ROZA YUNITA PENGARUH PEMBERIAN URINE SAPI, AIR KELAPA, DAN ROOTONE F TERHADAP PERTUMBUHAN SETEK TANAMAN MARKISA

(Passiflora edulis var. flavicarpa)
ABSTRAK. Penelitian mengenai “Pengaruh pemberian urine sapi, air kelapa, dan Rootone F terhadap pertumbuhan setek tanaman markisa (Passiflora edulis Var flavicarpa)” telah dilaksanakan di Alahan Panjang Kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok yang berada pada ketinggian 1.550 m dpl. Penelitian mulai dari akhir Januari sampai Mei 2011. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memilih sumber auksin yang terbaik untuk merangsang pertumbuhan akar setek batang tanaman markisa. Penelitian ini disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan. Data hasil pengamatan dianalisis secara statistik dengan uji F, jika F hitung perlakuan lebih besar dari F tabel 5% akan dilanjut dengan uji Duncan’s New Multiple Range Test (DNMRT). Taraf perlakuan yang diberikan yaitu tanpa perlakuan 0%, urine sapi konsentrasi 25%, air kelapa muda konsentrasi 25% dan Rootone F 100 mg /setek. Variabel yang diamati meliputi Waktu muncul tunas pertama (hari), Panjang tunas terpanjang (cm), jumlah akar per setek (buah), panjang akar terpanjang (cm), Berat segar tunas (g) , berat kering tunas (g) , berat segar akar (g), berat kering akar (g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa urine sapi konsentrasi 25% dan Rootone F 100 mg memberikan hasil terbaik dalam meransang pertumbuhan akar setek batang markisa.

ABSTRACT. Research on "The impact of cow urine, water coconut, and Rootone F on the growth of plant cuttings passion fruit (Passiflora edulis var flavicarpa)" has been implemented in Alahan Panjang Valley District Gumanti Solok regency located at an altitude of 1.550 m above sea level. Research ranging from late January until May 2011. The purpose of this study was to choose the best source of auxin to stimulate root growth of passion fruit plant stem cuttings. The research was arranged in Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 6 replications. Data observation in statistical analysis by F test, if the calculated F is greater than the F treatment table 5% will be continued to test Duncan's New Multiple Range Test (DNMRT). Standard treatment is no treatment given 0%, 25% concentration of cow urine, young coconut water concentration of 25% and Rootone F 100 mg / cuttings. Variables that were observed include the first shoots emerged Time (days), length of longest shoot (cm), number of roots per stem cutting (the fruit), longest root length (cm), shoot fresh weight (g), shoot dry weight (g), fresh weight root (g), root dry weight (g). The results showed that cow urine concentration of 25% and 100 mg Rootone F give the best results in stimulating the growth of stem cuttings root of passion fruit.

Pengembangan komoditas hortikultura, khususnya buah-buahan dapat menjadi salah satu komponen dari beberapa sumber pertumbuhan baru dalam perekonomian nasional. Perkembangan agribisnis buah-buahan akan memberi nilai tambah bagi produsen dan industri pengguna, serta dapat memenuhi dan memperbaiki keseimbangan gizi bagi konsumen. Salah satu jenis buah yang potensial dan layak diusahakan secara komersial sebagai komoditas unggulan adalah markisa. Menurut Badan Agribisnis Departemen Pertanian, buah markisa merupakan bahan baku industri minuman yang memiliki prospek yang cerah, baik dalam negeri maupun di luar negeri. Daya serap industri pengolahan hasil markisa dalam negeri cukup tinggi. Industri markisa Pyramid Unta di Sumatera Utara setiap bulan membutuhkan buah markisa minimal 100-120 ton untuk memproduksi sebanyak 35.000-40.000 liter sirup markisa. Peluang ekspor untuk buah segar pun

cukup cerah dengan negara tujuan Jepang dan Eropa (Rukmana, 2007). Tanaman markisa dapat tumbuh pada ketinggian 600-2.000 m di atas permukaan laut. Meskipun demikian, pertumbuhan dan produksi yang optimalnya dihasilkan pada ketinggian lebih dari 1.500 m di atas permukaan laut. Curah hujan yang dibutuhkan adalah 1.500-2.000 mm per tahun dengan suhu rendah. Pada umumnya tanaman markisa dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah. Markisa tumbuh subur pada tanah yang berpasir yang gembur dan banyak mengandung humus, serta mempunyai pH 6-7,5. Markisa juga bisa tumbuh pada tanah yang masam, tetapi harus dinetralkan dengan cara menambah pupuk kandang atau kapur (Waitlem, 2001). Markisa Varietas flavicarpa adalah salah satu komoditas buah unggulan Sumatera Barat selain jeruk, pepaya dan pisang, khususnya di Kabupaten Solok. Produksi markisa di Kabupaten Solok pada tahun 2003 adalah 30.951 ton

urine sapi. vitamin B. Air kelapa muda juga mengandung air. Auksin tersebut berasal dari berbagai zat yang ter-kandung dalam protein hijauan dari makanannya. berwarna putih. Tanaman markisa dapat diperbanyak secara generatif maupun secara vegetatif. ZPT adalah senyawa organik yang bukan hara (nutrien). ZPT terdiri dari lima yaitu auksin yang mempunyai kemampuan dalam mendukung perpanjangan sel. yaitu dengan pemberian hormon dari luar. mineral. pupuk kandang sapi. . 1983). indole 3 butirat (IBA) 0. pemanjangan sel atau keduanya. vitamin. Upaya meningkatkan perkembangan perakaran pada setek batang tanaman markisa. Dekamon. Ca dan P. (3) terjadi stagnasi pertumbuhan pada saat pemindahan bibit dari seed bed ke polybag. giberelin dan sitokinin 5.000 hektar. Solok. Tanaman markisa yang akan di setek berumur 4 tahun. Pelaksanaannya akan dimulai dari akhir Januari sampai Mei 2011.8 mg/L. air kelapa muda mengandung senyawa organik seperti vitamin C. karena mengandung bahan aktif dari hasil formulasi beberapa hormon tumbuh akar yaitu naftalenasetamida 0.067%. BAHAN DAN METODA Percobaan ini dilaksanakan di Alahan Panjang Kec. ZPT auksin secara garis besarnya dapat dibagi atas dua golongan. air kelapa. aquades. Auksin yang terkandung dalam urine sapi terdiri dari auksin-a (auxentriollic acid). karbohidrat. dan Gunung Talang.1. Karena auksin tidak terurai dalam tubuh maka auksin dikeluarkan sebagai filtrat bersama dengan urine yang mengeluarkan zat spesifik yang mendorong perakaran.458. 2 metil 1 naftalenasetamida 0. giberelin dapat menstimulasi pembelahan sel. dengan panjang ruas yang akan di stek 4 mata ruas . 2004).ROZA YUNITA dan mengalami peningkatan tahun 2004 menjadi 102. bubuk Rooton-F. Dalam rangka pengembangan dan peningkatan produksi tanaman. sitokinin mendukung terjadinya pembelahan sel.013%. yang berguna untuk mempercepat dan memperbanyak keluarnya akar-akar baru.057%. 2 metil 1 naftalen asetat 0. yang dalam jumlah sedikit dapat dapat mendukung. Air kelapa muda mengandung zat hara dan zat pengatur tumbuh yang diperlukan untuk perkembangan dan pertumbuhan tanaman. dan tiram 4% (Rismunandar. protein. luas areal tanaman markisa saat ini diperkirakan sudah melebihi 4.110 ton per tahun (Bappeda Kab. (2) tanaman baru bisa berproduksi setelah berumur ± 1 tahun. Menurut data Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat tahun 2007.680 m dpl. 1992). auksin-b dan auksin lain (hetero auksin) yang merupakan IAA (Indol Acetic Acid). menghambat dan dapat merubah proses fisiologi tumbuhan. yaitu alami seperti urine sapi dan air kelapa muda dan sintesis (buatan) dengan merk dagang seperti Atonik. Sesuai dengan pendapat Yasman dan Smith tahun 1988 cit Irwanto (2001). dapat ditempuh dengan pemberian hormon dari luar. (4) ada kemungkinan sifat tanaman baru tidak serupa dengan induknya. Zat Pengatur Tumbuh Rootone F merupakan ZPT sintetis yang berbentuk serbuk. bibit merupakan salah satu aspek budidaya yang mempunyai peranan penting. Urine sapi adalah limbah hewan ternak yang mengandung auksin dan senyawa nitrogen.033%. Solok yang berada pada ketinggian 1. Lembang Jaya. ethilen berperan dalam proses pematangan buah. Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah batang tanaman markisa varietas Passiflora edulis Var flavicarva. Rootone F. Root Up. hormon auksin. Proses pemberian hormon harus memperhatikan jumlah dan konsentrasinya agar didapatkan sistem perakaran yang baik dalam waktu yang relatif singkat. Ada tiga kecamatan yang menjadi sentra produksi markisa di Kabupaten Solok yaitu Kecamatan Lembah Gumanti. Bibit yang baik akan menentukan keberhasilan dari komoditi dikemudian hari. dan asam absisat (Abidin. Keistimewaan perbanyakan secara generatif adalah bibit dapat diperoleh dalam jumlah yang banyak dan pertumbuhannya relatif seragam sedangkan kelemahannya sebagai berikut: (1) memerlukan waktu yang relatif lama untuk memperoleh bibit yang siap tanam ± 4 bulan. Menurut Tulecke tahun 1961 cit Juswardi (1998). Lembah Gumanti Kab. Andosol. yang menyatakan bahwa untuk mempercepat perakaran pada setek diperlukan perlakuan khusus. sedikit lemak.

Waktu muncul tunas pertama tanaman markisa pada beberapa zat pengatur tumbuh. Caranya dengan mengukur akar terpanjang mulai dari pangkal akar sampai ujung akar. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemberian urine sapi konsentrasi 25%. sedangkan atap dan dindingnya dari plastik transparan yang bertujuan untuk mengatur pencahayaan selama proses pembibitan. Pengukuran akar terpanjang dilakukan setelah selesai pengamatan jumlah akar persetek. Tunas yang telah ditimbang berat segarnya kemudian di ovenkan selama 48 jam pada suhu 700 C. Penyiraman dilakukan dua kali sehari pada pagi dan sore hari sampai bibit berusia satu bulan. Setelah itu. lebar 2 m. kemudian digoyang sehingga akar tidak terputus. air kelapa muda konsentrasi 25% dan Rootone F 100 mg/setek menunjukan pengaruh berbeda nyata terhadap waktu muncul tunas pertama. tinggi 1.33 65. Caranya dengan memisahkan akar dari bibit secara hati-hati.ROZA YUNITA polybag. masing-masing petak terdapat 4 tanaman markisa dan 2 dijadikan sampel. yaitu minggu ke 12 setelah ditanam dengan cara membelah polibag kemudian media setek dimasukkan kedalam wadah yang berisi air. Tabel sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 8a dan dilanjutkan dengan uji DNMRT pada taraf nyata 5% disajikan pada Tabel 1 Tabel 1.5 cm.67 a b b b . Pengukuran berat kering akar pada minggu ke 12 setelah ditanam. Pengamatan selanjutnya dilakukan setiap minggu sampai bibit berumur 12 minggu. Naungan dibuat secara kolektif dengan ukuran panjang 3 m. Pengamatan terhadap saat muncul tunas setek dengan menghitung jumlah hari yang diperlukan setiap tanaman sampel sejak tanam sampai muncul tunas.5 cm.17 73. dengan dosis pemberian 250 ml/polibag diberikan pada saat bibit berumur 1 bulan. Pengukuran berat kering tunas dilakukan pada minggu ke 12 setelah ditanam. sekam padi dan bahan-bahan lain yang diperlukan untuk pembuatan setek. Penyisipan dilakukan 2 minggu setelah tanam. Dalam pemeliharaan setek media setek harus dijaga sebaik-baiknya agar tetap lembab. Pengamatan panjang tunas terpanjang dilakukan jika setek telah mengeluarkan tunas lebih dari 0. Pengukuran berat segar akar dilakukan pada akhir penelitian. Pengukuran berat segar tunas dilakukan pada akhir penelitian. jika F hitung perlakuan lebih besar dari F tabel 5% akan dilanjut dengan uji Duncan’s New Multiple Range Test (DNMRT). yaitu pada minggu ke 12 setelah ditanam. semua akar yang keluar pada pangkal bibit dihitung yang mempunyai panjang minimal 2 cm. Percobaan ini disusun menurut Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan. Pupuk yang diberikan berupa larutan pupuk urea 10 g/10 liter air. Perhitungan jumlah akar per setek dilakukan pada akhir penelitian. kemudian ditimbang berat segarnya. kemudian ditimbang berat segarnya.83 64. Seluruhnya terdiri dari 24 petak percobaan. Akar yang telah ditimbang berat segarnya di ovenkan selama 48 jam pada suhu 700 C. Kriteria muncul tunas adalah apabila dari setek telah keluar tunas dengan panjang minimal 0. dimana cahaya yang masuk sekitar 20 atau 30% Pemeliharaan berupa penyiraman.5 m. kemudian ditimbang berat keringnya. Rangka naungan terbuat dari bambu dan kayu. selanjutnya penyiraman dapat dilakukan satu kali sehari pagi atau sore hari. Caranya dengan memotong seluruh tunas mulai dari pangkal tunas sampai titik tumbuh secara hati-hati. Pengamatan tunas terpanjang dilakukan dengan cara mengukur tunas terpanjang pada saat pengamatan. kemudian ditimbang berat keringnya. Zat Pengatur Tumbuh Tanpa Perlakuan Urine Sapi konsentrasi 25% Air Kelapa Muda konsentrasi 25% Rootone F 100 mg/setek Waktu muncul tunas pertama (hari) 89. yaitu pada minggu ke 12 setelah ditanam. Data yang diperoleh akan dianalisis dengan uji F. pada minggu ke 12 setelah ditanam. Pengukuran dimulai dari pangkal tunas sampai titik tumbuh.

Pertumbuhan panjang tunas dipengaruhi oleh hormon auksin dan sitokinin. Mekanisme kerja auksin dalam mempengaruhi pemanjang-an sel-sel tanaman dapat dijelaskan sebagai berikut. hal ini diduga karena aktivitas kandungan hormon endogen sangat lambat sehingga kurang efektif untuk memacu proses pembelahan sel dan diferensiasi sel. Kombinasi dari jenis bahan aktif ini lebih efektif dalam merangsang pertumbuhan panjang tunas markisa. sehingga umur muncul tunas menjadi lebih lama.17 4. auksin memacu protein tertentu .033%. Pada yang diberi Zat Pengatur Tumbuh. Tabel 2.83 13. Sitokinin akan merangsang pembelahan sel melalui peningkatan laju sintesis protein. sehingga mendorong pembelahan sel dan menyebabkan tunas muncul lebih awal.17 hst.28% Angka-angka pada lajur yang sama dan diikuti oleh huruf kecil yang sama. Tabel sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 8b dan dilanjutkan dengan uji DNMRT pada taraf nyata 5% disajikan pada Tabel 2. Pemberian auksin eksogen (dari luar) akan meningkatkan aktifitas auksin endogen yang sudah ada pada setek. Pemberian urine sapi konsentrasi 25%. Ketiga jenis pemberian Zat Pengatur Tumbuh ini memperlihatkan waktu muncul tunas lebih cepat dari tanpa perlakuan.067%. air kelapa muda konsentrasi 25% dan Rootone F 100 mg/setek menunjukan pengaruh berbeda nyata terhadap panjang tunas terpanjang. berbeda tidak nyata menurut DNMRT pada taraf 5 % Panjang tunas terpanjang (cm) 30 16. air kelapa konsentrasi 25% dan Rootone F 100 mg/setek memperlihatkan pengaruh yang sama. yang diberi Zat Pengatur Tumbuh Rootone F 100 mg/setek tercepat pengaruhnya dalam merangsang tunas setek. Zat Pengatur Tumbuh Rootone F 100 mg/setek Urine Sapi konsentrasi 25% Air Kelapa Muda konsentrasi 25% Tanpa Perlakuan KK = 59. sebaliknya pembentukan tunas lebih dipengaruhi oleh differensiasi dari sel meristematik. 2 metil 1 naftalen asetat 0.67 a b bc c Pada Tabel 2 diperlihatkan bahwa pemberian Rotoone F 100 mg/setek menghasilkan panjang tunas terpanjang dan itu berbeda nyata dengan pemberian Zat Pengatur Tumbuh lain. berbeda tidak nyata menurut DNMRT pada taraf 5 % Pengaruh pemberian urine sapi konsentrasi 25%. dan tiram 4%.013%.ROZA YUNITA KK = 17. indole 3 butirat (IBA) 0. Hal ini disebabkan karena Zat Pengatur Tumbuh alami yang ada pada setek (endogen) lebih lambat merangsang pembelahan dan pemanjangan sel. Hal ini memberikan indikasi bahwa dari berbagai perlakuan yang diberikan yang mengandung auksin akan mempercepat munculnya tunas. Hal ini disebabkan karena Rotoone F mengandung bahan aktif berupa naftalenasetamida 0. sedangkan auksin akan memacu pemanjangan sel-sel yang menyebabkan pemanjangan batang.057%. Panjang tunas terpanjang tanaman markisa 12 MST pada beberapa zat pengatur tumbuh. Tanpa perlakuan umur muncul tunasnya lebih lama dibandingkan dengan yang lainnya yaitu umur 89. Pertumbuhan panjang tunas terkait dengan pembelahan sel dan panjang sel.65% Angka-angka pada lajur yang sama dan diikuti oleh huruf kecil yang sama. 2 metil 1 naftalenasetamida 0. Dengan tanpa perlakuan menghasilkan tunas yang paling pendek. Ini diduga jumlah auksin yang dikandungnya berada dalam jumlah yang tepat yang kemudian berinteraksi dengan Zat Pengatur Tumbuh lainnya yang terdapat dalam bahan setek seperti sitokinin dan auksin yang saling bekerja sama untuk terjadinya pembelahan sel dan meningkatkan aktifitas enzim-enzim tertentu dalam mendorong sintesis protein.

auksin harus tersedia secara terus menerus. Pemberian urine sapi konsentrasi 25%.83 a 5. air kelapa muda konsentrasi 25% dan Rootone F 100 mg/setek menunjukan pengaruh berbeda nyata terhadap jumlah akar per bibit. Mn. keunggulan urine sapi adalah mempunyai kandungan unsur hara yang lengkap diantaranya N. Zn. Selain itu. Tabel 4. Fe. P. sel terus tumbuh dengan mensintesis kembali material dinding sel dan sitoplasma. Sel tumbuhan.17 32 25. berbeda tidak nyata menurut DNMRT pada taraf 5 % Tabel 4 memperlihatkan bahwa panjang akar terpanjang terdapat pada perlakuan pemberian Zat Pengatur Tumbuh urine sapi konsentrasi 25%. Ion H+ ini mengaktifkan enzim tertentu. kemudian memanjang akibat air yang masuk secara osmosis. Panjang akar terpanjang (cm) 33. Di dalam urine sapi juga terkandung hormon zat peransang tumbuh jenis auksin. Ca. sehingga untuk pertumbuhan dan perkembangan Zat Pengatur Tumbuh Rootone F 100 mg/setek Urine Sapi konsentrasi 25% Air Kelapa Muda konsentrasi 25% Tanpa Perlakuan KK = 34. Setelah pemanjangan. Jumlah akar tanaman markisa 12 MST pada beberapa zat pengatur tumbuh. Tabel sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 8c dan dilanjutkan dengan uji DNMRT pada taraf nyata 5% disajikan pada Tabel 3.3 % selanjutnya mencukupi dalam memacu panjang akar dan jumlah akar. Pemberian urine sapi dapat memberikan pengaruh pada pertumbuhan tanaman yang dapat dilihat dari jumlah akar yang terbentuk lebih banyak.52 % Angka-angka pada lajur yang sama dan diikuti oleh huruf kecil yang sama. sehingga persistensinya lebih lama dan mobilitas dalam tanaman rendah sehingga memberikan kemungkinan lebih berhasilnya pembentukan akar. Panjang akar terpanjang tanaman markisa 12 MST pada beberapa zat pengatur tumbuh. Hal ini disebabkan karena konsentrasi hormon eksogen yang terkandung dalam masing-masing Zat Pengatur Tumbuh yang ditranslokasikan mampu . Hal ini disebabkan karena Rootone F 100 mg/setek mengandung NAA dan IBA yang lebih aktif dalam mendorong pembentukan akar. Pemberian urine sapi konsentrasi 25%. air kelapa muda konsentrasi 25% dan Rootone F 100 mg/setek menunjukan pengaruh berbeda nyata terhadap panjang akar terpanjang.5 a 3. Jumlah akar (buah) 5. Zat Pengatur Tumbuh Rootone F 100 mg/setek Urine Sapi konsentrasi 25% Air Kelapa Muda konsentrasi 25% Tanpa Perlakuan KK = 33. Untuk terbentuk-nya akar. berbeda tidak nyata menurut DNMRT pada taraf 5 % Pada tabel 3 dapat dilihat bahwa pemberian Zat Pengatur Tumbuh urine sapi konsentrasi 25% dan Rotoone F 100 mg/setek memperlihatkan pembentukan jumlah akar yang lebih banyak dibandingkan dengan pemberian Zat Pengatur Tumbuh air kelapa muda konsentrasi 25% dan tanpa perlakuan.5 b 3 b Tabel 3. air kelapa konsentrasi 25% dan Rootone F 100 mg/setek.ROZA YUNITA yang ada di membran plasma sel tumbuhan untuk memompa ion H+ ke dinding sel. Tabel sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 8d dan dilanjutkan dengan uji DNMRT pada taraf nyata 5% disajikan pada Tabel 4. dan Zu. sehingga memutuskan beberapa ikatan silang hidrogen rantai molekul selulosa penyusun dinding sel.67 a a a b Angka-angka pada lajur yang sama dan diikuti oleh huruf kecil yang sama.50 9. K. Sesuai dengan pendapat Harjadi dan Rochiman tahun 1993 cit Pratama (2010) bahwa IBA bersifat lebih stabil.

berbeda tidak nyata menurut DNMRT pada taraf 5 % Tabel 6 kering tunas pemberian Zat konsentrasi 25 memperlihatkan bahwa berat tertinggi diperoleh dangan Pengatur Tumbuh urine sapi %. air kelapa muda konsentrasi 25% dan Rootone F 100 mg/setek menunjukan pengaruh berbeda nyata terhadap berat kering tunas.65 19. Asimilat yang terbentuk juga semakin tinggi dan asimilat tersebut akan ditranslokasikan ke seluruh bagian tubuh termasuk juga untuk pertumbuhan. air kelapa muda konsentrasi 25% dan Rootone F 100 mg/setek menunjukan pengaruh berbeda nyata terhadap berat segar tunas. Cepatnya tunas muncul maka proses pertumbuhan tanaman akan lebih cepat sehingga Zat Pengatur Tumbuh Rootone F 100 mg/setek Urine Sapi konsentrasi 25% Air Kelapa Muda konsentrasi 25% Tanpa Perlakuan KK = 45 % pertambahan tinggi tanaman dan jumlah daun yang dihasilkan lebih tinggi pula. Tabel sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 8f dan dilanjutkan dengan uji DNMRT pada taraf nyata 5% disajikan pada Tabel 6. yakni mempengaruhi perkembangan dan pemanjangan sel.74 1. berbeda tidak nyata menurut DNMRT pada taraf 5 % Berat segar tunas (g) 23. Hal ini berkorelasi sama dengan parameter panjang tunas. Berat kering tunas tanaman markisa 12 MST pada beberapa zat pengatur tumbuh. apabila jumlah akar yang terbentuk banyak. Tabel 5. Pemberian urine sapi konsentrasi 25%.78 16. data ini berkolerasi positif dengan berat segar tunas.67 cm. Hasil pengamatan yang diperoleh sebelumnya untuk bobot segar memberikan pengaruh yang .65 a ab b c Tabel 5 memperlihatkan bahwa pemberian Zat Pengatur Tumbuh Rotoone F 100 mg/setek dan urine sapi konsentrasi 25% memiliki berat segar tunas tertinggi dibandingkan dengan air kelapa muda konsentrasi 25% dan tanpa perlakuan. Berkorelasinya berat segar tunas dengan parameter sebelumnya disebabkan karena berat segar tunas merupakan akumulasi dari berat basah cabang dan jumlah daun. maka kemampuan akar untuk menyerap unsur hara juga semakin tinggi. Tabel sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 8e dan dilanjutkan dengan uji DNMRT pada taraf nyata 5% disajikan pada Tabel 5. Berat kering tunas (g) 1.94 1. Tabel 6. Berat segar tunas tanaman markisa 12 MST pada beberapa zat pengatur tumbuh.35 0. Zat Pengatur Tumbuh Rootone F 100 mg/setek Urine Sapi konsentrasi 25% Air Kelapa Muda konsentrasi 25% Tanpa Perlakuan KK = 37. Tingginya tanaman dan banyaknya daun mengakibatkan berat akan semakin meningkat. Pemberian urine sapi konsentrasi 25%. Sementara tanpa perlakuan memiliki panjang akar yang terendah dibanding dengan yang lainnya yaitu 9. Panjang akar erat kaitannya dengan jumlah akar yang terbentuk.ROZA YUNITA untuk meningkatkan panjang akar sehingga mampu meningkatkan proses fisiologis dalam sel.09 a a a b Angka-angka pada lajur yang sama dan diikuti oleh huruf kecil yang sama.13 2. air kelapa konsentrasi 25% dan Rotoone F 100 mg/setek.7 % Angka-angka pada lajur yang sama dan diikuti oleh huruf kecil yang sama.

Tabel sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 8g dan dilanjutkan dengan uji DNMRT pada taraf nyata 5% disajikan pada Tabel 7. Berat segar akar tanaman markisa 12 MST pada beberapa zat pengatur tumbuh.79 3. penurunan asimilat dan translokasinya ke dalam organ tanaman. Pertumbuhan akar yang baik juga mencer-minkan pertumbuhan tunas yang baik. Pemberian urine sapi konsentrasi 25% dan Rootone F 100 mg/setek memiliki jumlah akar yang lebih banyak serta panjang akar terpanjang.ROZA YUNITA berbeda nyata. berbeda tidak nyata menurut DNMRT pada taraf 5 % Tabel 8 memperlihatkan bahwa pemberian Zat Pengatur Tumbuh urine sapi konsentrasi 25%. air kelapa muda konsentrasi 25% dan Rootone F 100 mg/ menunjukan pengaruh berbeda nyata terhadap terhadap berat kering akar.89 1.03 % Angka-angka pada lajur yang sama dan diikuti oleh huruf kecil yang sama. Berat segar akar (g) 3. berbeda tidak nyata menurut DNMRT pada taraf 5 % tanaman yang merupakan hasil dari proses fotosintesis. air kelapa konsentrasi 25% dan Rootone F 100 mg/setek memiliki berat . Pemberian urine sapi konsentrasi 25%. sehingga pada berat segar akar memiliki berat yang lebih tinggi. Pertumbuhan tunas juga dipengaruhi oleh akar tanaman.44 0.27 a a a b Angka-angka pada lajur yang sama dan diikuti oleh huruf kecil yang sama. Berat segar tunas dan berat kering tunas berhubungan dengan jumlah daun.Akar berfungsi sebagai bagian tanaman yang menyerap unsur hara. Volume akar sangat berkaitan dengan jumlah akar dan panjang akar yang dihasilkan oleh tanaman. Tabel sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 8h dan di-lanjutkan dengan uji DNMRT pada taraf nyata 5% disajikan pada Tabel 8. panjang tunas dan berat segar tunas. Berat kering tunas merupakan hasil fotosintesis daun dan daya serap unsur hara oleh akar. Tabel 8. Dimana pemberian urine sapi konsentrasi 25% dan Zat Pengatur Tumbuh Rootone F 100 mg/setek Urine Sapi konsentrasi 25% Air Kelapa Muda konsentrasi 25% Tanpa Perlakuan KK = 25. Berat kering akar (g) 2.15 1. Berat kering tanaman merupakan tolak ukur dari penentuan kualitas pertumbuhan tanaman dan hasil suatu Zat Pengatur Tumbuh Rootone F 100 mg/setek Urine Sapi konsentrasi 25% Air Kelapa Muda konsentrasi 25% Tanpa Perlakuan KK = 38.46 % Rootone F 100 mg/setek memiliki panjang tunas yang lebih panjang dari tanpa perlakuan. Tabel 7. secara tak langsung mengakibatkan pengaruh yang sama pula terhadap akumulasi bobot kering.27 2. Berat kering akar tanaman markisa 12 MST pada beberapa zatpengatur tumbuh. air kelapa muda konsentrasi 25% dan Rootone F 100 mg/setek menunjukan pengaruh berbeda nyata terhadap berat segar akar. Pemberian urine sapi konsentrasi 25%. hal ini juga berkaitan dengan pertumbuhan.24 1.25 a ab bc c Tabel 7 memperlihatkan bahwa pemberian Zat Pengatur Tumbuh urine sapi konsentrasi 25% dan Rotoone F 100 mg/setek memperlihatkan berat segar akar tertinggi dibandingkan dengan pemberian Zat Pengatur Tumbuh air kelapa muda konsentrasi 25% dan tanpa perlakuan.

4. Jakarta. A and M. S. 2004. 5. F). 232 hal. Jakarta. 6(2):154-160. 6. and E. Jurnal Saint dan Teknologi. 1983.). Sedangkan Rootone F 100 mg/setek dan urine sapi konsentrasi 25% merupakan sumber auksin terbaik untuk merangsang pertumbuhan akar setek. Jakarta. Harjadi. pada percobaan ini memberikan pengaruh terhadap semua parameter pengamatan. . S. 2007. Pusat Informasi Pertanian Trubus. F. 34 hal. UNRI. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. dan Yossita. Hortikultura Aspek Budidaya. 2009. 2004. B. Dwiragaputri. Hartman. inc. Angkasa. 1990. A. 39 hal. Mitchell. 6(5):931-932. No. D. 2007. Gramedia. Kester. Fisiologi tanaman budaya. 2: 18 Ashari. International Journal of Agriculture & Biology. 1991. S. 5. Aneka Markisa Di Indonesia. T. Dwidjoseputro. 428 hal. Universitas Indonesia ( UI Press). 2: 2-10 Gardner. KESIMPULAN Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa pemberian urine sapi konsentrasi 25%. P. Vol. Jurnal Saint dan Teknologi. PT Gramedia. Bandung. Hal ini disebabkan karena kandungan hormon eksogen yang ditranslokasikan mampu untuk merangsang sel-sel di ujung akar untuk melakukan pembelahan dan pemanjangan akar. Jakarta. Perbanyakan Tebu (Sacharum officinarum L. Penerbit UI Press. Effect of Growth Regulator on Stem Cutting of Rosa bourboniana and Rosa gruss. S. Pemanfaatan Urine Sapi Pada Setek Batang Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L). . Evaluasi kinerja Juicer Tipe Mekanis Untuk Buah Markisa Pada Berbagai Tingkat Kematangan. Jakarta. Zat Pengatur Tumbuh. H. Pengaruh Rootone F dan Ukuran Diameter Stek Terhadap Pertumbuhan dari Stek Batang Jati (Tektonia grandis L. No. Hidayanto. 55-63 Hussain. penerjemah. New Jersey.ROZA YUNITA kering akar tertinggi dibandingkan dengan tanpa perlakuan. 1984. Kabupaten Solok dalam Angka. L. Vol. UNHAS. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat. Huik. Jumlah akar yang banyak dan panjang akan menyerap air dan unsur hara secara maksimal sehingga menyebabkan meningkatnya berat segar dan berat kering akar yang dihasilkan. M. 212 hal. M. F. 211 hal. H. 2003. Prentice-hall. 1995. Pengantar Agronomi. Pearce dan R. 2004. M.) Secara in vitro pada berbagai konsentrasi IBA dan BAP. 78 hal. Z. Adrian dan Muniarti. Plant Propagation Principles and Practi ces Fourth Edition. 1984. Susilo. Jakarta. Khan. PT. BPTP Sumbar Padang. Kumpulan Kliping Markisa. M. Penebar Swadaya. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. R. E. DAFTAR PUSTAKA Abidin. Pengaruh Panjang Stek Akar dan Konsentrasi Natrium Nitrofenol Terhadap Pertumbuhan Stek Akar Sukun (Artocarpus communis F. 197 hal. No. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Solok. Badan Pusat Statistik Kabupaten Solok (BPS). 727 . Nurjanah. Farud. Dasar-dasar Pengetahuan Tentang Zat Pengatur Tumbuh. 2003. 76 hal. Jurnal sains dan teknologi Indonesia Vol. 1992. air kelapa muda konsentrasi 25% dan Rootone F 100 mg/setek.

Saul. Penebar Swadaya. Priantyo. 2008. 219 hal. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan II. 2. Jumin. Berkebun 21 Jenis Tanaman Buah. Sutarto. Kristanto. Universitas Pattimura. A. Manurung. 326 hal. Penelitian Hortilkultura. Padang. Universitas Andalas. Buletin Litro. 1998. Barley. 5563 Nofrinaldi. Bogor. Sunarno dan Sumarko. Vol. Usaha Tani Markisa. H. Y. H. PT Raja Grafindo Persada. Jurnal Saint dan Teknologi. M. O. Sunarjo. Agronomi. Departemen Botani Fakultas Pertanian Insitut Pertanian Bogor. 2007. 5. 27 hal. Buah Naga Pembudidayaan di Pot dan di Kebun. Departemen Agronomi. Setiari. Juswardi. 60 hal. H.G. Pengaruh Pemberian Beberapa Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Keberhasilan Setek Kakao (Theobrema cacao L. 1991. Hormon Tanaman dan Ternak. Status dan Potensi Zat Pengatur Tumbuh serta Prospek Penggunaan Rotoone F dalam Perbanyakan Tanaman. Prawiranata. Urine Sapi Harapan Petani Non Pestisida. D. A. Pembentukkan Akar pada Setek Batang Nilam (Pogostemon cablin Benth. 1986. Netty W.ROZA YUNITA Pratama. D. Jakarta. 23 hal. Kanisius. Padang. M. Peranan Beberapa Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Tanaman Pada Kultur In Vitro. 67 hal. 2002. Hakim. Kemungkinan Penggunaan Kemih Sapi Untuk Merangsang Perakaran Setek Lada (Piper nigrum Linn. Pengaruh Hormon IBA ( Indole Butyric Acid ) Terhadap Persen Jadi stek Pucuk Meranti Putih (Shorea montigena). 1990. Rukmana. S. 2002. 3. Rochiman dan Harjadi. 10. [Skripsi]. Pengaruh Pemberian Air Kelapa Muda Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Kacang Hijau Varietas 129 (Phaseolus radiatus L). Yusuf N. Makalah Seminar Rotoone F. Pengaruh IBA dan Pengetahuan Terhadap Keberhasilan Rambutan Binjai. 2010. Rajawali Press. Jakarta. S. Balai IPTEK dan BPPT. 2007. 226 hal. Jakarta. Bogor. R. Soeparman. G. S. 70 hal. Jurnal sains dan teknologi Indonesia Vol. N.) setelah Direndam IBA (Idol Butyric Acid) pada Konsentrasi Berbeda. . No. 26 hal. Pembiakan Vegetatif. 2004. Stigma vol. 2009. Lakitan. 1973. No. Universitas lampung. 43 hal. Fakultas Pertanian IPB. [Skripsi]. Tjondronegoro. Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. Yogyakarta. 216 hal. Lubis. Buletin Anatomi dan Fisiologi Vol XV No. 1: 18 .B. 2001. Diha. 92 hal. Bogor. B. M. I M. 45 hal. Irwanto.29 Rismunandar. Unand. 58 hal. A. 4 no. Juwal As dan Wijaya. 2. 1996. U. Jakarta. 1987. Pengaruh Perbedaan Panjang Setek dan Konsentrasi Air Kelapa Muda Terhadap Pertumbuhan Setek Tanaman Buah Naga Berdaging Merah. [Skripsi] FMIPA Unand. 25 hal. B. Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. Jakarta. Hong dan H. 1992.). R. DasarDasar Ilmu tanah. 1988. Nugroho. Penebar Swadaya. Penebar Swadaya.). 2001. Harran dan P. Ambon.

Yogyakarta. Jakarta. 2001. Wudianto. 1988. Waitlem. 2005. B. Welda. 1989. Tumbuhan. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Jakarta. 477 hal. G. Bogor. Padang. 172 hal.). 454 hal. Fakultas Pertanian Unand. Pengaruh Pemberian Berbagai Takaran Zat Pengatur Tumbuh Rootone F terhadap Pertumbuhan Setek Kopi Robusta ( Coffea robusta L. [Skripsi]. 83 hal. A.) Terhadap Beberapa Jenis Zat Pengatur Tumbuh. Tesis Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Wattimena. Melton Putra Offset. Padang. Penebar Swadaya. 57 hal. 145 hal. 1992. M. 2001. Fisiologi Tanaman. . Membuat Stek. Aditya Karya Nusa. Budidaya Markisa Manis. Cangkok dan Okulasi. Institut Pertanian Bogor. R. 72 hal Walkins.ROZA YUNITA Tjitrosoepomo. Taksonomi Gajah Mada Press. Yeniwati. Respon Setek Cabang Tanaman Lada (Piper nigrum L. G. 2000.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful