P. 1
Senyawa Karbon Dan Ikatan Kimia

Senyawa Karbon Dan Ikatan Kimia

|Views: 223|Likes:
Published by liska ramdanawati

More info:

Published by: liska ramdanawati on Feb 20, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/21/2015

pdf

text

original

BAB I SENYAWA KARBON DAN IKATAN KIMIA

1.1. Pengantar Di awal perkembangan ilmu kimia organik, senyawa-senyawa yang ditemukan pada organisme dikelompokkan sebagai senyawa karbon karena sebagian besar disusun oleh unsur karbon. Namun setelah diketahui adanya unsur selain karbon, orang cenderung menyebutnya senyawa organik, yaitu senyawa yang berasal dari organisme hidup. Seiring dengan perkembangannya, sebutan kimia organik pun dirasakan kurang tepat karena senyawa organik dapat juga disintesis dari senyawa anorganik, seperti yang dilakukan oleh Frederick Wohler. Wohler menunjukkan bahwa urea yang lazim ditemukan pada urin manusia dan hewan dapat disintesis dari senyawa anorganik yaitu ammonium sianat. Meskipun demikian, sebutan senyawa organik untuk senyawasenyawa yang berhubungan dengan sistem kehidupan mahluk hidup tetap digunakan sampai sekarang. Seiring dengan pesatnya penemuan dan pemanfaatan senyawa organik dalam kehidupan manusia, senyawa organik dijadikan salah satu cabang didalam ilmu kimia. Senyawa-senyawa organik banyak ditemukan dilingkungan di sekitar kita, seperti bahan bakar minyak yang berasal dari minyak bumi, karbohidrat dalam produk tumbuhan, protein dan lemak dari hewan, karet ban dari getah karet, serta bahan-bahan hasil sintesis dalam industri seperti obat-obatan, plastik, pestisida, dan sebagainya. 1.2. Teori Oktet dan Ikatan Kimia Setiap atom atau unsur memiliki kecendrungan untuk saling berikatan baik sesama unsur tersebut ataupun dengan unsur yang lain untuk mencapai kestabilan. Unsur periode dua dan sebagian periode tiga yang memiliki orbital s dan p pada kulit terluar akan berusaha untuk memenuhi teori oktet, yaitu memiliki delapan elektron di kulit terluar seperti lazimnya terjadi dalam gas mulia. Jumlah ikatan yang mampu dibentuk oleh suatu unsur ditentukan oleh jumlah elektron terluarnya. Misalnya, unsur karbon yang memiliki 4 elektron terluar, harus membentuk empat ikatan untuk memenuhi teori oktet.

1

Ikatan tersebut dapat terjadi dengan sesama atom karbon atau dengan atom lain seperti H, N, O, S, maupun halogen.
6C 7N 8O

: 1s2 2s2 2p2 : 1s 2s 2p
2 2 3

elektron valensi = 4 elektron valensi = 5 elektron valensi = 6

membentuk empat ikatan membentuk tiga ikatan membentuk dua ikatan

: 1s2 2s2 2p4

Saat berikatan, orbital masing-masing atom bergabung membentuk orbital baru, yaitu orbital molekul. Ikatan yang dibentuk suatu unsur dapat berupa ikatan ion maupun ikatan kovalen, tergantung pada seberapa besar perbedaan harga keelektronegatipan dari unsur-unsur yang berikatan tersebut. Bila perbedaan kelektronegatifannya kecil, seperti Y Z X

orbital s orbital p yang umumnya terjadi dalam senyawa organik, maka unsur-unsur tersebut membentuk ikatan kovalen. Ikatan kovalen dapat dibedakan menjadi dua, yaitu ikatan kovalen murni dan ikatan kovalen koordinasi. Pada ikatan kovalen murni, pasangan elektron ikatan berasal dari kedua atom yang berikatan, sedangkan pada ikatan kovalen koordinasi berasal dari salah satu atom yang berikatan. Berdasarkan cara tumpang tindih orbital masing-masing atom yang berikatan, ikatan kovalen dibedakan menjadi dua yaitu, ikatan sigma (σ) dan ikatan phi (π). Ikatan sigma (σ) terjadi akibat tumpang tindih orbital atom-atom sepanjang poros ikatan, sedangkan ikatan phi (π) terjadi akibat tumpang tindih orbital atom-atom yang tidak tidak berada dalam poros ikatan. Adanya perbedaan cara tumpang tindih orbital dalam pembentukan ikatan tersebut menyebabkan perbedaan kekuatan ikatan. Ikatan sigma lebih kuat atau memiliki tingkat energi lebih rendah dibandingkan ikatan phi. Sebelum kita menggambarkan proses tumpang tindih orbital-orbital tersebut, ada baiknya kita pelajari dulu hibridisasi atom karbon

2

1.3. Teori Hibridisasi Teori hibridisasi muncul karena teori ikatan kimia yang telah ada tidak mampu menjelaskan fakta yang menunjukkan bahwa keempat ikatan C – H pada metana (CH4) mempunyai sifat fisik dan kimia yang sama, padahal empat elektron valensi dari atom karbon memiliki tingkat energi yang berbeda. Dalam metana (CH4) yang merupakan senyawa hidrokarbon paling sederhana, keempat elektron dari empat atom H tidak begitu saja berikatan dengan empat elektron valensi karbon, tetapi sebelum itu ada suatu proses hibridisasi. Dalam proses hibridisasi, orbital 2s dan 2p dari karbon membentuk empat orbital hibrid sp3 yang memiliki tingkat energi yang sama, dimana sudut antara masingmasing orbital adalah 109,50. Hibridisasi juga terjadi pada atom karbon yang membentuk ikatan rangkap dua dan ikatan rangkap tiga. Pada ikatan rangkap dua, atom karbon meiliki hibridisasi sp2 dimana satu orbital 2s dan dua orbital 2p membentuk tiga orbital hibrid sp2, sementara satu orbital 2p yang sisa tidak mengalami hibridisasi. Hal yang sama juga terjadi pada senyawa karbon dengan ikatan rangkap tiga. Satu orbital 2p akan bergabung dengan orbital 2s membentuk orbital hibrid sp, dan dua orbital p yang sisa tidak mengalami hibridisasi. Orbital 2p yang tidak mengalami hibridisasi akan membentuk ikatan phi (π), sementara orbital yang berhibridisasi membentuk ikatan sigma (σ). Sesuai dengan teori VSEPR (Valence Shell Electrone Pair Repulsion), atom karbon yang memiliki hibridisasi sp3 akan mempunyai bentuk tetrahedral, sementara karbon sp2 berbentuk segitiga datar, dan karbon sp berbentuk linier.

3

E 1s 2s 2px 2py 2pz konfigurasi dan tingkat energi orbital atom C E 1s 2s 2px 2py 2pz salah satu elektron 2s dieksitasi ke orbital2p E 1s sp3 hibridisasi sp3 E 1s sp2 hibridisasi sp2 2p E 1s sp hibridisasi sp 2p Gambar 1.1 Mekanisme Hibridisasi Elektron Atom Karbon 4 .

2 Hibridisasi Atom Karbon dan Contoh Senyawanya 5 .H H H C sp3 H CH4 2p σ sp 2 π σ sp 2 H σ H σ H2C = CH2 H sp2 C sp2 σ H 2p 2p H π π σ σ σ H sp C sp HC ≡ CH Gambar 1.

1 Kelompok Senyawa Organik Kelompok CONTOH NAMA IUPAC NAMA UMUM RUMUS UMUM ALKANA CH3 CH3 Etana Etana ALKENA CH2 = CH2 Etena Etilena RCH=CH2 RCH=CHR R2C=CHR R2C=CR2 C C C ALKUNA HC ≡ CH Etuna Asetilena RC ≡ CH RC ≡ CR AKIL HALIDA CH3CH2Cl Kloroetana Etilklorida ALKOHOL CH3CH2OH Etanol Etilalkohol ETER CH3OCH3 Metoksi Metana Dimatil Eter RH RX ROH ROR GUGUS FUNGSI C H C C C C X C OH C O C Kelompok CONTOH NAMA IUPAC NAMA UMUM RUMUS UMUM GUGUS FUNGSI AMINA CH3NH2 Metana mina Metilamina RNH2 R2NH R3N ALDEHID CH3CHO Etanal Asetal dehid KETON CH3COCH3 ASAM KAR BOKSILAT CH3COOH Asam etanoat Asam Asetat ESTER CH3COOCH3 Metiletanoat Metilasetat AMIDA CH3CONH2 Propanon Aseton Etanamida Asetamida RCONH2 RCONHR RCONR2 O C N RCHO RCOR RCOOH RCOOR C N O C H O C O C OH O C O C 6 . Gugus Fungsi dan Tatanama Senyawa Organik Gugus fungsi merupakan kelompok atom dengan pola ikatan tertentu yang bisa digunakan sebagai penanda (marker / ciri). Gugus fungsi berpengaruh terhadap sifat fisik dan sifat kimia kelompok senyawa tersebut. Tabel 1.1.4.

Tentukan hibridisasi masing-masing atom karbon pada senyawa-senyawa berikut : a b c CH3CH2CH2CH(CH3)2 CH3CH=CHCH(CH3)2 CH3 CH CH3 C CH e f Cl C d H3C H CH3 2. O C OH O O O O O > C O C > NR2 C X > C NR2 > C C N > C H > C > OH > SH > > C C > C SOAL-SOAL LATIHAN 1. Gugus fungsi yang prioritasnya lebih tinggi digunakan sebagai induk. maka dalam penamaannya perlu memperhatikan deret prioritas gugus fungsi. Tentukan jenis masing-masing ikatan dan orbital yang digunakan untuk berikatan pada senyawa-senyawa diatas (soal 1) ! Jenis ikatan yang dimaksud adalah apakah ikatan sigma (σ) atau ikatan phi (π). Tentukan golongan senyawa-senyawa berikut sesuai gugus fungsi yang dimilikinya ! a b CH3 H3C CH2 H C CH d CH3 CH2 O CH2 CH2Cl e H O CH2 CH3 H3C C O OCH3 f CH3 H3C C OH c H3C C 7 . 3.Jika dalam satu molekul terdapat lebih dari satu gugus fungsi. Berikut ini urutan prioritas gugus fungsi senyawa organik. sementara yang lainnya dianggap sebagai cabang (substituen).

Tabel 2.BAB II ALKANA DAN SIKLOALKANA 2. Tatanama Alkana dan sikloalkana merupakan hidrokarbon jenuh. hanya mengandung atom karbon sp3. dan diberi nama dengan cara mengubah akhiran “ana” pada alkana menjadi “il” sesuai dengan nama panjang rantai C. Alkana berupa rantai terbuka sedangkan sikloalkana berupa rantai siklik. Deret homolog alkana tak bercabang Nama Metana Etana Propana Butana Pentana Heksana Heptana Oktana Nonana Dekana Undekana Dodekana Tridekana Tetradekana Pentadekana Heksadekana Jumlah Struktur C 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 CH4 CH3CH3 CH3CH2CH3 CH3(CH2)2CH3 CH3(CH2)3CH3 CH3(CH2)4CH3 CH3(CH2)5CH3 CH3(CH2)6CH3 CH3(CH2)7CH3 CH3(CH2)8CH3 CH3(CH2)9CH3 CH3(CH2)10CH3 CH3(CH2)11CH3 CH3(CH2)12CH3 CH3(CH2)13CH3 CH3(CH2)14CH3 Nama Heptadekana Oktadekana Nonadekana Eikosana Heneikosana Dokosana Trikosana Triakontana Hentriakontana Tetrakontana Pentakontana Heksakontana Heptakontana Oktakontana Nonakontana Hektana Jumlah Struktur C 17 18 19 20 21 22 23 30 31 40 50 60 70 80 90 100 CH3(CH2)15CH3 CH3(CH2)16CH3 CH3(CH2)17CH3 CH3(CH2)18CH3 CH3(CH2)19CH3 CH3(CH2)20CH3 CH3(CH2)21CH3 CH3(CH2)28CH3 CH3(CH2)29CH3 CH3(CH2)38CH3 CH3(CH2)48CH3 CH3(CH2)58CH3 CH3(CH2)68CH3 CH3(CH2)78CH3 CH3(CH2)88CH3 CH3(CH2)98CH3 Penamaan gugus alkil Rantai alkana yang telah kehilangan satu atom H disebut gugus alkil.1. Tatanama alkana dan sikloalkana biasanya didasarkan atas nama deret homolog alkana. CH3 – CH3 – CH2 – CH3 – CH2 – CH2 – metil Etil Propil 8 .1.

- Gugus alkil bercabang biasanya diberi nama awalan iso. “sek” untuk cabang pada atom C sekunder. dan “ter” untuk cabang pada atom C tersier H3C CH CH3 Isopropil H3C CH2 CH CH3 Sek-butil CH3 H3C CH CH2 CH3 Isobutil H3C C CH3 Tert-butil Aturan penamaan alkana bercabang 1. Rantai terpanjang diberi nomer dari ujung terdekat dengan percabangan. Pilih rantai alkana terpanjang dan tentukan namanya sesuai dengan deret homolog alkana H3C CH2 CH2 CH CH3 CH2 CH3 rantai terpanjang 6 C = heksana H3C CH2 CH CH2 CH3 CH3 rantai terpanjang 5 C = pentana 2. Usahakan rantai cabang mempunyai nomer sekecil mungkin. 6 5 4 3 CH3 2 1 1 2 2 4 CH3 5 6 H3C CH2 CH2 CH CH2 CH3 bukan H3C CH2 CH2 CH CH2 CH3 9 .

gunakan awalan di. dst.3-dimetilheksana 4. Jika ada dua atau lebih rantai cabang (substituen) yang sama. Tentukan nama rantai cabang (substituen) dan tuliskan nomer letak cabang tersebut pada rantai utama (rantai terpanjang / poin 1) 6 5 4 3 CH3 2 1 substituen CH3 = metil pada posisi 3 sehingga ditulis 3-metilheksana H3C CH2 CH2 CH CH2 CH3 4.4-diisopropilheptana CH CH3 CH3 10 . Ingatlah menuliskan nomer letak masing-masing substituen tersebut. CH3 H3C CH2 CH2 C CH3 CH3 CH CH3 H3C CH2 CH2 C CH2 CH2 CH3 CH2 CH3 3. urutkan penulisannya berdasarkan abjad 1 2 CH3 3 4 CH2 CH3 5 6 4-etil-2-metilheksana bukan 2-metil-4-etilheksana H3C CH CH2 CH CH2 CH3 5. CH3 H3C H2C C H2C CH2 CH3 H2C CH3 3-etil-3-metilheksana 6. Jika ada rantai cabang (substituen) lebih dari satu. tetra.3. Jika ada dua rantai cabang (substituen) atau lebih pada satu atom karbon dari rantai utama. lakukan penomeran berulang. tri.

pilihlah rantai utama yang memiliki percabangan lebih banyak. Jika dalam pemilihan rantai utama terdapat dua rantai utama yang mungkin dengan panjang rantai yang sama. H3C CH2 CH CH3 CH CH CH CH3 CH2 CH3 CH3 CH2 CH3 2. Sikloalkana dengan satu gugus cabang diberi nama dengan menyebut gugus cabang dan nama sikloalkananya. siklooktana! 2. H H H H Contoh: sikloheksana H H H H H atau H H H Tata nama A. Senyawa monosilik (cincin tunggal) 1.3. sikloheksana. 11 . H2 C H 2C H 2C CH2 CH2 atau siklobutana H2C H 2C CH2 CH2 atau siklopentana Tuliskan struktur siklopentana. Nama sikloalkana dengan satu cincin sama dengan nama alkana dengan jumlah atom sama dengan awalan siklo. sikloheptana.7.5-trimetil-4-propilheptana bukan 4-sek-butil-2.3-dimetilheptana Sikloalkana Sikloalkana merupakan senyawa hidrokarbon jenuh yang memiliki paling kurang satu cicncin karbon.

Jumlah atom C masing-masing rantai yang tersambung dengan atom C ujung jembatan bisiklik dimasukkan dalam kurung siku. Jika suatu cincin lingkar memiliki rantai cabang dengan jumlah atom karbon lebih banyak atau ada dua cincin terikat pada satu rantai lurus. maka cincin dianggap substituen CH2 CH2 CH2 CH2 CH3 1-siklobutilpentana 1. Nama senyawa bisiklik diturunkan dari nama cincin sesuai dengan jumlah atom karbonnya dan diberi awalan “bisiklo”. Jika terdapat beberapa rantai cabang. Senyawa bisiklik Senyawa bisiklik adalah senyawa yang terdiri dari dua cincin yang bergabung atau membentuk jembatan. penamaan sesuai urutan abjad dan rantai cabang berikutnya mempunyai nomer serendah mungkin.5-disikloheksilpentana B. H3C CH2 CH3 CH3 CH2 CH3 1-etil-3-metilsikloheksana bukan 1-etil-5-metilsikloheksana Cl 2-etil-1-metil-4-kloroheksana 4.CH3 metilsikopentana CH2 CH3 etilsiklopropana OH sikloheksanol 3. maka diberikan penomeran rantai cabang dari rantai terbesar. 12 .

2.3.1] heptana Jika pada cincin lingkar terdapat rantai cabang maka posisinya dinyatakan dengan nomer.0]nonana CH3 CH3 Kestabilan sikloalkana Konformasi = bentuk molekul sesaat (sementara) akibat dari terjadinya rotasi ikatan tunggal. Sedangkan dalam cincin sikloalkana.Misalnya CH H2C H2C H2C CH CH 2 CH2 jembatan satu karbon 4 jembatan dua karbon ujung jembatan atau 5 7 6 1 3 atau 2 Bisiklo [2. 13 . 4 5 7 6 1 3 H3C 4 3 2 1 9 8 CH3 2 6 5 7 7-metilbisiklo[2. rotasi ikatan tunggal C-C sangat dibatasi.21] heptana Tuliskan nama senyawa: 3-metilbisiklo[4. Karena adanya rotasi ikatan tunggal maka dikenal adanya konformasi eclipsed dan staggered dalam alkana yang dapat digambarkan menggunakan proyeksi Newman. kuda-kuda atau garis. Penomoran atom C dalam senyawa bisiklis selalu dimulai dari atom C ujung jembatan.

Misalnya brominasi siklopropana dengan katalis AlCl3. Menurut Bayer. H + Br2 AlBr3 CCl4 Br CH2 CH2 CH2 Br H3C CH2 CHBr2 Sikloalkana dengan jumlah atom karbon lebih dari tiga akan membentuk lipatan/lekukan. atom hidrogen terletak di atas dan di bawah bidang segitiga dengan sudut H-C-H = 120o. namun dengan lekukan maka atom-atom hidrogen menjadi kurang eclips. yaitu reaksi yang menghasilkan struktur yang mengurangi tegangan struktur dengan cara pembukaan cincin (reaksi adisi sikloalkana). sehingga cocok dengan susunan geometri dari cincin lingkarnya. Karena itu pada siklopropana dan siklobutana. sudut ikatan tetrahedral harus ditekan menjadi menjadi 60 dan 90o. adanya penyimpangan sudut ikatan pada siklopropana dan siklobutana menyebabkan adanya tegangan dalam molekul dan menghasilkan struktur yang kurang stabil dibandingkan struktur yang mempunyai sudut ikatan mendekati tetrahdral. 14 . sehingga tidak membentuk bidang datar. H H 60o H H 120o H C 109.5o (sudut tetrahedral). Adanya tegangan ikatan C-C yang cukup besar dalam siklopropana mempengaruhi reaksi kimianya. Sudut ikatan C-C dalam siklopropana adalah 60o dan siklobutana adalah 90o.Siklopropana adalah sikloalkana paling sederhana dengan bentuk cincin karbon segitiga datar dengan sudut ikatan C-C-C = 60o. sehingga tegangan dan tolakan antar atom membentuk struktur yang paling stabil.5o H siklopropana sudut ikatan tetrahedral Jika suatu atom karbon membentuk 4 ikatan. maka sudut antara pasangan ikatan adalah 109. Meskipun lekukan menjadikan ikatan salah satu sudut C-C-C lebih kecil dari pada bila membentuk bidang datar.

Perubahan konformasi ini pada suhu tinggi terjadi secara sangat cepat dan terus menerus. yaitu aksial dan ekuatorial. Dengan bentuk kursi. sehingga tolakan antara atom H menjadi minimum. Dalam konformasi kursi. maka atom hidrogen aksial pada cincin itu akan dirubah menjadi hidrogen ekuaorial. sudut ikatan C-C menjadi sama dengan sudut ikatan tetrahedral dan posisi atom hidrogen yang terikat pada atom karbon di sebelahnya staggered. ada dua jenis posisi atom hidrogen yang berbeda. Tetapi pada suhu sangat rendah.H H H H H H H H siklobutana H H H H H H H H H H siklopentana Terjadinya lekukan cincin lingkar dengan enam karbon menghasilkan konformasi kursi. sedangkan hidrogen equatorial terletak sepanjang bidang (pada satu bidang) dengan atom-atom karbon. konformasi yang satu dapat dipisahkan dari konformasi yang lain. Bila tiga atom karbon yang berselang satu karbon yang lain dilekukkan ke arah berlawanan (yang semula pada posisi atas dijadikan posisi bawah). 1 a e 6 a a a 3 5 e a e e a 4 e a e 2 5 4 e6 e 3 e a 2 a a e a e e 1 a 15 . Hidrogen aksial terletak di bawah dan di atas bidang yang dibentuk oleh cincin atom karbon. misalnya -100oC.

2-dimetilsiklopentana CH3 H trans-1. Stereoisomer merupakan cara menggambarkan penyusunan atom dalam ruang yang berbeda dari suatu senyawa dengan struktur yang sama. Sedangkan dalam isomer trans. dapat dikatakan bahwa kestabilan struktur sikloalkana dapat dilihat dari adanya tegangan sudut ikatan dan adanya interaksi dua atom atau gugus atom yanng tidak terikat satu sama lain secara lansung tetapi dapat berinteraksi satu sama lain (dengan interaksi sterik dan dipoldipol). H H H H H H H H H H H H Berdasarkan uraian mengenai sudut ikatan dan lekukan bidang pada sikloalkana. Misalnya.2-dimetilsiklopentana merupakan dua senyawa 16 . Isomer cis dan trans 1. misalnya isomer cis-trans. satu gugus metil ada di atas dan gugus metil lainnya berada di bawah.Kestabilan termodinamika struktur sikloheksana tersubstitusi sangat ditentukan oleh posisi aksial atau ekuatorial substituennya. ke dua gugus metil berada di atas bidang cincin siklopentana.2-dimetilsiklopentana Dalam isomer cis. Gambarkan konformasinya untuk menjelaskan keadaan di atas! Lekukan atom karbon dalam sikloheksana dapat membentuk konformasi perahu. Isomer cis-trans 1. metil sikloheksana lebih setabil bila gugus metil ada pada posisi ekuatorial.2-dimetilsiklopentana dapat dituliskan tanpa melihat strukturnya akibat lekukan: H H H CH3 CH3 H H H H H CH3 H H H H H H H cis-1.

3748 1. Hidrogen yang terikat pada karbon primer (1 0) disebut hidrogen primer. sementara hidrogen yang terikat pada karbon sekunder (2 0) disebut hidrogen sekunder (2 0) dan yang yang terikat pada karbon tersier disebut hidrogen tersier (3 0).161.l ( oC ) .3876 1. hidrogen 1 0 CH3 CH3 C H CH2 CH3 hidrogen 1 0 hidrogen 3 0 hidrogen 2 0 2.3974 1.42.91 .8 174.6 .626 0.d ( oC ) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Metana Etana Propana Butana Pentana Heksana Heptana Oktana Nonana Dekana . titik leleh.5 36.659 0.7 98.730 1.172 .4 125.130 .2.1 .5 .3.7 150.3543 0. Sifat-sifat Fisik Alkana Dan Sikloalkana Semakin panjang rantai karbon titik didih. Namun adanya percabangan akan mengurangi gaya tersebut sehingga sifat-sifat fisiknya berkurang untuk senyawa dengan jumlah atom yang sama.1 68. Sifat Fisik n-alkana Jumlah C Nama t.yang berbeda.4119 17 . Karbon kuaterner tidak mengikat hidrogen.54 -30 Density D204 (n20D) Index Refraksi 1.138 . dan indeks refraksi bertambah karena gaya tarik Van der Walls antar molekul semakin besar.95 .88.718 0. Tabel 2.188 .4054 1.703 0.2 Klasifikasi Atom Hidrogen Hidrogen pada alkana atau sikloalkana dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam sesuai dengan jenis karbon dimana hidrogen tersebut terikat. densitas.57 .0. sifat fisika dan kimia ke duanya berbeda.684 0.3579 1. Terbentukya isomer cis-trans 1.1 t.2dimetilsiklopentana karena ikatan tunggal dalam cincin siklopentana tidak dapat berotasi.183 . 2.

Tabel 2.811 0. Cl2 .6 .4.12 13.5 149 t. dimana atom hidrogen dari alkana akan disubstitusi oleh halogen sehingga reaksi ini bisa disebut reaksi substitusi atau reaksi halogenasi. Reaksi ini banyak dimanfaatkan manusia sebagai sumber energi.5 .50 .779 0. terkadang disebut paraffin.4064 1.5 Density D204 0.33 13 49 81 118. H H C H H + heat or light X2 H C H X H + HX Reaksi lain dari alkana adalah reaksi pembakaran. Reaksi ini akan menghasilkan senyawa alkil halida. Alkana bereaksi dengan gas halogen (F2 . Halogenasi dapat berlanjut sampai semua atom hidrogen disubstitusi oleh halogen bila ditambahkan gas halogen berlebih.4449 2. sifat-sifat fisiknya umumnya semakin bertambah.3.4266 1. Br2) dengan pemanasan atau sinar UV.94 6. Sifat Fisik Sikloalkana Jumlah C 3 4 5 6 7 8 Nama Siklopropana Siklobutana Siklopentana Sikloheksana Sikloheptana Siklooktana t. Reaksi-reaksi Kimia Alkana Alkana mempunyai afinitas rendah dan sulit bereaksi. CH3-CH2-CH3 2 CH3-CH2-CH3 CH3-CH2-CH3 + + + 5 O2 7 O2 2 O2 3 CO2 6 CO 3C + + + 4 H2O 8 H2O 4 H2O 18 .834 (n20D) Index Refraksi 1. Reaksi pembakaran ini dapat berlangsung sempurna ataupun tidak sempurna tergantung pada jumlah mol oksigen yang tersedia.l ( oC ) .d ( oC ) . Semakin bertambah jumlah atom karbon anggota cincin.126. yaitu reaksi cepat antara senyawa alkana dengan oksigen yang disertai dengan pelepasan panas.4260 1.Hal yang sama juga berlaku pada senyawa sikloalkana.751 0.

CH2-CH2-CH2 . H + Br2 AlBr3 CCl4 Br . Reaksi-reaksi Kimia Sikloalkana Seperti halnya alkana. Hidrogenasi alkena Hdrokarbon jenuh dapat disintesis dari hidrokarbon tak jenuh.5.Δ H (kkal/mol) 213 373 531 688 Nama siklopropana siklobutana siklopentana sikloheksana . Tumpang tindih antar orbital sp3 dari atom-atom karbon yang berikatan memiliki energi tinggi akibat tidak tercapainya sudut 1090 (sudut karbon tetrahedral).Br CH3-CH-CH2 . Reaksi Pembuatan Alkana a. sikloalkana juga dapat mengalami reaksi halogenasi dan reaksi pembakaran. Reaksi halogenasi pada siklopropana dapat disertai dengan pembukaan cincin karena tegangan cincin pada siklopropana sangat tinggi.4.Br Br CH3-CH2-CHBr2 H + heat or light Br2 Br + HBr H + heat or light Br2 Br + HBr Tabel 2.6.Δ H (kkal/mol) 500 656 794 944 2. Reaksi ini efektif dalam suasana tekanan tinggi dan menggunakan katalis. Panas Pembakaran untuk Beberapa Hidrokarbon Nama Metana Etana Propana Butana .2. misalnya reaksi hidrogenasi suatu alkena akan menghasilkan alkana. 19 .

Reduksi alkilhalida Alkana juga dapat disintesis dengan cara mereduksi suatu alkil halida dalam suasana asam menggunakan katalis Zn. Proses klasik ini dikembangkan Jerman pada masa Perang Dunia II dan saat ini masih diterapkan di Afrika Selatan untuk mensintesis bensin. Fe C + H2O CO + H2 Kalor + Tekanan Alkana + H2O 2. Sintesis Fischer-Tropsch Pencairan batubara akan mengubah batubara menjadi alkana cair. karenanya komponen dengan jumlah karbon tinggi banyak yang diubah menjadi komponen dengan jumlah karbon yang lebih rendah dengan cara Cracking.7.CH3-CH = CH-CH3 + H2 Ni CH2OH 250 50 atm CH3-CH2-CH2-CH3 + H2 Pt CH2OH 250 1 atm b. 2 CH3-CH-CH2-CH3 Br H + 2 CH3-CH2-CH2-CH3 + ZnBr2 Zn c. Komponen minyak bumi banyak digunakan sebagai bahan bakar. Cracking biasanya dilakukan pada tekanan tinggi dengan penambahan suatu katalis (tanah liat aluminium silikat). H2. 20 . Sumber Alkana Sumber alkana terbesar adalah minyak bumi. Komponen penyusun minyak bumi dapat dipisahkan dengan distilasi bertingkat (distilasi fraksional). Minyak bumi mengandung alkana rantai lurus dan rantai bercabang mulai dari fraksi yang tersusun dari satu atom karbon hingga lebih dari dua puluh atom karbon.

Tabel 2. Grease Parraffin wax. Isopentana 4. CH3CH(CH3)CH2CH3 c CH3 CH CH3 CH2 CH CH3 CH3 CH3 CH2CH3 e CH(CH3)2 d CH3 CH CH3 f CH2(CH2)3CH(CH3)2 2. Jet fuel Gas oil. 1. asphalt. tar SOAL-SOAL LATIHAN 1. 2. 3-etilpentana c. Isopropilsikloheksana b. Tuliskan nama sistematik dari senyawa bisikloalkana berikut : a b c 21 . 4-isopropilnonana e. Tuliskan rumus molekul dari senyawa-senyawa berikut : a.5. Komponen penyusun Minyak Bumi Fraksi minyak bumi Jumlah atom karbon dalam dengan kisaran titik molekul didih (0C ) < 20 C1 – C4 20 – 60 C5 – C6 60 – 100 C6 – C7 40 – 200 C5 – C10 175 – 325 C12 – C18 250 – 400 > C12 Non volatil liquid > C20 Non volatil solid > C20 Kegunaan Natural gas Petroleum ether. solvent Ligroin.1-dimetilsiklopropana f. solvent Gasoline Kerosene. Tuliskan nama sistematik (IUPAC) dari senyawa-senyawa berikut : a. Diesel oil Lubricating oil.4-trimetildekana d. CH3CH(C2H5)CH(CH3)CH2CH3 b.3. Fuel oil.

Ada tiga senyawa alkilhalida yang dapat diubah manjadi isopentana melalui proses pengolahan dalam larutan asam berair dengan katalis Zn. C5H12 yang hanya memiliki hidrogen primer dan hidrogen sekunder. C6H14 yang hanya memiliki hidrogen primer dan hidrogen tersier. d. Tuliskan struktur molekul dan nama sistematik dari senyawa-senyawa yang memiliki rumus molekul sebagai berikut : a. C5H12 yang hanya memiliki satu hidrogen tersier. C5H12 yang hanya memiliki hidrogen primer. e. C5H10 yang hanya memiliki hidrogen sekunder. b. 4.3. c. Ada empat senyawa sikloalkana yang dapat diubah manjadi metilsiklopentana melalui proses hidrogenasi katalitik. Sebutkan keempat senyawa tersebut dan tuliskan persamaan reaksinya ! 5. Sebutkan keempat senyawa tersebut dan tuliskan persamaan reaksinya ! 22 .

yaitu isomer ruang antar molekul yang tidak merupakan bayangan cermin satu sama lain.2-dimetilpropana OH 2-propanol 23 . Isomer konstitusional dapat dibagi lagi menjadi dua. yaitu isomer struktural dan isomer fungsional. Enantiomer digunakan untuk menyataan hubungan antara dua molekul yang merupakan bayangan cermin antara molekul satu dengan molekul yang lain. Stereoisomer dapat dibagi menjadi dua. Selain akibat jumlah atom atau jenis atom dalam molekul.1. Sementara diastereomer kebalikan dari enantiomer. Isomer cis dan trans termasuk dalam golongan diastereomer. yaitu enantiomer dan diastereomer.BAB III STEREOKIMIA 3. pola ikatan dan struktur ruang juga membuat senyawa organik memiliki banyak variasi. Untuk senyawa-senyawa yang memiliki rumus molekul sama tetapi susunan ruangnya berbeda. digunakan istilah stereoisomer. atau 1-butanol dengan 2-butanol. Contoh isomer struktural CH3 H3C CH2 CH2 CH2 CH3 dengan pentana H3C CH2 CH2 OH 1-propanol dengan H3C CH2 CH CH3 CH3 2-metilbutana CH3 CH CH3 dengan CH3 C CH3 CH3 2. Isomer konstitusional memiliki ciri perbedaan hubungan ikatan atom-atomnya. Adanya senyawa-senyawa organik yang memiliki rumus melekul sama tetapi berbeda dalam hubungan ikatannya atau berbeda susunan ruangnya disebut isomer (ke-isomeran). Jadi isomer fungsional menyatakan senyawa dengan rumus molekul sama tetapi memiliki gugus fungsi yang berbeda. Isomer dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar. yaitu isomer konstitusional dan isomer ruang (stereoisomer). Sedangkan contoh isomer fungsional adalah 1-butanol dengan dietileter. Contoh isomer struktural adalah n-butana dengan 2-metilpropana. Isomer Konstitusional dan Stereoisomer Banyak faktor yang menyebabkan timbulnya variasi dalam struktur senyawa organik.

Contoh isomer fungsional H3C CH2 O CH3 metiletileter O H3C C O CH3 dengan dengan H3C CH2 CH2 OH 1-propanol O H3C CH2 C OH metiletanoat asam propanoat Contoh enantiomer CHO H C OH dengan HO CHO C H CH2OH D-gliseraldehid CH2OH L-gliseraldehid CH2OH CH2OH H C C2H5 2R-butanol OH dengan HO C H C2H5 2S-butanol Contoh diastereomer CHO H H C C OH OH dengan HO H CHO C C H OH CH2OH D-eritrosa H3C H dengan H C2H5 H H3C CH2OH D-treosa C2H5 H trans-2-butena cis-2-butena 24 .

Sedangkan atom atau gugus atom keempat yang mengarah ke depan kearah pembaca ditgambarkan dengan garis tebal. Atom atau gugus atom ketiga digambarkan dengan garis putus-putus yang bermakna mengarah ke belakang (menjauhi pembaca). dimana dua atom karbon bertetangga yang manjdi pusat perhatian. HO Cl H3C CH2OH HO F CH3 CH2OH Cl CH2OH Cl OH F CH3 ATAU F SH SH HS Struktur 3-D Proyeksi Newman 25 . Ada tiga teknik menggambar yang lazim digunakan adalah menggambar struktur 3-D (tiga dimensi). Struktur 3-D pertama kali diperkenalkan berdasarkan fakta bahwa atom karbon sp3 mempunyai bentuk tetrahedral dengan sudut keempat ikatannya ≈ 109 0. digambarkan dengan garis biasa.2. dan proyeksi Fischer. yang berada dalam bidang kertas. Struktur 3-D. H H C H H H H H H Struktur Lewis Struktur 3-D Sementara proyeksi Newman adalah bentuk lain dari struktur 3-D. Salah satu manfaat teknik menggambar struktur 3-D dan proyeksi Newman adalah pada penentuan konfigurasi absolut suatu senyawa.3. proyeksi Newman dan proyeksi Fischer Untuk memudahkan kita dalam mempelajari stereokimia. Dua atom atau gugus atom disekitar atom karbon pusat. proyeksi Newman. digambar berhimpit sehingga posisi masing-masing atom atau gugus atom disekitar kedua atom karbon tersebut tampak dengan jelas. kita perlu menguasai teknik menggambar molekul yang lazim digunakan.

Perubahan energi mekanik molekul dari konformasi anti ke konformasi eklips metil.Sedangkan proyeksi Fischer sangat bermanfaat dalam penulisan struktur molekul gula (monosakarida). Rotasi ikatan C2 – C3 dari 0 – 360 0 akan menghasilkan perubahan konformasi dari anti-eklips-gauce-eklips-gauce-eklips-anti diikuti dengan perubahan energi mekanik molekul. Sebagai contoh molekul butana. dan konformasi anti ke konformasi gauce. 26 . Konformasi Alkana dan Sikloalkana Setiap atom karbon dalam senyawa alkana dan sikloalkana membentuk empat ikatan tunggal atau memiliki hibridisasi sp3.4 kkal/mol dan 0. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penulisan proyeksi Fischer.3. Setiap persilangan garis mengandung satu atom karbon. etana. berturut-turut adalah 5 kkal/mol. konformsi anti ke konformasi eklips. Pada proyeksi Fischer rantai karbon ditulis dari atas kebawah. setiap konformasi memiliki tingkat energi molekul yang berbeda-beda.8 kkal/mol. dan propana. Adanya ikatan tunggal ini menyebabkan atom-atom dalam molekul alkana dan sikoalkana bisa mengalami perubahan orientasi karena ikatan tunggal dapat berotasi. 3. Kecuali metana. Proyeksi Fischer adalah penggambaran struktur 3-D dalam bentuk 2-D (dua dimensi). Atom atau gugus atom disebelah kiri dan kanan dari rantai karbon berarti berada dibagian depan bidang (mengarah kedepan kearah pembaca) dan yang bagian atas atau bawah dari atom karbon yang manjadi perhatian berada dibelakang bidang (menjauhi pembaca). dimana gugus yang paling tinggi prioritasnya diletakkan pada bagian atas. Perubahan orientasi ini disebut konformasi. CHO HO H HOH2C CHO HO H HOH2C H OH CHO H HO OH H CH2OH H OH Struktur 3-D Proyeksi Fischer 3.

molekul butana berada dalam bentuk konformasi anti.4 kkal/mol 0. Untuk senyawa sikloalkana. konformasi juga terjadi seiring dengan perubahan tingkat energi lingkungannya. Misalnya sikloheksana yang berada dalam bentuk “konformasi kursi” pada temperatur rendah dan “konformasi biduk” pada temperatur tinggi. dan dalam bentuk konformasi eklips metil pada tingkat energi tinggi. setiap molekul berada pada konformasi tertentu pula.8 kkal/mol CH3 H H CH3 H H H H3C H H H CH3 H H H H CH3 CH3 H H CH3 H H CH3 anti gauce gauce anti Gambar 3. Pada tingkat energi rendah. karena konformasi ini sangat dipengaruhi oleh tingkat energi dilingkungannya. Pada konformasi kursi. H H H H H H H H H H H H H H H H H H H H H H H H Kursi Biduk 27 . tingkat energi molekul terendah karena jarak antar atom maksimum.H eklips H H CH3 H eklips H H H eklips H3C H H H H CH 3 H CH 3 H3C CH 3 5 kkal/mol 3. Diagram energi dan konformasi butana Pada kondisi (lingkungan) tertentu.1.

CH3 H H CH3 H OH CH3 H OH CH2OH HO H HO CH3 H H H H Bagian depan dan bagian belakang bidang kertas sama CH3 Bagian depan dan bagian belakang bidang kertas sama H H CH3 H CH2OH Bagian depan dan bagian belakang bidang kertas tidak sama 28 . dan telinga. Atom karbon yang demikian disebut atom karbon kiral atau karbon asimetris.3. Dalam kimia organik. Senyawa kiral pasti tidak memilki bidang simetri. sandal.4. kata kiral digunakan untuk menyatakan sesuatu yang tidak dapat berhimpit dengan bayangan cerminnya. Bila telapak tangan sama-sama dihadapkan kedepan. Hal ini hanya dapat dijumpai bila atom karbon penyusun senyawa tersebut mengikat empat atom atau gugus atom yang berbeda. Kata kiral berasal dari bahasa Yunani “Cheir” yang berarti tangan. kaki. Dalam konteks yang lebih luas termasuk dalam ilmu kimia organik. Salah satu syarat agar suatu benda bersifat kiral adalah tidak memiliki bidang simetri. yaitu molekulnya tidak dapat berhimpit dengan bayangan cerminnya. tangan kanan tidak dapat dihimpitkan dengan tangan kiri. maka kelingking akan berhimpit dengan ibu jari begitu sebaliknya. Misalnya sepatu. Namun dalam kenyataannya. Tangan kiri kita bila dicerminkan akan memiliki bayangan persis seperti tangan kanan. Enantiomer dan Molekul Kiral Enantiomer hanya terjadi bila suatu senyawa molekulnya kiral. syarat yang dikemukakan diatas juga berlaku.

Bila terdapat isotop. CH3. maka perbedaan prioritas ditentukan dari atom berikutnya. Identitifikasi setiap karbon kiral beserta atom atau gugus atom disekitarnya. H H3C C * C2H5 atom / gugus atom disekitarnya : H. Tandai setiap atom atau gugus atom disekitar karbon kiral sesuai dengan prioritasnya. maka kedua senyawa tersebut dikatakan sebagai sepasang enantiomer. ditandai sesuai dengan tahaptahap berikut : 1. Atom dengan nomer atom lebih besar memiliki prioritas lebih tinggi. Bila ada dua senyawa dimana yang satu merupakan bayangan cermin yang lain. 3. Bila perbedaan prioritas tidak dijumpai pada atom yang langsung terikat ke karbon kiral. Permasalahan ini akhirnya dapat diselesaikan dengan sistem R. dan yang berikutnya diberi tanda 2. Atom berprioritas tertinggi diberi tanda 1.Suatu senyawa yang tidak dapat berhimpit dengan bayangan cerminnya disebut enantiomer. yang atom karbon nomer duanya bersifat kiral. 29 . Tatanama Enantiomer Adanya enantiomer telah menimbulkan masalah baru dalam sistem tatanama molekul organik. maka isotop dengan bilangan massa lebih besar memiliki prioritas lebih tinggi. Konfigurasi atau susunan setiap atom disekitar karbon kiral dalam suatu molekul. C2H5 dan OH OH 2. Sistem ini menggunakan aturan prioritas dari atom atau gugus atom disekitar karbon kiral. Sebagai contoh 2-butanol. begitu seterusnya.5. S yaitu suatu sistem penamaan yang dikembangkan oleh Chan-Ingold-Prelog.

Bila dilihat pada atom berikutnyaC-a mengikat 3 H sedangkan C-b mengikat 2 H dan 1 C. Tempatkan molekul sedemikian rupa sehingga atom atau gugus atom yang prioritasnya paling rendah berada dibelakang karbon kiral. Tarik garis melingkar dari atom berprioritas tertinggi ke atom berprioritas berikutnya. karena itu C-b lebih tinggi prioritasnya. karbon kiral tersebut dikatakan memiliki konfigurasi absolut R (rectus = kekanan) dan S (sinister = kiri) bila berlawanan arah. 4 H 3 H3C OH 1 2 C2H5 4 H 3 CH 3 2 C2H5 1 OH pengamat 3 CH 3 HO 1 C2H5 2 putaran kearah kiri atau berlawanan arah jarum jam sehingga konfigurasi absolutnya S dan diberi nama S -2-butanol 30 . 4. H H C H H C 4 H C H C H H 3 2 OH H 1 3. Bila garis melingkar searah jarum jam.H H C H H C 4 H C H C H H a b OH H 1 ada dua atom karbon disekitar karbon kiral yaitu C-a dan C-b.

31 .2. Campuran sepasang enantiomer dalam jumlah yang sama banyak disebut campuran rasemat.3. Indeks bias. lalu bagaimana kita dapat membedakannya? Suatu senyawa dapat dibedakan dari pasangan enantiomernya melalui sifat optik aktif-nya. maka besarnya putaran optik yang teramati akan ditentukan oleh perbandingan campuran kedua enantiomer tersebut.5 0 C. jika jumlah enantiomer yang memutar bidang polarisasi cahaya kekanan lebih banyak. Besarnya putaran optik suatu senyawa dapat dihitung dari rotasi spesifik [α] yang teramati pada alat ini dikalikan dengan konsentrasi (g/ml) dan panjang kuvet (dm). Sifat optik aktif suatu senyawa dapat diukur dengan suatu alat yang disebut polarimeter. Bila suatu senyawa memutar bidang cahaya terpolarisasi kekanan. Jika sepasang enantiomer memiliki sifat-sifat yang mirip. maka pasangan enantiomernya umumnya memutar bidang cahaya terpolarisasi kearah yang berlawanan. panas pembentukan. begitupula sebaliknya. Putaran optik yang teramati akan positif. Sifat Optik Aktif Enantiomer Sepasang enantiomer umumnya memiliki sifat kimia dan sifat fisik yang hampir sama.6. dan bila sebaliknya disebut levorotatori. yaitu kemampuan untuk memutar bidang cahaya terpolarisasi. Bila suatu senyawa memutar bidang cahaya terpolarisasi kekanan. Sebagai contoh. dan energi bebas standar-nya pun sama. α = [α] c l α Sumber cahaya Polarizer Tempat sampel Analyzer Gambar 3. Polarimeter Bila larutan sampel merupakan campuran sepasang enantiomer. dan akan sama dengan nol bila keduanya dalam jumlah yang sama. kerapatan (densitas). R-2-butanol dan S-2-butanol sama-sama memiliki titik didih 99. maka senyawa tersebut disebut bersifat dekstrorotatori.

karena keduanya merupakan bayangan cermin satu sama lain.3R).3S dengan 2R.3S Bila kita perhatikan keempat molekul diatas.3R dengan 2R.3S dengan 2R. 2R. Karena kedua karbon tersebut dapat berada dalam konfigurasi R atau S.3S dengan 2R.3S .3R 2R. 2S.3R adalah sepasang enantiomer. Bagaimana senyawa dengan karbon kiral lebih dari satu? Misalnya 2. Sementara isomer 2S. 32 . maka akan timbul pertanyaan bagaimana hubungan antara keempat molekul tersebut? Isomer 2S. (2R.3S. Hubungan seperti ini disebut hubungan diastereoisomer atau lebih mudahnya disebut diastereomer.3S 2R. Molekul 2.3-pentanadiol. (2S. yaitu (2R. OH OH 2 H CH3 H H C2H5 HO 2 CH3 CH3 H HO 2 3 C2H5 H3C OH H C2H5 H 2 H OH H 3 C2H5 3 OH 3 OH 2S. yaitu C-2 dan C-3.3. dan (2S.3R).3S).3R OH OH CH3 CH3 H 2 H 2 H3C OH OH H C2H5 H HO HO CH3 2 3 C2H5 2 H H C2H5 H H 3 C2H5 3 OH 3 OH 2S.3R bukan merupakan bayangan cermin satu sama lain.3-pentanadiol memiliki dua karbon kiral.3R dan 2S.3-pentanadiol memiliki empat stereoisomer yang mungkin.3S).3S dengan 2R.3R dengan 2R. Begitupula hubungan antara isomer 2S.3S . maka molekul 2. Diastereomer Pembahasan sebelumnya hanya menyangkut senyawa-senyawa yang memiliki satu karbon kiral.7.

3R).3S) dengan (2R. Karenanya. OH OH 2 H CH3 H H CH3 HO 2 CH3 CH3 H HO 2 3 CH3 H3C OH H H3C H 2 H OH H 3 CH3 3 OH 3 OH 2S. Bila kita teliti lebih jauh ternyata anggapan itu salah. seperti distilasi fraksinasi dan kristalisasi.3S). secara prinsipil diastereomer dapat dipisahkan dengan cara konvensional. maka ia akan bersifat optik aktif. Seperti halnya 2.3S 2R. panas pembentukan.3pentanadiol. dan isomer (2S.3S Isomer (2S. Jika diastereomer memiliki karbon kiral. dan energi bebas standar diastereomer berbeda-beda.3S) dengan (2R. Dan. Senyawa Meso Hingga saat ini.8.3S). titik leleh.3S) 33 . Sebagai contoh senyawa 2.3-butanadiol. (2S.3R OH OH CH3 CH3 H 2 H 2 H3C OH OH H CH3 H HO HO CH3 2 3 CH3 2 H H H3C H H 3 CH3 3 OH 3 OH 2S. sifat optik aktif ini tidak ada hubungannya dengan pasangan diastereomernya.3S).3R). stereokimia yang mungkin dari 2. (2R. kita masih beranggapan bahwa setiap senyawa yang memiliki satu atau lebih karbon asimetrik bersifat kiral atau optik aktif. Titik didih. dan (2S.3-butanadiol adalah (2S.Diastereomer memiliki sifat fisik yang berbeda. 3.3R) sudah pasti memiliki hubungan enantiomer karena merupakan bayangan cermin satu sama lain. (2R.3R 2R.

Senyawa yang memiliki hubungan semacam ini disebut senyawa meso. ada dua cara mudah yang dapat dilakukan.3S) memiliki hubungan diastereomer. Senyawa meso memiliki bidang simetri (dapat dibagi menjadi dua bagian yang sama atau bagian yang satu merupakan bayangan cermin bagian yang lain). Apakah memiliki hubungan enantiomer ? Bila senyawa (2R. Bagian yang terpisah oleh bidang simetri harus memiliki konfigurasi yang berlawanan.3R).3R 2. maka akan diperoleh bentuk yang sama dengan isomer (2S.dengan (2S. OH OH OH 2 H CH3 H3C 3 H H3C 2 H H3C H 180 0 H CH3 H CH3 3 OH 2 OH 3 OH 2S.3S) diputar 1800 keluar bidang. serta (2R.3R) dengan (2S.3R) dengan (2R.3R). 34 .3R).3R 2R.3R).3S) dengan (2S. OH OH 2 H CH3 H OH CH3 H3C H 3 OH ikatan C2-C3 diputar 180 0 H Bagian depan bidang kertas simetri dengan bagian belakang CH3 2S. (2R. Nah yang jadi pertanyaan adalah hubungan antara isomer (2R. yaitu : 1.3S Untuk mengidentifikasi senyawa meso.

Pemisahan Enantiomer Sepasang enantiomer memiliki sifat fisik yang identik.3R)-(+)-tartrat.3. Jadi sebelum dipisahkan. kita harus mengambil keuntungan dari sifat sepasang diastereomer. Untuk memisahkannya. Sepasang diastereomer memiliki sifat fisik yang berbeda dan dapat dipisahkan dengan cara konvensional. Campuran garam diastereomer yang dihasilkan dapat dipisahkan dengan cara kristalisasi menggunakan pelarut metanol. yang lazim disebut resolving agent. sepasang enantiomer harus diubah dulu menjadi sepasang diastereomer dengan cara mereaksikannya dengan senyawa kiral enantiomer murni.3R)-(+)-tartrat. Reaksi ini bersifat kuantitatif. campuran sepasang enantiomer (misalnya. Reaksi ini memanfaatkan sifat basa dari gugus amina sehingga mudah bereaksi dengan gugus asam membentuk garam. 35 . Garam diastereomer murni yang telah terpisah akan mengalami dekomposisi dalam suasana basa berair menghasilkan endapan α-feniletilamina yang bersifat optik aktif dan larutan garam dari asam-(2R.9. campuran rasemat) sulit dipisahkan dengan cara konvensional seperti distilasi fraksinasi dan kristalisasi. Karenanya. Sebagai contoh adalah pemisahan campuran rasemat dari α-feniletilamina dengan enantiomer murni asam-(2R.3R)-(+)-tartrat dengan campuran rasemat α-feniletilamina adalah 2 : 1. Karenanya pastikan bahwa perbandingan mol asam-(2R.

Kejadian seperti ini dapat dijumpai pada senyawa-senyawa siklik dan bifenil. Molekul Kiral Tanpa Karbon Asimetri Adanya senyawa meso telah menunjukkan bahwa tidak semua senyawa yang memiliki karbon asimetri bersifat kiral. bahwa tidak semua senyawa yang bersifat kiral memiliki karbon asimetri.NH2 2 Ph CH CH3 + HOOC H OH campuran rasemat H HO COOH Asam (2R. 36 . Pengecualian yang lain juga muncul.3R)-(+)-tartrat Ph H +H3N (R) -- OOC H OH H H3C Ph -- OOC H OH CH3 H HO (R) COOH (R) NH3+ H HO (S) (R) COOH (R) campuran garam diastereomer dipisahkan dengan cara kristalisasi NaOH Ph H H3N (R) endapan H H3C NaOH Ph CH3 NH3 (S) endapan 3.10.

Contoh senyawa siklik Bidang Cermin H H3C H CH3 H3C diputar 180 0 keluar bidang TIDAK DAPAT BERHIMPIT H H3C CH3 H H CH3 H Contoh senyawa bifenil Bidang Cermin H H HO H H H Br H Br H H OH H H H H H Cl Cl diputar 180 0 keluar bidang TIDAK DAPAT BERHIMPIT H H H H Br H HO H H H Cl 3. Pada awalnya sistem ini sangat bermanfaat untuk menyatakan stereokimia atom atau gugus atom disekitar karbon alkena. Sistem Cis-Trans dan Sistem E-Z Sistem cis-trans didesain oleh IUPAC untuk menyatakan kestereoisomeran disekitar atom karbon berikatan rangkap (alkena).11. Sistem ini dapat diterapkan bila masing-masing karbon berikatan rangkap mengikat satu 37 .

atom hidrogen. ternyata sistem cis-trans menimbulkan kebingungan bila karbon berikatan rangkap tidak mengikat hidrogen. dan bila kedua gugus yang lebih berprioritas terletak berseberangan dari ikatan rangkap. Contohnya cis.dan trans-2-butena. H3C C H CH3 C H H3C C H H C CH3 cis-2-butena trans-2-butena Seiring dengan berkembangnya ilmu kimia khusunya kimia organik. Awalan cis digunakan untuk menyatakan bahwa setiap hidrogen yang diikat oleh masing-masing karbon berikatan rangkap berada disisi yang sama. “berseberangan”). Seseorang mungkin menyatakan senyawa ini sebagai trans isomer karena gugus yang sama dalam hal ini gugus metil berada pada sisi yang berseberangan. Prioritas tinggi Prioritas tinggi Prioritas tinggi Prioritas rendah C Prioritas rendah C Prioritas rendah Prioritas rendah C C Prioritas tinggi (Z) (E) 38 . “bersama”). dinyatakan memiliki konfigurasi E (E = entgegen. German. misalnya 3-metil-2-pentena. maka senyawa tersebut diberi labeli atau dinyatakan memiliki konfigurasi Z (Z = zusammen. German. Sebaliknya orang tidak bisa disalahkan bila menyatakan senyawa ini sebagai cis isomer karena kedua gugus besar berada disisi yang sama dari ikatan rangkap. Bila kedua gugus yang lebih tinggi prioritasnya berada pada sisi yang sama dari ikatan rangkap. Untuk mengatasi masalah ini. Chan-Ingold-Prelog membuat suatu sistem penamaan yang disebut sistem E-Z atau sistem Chan-Ingold-Prelog. Bila posisinya bersebarangan ditambahkan awalan trans. H3C C H C CH3 C2H5 Pada sistem E-Z. atom atau gugus atom disekitar karbon berikatan rangkap diurut berdasarkan prioritas relatifnya.

Bidang simetri i. atau dua molekul yang sama ? Br Cl h. Stereoisomer d. dan ditulis lengkap menjadi (Z)-3-metil-2-pentena. Campuran rasemat 2. Diastereomer e. Oleh karena itu. Tentukan bagaimana hubungan dari pasangan molekul berikut. Senyawa Meso g. Isomer b. SOAL-SOAL LATIHAN 1. sama dengan aturan yang digunakan pada penamaan enantiomer. Enantiomer f. Molekul kiral k. diastereomer. Jelaskan apa yang dimaksud dengan : a. molekul 3-metil-2-pentena yang digambarkan diatas memiliki konfigurasi Z. isomer struktural. Atom kiral j. Isomer struktural c. Dextrorotatori a H3C H Cl dengan Br H3C H Br Cl b H3C H H Cl Br C H dengan Br H Cl CH3 CH3 H Br CH3 H Cl H C CH3 Br c H3C Cl H H3C Cl H dengan CH3 H H3C Br C Br C H CH3 d dengan H H3C Cl C Br C H CH3 e H3C Cl dengan H H3C 39 . Senyawa Optik aktif m.Aturan yang digunakan untuk menentukan urutan prioritas atom atau gugus atom disekitar karbon berikatan rangkap. apakah sepasang enantiomer. Molekul akiral l.

CH3 CH2Cl f H3C H Cl dengan H3C H H3C H CH3 g H3C H CH3 Cl dengan Cl H H H CH3 H h H CH3 H dengan CH3 H CH3 H3C H H CH3 CH3 H OH OH H CH3 i dengan H3C CH3 H H j dengan H3C H3C H H k H Cl H H dengan OH H OH Cl l H H3C H Cl dengan Cl H3C Cl H m H3C H3C Cl CH3 dengan H3C H3C H Cl n H Cl dengan H CH3 3. Berikan nama sistematik beserta stereokimianya (jika ada) dari senyawa-senyawa pada soal 2 ! 40 .

tetapi akhiran “ana” diganti dengan “ena”. Tandai ikatan rangkap dengan nomer dan usahakan penomerannya sekecil mungkin. senyawa aromatik juga mengandung ikatan rangkap dua. tandai ikatan rangkap dengan nomer 1 dan 2. Ikatan rangkap pada senyawa aromatik mudah mengalami delokalisasi (resonansi) elektron. Tatanama A. Jika ada substituen. 2. Tatanama Alkena dan Sikloalkena 1. identifikasi dan tandai keberadaannya dalam rantai utama. Selanjutnya tandai substituen dengan nomer sekecil mungkin. Tentukan rantai induk (rantai karbon yang paling panjang) dan berikan nama sesuai dengan deret homolog alkana. Untuk senyawa sikloalkena. 41 . CH2 = CHCH2CH3 1-butena bukan 3-butena CH3CH = CHCH2CH2CH3 2-heksena bukan 4-heksena 3. Atom karbon alkena yang berikatan rangkap dua memiliki hibridisasi sp2. 4. CH3 CH3C = CHCH3 2-metil-2-butena CH3 CH3 CH3C = CHCH2CHCH3 2.5-dimetil-2-heksena 4. namun karakternya sedikit berbeda. karenanya ikatan rangkap dua pada alkena mudah diadisi. Ikatan rangkap dua ini menjadi penanda / ciri dan karakteristik sifat fisik dan sifat kimia dari alkena. Seperti halnya alkena.BAB IV ALKENA DAN SENYAWA AROMATIK Alkena atau olefin merupakan hidrokarbon yang mengandung satu atau lebih ikatan rangkap dua.1.

Tatanama Senyawa Aromatik trans-2-pentena 1.5-dimetilsikloheksena bukan 4. Ada dua gugus alkenil yang lazim digunakan dalam penamaan alkena. Senyawa aromatik monosubstitusi dimana benzena dijadikan nama dasar F Br NO2 fluorobenzena bromobenzena nitrbenzena 42 . H C H gugus vinil C H atau CH2 = CH H H C C CH2 gugus allil H atau CH2 = CHCH2 6.CH3 H3C 1-metilsiklopentena bukan 2-metilsiklopentena CH3 3. Bentuk geometri dari alkena biasanya ditandai dengan awalan “cis” atau “trans” H3C C H C CH2CH3 H3C C C H H H CH2CH3 cis-2-pentena B. Kedua gugus alkenil tersebut biasanya dianggap sebagai substituen.6-dimetilsikloheksena 5.

5-dinitrotoluen 2. CH3 OH NH2 toluen fenol anilin 3. Senyawa aromatik monosubstitusi dimana benzena dan substituen bersama-sama digunakan sebagai nama dasar. m.2-dibromobenzena (o-dibromobenzena) 1.4. tri. Jika substituen yang terikat lebih dari dua. CH3 Cl O2N NO2 Cl 3. meta. CH3-CH-CH2-CH2-CH2-CH2-CH3 2-fenilheptana 43 . Br Br Br NO 2 Br 1. tetra. Untuk substituen yang sama digunakan awalan di.3-dibromobenzena asam-4-nitrbenzoat (m-dibromobenzena) (asam-p-nitrobenzoat) COOH 4. Adanya dua substituen pada cincin benzena biasanya ditandai dengan nomer atau dengan awalan orto. maka setiap substituen ditandai dengan nomer. dan para (disingkat o. Jika rantai alkil yang terikat pada cincin benzena memiliki atom karbon enam atau lebih. maka cincin benzena dijadikan substituen sebagai gugus fenil.6-triklorofenol 2-fluoro-3-kloroanilin OH Cl NH2 F Cl 5. dan p).2. dst.

8 AH0 = . Reaksi hidrogenasi benzena lebih sulit dilakukan.0 kkal/mol. benzena dan sikloheksatriena mempunyai sifat fisik dan sifat kimia yang berbeda.4.3. Kestabilan Benzena Meskipun sama-sama senyawa siklik enam karbon dan mempunyai tiga ikatan rangkap dua. Ada perbedaan energi kestabilan sebesar 36.6 Stabilitas relatif sikloheksena. Jadi ikatan rangkap tersebut terus pindah keikatan disebelahnya. Hal ini arti benzena lebih stabil dibandingkan sikloheksatriena.85.28.4 AH0 = . 1.3-sikloheksadiena. 1. dan benzena 44 . Kestabilan Benzena dan Hukum Huckel A.55.2.8 kkal/mol AH0 = .49.5-sikloheksatriena. Perbedaan kestabilan ini terjadi karena pada benzena ketiga ikatan rangkap tersebut mengalami resonansi. Resonansi akan tampak dapat jelas bila masing-masing atom karbon pada benzena digambarkan orbitalnya + 3 H2 + 2 H2 Benzena + 3 H2 + H2 AH0 = .

2. [6] annulena [8] annulena [10] annulena 45 . serta mempunyai struktur planar (orbital 2p sejajar) agar proses delokalisasi elektron π dapat berlangsung. Siklooktatetraena ([8] annulena) tidak bersifat aromatik karena jumlah elektron π nya tidak mengikuti aturan 2n + 2. Hukum Huckel Hukum Huckel merupakan hukum yang mengatur tentang kearomatisan senyawa organik monosiklik.Penggambaran struktur resonansi dari Benzena B. karenanya tidak bersifat aromatik. 4. Jadi hanya benzena yang bersifat aromatik. 1. siklooktatetraena ([8] annulena). sementara [10] annulena meskipun memenuhi aturan 2n + 2. dimana n merupakan bilangan bulat 0. Suatu senyawa monosiklik dapat dikatakan sebagai senyawa aromatik atau akan memiliki sifat-sifat aromatik bila mempunyai elektron phi (π) sebanyak 2n + 2. dan [10] annulena. tetapi mempunyai struktur yang tidak planar. dst. 3. Sebagai contoh misalnya benzena ([6] annulena).

Berikut ini akan dituliskan beberapa reaksi-reaksi yang penting pada alkena. Selain dapat diaddisi (penjenuhan). Hukum ini menyatakan bahwa ion positif (H +) akan menyerang ikatan rangkap sedemikian rupa sehingga dihasilkan karbokation yang lebih stabil. Karbokation yang terbentuk distabilkan oleh hiperkonjugasi. Reaksi-reaksi Kimia Alkena Pusat reaktivitas senyawa alkena terletak pada ikatan rangkapnya.4. C C + slow H X C + C H + : X -- C + C H + : X -- fast C X C H Reaksi pembentukan karbokation berlangsung lambat dan menjadi tahap penentu laju reaksi. sehingga urutan kestabilannya adalah karbokation tersier > sekunder > primer. 1. ikatan rangkap alkena juga dapat dioksidasi yang diikuti dengan pemutusan. CH3 H H3C C CH3 C CH2 CH3 H H3C C CH3 C CH3 H CH3 H3C HX + + C C CH3 CH3 46 . Addisi hidrogen halida (HX) Pada reaksi addisi alkena tak simetri berlaku hukum Markovnikov. Pada tahap pembentukan karbokation juga dapat terjadi reaksi penataan ulang untuk menghasilkan karbokation yang lebih stabil.3.

. Hidrasi alkena (addisi alkena dengan H2O) Reaksi hidrasi alkena berlangsung beberapa tahap dalam suasana asam dengan produk akhir suatu alkohol. fast H C HO C H + H + . H H C + C H + :.contoh reaksi H H2C C CH3 HCl H3C H C Cl H2 C CH3 H2C Cl CH3 2-kloropropena 1-kloropropena tidak ada 2. O H fast H H C C O+ H H H C H O H C + O :. O H + H 47 . Reaksi ini juga mematuhi Hukum Markovnikov... slow H C + C H + O :... H C C H + H O + .

Contoh reaksi CH3 H3C C CH2 + H+ H2O CH3 H3C C HO CH3 25 0 2-metilpropena CH2 ter-butanol CH3 + metilensiklopentana H+ H2O OH 25 0 1-metilsiklopentanol 3. .. : .. : C C C C Br Br Br δ+ δ − δ+ δ− . : .. Br C Br + ion bromonium ion bromida − ... . ..... kompleks π Br C C Br C ion bromonium . : kompleks π − . kedua atom halogen akan masuk atau terikat pada atom karbon yang berikatan rangkap dari arah yang berlawanan sehingga rekasi ini dikatakan mengikuti pola anti addisi. Reaksi ini melalui suatu intermediet karbokation yang disebut ion halogenium berjembatan. .... : Br + . . Addisi halogen Pada reaksi addisi alkena dengan halogen. + : Br .... : . C C ... .. : C C Br C C Br + Br δ+ δ− . Br ... ... . . : .. : .. Br . + ion bromida 48 .

kemudian diikuti dengan oksidasi menggunakan suatu peroksida (H2O2) dalam suasana basa menghasilkan produk alkohol dan asam borat. Reaksi Hidroborasi-Oksidasi Reaksi ini dapat dibagi menjadi dua tahap.Contoh reaksi H + Br2 -50 CCl4 Br Br H sikloheksena trans-1.2-dibromo sikloheksana 4. Reaksi ini tidak mematuhi Hukum Markovnikov sehingga sering disebut reaksi addisi anti-Markovnikov. karena ion hidrida dan boron menyerang ikatan rangkap dari satu sisi dan produk akhirnya juga berada satu sisi. Addisi dengan borohidrida merupakan reaksi addisi sin (sin addition). yang diawali dengan addisi ikatan rangkap menggunakan reagen borohidrida (BH3). C C C H C B C H C B + H B C H C B H2O2 OH - C C H HO Contoh reaksi BH3 CH3 CH CH2 + + CH3 CH2 CH2 BH2 CH3 CH CH3 CH CH2 CH2 (CH3 CH2 CH2)2BH (CH3 CH2 CH2)3B + H3BO3 CH3 CH2 CH2 BH2 (CH3 CH2 CH2)2BH (CH3 CH2 CH2)3B H2O2 OH - 3 CH3 CH2 CH2 OH 49 .

5. Contoh reaksi H3C C H3C CH2 Br2 CH3 H3C + C CH2 Br : OH2 -H+ CH3 H3C C OH CH2Br 6. O O C H C O R C O C + O C OH R C alkena peroksida H epoksida asam karboksilat H C O C + H O: H + C C O+ H :O H : OH C HO C glikol : : : 50 . hanya saja yang bertindak sebagai nukleofil adalah molekul air. Epoksidasi Alkena Alkena dapat bereaksi dengan suatu peroksida menghasilkan senyawa siklik yang disebut epoksida (oksiran). dan bila reaksi diteruskan dengan hidrolisis menggunakan katalis asam. Mekanisme reaksi pembentukan halohidrin juga mengikuti pola addisi halogen pada alkena. sedangkan reaksi antara epoksida dengan air akan menghasilkan senyawa glikol yang gugus OHnya berseberangan. maka hasil yang diperoleh bukan saja dihaloalkana. Reaksi Pembentukan Halohidrin Jika reaksi halogenasi alkena dilakukan dalam suasana berair. melainkan juga senyawa halohidrin (haloalkohol). maka akan diperoleh senyawa diol (glikol). Reaksi antara alkena dengan peroksida merupakan reaksi addisi sin.

4-trimetilpentana (isooktan) Mekanisme reaksinya adalah CH3 H3C C CH2 H+ H3C CH3 C + H2C CH3 CH3 C CH3 CH3 CH3 H3C C H C CH3 + C CH2 H CH3 H3C C CH3 H2 C H3C C CH3 H C CH3 C CH3 -H+ CH3 H + CH3 C CH2 51 . alkena akan mengalami dimerisasi. CH3 H3C C CH2 H2SO4 60 % 70 0 CH3 H3C C CH3 H2 C CH3 C CH2 CH3 CH3 H C C CH3 + H3C C CH3 80 % CH3 H3C C CH3 CH3 H3C C CH3 CH3 H2 CH3 C CH H2 C CH3 C CH2 CH3 CH3 H C C CH3 H2 Ni 20 % + H3C C CH3 2. Addisi alkena dengan asam sulfat (H2SO4) Alkena dapat diaddisi asam sulfat pekat menghasilkan alkilhidrogensulfat. Sementara dalam larutan H2SO4 60 %. Reaksi ini mematuhi hukum Markovnikov dengan mekanisme reaksi yang mirip dengan reaksi alkena dengan hidrogen halida (HX).7.2.

Reaksi oksidasi alkena Ikatan rangkap alkena dapat dioksidasi dengan pereaksi KMnO4. + C . Bila produk yang dihasilkan diolah lebih lanjut. . etc b. O O - O O O O O - Mn O O O Os O KMnO4 OsO4 O3 (ozon) C C C C O OH H2O C OH C OH O O - O Mn O O O Mn O - MnO2 C OH C OH OH - panas H2O 2 C O 9. Reaksi polimerisasi alkena Mekanisme reaksi polimerisasi alkena dapat dibagi menjadi tiga. C C W C C C C .C W C C .8. maka ikatan rangkap alkena akan mengalami pemutusan menghasilkan senyawa keton atau aldehid. OsO4. Polimerisasi radikal bebas W . Polimerisasi kationik C C Y + + C C Y C C+ Y C C C C+ etc 52 . yaitu : a. dan ozon (ozonisasi).

2-metil-2-pentena b C CH c (H3C)3C C H3C CH OCH3 d (H3C)3C C HC C 3. 1-pentena c. (E)-3-metil-2-pentena 53 . Gambarkan struktur molekul senyawa-senyawa berikut ! a. Diantara senyawa-senyawa berikut. Ada beberapa contoh polimer yang lazim ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. teflon. Polimerisasi anionik Z: - + C C Z C C - C C Z C C C C - etc Reaksi polimerisasi alkena biasanya berlangsung dalam tiga tahap reaksi. (3E. poliester. SOAL-SOAL LATIHAN 1. 3-heksena c. propagasi (perpanjangan rantai).6-tetrametiloktana c. manakah yang dapat berada dalam bentuk cis- trans atau E-Z ? a. (Z)-2-isopropil-2-heksena b. siklobutena 2. poliakrilonitril. Gugus manakah yang memiliki prioritas lebih tinggi ? a H3CO CH C Cl2HC CH OH H2C CH2CH3 b. poliakrilamida.5Z)-2. dan sebagainya.c. dan terminasi (reaksi diakhiri). seperti PVC (polivinilklorida).3. 1.5-oktadiena d. (E)-4-allil-1.3-pentadiena e. yaitu inisiasi (reaksi dimulai).5.

3-dimetilbutana.3-dimetil-1-butena menghasilkan dua produk. yaitu 3-kloro-2. Bila Br2 / CCl4 diganti dengan Br2 / H2O pada soal nomer 8. Kenapa reaksi addisi hidrogen klorida terhadap 3. Kenapa hidrasi propena dalam suasana asam hanya menghasilkan isopropil alkohol (1-propanol tidak terbentuk). Tentukan produk termasuk stereokimianya dari reaksi Br2 / CCl4 dengan 2-metil-1heksena ! Jelaskan dengan menggambarkan mekanisme reaksinya ! 9. Senyawa produk berikut disintesis melalui proses hidroborasi-oksidasi. Jelaskan dengan menggambarkan mekanisme reaksinya ! 6.2-dimetilbutana dan 2-kloro-2. Jelaskan mekanisme reaksinya ! 7. Gambarkan mekanisme reaksi addisi ionik HI terhadap 1-butena ! 5. Z) yang diperlukan dalam sintesis tersebut ! X Y Z → → → n-butanol 3-metil-2-butanol 2-metilsikloheksanol 8. Bagaimana produknya? 10.4. Tentukanlah struktur alkena tersebut ! 54 . Y. Suatu alkena dioksidasi dengan KMnO4 dalam suasana basa disertai dengan pemanasan menghasilkan produk propanaldehid dan etanon. Tuliskan reaktan (X.

Ikatan rangkap 3 dalam alkuna. namun pada umumnya memiliki titik leleh dan titik didih yang sedikit lebih tinggi.21 Å) lebih pendek dari rangkap 2 (1. karena itu sudut ikatan 180oC. berwujud cair pada suhu kamar. Alkuna dapat mengalami reaksi addisi dengan beberapa reagen seperti halnya pada alkena.BAB V ALKUNA 5. sama seperti alkana. Panjang ikatan C-C rangkap tiga (1.54 Å). (hafalkan beberapa nama umum itu). maka asetenina berbentuk linear (tidak terdapat cis-trans isomer). 2butuna mendidih pada suhu 27oC. beberapa alkuna sederhana lebih sering digunakan nama umumnya. tersusun dari 1 ikatan σ dan 2 ikatan π.1 Tatanama Nama sistematis alkuna diturunkan dengan mengganti akhiran ana dari alkana yang sesuai dengan una. 5. ikatan π terletak di bawah dan di atas ikatan σ). Alkuna yang lebih rendah adalah gas. Namun.34 Å) dan ikatan tunggal (1.2 Sifat-sifat alkuna Sifat fisika alkuna mirip dengan alkana dan alkena yang jumlah atom karbonnya sesuai. 55 .3 Ikatan C-C dalam alkuna Atom karbon yang merupakan bagian dari ikatan rangkap 3 hanya berikatan dengan satu atom C lain. pentuna dan alkuna yang lebih tinggi. H C C H H2C C C CH2 CH3 2-pentuna HC C CH2 CH 1-penten-4-una CH2 etuna (asetelina) Beberapa nama umum gugus: H2C CH H2C CH CH2 HC C CH2 vinil alil - propargil R C C: HC C CH2Cl ion alkunida propargil klorida 5. Kedua ikatan π saling tegak lurus satu sama lain sepanjang ikatan σ (perhatikan bahwa dalam alkena.

Dalam indurtri petrokimia. bersebelahan). CaC2 dalam industri dibuat dengan memanaskan batu bara dan batu kapur pada suhu tinggi dalam tanur listrik. Dihalida geminal dapat dihasilkan dengan halogenasi aldehida atau keton yang memiliki gugus metilena alfa dengan PCl5 dan dihalida visinal dapat dihasilkan dengan halogenasi suatu alkena. Dibuat dari reaksi antara calsium cabida (CaC2) dalam air. BrHC CH Br KOH KOH C R C C CH atau R CH2 C H Cl2 Asetilena Merupakan senyawa alkuna penting dalam industri. sedangkan dalam dihalida geminal kedua atom halogen diikat oleh dua atom karbon yang berikatan (bergandengan. bisa dibuat dari alkuna yang lebih rendah melalui reaksi asetilida dengan alkil halida primer. HC CH + LiNH2 HC C Li 56 . 6 CH4 + O2 2C2H2 + 2CO + 10H2O Alkuna yang lebih tinggi.4 Pembuatan alkuna Alkuna dibuat dengan dehidrohalogenasi dihalida menggunakan basa kuat (KOH atau NaNH2). baik dari dihalida geminal maupun dihalida visinal. asetilena dibuat dengan oksidasi parsial CH4 pada suhu 1500oC. kedua atom halogen diikat oleh satu atom karbon yang sama.5. Dalam dihalida visinal.

Dikatalisis oleh Na. Pt. hidrogen halida pada alkuna sangat mirip dengan addisi pada alkena. karena adanya elektron π. tetapi dengan intermediate kation vinilat. Ni2B (nikel borida) atau Pd/CaCO3 (Lindlar). namun pada alkuna setiap ikatan rangkap 3 ekivalen (dapat beraksi) dengan 2 molekul tersebut. Li. halogen. Ni2B C C + H2 Na/NH3 cair H Addisi hidrogen halida. C C H H cis H C C trans Mirip dengan addisi pada alkena.Li amida HC C Li + H3C CH2 CH2Br HC C H2C CH2 CH3 Li asetilida 5. alkuna dapat melakukan reaksi addisi elektrofilik. tergantung dari katalisnya. Addisi lebih lanjut menghasilkan alkana. Di samping itu alkuna dapat bereaksi sebagai asam. C C + H:X H C C + :X H C C X kation vinilat 57 .5 Reaksi dari alkuna Seperti reaksi alkena. Addisi hidrogen (reduksi alkuna). Addisi dengan 1 molekul hidrogen pada setiap ikatan rangkap 3. menghasilkan alkena. Alkena yang dihasilkan secara geometry bisa trans atau cis. Ni. Dengan katalis Ni2B (nikel borida) atau Pd/CaCO3 (Lindlar) dihasilkan cis dan dengan Na atau Ni dalam ammonia cair dihasilkan trans. karena sifat asam hidrogen yang terikat pada C yang berikatan rangkap 3. Addisi hidrogen.

Alkuna dengan ikatan C-C rangkap 3 merupakan gugus yang lebih elektronegatip dari pada C-C dengan ikatan ganda atau ikatan tunggal. Hg + OH H H C C H O H C CH3 bentuk enol bentuk keto Keasaman alkuna Keasaman suatu spesies atau senyawa ditentukan oleh kecenderungannya untuk melepas proton.Addisi air (hidrasi) Memerlukan katalis asam dan ion merkuri. ++ H C C H + H2O H . Hasil hidrasi adalah vinil alkohol (enol) yang dapat melakukan penyusunan ulang menghasilkan senyawa karbonil. Meskipun demikian. 2H C C H + 2Na 2H C C Na + H2 Pada reaksi pembuatan alkuna dengan rantai yang lebih panjang. aldehida atau keton. Karena itu suatu senyawa yang mengandung hidrogen yang terikat pada atom atau gugus yang elektronegatip diperkirakan dapat bersifat asam. Misalnya. senyawa tersebut tidak mampu memerahkan lakmus atau menetralkan basa. tetapi masih digolongkan sebagai asam kerena mampu melepaskan proton walaupun sangat sedikit.Ion merkuri diperkirakan membentuk komplek dengan ikatan rangkap 3 dan mengaktifkan reaksi addisi terhadapnya. HC CH + LiNH2 HC C Li Li amida LiNH2 diperoleh dengan mereaksikan Li dengan NH3. sehingga hidrogen yang terikat pada C-C rangkap 3 menunjukkan sifat asam. dalam senyawa organik. menetralkan basa atau memerahkan kertas lakmus. reaksi antara asetilena dengan logam Na atau Li menghasilkan Na atau Li asetilida dan gas hidrogen. sering dijumpai karena lemahnya keasaman. 2 Li + 2 H-NH 2 2 LiNH2 + H2 58 .

Ikatan dalam –CH3 mengikuti hibridisasi sp3. 1-heksuna dari butil bromida c. 1 ekivalen H2 dengan katalis Pd. etil iodida b. Jika LiNH2 direaksikan dengan asetelina. Perbandingan sifat orbital s dengan orbital p pada sp3 adalah 1/3. NaNH2 c. 2-pentuna dari propuna 4. Tuliskan struktur dan anama isomer alkune dengan rumus kimia C6H10 2. Berikan nama sistematis senyawa berikut: CH3 CH2 C C CH3 (CH3)2CH C CH C CH a. Soal-soal 1. 1-butuna dari butiraldehida b. b. Makin besar karakter orbital s. c. t-butil bromida 59 . Tuliskan hasil dari reaksi antara 1-pentuna dengan: a. Tuliskan reaksi antara natrium-1-butinida dengan a. 1 ekivalen HBr b. dalam sp2 adalah 1/2 dan dalam sp adalah 1/1. Berdasarkan teori mekanika kwantum. makin besar tarikan elektron ikatan oleh inti sehingga makin mudah H+ dilepaskan dari ikatan C-H.NH3 dalam persamaan di atas berfungsi sebagai asam. ikatan =CH2 pada alkena berdasarkan sp2 dan pada ≡C adalah sp. 3. 5. akan dihasilkan Li asetelida dan NH3. maka asetelina merupakan asam yang lebih kuat dari NH3. Bagaimana alkuna berikut harus dibuat dari senyawa yang diberikan: a. orbital s lebih dekat terhadap inti dari pada orbital p.

seperti pada pembuatan alkuna. Atom atau gugus yang menentukan struktur dari senyawa organik tertentu dan menentukan sifatnya disebut gugus fungsional. Senyawa halogen organik juga dengan mudah disintesis seperti sudah dibahas dalam addisi ikatan rangkap. sehingga dalam senyawa alkil halida. meskipun halogen organik di alam juga ditemukan dalam jumlah yang kecil. gas pengisi mesin pendingin.1 Tatanama Nama alkil halida dapat diturunkan dari aturan sistematis atau dari nama umum (terutama untuk alkil halida sederhana). di mana R adalah gugus alkil atau gugus organik lain yang diturunkan dari alkil. herbisida. Alkil halida mempunyai rumus umum RX. dll. atom halogen merupakan gugus fungsional. cairan pembersih. CH3 CH3CH2CH2Cl 1-kloropropana (n-propil klorida) CH3 CH CH3 Cl CH3 CH CH2Br 2-kloropropana isopropil klorida 1-bromo-2-metilpropana isobutil bromida 60 . 6. Halogen dalam senyawa organik sederhana dengan mudah dapat diganti dengan gugus fungsional lain.BAB VI ALKIL HALIDA Senyawa halogen organik pada umumnya merupakan hasil sintesis di laboratorium. Keistimewaan struktur alkil halida terletak pada atom halogennya. Di samping itu senyawa dengan dua atau lebih halogen per molekul mempunyai penggunaan praktis seperti sebagai pelarut. insektisida. Senyawa halogen organik sangat penting karena peranannya sebagai reagen organik yang canggih/mudah digunakan dalam sintesis. Nama sistematis diturunkan dari nama alkana dengan halogen sebagai rantai samping/rantai cabang. Senyawa halida organik dapat dirubah menjadi senyawa tak jenuh melalui reaksi dehidrohalogenasi.

3 2.88 o metil etil n-propil n-butil n-pentil vinil bensil dihalometana trihalometana tetrahalometana bromida ttd. Untuk suatu gugus alkil yang sama.12 1.42 56 93 180 sublim sublim 3. C ρ.59 16 201 99 151 189 2.34 102 1. tetapi tidak larut dalam air. CH3 CH3 C Br CH3 CH3CH2 CH3 C I 2-iodo-2-metilbutana (tert-pentil iodida) CH2 CH CH3 CH3 2-bromo-2. g/cm3 4. tetapi dapat mempolarisasikan senyawa-senyawa polar.5 0.32 Meskipun akil halida bersifat polar dan larut dalam pelarut organik dengan polaritas rendah. Nama klorida ttd. Bromo. Hal ini diperkirakan karena ketidakmampuannya membentuk ikatan hidrogen.88 108 0.75 130 1.93 102 1.89 3.22 o iodida ttd.Alkil halida bisa juga dikelompokkan sesuai jenis atom karbon yang mengikat halogen.52 o -14 179 40 61 77 1. sekunder dan tertier.28 72 1.49 1. bandingkan harga dalam tabel berikut.4-dimetilpentana 6. sehingga titik didih alkil iodida paling tinggi di antara alkil halida yang lain. g/cm3 -24 12. Haloalkana tidak dapat mengionkan senyawa ion.32 4. titik didihnya semakin tinggi dengan bertambahnya massa atom halogen.34 1.27 130 1.61 157 1.44 71 1.5 47 0. utamanya garam-garam anorganik.00 4. g/cm3 5 38 1.2 Sifat fisika alkil halida Substitusi (penggantian) dengan halogen pada alkana menghasilkan alkil halida yang sifat fisikanya cukup berbeda dari alkana yang jumlah atom karbonnya sama. Misalnya titik didih alkil halida rata-rata 30-40oC lebih tinggi dari pada alkana yang ekivalen. yaitu atom karbon primer. C ρ.89 78. 61 .49 2. C ρ.

H3C CH2 CH2 OH HBr pekat H3C CH2 CH2 Br NaBr + H2SO4 panas atau H3C CH2 CH2 OH H3C CH2 CH2 Br 6. Pemutusan dan pembentukan ikatan kovalen dapat terjadi dengan dua cara. Alkil halida juga dapat dibuat berdasarkan reaksi penggantian. A B A + B 62 .4 Reaksi substitusi dan eliminasi pada alkilhalida Reaksi kimia dari senyawa organik hampir selalu melibatkan pemutusan ikatan kovalen lama dan pembentukan ikatan kovalen baru. namun cara ini jarang digunakan karena cenderung menghasilkan berbagai isomer yang tidak diinginkan.iodo. Karena itu haloalkana banyak digunakan dalam ekstraksi senyawa organik dalam matriks tumbuhan. dihalo. setiap fragmen menerima satu elektron dan membentuk suatu radikal bebas. Meskipun reaksi addisi halogen atau hidrogen halida pada alkena atau alkuna atau reaksi substitusi radikal bebas halogen dengan alkana juga dapat menghasilka alkil halida. misalnya pembuatan alkil iodida dari reaksi alkil klorida atau alkil bromida dengan NaI dalam aseton. Homolisis berarti pemutusan elektron ikatan kovalen secara homolitik.3 Pembuatan alkil halida Alkil halida hampir selalu disintesis di laboratorium dengan halogenasi alkohol menggunakan HX atau PX3. trihalo dan tetrahaloalkana mempunyai massa jenis lebih besar dari pada air. yaitu homolisis dan heterolisis. yaitu pasangan elektron ikatan terbagi menjadi dua. Misalnya. 6. NaBr dan H2SO4 pekat. pembuatan n-propil bromida dapat dilakukan dengan mereaksikan n-propil alkohol dengan HBr pekat atau dengan memanaskan campuran n-propil alkohol.

Reaksi sebaliknya, yaitu penggabungan dua fragmen yang menyumbangkan masingmasing satu elektron juga merupakan reaksi homolotik.

A + B

A B

Heterolisis adalah pemutusan elektron ikatan kovalen secara heterolitik, yaitu pasangan

elekron ikatan dipisahkan atau diberikan secara berpasangan kepada atom atau gugus atom yang lebih elektronegatip, sehingga menghasilkan ion negatip dan ion positip.

A B
atau

A+ B

A B

A + B

Reaksi homolitik melibatkan reaksi dengan elektron tunggal (radikal bebas). Reaksi ini pada umumnya dilakukan dalam phase gas atau dalam larutan dengan pelarut inert, yaitu pelarut yang hanya berfungsi memberi kesempatan partikel-partikel yang bereaksi bergerak dengan tidak mempengaruhi polarisasi pasangan elektron ikatan. Misalnya reaksi halogenasi alkana dalam fasa gas yang berlangsung dengan bantuan cahaya (fotokimia). Sedangkan dalam reaksi heterolitik, hampir selalu berlangsung dalam larutan dengan pelarut yang mampu mendorong pasangan elektron, misalnya reaksi
substitusi nukleofil.

Dalam reaksi organik, senyawa yang mengalami perubahan struktur atau gugus
fungsional disebut dengan substrat. Sedangkan komponen lainnya, seringkali spesies anorganik, disebut reagen. Suatu reagen yang memberikan pasangan elektron (kadang

bermuatan negatip) untuk membentuk ikatan kovalen disebut nukleofil dan reagen yang dapat menerima pasangan elektron disebut elektrofil. Karena itu, nukleofil merupakan suatu basa Lewis dan elektrofil merupakan asam lewis.

OH
reagen

+

CH3CH2CH2Cl
substrat propil klorida

CH3CH2CH2OH + Cl
1-propanol

63

Dalam reaksi yang melibatkan dua senyawa organik yang keduanya mengalami perubahan struktur, maka substrat dan reagen menjadi sulit dibedakan, namun seringkali hanya dikatakan bahwa satu senyawa sebagai nukleofil dan yang lain sebagai elektrofil.

CH3CH2OH + CH3CH2C
nukleofil (reagen) elektrofil (substrat)

O H

H

+

OH CH3CHCHOCH2CH3

Reaksi antara propil klorida (substrat) dengan ion hidroksida (reagen) merupakan contoh
reaksi substitusi nukleofil, Cl- disebut dengan gugus pergi (leaving group).

OH
reagen

+

CH3CH2CH2Cl
substrat propil klorida

CH3CH2CH2OH + Cl
1-propanol

Dalam reaksi itu, satu pasang elektron ikatan kovalen lama diputuskan (C-Cl) dan satu pasang elektron ikatan kovalen baru dibentuk (C-O). Cl- sebagai gugus pergi membawa
satu pasang elektron ikatan C-Cl, kemudian ion hidroksida sebagai nukleofil memberikan sepasang elektron untuk membentuk ikatan baru C-O.

Reaksi substitusi nukleofil secara unum biasa dituliskan:

Nu + R L
nukleofil atau substrat

R Nu + L
hasil

Nu + R L
nukleofil substrat

R Nu + L
hasil

Jika substrat dan nukleofil keduanya netral, maka hasilnya bermuatan positip dan jika nukleofil bermuatan negatip (anion) dan substrat netral, maka hasilnya adalah netral.

64

Reaksi substitusi di atas, pada dasarnya merupakan reaksi dapat balik, karena gugus pergi juga mempunyai pasangan elektron bebas yang bisa digunakan untuk membentuk ikatan. Namun, dalam praktik rekasi di atas dapat didorong ke kanan dengan berbagai cara, misanya menggunakan Nu yang kuat dan gugus pergi yang mudah. Nukleofil dapat dikelompokkan berdasarkan pada jenis atom yang membentuk ikatan kovalen baru. Misalnya reaksi substitusi nukleofil

OH
reagen

+

CH3CH2CH2Cl
substrat propil klorida

CH3CH2CH2OH + Cl
1-propanol

ion hidroksida adalah suatu nukleofil oksigen.
Jenis nukleofil yang sering dijumpai adalah oksigen, nitrogen, belerang, halogen dan karbon. Nu R-Nu

Rumus

Nama Hidroksida Alkoksida

Rumus

HO

R OH

Nama alkohol eter Ion alkiloksonium

RO
HOH
Air

R OR
H R O H

ROH

Alkohol

R R O H

Ion alkiloksonium

O R C O
NH3 RNH2 HSCNI-

karboksilat

O R C OR

ester

ammonia amina Hidrogen sulfida sianida iodida

RNH3+ RR’NH2+ RSH RCN RI

Alkilammonium Dialkil ammonium tiol Nitril Alkil iodida 65

Nukleofil merupakan reagen yang menginginkan pusat muatan positip. pelarut. strukur substrat akan menentukan apakah akan terjadi lebih dulu lepasnya gugus pergi kemudian diikuti pembentukan ikatan baru dengan nukleofil atau terbentuknya ikatan baru terjadi dalam waktu yang bersamaan dengan lepasnya gugus pergi. suhu dan beberapa faktor lainnya. tergantung pada struktur nukleofil dan alkil halida. Contoh. Misalnya. Reaksi SN2. sehingga pada reaksi nukleofil dengan alkil halida. (substitusi nukleofil bimolekuler) Nu + R X Nukleofil substrat Nu-R + X _ leaving group Kecepatan = k [Nukleofil] [substrat] Mekanisme SN2 merupakan satu tahap reaksi. yaitu SN2 dan SN1. (CH3)3 C Cl + H O H (CH3)3 C O H + Cl H - (CH3)3 C O H + H + Ada dua mekanisme reaksi substitusi nukleofilik.Mekanisme reaksi substitusi nukleofilik Reaksi substitusi nukleofilik dapat terjadi dalam beberapa mekanisme atau tahap-tahap reaksi yang berlainan. sebagai pusat muatan positip yang diinginkan oleh nukleofil adalah atom karbon yang mengikat atom halogen. 66 .

Secara umum dapat dikatakan bahwa pada SN2 ◘ Kecepatan reaksi tergantung pada konsentrasi substrat dan reagen dan lebih menyukai nukleofil bermuatan (anion). kemudian alkil halida sekunder dan paling lambat pada alkil halida tersier. nukleofil dan gugus pergi terikat secara parsial pada atom karbon dimana terjadi subsitusi. Reaksi SN1.Nu- C L Nu C L keadaan transisi Nu C + L- Nukleofil menyerang dari balik gugus pergi (L). (substitusi nukleofil unimolekuler) Nu + R X Nukleofil substrat Kecepatan = k [substrat] Nu-R + X _ leaving group 67 . Contoh H3C H Cl H + OH _ H3C H _ + Cl OH H Cis-1-kloro-3-metilsiklopentana Trans-3-metilsiklopentanol ◘ Kecepatan reaksi SN2 terbesar terjadi pada substitusi pada alkil halida primer dengan alkil terkecil. Pada saat gugus pergi meninggalkan atom karbon dengan membawa pasangan elektron ikatan. Pada saat keadaan transisi. ◘ Penggantian nukleofil terjadi dengan konfigurasi sebaliknya (inversi). nukleofil memberikan pasangan elektron ikatan dan menghasilkan produk tersubtitusi dengan konfigurasi inversi terhadap substratnya.

Contoh: CH3 CH3 C Cl + NaOH air&aseton CH3 CH3 CH3 C OH CH3 SN1 merupakan reaksi dengan dua tahap reaksi. Perbandingan SN2 dan SN1 ◘ Substitusi nukleofil pada alkil halida primer hampir selalu mengikuti mekanisme SN2 dan pada alkil halida tersier hampir selalu SN1. ◘ Kecepatan reaksi hanya tergantung pada konsentrasi substrat dan lebih menyukai nukleofil netral ◘ Bila karbon yang mengikat gugus pergi bersifat asimetris. yaitu: ◘ ikatan antara kabon dengan gugus pergi putus secara heterolitik (karena pengaruh kepolaran pelarut) dan menghasilkan karbokation (ion positip) CH3 CH3 C Cl CH3 CH3 CH3 C + + ClCH3 (lambat) karbokation ◘ karbokation bergabung dengan nukleofil menghasilkan produk CH3 CH3 C + + OHCH3 CH3 CH3 C OH CH3 (cepat) Pada reaksi SN1. kemudian sekunder dan terakhir adalah alkil halida primer. maka dihasilkan campuran rasemat ◘ Kecepatan reaksi terbesar terjadi pada alkil halida tersier. 68 .

maka akan didapatkan propilena.◘ Substitusi nukleofil pada alkil halida sekunder bisa mengikuti SN2 atau SN1. C2H5OH. CH3COCH3. CH3COOH. HCON(CH3)2 (DMF). akan mengikuti SN1 dan dalam pelarut tidak polar akan mengikuti SN2. Misalnya OH⎯ > HOH.2. mengambil H-β yang terikat pada C-β dan meninggalkan pasangan elektron pada C-β yang akan membentuk ikatan π dengan atom C-α karena halogen (gugus pergi) X meninggalkan alkil halida dengan membawa serta pasangan elektron ikatannya. CH3CN. RO⎯ > ROH Pelarut dengan kemampuan mengionkan substrat. Eliminasi Ada dua kemungkinan reaksi berbeda yang dapat terjadi antara alkil halida yang mempunyai hidrogen β dengan nukleofil. maka tidak mungkin terjadi reaksi eliminasi kecuali terjadi rearrangement struktur terlebih dahulu. Misalnya. ◘ SN2 memerlukan elektrofil kuat yang dapat mendorong elektron lebih besar. CH3SOCH3 (DMSO). H H substitusi β α C C Nu + X X + Nu eliminasi C C + Nu H + X Dalam reaksi eliminasi. unsur hidrogen dari C-1dan bromin dari C-2 dieliminasi dari isopropil bromida dalam suatu reaksi elimisasi hidrogen bromida 1. Dalam alkil halida. Dalam reaksi eliminasi ini. HCOOH. Bila reaksi dilakukan di dalam pelarut polar yang dapat terprotonasi. jika isopropil bromida direaksikan dengan nukleofil yang bersifat basa kuat seperi KOH (OH-) dalam larutan alkohol panas. CH3OH. H2O. tergantung kondisi reaksinya. karbon yang mengikat halogen sering disebut dengan karbon α. Jika karbon β tidak mempunyai atom hidrogen β. yaitu substitusi dan eliminasi. maka nukleofil bermuatan negatip lebih disukai. Nu bertindak sebagai basa kuat. karbon yang terikat pada karbon α disebut karbon β dan hidrogen yang terikat pada karbon β disebut dengan hidrogen β. KBr dan air. 69 . atau dapat disebut sebagai reaksi dehidrohalogenasi.

Ingold dan Hughes mendapatkan bahwa mekanisme reaksi eliminasi alkil halida sangat mirip dengan reaksi substitusi nukleofilik. Kecepatan reaaksinya tergantung pada konsentasi alkil halida dan konsentrasi nukleofil. E2. sehingga reaksi eliminasi juga dibedakan menjadi E2 dan E1. Eliminasi bimolekuler E2 adalah reaksi eliminasi bimolekuler. sehingga memungkinkan dua senyawa (alkena) hasil reaksi eliminasi yang berbeda.H3C CH CH3 Br isopropil bromida + KOH alkohol H3C CH CH2 + KBr + H2O propilena Jika dalam reaksi di atas digunakan n-propil bromida. dua atom C-β yang terikat atom C-α yang sama dari suatu alkil halida dan keduanya mempunyai atom H-β. yaitu propilena. kedua atom H-β memiliki kesempatan untuk dieliminasi. Misalnya. reaksi antara sec-butil bromida dengan KOH dalam alkohol panas: alkohol panas H3C CH2 CH CH3 + KOH Br sec-butil bromida H3C CH2 HC CH2 1-butena (19%) H3C HC CH CH3 2-butena (81%) + KBr + H2O Berdasarkan pada studi kinetika reaksinya. merupakan reaksi yang berlangsung dalam satu tahap dan mengikuti kinetika reaksi orde kedua. terjadi seperti SN2. maka hasil reaksi eliminasinya adalah sama. Nu: bertindak sebagai basa kuat yang menarik H+ yang terikat pada atom C−β dan pada saat 70 . H3C CH2 CH2 Br + KOH n-propil bromida alkohol H3C CH CH2 + KBr + H2O propilena Dalam hal lain.

E1.alkohol panas - H3C CH2 HC CH2 + H3C HC CH CH3 1-butena (19%) 2-butena (81%) Kestabilan alkena: R2C CR2 > R2C CHR > RHC CHR . Setelah tahap lambat pada pembentukan karbokation karena lepasnya halogen 71 . eliminasi sec-butil bromida oleh basa kuat (OH-) dalam alkohol panas menghasilkan campuran isomer 1-butena dan 2-butena dengan komposisi 1/3. H3C CH2 CH CH3 Br OH .yang bersamaan atom halogen (leaving group) melepaskan ikatan dari atom C-α dan dihasilkan ikatan rangkap. terjadi seperti SN1. sehingga 2-butena dihasilkan lebih cepat dari pada 1-butena. maka: alkil halida tersier > alkil halida sekunder > alkil halida primer. karena alkena yang lebih tersubstitusi lebih stabil dari pada alkena yang kurang tersubstitusi. Seperti diuraikan sebelumnya. Nu H α β C C X Nu H C C X keadaan transisi C C + Nu H + X Konformasi yang paling disukai untuk substrat pada reaksi E2 adalah ikatan H-C-C-X terletak dalam bidang datar dan gugus pergi berseberangan dengan atom hidrogen yang terikat pada atom karbon di sebelahnya. Dalam posisi itu orbital ikatan C-H dan C-X dalam posisi sejajar sehingga dengan mudah akan overlaping dan membentuk ikatan π dalam ikatan rangkap yang dihasilkan. eliminasi unimolekuler E1 adalah reaksi eliminasi dua tahap dan mengikuti reaksi orde pertama. H2C CR2 > H2C CHR > H2C CH2 Jika dilihat urutan kereaktifan alkil halidanya terhadap eliminasi E2 (dengan Nu yang sama). Hal ini sesuai dengan aturan Saytzeff.

Maka pada E2 kecepatan reaksinya tergantung pada kekuatan basa nukleofilnya.(leaving group). Maka untuk reaksi eliminasi sec-butil bromida oleh basa kuat OH. tahap 1. Pada E1 kecepatan reaksi hanya tergantung pada konsentrasi substrat (dalam hal ini alkil halida). Karbokation yang lebih stabil terbentuk lebih cepat dari pada yang kurang stabil. yakni alkil halida tersier > alkil halida sekunder > alkil halida primer. H βC αC X substrat H C C _ +X (tahap lambat) karbokation tahap 2. alkil halida). yaitu 2-butena. harus didasarkan pada studi kinetika. sedangkan pada E2 tergantung pada konsentrasi substrat dan konsentrasi nukleofil. sedangkan pada E1 tidak terpengaruh kekuatan basa nukleofilnya karena apapun kekuatan basanya harus menunggu 72 . Karena itu kereaktifan alkil halida terhadap kecepatan reaksi E1 adalah: alkil halida tersier > alkil halida sekunder > alkil halida primer. Kereaktifan alkil halida pada reaksi E2 dan E1 (terhadap Nu yang sama) mempunyai urutan yang sama. Maka untuk menentukan apakah reaksi eliminasi tersebut mengikuti mekanisme E1 atau E2.dalam alkohol panas dengan mudah dapat ditentukan hasil reaksi terbanyaknya didasarkan pada reaksi E1. tahap yang berlangsung lambat sebagai penentu kecepatan adalah tahap pembentukan karbokation dan hanya tergantung pada konsentrasi substrat (dalam hal ini. kemudian H−β yang terikat pada atom C−β ditarik oleh nukleofil (basa kuat) pada tahap cepat dan menghasilkan alkena. eliminasi H C C karbokation + :Nu substitusi C C H + HNu C C Nu Dalam reaksi E1.

Komposisi zat dihasilkan tergantung dari sifat nukleofil dan pelarut yang digunakan. maka dapat digunakan konsentrasi basa yang sangat kecil. Secara umum E1 hanya ditemui pada substrat alkil halida sekunder dan tersier. misalnya reaksi antara sec-butil bromida dengan KOH dalam alkohol panas. Alkil halida sekunder + + Br - Halida tersier dengan Nu kuat (CN. Sebaliknya. CN. dengan nukleofil kuat bersifat basa lemah menghasilkan SN2. makin besar konsentrasi basanya. Contoh (CH3)3CBr H2O (CH3)3 C OH 80% + Br - (CH3)2 C CH2 + H 20% hanya reaksi E2. Kompetisi antara eliminasi dan substitusi Alkil halida tersier Reaksi antara alkil halida tersier dengan nukleofil akan mengalami substitusi dengan mekanisme SN1 dan eliminasi E2 dan E1. untuk menggeser ke mekanisme E1.dan OH-) dan dalam pelarut kurang polar dihasilkan Alkil halida sekunder dengan nukleofil dapat mengikuti mekanisme SN2. makin besar kecenderungannya mengikuti mekanisme E2. SN1. Untuk jenis substrat dan nukleofil yang sama. E2 dan E1. Dengan nukleofil yang bersifat basa sangat kuat akan menghasilkan mayoritas E2 dan sedikit SN2. dengan nukleofil lemah (misalnya alkohol) akan menghasilkan SN1 dan sedikit E1.terbentuknya karbokation. 73 .dan OH.bersifat sebagai basa sangat kuat.

> RO.> F-. RSH > ROH 3. tergantung dari sifat nukleofil Berdasarkan uraian mengenai reaksi SN1. maka mekanisme SN2 lebih disukai. Contoh. Contoh. HS.> Cl. Unsur dalam satu perioda. R3C.Contoh + Na SH Nu kuat Br CH3 CH CH3 + CH3CH2OH Nu lemah + CH3CH2O Na basa kuat CH3 CH CH3 SN2 SH CH3 CH CH3 + CH3 CH CH2 E1 sedikit CH3 CH CH2 E1 banyak OCH2CH3 SN1 banyak CH3 CH CH3 OCH2CH3 SN2 sedikit + Alkil halida primer Halida primer. semakin besar kelektronegatipannya semakin kecil kekuatan nukleofilnya. H3N > H2O > HF . 74 . SN2. RCOO. RO. Sedangkan reaksi E2 dipengaruhi oleh kekuatan basa nukleofilnya. maka SN2 merupakan reaksi yang dipengaruhi oleh reagen (nukleofil). hanya mungkin SN2 dan E2. Kekuatan suatu nukleofil pada dasarnya ditentukan oleh kemampuan suatu atom/gugus memberikan elektron. ontoh.. OH. RS.> H2O .> RSH . I. maka kekuatan nukleofil dapat diperkirakan berdasarkan acuan umum sebagai berikut: 1. Unsur yang posisinya lebih bawah dalam sistem periodik cenderung sebagai nukleofil lebih kuat.> F. Jika reagen merupakan nukleofil kuat.> RCOOH 2. E1 dan E2.> R2N.> ROH .> Br. Ion negatip merupakan nukleofil yang lebih baik dari pada molekul netralnya..> HO.

Tuliskan nama sistematis dan struktur kimia senyawa beriku: a. Tuliskan semua hasil reaksi antara 3-bromo-3metilheksana dengan a. 1-bromobutana dengan natrium iodida dalam aseton b. Rancanglah sintesis 2-metoksibutana dari 2-butena berdasarkan tahap-tahap reaksi berdasarkan mekanisme addisi elektrofilik dan substitusi nukleofilik (dengan menuliskan rumus strukturnya). Jelaskan terjadinya gejala tersebut! 4. 2-kloropropana denagn natrium hidrogen sulfida c. Tuliskan satu persamaan reaksi substitusi yang terjadi dari zat-zat berikut: a. 75 . Jika (R)-2-iodobutana dilarutkan dalam campuran pelarut aseton/air = 95/5 w/w akan bereaksi dengan menghasilkan (S)-2-butanol dan jika dilarutkan dalam campuran pelarut aseton/air = 30/70 w/w diperoleh 60% (S)-2-butanal dan 40% (R)-2-butanol.Soal-soal 1. etanol panas 5. Perkirakan hasil-hasil yang mungkin diperoleh reaksi antara 1-kloro-1-metil siklopentana dengan: a. p-klorobensil klorida dengan natrium sianida e. metanol 6. ter-butil bromida dengan air d. 1-metil-1-bromoheksana dengan metanol 3. (CH3)2 CH CH2Br b. Natrium etoksida dalam etanol b. CH3 CHCl C (CH3)2 CH2 CH2 CH3 c. (CH3) 2 CH CHCl CH2 CH3 2. KOH dalam metanol b.

H3CO CH3 CH CH2 CH2 CH3 O CH3 2.3.BAB VII ETER. sehingga sering ditulisakan sebagai R – O – R’. maka: etil eter Untuk eter yang lebih komplek. ALKOHOL DAN SULFIDA Eter yang dikenal sebagai anastetik umum. R dapat berupa gugus yang sama atau gugus berbeda.1 Tata nama Eter diberi nama dengan nama setiap alkil atau aril yang diurutkan berdasarkan abjad ditambah kata eter. O CH3 CH2 O CH3 CH3 CH2 O CH2 CH3 difenil eter fenil eter etil metil eter dietil eter awalan sering ditiadakan. Secara umum suatu eter merupakan dua gugus organik yang dihubungkan oleh atom oksigen. seringkali gugus – OR yang lebih sederhana di anggap sebagai cabang (substituen) yang disebut gugus alkoksi dari suatu rantai utama. yaitu dietil eter. 7.metoksipentana OCH3 CH3 OCH3 1.5-trimetoksibensana O CH3 cis-2-metil-1-metoksisiklopentana Beri nama beberapa eter berikut: CH3 O CH2 CH3 O C (CH3)3 CH3 CH CH CH2 CH3 O CH3 76 . pada dasarnya merupakan salah senyawa dari satu kelompok senyawa eter.

disiklopropil eter 7. Bila eter dibiarkan cukup lama dan berhubungan dengan udara (oksigen). Eter sering digunakan sebagai pelarut organik non polar. Dimetil eter cukup larut dalam air. 77 . karena titik didihnya yang rendah memudahkan untuk dipisahkan dari ekstraksnya. Hidroperoksida eter dapat dihilangkan dengan mengocok eter dengan fero sulfat. adalah melalui dehidrasi etanol dengan asam sulfat pekat pada suhu 140oC. Etil eter sering digunakan sebagai pelarut dalam ekstraksi senyawa bahan alam. salah satu eter terpenting. tidak bereaksi dengan zat pengoksidasi dan pereduksi yang umumnya digunakan dalam kimia organik dan tidak bereaksi dengan logam Na seperti halnya alkohol. Satu hal yang perlu diperhatikan bila bekerja dengan eter adalah karena sifatnya yang mudah terbakar. sehingga eter dan alkohol rendah dapat saling melarutkan. Tidak dapat membentuk ikatan hidrogen dengan sesama molekul eter.3 Pembuatan eter Dehidrasi alkohol primer Proses pembuatan dietil eter.Tuliskan struktur eter berikut: dipropil eter. karena bersifat inert. karena dehidrasi pada suhu yang lebih tinggi (180oC) menghasilkan etena. tidak berwarna. t-butil etil eter. 2-metoksipropena. mempunyai massa jenis lebih kecil dari pada air dan mempunyai titik didih yang hampir sama dengan alkana yang jumlah atom karbonnya sama. Pertama terjadi aktivasi melalui protonasi etanol diikuti substitusi gugus OH dengan OCH2CH3. tetapi dapat membentuk ikatan hidrogen dengan alkohol. CH3 CH2 O CH2 CH3 + O 2 CH3 CH2 O CH CH3 OOH hidroksiperoksida eter 7. tidak bereaksi dengan asam dan basa encer. non polar.2 Sifat-sifat eter Eter merupakan senyawa dengan bau (menyenangkan?). tetapi eter yang lebih tinggi kelarutannya makin kecil. dapat membentuk suatu hidroperoksida eter yang sangat mudah meledak. Pembentukan eter tersebut pada dasarnya mengikuti mekanisme reaksi SN2.

Misalnya. CH3 OH + CH2 C (CH3)2 + H + CH3 O C (CH3)3 Tuliskan mekanisme reaksi addisi metanol ke pada 2-metilpropena di atas! Sintesis Williamson Sintesis eter unsimetris terpenting di laboratorium adalah sintesis Williamson. adalah dengan adisi metanol kepada 2-metilpropena dengan katalis asam. suatu senyawa yang berfungsi untuk menaikkan angka oktan (sebagai pengganti tetra etil lead) suatu bahan bakar. Sintesis ini terdiri dari dua tahap. misalnya pembuatan t-butil metil eter. yaitu reaksi pengubahan alkohol menjadi Na alkoksida dengan cara mereaksikannya dengan logam Na atau K atau hidrida logam. Untuk menghasilkan eter tidak simetris. kemudian mereaksikan Na alkoksida dengan alkil halida berdasarkan mekanisme SN2. sintesis metil propil eter dapat dilakukan dengan reaksi berikut CH3 OH + Na CH3 O Na + H2 CH3 O Na + Br CH2 CH2 CH3 CH3 O CH2 CH2 CH3 78 .CH3 CH2 O H + H CH3 CH2 O H2 H CH3 CH2 O H2 + CH3 CH2 O CH3 H CH2 O CH2 CH3 + H2O H CH3 CH2 O CH2 CH3 CH3 CH2 O CH2 CH3 + H Reaksi dehidrasi alkohol di atas merupakan contoh pembuatan eter simetris (dua gugus R nya sama) dan pada umumnya hanya bekerja pada alkohol primer.

terutama alkil bromida yang dapat bereaksi dengan logam Mg menghasilkan Mg-alkil bromida.sintesis propil eter . Misalnya + R O R' + H H R O R' Cl R O R' + B Cl Cl R Cl O B Cl R' Cl Setelah eter mengikat asam. CH3 CH2 O CH (CH3)2 + HI etil isopropil eter Tuliskan mekanisme reaksi di atas! Reagen Grignard CH3 CH2I + HO CH (CH3)2 Eter merupakan pelarut organik non polar.4 Reaksi-reaksi eter Pemutusan ikatan C-O Adanya dua pasang elektron bebas pada oksigen dalam eter. R Br + Mg eter R Mg Br 79 . menjadikan eter dapat befungsi sebagai basa (dapat memberikan pasangan elektron pada asam kuat). maka ikatan C-O dalam ater mudah diputuskan melalui mekanisme SN2 dengan nukleofil kuat seperti I.sintesis Williamson metil propil eter dengan reaksi yang lain! .sintesis williamson 3-metoksiheksana 7. melarutkan alkil dan aril halida. Larutan Mg-alkil bromida dalam eter disebut dengan reagen Grignard.dan Br-.Tuliskan mekanisme reaksi .

sehingga dapat bereaksi dengan asam lemah seperti air. disintesis melalui oksidasi etena dengan katalis Ag H2C CH2 + O 2 Ag 250oC. H H2C CH2 H3C O etilena oksida oksiran ttd = 13. menggunakan pasangan elektron bebas yang terdapat pada oksigen R O R R Mg Br O R R Dalam reagen Grignard.5 oC Pembuatan epoksida H C C CH3 H C H3C C CH3 H O cis-2-butenaoksida cis-2.5 Eter siklis. digunakan sebagai bahan polimer.3-dimetil oksiran ttd = 60 oC O trans-2-butenaoksida trans-2. tekanan H2C O CH2 80 .eter berfungsi menstabilkan R-Mg-Br dengan membentuk ikatan koordinasi. suatu karbonion yang dapat berfungsi sebagai basa kuat dan atau nukleofil.3-dimetil oksiran ttd = 54 oC Epoksida yang paling banyak diproduksi adalah etilena oksida (oksiran). R menjadi bermuatan negatip. 7. epoksida dan eter crown (mahkota) Epoksida atau oksiran adalah eter siklis dengan cincin tiga atom yang satu atomnya adalah oksigen.

dapat bereaksi dengan epoksida mengikuti reaksi SN2 yang sama seperti dengan air. sehingga epoksida bersifat jauh lebih reaktif dari pada eter biasa dan reaksinya diikuti dengan pembukaan cincin. cincin tiga atom dalam epoksida menyebabkan adanya tegangan dalam strukturnya. 81 . misalnya alkohol dan reagen Grignard. sedangkan dalam laboratorium adalah asam m-kloroperoksibensoat C C O + O H R C O C C O O + R C O H Contoh + O HOOC R O O + HO C R sikloheksana oksida Reaksi epoksida Seperti pada siklopropana. reaksi dengan air dan dikatalis asam menghasilkan dietilena glikol. melalui mekanisme SN2.Epoksida selain etilena oksida disintesis dari alkena dengan asam peroksi organik. H2C O CH2 H2C + H + CH2 O H H2C O H CH2 + H2O H2C O H CH2 O H H H2C O H CH2 O + H H + etilena glikol Tuliskan mekanisme reaksi sikloheksena oksida dengan air dan dikatalis oleh asam! Nukleofil lain. Dalam industri biasanya digunakan asam peroksiasetat. Misalnya.

Tuliskan mekanisme reaksi antara cis-2-butena oksida dengan metanol yang dikatalis oleh asam Eter siklis dengan cincin lingkar lebih dari tiga atom adalah: O O tetrahidrofuran (THF) (oksolan) ttd = 67 oC O tetrahidropiran (oksan) ttd = 88 oC O 1. pelarut reagen Grignard yang lebih baik dari dietil eter karena atom oksigen kurang terlindungi.etanol .reagen Grignard fenil magnesium bromida . dapat larut dalam air dengan segala perbandingan.ammonia Epoksida tidak simetris juga bereaksi dengan nukleofil yang dikatalis oleh asam mengikuti mekanisme yang sama dengan etilena oksida.metanol . saat ini banyak disintesis terutama didisain untuk membantu kompleks dengan ion logam positip.Tuliskan mekanisme reaksi yang dikatalis oleh asam antara etilena oksida dengan: .4-dioksan ttd = 101 oC THF merupakan pelarut organik yang baik. O O O O O O O O O O O O O O O O O [18]crown-6 dibenso[18]crown-6 [15]crown-5 82 . Senyawa eter makrosiklis (crown ether) merupakan cincin besar beratom banyak dari polieter.

Hal ini terjadi karena ion K+ distabilkan oleh kemampuan [18]crown-6 mengkoordinasi ion K+. O O O K O O + O 7. Tetapi jika di dalam bensena dilarutkan sedikit [18]crown-6. kata alkohol ditambahkan secara terpisah setelah nama alkil.6 Alkohol Alkohol memiliki struktur yang mirip dengan air.[18]crown-6 digunanakan karena larut dalam air tetapi tidak larut dalam bensena. Jika gugus fungsional OH terikat pada cincin aromatis maka dihasilkan senyawa fenol. sehingga dapat digunakan sebagai zat pengoksidasi. 7. tetapi satu atom H diganti dengan gugus alkil. maka didapatkan bahwa bensana dapat mengandung KMnO4 (berwarna ungu).7 Tatanama dan sifat-sifat alkohol Nama sistimatis alkohol diturunkan dari nama alkana yang sesuai diakhiri dengan ol. sehingga rumus umum alkohol adalah R-OH dan gugus hidroksil OH sebagai gugus fungsional. CH3 OH metanol (metil alkohol) CH3 CH2 OH etanol (etil alkohol) CH3 CHOH CH3 atau CH3 CH CH3 OH 2-propanol (isopropil alkohol) CH3 CH CH2 CH3 CH3 CH2 CH2 CH2OH 1-butanol n-butil alkohol OH 2-butanol sec-butil alkohol CH3 CH CH2OH CH3 2-metilpropanol isobutanol CH3 CH3 C OH CH3 2-metil-2-propanol tert-butil alkonol 83 . Nama umum diturunkan dari nama alkil ditambah dengan kata alkohol. kemudian dikocok dengan larutan KMnO4.

bukan fenol 84 .Alkohol dengan ikatan rangkap diberi nama dengan dua akhiran. CH2 CH CH2 OH = 2-propen-1-ol (alil alkohol Tuliskan nama alkohol berikut: OH CH3 CHCl CH2 CH2 OH HC C CH2 CHOH CH3 Tergantung pada jumlah atom karbon yang terikat pada atom karbon yang mengikat gugus hidroksil. R R CH2 OH primer (1 o) R CH OH sekunder (2 o) R R C OH R tersier (3 o) Jika gugus hidroksil terikat pada cincin bensena. maka dihasilkan senyawa induk yang umumnya disebut fenol. maka alkohol dibedakan menjadi alkohol primer. prioritas gugus hidroksil lebih lebih tinggi dari pada ikatan rangkap. sekunder atau tersier. OH OH Cl OH NO 2 2-nitrofenol fenol 2-klorofenol CH2OH bensil alkohol suatu alkohol.

δ+ O H R δ . Metanol.δ+ O H O H ikatan hidrogen etanol eter propana titik didih. Dengan spesies yang lebih asam dari pada alkohol. maka terjadi kesetimbangan: R CH2 OH + H + R CH2 OH H ion alkiloksonium + Alkohol dengan basa akan melepaskan H+ dan menghasilkan ion alkoksida: R CH2 OH R CH2 O + H ion alkoksida Ion alkoksida merupakan basa sangat kuat.5 -24 -42 Metanol. karena ikatan O-H dipolarisasikan oleh atom oksigen yang mempunyai keelektronegatipan yang tinggi. Maka.δ+ R δ . ion alkoksida dalam alkohol dapat dihasilkan dengan mereaksikan alkohol dengan logam aktif atau dengan hidrida. Sehingga alkohol mempunyai titik didih yang lebih tinggi dari pada alkana atau eter yang jumlah atom karbonnya sama. etanol dan propanol larut dalam air dengan segala perbandingan. oC 78.7. sedangkan alkohol yang lebih tinggi kelarutannya dalam air sangat kecil. etanol dan propanol mempunyai kekuatan asam yang hampir sama dengan air. 2 H O H + 2 Na air 2 H O Na + H2 Na hidroksida 85 . tidak dengan NaOH atau KOH. R δ. larut dalm alkohol seperti halnya ion hidroksida dalam air. namun lebih kuat dari pada KOH atau NaOH.8 Sifat-sifat alkohol Alkohol dapat membentuk ikatan hidrogen sesama molekul.

2 RO H alkohol
RO H alkohol

+ 2 Na

2 R O Na + H2 Na alkoksida
R O Na + H2 Na alkoksida

+

Na H Na hidrida

Dibandingkan dengan alkil alkohol, fenol bersifat sejuta kali lebih asam, sehingga dapat bereaksi dengan basa kuat pada umumnya seperti KOH atau NaOH menghasilkan K atau Na fenoksida. Ionisasi asam dari fenol menghasilkan ion fenoksi yang dapat mendelokalisasi (mendistribusikan) muatan melalui resonansi, sehingga menghasilkan ion fenoksi yang stabil dan menjadikannya sebagai basa lemah.

O

O

O

86

7.9

Pembuatan alkohol

Alkohol rendah ( C< 4) merupakan yang banyak diproduksi karena digunakan sebagai bahan untuk pembuatan material lain yang bermanfaat. Produksi metanol yang mencapai 10 juta ton per tahun terutama dihasilkan dalam industri dari reaksi antara gas CO dan gas hidrogen yang dikatalis dengan ZnO-Cr2O3 pada suhu dan tekanan tinggi. Metanol terutama digunakan untuk membuat formaldehida dan sebagai pelarut. Sangat beracun bila dimakan.

CO +

H2

ZnO, Cr2O3 400oC, 150 atm

CH3 OH

Etanol banyak dihasilkan dengan fermentasi karbohidrat dan dalam industri juga dihasilkan dari dehidrasi etilen glikol dengan asam sulfat. Etanol digunakan dalam jumlah besar sebagai pelarut, bahan bakar dan bahan untuk mensintesis senyawa lainnya.

C12H22O11 + H2O

ragi

4 CH3 CH2 OH + 4 CO 2

Isopropil alkohol merupakan alkohol ketiga terbanyak diproduksi dengan hidrasi propena, digunakan sebagai bahan pembuat aseton dan eter. Dalam laboratorium, alkohol dibuat dengan cara hidrasi alkena dengan katalis asam.

C

C

+ H

+

C

C H + H2O

C OH H

C H

C OH H

C H

C OH

C H

+ H

+

87

Alkohol dengan struktur khusus biasanya dibuat dalam laboratorium melalui reaksi addisi senyawa kabonil dengan reagen Grignard, yang akan dibahas lebih detail pada pokok bahasan aldehida dan keton.

7.10

Reaksi-reaksi alkohol

1. Dehidrasi alkohol menggunakan asam sulfat pekat menghasilkan alkena.

Reasksi dehidrasi alkohol dengan katalis asam pada kondisi yang tepat dapat menghasilkan reaksi eliminasi dan pada kondisi yang lainnya menghasilkan eter (alkohol primer). Tergantung dari jenis alkoholnya, alkohol primer dan sekunder mengikuti E2 sedangkan alkohol tersier mengikuti E1. E1, melalui terbentuknya karbokation.

CH3 H3C C OH + H CH3
+

CH3 H3C C CH3 OH H H3C

CH3 C CH3 + H2O

H HC H H3C C CH3

H

C

H + H+

H3C C CH3

E1, lepasnya proton dan air terjadi bersamaan
H CH2 OH

H2C H

+ CH2 OH + H

H2C H

H2C

CH2 + H2O + H

+

Dehidrasi alkohol tertentu dapat menhasilkan dua alkena berbeda, misalnya 2-metil-2butanol mendhasilkan 2-metil-1-butena dan 2-metil-2-butena (lebih dominan).
Tuliskan reaksi dehidrasi 2-metil-2-butanol.

88

maka hasil reaksi substitusi di atas mudah dipisahkan. Masuknya nukleofil Cl. Reaksi antara alkohol dengan hidrogen halida Reaksi alkohol dengan hidrogen halida yang dikatalis oleh asam menghasilkan alkil halida dan merupakan suatu reaksi subtitusi. CH3 CH3 C O H + H CH3 CH3 CH3 C CH3 + CH3 CH3 C O H H CH3 CH3 + Cl - CH3 CH3 C CH3 CH3 C Cl CH3 Sedangkan reaksi alkohol sekunder dengan hidrogen halida berjalan lambat dan memerlukan katalis asam Lewis seperti ZnCl2.2. misalnya dengan mengocok ter-butil alkohol dengan HCl pekat dalam beberapa menit akan dihasilkan tert-butil klorida.kepada atom yang mengikat OH terjadi secara serempak. Seperti sudah dijelaskan dalam bahasan sebelumnya. alkohol tersier dengan SN1. Asam Lewis akan berikatan dengan oksigen alkohol dengan menggunakan pasangan elektron yang disediakan oleh atom oksigen dan membentuk suatu kompleks. Alkohol primer mengikuti mekanisme SN2. bahwa alkil halida mempunyai massa jenis lebih besar dari 1 g/ml dan tidak dapat larut dalam air. sedangkan alkohol sekunder bisa dengan SN2 dan SN1. R CH2 O H + Zn Cl2 R CH2 O H ZnCl2 R CH2 O H ZnCl2 + Cl R CH2 Cl + O H ZnCl2 O H ZnCl2 + H + ZnCl2 + H2O 89 . Alkohol tersier bereaksi dengan cepat.

Aldehida dengan sangat mudah dapat mengalami oksidasi lebih lanjut menghasilkan asam karboksilat. H R C OH H alkohol primer R' R C OH H alkohol sekunder zat pengoksidasi H R C O aldehida zat pengoksidasi OH R C O asam karboksilat zat pengoksidasi R' R C O keton PCC dapat dibuat dengan melarutkan CrO3 ke dalam asam klorida dan kemudian ditambah piridin. Diol dan poliol Alkohol yang mengandung dua gugus hidroksil pada dua atom karbon yang bersebelahan disebut glikol. suatu diol.2-etanadiol) 90 . Pengoksidasi yang sering digunakan dalam laboratorium adalah CrO3. maka digunakan reagen PCC (piridin kloro kromat). oksidasi sering dikaitkan dengan peristiwa yang berhubungan dengan lepasnya hidrogen (proton). CH2 OH CH2 OH etilena glikol (1. Jika oksidasi alkohol primer diharapkan hanya menghasilkan aldehida. CrO3 + HCl + N: N H CrO3 Cl PCC Oksidasi alkohol primer dengan reagen PCC dilakukan dalam larutan CH2Cl2.Reaksi oksidasi alkohol Alkohol yang mengikat atom hidrogen pada atom karbon yang mengikat gugus hidroksil (alkohol primer dan sekunder) dapat dioksidasi menjadi senyawa karbonil (dalam reaksi organik. Alkohol primer menghasilkan aldehida dan alkohol sekunder menghasilkan keton.

sehingga banyak digunakan sebagai pemanis pasta gigi. Reaksi fenol Gugus hidroksil dalam fenol bersifat mengaktifkan cincin aromatik. OH + OH HONO2 O 2N p-nitrofenol + H2O dan Br OH + 3 Br2 Br OH + 3HBr Br 2. Dapat memberi efek sejuk bila dirasa.Alkohol dengan tiga atau lebih gugus hidroksil yang penting adalah: CH2 OH CH OH gliserol CH2 OH CH2 OH CH CH OH OH CH OH CH OH CH2 OH sorbitol Etilena glikol banyak digunakan sebagai bahan campuran untuk air radiator dan sebagai pembentuk polimer. maka digunakan sebagai campuran obat batuk. merupakan carian yang cukup kental. sabun mandi dan sabun cukur. reaksi brominasi dapat dengan mudah terjadi dengan mereaksikan fenol dengan air brom dan reaksi nitrasi terjadi dengan mencampurkan fenol dalam larutan encer asam nitrat encer. permen dan pengganti gula bagi penderita kencing manis. Jika gliserol direaksikan dengan asam nitrat pekat dihasilkan nitrogliserin. Gliserol.6-tribromofenol 91 .4. juga digunakan untuk melembabkan tembakau. berasa manis dan titik didih tinnggi (290oC). Sorbitol yang berasa semanis gula dan larut dalam air. sehingga memudahkan reaksi terhadap cincin bensena. digunakan sebagai bahan peledak. Misalnya.

misalnya peroksida atau iodium dan disulfida dapat direduksi balik menjadi tiol 92 . R S R' = thioeter R S S R' = disulfida Belerang juga dapat mengganti oksigen dalam beberapa struktur senyawa organik. dapat dibuat dengan reaksi substitusi alkil halida dengan ion hidrogen sulfida atau tiourea dengan alkil halida (kemudian dihidrolisis dengan asam). Gugus –SH disebut gugus sulfhidril dan merupakan gugus fungsional yang disebut tiol. maka dihasilkan suatu thioeter. Thioeter atau Sulfida dan disulfida Jika oksigen dalam eter diganti dengan belerang. R X + SH - R SH + X - Alkanatiol bersifat asam sejuta kali lebih kuat dari pada alkohol yang sesuai.4 dihidroksibensena (hidroquinon) OH HO hidroquinon 7. Tiol disebut juga merkaptan. Tiol diberi nama mirip dengan alkohol. perhatikan contoh: CH3 SH metanatiol (metil merkaptan) CH3 CH2 CH2 CH2 SH 1-butanatiol (butil merkaptan) SH tiofenol (fenil merkaptan) Alkanatiol mempunyai bau busuk. sehingga dapat bereaksi dengan basa kuat menghasilkan tiolat (alkohol tidak dapat bereaksi!) R SH + KOH R S K + H2O kalium tiolat Tiol dapat dioksidasi dengan mudah menjadi disulfida dengan pengoksidasi sedang. misalnya dengan membiarkan fenol dalam udara akan menghasilkan 1.11 Tiol.Cincin bensena dari fenol juga mudah dioksidasi.

tiol dan disulfida akan dioksidasi menjadi asam sulfinat dan asam sulfonat. Tuliskan struktur dan nama senyawa yang diperoleh jika 1-propanol direaksikan dengan: a. Tuliskan struktur senyawa berikut: a. manakah yang bersifat basa lebih kuat? 5.2 RS H Tiol oksidasi reduksi RS SR disulfida Dengan pengoksidasi sedang atau kuat yang direaksikan berlebih. etil eter dengan asam sulfat pekat dingin b. R SH tiol oksidasi O RS OH asam sulfinat oksidasi O RS OH O asam sulfonat Soal-soal 1. Asam sulfat pekat pada suhu 140oC c. 3-metoksi-1-butanol e. kemudian 1-bromobutana b. Tuliskan reaksi yang mungkin terjaaadi antara: a. Diantara kalium tert-butoksida dan natrium etoksida. HBr pekat (dengan refluks) 93 . 2. Natrium. trans-3-metilsikloheksanol d. etilena glikol dimetil eter 2.2-dimetil-1-butanol b. Natrium etoksida c. metil propil eter dengan HBr panas 4. Tuliskan nama dan struktur semua isomer alkohol dan eter dengan rumus C4H10O 3. dibutil eter dengan NaOH panas c.

. Boston 94 . The Benjamin/Cummings Publishing Company.W. Houghton Mifflin Company. 3rd ed.Buku acuan 1. Solomons. Fundamentals of Organic Chemistry. USA.. 1982. London 4. Allyn and Bacon Inc. Organic Chemistry.G. Harold Hard. Morrison Boyd. Inc. Inc. 9th ed. Organic Chemistry 5th . a Short Course. T. 1991. G. 1995. John Wiley & Sons. USA 3... 2. Organic Chemistry. Marc Loudon. New York. 1991.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->