Modul 7: GEOMETRI RUANG

-halaman 70

GEOMETRI RUANG

1. Pengantar Topik yang Anda pelajari kali ini adalah modul ke tujuh dari mata kuliah Materi Kurikulum Matematika SMA. Modul ini membahas tentang titik, garis, bidang, dan sudut, dalam geometri ruang (dimensi tiga), ditambah dengan masalah volume bangun ruang. Dalam kegiatan pendahuluan Anda akan mempelajari kedudukan titik, garis, dan bidang dalam ruang dimensi tiga, juga tentang jarak. Jarak yang dimaksudkan, yaitu jarak antara titik dan garis, dan jarak antara titik dan bidang, dalam ruang dimensi tiga. Sedangkan pada kegiatan berikutnya Anda akan mempelajari sudut dan volume. Sudut yang dimaksudkan, yaitu sudut antara garis dan bidang, dan sudut antara dua bidang, dalam ruang dimensi tiga. Sedangkan masalah volume yang akan Anda pelajari khusus tentang volume bangun-bangun ruang.

2. Tujuan Instruksional Umum Setelah mempelajari modul ini, Anda diharapkan dapat menjelaskan kedudukan titik, garis, dan bidang, serta konsep jarak, sudut, dan volume dalam ruang dimensi tiga.

3. Tujuan Instruksional Khusus Setelah menyelesaikan modul ini, Anda diharapkan mampu: a. Menyelesaikan masalah dalam matematika atau bidang lainnya yang penyelesaiannya menggunakan geometri ruang; b. Menjelaskan kedudukan titik, garis, dan bidang, jarak, sudut, dan volume dalam ruang dengan menggunakan pendekatan dan atau media/alat-peraga yang sesuai; c. Menganalisa kesalahan-kesalahan yang biasa dilakukan oleh guru atau siswa (jika ada) dalam memahami konsep kedudukan titik, garis, dan bidang, jarak, sudut, dan volume dalam ruang.

Modul 7: GEOMETRI RUANG

-halaman 71

4. Kegiatan Belajar 4.1. Kegiatan Belajar 1 TITIK, GARIS, DAN BIDANG DALAM RUANG

4.1.1. Uraian dan Contoh Tiga unsur pangkal dalam geometri, yaitu titik, garis, dan bidang. Ketiga unsur tersebut, dapat juga disebut sebagai tiga unsur yang tak didefinisikan. Sebuah titik dipikirkan sebagai suatu tempat/posisi dalam ruang. Titik tidak memiliki panjang maupun ketebalan. Bekas tusukan jarum, atau bekas ujung pensil di atas kertas, dapat dipikirkan sebagai model fisik dari sebuah titik. Sebuah titik direpresentasikan dengan sebuah noktah dan diberinama dengan suatu huruf kapital. Sebuah garis dipikirkan sebagai suatu himpunan titik berderet yang panjang tak terbatas, tetapi tidak memiliki lebar. Seutas benang yang diregangkan, goresan pensil mengikuti tepi sebuah penggaris dapat difikirkan sebagai model sebuah garis. Sebuah garis direpresentasikan dengan sebuah gambar sinar dengan mata di kedua ujungnya yang menunjukkan bahwa garis tersebut tak berakhir. Untuk memberinama sebuah garis, dapat memanfaatkan dua buah titik pada garis tersebut, atau dengan sebuah huruf kecil. Cara menuliskannya: AB , AC , BC , BA , CA , atau g. Misalnya seperti Gambar 1 berikut: C Gambar 1. Ingat: ada banyak nama untuk garis yang sama. Pada Gambar 1, garis g dapat A B g

dinyatakan

sebagai

garis

AB , AC , BC , BA , atau CA , karena garis g melalui titik A, titik B, dan titik C.

Lambang “ AB ” artinya garis yang melalui titik A dan titik B, atau garis yang memuat titik A dan titik B. Lambang “ AC ” artinya garis yang melalui titik A dan titik C, atau garis yang memuat titik A dan titik C. Lambang “ BC ” artinya garis yang melalui titik B dan titik C, atau garis yang memuat titik B dan titik C. Lambang “ AB ” dan lambing

Modul 7: GEOMETRI RUANG

-halaman 72

“ BA ” maknanya sama, yaitu garis yang melalui titik A dan titik B, atau garis yang memuat titik A dan titik B. Sebuah bidang difikirkan sebagai suatu himpunan titik berderet dan berjajar secara rapat dan tak terbatas, tetapi tidak memiliki ketebalan. Permukaan sebuah meja, atau permukaan selembar kertas putih polos, yang dibentang ke segala arah tak terbatas, dapat difikirkan sebagai model fisik sebuah bidang. Sebuah bidang direpresentasikan dengan gambar sebuah jajargenjang, dan nama sebuah bidang dapat menggunakan sebuah huruf kapital atau huruf Yunani.

A C E F G

B D

H

Gambar 2 Pada Gambar 2, bidang memuat titik-titik A, B, C, D, E, F, G, (dikatakan ketujuh dan

titik tersebut terletak pada bidang- ); BE dan GC keduanya pada bidangberpotongan di F. HD memotong (menembus) bidang- di titik D. Dari Gambar 2 tersebut, dapat dituliskan antara lain: A F
BE BE ,

artinya titik A pada bidangartinya titik F pada BE ; artinya BE pada bidang- ;
GC

;

F = BE D=

,

artinya titik F adalah titik potong BE dan GC ; artinya titik D adalah titik potong (titik tembus) HD pada bidang- ;

HD ,

= bidang( BE , GC ),

artinya bidang
BE dan GC ,

adalah bidang yang memuat

dan sebagainya.

Modul 7: GEOMETRI RUANG

-halaman 73

Ingat: lukisan seperti Gambar 1 dan Gambar 2 tadi merupakan sebuah model, dan hanya memvisualisasikan konsep/gambar geometris.

A. Kedudukan titik, garis, dan bidang dalam ruang 1. Kedudukan dua titik Definisi : Dua titik berimpit adalah dua titik yang sama. Dua buah titik dapat terjadi keduanya berimpit atau keduanya berlainan. Dua buah titik yang berimpit dapat dipikirkan sebagai sebuah titik yang memiliki dua nama. Misalnya seperti disajikan pada Gambar 3 berikut:

A D E F

B C

G Gambar 3

Pada Gambar 3: pasangan-pasangan titik B dan titik C, titik E dan titik F, merupakan pasangan/dua buah titik yang berimpit. Tampak bahwa ada satu gambar titik, namun mempunyai dua nama: B dan C, E dan F. Tampak juga pasangan-pasangan: titik A dan titik D, titik A dan titik G, titik D dan titik G, merupakan dua buah titik yang berlainan. Kita juga dapat mengatakan pasangan-pasangan: titik A dan titik B, titik A dan titik C, titik A dan titik E, titik A dan titik F, merupakan pasangan/dua buah titik yang berlainan.

2. Kedudukan titik dan garis Definisi Titik-titik segaris (kolinear) adalah titik-titik yang terletak pada satu garis (titiktitik yang tidak terletak pada satu garis disebut titik-titik tak segaris (nonkolinear)).

3. dan titik R merupakan titik-titik yang tidak terletak pada suatu garis..melalui titik A. maka dapat juga dikatakan garis tersebut melalui sebuah titik. titik L. Jika sebuah titik terletak pada suatu garis. titik O. karena ketiganya terletak pada satu garis. Pada Gambar 4 tersebut. Begitu pula pasangan titik M dan titik S. Keempat titik tersebut tidak terletak pada garis g maupun garis h. maka dapat dikatakan pula bidang. dan titik N. karena masing-masing terletak pada garis yang berbeda. titik P. Tampak juga titik O terletak pada garis g maupun garis h. yaitu garis h.merupakan tiga buah titik yang kolinear. titik O. Jika sebuah titik A terletak pada suatu bidang. titik O. karena ketiganya terletak pada satu garis. titik O. titik S dan titik Q. yaitu garis g. atau titik A pada bidang. . „ g M K N L Q P h S R O Gambar 4 Pada Gambar 4: titik K.. merupakan pasangan-pasangan titik yang tidak kolinear (non-kolinear). dan titik N. maka dapat dikatakan sebuah titik di luar sebuah garis. ketiganya terletak pada garis h. ketiganya terletak pada garis g. Namun titik M.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 74 Sebuah titik dan sebuah garis dapat terjadi sebuah titik tersebut terletak pada sebuah garis tersebut atau sebuah titik tersebut tidak terletak pada sebuah garis tersebut. dapat dikatakan: titik M. Demikian juga titik S. Jika sebuah titik tidak terletak pada suatu garis. titik N dan titik Q. atau dapat dikatakan keempat titik tersebut di luar garis g maupun garis h. dan titik Q. dan titik Q merupakan tiga buah titik yang kolinear. Sedangkan titik S. Kedudukan titik dan bidang Sebuah titik dapat terletak pada suatu bidang atau sebuah titik tidak terletak pada sebuah bidang. Berdasarkan kondisi tersebut berarti titik M dan titik N merupakan dua buah titik yang tidak kolinear (nonkolinear).

T R . dan titik T dikatakan sebagai tiga buah titik yang koplanar. Jika dua garis sebidang. merupakan empat buah titik yang non-koplanar. 4. Dua buah garis berbeda dikatakan saling bersilangan jika dan hanya jika keduanya non-koplanar. Kedudukan dua buah garis Dua buah garis dapat terjadi keduanya sebidang atau tak-sebidang.. Sebarang tiga buah titik non-kolinear terletak pada tepat satu buah bidang. Dengan demikian. Jika dua buah garis tak-sebidang. maka dapat terjadi keduanya berpotongan atau sejajar. maka keduanya dikatakan bersilangan. yaitu bidang.. Definisi coplanar Titik-titik dikatakan koplanar (coplanar) atau sebidang jika dan hanya jika ada suatu bidang yang memuat semua titik tersebut. dan titik V. Oleh karena itu titik R. . Definisi (Kesejajaran dan bersilangan garis-garis) Dua buah garis berbeda dikatakan saling sejajar jika dan hanya jika keduanya koplanar dan tidak berpotongan. dan titik T merupakan tiga buah titik yang nonkolinear. titik R. titik S. titik R. titik S. dan ketiganya terletak pada satu bidang. titik S.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 75 Aksioma Sebarang tiga buah titik terletak pada sekurang-kurangnya satu bidang. S V Gambar 5 Pada Gambar 5. titik T. Sedangkan titik V tidak terletak pada bidang.

Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 76 Definisi Jika dua buah garis berbeda berpotongan. yaitu pada bidang. maka keduanya terletak pada tepat satu bidang. Garis n tidak terletak pada bidang. yaitu titik R. Demikian pula untuk garis n dan garis m. Garis g tidak terletak pada bidang. garis n dan garis h.. tetapi garis k terletak pada bidang.tepat di satu titik. tetapi garis h terletak pada bidang. g h k P Q m R n Gambar 6 Pada Gambar 6: garis k. ketiganya dikatakan coplanar.. masing-masing merupakan ... Garis g tidak terletak pada bidang. garis h. sehingga dapat dikatakan garis n di luar bidang. Garis g memotong/ menembus bidang. Garis k dan garis m berpotongan di titik Q dan keduanya terletak pada satu bidang. Oleh karena itu dikatakan garis g dan garis k bersilangan. Hal tersebut dikatakan garis g juga tidak terletak pada bidang... Contoh: . dan garis m.. Oleh karena itu dikatakan garis g dan garis h bersilangan. Begitu juga garis h dan garis m berpotongan di titik P dan keduanya terletak pada satu bidang. karena ketiganya terletak pada satu bidang. tetapi garis m terletak pada bidang. Oleh karena itu dikatakan garis g dan garis m bersilangan. garis n dan garis k.. Garis g tidak terletak pada bidang. Garis h dan garis k saling sejajar dan keduanya terletak pada satu bidang..

garis g memotong bidang. garis g seluruhnya terletak pada bidang. Cermati pula Gambar 6.tepat di satu titik. Cermati lagi Gambar 5 dan Gambar 6 sebelumnya.atau titik R merupakan titik tembus garis g terhadap bidang. jika keduanya mempunyai tepat satu titik persekutuan. yaitu di titik R.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 77 pasangan garis yang bersilangan. Perhatikan Gambar 7 berikut! g „g h (1) (2) Gambar 7 (3) Pada Gambar 7. Pada Gambar 7. Sebuah garis g dikatakan terletak pada satu bidang .. Hal tersebut dikatakan juga titik R merupakan titik potong garis g dan bidang.. karena masing-masing tidak terletak pada bidang yang sama. maka setiap titik tersebut terletak pada bidang . jika setiap titik yang terletak pada garis g. Sebuah garis g dan sebuah bidang keduanya tidak bersekutu pada sebuah titik pun. garis tersebut sejajar dengan bidang tersebut. Sehingga dapat dikatakan garis g sejajar dengan bidang. Kedudukan garis dan bidang Jika ada suatu garis dan suatu bidang. dikatakan sejajar. atau garis tersebut terletak pada bidang tersebut.(2) garis g tidak terletak pada bidangdan garis h terletak pada bidang. 5. garis g memotong/menembus bidang... Garis g dan garis h saling sejajar. Pada Gambar 6. Garis g dan bidang dikatakan berpotongan. semua titik yang terletak pada garis g.. maka semua titik tersebut terletak pada bidang. maka kejadian yang dapat terjadi. jika . Maksudnya. yaitu garis tersebut memotong/menembus bidang tersebut. Pada Gambar 7..(1).(3).

Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 78 (Perhatikan cara yang baik dalam menyajikan gambar dari garis dan bidang yang sejajar!) 6. Jika ketiga gbidang tersebut berpotongan. Kedudukan dua buah bidang Jika ada dua buah bidang. maka dapat terjadi ketiganya berpotongan di satu titik. dikatakan sejajar. ketiganya berpotongan di satu garis. Perhatikan ilustrasi yang disajikan pada Gambar 9 berikut! . Perhatikan Gambar 8. Dua buah bidang dan dikatakan berpotongan. dilambangkan dengan garis ( . jika keduanya bersekutu tepat pada dan sebuah garis. titik pun.(2) ! ( . maka kejadian yang dapat terjadi. jika keduanya tidak bersekutu pada satu Dua buah bidang. dan . yaitu ketiganya berpotongan atau ketiganya saling sejajar. ) (1) Gambar 8 (2) 7. Kedudukan tiga buah bidang Jika ada tiga buah bidang. atau sepasang-sepasang dari ketiganya berpotongan pada satu garis dan terbentuk tiga buah garis yang saling sejajar. yang ketiganya berbeda. ) merupakan himpunan semua titik yang terletak pada bidang dan juga pada bidang . yaitu: kedua bidang tersebut berpotongan atau kedua bidang tersebut saling sejajar. ). Garis persekutuan tersebut dinamakan garis potong antara bidang bidang . maka kejadian yang dapat terjadi. Perhatikan Gambar 8.(1) ! Dengan demikian garis ( .

Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 79 (a) memotong s . . s P (b) (1) s memelalui s „ s (c) . Kejadian Tiga Bidang : . sejajar s „ (a) memotong (2) s (b) sejajar Gambar 9. .

bidang.juga memotong bidang.(b)..(c).. sedangkan garis s sejajar dengan bidang. Hal tersebut berarti bidang. yaitu: (a) bidang. menunjukkan bidang. dan bidang. dan bidang. ). Akibatnya garis-garis perpotongan di antara kedua bidang tersebut juga sejajar.. atau (c) bidang. maka bidang.memotong garis s tepat di satu titik yaitu di titik P. Gambar 9.(a)... ) sejajar dengan garis ( .memotong garis s tepat di satu titik. Ilustrasi yang disajikan dalam bentuk skema tersebut dimulai dengan kejadian antara bidangbidang. ketiganya saling berpotongan dan perpotongannya tepat di satu titik.. maka garis ( . Sedangkan Gambar 9. menunjukkan bidang. ketiganya berpotongan pada satu garis.. dan bidang. menunjukkan bidang. Karena bidangbidang..(2). maka bidangbidang.sejajar dengan juga sejajar dengan bidang. Gambar 9. dapat keduanya berpotongan atau keduanya sejajar [Perhatikan Gambar 9. ) dan garis ( .(1).(a). bidang.(2)].memuat seluruh garis s.sejajar dengan bidang. )..sejajar dengan garis s.. yaitu: (a) bidang.. dan dilengkapi dengan kehadiran dan bidang.. bidangdan bidangtidak berpotongan. Pada Gambar 9. Hal tersebut juga berarti garis s atau garis ( . Jadi bidangbidang- . Gambar 9. dan bidang. Jika ada bidang lain.dan bidang. maka kejadian yang dapat terjadi.. yaitu garis s. ) garis ( . ) juga sejajar dengan garis s. ) garis ( .. Antara bidangdan bidang. yaitu titik P... menunjukkan bidang.sejajar dengan bidang. misalnya bidang.memotong bidangbidangsejajar dengan salah satu bidangmaupun bidang.(2). menunjukkan bidang. (b) bidangmemuat garis s seluruhnya. sejajar dengan bidang. namun keduanya saling sejajar.. Karena bidang.. misalnya bidang.memotong bidang... ).. Pada Gambar 9.sejajar dengan garis s. ). dan garis ( .. ). maka kejadian yang dapat terjadi.. Karena garis s merupakan perpotongan antara bidang.(b). Gambar 9. Jadi setiap titik pada garis s seluruhnya terletak pada bidang.(1) dan Gambar 9.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 80 Gambar 9 merupakan sebuah ilustrasi yang dapat terjadi antara bidang. perpotongannya berupa garis s atau garis ( .. bidangdan bidangberpotongan. Jika ada bidang lain.(1). Jadi garis s garis ( ...(1).(1). Jagi garis ( . ) atau garis ( . ).(2). atau (b) atau bidang. bidang. garis ( .

melalui titik A. dan titik H. Hasil perpotongan antara balok ABCD.EFGH dipotong oleh bidang- Pada Gambar 10. yaitu bidang. titik F.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 81 Sebagai contoh kejadian dalam Geometri Ruang. sebuah balok ABCD.memotong bidang-sisi-ADHE yang perpotongannya berupa garis h atau AH .. .EFGH dipotong oleh sebuah bidang.dapat kita temukan beberapa hal berikut: a. b. Balok ABCD. Bidang. Bidang. perhatikan Gambar 10 berikut! „ g h „ A L B j D C F E K H G k ‘ m Gambar 10.EFGH dan bidang.memotong bidang-sisi-ABFE yang perpotongannya berupa garis g atau AF .

Bidang. sehingga terdapat sebuah bidang yang memuat garis j dan garis k atau memuat DB dan HF yaitu bidang-DBFH. g. garis m memotong tegaklurus garis j di titik L dan garis m memotong tegaklurus garis k di titik K . Bidang-DBFH memotong bidang-sisi-ABCD dan perpotongannya berupa garis j atau DB . dan garis k dikatakan sebidang atau coplanar terhadap bidang. garis h memotong garis k di titik H. ini berarti garis m dan garis h saling bersilangan. ini berarti garis m dan garis g saling bersilangan. e. garis g terletak pada bidang. j. selain itu garis j dan garis k atau DB dan HF terletak pada bidang-DBFH. Garis m menembus bidang-sisi-ABCD di titik L dan menembus bidang-sisi-EFGH di titik K. dan bidang-DBFH memotong bidang-sisi-EFGH dan perpotongannya berupa garis k atau HF .Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 82 c. Perpotongan antara bidang. garis h terletak pada bidang.dan perpotongannya berupa garis k. bidangDBFH memotong bidang.dan balok ABCD. dan K H. Garis j atau DB dan garis h atau HF saling sejajar. Garis m menembus bidang-sisi-ABCD di titik L dan menembus bidang-sisi-EFGH di titik K. i.EFGH berupa daerah segitiga AFH atau AFH. f.memotong bidang-sisi-EFGH yang perpotongannya berupa garis k atau FH . ditulis j k atau DB HF . garis h.sedangkan garis m terletak pada bidang-DBFH. ini berarti garis m terletak pada bidang-DBFH.dan perpotongannya berupa garis k. Garis g. Garis m memotong garis k di titik K. Garis m memotong garis k di titik K. diperoleh juga garis m memotong tegaklurus garis j di titik L dan garis m memotong tegaklurus garis k di titik K.sedangkan garis m terletak pada bidang-DBFH.. bidangDBFH memotong bidang. . h. dan K F. d. k. garis g memotong garis k di titik F.

maka garis m tegaklurus terhadap semua garis yang terletak pada bidang-ABCD. Bidang-DBFH memotong bidang-sisi-ABCD dan perpotongannya berupa garis j atau DB . Karena garis m tegaklurus terhadap bidang-EFGH. garis m tegaklurus garis j. maka garis m tegaklurus terhadap semua garis yang terletak pada bidang-EFGH. ini berarti garis m tegaklurus terhadap bidang-ABCD. n. Jarak dari titik ke garis dan jarak dari titik ke bidang Definisi : Yang dimaksud dengan jarak antara dua buah bangun geometri adalah panjang ruasgaris penghubung terpendek yang menghubungkan dua titik pada bangun-bangun tersebut. dan bidang-DBFH memotong bidang-sisi-EFGH dan perpotongannya berupa garis k atau HF . B. G2 . garis j merupakan perpotongan bidang-DBFH dan bidang ABCD yang saling tegaklurus. bidang-DBFH memotong tegaklurus bidang-ABCD maupun bidang-EFGH. Karena garis m tegaklurus terhadap bidang-ABCD. m. bidang-ABCD bidang-EFGH. garis m tegaklurus garis k.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 83 l. ini berarti garis m tegaklurus terhadap bidang-EFGH. garis k merupakan perpotongan bidang-DBFH dan bidang EFGH yang saling tegaklurus. ini berarti bidang-ABCD dan bidang-EFGH saling sejajar atau bidang-ABCD bidang-EFGH. A B G1 Gambar 11. Garis m terletak pada bidang-DBFH. Garis m terletak pada bidang-DBFH. j k atau DB HF .

titik P1 merupakan proyeksi titik P pada bidang-K. Jarak dari titik P ke bidang-K adalah panjang ruas garis penghubung P dengan proyeksi titik P pada bidang-K.(c). Sehingga dapat dilakukan pemasangan satu-satu antara titik-titik pada G1 dan G2. atau jarak dari titik P ke garis g adalah panjang ruas garis penghubung P dengan proyeksi P pada garis g. Jika AB adalah yang terpendek antara semua ruas garis penghubung titik-titik itu.(b). 2.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 84 Jika G1 dan G2 adalah bangun-bangun geometri. Maka G1 dan G2 dapat dipikirkan sebagai himpunan titik-titik. Jarak antara titik P dan garis g. jarak antara titik P dan garis g adalah panjang ruasgaris PP 1 ) 3. (Perhatikan Gambar 12. maka panjang ruas garis AB disebut jarak antara bangun G1 dan G2. (Perhatikan Gambar 12. P2 g R P1 (c) Jarak antara titik P dan Q adalah panjang ruasgaris PQ .(a)). P P R Q P (a) Q K P2 P1 P3 (b) Gambar 12. Akibat dari pengertian yang demikian maka : 1. (Perhatikan Gambar 12. sehingga jarak dari titik P ke bidang-K adalah panjang ruasgaris PP 1 ) B P g B1 A1 K (a) P1 L (b) C1 A K C .

maka proyeksinya pada bidang-L adalah titik B1 dan C1. Jika dipilih titik B atau C pada bidang-K. ruasgaris PP 1 tegaklurus terhadap garis g dan juga tegaklurus terhadap garis h. Jarak antara bidang-K dan bidang-L yang sejajar samadengan jarak salah satu titik pada bidang-K terhadap bidang-L.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 85 „h P „ h „ g P1 (c) Gambar 13. (Perhatikan Gambar 13. Jarak antara garis g dan h yang bersilangan adalah panjang ruas garis hubung yang memotong tegak lurus garis g dan garis h. dipilih titik P yang terletak pada garis g dan diproyeksikan ke bidang-K hasilnya titik P1. K (d) g 4. Bidang-K sejajar dengan bidang-L.(a). Jarak antara garis g dengan bidang-K yang sejajar samadengan jarak salah satu titik pada garis g terhadap bidang-K. Sehingga jarak antara bidang-K dan bidang-L adalah adalah panjang ruasgaris AA 1 . PP 1 g dan PP 1 h . (Perhatikan Gambar 13. (Perhatikan Gambar 13. 5. Dipilih titik A yang terletak pada bidang-K dan diproyeksikan ke bidang-L hasilnya titik A1. atau sebaliknya.(c) dan (d).(b). Dua cara atau langkah untuk menentukan jarak antara dua garis a dan b yang bersilangan. Sehingga jarak antara garis g dengan bidang-K adalah panjang panjang ruasgaris PP 1 ). Sehingga jarak antara bidang-K dan bidang-L adalah panjang ruasgaris BB 1 atau CC 1 ) 6. Cara 1 : . Sehingga jarak antara garis g dan garis h yang bersilangan adalah panjang ruasgaris PP 1 ).

.. ..... Membuat garis b1 sejajar b yang memotong garis a. b2 Bukti : g bidang H .. jadi panjang AB adalah jarak antara garis a dan garis b yang bersilangan..... Ruas garis AB merupakan ruasgaris yang memotong tegaklurus a dan b.( 2 ) Cara II a. 4. menghasilkan garis b2 yang letaknya sejajar dengan b1.... Gambar 14 : „ B g b „ H a b1 A Gambar 14.. Membuat sebuah bidang yang memotong tegaklurus garis b di titik P.... g g a .. .... . dan memotong garis a di titik A........... namakan bidang-H........... b.. 5. ... .... H .Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 86 1. ....................(1) b2 Jadi g a dan g b a dan b 2 pada bidang g b2 b2 b g b ... Cara I dapat dijelaskan dengan lukisan berikut...... . Melalui titik A dibuat garis g tegaklurus pada bidang-H yang akan memotong garis b di titik B. . 2.. Membuat bidang-H yang melalui : a dan b1 ... 3. bidang-H letaknya sejajar dengan garis b (mengapa ?).. Memproyeksikan garis b pada bidang-H......... Memproyeksikan garis a pada bidang-H yang menghasilkan garis a1..

berikut : „ „ A B k l Q „ P H „ b a a1 Gambar 15. f. yang akan memotong garis b di titik B. a 1 ) (a .Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 87 c. Melalui titik P pada bidang-H dibuat garis yang memotong tegaklurus garis a 1 di titik Q.. Melalui titik Q dibuat garis k tegaklurus bidang-H. Cara II dapat dijelaskan dengan lukisan pada Gambar 15. yang memotong garis a di titik A. e. a 1 ) PQ a Jadi AB AB PQ a a pada bidang Jadi AB memotong tegak lurus garis a dan garis b. Melalui titik A dibuat garis 1 sejajar garis PQ . . Bukti : PQ PQ b a1 k PQ AB AB PQ b PQ bidang (a . Ruas garis AB adalah ruas garis yang memotong tegaklurus garis-garis a dan b. d. jadi panjang AB adalah jarak antara dua garis bersilangan a dan b.

yaitu: AB . yaitu: AB dan EH . DG . ditunjukkan oleh panjang DH = DH atau AD panjang AE dan EH AE = AE AE. EF dan AD . karena AD DH dan EH DH atau . CD dan EH .EFGH dengan Garis-garis yang melalui titik-sudut-titik-sudut balok Pada Gambar 16 sebuah balok ABCD.EFGH dengan beberapa buah garis yang melalui titik-sudut-titik-sudut pada balok tersebut. karena AB AE dan EH AE . b. Jarak antara AB dan EH yang bersilangan. DG dan EF . c. AD . dan AD EH . Jarak antara AD dan EH dengan AD EH . karena AB BF dan EF BF atau AB AE dan EF AE . e. EF . ditunjukkan oleh panjang AE = AE.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 88 Sebagai contoh perhatikan Gambar 16 berikut! A B D C E F H G Gambar 16 Balok ABCD. AB dan DG . d. CD . a. Jarak antara AB dan EF dengan AB EF . ditunjukkan oleh panjang BF = BF atau panjang AE = AE. dan EH . EH dan DG . Garis-garis yang saling sejajar. . Gagis-garis yang saling bersilangan. yaitu: AB CD EF .

dan bidang dalam ruang dimensi tiga! 2) Jelaskan pengertian jarak antara dua bangun geometri ! 3) Apakah yang dimaksud dengan titik-titik yang kolinear? 4) Apakah yang dimaksud dengan titik-titik yang coplanar? 5) Jelaskan cara menentukan jarak antara dua garis yang bersilangan ! Kunci Jawaban Latihan 1 1) Lihat uraian lengkap tentang titik. berpotongan. garis dan garis. Jarak dapat diterapkan antara titik dan titik. yaitu garis termuat dalam bidang. garis. Jarak antara dua bangun geometri merupakan panjang ruasgaris terpendek yang menghubungkan dua bangun geometri tersebut. atau bersilangan.1. dan bidang dalam ruang dimensi tiga! 2) Lihat pengertian jarak! 3) Lihat uraian tentang kedudukan titik dan garis ! 4) Lihat uraian tentang kedudukan titik dan bidang ! 5) Lihat uraian cara menggambarkan jarak antara dua garis yang bersilangan! 4.1. titik dan bidang. garis dan bidang. Kedudukan garis dan bidang. Latihan 1 1) Jelaskan tentang kedudukan antara titik. Rangkuman Kedudukan titik dan garis. garis memotong bidang. Kedudukan dua bidang.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 89 4. titik dan garis. dan dua bidang. yaitu sejajar. yaitu titik pada garis atau titik di luar garis. yaitu titik pada bidang atau titik di luar bidang. yaitu sejajar atau berpotongan. atau garis sejajr bidang. Kedudukan titik dan bidang. garis.3.2. . Kedudukan garis dan garis.

2) Pasangan garis yang sejajar. garis HG dan garis AD . EF .EFGH 1) Garis-garis yang coplanar. C. garis AB dan garis HG C. atau D sesuai dengan jawaban yang Anda pilih ! Perhatikan Gambar 17 untuk menyelesaikan kesepuluh soal berikut! H E F G D A B C Gambar 17 Garis-garis yang melalui rusuk-rusuk kubus ABCD. AD . AB . yaitu: A.1. AD . Tes Formatif 1 Petunjuk: Pilih satu jawaban yang tepat untuk setiap soal dari 4 alternatif jawaban yang disediakan dengan memberikan tanda cross (X) pada huruf A. AB . BC .Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 90 4. C. AE . AH . AD . B. garis AB dan garis AD B. AD . AB .4. antara lain: A. AB . B. D.

garis EA dan garis EF .Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 91 D. garis AC dan garis AE 3) Pasangan garis yang bersilangan. garis HD dan garis EH C. garis BH dan garis BC C. garis HD . garis EH . garis BH dan garis EH B. yaitu: A. bidang-ABFE B. garis HD dan garis CD C. garis EH dan garis EF D. bidang-ADHE C. garis CD D. garis HD B. bidang-EFGH 6) Garis yang memotong bidang-EFGH. garis BC dan garis AD B. garis CD dan garis AD 5) Bidang yang sejajar dengan bidang-BCGF adalah: A. dan garis BH 7) Garis yang sejajar dengan bidang-DCGH. garis HD B. garis HD . garis FG dan garis AD C. bidang-ABCD D. yaitu: A. dan garis GH D. yaitu: A. garis EH . garis GH . garis FG dan garis CD D. garis AB dan garis CD 4) Perpotongan antara bidang-ADHE dan bidang-CDHG adalah: A.

panjang ruasgaris BA D. panjang ruasgaris BD B.1. panjang ruasgaris HE D. panjang ruasgaris AG D. panjang ruasgaris FH 4. panjang ruasgaris BC 9) Jarak dari garis AB ke garis FG adalah: A. panjang ruasgaris BA B. panjang ruasgaris BF C.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 92 8) Jarak dari titik B ke garis DH adalah: A. panjang ruasgaris AF 10) Jarak dari garis BF ke bidang-ADHE adalah: A. Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan 1. panjang ruasgaris BH C. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang terdapat di bagian belakang modul ini. panjang ruasgaris BF C.89% = baik .5.100% = baik sekali 80% . Rumus: Tingkat penguasaan Jumlah jawaban Anda 10 yang benar 100 % Arti tingkat penguasaan yang Anda capai: 90% . panjang ruasgaris BG B.

Bagus! Tetapi bila tingkat penguasaan Anda di bawah 60%. Anda dapat meneruskan Kegiatan Belajar 2.79% .Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 93 70% . . Anda harus mengulangi Kegiatan Belajar 1 terutama bagian yang belum Anda kuasai.69% = cukup = kurang Bila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas.

Pada Gambar 18. Kegiatan Belajar 2 SUDUT DALAM RUANG DAN VOLUM 4. maka dikatakan: kedua buah garis tersebut bersilangan tegaklurus (misalnya . dibuat garis a 1 yang sejajar dengan garis a. Untuk menentukan sudut antara garis a dan garis b tersebut. Melalui titik T juga dibuat garis b1 yang sejajar dengan garis b.2. garis a dan garis b bersilangan. Sudut dalam ruang 1. Perhatikan Gambar 18 berikut! „ a a1 T „ b b1 Gambar 18. apabila melalui sebarang titik T dibuat garis a1 yang sejajar dengan garis a dan garis b1 yang sejajar dengan garis b. pada suatu titik.1. Uraian dan Contoh A.2. Sudut yang dibentuk oleh garis a1 dan b1 dengan titik sudut titik T tersebut merupakan sudut antara garis a dan garis b yang bersilangan.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 94 4. Khususnya jika sudut antara dua buah garis yang bersilangan merupakan sudut siku-siku. misalnya titik T. Sudut antara Dua Buah Garis yang Bersilangan Pengertian: Sudut antara dua buah garis a dan b yang bersilangan adalah sudut yang terbentuk.

Perhatikan contoh berikut: H E F G D C A B Gambar 19. CG AC . CG bidang-EFGH yang berarti CG tegaklurus terhadap semua garis yang terletak pada bidang-EFGH. AC pada bidang-sisiABCD atau pada bidang-ABCD dan memuat diagonal-sisi AC . Sedangkan HG terletak pada bidang-DCGH dan pada bidang-EFGH. karena CG CG HG dan . AC bersilangan dengan HG Pada Gambar 19. atau HG merupakan perpotongan antara bidang-DCGH dan bidang-EFGH. maka dikatakan: garis a dan garis b bersilangan tegaklurus atau garis a menyilang tegaklurus terhadap garis b). Cukup dimengerti kedua garis tersebut pada permukaan sebuah balok ABCD. HG = bidang-DCGH bidang-EFGH. AC bersilangan dengan HG . karena terhadap semua garis yang terletak pada bidang-ABCD. Sudut antara AC dan HG ditunjukkan oleh (a) ) atau EGH (Perhatikan Gambar 20 (b) ) ACD (Perhatikan Gambar 20 . karena CG bidang-ABCD yang berarti CG CG HG tegaklurus .EFGH. AC Jarak antara AC dan HG ditunjukkan oleh panjang CG .Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 95 garis tersebut a dan b.

yaitu AC EG . Dengan kata lain. Jadi sudut antara AC dan HG ditunjukkan oleh ACD. Dengan kata lain. AC diproyeksikan tegaklurus pada bidang-EFGH diperoleh EG . Karena C maka terdapat ACD. Pada Gambar 20 (b). yaitu HG CD . karena bidang-diagonal-ACGE merupakan persegipanjang ACGE yang miliki dua sisi yang sejajar. .Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 96 H E (a) D F G C A B H E (b) D F G C A B Gambar 20. karena bidang-sisi-DCGH merupakan persegipanjang DCGH yang miliki dua sisi yang sejajar. HG diproyeksikan tegaklurus pada bidang-ABCD diperoleh CD . Garis yang dimaksud adalah CD . Visualisasi Sudut antara AC dan HG yang bersilangan Pada Gambar 20 (a). sehingga AC DC CD HG . terdapat garis yang sejajar HG pada bidang-ABCD yang memuat AC . Garis yang dimaksud adalah EG . terdapat garis yang sejajar AC pada bidang-EFGH yang memuat HG .

yang samadengan Perhatikan contoh berikut.K) = (a.a1) = POQ (artinya: sudut antara garis a POQ). Jadi sudut antara AC EGH. 2. maka yang dimaksud dengan sudut antara garis a dan bidang-K adalah sudut lancip yang dibentuk oleh garis a dan proyeksi garis a pada bidang-K. Dipilih titik P pada garis a. penerapan sudut antara diagonal-ruang dan bidangsisi balok! . Sudut antara Garis dan Bidang Pengertian: Jika garis a tidak tegaklurus terhadap bidang-K (dalam hal ini garis a memotong bidang-K). dan bidang-K samadengan sudut antara garis a dan garis a1.: Garis a memotong bidang-K di titik O. Karena G dan HG ditunjukkan juga oleh EG HG maka terdapat EGH. garis a1 merupakan proyeksi garis a pada bidang-K. maka sudut antara garis a dan bidang-K ditunjukkan oleh sudut lancip yang terbentuk oleh garis a 1 dan garis a. titik O merupakan perpotongan garis a dengan bidang-K. titik Q pada garis a1 dan juga pada bidang-K. Ditulis: (a.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 97 sehingga AC EG . „ a P „ K a1 Q O Gambar 21. Pada Gambar 21.

Sedangkan pada Gambar 22 (b).Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 98 Contoh: E F E F H A G B H A G B D (a) C D (b) C Gambar 22. diperlihatkan sudut yang dibentuk oleh diagonal-ruang DF dan bidang-sisi-ABCD adalah FDB. Sudut antara diagonal-ruang DF dan bidang-sisi pada balok-ABCD. diperlihatkan sudut yang dibentuk oleh diagonalruang DF dan bidang-sisi-BCGF adalah CFD. Proyeksi tegaklurus dari DF ke bidang-sisi- ABCD adalah DB . Selanjutnya perhatikan contoh berikut tentang sudut yang dibentuk oleh rusuktegak dan bidang-alas-limas. Sehingga sudut yang dibentuk oleh diagonal-ruang DF dan bidangsisi-ABCD ditunjukkan oleh diagonal-ruang DF dan diagonal-sisi DB . yaitu FDB. Proyeksi tegaklurus dari DF ke bidang-sisi-BCGF adalah FC . .EFGH Pada Gambar 22 (a). Sehingga sudut yang dibentuk oleh diagonal-ruang DF dan bidang-sisi-BCGF ditunjukkan oleh diagonal-ruang DF dan diagonal-sisi FC . yaitu FDB.

yaitu PDT. maka bidang-M disebut bidang tumpuan.ABCD.L). . Jika bidang tersebut dinamakan bidangM. menunjukkan sudut yang dibentuk oleh rusuk-tegak PB dan bidang-alas-ABCD pada limas P.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 99 Contoh: P B C T D A Gambar 23. yaitu PBT. yaitu bidang-K dan bidang-L saling berpotongan. Proyeksi tegaklurus dari PB ke bidang-alasABCD adalah TB . misalnya melalui satu titik P pada garis (K.ABCD ditunjukkan oleh PB dan TB .L). maka sudut antara bidang-K dan bidang-L ditetapkan sebagai berikut: (Perhatikan Gambar 24 !) Dipilih sebuah bidang yang tegaklurus terhadap garis (K.ABCD.ABCD ditunjukkan oleh PD dan TD .. dengan garis potong (K. juga menunjukkan sudut yang dibentuk oleh rusuk-tegak PD dan bidang-alasABCD pada limas P. 3. Sehingga sudut yang dibentuk oleh rusuk-tegak PD dan bidang-alas-ABCD pada limas P. Sehingga sudut yang dibentuk oleh rusuk-tegak PB dan bidangalas-ABCD pada limas P.. Sudut antara Dua Buah Bidang (berpotongan) Jika dua buah bidang.L). Proyeksi tegaklurus dari PD ke bidang-alas-ABCD adalah TD . Sudut antara PB dan bidang-alas-ABCD Gambar 23. Gambar 23.

M) dan garis (L. berarti m (H. maka sudut yang dibentuk oleh garis (K.(b). H V (a) Gambar 25.M) disebut sudut antara bidang-K dan bidang-L.M).V) = 90 . (b) Jika sudut antara dua buah bidang berupa sudut siku-siku atau berukuran 90 . maka dikatakan: kedua bidang tersebut saling tegaklurus. bidang-H tegaklurus terhadap bidang-V. sedang bidang yang memuat sudut tumpuan disebut bidang-tumpuan.M) dan garis (L.M) K Gambar 24. Misalnya pada Gambar 25.M) P (K. .Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 100 M L (L.L) (K. Sudut antara dua bidang disebut juga sudut tumpuan. Apabila bidang-M memotong bidang-K dan bidang-L berturut-turut pada garis (K.

Keterkaitannya berupa pengukuran volume. Berdasarkan Postulat Volume-1 semua bidang banyak pejal (bidang banyak sekaligus ruang di dalamnya) dapat dikaitkan dengan suatu bilangan real positif. dibedakan antara bidang-banyak dan bidang-banyak pejal. daerah segilima. seperti daerah segitiga. Sebarang bentuk geometri dimensi dua (kurva tertutup) pada suatu bidang ditetapkan mempunyai volume nol. bentuknya saja menyerupai balok. Segibanyak dan daerah segibanyak adalah dua hal yang berbeda. volume daerah segiempat adalah nol. volume daerah segilima adalah nol. Khusus untuk bentuk-bentuk geometri dimensi dua. Mengapa? Dalam mempelajari bidang-banyak. dan sebagainya. Dalam kehidupan. untuk keperluan pembangunan apa saja. Dalam hal ini kita membedakan istilah "balok" (kayu) dalam bahasa daerah (Jawa) dan dalam bahasa matematika Indonesia. Anda banyak melihat batang-batang kayu yang dikemas berbentuk balok. .Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 101 B. Ini berarti suatu volume merupakan suatu ukuran yang berkaitan dengan bidang banyak pejal dan volume berupa bilangan real positif. tetapi bukan balok. dikenal daerah segibanyak. ditetapkan mempunyai volume nol. Postulat Volume-1 Setiap bidang-banyak pejal beraturan dikaitkan dengan sebuah bilangan positif yang secara khusus disebut volume. Misalnya. volume daerah persegipanjang adalah nol. Batang-batang kayu tersebut merupakan model balok-pejal. kita pikirkan bidang-banyak pejal. dan sebagainya. bidang-banyak sekaligus interiornya. volume daerah segitiga adalah nol. Berkaitan dengan bahasan volume. Volum Bangun Ruang Dalam mempelajari segibanyak. daerah segiempat.

EFGH berpotongan dengan balok- KLMN. EFGH V balok KLMN . Perpotongannya berupa balok-TBCU. volume bentuk geometri ruang pada Gambar 26 dituliskan: V V balok V ABCD . Menurut Postulat Volume-2.PQRS. EFGH V balok KLMN . Jadi suatu kubus satuan mempunyai ukuran volume 1. . Balok ABCD. volume gabungan keduanya adalah jumlah volume keduanya dan dikurangi volume perpotongan keduanya. Kubus yang dimaksudkan Postulat Volume-3 tersebut. selanjutnya disebut dengan kubus satuan.PQRS atau balok-TBCU.PQRS Pada Gambar 26. H E D A T P U B S F=Q C G=R N K L M Gambar 26. volume seluruhnya adalah jumlah volume balok ABCD. dikurangi volume balok TBCU. PQRS V balok TBCU . PQRS atau V balok ABCD .Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 102 Postulat Volume-2 Untuk sebarang dua bidang-banyak pejal beraturan.PFGS (karena F=Q dan G=R) .PQRS. Secara simbolik. PQRS V balok TBCU .EFGH dan volume balok KLMN. PFGS Postulat Volume-3 Sebuah kubus yang rusuk-rusuknya mempunyai panjang 1 ditetapkan mempunyai volume 1.PQRS.EFGH berpotongan dengan Balok KLMN. Balok-ABCD.

memotong S1 dan juga S2. pemikiran volume tidak dikaitkan dengan satuan-satuan ukuran. Penggunaan satuan ukuran dipikirkan dalam praktek konstruksi geometri dalam kehidupan. Misalkan kita menyusun seperangkat kartu. (a) Gambar 27 (b) Kita susun pula seperangkat kartu lagi. maka S1 dan S2 mempunyai kesamaan volume. Kalau masing-masing tumpukan berisi kartu sama banyak. dan jika perpotongan-perpotongan yang berkorespondensi mempunyai kesamaan luas.(b)). seperti Gambar 27. . Postulat Volume-4 (Prinsip Cavalieri) Misalkan S1 dan S2. dengan susunan miring (Gambar 27. Semua irisan tersebut (kartu-kartu) mempunyai kesamaan luas. Prinsip Cavalieri tersebut diilustrasikan dengan Gambar 28. Sifat volume tersebut sangat penting dan dikemukakan oleh matematisi Italia: Bonaventura Cavalieri (1598-1647). Jika kedua perangkat kartu tersebut diletakkan pada permukaan sebuah meja.(a). pikiran Anda: seolah-olah Anda menentukan volume suatu benda padat/pejal dalam kehidupan. maka kita dapat mengimajinasikan bahwa setiap kartu menggambarkan sebagai irisan yang dibentuk oleh tumpukan kartu tersebut dengan bidang yang sejajar terhadap permukaan meja tersebut. maka keduanya memiliki kesamaan volume. Jadi kedua tumpukan kartu tersebut mempunyai ukuran volume yang sama.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 103 Berkaitan pengukuran volume suatu bentuk geometri ruang dalam bahasan ini. Ketika Anda menentukan volume suatu bidang-banyak. keduanya benda-pejal dan adalah suatu bidang. Jika setiap bidang yang sejajar dengan .

yaitu limas-segiempat-P. Jadi volume limas-segiempatP. kubus-kubus tersebut mempunyai kesamaan volume. Setiap daerahirisan sebarang kubus tersebut. Secara simbolik dituliskan: Jika L HIJK =L HIJK TUV.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 104 P Q H K A D C J I B E T V U F G Gambar 28 Gambar 28 menunjukkan dua buah limas.EFG Sekarang pikirkan kubus-kubus yang memiliki panjang rusuk 1. maka Vlimas-segiempat-P. Teorema 1 Volume sebarang prisma-tegak-persegipanjang (balok) adalah hasilkali luas bidang-alasnya dan tingginya. yang dimaksud adalah volume balok-pejal.ABCD dan limas-segitiga-Q. yaitu 1.dan kedua limas tersebut mempunyai tinggi yang sama. maka menurut Prinsip Cavalieri kedua limas tersebut mempunyai ukuran volume yang sama. Karena itu. Kedua limas tersebut dipotong oleh sebuah bidang yang sejajar dengan bidang.dan irisan/perpotongannya berupa daerah segiempat HIJK dan daerah segitiga TUV. Misalnya kalau kita menyebut volume balok.EFG.ABCD = Vlimas-segitiga-Q. berdasarkan Prinsip Cavalieri. yaitu bidang. mempunyai luas 1.ABCD = Vlimas-segitiga-Q.EFG TUV. .EFG. atau L =L Vlimas-segiempat-P. Kedua bidang alas limas tersebut terletak pada satu bidang.ABCD samadengan volume limas-segitiga-Q. Kalau luas daerah segiempat HIJK samadengan luas daerah segitiga TUV. sejajar dengan bidang-alasnya. Untuk selanjutnya pembicaraan volume berkaitan dengan bentuk geometri ruang pejal.

Dalam kondisi bagaimanakah rumus tersebut cocok Volume suatu silinder adalah hasilkali luas alasnya dan tingginya. „ t bidang-alas t bidangalas [ t : tinggi Gambar 29 t bidang-alas Dalam pembelajaran volume suatu balok. Luas daerah bentuk geometri bidang yang lain dapat didekati/didasari dengan luas daerah segibanyak. dengan A = luas alas. kita pikirkan volume bentuk geometri ruang yang lain (silinder. di sekolah. t = tinggi A „t t t t A A A A A: bidang-alas.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 105 . t: tinggi Gambar 30. yaitu V = p (tanpa mengubah lambang) ? Dalam mengkaji luas. A t . kerucut. bola) dapat didekati/didasari dengan volume bidangbanyak-pejal-beraturan. Teorema 2 V sikinder l t. dikenal rumus untuk menentukannya. kita mengaitkannya dengan daerah segibanyak. Dengan cara yang identik. Silinder-silinder (tabung-tabung) t .

Macam-macam Limas Segitiga .t : tinggi ( ) Gambar 32. dengan A = luas alas. Oleh karena itu menurut Teorema 2. t = tinggi A „t t t A A . t = tinggi . dengan A = luas alas. V prisma A t. maka volume suatu prisma adalah hasil kali luas alasnya dan tingginya.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 106 Suatu prisma merupakan suatu bentuk khusus dari suatu silinder. A: bidang-alas t : tinggi t Gambar 31 Macam-macam Prisma Teorema 3 Volume suatu limas-segitiga adalah sepertiga dari hasilkali luas bidangalasnya dan tingginya. V lim as segitiga 1 3 A t. t t t A A A A: bidang-alas (daerah segitiga yang diarsir) . .

t = tinggi-limas.EFGH dengan rusuk sepanjang s memuat limasP. dengan A = luas alas.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 107 Dengan dasar teorema perhitungan volume limas segitiga. Gambar 33. Jadi secara umum. maka untuk perhitungan volume limas yang bidang alasnya bukan daerah segitiga dapat didekati dengan membentuk limas-limas segitiga dalam limas tersebut.DCGH. V lim as 1 3 A t . Ilustrasi perhitungan volume limas segiempat dan limas segilima dengan pendekatan volume limas segitiga.BCGF. Misalnya seperti yang disajikan dalam Gambar 33. limas-P.ABCD. limas-P.ADHE . Contoh: Berapakah volume limas-limas pada Gambar 34? H G P E F D C A s B Gambar 34 Kubus-ABCD. dan limas-P. volume limas adalah sepertiga dari hasilkali luas alas dan tinggi limas. limas-P.ABFE.

Jadi LdaerahABCD = Ldaerah-BCGF = Ldaerah-CDHG = Ldaerah-ADHE = Ldaerah-ABFE = Ldaerah-EFGH = s2. yaitu daerah-ABCD.EFGH terdapat limas-tegak-persegi-P. limas-P. Berarti luas alas limas tersebut adalah Ldaerah-ABCD = s2. dan tinggi limas = jarak antara P dan daerah-ABCD = OP = s. (mengapa?) . dan tingginya samadengan jarak P terhadap daerah-ABCD. limas-P. maka setiap daerah persegi tersebut mempunyai luas s2. dan daerahEFGH. daerah-ADHE. ketiga limas tersebut masing-masing mempunyai volume yang samadengan volume limas-P. Berarti AB = BC = CD = AD = AE = BF = CG = DH = EF = FG = GH = EH = s. daerahBCGF. daerah-CDHG.EFGH berupa daerah persegi.EFGH juga terdapat limas-tegak-persegi-P.ABCD = 1 Ldaerah-ABCD × OP = 3 2 1 1 3 ×s ×s= 3s . 2) Dalam kubus-ABCD.ADHE dengan bidang-alas daerah-ADHE.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 108 1) Kubus-ABCD.ADHE = 1 3 1 2 s. dan tingginya samadengan jarak P terhadap daerah-ADHE.EFGH dengan rusuk sepanjang s. H Q E P F G Sehingga Vlimas-P. Sehingga 1 6 Ldaerah-ADHE × PQ = 1 3 × s2 × 1 2 s= s3. 3 D O A s Gambar 35 B C 3) Dalam kubus-ABCD.DCGH. Berarti luas alas limas tersebut adalah Ldaerah-ADHE = s2.BCGF. Karena bidang-sisi-bidang-sisi kubus-ABCD.ABCD dengan bidang-alas daerah-ABCD.ABFE. yaitu limas-P. daerah-ABFE. 4) Limas-limas yang lain. dan tinggi limas = jarak antara P dan daerah-ADHE = PQ = Vlimas-P.ADHE.

jika diketahui panjang sisi segienam tersebut a dan tinggi limas tersebut h ? P F A B Gambar 36 Penyelesaian: Sketsa bidang-alas F E E D C Karena segienam ABCDEF berupa segienam beraturan. CF yang berhadapan. berarti m OAF = m OFA = m OFE = m OEF = m OED = m ODE = m ODC = m OCD = m OCB = m OBC = m OBA = m OAB = 60o.ABCDEF seperti Gambar 36. BE . yaitu berpotongan di satu titik. Demikian juga m FOA = m EOF = m DOE = m COD = m BOC = m AOB = 60o. yaitu 120 o. berarti tiga buah diagonal dari dua A O D titik-sudut AD . Karena setiap sudut-dalam segienam-beraturan sama besar. Titik O tersebut juga merupakan pusat B Gambar 37 Masing-masing diagonal tersebut juga merupakan garis-bagi sudut-dalam segienam tersebut.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 109 Contoh: Bagaimanakah perhitungan volume limas-tegak-segienam-beraturan- P. Sehingga masingC lingkaran-luar segienam tersebut. O. .

a 2 A a Gambar 38 B L AOB 3a 2 a 3 4 Sehingga L segienam ABCDE 6 L AOB 6 a 2 3 4 3 2 a 2 3 Limas-tegak-segienam-beraturan-P. dan AOF berupa segitiga-samasisi. ABCDEF 1 3 L segienam ABCDEF h 1 3 (3 a 2 2 3) 2 h 1 2 a h 3 2 Jadi volume limas tersebut adalah V lim as P . EOF. Karena panjang sisi segienam-beraturan tersebut a. . O „ s a 1 2 ( AB AO BO ) 1 2 (a a a) 3a 2 a L L AOB s (s 3a 2 AB )( s a )( 32a a 2 a 2 AO )( s a )( 32a 2 BO ) a) AOB ( 32a . Jadi L segienam ABCDE 6 L AOB Luas daerah segitiga yang diketahui panjang sisi-sisinya dapat dihitung dengan menggunakan rumus Heron. BOC.ABCDEF tersebut mempunyai tinggi h. L segienam ABCDE L AOB L BOC L COD L DOE L EOF L AOF Setiap segitiga-samasisi tersebut diketahui panjang sisi-sisinya yaitu a. yaitu AOB. DOE. maka perhitungan volume limas tersebut : Vlim as P . Oleh karena itu luas daerah segienam-ABCDEF samadengan jumlah luas daerah-daerah segitiga samasisi tersebut. berarti luas daerah setiga-samasisi tersebut sama besar. COD. ABCDEF 1 2 a h 3 . maka panjang sisi setiap segitiga-samasisi tersebut juga a.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 110 masing segitiga yang terbentuk. .

maka limas tersebut dinamakan limas-talibusur. Dengan memanfaatkan limas-talibusur. dan bidang-alas limas merupakan segibanyak talibusur pada bidang-alas kerucut tersebut. Karena dari suatu kerucut dapat dibentuk sebanyak mungkin suatu limas-talibusur dan dari limas-talibusur dapat dibentuk limas-limas segitiga. Gambar 39. dan limas-segilima-talibusur. dengan A = luas alas. limas-segiempat-talibusur. t = tinggi-kerucut. yaitu limas-segitigatalibusur. Perhatikan Gambar 40 berikut! . Volume suatu kerucut adalah sepertiga dari hasilkali luas alas dan tinggi kerucut.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 111 Definisi Limas Talibusur Jika suatu limas dan suatu kerucut-lingkaran mempunyai kesamaan puncak. maka perhitungan volume kerucut dapat didekati dengan perhitungan volume limas-talibusur. Limas-limas Talibusur Gambar 39 menyajikan tiga macam limas-talibusur. V ker ucut 1 3 A t . maka dengan pemikiran tersebut dapat dinyatakan bahwa perhitungan volume kerucut sama dengan perhitungan volume limas. Titik-sudut-titiksudut bidang-alas-limas terletak pada lingkaran-alas suatu kerucut dan puncak-puncaklimas berimpit dengan puncak-kerucut. Teorema 4: Volume suatu bola adalah hasilkali 4 3 dan pangkat-tiga jari-jarinya.

maka luas daerah h2). C r O V . Di dalam silinder terdapat dua kerucut lingkaran tegak yang tingginya t.2 r 2 r 4 3 3 2 3 2 . Pada Gambar 40. sehingga luasnya h2. lingkaran tadi samadengan ( r2 Berdasarkan Prinsip Cavalieri. Puncak kedua kerucut tersebut berimpit di titik V. Pada Gambar 40. r .(1) berupa silinder-lingkaran-tegak yang alasnya berjari-jari r dan tinggi 2r. r Gambar 40 Gambar 40. 1 .(2).(1). daerah lingkaran yang diberi arsiran mempunyai jari-jari OC. maka volume bola tersebut samadengan volume ruang dalam silinder di luar kerucut-kerucut (bagian silinder). Oleh karena itu luas annulus (daerah dalam lingkaran yang diberi arsiran) yang terbentuk mempunyai luas ( r2 h2). sehingga luasnya . Sedangkan lingkaran kecil di dalamnya berjari-jari h. Ada sebuah bidang yang memotong silinder maupun bola. h = OV.OC2. Sehingga: V bola V bagian 2 silinder V silinder 2 V ker ucut ker ucut r . Misalkan jarak dari O ke V adalah h. dan perpotongannya berbentuk daerah lingkaran dengan pusat O.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 112 (1) (2) O V .r 3 r 3 r 3 . daerah lingkaran (penuh) yang diberi arsiran berjari-jari r. sehingga luasnya r2.(2) berupa bola dengan jari-jari r dan Gambar 40. Karena OC2 = VC2 – VO2 = r2 – h2.

telah terbukti bahwa perhitungan volume bola dapat dirumuskan: V bola Contoh: 4 3 r . dengan r = jari-jari bola. Oleh karena itu perbandingan antara volume bola dan volume kerucut dalam bola tersebut dihitung sebagai berikut: V bola : V ker ucut ( 4 r ) : ( 1 .Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 113 Dengan demikian.L alas 3 3 3 2 3 2 3 ker ucut . r . Dengan demikian tinggi kerucut tersebut samadengan jari-jari bola. dan OP AB . Di dalam bola O terdapat sebuah „ A r O C B kerucut berpuncak di titik P dan bidang-alasnya berimpit dengan lingkaran-besar dalam bola O. r . berpusat di titik O dan berjari-jari r. Sehingga bidang-alas kerucut berupa daerah lingkaran-besar dalam bola Gambar 41 dan diameter bidang-alas kerucut tersebut sama panjang dengan diameter lingkaran-besar Bidang-alas kerucut tersebut berupa daerah-lingkaran. Diketahui pula bahwa OP AB . jari-jari bola atau jari-jari lingkaran-besar dalam bola. ini berarti kerucut dengan puncak P tersebut merupakan kerucut-lingkaran-tegak. O pada AB . Oleh karena itu OA = OB = OC = r. Berapakah perbandingan antara volume bola dan volume kerucut dalam bola yang disajikan Gambar 41 ? P Bola yang digambarkan pada 3 Gambar 41. Titik P pada bola (permukaan bola).r ) 3 3 4 : 1 (4 r ) : (1 r ) 3 3 3 3 .r ) 3 3 ( 4 r ) : ( 1 . Ini berarti panjang OP samadengan jari-jari bola.t ) ( 4 r ) : ( 1 . berarti kerucut tersebut merupakan kerucut-lingkaran. atau OP = r.

Rangkuman Sudut dalam ruang meliputi sudut antara dua garis yang bersilangan.2. Volume bangun ruang didasarkan pada perhitungan volume kubus satuan. maka volume antara bangunbangun ruang dapat ditentukan dari volume bangun ruang yang lain. Dengan keberadaan Postulat Volume (Prinsip Cavalieri).2. Latihan 2 1) 2) Jelaskan cara menentukan sudut antara dua garis yang bersilangan ! Jelaskan cara menentukan sudut yang dibentuk oleh sebuah garis yang memotong sebuah bidang ! 3) 4) 5) Apakah yang dimaksud dengan bidang tumpuan? Jelaskan cara menentukan volume sebuah kerucut ! Jelaskan cara merumuskan volume bola ! Kunci Jawaban Latihan 2 1) Lihat uraian tentang sudut antara dua garis yang bersilangan ! 2) Lihat uraian tentan sudut antara garis dan bidang ! 3) Lihat uraian tentan sudut antara dua bidang ! 4) Lihat uraian tentang perhitungan volume kerucut ! 5) Lihat uraian tentang penurunan rumus volume bola ! 4.2. dan sudut antara dua bidang yang berpotongan. .3. yaitu sudut antara garis dan proyeksi garis tersebut pada bidang yang dipotong. Sudut anatar dua garis yang bersilangan ditentukan oleh sudut yang dibentuk oleh garis-garis yang sejajar dengan masing-masing garis yang bersilangan tersebut. sudut yang dibentuk oleh garis yang memotong bidang. Sudut antara garis dan bidang ditentukan dari sudut yang terbentuk oleh garis yang memotong bidang.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 114 4. Sudut antara dua bidang yang berpotongan ditentukan oleh perpotongan bidang tumpuan dengan garis potong dua bidang yang berpotongan tersebut.

HBA HBC HBD HDB 3) Sudut antara bidang-ADHE dan bidang-DCGH adalah: A. D. B.2. Tes Formatif 2 Petunjuk: Pilih satu jawaban yang tepat untuk setiap soal dari 4 alternatif jawaban yang disediakan dengan memberikan tanda cross (X) pada huruf A. DCG atau BCG atau ACG atau ACH atau ABF CBF BHG GCH 2) Sudut yang dibentuk oleh BH dan bidang-ABCD adalah: A.4. B. atau D sesuai dengan jawaban yang Anda pilih ! H G E F D C A Gambar 42 B Gambar 42 tersebut merupakan bantuan untuk menyelesaikan soal nomor 1) – 5) ! 1) Sudut antara AB dan CG adalah: A. C. B.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 115 4. C. D. ADH ADC AHC ACH . B. D. C. C.

JHI A B E D C . limas talibusur C.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 116 4) Sudut antara AD dan HB dapat diwakilkan oleh A. V ABD . C. JHI V EBD . GFI V BAD . JFI V EAD . V ACD . B. EGI B. yaitu: A. V ABD . C. bidang-HEAD atau bidang-HGCD D. bidang-ABFE atau bidang-HGCD C. EJI V BCD V BCD . GHI V BAD . V ACD . D. bidang-HEAD atau bidang-ABCD 6) Sudut-tumpuan untuk sudut antara bidang-BCGF dan bidang-EFGH. kerucut talibusur D. yaitu: A. EGI D. limas tegak segitiga B. bidang-ABFE atau bidang-ABCD B. kerucut tegak segitiga . B. EJI C. D. ADC HAD HBC ABH 5) Bidang-tumpuan untuk sudut antara bidang-BCGF dan bidang-EFGH. GHI V EAD . JFI V EBD . BCG BFE DCG DBC J F G I H 7) Volume bangun ruang yang digambarkan di sebelah kanan samadengan A.GFI 8) Perhitungan volume suatu kerucut lingkaran tegak didekati dengan perhitungan volume: A.

Volume kerucut terpancung tersebut adalah B. Volume kerucut terpancung tersebut adalah D. 4 3 p3 p3 p3 p3 1 2 k3 k3 k3 k3 4 3 1 3 4 3 1 6 4 3 1 12 . Volume kerucut terpancung tersebut adalah 10) Misalkan gambar di sebelah kanan sebuah bola berjari-jari p dan di ruang dalamnya terdapat kerucut lingkaran tegak dengan tinggi k dan jari-jari bidang-alasnya 1 2 2 9 17 54 11 36 r r r 3 3 3 5 18 r 3 k . lingkaran Perpotongannya dengan jari-jari daerah 1 3 r dan jarak r dari puncak kerucut. D. B.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 117 9) Gambar di sebelah kanan berupa suatu kerucut lingkaran tegak dengan jari-jari alas r dan tinggi r. dipotong oleh sebuah bidang yang sejajar dengan bidang-alas berupa 1 2 kerucut. Berapakah volume kerucut terpancung yang terbentuk? A. C. Volume kerucut terpancung tersebut adalah C. Berapakah volume ruang dalam bola yang tidak dipotong oleh kerucut tersebut? A.

69% = baik = cukup = kurang Bila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas. Anda dapat meneruskan ke modul berikutnya. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang terdapat di bagian belakang modul ini. Bagus! Tetapi bila tingkat penguasaan Anda di bawah 60%.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 118 4. Anda harus mengulangi Kegiatan Belajar 2 terutama bagian yang belum Anda kuasai.2.89% 70% .5.100% = baik sekali 80% . Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan 2. Rumus: Tingkat penguasaan Jumlah jawaban Anda 10 yang benar 100 % Arti tingkat penguasaan yang Anda capai: 90% .79% . .

Kunci Tes Formatif 2 1) 2) 3) A C B Karena AB dan CG bersilangan. 6) 7) 8) 9) 10) B D A B A Keduanya memotong bidang-EFGH di titik H. dan CG DH Proyeksi BH ke bidang-ABCD adalah BD Karena ADC terletak pada bidang-ABCD sebagai salah satu bidang tumpuan antara bidang-ADHE dan bidang-DCGH 4) C Karena AD dan HB bersilangan. Kunci Tes Formatif 1 1) 2) C B Karena ketiga garis tersebut terletak pada satu bidang.2. Kunci Tes Formatif 5. AD BC . Keduanya terletak pada bidang-ABFE yang sejajar dengan bidang-DCGH Karena BDH siku-siku di titik D. AB CD .1. sehingga BD Karena BF Karena BA AB dan BF FG 3) 4) 5) C A B DH bidang ADHE dan BA BF 5.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 119 5. yaitu bidang-ABCD Karena AB HG Karena masing-masing terletak pada bidang yang berbeda Perpotongan dua bidang adalah tepat satu garis Bidang-BCGF dan bidang-ADHE merupakan bidang-sisi-bidang-sisi kubus yang saling sejajar.

Rinehart and Winston. 1987. Illionis: Laidlaw Brothers. Inc.Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 120 5) 6) 7) 8) B B A B Karena bidang-ABFE FG dan juga bidang HGCD FG Karena F dan BF pada bidang-BCGF. Inc. Smith. Jameson. Mould. New York: Holt. River Forest. F dan EF pada bidang EFGH Jumlah volume prisma-prisma segitiga Limas talibusur merupakan limas yang puncaknya berimpit dengan puncak kerucut dan titik-titik-sudutnya pada lingkaran-bidang-alaskerucut 9) C V ker V sisa ucut terpancung V ker V bola ucut besar V ker 4 3 ucut kecil 1 3 r 2 3 1 3 ( 1 r) ( 1 r) 2 3 2 10) D ruang bola V ker ucut p 3 1 3 ( 1 k ) (k ) 2 6. GEOMETRY. 1967. b) Travers. A Division of Doubleday & Company. Referensi a) Keedy. . Exploring Geometry. Dalton. Layton.

Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 121 Glossary titik garis bidang bidang-alas bidang-sisi bidang-diagonal bidang proyeksi bidang-tumpuan ruasgaris sudut sudut antara dua garis yang berpotongan sudut antara dua garis bersilangan sudut antara garis dan bidang yang berpotongan sudut-tumpuan colinear (kolinear) segaris titik-titik kolinear titik-titik yang segaris non-kolinear tak-segaris titik-titik non-kolinear titik-titik yang tak-segaris coplanar sebidang titik-titik coplanar titik-titik yang sebidang titik dan garis coplanar titik dan garis yang sebidang dua garis coplanar dua garis yang sebidang non-coplanar tak-sebidang sejajar dua garis sejajar garis sejajar bidang garis dan bidang yang saling-sejajar dua bidang sejajar berpotongan dua garis yang berpotongan dua garis yang berpotongan tegaklurus garis dan bidang yang berpotongan (garis menembus bidang) garis dan bidang yang berpotongan tegaklurus dua bidang yang berpotongan dua bidang yang berpotongan tegaklurus bersilangan dua garis bersilangan dua garis bersilangan tegaklurus bersekutu berpotongan jarak jarak antara dua titik jarak antara dua garis sejajar jarak antara dua garis bersilangan .

Modul 7: GEOMETRI RUANG -halaman 122 jarak antara titik dan garis jarak antara dua bidang yang sejajar jarak antara titik dan bidang jarak antara garis dan bidang yang saling sejajar diagonal diagonal sisi diagonal ruang bidang diagonal proyeksi proyeksi garis pada bidang proyeksi tegaklurus proyeksi tegaklurus garis pada bidang volume postulat volume volume benda pejal volume kubus volume kubus pejal volume kubus satuan volume balok volume balok pejal volume prisma volume prisma-tegak volume silinder/tabung volume silinder/tabung-tegak volume silinder/tabung-lingkaran-tegak volume limas volume limas-tegak volume limas-segibanyak-tegak volume limas-talibusur volume kerucut volume bola .