibaca dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 725 nm. Dilakukan

Uji kandungan tanin dan total fenol dilakukan langsung secara kuantitatif.. dikocok. 4 kali ulangan untuk masing -masing contoh. 1965).30. .20. 1999). Mereka dapat diekstraksi dengan etanol 70 % dan tetap ada dalam lapisan air setelah ekstrak ini dikocok dengan eter minyak bumi. disaring. Flavonoid Flavonoid menurut strukturnya merupakan turunan senyawa induk flavon yang terdapat berupa tepung putih pada tumbuhan primula dan semuanya mempunyai sejumlah sifat yang sama. Untuk contoh daun yang mengandung zat warna klorofil tinggi. 1996). 1999).90 dan 100 pl (Singleton dan Rossi. Atau untuk penghilangan zat warna dilakukan dengan menimbang 5 gram contoh dilarutkan dalam 50 ml dietil eter yang mengandung 1% asam asetat. jadi mereka mudah dideteksi pada kromatogram atau dalam larutan (J. Khususnya untuk daun dilakukan penghilangan zat warna klorofil sebelum dianalisis taninnya. karena itu warnanya berubah bila ditambah basa atau amonia. Uji komposisi tanin dilakukan dengan ekstraksi aseton 70% dan total fenol dengan ekstraksi air. Flavonoid terutama berupa senyawa yang larut dalam air. Dikenal sekitar sepuluh kelas flavonoid.juga penambahan pereaksi yang sama pada standar yang dipipet dari larutan stok 10 mg asam tanat dalam 50 ml aseton 70%.50. Yaitu dengan penambahan dietil eter yang mengandung 1% asam asetat. Flavonoid berupa senyawa fenol. Kandungan senyawa antrakinon dilakukan masing-masing dari kloroform dan methanol (Makkar.B Harborne.dimana deret standar adalah 10.40. dikeringkan dan selanjutnya contoh ditimbang seperti analisis tannin (Makkar. Hal ini disebabkan karena warna hijau dari klorofil terlarut dalam aseton 70% akan mengganggu warna pada pembuatan di spektrofotometer.60.70. dilakukan penghilangan klorofil terlebih dahulu sebelum dianalisis taninnya.80.

et. Kebutuhannya senantiasa meningkat setiap tahun sehingga mendorong para peneliti untuk mengembangkan penelitian tanaman ini terutama di bidang pertanian dan obatobatan. serta dapat dideteksi berdasarkan kemampuannya membentuk busa dan menghemolisis sel darah (J.al. Di Brazil. Diketahui bahwa senyawa alkaloid yang berasal baik dari tanaman maupun hewan menunjukkan beragam aktivitas biologi. Alkaloid Alkaloid adalah basa organik yang mengandung amina sekunder. 1996).al. Secara kimia. Penggunaan tanaman ini secara tradisional dan dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit menunjukkan bahwa A. tetapi alkaloid umumnya mencakup senyawa-senyawa bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen. contohnya colchicine (Makkar.B Harborne. 1993). beberapa perusahaan farmasi telah menggunakan tanaman ini sebagai bahan baku fitokimia.. yang merupakan golongan senyawa metabolit sekunder terbesar dari tanaman. Diperkirakan ada 5500 alkaloid telah diketahui. tersier atau siklik.. Banyak alkaloid adalah terpenoid di alam dan beberapa adalah steroid. Tidak ada satupun definisi yang memuaskan tentang alkaloid. et. dan alkaloid adalah yang containing Some 5500 alkaloids are known. conyzoides bisa menjadi sumber ekonomi yang penting bagi Indonesia (Makkar. biasanya sebagai bagian dari sistem siklik.Saponin Saponin adalah glikosida triterpena dan sterol dan telah terdeteksi dalam lebih dari 90 suku tumbuhan. 1993). Lainnya adalah senyawa-senyawa aromatik. alkaloid adalah golongan yang sangat heterogen berkisar dari senyawa-senyawa yang sederhana seperti coniine sampai ke struktur pentasiklik strychnine. . Saponin merupakan senyawa aktif permukaan dan bersifat seperti sabun.

sinesis dan menambah kuat efek limonin dan naringin (Wiryowidagdo. dari famili Rutaceae mengandung minyak atsiri 0. Bagian-bagian utama jeruk jika dilihat dari bagian luar sampai kedalam adalah kulit yang tersusun atas epidermis. serta farnesol. Secara umum.5% munyak atsiri (DAB 10 mensyaratkan 1%). neohesperidin. kadar neohesperidin 5-14% tetapi secara bertahap berkurang pada proses pemasakan (Wiryowidagdo. 1977). begitu juga naringin yang merupakan komponen flavonoid utama di dalam anggur. jasmon. rongga cairan dan biji serta core atau bagian tengah yang terdiri dari ikatan pembuluh dan jaringan parenkim (Albrigo dan Carter. vitamin C. kelenjar minyak dan ikatan pembuluh. dinding sel primer dan sel epidermal. matriks kutin.2 % di dalamnya terdapat komponen Linalila-setat 8-25%.Kandungan Citrus aurantifolia L. glikosida flavonoid hesperidin. 2007). Epidermis merupakan bagian luar yang melindungi buah terdiri dari lapisan lilin. segmen-segmen yang terdiri atas dinding segmen. sebagai stomakik serta korigen rasa dan bau dalam minuman atau obat (Wiryowidagdo. Terdapat juga koniferin yang dilaporkan ditemukan di dalam C. buah Citrus mengandung berbagai jenis glikosida flavonon. Isomernya. Penggunaan Citrus aurantifolia L. Flavedo. 2007) Kandungan isi secara terperinci adalah kulit jeruk pahit kering mengandung tidak kurang dari 2. yaitu hesperidin yang terdapat di dalam jeruk manis maupun pahit. ester asam antranilat. Pada kulit jeruk yang belum masak. Flavedo . limonen dan terpenalkohol. didapatkan di dalam jeruk Seville. dan neohesperidin. seperti yang sudah disebutkan. Kulit jeruk dapat dibagi menjadi dua bagian utama yaitu flavedo (kulit bagian luar yang berbatasan dengan epidermis) dan albedo (kulit bagian dalam yang berupa jaringan busa). 2007). Pada kulit bagian luar (perikarpium) buah masak atau hampir masak yang dikeringkan dari tanaman Citrus aurantifolia L.

Namun di dalam suasana asam atau jika perasan dibiarkan beberapa lama akan terjadi laktonisasi menjadi limonin yang pahit (Wiryowidagdo.sebagai lapisan kedua ditandai dengan adanya warna hijau. ALAT DAN BAHAN Alat : 5 buah 5 buah 2 buah 5 buah 1. Pigmen yang terdapat pada flavedo adalah kloroplas dan karotenoid. Gikosida flavanon hesperidin yang mengandung isomer rutinosa (6-O-α-Lramnopiranosil-D-glukopiranosa) tidak berasa pahit (Wiryowidagdo. Tabung Reaksi 2. Pipet Tetes 3. oranye. Rasa pahit glikosida flavanon bergantung pada substitusi rantai samping fenil dan juga karena ikatan kedua gula di dalam neohesperidosa (2-O-α-L-ramnopiranosil-D-glukopiranosa). Kertas Saring Bahan      : 1. Kelenjar minyak merupakan sumber dan tempat berakumulasinya minyak atsiri (Albrigo dan Carter. III. Erlenmeyer 4. Citrus Aurantifolia. Limonin berada di dalam buah. 2007). rasa pahit dari bagian jeruk juga disebabkan oleh senyawa triterpenoid (misalnya limonin). Kloroplas akan terdegradasi sehingga buah yang tadinya hijau sebelum matang menjadi berwarna oranye. 2007). untuk : Maserasi dengan klorofom Maserasi dengan etanol (95%) Uji Pendahuluan Uji Antrakinon Uji Polifenol 5g 5g 2g 100 mg 500 mg . kelenjar minyak dan tidak terdapat ikatan pembuluh. Selain karena adanya senyawa flavanon. kuning. 1977). karena itu perasan kulit tidak pahit karena adanya asam monolakton limonin.

H2O2 4.5 N 3. UJI PENDAHULUAN ditambah 100 mg sampel dipanaskan selama 30 menit 10 ml air ditambah Larutan disaring 3 tetes KOH Filtrat diamati Ada tidaknya perubahan warna diamati Warna larutan . NaCl IV.  Uji Tanin Uji Saponin 500 mg 100 mg Secukupnya 3 tetes 100 ml 100 ml 3ml Secukupnya 3 tetes 2 ml 1 ml 2. Toluena 7. CARA KERJA A. Kloroform 5. Aquadest 8. Gelatin 1% 10. Etanol (95%) p 6. Larutan KOH 0. FeCl3 9.

disaring melalui kertas saring Filtrat ditambah hingga ditambah CH3COOH Larutan dengan pH = 5 dipisahkan. UJI ANTRAKINON diamati Filtrat dingin ditambah Pereaksi FeCl3 3 tetes ditambah 100 mg sampel dipanaskan 2 menit KOH 0. UJI POLIFENOL 500 mg sampel ditambah Air 5 ml dipanaskan 10 menit disaring panas Larutan Filtrat didinginkan Warna pada larutan C. diambil dimasukkan Toluena 3 ml ditambah Lapisan atas Tabung reaksi diamati KOH 0.B.5 N 2 ml dan 3 tetes H2O2 Larutan didinginkan.5 N Warna yang terjadi pada lapisan air (basa) .

UJI SAPONIN 100 mg sampel dimasukkan ditambah Tabung reaksi ditutup diamati .D. UJI TANIN ditambah 100 mg sampel dipanaskan 30 menit Larutan disaring Filtrat Larutan NaCl 2 % 10 mL air diamati Disaring jika ada endapan Ada tidaknya endapan diambil Filtrat dianalis Ada tidaknya endapan ditambah Larutan gelatine 1% 2 mL E. 30 menit Dikocok kuat selama 30 detik Ada tidaknya buih pada larutan Air suling 10 mL .

Pada pengujian pendahuluan akan memberikan hasil yang menunjukkan warna sebagai tanda bahwa terkandung kromofor di dalamnya. 3.V. yang . 2. 7. UJI IDENTIFIKASI Pendahuluan (Fenolik) Flavonoid Saponin Tanin Polifenol Antrakinon Alkaloid +/+ + - Keterangan : + : menunjukkan adanya kandungan zat yang dianalisis VI. Uji Pendahuluan Uji pendahuluan kandungan merupakan kimia pengujian yang bertujuan untuk Uji mengidentifikasi yang terkandung dalam simplisia. yang mana dalam uji ini digunakan simplisia segar dari Citrus aurantifolia. HASIL PENGAMATAN Tabel hasil uji identifikasi golongan kandungan senyawa kimia simplisia Citrus aurantifolia secara kualitatif NO 1. : tidak menunjukkan adanya kandungan zat yang dianalisis PEMBAHASAN A. 5. pendahuluan dapat digunakan sebagai pemeriksaan awal untuk menentukan kandungan kimia pada simplisia. 4. 6.

Pada uji pendahuluan ini dilakukan sangat sederhana. Langkah selanjutnya yaitu penambahan KOH. asam. langkah-langkahnya yaitu pertama menimbang 2 gram simplisia segar Citrus aurantifolia pada timbangan digital. antrakinon dan sebagainya dengan gugus hidrofilik meliputi gugus gula. akan tetapi pada penambahan KOH ini tetap tidak memberikan warna pada larutan filtrat Citrus aurantifolia. kromofor itu menunjukkan adanya kandungan flavonoid. dan bercampur dengan air. Filtrat hasil penyaringan yang dilakukan pada simplisia segar Citrus aurantifolia tidak memberikan warna apapun dan larutan tetap bening. pada hasil uji pendahuluan ini dapat diketahui bahwa pada Citrus aurantifolia tidak ada senyawa yang merupakan kromofor. Hal ini menunjukkan hasil uji pendahuluan dari Citrus aurantifolia negatif. Sehingga pada percobaan uji pendahuluan yang dilakukan pada simplisia segar Citrus aurantifolia tidak menunjukkan adanya senyawa yang mengandung kromofor. dan sebagainya. Kemudian larutan yang terjadi disaring menggunakan kertas saring. artinya tidak ada senyawa kromofor yang terkandung didalamnya. kemudian ditambahkan air dan kemudian dipanaskan selama 30 menit diatas tangas mendidih. Karena pada simplisia yang mengandung kromofor akan menunjukkan warna kuning sampai merah. antrakinon. Sehingga. pengujian selanjutnya yang dibahas adalah uji alkaloid. Uji Alkaloid Setelah melakukan uji pendahuluan. dan sebagainya. B. Uji alkaloid ini digunakan untuk mendeteksi suatu senyawa yang mengandung alkaloid.menggambarkan adanya kemungkinan kandungan senyawa spesifik seperti flavonod. senyawa kromofor yang diharapkan memang tidak ada dalam simplisia ini. Artinya. Pada uji alkaloid ini pereaksi yang digunakan untuk mendeteksi senyawa yang mengandung alkaloid adalah pereaksi dragendroff dan . Tujuan dari penambahan KOH ini untuk mengintensifkan warna yang ditunjukkan larutan. fenolat. Dengan pemanasan ini akan mengeluarkan zat-zat dalam simplisia yang mungkin ada.

Sebenarnya dapat disimpulkan bahwa Rosae. dalam penyarian ini kita tidak boleh menekan-nekan kertas saring. Jika pada kertas saring timbul warna jingga maka menunjukkan adanya alkaloid. sehingga dapat disimpulkan bahwa pada irisan jeruk nipis tidak terdapat alkaloid. Larutan tidak membentuk endapan. Kemudian irisan tersebut dimasukkan kedalam mortir dan dibasahi dengan ammonia 25% lalu digerus. kemudian didihkan selama 30 menit. A-1 dan A-2. karena dapat mengakibatkan kertas saring menjadi robek. . Kemudian suspensi disaring dengan kapas menjadi larutan A dan B. Sehingga ada kemungkinan akan memecahkan dinding selnya. larutan A dibagi 2. Pada uji ini digunakan irisan kulit jeruk nipis. didapatkan hasil warna kuning. tetapi masih ditambah dengan serbuk natrium karbonat sampai pH 8-9. A-1 ditambah 3 tetes dragendroff dan A-2 ditambah 3 tetes pereaksi mayer. diaduk dan dipisahkan lapisan atas serta ditambahkan 2 tetes pereaksi dragendroff tapi tidak terbentuk endapan. sehingga filtrat yang kita dapat tidak bisa maksimal. kemudian dicampur dengan 4 mL kloroform dan di aduk pelan. karena akan memecahkan sinding selnya.pereaksi mayer. Dan pada pengujian alkaloid dengan irisan jeruk nipis. hal yang perlu diperhatikan adalah jangan terlalu halus dalam menghaluskan. Setelah kloroform memisah. Selanjutnya campuran disaring dengan kertas saring. Lapisan bawah ditambah 10 mL asam klorida 1%. Kemudian ditambahkan 20 mL kloroform dan digerus kuat-kuat. diambil dengan pipet dan ditambahkan asam cuka 5% sampai pH 5 diaduk lalu dipisahkan lapisan atas dengan pipet. Langkah selanjutnya adalah meneteskan filtrat tadi pada kertas saring dan diberi pereaksi dragendroff. langkah pertama yang dilakukan adalah irisan tersebut ditimbang sebanyak 2 gram.sp tidak mengandung alkaloid. (2 Gram) Irisan jeruk nipis ditambah 10 mL HcL 1%. tapi tidak terbentuk endapan. Dalam proses penggerusan ini. Sehingga ada kemungkinan proses alkaloid akan terhambat. Tapi dalam praktikum ini semua cara kerja dilanjukkan. Kedua pereaksi ino dipilih karena kedua pereaksi itu yang paling cocok untuk ujialkaloid. Kemudian ditambahkan pereaksi 5 tetes dragendroff pada lapisan atas.

maka perlu ditambahkan asam asetat lagi. hal tersebut menunjukkan bahwa larutan sudah bersifat asam ( pH 5 ). Lapisan atas yang dipisahkan kemudian ditambahkan kalium hidroksida 0. hal ini menunjukkan bahwa simplisia Citrus auranti folia tidak mengandung senyawa antrakinon. . Setelah dingin. suspensi tersebut disaring menggunakan kertas saring.5 N dan diberi 3 tetes larutan hidrogen peroksida. warna larutan tetap bening (tidak terjadi perubahan warna merah pada lapisan air (basa) ). Jika kertas lakmus tidak mengalami perubahan warna maka larutan tersebut belum bersift asam (pH 5). Jika warna berubah menjadi merah [ada lapisan air (basa). Setelah 2 menit dipanaskan. tabug reaksi yang berisi simplisia sgar yang dilarutkan dalam kaliunm hidroksida tersebut diangkat. Setelah mendapatkan larutan dengan pH 5.C. Uji Antrakinon Uji antrakinon atau analisa kualitatif antrakinon ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui ada tidaknya senyawa antrakinon pada sampel simplisia segar Citrus aurantifolia. lalu dimasukkan ke dalam cawan. Dalam hal ini bagian sampel yang digunakan adalah kulit buah. lalu didinginkan. kemudian ditambahkan 3 mL toluena. Pemanasan dilakukan dalam gelas beker yang berisi air yang di bawahnya terdapat penangas. Perubahan pH dapat diketahui dengan menggunakan kertas lakmus. Uji antrakinon dilakukan dengan cara memanaskan 100 mg serbuk / potongan simplisia segar Citrus auranti folia yang dilarutkan dengan 2 mL kalium hidroksida 0. terdapat 2 lapisan. filtrat tersebut kemudian diambil. Setelah itu ditambahkan asam asetat hingga larutan memiliki pH 5. Dari hasil percobaan yang dilakukan. Setelah didapatkan filtrat. selama 2 menit. Setelah ditambahkan toluena. Setelah itu diamati apakah terjadi perubahan warna.5 N. lapisan atas dan lapisa bawah. Jika kertas lakmus mengalami perubahan warna menjadi merah. Lapisan atas dipisahkan menggunakan pipet dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Dengan cara menyentuhkan kertas lakmus ke dalam larutan yang telah ditambahkn asam asetat. hal tersebut menunjukkan adanya senyawa antrakinon.

. Setelah larutan dingin . Uji Tanin Uji tanin ini memiliki tujuan untuk mengetahui ada tidaknya senyawa tanin dalam simplisia jeruk segar. Bila terjadi warna hijau-biru berarti menunjukkan adanya polifenolat. E.D. Kemudian filtrat ditambahkan larutan gelatin 1% sebanyak 2 ml. ditambahkan pereaksi FeCl3 sebanyak 3 tetes. Proses penyaringan harus dilakukan secara benar. Jadi proses penyaringan dilakukan ketika larutan masih dalam keadaan panas-panas. Uji Polifenol Pada uji polifenol ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya senyawa polifenolat dalam simplisia citrus aurantifolia. Dan pada uji tanin dengan simplisia citrus aurantifolia tidak didapatkan hasil yaitu tidak terbentuk endapan pada larutan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam simplisia jeruk segar tidak terdapat senyawa polifenolat. Lalu dipanaskan dengan air 10 ml selama 30 menit diatas tangas air. Kemudian dipanaskan dengan air 5 ml selama 10 menit dalam tangas air mendidih. Setelah disaring ditambahkan larutan NaCl 2% sebanyak 1 ml. Apabila setelah penambahan NaCl terdapat endapan maka endapan harus disaring dengan kertas saring (ketentuannya sama dengan penyaringan sebelumnya). Setelah itu larutan disaring dengan kertas saring. Setelah mendidih maka larutan segera disaring dengan kertas saring. Pada pengujian ini digunakan pereaksi FeCl3. Ada hal yang tidak boleh dilakukan yaitu jangan menekan-nekan kertas saring dengan batang pengaduk atau alat lainnya karena menyebabkan kertas saring menjadi sobek sehingga filtrat yang didapat tidak maksimal. Dan pada uji polifenol dalam jeruk segar tidak didapatkan hasil warna larutan hijau-biru. Maka dapat disimpulkan bahwa simplisia jeruk segar tidak mengandungsenyawa tanin. Bila terbentuk endapan maka menunjukkan adanya tanin. Pertama-tama yang dilakukan adalah menimbang jeruk segar sebanyak 500 mg. Cara kerja dalam uji tanin ini adalah yang dilakukan dengan menimbang simplisia jeruk segar sebanyak 500 mg.

jika misalkan pada menit ke-12 sudah terdapat buih yang stabil maka proses dihentikan. tabung reaksi ditutup dan dikocok kuat-kuat selama 30 detik. Langkah-langkah dalam pengujian yang pertama dilakukan adalah memasukkan simplisia segar buah jeruk sebanyak 100 mg ke dalam tabung reaksi. Setelah dingin. Dan dalam uji saponin dengan simplia segar citrus aurantifolia didapatkan hasil larutan menjadi agak keruh dan terdapat buih yang stabil. . G. Lalu menambahkan 10 ml air suling. pertama dilakukan pengambilan sampel simplisia segar kulit buah Citrus aurantifolia yang telah dipotong – potong sebanyak 0. Uji Flavonoid Uji flavonoid atau analisa kualitatif flavonoid ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui ada tidaknya senyawa flavonoid pada sampel simplisia segar Citrus aurantifolia. Uji Saponin Pengujian uji saponin dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya saponin dalam simplisia citrus aurantifolia. dikocok hati-hati dan didiamkan. Pengocokan dilakukan kuat-kuat karena untuk memudahkan pada proses pengujian saponin selanjutnya. Kemudian ditambahkan 10 ml metanol. Tetapi jika dalam 30 menit tetap tidak ada buih berarti memang dalam simplisia tidak terdapat saponin. flavonoid merupakan senyawa fenol. Sesuai pada dasar teori. Disaring panas-panas menggunakan kertas saring .F. Prosedur kerja uji flavonoid yaitu.5 gram dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. tetapi jika belum ada maka ditunggu sampai terdapat buih. ditambahkan 5 ml eter. Setelah itu tabung dibiarkan dalam posisi tegak selama 10-30 menit. kemudian filtrat diencerkan dengan 10 ml air. dam menurut strukturnya merupakan turunan senyawa induk flavon yang terdapat berupa tepung putih pada tumbuhan primula dan semuanya mempunyai sejumlah sifat yang sama. Senyawa flavonoid adalah jenis senyawa yang larut dalam air. kemudian dipanaskan selama 10 menit menggunakan hot plate. Maksud 10-30 menit disini. Maka dapat disimpulkan bahwa dalam simplisia citrus aurantifolia terdapa saponin. Dalam hal ini bagian sampel yang digunakan adalah kulit buah.

maka sampel positif mengandung senyawa flavonoid (glikosida-3-flavonol).2 N didiamkan selam 1 menit. sisanya dilarutkan dalam 1 ml etanol (95%). dapat disimpulkan bahwa simplisia Citrus aurantifolia tidak mengandung senyawa flavonoid. uji alkaloid dan uji flavonoid . Maka berdasarkan percobaan ini. Hal ini sesuai pada dasar teori yang tidak menyebutkan adanya kandungan senyawa flavonoid pada kulit buah simplisia Citrus aurantifolia. Larutan ini selanjutnya diambil untik dilakukan uji kandungan senyawa flavonoid dengan jenis tertentu. Ditambahkan serbuk magnesium dan 10 ml asam klorida. sisanya dilarutkan dalam 1 ml etanol (95%). yaitu pada pembuatan larutan percobaan. Jika terjadi warna merah intensif. didiamkan diamati selama 2 sampai 5 menit. Untuk uji kandungan senyawa flavonoid (glikosida-3-flavonol) dilakukan dengan cara menguapkan hingga kering 1 ml larutan percobaan.Selanjutnya akan timbul lapisan air dan metanol. uji antrakinon. Ditambahkan 0.5 gram serbuk seng dan 2 ml asam klorida 0. KESIMPULAN Dari beberapa uji yang telah dilakukan yaitu uji pendahuluan (fenolik). kemudian saat dilakukan uji kandungan flavonoid selanjutnya warna larutan tetap jernih dan tidak meemberikan atau menunjukkan warna apapun. Hal ini karena sejak pengujian pertama. uji tanin. Dasar teori menyebutkan. Sedangkan uji kandungan senyawa flavonoid selanjutnya adalah menguapkan hingga kering 1 ml larutan percobaan. Selanjutnya ditambahkan 10 ml asam klorida pekat. VII. uji saponin. kandungan senyawa flavonoid terdapat pada bagian buahnya. didiamkan dan diamati selama 2 sampai 5 menit. uji polifenol. yang kemudian lapisan metanol diambil dan diuapkan pada suhu 400 C di bawah tekanan. calkon dan auron. Pada hasil percobaan menunjukkan bahwa simplisia Citrus aurantifolia negatif falvonoid. Jika terjadi warna merah ungu menunjukkan adanya flavonoida. Dan jika terjadi warna kuning jingga menunjukkan adanya flavon. tidak terjadi pemisahan antara air dengan metanol. Untuk selanjutnya sisa penguapan dilarutkan dalam 5 ml etil asetat dan disaring.

Kimia dan Farmakologi Bahan Alam. dkk. Methods in Molecular Biology. Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi. The AVI publishing Company Inc. P. Standardisasi Simplisia Dari Buah Miana (Plectranthus seutellaroides) yang berasal dari Tiga Tempat Tumbuh Menado. P.S..Materia Medika Indonesia Jilid III. West Point. 107.1995. No. Kupang dan Papua Dalam Jurnal Penelitian Kesehatan. 2010. 1996.G dan Carter.Materia Medika Indonesia Jilid IV. Metode Kimia. Becker. Structure of Citrus Fruits in Reaction to Processing Dalam Nagy. S.Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Anonim.Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia JB. 393 © Humana Press Inc. Surakarta: Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret Wiryowidagdo. 1993. 2007. Citrus Science and Technology Volume I. Connecticut.Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Anonim. Harbourne. vol. Plant Secondary Metabolites. Vol.Farmakope Indonesia Edisi IV. H.1980. and K. NJ. Totowa.E dan Veldhuis. VII.Siddhuraju. M. Jakarta : EGC . Sumali. Mutiatikum.1979. K.didapatkan bahwa simplisia Citrus aurantifolia hanya mengandung senyawa fenolik dan saponin. 1977. R. P.K (eds). DAFTAR PUSTAKA Albrigo. P. 2012.D. Anonim. Shaw. 38.. 1 hal 1-16 Tim Penyusun. Bandung: ITB Press Makkar. L.

Simplisia hewani adalah simplisia yang berupa hewan utuh bagian hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murninya. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh.ACARA II PENETAPAN KADAR SARI YANG LARUT DALAM AIR DAN SARI YANG LARUT DALAM ETANOL I. kecuali dinyatakan lain berupa bahan yang telah dikeringkan. bagian tanaman. simplisia hewani. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami cara penentuan kadar sari larut dalam air dan kadar sari larut dalam etanol 2. TUJUAN 1. 1979) . 1979). simplisia pelikan.atau zat nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tanamannya dan belum berupa zat kimia murni (Anonim. atau eksudat tanaman. Sedangkan. Mahasiswa mampu melakukan perhitungan penentuan kadar sari yang larut dalam air dan kadar sari larut dlam etanol II. DASAR TEORI Definisi Simplisia Simplisia adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat dan belum mengalami pengolahan tertentu. Menurut sumber bahan yang digunakan jenis simplisia dapat berupa simplisia nabati. Eksudat tanaman ialah isi sel yang secara keluar dari tanaman atau isi sel yang dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya. simplisia pelikan (mineral) ialah simplisia yang berupa bahan pelikan ( mineral) yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimianya (Anonim.

Kemurnian Simplisia Dalam perdagangan tidak selalu mungkin untuk memperoleh simplisia yang sepenuhnya murni: Bahan asing yang tidak berbahaya dalam jumlah yang sangat kecil yang terdapat dalam simplisia ataupun yang ditambahkan atau dicampurkan. tidak boleh menyimpang bau dan warnanya. kadar sari yang larut dalam air. tidak boleh mengandung bahan lain yang beracun dan berbahaya. Simplisia hewani harus bebas dari framen hewan atau kotoran hewan. kadar abu yang tidak larut dalam air. Pada penetapan kadar abu. kecuali tentang Isi dan Penggunaan simplisia merupakan syarat baku bagi simplisia yang bersangkutan. pada umumnya tidak merugikan simplisia nabati harus bebas dari serangga. atau menimbulkan tanda-tanda pengotoran lain. 1980). tidak boleh mengandung cendawan atau lendir. atau menimbulkan tanda-tanda pengotoran lain. . maka simplisia yang bersangkutan dapat dianggap memenuhi persyaratan MMI-IV. tetapi tidak berlaku bagi bahan yang dipergunakan untuk keperluan lain yang dijual dengan nama yang sama (Anonim. batu. framen hewan atau kotoran hewan. hewan. Jika dalam beberapa hal khusus ada sedikit penyimpangan dari beberapa ketentuan mengenai morfologik dan mikroskopik yang tertera dalam MMI-IV sedangkan persyaratan lain dipenuhi. dan penetapan kadar lain. Simplisia pelikan harus bebas dari pengotoran oleh tanah. tidak boleh mengandung bahan lain yang beracun dan berbahaya. fragmen hewan dan bahan asing lainnya. Syarat baku yang tertera dalam Materia Medika Indonesia berlaku untuk simplisia yang akan dipergunakan untuk keperluan pengobatan. kadar sari yang larut dalam etanol. Suatu simplisia tidak dapat dinyatakan bermutu Materia Medika Indonesia jika tidak memenuhi syarat baku tersebut. perhitungan didasarkan pada simplisia yang belum dikeringkan secara khusus (Anonim. tidak boleh menyimpang bau dan warnanya.Syarat baku simplisia Semua paparan yang tertera dalam persyaratan simplisia. yang tidak larut dalam asam. 1980). tidak boleh mengandung cendawan atau lendir.

Penentuan kadar sari yang larut dalam etanol Keringkan serbuk (4/18) di udara. kadar abu tidak larut asam. III. ALAT DAN BAHAN Alat : 1. maserasi selama 24 jam 5. panaskan sisa pada suhu 1050 hingga bobot tetap. dkk. Pembakar Spiritus 1 7. Tabung Reaksi 4. Kertas Saring 1 1 2 1 3 6. Gelas Beaker 3. (Anonim. Hitung kadar dalam persen sari yang larut dalam air. 1977). Corong 5. uapkan 20 mL filtrat hingga kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara. Saring cepat dengan menghindarkan penguapan etanol (95%). maserasi selama 24 jam 5. kadar abu larut air. Pipet Tetes 2. Penentuan kadar sari yang larut dalam air Keringkan serbuk (4/18) di udara. panaskan sisa pada suhu 1050 hingga bobot tetap.Karakteristik Simplisia Karakteristik Simplisia sesuai standar mutu yaitu mencakup penetapan kadar air.0 gram dengan 100mL air kloroform P. kadar abu total. menggunakan labu bersumbat sambil berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama dan kemudan dibiarkan selama 18 jam. Cawan 9. Kaki Tiga 1 2 1 1 .. 2010). kadar tanin. uapkan 20 mL filtrat hingga kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara. kadar sari larut air. kadar sari larut etano. menggunakan labu bersumbat sambil berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama dan kemudan dibiarkan selama 18 jam. Korek Api 8. dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara. Hitung kadar dalam persen sari yang larut dalam etanol (95%). dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara. (Anonim. 1977).0 gram dengan 100mL etanol (95%). Karakterisasi dilakukan sesuai persyaratan Materia Medika Indonesia (Mutiatikum. Saring. Penjepit 10.

CARA KERJA A. Penetapan kadar sari yang larut dalam air 5 gram sampel 20 ml 20 ml 100 ml kloroform ditambah dimasukkan Erlenmeyer dilakukan 6 jam pertama dikocok berkali-kali. Timbangan Bahan : 2 1 13. Cairan Hasil Maserasi dengan Kloroform 2. Gelas Ukur 14. Cairan Hasil Maserasi dengan etanol IV. disaring dimasukkan 20 ml filtrat Cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara diuapkan dimasukkan diambil Oven dengan suhu 105oC Sisa Hingga kering dikeringkan.11. lalu dibiarkan selama 18 jam perlakuan Maserasi 24 jam diambil. Erlenmeyer 12. ditimbang dihitung Bobot tetap Kadar sari yang larut dalam air dalam persen terhadap bahan yang dikeringkan di udara . Papan Besi 1 1 1.

Penetapan kadar sari yang larut dalam etanol ditambah Etanol (95%) P 100 ml 5 gram sampel 6 jam pertama dikocok berkali-kali lalu dibiarkan selama 18 jam perlakuan dilakukan dimasukkan Erlenmeyer Maserasi selama 24 jam disaring cepat dimasukkan diambil diuapkan Oven suhu 105oC Sisa Hingga kering Filtrat 20 ml dikeringkan. ditimbang dihitung Bobot tetap Kadar sari yang larut dalam etanol (95%) P dalam persen terhadap bahan yang dikeringkan di udara .B.

1 gram 67. 9 gram 20 mL 46. Penetapan Kadar Sari Larut Etanol 23.0 gram 0.1 gram 74.4 gram Tabel pengamatan organoleoptik ORGANOLEPTIK Bau : Sebelum pemanasan Setelah pemanasan Warna : Sebelum pemanasan Pemanasan I Pemanasan II Putih Kuning Kuning Kuning Hijau Coklat Kloroform Jeruk Etanol Jeruk KLOROFORM ETANOL . HASIL PENGAMATAN Tabel perbandingan simplisia menurut MMI NO 1.6 gram 20 mL 51.V.17 % STANDAR MMI KETERANGAN Tabel hasil pengamatan percobaan HASIL Masssa cawan Filtrat Massa cawan + hasil pemanasan Hasil pemanasan Filtrat + cawan KLOROFORM 45.7 gram 0.4 gram ETANOL 51.29 % KADAR 38. JENIS UJI Penetapan Kadar Sari Larut Air 2.

kemudian ditambahkan dengan 100 mL air kloroform pekat dan ditutup dengan alumunium foil agar air kloroform pekat tidak cepat menguap. Setelah dimaserasi selama 24 jam. Pada penetapan kadar sari yang larut dalam air menggunakan sampel simplisia segar Citrus aurantifolia yang dipotong-potong menjadi kecil-kecil untuk mempermudahkan pelarut masuk dalam simplisia. Selanjutnya diuapkan hingga kering . Penetapan kadar sari yang larut dalam air Kadar sari yang larut dalam air adalah persentase filtrat (sari) dari simplisia segar Citrus aurantifolia yang terlarut dalam air. Penetapan kadar sari yang larut dalam air dilakukan dengan cara mememasukkan 5 gram simplisia segar yang telah dipotong-potong ke dalam labu erlemeyer.17 % Kadar sari larut etanol = = = 23.29 % – – x 100 % x 100 % x 100 % x 100 % V. 6 jam pertama dikocok-kocok sesering mungkin dan 18 jam kemudian didiamkan. kemudian diambil 20 mL dari filtratnya.Perhitungan Kadar sari larut air = = = 38. Campuran tersebut dimaserasi selama 24 jam. PEMBAHASAN 1. Pengocokan dalam prses ini ditujukan untuk mempermudah penyari untuk masuk dalam simplisia segar. campuran disaring menggunakan kertas saring.

Organoleptik dari pengujian sebelum pemanasan yaitu campuran berbau kloroform dengan warna putih. Pada penetapan kadar sari yang larut dalam etanol menggunakan sampel simplisia segar Citrus aurantifolia yang dipotong kecil-kecil untuk mempermudahkan pelarut melarutkan simplisia. Filtrat yang diuapkan sampai kering lalu ditimbang dengan digital balance selanjutnya diuapkan lagi sampai bobotnya tetap.menggunakan cawan dangkal yang telah ditara.4 gram. Penetapan kadar sari yang larut dalam etanol dilakukan . Kadar sari larut air : : – x100 % : : 38. 2. Setelah pemanasan berbau khas jeruk dengan warna pada pemanasan pertama kuning dan pada pemanasan kedua berwarna kuning. Hasil yang diperoleh setelah pemanasan yaitu 46 gram (cawan beserta hasil pemansan). Pemenasan dilakukan 2x untuk mengetahui hasil sudah mencapai bobot tetap atau belum. Rendemen dihitung untuk mengetahui hasil sari dari simplisia segar Citrus aurantifolia yang terlarut dalam air. Berat cawan beserta filtrat yaitu 74.17 % x 100 % Dari perhitungan di atas didapatkan kadar sari larut air sebesar 38.17 %. Cawan ditara untuk mempermudahkan menghitung rendemen dari hasil pemanasan. Penetapan kadar sari larut dalam etanol Penetapan kadar sari larut dalam etanol adalah Kadar sari larut dalam etanol adalah persentase filtrat (sari) dari simplisia segar Citrus aurantifolia yang terlarut dalam etanol.

Filtrat yang diuapkan sampai kering lalu ditimbang dengan digital balance selanjutnya diuapkan lagi sampai bobotnya tetap.29 % x 100 % Dari perhitungan di atas didapatkan kadar sari larut air sebesar 27. Campuran tersebut dimaserasi selama 24 jam.7 gram (cawan beserta hasil pemansan). Organoleptik dari pengujian sebelum pemanasan yaitu campuran berbau etanol dengan warna kuning. campuran disaring cepat agar etanol 95 % tidak menguap dengan menggunakan kertas saring. Didiamkan agar filtrat mengendap dan yang tersaring adalah filtratnya saja. Setelah pemanasan berbau khas jeruk dengan warna .29 %. Pengocokan dalam prses ini ditujukan untuk mempermudah penyari untuk masuk dalam simplisia segar. Berat cawan beserta filtrat yaitu 67. Setelah dimaserasi selama 24 jam. Selanjutnya diuapkan hingga kering menggunakan cawan dangkal yang telah ditara. Cawan ditara untuk mempermudahkan menghitung rendemen dari hasil pemanasan.4 gram. Rendemen dihitung untuk mengetahui hasil sari dari simplisia segar Citrus aurantifolia yang terlarut dalam etanol. Perhitungan rendemen dengan rumus : Kadar sari larut air : – x 100 % : : 23. kemudian diambil 20 mL dari filtratnya. 6 jam pertama dikocok-kocok sering mungkin dan 18 jam kemudian didiamkan. kemudian ditambahkan sampai 100 mL etanol 95% dan ditutup dengan alumunium foil agar etanol 95 % tidak cepat menguap. Hasil yang diperoleh setelah pemanasan yaitu 51.dengan cara mememasukkan 5 gram simplisia segar yang telah dipotong kecil-kecil ke dalam labu erlemeyer.

1979. dkk.Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Anonim. prosentase kadar sari simplisia segar Citrus aurantifolia yang larut dalam etanol adalah 23. VII. No.1980. Standardisasi Simplisia Dari Buah Miana (Plectranthus seutellaroides) yang berasal dari Tiga Tempat Tumbuh Menado. DAFTAR PUSTAKA Anonim.Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Anonim.pada pemanasan pertama hijau dan pada pemanasan kedua berwarna coklat. Vol. Berdasarkan uji yang dilakukan. 1 hal 1-16 Tim Penyusun.Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia Mutiatikum. Kupang dan Papua Dalam Jurnal Penelitian Kesehatan. 2. 38. 2012. Surakarta: Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret . Pemenasan dilakukan 2x untuk mengetahui hasil sudah mencapai bobot tetap atau belum. VI. KESIMPULAN 1.Materia Medika Indonesia Jilid IV.1995.Materia Medika Indonesia Jilid III.Farmakope Indonesia Edisi IV.26 %. 2010. Berdasarkan uji yang dilakukan. prosentase kadar sari simplisia segar Citrus aurantifolia yang larut dalam air adalah 38. Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi.17 %.

Menurut sumber bahan yang digunakan jenis simplisia dapat berupa simplisia nabati. DASAR TEORI Definisi Simplisia Simplisia adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat dan belum mengalami pengolahan tertentu. bagian tanaman. . 1979) Syarat baku simplisia Semua paparan yang tertera dalam persyaratan simplisia. simplisia pelikan. Suatu simplisia tidak dapat dinyatakan bermutu Materia Medika Indonesia jika tidak memenuhi syarat baku tersebut. 1979). TUJUAN Mahasiswa mampu melakukan penentuan kadar abu II. 1980). atau eksudat tanaman. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh.ACARA III PENETAPAN KADAR ABU I.atau zat nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tanamannya dan belum berupa zat kimia murni (Anonim. tetapi tidak berlaku bagi bahan yang dipergunakan untuk keperluan lain yang dijual dengan nama yang sama (Anonim. Syarat baku yang tertera dalam Materia Medika Indonesia berlaku untuk simplisia yang akan dipergunakan untuk keperluan pengobatan. Sedangkan. kecuali dinyatakan lain berupa bahan yang telah dikeringkan. simplisia hewani. kecuali tentang Isi dan Penggunaan simplisia merupakan syarat baku bagi simplisia yang bersangkutan. Eksudat tanaman ialah isi sel yang secara keluar dari tanaman atau isi sel yang dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya. Simplisia hewani adalah simplisia yang berupa hewan utuh bagian hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murninya. simplisia pelikan (mineral) ialah simplisia yang berupa bahan pelikan ( mineral) yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimianya (Anonim.

kadar sari yang larut dalam etanol. tidak boleh mengandung bahan lain yang beracun dan berbahaya. tidak boleh mengandung cendawan atau lendir. kadar abu total. tidak boleh mengandung cendawan atau lendir. kadar abu yang tidak larut dalam air. yang tidak larut dalam asam. Penetapan Kadar Abu Pada penetapan kadar abu digunakan untuk memberikan gambaran kandungan mineral eksternal yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak terkait dengan kemurnian dan kontaminasi (Mutiatikum. batu. perhitungan didasarkan pada simplisia yang belum dikeringkan secara khusus (Anonim. atau menimbulkan tanda-tanda pengotoran lain. Pada penetapan kadar abu. Karakterisasi dilakukan sesuai persyaratan Materia Medika Indonesia (Mutiatikum. maka simplisia yang bersangkutan dapat dianggap memenuhi persyaratan MMI-IV. dkk. . kadar sari yang larut dalam air. tidak boleh mengandung bahan lain yang beracun dan berbahaya. hewan. dan penetapan kadar lain. Simplisia pelikan harus bebas dari pengotoran oleh tanah. pada umumnya tidak merugikan simplisia nabati harus bebas dari serangga. kadar abu tidak larut asam. Simplisia hewani harus bebas dari framen hewan atau kotoran hewan. tidak boleh menyimpang bau dan warnanya. kadar abu larut air. tidak boleh menyimpang bau dan warnanya.. kadar sari larut etanol. 2010). 1980).Kemurnian Simplisia Dalam perdagangan tidak selalu mungkin untuk memperoleh simplisia yang sepenuhnya murni: Bahan asing yang tidak berbahaya dalam jumlah yang sangat kecil yang terdapat dalam simplisia ataupun yang ditambahkan atau dicampurkan. 2010).. Jika dalam beberapa hal khusus ada sedikit penyimpangan dari beberapa ketentuan mengenai morfologik dan mikroskopik yang tertera dalam MMI-IV sedangkan persyaratan lain dipenuhi. kadar sari larut air. fragmen hewan dan bahan asing lainnya. atau menimbulkan tanda-tanda pengotoran lain. framen hewan atau kotoran hewan. kadar tanin. Karakteristik Simplisia Karakteristik Simplisia sesuai standar mutu yaitu mencakup penetapan kadar air. dkk.

Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam Abu yang diperoleh pada Penetapan kadar abu. kumpulkan bagian yang tidak larut. Pijarkan perlahan-lahan hingga arang habis.Cara penetapan Kadar Abu Lebih kurang 2 gram sampai 3 gram zat yang telah digerus dan ditimbang seksama. saring melalui krus kaca masir atau kertas saring bebas abu. Pijarkan sisa dan kertas saring dalam krus yang sama. 1980). pijarkan selama 15 menit pada suhu tidak lebih dari 450o hingga bobot tetap. saring melalui kertas saring bebas abu. Erlrnmeyer Bertutup 3. didihkan dengan 25 mL asam air selama 5 manit. Masukkan filtrat ke dalam krus. masukkan ke dalam krus platina atau krus silikat yang telah dipijarkan dan ditara.. dinginkan. didihkan dengan 25 mL asam klorida encer P selama 5 manit. 1980). Cawan Porselain 2. Hitung kadar abu yang larut dalam air terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Anonim. timbang.. kumpulkan bagian yang tidak larut dalam asam. cuci dengan air panas. cuci dengan air panas. Hitung kadar abu terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Anonim. Hitung kadar abu yang tidak larut dalam asam terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Anonim. timbang. tambahkan air panas. Penjepit Kayu 2 2 1 . saring melalui krus kaca masir atau kertas saring bebas abu. timbang. Jika dengan cara ini arang tidak dapat dihilangkan. ALAT DAN BAHAN Alat : 1. timbang. pijarkan hingga bobot tetap. Penetapan Kadar Abu Yang Larut Dalam Air Abu yang diperoleh pada Penetapan kadar abu. pijarkan hingga bobot tetap. Perbedaan bobot sesuai dengan jumlah abu yang larut dalam air. uapkan. III. 1980). ratakan.

Tabung Reaksi 5. CARA KERJA 250 mg secukupnya secukupnya secukupnya A.4. Krus Porselain 6. Indikator meyer IV. Penetapan kadar abu 2 gram simplisia yang telah dipotong-potong Krus platina atau krus silikat ditara dimasukkan Krus platina atau krus silikat dengan berat diketahui dipanaskan pada suhu 300 ° Oven diperoleh Timbangan dihitung dipanaskan hingga didinginkan &ditimbang Sisa atau residu Arang habis Kadar abu terhadap bahan yang dikeringkan di udara . Simplisia Citrus aurantifolia segar 2. Indikator dragendorf 3. Pipet Bahan : 4 1 secukupnya 1 1 1. Larutan kloroform 4. Kertas Saring 7. Pisau 8.

B. Penetapan kadar abu larut air Abu dimasukkan Krus porselin ditambahkan 15 mL air dididihkan selama 5 menit Diatas hot plate dikumpulkan Bagian yang tidak larut asam dicuci dengan air panas & dipijar selama 15 menit Bobot tetap Berat bobot tetap . Penetapan kadar abu yang tidak larut asam Abu dimasukkan Cawan porselin ditambahkan 10 mL HCl encer P dididihkan selama 5 menit Diatas hot plate dikumpulkan Bagian yang tidak larut dalam asam disaring dan dicuci dengan air panas Kadar abu dipijarkan Bobot tetap dihitung Berat bobot tetap C.

Penetapan Kadar Abu Pada penetapan kadar abu digunakan untuk memberikan gambaran kandungan mineral eksternal yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak terkait dengan kemurnian dan kontaminasi Proses penetapan kadar abu yang pertama adalah dengan menimbang simplisia segar Citrus aurantifolia yang telah dipotong-potong kecil seberat 2 gram dan kemudian dimasukkan dalam krus silikat. Penetapan Kadar 50% - Belum diketahui Abu Yang Larut Dalam Air VI. Fungsi pemijaran untuk menjadikan simplisia segar Citrus aurantifolia menjadi abu. PEMBAHASAN A. Apabila suhu pemijaran kurang dari suhu 400o sampai 600o simplisia tidak akan sempurna menjadi serbuk.V. Penetapan Abu 2. Selanjutnya dipijarkan di furnance dengan suhu antara 400o sampai 600o.67% 7% Kadar 14% Tidak memenuhi syarat Tidak memenuhi syarat KETERANGAN Abu Yang Tidak Larut Dalam Asam 3. Pada percobaan yang kami lakukan pemijaran dilakukan beberapa kali karena pada pemijaran yang pertama masih menjadi arang dan belum menjadi abu. Penetapan Kadar 16. HASIL PENGAMATAN Tabel hasil pemeriksaan karakteristik simplisia uji NO JENIS UJI KADAR STANDAR MMI 1. Setelah pemijaran . Arang yang dimaksud adalah masih berupa bentuk bongkahan (massa potongan) yang berwarna hitam.

. penetapan kadar dalam MMI yaitu Penetapan kadar abu tidak boleh lebih dari 14 %.. dilakukan perhitungan kadar abu.%. yaitu dengan rumus : Berat krus silikat : Berat abu Kadar abu : = x 100 % Setelah diperoleh kadar abu yaitu .beberapa kali.... Penetapan kadar abu dalam simplisia segar Citrus aurantifolia yaitu ... Penetapan Kadar Abu Yang Tidak Larut Dalam Asam Yang dilakukan pertama kali adalah membagi abu menjadi 2 bagian dengan berat yang sama untuk melakukan penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam dan penetapan kadar abu yang larut air. Yang pertama dilakukan abu dilarutkan dalam HCl encer P sebanyak 10 ml. abu yang sudah dibagi pada krus silika untuk masing-masing penetapan. Selanjutnya dilakukan penimbangan yang dilakukan setelah krus silikat dalam keadaan dingin... dikarenakan hasilnya kurang dari 14% yaitu. sehingga kadar abu dalam simplisia segar Citrus aurantifolia memenuhi syarat. diperoleh dalam bentuk abu. Setelah mendapatkan berat abu.%. HCl encer P mengandung 7. Pemberian HCl encer lebih baik dari pada HCl pekat.3 % (lebih kurang 2 M) jadi tidak akan merusak abu. B. karena apabila ditimbang pada keadaan panas dapat menjadikan timbangan rusak. Abu yang dimaksud yaitu sudah berupa bentuk menyerupai serbuk yang berwarna putih keabu-abuan.%.. Prosesnya..

49 gram Berat abu di udara (sebelum dilakukan penetapan) : 0. kemudian abu yang sudah dilarutkan dan didihkan. Lalu ditimbang kertas saring dengan abu yang sudah dipijarkan dan dicatat bobotnya yaitu seberat 0.49 gram. disaring dalam kertas saring bebas abu. Perhitungan kadar abu dihitung dengan mengurangkan bobot kertas saring dengan abu yang sudah dipijarkan dikurangi dengan bobot kertas saring dan didapat bobot abu seberat 0.015 gram Berat abu yang tidak larut asam Kadar abu larut air : : 0. Atau dengan perincian sebagai berikut : Data : Berat kertas saring : 0. Setelah 5 menit krus silika yang berisi abu dan HCl encer P diangkat dari penangas atau yang digunakan disini adalah kompor listrik. Pemijaran dilakukan kurang lebih 10-15 menit.67 % maka tidak memenuhi syarat. Bobot kertas saring yang diperoleh seberat 0.67 % Setelah dilakukan perhitungan kadar abu tidak larut asam yang didapat adalah 16.5 mg dibagi dengan berat awal abu lalu dikalikan 100%. C. Abu yang tidak dapat tersaring atau masih tertinggal dalam kertas saring dipijarkan dalam oven pada suhu kurang lebih 400oC hingga bobot tetap. Kadar abu yang larut dalam air menunjukkan jumlah bahan .0025 gram x 100% x 100% : : 16.4925 gram.0025 gram atau 2. karena pada MMI penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam adalah 7%. Lalu sebelum disaring kertas saring ditimbang terlebih dahulu dan di catat bobot kertas saring. Penetapan Kadar Abu Yang Larut Dalam Air Penetapan kadar abu yang larut dalam air merupakan rangkaian dari pemeriksaan kadar abu.Kemudian didihkan diatas penangas selama 5 menit.

Perhitungan penetapan kadar abu larut air : Data : Berat kertas saring : 0. Abu hasil penyaringan atau abu yang tidak larut air tersebut kemudian dipijarkan pada suhu 4500 C dengan menggunakan kertas saring tadi dan dimasukkan ke dalam cawan atau krus.0075) gram : 0. Pemijaran dilakukan sampai bobot tetap.015 .0075 gram Kadar abu larut air : x 100% x 100% : : 50% Diperoleh dari hasil perhitungan yaitu bahwa Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar abu yang larut dalam air terhadap bahan yang dikeringkan di udara adalah sebesar 50%.49 gram Berat abu di udara (sebelum dilakukan penetapan) : 0.organik yang terkandung dalam sampel yang dapat larut dalam air. yang sebelumnya kertas saring tersebut telah ditara untuk memudahkan penimbangan abu selanjutnya. Kemudian dikumpulkan bagian yang tidak larut dalam air dan disaring dengan menggunakan kertas saring bebas abu. garam dan protein. Bahan organik ini kemungkinan adalah karbohidrat.015 gram Berat abu tidak larut air Berat abu yang larut air : 0. Hal ini berarti bahwa. Kadar abu yang larut dalam air dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara. Prosedur kerjanya adalah karena penetapan kadar abu yang larut dalam air merupakan rangkaian dari pemeriksaan kadar abu. . jumlah bahan organik yang terkandung dalam sampel simplisia Citrus aurantifolia yang dapat larut dalam air adalah sebesar 50%.0075 gram : (0. maka abu yang diperoleh dari penetapan kadar abu total dididihkan dengan 25 ml air selama 5 menit.0.

. 1 hal 1-16 Tim Penyusun. Dalam penetapan kadar abu yang larut air mendapatkan hasil sebanyak 50%.67% maka tidak memenuhi syarat MMI karena kadar sesuai standar MMI adalah tidak lebih dari 7% 3. 38. KESIMPULAN 1. Pemeriksaan Karakteristik Simplisia Alga Padina australis Hauck (Dictyotaceae) Dalam Jurnal Penelitian Sains Volume 13 Nomer 3(C) 13309 Mutiatikum.Farmakope Indonesia Edisi IV. Dalam penetapan kadar abu didapatkan hasil dari pemeriksaan sebanyak .VII. Vol. dkk.Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Anonim.Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia Fitrya. Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi. Surakarta: Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret . 2010. Dalam penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam mendapatkan hasil sebanyak 16.% dan tidak memenuhi syarat MMI karena kadar sesuai standar MMI adalah 14% 2.1979. maka belum dapat ditentukan apakah sudah memenuhi standar atau tidak VIII.Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Anonim.Materia Medika Indonesia Jilid IV. Standardisasi Simplisia Dari Buah Miana (Plectranthus seutellaroides) yang berasal dari Tiga Tempat Tumbuh Menado. 2012. 2010. No.Materia Medika Indonesia Jilid III.1980. Kupang dan Papua Dalam Jurnal Penelitian Kesehatan. DAFTAR PUSTAKA Anonim.1995.. Dalam MMI tidak terdapat kadar yang sesuai standar..

0001 . Refraktometer Abbo digunakan untuk mengukur rentang indeks bias dari bahan-bahan yang tercantum dalam Farmakope Indonesia. 1995) . DAN UJI BOBOT JENIS I.6nm. Refraktometer lain dengan ketelitian yang setara atau lebih dapat digunakan.3330 pada suhu 200C dan 1. karena sangat mempengaruhi indeks bias. tetapi dikalibrasi agar memberikan indeks bias untuk garis D cahaya natrium. DASAR TEORI Penetapan Indeks Bias Indeks bias suatu zat (n) adalah perbandingan kecepatan cahaya dalam udara dengan kecepatan cahaya dalam zat tersebut. Untuk mencapai ketelitian teoretis I 0. perlu dilakukan kaliberasi alat terhadap baku yang disediakan oleh pabriknya dan melkukan pengecekan seringkali terhadap pengendali suhu dan kebersihan alat dengan menetapkan indeks bias air. Harga indeks bias dalam farmakope ini dinyatakan untuk garis D cahaya natrium pada panjang gelombang dublet 589. Umumnya alat dirancang untuk digunakan dengan cahaya putih. berikut harga indeks biasnya.3325 pada suhu 250C (Anonim. Walaupun menurut farmakope suhu pengukuran adalah 250.0 nm dan 589. Indeks bias berguna untuk identifikasi Zat dan deteksi ketidakmurnian. UJI INDEKS BIAS.ACARA IV PENETAPAN KADAR MINYAK ATSIRI. tetapi pada banyak monografi indeks bias ditetapkan pada suhu 200C suhu pengukuran harus benar-benar diatur dan dipertahankan. destilasi adalah 1. TUJUAN Dapat melakukan penetapan kadar minyak atsiri dan uji indeks bias serta uji bobot jenis II.

Piknometer 3. Atur hingga suhu zat uji lebih kurang 20◦. masukkan kedalam piknometer. didasarkan pada perbandingan bobot zat diudara pada suhu 25◦ terhadap bobot air dengan volume dan suhu yang sama. Kecuali dinyatakan lain dalam monografi. penetapan bobot jenis digunakan hanya untuk cairan. kering dan bobot air yang dikalibrasi dengan menetapkan bobot piknometer dan bobot air yang baru didihkan. a. buang kelebihan zat uji dan timbang. bobot jenis adalah perbandingan bobot zat diudara pada suhu yang sama. tetapkan bobot jenis pada suhu yang telah tertera pada masingmasing monografi. Bahan Minyak atsiri 2. Bobot jenis suatu zat adalah hasil yang diperoleh dengan membagi bobot zat yang dengan bobot air. bersih. keduanya ditetapkan pada suhu 250 (Anonim.5 ml . 1995). III. Prosedur gunakan piknometer. Atur suhu piknometer yang telah diisi hingga suhu 25◦. dan mengacu pada air pada suhu 25◦. Refraktometer 1 buah 1 buah 1 buah b. Bila pada suhu 25◦ zat berbentuk padat. ALAT DAN BAHAN Alat 1. Bila suhu ditetapkan dalam monografi. pada suhu 25◦. dan kecuali dinyatakan lain. Alat destilat 2. dalm piknometer.Uji Bobot Jenis Kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi. Kurangkan bobot piknometer kosong dari bobot piknometeryang telah diisi.

IV. Bahan CARA KERJA Labu Dimasukkan dipasang Alat dimasukkan Cairan penyuling Buret diisi hingga penuh Air dipanaskan dengan lambat tetapi teratur Penangas air penyulingan selesai Didiamkan tidak kurang 15 menit dicatat Volume minyak atsiri dihitung Kadar minyak atsiri dalam % v/b .

Antara konektor dan labu terdapat pipa berisi air yang berfungsi mengatur tekanan. agar yang menguap minyak atsirinya. karena jika suhu mencapai 1000C yang menguap adalah air. .95 1. HASIL PENGAMATAN UJI Indeks bias Bobot jenis HASIL 1. ditambah 200 bagian air suling dan dihubungkan dengan alat pendingin dan buret berskala. Cara menghitung kadar minyak atsiri adalah berat minyak atsiri yang dihasilkan dibagi berat simplisia sebelum dilakukan destilasi dan dikali 100%.34 . setelah penyulingan selesai dibiarkan selam tidak kurang dari 15 menit. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu. Minyak atsiri mempunyai titik didih lebih rendah dari air sehingga minyak atsiri akan menguap terlebih dahulu dan ditampung dalam buret berskala. Dalam penyulingan. dan uap ini kemudian didinginkan kembali kedalam bentuk cairan.V. PEMBAHASAN Destilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan. penerapan proses ini didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan. setelah ditimbang simplisia dimasukkan labu alas bulat 1 liter. Suhu pada termometer harus dijaga agar tidak lebih dari 1000C. Setelah itu alat destilasi dirangkai. lalu dimurnikan dengan menggunakan corong pemisah dan larutan Na2SO4 anhidrat. Setelah dihasilkan minyak atsiri.1. lalu dipanaskan dengan penangas. campuran zat dididihkan sehingga menguap.22 gram/ml VI. masing-masing komponen akan menguap pada titik didihnya. Pada percobaan kali ini langkah pertama yang dilakukan adalah menimbang simplisia yang akan digunakan dalam proses destilasi.

Piknometer yang bersih dan kering ditimbang. Penetapan indeks bias dilakukan dengan menggunakan refraktometer. harus terlebih dulu mengatur lingkaran elips fase gelap dan fase terang tepat berada pada pertengahan bagian yakni tepat ada tanda silang dari garis pada lingkaran elips. lalu ditutup dengan penutup prisma. b) Uji bobot jenis Bobot jenis suatu zat adalah perbandingan bobot zat terhadap air volume sama yang imbang di udara pada suhu yang sama. Prosedur dari praktikum ini sebagai berikut. Pada saat mengamati nilai skala. Refraktometer merupakan alat yang dapat digunakan untuk penetapan indeks bias berdasarkan pembiasan cahaya oleh kaca prisma.a) Penetapan Indeks Bias Penetapan indeks bias merupakan uji yeng bertujuan menentukan besarnya indeks bias dari suatu zat uji. . Langkah-langkah yang dilakukan dalam penetapan indeks bias ini dengan metesi refraktometer dengan aquadest pada kaca prisma untuk meletakkan minyak atsiri yang akan diuji. dan mawar atau Rosa sp. Pada percobaan ini penetapan indeks bias dilakukan pada minyak atsiri melati atau Jasminum sambac. Adapun pengertian dari indeks bias. Percobaan ini dilakukan pada masing-masing minyak atsiri. Pada percobaan penetapan indeks bias yang dilakukan pada melati dan mawar diperoleh harga indeks bias. Lalu mencatat hasilnya. ditetesi 1 tetes sampel zat uji. pengaturannya dengan memutar barrel. Sebelum diisi dengan minyak atsiri. Kemudian mengamati angka indeks bias melalui eye piece. yaitu melati dan mawar. Tujuan dari langkah ini untuk membersihkan alat khususnya pada prisma yang merupakan tempat untuk meletakkan zat uji. Kemudian. agar tidak ada zat pengganggu saat melakukan pengamatan. adalah perbandingan kecepatan cahaya dalam udara dengan kecepatan cahaya dalam zat tersebut. yaitu pada percobaan ini dengan meneteskan 1 tetes minyak atsiri pada prisma refraktometer. kemudian dicatat beratnya. lalu dibersihkan dengan kertas tissue hingga sisa aquadest tidak tertinggal. yaitu lensa tempat mata pengamat melihat skala indeks bias. Kemudian membaca skala indeks bias yang ditunjukkan dibawah lingkaran elips tersebut. piknometer di kalibrasi dengan aquadest.

7 gram : 16.7 : 6.11 .7 : 6.2 gram/mL. Baru kemudian minyak atsiri dari Rose.41 gram     Berat minyak atsiri + berat piknometer: 15.80 .11 gram : 16. Jangan takut minyak atsiri tumpah. Bobot yang diperoleh digunakan untuk mencari berat dari massa jenis minyak atsiri.kalibrasi dilakukan untuk menyetarakan bobot piknometer sebelum di isi dengan setelah di isi dengan minyak atsiri.sp dimasukkan ke dalam piknometer sampai piknometer penuh.9. karena apabila tumpah maka lebih baik karena tidak ada ruang kosong dalam piknometer. minyak atsiri dimasukkan sampai piknometer penuh agar tidak ada ruang atau udara. dari massa minyak atsiri yang dibagi volume 5mL.9.80 gram Volume minyak atsiri Massa minyak atsiri : 5mL : 15.10 gram Jadi massa jenis/bobot jenis minyak atsiri : massa / volume :6.10gram/5mL :1. karena dapat mempengaruhi berat dari piknometer. .22 gram/mL Bobot jenis dari minyak atsiri adalah 1. Setelah piknometer terisi penuh oleh minyak atsiri lalu piknometer dibersihkan dan ditimbang kemudian dicatat beratnya. Hasil dari praktikum ini adalah:    Berat piknometer kosong Berat aquadest+berat piknometer Kalibrasi : 9.

34 .22 gram /mL dan indeks bias sebesar 1. Tujuan dilakukan uji bobot jenis adalah memberikan batasan tentang besarnya massa per satuan volume minyak atsiri 3.Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Anonim.Materia Medika Indonesia Jilid IV.1. Farmakope Indonesia Edisi IV. Diperoleh bobot jenis dari minyak atsiri yang diuji sebesar 1. Tujuan dilakukan uji indeks bias adalah untuk mengetahui kemurnian simplisia uji VIII.95 2.VII. Jakarta: Depkes RI .Materia Medika Indonesia Jilid III.1995. DAFTAR PUSTAKA Anonim.Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Anonim.1979. KESIMPULAN 1.1980.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful