P. 1
Pengembangan Pasar Tradisional

Pengembangan Pasar Tradisional

|Views: 541|Likes:

More info:

Published by: Garusti Garista Nasta Etos on Feb 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/02/2014

pdf

text

original

ANALISIS KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL DI KOTA BOGOR

DYAH ARUM ISTININGTYAS A14303046

PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

RINGKASAN
DYAH ARUM ISTININGTYAS. Analisis Kebijakan dan Strategi Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor. Di bawah bimbingan ACENG HIDAYAT. Adanya kebijakan otonomi telah mengarahkan kebijakan pembangunan Kota Bogor pada upaya peningkatan taraf hidup masyarakat dengan potensinya pada sektor perdagangan dan jasa. Kebijakan yang dilakukan Pemda Kota Bogor untuk meningkatkan kontribusi sektor perdagangan adalah meningkatkan aktivitas pasar-pasar tradisional. Program khusus bagi pengembangan pasar tradisional, yaitu pemindahan Pasar Ramayana ke Pasar Jambu Dua, Pasar Induk Kemang dan Pasar Cimanggu dan pembangunan empat unit pasar tradisional yaitu Pasar Tanah Baru, Pasar Pamoyanan, Pasar Katulampa dan Pasar Bubulak. Namun hasil program tersebut ternyata hanya Pasar Kemang yang berfungsi sebagai pasar induk dan ketiga pasar yang telah dibangun (Pasar Tanah Baru, Pasar Bubulak dan Pasar Pamoyanan) tidak berfungsi sama sekali. Penelitian ini menggunakan tiga analisis. Analisis stakeholders dilakukan untuk mengetahui tingkat keterlibatan, kepentingan dan pengaruh dari seluruh stakeholders yang terkait dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional. Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui penyebab kegagalan kebijakan, apakah proses penyusunannya yang tidak tepat atau penerapannya yang tidak berjalan dengan baik. Analisis PHA digunakan untuk merumuskan strategi pengembangan pasar tradisional yang tepat di Kota Bogor sehingga dapat menjadi masukan bagi pemerintah. Berdasarkan hasil analisis stakeholders, stakeholders yang terkait dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional, yaitu Bapeda, Disperindagkop, masyarakat pedagang, UPTD, pengelola swasta, Dispenda, DLHK dan DTKP. Stakeholders yang memiliki pengaruh dan kepentingan tertinggi adalah Bapeda dan Disperindagkop sedangkan masyarakat pedagang dan UPTD memiliki kepentingan tinggi namun pengaruhnya rendah. Dispenda, DLHK dan DTKP memiliki kepentingan yang rendah dan pengaruh yang tinggi. Pengelola pasar swasta memiliki tingkat kepentingan dan pengaruh yang rendah. Hasil dari analisis deskriptif menunjukkan bahwa kegagalan kebijakan disebabkan karena proses penyusunan dan perencanaan kebijakan yang kurang tepat sehingga menyebabkan penerapannya yang kurang tepat pula. Kriteria utama yang menyebabkan proses pembuatan kebijakan pengembangan pasar tradisional kurang tepat yaitu keterlibatan stakeholders dan proses penyusunan kebijakan pengembangan pasar tradisional yang benar. Kriteria utama yang menyebabkan penerapan kebijakan pengembangan pasar tradisional kurang tepat yaitu penerapan perencanaan pengembangan pasar tradisional secara efektif dan efisien. Berdasarkan hasil kajian, maka dapat ditarik kesimpulan secara khusus bahwa dari hasil analisis stakeholders menunjukkan bahwa tidak semua stakeholders yang berkepentingan dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional dilibatkan dalam proses perencanaan dan penerapan kebijakan. Sehingga adanya kegagalan dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional disebabkan karena tidak dilibatkannya seluruh stakeholders yang berkepentingan terhadap kebijakan ini.

Hasil analisis PHA menunjukkan bahwa aspek yang paling penting dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional secara berurutan yaitu aspek ekonomi, aspek manajemen, aspek sosial dan aspek teknis. Kriteria-kriteria yang penting dalam aspek ekonomi yaitu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan pedagang dan masyarakat dan meningkatkan PAD. Kriteria-kriteria yang penting dalam aspek manajemen yaitu penataan dan pembinaan PKL, meningkatkan manajemen pengelolaan pasar tradisional secara profesional, meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan membentuk pasar tradisional menjadi usaha yang efisien. Kriteria-kriteria yang penting dalam aspek sosial yaitu terciptanya kondisi pasar yang aman, nyaman dan bersih bagi konsumen, menciptakan pasar yang berdaya saing sehingga lebih kompetitif dan mengurangi potensi konflik dengan masyarakat. Kriteria-kriteria yang penting dalam aspek teknis yaitu peningkatan sarana dan prasarana pasar dan kondisi fisik pasar yang lebih bersih dan rapi. Prioritas alternatif strategi dalam pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor yaitu pembentukan PD. Pasar, pemberdayaan pedagang dan pengelola pasar, pendistribusian PKL ke pasar-pasar yang telah dibangun, pembangunan pasar lingkungan, menjalin kemitraan dengan UKM dan koperasi, pemberian bantuan kredit dan pembentukan forum komunikasi.

ANALISIS KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL DI KOTA BOGOR Oleh : DYAH ARUM ISTININGYAS A14303046 SKRIPSI Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar SARJANA PERTANIAN pada FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 .

Dosen Pembimbing Dr. 132 007 149 Mengetahui. NIP. Aceng Hidayat.Judul Skripsi : Analisis Kebijakan dan Strategi Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor Nama NIM : Dyah Arum Istiningtyas : A14303046 Menyetujui. Didy Sopandie. Dr. Dekan Fakultas Pertanian Prof. Ir. NIP. MT.Agr. M. 131 124 019 Tanggal Kelulusan: ________________________ . Ir.

Bogor.PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL “ANALISIS KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL DI KOTA BOGOR” BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH. Januari 2008 Dyah Arum Istiningtyas A14303046 .

SmPh. Pendidikan Tingkat Atas diselesaikan penulis di SMU Negeri 3 Semarang pada tahun 2003.RIWAYAT PENULIS Penulis dilahirkan di Kota Semarang. . Penulis juga aktif dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian (BEM A) periode 2004 – 2005 dan berbagai kepanitiaan di IPB. keluarga Bapak Totok Djoko Winarto dan Ibu Kisnani. Penulis diterima di IPB melalui jalur USMI pada tahun 2003 pada Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya. Selama mengikuti perkuliahan penulis aktif menjadi asisten mata kuliah Pengantar Ilmu Kependudukan (2005/2006). Penulis juga menjadi Finalis dalam Kompetisi Pemikiran Kritis Mahasiswa (KPKM) Tahun 2007 dengan judul tulisan “Ketidakmampuan Kinerja Subsidi Pupuk Urea dalam Mewujudkan Kesejahteraan Petani di Provinsi Jawa Barat”. Fakultas Pertanian. Jawa Tengah pada tanggal 3 November 1985 sebagai anak ketiga dari tiga bersaudara. Penulis mengikuti pendidikan Sekolah Dasar di SD Negeri X Semarang pada tahun 1997 kemudian penulis melanjutkan pendidikan lanjutan di SLTP Negeri 21 Semarang pada tahun 1997-2000. Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi.

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pihak yang terlibat dalam kebijakan dan penyebab dari belum berhasilnya kebijakan serta merumuskan strategi pengembangan yang tepat untuk pasar tradisional di Kota Bogor. Bogor. Fakultas Pertanian. Harapan penulis adalah agar karya ini dapat memberikan manfaat bagi banyak pihak khususnya yang terkait dengan penulisan ini. Skripsi ini merupakan salah satu syarat kelulusan Sarjana Pertanian pada Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian.KATA PENGANTAR Puji Syukur ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan rizkiNya sehingga penulisan skripsi yang berjudul “Analisis Kebijakan dan Strategi Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor” dengan menggunakan analisis kualitatif deskriptif dapat diselesaikan. Institut Pertanian Bogor. Januari 2008 Dyah Arum Istiningtyas .

saran dan kritik yang membangun dalam penyelesaian skripsi. S. Irwan Riyanto dan Anwar Yuswadi dari Disperindagkop Kota Bogor. doa. I Believe in you always. Ir.. 3.. 8. Rike Ratina dari Dispenda Kota Bogor. dari Bapeda Kota Bogor. Kedua orangtua yaitu Bapak dan Mami tersayang atas cinta. Alan Tandiyar dari DTKP Kota Bogor. Tidak lupa penulis ingin mengucapkan terima kasih atas segala dukungan moril maupun materiil. berkah. 7. 9. Dyah. Ir. tapi kalian selalu menjadi teman terbaikku. A. 6. Faroby Falatehan. Aceng Hidayat. Dessy dan Fahma. ME atas kesediaannya menjadi dosen penguji akademik pada sidang skripsi dengan kritik sarannya. 4. Terimakasih. Dr.UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan rasa syukur yang sebesar-besarnya kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat.Si. Mas Daya dan Mbak Eni atas segala kasih sayang dan curahan doa yang terus mendukung saya selama ini. serta telah memberikan arahan. 2. Naufal Isnaeni. Mas Erwien atas kesabaran dan kebaikannya telah menemani hari-hari turun lapang. 10. . Yayat Sukrina beserta staf dari UPTD Jambu Dua atas data-data dan informasi yang diberikan. Msp atas kesediaannya menjadi dosen penguji utama pada sidang ujian skripsi dengan arahan pada substansi penelitian. hidayah. We can do it sis. 5. Mbak Pini atas kesabarannya membantu saya menyelesaikan semuanya. Sahabat sejatiku ’Genk Gonjrenk’ : Adis. serta kerjasama yang telah diberikan selama ini kepada: 1. Ok. Pada akhirnya kita akan menapaki jalan masing-masing. Tuti. motivasi. It’s time for you to take the way. 11. Nindyantoro. dorongan dan kesabaran yang telah diberikan selama membesarkan saya. MT selaku pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan dengan sabar. 12. Kakak saya Mbak Wening atas ketegarannya menghadapi hidup dan mimpimimpinya yang telah membuka jalan untukku. dan rizki yang telah membuat penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. SP.

Mbak Uwie. 15. Mbak Dhona. Dara. Mbak Lury. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini. Silvi. Mbak Aida. Yudha dan Ainun). Faiq. Teman-teman di ’Tri Regina’ : Ochie. Rekan-rekan EPS 40 atas pengalaman dan kekompakannya (Fitrina. INMTers. Hamna. Ari. Iin. Angke. . Puri. Prista. 14. Dattu. Andi. Wiwik. Ira. Dewi.13. Hanum. Reni.

................................... xiii I.........2.............. 4............................................... Struktur Hierarki Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional ........................................... Program Pendukung Lainnya .............................................. IV.......... 2........ VI........ 2. Analisis Kebijakan ......................... 3....................................................... 1 1 4 6 6 8 8 9 10 12 15 15 17 18 19 20 20 26 26 33 38 38 40 42 43 44 45 48 48 50 50 54 58 60 II....................... GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ....................................................1..... 4.......................................... 3............ 3..........................................1 Proses Perencanaan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional 5..................1...................1.......................................................................................... Proses Hierarki Analisis ........ 1.....................4.......................................2......... 3..........3.......................2 Penerapan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional ..................................................... 3.....3......... Tujuan Penelitian ... Pemindahan Pasar Induk Ramayana ..............................................................1 Keadaan Perekomian Wilayah Kota Bogor ......... 5........... KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL ....................2 Visi dan Misi Kota Bogor ...................................................... 1..... Studi Terdahulu ....... 4... Metode Pemilihan Responden ................1 Pasar Besar .......................................................5......... Jenis dan Sumber Data .......................... x DAFTAR TABEL ..... 3........1.... Analisis Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional...............1....4......3............. 3........... 1.............5... 5............................. 5........4.................................................. 4............... Pasar Tradisional .........4.........................2...2 Pasar Sedang ......... 2..........................2................. ....... 1...2..............2.... 4................. Otonomi Daerah ....................... xii DAFTAR GAMBAR ....... ANALISIS STAKEHOLDERS ................DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI .................................3 Kebijaksanaan Pengelolaan Pasar di Wilayah Kota Bogor ........................................... Kerangka Pemikiran Operasional ..............2............................. 5............................................................3..... 2................................................ TINJAUAN PUSTAKA ....... PENDAHULUAN ..........5...... Latar Belakang .....3 Pasar Kecil .............................................................................3........................................5........ V. 3.... Kegunaan Penelitian ............2.......................... Metode Analisis Data ..................................... Pembangunan Pasar Tradisional ............... Perumusan Masalah ..5................................... Analisis Stakeholders ...2.................................................2.................. III.................... METODOLOGI PENELITIAN .. 3....................... Lokasi dan Waktu Penelitian ....2. 4........

.1... Aspek Teknis .. Aspek Ekonomi ..... 8........2........1........3............................. KESIMPULAN DAN SARAN .....................................................2.... 8.................................. 9....2 Saran ........................2................................. Prioritas Alternatif Strategi dalam Pengembangan Pasar Tradisional ................................ 8.....................4........2.....3.......... 7................................................................... IX....................... 8... 7...... 8................................................................................... 71 71 81 86 87 87 88 88 89 90 91 92 95 99 99 101 102 105 . VIII....... 8...........................3 Hubungan antara Analisis Proses dan Analisis Penerapan ........................................................................................................ 7........................ 8.............................. Prioritas Kriteria Pengembangan Pasar Tradisional .............................2.........................................2 Analisis Penerapan Kebijakan .........1 Kesimpulan ................................................. Aspek Sosial .......... DAFTAR PUSTAKA ...... Aspek Manajemen ............1 Analisis Proses .... Prioritas Aspek Pengembangan Pasar Tradisional .4.......... LAMPIRAN .. Rekomendasi Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional .......................................STRATEGI PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL .. ANALISIS KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL .................................................................................... 8. 9.........................................VII.......2..........

............ 30 7.............. Tabel Analisis Stakeholders . Tabel Analisis Hasil Pelaksanaan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional . 29 6..................................... Tabel Matriks Pendapat Gabungan ....... 30 8............. Tabel Pengumpulan Data ........................................................... 38 10.................. 61 12............... 5 3. 76 14................................... 47 11................ Tabel PDRB Kota Bogor Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan (Tahun 2000) Tahun 2001 – 2005 ........................... Tabel Laju Pertumbuhan PDRB Kota Bogor Atas Dasar Harga Berlaku dan Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2004-2005 ........................... 82 ....................... Tabel Pertumbuhan Penduduk dan Persebaran Penduduk Menurut Kecamatan di Kota Bogor Tahun 2005 ......................... Tabel Matriks Pendapat Individu ......... Tabel Jumlah Pedagang di Pasar Tradisional Kota Bogor ..... 32 9............... Tabel Analisis Proses Perencanaan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional ................... Tabel Besarnya Tarif Retribusi Pasar di Wilayah Kota Bogor . Tabel Daftar Nilai Random Indeks .........................................DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1...... 23 5........................... Tabel Nilai Skala Banding Berpasangan .. Tabel Hasil Analisis Stakeholders dalam Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor ..................................... 74 13................................... 2 2............ 19 4.............................................................

................. 53 5.............................................................................. 68 10............................ Gambar Pasar Bubulak.................... Gambar Pasar Pamoyanan ..................................................... 57 8....................... 23 3........................................................................................................ 93 18a........... Gambar Prioritas Aspek Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor ....................... Gambar Peringkat (%) Faktor Penyebab Ketidakberhasilan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional dari SegiPenerapan Kebijakan .................................................... 52 4......................... 17 2... Gambar Pasar Grosir Cimanggu .............................. 95 18b.. Gambar Matriks Kepentingan dan Pengaruh Stakeholders ... 87 13..... Gambar Diagram Alir Kerangka Pemikiran ..................................................................... Gambar Matriks Kepentingan dan Pengaruh Stakeholders pada Kondisi Ideal dalam Pelaksanaan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor .... 91 16...... 88 14........... 58 9a................... Gambar Kondisi Pasar Modern yang Bersih................................................ Becek dan Tidak Rapi .......................... Nyaman dan Rapi. Gambar Pasar Induk Jambu Dua.............. Gambar Kondisi Pasar BSD yang Bersih................ Gambar Pasar Tanah Baru ......................... 81 12.................................................. 56 7.............. Gambar Prioritas Kriteria pada Aspek Ekonomi dalam Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor ......................... 54 6.... Gambar Prioritas Kriteria pada Aspek Manajemen dalam Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor ....................... 96 19c............ Gambar Pasar Modern BSD dari Depan Tampak Bersih dan Menarik ......................... Gambar Kondisi Pasar Tradisional yang Kotor.. 95 19a...... Gambar Peringkat (%) Faktor Penyebab Ketidakberhasilan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional dari Segi Proses Pembuatan Kebijakan .. Gambar Prioritas Kriteria pada Aspek Teknis dalam Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor ................................................................ 62 9b............................................................. Tidak Becek dan Rapi.................... 72 11..................... Gambar Matriks Kepentingan dan Pengaruh Stakeholders dalam Pelaksanaan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor ................................................................ Gambar Prioritas Alternatif Strategi dalam Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor .... 96 19d......................... Gambar Prioritas Kriteria pada Aspek Sosial dalam Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor ...... Gambar Interaksi Sosial antara Penjual dan Pembeli di Pasar BSD 96 ..................... 96 19b...... 92 17. 89 15................ Gambar Pasar Induk Kemang .... Gambar Label Jenis Komoditi yang Dijual pada Tiap Lorong di Pasar BSD .....................................................................................................DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman 1.......................

teknologi serta potensi sumberdaya lokal. Salah satu potensi yang dominan dalam menunjang pembangunan Kota Bogor adalah sektor perdagangan. pemanfaatan dan penggalian sumber daya alam. Sektor ini mampu mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi Kota Bogor dan memberikan kontribusi sebesar 31. PENDAHULUAN 1. sumber daya manusia serta sumber-sumber kegiatan ekonomi di berbagai bidang. Latar Belakang Kebijakan otonomi daerah yang ditetapkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 telah memberikan arah baru dalam pembangunan nasional yang bersifat top down menjadi bottom up.20 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto . Pemerintah daerah harus dapat menggali seluruh potensi yang ada di dalam pengelolaan keuangan melalui peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan sumber-sumber keuangan lainnya untuk menunjang pelaksanaan pembangunan sehingga diharapkan daerah dapat berkembang secara mandiri. mengembangkan dan mengelola potensi sosial ekonominya dalam rangka memperkuat pembangunan yang berkelanjutan. Masing-masing daerah diberi kesempatan untuk melaksanakan proses pembangunan yang didasarkan pada ideide.1. nilai-nilai sosial. baik dalam kelembagaan. Kebijakan pembangunan Kota Bogor berdasarkan otonomi daerah diarahkan pada upaya peningkatan taraf hidup masyarakat dengan titik berat pada pembangunan ekonomi. Perkembangan otonomi daerah telah membawa sejumlah implikasi terhadap perubahan fungsi-fungsi pemerintah daerah dalam berbagai kebijakan. Hal ini menuntut adanya peran aktif pemerintah daerah dalam berbagai kebijakan untuk menggali.I.

132. Tabel 1. Salah satu strategi yang dilaksanakan oleh Pemda Kota Bogor yaitu dengan meningkatkan aktivitas pasar-pasar tradisional sebagai basis kekuatan ekonomi rakyat. 2000).525.67 988.371. Pembenahan aspek ekonomi diarahkan pada upaya mewujudkan Kota Bogor sebagai bursa perdagangan komoditi penting di tingkat regional.671.26 322.66 2003 11.32 232.90 Keuangan.410. Persewaan.91 Tabel 1 menunjukkan bahwa kegiatan perekonomian di Kota Bogor didominasi oleh sektor perdagangan.668.07 281.029.002. PDRB Kota Bogor Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan (Tahun 2000) Tahun 2001 – 2005 (Jutaan Rupiah) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan* Listrik.187.684.00 940.20 3.21 3.303.438.18 2002 11.697.716.037.570.58 234.54 2004* 12. Kebijakan yang dilakukan Pemerintah Daerah (Pemda) Kota Bogor untuk meningkatkan kontribusi sektor perdagangan dan jasa adalah melalui peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana perekonomian yang ada di Kota Bogor.(PDRB) Kota Bogor (Badan Pusat Statistik Kota Bogor.99 243.094.24 1.565. Hotel dan Restoran 908.00 1.072.12 489.567.29 255.06 266.95 105.61 255.02 0.64 Jasa-jasa 221.823. Gas dan Air Bersih 85.755.512.00 827.087.466.82 441. 2003).718.986.26 301.00 881.65 Produk Domestik Regional Bruto 2.93 2005** 12.110.98 0.925.361.11 1.575.58 112.24 268.55 Perdagangan.168.758. .05 Bangunan 227.84 0.230.279.139. dan Jasa Perusahaan 325.846.720. Pengembangan pasar-pasar tradisional diarahkan pada penyediaan lahan.608.37 Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Bogor 2005 *) Angka Perbaikan **) Angka Sementara 2001 10.318.193.68 0.430. seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1.414.18 358.185.266.44 344.205.33 398.83 244.49 98.09 Pengangkutan dan Komunikasi 264.642.491.99 3. hotel dan restoran khususnya sektor perdagangan besar dan eceran yang terus mengalami peningkatan dari tahun 2001 sampai tahun 2005.27 91.00 779.743.071. nasional dan internasional (Badan Perencanaan Daerah Kota Bogor.40 0.062.837.21 2.571.21 949.

Tetapi setelah kepindahan lokasi Pasar Induk Ramayana ke ketiga lokasi pasar induk alternatif. dan dengan pengembangan kegiatan perdagangan lokal di tiap kecamatan akan membantu tercapainya pemerataan kegiatan ekonomi di seluruh kota.pembangunan dan pemanfaatan pasar tradisional di setiap kecamatan sebagai sentra ekonomi. Pada kenyataannya pelaksanaan program yang ditetapkan Pemda Kota Bogor tidak berjalan secara optimal. Dampak dari perpindahan lokasi . Implementasi dari program tersebut adalah pemindahan Pasar Induk Ramayana yang berada di pusat kota ke Pasar Induk Jambu Dua. Pasar Induk Kemang dan Pasar Grosir Cimanggu serta pembangunan pasar tradisional minimal terdapat satu unit pasar di tiap kecamatan (Badan Perencanaan Daerah Kota Bogor. 2005). Pasar Jambu Dua dan Pasar Cimanggu berfungsi sebagai pasar pengecer. Pasar Induk Ramayana yang berada di tengah kota telah menimbulkan kemacetan lalu lintas sehingga pemerintah kemudian menutup Pasar Induk Ramayana dan memindahkan para pedagang di pasar tersebut ke Pasar Jambu Dua. Cimanggu dan Kemang. hanya Pasar Kemang yang berfungsi sebagai pasar induk. Program ini dibuat supaya kegiatan perdagangan regional di Kota Bogor tidak hanya terkonsentrasi di pusat kota namun juga di daerah pinggiran yang memiliki tingkat aksesibilitas tinggi. Kegagalan program tersebut di antaranya adalah tidak berfungsinya Pasar Jambu Dua dan Pasar Cimanggu sebagai pengganti Pasar Induk Ramayana. yaitu pemindahan pusat perdagangan regional dari pusat kota ke daerah pinggiran dan pengembangan pasar-pasar tradisional di setiap kecamatan. Pemerintah Daerah Kota Bogor telah melaksanakan program khusus bagi pengembangan pasar tradisional selama periode tahun 1999 sampai tahun 2004.

Kebijakan lain yang ditempuh sebagai upaya untuk memeratakan pembangunan ekonomi yaitu pembangunan empat unit pasar tradisional di empat kecamatan yaitu di Bogor Timur. 2002). Bogor Selatan dan Bogor Utara. karena kios yang terisi di Pasar Tanah Baru hanya sepuluh kios dari 120 kios yang ada.41 persen pada tahun 2003 dengan kegiatan utamanya adalah sektor perdagangan (Badan Perencanaan Daerah Kota Bogor. Oleh karena itu. Pasar Cimanggu dan Pasar Jambu Dua mengalami penurunan volume penjualan yang paling besar yaitu sebesar 86. Perumusan Masalah Letak Kota Bogor yang dekat dengan Jakarta menyebabkan Bogor mengalami laju pertumbuhan ekonomi yang pesat yaitu sebesar 20. baru dua pasar saja yang telah terealisasi yaitu Pasar Tanah Baru dan Pasar Pamoyanan dan hanya satu pasar saja yang sudah berfungsi yaitu Pasar Tanah Baru. Meskipun pada kenyataannya perkembangan tersebut belum optimal. Perda No 1 Tahun 2001 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bogor Tahun 1999-2009 menyatakan bahwa salah satu fungsi utama Kota Bogor adalah sebagai kota perdagangan. 1. perlu adanya evaluasi dari rencana dan implementasi kebijakan Pemda Kota Bogor untuk mengetahui penyebab kegagalan kebijakan tersebut. Sampai tahun 2001 dari empat pasar tradisional yang akan dibangun yaitu Pasar Tanah Baru. Sampai saat ini belum ada pemungutan tarif retribusi yang dilakukan oleh pihak pengelola pasar. 2005).63 persen dan 82. Untuk mengimbangi . Pasar Katulampa dan Pasar Bubulak.53 persen.Pasar Induk Ramayana secara umum menyebabkan penurunan volume penjualan di pasar-pasar pengecer Kota Bogor sehingga penerimaan pedagang pun menurun.2. Hal ini disebabkan karena sepinya pembeli di kedua pasar tersebut (Kartini. Bogor Barat. Pasar Pamoyanan.

Salah satu kebijakan yang ditempuh Pemda Kota Bogor dalam mengembangkan sektor perdagangan yaitu dengan kebijakan pengembangan pasar tradisional. Pasar Merdeka dan Pasar Tanah Baru.54 8. Hal ini dapat ditunjukkan dari jumlah pedagang yang mengisi kios-kios yang tersedia di pasar-pasar tradisional Kota Bogor.343 2. Kebijakan pengembangan pasar tradisional yang dilaksanakan tersebut ternyata tidak berjalan secara optimal.53 52. Tabel 2 menunjukkan bahwa terdapat beberapa pasar tradisional di Kota Bogor yang jumlah pedagangnya kurang dari 50 persen dari total kios dan los yang disediakan di pasar tersebut.laju pertumbuhan Kota Bogor yang sedemikian pesat khususnya pada sektor perdagangan dan jasa maka prioritas pembangunan yang perlu diutamakan yaitu meningkatkan aktivitas perdagangan melalui pembangunan dan perbaikan sarana publik. sehingga dapat disimpulkan bahwa program pengembangan pasar tradisional yaitu pembangunan pasar tradisional baru belum mencapai hasil yang diharapkan. Tabel 2.33 60.27 97.179 Pasar Jambu Dua 756 335 Pasar Merdeka 601 208 Pasar Sukasari 275 140 Pasar Padasuka 220 214 Pasar Gunung Batu 203 198 Pasar Tanah Baru 120 10 Pasar Kemang 104 63 TOTAL 6. Pasar-pasar tersebut di antaranya yaitu Pasar Jambu Dua. 2003 (diolah) NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 (%) 92.31 34. Kios yang terisi paling sedikit terjadi pada Pasar Tanah Baru.58 64.168 Pasar Bogor 2.250 1. Jumlah Pedagang di Pasar Tradisional Kota Bogor PASAR JUMLAH KIOS JUMLAH KIOS TERISI Pasar Kebon Kembang 2.4 44.79 .872 4452 Sumber: UPTD Pasar Tradisional Kota Bogor.61 51 97.

Mengidentifikasi kepentingan dan pengaruh dari stakeholders yang terlibat dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor. 1. Bagaimana kepentingan dan pengaruh dari stakeholders yang terlibat dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor? 2. Apa penyebab dari belum berhasilnya kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor? Apakah hal ini disebabkan oleh proses penyusunan program pengembangan pasar tradisional yang kurang tepat? Atau penerapannya yang tidak berjalan dengan baik? 3.Berdasarkan fakta yang diuraikan di atas. 2. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : 1.3. Bagi Pemerintah Daerah Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan dalam rangka pengembangan pasar tradisional serta sebagai bahan pertimbangan . Menganalisis rencana dan strategi pengembangan pasar tradisional yang tepat untuk Kota Bogor. Bagaimana rencana dan strategi pengembangan pasar tradisional yang tepat untuk Kota Bogor? 1. 3.4. Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk : 1. maka untuk itu perlu diketahui: 1. Menganalisis penyebab dari belum berhasilnya kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor.

Bagi Peneliti Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan berpikir. 2. . merumuskan dan menganalisis masalah yang berkaitan dengan kebijakan pengembangan pasar tradisional. 3. Bagi Ilmu Pengetahuan Penelitian ini diharapkan dapat menambah kekayaan pengetahuan terkait dengan kebijakan pengembangan dan pengelolaan pasar tradisional.dalam pembuatan kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor. daya nalar dan daya analitis dalam mengidentifikasi.

. Analisis kebijakan diharapkan untuk menghasilkan informasi mengenai : (1) nilai yang pencapaiannya merupakan tolok ukur utama untuk melihat apakah masalah telah teratasi. Analisis Kebijakan Analisis kebijakan adalah suatu bentuk analisis yang menghasilkan dan menyajikan informasi sedemikian rupa sehingga dapat memberi landasan dari para pembuat kebijakan dalam membuat keputusan (E. 2. Pendekatan evaluatif adalah pendekatan yang berkenaan dengan penentuan bobot atau nilai dari beberapa kebijakan. Quade dalam Dunn. Analisis kebijakan juga meliputi evaluasi dan rekomendasi kebijakan.1.II. dan (3) tindakan yang penerapannya dapat menghasilkan pencapaian nilai-nilai. Kebijakan didasarkan pada masalah yang ada di daerah. Pendekatan empiris adalah pendekatan yang menjelaskan sebab dan akibat dari suatu kebijakan publik.S. Terdapat 3 (tiga) pendekatan dalam analisis kebijakan. yaitu : 1. direvisi dan ditambah agar tetap memenuhi kebutuhan yang terus berubah. akibat dan kinerja kebijakan publik. TINJAUAN PUSTAKA 2. (2) fakta yang keberadaannya dapat membatasi atau meningkatkan pencapaian nilai-nilai. Analisis kebijakan tidak diciptakan untuk membangun dan menguji teoriteori deskriptif yang umum namun mengkombinasikan dan mentransformasikan substansi dan metode beberapa disiplin ilmu sehingga menghasilkan informasi yang relevan dengan kebijakan yang digunakan untuk mengatasi masalah-masalah publik. 1994). selanjutnya kebijakan harus secara terus menerus dipantau. Analisis kebijakan meneliti sebab.

evaluasi. prediksi.2. digunakan sebelum tindakan diambil. Otonomi daerah membuat pemerintah semakin dekat. Gagasan otonomi tidak lepas dari gagasan demokratisasi.3. Tujuan pemberian otonomi daerah adalah untuk memungkinkan daerah yang bersangkutan mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan terhadap masyarakat. Otonomi Daerah Otonomi daerah merupakan pemberian kewenangan seluas-luasnya kepada daerah disertai dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan (UU No. . Dari segi waktu dalam hubungannya dengan tindakan maka prediksi dan rekomendasi. Otonomi daerah tidak hanya dipahami sebagai pemindahan sentralisasi kekuasaan dari pusat kemudian diberikan ke daerah (dekonsentrasi kekuasaan). Pada hakekatnya penerapan prinsip ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan pada pusat bagi pelaksanaan pembangunan di daerah. sedangkan evaluasi digunakan setelah tindakan terjadi. 2. Sebagai proses penelitian analisis kebijakan menggunakan prosedur analisis umum yang biasa dipakai untuk memecahkan masalah-masalah kemanusiaan. dan rekomendasi. Pendekatan normatif adalah pendekatan yang ditekankan pada rekomendasi serangkaian tindakan yang dapat menyelesaikan masalah-masalah publik. yaitu: deskriptif. yaitu memfasilitasi kebebasan dan otonomi rakyat sehingga bisa berkembang semaksimal mungkin sesuai dengan potensi dan konteksnya. 32 Tahun 2004).

jasa dan lain-lain. dan memahami masyarakat sehingga fungsi sebagai fasilitator dapat berjalan dengan baik (Ismawan. 2. 2003). sayursayuran.mengenali. telur.3. kain. daging. buah-buahan.000 penduduk. bahan-bahan pakaian. Pasar Tradisional Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli yang ditandai dengan adanya transaksi penjual dan pembeli secara langsung. bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai. alat-alat rumah tangga dan lain-lain. bank.000 Penduduk (Pasar Kelurahan/Desa) Fungsi utama sebagai pusat perbelanjaan di lingkungan yang menjual keperluan sehari-hari termasuk sayur. barang-barang kelontong. Luas tanah yang dibutuhkan adalah 13. beras.org/wiki/Pasar pada tanggal 20 Januari 2008 . ikan. sebagian besar pasar menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan. alat-alat pendidikan. Lokasinya mengelompok dengan pusat kecamatan dan 1 Dikutip dari situs Wikipedia Indonesia. Pasar Kawasan 120. Lokasinya berada pada jalan utama lingkungan dan mengelompok dengan pusat lingkungan dan mempunyai terminal kecil untuk pemberhentian kendaraan. Penduduk minimum yang dapat mendukung sarana ini adalah 30.000 Penduduk (Pasar Kecamatan) Fungsi utama sama dengan pasar lingkungan lain hanya dilengkapi saranasarana niaga lainnya seperti kantor-kantor. industri-industri kecil seperti konveksi dan lain-lain.500 m2. pakaian. 2. pakaian barang elektronik. tepungtepungan. Pasar Kawasan 30. http://id. buah.wikipedia. daging. yaitu : 1. los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar.1 Hierarki pasar dibagi menjadi tiga.

Pasar menurut Pengelolanya : a.000 m2.000 m2 (Rahayu. Pasar Kawasan 480.000 penduduk. tingkat pelayanan dan kelas mutu pelayanan. . dan melayani perdagangan tingkat regional. 2. Jumlah minimum penduduk yang dapat mendukung sarana ini adalah 120. Pasar menurut Tingkat Pelayanannya : a. yaitu pasar dengan komponen bangunan-bangunan yang lengkap. sistem arus barang dan orang baik di dalam maupun di luar bangunan. Pasar Swasta. Penduduk minimum yang dapat mendukung sarana ini adalah 480. Hierarki pasar menurut Perda Kota Bogor Nomor 7 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Pasar dibedakan berdasarkan pengertian menurut pengelola. Pasar Regional. yaitu : 1. yaitu pasar yang diselenggarakan atau dikelola oleh orang pribadi atau badan.000 penduduk.mempunyai pangkalan transportasi untuk kendaraan-kendaraan jenis angkutan penumpang kecil. Luas tanah yang dibutuhkan adalah 36. b.000 Penduduk (Pasar Kabupaten/Kota) Fungsi utama sama dengan pasar yang lebih kecil dengan skala usaha yang lebih besar dan lengkap. 3. oplet dan kendaraan-kendaraan jenis angkutan penumpang kecil lainnya. yaitu pasar yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah. 2005). Luas tanah yang dibutuhkan adalah 96. Lokasinya dikelompokkan dengan pusat wilayah dan mempunyai terminal bis. Pasar Pemerintah.

d. Studi Terdahulu Penelitian mengenai pengembangan pasar tradisional pernah dilakukan oleh Rangkuti (2005) di Kota Medan. sistem arus barang dan orang baik di dalam maupun di luar bangunan. dan melayani perdagangan tingkat kota. sistem arus barang dan orang terutama di dalam bangunan. didukung dengan teknologi modern serta mengutamakan pelayanan dan kenyamanan berbelanja. c. b. 2. Pasar Lingkungan. Tesis tersebut menganalisis pengaruh pengembangan pasar tradisional terhadap pembangunan wilayah.b. Pasar menurut Kelas Mutu Pelayanan : a. menengah dan koperasi dengan proses jual beli melalui tawar menawar. ataupun tenda yang diisi oleh pedagang kecil. Pasar Kota. yaitu pasar dengan komponen bangun-bangunan. 3. yaitu pasar yang dibangun dan dikelola dengan menggunakan metode manajemen modern. los. dikelola dengan manajemen sederhana dengan tempat usaha berupa toko. Hasil analisis menunjukkan bahwa menurut persepsi responden pengembangan pasar tradisional dalam aspek kebersihan. dan melayani perdagangan tingkat lingkungan. . kios. Pasar Modern. Pasar Wilayah. yaitu pasar yang dibangun dengan fasilitas sederhana. keamanan dan penataan gerai akan dapat meningkatkan jumlah pengunjung/pembeli di pasar-pasar tradisional Kota Medan. dan melayani perdagangan tingkat kota. yaitu pasar dengan komponen bangun-bangunan.4. yaitu pasar dengan komponen bangun-bangunan. sistem arus barang dan orang baik di dalam maupun di luar bangunan. Pasar Tradisional.

Hasil analisis menunjukkan bahwa perkembangan Pasar Tanah Baru dipengaruhi oleh variabel market area. aglomerasi dan threshold population dari segi keruangan. ternyata hanya Pasar Induk Kemang yang betul-betul berfungsi sebagai pengganti Pasar Ramayana. Pasar dapat digunakan untuk pembangunan dan pengembangan sarana-sarana fisik pasar-pasar tradisional di Kota Medan. Penelitian mengenai pemindahan lokasi pasar induk pernah dilakukan oleh Kartini (2002) di Kota Bogor. Penelitian mengenai pembangunan pasar tradisional di Kota Bogor pernah dilakukan oleh Tandiyar (2002).Pengembangan pasar-pasar tradisional di Kota Medan dapat menyebabkan terjadinya pengembangan wilayah dengan bertambahnya aktivitas sosial ekonomi masyarakat dan peningkatan pendapatan pedagang sehingga retribusi yang diperoleh PD. Kegiatan pemasaran sayur-mayur menjadi lebih efisien dengan Pasar Induk Kemang sebagai pasar acuan dan barometer harga dalam pemasaran sayurmayur di Kota Bogor. meskipun pada kenyataannya perkembangan tersebut belum . ketersediaan sarana angkutan umum dan besarnya nilai rupiah yang dibelanjakan dari segi konsumen serta jenis jualan dan besarnya nilai transaksi yang terjadi dari segi pedagang. Perpindahan tersebut berdampak pada peningkatan biaya transfer dan penurunan volume penjualan. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan kajian terhadap faktor penentu pendukung perkembangan Pasar Tanah Baru. Hasil penelitian mengemukakan bahwa dari ketiga alternatif pasar induk yang ditawarkan oleh Pemda Kota Bogor. Penelitian tersebut bertujuan untuk menganalisis dampak perpindahan lokasi terhadap sistem pemasaran sayur-mayur di Kota Bogor. sebagai acuan bagi pembangunan pasar tradisional baru di Kota Bogor.

terutama dalam aglomerasi dan ketersediaan sarana angkutan umum. sedangkan yang lainnya harus ditunda atau dipindahkan lokasinya ke tempat lain yang lebih memenuhi persyaratan. hanya Pasar Katulampa yang memenuhi semua kriteria. . Pasar Katulampa direkomendasikan untuk ditindaklanjuti dengan pembangunan. Berdasarkan hasil acuan tersebut ternyata dari ketiga lokasi pasar yang dibangun.mencapai perkembangan yang menggembirakan. sedangkan Pasar Pamoyanan dan Bubulak masih dianggap belum memenuhi. Peningkatan perkembangan Pasar Tanah Baru direkomendasikan dengan pembangunan jalan tembus ke lokasi perumahan yang ada di Kelurahan Tegal Gundil dan penataan rute angkutan kotanya.

METODOLOGI PENELITIAN 3. Pasar Katulampa dan Pasar Bubulak. Pemerintah Daerah Kota Bogor menetapkan kebijakan pengembangan pasar tradisional untuk meningkatkan kontribusi sektor perdagangan. Kerangka Pemikiran Operasional Otonomi daerah memberikan kewenangan bagi pemerintah daerah untuk merumuskan kebijakan sebagai upaya untuk menggali seluruh potensi yang ada dalam pengelolaan keuangan melalui peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan sumber-sumber keuangan lainnya untuk menunjang pelaksanaan pembangunan. Program tersebut belum memperlihatkan hasil seperti yang diharapkan. Hal ini dapat ditunjukkan dari kegagalan program tersebut dalam mencapai target. Implementasi dari program ini yaitu pemindahan Pasar Ramayana ke Pasar Induk Kemang.III. Kota Bogor memiliki potensi dalam sektor perdagangan dan jasa yang besar untuk dikembangkan menjadi sektor unggulan. Pasar Pamoyanan. Eksistensi sektor perdagangan terutama subsektor perdagangan besar dan eceran telah memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap pertumbuhan PDRB Kota Bogor. Sektor ini merupakan penyumbang kontribusi terbesar terhadap PDRB. Kebijakan ini dilaksanakan dalam dua program yaitu pemindahan pusat perdagangan regional dari pusat kota ke daerah pinggiran dan pengembangan pasar-pasar tradisional di tiap kecamatan. Pasar Kemang merupakan satu-satunya pasar yang berfungsi sebagai pasar induk sedangkan Pasar Jambu Dua dan Pasar Cimanggu berfungsi sebagai pasar .1. Pasar Induk Jambu Dua dan Pasar Grosir Cimanggu serta pembangunan pasar tradisional di empat kecamatan yaitu Pasar Tanah Baru.

hanya satu pasar yang berfungsi yaitu Pasar Tanah Baru meskipun hasilnya belum optimal. Masing-masing stakeholders yang terlibat memiliki kepentingan dan pengaruh yang berbeda-beda terhadap kebijakan pengembangan pasar tradisional. atau penerapannya yang tidak berjalan dengan baik (Lampiran 2). Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi pemerintah daerah untuk mengambil keputusan dalam merumuskan kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 1. Hal ini dapat ditunjukkan dengan peranan serta keterlibatan masing-masing stakeholders dalam program pengembangan pasar tradisional. Kondisi ini dapat mempengaruhi keberhasilan proses perencanaan dan penerapan kebijakan pengembangan pasar tradisional dalam mencapai tujuannya. Oleh karena itu dalam penelitian ini menggunakan analisis stakeholders untuk mengidentifikasi stakeholders yang terlibat. terkait dengan kepentingan dan pengaruhnya terhadap kebijakan. apakah hal ini disebabkan oleh proses penyusunan program pengembangan pasar tradisional yang kurang tepat (Lampiran 1).pengecer. Untuk mengidentifikasi penyebab dari belum optimalnya hasil dari program pengembangan pasar tradisional dilakukan menggunakan analisis deskriptif. Selain itu dari empat pasar tradisional yang dibangun. . Dalam pelaksanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional ini banyak melibatkan stakeholders. Untuk menganalisis strategi pengembangan pasar tradisional digunakan metode Proses Hierarki Analisis/PHA (Lampiran 3).

Pasar Tanah Baru. Pasar Cimanggu.Otonomi Daerah Potensi Perdagangan Kota Bogor Program Pengembangan Pasar Tradisional Pemindahan Pusat Perdagangan Regional dari Pusat Kota ke Daerah Pinggiran Pengembangan Pasar-Pasar Tradisional di Setiap Kecamatan Berhasil (Pasar Induk Kemang) Belum Berhasil (Pasar Jambu Dua. Propinsi Jawa Barat. Pasar Pamoyanan) Analisis Stakeholders Identifikasi/Analisis Penyebab Kegagalan Kebijakan Proses Deskriptif Strategi Pengembangan Pasar Tradisional Rekomendasi Pemda Penerapan PHA Gambar 1. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Kota Bogor merupakan kota satelit bagi Jakarta sehingga mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi terutama di sektor perdagangan. Diagram Alir Kerangka Pemikiran 3.2. Hal ini membutuhkan kebijakan pengembangan sektor perdagangan khususnya dalam hal pengembangan pasar tradisional untuk mengimbangi pertumbuhan sektor . Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kota Bogor.

Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota Bogor. buletin. Data penunjang diperoleh dari laporan hasil penelitian terkait. Data sekunder diperoleh dari Dinas Perindustrian. baik kualitatif maupun kuantitatif (Tabel 3). Tokoh Masyarakat. Waktu penelitian berlangsung dari bulan Juli sampai dengan Oktober 2007. Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bogor. Unit Pelaksana Teknis Dinas Pasar Tradisional (UPTD) Kota Bogor. Dinas Tata Kota dan Pertamanan (DTKP) Kota Bogor. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. internet serta sumber-sumber lainnya. Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kota Bogor. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bogor. . 3. jurnal.perdagangan yang pesat. Data primer mencakup: (1) proses perencanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional. Swasta dan para pedagang.3. Data sekunder diperoleh dari studi pustaka dan data penunjang yang relevan dengan penelitian. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bapeda) Kota Bogor. (2) penerapan program. Data primer diperoleh dari hasil kuesioner melalui wawancara langsung dengan para pengambil kebijakan yang berasal dari Lembaga/Instansi Pemerintah. dan (3) strategi pengembangan pasar tradisional.

DTKP. Persepsi responden tentang pengembangan pasar tradisional terdiri dari tujuan. UPTD PHA 3. Pengkajian dilakukan secara mendalam untuk setiap stakeholders terkait dengan peran dan keterlibatannya dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional serta untuk analisis kebijakan pengembangan pasar tradisional terkait dengan pemahaman stakeholders terhadap setiap tahapan proses dan penerapan kebijakan. DLHK. .4. aspek. berarti semua stakeholders sudah diidentifikasi.Tabel 3. Tupoksi Data Sekunder: Renstra Kota Bogor. Disperindag. Pengumpulan Data No 1 Tujuan Penelitian Mengidentifikasi stakeholders yang terlibat dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional Data yang dikumpulkan Tingkat kepentingan dan pengaruh stakeholders terhadap keberhasilan program Sumber Data Data Primer: Wawancara dengan instansi terkait Data Sekunder: Visi dan Misi. RTRW. Jika keterangan dari setiap stakeholders tidak menyebutkan stakeholders yang baru lagi. kriteria dan alternatif strategi kebijakan Deskriptif Data Primer: Wawancara dengan pihak pengambil kebijakan (Pemda). Metode Pemilihan Responden Identifikasi stakeholders yang terlibat dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional dilakukan dengan teknik bola salju (snow ball) yaitu dengan melacak keterangan dari setiap stakeholders untuk mengetahui keberadaan stakeholders lainnya. RDTR Data Primer: Wawancara dengan instansi terkait Analisis Stakeholders 2 Mengidentifikasi penyebab kurang berhasilnya program pengembangan pasar tradisional: • Proses • Penerapan 3 Mengidentifikasi strategi pengembangan pasar tradisional • Rencana Strategi (Renstra) • Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bogor • Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) • Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) • Perda Tata Ruang • Perda lainnya.

yaitu metode pengambilan contoh responden tidak secara acak tetapi pemilihan secara sengaja dengan pertimbangan baik individu atau lembaga sebagai responden yang mengerti permasalahan yang terjadi dan memiliki pengaruh dalam pengambilan kebijakan baik langsung maupun tidak langsung pada pelaksanaan kebijakan atau memberi masukan kepada para pengambil kebijakan yaitu Pemerintah.5. Stakeholders dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan besar kecilnya pengaruh atau kepentingan terhadap suatu kebijakan yaitu: a.Pemilihan responden untuk analisis PHA dilakukan dengan metode Purposive Sampling.5. kelompok atau lembaga yang kepentingannya dipengaruhi oleh isu atau pihak yang tindakannya secara kuat mempengaruhi isu. diperlukan suatu analisis stakeholders yang terkait dengan kebijakan tersebut. Dispenda.1. Analisis stakeholders adalah sebuah proses sistematis untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi secara kualitatif untuk menentukan kepentingan siapa yang harus diperhitungkan ketika mengembangkan atau menerapkan suatu kebijakan atau program (Schmeer. Responden antara lain: Staf atau Pejabat Pemda. Non Pemerintah. 3. Stakeholders utama. Analisis Data 3. dan Masyarakat. dan DLHK. 2007). Stakeholders dapat diartikan sebagai individu. DTKP. Disperindagkop. Dalam hal ini adalah . Bapeda. mempunyai pengaruh yang lemah terhadap lahirnya suatu kebijakan/keputusan tetapi kesejahteraan mereka sangat penting dipertimbangkan bagi pengambil kebijakan/keputusan. Analisis Stakeholders Untuk menilai kebijakan pengembangan pasar tradisional.

Sikap mengacu pada reaksi utama dari berbagai stakeholders dalam memutuskan pandangan terhadap kebijakan. Kepentingan stakeholders mengacu pada motif dan perhatian mereka pada kebijakan atau program. c. • • Menuliskan kepentingan utama stakeholders minimal dua. Menuliskan sikap stakeholders terhadap kebijakan atau program. • Menuliskan kepentingan stakeholders (yang tertutup maupun terbuka) dalam kaitannya dengan program dan tujuannya. yang menjadi stakeholders sekunder adalah pihak pemerintah daerah atau pihak swasta. adalah individu atau grup yang dapat menggunakan pengaruhnya misalnya dengan melakukan lobi kepada pembuat keputusan. • Menilai sikap dari stakeholders terhadap kebijakan sebagai berikut : . Langkah-langkah dalam melakukan analisis stakeholders yaitu : 1.masyarakat yang berada di sekitar areal yang akan dikembangkan serta pihak lain yang memanfaatkan wilayah tersebut. Stakeholders eksternal. Membuat tabel stakeholders (Tabel 4) • Membuat daftar semua stakeholders yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh program. Yang digolongkan pada stakeholders eksternal adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan pemerhati lingkungan (Brown et al. 2006). 2001 dalam Dharmayanti. Pada program pengembangan pasar tradisional ini. b. yaitu mereka yang mempengaruhi keputusan/kebijakan pada saat kebijakan dibuat (pembuat kebijakan) dan pihak yang terkait dengan implementasi kebijakan tersebut.. Stakeholders sekunder (tingkat kedua).

• Memutuskan kebutuhan keterlibatan stakeholders dalam kebijakan atau program. 1 = sangat lemah • Menentukan tingkat pengaruh yaitu jumlah dari tingkat kekuatan (SDM + finansial + politik) dari masing-masing stakeholders. • Menentukan tingkat keterlibatan stakeholders. stakeholders dibagi dalam tiga grup yaitu : Grup 1 dengan total = 10 – 20 maka stakeholders akan menjadi pihak penerima informasi. dan jika total > 10 maka stakeholders harus dilibatkan dalam kebijakan atau program. Kekuatan stakeholders mengacu pada kuantitas sumberdaya yang dimiliki stakeholders yaitu sumberdaya manusia (SDM). . • Menentukan nilai total yaitu perkalian antara sikap dengan pengaruh untuk setiap stakeholders. di mana jika total < 10 maka stakeholders dapat diabaikan. 4 = kuat. • Menentukan nilai tingkat kekuatan stakeholders dengan kriteria SDM. 2 = lemah. finansial dan politik di mana : 5 = sangat kuat.3 = sangat mendukung/menyetujui 2 = cukup mendukung/menyetujui 1 = netral -2 = cukup menentang/menolak -3 = sangat menentang/menolak • Membuat penilaian awal tentang tingkat kekuatan dan pengaruh dari masingmasing stakeholders. finansial dan politik. 3 = rata-rata. Untuk analisis ini.

Identifikasi partisipasi stakeholders yang tepat (lihat Gambar 2). Grup 3 dengan total > 30 maka stakeholders merupakan pihak pengambil keputusan kebijakan. Matriks Kepentingan dan Pengaruh Stakeholders . Analisis Stakeholders Stakeholders Kepentingan Sikap Kriteria Evaluasi Kekuatan SDM Finansial Politik Pengaruh Total Keputusan Tingkat Keterlibatan Keterlibatan Sumber: Abdrabo dan Hassaan (2007) 2. • Membuat ringkasan matriks partisipasi untuk mengklarifikasi peranan yang harus dilaksanakan oleh semua stakeholders pada berbagai tahapan siklus program. sehingga diketahui posisinya bila ditempatkan dalam matriks. Tabel 4. Tinggi C (KEEP SATISFIED) *1 *4 *6 B (MANAGE CLOSELY) *2 Tingkat Pengaruh * Stakeholders D (MONITOR) *7 *8 A (KEEP INFORMED) *3 Rendah Tingkat Kepentingan Sumber: DFID (2006) Tinggi Gambar 2.Grup 2 dengan total = 20 – 30 maka stakeholders akan menjadi pihak pemberi pertimbangan. • Membahas bersama stakeholders mengenai peranan yang harus mereka lakukan.

Mereka membutuhkan inisiatif khusus jika ingin melindungi kepentingan mereka. Usaha nyata diperlukan untuk membuat mereka tetap puas dengan hasil kebijakan. Stakeholders yang termasuk pihak ini harus dilibatkan secara penuh dalam setiap proses maupun penerapan kebijakan. Kotak C : Pihak yang berpengaruh besar. Dalam kondisi yang ideal seharusnya stakeholders yang memilki tingkat kepentingan yang tinggi. Mereka tidak mungkin menjadi subyek kebijakan. Tingkat kepentingan dan pengaruh yang berbeda dari masing-masing stakeholders memberikan pengaruh terhadap pelaksanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional. tapi juga sangat penting bagi pencapaian keberhasilan. tapi pengaruhnya rendah.Berdasarkan Gambar 2 menunjukkan keterangan sebagai berikut : Kotak A : Pihak yang sangat penting bagi kebijakan. Penyusun kebijakan dan donor perlu membina hubungan kerja yang baik dengan para pihak ini untuk memastikan adanya dukungan terhadap program. Kotak D : Pihak yang berada pada prioritas rendah. Pihak ini seringkali sangat berguna bagi proses penyusunan kebijakan secara terperinci. tapi membutuhkan monitoring dan evaluasi yang terbatas. karena dapat mempengaruhi hasil kebijakan. tapi tidak memiliki minat terhadap kebijakan. Pihak ini harus terus diberikan informasi yang cukup mengenai kebijakan serta meyakinkan mereka bahwa tidak ada masalah besar yang timbul. Kotak B : Pihak yang sangat penting bagi kebijakan. maka akan memiliki .

Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota Bogor. Analisis stakeholders dilakukan dengan cara mengolah data dan informasi yang berhubungan dengan stakeholders yang terlibat dalam pelaksanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional. 2006). Dinas Pemadam Kebakaran. Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan Dinas Tenaga Kerja dan Sosial. . Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kota Bogor. Selain itu terdapat beberapa stakeholders yang terkait seperti masyarakat konsumen. Pada penelitian ini dibatasi untuk mengkaji tingkat kepentingan dan pengaruh stakeholders di atas. begitu juga sebaliknya. karena stakeholders tersebut memiliki kepentingan yang nyata terhadap kebijakan pengembangan pasar tradisional dan memiliki pemahaman yang tinggi terhadap kebijakan. Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bogor. Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Kota Bogor. Dinas Tata Kota dan Pemukiman (DTKP) Kota Bogor dan pihak pengelola pasar baik swasta maupun UPTD. Pihak-pihak yang terlibat dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor yaitu pedagang.pengaruh yang tinggi pula terhadap pelaksanaan kebijakan. Sehingga penyebaran stakeholders dalam matriks akan membentuk garis diagonal (DFID. Stakeholders ini tidak dimasukkan dalam kajian penelitian karena kepentingannya terhadap kebijakan pengembangan pasar tradisional tergolong rendah sekali serta stakeholders ini bukan merupakan pihak yang benar-benar memahami kebijakan pengembangan pasar tradisional.

Metode ini dimaksudkan untuk membantu memecahkan masalah kualitatif yang komplek dengan memakai perhitungan kuantitatif. Menurut Saaty (1993) kerangka kerja PHA terdiri dari delapan langkah utama sebagai berikut : (b) Mendefinisikan persoalan dan merinci pemecahan persoalan yang diinginkan. 3. melalui proses pengekspresian masalah dimaksud dalam kerangka berpikir yang terorganisir. Analisis dilakukan dengan membandingkan kesesuaian antara proses perencanaan kebijakan dengan pelaksanaan kebijakan serta tujuan yang ingin dicapai dari kebijakan dengan hasil yang dicapai dan manfaat kebijakan bagi stakeholders yang terlibat. Proses Hierarki Analisis Proses analisis yang dikembangkan tahun 1970-an ini dimaksud untuk dapat mengorganisasikan informasi dan berbagai keputusan secara rasional (judgement) agar dapat memilih alternatif yang paling disukai. Analisis Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional Analisis dilakukan secara deskriptif dengan menggabungkan semua informasi yang diperoleh dari stakeholders. Metode ini memiliki keunggulan tertentu karena membantu menyederhanakan persoalan yang komplek menjadi persoalan yang berstruktur. karena yang menjadi perhatian adalah pemilihan tujuan. Hal yang perlu diperhatikan dalam langkah ini adalah penguasaan masalah secara mendalam. penerapan kebijakan hingga hasil yang diperoleh dari kebijakan yang telah dilaksanakan. Analisis meliputi tahapan pelaksanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional mulai dari tahap perencanaan.5.2.3.5. sehingga memungkinkan dilakukannya proses pengambilan keputusan secara efektif.3. proses penyusunan program. sehingga mendorong dipercepatnya proses pengambilan keputusan terkait. .

Tidak terdapat prosedur yang pasti untuk mengidentifikasikan komponen-komponen sistem. tersusun dari sasaran utama. Penyusunan hierarki ini berdasarkan jenis keputusan yang akan diambil. tujuan-tujuan pelaku dan akhirnya ke alternatif strategis. Tingkat di bawahnya dapat terdiri dari beberapa elemen yang dibagi dalam kelompok homogen. pelaku-pelaku yang memberi dorongan. Menurut perjanjian. faktor-faktor pendorong yang mempengaruhi sub-sub sistem tujuan tersebut. . Matriks banding berpasangan dimulai dari puncak hierarki yang merupakan dasar untuk melakukan pembandingan berpasangan antar elemen yang terkait yang ada di bawahnya.kriteria dan elemen-elemen yang menyusun struktur hierarki. agar dapat dibandingkan dengan elemen-elemen yang berada pada tingkat sebelumnya. Struktur hierarki ini mempunyai bentuk yang saling berkaitan. Pada tingkat puncak hierarki hanya terdiri dari satu elemen yang disebut dengan fokus. sub-sub tujuan. yaitu sasaran keseluruhan yang bersifat luas. (c) Membuat struktur hierarki dari sudut pandang manajemen secara menyeluruh. Komponen-komponen sistem dapat diidentifikasikan berdasarkan kemampuan pada analisa untuk menemukan unsur-unsur yang dapat dilibatkan dalam suatu sistem. suatu elemen yang ada di sebelah kiri diperiksa perihal dominasi atas yang ada di sebelah kiri suatu elemen di puncak matriks. pilihan atau skenario. seperti tujuan. (d) Menyusun matriks banding berpasangan. kriteria dan aktivitas-aktivitas yang akan dilibatkan dalam suatu sistem hierarki. Pembandingan berpasangan pertama dilakukan pada elemen tingkat kedua terhadap fokus yang ada di puncak hierarki.

Sedangkan bila F. Angka-angka yang tertera menggambarkan relatif pentingnya suatu elemen dibanding dengan elemen lainnya sehubungan dengan sifat atau kriteria tertentu. lebih mendominasi atau mempengaruhi sifat fokus puncak hierarki (X) dibandingkan dengan Fj. (f) Memasukkan nilai-nilai kebalikannya beserta bilangan sepanjang diagonal utama. Untuk mengisi matriks banding berpasangan. maka nilai elemen F42 adalah 1/7. Angka satu sampai sembilan digunakan bila F.(e) Mengumpulkan semua pertimbangan yang diperlukan dari hasil melakukan perbandingan berpasangan antar elemen pada langkah tiga. . diuntungkan oleh fokus di puncak hierarki. kurang mendominasi atau kurang mempengaruhi sifat X dibandingkan Fj maka digunakan angka kebalikannya. dipenuhi. digunakan skala banding yang tertera pada Tabel 5. Pengisian matriks hanya dilakukan untuk bagian di atas garis diagonal dari kiri ke kanan bawah. dibandingkan dengan kolom ke-i?”. Contoh: bila elemen F24 memiliki nilai tujuh. Setelah itu dilakukan perbandingan berpasangan antar setiap elemen pada kolom ke-i dengan setiap elemen pada baris ke-j. Pembandingan berpasangan antar elemen tersebut dilakukan dengan pertanyaan : ”Seberapa kuat elemen baris ke-i didominasi atau dipengaruhi. Apabila elemen-elemen yang diperbandingkan merupakan suatu peluang atau waktu. Matriks di bawah garis diagonal utama diisi dengan nilai-nilai kebalikannya. maka pertanyaannya adalah : ”Seberapa lebih mungkin suatu elemen baris ke-i dibandingkan dengan elemen kolom ke-j sehubungan dengan elemen di puncak hierarki?”.

8 Nilai-nilai antara di antara dua pertimbangan yang berdekatan. Jika untuk aktivitas i mendapat satu angka (x) jika dibandingkan dengan aktivitas j. Penjelasan Dua elemen menyumbang sama besar pada sifat tersebut. MPI memiliki elemen yang disimbolkan dengan a. maka memiliki nilai kebalikannya (1/x). 5 Pengalaman dan pertimbangan dengan kuat menyokong satu elemen atas yang lainnya. yaitu elemen matriks pada baris ke-i dan kolom ke-j. Nilai Skala Banding Berpasangan Intensitas Pentingnya 1 Definisi Kedua elemen sama pentingnya.6. Satu elemen mutlak lebih penting daripada elemen yang lainnya.Tabel 5. 3 Elemen yang satu sedikit lebih penting daripada elemen yang lainnya. .4. Sumber: Saaty. di antara dua 9 2. Kompromi diperlukan pertimbangan. untuk semua tingkat dan gugusan dalam hierarki tersebut. 1993 Kebalikan (g) Melaksanakan langkah tiga. Pembandingan dilanjutkan untuk semua elemen pada setiap tingkat keputusan yang terdapat pada hierarki. 7 Satu elemen dengan kuat disokong dan dominasinya telah terlihat dalam praktek. Matriks pembandingan dalam metode PHA dibedakan menjadi : (1) Matriks Pendapat Individu (MPI) dan (2) Matriks Pendapat Gabungan (MPG). Bukti yang menyokong elemen yang satu atas yang lainnya memiliki tingkat penegasan yang tertinggi yang mungkin menguatkan. Matriks pendapat individu dapat dilihat pada Tabel 6. MPI adalah matriks hasil pembandingan yang dilakukan individu. empat dan lima. Satu elemen jelas lebih penting daripada elemen yang lainnya. Elemen yang satu sangat penting daripada elemen yang lainnya. Pengalaman dan pertimbangan sedikit menyokong satu elemen atas yang lainnya. berkenaan dengan kriteria elemen di atasnya.

.. An a12 a1j ...... an1 an2 anj Ann ........................... Tabel 7. . gnn Rumus matematika yang digunakan untuk memperoleh rata-rata geometrik adalah: g ij = m π (aij )k k =1 m di mana : g ij = elemen MPG baris ke-i kolom ke-j ........ gnj ............ ... Ai.....Tabel 6.. (2) Tidak terdapat angka kebalikan (resiprokal) pada baris dan kolom yang sama............ ... Ai ....... An g1n g2n gin ....... Matriks Pendapat Individu X A1 A2 Aj . Aj : elemen-elemen pembanding..... Persyaratan MPG yang bebas dari konflik adalah : (1) Pendapat masing-masing individu pada baris dan kolom yang sama memiliki selisih kurang dari empat satuan antara nilai pendapat individu yang tertinggi dengan nilai yang terendah... .. ........ ........................ ..... 1993 A2 g12 g22 gi2 ......... ..................... aj : angka pembanding elemen baris ke-i terhadap elemen kolom ke-j yang diperoleh dengan menggunakan skala berbanding berpasangan.. 1993 MPG adalah susunan matriks baru yang elemen (gij) berasal dari rata-rata geometrik pendapat-pendapat individu yang rasio inkonsistensinya lebih kecil atau sama dengan sepuluh persen dan setiap elemen pada baris dan kolom yang sama dari MPI yang satu dengan MPI yang lain tidak terjadi konflik.. ai. a1n a11 A1 a21 a22 a2j a2n ................ MPG dapat dilihat pada Tabel 7...................... gn2 Aj g1j g2j gij .. Sumber: Saaty. A2 a31 ai2 aij ain ....... gn1 Gn Sumber: Saaty. An Keterangan: X : kriteria sebagai dasar pembanding. . ..... .. Matriks Pendapat Gabungan X A1 g11 G1 g21 G2 g31 Gi .................

dimana MPI dan MPG harus memenuhi persyaratan inkonsistensi. Menggunakan komposisi secara hierarki untuk membobotkan vektor-vektor prioritas itu dengan bobot kriteria-kriteria dan menjumlahkan semua nilai prioritas terbobot yang bersangkutan dengan nilai prioritas dari tingkat bawah berikut dan seterusnya . . Pengolahan Horisontal. Tahapan perhitungan yang dilakukan pada pengolahan horisontal ini adalah : (1) Perkalian baris (Z) dengan rumus : Zi = k =1 π aij n (i. .(aij )k = elemen baris ke-i kolom ke-j dari MPI ke-k m k =1 m = jumlah MPI yang memenuhi persyaratan = perkalian dari elemen k = 1 sampai k = m = akar pangkat m π m (h) Mensintesis prioritas untuk melakukan pembobotan vektor-vektor prioritas.. untuk i = 1. Pengolahan vertikal dilakukan setelah MPI dan MPG diolah secara horisontal. yaitu penentuan Vektor Prioritas (Vektor Eigen). Pengolahan matriks pendapat terdiri dari dua tahap. n) ..j = 1. Kedua jenis pengolahan tersebut dapat dilakukan untuk MPI dan MPG. uji konsistensi dan revisi MPI dan MPG yang memiliki Rasio Inkonsistensi tinggi. 3. n) (2) Perhitungan Vektor Prioritas (VP) atau Eigenvektor adalah : n VPi = k =1 π aij k =1 n ∑ i =1 n n π aij n VP = (Vpi). terdiri dari tiga bagian. 2. a. yaitu (1) pengolahan horisontal dan (2) pengolahan vertikal. 2.3...

56 1.32 1.24 1. n λmaks = 1 n ∑ vbi n i =k (4) Perhitungan Indeks Konsistensi (CPI) dengan rumus : CI = λ maks − n n −1 (5) Perhitungan Rasio Inkonsistensi (CI) adalah : CR = CI RI Tabel 8.(3) Perhitungan Nilai Eigen Maks (Maks) dengan rumus : VA = (aij ) × Vp VB = VA VP dengan VA = (vai) dengan VB = (vbi) untuk i = 1.45 1.57 1.. Apabila .. b.5 0.19 1.51 1.90 1.41 1. 2.1 merupakan nilai yang mempunyai tingkat konsistensi yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan. 3. yaitu menyusun prioritas pengaruh setiap elemen pada tingkat hierarki keputusan tertentu terhadap sasaran utama atau fokus.12 1. Hal ini dikarenakan CR merupakan tolok ukur bagi konsistensi atau tidaknya suatu hasil perbandingan berpasangan dalam suatu matriks pendapat (Saaty.59 Nilai rasio inkonsistensi (CR) yang lebih kecil atau sama dengan 0. Daftar Nilai Random Indeks Ordo Matriks (n) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Sumber: Oak Ridge National Indeks Random (RI) 0 0 0. Pengolahan Vertikal.48 1. . 1993).

j = 1. Dalam PHA penyimpangan diperbolehkan dengan toleransi Rasio Inkonsistensi di bawah sepuluh persen. . n.. Hasil ini dibagi dengan pernyataan sejenis yang menggunakan indeks konsistensi acak. sehingga diperlukan suatu uji konsistensi. t = 1. yang sesuai dengan dimensi masingmasing matriks. 3... . rasio inkonsistensi hierarki harus bernilai kurang dari atau sama dengan sepuluh persen.. n di mana : CH ij (t. i − 1) × VWt (a − 1) Untuk . i − 1) = nilai prioritas elemen ke-i terhadap elemen ke-t pada tingkat di VWt (i − 1) P r s = = = = atasnya (i-1).Cvij didefinisikan sebagai nilai prioritas pengaruh elemen ke-j pada tingkat kei terhadap sasaran utama. Untuk memperoleh hasil yang baik. 2. Langkah ini dilakukan dengan mengalikan setiap indeks konsistensi dengan prioritas-prioritas kriteria yang bersangkutan dan menjumlahkan hasil kalinya.. 3. 3.5. n. i = 1.4. . 3. yang diperoleh dari hasil perhitungan horisontal jumlah tingkat hierarki keputusan jumlah elemen yang ada pada tingkat ke-i jumlah elemen yang ada pada tingkat ke (i-t) c. Struktur hierarki ini terdiri dari empat level sebagai berikut : . 2. Mengevaluasi inkonsistensi untuk seluruh hierarki. Struktur Hierarki Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional Penentuan struktur hierarki dalam Proses Hierarki Analisis (Lampiran 3) didasarkan pada literatur-literatur dan didiskusikan bersama dengan narasumber. 2. maka : CVij = ∑ CH ij (t . yang diperoleh dari hasil pengolahan horisontal nilai prioritas pengaruh elemen ke-t pada tingkat ke (i-t) terhadap sasaran utama.. Pada pengisian judgement pada tahap MPB (Matriks Banding Berpasangan) terdapat kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam membandingkan elemen satu dengan elemen yang lainnya.

menarik dan rapi sehingga aspek ini penting untuk diperhitungkan. • • Aspek manajemen. • Aspek sosial. membentuk pasar tradisional menjadi . Level kedua yaitu penentuan aspek yang paling diutamakan dalam tujuan pengembangan pasar tradisional. Level pertama merupakan tujuan dari dilakukannya proses hierarki analisis yaitu pengembangan pasar tradisional. penentuan aspek ini didasarkan pada kebutuhan akan pengelolaan manajemen pasar secara lebih profeional. penentuan aspek ini didasarkan pada keberadaan pasar tradisional yang tidak lepas dari kehidupan sosial masyarakat karena adanya proses pertemuan langsung antara pembeli dan penjual. 2. yaitu : Aspek ekonomi. penentuan aspek ini didasarkan pada kebijakan pembangunan di Kota Bogor yang dititikberatkan pada pembangunan ekonomi. 3. kriterianya yaitu meningkatkan PAD. • Aspek manajemen. Tujuan ini ditetapkan terkait dengan hasil analisis kebijakan sehingga dapat digunakan sebagai masukan untuk pemerintah daerah bagi kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor.1. • Aspek teknis. Level ketiga merupakan kriteria dari aspek-aspek pada level kedua. menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan pedagang dan masyarakat. terdiri dari : • Aspek ekonomi. kriterianya yaitu meningkatkan manajemen pengelolaan pasar tradisional secara profesional. penentuan aspek ini didasarkan pada kondisi riil di mana pasar tradisional mulai tersaingi oleh keberadaan pasar modern yang lebih bersih. sehingga tujuan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor dapat diarahkan untuk pertumbuhan ekonomi.

pengelolaan usaha sehingga lebih efisien dan sistem pemasaran. meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. • Pemberdayaan pedagang dan pengelola pasar. Oxalis Subur. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pasar tradisional di Kota Bogor layak untuk dijadikan sebagai PD. 4. • Aspek sosial. Level keempat merupakan alternaif strategi bagi pengembangan pasar tradisional yang terdiri dari : • Pembentukan PD. • Aspek teknis. . Pasar dilihat dari potensi dan peluangnya. nyaman dan bersih bagi konsumen dan menciptakan pasar yang berdaya saing sehingga lebih kompetitif. kriterianya yaitu peningkatan sarana dan prasarana pasar dan kondisi fisik pasar lebih bersih dan rapi. kriterianya yaitu mengurangi potensi konflik dengan masyarakat. Pemberdayaan pengelola pasar dilakukan dengan pemberian pelatihan atau diklat tentang manajemen usaha yang profesional. pemilihan strategi ini didasarkan untuk mendorong pedagang supaya lebih berkembang dan mandiri dalam usahanya. pemilihan strategi ini didasarkan pada rekomendasi dari penelitian yang dilakukan oleh Balitbangdiklat dan PT.usaha yang efisien. terciptanya kondisi pasar yang aman. Pasar bagi seluruh pasar tradisional yang ada di Kota Bogor. Pasar. Pemberdayaan pedagang dilaksanakan dengan memberikan penyuluhan kepada para pedagang mengenai kewirausahaan. penataan dan pembinaan PKL. Penelitian ini menyatakan bahwa upaya untuk mengembangkan pasar tradisional di Kota Bogor dapat dilakukan dengan pembentukan PD.

• Pembangunan pasar lingkungan. Akibat sepinya pedagang maka konsumen pun enggan berbelanja di pasar tersebut. Koperasi dapat membantu para pedagang di pasar tradisional terutama dalam hal permodalan. Maka strategi ini dapat menjadi alternatif dengan mendistribusikan seluruh PKL ke pasar-pasar yang belum terisi seperti Pasar Jambu Dua. penentuan strategi ini didasarkan pada kondisi geografis dan budaya masyarakatnya yang lebih suka berbelanja di tempat yang dekat dengan rumahnya. • Menjalin kemitraan dengan UKM dan koperasi. Pasar Baru Bogor. hal ini pula dapat menjadi insentif bagi pedagang karena harga kios yang jauh lebih murah. Pasar Tanah Baru dan Pasar Pamoyanan.• Pendistribusian PKL ke pasar-pasar yang telah dibangun. karena basis kegiatan dari pasar tradisional merupakan usaha yang bersifat kerakyatan. Adanya UKM maka pasar tradisional dapat menjadi tempat pemasaran bagi produk-produk UKM sehingga akan lebih berkembang. Hal tersebut berdampak pada pasar-pasar yang baru dibangun oleh Pemerintah. Akibatnya mereka lebih memilih menjadi PKL yang tersebar di sekitar Pasar Kebon Kembang. di Jalan Surya Kencana dan di Jalan Otista. Meskipun bangunannya tidak permanen bukan berarti kondisinya tidak baik. pemilihan strategi ini didasarkan pada upya untuk meningkatkan pertumbuhan pasar tradisional melalui kemitraan yang dijalin dengan UKM dan koperasi. Pasar lingkungan merupakan pasar yang berskala pemukiman dan lebih bersifat tidak permanen. . Pasar Cimanggu. Salah satu kendala dalam pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor yaitu banyaknya pedagang yang tidak mau menempati kios-kios yang ada di pasar-pasar yang baru dibangun.

maka pemberian bantuan kredit kepada para pedagang sangat diperlukan. • Pembentukan forum komunikasi. Forum komunikasi yang dilaksanakan harus melibatkan instansi Pemerintah Daerah.• Pemberian bantuan kredit. Pemerintah Kelurahan. pemilihan strategi ini karena salah satu permasalahan utama yang dimiliki pedagang yaitu kepemilikan modal. Untuk pengembangan pasar tradisional. Alternatif ini dipilih karena untuk merencanakan suatu kebijakan dalam pengembangan pasar tradisional perlu dibuat forum komunikasi di mana semua pihak yang berkepentingan terlibat. Pemerintah Kecamatan. Sehingga tujuan yang ingin dicapai melalui kebijakan dapat mengakomodir semua kepentingan dari stakeholders. . pihak pengelola pasar baik UPTD maupun swasta dan pedagang serta masyarakat sekitar pasar. Seringkali terjadi banyak pedagang yang mengalami kebangkrutan akibat tidak memiliki modal dan terpaksa menjadi pengangguran. Pemerintah dapat memfasilitasi pedagang dengan kredit bunga kecil melalui koperasi.

28 1 Pertambangan & Penggalian 2 Industri Pengolahan 18.76 10. Laju Pertumbuhan PDRB Kota Bogor Atas Dasar Harga Berlaku dan Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2004-2005 PDRB Atas Dasar PDRB Atas Dasar Kode Lapangan Usaha Harga Berlaku Harga Konstan Sektor 2004*) 2005**) 2004*) 2005**) Pertanian 11. Sektor yang memiliki kontribusi paling besar pada pertumbuhan perekonomian Kota Bogor adalah sektor perdagangan.13 6.15 41.10 6 Angkutan dan Komunikasi 22. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.95 7. Gas dan Air Bersih 13.82 4.09 7.1.41 4.IV.41 26. Oleh karena itu berdasarkan Perda No.86 persen.86 30.27 13.93 BRUTO Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Bogor 2005 9 9. Angka relatif ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2004.32 20.02 7.73 4.850 km2. Hotel dan Restoran 41.02 6.32 27.10 4.72 4.85 7 Keuangan. dengan sub sektor perdagangan besar dan eceran sebagai kontributor terbesar. Tabel 9.33 persen pada tahun 2005.21 10.10 4.67 12.82 6. 1 Tahun 2000 tentang Rencana .62 6.88 6. Jarak dari Jakarta kira-kira sejauh 60 km2. hotel dan restoran.05 4 Bangunan 12. Pada Tabel 9 terlihat bahwa laju pertumbuhan ekonomi Kota Bogor mencapai 30. hotel dan restoran merupakan sektor yang memberikan kontribusi paling besar dalam menunjang pembangunan di Kota Bogor.86 8 Perusahaan Jasa-jasa 7.86 4. Hal ini mengakibatkan Kota Bogor memiliki potensi yang strategis untuk menjadi pusat perkembangan dan pertumbuhan kegiatan ekonomi. Keadaan Perekonomian Wilayah Kota Bogor Kota Bogor memiliki luas wilayah 11. Persewaan & Jasa 14.62 10.33 4.63 3 Listrik.93 PRODUK DOMESTIK REGIONAL 25.24 5 Perdagangan.12 *) Angka Perbaikan **) Angka Sementara Sektor perdagangan. yaitu sebesar 41.

makanan-makanan khas dan hasil kesenian dengan membuat pasar-pasar induk. Pasar Cimanggu dan Pasar Induk Kemang. Strategi pembangunan dalam mewujudkan fungsi kota tersebut antara lain melalui pembenahan aspek fisik dan lingkungan. dan pusat-pusat pameran untuk memaksimumkan kapasitas perdagangan pada tingkat regional dan nasional. pasarpasar modern. berupa penataan fasilitas perdagangan dan jasa meliputi penyelesaian pembangunan tiga unit pasar induk. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain menjadikan Kota Bogor sebagai big station yang menjadi tempat transit semua arus barang dan jasa di bidang pertanian. industri kecil. Pemda Kota Bogor membangun dua pasar tradisional di Kecamatan Bogor Utara yaitu Pasar Tanah Baru dan di Kecamatan Bogor Selatan yaitu Pasar Pamoyanan. Pembenahan aspek fisik dan lingkungan untuk mendukung fungsi kota sebagai kota perdagangan. Penyediaan pasar-pasar induk harus didukung oleh mekanisme pengaturan penggunaan sebagai pasar massif yang hidup 24 jam dengan pembagian siang hari sebagai pasar eceran dan malam hari sebagai pasar grosir (Pemerintah Kota Bogor. Pada tahun 1999 – 2004. nasional dan internasional melalui peningkatan aktivitas pasar-pasar tradisional. kompleks pergudangan. Kota Bogor memiliki fungsi sebagai kota perdagangan. ekonomi dan politik. peternakan. maupun pasar maya di internet dalam rangka memasyarakatkan pertumbuhan ekonomi. yaitu Pasar Jambu Dua. 2002). memberdayakan ekonomi rakyat dan mewujudkan pemerataan kesejahteraan masyarakat. Pembenahan aspek ekonomi diarahkan pada upaya mewujudkan Kota Bogor sebagai bursa perdagangan komoditi penting di tingkat regional.Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bogor 1999-2009. industri. . pemukiman dan wisata ilmiah.

jasa keuangan. Hal ini sesuai dengan peranan sektor tersebut kepada PDRB Kota Bogor yang sangat dominan pada tahun 2003 yaitu atas dasar harga berlaku sebesar 61.85 persen. Sedangkan kontribusi sektor tersier atas dasar harga konstan sebesar 60. Kota Bogor sebagai kota jasa harus menjadi suatu kota yang nyaman yang berarti bersih. indah. dibandingkan sektor primer sebesar 0. harus merupakan pendukung bagi berkembangnya sektor jasa.76 persen. dibandingkan sektor primer sebesar 0. Kondisi ini ditandai oleh tingkat kebersihan kota yang tinggi yang diukur dengan tingkat cakupan pelayanan kebersihan dan tingkat pencemaran . tertib. persewaan dan jasa perusahaan. serta berwawasan lingkungan sehingga di setiap sudut manapun di Kota Bogor setiap orang dapat merasakan kenyamanan sesuai yang diharapkan. hotel dan restoran. jasa angkutan dan komunikasi. ekonomi.85 persen. Terwujudnya kota jasa ditandai dengan tingginya PDRB Kota Bogor pada sektor jasa serta tingginya jumlah penduduk yang bekerja pada sektor ini. serta jasa-jasa lainnya. Aktivitas-aktivitas lainnya yang ada di masyarakat.4. maupun penanganan masalah kota.39 persen. penataan fisik kota. Sektor jasa yang perlu diprioritaskan untuk mendorong pertumbuhan perekonomian Kota Bogor ke depan terutama sektor tersier pada jasa perdagangan.75 persen. visi Kota Bogor sebagai berikut : “KOTA JASA YANG NYAMAN DENGAN MASYARAKAT MADANI DAN PEMERINTAHAN AMANAH” Visi tersebut mengandung makna bahwa Kota Bogor akan diarahkan untuk menjadi suatu kota yang aktivitas masyarakatnya terutama bergerak di sektor jasa.40 persen.2. dan aman. sektor sekunder 38. sektor sekunder 37. Visi dan Misi Kota Bogor Berdasarkan Perda No 1 Tahun 2001 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bogor (Tahun 1999-2009). baik aktivitas budaya.

yang amanah dan memegang teguh komitmen yang ditandai dengan terwujudnya pelayanan publik yang prima di segala bidang dengan indikator menurunnya pengaduan atas pelayanan. pendidikan dan keterampilan. indah.lingkungan yang rendah terutama pencemaran air dan udara/kebisingan. persewaan dan jasa perusahaan. . dan aman dengan sarana dan prasarana perkotaan yang memadai dan berwawasan lingkungan. jasa angkutan dan komunikasi. serta jasa-jasa lainnya. serta tingkat pelanggaran terhadap peraturan daerah yang rendah. Sebagai penjabaran dari visi tersebut di atas. Sektor jasa yang perlu diprioritaskan untuk mendorong pertumbuhan perekonomian Kota Bogor kedepan terutama sektor tersier pada jasa perdagangan. diarahkan untuk pengembangan sektor jasa agar lebih efisien. hotel dan restoran. dirumuskan misi-misi Kota Bogor sebagai berikut : Misi Pertama : Mengembangkan perekonomian masyarakat dengan titik berat pada jasa yang mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang ada. tertib. Misi Kedua : Mewujudkan kota yang bersih. dan daya beli masyarakat. Masyarakat madani berarti bahwa masyarakat Kota Bogor harus memiliki derajat kualitas kehidupan yang tinggi baik dari segi keimanan. produktif dan berdaya saing. Selain itu juga. Untuk dapat mewujudkan kondisi ini harus ada dukungan dari pemerintahan. jasa keuangan. Pemerintahan yang amanah yaitu pemerintahan yang baik yang senantiasa mengacu kepada kepentingan masyarakat. Misi ini mengandung makna bahwa pembangunan diarahkan kepada peningkatan kemampuan ekonomi rakyat yang memprioritaskan pembangunan ekonomi dalam rangka penanggulangan kemiskinan. kesehatan. selaku regulator.

sampah. Kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana perkotaan juga akan terus ditingkatkan untuk dapat mengarah kepada pemenuhan kebutuhan masyarakat dengan tetap memperhatikan konsep pembangunan yang berwawasan lingkungan sehingga masyarakat kota dapat merasa kenyamanan kotanya. dengan memprioritaskan kepada penanganan masalah transportasi. menyatakan bahwa pasar adalah tempat yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah sebagai tempat bertemunya pihak penjual dan pihak pembeli untuk . tertib. Misi ini mengandung makna bahwa pembangunan akan diarahkan kepada peningkatan kualitas sumber daya manusia sehingga masyarakat Kota Bogor memiliki tingkat pendidikan dan derajat kesehatan yang tinggi dengan tetap memiliki kadar keimanan disertai keterampilan yang memadai agar mampu menjadi masyarakat yang mandiri. Kebijaksanaan Pengelolaan Pasar di Wilayah Kota Bogor Menurut Perda Kota Bogor Nomor 7 Tahun 2005 tentang penyelenggaraan pasar. Misi Keempat : Mewujudkan pemerintahan kota yang efektif dan efisien serta menjunjung tinggi supremasi hukum. indah. Misi Ketiga : Meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang beriman dan berketerampilan. sehingga mampu memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat dengan disertai penegakkan supremasi hukum.3.Misi ini mengandung makna bahwa Kota Bogor akan diarahkan kepada penampilan kota yang bersih. dan aman. 4. dan Pedagang Kaki Lima (PKL). Misi ini mengandung makna bahwa penyelenggaraan pemerintahan diarahkan kepada pelaksanaan otonomi daerah yang nyata dan bertanggungjawab dengan menerapkan prinsip-prinsip good governance dan clean government.

326 orang yang terdiri atas 744 pedagang kios. Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop). Pasar Kebon Kembang merupakan pasar yang terluas yaitu 26. sedangkan pelayanan pasar adalah fasilitas pasar berupa kios atau los yang dikelola Pemerintah Daerah dan khusus disediakan untuk pedagang. Pada tahun 1991 berdasarkan Perda Nomor 13 Tahun 1991 tentang Peraturan Pasar di Wilayah Kota Bogor. Sampai saat ini telah ada 7 unit pasar yang berada di bawah pembinaan dan pengawasan UPTD dengan kondisi sebagai berikut : 4.melaksanakan transaksi di mana proses jual beli barang atau jasa terbentuk. . Bagan struktur organisasi Disperindagkop dan UPTD dapat dilihat pada Lampiran 4 dan 5. 1.1.3. DPP diubah menjadi Unit Pelaksana Teknis Dinas Pengelolaan Pasar (UPTD Pengelolaan Pasar) yang berada di bawah wewenang Dinas Perindustrian. Pada tahun 2001. dan menjadi tempat masyarakat sekitar memenuhi kebutuhan hidupnya. Pemerintah Daerah Kota Bogor mendirikan Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) yang bertanggung jawab langsung kepada Walikota. Pengelolaan pasar di Kota Bogor saat ini dilaksanakan oleh UPTD yang berada di bawah Kepala Disperindagkop. Pasar Besar Pasar besar terdiri atas Pasar Kebon Kembang dan Pasar Baru Bogor.424 pedagang los dan 158 pedagang kaki lima (PKL).757 m2 sehingga jumlah pedagangnya pun paling banyak yaitu 2. Kedua pasar ini terletak di Kecamatan Bogor Tengah. Pembentukan UPTD Pengelolaan Pasar berdasarkan Surat Keputusan Walikota Nomor 2 Tahun 2001 dan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2001 tentang perubahan pertama organisasi dan tata kerja UPTD.

Merdeka dan Sukasari. dan G. sembako. 31 orang pedagang los dan 90 orang PKL. Jumlah pedagang di Pasar Baru Bogor sebanyak 1. F. Pedagang di pasar ini umumnya pedagang yang berasal dari Pasar Ramayana yang telah ditutup. Pasar Sedang Pasar sedang terdiri dari Pasar Jambu Dua. Pasar Baru Bogor beroperasi pagi hari hingga sore hari. Lantai dasar diisi oleh kios dan los.091 orang. Blok C dan D tidak dikelola oleh Pemerintah tetapi dikelola oleh pihak swasta yaitu PT. buah-buahan. Jumlah kios dan los yang ada sebanyak 756 buah dan hampir separuhnya masih kosong karena menurut para pedagang pasar ini belum terlalu ramai sehingga keuntungan yang diperoleh belum memadai. Pasar Jambu Dua terdiri dari dua lantai. E. Di lantai satu tidak disediakan tempat berdagang berupa los. obat dan barang-barang yang kering. Lantai satu sebagian besar merupakan los PKL yang . C. Lantai satu umumnya digunakan untuk berjualan pakaian.Pasar ini mempunyai dua lantai yaitu basement dan lantai satu dan dibagi atas blok-blok A. B. Para pedagang ini tersebar di dua lantai yaitu lantai dasar dan lantai satu.00 hingga jam 07. Jumlah pedagang di Pasar Jambu Dua sebanyak 425 orang terdiri dari pedagang di kios 304 orang.3. Kegiatan pasar ini dimulai pagi hari hingga sore hari. Malam hari di sekitar pasar bermunculan para pedagang sayur mayur yang berjualan mulai jam 19. sembako dan lainnya. daging.529 orang yang terdiri dari pedagang kios sebanyak 1. Lantai dasar banyak digunakan untuk berjualan sayuran.00 WIB. pedagang los 88 orang dan PKL sebanyak 350 orang. sehingga pada malam hari pasar ini selalu ramai. beras.2. ikan. 4. Pasar Jambu Dua baru berdiri selama kurang lebih tujuh tahun. Propindo Mulia Utama. D.

32 orang pedagang los dan 33 orang PKL. Galvindo Ampuh sehingga . Unit Pasar Merdeka mengelola kios atau los yang tersebar di daerah yang berbeda yaitu Pasar Merdeka sendiri.tersebar di pelataran pasar dan baru terlihat aktifitasnya pada sore hingga malam hari. Pasar Devries yang terletak di daerah Panaragan. Adapun Pasar Cimanggu dan Pasar Induk Kemang masih dikelola oleh pihak swasta. 150 orang pedagang los dan 160 orang PKL. Jumlah kios dan los sekitar 203 buah dengan jumlah pedagang 248 orang terdiri dari 122 pedagang kios. Pasar Kecil Pasar kecil terdiri atas Pasar Gunung Batu dan Pasar Padasuka.3. Pasar ini beroperasi pada pagi hari hingga sore hari. Pasar Gunung Batu terletak di Kecamatan Bogor Barat. terdiri atas dua lantai yaitu lantai dasar dan lantai atas. kios di jalan Pejagalan dan kios yang ada di sekitar Taman Kencana. Pasar ini beroperasi mulai pagi hingga sore hari. Pasar ini beroperasi pada pagi hingga sore hari. antara lain oleh PT. Pasar Padasuka terletak di Kecamatan Bogor Barat.3. Jumlah kios dan los sekitar 220 buah dengan jumlah pedagang 374 orang terdiri dari 64 pedagang kios. 76 pedagang los dan 50 PKL. Pasar Sukasari terdiri dari dua lantai dan beroperasi pada pagi hingga sore hari tetapi pada tengah hari biasanya sudah banyak kios dan los yang tutup karena pengunjung mulai berkurang. Kios dan los yang ada berjumlah 275 buah dengan jumlah pedagang 173 orang terdiri dari 108 pedagang kios. Kios dan los yang ada seluruhnya berjumlah 601 buah dengan pedagang 436 orang. Mayo Waya dan PT. 4.

Secara khusus.kedua pasar tersebut tidak bertangung jawab kepada UPTD. yaitu melaksanakan pengelolaan pasar. Sedangkan fungsi UPTD antara lain : a. Pasar Tanah Baru dan Pasar Pamoyanan belum memberikan kontribusi terhadap PAD Kota Bogor karena tidak adanya pemungutan retribusi oleh UPTD. seperti yang tercantum pada Tabel 10. tugas UPTD di bidang pendapatan adalah melaksanakan pengelolaan pemungutan retribusi pasar serta melaksanakan pelayanan terhadap pedagang maupun pengunjung pasar terutama dalam menciptakan situasi aman dan nyaman. Hal ini dikarenakan kedua pasar tersebut masih berstatus tidak aktif karena sepinya pedagang dan pembeli. Pengelolaan administrasi keuangan dan administrasi umum di lingkungan UPTD pasar. pengendalian dan pengawasan kegiatan dalam penggunaan sarana dan prasarana pasar. Kontribusi dari kedua pihak swasta tersebut terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) berupa pajak yang dibayarkan kepada Dinas Pendapatan Daerah selama masa kontrak. . Besarnya tarif retribusi mengacu pada Perda Kota Bogor Nomor 3 Tahun 2006 tentang retribusi pelayanan pasar. b. Pelaksanaan koordinasi. UPTD Pengelolaan Pasar memiliki tugas pokok. d. c. Perumusan kebijaksanaan teknis di bidang pengelolaan pasar. Penyusunan rencana program dan rencana kerja UPTD pasar.

Pedagang-pedagang tersebut dikenakan tarif retribusi sesuai ketentuan yang berlaku.Tabel 10. . Besarnya Tarif Retribusi Pasar di Wilayah Kota Bogor (Tarif Rp/M2/hari) KELAS PASAR Pasar Regional Pasar Kota Pasar Wilayah Pasar Lingkungan KIOS 0 – 5 m2 600 550 500 450 > 5 m2 650 600 550 500 0 – 5 m2 550 500 450 400 LOS > 5 m2 600 550 500 450 Sumber : Perda Kota Bogor Nomor 3 Tahun 2006 Para pedagang yang melakukan kegiatan jual beli terdiri dari pedagang tetap dan pedagang musiman. Ada juga pedagang yang berjualan di depan kios orang lain. Pedagang tetap adalah mereka yang memiliki kios dan los di dalam pasar. Sedangkan pedagang tidak tetap atau yang bersifat musiman umumnya berjualan di pelataran jalan atau tempat parkir. Sedangkan pedagang kaki lima tidak dikenakan tarif retribusi.

Keberadaan Pasar Ramayana . Pasar Tanah Baru di Kecamatan Bogor Utara d. Pasar Bubulak di Kecamatan Bogor Barat e. Pasar Ramayana terletak di Kecamatan Bogor Tengah dan bekas lokasinya sekarang dibangun Bogor Trade Mall. Pasar tradisional yang akan dibangun sebagai berikut : a. KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL 5. Hal ini kemudian menjadi salah satu dasar dari perumusan kebijakan perdagangan. Pasar Cimanggu di Kecamatan Tanah Sareal c. Pasar ini merupakan pasar induk untuk sayur mayur yang melayani wilayah Kota Bogor dan sekitarnya. juga mengakibatkan menumpuknya arus orang dan barang ke pusat kota yang pada akhirnya menimbulkan dampak seperti kemacetan lalu lintas dan pencemaran lingkungan. Atas dasar itu.V. Kebijakan ini dimaksudkan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi di daerahdaerah pinggiran. Proses Perencanaan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional Keberadaan pasar tradisional yang berada di tengah kota telah menyebabkan ketimpangan pertumbuhan pembangunan ekonomi yaitu masih terpusatnya kegiatan perekonomian di pusat kota. Pasar Katulampa di Kecamatan Bogor Timur b. dalam RTRW Kota Bogor 1999-2009 telah direncanakan untuk merelokasi pasar dari pusat kota ke daerah pinggiran dan membangun pasar-pasar di setiap kecamatan.1. Kondisi ini selain menimbulkan ketidakmerataan hasil pembangunan. Pasar yang dipindahkan adalah Pasar Ramayana. Pasar Pamoyanan di Kecamatan Bogor Selatan Salah satu program yang berkaitan dengan RTRW Kota Bogor 1999-2009 yaitu memindahkan pasar tradisional yang lokasinya terletak di tengah kota ke daerah pinggiran.

Pemda Kota Bogor menetapkan kebijakan untuk memindahkan lokasi Pasar Ramayana. Kesepakatan antara Pemerintah dan pihak swasta berupa sistem sewa kontrak. Pemerintah melalui pihak pengelola pasar melaksanakan sosialisasi terhadap pedagang di Pasar Ramayana dan warga sekitar pasar. 2 Berdasarkan pernyataan dari narasumber di Bapeda Kota Bogor dan Disperindagkop Kota Bogor . kemudian terdapat tawaran dari pihak swasta untuk membangun dan mengelola Pasar Kemang dan Pasar Cimanggu. Pada akhirnya ditetapkan bahwa Pasar Ramayana akan direlokasi ke tiga tempat yaitu Pasar Induk Jambu Dua. Pedagang yang mau direlokasi harus membayar uang muka terlebih dahulu untuk pembayaran kios. Adanya pasar ini telah menimbulkan kemacetan lalu lintas dan menebarkan bau yang tidak sedap bagi lingkungan sekitar akibat sampah yang menumpuk. Pasar Induk Kemang dan Pasar Grosir Cimanggu. Pihak pengelola pasar mendata pedagang yang mau direlokasi ke pasar lain. Sebelum pemindahan Pasar Ramayana dilaksanakan. yaitu pihak swasta menyerahkan biaya sewa dan pajak selama masa kontrak dan apabila masa kontrak telah habis maka pengelolaan pasar diserahkan kembali kepada Pemerintah.yang berada di tengah kota menimbulkan banyak keluhan dari warga Bogor yang tinggal di sekitar pasar tersebut2. Pada mulanya lokasi yang menjadi tempat pemindahan Pasar Ramayana hanya Pasar Jambu Dua. Pasar Jambu Dua disiapkan dengan dibangun kios dan los sejumlah 750 buah sesuai dengan data pedagang yang mau pindah. Pemerintah melakukan suatu uji kelayakan yang dilaksanakan oleh Bapeda Kota Bogor untuk menentukan apakah lokasi yang akan menjadi tujuan pemindahan merupakan lokasi strategis.

Sosialisasi mengenai pembangunan pasar tradisional di empat kecamatan dilakukan oleh Dinas Informasi, Pariwisata dan Kebudayaan melalui media massa, sedangkan pada desa-desa sekitar pasar yang akan dibangun sosialisasi dilakukan oleh aparat kelurahan dan kecamatan untuk menyampaikan maksud dan tujuan pembangunan pasar tradisional.

5.2. Penerapan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional 5.2.1. Pemindahan Pasar Induk Ramayana
Relokasi Pasar Ramayana dilaksanakan setelah pembangunan dan persiapan Pasar Jambu Dua, Pasar Kemang dan Pasar Cimanggu selesai. Pemindahan pedagang Pasar Ramayana ke ketiga pasar tersebut dilakukan dengan undian. Pedagang akan mendapatkan kios baru di pasar yang sesuai dengan undian yang diperolehnya. Pedagang yang tidak mau pindah ke ketiga pasar tersebut lebih memilih menjadi pedagang kaki lima (PKL) di Pasar Bogor pada malam hari dan Pasar Kebon Kembang. Tidak semua pedagang eks Ramayana menempati kios di Pasar Jambu Dua, karena sebagian ada yang menempati Pasar Kemang dan Cimanggu. Pemindahan pedagang Pasar Ramayana ke Pasar Jambu Dua dilakukan pada tanggal 28 Juli – 9 Agustus 2000. Pasar Ramayana ditutup secara resmi pada tanggal 10 Agustus 2000. Kondisi Pasar Induk Jambu Dua, Pasar Induk Kemang dan Pasar Grosir Cimanggu pasca relokasi Pasar Ramayana sebagai berikut: a) Pasar Induk Jambu Dua Pasar Induk Jambu Dua (Gambar 3) dibangun oleh PT. Graha Agung Wibawa tahun 1995 dan mulai beroperasi pada Agustus 2002. Pasar Jambu Dua terletak di Jl. Ahmad Yani, Kecamatan Bogor Utara, yang memiliki luas lahan dan bangunan

sebesar 9.780 m2 terbagi menjadi dua blok, yaitu blok A dan B dengan luas masing-masing 2.472 m2 dan 3.108 m2, sedangkan sisanya adalah luas jalan sebesar 4.200 m2. Pembangunan Pasar induk Jambu Dua telah sesuai dengan rencana yaitu los dengan ukuran 1,5 m x 2 m yang jumlahnya mencapai 756 los. Pedagang yang memiliki tempat berdagang berupa los membuat sekat sendiri sehingga bentuknya mirip dengan kios. Semua pedagang yang menempati los telah membeli los tersebut. Pembelian tempat untuk los tersebut ditangani oleh PT. Graha Agung Wibawa. Pengelolaan pasar ditangani oleh pihak Pemda, yang meliputi pemungutan tarif retribusi dan penanganan sampah. Sebagian pedagang Pasar Jambu Dua merupakan pedagang grosir tetapi masih banyak juga yang merupakan pedagang eceran. Di pasar ini hanya blok A yang aktif dalam kegiatan jual beli sayuran, sembako, daging dan beberapa keperluan rumah tangga lainnya, sedangkan di blok B hanya terdapat beberapa orang pedagang yang berjualan. Los yang tersedia tidak terisi semuanya. Pembelinya pun masih berasal dari satu sisi yaitu dari Cibinong dan Depok serta penduduk sekitar pasar. Keramaian Pasar Jambu Dua masih relatif sepi dan komoditi yang diperjualbelikan masih kurang lengkap. Hal ini mengakibatkan banyak los yang tidak aktif atau tidak dipergunakan pemiliknya. Total los yang disediakan pemerintah sebanyak 756 los, tapi hanya sebanyak 335 los yang terisi dan sekitar 45 los yang aktif. Pedagang-pedagang di Pasar Jambu Dua sebagian besar berasal dari Pasar Ramayana. Aktivitas pasar dimulai pada pukul 15.00 WIB – 23.00 WIB dengan keramaian pasar hanya sekitar 3 – 4 jam saja. Akibatnya banyak pedagang Jambu

Dua yang menjadi PKL di sekitar Pasar Kebon Kembang dan Pasar Baru Bogor pada pagi hari dan baru berjualan di Pasar Jambu Dua sore harinya. Tetapi ada juga yang berjualan pagi hari di Pasar Jambu Dua namun malamnya mereka menjadi PKL di Pasar Baru Bogor dan di sekitar jalan Surya Kencana.

Gambar 3. Pasar Induk Jambu Dua
b) Pasar Grosir Cimanggu Pasar Cimanggu (Gambar 4) terletak di Jl. Raya Kemang, Kecamatan Tanah Sareal dengan luas sekitar 3,3 ha. Pasar ini dibangun oleh PT. Mayo Waya. Pembangunan Pasar Cimanggu telah sesuai dengan rencana berupa los, kios dan ruko. Los terdiri dari dua ukuran yaitu 2 m x 3 m dan 2 m x 6 m, sedangkan kios berukuran 3 m x 5 m. Adapun ukuran ruko adalah sebesar 4,5 m x 10 m. Pasar Cimanggu dibangun untuk menampung pedagang Pasar Ramayana yang tidak dapat ditampung oleh Pasar Jambu Dua. Kegiatan operasional pasar dimulai setelah para pedagang di Pasar Ramayana dipindahkan. Keramaian Pasar Cimanggu hanya bertahan hingga tiga bulan. Awal mula kegiatan pasar dioperasionalkan masih banyak pedagang yang berdagang di Pasar Cimanggu, akan tetapi pembeli yang berkunjung sedikit karena hanya berasal dari penduduk sekitar kompleks Taman Yasmin. Hal ini mengakibatkan banyak pedagang yang gulung tikar, sehingga mereka pindah ke Pasar induk Kemang.

Kyai H. 27 blok untuk los yang terdiri dari 1. Pedagang yang memiliki kios sekitar 60 orang dan pedagang yang . Pada tahun 1999. Pasar Grosir Cimanggu c) Pasar Induk Kemang Pasar Induk Kemang (Gambar 5) terletak di Jl. Pasar Induk Kramat Jati. Kecamatan Tanah Sareal dengan luas 3. Teknik Umum bekerja sama dengan PT. Desa Cibadak. Pasar Induk Kemang berada di bawah pengelolaan PT. Pedagang yang aktif sebanyak 600 orang terdiri dari sebagian besar pedagang Pasar Ramayana. Pasar ini dibangun oleh PT. Galvindo Ampuh. Fradanita Sakti pada tahun 1996.5 m x 2 m. Kegiatan operasionalnya mulai berjalan tanggal 11 Agustus 2000 dengan jumlah kios sebanyak 104 buah.516 buah dengan ukuran 2 m x 3 m serta los mini sebanyak 895 buah dengan ukuran 1. Gambar 4. Soleh Iskandar.7 ha. dibagi menjadi 4 blok dengan ukuran 3 m x 4 m per kios. artinya tidak ada puncak-puncak keramaian.Pasar Cimanggu beroperasi selama 24 jam dengan kondisi yang stabil sepanjang waktu. Kelurahan Kayu Manis. pasar lainnya dan pedagang baru. Pedagang hanya dipungut tarif listrik dan kebersihan masing-masing sebesar Rp 1000 dan Rp 500 setiap harinya. Sampai saat ini belum ada pemungutan tarif retribusi yang dilakukan oleh pihak pengelola pasar.

Pasar Induk Kemang beroperasi dari pukul 13. Serang dan Jakarta. Pasar ini merupakan pasar yang benar-benar berfungsi sebagai pasar induk di antara kedua pasar induk baru lainnya. Pembangunan Pasar Tradisional Untuk mendukung pemerataan pertumbuhan ekonomi. Kebijakan tersebut bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat.2. Hal ini terlihat dari pedagang yang terdapat di Pasar Induk Kemang merupakan pedagang grosiran.00 WIB – 23. Tangerang.2. terlihat dari konsentrasi pembeli berasal dari berbagai daerah seperti Kabupaten Bogor. Dengan demikian terdapat kios dan los yang tidak aktif. Pasar Induk Kemang 5. Pasar Induk Kemang relatif ramai dibandingkan pasar induk baru lainnya. Sampai saat ini belum ada pemungutan tarif retribusi terhadap para pedagang. Hasil yang diharapkan dari kegiatan tersebut adalah tersedianya sarana perekonomian sebagai salah satu wadah untuk menggerakkan dan .memiliki los sekitar 500 orang. Gambar 5. Ciputat. Pemerintah Kota Bogor menetapkan untuk membangun pasar tradisional di empat kecamatan.00 WIB sampai pagi hari dengan keramaian pada pukul 16. Pedagang hanya dipungut untuk membayar keamanan dan kebersihan masingmasing sebesar Rp 500 dan Rp 1000 setiap harinya.00 WIB.

bahkan ada pula yang sudah memakai pintu rolling door. Jumlah kios dan los yang telah dibangun adalah sebanyak 120 los dengan ukuran 2 x 2 meter yang dikelompokkan atas pedagang sembako.00. Hingga saat ini baru tiga pasar yang telah direalisasikan pembangunannya yaitu sebagai berikut : a) Pasar Tanah Baru Pasar Tanah Baru (Gambar 6) dibangun atas keinginan warga sekitar Desa Tanah Baru yang disampaikan oleh aparat kelurahan melalui kegiatan musyawarah pembangunan desa (musbangdes). Sampai saat ini los yang telah dimiliki pedagang sebanyak 94 los dan yang terisi sebanyak 46 los.menumbuhkan ekonomi wilayah sehingga kegiatan ekonomi masyarakat dapat berkembang dengan baik serta terbukanya kesempatan. Kepemilikan kios dilakukan tanpa adanya uang muka.000. antar los satu dengan lainnya hanya dibatasi oleh garis saja. pakaian. maka mulailah dilakukan penataan-penataan dengan melakukan penyekatan dengan kayu. Namun setelah APBD disetujui. Namun yang benar-benar aktif berjualan hanya sebanyak 10 los saja. berdekatan dengan lokasi rencana pembangunan terminal type B. buah-buahan dan sayuran. Pasar ini dibangun pada tahun 1999-2000 pada lahan seluas ± 2. ternyata harga lahan di tempat tersebut sudah melebihi anggaran yang disiapkan sehingga pemerintah mengalihkan ke lokasi baru yaitu di pinggir Jalan Tanah Baru sesuai usulan Pemerintah Desa Tanah Baru. harga jual akan .400 m2 dengan anggaran Rp 385. masing-masing sebanyak 24 los yang dibuat berderet per baris. Namun setelah los tersebut dimiliki oleh para pedagang. kelontong.267. Pemerintah pada awalnya hanya membangun emplacement dengan penutup asbes. Lokasi pasar ditetapkan pertama kali di Desa Cibuluh.

pemerintah juga telah membangun pasar tradisional di Kelurahan Pamoyanan.00. Gambar 6.500. Pasar Tanah Baru b) Pasar Pamoyanan Selain di Kelurahan Tanah Baru.00.000.282. Penentuan kios dilakukan secara undian dengan mendahulukan warga sekitar pasar dengan perbandingan 60 persen warga Kelurahan Tanah Baru dan 40 persen penduduk luar. Pada tahun 2001 dilakukan pengadaan tanah dan pembangunan . Pengembangan Pasar Pamoyanan menghabiskan dana sebesar Rp 404. Pemda Kota Bogor telah berupaya untuk memperbaiki kondisi fisik pasar yaitu dengan program Penataan Pasar Tradisional Tanah Baru dengan anggaran dana sebesar Rp 12. Daerah ini merupakan daerah dengan penduduk yang masih jarang namun didukung dengan kondisi jalan yang cukup baik dan adanya angkutan perkotaan. Program ini bertujuan untuk menyempurnakan sarana penunjang di Pasar Tanah Baru seperti fasilitas mushola. Lokasi Pasar Pamoyanan (Gambar 7) berada di jalan alternatif Bogor – Sukabumi melalui Caringin.355. toilet serta perbaikan atap dan sekat los. Pasar Pamoyanan dibangun dengan tujuan untuk menampung pedagang yang belum memiliki kios/los.ditentukan setelah pasar benar-benar berkembang. Untuk meningkatkan aktivitas perdagangan di Pasar Tanah Baru.

Pembeli yang datang ke pasar ini pun hanya sebatas penduduk sekitar pasar saja.000. Kondisi wilayahnya pada waktu itu merupakan daerah jarang penduduk. dan sampai dengan akhir . Status pasar saat ini masih tidak aktif dalam kegiatan jual beli karena sepinya pedagang. Kios tersebut dimiliki oleh penduduk sekitar pasar.720. Pasar Pamoyanan dibangun dengan luas sekitar ±1.000. Penduduk sekitar pasar lebih memilih membeli kebutuhan pokok langsung ke Pasar Sukasari karena harga yang lebih murah dan barang yang lebih lengkap.200 m2 dengan jumlah kios sebanyak 72 buah. Sampai saat ini tidak ada kegiatan jual beli sayuran. hanya sekitar 2 buah kios yang berjualan. sembako dan kebutuhan pokok lainnya di pasar ini.00.00. dan barang yang diperdagangkan berupa alat-alat listrik dan barang-barang kebutuhan pokok. Gambar 7. yang merupakan jalan baru hasil pembangunan.000. Pembangunan Pasar Bubulak mendapat alokasi dana Rp 500.pasar tradisional di Kelurahan Pamoyanan yang menghabiskan dana sebesar Rp 199. namun dengan adanya jalan tersebut dan pembangunan Terminal Bubulak menjadikan wilayah ini berpotensi untuk berkembang lebih cepat. Pasar Pamoyanan c) Pasar Bubulak Rencana lokasi Pasar Bubulak (Gambar 8) berada di lintasan Jalan Baru Kemang – Sindang Barang.

3. pembuatan pagar pembatas dengan panjang 220 m. Program Pendukung Lainnya Berbagai upaya lain yang telah dilaksanakan oleh pemerintah untuk meningkatkan peran dan fungsi pasar sebagai salah satu media bagi berlangsungnya kegiatan perdagangan di tingkat masyarakat antara lain: .460 m. sehingga bangunan pasar tidak dimanfaatkan sama sekali. 5. Saat ini bangunan pasar telah dialihfungsikan sebagai terminal bis Trans Pakuan. ketiga pasar tradisional tersebut belum dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) karena sepinya pedagang sehingga belum bisa memberikan kontribusi PAD berupa retribusi. kegiatan operasional pasar tidak berjalan. pembangunan talud sepanjang 256 m dan pembangunan saluran air sepanjang 196 m. Dengan demikian. Hal ini karena tidak ada pedagang yang mau menempati los di pasar ini. Pembangunan Pasar Bubulak didukung dengan adanya pembangunan jalan masuk ke areal pasar sepanjang 1.2. Sejak dibangun hingga saat ini. Pasar Bubulak Sampai saat ini. pengelolaan pasar masih ditangani oleh aparat kelurahan dan kecamatan.Desember 2003 telah terealisasi satu unit pasar dengan kapasitas 72 unit los dengan ukuran 2 m x 2 m. Gambar 8.

untuk mengetahui tingkat perkembangan harga bahan kebutuhan pokok masyarakat sebagai bahan penghitungan inflasi. d) Optimalisasi pemanfaatan kios dan los berupa anjuran kepada pemilik kios untuk segera menempati kios dan losnya. b) Penataan dan penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL). penertiban pemanfaatan kios serta peningkatan kemampuan SDM pengelola pasar melalui diklat atau pelatihan. serta sebagai upaya pengendalian stock barang.a) Memantau lalulintas barang dan jasa. c) Pengembangan sistem informasi dan pemasaran dengan tujuan untuk menciptakan informasi pasar. bertujuan untuk meminimalisasi jumlah PKL yang terkonsentrasi di pusat kota sehingga dapat disebar ke berbagai wilayah Kota Bogor. . harga dan hasil produk serta mempromosikan produk dalam rangka perluasan pasar.

VI. Intensitas pengaruh dan kepentingan stakeholders didasarkan pada bentuk interaksi. Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota Bogor. Stakeholders primer merupakan mereka yang dipengaruhi secara langsung. baik secara positif (penerima manfaat) atau negatif (terkena dampak negatif) akibat pengembangan pasar tradisional. Masing-masing stakeholders memiliki tingkat kepentingan dan pengaruh yang berbeda-beda. Hasil analisis stakeholders ditunjukkan pada Tabel 11. Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Kota Bogor. yaitu kelompok pedagang. keuntungan dan dampak yang dihasilkan terhadap kebijakan pengembangan pasar tradisional serta posisi yang kuat dalam setiap pengambilan keputusan yang akan dilakukan. Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kota Bogor dan pihak pengelola pasar pemerintah (UPTD). ANALISIS STAKEHOLDERS Hasil analisis stakeholders yang dilakukan menunjukkan terdapat beberapa stakeholders yang terkait dalam perencanaan dan pelaksanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor. . Penggolongan stakeholders dibuat berdasarkan tingkat kepentingannya terhadap kebijakan pengembangan pasar tradisional. Dinas Tata Kota dan Pemukiman (DTKP) Kota Bogor dan pengelola pasar swasta. Stakeholders sekunder merupakan mereka yang terkait dengan kebijakan secara tidak langsung dalam proses pengembangan pasar tradisional. Perencanaan dan pelaksanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor dipengaruhi oleh tingkat kepentingan dan tingkat pengaruh stakeholders. Pihak yang tergolong stakeholders sekunder adalah Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bogor.

Hasil Analisis Stakeholders dalam Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor Kriteria Evaluasi Stakeholders Masyarakat Pedagang Kepentingan Meningkatkan aktivitas ekonomi (berdagang) Meningkatkan kesejahteraan hidup Pelaksanaan penyusunan perumusan kebijakan perencanaan daerah.Tabel 11. penyusunan program serta kebijakan keuangan Mengatur koordinasi antar instansi Pemda dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis Pelaksanaan kebijakan teknis operasional di bidang perdagangan (pasar tradisional) Pembinaan terhadap pedagang Pelaksana teknis dalam pengelolaan pasar Pembinaan terhadap pedagang Pelaksana teknis dalam pembangunan fasilitas umum (termasuk pasar tradisional) Pengendalian tata kota Menjaga kualitas lingkungan dan kebersihan kota termasuk lingkungan pasar tradisional Sikap 2 SDM 2 Kekuatan Finansial Politik 2 1 Pengaruh 5 Total 10 Keterlibatan Terlibat Keputusan Tingkat Keterlibatan Penerima informasi Bapeda 3 5 5 5 15 45 Terlibat Pengambilan keputusan kebijakan Disperindagkop UPTD DTKP 3 2 2 5 3 5 5 3 5 4 2 4 14 8 14 42 16 28 Terlibat Terlibat Terlibat Pengambilan keputusan kebijakan Pemberi pertimbangan Pemberi pertimbangan DLHK Dispenda 2 5 5 4 14 28 Terlibat Terlibat Tidak terlibat Pemberi pertimbangan Pemberi pertimbangan Tidak terlibat Pembukuan dan pelaporan PAD termasuk retribusi pasar tradisional Pengelola Pasar Meningkatkan pengelolaan pasar secara Swasta profesional Sumber: Data primer (diolah) 2 1 5 3 5 3 4 1 14 7 28 7 .

Disperindagkop Kota Bogor 3. Masyarakat pedagang 4. Stakeholders yang memiliki kepentingan rendah merupakan stakeholders sekunder yang kepentingannya dipengaruhi secara tidak langsung terhadap kebijakan. UPTD 5. Hasil dari kajian pada Tabel 11 digunakan sebagai dasar dalam penyusunan matriks kepentingan dan pengaruh stakeholders dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor seperti yang ditunjukkan pada Gambar 9a. birokrasi dan struktural. Matriks Kepentingan dan Pengaruh Stakeholders dalam Pelaksanaan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor . DTKP Kota Bogor 8. Tinggi C *8 *6 *7 B *1 *2 Tingkat Pengaruh D A *4 *5 *3 Keterangan: 1. Bapeda Kota Bogor 2. Pengaruh stakeholders yang berbeda-beda dalam kebijakan ini dipengaruhi oleh politik. Stakeholders yang memiliki kepentingan tinggi merupakan stakeholders primer yaitu yang kepentingannya dipengaruhi secara langsung oleh kebijakan. ekonomi dan budaya. Pengelola pasar swasta 6.Tabel 11 memperlihatkan tingkat pengaruh dan kepentingan masingmasing stakeholders dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional. Dispenda Kota Bogor Rendah Tingkat Kepentingan Tinggi Sumber: Data primer (diolah) Gambar 9a. Kepentingan stakeholders dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional dipengaruhi oleh faktor sosial. DLHK Kota Bogor 7.

Gambar 9a menunjukkan bahwa stakeholders yang memiliki pengaruh dan kepentingan tertinggi adalah Bapeda Kota Bogor dan Disperindagkop Kota Bogor terkait dengan kebijakan pengembangan pasar tradisional. Bapeda merupakan lembaga pemerintah yang bertugas mengumpulkan semua data dan program yang direncanakan oleh semua instansi-instansi pemerintah di wilayah Kota Bogor. Seluruh data dan program tersebut bersumber mulai dari tingkat masyarakat desa, kelurahan, kecamatan dan disampaikan dalam Musyawarah Rencana

Pembangunan (Musrenbang). Penentuan hasil dan keputusan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan harus berdasarkan program prioritas pembangunan nasional yang tertuang pada rancangan awal rencana kerja pembangunan. Hasil yang didapat oleh Bapeda dituangkan dalam bentuk Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK). Melalui RTRW dan RDTRK, Bapeda menuangkan apa yang menjadi keinginan dari masing-masing instansi pemerintah dengan tujuan untuk menciptakan kesinergisan dan tidak terjadi tumpang tindih kepentingan masing-masing instansi. Bapeda memiliki peran dan pengaruh yang kuat dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional. Peran Bapeda yaitu merencanakan pembangunan wilayah Kota Bogor dalam skala makro di semua bidang kerja Kota Bogor termasuk di bidang perdagangan. Pada kebijakan pengembangan pasar tradisional ini, Bapeda yang merencanakan kebijakan pemindahan Pasar Ramayana dan pembangunan pasar tradisional di setiap kecamatan dengan tujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di setiap wilayah. Bapeda juga menentukan

lokasi pasar yang akan jadi pasar pengganti dan lokasi yang akan dibangun pasar tradisional. Tingkat kepentingan Bapeda Kota Bogor terhadap kebijakan

pengembangan pasar tradisional tinggi karena berdasarkan pada tugas pokoknya dalam upaya perencanaan dan pembangunan daerah serta mengkoordinasikan progam kegiatan seluruh instansi pemerintah kedinasan Kota Bogor agar berjalan sesuai dengan prioritas pembangunan daerah. Bapeda merupakan pihak yang memiliki pengaruh tertinggi dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional berdasarkan tingkat kewenangannya dalam merencanakan suatu kebijakan. Bapeda memiliki wewenang dalam mempengaruhi dan mengarahkan kebijakan mulai dari perencanaan lokasi hingga tahap implementasi. Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kota Bogor memiliki tugas pokok yaitu melaksanakan sebagian urusan rumah tangga daerah di bidang perdagangan, perindustrian dan koperasi serta melaksanakan program yang telah ditetapkan oleh Bapeda. Fungsi Disperindagkop di antaranya yaitu di bidang perdagangan dengan melakukan pengawasan terhadap barang-barang yang dijualbelikan di pasar, baik pasar tradisional maupun pasar modern.

Disperindagkop juga berfungsi dalam melakukan pembinaan dan pemberdayaan terhadap pedagang, usaha kecil menengah (UKM) dan koperasi dalam hal permodalan, kebutuhan fasilitas kredit serta melaksanakan program untuk peningkatan sarana dan prasarana pasar. Oleh karena itu, Disperindagkop memiliki tingkat kepentingan dan pengaruh yang tinggi. Pada kebijakan pengembangan pasar tradisional, Disperindagkop

merupakan instansi pemegang tanggungjawab dalam pelaksanaan program

pemindahan Pasar Ramayana dan pembangunan pasar tradisional. Disperindagkop memiliki kekuatan untuk mempengaruhi keputusan yang diambil terkait dengan pengambilan keputusan kebijakan karena Disperindagkop memiliki wewenang dalam mengelola dana proyek serta menentukan bentuk kegiatan yang dapat dilakukan atau tidak dapat dilakukan dalam kebijakan ini. Masyarakat sebagai sasaran program dalam hal ini khususnya pedagang memiliki kepentingan tertinggi, tetapi tidak memiliki kekuatan untuk

mempengaruhi kebijakan pengembangan pasar tradisional. Mereka memiliki kepentingan tertinggi karena pasar tradisional merupakan tempat mereka bekerja sehingga kebijakan pengembangan pasar tradisional akan mempengaruhi tingkat pendapatan mereka. Namun tingkat kekuatan pedagang dalam kebijakan ini rendah sehingga mereka tidak memiliki pengaruh dalam pengambilan keputusan kebijakan. Mereka hanya dilibatkan dalam proses perencanaan yaitu ketika Pasar Ramayana akan dipindah melalui musyawarah antara kelompok pedagang dan pejabat pemerintah. Keluhan-keluhan pedagang selama ini disampaikan kepada pihak pengelola pasar, yang kemudian akan disampaikan oleh pihak pengelola pasar kepada Disperindagkop. Pihak pengelola pasar pemerintah (UPTD) memiliki kepentingan tinggi terhadap kebijakan pengembangan pasar tradisional. Hal ini didasarkan pada tugas pokok UPTD sebagai pengelola pasar pemerintah yang berkaitan langsung dengan pedagang yaitu melakukan pengelolaan pasar terutama dalam hal pendataan pedagang dan penarikan retribusi. UPTD tidak memiliki kekuatan untuk ikut mengambil keputusan dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional karena secara struktural dan birokrasi UPTD berada di bawah Kepala Disperindagkop,

Pada pembahasan rencana kebijakan. Ketiga stakeholders tersebut memiliki tingkat pengaruh yang tinggi dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional karena secara birokrasi dan struktural ketiga instansi tersebut memiliki posisi yang sama dengan Bapeda dan Disperindagkop. Kepentingan rendah pada tiga stakeholders tersebut karena ketiga instansi ini tidak terlibat secara langsung dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional. sehingga masalah sampah pasar menjadi tanggung jawab dari DLHK. mereka dapat memberikan pertimbangan sesuai dengan fungsi masing-masing instansi yang dapat mempengaruhi hasil perencanaan kebijakan. Kepentingan mereka terhadap kebijakan ini hanya terbatas pada tugas pokok dan fungsi masing-masing instansi. Ketiga instansi ini memiliki tingkat pengaruh yang tinggi namun tingkat kepentingannya terhadap kebijakan rendah. Padahal pihak UPTD yang menerima keluhan langsung dari para pedagang. Instansi lain yang ikut terlibat dalam kebijakan ini yaitu Dispenda. sehingga tugasnya terbatas pada pembangunan fisik pasar sesuai rencana yang telah ditentukan oleh Bapeda. sedangkan DTKP berfungsi sebagai pelaksana teknis yaitu pemegang proyek untuk pembangunan pasar tradisional. . Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan memiliki tugas untuk menjaga kebersihan lingkungan Kota Bogor. Dispenda memiliki kepentingan rendah karena hanya berkaitan dengan pembukuan dan laporan penerimaan retribusi pasar tradisional. DLHK dan DTKP Kota Bogor.sehingga kekuatan pengaruh UPTD dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional tergolong rendah yaitu terbatas pada usulan-usulan yang tercantum dalam laporan pertanggungjawaban UPTD.

Sedangkan bagi stakeholders yang memiliki pengaruh dan kepentingan rendah maka tindakan yang perlu dilakukan cukup dengan melakukan pengawasan (monitor) tanpa perlu terlibat secara langsung dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional. sehingga mereka tidak dilibatkan dalam proses kebijakan pengembangan pasar tradisional.Pihak swasta sebagai pengelola pasar memiliki kepentingan dan pengaruh yang rendah karena kepentingan mereka hanya terbatas pada pasar yang mereka kelola saja. Stakeholders yang memiliki kepentingan yang tinggi. Akibatnya dalam . tingkat kepentingan dan pengaruh stakeholders memiliki hubungan yang erat. Pedagang dan pihak pengelola pasar yang memiliki kepentingan tinggi terhadap kebijakan pengembangan pasar tradisional tidak memiliki tingkat pengaruh yang tinggi dalam pengambilan keputusan. Tindakan bagi stakeholders yang memiliki kepentingan tinggi dengan pengaruh rendah adalah dilibatkan dalam hal penyaluran data dan informasi mengenai potensi pasar tradisional dan upaya pengembangannya. Pada kenyataannya stakeholders yang memiliki kepentingan tinggi justru tidak memiliki kekuatan dalam mempengaruhi kebijakan pengembangan pasar tradisional. Stakeholders yang memiliki kepentingan rendah dengan pengaruh tinggi dapat dilibatkan untuk memberi pertimbangan dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional. Tindakan yang perlu dilakukan bagi stakeholders yang memiliki pengaruh dan kepentingan tinggi adalah pelibatan stakeholders dalam setiap pengambilan keputusan dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional. Pada kondisi ideal (Gambar 9b). akan memiliki kekuatan yang tinggi pula dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional.

pemerintah kurang mendapat informasi mengenai kondisi riil di lapangan karena tidak dilibatkannya pedagang.perencanaan dan penyusunan kebijakan. UPTD dan pengelola swasta. Masyarakat pedagang 4. Matriks Kepentingan dan Pengaruh Stakeholders pada Kondisi Ideal dalam Pelaksanaan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor Gambar 9b menunjukkan kondisi yang seharusnya terjadi dari tingkat pengaruh dan kepentingan stakeholders yang terlibat dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor. Masyarakat pedagang yang memiliki kepentingan tertinggi seharusnya memiliki tingkat pengaruh yang tinggi pula dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional. DTKP Kota Bogor 8. UPTD 5. Oleh karena itu. kebijakan yang dihasilkan pun akhirnya menjadi tidak tepat karena lebih mementingkan kepentingan dari pemerintah saja tanpa mengakomodir kepentingan pedagang dan masyarakat. Tinggi C *8*6 *7 B *1 *2 *3 *4 Tingkat Pengaruh D A *5 Keterangan: 1. DLHK Kota Bogor 7. Disperindagkop Kota Bogor 3. Bapeda Kota Bogor 2. Hal ini dikarenakan kebijakan pengembangan pasar tradisional disusun untuk mengakomodir kepentingan pedagang sehingga dengan adanya kebijakan ini pedagang tidak akan . Pengelola pasar swasta 6. Dispenda Kota Bogor Rendah Tingkat Kepentingan Sumber: Data primer (diolah) Tinggi Gambar 9b.

Keterlibatan masyarakat pedagang dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional ini yaitu dengan keterlibatan komunitas pedagang pasar melalui asosiasi pedagang untuk menjadi mitra pemerintah dalam mengelola pasar. dengan dilibatkannya pedagang akan lebih menarik konsumen karena pedaganglah yang mengerti kondisi riil konsumennya. Dengan demikian kemungkinan kebijakan ini untuk berhasil dilaksanakan akan semakin besar. karena pihak UPTD-lah yang benar-benar berhubungan dengan para pedagang dan konsumen di pasar sehingga mereka mengerti kondisi riil di lapangan. maka dukungan terhadap kebijakan akan bertambah dalam artian tidak ada pedagang yang akan menolak kebijakan. Pihak swasta sebagai pengelola pasar juga seharusnya dilibatkan dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional. Selain itu. Selain itu. Pihak swasta dapat mengelola pasar milik pemerintah secara profesional sehingga pasar tradisional dapat berkembang secara mandiri dan tidak tergantung pada anggaran pemerintah. Keterlibatan UPTD dalam penyusunan kebijakan akan sangat berguna dalam perumusan kebijakan yang tepat sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. namun mereka memiliki potensi untuk berpengaruh terhadap kebijakan pengembangan pasar tradisional. . dengan dilibatkannya para pedagang dalam perencanaan kebijakan. Pihak UPTD sebagai pengelola pasar pemerintah juga seharusnya memiliki tingkat pengaruh yang tinggi dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional. sehingga dengan dilibatkannya pedagang dalam mengelola pasar maka mereka juga akan ikut menjaga kebersihan dan kenyamanan pasar sehingga lebih bersih dan rapi.merasa dirugikan. Meskipun peran mereka hanya terbatas pada pasar yang mereka kelola saja.

. Dinas ini memiliki kewajiban untuk menindaklanjuti keluhan pedagang. pengelola pasar dan pedagang sehingga pada akhirnya seluruh pihak dapat dipuaskan dengan adanya kebijakan. Studi kelayakan ini merupakan salah satu bentuk partisipasi dari keterlibatan masyarakat dalam penyusunan kebijakan. Diskusi ini dilakukan untuk menjembatani perbedaan-perbedaan kepentingan antara pemerintah.Sebelum pemerintah melakukan suatu kebijakan pengembangan pasar tradisional maka seharusnya dilakukan studi kelayakan yang komprehensif terlebih dahulu untuk mengetahui kondisi riil di lapangan. Perlu dibentuk dinas atau lembaga yang menangani keluhan pedagang/masyarakat selama proses perencanaan sampai dengan pelaksanaan kebijakan. Apabila kesepakatan telah tercapai maka seluruh pihak harus mau menaati kebijakan dan ditetapkan sanksi bagi yang melanggar kebijakan yang telah disepakati. Adanya diskusi bukan hanya mengenai sosialisasi kebijakan kepada pedagang saja namun pemerintah juga harus mendengarkan keberatan-keberatan dari pihak pedagang dan mencari solusi bersama. Pengelola pasar (UPTD) perlu diberikan pelatihan khusus agar dapat mengelola manajemen pasar secara lebih profesional. Pedagang juga memiliki hak atas informasi apapun yang berkaitan dengan kebijakan pengembangan pasar tradisional. Studi kelayakan yang dilakukan dapat berupa diskusi atau musyawarah dengan warga dan pedagang untuk mengetahui kondisi riil di lapangan melalui suatu forum komunikasi.

Apabila dalam penyusunan kebijakan itu sendiri kurang tepat maka akan berdampak pada implementasi kebijakan.VII.72 persen. responsivitas . ANALISIS KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL Analisis kebijakan pengembangan pasar tradisional dilakukan untuk mengetahui penyebab ketidakberhasilan kebijakan di Kota Bogor. kemudian baru dikaji mengenai penyebab ketidakberhasilan kebijakan. proses penyusunan kebijakan pengembangan pasar tradisional yang benar sebesar 14.18 persen. Proses dalam perencanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional dapat mempengaruhi penerapan kebijakan yang pada akhirnya dapat mempengaruhi hasil kebijakan.1. partisipasi publik sebesar 13.20 persen. 7. akuntabilitas sebesar 12. Adanya penyimpangan dalam tahapan proses perencanaan dan perumusan kebijakan dapat memberikan petunjuk dalam menganalisis penyebab ketidakberhasilan kebijakan. Proses perencanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bogor dianalisis sesuai dengan kriteria dan indikator yang telah ditentukan (Lampiran 1). Analisis Proses Analisis proses dimaksudkan untuk mengetahui tahapan-tahapan perencanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional serta keterlibatan stakeholders. Faktor yang menyebabkan proses pembuatan kebijakan pengembangan pasar tradisional kurang tepat berdasarkan persepsi responden secara berurutan yaitu keterlibatan stakeholders sebesar 16. yaitu proses dan penerapan. Penyebab kegagalan kebijakan dalam pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor dapat dilihat dari dua aspek.24 persen.

61 persen.14 persen. ego sektoral sebesar 9.72 A B C 12. Transparansi G.64 16. Partisipasi Publik F.11 9.64 persen.14 4. Proses Penyusunan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional yang Benar B.20 7. Kebijakan Lain yang Tidak Tumpang Tindih dari Pengembangan Pasar Tradisional Gambar 10.sebesar 10.61 Keterangan : A. Hasil selengkapnya mengenai peringkat faktor penyebab ketidakberhasilan kebijakan pengembangan pasar tradisional dari segi proses pembuatan kebijakan dapat dilihat pada Gambar 10.24 I J 13.18 D E F G H 10. Akuntabilitas C.06 14. 7. Responsivitas H. Keterlibatan Stakeholders D. Peringkat (%) Faktor Penyebab Ketidakberhasilan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional dari Segi Proses Pembuatan Kebijakan Gambar 10 memperlihatkan urutan kriteria penyebab kurang berhasilnya kebijakan pengembangan pasar tradisional dari segi proses pembuatan kebijakan yaitu : .11 persen dan terakhir yaitu tersedianya dana yang memadai dan berkelanjutan sebesar 4. Ego Sektoral J. Tersedianya Dana yang Memadai dan Berkelanjutan I.06 persen.15 persen. kebijakan lain yang tidak tumpang tindih dari pengembangan pasar tradisional sebesar 7.15 9. Sosialisasi Kebijakan E. sosialisasi kebijakan sebesar 7. transparansi sebesar 9.

pihak swasta dan pedagang. Hal ini dikarenakan Bapeda yang merumuskan perencanaan dan menentukan lokasi tempat yang akan menjadi pengganti Pasar Ramayana serta menetapkan lokasi di setiap kecamatan di mana pasar tradisional akan dibangun. Pihak pengelola pasar pada waktu itu masih berupa Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) yang bertugas untuk menyampaikan sosialisasi kepada pedagang Pasar Ramayana mengenai rencana pemindahan dan mendata jumlah pedagang yang akan dipindah. Pada proses perencanaan kebijakan ini. teridentifikasinya kepentingan setiap stakeholders. ternyata tidak semua stakeholders yang terkait dengan kebijakan pengembangan pasar tradisional terlibat dalam proses pengambilan keputusan dalam perencanaan kebijakan. Hasil analisis stakeholders terlihat bahwa pedagang yang memiliki kepentingan tinggi tidak dilibatkan dalam proses perencanaan kebijakan. Keterlibatan stakeholders. Pihak swasta berperan sebagai developer. pemahaman fungsi. yaitu PT. Kriteria ini merupakan faktor utama yang menyebabkan kebijakan kurang berhasil mencapai tujuannya berdasarkan persepsi responden. Proses perencanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional ini seharusnya melibatkan tiga stakeholders utama yaitu pemerintah daerah diwakili oleh Bapeda dan UPTD. Hal tersebut dapat dilihat dari indikator keterlibatan seluruh pihak dalam proses perencanaan kebijakan ini. wewenang dan tanggungjawab dari stakeholders yang terlibat.1. dan stakeholders yang terlibat memahami program dengan baik. Mayo . Indikatornya yaitu melibatkan seluruh stakeholders yang berkepentingan dalam proses perencanaan. juga menilai apakah lokasi tersebut layak untuk dibangun pasar tradisional.7.1. Bapeda memiliki peran utama.

pedagang. Dispenda. DTKP. Bapeda. Disperindagkop. Bapeda. Pedagang hanya disosialisasikan mengenai rencana pemindahan pasar tetapi tidak ikut dilibatkan dalam proses penentuan tempat sebagai pasar pengganti. Analisis Proses Perencanaan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional No 1 Kegiatan Penyusunan kebijakan Stakeholders yang seharusnya terlibat Bapeda. Pemkec. Disperindagkop. developer Pada pelaksanaan program hanya melibatkan sebagian pedagang Sumber : Data primer (diolah) Tabel 12 menunjukkan bahwa pada proses perencanaan kebijakan. Tabel 12. Dispenda. Pasar Kemang dan Pasar Cimanggu. banyak pedagang yang menolak untuk pindah. DTKP. Dispenda. DTKP. pedagang. pengelola pasar Keterangan Kebijakan diusulkan dari tingkat desa untuk dibahas instansi pemerintah bersama Walikota Terdapat dominasi peran Bapeda 2 Perencanaan kebijakan 3 Pelaksanaan kebijakan UPTD. Adanya dominasi yang tinggi oleh Bapeda mengakibatkan proses perencanaan hanya didasarkan pada pandangan pihak Pemerintah dan kurang memahami kepentingan pedagang. pedagang. Disperindagkop. DLHK. Pemdes. Teknik Umum yang membangun Pasar Cimanggu. dominasi paling tinggi terdapat pada pihak Bapeda. Pemdes. DLHK. Bapeda. . pedagang UPTD. UPTD. Pada mulanya para pedagang setuju untuk dipindahkan ke Pasar Jambu Dua. developer Bapeda. DLHK. Disperindagkop. pedagang.Waya yang menangani relokasi Pasar Ramayana ke Pasar Jambu Dua dan Pasar Kemang serta PT. Dispenda Disperindagkop. DTKP. pengelola pasar Stakeholders yang terlibat Bapeda. UPTD. akan tetapi setelah Pemerintah menetapkan bahwa Pasar Ramayana akan dipindah ke tiga lokasi yaitu Pasar Jambu Dua. Dispenda. Disperindagkop. DTKP. DLHK. developer. UPTD. Pemkec. DLHK. DTKP.

Akibatnya Pasar Jambu Dua dan Pasar Cimanggu. Para pedagang berpendapat dengan dipindahkannya Pasar Ramayana ke tiga lokasi akan mengurangi keramaian ketiga pasar tersebut karena seluruh pedagang yang ada di Pasar Ramayana terpisah-pisah ke tiga lokasi.Selain itu. tidak dilakukan suatu uji kelayakan secara tepat terlebih dahulu. Indikatornya yaitu penyusunan kebijakan pengembangan pasar tradisional dibuat secara tertulis dan tersedia bagi setiap warga yang membutuhkan. Berdasarkan hasil wawancara terhadap responden. penentuan tempat pemindahan dilakukan secara undian sehingga pedagang harus mau menempati kios baru di pasar yang sesuai dengan undian yang diambilnya. pedagang yang menolak untuk pindah lebih memilih menjadi PKL di pasar-pasar lain seperti di Pasar Baru Bogor. terdapat kejelasan dari sasaran kebijakan yang diambil dan sesuai dengan visi yang dirumuskan dan misi yang diemban. Pasar Kebon Kembang dan di sekitar Jalan Surya Kencana. 7. Uji kelayakan yang dilakukan hanya sebatas menilai apakah lokasi tersebut strategis atau tidak tanpa .2. terbaru dan lengkap.1. Banyak pedagang yang semula menempati kios di Pasar Cimanggu lebih memilih pindah ke Pasar Induk Kemang karena tempat yang lebih ramai. Ketika Bapeda merencanakan suatu kebijakan pengembangan pasar tradisional yaitu pembangunan pasar tradisional. ternyata dalam proses penyusunan kebijakan pengembangan pasar tradisional tidak didasarkan pada informasi yang akurat dan lengkap. Alasan lain. kurang berhasil menjadi pasar induk karena sepinya pedagang di ketiga pasar tersebut. Proses penyusunan kebijakan pengembangan pasar tradisional. penyusunan kebijakan berdasarkan informasi yang akurat.

441 5.050 18. belum ada angkutan umum yang dapat mencapai ke pasar ini sehingga tidak ada pedagang yang mau menempati Pasar Bubulak. ternyata dua pasar tidak layak untuk dibangun yaitu Pasar Bubulak dan Pasar Pamoyanan.176 149.187 103.07 8.5 Jml RT (KK) 35.mempertimbangkan jumlah penduduk di sekitar areal. Tabel 13 menunjukkan bahwa dua kecamatan tersebut merupakan kecamatan di wilayah Kota Bogor yang memilki kepadatan penduduk paling rendah di antara kecamatan lainnya.828 8. akibatnya pasar tradisional yang dibangun di dua kecamatan ini tidak berkembang.627 43.999 85.187 39.221 Tot 158. Pertumbuhan Penduduk dan Persebaran Penduduk Menurut Kecamatan di Kota Bogor Tahun 2005 No 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Tanah Sareal Bogor Tengah Bogor Utara Bogor Selatan Bogor Timur Bogor Barat KOTA BOGOR Luas Wil (km2) 21. Hal ini dikarenakan kepadatan penduduk sekitar pasar yang masih rendah serta kedua lokasi tersebut bukan merupakan lokasi pusat pemukiman penduduk.142 74. sarana pendukung lainnya seperti sarana transportasi di sekitar pasar dan kondisi sosial ekonomi lainnya.33 17.958 52.62 18.978 190.507 12.386 8.333 431.034 74.745 86.486 96.088 423. Dengan jumlah penduduk yang sedikit maka daya beli masyarakat di Kecamatan Bogor Barat dan Bogor Selatan pun rendah.517 24.61 10. Pada waktu pembangunan Pasar Bubulak.15 32. sedangkan di Pasar Tanah Baru meskipun saat ini termasuk lokasi pusat pemukiman penduduk. Hal ini dapat ditunjukkan dari ketiga pasar yang dibangun oleh Pemerintah.256 35.492 94. akan tetapi angkutan umum yang tersedia masih merupakan kendaraan plat hitam (odong-odong) dengan waktu . 2005 Pasar Pamoyanan terletak di wilayah Kecamatan Bogor Selatan dan Pasar Bubulak berada di Kecamatan Bogor Barat.085 Kep Pddk (/km2) 7.357 Jumlah Penduduk L 79. Tabel 13.421 855.215 Sumber : BPS.579 81.058 43.578 166.72 28.594 41.569 5.753 194.199 7.233 51.864 P 78.

Kemudian oleh pengelola UPTD akan disampaikan kepada Kepala Disperindagkop. Kendaraan umum lainnya tidak ada yang melewati Pasar Tanah Baru sehingga jangkauan pasar menjadi terbatas karena konsumennya hanya penduduk di sekitar pasar saja. terdapat mekanisme yang menjamin bahwa prinsip dan nilai yang berlaku telah terpenuhi. dapat dikontrol dan bersifat terbuka. Selama ini keluhan pedagang disampaikan kepada pemerintah melalui forum komunikasi yang difasilitasi oleh pengelola UPTD. dengan konsekuensi mekanisme pertanggungjawaban jika tidak terpenuhi. Ketika penyusunan dan perencanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional dilakukan. Dalam kriteria akuntabilitas. Hal . terdapat beberapa indikator yaitu penyusunan kebijakan memenuhi standar etika. penyusunan kebijakan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan sosial. prinsip akuntabilitas tidak diterapkan pada waktu itu. 7. prinsip-prinsip administrasi yang benar dan nilai-nilai yang berlaku di stakeholders. terdapat akses terbuka dan bebas bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat dalam proses penyusunan kebijakan.1. Partisipasi publik. 7.3. pemahaman tanggungjawab dari pembuat kebijakan terhadap publik dan lembaga stakeholders lain. sasaran dan tujuan pengembangan ditetapkan berdasarkan konsesus antara pemerintah dan masyarakat. Akibatnya keluhan pedagang selama ini kurang mendapat respon dari dinas terkait karena pihak UPTD sendiri tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk mempengaruhi pengambilan keputusan kebijakan sehingga kepentingan pedagang dan masyarakat tidak terakomodir secara optimal.00. Akuntabilitas.00 sampai dengan 18.4. Indikatornya yaitu adanya forum untuk menampung partisipasi masyarakat yang representatif.1.operasional terbatas yaitu dari pukul 06. jelas arahnya.

1. sehingga para PKL masih berjualan dengan bebas di sekitar tempat-tempat tersebut. terdapat upaya dari stakeholders untuk merespon pendapat masyarakat.6. Upaya yang dilakukan oleh Pemerintah yaitu dengan memindahkan Pasar Ramayana ke tempat lain. Selama ini upaya yang dilakukan Pemerintah untuk merelokasi para PKL tersebut belum berhasil.ini dikarenakan prinsip akuntabilitas belum terlalu dipahami oleh para stakeholders sehingga penyusunan dan perencanaan kebijakan menggunakan prosedur yang biasa dilakukan. kepekaan stakeholders dalam menanggapi kepentingan masyarakat.5. Dengan demikian tidak ada mekanisme yang menjamin bahwa proses penyusunan kebijakan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan sosial. Transparansi. banyak pedagang eks Ramayana yang menjadi PKL di sekitar Pasar Baru Bogor. 7.1. Responsivitas. Hal ini sudah menjadi keluhan bagi pedagang di Pasar Jambu Dua karena keberadaan PKL tersebut telah mengurangi keramaian Pasar Jambu Dua. Indikator-indikator dalam kriteria responsivitas yaitu perumusan kebijakan sesuai dengan kebutuhan publik dan perubahan lingkungan. terdapat aturan hukum yang menjamin kemudahan stakeholders lain dan masyarakat untuk mengakses informasi kebijakan secara . Pemerintah telah melakukan upaya yang cukup baik dalam menanggapi kepentingan masyarakat seperti keluhan masyarakat terhadap keberadaan Pasar Ramayana di tengah kota yang menimbulkan kemacetan dan pencemaran lingkungan. Indikator-indikator yang terdapat pada kriteria transparansi yaitu tersedianya informasi yang jelas tentang prosedur. Namun ternyata pasca pemindahan Pasar Ramayana. proses dan biaya perencanaan kebijakan. 7. Pasar Kebon Kembang dan Jalan Surya Kencana.

bebas. Sebagian pedagang yang menolak pindah lebih memilih menjadi PKL. Tidak tersedianya informasi yang jelas mengenai prosedur. pembeli tidak akan sebanyak seperti di Pasar Ramayana sehingga mereka khawatir bahwa pendapatan mereka akan berkurang. Meskipun terdapat beberapa konflik dengan pedagang yang awalnya tidak mau dipindah namun pada akhirnya dapat terselesaikan setelah disosialisasikan mengenai maksud dan tujuan pemindahan.1. Hal ini masih belum dapat diselesaikan oleh pemerintah hingga saat ini. Pasca relokasi Pasar Ramayana justru terjadi konflik antara pedagang yang mau pindah dengan pedagang yang tidak mau pindah. proses dan biaya perencanaan kebijakan menjadi salah satu faktor penyebab ketidakberhasilan kebijakan pengembangan pasar tradisional. Pasar Pamoyanan dan Pasar Cimanggu. Indikatornya yaitu pembangunan pasar tradisional memperhatikan kepentingan sektor dan kawasan lain.7. Pada awalnya kebijakan pemindahan Pasar Ramayana tidak menimbulkan konflik yang besar antara pedagang dengan pemerintah karena kebijakan ini merupakan upaya Pemerintah dalam merespon keluhan masyarakat. Ego sektoral. Akibatnya pembeli di Pasar Jambu Dua menjadi sepi karena mereka lebih memilih lokasi pasar yang ramai penjualnya maupun PKL-nya seperti di Pasar Anyar dan Pasar Baru Bogor. dan kebijakan pengembangan pasar tradisional tidak menimbulkan konflik antar sektor atau antar kawasan maupun antara masyarakat dengan pemerintah. 7. karena mereka beranggapan di pasar baru yang akan menjadi pengganti Pasar Ramayana. Tidak semua masyarakat dapat mengakses informasi tersebut secara bebas. . karena para PKL tersebut menolak untuk dipindahkan ke pasar-pasar yang belum penuh seperti Pasar Tanah Baru.

Alternatif program perekonomian wilayah di antaranya yaitu program pengembangan ekspor dan sistem distribusi.9. Indikator dalam kriteria ini yaitu teridentifikasinya biaya atau dana untuk pengembangan pasar. Pemerintah tidak melakukan sosialisasi melalui media massa maupun elektronik terhadap publik. 7. Namun sosialisasi yang dilakukan langsung oleh aparat pemerintah cukup diterima oleh pedagang dan masyarakat.1. Sosialisasi kebijakan pengembangan pasar tradisional dilakukan oleh pihak pengelola pasar dan aparat kelurahan dan kecamatan.7.8. karena biaya dan sumber dana yang digunakan untuk kebijakan ini telah teridentifikasi dengan baik dan dana yang digunakan telah sesuai dengan besarnya dana yang dianggarkan serta pembangunan pasar tradisional telah sesuai dengan rencana yang ditetapkan. terdapat upaya untuk meningkatkan arus informasi melalui kerjasama dengan media massa dan lembaga non pemerintahan. Tersedianya dana yang memadai dan berkelanjutan. Indikatornya antara lain penyebarluasan informasi mengenai program pengembangan pasar tradisional melalui media massa maupun elektronik pada publik.1. .1. Indikatornya adalah tujuan kebijakan pengembangan pasar tradisional tidak menimbulkan konflik dengan alternatif program perekonomian wilayah. 7. Sosialisasi kebijakan. Program perekonomian wilayah ini tidak menimbulkan konflik dengan kebijakan pengembangan pasar tradisional. Sosialisasi dilaksanakan melalui musyawarah dengan pedagang atau tokoh masyarakat. Kriteria ini merupakan peringkat terendah dari kriteria yang menjadi penyebab ketidakberhasilan kebijakan pengembangan pasar tradisional. Kebijakan lain yang tidak tumpang tindih dari pengembangan pasar tradisional.10. adanya seminar/workshop oleh dinas terkait.

sesuai dengan kriteria dan indikator yang telah ditentukan (Lampiran 2). Keadilan Gambar 11.18 persen.94 Keterangan : A.35 persen.07 persen. ketepatan sebesar 5. Keterlibatan swasta H.32 9.07 G H I 9.94 persen.21 5.45 F 8. transparansi sebesar 9. responsivitas sebesar 8.45 persen.7. Legalitas kebijakan G. Analisis Penerapan Kebijakan Analisis penerapan dimaksudkan untuk mengetahui apakah pelaksanaan kebijakan telah sesuai dengan rencana. akuntabilitas sebesar 9. Transparansi F. keadilan sebesar 6.35 C D E 7. legalitas kebijakan sebesar 7.59 persen.21 persen. Penerapan perencanaan pengembangan pasar tradisional secara efektif dan efisien B. dan terakhir yaitu keterlibatan swasta sebesar 3. Responsivitas D.73 persen. monitoring dan evaluasi program sebesar 4.32 persen. 6.18 A B 3. Peringkat (%) Faktor Penyebab Ketidakberhasilan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional dari Segi Penerapan Kebijakan .59 11. Ketepatan I. Monitoring dan evaluasi program C.73 4.2. Faktor yang menyebabkan penerapan kebijakan pengembangan pasar tradisional kurang tepat berdasarkan persepsi responden secara berurutan yaitu penerapan perencanaan pengembangan pasar tradisional secara efektif dan efisien sebesar 11. Akuntabilitas E.

Kemang dan Cimanggu Ketiga pasar dapat berfungsi sebagai pasar grosir Wilayah Tanah Baru menjadi berkembang akibat adanya pasar PKL di pusat kota berkurang dan tersedianya fasilitas pasar tradisional di wilayah Bogor Selatan Kenyataan di lapangan Sebagian pedagang menolak pindah dan memilih menjadi PKL Hanya Pasar Kemang yang berfungsi sebagai pasar grosir Pasar Tanah Baru masih berstatus non aktif Pasar Pamoyanan tidak dimanfaatkan karena pedagang tidak mau pindah dan masyarakat lebih suka berbelanja di Pasar Sukasari Pasar Bubulak tidak berjalan sama sekali 2 3 Pembangunan Pasar Induk Jambu Dua. Tabel 14. sasaran atau hasil yang diinginkan telah tercapai. ketepatan alokasi sumberdana. Analisis Hasil Pelaksanaan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional No 1 Program Pemindahan Pasar Ramayana Kondisi ideal Seluruh pedagang eks Ramayana pindah ke Pasar Jambu Dua. Meskipun sebagian program atau kegiatan dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional telah dilaksanakan namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Indikatornya.Gambar 11 menunjukkan urutan kriteria penyebab kurang berhasilnya kebijakan pengembangan pasar tradisional dari segi penerapan kebijakan yaitu : 7. Penerapan perencanaan pengembangan pasar tradisional secara efektif dan efisien. Hasil pelaksanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional dapat dilihat pada Tabel 14. Pasar Kemang dan Pasar Cimanggu Pembangunan Pasar Tanah Baru Pembangunan Pasar Pamoyanan 4 5 Pembangunan Pasar Bubulak Pembangunan Pasar Katulampa 6 Meningkatkan potensi wilayah supaya lebih berkembang Peningkatan pertumbuhan Pembangunan Pasar ekonomi di wilayah Katulampa dibatalkan Katulampa Sumber : Data primer (diolah) .2.1. konsistensi pelaksanaan program sesuai target operasional yang telah ditetapkan. program atau aktivitas dilaksanakan secara efektif dan efisien. yaitu program atau aktivitas telah dilaksanakan.

Upaya yang dilakukan hanya sebatas mengusir keberadaan PKL pada waktu-waktu tertentu saja. Hal ini mengakibatkan Pasar Jambu Dua dan Cimanggu kekurangan konsumen dan banyak pedagang yang memutuskan untuk pindah ke Pasar Kemang atau menjadi PKL juga. Warga Bogor lebih suka berbelanja di Pasar Kebon Kembang dan Pasar Bogor karena banyaknya PKL yang memberikan konsumen pilihan yang lebih banyak.2. 7. Hal ini dapat ditunjukkan dari keberadaan PKL yang telah menganggu ketertiban umum. Keberadaan PKL di tengah kota telah mengambil jalan-jalan utama di Kota Bogor sehingga menyebabkan kemacetan seperti di Jalan Surya Kencana dan Otista dan secara tidak langsung telah mempengaruhi tingkat keramaian Pasar Jambu Dua dan Cimanggu. Hal ini karena belum adanya sanksi yang tegas bagi para pelaku pelanggar kebijakan sehingga pelaksanaan dan hasil kebijakan belum dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. selain itu banyaknya pedagang yang menolak pindah dan lebih memilih menjadi PKL telah menimbulkan masalah baru bagi upaya pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor. Selama ini belum ada tindakan tegas dari aparat pemerintah untuk melarang mereka berjualan di pinggir jalan. Hal ini dikarenakan ketidakberhasilan tiga pasar sebelumnya yang telah dibangun oleh Pemerintah.2. Setelah proses penggusuran selesai.Berdasarkan Tabel 14. Akuntabilitas merupakan kriteria yang menempati urutan kedua. . keesokan harinya para pedagang kaki lima tersebut kembali berjualan di pinggir jalan. Tidak semua program kebijakan dilaksanakan yaitu dibatalkannya pembangunan Pasar Katulampa. kebijakan pengembangan pasar tradisional yang dilaksanakan oleh pemerintah belum berhasil mencapai sasarannya.

proses tender. adanya peraturan mampu menjawab permasalahan pengembangan pasar tradisional. Selama ini pengaduan dari masyarakat hanya disampaikan kepada aparat kelurahan dan kecamatan. Pada Tabel 14. Transparansi.7. Indikatornya antara lain terdapat dasar hukum yang jelas dalam pelaksanaan program kebijakan pengembangan pasar. Para pedagang di Pasar Jambu Dua dan Pasar Cimanggu masih mengeluhkan mengenai kondisi pasar yang relatif lebih sepi dibandingkan dengan pasar-pasar lain.2. Legalitas kebijakan.2.4.2. Seluruh informasi terkait dengan kebijakan pengembangan pasar tradisional tidak disampaikan kepada masyarakat dan pedagang. tersedianya mekanisme pengaduan masyarakat.5. sasaran yang diharapkan dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional belum tercapai sehingga kebijakan ini belum memuaskan kebutuhan publik. Indikatornya yaitu keterbukaan informasi dalam pelaksanaan kebijakan terkait sumberdaya.3. jadwal pelaksanaan proyek dan hasil yang dicapai. Indikatornya yaitu hasil kebijakan memuaskan kebutuhan publik. Tidak tersedianya mekanisme pengaduan dan sanksi yang tegas terhadap pelanggar kebijakan menjadi faktor utama dalam kriteria ini. 7. Dengan demikian sangat besar kemungkinan bahwa pengaduan dari masyarakat dan pedagang tidak tersampaikan ke instansi yang lebih tinggi . Responsivitas. Pedagang dan masyarakat hanya disosialisasikan mengenai program-program yang akan dilaksanakan dan jadwal pelaksanaan program saja. dan dari pedagang disampaikan kepada pengelola pasar. alokasi dana. 7. adanya sanksi yang tegas bagi pelaku pelanggar kebijakan. sedangkan alokasi dana dan sumberdaya serta proses tender yang digunakan dalam pelaksanaan kebijakan tidak dapat diakses secara bebas oleh masyakat.

Dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional ini pihak swasta dilibatkan sebagai developer dan sebagai pengelola pasar swasta. 7. 7. 7. Kegiatan monitoring dan evaluasi program dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional dilaksanakan Disperindagkop yang dibantu oleh UPTD.2. 7.2.6. Namun masyarakat kurang dilibatkan dalam pemantauan dan pengawasan program kebijakan pengembangan pasar tradisional. sedangkan sebagai pengelola pasar . Pihak swasta sebagai developer hanya melaksanakan pembangunan pasar sesuai dengan yang telah direncanakan oleh Bapeda. Pedagang hanya dilibatkan dalam pelaksanaan program tapi tidak dilibatkan dalam pengawasan program. Indikatornya yaitu hasil kebijakan yang dicapai dapat memberikan manfaat kepada kebutuhan publik dan hasil kebijakan yang dicapai dapat memecahkan masalah.2. Keberadaan aparat tersebut hanya pada waktu-waktu tertentu saja. yaitu keberadaan PKL di sekitar pasar yang telah mengganggu ketertiban umum.7.2. Berdasarkan Tabel 14 menunjukkan bahwa hasil kebijakan yang dicapai belum memberikan manfaat kepada masyarakat dan justru terdapat beberapa masalah yang timbul setelah kebijakan dilaksanakan. Keterlibatan swasta. sehingga PKL masih bebas berjualan di pinggir jalan dan sekitar pasar.8. Keadilan. Sanksi yang tidak tegas juga terlihat dari rendahnya hukuman pada para aparat pemerintah yang tidak melakukan kegiatan operasi terhadap para PKL.9. Monitoring dan evaluasi program.wewenangnya. Indikatornya yaitu manfaat kebijakan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh pihak dan keikutsertaan pedagang dalam pelaksanaan dan pengawasan program. Ketepatan.

Selain itu dalam proses perencanaan tidak melibatkan seluruh stakeholders yang betkepentingan. Hubungan antara Analisis Proses dan Analisis Penerapan Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional tidak mencapai keberhasilan. Meskipun penerapan yang dilakukan telah sesuai dengan rencana yang ditetapkan. Perencanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional lebih mempertimbangkan pada aspek teknis saja yaitu untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah pinggiran dengan membangun sebuah pusat perdagangan Pada proses perencanaan tidak diperhitungkan pula bahwa faktor demografi dan ekonomi sangat berpengaruh terhadap perkembangan suatu wilayah. . sehingga kebijakan yang dihasilkan lebih banyak mengakomodir kepentingan Pemerintah tanpa memperhatikan kepentingan masyarakat dan pedagang.3. 7.pihak swasta lebih berprinsip pada profit oriented sehingga pasar yang mereka kelola relatif lebih berkembang dibandingkan dengan pasar yang dikelola pemerintah. Stakeholders yang dilibatkan seluruhnya hanya berasal dari Pemerintah Daerah. Akibatnya dalam proses penerapan mengalami banyak ketidakberhasilan dalam mencapai tujuannya. Hal ini disebabkan karena dalam proses penyusunan dan perencanaan kebijakan yang kurang tepat sehingga menyebabkan implementasinya yang kurang tepat pula.

Penentuan prioritas strategi merupakan pendapat gabungan dari 6 responden yang mewakili stakeholders yaitu dari Bapeda. Ekonomi 0. keempat aspek dominan ini teridentifikasi bahwa secara keseluruhan aspek ekonomi (0. Pasar tradisional merupakan sarana dalam rangka pemberdayaan masyarakat sehingga penyusunan strategi maupun pengembangan pasar tradisional merupakan hal yang sangat penting. DTKP.253 Keterangan : Rasio Inkonsistensi = 0. Pemilihan prioritas strategi pengembangan pasar tradisional dilakukan dengan menggunakan teknik AHP. 8. DLHK. Prioritas Aspek Pengembangan Pasar Tradisional Hasil analisis pendapat gabungan responden mengenai prioritas aspek yang paling penting dalam pengembangan pasar tradisional dapat dilihat pada Gambar 12. Prioritas Aspek Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor Berdasarkan penilaian pendapat gabungan dari responden.131 Manajemen 0. STRATEGI PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL Pasar tradisional merupakan basis ekonomi rakyat yang memberikan kontribusi nyata dalam perekonomian nasional. Dispenda dan pihak UPTD.421 Sosial 0.1.01 Gambar 12.421) . Disperindagkop.195 Teknis 0.VIII.

merupakan aspek yang paling penting, kemudian aspek manajemen (0,253), sosial (0,195) dan terakhir aspek teknis (0,131). Hasil ini menunjukkan bahwa pendapat para responden sesuai urutan prioritas di atas sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai pada penyusunan kebijakan pengembangan pasar tradisional. Kebijakan pengembangan pasar tradisional disusun dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi di masing-masing wilayah sehingga terjadi pemerataan perekonomian di seluruh wilayah Kota Bogor. Kebijakan ini disusun dengan tujuan untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pasar tradisional sehingga aspek manajemen dalam hal pengelolaan pasar penting, dan untuk mengakomodir kepentingan seluruh pihak yang terkait maka aspek sosial juga penting. Terakhir, aspek teknis terkait dengan kondisi fisik pasar yang dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan pasar.

8.2. Prioritas Kriteria Pengembangan Pasar Tradisional 8.2.1.Aspek Ekonomi
Hasil analisis mengenai prioritas kriteria pada aspek ekonomi dapat dilihat pada Gambar 13.

PAD

0.250

Kerja

0.482

Kesejahteraan

0.269

Keterangan : Rasio Inkonsistensi = 0,02

Gambar 13. Prioritas Kriteria pada Aspek Ekonomi dalam Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor

Pada Gambar 13 terlihat bahwa kriteria yang memiliki bobot relatif atau memiliki faktor paling dominan adalah menciptakan lapangan kerja (0,482) kemudian diikuti oleh meningkatkan kesejahteraan pedagang dan masyarakat (0,269) dan terakhir yaitu meningkatkan PAD (0,250). Hal ini menunjukkan bahwa hal yang paling utama dalam pengembangan pasar tradisional adalah untuk menciptakan lapangan kerja. Untuk meningkatkan tingkat perekonomian yaitu dengan memberikan kesempatan kerja pada penduduk Kota Bogor. Apabila kesempatan kerja telah ada maka peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pedagang semakin tinggi, dengan semakin banyaknya jumlah pedagang maka PAD pun akan meningkat.

8.2.2.Aspek Manajemen
Hasil analisis mengenai prioritas kriteria pada aspek manajemen dapat dilihat pada Gambar 14.

Profesional

0.288

Usaha Efisien

0.090

Pelayanan

0.253

Penataan PKL

0.370

Keterangan : Rasio Inkonsistensi = 0,01

Gambar 14. Prioritas Kriteria pada Aspek Manajemen dalam Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor

Gambar 14 menunjukkan dari keempat kriteria ini teridentifikasi bahwa secara keseluruhan kriteria penataan dan pembinaan PKL merupakan faktor yang paling penting dalam aspek manajemen (0,370), diikuti oleh kriteria

meningkatkan manajemen pengelolaan pasar tradisional secara profesional (0,288), meningkatkan pelayanan kepada masyarakat (0,253) dan terakhir membentuk pasar tradisional menjadi usaha yang efisien (0,090). Hasil analisis menunjukkan bahwa untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan pasar tradisional di Kota Bogor maka penataan dan pembinaan PKL merupakan kriteria yang paling penting pada aspek manajemen. PKL yang tersebar di sekitar pasar dan di pinggir jalan menjadi kendala utama bagi pertumbuhan pasar tradisional, sehingga pengembangan pasar tradisional diarahkan untuk menata PKL dan merelokasi ke pasar-pasar yang ada. Manajemen pengelolaan pasar harus ditingkatkan supaya pasar tradisional dapat menjadi usaha yang profitable sehingga dapat mengatur sendiri keuangannya tanpa tergantung dari anggaran Pemerintah. Untuk memuaskan kebutuhan masyarakat maka kriteria berikutnya yang penting yaitu meningkatkan pelayanan kepada masyarakat sehingga masyarakat tidak beralih ke pasar modern, dan terakhir yaitu membentuk pasar tradisional menjadi usaha yang efisien.

8.2.3.Aspek Sosial
Hasil analisis mengenai prioritas kriteria pada aspek sosial dapat dilihat pada Gambar 15.

2. bersih dan nyaman sehingga konsumen lebih suka berbelanja di pasar tradisional dibandingkan di tempat lain.227). Keberadaan pasar tradisional di tengah masyarakat juga harus dapat meminimalisasi konflik dengan masyarakat agar tidak terjadi benturan kepentingan antar stakeholders. Untuk menghadapi usaha-usaha lain seperti toko serba ada. Pada pengembangan pasar tradisional yang dapat mendukung pertumbuhan pasar tradisional yaitu dengan menciptakan kondisi pasar yang aman.Aspek Teknis Hasil analisis prioritas kriteria pada aspek teknis dapat dilihat pada Gambar 16. mini market dan pasar swalayan maka pasar tradisional harus menjadi usaha yang kompetitif supaya tidak kalah dari usaha lainnya. nyaman dan bersih bagi konsumen (0.4.01 Gambar 15.227 Aman dan Nyaman 0. Prioritas Kriteria pada Aspek Sosial dalam Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor Gambar 15 menunjukkan bahwa urutan kriteria yang paling penting dalam aspek sosial yaitu terciptanya kondisi pasar yang aman. .498 Kompetitif 0.274 Keterangan : Rasio Inkonsistensi = 0. menciptakan pasar yang berdaya saing sehingga lebih kompetitif (0.498). mengurangi potensi konflik dengan masyarakat (0.Mengurangi Konflik 0.274). 8.

Bangunan fisik pasar juga harus diperbaiki supaya lebih bersih dan rapi sehingga dapat menarik orang untuk berbelanja di pasar.433 Peningkatan Fasilitas 0.00 Gambar 16. Prioritas Alternatif Strategi dalam Pengembangan Pasar Tradisional Berdasarkan hasil analisis dari pendapat responden ahli maka untuk mencapai tujuan pengembangan pasar tradisional maka prioritas alternatif strategi dapat dilihat pada Gambar 17.567 Keterangan : Rasio Inkonsistensi = 0.433). Prioritas Kriteria pada Aspek Teknis dalam Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor Gambar 16 menunjukkan bahwa kriteria yang paling penting pada aspek teknis yaitu peningkatan sarana dan prasarana pasar (0. .Bersih dan Rapi 0. 8.567) diikuti oleh kondisi fisik pasar yang lebih bersih dan rapi (0. Supaya pedagang mau menempati kiosnya di pasar maka fasilitas pasar harus ditingkatkan sehingga pedagang betah berjualan di pasar tersebut.3.

136 Gambar 17. pembentukan PD.Pembentukan PD. Pasar diharapkan pengelolaan pasar dilakukan dengan sistem profit oriented.115 0.155 0.243 0.1 0. Pasar dapat menjadi jalan untuk pertumbuhan dan perkembangan pasar tradisional. Alternatif ini menduduki peringkat tertinggi sebagai strategi dalam pengembangan pasar tradisional. Pasar sehingga kebijakan yang akan ditetapkan pun akan memperhatikan kepentingan seluruh pasar sehingga tidak tumpang tindih antar masing-masing program kegiatan. Pasar Pembangunan Pasar Lingkungan Menjalin Kemitraan Pemberdayaan Pemberian Bantuan Kredit Pembentukan Forum Komunikasi Pendistribusian PKL Keterangan : Rasio Inkonsistensi = 0.093 0. Menurut pendapat responden. dengan adanya PD. Selama ini pasar tradisional yang ada di Kota Bogor masing-masing dikelola oleh Kepala UPTD dan bawahannya yang bertanggungjawab langsung kepada Kepala .125 0. Prioritas Alternatif Strategi dalam Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor Gambar 17 memperlihatkan prioritas alternatif strategi utama dalam pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor yaitu Pembentukan PD.133 0. Seluruh pasar yang ada di Kota Bogor akan berada di bawah satu pengelolaan yaitu dalam bentuk PD. Usaha pasar tradisional dapat lebih berkembang serta efisien tanpa tergantung pada sumber dana dari pemerintah serta dengan manajemen yang lebih profesional diharapkan pasar tradisional dapat menjadi usaha yang bersaing. Pasar.

UPTD merupakan instansi pemerintah yang mengelola pasar pemerintah. Selain uang retribusi.Tugas harian yang dilakukan oleh UPTD yaitu penarikan retribusi dari pedagang. PKL sendiri juga merasa memiliki hak untuk berjualan di pasar tersebut karena merasa telah membayar uang kepada pihak UPTD. Selain itu. Masalah ini telah menimbulkan konflik antar UPTD di Kota Bogor. UPTD juga meminta uang keamanan kepada pedagang yang tidak memiliki kios/los dan berjualan di pelataran parkir atau di depan pasar (PKL). Adanya PD. Pasar akan membawahi seluruh UPTD pasar tradisional yang ada di Kota Bogor sehingga diharapkan konflik antar UPTD dapat diselesaikan karena pengelolaan manajemen pasar berada di bawah satu organisasi. Dengan demikian di Kota Bogor sendiri terdapat tujuh UPTD. Hal ini menyebabkan ketujuh UPTD tersebut berdiri secara sendiri-sendiri dan tidak saling berkaitan. Pemerintah dalam hal ini UPTD kurang memasarkan pasar ke masyarakat sehingga hanya sedikit masyarakat yang membeli kios/los. Pasar diharapkan dapat mengelola pasar secara komersial. terutama di pasar yang memiliki banyak PKL dan yang sepi pedagang sepeti Pasar Anyar dan Pasar Jambu Dua. Pembentukan PD. Upaya pemasaran dapat dilaksanakan melalui iklan sehingga keberadaan pasar tradisional dikenal secara luas oleh masyarakat. Uang yang ditarik dari PKL ini telah memberikan penerimaan sendiri untuk UPTD sehingga pengelola UPTD kurang tegas dalam mengatur PKL. Selama ini. .Disperindagkop. Sehingga terdapat beberapa konflik antar UPTD itu sendiri. salah satu penyebab pasar tidak berkembang adalah kurangnya aspek promosi dan pemasaran pasar kepada masyarakat.

Pasar modern lebih bersifat profit oriented sehingga manajemennya lebih efektif dan efisien. bau. becek. Pada Gambar 18a menunjukkan pasar tradisional yang terkesan becek.4. sedangkan pada pasar modern (Gambar 18b) terkesan rapi. maka upaya pengembangan pasar tradisional dapat dilakukan melalui pembenahan pasar tradisional dengan mengadopsi konsep pasar modern tetapi tetap mempertahankan ciri khas transaksi antara penjual dan pembeli. dan banyak PKL. Hal ini sangat berbeda dengan pasar modern seperti minimarket. dan tidak rapi. Berkaitan dengan kondisi tersebut.8. . nyaman dan bersih. Tempat yang bersih dan nyaman. swalayan dan supermarket. produk yang beragam serta keamanan yang terjamin menjadi keunggulan dari pasar modern dibandingkan pasar tradisional. Gambar 18a Gambar 18b Gambar 18 menunjukkan dua kondisi yang berbeda antara pasar tradisional dan pasar modern. Rekomendasi Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional Selama ini pasar tradisional identik dengan pasar yang kumuh. tidak tertata. kotor. akibatnya banyak konsumen yang enggan berbelanja di pasar tradisional karena kondisinya yang tidak nyaman bagi pembeli. Hal utama yang membedakan antara pasar modern dan pasar tradisional yaitu adanya pengelolaan manajemen pasar secara profesional pada pasar modern.

Konsep pasar tradisional dengan manajemen modern ini telah berhasil menampilkan pasar tradisional yang menyerupai mal. Gambar 19a. Kebersihan. Gambar 19d. Gambar 19c. keamanan serta keteraturan dan kedisiplinan pedagang menjadi fokus utama dari pengelola pasar dengan tetap mempertahankan karakteristik pasar tradisional (tawar menawar). Pasar ini layak menjadi acuan bagi pengembangan dan pembenahan pasar tradisional di Indonesia karena pengelolaannya sangat profesional meski dilakukan pihak swasta. Gambar 19b. Tangerang (Gambar 19).Salah satu contoh pasar tradisional yang telah menerapkan konsep manajemen modern adalah Pasar Modern di Bumi Serpong Damai (BSD). supermarket atau swalayan dari aspek kebersihan dan kerapiannya. Pasar tradisional ini berada di dalam bangunan beratap dan berlantai keramik serta tempatnya di dalam gedung .

Jika terbukti telah dua kali melakukan pelanggaran. kantor dan butik/toko pakaian. Para pedagang juga harus menata dan mengatur dagangannya hingga terlihat menarik. Pedagang tidak diperbolehkan membiarkan sampah berceceran. Sampah harus dimasukkan ke dalam kantong plastik dan meletakkan di areal yang ditentukan. lantai pasar akan dibersihkan oleh petugas kebersihan sehingga pasar akan selalu terlihat bersih.pertokoan (Gambar 19a). barang dagangan akan diambil atau dibawa ke kantor pengelola. Apabila melanggar. Selain itu perlu adanya upaya pemberdayaan pengelola pasar dan pedagang tradisional dengan perbaikan prasarana umum pasar tradisional oleh pemerintah. Untuk menjaga ketertiban dan kerapian. Pada bagian depan bangunan merupakan toko-toko modern seperti restoran. dan . Setiap pedagang dikelompokkan sesuai dengan jenis komoditi yang dijual di masing-masing lorong. Apabila kegiatan operasional pasar sudah selesai. pengelola pasar menetapkan peraturan yang harus dipatuhi pedagang. Pada setiap lorong diberi label komoditi yang dijual sehingga memudahkan pembeli untuk berbelanja (Gambar 19c). Para pedagang dilarang meletakkan barang dagangan di jalan atau lorong. mendorong asosiasi pedagang untuk ikut mengelola pasar. maka pedagang akan mendapat sanksi pemutusan perjanjian sewa kios/lapak secara sepihak. Meskipun menggunakan konsep pasar modern. sehingga bangunan pasar terlihat bersih dan menarik dari luar (Gambar 19b). tetapi di pasar ini masih menggunakan sistem pasar tradisional yaitu adanya interaksi sosial antara pembeli dan penjual melalui proses tawar menawar (Gambar 19d). sampai petugas kebersihan mengambilnya pada jam tertentu.

Pasar tradisional dengan konsep modern ini adalah salah satu solusi untuk pengembangan pasar tradisional sehingga diharapkan pasar tradisional dapat tumbuh dan berkembang. .adanya insentif bagi swasta untuk mendanai renovasi pasar atau kredit kepada pedagang tradisional.

DLHK dan DTKP memiliki kepentingan yang rendah dan pengaruh yang tinggi.IX. yaitu Bapeda. Terdapat beberapa stakeholders yang terkait dalam perencanaan dan pelaksanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor. . dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Dispenda. dengan kondisi sebagai berikut : • Stakeholders yang memiliki pengaruh dan kepentingan tertinggi adalah Bapeda dan Disperindagkop. KESIMPULAN DAN SARAN 9. pengelola swasta.1. Kesimpulan Berdasarkan uraian dari pembahasan sebelumnya. • Dispenda. • Kriteria utama yang menyebabkan proses pembuatan kebijakan pengembangan pasar tradisional kurang tepat yaitu keterlibatan stakeholders dan proses penyusunan kebijakan pengembangan pasar tradisional yang benar. masyarakat pedagang. • Masyarakat pedagang dan UPTD memiliki kepentingan tinggi namun pengaruhnya rendah. Disperindagkop. UPTD. • Pengelola pasar swasta memiliki tingkat kepentingan dan pengaruh rendah. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional tidak mencapai keberhasilan yang disebabkan karena : • Proses penyusunan dan perencanaan kebijakan yang kurang tepat sehingga menyebabkan implementasinya yang kurang tepat pula. DLHK dan DTKP. 2.

nyaman dan bersih bagi konsumen. Strategi pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor yang diolah dengan analisis PHA menunjukkan bahwa : • Aspek yang paling penting dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional secara berurutan yaitu aspek ekonomi.• Kriteria utama yang menyebabkan penerapan kebijakan pengembangan pasar tradisional kurang tepat yaitu penerapan perencanaan pengembangan pasar tradisional secara efektif dan efisien. meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan membentuk pasar tradisional menjadi usaha yang efisien. . meningkatkan manajemen pengelolaan pasar tradisional secara profesional. • Kriteria-kriteria yang penting secara berurutan dalam aspek sosial yaitu terciptanya kondisi pasar yang aman. • Kriteria-kriteria yang penting dalam aspek ekonomi secara berurutan yaitu menciptakan lapangan kerja. Sehingga adanya kegagalan disebabkan karena dalam kebijakan pengembangan tidak dilibatkannya seluruh pasar tradisional yang stakeholders berkepentingan terhadap kebijakan ini. aspek manajemen. • Kriteria-kriteria yang penting dalam aspek manajemen secara berurutan yaitu penataan dan pembinaan PKL. meningkatkan kesejahteraan pedagang dan masyarakat dan meningkatkan PAD. • Hasil analisis stakeholders menunjukkan bahwa tidak semua stakeholders yang berkepentingan dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional dilibatkan dalam proses perencanaan dan penerapan kebijakan. 3. aspek sosial dan aspek teknis.

menciptakan pasar yang berdaya saing sehingga lebih kompetitif dan mengurangi potensi konflik dengan masyarakat.2. pemberdayaan pedagang dan pengelola pasar. pemberian bantuan kredit dan pembentukan forum komunikasi. • Prioritas alternatif strategi dalam pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor yaitu pembentukan PD. 3.. Pemerintah sebaiknya baik dalam proses penyusunan maupun pelaksanaan kebijakan melibatkan seluruh stakeholders yang benar-benar memiliki kepentingan terhadap kebijakan. Upaya pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor dapat dilakukan dengan pembentukan PD. 9. Untuk meningkatkan kekuatan pengaruh dari masyarakat pedagang maka perlu dibentuk suatu asosiasi atau paguyuban pedagang untuk memperkuat posisi tawar mereka dalam proses pengambilan keputusan kebijakan. Pemerintah seharusnya melaksanakan suatu studi kelayakan sesuai dengan kondisi riil di lapangan sebelum menyusun suatu perencanaan kebijakan. Saran 1. • Kriteria-kriteria yang penting secara berurutan dalam aspek teknis yaitu peningkatan sarana dan prasarana pasar dan kondisi fisik pasar yang lebih bersih dan rapi. pendistribusian PKL ke pasar-pasar yang telah dibangun. 4. pembangunan pasar lingkungan. 2. Pasar yang dapat menaungi seluruh pengelolaan pasar tradisional yang berada di Kota Bogor. sebagai salah atu bentuk partisipasi masyarakat. Pasar. . menjalin kemitraan dengan UKM dan koperasi.

Bogor. Institut Pertanian Bogor.com. 2006. Peraturan Daerah Kota Bogor Nomor 7 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Pasar. Penerjemah: Samodra Wibawa. Skripsi. Badan Pusat Statistik Kota Bogor. 2007. http://www. Dwijowijot. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bogor.DAFTAR PUSTAKA Abdrabo. Yogyakarta. 2003. Bogor. Studi Kelayakan PD. Mohamed A. 2002. Fakultas Pertanian. BPS. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. ---------------------------------------------------------------------. Dampak Perpindahan Lokasi Pasar Induk terhadap Sistem Pemasaran Sayur Mayur di Kota Bogor. 2007. 2003. Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis. Tesis. PT.wadi-unifi. Dharmayanti. www. Hakim. Sekolah PascaSarjana. B. 2005. 2006. Balitbangdiklat Kota Bogor dan PT. Fakultas Ekonomi. Bogor. 2006.deliveri. Ismawan. Elex Media Komputindo. 2003.org [30 Agustus 2007]. Jurnal Ekonomi dan Bisnis. [30 Agustus 2007]. Kartini. Peran Lembaga Keuangan Mikro dalam Otonomi Daerah. Dunn. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Oxalis Subur. Bogor. Kota Bogor Dalam Angka 2005. Fakultas Pertanian. Analisis Prospek Permintaan Jasa Pasar dan Studi Kelayakan Pembangunan Pasar Tradisional Kecamatan Cicantayan Kabupaten Sukabumi. Formulasi. William N. Skripsi. Badan Perencanaan Daerah Kota Bogor. Indrani. . Perdagangan dan Koperasi. Stakeholder Analysis. Tidak Dipublikasikan. dan Mahmoud A. Bogor. Peraturan Daerah Kota Bogor Nomor 3 Tahun 2006 tentang Retribusi Pelayanan Pasar. Yogyakarta. Universitas Gajah Mada. Rini. 2006. Gajah Mada University Press. Hassaan. Riant Nugroho. DFID. Dinas Perindustrian. 2006. Pasar di Kota Bogor. Bogor. Laporan Penelitian. Institut Pertanian Bogor. Manajemen Daur Proyek dan Penggunaan Kerangka Kerja Logis. Bogor. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bogor. -----------------------------------------------------. Implementasi dan Evaluasi. Dzulfikar Ali. Kajian Reklamasi Pantai Dadap Kabupaten Tangerang (Sebuah Analisa Persepsi Stakeholder). Jakarta. Program Sarjana. Kebijakan Publik. Bogor.

Institut Pertanian Bogor. Sekolah Pasca Sarjana. Schmeer. Bogor. Bogor. Tandiyar. Kajian Perkembangan Pasar Tanah Baru Sebagai Acuan Bagi Pembangunan Pasar Tradisional Baru di Kota Bogor. Nindyantoro. Institut Pertanian Bogor. Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan. Semarang. Kammi. 2007. Bogor. Pertanggungjawaban Akhir Tahun Anggaran Walikota Bogor Tahun 2002. Bogor: Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya. Tesis. Mishra. Safitri. 2005.Lamadlauw. Saaty. Bogor. Pembuatan Kebijakan Demokratis dalam Konteks yang Berubah. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Bogor. Pertanggungjawaban Akhir Tahun Anggaran Walikota Bogor Tahun 2001. Untoro. 2006. Pertanggungjawaban Akhir Tahun Anggaran Walikota Bogor Tahun 2003. Benny. Analisis Respon Stakeholders terhadap Kebijakan Perluasan Kawasan di Taman Nasional Gunung Halimun – Salak (Studi Kasus Kabupaten Lebak. Program Pasca Sarjana. Tesis. 2005. Kebijakan Pembangunan Wilayah: Dari Penataan Ruang Sampai Otonomi Daerah. Pengambilan Keputusan Bagi Para Pemimpin. Provinsi Banten). 2003. Universitas Sumatera Utara. 2006. 2002. Meidina Trijadi.org [7 Januari 2008]. Tesis. Alan. Institut Pertanian Bogor. United Nations Support Facility for Indonesian Recovery. Fakultas Kehutanan. Evaluasi Pelaksanaan Kesepakatan Konservasi Desa (KKD) dalam Kerinci Seblat-Integrated Conservation and Development . Pustaka Binaman Pressindo. Sri. 2004. Penerjemah: Liana Setiono. www. ----------------------------. Satish C. Skripsi. ----------------------------. Magister Teknik Pembangunan Kota. 2004. Stakeholder Analysis at a Glance.lachsr. Strategi Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah Agroindustri di Kabupaten Bogor. Fathoni. 2002. PT. Skripsi. 1993. Jakarta. Jakarta. Khairunnisa. Fakultas Pertanian. Analisis Pengembangan Pasar Tradisional dan Dampaknya Terhadap Pembangunan Wilayah (Studi Kasus Pasar Tradisional di Kota Medan). Rahayu. Pemerintah Kota Bogor. Universitas Diponegoro. Program Sarjana. Program Sarjana. Thomas L. Rangkuti. Bogor. 2005. Analisis Penentuan Lokasi Optimal Pasar Tradisional sebagai Pusat Perdagangan di Kota Bekasi dalam Pengembangan Wilayah.

Fakultas Kehutanan. Program Sarjana. . Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Provinsi Jambi). Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Bogor.Project (KS-ICDP) melalui Analisis Stakeholders (Studi Kasus Kabupaten Meranging.

LAMPIRAN .

Penyusunan kebijakan pengembangan pasar tradisional dibuat secara tertulis dan tersedia bagi setiap warga yang membutuhkan 2. cukup paham (3). ada. prinsip-prinsip administrasi yang benar dan nilainilai yang berlaku di stakeholders 5. Terdapat kejelasan koordinasi antar stakeholders yang terlibat NILAI Tidak tertulis dan tidak tersedia (1). tertulis dan tidak tersedia (3). sangat paham (5) Tidak diidentifikasi (1). Penyusunan kebijakan memenuhi standar etika. terbaru dan lengkap 4. diidentifikasi (5) Tidak paham (1). cukup paham (3). tertulis dan tersedia (5) Tidak jelas (1). cukup jelas (3). Penyusunan kebijakan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan sosial 7. Terdapat mekanisme yang menjamin bahwa prinsip dan nilai yang berlaku telah terpenuhi. sangat memenuhi (5) Tidak ada (1). Teridentifikasinya kepentingan setiap stakeholders terhadap kebijakan sesuai dengan tupoksi-nya 11. Stakeholders yang terlibat memahami program dengan baik 12. cukup jelas (3). Matriks Kriteria. ya (5) Tidak memenuhi (1). dan sesuai dengan visi yang dirumuskan dan misi yang diemban 3. cukup diidentifikasi (3). sangat jelas (5) A Proses penyusunan kebijakan pengembangan pasar tradisional yang benar B Akuntabilitas C Keterlibatan stakeholders . perpaduan lama dan baru (3). Indikator dan Nilai Proses Pembuatan Kebijakan NO KRITERIA INDIKATOR 1. ada. cukup (3). Terdapat kejelasan dari sasaran kebijakan yang diambil. sangat paham (5) Tidak jelas (1). dapat (5) Tidak paham (1). seluruhnya (5) Tidak paham (1). cukup paham (3).Lampiran 1. Pemahaman fungsi. cukup memenuhi (3). konsekuensi tidak terlaksana (3). sebagian (3). dengan konsekuensi mekanisme pertanggungjawaban jika tidak terpenuhi 6. konsekuensi terlaksana (5) Tidak dapat (1). Penyusunan kebijakan berdasarkan informasi yang akurat. Melibatkan seluruh stakeholders yang berkepentingan dalam proses perencanaan 9. sangat jelas (5) Tidak (1). sangat paham (5) Tidak (1). Pemahaman tanggungjawab dari pembuat kebijakan terhadap publik dan lembaga-lembaga stakeholders lain atau sektor lain 8. wewenang dan tanggungjawab dari stakeholders yang terlibat 10.

ada berhasil (5) Tidak ada (1). cukup sesuai (3). tersedia sebagian (3). ada tapi kurang efektif (3). Terdapat upaya untuk meningkatkan arus informasi melalui kerjasama dengan media massa dan lembaga non pemerintahan 16. sangat peka (5) Tidak ada (1). Terdapat upaya dari stakeholders untuk merespon pendapat masyarakat 25. Terdapat aturan hukum yang menjamin kemudahan stakeholders lain dan masyarakat (pedagang pasar) untuk mengakses informasi kebijakan secara bebas 21. ada tapi belum menjamin sepenuhnya (3). ada tapi tidak semuanya (3). Terdapat akses terbuka dan bebas bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat dalam proses penyusunan kebijakan 19. Sasaran dan tujuan pengembangan ditetapkan berdasarkan konsensus antara pemerintah dan masyarakat 18. sebagian (3). ada tapi tidak bebas (3). ada tapi jarang (3). Perumusan kebijakan sesuai dengan kebutuhan publik dan perubahan lingkungan 23. diidentifikasi (5) E Partisipasi publik F Transparansi G Responsivitas H Tersedianya dana yang memadai dan berkelanjutan . tersedia sebagian (3). ada sering dilakukan (5) D Sosialisasi kebijakan Tidak ada (1). ada tapi tidak berhasil (3). tersedia seluruhnya (5) Tidak ada (1). Tersedianya informasi yang jelas tentang prosedur. ada dan sangat efektif (5) Tidak (1). ada dan bebas (5) Tidak tersedia (1). ya (5) Tidak ada (1). Teridentifikasinya biaya atau dana untuk pengembangan pasar NILAI Tidak ada (1). ada sering dilakukan (5) Tidak ada (1). cukup diidentifikasi (3). Adanya seminar/workshop oleh dinas terkait 15. tersedia seluruhnya (5) Tidak sesuai (1). Kepekaan stakeholders dalam menanggapi kepentingan masyarakat dan lembaga stakeholders lain 24. dapat dikontrol dan bersifat terbuka 17. Adanya forum untuk menampung partisipasi masyarakat yang representatif. sangat sesuai (5) Tidak peka (1). proses dan biaya perencanaan kebijakan 20. ada tapi jarang (3).. ada dan semuanya (5) Tidak diidentifikasi (1). NO KRITERIA INDIKATOR 13. cukup peka (3). Tersedianya informasi yang memadai sehingga mudah dimengerti 22. jelas arahnya..Lanjutan Lampiran 1. ada dan menjamin seluruhnya (5) Tidak tersedia (1). Penyebarluasan informasi mengenai program pengembangan pasar tradisional melalui media massa maupun elektronik pada publik 14.

tidak memperhatikan. tidak terselesaikan (1). memperhatikan...Lanjutan Lampiran 1. NO KRITERIA INDIKATOR 26. dampak berat (1). ada alternatif program tapi tidak tumpang tindih (5) I Ego sektoral 27. Kebijakan pengembangan pasar tradisional tidak menimbulkan konflik antar sektor atau antar kawasan maupun antara masyarakat dengan pemerintah 28. dampak ringan (3). terselesaikan (3). tidak timbul dampak (5) Terdapat konflik. ada alternatif program yang tumpang tindih tapi cukup diatasi (3). Pembangunan pasar tradisional memperhatikan kepentingan sektor dan kawasan lain NILAI Tidak memperhatikan. terdapat konflik. tidak terdapat konflik (5) Tidak ada alternatif program (1). Tujuan kebijakan pengembangan pasar tradisional tidak menimbulkan konflik dengan alternatif program perekonomian wilayah J Kebijakan lain yang tidak tumpang tindih dari pengembangan pasar tradisional .

Lampiran 2.Hasil kebijakan memuaskan kebutuhan publik 11. cukup memuaskan (3). dilaksanakan sesuai sasaran dan tujuan (5) Tidak (1). tersedia tapi jarang dilakukan (3).Keterbukaan informasi dalam pelaksanaan kebijakan terkait sumberdaya. jadwal pelaksanaan proyek dan hasil yang dicapai terhadap segenap stakeholders dan masyarakat B Monitoring dan evaluasi program C Responsivitas D Akuntabilitas E Transparansi . Ketepatan alokasi sumberdana 5. cukup tersedia (3). Program atau aktivitas telah dilaksanakan NILAI Tidak dilaksanakan (1) dilaksanakan (3). Konsistensi pelaksanaan program sesuai target operasional yang telah ditetapkan maupun prioritas dalam mencapai target tersebut 6. Indikator dan Nilai Penerapan Kebijakan NO KRITERIA INDIKATOR 1. ada sering dilakukan (5) Tidak tersedia (1). Terdapat kegiatan monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan program pengembangan pasar tradisional 7. ya (5) A Penerapan perencanaan pengembangan pasar tradisional secara efektif dan efisien 2. Arsip dan dokumen dari laporan kegiatan monitoring dan evaluasi tersedia 9. Program atau aktivitas dilaksanakan secara efektif dan efisien 3. tercapai seluruhnya (5) Tidak tepat (1). dapat (5) Tidak (1). Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pemantauan dan pengawasan 10. cukup terlibat (3). ada tapi jarang dilakukan (3). tersedia sering dilakukan Tidak tersedia (1). sangat memuaskan (5) Tidak dapat (1). sangat tepat (5) Tidak konsisten (1). cukup (3). cukup tepat (3). proses tender. alokasi dana. cukup efektif dan efisien (3). sangat konsisten (5) Tidak ada (1). Sasaran/hasil yang diinginkan telah tercapai 4. Tersedianya lembaga/dinas/badan yang malaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi 8. sebagian sasaran tercapai (3). sangat terlibat (5) Tidak memuaskan (1). cukup konsisten (3).Pelaksanaan dan hasil kebijakan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan sosial 12. Matriks Kriteria. sangat efektif dan efisien (5) Tidak tercapai (1). cukup (3). tersedia lengkap (5) Tidak terlibat (1).

cukup bermanfaat (3). dapat (5) Tidak dapat (1). terlibat seluruhnya (5) Tidak berpengaruh (1).Adanya peraturan mampu menjawab permasalahan pengembangan pasar tradisional 17. sangat bermanfaat (5) Tidak dapat (1). cukup (3). ada sangat jelas (5) Tidak tersedia (1). didistribusikan merata (5) Tidak terlibat (1). mampu (5) Tidak terlibat (1). tersedia tapi pengaduan tidak ditanggapi (3).Hasil kebijakan yang dicapai dapat memberikan manfaat kepada kebutuhan publik 20.Adanya sanksi yang tegas bagi pelaku yang menyimpang dari kebijakan 16. didistribusikan tidak merata (3).Pelaksanaan program pengembangan pasar tradisional melibatkan pihak swasta 18. berpengaruh besar (5) Tidak bermanfaat (1).Keikutsertaan pedagang dalam pengelolaan dan pelaksanaan program NILAI Tidak ada (1).Terdapat dasar hukum (UU/Perda) yang jelas dalam pelaksanaan program kebijakan pengembangan pasar 14. berpengaruh kecil (3). tersedia ditanggapi (5) F Legalitas kebijakan Tidak ada sanksi (1). terlibat sebagian (3).Hasil kebijakan yang dicapai dapat memecahkan masalah 21. terlibat sepenuhnya (5) G Keterlibatan swasta H Ketepatan I Keadilan . cukup mampu (3). terlibat sebagian (3). sanksi cukup tegas (3)...Lanjutan Lampiran 2.Manfaat kebijakan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh pihak yang berkepentingan sehingga tidak ada pihak yang dimarginalkan 22. sanksi tegas (5) Tidak mampu (1). NO KRITERIA INDIKATOR 13.Tersedianya mekanisme pengaduan masyarakat jika ada peraturan yang dilanggar maupun penyimpangan tindakan aparat publik (misalnya menerima uang suap) di dalam pelaksanaan program 15.Keterlibatan pihak swasta memberi pengaruh terhadap keberhasilan pengembangan pasar tradisional 19. ada cukup jelas (3).

274) Alternatif Pembentukan PD.253) Teknis (0.482) Meningkatkan kesejahteraan pedagang dan masyarakat (0.250) Menciptakan lapangan kerja (0.227) Terciptanya kondisi pasar yang aman. nyaman dan bersih bagi konsumen (0.195) • Kriteria • • Meningkatkan PAD (0.370) • • Peningkatan sarana dan prasarana pasar (0.131) Sosial (0.053) Pendistribusian PKL ke pasarpasar yang telah dibangun (0.Lampiran 3.125) Pemberdayaan pedagang dan pengelola pasar (0.421) Manajemen (0. Struktur Hirarki AHP Pengembangan Pasar Tradisional (1.567) Kondisi fisik pasar lebih bersih dan rapi (0.000) Tujuan Aspek Ekonomi (0. Pasar (0.498) Menciptakan pasar yang berdaya saing sehingga lebih kompetitif (0.133) Menjalin kemitraan dengan UKM dan Koperasi (0.288) Membentuk pasar tradisional menjadi usaha yang efisien (0.253) Penataan dan pembinaan PKL (0.115) Pembentukan forum komunikasi (0.136) .155) Pemberian bantuan kredit (0.269) • • • • Meningkatkan manajemen pengelolaan pasar tradisional secara profesional (0.433) • • • Mengurangi potensi konflik dengan masyarakat (0.090) Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat (0.243) Pembangunan pasar tradisional skala lingkungan di lokasi strategis dekat pemukiman (0.

Lampiran 4. Bagan Struktur Organisasi Diperindakop KEPALA BAGIAN TU SUBBAG UMUM SUBBAG KEU BIDANG PERINDUSTRIAN BIDANG PERDAGANGAN BIDANG PM & PROMOSI BIDANG KOPERASI & UKM SEKSI BINA IKKR SEKSI PEMBINAAN USAHA PERDAGANGAN SEKSI PENANAMAN MODAL SEKSI BINA LEMB & USAHA KOPERASI SEKSI BINA LKA SEKSI PEMASARAN & EKSPOR IMPOR SEKSI PROMOSI SEKSI BINA UKM & PKL 7 UPTD PASAR Sumber : Disperindagkop Kota Bogor. 2005 .

Tahun 2005 . Gambaran Umum Struktur Organsisasi UPTD KEPALA KOORDINATOR STAF/PELAKSANA KOORDINATOR HARTIB KOORDINATOR RETRIBUSI KOORDINATOR PENGOLAHAN & PEMELIHARAAN STAF/PELAKSANA HARTIB STAF/PELAKSANA RETRIBUSI STAF/PELAKSANA PENGOLAHAN & PEMELIHARAAN PETUGAS Sumber : Laporan Tahunan 7 UPTD Pasar Kota Bogor.Lampiran 5.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->