P. 1
bempvol1no4mar_2.pdf

bempvol1no4mar_2.pdf

|Views: 9|Likes:
inovasi
inovasi

More info:

Categories:Types, Speeches
Published by: Andreas Afrindo Dwi Putra on Feb 21, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/21/2013

pdf

text

original

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran

1

KRISIS MONETER INDONESIA : SEBAB, DAMPAK, PERAN IMF DAN SARAN* )
Lepi T. Tarmidi
**)

K

risis moneter yang melanda Indonesia sejak awal Juli 1997, sementara ini telah berlangsung hampir dua tahun dan telah berubah menjadi krisis ekonomi, yakni lumpuhnya kegiatan ekonomi karena semakin banyak perusahaan yang tutup dan meningkatnya jumlah pekerja yang menganggur. Memang krisis ini tidak seluruhnya disebabkan karena terjadinya krisis moneter saja, karena sebagian diperberat oleh berbagai musibah nasional yang datang secara bertubi-tubi di tengah kesulitan ekonomi seperti kegagalan panen padi di banyak tempat karena musim kering yang panjang dan terparah selama 50 tahun terakhir, hama, kebakaran hutan secara besar-besaran di Kalimantan dan peristiwa kerusuhan yang melanda banyak kota pada pertengahan Mei 1998 lalu dan kelanjutannya. Krisis moneter ini terjadi, meskipun fundamental ekonomi Indonesia di masa lalu dipandang cukup kuat dan disanjung-sanjung oleh Bank Dunia (lihat World Bank: Bab 2 dan Hollinger). Yang dimaksud dengan fundamental ekonomi yang kuat adalah pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, laju inflasi terkendali, tingkat pengangguran relatif rendah, neraca pembayaran secara keseluruhan masih surplus meskipun defisit neraca berjalan cenderung membesar namun jumlahnya masih terkendali, cadangan devisa masih cukup besar, realisasi anggaran pemerintah masih menunjukkan sedikit surplus. Lihat Tabel. Namun di balik ini terdapat beberapa kelemahan struktural seperti peraturan perdagangan domestik yang kaku dan berlarut-larut, monopoli impor yang menyebabkan kegiatan ekonomi tidak efisien dan kompetitif. Pada saat yang bersamaan kurangnya transparansi dan kurangnya data menimbulkan ketidak pastian sehingga masuk dana luar negeri dalam jumlah besar melalui sistim perbankan yang lemah. Sektor swasta banyak meminjam dana dari luar negeri yang sebagian besar tidak di hedge. Dengan terjadinya krisis moneter, terjadi juga krisis kepercayaan. (Bandingkan juga IMF, 1997: 1). Namun semua kelemahan ini masih mampu ditampung oleh perekonomian nasional. Yang terjadi adalah, mendadak datang badai yang sangat besar, yang tidak mampu dbendung oleh tembok penahan yang ada, yang selama bertahun-tahun telah mampu menahan berbagai terpaan gelombang yang datang mengancam.

*) Tulisan ini merupakan revisi dan updating dari pidato pengukuhan Guru Besar Madya pada FEUI dengan judul “Krisis Moneter Tahun 1997/1998 dan Peran IMF”, Jakarta, 10 Juni 1998. **) Lepi T. Tarmidi : Wakil Kepala Pusat Kajian APEC, Universitas Indonesia, email : lepi@lpem.feui.org

2

INDIKATOR UTAMA EKONOMI INDONESIA 1990 - 1997
1990 Pertumbuhan ekonomi (%) Tingkat inflasi (%) Neraca pembayaran (US$ juta) Neraca perdagangan Neraca berjalan Neraca modal Pemerintah (neto) Swasta (neto) PMA (neto) Cadangan devisa akhir tahun (US$ juta) (bulan impor nonmigas c&f) Debt-service ratio (%) Nilai tukar Des. (Rp/US$) APBN* (Rp. milyar) 8,661 4,7 30,9 1,901 3,203 9,868 4,8 32,0 1,992 433 11,611 5,4 31,6 2,062 -551 12,352 5,4 33,8 2.11 -1.852 13,158 5,0 30,0 2.2 1,495 14,674 4,3 33,7 2,308 2,807 19,125 5,2 33,0 2,383 818 4.65 456 17,427 4,5 7,24 9,93 2,099 5,352 -3.24 4,746 633 3,021 1,092 1991 6,95 9,93 1,207 4,801 -4,392 5,829 1,419 2,928 1,482 1992 6,46 5,04 1,743 7,022 -3,122 18,111 12,752 3,582 1,777 1993 6,50 10,18 741 8,231 -2,298 17,972 12,753 3,216 2,003 1994 7,54 9,66 806 7,901 -2.96 4,008 307 1,593 2,108 1995 8,22 8,96 1,516 6,533 -6.76 10,589 336 5,907 4,346 1996 7,98 6,63 4,451 5,948 -7,801 10,989 -522 5,317 6,194 1997 4,65 11,60 -10,021 12,964 -2,103 -4,845 4,102 -10.78 1,833

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

* Tahun anggaran Sumber : BPS, Indikator Ekonomi; Bank Indonesia, Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia; World Bank, Indonesia in Crisis, July 2, 1998

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran

3

Sebagai konsekuensi dari krisis moneter ini, Bank Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1997 terpaksa membebaskan nilai tukar rupiah terhadap valuta asing, khususnya dollar AS, dan membiarkannya berfluktuasi secara bebas (free floating) menggantikan sistim managed floating yang dianut pemerintah sejak devaluasi Oktober 1978. Dengan demikian Bank Indonesia tidak lagi melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menopang nilai tukar rupiah, sehingga nilai tukar ditentukan oleh kekuatan pasar semata. Nilai tukar rupiah kemudian merosot dengan cepat dan tajam dari rata-rata Rp 2.450 per dollar AS Juni 1997 menjadi Rp 13.513 akhir Januari 1998, namun kemudian berhasil menguat kembali menjadi sekitar Rp 8.000 awal Mei 1999.

Krisis Moneter dan Faktor-Faktor Penyebabnya
Penyebab dari krisis ini bukanlah fundamental ekonomi Indonesia yang selama ini lemah, hal ini dapat dilihat dari data-data statistik di atas, tetapi terutama karena utang swasta luar negeri yang telah mencapai jumlah yang besar. Yang jebol bukanlah sektor rupiah dalam negeri, melainkan sektor luar negeri, khususnya nilai tukar dollar AS yang mengalami overshooting yang sangat jauh dari nilai nyatanya1 . Krisis yang berkepanjangan ini adalah krisis merosotnya nilai tukar rupiah yang sangat tajam, akibat dari serbuan yang mendadak dan secara bertubi-tubi terhadap dollar AS (spekulasi) dan jatuh temponya utang swasta luar negeri dalam jumlah besar. Seandainya tidak ada serbuan terhadap dollar AS ini, meskipun terdapat banyak distorsi pada tingkat ekonomi mikro, ekonomi Indonesia tidak akan mengalami krisis. Dengan lain perkataan, walaupun distorsi pada tingkat ekonomi mikro ini diperbaiki, tetapi bila tetap ada gempuran terhadap mata uang rupiah, maka krisis akan terjadi juga, karena cadangan devisa yang ada tidak cukup kuat untuk menahan gempuran ini. Krisis ini diperparah lagi dengan akumulasi dari berbagai faktor penyebab lainnya yang datangnya saling bersusulan. Analisis dari faktor-faktor penyebab ini penting, karena penyembuhannya tentunya tergantung dari ketepatan diagnosa. Anwar Nasution melihat besarnya defisit neraca berjalan dan utang luar negeri, ditambah dengan lemahnya sistim perbankan nasional sebagai akar dari terjadinya krisis finansial (Nasution: 28). Bank Dunia melihat adanya empat sebab utama yang bersamasama membuat krisis menuju ke arah kebangkrutan (World Bank, 1998, pp. 1.7 -1.11). Yang pertama adalah akumulasi utang swasta luar negeri yang cepat dari tahun 1992 hingga Juli 1997, sehingga l.k. 95% dari total kenaikan utang luar negeri berasal dari sektor swasta ini, dan jatuh tempo rata-ratanya hanyalah 18 bulan. Bahkan selama empat tahun terakhir utang luar negeri pemerintah jumlahnya menurun. Sebab yang kedua adalah kelemahan
1 Dalam teori, overshooting nilai tukar biasanya bersifat sementara untuk kemudian mencari keseimbangan jangka panjang baru. Tetapi selama krisis ini berlangsung, nilai overshooting adalah sangat besar dan sudah berlangsung sejak akhir tahun 1997.

memungkinkan arus modal dan valas dapat mengalir keluar-masuk secara bebas berapapun jumlahnya. Kondisi di atas dimungkinkan. yang berada di bawah nilai tukar nyatanya. sehingga masyarakat memilih barang impor yang kualitasnya lebih baik. dan produk dalam negeri yang makin lama makin kalah bersaing dengan produk impor. karena Indonesia menganut rezim devisa bebas dengan rupiah yang konvertibel. Maret 1999 pada sistim perbankan. menyebabkan nilai rupiah secara kumulatif sangat overvalued. ekspor menjadi kurang kompetitif dan impor meningkat. Ditambah dengan kenaikan pendapatan penduduk dalam nilai US dollar yang naiknya relatif lebih cepat dari kenaikan pendapatan nyata dalam Rupiah. Ada tiga pihak yang . ditambah sistim perbankan nasional yang lemah. sehingga membuka peluang yang sebesarbesarnya untuk orang bermain di pasar valas. Berikut ini diberikan rangkuman dari berbagai faktor tersebut menurut urutan kejadiannya: 1) Dianutnya sistim devisa yang terlalu bebas tanpa adanya pengawasan yang memadai. termasuk kemampuan pemerintah menangani dan mengatasi krisis.4% (1993) hingga 5. Ketiga adalah masalah governance. meskipun ini bukan faktor satu-satunya. berkisar antara 2.4 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Yang keempat adalah ketidak pastian politik menghadapi Pemilu yang lalu dan pertanyaan mengenai kesehatan Presiden Soeharto pada waktu itu. 3) Akar dari segala permasalahan adalah utang luar negeri swasta jangka pendek dan menengah sehingga nilai tukar rupiah mendapat tekanan yang berat karena tidak tersedia cukup devisa untuk membayar utang yang jatuh tempo beserta bunganya (bandingkan juga Wessel et al. penyebab utama dari terjadinya krisis yang berkepanjangan ini adalah merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang sangat tajam. Akibatnya harga barang impor menjadi relatif murah dan produk dalam negeri relatif mahal. Valas bebas diperdagangkan di dalam negeri. Nilai Rupiah yang overvalued berarti juga proteksi industri yang negatif. Sementara menurut penilaian penulis. sementara rupiah juga bebas diperdagangkan di pusat-pusat keuangan di luar negeri. Akibatnya produksi dalam negeri tidak berkembang. bahkan sudah jauh melampaui utang resmi pemerintah yang beberapa tahun terakhir malah sedikit berkurang (oustanding official debt). tetapi ada banyak faktor lainnya yang berbeda menurut sisi pandang masing-masing pengamat. Masyarakat bebas membuka rekening valas di dalam negeri atau di luar negeri. Akumulasi utang swasta luar negeri yang sejak awal tahun 1990-an telah mencapai jumlah yang sangat besar. yang kemudian menjelma menjadi krisis kepercayaan dan keengganan donor untuk menawarkan bantuan finansial dengan cepat.8% (1991) antara tahun 1988 hingga 1996. karena tidak mencerminkan nilai tukar yang nyata. Nilai rupiah yang sangat overvalued ini sangat rentan terhadap serangan dan permainan spekulan.: 22). 2) Tingkat depresiasi rupiah yang relatif rendah.

tingkat bunga di dalam negeri dibiarkan tinggi untuk menahan pelarian dana ke luar negeri dan agar masyarakat mau mendepositokan dananya dalam rupiah. Pihak kreditur luar negeri juga ikut bersalah. meskipun masalahnya juga cukup berat karena selama bertahun-tahun telah terjadi net capital outflow3 yang kian lama kian membesar berupa pembayaran cicilan utang pokok dan bunga. Kesalahan pemerintah adalah. sehingga pinjaman dalam rupiah menjadi relatif mahal dan pinjaman dalam mata uang asing menjadi relatif murah. di mana pengusaha beramai-ramai melakukan investasi di bidang yang sama meskipun bidangnya sudah jenuh. Sebagian besar dari pinjaman luar negeri swasta ini tidak di hedge (Nasution: 12). Sebaliknya. Misalnya pengusaha ramai-ramai mendiri-kan apotik. karena masing-masing pengusaha hanya melihat dirinya sendiri saja dan tidak memperhitungkan gerakan pengusaha lainnya. Bagi debitur dalam negeri. karena telah memberi signal yang salah kepada pelaku ekonomi dengan membuat nilai rupiah terus-menerus overvalued dan suku bunga rupiah yang tinggi. kecuali yang berkaitan dengan proyek pemerintah dengan dibentuknya tim PKLN. Jadi di sini pemerintah dihadapi dengan buah simalakama. membuka tambak udang. hal. 1998: 5). Peran IMF dan Saran 5 bersalah di sini. Dengan demikian pengusaha hanya bereaksi atas signal yang diberikan oleh pemerintah. Selain itu pemerintah sama sekali tidak melakukan pengawasan terhadap utang-utang swasta luar negeri ini. Jadi sudah sewajarnya. Keadaan ini menguntungkan pengusaha selama tidak terjadi devaluasi dan ini terjadi selama bertahun-tahun sehingga memberi rasa aman dan orang terus meminjam dari luar negeri dalam jumlah yang semakin besar. misalnya 2 Yang dimaksud di sini adalah perilaku pengusaha yang bertindak atas pertimbangan dirinya sendiri tanpa mengetahui apa yang dilakukan oleh pengusaha lainnya. Sebagian orang Indonesia malah bisa hidup mewah dengan menikmati selisih biaya bunga antara dalam negeri dan luar negeri (Wessel et al. namun masih bisa diatasi dengan pinjaman baru dan pemasukan modal luar negeri dari sumber-sumber lain. Beda dengan pinjaman swasta. karena kurang hati-hati dalam memberi pinjaman dan salah mengantisipasi keadaan (bandingkan IMF. Dampak. Kalau masalahnya hanya menyangkut utang luar negeri pemerintah saja. terjadinya utang swasta luar negeri dalam jumlah besar ini. Pada awal Mei 1998 besarnya utang luar negeri swasta dari 1. 22). kreditur dan debitur. jika kreditur luar negeri juga ikut menanggung sebagian dari kerugian yang diderita oleh debitur.800 perusahaan diperkirakan berkisar antara US$ 63 hingga US$ 64 milyar. sementara utang pemerintah US$ 53. juga disebabkan suatu gejala yang dalam teori ekonomi dikenal sebagai fallacy of thinking2 . ada tenggang waktu pembayaran. di samping lebih menguntungkan. 3 Total pembayaran cicilan utang pokok dan bunga setelah dikurangi pinjaman baru. membangun realestat dan kondomium. pemerintah. .. dan tiap tahunnya ada pemasukan pinjaman baru.5 milyar. pinjaman luar negeri pemerintah sifatnya jangka panjang. tingkat bunganya relatif rendah.Krisis Moneter Indonesia : Sebab.

Krugman melihat bahwa para financial intermediaries juga berperan di Thailand dan Korea Selatan dengan moral nekat mereka. Mereka meminjamkan pada proyek-proyek berisiko tinggi sehingga terjadi investasi berlebihan di sektor tanah (Krugman. Dewasa ini mata uang sendiri sudah menjadi komoditi perdagangan. 1998. Pinjaman-pinjaman luar negeri dalam jumlah relatif besar yang dilakukan oleh sistim perbankan sebagian disalurkan ke sektor investasi yang tidak menghasilkan devisa (non-traded goods) di bidang tanah seperti pembangunan hotel. 4) Permainan yang dilakukan oleh spekulan asing (bandingkan juga Ehrke: 2-3) yang dikenal sebagai hedge funds tidak mungkin dapat dibendung dengan melepas cadangan devisa yang dimiliki Indonesia pada saat itu.6 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. dan pada saat itu mereka akan menukarkan kembali rupiah dengan dollar AS (Wessel et al. maka sedikit sekali pemasukan devisa yang bisa diandalkan untuk membayar kembali utang luar negeri. Pinjaman luar negeri dan dana masyarakat yang masuk ke sistim perbankan. Proyek-proyek besar ini umumnya tidak menghasilkan barang-barang ekspor dan mengandalkan pasar dalam negeri. Meskipun pada awalnya spekulan asing ikut berperan. Para spekulan ini juga meminjam dari sistim perbankan untuk memperbesar pertaruhan mereka. 1). kemudian macet dan uangnya tidak kembali (Nasution: 28. tetapi mereka tidak bisa disalahkan sepenuhnya atas pecahnya krisis moneter ini.. banyak yang dikelola secara tidak prudent. Namun pemicu adalah krisis moneter kiriman yang berawal dari Thailand antara Maret sampai Juni 1997. lepas dari sektor riil. taman industri. taman hiburan. yang memungkinkan dengan modal relatif kecil bermain dalam jumlah besar. shopping malls dan realestat (Nasution: 9. hal. karena mereka membeli rupiah dalam jumlah cukup besar ketika kurs masih di bawah Rp. Sebagian dari mereka ini justru sekarang menderita kerugian. 1998. Ehrke: 3). yang diserang terlebih dahulu oleh spekulan dan kemudian menyebar ke negara Asia lainnya termasuk Indonesia (Nasution: 1. Itu sebabnya mengapa Bank Indonesia memutuskan untuk tidak intervensi di pasar valas karena tidak akan ada gunanya. IMF Research Department Staff: 10). resort pariwisata. hal. IMF Research . Mereka mulai mencari dollar AS untuk membayar utang jangka pendek dan membeli dollar AS untuk di hedge (World Bank. yakni disalurkan ke kegiatan grupnya sendiri dan untuk proyek-proyek pembangunan realestat dan kondomium secara berlebihan sehingga jauh melampaui daya beli masyarakat. Greenwood).000 per dollar AS dengan pengharapan ini adalah kurs tertinggi dan rupiah akan balik menguat. Maka beban pembayaran utang luar negeri beserta bunganya menjadi tambah besar yang dibarengi oleh kinerja ekspor yang melemah (bandingkan IDE). yang menjadi penyebab utama dari krisis di Asia Timur. karena praktek margin trading. 1. Maret 1999 bank-bank. 4.4). Ditambah lagi dengan kemerosotan nilai tukar rupiah yang tajam yang membuat utang dalam nilai rupiah membengkak dan menyulitkan pembayaran kembalinya.

1998: 5). Negara-negara sahabat yang menjanjikan akan membantu Indonesia juga menunda mengucurkan bantuannya menunggu signal dari IMF. IDE). Greenwood). Singapura yang menjanjikan l.1). Kesalahan juga terletak pada investor luar negeri yang kurang waspada dan meremehkan resiko (IMF. IMF. 11). yang membuat harga barang-barang impor menjadi relatif murah dibandingkan dengan produk dalam negeri. dana modal asing terus mengalir ke luar negeri meskipun dicoba ditahan dengan tingkat bunga yang tinggi atas surat-surat berharga Indonesia (Nasution: 1.k. Dampak. Krisis moneter yang terjadi sudah saling kait-mengkait di kawasan Asia Timur dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya (butir 16 dari persetujuan IMF 15 Januari 1998). Peran IMF dan Saran 7 Department Staff: 10.k. 7) Penanam modal asing portfolio yang pada awalnya membeli saham besar-besaran dimingimingi keuntungan yang besar yang ditunjang oleh perkembangan moneter yang relatif stabil kemudian mulai menarik dananya keluar dalam jumlah besar (bandingkan World Bank. hal. Selisih tingkat suku bunga dalam negeri dengan luar negeri yang besar dan kemungkinan memperoleh keuntungan yang relatif besar dengan cara bermain di bursa efek. ditopang oleh tingkat devaluasi yang relatif stabil sekitar 4% per tahun sejak 1986 menyebabkan banyak modal luar negeri yang mengalir masuk. Ketidak mampuan pemerintah menangani krisis menimbulkan krisis kepercayaan dan mengurangi kesediaan investor asing untuk memberi bantuan finansial dengan cepat (World Bank.3. US$ 5 milyar meminta pembayaran bunga yang lebih tinggi dari pinjaman IMF. US$ 1 milyar baru akan mencairkan dananya sebagai yang terakhir setelah semua pihak lain yang berjanji akan . 5) Kebijakan fiskal dan moneter tidak konsisten dalam suatu sistim nilai tukar dengan pita batas intervensi. Sebab utama adalah nilai tukar rupiah yang sangat overvalued. 1998. 8) IMF tidak membantu sepenuh hati dan terus menunda pengucuran dana bantuan yang dijanjikannya dengan alasan pemerintah tidak melaksanakan 50 butir kesepakatan dengan baik. yang disebabkan karena laju peningkatan impor barang dan jasa lebih besar dari ekspor dan melonjaknya pembayaran bunga pinjaman. 1. 6) Defisit neraca berjalan yang semakin membesar (IMF Research Department Staff: 10. sementara Brunei Darussalam yang menjanjikan l. Terkesan tidak adanya kebijakan pemerintah yang jelas dan terperinci tentang bagaimana mengatasi krisis (Nasution: 1) dan keadaan ini masih berlangsung hingga saat ini.4.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. padahal keadaan perekonomian Indonesia makin lama makin tambah terpuruk. 1998: 1. Krisis ini adalah krisis kepercayaan terhadap rupiah (World Bank. Sistim ini menyebabkan apresiasi nyata dari nilai tukar rupiah dan mengundang tindakan spekulasi ketika sistim batas intervensi ini dihapus pada tanggal 14 Agustus 1997 (Nasution: 2).10). 1. 1998. 2. 1998: 5). p. Setelah nilai tukar Rupiah tambah melemah dan terjadi krisis kepercayaan.

10.8 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Terjadilah snowball effect. kurs dollar AS dan juga mata uang negara-negara Asia Timur melemah terhadap yen Jepang. sehingga banyak perusahaan Jepang melakukan relokasi dan investasi dalam jumlah besar di negara-negara ini. 1998: 1. penyaluran dana yang besar untuk proyek IPTN dan mobil nasional. sehingga menimbulkan krisis keuangan. 1. yang nilainya melemah terhadap dollar AS (lihat IDE).10). monopoli di berbagai bidang.Terjadi krisis kepercayaan dan kepanikan yang menyebabkan masyarakat luas menyerbu membeli dollar AS agar nilai kekayaan tidak merosot dan malah bisa menarik keuntungan dari merosotnya nilai tukar rupiah. namun kelemahan ini meskipun telah terakumulasi selama bertahun-tahun masih bisa ditampung oleh masyarakat dan tidak cukup kuat untuk menjungkir-balikkan perekonomian Indonesia seperti sekarang ini. Para spekulan inipun tidak semata-mata menggunakan dananya sendiri. 9. hal. jiwa dan martabat mereka.4. 11. (Ehrke: 2). Orang-orang kaya Indonesia. Setelah Plaza-Accord tahun 1985. Maret 1999 membantu telah mencairkan dananya dan telah habis terpakai. Terdapatnya keterkaitan yang erat dengan yen Jepang. Padahal mereka menguasai sebagian besar modal dan kegiatan ekonomi di Indonesia dengan akibat mereka membawa keluar harta kekayaan mereka dan untuk sementara tidak melaukan investasi baru. Daya saing negara-negara Asia Timur meningkat terhadap Jepang. Subsidi pangan oleh BULOG. Memang terjadi dislokasi sumber-sumber ekonomi dan kegiatan mengejar rente ekonomi oleh perorangan/kelompok tertentu yang menguntungkan mereka ini dan merugikan rakyat banyak dan perusahaan-perusahaan yang efisien. baik pejabat pribumi dan etnis Cina. Tahun 1995 kurs dollar AS berbalik menguat terhadap yen Jepang. Timbulnya krisis berkaitan dengan . Spekulan domestik ikut bermain (Wessel et al. karena mata uang negaranegara Asia ini dipatok dengan dollar AS. 22).. IMF sendiri dinilai banyak pihak telah gagal menerapkan program reformasinya di Indonesia dan malah telah mempertajam dan memperpanjang krisis. sudah sejak tahun lalu bersiap-siap menyelamatkan harta kekayaannya ke luar negeri mengantisipasi ketidak stabilan politik dalam negeri. sementara nilai utang dari negara-negara ini dalam dollar AS meningkat karena meminjam dalam yen. Kerusahan besar-besaran pada pertengahan Mei yang lalu yang ditujukan terhadap etnis Cina telah menggoyahkan kepercayaan masyarakat ini akan keamanan harta. tetapi juga meminjam dana dari sistim perbankan untuk bermain. Di lain pihak harus diakui bahwa sektor riil sudah lama menunggu pembenahan yang mendasar. di mana serbuan terhadap dollar AS makin lama makin besar. Sejak awal Desember 1997 hingga awal Mei 1998 telah terjadi pelarian modal besar-besaran ke luar negeri karena ketidak stabilan politik seperti isu sakitnya Presiden dan Pemilu (World Bank.

kemudian 29 Juli 1998. (Fischer 1998b). Second Supplementary Memorandum of Economic and Financial Policies (MEFP) tanggal 24 Juni. Penyehatan sektor keuangan. 2. Program bantuan IMF pertama ditanda-tangani pada tanggal 31 Oktober 1997. Penyesuaian struktural. 4. Membenahi sektor riil saja. dan sisanya akan dicairkan secara bertahap sesuai kemajuan dalam pelaksanaan program. 1997: 1). yakni sektor ekonomi luar negeri. Peran IMF dan Saran 9 jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS secara tajam. Sebab itu tindakan yang harus segera didahulukan untuk mengatasi krisis ekonomi ini adalah pemecahan masalah utang swasta luar negeri. Sejumlah US$ 3. menstabilkan nilai tukar rupiah pada tingkat yang nyata.07 milyar yang bisa dimanfaatkan. Kebijakan moneter. Sementara itu pemerintah Indonesia telah enam kali memperbaharui persetujuannya dengan IMF. tidak memecahkan permasalahan. Krisis pecah karena terdapat ketidak seimbangan antara kebutuhan akan valas dalam jangka pendek dengan jumlah devisa yang tersedia. IMF akan mengalokasikan stand-by credit sekitar US$ 11. Strategi pemulihan IMF dalam garis besarnya adalah mengembalikan kepercayaan pada mata uang. Bank Dunia. Untuk menunjang program ini. Program Reformasi Ekonomi IMF Menurut IMF. Indonesia sendiri mempunyai kuota di IMF sebesar US$ 2. dan kurang dipengaruhi oleh sektor riil dalam negeri.3 milyar selama tiga hingga lima tahun masa program. Dari jumlah total pinjaman tersebut. Di samping dana bantuan IMF. Dampak. yaitu dengan membuat mata uang itu sendiri menarik. Inti dari setiap program pemulihan ekonomi adalah restrukturisasi sektor finansial.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. jumlah yang sama disediakan setelah 15 Maret 1998 bila program penyehatannya telah dijalankan sesuai persetujuan. tanggal 16 Maret 1999. Bank Pembangunan Asia dan negaranegara sahabat juga menjanjikan pemberian bantuan yang nilai totalnya mencapai lebih . (IMF.04 milyar dicairkan segera. Program reformasi ekonomi yang disarankan IMF ini mencakup empat bidang: 1. dan yang terakhir adalah review yang keempat. mengembalikan kepercayaan masyarakat dalam dan luar negeri terhadap kemampuan ekonomi Indonesia. yang menyebabkan nilai dollar AS melambung dan tidak terbendung. membenahi kinerja perbankan nasional. meskipun kelemahan sektor riil dalam negeri mempunyai pengaruh terhadap melemahnya nilai tukar rupiah. 3. Kebijakan fiskal. krisis ekonomi yang berkepanjangan di Indonesia disebabkan karena pemerintah baru meminta bantuan IMF setelah rupiah sudah sangat terdepresiasi. dan tidak kalah penting adalah mengembalikan stabilitas sosial dan politik.

Setelah pelaksanaan reformasi kedua ini kembali menghadapi berbagai hambatan. Jadwal pelaksanaan masing-masing program dirangkum dalam matriks komitmen kebijakan struktural. Pokokpokok dari program IMF adalah sebagai berikut: A. Kebijakan makro-ekonomi . 7 appendix dan satu matriks. memperkuat implementasi reformasi struktural untuk membangun ekonomi yang efisien dan berdaya saing. yang mengandung 50 butir. di antaranya sebesar US$ 21 milyar berasal dari IMF.Deregulasi dan swastanisasi . dan aspek baru yang masuk adalah penyelesaian utang luar negeri perusahaan swasta Indonesia.2 milyar. Thailand hanya memperoleh dana bantuan total sebesar US$ 17.10 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Sebagai perbandingan. Restrukturisasi sektor keuangan . Saransaran IMF diharapkan akan mengembalikan kepercayaan masyarakat dengan cepat dan kurs nilai tukar rupiah bisa menjadi stabil (butir 17 persetujuan IMF 15 Januari 1998). . Korea mendapat bantuan dana total sebesar US$ 57 milyar untuk jangka waktu tiga tahun. menstabilkan rupiah pada tingkat yang sesuai dengan kekuatan ekonomi Indonesia. maka dilakukanlah negosiasi kedua yang menghasilkan persetujuan mengenai reformasi ekonomi (letter of intent) yang ditanda-tangani pada tanggal 15 Januari 1998. 3. Strategi yang akan dilaksanakan adalah: 1. memperkuat dan mempercepat restrukturisasi sistim perbankan. Cakupan memorandum ini lebih luas dari kedua persetujuan sebelumnya. Reformasi struktural .Kebijakan moneter dan nilai tukar B.Perdagangan luar negeri dan investasi . maka diadakanlah negosiasi ulang yang menghasilkan supplementary memorandum pada tanggal 10 April 1998 yang terdiri atas 20 butir.Program restrukturisasi bank .5 milyar berasal dari Indonesia dan Korea. Maret 1999 kurang US$ 37 milyar (menurut Hartcher dan Ryan). Namun bantuan dari pihak lain ini dikaitkan dengan kesungguhan pemerintah Indonesia melaksanakan program-program yang diprasyaratkan IMF.Kebijakan fiskal . 2.Social safety net . di antaranya US$ 4 milyar dari IMF dan masing-masing US$ 0.Memperkuat aspek hukum dan pengawasan untuk perbankan C.Lingkungan hidup. Karena dalam beberapa hal program-program yang diprasyaratkan IMF oleh pihak Indonesia dirasakan berat dan tidak mungkin dilaksanakan.

Ke tujuh appendix adalah masing-masing: Kebijakan moneter dan suku bunga Pembangunan sektor perbankan Bantuan anggaran pemerintah untuk golongan lemah Reformasi BUMN dan swastanisasi Reformasi struktural Restrukturisasi utang swasta Hukum Kebangkrutan dan reformasi yuridis. meskipun surplus . 1. sehingga ekspor bisa bangkit kembali. Setelah melihat program penyelematan IMF di ketiga negara tersebut. 5. kembalikan pembelanjaan perdagangan pada keadaan yang normal. 6. rasa tenteram. yang paling umum adalah bahwa: (1) program IMF terlalu seragam. bila pemerintah dengan konsekuen melaksanakan program IMF. Prioritas utama dari program IMF ini adalah restrukturisasi sektor perbankan. Kritik Terhadap IMF Banyak kritik yang dilontarkan oleh berbagai pihak ke alamat IMF dalam hal menangani krisis moneter di Asia. padahal dalam hal Indonesia anggaran belanja negara sampai dengan tahun anggaran 1996/1997 hampir selalu surplus.4 juta dan jumlah yang sama akan dicairkan lagi berturut-turut awal bulan Juni dan awal bulan Juli. Radelet dan Sachs secara gamblang mentakan bahwa bantuan IMF kepada tiga negara Asia (Thailand. Pencairan berikutnya sebesar US$ 1 milyar yang dijadwalkan awal bulan Juni baru akan terlaksana awal bulan September ini. Korea dan Indonesia) telah gagal. sehingga tidak bisa keluar dengan program penyelamatan yang tepat. tetapi untuk mendukung neraca pembayaran serta memberi rasa aman. 6 Mei 1998). dan (2) program IMF terlalu banyak mencampuri kedaulatan negara yang dibantu (Fischer. dan rasa kepercayaan terhadap perekonomian bahwa kita memiliki cukup devisa untuk mengimpor dan memenuhi kewajiban-kewajiban luar negeri” (Kompas. 7. Salah satu pemecahan standar IMF adalah menuntut adanya surplus dalam anggaran belanja negara. Dampak.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. Pemerintah akan terus menjamin kelangsungan kredit murah bagi perusahaan kecilmenengah dan koperasi dengan tambahan dana dari anggaran pemerintah (butir 16 dan 20 dari Suplemen). Sementara itu Menko Ekuin/ Kepala Bappenas menegaskan bahwa “Dana IMF dan sebagainya memang tidak kita gunakan untuk intervensi. Awal Mei 1998 telah dilakukan pencairan kedua sebesar US$ 989. 1998b). padahal masalah yang dihadapi tiap negara tidak seluruhnya sama. 5. menyusun kerangka untuk mengatasi masalah utang perusahaan swasta. timbul kesan yang kuat bahwa IMF sesungguhnya tidak menguasai permasalahan dari timbulnya krisis. 3. 2. 4. Peran IMF dan Saran 11 4.

Maret 1999 ini ditutup oleh bantuan luar negeri resmi pemerintah. namun ini bukan disebabkan karena kebijakan deficit financing dari pemerintah. pemimpin ekonom Bank Dunia.12 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Di satu pihak. yang pada dasarnya hanya memperluas kesempatan ekonomi AS. Selama ini tidak ada pencetakan uang secara besar-besaran untuk menutup anggaran belanja negara yang defisit. Memang dalam anggaran belanja negara tahun 1998/1999 terdapat defisit anggaran yang besar.R. semakin besar defisit yang terjadi dalam anggaran belanja. (Kompas. menjadi hal yang disoroti Dewan Direktur IMF dalam pengambilan keputusannya pekan depan”. Narvekar) sendiri juga dikutip sebagai mengatakan bahwa “IMF kerap menerapkan standar ganda dalam pengambilan keputusan. Penasehat khusus IMF untuk Indonesia (P. bahwa di bidang kebijaksanaan makro IMF tidak memperlihatkan adanya konsistensi antarinstrumen kebijaksanaan. mengkritik bahwa prakondisi IMF yang teramat ketat terhadap negara-negara Asia di tengah krisis yang berkepanjangan berpotensi menyebabkan resesi yang berkepanjangan. dan prinsip ini terus dipegang. (Kompas. bagaimana caranya untuk meningkatkan penerimaan pemerintah dan mengurangi pengeluaran pemerintah untuk mencapai sasaran surplus anggaran sebesar 1% dari PDB dalam tahun fiskal 1998/99. Karena itu pemecahan utamanya adalah bagaimana mengembalikan nilai tukar rupiah ke tingkat yang wajar. Karenanya. yaitu negara pengutang lazimnya harus mendapatkan restu pendanaan dari pemerintah AS. namun kelemahan utama dari IMF adalah tidak ada program yang jelas untuk meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya produksi untuk mendorong ekspor non-migas. Semakin jatuh nilai tukar rupiah. Adalah kebijakan dari Orde Baru untuk menjaga keseimbangan dalam anggaran belanja negara. sementara keputusan yang diambil harus mengacu pada fakta konkret ekonomi. Anwar Nasution mengkritik bahwa reformasi ekonomi yang disarankan IMF bentuknya masih samar-samar. Sri Mulyani mengemukakan. Stiglitz. 13 Mei 1998). Tidak ada penjelasan rinci. dan tidak ada tingkat inflasi yang melebihi 10%. Kemudian berlakunya praktek apa yang dinamakan “konsensus Washington”. Kabar terakhir menyebutkan bahwa pencairan bantuan tahap ketiga awal Juni ni akan tertunda lagi atas desakan pemerintah AS yang dikaitkan dengan perkembangan reformasi politik di Indonesia. J. dan ini akan menunda cairnya bantuan dari sumber-sumber lain (Hartcher dan Ryan). 2 Mei 1998). dan bagaimana ingin dicapai sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 3%. (Nasution: 27-28). Di satu pihak IMF . tetapi oleh karena nilai tukar rupiah yang terpuruk terhadap dollar AS. Demikianpun halnya dengan Bank Dunia. perwakilan IMF mewakili negara dan pemerintahan dengan kebijakan dan visi politik masing-masing. ada saja peluang bahwa tudingan atas pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia yang makin marak belakangan ini. Harapan satu-satunya adalah peningkatan ekspor non-migas.

Peran IMF dan Saran 13 memberikan kelenturan dengan mengizinkan dipertahankannya subsidi dan menyediakan dana untuk menciptakan jaringan keselamatan sosial. menghilangkan kepercayaan terhadap rupiah. kita juga perlu berterima kasih kepada IMF karena dengan menunda mencairkan bantuannya. Rencana IMF untuk mencairkan bantuannya secara bertahap dalam jarak waktu yang cukup jauh menunjukkan bahwa IMF menekan Indonesia untuk menjalankan programnya secara ketat dan membiarkan keadaan ekonomi Indonesia terus merosot menuju resesi yang berkepanjangan. “Secara makro ancaman kegagalan terbesar kesepakatan ketiga ini berasal dari kebijaksanaan moneter yang masih ambivalen. karena keharusan BI melakukan fungsi lender of last resort bagi perbankan nasional. Karena badan internasional lain dan negara-negara sahabat yang menjanjikan bantuan juga menunggu signal dari IMF. hanya dicicil US$ 1 milyar dari jumlah US$ 3 milyar. Pertanyaan mendasar yang harus ditujukan kepada IMF menurut penulis adalah sejauh mana IMF bersungguh-sungguh dalam hal membantu mengatasi krisis ekonomi yang sedang melanda Indonesia dewasa ini? Apakah sama seperti kesungguhan Amerika Serikat ketika membantu Meksiko bersama-sama dengan IMF dan negara-negara maju lainnya yang berhasil menggalang sebesar hampir US$ 48 milyar Januari 1995? Setelah mencapai titik terendah tahun 1995. sedang di lain pihak menganut kebijaksanaan moneter yang kontraktif. Di lain pihak. perekonomian Meksiko dengan cepat pada tahun 1996 dapat bangkit kembali. . karena cara pengelolaan bank yang amburadul dan tidak mengikuti peraturan. ekonomi dan hukum di Indonesia yang pada akhirnya bermuara pada mundurnya Presiden Soeharto. Kedua kebijaksanaan ini bisa memandulkan efektivitas kebijaksanaan makro. berhubung semua bantuan tambahan yang besarnya mencapai US$ 27 milyar dikaitkan dengan cairnya bantuan IMF. namun dampak psikologisnya dari tindakan ini tidak diperhitungkan. bahkan memperparah keadaan. Hal ini juga diakui oleh IMF (butir 14. sehingga memperparah keadaan dan masyarakat beramai-ramai memindahkan dananya dalam jumlah besar ke bank-bank asing dan pemerintah atau ditaruh di rumah. yang bertentangan dengan tema pengetatan. yang menimbulkan krisis likuiditas perbankan nasional yang gawat. Dampak. IMF sedikit banyak mempunyai andil dalam perjuangan menggulirkan tuntutan reformasi politik. 15 dan 24 dari persetujuan IMF tanggal 15 Januari 1998).Krisis Moneter Indonesia : Sebab. (Sri Mulyani: 72). Bank Indonesia dan perbankan nasional. Saran IMF menutup sejumlah bank yang bermasalah untuk menyehatkan sistim perbankan Indonesia pada dasarnya adalah tepat. Dengan menahan pencairan bantuan tahap kedua dan setelah diundur. ditambah jarak yang cukup lama antara paket bantuan pertama dan kedua. menyulitkan pemulihan ekonomi Indonesia secara cepat. Masyarakat kehilangan kepercayaan kepada otoritas moneter. juga ketidak sejalanan kebijaksanaan moneter dan fiskal” (Sri Mulyani: 72). terutama dalam rangka stabilitas nilai tukar dan inflasi.

Krisis ekonomi yang tengah berlangsung ini memang bukan tanggung-jawab IMF dan tidak bisa dipecahkan oleh IMF sendiri. dan titipan-titipan khusus dari negaranegara maju yaitu membuka peluang investasi yang seluas-luasnya bagi mereka dengan menggunakan kesempatan dalam kesempitan Indonesia. sementara pemecahan masalahnya sudah sangat mendesak. yang didukung oleh bantuan dana dari World Bank. 16. tetapi dampak hasilnya baru bisa dirasakan dalam jangka panjang. IMF sendiri tampaknya tidak tahu apa yang harus dilakukannya dan berputarputar pada kebijakan surplus anggaran. butir 5. dengan mencairkan dana bantuan yang relatif besar pada bulan November lalu. Maret 1999 Saran IMF untuk menstabilkan nilai tukar adalah dengan menerapkan kebijakan uang ketat. Reformasi struktural sebagaimana yang dianjurkan oleh IMF memang mendasar dan penting.14 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. tingkat bunga tinggi. karena untuk beberapa tindakan memang ada tanda-tanda kekurang sungguhan di pihak Indonesia. juga tidak ada Appendix untuk masalah ini. dari waktu ke waktu mengadakan intervensi terbatas di pasar valas dengan petunjuk IMF (lihat butir 14. Di lain pihak memang harus diakui bahwa tekanan ini perlu untuk memastikan kesungguhan Indonesia. tapi disuruh belajar berenang dahulu. Tidak adanya program dari IMF yang jelas dan berjangka pendek untuk mengembalikan nilai tukar rupiah ke tingkat yang wajar dan menstabilkannya membuat pemerintah cukup lama terombang-ambing antara memilih program IMF atau currency board system. menaikkan suku bunga dan mengembalikan kepercayaan terhadap kebijakan ekonomi. IMF tidak memecahkan permasalahan yang utama dan yang paling mendesak secara langsung. Bila semua kekuatan bantuan ini dikumpulkan sekaligus secara dini. yang justru menjanjikan kepastian dan kestabilan nilai tukar pada tingkat yang wajar. uang ketat. Ibaratnya orang yang sudah hampir tenggelam diombang-ambing ombak laut tidak segera ditolong dengan dilempari pelampung. pembenahan sektor riil yang memang perlu dan sudah sangat mendesak. 21 dari persetujuan 15 Januari 1998. kalau mau. 17. IMF bisa saja terlebih dahulu mengambil kebijakan memprioritaskan stabilisasi nilai tukar rupiah. Namun kekurangan yang paling utama dari IMF adalah bahwa IMF dalam program bantuannya tidak mencari pemecahan terhadap masalah yang pokok dan sangat mendesak ini dan berputar-putar pada reformasi struktural yang dampaknya jangka panjang. maka hal ini dengan cepat akan memulihkan kembali kepercayaan masyarakat dalam negeri dan internasional. Namun bantuan dana IMF dan ketergantungan harapan pada IMF ini di(salah)gunakan untuk menekan pemerintah Indonesia untuk melaksanakan reformasi struktural secara besar-besaran. Dengan demikian timbulnya krisis kepercayaan yang berkepanjangan dapat dicegah. di mana makin ditunda makin banyak . Asian Development Bank dan negara-negara sahabat. Sayangnya tidak ada program khusus yang secara langsung ditujukan untuk menguatkan kembali nilai tukar rupiah. 7 dari Suplemen).

Dalam situasi sekarang hampir tidak ada peluang untuk meningkatkan pajak. Juga saran IMF untuk menghapuskan subsidi BBM dan listrik yang kian membesar secara bertahap dalam jangka waktu tiga tahun sudah benar. Subsidi untuk bahan pangan. Banyak perusahaan yang mengandalkan pasaran dalam negeri tidak bisa menjual barang hasil produksinya karena perusahaan-perusahaan ini umumnya memiliki kandungan impor yang tinggi dan harga jualnya menjadi tidak terjangkau dengan semakin jatuhnya nilai tukar rupiah. (butir 10 dan 11 dari Suplemen). Dampak. bab 4 dan 5). yang lama tidak disinggung oleh IMF.World Bank. Baru pada tanggal 1 Oktober 1998 direncanakan subsidi akan diturunkan secara berarti. 1997. menunggu keresahan masyarakat reda? Di sini pemerintah salah membaca isi dari kesepakatan dengan IMF.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. anggaran dan moneter secara berarti. BBM dan listrik. sehingga timbul teka-teki. 1996. Di sini timbul keragu-raguan akan kemurnian kebijakan reformasi IMF. utang luar negeri swasta dan nilai tukar rupiah yang merosot jauh dari nilai riilnya adalah masalah-masalah dasar jangka pendek. bab 2. Dalam suplemen program IMF April 1998 disebutkan bahwa subsidi masih bisa diberikan kepada beberapa jenis barang yang banyak dikonsumsi oleh penduduk berpenghasilan rendah seperti bahan makanan. Permintaan IMF untuk menghentikan dengan segera perlakuan pembebasan pajak dan kemudahan kredit untuk proyek mobil nasional dan IPTN adalah tepat. karena dalam jangka pendek proyek ini akan mengacaukan kebijakan pemerintah di bidang fiskal. Namun penurunan subsidi BBM dan listrik oleh pemerintah secara drastis dan mendadak pada tanggal 4 Mei 1998 yang lalu mempunyai dampak yang sangat luas terhadap perekonomian rakyat kecil. Program reformasi IMF secara mencurigakan mengulang kembali tuntutan-tuntutan deregulasi ekonomi yang sudah sejak bertahun-tahun didengungkan oleh Bank Dunia dan belum sepenuhnya dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia (lihat World Bank. Subsidi listrik relatif lebih mudah untuk dihapuskan. yakni melalui subsidi silang sehingga masyarakat berpenghasilan rendah tetap dikenakan tarif listrik yang murah dan melalui peningkatan efisiensi. meskipun kepentingan rakyat kecil sangat diperhatikan dengan adanya jaringan keselamatan sosial. Tindakan drastis ini sedikit-banyak telah membantu memicu terjadinya kerusuhan-kerusuhan sosial dan politik. misalnya penagihan yang lebih efektif. Peran IMF dan Saran 15 perusahaan yang jatuh bergelimpangan. Jadi. apakah IMF benar-benar tidak melihat inti permasalahannya atau berpura-pura tidak tahu? Atau IMF mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk memaksakan perubahan-perubahan yang sudah lama menjadi duri di matanya dan bagi Bank Dunia serta mewakili kepentingan-kepentingan asing? Tampaknya di balik anjuran program pemulihan kegiatan ekonomi ada titipan-titipan politik dan ekonomi dari negara-negara besar tertentu. apakah pemerintah tidak bisa menunda kenaikan BBM dan listrik untuk beberapa bulan. Yang menjadi pertanyaan di sini adalah. BBM dan listrik sudah diperhitungkan dan dinaikkan dalam anggaran pemerintah (butir 20 dari Suplemen). Membengkaknya subsidi ini disebabkan . karena IMF menganjurkan penghapusan subsidi secara bertahap dan tidak secara mendadak.

dan liberalisasai perdagangan yang jauh lebih liberal dari komitmen resmi pemerintah di forum WTO. bank asing maupun penguasaan saham dari perusahaan-perusahaan yang telah go public. stabilisasi ekonomi dan moneter. bila pendapatan masyarakat dalam rupiah juga ikut naik dua atau tiga kali lipat sesuai dengan kenaikan nilai tukar dollar AS. Saran IMF lainnya yang disisipkan dalam persetujuan dan tidak ada kaitannya dengan program stabilisasi ekonomi dan moneter adalah desakannya untuk menyusun UndangUndang Lingkungan Hidup yang baru (butir 50 dari persetujuan IMF tanggal 15 Januari 1998). seperti kinerja yang kurang efisien. siapa yang menjadi penyebab dari terjadinya krisis yang berkepanjangan ini. Keadaan ini tidak sebanding. tetapi apa salahnya bila pemerintah menyisakan bidang kegiatan untuk pengusaha Indonesia. tetapi apa sumbangan dari keterbukaan ini terhadap restrukturisasi ekonomi dari program IMF. Di antara saran-saran IMF juga ada yang mengenai perluasan penyertaan modal asing dalam kegiatan ekonomi Indonesia yang terlalu jauh. kita harus melihat sebab-sebab lain di balik kenaikan biaya produksi. dan apa sumbangannya terhadap pemasukan modal asing? Bukan masalah anti asing atau sentimen nasionalisme yang sempit. tagihan listrik dalam jumlah besar yang tidak dibayar. Jadi tindakan yang pokok adalah pertama mengembalikan dulu nilai rupiah ke tingkat yang wajar dan dari sini baru menghitung besarnya subsidi. izin investasi di bidang perdagangan besar dan eceran. seperti orang asing yang tinggal di Indonesia misalnya. Maret 1999 oleh beberapa faktor. AFTA dan APEC. Ikut campurnya IMF dalam penyelesaian utang swasta adalah sangat baik. Dalam kaitan ini perlu dipertanyakan. Meskipun demikian IMF masih meminta dihapuskannya larangan membuka cabang bagi bank asing. Tidak bisa biaya produksi dihitung atas dasar nilai tukar dengan dollar AS yang masih relatif tinggi lalu dibebankan kepada konsumen. kecuali saham bank nasional yang go public. kalau tidak menurun dan banyaknya PHK. Modal asing sudah diberi peluang yang cukup besar untuk investasi di Indonesia dengan diperbolehkannya kepemilikan hingga 100% baik untuk pendirian PMA. karena IMF sebagai lembaga yang disegani bisa banyak membantu memulihkan kepercayaan kreditor . Masalahnya bukan sentimen nasionalisme. Halnya akan lain. sehingga nilai tukar valas naik sangat tinggi dan siapa yang menarik keuntungan dari krisis ini? Janganlah rakyat banyak diminta untuk berkorban mengatasi krisis ini atau membebankan di atas penderitaan rakyat dengan misalnya menaikkan harga BBM dan tarif listrik. tetapi sebab utama karena merosotnya nilai tukar rupiah. terutama yang bermodal kecil? Apa permintaan IMF ini tidak terlalu jauh? Kedengarannya seperti IMF menerima titipan pesan sponsor dari negara-negara besar yang ingin memaksakan kepentingannya dengan menggunakan kesempatan dalam kesempitan. (Bandingkan juga Sri Mulyani: 72-3). sementara pendapatan masyarakat adalah dalam rupiah yang tidak berubah sejak sebelum terjadinya krisis moneter.16 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

proteksi industri dalam negeri meningkat sejalan dengan merosotnya nilai tukar rupiah. Petani yang berbasis ekspor penghasilannya dalam rupiah mendadak melonjak drastis. sementara bagi konsumen dalam negeri harga beras. investasi menurun karena impor barang modal menjadi mahal. . yang melambung tinggi jika dihadapkan dengan pendapatan masyarakat dalam rupiah yang tetap.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. bahkan dalam beberapa hal turun ditambah PHK. utang luar negeri dalam rupiah melonjak. Dampak. Sayangnya ekspor yang secara teoretis seharusnya naik. perjalanan ke luar negeri dan pengiriman anak sekolah ke luar negeri. Peran IMF dan Saran 17 luar negeri. bahkan cenderung sedikit menurun pada sektor barang hasil industri. PHK di mana-mana. tetapi lebih tepat jika dikatakan foreign exchange induced inflation. daya saing produk dalam negeri dengan tingkat kandungan impor rendah meningkat sehingga bisa menahan impor dan merangsang ekspor khususnya yang berbasis pertanian. perusahaan tutup atau mengurangi produksinya karena tidak bisa menjual barangnya dan beban utang yang tinggi. yang bukan disebabkan karena imported inflation4 . IMF bisa bertindak sebagai perantara yang netral dan dipercaya. Imbas dari kemerosotan nilai tukar rupiah yang tajam secara umum sudah kita ketahui: kesulitan menutup APBN. harga telur/ayam naik. harga BBM/tarif listrik naik. Dengan demikian roda perekonomian bisa berputar kembali dan harga-harga bisa turun dari tingkat yang tinggi dan terjangkau oleh masyarakat. Pada sisi lain merosotnya nilai tukar rupiah secara tajam juga membawa hikmah. khususnya dollar AS. Masalah ini hanya bisa dipecahkan secara mendasar bila nilai tukar valas bisa diturunkan hingga tingkat yang wajar atau nyata (riil). kebalikannya arus masuk turis asing akan lebih besar. padahal harga dari banyak barang naik cukup tinggi. tidak terjadi. tetapi penerimaan ekspor dalam valas umumnya tidak berubah. meskipun tidak kembali pada tingkat sebelum terjadinya krisis moneter. toko sepi. kecuali sebagian sektor pertanian dan ekspor. karena pembeli di luar negeri juga menekan harganya karena tahu petani dapat untung besar. Dampak dari Krisis Dewasa ini semua permasalahan dalam krisis ekonomi berputar-putar sekitar kurs nilai tukar valas. kopi dan sebagainya ikut naik. biaya sekolah di luar negeri melonjak. Meskipun penerimaan rupiah petani komoditi ekspor meningkat tajam. yang akan memperlancar dan mempercepat proses penyelesaian utang. Hasilnya adalah perbaikan dalam neraca berjalan. Secara umum impor barang menurun tajam termasuk impor buah. dan negara-negara produsen lain juga mengalami depresiasi 4 Suatu inflasi dikatakan terjadi karena imported inflation bila harga barang-barang di negara pengekspornya naik. gula. Dampak lain adalah laju inflasi yang tinggi selama beberapa bulan terakhir ini. dan ini tidak terjadi. pengusaha domestik kapok meminjam dana dari luar negeri. tarif angkutan naik.

karena ada masalah dengan pembukaan L/C dan keadaan sosial-politik yang belum menentu sehingga pembeli di luar negeri mengalihkan pesanan barangnya ke negara lain.5 juta. keamanan yang mantap. Karena prasarana dasar untuk pembangunan sudah tersedia. dan tingkat inflasi sekitar 66%. karena krisis belum juga menyentuh dasar jurang. tenaga terlatih. sehingga bila nilai tukar rupiah bisa dikembalikan ke nilai nyatanya maka biaya besar yang dibutuhkan untuk social safety net ini bisa dikurangi secara drastis. Namun secara keseluruhan dampak negatifnya dari jatuhnya nilai tukar rupiah masih lebih besar dari dampak positifnya. pada Oktober 1998 ini jumlah keluarga miskin diperkirakan meningkat menjadi 7. maka upaya yang paling utama dan mendesak bagi Indonesia . Tapi sekali krisis berakhir dan ekonomi berbalik bangkit kembali (rebound). pulihnya kepercayaan investor dalam dan luar negeri. maka perbaikan ini diperkirakan akan berlangsung relatif cepat. hanya di sini ada kesulitan lain untuk meningkatkan ekspor. menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada tingkat yang wajar. sulit untuk diramalkan karena tergantung pada banyak faktor. Maret 1999 dalam nilai tukar mata uangnya dan bisa menurunkan harga jual dalam nominasi valas. suasana politik dan sosial yang stabil. sehingga yang diperlukan adalah pulihnya kepercayaan dan masuknya modal baru. Saran-Saran Krisis moneter telah memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk menentukan kebijakan di masa depan. Menurut perkiraan IMF pada bulan Maret 1999 lalu. Hal yang serupa juga terjadi untuk ekspor barang manufaktur. Sebagai dampak dari krisis ekonomi yang berkepanjangan ini. pabrik. sehingga perlu dilancarkan program-program untuk menunjang mereka yang dikenal sebagai social safety net. Prospek Ekonomi Indonesia Prospek ekonomi untuk beberapa tahun mendatang adalah kurang cerah dan akan ditandai oleh pertumbuhan ekonomi yang negatif. yang menyebabkan terjadinya kesenjangan antara penghasilan yang berkurang karena PHK atau naik sedikit dengan pengeluaran yang meningkat tajam karena tingkat inflasi yang tinggi. mesin-mesin sudah ada. Berapa lama krisis ekonomi ini masih akan berlangsung. Keadaan ekonomi yang sangat parah ini diperkirakan pada bulan-bulan mendatang masih akan berlangsung terus. Meningkatnya jumlah penduduk miskin tidak terlepas dari jatuhnya nilai tukar rupiah yang tajam. pertumbuhan GDP nyata Indonesia pada tahun 1998/9 diperkirakan akan negatif sebesar 16%. Faktor-faktor tersebut adalah bantuan IMF dan donor-donor lainnya yang segera.18 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Peran IMF dan Saran 19 dewasa ini adalah program penyelamatan yang bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat serta menstabilkan kurs rupiah pada nilai tukar yang nyata (bandingkan juga Stiglitz). dan meningkatkan ekspor. Dunia perbankan nasional juga telah diajarkan dari manfaat jangka panjang untuk bertindak prudent. dana asing akan sangat hati-hati masuk ke Indonesia. harga mobil terjangkau oleh masyarakat. Kegiatan jasa hotel. dan menjaga stabilitas fiskal dan moneter selama masa transisi (World Bank.2). harga barang-barang produksi dalam negeri dengan kandungan lokal tinggi bisa meningkat daya saingnya sehingga bisa berkembang dan orang tidak mengandalkan bahan impor karena menjadi mahal. impor secara otomatis akan berkurang (misalnya buah. Inti dari pemecahan krisis moneter dalam jangka pendek haruslah ditujukan kepada pencegahan penumpukan pembayaran utang luar negeri. kirim anak sekolah di luar negeri. p. berobat di luar negeri. pada suatu saat tertentu dan membagi (spread-out) pembayaran ini secara merata dalam jangka waktu yang lebih panjang pada tingkat yang terkendali (manageable). sejauh persyaratan di atas bisa dipenuhi. industrialisasi substitusi impor berlanjut. dan penyelesaian masalah utang swasta dengan penjadwalan ulang (Kompas. Dengan sistim ini. memperbaiki “governance”. Dengan demikian. perdagangan dan angkutan juga bisa hidup kembali. kegiatan ekonomi Indonesia terutama harus ditunjang oleh kekuatan sendiri berdasarkan dana modal yang tersedia di dalam negeri. Dengan demikian sumber utama krisis di masa lalu untuk masa mendatang sudah dapat dieliminir. 2. begitupun pengusaha domestik akan sangat hati-hati untuk meminjam dari luar negeri.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. Beberapa saran dari penulis untuk mengatasi krisis ekonomi dewasa ini adalah sebagai berikut: . Ditambah dengan hilangnya insentif untuk meminjam dari luar negeri karena biaya pinjaman yang lebih rendah diimbangi dengan tingkat depresiasi yang lebih tinggi dan karena tidak adanya lagi intervensi kurs oleh BI. Para ekonom dari CSIS berpendapat bahwa langkah yang harus diambil untuk mengatasi kemelut ini adalah dengan menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam tingkat yang wajar. perjalanan. baik swasta maupun pemerintah. Penulis menginterpretasikan nilai tukar nyata sebagai nilai tukar berdasarkan purchasing power parity yang bisa menjaga keseimbangan dalam neraca berjalan dan yang bisa menjamin ekonomi nasional beroperasi. reformasi dan memperkuat sistim perbankan. Dampak. Bank Dunia menyarankan mengembalikan kepercayaan terhadap rupiah dengan empat kebijakan utama: restrukturisasi beban utang swasta. restrukturisasi perbankan. 1998. pola makan makanan yang bahannya gandum). 9 April 1998). jalan-jalan ke luar negeri. Setelah mendapat pengalaman dari krisis ini.

apa salahnya jika Indonesia meminta penundaan waktu pembayaran kembali utang? Nama Indonesiapun tidak menjadi jelek karenanya. Dengan demikian. Membentuk kabinet baru yang terdiri atas teknokrat untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat Indonesia maupun luar negeri akan kesungguhan program reformasi. Karena Indonesia telah menanda-tangani persetujuan program reformasi struktural ekonomi dengan IMF. Namun dalam keadaan krisis yang parah ini. Pemerintah melaksanakan reformasi dan restrukturisasi sektor riil dan keuangan secara konsekuen untuk memperkuat fundamental ekonomi Indonesia. hanya saja jangka waktu pembayaran kembalinya saja yang lebih panjang. Penjadwalan kembali pembayaran utang resmi pemerintah ini juga akan banyak . Dengan adanya kepercayaan ini. 3. berarti bahwa beban utang termasuk pembayaran bunga untuk di kemudian hari akan bertambah besar. dalam hal ini Departemen Keuangan dan Bank Indonesia. Indonesia bisa bernapas untuk memperkuat posisi cadangan devisanya. Yang nanti akan menjadi masalah adalah bagaimana membayar utang bantuan darurat yang mencapai US$ 46 milyar tersebut di samping utang-utang pemerintah dan swasta yang ada. terlebih lagi karena bantuan IMF ini terkait dengan bantuan negara-negara donor lainnya yang jumlahnya sangat besar. maka masih ada selisih positif sebesar lebih dari US$ 1 milyar yang bisa dihemat. Sementara ini sudah banyak negara sedang berkembang yang memanfaatkan fasilitas ini. sementara pinjaman luar negeri baru sebesar US$ 6. Jumlah ini sangat berarti untuk memperkuat cadangan devisa negara. Maret 1999 1. Makin cepat pemerintah melaksanakan program-program reformasi.560 juta. bahwa beban utang tidak menjadi bertambah. yang juga selalu mendapatkan pujian dari Bank Dunia dan IMF. maka pemerintah juga harus melaksanakannya dengan konsekuen.450 juta. 2. Keuntungan dari penundaan pembayaran utang ini adalah. diharapkan akan terjadi arus balik devisa dan masuknya modal luar negeri. makin cepat juga dananya cair. tanpa merusak nama Indonesia sebagai debitur yang baik. Namun pemerintah. sebab Paris Club adalah instrumen internasional yang memang khusus dirancang untuk membantu negara-negara sedang berkembang dalam menghadapi masalah pembayaran kembali utang-utang luar negeri pemerintah. Sebab menurut APBN tahun 1998/99 jumlah pembayaran cicilan utang pokok luar negeri beserta bunganya mencapai US$ 7. Sejauh ini Indonesia memang selalu patuh untuk membayar semua utang-utangnya secara tepat waktu. termasuk program reformasi IMF. Seandainya Indonesia tidak menerima bantuan barupun. Mengusahakan penundaan pembayaran utang resmi pemerintah berupa pembayaran cicilan pokok dan bunga selama misalnya dua tahun melalui Paris Club. Bila Jepang hanya mau membantu dengan dengan menambah pinjaman baru.20 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. harus bertindak proaktif menghadapi IMF dengan mengajukan saran-sarannya sendiri dan menolak program-program yang tidak relevan dan cenderung merugikan Indonesia.

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran

21

membantu meringankan defisit anggaran belanja, terlebih lagi dengan semakin terpuruknya nilai tukar rupiah semakin besar pula defisit dalam anggaran belanja negara yang harus ditutup. Hal ini telah dilakukan oleh pemerintah dan telah dicapai kesepakatan, bahwa Indonesia akan menunda pembayaran cicilan utang pokoknya saja. 4. Menstabilkan nilai tukar rupiah pada tingkat yang riil, artinya tidak lagi overvalued ketika regim managed floating, bahkan bisa dipertimbangkan untuk membiarkannya sedikit undervalued untuk meningkatkan daya saing secara internasional dan merangsang produksi dalam negeri dan ekspor. Nilai tukar nyata yang wajar ini harus dicari dengan memperhatikan kriteria-kriteria berikut, paling tidak tingkat depresiasi rupiah tidak lebih rendah dari depresiasi nyatanya. Dengan kurs ini defisit anggaran belanja negara bisa ditekan, juga tingkat inflasi, pembayaran utang luar negeri pemerintah dan swasta dalam rupiah dapat ditekan sehingga mampu dikembalikan, begitupun harga BBM/listrik dan pakan ternak, harga barang-barang produksi dalam negeri dapat terjangkau termasuk sembako dan pabrik-pabrik beroperasi kembali, orang-orang yang menganggur dapat bekerja kembali, jumlah penduduk miskin dapat ditekan kembali dan jaringan keamanan sosial tidak lagi diperlukan, biaya angkutan udara bisa diturunkan, perjalanan domestik dan luar negeri dapat hidup kembali. Dilain pihak kurs dollar AS ini harus cukup tinggi untuk menahan impor berbagai macam barang dan bahan serta meningkatkan daya saing produk dalam negeri termasuk buah-buahan, insentif untuk meminjam dana dari luar negeri hilang, biaya perjalanan ke dan sekolah di luar negeri tetap masih mahal, yang semuanya mengurangi pengurangan devisa. Sebaliknya daya saing ekspor masih cukup tinggi, sehingga ekspor masih bisa tetap bergairah. Bila ini disadari sebagai hal yang utama dan yang paling mendesak untuk mengakhiri krisis ini, maka seluruh daya upaya dan pikiran dapat diarahkan untuk memecahkan persoalannya. Kebijakan depresiasi nilai tukar yang relatif besar dampaknya sama seperti kebijakan proteksi produksi dalam negeri, karena merubah perbandingan harga antara barang dalam negeri aktif dalam forum-forum internasional seperti APEC, ASEAN, dan sebagainya untuk mencari pemecahan atas krisis moneter yang sedang melanda banyak negara Asia Timur. Masalah pokoknya adalah bagaimana memperkuat nilai tukar mata uang masing-masing kembali pada tingkat yang wajar. Misalnya dengan mengajukan gagasan-gagasan pemecahan yang konkrit dan mendesak diadakannya pertemuanpertemuan dengan segera. Hingga kini sikap pemerintah Indonesia terkesan pasif. 6. Mengadakan negosiasi ulang utang luar negeri swasta Indonesia dengan para kreditor untuk meminta penundaan pembayaran, yang sekarang sedang diusahakan oleh Tim Penanggulangan Utang Luar Negeri Swasta (PULNS) atau Indonesian Debt Restructuring Agency (INDRA).

22

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

7. Mengembalikan stabilitas sosial dan politik dan rasa aman secepatnya sehingga bisa memulihkan kepercayaan pemilik modal dalam dan luar negeri. 8. Untuk mengembalikan kepercayaan dari masyarakat yang menyimpan uangnya di dalam negeri, pemerintah bisa mempertimbangkan melakukan operasi swap, apalagi didukung oleh cadangan devisa pemerintah yang semakin membesar. 9. Menghalangi kemungkinan kegiatan spekulasi valas besar-besaran dengan mempelajari kemungkinan melakukan pengawasan devisa secara terbatas tanpa melepas prinsip regim devisa bebas atau melanggar kesepakatan dengan IMF, misalnya transfer pribadi dibatasi sampai jumlah tertentu, US$ 10.000. Selanjutnya tidak memberi peluang untuk memperdagangkan rupiah atau menaruh deposito Rupiah di luar negeri. Deposito valas hanya boleh di bank-bank devisa dalam negeri dan tidak boleh ditempatkan di luar. Krugman juga menganjurkan memungut pajak atas dana yang masuk dan membuat peraturan yang menghambat pengiriman dana ke luar (lihat Wessel dan Davis, hal. 16).

Daftar Kepustakaan
Anwar, Moh. Arsjad. 1997. “Transformasi Struktur Perekonomian Indonesia: Pola dan Potensi”, dalam: M. Pangestu, I. Setiati (penyunting), Mencari Paradigma Baru Pembangunan Indonesia, Jakarta: CSIS, hal. 33-48. Bank Indonesia. 1998. “Financial Crisis in Indonesia”, Jakarta, August. Bello, W. 1998. “Mencari Solusi Alternatif untuk Mengatasi Krisis”, saduran, Jakarta: Kompas, 1 September, hal. 3. Ehrke, M.1998. “Pangloss oder die beste aller moeglichen Welten, Ursachen und Auswirkungen der Asienkrise”, Bonn: Friedrich Ebert Stiftung, Februari. Fischer, S. 1998a. “IMF dan Krisis Asia”, Kompas, Jakarta, 6 April. ________. 1998b. “Peranan IMF Saat Krisis”, Kompas, Jakarta, 8 April. ________. 1998c. “The Asian Crisis and the Changing Role of the IMF”, Washington, D.C.: Finance & Development, Vol. 35 No. 2, June, pp. 2-5. Greenwood, J. 1997. “The Lessons of Asia’s Currency Crisis”, Hong Kong: The Asian Wall Street Journal, 9 Oktober, hal. 6. Gunawan, A.H., Sri Mulyani I.. 1998. “Krisis Ekonomi Indonesia dan Reformasi (Makro) Ekonomi”, makalah pada Simposium Kepedulian Universitas Indonesia Terhadap Tatanan Masa Depan Indonesia”, Kampus UI, Depok, 30 Maret - 1 April.

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran

23

Hartcher, P., C. Ryan. 1998. “The IMF Turns Off the Tap”, Australian Financial Review, May 21. Hollinger, W.C. 1996. Economic Policy under President Soeharto: Indonesia’s Twenty-Five Year Record, the United States-Indonesia Society. IMF. 1997. “IMF Approves Stand-By Credit for Indonesia”, Washington, D.C., Press Release No. 97/50, November 5. IMF. 1997. “IMF Approves Stand-By Credit for Indonesia”, Press Release No. 97/50, November 5. IMF. 1998. World Economic Outlook, Washington, D.C., May. IMF. 1999. “Indonesia, Supplemetary Memorandum of Economic and Financial Policies, Fourth Review Under the Extended Arrangement”, March 16. IMF Research Department Staff. 1997. “Capital Flow Sustainability and Speculative Currency Attacks”, Finance and Development, Washington, D.C.: World Bank, December, hal. 8-11. IMF Staff. 1998. “The Asian Crisis: Causes and Cures”, Washington, D.C.: Finance & Development, Vol. 35 No. 2, June, pp.18-21. “IMF Cairkan Semilyar Dollar AS”, Jakarta: Kompas, 6 Mei 1998. “IMF Mulai Sadar Transparensi”, Jakarta: Kompas, 13 Mei 1998, hal. 9. “Indonesia - IMF Agreement on Economic Reforms”, January 15, 1998. “Indonesia - Supplementary Memorandum of Economic and Financial Policies”, Jakarta, April 10, 1998. Institute of Developing Economies (IDE). 1997. 1998 Economic Outlook for East Asia, Tokyo, December 9. Kitamura, K.; T. Tanaka (editors). 1997. Examining Asia’s Tigers, Nine Economies Challenging Common Structural Problems, Tokyo: Institute of Developing Economies, IDE Spot Survey. Korea Letter of Intent, February 7, 1998, Krause, L.B. 1994. The Pacific Century: Myth or Reality?, the 1994 Panglaykim Memorial Lecture, Jakarta: CSIS.

3rd updated reprint.T. 62-77. 31-38. Jakarta. “Kesepakatan Ketiga”. 3. hal. hal. 25 Tahun IV. hal. “APEC dan Krisis Moneter di Kawasan Asia Timur”. N. Anwar. Maret 1999 Krugman.24 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Tarmidi. L. Jakarta. . Sri Mulyani Indrawati. Nasution. January.1997. Montes. “South Korea. 1998. Dimuat di Kompas dengan judul “Di Balik Terjadinya Krisis Keuangan Asia”. Jakarta. Soros. 1998. “Why Not Let the Banks Own the Debtor Firms?”. pidato pengukuhan Guru Besar Madya Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Radelet. No. 1994. 28-29. hal. “The Crisis of Global Capitalism”. 1998b. Ada yang Harus Dilakukan dan yang Harus Dihindari”. Hong Kong: Far Eastern Economic Review. Stiglitz. 1997. 1997. Krisis Moneter Tahun 1997/1998 dan Peran IMF. 1998. The Sunday Times. LPEM-FEUI. 3. September 16. hal. ACAES. Singapore. “The Myth of Asia’s Miracle”. 1997. 1998. “RI-IMF Hasilkan Memorandum Tambahan”. 1998b. 72-3. “What Happened to Asia”. 9 April 1998. J. Singapore: ISEAS. ___________.F. 26 Agustus 1998. July 26. February 2. 140-2. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. 28 Agustus.. 9 Mei. September 25. 17. Jakarta: Kompas. J. “Lessons from the Recent Financial Crisis in Indonesia”. S. 5. Cho. Economy Is Slated for Rapid Change”. G. “Currency Crisis”. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. majalah Global. M. Gatra. 10 Juni. “Saatnya Dipertimbangkan Solusi Alternatif”. Sender. Schuman. hal. Foreign Affairs. IMF Agree on Bailout. “Restoring the Asian Miracle”. 17-18 Desember. “What’s a Fund for?”. 1998a. M. The Economist. 8. November/December. diselenggarakan bersama oleh USAID. Jakarta: Kompas. 27 Januari. 1998. __________. H.. makalah pada “1997 Economics Conference”. hal. Jakarta: Kompas. The Currency Crisis in Southeast Asia. Jakarta. hal. p. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. No. P. _________. December 4. Sachs. _________. 1998a. “Saran Ali Wardhana untuk Atasi Krisis.

McDermott. 1998c. Peran IMF dan Saran 25 ___________. Thailand Letter of Intent. August 11-13. 1996. 2 Mei 1998. 1. September 28. Indonesia: Stability. 15383-IND. Indonesia. D. D. Jakarta: Kompas. draft Report. “Utang Swasta Sekitar 64 Milyar Dollar AS”. 1997. __________. paper presented at the APEC Study Centre Consortium Conference. December 31. May 7. February 24. Sustaining High Growth with Equity. “APEC and the Monetary Crisis in East Asia”. Report No. 1998. May 30. Bangi. “Money Trail: Who Ruptured the Rupiah”. D. Report No. __________. Davis. B. 22. Dampak. World Bank. 16. . May 27. “Crisis Crusaders. __________. Wessel. Ip. Would-Be Keyneses Debate How to Fight Global Woes”. Malaysia. 1998. 1994. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. G. A Macroeconomic Update. hal. Indonesia. 1998. Dimensions of Growth. 16433IND.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. Indonesia in Crisis. July 2. 1... Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. Growth and Equity in Repelita VI. 1997. hal. Wessel.

konsep Cross-Guarantee juga akan mengakibatkan perubahan yang sangat mendasar terhadap seluruh pola dan praktek penjaminan dan pengawasan bank yang sudah dijalankan selama ini. Dengan merujuk pada ide yang dilontarkan Bert Ely tentang CrossGuarantee. Bank Indonesia Agusman : Pengawas Bank. sehingga mengarah sepenuhnya pada swastanisasi baik penyelenggaraan penjaminan maupun pelaksanaan pengaturan dan pengawasan bank yang menyertainya. Sangat berbeda dengan konsep-konsep lainnya dalam program penjaminan. *) Maulana Ibrahim : Kepala Urusan Pengawasan Bank 2. maka konsep Cross-Guarantee menekankan pentingnya penggunaan pendekatan risk-sensitive analysis dalam penetapan besarnya premi. dalam tulisan ini akan didalami prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam konsep tersebut beserta pengaruhnya terhadap pola penjaminan dan pengawasan bank. Bank Indonesia . Konsep ini juga mengupayakan adanya perlakuan yang sama untuk bank-bank besar dan bank-bank kecil dalam memper-oleh penjaminan. Urusan Pengawasan Bank 2. Sebagai suatu konsep yang ditujukan untuk mengatasi berbagai kelemahan deposit insurance scheme yang berlaku sekarang ini. sekaligus mempelajari kemungkinan penerapannya di Indonesia.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 31 KONSEP CROSS-GUARANTEE DALAM PROGRAM PENJAMINAN DAN KEMUNGKINAN PENERAPANNYA DI INDONESIA Maulana Ibrahim dan Agusman *) Tulisan ini mencoba mengetengahkan salah satu bentuk pikiran alternatif dalam program penjaminan yang dikenal dengan konsep Cross-Guarantee. Pendekatan Too-Big-To-Fail (TBTF) yang sejak beberapa waktu terakhir telah menimbulkan inkonsistensi dalam proses penjaminan diharapkan dapat dihilangkan oleh konsep ini. Apabila diterapkan sepenuhnya. konsep ini sangat progresif dalam hal mempercayakan penyelenggaraan penjaminan kepada mekanisme pasar dan meniadakan intervensi pemerintah.

The Cross-Guarantee Concept and Interbank Markets. Bert Ely3 . Paper dalam “The 35th Annual Conference on Bank Structure and Competition”. Editor: V.Balino..Sundararajan dan Tomas J. intervensi terhadap bank-bank/lembaga keuangan bermasalah dan pembentukan deposit insurance.T.. Dalam Konferensi mengenai Bank Structure and Competition yang baru-baru ini diadakan oleh Federal Reserve Bank of Chicago. Bank Indonesia. Vol. seorang pakar deposit insurance telah mengemukakan konsep Cross-Guarantee sebagai salah satu alternatif.1. tindakan darurat (emergency measures) yang dilakukan bank sentral dapat berupa pemberian fasilitas lender of last resort. Dalam hubungan ini.S. telah mencoba mengkaji kemungkinan penggantian ketentuan blanket guarantee tersebut dengan deposit protection scheme. serta mencoba mempelajari kemungkinan penerapannya di Indonesia. Desember 1998. Ditinjau dari karakteristiknya. namun untuk jangka panjang tampaknya perlu dicari alternatif lain yang memungkinkan terselenggaranya program penjaminan yang efisien dan efektif.T. Latar Belakang Konsep Cross-Guarantee Konsep Cross-Guarantee muncul antara lain karena adanya berbagai kritik dan ketidakpuasan terhadap skim penjaminan yang diterapkan pada Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) di Amerika Serikat. Di Amerika Serikat sendiripun upaya pencarian tersebut masih tetap dilakukan meskipun program penjaminannya dianggap telah jauh lebih maju dan mapan. Ketentuan Blanket Guarantee dan Kemungkinan Penggantiannya dengan Deposit Protection Scheme. P Sulit untuk memungkiri bahwa skim penjaminan pemerintah yang bersifat menyeluruh itu akan sangat memberatkan keuangan pemerintah. Kusumaningtuti (1999)2 misalnya. . Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.Sundararajan dan Tomas J. 1991.32 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Kritikan tersebut perlu ditanggapi karena FDIC 1 Menurut V. Untuk tindakan darurat1 . Washington. hal tersebut barangkali masih dapat diterima. khususnya karena tidak sebandingnya nilai premi dengan cakupan penjaminan disamping adanya peluang untuk melakukan moral hazard. 3 Bert Ely.3. D. Pencarian kemungkinan alternatif lain program penjaminan merupakan hal yang perlu dilakukan secara terus menerus. Maret 1999 Pendahuluan rogram penjaminan merupakan salah satu kebijaksanaan yang diambil pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada sistem perbankan nasional yang sempat terganggu karena parahnya krisis ekonomi dan keuangan yang dihadapi Indonesia sejak paroh kedua tahun 1997. 2 Kusumaningtuti S.Balino. International Monetary Fund. The Federal Reserve Bank of Chicago. 7 Mei 1999. Tulisan ini mencoba mengetengahkan pikiran-pikiran Bert Ely mengenai konsep CrossGuarantee tersebut.C. Untuk mendalami masalah ini lebih lanjut lihat tulisan mereka berdua dalam Banking Crises: Cases and Issues. skim program penjaminan yang dipilih pemerintah tersebut ternyata lebih bersifat blanket guarantee (penjaminan menyeluruh). No.

25% barulah premi akan dinaikkan.100. Moreau dan C. seharusnya semakin besar risiko yang ditanggung semakin besar premi. sehingga pada gilirannya dapat merugikan masyarakat penyimpan dana. sehingga menimbulkan cross-subsidies. Arthur F.sedangkan non-deposits liabilities seperti pinjaman yang diterima.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 33 sekarang ini menghadapi risiko yang lebih besar dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya4 . Hal ini diungkap dalam tulisan Yoram Landskroner dan Jacob Paroush. hal.100. No. laba yang diperoleh FDIC cukup besar sehingga ketergantungan pada premi menjadi semakin lebih berkurang. hal. termasuk juga pos pinjaman subordinasi. yaitu bank-bank yang 4 Adanya risiko yang lebih besar tersebut antara lain dikemukakan oleh Jin-Chuan Duan.W.000. pendapatan dari penanaman dana oleh FDIC jauh melebihi biaya-biaya operasionalnya. pada dasarnya yang dijamin oleh FDIC adalah dana pihak ketiga (deposits) maksimum sebesar USD. 531-552. No.19 Tahun 1995. Kritikan berikutnya yang sering ditujukan kepada FDIC adalah berkenaan dengan penetapan premi yang harus dibayar oleh bank-bank yang ikut penjaminan. Journal of Banking & Finance. akan tetapi tetap saja ada kritik bahwa perlakuan khusus tersebut dapat menimbulkan diskriminasi diantara sesama bank. Dengan kata lain. Disamping itu premi yang dikenakan oleh FDIC sekarang ini juga dinilai terlalu berlebihan (overcharging) untuk bank-bank yang sehat dan terlalu kecil (undercharging) untuk bank-bank yang bermasalah. Oleh karena itu. “Deposit Insurance Pricing and Social Welfare”. dan sebaliknya5 .000 tidak dijamin. komitmen dan kewajiban off-balance sheet serta kewajiban antar bank di atas USD. khususnya bagi bankbank yang “Too-Small-To-Safe” (TSTS).. Pertama. tampaknya hanya dalam FDIC mengalami kerugian dan deposit growth menekan RR di bawah 1.25%. Tahun 1994. Alasan kedua adalah karena jumlah dana yang ditanamkan oleh FDIC telah melebihi ketentuan minimum Reserve Ratio (RR) perbankan sebesar 1. Namun dalam prakteknya prinsip tersebut ternyata tidak diterapkan karena dua alasan pokok berikut ini. Meskipun penerapan asas TBTF sangat dimungkinkan berdasarkan konsep Reformasi Deposit Insurance (deposit insurance reforms) yang disetujui Kongres Amerika Serikat dan berlaku sejak setelah tahun 1988. Sebagaimana diketahui.Sealey dalam “Deposit Insurance and Bank Interest Rate Risk: Pricing and Regulatory Implications”. Journal of Banking & Finance.18. Salah satu hal yang memperoleh kritikan adalah mengenai ruang lingkup penjaminan FDIC yang cenderung agak kurang konsisten sehubungan dengan penerapan pendekatan “Too-Big-To-Fail” (TBTF). Sebagaimana layaknya perusahaan asuransi. Perhitungan premi oleh FDIC dinilai kurang mencerminkan risiko yang harus ditanggungnya.1091-1108. . Namun dalam hal suatu bank dinilai TBTF maka seluruh pos kewajibannya akan dijamin. 5 Ide agar FDIC menetapkan premi sebagaimana layaknya perusahaan asuransi swasta mula-mula sekali dilontarkan oleh Merton (1977).

Kaufman. Mekanisme Cross-Guarantee ini memiliki kemiripan dengan mekanisme yang berlaku pada Standby Letter of Credits. Colorado pada bulan Juli 1998. No.721-722. Hal ini erat kaitannya dengan belum diterapkannya secara penuh prinsip risk-sensitive premium sebagaimana yang dipersyaratkan oleh Section 302 FDICIA6 serta penggunaan alat ukur risiko yang belum sesuai. pelaksana pengawasan bank. Struktur seperti ini ternyata dapat mengakibatkan terjadinya regulatory moral hazard pada tingkat pembuat ketentuan. Menurut George G. hal. rapid growth. khususnya dalam hal terdapat multiple participant. dan potensial untuk berubah menjadi real moral hazard pada tingkat FDIC. bank-bank yang ikut program penjaminan FDIC pada hakekatnya saling menjamin satu-sama lain. meskipun belum seutuhnya. . karena masing-masing bank-bank yang dijamin (insured banks) pada akhirnya menjadi pihak yang bertanggung jawab terhadap semua kerugian yang terjadi apabila ada bank-bank yang mengalami kegagalan usaha (failed banks). secara implisit konsep Cross-Guarantee sebenarnya sudah melekat pada FDIC. Perubahan-perubahan tersebut dapat mencakup aspek penyelenggara. Hal ini terjadi karena pada satu pihak FDIC memiliki kekuasaan besar dalam penentuan premi. Selanjutnya lihat George G. lembaga lain yang terlibat dan lain-lain. Karakteristik Sistem Cross-Guarantee dalam Penjaminan Terlepas dari berbagai kritik terhadap skim penjaminan FDIC sebagaimana dikemukakan di atas. Kritikan lainnya adalah mengenai masih terbukanya peluang untuk melakukan moral hazard dalam sistem yang berlaku sekarang. namun pendekatan ini dinilai kurang ideal dalam perhitungan premi. Tahun 1995.34 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. lembaga penjamin. 6 FDICIA singkatan dari FDIC Improvement Act. ketentuan perbankan. “FDICIA and Bank Capital” dalam Journal of Banking & Finance. seharusnya alat ukur yang digunakan adalah leading indicators of banking risks seperti risk mismatches.19. Maret 1999 sehat membayar kewajiban bank-bank yang tidak sehat.Kaufman. bentuk kontribusi dari bank yang dijamin. sumber pembayaran klaim. Menurut Bert Ely. sedangkan pihak lain yaitu birokrasi pemerintah (regulator) berkewajiban untuk meminimumkan kerugian FDIC dan mencegah kegagalan bank (bank failures). Penerapan konsep Cross-Guarantee dalam program penjaminan memer-lukan perubahan mendasar terhadap skim penjaminan dan pola pengawasan bank yang sedang berjalan. weak internal controls dan execessive exposure to emerging speculative bubbles. Pada Lampiran-1 disajikan perbandingan antara Cross-Guarantee dengan skim penjaminan deposit insurance konvensional untuk masing-masing aspek tersebut. ruang-lingkup penjaminan. Sekarang ini FDIC menggunakan 2 (dua) alat ukur risiko yaitu Capital Levels dan CAMEL Rating. Melalui premi yang mereka bayar. Contoh yang paling baru dari fenomena regulatory moral hazard ini adalah dalam hal kegagalan BestBank di Boulder. apabila diterapkan secara penuh maka ketentuan yang tercakup dalam FDICIA dapat efektif menurunkan moral hazard.

Setiap bank diberi kebebasan untuk menentukan sendiri penjaminnya (direct guarantornya). Apabila direct guarantor gagal memenuhi kewajibannya maka guarantor dari direct guarantor tersebut harus bertanggungjawab. Untuk memastikan bahwa bank-bank yang dijamin mematuhi cross-guarantee contract maka sebuah perusahaan swasta yang disebut “syndicate agent“ akan disewa. c. . minimal untuk menyelesaikan kewajiban cross-guarantee dari setiap penjamin. secara accrual accounting setiap direct guarantor akan langsung mengakui dan mencatat kerugian sebesar share yang harus ditanggungnya apabila bank yang dijaminnya mengalami kegagalan usaha. Dengan demikian setiap dolar kerugian pasti akan dapat diselesaikan oleh bank-bank yang berada dalam himpunan para penjamin (the universe of guarantors). Aturan ini mencakup hal-hal sebagai berikut: ♦ Setiap penjamin (guarantor) harus dijamin oleh penjamin-penjamin lainnya dalam suatu sistem cross-guarantee. Syndicate agent ini selanjutnya akan menggantikan fungsi pengawas dan pemeriksa bank yang ada sekarang. Lembaga ini berfungsi untuk memastikan bahwa perjanjian penjaminan (crossguarantee contract) yang disepakati para pihak telah sesuai dengan aturan penyebaran risiko (risk dispersion rule) serta ketentuan-ketentuan lainnya. Perjanjian ini akan berfungsi sebagai pengganti ketentuan perbankan yang berlaku sekarang.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 35 Agar konsep Cross-Guarantee tersebut dapat diimplementasikan dalam praktek maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: a. Dengan demikian. b. Secara bersama-sama para direct guarantor akan membentuk suatu sindikat direct guarantor (lihat Lampiran-2). Dengan cara ini. Bank yang dijamin (insured bank) selanjutnya akan melakukan pembicaraan dengan direct guarantor-nya untuk mencapai kesepakatan-kesepakatan yang akan dituangkan dalam bentuk perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract). Penunjukan syndicate agent ini dilakukan secara terbuka sehingga akan mendorong adanya kompetisi yang sehat dan efisiensi. Sebuah lembaga baru yang disebut Cross Guarantee Regulation Corporation (CGRC) harus dibentuk. Perlu kiranya dikemukakan bahwa aturan penyebaran risiko (risk dispersion rule) merupakan salah satu pilar penting dalam konsep Cross-Guarantee. Direct guarantor akan melakukan pembayaran dengan menggunakan general funds (cadangan umum) yang merupakan salah satu unsur modalnya. Jumlah modal yang tersedia untuk menyerap kerugian juga akan semakin besar dan semua itu terjadi atas dasar komitmen sukarela (committed voluntarily). d. akan terjadi pergeseran dari government regulation and deposit insurance kepada contractual regulation and guarantees (swasta). Selanjutnya. seluruh kerugian karena bangkrutnya suatu bank akan langsung diserap oleh modal bank-bank yang ada dalam sistem perbankan suatu negara.

yang menyatakan bahwa “apabila satu penjamin mengalami kerugian cross-guarantee melebihi lima kali premi yang diperolehnya dalam setahun maka kewajiban crossguarantee-nya harus dialihkan kepada direct guarantor-nya. maka konsep Cross-Guarantee dipandang lebih berorientasi ke depan dibandingkan dengan konsep penjaminan (FDIC) yang berlaku sekarang. baik untuk setiap bank maupun secara aggregat. 7 Dalam hal ini premi merupakan proxy terbaik dari cross-guarantee risk. memenuhi aturan penyebaran risiko (risk dispersion rule) serta ketentuan-ketentuan lainnya yang dianggap penting oleh para pihak. yaitu insured banks dan direct guarantor-nya. Secara aggregat. Demikian pula penentuan perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract) sepenuhnya diserahkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Maret 1999 ♦ Setiap perjanjian penjaminan (cross guarantee contracts) harus menyebutkan jumlah minimum para penjamin dan persentase risiko yang ditanggung mereka masing-masing. Cross-Guarantee memerlukan peran aktif dari pihak swasta untuk mewujudkan suatu skim penjaminan yang diarahkan oleh kekuatan pasar (market-driven cross-guarantee). sehingga penjaminan akan terlaksana secara efisien dan efektif. . agar dapat terlaksana dengan baik. Skim penjaminan berbasiskan pasar tersebut diharapkan dapat mengeliminir intervensi dari pemerintah. Sebagai aturan yang akan menggantikan prudential regulation maka perjanjian penjaminan harus dibuat sedemikian rupa agar dapat menampung prinsip kehati-hatian. setiap bank penjamin tidak diperkenankan menerima pendapatan dari premi7 dalam setahun melebihi 3 (tiga) persen dari total modalnya. ♦ Untuk memastikan bahwa tidak akan pernah ada suatu bank mengalami kegagalan usaha karena menjadi penjamin maka perlu diberlakukan suatu standard stop-loss rule.36 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Manfaat Swastanisasi Penjaminan melalui Cross-Guarantee Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya. ♦ Setiap penjamin bertanggungjawab sebatas jumlah risiko cross-guarantee yang ditanggungnya. Karena adanya kebebasan dalam proses merumuskan mekanisme penjaminan untuk setiap bank. penerapan konsep CrossGuarantee akan menimbulkan pergeseran peranan dari pemerintah kepada pihak swasta dalam melakukan penjaminan serta pengaturan dan pengawasan bank. Oleh karena itu. Semangat untuk melakukan privatisasi penjaminan melalui Cross-Guarantee jelas terlihat sejak awal penentuan bank penjamin (direct guarantor) yang dilakukan secara sukarela (voluntary) dan demokratis. Yang perlu dijaga adalah agar perjanjian dimaksud sudah memperhitungkan premi atas dasar sensitivitas terhadap risiko (risk-sensitive premium).

Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia

37

Dengan swastanisasi penjaminan dan pengawasan bank maka nantinya tidak akan ada lagi fenomena “satu ketentuan yang berlaku untuk semua” (one-size-must-fit-all government regulation) yang selama ini merupakan salah satu kelemahan inheren dari ketentuan perbankan yang dibuat pemerintah. Dalam praktek selama ini sering ditemukan adanya beberapa ketentuan yang sulit diterapkan karena bersifat terlalu umum dan kurang mempertimbangkan karakteristik individual bank. Atas dasar konsep Cross-Guarantee ini, insured banks dapat membuat berbagai ketentuan yang mengatur dirinya secara spesifik berdasarkan kesepakatan dengan direct guarantor-nya. Konsep Cross-Guarantee juga memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi insured banks untuk berdiskusi dan bernegosiasi dengan direct guarantor-nya untuk segala hal termasuk mengenai masa depan bank tersebut. Hal ini pada gilirannya akan membuat strategi business dan perencanaan bank menjadi semakin tajam dan terarah. Pada pihak lain, kegiatan kontrol atau pengawasan akan semakin lebih ketat karena langsung dilakukan oleh kekuatan pasar. Apabila suatu bank memperoleh penilaian yang jelek dari pasar maka yang akan menanggung akibatnya bukan hanya bank yang bersangkutan saja, tetapi juga menjalar kepada bank yang menjadi direct guarantor. Hal-hal tersebut akan membuat persaingan dalam industri perbankan akan semakin ketat dan mendorong efisiensi besarbesaran dalam sektor keuangan. Persaingan sehat juga akan terjadi diantara sesama syndicate agent yang akan berfungsi sebagai pengganti pengawas dan pemeriksa bank yang ada sekarang. Karena kemungkinan akan banyak perusahaan syndicate agent yang muncul maka direct guarantor diberi keleluasaan dalam menentukan syndicate agent yang mereka pilih. Hal ini pada gilirannya dapat mendorong kompetisi yang sehat diantara sesama perusahaan syndicate agent dan mendorong efisiensi pekerjaan penjaminan. Manfaat berikutnya dari konsep Cross-Guarantee dapat ditinjau dari segi ruang lingkup penjaminannya. Tanpa memandang besar kecilnya suatu bank, mereka akan dijamin sebagaimana layaknya bank-bank lainnya, asal bank-bank tersebut dapat menemukan direct guarantor-nya. Oleh karena itu, pendekatan TBTF menjadi tidak relevan sama sekali dalam konsep Cross-Guarantee. Dengan menggunakan konsep Cross-Guarantee, maka transaksitransaksi non-funding obligations seperti account payment, unexpired leases dan kewajiban yang muncul karena tuntutan hukum akan dapat ikut dijamin. Kewajiban yang tidak dapat dijamin hanyalah pinjaman subordinasi karena memiliki karakteristik campuran (hybrid) hutang dengan modal. Sama halnya dengan program penjaminan biasa, maka dalam crossguarantee, unsur modal juga tidak dijamin8 .
8 Pengecualian hanya terjadi dalam hal TBTF, karena ada kemungkinan pinjaman subordinasinya juga akan ikut dibayar, tergantung pada bobot permasalahan bank yang TBTF tersebut.

38

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

Manfaat lainnya dari konsep Cross-Guarantee adalah adanya kesempatan untuk melakukan penyesuaian secara cepat terhadap perhitungan premi berdasarkan kekuatan pasar. Perhitungan tersebut akan mencerminkan risk-sensitivity dari bank yang dijamin dan diharapkan dapat disesuaikan segera baik secara bulanan atau mingguan. Dalam hal ini besarnya premi dapat langsung dibicarakan oleh masing-masing bank dengan direct guarantor-nya. Dengan adanya kemungkinan untuk melakukan perhitungan premi berdasarkan kecenderungan pasar tersebut maka cross-subsidies yang inheren dalam skim penjaminan yang ada sekarang diharapkan akan dapat dihilangkan.

Pengaruh terhadap Pasar Antar Bank dan Sistem Pembayaran
Cross-guarantee dapat menghilangkan counterparty risk yang selama ini melekat dalam transaksi antar bank (lihat Lampiran-3). Sistem Kliring akan terbebas dari risiko tidak dibayarnya tagihan antar bank karena adanya jaminan bahwa direct guarantor masing-masing bank pada akhirnya akan bertanggungjawab sesuai perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract) yang mereka sepakati. Hal ini pada gilirannya memungkinkan terselenggaranya suatu Sistem Pembayaran yang bebas risiko (risk-free basis). Penggunaan konsep Cross-Guarantee ini juga dapat mendorong penggunaan secara luas net settlement procedures dalam Sistem Pembayaran. Bagi bank sentral hal ini akan sangat menguntungkan karena net settlement procedures tersebut dapat lebih efisien dari real-time gross settlement .

Kemungkinan Penerapan Konsep Cross-Guarantee di Indonesia
Skim penjaminan yang sekarang ini diterapkan di Indonesia masih mengandung berbagai kelemahan baik pada tingkat konsep maupun pada tingkat pelaksanaan. Pada tingkat konsep, karena bersifat blanket guarantee (jaminan menyeluruh) maka skim tersebut dapat mengakibatkan beban yang sangat berat bagi keuangan pemerintah, padahal kemampuan keuangan pemerintah sendiri sudah sangat terbatas. Disamping itu peluang untuk moral hazard juga besar karena unsur keadilan yang kurang terpenuhi yang tercermin antara lain dari gejala cross-subsidies dimana bank-bank yang sehat membayar kewajiban bank-bank yang tidak sehat. Pada tingkat pelaksanaan, terdapat pula indikasi bahwa dalam praktek tidak seluruh aspek penjaminan dapat terlaksana. Sebagai contoh, untuk melaksanakan penjaminan transaksi off-balance sheet derivatives perlu ada bukti-bukti bahwa transaksi itu genuine, sesuatu yang sangat sulit dibuktikan kecuali oleh perbankan sendiri. Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas, konsep Cross-Guarantee tampaknya dapat menjadi salah satu alternatif jalan keluar, karena hakekat persoalan penjaminan dikembalikan secara utuh kepada pelaku pasar sendiri yaitu antara bank-bank yang

Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia

39

bertransaksi, sehingga mereka perlu saling menjamin dan saling menjaga kestabilan sistem perbankan. Namun demikian perlu kiranya diingat agar pemilihan konsep Cross-Guarantee tersebut hendaknya tidak terlepas dari tujuan utama dari program penjaminan, yaitu untuk mencegah kegagalan pasar perbankan (banking market failure) dan untuk membangkitkan kembali kepercayaan masyarakat serta menghentikan bank runs9 . Meskipun dapat dipandang sebagai salah satu alternatif jalan keluar, penerapan konsep Cross-Guarantee di Indonesia dapat menimbulkan pro dan kontra. Mereka yang pro mungkin lebih didasarkan atas adanya peluang besar untuk meringankan beban keuangan pemerintah, apalagi dalam situasi krisis seperti sekarang. Sementara itu, yang kontra lebih melihat dari sisi kesiapan perbankan dan kalangan pemerintahan kita dalam menerapkan konsep dimaksud. Hal yang terakhir ini tampaknya ada benarnya juga karena untuk sampai pada konsep Cross-Guarantee perlu dijawab terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

√ Apakah bank-bank di Indonesia sudah sedemikian sehat dan kuat sehingga mampu
untuk saling menjamin (cross-guarantee) sesama mereka ?

√ Apakah bank-bank di Indonesia sudah cukup dewasa untuk mendiskusikan sendiri
sesama mereka hal-hal yang berkenaan dengan penjaminan, business strategy dan prudential regulation untuk dituangkan dalam semacam perjanjian yang mengikat mereka secara bersama-sama ?. Pertanyaan ini cukup penting mengingat selama ini bank-bank di Indonesia sangat tergantung pada petunjuk dan arahan yang diberikan oleh otoritas moneter sebagai pengawas dan pembina bank-bank.

√ Apakah sistem informasi yang terdapat pada masing-masing bank dan secara nasional
telah sanggup menyediakan data/informasi yang diperlukan untuk penetapan premi yang sensitif terhadap risiko ?

√ Apakah pihak otoritas pengawas yang ada sekarang berkenan menyerahkan fungsinya
pada mekanisme pasar melalui syndicate agent dan dapat menerima keberadaan Cross Guarantee Regulation Corporation (CGRC) sebagai lembaga yang akan memverifikasi perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract) ?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas cukup relevan untuk kondisi Indonesia dan memerlukan jawaban-jawaban yang tidak sederhana. Pengkajian lebih lanjut sangat diperlukan untuk mencegah pengambilan keputusan yang keliru yang dapat berakibat kontraproduktif terhadap masa depan sistem perbankan dan sektor keuangan negara kita.
9 Mengenai hal ini lihat misalnya Kerry Cooper dan Donald R.Fraser, “The Risk of Depository Institution Failure and The Role of Deposit Insurance” dalam Banking Deregulation and The New Competition in Financial Services, Ballinger Publishing Company, Cambridge Massachusetts, 1984.

Balino. Kusumaningtuti S. Editor V. Ketentuan Blanket Guarantee dan Kemungkinan Penggantiannya dengan Deposit Protection Scheme.Kaufman. The Cross-Guarantee Concept and Interbank Markets. No. No. Kerry Cooper and Donald R. .19.721-722. Bank Indonesia. Tahun 1995.Sundararajan dan Tomas J.T. “The Risk of Depository Institution Failure and The Role of Deposit Insurance” dalam Banking Deregulation and The New Competition in Financial Services. Ballinger Publishing Company.. Arthur F.T. Vol. D. hal. George G. 7 Mei 1999. “FDICIA and Bank Capital” dalam Journal of Banking & Finance. No.W. Banking Crises: Cases and Issues.Fraser. Cambridge Massachusetts. Maret 1999 Daftar Pustaka Bert Ely.1091-1108.18.Balino. 1991. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Tahun 1994.3. 1984.Moreau and C. Desember 1998. V. hal. Jin-Chuan Duan. No. Paper dalam “The 35th Annual Conference on Bank Structure and Competition”.1. International Monetary Fund.531-552..40 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Washington.Sealey dalam “Deposit Insurance and Bank Interest Rate Risk: Pricing and Regulatory Implications” dalam Journal of Banking & Finance. “Deposit Insurance Pricing and Social Welfare” dalam Journal of Banking and Finance.C. The Federal Reserve Bank of Chicago. hal. Yoram Landskroner dan Jacob Paroush.19 Tahun 1995.S.Sundararajan dan Tomas J.

Hasil pengelolaan dan penanaman premi pada sektor-sektor yang menguntungkan. Dibentuk lembaga baru yang disebut Cross Guarantee Regulation Corporation (CGRC) untuk memastikan bahwa perjanjian jaminan sudah sesuai aturan penyebaran risiko dan ketentuan lainnya. Premi ("risk sensitive premium"). Seluruh pos-pos kewajiban. Berdasarkan kesepakatan antara bank yang dijamin (insured banks) dengan direct guarantor-nya ("Contractual Regulation"). 4 Bentuk kontribusi dari yang dijamin 5 Sumber pembayaran klaim General funds (general reserves) dari direct guarantors. baik sebagai direct guarantor maupun indirect guarantor. dilaksanakan oleh "Syndicate Agent". 8 Lembaga lain yang terlibat Tidak ada lembaga lain yang terlibat kecuali FDIC. kecuali Pinjaman Subordinasi. 41 . Premi (namun belum memenuhi kriteria "risk-sensitive premium"). Bank Sentral dan "insured banks". 6 7 Pelaksana pengawasan bank Ketentuan perbankan Murni swasta.Lampiran-1 PERBANDINGAN ANTARA CROSS-GUARANTEE DENGAN DEPOSIT INSURANCE KONVENSIONAL No. Bank Sentral dan FDIC Prudential regulation konvensional Swasta Sesama bank. ASPEK DEPOSIT INSURANCE CROSS-GUARANTEE Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 1 2 3 Penyelenggara Lembaga Penjamin Ruang-lingkup Penjaminan Pemerintah FDIC Terbatas dan sangat subjektif dalam penentuan bank-bank yang "TBTF" (Too-Big-Too-Fail).

42 Lampiran 2 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Permission granted to reproduce with attribution Cross-guarantee commitment Guarantee premium Contractual relationship Contract approval . Maret 1999 Monitoring fee Obligation to protect competitively sensitive data Ensures that cross-gurantee contract complies with risk dispersion rules and other statutory requirements Syndicate Agent (Independent of any other party) monitoring responsibility Fiduciary responsibility Delegation of Guaranteed Bank of Thrift complies with risk dispersion rules and other statutory requirements Ensures that cross-guarantee contract Syndicate of Direct Guarantors = Bank or non-depository guarantor  1998 Ely & Company Inc.

bilateral caps. thereby ensuring payment finality.Lampiran 3 Using Cross-Guarantees to Ensure Payment Finality Will Permit Clearing Systems to Operate Much More Efficiently by Eliminating Counterparty Risk Present System Clearing systems presently utilize a variety of devices. stc) that are direct participants in the clearing system Guarantors of counterparties 43 . and collateralized net debit positions. In effect. Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia In a World of Cross-Guarantees Clearing systems will be able to operate much more efficiently and safely where balances due to clearing system participants are fully guaranteed by the guarantors of the clearing system’s counterparties. Clearing Systems Failure Failure Flow of insolvency loss if a clearing system participant becomes insolvent Counterparties (banks. securities. to protect clearing systems participant from a default by a counterparty. cross-guarantee contracts will ensure payment finality. firms. including daylight overdraft limits.

Di sini dibahas beberapa faktor yang menggambarkan perilaku masyarakat perdesaan yang mempengaruhi kinerja lembaga keuangan mikro. karena sebagian justru sengaja memacetkan kreditnya. kenangan dan salam perpisahan penulis kepada Urusan Kredit. ada Badan Kredit Desa yang didirikan di zaman Belanda.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 45 KINERJA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DAN PERILAKU MASYARAKAT PEDESAAN *) Sumantoro Martowijoyo **) Setelah disuguhi banyak topik moneter dengan teknik-teknik analisis canggih ekonometrika tingkat pascasarjana. karena memiliki berbagai jenis sejak lama. Bank Indonesia . tulisan ini mengajak pembaca untuk turun ke dunia nyata tempat sebagian besar saudara kita sebangsa hidup. di samping berkembangnya kelompok-kelompok swadaya masyarakat sebagai bentuk lembaga keuangan yang paling sederhana di tingkat “akar rumput”. Di era pengentasan kemiskinan ini. Indonesia telah menjadi laboratorium bagi penelitian di bidang Lembaga Keuangan Mikro (LKM). suku bunga tabungan dan suku bunga pinjaman. tidak demikian halnya pengusaha konglomerat. USDM. tingkat penghasilan nasabah. dan kiranya akan menjadi topik pembicaraan tersendiri. Bank Indonesia **) Sumantoro Martowijoyo : Peneliti pada Tim Penyiapan Pusat Pendidikan dan Riset. waktu pemrosesan kredit. Badan Kredit Kecamatan di Jawa Tengah. Ukuran “kinerja” sendiri jauh berbeda dengan kriteria CAMEL yang tidak akan mudah tercerna oleh kesahajaan lembaga-lembaga tersebut. misalnya: jam kerja. Dari hasil analisis dapat diungkapkan. bahwa faktor yang paling mempengaruhi kinerja adalah jarak ke lokasi nasabah dan selang waktu pemrosesan kredit. *) Bagian dari tulisan yang sedang dalam proses. Di luar BRI Unit yang merupakan kisah sukses tingkat dunia. Tergambar pula masih lugu dan mandirinya sifat pengusaha mikro perdesaan nasabah LKM dibanding pengusaha konglomerat nasabah bank umum: apabila kenaikan pendapatan pengusaha mikro perdesaan dipakai untuk menambah tabungan dan melunasi tunggakan. jarak rata-rata antara lokasi LKM ke lokasi nasabah.

Maret 1999 Latar Belakang D engan disepakatinya ikrar dalam Microcredit Summit di Washington DC Amerika Serikat pada tahun 1997 untuk membebaskan 100 juta penduduk dunia dari kemiskinan. dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) bergiat membina keswadayaan masyarakat melalui kelompok-kelompok swadaya masyarakat (KSM). Dengan begitu. dan simpanan sukarela. Kegiatan arisan sudah tumbuh menjamur diperdesaan dan perkotaan dan jumlahnya mungkin melebihi satu juta. timbullah gagasan untuk menambah jumlah dan jenis uang setoran menjadi simpanan pokok. Istilah “mikro” selain menunjuk skala yang lebih kecil dari yang kecil. Model Grameen Bank Bangladesh direplikasikan di manamana. Indonesia sebetulnya sudah lebih maju dalam penciptaan lembaga keuangan mikro sejak zaman Belanda. Lembaga Keuangan Mikro di Indonesia Selain lembaga yang formal seperti BRI Unit dan BPR yang secara hukum diakui sebagai lembaga keuangan formal (bank). dan dalam pengembangan LKM melalui Proyek Kredit Mikro yang didanai bersama Asian Development Bank. Di luar perhatian para penentu kebijakan kita. kegiatan yang dilakukan secara kelompok sudah merupakan budaya masyarakat yang berazaskan paguyuban. di samping BRI Unit yang merupakan kisah sukses dunia. para pakar merekomendasikan prinsip keswadayaan dan kesehatan (viability) dari programprogram pengentasan kemiskinan. 1 banyak pula yang menyebutnya rural financial institutions (RFI) atau lembaga keuangan pedesaan (LKP).46 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Dalam pengembangan KSM Bank Indonesia ikut berkiprah melalui Pengembangan Hubungan Bank dengan Kelompok Swadaya Masyarakat (PHBK) yang gagasannya berasal dari APRACA (Asia Pacific Rural and Agricultural Credit Association). konotasinya terkait dengan kemiskinan . pencarian model lembaga keuangan mikro1 yang tepat untuk melayani rakyat miskin dilakukan di mana-mana. terdapat banyak LKM yang semiformal maupun informal di Indonesia. Kelompok Swadaya Masyarakat Di Indonesia. tapi untuk Indonesia karena lokasinya banyak pula di perkotaan maka dipilih istilah yang dikenal sejak Summit ini. tanpa melihat status hukumnya. Tiga lembaga yang dipilih adalah yang efektif beroperasi di tingkat “akar rumput” dan menerapkan prinsip suku bunga pasar yang terbukti lestari. Apabila kebutuhan akan uang tersebut makin terasa dan jumlah yang diperoleh dari arisan terlalu kecil. Setelah dua dasawarsa diwarnai kreditkredit murah bersubsidi yang sebagian tidak jatuh ke tangan kelompok sasaran dan mengakibatkan merosotnya kinerja serta moralitas lembaga keuangan pelaksananya. simpanan wajib.

di mana untuk peminjaman uang ditarik pula semacam “jasa” yang dipotongkan dari jumlah pinjaman. Pembukuan dilakukan oleh Juru Tata Usaha (JTU) yang bekerja untuk 6 BKD secara bergilir (BKD umumnya buka sekali seminggu pada hari atau hari pasaran tertentu). serta di akhir tahun membagikan dividen bagi para pemegang saham.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 47 perkumpulan arisan telah berubah menjadi koperasi kredit (credit union). Sebagai bank sekunder dalam pembinaan BRI. banyak LSM yang lahir dan tumbuh untuk dapat “menangkap” bantuan dari badan atau LSM internasional. Perkumpulan semacam ini secara tidak sadar sudah berfungsi sebagai lembaga keuangan perdesaan: menghimpun dana dan memberikan kredit kepada anggota. Badan Kredit Desa Badan Kredit Desa (BKD) terdiri dari lumbung desa yang didirikan tahun 1897 dan bank desa yang didirikan sekitar tahun 1904 (P. kredit pasaran diberikan oleh BKD yang bukanya setiap hari pasaran tertentu . Satu pasar=5 hari (kalender Jawa). Lumbung desa mengumpulkan padi untuk diberikan sebagai pinjaman berupa padi kepada petani di saat mereka membutuhkan. memungut bunga berupa “jasa”. Dengan berlakunya Undang-undang Perbankan No. 2. 1988) dan keduanya dikukuhkan dengan Staatsblad nomor 357 tahun 1929. BI sendiri menyetujui BRI meneruskan tugas pengawasannya terhadap BKD dengan bantuan keuangan dari BI. Suharto. Berkembangnya KSM di Indonesia tidak lepas dari berkembangnya lembaga swadaya masyarakat (LSM) dari tahun 1960-an sampai awal 1990-an yang jumlahnya diperkirakan antara 1000-2000 buah (Saidi. Pengawasan terhadap BKD dilakukan secara langsung oleh Mantri BKD yang mewilayahi satu kemantren yang terdiri dari 18 BKD. semata-mata berdasarkan penilaian kelayakan nasabah oleh Komisi I. Akan tetapi mengingat banyak faktor. berguguran di zaman pendudukan Jepang dan Perang Kemerdekaan.7 tahun 1992 yang mencabut berlakunya Staatsblad no. Jumlah kredit yang dapat diberikan sampai dengan Rp 400. Sistem kredit BKD sederhana.000 tanpa agunan. kemudian mulai tumbuh kembali sesudah kemerdekaan. Sedangkan bank desa menghimpun tabungan berupa uang dan memberikan kredit berupa uang. pengawasan terhadap BKD sebetulnya ada di tangan Bank Indonesia (BI). 1995). terutama terdiri dari kredit pasaran dan mingguan yang berjangka waktu 12 pasar2 atau 12 minggu dengan pembayaran angsuran pokok maupun bunga dengan jumlah yang tetap. organisasi dan pengelolaan BKD dipertahankan tetap seperti konsep semula yaitu Komisi BKD terdiri dari kepala desa sebagai ketua komisi (Komisi I) dan 2 orang pemuka masyarakat atau aparat desa sebagai Komisi II dan III. Selama zaman Belanda sistem BKD telah berfungsi dengan baik sebagai lembaga keuangan bagi rakyat perdesaan. Seperti halnya di Filipina. 357 tahun 1929.

(2) menciptakan pemerataan kesempatan berusaha di pedesaan. BKK didirikan dengan tujuan: (1) mendekatkan modal pada masyarakat pengusaha miskin di perdesaan dengan cara mudah. 11 tahun 1981 dikukuhkan menjadi badan usaha milik daerah. sedangkan untuk nasabah ulangan yang lancar pencairan kredit dapat dilakukan pada hari yang sama. Jumlah BKD di Jawa dan Madura tercatat 5345 terdiri dari 4806 yang aktif dan 539 yang tidak aktif (BRI. Jumlah BKK di seluruh Jawa Tengah 510.26). Jenis kredit BKK sama dengan BKD. 1995.p. dan musiman (6 bulan). yaitu kebanyakan kredit pasaran. bulanan (3 bulan). Selang waktu antara saat pengajuan permohonan dengan realisasi kredit untuk nasabah baru paling lama seminggu. 1981). murah dan mengarah. Prosedur permohonan kredit kepada BKK cukup sederhana dan untuk jumlah kredit sampai dengan Rp 500. Sama dengan BKD jumlah angsuran sama setiap pembayaran. hanya menuruti peraturan BPR. Manajemen BKK terdiri dari Pimpinan. Berdasarkan Perda no. 1993) . keberadaannya dibutuhkan oleh rakyat dan telah membuktikan kelestarian dan kemandiriannya dalam arti tidak pernah menerima dana maupun subsidi bunga dari pemerintah. Maret 1999 Lepas dari suara yang mendiskreditkan BKD. misalnya.584 (DAI. yaitu sebesar USD 38 di tahun 1993 (Christen. mingguan. Pemegang Kas dan Pemegang Buku. Kinerja manajemen BKK dipantau oleh Camat sebagai penanggung jawab BKK di wilayahnya. ratarata peminjam per unit 978 orang. Sebagai LKM. jumlah pinjaman rata-rata per unit Rp 96 juta dan per nasabah Rp 132. tercermin dari paling rendahnya jumlah kredit rata-rata BKD dibanding beberapa lembaga keuangan mikro yang terkenal di dunia. 1998). dan (3) mendidik masyarakat pedesaan untuk gemar menabung (BP-BKK. dibukukan terpisah sebagai angsuran pokok dan bunga.1994). BKK diharuskan menyimpan kelebihan alat likuidnya di BPD. dan kemudian dengan Peraturan Daerah (Perda) No.48 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. di pihak lain apabila BKK kekurangan modal kerja BPD akan memberikan pinjaman likuiditas. Di tengah maraknya kredit Bimas. BKD mampu menjangkau masyarakat paling miskin di pedesaan. 202 di antaranya sudah berstatus BPR.000 tidak diperlukan agunan selain rekomendasi kepala desa. Badan Kredit Kecamatan Badan Kredit Kecamatan (BKK) adalah lembaga keuangan yang beroperasi di tingkat kecamatan yang didirikan oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Tengah di awal tahun 1970an dengan status sebagai suatu proyek. lumbung desa tetap menjadi sumber kredit bagi rakyat kecil untuk konsumsi sehari-hari (Dibyo Prabowo.11 tahun 1981 Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jawa Tengah ditugasi sebagai pembina dan pengawas teknis BKK.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Kinerja LKM Terdapat beberapa faktor atau variabel yang secara rasional dianggap mempengaruhi kinerja. seperti: umur LKM. sedangkan LARAP merupakan laba bersih sebelum pajak dibagi saldo pinjaman. BKK) diambil proporsional berdasarkan jumlah populasinya masing-masing secara purposif. 3 N 6 Σ di 2 i=1 rs = 1 . yaitu tingkat akses kepada penabung (AKPEN). AKPEN dan AKPEM adalah masingmasing jumlah penabung dan peminjam dibagi jumlah penduduk di wilayah kerja LKM. jarak rata-rata ke lokasi nasabah (JARAK). BIRUP dihitung dari jumlah biaya operasional dibagi dengan saldo pinjaman. 1997). tingkat akses kepada peminjam (AKPEM). efisiensi (biaya usaha per rupiah kredit. selang waktu pemrosesan kredit (SELANG). jam kerja. Mengenai kriteria kinerja. penulis mengajukan beberapa faktor penentu kinerja LKM. yang merupakan 34 % dari populasi. persentase jumlah penunggak (PERPUNG). beserta masing-masing 3 nasabah per LKM yang diambil secara acak. Analisis data primer dilakukan dengan teknik statistik nonparametrik. pertama dengan uji Kruskal-Wallis untuk beda populasi dan uji Kendall untuk kesesuaian (concordance) pemeringkatan faktor-faktor kinerja. penghasilan rata-rata nasabah (RAYNAS). kemudiaan untuk hubungan antarfaktor kinerja dengan korelasi jenjang Spearman3 . dan suku bunga pinjaman (IPIN).————— N3 .Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 49 Metodologi Penelitian Penelitian ini dilakukan di lapangan terhadap 105 lembaga keuangan mikro (LKM) di Jawa Tengah. BIRUP) dan laba per rupiah kredit (LARAP).N di mana rs = koefisien korelasi Spearman N = jumlah pasangan observasi d = perbedaan jenjang yang diperoleh dari setiap pasangan observasi . Kegunaan kriteria ini akan dapat dipahami setelah selesai membaca hasil analisis di belakang. Keuntungan penggunaan statistik nonparametrik adalah tidak perlu dibuktikannya kenormalan distribusi data (yang merupakan prasyarat bagi sahihnya penggunaan statistik parametrik) dan dapat diterapkannya pada sampel kecil atau data kualitatif (Siegel. PERPUNG adalah persentase jumlah penunggak (debitur kredit macet) dari jumlah peminjam. BKD. suku bunga tabungan (ITAB). dari pengkajian terhadap falsafah dan hakekat LKM serta pendapat para praktisi keuangan perdesaan. untuk masing-masing jenis LKM (KSM.

berarti bahwa suku bunga pinjaman sudah ada di batas atas.1183.000) . Suku bunga pinjaman berpengaruh sangat signifikan terhadap jumlah peminjam (rs=0. meningkatkan biaya per rupiah kredit secara tidak signifikan (rs=0. membuktikan bahwa angka rata-rata yang dianalisis memang berasal dari tiga populasi yang berbeda dan pemeringkatan semua faktor kinerja dilakukan secara konsisten.1325(. Tabel 1. Dari hasil analisis korelasi peringkat Spearman antara variabel nonkinerja dengan faktor penentu kinerja terdapat beberapa temuan yang berhubungan dengan perilaku nasabah.1183(. Jauhnya jarak berpengaruh sangat signifikan terhadap penurunan jumlah penabung (rs=-0.2674.0276(.474) .229) xxxxxxx LARP -.006) PERPUNG .3406(.4816.000) dan jumlah peminjam (rs=-0.178). .3981 (.000) -.2292(. Lamanya waktu pemrosesan kredit berpengaruh menurunkan jumlah peminjam cukup signifikan (rs=-0.2674(.2292.019) juga berpengaruh sangat signifikan dalam penurunan laba per rupiah kredit (rs=-0. α=0.003) .4816(. α=0. α =0.003).000).000) dan biaya per rupiah kredit (rs=0. α=0.2864. α=0.109) dan berpengaruh tidak signifikan terhadap laba per rupiah kredit (rs=0.780) 1. α = 0.780). α=0. α=0. meningkatkan jumlah penunggak walaupun tidak signifikan (rs=0.1325. apabila dinaikkan akan menurunkan jumlah peminjam dan mengakibatkan meningkatnya jumlah penunggak.4959. Faktor yang berpengaruh paling besar terhadap faktor kinerja adalah jarak antara lokasi nasabah ke kantor atau pos desa LKM (JARAK). berpengaruh cukup signifikan terhadap jumlah penunggak (rs=0. demikian pula uji Kendall menghasilkan nilai W yang sangat signifikan. α=0.3981. 3. serta peningkatan jumlah penunggak (rs=0.3406.178) -.0706.2073(.019) . Selang dan Sukubunga Pinjaman terhadap Faktor Kinerja AKPEN JARAK SELANG IPIN -.000). Korelasi antara Jarak.000) -.076(. Faktor lain yang cukup berpengaruh kepada faktor kinerja adalah lamanya waktu pemrosesan kredit (SELANG). α=0. menurunkan laba per rupiah kredit secara sangat signifikan (rs=-0. mengingat banyaknya kredit murah serta persaingan berat dari BRI Unit 2.229.0276.2073.50 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. α=0. Maret 1999 Hasil Analisis Uji Kruskal-Wallis menghasilkan nilai chi-kuadrat yang sangat signifikan. α=0.006).2864(.109) BIRUP .474).4959(.000) xxxxxx xxxxxxx AKPEM -.

0063(.000) . nasabah yang penghasilannya relatif lebih tinggi mempunyai akses kepada pelayanan tabungan dan pinjaman yang lebih besar dibanding dengan nasabah yang 98.1281(. nasabah BKK yang relatif lebih mampu meningkatkan tabungan tetapi terus memanfaatkan kredit. dan jumlah penunggak (rs=-0.645) -.594 di tahun 1993 (DAI. mereka . (a) Dilihat LKM sebagai keseluruhan. dapat diungkapkan beberapa temuan yang menarik.585) -. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pada BKK.1131(. Tabel 2 Korelasi antara Penghasilan Rata-rata Nasabah dengan Faktor Kinerja untuk Seluruh LKM dan Per Jenis LKM AKPEN LKM (105) KSM (28) BKD (61) BKK (16) -.0237(. jarak mempunyai dampak yang lebih kuat terhadap berkurangnya jumlah peminjam dan bertambahnya jumlah penunggak dibandingkan suku bunga pinjaman.349) .668) →0 4. sedangkan pengaruhnya pada BKD kurang signifikan. pengaruh penghasilan nasabah terhadap kinerja tidak begitu signifikan.274). Akan tetapi dilihat dari kuat dan signifikannya korelasi. yaitu apabila penghasilan pengusaha mikro nasabah BKK meningkat.1245(.3194(.169 di tahun 1992 dan melonjak menjadi Rp 132. Dari analisis mengenai pengaruh penghasilan nasabah dan jumlah tabungan rata-rata terhadap kinerja. sama dengan perilaku pengusaha besar nasabah bank umum.567) .5500(.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 51 dan BPR yang memperoleh fasilitas kredit dari pemerintah.012) .196) PERPUNG .027) AKPEM .1466(.3412.985) .2912(.251) -.2784(. jumlah peminjam (rs=0. 1993).0025(.339) .0565(.196).0601(. karena jauhnya jarak lokasi LKM akan menyebabkan nasabah malas untuk berhubungan karena besarnya “biaya transaksi” yang harus ditanggungnya.0309(.297) LARP -.3670(.3412(.610) -.876) -.1840(.1131(. yaitu biaya angkutan dan hilangnya waktu meninggalkan pekerjaan. (c) Walaupun begitu terlihat masih adanya sifat jujur dan mandiri pada pengusaha mikro nasabah BKK dibanding pengusaha besar nasabah bank umum saat ini. (b) Dilihat per segmen nasabah terdapat perbedaan perilaku apabila penghasilannya meningkat: nasabah BKD yang relatif kurang mampu lebih suka menabung dan tidak meminjam.516) .949) -.027).5500.274) BIRP . Akan tetapi apabila dianalisis per jenis LKM. terlihat bahwa penghasilan nasabah paling berpengaruh terhadap kinerja BKK. α=0. α=0.2912. Hal sederhana ini kiranya dapat dimaklumi. α=0. terutama kepada jumlah penabung (rs=0.456) .0539(.

terus memanfaatkan kredit dan tidak lupa melunasi tunggakannya. Mendorong LKM untuk memberikan kredit dalam jumlah yang semakin besar berarti menjauhkan LKM dari nasabahnya yang miskin. 4. sedangkan pemrosesan kredit ulangan hendaknya dapat diselesaikan pada hari yang sama. Otoritas perbankan hendaknya tidak melarang pembukaan pos pelayanan ataupun memberi sanksi berupa penutupan pos pelayanan (“kantor di bawah kantor cabang”) kepada LKM yang sudah menjadi BPR karena alasan tingkat kesehatan yang tidak baik. 3. (c) pelarangan/penutupan pos pelayanan justru akan lebih memperparah kinerja LKM. BKD telah beroperasi selama satu abad dan BKK selama hampir tiga dasawarsa dengan pendekatan pasar yang telah membuat mereka lestari (sustainable) dan mandiri. karena sebagian dari mereka sengaja menunggak dan memacetkan kreditnya. maka keputusan pemberian kredit kepada peminjam baru hendaknya dilakukan sesegera mungkin. Implikasi Kebijakan 1. tetapi apabila pendapatan pengusaha konglomerat nasabah bank umum meningkat (dan pasti setiap tarikan napas menghasilkan uang). Maret 1999 meningkatkan tabungan. karena hal itu justru sesuai dengan misi LKM membantu pengentasan kemiskinan. tetapi mungkin hanya sekedar meja dan kursi tempat petugas lapangan menemui nasabahnya. LKM diharapkan membuka sebanyak mungkin pos pelayanan dan/atau mengintensifkan kunjungan lapangan. oleh karena (a) kriteria CAMEL tidak menampung aspirasi dan misi LKM (tersurat ataupun tersirat dalam Undang-undang) sebagai pelayan keuangan bagi masyarakat papan bawah. seperti terlihat pada gejala pemberian kredit BKK di atas. Mengingat jarak merupakan variabel yang paling mempengaruhi kinerja. Adanya kredit dari pemerintah untuk BPR condong menguntungkan BPR Gaya Baru yang dimiliki para pemodal berdasi. karena menghambat akses kepada masyarakat yang merupakan sumber dana dan penghasilannya. Pengawas BPR hendaknya tidak melihat pemberian kredit dalam jumlah kecil-kecil pada LKM sebagai suatu hal yang “tidak efisien” atau “tidak maju”. Mengingat pula bahwa lamanya waktu pemrosesan kredit juga berpengaruh cukup kuat kepada kinerja. karena pengertian “kantor di bawah kantor cabang” bagi LKM umumnya bukan merupakan gedung atau kantor seperti bank umum. (b) pelarangan pembukaan kantor di bawah kantor cabang kiranya dapat dihapuskan. keadaannya justru dibuat seperti “telor di ujung tanduk” karena banyaknya programprogram kredit murah bersubsidi di perdesaan. belum tentu mengurangi jumlah penunggak. 2.52 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. .

USAID Program and Operations Assessment Report No. 10. LPPI. LSM dan Kebangkitan Masyarakat. 1995 Siegel. West Java. Zaim. and Subang.. Boulder.(ed).1997 Suharto. May 1993 Dibyo Prabowo dan Sayogyo: The Green Revolution: Sidoarjo. Daftar Pustaka Badan Pembina BKK Propinsi Jawa Tengah. Statistik Nonparametrik. Perkembangan BKK dan BPR-BKK. Maximizing the Outreach of Microenterprise Finance. Secangkir Kopi Max Havelaar. July 1995 Development Alternatives. East Java. dkk.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 53 memungkinkan mereka menurunkan sukubunga kreditnya sehingga menambah pesaing bagi LKM. 1981 Saidi. PT Gramedia Pustaka Utama-Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Project Completion Report of Technical Support Provided to the Financial Institutions Development Project (USAID No. Robert Peck. 1988 . dalam Hansen. Gary E. Pandu. Westview Press. Zanzawi Suyuti & Landung Simatupang. 497-0341) in Indonesia. Di era reformasi ini pemerintah seyogianya lebih membina semangat keswadayaan masyarakat dan tidak menggunakan program-program kredit murah sebagai alat politik karena merusak moralitas masyarakat perdesaan yang masih jujur seperti terbukti dari perilakunya terhadap LKM. Agricultural and Rural Development in Indonesia.Jakarta.Gramedia. Sejarah Pendirian Bank Perkreditan Rakyat. 31 Maret 1994 Christen. terj. Sidney. Inc. Jakarta. Jakarta.

Dalam kondisi krisis tersebut. sistem manajemen yang sentralistik sehingga berpotensi menghambat kinerja. Sedangkan untuk meningkatkan efisiensi pembiayaan usaha kecil perlu dikaji kemungkinan pemberian izin bagi perusahaan/lembaga lain untuk bergerak dalam usaha pegadaian. dan Sudiro Pambudi. Gunawan : Asisten Peneliti. Perum Pegadaian menghadapi permasalahan temporer berupa lonjakan nasabah (puncaknya terjadi pada Juni 1998) yang mendorong Perum Pegadaian melakukan overdraft sangat besar atas fasilitas kredit yang diperoleh dari BRI. bahkan menunjukkan peningkatan kinerja baik operasional maupun keuangan. beberapa kelemahan prosedur yang berpotensi menimbulkan penyimpangan. Erwin Gunawan. Potensi Perum Pegadaian untuk lebih berperan dalam pemberdayaan ekonomi rakyat dapat dilihat dari keberpihakan terhadap masyarakat berpendapatan rendah (mayoritas nasabah). Bagian Studi Struktur dan Perkembangan Pasar Keuangan.id. Bagian Studi Struktur dan Perkembangan Pasar Keuangan. Bank Indonesia. Makalah ini ditulis ketika yang bersangkutan masih menjadi Peneliti Ekonomi . suku bunga yang dikenakan relatif rendah. Dalam masa krisis ini. Permasalahan lain yang bersifat struktural antara lain rentang kendali yang terlalu luas namun tidak ditunjang sistem pengawasan yang memadai. USDM.d.000 s.go. BI. email: gunawan@bi. serta mudahnya prosedur gadai. Perum Pegadaian (PP) merupakan salah satu lembaga keuangan yang masih mampu bertahan. UREM. kurang diminati masyarakat. Untuk mewujudkan potensi tersebut terlebih dahulu harus dibenahi berbagai kelemahan khususnya kelemahan struktural yang ada. serta kekurangan likuiditas juga disebabkan karena obligasi yang diterbitkan untuk membayar obligasi yang jatuh tempo. . Porsi kredit yang diberikan oleh PP semakin meningkat walaupun secara nominal relatif lebih kecil dibandingkan dua lembaga tersebut. Untuk mengatasi permasalahan tersebut Perum Pegadaian telah menerima bantuan dalam bentuk RDI dari pemerintah dan KLBI. serta tidak adanya sistem yang mampu mengantisipasi resiko fluktuasi harga barang jaminan khususnya emas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dibandingkan dengan peer-groupnya (BPR dan BRI Udes) secara umum kinerja PP relatif lebih baik. Penulisan paper ini juga dibantu oleh Didy Laksmono. BI. khususnya sektor perbankan yang berakibat terhentinya aliran kredit perbankan. Bagian Studi Struktur dan Perkembangan Pasar Keuangan. Rp 20 juta). relatif kecilnya skala kredit yang diberikan (Rp 5. Budi Wikanto. *) Penulis utama dari paper ini adalah : Satrio Wibowo : Kepala Bagian Pendidikan dan Pengembangan Pegawai. UREM.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 55 KEGIATAN USAHA PERUM PEGADAIAN DAN PERANANNYA DALAM MENDUKUNG PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT Satrio Wibowo dan Gunawan *) Krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengan tahun 1997 telah berdampak luas terhadap segala aspek perekonomian. UREM. Ridho Hakim. BI.

Dari sisi permintaan.35 juta orang.7% pada tahun 1997 menjadi -13.31% pada tahun 1997 menjadi 77. Pendahuluan 1. melambatnya pertumbuhan ekonomi terutama disebabkan oleh tingginya biaya impor bahan baku. Dari sisi penawaran. Salah satu langkah yang ditempuh adalah pemberdayaan ekonomi rakyat yang bertujuan meningkatkan akses rakyat kecil terhadap perekonomian dan mengutamakan kepentingan rakyat.56 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. khususnya konsumsi rumah tangga dan investasi swasta. Melonjaknya jumlah pengangguran dan penduduk miskin tersebut. Selain itu. Pemerintah telah menempuh serangkaian langkah dan tindakan yang juga memperoleh bantuan dari beberapa lembaga internasional. Sedangkan laju inflasi yang diukur dengan IHK meningkat tajam dari 10. Hal tersebut didorong pula oleh meningkatnya jumlah pengangguran sebagai dampak dari banyaknya perusahaan yang pailit dan melemahnya investasi. Jika pada tahun 1996.68% pada tahun 1998. telah mengakibatkan terjadinya kontraksi perekonomian dan mendorong meningkatnya jumlah penduduk miskin. Sehingga dikhawatirkan akan semakin memperparah kondisi perekonomian nasional Dalam upaya penyehatan perekonomian nasional. Tingginya laju inflasi terutama disebabkan oleh dua hal pokok. . jumlah penduduk miskin di Indonesia berdasarkan data SUSENAS berjumlah 22.67 juta orang warga pedesaan1 . Jumlah pengangguran yang pada masa sebelum krisis berkisar antara 3 . Meningkatnya inflasi tersebut telah mengakibatkan semakin melemahnya daya beli masyarakat. pada tahun 1998 diperkirakan membengkak hingga mencapai 13.5 juta orang. maka berdasarkan perkiraan BPS jumlah tersebut pada pertengahan 1998 meningkat empat kali mencapai 79. Krisis ekonomi yang berkepanjangan. yaitu melemahnya nilai tukar rupiah (imported inflation) dan kelangkaan pasokan (supply shortage) khususnya sembilan bahan pokok.63% pada tahun 1998. Jumlah perkiraan tersebut terdiri dari 22. Hal ini tercermin dari beberapa indikator ekonomi makro seperti pertumbuhan ekonomi yang merosot tajam. ” Perhitungan Jumlah Penduduk Miskin 1998”. melambatnya pertumbuhan ekonomi disebabkan oleh melemahnya permintaan domestik.4 juta orang tiap tahun. khususnya masyarakat kecil. Pemerintah juga mendorong komitmen perbankan dalam 1 Badan Pusat Statistik. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) merosot dari 4.1.8 juta orang.68 juta orang warga perkotaan dan 56. Maret 1999 I. jika tidak dapat diatasi akan berpotensi mendorong terjadinya gejolak sosial ekonomi yang lebih luas. Latar Belakang Masalah K risis ekonomi di Indonesia yang berlangsung sejak pertengahan tahun 1997 telah berdampak luas terhadap hampir semua aspek perekonomian. laju inflasi yang meningkat dan angka pengangguran yang melonjak.

serta dengan melakukan reformasi struktural untuk meningkatkan efisiensi perekonomian. cepat. Kinerja perbankan yang memburuk tersebut mengakibatkan terhambatnya penyaluran kredit. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari peran usaha Perum Pegadaian serta potensinya untuk ikut berperan dalam pelaksanaan program Jaring Pengaman Sosial (JPS).3. sesuai dengan tujuan Perum Pegadaian yang tidak hanya semata-mata mencari untung tetapi juga sebagai penunjang kebijakan dan program Pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional melalui penyaluran pinjaman atas dasar hukum gadai. Sehubungan dengan kondisi tersebut. terganggunya fungsi intermediasi perbankan tersebut memberi peluang bagi Perum Pegadaian untuk semakin berperan dalam pembiayaan. mudah. mudah dan cepat. sumber daya manusia yang memadai serta jaringan usaha yang luas. antara lain dengan melaksanakan program Jaring Pengaman Sosial (JPS) untuk memberdayakan masyarakat (khususnya yang terkena dampak langsung dari krisis ekonomi). Hal tersebut ditandai dengan meningkatnya jumlah non performing loan.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 57 pengembangan usaha kecil. . tentunya sangat diperlukan untuk membantu pemulihan perekonomian nasional. 1. menengah dan koperasi. dan aman merupakan suatu potensi keunggulan Perum Pegadaian dibandingkan dengan lembaga keuangan lainnya. Hal tersebut didukung oleh karakteristik Perum Pegadaian. Salah satu lembaga keuangan selain bank yang telah lama dikenal masyarakat adalah Perum Pegadaian. untuk mendorong pertumbuhan ekonomi diperlukan peran lembaga keuangan lain yang dapat berperan sebagai complementary institutions dari perbankan. memburuknya net interest margin dan kondisi permodalan. Namun. Upaya-upaya tersebut juga diimbangi dengan upaya lain di sektor riil. Sektor keuangan khususnya perbankan yang selama ini sangat berperan dalam menggerakkan roda perekonomian.2. Disamping itu. sejak terjadinya krisis ekonomi perbankan nasional juga menghadapi permasalahan yang cukup berat. terutama prosedurnya yang sederhana. Hipotesa Kegiatan usaha Perum Pegadaian dapat dikembangkan untuk mendukung perkembangan usaha kecil khususnya sektor informal. khususnya usaha kecil dan dalam masa krisis ini juga telah menjadi salah satu alternatif pemenuhan kebutuhan pembiayaan bagi sebagian masyarakat yang terkena dampaknya. serta ancaman kesulitan likuiditas yang masih berlangsung hingga awal tahun 1999 ini. Peran dalam pembiayaan nasabah kecil tersebut. 1. jaringan kantor dan wilayah kerja yang menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia serta prosedur yang sederhana. Pada masa krisis.

kepegawaian. Dengan PP No. Sampel kantor daerah dipilih dengan sistem purposive sampling yang mewakili wilayah Indonesia Bagian Barat. data operasional. untuk memperoleh data mengenai keadaan dan operasionalisasi Perum Pegadaian dilakukan metode survey terhadap kantor pusat. Nasabah yang dipilih sebagai responden dikelompokkan sebagai nasabah biasa dan nasabah yang dianggap potensial (prima) berdasarkan frekwensi dan lamanya berhubungan dengan Perum Pegadaian. 10/1990 tanggal 10 April 1990 status Perjan Pegadaian diubah menjadi Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian guna meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha. Profil Perum Pegadaian Pegadaian Negeri didirikan pertama kali oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 1 April 1901 di kota Sukabumi dengan status Jawatan. Salah satu produk Perum Pegadaian adalah memberikan kredit berdasarkan hukum gadai. Dalam upaya meningkatkan kinerja perusahaan.4 Metode Penelitian Penelitian dilakukan dengan melakukan analisis data sekunder dan primer. namun diubah kembali menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan) tahun 1969. Wilayah barat diwakili oleh 3 kantor daerah di Pulau Jawa dan 2 kantor daerah di Pulau Sumatera. Maret 1999 Sesuai dengan karakteristik usaha dan mayoritas nasabah Perum Pegadaian yang merupakan masyarakat berpendapatan rendah. maka Perum Pegadaian berpotensi untuk berperan serta dalam program JPS. 8 kantor daerah. Tengah dan Timur. Wilayah tengah diwakili oleh 1 kantor daerah di Pulau Bali dan 1 kantor daerah di Pulau Kalimantan.d September 1998. dengan periode pengamatan sejak tahun 1996 s. penelitian juga dimaksudkan untuk mempelajari peran dan potensi Perum Pegadaian dalam mendukung pemberdayaan usaha kecil. statusnya diubah menjadi Perusahaan Negara (PN). Disamping itu. Pada tahun 1961. sifat Pegadaian adalah menyediakan pelayanan bagi masyarakat umum dan sekaligus memupuk keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan yang sehat. Disamping itu. manajemen maupun dari sumber lainnya. khususnya sektor informal. Perum Pegadaian telah merancang Rencana Jangka Panjang II (RJP II) yaitu periode tahun 1997-2001.58 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. 1. Data sekunder yang dipergunakan berupa laporan-laporan yang telah tersedia dari Perum Pegadaian.10 Desember 1998. berupa data keuangan. Survey tersebut dilaksanakan pada tanggal 23 November . II. ketentuan-ketentuan operasional. Dengan status sebagai Perum. Sedangkan wilayah timur diwakili oleh 1 kantor daerah di Pulau Sulawesi. serta dengan mewawancarai beberapa nasabah yang dipilih sebagai responden di kantor-kantor cabang tersebut. 36 kantor cabang. RJP II ini merupakan .

Hasil usaha lain-lain menyumbang sekitar 5. Pefindo merupakan perusahaan atau efek hutang yang berisiko investasi rendah dan berkemampuan baik untuk membayar bunga dan pokok hutang sesuai dengan yang diperjanjikan dan hanya sedikit dipengaruhi oleh perubahan keadaan yang merugikan. cepat dan manusiawi. target menjadi Persero terutama bertujuan untuk mengatasi kelemahan pendanaan dengan menjual saham di bursa. Meningkatkan efisiensi perusahaan 1 Yang dimaksud dengan rating “A” sesuai dengan definisi PT. d. Visi Perum Pegadaian dalam PJPT II ini adalah : a. Untuk mendukung pencapaian sasaran tersebut. serta membuka anak perusahaan. Sementara. peluang dan ancaman (analisis SWOT) yang dihadapi dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap II (PJPT II). Namun target tersebut tidak tercapai pada tahun 1998 karena tidak memperoleh ijin dari Menkeu dengan pertimbangan (i) masih besarnya misi sosial yang harus dilaksanakan oleh Perum Pegadaian. Menjadi lembaga keuangan yang modern dan dinamis. b. sasaran pengusahaannya adalah : a. (ii) kekhawatiran bahwa dengan status persero Perum Pegadaian akan meninggalkan segmen nasabah kecil dengan tujuan untuk memperoleh laba maksimal. . 2 Menurut Perum Pegadian. d. Arah pengusahaan dalam periode ini adalah : 1) menjadi persero pada tahun 19982 . Meningkatkan produktivitas di seluruh bidang kegiatan. Berdasarkan visi tersebut. Perum Pegadaian menyusun suatu strategi pokok perusahaan yang meliputi : a. 2) melaksanakan go public. Perum Pegadaian merumuskan misinya yang dijadikan acuan untuk menentukan arah pengusahaan. Misi perusahaan tersebut yaitu : Ikut meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat golongan menengah ke bawah melalui penyediaan dana berdasarkan hukum gadai secara inovatif dan melakukan usaha lain yang menunjang. kelemahan. Laba bersih (earnings after taxes) meningkat dengan 30. Melaksanakan optimalisasi kantor-kantor cabang sebagai ujung tombak operasi perusahaan. Meningkatkan pelayanan kepada seluruh nasabah dengan baik. dan 3) memiliki kinerja dan citra yang meningkat. c. c. c.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 59 bagian dari visi Perum Pegadaian yang dirumuskan dengan mengindentifikasi kekuatan.2% per tahun.1% dari laba usaha. b. Omzet perkreditan meningkat dengan 20% per tahun. Memiliki SDM yang handal dan profesional. sasaran pengusahaan dan strategi pokok perusahaan dalam periode RJP II. b. Posisi keuangan yang likuid dan solvabel dengan current ratio di atas 1 dan debt to equity ratio di bawah 3. Memiliki kinerja sehat sekali (SS) dengan rating minimal “A” 1 .

jasa sertifikasi kadar emas. bidang keuangan. Khusus untuk bisnis properti dapat dilakukan melalui kerja sama dengan pihak ketiga (investor) dengan sistem Built Operate and Transfer (BOT). Melaksanakan pengembangan produk baru hingga mampu menyumbangkan 20% dari total pendapatan usaha. leasing yang akan dilaksanakan merupakan leasing menurut format Perum Pegadaian dimana barang jaminan yang digadaikan tidak disimpan oleh Perum Pegadaian namun tetap dapat digunakan oleh nasabah untuk menjalankan usahanya (diestimasikan akan dilaksanakan pada tahun 2000). Sampai dengan 30 September 1998. seperti yang telah dilaksanakan di lokasi Salemba dan Pasar Baru. jasa taksiran.60 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.3 Produk usaha baru yang sama sekali di luar usaha gadai dan lembaga keuangan seperti toko emas. Perum Pegadaian telah merencanakan untuk melakukan ekspansi jenis produk perusahaan dengan mengembangkan usaha baru. 2. Sebagai implementasi dari salah satu strategi pokok perusahaan. Produk-produk usaha baru tersebut merupakan upaya untuk mengoptimalkan aset. . Produk baru yang masih dalam lingkup usaha gadai seperti jasa titipan. hotel/penginapan dan ruko) dan toko barangbarang perhiasan/asesoris dan arloji. Maret 1999 e. guarantee fund. c. pedagang valuta asing dan leasing. kredit dengan jaminan surat berharga dan sertifikat tanah dan kredit dengan sistem pinjam pakai. Usaha ini juga mempunyai misi sosial untuk mendidik masyarakat untuk berinvestasi dalam bentuk emas serta meningkatkan image masyarakat terhadap Perum Pegadaian b. properti (gedung perkantoran. f.1. modal ventura. Kepengurusan dan Kelembagaan Perum Pegadaian memiliki 4 orang anggota direksi yang terdiri dari satu orang direktur utama dan 3 orang direktur yang masing-masing membawahi bidang operasi dan pengembangan. Produk baru di luar lingkup usaha gadai tetapi masih dalam lingkup lembaga pembiayaan seperti BPR. yaitu pemanfaatan 20 lokasi strategis yang nantinya dapat merupakan kompleks lokasi usaha. khususnya di kawasan timur Indonesia. factoring. usaha toko emas sudah dilaksanakan di 28 kantor cabang Perum Pegadaian. dan bidang umum. sehingga bisa meningkatkan citra perusahaan dan nasabah tidak malu lagi untuk datang ke Pegadaian. Dua diantaranya yaitu jasa titipan dan taksiran sudah dilaksanakan. Dalam menjalankan tugas rutin di 3 Menurut Perum Pegadaian. Produk-produk baru tersebut meliputi : a. franchisor usaha gadai. Memperluas jaringan pelayanan dengan membuka cabang-cabang baru di daerah yang potensial.

58 diantaranya merupakan anak cabang (Ancab) yaitu cabang yang baru berdiri (biasanya kurang dari 2 tahun). Selain itu. . Kp. Perum Pegadaian membentuk Subdit Teknologi Informasi berdasarkan Keputusan Direksi No. Perum Pegadaian juga memiliki Satuan Pengawasan Intern (SPI) yang bertanggung jawab langsung kepada direksi. Struktur Organisasi Perum Pegadaian Direksi Direktur Utama Direktur Operasi dan Pengembangan Direktur Keuangan Direktur Umum Subdit OPP SPI Subdit LB Subdit SP Subdit AP Subdit AK Subdit PB Kantor Daerah Kantor Cabang Subdit KP Subdit BG Subdit TURT Balai Diklat Keterangan : OPP = Operasi dan Pengembangan KP = Kepegawaian LB = Penelitian dan Pengembangan Operasi BG = Bangunan SP = Kesekretariatan Perusahaan TURT = Tata Usaha dan Rumah Tangga AP = Anggaran dan Permodalan AK = Akuntansi P = Perbendaharaan 4 Tanggal 25 November 1998. direksi dibantu oleh 9 subdirektorat (subdit) yang masing-masing memiliki rincian tugas sesuai bidangnya (Lampiran 1). Kegiatan operasional Perum Pegadaian dilaksanakan melalui kantor-kantor cabang (Kanca) yang dikoordinasikan oleh kantor daerah (Kanda).4 Struktur organisasi Perum Pegadaian ditunjukkan bagan 1.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 61 kantor pusat. Perum Pegadaian telah memiliki cabang di 27 propinsi dengan jumlah Kanca mencapai 633 buah dengan dikoordinasikan oleh 14 kantor daerah (Lampiran 2). Sampai dengan September 1998.2/41/10 sebagai upaya untuk meningkatkan sistem dan sarana pengawasan yang memadai. Bagan 1. Untuk meningkatkan profesionalitas pegawai Perum Pegadaian memiliki Balai Diklat yang langsung berada di bawah direksi. Dari 633 Kanca tersebut.

62 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 Kanda Perum Pegadaian terdiri dari dua tipe yaitu tipe A dan B.4%. yang mencerminkan tingkat efektivitas dan kemampuan pegawai sebagai sumber daya dalam menjalankan perusahaan. yang diukur dari besarnya surplus (laba-rugi) cabang dalam satu periode akuntansi. jumlah Kanca untuk masing-masing kelas per Juni 1998 adalah : kelas I sebanyak 54.1 Perbandingan Tipe Kantor Daerah Jabatan Ka Kanda Inspektur Daerah Kepala Seksi Pemeriksa Ka Sub Seksi Pemeriksa Pembantu Staf Pemeriksa Sumber : Perum Pegadaian Kanda Tipe A 1 1 4 2 12 3 2 Kanda Tipe B 1 0 2 1 8 3 0 Kanca Perum Pegadaian digolongkan menjadi 3 kelas. . 5 Jumlah total pemeriksa per Kanda sejak 1 Februari 1999 telah diperbanyak menjadi 6-7 orang. II. Pembagian kelas masing-masing Kanca dilakukan berdasarkan tingkat efisiensi dan produktivitas yang diukur dari 4 faktor yaitu : a. yaitu kelas I. dan III. Seluruh kantor yang berstatus Ancab diklasifikasikan sebagai cabang kelas III. Perbandingan Kanda tipe A dan B dapat dilihat dalam tabel 2. d. yang mencerminkan tingkat kemampuan penjualan produk (produktivitas). Kanda tipe A memiliki struktur organisasi yang lebih lengkap dibandingkan Kanda tipe B karena besarnya jumlah Kanca yang dibawahinya. perawatan dan faktor risiko. Tabel 2.1 5 . Berdasarkan keempat kriteria di atas. Formasi dan adanya pegawai Kanca (bobot nilai 20). yang mencerminkan tingkat tanggung jawab penanganan/pengelolaan. b. c. per Juni 1998 jumlah Kanca Pegadaian di Pulau Jawa merupakan yang terbanyak yaitu 401 buah atau 64. Ditinjau dari kuantitasnya. Efisiensi (bobot nilai 40). Omzet usaha (bobot nilai 40). Barang jaminan (bobot nilai 10). kelas II sebanyak 78 dan kelas III sebanyak 491.

. merupakan jasa utama Pegadaian yaitu memberikan pinjaman kepada masyarakat berdasarkan hukum gadai.2. menjadi sponsor kegiatan olahraga serta dengan layanan yang relatif mudah dan cepat. Jasa titipan. pembukaan toko emas yang hingga September 1998 baru berjumlah 28 buah. yang ditujukan untuk memberikan keyakinan kepada masyarakat atas kualitas barang-barang perhiasan miliknya. yang ditujukan untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat atas barang-barang yang dimilikinya apabila akan bepergian dalam jangka waktu yang cukup lama. Jumlah karyawan tetap ini lebih rendah dari jumlah pada akhir 1996 (5. Dalam memperkenalkan produk-produknya. Jasa gadai. nelayan. Produk dan Pasar Produk-produk Perum Pegadaian yang sudah tersedia hingga saat ini meliputi empat jenis produk. Galeri 24. yaitu toko emas Pegadaian yang menjamin kualitas emas/perhiasan yang dijualnya. Perum Pegadaian juga melakukan peningkatan kualitas karyawan yang terlihat dari meningkatnya jumlah karyawan yang berpendidikan S1 dan S2 dan berkurangnya karyawan yang berpendidikan SD sampai dengan D3. media elektronis. Berikut merupakan uraian tentang kebijakan-kebijakan dan fungsi pengawasan yang dilaksanakan oleh Perum Pegadaian. Konsumen sasaran Perum Pegadaian ini adalah seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan dana-dana jangka pendek.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 63 Jumlah karyawan Perum Pegadaian hingga Oktober 1998 mencapai 6. yang terdiri dari 4. pedagang dan lain-lain. Misalnya. ketersediaan sumber daya manusia dan dana. 2. Hal ini berkaitan dengan salah satu upaya Perum Pegadaian untuk meningkatkan efisiensi. d.817 pegawai tetap dan 1. b. Komposisi karyawan tetap menurut jenjang karir dan pendidikan dapat dilihat dalam lampiran 3. Perum Pegadaian telah berhasil melayani kebutuhan 5. Perum Pegadaian diantaranya menggunakan papan-papan reklame. Hal ini terkait dengan fasilitas. yaitu : a. Manajemen dan Instrumen Kebijakan Dalam menjalankan usahanya Perum Pegadaian melaksanakan fungsi-fungsi manajemen dan menetapkan kebijakan-kebijakan yang menjadi patokan bagi Kanda maupun Kanca. Selama tahun 1997. Jasa taksiran.541 orang). pelaku industri. Selain terjadi pengurangan jumlah.3.233 orang. c. 2.3 juta orang yang terdiri dari petani. leaflet. Tidak semua Kanca menyediakan keempat jenis produk tersebut.426 pegawai tidak tetap.

000-Rp 40. deposito.5 miliar. pada bulan September 1998 Perum Pegadaian memperoleh pinjaman dari pemerintah berupa Rekening Dana Investasi (RDI) sebesar Rp 100 miliar dengan jangka waktu 3 tahun. Kebijakan Pendanaan Dalam penyediaan dana bagi keperluan usahanya.0 %) pada September 1998 (Lampiran 4). Bila terdapat nasabah yang ingin memperoleh kredit melebihi batas maksimum maka cabang tersebut harus meminta persetujuan dari Kanda.2. Sementara pinjaman dari bank pada posisi September 1998 mencapai Rp 321 miliar. Maret 1999 2. maka Kanca harus meminta tambahan dana kepada Kandanya masing-masing dan tidak diperkenankan untuk melakukan transfer langsung antarcabang. Kebijakan Penanaman Dana Penanaman dana Perum Pegadaian dilakukan dalam bentuk kredit. Dengan demikian Kanda dapat mengontrol secara langsung kebutuhan dana masing-masing Kancanya. Hingga saat ini Perum Pegadaian telah menerbitkan 5 seri obligasi dengan nilai nominal keseluruhan Rp 425 miliar. sehingga Kanda dan Kanca hanya melaksanakan penanaman dana berdasarkan alokasi dana yang diberikan.000). kredit yang diberikan dijamin dengan barang jaminan nasabah. maka modal tersebut tidak lagi mencukupi. Sebagai sumber utama adalah modal awal Perum Pegadaian yang berjumlah Rp 205 miliar. Perum Pegadaian membagi pemberian kredit kepada nasabah menjadi empat golongan yaitu Golongan A (kredit Rp 5.25 miliar dan dari saldo laba sebesar Rp 111. Kredit kepada masyarakat merupakan porsi terbesar penanaman dana yang mencapai Rp 756.64 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Perum Pegadaian memiliki beberapa sumber. suratsurat berharga dan penyertaan di perusahaan lain. 2. Perum Pegadaian telah menerbitkan MTN sebanyak 4 kali dengan nilai nominal keseluruhan Rp 16.85 miliar (per 30 September 1998). Penghimpunan dana hanya dapat dilakukan oleh kantor pusat.75 miliar (91. Sejak Desember 1997. penyertaan modal pemerintah Rp 46. Sesuai dengan hukum gadai. Dana yang telah dihimpun ini kemudian didistribusikan dari kantor pusat ke Kanca melalui masing-masing Kandanya. tetapi sejak 30 Juli 1998 batas maksimum kredit diturunkan menjadi Rp 5 juta per SBK. Mengingat besarnya permintaan terhadap jasa gadai dari masyarakat. penerbitan obligasi dan MTN. Golongan B (kredit . Besarnya jumlah dana yang diterima oleh masing-masing Kanda tersebut ditentukan berdasarkan hasil evaluasi perkembangan omzet selama 6 bulan terakhir dan dievaluasi setiap 3 bulan. Selain itu.3. Bila terjadi kekurangan dana. Biasanya batas maksimum kredit yang dapat diberikan oleh masing-masing cabang mencapai Rp 20 juta per SBK (Surat Bukti Kredit).3. Untuk itu Perum Pegadaian mencari sumber-sumber pendanaan baru untuk menambah modal kerja melalui pinjaman bank.1.

Nasabah membawa barang jaminan Penaksir Kasir menerima kredit Nasabah Nasabah yang datang ke Pegadaian terlebih dulu menyerahkan barang-barang bergerak sebagai agunan kepada petugas penaksir yang disertai dengan identitas diri. Perum Pegadaian memiliki mekanisme dan prosedur yang harus dilalui oleh nasabah.3. Jangka waktu kredit maksimum adalah 120 hari dengan bunga dihitung setiap 15 hari. Sokongan dan sumbangan ganti rugi.000-Rp 500. Jasa produksi. 13/1998.000. dan uang pinjaman (UP) yang dapat diberikan berdasarkan plafon UP yang yang menjadi wewenangnya (Lampiran 6). b.3.4. dari laba bersih yang diperoleh Perum Pegadaian.500-Rp150. sisa dari keseluruhan penggunaan laba bersih di atas disetorkan sebagai Dana Pembangunan Semesta (DPS). DPS yang menjadi hak negara wajib segera disetorkan ke Bendahara Umum Negara setelah Laporan Tahunan disahkan. dan e. Petugas penaksir memeriksa keadaan barang termasuk kelengkapan yang disyaratkan. sebesar jumlah tertentu disisihkan untuk cadangan tujuan. Selain itu. Jika UP yang dapat diberikan melebihi kewenangannya. maka harus diajukan dan disetujui oleh kepala Kanca selaku kuasa pemutus kredit (KPK). 2.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 65 Rp 40. Cadangan umum yang dilakukan sampai cadangan mencapai sekurang-kurangnya dua kali lipat dari modal yang ditempatkan. Tabel selengkapnya dapat dilihat dalam lampiran 5. penyusutan dan pengurangan yang wajar lainnya. Berikut ini merupakan ilustrasi proses memperoleh kredit di Perum Pegadaian. Sementara. c.000) dan Golongan D (kredit Rp 510. Sosial dan pendidikan. sesuai dengan PP No. taksiran. Jika besarnya UP yang telah diputuskan . 2. Alokasi Laba Setelah diaudit. Penaksir menetapkan harga pedoman standar.3. d.000).000-Rp 5. Golongan C (kredit Rp 151. Prosedur Kredit Dalam memberikan kredit. Kemudian 45% dari sisa penyisihan tersebut dialokasikan untuk lima hal berikut yang masing-masing persentase alokasinya ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Sumbangan dana pensiun. a.000). nasabah juga dikenakan biaya penitipan dan asuransi (PA) yang besarnya disesuaikan dengan jenis barang dan golongannya.

petugas gudang lama tetap bertanggung jawab atas barang jaminan di dalam gudang. tidak kena hujan dan panas. maka petugas gudang tersebut dapat menunjuk dua orang pegawai lainnya sebagai pengganti sementara dan harus diberitahukan kepada kepala cabang. Untuk barang-barang tertentu seperti kamera dan mobil mendapat perlakuan khusus. 2. perhiasan atau barang-barang kecil lainnya yang masuk di dalam kantong disebut barang kantong dengan rubrik K. Nasabah mengambil UP pada kasir seperti yang tertera pada SBK.3. Untuk mengontrol kebenarannya. maka diterbitkan Surat Bukti Kredit (SBK) sesuai dengan golongannya. dengan terlebih dahulu membayar biaya penyimpanan dan asuransi (PA) yang telah ditetapkan sesuai dengan besarnya UP dan jenis barang yang diagunkan. Walaupun telah digantikan petugas sementara. Kamera harus disimpan dalam tempat tertutup (lemari kaca atau peti kayu yang tidak lembab) yang diberi penerangan cukup. SBK diserahkan kepada nasabah. Barang emas. Untuk mencegah terjadinya kesalahan atau penyimpangan dalam pengelolaan gudang maka Perum Pegadaian membuat prosedur pemeriksaan barang jaminan. Sedangkan barang jaminan yang tidak masuk di dalam kantong disebut dengan barang gudang dengan rubrik G. rubrik dan ribuan. Pada SBK tersebut dimuat nama dan alamat nasabah. besarnya taksiran dan UP. Tempat penyimpanan barang tersebut harus selalu dalam keadaan tertutup dan terkunci apabila tidak ada keperluan.5. sedangkan yang mengelola barang gudang dan barang kain disebut pemegang gudang. Di samping itu. Posedur tersebut dapat dilihat dalam lampiran 7. mobil juga harus dalam keadaan terkunci dan bila ada tutupnya (cover) digunakan dengan baik agar tidak kotor. Dalam hal petugas gudang berhalangan sampai dengan 7 hari. Setelah ditandatangani nasabah dan penaksir/KPK. keterangan barang jaminan. Barang kantong ini disimpan dalam kamar emas (kluis/khasanah). Maret 1999 oleh penaksir maupun KPK telah disepakati oleh nasabah. Selain petugas gudang dilarang untuk memasuki gudang tanpa mendapat izin dari petugas tersebut. Barang masuk dan keluar selalu dicatat sehingga pada akhir hari dapat ditentukan saldo barang jaminan.66 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Petugas gudang yang mengelola barang kantong disebut penyimpan. Pegawai yang bertanggung jawab (sesuai dengan SK penunjukan) atas pengelolaan gudang dan semua barang yang ada di dalamnya disebut petugas gudang. Sistem Pengelolaan Barang Jaminan Barang-barang jaminan yang diterima oleh Pegadaian ditatausahakan dalam suatu Buku Gudang yang diisi menurut golongan. saldo Buku Gudang ini dicocokkan dengan saldo Ikhtisar Kredit dan Pelunasan. Mobil disimpan dalam tempat tertutup. Barang jenis ini disimpan di dalam gudang. . Pegawai yang menjadi petugas gudang mempunyai masa tugas maksimum selama 6 bulan.

Untuk barang-barang jaminan yang telah ditaksir dengan wajar tetapi tidak laku dilelang disebut sebagai Barang Sisa Lelang (BSL). untuk kanca-kanca yang lokasinya berdekatan tidak diizinkan untuk melaksanakan lelang pada hari dan tanggal yang bersamaan. maka kelebihannya akan dikembalikan kepada nasabah tersebut. setiap Kanda membuat suatu daftar ikhtisar lelang berdasarkan usulan dari masing-masing kanca-nya dengan memperhatikan : a. Lokasi kanca. Bila hasil lelang melebihi nilai kewajiban nasabah. b. d. Lelang dilaksanakan tidak pada hari libur. . c. Uang yang akan dibayar oleh pembeli harus ditambah 9% untuk ongkos lelang dan 0. Penundaan hari lelang ini harus diumumkan kepada masyarakat dan diberitahukan kepada Ka Kanda dan Inspektur Daerah. Masing-masing kanca sedapat mungkin melaksanakan lelang pada hari dan tanggal yang sama setiap bulannya. Apabila di kemudian hari ternyata lelang tidak dapat dijalankan pada tanggal yang telah ditetapkan maka pelaksanaan lelang itu harus diundur pada hari berikutnya. BSL ini ditetapkan menjadi aset perusahaan yang diakui dan dicatat sebagai transaksi mutasi aset dari Pinjaman Yang Diberikan (aktiva lancar) menjadi Aktiva Lainnya (aktiva tidak lancar).7% (tujuh permil) untuk dana sosial yang dihitung dari nilai lakunya lelang. Sedangkan mutasi antarcabang merupakan upaya penjualan di kantor cabang yang berada di daerah lain yang diyakini dapat terjual lebih cepat (Lampiran 9). Barang-barang yang telah laku pada saat lelang harus dibayar tunai setelah lelang ditutup. media cetak dan elektronik. Sebelum pelaksanaan lelang. Hal ini dilakukan dengan penjualan barang jaminan tersebut pada waktu yang telah ditentukan. Untuk menentukan tanggal lelang.7%). Penjualan di bawah tangan merupakan penjualan yang terbuka bagi siapa saja yang berminat dengan suatu patokan harga minimum tertentu. Sistem Lelang Lelang merupakan upaya pengembalian uang pinjaman beserta sewa modalnya yang tidak dilunasi sampai batas waktu yang ditentukan.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 67 2. BSL dinilai berdasarkan harga pembeliannya yaitu sebesar harga jual minimal lelang tanpa tambahan biaya lelang (9. Cara penyelesaian BSL ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dijual di bawah tangan dan dimutasikan antarcabang. Media yang digunakan untuk mengumumkan tanggal lelang adalah melalui papan pengumuman di Kanca setempat.3.6. Perlakuan administrasi dan pembukuan terhadap BSL dapat dilihat dalam lampiran 8. pemberitahuan langsung oleh pegawai di loket dan pemberitahuan tertulis kepada pemilik barang dan Dinas Penerangan setempat (minimum 15 hari sebelum pelaksanaan). Tim Pelaksana Lelang akan mengawasi/memeriksa jumlah setoran uang jaminan dari masing-masing peserta/calon pembeli. agar bisa dijadikan acuan oleh masyarakat. Dalam bulan puasa lelang sedapat mungkin dilakukan sebelum lebaran.

pemeriksaan atas laporan keuangan Perum Pegadaian dilakukan oleh BPKP. ikhtisar barang sisa lelang. masing-masing Kanca dan Kanda Perum Pegadaian secara internal juga diperiksa oleh SPI. Laporan-laporan yang dibuat oleh masing-masing Kanca tersebut di atas kemudian dikonsolidasikan oleh Kanda sebelum dikirimkan ke kantor pusat. Jenis-jenis laporan operasional yang dibuat oleh Kanca yang harus dikirimkan ke Kanda adalah berbentuk : a. rincian data nasabah dan kredit menurut profesi. Selain kewajiban mengirimkan laporan ke kantor pusat. bulanan dan tahunan. teknik serta metode dalam menjalankan fungsi pengawasan.68 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.3. yang berisi rekapitulasi dari laporan bulanan ditambah laporan mutasi aktiva serta laporan surplus usaha. rincian sisa uang pinjaman. Laporan mingguan. yang berisi perkembangan penyaluran kredit dan barang jaminan yang tercantum dalam laporan mingguan keuangan yang dikirimkan ke Kanda b. Laporan semester. . Laporan operasional adalah laporan tentang perkembangan operasional Kanca yang meliputi laporan mingguan. pemeriksaan merupakan bagian dari fungsi pengawasan yaitu tindakan secara fisik. d. barang jaminan yang tidak ditebus/dilelang/barang polisi. penerimaan sewa modal dan biaya PA. Tugas SPI tersebut adalah melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap jalannya kegiatan perusahaan. Pengawasan ditujukan untuk meyakinkan apakah kegiatan perusahaan telah dilaksanakan sesusai dengan rencana yang ditetapkan. mutasi aktiva yang disisihkan. dan perhitungan surplus operasi. sisa uang kelebihan. Kelayakan laporan keuangan Perum Pegadaian setiap tahun diperiksa oleh pihak eksternal. yang berisi laporan rincian sisa uang pinjaman dan perhitungan sewa modal.7. Sistem Pelaporan dan Auditing Setiap Kanca Pegadaian harus membuat laporan operasional rutin secara berkala. Sejak tahun 1993 audit terhadap laporan keuangan Perum Pegadaian dilakukan oleh akuntan publik. Aspek-aspek yang dilihat dalam melakukan pemeriksaan oleh SPI mencakup tiga hal yaitu sistem dan prosedur yang menyangkut kendali. Di kantor pusat laporanlaporan dari seluruh Kanda dikumpulkan sehingga dapat dibuat suatu laporan keuangan konsolidasi secara nasional yang diaudit setiap tahun. Sementara. Sebelumnya. kewajiban atasan untuk mengawasi c. Laporan tahunan. Tujuan pembuatan laporan operasional ini adalah untuk menyediakan informasi tentang perkembangan operasional kepada manajemen sebagai dasar untuk pengambilan keputusan lebih lanjut pembinaan Kanca. Maret 1999 2. Laporan bulanan. yang berisi laporan tentang : perkembangan usaha. Hal ini dilakukan karena Perum Pegadaian telah melakukan go public dengan menerbitkan obligasi.

III. Kanda (14 kantor). Dalam melaksanakan tugasnya SPI dipimpin oleh seorang kepala yang bertanggung jawab langsung kepada Direktur Utama. (ii) Irwil II mengawasi kanda VI – X. SPI tersebut dibagi menjadi 3 Inspektorat Wilayah (Irwil). dan (iii) Irwil III mengawasi kanda XI – XIV. Tenaga pemeriksa di masing-masing Irwil rata-rata sejumlah 4 orang yang bertugas melakukan pemeriksaan terhadap setiap kanda dengan frekwensi 1 . Tugas Irda adalah mengawasi kanca-kanca di bawahnya dengan frekwensi 1– 4 kali pemeriksaan dalam satu tahun. serta mempunyai nasabah . Berdasarkan perbandingan antara jumlah Kanca (633 kantor). serta bisa menyebabkan timbulnya berbagai penyimpangan seperti yang tercantum dalam lampiran 10.1 Pembiayaan Kredit Pedesaan Untuk memahami pegadaian terutama sebagai salah satu alternatif pembiayaan bagi usaha/nasabah kecil perlu dilakukan pendekatan yang mempunyai relevansi dengan kegiatan operasi lembaga keuangan baik formal maupun informal yang telah ada di masyarakat dalam penyaluran kredit. Tolok ukur yang dipakai dalam melakukan pemeriksaan adalah membandingkan antara kondisi sebenarnya (fakta) dengan yang seharusnya (kriteria). mempunyai jaringan kerja yang luas sampai ke daerah-daerah.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 69 bawahan (waskat) dan aparat pengawasan fungsional. Di setiap Kanda terdapat Inspektorat Daerah (Irda) yang dipimpin oleh orang kedua di kanda yang bersangkutan dengan tenaga pemeriksa berjumlah 4-5 orang. PENDEKATAN TEORITIS 3.2 kali setahun. Dalam melakukan pemeriksaan seorang pemeriksa harus bersifat objektif dan independen karena pertanggungjawabannya langsung kepada direksi. Rentang kendali yang terlalu luas yang belum ditunjang dengan saluran komunikasi yang memadai (canggih) sangat tidak menunjang efektivitas pemantauan kinerja kantor-kantor cabang. Kondisi yang seharusnya merupakan sesuatu yang ditetapkan oleh peraturan/ketentuan pemerintah. sesuatu yang diatur secara umum yang diakui dan sesuatu yang diatur oleh ketentuan perusahaan. Sementara itu. tidak melakukan penghimpunan dana seperti layaknya bank. yaitu : (i) Irwil I mengawasi kanda I – V. menunjukkan terlalu luasnya rentang kendali Kanda terhadap kanca-kanca yang ada di bawah koordinasinya. Sebagai gambaran setiap kanda di pulau Jawa rata-rata membawahi lebih dari 50 Kanca. Kanda-kanda lainnya di luar Jawa harus membawahi kanca-kanca yang secara geografis terlalu jauh. frekwensi pemeriksaan serta jumlah tenaga pemeriksa di masing-masing Kanda. Mengingat karakteristik Perum Pegadaian sebagai lembaga keuangan formal yang memberikan pinjaman berjangka pendek dalam skala kecil dengan sistem gadai.

Di dalam pasar terdapat beberapa kreditur namun seorang debitur punya akses yang sangat terbatas. Sebagian besar pinjaman relatif kecil jumlahnya. Beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk analisis tersebut antara lain Teori Rural Financial Intermediation (RFI). cepat. dan pemberian kredit tersebut lebih didasarkan pada unsur kepercayaan. Sementara itu. proses penyediaan sederhana.1 Lembaga Kredit Informal Sebagaimana dikemukakan. 6 Robinson. Pasar kredit pedesaan informal biasanya bersifat quasimonopolistik. S “ Rural Financial Intermediation : Lessons From Indonesia.1. BRI Unit Desa. koperasi dan pegadaian serta pasar kredit informal di pedesaan (rentenir atau pelepas uang komersial). lembaga kredit formal dan informal serta struktur pasar kredit pedesaan untuk masing-masing lembaga keuangan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : 3. berjangka waktu pendek. kredit di pedesaan dapat disediakan oleh lembaga keuangan formal maupun pasar informal. Seorang kreditur hanya melayani sejumlah kecil peminjam yang sudah dikenal baik dan berisiko rendah. USA.70 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. sedangkan teori FF berpendapat perlu adanya external funds (dana pihak luar) untuk membiayai kegiatan-kegiatan produktif di pedesaan. yaitu Farm Finance dan teori Rural Financial Market yang dikembangkan oleh Department of Agricultural Economics and Rural Sociology. teori RFM berpendapat bahwa pedesaan memiliki kemampuan/resources untuk membiayai kegiatan-kegiatan produktif yang berlangsung di pedesaan. Maret 1999 mayoritas masyarakat berpenghasilan rendah yang sulit untuk akses ke perbankan serta jaringan kerja hingga ke daerah-daerah. Pasar informal tersebut ada di dalam masyarakat namun tidak diatur oleh pemerintah. Teori RFM yang bertumpu pada mekanisme pasar berpendapat bahwa pembiayaan/kredit pedesaan merupakan proses intermediasi dimana financial assets dan debts di relokasi diantara pelaku-pelaku ekonomi di pedesaan.6 Sedangkan untuk melihat sumber dana untuk kredit pedesaan dikenal dua teori. Teori RFI menjelaskan keterkaitan antara lembaga keuangan formal dan informal dalam pasar keuangan pedesaan. maka perlu dilakukan analisis tterhadap posisi dan keterkaitan Perum Pegadaian dengan lembaga lainnya. Kredit pedesaan pada dasarnya dapat diperoleh dari sumber informal dan formal. Dengan kata lain. Berdasarkan ketiga pendekatan tersebut. teori Farm Finance (FF) dan Teori Rural Financial Market (RFM). untuk penghimpunan dana di pedesaan lebih banyak melalui lembaga formal. 1992 . Ketergantungan seorang debitur terhadap kreditur sangat tinggi. Ohio State University. Dalam teori ini dijelaskan karakteristik lembaga keuangan formal seperti Bank Perkreditan Rakyat.

Dengan praktek tersebut. Menurut penelitian Robinson. Sebaliknya. political alliances. Selain itu. Kreditur pada umumnya berkeberatan apabila nasabahnya meminjam kepada kreditur informal lainnya karena khawatir ikatan bisnis lainnya juga akan berpindah sehingga dapat melakukan pembalasan di kemudian hari. bagi kreditur yang sudah lebih kaya dan memiliki status sosial yang tinggi melakukan diversifikasi investasi dianggap lebih menguntungkan dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dari kredit dalam skala kecil. 7 Ibid. Terdapat pula kecenderungan para kreditur untuk memberikan kredit yang lebih besar kepada pejabat lokal serta rekan bisnis dengan tujuan menjaga hubungan baik agar diberi kesempatan memperoleh akses yang lebih luas bagi kepentingan politik dan/atau bisnisnya. setiap kreditur dapat memelihara ‘kesetiaan’ debiturnya. Dengan kondisi tersebut. Kessler “ Financial Systems and Development : What Role for the Formal and Informal Financial Sectors ? (1991). suku bunga dapat dipertahankan tinggi lebih-lebih jika di wilayah tersebut tidak terdapat lembaga perkreditan formal. market interlinkages. financial channels and market shares of lenders are inextricably related to local distribution of wealth and power. hal 81. Caranya antara lain dengan hanya memberikan kredit kepada orang-orang yang berkaitan dengan jaringan bisnisnya seperti sistem ijon dan yang mempunyai aliran politik yang sama. Mereka tidak mau bersaing karena justru akan menurunkan keuntungan masing-masing. Tingginya suku bunga tersebut disebabkan adanya quasi-monopolistic many-lender credit market. and Meghir bahwa 8 : “Informal commercial credit forms parts of the local political economy. information flows. Suku bunga kredit dalam pasar informal sangat bervariasi. Kessler. terdapat kecenderungan debitur untuk hanya setia kepada satu debitur karena khawatir akan memperoleh kesulitan di kemudian hari.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 71 Terjadinya pasar yang bersifat quasi-monopolistik dimungkinkan oleh kecenderungan setiap kreditur untuk membatasi jumlah nasabah yang dilayani dan berupaya menjaga portofolio pinjamannya sedemikian rupa. sehingga risiko tidak terbayarnya pinjaman yang diberikan kepada nasabah dapat ditekan serendah mungkin. etc “. Alasan utamanya adalah terlalu berisiko untuk melakukan ekspansi ke luar pasar tradisonalnya.7 Kreditur cenderung tidak tertarik untuk meningkatkan market share. suku bunga berkisar antara 2 sampai 10 kali dari tingkat bunga bank. . seperti India dan Philipina sebagaimana dikemukakan oleh Germidis. Hal ini terjadi karena antara satu kreditur dengan kreditur lainnya dalam satu wilayah umumnya punya ikatan yang erat. 8 Germidis. Fenomena ini terjadi di beberapa negara berkembang.

lembaga formal tidak dianggap sebagai pesaing oleh kreditur informal. Tidak tertutup kemungkinan. Sementara itu. Kreditur informal yang kekurangan dana dapat meminjam dari bank dan lembaga kredit formal lainnya untuk kemudian disalurkan ke nasabahnya. hal tersebut tidak terlalu mengganggu karena mereka masih tetap memiliki pangsa pasar yang aman. Bagi kreditur informal. Sebagai contoh. Dengan biaya yang murah tersebut maka lembaga formal dapat menawarkan suku bunga rendah untuk menarik nasabah.2 Lembaga Kredit Formal Lembaga keuangan formal dapat juga memasuki pasar keuangan pedesaan dengan perspektif perhitungan jangka panjang bila didukung beberapa persyaratan. aman. Kemudahan bagi lembaga formal dalam memasuki pasar tersebut selain dilindungi hukum. untuk menunjang berlangsungnya kegiatan operasi lembaga keuangan tersebut harus mampu menyalurkan kredit dalam jumlah yang cukup dan bersumber dari penghimpunan dana dengan spread yang cukup menguntungkan. Suku bunga yang lebih rendah tersebut akan meningkatkan permintaan kredit yang akan menyebabkan biaya operasi per unit menjadi lebih murah. Disamping itu. terpercaya. Maret 1999 3. bagi mereka yang tidak memenuhi syarat untuk memperoleh dana dari lembaga formal disebabkan tidak memiliki agunan ataupun sebab lainnya akan tetap bergantung pada kreditur informal. lembaga formal pada umumnya dapat mempelajari karakteristik pasar keuangan pedesaan dan memperoleh informasi terpercaya mengenai nasabah potensial melalui stafnya yang profesional. Hal ini terjadi karena lembaga kredit formal dapat memanfaatkan ‘economies of scale’ sehingga dapat menjalankan kegiatannya dengan biaya yang relatif murah. Perlu dikemukakan bahwa jika lembaga kredit formal dapat memberikan pelayanan yang baik dengan beban bunga yang lebih rendah maka sebagian masyarakat desa yang sebelumnya bergantung kepada kreditur informal akan beralih ke lembaga formal. seseorang yang tidak memiliki agunan dapat datang ke kreditur informal untuk meminjam uang. Bahkan di beberapa tempat dianggap sebagai rekan kerja. seorang kreditur informal akan mendorong nasabahnya untuk meminta kredit ke lembaga formal jika memerlukan dana yang relatif besar. lembaga formal tidak dicurigai akan merebut kekuasaan para kreditur informal yang pada umumnya juga memiliki kaitan usaha di sektor riil atas nasabahnya. Di samping itu.1. Persyaratan tersebut berkaitan dengan perlunya lembaga keuangan dikelola secara baik.72 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. . dan berlokasi strategis. karena berspesialisasi pada kegiatan perkreditan. Suku bunga pada lembaga kredit formal pada umumnya lebih rendah dibandingkan dengan suku bunga kreditur informal. meskipun ada kemungkinan mereka masih memerlukan dana dari kredit informal sebagai tambahan. Disamping itu.

4 triliun dan kredit yang diberikan sebesar Rp 1.10 Dalam 9 Data akurat mengenai potensi lembaga informal pemberi pinjaman sulit untuk diperoleh. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada pasar kredit pedesaan di Indonesia dapat diidentifikasikan beberapa lembaga formal yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat khususnya golongan ekonomi lemah adalah Perum Pegadaian. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan hasil penelitian Robinson dengan mempergunakan teori RFI (dijelaskan pada bagian III). Namun kebijakan tersebut pada beberapa aspek justru menghambat perkembangan Perum Pegadaian terutama pada saat terjadinya kekurangan likuiditas. Di daerah-daerah di mana terdapat kantor Perum Pegadaian.9 Pada dasarnya antar lembaga-lembaga tersebut tidak saling bersaing karena masing-masing sudah mempunyai pangsa pasar tersendiri.558 BPR non BKD dengan total aset sebesar Rp 2. Informasi yang diperoleh dari hasil studi lapangan hanyalah mengenai besarnya suku bunga yang dikenakan rentenir dan toko emas pada umumnya sangat tinggi berkisar 10% – 20% per bulan.706 kantor. Studi lapangan menunjukkan bahwa pada dasarnya masing-masing Kantor Daerah mempunyai potensi untuk menghimpun dana sendiri yang berasal dari potensi daerah setempat. toko emas yang memberikan pinjaman dengan sistem gadai serta pegadaian gelap. Disamping itu juga terdapat beberapa lembaga informal yang berperan dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat antara lain pelepas uang (rentenir).142 buah) berada di pulau Jawa (persebaran jumlah BPR terbanyak berada di wilayah Jawa Timur sebanyak 362 BPR. toko emas dan pegadaian gelap.7 triliun. . Sementara itu dari temuan penelitian CPIS (pada periode 1982-1990) koperasi simpan pinjam mengenakan suku bunga antara 20% . Persaingan tidak terjadi karena nasabah masing-masing lembaga keuangan tersebut mempunyai karakteristik khusus yang menentukan preferensi mereka untuk menjadi nasabah lembaga keuangan tertentu (struktur pasar bersifat quasi-monopolistik). Mengacu pada teori tersebut. Temuan ini sesuai dengan teori RFM bahwa pada dasarnya masyarakat pedesaan juga mampu menabung dan masuknya dana pihak luar justru akan menghambat perkembangan pasar keuangan pedesaan. Sedangkan jumlah BRI UDes sebanyak 3. Bank Perkreditan Rakyat (BPR).Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 73 IV. kemudian Jabotabek sebanyak 345 BPR) dan yang paling sedikit berada di wilayah Kalimantan (22 BPR). Lembaga lain yang juga mempunyai potensi besar untuk menjadi pesaing Perum Pegadaian adalah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan BRI Unit Desa (BRI UDes). nampaknya sesuai dengan teori FF. Kebijakan penghimpunan dan penyaluran dana serta sistem manajemen pendanaan yang sentralistik seperti diterapkan Perum Pegadaian. Koperasi Simpan Pinjam (Kosipa).60% dibandingkan dengan rentenir. 1 0 Sampai dengan September 1998 di seluruh Indonesia terdapat sebanyak 1. bahkan dapat dikatakan saling melengkapi sesuai dengan kondisi masyarakat. Sebagian besar BPR (1. diperoleh temuan bahwa antara Perum Pegadaian dengan lembaga-lembaga keuangan formal dan informal lainnya yang ada di masyarakat tidak saling bersaing meskipun mempunyai segmen pasar yang hampir sama. dan BRI Unit Desa. pangsa pasar kredit pedesaan yang dapat dikuasai oleh Perum Pegadaian diperkirakan berkisar 40% .40% per bulan.

9%. Pemilihan ini berdasarkan ketersediaan data BPR dan BRI Unit Desa (BRI UDes). atau meningkat 11% dibandingkan dengan realisasi omset tahun 1997 (Tabel 4. terutama sejak terjadinya krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997.3 triliun dengan pencapaian target sebesar 87.74 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. 4. Perkembangan Omset Perum Pegadaian Rp miliar 2500 2000 1500 1000 500 0 1994 1995 1996 1997 Triw III/ 1998 Jan Feb Mar Apr Mei 1998 Jun Jul Agst Sept 1 1 Omset : adalah jumlah/nilai pinjaman yang diberikan dalam suatu periode tertentu (konsep flow). Maret 1999 analisis selanjutnya.1. Untuk masing-masing wilayah.1 Kinerja Operasional Omset 11 Peran Perum Pegadaian dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat berpendapatan rendah menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. lonjakan omset terutama dialami oleh Kantor Daerah Jakarta. Ujung Pandang.1). kinerja Perum Pegadaian akan dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes (untuk beberapa rasio keuangan) untuk memperoleh gambaran mengenai peranan Perum Pegadaian dalam pemberdayaan ekonomi rakyat dibandingkan dengan institusi kredit lainnya. Medan. Bandung dan Yogyakarta. Grafik 1. Namun lonjakan omset yang terjadi pada Juni 1998 selanjutnya untuk bulan Agustus dan September mengalami penurunan terutama sebagai dampak dihentikannya fasilitas overdraft di BRI pada pertengahan Agustus.1 Hasil Studi Lapangan 4. Sampai dengan 30 September 1998 omset Perum Pegadaian telah mencapai Rp 2. sementara beberapa Kantor Daerah (Padang. dan Balikpapan) mencatat perkembangan yang kurang memuaskan. . sementara untuk institusi lain dan lembaga kredit informal tidak diperoleh data akurat.

9 31.5 10.4 1. E = pegawai Perum Pegadaian. Perkembangan Omzet Perum Pegadaian 1998 Gol.0 Realisasi Jan .000 .5 100.000 – 500.0 0.2 317. dan Gol.000. (ii) Kenaikan harga barang jaminan sejalan dengan kenaikan harga barang jaminan khususnya emas. Pergeseran dari nasabah mikro ke nasabah besar tersebut terutama merupakan dampak dari : (i) Kebijakan Perum Pegadaian untuk meningkatkan laba.000.166.1).4% dan 24.8 256.3 5. C = Rp 151.0 6.0 2.20.2 0.Sept.4 709.4 475.8 35. Gol.5 22. B dan C semakin berkurang (Tabel 4.3 437.8 32.000.397.7 30.0 8.000 – Rp 150.088. Gol.4 439. Kecenderungan pergeseran orientasi pembiayaan Perum Pegadaian ke arah nasabah besar juga terlihat pada menurunnya porsi nasabah golongan A dan B masing-masing dari 43.0 13.d September).723.5 951.1.000 D = Rp 510.4 100. Keterangan : A = Rp 5.000 .0 2.4 645. Nominal % Proyeksi Nominal % 8.000 Sumber : Perum Pegadaian.6 50.000 – Rp 40.5 31.500. A = Rp 5.4 16. dengan alasan bahwa selama ini Perum Pegadaian telah memberikan subsidi kepada golongan nasabah mikro.0 226.9% dan 27.000.Jun. diolah.000 .9 100. B = Rp 40.000 – 20. . Jan .7 679.9 31.6 32.4 545.2 8.9 547. Nominal 184.5 1997 Des. Tabel 4.9 5.Rp 40. D = Rp 510.9 1.000.000 B = Rp 40. Kebijakan untuk meningkatkan keuntungan dengan mengurangi porsi pemberian pinjaman kepada nasabah mikro tersebut kurang sejalan dengan misi Perum Pegadaian untuk lebih memihak kepada nasabah mikro.000 .3% (tahun 1998 s. Sementara itu.3% (1998).7 115.7 100.8 666.3 0.317.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 75 Lonjakan kenaikan omset tersebut ternyata tidak diikuti dengan meningkatnya aspek pemerataan. Nominal % Nominal % 80. Dengan demikian kebijakan pembiayaan Perum Pegadaian telah bergeser ke arah nasabah dengan nilai pinjaman yang lebih besar.7 739.2 1. sehingga dengan barang jaminan yang sama nasabah golongan A dan B bisa mendapatkan pinjaman yang lebih besar.0 46. porsi golongan A. Alokasi pinjaman untuk golongan D12 melonjak sehingga porsinya meningkat dari 35.6% (1997) menjadi 41.Rp 150.5 1.0 2. E = pinjaman kepada pegawai Perum Pegadaian 1 2 Perum Pegadaian menetapkan 5 macam golongan nasabah berdasarkan besarnya plafon pinjaman sebagai berikut: Gol.925.5 8. melalui peningkatan kualitas barang jaminan serta meningkatkan porsi nasabah golongan D (proyeksi tahun 1998).8 22.4% (tahun 1997) menjadi 50.7 183.5 14.00 . Fenomena dominasi pinjaman oleh golongan D juga terlihat di setiap kantor daerah yang diteliti kecuali untuk Kantor Daerah Bandung dimana pinjaman didominasi oleh golongan C.000.9 0.035.1 25.4 0.0 (miliar rupiah) % A B C D E 10. Nasabah 1996 Des.0 C = Rp 151. Gol.7 100.5 35.

sementara itu golongan B meminjam dalam jangka waktu paling singkat. meskipun masih lebih banyak jika dibandingkan periode yang sama tahun 1997. Faktor lain yang menyebabkan lonjakan jumlah nasabah tersebut menurut Perum Pegadaian adalah “peak season” tahun ajaran baru serta meningkatnya gangguan keamanan. Namun seiring dengan berkurangnya kemampuan Perum Pegadaian dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat maka jumlah nasabah pada Juli s. terdapat kesamaan antara Perum Pegadaian dengan BPR dimana baik untuk Perum Pegadaian dan BPR sebagian besar nasabah terkonsentrasi di wilayah Jawa (masing-masing 70% dan 57%).3%). jumlah nasabah Perum Pegadaian juga mengalami lonjakan tajam khususnya pada bulan Juni 1998 sehingga sampai dengan 30 September 1998 jumlah nasabah yang dapat diraih mencapai 6. .7%) dan terendah pada Kanda Malang (2. Maret 1999 Jangka waktu peminjaman rata-rata dalam tahun 1998 adalah 89 hari yang berarti lebih singkat dibandingkan dengan tahun 1997. sehingga mendorong penebusan oleh nasabah terutama dengan barang jaminan emas untuk dijual ke pasar. yaitu 68 hari. Penurunan tersebut juga disebabkan oleh meningkatnya harga barang jaminan khususnya emas.d Mei 1998) sekitar 400 ribu nasabah.8% dan 2. Jumlah nasabah yang mampu diraih Perum Pegadaian tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah nasabah yang mampu diraih BPR (4.3%. Berdasarkan Kandanya. peningkatan jumlah nasabah terbesar terjadi pada Kanda Surabaya (243. yaitu 95. Dari segi persebaran nasabah. mulai banyaknya perusahaan yang melakukan PHK terhadap karyawan dan meningkatnya harga emas. Jumlah Nasabah Sejalan dengan lonjakan omset. sedangkan jumlah nasabah yang paling sedikit terdapat di wilayah Kalimantan masingmasing 2. Lonjakan jumlah nasabah dari posisi Mei ke Juni 1998 tersebut diduga merupakan dampak krisis ekonomi sehingga akses masyarakat untuk dapat memperoleh kredit dari perbankan semakin sulit.2 juta nasabah).7 hari.6 juta orang.76 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.d September menunjukkan kecenderungan menurun. Golongan D meminjam dalam jangka waktu paling lama. Lonjakan nasabah sepanjang tahun 1998 tersebut sangat signifikan jika dibandingkan dengan perkembangan nasabah pada bulan yang sama tahun 1997 (Grafik 2). Lonjakan nasabah Perum Pegadaian yang sangat besar terjadi sejak bulan Juni 1998 dengan rata-rata per bulan di atas 1 juta nasabah dibandingkan bulan-bulan sebelumnya (Januari s.

000 B = Rp 40.7%) berprofesi sebagai petani. Tabel 4.3 6.638.000 .9 27.621.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 77 Grafik 2.3 26.1 100.000 .5 682.5 24.000 Gol. Sementara dari profesinya mayoritas nasabah (30.000 D = Rp 510.331.032.3 10.9 864. Jml.4 3.4 12.7 7.000 .0 6.1 635.Rp 40.500.2).2 30.000.265.2.000 . C = Rp 151.9 5.612.0 0.4 22.4 Karyawan 449.05 100. Dibandingkan dengan tahun 1997.2 871.0 Lain-lain 1.0 1997 1998 Profesi Jml.6 6.Rp 150.1 331.9 1. Nsb.3 23.200 1. Perkembangan Jumlah Nasabah 1.0 1.7 6. (ribu) 2.000 800 600 400 200 0 (ribu) 1997 1998 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sep Okt Nop Des Berdasarkan golongannya.6 430.5 1.0 13.2 100.5%) pada tahun 1998 berasal dari golongan A.463.7 1.1 1998 Jml.682. Nsb.7 *) % 40.9 2.221. Nsb. terlihat adanya pergeseran komposisi jumlah nasabah menurut golongan dan meningkatnya jumlah nasabah dengan profesi sebagai karyawan (Tabel 4.6 16.1 Pedagang 1. Nasabah A B C D E Jumlah Keterangan : % 43. mayoritas nasabah Perum Pegadaian (40. Komposisi Jumlah Nasabah Menurut Golongan dan Profesi 1997 Jml.410. (ribu) 2. Meningkatnya jumlah nasabah yang berprofesi sebagai karyawan (berdasarkan kartu identitas/KTP) merupakan indikasi dari meningkatnya jumlah karyawan yang terkena PHK.7 *) % 30.9 Nelayan 405.3 23.0 Sumber : Perum Pegadaian.9 5.d September A = Rp 5.400 1.000 E = pinjaman kepada pegawai Perum Pegadaian .734.305.5 5.0 0. diolah.458. (ribu) (ribu) % Petani 1. Nsb.4 Industri 325.621.0 21.0 8.20.305.8 1.1 3.1 *) : s.

usaha catering. Menurut masing-masing golongan nasabah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa krisis ekonomi sangat dirasakan dampaknya khususnya oleh nasabah mikro dengan semakin meningkatnya nilai pinjaman yang tidak dilunasi oleh golongan tersebut. Perbandingan kualitas pinjaman yang diberikan tersebut menunjukkan persentase kredit macet di Perum Pegadaian lebih besar dibandingkan dengan BRI UDes (0. sedangkan kredit macet di BRI UDes (per 30 September 1998) mencapai Rp 22.1% dari sisa uang pinjaman). Kebutuhan konsumtif yang dapat dipenuhi dari pegadaian antara lain pemenuhan kebutuhan sehari-hari.5% dari sisa uang pinjaman).1%. dengan menjual barang jaminan kepada masyarakat umum pada waktu yang telah ditentukan. Sementara itu. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa nasabah diperoleh informasi bahwa sebagian besar dana pinjaman pegadaian dipergunakan untuk tujuan produktif (profil nasabah dikemukakan pada “persepsi masyarakat”). Maret 1999 Penggunaan dana pinjaman oleh nasabah sangat bervariasi baik untuk tujuan konsumtif maupun produktif.5% dari omset atau 1. dan lain-lain.7% omset) atau senilai Rp 11.3 miliar (0. namun jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan kredit macet di BPR. biaya sekolah.0% dari omset dan 4.5% dari total kredit yang diberikan).8%. pembayaran upah karyawan. rasio nilai lelang terhadap total kredit untuk golongan A meningkat dari 2.1 miliar (0. rasio tersebut menurun jika dibandingkan dengan tahun 1997 (1.5%). . usaha yang bersifat pesanan seperti kontraktor skala kecil. perajin mebel.7% dan 47. 1 3 Lelang merupakan upaya pengembalian uang pinjaman beserta sewa modal yang tidak dilunasi atau pinjamannya tidak diperpanjang (roll over) oleh nasabah sampai batas waktu yang ditentukan. dan keperluan keluarga lainnya. Jika dibandingkan dengan volume dan nilai lelang sampai sebelum krisis (1997).3% (1998) tertinggi dibandingkan dengan golongan lain. Sedangkan rasio terendah adalah golongan D yaitu sebesar 0.2% (1997) menjadi 2. maka telah terjadi penurunan jumlah dan nilai barang yang dilelang masing-masing sebesar 36. Lelang 13 Barang jaminan yang dilelang sampai dengan 30 September 1998 adalah sebanyak 261. Penggunaan yang bersifat produktif antara lain modal kerja bagi petani dan pedagang. pinjaman yang digolongkan sebagai kredit macet di BPR (per 30 Juni 1998) mencapai Rp 253 miliar (15 % dari total kredit yang diberikan).810 potong (1. biaya pengobatan.78 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

9 2.8 2.8 ribu potong) sedangkan yang paling sedikit dilakukan oleh Kanda Balikpapan (3 ribu potong).1 0.596 1998 N ilai **) O set m ***) S U R (% isa P asio ) 34.0 48. kredit macet di wilayah Jawa sebesar Rp 12. Perlu dikemukakan bahwa lelang barang jaminan yang dilakukan Perum Pegadaian pada dasarnya bukan merupakan kerugian bagi Perum Pegadaian karena sesuai dengan hukum gadai.9 78.010 50.2 1.2 475.4 miliar (4.0 1.6 2.3 0.5 2.9 1.1 172.0 1.047 3.9 679.6% total kredit macet).2 0. Sedangkan kredit macet di BRI UDes baik sebelum maupun sesudah krisis. inan S U R (% R (% B Jam isa P asio ) A B C D 285.6 miliar (0.9% dari total kredit macet.9 750. khususnya DKI & Jawa Barat sebesar Rp 6. . barang jaminan yang dilelang merupakan barang bergerak serta hasil lelang selalu dapat menutup nilai pinjaman ditambah bunga dan biaya administrasi.0 TO L TA 413.7 115.3 1.5 b) 2.1 6.0 8. Irian Jaya dan Timor Timur) sebesar 0.166.7 juta).9 709. Sementara nilai lelang terbesar terdapat di Kanda Jakarta (Rp 2 miliar) dan yang paling sedikit di Kanda Balikpapan (Rp 289.278 21. Perbandingan kualitas pinjaman ketiga lembaga tersebut menunjukkan kesamaan wilayah kerja yang mempunyai jumlah kredit macet terbesar yaitu di wilayah Jawa.6 0.3. 4. Untuk tahun 1998.5 1.14% total kredit atau 29.7 3. inan rg.5 a) R (% asio ) 7.7 183.5 118.3% total kredit atau 29% total kredit macet).3 317. kredit macet BPR sebagian besar terdapat di wilayah Jawa yang mencapai 58% total kredit macet.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 79 Tabel 4.309.4 1. Sementara itu.8 227.813 25. Untuk wilayah Bali (termasuk NTT dan NTB) kredit macet sebesar Rp 794 juta (0.27% total kredit atau 56.7 4.7 Keterangan : *) potong **) : nilai barang yang dilelang (m rupiah) iliar ***) : om pinjam (m rupiah) set an iliar S ber : P um erumPegadaian.6 521.1 261.3 a) : rasio lelang thd om set b) : rasio lelangthd sisauang pinjam an Pada periode Januari s. lelang terbanyak dilakukan oleh Kanda Yogyakarta (38. diolah.02% total kredit atau 3.2 3.6 2. khususnya di Jabotabek sebesar Rp 73. Perkembangan Lelang Barang Jaminan G ol.1% total kredit atau 0.810 11.9 0.077.6% total kredit macet).5 miliar (0.0 197.9 3.504 3.81% total kredit macet).14 1 4 Sebagai contoh turunnya harga barang jaminan adalah turunnya harga emas secara drastis di bulan November hingga mencapai 60% dari harga bulan Juni 1998.801 12.7 6. sehingga banyak nasabah dengan barang jaminan emas yang meminjam pada bulan Juni 1998 dan jatuh tempo pada November 1998 tidak melunasi pinjamannnya.5 3. Sedangkan volume kredit macet paling kecil terdapat di wilayah Sulawesi (termasuk Maluku.d September 1998. sebagian besar terdapat di wilayah Jawa dan paling sedikit di wilayah Bali (termasuk NTT dan NTB).4 0. 1997 a) b) *) N asabah B Jam *) N **) O set***) ilai m asio ) rg.2 182.5 739.9 408.914 98. kecuali dalam kasus tertentu dimana terjadi penurunan harga barang jaminan yang sangat besar.403 1.9 7.

4). meningkat 171.2 Kinerja Keuangan Aset Aset Perum Pegadaian menunjukkan kecenderungan meningkat. Total aset Perum Pegadaian tersebut lebih kecil jika dibandingkan dengan total aset BPR (per Juni 1998) yang telah mencapai Rp 2.1. dengan tujuan penggunaan dana untuk pelunasan obligasi I (sebesar Rp 50 miliar) dan pengembangan usaha (modal kerja).9 miliar (2. Perum Pegadaian telah menerbitkan obligasi sebanyak lima kali (seri I s.6% dibandingkan periode yang sama tahun 1997. Sumber dan Penggunaan Dana Sumber dana Perum Pegadaian selain terdiri dari modal (ekuitas) juga sumber dana lain yang diperoleh dari penerbitan surat berharga maupun pinjaman dari pihak lain. Realisasi aset pada tahun 1998 tersebut meningkat sebesar 51. Jumlah modal per 30 September 1998 sebesar Rp 363 miliar. Sementara itu.4). sementara kewajiban jangka pendek (terdiri dari hutang bank dan kewajiban lainnya) sebesar Rp 412 miliar. dengan komponen terbesar adalah hutang obligasi (Rp 264. Sebagaimana telah disebutkan dalam Bab II bahwa untuk memenuhi kebutuhan dana maka selama periode 1993 – 1998. Emisi terakhir adalah obligasi emisi V (Juni 1998).6 miliar meningkat 32. total aset Perum Pegadaian sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Jawa (Rp 573 miliar atau 50.80 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 4. Ditinjau berdasarkan wilayah.d V) dengan nilai nominal sebesar Rp 289.d 30 September 1998 dana pelunasan obligasi .8% dari total aset BPR) sedangkan yang paling kecil terdapat di wilayah Kalimantan sebesar Rp 63.9% total aset Perum Pegadaian).4% dari tahun sebelumnya.1 triliun. Jumlah aset per 30 September 1998 tercatat sebesar Rp 1.7% dari periode yang sama tahun 1997. Berdasarkan tujuan tersebut dapat dikemukakan bahwa Perum Pegadaian nampaknya tidak mempersiapkan cadangan dana pelunasan obligasi (sinking fund) yang memadai untuk memenuhi kebutuhan dana pelunasan obligasi yang akan jatuh tempo (s. total aset BPR sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Jawa (Rp 1.6 miliar) (Tabel 4. Perbandingan total aset berdasarkan wilayah tersebut menunjukkan adanya kesamaan antara Perum Pegadaian dengan BPR yaitu konsentrasi aset berada di wilayah Jawa dan aset terkecil di wilayah Kalimantan. sedangkan yang terkecil adalah Kanda Kupang (Rp 34 miliar). Total aset terbesar dimiliki oleh Perum Pegadaian di wilayah Kanda Jakarta (Rp 183 miliar).4 triliun.6 miliar yang akan jatuh tempo pada periode 1998 – 2003. Komponen terbesar dari kewajiban jangka pendek tersebut adalah hutang bank (Rp 321 miliar).7 triliun atau 70. melampaui target yang ditetapkan untuk tahun 1998 sebesar Rp 1 triliun (Tabel 4.7% total aset BPR).3% total aset Perum Pegadaian) dan yang paling kecil adalah wilayah Kalimantan (Rp 44 miliar atau 3. Kewajiban jangka panjang Perum Pegadaian (terdiri dari hutang obligasi dan hutang jangka panjang lainnya) sebesar Rp 364.

2 240. Per 31 Des. Mengacu pada temuan Robinson yang menggunakan pendekatan RFI.9% dari periode yang sama tahun 1997.9 175 0. Perlu dikemukakan bahwa lonjakan deposito tersebut terjadi karena adanya pencairan bantuan modal kerja dari Pemerintah dalam bentuk RDI sebesar Rp 100 miliar pada tanggal 4 September 1998.4 32. Proyeksi 1998 Realisasi Per 30 Juni Per 30 Sept. Tabel 4.2 52.7 178.9 564.2 778.028 275 673.5 183.2 8.8 201. Dana dengan suku bunga murah yang diperoleh Perum Pegadaian tersebut di satu sisi sangat membantu dalam mengatasi kesulitan likuiditas yang dialami.4 192.7 182. kebijakan subsidi bunga hanya akan efektif apabila diterapkan dalam jangka pendek.6 Aktiva Lancar Kas dan setara kas Pinjaman yg diberikan Lainnya Aktiva Lain Dana pelunasan obligasi Lainnya Total Aktiva Kewajiban Jangka Pendek Hutang bank Kewajiban lainnya Hutang Obligasi Hutang Sewa Guna Usaha Hutang jangka panjang lainnya 480. khususnya untuk memenuhi kebutuhan dana akibat lonjakan nasabah dan bantuan KLBI sejumlah Rp 50 miliar (per 31 Desember 1998). sinking fund tersebut tidak dihimpun karena tidak diperoleh ijin dari Menkeu untuk membentuk cadangan sebesar obligasi yang akan jatuh tempo.5 325 615 36.8 34.9 8.7 225 333 837.9 476. dimana sampai dengan 30 September 1998 telah disalurkan ke nasabah sejumlah Rp 35 miliar.6 140.9 647 163.4 582.5 81. bahwa suku bunga bersubsidi dapat menimbulkan inefisiensi dalam penyaluran dana di pedesaan.7 59.2 275 0.75 187.4 190.2 35.9 45.4 55.6 100 363 Pertumb. Aktiva dalam bentuk kas dan setara kas per 30 September 1998 tercatat sebesar Rp 119 miliar meningkat 240.3 225 356.5 752 151. 1997 Per 30 Sep.9 Penanaman dana oleh Perum Pegadaian dalam bentuk aktiva lancar (dikelompokkan dalam kas dan setara kas. Menurut Perum Pegadaian.7 798.4 72.9 0.2 35.8 71.6 166.7 184 1139.9 412.3 11. terutama diakibatkan oleh meningkatnya nilai deposito sebesar 605%.4 191 1.9 17.1 167. alokasi dana tersebut lebih diutamakan untuk penambahan modal kerja.9 28.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 81 yang dicadangkan hanya sebesar Rp 8. Dengan demikian.487 307.2 119 756.7 174.7 412 321 91 264.3 390 Ekuitas Sumber : Perum Pegadaian .4 Neraca Singkat Perum Pegadaian (miliar rupiah) Pos . pinjaman yang diberikan dan lainnya) serta aktiva lain.4 5.diolah 363.7 236. Perum Pegadaian juga memperoleh pinjaman berbunga rendah dalam bentuk RDI pemerintah sebesar Rp 100 miliar (sejak tanggal 4 September 1998).Sept.7 8.3 1.0 31.2 29.5 160. Jun . namun dari sisi makro berdampak pada timbulnya distorsi suku bunga pasar pinjaman berskala kecil.6 22.0 1. Selain dari penerbitan obligasi.Pos Neraca 1996 Per 31 Des.2 864 282. (%) 40.9 0. 947. dan sisanya sebesar Rp 65 miliar untuk sementara disimpan dalam .3 526.4 8.7 30.5 miliar).1 53.6 119.

696.8 1. porsi BPR dan BRI UDes justru mengalami penurunan.0 7.9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 1997. meningkat 58. Pinjaman yang diberikan per tanggal 30 September 1998 sebesar Rp 756.976.286. pinjaman yang diberikan oleh Perum Pegadaian baik dibandingkan dengan total kredit yang diberikan maupun dalam peer-groupnya relatif kecil.3 27. Rp 50 miliar dalam deposit on-call dan Rp 15 miliar untuk cadangan investasi.324. Perbandingan dalam peer-groupnya menunjukkan peningkatan porsi Perum Pegadaian yang lebih besar dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes. Dari jumlah tersebut.9 98.0 4.0 623.3 Nominal ( Rp miliar ) 526.5 65.1 1998 Rasio (%) (1) 10.5 378.5 Nominal ( Rp miliar ) 756.5 1. Meskipun porsi Perum Pegadaian saat ini masih kecil dan secara makro tidak terlalu besar dampak moneternya.074. Penanaman dana dalam bentuk pinjaman yang diberikan mempunyai porsi yang paling besar (86.8 miliar. BPR.3% (1997) menjadi 10.1% total kredit atau 6.4 2.207.921.3 0. BRI Udes) Rasio (2) : rasio terhadap total kredit (termasuk bank umum) Pinjaman yang diberikan oleh Perum Pegadaian.7 24.3 292.2 1.6% total kredit peer-group.6 28. sementara porsi BPR menunjukkan penurunan. Sementara aktiva lain hanya meningkat sebesar 2.1 0. Secara makro.9%.1 0.9 1997 Rasio (%) (1) 7.0 385. sedangkan porsi BRI UDes meskipun meningkat namun tidak sebesar peningkatan Perum Pegadaian (Tabel 4.7 1.483.0 7.190. Tabel 4. Dalam kondisi perkembangan perbankan saat ini yang tidak menentu maka tidak tertutup kemungkinan pangsa pegadaian akan mampu melampaui pangsa BPR. namun peran Perum Pegadaian dalam memberikan pinjaman cenderung tidak mengalami penurunan dalam masa krisis ini.2 1.2 (2) 0.5.1 97. Rasio Perkembangan Pinjaman yang Diberikan 1996 Rasio (%) (1) 6.1 98.9 Rasio (1) : rasio terhadap peer-group ( PP.077.9 4.1 0. Maret 1999 bentuk deposito.0 6.688.557.0 299. yaitu dari 7.7 616.6 1. Porsi kredit yang diberikan Perum Pegadaian terhadap total kredit pada September 1998 sebesar 0.3 4.82 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.7 Pegadaian BPR BRI Unit Desa Sub-Total Bank Umum Total Keterangan : 98.0 65.9 Lembaga Nominal ( Rp miliar ) 414.5%) dibandingkan aktiva produktif lainnya.621.795.3 1.9 (2) 0.5). BPR dan BRI UDes menurut wilayah adalah sebagai berikut : .6 64.7% (1998).3 (2) 0.134.

Biaya dan Efisiensi Kemampuan Perum Pegadaian dalam meraih pendapatan menunjukkan kecenderungan semakin meningkat.7% dibandingkan tahun 1997.5% dan 144. kredit yang diberikan per 30 September 1998 terkonsentrasi di pulau Jawa.0% dari total biaya operasional. sedangkan yang terkecil diberikan oleh Perum Pegadaian di wilayah Kalimantan sebesar Rp 36.9%). dengan porsi terbesar adalah biaya bunga dan provisi yang mencapai 57. dimana pendapatan bunga dan biaya bunga merupakan komponen terbesar dari pendapatan dan biaya operasional. Irian dan Tim-Tim) sebesar Rp 36. Penyumbang terbesar dari pendapatan usaha tersebut adalah pendapatan sewa modal (88.4%.8% total pinjaman).6 miliar (4. menurun dari tahun sebelumnya sebesar 31.3 miliar.3% dan 81.1 miliar (58. • Kredit yang diberikan oleh BPR sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Jawa. Berdasarkan besarnya pendapatan dan biaya operasional Perum pegadaian tersebut. Pendapatan. yaitu sebesar Rp 2.3% dari total kredit).7% dibandingkan tahun 1997. yaitu sebesar Rp 1. meningkat masing-masing sebesar 4. Pendapatan Perum Pegadaian yang terdiri dari pendapatan usaha (meliputi: sewa modal dan bea penyimpanan & asuransi) dan pendapatan usaha lainnya (meliputi: pendapatan investasi. Sementara itu biaya operasional tercatat sebesar Rp 180. dan keuntungan barang sisa lelang) sampai dengan 30 September 1998 tercatat masing-masing sebesar Rp 209. dengan komponen terbesar berasal dari pendapatan bunga sebesar 44. yaitu sebesar Rp 441. meningkat 10. pendapatan operasional BPR menunjukkan peningkatan dari Rp 543 miliar (1997) menjadi Rp 758 miliar (1998).7 miliar dan Rp 9.8 triliun (64% dari total kredit) dan yang paling sedikit di wilayah Bali (termasuk NTB dan NTT) sebesar Rp 293 miliar (6.0%. • Sedangkan untuk BRI UDes. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pinjaman yang diberikan oleh ketiga lembaga formal tersebut selama ini terkonsentrasi di pulau Jawa. Biaya operasional BPR juga mengalami peningkatan dari Rp 519 miliar (1997) menjadi Rp 742 miliar (1998) dengan komponen terbesar adalah biaya bunga deposito berjangka sebesar 21. Rasio tersebut menunjukkan terjadinya penurunan efisiensi.5 miliar (2% dari total kredit).3% total pinjaman).3%.2 triliun (74% dari total kredit BPR). Seperti juga Perum Pegadaian. diperoleh nilai rasio antara biaya operasional dengan pendapatan operasional untuk tahun 1997 dan tahun 1998 masing-masing sebesar 80. uang kelebihan lewat waktu. Terlihat adanya kesamaan antara Perum Pegadaian dengan BPR.8%.4 miliar. terutama sebagai dampak meningkatnya beban bunga dan .4% menurun dari pangsa tahun sebelumnya sebesar 79.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 83 • Pinjaman terbesar diberikan oleh Perum Pegadaian di wilayah Jawa. sedangkan yang paling kecil diberikan oleh BPR di wilayah Sulawesi (termasuk Maluku.

3% (1998).84 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.6% dari target tahun 1998. Pencapaian rasio tersebut berarti telah sesuai dengan target yang ditetapkan. Disamping itu. sedangkan ROA BRI UDes sebesar 4. Salah satu aspek yang mendorong tingginya efisiensi yang mampu diraih Perum Pegadaian dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes adalah karena Perum Pegadaian tidak memperhitungkan cadangan kredit macet dalam komponen biaya operasionalnya. Sementara ROA yang mampu diraih BPR sebesar 1. dan koefisien ROE sebesar 10.7% dan 3.7% (1997) dan 9. Perum Pegadaian masih mencatat tingkat efisiensi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan BPR (95.2 kali menunjukkan bahwa Perum Pegadaian mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam memenuhi kewajiban lancarnya (Lampiran 13).4 kali dan untuk tahun 1998 tidak berubah yaitu sebesar 2.8% dan 3. Likuiditas Rasio antara aktiva lancar dengan kewajiban lancar Perum Pegadaian rata-rata tahun 1997 sebesar 2. Maret 1999 provisi yang sudah mencapai 112. Profitabilitas Dengan menggunakan indikator ROA dan ROE. Jika dibandingkan dengan rasio BPR sebesar 1.4%.4 kali.7%) dan BRI UDes (84.4 kali. Koefisien tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 1998 terjadi penurunan kemampuan Perum Pegadaian dalam meraih keuntungan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 1997 dan 1998 Perum Pegadaian mempunyai kemampuan untuk memenuhi kewajiban lancarnya sebesar 2. untuk periode 1997 dan 1998 diperoleh koefisien ROA sebesar 6.3% dan 1. Dengan membandingkan besarnya rasio profitabilitas Perum Pegadaian dan BPR untuk masing-masing periode tersebut terlihat bahwa kemampuan Perum Pegadaian dalam meraih keuntungan relatif lebih baik jika dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes (Lampiran 13). sementara realisasi pendapatan sewa modal baru mencapai 82. Perum Pegadaian memiliki struktur modal yang lebih kuat dan juga memperoleh pinjaman dengan suku bunga relatif murah.4% (1998). di sisi lain sumber dana bersubsidi yang diperoleh serta modal Perum Pegadaian cukup besar. Cadangan tersebut tidak dihimpun oleh Perum Pegadaian karena nilai pinjaman yang diberikan sudah didiskonto dari nilai pasar/taksiran barang jaminan (Lampiran 13).5% (1997) dan 4.3%. Meskipun demikian. Solvabilitas Kemampuan Perum Pegadaian untuk memenuhi semua kewajibannya berdasarkan rasio antara total hutang dengan total aktiva rata-rata tahun 1997 dan tahun 1998 adalah .1%).3%. khususnya pada masa krisis ekonomi.1% dengan ROE sebesar 4. Profitabilitas yang tinggi tersebut mampu diraih Perum Pegadaian karena besarnya sewa modal hampir sama dengan suku bunga perbankan.

61% dan golongan B. Analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat sejauh mana pengaruh penurunan marjin pada golongan B.2 miliar pada saat omzet nasabah golongan A sebesar 60 %. telah berdampak cukup berarti pada perubahan besarnya marjin. bahwa Perum Pegadaian masih memiliki marjin yang positif untuk semua golongan selain A.d 1998 perbankan mencatat marjin negatif dengan kecenderungan semakin besar pada tahun 1998. golongan B dan C turun menjadi 8. lebih baik jika dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes dengan rasio masingmasing sebesar sebesar 76. Berdasarkan hasil simulasi terlihat bahwa setiap peningkatan porsi omzet terhadap nasabah golongan A sebesar 5% akan pada simulasi ke1 akan menurunkan keuntungan nominal + Rp 44 miliar.26% (1998) (Lampiran 15-A). . Rasio tersebut menunjukkan bahwa Perum Pegadaian mempunyai kemampuan lebih besar dalam memenuhi seluruh kewajibannya dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes (Lampiran 13).34% (1997) menjadi 10. Dalam simulasi pertama ini. maka masyarakat masih tertarik untuk meminjam dari Perum Pegadaian. sementara untuk simulasi selanjutnya akan menurunkan keuntungan nominal sebesar +Rp 20 miliar. sejalan dengan komitmen Perum Pegadaian untuk membantu nasabah mikro dengan menerapkan subsidi silang pada sewa modal. Pada bagian pertama (Lampiran 15-A).24%. Defisit pada golongan A yang ditandai oleh marjin negatif. Marjin yang diperoleh Perum Pegadaian tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan perbankan (Lampiran 16). B dan C tersebut ternyata tidak menyebabkan penurunan laba. Namun karena prosedurnya mudah. marjin keuntungan/kerugian untuk tiap golongan dianggap sama dengan kondisi pada tahun 1998. C. dan D serta pengaruh peningkatan porsi omzet pada golongan A terhadap keuntungan yang mampu diraih Perum Pegadaian. C.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 85 sebesar 64. Turunnya marjin pada golongan A. yang terlihat dari meningkatnya marjin tertimbang (weighted profit/loss) dari 7. Biaya Aktiva Produktif dan Analisis Sensitivitas Marjin (selisih biaya dana yang ditanamkan dalam bentuk aktiva produktif dengan sewa modal pada masing-masing golongan nasabah) yang diperoleh pada masa sebelum dan sesudah krisis menunjukkan. Pada periode 1996 s. Untuk golongan A terjadi peningkatan marjin negatif menjadi –7. sisa omzet dibagi secara merata diantara golongan lainnya. Sementara itu. dilakukan simulasi yang terdiri dari dua bagian. Marjin yang diperoleh pada tahun 1997 untuk nasabah golongan A adalah –3. dilakukan peningkatan porsi omzet pada nasabah golongan A secara bertahap sebesar 5 persen.76% (Lampiran 14). sedangkan golongan D (rata-rata D dan D1) meningkat menjadi 13. Untuk tujuan tersebut. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa secara umum harga kredit di Perum Pegadaian lebih mahal dibandingkan perbankan.1%. D sebesar 8.26%. Pegadaian baru akan merugi sebesar Rp 7.39%.8% dan 89%. Kebijakan Perum Pegadaian untuk menaikkan sewa modal pada Juni dan Agustus 1998.

318 miliar dengan jumlah pegawai sebanyak 6.9 M 6.317. B = -1.September 1998 yaitu sebesar Rp 371.243 orang.243 Rp 371. C.76%. Produktivitas omset yang diukur dengan rasio antara realisasi omset dengan jumlah pegawai selama Januari .6 miliar pada saat marjin untuk tiap golongan nasabah sebagai berikut : A = -7. 16/UT/II/1999) untuk menurunkan besarnya sewa modal (golongan B.. C dan D akan menurunkan keuntungan +Rp 22 miliar.2% dari target yang ditetapkan untuk tahun 1998.3 juta Rp 41.6 Target dan Realisasi Produktivitas Omset – Tahun 1998 Target Omset Jumlah Pegawai Rasio Rata-rata per bulan Rp 9.9 1 5 Berdasarkan informasi. C = 1.3 juta. Sedangkan berdasarkan analisis untuk masing-masing wilayah kerja Perum Pegadaian menunjukkan bahwa pegadaian di wilayah Ujungpandang mempunyai produktivitas omset terbesar (Rp 682. Produktivitas Omset Realisasi omset sampai dengan 30 September 1998 adalah sebesar Rp 2. Rasio yang dicapai pada tahun 1998 tersebut masih lebih besar dibandingkan tahun 1996 (Rp 311 juta) dan 1997 (Rp 340 juta). C. dilakukan penurunan marjin keuntungan pada nasabah golongan B. Perum Pegadaian telah menetapkan keputusan (SK.24%.5 juta Rp 52 juta Realisasi Rp 2. Pegadaian masih memiliki keuntungan Rp 17. Pada bagian ini. Berdasarkan kedua simulasi tersebut di atas.243 Rp 468. marjin untuk nasabah golongan A dibiarkan tetap dan distribusi omzet untuk tiap golongan nasabah sama dengan kondisi pada tahun 1998. atau rata-rata Rp 41.86 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.74%.3 juta Berdasarkan realisasi tersebut terlihat bahwa produktivitas omset yang mampu dicapai Perum Pegadaian sampai dengan September 1998 sudah mencapai 79. Perum Pegadaian masih memiliki ruang untuk meningkatkan porsi pemberian kredit kepada nasabah golongan A dan menurunkan sewa modal pada golongan B.74%.C dan D) yang berlaku mulai tanggal 1 Maret 1999. Produktivitas omset untuk tahun 1998 tersebut adalah sebagai berikut : Tabel 4. Maret 1999 Pada bagian kedua (Lampiran 15-B). .925 M 6. No. dan D = 3. dan D 15 . dan D secara bertahap sebesar 1%. Berdasarkan hasil simulasi terlihat bahwa setiap penurunan marjin keuntungan sebesar 1 % pada golongan B.3 juta per bulan.

1.1. Rasio tersebut meningkat jika dibandingkan dengan rasio tahun 1996 (907. sementara target yang ditetapkan untuk tahun 1998 sebesar 982 orang atau sekitar 82 orang per bulan.1 juta).400.9 (1998) dan 1.379 orang (1997). Untuk masing-masing wilayah kerja.8 orang) dan tahun 1997 (862.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 87 juta) baik sebelum maupun sesudah krisis ekonomi.3 Masalah yang Dihadapi Perum Pegadaian Masalah Temporer Lonjakan nasabah yang sangat besar terutama sejak Juni 1998 telah menyebabkan Perum Pegadaian melakukan overdraft yang besar atas pinjaman rekening koran di BRI.243 982 82 Realisasi 7. sedangkan yang terendah pada 1997 adalah Perum Pegadaian di wilayah Jawa.1 juta 6.7 orang atau rata-rata setiap pegawai dapat melayani sebanyak 126 orang per bulan.243 1.1 juta 6.3 (1998). yang mengakibatkan BRI menghentikan pemberian kredit lebih lanjut ke Perum Pegadaian .133.582 orang (1996) nasabah untuk satu orang pegawai. sedangkan produktivitas omset terendah terdapat di wilayah Sumatera (Rp 336.6 orang). sedangkan produktivitas terendah adalah wilayah Sumatera dengan rasio sebesar 806. Rasio Nasabah dengan Jumlah Pegawai Rasio antara nasabah dengan jumlah pegawai selama Januari.7 Target dan Realisasi Rasio Nasabah dengan Jumlah Pegawai – Tahun 1998 Target Jumlah Nasabah Jumlah Pegawai Rasio Rata-rata per bulan 6. Rasio antara jumlah nasabah dengan jumlah Pegawai tahun 1998 adalah sebagai berikut : Tabel 4.137 126 Rasio tersebut menunjukkan bahwa realisasi rasio jumlah nasabah dengan jumlah pegawai yang dicapai Perum Pegadaian sampai 30 September 1998 telah melampaui target yang ditetapkan. rasio nasabah dengan pegawai tertinggi baik sebelum maupun sesudah krisis ekonomi terdapat di wilayah Ujungpandang dengan rasio sebesar 1. 480 orang (1997) dan 448 nasabah (1996) untuk satu orang pegawai. 4.September 1998 sebesar 1..

5 juta) sebesar 81%. Untuk mengatasi hal tersebut Perum Pegadaian telah memperoleh RDI Pemerintah sebesar Rp 100 miliar (4 September 1998) serta KLBI sebesar Rp 50 miliar pada bulan Desember 1998.88 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. B sebesar 71. sejak November 1998 setiap kantor daerah wajib melakukan setoran ke kantor pusat secara proporsional berdasarkan modal kerja yang dimanfaatkan.4% dan D 73.3 miliar (plafond Rp 181. Kondisi tersebut tentunya kurang menguntungkan bagi nasabah yang membutuhkan dana lebih besar karena pinjaman yang diterima jauh lebih kecil dari nilai taksiran maupun nilai pasar barang yang diagunkan. 28/OPP. Sampai dengan 30 September 1998. 37-OPP-1/1/23 tgl. Kesulitan likuiditas tersebut semakin dalam karena Perum Pegadaian harus membayar pokok dan bunga obligasi yang jatuh tempo.9%. Jika mengacu pada ketentuan yang menetapkan realisasi uang pinjaman untuk nasabah golongan A sebesar 90%. C sebesar 73. Saldo pinjaman rekening koran di BRI tersebut pada akhir September 1998 sebesar Rp 284. Realisasi Pinjaman yang Diterima Nasabah Tahun 1998 Golongan Nasabah Ketentuan Realisasi Pinjaman (%)*) 90 85 85 81 Realisasi Pinjaman yang Diterima Nasabah (%) 85.7 miliar). sementara penerbitan obligasi baru kurang laku.5%.4 73. 30 Juli 1998 Kebijakan yang telah ditempuh agar tetap mampu melayani sebanyak mungkin nasabah dalam kondisi keterbatasan dana.2%). maka berdasarkan SE No. D (dibawah 2.8%).8.8). Nilai realisasi uang pinjaman dengan persentase tertinggi diberikan oleh Kantor Daerah Jember (81. Perum Pegadaian menurunkan plafon maksimum pinjaman yang .1 A B C D *) SE No. sedangkan yang terendah diberikan oleh Kantor Daerah Balikpapan (65.3 71. maka nilai rata-rata realisasi uang pinjaman terhadap nilai taksiran untuk golongan A sebesar 85. Sebelumnya.1% masih lebih kecil dari ketentuan yang berlaku (Tabel 4.5 juta) sebesar 81% dan D (diatas 2. B dan C sebesar 85%. Tabel 4.9 73. Maret 1999 sejak pertengahan Agustus 1998. Dampak dari kesulitan likuiditas tersebut adalah semakin terbatasnya kemampuan Perum Pegadaian dalam memberikan kredit kepada masyarakat. Kesulitan likuiditas yang dialami Perum Pegadaian juga terlihat dari perbandingan antara realisasi pinjaman yang diterima nasabah dengan nilai taksiran yang ditetapkan. perbandingan tersebut relatif rendah dengan persentase secara nasional sebesar 73.3%.1/1/117 tanggal 17 Juni 1998.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat

89

dapat diperoleh nasabah dari Rp 20 juta (golongan D) menjadi maksimum Rp 5 juta per SBK. Beberapa kantor cabang yang diamati bahkan telah melakukan pembatasan plafon pinjaman maksimum untuk seorang nasabah rata-rata kurang dari Rp 5 juta. Kebijakan tersebut tetap dipertahankan sampai saat ini meskipun sudah ada tambahan dana RDI dan KLBI yang sebagian justru ditanamkan dalam bentuk deposito.16 Dampak kebijakan penurunan batas maksimum pinjaman tersebut adalah semakin sulitnya nasabah-nasabah potensial untuk bisa memperoleh pinjaman di atas Rp 5 juta dengan satu barang jaminan, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan beralihnya nasabahnasabah potensial tersebut ke sumber pendanaan lainnya (seperti toko emas dan pegadaian gelap) yang masih bersedia memberikan pinjaman lebih dari Rp 5 juta. Kebijakan lain adalah dengan memberlakukan sistem antrian (waiting list) seperti yang diterapkan oleh beberapa kantor cabang, bahkan pada beberapa kantor cabang terpaksa melakukan penutupan kantor sebelum waktunya. Kenaikan suku bunga pasar juga menimbulkan permasalahan tersendiri bagi Perum Pegadaian karena biaya dana yang sebagian besar diperoleh dari kredit bank semakin besar. Untuk memperkecil dampak naiknya suku bunga pasar, maka Perum Pegadaian sejak 30 Juni 1998 menempuh kebijakan dengan menaikkan suku bunga pinjaman untuk golongan D dengan nilai pinjaman di atas Rp 500 ribu (Lampiran 5). Namun di sisi nasabah, kebijakan tersebut dianggap memberatkan bagi beberapa nasabah meskipun bagi nasabah lainnya tidak terlalu memperdulikan kenaikan suku bunga tersebut.

Permasalahan Struktural
Perum Pegadaian sebagai satu-satunya lembaga keuangan yang memberikan pinjaman dengan sistem gadai mempunyai jaringan kantor cabang yang sangat banyak dengan wilayah operasional yang sangat luas. Luasnya jaringan kerja tersebut di satu sisi sangat mendukung usaha Perum Pegadaian dalam membantu masyarakat, namun di sisi lain menimbulkan permasalahan tersendiri bagi Perum Pegadaian. Permasalahan yang timbul terutama adalah terlalu luasnya rentang kendali masing-masing kantor daerah terhadap kantor cabang-kantor cabang yang ada di wilayah koordinasinya. Dengan jumlah tenaga pemeriksa hanya 4 orang, setiap kantor daerah rata-rata membawahi lebih dari 50 Kanca dengan frekuensi pemeriksaan untuk masing-masing kantor cabang rata-rata 3 – 4 kali dalam satu tahun. Sementara itu, kanda di luar Jawa harus membawahi kanca yang secara geografis terlalu jauh. Luasnya rentang kendali tersebut belum diimbangi dengan

1 6 Menurut Perum Pegadaian, dana sebesar Rp 50 milyar yang disimpan dalam bentuk deposito (on call) dengan jangka waktu kurang dari 1 bulan dimaksudkan untuk cadangan pelunasan pinjaman BRI yang jatuh tempo.

90

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

sarana komunikasi yang memadai sehingga belum dapat menunjang pemantauan kinerja kanca-kanca secara efektif. Sistem manajemen yang diterapkan oleh Perum Pegadaian saat ini cenderung menekankan pada besarnya peranan kantor pusat. Sistem manajemen sentralistik tersebut di satu sisi dapat menunjang sistem internal control yang handal, namun di sisi lain berpotensi menghambat kinerja Perum Pegadaian. Sistem manajemen tersebut dalam jangka panjang akan menimbulkan permasalahan tersendiri khususnya jika kebijakan pemberian otonomi yang lebih besar untuk masing-masing propinsi di Indonesia akan dilaksanakan oleh Pemerintah. Sistem manajemen yang sentralistik tersebut tercermin pada terpusatnya wewenang penetapan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan operasional Perum Pegadaian, antara lain dalam : (i) Penetapan besarnya sewa modal. Kantor daerah dan kantor cabang tidak diperbolehkan untuk menetapkan besarnya tingkat sewa modal (suku bunga) meskipun terhadap nasabah-nasabah potensial.

(ii) Penetapan harga patokan emas. Harga patokan emas ditetapkan oleh kantor pusat dengan berdasarkan harga emas di Jakarta. Sistem ini berdampak pada lambatnya antisipasi kantor cabang dalam merespon perkembangan harga emas di daerah. (iii) Penghimpunan dana. Wewenang untuk menghimpun dana sepenuhnya berada di kantor pusat dimana baik kantor daerah maupun kantor cabang tidak diperbolehkan menghimpun dana sendiri. Dampak dari ketentuan ini adalah, masing-masing kantor daerah atau kantor cabang tidak mampu memanfaatkan potensi daerah sepenuhnya terutama dalam kondisi terbatasnya likuiditas seperti yang dialami dewasa ini. Permasalahan struktural lainnya terutama adalah masih terdapatnya beberapa kelemahan prosedur yang dapat mendorong terjadinya berbagai penyimpangan. Beberapa kelemahan prosedur yang dijumpai antara lain adalah kewenangan Kantor daerah yang seakan tanpa batas dalam memutuskan besarnya nilai pinjaman di atas plafon Rp 20 juta serta penyimpanan seluruh kunci duplikat pada satu orang (Kepala Kantor Cabang) 17 . Disamping kelemahan tersebut, dalam penelitian lapangan juga dijumpai beberapa kegiatan yang dapat dikategorikan sebagai penyimpangan. Penyimpangan tersebut antara lain adalah

1 7 Menurut Perum Pegadaian, dwilipat kunci disimpan oleh Kepala Cabang karena dalam setiap pemeriksan intern dwilipat kunci tersebut diperiksa sampai sejauh mana penyalahgunaan pemakaiannya, serta sewaktu-waktu dapat digunakan apabila pemegang kunci utama (pemegang gudang) berhalangan untuk masuk kerja.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat

91

praktek transfer dana antarcabang 18, pelanggaran kriteria barang jaminan yang dapat diterima Perum Pegadaian 19 , penyimpanan barang jaminan pada tempat yang tidak sesuai dengan prosedur, serta tidak dilaksanakannya prosedur internal control kluis dan gudang. Sementara itu, Perum Pegadaian juga akan terus menghadapi risiko fluktuasi harga barang jaminan akibat fluktuasi nilai tukar mengingat besarnya jumlah agunan di Perum Pegadaian berupa emas/perhiasan yang harganya mengikuti pergerakan harga pasar internasional. Nilai barang jaminan dalam bentuk emas/perhiasan pada tahun 1998 dan 1997 masing-masing sebesar 75% dari total pinjaman meningkat dibandingkan tahun 1996 (72%). Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan jumlah barang jaminan dalam bentuk emas/perhiasan semenjak terjadinya krisis ekonomi di Indonesia.

Persepsi Masyarakat
Berdasarkan hasil penelitian lapangan ke beberapa kantor cabang, ditemukan berbagai persepsi masyarakat terhadap Perum Pegadaian. Pada umumnya masyarakat, khususnya yang berpendapatan rendah, merasa sangat terbantu oleh Perum Pegadaian. Penggunaan dana oleh nasabah sangat beragam baik untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat produktif (misalnya untuk modal kerja dan bridging financing) sampai untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat konsumtif (misalnya untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah dan kebutuhan mendesak lainnya). Dari 90 nasabah yang dipilih secara acak dan berhasil diwawancarai, mayoritas berpenghasilan antara Rp 150 ribu s.d Rp 500 ribu per bulan. Sebagian besar nasabah tersebut tidak mempunyai akses ke perbankan atau tidak mau berhubungan dengan perbankan karena prosedur yang rumit. Berdasarkan penggunaannya, mayoritas nasabah (± 59%) mempergunakan pinjaman yang diperoleh dari Perum Pegadaian untuk tujuan produktif seperti modal kerja (56%) dan bridging financing (3%), sedangkan sisanya mempergunakan untuk tujuan konsumtif seperti biaya sekolah (17%), kebutuhan sehari-hari (16%), emergency (5%), dan lain-lain (3%). (Grafik 3).

1 8 Menurut Perum Pegadaian, praktek transfer antarcabang masih diijinkan sepanjang BRI yang terdapat di wilayah kantor cabang tersebut tidak menyediakan fasilitas rekening giro. Namun dalam prakteknya dijumpai beberapa kantor cabang yang berlokasi di wilayah kota besar masih melakukan praktek transfer antarcabang, meskipun di wilayah tersebut terdapat kantor BRI yang cukup besar. 1 9 Menurut Perum Pegadaian, barang jaminan yang tidak memenuhi ketentuan yang sudah ditetapkan masih bisa diterima asalkan secara ekonomis tidak menimbulkan kerugian bagi Perum Pegadaian.

khususnya faktor keamanan barang jaminan dan kewajaran nilai taksiran.2%). dari penelitian lapangan juga ditemukan bahwa beberapa nasabah merasakan tingginya suku bunga Perum Pegadaian saat ini serta sistem penghitungan bunga dengan acuan minimal 15 hari dirasakan cenderung merugikan nasabah.3%) terbanyak kedua adalah nasabah berpendidikan SLTP (20%) dan yang paling sedikit adalah nasabah dengan pendidikan tidak tamat SD (2. Kesulitan likuiditas yang dialami sejak Agustus 1998 berdampak pada berkurangnya kemampuan Perum Pegadaian dalam melayani nasabah. Sehari-hari 16% Lain-lain 3% Biaya Sekolah 17% Modal Kerja 56% Sedangkan berdasarkan tingkat pendidikannya. Menurut persepsi nasabah. menyebabkan pada beberapa wilayah masyarakat masih merasa malu untuk berhubungan . Kurangnya sosialisasi/pemasaran produk Perum Pegadaian kepada masyarakat. Komposisi Penggunaan Dana oleh Nasabah Em ergency 5% Brid. berpenghasilan rendah dan mempergunakan dana yang diperoleh dari Perum Pegadaian untuk tujuan produktif. Kondisi tersebut mendorong beberapa nasabah besar untuk beralih ke pemberi pinjaman lainnya seperti pelepas uang.92 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Dengan melihat keunggulan tersebut nasabah Perum Pegadaian pada umumnya tidak terlalu memperdulikan besarnya suku bunga meskipun saat ini relatif tinggi pada kondisi suku bunga pasar yang cenderung menurun. pegadaian gelap atau toko emas. Disamping persepsi positif nasabah tersebut. keunggulan Perum Pegadaian dibandingkan lembaga pemberi pinjaman lainnya terutama adalah dari segi pelayanan kepada nasabah. Financing 3% Keb. mayoritas responden yang banyak berhubungan dengan Perum Pegadaian berpendidikan SLTA (43. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas nasabah mempunyai pendidikan yang cukup. Maret 1999 Grafik 3. sehingga nasabah khususnya nasabah besar mulai merasakan bahwa Perum Pegadaian tidak selalu dapat memberikan pinjaman sesuai permintaan mereka.

sedangkan pada beberapa wilayah kantor Perum Pegadaian lainnya yang diamati sebagian nasabah masih merasa malu untuk berhubungan langsung dengan pegadaian dan lebih suka menggunakan jasa perantara (calo).2 Program Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Perhatian terhadap ekonomi kerakyatan semakin meningkat seiring dengan meluasnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial. (ii) program padat karya dan penciptaan lapangan kerja produktif’ (iii) program perlindungan sosial. 4. merealisasikan berbagai skim kredit program yang dananya berasal dari KLBI (seperti KKPA. meningkatkan pendapatan dan daya beli masyarakat. . Salah satu faktor dalam pemberdayaan ekonomi rakyat adalah pemberian prioritas dan bantuan dalam pengembangan usaha kepada ekonomi lemah. Berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi rakyat tersebut. maka Bank Indonesia mendorong komitmen perbankan dalam melayani usaha kecil (KUK). dll). Realisasi JPS ditempuh dalam empat program. yang diwujudkan dengan berbagai kebijakan untuk menghapuskan berbagai aspek yang menyebabkan inefisiensi dalam perekonomian. 2. Program Jaring Pengaman Sosial (JPS) Program JPS ditujukan untuk menciptakan kesempatan kerja produktif bagi penganggur. 3. Kredit Program Dalam rangka mendorong berputarnya roda perekonomian di lapisan bawah yang saat ini menghadapi kesulitan sumber-sumber pembiayaan/pendanaan di lembaga formal (bank). memberi bantuan teknis yang diarahkan kepada kemitraan dan pendekatan kelompok melalui PPUK. meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat terutama yang terkena dampak krisis serta mengkoordinasikan berbagai program penanggulangan dampak krisis dan berbagai program penanggulangan kemiskinan.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 93 dengan Perum Pegadaian. Namun tidak semua masyarakat merasa malu berhubungan dengan Perum Pegadaian. dan Irian Jaya) serta Kodya Yogyakarta. deregulasi dan privatisasi. terlihat pada beberapa wilayah seperti Ujung Pandang (mencakup Sulawesi. PHBK dan PKM serta mengembangkan kelembagaan keuangan sesuai kebutuhan usaha kecil menengah dan koperasi. Maluku. dan (iv) program pemberdayaan ekonomi rakyat. KKop. investasi. KUT. pemerintah telah menempuh berbagai upaya yang antara lain meliputi : 1. (i) program ketahanan pangan. Reformasi Struktural Sektor Riil Program ini dijalankan melalui reformasi di bidang perdagangan. Semakin berkurangnya kemampuan perbankan dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat dewasa ini semakin membuka peluang bagi Perum Pegadaian untuk berperan lebih besar dalam program pemberdayaan ekonomi rakyat.

Pinjaman yang diberikan pegadaian kepada masyarakat semakin meningkat seiring dengan lonjakan permintaan khususnya sejak krisis ekonomi. yaitu : a. profitabilitas. dengan plafon terendah Rp 5. karena dengan sistem gadai nasabah dididik untuk berupaya mengembalikan pinjaman yang diterima. Perum Pegadaian juga masih memberikan peluang bagi permintaan pinjaman dalam skala yang lebih besar (diatas Rp 20 juta). khususnya jika dibandingkan dengan BPR. Perum Pegadaian juga didukung oleh jumlah dan kualitas pegawai yang cukup memadai. Disamping itu pemberian pinjaman dengan sistem gadai dapat memperkecil moral hazard khususnya dalam penyaluran kredit-kredit bersubsidi. d. Keberpihakan tersebut juga tercermin dalam misi yang ditetapkan dalam periode RJP II untuk ikut meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat golongan menengah ke bawah melalui penyediaan dana berdasarkan hukum gadai secara inovatif dan melakukan usaha lain yang menunjang. Lonjakan tersebut merupakan dampak semakin sulitnya akses masyarakat ke perbankan. Kinerja efisiensi. Kesiapan jaringan kerja dan sumber daya manusia Perum Pegadaian mempunyai jaringan kerja yang sangat luas (633 kantor cabang) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Maret 1999 Potensi Perum Pegadaian tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek. murah dan cepat. Prosedur pengajuan dan pelunasan pinjaman relatif mudah dan cepat. c. Pelaksanaan peran tersebut selama ini dilakukan oleh Perum Pegadaian dengan memberikan pinjaman kepada masyarakat (khususnya masyarakat berpendapatan rendah) dalam skala kecil dengan .94 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Nasabah pegadaian sebagian besar merupakan nasabah mikro dan mayoritas berprofesi sebagai petani. Kinerja yang semakin meningkat Perum Pegadaian merupakan salah satu usaha di sektor keuangan yang masih dapat bertahan di masa krisis ekonomi dewasa ini bahkan menunjukkan kinerja yang semakin meningkat. Suku bunga pinjaman yang dikenakan Perum Pegadaian pada umumnya juga relatif rendah. b. Keunggulan Perum Pegadaian Keunggulan utama Perum Pegadaian dibandingkan lembaga lain adalah prosedur yang mudah. Meningkatnya jumlah pinjaman yang diberikan. Selain jaringan kerja yang sangat luas. e.000 dan tertinggi Rp 20 juta. Potensi Perum Pegadaian untuk berperan dalam pemberdayaan ekonomi rakyat terlihat jelas terutama pada aspek keberpihakan pada masyarakat kecil. likuiditas maupun solvabilitas Perum Pegadaian pada umumnya juga relatif lebih baik jika dibandingkan dengan lembaga lain khususnya BPR dan BRI UDes. Disamping itu. Keberpihakan pada masyarakat khususnya golongan ekonomi lemah Keberpihakan Perum Pegadaian kepada masyarakat khususnya golongan ekonomi lemah terlihat dari relatif kecilnya skala kredit yang diberikan dibandingkan dengan lembaga formal lainnya.

Salah satu produk yang akan dikembangkan yaitu memberikan kredit dengan jaminan surat berharga dan sertifikat tanah. Total nilai pinjaman untuk golongan A pada tahun 1998 sebesar Rp 115. alat rumah tangga (misal : kuali/ panci. Fenomena tersebut nampak jelas di kantor-kantor Perum Pegadaian di wilayah Jawa. PENUTUP 5. pengembangan produk-produk baru diusahakan tetap dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kecil apabila tetap mengacu pada prinsip-prinsip hukum gadai dan misi perusahaan. khususnya di wilayah pantai utara. sepeda dan lain-lain. V. Namun porsi dan nilai pinjaman yang diperoleh golongan ini relatif sangat kecil (rata-rata sebesar Rp 18. terlihat kebijakan Perum Pegadaian untuk mengembangkan produk-produk baru yang di luar lingkup usaha pegadaian. lampu tekan. dengan tetap berpihak pada masyarakat berpendapatan rendah.4% total nasabah. Sejalan dengan perkembangan usaha Perum Pegadaian. Namun rencana tersebut justru menimbulkan kekhawatiran akan terjadi pergeseran dari core business Perum Pegadaian dan orientasi nasabah yang dilayani seperti yang ditetapkan dalam PP No. serta kredit dengan sistem pinjam pakai sebenarnya sudah tidak sesuai dengan prinsip dari hukum gadai yang mewajibkan barang jaminan berbentuk barang bergerak dan dititipkan (tidak boleh dipakai oleh pemiliknya). Apalagi pada beberapa tahun terakhir terdapat kecenderungan di dalam kelompok-kelompok usaha untuk kembali ke core business masing-masing untuk meningkatkan kinerja usahanya.C dan D.000) dibandingkan golongan B. Oleh karena itu.1 Kesimpulan 1.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 95 prosedur dan persyaratan yang mudah dan murah. dll). sendok. Perkembangan Perum Pegadaian dalam tiga tahun terakhir cukup pesat. 10 tahun 1990. Namun perkembangan terakhir menunjukkan kecenderungan pergeseran orientasi pemberian pinjaman ke nasabah besar (golongan D) meskipun Perum Pegadaian masih mempunyai peluang untuk meningkatkan porsi pinjaman untuk nasabah mikro (golongan A). Kecilnya skala pinjaman golongan A tersebut juga terlihat dari jenisjenis barang yang banyak dijadikan agunan seperti : kain.000 – Rp 40. piring.4 miliar atau hanya sebesar 5% dari total omset Perum Pegadaian. Nasabah mikro pada Perum pegadaian tersebut terutama adalah golongan A (dengan nilai pinjaman antara Rp 5.000) pada tahun 1998 mencapai 41. . khususnya tahun 1998 (setahun terakhir) terjadi pelonjakan kinerja terutama karena beralihnya sebagian nasabah perbankan ke Perum Pegadaian. Begitu pula dengan adanya rencana untuk mengembangkan produk-produk pembiayaan lainnya merupakan suatu upaya yang kurang sesuai dengan misi dari Perum Pegadaian yang ingin melayani kebutuhan masyarakat golongan menengah ke bawah.

Perum Pegadaian melakukan penarikan overdraft sangat besar sehingga mengakibatkan penghentian pemberian fasilitas overdraft BRI.96 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Perum Pegadaian mengalami kesulitan likuiditas akibat lonjakan permintaan nasabah dan kurangnya peminat obligasi yang diterbitkan. 5. Keunggulan dalam profitabilitas dan efisiensi tersebut terutama disebabkan oleh tingginya sewa modal yang dikenakan (hampir sama dengan suku bunga perbankan). . serta meningkatkan porsi pemberian kredit bagi golongan A tanpa menimbulkan kerugian bagi Perum Pegadaian. Perum Pegadaian mempunyai beberapa kelemahan struktural yang dapat menghambat peningkatan kinerja dan merupakan potensi timbulnya berbagai penyimpangan yaitu : terlalu luasnya rentang kendali manajemen yang tidak didukung dengan sistem dan sarana pengawasan/pelaporan yang memadai. Secara makro dan jika dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes yang memiliki pasar yang hampir sama. 4. Untuk memenuhi lonjakan tersebut. Meskipun demikian. Hal ini terutama disebabkan oleh perubahan orientasi kebijakan Perum Pegadaian untuk meningkatkan laba serta kenaikan golongan pinjaman karena adanya kenaikan harga barang jaminan.d September 1998. Dalam tiga tahun terakhir telah terjadi pergeseran pemberian kredit dari nasabah kecil ke nasabah besar.5%). sementara dana pelunasan obligasi yang dihimpun (sinking fund) kurang memadai. Suku bunga (sewa modal) yang dikenakan Perum Pegadaian kepada nasabah saat ini relatif tinggi. profitabilitas dan efisiensi. Perum Pegadaian telah ikut berperan dalam kegiatan pembiayaan usaha kecil. Pada periode Agustus s. Peran Perum Pegadaian dalam mendukung pemberdayaan ekonomi rakyat cukup besar terlihat dari jumlah nasabah mencapai 6. Kredit yang diberikan terutama kepada nasabah menengah ke bawah yang pada umumnya bergerak di sektor informal dan tidak memiliki akses ke perbankan. serta sistem manajemen yang sangat sentralistik. Untuk menutupi kekurangan dana tersebut (khususnya modal kerja). C dan D dengan tetap memberikan subsidi bagi golongan A. sumbangan Perum Pegadaian dalam pemberian kredit masih lebih rendah. Perum Pegadaian telah memperoleh fasilitas RDI dari Pemerintah dan KLBI. Jaringan Perum pegadaian yang didukung oleh 633 kantor menjangkau seluruh wilayah Indonesia sampai ke pedesaan. Namun masih terdapat peluang (room) bagi Perum Pegadaian untuk menurunkan sewa modal khususnya untuk golongan B. Perum Pegadaian memiliki keunggulan dalam kualitas pinjaman yang diberikan. 3.6 juta (September 1998) dengan mayoritas merupakan nasabah mikro (40. 7. 6. sementara dana yang diperoleh sebagian besar bersuku bunga rendah. Maret 1999 2.

Hal ini sekaligus dapat mendorong kompetisi untuk meningkatkan efisiensi. 4. 3. Sesuai dengan misi Perum Pegadaian yang didukung oleh sumber dana yang mayoritas bersubsidi. rentabilitas yang lebih baik dibandingkan lembaga formal lainnya. misalnya sebesar 30% . pemerintah hendaknya menetapkan ketentuan yang mengatur batas minimum porsi kredit untuk nasabah kecil (golongan A dan B). namun dari penelitian diperoleh temuan bahwa daerah juga mempunyai potensi pendanaan (sesuai dengan teori RFM). Berdasarkan kinerjanya Perum Pegadaian memiliki potensi untuk berperan dalam channeling pemberdayaan ekonomi rakyat. Dengan mempertimbangkan potensi dan rencana jangka panjang. 5. Perum Pegadaian perlu lebih intensif dalam memonitor nasabah.1 Saran 1.40%. Masalah kesulitan likuiditas dapat diminimalkan apabila sampai batas tertentu kantor daerah diberi kewenangan untuk mencari dana sendiri dengan memanfaatkan potensi daerah setempat (sesuai dengan teori RFM). 6. Di samping itu. Mengingat masih besarnya potensi pasar yang dapat dimanfaatkan oleh lembaga keuangan yang memberikan pinjaman berdasarkan sistem gadai. 2. 7. khususnya bagi Kanca defisit yang sudah lama didirikan dengan tetap mempertimbangkan pelaksanaan misi sosial yang diemban. maka sudah saatnya besarnya sewa modal diturunkan. untuk mengkaji apakah akan melakukan pemindahan kantorkantor cabang tersebut ke lokasi yang lebih strategis atau melakukan penutupan. serta kecenderungan penurunan suku bunga pasar. Perum Pegadaian perlu melakukan evaluasi secara lebih intens terhadap kantor-kantor cabang yang merugikan. nampaknya Perum Pegadaian perlu lebih menekankan pada pemberian kredit daripada melakukan usahausaha lain di luar core usaha Perum Pegadaian. Sistem manajemen pendanaan secara sentralistik yang diterapkan Perum Pegadaian sampai saat ini nampaknya sangat sejalan dengan teori FF. sehingga Kanda berpotensi untuk mencari dana pinjaman sendiri. Untuk mengetahui efektivitas penggunaan kredit dalam rangka pemberdayaan ekonomi rakyat. 5. maka Pemerintah perlu mengkaji kemungkinan pemberian izin bagi perusahaan lain untuk bergerak dalam usaha pegadaian. Namun untuk mewujudkan potensi tersebut Perum Pegadaian harus terlebih dahulu membenahi kelemahan-kelemahan struktural yang ada. .Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 97 8. tersedianya room yang cukup luas. untuk menjaga konsistensi pelaksanaan misi Perum Pegadaian.

maka Perum Pegadaian perlu memperhitungkan biaya dana untuk masing-masing Kanca. Manajemen Keuangan : Teori dan Penerapan (Keputusan Jangka Pendek) Jilid 2. Fred dan Brigham. Laporan-Laporan Keuangan Robinson. Marguerite S (1992). Direktorat Keuangan. Uraian Tugas dan Kegiatan : Direktorat Operasi dan Pengembangan. ___________________. Company Profile Perum Pegadaian ___________________. Pedoman Operasional Kantor Cabang. Rural Financial Intermediation : Lessons From Indonesia Part One The Bank Rakyat Indonesia : Rural Banking. ___________________. Husnan. Penerbit BPFE Yogyakarta. dan Direktorat Umum. Laporan-Laporan Operasional Bulanan dan Tahunan ___________________. Fumio (1986). Harvard University. PERUM PEGADAIAN (1997). maka kebijakan pemberian bantuan likuiditas dengan subsidi bunga kepada lembaga pembiayaan yang berorientasi pada masyarakat menengah ke bawah hendaknya hanya dilakukan dalam jangka pendek atau dalam bentuk sekuritisasi. Surat-Surat Keputusan Direksi Perum Pegadaian. Untuk memperoleh penilaian efisiensi yang lebih riil. ___________________. 9. Tim Analisis Jabatan Perum Pegadaian (1990). Pedoman Pemeriksaan Satuan Pengawasan Intern Perum Pegadaian.98 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Manajemen Keuangan Edisi ke-7 Jilid I (Terjemahan dari Managerial Finance 7th edition). Eugene F (1981). Suad (1985). Weston. 434. DAFTAR PUSTAKA Egaitsu. J. ___________________ (1997). 1970-91. Rural Financial Markets : Two School of Thoughts. Prospektus Obligasi V Perum Pegadaian Tahun 1998. Tokyo : Asian Productivity Organization. Penerbit Erlangga Jakarta. dalam Farm Finance and Agricultural Development. Harvard Institute for International Development. Untuk menghindarkan terjadinya distorsi suku bunga pasar. Maret 1999 8. . Development Discussion Paper No.

pemensiunan. promosi. bertugas untuk mengkoordinasikan dan mengedalikan penyelenggaraan kesekretariatan pimpinan. bertugas untuk membina penyaluran kredit gadai. kesejahteraan serta pengembangan manajemen 2. Subdit Kepegawaian (KP). 3. prosedur dan wilayah operasi serta bentuk usaha lain berdasarkan peraturan yang berlaku dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan. bertugas untuk mengkoordinasikan dan melaksanakan penelitian dan pengembangan jenis. surat berharga. Subdit Anggaran dan Permodalan (AP). 7. bertugas untuk mengkoordinasikan penyusunan rencana anggaran. verifikasi. bank. kebutuhan modal kerja dan pengalokasian modal kerja serta investasi lainnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka menjamin kontinuitas keuangan perusahaan. Subdit Akuntansi (AK). penyelenggaraanpembukuan dan penyajian laporan keuangan perusahaan serta pengembangan sistem informasi keuangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka pengendalian keuangan perusahaan. kepangkatan. Subdit Kesekretariatan Perusahaan (SP). pengalokasian dana. kepustakaan dan pengelolaan produk hukum serta pemberian pertimbangan hukum sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan tugas pimpinan perusahaan. bertugas untuk mengkoordinasikan pengelolaan kas.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 99 LAMPIRAN Lampiran 1 Tugas masing-masing Kepala Sub Direktorat 1. 5. Subdit Perbendaharaan (PB). perpajakan. gaji. urusan kehumasan. pemindahan. 6. pemberhentian. pengadaan dan penyelenggaraan pengangkatan. Subdit Operasi dan Pengembangan (OPP). bertugas untuk mengkoordinasikan penyusunan formal. jasa dan mengembangkan kegiatan pemasaran serta mengkoordinasikan pengolahan dan dan penyajian statistik perusahaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku sebagai bahan pertimbangan pimpinan dalam rangka meningkatkan pendapatan perusahaan. Subdit Penelitian dan Pengembangan Operasi (LB). bertugas untuk mengkoordinasikan evaluasi. sistem. 4. . pengevaluasian pelaksanaan anggaran. perjalanan dinas dan tunjangan serta pelaksanaan penagihan piutang perusahaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan tugas.

. 11. urusan rumah tangga dan perlengkapan kantor agar pelaksanaan tugas berjalan lancar dan terpadu. bertugas mengkoordinasikan penyelenggaraan pengelolaan database dan jaringan serta pengembangan dan pengimplementasian sistem dalam menunjang kegiatan operasional perusahaan. Subdit Bangunan (BG). Kepala Pusat Pengembangan Teknologi Informasi (Kapus TI). pengadaan denah. bertugas mengkoordinasikan perencanaan pengembangan program penyelenggaraan dan evaluasi pelaksanaan pendidikan dan pelatihan serta penyusunan laporannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar penyelenggaraan diklat berjalan lancar dan terpadu. 10. Kepala Balai Diklat (Kabal Diklat). pengurusan persewaan bangunan. 8. bertugas untuk mengkoordinasikan pembuatan disain bangunan pemrosesan pelaksanaan pembangunan atau perbaikan. 9. pemilikan hak atas tanah. izin mendirikan bangunan dan penghapusan serta penyelenggaraan tata usaha pembangunan atau perbaikan bangunan prasarana dan rumah jabatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka penyediaan sarana kerja yang memadai untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas. Subdit Tata Usaha dan Rumah Tangga (TURT).100 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. bertugas untuk mengkordinasikan pengurusan ketatausahaan. Maret 1999 perusahaan berdasarkan peraturan yang berlaku dalam rangka pembinaan kepegawaian dan peningkatan kesejahteraan pegawai.

VIII.171 811 591 31 4. Pandang Semarang Yogyakarta Surakarta Surabaya Malang Jember Denpasar Balikpapan Kupang 35 36 44 49 49 45 56 53 50 51 37 31 22 17 575 42 39 55 51 55 47 56 53 52 51 37 41 31 23 633 JUMLAH Lampiran 3 Komposisi Pegawai Tetap Perum Pegadaian Jenjang Karir Manajemen Puncak Manajemen Menengah Manajemen Pelaksana Staf Administrasi Tingkat Pendidikan SD SLTP SLTA D3 S1 S2 TOTAL 982 465 2. III.129 954 437 2. 1998 4 45 794 3.817 1995 4 34 742 4. IV.303 897 468 14 5. XII. Medan Padang Jakarta Bandung U. V. X. XI.118 803 655 35 4. VII.050 Okt.183 885 404 2.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 101 Lampiran 2 Jumlah Cabang yang Dibawahi oleh Setiap Kanda KANDA JUMLAH CABANG JUMLAH ANAK CABANG 7 3 11 2 6 2 0 0 2 0 0 10 9 6 58 TOTAL I. XIII.442 814 511 25 5.893 829 377 2.365 1997 4 45 794 4. VI. XIV.349 1996 4 34 780 4. II.974 . IX.

Saham PT.500 5.000 3.150 Pinjaman yg.BRI .Saham PT.Saham PT. BNI Dana Berbunga . Dua Satu Tiga Puluh) Sumber : Perum Pegadaian .500 2.150 (Juta rupiah) 1998 Per-30 Sep.Saham PT. Danareksa Fund MGT. Maret 1999 Lampiran 4 Penanaman Dana Perum Pegadaian Jenis Penanaman 1997 Per-31 Des 526.000 500 -2.000 2.500 65. Cadangan penurunan nilai surat berharga Penyertaan (Dalam bentuk 500 lembar saham PT.000 -1.320 1.102 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Diberikan Deposito .Saham PT.351 50 70 1.176 50 70 876 2.768 1.243 10.000 2.Saham PT. BIG Palapa . Semen Gresik (Sertifikat Bukti Right) .000 2. Danareksa Seruni .000 7. Bahana Dana Selaras .751 70. 756.500 5.000 2.BEII Surat Berharga .Saham PT. Semen Gresik .

Dalam hal ini Perum Pegadaian membuat tiga kriteria harga pasar yaitu harga pasar pusat (HPP).50% 2.25% 2. minimum Rp 8.000-1. HPS adalah harga pasar barang-barang gudang yang didasarkan pada harga pasar barang baru (toko) di daerah setempat. 2. Perum Pegadaian mengacu kepada harga pasar. 1.000 510.000 >2. Harga Pasar Daerah HPD adalah harga pasar yang ditentukan oleh Kanda dengan memperhatikan toleransi maksimum 4% di atas HPP dan 2% di bawah HPP.000 ke atas) • Biaya PA dengan jaminan Mobil ditetapkan 0.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 103 Lampiran 5 Tabel Sewa Modal dan Biaya PA masing-masing Golongan Gol Uang Pinjaman Sewa Modal Per 15 Hari Per Tahun A B C D D 5.25% 2.000 (pembulatan Rp 500 ke atas) • Biaya PA gol.000-5. minimum Rp 10.25% 2.000 40. harga pasar daerah (HPD) dan harga pasar setempat (HPS).000 151. DK u/ UP > Rp 1.000.5%XUP. M=Mobil.5%XUP.000 (pembulatan Rp 1.5 juta ditetapkan 0.50% 3.00% Maksimum Jangka Waktu Kredit 120 120 120 120 120 hari hari hari hari hari Keterangan : K=Kantong. G=Gudang.50% 1.000-40.000 (pembulatan Rp 1.000-500.25% 2.500-150. 3. Harga Pasar Setempat. yang direvisi minimum tiga .000 1.50% 2.500. DG selain mobil u/ UP > Rp 1. Harga Pasar Pusat HPP adalah harga pasar emas/perak/permata yang ditetapkan oleh Kanpus sebagai patokan umum baik bagi Kanda maupun Kanca berdasarkan perkembangan harga pasaran umum dengan memperhitungkan kecenderungan perkembangan harga di masa mendatang. UP=Uang Pinjaman • Biaya PA gol.000 ke atas) Lampiran 6 Jenis-jenis Harga Pasar Untuk menentukan nilai barang jaminan yang akan digadaikan oleh masyarakat.5 juta ditetapkan 0.500.5%XUP.25% 2. minimum Rp 25.

2. 2.Golongan D s/d Rp 5 juta = 85% . yaitu dengan mencocokkan jumlah barang yang ada di gudang dengan saldo menurut buku gudang. c. Penghitungan barang jaminan ini dilakukan minimal sepuluh kali dalam satu bulan. f. 3. Barang jaminan yang sudah ditetapkan sebagai BSL pada buku Redister Barang Sisa Lelang (RBSL). d. 4. Kegiatan ini dilakukan minimal 3 kali sebulan untuk cabang kelas III.Golongan D > Rp 5 juta = 84% Lampiran 7 Kegiatan pemeriksaan barang jaminan di gudang 1. Buku Uang Kelebihan eks BSL. kerapihan dan keamanan gudang berserta isinya. kemudian ditentukan besarnya persentase uang pinjaman terhadap taksiran menurut masing-masing golongan yaitu : . e. Meskipun demikian dalam jangka waktu 2 bulan tiap-tiap rubrik/golongan/ribuan harus sudah pernah dihitung sebanyak dua kali. Buku Gudang dikreditkan sejumlah BSL. Pemeriksaan isi barang jaminan. Pemeriksaan buku gudang yang dilakukan setiap hari. maka adanya BSL pada setiap lelang tidak perlu dicatat pada Berita Acara Lelang (BAL). Buku Ikhtisar Kredit dan Pelunasan bulan kredit yang bersangkutan dikredit sebesar uang pinjaman BSL. Berdasarkan harga-harga pasar di atas. . dan minimal 60% dari tiap rubrik/golongan/ribuan telah dihitung untuk ketiga kalinya.104 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Dengan demikian BAL hanya berisi data barang jaminan yang laku dilelang saja. Buku Kredit yang bersangkutan pada nomor yang menjadi BSL sebagai penghapusan b. Karena BSL diakui dan dicatat sebagai mutasi aset. yaitu dengan mencocokkan fisik barang jaminan dengan keterangan pada SBK dwilipatnya (lembar II/kopinya). Maret 1999 bulan sekali. sedangkan cabang kelas I dan II minimal satu kali sebulan oleh Kacab. Laporan Bulanan Operasionalatas penambahan BSL.Golongan A = 90% . Menghitung barang jaminan. Pemeriksaan ini dilakukan setelah penghitungan barang jaminan selesai dilaksanakan. yaitu dengan melakukan pemeriksaan secara langsung ke dalam gudang tentang kebersihan. Lampiran 8 Administrasi dan Pembukuan Barang Sisa Lelang (BSL) 1. Meronda gudang.Golongan B dan C = 85% . Buku Kas didebet sebagai pelunasan dan dikredit pembelian BSL. Kemudian berdasarkan RBSL tersebut dibukukan pada : a.

Sebelumnya. · · 2 .Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 105 Lampiran 9 1. Kelebihan kredit yang ditarik tersebut dikenakan suku bunga pasar sebesar 71% per tahun. makin sedikitnya sumber pendanaan yang ada menyebabkan Perum Pegadaian mengurangi batas nilai kredit maksimum. permintaan terhadap jasa Pegadaian meningkat pesat sehingga masing-masing cabang Pegadaian melakukan penarikan dana dari BRI dalam jumlah cukup besar. tidak diijinkan untuk menjualnya. BSL yang diminta oleh Hakim/Jaksa/Polisi harus diselesaikan menurut peraturan yang berlaku. Kesulitan likuiditas yang dialami Perum Pegadaian antara lain akibat dihentikannya fasilitas kredit dari BRI. Sejak terjadinya krisis ekonomi. Penyelesaian Barang Sisa Lelang (BSL) Dijual di bawah tangan Pedoman harga penjualan BSL ditetapkan sebagai berikut : a) BSL Perhiasan Emas Penjualan BSL jangka waktu kurang dari 30 (tiga puluh) hari. Pengiriman BSL ini dibukukan sebagai Rekening Antar Kantor (RAK). Selisih lebih atau kurang atas penjualan ini dibukukan sebagai laba/rugi perusahaan. Hal ini menyebabkan kredit yang ditarik secara keseluruhan melebihi plafon yang ditentukan (overdraft) sehingga BRI menghentikan fasilitas tersebut pada bulan Agustus 1998. Beban suku bunga pendanaan yang tinggi menyebabkan Perum Pegadaian menaikkan sewa modalnya seperti terlihat dalam tabel di atas. Sebelum mendapat keputusan penurunan harga jual dari Kakanda.75 miliar (suku bunga 36 %) yang secara langsung dapat ditarik oleh cabang-cabang Perum Pegadaian melalui kantor-kantor cabang BRI setempat yang telah ditentukan.7% Penjualan BSL jangka waktu lebih dari 30 (tiga puluh hari s/d 60 (enam puluh hari) dijual sebesar Harga Pembelian x 105%. Di samping itu. b) BSL Non-Emas Diusahakan BSL harus sudah terjual dalam jangka waktu 30 (tiga puluh hari) namun demikian apabila dalam jangka waktu tersebut belum laku terjual. Perum Pegadaian diberikan fasilitas kredit oleh BRI sebesar Rp 181. dijual sebesar Harga Pembelian x 109. Kacab dapat mengusulkan penurunan harga jual kepada Kakanda. Pedoman penurunan harga jual secara bertahap sesuai kebijakan Kakanda. atau kebijakan lain dari Kakanda atas usul penurunan harga jual yang telah diajukan sebelumnya. mutasi aktiva dan harus mendapat izin dari Kakanda dan penjualannya di tempat yang baru harus memperhitungkan biaya pengirimannya. Dimutasikan Antarcabang BSL emas atau non-emas sebelum diusulkan penurunan harga jualnya dapat juga diupayakan penjualannya di kantor cabang yang berada di daerah lain yang diyakini dapat terjual lebih cepat.

106 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 107 .

108 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 109 .

Maret 1999 .110 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 111 .

112 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 113 .

Maret 1999 .114 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 115 .

Maret 1999 .116 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Uang hasil transaksi ilegal (obat bius/ narkotika. Bank Indonesia Delfianto Ras : Dealer Yunior pada Dealing Room. Urusan Devisa. terorganisasi rapi dan profesional. perbankan internasional khususnya International Offshore Banking Centres (IOBC) dengan segala aspek perlindungan data serta keleluasaan pajaknya telah menjadi lembaga intermediasi yang sangat diminati oleh para money launderer. serta implikasi yang timbul sehubungan dengan peranan bank sebagai lembaga intermediasi. *) Haryadi Ramelan : Dealer pada Dealing Room. layering ataupun integration. Ketidakberhasilan dalam menggalang kerjasama internasional dalam memerangi money laundering akan menimbulkan risiko perubahan variabel permintaan uang yang tak terduga. suap/korupsi/ manipulasi serta fraud perbankan) telah menjadi “legal” dalam dunia bisnis di pasar keuangan internasional. teknik-teknik. Kajian ini diharapkan akan mampu memberikan gambaran serta perbaikan-perbaikan yang memadai dan perlu dilakukan oleh masyarakat keuangan internasional dalam upaya pencegahan maupun penindakan terhadap kegiatan money laundering. Namun pada sisi yang lain. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran awal tentang kegiatan money laundering. volatilitas yang sangat besar pada modal internasional dari transfer asset antar negara yang tidak terantisipasi. Urusan Devisa. sumber-sumber regulasi. dan Delfianto Ras*) Perkembangan teknologi perbankan internasional dalam dekade terakhir ini telah memberikan jalan bagi tumbuhnya jaringan-jaringan perbankan yang semula lokal/regional menjadi suatu lembaga keuangan yang global. Bank Indonesia . risiko pada kesehatan perbankan. yang dari tahun ke tahun semakin canggih. batasan. senjata gelap.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 117 KAJIAN AWAL TENTANG MONEY LAUNDERING SERTA IMPLIKASINYA DALAM PASAR KEUANGAN INTERNASIONAL Hariyadi Ramelan. efek kontaminasi pada transaksi keuangan yang legal. Kecenderungan tersebut ternyata juga memberikan kesempatan bagi para pelaku money laundering untuk turut memanfaatkan kecanggihan jaringan layanan perbankan. Dalam posisi ini. juga merupakan lembaga yang sangat rentan terhadap proses placement.

Kedua bank juga terbukti bersalah dan mengaku bertanggung jawab penuh bahwa karyawan-karyawan banknya telah melakukan money laundering atas hasil-hasil ilegal narkotik. London. Dalam kasus black hole di atas. Hal ini antara lain ditandai dengan semakin maraknya International Offshore Banking Centers (IOBC) di berbagai belahan dunia seperti Gambar 1. tidak hanya dari para kriminal namun juga dari perusahaan-perusahaan dan bahkan pemerintahan. 1996. Dua bank besar tersebut diharuskan membayar denda masingmasing USD 9. bila sebuah komoditas diimpor dan dibayar. Hal tersebut paling tidak terbukti pada hasil “Operation Cassablanca” yang berlangsung akhir bulan Maret 1999.118 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. namun tidak ada catatan bahwa seseorang telah menerima pembayaran tersebut. penjumlahan total nilai import dan pembayaran bunga seharusnya sama dengan total nilai ekspor dan penerimaan bunga. Chapman & Hall. yakni Bancomer dan Banco Serfin dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Federal (Fed Court) Los Angeles. Contoh-contoh tersebut hanya menggambarkan situasi mikro dari satu konsekuensi bercampurnya “uang halal” yang secara resmi masuk dalam hitungan otoritas moneter dengan uang haram yang merupakan hasil kegiatan melawan hukum dalam bisnis keuangan internasional. Samuel. J. Pada saat yang bersamaan di London. pp.22-23. Management of Company Finance. saat ini perkembangan pasar keuangan internasional telah memungkinkan terbukanya peluang untuk menampung rekening secret money. 1) uang yang dibayarkan untuk barang atau jasa-jasa tersebut tidak pernah tercatat oleh perusahaan/ individu yang umumnya dengan berbagai alasan antara lain untuk menghindari pajak ataupun karena transaksi tersebut ilegal (manipulasi oleh perusahaan swasta. . Maret 1999 I. Hal kedua tersebut diakui sebagai masalah yang pelik namun realitasnya memang terdapat permintaan pasar yang cukup kuat untuk secret money. 6th Ed. Secara teoritis dan teknis. Secara lebih rinci. Pendahuluan he war against money launderer is not over .M et al. Kalimat tersebut nampaknya bukan sekedar slogan kosong bagi Pemerintah Amerika Serikat dalam memberantas kegiatan money laundering. dll). T Pada situasi global. kegiatan money laundering dalam konsep akuntansi internasional ternyata mampu menjelaskan adanya defisit neraca transaksi berjalan dunia.9 juta dan USD 4. Dua bank besar Mexico. Sejalan dengan praktek money laundering tersebut. Dinas Pajak Dalam Negeri Inggris melakukan razia terhadap 2 kantor akuntan besar dan juga rumah pengacara serta akuntan yang terbukti berupaya menghindari objek pajak yang diperoleh dari money laundering. 1.7 juta. Lantas kemanakah uangnya? Beberapa sebab dapat dikemukakan seperti statistical error atau (bukan mustahil) adanya secret money. suap kepada pejabat pemerintahan. dalam kasus money laundering.

_____________. Kedua. pengawasan melekat terhadap uang (dirty money) harus dipertahankan. . II. Ketiga. jejak proses pencucian uang harus disamarkan dalam upaya menghilangkan jejak jika seseorang menelusuri proses uang dari awal hingga akhir. ada empat faktor yang umum terdapat dalam kegiatan money laundering. Batasan. serta implikasinya bagi pelaku-pelaku transaksi-transaksi perbankan internasional seperti bankir. yakni sebagai suatu proses dimana para kriminal berupaya untuk menyembunyikan sumber dan kepemilikan hasil-hasil aktivitas kriminal yang melawan hukum. Dengan memiliki pemahaman yang cukup memadai. 1997.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 119 Berkaitan dengan permasalahan tersebut. Annual Report. Batasan dan Proses Kegiatan Money Laundering Tak ada batasan money laundering secara umum. Bagian Ketiga. Angka ini secara ekstrim dapat diartikan bahwa bisnis money laundering merupakan bisnis terbesar ketiga di dunia setelah forex market dan bisnis minyak dunia. Keempat. Teknik dan Regulasi dalam Kegiatan Money Laundering A. batasan. 2. Secara rinci. regulator atau lembaga lain yang berwenang (bank sentral) serta pelaku-pelaku pasar finansial lainnya. maka diharapkan dapat diupayakan langkah-langkah efektif untuk mencegah terjadinya money laundering maupun langkah-langkah represif seandainya money laundering terjadi dengan tetap mengacu pada Undang-undang ataupun regulasi yang berlaku secara internasional. yakni 2-5% dari GDP dunia. bentuk pengambilan uangnya harus diubah. proses kegiatan dan pelanggaran money laundering. Dalam textbook. mengupas beberapa implikasi yang sifatnya represif dan antisipatif terhadap kegiatan money laundering dan Bagian Keempat berisi Kesimpulan akhir. bagian kedua tulisan ini akan memaparkan batasan. trend dan teknik umum yang digunakan. International Monetary Fund (IMF) 2) berpendapat bahwa money laundering merupakan salah satu ancaman paling serius bagi masyarakat keuangan internasional khususnya dan sistem keuangan global pada umumnya. namun demikian money laundering secara khusus dapat diartikan pencucian uang (laundering money from illicit proceeds). Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain memberikan gambaran yang menyeluruh berkaitan dengan kegiatan money laundering. yang besarnya mencapai 300 – 400 milyar USD. pemilik uang dan sumber sesungguhnya uang tersebut harus disembunyikan. Pertama. Sebagai gambaran turn over kegiatan money laundering saat ini telah melampaui batas imaginasi. The Finacial Action Task Force on Money Laundering.

Maret 1999 .120 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Spin Dry (Repatriation and Integration) Spin dry merupakan gabungan dari langkah repatriasi dan integrasi. Placement (Penempatan Dana) Penempatan dana merupakan proses awal dalam money laundering yang ditandai dengan penyerahan secara fisik uang yang dihasilkan dari aktivitas melawan hukum seperti perdagangan narkotika. Proses yang terjadi adalah apabila hasil-hasil ilegal dari money laundering masuk kembali ke dalam sistem keuangan dan muncul sebagai dana-dana bisnis yang wajar/ normal. forex market. The Financial Action Task Force on Money Laundering. 1998. Annual Report. teknik-teknik yang dilakukan dalam pencucian uang dapat dikategorikan dalam 2 cara umum yakni: 1. senjata gelap. Cara lain yang juga relatif konvensional adalah menggunakan pedagang valuta asing. penipuan/ penggelapan (fraud) serta hasil-hasil korupsi. . 3. 1997. ____________. Pocket Books.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 121 Secara kronologis. Robinson. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk menghilangkan jejak atau upaya audit sehingga seolah-olah merupakan transaksi finansial yang legal. lawyers maupun akuntan pribadi. Secara ringkas. B. Cara tradisional. Teknik-Teknik Money Laundering Berdasarkan survey yang dilakukan oleh The FATF 4) (The Financial Action Task Force) sepanjang tahun 1996-1997. kegiatan money laundering biasanya terdiri atas 3 proses yang berkelanjutan yakni: 1. 2. Jeffrey. Cara tradisional dalam money laundering adalah dengan cara menyelundupkan secara fisik uang tunai hasil transaksi ilegal ke luar negeri (perbatasan nasional suatu negara). Laundrymen. Langkah lain yang sering dilakukan adalah menciptakan sebanyak mungkin account dari perusahaan fiktif/semu dengan memanfaatkan aspek kerahasian bank dan keistimewaan hubungan antara nasabah bank dan pengacara. obat-obatan terlarang. J. proses pencucian yang dapat dilihat pada Gambar 2. Proses Pencucian Uang. Penggerebekan yang terjadi di London pada contoh 3. 1998) 3). Layering (Pemilahan Dana) Layering atau heavy soaping merupakan langkah kedua dalam money laundering yang ditandai dengan pemilahan hasil-hasil ilegal tersebut dari sumber-sumber asalnya melalui pembelian/transaksi-transaksi finansial seperti bearer bonds. Langkah ini disebut juga sebagai immersion yang merupakan gabungan dari consolidation dan placement (Robinson. stocks. London 4.

Maret 1999 .122 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

serta bertindak sebagai bankir dari kelompok Abu Nidal. mengakibatkan BCCI beroperasi bebas dari peraturan pemerintah selama 15 tahun. Meskipun kantor pusat BCCI di London. Pada musim semi tahun 1990 IML dapat menemukan beberapa bukti penggelapan dan pada Juli 1991 perusahaan akuntan Price Waterhouse menemukan dokumen serta menyerahkan pada Bank of England.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 123 kasus di atas jelas menunjukkan kecurangan seorang pengacara/akuntan dalam menyembunyikan hasil-hasil kejahatan seperti money laundering. aplikasi ke tiga cara ini dalam sistem pembayaran masih relatif belum termanfaatkan. Kerugian deposan . Bank sebagai money launderer Salah satu contoh yang sangat berharga berkaitan dengan kasus money laundering adalah skandal yang dilakukan oleh The Bank of Credit and Commerce International (BCCI) pada tahun 1991. internet/ network based systems dan hybrid systems. Inc”. Penggelapan uang tersebut tidak hanya menjadi kegiatan bayangan BCCI. serta accountant. Bagaimana BCCI menjalankan aktivitas penggelapan dalam waktu yang cukup lama? Jawabannya adalah sulitnya mengatur bank yang beroperasi di banyak negara. Bank yang didirikan di Luxembourg tahun 1972 oleh pengusaha Pakistan (Agha Hasan Abedi). Namun sayangnya bank tersebut mengirimkan dananya ke rekening rahasia di Cayman Islands. 2. Cara-cara Modern. tetapi masih belum dapat menelusuri aktivitas bank tersebut.1. selanjutnya BCCI dinyatakan ditutup. Manuel Noriega (Panama) dan Ferdinand Marcos (Philipina) dalam mencuri uang dari negaranya. ciri-ciri yang sering dilakukan oleh money launderer antara lain menggunakan institusi yang terkait (perbankan) serta Pedagang Valuta Asing (PVA). lawyer. namun lemahnya peraturan bank oleh Institut Monetaire Luxembourgeois (IML) di Luxembourg. IML mencapai persetujuan dengan tujuh negara dimana BCCI beroperasi. 2. namun BCCI diperkirakan juga membantu diktator seperti Sadam Hussein (Irak). Pada tahun 1987. Hal yang sulit untuk dilacak justru hasil-hasil ilegal yang ditransfer melalui International Electronic Fund Transfer. Diperkirakan hampir setengah assets bank telah hilang (disappeared). dalam perjalanannya asset bank tumbuh dengan cepat hingga mencapai USD 20 milyar dan mempunyai cabang di 70 negara. Berkembangnya teknologi baru dibidang perbankan antara lain elektronic money (e– money) telah memberikan ancaman baru dalam teknik money laundering yang lebih canggih. Berdasarkan pengalaman di Inggris. dimana tempat tersebut banyak uang hasil curian. Tiga cara yang mungkin dilakukan adalah melalui : Stored value cards. Namun demikian. Tidaklah mengejutkan bila BCCI diplesetkan artinya menjadi “Bank of Crook and Criminals.

the Basle Committee baru mengumumkan dan menyetujui standarisasi dari peraturan bank internasional. Mengapa demikian. perlu adanya aturan hukum yang mengikat secara internasional dan berkekuatan hukum yang tetap. Melalui transaksi beberapa jenjang tersebut pada level terbawah yaitu pada level nasabah third bank tersebut para money launderers banyak melakukan aktivitasnya untuk memasukkan dananya ke dalam sistem jasa keuangan bank. orang dan modal secara leluasa di seluruh Eropa. Setahun setelah BCCI colapse. Rezim yang dapat dijadikan contoh untuk pencegahan kegiatan money laundering adalah Inggris. beberapa ketentuan perundangan telah disahkan oleh oleh Parlemen Inggris. layering dan integrasi. Pasar finansial London yang terkenal dengan kemajuan dan transparannya sangat memberi peluang untuk memuluskan tahapan-tahapan kegiatan money laundering. apakah itu placement. Kondisi ini lebih membuka peluang setelah diperkenalkan Euro sebagai mata uang tunggal Eropa yang secara tidak langsung telah menurunkan kontrol dan hambatan-hambatan dalam rangka pasar tunggal Eropa. Berkaitan dengan upaya untuk mencegah dan memerangi kegiatan money laundering tersebut. Rentannya lembaga-lembaga tersebut dari kegiatan money laundering dimungkinkan baik dalam proses placement. Ketentuan Primer (Tier 1) 1) Drug Trafficking Offences Act 1986 (DTOA) 2) Criminal Justice Scotland Act 1987 (CJSA) . 2.2 Payable through account Salah satu cara yang juga tergolong cukup modern dan sering digunakan oleh money launderers adalah payable through account (lihat Gambar 3). jasa.124 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Pada gambar tersebut diilustrasikan adanya pembelian US bonds yang pembayarannya dilakukan melalui account oleh client bank yang kemudian diperjual belikan pada level nasabah client bank tersebut (third bank) dan diteruskan pada level nasabah third bank. Maret 1999 dan pemegang saham dari colapse-nya BCCI sudah tak terhingga dan pengawas bank dalam hal ini Bank of England sulit disalahkan atas kelambanan menuntaskan skandal tersebut. C. yakni antara lain: 1. layering maupun integration. karena London sebagai salah satu pusat pasar keuangan terbesar dunia. bank ataupun lembaga finansial lainnya merupakan lembagalembaga yang sangat rentan bagi kemungkinan penyusupan hasil-hasil transaksi ilegal (secret money). merupakan target yang menarik bagi para pencuci uang. Regulasi Kegiatan Money Laundering Sebagaimana diketahui. khususnya untuk mobilitas barang-barang. Dalam rangka merespon hal-hal tersebut di atas.

Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 125 .

yang sangat berpotensi dimanfaatkan pihak lain untuk money laundering. f) Pendidikan dan Pelatihan. Dalam kaitan ini. pencatatan yang berhubungan dengan pembukaan rekening nasabah baru (client) atau identitas counterparty dan pencatatan yang berhubungan dengan transaksi yang dilakukan oleh client atau counterparty. apa jenis informasinya. dan sejenisnya untuk membuat sistem untuk menghalangi terjadinya money laundering.lembaga keuangan adalah sebagai berikut: a) Sistem Kontrol. Prosedur pelaporan antara lain mencakup laporan identifikasi orang dalam suatu organisasi. (NIEPA) Criminal Justice Act 1993 (CJA93) 2. pencatatan dapat dibagi dua yaitu. Peraturan tersebut mensyaratkan bagi semua lembaga keuangan. Cooperation) Act 1990 (CJCA) Criminal Justice (Confiscation) ( Northern Ireland) Order CJO 1990 Northern Ireland Act 1991. Prosedur ini sangat dibutuhkan bagi seluruh personil perbankan dan lembaga terkait . masalahmasalah yang muncul dan pegawai yang menanggulanginya. pendapat orang yang menanggulangi masalah tersebut dalam upaya meningkatkan pengetahuan terutama mengenai dasar kecurigaan terhadap orang yang melakukan money laundering. Setiap calon nasabah harus diidentifikasi dan diverifikasi bahwa yang bersangkutan memang memenuhi syarat sebagai applicant for business.126 3) 4) 5) 6) 7) 8) Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 Criminal Justice Act 1988 (CJA88) Prevention of Terrorism (Temporary Provisions) Act 1989 (POTA) Criminal Justice (Int. kepada siapa informasi tersebut harus dibuat. Ketentuan ini menjamin pegawai dari waktu ke waktu diberikan kesempatan mengikuti pelatihan dalam upaya mengenali dan menguasai transaksi yang dilakukannya sendiri atau atas nama orang lain . Ketentuan Sekunder (Tier 2) Ketentuan sekunder yang merupakan bentuk dari Money Laundering Regulation 1993 secara khusus ditujukan pada lembaga keuangan. Sistem ini berupa peraturan yang meliputi prosedur internal control dan komunikasi tepat pada lembaga-lembaga keuangan yang bertujuan mencegah dan menghalangi terjadinya money laundering. Prosedur pencegahan terhadap terjadinya money laundering yang umumnya digunakan pada lembaga. c) Uji/Pemeriksaan atas Transaksi. e) Pelaporan. d) Pencatatan. b) Identifikasi dan Verifikasi.

4. atau pegawai yang mengetahui atau mencurigai orang lain melakukan money laundering . bisnis. dan green book untuk bisnis asuransi. yaitu: a) Membantu seseorang untuk menyimpan hasil-hasil kejahatan. b) Mengakuisisi . memiliki . d) Menggagalkan usaha penyingkapan atau kecurigaan dari praktek money laundering. Tindakan ini digolongkan sebagai pelanggaran bagi seseorang yang memberikan bantuan kepada money launderer untuk memperoleh. g) Tindakan hukum. menguasai. dan menggunakan hasil dari kegiatan kriminal. seluruh atau sebagian penerimaan yang berasal dari kegiatan kriminal. Ketentuan Tambahan (Tier 3) Ketentuan tambahan ini lebih merupakan petunjuk teknis yang diterbitkan oleh The Joint Money Laundering Steering Group (JMLSG) yang ditujukan bagi bank-bank dan lembaga keuangan lainnya. melakukan transfer atau menyembunyikan kekayaan dari pengadilan baik secara langsung maupun tidak langsung. c) Menyembunyikan atau mentransfer penerimaan untuk menghindari tindakan pencegahan atau perintah penyitaan. mengubah. menyembunyikan. asuransi dan lembaga investasi lainnya. Prosedur ini merupakan langkah terakhir yang harus dilakukan dan biasanya berupa investigasi oleh National Criminal Inteligent Service (NCIS). Pelanggaran Hukum dalam Money Laundering Berdasarkan perundangan di Inggris (Criminal Justice Act 1993/ CJA) tersebut di atas. 3. menyamarkan. yellow book untuk bisnis investasi swasta. Buku ketentuan ini biasanya disebut sebagai the read book untuk perbankan. profesi. atau menginvestasikan dana jika dana yang bersangkutan diketahui atau dicurigai merupakan hasil penerimaan kriminal. Seseorang dianggap bersalah melakukan pelanggaran jika dia mengetahui sebagian atau keseluruhan kekayaan orang lain baik secara langsung atau tidak langsung berasal dari hasil kejahatan. CJA mensyaratkan siapapun sehubungan dengan transaksi yang dilakukan.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 127 dalam upaya peningkatan kualitas pemahaman terhadap pekerjaan yang dijalani serta kontribusinya terhadap pengawasan internal. Dibawah aturan CJA seseorang dianggap melakukan pelanggaran apabila menyembunyikan. dan secara langsung atau tidak langsung dia menguasai atau menggunakan atau memiliki kekayaan tersebut. terdapat 5 pelanggaran utama yang dapat dikategorikan sebagai tindakan money laundering.

CJA hanya mentolerir kesalahan atas kecurigaan yang dilaporkan dengan alasan yang dapat diterima. that promote high ethical and professional standards in the financial sector and prevent the bank being used. BIS melalui Basle Committee pada bulan September 1997 juga menetapkan prinsip utama dalam supervisi perbankan yang efektif yang berbunyi “ Banking supervisor must determine that banks have adequate policies. by criminal elements”. kegiatan money laundering memiliki dampak instabilitas pada sistem finansial dunia. Kondisi ini memberikan suatu implikasi yang sangat luas dan kompleks dalam upaya menciptakan kestabilan masyarakat global di pasar finansial. Rekomendasi ini merupakan kunci utama dalam pemahaman konsep “know your customer” approach. . Sejalan dengan hal tersebut. FATF memberikan 40 rekomendasi langkah-langkah utama dalam memerangi kegiatan money laundering. Beberapa Upaya Represif dan Antisipatif terhadap Kegiatan Money Laundering Sebagaimana diuraikan di atas. Implikasi tersebut menuntut adanya suatu langkah kerjasama preventif dan represif yang berskala internasional terhadap kegiatan money laundering. practices and procedures in place. Maret 1999 harus melaporkan informasi tersebut pada polisi sesegera mungkin. intentionally or unintentionally. Suatu pemaksaan terhadap keterbukaan konsumen atau pihak ketiga untuk menyampaikan informasi pada pihak yang berwenang bahwa telah terjadi praktek money laundering atau adanya rencana money laundering. III. Dalam kaitan di atas. yang secara pokok dapat dijabarkan sebagai berikut: a) b) Introduksi sistem SAR (suspicious activity reporting system) yang baru. Hal ini berarti bahwa seseorang dianggap melanggar hukum apabila tidak melaporkan kepada pihak berwenang apabila mengetahui adanya praktek money laundering. namun juga berasal dari perkembangan teknologi seperti EFT (cyber payment) yang memungkinkan pembayaran transfer berlangsung dengan mobilitas yang tinggi dengan mengoptimalkan jaringan perbankan internasional sebagai lembaga intermediasi. e) Tipping off (Peringatan).128 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. including strict “know your customer” rules. Modifikasi sistem pelaporan transaksi mata uang (CTR= Currency Transaction Reporting System). Faktor instabilitas tersebut tidak hanya bersumber dari turn over yang sangat besar (300 – 400 milyar USD per tahun). Satu upaya upaya penting yang telah dilakukan oleh masyarakat internasional adalah dibentuknya FATF yang salah satu rekomendasinya menyatakan bahwa “countries should monitor the physical cross border transportation of cash and bearer instruments without impeding in any way the freedom at capital movement”.

dealing dengan customer yang jarang dilakukan (antara lain transaksi kas dalam jumlah besar/ bearer securities). pengecekan akan kecocokan identitas investor). 5. 2. pelaporan kondisi yang terjadi. Pendalaman materi pelatihan terhadap kelompok staf ini meliputi seluruh aspek perundangan-undangan. Peningkatan kerjasama antar negara dan perwakilan industri keuangan global dalam upaya melawan kegiatan money laundering melalui penetapan kelompok kerja. kebijaksanaan perusahaan terhadap adanya kasus-kasus pengecualian. mengenali secara baik proses settlement/payment/delivery instructions yang diluar batas kewajaran. Pelatihan terhadap manajer yang memberikan instruksi.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 129 c) d) e) f) g) h) Perluasan daftar tindakan pelanggaran money laundering dalam memberantas terorisme. Reporting Officers. Supervisors/ Manager. Pelatihan terhadap pegawai baru sebaiknya mencakup latar belakang terjadinya money laundering. Penetapan aturan baru dalam pencatatan transfer-transfer dana (system at determine internal control. policies and prosedures). lebih ditekankan pada detail mengenai ketentuan perundang-undangan yang berlaku meliputi identifikasi. peraturan dan prosedur internal. sistem pelaporan. 4. Staff Training : dalam rangka mengenali dengan baik dan menangani transaksi-transaksi yang mencurigakan. dan laporan transaksi yang mencurigakan. jaminan hukum yang dilaporkan. 3. Pelatihan terhadap dealer/staf lainnya seharusnya juga mencakup tanggung jawab secara hukum. dan jaminan perorangan menurut ketentuan yang berlaku. . Pelatihan terhadap petugas front office harus meliputi prosedur-prosedur identifikasi dan verifikasi ( sebagai contoh. pelaporan prosedur serta tindakan pinalti. Memperluas upaya pelaksanaan hukum dan pengaturan hukum dalam memerangi kegiatan money laundering. Dealers and sales staff. Account Opening staff. pencatatan. Implementasi proyek Gateway yang menyediakan data-data inteligen keuangan secara on line antar negara dan pemerintah-pemerintah daerah. validasi. staf pelaksana harus menerima pelatihan khusus money laundering. pengenalan terhadap faktor-faktor yang mencurigakan. Pegawai baru (New employees). pelanggaran migrasi dan kesehatan. 5 kelompok yang diharuskan mengikutinya adalah: 1.

adalah bahwa kualitas supervisi terhadap transaksi finansial oleh bank khususnya harus senantiasa ditingkatkan. Mengapa demikian? Karena anti money laundering measures membutuhkan kerjasama internasional yang harus kondusif baik bersifat multilateral maupun bilateral (antar dua negara). maka upaya pemberantasan terhadap kegiatan money laundering merupakan real test case bagi masyarakat dan sistem keuangan internasional. para anggota kelompok kerja FATF ataupun masyarakat keuangan internasional sudah selayaknya menerapkan aturan-aturan standar minimum dalam upaya memerangi kegiatan money laundering misalnya keseragaman penggunaan sistem SAR. Hal ini berarti. bahwa setiap negara memiliki prioritas yang berbeda-beda khususnya dalam menghadapi kegiatan/praktek money laundering. Sebagaimana kita ketahui. Peningkatan tersebut dapat diupayakan dalam bentuk investigasi khusus terhadap asal modal disetor.130 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Secara taktis. Perbedaan visi dan persepsi ini tentunya akan berimplikasi pada kelompok-kelompok kerja yang dibentuk oleh FATF. Dengan semakin berkembangnya kegiatan/transaksi-transaksi illegal internasional. Jika langkah preventif ini diterapkan secara universal terhadap semua lembaga keuangan/ jaringan perbankan internasional. bahwa apabila terdapat negara-negara yang tidak mematuhi kesepakatan bersama tersebut akan mendapatkan pinalti yang dapat berupa punitive taxes atas transaksi-transaksi yang terbukti berkaitan dengan money laundering di pasar finansial di negara yang bersangkutan. 1991). khususnya bagi lembaga pengawas perbankan ataupun lembaga keuangan lainnya. asal dana-dana pihak ketiga yang diterima. ataupun tidak diakuinya transaksi keuangan yang terjadi di negara tersebut secara internasional (default). Penutup Dari pokok-pokok rekomendasi yang diberikan oleh FATF di atas. 3. Konsekwensi lain. dan transaksi finansial yang dilakukan khususnya transaksitransaksi off balance sheet. CTR maupun Gateway Intelligence System. Dalam konteks ini maka pendekatan “know your customer rule” menjadi acuan yang sangat mendasar dalam menggali informasi calon nasabah bank. maka kecil kemungkinan 2. Berkaitan dengan butir (1). lembaga perbankan seringkali dipergunakan sebagai intermediasi oleh pelaku tindakan kriminal yang tidak mustahil juga dibantu oleh adanya moral hazard oleh karyawan bank sendiri (contoh kasus BCCI. Hal ini sangat penting mengingat dalam banyak kasus money laundering. dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Maret 1999 IV. . 4. tindakan yang paling efektif dalam menangkal kegiatan money laundering pada lembaga perbankan adalah mendeteksi sedini mungkin aktivitas kriminal tersebut pada titik paling crucial yakni pada saat hasil-hasil ilegal tersebut masuk ke dalam sistem perbankan/keuangan (placement process).

8) Robinson. 7) Richard. Bancomer and Banca serfin Plead Guilty to Money Laundering. pp 52-53. Pp 29-31. 1998 (Feb).1995. USA. Sebaliknya bila langkah tersebut tidak berhasil. 5) Parlour. Jeffrey. Laundrymen. Money Laundering: The Regim in the United Kingdom. . The Financial Action Task Force on Money Laundering. 10) _________. 4) Morris. 9) The Banker. Money Laundering: The Importance of International Countermeasures. International Guide to Money Laundering and Practice. Allan. 3rd Edition. 3) Hayaes.1998. Richard. Butterworths. baik melalui International offshore Banking Centre (IOBS) yang memiliki insentif pembebasan pajak dan longgarnya peraturan ataupun memanfaatkan negara-negara/ lokasi yang relatif tidak/ belum terjangkau oleh hukum internasional. Andrew. et al.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 131 money launderer akan mampu menembusnya. Daftar Pustaka 1) Abrahamson. Journal of International Banking and Financial Law.1995. 2) Camdesus. Annual Report.1998. Legal Analysis. Barry. maka money launderer akan selalu mencari titik terlemah dari sistem jaringan keuangan internasional. Money Laundering: Butterworths. CCH Inc. Jeffrey. Michael. Guide to Financial Services Regulation.1998. Illinois. Money Laundering: The Sky’s the Limit. Paris (Feb 10). Payable Through Accounts and Money Laundering. July – August.1999 (March 31). 6) Reuters News. pp 350.1996. Pocket Books. London. 1997.1996.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->