Obat-Obat Syndrom Dyspepsia pada pasien untuk kasus 1 1.

Ranitidin : Ranitidin jarang berinteraksi dengan obat lain dibandingkan simetidin, akan tetapi makin banyak obat dilaporkan berinteraksi dengan ranitidine. Nifedipin, warfarin, teofilin, metokoperamid dilaporkan berinteraksi dengan ranitidine. Selain penghambatan oada sitokrom P-450 diduga ada mekanisme lain yang berperan pada interaksi obat. Penggunaan ranitidine dengan antaseid atau antikolinergik sebaiknya diberikan selang waktu satu jam. Gejala gangguan SSP berupa slurred speech, somnolen, letargi, gelisah, bingung, disorientasi, agitasi, halusinasi, dan kejang. Gejala – gejala tersebut akan menghilang jika penggunaan bersama obat psikotropik Ranitidin dengan Aspirin : tidak ditemukan adanya interaksi obat antagonis H 2 dengan aspirin dosis rendah (Anderson etc)1 Pada pasen juga diberkan obat golongan Proton pump Inhibitor yakni omeprazol, namun untuk kasus ini kami tidak memilh untuk digunakannya PPI karena PP dindikasikan untuk pengobatan ulkus gaster yang menyebabkan terjadinya gejala muntah darah. Sementara interaksi PPI pada kasus ini yakni dengan obat golongan anti agregasi trombosit yakni Klopidogrel. 2. Interaksi obat PPI (omeprazol) dengan Klopidogrel Interaksi Klopidogrel dengan proton pump inhibitors (PPIs) bisa menurunkan efek

kardioprotektif dari klopidogrel. Mekanismenya adalah PPI menginhibisi bioaktivasi metabolit mediasi CYP450 2C19 klopidogrel. Sebuah studi melaporkan penurunan efektivitas klopidogrel dan hasil klinik yang buruk pada pasien yang memiliki polimorfisme genetic CYP450 2C19 yang mengakibatkan penurunan atau hlangnya aktivitas enzim Pada sebuah populasi dalam studi case control diantara pasien –pasien yang berumur 66 tahun atau diatas usia tersebut yang memulai terapi klopidogrel setelah pengobatan acute myocardial infarction, pengobatan PPIs secara signifkan meningkatkan resiko kembalnya infark jangka pendek Tidak ada hubungan yang ditemukan dengan paparan lebih jauh dengan PPI atau dengan paparan H2-reseptor antagonis untuk saat ni. Dalam analisis bertingkat jenis PPI yang

peningkatan 48% dalam risiko gejala stroke atau stroke-seperti. jumlah pasien yang menerima pantoprazole dalam penelitian ini adalah relatif kecil. rabeprazole) secara kolektif dikaitkan dengan peningkatan 40% dalam risiko infark miokard berulang dalam waktu 90 hari setelah dikeluarkan dari rumah sakit. stroke. pantoprazole atau) untuk rata-rata sembilan bulan mengalami 50% peningkatan risiko gabungan dari rawat inap untuk serangan jantung. angiotensin II antagonis reseptor. Dalam sebuah studi dari 105 berturut-turut pasien berisiko tinggi angioplasti koroner yang menerima aspirin dan clopidogrel.9% untuk kelompok kontrol no-PPI.seperti pantoprazole tidak dikaitkan dengan infark miokard berulang antara pasien yang menerima clopidogrel.690 pasien yang memakai clopidogrel selama setahun penuh setelah stenting koroner menunjukkan bahwa pasien yang juga mengambil PPI (esomeprazole.digunakan. analisis retrospektif dari 16. omeprazole 25.1%.2% pantoprazole. dexlansoprazole. dan 29. Namun.3% lansoprazole. sebuah studi dari 300 pasien berturut-turut dengan penyakit arteri koroner yang menjalani PCI menemukan bahwa esomeprazole atau pantoprazole tidak mengganggu respon terhadap clopidogrel yang diukur dengan alat tes VASP atau ADP-induced platelet aggregometry. Angka kejadian untuk individu yang menggunakan PPI yakni esomeprazole 24. Penelitian lebih baru juga menemukan tidak berpengaruh signifikan lansoprazole. dibandingkan dengan 17. 24. dan peningkatan 35% dalam kebutuhan untuk mengulang Prosedur pada arteri koroner.9%. Secara khusus. dan beta-blocker dibandingkan dengan nonusers. Dibandingkan dengan tidak menggunakan pengobatan PPI lainnya lainnya (lansoprazole. omeprazole. pengguna PPI memiliki respon antiplatelet lebih rendah secara signifikan terhadap clopidogrel dibandingkan nonusers yang diukur dengan VASP (vasodilatordirangsang phosphoprotein) uji fosforilasi. ACE inhibitor. Sebuah studi selanjutnya yang dilakukan oleh para peneliti yang sama melaporkan hasil yang sama ketika omeprazole (20 mg / hari) atau plasebo diberikan selama tujuh hari untuk 140 pasien menerima stent arteri koroner aspirin dan clopidogrel. omeprazole. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam respon antiplatelet yang ditemukan untuk pengguna statin. pantoprazole atau terhadap farmakokinetika atau . Sebaliknya. angina tidak stabil. Dalam studi Hasil Clopidogrel Medco. yang menyediakan indeks reaktivitas platelet terhadap clopidogrel. penggunaan PPI dikaitkan dengan peningkatan 70% dalam risiko serangan jantung atau angina tidak stabil. atau revaskularisasi ulangi. lansoprazole.

dan kemudian setelah evaluasi menyeluruh terhadap risiko dibandingkan manfaat. karena tdak terdapat interaksi dengan obat-obat yang diberikan dibandingkan dengan obat-obat untuk sindrom dyspepsia lainnya sepert antasida yang banyak memlki interaksi obat dengan golongan obat-obatan untuk oenyakit pada kasus ini . dan peniingkatan pH lambung tidak mempengaruhi penghambatan platelet dengan clopidogrel. pengobatan sindrom dyspepsia. Jika PPI diperlukan. kami memilih untuk memberikan obat golongan antagonis H2 reseptor yakni ranitidin. pantoprazole atau mungkin alternatif yang lebih aman.farmakodinamika clopidogrel. Sampai data empirik lebih lanjut. lansoprazole. beberapa pilihan seperti dexlansoprazole. H2-reseptor antagonis atau antasida harus diresepkan bila memungkinkan1. dan mereka yang menerima terapi bersamaan antikoagulan. mereka yang memiliki riwayat perdarahan gastrointestinal atau borok. Kasus 2 Pada kasus 2. PPI hanya harus dipertimbangkan dalam pasien berisiko tinggi dengan terapi antiplatelet ganda. Jika tidak. penggunaan inhibitor pompa proton sebaiknya dihindari pada pasien yang diobati dengan clopidogrel.