Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran

1

KRISIS MONETER INDONESIA : SEBAB, DAMPAK, PERAN IMF DAN SARAN* )
Lepi T. Tarmidi
**)

K

risis moneter yang melanda Indonesia sejak awal Juli 1997, sementara ini telah berlangsung hampir dua tahun dan telah berubah menjadi krisis ekonomi, yakni lumpuhnya kegiatan ekonomi karena semakin banyak perusahaan yang tutup dan meningkatnya jumlah pekerja yang menganggur. Memang krisis ini tidak seluruhnya disebabkan karena terjadinya krisis moneter saja, karena sebagian diperberat oleh berbagai musibah nasional yang datang secara bertubi-tubi di tengah kesulitan ekonomi seperti kegagalan panen padi di banyak tempat karena musim kering yang panjang dan terparah selama 50 tahun terakhir, hama, kebakaran hutan secara besar-besaran di Kalimantan dan peristiwa kerusuhan yang melanda banyak kota pada pertengahan Mei 1998 lalu dan kelanjutannya. Krisis moneter ini terjadi, meskipun fundamental ekonomi Indonesia di masa lalu dipandang cukup kuat dan disanjung-sanjung oleh Bank Dunia (lihat World Bank: Bab 2 dan Hollinger). Yang dimaksud dengan fundamental ekonomi yang kuat adalah pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, laju inflasi terkendali, tingkat pengangguran relatif rendah, neraca pembayaran secara keseluruhan masih surplus meskipun defisit neraca berjalan cenderung membesar namun jumlahnya masih terkendali, cadangan devisa masih cukup besar, realisasi anggaran pemerintah masih menunjukkan sedikit surplus. Lihat Tabel. Namun di balik ini terdapat beberapa kelemahan struktural seperti peraturan perdagangan domestik yang kaku dan berlarut-larut, monopoli impor yang menyebabkan kegiatan ekonomi tidak efisien dan kompetitif. Pada saat yang bersamaan kurangnya transparansi dan kurangnya data menimbulkan ketidak pastian sehingga masuk dana luar negeri dalam jumlah besar melalui sistim perbankan yang lemah. Sektor swasta banyak meminjam dana dari luar negeri yang sebagian besar tidak di hedge. Dengan terjadinya krisis moneter, terjadi juga krisis kepercayaan. (Bandingkan juga IMF, 1997: 1). Namun semua kelemahan ini masih mampu ditampung oleh perekonomian nasional. Yang terjadi adalah, mendadak datang badai yang sangat besar, yang tidak mampu dbendung oleh tembok penahan yang ada, yang selama bertahun-tahun telah mampu menahan berbagai terpaan gelombang yang datang mengancam.

*) Tulisan ini merupakan revisi dan updating dari pidato pengukuhan Guru Besar Madya pada FEUI dengan judul “Krisis Moneter Tahun 1997/1998 dan Peran IMF”, Jakarta, 10 Juni 1998. **) Lepi T. Tarmidi : Wakil Kepala Pusat Kajian APEC, Universitas Indonesia, email : lepi@lpem.feui.org

2

INDIKATOR UTAMA EKONOMI INDONESIA 1990 - 1997
1990 Pertumbuhan ekonomi (%) Tingkat inflasi (%) Neraca pembayaran (US$ juta) Neraca perdagangan Neraca berjalan Neraca modal Pemerintah (neto) Swasta (neto) PMA (neto) Cadangan devisa akhir tahun (US$ juta) (bulan impor nonmigas c&f) Debt-service ratio (%) Nilai tukar Des. (Rp/US$) APBN* (Rp. milyar) 8,661 4,7 30,9 1,901 3,203 9,868 4,8 32,0 1,992 433 11,611 5,4 31,6 2,062 -551 12,352 5,4 33,8 2.11 -1.852 13,158 5,0 30,0 2.2 1,495 14,674 4,3 33,7 2,308 2,807 19,125 5,2 33,0 2,383 818 4.65 456 17,427 4,5 7,24 9,93 2,099 5,352 -3.24 4,746 633 3,021 1,092 1991 6,95 9,93 1,207 4,801 -4,392 5,829 1,419 2,928 1,482 1992 6,46 5,04 1,743 7,022 -3,122 18,111 12,752 3,582 1,777 1993 6,50 10,18 741 8,231 -2,298 17,972 12,753 3,216 2,003 1994 7,54 9,66 806 7,901 -2.96 4,008 307 1,593 2,108 1995 8,22 8,96 1,516 6,533 -6.76 10,589 336 5,907 4,346 1996 7,98 6,63 4,451 5,948 -7,801 10,989 -522 5,317 6,194 1997 4,65 11,60 -10,021 12,964 -2,103 -4,845 4,102 -10.78 1,833

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

* Tahun anggaran Sumber : BPS, Indikator Ekonomi; Bank Indonesia, Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia; World Bank, Indonesia in Crisis, July 2, 1998

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran

3

Sebagai konsekuensi dari krisis moneter ini, Bank Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1997 terpaksa membebaskan nilai tukar rupiah terhadap valuta asing, khususnya dollar AS, dan membiarkannya berfluktuasi secara bebas (free floating) menggantikan sistim managed floating yang dianut pemerintah sejak devaluasi Oktober 1978. Dengan demikian Bank Indonesia tidak lagi melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menopang nilai tukar rupiah, sehingga nilai tukar ditentukan oleh kekuatan pasar semata. Nilai tukar rupiah kemudian merosot dengan cepat dan tajam dari rata-rata Rp 2.450 per dollar AS Juni 1997 menjadi Rp 13.513 akhir Januari 1998, namun kemudian berhasil menguat kembali menjadi sekitar Rp 8.000 awal Mei 1999.

Krisis Moneter dan Faktor-Faktor Penyebabnya
Penyebab dari krisis ini bukanlah fundamental ekonomi Indonesia yang selama ini lemah, hal ini dapat dilihat dari data-data statistik di atas, tetapi terutama karena utang swasta luar negeri yang telah mencapai jumlah yang besar. Yang jebol bukanlah sektor rupiah dalam negeri, melainkan sektor luar negeri, khususnya nilai tukar dollar AS yang mengalami overshooting yang sangat jauh dari nilai nyatanya1 . Krisis yang berkepanjangan ini adalah krisis merosotnya nilai tukar rupiah yang sangat tajam, akibat dari serbuan yang mendadak dan secara bertubi-tubi terhadap dollar AS (spekulasi) dan jatuh temponya utang swasta luar negeri dalam jumlah besar. Seandainya tidak ada serbuan terhadap dollar AS ini, meskipun terdapat banyak distorsi pada tingkat ekonomi mikro, ekonomi Indonesia tidak akan mengalami krisis. Dengan lain perkataan, walaupun distorsi pada tingkat ekonomi mikro ini diperbaiki, tetapi bila tetap ada gempuran terhadap mata uang rupiah, maka krisis akan terjadi juga, karena cadangan devisa yang ada tidak cukup kuat untuk menahan gempuran ini. Krisis ini diperparah lagi dengan akumulasi dari berbagai faktor penyebab lainnya yang datangnya saling bersusulan. Analisis dari faktor-faktor penyebab ini penting, karena penyembuhannya tentunya tergantung dari ketepatan diagnosa. Anwar Nasution melihat besarnya defisit neraca berjalan dan utang luar negeri, ditambah dengan lemahnya sistim perbankan nasional sebagai akar dari terjadinya krisis finansial (Nasution: 28). Bank Dunia melihat adanya empat sebab utama yang bersamasama membuat krisis menuju ke arah kebangkrutan (World Bank, 1998, pp. 1.7 -1.11). Yang pertama adalah akumulasi utang swasta luar negeri yang cepat dari tahun 1992 hingga Juli 1997, sehingga l.k. 95% dari total kenaikan utang luar negeri berasal dari sektor swasta ini, dan jatuh tempo rata-ratanya hanyalah 18 bulan. Bahkan selama empat tahun terakhir utang luar negeri pemerintah jumlahnya menurun. Sebab yang kedua adalah kelemahan
1 Dalam teori, overshooting nilai tukar biasanya bersifat sementara untuk kemudian mencari keseimbangan jangka panjang baru. Tetapi selama krisis ini berlangsung, nilai overshooting adalah sangat besar dan sudah berlangsung sejak akhir tahun 1997.

2) Tingkat depresiasi rupiah yang relatif rendah. Akibatnya produksi dalam negeri tidak berkembang. penyebab utama dari terjadinya krisis yang berkepanjangan ini adalah merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang sangat tajam. Masyarakat bebas membuka rekening valas di dalam negeri atau di luar negeri. Berikut ini diberikan rangkuman dari berbagai faktor tersebut menurut urutan kejadiannya: 1) Dianutnya sistim devisa yang terlalu bebas tanpa adanya pengawasan yang memadai. Ketiga adalah masalah governance. memungkinkan arus modal dan valas dapat mengalir keluar-masuk secara bebas berapapun jumlahnya.: 22). Kondisi di atas dimungkinkan. karena Indonesia menganut rezim devisa bebas dengan rupiah yang konvertibel. Maret 1999 pada sistim perbankan. bahkan sudah jauh melampaui utang resmi pemerintah yang beberapa tahun terakhir malah sedikit berkurang (oustanding official debt). ekspor menjadi kurang kompetitif dan impor meningkat. tetapi ada banyak faktor lainnya yang berbeda menurut sisi pandang masing-masing pengamat. Yang keempat adalah ketidak pastian politik menghadapi Pemilu yang lalu dan pertanyaan mengenai kesehatan Presiden Soeharto pada waktu itu.8% (1991) antara tahun 1988 hingga 1996. termasuk kemampuan pemerintah menangani dan mengatasi krisis. dan produk dalam negeri yang makin lama makin kalah bersaing dengan produk impor. berkisar antara 2.4 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. ditambah sistim perbankan nasional yang lemah. karena tidak mencerminkan nilai tukar yang nyata. menyebabkan nilai rupiah secara kumulatif sangat overvalued. 3) Akar dari segala permasalahan adalah utang luar negeri swasta jangka pendek dan menengah sehingga nilai tukar rupiah mendapat tekanan yang berat karena tidak tersedia cukup devisa untuk membayar utang yang jatuh tempo beserta bunganya (bandingkan juga Wessel et al. sehingga membuka peluang yang sebesarbesarnya untuk orang bermain di pasar valas. sehingga masyarakat memilih barang impor yang kualitasnya lebih baik. Nilai Rupiah yang overvalued berarti juga proteksi industri yang negatif. Valas bebas diperdagangkan di dalam negeri. Ada tiga pihak yang . Akumulasi utang swasta luar negeri yang sejak awal tahun 1990-an telah mencapai jumlah yang sangat besar. Akibatnya harga barang impor menjadi relatif murah dan produk dalam negeri relatif mahal. Sementara menurut penilaian penulis. meskipun ini bukan faktor satu-satunya. yang kemudian menjelma menjadi krisis kepercayaan dan keengganan donor untuk menawarkan bantuan finansial dengan cepat. Nilai rupiah yang sangat overvalued ini sangat rentan terhadap serangan dan permainan spekulan. yang berada di bawah nilai tukar nyatanya. sementara rupiah juga bebas diperdagangkan di pusat-pusat keuangan di luar negeri. Ditambah dengan kenaikan pendapatan penduduk dalam nilai US dollar yang naiknya relatif lebih cepat dari kenaikan pendapatan nyata dalam Rupiah.4% (1993) hingga 5.

membuka tambak udang. Kesalahan pemerintah adalah. Pada awal Mei 1998 besarnya utang luar negeri swasta dari 1. misalnya 2 Yang dimaksud di sini adalah perilaku pengusaha yang bertindak atas pertimbangan dirinya sendiri tanpa mengetahui apa yang dilakukan oleh pengusaha lainnya. Jadi sudah sewajarnya. juga disebabkan suatu gejala yang dalam teori ekonomi dikenal sebagai fallacy of thinking2 . Sebaliknya. karena masing-masing pengusaha hanya melihat dirinya sendiri saja dan tidak memperhitungkan gerakan pengusaha lainnya. Dengan demikian pengusaha hanya bereaksi atas signal yang diberikan oleh pemerintah. karena kurang hati-hati dalam memberi pinjaman dan salah mengantisipasi keadaan (bandingkan IMF. 1998: 5). sementara utang pemerintah US$ 53. Kalau masalahnya hanya menyangkut utang luar negeri pemerintah saja. dan tiap tahunnya ada pemasukan pinjaman baru. Beda dengan pinjaman swasta. 22). membangun realestat dan kondomium. di mana pengusaha beramai-ramai melakukan investasi di bidang yang sama meskipun bidangnya sudah jenuh.5 milyar. tingkat bunganya relatif rendah. terjadinya utang swasta luar negeri dalam jumlah besar ini.800 perusahaan diperkirakan berkisar antara US$ 63 hingga US$ 64 milyar. . karena telah memberi signal yang salah kepada pelaku ekonomi dengan membuat nilai rupiah terus-menerus overvalued dan suku bunga rupiah yang tinggi.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. kecuali yang berkaitan dengan proyek pemerintah dengan dibentuknya tim PKLN. Misalnya pengusaha ramai-ramai mendiri-kan apotik. pemerintah. ada tenggang waktu pembayaran. meskipun masalahnya juga cukup berat karena selama bertahun-tahun telah terjadi net capital outflow3 yang kian lama kian membesar berupa pembayaran cicilan utang pokok dan bunga. kreditur dan debitur. sehingga pinjaman dalam rupiah menjadi relatif mahal dan pinjaman dalam mata uang asing menjadi relatif murah. hal. 3 Total pembayaran cicilan utang pokok dan bunga setelah dikurangi pinjaman baru. Selain itu pemerintah sama sekali tidak melakukan pengawasan terhadap utang-utang swasta luar negeri ini.. Dampak. Pihak kreditur luar negeri juga ikut bersalah. Keadaan ini menguntungkan pengusaha selama tidak terjadi devaluasi dan ini terjadi selama bertahun-tahun sehingga memberi rasa aman dan orang terus meminjam dari luar negeri dalam jumlah yang semakin besar. tingkat bunga di dalam negeri dibiarkan tinggi untuk menahan pelarian dana ke luar negeri dan agar masyarakat mau mendepositokan dananya dalam rupiah. namun masih bisa diatasi dengan pinjaman baru dan pemasukan modal luar negeri dari sumber-sumber lain. Jadi di sini pemerintah dihadapi dengan buah simalakama. di samping lebih menguntungkan. Sebagian orang Indonesia malah bisa hidup mewah dengan menikmati selisih biaya bunga antara dalam negeri dan luar negeri (Wessel et al. Bagi debitur dalam negeri. Sebagian besar dari pinjaman luar negeri swasta ini tidak di hedge (Nasution: 12). jika kreditur luar negeri juga ikut menanggung sebagian dari kerugian yang diderita oleh debitur. pinjaman luar negeri pemerintah sifatnya jangka panjang. Peran IMF dan Saran 5 bersalah di sini.

maka sedikit sekali pemasukan devisa yang bisa diandalkan untuk membayar kembali utang luar negeri. Para spekulan ini juga meminjam dari sistim perbankan untuk memperbesar pertaruhan mereka. Meskipun pada awalnya spekulan asing ikut berperan. yakni disalurkan ke kegiatan grupnya sendiri dan untuk proyek-proyek pembangunan realestat dan kondomium secara berlebihan sehingga jauh melampaui daya beli masyarakat. banyak yang dikelola secara tidak prudent. Maret 1999 bank-bank. karena mereka membeli rupiah dalam jumlah cukup besar ketika kurs masih di bawah Rp. Mereka mulai mencari dollar AS untuk membayar utang jangka pendek dan membeli dollar AS untuk di hedge (World Bank. yang memungkinkan dengan modal relatif kecil bermain dalam jumlah besar. Krugman melihat bahwa para financial intermediaries juga berperan di Thailand dan Korea Selatan dengan moral nekat mereka. Maka beban pembayaran utang luar negeri beserta bunganya menjadi tambah besar yang dibarengi oleh kinerja ekspor yang melemah (bandingkan IDE)..000 per dollar AS dengan pengharapan ini adalah kurs tertinggi dan rupiah akan balik menguat.6 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. 1. Dewasa ini mata uang sendiri sudah menjadi komoditi perdagangan. kemudian macet dan uangnya tidak kembali (Nasution: 28. 4) Permainan yang dilakukan oleh spekulan asing (bandingkan juga Ehrke: 2-3) yang dikenal sebagai hedge funds tidak mungkin dapat dibendung dengan melepas cadangan devisa yang dimiliki Indonesia pada saat itu. taman hiburan. lepas dari sektor riil. IMF Research . Ditambah lagi dengan kemerosotan nilai tukar rupiah yang tajam yang membuat utang dalam nilai rupiah membengkak dan menyulitkan pembayaran kembalinya. resort pariwisata. Pinjaman luar negeri dan dana masyarakat yang masuk ke sistim perbankan. 1998. shopping malls dan realestat (Nasution: 9.4). 4. Itu sebabnya mengapa Bank Indonesia memutuskan untuk tidak intervensi di pasar valas karena tidak akan ada gunanya. IMF Research Department Staff: 10). tetapi mereka tidak bisa disalahkan sepenuhnya atas pecahnya krisis moneter ini. Pinjaman-pinjaman luar negeri dalam jumlah relatif besar yang dilakukan oleh sistim perbankan sebagian disalurkan ke sektor investasi yang tidak menghasilkan devisa (non-traded goods) di bidang tanah seperti pembangunan hotel. yang diserang terlebih dahulu oleh spekulan dan kemudian menyebar ke negara Asia lainnya termasuk Indonesia (Nasution: 1. 1). Ehrke: 3). Greenwood). dan pada saat itu mereka akan menukarkan kembali rupiah dengan dollar AS (Wessel et al. hal. yang menjadi penyebab utama dari krisis di Asia Timur. hal. Proyek-proyek besar ini umumnya tidak menghasilkan barang-barang ekspor dan mengandalkan pasar dalam negeri. Mereka meminjamkan pada proyek-proyek berisiko tinggi sehingga terjadi investasi berlebihan di sektor tanah (Krugman. taman industri. 1998. karena praktek margin trading. Namun pemicu adalah krisis moneter kiriman yang berawal dari Thailand antara Maret sampai Juni 1997. Sebagian dari mereka ini justru sekarang menderita kerugian.

padahal keadaan perekonomian Indonesia makin lama makin tambah terpuruk. 7) Penanam modal asing portfolio yang pada awalnya membeli saham besar-besaran dimingimingi keuntungan yang besar yang ditunjang oleh perkembangan moneter yang relatif stabil kemudian mulai menarik dananya keluar dalam jumlah besar (bandingkan World Bank. IMF. 1.10). 1998: 5). US$ 1 milyar baru akan mencairkan dananya sebagai yang terakhir setelah semua pihak lain yang berjanji akan . 1998. US$ 5 milyar meminta pembayaran bunga yang lebih tinggi dari pinjaman IMF. Peran IMF dan Saran 7 Department Staff: 10. 1. Greenwood). Krisis ini adalah krisis kepercayaan terhadap rupiah (World Bank. 5) Kebijakan fiskal dan moneter tidak konsisten dalam suatu sistim nilai tukar dengan pita batas intervensi. Terkesan tidak adanya kebijakan pemerintah yang jelas dan terperinci tentang bagaimana mengatasi krisis (Nasution: 1) dan keadaan ini masih berlangsung hingga saat ini. Sistim ini menyebabkan apresiasi nyata dari nilai tukar rupiah dan mengundang tindakan spekulasi ketika sistim batas intervensi ini dihapus pada tanggal 14 Agustus 1997 (Nasution: 2). Selisih tingkat suku bunga dalam negeri dengan luar negeri yang besar dan kemungkinan memperoleh keuntungan yang relatif besar dengan cara bermain di bursa efek. 1998: 1. 6) Defisit neraca berjalan yang semakin membesar (IMF Research Department Staff: 10.k. dana modal asing terus mengalir ke luar negeri meskipun dicoba ditahan dengan tingkat bunga yang tinggi atas surat-surat berharga Indonesia (Nasution: 1. IDE). Kesalahan juga terletak pada investor luar negeri yang kurang waspada dan meremehkan resiko (IMF. Singapura yang menjanjikan l. Sebab utama adalah nilai tukar rupiah yang sangat overvalued.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. 1998: 5). Dampak. 1998.3. Krisis moneter yang terjadi sudah saling kait-mengkait di kawasan Asia Timur dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya (butir 16 dari persetujuan IMF 15 Januari 1998). 2.4.1). ditopang oleh tingkat devaluasi yang relatif stabil sekitar 4% per tahun sejak 1986 menyebabkan banyak modal luar negeri yang mengalir masuk. hal.k. Ketidak mampuan pemerintah menangani krisis menimbulkan krisis kepercayaan dan mengurangi kesediaan investor asing untuk memberi bantuan finansial dengan cepat (World Bank. Negara-negara sahabat yang menjanjikan akan membantu Indonesia juga menunda mengucurkan bantuannya menunggu signal dari IMF. sementara Brunei Darussalam yang menjanjikan l. yang disebabkan karena laju peningkatan impor barang dan jasa lebih besar dari ekspor dan melonjaknya pembayaran bunga pinjaman. 11). 8) IMF tidak membantu sepenuh hati dan terus menunda pengucuran dana bantuan yang dijanjikannya dengan alasan pemerintah tidak melaksanakan 50 butir kesepakatan dengan baik. yang membuat harga barang-barang impor menjadi relatif murah dibandingkan dengan produk dalam negeri. Setelah nilai tukar Rupiah tambah melemah dan terjadi krisis kepercayaan. p.

Sejak awal Desember 1997 hingga awal Mei 1998 telah terjadi pelarian modal besar-besaran ke luar negeri karena ketidak stabilan politik seperti isu sakitnya Presiden dan Pemilu (World Bank. 22). namun kelemahan ini meskipun telah terakumulasi selama bertahun-tahun masih bisa ditampung oleh masyarakat dan tidak cukup kuat untuk menjungkir-balikkan perekonomian Indonesia seperti sekarang ini. Spekulan domestik ikut bermain (Wessel et al. kurs dollar AS dan juga mata uang negara-negara Asia Timur melemah terhadap yen Jepang. Tahun 1995 kurs dollar AS berbalik menguat terhadap yen Jepang. Subsidi pangan oleh BULOG. hal. sementara nilai utang dari negara-negara ini dalam dollar AS meningkat karena meminjam dalam yen. IMF sendiri dinilai banyak pihak telah gagal menerapkan program reformasinya di Indonesia dan malah telah mempertajam dan memperpanjang krisis. 11. 10. Terjadilah snowball effect. jiwa dan martabat mereka. Daya saing negara-negara Asia Timur meningkat terhadap Jepang. sehingga banyak perusahaan Jepang melakukan relokasi dan investasi dalam jumlah besar di negara-negara ini. baik pejabat pribumi dan etnis Cina. Padahal mereka menguasai sebagian besar modal dan kegiatan ekonomi di Indonesia dengan akibat mereka membawa keluar harta kekayaan mereka dan untuk sementara tidak melaukan investasi baru. (Ehrke: 2). Para spekulan inipun tidak semata-mata menggunakan dananya sendiri. Di lain pihak harus diakui bahwa sektor riil sudah lama menunggu pembenahan yang mendasar.. yang nilainya melemah terhadap dollar AS (lihat IDE). Setelah Plaza-Accord tahun 1985. Kerusahan besar-besaran pada pertengahan Mei yang lalu yang ditujukan terhadap etnis Cina telah menggoyahkan kepercayaan masyarakat ini akan keamanan harta. Orang-orang kaya Indonesia. Timbulnya krisis berkaitan dengan . 9. tetapi juga meminjam dana dari sistim perbankan untuk bermain.10). Maret 1999 membantu telah mencairkan dananya dan telah habis terpakai. 1998: 1. 1. monopoli di berbagai bidang. di mana serbuan terhadap dollar AS makin lama makin besar.Terjadi krisis kepercayaan dan kepanikan yang menyebabkan masyarakat luas menyerbu membeli dollar AS agar nilai kekayaan tidak merosot dan malah bisa menarik keuntungan dari merosotnya nilai tukar rupiah.8 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.4. Memang terjadi dislokasi sumber-sumber ekonomi dan kegiatan mengejar rente ekonomi oleh perorangan/kelompok tertentu yang menguntungkan mereka ini dan merugikan rakyat banyak dan perusahaan-perusahaan yang efisien. sehingga menimbulkan krisis keuangan. Terdapatnya keterkaitan yang erat dengan yen Jepang. penyaluran dana yang besar untuk proyek IPTN dan mobil nasional. karena mata uang negaranegara Asia ini dipatok dengan dollar AS. sudah sejak tahun lalu bersiap-siap menyelamatkan harta kekayaannya ke luar negeri mengantisipasi ketidak stabilan politik dalam negeri.

Bank Dunia. membenahi kinerja perbankan nasional. dan sisanya akan dicairkan secara bertahap sesuai kemajuan dalam pelaksanaan program. jumlah yang sama disediakan setelah 15 Maret 1998 bila program penyehatannya telah dijalankan sesuai persetujuan. Penyesuaian struktural. Krisis pecah karena terdapat ketidak seimbangan antara kebutuhan akan valas dalam jangka pendek dengan jumlah devisa yang tersedia. 4. tanggal 16 Maret 1999. yang menyebabkan nilai dollar AS melambung dan tidak terbendung. Sejumlah US$ 3. menstabilkan nilai tukar rupiah pada tingkat yang nyata. krisis ekonomi yang berkepanjangan di Indonesia disebabkan karena pemerintah baru meminta bantuan IMF setelah rupiah sudah sangat terdepresiasi. Peran IMF dan Saran 9 jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS secara tajam. mengembalikan kepercayaan masyarakat dalam dan luar negeri terhadap kemampuan ekonomi Indonesia. (Fischer 1998b). Program bantuan IMF pertama ditanda-tangani pada tanggal 31 Oktober 1997. yaitu dengan membuat mata uang itu sendiri menarik. 1997: 1). Program reformasi ekonomi yang disarankan IMF ini mencakup empat bidang: 1. Kebijakan moneter. Dampak. Kebijakan fiskal. Membenahi sektor riil saja. yakni sektor ekonomi luar negeri. 2. Di samping dana bantuan IMF. meskipun kelemahan sektor riil dalam negeri mempunyai pengaruh terhadap melemahnya nilai tukar rupiah. Sebab itu tindakan yang harus segera didahulukan untuk mengatasi krisis ekonomi ini adalah pemecahan masalah utang swasta luar negeri. Second Supplementary Memorandum of Economic and Financial Policies (MEFP) tanggal 24 Juni. kemudian 29 Juli 1998. dan yang terakhir adalah review yang keempat.3 milyar selama tiga hingga lima tahun masa program.04 milyar dicairkan segera. Sementara itu pemerintah Indonesia telah enam kali memperbaharui persetujuannya dengan IMF. Indonesia sendiri mempunyai kuota di IMF sebesar US$ 2. Dari jumlah total pinjaman tersebut. dan tidak kalah penting adalah mengembalikan stabilitas sosial dan politik.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. Bank Pembangunan Asia dan negaranegara sahabat juga menjanjikan pemberian bantuan yang nilai totalnya mencapai lebih .07 milyar yang bisa dimanfaatkan. Untuk menunjang program ini. Penyehatan sektor keuangan. (IMF. Program Reformasi Ekonomi IMF Menurut IMF. dan kurang dipengaruhi oleh sektor riil dalam negeri. tidak memecahkan permasalahan. 3. IMF akan mengalokasikan stand-by credit sekitar US$ 11. Inti dari setiap program pemulihan ekonomi adalah restrukturisasi sektor finansial. Strategi pemulihan IMF dalam garis besarnya adalah mengembalikan kepercayaan pada mata uang.

maka dilakukanlah negosiasi kedua yang menghasilkan persetujuan mengenai reformasi ekonomi (letter of intent) yang ditanda-tangani pada tanggal 15 Januari 1998. 2. Jadwal pelaksanaan masing-masing program dirangkum dalam matriks komitmen kebijakan struktural. menstabilkan rupiah pada tingkat yang sesuai dengan kekuatan ekonomi Indonesia. maka diadakanlah negosiasi ulang yang menghasilkan supplementary memorandum pada tanggal 10 April 1998 yang terdiri atas 20 butir.Social safety net . Sebagai perbandingan. Karena dalam beberapa hal program-program yang diprasyaratkan IMF oleh pihak Indonesia dirasakan berat dan tidak mungkin dilaksanakan. Maret 1999 kurang US$ 37 milyar (menurut Hartcher dan Ryan). Namun bantuan dari pihak lain ini dikaitkan dengan kesungguhan pemerintah Indonesia melaksanakan program-program yang diprasyaratkan IMF. . di antaranya sebesar US$ 21 milyar berasal dari IMF.2 milyar. 3. yang mengandung 50 butir.Lingkungan hidup.Memperkuat aspek hukum dan pengawasan untuk perbankan C. dan aspek baru yang masuk adalah penyelesaian utang luar negeri perusahaan swasta Indonesia. Reformasi struktural . Korea mendapat bantuan dana total sebesar US$ 57 milyar untuk jangka waktu tiga tahun. Setelah pelaksanaan reformasi kedua ini kembali menghadapi berbagai hambatan.5 milyar berasal dari Indonesia dan Korea. Pokokpokok dari program IMF adalah sebagai berikut: A. Strategi yang akan dilaksanakan adalah: 1.Perdagangan luar negeri dan investasi . memperkuat dan mempercepat restrukturisasi sistim perbankan.Kebijakan fiskal .10 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. di antaranya US$ 4 milyar dari IMF dan masing-masing US$ 0.Program restrukturisasi bank . Restrukturisasi sektor keuangan . Thailand hanya memperoleh dana bantuan total sebesar US$ 17.Deregulasi dan swastanisasi . 7 appendix dan satu matriks.Kebijakan moneter dan nilai tukar B. Saransaran IMF diharapkan akan mengembalikan kepercayaan masyarakat dengan cepat dan kurs nilai tukar rupiah bisa menjadi stabil (butir 17 persetujuan IMF 15 Januari 1998). Cakupan memorandum ini lebih luas dari kedua persetujuan sebelumnya. Kebijakan makro-ekonomi . memperkuat implementasi reformasi struktural untuk membangun ekonomi yang efisien dan berdaya saing.

6. 1998b). Salah satu pemecahan standar IMF adalah menuntut adanya surplus dalam anggaran belanja negara. Pemerintah akan terus menjamin kelangsungan kredit murah bagi perusahaan kecilmenengah dan koperasi dengan tambahan dana dari anggaran pemerintah (butir 16 dan 20 dari Suplemen). sehingga ekspor bisa bangkit kembali. 7. padahal masalah yang dihadapi tiap negara tidak seluruhnya sama. tetapi untuk mendukung neraca pembayaran serta memberi rasa aman. sehingga tidak bisa keluar dengan program penyelamatan yang tepat. Radelet dan Sachs secara gamblang mentakan bahwa bantuan IMF kepada tiga negara Asia (Thailand. 6 Mei 1998). meskipun surplus . bila pemerintah dengan konsekuen melaksanakan program IMF. 2. Prioritas utama dari program IMF ini adalah restrukturisasi sektor perbankan. rasa tenteram.4 juta dan jumlah yang sama akan dicairkan lagi berturut-turut awal bulan Juni dan awal bulan Juli. 5. 4. Peran IMF dan Saran 11 4. yang paling umum adalah bahwa: (1) program IMF terlalu seragam. Ke tujuh appendix adalah masing-masing: Kebijakan moneter dan suku bunga Pembangunan sektor perbankan Bantuan anggaran pemerintah untuk golongan lemah Reformasi BUMN dan swastanisasi Reformasi struktural Restrukturisasi utang swasta Hukum Kebangkrutan dan reformasi yuridis. dan rasa kepercayaan terhadap perekonomian bahwa kita memiliki cukup devisa untuk mengimpor dan memenuhi kewajiban-kewajiban luar negeri” (Kompas. Kritik Terhadap IMF Banyak kritik yang dilontarkan oleh berbagai pihak ke alamat IMF dalam hal menangani krisis moneter di Asia. Sementara itu Menko Ekuin/ Kepala Bappenas menegaskan bahwa “Dana IMF dan sebagainya memang tidak kita gunakan untuk intervensi. dan (2) program IMF terlalu banyak mencampuri kedaulatan negara yang dibantu (Fischer. Dampak.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. 1. Setelah melihat program penyelematan IMF di ketiga negara tersebut. Pencairan berikutnya sebesar US$ 1 milyar yang dijadwalkan awal bulan Juni baru akan terlaksana awal bulan September ini. kembalikan pembelanjaan perdagangan pada keadaan yang normal. 3. Korea dan Indonesia) telah gagal. menyusun kerangka untuk mengatasi masalah utang perusahaan swasta. 5. Awal Mei 1998 telah dilakukan pencairan kedua sebesar US$ 989. timbul kesan yang kuat bahwa IMF sesungguhnya tidak menguasai permasalahan dari timbulnya krisis. padahal dalam hal Indonesia anggaran belanja negara sampai dengan tahun anggaran 1996/1997 hampir selalu surplus.

dan tidak ada tingkat inflasi yang melebihi 10%. Selama ini tidak ada pencetakan uang secara besar-besaran untuk menutup anggaran belanja negara yang defisit. Karenanya. yaitu negara pengutang lazimnya harus mendapatkan restu pendanaan dari pemerintah AS. Semakin jatuh nilai tukar rupiah. pemimpin ekonom Bank Dunia. Karena itu pemecahan utamanya adalah bagaimana mengembalikan nilai tukar rupiah ke tingkat yang wajar. namun ini bukan disebabkan karena kebijakan deficit financing dari pemerintah. (Kompas. Stiglitz. Adalah kebijakan dari Orde Baru untuk menjaga keseimbangan dalam anggaran belanja negara. Maret 1999 ini ditutup oleh bantuan luar negeri resmi pemerintah. Memang dalam anggaran belanja negara tahun 1998/1999 terdapat defisit anggaran yang besar. Di satu pihak. yang pada dasarnya hanya memperluas kesempatan ekonomi AS. Harapan satu-satunya adalah peningkatan ekspor non-migas. 2 Mei 1998).R. namun kelemahan utama dari IMF adalah tidak ada program yang jelas untuk meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya produksi untuk mendorong ekspor non-migas. tetapi oleh karena nilai tukar rupiah yang terpuruk terhadap dollar AS. dan bagaimana ingin dicapai sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 3%. mengkritik bahwa prakondisi IMF yang teramat ketat terhadap negara-negara Asia di tengah krisis yang berkepanjangan berpotensi menyebabkan resesi yang berkepanjangan. perwakilan IMF mewakili negara dan pemerintahan dengan kebijakan dan visi politik masing-masing. Kabar terakhir menyebutkan bahwa pencairan bantuan tahap ketiga awal Juni ni akan tertunda lagi atas desakan pemerintah AS yang dikaitkan dengan perkembangan reformasi politik di Indonesia. semakin besar defisit yang terjadi dalam anggaran belanja. Penasehat khusus IMF untuk Indonesia (P. ada saja peluang bahwa tudingan atas pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia yang makin marak belakangan ini. Demikianpun halnya dengan Bank Dunia. (Kompas. sementara keputusan yang diambil harus mengacu pada fakta konkret ekonomi. bahwa di bidang kebijaksanaan makro IMF tidak memperlihatkan adanya konsistensi antarinstrumen kebijaksanaan. Narvekar) sendiri juga dikutip sebagai mengatakan bahwa “IMF kerap menerapkan standar ganda dalam pengambilan keputusan. bagaimana caranya untuk meningkatkan penerimaan pemerintah dan mengurangi pengeluaran pemerintah untuk mencapai sasaran surplus anggaran sebesar 1% dari PDB dalam tahun fiskal 1998/99. Sri Mulyani mengemukakan.12 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Anwar Nasution mengkritik bahwa reformasi ekonomi yang disarankan IMF bentuknya masih samar-samar. dan prinsip ini terus dipegang. dan ini akan menunda cairnya bantuan dari sumber-sumber lain (Hartcher dan Ryan). Tidak ada penjelasan rinci. menjadi hal yang disoroti Dewan Direktur IMF dalam pengambilan keputusannya pekan depan”. J. 13 Mei 1998). Di satu pihak IMF . Kemudian berlakunya praktek apa yang dinamakan “konsensus Washington”. (Nasution: 27-28).

Rencana IMF untuk mencairkan bantuannya secara bertahap dalam jarak waktu yang cukup jauh menunjukkan bahwa IMF menekan Indonesia untuk menjalankan programnya secara ketat dan membiarkan keadaan ekonomi Indonesia terus merosot menuju resesi yang berkepanjangan. Dengan menahan pencairan bantuan tahap kedua dan setelah diundur. bahkan memperparah keadaan. Dampak. (Sri Mulyani: 72). hanya dicicil US$ 1 milyar dari jumlah US$ 3 milyar. Karena badan internasional lain dan negara-negara sahabat yang menjanjikan bantuan juga menunggu signal dari IMF. menghilangkan kepercayaan terhadap rupiah. ditambah jarak yang cukup lama antara paket bantuan pertama dan kedua. karena cara pengelolaan bank yang amburadul dan tidak mengikuti peraturan. yang bertentangan dengan tema pengetatan. Hal ini juga diakui oleh IMF (butir 14. Pertanyaan mendasar yang harus ditujukan kepada IMF menurut penulis adalah sejauh mana IMF bersungguh-sungguh dalam hal membantu mengatasi krisis ekonomi yang sedang melanda Indonesia dewasa ini? Apakah sama seperti kesungguhan Amerika Serikat ketika membantu Meksiko bersama-sama dengan IMF dan negara-negara maju lainnya yang berhasil menggalang sebesar hampir US$ 48 milyar Januari 1995? Setelah mencapai titik terendah tahun 1995. ekonomi dan hukum di Indonesia yang pada akhirnya bermuara pada mundurnya Presiden Soeharto. perekonomian Meksiko dengan cepat pada tahun 1996 dapat bangkit kembali. Bank Indonesia dan perbankan nasional. yang menimbulkan krisis likuiditas perbankan nasional yang gawat. berhubung semua bantuan tambahan yang besarnya mencapai US$ 27 milyar dikaitkan dengan cairnya bantuan IMF. sehingga memperparah keadaan dan masyarakat beramai-ramai memindahkan dananya dalam jumlah besar ke bank-bank asing dan pemerintah atau ditaruh di rumah. . kita juga perlu berterima kasih kepada IMF karena dengan menunda mencairkan bantuannya. 15 dan 24 dari persetujuan IMF tanggal 15 Januari 1998). Masyarakat kehilangan kepercayaan kepada otoritas moneter. karena keharusan BI melakukan fungsi lender of last resort bagi perbankan nasional. namun dampak psikologisnya dari tindakan ini tidak diperhitungkan.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. Peran IMF dan Saran 13 memberikan kelenturan dengan mengizinkan dipertahankannya subsidi dan menyediakan dana untuk menciptakan jaringan keselamatan sosial. Kedua kebijaksanaan ini bisa memandulkan efektivitas kebijaksanaan makro. terutama dalam rangka stabilitas nilai tukar dan inflasi. Di lain pihak. sedang di lain pihak menganut kebijaksanaan moneter yang kontraktif. Saran IMF menutup sejumlah bank yang bermasalah untuk menyehatkan sistim perbankan Indonesia pada dasarnya adalah tepat. IMF sedikit banyak mempunyai andil dalam perjuangan menggulirkan tuntutan reformasi politik. menyulitkan pemulihan ekonomi Indonesia secara cepat. “Secara makro ancaman kegagalan terbesar kesepakatan ketiga ini berasal dari kebijaksanaan moneter yang masih ambivalen. juga ketidak sejalanan kebijaksanaan moneter dan fiskal” (Sri Mulyani: 72).

tingkat bunga tinggi. IMF bisa saja terlebih dahulu mengambil kebijakan memprioritaskan stabilisasi nilai tukar rupiah. tapi disuruh belajar berenang dahulu. kalau mau. IMF tidak memecahkan permasalahan yang utama dan yang paling mendesak secara langsung. sementara pemecahan masalahnya sudah sangat mendesak. butir 5. Ibaratnya orang yang sudah hampir tenggelam diombang-ambing ombak laut tidak segera ditolong dengan dilempari pelampung. Dengan demikian timbulnya krisis kepercayaan yang berkepanjangan dapat dicegah. 16. pembenahan sektor riil yang memang perlu dan sudah sangat mendesak. Maret 1999 Saran IMF untuk menstabilkan nilai tukar adalah dengan menerapkan kebijakan uang ketat. Namun kekurangan yang paling utama dari IMF adalah bahwa IMF dalam program bantuannya tidak mencari pemecahan terhadap masalah yang pokok dan sangat mendesak ini dan berputar-putar pada reformasi struktural yang dampaknya jangka panjang. maka hal ini dengan cepat akan memulihkan kembali kepercayaan masyarakat dalam negeri dan internasional. 17. dengan mencairkan dana bantuan yang relatif besar pada bulan November lalu. tetapi dampak hasilnya baru bisa dirasakan dalam jangka panjang. dari waktu ke waktu mengadakan intervensi terbatas di pasar valas dengan petunjuk IMF (lihat butir 14. Namun bantuan dana IMF dan ketergantungan harapan pada IMF ini di(salah)gunakan untuk menekan pemerintah Indonesia untuk melaksanakan reformasi struktural secara besar-besaran. Krisis ekonomi yang tengah berlangsung ini memang bukan tanggung-jawab IMF dan tidak bisa dipecahkan oleh IMF sendiri. menaikkan suku bunga dan mengembalikan kepercayaan terhadap kebijakan ekonomi. Sayangnya tidak ada program khusus yang secara langsung ditujukan untuk menguatkan kembali nilai tukar rupiah. Tidak adanya program dari IMF yang jelas dan berjangka pendek untuk mengembalikan nilai tukar rupiah ke tingkat yang wajar dan menstabilkannya membuat pemerintah cukup lama terombang-ambing antara memilih program IMF atau currency board system. juga tidak ada Appendix untuk masalah ini. Di lain pihak memang harus diakui bahwa tekanan ini perlu untuk memastikan kesungguhan Indonesia.14 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Asian Development Bank dan negara-negara sahabat. di mana makin ditunda makin banyak . Bila semua kekuatan bantuan ini dikumpulkan sekaligus secara dini. Reformasi struktural sebagaimana yang dianjurkan oleh IMF memang mendasar dan penting. uang ketat. dan titipan-titipan khusus dari negaranegara maju yaitu membuka peluang investasi yang seluas-luasnya bagi mereka dengan menggunakan kesempatan dalam kesempitan Indonesia. yang didukung oleh bantuan dana dari World Bank. karena untuk beberapa tindakan memang ada tanda-tanda kekurang sungguhan di pihak Indonesia. 7 dari Suplemen). IMF sendiri tampaknya tidak tahu apa yang harus dilakukannya dan berputarputar pada kebijakan surplus anggaran. 21 dari persetujuan 15 Januari 1998. yang justru menjanjikan kepastian dan kestabilan nilai tukar pada tingkat yang wajar.

Di sini timbul keragu-raguan akan kemurnian kebijakan reformasi IMF. karena dalam jangka pendek proyek ini akan mengacaukan kebijakan pemerintah di bidang fiskal. meskipun kepentingan rakyat kecil sangat diperhatikan dengan adanya jaringan keselamatan sosial. Dalam suplemen program IMF April 1998 disebutkan bahwa subsidi masih bisa diberikan kepada beberapa jenis barang yang banyak dikonsumsi oleh penduduk berpenghasilan rendah seperti bahan makanan. BBM dan listrik sudah diperhitungkan dan dinaikkan dalam anggaran pemerintah (butir 20 dari Suplemen). Membengkaknya subsidi ini disebabkan . 1997. Namun penurunan subsidi BBM dan listrik oleh pemerintah secara drastis dan mendadak pada tanggal 4 Mei 1998 yang lalu mempunyai dampak yang sangat luas terhadap perekonomian rakyat kecil. Subsidi untuk bahan pangan. Baru pada tanggal 1 Oktober 1998 direncanakan subsidi akan diturunkan secara berarti. apakah IMF benar-benar tidak melihat inti permasalahannya atau berpura-pura tidak tahu? Atau IMF mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk memaksakan perubahan-perubahan yang sudah lama menjadi duri di matanya dan bagi Bank Dunia serta mewakili kepentingan-kepentingan asing? Tampaknya di balik anjuran program pemulihan kegiatan ekonomi ada titipan-titipan politik dan ekonomi dari negara-negara besar tertentu.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. anggaran dan moneter secara berarti. Tindakan drastis ini sedikit-banyak telah membantu memicu terjadinya kerusuhan-kerusuhan sosial dan politik. Peran IMF dan Saran 15 perusahaan yang jatuh bergelimpangan. misalnya penagihan yang lebih efektif. Jadi. Program reformasi IMF secara mencurigakan mengulang kembali tuntutan-tuntutan deregulasi ekonomi yang sudah sejak bertahun-tahun didengungkan oleh Bank Dunia dan belum sepenuhnya dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia (lihat World Bank. karena IMF menganjurkan penghapusan subsidi secara bertahap dan tidak secara mendadak. Subsidi listrik relatif lebih mudah untuk dihapuskan. menunggu keresahan masyarakat reda? Di sini pemerintah salah membaca isi dari kesepakatan dengan IMF. (butir 10 dan 11 dari Suplemen). apakah pemerintah tidak bisa menunda kenaikan BBM dan listrik untuk beberapa bulan. BBM dan listrik. Banyak perusahaan yang mengandalkan pasaran dalam negeri tidak bisa menjual barang hasil produksinya karena perusahaan-perusahaan ini umumnya memiliki kandungan impor yang tinggi dan harga jualnya menjadi tidak terjangkau dengan semakin jatuhnya nilai tukar rupiah. yakni melalui subsidi silang sehingga masyarakat berpenghasilan rendah tetap dikenakan tarif listrik yang murah dan melalui peningkatan efisiensi. bab 4 dan 5). Dampak. Dalam situasi sekarang hampir tidak ada peluang untuk meningkatkan pajak. bab 2. Permintaan IMF untuk menghentikan dengan segera perlakuan pembebasan pajak dan kemudahan kredit untuk proyek mobil nasional dan IPTN adalah tepat.World Bank. utang luar negeri swasta dan nilai tukar rupiah yang merosot jauh dari nilai riilnya adalah masalah-masalah dasar jangka pendek. sehingga timbul teka-teki. 1996. yang lama tidak disinggung oleh IMF. Yang menjadi pertanyaan di sini adalah. Juga saran IMF untuk menghapuskan subsidi BBM dan listrik yang kian membesar secara bertahap dalam jangka waktu tiga tahun sudah benar.

bank asing maupun penguasaan saham dari perusahaan-perusahaan yang telah go public. sementara pendapatan masyarakat adalah dalam rupiah yang tidak berubah sejak sebelum terjadinya krisis moneter. Ikut campurnya IMF dalam penyelesaian utang swasta adalah sangat baik. seperti orang asing yang tinggal di Indonesia misalnya. Masalahnya bukan sentimen nasionalisme. kecuali saham bank nasional yang go public. AFTA dan APEC. siapa yang menjadi penyebab dari terjadinya krisis yang berkepanjangan ini. seperti kinerja yang kurang efisien. Maret 1999 oleh beberapa faktor. Dalam kaitan ini perlu dipertanyakan. Jadi tindakan yang pokok adalah pertama mengembalikan dulu nilai rupiah ke tingkat yang wajar dan dari sini baru menghitung besarnya subsidi.16 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. kalau tidak menurun dan banyaknya PHK. sehingga nilai tukar valas naik sangat tinggi dan siapa yang menarik keuntungan dari krisis ini? Janganlah rakyat banyak diminta untuk berkorban mengatasi krisis ini atau membebankan di atas penderitaan rakyat dengan misalnya menaikkan harga BBM dan tarif listrik. Halnya akan lain. karena IMF sebagai lembaga yang disegani bisa banyak membantu memulihkan kepercayaan kreditor . bila pendapatan masyarakat dalam rupiah juga ikut naik dua atau tiga kali lipat sesuai dengan kenaikan nilai tukar dollar AS. tetapi sebab utama karena merosotnya nilai tukar rupiah. izin investasi di bidang perdagangan besar dan eceran. dan liberalisasai perdagangan yang jauh lebih liberal dari komitmen resmi pemerintah di forum WTO. tetapi apa salahnya bila pemerintah menyisakan bidang kegiatan untuk pengusaha Indonesia. stabilisasi ekonomi dan moneter. kita harus melihat sebab-sebab lain di balik kenaikan biaya produksi. (Bandingkan juga Sri Mulyani: 72-3). Meskipun demikian IMF masih meminta dihapuskannya larangan membuka cabang bagi bank asing. Modal asing sudah diberi peluang yang cukup besar untuk investasi di Indonesia dengan diperbolehkannya kepemilikan hingga 100% baik untuk pendirian PMA. Saran IMF lainnya yang disisipkan dalam persetujuan dan tidak ada kaitannya dengan program stabilisasi ekonomi dan moneter adalah desakannya untuk menyusun UndangUndang Lingkungan Hidup yang baru (butir 50 dari persetujuan IMF tanggal 15 Januari 1998). Di antara saran-saran IMF juga ada yang mengenai perluasan penyertaan modal asing dalam kegiatan ekonomi Indonesia yang terlalu jauh. Keadaan ini tidak sebanding. dan apa sumbangannya terhadap pemasukan modal asing? Bukan masalah anti asing atau sentimen nasionalisme yang sempit. terutama yang bermodal kecil? Apa permintaan IMF ini tidak terlalu jauh? Kedengarannya seperti IMF menerima titipan pesan sponsor dari negara-negara besar yang ingin memaksakan kepentingannya dengan menggunakan kesempatan dalam kesempitan. tetapi apa sumbangan dari keterbukaan ini terhadap restrukturisasi ekonomi dari program IMF. Tidak bisa biaya produksi dihitung atas dasar nilai tukar dengan dollar AS yang masih relatif tinggi lalu dibebankan kepada konsumen. tagihan listrik dalam jumlah besar yang tidak dibayar.

tarif angkutan naik. meskipun tidak kembali pada tingkat sebelum terjadinya krisis moneter. Sayangnya ekspor yang secara teoretis seharusnya naik. Dampak dari Krisis Dewasa ini semua permasalahan dalam krisis ekonomi berputar-putar sekitar kurs nilai tukar valas. Meskipun penerimaan rupiah petani komoditi ekspor meningkat tajam. perjalanan ke luar negeri dan pengiriman anak sekolah ke luar negeri. daya saing produk dalam negeri dengan tingkat kandungan impor rendah meningkat sehingga bisa menahan impor dan merangsang ekspor khususnya yang berbasis pertanian. yang bukan disebabkan karena imported inflation4 . Petani yang berbasis ekspor penghasilannya dalam rupiah mendadak melonjak drastis. Secara umum impor barang menurun tajam termasuk impor buah. IMF bisa bertindak sebagai perantara yang netral dan dipercaya. Hasilnya adalah perbaikan dalam neraca berjalan. bahkan dalam beberapa hal turun ditambah PHK. pengusaha domestik kapok meminjam dana dari luar negeri. Dampak lain adalah laju inflasi yang tinggi selama beberapa bulan terakhir ini. kecuali sebagian sektor pertanian dan ekspor. karena pembeli di luar negeri juga menekan harganya karena tahu petani dapat untung besar. investasi menurun karena impor barang modal menjadi mahal. harga BBM/tarif listrik naik. dan negara-negara produsen lain juga mengalami depresiasi 4 Suatu inflasi dikatakan terjadi karena imported inflation bila harga barang-barang di negara pengekspornya naik. biaya sekolah di luar negeri melonjak. harga telur/ayam naik. kopi dan sebagainya ikut naik. Imbas dari kemerosotan nilai tukar rupiah yang tajam secara umum sudah kita ketahui: kesulitan menutup APBN. bahkan cenderung sedikit menurun pada sektor barang hasil industri. proteksi industri dalam negeri meningkat sejalan dengan merosotnya nilai tukar rupiah.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. utang luar negeri dalam rupiah melonjak. padahal harga dari banyak barang naik cukup tinggi. tidak terjadi. toko sepi. perusahaan tutup atau mengurangi produksinya karena tidak bisa menjual barangnya dan beban utang yang tinggi. Peran IMF dan Saran 17 luar negeri. Dengan demikian roda perekonomian bisa berputar kembali dan harga-harga bisa turun dari tingkat yang tinggi dan terjangkau oleh masyarakat. . Pada sisi lain merosotnya nilai tukar rupiah secara tajam juga membawa hikmah. kebalikannya arus masuk turis asing akan lebih besar. khususnya dollar AS. Dampak. sementara bagi konsumen dalam negeri harga beras. tetapi penerimaan ekspor dalam valas umumnya tidak berubah. gula. PHK di mana-mana. dan ini tidak terjadi. tetapi lebih tepat jika dikatakan foreign exchange induced inflation. yang akan memperlancar dan mempercepat proses penyelesaian utang. yang melambung tinggi jika dihadapkan dengan pendapatan masyarakat dalam rupiah yang tetap. Masalah ini hanya bisa dipecahkan secara mendasar bila nilai tukar valas bisa diturunkan hingga tingkat yang wajar atau nyata (riil).

hanya di sini ada kesulitan lain untuk meningkatkan ekspor. Namun secara keseluruhan dampak negatifnya dari jatuhnya nilai tukar rupiah masih lebih besar dari dampak positifnya. pulihnya kepercayaan investor dalam dan luar negeri. Maret 1999 dalam nilai tukar mata uangnya dan bisa menurunkan harga jual dalam nominasi valas.5 juta. sehingga perlu dilancarkan program-program untuk menunjang mereka yang dikenal sebagai social safety net. Sebagai dampak dari krisis ekonomi yang berkepanjangan ini. karena krisis belum juga menyentuh dasar jurang. pada Oktober 1998 ini jumlah keluarga miskin diperkirakan meningkat menjadi 7. sulit untuk diramalkan karena tergantung pada banyak faktor. Berapa lama krisis ekonomi ini masih akan berlangsung. pertumbuhan GDP nyata Indonesia pada tahun 1998/9 diperkirakan akan negatif sebesar 16%. Saran-Saran Krisis moneter telah memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk menentukan kebijakan di masa depan.18 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Hal yang serupa juga terjadi untuk ekspor barang manufaktur. tenaga terlatih. Karena prasarana dasar untuk pembangunan sudah tersedia. Faktor-faktor tersebut adalah bantuan IMF dan donor-donor lainnya yang segera. keamanan yang mantap. suasana politik dan sosial yang stabil. Keadaan ekonomi yang sangat parah ini diperkirakan pada bulan-bulan mendatang masih akan berlangsung terus. Meningkatnya jumlah penduduk miskin tidak terlepas dari jatuhnya nilai tukar rupiah yang tajam. maka upaya yang paling utama dan mendesak bagi Indonesia . yang menyebabkan terjadinya kesenjangan antara penghasilan yang berkurang karena PHK atau naik sedikit dengan pengeluaran yang meningkat tajam karena tingkat inflasi yang tinggi. menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada tingkat yang wajar. mesin-mesin sudah ada. dan tingkat inflasi sekitar 66%. sehingga bila nilai tukar rupiah bisa dikembalikan ke nilai nyatanya maka biaya besar yang dibutuhkan untuk social safety net ini bisa dikurangi secara drastis. maka perbaikan ini diperkirakan akan berlangsung relatif cepat. pabrik. Tapi sekali krisis berakhir dan ekonomi berbalik bangkit kembali (rebound). Prospek Ekonomi Indonesia Prospek ekonomi untuk beberapa tahun mendatang adalah kurang cerah dan akan ditandai oleh pertumbuhan ekonomi yang negatif. karena ada masalah dengan pembukaan L/C dan keadaan sosial-politik yang belum menentu sehingga pembeli di luar negeri mengalihkan pesanan barangnya ke negara lain. sehingga yang diperlukan adalah pulihnya kepercayaan dan masuknya modal baru. Menurut perkiraan IMF pada bulan Maret 1999 lalu.

1998. p. perjalanan. baik swasta maupun pemerintah.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. Dengan demikian sumber utama krisis di masa lalu untuk masa mendatang sudah dapat dieliminir. memperbaiki “governance”. kirim anak sekolah di luar negeri. perdagangan dan angkutan juga bisa hidup kembali. Setelah mendapat pengalaman dari krisis ini. Dengan sistim ini. kegiatan ekonomi Indonesia terutama harus ditunjang oleh kekuatan sendiri berdasarkan dana modal yang tersedia di dalam negeri. harga mobil terjangkau oleh masyarakat. pada suatu saat tertentu dan membagi (spread-out) pembayaran ini secara merata dalam jangka waktu yang lebih panjang pada tingkat yang terkendali (manageable). Kegiatan jasa hotel. Dampak. begitupun pengusaha domestik akan sangat hati-hati untuk meminjam dari luar negeri. berobat di luar negeri. industrialisasi substitusi impor berlanjut. Para ekonom dari CSIS berpendapat bahwa langkah yang harus diambil untuk mengatasi kemelut ini adalah dengan menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam tingkat yang wajar. restrukturisasi perbankan. dan menjaga stabilitas fiskal dan moneter selama masa transisi (World Bank. Beberapa saran dari penulis untuk mengatasi krisis ekonomi dewasa ini adalah sebagai berikut: . impor secara otomatis akan berkurang (misalnya buah. Inti dari pemecahan krisis moneter dalam jangka pendek haruslah ditujukan kepada pencegahan penumpukan pembayaran utang luar negeri. Dunia perbankan nasional juga telah diajarkan dari manfaat jangka panjang untuk bertindak prudent. jalan-jalan ke luar negeri. dan meningkatkan ekspor. sejauh persyaratan di atas bisa dipenuhi. Bank Dunia menyarankan mengembalikan kepercayaan terhadap rupiah dengan empat kebijakan utama: restrukturisasi beban utang swasta. Dengan demikian.2). dan penyelesaian masalah utang swasta dengan penjadwalan ulang (Kompas. 9 April 1998). harga barang-barang produksi dalam negeri dengan kandungan lokal tinggi bisa meningkat daya saingnya sehingga bisa berkembang dan orang tidak mengandalkan bahan impor karena menjadi mahal. dana asing akan sangat hati-hati masuk ke Indonesia. Peran IMF dan Saran 19 dewasa ini adalah program penyelamatan yang bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat serta menstabilkan kurs rupiah pada nilai tukar yang nyata (bandingkan juga Stiglitz). Ditambah dengan hilangnya insentif untuk meminjam dari luar negeri karena biaya pinjaman yang lebih rendah diimbangi dengan tingkat depresiasi yang lebih tinggi dan karena tidak adanya lagi intervensi kurs oleh BI. Penulis menginterpretasikan nilai tukar nyata sebagai nilai tukar berdasarkan purchasing power parity yang bisa menjaga keseimbangan dalam neraca berjalan dan yang bisa menjamin ekonomi nasional beroperasi. 2. pola makan makanan yang bahannya gandum). reformasi dan memperkuat sistim perbankan.

dalam hal ini Departemen Keuangan dan Bank Indonesia. Yang nanti akan menjadi masalah adalah bagaimana membayar utang bantuan darurat yang mencapai US$ 46 milyar tersebut di samping utang-utang pemerintah dan swasta yang ada. Mengusahakan penundaan pembayaran utang resmi pemerintah berupa pembayaran cicilan pokok dan bunga selama misalnya dua tahun melalui Paris Club. Penjadwalan kembali pembayaran utang resmi pemerintah ini juga akan banyak . 2. Sebab menurut APBN tahun 1998/99 jumlah pembayaran cicilan utang pokok luar negeri beserta bunganya mencapai US$ 7.20 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Membentuk kabinet baru yang terdiri atas teknokrat untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat Indonesia maupun luar negeri akan kesungguhan program reformasi. Makin cepat pemerintah melaksanakan program-program reformasi. yang juga selalu mendapatkan pujian dari Bank Dunia dan IMF. Pemerintah melaksanakan reformasi dan restrukturisasi sektor riil dan keuangan secara konsekuen untuk memperkuat fundamental ekonomi Indonesia. Dengan demikian. Dengan adanya kepercayaan ini. 3. Sejauh ini Indonesia memang selalu patuh untuk membayar semua utang-utangnya secara tepat waktu. bahwa beban utang tidak menjadi bertambah. terlebih lagi karena bantuan IMF ini terkait dengan bantuan negara-negara donor lainnya yang jumlahnya sangat besar. sementara pinjaman luar negeri baru sebesar US$ 6. harus bertindak proaktif menghadapi IMF dengan mengajukan saran-sarannya sendiri dan menolak program-program yang tidak relevan dan cenderung merugikan Indonesia. termasuk program reformasi IMF. maka pemerintah juga harus melaksanakannya dengan konsekuen. Seandainya Indonesia tidak menerima bantuan barupun. makin cepat juga dananya cair.560 juta.450 juta. sebab Paris Club adalah instrumen internasional yang memang khusus dirancang untuk membantu negara-negara sedang berkembang dalam menghadapi masalah pembayaran kembali utang-utang luar negeri pemerintah. hanya saja jangka waktu pembayaran kembalinya saja yang lebih panjang. Sementara ini sudah banyak negara sedang berkembang yang memanfaatkan fasilitas ini. Maret 1999 1. maka masih ada selisih positif sebesar lebih dari US$ 1 milyar yang bisa dihemat. diharapkan akan terjadi arus balik devisa dan masuknya modal luar negeri. Keuntungan dari penundaan pembayaran utang ini adalah. apa salahnya jika Indonesia meminta penundaan waktu pembayaran kembali utang? Nama Indonesiapun tidak menjadi jelek karenanya. Indonesia bisa bernapas untuk memperkuat posisi cadangan devisanya. Namun dalam keadaan krisis yang parah ini. Bila Jepang hanya mau membantu dengan dengan menambah pinjaman baru. tanpa merusak nama Indonesia sebagai debitur yang baik. Jumlah ini sangat berarti untuk memperkuat cadangan devisa negara. Karena Indonesia telah menanda-tangani persetujuan program reformasi struktural ekonomi dengan IMF. berarti bahwa beban utang termasuk pembayaran bunga untuk di kemudian hari akan bertambah besar. Namun pemerintah.

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran

21

membantu meringankan defisit anggaran belanja, terlebih lagi dengan semakin terpuruknya nilai tukar rupiah semakin besar pula defisit dalam anggaran belanja negara yang harus ditutup. Hal ini telah dilakukan oleh pemerintah dan telah dicapai kesepakatan, bahwa Indonesia akan menunda pembayaran cicilan utang pokoknya saja. 4. Menstabilkan nilai tukar rupiah pada tingkat yang riil, artinya tidak lagi overvalued ketika regim managed floating, bahkan bisa dipertimbangkan untuk membiarkannya sedikit undervalued untuk meningkatkan daya saing secara internasional dan merangsang produksi dalam negeri dan ekspor. Nilai tukar nyata yang wajar ini harus dicari dengan memperhatikan kriteria-kriteria berikut, paling tidak tingkat depresiasi rupiah tidak lebih rendah dari depresiasi nyatanya. Dengan kurs ini defisit anggaran belanja negara bisa ditekan, juga tingkat inflasi, pembayaran utang luar negeri pemerintah dan swasta dalam rupiah dapat ditekan sehingga mampu dikembalikan, begitupun harga BBM/listrik dan pakan ternak, harga barang-barang produksi dalam negeri dapat terjangkau termasuk sembako dan pabrik-pabrik beroperasi kembali, orang-orang yang menganggur dapat bekerja kembali, jumlah penduduk miskin dapat ditekan kembali dan jaringan keamanan sosial tidak lagi diperlukan, biaya angkutan udara bisa diturunkan, perjalanan domestik dan luar negeri dapat hidup kembali. Dilain pihak kurs dollar AS ini harus cukup tinggi untuk menahan impor berbagai macam barang dan bahan serta meningkatkan daya saing produk dalam negeri termasuk buah-buahan, insentif untuk meminjam dana dari luar negeri hilang, biaya perjalanan ke dan sekolah di luar negeri tetap masih mahal, yang semuanya mengurangi pengurangan devisa. Sebaliknya daya saing ekspor masih cukup tinggi, sehingga ekspor masih bisa tetap bergairah. Bila ini disadari sebagai hal yang utama dan yang paling mendesak untuk mengakhiri krisis ini, maka seluruh daya upaya dan pikiran dapat diarahkan untuk memecahkan persoalannya. Kebijakan depresiasi nilai tukar yang relatif besar dampaknya sama seperti kebijakan proteksi produksi dalam negeri, karena merubah perbandingan harga antara barang dalam negeri aktif dalam forum-forum internasional seperti APEC, ASEAN, dan sebagainya untuk mencari pemecahan atas krisis moneter yang sedang melanda banyak negara Asia Timur. Masalah pokoknya adalah bagaimana memperkuat nilai tukar mata uang masing-masing kembali pada tingkat yang wajar. Misalnya dengan mengajukan gagasan-gagasan pemecahan yang konkrit dan mendesak diadakannya pertemuanpertemuan dengan segera. Hingga kini sikap pemerintah Indonesia terkesan pasif. 6. Mengadakan negosiasi ulang utang luar negeri swasta Indonesia dengan para kreditor untuk meminta penundaan pembayaran, yang sekarang sedang diusahakan oleh Tim Penanggulangan Utang Luar Negeri Swasta (PULNS) atau Indonesian Debt Restructuring Agency (INDRA).

22

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

7. Mengembalikan stabilitas sosial dan politik dan rasa aman secepatnya sehingga bisa memulihkan kepercayaan pemilik modal dalam dan luar negeri. 8. Untuk mengembalikan kepercayaan dari masyarakat yang menyimpan uangnya di dalam negeri, pemerintah bisa mempertimbangkan melakukan operasi swap, apalagi didukung oleh cadangan devisa pemerintah yang semakin membesar. 9. Menghalangi kemungkinan kegiatan spekulasi valas besar-besaran dengan mempelajari kemungkinan melakukan pengawasan devisa secara terbatas tanpa melepas prinsip regim devisa bebas atau melanggar kesepakatan dengan IMF, misalnya transfer pribadi dibatasi sampai jumlah tertentu, US$ 10.000. Selanjutnya tidak memberi peluang untuk memperdagangkan rupiah atau menaruh deposito Rupiah di luar negeri. Deposito valas hanya boleh di bank-bank devisa dalam negeri dan tidak boleh ditempatkan di luar. Krugman juga menganjurkan memungut pajak atas dana yang masuk dan membuat peraturan yang menghambat pengiriman dana ke luar (lihat Wessel dan Davis, hal. 16).

Daftar Kepustakaan
Anwar, Moh. Arsjad. 1997. “Transformasi Struktur Perekonomian Indonesia: Pola dan Potensi”, dalam: M. Pangestu, I. Setiati (penyunting), Mencari Paradigma Baru Pembangunan Indonesia, Jakarta: CSIS, hal. 33-48. Bank Indonesia. 1998. “Financial Crisis in Indonesia”, Jakarta, August. Bello, W. 1998. “Mencari Solusi Alternatif untuk Mengatasi Krisis”, saduran, Jakarta: Kompas, 1 September, hal. 3. Ehrke, M.1998. “Pangloss oder die beste aller moeglichen Welten, Ursachen und Auswirkungen der Asienkrise”, Bonn: Friedrich Ebert Stiftung, Februari. Fischer, S. 1998a. “IMF dan Krisis Asia”, Kompas, Jakarta, 6 April. ________. 1998b. “Peranan IMF Saat Krisis”, Kompas, Jakarta, 8 April. ________. 1998c. “The Asian Crisis and the Changing Role of the IMF”, Washington, D.C.: Finance & Development, Vol. 35 No. 2, June, pp. 2-5. Greenwood, J. 1997. “The Lessons of Asia’s Currency Crisis”, Hong Kong: The Asian Wall Street Journal, 9 Oktober, hal. 6. Gunawan, A.H., Sri Mulyani I.. 1998. “Krisis Ekonomi Indonesia dan Reformasi (Makro) Ekonomi”, makalah pada Simposium Kepedulian Universitas Indonesia Terhadap Tatanan Masa Depan Indonesia”, Kampus UI, Depok, 30 Maret - 1 April.

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran

23

Hartcher, P., C. Ryan. 1998. “The IMF Turns Off the Tap”, Australian Financial Review, May 21. Hollinger, W.C. 1996. Economic Policy under President Soeharto: Indonesia’s Twenty-Five Year Record, the United States-Indonesia Society. IMF. 1997. “IMF Approves Stand-By Credit for Indonesia”, Washington, D.C., Press Release No. 97/50, November 5. IMF. 1997. “IMF Approves Stand-By Credit for Indonesia”, Press Release No. 97/50, November 5. IMF. 1998. World Economic Outlook, Washington, D.C., May. IMF. 1999. “Indonesia, Supplemetary Memorandum of Economic and Financial Policies, Fourth Review Under the Extended Arrangement”, March 16. IMF Research Department Staff. 1997. “Capital Flow Sustainability and Speculative Currency Attacks”, Finance and Development, Washington, D.C.: World Bank, December, hal. 8-11. IMF Staff. 1998. “The Asian Crisis: Causes and Cures”, Washington, D.C.: Finance & Development, Vol. 35 No. 2, June, pp.18-21. “IMF Cairkan Semilyar Dollar AS”, Jakarta: Kompas, 6 Mei 1998. “IMF Mulai Sadar Transparensi”, Jakarta: Kompas, 13 Mei 1998, hal. 9. “Indonesia - IMF Agreement on Economic Reforms”, January 15, 1998. “Indonesia - Supplementary Memorandum of Economic and Financial Policies”, Jakarta, April 10, 1998. Institute of Developing Economies (IDE). 1997. 1998 Economic Outlook for East Asia, Tokyo, December 9. Kitamura, K.; T. Tanaka (editors). 1997. Examining Asia’s Tigers, Nine Economies Challenging Common Structural Problems, Tokyo: Institute of Developing Economies, IDE Spot Survey. Korea Letter of Intent, February 7, 1998, Krause, L.B. 1994. The Pacific Century: Myth or Reality?, the 1994 Panglaykim Memorial Lecture, Jakarta: CSIS.

27 Januari. 3rd updated reprint. Gatra. 1998. Tarmidi. M. 62-77. 5. 28-29. “Currency Crisis”. 1998a. “Saatnya Dipertimbangkan Solusi Alternatif”. hal. 3. The Economist. 1998. Jakarta. November/December. “Kesepakatan Ketiga”. “Why Not Let the Banks Own the Debtor Firms?”. No. Radelet. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. hal. ACAES. 9 Mei. 10 Juni. 1998.. The Sunday Times. 1997. “The Crisis of Global Capitalism”. “What Happened to Asia”. July 26. 28 Agustus.24 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. “RI-IMF Hasilkan Memorandum Tambahan”. Jakarta. Sri Mulyani Indrawati. 1997. “Lessons from the Recent Financial Crisis in Indonesia”.F. Stiglitz. January. Jakarta: Kompas. 17. IMF Agree on Bailout. February 2. 1998b. Anwar. Dimuat di Kompas dengan judul “Di Balik Terjadinya Krisis Keuangan Asia”. p. 72-3. 1997. 8. hal. “South Korea. N.. “What’s a Fund for?”. 26 Agustus 1998. M.1997. J. Jakarta: Kompas. Singapore. hal. December 4. H. _________. diselenggarakan bersama oleh USAID. Schuman. Ada yang Harus Dilakukan dan yang Harus Dihindari”. hal. “Restoring the Asian Miracle”. pidato pengukuhan Guru Besar Madya Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta. . 25 Tahun IV. 1998a. Foreign Affairs. 17-18 Desember. Jakarta: Kompas. The Currency Crisis in Southeast Asia. Maret 1999 Krugman. L. Cho. 31-38. Jakarta. Montes. 1998b. hal. “APEC dan Krisis Moneter di Kawasan Asia Timur”. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. September 25. J. 3. “Saran Ali Wardhana untuk Atasi Krisis. S. P. Sachs. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. 9 April 1998.T. hal. Sender. No. 140-2. majalah Global. G. Soros. September 16. 1998. 1998. makalah pada “1997 Economics Conference”. Singapore: ISEAS. LPEM-FEUI. “The Myth of Asia’s Miracle”. ___________. Nasution. hal. 1994. Hong Kong: Far Eastern Economic Review. _________. __________. Economy Is Slated for Rapid Change”. Krisis Moneter Tahun 1997/1998 dan Peran IMF.

Growth and Equity in Repelita VI. 15383-IND. 1. D. “Crisis Crusaders. Wessel. Indonesia. Jakarta: Kompas. Peran IMF dan Saran 25 ___________. D. 1998c. 1998. __________. hal. Dimensions of Growth. 1997. 1998. __________. May 30. 16. 2 Mei 1998. McDermott. Report No. G. A Macroeconomic Update. September 28. “APEC and the Monetary Crisis in East Asia”. hal. D. Bangi.. Thailand Letter of Intent. Wessel. 1. August 11-13. World Bank. December 31. July 2. 1994. “Money Trail: Who Ruptured the Rupiah”. Would-Be Keyneses Debate How to Fight Global Woes”.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. draft Report. . 22. Malaysia. Dampak. 1996. paper presented at the APEC Study Centre Consortium Conference. Sustaining High Growth with Equity. February 24. “Utang Swasta Sekitar 64 Milyar Dollar AS”. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. May 7. Indonesia: Stability. B. 16433IND. May 27. 1998. Davis. Indonesia in Crisis. Indonesia. Ip. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. 1997. __________.. Report No.

Konsep ini juga mengupayakan adanya perlakuan yang sama untuk bank-bank besar dan bank-bank kecil dalam memper-oleh penjaminan. sehingga mengarah sepenuhnya pada swastanisasi baik penyelenggaraan penjaminan maupun pelaksanaan pengaturan dan pengawasan bank yang menyertainya. *) Maulana Ibrahim : Kepala Urusan Pengawasan Bank 2. Bank Indonesia . sekaligus mempelajari kemungkinan penerapannya di Indonesia. konsep ini sangat progresif dalam hal mempercayakan penyelenggaraan penjaminan kepada mekanisme pasar dan meniadakan intervensi pemerintah. Urusan Pengawasan Bank 2. dalam tulisan ini akan didalami prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam konsep tersebut beserta pengaruhnya terhadap pola penjaminan dan pengawasan bank. Dengan merujuk pada ide yang dilontarkan Bert Ely tentang CrossGuarantee. maka konsep Cross-Guarantee menekankan pentingnya penggunaan pendekatan risk-sensitive analysis dalam penetapan besarnya premi. Pendekatan Too-Big-To-Fail (TBTF) yang sejak beberapa waktu terakhir telah menimbulkan inkonsistensi dalam proses penjaminan diharapkan dapat dihilangkan oleh konsep ini. Sebagai suatu konsep yang ditujukan untuk mengatasi berbagai kelemahan deposit insurance scheme yang berlaku sekarang ini. konsep Cross-Guarantee juga akan mengakibatkan perubahan yang sangat mendasar terhadap seluruh pola dan praktek penjaminan dan pengawasan bank yang sudah dijalankan selama ini. Apabila diterapkan sepenuhnya. Sangat berbeda dengan konsep-konsep lainnya dalam program penjaminan. Bank Indonesia Agusman : Pengawas Bank.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 31 KONSEP CROSS-GUARANTEE DALAM PROGRAM PENJAMINAN DAN KEMUNGKINAN PENERAPANNYA DI INDONESIA Maulana Ibrahim dan Agusman *) Tulisan ini mencoba mengetengahkan salah satu bentuk pikiran alternatif dalam program penjaminan yang dikenal dengan konsep Cross-Guarantee.

Balino.T.T.Sundararajan dan Tomas J. Dalam Konferensi mengenai Bank Structure and Competition yang baru-baru ini diadakan oleh Federal Reserve Bank of Chicago. Bert Ely3 . Kritikan tersebut perlu ditanggapi karena FDIC 1 Menurut V. 2 Kusumaningtuti S. Di Amerika Serikat sendiripun upaya pencarian tersebut masih tetap dilakukan meskipun program penjaminannya dianggap telah jauh lebih maju dan mapan.. Kusumaningtuti (1999)2 misalnya. Vol. Ketentuan Blanket Guarantee dan Kemungkinan Penggantiannya dengan Deposit Protection Scheme..Balino.C. D. Untuk mendalami masalah ini lebih lanjut lihat tulisan mereka berdua dalam Banking Crises: Cases and Issues. telah mencoba mengkaji kemungkinan penggantian ketentuan blanket guarantee tersebut dengan deposit protection scheme.1. Pencarian kemungkinan alternatif lain program penjaminan merupakan hal yang perlu dilakukan secara terus menerus. Dalam hubungan ini. International Monetary Fund. Maret 1999 Pendahuluan rogram penjaminan merupakan salah satu kebijaksanaan yang diambil pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada sistem perbankan nasional yang sempat terganggu karena parahnya krisis ekonomi dan keuangan yang dihadapi Indonesia sejak paroh kedua tahun 1997.3. serta mencoba mempelajari kemungkinan penerapannya di Indonesia. Tulisan ini mencoba mengetengahkan pikiran-pikiran Bert Ely mengenai konsep CrossGuarantee tersebut. P Sulit untuk memungkiri bahwa skim penjaminan pemerintah yang bersifat menyeluruh itu akan sangat memberatkan keuangan pemerintah. Paper dalam “The 35th Annual Conference on Bank Structure and Competition”. hal tersebut barangkali masih dapat diterima. No. khususnya karena tidak sebandingnya nilai premi dengan cakupan penjaminan disamping adanya peluang untuk melakukan moral hazard. Latar Belakang Konsep Cross-Guarantee Konsep Cross-Guarantee muncul antara lain karena adanya berbagai kritik dan ketidakpuasan terhadap skim penjaminan yang diterapkan pada Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) di Amerika Serikat. The Federal Reserve Bank of Chicago. Desember 1998. skim program penjaminan yang dipilih pemerintah tersebut ternyata lebih bersifat blanket guarantee (penjaminan menyeluruh). 1991. Editor: V.S. Washington.Sundararajan dan Tomas J. seorang pakar deposit insurance telah mengemukakan konsep Cross-Guarantee sebagai salah satu alternatif. Untuk tindakan darurat1 . Ditinjau dari karakteristiknya. The Cross-Guarantee Concept and Interbank Markets. . 7 Mei 1999. intervensi terhadap bank-bank/lembaga keuangan bermasalah dan pembentukan deposit insurance. namun untuk jangka panjang tampaknya perlu dicari alternatif lain yang memungkinkan terselenggaranya program penjaminan yang efisien dan efektif. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Bank Indonesia. tindakan darurat (emergency measures) yang dilakukan bank sentral dapat berupa pemberian fasilitas lender of last resort.32 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. 3 Bert Ely.

seharusnya semakin besar risiko yang ditanggung semakin besar premi. Alasan kedua adalah karena jumlah dana yang ditanamkan oleh FDIC telah melebihi ketentuan minimum Reserve Ratio (RR) perbankan sebesar 1.000. tampaknya hanya dalam FDIC mengalami kerugian dan deposit growth menekan RR di bawah 1. No.100.. “Deposit Insurance Pricing and Social Welfare”.18. pada dasarnya yang dijamin oleh FDIC adalah dana pihak ketiga (deposits) maksimum sebesar USD. Journal of Banking & Finance. laba yang diperoleh FDIC cukup besar sehingga ketergantungan pada premi menjadi semakin lebih berkurang. Pertama. komitmen dan kewajiban off-balance sheet serta kewajiban antar bank di atas USD. termasuk juga pos pinjaman subordinasi. yaitu bank-bank yang 4 Adanya risiko yang lebih besar tersebut antara lain dikemukakan oleh Jin-Chuan Duan. Oleh karena itu. hal.25% barulah premi akan dinaikkan. Sebagaimana diketahui.25%. khususnya bagi bankbank yang “Too-Small-To-Safe” (TSTS). akan tetapi tetap saja ada kritik bahwa perlakuan khusus tersebut dapat menimbulkan diskriminasi diantara sesama bank. sehingga pada gilirannya dapat merugikan masyarakat penyimpan dana.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 33 sekarang ini menghadapi risiko yang lebih besar dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya4 . Sebagaimana layaknya perusahaan asuransi. Moreau dan C.sedangkan non-deposits liabilities seperti pinjaman yang diterima.1091-1108. Dengan kata lain. Arthur F.W. Disamping itu premi yang dikenakan oleh FDIC sekarang ini juga dinilai terlalu berlebihan (overcharging) untuk bank-bank yang sehat dan terlalu kecil (undercharging) untuk bank-bank yang bermasalah. Salah satu hal yang memperoleh kritikan adalah mengenai ruang lingkup penjaminan FDIC yang cenderung agak kurang konsisten sehubungan dengan penerapan pendekatan “Too-Big-To-Fail” (TBTF).19 Tahun 1995. 531-552. Kritikan berikutnya yang sering ditujukan kepada FDIC adalah berkenaan dengan penetapan premi yang harus dibayar oleh bank-bank yang ikut penjaminan. Tahun 1994. Meskipun penerapan asas TBTF sangat dimungkinkan berdasarkan konsep Reformasi Deposit Insurance (deposit insurance reforms) yang disetujui Kongres Amerika Serikat dan berlaku sejak setelah tahun 1988. No. dan sebaliknya5 . Namun dalam prakteknya prinsip tersebut ternyata tidak diterapkan karena dua alasan pokok berikut ini.Sealey dalam “Deposit Insurance and Bank Interest Rate Risk: Pricing and Regulatory Implications”. Namun dalam hal suatu bank dinilai TBTF maka seluruh pos kewajibannya akan dijamin.100. pendapatan dari penanaman dana oleh FDIC jauh melebihi biaya-biaya operasionalnya. Perhitungan premi oleh FDIC dinilai kurang mencerminkan risiko yang harus ditanggungnya. 5 Ide agar FDIC menetapkan premi sebagaimana layaknya perusahaan asuransi swasta mula-mula sekali dilontarkan oleh Merton (1977). . sehingga menimbulkan cross-subsidies.000 tidak dijamin. Hal ini diungkap dalam tulisan Yoram Landskroner dan Jacob Paroush. hal. Journal of Banking & Finance.

Melalui premi yang mereka bayar. ruang-lingkup penjaminan. lembaga penjamin. hal. Mekanisme Cross-Guarantee ini memiliki kemiripan dengan mekanisme yang berlaku pada Standby Letter of Credits. lembaga lain yang terlibat dan lain-lain. Kritikan lainnya adalah mengenai masih terbukanya peluang untuk melakukan moral hazard dalam sistem yang berlaku sekarang. weak internal controls dan execessive exposure to emerging speculative bubbles. dan potensial untuk berubah menjadi real moral hazard pada tingkat FDIC. Sekarang ini FDIC menggunakan 2 (dua) alat ukur risiko yaitu Capital Levels dan CAMEL Rating. Menurut Bert Ely.Kaufman.Kaufman. Perubahan-perubahan tersebut dapat mencakup aspek penyelenggara. apabila diterapkan secara penuh maka ketentuan yang tercakup dalam FDICIA dapat efektif menurunkan moral hazard. sumber pembayaran klaim. Tahun 1995.19. Maret 1999 sehat membayar kewajiban bank-bank yang tidak sehat. Hal ini terjadi karena pada satu pihak FDIC memiliki kekuasaan besar dalam penentuan premi. bank-bank yang ikut program penjaminan FDIC pada hakekatnya saling menjamin satu-sama lain. rapid growth. Penerapan konsep Cross-Guarantee dalam program penjaminan memer-lukan perubahan mendasar terhadap skim penjaminan dan pola pengawasan bank yang sedang berjalan. karena masing-masing bank-bank yang dijamin (insured banks) pada akhirnya menjadi pihak yang bertanggung jawab terhadap semua kerugian yang terjadi apabila ada bank-bank yang mengalami kegagalan usaha (failed banks). khususnya dalam hal terdapat multiple participant. Colorado pada bulan Juli 1998. Hal ini erat kaitannya dengan belum diterapkannya secara penuh prinsip risk-sensitive premium sebagaimana yang dipersyaratkan oleh Section 302 FDICIA6 serta penggunaan alat ukur risiko yang belum sesuai. 6 FDICIA singkatan dari FDIC Improvement Act. Struktur seperti ini ternyata dapat mengakibatkan terjadinya regulatory moral hazard pada tingkat pembuat ketentuan. meskipun belum seutuhnya. Contoh yang paling baru dari fenomena regulatory moral hazard ini adalah dalam hal kegagalan BestBank di Boulder.34 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. . No. ketentuan perbankan. seharusnya alat ukur yang digunakan adalah leading indicators of banking risks seperti risk mismatches. secara implisit konsep Cross-Guarantee sebenarnya sudah melekat pada FDIC. sedangkan pihak lain yaitu birokrasi pemerintah (regulator) berkewajiban untuk meminimumkan kerugian FDIC dan mencegah kegagalan bank (bank failures). Karakteristik Sistem Cross-Guarantee dalam Penjaminan Terlepas dari berbagai kritik terhadap skim penjaminan FDIC sebagaimana dikemukakan di atas. pelaksana pengawasan bank. Menurut George G. “FDICIA and Bank Capital” dalam Journal of Banking & Finance. namun pendekatan ini dinilai kurang ideal dalam perhitungan premi. Selanjutnya lihat George G. Pada Lampiran-1 disajikan perbandingan antara Cross-Guarantee dengan skim penjaminan deposit insurance konvensional untuk masing-masing aspek tersebut.721-722. bentuk kontribusi dari bank yang dijamin.

Jumlah modal yang tersedia untuk menyerap kerugian juga akan semakin besar dan semua itu terjadi atas dasar komitmen sukarela (committed voluntarily). Untuk memastikan bahwa bank-bank yang dijamin mematuhi cross-guarantee contract maka sebuah perusahaan swasta yang disebut “syndicate agent“ akan disewa. akan terjadi pergeseran dari government regulation and deposit insurance kepada contractual regulation and guarantees (swasta). b. minimal untuk menyelesaikan kewajiban cross-guarantee dari setiap penjamin. Perlu kiranya dikemukakan bahwa aturan penyebaran risiko (risk dispersion rule) merupakan salah satu pilar penting dalam konsep Cross-Guarantee. Lembaga ini berfungsi untuk memastikan bahwa perjanjian penjaminan (crossguarantee contract) yang disepakati para pihak telah sesuai dengan aturan penyebaran risiko (risk dispersion rule) serta ketentuan-ketentuan lainnya. Aturan ini mencakup hal-hal sebagai berikut: ♦ Setiap penjamin (guarantor) harus dijamin oleh penjamin-penjamin lainnya dalam suatu sistem cross-guarantee. c. Apabila direct guarantor gagal memenuhi kewajibannya maka guarantor dari direct guarantor tersebut harus bertanggungjawab. Direct guarantor akan melakukan pembayaran dengan menggunakan general funds (cadangan umum) yang merupakan salah satu unsur modalnya.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 35 Agar konsep Cross-Guarantee tersebut dapat diimplementasikan dalam praktek maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: a. Dengan cara ini. Sebuah lembaga baru yang disebut Cross Guarantee Regulation Corporation (CGRC) harus dibentuk. Secara bersama-sama para direct guarantor akan membentuk suatu sindikat direct guarantor (lihat Lampiran-2). Selanjutnya. secara accrual accounting setiap direct guarantor akan langsung mengakui dan mencatat kerugian sebesar share yang harus ditanggungnya apabila bank yang dijaminnya mengalami kegagalan usaha. Syndicate agent ini selanjutnya akan menggantikan fungsi pengawas dan pemeriksa bank yang ada sekarang. Setiap bank diberi kebebasan untuk menentukan sendiri penjaminnya (direct guarantornya). Perjanjian ini akan berfungsi sebagai pengganti ketentuan perbankan yang berlaku sekarang. seluruh kerugian karena bangkrutnya suatu bank akan langsung diserap oleh modal bank-bank yang ada dalam sistem perbankan suatu negara. d. Bank yang dijamin (insured bank) selanjutnya akan melakukan pembicaraan dengan direct guarantor-nya untuk mencapai kesepakatan-kesepakatan yang akan dituangkan dalam bentuk perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract). Penunjukan syndicate agent ini dilakukan secara terbuka sehingga akan mendorong adanya kompetisi yang sehat dan efisiensi. Dengan demikian setiap dolar kerugian pasti akan dapat diselesaikan oleh bank-bank yang berada dalam himpunan para penjamin (the universe of guarantors). Dengan demikian. .

sehingga penjaminan akan terlaksana secara efisien dan efektif. Skim penjaminan berbasiskan pasar tersebut diharapkan dapat mengeliminir intervensi dari pemerintah. Demikian pula penentuan perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract) sepenuhnya diserahkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. . Semangat untuk melakukan privatisasi penjaminan melalui Cross-Guarantee jelas terlihat sejak awal penentuan bank penjamin (direct guarantor) yang dilakukan secara sukarela (voluntary) dan demokratis. ♦ Setiap penjamin bertanggungjawab sebatas jumlah risiko cross-guarantee yang ditanggungnya. Karena adanya kebebasan dalam proses merumuskan mekanisme penjaminan untuk setiap bank. agar dapat terlaksana dengan baik. Oleh karena itu. yaitu insured banks dan direct guarantor-nya. Cross-Guarantee memerlukan peran aktif dari pihak swasta untuk mewujudkan suatu skim penjaminan yang diarahkan oleh kekuatan pasar (market-driven cross-guarantee). Secara aggregat. setiap bank penjamin tidak diperkenankan menerima pendapatan dari premi7 dalam setahun melebihi 3 (tiga) persen dari total modalnya. Manfaat Swastanisasi Penjaminan melalui Cross-Guarantee Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya. memenuhi aturan penyebaran risiko (risk dispersion rule) serta ketentuan-ketentuan lainnya yang dianggap penting oleh para pihak. baik untuk setiap bank maupun secara aggregat. Yang perlu dijaga adalah agar perjanjian dimaksud sudah memperhitungkan premi atas dasar sensitivitas terhadap risiko (risk-sensitive premium). 7 Dalam hal ini premi merupakan proxy terbaik dari cross-guarantee risk.36 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. penerapan konsep CrossGuarantee akan menimbulkan pergeseran peranan dari pemerintah kepada pihak swasta dalam melakukan penjaminan serta pengaturan dan pengawasan bank. yang menyatakan bahwa “apabila satu penjamin mengalami kerugian cross-guarantee melebihi lima kali premi yang diperolehnya dalam setahun maka kewajiban crossguarantee-nya harus dialihkan kepada direct guarantor-nya. ♦ Untuk memastikan bahwa tidak akan pernah ada suatu bank mengalami kegagalan usaha karena menjadi penjamin maka perlu diberlakukan suatu standard stop-loss rule. maka konsep Cross-Guarantee dipandang lebih berorientasi ke depan dibandingkan dengan konsep penjaminan (FDIC) yang berlaku sekarang. Maret 1999 ♦ Setiap perjanjian penjaminan (cross guarantee contracts) harus menyebutkan jumlah minimum para penjamin dan persentase risiko yang ditanggung mereka masing-masing. Sebagai aturan yang akan menggantikan prudential regulation maka perjanjian penjaminan harus dibuat sedemikian rupa agar dapat menampung prinsip kehati-hatian.

Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia

37

Dengan swastanisasi penjaminan dan pengawasan bank maka nantinya tidak akan ada lagi fenomena “satu ketentuan yang berlaku untuk semua” (one-size-must-fit-all government regulation) yang selama ini merupakan salah satu kelemahan inheren dari ketentuan perbankan yang dibuat pemerintah. Dalam praktek selama ini sering ditemukan adanya beberapa ketentuan yang sulit diterapkan karena bersifat terlalu umum dan kurang mempertimbangkan karakteristik individual bank. Atas dasar konsep Cross-Guarantee ini, insured banks dapat membuat berbagai ketentuan yang mengatur dirinya secara spesifik berdasarkan kesepakatan dengan direct guarantor-nya. Konsep Cross-Guarantee juga memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi insured banks untuk berdiskusi dan bernegosiasi dengan direct guarantor-nya untuk segala hal termasuk mengenai masa depan bank tersebut. Hal ini pada gilirannya akan membuat strategi business dan perencanaan bank menjadi semakin tajam dan terarah. Pada pihak lain, kegiatan kontrol atau pengawasan akan semakin lebih ketat karena langsung dilakukan oleh kekuatan pasar. Apabila suatu bank memperoleh penilaian yang jelek dari pasar maka yang akan menanggung akibatnya bukan hanya bank yang bersangkutan saja, tetapi juga menjalar kepada bank yang menjadi direct guarantor. Hal-hal tersebut akan membuat persaingan dalam industri perbankan akan semakin ketat dan mendorong efisiensi besarbesaran dalam sektor keuangan. Persaingan sehat juga akan terjadi diantara sesama syndicate agent yang akan berfungsi sebagai pengganti pengawas dan pemeriksa bank yang ada sekarang. Karena kemungkinan akan banyak perusahaan syndicate agent yang muncul maka direct guarantor diberi keleluasaan dalam menentukan syndicate agent yang mereka pilih. Hal ini pada gilirannya dapat mendorong kompetisi yang sehat diantara sesama perusahaan syndicate agent dan mendorong efisiensi pekerjaan penjaminan. Manfaat berikutnya dari konsep Cross-Guarantee dapat ditinjau dari segi ruang lingkup penjaminannya. Tanpa memandang besar kecilnya suatu bank, mereka akan dijamin sebagaimana layaknya bank-bank lainnya, asal bank-bank tersebut dapat menemukan direct guarantor-nya. Oleh karena itu, pendekatan TBTF menjadi tidak relevan sama sekali dalam konsep Cross-Guarantee. Dengan menggunakan konsep Cross-Guarantee, maka transaksitransaksi non-funding obligations seperti account payment, unexpired leases dan kewajiban yang muncul karena tuntutan hukum akan dapat ikut dijamin. Kewajiban yang tidak dapat dijamin hanyalah pinjaman subordinasi karena memiliki karakteristik campuran (hybrid) hutang dengan modal. Sama halnya dengan program penjaminan biasa, maka dalam crossguarantee, unsur modal juga tidak dijamin8 .
8 Pengecualian hanya terjadi dalam hal TBTF, karena ada kemungkinan pinjaman subordinasinya juga akan ikut dibayar, tergantung pada bobot permasalahan bank yang TBTF tersebut.

38

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

Manfaat lainnya dari konsep Cross-Guarantee adalah adanya kesempatan untuk melakukan penyesuaian secara cepat terhadap perhitungan premi berdasarkan kekuatan pasar. Perhitungan tersebut akan mencerminkan risk-sensitivity dari bank yang dijamin dan diharapkan dapat disesuaikan segera baik secara bulanan atau mingguan. Dalam hal ini besarnya premi dapat langsung dibicarakan oleh masing-masing bank dengan direct guarantor-nya. Dengan adanya kemungkinan untuk melakukan perhitungan premi berdasarkan kecenderungan pasar tersebut maka cross-subsidies yang inheren dalam skim penjaminan yang ada sekarang diharapkan akan dapat dihilangkan.

Pengaruh terhadap Pasar Antar Bank dan Sistem Pembayaran
Cross-guarantee dapat menghilangkan counterparty risk yang selama ini melekat dalam transaksi antar bank (lihat Lampiran-3). Sistem Kliring akan terbebas dari risiko tidak dibayarnya tagihan antar bank karena adanya jaminan bahwa direct guarantor masing-masing bank pada akhirnya akan bertanggungjawab sesuai perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract) yang mereka sepakati. Hal ini pada gilirannya memungkinkan terselenggaranya suatu Sistem Pembayaran yang bebas risiko (risk-free basis). Penggunaan konsep Cross-Guarantee ini juga dapat mendorong penggunaan secara luas net settlement procedures dalam Sistem Pembayaran. Bagi bank sentral hal ini akan sangat menguntungkan karena net settlement procedures tersebut dapat lebih efisien dari real-time gross settlement .

Kemungkinan Penerapan Konsep Cross-Guarantee di Indonesia
Skim penjaminan yang sekarang ini diterapkan di Indonesia masih mengandung berbagai kelemahan baik pada tingkat konsep maupun pada tingkat pelaksanaan. Pada tingkat konsep, karena bersifat blanket guarantee (jaminan menyeluruh) maka skim tersebut dapat mengakibatkan beban yang sangat berat bagi keuangan pemerintah, padahal kemampuan keuangan pemerintah sendiri sudah sangat terbatas. Disamping itu peluang untuk moral hazard juga besar karena unsur keadilan yang kurang terpenuhi yang tercermin antara lain dari gejala cross-subsidies dimana bank-bank yang sehat membayar kewajiban bank-bank yang tidak sehat. Pada tingkat pelaksanaan, terdapat pula indikasi bahwa dalam praktek tidak seluruh aspek penjaminan dapat terlaksana. Sebagai contoh, untuk melaksanakan penjaminan transaksi off-balance sheet derivatives perlu ada bukti-bukti bahwa transaksi itu genuine, sesuatu yang sangat sulit dibuktikan kecuali oleh perbankan sendiri. Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas, konsep Cross-Guarantee tampaknya dapat menjadi salah satu alternatif jalan keluar, karena hakekat persoalan penjaminan dikembalikan secara utuh kepada pelaku pasar sendiri yaitu antara bank-bank yang

Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia

39

bertransaksi, sehingga mereka perlu saling menjamin dan saling menjaga kestabilan sistem perbankan. Namun demikian perlu kiranya diingat agar pemilihan konsep Cross-Guarantee tersebut hendaknya tidak terlepas dari tujuan utama dari program penjaminan, yaitu untuk mencegah kegagalan pasar perbankan (banking market failure) dan untuk membangkitkan kembali kepercayaan masyarakat serta menghentikan bank runs9 . Meskipun dapat dipandang sebagai salah satu alternatif jalan keluar, penerapan konsep Cross-Guarantee di Indonesia dapat menimbulkan pro dan kontra. Mereka yang pro mungkin lebih didasarkan atas adanya peluang besar untuk meringankan beban keuangan pemerintah, apalagi dalam situasi krisis seperti sekarang. Sementara itu, yang kontra lebih melihat dari sisi kesiapan perbankan dan kalangan pemerintahan kita dalam menerapkan konsep dimaksud. Hal yang terakhir ini tampaknya ada benarnya juga karena untuk sampai pada konsep Cross-Guarantee perlu dijawab terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

√ Apakah bank-bank di Indonesia sudah sedemikian sehat dan kuat sehingga mampu
untuk saling menjamin (cross-guarantee) sesama mereka ?

√ Apakah bank-bank di Indonesia sudah cukup dewasa untuk mendiskusikan sendiri
sesama mereka hal-hal yang berkenaan dengan penjaminan, business strategy dan prudential regulation untuk dituangkan dalam semacam perjanjian yang mengikat mereka secara bersama-sama ?. Pertanyaan ini cukup penting mengingat selama ini bank-bank di Indonesia sangat tergantung pada petunjuk dan arahan yang diberikan oleh otoritas moneter sebagai pengawas dan pembina bank-bank.

√ Apakah sistem informasi yang terdapat pada masing-masing bank dan secara nasional
telah sanggup menyediakan data/informasi yang diperlukan untuk penetapan premi yang sensitif terhadap risiko ?

√ Apakah pihak otoritas pengawas yang ada sekarang berkenan menyerahkan fungsinya
pada mekanisme pasar melalui syndicate agent dan dapat menerima keberadaan Cross Guarantee Regulation Corporation (CGRC) sebagai lembaga yang akan memverifikasi perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract) ?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas cukup relevan untuk kondisi Indonesia dan memerlukan jawaban-jawaban yang tidak sederhana. Pengkajian lebih lanjut sangat diperlukan untuk mencegah pengambilan keputusan yang keliru yang dapat berakibat kontraproduktif terhadap masa depan sistem perbankan dan sektor keuangan negara kita.
9 Mengenai hal ini lihat misalnya Kerry Cooper dan Donald R.Fraser, “The Risk of Depository Institution Failure and The Role of Deposit Insurance” dalam Banking Deregulation and The New Competition in Financial Services, Ballinger Publishing Company, Cambridge Massachusetts, 1984.

“Deposit Insurance Pricing and Social Welfare” dalam Journal of Banking and Finance..Sealey dalam “Deposit Insurance and Bank Interest Rate Risk: Pricing and Regulatory Implications” dalam Journal of Banking & Finance.19 Tahun 1995. No. Yoram Landskroner dan Jacob Paroush.Kaufman.Balino. Kerry Cooper and Donald R.3. 1984. hal. 7 Mei 1999. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 Daftar Pustaka Bert Ely. “The Risk of Depository Institution Failure and The Role of Deposit Insurance” dalam Banking Deregulation and The New Competition in Financial Services. Ballinger Publishing Company. hal. Paper dalam “The 35th Annual Conference on Bank Structure and Competition”. Bank Indonesia. Desember 1998. Editor V. hal. .Moreau and C. Tahun 1994.Sundararajan dan Tomas J. International Monetary Fund.C. V.Sundararajan dan Tomas J. Tahun 1995. “FDICIA and Bank Capital” dalam Journal of Banking & Finance. Vol. Arthur F. Jin-Chuan Duan. The Cross-Guarantee Concept and Interbank Markets. Ketentuan Blanket Guarantee dan Kemungkinan Penggantiannya dengan Deposit Protection Scheme. No.40 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. No. Kusumaningtuti S. D.T. No.19.S.531-552. George G. Banking Crises: Cases and Issues. The Federal Reserve Bank of Chicago.W..Balino. Washington. Cambridge Massachusetts.18.721-722. 1991.1.Fraser.1091-1108.T.

kecuali Pinjaman Subordinasi. baik sebagai direct guarantor maupun indirect guarantor. Dibentuk lembaga baru yang disebut Cross Guarantee Regulation Corporation (CGRC) untuk memastikan bahwa perjanjian jaminan sudah sesuai aturan penyebaran risiko dan ketentuan lainnya. 8 Lembaga lain yang terlibat Tidak ada lembaga lain yang terlibat kecuali FDIC. Hasil pengelolaan dan penanaman premi pada sektor-sektor yang menguntungkan.Lampiran-1 PERBANDINGAN ANTARA CROSS-GUARANTEE DENGAN DEPOSIT INSURANCE KONVENSIONAL No. Bank Sentral dan FDIC Prudential regulation konvensional Swasta Sesama bank. dilaksanakan oleh "Syndicate Agent". Premi ("risk sensitive premium"). Berdasarkan kesepakatan antara bank yang dijamin (insured banks) dengan direct guarantor-nya ("Contractual Regulation"). 41 . 6 7 Pelaksana pengawasan bank Ketentuan perbankan Murni swasta. Premi (namun belum memenuhi kriteria "risk-sensitive premium"). ASPEK DEPOSIT INSURANCE CROSS-GUARANTEE Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 1 2 3 Penyelenggara Lembaga Penjamin Ruang-lingkup Penjaminan Pemerintah FDIC Terbatas dan sangat subjektif dalam penentuan bank-bank yang "TBTF" (Too-Big-Too-Fail). 4 Bentuk kontribusi dari yang dijamin 5 Sumber pembayaran klaim General funds (general reserves) dari direct guarantors. Seluruh pos-pos kewajiban. Bank Sentral dan "insured banks".

Maret 1999 Monitoring fee Obligation to protect competitively sensitive data Ensures that cross-gurantee contract complies with risk dispersion rules and other statutory requirements Syndicate Agent (Independent of any other party) monitoring responsibility Fiduciary responsibility Delegation of Guaranteed Bank of Thrift complies with risk dispersion rules and other statutory requirements Ensures that cross-guarantee contract Syndicate of Direct Guarantors = Bank or non-depository guarantor  1998 Ely & Company Inc. Permission granted to reproduce with attribution Cross-guarantee commitment Guarantee premium Contractual relationship Contract approval .42 Lampiran 2 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

firms. and collateralized net debit positions. including daylight overdraft limits. to protect clearing systems participant from a default by a counterparty. stc) that are direct participants in the clearing system Guarantors of counterparties 43 . securities.Lampiran 3 Using Cross-Guarantees to Ensure Payment Finality Will Permit Clearing Systems to Operate Much More Efficiently by Eliminating Counterparty Risk Present System Clearing systems presently utilize a variety of devices. In effect. Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia In a World of Cross-Guarantees Clearing systems will be able to operate much more efficiently and safely where balances due to clearing system participants are fully guaranteed by the guarantors of the clearing system’s counterparties. Clearing Systems Failure Failure Flow of insolvency loss if a clearing system participant becomes insolvent Counterparties (banks. bilateral caps. thereby ensuring payment finality. cross-guarantee contracts will ensure payment finality.

tulisan ini mengajak pembaca untuk turun ke dunia nyata tempat sebagian besar saudara kita sebangsa hidup. tidak demikian halnya pengusaha konglomerat. *) Bagian dari tulisan yang sedang dalam proses. Ukuran “kinerja” sendiri jauh berbeda dengan kriteria CAMEL yang tidak akan mudah tercerna oleh kesahajaan lembaga-lembaga tersebut. Badan Kredit Kecamatan di Jawa Tengah. Bank Indonesia **) Sumantoro Martowijoyo : Peneliti pada Tim Penyiapan Pusat Pendidikan dan Riset. tingkat penghasilan nasabah. Dari hasil analisis dapat diungkapkan. karena memiliki berbagai jenis sejak lama. jarak rata-rata antara lokasi LKM ke lokasi nasabah. bahwa faktor yang paling mempengaruhi kinerja adalah jarak ke lokasi nasabah dan selang waktu pemrosesan kredit.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 45 KINERJA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DAN PERILAKU MASYARAKAT PEDESAAN *) Sumantoro Martowijoyo **) Setelah disuguhi banyak topik moneter dengan teknik-teknik analisis canggih ekonometrika tingkat pascasarjana. Di sini dibahas beberapa faktor yang menggambarkan perilaku masyarakat perdesaan yang mempengaruhi kinerja lembaga keuangan mikro. dan kiranya akan menjadi topik pembicaraan tersendiri. USDM. Bank Indonesia . kenangan dan salam perpisahan penulis kepada Urusan Kredit. misalnya: jam kerja. karena sebagian justru sengaja memacetkan kreditnya. di samping berkembangnya kelompok-kelompok swadaya masyarakat sebagai bentuk lembaga keuangan yang paling sederhana di tingkat “akar rumput”. ada Badan Kredit Desa yang didirikan di zaman Belanda. waktu pemrosesan kredit. Di luar BRI Unit yang merupakan kisah sukses tingkat dunia. suku bunga tabungan dan suku bunga pinjaman. Di era pengentasan kemiskinan ini. Tergambar pula masih lugu dan mandirinya sifat pengusaha mikro perdesaan nasabah LKM dibanding pengusaha konglomerat nasabah bank umum: apabila kenaikan pendapatan pengusaha mikro perdesaan dipakai untuk menambah tabungan dan melunasi tunggakan. Indonesia telah menjadi laboratorium bagi penelitian di bidang Lembaga Keuangan Mikro (LKM).

Dalam pengembangan KSM Bank Indonesia ikut berkiprah melalui Pengembangan Hubungan Bank dengan Kelompok Swadaya Masyarakat (PHBK) yang gagasannya berasal dari APRACA (Asia Pacific Rural and Agricultural Credit Association). Indonesia sebetulnya sudah lebih maju dalam penciptaan lembaga keuangan mikro sejak zaman Belanda. para pakar merekomendasikan prinsip keswadayaan dan kesehatan (viability) dari programprogram pengentasan kemiskinan. Di luar perhatian para penentu kebijakan kita. Setelah dua dasawarsa diwarnai kreditkredit murah bersubsidi yang sebagian tidak jatuh ke tangan kelompok sasaran dan mengakibatkan merosotnya kinerja serta moralitas lembaga keuangan pelaksananya. terdapat banyak LKM yang semiformal maupun informal di Indonesia. dan dalam pengembangan LKM melalui Proyek Kredit Mikro yang didanai bersama Asian Development Bank. dan simpanan sukarela. Dengan begitu. tapi untuk Indonesia karena lokasinya banyak pula di perkotaan maka dipilih istilah yang dikenal sejak Summit ini. timbullah gagasan untuk menambah jumlah dan jenis uang setoran menjadi simpanan pokok. di samping BRI Unit yang merupakan kisah sukses dunia. kegiatan yang dilakukan secara kelompok sudah merupakan budaya masyarakat yang berazaskan paguyuban. pencarian model lembaga keuangan mikro1 yang tepat untuk melayani rakyat miskin dilakukan di mana-mana. tanpa melihat status hukumnya. Model Grameen Bank Bangladesh direplikasikan di manamana. Istilah “mikro” selain menunjuk skala yang lebih kecil dari yang kecil. simpanan wajib. 1 banyak pula yang menyebutnya rural financial institutions (RFI) atau lembaga keuangan pedesaan (LKP). Tiga lembaga yang dipilih adalah yang efektif beroperasi di tingkat “akar rumput” dan menerapkan prinsip suku bunga pasar yang terbukti lestari. konotasinya terkait dengan kemiskinan . Maret 1999 Latar Belakang D engan disepakatinya ikrar dalam Microcredit Summit di Washington DC Amerika Serikat pada tahun 1997 untuk membebaskan 100 juta penduduk dunia dari kemiskinan. Kelompok Swadaya Masyarakat Di Indonesia. dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) bergiat membina keswadayaan masyarakat melalui kelompok-kelompok swadaya masyarakat (KSM).46 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Apabila kebutuhan akan uang tersebut makin terasa dan jumlah yang diperoleh dari arisan terlalu kecil. Lembaga Keuangan Mikro di Indonesia Selain lembaga yang formal seperti BRI Unit dan BPR yang secara hukum diakui sebagai lembaga keuangan formal (bank). Kegiatan arisan sudah tumbuh menjamur diperdesaan dan perkotaan dan jumlahnya mungkin melebihi satu juta.

Jumlah kredit yang dapat diberikan sampai dengan Rp 400. Satu pasar=5 hari (kalender Jawa). Perkumpulan semacam ini secara tidak sadar sudah berfungsi sebagai lembaga keuangan perdesaan: menghimpun dana dan memberikan kredit kepada anggota. Selama zaman Belanda sistem BKD telah berfungsi dengan baik sebagai lembaga keuangan bagi rakyat perdesaan. BI sendiri menyetujui BRI meneruskan tugas pengawasannya terhadap BKD dengan bantuan keuangan dari BI. Sebagai bank sekunder dalam pembinaan BRI. Berkembangnya KSM di Indonesia tidak lepas dari berkembangnya lembaga swadaya masyarakat (LSM) dari tahun 1960-an sampai awal 1990-an yang jumlahnya diperkirakan antara 1000-2000 buah (Saidi. berguguran di zaman pendudukan Jepang dan Perang Kemerdekaan. Badan Kredit Desa Badan Kredit Desa (BKD) terdiri dari lumbung desa yang didirikan tahun 1897 dan bank desa yang didirikan sekitar tahun 1904 (P. Dengan berlakunya Undang-undang Perbankan No. Suharto. 2. memungut bunga berupa “jasa”. Pengawasan terhadap BKD dilakukan secara langsung oleh Mantri BKD yang mewilayahi satu kemantren yang terdiri dari 18 BKD. serta di akhir tahun membagikan dividen bagi para pemegang saham. banyak LSM yang lahir dan tumbuh untuk dapat “menangkap” bantuan dari badan atau LSM internasional. terutama terdiri dari kredit pasaran dan mingguan yang berjangka waktu 12 pasar2 atau 12 minggu dengan pembayaran angsuran pokok maupun bunga dengan jumlah yang tetap. di mana untuk peminjaman uang ditarik pula semacam “jasa” yang dipotongkan dari jumlah pinjaman. Akan tetapi mengingat banyak faktor. 1988) dan keduanya dikukuhkan dengan Staatsblad nomor 357 tahun 1929.000 tanpa agunan. 357 tahun 1929. Sedangkan bank desa menghimpun tabungan berupa uang dan memberikan kredit berupa uang. kemudian mulai tumbuh kembali sesudah kemerdekaan. Lumbung desa mengumpulkan padi untuk diberikan sebagai pinjaman berupa padi kepada petani di saat mereka membutuhkan. Sistem kredit BKD sederhana. semata-mata berdasarkan penilaian kelayakan nasabah oleh Komisi I.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 47 perkumpulan arisan telah berubah menjadi koperasi kredit (credit union). Pembukuan dilakukan oleh Juru Tata Usaha (JTU) yang bekerja untuk 6 BKD secara bergilir (BKD umumnya buka sekali seminggu pada hari atau hari pasaran tertentu). Seperti halnya di Filipina. kredit pasaran diberikan oleh BKD yang bukanya setiap hari pasaran tertentu . pengawasan terhadap BKD sebetulnya ada di tangan Bank Indonesia (BI). organisasi dan pengelolaan BKD dipertahankan tetap seperti konsep semula yaitu Komisi BKD terdiri dari kepala desa sebagai ketua komisi (Komisi I) dan 2 orang pemuka masyarakat atau aparat desa sebagai Komisi II dan III. 1995).7 tahun 1992 yang mencabut berlakunya Staatsblad no.

Maret 1999 Lepas dari suara yang mendiskreditkan BKD. 1993) . dan (3) mendidik masyarakat pedesaan untuk gemar menabung (BP-BKK.11 tahun 1981 Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jawa Tengah ditugasi sebagai pembina dan pengawas teknis BKK. Manajemen BKK terdiri dari Pimpinan. ratarata peminjam per unit 978 orang.584 (DAI. tercermin dari paling rendahnya jumlah kredit rata-rata BKD dibanding beberapa lembaga keuangan mikro yang terkenal di dunia.48 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Sama dengan BKD jumlah angsuran sama setiap pembayaran. misalnya. hanya menuruti peraturan BPR.p. 1981). Berdasarkan Perda no. Badan Kredit Kecamatan Badan Kredit Kecamatan (BKK) adalah lembaga keuangan yang beroperasi di tingkat kecamatan yang didirikan oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Tengah di awal tahun 1970an dengan status sebagai suatu proyek. BKK didirikan dengan tujuan: (1) mendekatkan modal pada masyarakat pengusaha miskin di perdesaan dengan cara mudah.26). keberadaannya dibutuhkan oleh rakyat dan telah membuktikan kelestarian dan kemandiriannya dalam arti tidak pernah menerima dana maupun subsidi bunga dari pemerintah. 202 di antaranya sudah berstatus BPR. Jumlah BKK di seluruh Jawa Tengah 510. Prosedur permohonan kredit kepada BKK cukup sederhana dan untuk jumlah kredit sampai dengan Rp 500. Jumlah BKD di Jawa dan Madura tercatat 5345 terdiri dari 4806 yang aktif dan 539 yang tidak aktif (BRI. Sebagai LKM.000 tidak diperlukan agunan selain rekomendasi kepala desa. murah dan mengarah. 1995. bulanan (3 bulan). BKK diharuskan menyimpan kelebihan alat likuidnya di BPD. sedangkan untuk nasabah ulangan yang lancar pencairan kredit dapat dilakukan pada hari yang sama. yaitu kebanyakan kredit pasaran. lumbung desa tetap menjadi sumber kredit bagi rakyat kecil untuk konsumsi sehari-hari (Dibyo Prabowo. (2) menciptakan pemerataan kesempatan berusaha di pedesaan. Kinerja manajemen BKK dipantau oleh Camat sebagai penanggung jawab BKK di wilayahnya. dan musiman (6 bulan). Di tengah maraknya kredit Bimas. di pihak lain apabila BKK kekurangan modal kerja BPD akan memberikan pinjaman likuiditas. dan kemudian dengan Peraturan Daerah (Perda) No. 1998). BKD mampu menjangkau masyarakat paling miskin di pedesaan. yaitu sebesar USD 38 di tahun 1993 (Christen. Selang waktu antara saat pengajuan permohonan dengan realisasi kredit untuk nasabah baru paling lama seminggu. Pemegang Kas dan Pemegang Buku. jumlah pinjaman rata-rata per unit Rp 96 juta dan per nasabah Rp 132. Jenis kredit BKK sama dengan BKD.1994). mingguan. 11 tahun 1981 dikukuhkan menjadi badan usaha milik daerah. dibukukan terpisah sebagai angsuran pokok dan bunga.

Kegunaan kriteria ini akan dapat dipahami setelah selesai membaca hasil analisis di belakang. AKPEN dan AKPEM adalah masingmasing jumlah penabung dan peminjam dibagi jumlah penduduk di wilayah kerja LKM. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kinerja LKM Terdapat beberapa faktor atau variabel yang secara rasional dianggap mempengaruhi kinerja. penghasilan rata-rata nasabah (RAYNAS). seperti: umur LKM. dari pengkajian terhadap falsafah dan hakekat LKM serta pendapat para praktisi keuangan perdesaan. kemudiaan untuk hubungan antarfaktor kinerja dengan korelasi jenjang Spearman3 . persentase jumlah penunggak (PERPUNG). BIRUP) dan laba per rupiah kredit (LARAP). BKD. Mengenai kriteria kinerja. BIRUP dihitung dari jumlah biaya operasional dibagi dengan saldo pinjaman. dan suku bunga pinjaman (IPIN). 3 N 6 Σ di 2 i=1 rs = 1 . beserta masing-masing 3 nasabah per LKM yang diambil secara acak. sedangkan LARAP merupakan laba bersih sebelum pajak dibagi saldo pinjaman. yang merupakan 34 % dari populasi. selang waktu pemrosesan kredit (SELANG). yaitu tingkat akses kepada penabung (AKPEN). 1997).————— N3 . BKK) diambil proporsional berdasarkan jumlah populasinya masing-masing secara purposif.N di mana rs = koefisien korelasi Spearman N = jumlah pasangan observasi d = perbedaan jenjang yang diperoleh dari setiap pasangan observasi . penulis mengajukan beberapa faktor penentu kinerja LKM. efisiensi (biaya usaha per rupiah kredit. Analisis data primer dilakukan dengan teknik statistik nonparametrik. Keuntungan penggunaan statistik nonparametrik adalah tidak perlu dibuktikannya kenormalan distribusi data (yang merupakan prasyarat bagi sahihnya penggunaan statistik parametrik) dan dapat diterapkannya pada sampel kecil atau data kualitatif (Siegel. jarak rata-rata ke lokasi nasabah (JARAK). jam kerja. untuk masing-masing jenis LKM (KSM. suku bunga tabungan (ITAB). tingkat akses kepada peminjam (AKPEM). pertama dengan uji Kruskal-Wallis untuk beda populasi dan uji Kendall untuk kesesuaian (concordance) pemeringkatan faktor-faktor kinerja. PERPUNG adalah persentase jumlah penunggak (debitur kredit macet) dari jumlah peminjam.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 49 Metodologi Penelitian Penelitian ini dilakukan di lapangan terhadap 105 lembaga keuangan mikro (LKM) di Jawa Tengah.

serta peningkatan jumlah penunggak (rs=0. α=0. meningkatkan biaya per rupiah kredit secara tidak signifikan (rs=0. Jauhnya jarak berpengaruh sangat signifikan terhadap penurunan jumlah penabung (rs=-0.474).780) 1. apabila dinaikkan akan menurunkan jumlah peminjam dan mengakibatkan meningkatnya jumlah penunggak.2674.000) -.000) dan biaya per rupiah kredit (rs=0. α=0. berpengaruh cukup signifikan terhadap jumlah penunggak (rs=0. α =0. α=0. demikian pula uji Kendall menghasilkan nilai W yang sangat signifikan. Faktor yang berpengaruh paling besar terhadap faktor kinerja adalah jarak antara lokasi nasabah ke kantor atau pos desa LKM (JARAK).000) .2864(.0276.0276(. α = 0.2674(.1183.2292.003).4959(.1325.4816(.50 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Selang dan Sukubunga Pinjaman terhadap Faktor Kinerja AKPEN JARAK SELANG IPIN -.109) BIRUP .2864.3406(.474) . 3.2073. berarti bahwa suku bunga pinjaman sudah ada di batas atas. Suku bunga pinjaman berpengaruh sangat signifikan terhadap jumlah peminjam (rs=0.178).780).076(. α=0.006) PERPUNG .2292(. Dari hasil analisis korelasi peringkat Spearman antara variabel nonkinerja dengan faktor penentu kinerja terdapat beberapa temuan yang berhubungan dengan perilaku nasabah.178) -. Tabel 1.229) xxxxxxx LARP -.006).003) .3981 (.3981.0706.4816. .000) -. α=0.019) . Lamanya waktu pemrosesan kredit berpengaruh menurunkan jumlah peminjam cukup signifikan (rs=-0.000). α=0.2073(.000) dan jumlah peminjam (rs=-0. mengingat banyaknya kredit murah serta persaingan berat dari BRI Unit 2. meningkatkan jumlah penunggak walaupun tidak signifikan (rs=0.000).1183(. α=0. membuktikan bahwa angka rata-rata yang dianalisis memang berasal dari tiga populasi yang berbeda dan pemeringkatan semua faktor kinerja dilakukan secara konsisten.000) xxxxxx xxxxxxx AKPEM -. α=0.4959. Korelasi antara Jarak. α=0. Maret 1999 Hasil Analisis Uji Kruskal-Wallis menghasilkan nilai chi-kuadrat yang sangat signifikan. α=0. Faktor lain yang cukup berpengaruh kepada faktor kinerja adalah lamanya waktu pemrosesan kredit (SELANG). menurunkan laba per rupiah kredit secara sangat signifikan (rs=-0.109) dan berpengaruh tidak signifikan terhadap laba per rupiah kredit (rs=0.019) juga berpengaruh sangat signifikan dalam penurunan laba per rupiah kredit (rs=-0.229.1325(.3406.

0309(.985) .339) .3412(.1281(. (b) Dilihat per segmen nasabah terdapat perbedaan perilaku apabila penghasilannya meningkat: nasabah BKD yang relatif kurang mampu lebih suka menabung dan tidak meminjam.251) -.645) -.3670(.1131(.2912. karena jauhnya jarak lokasi LKM akan menyebabkan nasabah malas untuk berhubungan karena besarnya “biaya transaksi” yang harus ditanggungnya.5500(.5500.012) .349) . Akan tetapi apabila dianalisis per jenis LKM.1466(.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 51 dan BPR yang memperoleh fasilitas kredit dari pemerintah.876) -. Tabel 2 Korelasi antara Penghasilan Rata-rata Nasabah dengan Faktor Kinerja untuk Seluruh LKM dan Per Jenis LKM AKPEN LKM (105) KSM (28) BKD (61) BKK (16) -.0565(. α=0. α=0. jumlah peminjam (rs=0.2912(. dapat diungkapkan beberapa temuan yang menarik.0063(.949) -.3412.0237(. pengaruh penghasilan nasabah terhadap kinerja tidak begitu signifikan.000) . sama dengan perilaku pengusaha besar nasabah bank umum.668) →0 4.274) BIRP . jarak mempunyai dampak yang lebih kuat terhadap berkurangnya jumlah peminjam dan bertambahnya jumlah penunggak dibandingkan suku bunga pinjaman.0539(.1131(.610) -. terutama kepada jumlah penabung (rs=0. (c) Walaupun begitu terlihat masih adanya sifat jujur dan mandiri pada pengusaha mikro nasabah BKK dibanding pengusaha besar nasabah bank umum saat ini. terlihat bahwa penghasilan nasabah paling berpengaruh terhadap kinerja BKK. dan jumlah penunggak (rs=-0. nasabah yang penghasilannya relatif lebih tinggi mempunyai akses kepada pelayanan tabungan dan pinjaman yang lebih besar dibanding dengan nasabah yang 98. mereka .297) LARP -. 1993).2784(.027). Dari analisis mengenai pengaruh penghasilan nasabah dan jumlah tabungan rata-rata terhadap kinerja.516) .1840(.169 di tahun 1992 dan melonjak menjadi Rp 132.594 di tahun 1993 (DAI. Akan tetapi dilihat dari kuat dan signifikannya korelasi.456) . α=0. yaitu apabila penghasilan pengusaha mikro nasabah BKK meningkat.567) . nasabah BKK yang relatif lebih mampu meningkatkan tabungan tetapi terus memanfaatkan kredit. (a) Dilihat LKM sebagai keseluruhan.585) -.196) PERPUNG . Hal sederhana ini kiranya dapat dimaklumi. yaitu biaya angkutan dan hilangnya waktu meninggalkan pekerjaan. sedangkan pengaruhnya pada BKD kurang signifikan.0601(.0025(.274). Dari sini dapat disimpulkan bahwa pada BKK.027) AKPEM .196).1245(.3194(.

keadaannya justru dibuat seperti “telor di ujung tanduk” karena banyaknya programprogram kredit murah bersubsidi di perdesaan. LKM diharapkan membuka sebanyak mungkin pos pelayanan dan/atau mengintensifkan kunjungan lapangan.52 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. karena hal itu justru sesuai dengan misi LKM membantu pengentasan kemiskinan. Otoritas perbankan hendaknya tidak melarang pembukaan pos pelayanan ataupun memberi sanksi berupa penutupan pos pelayanan (“kantor di bawah kantor cabang”) kepada LKM yang sudah menjadi BPR karena alasan tingkat kesehatan yang tidak baik. 2. Maret 1999 meningkatkan tabungan. tetapi mungkin hanya sekedar meja dan kursi tempat petugas lapangan menemui nasabahnya. oleh karena (a) kriteria CAMEL tidak menampung aspirasi dan misi LKM (tersurat ataupun tersirat dalam Undang-undang) sebagai pelayan keuangan bagi masyarakat papan bawah. terus memanfaatkan kredit dan tidak lupa melunasi tunggakannya. 3. (b) pelarangan pembukaan kantor di bawah kantor cabang kiranya dapat dihapuskan. Implikasi Kebijakan 1. karena menghambat akses kepada masyarakat yang merupakan sumber dana dan penghasilannya. Mengingat jarak merupakan variabel yang paling mempengaruhi kinerja. sedangkan pemrosesan kredit ulangan hendaknya dapat diselesaikan pada hari yang sama. (c) pelarangan/penutupan pos pelayanan justru akan lebih memperparah kinerja LKM. karena pengertian “kantor di bawah kantor cabang” bagi LKM umumnya bukan merupakan gedung atau kantor seperti bank umum. belum tentu mengurangi jumlah penunggak. Mengingat pula bahwa lamanya waktu pemrosesan kredit juga berpengaruh cukup kuat kepada kinerja. BKD telah beroperasi selama satu abad dan BKK selama hampir tiga dasawarsa dengan pendekatan pasar yang telah membuat mereka lestari (sustainable) dan mandiri. . karena sebagian dari mereka sengaja menunggak dan memacetkan kreditnya. Mendorong LKM untuk memberikan kredit dalam jumlah yang semakin besar berarti menjauhkan LKM dari nasabahnya yang miskin. tetapi apabila pendapatan pengusaha konglomerat nasabah bank umum meningkat (dan pasti setiap tarikan napas menghasilkan uang). Pengawas BPR hendaknya tidak melihat pemberian kredit dalam jumlah kecil-kecil pada LKM sebagai suatu hal yang “tidak efisien” atau “tidak maju”. maka keputusan pemberian kredit kepada peminjam baru hendaknya dilakukan sesegera mungkin. Adanya kredit dari pemerintah untuk BPR condong menguntungkan BPR Gaya Baru yang dimiliki para pemodal berdasi. seperti terlihat pada gejala pemberian kredit BKK di atas. 4.

Project Completion Report of Technical Support Provided to the Financial Institutions Development Project (USAID No. Pandu.Gramedia. Di era reformasi ini pemerintah seyogianya lebih membina semangat keswadayaan masyarakat dan tidak menggunakan program-program kredit murah sebagai alat politik karena merusak moralitas masyarakat perdesaan yang masih jujur seperti terbukti dari perilakunya terhadap LKM. Sidney. Maximizing the Outreach of Microenterprise Finance. Perkembangan BKK dan BPR-BKK. Inc. Zanzawi Suyuti & Landung Simatupang. 1981 Saidi. LPPI.(ed). LSM dan Kebangkitan Masyarakat. Zaim.Jakarta. Statistik Nonparametrik. dkk. Jakarta. terj. USAID Program and Operations Assessment Report No. Secangkir Kopi Max Havelaar. 1995 Siegel. Boulder. May 1993 Dibyo Prabowo dan Sayogyo: The Green Revolution: Sidoarjo. PT Gramedia Pustaka Utama-Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Westview Press.. dalam Hansen. 497-0341) in Indonesia. Jakarta. July 1995 Development Alternatives. Gary E. 10. East Java. Sejarah Pendirian Bank Perkreditan Rakyat. 1988 . Agricultural and Rural Development in Indonesia. Robert Peck. 31 Maret 1994 Christen. and Subang.1997 Suharto. West Java.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 53 memungkinkan mereka menurunkan sukubunga kreditnya sehingga menambah pesaing bagi LKM. Daftar Pustaka Badan Pembina BKK Propinsi Jawa Tengah.

Penulisan paper ini juga dibantu oleh Didy Laksmono. Budi Wikanto. BI. Perum Pegadaian menghadapi permasalahan temporer berupa lonjakan nasabah (puncaknya terjadi pada Juni 1998) yang mendorong Perum Pegadaian melakukan overdraft sangat besar atas fasilitas kredit yang diperoleh dari BRI. kurang diminati masyarakat.d. BI. Bagian Studi Struktur dan Perkembangan Pasar Keuangan. email: gunawan@bi. UREM. Dalam kondisi krisis tersebut. UREM. Bagian Studi Struktur dan Perkembangan Pasar Keuangan.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 55 KEGIATAN USAHA PERUM PEGADAIAN DAN PERANANNYA DALAM MENDUKUNG PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT Satrio Wibowo dan Gunawan *) Krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengan tahun 1997 telah berdampak luas terhadap segala aspek perekonomian. Sedangkan untuk meningkatkan efisiensi pembiayaan usaha kecil perlu dikaji kemungkinan pemberian izin bagi perusahaan/lembaga lain untuk bergerak dalam usaha pegadaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dibandingkan dengan peer-groupnya (BPR dan BRI Udes) secara umum kinerja PP relatif lebih baik. bahkan menunjukkan peningkatan kinerja baik operasional maupun keuangan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut Perum Pegadaian telah menerima bantuan dalam bentuk RDI dari pemerintah dan KLBI.000 s. UREM. Rp 20 juta). serta tidak adanya sistem yang mampu mengantisipasi resiko fluktuasi harga barang jaminan khususnya emas. suku bunga yang dikenakan relatif rendah. sistem manajemen yang sentralistik sehingga berpotensi menghambat kinerja. Ridho Hakim. . Erwin Gunawan. *) Penulis utama dari paper ini adalah : Satrio Wibowo : Kepala Bagian Pendidikan dan Pengembangan Pegawai. Makalah ini ditulis ketika yang bersangkutan masih menjadi Peneliti Ekonomi . khususnya sektor perbankan yang berakibat terhentinya aliran kredit perbankan. Dalam masa krisis ini. Permasalahan lain yang bersifat struktural antara lain rentang kendali yang terlalu luas namun tidak ditunjang sistem pengawasan yang memadai. relatif kecilnya skala kredit yang diberikan (Rp 5. Bagian Studi Struktur dan Perkembangan Pasar Keuangan. dan Sudiro Pambudi. serta kekurangan likuiditas juga disebabkan karena obligasi yang diterbitkan untuk membayar obligasi yang jatuh tempo. BI. Porsi kredit yang diberikan oleh PP semakin meningkat walaupun secara nominal relatif lebih kecil dibandingkan dua lembaga tersebut. USDM. Bank Indonesia. Potensi Perum Pegadaian untuk lebih berperan dalam pemberdayaan ekonomi rakyat dapat dilihat dari keberpihakan terhadap masyarakat berpendapatan rendah (mayoritas nasabah). Gunawan : Asisten Peneliti.go. serta mudahnya prosedur gadai. Untuk mewujudkan potensi tersebut terlebih dahulu harus dibenahi berbagai kelemahan khususnya kelemahan struktural yang ada.id. beberapa kelemahan prosedur yang berpotensi menimbulkan penyimpangan. Perum Pegadaian (PP) merupakan salah satu lembaga keuangan yang masih mampu bertahan.

63% pada tahun 1998. Selain itu. Hal tersebut didorong pula oleh meningkatnya jumlah pengangguran sebagai dampak dari banyaknya perusahaan yang pailit dan melemahnya investasi. Krisis ekonomi yang berkepanjangan. Sedangkan laju inflasi yang diukur dengan IHK meningkat tajam dari 10. Jumlah pengangguran yang pada masa sebelum krisis berkisar antara 3 . khususnya masyarakat kecil. Melonjaknya jumlah pengangguran dan penduduk miskin tersebut.56 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. yaitu melemahnya nilai tukar rupiah (imported inflation) dan kelangkaan pasokan (supply shortage) khususnya sembilan bahan pokok. maka berdasarkan perkiraan BPS jumlah tersebut pada pertengahan 1998 meningkat empat kali mencapai 79. melambatnya pertumbuhan ekonomi terutama disebabkan oleh tingginya biaya impor bahan baku. Maret 1999 I. laju inflasi yang meningkat dan angka pengangguran yang melonjak. ” Perhitungan Jumlah Penduduk Miskin 1998”. Hal ini tercermin dari beberapa indikator ekonomi makro seperti pertumbuhan ekonomi yang merosot tajam.31% pada tahun 1997 menjadi 77. jumlah penduduk miskin di Indonesia berdasarkan data SUSENAS berjumlah 22. khususnya konsumsi rumah tangga dan investasi swasta.68 juta orang warga perkotaan dan 56. jika tidak dapat diatasi akan berpotensi mendorong terjadinya gejolak sosial ekonomi yang lebih luas. Pemerintah juga mendorong komitmen perbankan dalam 1 Badan Pusat Statistik. Latar Belakang Masalah K risis ekonomi di Indonesia yang berlangsung sejak pertengahan tahun 1997 telah berdampak luas terhadap hampir semua aspek perekonomian. Dari sisi permintaan. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) merosot dari 4. Pendahuluan 1.1.67 juta orang warga pedesaan1 . Sehingga dikhawatirkan akan semakin memperparah kondisi perekonomian nasional Dalam upaya penyehatan perekonomian nasional.68% pada tahun 1998.7% pada tahun 1997 menjadi -13.8 juta orang. telah mengakibatkan terjadinya kontraksi perekonomian dan mendorong meningkatnya jumlah penduduk miskin. Salah satu langkah yang ditempuh adalah pemberdayaan ekonomi rakyat yang bertujuan meningkatkan akses rakyat kecil terhadap perekonomian dan mengutamakan kepentingan rakyat. Dari sisi penawaran. . pada tahun 1998 diperkirakan membengkak hingga mencapai 13. melambatnya pertumbuhan ekonomi disebabkan oleh melemahnya permintaan domestik.4 juta orang tiap tahun. Pemerintah telah menempuh serangkaian langkah dan tindakan yang juga memperoleh bantuan dari beberapa lembaga internasional. Meningkatnya inflasi tersebut telah mengakibatkan semakin melemahnya daya beli masyarakat. Jika pada tahun 1996. Jumlah perkiraan tersebut terdiri dari 22.5 juta orang. Tingginya laju inflasi terutama disebabkan oleh dua hal pokok.35 juta orang.

Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari peran usaha Perum Pegadaian serta potensinya untuk ikut berperan dalam pelaksanaan program Jaring Pengaman Sosial (JPS). serta dengan melakukan reformasi struktural untuk meningkatkan efisiensi perekonomian. terutama prosedurnya yang sederhana. memburuknya net interest margin dan kondisi permodalan. sesuai dengan tujuan Perum Pegadaian yang tidak hanya semata-mata mencari untung tetapi juga sebagai penunjang kebijakan dan program Pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional melalui penyaluran pinjaman atas dasar hukum gadai. dan aman merupakan suatu potensi keunggulan Perum Pegadaian dibandingkan dengan lembaga keuangan lainnya. tentunya sangat diperlukan untuk membantu pemulihan perekonomian nasional. sumber daya manusia yang memadai serta jaringan usaha yang luas. Pada masa krisis. Hipotesa Kegiatan usaha Perum Pegadaian dapat dikembangkan untuk mendukung perkembangan usaha kecil khususnya sektor informal. untuk mendorong pertumbuhan ekonomi diperlukan peran lembaga keuangan lain yang dapat berperan sebagai complementary institutions dari perbankan. Sektor keuangan khususnya perbankan yang selama ini sangat berperan dalam menggerakkan roda perekonomian. mudah dan cepat. Hal tersebut ditandai dengan meningkatnya jumlah non performing loan. sejak terjadinya krisis ekonomi perbankan nasional juga menghadapi permasalahan yang cukup berat. terganggunya fungsi intermediasi perbankan tersebut memberi peluang bagi Perum Pegadaian untuk semakin berperan dalam pembiayaan. Peran dalam pembiayaan nasabah kecil tersebut. Disamping itu. Sehubungan dengan kondisi tersebut. 1.2. Hal tersebut didukung oleh karakteristik Perum Pegadaian. . menengah dan koperasi. khususnya usaha kecil dan dalam masa krisis ini juga telah menjadi salah satu alternatif pemenuhan kebutuhan pembiayaan bagi sebagian masyarakat yang terkena dampaknya. mudah.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 57 pengembangan usaha kecil. 1. antara lain dengan melaksanakan program Jaring Pengaman Sosial (JPS) untuk memberdayakan masyarakat (khususnya yang terkena dampak langsung dari krisis ekonomi). jaringan kantor dan wilayah kerja yang menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia serta prosedur yang sederhana. Kinerja perbankan yang memburuk tersebut mengakibatkan terhambatnya penyaluran kredit. Upaya-upaya tersebut juga diimbangi dengan upaya lain di sektor riil. serta ancaman kesulitan likuiditas yang masih berlangsung hingga awal tahun 1999 ini. Namun. cepat.3. Salah satu lembaga keuangan selain bank yang telah lama dikenal masyarakat adalah Perum Pegadaian.

namun diubah kembali menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan) tahun 1969. kepegawaian. Profil Perum Pegadaian Pegadaian Negeri didirikan pertama kali oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 1 April 1901 di kota Sukabumi dengan status Jawatan. Sedangkan wilayah timur diwakili oleh 1 kantor daerah di Pulau Sulawesi. Dalam upaya meningkatkan kinerja perusahaan.4 Metode Penelitian Penelitian dilakukan dengan melakukan analisis data sekunder dan primer. Salah satu produk Perum Pegadaian adalah memberikan kredit berdasarkan hukum gadai. manajemen maupun dari sumber lainnya. Disamping itu. Sampel kantor daerah dipilih dengan sistem purposive sampling yang mewakili wilayah Indonesia Bagian Barat. 36 kantor cabang. berupa data keuangan. Disamping itu. untuk memperoleh data mengenai keadaan dan operasionalisasi Perum Pegadaian dilakukan metode survey terhadap kantor pusat. II. Perum Pegadaian telah merancang Rencana Jangka Panjang II (RJP II) yaitu periode tahun 1997-2001. Pada tahun 1961. Nasabah yang dipilih sebagai responden dikelompokkan sebagai nasabah biasa dan nasabah yang dianggap potensial (prima) berdasarkan frekwensi dan lamanya berhubungan dengan Perum Pegadaian. khususnya sektor informal.58 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. RJP II ini merupakan . data operasional. Data sekunder yang dipergunakan berupa laporan-laporan yang telah tersedia dari Perum Pegadaian. maka Perum Pegadaian berpotensi untuk berperan serta dalam program JPS. ketentuan-ketentuan operasional. Dengan status sebagai Perum. Wilayah tengah diwakili oleh 1 kantor daerah di Pulau Bali dan 1 kantor daerah di Pulau Kalimantan.d September 1998. Wilayah barat diwakili oleh 3 kantor daerah di Pulau Jawa dan 2 kantor daerah di Pulau Sumatera. Tengah dan Timur. penelitian juga dimaksudkan untuk mempelajari peran dan potensi Perum Pegadaian dalam mendukung pemberdayaan usaha kecil. statusnya diubah menjadi Perusahaan Negara (PN). 10/1990 tanggal 10 April 1990 status Perjan Pegadaian diubah menjadi Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian guna meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha. 8 kantor daerah.10 Desember 1998. serta dengan mewawancarai beberapa nasabah yang dipilih sebagai responden di kantor-kantor cabang tersebut. 1. Dengan PP No. Maret 1999 Sesuai dengan karakteristik usaha dan mayoritas nasabah Perum Pegadaian yang merupakan masyarakat berpendapatan rendah. sifat Pegadaian adalah menyediakan pelayanan bagi masyarakat umum dan sekaligus memupuk keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan yang sehat. Survey tersebut dilaksanakan pada tanggal 23 November . dengan periode pengamatan sejak tahun 1996 s.

c. Misi perusahaan tersebut yaitu : Ikut meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat golongan menengah ke bawah melalui penyediaan dana berdasarkan hukum gadai secara inovatif dan melakukan usaha lain yang menunjang. d. Namun target tersebut tidak tercapai pada tahun 1998 karena tidak memperoleh ijin dari Menkeu dengan pertimbangan (i) masih besarnya misi sosial yang harus dilaksanakan oleh Perum Pegadaian. Untuk mendukung pencapaian sasaran tersebut. Melaksanakan optimalisasi kantor-kantor cabang sebagai ujung tombak operasi perusahaan. Memiliki kinerja sehat sekali (SS) dengan rating minimal “A” 1 . sasaran pengusahaannya adalah : a. kelemahan.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 59 bagian dari visi Perum Pegadaian yang dirumuskan dengan mengindentifikasi kekuatan. Arah pengusahaan dalam periode ini adalah : 1) menjadi persero pada tahun 19982 . sasaran pengusahaan dan strategi pokok perusahaan dalam periode RJP II. Memiliki SDM yang handal dan profesional. Hasil usaha lain-lain menyumbang sekitar 5. c. b. 2) melaksanakan go public. Laba bersih (earnings after taxes) meningkat dengan 30. Menjadi lembaga keuangan yang modern dan dinamis. Pefindo merupakan perusahaan atau efek hutang yang berisiko investasi rendah dan berkemampuan baik untuk membayar bunga dan pokok hutang sesuai dengan yang diperjanjikan dan hanya sedikit dipengaruhi oleh perubahan keadaan yang merugikan. Meningkatkan pelayanan kepada seluruh nasabah dengan baik. Berdasarkan visi tersebut.1% dari laba usaha. serta membuka anak perusahaan. b. c. Perum Pegadaian merumuskan misinya yang dijadikan acuan untuk menentukan arah pengusahaan. b. d. peluang dan ancaman (analisis SWOT) yang dihadapi dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap II (PJPT II). Omzet perkreditan meningkat dengan 20% per tahun. Perum Pegadaian menyusun suatu strategi pokok perusahaan yang meliputi : a. Visi Perum Pegadaian dalam PJPT II ini adalah : a. (ii) kekhawatiran bahwa dengan status persero Perum Pegadaian akan meninggalkan segmen nasabah kecil dengan tujuan untuk memperoleh laba maksimal. Meningkatkan produktivitas di seluruh bidang kegiatan. dan 3) memiliki kinerja dan citra yang meningkat. .2% per tahun. 2 Menurut Perum Pegadian. target menjadi Persero terutama bertujuan untuk mengatasi kelemahan pendanaan dengan menjual saham di bursa. cepat dan manusiawi. Sementara. Posisi keuangan yang likuid dan solvabel dengan current ratio di atas 1 dan debt to equity ratio di bawah 3. Meningkatkan efisiensi perusahaan 1 Yang dimaksud dengan rating “A” sesuai dengan definisi PT.

modal ventura. Memperluas jaringan pelayanan dengan membuka cabang-cabang baru di daerah yang potensial. Usaha ini juga mempunyai misi sosial untuk mendidik masyarakat untuk berinvestasi dalam bentuk emas serta meningkatkan image masyarakat terhadap Perum Pegadaian b. franchisor usaha gadai. properti (gedung perkantoran. guarantee fund. Melaksanakan pengembangan produk baru hingga mampu menyumbangkan 20% dari total pendapatan usaha. 2. Sampai dengan 30 September 1998. Produk-produk baru tersebut meliputi : a. dan bidang umum. jasa sertifikasi kadar emas. sehingga bisa meningkatkan citra perusahaan dan nasabah tidak malu lagi untuk datang ke Pegadaian. c. hotel/penginapan dan ruko) dan toko barangbarang perhiasan/asesoris dan arloji. Produk baru yang masih dalam lingkup usaha gadai seperti jasa titipan. kredit dengan jaminan surat berharga dan sertifikat tanah dan kredit dengan sistem pinjam pakai. Sebagai implementasi dari salah satu strategi pokok perusahaan. pedagang valuta asing dan leasing. f. Produk baru di luar lingkup usaha gadai tetapi masih dalam lingkup lembaga pembiayaan seperti BPR. bidang keuangan. Dalam menjalankan tugas rutin di 3 Menurut Perum Pegadaian.1. seperti yang telah dilaksanakan di lokasi Salemba dan Pasar Baru. yaitu pemanfaatan 20 lokasi strategis yang nantinya dapat merupakan kompleks lokasi usaha. . factoring. Kepengurusan dan Kelembagaan Perum Pegadaian memiliki 4 orang anggota direksi yang terdiri dari satu orang direktur utama dan 3 orang direktur yang masing-masing membawahi bidang operasi dan pengembangan. jasa taksiran. Maret 1999 e. Perum Pegadaian telah merencanakan untuk melakukan ekspansi jenis produk perusahaan dengan mengembangkan usaha baru. Khusus untuk bisnis properti dapat dilakukan melalui kerja sama dengan pihak ketiga (investor) dengan sistem Built Operate and Transfer (BOT).60 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Dua diantaranya yaitu jasa titipan dan taksiran sudah dilaksanakan. usaha toko emas sudah dilaksanakan di 28 kantor cabang Perum Pegadaian. leasing yang akan dilaksanakan merupakan leasing menurut format Perum Pegadaian dimana barang jaminan yang digadaikan tidak disimpan oleh Perum Pegadaian namun tetap dapat digunakan oleh nasabah untuk menjalankan usahanya (diestimasikan akan dilaksanakan pada tahun 2000). Produk-produk usaha baru tersebut merupakan upaya untuk mengoptimalkan aset.3 Produk usaha baru yang sama sekali di luar usaha gadai dan lembaga keuangan seperti toko emas. khususnya di kawasan timur Indonesia.

Perum Pegadaian telah memiliki cabang di 27 propinsi dengan jumlah Kanca mencapai 633 buah dengan dikoordinasikan oleh 14 kantor daerah (Lampiran 2). Bagan 1. . Perum Pegadaian juga memiliki Satuan Pengawasan Intern (SPI) yang bertanggung jawab langsung kepada direksi. Dari 633 Kanca tersebut. Untuk meningkatkan profesionalitas pegawai Perum Pegadaian memiliki Balai Diklat yang langsung berada di bawah direksi. Struktur Organisasi Perum Pegadaian Direksi Direktur Utama Direktur Operasi dan Pengembangan Direktur Keuangan Direktur Umum Subdit OPP SPI Subdit LB Subdit SP Subdit AP Subdit AK Subdit PB Kantor Daerah Kantor Cabang Subdit KP Subdit BG Subdit TURT Balai Diklat Keterangan : OPP = Operasi dan Pengembangan KP = Kepegawaian LB = Penelitian dan Pengembangan Operasi BG = Bangunan SP = Kesekretariatan Perusahaan TURT = Tata Usaha dan Rumah Tangga AP = Anggaran dan Permodalan AK = Akuntansi P = Perbendaharaan 4 Tanggal 25 November 1998. Kp. Selain itu.4 Struktur organisasi Perum Pegadaian ditunjukkan bagan 1. direksi dibantu oleh 9 subdirektorat (subdit) yang masing-masing memiliki rincian tugas sesuai bidangnya (Lampiran 1).Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 61 kantor pusat. Perum Pegadaian membentuk Subdit Teknologi Informasi berdasarkan Keputusan Direksi No. Kegiatan operasional Perum Pegadaian dilaksanakan melalui kantor-kantor cabang (Kanca) yang dikoordinasikan oleh kantor daerah (Kanda). 58 diantaranya merupakan anak cabang (Ancab) yaitu cabang yang baru berdiri (biasanya kurang dari 2 tahun). Sampai dengan September 1998.2/41/10 sebagai upaya untuk meningkatkan sistem dan sarana pengawasan yang memadai.

dan III. 5 Jumlah total pemeriksa per Kanda sejak 1 Februari 1999 telah diperbanyak menjadi 6-7 orang. jumlah Kanca untuk masing-masing kelas per Juni 1998 adalah : kelas I sebanyak 54. Barang jaminan (bobot nilai 10). b. per Juni 1998 jumlah Kanca Pegadaian di Pulau Jawa merupakan yang terbanyak yaitu 401 buah atau 64. Seluruh kantor yang berstatus Ancab diklasifikasikan sebagai cabang kelas III. Ditinjau dari kuantitasnya. Perbandingan Kanda tipe A dan B dapat dilihat dalam tabel 2. yang diukur dari besarnya surplus (laba-rugi) cabang dalam satu periode akuntansi. yang mencerminkan tingkat tanggung jawab penanganan/pengelolaan.4%. yang mencerminkan tingkat kemampuan penjualan produk (produktivitas).62 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. yaitu kelas I. c. Tabel 2. Kanda tipe A memiliki struktur organisasi yang lebih lengkap dibandingkan Kanda tipe B karena besarnya jumlah Kanca yang dibawahinya. Formasi dan adanya pegawai Kanca (bobot nilai 20). .1 5 . II. Pembagian kelas masing-masing Kanca dilakukan berdasarkan tingkat efisiensi dan produktivitas yang diukur dari 4 faktor yaitu : a. Efisiensi (bobot nilai 40). d. perawatan dan faktor risiko. yang mencerminkan tingkat efektivitas dan kemampuan pegawai sebagai sumber daya dalam menjalankan perusahaan. Omzet usaha (bobot nilai 40). Berdasarkan keempat kriteria di atas. Maret 1999 Kanda Perum Pegadaian terdiri dari dua tipe yaitu tipe A dan B.1 Perbandingan Tipe Kantor Daerah Jabatan Ka Kanda Inspektur Daerah Kepala Seksi Pemeriksa Ka Sub Seksi Pemeriksa Pembantu Staf Pemeriksa Sumber : Perum Pegadaian Kanda Tipe A 1 1 4 2 12 3 2 Kanda Tipe B 1 0 2 1 8 3 0 Kanca Perum Pegadaian digolongkan menjadi 3 kelas. kelas II sebanyak 78 dan kelas III sebanyak 491.

3 juta orang yang terdiri dari petani. yang ditujukan untuk memberikan keyakinan kepada masyarakat atas kualitas barang-barang perhiasan miliknya. pedagang dan lain-lain. ketersediaan sumber daya manusia dan dana. Jumlah karyawan tetap ini lebih rendah dari jumlah pada akhir 1996 (5. Misalnya. nelayan.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 63 Jumlah karyawan Perum Pegadaian hingga Oktober 1998 mencapai 6. Perum Pegadaian telah berhasil melayani kebutuhan 5. pembukaan toko emas yang hingga September 1998 baru berjumlah 28 buah.817 pegawai tetap dan 1. Komposisi karyawan tetap menurut jenjang karir dan pendidikan dapat dilihat dalam lampiran 3. yang ditujukan untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat atas barang-barang yang dimilikinya apabila akan bepergian dalam jangka waktu yang cukup lama. 2. Jasa titipan. Hal ini berkaitan dengan salah satu upaya Perum Pegadaian untuk meningkatkan efisiensi.233 orang. leaflet.3.426 pegawai tidak tetap. . Selain terjadi pengurangan jumlah. Galeri 24. Tidak semua Kanca menyediakan keempat jenis produk tersebut. yaitu toko emas Pegadaian yang menjamin kualitas emas/perhiasan yang dijualnya. Dalam memperkenalkan produk-produknya. Perum Pegadaian juga melakukan peningkatan kualitas karyawan yang terlihat dari meningkatnya jumlah karyawan yang berpendidikan S1 dan S2 dan berkurangnya karyawan yang berpendidikan SD sampai dengan D3. Konsumen sasaran Perum Pegadaian ini adalah seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan dana-dana jangka pendek. pelaku industri. Perum Pegadaian diantaranya menggunakan papan-papan reklame. Manajemen dan Instrumen Kebijakan Dalam menjalankan usahanya Perum Pegadaian melaksanakan fungsi-fungsi manajemen dan menetapkan kebijakan-kebijakan yang menjadi patokan bagi Kanda maupun Kanca. Hal ini terkait dengan fasilitas.541 orang). media elektronis. yang terdiri dari 4. menjadi sponsor kegiatan olahraga serta dengan layanan yang relatif mudah dan cepat. d. Selama tahun 1997.2. c. 2. Jasa taksiran. merupakan jasa utama Pegadaian yaitu memberikan pinjaman kepada masyarakat berdasarkan hukum gadai. Berikut merupakan uraian tentang kebijakan-kebijakan dan fungsi pengawasan yang dilaksanakan oleh Perum Pegadaian. Produk dan Pasar Produk-produk Perum Pegadaian yang sudah tersedia hingga saat ini meliputi empat jenis produk. yaitu : a. Jasa gadai. b.

3.0 %) pada September 1998 (Lampiran 4). pada bulan September 1998 Perum Pegadaian memperoleh pinjaman dari pemerintah berupa Rekening Dana Investasi (RDI) sebesar Rp 100 miliar dengan jangka waktu 3 tahun.75 miliar (91. penerbitan obligasi dan MTN. Mengingat besarnya permintaan terhadap jasa gadai dari masyarakat. deposito. Besarnya jumlah dana yang diterima oleh masing-masing Kanda tersebut ditentukan berdasarkan hasil evaluasi perkembangan omzet selama 6 bulan terakhir dan dievaluasi setiap 3 bulan. Maret 1999 2. maka modal tersebut tidak lagi mencukupi.64 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Golongan B (kredit .25 miliar dan dari saldo laba sebesar Rp 111. Selain itu. maka Kanca harus meminta tambahan dana kepada Kandanya masing-masing dan tidak diperkenankan untuk melakukan transfer langsung antarcabang. Perum Pegadaian memiliki beberapa sumber. Dana yang telah dihimpun ini kemudian didistribusikan dari kantor pusat ke Kanca melalui masing-masing Kandanya.5 miliar. Perum Pegadaian membagi pemberian kredit kepada nasabah menjadi empat golongan yaitu Golongan A (kredit Rp 5. Biasanya batas maksimum kredit yang dapat diberikan oleh masing-masing cabang mencapai Rp 20 juta per SBK (Surat Bukti Kredit). Sebagai sumber utama adalah modal awal Perum Pegadaian yang berjumlah Rp 205 miliar.85 miliar (per 30 September 1998). suratsurat berharga dan penyertaan di perusahaan lain. Kebijakan Pendanaan Dalam penyediaan dana bagi keperluan usahanya. Hingga saat ini Perum Pegadaian telah menerbitkan 5 seri obligasi dengan nilai nominal keseluruhan Rp 425 miliar. Sementara pinjaman dari bank pada posisi September 1998 mencapai Rp 321 miliar. Kredit kepada masyarakat merupakan porsi terbesar penanaman dana yang mencapai Rp 756. Bila terdapat nasabah yang ingin memperoleh kredit melebihi batas maksimum maka cabang tersebut harus meminta persetujuan dari Kanda. 2. tetapi sejak 30 Juli 1998 batas maksimum kredit diturunkan menjadi Rp 5 juta per SBK. Untuk itu Perum Pegadaian mencari sumber-sumber pendanaan baru untuk menambah modal kerja melalui pinjaman bank. Bila terjadi kekurangan dana. penyertaan modal pemerintah Rp 46. Sejak Desember 1997.1.000).2. Dengan demikian Kanda dapat mengontrol secara langsung kebutuhan dana masing-masing Kancanya. Kebijakan Penanaman Dana Penanaman dana Perum Pegadaian dilakukan dalam bentuk kredit. Penghimpunan dana hanya dapat dilakukan oleh kantor pusat. Perum Pegadaian telah menerbitkan MTN sebanyak 4 kali dengan nilai nominal keseluruhan Rp 16. kredit yang diberikan dijamin dengan barang jaminan nasabah.3. Sesuai dengan hukum gadai. sehingga Kanda dan Kanca hanya melaksanakan penanaman dana berdasarkan alokasi dana yang diberikan.000-Rp 40.

b. Jasa produksi. Sokongan dan sumbangan ganti rugi. nasabah juga dikenakan biaya penitipan dan asuransi (PA) yang besarnya disesuaikan dengan jenis barang dan golongannya.000). Sementara. Jika besarnya UP yang telah diputuskan . Sumbangan dana pensiun. Berikut ini merupakan ilustrasi proses memperoleh kredit di Perum Pegadaian. Jika UP yang dapat diberikan melebihi kewenangannya. sebesar jumlah tertentu disisihkan untuk cadangan tujuan. Perum Pegadaian memiliki mekanisme dan prosedur yang harus dilalui oleh nasabah. Sosial dan pendidikan. Selain itu. sisa dari keseluruhan penggunaan laba bersih di atas disetorkan sebagai Dana Pembangunan Semesta (DPS).000) dan Golongan D (kredit Rp 510.000. 13/1998. dan e. Nasabah membawa barang jaminan Penaksir Kasir menerima kredit Nasabah Nasabah yang datang ke Pegadaian terlebih dulu menyerahkan barang-barang bergerak sebagai agunan kepada petugas penaksir yang disertai dengan identitas diri. maka harus diajukan dan disetujui oleh kepala Kanca selaku kuasa pemutus kredit (KPK). dan uang pinjaman (UP) yang dapat diberikan berdasarkan plafon UP yang yang menjadi wewenangnya (Lampiran 6). Cadangan umum yang dilakukan sampai cadangan mencapai sekurang-kurangnya dua kali lipat dari modal yang ditempatkan. taksiran. Jangka waktu kredit maksimum adalah 120 hari dengan bunga dihitung setiap 15 hari. 2. Alokasi Laba Setelah diaudit.000). dari laba bersih yang diperoleh Perum Pegadaian. sesuai dengan PP No.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 65 Rp 40.3. DPS yang menjadi hak negara wajib segera disetorkan ke Bendahara Umum Negara setelah Laporan Tahunan disahkan. c. d.3. penyusutan dan pengurangan yang wajar lainnya. a. Golongan C (kredit Rp 151. Tabel selengkapnya dapat dilihat dalam lampiran 5. Prosedur Kredit Dalam memberikan kredit. 2.000-Rp 500.000-Rp 5.4.500-Rp150. Petugas penaksir memeriksa keadaan barang termasuk kelengkapan yang disyaratkan.3. Kemudian 45% dari sisa penyisihan tersebut dialokasikan untuk lima hal berikut yang masing-masing persentase alokasinya ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Penaksir menetapkan harga pedoman standar.

Selain petugas gudang dilarang untuk memasuki gudang tanpa mendapat izin dari petugas tersebut. dengan terlebih dahulu membayar biaya penyimpanan dan asuransi (PA) yang telah ditetapkan sesuai dengan besarnya UP dan jenis barang yang diagunkan. Untuk barang-barang tertentu seperti kamera dan mobil mendapat perlakuan khusus. maka petugas gudang tersebut dapat menunjuk dua orang pegawai lainnya sebagai pengganti sementara dan harus diberitahukan kepada kepala cabang. Di samping itu. Untuk mengontrol kebenarannya. Barang emas. perhiasan atau barang-barang kecil lainnya yang masuk di dalam kantong disebut barang kantong dengan rubrik K. Dalam hal petugas gudang berhalangan sampai dengan 7 hari. Mobil disimpan dalam tempat tertutup. Setelah ditandatangani nasabah dan penaksir/KPK. Pegawai yang menjadi petugas gudang mempunyai masa tugas maksimum selama 6 bulan. Untuk mencegah terjadinya kesalahan atau penyimpangan dalam pengelolaan gudang maka Perum Pegadaian membuat prosedur pemeriksaan barang jaminan. Barang jenis ini disimpan di dalam gudang. Petugas gudang yang mengelola barang kantong disebut penyimpan. petugas gudang lama tetap bertanggung jawab atas barang jaminan di dalam gudang. Nasabah mengambil UP pada kasir seperti yang tertera pada SBK. rubrik dan ribuan. besarnya taksiran dan UP. Barang kantong ini disimpan dalam kamar emas (kluis/khasanah). . Tempat penyimpanan barang tersebut harus selalu dalam keadaan tertutup dan terkunci apabila tidak ada keperluan. 2. mobil juga harus dalam keadaan terkunci dan bila ada tutupnya (cover) digunakan dengan baik agar tidak kotor. Pada SBK tersebut dimuat nama dan alamat nasabah. saldo Buku Gudang ini dicocokkan dengan saldo Ikhtisar Kredit dan Pelunasan. sedangkan yang mengelola barang gudang dan barang kain disebut pemegang gudang. Walaupun telah digantikan petugas sementara.5. Maret 1999 oleh penaksir maupun KPK telah disepakati oleh nasabah. Sedangkan barang jaminan yang tidak masuk di dalam kantong disebut dengan barang gudang dengan rubrik G. Sistem Pengelolaan Barang Jaminan Barang-barang jaminan yang diterima oleh Pegadaian ditatausahakan dalam suatu Buku Gudang yang diisi menurut golongan. Pegawai yang bertanggung jawab (sesuai dengan SK penunjukan) atas pengelolaan gudang dan semua barang yang ada di dalamnya disebut petugas gudang. Barang masuk dan keluar selalu dicatat sehingga pada akhir hari dapat ditentukan saldo barang jaminan. SBK diserahkan kepada nasabah.3. maka diterbitkan Surat Bukti Kredit (SBK) sesuai dengan golongannya. tidak kena hujan dan panas.66 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Kamera harus disimpan dalam tempat tertutup (lemari kaca atau peti kayu yang tidak lembab) yang diberi penerangan cukup. Posedur tersebut dapat dilihat dalam lampiran 7. keterangan barang jaminan.

Uang yang akan dibayar oleh pembeli harus ditambah 9% untuk ongkos lelang dan 0. c. Hal ini dilakukan dengan penjualan barang jaminan tersebut pada waktu yang telah ditentukan. Penundaan hari lelang ini harus diumumkan kepada masyarakat dan diberitahukan kepada Ka Kanda dan Inspektur Daerah. Perlakuan administrasi dan pembukuan terhadap BSL dapat dilihat dalam lampiran 8. setiap Kanda membuat suatu daftar ikhtisar lelang berdasarkan usulan dari masing-masing kanca-nya dengan memperhatikan : a. agar bisa dijadikan acuan oleh masyarakat. media cetak dan elektronik. Barang-barang yang telah laku pada saat lelang harus dibayar tunai setelah lelang ditutup. . BSL dinilai berdasarkan harga pembeliannya yaitu sebesar harga jual minimal lelang tanpa tambahan biaya lelang (9. Sistem Lelang Lelang merupakan upaya pengembalian uang pinjaman beserta sewa modalnya yang tidak dilunasi sampai batas waktu yang ditentukan. Masing-masing kanca sedapat mungkin melaksanakan lelang pada hari dan tanggal yang sama setiap bulannya. Cara penyelesaian BSL ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dijual di bawah tangan dan dimutasikan antarcabang.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 67 2. b. BSL ini ditetapkan menjadi aset perusahaan yang diakui dan dicatat sebagai transaksi mutasi aset dari Pinjaman Yang Diberikan (aktiva lancar) menjadi Aktiva Lainnya (aktiva tidak lancar).7% (tujuh permil) untuk dana sosial yang dihitung dari nilai lakunya lelang. Sedangkan mutasi antarcabang merupakan upaya penjualan di kantor cabang yang berada di daerah lain yang diyakini dapat terjual lebih cepat (Lampiran 9). Untuk barang-barang jaminan yang telah ditaksir dengan wajar tetapi tidak laku dilelang disebut sebagai Barang Sisa Lelang (BSL). Penjualan di bawah tangan merupakan penjualan yang terbuka bagi siapa saja yang berminat dengan suatu patokan harga minimum tertentu.6. maka kelebihannya akan dikembalikan kepada nasabah tersebut. Lokasi kanca. Bila hasil lelang melebihi nilai kewajiban nasabah. Sebelum pelaksanaan lelang. Media yang digunakan untuk mengumumkan tanggal lelang adalah melalui papan pengumuman di Kanca setempat. untuk kanca-kanca yang lokasinya berdekatan tidak diizinkan untuk melaksanakan lelang pada hari dan tanggal yang bersamaan. Untuk menentukan tanggal lelang. pemberitahuan langsung oleh pegawai di loket dan pemberitahuan tertulis kepada pemilik barang dan Dinas Penerangan setempat (minimum 15 hari sebelum pelaksanaan).7%). Dalam bulan puasa lelang sedapat mungkin dilakukan sebelum lebaran. Apabila di kemudian hari ternyata lelang tidak dapat dijalankan pada tanggal yang telah ditetapkan maka pelaksanaan lelang itu harus diundur pada hari berikutnya.3. Lelang dilaksanakan tidak pada hari libur. d. Tim Pelaksana Lelang akan mengawasi/memeriksa jumlah setoran uang jaminan dari masing-masing peserta/calon pembeli.

Pengawasan ditujukan untuk meyakinkan apakah kegiatan perusahaan telah dilaksanakan sesusai dengan rencana yang ditetapkan. rincian sisa uang pinjaman. Selain kewajiban mengirimkan laporan ke kantor pusat.7. Laporan-laporan yang dibuat oleh masing-masing Kanca tersebut di atas kemudian dikonsolidasikan oleh Kanda sebelum dikirimkan ke kantor pusat. sisa uang kelebihan. pemeriksaan atas laporan keuangan Perum Pegadaian dilakukan oleh BPKP. rincian data nasabah dan kredit menurut profesi. Sebelumnya. Hal ini dilakukan karena Perum Pegadaian telah melakukan go public dengan menerbitkan obligasi.3. yang berisi perkembangan penyaluran kredit dan barang jaminan yang tercantum dalam laporan mingguan keuangan yang dikirimkan ke Kanda b. pemeriksaan merupakan bagian dari fungsi pengawasan yaitu tindakan secara fisik. bulanan dan tahunan. yang berisi rekapitulasi dari laporan bulanan ditambah laporan mutasi aktiva serta laporan surplus usaha. teknik serta metode dalam menjalankan fungsi pengawasan. Laporan bulanan. yang berisi laporan rincian sisa uang pinjaman dan perhitungan sewa modal. Sistem Pelaporan dan Auditing Setiap Kanca Pegadaian harus membuat laporan operasional rutin secara berkala. kewajiban atasan untuk mengawasi c. Laporan tahunan. ikhtisar barang sisa lelang.68 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. . d. Sejak tahun 1993 audit terhadap laporan keuangan Perum Pegadaian dilakukan oleh akuntan publik. Laporan semester. Kelayakan laporan keuangan Perum Pegadaian setiap tahun diperiksa oleh pihak eksternal. barang jaminan yang tidak ditebus/dilelang/barang polisi. Maret 1999 2. Laporan operasional adalah laporan tentang perkembangan operasional Kanca yang meliputi laporan mingguan. Tugas SPI tersebut adalah melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap jalannya kegiatan perusahaan. mutasi aktiva yang disisihkan. yang berisi laporan tentang : perkembangan usaha. Sementara. Aspek-aspek yang dilihat dalam melakukan pemeriksaan oleh SPI mencakup tiga hal yaitu sistem dan prosedur yang menyangkut kendali. Jenis-jenis laporan operasional yang dibuat oleh Kanca yang harus dikirimkan ke Kanda adalah berbentuk : a. Di kantor pusat laporanlaporan dari seluruh Kanda dikumpulkan sehingga dapat dibuat suatu laporan keuangan konsolidasi secara nasional yang diaudit setiap tahun. dan perhitungan surplus operasi. Tujuan pembuatan laporan operasional ini adalah untuk menyediakan informasi tentang perkembangan operasional kepada manajemen sebagai dasar untuk pengambilan keputusan lebih lanjut pembinaan Kanca. masing-masing Kanca dan Kanda Perum Pegadaian secara internal juga diperiksa oleh SPI. Laporan mingguan. penerimaan sewa modal dan biaya PA.

menunjukkan terlalu luasnya rentang kendali Kanda terhadap kanca-kanca yang ada di bawah koordinasinya. sesuatu yang diatur secara umum yang diakui dan sesuatu yang diatur oleh ketentuan perusahaan. mempunyai jaringan kerja yang luas sampai ke daerah-daerah. yaitu : (i) Irwil I mengawasi kanda I – V.2 kali setahun.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 69 bawahan (waskat) dan aparat pengawasan fungsional. Berdasarkan perbandingan antara jumlah Kanca (633 kantor). serta mempunyai nasabah . PENDEKATAN TEORITIS 3. serta bisa menyebabkan timbulnya berbagai penyimpangan seperti yang tercantum dalam lampiran 10. SPI tersebut dibagi menjadi 3 Inspektorat Wilayah (Irwil). (ii) Irwil II mengawasi kanda VI – X. III. Kondisi yang seharusnya merupakan sesuatu yang ditetapkan oleh peraturan/ketentuan pemerintah. Tenaga pemeriksa di masing-masing Irwil rata-rata sejumlah 4 orang yang bertugas melakukan pemeriksaan terhadap setiap kanda dengan frekwensi 1 . Dalam melaksanakan tugasnya SPI dipimpin oleh seorang kepala yang bertanggung jawab langsung kepada Direktur Utama. Sebagai gambaran setiap kanda di pulau Jawa rata-rata membawahi lebih dari 50 Kanca. Kanda-kanda lainnya di luar Jawa harus membawahi kanca-kanca yang secara geografis terlalu jauh. Sementara itu. Dalam melakukan pemeriksaan seorang pemeriksa harus bersifat objektif dan independen karena pertanggungjawabannya langsung kepada direksi. tidak melakukan penghimpunan dana seperti layaknya bank. Tugas Irda adalah mengawasi kanca-kanca di bawahnya dengan frekwensi 1– 4 kali pemeriksaan dalam satu tahun.1 Pembiayaan Kredit Pedesaan Untuk memahami pegadaian terutama sebagai salah satu alternatif pembiayaan bagi usaha/nasabah kecil perlu dilakukan pendekatan yang mempunyai relevansi dengan kegiatan operasi lembaga keuangan baik formal maupun informal yang telah ada di masyarakat dalam penyaluran kredit. Kanda (14 kantor). Tolok ukur yang dipakai dalam melakukan pemeriksaan adalah membandingkan antara kondisi sebenarnya (fakta) dengan yang seharusnya (kriteria). Rentang kendali yang terlalu luas yang belum ditunjang dengan saluran komunikasi yang memadai (canggih) sangat tidak menunjang efektivitas pemantauan kinerja kantor-kantor cabang. Di setiap Kanda terdapat Inspektorat Daerah (Irda) yang dipimpin oleh orang kedua di kanda yang bersangkutan dengan tenaga pemeriksa berjumlah 4-5 orang. frekwensi pemeriksaan serta jumlah tenaga pemeriksa di masing-masing Kanda. dan (iii) Irwil III mengawasi kanda XI – XIV. Mengingat karakteristik Perum Pegadaian sebagai lembaga keuangan formal yang memberikan pinjaman berjangka pendek dalam skala kecil dengan sistem gadai.

Teori RFM yang bertumpu pada mekanisme pasar berpendapat bahwa pembiayaan/kredit pedesaan merupakan proses intermediasi dimana financial assets dan debts di relokasi diantara pelaku-pelaku ekonomi di pedesaan. Ohio State University. dan pemberian kredit tersebut lebih didasarkan pada unsur kepercayaan. teori Farm Finance (FF) dan Teori Rural Financial Market (RFM). Ketergantungan seorang debitur terhadap kreditur sangat tinggi. lembaga kredit formal dan informal serta struktur pasar kredit pedesaan untuk masing-masing lembaga keuangan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : 3. kredit di pedesaan dapat disediakan oleh lembaga keuangan formal maupun pasar informal.1 Lembaga Kredit Informal Sebagaimana dikemukakan. 1992 . Dengan kata lain. Dalam teori ini dijelaskan karakteristik lembaga keuangan formal seperti Bank Perkreditan Rakyat. berjangka waktu pendek. maka perlu dilakukan analisis tterhadap posisi dan keterkaitan Perum Pegadaian dengan lembaga lainnya. sedangkan teori FF berpendapat perlu adanya external funds (dana pihak luar) untuk membiayai kegiatan-kegiatan produktif di pedesaan. Seorang kreditur hanya melayani sejumlah kecil peminjam yang sudah dikenal baik dan berisiko rendah.70 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. yaitu Farm Finance dan teori Rural Financial Market yang dikembangkan oleh Department of Agricultural Economics and Rural Sociology. 6 Robinson. Kredit pedesaan pada dasarnya dapat diperoleh dari sumber informal dan formal.6 Sedangkan untuk melihat sumber dana untuk kredit pedesaan dikenal dua teori. koperasi dan pegadaian serta pasar kredit informal di pedesaan (rentenir atau pelepas uang komersial).1. USA. Pasar informal tersebut ada di dalam masyarakat namun tidak diatur oleh pemerintah. Teori RFI menjelaskan keterkaitan antara lembaga keuangan formal dan informal dalam pasar keuangan pedesaan. Sementara itu. teori RFM berpendapat bahwa pedesaan memiliki kemampuan/resources untuk membiayai kegiatan-kegiatan produktif yang berlangsung di pedesaan. BRI Unit Desa. Maret 1999 mayoritas masyarakat berpenghasilan rendah yang sulit untuk akses ke perbankan serta jaringan kerja hingga ke daerah-daerah. proses penyediaan sederhana. Beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk analisis tersebut antara lain Teori Rural Financial Intermediation (RFI). untuk penghimpunan dana di pedesaan lebih banyak melalui lembaga formal. Di dalam pasar terdapat beberapa kreditur namun seorang debitur punya akses yang sangat terbatas. S “ Rural Financial Intermediation : Lessons From Indonesia. cepat. Sebagian besar pinjaman relatif kecil jumlahnya. Pasar kredit pedesaan informal biasanya bersifat quasimonopolistik. Berdasarkan ketiga pendekatan tersebut.

hal 81. 7 Ibid. information flows. terdapat kecenderungan debitur untuk hanya setia kepada satu debitur karena khawatir akan memperoleh kesulitan di kemudian hari. Mereka tidak mau bersaing karena justru akan menurunkan keuntungan masing-masing. Suku bunga kredit dalam pasar informal sangat bervariasi. Menurut penelitian Robinson. Dengan kondisi tersebut. Terdapat pula kecenderungan para kreditur untuk memberikan kredit yang lebih besar kepada pejabat lokal serta rekan bisnis dengan tujuan menjaga hubungan baik agar diberi kesempatan memperoleh akses yang lebih luas bagi kepentingan politik dan/atau bisnisnya. political alliances.7 Kreditur cenderung tidak tertarik untuk meningkatkan market share. sehingga risiko tidak terbayarnya pinjaman yang diberikan kepada nasabah dapat ditekan serendah mungkin. bagi kreditur yang sudah lebih kaya dan memiliki status sosial yang tinggi melakukan diversifikasi investasi dianggap lebih menguntungkan dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dari kredit dalam skala kecil. financial channels and market shares of lenders are inextricably related to local distribution of wealth and power. setiap kreditur dapat memelihara ‘kesetiaan’ debiturnya. Caranya antara lain dengan hanya memberikan kredit kepada orang-orang yang berkaitan dengan jaringan bisnisnya seperti sistem ijon dan yang mempunyai aliran politik yang sama. suku bunga berkisar antara 2 sampai 10 kali dari tingkat bunga bank. Selain itu. Alasan utamanya adalah terlalu berisiko untuk melakukan ekspansi ke luar pasar tradisonalnya. Hal ini terjadi karena antara satu kreditur dengan kreditur lainnya dalam satu wilayah umumnya punya ikatan yang erat. Tingginya suku bunga tersebut disebabkan adanya quasi-monopolistic many-lender credit market.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 71 Terjadinya pasar yang bersifat quasi-monopolistik dimungkinkan oleh kecenderungan setiap kreditur untuk membatasi jumlah nasabah yang dilayani dan berupaya menjaga portofolio pinjamannya sedemikian rupa. and Meghir bahwa 8 : “Informal commercial credit forms parts of the local political economy. suku bunga dapat dipertahankan tinggi lebih-lebih jika di wilayah tersebut tidak terdapat lembaga perkreditan formal. . etc “. Fenomena ini terjadi di beberapa negara berkembang. Kessler. 8 Germidis. Sebaliknya. Kreditur pada umumnya berkeberatan apabila nasabahnya meminjam kepada kreditur informal lainnya karena khawatir ikatan bisnis lainnya juga akan berpindah sehingga dapat melakukan pembalasan di kemudian hari. Kessler “ Financial Systems and Development : What Role for the Formal and Informal Financial Sectors ? (1991). seperti India dan Philipina sebagaimana dikemukakan oleh Germidis. Dengan praktek tersebut. market interlinkages.

Persyaratan tersebut berkaitan dengan perlunya lembaga keuangan dikelola secara baik. lembaga formal tidak dicurigai akan merebut kekuasaan para kreditur informal yang pada umumnya juga memiliki kaitan usaha di sektor riil atas nasabahnya. lembaga formal tidak dianggap sebagai pesaing oleh kreditur informal. . Bahkan di beberapa tempat dianggap sebagai rekan kerja.1. dan berlokasi strategis. karena berspesialisasi pada kegiatan perkreditan. terpercaya.72 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Sementara itu. Di samping itu. Bagi kreditur informal. lembaga formal pada umumnya dapat mempelajari karakteristik pasar keuangan pedesaan dan memperoleh informasi terpercaya mengenai nasabah potensial melalui stafnya yang profesional.2 Lembaga Kredit Formal Lembaga keuangan formal dapat juga memasuki pasar keuangan pedesaan dengan perspektif perhitungan jangka panjang bila didukung beberapa persyaratan. hal tersebut tidak terlalu mengganggu karena mereka masih tetap memiliki pangsa pasar yang aman. Kemudahan bagi lembaga formal dalam memasuki pasar tersebut selain dilindungi hukum. seseorang yang tidak memiliki agunan dapat datang ke kreditur informal untuk meminjam uang. Suku bunga yang lebih rendah tersebut akan meningkatkan permintaan kredit yang akan menyebabkan biaya operasi per unit menjadi lebih murah. Hal ini terjadi karena lembaga kredit formal dapat memanfaatkan ‘economies of scale’ sehingga dapat menjalankan kegiatannya dengan biaya yang relatif murah. aman. meskipun ada kemungkinan mereka masih memerlukan dana dari kredit informal sebagai tambahan. Disamping itu. bagi mereka yang tidak memenuhi syarat untuk memperoleh dana dari lembaga formal disebabkan tidak memiliki agunan ataupun sebab lainnya akan tetap bergantung pada kreditur informal. Perlu dikemukakan bahwa jika lembaga kredit formal dapat memberikan pelayanan yang baik dengan beban bunga yang lebih rendah maka sebagian masyarakat desa yang sebelumnya bergantung kepada kreditur informal akan beralih ke lembaga formal. Maret 1999 3. Tidak tertutup kemungkinan. Dengan biaya yang murah tersebut maka lembaga formal dapat menawarkan suku bunga rendah untuk menarik nasabah. Kreditur informal yang kekurangan dana dapat meminjam dari bank dan lembaga kredit formal lainnya untuk kemudian disalurkan ke nasabahnya. seorang kreditur informal akan mendorong nasabahnya untuk meminta kredit ke lembaga formal jika memerlukan dana yang relatif besar. Disamping itu. untuk menunjang berlangsungnya kegiatan operasi lembaga keuangan tersebut harus mampu menyalurkan kredit dalam jumlah yang cukup dan bersumber dari penghimpunan dana dengan spread yang cukup menguntungkan. Sebagai contoh. Suku bunga pada lembaga kredit formal pada umumnya lebih rendah dibandingkan dengan suku bunga kreditur informal.

558 BPR non BKD dengan total aset sebesar Rp 2.10 Dalam 9 Data akurat mengenai potensi lembaga informal pemberi pinjaman sulit untuk diperoleh. diperoleh temuan bahwa antara Perum Pegadaian dengan lembaga-lembaga keuangan formal dan informal lainnya yang ada di masyarakat tidak saling bersaing meskipun mempunyai segmen pasar yang hampir sama. pangsa pasar kredit pedesaan yang dapat dikuasai oleh Perum Pegadaian diperkirakan berkisar 40% .142 buah) berada di pulau Jawa (persebaran jumlah BPR terbanyak berada di wilayah Jawa Timur sebanyak 362 BPR.4 triliun dan kredit yang diberikan sebesar Rp 1. Di daerah-daerah di mana terdapat kantor Perum Pegadaian. Disamping itu juga terdapat beberapa lembaga informal yang berperan dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat antara lain pelepas uang (rentenir). Bank Perkreditan Rakyat (BPR).9 Pada dasarnya antar lembaga-lembaga tersebut tidak saling bersaing karena masing-masing sudah mempunyai pangsa pasar tersendiri. Lembaga lain yang juga mempunyai potensi besar untuk menjadi pesaing Perum Pegadaian adalah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan BRI Unit Desa (BRI UDes). .40% per bulan.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 73 IV. toko emas dan pegadaian gelap.706 kantor. Namun kebijakan tersebut pada beberapa aspek justru menghambat perkembangan Perum Pegadaian terutama pada saat terjadinya kekurangan likuiditas. toko emas yang memberikan pinjaman dengan sistem gadai serta pegadaian gelap. Koperasi Simpan Pinjam (Kosipa). Hasil penelitian tersebut sejalan dengan hasil penelitian Robinson dengan mempergunakan teori RFI (dijelaskan pada bagian III). Persaingan tidak terjadi karena nasabah masing-masing lembaga keuangan tersebut mempunyai karakteristik khusus yang menentukan preferensi mereka untuk menjadi nasabah lembaga keuangan tertentu (struktur pasar bersifat quasi-monopolistik).7 triliun. dan BRI Unit Desa. Informasi yang diperoleh dari hasil studi lapangan hanyalah mengenai besarnya suku bunga yang dikenakan rentenir dan toko emas pada umumnya sangat tinggi berkisar 10% – 20% per bulan. Studi lapangan menunjukkan bahwa pada dasarnya masing-masing Kantor Daerah mempunyai potensi untuk menghimpun dana sendiri yang berasal dari potensi daerah setempat. nampaknya sesuai dengan teori FF. Sebagian besar BPR (1. Mengacu pada teori tersebut. kemudian Jabotabek sebanyak 345 BPR) dan yang paling sedikit berada di wilayah Kalimantan (22 BPR). Kebijakan penghimpunan dan penyaluran dana serta sistem manajemen pendanaan yang sentralistik seperti diterapkan Perum Pegadaian. 1 0 Sampai dengan September 1998 di seluruh Indonesia terdapat sebanyak 1. Temuan ini sesuai dengan teori RFM bahwa pada dasarnya masyarakat pedesaan juga mampu menabung dan masuknya dana pihak luar justru akan menghambat perkembangan pasar keuangan pedesaan. Sementara itu dari temuan penelitian CPIS (pada periode 1982-1990) koperasi simpan pinjam mengenakan suku bunga antara 20% . bahkan dapat dikatakan saling melengkapi sesuai dengan kondisi masyarakat. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada pasar kredit pedesaan di Indonesia dapat diidentifikasikan beberapa lembaga formal yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat khususnya golongan ekonomi lemah adalah Perum Pegadaian.60% dibandingkan dengan rentenir. Sedangkan jumlah BRI UDes sebanyak 3.

Sampai dengan 30 September 1998 omset Perum Pegadaian telah mencapai Rp 2.1 Kinerja Operasional Omset 11 Peran Perum Pegadaian dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat berpendapatan rendah menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. sementara beberapa Kantor Daerah (Padang. lonjakan omset terutama dialami oleh Kantor Daerah Jakarta. sementara untuk institusi lain dan lembaga kredit informal tidak diperoleh data akurat. Ujung Pandang.1 Hasil Studi Lapangan 4. Grafik 1. kinerja Perum Pegadaian akan dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes (untuk beberapa rasio keuangan) untuk memperoleh gambaran mengenai peranan Perum Pegadaian dalam pemberdayaan ekonomi rakyat dibandingkan dengan institusi kredit lainnya. Untuk masing-masing wilayah.9%.1. atau meningkat 11% dibandingkan dengan realisasi omset tahun 1997 (Tabel 4.3 triliun dengan pencapaian target sebesar 87. 4. dan Balikpapan) mencatat perkembangan yang kurang memuaskan. Pemilihan ini berdasarkan ketersediaan data BPR dan BRI Unit Desa (BRI UDes). Bandung dan Yogyakarta.1). terutama sejak terjadinya krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997. Medan.74 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Perkembangan Omset Perum Pegadaian Rp miliar 2500 2000 1500 1000 500 0 1994 1995 1996 1997 Triw III/ 1998 Jan Feb Mar Apr Mei 1998 Jun Jul Agst Sept 1 1 Omset : adalah jumlah/nilai pinjaman yang diberikan dalam suatu periode tertentu (konsep flow). Namun lonjakan omset yang terjadi pada Juni 1998 selanjutnya untuk bulan Agustus dan September mengalami penurunan terutama sebagai dampak dihentikannya fasilitas overdraft di BRI pada pertengahan Agustus. Maret 1999 analisis selanjutnya. .

000 Sumber : Perum Pegadaian.4 545.5 100.0 2.4 475.9 31. diolah.000 .0 46.166.00 . C = Rp 151.2 8.4 645.1 25.925.2 0. Nominal 184.2 1.3 437.0 226.9 100.4 0.000.0 C = Rp 151.8 22.000 .20.4 439.9 1.4 709.8 256.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 75 Lonjakan kenaikan omset tersebut ternyata tidak diikuti dengan meningkatnya aspek pemerataan.2 317.Rp 40.4 16.9 547.5 31.0 Realisasi Jan . B = Rp 40.8 35.000 – Rp 150. Keterangan : A = Rp 5.0 6.Sept.6 50. Kecenderungan pergeseran orientasi pembiayaan Perum Pegadaian ke arah nasabah besar juga terlihat pada menurunnya porsi nasabah golongan A dan B masing-masing dari 43.035.5 22. Nasabah 1996 Des.4 100.6% (1997) menjadi 41. B dan C semakin berkurang (Tabel 4.5 14. sehingga dengan barang jaminan yang sama nasabah golongan A dan B bisa mendapatkan pinjaman yang lebih besar.723. A = Rp 5. Dengan demikian kebijakan pembiayaan Perum Pegadaian telah bergeser ke arah nasabah dengan nilai pinjaman yang lebih besar.000.7 739.0 0.3 5.7 100.8 32.8 666. . E = pegawai Perum Pegadaian. porsi golongan A. melalui peningkatan kualitas barang jaminan serta meningkatkan porsi nasabah golongan D (proyeksi tahun 1998).1. Fenomena dominasi pinjaman oleh golongan D juga terlihat di setiap kantor daerah yang diteliti kecuali untuk Kantor Daerah Bandung dimana pinjaman didominasi oleh golongan C.7 679.3% (1998). Jan .000 .0 8.7 30.7 100.0 2. Sementara itu.Rp 150. Tabel 4.000 – 500.397.9 0. E = pinjaman kepada pegawai Perum Pegadaian 1 2 Perum Pegadaian menetapkan 5 macam golongan nasabah berdasarkan besarnya plafon pinjaman sebagai berikut: Gol.4% dan 24.5 35.6 32. dan Gol. Gol. Nominal % Proyeksi Nominal % 8.4% (tahun 1997) menjadi 50.000 B = Rp 40. Gol.5 10.5 951. Alokasi pinjaman untuk golongan D12 melonjak sehingga porsinya meningkat dari 35.0 (miliar rupiah) % A B C D E 10.1). Gol.000.7 183.000. Nominal % Nominal % 80.9% dan 27.000 D = Rp 510.3 0.5 1.0 2.0 13.9 31.000.Jun.317. Kebijakan untuk meningkatkan keuntungan dengan mengurangi porsi pemberian pinjaman kepada nasabah mikro tersebut kurang sejalan dengan misi Perum Pegadaian untuk lebih memihak kepada nasabah mikro. D = Rp 510.d September).5 8. dengan alasan bahwa selama ini Perum Pegadaian telah memberikan subsidi kepada golongan nasabah mikro.000 – Rp 40.4 1. Pergeseran dari nasabah mikro ke nasabah besar tersebut terutama merupakan dampak dari : (i) Kebijakan Perum Pegadaian untuk meningkatkan laba.9 5.7 115.088.500.000. (ii) Kenaikan harga barang jaminan sejalan dengan kenaikan harga barang jaminan khususnya emas.000 .000 – 20.5 1997 Des. Perkembangan Omzet Perum Pegadaian 1998 Gol.3% (tahun 1998 s.

6 juta orang. yaitu 68 hari. jumlah nasabah Perum Pegadaian juga mengalami lonjakan tajam khususnya pada bulan Juni 1998 sehingga sampai dengan 30 September 1998 jumlah nasabah yang dapat diraih mencapai 6.76 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Penurunan tersebut juga disebabkan oleh meningkatnya harga barang jaminan khususnya emas.3%). Golongan D meminjam dalam jangka waktu paling lama. Berdasarkan Kandanya. Dari segi persebaran nasabah.7 hari. Lonjakan nasabah sepanjang tahun 1998 tersebut sangat signifikan jika dibandingkan dengan perkembangan nasabah pada bulan yang sama tahun 1997 (Grafik 2). sedangkan jumlah nasabah yang paling sedikit terdapat di wilayah Kalimantan masingmasing 2. yaitu 95. mulai banyaknya perusahaan yang melakukan PHK terhadap karyawan dan meningkatnya harga emas. meskipun masih lebih banyak jika dibandingkan periode yang sama tahun 1997. Maret 1999 Jangka waktu peminjaman rata-rata dalam tahun 1998 adalah 89 hari yang berarti lebih singkat dibandingkan dengan tahun 1997. Jumlah nasabah yang mampu diraih Perum Pegadaian tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah nasabah yang mampu diraih BPR (4. Faktor lain yang menyebabkan lonjakan jumlah nasabah tersebut menurut Perum Pegadaian adalah “peak season” tahun ajaran baru serta meningkatnya gangguan keamanan. sehingga mendorong penebusan oleh nasabah terutama dengan barang jaminan emas untuk dijual ke pasar.2 juta nasabah). Lonjakan jumlah nasabah dari posisi Mei ke Juni 1998 tersebut diduga merupakan dampak krisis ekonomi sehingga akses masyarakat untuk dapat memperoleh kredit dari perbankan semakin sulit. terdapat kesamaan antara Perum Pegadaian dengan BPR dimana baik untuk Perum Pegadaian dan BPR sebagian besar nasabah terkonsentrasi di wilayah Jawa (masing-masing 70% dan 57%).d September menunjukkan kecenderungan menurun. peningkatan jumlah nasabah terbesar terjadi pada Kanda Surabaya (243.d Mei 1998) sekitar 400 ribu nasabah. .7%) dan terendah pada Kanda Malang (2.8% dan 2. Lonjakan nasabah Perum Pegadaian yang sangat besar terjadi sejak bulan Juni 1998 dengan rata-rata per bulan di atas 1 juta nasabah dibandingkan bulan-bulan sebelumnya (Januari s. Jumlah Nasabah Sejalan dengan lonjakan omset. Namun seiring dengan berkurangnya kemampuan Perum Pegadaian dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat maka jumlah nasabah pada Juli s.3%. sementara itu golongan B meminjam dalam jangka waktu paling singkat.

000 .410. Nsb.1 3.Rp 150.4 12.500.7%) berprofesi sebagai petani.9 2.6 16.621.5 682.000.4 Karyawan 449.612. diolah.734.1 Pedagang 1.638.621.331.7 7.458. Jml.5 24. mayoritas nasabah Perum Pegadaian (40.1 331.1 100.3 23. Meningkatnya jumlah nasabah yang berprofesi sebagai karyawan (berdasarkan kartu identitas/KTP) merupakan indikasi dari meningkatnya jumlah karyawan yang terkena PHK.0 13.000 B = Rp 40.0 6.000 E = pinjaman kepada pegawai Perum Pegadaian .2 871.7 6.265.0 Sumber : Perum Pegadaian.000 .5 1. Nasabah A B C D E Jumlah Keterangan : % 43.000 800 600 400 200 0 (ribu) 1997 1998 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sep Okt Nop Des Berdasarkan golongannya.Rp 40.000 .0 8.4 3.000 D = Rp 510.305.1 635.2 100.3 23. (ribu) 2.3 6. Sementara dari profesinya mayoritas nasabah (30.400 1. Perkembangan Jumlah Nasabah 1.0 Lain-lain 1.305.9 864.032.0 1. C = Rp 151.4 Industri 325. Tabel 4.9 1.682.463.0 21.05 100.d September A = Rp 5.5 5. Nsb.221. Nsb. terlihat adanya pergeseran komposisi jumlah nasabah menurut golongan dan meningkatnya jumlah nasabah dengan profesi sebagai karyawan (Tabel 4.9 5.1 1998 Jml.2 30.1 *) : s.6 6.7 *) % 40.200 1.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 77 Grafik 2. Nsb.000 .4 22.0 0.0 1997 1998 Profesi Jml.9 27.7 *) % 30.9 Nelayan 405.7 1.5%) pada tahun 1998 berasal dari golongan A. (ribu) (ribu) % Petani 1.2).9 5.8 1.2.6 430. (ribu) 2.000 Gol.0 0.20. Dibandingkan dengan tahun 1997. Komposisi Jumlah Nasabah Menurut Golongan dan Profesi 1997 Jml.3 26.3 10.

3% (1998) tertinggi dibandingkan dengan golongan lain. Sementara itu. perajin mebel. Jika dibandingkan dengan volume dan nilai lelang sampai sebelum krisis (1997).1 miliar (0. pembayaran upah karyawan.5% dari total kredit yang diberikan). namun jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan kredit macet di BPR. dengan menjual barang jaminan kepada masyarakat umum pada waktu yang telah ditentukan. sedangkan kredit macet di BRI UDes (per 30 September 1998) mencapai Rp 22. dan keperluan keluarga lainnya. 1 3 Lelang merupakan upaya pengembalian uang pinjaman beserta sewa modal yang tidak dilunasi atau pinjamannya tidak diperpanjang (roll over) oleh nasabah sampai batas waktu yang ditentukan. usaha catering.7% omset) atau senilai Rp 11.2% (1997) menjadi 2.5% dari sisa uang pinjaman). Sedangkan rasio terendah adalah golongan D yaitu sebesar 0. Perbandingan kualitas pinjaman yang diberikan tersebut menunjukkan persentase kredit macet di Perum Pegadaian lebih besar dibandingkan dengan BRI UDes (0. rasio tersebut menurun jika dibandingkan dengan tahun 1997 (1.1% dari sisa uang pinjaman). biaya sekolah.1%.810 potong (1.0% dari omset dan 4. .3 miliar (0.5% dari omset atau 1. rasio nilai lelang terhadap total kredit untuk golongan A meningkat dari 2. Menurut masing-masing golongan nasabah. Kebutuhan konsumtif yang dapat dipenuhi dari pegadaian antara lain pemenuhan kebutuhan sehari-hari. dan lain-lain.7% dan 47. Lelang 13 Barang jaminan yang dilelang sampai dengan 30 September 1998 adalah sebanyak 261. maka telah terjadi penurunan jumlah dan nilai barang yang dilelang masing-masing sebesar 36.8%. Penggunaan yang bersifat produktif antara lain modal kerja bagi petani dan pedagang. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa nasabah diperoleh informasi bahwa sebagian besar dana pinjaman pegadaian dipergunakan untuk tujuan produktif (profil nasabah dikemukakan pada “persepsi masyarakat”). biaya pengobatan.5%). usaha yang bersifat pesanan seperti kontraktor skala kecil. pinjaman yang digolongkan sebagai kredit macet di BPR (per 30 Juni 1998) mencapai Rp 253 miliar (15 % dari total kredit yang diberikan). Maret 1999 Penggunaan dana pinjaman oleh nasabah sangat bervariasi baik untuk tujuan konsumtif maupun produktif. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa krisis ekonomi sangat dirasakan dampaknya khususnya oleh nasabah mikro dengan semakin meningkatnya nilai pinjaman yang tidak dilunasi oleh golongan tersebut.78 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

596 1998 N ilai **) O set m ***) S U R (% isa P asio ) 34. lelang terbanyak dilakukan oleh Kanda Yogyakarta (38.3.6 0.1% total kredit atau 0.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 79 Tabel 4.3 1.403 1.2 0.5 118.9 408.9 750.1 6.5 b) 2.4 miliar (4.5 3.5 miliar (0.3 a) : rasio lelang thd om set b) : rasio lelangthd sisauang pinjam an Pada periode Januari s.6 521. 1997 a) b) *) N asabah B Jam *) N **) O set***) ilai m asio ) rg.5 a) R (% asio ) 7.0 TO L TA 413.6% total kredit macet).7 183.3 317.9 0. sehingga banyak nasabah dengan barang jaminan emas yang meminjam pada bulan Juni 1998 dan jatuh tempo pada November 1998 tidak melunasi pinjamannnya.7 3. Untuk wilayah Bali (termasuk NTT dan NTB) kredit macet sebesar Rp 794 juta (0.801 12.9 3.9 2.166.14 1 4 Sebagai contoh turunnya harga barang jaminan adalah turunnya harga emas secara drastis di bulan November hingga mencapai 60% dari harga bulan Juni 1998. kredit macet BPR sebagian besar terdapat di wilayah Jawa yang mencapai 58% total kredit macet.6% total kredit macet).2 1. . Perkembangan Lelang Barang Jaminan G ol.8 ribu potong) sedangkan yang paling sedikit dilakukan oleh Kanda Balikpapan (3 ribu potong).4 0. kredit macet di wilayah Jawa sebesar Rp 12. kecuali dalam kasus tertentu dimana terjadi penurunan harga barang jaminan yang sangat besar.813 25.27% total kredit atau 56. Sedangkan volume kredit macet paling kecil terdapat di wilayah Sulawesi (termasuk Maluku. Sementara itu.d September 1998. barang jaminan yang dilelang merupakan barang bergerak serta hasil lelang selalu dapat menutup nilai pinjaman ditambah bunga dan biaya administrasi.0 48. sebagian besar terdapat di wilayah Jawa dan paling sedikit di wilayah Bali (termasuk NTT dan NTB).0 1.077. khususnya DKI & Jawa Barat sebesar Rp 6.81% total kredit macet). khususnya di Jabotabek sebesar Rp 73.1 0.7 115.9% dari total kredit macet.5 2. Sedangkan kredit macet di BRI UDes baik sebelum maupun sesudah krisis. Perlu dikemukakan bahwa lelang barang jaminan yang dilakukan Perum Pegadaian pada dasarnya bukan merupakan kerugian bagi Perum Pegadaian karena sesuai dengan hukum gadai.6 2.0 1.4 1.278 21.9 679.7 4.7 juta).14% total kredit atau 29.2 475.1 261.6 2.8 2.309.914 98. Sementara nilai lelang terbesar terdapat di Kanda Jakarta (Rp 2 miliar) dan yang paling sedikit di Kanda Balikpapan (Rp 289.810 11. Untuk tahun 1998.5 739.504 3.010 50.3% total kredit atau 29% total kredit macet).047 3.9 709.9 78.1 172.9 1.9 7. diolah.2 3.7 6. inan S U R (% R (% B Jam isa P asio ) A B C D 285. inan rg.2 182.5 1.8 227. Perbandingan kualitas pinjaman ketiga lembaga tersebut menunjukkan kesamaan wilayah kerja yang mempunyai jumlah kredit macet terbesar yaitu di wilayah Jawa.0 8.3 0. 4.0 197.7 Keterangan : *) potong **) : nilai barang yang dilelang (m rupiah) iliar ***) : om pinjam (m rupiah) set an iliar S ber : P um erumPegadaian.6 miliar (0. Irian Jaya dan Timor Timur) sebesar 0.02% total kredit atau 3.

Berdasarkan tujuan tersebut dapat dikemukakan bahwa Perum Pegadaian nampaknya tidak mempersiapkan cadangan dana pelunasan obligasi (sinking fund) yang memadai untuk memenuhi kebutuhan dana pelunasan obligasi yang akan jatuh tempo (s. Perbandingan total aset berdasarkan wilayah tersebut menunjukkan adanya kesamaan antara Perum Pegadaian dengan BPR yaitu konsentrasi aset berada di wilayah Jawa dan aset terkecil di wilayah Kalimantan.9 miliar (2. Jumlah modal per 30 September 1998 sebesar Rp 363 miliar. Total aset Perum Pegadaian tersebut lebih kecil jika dibandingkan dengan total aset BPR (per Juni 1998) yang telah mencapai Rp 2. total aset BPR sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Jawa (Rp 1. total aset Perum Pegadaian sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Jawa (Rp 573 miliar atau 50. Emisi terakhir adalah obligasi emisi V (Juni 1998). Sementara itu. Maret 1999 4. melampaui target yang ditetapkan untuk tahun 1998 sebesar Rp 1 triliun (Tabel 4. Total aset terbesar dimiliki oleh Perum Pegadaian di wilayah Kanda Jakarta (Rp 183 miliar).9% total aset Perum Pegadaian). Realisasi aset pada tahun 1998 tersebut meningkat sebesar 51.1.8% dari total aset BPR) sedangkan yang paling kecil terdapat di wilayah Kalimantan sebesar Rp 63.7% dari periode yang sama tahun 1997. Jumlah aset per 30 September 1998 tercatat sebesar Rp 1.4). sedangkan yang terkecil adalah Kanda Kupang (Rp 34 miliar). sementara kewajiban jangka pendek (terdiri dari hutang bank dan kewajiban lainnya) sebesar Rp 412 miliar. Kewajiban jangka panjang Perum Pegadaian (terdiri dari hutang obligasi dan hutang jangka panjang lainnya) sebesar Rp 364.d V) dengan nilai nominal sebesar Rp 289.3% total aset Perum Pegadaian) dan yang paling kecil adalah wilayah Kalimantan (Rp 44 miliar atau 3. Sumber dan Penggunaan Dana Sumber dana Perum Pegadaian selain terdiri dari modal (ekuitas) juga sumber dana lain yang diperoleh dari penerbitan surat berharga maupun pinjaman dari pihak lain. Komponen terbesar dari kewajiban jangka pendek tersebut adalah hutang bank (Rp 321 miliar).6 miliar meningkat 32. meningkat 171.6 miliar) (Tabel 4. Ditinjau berdasarkan wilayah. Perum Pegadaian telah menerbitkan obligasi sebanyak lima kali (seri I s.4). dengan komponen terbesar adalah hutang obligasi (Rp 264. dengan tujuan penggunaan dana untuk pelunasan obligasi I (sebesar Rp 50 miliar) dan pengembangan usaha (modal kerja).6% dibandingkan periode yang sama tahun 1997.2 Kinerja Keuangan Aset Aset Perum Pegadaian menunjukkan kecenderungan meningkat.7 triliun atau 70.4 triliun.7% total aset BPR).6 miliar yang akan jatuh tempo pada periode 1998 – 2003.1 triliun.d 30 September 1998 dana pelunasan obligasi .80 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Sebagaimana telah disebutkan dalam Bab II bahwa untuk memenuhi kebutuhan dana maka selama periode 1993 – 1998.4% dari tahun sebelumnya.

4 582.6 100 363 Pertumb.5 160.0 1.3 11.2 29. Aktiva dalam bentuk kas dan setara kas per 30 September 1998 tercatat sebesar Rp 119 miliar meningkat 240. Tabel 4.9 28.5 752 151.5 miliar).4 55.4 72.7 182. pinjaman yang diberikan dan lainnya) serta aktiva lain. Proyeksi 1998 Realisasi Per 30 Juni Per 30 Sept.5 81. Jun .6 166. Menurut Perum Pegadaian. bahwa suku bunga bersubsidi dapat menimbulkan inefisiensi dalam penyaluran dana di pedesaan. dan sisanya sebesar Rp 65 miliar untuk sementara disimpan dalam . Selain dari penerbitan obligasi.2 119 756.7 174.2 8.4 5.7 225 333 837.2 864 282.5 183.6 140.028 275 673.0 31.7 798.7 59.9 0. namun dari sisi makro berdampak pada timbulnya distorsi suku bunga pasar pinjaman berskala kecil.2 52. sinking fund tersebut tidak dihimpun karena tidak diperoleh ijin dari Menkeu untuk membentuk cadangan sebesar obligasi yang akan jatuh tempo.1 53.7 8.Sept.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 81 yang dicadangkan hanya sebesar Rp 8.1 167. Dana dengan suku bunga murah yang diperoleh Perum Pegadaian tersebut di satu sisi sangat membantu dalam mengatasi kesulitan likuiditas yang dialami.9 45.7 184 1139. alokasi dana tersebut lebih diutamakan untuk penambahan modal kerja.3 526.4 32.8 34.2 35.2 275 0.6 22. 947.7 178. khususnya untuk memenuhi kebutuhan dana akibat lonjakan nasabah dan bantuan KLBI sejumlah Rp 50 miliar (per 31 Desember 1998).4 190.5 325 615 36.4 Neraca Singkat Perum Pegadaian (miliar rupiah) Pos . terutama diakibatkan oleh meningkatnya nilai deposito sebesar 605%.4 8.9 0.487 307. dimana sampai dengan 30 September 1998 telah disalurkan ke nasabah sejumlah Rp 35 miliar.9 476.4 191 1.9 647 163.9 175 0.9 564.9 8.7 30.6 Aktiva Lancar Kas dan setara kas Pinjaman yg diberikan Lainnya Aktiva Lain Dana pelunasan obligasi Lainnya Total Aktiva Kewajiban Jangka Pendek Hutang bank Kewajiban lainnya Hutang Obligasi Hutang Sewa Guna Usaha Hutang jangka panjang lainnya 480.7 236.8 71. 1997 Per 30 Sep.3 1. Dengan demikian.3 225 356. Mengacu pada temuan Robinson yang menggunakan pendekatan RFI.2 240.Pos Neraca 1996 Per 31 Des.9 17.6 119.9 412.4 192.3 390 Ekuitas Sumber : Perum Pegadaian .2 778.2 35. Per 31 Des.7 412 321 91 264. (%) 40.8 201. kebijakan subsidi bunga hanya akan efektif apabila diterapkan dalam jangka pendek.75 187.diolah 363. Perlu dikemukakan bahwa lonjakan deposito tersebut terjadi karena adanya pencairan bantuan modal kerja dari Pemerintah dalam bentuk RDI sebesar Rp 100 miliar pada tanggal 4 September 1998.9 Penanaman dana oleh Perum Pegadaian dalam bentuk aktiva lancar (dikelompokkan dalam kas dan setara kas. Perum Pegadaian juga memperoleh pinjaman berbunga rendah dalam bentuk RDI pemerintah sebesar Rp 100 miliar (sejak tanggal 4 September 1998).9% dari periode yang sama tahun 1997.

3 1.1 0. porsi BPR dan BRI UDes justru mengalami penurunan.7 616. Penanaman dana dalam bentuk pinjaman yang diberikan mempunyai porsi yang paling besar (86.0 299.9 4.2 (2) 0. namun peran Perum Pegadaian dalam memberikan pinjaman cenderung tidak mengalami penurunan dalam masa krisis ini.6 28.7 Pegadaian BPR BRI Unit Desa Sub-Total Bank Umum Total Keterangan : 98. yaitu dari 7.8 1.2 1. Porsi kredit yang diberikan Perum Pegadaian terhadap total kredit pada September 1998 sebesar 0.190.3 0.1 0.1% total kredit atau 6.5 378. sedangkan porsi BRI UDes meskipun meningkat namun tidak sebesar peningkatan Perum Pegadaian (Tabel 4.795.5).3 Nominal ( Rp miliar ) 526.0 7.9 (2) 0.7 24.9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 1997. Maret 1999 bentuk deposito.3 27.4 2.6 64.0 7. BPR. BRI Udes) Rasio (2) : rasio terhadap total kredit (termasuk bank umum) Pinjaman yang diberikan oleh Perum Pegadaian.077.7 1.5 65. Meskipun porsi Perum Pegadaian saat ini masih kecil dan secara makro tidak terlalu besar dampak moneternya.8 miliar.921.0 6.0 4. pinjaman yang diberikan oleh Perum Pegadaian baik dibandingkan dengan total kredit yang diberikan maupun dalam peer-groupnya relatif kecil.1 97.0 65.6% total kredit peer-group.688. BPR dan BRI UDes menurut wilayah adalah sebagai berikut : .134.1 1998 Rasio (%) (1) 10.2 1. meningkat 58.9%.9 Lembaga Nominal ( Rp miliar ) 414.557.3 (2) 0.074. Rasio Perkembangan Pinjaman yang Diberikan 1996 Rasio (%) (1) 6.621.5 1. Secara makro.9 98.0 623.1 0. Rp 50 miliar dalam deposit on-call dan Rp 15 miliar untuk cadangan investasi.5 Nominal ( Rp miliar ) 756.1 98. Perbandingan dalam peer-groupnya menunjukkan peningkatan porsi Perum Pegadaian yang lebih besar dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes.5%) dibandingkan aktiva produktif lainnya.3% (1997) menjadi 10.9 1997 Rasio (%) (1) 7.207.286.324. Pinjaman yang diberikan per tanggal 30 September 1998 sebesar Rp 756.976. Dari jumlah tersebut.82 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.3 292. Sementara aktiva lain hanya meningkat sebesar 2.483.5.6 1.0 385.696.3 4.9 Rasio (1) : rasio terhadap peer-group ( PP. Dalam kondisi perkembangan perbankan saat ini yang tidak menentu maka tidak tertutup kemungkinan pangsa pegadaian akan mampu melampaui pangsa BPR. Tabel 4. sementara porsi BPR menunjukkan penurunan.7% (1998).

Seperti juga Perum Pegadaian. Irian dan Tim-Tim) sebesar Rp 36. yaitu sebesar Rp 2.8%.9%). Biaya dan Efisiensi Kemampuan Perum Pegadaian dalam meraih pendapatan menunjukkan kecenderungan semakin meningkat. Pendapatan. diperoleh nilai rasio antara biaya operasional dengan pendapatan operasional untuk tahun 1997 dan tahun 1998 masing-masing sebesar 80.7 miliar dan Rp 9. menurun dari tahun sebelumnya sebesar 31. dengan komponen terbesar berasal dari pendapatan bunga sebesar 44. dan keuntungan barang sisa lelang) sampai dengan 30 September 1998 tercatat masing-masing sebesar Rp 209.5% dan 144. Sementara itu biaya operasional tercatat sebesar Rp 180. uang kelebihan lewat waktu. Berdasarkan besarnya pendapatan dan biaya operasional Perum pegadaian tersebut. kredit yang diberikan per 30 September 1998 terkonsentrasi di pulau Jawa.6 miliar (4.5 miliar (2% dari total kredit). yaitu sebesar Rp 1. yaitu sebesar Rp 441.0% dari total biaya operasional. Biaya operasional BPR juga mengalami peningkatan dari Rp 519 miliar (1997) menjadi Rp 742 miliar (1998) dengan komponen terbesar adalah biaya bunga deposito berjangka sebesar 21. • Kredit yang diberikan oleh BPR sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Jawa.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 83 • Pinjaman terbesar diberikan oleh Perum Pegadaian di wilayah Jawa. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pinjaman yang diberikan oleh ketiga lembaga formal tersebut selama ini terkonsentrasi di pulau Jawa. dimana pendapatan bunga dan biaya bunga merupakan komponen terbesar dari pendapatan dan biaya operasional.3%. meningkat masing-masing sebesar 4.3% dari total kredit).8% total pinjaman).4%.3% dan 81. sedangkan yang paling kecil diberikan oleh BPR di wilayah Sulawesi (termasuk Maluku. Pendapatan Perum Pegadaian yang terdiri dari pendapatan usaha (meliputi: sewa modal dan bea penyimpanan & asuransi) dan pendapatan usaha lainnya (meliputi: pendapatan investasi. meningkat 10.4% menurun dari pangsa tahun sebelumnya sebesar 79. Rasio tersebut menunjukkan terjadinya penurunan efisiensi.4 miliar.2 triliun (74% dari total kredit BPR).3 miliar. Penyumbang terbesar dari pendapatan usaha tersebut adalah pendapatan sewa modal (88.1 miliar (58.7% dibandingkan tahun 1997.0%.8 triliun (64% dari total kredit) dan yang paling sedikit di wilayah Bali (termasuk NTB dan NTT) sebesar Rp 293 miliar (6. • Sedangkan untuk BRI UDes. pendapatan operasional BPR menunjukkan peningkatan dari Rp 543 miliar (1997) menjadi Rp 758 miliar (1998).3% total pinjaman).7% dibandingkan tahun 1997. dengan porsi terbesar adalah biaya bunga dan provisi yang mencapai 57. Terlihat adanya kesamaan antara Perum Pegadaian dengan BPR. sedangkan yang terkecil diberikan oleh Perum Pegadaian di wilayah Kalimantan sebesar Rp 36. terutama sebagai dampak meningkatnya beban bunga dan .

Dengan membandingkan besarnya rasio profitabilitas Perum Pegadaian dan BPR untuk masing-masing periode tersebut terlihat bahwa kemampuan Perum Pegadaian dalam meraih keuntungan relatif lebih baik jika dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes (Lampiran 13). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 1997 dan 1998 Perum Pegadaian mempunyai kemampuan untuk memenuhi kewajiban lancarnya sebesar 2. Profitabilitas Dengan menggunakan indikator ROA dan ROE.4 kali dan untuk tahun 1998 tidak berubah yaitu sebesar 2.4%. khususnya pada masa krisis ekonomi. dan koefisien ROE sebesar 10.4% (1998). Disamping itu. Pencapaian rasio tersebut berarti telah sesuai dengan target yang ditetapkan. Likuiditas Rasio antara aktiva lancar dengan kewajiban lancar Perum Pegadaian rata-rata tahun 1997 sebesar 2. Jika dibandingkan dengan rasio BPR sebesar 1.8% dan 3.3%. Maret 1999 provisi yang sudah mencapai 112.84 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.5% (1997) dan 4.1%).7%) dan BRI UDes (84. Sementara ROA yang mampu diraih BPR sebesar 1. Salah satu aspek yang mendorong tingginya efisiensi yang mampu diraih Perum Pegadaian dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes adalah karena Perum Pegadaian tidak memperhitungkan cadangan kredit macet dalam komponen biaya operasionalnya. Koefisien tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 1998 terjadi penurunan kemampuan Perum Pegadaian dalam meraih keuntungan. Solvabilitas Kemampuan Perum Pegadaian untuk memenuhi semua kewajibannya berdasarkan rasio antara total hutang dengan total aktiva rata-rata tahun 1997 dan tahun 1998 adalah . Profitabilitas yang tinggi tersebut mampu diraih Perum Pegadaian karena besarnya sewa modal hampir sama dengan suku bunga perbankan.2 kali menunjukkan bahwa Perum Pegadaian mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam memenuhi kewajiban lancarnya (Lampiran 13). sedangkan ROA BRI UDes sebesar 4.3%.4 kali.3% dan 1. sementara realisasi pendapatan sewa modal baru mencapai 82. Perum Pegadaian memiliki struktur modal yang lebih kuat dan juga memperoleh pinjaman dengan suku bunga relatif murah. Cadangan tersebut tidak dihimpun oleh Perum Pegadaian karena nilai pinjaman yang diberikan sudah didiskonto dari nilai pasar/taksiran barang jaminan (Lampiran 13).7% (1997) dan 9.1% dengan ROE sebesar 4.6% dari target tahun 1998.3% (1998). untuk periode 1997 dan 1998 diperoleh koefisien ROA sebesar 6. di sisi lain sumber dana bersubsidi yang diperoleh serta modal Perum Pegadaian cukup besar. Perum Pegadaian masih mencatat tingkat efisiensi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan BPR (95. Meskipun demikian.7% dan 3.4 kali.

D sebesar 8.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 85 sebesar 64.d 1998 perbankan mencatat marjin negatif dengan kecenderungan semakin besar pada tahun 1998. Pada periode 1996 s. C.39%.34% (1997) menjadi 10. B dan C tersebut ternyata tidak menyebabkan penurunan laba.2 miliar pada saat omzet nasabah golongan A sebesar 60 %. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa secara umum harga kredit di Perum Pegadaian lebih mahal dibandingkan perbankan. Defisit pada golongan A yang ditandai oleh marjin negatif. . yang terlihat dari meningkatnya marjin tertimbang (weighted profit/loss) dari 7.76% (Lampiran 14). C. Berdasarkan hasil simulasi terlihat bahwa setiap peningkatan porsi omzet terhadap nasabah golongan A sebesar 5% akan pada simulasi ke1 akan menurunkan keuntungan nominal + Rp 44 miliar. dan D serta pengaruh peningkatan porsi omzet pada golongan A terhadap keuntungan yang mampu diraih Perum Pegadaian. Pegadaian baru akan merugi sebesar Rp 7. Untuk tujuan tersebut. bahwa Perum Pegadaian masih memiliki marjin yang positif untuk semua golongan selain A. dilakukan peningkatan porsi omzet pada nasabah golongan A secara bertahap sebesar 5 persen. golongan B dan C turun menjadi 8. Namun karena prosedurnya mudah. dilakukan simulasi yang terdiri dari dua bagian. Rasio tersebut menunjukkan bahwa Perum Pegadaian mempunyai kemampuan lebih besar dalam memenuhi seluruh kewajibannya dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes (Lampiran 13). Biaya Aktiva Produktif dan Analisis Sensitivitas Marjin (selisih biaya dana yang ditanamkan dalam bentuk aktiva produktif dengan sewa modal pada masing-masing golongan nasabah) yang diperoleh pada masa sebelum dan sesudah krisis menunjukkan. sejalan dengan komitmen Perum Pegadaian untuk membantu nasabah mikro dengan menerapkan subsidi silang pada sewa modal. Untuk golongan A terjadi peningkatan marjin negatif menjadi –7. sisa omzet dibagi secara merata diantara golongan lainnya. Sementara itu. Marjin yang diperoleh Perum Pegadaian tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan perbankan (Lampiran 16). Pada bagian pertama (Lampiran 15-A). Marjin yang diperoleh pada tahun 1997 untuk nasabah golongan A adalah –3. lebih baik jika dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes dengan rasio masingmasing sebesar sebesar 76. Analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat sejauh mana pengaruh penurunan marjin pada golongan B. marjin keuntungan/kerugian untuk tiap golongan dianggap sama dengan kondisi pada tahun 1998.61% dan golongan B.24%. sementara untuk simulasi selanjutnya akan menurunkan keuntungan nominal sebesar +Rp 20 miliar. telah berdampak cukup berarti pada perubahan besarnya marjin. maka masyarakat masih tertarik untuk meminjam dari Perum Pegadaian.26% (1998) (Lampiran 15-A). Dalam simulasi pertama ini. Kebijakan Perum Pegadaian untuk menaikkan sewa modal pada Juni dan Agustus 1998. sedangkan golongan D (rata-rata D dan D1) meningkat menjadi 13.1%. Turunnya marjin pada golongan A.26%.8% dan 89%.

76%. C = 1. dan D 15 .C dan D) yang berlaku mulai tanggal 1 Maret 1999. dan D secara bertahap sebesar 1%. C. Sedangkan berdasarkan analisis untuk masing-masing wilayah kerja Perum Pegadaian menunjukkan bahwa pegadaian di wilayah Ujungpandang mempunyai produktivitas omset terbesar (Rp 682..9 M 6. Produktivitas omset yang diukur dengan rasio antara realisasi omset dengan jumlah pegawai selama Januari .6 miliar pada saat marjin untuk tiap golongan nasabah sebagai berikut : A = -7. C. Rasio yang dicapai pada tahun 1998 tersebut masih lebih besar dibandingkan tahun 1996 (Rp 311 juta) dan 1997 (Rp 340 juta).317. Produktivitas Omset Realisasi omset sampai dengan 30 September 1998 adalah sebesar Rp 2.925 M 6.243 Rp 371. marjin untuk nasabah golongan A dibiarkan tetap dan distribusi omzet untuk tiap golongan nasabah sama dengan kondisi pada tahun 1998.6 Target dan Realisasi Produktivitas Omset – Tahun 1998 Target Omset Jumlah Pegawai Rasio Rata-rata per bulan Rp 9. Berdasarkan hasil simulasi terlihat bahwa setiap penurunan marjin keuntungan sebesar 1 % pada golongan B.243 orang.3 juta per bulan.86 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.5 juta Rp 52 juta Realisasi Rp 2.3 juta Rp 41. C dan D akan menurunkan keuntungan +Rp 22 miliar. Pegadaian masih memiliki keuntungan Rp 17.243 Rp 468. 16/UT/II/1999) untuk menurunkan besarnya sewa modal (golongan B. atau rata-rata Rp 41. dan D = 3. B = -1. No.September 1998 yaitu sebesar Rp 371. Produktivitas omset untuk tahun 1998 tersebut adalah sebagai berikut : Tabel 4. Pada bagian ini.74%.74%.3 juta.9 1 5 Berdasarkan informasi.3 juta Berdasarkan realisasi tersebut terlihat bahwa produktivitas omset yang mampu dicapai Perum Pegadaian sampai dengan September 1998 sudah mencapai 79. Perum Pegadaian masih memiliki ruang untuk meningkatkan porsi pemberian kredit kepada nasabah golongan A dan menurunkan sewa modal pada golongan B.24%. Maret 1999 Pada bagian kedua (Lampiran 15-B).318 miliar dengan jumlah pegawai sebanyak 6. Berdasarkan kedua simulasi tersebut di atas. . dilakukan penurunan marjin keuntungan pada nasabah golongan B. Perum Pegadaian telah menetapkan keputusan (SK.2% dari target yang ditetapkan untuk tahun 1998.

7 Target dan Realisasi Rasio Nasabah dengan Jumlah Pegawai – Tahun 1998 Target Jumlah Nasabah Jumlah Pegawai Rasio Rata-rata per bulan 6. sementara target yang ditetapkan untuk tahun 1998 sebesar 982 orang atau sekitar 82 orang per bulan. 4.137 126 Rasio tersebut menunjukkan bahwa realisasi rasio jumlah nasabah dengan jumlah pegawai yang dicapai Perum Pegadaian sampai 30 September 1998 telah melampaui target yang ditetapkan. sedangkan yang terendah pada 1997 adalah Perum Pegadaian di wilayah Jawa. 480 orang (1997) dan 448 nasabah (1996) untuk satu orang pegawai.243 1.379 orang (1997). Rasio Nasabah dengan Jumlah Pegawai Rasio antara nasabah dengan jumlah pegawai selama Januari. Rasio antara jumlah nasabah dengan jumlah Pegawai tahun 1998 adalah sebagai berikut : Tabel 4. Rasio tersebut meningkat jika dibandingkan dengan rasio tahun 1996 (907.400.9 (1998) dan 1.1 juta 6.3 Masalah yang Dihadapi Perum Pegadaian Masalah Temporer Lonjakan nasabah yang sangat besar terutama sejak Juni 1998 telah menyebabkan Perum Pegadaian melakukan overdraft yang besar atas pinjaman rekening koran di BRI. sedangkan produktivitas terendah adalah wilayah Sumatera dengan rasio sebesar 806.1 juta).243 982 82 Realisasi 7.6 orang). 1.September 1998 sebesar 1.7 orang atau rata-rata setiap pegawai dapat melayani sebanyak 126 orang per bulan.1 juta 6.1..Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 87 juta) baik sebelum maupun sesudah krisis ekonomi. yang mengakibatkan BRI menghentikan pemberian kredit lebih lanjut ke Perum Pegadaian .133.3 (1998).582 orang (1996) nasabah untuk satu orang pegawai.8 orang) dan tahun 1997 (862. rasio nasabah dengan pegawai tertinggi baik sebelum maupun sesudah krisis ekonomi terdapat di wilayah Ujungpandang dengan rasio sebesar 1. sedangkan produktivitas omset terendah terdapat di wilayah Sumatera (Rp 336. Untuk masing-masing wilayah kerja.

Realisasi Pinjaman yang Diterima Nasabah Tahun 1998 Golongan Nasabah Ketentuan Realisasi Pinjaman (%)*) 90 85 85 81 Realisasi Pinjaman yang Diterima Nasabah (%) 85.3%. sedangkan yang terendah diberikan oleh Kantor Daerah Balikpapan (65.3 miliar (plafond Rp 181.9%.7 miliar).8.4% dan D 73. Tabel 4. Kesulitan likuiditas tersebut semakin dalam karena Perum Pegadaian harus membayar pokok dan bunga obligasi yang jatuh tempo. Kondisi tersebut tentunya kurang menguntungkan bagi nasabah yang membutuhkan dana lebih besar karena pinjaman yang diterima jauh lebih kecil dari nilai taksiran maupun nilai pasar barang yang diagunkan. maka nilai rata-rata realisasi uang pinjaman terhadap nilai taksiran untuk golongan A sebesar 85.1/1/117 tanggal 17 Juni 1998. Dampak dari kesulitan likuiditas tersebut adalah semakin terbatasnya kemampuan Perum Pegadaian dalam memberikan kredit kepada masyarakat. B dan C sebesar 85%. maka berdasarkan SE No. Kesulitan likuiditas yang dialami Perum Pegadaian juga terlihat dari perbandingan antara realisasi pinjaman yang diterima nasabah dengan nilai taksiran yang ditetapkan. B sebesar 71. Nilai realisasi uang pinjaman dengan persentase tertinggi diberikan oleh Kantor Daerah Jember (81.3 71. Untuk mengatasi hal tersebut Perum Pegadaian telah memperoleh RDI Pemerintah sebesar Rp 100 miliar (4 September 1998) serta KLBI sebesar Rp 50 miliar pada bulan Desember 1998. sementara penerbitan obligasi baru kurang laku.5 juta) sebesar 81%. Maret 1999 sejak pertengahan Agustus 1998.5 juta) sebesar 81% dan D (diatas 2.1 A B C D *) SE No. Sebelumnya. 30 Juli 1998 Kebijakan yang telah ditempuh agar tetap mampu melayani sebanyak mungkin nasabah dalam kondisi keterbatasan dana.5%.4 73. Sampai dengan 30 September 1998.1% masih lebih kecil dari ketentuan yang berlaku (Tabel 4. sejak November 1998 setiap kantor daerah wajib melakukan setoran ke kantor pusat secara proporsional berdasarkan modal kerja yang dimanfaatkan. Perum Pegadaian menurunkan plafon maksimum pinjaman yang . 28/OPP.9 73. D (dibawah 2.2%). perbandingan tersebut relatif rendah dengan persentase secara nasional sebesar 73. C sebesar 73.88 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Saldo pinjaman rekening koran di BRI tersebut pada akhir September 1998 sebesar Rp 284.8%).8). Jika mengacu pada ketentuan yang menetapkan realisasi uang pinjaman untuk nasabah golongan A sebesar 90%. 37-OPP-1/1/23 tgl.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat

89

dapat diperoleh nasabah dari Rp 20 juta (golongan D) menjadi maksimum Rp 5 juta per SBK. Beberapa kantor cabang yang diamati bahkan telah melakukan pembatasan plafon pinjaman maksimum untuk seorang nasabah rata-rata kurang dari Rp 5 juta. Kebijakan tersebut tetap dipertahankan sampai saat ini meskipun sudah ada tambahan dana RDI dan KLBI yang sebagian justru ditanamkan dalam bentuk deposito.16 Dampak kebijakan penurunan batas maksimum pinjaman tersebut adalah semakin sulitnya nasabah-nasabah potensial untuk bisa memperoleh pinjaman di atas Rp 5 juta dengan satu barang jaminan, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan beralihnya nasabahnasabah potensial tersebut ke sumber pendanaan lainnya (seperti toko emas dan pegadaian gelap) yang masih bersedia memberikan pinjaman lebih dari Rp 5 juta. Kebijakan lain adalah dengan memberlakukan sistem antrian (waiting list) seperti yang diterapkan oleh beberapa kantor cabang, bahkan pada beberapa kantor cabang terpaksa melakukan penutupan kantor sebelum waktunya. Kenaikan suku bunga pasar juga menimbulkan permasalahan tersendiri bagi Perum Pegadaian karena biaya dana yang sebagian besar diperoleh dari kredit bank semakin besar. Untuk memperkecil dampak naiknya suku bunga pasar, maka Perum Pegadaian sejak 30 Juni 1998 menempuh kebijakan dengan menaikkan suku bunga pinjaman untuk golongan D dengan nilai pinjaman di atas Rp 500 ribu (Lampiran 5). Namun di sisi nasabah, kebijakan tersebut dianggap memberatkan bagi beberapa nasabah meskipun bagi nasabah lainnya tidak terlalu memperdulikan kenaikan suku bunga tersebut.

Permasalahan Struktural
Perum Pegadaian sebagai satu-satunya lembaga keuangan yang memberikan pinjaman dengan sistem gadai mempunyai jaringan kantor cabang yang sangat banyak dengan wilayah operasional yang sangat luas. Luasnya jaringan kerja tersebut di satu sisi sangat mendukung usaha Perum Pegadaian dalam membantu masyarakat, namun di sisi lain menimbulkan permasalahan tersendiri bagi Perum Pegadaian. Permasalahan yang timbul terutama adalah terlalu luasnya rentang kendali masing-masing kantor daerah terhadap kantor cabang-kantor cabang yang ada di wilayah koordinasinya. Dengan jumlah tenaga pemeriksa hanya 4 orang, setiap kantor daerah rata-rata membawahi lebih dari 50 Kanca dengan frekuensi pemeriksaan untuk masing-masing kantor cabang rata-rata 3 – 4 kali dalam satu tahun. Sementara itu, kanda di luar Jawa harus membawahi kanca yang secara geografis terlalu jauh. Luasnya rentang kendali tersebut belum diimbangi dengan

1 6 Menurut Perum Pegadaian, dana sebesar Rp 50 milyar yang disimpan dalam bentuk deposito (on call) dengan jangka waktu kurang dari 1 bulan dimaksudkan untuk cadangan pelunasan pinjaman BRI yang jatuh tempo.

90

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

sarana komunikasi yang memadai sehingga belum dapat menunjang pemantauan kinerja kanca-kanca secara efektif. Sistem manajemen yang diterapkan oleh Perum Pegadaian saat ini cenderung menekankan pada besarnya peranan kantor pusat. Sistem manajemen sentralistik tersebut di satu sisi dapat menunjang sistem internal control yang handal, namun di sisi lain berpotensi menghambat kinerja Perum Pegadaian. Sistem manajemen tersebut dalam jangka panjang akan menimbulkan permasalahan tersendiri khususnya jika kebijakan pemberian otonomi yang lebih besar untuk masing-masing propinsi di Indonesia akan dilaksanakan oleh Pemerintah. Sistem manajemen yang sentralistik tersebut tercermin pada terpusatnya wewenang penetapan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan operasional Perum Pegadaian, antara lain dalam : (i) Penetapan besarnya sewa modal. Kantor daerah dan kantor cabang tidak diperbolehkan untuk menetapkan besarnya tingkat sewa modal (suku bunga) meskipun terhadap nasabah-nasabah potensial.

(ii) Penetapan harga patokan emas. Harga patokan emas ditetapkan oleh kantor pusat dengan berdasarkan harga emas di Jakarta. Sistem ini berdampak pada lambatnya antisipasi kantor cabang dalam merespon perkembangan harga emas di daerah. (iii) Penghimpunan dana. Wewenang untuk menghimpun dana sepenuhnya berada di kantor pusat dimana baik kantor daerah maupun kantor cabang tidak diperbolehkan menghimpun dana sendiri. Dampak dari ketentuan ini adalah, masing-masing kantor daerah atau kantor cabang tidak mampu memanfaatkan potensi daerah sepenuhnya terutama dalam kondisi terbatasnya likuiditas seperti yang dialami dewasa ini. Permasalahan struktural lainnya terutama adalah masih terdapatnya beberapa kelemahan prosedur yang dapat mendorong terjadinya berbagai penyimpangan. Beberapa kelemahan prosedur yang dijumpai antara lain adalah kewenangan Kantor daerah yang seakan tanpa batas dalam memutuskan besarnya nilai pinjaman di atas plafon Rp 20 juta serta penyimpanan seluruh kunci duplikat pada satu orang (Kepala Kantor Cabang) 17 . Disamping kelemahan tersebut, dalam penelitian lapangan juga dijumpai beberapa kegiatan yang dapat dikategorikan sebagai penyimpangan. Penyimpangan tersebut antara lain adalah

1 7 Menurut Perum Pegadaian, dwilipat kunci disimpan oleh Kepala Cabang karena dalam setiap pemeriksan intern dwilipat kunci tersebut diperiksa sampai sejauh mana penyalahgunaan pemakaiannya, serta sewaktu-waktu dapat digunakan apabila pemegang kunci utama (pemegang gudang) berhalangan untuk masuk kerja.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat

91

praktek transfer dana antarcabang 18, pelanggaran kriteria barang jaminan yang dapat diterima Perum Pegadaian 19 , penyimpanan barang jaminan pada tempat yang tidak sesuai dengan prosedur, serta tidak dilaksanakannya prosedur internal control kluis dan gudang. Sementara itu, Perum Pegadaian juga akan terus menghadapi risiko fluktuasi harga barang jaminan akibat fluktuasi nilai tukar mengingat besarnya jumlah agunan di Perum Pegadaian berupa emas/perhiasan yang harganya mengikuti pergerakan harga pasar internasional. Nilai barang jaminan dalam bentuk emas/perhiasan pada tahun 1998 dan 1997 masing-masing sebesar 75% dari total pinjaman meningkat dibandingkan tahun 1996 (72%). Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan jumlah barang jaminan dalam bentuk emas/perhiasan semenjak terjadinya krisis ekonomi di Indonesia.

Persepsi Masyarakat
Berdasarkan hasil penelitian lapangan ke beberapa kantor cabang, ditemukan berbagai persepsi masyarakat terhadap Perum Pegadaian. Pada umumnya masyarakat, khususnya yang berpendapatan rendah, merasa sangat terbantu oleh Perum Pegadaian. Penggunaan dana oleh nasabah sangat beragam baik untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat produktif (misalnya untuk modal kerja dan bridging financing) sampai untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat konsumtif (misalnya untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah dan kebutuhan mendesak lainnya). Dari 90 nasabah yang dipilih secara acak dan berhasil diwawancarai, mayoritas berpenghasilan antara Rp 150 ribu s.d Rp 500 ribu per bulan. Sebagian besar nasabah tersebut tidak mempunyai akses ke perbankan atau tidak mau berhubungan dengan perbankan karena prosedur yang rumit. Berdasarkan penggunaannya, mayoritas nasabah (± 59%) mempergunakan pinjaman yang diperoleh dari Perum Pegadaian untuk tujuan produktif seperti modal kerja (56%) dan bridging financing (3%), sedangkan sisanya mempergunakan untuk tujuan konsumtif seperti biaya sekolah (17%), kebutuhan sehari-hari (16%), emergency (5%), dan lain-lain (3%). (Grafik 3).

1 8 Menurut Perum Pegadaian, praktek transfer antarcabang masih diijinkan sepanjang BRI yang terdapat di wilayah kantor cabang tersebut tidak menyediakan fasilitas rekening giro. Namun dalam prakteknya dijumpai beberapa kantor cabang yang berlokasi di wilayah kota besar masih melakukan praktek transfer antarcabang, meskipun di wilayah tersebut terdapat kantor BRI yang cukup besar. 1 9 Menurut Perum Pegadaian, barang jaminan yang tidak memenuhi ketentuan yang sudah ditetapkan masih bisa diterima asalkan secara ekonomis tidak menimbulkan kerugian bagi Perum Pegadaian.

Kondisi tersebut mendorong beberapa nasabah besar untuk beralih ke pemberi pinjaman lainnya seperti pelepas uang. Menurut persepsi nasabah. sehingga nasabah khususnya nasabah besar mulai merasakan bahwa Perum Pegadaian tidak selalu dapat memberikan pinjaman sesuai permintaan mereka. berpenghasilan rendah dan mempergunakan dana yang diperoleh dari Perum Pegadaian untuk tujuan produktif. Disamping persepsi positif nasabah tersebut. Sehari-hari 16% Lain-lain 3% Biaya Sekolah 17% Modal Kerja 56% Sedangkan berdasarkan tingkat pendidikannya. Maret 1999 Grafik 3. menyebabkan pada beberapa wilayah masyarakat masih merasa malu untuk berhubungan . Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas nasabah mempunyai pendidikan yang cukup. keunggulan Perum Pegadaian dibandingkan lembaga pemberi pinjaman lainnya terutama adalah dari segi pelayanan kepada nasabah. pegadaian gelap atau toko emas. Kesulitan likuiditas yang dialami sejak Agustus 1998 berdampak pada berkurangnya kemampuan Perum Pegadaian dalam melayani nasabah. Kurangnya sosialisasi/pemasaran produk Perum Pegadaian kepada masyarakat. khususnya faktor keamanan barang jaminan dan kewajaran nilai taksiran.92 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Komposisi Penggunaan Dana oleh Nasabah Em ergency 5% Brid.3%) terbanyak kedua adalah nasabah berpendidikan SLTP (20%) dan yang paling sedikit adalah nasabah dengan pendidikan tidak tamat SD (2.2%). Dengan melihat keunggulan tersebut nasabah Perum Pegadaian pada umumnya tidak terlalu memperdulikan besarnya suku bunga meskipun saat ini relatif tinggi pada kondisi suku bunga pasar yang cenderung menurun. mayoritas responden yang banyak berhubungan dengan Perum Pegadaian berpendidikan SLTA (43. dari penelitian lapangan juga ditemukan bahwa beberapa nasabah merasakan tingginya suku bunga Perum Pegadaian saat ini serta sistem penghitungan bunga dengan acuan minimal 15 hari dirasakan cenderung merugikan nasabah. Financing 3% Keb.

merealisasikan berbagai skim kredit program yang dananya berasal dari KLBI (seperti KKPA.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 93 dengan Perum Pegadaian. (i) program ketahanan pangan. Program Jaring Pengaman Sosial (JPS) Program JPS ditujukan untuk menciptakan kesempatan kerja produktif bagi penganggur. yang diwujudkan dengan berbagai kebijakan untuk menghapuskan berbagai aspek yang menyebabkan inefisiensi dalam perekonomian. sedangkan pada beberapa wilayah kantor Perum Pegadaian lainnya yang diamati sebagian nasabah masih merasa malu untuk berhubungan langsung dengan pegadaian dan lebih suka menggunakan jasa perantara (calo). Reformasi Struktural Sektor Riil Program ini dijalankan melalui reformasi di bidang perdagangan. deregulasi dan privatisasi. Berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi rakyat tersebut. Kredit Program Dalam rangka mendorong berputarnya roda perekonomian di lapisan bawah yang saat ini menghadapi kesulitan sumber-sumber pembiayaan/pendanaan di lembaga formal (bank). meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat terutama yang terkena dampak krisis serta mengkoordinasikan berbagai program penanggulangan dampak krisis dan berbagai program penanggulangan kemiskinan. (ii) program padat karya dan penciptaan lapangan kerja produktif’ (iii) program perlindungan sosial. Semakin berkurangnya kemampuan perbankan dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat dewasa ini semakin membuka peluang bagi Perum Pegadaian untuk berperan lebih besar dalam program pemberdayaan ekonomi rakyat. . Namun tidak semua masyarakat merasa malu berhubungan dengan Perum Pegadaian. dll). maka Bank Indonesia mendorong komitmen perbankan dalam melayani usaha kecil (KUK). dan Irian Jaya) serta Kodya Yogyakarta.2 Program Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Perhatian terhadap ekonomi kerakyatan semakin meningkat seiring dengan meluasnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial. PHBK dan PKM serta mengembangkan kelembagaan keuangan sesuai kebutuhan usaha kecil menengah dan koperasi. 3. Maluku. pemerintah telah menempuh berbagai upaya yang antara lain meliputi : 1. KUT. KKop. dan (iv) program pemberdayaan ekonomi rakyat. 2. 4. investasi. meningkatkan pendapatan dan daya beli masyarakat. Salah satu faktor dalam pemberdayaan ekonomi rakyat adalah pemberian prioritas dan bantuan dalam pengembangan usaha kepada ekonomi lemah. memberi bantuan teknis yang diarahkan kepada kemitraan dan pendekatan kelompok melalui PPUK. terlihat pada beberapa wilayah seperti Ujung Pandang (mencakup Sulawesi. Realisasi JPS ditempuh dalam empat program.

Nasabah pegadaian sebagian besar merupakan nasabah mikro dan mayoritas berprofesi sebagai petani. profitabilitas. yaitu : a. Keberpihakan pada masyarakat khususnya golongan ekonomi lemah Keberpihakan Perum Pegadaian kepada masyarakat khususnya golongan ekonomi lemah terlihat dari relatif kecilnya skala kredit yang diberikan dibandingkan dengan lembaga formal lainnya. Lonjakan tersebut merupakan dampak semakin sulitnya akses masyarakat ke perbankan. karena dengan sistem gadai nasabah dididik untuk berupaya mengembalikan pinjaman yang diterima. Pinjaman yang diberikan pegadaian kepada masyarakat semakin meningkat seiring dengan lonjakan permintaan khususnya sejak krisis ekonomi. Kinerja efisiensi. Meningkatnya jumlah pinjaman yang diberikan.000 dan tertinggi Rp 20 juta. khususnya jika dibandingkan dengan BPR. Disamping itu. Perum Pegadaian juga masih memberikan peluang bagi permintaan pinjaman dalam skala yang lebih besar (diatas Rp 20 juta). Maret 1999 Potensi Perum Pegadaian tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek. likuiditas maupun solvabilitas Perum Pegadaian pada umumnya juga relatif lebih baik jika dibandingkan dengan lembaga lain khususnya BPR dan BRI UDes. Kesiapan jaringan kerja dan sumber daya manusia Perum Pegadaian mempunyai jaringan kerja yang sangat luas (633 kantor cabang) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.94 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Kinerja yang semakin meningkat Perum Pegadaian merupakan salah satu usaha di sektor keuangan yang masih dapat bertahan di masa krisis ekonomi dewasa ini bahkan menunjukkan kinerja yang semakin meningkat. Selain jaringan kerja yang sangat luas. Disamping itu pemberian pinjaman dengan sistem gadai dapat memperkecil moral hazard khususnya dalam penyaluran kredit-kredit bersubsidi. Suku bunga pinjaman yang dikenakan Perum Pegadaian pada umumnya juga relatif rendah. Keberpihakan tersebut juga tercermin dalam misi yang ditetapkan dalam periode RJP II untuk ikut meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat golongan menengah ke bawah melalui penyediaan dana berdasarkan hukum gadai secara inovatif dan melakukan usaha lain yang menunjang. dengan plafon terendah Rp 5. Keunggulan Perum Pegadaian Keunggulan utama Perum Pegadaian dibandingkan lembaga lain adalah prosedur yang mudah. murah dan cepat. Pelaksanaan peran tersebut selama ini dilakukan oleh Perum Pegadaian dengan memberikan pinjaman kepada masyarakat (khususnya masyarakat berpendapatan rendah) dalam skala kecil dengan . d. Potensi Perum Pegadaian untuk berperan dalam pemberdayaan ekonomi rakyat terlihat jelas terutama pada aspek keberpihakan pada masyarakat kecil. e. c. b. Prosedur pengajuan dan pelunasan pinjaman relatif mudah dan cepat. Perum Pegadaian juga didukung oleh jumlah dan kualitas pegawai yang cukup memadai.

4 miliar atau hanya sebesar 5% dari total omset Perum Pegadaian. Kecilnya skala pinjaman golongan A tersebut juga terlihat dari jenisjenis barang yang banyak dijadikan agunan seperti : kain. PENUTUP 5. piring. Namun rencana tersebut justru menimbulkan kekhawatiran akan terjadi pergeseran dari core business Perum Pegadaian dan orientasi nasabah yang dilayani seperti yang ditetapkan dalam PP No. Nasabah mikro pada Perum pegadaian tersebut terutama adalah golongan A (dengan nilai pinjaman antara Rp 5. Salah satu produk yang akan dikembangkan yaitu memberikan kredit dengan jaminan surat berharga dan sertifikat tanah. Fenomena tersebut nampak jelas di kantor-kantor Perum Pegadaian di wilayah Jawa. Namun perkembangan terakhir menunjukkan kecenderungan pergeseran orientasi pemberian pinjaman ke nasabah besar (golongan D) meskipun Perum Pegadaian masih mempunyai peluang untuk meningkatkan porsi pinjaman untuk nasabah mikro (golongan A). Perkembangan Perum Pegadaian dalam tiga tahun terakhir cukup pesat. Namun porsi dan nilai pinjaman yang diperoleh golongan ini relatif sangat kecil (rata-rata sebesar Rp 18. pengembangan produk-produk baru diusahakan tetap dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kecil apabila tetap mengacu pada prinsip-prinsip hukum gadai dan misi perusahaan. V.4% total nasabah.1 Kesimpulan 1.C dan D. Begitu pula dengan adanya rencana untuk mengembangkan produk-produk pembiayaan lainnya merupakan suatu upaya yang kurang sesuai dengan misi dari Perum Pegadaian yang ingin melayani kebutuhan masyarakat golongan menengah ke bawah. Sejalan dengan perkembangan usaha Perum Pegadaian. dengan tetap berpihak pada masyarakat berpendapatan rendah. serta kredit dengan sistem pinjam pakai sebenarnya sudah tidak sesuai dengan prinsip dari hukum gadai yang mewajibkan barang jaminan berbentuk barang bergerak dan dititipkan (tidak boleh dipakai oleh pemiliknya).000) pada tahun 1998 mencapai 41. 10 tahun 1990. khususnya di wilayah pantai utara. khususnya tahun 1998 (setahun terakhir) terjadi pelonjakan kinerja terutama karena beralihnya sebagian nasabah perbankan ke Perum Pegadaian. sepeda dan lain-lain. lampu tekan.000 – Rp 40.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 95 prosedur dan persyaratan yang mudah dan murah. Apalagi pada beberapa tahun terakhir terdapat kecenderungan di dalam kelompok-kelompok usaha untuk kembali ke core business masing-masing untuk meningkatkan kinerja usahanya. . alat rumah tangga (misal : kuali/ panci. sendok.000) dibandingkan golongan B. Oleh karena itu. Total nilai pinjaman untuk golongan A pada tahun 1998 sebesar Rp 115. terlihat kebijakan Perum Pegadaian untuk mengembangkan produk-produk baru yang di luar lingkup usaha pegadaian. dll).

5%). Peran Perum Pegadaian dalam mendukung pemberdayaan ekonomi rakyat cukup besar terlihat dari jumlah nasabah mencapai 6. Untuk memenuhi lonjakan tersebut. sementara dana pelunasan obligasi yang dihimpun (sinking fund) kurang memadai. serta meningkatkan porsi pemberian kredit bagi golongan A tanpa menimbulkan kerugian bagi Perum Pegadaian. 4. Perum Pegadaian telah ikut berperan dalam kegiatan pembiayaan usaha kecil. Secara makro dan jika dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes yang memiliki pasar yang hampir sama. Perum Pegadaian telah memperoleh fasilitas RDI dari Pemerintah dan KLBI. 7. 3. . 6. Hal ini terutama disebabkan oleh perubahan orientasi kebijakan Perum Pegadaian untuk meningkatkan laba serta kenaikan golongan pinjaman karena adanya kenaikan harga barang jaminan. Untuk menutupi kekurangan dana tersebut (khususnya modal kerja). C dan D dengan tetap memberikan subsidi bagi golongan A.96 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. profitabilitas dan efisiensi. sumbangan Perum Pegadaian dalam pemberian kredit masih lebih rendah. Perum Pegadaian melakukan penarikan overdraft sangat besar sehingga mengakibatkan penghentian pemberian fasilitas overdraft BRI. Perum Pegadaian memiliki keunggulan dalam kualitas pinjaman yang diberikan. Suku bunga (sewa modal) yang dikenakan Perum Pegadaian kepada nasabah saat ini relatif tinggi. Perum Pegadaian mempunyai beberapa kelemahan struktural yang dapat menghambat peningkatan kinerja dan merupakan potensi timbulnya berbagai penyimpangan yaitu : terlalu luasnya rentang kendali manajemen yang tidak didukung dengan sistem dan sarana pengawasan/pelaporan yang memadai. Meskipun demikian. Kredit yang diberikan terutama kepada nasabah menengah ke bawah yang pada umumnya bergerak di sektor informal dan tidak memiliki akses ke perbankan. Jaringan Perum pegadaian yang didukung oleh 633 kantor menjangkau seluruh wilayah Indonesia sampai ke pedesaan. Perum Pegadaian mengalami kesulitan likuiditas akibat lonjakan permintaan nasabah dan kurangnya peminat obligasi yang diterbitkan. sementara dana yang diperoleh sebagian besar bersuku bunga rendah. Dalam tiga tahun terakhir telah terjadi pergeseran pemberian kredit dari nasabah kecil ke nasabah besar.6 juta (September 1998) dengan mayoritas merupakan nasabah mikro (40. 5. Keunggulan dalam profitabilitas dan efisiensi tersebut terutama disebabkan oleh tingginya sewa modal yang dikenakan (hampir sama dengan suku bunga perbankan). serta sistem manajemen yang sangat sentralistik. Pada periode Agustus s. Namun masih terdapat peluang (room) bagi Perum Pegadaian untuk menurunkan sewa modal khususnya untuk golongan B. Maret 1999 2.d September 1998.

misalnya sebesar 30% . Di samping itu. Namun untuk mewujudkan potensi tersebut Perum Pegadaian harus terlebih dahulu membenahi kelemahan-kelemahan struktural yang ada. 3. tersedianya room yang cukup luas. 4. khususnya bagi Kanca defisit yang sudah lama didirikan dengan tetap mempertimbangkan pelaksanaan misi sosial yang diemban. rentabilitas yang lebih baik dibandingkan lembaga formal lainnya. Dengan mempertimbangkan potensi dan rencana jangka panjang. untuk menjaga konsistensi pelaksanaan misi Perum Pegadaian.40%. 5. . sehingga Kanda berpotensi untuk mencari dana pinjaman sendiri. untuk mengkaji apakah akan melakukan pemindahan kantorkantor cabang tersebut ke lokasi yang lebih strategis atau melakukan penutupan. pemerintah hendaknya menetapkan ketentuan yang mengatur batas minimum porsi kredit untuk nasabah kecil (golongan A dan B). Perum Pegadaian perlu lebih intensif dalam memonitor nasabah. Sistem manajemen pendanaan secara sentralistik yang diterapkan Perum Pegadaian sampai saat ini nampaknya sangat sejalan dengan teori FF. serta kecenderungan penurunan suku bunga pasar. 7. namun dari penelitian diperoleh temuan bahwa daerah juga mempunyai potensi pendanaan (sesuai dengan teori RFM). 2. 6.1 Saran 1. Sesuai dengan misi Perum Pegadaian yang didukung oleh sumber dana yang mayoritas bersubsidi. nampaknya Perum Pegadaian perlu lebih menekankan pada pemberian kredit daripada melakukan usahausaha lain di luar core usaha Perum Pegadaian. Untuk mengetahui efektivitas penggunaan kredit dalam rangka pemberdayaan ekonomi rakyat. 5. Mengingat masih besarnya potensi pasar yang dapat dimanfaatkan oleh lembaga keuangan yang memberikan pinjaman berdasarkan sistem gadai. Perum Pegadaian perlu melakukan evaluasi secara lebih intens terhadap kantor-kantor cabang yang merugikan. Berdasarkan kinerjanya Perum Pegadaian memiliki potensi untuk berperan dalam channeling pemberdayaan ekonomi rakyat. maka sudah saatnya besarnya sewa modal diturunkan.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 97 8. Hal ini sekaligus dapat mendorong kompetisi untuk meningkatkan efisiensi. maka Pemerintah perlu mengkaji kemungkinan pemberian izin bagi perusahaan lain untuk bergerak dalam usaha pegadaian. Masalah kesulitan likuiditas dapat diminimalkan apabila sampai batas tertentu kantor daerah diberi kewenangan untuk mencari dana sendiri dengan memanfaatkan potensi daerah setempat (sesuai dengan teori RFM).

Weston.98 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Manajemen Keuangan : Teori dan Penerapan (Keputusan Jangka Pendek) Jilid 2. Rural Financial Markets : Two School of Thoughts. Marguerite S (1992). Maret 1999 8. Untuk memperoleh penilaian efisiensi yang lebih riil. Penerbit Erlangga Jakarta. Pedoman Pemeriksaan Satuan Pengawasan Intern Perum Pegadaian. J. Rural Financial Intermediation : Lessons From Indonesia Part One The Bank Rakyat Indonesia : Rural Banking. Company Profile Perum Pegadaian ___________________. Untuk menghindarkan terjadinya distorsi suku bunga pasar. Manajemen Keuangan Edisi ke-7 Jilid I (Terjemahan dari Managerial Finance 7th edition). Fumio (1986). ___________________. Penerbit BPFE Yogyakarta. Surat-Surat Keputusan Direksi Perum Pegadaian. ___________________ (1997). ___________________. Harvard Institute for International Development. 1970-91. Fred dan Brigham. Tokyo : Asian Productivity Organization. Laporan-Laporan Operasional Bulanan dan Tahunan ___________________. Eugene F (1981). Harvard University. Uraian Tugas dan Kegiatan : Direktorat Operasi dan Pengembangan. . Development Discussion Paper No. ___________________. maka Perum Pegadaian perlu memperhitungkan biaya dana untuk masing-masing Kanca. 434. 9. Husnan. Suad (1985). Direktorat Keuangan. Tim Analisis Jabatan Perum Pegadaian (1990). dan Direktorat Umum. PERUM PEGADAIAN (1997). DAFTAR PUSTAKA Egaitsu. Laporan-Laporan Keuangan Robinson. Pedoman Operasional Kantor Cabang. Prospektus Obligasi V Perum Pegadaian Tahun 1998. maka kebijakan pemberian bantuan likuiditas dengan subsidi bunga kepada lembaga pembiayaan yang berorientasi pada masyarakat menengah ke bawah hendaknya hanya dilakukan dalam jangka pendek atau dalam bentuk sekuritisasi. dalam Farm Finance and Agricultural Development.

bertugas untuk mengkoordinasikan penyusunan formal. 6. pengadaan dan penyelenggaraan pengangkatan. . gaji. kepangkatan. bertugas untuk membina penyaluran kredit gadai. Subdit Penelitian dan Pengembangan Operasi (LB). Subdit Anggaran dan Permodalan (AP). pemberhentian. Subdit Perbendaharaan (PB). promosi. sistem. 7. 4. pemindahan. penyelenggaraanpembukuan dan penyajian laporan keuangan perusahaan serta pengembangan sistem informasi keuangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka pengendalian keuangan perusahaan. bertugas untuk mengkoordinasikan pengelolaan kas. bertugas untuk mengkoordinasikan dan mengedalikan penyelenggaraan kesekretariatan pimpinan. pengalokasian dana. bank. Subdit Kesekretariatan Perusahaan (SP). bertugas untuk mengkoordinasikan evaluasi. perjalanan dinas dan tunjangan serta pelaksanaan penagihan piutang perusahaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan tugas. 5. verifikasi. Subdit Akuntansi (AK). surat berharga. jasa dan mengembangkan kegiatan pemasaran serta mengkoordinasikan pengolahan dan dan penyajian statistik perusahaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku sebagai bahan pertimbangan pimpinan dalam rangka meningkatkan pendapatan perusahaan. perpajakan. Subdit Kepegawaian (KP). bertugas untuk mengkoordinasikan dan melaksanakan penelitian dan pengembangan jenis. kesejahteraan serta pengembangan manajemen 2. urusan kehumasan. pengevaluasian pelaksanaan anggaran. bertugas untuk mengkoordinasikan penyusunan rencana anggaran. 3. kebutuhan modal kerja dan pengalokasian modal kerja serta investasi lainnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka menjamin kontinuitas keuangan perusahaan. kepustakaan dan pengelolaan produk hukum serta pemberian pertimbangan hukum sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan tugas pimpinan perusahaan.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 99 LAMPIRAN Lampiran 1 Tugas masing-masing Kepala Sub Direktorat 1. Subdit Operasi dan Pengembangan (OPP). prosedur dan wilayah operasi serta bentuk usaha lain berdasarkan peraturan yang berlaku dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan. pemensiunan.

. Subdit Bangunan (BG). 9. bertugas untuk mengkoordinasikan pembuatan disain bangunan pemrosesan pelaksanaan pembangunan atau perbaikan.100 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Subdit Tata Usaha dan Rumah Tangga (TURT). bertugas mengkoordinasikan perencanaan pengembangan program penyelenggaraan dan evaluasi pelaksanaan pendidikan dan pelatihan serta penyusunan laporannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar penyelenggaraan diklat berjalan lancar dan terpadu. Maret 1999 perusahaan berdasarkan peraturan yang berlaku dalam rangka pembinaan kepegawaian dan peningkatan kesejahteraan pegawai. 8. pengurusan persewaan bangunan. bertugas mengkoordinasikan penyelenggaraan pengelolaan database dan jaringan serta pengembangan dan pengimplementasian sistem dalam menunjang kegiatan operasional perusahaan. Kepala Pusat Pengembangan Teknologi Informasi (Kapus TI). Kepala Balai Diklat (Kabal Diklat). 10. pemilikan hak atas tanah. bertugas untuk mengkordinasikan pengurusan ketatausahaan. pengadaan denah. 11. izin mendirikan bangunan dan penghapusan serta penyelenggaraan tata usaha pembangunan atau perbaikan bangunan prasarana dan rumah jabatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka penyediaan sarana kerja yang memadai untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas. urusan rumah tangga dan perlengkapan kantor agar pelaksanaan tugas berjalan lancar dan terpadu.

XIV. VIII. IV. II. Pandang Semarang Yogyakarta Surakarta Surabaya Malang Jember Denpasar Balikpapan Kupang 35 36 44 49 49 45 56 53 50 51 37 31 22 17 575 42 39 55 51 55 47 56 53 52 51 37 41 31 23 633 JUMLAH Lampiran 3 Komposisi Pegawai Tetap Perum Pegadaian Jenjang Karir Manajemen Puncak Manajemen Menengah Manajemen Pelaksana Staf Administrasi Tingkat Pendidikan SD SLTP SLTA D3 S1 S2 TOTAL 982 465 2. VI.893 829 377 2.974 . Medan Padang Jakarta Bandung U. VII. XII. XI.442 814 511 25 5. IX. XIII.118 803 655 35 4.365 1997 4 45 794 4.817 1995 4 34 742 4.171 811 591 31 4.303 897 468 14 5. X.183 885 404 2. V. 1998 4 45 794 3.050 Okt. III.129 954 437 2.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 101 Lampiran 2 Jumlah Cabang yang Dibawahi oleh Setiap Kanda KANDA JUMLAH CABANG JUMLAH ANAK CABANG 7 3 11 2 6 2 0 0 2 0 0 10 9 6 58 TOTAL I.349 1996 4 34 780 4.

Saham PT. 756.BRI .000 7.Saham PT. Cadangan penurunan nilai surat berharga Penyertaan (Dalam bentuk 500 lembar saham PT.000 500 -2.Saham PT. Semen Gresik . Danareksa Fund MGT. Diberikan Deposito .243 10. Danareksa Seruni .000 -1.Saham PT.000 3. Dua Satu Tiga Puluh) Sumber : Perum Pegadaian .000 2.000 2. BNI Dana Berbunga .768 1.500 5.102 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.500 5.751 70. BIG Palapa .150 (Juta rupiah) 1998 Per-30 Sep. Maret 1999 Lampiran 4 Penanaman Dana Perum Pegadaian Jenis Penanaman 1997 Per-31 Des 526.Saham PT.150 Pinjaman yg.000 2.Saham PT.320 1.BEII Surat Berharga .500 65.500 2. Bahana Dana Selaras . Semen Gresik (Sertifikat Bukti Right) .000 2.Saham PT.351 50 70 1.176 50 70 876 2.

25% 2. minimum Rp 8. HPS adalah harga pasar barang-barang gudang yang didasarkan pada harga pasar barang baru (toko) di daerah setempat.5%XUP. Harga Pasar Setempat.00% Maksimum Jangka Waktu Kredit 120 120 120 120 120 hari hari hari hari hari Keterangan : K=Kantong. yang direvisi minimum tiga .000 510.000-5.50% 1.000 (pembulatan Rp 1.50% 3. minimum Rp 25. DG selain mobil u/ UP > Rp 1.5 juta ditetapkan 0. M=Mobil. 1.000 40.50% 2.000-40.000 (pembulatan Rp 500 ke atas) • Biaya PA gol. 3.5 juta ditetapkan 0.000-500. Dalam hal ini Perum Pegadaian membuat tiga kriteria harga pasar yaitu harga pasar pusat (HPP).500-150.000.000 ke atas) Lampiran 6 Jenis-jenis Harga Pasar Untuk menentukan nilai barang jaminan yang akan digadaikan oleh masyarakat.000 1.500. Harga Pasar Pusat HPP adalah harga pasar emas/perak/permata yang ditetapkan oleh Kanpus sebagai patokan umum baik bagi Kanda maupun Kanca berdasarkan perkembangan harga pasaran umum dengan memperhitungkan kecenderungan perkembangan harga di masa mendatang.25% 2.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 103 Lampiran 5 Tabel Sewa Modal dan Biaya PA masing-masing Golongan Gol Uang Pinjaman Sewa Modal Per 15 Hari Per Tahun A B C D D 5. Perum Pegadaian mengacu kepada harga pasar. DK u/ UP > Rp 1.25% 2.000 151. 2.000 (pembulatan Rp 1.000 >2.5%XUP.25% 2. Harga Pasar Daerah HPD adalah harga pasar yang ditentukan oleh Kanda dengan memperhatikan toleransi maksimum 4% di atas HPP dan 2% di bawah HPP. minimum Rp 10.000-1. harga pasar daerah (HPD) dan harga pasar setempat (HPS).50% 2.000 ke atas) • Biaya PA dengan jaminan Mobil ditetapkan 0.5%XUP.25% 2.500. G=Gudang. UP=Uang Pinjaman • Biaya PA gol.

Buku Uang Kelebihan eks BSL. kemudian ditentukan besarnya persentase uang pinjaman terhadap taksiran menurut masing-masing golongan yaitu : . Barang jaminan yang sudah ditetapkan sebagai BSL pada buku Redister Barang Sisa Lelang (RBSL). Laporan Bulanan Operasionalatas penambahan BSL. kerapihan dan keamanan gudang berserta isinya.104 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. 3. Buku Kredit yang bersangkutan pada nomor yang menjadi BSL sebagai penghapusan b. dan minimal 60% dari tiap rubrik/golongan/ribuan telah dihitung untuk ketiga kalinya.Golongan A = 90% . Lampiran 8 Administrasi dan Pembukuan Barang Sisa Lelang (BSL) 1. maka adanya BSL pada setiap lelang tidak perlu dicatat pada Berita Acara Lelang (BAL). Pemeriksaan ini dilakukan setelah penghitungan barang jaminan selesai dilaksanakan.Golongan D > Rp 5 juta = 84% Lampiran 7 Kegiatan pemeriksaan barang jaminan di gudang 1. Menghitung barang jaminan.Golongan D s/d Rp 5 juta = 85% . Pemeriksaan buku gudang yang dilakukan setiap hari. c. 2. Meronda gudang. Meskipun demikian dalam jangka waktu 2 bulan tiap-tiap rubrik/golongan/ribuan harus sudah pernah dihitung sebanyak dua kali. Pemeriksaan isi barang jaminan. Buku Ikhtisar Kredit dan Pelunasan bulan kredit yang bersangkutan dikredit sebesar uang pinjaman BSL. Penghitungan barang jaminan ini dilakukan minimal sepuluh kali dalam satu bulan. Karena BSL diakui dan dicatat sebagai mutasi aset. Buku Kas didebet sebagai pelunasan dan dikredit pembelian BSL. Dengan demikian BAL hanya berisi data barang jaminan yang laku dilelang saja. yaitu dengan mencocokkan jumlah barang yang ada di gudang dengan saldo menurut buku gudang. sedangkan cabang kelas I dan II minimal satu kali sebulan oleh Kacab. yaitu dengan mencocokkan fisik barang jaminan dengan keterangan pada SBK dwilipatnya (lembar II/kopinya). Maret 1999 bulan sekali. d. f. Berdasarkan harga-harga pasar di atas. yaitu dengan melakukan pemeriksaan secara langsung ke dalam gudang tentang kebersihan.Golongan B dan C = 85% . Buku Gudang dikreditkan sejumlah BSL. 2. e. Kegiatan ini dilakukan minimal 3 kali sebulan untuk cabang kelas III. . Kemudian berdasarkan RBSL tersebut dibukukan pada : a. 4.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 105 Lampiran 9 1. dijual sebesar Harga Pembelian x 109.7% Penjualan BSL jangka waktu lebih dari 30 (tiga puluh hari s/d 60 (enam puluh hari) dijual sebesar Harga Pembelian x 105%. Beban suku bunga pendanaan yang tinggi menyebabkan Perum Pegadaian menaikkan sewa modalnya seperti terlihat dalam tabel di atas. mutasi aktiva dan harus mendapat izin dari Kakanda dan penjualannya di tempat yang baru harus memperhitungkan biaya pengirimannya. Penyelesaian Barang Sisa Lelang (BSL) Dijual di bawah tangan Pedoman harga penjualan BSL ditetapkan sebagai berikut : a) BSL Perhiasan Emas Penjualan BSL jangka waktu kurang dari 30 (tiga puluh) hari. Pedoman penurunan harga jual secara bertahap sesuai kebijakan Kakanda. Hal ini menyebabkan kredit yang ditarik secara keseluruhan melebihi plafon yang ditentukan (overdraft) sehingga BRI menghentikan fasilitas tersebut pada bulan Agustus 1998. Kesulitan likuiditas yang dialami Perum Pegadaian antara lain akibat dihentikannya fasilitas kredit dari BRI. Selisih lebih atau kurang atas penjualan ini dibukukan sebagai laba/rugi perusahaan. Sebelumnya. Di samping itu. Dimutasikan Antarcabang BSL emas atau non-emas sebelum diusulkan penurunan harga jualnya dapat juga diupayakan penjualannya di kantor cabang yang berada di daerah lain yang diyakini dapat terjual lebih cepat. Sebelum mendapat keputusan penurunan harga jual dari Kakanda. Sejak terjadinya krisis ekonomi. makin sedikitnya sumber pendanaan yang ada menyebabkan Perum Pegadaian mengurangi batas nilai kredit maksimum. Kelebihan kredit yang ditarik tersebut dikenakan suku bunga pasar sebesar 71% per tahun. atau kebijakan lain dari Kakanda atas usul penurunan harga jual yang telah diajukan sebelumnya. Kacab dapat mengusulkan penurunan harga jual kepada Kakanda. permintaan terhadap jasa Pegadaian meningkat pesat sehingga masing-masing cabang Pegadaian melakukan penarikan dana dari BRI dalam jumlah cukup besar. Perum Pegadaian diberikan fasilitas kredit oleh BRI sebesar Rp 181. Pengiriman BSL ini dibukukan sebagai Rekening Antar Kantor (RAK). b) BSL Non-Emas Diusahakan BSL harus sudah terjual dalam jangka waktu 30 (tiga puluh hari) namun demikian apabila dalam jangka waktu tersebut belum laku terjual.75 miliar (suku bunga 36 %) yang secara langsung dapat ditarik oleh cabang-cabang Perum Pegadaian melalui kantor-kantor cabang BRI setempat yang telah ditentukan. · · 2 . tidak diijinkan untuk menjualnya. BSL yang diminta oleh Hakim/Jaksa/Polisi harus diselesaikan menurut peraturan yang berlaku.

106 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 107 .

108 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 109 .

110 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 111 .

Maret 1999 .112 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 113 .

Maret 1999 .114 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 115 .

Maret 1999 .116 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

sumber-sumber regulasi. terorganisasi rapi dan profesional.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 117 KAJIAN AWAL TENTANG MONEY LAUNDERING SERTA IMPLIKASINYA DALAM PASAR KEUANGAN INTERNASIONAL Hariyadi Ramelan. Kajian ini diharapkan akan mampu memberikan gambaran serta perbaikan-perbaikan yang memadai dan perlu dilakukan oleh masyarakat keuangan internasional dalam upaya pencegahan maupun penindakan terhadap kegiatan money laundering. senjata gelap. dan Delfianto Ras*) Perkembangan teknologi perbankan internasional dalam dekade terakhir ini telah memberikan jalan bagi tumbuhnya jaringan-jaringan perbankan yang semula lokal/regional menjadi suatu lembaga keuangan yang global. Urusan Devisa. volatilitas yang sangat besar pada modal internasional dari transfer asset antar negara yang tidak terantisipasi. efek kontaminasi pada transaksi keuangan yang legal. Bank Indonesia Delfianto Ras : Dealer Yunior pada Dealing Room. Urusan Devisa. yang dari tahun ke tahun semakin canggih. suap/korupsi/ manipulasi serta fraud perbankan) telah menjadi “legal” dalam dunia bisnis di pasar keuangan internasional. risiko pada kesehatan perbankan. Kecenderungan tersebut ternyata juga memberikan kesempatan bagi para pelaku money laundering untuk turut memanfaatkan kecanggihan jaringan layanan perbankan. Namun pada sisi yang lain. juga merupakan lembaga yang sangat rentan terhadap proses placement. Dalam posisi ini. teknik-teknik. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran awal tentang kegiatan money laundering. Bank Indonesia . perbankan internasional khususnya International Offshore Banking Centres (IOBC) dengan segala aspek perlindungan data serta keleluasaan pajaknya telah menjadi lembaga intermediasi yang sangat diminati oleh para money launderer. Uang hasil transaksi ilegal (obat bius/ narkotika. batasan. Ketidakberhasilan dalam menggalang kerjasama internasional dalam memerangi money laundering akan menimbulkan risiko perubahan variabel permintaan uang yang tak terduga. layering ataupun integration. *) Haryadi Ramelan : Dealer pada Dealing Room. serta implikasi yang timbul sehubungan dengan peranan bank sebagai lembaga intermediasi.

9 juta dan USD 4. pp. Hal tersebut paling tidak terbukti pada hasil “Operation Cassablanca” yang berlangsung akhir bulan Maret 1999. kegiatan money laundering dalam konsep akuntansi internasional ternyata mampu menjelaskan adanya defisit neraca transaksi berjalan dunia.22-23. London. J. T Pada situasi global. dalam kasus money laundering. Dua bank besar tersebut diharuskan membayar denda masingmasing USD 9. Kedua bank juga terbukti bersalah dan mengaku bertanggung jawab penuh bahwa karyawan-karyawan banknya telah melakukan money laundering atas hasil-hasil ilegal narkotik. saat ini perkembangan pasar keuangan internasional telah memungkinkan terbukanya peluang untuk menampung rekening secret money. tidak hanya dari para kriminal namun juga dari perusahaan-perusahaan dan bahkan pemerintahan. penjumlahan total nilai import dan pembayaran bunga seharusnya sama dengan total nilai ekspor dan penerimaan bunga. Hal kedua tersebut diakui sebagai masalah yang pelik namun realitasnya memang terdapat permintaan pasar yang cukup kuat untuk secret money. Samuel. Lantas kemanakah uangnya? Beberapa sebab dapat dikemukakan seperti statistical error atau (bukan mustahil) adanya secret money. suap kepada pejabat pemerintahan. Secara lebih rinci. 1.7 juta. Management of Company Finance. Chapman & Hall. Pada saat yang bersamaan di London. yakni Bancomer dan Banco Serfin dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Federal (Fed Court) Los Angeles. . Sejalan dengan praktek money laundering tersebut. 1) uang yang dibayarkan untuk barang atau jasa-jasa tersebut tidak pernah tercatat oleh perusahaan/ individu yang umumnya dengan berbagai alasan antara lain untuk menghindari pajak ataupun karena transaksi tersebut ilegal (manipulasi oleh perusahaan swasta. Kalimat tersebut nampaknya bukan sekedar slogan kosong bagi Pemerintah Amerika Serikat dalam memberantas kegiatan money laundering. Contoh-contoh tersebut hanya menggambarkan situasi mikro dari satu konsekuensi bercampurnya “uang halal” yang secara resmi masuk dalam hitungan otoritas moneter dengan uang haram yang merupakan hasil kegiatan melawan hukum dalam bisnis keuangan internasional.M et al. Dinas Pajak Dalam Negeri Inggris melakukan razia terhadap 2 kantor akuntan besar dan juga rumah pengacara serta akuntan yang terbukti berupaya menghindari objek pajak yang diperoleh dari money laundering. namun tidak ada catatan bahwa seseorang telah menerima pembayaran tersebut. Dalam kasus black hole di atas. 1996. dll). Secara teoritis dan teknis. 6th Ed. Pendahuluan he war against money launderer is not over . bila sebuah komoditas diimpor dan dibayar. Dua bank besar Mexico.118 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Hal ini antara lain ditandai dengan semakin maraknya International Offshore Banking Centers (IOBC) di berbagai belahan dunia seperti Gambar 1. Maret 1999 I.

serta implikasinya bagi pelaku-pelaku transaksi-transaksi perbankan internasional seperti bankir. _____________. Secara rinci. yakni sebagai suatu proses dimana para kriminal berupaya untuk menyembunyikan sumber dan kepemilikan hasil-hasil aktivitas kriminal yang melawan hukum. Batasan. trend dan teknik umum yang digunakan. pengawasan melekat terhadap uang (dirty money) harus dipertahankan. namun demikian money laundering secara khusus dapat diartikan pencucian uang (laundering money from illicit proceeds). proses kegiatan dan pelanggaran money laundering. 2. bentuk pengambilan uangnya harus diubah. Ketiga. Angka ini secara ekstrim dapat diartikan bahwa bisnis money laundering merupakan bisnis terbesar ketiga di dunia setelah forex market dan bisnis minyak dunia. yang besarnya mencapai 300 – 400 milyar USD. The Finacial Action Task Force on Money Laundering. Dengan memiliki pemahaman yang cukup memadai. Teknik dan Regulasi dalam Kegiatan Money Laundering A. II.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 119 Berkaitan dengan permasalahan tersebut. Keempat. Batasan dan Proses Kegiatan Money Laundering Tak ada batasan money laundering secara umum. 1997. yakni 2-5% dari GDP dunia. Sebagai gambaran turn over kegiatan money laundering saat ini telah melampaui batas imaginasi. International Monetary Fund (IMF) 2) berpendapat bahwa money laundering merupakan salah satu ancaman paling serius bagi masyarakat keuangan internasional khususnya dan sistem keuangan global pada umumnya. bagian kedua tulisan ini akan memaparkan batasan. pemilik uang dan sumber sesungguhnya uang tersebut harus disembunyikan. Dalam textbook. Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain memberikan gambaran yang menyeluruh berkaitan dengan kegiatan money laundering. . Bagian Ketiga. jejak proses pencucian uang harus disamarkan dalam upaya menghilangkan jejak jika seseorang menelusuri proses uang dari awal hingga akhir. regulator atau lembaga lain yang berwenang (bank sentral) serta pelaku-pelaku pasar finansial lainnya. batasan. maka diharapkan dapat diupayakan langkah-langkah efektif untuk mencegah terjadinya money laundering maupun langkah-langkah represif seandainya money laundering terjadi dengan tetap mengacu pada Undang-undang ataupun regulasi yang berlaku secara internasional. Kedua. mengupas beberapa implikasi yang sifatnya represif dan antisipatif terhadap kegiatan money laundering dan Bagian Keempat berisi Kesimpulan akhir. ada empat faktor yang umum terdapat dalam kegiatan money laundering. Pertama. Annual Report.

120 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

Laundrymen. B. London 4. stocks. Cara tradisional. Penggerebekan yang terjadi di London pada contoh 3. Cara tradisional dalam money laundering adalah dengan cara menyelundupkan secara fisik uang tunai hasil transaksi ilegal ke luar negeri (perbatasan nasional suatu negara). 1998. Proses yang terjadi adalah apabila hasil-hasil ilegal dari money laundering masuk kembali ke dalam sistem keuangan dan muncul sebagai dana-dana bisnis yang wajar/ normal. Jeffrey. J. Layering (Pemilahan Dana) Layering atau heavy soaping merupakan langkah kedua dalam money laundering yang ditandai dengan pemilahan hasil-hasil ilegal tersebut dari sumber-sumber asalnya melalui pembelian/transaksi-transaksi finansial seperti bearer bonds. Proses Pencucian Uang. ____________. 1997. Spin Dry (Repatriation and Integration) Spin dry merupakan gabungan dari langkah repatriasi dan integrasi. obat-obatan terlarang. . Cara lain yang juga relatif konvensional adalah menggunakan pedagang valuta asing. Teknik-Teknik Money Laundering Berdasarkan survey yang dilakukan oleh The FATF 4) (The Financial Action Task Force) sepanjang tahun 1996-1997. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk menghilangkan jejak atau upaya audit sehingga seolah-olah merupakan transaksi finansial yang legal. Secara ringkas. 2. Langkah lain yang sering dilakukan adalah menciptakan sebanyak mungkin account dari perusahaan fiktif/semu dengan memanfaatkan aspek kerahasian bank dan keistimewaan hubungan antara nasabah bank dan pengacara. senjata gelap.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 121 Secara kronologis. kegiatan money laundering biasanya terdiri atas 3 proses yang berkelanjutan yakni: 1. proses pencucian yang dapat dilihat pada Gambar 2. teknik-teknik yang dilakukan dalam pencucian uang dapat dikategorikan dalam 2 cara umum yakni: 1. Annual Report. Langkah ini disebut juga sebagai immersion yang merupakan gabungan dari consolidation dan placement (Robinson. Pocket Books. penipuan/ penggelapan (fraud) serta hasil-hasil korupsi. lawyers maupun akuntan pribadi. 3. Robinson. Placement (Penempatan Dana) Penempatan dana merupakan proses awal dalam money laundering yang ditandai dengan penyerahan secara fisik uang yang dihasilkan dari aktivitas melawan hukum seperti perdagangan narkotika. 1998) 3). The Financial Action Task Force on Money Laundering. forex market.

Maret 1999 .122 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Namun sayangnya bank tersebut mengirimkan dananya ke rekening rahasia di Cayman Islands. Tidaklah mengejutkan bila BCCI diplesetkan artinya menjadi “Bank of Crook and Criminals. Pada musim semi tahun 1990 IML dapat menemukan beberapa bukti penggelapan dan pada Juli 1991 perusahaan akuntan Price Waterhouse menemukan dokumen serta menyerahkan pada Bank of England. Berkembangnya teknologi baru dibidang perbankan antara lain elektronic money (e– money) telah memberikan ancaman baru dalam teknik money laundering yang lebih canggih. namun BCCI diperkirakan juga membantu diktator seperti Sadam Hussein (Irak). aplikasi ke tiga cara ini dalam sistem pembayaran masih relatif belum termanfaatkan. mengakibatkan BCCI beroperasi bebas dari peraturan pemerintah selama 15 tahun. Berdasarkan pengalaman di Inggris. Pada tahun 1987. IML mencapai persetujuan dengan tujuh negara dimana BCCI beroperasi. Namun demikian. Diperkirakan hampir setengah assets bank telah hilang (disappeared). Hal yang sulit untuk dilacak justru hasil-hasil ilegal yang ditransfer melalui International Electronic Fund Transfer. selanjutnya BCCI dinyatakan ditutup. tetapi masih belum dapat menelusuri aktivitas bank tersebut. Bank sebagai money launderer Salah satu contoh yang sangat berharga berkaitan dengan kasus money laundering adalah skandal yang dilakukan oleh The Bank of Credit and Commerce International (BCCI) pada tahun 1991. Kerugian deposan . Cara-cara Modern. serta bertindak sebagai bankir dari kelompok Abu Nidal. ciri-ciri yang sering dilakukan oleh money launderer antara lain menggunakan institusi yang terkait (perbankan) serta Pedagang Valuta Asing (PVA).Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 123 kasus di atas jelas menunjukkan kecurangan seorang pengacara/akuntan dalam menyembunyikan hasil-hasil kejahatan seperti money laundering. serta accountant. internet/ network based systems dan hybrid systems. lawyer. Inc”.1. Meskipun kantor pusat BCCI di London. dimana tempat tersebut banyak uang hasil curian. Penggelapan uang tersebut tidak hanya menjadi kegiatan bayangan BCCI. Tiga cara yang mungkin dilakukan adalah melalui : Stored value cards. 2. Bank yang didirikan di Luxembourg tahun 1972 oleh pengusaha Pakistan (Agha Hasan Abedi). Manuel Noriega (Panama) dan Ferdinand Marcos (Philipina) dalam mencuri uang dari negaranya. 2. dalam perjalanannya asset bank tumbuh dengan cepat hingga mencapai USD 20 milyar dan mempunyai cabang di 70 negara. namun lemahnya peraturan bank oleh Institut Monetaire Luxembourgeois (IML) di Luxembourg. Bagaimana BCCI menjalankan aktivitas penggelapan dalam waktu yang cukup lama? Jawabannya adalah sulitnya mengatur bank yang beroperasi di banyak negara.

Regulasi Kegiatan Money Laundering Sebagaimana diketahui. 2. perlu adanya aturan hukum yang mengikat secara internasional dan berkekuatan hukum yang tetap. karena London sebagai salah satu pusat pasar keuangan terbesar dunia. Kondisi ini lebih membuka peluang setelah diperkenalkan Euro sebagai mata uang tunggal Eropa yang secara tidak langsung telah menurunkan kontrol dan hambatan-hambatan dalam rangka pasar tunggal Eropa. Setahun setelah BCCI colapse. beberapa ketentuan perundangan telah disahkan oleh oleh Parlemen Inggris. Ketentuan Primer (Tier 1) 1) Drug Trafficking Offences Act 1986 (DTOA) 2) Criminal Justice Scotland Act 1987 (CJSA) . yakni antara lain: 1. bank ataupun lembaga finansial lainnya merupakan lembagalembaga yang sangat rentan bagi kemungkinan penyusupan hasil-hasil transaksi ilegal (secret money). Melalui transaksi beberapa jenjang tersebut pada level terbawah yaitu pada level nasabah third bank tersebut para money launderers banyak melakukan aktivitasnya untuk memasukkan dananya ke dalam sistem jasa keuangan bank. Pada gambar tersebut diilustrasikan adanya pembelian US bonds yang pembayarannya dilakukan melalui account oleh client bank yang kemudian diperjual belikan pada level nasabah client bank tersebut (third bank) dan diteruskan pada level nasabah third bank.124 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Dalam rangka merespon hal-hal tersebut di atas. Rentannya lembaga-lembaga tersebut dari kegiatan money laundering dimungkinkan baik dalam proses placement. merupakan target yang menarik bagi para pencuci uang. Pasar finansial London yang terkenal dengan kemajuan dan transparannya sangat memberi peluang untuk memuluskan tahapan-tahapan kegiatan money laundering. C. the Basle Committee baru mengumumkan dan menyetujui standarisasi dari peraturan bank internasional. Maret 1999 dan pemegang saham dari colapse-nya BCCI sudah tak terhingga dan pengawas bank dalam hal ini Bank of England sulit disalahkan atas kelambanan menuntaskan skandal tersebut. layering maupun integration. Berkaitan dengan upaya untuk mencegah dan memerangi kegiatan money laundering tersebut.2 Payable through account Salah satu cara yang juga tergolong cukup modern dan sering digunakan oleh money launderers adalah payable through account (lihat Gambar 3). orang dan modal secara leluasa di seluruh Eropa. Rezim yang dapat dijadikan contoh untuk pencegahan kegiatan money laundering adalah Inggris. apakah itu placement. Mengapa demikian. jasa. khususnya untuk mobilitas barang-barang. layering dan integrasi.

Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 125 .

kepada siapa informasi tersebut harus dibuat.lembaga keuangan adalah sebagai berikut: a) Sistem Kontrol. Prosedur ini sangat dibutuhkan bagi seluruh personil perbankan dan lembaga terkait . e) Pelaporan. Sistem ini berupa peraturan yang meliputi prosedur internal control dan komunikasi tepat pada lembaga-lembaga keuangan yang bertujuan mencegah dan menghalangi terjadinya money laundering. pencatatan yang berhubungan dengan pembukaan rekening nasabah baru (client) atau identitas counterparty dan pencatatan yang berhubungan dengan transaksi yang dilakukan oleh client atau counterparty.126 3) 4) 5) 6) 7) 8) Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 Criminal Justice Act 1988 (CJA88) Prevention of Terrorism (Temporary Provisions) Act 1989 (POTA) Criminal Justice (Int. Prosedur pencegahan terhadap terjadinya money laundering yang umumnya digunakan pada lembaga. dan sejenisnya untuk membuat sistem untuk menghalangi terjadinya money laundering. b) Identifikasi dan Verifikasi. f) Pendidikan dan Pelatihan. Ketentuan ini menjamin pegawai dari waktu ke waktu diberikan kesempatan mengikuti pelatihan dalam upaya mengenali dan menguasai transaksi yang dilakukannya sendiri atau atas nama orang lain . Setiap calon nasabah harus diidentifikasi dan diverifikasi bahwa yang bersangkutan memang memenuhi syarat sebagai applicant for business. yang sangat berpotensi dimanfaatkan pihak lain untuk money laundering. masalahmasalah yang muncul dan pegawai yang menanggulanginya. Dalam kaitan ini. Ketentuan Sekunder (Tier 2) Ketentuan sekunder yang merupakan bentuk dari Money Laundering Regulation 1993 secara khusus ditujukan pada lembaga keuangan. pencatatan dapat dibagi dua yaitu. d) Pencatatan. c) Uji/Pemeriksaan atas Transaksi. pendapat orang yang menanggulangi masalah tersebut dalam upaya meningkatkan pengetahuan terutama mengenai dasar kecurigaan terhadap orang yang melakukan money laundering. Cooperation) Act 1990 (CJCA) Criminal Justice (Confiscation) ( Northern Ireland) Order CJO 1990 Northern Ireland Act 1991. Peraturan tersebut mensyaratkan bagi semua lembaga keuangan. apa jenis informasinya. Prosedur pelaporan antara lain mencakup laporan identifikasi orang dalam suatu organisasi. (NIEPA) Criminal Justice Act 1993 (CJA93) 2.

Tindakan ini digolongkan sebagai pelanggaran bagi seseorang yang memberikan bantuan kepada money launderer untuk memperoleh. profesi. dan secara langsung atau tidak langsung dia menguasai atau menggunakan atau memiliki kekayaan tersebut. Buku ketentuan ini biasanya disebut sebagai the read book untuk perbankan. memiliki . seluruh atau sebagian penerimaan yang berasal dari kegiatan kriminal. Dibawah aturan CJA seseorang dianggap melakukan pelanggaran apabila menyembunyikan. menyembunyikan. d) Menggagalkan usaha penyingkapan atau kecurigaan dari praktek money laundering. yellow book untuk bisnis investasi swasta. Seseorang dianggap bersalah melakukan pelanggaran jika dia mengetahui sebagian atau keseluruhan kekayaan orang lain baik secara langsung atau tidak langsung berasal dari hasil kejahatan. asuransi dan lembaga investasi lainnya. c) Menyembunyikan atau mentransfer penerimaan untuk menghindari tindakan pencegahan atau perintah penyitaan. bisnis. Ketentuan Tambahan (Tier 3) Ketentuan tambahan ini lebih merupakan petunjuk teknis yang diterbitkan oleh The Joint Money Laundering Steering Group (JMLSG) yang ditujukan bagi bank-bank dan lembaga keuangan lainnya. Prosedur ini merupakan langkah terakhir yang harus dilakukan dan biasanya berupa investigasi oleh National Criminal Inteligent Service (NCIS). CJA mensyaratkan siapapun sehubungan dengan transaksi yang dilakukan.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 127 dalam upaya peningkatan kualitas pemahaman terhadap pekerjaan yang dijalani serta kontribusinya terhadap pengawasan internal. atau menginvestasikan dana jika dana yang bersangkutan diketahui atau dicurigai merupakan hasil penerimaan kriminal. dan green book untuk bisnis asuransi. melakukan transfer atau menyembunyikan kekayaan dari pengadilan baik secara langsung maupun tidak langsung. Pelanggaran Hukum dalam Money Laundering Berdasarkan perundangan di Inggris (Criminal Justice Act 1993/ CJA) tersebut di atas. b) Mengakuisisi . 3. mengubah. dan menggunakan hasil dari kegiatan kriminal. terdapat 5 pelanggaran utama yang dapat dikategorikan sebagai tindakan money laundering. atau pegawai yang mengetahui atau mencurigai orang lain melakukan money laundering . menguasai. 4. g) Tindakan hukum. menyamarkan. yaitu: a) Membantu seseorang untuk menyimpan hasil-hasil kejahatan.

Implikasi tersebut menuntut adanya suatu langkah kerjasama preventif dan represif yang berskala internasional terhadap kegiatan money laundering. Faktor instabilitas tersebut tidak hanya bersumber dari turn over yang sangat besar (300 – 400 milyar USD per tahun). Rekomendasi ini merupakan kunci utama dalam pemahaman konsep “know your customer” approach. Satu upaya upaya penting yang telah dilakukan oleh masyarakat internasional adalah dibentuknya FATF yang salah satu rekomendasinya menyatakan bahwa “countries should monitor the physical cross border transportation of cash and bearer instruments without impeding in any way the freedom at capital movement”. CJA hanya mentolerir kesalahan atas kecurigaan yang dilaporkan dengan alasan yang dapat diterima. . Beberapa Upaya Represif dan Antisipatif terhadap Kegiatan Money Laundering Sebagaimana diuraikan di atas. Modifikasi sistem pelaporan transaksi mata uang (CTR= Currency Transaction Reporting System). Kondisi ini memberikan suatu implikasi yang sangat luas dan kompleks dalam upaya menciptakan kestabilan masyarakat global di pasar finansial. intentionally or unintentionally. by criminal elements”. BIS melalui Basle Committee pada bulan September 1997 juga menetapkan prinsip utama dalam supervisi perbankan yang efektif yang berbunyi “ Banking supervisor must determine that banks have adequate policies. Hal ini berarti bahwa seseorang dianggap melanggar hukum apabila tidak melaporkan kepada pihak berwenang apabila mengetahui adanya praktek money laundering. Dalam kaitan di atas. yang secara pokok dapat dijabarkan sebagai berikut: a) b) Introduksi sistem SAR (suspicious activity reporting system) yang baru. that promote high ethical and professional standards in the financial sector and prevent the bank being used. kegiatan money laundering memiliki dampak instabilitas pada sistem finansial dunia. FATF memberikan 40 rekomendasi langkah-langkah utama dalam memerangi kegiatan money laundering. e) Tipping off (Peringatan). Maret 1999 harus melaporkan informasi tersebut pada polisi sesegera mungkin. namun juga berasal dari perkembangan teknologi seperti EFT (cyber payment) yang memungkinkan pembayaran transfer berlangsung dengan mobilitas yang tinggi dengan mengoptimalkan jaringan perbankan internasional sebagai lembaga intermediasi. practices and procedures in place. Sejalan dengan hal tersebut. III. Suatu pemaksaan terhadap keterbukaan konsumen atau pihak ketiga untuk menyampaikan informasi pada pihak yang berwenang bahwa telah terjadi praktek money laundering atau adanya rencana money laundering. including strict “know your customer” rules.128 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

. Pelatihan terhadap pegawai baru sebaiknya mencakup latar belakang terjadinya money laundering. 2. Pendalaman materi pelatihan terhadap kelompok staf ini meliputi seluruh aspek perundangan-undangan. Pegawai baru (New employees). 4. policies and prosedures). Peningkatan kerjasama antar negara dan perwakilan industri keuangan global dalam upaya melawan kegiatan money laundering melalui penetapan kelompok kerja. validasi. dan jaminan perorangan menurut ketentuan yang berlaku. Account Opening staff. Implementasi proyek Gateway yang menyediakan data-data inteligen keuangan secara on line antar negara dan pemerintah-pemerintah daerah. peraturan dan prosedur internal. staf pelaksana harus menerima pelatihan khusus money laundering. dealing dengan customer yang jarang dilakukan (antara lain transaksi kas dalam jumlah besar/ bearer securities). pengecekan akan kecocokan identitas investor). Reporting Officers. 5 kelompok yang diharuskan mengikutinya adalah: 1. pelaporan prosedur serta tindakan pinalti.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 129 c) d) e) f) g) h) Perluasan daftar tindakan pelanggaran money laundering dalam memberantas terorisme. Memperluas upaya pelaksanaan hukum dan pengaturan hukum dalam memerangi kegiatan money laundering. kebijaksanaan perusahaan terhadap adanya kasus-kasus pengecualian. pelaporan kondisi yang terjadi. Penetapan aturan baru dalam pencatatan transfer-transfer dana (system at determine internal control. pengenalan terhadap faktor-faktor yang mencurigakan. mengenali secara baik proses settlement/payment/delivery instructions yang diluar batas kewajaran. dan laporan transaksi yang mencurigakan. lebih ditekankan pada detail mengenai ketentuan perundang-undangan yang berlaku meliputi identifikasi. jaminan hukum yang dilaporkan. Pelatihan terhadap petugas front office harus meliputi prosedur-prosedur identifikasi dan verifikasi ( sebagai contoh. sistem pelaporan. Pelatihan terhadap manajer yang memberikan instruksi. Supervisors/ Manager. Pelatihan terhadap dealer/staf lainnya seharusnya juga mencakup tanggung jawab secara hukum. pencatatan. 5. Dealers and sales staff. pelanggaran migrasi dan kesehatan. 3. Staff Training : dalam rangka mengenali dengan baik dan menangani transaksi-transaksi yang mencurigakan.

dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. adalah bahwa kualitas supervisi terhadap transaksi finansial oleh bank khususnya harus senantiasa ditingkatkan. bahwa apabila terdapat negara-negara yang tidak mematuhi kesepakatan bersama tersebut akan mendapatkan pinalti yang dapat berupa punitive taxes atas transaksi-transaksi yang terbukti berkaitan dengan money laundering di pasar finansial di negara yang bersangkutan. Penutup Dari pokok-pokok rekomendasi yang diberikan oleh FATF di atas. Dalam konteks ini maka pendekatan “know your customer rule” menjadi acuan yang sangat mendasar dalam menggali informasi calon nasabah bank. . khususnya bagi lembaga pengawas perbankan ataupun lembaga keuangan lainnya. Secara taktis. 4. Dengan semakin berkembangnya kegiatan/transaksi-transaksi illegal internasional. lembaga perbankan seringkali dipergunakan sebagai intermediasi oleh pelaku tindakan kriminal yang tidak mustahil juga dibantu oleh adanya moral hazard oleh karyawan bank sendiri (contoh kasus BCCI. ataupun tidak diakuinya transaksi keuangan yang terjadi di negara tersebut secara internasional (default). 3. Hal ini sangat penting mengingat dalam banyak kasus money laundering. asal dana-dana pihak ketiga yang diterima. bahwa setiap negara memiliki prioritas yang berbeda-beda khususnya dalam menghadapi kegiatan/praktek money laundering. para anggota kelompok kerja FATF ataupun masyarakat keuangan internasional sudah selayaknya menerapkan aturan-aturan standar minimum dalam upaya memerangi kegiatan money laundering misalnya keseragaman penggunaan sistem SAR. Berkaitan dengan butir (1). maka kecil kemungkinan 2. Sebagaimana kita ketahui. Mengapa demikian? Karena anti money laundering measures membutuhkan kerjasama internasional yang harus kondusif baik bersifat multilateral maupun bilateral (antar dua negara). Konsekwensi lain. Maret 1999 IV. maka upaya pemberantasan terhadap kegiatan money laundering merupakan real test case bagi masyarakat dan sistem keuangan internasional. 1991). Peningkatan tersebut dapat diupayakan dalam bentuk investigasi khusus terhadap asal modal disetor. Perbedaan visi dan persepsi ini tentunya akan berimplikasi pada kelompok-kelompok kerja yang dibentuk oleh FATF. Hal ini berarti. CTR maupun Gateway Intelligence System.130 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Jika langkah preventif ini diterapkan secara universal terhadap semua lembaga keuangan/ jaringan perbankan internasional. dan transaksi finansial yang dilakukan khususnya transaksitransaksi off balance sheet. tindakan yang paling efektif dalam menangkal kegiatan money laundering pada lembaga perbankan adalah mendeteksi sedini mungkin aktivitas kriminal tersebut pada titik paling crucial yakni pada saat hasil-hasil ilegal tersebut masuk ke dalam sistem perbankan/keuangan (placement process).

Pocket Books.1995. International Guide to Money Laundering and Practice.1998. baik melalui International offshore Banking Centre (IOBS) yang memiliki insentif pembebasan pajak dan longgarnya peraturan ataupun memanfaatkan negara-negara/ lokasi yang relatif tidak/ belum terjangkau oleh hukum internasional. maka money launderer akan selalu mencari titik terlemah dari sistem jaringan keuangan internasional. Illinois.1998. pp 350. Paris (Feb 10). 4) Morris. . Guide to Financial Services Regulation. Journal of International Banking and Financial Law. July – August. Pp 29-31. 1997. Michael. 8) Robinson. Daftar Pustaka 1) Abrahamson. Payable Through Accounts and Money Laundering. 7) Richard. Allan. Legal Analysis. 2) Camdesus. 6) Reuters News. 1998 (Feb).1996. Money Laundering: The Sky’s the Limit. 10) _________. Jeffrey. Annual Report.1995. Jeffrey. Laundrymen. 3rd Edition. Andrew. 3) Hayaes. CCH Inc. Money Laundering: The Regim in the United Kingdom. Money Laundering: The Importance of International Countermeasures. USA. Butterworths. Richard. Sebaliknya bila langkah tersebut tidak berhasil. et al.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 131 money launderer akan mampu menembusnya. 5) Parlour. pp 52-53. Money Laundering: Butterworths. Bancomer and Banca serfin Plead Guilty to Money Laundering. Barry. London. 9) The Banker.1999 (March 31). The Financial Action Task Force on Money Laundering.1998.1996.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful