P. 1
CORAK TASAWUF ALGHAZALI

CORAK TASAWUF ALGHAZALI

|Views: 34|Likes:

More info:

Published by: ZULFAWARDI AL AHSANY on Feb 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/05/2013

pdf

text

original

CORAK TASAWUF AL-GHAZALI DAN PENGARUHNYA

06.47 darussholah No comments Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook

Penulis : Syamsun Niam (Refleksi Tasawuf Sunni al-Ghazali) A. Pendahuluan Ada sementara anggapan bahwa sufisme adalah identik dengan pola hidup asketik dan kepasrahan hidup yang statis. Anggapan ini tidak selamanya benar, minimal bila hal itu dikaitkan dengan konsep sufisme yang diajarkan al-Ghazali, seorang sufi, teolog, filosof, dan juga seorang faqih yang mumpuni. Dari karya-karya yang dihasilkan, ia menawarkan sufisme yang dinamis dan kreatif dengan melihat kehidupan ini sebagai proses untuk mencapai penyempurnaan diri yang harus dilalui melalui kegiatan yang aktif. Dalam kaitan ini al-Ghazali pernah mengatakan, anna al-saadata la tunalu illa bi al-ilmi wa al-amali (kebahagiaan tidak akan pernah ditemukan tanpa adanya ilmu dan amal). Inilah salah satu aspek yang cukup menarik untuk ditelaah, dikaji dan diapresiasi secara kritis sehingga konsep yang dirtawarkannya dapat meluruskan sementara anggapan miring tentang tasawuf, dan mencairkan kekentalan sufisme yang bernuansa pasif, pasrah dan lari dari realitas. Di samping itu, al-Ghazali berusaha ingin menyelaraskan suatu konsep ajaran sufi yang tidak hanya mengutamakan ajaran syariah yang bersifat simbolistik-legalistik-formalistik semata, namun juga melalui pengembaraan dan perenungan hati secara mendalam dalam menemukan kebenaran sejati yang langsung datang dari yang Maha Benar, Allah swt melalui kebersihan dan kesucian kalbu. Sehingga cahaya Allah (nur al-Allah) inilah yang selanjutnya dapat membimbing manusia menuju ridla-Nya. Atau dengan kata lain, dengan menjalankan ajaran-ajaran hakikat di samping ajaran-ajaran syariat. Hal demikian telah dilalui oleh al-Ghazali dalam mencari dan menemukan sebuah kebenaran, yang dimulai dari pemngembaraan intelektualnya sebagai seorang teolog, filosof, ahli batin, yang kesemuanya menurut al-Ghazali tidak dapat menuntunnya menuju kepada kebenaran yang hakiki (ilm al-yaqin), bahkan menjadikan diri al-Ghazali goncang, ragu, dan bimbang. Yang kemudian diakhiri dengan perjalanan spiritualnya. Di sini ia menemukan kebenaran sejati yang langsung diperolehnya dari Allah swt melalui hidayah-Nya. Keadaan inilah yang akhirnya mengilhami diri al-Ghazali sebagai seorang sufi yang arif yang sangat dihormati dan disegani pada masanya. Melalui karya-karyanya, ternyata al-Ghazali tidak hanya berpengaruh pada dunia Islam, bahkan sampai ke dunia Eropa. Di sini al-Ghazali ingin menawarkan tasawuf yang dinamis dan kreatif dengan memoderasikan antara syariat dan hakikat, yang menurutnya tidak bisa dipandang berat sebelah B. Pengembaraan Intelektual dan Spiritual al-Ghazali Sebutan al-Ghazali sebetulnya bukan nama aslinya. Nama aslinya adalah Muhammad saja. Tapi

lebih dikenal dengan Abu Hamid. Bila disebut secara lengkap namanya adalah al-Imam Zainuddin Hujjat al-Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusi al-Faqih al-Shufi al-Syafii al-Asyari. Ia lahir pada tahun 450 H/1059 M di Ghazaleh, sebuah kota kecil yang terletak di dekat Thus di Khurassan empat setengah abad setelah Nabi Muhammad saw dari Mekkah ke Madinah dan kira-kira bersamaan dengan pengangkatan Sultan Alp Arselan ke singgasana Saljuk. Ia meninggal dunia pada usia sekitar lima puluh lima (55) tahun, pada tanggal 14 Jumadil akhir 505 H atau 19 Desember 1111 M. Karir intelektual dan spiritualnya dimulai dari ketika ayahnya meninggal dunia, dan sebelum sang ayah meninggalkan al-Ghazali, dia menitipkannya pada seorang guru sufi agar memelihara kedua anaknya, yaitu Muhammad dan Ahmad, namun lama-kelamaan sang sufi yang faqir tersebut tidak bisa melanjutkan memelihara kedua bocah tersebut, karena kehabisan biaya untuk memeliharanya. Akhirnya ia mnyerahkan kedua bocah itu kepada madrasah Thus untuk bisa memperoleh makan dan pendidikan. Di sinilah awal mula perkembagan intelektual dan spiritual al-Ghazali yang penuh arti sampai akhir hayatnya. Secara sepintas di sini dapat digambarkan bahwa karir dan pengembaraan intelektual al-Ghazali dimulai dari pengajaran seorang sufi yang mengajari menulis (khath) di madrasah Thus, dia mulai belajar fiqh Syafii dan teologi Asyari dari seorang guru yang bernama Ahmad bin Muhammad a-Razakani al-Thusi. Dalam usianya yang belum mencapai 20 tahun, dia melanjutkan studinya ke Jurjan di bawah bimbingan seorang ulama, Abu Nasr al-Ismaili, selain belajar ilmu agama, dia juga giat mempelajari bahasa Arab dan Persia. Tidak diketahui berapa lama ia belajar di Jurjan itu, lalu al-Ghazali kembali ke Thus. Selama itu al-Ghazali sempat mempelajari ilmu tasawuf dari Yusuf al-Nassaj (w. 487 H), setelah itu al-Ghazali berangkat ke Nisyapur bersama beberapa orang temannya untuk berguru kepada Abu al-Maali al-Juwaini (w. 478 H), tokoh Asyarisme yang memimpin perguruan tinggi alNidzamiyah pada saat itu. Di sini al-Ghazali memperoleh berbagai macam ilmu pengetahuan yang meliputi bidang fiqh, ushul fiqh, teologi, logika, filsafat, metode brdiskusi dan sebagainya. Di sini pula al-Ghazali sempat belajar sufisme kepada Abu Ali al-Fadlil ibnu Muhammad ibnu Ali al-Farmadhi (w. 477 H) dari segi teori dan prakteknya. Dengan demikian, selama di Nisyapur, kota terbesar di daerah Khurassan, al-Ghazali benar-benar menjadi seorang inteketual paripurna dengan menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan. Pada tahun 478 H/1085 M, al-Ghazali meningggalkan kota Nisyapur, karena guru tersayangnya, Imam al-Juwaini telah meninggal dunia. Dia menuju Muaskar dengan maksud bergabung dengan kaum intelektual dalam majlis seminar yang didirikan oleh Nidzam al-Mulk, seorang wazir Saljuk, pecinta ilmu dan seorang ulama. Di sinilah nama al-Ghazali mulai diperhitungkan, karena penguasaan ilmunya, kehebatan analisisnya, dan ketajaman argumentasi yang dikemukakannya. Sehingga al-Ghazali menjadi imam atau rujukan para intelektual di wilayah Khurassan waktu itu. Kurang lebih selama 6 tahun al-Ghazali terlibat dalam diskusi ini di Muaskar. Karena keluasan ilmunya al-Ghazali diangkat oleh Nidzam al-Mulk sebagai guru besar dan sekaligus memimpin madrasah tersebut di kota Baghdad pada tahun 484 H/1091 M. Kedalaman dan keluasan ilmunya menyebabkan dia menjadi ragu (syak) terhadap kebenaran hasil pengetahuan yang diperolehnya melalui panca indera, karena panca indera terkadang tidak dapat dipercaya. Sebagai umpama ia sebut bayangan (rumah) kelihatannya tak bergerak, tetapi akhirnya ternyata berpindah tempat. Bintang-bintang di langit kelihatannya kecil, tetapi

Dalam hal ini. Hanya saja belum mencukupi bagi tujuanku. al-Ghazali mengatakan. maka menurut al-Ghazali ilmu kalam tidak dapat memenuhi tuntutan jiwa. dan ketiga. Setelah al-Ghazali mempelajari ilmu kalam dan dirasa di sana tidak dapat ditemukan kebenaran. Dalam keadaan inilah ia mengarang sebuah kitab maqashid al-fulasifah (pemikiran para filosof). Ternyata argumen-argumen yang dikemukakan para filosof tidak dapat memuaskan jiwa alGhazali. Kritikan dan serangan itu dalam bentuk buku yang diberi judul tahafut al-fulasifah (kekacauan pemikiran para filosof: the incoherence of the philosophers). Di antara konsepsi para filosof yang dinilai al-Ghazali menyebkan kekafiran adalah bahwa alam itu qadim dan azali. seperti kebenaran sepuluh lebih banyak dari tiga. Al-Ghazali mengatakan. Hal ini sedikit faedahnya bagi orang yang menuntut kepastian yang benar-benar meyakinkan. akan tetapi hasil yang masih berbau taklid terhadap hal-hal yang tidak bersumber atas pengertian-pengertian awaliyat.perhitungan menyatakan bahwa bintang-bintang itu lebih besar dari bumi. dan bahwa yang akan dibangkitkan kembali hanyalah ruh tanpa jasad. Tujuan ilmu kalam adalah menjaga akidah ahlus sunnah dan melindunginya dari bisikan bidah. maka al-Ghazali mencoba menguak tabir kebenaran menurut filsafat dan pendapat para filosof. ia ingin mencari kebenaran sebenarnya. maka kujumpai ilmu kalam adalah ilmu yang telah sempurna sesuai dengan tujuannya. Dalam kaitan ini. Buku ini ditulisnya untuk mengkritik dan kemudian menghancurkan para filosof dan filsafatnya. aku tidak meragukan bahwa ilmu kalam hasilnya telah memadai bagi suatu golongan tertentu. dari pada berpegang dan beriman kepada sesama pengikut Nabi. pertama. Ternyata al-Ghazali adalah bukan seorang yang mempunyai tipe mudah menyerah dalam mencari dan menemukan kebenaran sejati (ilm al-haqiqi). pendapat-pendapat yang wajib dikafirkan. Al-Ghazali menyerang dan mengkritik para filosof karena diasarkan pada penilaiannya terhadap hasil-hasil pemikiran filosof atas tiga kategori. al-munqidz min al-dlalal (penyelamat dari kesesatan). Sehingga hal ini menyebabkan al-Ghazali menjadi ragu terhadap segala-galanya. pendapatpendapat yang bersifat bidah. Begitu juga ketika al-Ghazali mempelajari ilmu kalam atau teologi dari gurunya. Dengan adanya berbagai pertentangan di tubuh aliran-aliran kalam. Maka timbullah pertanyaan dalam diri alGhazali aliran manakah yang betul-betul benar di antara aliran-aliran ini? Sebagaimana dijelaskan dalam bukunya. lebih baik beriman langsung dan mengikuti langsung kepada petunjuk dan sabda- . Maka dia mencoba menerobos dan mempelajari ilmu batin yang diajarkan oleh syiah bathiniyah yang mengharuskan pengikutpengikutnya untuk bertaklid buta kepada imamnya dalam urusan agama dan keduniaan. Di sini al-Ghazali juga tidak bisa menemukan kebenaran. pendapat-pendapat yang tidak dapat diingkari kenyataannya. al-Juwaini. bahkan dia manganggap bahwa pendapat yang dikemukakan para filosof itu bertentangan dengan ajaran Islam. Allah tidak mengetahui hal-hal secara terperinci (hanya mengetahui garis besarnya saja). al-Ghazali mengatakan. yaitu kebenaran yang diyakininya betul-betul merupakan kebenaran. di situ ternyata terdapat beberapa aliran yang sangat bertentangan. Sifat rasionalitas dan banyaknya pertentangan konsep-konsep ilmu kalam justru membuat manusia mengambang keyakinannya. kedua. bahkan dia malah tidak membenarkan ajaran syiah tersebut.

Amin Abdullah dari kitab al-Munqidz. itulah yang membuat dirinya memperoleh keyakinan kembali. akhlak mereka adalah akhlak yang paling suci. Ternyata dalam tasawuflah alGhazali dapat menemukan yang selama ini ia cari dan dambakan. Di samping itu. seperti kitab al-Risalat al-Qusyairiyah. Setelah api jiwanya merasa tidak terpuaskan oleh jalan yang ditempuh ilmu kalam. dan ajaran bathiniyah. jalan mereka adalah sebagus-bagusnya jalan. Karena gerak dan diam mereka. semua itu untuk menjernihkan batin. supaya mudah berdzikir kepada Allah swt sebagaimana mestinya. Qut alQulub. Dalam kaitan ini dia mengatakan. Bahkan seandainya para ahli hikmah (kebijaksanaan) dan para ahli pikir serta ilmu para ulama yang berpegang pada syariat berkumpul untuk mengganti jalan dan akhlak yang lebih baik dari pada jalan para sufi mereka tidak akan mampu. Sebagaimana dikatakan alGhazali sendiri dalam bukunya. para sufilah yang menempuh pada jalan Allah swt. bahwa bagi al-Ghazali sendiri . menurut tasawuf yang pernah aku pelajari. Aktivitas sufi ini dijalani al-Ghazali selama kurang lebih 10 atau 11 tahun. Dari Damsyiq aku pergi bait al-Maqdis. aku tinggal kira-kira dua tahun melakukan uzlah (menyendiri untuk tafakkur). di atas menara sepanjang hari dengan pintu tertutup. khalwat (mengasingkan diri di tempat sunyi). maka pada tahun 488/1095 M al-Ghazali mendadak meninggalkan Baghdad menuju Damaskus di Siria untuk menjalankan cara hidup yang sama sekali lain dari kehidupannya selama berada di Baghdad. yaitu setelah berziarah ke makam al-Khalil Nabi Ibrahim as. Akhirnya ia menarik suatu konklusi bahwa tasawuflah satu-satunya metode yang dapat mengantarkan pada konsepsi kebenaran sejati. di Syam (Damaskus). dan lain-lain. riyadlah (latihan diri). filsafat. Berbagai kitab tasawuf ia santap dengan lahapnya. Dengan keyakinan yang dipegang al-Ghazali mengenai ajaran sufi itu. cara yang mereka tempuh adalah yang palig benar. baik lahir atau batin dipetik dari cahaya kenabian. dan mujahadah (berjuang melawan hawa nafsu). Dia meninggalkan keluarga dan jabatan yang dipangkunya berikut kehidupan mewahnya. Mengenai cahaya ini al-Ghazali pernah mengatakan. al-Ghazali kemudian mengerahkan perhatiannya pada ajaran tasawuf. Akhirnya timbullah keinginan di hatiku untuk menunaikan ibadah haji. Faktor yang menyebabkannya adalah bersifat psikologis. Dari tasawuf inilah al-Ghazali memperoleh cahaya yang diturunkan Allah ke dalam dirinya. menuju hidup sebagai seorang sufi yang faqir dan zuhud terhadap dunia. di sana setiap hari aku masuk ke Qubbat al-Salva dan tinggal di situ dengan pintu tertutup. Tidak ada petunjuk yang benar di dunia ini terkecuali dari cahaya kenabian (nur al-Nubuwwah). Saudaranya sendiri termasuk salah satu tokoh sufi. keluarga al-Ghazali juga sangat berperan dalam mengantarkannya dan sangat memberi peluang iklim kondusif baginya untuk mempelajari ilmu tasawuf. Madinah dan makam Rasulullah saw. cahaya itu adalah kunci dari kebanyakan pengetahuan dan siapa yang menyangka bahwa (kasyaf) atau pembuakaan tabir bergantung pada argumen-argumen sebenarnya telah mempersempit rahmat Tuhan yang demikian luas Cahaya yang dimaksud adalah cahaya yang disinarkan Allah ke dalam hati sanubari seseorang.sabda Nabi. kini aku menyadari seyakin-yakinnya. Lama aku mneyendiri di masjid kota Damsyiq. karena di puncak karir intelektualnya dia telah mengalami perkembangan intelektual yang unik. al-Munqidz. Seperti yang dikutip M. yaitu kebenaran hakiki yang selamanya dilalui dengan berbagai pengembaraan panjang yang cukup melelahkan. berziarah ke Mekkah.

dan dia merasa bertanggung jawab atas keadaan masyarakat yang mengelilinginya. sabar. karena selalu mendahulukan syariat. Dengan demikian. Dia sendiri menyebutkan bahwa dia telah membaca buku-buku sufi. dan corak yang muncul. pertama. seseorang akan mendapati suatu kondisi efek (baca hal). corak tasawuf sunni. karya-karya dari haris al-Muhasibi (w. 386/996). 243/857). wara. tempat lahirnya. Di saat konsentrasi mistisnya memuncak. Yang berbeda barangkali adalah terletak pada sudut pandang yang mereka pakai. Keadaan ini yang kemudian menggugah al-Ghazali untuk berperan aktif dan mengobati penyakit-penyakit rohani yang diderita oleh umat pada waktu itu. Di sini dia tidak lama mengajar. baik yang terjadi dikalangan ummat maupun ulama. 245 H) menyebutkan empat maqam. Seseorang tidak akan mencapai hakikat bila tidak melalui syariat. Walaupun begitu. karena terjadinya dekadensi moral dan amal di kalangan umat bahkan sampai ke kalangan ulama. dan kedua. Said Agil Siradj juga melihat bahwa corak tasawuf pada dasarnya ada dua. Akhirnya pada tanggal 14 jumadil akhir 505H atau tepatnya 19 Desember 1111 M. pertama. seperti khauf. zuhud. Dzun Nun al-Misri (w. Namun kesemua pendapat yang dikemukakan berada pada satu tujuan. al-Junaid (w. yaitu tasawuf yang mempunyai karakter dinamis. tasawuf falsafi. memandang bahwa corak tasawuf yang berkembang di kalangan sufi itu ada dua. Dorongan ini diperkuat oleh permintaan wazir Fakhrul Mulk (putra Nidzam alMulk) untuk ikut mengajar lagi di madrasah Nidzamiyah di Nisyapur. yakni hubungan dengan alam semesta (kosmologi). kemudian kembali ke Thus. Sedangkan proses pencapaian kepada hakikat itu harus melalui maqamat (terminal-terminal). fana. raja.doktrin mistik yang sangat menyentuh petunjuk moral bukanlah secara keseluruhan merupakan hal yang baru bagi al-Ghazali. dikatakan falsafi karena konteks (maudlu)nya sudah memasuki wilayah ontologi (ilm alkaun). faqir. Sehingga pada tahun 499/1106 M. Bahkan thariqat Qadiriyah menyebutkan empat puluh maqam.dan ridla. yaitu taubat. fana al-fana. kedua. dekadensi moral dan amal muncul di mana-mana. dimana para pengikut memagari tasawuf mereka dengan al-Quran dan al-Sunnah serta mengaitkan keadaan dan tingkatan rohaniah mereka dengan keduanya. al-Ghazali adalah seorang sufi yang selalu peduli dengan lingkungan yang mengitarinya. 261/875). Abu al-Wafa al-Ghanimi al-Taftazani misalnya. seperti Qut al-Qulub oleh Abu Thalib al-Makki (w. C. dan Abu Yazid al-Bisthami (w. dia merasa terusik dengan persoalan-persoalan di sekitar. di mana para pengikutnya cenderung pada ungkapan-ungkapan ganjil (syathahat) serta bertolak dari keadaan fana menuju pada penyatuan tentang terjadinya penyatuan ataupun hulul. 298/910) al-Sibli (w. tasawuf sunni. timbul kesadaran baru dalam dirinya bahwa dia harus keluar dari uzlah dan zawiyah (tempat khalwat sufi). Di Thus ini dia membangun sebuah madrasah untuk mengajar sufisme dan teologi dan membangun sebuah khanqah untuk tempat praktikum para sufi di samping rumahnya. Corak Tasawuf al-Ghazali Mendiskusikan corak tasawuf dalam dunia sufi memang bermacam-macam ragam. dan seterusnya. corak tasawuf semi-filosofis. lalu berkembang menjadi tujuh maqam. sehingga wajarlah jika jenis tasawuf . 334/945). ajaran sufi yang dipegangi dan diyakini al-Ghazali tidak bisa terlepas dari pengaruh para sufi ssebelumnya. tawakkal. pandangan. namun dia hanya mengambil alih doktrin mistik ini dari para sufi pendahulunya. Dalam melewati suatu maqam menuju maqam yang lain. sehingga diperlukan penanganan serius untuk menginjeksinya. al-Ghazali meninggalkan dunia untuk selama-lamanya.

Said Agil Siradj berpendapat. ihya ulumiddin yang terdiri dari empat jilid. Jilid I dan II berisi ajaran syariat dan akidah disertai dasar-dasar ayat suci al-Quran dan al-Hadis beserta penafsirannya. dan seterusnya. ihya ulumiddin al-Ghazali menuguhkan suatu ajarran konkrit. dia lebih merupakan sufi falsafi. al-Ghazali telah memformulasikan pandangan-pandangannya yang tertuang dalam karya besarnya. Tidak ada buku yang luas dan indah dalam upaya menyelaraskan tasawuf dengan syariat selain ihya ulumiddin. Berbeda dengan Simuh dan Abd al-Qadir Mahmud. makin menyimpang dari syariat dalam pengamalan tasawuf akan terjerumus ke berbagai kepercayaan yang bersifat tahayyul yang menyesatkan. Dimulai dengan membahas keajaiban hati beserta nafsu ammarah. dan bukan untuk merusaknya. Kemudian bagaimanakah dengan corak tasawuf yang dikembangkan al-Ghazali. akan terjerumus ke dalam kesesatan. penyelarasan ajaran tasawuf dengan syariat. Sepertinya Simuh lebih condong kepada pendapat yang mengatakan bahwa al-Ghazali adalah seorang sufi yang menganut corak sunni. dia merupakan generasi penerus al-Junaid dalam mengembangkan tauhid teosofis. Agil beralasan al-Ghazali dikategorikan sebagai ashhab al-hulul atau iitihad. keesaan (wihdat). . Mengutamakan perkembangan batin tanpa mengindahkan aturan-aturan lahir. persatuan ruh Tuhan dengan ruh manusia (ittihad). yang ketiganya saling berebut untuk menguasai batin manusia. laksana kuda yang tanpa kendali. Dari dua corak tasawuf tersebut. karena dalam realitasnya. dibahas pula bagaimana tingkat-tingkat pengalaman syariat yang sempurna. Kemudian dilanjutkan tentang ajaran jihad akbar untuk menguasai hawa nafsu ammarah dan lawwamah. yaitu al-Ghazali yang menempatkan syariat dan hakikat secara seimbang. Demikian komentar Harun Nasution. yang dalam ajaran tasawuf diartikan memutuskan setiap persangkutan dengan dunia dan mengisi sepenuhnya hanya bagi Tuhan semata. Pada jilid III dan IV khusus membahas tasawuf dan tuntunan budi luhur bagi kesempurnaan sebuah pengalaman syariat.ini berbicara masalah emanasi (al-faidl). Sebenarnya al-Ghazalilah yang membuat tasawuf menjadi halal bagi kaum syariat. Simuh misalnya mengatakan. baik lahir maupun batin. bahkan katanya. Lebih lanjut Simuh menegaskan. Hasil dari dzikir adalah fana dan marifat kepada Allah. Tentu pendapat ini terlepas dari kontek fiqh dan teologinya. termasuk tasawuf sunni ataukah falsafi? Dalam kaitan ini. Yaitu ajaran tentang penyucian hati. Tentunya Agil Siradj mempunyai alasan kuat dalam pngelompokan ini. lawwamah. inkarnasionisme (hulul). dan muthmainnah. Hal ini berarti menyimpang dari tujuan tasawuf semula. Kemudian dilanjutkan tentang cara mengonsentrasikan seluruh kesadaran untuk berdzikir kepada Allah swt. Pengalaman tasawuf tanpa pedoman dan alat pemersatu syariat akan membawa chaos kerohanian yang memecah umat manusia menjadi beratus-ratus bahkan ribuan aliran. sesudah kaum ulama memandang sebagai hal yang menyeleweng dari islam. al-Ghazali masuk dalam kelompok tasawuf yang bercorak sunni. bahwa alGhazali bukanlah termasuk tipologi sufi-sunni. Bertasawuf adalah untuk memperindah pengalaman beragama. Sufisme sunni akhirnya beruntung mendapatkan seorang tokoh pembenteng dan pengawal bagi spirit metode Islam. bahwa dengan bukunya. di mana tasawuf Junaid lebih cenderung kepada tasawuf falsafi. menurut Abd al-Qadir mahmud. di tangan al-Ghazalilah tasawuf mencapai kematangannya.

Imam al-Ghazali adalah seorang tokoh yang sangat besar pengaruhnya bukan hanya di dunia Islam namun juga di Eropa. filosof dan juga seorang sufi. mancatat bahwa al-Fattani. al-Raniri. di samping Junaid al-Bagdadi. semuanya adalah tokoh intelektual terkemuka di zamannya. Terutama oleh golongan Sunni. Dari pernyataan di atas. Kairo (1341/1922). namun pengaruh mereka hanya terbatas.). Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Pacius. terdapat para tokoh (aimmat) Islam. al-Ghazali melalui bukunya. Hidayat al-salikin yang diselesaikan di Mekkah pada tahun 1778. dan sebagainya. Hal ini sebagaimana diungkapkan Yusuf Qardlawi bahwa sebelum al-Ghazali. Surabaya (1352/1933). dan Singapura (tt. dan al-Maqassari merupakan tokoh-tokoh ulama yang sangat terpengaruh oleh tasawuf al-Ghazali. Sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa kekayaan ilmu yang ditinggalkan al-Ghazali yang dianggap lengkap setelah al-Quran dan al-Hadis adalah ihya ulumiddin (qad al-ihya yakunu Quran). nampaknya kemasyhuran guru-guru al-Ghazali tidak bisa dilupakan begitu saja dari kemasyhuran al-Ghazali itu sendiri. al-Ghazali dijadikan idola dalam bidang tasawuf. Di antara contoh kuat yang dapat diajukan di sini adalah. Sampai-sampai di kalangan NU al-Ghazali dijadikan madzab resminya dalam bidang tasawuf. Hidayat al-salikin terutama membicarakan tentang aturan-aturan syariat yang ditafsirkan secara mistis. fadlail al-ihya li al-Ghazali. dan Indonesia. dan hal ini tercermin dalam karyanya. seperti hidayat al-salikin. sayr alsalikin yang terdiri dari empat bagian. hampir bisa dipastikan bahwa nama al-Ghazali selalu muncul. bahwa pengaruh al-Ghazali memang cukup luas di kalangan pemuka teolog Yahudi yang menjadikannya sebagai tempat rujukan dalam menuangkan pemikiran-pemikirannya. al-Sinkili. Adapun karya tulis al-Ghazali dalam bidang tasawuf yang sangat besar pengaruhnya terhadap generasi berikutnya. ihya ulumiddin menjadi primadona dan guru sufi par exellence. Kedua karya tulis itu ditulis dengan bahasa melayu. dicetak beberapa kali di Mekkah (1287/1870) dan (1303/1885). anatara lain adlah ihya ulumiddin. Pengaruh Tasawuf al-Ghazali di Dunia Al-Ghazali adalah seorang teolog. di tulis di Mekkah dan Thaif antara tahun 1193/1780 dan 1203. dia merukan terjemahan karya al-Ghazali. Tidak sedikit hasil pemikiranpemikirannya yang dijadikan rujukan bagi kalangan intelektual muslim maupun non-muslim. Bahkan di Indonesia sendiri. alPalimbani. Seperti dikemukakan sendiri oleh al-Palimbani. sayr al-salikin juga dicetak di Mekkah 1306/1888) dan Kairo (1309/1893 dan 1373/1953) dan selanjutnya juga dicetak ulang di Singapura. Hujjat al-Islam. misykat al-anwar. di wilayah Melayu-Indonesia. seperti al-Imam al-Haramain. Qadli al-Baqillani. . Malasyia. hidayat al-salikin fi suluk maslak al-muttaqin dan sayr al-salikin ila ibadat Rabb al-alamin. Setiap kali membicarakan persoalan tasawuf. Adapun al-Ghazali adalah salah satu tokoh alumni madrasah yang dibina dan dipimpin oleh mereka dalam menyebarkan ilmu dan pemikiran-pemikirannya. Abu al-Hasan al-Asyari.D. Keadaan ini terbukti dengan munculnya mahakarya al-Palimbani yang beredar luas di nusantara. Bombay (1311/1895). bidayat al-hidayah. Azyumardi Azra dari hasil penelitiannya. dan karenanya dimaksudkan agar dapat dibaca para pembaca Melayu-Indonesia secara lebih luas. adalah dua kitab yang erat kaitannya dengan tulisan-tulisan al-Ghazali. bahkan sering dijadikan rujukan sampai saat ini. pada abad 18 misalnya. dan mereka bertanggung jawab atas penyebaran neosufisme al-Ghazali.

Dengan munculnya thariqah-thariqah di dunia Islam yang begitu banyak jumlahnya. Karena tasawuf sunni al-Ghazali ini selalu menjunjung tinggi nilai-nilai syariy dan haqiqy. E. Di tangan masyarakat awam pengalaman tasawuf tidaklah dapat dijaga kemurniannya. keberanian. Hal demikian ternyata mendapat perhatian serius bagi Simuh. ia bercampur dengan ajaran yang serba magis dan klenik serta berasimilasi dengan tradisi-tradisi kepercayaan masa jahiliyah yang telah lama berkembang di tempat-tempat ajaran tasawuf. Dengan keluwesan dan kedinamisan tasawuf sunni ini. ternyata sangat relevan dan elegan dengan perkembagan zaman. Al-Ghazali telah berhasil mempertemukan antara ajaran syariat dengan hakikat dengan tidak memandang berat sebelah antar keduanya. Gerakan tasawuf menjelma menjadi ordo-ordo thariqah yang sulit dikendalikan dengan batas-batas tuntunan syariat. tentunya juga tidak bisa lepas dari pengaruh ajaran tasawuf yang dibawa al-Ghazali. Beliau terkenal bukan hanya sebagai seorang sufi ternama. tetapi . yang pernah mengatakan bahwa sesudah masa al-Ghazali muncul gerakan-gerakan tahriqah yang ribuan jumlahnya. ketabahan. ilmy dan amaly (teori dan praktek). dan istiqomah yang dimilkinya. Di antara keadaan inilah yang kemudian mengilhami munculnya berbagai aliran thariqat yang akhirnya berkembang di dunia Islam. Keadaan yang demikian dibuktikan dengan munculnya berbagai macam thariqah yang tumbuh dan berkembang subur di dunia Islam dengan memakai nama dan metode yang berbeda dalam setiap prakteknya BAB I Pendahuluan Tidak diragukan lagi. Penutup Perjalanan panjang yang ditempuh al-Ghazali dalam meniti karirnya sebagai seorang sufi yang arif memang cukup melelahkan. ternyata telah membawa pengaruh besar di kalangan umat Islam. Dengan tasawuf sunninya. keuletan. anna al-saadata la tanala illa bi al-ilmi wa al-amali. Walaupun dalam perkembagan selanjutnya ada di antara thariqah-thariqah itu berjalan dan berkembang di luar rel ajaran-ajaran tasawuf yang sebenarnya. Dengan jiwa kesabaran. Al-Ghaaali sendiri pernah mengatakan. dan hal ini bisa mengubah citra tasawuf dari gerakan cendekiawan menjadi gerakan rakyat. ketekunan. Al-Gazali adalah pribadi unggul dan pengaruhnya amat besar di dunia Islam.yaitu bidayat al-hidayah. ternyata telah berhasil menemukan jalan menuju kebenaran sejati yang datang dari Allah melalui hidayah-Nya (nur al-Allah).

Prancis. ilmu kalam dan filosuf. di Thus (sekarang dekat Meshed). Dalam bidang tasawuf. Karya-karyanya telah banyak diterbitkan dan diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa dunia. sebuah kota kecil di Khurasan (sekarang Iran). . yaitu Muhammad dan Ahmad. Jerman. Indonesia dan lain-lain. dan di sisi pula dia wafat dan dikuburkan pada tahun 505 H/1111 M. dengan bekal sedikit warisan yang ditinggalkannya. Ia seorang Persia asli.juga sebagai seorang ahli fikih. Riwayat Hidup Al Gazali dan Perkembangan Spiritualnya Al-Ghazali. Ayahnya seorang pengrajin yang bekerja memintal wol. ayahnya menggemari kehidupan sufi. tidak terikat secara eksklusif pada ketentuan harfiah teks suci melainkan juga menukik ke kedalaman makna teks. nama lengkapnya adalah Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali al-Thus. Sufi itu pun menerima wasiatnya. Sehingga ketika dia merasa ajalnya segera tiba. Sebelumnya ulama memandang tasawuf sebagai hal yang menyeleweng dari Islam. teman karibnya. Dengan kehidupannya yang sederhana itu. Bahkan ajaran-ajarannya dipandang telah menunjuki jalan sehingga manusia dapat hidup dalam hukum yang suci. untuk memelihara dua orang anaknya yang masih kecil-kecil. Setelah harta tersebut habis. Dia di lahirkan pada tahun 450 H/1058 M. dia berwasiat kepada seorang sufi. al-Gazali telah membuat tasawuf diterima secara luas oleh kaum syariat. seperti Inggris. dan hasilnya dijual sendiri di tokonya di Thus.

tiada asketik (zahid) yang aku lewatkan untuk menggali sumber asketismenya. Hal ini dikemukakan beliau dalam karyanya Al-Munqizd Min alDhalal sebagai berikut: Sejak aku berusia kurang dari 20 tahun (sekarang aku berusia lebih dari 50 tahun).sufi yang hidup faqir tak mampu memberinya tambahan. serta bersikap skeptis (peragu) terhadap setiap ilmu yang dipelajarinya. Setiap penganut Batiniah yang aku jumpai menimbulkan keinginan pada diriku untuk menyelidiki esoterismenya. tetapi tidak menerima tasawuf yang dikembangkan orang begitu saja. tiada teolog dialektis (ahli ilmu kalam) yang tidak mendorongku untuk memastikan objek dialektika dan teologinya. Dia terlebih dahulu mengkritisi tasawuf lalu . tiada zindiq yang ateistik yang tidak menyebabkan aku meraba mencari penyebab ateisme dan kezindiqannya. tiada sufi yang tidak menimbulkan hasratku untuk mengorek rahasia sufismenya. al-Ghazali sangat tertarik pada ilmu tasawuf. tiada penganut Zahiriyah yang tidak menimbulkan keinginanku untuk mengetahui intisari literialismenya. aku tidak henti-hentinya menyelidiki setiap dogma (keyakinan). tiada filsuf yang tidak membangkitkan keinginanku untuk mengetahui esensi filsafatnya. Maka al-Gazali dan adiknya diserahkan ke sebuah madrasah di Thus untuk bisa memperoleh makan dan pendidikan. Di sinilah awal mula perkembangan intelektual dan spiritual al-Ghazali yang penuh arti sampai akhir hayatnya. Al-Gazali terkenal dengan julukan Hujjah al-Islam(Argumentasi Islam) dan Bahr al-Mughriq(Samudera yang menenggelamkan) ternyata adalah seorang yang suka melakukan pengamatan dan analisis.

dan mujahadah (berjuang melawan tarikan hawa nafsu). Setelah tidak merasa puas dengan ilmu kalam dan filsafat. Dia mengatakan: Sungguh aku mengetahui secara yakin bahwa para sufi adalah betul-betul para salik menuju Allah semata. lahir dan batin. namun dia tetap selektif terhadap berbagai aliran sufisme yang ada pada masanya. Di sini dia melakukan uzlah (isolasi diri). riyadah (melatih diri dengan segala sifat yang baik dan meninggalkan sifat yang tercela). Seandainya dikumpulkan akal para intelektual. dan ilmu para ulama. Tidak ada lagi suatu sinar apa pun yang bisa menerangi di muka bumi selain dari sinar nubuwwah. filsafat para filsuf. serta menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dari itu. jalan mereka adalah jalan terbenar dan akhlak mereka adalah akhlak yang paling bersih. niscaya tidak ada jalan untuk itu. Meskipun al-Ghazali menganggap tasawuf jalan terbaik menuju Allah. diperoleh dari sinar nubuwwah. karena semua gerak dan diam mereka.menyusun corak tasawuf yang menurutnya tetap harus memperhatikan prinsip nalar kritis. yang berpegang pada rahasia syariat berkumpul untuk merubah sedikit saja dari perjalanan mereka dan akhlak mereka. bahwa perjalanan mereka adalah perjalanan terbaik. al-Ghazali . Bahkan tasawuf dianggapnya sebagai pengetahuan yang meyakinkan. Akhirnya al-Ghazali mengaku memperoleh pengetahuan yang meyakinkan tentang akidah dan juga berkesimpulan bahwa metode para sufilah yang paling tepat. al-Gazali meninggalkan kedudukannya yang tinggi di Madrasah al-Nizamiah Bagdad di tahun 1095 M. khalwah (menyepi dengan ibadah). dan pergi ke Damaskus untuk bertapa di salah satu menara masjid Umawi yang ada di sana.

Di antara karya al-Ghazali di bidang tasawuf.menolak paham Ma’rifah Zum Num dan Rakiah tidak mengungkapkan apa yang dia alami. al-Arba’in fi Ushul al-Din. Ila Manazil al-Muluk. . Misykat al-Anwar. Ma’arik al-Salikin. Bidayat al-Hidayah al-Qisthas al-Mustaqim. Ma’rifah al-Ghazali mengungkapkan apa yang dia alami. Minhaj al’abidin. misalnya Ihya Ulum al-Din. Nur al-Syam’ah. yaitu: melihat wajah Tuhannya ditolak hanya Hulul dan Ittihad Dizzat dengan dalil-dalil rasional. Bahkan alGhazali menyebutkan ada kelompok-kelompok sufi yang tertipu dengan kehidupan sufi mereka. al-Zuhdu al-Fatih. Jawahir al-Quran. Kimiya al-Sa’idah. Madakhil alSuluk. dan lain-lain.

1 Corak Tasawuf al-Gazali Pilihan al-Ghazali jatuh pada tasawuf Sunni yang berdasarkan doktrin Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dari paham tasawufnya itu dia menjauhkan semua kecenderungan gnostis yang mempengaruhi para filosof Islam. Ringkasnya. Juga dia menjauhkan tasawufnya dari teori-teori ketuhanan menurut Aristoteles. seperti halnya al-Muhasibi serta para sufi abad ketiga dan keempat hijriah lainnya. yakni menghiasi diri dengan akhlak para sihiddiqin. dia begitu menaruh perhatian terhadap jiwa manusia dengan keburukannya maupun cara membinanya secara moral. sekte Isma’iliyah dan aliran Syi’ah. Ikhwanus Shafa. Dalam tasawufnya. Dalam hal ini al- . dan lain-lainnya. Menurut al-Gazali. tasawuf al-Gazali bercorak pendidikan. Sehingga dapat dikatakan bahwa tasawuf al-Gazali benar-benar bercorak Islam. usaha itu harus dilanjutkan ke tahap yang kedua. antara lain dari teori emanasi dan penyatuan. Selanjutnya setelah mental dapat dibersihkan dari sifat dan sikap mental tidak baik dilalui.BAB II ISI PEMBAHASAN 2. Selanjutnya al-Taftazani menjelaskan tasawuf al-Gazali ditandai ciri-ciri psikomoral. jalan para sufi dalam tasawuf baru bisa dicapai dengan cara mengosongkan diri dari sikap ketergantungan dengan kelezatan duniawi atau sesuatu yang dapat menyibukkan (melupakan) dari al-Haq.

hal yang mencelakakan. Bab ibadah memperbicangkan pasal-pasal ilmu. zikir.Gazali juga menganjurkan agar orang menempuh jalan: tobat. yang akhirnya sampai pada kefanaan. doa. ma’rifat. peraturan membaca Alquran.1 Jalan (al-Thariq) Al-Ghazali telah mensistematisasikan jalan menuju Allah dalam kitabnya alIhya’ disusun menjadi empat bab utama yaitu bab ibadah. sabar. tawakal. ma’rifat. adat istiadat. tauhid. Allah akan menyikapkan hati seseorang sehingga dapat mengetahui cahaya keghaiban. dan kerelaan. dan hal yang menyelamatkan. dan urutan wirid. faqr. Setelah semua ini ditempuh dengan kesungguhan (mujahadah). cahaya yang dimaksud adalah cahaya yang disinarkan Tuhan ke dalam sanubari seseorang. dan kebahagiaan. lalu menempuh fase-fase pencapaian rohani dalam tingkatan serta keadaan menurut jalan tersebut. Secara ringkas beberapa peringkat jalan ini dapat diuraikan sebagai berikut: 2. Masing-masing bab terbagi dalam sepuluh pasal. sebenarnya telah mempersempit rahmat Tuhan yang demikian luas". Al-Ghazali telah berhasil mendeskripsikan jalan menuju Allah sejak permulaan dalam bentuk latihan jiwa. zuhud. prinsip-prinsip akidah.1. . Mengenai cahaya ini al-Gazali mengatakan: “Cahaya itu adalah kunci dari kebanyakan pengetahuan dan siapa yang menyangka bahwa kasyf (pembukaan tabir) bergantung pada argumen-argumen. ibadah. cinta.

Di samping itu beliau menguraikan tingkatantingkatan taubat. tafakur. atau bab keempat apa yang oleh para sufi dinamakan dengan maqam dan hal. belajar. dan sebagainya. tawakal. Mendahulukan mujahadah dan menghapus sifat-sifat tercela atau apa-apa yang berhubungan dengannya. berpergian. Dalam hal ini seorang murid hendaklah mengasingkan dirinya di tempat yang terpisah (jauh dari keramaian) dengan melaksanakan kewajiban- . rasa takut. hidup fakir. hidup zahid. tauhid. dan ridha. hidup menyendiri. riya. al-Gazali memperbincangkan peraturan makan. sabar. perkawinan. al-Gazali menguraikan segala yang berkaitan dengan jiwa. halal-haram. Dia akan terus membuahkan taat kepada Allah dan menjauhi maksiat”.1. Sayyid Muhammad Aqil Ali al-Mahdi mengatakan tarekat al-Gazali bukanlah hal yang mudah. mata pencaharian. Dalam bab yang membahas tentang hal-hal yang mencelakakan. tetapi membutuhkan persyaratan-persyaratan berikut: 2. menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Pertama agar ibadah menjadi sah (benar). hawa nafsu yang timbul darinya dan berbagai keburukan mental. persahabatan. seperti marah.Dalam bab adat istiadat. rasa harap. dengki.2 Mendahulukan ilmu dari ibadah. cinta. sombong. kikir. Kedua karena ilmu yang bermanfaat dapat membuahkan rasa takut kepada Allah. Sementara dalam bab terakhir. Al-Gazali mengatakan: “Ketahuilah olehmu bahwasanya wajib mendahulukan ilmu dari ibadah karena dua faktor. syukur.

Dengan terus menerus berfikir akan menyikap ma’rifat. menurut al-Ghazali. supaya hati selalu bersih dan suci. . shalat-shalat sunat. dan membaca wirid karena dengan terus menerus zikir dan tekun melaksanakannya akan menghasilkan mahabbah (cinta) dan uns (rasa berteman). Selanjutnya al-Ghazali menyusun rangkaian wirid yang harus dibaca malam dan siang. maka seorang salik tanpa guru bisa jadi akan dituntun ke jalan yang sesat oleh setan. sedangkan jalan setan cukup banyak. Mengekalkan zikir. Berdasarkan uraian ini dapat dipahami tasawuf al-Ghazali yang bercorak pendidikan moral memiliki tujuan yang jelas. baik dalam bimbingan guru atau secara sendiri adalah unsur-unsur yang harus ada dalam jalan (thariq) alGazali. Di samping hal-hal di atas. yakni al-qurb (mendekatkan diri kepada Allah dengan sedekat-dekatnya). dan selalu mengisi hati dengan ingat kepada Allah semata. fikir dan membaca wirid. dan kegiatan yang melakukan dalam proses tersebut. Anak didik. pendidik (guru). Eksistensi guru dalam suluk ini bersifat esensial. Karena.kewajiban. tempat berkhalwat (zawiyah). Guru dalam konsepsi al-Ghazali disebut dengan al-syaikh (anutan) atau al-ustaz (guru). jalan agama yang benar bersifat tersamar. al-Gazali mensyaratkan bagi seorang calon salik untuk memiliki guru. fikir. Tarekat al-Ghazali mementingkan zikir.

. Kebanyakan kaum muslimin belum mengerti. Berikut adalah sebagian sisi kehidupannya. 2012 BAB I PENDAHULUAN Imam Al Ghazali. hendaknya mengambil hikmah dari sejarah hidup beliau. Dalam makalah ini akan kami jelaskan mengenai tasawuf yang dikembangkan oleh Al Ghazali yang telah kami rangkum secara singkat dan jelas. Tokoh terkemuka dalam kancah filsafat dan tasawuf. Memiliki pengaruh dan pemikiran yang telah menyebar ke seantero dunia Islam.TASAWUF YANG DIKEMBANGKAN OLEH AL-GHAZALI Written By Ibnu Soim on Sabtu. Ironisnya sejarah dan perjalanan hidupnya masih terasa asing. Sehingga setiap kaum muslimin yang mengikutinya. sebuah nama yang tidak asing di telinga kaum muslimin. 03 November 2012 | Sabtu. November 03.

Yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhamad bin Abi Thahir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah anaknya Situ Al Mana bintu Abu Hamid Al Ghazali yang mengatakan. London. Abu Hamid Al Ghazali (Lihat Adz Dzahabi. Penisbatan pendapat ini kepada salah seorang keturunan Al Ghazali. tempat kelahiran beliau. Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/191). Dia berpesan. dan harta yang saya tinggalkan boleh dihabiskan untuk keduanya. bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thusi. Menjelang wafat dia mewasiatkan pemeliharaan kedua anaknya kepada temannya dari kalangan orang yang baik. “Sungguh saya menyesal tidak belajar khat (tulis menulis Arab) dan saya ingin memperbaiki apa yang telah saya alami pada kedua anak saya ini.BAB II PEMBAHASAN TASAWUF YANG DIKEMBANGKAN OLEH AL-GHAZALI A. Diedit oleh Alfred Guillame Oxford University Press. Para ulama nasab berselisih dalam penyandaran nama Imam Al Ghazali. Maka saya mohon engkau mengajarinya. 1934 . Siyar A’lam Nubala’ 19/323 dan As Subki. SEJARAH SINGKAT AL-GHAZALI Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi. Ini dikuatkan oleh Al Fayumi dalam Al Mishbah Al Munir.1[1] Ayah beliau adalah seorang pengrajin kain shuf (yang dibuat dari kulit domba) dan menjualnya di kota Thusi. Nihayat al-Iqdam fi ‘Ilm al-Kalam.” 1[1]Al-Syahrastani. bahwa telah salah orang yang menyandarkan nama kakek kami tersebut dengan ditasydid (Al Ghazzali). Sebagian mengatakan.

Sehingga menolak jabatan tinggi dan kembali kepada ibadah. Al Qisthas dan kitab Mahakkun Nadzar. Beliau banyak duduk di pojok tempat Syaikh Nashr bin Ibrahim Al Maqdisi di masjid Jami’ Umawi (yang sekarang dinamai Al Ghazaliyah). Al Arba’in. B. Pada bulan Dzul Qai’dah tahun 488 H beliau berhaji dan mengangkat saudaranya yang bernama Ahmad sebagai penggantinya. Oleh karena itu. Tinggal di sana dan menulis kitab Ihya Ulumuddin. POLEMIK KEJIWAAN IMAM GHAZALI Kedudukan dan ketinggian jabatan beliau ini tidak membuatnya congkak dan cinta dunia. Beliau juga gemar meneliti kitab Ikhwanush Shafa dan kitab-kitab Ibnu Sina.Pengaruh filsafat dalam diri beliau begitu kentalnya. “Al Ghazali dalam perkataannya sangat dipengaruhi filsafat dari karyakarya Ibnu Sina dalam kitab Asy Syifa’. Hanya saja kehebatan beliau ini tidak didasari dengan ilmu atsar dan keahlian dalam hadits-hadits Nabi yang dapat menghancurkan filsafat. dan kembali ke Damaskus beri’tikaf di menara barat masjid Jami’ Damaskus. Bahkan dalam jiwanya berkecamuk polemik (perang batin) yang membuatnya senang menekuni ilmu-ilmu kezuhudan.” (Majmu’ Fatawa 6/54). Akan tetapi beliau menyetujui mereka dalam beberapa hal yang disangkanya benar. Kemudian menziarahi Baitul Maqdis beberapa lama. Beliau menyusun buku yang berisi celaan terhadap filsafat. . seperti kitab At Tahafut yang membongkar kejelekan filsafat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata. Melatih jiwa dan mengenakan pakaian para ahli ibadah. Risalah Ikhwanish Shafa dan karya Abu Hayan At Tauhidi. Beliau tinggal di Syam sekitar 10 tahun. ikhlas dan perbaikan jiwa. Pada tahun 489 H beliau masuk kota Damaskus dan tinggal beberapa hari.

Ayyuhal Wlad. fiqih. Mizan Al-Amal. Lebih jauh lagi. Bidayah Al Hidayah. umat Islam mengalami kemunduran. Jika pada awal pembentukan tasawuf-berupaya menenggelamkan diri pada Tuhan-dimeriahkan dengan tokoh-tokohnya seperti Hasan Basri (khauf). untuk itu ia menyodorkan paham baru tentang ma’rifat. M’raj Al Salikin. dan kemudian berkembang dengan munculnya tasawuf falsafi dengan tokoh-tokohnya Ibn Arabi (wahdat al-wujud). Al Ghazali menilai negatif terhadap syathahat dan ia sangat menolak paham hulul dan utihad (kesatuan wujud). dan wahdat at-shuhud) yang mana menitikberatkan pada hakikat serta terkesan mengenyampingkan syariah.C. Al-Ghazali memilih tasawuf sunni berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Nabi ditambah dengan doktrin Ahlu Al Sunnah wa Al-jama’ah. Abu Yazaid Al-Busthami (fana`). Bahkan yang lebih parah lagi adalah adanya satu tuduhan di mana karena tasawuflah. dan tasawuf yang sebelumnya terjadi ketegangan. fana'. Al-Hallaj (hulul). justru dia memiliki peran yang cukup signifikan dalam peta perkembangan tasawuf. Al-Din. dia telah mampu melakukan konsolidasi dalam memadukan ilmu kalam. dan Ibn Faridl (cinta. selain secara epistemologi berusaha menemukan kebenaran dengan jalan intuisi (dzauqiyah). Di dalam tasawufnya. AJARAN TASAWUF AL-GHAZALI Ketertarikan Al-Ghazali pada tasawuf tidak saja telah membuatnya memperoleh pencerahan dan ketenangan hati. Rabi`ah Al-Adawiyah (hub alilah). toh oleh banyak kalangan (Barat) tasawuf tetap dianggap antirasionalitas. Kendatipun sumbangan Al-Ghazali dalam tasawuf bisa dikatakan cukup besar dan telah memberikan warna baru. Corak tasawufnya adalah psikomoral yang mengutamakan pendidikan moral yang dapat di lihat dalam karya-karyanya seperti Ihya’ullum. Minhaj Al-‘Abidin. kehadiran Al-Ghazali justru telah memberikan warna lain. dan berusaha merilis satu jalan ruhani menuju Tuhan dengan mendasarkan Al Quran dan hadits. Ibn Sabi`in (ittihad). . yakni pendekatan diri kepada Allah (taqarrub ila Allah) tanpa diikuti penyatuan dengan-Nya.

alat untuk memperoleh ma’rifat bersandar pada sir-qolb dan roh. di sini sampailah ia ke tingkat ma’rifat. qalb dan roh yang telah suci dan kosong itu dilimpahi cahaya Tuhan dan dapat mengetahui rahasia-rahasia Tuhan. kelak keduanya akan mengalami iluminasi (kasyf) dari Allah dengan menurunkan cahayanya kepada sang sufi sehingga yang dilihatnya hanyalah Allah.D. PANDANGAN AL-GHAZALI TENTANG MA’RIFAT Menurut Al-Ghazali. . ma’rifat adalah mengetahui rahasia Allah dan mengetahui peraturanperaturan Tuhan tentang segala yang ada. Pada saat sir.

Ibn Sabi`in (ittihad). dan wahdat at-shuhud) yang mana menitikberatkan pada hakikat serta terkesan mengenyampingkan syariah. justru dia memiliki peran yang cukup signifikan dalam peta perkembangan tasawuf. . Al-Hallaj (hulul). Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/191). Abu Hamid Al Ghazali (Lihat Adz Dzahabi. kehadiran Al-Ghazali justru telah memberikan warna lain. fana'. Rabi`ah Al-Adawiyah (hub al-ilah). dan kemudian berkembang dengan munculnya tasawuf falsafi dengan tokoh-tokohnya Ibn Arabi (wahdat al-wujud). dia telah mampu melakukan konsolidasi dalam memadukan ilmu kalam. Jika pada awal pembentukan tasawuf-berupaya menenggelamkan diri pada Tuhan-dimeriahkan dengan tokoh-tokohnya seperti Hasan Basri (khauf). dan tasawuf yang sebelumnya terjadi ketegangan. Abu Yazaid AlBusthami (fana`). fiqih. Ketertarikan AlGhazali pada tasawuf tidak saja telah membuatnya memperoleh pencerahan dan ketenangan hati. Siyar A’lam Nubala’ 19/323 dan As Subki.BAB III KESIMPULAN Dari pembahasan Makalah di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa : Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi. dan Ibn Faridl (cinta. Lebih jauh lagi.

Nihayat al-Iqdam fi ‘Ilm al-Kalam.H. Gibb dan J.DAFTAR PUSTAKA Al-Syahrastani.A. Brill. E. 1934 H.R. Leiden.J. 195\61 . Kramers (Eds). Shorter Encyclopadeia of Islam. Diedit oleh Alfred Guillame Oxford University Press. London.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->