Nama : Moh.

Habib NIM : 04061001076

PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK)

A. Definisi PPOK adalah penyakit paru kronik yang ditandai oleh hambatan aliran udara di saluran napas yang bersifat progressif nonreversibel atau reversibel parsial. PPOK terdiri dari bronkitis kronik dan emfisema atau gabungan keduanya. Bronkitis kronik adalah Kelainan saluran napas yang ditandai oleh batuk kronik berdahak minimal 3 bulan dalam setahun, sekurang-kurangnya dua tahun berturut - turut, tidak disebabkan penyakit lainnya. Emfisema adalah suatu kelainan anatomis paru yang ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal, disertai kerusakan dinding alveoli. Pada prakteknya cukup banyak penderita bronkitis kronik juga memperlihatkan tanda-tanda emfisema,termasuk penderita asma persisten berat dengan obstruksi jalan napas yang tidak reversibel penuh, dan memenuhi kriteria PPOK.

B. Faktor Risiko 1. Kebiasaan merokok merupakan satu - satunya penyebab kausal

yang terpenting, jauh lebih penting dari faktor penyebab lainnya. Dalam pencatatan riwayat merokok perlu diperhatikan : a. Riwayat merokok - Perokok aktif - Perokok pasif - Bekas perokok

1

Emfisema ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal. hipertrofi otot polos pernapasan serta distorsi akibat fibrosis. terutama mengenai bagian atas paru sering akibat kebiasaan merokok lama 2. 4. dimulai dari bronkiolus respiratori dan meluas ke perifer. Patogenesis Pada bronkitis kronik terdapat pembesaran kelenjar mukosa bronkus. 5. fibrosis.b. lebih banyak mengenai saluran secara merata dan terbanyak pada paru bagian bawah napas distal. Emfisema sentriasinar. Derajat berat merokok dengan Indeks Brinkman (IB). Secara anatomik dibedakan tiga jenis emfisema: 1. duktus dan sakus alveoler. metaplasi sel goblet dan hipertropi otot polos penyebab utama obstruksi jalan napas. Ringan : 0-200 Sedang : 200-600 Berat : >600 Riwayat terpajan polusi udara di lingkungan dan tempat kerja Hipereaktiviti bronkus Riwayat infeksi saluran napas bawah berulang Defisiensi antitripsin alfa . metaplasia sel goblet. Obstruksi saluran napas pada PPOK bersifat ireversibel dan terjadi karena perubahan struktural pada saluran napas kecil yaitu : inflamasi. 3. 3.1. Emfisema panasinar (panlobuler). inflamasi. 2 . Proses terlokalisir di septa atau dekat pleura. disertai kerusakan dinding alveoli. yaitu perkalian jumlah rata-rata batang rokok dihisap sehari dikalikan lama merokok dalam tahun : 2. melibatkan seluruh alveoli Emfisema asinar distal (paraseptal). umumnya jarang terdapat di Indonesia C.

mulai dari tanpa gejala. Konsep Patogenesis PPOK Gambar 2. Diagnosis Gejala dan tanda PPOK sangat bervariasi. Diagnosis PPOK di tegakkan berdasarkan : 3 . Perbedaan antara asma dan PPOK D. gejala ringan hingga berat. Pada pemeriksaan fisis tidak ditemukan kelainan jelas dan tanda inflasi paru.Gambar 1.

mis berat badan lahir rendah (BBLR). Gambaran Klinis .Riwayat merokok atau bekas perokok dengan atau tanpa gejala pernapasan . sela iga melebar Perkusi • Pada emfisema hipersonor dan batas jantung mengecil.lips breathing (mulut setengah terkatup mencucu) • Barrel chest (diameter antero .1. Pemeriksaan fisik Inspeksi • Pursed . infeksi saluran napas berulang. lingkungan asap rokok dan polusi udara .Batuk berulang dengan atau tanpa dahak . atau melemah 4 .posterior dan transversal PPOK dini umumnya tidak ada kelainan sebanding) • Penggunaan otot bantu napas • Hipertropi otot bantu napas • Pelebaran sela iga • Bila telah terjadi gagal jantung kanan terlihat denyut vena jugularis i leher dan edema tungkai • Penampilan pink puffer atau blue bloater - Palpasi • Pada emfisema fremitus melemah.Riwayat terpajan zat iritan yang bermakna di tempat kerja .Terdapat faktor predisposisi pada masa bayi/anak. hepar terdorong ke bawah Auskultasi • Suara napas vesikuler normal. letak diafragma rendah.Riwayat penyakit emfisema pada keluarga .Sesak dengan atau tanpa bunyi mengi 2.

Pemeriksaan Penunjang a.  VEP1% (VEP1/KVP) < 75%. sianosis sentral dan perifer Pursed . kulit kemerahan dan pernapasan pursed – lips breathing Blue bloater Gambaran khas pada bronkitis kronik. tidak lebih dari 20% • Uji bronkodilator 5 . APE meter walaupun kurang tepat.  Apabila spirometri tidak tersedia atau tidak mungkin dilakukan. VEP1 merupakan parameter yang paling umum dipakai untuk menilai beratnya PPOK dan memantau perjalanan penyakit. KVP. 3. dapat dipakai sebagai alternatif dengan memantau variabiliti harian pagi dan sore.• Terdapat ronki dan atau mengi pada waktu bernapas biasa atau pada ekspirasi paksa • Ekspirasi memanjang • Bunyi jantung terdengar jauh Pink puffer Gambaran yang khas pada emfisema. VEP1/KVP  Obstruksi ditentukan oleh nilai VEP1 prediksi ( % ) Obstruksi : % VEP1(VEP1/VEP1 pred) < 80% dan atau VEP1/KVP ( % ). Sikap ini terjadi sebagai mekanisme tubuh untuk mengeluarkan retensi CO2 yang terjadi sebagai mekanisme tubuh untuk mengeluarkan retensi CO2 yang terjadi pada gagal napas kronik. penderita gemuk sianosis. Pemeriksaan rutin Faal paru • Spirometri (VEP1.lips breathing Adalah sikap seseorang yang bernapas dengan mulut mencucu dan ekspirasi yang memanjang. terdapat edema tungkai dan ronki basah di basal paru. VEP1prediksi. penderita kurus.

Pada emfisema terlihat gambaran : • Hiperinflasi • Hiperlusen • Ruang retrosternal melebar • Diafragma mendatar • Jantung menggantung (jantung pendulum / tear drop / eye drop appearance) Pada bronkitis kronik : • Normal • Corakan bronkovaskuler bertambah pada 21 % kasus b. Ht. bila Setelah pemberian bronkodilator inhalasi sebanyak tidak ada gunakan APE meter. • VR/KPT meningkat • DLCO menurun pada emfisema • Raw meningkat pada bronkitis kronik • Sgaw meningkat • Variabiliti Harian APE kurang dari 20 % Uji latih kardiopulmoner 6 . Kapasiti Residu Fungsional (KRF). 15 .20 menit kemudian dilihat perubahan nilai VEP1 atau APE. Pemeriksaan khusus (tidak rutin) Faal paru • Volume Residu (VR). perubahan VEP1 atau APE < 20% nilai awal dan < 200 ml  - Uji bronkodilator dilakukan pada PPOK stabil Darah rutin: Hb. VR/KRF. Dilakukan dengan menggunakan spirometri. Kapasiti Paru Total (KPT). leukosit Radiologi - Foto toraks PA dan lateral berguna untuk menyingkirkan penyakit paru lain.  8 hisapan.

pada sebagian kecil PPOK terdapat hipereaktiviti bronkus derajat ringan Uji coba kortikosteroid Menilai perbaikan faal paru setelah pemberian kortikosteroid oral (prednison atau metilprednisolon) sebanyak 30 .50 mg per hari selama 2minggu yaitu peningkatan VEP1 pascabronkodilator > 20 % dan minimal 250 ml.Scan resolusi tinggi Mendeteksi emfisema dini dan menilai jenis serta derajat emfisema atau bula yang tidak terdeteksi oleh foto toraks polos • Scan ventilasi perfusi Mengetahui fungsi respirasi paru Elektrokardiografi Mengetahui komplikasi pada jantung yang ditandai oleh Pulmonal dan hipertrofi ventrikel kanan. lebih rendah dari normal Uji provokasi bronkus Untuk menilai derajat hipereaktiviti bronkus. Pada PPOK umumnya tidak terdapat kenaikan faal paru setelah pemberian kortikosteroid Analisis gas darah Terutama untuk menilai : • Gagal napas kronik stabil • Gagal napas akut pada gagal napas kronik Radiologi • CT . - Ekokardiografi Bakteriologi Menilai funfsi jantung kanan Pemerikasaan bakteriologi sputum pewarnaan Gram dan kultur resistensi diperlukan untuk mengetahui pola kuman dan untuk 7 .• Sepeda statis (ergocycle) • Jentera (treadmill) • Jalan 6 menit.

3. E. 1. Edukasi Edukasi merupakan hal penting dalam pengelolaan jangka panjang pada PPOK stabil. menghindari pencetus dan memperbaiki derajat 8 . Edukasi pada PPOK berbeda dengan edukasi pada asma. 4. 2.obatan Terapi oksigen Ventilasi mekanik Nutrisi Rehabilitasi Penatalaksanaan secara umum PPOK meliputi : PPOK merupakan penyakit paru kronik progresif dan nonreversibel. 4. 5. Mengurangi gejala Mencegah eksaserbasi berulang Memperbaiki dan mencegah penurunan faal paru Meningkatkan kualiti hidup penderita Edukasi Obat . 1.memilih antibiotik yang tepat. sehingga penatalaksanaan PPOK terbagi atas penatalaksanaan pada keadaan stabil dan penatalaksanaan pada eksaserbasi akut. defisiensi antitripsin alfa-1 jarang ditemukan di Indonesia. 6. inti dari edukasi adalah menyesuaikan keterbatasan aktiviti dan mencegah kecepatan perburukan fungsi paru. Kadar alfa-1 antitripsin Kadar antitripsin alfa-1 rendah pada emfisema herediter (emfisema pada usia muda). 2. Karena PPOK adalah penyakit kronik yang ireversibel dan progresif. 3. Berbeda dengan asma yang masih bersifat reversibel. Penatalaksanaan Saat Eksaserbasi Tujuan penatalaksanaan: 1. Infeksi saluran napas berulng merupakan penyebab utama eksaserbasi akut pada penderita PPOK di Indonesia.

bahkan di unit gawat darurat ataupun di ICU dan dirumah. Secara intensif edukasi diberikan di klinik rehabilitasi atau klinik konseling. ruang rawat. c. d. Pengetahuan dasar tentang PPOK Obat . memberikan semangat hidup walaupun dengan keterbatasan aktiviti. Secara umum bahan edukasi yang harus diberikan adalah a.obatan. Edukasi dapat diberikan di poliklinik. karena memerlukan waktu yang khusus dan memerlukan alat peraga. Berhenti merokok 9 . c. baik bagi penderita sendiri maupun bagi keluarganya. Tujuan edukasi pada pasien PPOK : a.adalah inti dari edukasi atau tujuan pengobatan dari asma. lingkungan sosial. d. b. Mengenal perjalanan penyakit dan pengobatan Melaksanakan pengobatan yang maksimal Mencapai aktiviti optimal Meningkatkan kualiti hidup Edukasi PPOK diberikan sejak ditentukan diagnosis dan berlanjut secara berulang pada setiap kunjungan. manfaat dan efek sampingnya Cara pencegahan perburukan penyakit Menghindari pencetus (berhenti merokok) Penyesuaian aktiviti Agar edukasi dapat diterima dengan mudah dan dapat dilaksanakan ditentukan skala prioriti bahan edukasi sebagai berikut : a. kultural dan kondisi ekonomi penderita. b. Penyesuaian aktiviti dan pola hidup merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualiti hidup pasien PPOK. Edukasi yang tepat diharapkan dapat mengurangi kecemasan pasien PPOK. Bahan dan cara pemberian edukasi harus disesuaikan dengan derajat berat penyakit. e. tingkat pendidikan.

oksigen e. Pemberian edukasi sebaiknya diberikan berulang dengan bahan edukasi yang tidak terlalu banyak pada setiap kali pertemuan. Mendeteksi dan menghindari pencetus eksaserbasi g. MDI atau Waktu penggunaan yang tepat ( rutin dengan selangwaku Dosis obat yang tepat dan efek sampingnya Penggunaan oksigen Kapan oksigen harus digunakan Berapa dosisnya Mengetahui efek samping kelebihan dosis oksigen Mengenal dan mengatasi efek samping obat atau terapi Penilaian dini eksaserbasi akut dan pengelolaannya Batuk atau sesak bertambah Sputum bertambah Sputum berubah warna Menyesuaikan kebiasaan hidup dengan keterbatasan aktiviti nebuliser ) tertentu atau kalau perlu saja) c. Tanda eksaserbasi : f. langsung ke pokok permasalahan yang ditemukan pada waktu itu. Edukasi merupakan hal penting dalam pengelolaan jangka panjang pada PPOK stabil.Disampaikan pertama kali kepada penderita pada waktu diagnosis PPOK ditegakkan. Pemberian edukasi berdasar derajat penyakit : Ringan 10 . karena PPOK merupakan penyakit kronik progresif yang ireversibel.obatan Macam obat dan jenisnya Cara penggunaannya yang benar ( oral. d. b. Edukasi diberikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah diterima. - Pengunaan obat .

Sebagai obat pemeliharaan sebaiknya digunakan bentuk tablet yang berefek panjang. Pada derajat berat diutamakan pemberian obat lepas lambat (slow release) atau obat berefek panjang (long acting). antara lain berhenti merokok Segera berobat bila timbul gejala Sedang Menggunakan obat dengan tepat Mengenal dan mengatasi eksaserbasi dini Program latihan fisik dan pernapasan Berat Informasi tentang komplikasi yang dapat terjadi Penyesuaian aktiviti dengan keterbatasan Penggunaan oksigen di rumah Bronkodilator Obat . - Golongan agonis beta – 2 penggunaan dapat sebagai monitor timbulnya Bentuk inhaler digunakan untuk mengatasi sesak. peningkatan jumlah eksaserbasi. Macam .obatan Diberikan secara tunggal atau kombinasi dari ketiga jenis bronkodilator dan disesuaikan dengan klasifikasi derajat berat penyakit.macam bronkodilator : Golongan antikolinergik Digunakan pada derajat ringan sampai berat. disamping sebagai bronkodilator juga mengurangi sekresi lendir ( maksimal 4 kali perhari).• • • • • • • • • • 2. a. nebuliser tidak dianjurkan pada penggunaan jangka panjang. Pemilihan bentuk obat diutamakan inhalasi. Bentuk nebuliser dapat 11 . Penyebab dan pola penyakit PPOK yang ireversibel Mencegah penyakit menjadi berat dengan menghindari pencetus.

berfungsi menekan inflamasi yang terjadi. Hanya diberikan bila terdapat infeksi. Antiinflamasi Digunakan bila terjadi eksaserbasi akut dalam bentuk oral atau injeksi intravena. Bentuk injeksi subkutan atau drip untuk mengatasi eksaserbasi berat. c. dan makrolid baru Perawatan di rumah sakit dapat dipilih - Amoksilin dan klavulanat Sefalosporin generasi II & III injeksi Kuinolon per oral ditambah dengan yang anti pseudomonas 12 . karena keduanya mempunyai tempat kerja yang berbeda. Bentuk inhalasi sebagai terapi jangka panjang diberikan bila terbukti uji kortikosteroid positif yaitu terdapat perbaikan VEP1 pascabronkodilator meningkat > 20% dan minimal 250 mg. asam klavulanat. - Antibiotika Lini I : amoksisilin dan makrolid Lini II : amoksisilin. Penggunaan jangka panjang diperlukan pemeriksaan kadar aminofilin darah. tidak dianjurkan untuk penggunaan jangka panjang. dipilih golongan metilprednisolon atau prednison.digunakan untuk mengatasi eksaserbasi akut. Bentuk tablet biasa atau puyer untuk mengatasi sesak ( pelega napas ). sefalosporin. Antibiotik yang digunakan : kuinolon. b. Golongan xantin Dalam bentuk lepas lambat sebagai pengobatan pemeliharaan jangka panjang. bentuk suntikan bolus atau drip untuk mengatasi eksaserbasi akut. terutama pada derajat sedang dan berat. Disamping itu penggunaan obat kombinasi lebih sederhana dan mempermudah penderita. - Kombinasi antikolinergik dan agonis beta – 2 Kombinasi kedua golongan obat ini akan memperkuat efek bronkodilatasi.

Mengurangi sesak Memperbaiki aktiviti Mengurangi hipertensi pulmonal Mengurangi vasokonstriksi Mengurangi hematokrit Memperbaiki fungsi neuropsikiatri Meningkatkan kualiti hidup Indikasi Pao2 < 60mmHg atau Sat O2 < 90% 13 .organ lainnya. Aminoglikose per injeksi Kuinolon per injeksi Sefalosporin generasi IV per injeksi Antioksidan Dapat mengurangi eksaserbasi dan memperbaiki kualiti hidup.d. Terapi Oksigen Pada PPOK terjadi hipoksemia progresif dan berkepanjangan yang menyebabkan kerusakan sel dan jaringan. digunakan N . tetapi tidak dianjurkan sebagai pemberian rutin. f. e. terutama pada bronkitis kronik dengan sputum yang viscous. Manfaat oksigen a. 3. Dapat diberikan pada PPOK dengan eksaserbasi yang sering.asetilsistein. Pemberian terapi oksigen merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan oksigenasi seluler dan mencegah kerusakan sel baik di otot maupun organ . tidak dianjurkan sebagai pemberian yang rutin. Antitusif Diberikan dengan hati – hati. b. Mukolitik Hanya diberikan terutama pada eksaserbasi akut karena akan mempercepat perbaikan eksaserbasi. Mengurangi eksaserbasi pada PPOK bronkitis kronik.

d.- Pao2 diantara 55 . Ventilasi mekanik dapat dilakukan dengan cara : a. gagal napas akut pada gagal napas kronik atau pada pasien PPOK derajat berat dengan napas kronik.59 mmHg atau Sat O2 > 89% disertai Kor Pulmonal. Komposisi nutrisi yang seimbang dapat berupa tinggi lemak rendah karbohidrat. kemungkinan karena Malnutrisi ventilasi mekanik dengan intubasi ventilasi mekanik tanpa intubasi bertambahnya kebutuhan energi akibat kerja muskulus respirasi yang meningkat karena hipoksemia kronik dan hiperkapni menyebabkan terjadi hipermetabolisme. Ht >55% dan tanda tanda gagal jantung kanan. Penurunan berat badan Kadar albumin darah Antropometri Pengukuran kekuatan otot (MVV. sleep apnea. karena gangguan ventilasi pada PPOK tidak dapat mengeluarkan CO2 yang terjadi akibat metabolisme karbohidrat. perubahan P pullmonal. penyakit paru lain 4. b. 5. b. e. Ventilasi Mekanik Ventilasi mekanik pada PPOK digunakan pada eksaserbasi dengan gagal napas akut. Kebutuhan 14 . Diperlukan keseimbangan antara kalori yang masuk denagn kalori yang dibutuhkan. Hasil metabolisme (hiperkapni dan hipoksia) kekuatan otot pipi) Mengatasi malnutrisi dengan pemberian makanan yang agresis tidak akan mengatasi masalah. tekanan diafragma. Nutrisi sering terjadi pada PPOK. Ventilasi mekanik dapat digunakan di rumah sakit di ruang ICU atau di rumah. c. Kondisi malnutrisi akan menambah mortaliti PPOK karena berkolerasi dengan derajat penurunan fungsi paru dan perubahan analisis gas darah. Malnutrisi dapat dievaluasi dengan : a. bila perlu nutrisi dapat diberikan secara terus menerus (nocturnal feedings) dengan pipa nasogaster.

c. d. 6. F. protein dapat meningkatkan ventilasi semenit oxigen comsumption dan respons ventilasi terhadap hipoksia dan hiperkapni. b. c. Program rehabilitiasi terdiri dari 3 komponen yaitu : latihan fisis. Tidak dalam kondisi gagal napas akut pada gagal napas kronik 15 . b. yakni porsi kecil dengan waktu pemberian yang lebih sering. Rehabilitasi PPOK Tujuan program rehabilitasi untuk meningkatkan toleransi latihan dan memperbaiki kualiti hidup penderita PPOK Penderita yang dimasukkan ke dalam program rehabilitasi adalah mereka yang telah mendapatkan pengobatan optimal yang disertai : a.protein seperti pada umumnya. Tetapi pada PPOK dengan gagal napas kelebihan pemasukan protein dapat menyebabkan kelelahan. Hipofosfatemi Hiperkalemi Hipokalsemi Hipomagnesemi Gangguan ini dapat mengurangi fungsi diafragma. respiratori terapis dan psikolog. Simptom pernapasan berat Beberapa kali masuk ruang gawat darurat Kualiti hidup yang menurun Program dilaksanakan di dalam maupun diluar rumah sakit oleh suatu tim multidisiplin yang terdiri dari dokter. Dianjurkan pemberian nutrisi dengan komposisi seimbang. Gangguan elektrolit yang terjadi adalah : a. psikososial dan latihan pernapasan. Penatalaksanaan PPOK stabil Kriteria PPOK stabil adalah : 1. ahli gizi. Gangguan keseimbangan elektrolit sering terjadi pada PPOK karena berkurangnya fungsi muskulus respirasi sebagai akibat sekunder dari gangguan ventilasi.

4. 6. 4. Penggunaan bentuk MDI menjadi kurang efektif. Penatalaksanaan di rumah ditujukan juga bagi penderita PPOK berat yang harus menggunakan oksigen atau ventilasi mekanik. koordinasi neurologis dan kekuatan otot sudah berkurang. Pemilihan obat dalam bentuk dishaler. 1. nebuhaler atau tubuhaler karena penderita PPOK biasanya berusia lanjut. 5. Penatalaksanaan di rumah meliputi : Obat-obatan sesuai klasifikasi (tabel 2). 2. 3. 1. Beberapa hal yang harus diperhatikan selama di rumah. Menjaga PPOK tetap stabil Melaksanakan pengobatan pemeliharaan Mengevaluasi dan mengatasi eksaserbasi dini Mengevaluasi dan mengatasi efek samping pengobatan Menjaga penggunaan ventilasi mekanik Meningkatkan kualiti hidup Penggunakan obat-obatan dengan tepat. 3.2. 5. yaitu hasil analisa Dahak jernih tidak berwarna Aktivitas terbatas tidak disertai sesak sesuai derajat berat PPOK Penggunaan bronkodilator sesuai rencana pengobatan Tidak ada penggunaan bronkodilator tambahan Mempertahankan fungsi paru Meningkatkan kualiti hidup Mencegah eksaserbasi gas darah menunjukkan PCO2 < 45 mmHg dan PO2 > 60 mmHg (hasil spirometri) Tujuan penatalaksanaan pada keadaan stabil : Penatalaksanaan PPOK stabil dilaksanakan di poliklinik sebagai evaluasi berkala atau dirumah untuk mempertahankan PPOK yang stabil dan mencegah eksaserbasi. baik oleh pasien sendiri maupun oleh keluarganya. 6. Tujuan penatalaksanaan di rumah : 1. Penatalaksanaan di rumah Penatalaksanaan di rumah ditujukan untuk mempertahankan PPOK yang stabil. Dapat dalam kondisi gagal napas kronik stabil. 2. Nebuliser 16 . 3.

penderita PPOK dapat menggunakan mesin bantu napas di rumah. b. Pada PPOK derajat berat yang terapi oksigen di rumah pada waktu aktiviti atau terus menerus selama 15 jam terutama pada waktu tidur. Terapi oksigen Dibedakan untuk PPOK derajat sedang dan berat.sebaiknya tidak digunakan secara terus menerus. Dosis oksigen tidak lebih dari 2 liter 3. Penggunaan nebuliser di rumah sebaiknya bila timbul eksaserbasi. penggunaan terus menerus. a. Evaluasi / monitor terutama ditujukan pada : 17 . Penyesuaian aktiviti Latihan ekspektorasi atau batuk yang efektif (huff cough) Pursed-lips breathing Latihan ekstremiti atas dan otot bantu napas Tanda eksaserbasi Efek samping obat Kecukupan dan efek samping penggunaan oksigen c. 2. c. Penggunaan mesin bantu napas dan pemeliharaannya. hanya jika timbul eksaserbasi. d. 5. 4. Beberapa Rehabilitasi a. Pada PPOK derajat sedang oksigen hanya digunakan bila timbul sesak yang disebabkan pertambahan aktiviti. b.

2003. Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan Di Indonesia.DAFTAR PUSTAKA Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 18 . Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful