Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran

1

KRISIS MONETER INDONESIA : SEBAB, DAMPAK, PERAN IMF DAN SARAN* )
Lepi T. Tarmidi
**)

K

risis moneter yang melanda Indonesia sejak awal Juli 1997, sementara ini telah berlangsung hampir dua tahun dan telah berubah menjadi krisis ekonomi, yakni lumpuhnya kegiatan ekonomi karena semakin banyak perusahaan yang tutup dan meningkatnya jumlah pekerja yang menganggur. Memang krisis ini tidak seluruhnya disebabkan karena terjadinya krisis moneter saja, karena sebagian diperberat oleh berbagai musibah nasional yang datang secara bertubi-tubi di tengah kesulitan ekonomi seperti kegagalan panen padi di banyak tempat karena musim kering yang panjang dan terparah selama 50 tahun terakhir, hama, kebakaran hutan secara besar-besaran di Kalimantan dan peristiwa kerusuhan yang melanda banyak kota pada pertengahan Mei 1998 lalu dan kelanjutannya. Krisis moneter ini terjadi, meskipun fundamental ekonomi Indonesia di masa lalu dipandang cukup kuat dan disanjung-sanjung oleh Bank Dunia (lihat World Bank: Bab 2 dan Hollinger). Yang dimaksud dengan fundamental ekonomi yang kuat adalah pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, laju inflasi terkendali, tingkat pengangguran relatif rendah, neraca pembayaran secara keseluruhan masih surplus meskipun defisit neraca berjalan cenderung membesar namun jumlahnya masih terkendali, cadangan devisa masih cukup besar, realisasi anggaran pemerintah masih menunjukkan sedikit surplus. Lihat Tabel. Namun di balik ini terdapat beberapa kelemahan struktural seperti peraturan perdagangan domestik yang kaku dan berlarut-larut, monopoli impor yang menyebabkan kegiatan ekonomi tidak efisien dan kompetitif. Pada saat yang bersamaan kurangnya transparansi dan kurangnya data menimbulkan ketidak pastian sehingga masuk dana luar negeri dalam jumlah besar melalui sistim perbankan yang lemah. Sektor swasta banyak meminjam dana dari luar negeri yang sebagian besar tidak di hedge. Dengan terjadinya krisis moneter, terjadi juga krisis kepercayaan. (Bandingkan juga IMF, 1997: 1). Namun semua kelemahan ini masih mampu ditampung oleh perekonomian nasional. Yang terjadi adalah, mendadak datang badai yang sangat besar, yang tidak mampu dbendung oleh tembok penahan yang ada, yang selama bertahun-tahun telah mampu menahan berbagai terpaan gelombang yang datang mengancam.

*) Tulisan ini merupakan revisi dan updating dari pidato pengukuhan Guru Besar Madya pada FEUI dengan judul “Krisis Moneter Tahun 1997/1998 dan Peran IMF”, Jakarta, 10 Juni 1998. **) Lepi T. Tarmidi : Wakil Kepala Pusat Kajian APEC, Universitas Indonesia, email : lepi@lpem.feui.org

2

INDIKATOR UTAMA EKONOMI INDONESIA 1990 - 1997
1990 Pertumbuhan ekonomi (%) Tingkat inflasi (%) Neraca pembayaran (US$ juta) Neraca perdagangan Neraca berjalan Neraca modal Pemerintah (neto) Swasta (neto) PMA (neto) Cadangan devisa akhir tahun (US$ juta) (bulan impor nonmigas c&f) Debt-service ratio (%) Nilai tukar Des. (Rp/US$) APBN* (Rp. milyar) 8,661 4,7 30,9 1,901 3,203 9,868 4,8 32,0 1,992 433 11,611 5,4 31,6 2,062 -551 12,352 5,4 33,8 2.11 -1.852 13,158 5,0 30,0 2.2 1,495 14,674 4,3 33,7 2,308 2,807 19,125 5,2 33,0 2,383 818 4.65 456 17,427 4,5 7,24 9,93 2,099 5,352 -3.24 4,746 633 3,021 1,092 1991 6,95 9,93 1,207 4,801 -4,392 5,829 1,419 2,928 1,482 1992 6,46 5,04 1,743 7,022 -3,122 18,111 12,752 3,582 1,777 1993 6,50 10,18 741 8,231 -2,298 17,972 12,753 3,216 2,003 1994 7,54 9,66 806 7,901 -2.96 4,008 307 1,593 2,108 1995 8,22 8,96 1,516 6,533 -6.76 10,589 336 5,907 4,346 1996 7,98 6,63 4,451 5,948 -7,801 10,989 -522 5,317 6,194 1997 4,65 11,60 -10,021 12,964 -2,103 -4,845 4,102 -10.78 1,833

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

* Tahun anggaran Sumber : BPS, Indikator Ekonomi; Bank Indonesia, Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia; World Bank, Indonesia in Crisis, July 2, 1998

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran

3

Sebagai konsekuensi dari krisis moneter ini, Bank Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1997 terpaksa membebaskan nilai tukar rupiah terhadap valuta asing, khususnya dollar AS, dan membiarkannya berfluktuasi secara bebas (free floating) menggantikan sistim managed floating yang dianut pemerintah sejak devaluasi Oktober 1978. Dengan demikian Bank Indonesia tidak lagi melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menopang nilai tukar rupiah, sehingga nilai tukar ditentukan oleh kekuatan pasar semata. Nilai tukar rupiah kemudian merosot dengan cepat dan tajam dari rata-rata Rp 2.450 per dollar AS Juni 1997 menjadi Rp 13.513 akhir Januari 1998, namun kemudian berhasil menguat kembali menjadi sekitar Rp 8.000 awal Mei 1999.

Krisis Moneter dan Faktor-Faktor Penyebabnya
Penyebab dari krisis ini bukanlah fundamental ekonomi Indonesia yang selama ini lemah, hal ini dapat dilihat dari data-data statistik di atas, tetapi terutama karena utang swasta luar negeri yang telah mencapai jumlah yang besar. Yang jebol bukanlah sektor rupiah dalam negeri, melainkan sektor luar negeri, khususnya nilai tukar dollar AS yang mengalami overshooting yang sangat jauh dari nilai nyatanya1 . Krisis yang berkepanjangan ini adalah krisis merosotnya nilai tukar rupiah yang sangat tajam, akibat dari serbuan yang mendadak dan secara bertubi-tubi terhadap dollar AS (spekulasi) dan jatuh temponya utang swasta luar negeri dalam jumlah besar. Seandainya tidak ada serbuan terhadap dollar AS ini, meskipun terdapat banyak distorsi pada tingkat ekonomi mikro, ekonomi Indonesia tidak akan mengalami krisis. Dengan lain perkataan, walaupun distorsi pada tingkat ekonomi mikro ini diperbaiki, tetapi bila tetap ada gempuran terhadap mata uang rupiah, maka krisis akan terjadi juga, karena cadangan devisa yang ada tidak cukup kuat untuk menahan gempuran ini. Krisis ini diperparah lagi dengan akumulasi dari berbagai faktor penyebab lainnya yang datangnya saling bersusulan. Analisis dari faktor-faktor penyebab ini penting, karena penyembuhannya tentunya tergantung dari ketepatan diagnosa. Anwar Nasution melihat besarnya defisit neraca berjalan dan utang luar negeri, ditambah dengan lemahnya sistim perbankan nasional sebagai akar dari terjadinya krisis finansial (Nasution: 28). Bank Dunia melihat adanya empat sebab utama yang bersamasama membuat krisis menuju ke arah kebangkrutan (World Bank, 1998, pp. 1.7 -1.11). Yang pertama adalah akumulasi utang swasta luar negeri yang cepat dari tahun 1992 hingga Juli 1997, sehingga l.k. 95% dari total kenaikan utang luar negeri berasal dari sektor swasta ini, dan jatuh tempo rata-ratanya hanyalah 18 bulan. Bahkan selama empat tahun terakhir utang luar negeri pemerintah jumlahnya menurun. Sebab yang kedua adalah kelemahan
1 Dalam teori, overshooting nilai tukar biasanya bersifat sementara untuk kemudian mencari keseimbangan jangka panjang baru. Tetapi selama krisis ini berlangsung, nilai overshooting adalah sangat besar dan sudah berlangsung sejak akhir tahun 1997.

sehingga masyarakat memilih barang impor yang kualitasnya lebih baik. yang berada di bawah nilai tukar nyatanya. memungkinkan arus modal dan valas dapat mengalir keluar-masuk secara bebas berapapun jumlahnya. Kondisi di atas dimungkinkan. Sementara menurut penilaian penulis. 2) Tingkat depresiasi rupiah yang relatif rendah. Akibatnya harga barang impor menjadi relatif murah dan produk dalam negeri relatif mahal. termasuk kemampuan pemerintah menangani dan mengatasi krisis.4 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Yang keempat adalah ketidak pastian politik menghadapi Pemilu yang lalu dan pertanyaan mengenai kesehatan Presiden Soeharto pada waktu itu.4% (1993) hingga 5.: 22). sehingga membuka peluang yang sebesarbesarnya untuk orang bermain di pasar valas. Akumulasi utang swasta luar negeri yang sejak awal tahun 1990-an telah mencapai jumlah yang sangat besar. yang kemudian menjelma menjadi krisis kepercayaan dan keengganan donor untuk menawarkan bantuan finansial dengan cepat. Ketiga adalah masalah governance. Ada tiga pihak yang . ditambah sistim perbankan nasional yang lemah. menyebabkan nilai rupiah secara kumulatif sangat overvalued. Ditambah dengan kenaikan pendapatan penduduk dalam nilai US dollar yang naiknya relatif lebih cepat dari kenaikan pendapatan nyata dalam Rupiah. karena Indonesia menganut rezim devisa bebas dengan rupiah yang konvertibel. bahkan sudah jauh melampaui utang resmi pemerintah yang beberapa tahun terakhir malah sedikit berkurang (oustanding official debt). Maret 1999 pada sistim perbankan. 3) Akar dari segala permasalahan adalah utang luar negeri swasta jangka pendek dan menengah sehingga nilai tukar rupiah mendapat tekanan yang berat karena tidak tersedia cukup devisa untuk membayar utang yang jatuh tempo beserta bunganya (bandingkan juga Wessel et al. Berikut ini diberikan rangkuman dari berbagai faktor tersebut menurut urutan kejadiannya: 1) Dianutnya sistim devisa yang terlalu bebas tanpa adanya pengawasan yang memadai. tetapi ada banyak faktor lainnya yang berbeda menurut sisi pandang masing-masing pengamat. Valas bebas diperdagangkan di dalam negeri.8% (1991) antara tahun 1988 hingga 1996. Akibatnya produksi dalam negeri tidak berkembang. Masyarakat bebas membuka rekening valas di dalam negeri atau di luar negeri. dan produk dalam negeri yang makin lama makin kalah bersaing dengan produk impor. Nilai rupiah yang sangat overvalued ini sangat rentan terhadap serangan dan permainan spekulan. karena tidak mencerminkan nilai tukar yang nyata. penyebab utama dari terjadinya krisis yang berkepanjangan ini adalah merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang sangat tajam. meskipun ini bukan faktor satu-satunya. sementara rupiah juga bebas diperdagangkan di pusat-pusat keuangan di luar negeri. ekspor menjadi kurang kompetitif dan impor meningkat. berkisar antara 2. Nilai Rupiah yang overvalued berarti juga proteksi industri yang negatif.

Dampak. di mana pengusaha beramai-ramai melakukan investasi di bidang yang sama meskipun bidangnya sudah jenuh. Pihak kreditur luar negeri juga ikut bersalah. jika kreditur luar negeri juga ikut menanggung sebagian dari kerugian yang diderita oleh debitur. 3 Total pembayaran cicilan utang pokok dan bunga setelah dikurangi pinjaman baru. Pada awal Mei 1998 besarnya utang luar negeri swasta dari 1. Sebagian besar dari pinjaman luar negeri swasta ini tidak di hedge (Nasution: 12). terjadinya utang swasta luar negeri dalam jumlah besar ini. Bagi debitur dalam negeri. pinjaman luar negeri pemerintah sifatnya jangka panjang.5 milyar. juga disebabkan suatu gejala yang dalam teori ekonomi dikenal sebagai fallacy of thinking2 . pemerintah. Kesalahan pemerintah adalah. kreditur dan debitur. karena kurang hati-hati dalam memberi pinjaman dan salah mengantisipasi keadaan (bandingkan IMF. meskipun masalahnya juga cukup berat karena selama bertahun-tahun telah terjadi net capital outflow3 yang kian lama kian membesar berupa pembayaran cicilan utang pokok dan bunga. 22). tingkat bunga di dalam negeri dibiarkan tinggi untuk menahan pelarian dana ke luar negeri dan agar masyarakat mau mendepositokan dananya dalam rupiah. Sebaliknya. karena telah memberi signal yang salah kepada pelaku ekonomi dengan membuat nilai rupiah terus-menerus overvalued dan suku bunga rupiah yang tinggi. membuka tambak udang. . hal. ada tenggang waktu pembayaran. dan tiap tahunnya ada pemasukan pinjaman baru. tingkat bunganya relatif rendah. 1998: 5). sehingga pinjaman dalam rupiah menjadi relatif mahal dan pinjaman dalam mata uang asing menjadi relatif murah. Beda dengan pinjaman swasta.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. Jadi di sini pemerintah dihadapi dengan buah simalakama. misalnya 2 Yang dimaksud di sini adalah perilaku pengusaha yang bertindak atas pertimbangan dirinya sendiri tanpa mengetahui apa yang dilakukan oleh pengusaha lainnya. di samping lebih menguntungkan. kecuali yang berkaitan dengan proyek pemerintah dengan dibentuknya tim PKLN. Jadi sudah sewajarnya.. Misalnya pengusaha ramai-ramai mendiri-kan apotik. namun masih bisa diatasi dengan pinjaman baru dan pemasukan modal luar negeri dari sumber-sumber lain.800 perusahaan diperkirakan berkisar antara US$ 63 hingga US$ 64 milyar. Selain itu pemerintah sama sekali tidak melakukan pengawasan terhadap utang-utang swasta luar negeri ini. Keadaan ini menguntungkan pengusaha selama tidak terjadi devaluasi dan ini terjadi selama bertahun-tahun sehingga memberi rasa aman dan orang terus meminjam dari luar negeri dalam jumlah yang semakin besar. sementara utang pemerintah US$ 53. Dengan demikian pengusaha hanya bereaksi atas signal yang diberikan oleh pemerintah. Sebagian orang Indonesia malah bisa hidup mewah dengan menikmati selisih biaya bunga antara dalam negeri dan luar negeri (Wessel et al. karena masing-masing pengusaha hanya melihat dirinya sendiri saja dan tidak memperhitungkan gerakan pengusaha lainnya. membangun realestat dan kondomium. Peran IMF dan Saran 5 bersalah di sini. Kalau masalahnya hanya menyangkut utang luar negeri pemerintah saja.

Sebagian dari mereka ini justru sekarang menderita kerugian. Pinjaman luar negeri dan dana masyarakat yang masuk ke sistim perbankan. dan pada saat itu mereka akan menukarkan kembali rupiah dengan dollar AS (Wessel et al. 1998. Maret 1999 bank-bank. Mereka meminjamkan pada proyek-proyek berisiko tinggi sehingga terjadi investasi berlebihan di sektor tanah (Krugman. Krugman melihat bahwa para financial intermediaries juga berperan di Thailand dan Korea Selatan dengan moral nekat mereka. taman industri. 1. hal. yang memungkinkan dengan modal relatif kecil bermain dalam jumlah besar. hal. resort pariwisata. Itu sebabnya mengapa Bank Indonesia memutuskan untuk tidak intervensi di pasar valas karena tidak akan ada gunanya. Namun pemicu adalah krisis moneter kiriman yang berawal dari Thailand antara Maret sampai Juni 1997. shopping malls dan realestat (Nasution: 9. Dewasa ini mata uang sendiri sudah menjadi komoditi perdagangan. Para spekulan ini juga meminjam dari sistim perbankan untuk memperbesar pertaruhan mereka. Ditambah lagi dengan kemerosotan nilai tukar rupiah yang tajam yang membuat utang dalam nilai rupiah membengkak dan menyulitkan pembayaran kembalinya. banyak yang dikelola secara tidak prudent. 1). yang menjadi penyebab utama dari krisis di Asia Timur. 1998. kemudian macet dan uangnya tidak kembali (Nasution: 28.6 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. maka sedikit sekali pemasukan devisa yang bisa diandalkan untuk membayar kembali utang luar negeri. Mereka mulai mencari dollar AS untuk membayar utang jangka pendek dan membeli dollar AS untuk di hedge (World Bank. lepas dari sektor riil. Proyek-proyek besar ini umumnya tidak menghasilkan barang-barang ekspor dan mengandalkan pasar dalam negeri.000 per dollar AS dengan pengharapan ini adalah kurs tertinggi dan rupiah akan balik menguat. Maka beban pembayaran utang luar negeri beserta bunganya menjadi tambah besar yang dibarengi oleh kinerja ekspor yang melemah (bandingkan IDE).. karena mereka membeli rupiah dalam jumlah cukup besar ketika kurs masih di bawah Rp. IMF Research Department Staff: 10).4). karena praktek margin trading. tetapi mereka tidak bisa disalahkan sepenuhnya atas pecahnya krisis moneter ini. yakni disalurkan ke kegiatan grupnya sendiri dan untuk proyek-proyek pembangunan realestat dan kondomium secara berlebihan sehingga jauh melampaui daya beli masyarakat. yang diserang terlebih dahulu oleh spekulan dan kemudian menyebar ke negara Asia lainnya termasuk Indonesia (Nasution: 1. Ehrke: 3). 4. Meskipun pada awalnya spekulan asing ikut berperan. taman hiburan. Pinjaman-pinjaman luar negeri dalam jumlah relatif besar yang dilakukan oleh sistim perbankan sebagian disalurkan ke sektor investasi yang tidak menghasilkan devisa (non-traded goods) di bidang tanah seperti pembangunan hotel. IMF Research . Greenwood). 4) Permainan yang dilakukan oleh spekulan asing (bandingkan juga Ehrke: 2-3) yang dikenal sebagai hedge funds tidak mungkin dapat dibendung dengan melepas cadangan devisa yang dimiliki Indonesia pada saat itu.

1998: 1. 5) Kebijakan fiskal dan moneter tidak konsisten dalam suatu sistim nilai tukar dengan pita batas intervensi. US$ 5 milyar meminta pembayaran bunga yang lebih tinggi dari pinjaman IMF. 11). 6) Defisit neraca berjalan yang semakin membesar (IMF Research Department Staff: 10. yang disebabkan karena laju peningkatan impor barang dan jasa lebih besar dari ekspor dan melonjaknya pembayaran bunga pinjaman. 1998. 1998: 5). Selisih tingkat suku bunga dalam negeri dengan luar negeri yang besar dan kemungkinan memperoleh keuntungan yang relatif besar dengan cara bermain di bursa efek. US$ 1 milyar baru akan mencairkan dananya sebagai yang terakhir setelah semua pihak lain yang berjanji akan . 1. Singapura yang menjanjikan l. Dampak. sementara Brunei Darussalam yang menjanjikan l.k. 2. ditopang oleh tingkat devaluasi yang relatif stabil sekitar 4% per tahun sejak 1986 menyebabkan banyak modal luar negeri yang mengalir masuk. 1998. Krisis moneter yang terjadi sudah saling kait-mengkait di kawasan Asia Timur dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya (butir 16 dari persetujuan IMF 15 Januari 1998). Terkesan tidak adanya kebijakan pemerintah yang jelas dan terperinci tentang bagaimana mengatasi krisis (Nasution: 1) dan keadaan ini masih berlangsung hingga saat ini. yang membuat harga barang-barang impor menjadi relatif murah dibandingkan dengan produk dalam negeri. Setelah nilai tukar Rupiah tambah melemah dan terjadi krisis kepercayaan.4. 1998: 5).3.1). Peran IMF dan Saran 7 Department Staff: 10. p.10). 1. hal. padahal keadaan perekonomian Indonesia makin lama makin tambah terpuruk. Krisis ini adalah krisis kepercayaan terhadap rupiah (World Bank.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. Negara-negara sahabat yang menjanjikan akan membantu Indonesia juga menunda mengucurkan bantuannya menunggu signal dari IMF. IDE). IMF. 7) Penanam modal asing portfolio yang pada awalnya membeli saham besar-besaran dimingimingi keuntungan yang besar yang ditunjang oleh perkembangan moneter yang relatif stabil kemudian mulai menarik dananya keluar dalam jumlah besar (bandingkan World Bank. Ketidak mampuan pemerintah menangani krisis menimbulkan krisis kepercayaan dan mengurangi kesediaan investor asing untuk memberi bantuan finansial dengan cepat (World Bank. Kesalahan juga terletak pada investor luar negeri yang kurang waspada dan meremehkan resiko (IMF. dana modal asing terus mengalir ke luar negeri meskipun dicoba ditahan dengan tingkat bunga yang tinggi atas surat-surat berharga Indonesia (Nasution: 1. Sebab utama adalah nilai tukar rupiah yang sangat overvalued. 8) IMF tidak membantu sepenuh hati dan terus menunda pengucuran dana bantuan yang dijanjikannya dengan alasan pemerintah tidak melaksanakan 50 butir kesepakatan dengan baik. Greenwood). Sistim ini menyebabkan apresiasi nyata dari nilai tukar rupiah dan mengundang tindakan spekulasi ketika sistim batas intervensi ini dihapus pada tanggal 14 Agustus 1997 (Nasution: 2).k.

9. sehingga banyak perusahaan Jepang melakukan relokasi dan investasi dalam jumlah besar di negara-negara ini. karena mata uang negaranegara Asia ini dipatok dengan dollar AS. Terdapatnya keterkaitan yang erat dengan yen Jepang. kurs dollar AS dan juga mata uang negara-negara Asia Timur melemah terhadap yen Jepang. Subsidi pangan oleh BULOG. hal. tetapi juga meminjam dana dari sistim perbankan untuk bermain.10). 10. Para spekulan inipun tidak semata-mata menggunakan dananya sendiri. monopoli di berbagai bidang. 22). Tahun 1995 kurs dollar AS berbalik menguat terhadap yen Jepang. (Ehrke: 2). di mana serbuan terhadap dollar AS makin lama makin besar.4. Kerusahan besar-besaran pada pertengahan Mei yang lalu yang ditujukan terhadap etnis Cina telah menggoyahkan kepercayaan masyarakat ini akan keamanan harta. baik pejabat pribumi dan etnis Cina. namun kelemahan ini meskipun telah terakumulasi selama bertahun-tahun masih bisa ditampung oleh masyarakat dan tidak cukup kuat untuk menjungkir-balikkan perekonomian Indonesia seperti sekarang ini. jiwa dan martabat mereka. Padahal mereka menguasai sebagian besar modal dan kegiatan ekonomi di Indonesia dengan akibat mereka membawa keluar harta kekayaan mereka dan untuk sementara tidak melaukan investasi baru. Orang-orang kaya Indonesia. sudah sejak tahun lalu bersiap-siap menyelamatkan harta kekayaannya ke luar negeri mengantisipasi ketidak stabilan politik dalam negeri. Daya saing negara-negara Asia Timur meningkat terhadap Jepang. Terjadilah snowball effect. yang nilainya melemah terhadap dollar AS (lihat IDE). Spekulan domestik ikut bermain (Wessel et al. Memang terjadi dislokasi sumber-sumber ekonomi dan kegiatan mengejar rente ekonomi oleh perorangan/kelompok tertentu yang menguntungkan mereka ini dan merugikan rakyat banyak dan perusahaan-perusahaan yang efisien. 1. Timbulnya krisis berkaitan dengan . 1998: 1. sehingga menimbulkan krisis keuangan.Terjadi krisis kepercayaan dan kepanikan yang menyebabkan masyarakat luas menyerbu membeli dollar AS agar nilai kekayaan tidak merosot dan malah bisa menarik keuntungan dari merosotnya nilai tukar rupiah. sementara nilai utang dari negara-negara ini dalam dollar AS meningkat karena meminjam dalam yen. Maret 1999 membantu telah mencairkan dananya dan telah habis terpakai. Sejak awal Desember 1997 hingga awal Mei 1998 telah terjadi pelarian modal besar-besaran ke luar negeri karena ketidak stabilan politik seperti isu sakitnya Presiden dan Pemilu (World Bank.8 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. 11. Di lain pihak harus diakui bahwa sektor riil sudah lama menunggu pembenahan yang mendasar. penyaluran dana yang besar untuk proyek IPTN dan mobil nasional. Setelah Plaza-Accord tahun 1985. IMF sendiri dinilai banyak pihak telah gagal menerapkan program reformasinya di Indonesia dan malah telah mempertajam dan memperpanjang krisis..

(IMF. Dampak. Di samping dana bantuan IMF. membenahi kinerja perbankan nasional. dan yang terakhir adalah review yang keempat. Peran IMF dan Saran 9 jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS secara tajam. jumlah yang sama disediakan setelah 15 Maret 1998 bila program penyehatannya telah dijalankan sesuai persetujuan. tanggal 16 Maret 1999. krisis ekonomi yang berkepanjangan di Indonesia disebabkan karena pemerintah baru meminta bantuan IMF setelah rupiah sudah sangat terdepresiasi. dan tidak kalah penting adalah mengembalikan stabilitas sosial dan politik. Strategi pemulihan IMF dalam garis besarnya adalah mengembalikan kepercayaan pada mata uang. Program reformasi ekonomi yang disarankan IMF ini mencakup empat bidang: 1. Bank Dunia.07 milyar yang bisa dimanfaatkan. Sementara itu pemerintah Indonesia telah enam kali memperbaharui persetujuannya dengan IMF. mengembalikan kepercayaan masyarakat dalam dan luar negeri terhadap kemampuan ekonomi Indonesia. menstabilkan nilai tukar rupiah pada tingkat yang nyata. Program bantuan IMF pertama ditanda-tangani pada tanggal 31 Oktober 1997. Second Supplementary Memorandum of Economic and Financial Policies (MEFP) tanggal 24 Juni. yakni sektor ekonomi luar negeri. Indonesia sendiri mempunyai kuota di IMF sebesar US$ 2. 1997: 1).04 milyar dicairkan segera. Inti dari setiap program pemulihan ekonomi adalah restrukturisasi sektor finansial. dan sisanya akan dicairkan secara bertahap sesuai kemajuan dalam pelaksanaan program. Membenahi sektor riil saja. (Fischer 1998b). Sejumlah US$ 3. yaitu dengan membuat mata uang itu sendiri menarik. Kebijakan fiskal. Bank Pembangunan Asia dan negaranegara sahabat juga menjanjikan pemberian bantuan yang nilai totalnya mencapai lebih . Sebab itu tindakan yang harus segera didahulukan untuk mengatasi krisis ekonomi ini adalah pemecahan masalah utang swasta luar negeri. meskipun kelemahan sektor riil dalam negeri mempunyai pengaruh terhadap melemahnya nilai tukar rupiah. IMF akan mengalokasikan stand-by credit sekitar US$ 11. yang menyebabkan nilai dollar AS melambung dan tidak terbendung. Penyehatan sektor keuangan. Krisis pecah karena terdapat ketidak seimbangan antara kebutuhan akan valas dalam jangka pendek dengan jumlah devisa yang tersedia. Dari jumlah total pinjaman tersebut.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. 4. Untuk menunjang program ini. dan kurang dipengaruhi oleh sektor riil dalam negeri. kemudian 29 Juli 1998. 3.3 milyar selama tiga hingga lima tahun masa program. 2. Kebijakan moneter. tidak memecahkan permasalahan. Penyesuaian struktural. Program Reformasi Ekonomi IMF Menurut IMF.

yang mengandung 50 butir.Kebijakan fiskal . Karena dalam beberapa hal program-program yang diprasyaratkan IMF oleh pihak Indonesia dirasakan berat dan tidak mungkin dilaksanakan.10 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.Kebijakan moneter dan nilai tukar B. Korea mendapat bantuan dana total sebesar US$ 57 milyar untuk jangka waktu tiga tahun.Program restrukturisasi bank .Memperkuat aspek hukum dan pengawasan untuk perbankan C. Maret 1999 kurang US$ 37 milyar (menurut Hartcher dan Ryan). memperkuat implementasi reformasi struktural untuk membangun ekonomi yang efisien dan berdaya saing. Pokokpokok dari program IMF adalah sebagai berikut: A.2 milyar. di antaranya sebesar US$ 21 milyar berasal dari IMF. Thailand hanya memperoleh dana bantuan total sebesar US$ 17. .Lingkungan hidup. memperkuat dan mempercepat restrukturisasi sistim perbankan. dan aspek baru yang masuk adalah penyelesaian utang luar negeri perusahaan swasta Indonesia. 7 appendix dan satu matriks.Deregulasi dan swastanisasi . 3. maka diadakanlah negosiasi ulang yang menghasilkan supplementary memorandum pada tanggal 10 April 1998 yang terdiri atas 20 butir. Strategi yang akan dilaksanakan adalah: 1. Reformasi struktural . menstabilkan rupiah pada tingkat yang sesuai dengan kekuatan ekonomi Indonesia. di antaranya US$ 4 milyar dari IMF dan masing-masing US$ 0. Sebagai perbandingan. Restrukturisasi sektor keuangan . Setelah pelaksanaan reformasi kedua ini kembali menghadapi berbagai hambatan. Saransaran IMF diharapkan akan mengembalikan kepercayaan masyarakat dengan cepat dan kurs nilai tukar rupiah bisa menjadi stabil (butir 17 persetujuan IMF 15 Januari 1998). 2. Cakupan memorandum ini lebih luas dari kedua persetujuan sebelumnya.Social safety net .Perdagangan luar negeri dan investasi . maka dilakukanlah negosiasi kedua yang menghasilkan persetujuan mengenai reformasi ekonomi (letter of intent) yang ditanda-tangani pada tanggal 15 Januari 1998. Namun bantuan dari pihak lain ini dikaitkan dengan kesungguhan pemerintah Indonesia melaksanakan program-program yang diprasyaratkan IMF.5 milyar berasal dari Indonesia dan Korea. Jadwal pelaksanaan masing-masing program dirangkum dalam matriks komitmen kebijakan struktural. Kebijakan makro-ekonomi .

Radelet dan Sachs secara gamblang mentakan bahwa bantuan IMF kepada tiga negara Asia (Thailand. Setelah melihat program penyelematan IMF di ketiga negara tersebut. dan rasa kepercayaan terhadap perekonomian bahwa kita memiliki cukup devisa untuk mengimpor dan memenuhi kewajiban-kewajiban luar negeri” (Kompas. Kritik Terhadap IMF Banyak kritik yang dilontarkan oleh berbagai pihak ke alamat IMF dalam hal menangani krisis moneter di Asia. Awal Mei 1998 telah dilakukan pencairan kedua sebesar US$ 989. meskipun surplus . kembalikan pembelanjaan perdagangan pada keadaan yang normal. 1. 1998b). 3. Pemerintah akan terus menjamin kelangsungan kredit murah bagi perusahaan kecilmenengah dan koperasi dengan tambahan dana dari anggaran pemerintah (butir 16 dan 20 dari Suplemen). menyusun kerangka untuk mengatasi masalah utang perusahaan swasta. timbul kesan yang kuat bahwa IMF sesungguhnya tidak menguasai permasalahan dari timbulnya krisis. 6. 2. 7. padahal masalah yang dihadapi tiap negara tidak seluruhnya sama. padahal dalam hal Indonesia anggaran belanja negara sampai dengan tahun anggaran 1996/1997 hampir selalu surplus. Sementara itu Menko Ekuin/ Kepala Bappenas menegaskan bahwa “Dana IMF dan sebagainya memang tidak kita gunakan untuk intervensi.4 juta dan jumlah yang sama akan dicairkan lagi berturut-turut awal bulan Juni dan awal bulan Juli. yang paling umum adalah bahwa: (1) program IMF terlalu seragam. 5. Salah satu pemecahan standar IMF adalah menuntut adanya surplus dalam anggaran belanja negara.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. dan (2) program IMF terlalu banyak mencampuri kedaulatan negara yang dibantu (Fischer. Prioritas utama dari program IMF ini adalah restrukturisasi sektor perbankan. sehingga ekspor bisa bangkit kembali. Pencairan berikutnya sebesar US$ 1 milyar yang dijadwalkan awal bulan Juni baru akan terlaksana awal bulan September ini. 6 Mei 1998). Ke tujuh appendix adalah masing-masing: Kebijakan moneter dan suku bunga Pembangunan sektor perbankan Bantuan anggaran pemerintah untuk golongan lemah Reformasi BUMN dan swastanisasi Reformasi struktural Restrukturisasi utang swasta Hukum Kebangkrutan dan reformasi yuridis. 4. 5. bila pemerintah dengan konsekuen melaksanakan program IMF. sehingga tidak bisa keluar dengan program penyelamatan yang tepat. Korea dan Indonesia) telah gagal. Peran IMF dan Saran 11 4. Dampak. tetapi untuk mendukung neraca pembayaran serta memberi rasa aman. rasa tenteram.

2 Mei 1998). (Kompas. mengkritik bahwa prakondisi IMF yang teramat ketat terhadap negara-negara Asia di tengah krisis yang berkepanjangan berpotensi menyebabkan resesi yang berkepanjangan. Karenanya. bagaimana caranya untuk meningkatkan penerimaan pemerintah dan mengurangi pengeluaran pemerintah untuk mencapai sasaran surplus anggaran sebesar 1% dari PDB dalam tahun fiskal 1998/99. ada saja peluang bahwa tudingan atas pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia yang makin marak belakangan ini. semakin besar defisit yang terjadi dalam anggaran belanja. Penasehat khusus IMF untuk Indonesia (P. perwakilan IMF mewakili negara dan pemerintahan dengan kebijakan dan visi politik masing-masing.R.12 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. menjadi hal yang disoroti Dewan Direktur IMF dalam pengambilan keputusannya pekan depan”. sementara keputusan yang diambil harus mengacu pada fakta konkret ekonomi. Semakin jatuh nilai tukar rupiah. namun kelemahan utama dari IMF adalah tidak ada program yang jelas untuk meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya produksi untuk mendorong ekspor non-migas. Demikianpun halnya dengan Bank Dunia. dan ini akan menunda cairnya bantuan dari sumber-sumber lain (Hartcher dan Ryan). Selama ini tidak ada pencetakan uang secara besar-besaran untuk menutup anggaran belanja negara yang defisit. Di satu pihak IMF . Karena itu pemecahan utamanya adalah bagaimana mengembalikan nilai tukar rupiah ke tingkat yang wajar. dan tidak ada tingkat inflasi yang melebihi 10%. Kabar terakhir menyebutkan bahwa pencairan bantuan tahap ketiga awal Juni ni akan tertunda lagi atas desakan pemerintah AS yang dikaitkan dengan perkembangan reformasi politik di Indonesia. yaitu negara pengutang lazimnya harus mendapatkan restu pendanaan dari pemerintah AS. Anwar Nasution mengkritik bahwa reformasi ekonomi yang disarankan IMF bentuknya masih samar-samar. Narvekar) sendiri juga dikutip sebagai mengatakan bahwa “IMF kerap menerapkan standar ganda dalam pengambilan keputusan. Kemudian berlakunya praktek apa yang dinamakan “konsensus Washington”. J. bahwa di bidang kebijaksanaan makro IMF tidak memperlihatkan adanya konsistensi antarinstrumen kebijaksanaan. pemimpin ekonom Bank Dunia. tetapi oleh karena nilai tukar rupiah yang terpuruk terhadap dollar AS. Di satu pihak. Adalah kebijakan dari Orde Baru untuk menjaga keseimbangan dalam anggaran belanja negara. Sri Mulyani mengemukakan. namun ini bukan disebabkan karena kebijakan deficit financing dari pemerintah. Maret 1999 ini ditutup oleh bantuan luar negeri resmi pemerintah. Harapan satu-satunya adalah peningkatan ekspor non-migas. dan bagaimana ingin dicapai sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 3%. dan prinsip ini terus dipegang. Stiglitz. Memang dalam anggaran belanja negara tahun 1998/1999 terdapat defisit anggaran yang besar. (Kompas. 13 Mei 1998). Tidak ada penjelasan rinci. (Nasution: 27-28). yang pada dasarnya hanya memperluas kesempatan ekonomi AS.

sehingga memperparah keadaan dan masyarakat beramai-ramai memindahkan dananya dalam jumlah besar ke bank-bank asing dan pemerintah atau ditaruh di rumah. menghilangkan kepercayaan terhadap rupiah. menyulitkan pemulihan ekonomi Indonesia secara cepat. sedang di lain pihak menganut kebijaksanaan moneter yang kontraktif. terutama dalam rangka stabilitas nilai tukar dan inflasi. ekonomi dan hukum di Indonesia yang pada akhirnya bermuara pada mundurnya Presiden Soeharto. juga ketidak sejalanan kebijaksanaan moneter dan fiskal” (Sri Mulyani: 72). hanya dicicil US$ 1 milyar dari jumlah US$ 3 milyar. Kedua kebijaksanaan ini bisa memandulkan efektivitas kebijaksanaan makro.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. yang bertentangan dengan tema pengetatan. “Secara makro ancaman kegagalan terbesar kesepakatan ketiga ini berasal dari kebijaksanaan moneter yang masih ambivalen. berhubung semua bantuan tambahan yang besarnya mencapai US$ 27 milyar dikaitkan dengan cairnya bantuan IMF. bahkan memperparah keadaan. Dampak. (Sri Mulyani: 72). perekonomian Meksiko dengan cepat pada tahun 1996 dapat bangkit kembali. yang menimbulkan krisis likuiditas perbankan nasional yang gawat. IMF sedikit banyak mempunyai andil dalam perjuangan menggulirkan tuntutan reformasi politik. Peran IMF dan Saran 13 memberikan kelenturan dengan mengizinkan dipertahankannya subsidi dan menyediakan dana untuk menciptakan jaringan keselamatan sosial. kita juga perlu berterima kasih kepada IMF karena dengan menunda mencairkan bantuannya. Pertanyaan mendasar yang harus ditujukan kepada IMF menurut penulis adalah sejauh mana IMF bersungguh-sungguh dalam hal membantu mengatasi krisis ekonomi yang sedang melanda Indonesia dewasa ini? Apakah sama seperti kesungguhan Amerika Serikat ketika membantu Meksiko bersama-sama dengan IMF dan negara-negara maju lainnya yang berhasil menggalang sebesar hampir US$ 48 milyar Januari 1995? Setelah mencapai titik terendah tahun 1995. ditambah jarak yang cukup lama antara paket bantuan pertama dan kedua. Di lain pihak. karena cara pengelolaan bank yang amburadul dan tidak mengikuti peraturan. Masyarakat kehilangan kepercayaan kepada otoritas moneter. Bank Indonesia dan perbankan nasional. Hal ini juga diakui oleh IMF (butir 14. namun dampak psikologisnya dari tindakan ini tidak diperhitungkan. Rencana IMF untuk mencairkan bantuannya secara bertahap dalam jarak waktu yang cukup jauh menunjukkan bahwa IMF menekan Indonesia untuk menjalankan programnya secara ketat dan membiarkan keadaan ekonomi Indonesia terus merosot menuju resesi yang berkepanjangan. Saran IMF menutup sejumlah bank yang bermasalah untuk menyehatkan sistim perbankan Indonesia pada dasarnya adalah tepat. 15 dan 24 dari persetujuan IMF tanggal 15 Januari 1998). Karena badan internasional lain dan negara-negara sahabat yang menjanjikan bantuan juga menunggu signal dari IMF. karena keharusan BI melakukan fungsi lender of last resort bagi perbankan nasional. Dengan menahan pencairan bantuan tahap kedua dan setelah diundur. .

Ibaratnya orang yang sudah hampir tenggelam diombang-ambing ombak laut tidak segera ditolong dengan dilempari pelampung. dengan mencairkan dana bantuan yang relatif besar pada bulan November lalu. Namun kekurangan yang paling utama dari IMF adalah bahwa IMF dalam program bantuannya tidak mencari pemecahan terhadap masalah yang pokok dan sangat mendesak ini dan berputar-putar pada reformasi struktural yang dampaknya jangka panjang. Di lain pihak memang harus diakui bahwa tekanan ini perlu untuk memastikan kesungguhan Indonesia. 17.14 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Tidak adanya program dari IMF yang jelas dan berjangka pendek untuk mengembalikan nilai tukar rupiah ke tingkat yang wajar dan menstabilkannya membuat pemerintah cukup lama terombang-ambing antara memilih program IMF atau currency board system. IMF bisa saja terlebih dahulu mengambil kebijakan memprioritaskan stabilisasi nilai tukar rupiah. Asian Development Bank dan negara-negara sahabat. Krisis ekonomi yang tengah berlangsung ini memang bukan tanggung-jawab IMF dan tidak bisa dipecahkan oleh IMF sendiri. di mana makin ditunda makin banyak . dan titipan-titipan khusus dari negaranegara maju yaitu membuka peluang investasi yang seluas-luasnya bagi mereka dengan menggunakan kesempatan dalam kesempitan Indonesia. Reformasi struktural sebagaimana yang dianjurkan oleh IMF memang mendasar dan penting. tapi disuruh belajar berenang dahulu. 21 dari persetujuan 15 Januari 1998. sementara pemecahan masalahnya sudah sangat mendesak. yang didukung oleh bantuan dana dari World Bank. yang justru menjanjikan kepastian dan kestabilan nilai tukar pada tingkat yang wajar. maka hal ini dengan cepat akan memulihkan kembali kepercayaan masyarakat dalam negeri dan internasional. pembenahan sektor riil yang memang perlu dan sudah sangat mendesak. tetapi dampak hasilnya baru bisa dirasakan dalam jangka panjang. IMF tidak memecahkan permasalahan yang utama dan yang paling mendesak secara langsung. 16. Namun bantuan dana IMF dan ketergantungan harapan pada IMF ini di(salah)gunakan untuk menekan pemerintah Indonesia untuk melaksanakan reformasi struktural secara besar-besaran. karena untuk beberapa tindakan memang ada tanda-tanda kekurang sungguhan di pihak Indonesia. Sayangnya tidak ada program khusus yang secara langsung ditujukan untuk menguatkan kembali nilai tukar rupiah. kalau mau. Dengan demikian timbulnya krisis kepercayaan yang berkepanjangan dapat dicegah. Maret 1999 Saran IMF untuk menstabilkan nilai tukar adalah dengan menerapkan kebijakan uang ketat. 7 dari Suplemen). butir 5. IMF sendiri tampaknya tidak tahu apa yang harus dilakukannya dan berputarputar pada kebijakan surplus anggaran. Bila semua kekuatan bantuan ini dikumpulkan sekaligus secara dini. menaikkan suku bunga dan mengembalikan kepercayaan terhadap kebijakan ekonomi. uang ketat. dari waktu ke waktu mengadakan intervensi terbatas di pasar valas dengan petunjuk IMF (lihat butir 14. juga tidak ada Appendix untuk masalah ini. tingkat bunga tinggi.

Yang menjadi pertanyaan di sini adalah. apakah pemerintah tidak bisa menunda kenaikan BBM dan listrik untuk beberapa bulan. misalnya penagihan yang lebih efektif. sehingga timbul teka-teki. bab 4 dan 5). utang luar negeri swasta dan nilai tukar rupiah yang merosot jauh dari nilai riilnya adalah masalah-masalah dasar jangka pendek. yang lama tidak disinggung oleh IMF. anggaran dan moneter secara berarti. Baru pada tanggal 1 Oktober 1998 direncanakan subsidi akan diturunkan secara berarti. Program reformasi IMF secara mencurigakan mengulang kembali tuntutan-tuntutan deregulasi ekonomi yang sudah sejak bertahun-tahun didengungkan oleh Bank Dunia dan belum sepenuhnya dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia (lihat World Bank. BBM dan listrik.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. (butir 10 dan 11 dari Suplemen). Namun penurunan subsidi BBM dan listrik oleh pemerintah secara drastis dan mendadak pada tanggal 4 Mei 1998 yang lalu mempunyai dampak yang sangat luas terhadap perekonomian rakyat kecil. bab 2. BBM dan listrik sudah diperhitungkan dan dinaikkan dalam anggaran pemerintah (butir 20 dari Suplemen). Dalam suplemen program IMF April 1998 disebutkan bahwa subsidi masih bisa diberikan kepada beberapa jenis barang yang banyak dikonsumsi oleh penduduk berpenghasilan rendah seperti bahan makanan. Di sini timbul keragu-raguan akan kemurnian kebijakan reformasi IMF. karena IMF menganjurkan penghapusan subsidi secara bertahap dan tidak secara mendadak. Permintaan IMF untuk menghentikan dengan segera perlakuan pembebasan pajak dan kemudahan kredit untuk proyek mobil nasional dan IPTN adalah tepat.World Bank. Peran IMF dan Saran 15 perusahaan yang jatuh bergelimpangan. karena dalam jangka pendek proyek ini akan mengacaukan kebijakan pemerintah di bidang fiskal. yakni melalui subsidi silang sehingga masyarakat berpenghasilan rendah tetap dikenakan tarif listrik yang murah dan melalui peningkatan efisiensi. 1996. Tindakan drastis ini sedikit-banyak telah membantu memicu terjadinya kerusuhan-kerusuhan sosial dan politik. Subsidi listrik relatif lebih mudah untuk dihapuskan. menunggu keresahan masyarakat reda? Di sini pemerintah salah membaca isi dari kesepakatan dengan IMF. meskipun kepentingan rakyat kecil sangat diperhatikan dengan adanya jaringan keselamatan sosial. 1997. Banyak perusahaan yang mengandalkan pasaran dalam negeri tidak bisa menjual barang hasil produksinya karena perusahaan-perusahaan ini umumnya memiliki kandungan impor yang tinggi dan harga jualnya menjadi tidak terjangkau dengan semakin jatuhnya nilai tukar rupiah. Dampak. Juga saran IMF untuk menghapuskan subsidi BBM dan listrik yang kian membesar secara bertahap dalam jangka waktu tiga tahun sudah benar. Jadi. apakah IMF benar-benar tidak melihat inti permasalahannya atau berpura-pura tidak tahu? Atau IMF mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk memaksakan perubahan-perubahan yang sudah lama menjadi duri di matanya dan bagi Bank Dunia serta mewakili kepentingan-kepentingan asing? Tampaknya di balik anjuran program pemulihan kegiatan ekonomi ada titipan-titipan politik dan ekonomi dari negara-negara besar tertentu. Membengkaknya subsidi ini disebabkan . Subsidi untuk bahan pangan. Dalam situasi sekarang hampir tidak ada peluang untuk meningkatkan pajak.

Tidak bisa biaya produksi dihitung atas dasar nilai tukar dengan dollar AS yang masih relatif tinggi lalu dibebankan kepada konsumen. stabilisasi ekonomi dan moneter. bila pendapatan masyarakat dalam rupiah juga ikut naik dua atau tiga kali lipat sesuai dengan kenaikan nilai tukar dollar AS. Keadaan ini tidak sebanding. kalau tidak menurun dan banyaknya PHK. Di antara saran-saran IMF juga ada yang mengenai perluasan penyertaan modal asing dalam kegiatan ekonomi Indonesia yang terlalu jauh. dan liberalisasai perdagangan yang jauh lebih liberal dari komitmen resmi pemerintah di forum WTO. seperti kinerja yang kurang efisien. sehingga nilai tukar valas naik sangat tinggi dan siapa yang menarik keuntungan dari krisis ini? Janganlah rakyat banyak diminta untuk berkorban mengatasi krisis ini atau membebankan di atas penderitaan rakyat dengan misalnya menaikkan harga BBM dan tarif listrik. (Bandingkan juga Sri Mulyani: 72-3). karena IMF sebagai lembaga yang disegani bisa banyak membantu memulihkan kepercayaan kreditor .16 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Jadi tindakan yang pokok adalah pertama mengembalikan dulu nilai rupiah ke tingkat yang wajar dan dari sini baru menghitung besarnya subsidi. tetapi sebab utama karena merosotnya nilai tukar rupiah. Maret 1999 oleh beberapa faktor. Halnya akan lain. siapa yang menjadi penyebab dari terjadinya krisis yang berkepanjangan ini. sementara pendapatan masyarakat adalah dalam rupiah yang tidak berubah sejak sebelum terjadinya krisis moneter. AFTA dan APEC. dan apa sumbangannya terhadap pemasukan modal asing? Bukan masalah anti asing atau sentimen nasionalisme yang sempit. tetapi apa sumbangan dari keterbukaan ini terhadap restrukturisasi ekonomi dari program IMF. tagihan listrik dalam jumlah besar yang tidak dibayar. Modal asing sudah diberi peluang yang cukup besar untuk investasi di Indonesia dengan diperbolehkannya kepemilikan hingga 100% baik untuk pendirian PMA. Saran IMF lainnya yang disisipkan dalam persetujuan dan tidak ada kaitannya dengan program stabilisasi ekonomi dan moneter adalah desakannya untuk menyusun UndangUndang Lingkungan Hidup yang baru (butir 50 dari persetujuan IMF tanggal 15 Januari 1998). Masalahnya bukan sentimen nasionalisme. tetapi apa salahnya bila pemerintah menyisakan bidang kegiatan untuk pengusaha Indonesia. izin investasi di bidang perdagangan besar dan eceran. terutama yang bermodal kecil? Apa permintaan IMF ini tidak terlalu jauh? Kedengarannya seperti IMF menerima titipan pesan sponsor dari negara-negara besar yang ingin memaksakan kepentingannya dengan menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Ikut campurnya IMF dalam penyelesaian utang swasta adalah sangat baik. kita harus melihat sebab-sebab lain di balik kenaikan biaya produksi. kecuali saham bank nasional yang go public. bank asing maupun penguasaan saham dari perusahaan-perusahaan yang telah go public. seperti orang asing yang tinggal di Indonesia misalnya. Meskipun demikian IMF masih meminta dihapuskannya larangan membuka cabang bagi bank asing. Dalam kaitan ini perlu dipertanyakan.

Dampak lain adalah laju inflasi yang tinggi selama beberapa bulan terakhir ini. dan ini tidak terjadi. bahkan dalam beberapa hal turun ditambah PHK. padahal harga dari banyak barang naik cukup tinggi. kecuali sebagian sektor pertanian dan ekspor. Hasilnya adalah perbaikan dalam neraca berjalan. Dengan demikian roda perekonomian bisa berputar kembali dan harga-harga bisa turun dari tingkat yang tinggi dan terjangkau oleh masyarakat. utang luar negeri dalam rupiah melonjak. toko sepi. Dampak dari Krisis Dewasa ini semua permasalahan dalam krisis ekonomi berputar-putar sekitar kurs nilai tukar valas. PHK di mana-mana. yang akan memperlancar dan mempercepat proses penyelesaian utang. tetapi penerimaan ekspor dalam valas umumnya tidak berubah.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. Peran IMF dan Saran 17 luar negeri. proteksi industri dalam negeri meningkat sejalan dengan merosotnya nilai tukar rupiah. . investasi menurun karena impor barang modal menjadi mahal. perjalanan ke luar negeri dan pengiriman anak sekolah ke luar negeri. Sayangnya ekspor yang secara teoretis seharusnya naik. kopi dan sebagainya ikut naik. Dampak. biaya sekolah di luar negeri melonjak. kebalikannya arus masuk turis asing akan lebih besar. dan negara-negara produsen lain juga mengalami depresiasi 4 Suatu inflasi dikatakan terjadi karena imported inflation bila harga barang-barang di negara pengekspornya naik. karena pembeli di luar negeri juga menekan harganya karena tahu petani dapat untung besar. tetapi lebih tepat jika dikatakan foreign exchange induced inflation. perusahaan tutup atau mengurangi produksinya karena tidak bisa menjual barangnya dan beban utang yang tinggi. gula. harga telur/ayam naik. daya saing produk dalam negeri dengan tingkat kandungan impor rendah meningkat sehingga bisa menahan impor dan merangsang ekspor khususnya yang berbasis pertanian. Meskipun penerimaan rupiah petani komoditi ekspor meningkat tajam. tidak terjadi. Masalah ini hanya bisa dipecahkan secara mendasar bila nilai tukar valas bisa diturunkan hingga tingkat yang wajar atau nyata (riil). Secara umum impor barang menurun tajam termasuk impor buah. meskipun tidak kembali pada tingkat sebelum terjadinya krisis moneter. yang bukan disebabkan karena imported inflation4 . Petani yang berbasis ekspor penghasilannya dalam rupiah mendadak melonjak drastis. pengusaha domestik kapok meminjam dana dari luar negeri. khususnya dollar AS. sementara bagi konsumen dalam negeri harga beras. Imbas dari kemerosotan nilai tukar rupiah yang tajam secara umum sudah kita ketahui: kesulitan menutup APBN. IMF bisa bertindak sebagai perantara yang netral dan dipercaya. yang melambung tinggi jika dihadapkan dengan pendapatan masyarakat dalam rupiah yang tetap. tarif angkutan naik. bahkan cenderung sedikit menurun pada sektor barang hasil industri. Pada sisi lain merosotnya nilai tukar rupiah secara tajam juga membawa hikmah. harga BBM/tarif listrik naik.

Menurut perkiraan IMF pada bulan Maret 1999 lalu. Hal yang serupa juga terjadi untuk ekspor barang manufaktur. Tapi sekali krisis berakhir dan ekonomi berbalik bangkit kembali (rebound). mesin-mesin sudah ada.5 juta. sehingga bila nilai tukar rupiah bisa dikembalikan ke nilai nyatanya maka biaya besar yang dibutuhkan untuk social safety net ini bisa dikurangi secara drastis. Faktor-faktor tersebut adalah bantuan IMF dan donor-donor lainnya yang segera. sehingga perlu dilancarkan program-program untuk menunjang mereka yang dikenal sebagai social safety net. karena krisis belum juga menyentuh dasar jurang. pabrik. pada Oktober 1998 ini jumlah keluarga miskin diperkirakan meningkat menjadi 7. Karena prasarana dasar untuk pembangunan sudah tersedia. pertumbuhan GDP nyata Indonesia pada tahun 1998/9 diperkirakan akan negatif sebesar 16%. Keadaan ekonomi yang sangat parah ini diperkirakan pada bulan-bulan mendatang masih akan berlangsung terus. dan tingkat inflasi sekitar 66%. hanya di sini ada kesulitan lain untuk meningkatkan ekspor. tenaga terlatih.18 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Saran-Saran Krisis moneter telah memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk menentukan kebijakan di masa depan. sehingga yang diperlukan adalah pulihnya kepercayaan dan masuknya modal baru. Berapa lama krisis ekonomi ini masih akan berlangsung. sulit untuk diramalkan karena tergantung pada banyak faktor. keamanan yang mantap. Sebagai dampak dari krisis ekonomi yang berkepanjangan ini. suasana politik dan sosial yang stabil. karena ada masalah dengan pembukaan L/C dan keadaan sosial-politik yang belum menentu sehingga pembeli di luar negeri mengalihkan pesanan barangnya ke negara lain. maka perbaikan ini diperkirakan akan berlangsung relatif cepat. Meningkatnya jumlah penduduk miskin tidak terlepas dari jatuhnya nilai tukar rupiah yang tajam. yang menyebabkan terjadinya kesenjangan antara penghasilan yang berkurang karena PHK atau naik sedikit dengan pengeluaran yang meningkat tajam karena tingkat inflasi yang tinggi. pulihnya kepercayaan investor dalam dan luar negeri. Namun secara keseluruhan dampak negatifnya dari jatuhnya nilai tukar rupiah masih lebih besar dari dampak positifnya. menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada tingkat yang wajar. Prospek Ekonomi Indonesia Prospek ekonomi untuk beberapa tahun mendatang adalah kurang cerah dan akan ditandai oleh pertumbuhan ekonomi yang negatif. maka upaya yang paling utama dan mendesak bagi Indonesia . Maret 1999 dalam nilai tukar mata uangnya dan bisa menurunkan harga jual dalam nominasi valas.

pada suatu saat tertentu dan membagi (spread-out) pembayaran ini secara merata dalam jangka waktu yang lebih panjang pada tingkat yang terkendali (manageable). harga mobil terjangkau oleh masyarakat. Para ekonom dari CSIS berpendapat bahwa langkah yang harus diambil untuk mengatasi kemelut ini adalah dengan menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam tingkat yang wajar. 1998. Kegiatan jasa hotel. Beberapa saran dari penulis untuk mengatasi krisis ekonomi dewasa ini adalah sebagai berikut: . 9 April 1998). begitupun pengusaha domestik akan sangat hati-hati untuk meminjam dari luar negeri. 2.2). Dengan sistim ini. dana asing akan sangat hati-hati masuk ke Indonesia. Dengan demikian sumber utama krisis di masa lalu untuk masa mendatang sudah dapat dieliminir. perdagangan dan angkutan juga bisa hidup kembali. Setelah mendapat pengalaman dari krisis ini. dan penyelesaian masalah utang swasta dengan penjadwalan ulang (Kompas. harga barang-barang produksi dalam negeri dengan kandungan lokal tinggi bisa meningkat daya saingnya sehingga bisa berkembang dan orang tidak mengandalkan bahan impor karena menjadi mahal. Dampak. p. Inti dari pemecahan krisis moneter dalam jangka pendek haruslah ditujukan kepada pencegahan penumpukan pembayaran utang luar negeri. restrukturisasi perbankan. impor secara otomatis akan berkurang (misalnya buah. Bank Dunia menyarankan mengembalikan kepercayaan terhadap rupiah dengan empat kebijakan utama: restrukturisasi beban utang swasta. Dengan demikian. sejauh persyaratan di atas bisa dipenuhi. reformasi dan memperkuat sistim perbankan.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. perjalanan. memperbaiki “governance”. Penulis menginterpretasikan nilai tukar nyata sebagai nilai tukar berdasarkan purchasing power parity yang bisa menjaga keseimbangan dalam neraca berjalan dan yang bisa menjamin ekonomi nasional beroperasi. Peran IMF dan Saran 19 dewasa ini adalah program penyelamatan yang bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat serta menstabilkan kurs rupiah pada nilai tukar yang nyata (bandingkan juga Stiglitz). dan meningkatkan ekspor. Ditambah dengan hilangnya insentif untuk meminjam dari luar negeri karena biaya pinjaman yang lebih rendah diimbangi dengan tingkat depresiasi yang lebih tinggi dan karena tidak adanya lagi intervensi kurs oleh BI. baik swasta maupun pemerintah. industrialisasi substitusi impor berlanjut. berobat di luar negeri. pola makan makanan yang bahannya gandum). kirim anak sekolah di luar negeri. jalan-jalan ke luar negeri. kegiatan ekonomi Indonesia terutama harus ditunjang oleh kekuatan sendiri berdasarkan dana modal yang tersedia di dalam negeri. dan menjaga stabilitas fiskal dan moneter selama masa transisi (World Bank. Dunia perbankan nasional juga telah diajarkan dari manfaat jangka panjang untuk bertindak prudent.

2. Membentuk kabinet baru yang terdiri atas teknokrat untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat Indonesia maupun luar negeri akan kesungguhan program reformasi. sementara pinjaman luar negeri baru sebesar US$ 6. Makin cepat pemerintah melaksanakan program-program reformasi. sebab Paris Club adalah instrumen internasional yang memang khusus dirancang untuk membantu negara-negara sedang berkembang dalam menghadapi masalah pembayaran kembali utang-utang luar negeri pemerintah.560 juta. Sejauh ini Indonesia memang selalu patuh untuk membayar semua utang-utangnya secara tepat waktu. tanpa merusak nama Indonesia sebagai debitur yang baik. hanya saja jangka waktu pembayaran kembalinya saja yang lebih panjang. termasuk program reformasi IMF. makin cepat juga dananya cair. Mengusahakan penundaan pembayaran utang resmi pemerintah berupa pembayaran cicilan pokok dan bunga selama misalnya dua tahun melalui Paris Club. Penjadwalan kembali pembayaran utang resmi pemerintah ini juga akan banyak . bahwa beban utang tidak menjadi bertambah. Bila Jepang hanya mau membantu dengan dengan menambah pinjaman baru. dalam hal ini Departemen Keuangan dan Bank Indonesia. Indonesia bisa bernapas untuk memperkuat posisi cadangan devisanya. harus bertindak proaktif menghadapi IMF dengan mengajukan saran-sarannya sendiri dan menolak program-program yang tidak relevan dan cenderung merugikan Indonesia. terlebih lagi karena bantuan IMF ini terkait dengan bantuan negara-negara donor lainnya yang jumlahnya sangat besar. Sementara ini sudah banyak negara sedang berkembang yang memanfaatkan fasilitas ini. 3. Keuntungan dari penundaan pembayaran utang ini adalah. Dengan demikian. Jumlah ini sangat berarti untuk memperkuat cadangan devisa negara. maka masih ada selisih positif sebesar lebih dari US$ 1 milyar yang bisa dihemat. Sebab menurut APBN tahun 1998/99 jumlah pembayaran cicilan utang pokok luar negeri beserta bunganya mencapai US$ 7. Karena Indonesia telah menanda-tangani persetujuan program reformasi struktural ekonomi dengan IMF. Seandainya Indonesia tidak menerima bantuan barupun. diharapkan akan terjadi arus balik devisa dan masuknya modal luar negeri. apa salahnya jika Indonesia meminta penundaan waktu pembayaran kembali utang? Nama Indonesiapun tidak menjadi jelek karenanya. Namun dalam keadaan krisis yang parah ini.20 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Dengan adanya kepercayaan ini.450 juta. Yang nanti akan menjadi masalah adalah bagaimana membayar utang bantuan darurat yang mencapai US$ 46 milyar tersebut di samping utang-utang pemerintah dan swasta yang ada. yang juga selalu mendapatkan pujian dari Bank Dunia dan IMF. Maret 1999 1. maka pemerintah juga harus melaksanakannya dengan konsekuen. berarti bahwa beban utang termasuk pembayaran bunga untuk di kemudian hari akan bertambah besar. Namun pemerintah. Pemerintah melaksanakan reformasi dan restrukturisasi sektor riil dan keuangan secara konsekuen untuk memperkuat fundamental ekonomi Indonesia.

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran

21

membantu meringankan defisit anggaran belanja, terlebih lagi dengan semakin terpuruknya nilai tukar rupiah semakin besar pula defisit dalam anggaran belanja negara yang harus ditutup. Hal ini telah dilakukan oleh pemerintah dan telah dicapai kesepakatan, bahwa Indonesia akan menunda pembayaran cicilan utang pokoknya saja. 4. Menstabilkan nilai tukar rupiah pada tingkat yang riil, artinya tidak lagi overvalued ketika regim managed floating, bahkan bisa dipertimbangkan untuk membiarkannya sedikit undervalued untuk meningkatkan daya saing secara internasional dan merangsang produksi dalam negeri dan ekspor. Nilai tukar nyata yang wajar ini harus dicari dengan memperhatikan kriteria-kriteria berikut, paling tidak tingkat depresiasi rupiah tidak lebih rendah dari depresiasi nyatanya. Dengan kurs ini defisit anggaran belanja negara bisa ditekan, juga tingkat inflasi, pembayaran utang luar negeri pemerintah dan swasta dalam rupiah dapat ditekan sehingga mampu dikembalikan, begitupun harga BBM/listrik dan pakan ternak, harga barang-barang produksi dalam negeri dapat terjangkau termasuk sembako dan pabrik-pabrik beroperasi kembali, orang-orang yang menganggur dapat bekerja kembali, jumlah penduduk miskin dapat ditekan kembali dan jaringan keamanan sosial tidak lagi diperlukan, biaya angkutan udara bisa diturunkan, perjalanan domestik dan luar negeri dapat hidup kembali. Dilain pihak kurs dollar AS ini harus cukup tinggi untuk menahan impor berbagai macam barang dan bahan serta meningkatkan daya saing produk dalam negeri termasuk buah-buahan, insentif untuk meminjam dana dari luar negeri hilang, biaya perjalanan ke dan sekolah di luar negeri tetap masih mahal, yang semuanya mengurangi pengurangan devisa. Sebaliknya daya saing ekspor masih cukup tinggi, sehingga ekspor masih bisa tetap bergairah. Bila ini disadari sebagai hal yang utama dan yang paling mendesak untuk mengakhiri krisis ini, maka seluruh daya upaya dan pikiran dapat diarahkan untuk memecahkan persoalannya. Kebijakan depresiasi nilai tukar yang relatif besar dampaknya sama seperti kebijakan proteksi produksi dalam negeri, karena merubah perbandingan harga antara barang dalam negeri aktif dalam forum-forum internasional seperti APEC, ASEAN, dan sebagainya untuk mencari pemecahan atas krisis moneter yang sedang melanda banyak negara Asia Timur. Masalah pokoknya adalah bagaimana memperkuat nilai tukar mata uang masing-masing kembali pada tingkat yang wajar. Misalnya dengan mengajukan gagasan-gagasan pemecahan yang konkrit dan mendesak diadakannya pertemuanpertemuan dengan segera. Hingga kini sikap pemerintah Indonesia terkesan pasif. 6. Mengadakan negosiasi ulang utang luar negeri swasta Indonesia dengan para kreditor untuk meminta penundaan pembayaran, yang sekarang sedang diusahakan oleh Tim Penanggulangan Utang Luar Negeri Swasta (PULNS) atau Indonesian Debt Restructuring Agency (INDRA).

22

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

7. Mengembalikan stabilitas sosial dan politik dan rasa aman secepatnya sehingga bisa memulihkan kepercayaan pemilik modal dalam dan luar negeri. 8. Untuk mengembalikan kepercayaan dari masyarakat yang menyimpan uangnya di dalam negeri, pemerintah bisa mempertimbangkan melakukan operasi swap, apalagi didukung oleh cadangan devisa pemerintah yang semakin membesar. 9. Menghalangi kemungkinan kegiatan spekulasi valas besar-besaran dengan mempelajari kemungkinan melakukan pengawasan devisa secara terbatas tanpa melepas prinsip regim devisa bebas atau melanggar kesepakatan dengan IMF, misalnya transfer pribadi dibatasi sampai jumlah tertentu, US$ 10.000. Selanjutnya tidak memberi peluang untuk memperdagangkan rupiah atau menaruh deposito Rupiah di luar negeri. Deposito valas hanya boleh di bank-bank devisa dalam negeri dan tidak boleh ditempatkan di luar. Krugman juga menganjurkan memungut pajak atas dana yang masuk dan membuat peraturan yang menghambat pengiriman dana ke luar (lihat Wessel dan Davis, hal. 16).

Daftar Kepustakaan
Anwar, Moh. Arsjad. 1997. “Transformasi Struktur Perekonomian Indonesia: Pola dan Potensi”, dalam: M. Pangestu, I. Setiati (penyunting), Mencari Paradigma Baru Pembangunan Indonesia, Jakarta: CSIS, hal. 33-48. Bank Indonesia. 1998. “Financial Crisis in Indonesia”, Jakarta, August. Bello, W. 1998. “Mencari Solusi Alternatif untuk Mengatasi Krisis”, saduran, Jakarta: Kompas, 1 September, hal. 3. Ehrke, M.1998. “Pangloss oder die beste aller moeglichen Welten, Ursachen und Auswirkungen der Asienkrise”, Bonn: Friedrich Ebert Stiftung, Februari. Fischer, S. 1998a. “IMF dan Krisis Asia”, Kompas, Jakarta, 6 April. ________. 1998b. “Peranan IMF Saat Krisis”, Kompas, Jakarta, 8 April. ________. 1998c. “The Asian Crisis and the Changing Role of the IMF”, Washington, D.C.: Finance & Development, Vol. 35 No. 2, June, pp. 2-5. Greenwood, J. 1997. “The Lessons of Asia’s Currency Crisis”, Hong Kong: The Asian Wall Street Journal, 9 Oktober, hal. 6. Gunawan, A.H., Sri Mulyani I.. 1998. “Krisis Ekonomi Indonesia dan Reformasi (Makro) Ekonomi”, makalah pada Simposium Kepedulian Universitas Indonesia Terhadap Tatanan Masa Depan Indonesia”, Kampus UI, Depok, 30 Maret - 1 April.

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran

23

Hartcher, P., C. Ryan. 1998. “The IMF Turns Off the Tap”, Australian Financial Review, May 21. Hollinger, W.C. 1996. Economic Policy under President Soeharto: Indonesia’s Twenty-Five Year Record, the United States-Indonesia Society. IMF. 1997. “IMF Approves Stand-By Credit for Indonesia”, Washington, D.C., Press Release No. 97/50, November 5. IMF. 1997. “IMF Approves Stand-By Credit for Indonesia”, Press Release No. 97/50, November 5. IMF. 1998. World Economic Outlook, Washington, D.C., May. IMF. 1999. “Indonesia, Supplemetary Memorandum of Economic and Financial Policies, Fourth Review Under the Extended Arrangement”, March 16. IMF Research Department Staff. 1997. “Capital Flow Sustainability and Speculative Currency Attacks”, Finance and Development, Washington, D.C.: World Bank, December, hal. 8-11. IMF Staff. 1998. “The Asian Crisis: Causes and Cures”, Washington, D.C.: Finance & Development, Vol. 35 No. 2, June, pp.18-21. “IMF Cairkan Semilyar Dollar AS”, Jakarta: Kompas, 6 Mei 1998. “IMF Mulai Sadar Transparensi”, Jakarta: Kompas, 13 Mei 1998, hal. 9. “Indonesia - IMF Agreement on Economic Reforms”, January 15, 1998. “Indonesia - Supplementary Memorandum of Economic and Financial Policies”, Jakarta, April 10, 1998. Institute of Developing Economies (IDE). 1997. 1998 Economic Outlook for East Asia, Tokyo, December 9. Kitamura, K.; T. Tanaka (editors). 1997. Examining Asia’s Tigers, Nine Economies Challenging Common Structural Problems, Tokyo: Institute of Developing Economies, IDE Spot Survey. Korea Letter of Intent, February 7, 1998, Krause, L.B. 1994. The Pacific Century: Myth or Reality?, the 1994 Panglaykim Memorial Lecture, Jakarta: CSIS.

1998b. J. “Kesepakatan Ketiga”. Schuman. 17-18 Desember. Sender. Jakarta: Kompas. __________. Jakarta. LPEM-FEUI. 1998. Jakarta. 31-38. hal.F. “The Myth of Asia’s Miracle”. 1998a. L. 10 Juni. Soros. Jakarta. _________. hal. Sri Mulyani Indrawati. 25 Tahun IV. “Saatnya Dipertimbangkan Solusi Alternatif”. Stiglitz. Singapore. July 26. hal. Cho. “RI-IMF Hasilkan Memorandum Tambahan”. 9 Mei. 28 Agustus. 1994. IMF Agree on Bailout. “What Happened to Asia”. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. Anwar. P. 1998a. 8. G. Montes. “Currency Crisis”. “What’s a Fund for?”. 140-2. February 2. Krisis Moneter Tahun 1997/1998 dan Peran IMF. Tarmidi. Hong Kong: Far Eastern Economic Review. The Economist. November/December.1997. hal. hal. J. “Restoring the Asian Miracle”. M. 26 Agustus 1998. 1997. hal. ___________. majalah Global. 1997. pidato pengukuhan Guru Besar Madya Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. The Currency Crisis in Southeast Asia. 3. M. September 25. 17. 3rd updated reprint. Singapore: ISEAS. 1998.T. Sachs. 9 April 1998. . 72-3. p. 1998. diselenggarakan bersama oleh USAID. “South Korea. 1998. No. _________. hal. Radelet. Dimuat di Kompas dengan judul “Di Balik Terjadinya Krisis Keuangan Asia”. No.24 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 Krugman. December 4. 1998b. ACAES. 27 Januari. Ada yang Harus Dilakukan dan yang Harus Dihindari”. 5. Economy Is Slated for Rapid Change”. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. “The Crisis of Global Capitalism”.. makalah pada “1997 Economics Conference”. “APEC dan Krisis Moneter di Kawasan Asia Timur”. 62-77. Gatra. The Sunday Times. Jakarta: Kompas. Nasution. 1998. S. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. 3. Jakarta: Kompas. “Why Not Let the Banks Own the Debtor Firms?”. N. January. “Lessons from the Recent Financial Crisis in Indonesia”. “Saran Ali Wardhana untuk Atasi Krisis. September 16. Jakarta.. 28-29. Foreign Affairs. 1997. hal. H.

Indonesia in Crisis. 1998. 1996. 15383-IND. 1. 1998c... September 28. Dimensions of Growth. __________. 1998. Bangi. Indonesia. 1997. Would-Be Keyneses Debate How to Fight Global Woes”. 16433IND. McDermott. hal. “Money Trail: Who Ruptured the Rupiah”. paper presented at the APEC Study Centre Consortium Conference. B. February 24. May 27. May 7. hal. A Macroeconomic Update. __________. 16. . Jakarta: Kompas. G. __________. Thailand Letter of Intent. Report No. World Bank.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. 1. Report No. Wessel. 1994. Peran IMF dan Saran 25 ___________. Indonesia: Stability. May 30. 1997. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. 1998. 22. Malaysia. “APEC and the Monetary Crisis in East Asia”. Indonesia. “Utang Swasta Sekitar 64 Milyar Dollar AS”. July 2. D. December 31. Davis. 2 Mei 1998. D. draft Report. Wessel. Sustaining High Growth with Equity. Ip. Growth and Equity in Repelita VI. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. Dampak. August 11-13. D. “Crisis Crusaders.

sekaligus mempelajari kemungkinan penerapannya di Indonesia.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 31 KONSEP CROSS-GUARANTEE DALAM PROGRAM PENJAMINAN DAN KEMUNGKINAN PENERAPANNYA DI INDONESIA Maulana Ibrahim dan Agusman *) Tulisan ini mencoba mengetengahkan salah satu bentuk pikiran alternatif dalam program penjaminan yang dikenal dengan konsep Cross-Guarantee. Bank Indonesia . sehingga mengarah sepenuhnya pada swastanisasi baik penyelenggaraan penjaminan maupun pelaksanaan pengaturan dan pengawasan bank yang menyertainya. Apabila diterapkan sepenuhnya. Dengan merujuk pada ide yang dilontarkan Bert Ely tentang CrossGuarantee. konsep Cross-Guarantee juga akan mengakibatkan perubahan yang sangat mendasar terhadap seluruh pola dan praktek penjaminan dan pengawasan bank yang sudah dijalankan selama ini. *) Maulana Ibrahim : Kepala Urusan Pengawasan Bank 2. dalam tulisan ini akan didalami prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam konsep tersebut beserta pengaruhnya terhadap pola penjaminan dan pengawasan bank. maka konsep Cross-Guarantee menekankan pentingnya penggunaan pendekatan risk-sensitive analysis dalam penetapan besarnya premi. konsep ini sangat progresif dalam hal mempercayakan penyelenggaraan penjaminan kepada mekanisme pasar dan meniadakan intervensi pemerintah. Konsep ini juga mengupayakan adanya perlakuan yang sama untuk bank-bank besar dan bank-bank kecil dalam memper-oleh penjaminan. Pendekatan Too-Big-To-Fail (TBTF) yang sejak beberapa waktu terakhir telah menimbulkan inkonsistensi dalam proses penjaminan diharapkan dapat dihilangkan oleh konsep ini. Sangat berbeda dengan konsep-konsep lainnya dalam program penjaminan. Urusan Pengawasan Bank 2. Sebagai suatu konsep yang ditujukan untuk mengatasi berbagai kelemahan deposit insurance scheme yang berlaku sekarang ini. Bank Indonesia Agusman : Pengawas Bank.

Balino. Untuk mendalami masalah ini lebih lanjut lihat tulisan mereka berdua dalam Banking Crises: Cases and Issues. Dalam Konferensi mengenai Bank Structure and Competition yang baru-baru ini diadakan oleh Federal Reserve Bank of Chicago. Bert Ely3 . Washington. serta mencoba mempelajari kemungkinan penerapannya di Indonesia. Paper dalam “The 35th Annual Conference on Bank Structure and Competition”. Editor: V. Desember 1998. Pencarian kemungkinan alternatif lain program penjaminan merupakan hal yang perlu dilakukan secara terus menerus. 3 Bert Ely. 7 Mei 1999.3.. Bank Indonesia. hal tersebut barangkali masih dapat diterima.32 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Vol. Ditinjau dari karakteristiknya. Untuk tindakan darurat1 .Balino. D. The Federal Reserve Bank of Chicago.T. P Sulit untuk memungkiri bahwa skim penjaminan pemerintah yang bersifat menyeluruh itu akan sangat memberatkan keuangan pemerintah. Kritikan tersebut perlu ditanggapi karena FDIC 1 Menurut V.S. International Monetary Fund. . namun untuk jangka panjang tampaknya perlu dicari alternatif lain yang memungkinkan terselenggaranya program penjaminan yang efisien dan efektif. Kusumaningtuti (1999)2 misalnya. Tulisan ini mencoba mengetengahkan pikiran-pikiran Bert Ely mengenai konsep CrossGuarantee tersebut.C.. telah mencoba mengkaji kemungkinan penggantian ketentuan blanket guarantee tersebut dengan deposit protection scheme. khususnya karena tidak sebandingnya nilai premi dengan cakupan penjaminan disamping adanya peluang untuk melakukan moral hazard.Sundararajan dan Tomas J. tindakan darurat (emergency measures) yang dilakukan bank sentral dapat berupa pemberian fasilitas lender of last resort. 2 Kusumaningtuti S. Dalam hubungan ini.T. skim program penjaminan yang dipilih pemerintah tersebut ternyata lebih bersifat blanket guarantee (penjaminan menyeluruh). Ketentuan Blanket Guarantee dan Kemungkinan Penggantiannya dengan Deposit Protection Scheme. No.Sundararajan dan Tomas J. Latar Belakang Konsep Cross-Guarantee Konsep Cross-Guarantee muncul antara lain karena adanya berbagai kritik dan ketidakpuasan terhadap skim penjaminan yang diterapkan pada Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) di Amerika Serikat.1. seorang pakar deposit insurance telah mengemukakan konsep Cross-Guarantee sebagai salah satu alternatif. 1991. Maret 1999 Pendahuluan rogram penjaminan merupakan salah satu kebijaksanaan yang diambil pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada sistem perbankan nasional yang sempat terganggu karena parahnya krisis ekonomi dan keuangan yang dihadapi Indonesia sejak paroh kedua tahun 1997. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Di Amerika Serikat sendiripun upaya pencarian tersebut masih tetap dilakukan meskipun program penjaminannya dianggap telah jauh lebih maju dan mapan. intervensi terhadap bank-bank/lembaga keuangan bermasalah dan pembentukan deposit insurance. The Cross-Guarantee Concept and Interbank Markets.

“Deposit Insurance Pricing and Social Welfare”. . No. Moreau dan C. sehingga pada gilirannya dapat merugikan masyarakat penyimpan dana. Meskipun penerapan asas TBTF sangat dimungkinkan berdasarkan konsep Reformasi Deposit Insurance (deposit insurance reforms) yang disetujui Kongres Amerika Serikat dan berlaku sejak setelah tahun 1988. termasuk juga pos pinjaman subordinasi.100.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 33 sekarang ini menghadapi risiko yang lebih besar dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya4 . Perhitungan premi oleh FDIC dinilai kurang mencerminkan risiko yang harus ditanggungnya. Journal of Banking & Finance. tampaknya hanya dalam FDIC mengalami kerugian dan deposit growth menekan RR di bawah 1.000.18. Hal ini diungkap dalam tulisan Yoram Landskroner dan Jacob Paroush. hal. laba yang diperoleh FDIC cukup besar sehingga ketergantungan pada premi menjadi semakin lebih berkurang.1091-1108. Disamping itu premi yang dikenakan oleh FDIC sekarang ini juga dinilai terlalu berlebihan (overcharging) untuk bank-bank yang sehat dan terlalu kecil (undercharging) untuk bank-bank yang bermasalah. khususnya bagi bankbank yang “Too-Small-To-Safe” (TSTS). Kritikan berikutnya yang sering ditujukan kepada FDIC adalah berkenaan dengan penetapan premi yang harus dibayar oleh bank-bank yang ikut penjaminan. pada dasarnya yang dijamin oleh FDIC adalah dana pihak ketiga (deposits) maksimum sebesar USD. Pertama. 5 Ide agar FDIC menetapkan premi sebagaimana layaknya perusahaan asuransi swasta mula-mula sekali dilontarkan oleh Merton (1977). komitmen dan kewajiban off-balance sheet serta kewajiban antar bank di atas USD. Tahun 1994. Oleh karena itu.100.000 tidak dijamin. Salah satu hal yang memperoleh kritikan adalah mengenai ruang lingkup penjaminan FDIC yang cenderung agak kurang konsisten sehubungan dengan penerapan pendekatan “Too-Big-To-Fail” (TBTF). Journal of Banking & Finance. No.Sealey dalam “Deposit Insurance and Bank Interest Rate Risk: Pricing and Regulatory Implications”.19 Tahun 1995. Namun dalam hal suatu bank dinilai TBTF maka seluruh pos kewajibannya akan dijamin. Namun dalam prakteknya prinsip tersebut ternyata tidak diterapkan karena dua alasan pokok berikut ini.25% barulah premi akan dinaikkan. dan sebaliknya5 . Dengan kata lain. seharusnya semakin besar risiko yang ditanggung semakin besar premi. hal..25%.sedangkan non-deposits liabilities seperti pinjaman yang diterima. 531-552. Alasan kedua adalah karena jumlah dana yang ditanamkan oleh FDIC telah melebihi ketentuan minimum Reserve Ratio (RR) perbankan sebesar 1. akan tetapi tetap saja ada kritik bahwa perlakuan khusus tersebut dapat menimbulkan diskriminasi diantara sesama bank. sehingga menimbulkan cross-subsidies. pendapatan dari penanaman dana oleh FDIC jauh melebihi biaya-biaya operasionalnya. Arthur F.W. yaitu bank-bank yang 4 Adanya risiko yang lebih besar tersebut antara lain dikemukakan oleh Jin-Chuan Duan. Sebagaimana layaknya perusahaan asuransi. Sebagaimana diketahui.

34 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Karakteristik Sistem Cross-Guarantee dalam Penjaminan Terlepas dari berbagai kritik terhadap skim penjaminan FDIC sebagaimana dikemukakan di atas. secara implisit konsep Cross-Guarantee sebenarnya sudah melekat pada FDIC. namun pendekatan ini dinilai kurang ideal dalam perhitungan premi. apabila diterapkan secara penuh maka ketentuan yang tercakup dalam FDICIA dapat efektif menurunkan moral hazard. ruang-lingkup penjaminan. seharusnya alat ukur yang digunakan adalah leading indicators of banking risks seperti risk mismatches. weak internal controls dan execessive exposure to emerging speculative bubbles. khususnya dalam hal terdapat multiple participant. Struktur seperti ini ternyata dapat mengakibatkan terjadinya regulatory moral hazard pada tingkat pembuat ketentuan. Mekanisme Cross-Guarantee ini memiliki kemiripan dengan mekanisme yang berlaku pada Standby Letter of Credits. Hal ini erat kaitannya dengan belum diterapkannya secara penuh prinsip risk-sensitive premium sebagaimana yang dipersyaratkan oleh Section 302 FDICIA6 serta penggunaan alat ukur risiko yang belum sesuai. meskipun belum seutuhnya. Sekarang ini FDIC menggunakan 2 (dua) alat ukur risiko yaitu Capital Levels dan CAMEL Rating. dan potensial untuk berubah menjadi real moral hazard pada tingkat FDIC. Hal ini terjadi karena pada satu pihak FDIC memiliki kekuasaan besar dalam penentuan premi. ketentuan perbankan. pelaksana pengawasan bank.721-722. . bentuk kontribusi dari bank yang dijamin. Pada Lampiran-1 disajikan perbandingan antara Cross-Guarantee dengan skim penjaminan deposit insurance konvensional untuk masing-masing aspek tersebut. karena masing-masing bank-bank yang dijamin (insured banks) pada akhirnya menjadi pihak yang bertanggung jawab terhadap semua kerugian yang terjadi apabila ada bank-bank yang mengalami kegagalan usaha (failed banks).Kaufman. Melalui premi yang mereka bayar. sumber pembayaran klaim. Penerapan konsep Cross-Guarantee dalam program penjaminan memer-lukan perubahan mendasar terhadap skim penjaminan dan pola pengawasan bank yang sedang berjalan.Kaufman. Perubahan-perubahan tersebut dapat mencakup aspek penyelenggara. Menurut George G. Colorado pada bulan Juli 1998. lembaga penjamin. rapid growth.19. Selanjutnya lihat George G. hal. bank-bank yang ikut program penjaminan FDIC pada hakekatnya saling menjamin satu-sama lain. Contoh yang paling baru dari fenomena regulatory moral hazard ini adalah dalam hal kegagalan BestBank di Boulder. sedangkan pihak lain yaitu birokrasi pemerintah (regulator) berkewajiban untuk meminimumkan kerugian FDIC dan mencegah kegagalan bank (bank failures). “FDICIA and Bank Capital” dalam Journal of Banking & Finance. lembaga lain yang terlibat dan lain-lain. Maret 1999 sehat membayar kewajiban bank-bank yang tidak sehat. 6 FDICIA singkatan dari FDIC Improvement Act. Menurut Bert Ely. No. Tahun 1995. Kritikan lainnya adalah mengenai masih terbukanya peluang untuk melakukan moral hazard dalam sistem yang berlaku sekarang.

Dengan demikian setiap dolar kerugian pasti akan dapat diselesaikan oleh bank-bank yang berada dalam himpunan para penjamin (the universe of guarantors). Apabila direct guarantor gagal memenuhi kewajibannya maka guarantor dari direct guarantor tersebut harus bertanggungjawab. seluruh kerugian karena bangkrutnya suatu bank akan langsung diserap oleh modal bank-bank yang ada dalam sistem perbankan suatu negara. Secara bersama-sama para direct guarantor akan membentuk suatu sindikat direct guarantor (lihat Lampiran-2). Direct guarantor akan melakukan pembayaran dengan menggunakan general funds (cadangan umum) yang merupakan salah satu unsur modalnya. Untuk memastikan bahwa bank-bank yang dijamin mematuhi cross-guarantee contract maka sebuah perusahaan swasta yang disebut “syndicate agent“ akan disewa. Penunjukan syndicate agent ini dilakukan secara terbuka sehingga akan mendorong adanya kompetisi yang sehat dan efisiensi. minimal untuk menyelesaikan kewajiban cross-guarantee dari setiap penjamin. b. Selanjutnya. Dengan demikian. Aturan ini mencakup hal-hal sebagai berikut: ♦ Setiap penjamin (guarantor) harus dijamin oleh penjamin-penjamin lainnya dalam suatu sistem cross-guarantee. akan terjadi pergeseran dari government regulation and deposit insurance kepada contractual regulation and guarantees (swasta). Syndicate agent ini selanjutnya akan menggantikan fungsi pengawas dan pemeriksa bank yang ada sekarang. Setiap bank diberi kebebasan untuk menentukan sendiri penjaminnya (direct guarantornya). Bank yang dijamin (insured bank) selanjutnya akan melakukan pembicaraan dengan direct guarantor-nya untuk mencapai kesepakatan-kesepakatan yang akan dituangkan dalam bentuk perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract). . c. Perjanjian ini akan berfungsi sebagai pengganti ketentuan perbankan yang berlaku sekarang. Sebuah lembaga baru yang disebut Cross Guarantee Regulation Corporation (CGRC) harus dibentuk.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 35 Agar konsep Cross-Guarantee tersebut dapat diimplementasikan dalam praktek maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: a. Perlu kiranya dikemukakan bahwa aturan penyebaran risiko (risk dispersion rule) merupakan salah satu pilar penting dalam konsep Cross-Guarantee. d. secara accrual accounting setiap direct guarantor akan langsung mengakui dan mencatat kerugian sebesar share yang harus ditanggungnya apabila bank yang dijaminnya mengalami kegagalan usaha. Jumlah modal yang tersedia untuk menyerap kerugian juga akan semakin besar dan semua itu terjadi atas dasar komitmen sukarela (committed voluntarily). Lembaga ini berfungsi untuk memastikan bahwa perjanjian penjaminan (crossguarantee contract) yang disepakati para pihak telah sesuai dengan aturan penyebaran risiko (risk dispersion rule) serta ketentuan-ketentuan lainnya. Dengan cara ini.

Cross-Guarantee memerlukan peran aktif dari pihak swasta untuk mewujudkan suatu skim penjaminan yang diarahkan oleh kekuatan pasar (market-driven cross-guarantee). agar dapat terlaksana dengan baik. penerapan konsep CrossGuarantee akan menimbulkan pergeseran peranan dari pemerintah kepada pihak swasta dalam melakukan penjaminan serta pengaturan dan pengawasan bank.36 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Sebagai aturan yang akan menggantikan prudential regulation maka perjanjian penjaminan harus dibuat sedemikian rupa agar dapat menampung prinsip kehati-hatian. baik untuk setiap bank maupun secara aggregat. Karena adanya kebebasan dalam proses merumuskan mekanisme penjaminan untuk setiap bank. ♦ Untuk memastikan bahwa tidak akan pernah ada suatu bank mengalami kegagalan usaha karena menjadi penjamin maka perlu diberlakukan suatu standard stop-loss rule. 7 Dalam hal ini premi merupakan proxy terbaik dari cross-guarantee risk. Manfaat Swastanisasi Penjaminan melalui Cross-Guarantee Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya. setiap bank penjamin tidak diperkenankan menerima pendapatan dari premi7 dalam setahun melebihi 3 (tiga) persen dari total modalnya. yaitu insured banks dan direct guarantor-nya. memenuhi aturan penyebaran risiko (risk dispersion rule) serta ketentuan-ketentuan lainnya yang dianggap penting oleh para pihak. ♦ Setiap penjamin bertanggungjawab sebatas jumlah risiko cross-guarantee yang ditanggungnya. yang menyatakan bahwa “apabila satu penjamin mengalami kerugian cross-guarantee melebihi lima kali premi yang diperolehnya dalam setahun maka kewajiban crossguarantee-nya harus dialihkan kepada direct guarantor-nya. maka konsep Cross-Guarantee dipandang lebih berorientasi ke depan dibandingkan dengan konsep penjaminan (FDIC) yang berlaku sekarang. . Secara aggregat. Demikian pula penentuan perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract) sepenuhnya diserahkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Oleh karena itu. Semangat untuk melakukan privatisasi penjaminan melalui Cross-Guarantee jelas terlihat sejak awal penentuan bank penjamin (direct guarantor) yang dilakukan secara sukarela (voluntary) dan demokratis. Yang perlu dijaga adalah agar perjanjian dimaksud sudah memperhitungkan premi atas dasar sensitivitas terhadap risiko (risk-sensitive premium). Maret 1999 ♦ Setiap perjanjian penjaminan (cross guarantee contracts) harus menyebutkan jumlah minimum para penjamin dan persentase risiko yang ditanggung mereka masing-masing. Skim penjaminan berbasiskan pasar tersebut diharapkan dapat mengeliminir intervensi dari pemerintah. sehingga penjaminan akan terlaksana secara efisien dan efektif.

Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia

37

Dengan swastanisasi penjaminan dan pengawasan bank maka nantinya tidak akan ada lagi fenomena “satu ketentuan yang berlaku untuk semua” (one-size-must-fit-all government regulation) yang selama ini merupakan salah satu kelemahan inheren dari ketentuan perbankan yang dibuat pemerintah. Dalam praktek selama ini sering ditemukan adanya beberapa ketentuan yang sulit diterapkan karena bersifat terlalu umum dan kurang mempertimbangkan karakteristik individual bank. Atas dasar konsep Cross-Guarantee ini, insured banks dapat membuat berbagai ketentuan yang mengatur dirinya secara spesifik berdasarkan kesepakatan dengan direct guarantor-nya. Konsep Cross-Guarantee juga memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi insured banks untuk berdiskusi dan bernegosiasi dengan direct guarantor-nya untuk segala hal termasuk mengenai masa depan bank tersebut. Hal ini pada gilirannya akan membuat strategi business dan perencanaan bank menjadi semakin tajam dan terarah. Pada pihak lain, kegiatan kontrol atau pengawasan akan semakin lebih ketat karena langsung dilakukan oleh kekuatan pasar. Apabila suatu bank memperoleh penilaian yang jelek dari pasar maka yang akan menanggung akibatnya bukan hanya bank yang bersangkutan saja, tetapi juga menjalar kepada bank yang menjadi direct guarantor. Hal-hal tersebut akan membuat persaingan dalam industri perbankan akan semakin ketat dan mendorong efisiensi besarbesaran dalam sektor keuangan. Persaingan sehat juga akan terjadi diantara sesama syndicate agent yang akan berfungsi sebagai pengganti pengawas dan pemeriksa bank yang ada sekarang. Karena kemungkinan akan banyak perusahaan syndicate agent yang muncul maka direct guarantor diberi keleluasaan dalam menentukan syndicate agent yang mereka pilih. Hal ini pada gilirannya dapat mendorong kompetisi yang sehat diantara sesama perusahaan syndicate agent dan mendorong efisiensi pekerjaan penjaminan. Manfaat berikutnya dari konsep Cross-Guarantee dapat ditinjau dari segi ruang lingkup penjaminannya. Tanpa memandang besar kecilnya suatu bank, mereka akan dijamin sebagaimana layaknya bank-bank lainnya, asal bank-bank tersebut dapat menemukan direct guarantor-nya. Oleh karena itu, pendekatan TBTF menjadi tidak relevan sama sekali dalam konsep Cross-Guarantee. Dengan menggunakan konsep Cross-Guarantee, maka transaksitransaksi non-funding obligations seperti account payment, unexpired leases dan kewajiban yang muncul karena tuntutan hukum akan dapat ikut dijamin. Kewajiban yang tidak dapat dijamin hanyalah pinjaman subordinasi karena memiliki karakteristik campuran (hybrid) hutang dengan modal. Sama halnya dengan program penjaminan biasa, maka dalam crossguarantee, unsur modal juga tidak dijamin8 .
8 Pengecualian hanya terjadi dalam hal TBTF, karena ada kemungkinan pinjaman subordinasinya juga akan ikut dibayar, tergantung pada bobot permasalahan bank yang TBTF tersebut.

38

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

Manfaat lainnya dari konsep Cross-Guarantee adalah adanya kesempatan untuk melakukan penyesuaian secara cepat terhadap perhitungan premi berdasarkan kekuatan pasar. Perhitungan tersebut akan mencerminkan risk-sensitivity dari bank yang dijamin dan diharapkan dapat disesuaikan segera baik secara bulanan atau mingguan. Dalam hal ini besarnya premi dapat langsung dibicarakan oleh masing-masing bank dengan direct guarantor-nya. Dengan adanya kemungkinan untuk melakukan perhitungan premi berdasarkan kecenderungan pasar tersebut maka cross-subsidies yang inheren dalam skim penjaminan yang ada sekarang diharapkan akan dapat dihilangkan.

Pengaruh terhadap Pasar Antar Bank dan Sistem Pembayaran
Cross-guarantee dapat menghilangkan counterparty risk yang selama ini melekat dalam transaksi antar bank (lihat Lampiran-3). Sistem Kliring akan terbebas dari risiko tidak dibayarnya tagihan antar bank karena adanya jaminan bahwa direct guarantor masing-masing bank pada akhirnya akan bertanggungjawab sesuai perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract) yang mereka sepakati. Hal ini pada gilirannya memungkinkan terselenggaranya suatu Sistem Pembayaran yang bebas risiko (risk-free basis). Penggunaan konsep Cross-Guarantee ini juga dapat mendorong penggunaan secara luas net settlement procedures dalam Sistem Pembayaran. Bagi bank sentral hal ini akan sangat menguntungkan karena net settlement procedures tersebut dapat lebih efisien dari real-time gross settlement .

Kemungkinan Penerapan Konsep Cross-Guarantee di Indonesia
Skim penjaminan yang sekarang ini diterapkan di Indonesia masih mengandung berbagai kelemahan baik pada tingkat konsep maupun pada tingkat pelaksanaan. Pada tingkat konsep, karena bersifat blanket guarantee (jaminan menyeluruh) maka skim tersebut dapat mengakibatkan beban yang sangat berat bagi keuangan pemerintah, padahal kemampuan keuangan pemerintah sendiri sudah sangat terbatas. Disamping itu peluang untuk moral hazard juga besar karena unsur keadilan yang kurang terpenuhi yang tercermin antara lain dari gejala cross-subsidies dimana bank-bank yang sehat membayar kewajiban bank-bank yang tidak sehat. Pada tingkat pelaksanaan, terdapat pula indikasi bahwa dalam praktek tidak seluruh aspek penjaminan dapat terlaksana. Sebagai contoh, untuk melaksanakan penjaminan transaksi off-balance sheet derivatives perlu ada bukti-bukti bahwa transaksi itu genuine, sesuatu yang sangat sulit dibuktikan kecuali oleh perbankan sendiri. Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas, konsep Cross-Guarantee tampaknya dapat menjadi salah satu alternatif jalan keluar, karena hakekat persoalan penjaminan dikembalikan secara utuh kepada pelaku pasar sendiri yaitu antara bank-bank yang

Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia

39

bertransaksi, sehingga mereka perlu saling menjamin dan saling menjaga kestabilan sistem perbankan. Namun demikian perlu kiranya diingat agar pemilihan konsep Cross-Guarantee tersebut hendaknya tidak terlepas dari tujuan utama dari program penjaminan, yaitu untuk mencegah kegagalan pasar perbankan (banking market failure) dan untuk membangkitkan kembali kepercayaan masyarakat serta menghentikan bank runs9 . Meskipun dapat dipandang sebagai salah satu alternatif jalan keluar, penerapan konsep Cross-Guarantee di Indonesia dapat menimbulkan pro dan kontra. Mereka yang pro mungkin lebih didasarkan atas adanya peluang besar untuk meringankan beban keuangan pemerintah, apalagi dalam situasi krisis seperti sekarang. Sementara itu, yang kontra lebih melihat dari sisi kesiapan perbankan dan kalangan pemerintahan kita dalam menerapkan konsep dimaksud. Hal yang terakhir ini tampaknya ada benarnya juga karena untuk sampai pada konsep Cross-Guarantee perlu dijawab terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

√ Apakah bank-bank di Indonesia sudah sedemikian sehat dan kuat sehingga mampu
untuk saling menjamin (cross-guarantee) sesama mereka ?

√ Apakah bank-bank di Indonesia sudah cukup dewasa untuk mendiskusikan sendiri
sesama mereka hal-hal yang berkenaan dengan penjaminan, business strategy dan prudential regulation untuk dituangkan dalam semacam perjanjian yang mengikat mereka secara bersama-sama ?. Pertanyaan ini cukup penting mengingat selama ini bank-bank di Indonesia sangat tergantung pada petunjuk dan arahan yang diberikan oleh otoritas moneter sebagai pengawas dan pembina bank-bank.

√ Apakah sistem informasi yang terdapat pada masing-masing bank dan secara nasional
telah sanggup menyediakan data/informasi yang diperlukan untuk penetapan premi yang sensitif terhadap risiko ?

√ Apakah pihak otoritas pengawas yang ada sekarang berkenan menyerahkan fungsinya
pada mekanisme pasar melalui syndicate agent dan dapat menerima keberadaan Cross Guarantee Regulation Corporation (CGRC) sebagai lembaga yang akan memverifikasi perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract) ?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas cukup relevan untuk kondisi Indonesia dan memerlukan jawaban-jawaban yang tidak sederhana. Pengkajian lebih lanjut sangat diperlukan untuk mencegah pengambilan keputusan yang keliru yang dapat berakibat kontraproduktif terhadap masa depan sistem perbankan dan sektor keuangan negara kita.
9 Mengenai hal ini lihat misalnya Kerry Cooper dan Donald R.Fraser, “The Risk of Depository Institution Failure and The Role of Deposit Insurance” dalam Banking Deregulation and The New Competition in Financial Services, Ballinger Publishing Company, Cambridge Massachusetts, 1984.

Cambridge Massachusetts. Maret 1999 Daftar Pustaka Bert Ely.19 Tahun 1995.W. The Cross-Guarantee Concept and Interbank Markets.1091-1108. No. Banking Crises: Cases and Issues.Sundararajan dan Tomas J. Yoram Landskroner dan Jacob Paroush. hal.T. V.Balino. 7 Mei 1999. Arthur F.Fraser. No. Editor V.T.Sundararajan dan Tomas J. 1984.721-722.C. “Deposit Insurance Pricing and Social Welfare” dalam Journal of Banking and Finance. “The Risk of Depository Institution Failure and The Role of Deposit Insurance” dalam Banking Deregulation and The New Competition in Financial Services. Paper dalam “The 35th Annual Conference on Bank Structure and Competition”. Kusumaningtuti S. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. hal. Kerry Cooper and Donald R. No. Tahun 1995. Ballinger Publishing Company.Kaufman.19.Moreau and C.3..S. “FDICIA and Bank Capital” dalam Journal of Banking & Finance. Tahun 1994. The Federal Reserve Bank of Chicago. Bank Indonesia. International Monetary Fund.Balino. 1991. Jin-Chuan Duan.Sealey dalam “Deposit Insurance and Bank Interest Rate Risk: Pricing and Regulatory Implications” dalam Journal of Banking & Finance. Vol. Desember 1998. Ketentuan Blanket Guarantee dan Kemungkinan Penggantiannya dengan Deposit Protection Scheme. George G..1.18. Washington. D. No. .40 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. hal.531-552.

Premi (namun belum memenuhi kriteria "risk-sensitive premium"). Bank Sentral dan FDIC Prudential regulation konvensional Swasta Sesama bank.Lampiran-1 PERBANDINGAN ANTARA CROSS-GUARANTEE DENGAN DEPOSIT INSURANCE KONVENSIONAL No. Berdasarkan kesepakatan antara bank yang dijamin (insured banks) dengan direct guarantor-nya ("Contractual Regulation"). ASPEK DEPOSIT INSURANCE CROSS-GUARANTEE Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 1 2 3 Penyelenggara Lembaga Penjamin Ruang-lingkup Penjaminan Pemerintah FDIC Terbatas dan sangat subjektif dalam penentuan bank-bank yang "TBTF" (Too-Big-Too-Fail). 4 Bentuk kontribusi dari yang dijamin 5 Sumber pembayaran klaim General funds (general reserves) dari direct guarantors. baik sebagai direct guarantor maupun indirect guarantor. 41 . Dibentuk lembaga baru yang disebut Cross Guarantee Regulation Corporation (CGRC) untuk memastikan bahwa perjanjian jaminan sudah sesuai aturan penyebaran risiko dan ketentuan lainnya. dilaksanakan oleh "Syndicate Agent". Seluruh pos-pos kewajiban. kecuali Pinjaman Subordinasi. 8 Lembaga lain yang terlibat Tidak ada lembaga lain yang terlibat kecuali FDIC. Bank Sentral dan "insured banks". Hasil pengelolaan dan penanaman premi pada sektor-sektor yang menguntungkan. Premi ("risk sensitive premium"). 6 7 Pelaksana pengawasan bank Ketentuan perbankan Murni swasta.

Maret 1999 Monitoring fee Obligation to protect competitively sensitive data Ensures that cross-gurantee contract complies with risk dispersion rules and other statutory requirements Syndicate Agent (Independent of any other party) monitoring responsibility Fiduciary responsibility Delegation of Guaranteed Bank of Thrift complies with risk dispersion rules and other statutory requirements Ensures that cross-guarantee contract Syndicate of Direct Guarantors = Bank or non-depository guarantor  1998 Ely & Company Inc.42 Lampiran 2 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Permission granted to reproduce with attribution Cross-guarantee commitment Guarantee premium Contractual relationship Contract approval .

thereby ensuring payment finality. bilateral caps. to protect clearing systems participant from a default by a counterparty. securities. and collateralized net debit positions. stc) that are direct participants in the clearing system Guarantors of counterparties 43 . cross-guarantee contracts will ensure payment finality. including daylight overdraft limits. Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia In a World of Cross-Guarantees Clearing systems will be able to operate much more efficiently and safely where balances due to clearing system participants are fully guaranteed by the guarantors of the clearing system’s counterparties. firms. Clearing Systems Failure Failure Flow of insolvency loss if a clearing system participant becomes insolvent Counterparties (banks. In effect.Lampiran 3 Using Cross-Guarantees to Ensure Payment Finality Will Permit Clearing Systems to Operate Much More Efficiently by Eliminating Counterparty Risk Present System Clearing systems presently utilize a variety of devices.

Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 45 KINERJA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DAN PERILAKU MASYARAKAT PEDESAAN *) Sumantoro Martowijoyo **) Setelah disuguhi banyak topik moneter dengan teknik-teknik analisis canggih ekonometrika tingkat pascasarjana. di samping berkembangnya kelompok-kelompok swadaya masyarakat sebagai bentuk lembaga keuangan yang paling sederhana di tingkat “akar rumput”. Tergambar pula masih lugu dan mandirinya sifat pengusaha mikro perdesaan nasabah LKM dibanding pengusaha konglomerat nasabah bank umum: apabila kenaikan pendapatan pengusaha mikro perdesaan dipakai untuk menambah tabungan dan melunasi tunggakan. Di luar BRI Unit yang merupakan kisah sukses tingkat dunia. tidak demikian halnya pengusaha konglomerat. karena sebagian justru sengaja memacetkan kreditnya. Badan Kredit Kecamatan di Jawa Tengah. suku bunga tabungan dan suku bunga pinjaman. dan kiranya akan menjadi topik pembicaraan tersendiri. Dari hasil analisis dapat diungkapkan. *) Bagian dari tulisan yang sedang dalam proses. Di era pengentasan kemiskinan ini. tulisan ini mengajak pembaca untuk turun ke dunia nyata tempat sebagian besar saudara kita sebangsa hidup. misalnya: jam kerja. Bank Indonesia . tingkat penghasilan nasabah. bahwa faktor yang paling mempengaruhi kinerja adalah jarak ke lokasi nasabah dan selang waktu pemrosesan kredit. Di sini dibahas beberapa faktor yang menggambarkan perilaku masyarakat perdesaan yang mempengaruhi kinerja lembaga keuangan mikro. jarak rata-rata antara lokasi LKM ke lokasi nasabah. Bank Indonesia **) Sumantoro Martowijoyo : Peneliti pada Tim Penyiapan Pusat Pendidikan dan Riset. Ukuran “kinerja” sendiri jauh berbeda dengan kriteria CAMEL yang tidak akan mudah tercerna oleh kesahajaan lembaga-lembaga tersebut. Indonesia telah menjadi laboratorium bagi penelitian di bidang Lembaga Keuangan Mikro (LKM). USDM. karena memiliki berbagai jenis sejak lama. kenangan dan salam perpisahan penulis kepada Urusan Kredit. ada Badan Kredit Desa yang didirikan di zaman Belanda. waktu pemrosesan kredit.

para pakar merekomendasikan prinsip keswadayaan dan kesehatan (viability) dari programprogram pengentasan kemiskinan. simpanan wajib. Dengan begitu. tanpa melihat status hukumnya. pencarian model lembaga keuangan mikro1 yang tepat untuk melayani rakyat miskin dilakukan di mana-mana. konotasinya terkait dengan kemiskinan . dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) bergiat membina keswadayaan masyarakat melalui kelompok-kelompok swadaya masyarakat (KSM). kegiatan yang dilakukan secara kelompok sudah merupakan budaya masyarakat yang berazaskan paguyuban. di samping BRI Unit yang merupakan kisah sukses dunia. timbullah gagasan untuk menambah jumlah dan jenis uang setoran menjadi simpanan pokok. Kelompok Swadaya Masyarakat Di Indonesia. dan dalam pengembangan LKM melalui Proyek Kredit Mikro yang didanai bersama Asian Development Bank. Maret 1999 Latar Belakang D engan disepakatinya ikrar dalam Microcredit Summit di Washington DC Amerika Serikat pada tahun 1997 untuk membebaskan 100 juta penduduk dunia dari kemiskinan. Model Grameen Bank Bangladesh direplikasikan di manamana. Tiga lembaga yang dipilih adalah yang efektif beroperasi di tingkat “akar rumput” dan menerapkan prinsip suku bunga pasar yang terbukti lestari. terdapat banyak LKM yang semiformal maupun informal di Indonesia. Indonesia sebetulnya sudah lebih maju dalam penciptaan lembaga keuangan mikro sejak zaman Belanda. tapi untuk Indonesia karena lokasinya banyak pula di perkotaan maka dipilih istilah yang dikenal sejak Summit ini. Di luar perhatian para penentu kebijakan kita. dan simpanan sukarela. Istilah “mikro” selain menunjuk skala yang lebih kecil dari yang kecil.46 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Dalam pengembangan KSM Bank Indonesia ikut berkiprah melalui Pengembangan Hubungan Bank dengan Kelompok Swadaya Masyarakat (PHBK) yang gagasannya berasal dari APRACA (Asia Pacific Rural and Agricultural Credit Association). Setelah dua dasawarsa diwarnai kreditkredit murah bersubsidi yang sebagian tidak jatuh ke tangan kelompok sasaran dan mengakibatkan merosotnya kinerja serta moralitas lembaga keuangan pelaksananya. Apabila kebutuhan akan uang tersebut makin terasa dan jumlah yang diperoleh dari arisan terlalu kecil. 1 banyak pula yang menyebutnya rural financial institutions (RFI) atau lembaga keuangan pedesaan (LKP). Kegiatan arisan sudah tumbuh menjamur diperdesaan dan perkotaan dan jumlahnya mungkin melebihi satu juta. Lembaga Keuangan Mikro di Indonesia Selain lembaga yang formal seperti BRI Unit dan BPR yang secara hukum diakui sebagai lembaga keuangan formal (bank).

Akan tetapi mengingat banyak faktor. Sedangkan bank desa menghimpun tabungan berupa uang dan memberikan kredit berupa uang. Selama zaman Belanda sistem BKD telah berfungsi dengan baik sebagai lembaga keuangan bagi rakyat perdesaan. kredit pasaran diberikan oleh BKD yang bukanya setiap hari pasaran tertentu . 2. Suharto. Pembukuan dilakukan oleh Juru Tata Usaha (JTU) yang bekerja untuk 6 BKD secara bergilir (BKD umumnya buka sekali seminggu pada hari atau hari pasaran tertentu). BI sendiri menyetujui BRI meneruskan tugas pengawasannya terhadap BKD dengan bantuan keuangan dari BI. Lumbung desa mengumpulkan padi untuk diberikan sebagai pinjaman berupa padi kepada petani di saat mereka membutuhkan. semata-mata berdasarkan penilaian kelayakan nasabah oleh Komisi I. 357 tahun 1929. Badan Kredit Desa Badan Kredit Desa (BKD) terdiri dari lumbung desa yang didirikan tahun 1897 dan bank desa yang didirikan sekitar tahun 1904 (P. pengawasan terhadap BKD sebetulnya ada di tangan Bank Indonesia (BI). Seperti halnya di Filipina. 1995). Berkembangnya KSM di Indonesia tidak lepas dari berkembangnya lembaga swadaya masyarakat (LSM) dari tahun 1960-an sampai awal 1990-an yang jumlahnya diperkirakan antara 1000-2000 buah (Saidi. berguguran di zaman pendudukan Jepang dan Perang Kemerdekaan. Sistem kredit BKD sederhana.7 tahun 1992 yang mencabut berlakunya Staatsblad no. serta di akhir tahun membagikan dividen bagi para pemegang saham. 1988) dan keduanya dikukuhkan dengan Staatsblad nomor 357 tahun 1929. Sebagai bank sekunder dalam pembinaan BRI. Pengawasan terhadap BKD dilakukan secara langsung oleh Mantri BKD yang mewilayahi satu kemantren yang terdiri dari 18 BKD. di mana untuk peminjaman uang ditarik pula semacam “jasa” yang dipotongkan dari jumlah pinjaman. Jumlah kredit yang dapat diberikan sampai dengan Rp 400.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 47 perkumpulan arisan telah berubah menjadi koperasi kredit (credit union). terutama terdiri dari kredit pasaran dan mingguan yang berjangka waktu 12 pasar2 atau 12 minggu dengan pembayaran angsuran pokok maupun bunga dengan jumlah yang tetap. kemudian mulai tumbuh kembali sesudah kemerdekaan. banyak LSM yang lahir dan tumbuh untuk dapat “menangkap” bantuan dari badan atau LSM internasional. organisasi dan pengelolaan BKD dipertahankan tetap seperti konsep semula yaitu Komisi BKD terdiri dari kepala desa sebagai ketua komisi (Komisi I) dan 2 orang pemuka masyarakat atau aparat desa sebagai Komisi II dan III. Satu pasar=5 hari (kalender Jawa). Perkumpulan semacam ini secara tidak sadar sudah berfungsi sebagai lembaga keuangan perdesaan: menghimpun dana dan memberikan kredit kepada anggota.000 tanpa agunan. memungut bunga berupa “jasa”. Dengan berlakunya Undang-undang Perbankan No.

lumbung desa tetap menjadi sumber kredit bagi rakyat kecil untuk konsumsi sehari-hari (Dibyo Prabowo. Badan Kredit Kecamatan Badan Kredit Kecamatan (BKK) adalah lembaga keuangan yang beroperasi di tingkat kecamatan yang didirikan oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Tengah di awal tahun 1970an dengan status sebagai suatu proyek.48 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. misalnya. dan (3) mendidik masyarakat pedesaan untuk gemar menabung (BP-BKK. Di tengah maraknya kredit Bimas. sedangkan untuk nasabah ulangan yang lancar pencairan kredit dapat dilakukan pada hari yang sama. Jumlah BKD di Jawa dan Madura tercatat 5345 terdiri dari 4806 yang aktif dan 539 yang tidak aktif (BRI. Manajemen BKK terdiri dari Pimpinan. Pemegang Kas dan Pemegang Buku. 1981). Jumlah BKK di seluruh Jawa Tengah 510. di pihak lain apabila BKK kekurangan modal kerja BPD akan memberikan pinjaman likuiditas. mingguan. 11 tahun 1981 dikukuhkan menjadi badan usaha milik daerah. dibukukan terpisah sebagai angsuran pokok dan bunga. Berdasarkan Perda no. BKD mampu menjangkau masyarakat paling miskin di pedesaan. Prosedur permohonan kredit kepada BKK cukup sederhana dan untuk jumlah kredit sampai dengan Rp 500. dan kemudian dengan Peraturan Daerah (Perda) No. yaitu sebesar USD 38 di tahun 1993 (Christen. Sama dengan BKD jumlah angsuran sama setiap pembayaran. keberadaannya dibutuhkan oleh rakyat dan telah membuktikan kelestarian dan kemandiriannya dalam arti tidak pernah menerima dana maupun subsidi bunga dari pemerintah. yaitu kebanyakan kredit pasaran.p. Jenis kredit BKK sama dengan BKD. (2) menciptakan pemerataan kesempatan berusaha di pedesaan. dan musiman (6 bulan).1994). BKK diharuskan menyimpan kelebihan alat likuidnya di BPD. Kinerja manajemen BKK dipantau oleh Camat sebagai penanggung jawab BKK di wilayahnya. 202 di antaranya sudah berstatus BPR. Maret 1999 Lepas dari suara yang mendiskreditkan BKD. bulanan (3 bulan). BKK didirikan dengan tujuan: (1) mendekatkan modal pada masyarakat pengusaha miskin di perdesaan dengan cara mudah.11 tahun 1981 Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jawa Tengah ditugasi sebagai pembina dan pengawas teknis BKK. tercermin dari paling rendahnya jumlah kredit rata-rata BKD dibanding beberapa lembaga keuangan mikro yang terkenal di dunia. 1995. Sebagai LKM. 1993) .000 tidak diperlukan agunan selain rekomendasi kepala desa. hanya menuruti peraturan BPR. 1998).584 (DAI. jumlah pinjaman rata-rata per unit Rp 96 juta dan per nasabah Rp 132. ratarata peminjam per unit 978 orang. murah dan mengarah.26). Selang waktu antara saat pengajuan permohonan dengan realisasi kredit untuk nasabah baru paling lama seminggu.

suku bunga tabungan (ITAB). dan suku bunga pinjaman (IPIN). penghasilan rata-rata nasabah (RAYNAS). BKD. BIRUP dihitung dari jumlah biaya operasional dibagi dengan saldo pinjaman. jarak rata-rata ke lokasi nasabah (JARAK). Mengenai kriteria kinerja. tingkat akses kepada peminjam (AKPEM). 1997). AKPEN dan AKPEM adalah masingmasing jumlah penabung dan peminjam dibagi jumlah penduduk di wilayah kerja LKM. BIRUP) dan laba per rupiah kredit (LARAP). persentase jumlah penunggak (PERPUNG).————— N3 . pertama dengan uji Kruskal-Wallis untuk beda populasi dan uji Kendall untuk kesesuaian (concordance) pemeringkatan faktor-faktor kinerja. beserta masing-masing 3 nasabah per LKM yang diambil secara acak. dari pengkajian terhadap falsafah dan hakekat LKM serta pendapat para praktisi keuangan perdesaan. selang waktu pemrosesan kredit (SELANG).Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 49 Metodologi Penelitian Penelitian ini dilakukan di lapangan terhadap 105 lembaga keuangan mikro (LKM) di Jawa Tengah. kemudiaan untuk hubungan antarfaktor kinerja dengan korelasi jenjang Spearman3 . penulis mengajukan beberapa faktor penentu kinerja LKM. Kegunaan kriteria ini akan dapat dipahami setelah selesai membaca hasil analisis di belakang. jam kerja. sedangkan LARAP merupakan laba bersih sebelum pajak dibagi saldo pinjaman. Keuntungan penggunaan statistik nonparametrik adalah tidak perlu dibuktikannya kenormalan distribusi data (yang merupakan prasyarat bagi sahihnya penggunaan statistik parametrik) dan dapat diterapkannya pada sampel kecil atau data kualitatif (Siegel. BKK) diambil proporsional berdasarkan jumlah populasinya masing-masing secara purposif. efisiensi (biaya usaha per rupiah kredit. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kinerja LKM Terdapat beberapa faktor atau variabel yang secara rasional dianggap mempengaruhi kinerja. 3 N 6 Σ di 2 i=1 rs = 1 .N di mana rs = koefisien korelasi Spearman N = jumlah pasangan observasi d = perbedaan jenjang yang diperoleh dari setiap pasangan observasi . yang merupakan 34 % dari populasi. PERPUNG adalah persentase jumlah penunggak (debitur kredit macet) dari jumlah peminjam. untuk masing-masing jenis LKM (KSM. yaitu tingkat akses kepada penabung (AKPEN). seperti: umur LKM. Analisis data primer dilakukan dengan teknik statistik nonparametrik.

076(.0276(.000).109) dan berpengaruh tidak signifikan terhadap laba per rupiah kredit (rs=0. 3. Dari hasil analisis korelasi peringkat Spearman antara variabel nonkinerja dengan faktor penentu kinerja terdapat beberapa temuan yang berhubungan dengan perilaku nasabah.3981. α=0. α=0.000) -.2073(.3981 (.2864.4959. membuktikan bahwa angka rata-rata yang dianalisis memang berasal dari tiga populasi yang berbeda dan pemeringkatan semua faktor kinerja dilakukan secara konsisten. .1325. α=0.000).178) -. α=0. menurunkan laba per rupiah kredit secara sangat signifikan (rs=-0. Suku bunga pinjaman berpengaruh sangat signifikan terhadap jumlah peminjam (rs=0.2292(. berarti bahwa suku bunga pinjaman sudah ada di batas atas.019) . Selang dan Sukubunga Pinjaman terhadap Faktor Kinerja AKPEN JARAK SELANG IPIN -.000) -. Tabel 1. meningkatkan biaya per rupiah kredit secara tidak signifikan (rs=0. Jauhnya jarak berpengaruh sangat signifikan terhadap penurunan jumlah penabung (rs=-0. Maret 1999 Hasil Analisis Uji Kruskal-Wallis menghasilkan nilai chi-kuadrat yang sangat signifikan. berpengaruh cukup signifikan terhadap jumlah penunggak (rs=0. demikian pula uji Kendall menghasilkan nilai W yang sangat signifikan. α =0.3406.2073.019) juga berpengaruh sangat signifikan dalam penurunan laba per rupiah kredit (rs=-0. α = 0.1183(.4816.4959(. serta peningkatan jumlah penunggak (rs=0. Lamanya waktu pemrosesan kredit berpengaruh menurunkan jumlah peminjam cukup signifikan (rs=-0. α=0. α=0.003) . α=0.50 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.3406(.474).0706.003).006).780) 1.000) .2864(.000) xxxxxx xxxxxxx AKPEM -.229.178).4816(. α=0.1183. Korelasi antara Jarak.000) dan biaya per rupiah kredit (rs=0.109) BIRUP . Faktor yang berpengaruh paling besar terhadap faktor kinerja adalah jarak antara lokasi nasabah ke kantor atau pos desa LKM (JARAK).229) xxxxxxx LARP -. Faktor lain yang cukup berpengaruh kepada faktor kinerja adalah lamanya waktu pemrosesan kredit (SELANG). mengingat banyaknya kredit murah serta persaingan berat dari BRI Unit 2.780). meningkatkan jumlah penunggak walaupun tidak signifikan (rs=0.2674.2674(. α=0. apabila dinaikkan akan menurunkan jumlah peminjam dan mengakibatkan meningkatnya jumlah penunggak. α=0.000) dan jumlah peminjam (rs=-0.0276.2292.1325(.006) PERPUNG .474) .

5500. α=0. yaitu apabila penghasilan pengusaha mikro nasabah BKK meningkat. α=0.985) .0063(. nasabah BKK yang relatif lebih mampu meningkatkan tabungan tetapi terus memanfaatkan kredit. mereka .196). (c) Walaupun begitu terlihat masih adanya sifat jujur dan mandiri pada pengusaha mikro nasabah BKK dibanding pengusaha besar nasabah bank umum saat ini.876) -.012) .1840(. (a) Dilihat LKM sebagai keseluruhan.027).610) -.339) . dapat diungkapkan beberapa temuan yang menarik.169 di tahun 1992 dan melonjak menjadi Rp 132. Akan tetapi apabila dianalisis per jenis LKM.516) . yaitu biaya angkutan dan hilangnya waktu meninggalkan pekerjaan. nasabah yang penghasilannya relatif lebih tinggi mempunyai akses kepada pelayanan tabungan dan pinjaman yang lebih besar dibanding dengan nasabah yang 98. jarak mempunyai dampak yang lebih kuat terhadap berkurangnya jumlah peminjam dan bertambahnya jumlah penunggak dibandingkan suku bunga pinjaman.0565(. (b) Dilihat per segmen nasabah terdapat perbedaan perilaku apabila penghasilannya meningkat: nasabah BKD yang relatif kurang mampu lebih suka menabung dan tidak meminjam. α=0. terlihat bahwa penghasilan nasabah paling berpengaruh terhadap kinerja BKK.000) .5500(. 1993).645) -.0309(.2784(.1466(.1245(. Tabel 2 Korelasi antara Penghasilan Rata-rata Nasabah dengan Faktor Kinerja untuk Seluruh LKM dan Per Jenis LKM AKPEN LKM (105) KSM (28) BKD (61) BKK (16) -.2912.585) -. karena jauhnya jarak lokasi LKM akan menyebabkan nasabah malas untuk berhubungan karena besarnya “biaya transaksi” yang harus ditanggungnya.3412(.668) →0 4.1281(.0025(.196) PERPUNG .456) .027) AKPEM .949) -.2912(.567) . pengaruh penghasilan nasabah terhadap kinerja tidak begitu signifikan.3194(.3412. Akan tetapi dilihat dari kuat dan signifikannya korelasi.1131(.297) LARP -. dan jumlah penunggak (rs=-0.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 51 dan BPR yang memperoleh fasilitas kredit dari pemerintah. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pada BKK.3670(.274) BIRP .1131(. sedangkan pengaruhnya pada BKD kurang signifikan.251) -.274). sama dengan perilaku pengusaha besar nasabah bank umum. Dari analisis mengenai pengaruh penghasilan nasabah dan jumlah tabungan rata-rata terhadap kinerja.0539(. terutama kepada jumlah penabung (rs=0.349) .594 di tahun 1993 (DAI.0601(. jumlah peminjam (rs=0. Hal sederhana ini kiranya dapat dimaklumi.0237(.

Pengawas BPR hendaknya tidak melihat pemberian kredit dalam jumlah kecil-kecil pada LKM sebagai suatu hal yang “tidak efisien” atau “tidak maju”. Mengingat jarak merupakan variabel yang paling mempengaruhi kinerja. belum tentu mengurangi jumlah penunggak. (b) pelarangan pembukaan kantor di bawah kantor cabang kiranya dapat dihapuskan. oleh karena (a) kriteria CAMEL tidak menampung aspirasi dan misi LKM (tersurat ataupun tersirat dalam Undang-undang) sebagai pelayan keuangan bagi masyarakat papan bawah. 4. BKD telah beroperasi selama satu abad dan BKK selama hampir tiga dasawarsa dengan pendekatan pasar yang telah membuat mereka lestari (sustainable) dan mandiri. Mendorong LKM untuk memberikan kredit dalam jumlah yang semakin besar berarti menjauhkan LKM dari nasabahnya yang miskin. karena hal itu justru sesuai dengan misi LKM membantu pengentasan kemiskinan. (c) pelarangan/penutupan pos pelayanan justru akan lebih memperparah kinerja LKM. karena pengertian “kantor di bawah kantor cabang” bagi LKM umumnya bukan merupakan gedung atau kantor seperti bank umum. seperti terlihat pada gejala pemberian kredit BKK di atas. 3. sedangkan pemrosesan kredit ulangan hendaknya dapat diselesaikan pada hari yang sama. maka keputusan pemberian kredit kepada peminjam baru hendaknya dilakukan sesegera mungkin. 2. karena sebagian dari mereka sengaja menunggak dan memacetkan kreditnya. tetapi mungkin hanya sekedar meja dan kursi tempat petugas lapangan menemui nasabahnya. terus memanfaatkan kredit dan tidak lupa melunasi tunggakannya. Adanya kredit dari pemerintah untuk BPR condong menguntungkan BPR Gaya Baru yang dimiliki para pemodal berdasi. Otoritas perbankan hendaknya tidak melarang pembukaan pos pelayanan ataupun memberi sanksi berupa penutupan pos pelayanan (“kantor di bawah kantor cabang”) kepada LKM yang sudah menjadi BPR karena alasan tingkat kesehatan yang tidak baik. Maret 1999 meningkatkan tabungan. karena menghambat akses kepada masyarakat yang merupakan sumber dana dan penghasilannya. tetapi apabila pendapatan pengusaha konglomerat nasabah bank umum meningkat (dan pasti setiap tarikan napas menghasilkan uang). .52 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. keadaannya justru dibuat seperti “telor di ujung tanduk” karena banyaknya programprogram kredit murah bersubsidi di perdesaan. LKM diharapkan membuka sebanyak mungkin pos pelayanan dan/atau mengintensifkan kunjungan lapangan. Implikasi Kebijakan 1. Mengingat pula bahwa lamanya waktu pemrosesan kredit juga berpengaruh cukup kuat kepada kinerja.

Westview Press. Sidney. LSM dan Kebangkitan Masyarakat. Statistik Nonparametrik.1997 Suharto. July 1995 Development Alternatives. Gary E. Jakarta. 1981 Saidi. PT Gramedia Pustaka Utama-Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. 1995 Siegel.(ed). West Java.Jakarta. Jakarta. Zanzawi Suyuti & Landung Simatupang. Robert Peck. 1988 . dkk. Pandu. Boulder. Inc. Sejarah Pendirian Bank Perkreditan Rakyat. East Java. Maximizing the Outreach of Microenterprise Finance. Zaim. Di era reformasi ini pemerintah seyogianya lebih membina semangat keswadayaan masyarakat dan tidak menggunakan program-program kredit murah sebagai alat politik karena merusak moralitas masyarakat perdesaan yang masih jujur seperti terbukti dari perilakunya terhadap LKM. Perkembangan BKK dan BPR-BKK. 31 Maret 1994 Christen. dalam Hansen. May 1993 Dibyo Prabowo dan Sayogyo: The Green Revolution: Sidoarjo. 10. terj. USAID Program and Operations Assessment Report No. Secangkir Kopi Max Havelaar. 497-0341) in Indonesia.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 53 memungkinkan mereka menurunkan sukubunga kreditnya sehingga menambah pesaing bagi LKM.. Project Completion Report of Technical Support Provided to the Financial Institutions Development Project (USAID No. Daftar Pustaka Badan Pembina BKK Propinsi Jawa Tengah. and Subang. Agricultural and Rural Development in Indonesia. LPPI.Gramedia.

Rp 20 juta). Budi Wikanto. serta kekurangan likuiditas juga disebabkan karena obligasi yang diterbitkan untuk membayar obligasi yang jatuh tempo. Bank Indonesia. UREM. Potensi Perum Pegadaian untuk lebih berperan dalam pemberdayaan ekonomi rakyat dapat dilihat dari keberpihakan terhadap masyarakat berpendapatan rendah (mayoritas nasabah). serta mudahnya prosedur gadai. Perum Pegadaian (PP) merupakan salah satu lembaga keuangan yang masih mampu bertahan. Bagian Studi Struktur dan Perkembangan Pasar Keuangan. relatif kecilnya skala kredit yang diberikan (Rp 5. UREM. Bagian Studi Struktur dan Perkembangan Pasar Keuangan. Porsi kredit yang diberikan oleh PP semakin meningkat walaupun secara nominal relatif lebih kecil dibandingkan dua lembaga tersebut. Ridho Hakim. dan Sudiro Pambudi. Gunawan : Asisten Peneliti.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 55 KEGIATAN USAHA PERUM PEGADAIAN DAN PERANANNYA DALAM MENDUKUNG PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT Satrio Wibowo dan Gunawan *) Krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengan tahun 1997 telah berdampak luas terhadap segala aspek perekonomian. . *) Penulis utama dari paper ini adalah : Satrio Wibowo : Kepala Bagian Pendidikan dan Pengembangan Pegawai. bahkan menunjukkan peningkatan kinerja baik operasional maupun keuangan. email: gunawan@bi. sistem manajemen yang sentralistik sehingga berpotensi menghambat kinerja. UREM.d.id. suku bunga yang dikenakan relatif rendah. Bagian Studi Struktur dan Perkembangan Pasar Keuangan. Permasalahan lain yang bersifat struktural antara lain rentang kendali yang terlalu luas namun tidak ditunjang sistem pengawasan yang memadai. serta tidak adanya sistem yang mampu mengantisipasi resiko fluktuasi harga barang jaminan khususnya emas. Erwin Gunawan. BI. kurang diminati masyarakat.go. USDM. Untuk mengatasi permasalahan tersebut Perum Pegadaian telah menerima bantuan dalam bentuk RDI dari pemerintah dan KLBI. BI. Penulisan paper ini juga dibantu oleh Didy Laksmono. khususnya sektor perbankan yang berakibat terhentinya aliran kredit perbankan. beberapa kelemahan prosedur yang berpotensi menimbulkan penyimpangan. Dalam masa krisis ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dibandingkan dengan peer-groupnya (BPR dan BRI Udes) secara umum kinerja PP relatif lebih baik. Makalah ini ditulis ketika yang bersangkutan masih menjadi Peneliti Ekonomi .000 s. Sedangkan untuk meningkatkan efisiensi pembiayaan usaha kecil perlu dikaji kemungkinan pemberian izin bagi perusahaan/lembaga lain untuk bergerak dalam usaha pegadaian. Untuk mewujudkan potensi tersebut terlebih dahulu harus dibenahi berbagai kelemahan khususnya kelemahan struktural yang ada. Dalam kondisi krisis tersebut. BI. Perum Pegadaian menghadapi permasalahan temporer berupa lonjakan nasabah (puncaknya terjadi pada Juni 1998) yang mendorong Perum Pegadaian melakukan overdraft sangat besar atas fasilitas kredit yang diperoleh dari BRI.

. khususnya masyarakat kecil.7% pada tahun 1997 menjadi -13. Salah satu langkah yang ditempuh adalah pemberdayaan ekonomi rakyat yang bertujuan meningkatkan akses rakyat kecil terhadap perekonomian dan mengutamakan kepentingan rakyat.68% pada tahun 1998. Pendahuluan 1. Selain itu. Dari sisi permintaan. telah mengakibatkan terjadinya kontraksi perekonomian dan mendorong meningkatnya jumlah penduduk miskin.4 juta orang tiap tahun. Hal tersebut didorong pula oleh meningkatnya jumlah pengangguran sebagai dampak dari banyaknya perusahaan yang pailit dan melemahnya investasi. Maret 1999 I.5 juta orang. Jika pada tahun 1996. Sehingga dikhawatirkan akan semakin memperparah kondisi perekonomian nasional Dalam upaya penyehatan perekonomian nasional.1.63% pada tahun 1998. Melonjaknya jumlah pengangguran dan penduduk miskin tersebut. Pemerintah juga mendorong komitmen perbankan dalam 1 Badan Pusat Statistik. melambatnya pertumbuhan ekonomi terutama disebabkan oleh tingginya biaya impor bahan baku.31% pada tahun 1997 menjadi 77. Tingginya laju inflasi terutama disebabkan oleh dua hal pokok. Pemerintah telah menempuh serangkaian langkah dan tindakan yang juga memperoleh bantuan dari beberapa lembaga internasional. Jumlah perkiraan tersebut terdiri dari 22. maka berdasarkan perkiraan BPS jumlah tersebut pada pertengahan 1998 meningkat empat kali mencapai 79. pada tahun 1998 diperkirakan membengkak hingga mencapai 13. melambatnya pertumbuhan ekonomi disebabkan oleh melemahnya permintaan domestik.68 juta orang warga perkotaan dan 56. Latar Belakang Masalah K risis ekonomi di Indonesia yang berlangsung sejak pertengahan tahun 1997 telah berdampak luas terhadap hampir semua aspek perekonomian. Sedangkan laju inflasi yang diukur dengan IHK meningkat tajam dari 10. jika tidak dapat diatasi akan berpotensi mendorong terjadinya gejolak sosial ekonomi yang lebih luas. khususnya konsumsi rumah tangga dan investasi swasta.8 juta orang.35 juta orang. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) merosot dari 4.56 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. yaitu melemahnya nilai tukar rupiah (imported inflation) dan kelangkaan pasokan (supply shortage) khususnya sembilan bahan pokok. ” Perhitungan Jumlah Penduduk Miskin 1998”. jumlah penduduk miskin di Indonesia berdasarkan data SUSENAS berjumlah 22. Dari sisi penawaran. Jumlah pengangguran yang pada masa sebelum krisis berkisar antara 3 . Hal ini tercermin dari beberapa indikator ekonomi makro seperti pertumbuhan ekonomi yang merosot tajam.67 juta orang warga pedesaan1 . Krisis ekonomi yang berkepanjangan. laju inflasi yang meningkat dan angka pengangguran yang melonjak. Meningkatnya inflasi tersebut telah mengakibatkan semakin melemahnya daya beli masyarakat.

sumber daya manusia yang memadai serta jaringan usaha yang luas. mudah. antara lain dengan melaksanakan program Jaring Pengaman Sosial (JPS) untuk memberdayakan masyarakat (khususnya yang terkena dampak langsung dari krisis ekonomi). 1. Sektor keuangan khususnya perbankan yang selama ini sangat berperan dalam menggerakkan roda perekonomian. Hal tersebut ditandai dengan meningkatnya jumlah non performing loan.3. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari peran usaha Perum Pegadaian serta potensinya untuk ikut berperan dalam pelaksanaan program Jaring Pengaman Sosial (JPS). tentunya sangat diperlukan untuk membantu pemulihan perekonomian nasional. mudah dan cepat. Namun. terutama prosedurnya yang sederhana. menengah dan koperasi. Upaya-upaya tersebut juga diimbangi dengan upaya lain di sektor riil. . untuk mendorong pertumbuhan ekonomi diperlukan peran lembaga keuangan lain yang dapat berperan sebagai complementary institutions dari perbankan.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 57 pengembangan usaha kecil. Hal tersebut didukung oleh karakteristik Perum Pegadaian. cepat. Kinerja perbankan yang memburuk tersebut mengakibatkan terhambatnya penyaluran kredit.2. khususnya usaha kecil dan dalam masa krisis ini juga telah menjadi salah satu alternatif pemenuhan kebutuhan pembiayaan bagi sebagian masyarakat yang terkena dampaknya. sesuai dengan tujuan Perum Pegadaian yang tidak hanya semata-mata mencari untung tetapi juga sebagai penunjang kebijakan dan program Pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional melalui penyaluran pinjaman atas dasar hukum gadai. dan aman merupakan suatu potensi keunggulan Perum Pegadaian dibandingkan dengan lembaga keuangan lainnya. serta ancaman kesulitan likuiditas yang masih berlangsung hingga awal tahun 1999 ini. Sehubungan dengan kondisi tersebut. 1. jaringan kantor dan wilayah kerja yang menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia serta prosedur yang sederhana. Salah satu lembaga keuangan selain bank yang telah lama dikenal masyarakat adalah Perum Pegadaian. Hipotesa Kegiatan usaha Perum Pegadaian dapat dikembangkan untuk mendukung perkembangan usaha kecil khususnya sektor informal. serta dengan melakukan reformasi struktural untuk meningkatkan efisiensi perekonomian. Peran dalam pembiayaan nasabah kecil tersebut. Pada masa krisis. Disamping itu. terganggunya fungsi intermediasi perbankan tersebut memberi peluang bagi Perum Pegadaian untuk semakin berperan dalam pembiayaan. memburuknya net interest margin dan kondisi permodalan. sejak terjadinya krisis ekonomi perbankan nasional juga menghadapi permasalahan yang cukup berat.

10 Desember 1998. sifat Pegadaian adalah menyediakan pelayanan bagi masyarakat umum dan sekaligus memupuk keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan yang sehat. 1. khususnya sektor informal. Profil Perum Pegadaian Pegadaian Negeri didirikan pertama kali oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 1 April 1901 di kota Sukabumi dengan status Jawatan. Dalam upaya meningkatkan kinerja perusahaan. serta dengan mewawancarai beberapa nasabah yang dipilih sebagai responden di kantor-kantor cabang tersebut. 36 kantor cabang. maka Perum Pegadaian berpotensi untuk berperan serta dalam program JPS. Perum Pegadaian telah merancang Rencana Jangka Panjang II (RJP II) yaitu periode tahun 1997-2001. untuk memperoleh data mengenai keadaan dan operasionalisasi Perum Pegadaian dilakukan metode survey terhadap kantor pusat. 10/1990 tanggal 10 April 1990 status Perjan Pegadaian diubah menjadi Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian guna meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha. RJP II ini merupakan . kepegawaian.d September 1998. Survey tersebut dilaksanakan pada tanggal 23 November . statusnya diubah menjadi Perusahaan Negara (PN). ketentuan-ketentuan operasional. data operasional. 8 kantor daerah. Pada tahun 1961. dengan periode pengamatan sejak tahun 1996 s. Sedangkan wilayah timur diwakili oleh 1 kantor daerah di Pulau Sulawesi. Disamping itu. Data sekunder yang dipergunakan berupa laporan-laporan yang telah tersedia dari Perum Pegadaian. Maret 1999 Sesuai dengan karakteristik usaha dan mayoritas nasabah Perum Pegadaian yang merupakan masyarakat berpendapatan rendah. Wilayah barat diwakili oleh 3 kantor daerah di Pulau Jawa dan 2 kantor daerah di Pulau Sumatera.4 Metode Penelitian Penelitian dilakukan dengan melakukan analisis data sekunder dan primer. Salah satu produk Perum Pegadaian adalah memberikan kredit berdasarkan hukum gadai. Dengan PP No. Tengah dan Timur.58 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. namun diubah kembali menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan) tahun 1969. II. Wilayah tengah diwakili oleh 1 kantor daerah di Pulau Bali dan 1 kantor daerah di Pulau Kalimantan. Dengan status sebagai Perum. manajemen maupun dari sumber lainnya. Disamping itu. berupa data keuangan. Sampel kantor daerah dipilih dengan sistem purposive sampling yang mewakili wilayah Indonesia Bagian Barat. Nasabah yang dipilih sebagai responden dikelompokkan sebagai nasabah biasa dan nasabah yang dianggap potensial (prima) berdasarkan frekwensi dan lamanya berhubungan dengan Perum Pegadaian. penelitian juga dimaksudkan untuk mempelajari peran dan potensi Perum Pegadaian dalam mendukung pemberdayaan usaha kecil.

Sementara. b. Arah pengusahaan dalam periode ini adalah : 1) menjadi persero pada tahun 19982 . d. Menjadi lembaga keuangan yang modern dan dinamis. Melaksanakan optimalisasi kantor-kantor cabang sebagai ujung tombak operasi perusahaan. Memiliki kinerja sehat sekali (SS) dengan rating minimal “A” 1 . Misi perusahaan tersebut yaitu : Ikut meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat golongan menengah ke bawah melalui penyediaan dana berdasarkan hukum gadai secara inovatif dan melakukan usaha lain yang menunjang. sasaran pengusahaan dan strategi pokok perusahaan dalam periode RJP II. Berdasarkan visi tersebut. sasaran pengusahaannya adalah : a. 2) melaksanakan go public. Meningkatkan efisiensi perusahaan 1 Yang dimaksud dengan rating “A” sesuai dengan definisi PT. Pefindo merupakan perusahaan atau efek hutang yang berisiko investasi rendah dan berkemampuan baik untuk membayar bunga dan pokok hutang sesuai dengan yang diperjanjikan dan hanya sedikit dipengaruhi oleh perubahan keadaan yang merugikan. Memiliki SDM yang handal dan profesional. Hasil usaha lain-lain menyumbang sekitar 5. cepat dan manusiawi. b. dan 3) memiliki kinerja dan citra yang meningkat. Meningkatkan produktivitas di seluruh bidang kegiatan. Perum Pegadaian merumuskan misinya yang dijadikan acuan untuk menentukan arah pengusahaan. d. c. (ii) kekhawatiran bahwa dengan status persero Perum Pegadaian akan meninggalkan segmen nasabah kecil dengan tujuan untuk memperoleh laba maksimal. c.2% per tahun.1% dari laba usaha. kelemahan. Posisi keuangan yang likuid dan solvabel dengan current ratio di atas 1 dan debt to equity ratio di bawah 3. target menjadi Persero terutama bertujuan untuk mengatasi kelemahan pendanaan dengan menjual saham di bursa. Perum Pegadaian menyusun suatu strategi pokok perusahaan yang meliputi : a. Meningkatkan pelayanan kepada seluruh nasabah dengan baik. Visi Perum Pegadaian dalam PJPT II ini adalah : a. Laba bersih (earnings after taxes) meningkat dengan 30. b. Namun target tersebut tidak tercapai pada tahun 1998 karena tidak memperoleh ijin dari Menkeu dengan pertimbangan (i) masih besarnya misi sosial yang harus dilaksanakan oleh Perum Pegadaian. serta membuka anak perusahaan.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 59 bagian dari visi Perum Pegadaian yang dirumuskan dengan mengindentifikasi kekuatan. peluang dan ancaman (analisis SWOT) yang dihadapi dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap II (PJPT II). 2 Menurut Perum Pegadian. . c. Omzet perkreditan meningkat dengan 20% per tahun. Untuk mendukung pencapaian sasaran tersebut.

Usaha ini juga mempunyai misi sosial untuk mendidik masyarakat untuk berinvestasi dalam bentuk emas serta meningkatkan image masyarakat terhadap Perum Pegadaian b. f. kredit dengan jaminan surat berharga dan sertifikat tanah dan kredit dengan sistem pinjam pakai. Khusus untuk bisnis properti dapat dilakukan melalui kerja sama dengan pihak ketiga (investor) dengan sistem Built Operate and Transfer (BOT). jasa sertifikasi kadar emas. . usaha toko emas sudah dilaksanakan di 28 kantor cabang Perum Pegadaian. franchisor usaha gadai. khususnya di kawasan timur Indonesia. Sampai dengan 30 September 1998. Dalam menjalankan tugas rutin di 3 Menurut Perum Pegadaian.1. hotel/penginapan dan ruko) dan toko barangbarang perhiasan/asesoris dan arloji. Produk-produk usaha baru tersebut merupakan upaya untuk mengoptimalkan aset. leasing yang akan dilaksanakan merupakan leasing menurut format Perum Pegadaian dimana barang jaminan yang digadaikan tidak disimpan oleh Perum Pegadaian namun tetap dapat digunakan oleh nasabah untuk menjalankan usahanya (diestimasikan akan dilaksanakan pada tahun 2000). factoring. Maret 1999 e. guarantee fund. Produk baru yang masih dalam lingkup usaha gadai seperti jasa titipan. Kepengurusan dan Kelembagaan Perum Pegadaian memiliki 4 orang anggota direksi yang terdiri dari satu orang direktur utama dan 3 orang direktur yang masing-masing membawahi bidang operasi dan pengembangan.60 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. properti (gedung perkantoran. Produk-produk baru tersebut meliputi : a. jasa taksiran. bidang keuangan. Perum Pegadaian telah merencanakan untuk melakukan ekspansi jenis produk perusahaan dengan mengembangkan usaha baru. c.3 Produk usaha baru yang sama sekali di luar usaha gadai dan lembaga keuangan seperti toko emas. Memperluas jaringan pelayanan dengan membuka cabang-cabang baru di daerah yang potensial. Dua diantaranya yaitu jasa titipan dan taksiran sudah dilaksanakan. modal ventura. seperti yang telah dilaksanakan di lokasi Salemba dan Pasar Baru. sehingga bisa meningkatkan citra perusahaan dan nasabah tidak malu lagi untuk datang ke Pegadaian. Sebagai implementasi dari salah satu strategi pokok perusahaan. dan bidang umum. Produk baru di luar lingkup usaha gadai tetapi masih dalam lingkup lembaga pembiayaan seperti BPR. yaitu pemanfaatan 20 lokasi strategis yang nantinya dapat merupakan kompleks lokasi usaha. pedagang valuta asing dan leasing. 2. Melaksanakan pengembangan produk baru hingga mampu menyumbangkan 20% dari total pendapatan usaha.

58 diantaranya merupakan anak cabang (Ancab) yaitu cabang yang baru berdiri (biasanya kurang dari 2 tahun). Selain itu. Perum Pegadaian juga memiliki Satuan Pengawasan Intern (SPI) yang bertanggung jawab langsung kepada direksi. Kp.2/41/10 sebagai upaya untuk meningkatkan sistem dan sarana pengawasan yang memadai. . Perum Pegadaian telah memiliki cabang di 27 propinsi dengan jumlah Kanca mencapai 633 buah dengan dikoordinasikan oleh 14 kantor daerah (Lampiran 2).4 Struktur organisasi Perum Pegadaian ditunjukkan bagan 1. Perum Pegadaian membentuk Subdit Teknologi Informasi berdasarkan Keputusan Direksi No. direksi dibantu oleh 9 subdirektorat (subdit) yang masing-masing memiliki rincian tugas sesuai bidangnya (Lampiran 1). Bagan 1. Untuk meningkatkan profesionalitas pegawai Perum Pegadaian memiliki Balai Diklat yang langsung berada di bawah direksi.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 61 kantor pusat. Sampai dengan September 1998. Kegiatan operasional Perum Pegadaian dilaksanakan melalui kantor-kantor cabang (Kanca) yang dikoordinasikan oleh kantor daerah (Kanda). Struktur Organisasi Perum Pegadaian Direksi Direktur Utama Direktur Operasi dan Pengembangan Direktur Keuangan Direktur Umum Subdit OPP SPI Subdit LB Subdit SP Subdit AP Subdit AK Subdit PB Kantor Daerah Kantor Cabang Subdit KP Subdit BG Subdit TURT Balai Diklat Keterangan : OPP = Operasi dan Pengembangan KP = Kepegawaian LB = Penelitian dan Pengembangan Operasi BG = Bangunan SP = Kesekretariatan Perusahaan TURT = Tata Usaha dan Rumah Tangga AP = Anggaran dan Permodalan AK = Akuntansi P = Perbendaharaan 4 Tanggal 25 November 1998. Dari 633 Kanca tersebut.

Seluruh kantor yang berstatus Ancab diklasifikasikan sebagai cabang kelas III. . Tabel 2. c. per Juni 1998 jumlah Kanca Pegadaian di Pulau Jawa merupakan yang terbanyak yaitu 401 buah atau 64. yang diukur dari besarnya surplus (laba-rugi) cabang dalam satu periode akuntansi. 5 Jumlah total pemeriksa per Kanda sejak 1 Februari 1999 telah diperbanyak menjadi 6-7 orang. Barang jaminan (bobot nilai 10). perawatan dan faktor risiko. Efisiensi (bobot nilai 40). d.1 Perbandingan Tipe Kantor Daerah Jabatan Ka Kanda Inspektur Daerah Kepala Seksi Pemeriksa Ka Sub Seksi Pemeriksa Pembantu Staf Pemeriksa Sumber : Perum Pegadaian Kanda Tipe A 1 1 4 2 12 3 2 Kanda Tipe B 1 0 2 1 8 3 0 Kanca Perum Pegadaian digolongkan menjadi 3 kelas. yang mencerminkan tingkat tanggung jawab penanganan/pengelolaan.62 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Formasi dan adanya pegawai Kanca (bobot nilai 20). II. yaitu kelas I. dan III. Pembagian kelas masing-masing Kanca dilakukan berdasarkan tingkat efisiensi dan produktivitas yang diukur dari 4 faktor yaitu : a. jumlah Kanca untuk masing-masing kelas per Juni 1998 adalah : kelas I sebanyak 54. yang mencerminkan tingkat kemampuan penjualan produk (produktivitas). Kanda tipe A memiliki struktur organisasi yang lebih lengkap dibandingkan Kanda tipe B karena besarnya jumlah Kanca yang dibawahinya. b.1 5 .4%. Berdasarkan keempat kriteria di atas. kelas II sebanyak 78 dan kelas III sebanyak 491. Omzet usaha (bobot nilai 40). Ditinjau dari kuantitasnya. Maret 1999 Kanda Perum Pegadaian terdiri dari dua tipe yaitu tipe A dan B. yang mencerminkan tingkat efektivitas dan kemampuan pegawai sebagai sumber daya dalam menjalankan perusahaan. Perbandingan Kanda tipe A dan B dapat dilihat dalam tabel 2.

Berikut merupakan uraian tentang kebijakan-kebijakan dan fungsi pengawasan yang dilaksanakan oleh Perum Pegadaian. merupakan jasa utama Pegadaian yaitu memberikan pinjaman kepada masyarakat berdasarkan hukum gadai. Komposisi karyawan tetap menurut jenjang karir dan pendidikan dapat dilihat dalam lampiran 3. Hal ini terkait dengan fasilitas. Galeri 24. Selama tahun 1997. c. yang ditujukan untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat atas barang-barang yang dimilikinya apabila akan bepergian dalam jangka waktu yang cukup lama. d. 2.817 pegawai tetap dan 1.3. leaflet. Jasa titipan.233 orang. pelaku industri. Tidak semua Kanca menyediakan keempat jenis produk tersebut. . yaitu toko emas Pegadaian yang menjamin kualitas emas/perhiasan yang dijualnya. yang ditujukan untuk memberikan keyakinan kepada masyarakat atas kualitas barang-barang perhiasan miliknya. Hal ini berkaitan dengan salah satu upaya Perum Pegadaian untuk meningkatkan efisiensi.541 orang).Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 63 Jumlah karyawan Perum Pegadaian hingga Oktober 1998 mencapai 6. Perum Pegadaian diantaranya menggunakan papan-papan reklame. Jasa taksiran. Selain terjadi pengurangan jumlah.426 pegawai tidak tetap. Perum Pegadaian telah berhasil melayani kebutuhan 5. yaitu : a. Dalam memperkenalkan produk-produknya. Produk dan Pasar Produk-produk Perum Pegadaian yang sudah tersedia hingga saat ini meliputi empat jenis produk. yang terdiri dari 4.2. media elektronis. Manajemen dan Instrumen Kebijakan Dalam menjalankan usahanya Perum Pegadaian melaksanakan fungsi-fungsi manajemen dan menetapkan kebijakan-kebijakan yang menjadi patokan bagi Kanda maupun Kanca. Jasa gadai. b. Perum Pegadaian juga melakukan peningkatan kualitas karyawan yang terlihat dari meningkatnya jumlah karyawan yang berpendidikan S1 dan S2 dan berkurangnya karyawan yang berpendidikan SD sampai dengan D3. menjadi sponsor kegiatan olahraga serta dengan layanan yang relatif mudah dan cepat. 2. nelayan. pembukaan toko emas yang hingga September 1998 baru berjumlah 28 buah. Misalnya. Jumlah karyawan tetap ini lebih rendah dari jumlah pada akhir 1996 (5. Konsumen sasaran Perum Pegadaian ini adalah seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan dana-dana jangka pendek. ketersediaan sumber daya manusia dan dana. pedagang dan lain-lain.3 juta orang yang terdiri dari petani.

Dengan demikian Kanda dapat mengontrol secara langsung kebutuhan dana masing-masing Kancanya.1. Kredit kepada masyarakat merupakan porsi terbesar penanaman dana yang mencapai Rp 756. Sebagai sumber utama adalah modal awal Perum Pegadaian yang berjumlah Rp 205 miliar. Bila terdapat nasabah yang ingin memperoleh kredit melebihi batas maksimum maka cabang tersebut harus meminta persetujuan dari Kanda. kredit yang diberikan dijamin dengan barang jaminan nasabah. penerbitan obligasi dan MTN. maka Kanca harus meminta tambahan dana kepada Kandanya masing-masing dan tidak diperkenankan untuk melakukan transfer langsung antarcabang. Sementara pinjaman dari bank pada posisi September 1998 mencapai Rp 321 miliar.3.000). Maret 1999 2.000-Rp 40. deposito. 2. Bila terjadi kekurangan dana. Sesuai dengan hukum gadai. pada bulan September 1998 Perum Pegadaian memperoleh pinjaman dari pemerintah berupa Rekening Dana Investasi (RDI) sebesar Rp 100 miliar dengan jangka waktu 3 tahun. Perum Pegadaian memiliki beberapa sumber. sehingga Kanda dan Kanca hanya melaksanakan penanaman dana berdasarkan alokasi dana yang diberikan. Untuk itu Perum Pegadaian mencari sumber-sumber pendanaan baru untuk menambah modal kerja melalui pinjaman bank.2.64 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. suratsurat berharga dan penyertaan di perusahaan lain. Hingga saat ini Perum Pegadaian telah menerbitkan 5 seri obligasi dengan nilai nominal keseluruhan Rp 425 miliar. Kebijakan Penanaman Dana Penanaman dana Perum Pegadaian dilakukan dalam bentuk kredit. penyertaan modal pemerintah Rp 46. Penghimpunan dana hanya dapat dilakukan oleh kantor pusat.85 miliar (per 30 September 1998). Biasanya batas maksimum kredit yang dapat diberikan oleh masing-masing cabang mencapai Rp 20 juta per SBK (Surat Bukti Kredit). Perum Pegadaian membagi pemberian kredit kepada nasabah menjadi empat golongan yaitu Golongan A (kredit Rp 5.5 miliar. Sejak Desember 1997.0 %) pada September 1998 (Lampiran 4). Golongan B (kredit . Kebijakan Pendanaan Dalam penyediaan dana bagi keperluan usahanya.25 miliar dan dari saldo laba sebesar Rp 111. maka modal tersebut tidak lagi mencukupi. tetapi sejak 30 Juli 1998 batas maksimum kredit diturunkan menjadi Rp 5 juta per SBK. Dana yang telah dihimpun ini kemudian didistribusikan dari kantor pusat ke Kanca melalui masing-masing Kandanya. Selain itu.3. Mengingat besarnya permintaan terhadap jasa gadai dari masyarakat.75 miliar (91. Perum Pegadaian telah menerbitkan MTN sebanyak 4 kali dengan nilai nominal keseluruhan Rp 16. Besarnya jumlah dana yang diterima oleh masing-masing Kanda tersebut ditentukan berdasarkan hasil evaluasi perkembangan omzet selama 6 bulan terakhir dan dievaluasi setiap 3 bulan.

c. sesuai dengan PP No. dari laba bersih yang diperoleh Perum Pegadaian. maka harus diajukan dan disetujui oleh kepala Kanca selaku kuasa pemutus kredit (KPK). b.500-Rp150. Penaksir menetapkan harga pedoman standar. Prosedur Kredit Dalam memberikan kredit.000.000).000).3. Nasabah membawa barang jaminan Penaksir Kasir menerima kredit Nasabah Nasabah yang datang ke Pegadaian terlebih dulu menyerahkan barang-barang bergerak sebagai agunan kepada petugas penaksir yang disertai dengan identitas diri. Sementara. DPS yang menjadi hak negara wajib segera disetorkan ke Bendahara Umum Negara setelah Laporan Tahunan disahkan.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 65 Rp 40. Golongan C (kredit Rp 151. dan uang pinjaman (UP) yang dapat diberikan berdasarkan plafon UP yang yang menjadi wewenangnya (Lampiran 6). taksiran. Jika UP yang dapat diberikan melebihi kewenangannya. Tabel selengkapnya dapat dilihat dalam lampiran 5. Perum Pegadaian memiliki mekanisme dan prosedur yang harus dilalui oleh nasabah.000) dan Golongan D (kredit Rp 510. d. Selain itu. a. Sosial dan pendidikan. Kemudian 45% dari sisa penyisihan tersebut dialokasikan untuk lima hal berikut yang masing-masing persentase alokasinya ditetapkan oleh Menteri Keuangan.3. Cadangan umum yang dilakukan sampai cadangan mencapai sekurang-kurangnya dua kali lipat dari modal yang ditempatkan. Berikut ini merupakan ilustrasi proses memperoleh kredit di Perum Pegadaian. 2. sebesar jumlah tertentu disisihkan untuk cadangan tujuan. dan e. Sokongan dan sumbangan ganti rugi. Jasa produksi. sisa dari keseluruhan penggunaan laba bersih di atas disetorkan sebagai Dana Pembangunan Semesta (DPS).3. Jangka waktu kredit maksimum adalah 120 hari dengan bunga dihitung setiap 15 hari.000-Rp 5. 2. Jika besarnya UP yang telah diputuskan .000-Rp 500. penyusutan dan pengurangan yang wajar lainnya. 13/1998. nasabah juga dikenakan biaya penitipan dan asuransi (PA) yang besarnya disesuaikan dengan jenis barang dan golongannya. Petugas penaksir memeriksa keadaan barang termasuk kelengkapan yang disyaratkan.4. Alokasi Laba Setelah diaudit. Sumbangan dana pensiun.

66 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.5. Untuk mengontrol kebenarannya. 2. Petugas gudang yang mengelola barang kantong disebut penyimpan. petugas gudang lama tetap bertanggung jawab atas barang jaminan di dalam gudang. Pegawai yang menjadi petugas gudang mempunyai masa tugas maksimum selama 6 bulan. Posedur tersebut dapat dilihat dalam lampiran 7. Barang masuk dan keluar selalu dicatat sehingga pada akhir hari dapat ditentukan saldo barang jaminan. maka diterbitkan Surat Bukti Kredit (SBK) sesuai dengan golongannya. SBK diserahkan kepada nasabah. rubrik dan ribuan. besarnya taksiran dan UP. Walaupun telah digantikan petugas sementara. Barang jenis ini disimpan di dalam gudang. saldo Buku Gudang ini dicocokkan dengan saldo Ikhtisar Kredit dan Pelunasan. Dalam hal petugas gudang berhalangan sampai dengan 7 hari. maka petugas gudang tersebut dapat menunjuk dua orang pegawai lainnya sebagai pengganti sementara dan harus diberitahukan kepada kepala cabang. tidak kena hujan dan panas. Tempat penyimpanan barang tersebut harus selalu dalam keadaan tertutup dan terkunci apabila tidak ada keperluan. Di samping itu. Pada SBK tersebut dimuat nama dan alamat nasabah. Barang emas. perhiasan atau barang-barang kecil lainnya yang masuk di dalam kantong disebut barang kantong dengan rubrik K. sedangkan yang mengelola barang gudang dan barang kain disebut pemegang gudang. . Kamera harus disimpan dalam tempat tertutup (lemari kaca atau peti kayu yang tidak lembab) yang diberi penerangan cukup. Untuk barang-barang tertentu seperti kamera dan mobil mendapat perlakuan khusus. Nasabah mengambil UP pada kasir seperti yang tertera pada SBK.3. dengan terlebih dahulu membayar biaya penyimpanan dan asuransi (PA) yang telah ditetapkan sesuai dengan besarnya UP dan jenis barang yang diagunkan. Untuk mencegah terjadinya kesalahan atau penyimpangan dalam pengelolaan gudang maka Perum Pegadaian membuat prosedur pemeriksaan barang jaminan. Mobil disimpan dalam tempat tertutup. mobil juga harus dalam keadaan terkunci dan bila ada tutupnya (cover) digunakan dengan baik agar tidak kotor. keterangan barang jaminan. Maret 1999 oleh penaksir maupun KPK telah disepakati oleh nasabah. Setelah ditandatangani nasabah dan penaksir/KPK. Sedangkan barang jaminan yang tidak masuk di dalam kantong disebut dengan barang gudang dengan rubrik G. Sistem Pengelolaan Barang Jaminan Barang-barang jaminan yang diterima oleh Pegadaian ditatausahakan dalam suatu Buku Gudang yang diisi menurut golongan. Pegawai yang bertanggung jawab (sesuai dengan SK penunjukan) atas pengelolaan gudang dan semua barang yang ada di dalamnya disebut petugas gudang. Selain petugas gudang dilarang untuk memasuki gudang tanpa mendapat izin dari petugas tersebut. Barang kantong ini disimpan dalam kamar emas (kluis/khasanah).

Hal ini dilakukan dengan penjualan barang jaminan tersebut pada waktu yang telah ditentukan. Cara penyelesaian BSL ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dijual di bawah tangan dan dimutasikan antarcabang. Lokasi kanca.3. untuk kanca-kanca yang lokasinya berdekatan tidak diizinkan untuk melaksanakan lelang pada hari dan tanggal yang bersamaan. Lelang dilaksanakan tidak pada hari libur. Sebelum pelaksanaan lelang. Barang-barang yang telah laku pada saat lelang harus dibayar tunai setelah lelang ditutup. media cetak dan elektronik. maka kelebihannya akan dikembalikan kepada nasabah tersebut. Dalam bulan puasa lelang sedapat mungkin dilakukan sebelum lebaran. Bila hasil lelang melebihi nilai kewajiban nasabah.7%). setiap Kanda membuat suatu daftar ikhtisar lelang berdasarkan usulan dari masing-masing kanca-nya dengan memperhatikan : a. Apabila di kemudian hari ternyata lelang tidak dapat dijalankan pada tanggal yang telah ditetapkan maka pelaksanaan lelang itu harus diundur pada hari berikutnya. Untuk barang-barang jaminan yang telah ditaksir dengan wajar tetapi tidak laku dilelang disebut sebagai Barang Sisa Lelang (BSL). c. Uang yang akan dibayar oleh pembeli harus ditambah 9% untuk ongkos lelang dan 0. b. BSL ini ditetapkan menjadi aset perusahaan yang diakui dan dicatat sebagai transaksi mutasi aset dari Pinjaman Yang Diberikan (aktiva lancar) menjadi Aktiva Lainnya (aktiva tidak lancar). Media yang digunakan untuk mengumumkan tanggal lelang adalah melalui papan pengumuman di Kanca setempat. Perlakuan administrasi dan pembukuan terhadap BSL dapat dilihat dalam lampiran 8. Masing-masing kanca sedapat mungkin melaksanakan lelang pada hari dan tanggal yang sama setiap bulannya. Untuk menentukan tanggal lelang. Penundaan hari lelang ini harus diumumkan kepada masyarakat dan diberitahukan kepada Ka Kanda dan Inspektur Daerah. BSL dinilai berdasarkan harga pembeliannya yaitu sebesar harga jual minimal lelang tanpa tambahan biaya lelang (9. Penjualan di bawah tangan merupakan penjualan yang terbuka bagi siapa saja yang berminat dengan suatu patokan harga minimum tertentu.7% (tujuh permil) untuk dana sosial yang dihitung dari nilai lakunya lelang. agar bisa dijadikan acuan oleh masyarakat. Tim Pelaksana Lelang akan mengawasi/memeriksa jumlah setoran uang jaminan dari masing-masing peserta/calon pembeli. d. Sistem Lelang Lelang merupakan upaya pengembalian uang pinjaman beserta sewa modalnya yang tidak dilunasi sampai batas waktu yang ditentukan. Sedangkan mutasi antarcabang merupakan upaya penjualan di kantor cabang yang berada di daerah lain yang diyakini dapat terjual lebih cepat (Lampiran 9).Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 67 2.6. . pemberitahuan langsung oleh pegawai di loket dan pemberitahuan tertulis kepada pemilik barang dan Dinas Penerangan setempat (minimum 15 hari sebelum pelaksanaan).

yang berisi laporan rincian sisa uang pinjaman dan perhitungan sewa modal. Sementara. yang berisi perkembangan penyaluran kredit dan barang jaminan yang tercantum dalam laporan mingguan keuangan yang dikirimkan ke Kanda b. yang berisi rekapitulasi dari laporan bulanan ditambah laporan mutasi aktiva serta laporan surplus usaha. mutasi aktiva yang disisihkan. Jenis-jenis laporan operasional yang dibuat oleh Kanca yang harus dikirimkan ke Kanda adalah berbentuk : a. Kelayakan laporan keuangan Perum Pegadaian setiap tahun diperiksa oleh pihak eksternal. pemeriksaan merupakan bagian dari fungsi pengawasan yaitu tindakan secara fisik. barang jaminan yang tidak ditebus/dilelang/barang polisi. Di kantor pusat laporanlaporan dari seluruh Kanda dikumpulkan sehingga dapat dibuat suatu laporan keuangan konsolidasi secara nasional yang diaudit setiap tahun. Laporan tahunan. Laporan-laporan yang dibuat oleh masing-masing Kanca tersebut di atas kemudian dikonsolidasikan oleh Kanda sebelum dikirimkan ke kantor pusat. yang berisi laporan tentang : perkembangan usaha.7. Laporan operasional adalah laporan tentang perkembangan operasional Kanca yang meliputi laporan mingguan. Laporan mingguan. Maret 1999 2. Selain kewajiban mengirimkan laporan ke kantor pusat. penerimaan sewa modal dan biaya PA. teknik serta metode dalam menjalankan fungsi pengawasan. Tujuan pembuatan laporan operasional ini adalah untuk menyediakan informasi tentang perkembangan operasional kepada manajemen sebagai dasar untuk pengambilan keputusan lebih lanjut pembinaan Kanca. Sebelumnya. Laporan semester. . Tugas SPI tersebut adalah melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap jalannya kegiatan perusahaan. ikhtisar barang sisa lelang. d. Pengawasan ditujukan untuk meyakinkan apakah kegiatan perusahaan telah dilaksanakan sesusai dengan rencana yang ditetapkan. Sejak tahun 1993 audit terhadap laporan keuangan Perum Pegadaian dilakukan oleh akuntan publik. dan perhitungan surplus operasi. rincian sisa uang pinjaman. rincian data nasabah dan kredit menurut profesi.68 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. bulanan dan tahunan. Laporan bulanan.3. Aspek-aspek yang dilihat dalam melakukan pemeriksaan oleh SPI mencakup tiga hal yaitu sistem dan prosedur yang menyangkut kendali. Hal ini dilakukan karena Perum Pegadaian telah melakukan go public dengan menerbitkan obligasi. kewajiban atasan untuk mengawasi c. sisa uang kelebihan. masing-masing Kanca dan Kanda Perum Pegadaian secara internal juga diperiksa oleh SPI. pemeriksaan atas laporan keuangan Perum Pegadaian dilakukan oleh BPKP. Sistem Pelaporan dan Auditing Setiap Kanca Pegadaian harus membuat laporan operasional rutin secara berkala.

serta bisa menyebabkan timbulnya berbagai penyimpangan seperti yang tercantum dalam lampiran 10. Rentang kendali yang terlalu luas yang belum ditunjang dengan saluran komunikasi yang memadai (canggih) sangat tidak menunjang efektivitas pemantauan kinerja kantor-kantor cabang. (ii) Irwil II mengawasi kanda VI – X. Dalam melakukan pemeriksaan seorang pemeriksa harus bersifat objektif dan independen karena pertanggungjawabannya langsung kepada direksi. Kondisi yang seharusnya merupakan sesuatu yang ditetapkan oleh peraturan/ketentuan pemerintah. Berdasarkan perbandingan antara jumlah Kanca (633 kantor). Sebagai gambaran setiap kanda di pulau Jawa rata-rata membawahi lebih dari 50 Kanca. Kanda (14 kantor). menunjukkan terlalu luasnya rentang kendali Kanda terhadap kanca-kanca yang ada di bawah koordinasinya. tidak melakukan penghimpunan dana seperti layaknya bank. sesuatu yang diatur secara umum yang diakui dan sesuatu yang diatur oleh ketentuan perusahaan. III. Sementara itu. Tolok ukur yang dipakai dalam melakukan pemeriksaan adalah membandingkan antara kondisi sebenarnya (fakta) dengan yang seharusnya (kriteria). Mengingat karakteristik Perum Pegadaian sebagai lembaga keuangan formal yang memberikan pinjaman berjangka pendek dalam skala kecil dengan sistem gadai. yaitu : (i) Irwil I mengawasi kanda I – V. Kanda-kanda lainnya di luar Jawa harus membawahi kanca-kanca yang secara geografis terlalu jauh. mempunyai jaringan kerja yang luas sampai ke daerah-daerah. Tenaga pemeriksa di masing-masing Irwil rata-rata sejumlah 4 orang yang bertugas melakukan pemeriksaan terhadap setiap kanda dengan frekwensi 1 . dan (iii) Irwil III mengawasi kanda XI – XIV. Di setiap Kanda terdapat Inspektorat Daerah (Irda) yang dipimpin oleh orang kedua di kanda yang bersangkutan dengan tenaga pemeriksa berjumlah 4-5 orang. PENDEKATAN TEORITIS 3. SPI tersebut dibagi menjadi 3 Inspektorat Wilayah (Irwil).1 Pembiayaan Kredit Pedesaan Untuk memahami pegadaian terutama sebagai salah satu alternatif pembiayaan bagi usaha/nasabah kecil perlu dilakukan pendekatan yang mempunyai relevansi dengan kegiatan operasi lembaga keuangan baik formal maupun informal yang telah ada di masyarakat dalam penyaluran kredit.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 69 bawahan (waskat) dan aparat pengawasan fungsional. Tugas Irda adalah mengawasi kanca-kanca di bawahnya dengan frekwensi 1– 4 kali pemeriksaan dalam satu tahun.2 kali setahun. serta mempunyai nasabah . frekwensi pemeriksaan serta jumlah tenaga pemeriksa di masing-masing Kanda. Dalam melaksanakan tugasnya SPI dipimpin oleh seorang kepala yang bertanggung jawab langsung kepada Direktur Utama.

6 Robinson.6 Sedangkan untuk melihat sumber dana untuk kredit pedesaan dikenal dua teori. Sementara itu. Dalam teori ini dijelaskan karakteristik lembaga keuangan formal seperti Bank Perkreditan Rakyat. Teori RFI menjelaskan keterkaitan antara lembaga keuangan formal dan informal dalam pasar keuangan pedesaan. lembaga kredit formal dan informal serta struktur pasar kredit pedesaan untuk masing-masing lembaga keuangan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : 3. yaitu Farm Finance dan teori Rural Financial Market yang dikembangkan oleh Department of Agricultural Economics and Rural Sociology. dan pemberian kredit tersebut lebih didasarkan pada unsur kepercayaan. S “ Rural Financial Intermediation : Lessons From Indonesia. Kredit pedesaan pada dasarnya dapat diperoleh dari sumber informal dan formal. BRI Unit Desa. Sebagian besar pinjaman relatif kecil jumlahnya. proses penyediaan sederhana. cepat. USA. Dengan kata lain. koperasi dan pegadaian serta pasar kredit informal di pedesaan (rentenir atau pelepas uang komersial). untuk penghimpunan dana di pedesaan lebih banyak melalui lembaga formal. Beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk analisis tersebut antara lain Teori Rural Financial Intermediation (RFI). Di dalam pasar terdapat beberapa kreditur namun seorang debitur punya akses yang sangat terbatas. Maret 1999 mayoritas masyarakat berpenghasilan rendah yang sulit untuk akses ke perbankan serta jaringan kerja hingga ke daerah-daerah.70 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.1 Lembaga Kredit Informal Sebagaimana dikemukakan. Pasar informal tersebut ada di dalam masyarakat namun tidak diatur oleh pemerintah. Seorang kreditur hanya melayani sejumlah kecil peminjam yang sudah dikenal baik dan berisiko rendah. Ketergantungan seorang debitur terhadap kreditur sangat tinggi. Berdasarkan ketiga pendekatan tersebut. Teori RFM yang bertumpu pada mekanisme pasar berpendapat bahwa pembiayaan/kredit pedesaan merupakan proses intermediasi dimana financial assets dan debts di relokasi diantara pelaku-pelaku ekonomi di pedesaan. Ohio State University. teori RFM berpendapat bahwa pedesaan memiliki kemampuan/resources untuk membiayai kegiatan-kegiatan produktif yang berlangsung di pedesaan. berjangka waktu pendek.1. kredit di pedesaan dapat disediakan oleh lembaga keuangan formal maupun pasar informal. maka perlu dilakukan analisis tterhadap posisi dan keterkaitan Perum Pegadaian dengan lembaga lainnya. teori Farm Finance (FF) dan Teori Rural Financial Market (RFM). 1992 . Pasar kredit pedesaan informal biasanya bersifat quasimonopolistik. sedangkan teori FF berpendapat perlu adanya external funds (dana pihak luar) untuk membiayai kegiatan-kegiatan produktif di pedesaan.

7 Kreditur cenderung tidak tertarik untuk meningkatkan market share. Caranya antara lain dengan hanya memberikan kredit kepada orang-orang yang berkaitan dengan jaringan bisnisnya seperti sistem ijon dan yang mempunyai aliran politik yang sama. 8 Germidis. sehingga risiko tidak terbayarnya pinjaman yang diberikan kepada nasabah dapat ditekan serendah mungkin. Fenomena ini terjadi di beberapa negara berkembang. political alliances. Tingginya suku bunga tersebut disebabkan adanya quasi-monopolistic many-lender credit market. Kreditur pada umumnya berkeberatan apabila nasabahnya meminjam kepada kreditur informal lainnya karena khawatir ikatan bisnis lainnya juga akan berpindah sehingga dapat melakukan pembalasan di kemudian hari.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 71 Terjadinya pasar yang bersifat quasi-monopolistik dimungkinkan oleh kecenderungan setiap kreditur untuk membatasi jumlah nasabah yang dilayani dan berupaya menjaga portofolio pinjamannya sedemikian rupa. . seperti India dan Philipina sebagaimana dikemukakan oleh Germidis. Suku bunga kredit dalam pasar informal sangat bervariasi. information flows. Hal ini terjadi karena antara satu kreditur dengan kreditur lainnya dalam satu wilayah umumnya punya ikatan yang erat. financial channels and market shares of lenders are inextricably related to local distribution of wealth and power. Menurut penelitian Robinson. hal 81. Sebaliknya. Dengan praktek tersebut. Kessler. etc “. Selain itu. Mereka tidak mau bersaing karena justru akan menurunkan keuntungan masing-masing. bagi kreditur yang sudah lebih kaya dan memiliki status sosial yang tinggi melakukan diversifikasi investasi dianggap lebih menguntungkan dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dari kredit dalam skala kecil. suku bunga berkisar antara 2 sampai 10 kali dari tingkat bunga bank. 7 Ibid. Alasan utamanya adalah terlalu berisiko untuk melakukan ekspansi ke luar pasar tradisonalnya. Kessler “ Financial Systems and Development : What Role for the Formal and Informal Financial Sectors ? (1991). and Meghir bahwa 8 : “Informal commercial credit forms parts of the local political economy. Terdapat pula kecenderungan para kreditur untuk memberikan kredit yang lebih besar kepada pejabat lokal serta rekan bisnis dengan tujuan menjaga hubungan baik agar diberi kesempatan memperoleh akses yang lebih luas bagi kepentingan politik dan/atau bisnisnya. setiap kreditur dapat memelihara ‘kesetiaan’ debiturnya. terdapat kecenderungan debitur untuk hanya setia kepada satu debitur karena khawatir akan memperoleh kesulitan di kemudian hari. suku bunga dapat dipertahankan tinggi lebih-lebih jika di wilayah tersebut tidak terdapat lembaga perkreditan formal. Dengan kondisi tersebut. market interlinkages.

Suku bunga yang lebih rendah tersebut akan meningkatkan permintaan kredit yang akan menyebabkan biaya operasi per unit menjadi lebih murah. terpercaya. aman.2 Lembaga Kredit Formal Lembaga keuangan formal dapat juga memasuki pasar keuangan pedesaan dengan perspektif perhitungan jangka panjang bila didukung beberapa persyaratan. Kreditur informal yang kekurangan dana dapat meminjam dari bank dan lembaga kredit formal lainnya untuk kemudian disalurkan ke nasabahnya. seorang kreditur informal akan mendorong nasabahnya untuk meminta kredit ke lembaga formal jika memerlukan dana yang relatif besar.1. Sebagai contoh. lembaga formal pada umumnya dapat mempelajari karakteristik pasar keuangan pedesaan dan memperoleh informasi terpercaya mengenai nasabah potensial melalui stafnya yang profesional. . lembaga formal tidak dianggap sebagai pesaing oleh kreditur informal.72 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Suku bunga pada lembaga kredit formal pada umumnya lebih rendah dibandingkan dengan suku bunga kreditur informal. karena berspesialisasi pada kegiatan perkreditan. Disamping itu. lembaga formal tidak dicurigai akan merebut kekuasaan para kreditur informal yang pada umumnya juga memiliki kaitan usaha di sektor riil atas nasabahnya. Bahkan di beberapa tempat dianggap sebagai rekan kerja. Perlu dikemukakan bahwa jika lembaga kredit formal dapat memberikan pelayanan yang baik dengan beban bunga yang lebih rendah maka sebagian masyarakat desa yang sebelumnya bergantung kepada kreditur informal akan beralih ke lembaga formal. Kemudahan bagi lembaga formal dalam memasuki pasar tersebut selain dilindungi hukum. Disamping itu. hal tersebut tidak terlalu mengganggu karena mereka masih tetap memiliki pangsa pasar yang aman. Sementara itu. untuk menunjang berlangsungnya kegiatan operasi lembaga keuangan tersebut harus mampu menyalurkan kredit dalam jumlah yang cukup dan bersumber dari penghimpunan dana dengan spread yang cukup menguntungkan. Maret 1999 3. dan berlokasi strategis. Tidak tertutup kemungkinan. bagi mereka yang tidak memenuhi syarat untuk memperoleh dana dari lembaga formal disebabkan tidak memiliki agunan ataupun sebab lainnya akan tetap bergantung pada kreditur informal. meskipun ada kemungkinan mereka masih memerlukan dana dari kredit informal sebagai tambahan. Hal ini terjadi karena lembaga kredit formal dapat memanfaatkan ‘economies of scale’ sehingga dapat menjalankan kegiatannya dengan biaya yang relatif murah. Di samping itu. Bagi kreditur informal. seseorang yang tidak memiliki agunan dapat datang ke kreditur informal untuk meminjam uang. Dengan biaya yang murah tersebut maka lembaga formal dapat menawarkan suku bunga rendah untuk menarik nasabah. Persyaratan tersebut berkaitan dengan perlunya lembaga keuangan dikelola secara baik.

Studi lapangan menunjukkan bahwa pada dasarnya masing-masing Kantor Daerah mempunyai potensi untuk menghimpun dana sendiri yang berasal dari potensi daerah setempat. bahkan dapat dikatakan saling melengkapi sesuai dengan kondisi masyarakat. . Sebagian besar BPR (1.60% dibandingkan dengan rentenir. pangsa pasar kredit pedesaan yang dapat dikuasai oleh Perum Pegadaian diperkirakan berkisar 40% .706 kantor. Mengacu pada teori tersebut.142 buah) berada di pulau Jawa (persebaran jumlah BPR terbanyak berada di wilayah Jawa Timur sebanyak 362 BPR. nampaknya sesuai dengan teori FF. Kebijakan penghimpunan dan penyaluran dana serta sistem manajemen pendanaan yang sentralistik seperti diterapkan Perum Pegadaian. Informasi yang diperoleh dari hasil studi lapangan hanyalah mengenai besarnya suku bunga yang dikenakan rentenir dan toko emas pada umumnya sangat tinggi berkisar 10% – 20% per bulan. toko emas yang memberikan pinjaman dengan sistem gadai serta pegadaian gelap.558 BPR non BKD dengan total aset sebesar Rp 2. Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Sementara itu dari temuan penelitian CPIS (pada periode 1982-1990) koperasi simpan pinjam mengenakan suku bunga antara 20% . Namun kebijakan tersebut pada beberapa aspek justru menghambat perkembangan Perum Pegadaian terutama pada saat terjadinya kekurangan likuiditas. Di daerah-daerah di mana terdapat kantor Perum Pegadaian.10 Dalam 9 Data akurat mengenai potensi lembaga informal pemberi pinjaman sulit untuk diperoleh. toko emas dan pegadaian gelap. Lembaga lain yang juga mempunyai potensi besar untuk menjadi pesaing Perum Pegadaian adalah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan BRI Unit Desa (BRI UDes).7 triliun.9 Pada dasarnya antar lembaga-lembaga tersebut tidak saling bersaing karena masing-masing sudah mempunyai pangsa pasar tersendiri. Disamping itu juga terdapat beberapa lembaga informal yang berperan dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat antara lain pelepas uang (rentenir).Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 73 IV. Temuan ini sesuai dengan teori RFM bahwa pada dasarnya masyarakat pedesaan juga mampu menabung dan masuknya dana pihak luar justru akan menghambat perkembangan pasar keuangan pedesaan. kemudian Jabotabek sebanyak 345 BPR) dan yang paling sedikit berada di wilayah Kalimantan (22 BPR). dan BRI Unit Desa.4 triliun dan kredit yang diberikan sebesar Rp 1. Sedangkan jumlah BRI UDes sebanyak 3. Persaingan tidak terjadi karena nasabah masing-masing lembaga keuangan tersebut mempunyai karakteristik khusus yang menentukan preferensi mereka untuk menjadi nasabah lembaga keuangan tertentu (struktur pasar bersifat quasi-monopolistik). diperoleh temuan bahwa antara Perum Pegadaian dengan lembaga-lembaga keuangan formal dan informal lainnya yang ada di masyarakat tidak saling bersaing meskipun mempunyai segmen pasar yang hampir sama. Koperasi Simpan Pinjam (Kosipa).40% per bulan. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan hasil penelitian Robinson dengan mempergunakan teori RFI (dijelaskan pada bagian III). 1 0 Sampai dengan September 1998 di seluruh Indonesia terdapat sebanyak 1. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada pasar kredit pedesaan di Indonesia dapat diidentifikasikan beberapa lembaga formal yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat khususnya golongan ekonomi lemah adalah Perum Pegadaian.

atau meningkat 11% dibandingkan dengan realisasi omset tahun 1997 (Tabel 4. Ujung Pandang. Sampai dengan 30 September 1998 omset Perum Pegadaian telah mencapai Rp 2.1 Hasil Studi Lapangan 4. Namun lonjakan omset yang terjadi pada Juni 1998 selanjutnya untuk bulan Agustus dan September mengalami penurunan terutama sebagai dampak dihentikannya fasilitas overdraft di BRI pada pertengahan Agustus. dan Balikpapan) mencatat perkembangan yang kurang memuaskan. lonjakan omset terutama dialami oleh Kantor Daerah Jakarta. kinerja Perum Pegadaian akan dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes (untuk beberapa rasio keuangan) untuk memperoleh gambaran mengenai peranan Perum Pegadaian dalam pemberdayaan ekonomi rakyat dibandingkan dengan institusi kredit lainnya. Bandung dan Yogyakarta. 4. . Perkembangan Omset Perum Pegadaian Rp miliar 2500 2000 1500 1000 500 0 1994 1995 1996 1997 Triw III/ 1998 Jan Feb Mar Apr Mei 1998 Jun Jul Agst Sept 1 1 Omset : adalah jumlah/nilai pinjaman yang diberikan dalam suatu periode tertentu (konsep flow).1 Kinerja Operasional Omset 11 Peran Perum Pegadaian dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat berpendapatan rendah menunjukkan perkembangan yang cukup pesat.74 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 analisis selanjutnya. Untuk masing-masing wilayah. Grafik 1. sementara beberapa Kantor Daerah (Padang.1).3 triliun dengan pencapaian target sebesar 87. terutama sejak terjadinya krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997. sementara untuk institusi lain dan lembaga kredit informal tidak diperoleh data akurat.9%.1. Medan. Pemilihan ini berdasarkan ketersediaan data BPR dan BRI Unit Desa (BRI UDes).

6 32.000.0 2.035.0 0. Pergeseran dari nasabah mikro ke nasabah besar tersebut terutama merupakan dampak dari : (i) Kebijakan Perum Pegadaian untuk meningkatkan laba.4 645. sehingga dengan barang jaminan yang sama nasabah golongan A dan B bisa mendapatkan pinjaman yang lebih besar. B dan C semakin berkurang (Tabel 4.9% dan 27.5 22.000 .0 (miliar rupiah) % A B C D E 10.3% (tahun 1998 s.9 31.000 B = Rp 40.925.00 .8 35.4 0.0 8.166.000.20.8 256.7 739.3 5.9 100.9 5.1.4 1.0 2.4 475. porsi golongan A.4 16.Rp 150.5 1997 Des.9 547.6 50.000 – 20.7 100.4% (tahun 1997) menjadi 50. B = Rp 40.7 115.4 709. Nasabah 1996 Des.9 0.5 100.000 .7 30. E = pegawai Perum Pegadaian.4 439.000 – Rp 40.000.000.3% (1998).000 – 500.2 317. Sementara itu.1).317. Jan .5 951. Gol.0 226.7 679.8 666.4 545.2 0.397.7 183. C = Rp 151.723. Nominal % Nominal % 80. dengan alasan bahwa selama ini Perum Pegadaian telah memberikan subsidi kepada golongan nasabah mikro.Rp 40.5 1.4% dan 24. (ii) Kenaikan harga barang jaminan sejalan dengan kenaikan harga barang jaminan khususnya emas.Jun. Nominal % Proyeksi Nominal % 8. D = Rp 510.0 C = Rp 151.1 25.500. Alokasi pinjaman untuk golongan D12 melonjak sehingga porsinya meningkat dari 35. dan Gol.5 35.8 22. Kecenderungan pergeseran orientasi pembiayaan Perum Pegadaian ke arah nasabah besar juga terlihat pada menurunnya porsi nasabah golongan A dan B masing-masing dari 43.5 8. A = Rp 5.2 1. Dengan demikian kebijakan pembiayaan Perum Pegadaian telah bergeser ke arah nasabah dengan nilai pinjaman yang lebih besar.000 . Perkembangan Omzet Perum Pegadaian 1998 Gol.5 31. Keterangan : A = Rp 5.0 Realisasi Jan .0 13.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 75 Lonjakan kenaikan omset tersebut ternyata tidak diikuti dengan meningkatnya aspek pemerataan. Fenomena dominasi pinjaman oleh golongan D juga terlihat di setiap kantor daerah yang diteliti kecuali untuk Kantor Daerah Bandung dimana pinjaman didominasi oleh golongan C. Gol.9 1.4 100.088.3 437. Kebijakan untuk meningkatkan keuntungan dengan mengurangi porsi pemberian pinjaman kepada nasabah mikro tersebut kurang sejalan dengan misi Perum Pegadaian untuk lebih memihak kepada nasabah mikro.5 14.6% (1997) menjadi 41.8 32. E = pinjaman kepada pegawai Perum Pegadaian 1 2 Perum Pegadaian menetapkan 5 macam golongan nasabah berdasarkan besarnya plafon pinjaman sebagai berikut: Gol.9 31.2 8.000 D = Rp 510. diolah.000 .000.000 – Rp 150. .Sept.7 100.000.0 6. melalui peningkatan kualitas barang jaminan serta meningkatkan porsi nasabah golongan D (proyeksi tahun 1998).5 10.000 Sumber : Perum Pegadaian. Gol.0 46.0 2. Nominal 184.d September).3 0. Tabel 4.

3%. Golongan D meminjam dalam jangka waktu paling lama. peningkatan jumlah nasabah terbesar terjadi pada Kanda Surabaya (243. Maret 1999 Jangka waktu peminjaman rata-rata dalam tahun 1998 adalah 89 hari yang berarti lebih singkat dibandingkan dengan tahun 1997. meskipun masih lebih banyak jika dibandingkan periode yang sama tahun 1997. Lonjakan jumlah nasabah dari posisi Mei ke Juni 1998 tersebut diduga merupakan dampak krisis ekonomi sehingga akses masyarakat untuk dapat memperoleh kredit dari perbankan semakin sulit.d September menunjukkan kecenderungan menurun.2 juta nasabah).6 juta orang. yaitu 95.7%) dan terendah pada Kanda Malang (2. Jumlah Nasabah Sejalan dengan lonjakan omset.d Mei 1998) sekitar 400 ribu nasabah. Jumlah nasabah yang mampu diraih Perum Pegadaian tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah nasabah yang mampu diraih BPR (4. mulai banyaknya perusahaan yang melakukan PHK terhadap karyawan dan meningkatnya harga emas. Lonjakan nasabah Perum Pegadaian yang sangat besar terjadi sejak bulan Juni 1998 dengan rata-rata per bulan di atas 1 juta nasabah dibandingkan bulan-bulan sebelumnya (Januari s. yaitu 68 hari. Penurunan tersebut juga disebabkan oleh meningkatnya harga barang jaminan khususnya emas. Namun seiring dengan berkurangnya kemampuan Perum Pegadaian dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat maka jumlah nasabah pada Juli s. Dari segi persebaran nasabah. jumlah nasabah Perum Pegadaian juga mengalami lonjakan tajam khususnya pada bulan Juni 1998 sehingga sampai dengan 30 September 1998 jumlah nasabah yang dapat diraih mencapai 6. . Lonjakan nasabah sepanjang tahun 1998 tersebut sangat signifikan jika dibandingkan dengan perkembangan nasabah pada bulan yang sama tahun 1997 (Grafik 2). sehingga mendorong penebusan oleh nasabah terutama dengan barang jaminan emas untuk dijual ke pasar.76 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. sedangkan jumlah nasabah yang paling sedikit terdapat di wilayah Kalimantan masingmasing 2. Faktor lain yang menyebabkan lonjakan jumlah nasabah tersebut menurut Perum Pegadaian adalah “peak season” tahun ajaran baru serta meningkatnya gangguan keamanan. sementara itu golongan B meminjam dalam jangka waktu paling singkat.7 hari.3%). Berdasarkan Kandanya.8% dan 2. terdapat kesamaan antara Perum Pegadaian dengan BPR dimana baik untuk Perum Pegadaian dan BPR sebagian besar nasabah terkonsentrasi di wilayah Jawa (masing-masing 70% dan 57%).

Tabel 4. Komposisi Jumlah Nasabah Menurut Golongan dan Profesi 1997 Jml.7 *) % 30.05 100.9 2.000.000 .6 6.458. Jml.0 0.7%) berprofesi sebagai petani.0 0. Sementara dari profesinya mayoritas nasabah (30. diolah.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 77 Grafik 2. mayoritas nasabah Perum Pegadaian (40.0 Lain-lain 1.3 23.500.200 1.612.1 100.2).7 1.400 1.000 .1 3.4 12.9 5.4 Industri 325.1 *) : s.5 682.000 E = pinjaman kepada pegawai Perum Pegadaian .0 Sumber : Perum Pegadaian.6 430.3 23.0 6.Rp 40.2 100. Meningkatnya jumlah nasabah yang berprofesi sebagai karyawan (berdasarkan kartu identitas/KTP) merupakan indikasi dari meningkatnya jumlah karyawan yang terkena PHK.7 *) % 40.638. Nsb.0 1. C = Rp 151.265.000 . (ribu) (ribu) % Petani 1. Dibandingkan dengan tahun 1997.2.4 22.1 331.9 5.331.463.1 1998 Jml.000 .305.032.305.7 6.8 1.1 Pedagang 1.221.682.5 24.d September A = Rp 5. Nsb.4 3. (ribu) 2. Nsb.3 26.9 1.621.000 D = Rp 510.410.9 27. Nasabah A B C D E Jumlah Keterangan : % 43. terlihat adanya pergeseran komposisi jumlah nasabah menurut golongan dan meningkatnya jumlah nasabah dengan profesi sebagai karyawan (Tabel 4.Rp 150.2 871. Nsb.7 7.20.000 B = Rp 40.4 Karyawan 449.5 5.000 Gol.0 13.5%) pada tahun 1998 berasal dari golongan A.9 864.2 30.0 21.621. (ribu) 2.3 10.0 8.9 Nelayan 405. Perkembangan Jumlah Nasabah 1.0 1997 1998 Profesi Jml.1 635.000 800 600 400 200 0 (ribu) 1997 1998 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sep Okt Nop Des Berdasarkan golongannya.5 1.734.3 6.6 16.

dan lain-lain. rasio tersebut menurun jika dibandingkan dengan tahun 1997 (1.78 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. maka telah terjadi penurunan jumlah dan nilai barang yang dilelang masing-masing sebesar 36. pembayaran upah karyawan. rasio nilai lelang terhadap total kredit untuk golongan A meningkat dari 2.8%. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa nasabah diperoleh informasi bahwa sebagian besar dana pinjaman pegadaian dipergunakan untuk tujuan produktif (profil nasabah dikemukakan pada “persepsi masyarakat”). pinjaman yang digolongkan sebagai kredit macet di BPR (per 30 Juni 1998) mencapai Rp 253 miliar (15 % dari total kredit yang diberikan). dengan menjual barang jaminan kepada masyarakat umum pada waktu yang telah ditentukan. sedangkan kredit macet di BRI UDes (per 30 September 1998) mencapai Rp 22.5% dari omset atau 1. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa krisis ekonomi sangat dirasakan dampaknya khususnya oleh nasabah mikro dengan semakin meningkatnya nilai pinjaman yang tidak dilunasi oleh golongan tersebut. usaha catering. 1 3 Lelang merupakan upaya pengembalian uang pinjaman beserta sewa modal yang tidak dilunasi atau pinjamannya tidak diperpanjang (roll over) oleh nasabah sampai batas waktu yang ditentukan. .810 potong (1. biaya sekolah. Perbandingan kualitas pinjaman yang diberikan tersebut menunjukkan persentase kredit macet di Perum Pegadaian lebih besar dibandingkan dengan BRI UDes (0.7% omset) atau senilai Rp 11. Kebutuhan konsumtif yang dapat dipenuhi dari pegadaian antara lain pemenuhan kebutuhan sehari-hari. biaya pengobatan.1% dari sisa uang pinjaman). Sementara itu. dan keperluan keluarga lainnya.2% (1997) menjadi 2. perajin mebel. Maret 1999 Penggunaan dana pinjaman oleh nasabah sangat bervariasi baik untuk tujuan konsumtif maupun produktif.3 miliar (0.5% dari sisa uang pinjaman). Menurut masing-masing golongan nasabah. usaha yang bersifat pesanan seperti kontraktor skala kecil. namun jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan kredit macet di BPR.3% (1998) tertinggi dibandingkan dengan golongan lain. Penggunaan yang bersifat produktif antara lain modal kerja bagi petani dan pedagang.7% dan 47. Lelang 13 Barang jaminan yang dilelang sampai dengan 30 September 1998 adalah sebanyak 261.0% dari omset dan 4.1%. Jika dibandingkan dengan volume dan nilai lelang sampai sebelum krisis (1997).5% dari total kredit yang diberikan).5%). Sedangkan rasio terendah adalah golongan D yaitu sebesar 0.1 miliar (0.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 79 Tabel 4.9 0.1 172. Sementara nilai lelang terbesar terdapat di Kanda Jakarta (Rp 2 miliar) dan yang paling sedikit di Kanda Balikpapan (Rp 289.3 0.7 juta).1 261.7 3.0 TO L TA 413.8 227. diolah.d September 1998. barang jaminan yang dilelang merupakan barang bergerak serta hasil lelang selalu dapat menutup nilai pinjaman ditambah bunga dan biaya administrasi. sehingga banyak nasabah dengan barang jaminan emas yang meminjam pada bulan Juni 1998 dan jatuh tempo pada November 1998 tidak melunasi pinjamannnya. 4. Perlu dikemukakan bahwa lelang barang jaminan yang dilakukan Perum Pegadaian pada dasarnya bukan merupakan kerugian bagi Perum Pegadaian karena sesuai dengan hukum gadai.9 750.2 1. khususnya di Jabotabek sebesar Rp 73.5 2.9 3. Untuk wilayah Bali (termasuk NTT dan NTB) kredit macet sebesar Rp 794 juta (0.5 739. 1997 a) b) *) N asabah B Jam *) N **) O set***) ilai m asio ) rg.8 2. .7 115.5 3.047 3. Irian Jaya dan Timor Timur) sebesar 0.14 1 4 Sebagai contoh turunnya harga barang jaminan adalah turunnya harga emas secara drastis di bulan November hingga mencapai 60% dari harga bulan Juni 1998.4 0.9 1. kecuali dalam kasus tertentu dimana terjadi penurunan harga barang jaminan yang sangat besar.9% dari total kredit macet.2 0.7 Keterangan : *) potong **) : nilai barang yang dilelang (m rupiah) iliar ***) : om pinjam (m rupiah) set an iliar S ber : P um erumPegadaian.9 78. khususnya DKI & Jawa Barat sebesar Rp 6. Sementara itu.9 679.6 0.3 1.4 miliar (4.309. kredit macet di wilayah Jawa sebesar Rp 12.5 1.7 6.504 3.5 b) 2. lelang terbanyak dilakukan oleh Kanda Yogyakarta (38.5 118.403 1.9 2.2 3. Untuk tahun 1998.6% total kredit macet).9 408.3 a) : rasio lelang thd om set b) : rasio lelangthd sisauang pinjam an Pada periode Januari s.3.0 8.166.6% total kredit macet).813 25.6 521.6 2.6 miliar (0.81% total kredit macet).14% total kredit atau 29.8 ribu potong) sedangkan yang paling sedikit dilakukan oleh Kanda Balikpapan (3 ribu potong).5 a) R (% asio ) 7.077. kredit macet BPR sebagian besar terdapat di wilayah Jawa yang mencapai 58% total kredit macet.810 11. Perbandingan kualitas pinjaman ketiga lembaga tersebut menunjukkan kesamaan wilayah kerja yang mempunyai jumlah kredit macet terbesar yaitu di wilayah Jawa.7 4.1 6. Sedangkan kredit macet di BRI UDes baik sebelum maupun sesudah krisis.3% total kredit atau 29% total kredit macet).02% total kredit atau 3.010 50. Sedangkan volume kredit macet paling kecil terdapat di wilayah Sulawesi (termasuk Maluku.9 709.1 0.0 48.9 7.5 miliar (0.278 21.596 1998 N ilai **) O set m ***) S U R (% isa P asio ) 34.914 98.3 317.6 2.0 1.4 1.2 475. inan rg. inan S U R (% R (% B Jam isa P asio ) A B C D 285.0 197.7 183. Perkembangan Lelang Barang Jaminan G ol.0 1.2 182.801 12.27% total kredit atau 56.1% total kredit atau 0. sebagian besar terdapat di wilayah Jawa dan paling sedikit di wilayah Bali (termasuk NTT dan NTB).

7% dari periode yang sama tahun 1997.4).1 triliun.6% dibandingkan periode yang sama tahun 1997. melampaui target yang ditetapkan untuk tahun 1998 sebesar Rp 1 triliun (Tabel 4. Komponen terbesar dari kewajiban jangka pendek tersebut adalah hutang bank (Rp 321 miliar).4% dari tahun sebelumnya. Perbandingan total aset berdasarkan wilayah tersebut menunjukkan adanya kesamaan antara Perum Pegadaian dengan BPR yaitu konsentrasi aset berada di wilayah Jawa dan aset terkecil di wilayah Kalimantan.6 miliar) (Tabel 4. Jumlah modal per 30 September 1998 sebesar Rp 363 miliar.6 miliar yang akan jatuh tempo pada periode 1998 – 2003. Total aset Perum Pegadaian tersebut lebih kecil jika dibandingkan dengan total aset BPR (per Juni 1998) yang telah mencapai Rp 2. sedangkan yang terkecil adalah Kanda Kupang (Rp 34 miliar). Total aset terbesar dimiliki oleh Perum Pegadaian di wilayah Kanda Jakarta (Rp 183 miliar). Perum Pegadaian telah menerbitkan obligasi sebanyak lima kali (seri I s. meningkat 171. Sumber dan Penggunaan Dana Sumber dana Perum Pegadaian selain terdiri dari modal (ekuitas) juga sumber dana lain yang diperoleh dari penerbitan surat berharga maupun pinjaman dari pihak lain. Maret 1999 4. dengan komponen terbesar adalah hutang obligasi (Rp 264. Kewajiban jangka panjang Perum Pegadaian (terdiri dari hutang obligasi dan hutang jangka panjang lainnya) sebesar Rp 364.9 miliar (2.d 30 September 1998 dana pelunasan obligasi .4 triliun.7% total aset BPR). Berdasarkan tujuan tersebut dapat dikemukakan bahwa Perum Pegadaian nampaknya tidak mempersiapkan cadangan dana pelunasan obligasi (sinking fund) yang memadai untuk memenuhi kebutuhan dana pelunasan obligasi yang akan jatuh tempo (s. Realisasi aset pada tahun 1998 tersebut meningkat sebesar 51. total aset Perum Pegadaian sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Jawa (Rp 573 miliar atau 50. Emisi terakhir adalah obligasi emisi V (Juni 1998).6 miliar meningkat 32.80 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. total aset BPR sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Jawa (Rp 1.4). Sebagaimana telah disebutkan dalam Bab II bahwa untuk memenuhi kebutuhan dana maka selama periode 1993 – 1998.7 triliun atau 70.9% total aset Perum Pegadaian).1. sementara kewajiban jangka pendek (terdiri dari hutang bank dan kewajiban lainnya) sebesar Rp 412 miliar. Sementara itu.8% dari total aset BPR) sedangkan yang paling kecil terdapat di wilayah Kalimantan sebesar Rp 63. Ditinjau berdasarkan wilayah.d V) dengan nilai nominal sebesar Rp 289.2 Kinerja Keuangan Aset Aset Perum Pegadaian menunjukkan kecenderungan meningkat. Jumlah aset per 30 September 1998 tercatat sebesar Rp 1.3% total aset Perum Pegadaian) dan yang paling kecil adalah wilayah Kalimantan (Rp 44 miliar atau 3. dengan tujuan penggunaan dana untuk pelunasan obligasi I (sebesar Rp 50 miliar) dan pengembangan usaha (modal kerja).

9% dari periode yang sama tahun 1997.7 59.2 29. 947.9 45. Dengan demikian.7 8.7 798. khususnya untuk memenuhi kebutuhan dana akibat lonjakan nasabah dan bantuan KLBI sejumlah Rp 50 miliar (per 31 Desember 1998).9 0.2 864 282.1 167.4 8. terutama diakibatkan oleh meningkatnya nilai deposito sebesar 605%. bahwa suku bunga bersubsidi dapat menimbulkan inefisiensi dalam penyaluran dana di pedesaan.4 582.0 1.5 81.2 240.6 22. Dana dengan suku bunga murah yang diperoleh Perum Pegadaian tersebut di satu sisi sangat membantu dalam mengatasi kesulitan likuiditas yang dialami.75 187.5 325 615 36.6 140.3 1.7 30.487 307.2 8. 1997 Per 30 Sep.4 72.4 32.2 52. Jun .2 275 0.6 119. dimana sampai dengan 30 September 1998 telah disalurkan ke nasabah sejumlah Rp 35 miliar. alokasi dana tersebut lebih diutamakan untuk penambahan modal kerja.4 55. Menurut Perum Pegadaian.6 Aktiva Lancar Kas dan setara kas Pinjaman yg diberikan Lainnya Aktiva Lain Dana pelunasan obligasi Lainnya Total Aktiva Kewajiban Jangka Pendek Hutang bank Kewajiban lainnya Hutang Obligasi Hutang Sewa Guna Usaha Hutang jangka panjang lainnya 480.028 275 673. kebijakan subsidi bunga hanya akan efektif apabila diterapkan dalam jangka pendek.8 34. namun dari sisi makro berdampak pada timbulnya distorsi suku bunga pasar pinjaman berskala kecil.4 191 1.3 11. Perum Pegadaian juga memperoleh pinjaman berbunga rendah dalam bentuk RDI pemerintah sebesar Rp 100 miliar (sejak tanggal 4 September 1998).5 752 151. Aktiva dalam bentuk kas dan setara kas per 30 September 1998 tercatat sebesar Rp 119 miliar meningkat 240.9 647 163.Sept.8 71.7 184 1139.2 119 756.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 81 yang dicadangkan hanya sebesar Rp 8. (%) 40.4 Neraca Singkat Perum Pegadaian (miliar rupiah) Pos .9 8.7 178.8 201.9 17.7 182. Selain dari penerbitan obligasi.9 476.2 35.2 778.5 183.1 53.3 390 Ekuitas Sumber : Perum Pegadaian .9 0.Pos Neraca 1996 Per 31 Des.4 190.4 5.7 236.3 225 356.3 526.6 166.6 100 363 Pertumb.9 Penanaman dana oleh Perum Pegadaian dalam bentuk aktiva lancar (dikelompokkan dalam kas dan setara kas. sinking fund tersebut tidak dihimpun karena tidak diperoleh ijin dari Menkeu untuk membentuk cadangan sebesar obligasi yang akan jatuh tempo. pinjaman yang diberikan dan lainnya) serta aktiva lain.2 35.9 412.7 225 333 837.7 412 321 91 264.0 31. Per 31 Des. Perlu dikemukakan bahwa lonjakan deposito tersebut terjadi karena adanya pencairan bantuan modal kerja dari Pemerintah dalam bentuk RDI sebesar Rp 100 miliar pada tanggal 4 September 1998. Proyeksi 1998 Realisasi Per 30 Juni Per 30 Sept. Mengacu pada temuan Robinson yang menggunakan pendekatan RFI.diolah 363. Tabel 4.5 miliar).7 174.4 192.9 564.9 175 0.9 28. dan sisanya sebesar Rp 65 miliar untuk sementara disimpan dalam .5 160.

sementara porsi BPR menunjukkan penurunan.5 378.7% (1998). Penanaman dana dalam bentuk pinjaman yang diberikan mempunyai porsi yang paling besar (86. Maret 1999 bentuk deposito. Sementara aktiva lain hanya meningkat sebesar 2. Dari jumlah tersebut. namun peran Perum Pegadaian dalam memberikan pinjaman cenderung tidak mengalami penurunan dalam masa krisis ini.3 (2) 0. Secara makro.077. Perbandingan dalam peer-groupnya menunjukkan peningkatan porsi Perum Pegadaian yang lebih besar dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes.7 24.1 1998 Rasio (%) (1) 10.9 (2) 0.4 2.3 1.8 miliar. Meskipun porsi Perum Pegadaian saat ini masih kecil dan secara makro tidak terlalu besar dampak moneternya.134.9%.6 28.3 0. BPR.8 1. porsi BPR dan BRI UDes justru mengalami penurunan.5 65.557. BRI Udes) Rasio (2) : rasio terhadap total kredit (termasuk bank umum) Pinjaman yang diberikan oleh Perum Pegadaian.795.0 623.921.207. sedangkan porsi BRI UDes meskipun meningkat namun tidak sebesar peningkatan Perum Pegadaian (Tabel 4.0 65.688.0 6. yaitu dari 7.0 7.0 7.2 1. Porsi kredit yang diberikan Perum Pegadaian terhadap total kredit pada September 1998 sebesar 0.6% total kredit peer-group.190.1 0.9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 1997.0 4.286.1 97.1 0.5 1.82 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.5 Nominal ( Rp miliar ) 756.5. Rasio Perkembangan Pinjaman yang Diberikan 1996 Rasio (%) (1) 6.3 27.696. Dalam kondisi perkembangan perbankan saat ini yang tidak menentu maka tidak tertutup kemungkinan pangsa pegadaian akan mampu melampaui pangsa BPR.2 1. BPR dan BRI UDes menurut wilayah adalah sebagai berikut : .1% total kredit atau 6. meningkat 58.7 616.0 385.7 Pegadaian BPR BRI Unit Desa Sub-Total Bank Umum Total Keterangan : 98.483.1 98. pinjaman yang diberikan oleh Perum Pegadaian baik dibandingkan dengan total kredit yang diberikan maupun dalam peer-groupnya relatif kecil.2 (2) 0.3 292.3 Nominal ( Rp miliar ) 526.9 4.9 Rasio (1) : rasio terhadap peer-group ( PP.6 64.976. Pinjaman yang diberikan per tanggal 30 September 1998 sebesar Rp 756.324.5%) dibandingkan aktiva produktif lainnya.3 4.0 299.621.1 0. Rp 50 miliar dalam deposit on-call dan Rp 15 miliar untuk cadangan investasi.3% (1997) menjadi 10.6 1. Tabel 4.5).9 Lembaga Nominal ( Rp miliar ) 414.7 1.9 1997 Rasio (%) (1) 7.9 98.074.

Seperti juga Perum Pegadaian. Biaya operasional BPR juga mengalami peningkatan dari Rp 519 miliar (1997) menjadi Rp 742 miliar (1998) dengan komponen terbesar adalah biaya bunga deposito berjangka sebesar 21. Penyumbang terbesar dari pendapatan usaha tersebut adalah pendapatan sewa modal (88. • Sedangkan untuk BRI UDes.3 miliar.9%). pendapatan operasional BPR menunjukkan peningkatan dari Rp 543 miliar (1997) menjadi Rp 758 miliar (1998).4% menurun dari pangsa tahun sebelumnya sebesar 79.2 triliun (74% dari total kredit BPR). Pendapatan.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 83 • Pinjaman terbesar diberikan oleh Perum Pegadaian di wilayah Jawa. diperoleh nilai rasio antara biaya operasional dengan pendapatan operasional untuk tahun 1997 dan tahun 1998 masing-masing sebesar 80. yaitu sebesar Rp 441.0%.8%.8 triliun (64% dari total kredit) dan yang paling sedikit di wilayah Bali (termasuk NTB dan NTT) sebesar Rp 293 miliar (6.4%. • Kredit yang diberikan oleh BPR sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Jawa.7% dibandingkan tahun 1997. yaitu sebesar Rp 2.6 miliar (4. Rasio tersebut menunjukkan terjadinya penurunan efisiensi.4 miliar.3%. sedangkan yang paling kecil diberikan oleh BPR di wilayah Sulawesi (termasuk Maluku.3% dari total kredit). dimana pendapatan bunga dan biaya bunga merupakan komponen terbesar dari pendapatan dan biaya operasional.7 miliar dan Rp 9.5 miliar (2% dari total kredit). meningkat 10.7% dibandingkan tahun 1997. uang kelebihan lewat waktu. Irian dan Tim-Tim) sebesar Rp 36.5% dan 144.1 miliar (58. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pinjaman yang diberikan oleh ketiga lembaga formal tersebut selama ini terkonsentrasi di pulau Jawa. Sementara itu biaya operasional tercatat sebesar Rp 180. Berdasarkan besarnya pendapatan dan biaya operasional Perum pegadaian tersebut. Terlihat adanya kesamaan antara Perum Pegadaian dengan BPR. dengan komponen terbesar berasal dari pendapatan bunga sebesar 44. Biaya dan Efisiensi Kemampuan Perum Pegadaian dalam meraih pendapatan menunjukkan kecenderungan semakin meningkat. Pendapatan Perum Pegadaian yang terdiri dari pendapatan usaha (meliputi: sewa modal dan bea penyimpanan & asuransi) dan pendapatan usaha lainnya (meliputi: pendapatan investasi. kredit yang diberikan per 30 September 1998 terkonsentrasi di pulau Jawa. dengan porsi terbesar adalah biaya bunga dan provisi yang mencapai 57. menurun dari tahun sebelumnya sebesar 31.3% dan 81. terutama sebagai dampak meningkatnya beban bunga dan . meningkat masing-masing sebesar 4.3% total pinjaman).8% total pinjaman). yaitu sebesar Rp 1. dan keuntungan barang sisa lelang) sampai dengan 30 September 1998 tercatat masing-masing sebesar Rp 209. sedangkan yang terkecil diberikan oleh Perum Pegadaian di wilayah Kalimantan sebesar Rp 36.0% dari total biaya operasional.

4 kali.3% dan 1.8% dan 3. Salah satu aspek yang mendorong tingginya efisiensi yang mampu diraih Perum Pegadaian dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes adalah karena Perum Pegadaian tidak memperhitungkan cadangan kredit macet dalam komponen biaya operasionalnya. Perum Pegadaian masih mencatat tingkat efisiensi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan BPR (95. Solvabilitas Kemampuan Perum Pegadaian untuk memenuhi semua kewajibannya berdasarkan rasio antara total hutang dengan total aktiva rata-rata tahun 1997 dan tahun 1998 adalah . Koefisien tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 1998 terjadi penurunan kemampuan Perum Pegadaian dalam meraih keuntungan.4 kali. Perum Pegadaian memiliki struktur modal yang lebih kuat dan juga memperoleh pinjaman dengan suku bunga relatif murah. Disamping itu.1% dengan ROE sebesar 4. Meskipun demikian. Profitabilitas Dengan menggunakan indikator ROA dan ROE. Likuiditas Rasio antara aktiva lancar dengan kewajiban lancar Perum Pegadaian rata-rata tahun 1997 sebesar 2. Cadangan tersebut tidak dihimpun oleh Perum Pegadaian karena nilai pinjaman yang diberikan sudah didiskonto dari nilai pasar/taksiran barang jaminan (Lampiran 13).5% (1997) dan 4. di sisi lain sumber dana bersubsidi yang diperoleh serta modal Perum Pegadaian cukup besar.3% (1998). Maret 1999 provisi yang sudah mencapai 112.84 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Dengan membandingkan besarnya rasio profitabilitas Perum Pegadaian dan BPR untuk masing-masing periode tersebut terlihat bahwa kemampuan Perum Pegadaian dalam meraih keuntungan relatif lebih baik jika dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes (Lampiran 13). dan koefisien ROE sebesar 10. Profitabilitas yang tinggi tersebut mampu diraih Perum Pegadaian karena besarnya sewa modal hampir sama dengan suku bunga perbankan.4%. Sementara ROA yang mampu diraih BPR sebesar 1.1%). khususnya pada masa krisis ekonomi.6% dari target tahun 1998.2 kali menunjukkan bahwa Perum Pegadaian mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam memenuhi kewajiban lancarnya (Lampiran 13).3%.7%) dan BRI UDes (84.7% (1997) dan 9. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 1997 dan 1998 Perum Pegadaian mempunyai kemampuan untuk memenuhi kewajiban lancarnya sebesar 2.4 kali dan untuk tahun 1998 tidak berubah yaitu sebesar 2.7% dan 3. Pencapaian rasio tersebut berarti telah sesuai dengan target yang ditetapkan.4% (1998). sedangkan ROA BRI UDes sebesar 4. Jika dibandingkan dengan rasio BPR sebesar 1. sementara realisasi pendapatan sewa modal baru mencapai 82. untuk periode 1997 dan 1998 diperoleh koefisien ROA sebesar 6.3%.

Biaya Aktiva Produktif dan Analisis Sensitivitas Marjin (selisih biaya dana yang ditanamkan dalam bentuk aktiva produktif dengan sewa modal pada masing-masing golongan nasabah) yang diperoleh pada masa sebelum dan sesudah krisis menunjukkan. sejalan dengan komitmen Perum Pegadaian untuk membantu nasabah mikro dengan menerapkan subsidi silang pada sewa modal.2 miliar pada saat omzet nasabah golongan A sebesar 60 %. B dan C tersebut ternyata tidak menyebabkan penurunan laba. Sementara itu.d 1998 perbankan mencatat marjin negatif dengan kecenderungan semakin besar pada tahun 1998. Pada periode 1996 s. Turunnya marjin pada golongan A. sedangkan golongan D (rata-rata D dan D1) meningkat menjadi 13. dan D serta pengaruh peningkatan porsi omzet pada golongan A terhadap keuntungan yang mampu diraih Perum Pegadaian. Berdasarkan hasil simulasi terlihat bahwa setiap peningkatan porsi omzet terhadap nasabah golongan A sebesar 5% akan pada simulasi ke1 akan menurunkan keuntungan nominal + Rp 44 miliar. Pegadaian baru akan merugi sebesar Rp 7. . Defisit pada golongan A yang ditandai oleh marjin negatif.26% (1998) (Lampiran 15-A).26%. D sebesar 8.34% (1997) menjadi 10. Marjin yang diperoleh Perum Pegadaian tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan perbankan (Lampiran 16).1%.76% (Lampiran 14). Untuk golongan A terjadi peningkatan marjin negatif menjadi –7. lebih baik jika dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes dengan rasio masingmasing sebesar sebesar 76.24%.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 85 sebesar 64. Rasio tersebut menunjukkan bahwa Perum Pegadaian mempunyai kemampuan lebih besar dalam memenuhi seluruh kewajibannya dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes (Lampiran 13). dilakukan peningkatan porsi omzet pada nasabah golongan A secara bertahap sebesar 5 persen.8% dan 89%. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa secara umum harga kredit di Perum Pegadaian lebih mahal dibandingkan perbankan. Namun karena prosedurnya mudah. golongan B dan C turun menjadi 8. marjin keuntungan/kerugian untuk tiap golongan dianggap sama dengan kondisi pada tahun 1998. bahwa Perum Pegadaian masih memiliki marjin yang positif untuk semua golongan selain A. Analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat sejauh mana pengaruh penurunan marjin pada golongan B. Untuk tujuan tersebut. Dalam simulasi pertama ini. maka masyarakat masih tertarik untuk meminjam dari Perum Pegadaian. sisa omzet dibagi secara merata diantara golongan lainnya. dilakukan simulasi yang terdiri dari dua bagian. sementara untuk simulasi selanjutnya akan menurunkan keuntungan nominal sebesar +Rp 20 miliar. Marjin yang diperoleh pada tahun 1997 untuk nasabah golongan A adalah –3. C. yang terlihat dari meningkatnya marjin tertimbang (weighted profit/loss) dari 7. C. telah berdampak cukup berarti pada perubahan besarnya marjin. Pada bagian pertama (Lampiran 15-A). Kebijakan Perum Pegadaian untuk menaikkan sewa modal pada Juni dan Agustus 1998.39%.61% dan golongan B.

24%.9 1 5 Berdasarkan informasi.76%.9 M 6. 16/UT/II/1999) untuk menurunkan besarnya sewa modal (golongan B. dan D 15 .318 miliar dengan jumlah pegawai sebanyak 6. Pegadaian masih memiliki keuntungan Rp 17.3 juta. dan D = 3. dan D secara bertahap sebesar 1%.925 M 6.September 1998 yaitu sebesar Rp 371. marjin untuk nasabah golongan A dibiarkan tetap dan distribusi omzet untuk tiap golongan nasabah sama dengan kondisi pada tahun 1998. C = 1. Perum Pegadaian masih memiliki ruang untuk meningkatkan porsi pemberian kredit kepada nasabah golongan A dan menurunkan sewa modal pada golongan B. Rasio yang dicapai pada tahun 1998 tersebut masih lebih besar dibandingkan tahun 1996 (Rp 311 juta) dan 1997 (Rp 340 juta). Perum Pegadaian telah menetapkan keputusan (SK.6 Target dan Realisasi Produktivitas Omset – Tahun 1998 Target Omset Jumlah Pegawai Rasio Rata-rata per bulan Rp 9.317. C dan D akan menurunkan keuntungan +Rp 22 miliar. Pada bagian ini.2% dari target yang ditetapkan untuk tahun 1998.. Produktivitas omset untuk tahun 1998 tersebut adalah sebagai berikut : Tabel 4. dilakukan penurunan marjin keuntungan pada nasabah golongan B.6 miliar pada saat marjin untuk tiap golongan nasabah sebagai berikut : A = -7.74%.86 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Berdasarkan hasil simulasi terlihat bahwa setiap penurunan marjin keuntungan sebesar 1 % pada golongan B. C.5 juta Rp 52 juta Realisasi Rp 2.3 juta Rp 41.3 juta per bulan.243 Rp 468.243 Rp 371.243 orang. Sedangkan berdasarkan analisis untuk masing-masing wilayah kerja Perum Pegadaian menunjukkan bahwa pegadaian di wilayah Ujungpandang mempunyai produktivitas omset terbesar (Rp 682.3 juta Berdasarkan realisasi tersebut terlihat bahwa produktivitas omset yang mampu dicapai Perum Pegadaian sampai dengan September 1998 sudah mencapai 79. . atau rata-rata Rp 41. B = -1. Maret 1999 Pada bagian kedua (Lampiran 15-B). Berdasarkan kedua simulasi tersebut di atas. Produktivitas Omset Realisasi omset sampai dengan 30 September 1998 adalah sebesar Rp 2.74%. No. C. Produktivitas omset yang diukur dengan rasio antara realisasi omset dengan jumlah pegawai selama Januari .C dan D) yang berlaku mulai tanggal 1 Maret 1999.

1 juta 6.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 87 juta) baik sebelum maupun sesudah krisis ekonomi. Rasio tersebut meningkat jika dibandingkan dengan rasio tahun 1996 (907. 4.379 orang (1997).133.243 1.1. sedangkan yang terendah pada 1997 adalah Perum Pegadaian di wilayah Jawa.3 (1998). sementara target yang ditetapkan untuk tahun 1998 sebesar 982 orang atau sekitar 82 orang per bulan. Untuk masing-masing wilayah kerja.400.7 Target dan Realisasi Rasio Nasabah dengan Jumlah Pegawai – Tahun 1998 Target Jumlah Nasabah Jumlah Pegawai Rasio Rata-rata per bulan 6.243 982 82 Realisasi 7. Rasio Nasabah dengan Jumlah Pegawai Rasio antara nasabah dengan jumlah pegawai selama Januari. sedangkan produktivitas omset terendah terdapat di wilayah Sumatera (Rp 336. Rasio antara jumlah nasabah dengan jumlah Pegawai tahun 1998 adalah sebagai berikut : Tabel 4. 1. 480 orang (1997) dan 448 nasabah (1996) untuk satu orang pegawai.7 orang atau rata-rata setiap pegawai dapat melayani sebanyak 126 orang per bulan.8 orang) dan tahun 1997 (862.3 Masalah yang Dihadapi Perum Pegadaian Masalah Temporer Lonjakan nasabah yang sangat besar terutama sejak Juni 1998 telah menyebabkan Perum Pegadaian melakukan overdraft yang besar atas pinjaman rekening koran di BRI.September 1998 sebesar 1.6 orang).582 orang (1996) nasabah untuk satu orang pegawai. yang mengakibatkan BRI menghentikan pemberian kredit lebih lanjut ke Perum Pegadaian .1 juta).. rasio nasabah dengan pegawai tertinggi baik sebelum maupun sesudah krisis ekonomi terdapat di wilayah Ujungpandang dengan rasio sebesar 1.1 juta 6.9 (1998) dan 1.137 126 Rasio tersebut menunjukkan bahwa realisasi rasio jumlah nasabah dengan jumlah pegawai yang dicapai Perum Pegadaian sampai 30 September 1998 telah melampaui target yang ditetapkan. sedangkan produktivitas terendah adalah wilayah Sumatera dengan rasio sebesar 806.

5%. D (dibawah 2.7 miliar). C sebesar 73.8. Untuk mengatasi hal tersebut Perum Pegadaian telah memperoleh RDI Pemerintah sebesar Rp 100 miliar (4 September 1998) serta KLBI sebesar Rp 50 miliar pada bulan Desember 1998. Dampak dari kesulitan likuiditas tersebut adalah semakin terbatasnya kemampuan Perum Pegadaian dalam memberikan kredit kepada masyarakat. Kesulitan likuiditas yang dialami Perum Pegadaian juga terlihat dari perbandingan antara realisasi pinjaman yang diterima nasabah dengan nilai taksiran yang ditetapkan.3 miliar (plafond Rp 181. perbandingan tersebut relatif rendah dengan persentase secara nasional sebesar 73.8%).4% dan D 73. Saldo pinjaman rekening koran di BRI tersebut pada akhir September 1998 sebesar Rp 284. B dan C sebesar 85%.88 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Jika mengacu pada ketentuan yang menetapkan realisasi uang pinjaman untuk nasabah golongan A sebesar 90%.1/1/117 tanggal 17 Juni 1998. Kesulitan likuiditas tersebut semakin dalam karena Perum Pegadaian harus membayar pokok dan bunga obligasi yang jatuh tempo. Tabel 4.8). Maret 1999 sejak pertengahan Agustus 1998. Nilai realisasi uang pinjaman dengan persentase tertinggi diberikan oleh Kantor Daerah Jember (81.1% masih lebih kecil dari ketentuan yang berlaku (Tabel 4. 28/OPP. Sampai dengan 30 September 1998. Kondisi tersebut tentunya kurang menguntungkan bagi nasabah yang membutuhkan dana lebih besar karena pinjaman yang diterima jauh lebih kecil dari nilai taksiran maupun nilai pasar barang yang diagunkan. sejak November 1998 setiap kantor daerah wajib melakukan setoran ke kantor pusat secara proporsional berdasarkan modal kerja yang dimanfaatkan.9%.2%).3 71.5 juta) sebesar 81%. B sebesar 71. 30 Juli 1998 Kebijakan yang telah ditempuh agar tetap mampu melayani sebanyak mungkin nasabah dalam kondisi keterbatasan dana.3%. Sebelumnya.5 juta) sebesar 81% dan D (diatas 2. 37-OPP-1/1/23 tgl.4 73. maka berdasarkan SE No.1 A B C D *) SE No. maka nilai rata-rata realisasi uang pinjaman terhadap nilai taksiran untuk golongan A sebesar 85. sedangkan yang terendah diberikan oleh Kantor Daerah Balikpapan (65. Realisasi Pinjaman yang Diterima Nasabah Tahun 1998 Golongan Nasabah Ketentuan Realisasi Pinjaman (%)*) 90 85 85 81 Realisasi Pinjaman yang Diterima Nasabah (%) 85. sementara penerbitan obligasi baru kurang laku.9 73. Perum Pegadaian menurunkan plafon maksimum pinjaman yang .

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat

89

dapat diperoleh nasabah dari Rp 20 juta (golongan D) menjadi maksimum Rp 5 juta per SBK. Beberapa kantor cabang yang diamati bahkan telah melakukan pembatasan plafon pinjaman maksimum untuk seorang nasabah rata-rata kurang dari Rp 5 juta. Kebijakan tersebut tetap dipertahankan sampai saat ini meskipun sudah ada tambahan dana RDI dan KLBI yang sebagian justru ditanamkan dalam bentuk deposito.16 Dampak kebijakan penurunan batas maksimum pinjaman tersebut adalah semakin sulitnya nasabah-nasabah potensial untuk bisa memperoleh pinjaman di atas Rp 5 juta dengan satu barang jaminan, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan beralihnya nasabahnasabah potensial tersebut ke sumber pendanaan lainnya (seperti toko emas dan pegadaian gelap) yang masih bersedia memberikan pinjaman lebih dari Rp 5 juta. Kebijakan lain adalah dengan memberlakukan sistem antrian (waiting list) seperti yang diterapkan oleh beberapa kantor cabang, bahkan pada beberapa kantor cabang terpaksa melakukan penutupan kantor sebelum waktunya. Kenaikan suku bunga pasar juga menimbulkan permasalahan tersendiri bagi Perum Pegadaian karena biaya dana yang sebagian besar diperoleh dari kredit bank semakin besar. Untuk memperkecil dampak naiknya suku bunga pasar, maka Perum Pegadaian sejak 30 Juni 1998 menempuh kebijakan dengan menaikkan suku bunga pinjaman untuk golongan D dengan nilai pinjaman di atas Rp 500 ribu (Lampiran 5). Namun di sisi nasabah, kebijakan tersebut dianggap memberatkan bagi beberapa nasabah meskipun bagi nasabah lainnya tidak terlalu memperdulikan kenaikan suku bunga tersebut.

Permasalahan Struktural
Perum Pegadaian sebagai satu-satunya lembaga keuangan yang memberikan pinjaman dengan sistem gadai mempunyai jaringan kantor cabang yang sangat banyak dengan wilayah operasional yang sangat luas. Luasnya jaringan kerja tersebut di satu sisi sangat mendukung usaha Perum Pegadaian dalam membantu masyarakat, namun di sisi lain menimbulkan permasalahan tersendiri bagi Perum Pegadaian. Permasalahan yang timbul terutama adalah terlalu luasnya rentang kendali masing-masing kantor daerah terhadap kantor cabang-kantor cabang yang ada di wilayah koordinasinya. Dengan jumlah tenaga pemeriksa hanya 4 orang, setiap kantor daerah rata-rata membawahi lebih dari 50 Kanca dengan frekuensi pemeriksaan untuk masing-masing kantor cabang rata-rata 3 – 4 kali dalam satu tahun. Sementara itu, kanda di luar Jawa harus membawahi kanca yang secara geografis terlalu jauh. Luasnya rentang kendali tersebut belum diimbangi dengan

1 6 Menurut Perum Pegadaian, dana sebesar Rp 50 milyar yang disimpan dalam bentuk deposito (on call) dengan jangka waktu kurang dari 1 bulan dimaksudkan untuk cadangan pelunasan pinjaman BRI yang jatuh tempo.

90

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

sarana komunikasi yang memadai sehingga belum dapat menunjang pemantauan kinerja kanca-kanca secara efektif. Sistem manajemen yang diterapkan oleh Perum Pegadaian saat ini cenderung menekankan pada besarnya peranan kantor pusat. Sistem manajemen sentralistik tersebut di satu sisi dapat menunjang sistem internal control yang handal, namun di sisi lain berpotensi menghambat kinerja Perum Pegadaian. Sistem manajemen tersebut dalam jangka panjang akan menimbulkan permasalahan tersendiri khususnya jika kebijakan pemberian otonomi yang lebih besar untuk masing-masing propinsi di Indonesia akan dilaksanakan oleh Pemerintah. Sistem manajemen yang sentralistik tersebut tercermin pada terpusatnya wewenang penetapan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan operasional Perum Pegadaian, antara lain dalam : (i) Penetapan besarnya sewa modal. Kantor daerah dan kantor cabang tidak diperbolehkan untuk menetapkan besarnya tingkat sewa modal (suku bunga) meskipun terhadap nasabah-nasabah potensial.

(ii) Penetapan harga patokan emas. Harga patokan emas ditetapkan oleh kantor pusat dengan berdasarkan harga emas di Jakarta. Sistem ini berdampak pada lambatnya antisipasi kantor cabang dalam merespon perkembangan harga emas di daerah. (iii) Penghimpunan dana. Wewenang untuk menghimpun dana sepenuhnya berada di kantor pusat dimana baik kantor daerah maupun kantor cabang tidak diperbolehkan menghimpun dana sendiri. Dampak dari ketentuan ini adalah, masing-masing kantor daerah atau kantor cabang tidak mampu memanfaatkan potensi daerah sepenuhnya terutama dalam kondisi terbatasnya likuiditas seperti yang dialami dewasa ini. Permasalahan struktural lainnya terutama adalah masih terdapatnya beberapa kelemahan prosedur yang dapat mendorong terjadinya berbagai penyimpangan. Beberapa kelemahan prosedur yang dijumpai antara lain adalah kewenangan Kantor daerah yang seakan tanpa batas dalam memutuskan besarnya nilai pinjaman di atas plafon Rp 20 juta serta penyimpanan seluruh kunci duplikat pada satu orang (Kepala Kantor Cabang) 17 . Disamping kelemahan tersebut, dalam penelitian lapangan juga dijumpai beberapa kegiatan yang dapat dikategorikan sebagai penyimpangan. Penyimpangan tersebut antara lain adalah

1 7 Menurut Perum Pegadaian, dwilipat kunci disimpan oleh Kepala Cabang karena dalam setiap pemeriksan intern dwilipat kunci tersebut diperiksa sampai sejauh mana penyalahgunaan pemakaiannya, serta sewaktu-waktu dapat digunakan apabila pemegang kunci utama (pemegang gudang) berhalangan untuk masuk kerja.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat

91

praktek transfer dana antarcabang 18, pelanggaran kriteria barang jaminan yang dapat diterima Perum Pegadaian 19 , penyimpanan barang jaminan pada tempat yang tidak sesuai dengan prosedur, serta tidak dilaksanakannya prosedur internal control kluis dan gudang. Sementara itu, Perum Pegadaian juga akan terus menghadapi risiko fluktuasi harga barang jaminan akibat fluktuasi nilai tukar mengingat besarnya jumlah agunan di Perum Pegadaian berupa emas/perhiasan yang harganya mengikuti pergerakan harga pasar internasional. Nilai barang jaminan dalam bentuk emas/perhiasan pada tahun 1998 dan 1997 masing-masing sebesar 75% dari total pinjaman meningkat dibandingkan tahun 1996 (72%). Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan jumlah barang jaminan dalam bentuk emas/perhiasan semenjak terjadinya krisis ekonomi di Indonesia.

Persepsi Masyarakat
Berdasarkan hasil penelitian lapangan ke beberapa kantor cabang, ditemukan berbagai persepsi masyarakat terhadap Perum Pegadaian. Pada umumnya masyarakat, khususnya yang berpendapatan rendah, merasa sangat terbantu oleh Perum Pegadaian. Penggunaan dana oleh nasabah sangat beragam baik untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat produktif (misalnya untuk modal kerja dan bridging financing) sampai untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat konsumtif (misalnya untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah dan kebutuhan mendesak lainnya). Dari 90 nasabah yang dipilih secara acak dan berhasil diwawancarai, mayoritas berpenghasilan antara Rp 150 ribu s.d Rp 500 ribu per bulan. Sebagian besar nasabah tersebut tidak mempunyai akses ke perbankan atau tidak mau berhubungan dengan perbankan karena prosedur yang rumit. Berdasarkan penggunaannya, mayoritas nasabah (± 59%) mempergunakan pinjaman yang diperoleh dari Perum Pegadaian untuk tujuan produktif seperti modal kerja (56%) dan bridging financing (3%), sedangkan sisanya mempergunakan untuk tujuan konsumtif seperti biaya sekolah (17%), kebutuhan sehari-hari (16%), emergency (5%), dan lain-lain (3%). (Grafik 3).

1 8 Menurut Perum Pegadaian, praktek transfer antarcabang masih diijinkan sepanjang BRI yang terdapat di wilayah kantor cabang tersebut tidak menyediakan fasilitas rekening giro. Namun dalam prakteknya dijumpai beberapa kantor cabang yang berlokasi di wilayah kota besar masih melakukan praktek transfer antarcabang, meskipun di wilayah tersebut terdapat kantor BRI yang cukup besar. 1 9 Menurut Perum Pegadaian, barang jaminan yang tidak memenuhi ketentuan yang sudah ditetapkan masih bisa diterima asalkan secara ekonomis tidak menimbulkan kerugian bagi Perum Pegadaian.

berpenghasilan rendah dan mempergunakan dana yang diperoleh dari Perum Pegadaian untuk tujuan produktif. Financing 3% Keb. Dengan melihat keunggulan tersebut nasabah Perum Pegadaian pada umumnya tidak terlalu memperdulikan besarnya suku bunga meskipun saat ini relatif tinggi pada kondisi suku bunga pasar yang cenderung menurun. sehingga nasabah khususnya nasabah besar mulai merasakan bahwa Perum Pegadaian tidak selalu dapat memberikan pinjaman sesuai permintaan mereka. mayoritas responden yang banyak berhubungan dengan Perum Pegadaian berpendidikan SLTA (43. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas nasabah mempunyai pendidikan yang cukup. menyebabkan pada beberapa wilayah masyarakat masih merasa malu untuk berhubungan . dari penelitian lapangan juga ditemukan bahwa beberapa nasabah merasakan tingginya suku bunga Perum Pegadaian saat ini serta sistem penghitungan bunga dengan acuan minimal 15 hari dirasakan cenderung merugikan nasabah. Menurut persepsi nasabah.2%). Maret 1999 Grafik 3.3%) terbanyak kedua adalah nasabah berpendidikan SLTP (20%) dan yang paling sedikit adalah nasabah dengan pendidikan tidak tamat SD (2. Sehari-hari 16% Lain-lain 3% Biaya Sekolah 17% Modal Kerja 56% Sedangkan berdasarkan tingkat pendidikannya. keunggulan Perum Pegadaian dibandingkan lembaga pemberi pinjaman lainnya terutama adalah dari segi pelayanan kepada nasabah. Kurangnya sosialisasi/pemasaran produk Perum Pegadaian kepada masyarakat.92 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Kesulitan likuiditas yang dialami sejak Agustus 1998 berdampak pada berkurangnya kemampuan Perum Pegadaian dalam melayani nasabah. pegadaian gelap atau toko emas. Komposisi Penggunaan Dana oleh Nasabah Em ergency 5% Brid. khususnya faktor keamanan barang jaminan dan kewajaran nilai taksiran. Kondisi tersebut mendorong beberapa nasabah besar untuk beralih ke pemberi pinjaman lainnya seperti pelepas uang. Disamping persepsi positif nasabah tersebut.

merealisasikan berbagai skim kredit program yang dananya berasal dari KLBI (seperti KKPA.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 93 dengan Perum Pegadaian. dan Irian Jaya) serta Kodya Yogyakarta. investasi. Berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi rakyat tersebut. meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat terutama yang terkena dampak krisis serta mengkoordinasikan berbagai program penanggulangan dampak krisis dan berbagai program penanggulangan kemiskinan. deregulasi dan privatisasi. (i) program ketahanan pangan. . Maluku. Program Jaring Pengaman Sosial (JPS) Program JPS ditujukan untuk menciptakan kesempatan kerja produktif bagi penganggur. Realisasi JPS ditempuh dalam empat program.2 Program Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Perhatian terhadap ekonomi kerakyatan semakin meningkat seiring dengan meluasnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial. KUT. memberi bantuan teknis yang diarahkan kepada kemitraan dan pendekatan kelompok melalui PPUK. dan (iv) program pemberdayaan ekonomi rakyat. meningkatkan pendapatan dan daya beli masyarakat. yang diwujudkan dengan berbagai kebijakan untuk menghapuskan berbagai aspek yang menyebabkan inefisiensi dalam perekonomian. Salah satu faktor dalam pemberdayaan ekonomi rakyat adalah pemberian prioritas dan bantuan dalam pengembangan usaha kepada ekonomi lemah. Reformasi Struktural Sektor Riil Program ini dijalankan melalui reformasi di bidang perdagangan. 2. Namun tidak semua masyarakat merasa malu berhubungan dengan Perum Pegadaian. 4. KKop. terlihat pada beberapa wilayah seperti Ujung Pandang (mencakup Sulawesi. Kredit Program Dalam rangka mendorong berputarnya roda perekonomian di lapisan bawah yang saat ini menghadapi kesulitan sumber-sumber pembiayaan/pendanaan di lembaga formal (bank). 3. pemerintah telah menempuh berbagai upaya yang antara lain meliputi : 1. dll). PHBK dan PKM serta mengembangkan kelembagaan keuangan sesuai kebutuhan usaha kecil menengah dan koperasi. sedangkan pada beberapa wilayah kantor Perum Pegadaian lainnya yang diamati sebagian nasabah masih merasa malu untuk berhubungan langsung dengan pegadaian dan lebih suka menggunakan jasa perantara (calo). (ii) program padat karya dan penciptaan lapangan kerja produktif’ (iii) program perlindungan sosial. maka Bank Indonesia mendorong komitmen perbankan dalam melayani usaha kecil (KUK). Semakin berkurangnya kemampuan perbankan dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat dewasa ini semakin membuka peluang bagi Perum Pegadaian untuk berperan lebih besar dalam program pemberdayaan ekonomi rakyat.

Maret 1999 Potensi Perum Pegadaian tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek. Selain jaringan kerja yang sangat luas. Perum Pegadaian juga didukung oleh jumlah dan kualitas pegawai yang cukup memadai. c. Kinerja yang semakin meningkat Perum Pegadaian merupakan salah satu usaha di sektor keuangan yang masih dapat bertahan di masa krisis ekonomi dewasa ini bahkan menunjukkan kinerja yang semakin meningkat. yaitu : a. Prosedur pengajuan dan pelunasan pinjaman relatif mudah dan cepat. d. Pinjaman yang diberikan pegadaian kepada masyarakat semakin meningkat seiring dengan lonjakan permintaan khususnya sejak krisis ekonomi. b. Nasabah pegadaian sebagian besar merupakan nasabah mikro dan mayoritas berprofesi sebagai petani. Kesiapan jaringan kerja dan sumber daya manusia Perum Pegadaian mempunyai jaringan kerja yang sangat luas (633 kantor cabang) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. khususnya jika dibandingkan dengan BPR. Potensi Perum Pegadaian untuk berperan dalam pemberdayaan ekonomi rakyat terlihat jelas terutama pada aspek keberpihakan pada masyarakat kecil. Disamping itu. Keberpihakan tersebut juga tercermin dalam misi yang ditetapkan dalam periode RJP II untuk ikut meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat golongan menengah ke bawah melalui penyediaan dana berdasarkan hukum gadai secara inovatif dan melakukan usaha lain yang menunjang.000 dan tertinggi Rp 20 juta. e. murah dan cepat.94 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Keberpihakan pada masyarakat khususnya golongan ekonomi lemah Keberpihakan Perum Pegadaian kepada masyarakat khususnya golongan ekonomi lemah terlihat dari relatif kecilnya skala kredit yang diberikan dibandingkan dengan lembaga formal lainnya. Keunggulan Perum Pegadaian Keunggulan utama Perum Pegadaian dibandingkan lembaga lain adalah prosedur yang mudah. Lonjakan tersebut merupakan dampak semakin sulitnya akses masyarakat ke perbankan. Suku bunga pinjaman yang dikenakan Perum Pegadaian pada umumnya juga relatif rendah. karena dengan sistem gadai nasabah dididik untuk berupaya mengembalikan pinjaman yang diterima. Pelaksanaan peran tersebut selama ini dilakukan oleh Perum Pegadaian dengan memberikan pinjaman kepada masyarakat (khususnya masyarakat berpendapatan rendah) dalam skala kecil dengan . Disamping itu pemberian pinjaman dengan sistem gadai dapat memperkecil moral hazard khususnya dalam penyaluran kredit-kredit bersubsidi. Meningkatnya jumlah pinjaman yang diberikan. Kinerja efisiensi. likuiditas maupun solvabilitas Perum Pegadaian pada umumnya juga relatif lebih baik jika dibandingkan dengan lembaga lain khususnya BPR dan BRI UDes. Perum Pegadaian juga masih memberikan peluang bagi permintaan pinjaman dalam skala yang lebih besar (diatas Rp 20 juta). profitabilitas. dengan plafon terendah Rp 5.

000) pada tahun 1998 mencapai 41. Total nilai pinjaman untuk golongan A pada tahun 1998 sebesar Rp 115. khususnya di wilayah pantai utara. Salah satu produk yang akan dikembangkan yaitu memberikan kredit dengan jaminan surat berharga dan sertifikat tanah. V. Sejalan dengan perkembangan usaha Perum Pegadaian. lampu tekan. PENUTUP 5. dll).000 – Rp 40. dengan tetap berpihak pada masyarakat berpendapatan rendah.000) dibandingkan golongan B. Kecilnya skala pinjaman golongan A tersebut juga terlihat dari jenisjenis barang yang banyak dijadikan agunan seperti : kain. serta kredit dengan sistem pinjam pakai sebenarnya sudah tidak sesuai dengan prinsip dari hukum gadai yang mewajibkan barang jaminan berbentuk barang bergerak dan dititipkan (tidak boleh dipakai oleh pemiliknya). terlihat kebijakan Perum Pegadaian untuk mengembangkan produk-produk baru yang di luar lingkup usaha pegadaian.1 Kesimpulan 1. Apalagi pada beberapa tahun terakhir terdapat kecenderungan di dalam kelompok-kelompok usaha untuk kembali ke core business masing-masing untuk meningkatkan kinerja usahanya. sendok. Namun perkembangan terakhir menunjukkan kecenderungan pergeseran orientasi pemberian pinjaman ke nasabah besar (golongan D) meskipun Perum Pegadaian masih mempunyai peluang untuk meningkatkan porsi pinjaman untuk nasabah mikro (golongan A). Namun porsi dan nilai pinjaman yang diperoleh golongan ini relatif sangat kecil (rata-rata sebesar Rp 18. pengembangan produk-produk baru diusahakan tetap dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kecil apabila tetap mengacu pada prinsip-prinsip hukum gadai dan misi perusahaan.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 95 prosedur dan persyaratan yang mudah dan murah.4% total nasabah.C dan D. sepeda dan lain-lain. Namun rencana tersebut justru menimbulkan kekhawatiran akan terjadi pergeseran dari core business Perum Pegadaian dan orientasi nasabah yang dilayani seperti yang ditetapkan dalam PP No. Oleh karena itu.4 miliar atau hanya sebesar 5% dari total omset Perum Pegadaian. Fenomena tersebut nampak jelas di kantor-kantor Perum Pegadaian di wilayah Jawa. 10 tahun 1990. khususnya tahun 1998 (setahun terakhir) terjadi pelonjakan kinerja terutama karena beralihnya sebagian nasabah perbankan ke Perum Pegadaian. . Begitu pula dengan adanya rencana untuk mengembangkan produk-produk pembiayaan lainnya merupakan suatu upaya yang kurang sesuai dengan misi dari Perum Pegadaian yang ingin melayani kebutuhan masyarakat golongan menengah ke bawah. Nasabah mikro pada Perum pegadaian tersebut terutama adalah golongan A (dengan nilai pinjaman antara Rp 5. alat rumah tangga (misal : kuali/ panci. piring. Perkembangan Perum Pegadaian dalam tiga tahun terakhir cukup pesat.

Perum Pegadaian telah memperoleh fasilitas RDI dari Pemerintah dan KLBI. Maret 1999 2. 7. Hal ini terutama disebabkan oleh perubahan orientasi kebijakan Perum Pegadaian untuk meningkatkan laba serta kenaikan golongan pinjaman karena adanya kenaikan harga barang jaminan. serta meningkatkan porsi pemberian kredit bagi golongan A tanpa menimbulkan kerugian bagi Perum Pegadaian. Untuk memenuhi lonjakan tersebut.5%). sementara dana pelunasan obligasi yang dihimpun (sinking fund) kurang memadai. Peran Perum Pegadaian dalam mendukung pemberdayaan ekonomi rakyat cukup besar terlihat dari jumlah nasabah mencapai 6. 3. Perum Pegadaian mempunyai beberapa kelemahan struktural yang dapat menghambat peningkatan kinerja dan merupakan potensi timbulnya berbagai penyimpangan yaitu : terlalu luasnya rentang kendali manajemen yang tidak didukung dengan sistem dan sarana pengawasan/pelaporan yang memadai. C dan D dengan tetap memberikan subsidi bagi golongan A. 5.6 juta (September 1998) dengan mayoritas merupakan nasabah mikro (40. Dalam tiga tahun terakhir telah terjadi pergeseran pemberian kredit dari nasabah kecil ke nasabah besar. Perum Pegadaian telah ikut berperan dalam kegiatan pembiayaan usaha kecil.d September 1998. Untuk menutupi kekurangan dana tersebut (khususnya modal kerja). Secara makro dan jika dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes yang memiliki pasar yang hampir sama. 6. Meskipun demikian. Kredit yang diberikan terutama kepada nasabah menengah ke bawah yang pada umumnya bergerak di sektor informal dan tidak memiliki akses ke perbankan. Suku bunga (sewa modal) yang dikenakan Perum Pegadaian kepada nasabah saat ini relatif tinggi. profitabilitas dan efisiensi. Pada periode Agustus s. Namun masih terdapat peluang (room) bagi Perum Pegadaian untuk menurunkan sewa modal khususnya untuk golongan B. sementara dana yang diperoleh sebagian besar bersuku bunga rendah. serta sistem manajemen yang sangat sentralistik. Perum Pegadaian mengalami kesulitan likuiditas akibat lonjakan permintaan nasabah dan kurangnya peminat obligasi yang diterbitkan. Jaringan Perum pegadaian yang didukung oleh 633 kantor menjangkau seluruh wilayah Indonesia sampai ke pedesaan. Keunggulan dalam profitabilitas dan efisiensi tersebut terutama disebabkan oleh tingginya sewa modal yang dikenakan (hampir sama dengan suku bunga perbankan). sumbangan Perum Pegadaian dalam pemberian kredit masih lebih rendah. 4. Perum Pegadaian melakukan penarikan overdraft sangat besar sehingga mengakibatkan penghentian pemberian fasilitas overdraft BRI. .96 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Perum Pegadaian memiliki keunggulan dalam kualitas pinjaman yang diberikan.

namun dari penelitian diperoleh temuan bahwa daerah juga mempunyai potensi pendanaan (sesuai dengan teori RFM). untuk mengkaji apakah akan melakukan pemindahan kantorkantor cabang tersebut ke lokasi yang lebih strategis atau melakukan penutupan. Masalah kesulitan likuiditas dapat diminimalkan apabila sampai batas tertentu kantor daerah diberi kewenangan untuk mencari dana sendiri dengan memanfaatkan potensi daerah setempat (sesuai dengan teori RFM). pemerintah hendaknya menetapkan ketentuan yang mengatur batas minimum porsi kredit untuk nasabah kecil (golongan A dan B). Perum Pegadaian perlu melakukan evaluasi secara lebih intens terhadap kantor-kantor cabang yang merugikan. Mengingat masih besarnya potensi pasar yang dapat dimanfaatkan oleh lembaga keuangan yang memberikan pinjaman berdasarkan sistem gadai. maka sudah saatnya besarnya sewa modal diturunkan. 4. 6. tersedianya room yang cukup luas. sehingga Kanda berpotensi untuk mencari dana pinjaman sendiri. . misalnya sebesar 30% .Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 97 8. khususnya bagi Kanca defisit yang sudah lama didirikan dengan tetap mempertimbangkan pelaksanaan misi sosial yang diemban. Untuk mengetahui efektivitas penggunaan kredit dalam rangka pemberdayaan ekonomi rakyat. Perum Pegadaian perlu lebih intensif dalam memonitor nasabah. Berdasarkan kinerjanya Perum Pegadaian memiliki potensi untuk berperan dalam channeling pemberdayaan ekonomi rakyat. 5. rentabilitas yang lebih baik dibandingkan lembaga formal lainnya. Dengan mempertimbangkan potensi dan rencana jangka panjang.1 Saran 1. nampaknya Perum Pegadaian perlu lebih menekankan pada pemberian kredit daripada melakukan usahausaha lain di luar core usaha Perum Pegadaian. 7. Namun untuk mewujudkan potensi tersebut Perum Pegadaian harus terlebih dahulu membenahi kelemahan-kelemahan struktural yang ada. Hal ini sekaligus dapat mendorong kompetisi untuk meningkatkan efisiensi. Sesuai dengan misi Perum Pegadaian yang didukung oleh sumber dana yang mayoritas bersubsidi. 5. 2. serta kecenderungan penurunan suku bunga pasar. untuk menjaga konsistensi pelaksanaan misi Perum Pegadaian. 3. maka Pemerintah perlu mengkaji kemungkinan pemberian izin bagi perusahaan lain untuk bergerak dalam usaha pegadaian.40%. Di samping itu. Sistem manajemen pendanaan secara sentralistik yang diterapkan Perum Pegadaian sampai saat ini nampaknya sangat sejalan dengan teori FF.

Company Profile Perum Pegadaian ___________________. Harvard University. Untuk menghindarkan terjadinya distorsi suku bunga pasar. Manajemen Keuangan : Teori dan Penerapan (Keputusan Jangka Pendek) Jilid 2. Penerbit Erlangga Jakarta. Fumio (1986).98 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. DAFTAR PUSTAKA Egaitsu. Prospektus Obligasi V Perum Pegadaian Tahun 1998. ___________________. Rural Financial Markets : Two School of Thoughts. Development Discussion Paper No. 434. Marguerite S (1992). Suad (1985). 1970-91. Pedoman Pemeriksaan Satuan Pengawasan Intern Perum Pegadaian. Tokyo : Asian Productivity Organization. J. Fred dan Brigham. PERUM PEGADAIAN (1997). Maret 1999 8. Weston. Laporan-Laporan Keuangan Robinson. Eugene F (1981). Direktorat Keuangan. Rural Financial Intermediation : Lessons From Indonesia Part One The Bank Rakyat Indonesia : Rural Banking. . Uraian Tugas dan Kegiatan : Direktorat Operasi dan Pengembangan. Surat-Surat Keputusan Direksi Perum Pegadaian. ___________________. Husnan. maka kebijakan pemberian bantuan likuiditas dengan subsidi bunga kepada lembaga pembiayaan yang berorientasi pada masyarakat menengah ke bawah hendaknya hanya dilakukan dalam jangka pendek atau dalam bentuk sekuritisasi. Laporan-Laporan Operasional Bulanan dan Tahunan ___________________. dan Direktorat Umum. ___________________. Manajemen Keuangan Edisi ke-7 Jilid I (Terjemahan dari Managerial Finance 7th edition). Harvard Institute for International Development. Tim Analisis Jabatan Perum Pegadaian (1990). 9. Pedoman Operasional Kantor Cabang. ___________________ (1997). Penerbit BPFE Yogyakarta. Untuk memperoleh penilaian efisiensi yang lebih riil. dalam Farm Finance and Agricultural Development. maka Perum Pegadaian perlu memperhitungkan biaya dana untuk masing-masing Kanca.

jasa dan mengembangkan kegiatan pemasaran serta mengkoordinasikan pengolahan dan dan penyajian statistik perusahaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku sebagai bahan pertimbangan pimpinan dalam rangka meningkatkan pendapatan perusahaan. 7. bank. surat berharga. bertugas untuk mengkoordinasikan evaluasi. bertugas untuk mengkoordinasikan dan melaksanakan penelitian dan pengembangan jenis. Subdit Penelitian dan Pengembangan Operasi (LB). urusan kehumasan. Subdit Anggaran dan Permodalan (AP). 3. promosi. Subdit Operasi dan Pengembangan (OPP). perpajakan. pemensiunan. Subdit Kesekretariatan Perusahaan (SP). kesejahteraan serta pengembangan manajemen 2. kepustakaan dan pengelolaan produk hukum serta pemberian pertimbangan hukum sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan tugas pimpinan perusahaan. bertugas untuk mengkoordinasikan pengelolaan kas. pemindahan. bertugas untuk mengkoordinasikan dan mengedalikan penyelenggaraan kesekretariatan pimpinan. kepangkatan. 5. . pengevaluasian pelaksanaan anggaran. Subdit Akuntansi (AK). pengalokasian dana. bertugas untuk mengkoordinasikan penyusunan formal. penyelenggaraanpembukuan dan penyajian laporan keuangan perusahaan serta pengembangan sistem informasi keuangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka pengendalian keuangan perusahaan. Subdit Kepegawaian (KP). bertugas untuk membina penyaluran kredit gadai. pengadaan dan penyelenggaraan pengangkatan. 6. pemberhentian. perjalanan dinas dan tunjangan serta pelaksanaan penagihan piutang perusahaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan tugas. 4. Subdit Perbendaharaan (PB). verifikasi. prosedur dan wilayah operasi serta bentuk usaha lain berdasarkan peraturan yang berlaku dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan. bertugas untuk mengkoordinasikan penyusunan rencana anggaran. sistem. gaji.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 99 LAMPIRAN Lampiran 1 Tugas masing-masing Kepala Sub Direktorat 1. kebutuhan modal kerja dan pengalokasian modal kerja serta investasi lainnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka menjamin kontinuitas keuangan perusahaan.

bertugas untuk mengkoordinasikan pembuatan disain bangunan pemrosesan pelaksanaan pembangunan atau perbaikan. Maret 1999 perusahaan berdasarkan peraturan yang berlaku dalam rangka pembinaan kepegawaian dan peningkatan kesejahteraan pegawai. . bertugas mengkoordinasikan perencanaan pengembangan program penyelenggaraan dan evaluasi pelaksanaan pendidikan dan pelatihan serta penyusunan laporannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar penyelenggaraan diklat berjalan lancar dan terpadu. 10. Kepala Pusat Pengembangan Teknologi Informasi (Kapus TI). Kepala Balai Diklat (Kabal Diklat). Subdit Tata Usaha dan Rumah Tangga (TURT). Subdit Bangunan (BG). 11. pengadaan denah. pemilikan hak atas tanah. izin mendirikan bangunan dan penghapusan serta penyelenggaraan tata usaha pembangunan atau perbaikan bangunan prasarana dan rumah jabatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka penyediaan sarana kerja yang memadai untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas. 9.100 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. urusan rumah tangga dan perlengkapan kantor agar pelaksanaan tugas berjalan lancar dan terpadu. pengurusan persewaan bangunan. bertugas untuk mengkordinasikan pengurusan ketatausahaan. 8. bertugas mengkoordinasikan penyelenggaraan pengelolaan database dan jaringan serta pengembangan dan pengimplementasian sistem dalam menunjang kegiatan operasional perusahaan.

442 814 511 25 5.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 101 Lampiran 2 Jumlah Cabang yang Dibawahi oleh Setiap Kanda KANDA JUMLAH CABANG JUMLAH ANAK CABANG 7 3 11 2 6 2 0 0 2 0 0 10 9 6 58 TOTAL I. V. Pandang Semarang Yogyakarta Surakarta Surabaya Malang Jember Denpasar Balikpapan Kupang 35 36 44 49 49 45 56 53 50 51 37 31 22 17 575 42 39 55 51 55 47 56 53 52 51 37 41 31 23 633 JUMLAH Lampiran 3 Komposisi Pegawai Tetap Perum Pegadaian Jenjang Karir Manajemen Puncak Manajemen Menengah Manajemen Pelaksana Staf Administrasi Tingkat Pendidikan SD SLTP SLTA D3 S1 S2 TOTAL 982 465 2. XI. X.893 829 377 2. III.183 885 404 2. XIV. IV.349 1996 4 34 780 4. IX. VI. VIII.118 803 655 35 4. VII.129 954 437 2.303 897 468 14 5. 1998 4 45 794 3. XIII. XII.050 Okt.365 1997 4 45 794 4.171 811 591 31 4.817 1995 4 34 742 4.974 . Medan Padang Jakarta Bandung U. II.

176 50 70 876 2.000 2. 756.Saham PT.Saham PT. BNI Dana Berbunga . Semen Gresik . Maret 1999 Lampiran 4 Penanaman Dana Perum Pegadaian Jenis Penanaman 1997 Per-31 Des 526.150 Pinjaman yg. Bahana Dana Selaras .500 2.BRI .Saham PT. Danareksa Fund MGT.000 3.000 500 -2.102 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Danareksa Seruni .351 50 70 1. Dua Satu Tiga Puluh) Sumber : Perum Pegadaian .500 65.500 5. BIG Palapa .000 7.243 10.000 2.Saham PT. Cadangan penurunan nilai surat berharga Penyertaan (Dalam bentuk 500 lembar saham PT.000 2.320 1.768 1.150 (Juta rupiah) 1998 Per-30 Sep.Saham PT. Semen Gresik (Sertifikat Bukti Right) .Saham PT.BEII Surat Berharga .500 5.Saham PT.000 -1. Diberikan Deposito .000 2.751 70.

25% 2. minimum Rp 10.500. minimum Rp 25.50% 1.5 juta ditetapkan 0.50% 3. 1. G=Gudang. minimum Rp 8. yang direvisi minimum tiga .000 510.25% 2.25% 2.000 ke atas) Lampiran 6 Jenis-jenis Harga Pasar Untuk menentukan nilai barang jaminan yang akan digadaikan oleh masyarakat. Perum Pegadaian mengacu kepada harga pasar.000 1. Dalam hal ini Perum Pegadaian membuat tiga kriteria harga pasar yaitu harga pasar pusat (HPP).000 >2.50% 2.000 (pembulatan Rp 500 ke atas) • Biaya PA gol.5%XUP. HPS adalah harga pasar barang-barang gudang yang didasarkan pada harga pasar barang baru (toko) di daerah setempat.5%XUP. M=Mobil. 2.000-40.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 103 Lampiran 5 Tabel Sewa Modal dan Biaya PA masing-masing Golongan Gol Uang Pinjaman Sewa Modal Per 15 Hari Per Tahun A B C D D 5.000 40. Harga Pasar Setempat. Harga Pasar Pusat HPP adalah harga pasar emas/perak/permata yang ditetapkan oleh Kanpus sebagai patokan umum baik bagi Kanda maupun Kanca berdasarkan perkembangan harga pasaran umum dengan memperhitungkan kecenderungan perkembangan harga di masa mendatang. harga pasar daerah (HPD) dan harga pasar setempat (HPS).500.000 (pembulatan Rp 1. 3.000. DG selain mobil u/ UP > Rp 1. DK u/ UP > Rp 1.500-150.000 ke atas) • Biaya PA dengan jaminan Mobil ditetapkan 0.25% 2.50% 2.00% Maksimum Jangka Waktu Kredit 120 120 120 120 120 hari hari hari hari hari Keterangan : K=Kantong.5 juta ditetapkan 0.000-1. UP=Uang Pinjaman • Biaya PA gol.000-500. Harga Pasar Daerah HPD adalah harga pasar yang ditentukan oleh Kanda dengan memperhatikan toleransi maksimum 4% di atas HPP dan 2% di bawah HPP.000-5.000 (pembulatan Rp 1.25% 2.000 151.5%XUP.

2. d. yaitu dengan mencocokkan jumlah barang yang ada di gudang dengan saldo menurut buku gudang. yaitu dengan melakukan pemeriksaan secara langsung ke dalam gudang tentang kebersihan. yaitu dengan mencocokkan fisik barang jaminan dengan keterangan pada SBK dwilipatnya (lembar II/kopinya). Buku Uang Kelebihan eks BSL. e. Berdasarkan harga-harga pasar di atas. 2. Barang jaminan yang sudah ditetapkan sebagai BSL pada buku Redister Barang Sisa Lelang (RBSL). Kemudian berdasarkan RBSL tersebut dibukukan pada : a. Meronda gudang. f. Maret 1999 bulan sekali. Menghitung barang jaminan. Buku Ikhtisar Kredit dan Pelunasan bulan kredit yang bersangkutan dikredit sebesar uang pinjaman BSL. Karena BSL diakui dan dicatat sebagai mutasi aset. 3. c. Pemeriksaan buku gudang yang dilakukan setiap hari. Kegiatan ini dilakukan minimal 3 kali sebulan untuk cabang kelas III. Lampiran 8 Administrasi dan Pembukuan Barang Sisa Lelang (BSL) 1.Golongan B dan C = 85% . kerapihan dan keamanan gudang berserta isinya. Buku Kas didebet sebagai pelunasan dan dikredit pembelian BSL.Golongan A = 90% . Laporan Bulanan Operasionalatas penambahan BSL. Penghitungan barang jaminan ini dilakukan minimal sepuluh kali dalam satu bulan. maka adanya BSL pada setiap lelang tidak perlu dicatat pada Berita Acara Lelang (BAL). Pemeriksaan ini dilakukan setelah penghitungan barang jaminan selesai dilaksanakan. sedangkan cabang kelas I dan II minimal satu kali sebulan oleh Kacab. Meskipun demikian dalam jangka waktu 2 bulan tiap-tiap rubrik/golongan/ribuan harus sudah pernah dihitung sebanyak dua kali. Dengan demikian BAL hanya berisi data barang jaminan yang laku dilelang saja.Golongan D s/d Rp 5 juta = 85% . . dan minimal 60% dari tiap rubrik/golongan/ribuan telah dihitung untuk ketiga kalinya. Buku Gudang dikreditkan sejumlah BSL. 4.Golongan D > Rp 5 juta = 84% Lampiran 7 Kegiatan pemeriksaan barang jaminan di gudang 1. Pemeriksaan isi barang jaminan.104 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. kemudian ditentukan besarnya persentase uang pinjaman terhadap taksiran menurut masing-masing golongan yaitu : . Buku Kredit yang bersangkutan pada nomor yang menjadi BSL sebagai penghapusan b.

Dimutasikan Antarcabang BSL emas atau non-emas sebelum diusulkan penurunan harga jualnya dapat juga diupayakan penjualannya di kantor cabang yang berada di daerah lain yang diyakini dapat terjual lebih cepat. dijual sebesar Harga Pembelian x 109.7% Penjualan BSL jangka waktu lebih dari 30 (tiga puluh hari s/d 60 (enam puluh hari) dijual sebesar Harga Pembelian x 105%. mutasi aktiva dan harus mendapat izin dari Kakanda dan penjualannya di tempat yang baru harus memperhitungkan biaya pengirimannya. tidak diijinkan untuk menjualnya.75 miliar (suku bunga 36 %) yang secara langsung dapat ditarik oleh cabang-cabang Perum Pegadaian melalui kantor-kantor cabang BRI setempat yang telah ditentukan. Sebelumnya. Sejak terjadinya krisis ekonomi. Beban suku bunga pendanaan yang tinggi menyebabkan Perum Pegadaian menaikkan sewa modalnya seperti terlihat dalam tabel di atas. · · 2 . Sebelum mendapat keputusan penurunan harga jual dari Kakanda. Perum Pegadaian diberikan fasilitas kredit oleh BRI sebesar Rp 181. Di samping itu. atau kebijakan lain dari Kakanda atas usul penurunan harga jual yang telah diajukan sebelumnya. Kesulitan likuiditas yang dialami Perum Pegadaian antara lain akibat dihentikannya fasilitas kredit dari BRI. b) BSL Non-Emas Diusahakan BSL harus sudah terjual dalam jangka waktu 30 (tiga puluh hari) namun demikian apabila dalam jangka waktu tersebut belum laku terjual. permintaan terhadap jasa Pegadaian meningkat pesat sehingga masing-masing cabang Pegadaian melakukan penarikan dana dari BRI dalam jumlah cukup besar. Hal ini menyebabkan kredit yang ditarik secara keseluruhan melebihi plafon yang ditentukan (overdraft) sehingga BRI menghentikan fasilitas tersebut pada bulan Agustus 1998. Pengiriman BSL ini dibukukan sebagai Rekening Antar Kantor (RAK). Selisih lebih atau kurang atas penjualan ini dibukukan sebagai laba/rugi perusahaan. Kelebihan kredit yang ditarik tersebut dikenakan suku bunga pasar sebesar 71% per tahun.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 105 Lampiran 9 1. makin sedikitnya sumber pendanaan yang ada menyebabkan Perum Pegadaian mengurangi batas nilai kredit maksimum. Penyelesaian Barang Sisa Lelang (BSL) Dijual di bawah tangan Pedoman harga penjualan BSL ditetapkan sebagai berikut : a) BSL Perhiasan Emas Penjualan BSL jangka waktu kurang dari 30 (tiga puluh) hari. BSL yang diminta oleh Hakim/Jaksa/Polisi harus diselesaikan menurut peraturan yang berlaku. Kacab dapat mengusulkan penurunan harga jual kepada Kakanda. Pedoman penurunan harga jual secara bertahap sesuai kebijakan Kakanda.

106 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 107 .

108 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 109 .

110 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 111 .

Maret 1999 .112 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 113 .

Maret 1999 .114 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 115 .

Maret 1999 .116 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 117 KAJIAN AWAL TENTANG MONEY LAUNDERING SERTA IMPLIKASINYA DALAM PASAR KEUANGAN INTERNASIONAL Hariyadi Ramelan. juga merupakan lembaga yang sangat rentan terhadap proses placement. Kajian ini diharapkan akan mampu memberikan gambaran serta perbaikan-perbaikan yang memadai dan perlu dilakukan oleh masyarakat keuangan internasional dalam upaya pencegahan maupun penindakan terhadap kegiatan money laundering. Namun pada sisi yang lain. suap/korupsi/ manipulasi serta fraud perbankan) telah menjadi “legal” dalam dunia bisnis di pasar keuangan internasional. perbankan internasional khususnya International Offshore Banking Centres (IOBC) dengan segala aspek perlindungan data serta keleluasaan pajaknya telah menjadi lembaga intermediasi yang sangat diminati oleh para money launderer. Urusan Devisa. yang dari tahun ke tahun semakin canggih. dan Delfianto Ras*) Perkembangan teknologi perbankan internasional dalam dekade terakhir ini telah memberikan jalan bagi tumbuhnya jaringan-jaringan perbankan yang semula lokal/regional menjadi suatu lembaga keuangan yang global. risiko pada kesehatan perbankan. layering ataupun integration. serta implikasi yang timbul sehubungan dengan peranan bank sebagai lembaga intermediasi. Kecenderungan tersebut ternyata juga memberikan kesempatan bagi para pelaku money laundering untuk turut memanfaatkan kecanggihan jaringan layanan perbankan. batasan. Dalam posisi ini. *) Haryadi Ramelan : Dealer pada Dealing Room. teknik-teknik. Uang hasil transaksi ilegal (obat bius/ narkotika. efek kontaminasi pada transaksi keuangan yang legal. Bank Indonesia . Bank Indonesia Delfianto Ras : Dealer Yunior pada Dealing Room. volatilitas yang sangat besar pada modal internasional dari transfer asset antar negara yang tidak terantisipasi. senjata gelap. sumber-sumber regulasi. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran awal tentang kegiatan money laundering. Ketidakberhasilan dalam menggalang kerjasama internasional dalam memerangi money laundering akan menimbulkan risiko perubahan variabel permintaan uang yang tak terduga. terorganisasi rapi dan profesional. Urusan Devisa.

dll). Lantas kemanakah uangnya? Beberapa sebab dapat dikemukakan seperti statistical error atau (bukan mustahil) adanya secret money.118 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.M et al. Hal kedua tersebut diakui sebagai masalah yang pelik namun realitasnya memang terdapat permintaan pasar yang cukup kuat untuk secret money. Samuel. saat ini perkembangan pasar keuangan internasional telah memungkinkan terbukanya peluang untuk menampung rekening secret money. Kalimat tersebut nampaknya bukan sekedar slogan kosong bagi Pemerintah Amerika Serikat dalam memberantas kegiatan money laundering. J. Kedua bank juga terbukti bersalah dan mengaku bertanggung jawab penuh bahwa karyawan-karyawan banknya telah melakukan money laundering atas hasil-hasil ilegal narkotik. suap kepada pejabat pemerintahan. Dalam kasus black hole di atas. Chapman & Hall. Hal tersebut paling tidak terbukti pada hasil “Operation Cassablanca” yang berlangsung akhir bulan Maret 1999. pp. bila sebuah komoditas diimpor dan dibayar. 1. yakni Bancomer dan Banco Serfin dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Federal (Fed Court) Los Angeles. kegiatan money laundering dalam konsep akuntansi internasional ternyata mampu menjelaskan adanya defisit neraca transaksi berjalan dunia. T Pada situasi global. tidak hanya dari para kriminal namun juga dari perusahaan-perusahaan dan bahkan pemerintahan. 6th Ed. Secara lebih rinci. London. 1996. Dua bank besar tersebut diharuskan membayar denda masingmasing USD 9. Maret 1999 I. Pendahuluan he war against money launderer is not over . Secara teoritis dan teknis. Sejalan dengan praktek money laundering tersebut.7 juta.9 juta dan USD 4. dalam kasus money laundering. Dinas Pajak Dalam Negeri Inggris melakukan razia terhadap 2 kantor akuntan besar dan juga rumah pengacara serta akuntan yang terbukti berupaya menghindari objek pajak yang diperoleh dari money laundering. penjumlahan total nilai import dan pembayaran bunga seharusnya sama dengan total nilai ekspor dan penerimaan bunga. Contoh-contoh tersebut hanya menggambarkan situasi mikro dari satu konsekuensi bercampurnya “uang halal” yang secara resmi masuk dalam hitungan otoritas moneter dengan uang haram yang merupakan hasil kegiatan melawan hukum dalam bisnis keuangan internasional. Management of Company Finance. 1) uang yang dibayarkan untuk barang atau jasa-jasa tersebut tidak pernah tercatat oleh perusahaan/ individu yang umumnya dengan berbagai alasan antara lain untuk menghindari pajak ataupun karena transaksi tersebut ilegal (manipulasi oleh perusahaan swasta. Pada saat yang bersamaan di London. Dua bank besar Mexico.22-23. namun tidak ada catatan bahwa seseorang telah menerima pembayaran tersebut. Hal ini antara lain ditandai dengan semakin maraknya International Offshore Banking Centers (IOBC) di berbagai belahan dunia seperti Gambar 1. .

ada empat faktor yang umum terdapat dalam kegiatan money laundering. batasan. Secara rinci. bentuk pengambilan uangnya harus diubah. maka diharapkan dapat diupayakan langkah-langkah efektif untuk mencegah terjadinya money laundering maupun langkah-langkah represif seandainya money laundering terjadi dengan tetap mengacu pada Undang-undang ataupun regulasi yang berlaku secara internasional. 1997. trend dan teknik umum yang digunakan. _____________. Keempat. Sebagai gambaran turn over kegiatan money laundering saat ini telah melampaui batas imaginasi. proses kegiatan dan pelanggaran money laundering. bagian kedua tulisan ini akan memaparkan batasan. yakni 2-5% dari GDP dunia. jejak proses pencucian uang harus disamarkan dalam upaya menghilangkan jejak jika seseorang menelusuri proses uang dari awal hingga akhir. International Monetary Fund (IMF) 2) berpendapat bahwa money laundering merupakan salah satu ancaman paling serius bagi masyarakat keuangan internasional khususnya dan sistem keuangan global pada umumnya. serta implikasinya bagi pelaku-pelaku transaksi-transaksi perbankan internasional seperti bankir. Angka ini secara ekstrim dapat diartikan bahwa bisnis money laundering merupakan bisnis terbesar ketiga di dunia setelah forex market dan bisnis minyak dunia. 2. mengupas beberapa implikasi yang sifatnya represif dan antisipatif terhadap kegiatan money laundering dan Bagian Keempat berisi Kesimpulan akhir. yakni sebagai suatu proses dimana para kriminal berupaya untuk menyembunyikan sumber dan kepemilikan hasil-hasil aktivitas kriminal yang melawan hukum. The Finacial Action Task Force on Money Laundering. Dengan memiliki pemahaman yang cukup memadai. yang besarnya mencapai 300 – 400 milyar USD. pemilik uang dan sumber sesungguhnya uang tersebut harus disembunyikan. pengawasan melekat terhadap uang (dirty money) harus dipertahankan. II. Teknik dan Regulasi dalam Kegiatan Money Laundering A. regulator atau lembaga lain yang berwenang (bank sentral) serta pelaku-pelaku pasar finansial lainnya. Bagian Ketiga.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 119 Berkaitan dengan permasalahan tersebut. Pertama. Batasan. Dalam textbook. namun demikian money laundering secara khusus dapat diartikan pencucian uang (laundering money from illicit proceeds). Kedua. Annual Report. Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain memberikan gambaran yang menyeluruh berkaitan dengan kegiatan money laundering. . Ketiga. Batasan dan Proses Kegiatan Money Laundering Tak ada batasan money laundering secara umum.

120 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

Penggerebekan yang terjadi di London pada contoh 3. Spin Dry (Repatriation and Integration) Spin dry merupakan gabungan dari langkah repatriasi dan integrasi. Proses yang terjadi adalah apabila hasil-hasil ilegal dari money laundering masuk kembali ke dalam sistem keuangan dan muncul sebagai dana-dana bisnis yang wajar/ normal. kegiatan money laundering biasanya terdiri atas 3 proses yang berkelanjutan yakni: 1. 1998. London 4. teknik-teknik yang dilakukan dalam pencucian uang dapat dikategorikan dalam 2 cara umum yakni: 1. 1998) 3). Layering (Pemilahan Dana) Layering atau heavy soaping merupakan langkah kedua dalam money laundering yang ditandai dengan pemilahan hasil-hasil ilegal tersebut dari sumber-sumber asalnya melalui pembelian/transaksi-transaksi finansial seperti bearer bonds. Robinson. senjata gelap.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 121 Secara kronologis. stocks. Teknik-Teknik Money Laundering Berdasarkan survey yang dilakukan oleh The FATF 4) (The Financial Action Task Force) sepanjang tahun 1996-1997. Langkah lain yang sering dilakukan adalah menciptakan sebanyak mungkin account dari perusahaan fiktif/semu dengan memanfaatkan aspek kerahasian bank dan keistimewaan hubungan antara nasabah bank dan pengacara. Cara tradisional. Cara tradisional dalam money laundering adalah dengan cara menyelundupkan secara fisik uang tunai hasil transaksi ilegal ke luar negeri (perbatasan nasional suatu negara). obat-obatan terlarang. ____________. 2. B. Langkah ini disebut juga sebagai immersion yang merupakan gabungan dari consolidation dan placement (Robinson. J. 3. Cara lain yang juga relatif konvensional adalah menggunakan pedagang valuta asing. proses pencucian yang dapat dilihat pada Gambar 2. Secara ringkas. penipuan/ penggelapan (fraud) serta hasil-hasil korupsi. 1997. forex market. Laundrymen. lawyers maupun akuntan pribadi. The Financial Action Task Force on Money Laundering. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk menghilangkan jejak atau upaya audit sehingga seolah-olah merupakan transaksi finansial yang legal. Jeffrey. . Proses Pencucian Uang. Annual Report. Pocket Books. Placement (Penempatan Dana) Penempatan dana merupakan proses awal dalam money laundering yang ditandai dengan penyerahan secara fisik uang yang dihasilkan dari aktivitas melawan hukum seperti perdagangan narkotika.

122 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

Cara-cara Modern. IML mencapai persetujuan dengan tujuh negara dimana BCCI beroperasi. Manuel Noriega (Panama) dan Ferdinand Marcos (Philipina) dalam mencuri uang dari negaranya. Tiga cara yang mungkin dilakukan adalah melalui : Stored value cards. lawyer. Bank sebagai money launderer Salah satu contoh yang sangat berharga berkaitan dengan kasus money laundering adalah skandal yang dilakukan oleh The Bank of Credit and Commerce International (BCCI) pada tahun 1991. internet/ network based systems dan hybrid systems. Hal yang sulit untuk dilacak justru hasil-hasil ilegal yang ditransfer melalui International Electronic Fund Transfer. Penggelapan uang tersebut tidak hanya menjadi kegiatan bayangan BCCI. Pada tahun 1987. mengakibatkan BCCI beroperasi bebas dari peraturan pemerintah selama 15 tahun. selanjutnya BCCI dinyatakan ditutup. Tidaklah mengejutkan bila BCCI diplesetkan artinya menjadi “Bank of Crook and Criminals. namun BCCI diperkirakan juga membantu diktator seperti Sadam Hussein (Irak). Inc”. dalam perjalanannya asset bank tumbuh dengan cepat hingga mencapai USD 20 milyar dan mempunyai cabang di 70 negara. Berkembangnya teknologi baru dibidang perbankan antara lain elektronic money (e– money) telah memberikan ancaman baru dalam teknik money laundering yang lebih canggih.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 123 kasus di atas jelas menunjukkan kecurangan seorang pengacara/akuntan dalam menyembunyikan hasil-hasil kejahatan seperti money laundering. Namun demikian. 2. Diperkirakan hampir setengah assets bank telah hilang (disappeared). Meskipun kantor pusat BCCI di London. Bagaimana BCCI menjalankan aktivitas penggelapan dalam waktu yang cukup lama? Jawabannya adalah sulitnya mengatur bank yang beroperasi di banyak negara. Namun sayangnya bank tersebut mengirimkan dananya ke rekening rahasia di Cayman Islands. serta bertindak sebagai bankir dari kelompok Abu Nidal. Berdasarkan pengalaman di Inggris.1. Pada musim semi tahun 1990 IML dapat menemukan beberapa bukti penggelapan dan pada Juli 1991 perusahaan akuntan Price Waterhouse menemukan dokumen serta menyerahkan pada Bank of England. tetapi masih belum dapat menelusuri aktivitas bank tersebut. Kerugian deposan . serta accountant. aplikasi ke tiga cara ini dalam sistem pembayaran masih relatif belum termanfaatkan. Bank yang didirikan di Luxembourg tahun 1972 oleh pengusaha Pakistan (Agha Hasan Abedi). 2. ciri-ciri yang sering dilakukan oleh money launderer antara lain menggunakan institusi yang terkait (perbankan) serta Pedagang Valuta Asing (PVA). dimana tempat tersebut banyak uang hasil curian. namun lemahnya peraturan bank oleh Institut Monetaire Luxembourgeois (IML) di Luxembourg.

Pasar finansial London yang terkenal dengan kemajuan dan transparannya sangat memberi peluang untuk memuluskan tahapan-tahapan kegiatan money laundering. merupakan target yang menarik bagi para pencuci uang. Mengapa demikian. the Basle Committee baru mengumumkan dan menyetujui standarisasi dari peraturan bank internasional. bank ataupun lembaga finansial lainnya merupakan lembagalembaga yang sangat rentan bagi kemungkinan penyusupan hasil-hasil transaksi ilegal (secret money). jasa. 2. layering dan integrasi. Rezim yang dapat dijadikan contoh untuk pencegahan kegiatan money laundering adalah Inggris. khususnya untuk mobilitas barang-barang. Dalam rangka merespon hal-hal tersebut di atas.2 Payable through account Salah satu cara yang juga tergolong cukup modern dan sering digunakan oleh money launderers adalah payable through account (lihat Gambar 3). Pada gambar tersebut diilustrasikan adanya pembelian US bonds yang pembayarannya dilakukan melalui account oleh client bank yang kemudian diperjual belikan pada level nasabah client bank tersebut (third bank) dan diteruskan pada level nasabah third bank. Melalui transaksi beberapa jenjang tersebut pada level terbawah yaitu pada level nasabah third bank tersebut para money launderers banyak melakukan aktivitasnya untuk memasukkan dananya ke dalam sistem jasa keuangan bank. Ketentuan Primer (Tier 1) 1) Drug Trafficking Offences Act 1986 (DTOA) 2) Criminal Justice Scotland Act 1987 (CJSA) . layering maupun integration. Maret 1999 dan pemegang saham dari colapse-nya BCCI sudah tak terhingga dan pengawas bank dalam hal ini Bank of England sulit disalahkan atas kelambanan menuntaskan skandal tersebut. Rentannya lembaga-lembaga tersebut dari kegiatan money laundering dimungkinkan baik dalam proses placement. karena London sebagai salah satu pusat pasar keuangan terbesar dunia. orang dan modal secara leluasa di seluruh Eropa. beberapa ketentuan perundangan telah disahkan oleh oleh Parlemen Inggris. apakah itu placement.124 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Setahun setelah BCCI colapse. Kondisi ini lebih membuka peluang setelah diperkenalkan Euro sebagai mata uang tunggal Eropa yang secara tidak langsung telah menurunkan kontrol dan hambatan-hambatan dalam rangka pasar tunggal Eropa. perlu adanya aturan hukum yang mengikat secara internasional dan berkekuatan hukum yang tetap. yakni antara lain: 1. Berkaitan dengan upaya untuk mencegah dan memerangi kegiatan money laundering tersebut. C. Regulasi Kegiatan Money Laundering Sebagaimana diketahui.

Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 125 .

Prosedur ini sangat dibutuhkan bagi seluruh personil perbankan dan lembaga terkait . apa jenis informasinya. Peraturan tersebut mensyaratkan bagi semua lembaga keuangan.126 3) 4) 5) 6) 7) 8) Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Sistem ini berupa peraturan yang meliputi prosedur internal control dan komunikasi tepat pada lembaga-lembaga keuangan yang bertujuan mencegah dan menghalangi terjadinya money laundering. kepada siapa informasi tersebut harus dibuat. pendapat orang yang menanggulangi masalah tersebut dalam upaya meningkatkan pengetahuan terutama mengenai dasar kecurigaan terhadap orang yang melakukan money laundering. Maret 1999 Criminal Justice Act 1988 (CJA88) Prevention of Terrorism (Temporary Provisions) Act 1989 (POTA) Criminal Justice (Int. c) Uji/Pemeriksaan atas Transaksi. Prosedur pencegahan terhadap terjadinya money laundering yang umumnya digunakan pada lembaga. f) Pendidikan dan Pelatihan. Dalam kaitan ini. Setiap calon nasabah harus diidentifikasi dan diverifikasi bahwa yang bersangkutan memang memenuhi syarat sebagai applicant for business. pencatatan dapat dibagi dua yaitu. e) Pelaporan. Prosedur pelaporan antara lain mencakup laporan identifikasi orang dalam suatu organisasi. dan sejenisnya untuk membuat sistem untuk menghalangi terjadinya money laundering. d) Pencatatan. Cooperation) Act 1990 (CJCA) Criminal Justice (Confiscation) ( Northern Ireland) Order CJO 1990 Northern Ireland Act 1991. pencatatan yang berhubungan dengan pembukaan rekening nasabah baru (client) atau identitas counterparty dan pencatatan yang berhubungan dengan transaksi yang dilakukan oleh client atau counterparty. Ketentuan Sekunder (Tier 2) Ketentuan sekunder yang merupakan bentuk dari Money Laundering Regulation 1993 secara khusus ditujukan pada lembaga keuangan. Ketentuan ini menjamin pegawai dari waktu ke waktu diberikan kesempatan mengikuti pelatihan dalam upaya mengenali dan menguasai transaksi yang dilakukannya sendiri atau atas nama orang lain . yang sangat berpotensi dimanfaatkan pihak lain untuk money laundering. b) Identifikasi dan Verifikasi.lembaga keuangan adalah sebagai berikut: a) Sistem Kontrol. masalahmasalah yang muncul dan pegawai yang menanggulanginya. (NIEPA) Criminal Justice Act 1993 (CJA93) 2.

d) Menggagalkan usaha penyingkapan atau kecurigaan dari praktek money laundering. seluruh atau sebagian penerimaan yang berasal dari kegiatan kriminal. menyamarkan. b) Mengakuisisi . atau menginvestasikan dana jika dana yang bersangkutan diketahui atau dicurigai merupakan hasil penerimaan kriminal. Prosedur ini merupakan langkah terakhir yang harus dilakukan dan biasanya berupa investigasi oleh National Criminal Inteligent Service (NCIS). Dibawah aturan CJA seseorang dianggap melakukan pelanggaran apabila menyembunyikan. dan menggunakan hasil dari kegiatan kriminal. CJA mensyaratkan siapapun sehubungan dengan transaksi yang dilakukan. melakukan transfer atau menyembunyikan kekayaan dari pengadilan baik secara langsung maupun tidak langsung. memiliki . Seseorang dianggap bersalah melakukan pelanggaran jika dia mengetahui sebagian atau keseluruhan kekayaan orang lain baik secara langsung atau tidak langsung berasal dari hasil kejahatan. atau pegawai yang mengetahui atau mencurigai orang lain melakukan money laundering . Buku ketentuan ini biasanya disebut sebagai the read book untuk perbankan. 4. Pelanggaran Hukum dalam Money Laundering Berdasarkan perundangan di Inggris (Criminal Justice Act 1993/ CJA) tersebut di atas. profesi. menguasai. dan green book untuk bisnis asuransi. dan secara langsung atau tidak langsung dia menguasai atau menggunakan atau memiliki kekayaan tersebut. bisnis. 3.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 127 dalam upaya peningkatan kualitas pemahaman terhadap pekerjaan yang dijalani serta kontribusinya terhadap pengawasan internal. Tindakan ini digolongkan sebagai pelanggaran bagi seseorang yang memberikan bantuan kepada money launderer untuk memperoleh. c) Menyembunyikan atau mentransfer penerimaan untuk menghindari tindakan pencegahan atau perintah penyitaan. yellow book untuk bisnis investasi swasta. g) Tindakan hukum. asuransi dan lembaga investasi lainnya. yaitu: a) Membantu seseorang untuk menyimpan hasil-hasil kejahatan. mengubah. terdapat 5 pelanggaran utama yang dapat dikategorikan sebagai tindakan money laundering. menyembunyikan. Ketentuan Tambahan (Tier 3) Ketentuan tambahan ini lebih merupakan petunjuk teknis yang diterbitkan oleh The Joint Money Laundering Steering Group (JMLSG) yang ditujukan bagi bank-bank dan lembaga keuangan lainnya.

. Sejalan dengan hal tersebut.128 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. that promote high ethical and professional standards in the financial sector and prevent the bank being used. Modifikasi sistem pelaporan transaksi mata uang (CTR= Currency Transaction Reporting System). intentionally or unintentionally. III. Hal ini berarti bahwa seseorang dianggap melanggar hukum apabila tidak melaporkan kepada pihak berwenang apabila mengetahui adanya praktek money laundering. by criminal elements”. kegiatan money laundering memiliki dampak instabilitas pada sistem finansial dunia. Beberapa Upaya Represif dan Antisipatif terhadap Kegiatan Money Laundering Sebagaimana diuraikan di atas. including strict “know your customer” rules. FATF memberikan 40 rekomendasi langkah-langkah utama dalam memerangi kegiatan money laundering. Dalam kaitan di atas. e) Tipping off (Peringatan). Kondisi ini memberikan suatu implikasi yang sangat luas dan kompleks dalam upaya menciptakan kestabilan masyarakat global di pasar finansial. practices and procedures in place. BIS melalui Basle Committee pada bulan September 1997 juga menetapkan prinsip utama dalam supervisi perbankan yang efektif yang berbunyi “ Banking supervisor must determine that banks have adequate policies. Satu upaya upaya penting yang telah dilakukan oleh masyarakat internasional adalah dibentuknya FATF yang salah satu rekomendasinya menyatakan bahwa “countries should monitor the physical cross border transportation of cash and bearer instruments without impeding in any way the freedom at capital movement”. Suatu pemaksaan terhadap keterbukaan konsumen atau pihak ketiga untuk menyampaikan informasi pada pihak yang berwenang bahwa telah terjadi praktek money laundering atau adanya rencana money laundering. Maret 1999 harus melaporkan informasi tersebut pada polisi sesegera mungkin. yang secara pokok dapat dijabarkan sebagai berikut: a) b) Introduksi sistem SAR (suspicious activity reporting system) yang baru. namun juga berasal dari perkembangan teknologi seperti EFT (cyber payment) yang memungkinkan pembayaran transfer berlangsung dengan mobilitas yang tinggi dengan mengoptimalkan jaringan perbankan internasional sebagai lembaga intermediasi. CJA hanya mentolerir kesalahan atas kecurigaan yang dilaporkan dengan alasan yang dapat diterima. Implikasi tersebut menuntut adanya suatu langkah kerjasama preventif dan represif yang berskala internasional terhadap kegiatan money laundering. Faktor instabilitas tersebut tidak hanya bersumber dari turn over yang sangat besar (300 – 400 milyar USD per tahun). Rekomendasi ini merupakan kunci utama dalam pemahaman konsep “know your customer” approach.

jaminan hukum yang dilaporkan. dealing dengan customer yang jarang dilakukan (antara lain transaksi kas dalam jumlah besar/ bearer securities). Peningkatan kerjasama antar negara dan perwakilan industri keuangan global dalam upaya melawan kegiatan money laundering melalui penetapan kelompok kerja. Implementasi proyek Gateway yang menyediakan data-data inteligen keuangan secara on line antar negara dan pemerintah-pemerintah daerah. mengenali secara baik proses settlement/payment/delivery instructions yang diluar batas kewajaran. . Pelatihan terhadap petugas front office harus meliputi prosedur-prosedur identifikasi dan verifikasi ( sebagai contoh. staf pelaksana harus menerima pelatihan khusus money laundering.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 129 c) d) e) f) g) h) Perluasan daftar tindakan pelanggaran money laundering dalam memberantas terorisme. sistem pelaporan. Reporting Officers. 3. validasi. Pendalaman materi pelatihan terhadap kelompok staf ini meliputi seluruh aspek perundangan-undangan. 5 kelompok yang diharuskan mengikutinya adalah: 1. Pelatihan terhadap dealer/staf lainnya seharusnya juga mencakup tanggung jawab secara hukum. Account Opening staff. Supervisors/ Manager. 2. lebih ditekankan pada detail mengenai ketentuan perundang-undangan yang berlaku meliputi identifikasi. Staff Training : dalam rangka mengenali dengan baik dan menangani transaksi-transaksi yang mencurigakan. Memperluas upaya pelaksanaan hukum dan pengaturan hukum dalam memerangi kegiatan money laundering. 5. 4. Pegawai baru (New employees). pengenalan terhadap faktor-faktor yang mencurigakan. kebijaksanaan perusahaan terhadap adanya kasus-kasus pengecualian. dan laporan transaksi yang mencurigakan. policies and prosedures). pencatatan. Pelatihan terhadap manajer yang memberikan instruksi. pengecekan akan kecocokan identitas investor). pelaporan prosedur serta tindakan pinalti. pelanggaran migrasi dan kesehatan. Dealers and sales staff. Penetapan aturan baru dalam pencatatan transfer-transfer dana (system at determine internal control. dan jaminan perorangan menurut ketentuan yang berlaku. Pelatihan terhadap pegawai baru sebaiknya mencakup latar belakang terjadinya money laundering. pelaporan kondisi yang terjadi. peraturan dan prosedur internal.

maka upaya pemberantasan terhadap kegiatan money laundering merupakan real test case bagi masyarakat dan sistem keuangan internasional. maka kecil kemungkinan 2. Dengan semakin berkembangnya kegiatan/transaksi-transaksi illegal internasional. Secara taktis. dan transaksi finansial yang dilakukan khususnya transaksitransaksi off balance sheet. ataupun tidak diakuinya transaksi keuangan yang terjadi di negara tersebut secara internasional (default). tindakan yang paling efektif dalam menangkal kegiatan money laundering pada lembaga perbankan adalah mendeteksi sedini mungkin aktivitas kriminal tersebut pada titik paling crucial yakni pada saat hasil-hasil ilegal tersebut masuk ke dalam sistem perbankan/keuangan (placement process). Hal ini sangat penting mengingat dalam banyak kasus money laundering. Konsekwensi lain. 1991). Sebagaimana kita ketahui. Jika langkah preventif ini diterapkan secara universal terhadap semua lembaga keuangan/ jaringan perbankan internasional. Mengapa demikian? Karena anti money laundering measures membutuhkan kerjasama internasional yang harus kondusif baik bersifat multilateral maupun bilateral (antar dua negara). lembaga perbankan seringkali dipergunakan sebagai intermediasi oleh pelaku tindakan kriminal yang tidak mustahil juga dibantu oleh adanya moral hazard oleh karyawan bank sendiri (contoh kasus BCCI. 3. dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Penutup Dari pokok-pokok rekomendasi yang diberikan oleh FATF di atas. adalah bahwa kualitas supervisi terhadap transaksi finansial oleh bank khususnya harus senantiasa ditingkatkan. Peningkatan tersebut dapat diupayakan dalam bentuk investigasi khusus terhadap asal modal disetor. CTR maupun Gateway Intelligence System. khususnya bagi lembaga pengawas perbankan ataupun lembaga keuangan lainnya. . Dalam konteks ini maka pendekatan “know your customer rule” menjadi acuan yang sangat mendasar dalam menggali informasi calon nasabah bank. para anggota kelompok kerja FATF ataupun masyarakat keuangan internasional sudah selayaknya menerapkan aturan-aturan standar minimum dalam upaya memerangi kegiatan money laundering misalnya keseragaman penggunaan sistem SAR.130 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. asal dana-dana pihak ketiga yang diterima. Maret 1999 IV. Berkaitan dengan butir (1). bahwa apabila terdapat negara-negara yang tidak mematuhi kesepakatan bersama tersebut akan mendapatkan pinalti yang dapat berupa punitive taxes atas transaksi-transaksi yang terbukti berkaitan dengan money laundering di pasar finansial di negara yang bersangkutan. Perbedaan visi dan persepsi ini tentunya akan berimplikasi pada kelompok-kelompok kerja yang dibentuk oleh FATF. 4. Hal ini berarti. bahwa setiap negara memiliki prioritas yang berbeda-beda khususnya dalam menghadapi kegiatan/praktek money laundering.

USA. 5) Parlour. 10) _________. pp 350. Pocket Books. Illinois. baik melalui International offshore Banking Centre (IOBS) yang memiliki insentif pembebasan pajak dan longgarnya peraturan ataupun memanfaatkan negara-negara/ lokasi yang relatif tidak/ belum terjangkau oleh hukum internasional. 3) Hayaes. 1998 (Feb). July – August. et al. 9) The Banker. Money Laundering: Butterworths.1995.1998.1999 (March 31). 7) Richard. 6) Reuters News. 2) Camdesus. Andrew. London.1996. . Laundrymen. Guide to Financial Services Regulation. 3rd Edition. Barry. Bancomer and Banca serfin Plead Guilty to Money Laundering. Legal Analysis. International Guide to Money Laundering and Practice. Money Laundering: The Importance of International Countermeasures.1998. Paris (Feb 10). Annual Report.1995.1998. Money Laundering: The Sky’s the Limit. Jeffrey. Daftar Pustaka 1) Abrahamson. maka money launderer akan selalu mencari titik terlemah dari sistem jaringan keuangan internasional. pp 52-53. Butterworths. The Financial Action Task Force on Money Laundering. 4) Morris. 1997. Journal of International Banking and Financial Law. Money Laundering: The Regim in the United Kingdom. Allan. Pp 29-31. CCH Inc. Sebaliknya bila langkah tersebut tidak berhasil. Michael.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 131 money launderer akan mampu menembusnya. Jeffrey. Richard. Payable Through Accounts and Money Laundering.1996. 8) Robinson.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful