BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keanekaragaman pada hakikatnya merupakan suatu kelebihan yang dimiliki umat manuia.

Perbedaan itu bisa berupa apa saja. Baik perbedaan jenis kelamin, perbedaan umur, tempat tinggal, warna kulit, bahasa ataupun budaya. Masingmasing perbedaan tersebut memiliki keunikan dan kelebihan masing-masing. Bahkan dari perbedaan tersebut bisa terbentuk simbiosis mutualisme yang mampu memberikan keuntungan satu sama lain. Namun kerap kali justru perbedaan inilah yang menjadi bibit perselisihan. Sepanjang sejarah dunia pada umunya dan Indonesia pada khususnya, perselisihan kerap kali terjadi pada dua kelompok yang memiliki perbedaan. Contohnya erbedaan agama antara Islam dan Yahudi di Israel yang menjadi sebab pertikaian puluhan tahun yang tak kunjung selesai hingga sekarang. Dalam kasus lain perbedaan jenis kelamin antara pria dan wanita juga kerap menjadi bibit perselisihan sendiri hingga muncul kelompok feminis yang mengusung emansipasi wanita dan menuntut persamaan hak lebih banyak antara pria dan wanita. Banyak sekali perbedaan yang menjadi cikal bakal perselisihan ataupun permusuhan besar-besaran, tetapi dalam banyak kasus, perbedaan etnis atau budaya merupakan salah satu yang paling sering menjaasi sorotan. Perbedaan ini sering menjadi awal pertikaian yang sangat sulit untuk diredam bahkan hingga turun temurun. Indonesia yang dikenal dengan keanearagamannya yang luar biasa tentu saja tidak dapat luput dari berbagai kasus perselisihan antar dua kelompok budaya. Perselisihan semacam ini kerap terjadi dalam berbagai bentuk. Mulai dari 1

perebutan hak milik atas suatu benda, tanah hingga perkelahian fisik yang menyebabkan korban dari di dua belah pihak. Namun terkadang perselisihan semacam ini bisa berkembang terlalu jauh dan menyimpang dari apa yang biasanya terjadi. Perselisihan antar etnis atau budaya ternyata mampu berkembang menjadi suatu tindakan agresif yang membuat pelakunya bertindak diluar batas bahkan dikategorikan kriminal berat. Kategori criminal tertinggi dari perselisihan macam ini adalah pembantaian besar-besaran terhadap suatu etnis tertentu. Hal ini pernah beberapa kali terjadi di masa sila m baik di Indonesia ataupun negara lain. Pembantaian ini tak urung yang menyebabkan jatuhnya banyak korban dan kerugian materil maupun immateril. Pembantaian semacam ini biasa juga dikenal dengan istilah Genosida Pada makalah ini akan dibahas lebih lanjut tentang apa pengertian Genosida dari segi sosiologi, faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya Genosida terkait isu etnis, contoh-contoh kasus Genosida dan tindakan apa yang dilakukan sebagai pengendalian dan pencegahan atas perilaku tersebut dalam masyarakat. 1.2 Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan makalah adalah agar mahasiswa dapat mengetahui apa itu Genosida antar etnis, beberapa faktor yang menyebabkannya, tindakan pengendalian serta bagaimana pencegahannya dalam masyarakat. 1.3 Manfaat Penulisan Manfaat penulisan makalah ini agar mahasiswa mampu memahami mengapa kasus Genosida bisa terjadi dan dapat ikut serta melakukan pencegahan tindakan tersebut mulai dari sekarang. 1.4 Batasan Masalah 2

5 Perumusan Masalah 1.4 Bagaimana pengendaliannya dan tindakan pencegahannya? 3 .1 Apa itu Genosida dan Etnosentrisme? 1.5.5.3 Apa latar belakang kasus Genosida antar etnis tersebut? 1.2 Apa saja contoh kasus Genosida Etnis di Indonesia maupun dunia? 1.5. 1.Batasan Masalah dalam makalah ini mengenai Genosida antar etnis dan kasus-kasus Genosida yang bernuansa etnis.5.

Pelanggaran HAM berat lainnya ialah kejahatan terhadap kemanusiaan.. Kata ini diambil dari bahasa Yunani . menurut Kornblum terdapat empat macam kemungkinan proses yang dapat terjadi yaitu pengusiran. segregasi. (Jakarta: LPFEUI. 1 Banton (1967:68-76) 2 Lihat Kamanto Sunarto. Kata ini pertama kali digunakan oleh seorang ahli hukum Polandia. 149. dominasi (satu ras menguasai ras yang lain). atau integrasi (pengakuan perbedaan)1. asimilasi dan terakh ir adalah Genosida2. Genosida merupakan satu dari empat pelanggaran HAM berat yang berada dalam yurisdiksi International Criminal Court. Dalam kaitan dengan dominasi. Pengantar Sosiologi. paternalism (dominasi ras pendatang)... perbudakan. 2004)..1 Pengertian Genosida dan Etnosentrisme Genosida dalam ilmu sosiologi termasuk sebagai bagian pola hubungan antar kelompok.kejahatan perang. Genosida secara umum didefinisikan sebagai sebuah pembantaian besarbesaran secara sistematis terhadap satu suku bangsa atau kelompok dengan maksud memusnahkan (membuat punah) bangsa tersebut. 'bangsa' atau 'rakyat') dan b ahasa Latin caedere ('pembunuhan'). genos ('ras'. Kontak antar dua kelompok ras dapat diikuti proses akulturasi (perpaduan budaya).BAB II PEMBAHASAN II. 4 . Raphael Lemkin. pada tahun 1944 dalam bukunya Axis Rule in Occupied Europe yang diterbitkan di Amerika Serika. hal. dan kejahatan Agresi.

sejarah. mengubah atau menghancurkan sejarahnya atau menghancurkan simbolsimbo l peradabannya. Koentjaraningrat (1983) berpendapat bahwa kedua konsep bermakna sama namun 3 http://www. Mengingat bahwa di Indonesia dikenal konsep suku bangsa. melakukan tindakan mencegah kelahiran dalam kelompok. memindahkan secara paksa anak-anak dalam kelompok ke kelompok lain.3 Ada pula istilah genosida budaya yang berarti pembunuhan peradaban dengan melarang penggunaan bahasa dari suatu kelompok atau suku.Menurut Statuta Roma dan Undang-Undang no. ekonomi. adat kebiasaan. kelompok etnis. faham golongan tertentu. faktor-faktor yang melatarbelakanginya bisa berasal dari kepentingan politik. agama.preventgenocide. sikap. wilayah. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM.org/ab/1998/ 5 . Kelompok etnis diartikan oleh Francis sebagai sebuah komunitas yang menampilkan persamaan bahasa. ras. dan yang terkahir adalah isu etnis. kelompok agama dengan cara membunuh anggota kelompok. Genosida yang secara keseluruhan diartikan sebagai pemusnahan masal etnis tertentu memilki banyak faktor penyebab atau latar belakang hingga terjadi nya Genosida tersebut. genosida ialah Perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa. mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota kelompok. Namun yang akan didiskusikan dalam tulisan ini adalah Genosida yang dipengaruhi isu etnis. dan siste m politik. menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang menciptakan kemusnahan secara fisik sebagian atau seluruhnya.

Keanekaragaman ini merupakan suatu kelebihan namun tidak menutup adanya perselisihan antar kelompok etnis yang tumbuh tersebar di seluruh kawasan Indonesia. Dalam kesaksian disebut hamper semua penduduk meninggal.2 Kasus Genosida dan Faktor-Faktor Penyebabnya II. mempunyai makna sebuah pandangan bahwa kelompok etnis sendiri merupakan pusat segalanya dan semua kelompok etnis lain ditimbang dan diukur dengan mengacu pada kelompok etnis sendiri. Pembunuhan masal di Bandanaira (Pulau Banda) tahun 1621 oleh Belanda pada zaman Jan Pietersz Coen. 6 . Bahkan di satu pulau dapat memiliki ratusan kebudayaan yang berbeda satu sama lain. Jumlah pasti tidak diketahui.2. II. Akibat pembunuhan tersebut belanda terpaksa mendatangkan budak dr Negara dan daerah lain.1 Kasus genosida di Indonesia Indonesia sebagai Negara kesatuan yang terdiri dari ribuan pulau dan wilayah yang cukup besar memiliki banyak sekali budaya yang terdapat didalamnya. dan yang dimaksud dengan golongan disini adalah termasuk dalam kategori sosial.mengusulkan agar istilah kelompok etnis diganti denga golongan etnis. sebagian kecil melarikan diri. Penduduk dipaksa untuk bekerja. Etnosentrisme sendiri jika disesuaikan. Hal itu dapat terlihat dari berbagai kasus Genosida yang terj adi sejauh sejarah berdirinya Indonesia.

pemerkosaan dan penculikan. Kasus Genosida yang disebut terakhir. Setelah gerakan G30SPKI terjadi. Mereka yang dianggap pendukung komunis. Kerusuhan Sampit. gerakan membersihkan komunis menggelora dimana-mana. Kebanyakan kasus Genosida yang terjadi sebelum masa kemerdekaan memiliki motif atau latar belakang kepentingan politik para penjajah di masa itu. Tidak hanya kaum prokemerdekaan yg dibunuh tetapi juga para pemuka agama. Militer dikerahkan ke seluruh negri. ditangkap.Pembantaian pada zaman Kerja Tanam Paksa setelah Perang Jawa (18251830) dibawah kepemimpinan Jenderal Van den Bosch. tercatat 40. Jumlah pasti korban tidak diketahui.000 orang meninggal meski Belanda mengklaim hanya 5000 orang yang meninggal. Tragedi 1965. (Februari 2001) Kalimantan Barat antara suku Dayak dan Suku Madura. dibantai. yaitu kerusuhan Sampit merupakan salah satu kasus Genosida yang memiliki latar belakang pertikaian budaya dan sar at 7 . Tragedi mei 1998 dimana etnis tionghoa mengalami pembantaian. Menurut mantan Diplomat RI. disiksa dan dibuang tanpa pernah ada pengadilan yang adil dan bukti yang jelas. pemuka golongan dan para Raja di zaman itu. Manai Sophian. Sedangk an kasus Genosida yang terjadi setelah kemerdekaan Indonesia seperti kasus G30SPKI dimana pembantaian dilakukan terhadap mereka yang menganut paham dan termasuk golongan komunis merupakan kasus Genosida dengan latar belakang faham atau golongan. Tragedi pembantaian Jepang di Kalimantan. Kebanyakan dari mereka yang ditangkap adalah buruh dan petani. pengrusakan properti. Westerling di Sulawesi Selatan.

Hal lain yang menjadi pemicu utama peristiwa Sampit adalah banyaknya kasus antara warga Madura dan warga Dayak yang tidak diselesaikan dengan seharusnya. Selain itu para pemuka suku Dayak juga menilai warga Madura tidak mau beradaptasi dengan kebudayaan setempat. tapi juga Kalimantan Barat. Suku dayak di daerah-daerah tersebut hidup dengan damai berdampingan dengan suku-suku lain. Sedangkan bagi suku Dayak. Suku Madura dianggap terlalu keras. Hal ini misalnya ditunjukkan dengan seringnya terjadi kasus pelanggaran tanah larangan orang Dayak oleh penebang kayu yang kebetulan didominasi oleh orang Madura. Tercatat dari tahun 1972 hingga tahun 2001 sedikitnya ada 15 kasus 8 . Hal ini menyebabkan pandangan bagi suku dayak bahwa suku Madura adalah suku yang selalu siap berperang . Kerusuhan ini seringkali diperbincangkan bukan hanya karena kejadiannya yang mencekam tapi juga latar belakang dan motif dibalik terjadinya kerusuhan tersebut. Selatan dan Utara. hal ini dicontohkan dengan salah satu kebiasaan suku Madura yang kerap membawa senjata tajam seperti parang dan celurit saat mereka berpergian. Pelanggaran ini tidak hanya menyinggung nilai budaya warga Dayak tapi juga mendesak warga Dayak pedalaman untuk berpindah tempat tinggal jauh lebih kedalam hutan karena tanah mereka ditebangi.dengan isu etnis. Suku dayak hidup tersebar di tidak hanya di Kalimantan Tengah. senjata tajam hanya dibawa saat akan pergi berperang dan berburu. Akan tetapi kebudayaan suku Madura yang menempati Kalimantan Tengah 50 tahun sebelum kerusuhan Sampit terjadi ternyata mempunyai beberapa ketidakcocokan dengan kebudayaan suku Dayak yang telah mendiami Kalimantan tengah sejak lama.

Mereka melakukan sweeping besar-besaran dari rumah ke rumah untuk mencari warga Madura. Pihak berwajib pun tidak mampu membendung arus suku Dayak yang datang dari berbagai pedalaman di Kalimantan Tengah. Pembantaian yang dilakukan oleh warga Dayak tidak mengenal usia ataupun jenis kelamin. Kasus pembunuhan seorang warga Dayak oleh suku Madura pada Februari 2001 merupakan pemicu yang berlanjut dengan kerusuhan Sampit yang mencekam. Kerusuhan ini menyebabkan jatuhnya banyak korban dari pihak Madura. Bahkan ada satu versi cerita yang menyatakan bahwa sebelum berangkat untuk pembersihan . Dimana warga Dayak berbondong-bondong membersihkan warga Madura di Kalimantan Tengah. atau tertangkap tapi lalu dibebaskan tanpa tuntutan. Dari peristiwa Sampit dapat terlihat bahwa Genosida yang terjadi erat kaitannya dengan rasa solidaritas berlebihan antar sesama yang diperlihatkan suk u Dayak. Rumah-rumah maupun properti milik suku Madura dibakar hingga habis. Media massa menyebutkan bahwa tidak kurang dari 200 warga Madura terbunuh namun diduga korban lebih daripada itu karena pembersihan bukan hanya terjadi di ibukota Palangkaraya tapi juga di seluruh kecamatan pelosok Kalimantan Tengah.pembunuhan dan pemerkosaan oleh warga Madura atas warga Dayak yang tidak mendapat penyelesaian hukum yang layak. Mereka melakukan agresi dipicu prasangka (prejudice) dan ketidakpuasan 9 . mereka disumpah untuk membersihkan suku Madura hingga habis di tanah Kalimantan Tengah. Selain pembantaian warga Madura. Keseluruhan kasus tersebut berkahir dengan tidak tertangkapnya pelaku. warga Dayak juga melakukan demonstrasi di Palangkaraya untuk menuntut pemerintah setempat agar mengusir warga Madura dari Kalimantan Tengah.

2. 152 10 . . Menurut Bant on (1967:294-299) teori ini mengatakan bahwa orang akan melakukan agresi manakala usahanya untuk memperoleh kepuasan terhalang. agresi yang dilakukan w arga Dayak adalah bentuk ketidakpuasan terhadap pemerintah yang tidak memastikan hukum berjalan dengan baik di setiap permasalahan antar kedua belah pihak. dunia memiliki sejarah sendiri tentang terjadinya Genosida. Jika agresi tidak bisa ditujukan kepada pihak yang menghalangi usahanya. Pembantaian suku bangsa Keltik oleh bangsa Anglo-Saxon di Britania dan Irlandia sejak abad ke-7. prasangka yang terbentuk atas warga Dayak terhadap warga Madura kian berkembang menjadi stereotip yang menganggap bahwa semua warga Madura sama persis dengan prasangka mereka meski kenyataanya tidak semua warga Madura memiliki perilaku yang sama.masyarakat Dayak terhadap hukum yang berjalan.2 Kasus Genosida Internasional Selain di Indonesia. 4 Lihat Kamanto Sunarto. . . Jika dilihat melalui teori ini. Pengantar Sosiologi (LPFEUI: 2004) hal. maka agresi akan dialihkan (displaced) ke suatu kambing hitam4. Sebagian kasus di antaranya adalah : . Di si si lain. Salah satu teori yang dipelopori Dollard ialah teori frustasi-agresi (frustassion-agression theory). Pembantaian bangsa Kanaan oleh bangsa Yahudi pada milenium pertama sebelum Masehi. Pembantaian bangsa Helvetia oleh Julius Caesar pada abad ke-1 SM. II. Pembantaian bangsa-bangsa Indian di benua Amerika oleh para penjajah Eropa semenjak tahun 1492.

Salah satunya adalah Pembantaian Srebrenica. . Pembantaian Bangsa Armenia oleh beberapa kelompok Turki pada akhir Perang Dunia I. .. Pembantaian ini dianggap Genosida oleh pemerintah Amerika Serikat namun dianggap tidak oleh PBB. Pembantaian lebih dari dua juta jiwa rakyat oleh rezim Khmer Merah pada akhir tahun 1970-an. . . pembantaian suku Hutu dan Tutsi di Rwanda pada tahun 1994 oleh terutama kaum Hutu. . Efraín Rios Montt. . 11 . . Pembantaian kaum berkulit hitam di Darfur oleh milisi Janjaweed di Sudan pada 2004. diktator Guatemala dari 1982 sampai 1983 telah membunuh 75. . orang Gipsi (Sinti dan Roma) dan suku bangsa Slavia oleh kaum Nazi Jerman pada Perang Dunia II. kasus pertama di Eropa yang dinyatakan genosida oleh suatu keputusan hukum. Pembantaian suku bangsa Jerman di Eropa Timur pada akhir Perang Dunia II oleh suku-suku bangsa Ceko. . Pembantaian suku bangsa Bosnia dan Kroasia di Yugoslavia oleh Serbia antara 1991 -1996. Polandia dan Uni Soviet di sebelah timur garis perbatasan Oder-Neisse. Pembantaian bangsa Kurdi oleh rezim Saddam Hussein Irak pada tahun 1980-an. Pembantaian Orang Yahudi. Pembantaian bangsa Aborijin Australia oleh Britania Raya semenjak tahun 1788.000 Indian Maya. Pembantaian Rwanda.

Mereka mempekerjakan suku Tutsi untuk pekerjaan kerah putih yaitu pekerjaan 12 . suku Hutu di anggap sebagai suku yang minoritas sedangkan Tutsi dianggap sebagai suku yang lebih tinggi eksistensinya. yang merupakan mayoritas penduduk. hidungnya besar dan pesek. Hal tersebut karena suku Tutsi memiliki warna kulit yang lebih terang. suku Hutu membentuk strata dominan di bawah sistem feodal yang berdasarkan pada kepemilikan ternak. terjadilah suatu diversifikasi suku. yang dilakuk an oleh Belgia. Burundi danTanzania. postur yang agak pendek. lalu orang Hutu dan kemudian Tutsi. Pada jaman penjajahan. Penduduk asli Rwanda terdiri dari tiga suku yaitu Tutsi. Sedangkan suku Hutu memiliki kulit yang berwarna lebih hitam.Dari sekian banyak kasus Genosida yang terjadi. Suku Twa dianggap yang tertua. dan Twa. Republik Rwanda adalah sebuah negara di benua Afrika bagian tengah yang berbatasan dengan Republik Demokratik Kongo. yang merupakan orang-orang dusun yang tiba di sini sejak abad ke-15. tapi pada waktu penjajahan Belgia. Rwanda merupakan salah satu daerah jajahan Belgia. postur tubuh yang tinggi. merupakan petani asal Bantu. kasus Rwanda merupakan salah satu kasus Genosida yang sangat bernuansa etnis. Jika dilihat sekilas hampir tak ada perbedaan dalam warna kulit. Hingga 1959. bentuk tubuh maupun ukuran yang dimiliki oleh suku-suku tersebut. yang dipercayai merupakan sisa pemukim terawal di sini. Hutu. Para penjajah Belgia lebih memilih orang-orang dari suku Tutsi untuk menjalankan pemerintahan daripada orang-orang yang berasal dari suku Hutu. langsing dan j uga memiliki ukuran hidung yang lebih ramping dan mancung. Uganda.

dibunuh dalam pesawatnya. dan menyamakan mereka tidak lebih dari derajat seekor sapi untuk dibantai. Keterampilan & Strategi untuk Bertindak. ketidakpercayaan dan permusuhan di antara kelompo k yang berbeda dalam suatu masyarakat. Secara tidak langsung. Presiden Rwanda yang baru saja terpilih (suku Hutu) dan telah menyetujui perjanjian damai Hutu-Tutsi. Operasi mereka dimulai dengan sweeping masal KTP warga negara Rwanda yang dimana di KTP tersebut terdapat cap besar untuk membedakan antara Hutu dan Tutsi. yang sebenarnya dilakukan oleh kelompok Hutu itu sendiri untuk memanaskan adrenalin para pembantai dengan menyebarkan berita bahwa pembunuhan tersebut dilakukan oleh kelompok dari suku Tutsi. tepatnya di tahun 1994. Dengan sandi lets cut all the trees! mereka memulai pembantaian itu. beberapa hari sebelum pembantaian tersebut terjadi.Setelah beberapa tahun kemudian.yang lebih tinggi posisinya sedangkan untuk kerah biru yaitu posisi yang lebih rendah. dalam teori Hubungan Masyarakat disebutkan bahwa konflik disebabkan oleh polarisasi yang terus terjadi. Menurut Simon Fisher dalam bukunya. 13 . Hal inilah yang menjadi awal dari timbulnya benih-benih kebencian. Upaya damai yang telah dilakukan oleh perwakilan dari kedua suku tersebut pun gagal. masalah ini kembali muncul sehingga menyebabkan timbulnya konflik ketika para Militan Hutu mengadakan genosida massal untuk membantai kelompok Tutsi yang disebut dengan Cocoroaches (cockroach : kecoa). Bahkan ketika pada bulan Juli 1994. dan pekeja kasar diberikan kepada suku Hutu yang sebenarnya merupakan penduduk mayoritas di Rwanda. Mengelola konflik. dan kecemburuan sosial yang akut dan mengakar. ke iri hatian. Belgia mengadu domba kedua suku ini.

yang sering berakar pada hilangnya sesuatu atau penderitaan di masa la lu yang tidak diselesaikan. Hal tersebut dilakukan untuk memancing kemarahan massa suku Hutu terhadap dendam yang selama ini terpendam. Eskalasi konflik terjadi ketika kelompok suku Hutu sengaja melakukan pembunuhan berencana terhadap presiden Habyarimana. kecemburuan sosial. Jika dikaitkan dengan konflik yang terjadi di Rwanda antara kedua kelompok suku tersebut. Penyebab lain adalah terjadinya eskalasi konflik.5 Dengan tersebarnya berita tersebut dikalangan masyarakat. Total semua korban yang mengalami kematian dari genosida tersebut adalah 500.000 jiwa dan membengkak 5 http://edukasi. Dendam suku Hutu terhadap identitas dirinya sebagai penduduk mayoritas yang terdiskriminasi di Rwanda belum terselesaikan hingga kini dan menjadi penyebab utama timbulnya pembantaian terhadap suku Tutsi.000 jiwa yang berasal dari suku Hutu mati karena juga terjadi perlawanan di pihak Tutsi oleh Tutsi Rebels . Kurang Lebih 250.kompasiana.Selain itu menurut teori Identitas. menyebabkan kesenjangan yang terjadi antara kedua kelompok tersebut mengakar dan menimbulkan konflik yang sejak dulu ada kembali muncul ke permukaan. menyebabkan suku Hutu semakin marah dan mengupayakan tindakan balas dendam terhadap seluruh suku Tutsi di Rwanda. konflik juga disebabkan oleh identitas yang terancam.com/2010/12/03/konflik-rwanda-hutu-tutsis/ 14 .000 suku Tutsi dibantai dihari itu dan hampir 50. dapat dilihat bahwa diversivikasi dan stratifikasi sosial yang terjadi antara Hutu dan Tutsi pada masa kolonialisasi menimbulkan kesalahpahaman dan tidak adanya komunikasi yang baik antara kedua suku tersebut. Tidak adanya komunikasi yang baik. Mereka dengan sengaja menyebarkan berita palsu bahwa pembunuhan presiden yang juga berasal dari suku Hutu tersebut dibunuh oleh kelompok pemberontak suku Tutsi. diskriminasi pekerjaan.

maka mereka melakukan tindakan yang melanggar hukum dan tidak manusiawi.000 jiwa melayang. Tindakan ini bisa dikategorikan tindakan yang menyimpang atau tidak sesuai harapan masyarakat. Berdasarkan uraian kasus kasus diatas. para perempuan dari suku Tutsi di perkosa lalu di bunuh. Salah satu yang dibahas diatas adalah ketidakpuasan kelompok atas kinerja pemerintah yang tidak tuntas dalam menyelesaikan masalah antar dua belah pihak sehingga menyebabkan kelompok bersangkutan mencari cara lain untuk menyelesaikan. di perkosa dan di kandangkan. 15 . tetapi ada juga faktor dari luar kelompok yang menyebabkan itu bisa terjadi. Mereka diperlakukan tidak manusiawi. dapat terlihat bahwa genosida yang terjadi khususnya antar kelompok etnis berkembang dan pecah bukan hanya karena perilaku menyimpang dari kedua belah pihak yang memanfaatkan rasa etnosentris pada diri mereka untuk melakukan hal yang tidak manusiawi.000. Pada saat genosida ini berlangsung. Selain itu adanya diversifikasi yang terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung dapat menyebabkan kecemburuan sosial dan berujung pada dendam yang mengakar. II. dalam pokok bahasan disini.3 Pengendalian dan Pencegahan Genosida dalam Masyarakat Telah dibahas sebelumnya bahwa Genosida merupakan bagian dari pola hubungan antar kelompok. Mereka dilempari batu. Berdasarkan perhitungan bruto akhir adalah 1.000. Atas dasar solidaritas terhadap sesama kelompok satu etnis. Genosida menjadi salah satu pola hubungan antar kelompok etnis.sampai angka 800.

Di Indonesia Pengadilan HAM berkedudukan di daerah kabupaten atau daerah kota yang daerah hukumnya meliputi daerah hukum Pengadilan Negeri yang bersangkutan. militer yang digunakan untuk mengendalikan sebagian besar berasal dari luar negri dimana pasukan-pasukan perdamaian berdatangan dari berbagai Negara untuk menghentikan tragedi kemanusiaan abad 20 itu Disamping itu. Pengadilan HAM bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran hakasasi manusia yang berat. Pengadilan HAM berwenang juga memeriksa dan memutus perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang dilakukan di luar batas teritorial wilayah negara Republik Indonesia oleh warga negara Indonesia 16 . Pada kasus kerusuhan Sampit maupun kasus Rwanda.Sehubungan dengan penyimpangan yang dilakukan kelompok tentunya ada pengendalian sosial yang dilakukan. baik di Indonesia maupun internasional telah ditetapkan hukum-hukum tentang keberlangsungan hidup (HAM) pada umumnya dan perlindungan terhadap kelompok masyarakat dan golongan baik etnis atau bukan. Menurut Berger. cara pengendalian terakhir dan tertua adalah dengan paksaan fisik. Bentuk pengendalian yang diambil pun lebih kuat yaitu melalui militer pemerintahan yang turun langsung dan menghentikan tindakan Genosida secara langsung dan fisik. Hal ini dilakukan karena kategori penyimpangan yang dilakukan masyarakat sudah memasuki kategori criminal berat yang direncanakan oleh kolektif. Dalam kasus Rwanda khususnya yang merupakan peristiwa cukup besar. bentuk pengendalian yang dilakukan adalah dalam bentuk fisik.

Akan tetapi Pengadilan HAM tidak berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang dilakukan oleh seseorang yang berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun pada saat kejahatan dilakukan. dengan cara: Membunuh anggota kelompok. pelanggaran HAM meliputi kejahatan Genosida sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7a : adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa. Beberapa hak 370 juta masyarakat adat di seluruh dunia juga merupakan suatu fokus untuk PBB. ras. kelompok etnis. Tujuan awal adalah menciptakan kerangka hukum untuk mempertimbangkan dan bertindak atas keluhan tentang pelanggaran hak asasi manusia. Deklarasi ini menguraikan hak-hak individu dan kolektif untuk budaya . identitas. pendidikan. bahasa. Memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain. Mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota-anggota kelompok. pekerjaan da n 17 . dengan Deklarasi tentang Hak-Hak Masyarakat Adat yang disetujui oleh Majelis Umum pada tahun 2007. Memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok. kelompok agama. 26 tahun 2000. Menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya. Kekejaman dan Genosida setelah Perang Dunia II menyebabkan munculnya konsensus bahwa organisasi baru ini harus bekerja untuk mencegah tragedi serupa di masa mendatang. Berdasarkan UU no. Dunia internasional sendiri merujuk peraturan HAM oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang merupakan organisasi dunia dan dibentuk dengan alasan utama hak asasi manusia.

kesehatan. akan menimbulkan kepercayaan terhadap hukum sehingga jika ada suatu pertikain baik bernuansa etnis ataupun tidak. Karena itu tindakan pencegahan yang paling penting adalah berasal dari pemerintah sebagai pihak yang memiliki kuasa lebih. proses hukum berjalan dengan sebagaimana mestinya sesuai peraturan yang berlaku dan tanpa memihak salah satunya. menyikapi isu-isu pasca-kolonial yang dihadapi masyarakat adat selama berabad-abad. Deklarasi tersebut bertujuan untuk mempertahankan. Dengan berjalannya proses hukum yang baik. Dan yang paling utama adalah tidak terselesaikannya urusan hukum secara tuntas antar a kedua belah pihak yang berseteri sehingga salah satu pihak atau keduanya memilih untuk bertindak secara agresif untuk mendapat keinginannya. budaya institusi dan tradisi. masa sekarang dan masa depan mereka. Deklarasi ini juga melarang diskriminasi terhadap masyarakat adat dan mendorong partisipasi aktif mereka dalam hal-hal yang menyangkut masa lalu. Jika menilik kasus genosida bernuansa etnis diatas. perlu juga dipahami bahwa tindakan pencegahan akan jauh lebih baik jika tindakan pencegahan juga dilakukan sejak awal. dapt terlihat ba hwa masalh antar dua kelompok bertikai dimulai dari ketidakcocokan dan prasangka yang berkembang menjadi streotip negatif tertentu. 18 . Tindakan pencegahan yang paling utama adalah memastikan apabila ada kasus antar dua kempompok etnis. Diversifikasi etnis yang dilakukan pihak luar ataupun pemerintah juga menjadi salah satu penyebabnya. Meski bisa dilakukan tindakan pengendalian. memperkuat dan mendorong pertumbuhan adat.

Penting bagi Indonesia untuk memliki peraturan dengan status hukum yang kuat tentang keberadaan ettnis-etnis yang berbeda dalam kawasaanya. masyrakat etnis akan merasa aman dan tidak akan terpicu untuk membuat tindakan sendiri tapi menjadikan peraturan pemerintah sebagai rujukan pertama. Tindakan pencegahan berikutnya adalah memastikan peraturan-peraturan yang ada sudah cukup meng-cover segala hak dan kewajiban serta perlindungan bagi masyarakat etnis tanpa mendahulukan atau menkhususkan etnis manapun. anggota kelompok etnis sendiri pun perlu menumbuhkan rasa toleransi terhadap etnis lain sebagai salah satu langkah meruba h pola pikir atas prasangka maupun stereotip etnis tertentu yang kerap kali menjad i awal permusuhan antar etnis. Tugas pemerintahlah untuk memastikan semua peraturan dijalankan dengan sesuai. Kedua pencegahan diatas sangat penting untuk menghindari eskalasi konflik yang mungkin terjadi antar dua kelompok etnis terutama di Negara Indonesia yang terdiri dari ribuan suku bangsa berbeda. suku Batak yang kasar ataupu suku Jawa yang kaku dan konservatif sebenarnya bisa dihapuskan. Selain pencegahan dari pihak luar. Dengan adanya peraturan tersebut. Sikap saling toleran dan terbuka dengan perbedaan tentunya mampu 19 . Harus ada pemahaman di kalangan semua masyarakat terutama masyarakat yang masih menganut nilai-nilai etnis tertentu bahwa stereotip bukanlah penilaian mutlak untuk keseluruhan mayarakat etnis tertentu. Sehingga tidak ada anggapan bahwa etnis tertentu adalah lebih baik dar i etnis lainnya.kelompok-kelompok tersebut akan mempercayakan penyelesaiannya kepada hukum pemerintah bukannya malah bertindak agresif dan menyimpang. Stereotip-stereotip yang berkembang seperti suku Minang yang perhitungan.

20 .menumbuhkan sikap saling menghormati antar etnis sehingga tidak akan terjadi pertikaian hingga tindakan seperti Genosida.

Pengendalian Genosida apabila sudah terjadi adalah berupa pengendalian fisik melibatkan pihak berwajib baik dari dalam negeri maupun luar negeri jika dibutuhkan. pelaksanaanya hingga tuntas dan tanpa memihak. pemerkosaan dan penyiksaan. Banyak hal yang melatarbelakangi tindakan Genosida seperti adanya kepentingan politik. serta harus adanya pemahaman dari masyrakat sendiri tentang toleransi antar etnis.BAB III KESIMPULAN Genosida yaitu pembunuhan massal terhadap suatu etnis tertentu merupakan tindakan menyimpang yang tidak manusiawi yang seringkali diikuti dengan perilaku menyimpang lainnya seperti penculikan. 21 . Rasa etnosentrisme negatif dapat dicegah mulai dari pemerintah yang harus memastikan adanya peraturan hukum yang kuat tentang masyarakat etnis. ekonomi dan juga rasa etnosentrisme berlebihan sehingga membuat suatu etnis pantas memusnahkan etnis lainnya.

org/wiki/Tutsi http://members.alislam.org/wiki/Hutu http://id.org/wiki/Pengadilan_HAM http://id.id/informasi / i-sampit-berdarah.wikipedia.fortunecity.org/wiki/Genosida http://id.wikipedia. Pengantar Sosiologi .org/wiki/Perserikatan_Bangsa-Bangsa http://id.wikipedia. Kamanto. 2004.com/sakinahonline/alislam/www. Jakarta : LPFEUI http://edukasi.or.wikipedia.kompasiana.com/2010/12/03/konflik-rwanda-hutu-tutsis/ http://id.html http://nyanyoataraxis.BAB IV DAFTAR PUSTAKA Sunarto.wordpress.com/2009/06/14/genosida-di-indonesia/ 22 .wikipedia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful