LAPORAN RESMI PRAKTIKUM ETOLOGI PENGAMATAN PERILAKU Mimosa pudica (PUTRI MALU

)

Disusun Oleh : Hafidha Asni Akmalia 08304241003 Febrianawati Yusup Sih Kusumaningrum Riza Sativani Hayati 08304241004 08304241015 08304241029

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2010

A. JUDUL Pengamatan Perilaku Mimosa pudica (Putri Malu) B. TUJUAN 1. Mengamati perilaku Mimosa pudica (putri malu) jika disentuh dengan lidi pada beberapa titik sentuh 2. Mengamati perilaku Mimosa pudica (putri malu) jika ditetesi dengan air pada beberapa titik penetesan 3. Mengamati perilaku Mimosa pudica (putri malu) jika ditetesi dengan kloroform pada beberapa titik penetesan

C. DASAR TEORI Putri malu atau Mimosa pudica merupakan tumbuhan yang berasal dari Amerika tropis yang ditemukan pada ketinggian 1200 meter di bawah permukaan laut. Ciri-ciri morfologi tumbuhan putri malu adalah daun berupa daun majemuk menyirip ganda dua yang sempurna. Jumlah anak daun berbentuk memanjang sampai lanset, ujung runcing, pangkal membundar, tepi rata, permukaan atas dan bawah licin, panjang 6-16 mm, lebar 1-3 mm, berwarna hijau, umumnya tepi daun berwarna ungu. Jika daun disentuh akan melipatkan diri, menyirip rangkap. Sirip terkumpul rapat dengan panjang 45,5 cm. Batang bulat, berambut, dan berduri temple. Akar berupa akar pena yang kuat. Bunga berbentuk bulat seperti bola, bertangkai, berwarna ungu/merah. Buah berbentuk polong, pipih seperti garis. Berikut klasifikasi ilmiah tanaman putri malu : Kerajaan : Plantae Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Fabales : Fabaceae : Mimosa : Mimosa pudica

dan tulang daun. Rangsangan pada putri malu menjalar baik dari ujung ke pangkal maupun dari pangkal ke ujung. Gerak niktinasti dan seismonasti yang dimiliki oleh putri malu tergolong dalam gerak nasti (gerak bagian tumbuhan yang arahnya tidak ditentukan oleh arah datangnya rangsangan) serta tergolong ke dalam gerak etionom (gerak yang disebabkan karena adanya rangsangan dari luar tumbuhan berupa faktor-faktor lingkungan). Setelah beberapa saat tertentu tekanan turgor sedikit demi sedikit akan kembali ke keadaan normalnya diikuti dengan tegaknya kembali batang. Pada saat bagian tumbuhan putri malu disentuh. dan atau tulang daun menjadi layu dan diikuti dengan mengatupnya daun putri malu. Alhasil batang. Adanya aliran air tersebut menyebabkan kadar air sel-sel motor di daerah sentuhan berkurang. Gerak buka-tutup terjadi . sehingga tekanan turgornya mengecil. cabang. daun Putri malu menguncup akibat hilangnya turgor karena air dalam sel-sel pulvinus keluar. yakni terhadap sentuhan (seismonasti) dan terhadap intensitas cahaya matahari atau melakukan gerakan tidur pada malam hari (niktinasti). Pulvinus adalah organ penggerak khusus yang berada di tulang daun. Jika sebatang korek api menyala ditaruh di bawah ujung selembar daunnya. Putri malu ini seakanakan jatuh pingsan dan daun-daunnya tergulung erat. tetapi secara bertahap dengan cepat semua daun yang lain yang setangkai dengan daun itu akan menguncup pula. cabang.Tumbuhan putri malu memiliki dua macam kepekaan. Pada saat mereaksi sentuhan. terjadi aliran air menjauhi daerah sentuhan. Lalu ranting pun terkulai oleh karena hilangnya turgor pada pangkalnya. Tekanan turgor merupakan tekanan air pada dinding sel akibat perubahan kadar air dalam sel tumbuhan. akhirnya rangsangan itu perlahan-lahan bergerak ke seluruh bagian atas dan bawah batang dan menyebabkan keadaan terkulai yang menyeluruh. maka bukan daun itu saja yang segera menguncup. dan mekarnya seluruh daun. Gerak nasti terjadi disebabkan karena adanya rangsangan dari luar menyebabkan perubahan tekanan turgor pada sel-sel batang. cabang. Kemudian perlahan-lahan ruas utama pun bereaksi. Juga disebabkan karena hilangnya turgor dalam sel-sel pulvinus.

Pulvinus pada pangkal anak daun primer berperan sama seperti pulvinus pada pangkal tangkai daun. sehingga bagian tumbuhan itu menjadi kaku. sehingga daun-daun putri malu saling menutup. Tetapi pulvinus pada pangkal anak daun sekunder berperan dengan cara sebaliknya. Seiring dengan peristiwa ini vakuola menyerap air dengan cepat lalu membengkak dan menekan cairan sel ke dinding sel serta mengakibatkan tekanan turgor untuk meregangkan dinding sehingga berukuran lebih besar. Dengan kata lain. air keluar dari sel-sel bagian bawah pulvinus yang berdinding tipis menuju ruang antar sel. Akhirnya mungkin seluruh tubuh terpengaruh. Seperti bola sepak yang telah dipompa. Ketika pengaruh rangsangan telah dipindahkan menuju pulvinus pada pangkal tangkai daun. Bila tumbuhan kekurangan air karena menguap atau keluar dari sel seperti yang terjadi pada sel-sel pulvinus putri malu yang terkena rangsangan. Sedangkan rangsangan yang lebih kuat menimbulkan reaksi serupa di dalam sel-sel pulvinus pangkal ranting.karena perubahan keseimbangan air (turgor) dalam sel-sel pulvinus. dinding sel pun menjadi kencang. Adanya rangsangan kecil menghilangkan keseimbangan air di dalam sel-sel pulvinus pangkal daun karena air dalam sel-sel tersebut mengalir ke luar. Jika turgor hilang sama sekali maka daun dan batang akan menjadi semakin lemas dan putri malu pun terkulai. pada saat tumbuhan terangsang. Sel-sel ini memiliki dinding sel tipis dan terisi air dari pembuluh lembut jaringan pengangkut yang berhubungan dengan sistem saluran pusat tumbuhan. Di dalam sel tumbuhan terdapat suatu struktur yang dapat mempertahankan turgor. Karena sel-sel ini kehilangan turgornya sedangkan sel-sel pada bagian atas pulvinus tetap membengkak. Kekencangan ini dilipatgandakan beribu-ribu kali di dalam semua sel yang terdapat dalam pulvinus. pulvinus pada pangkal tangkai daun dan pangkal tangkai anak daun primer akan menyebabkan tangkai daun dan tangkai anak . struktur itu adalah vakuola. maka turgor sel berkurang dan kekakuan tumbuhan pun berkurang. maka tangkai daun pun terkulai. Vakuola mengeluarkan proton (H+) yang dapat melemahkan dinding.

Hal yang sama dengan perubahan yang berlawanan dengan volume sel motor adalah suatu perpindahan masif ion kalium dari satu sisi pulvinus ke sisi lainnya. Pada kenyataannnya. Vakuola ini berkontraksi ketika terangsang. Seperti dijelaskan. Ketika daun berada dalam posisi horizontal. tannin. Terlihat bahwa keunikan . yang mana ini berada dalam vakuola sentral sel-sel motor. Sel motor parenkim dalam pulvini merupakan unit yang memiliki kemampuan berkontraksi terhadap reaksi. Respon daun putri malu satu per satu mengatup dari yang teratas sampai pada yang terbawah. mungkin karena kehilangan berbagai garam dalam sel dan pemulihannya dengan mengambil cairan kaya garam oleh vakuola. sel-sel pada satu sisi pulvinus akan membengkak (turgid). Hal ini akan terbalik pada malam hari ketika daun itu menutup ke posisi tidurnya.daun mengarah ke bawah. di mana putri malu menghentikan proses fotosintesisnya. Sedangkan pulvinus pada pangkal daun sekunder menyebabkan anak-anak daun mengarah ke atas sehingga saling menutup. Itu menunjukkan bahwa cairan intraseluler atau cairan sel yang akan dilepaskan atau dikeluarkan dari permukaan potongan pulvinus utama di bawah rangsangan yaitu kaya akan kalium. Pernyataan itu secara umum diterima bahwa pergerakan diakibatkan oleh pengurangan atau hilangnya turgor dalam sel secara tiba-tiba. pertukaran garam ion terjadi diantara daerah intra dan ekstra seluler selama rangsangan. Hal yang tidak terlalu jauh berbeda terjadi ketika matahari mulai terbenam yang berarti intensitas cahaya matahari semakin lama semakin berkurang. dan juga ditemukan di daerah interseluler sehingga disimpulkan bahwa beberapa unsur-unsur dalam sel yang terlarut dalam cairan intraseluler atau cairan sel dilepaskan ke luar selama rangsangan yang berakibat pada penurunan turgor sel motor. Hantaran akson pada hewan tergantung pada peningkatan permeabilitas ion dan mungkin terjadi juga pada sel motor Mimosa. sementara sel pada sisi berlawanan akan menjadi lembek dan melemah. kalium adalah suatu zat osmotik yang menyebabkan pengambilan dan kehilangan air secara dapat dibalik oleh sel motor. Proses ini disebut juga gerak tidur. dan subtansi lainnya. Subtansi tannin yang berfungsi bagi tumbuhan tidak diketahui berada dalam vakuola tannin.

Fungsi umum elemen tabung penyaring adalah untuk transportasi zat terlarut sepanjang poros longitudinal tumbuhan. Peneliti berpendapat bahwa kalium mungkin merupakan agen osmotik yang bertanggungjawab pada penurunan turgor sel pulvinar selama reaksi seismonasti. yang berada dalam vakuola tannin (dalam vakuola sentral). kalsium yang meninggalkan vakuola tannin mungkin membentuk komplek dengan fibril dan dapat mengubah konformasinya. Ditemukan juga bahwa permeabilitas kalium pada membran seluler menurun dengan konsentrasi kalium luar yang rendah. maka penurunan potensial pun terjadi. Aktivitas elektrikal dan mekanikal dari vakuola kontraktil terkait dengan peningkatan hilangnya ion melalui membran plasma dan secara bersamaan terlihat peningkatan aktivitas ATPase. Diasumsikan bahwa pada Mimosa suatu sistem ATP-ATPase-kalsium mungkin mengaktifkan filament atau protein kontraktil yang terjadi dalam sitoplasma vacuolar dan menyebabkan kontraksi pulvinus. Yang pertama lebih luas dan pendek serta yang kedua lebih panjang dan sempit. mekanisme umum diantara pergerakan kontraktil tumbuhan dan hewan dapat dikatakan ada. Hal ini dapat menaikkan kontraksi vakuola.pada Mimosa adalah sel khusus dalam floem luar dan floem dalam yang berperan sebagai jalan hantaran. ATP berada dalam organ motor seperti pada pulvinus utama Mimosa. sekitar 3-4 kali lebih banyak daripada yang berada pada bagian tak bergerak dari tumbuhan. Telah ditunjukkan bahwa kalium berpindah dari sel motor menuju daerah interseluler selama rangsangan pada Mimosa. Dua tipe dari sel tabung penyaring menyusun floem luar. Ion kalsium. Ditemukan bahwa membukanya stomata dalam sel penjaga . Ditemukan bahwa paliran kalium dari sel pulvinar Mimosa meningkat secara subtansi selama respon seismonasti dengan peningkatan konsentrasi kalium larutan luar. ketika dilepaskan selama reaksi berikatan den gan protein dan mengubah konformasinya. Berdasarkan hal ini dan bukti sebelumnya. Jalan hantaran Mimosa mirip pada syaraf hewan dan transmisi impuls mengikuti pola yang mirip oleh karena itu mudah dilihat mengapa sel khusus floem tersusun seperti komponen seluler yang keras.

Botol Vloken (1 buah) 3. Kloroform 3. Air 2. Diusulkan bahwa sistem ATP-ATPase mungkin terlibat dalam pengumpulan garam atau ion dan berperan dalam proses pemulihan sel motor Mimosa. CARA KERJA Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan Menentukan satu tumbuhan Mimosa pudica yang akan diamati peilakunya Memberikan tiga jenis perlakuan pada Mimosa pudica tersebut. Perlakuan Sentuhan dengan Lidi pada Beberapa Titik Sentuh Menyiapkan lidi dengan ukuran 5 cm Menyentuhkan lidi tersebut pada bagian ujung batang Mimosa pudica Memperhatikan arah mengatup daun Mimosa pudica setelah disentuh dengan lidi pada ujung batang Mimosa pudica . Kamera Digital (2 buah) 6. ALAT DAN BAHAN Alat : 1. penetesan dengan air dan dengan kloroform pada beberapa titik tetes 1. Beaker Glass (2 buah) 4. Stop Watch Bahan : 1.dipengaruhi oleh pengambilan ion ini. Pipet Tetes (3 buah) 2. Lidi (5 cm) 5. yaitu perlakuan sentuhan dengan lidi pada beberapa titik sentuh. Mimosa pudica (Putri Malu) E. D.

tengah daun (tengah cabang ibu tangkai daun). Perlakuan Tetesan dengan Air pada Beberapa Titik Penetesan Menyiapkan air yang akan digunakan dalam praktikum secukupnya Meneteskan 1 tetes air pada bagian ujung batang Mimosa pudica dengan jarak 5 cm dari ujung tetesan air dengan objek yang akan ditetesi air .Memperhatikan pola mengatup daun Mimosa pudica setelah disentuh dengan lidi pada ujung batang Mimosa pudica Melakukan perhitungan kecepatan mengatup daun Mimosa pudica dengan mengukur jarak dan waktu yang diperlukan daun Mimosa pudica untuk mengatup. dan percabangan batang secara berturut-turut 2. Mengukur selang waktu yang diperlukan oleh daun Mimosa pudica untuk membuka kembali seperti semula dengan stopwatch Mendokumentasikan proses perilaku Mimosa pudica tersebut dalam bentuk video ataupun foto Melakukan hal yang sama seperti kegiatan di atas namun dengan titik sentuh yang berbeda. ujung daun. yaitu pada tengah batang.

Memperhatikan arah mengatup daun Mimosa pudica setelah ditetesi dengan air pada ujung batang Mimosa pudica Memperhatikan pola mengatup daun Mimosa pudica setelah ditetesi dengan air pada ujung batang Mimosa pudica Melakukan perhitungan kecepatan mengatup daun Mimosa pudica dengan mengukur jarak dan waktu yang diperlukan daun Mimosa pudica untuk mengatup. dan percabangan batang secara berturut-turut 3. yaitu pada tengah batang. ujung daun. tengah daun (tengah cabang ibu tangkai daun). Perlakuan Tetesan dengan Kloroform pada Beberapa Titik Penetesan Menyiapkan kloroform yang akan digunakan dalam praktikum secukupnya Meneteskan 1 tetes kloroform pada bagian ujung batang Mimosa pudica dengan jarak 5 cm dari ujung tetesan kloroform dengan objek yang akan ditetesi kloroform . Mengukur selang waktu yang diperlukan oleh daun Mimosa pudica untuk membuka kembali seperti semula dengan stopwatch Mendokumentasikan proses perilaku Mimosa pudica tersebut dalam bentuk video ataupun foto Melakukan hal yang sama seperti kegiatan di atas namun dengan titik sentuh yang berbeda.

Sentuhan pada Ujung Daun 1) Arah Katupan Daun / Tangkai Ke Atas . tengah daun (tengah cabang ibu tangkai daun). dan percabangan batang secara berturut-turut F. Sentuhan pada Ujung Batang Mimosa pudica tidak mengalami perubahan (daun tidak mengatup) b. yaitu pada tengah batang. Sentuhan pada Tengah Batang Mimosa pudica tidak mengalami perubahan (daun tidak mengatup) c. ujung daun. DATA HASIL PENGAMATAN 1.Memperhatikan arah mengatup daun Mimosa pudica setelah ditetesi dengan kloroform pada ujung batang Mimosa pudica Memperhatikan pola mengatup daun Mimosa pudica setelah ditetesi dengan kloroform pada ujung batang Mimosa pudica Melakukan perhitungan kecepatan mengatup daun Mimosa pudica dengan mengukur jarak dan waktu yang diperlukan daun Mimosa pudica untuk mengatup. Mengukur selang waktu yang diperlukan oleh daun Mimosa pudica untuk membuka kembali seperti semula dengan stopwatch Mendokumentasikan proses perilaku Mimosa pudica tersebut dalam bentuk video ataupun foto Melakukan hal yang sama seperti kegiatan di atas namun dengan titik sentuh yang berbeda. Perlakuan Sentuhan dengan Lidi pada Beberapa Titik Sentuh a.

3 cm Kecepatan : 0. Sentuhan pada Tengah Daun (Tengah Cabang Ibu Tangkai Daun) 1) Arah Katupan Daun / Tangkai Ke Atas 2) Kecepatan Mengatup Jumlah Daun yg Mengatup : 1 helai daun saja Waktu Mengatup : 1 detik Jarak : 0. Sentuhan pada Percabangan Batang Mimosa pudica tidak mengalami perubahan (daun tidak mengatup) 2. Tetesan pada Ujung Daun 1) Arah Katupan Daun / Tangkai Ke Atas 2) Kecepatan Mengatup Daun yang Mengatup: semua anak daun pada cabang ibu tangkai daun kedua dan ketiga serta satu pasang anak . Tetesan pada Tengah Batang Mimosa pudica tidak mengalami perubahan (daun tidak mengatup) c.006 m/s 3) Pola Mengatup Sepasang anak daun mengatup secara bersama-sama 4) Selang Waktu Membuka Kembali 4 menit 58 detik d. Perlakuan Tetesan dengan Air pada Beberapa Titik Penetesan a.003 m/s 3) Selang Waktu Membuka Kembali 4 menit 28 detik e.2) Kecepatan Mengatup Jumlah yang mengatup : sepasang anak daun Waktu Mengatup : 1 detik Jarak : 0. Tetesan pada Ujung Batang Mimosa pudica tidak mengalami perubahan (daun tidak mengatup) b.6 cm Kecepatan : 0.

Tetesan pada Tengah Daun (Tengah Cabang Ibu Tangkai Daun) 1) Arah Katupan Daun / Tangkai Ke Atas 2) Kecepatan Mengatup Jumlah yang mengatup : Semua anak daun dari salah satu cabang ibu tangkai daun Waktu Mengatup : 2 detik Jarak : 7 cm Kecepatan : 0.daun pada ujung cabang ibu tangkai daun pertama dan keempat Waktu Mengatup : 6 detik Jarak : 4. Perlakuan Tetesan dengan Kloroform pada Beberapa Titik Penetesan a. 4) Selang Waktu Membuka Kembali 7 menit 5 detik e.0075 m/s 3) Pola Mengatup Semua anak daun menutup secara bersamaan 4) Selang Waktu Membuka Kembali 8 menit 2 detik d. Tetesan pada Ujung Batang 1) Arah Katupan Daun / Tangkai Ke atas 2) Kecepatan Mengatup Daun yang mengatup : seluruh anak daun dari daun kedua beserta tangkainya .5 cm Kecepatan : 0.07 m/s 3) Pola Mengatup Daun mulai mengatup dari anak daun paling pangkal diikuti dengan anak daun atasnya. Tetesan pada Percabangan Batang Mimosa pudica tidak mengalami perubahan (daun tidak menutup) 3.

Waktu Mengatup : 4 detik Jarak : 7.5 cm Kecepatan : 0. . kedua. dan keempat.5 cm Kecepatan : 0.02625 m/s 3) Pola Mengatup Daun kedua dan keempat menutup terlebih dahulu kemudian disusul daun pertama 4) Selang Waktu Membuka Kembali 13 menit 39 detik c. Waktu Mengatup : 4 detik Jarak : 10.01875 m/s 3) Pola Mengatup Seluruh anak daun mengatup secara bersamaan 4) Selang Waktu Membuka Kembali 15 menit b. Tetesan pada Ujung Daun 1) Arah Katupan Daun / Tangkai Ke Atas 2) Kecepatan Mengatup Daun yang mengatup : daun pertama dan kedua Waktu Mengatup : 51 detik Jarak : 3.0007 m/s 3) Pola Mengatup Daun kedua Daun Pertama .5 cm Kecepatan : 0.Pada daun kedua yang mengatup dimulai dari semua anak daun pada cabang ibu tangkai yang ketiga (arah dari ujung ke pangkal). Tetesan pada Tengah Batang 1) Arah Katupan Daun / Tangkai Ke Atas 2) Kecepatan Mengatup Yang mengatup daun pertama.

ketiga. Tetesan pada Percabangan Batang 1) Arah Katupan Daun / Tangkai Ke Atas . Tetesan pada Tengah Daun (Tengah Cabang Ibu Tangkai Daun) 1) Arah Katupan Daun / Tangkai Ke Atas 2) Kecepatan Mengatup Daun yang mengatup : daun pertama. kesatu dan diakhiri yang keempat (arah dari pangkal ke ujung). Pada daun pertama. keempat dan kelima semua anak daun menutup secara bersamaan Pada daun keenam dan ketujuh anak daun pada cabang ibu tangkai pertama menutup terlebih dahulu.0011 m/s 3) Selang Waktu Membuka Kembali 41 menit 4) Pola Menutup Daun Kedua Keenam Pertama Keempat Ketiga Kelima Ketujuh Pada daun kedua anak daun menutup dimulai dari anak daun pada cabang ibu tangkai ketiga. ketiga.kemudian kedua. dan ketujuh Waktu mengatup : 1 menit 35 detik Jarak : 10 cm Kecepatan : 0. kemudian diikuti anak daun pada cabang ibu tangkai kedua. keempat. dilanjutkan drengan anak daun pada cabang ibu tangkai kedua (arah menutup anak daun dari pangkal ke ujung) e. . kedua. kelima.Pada daun pertama semua anak daun menutup secara bersamaan 4) Selang Waktu Membuka Kembali 23 menit 27 detik d. keempat dan terakhir pertama (arah menutup anak daun dari pangkala ke ujung). keenam.

000813 m/s 3) Pola Mengatup Dari daun ketujuh menuju daun pertama (dari daun yang paling bawah ke atas) 4) Selang Waktu Membuka Kembali 27 menit 40 detik Data Hasil Pengamatan dalam Tabel Perlakuan : No Titik Perlakuan 1 Ujung Batang 2 Tengah Batang 3 Ujung Daun Arah Daun Mengatup Pola Mengatup Kecepatan Mengatup Selang Membuka - ke atas mengatup secara bersama-sama 0.006 m/s 4 menit 58 detik 4 Tengah Daun Percabangan Titik Perlakuan Ujung Batang ke atas - 0.0075 8 menit 3 .003 m/s 4 menit 28 detik 5 - - - Perlakuan : No Arah Daun Mengatup Pola Mengatup Kecepatan Mengatup Selang Membuka - 1 2 Tengah Batang Ujung Daun ke atas semua anak daun 0.2) Kecepatan Mengatup Daun yang mengatup : semua daun (tujuh daun) Waktu Menutup : 2 menit 3 detik Jarak : 10 cm Kecepatan : 0.

keempat. ketiga.000813 m/s 27 menit 40 detik 0.07 m/s 7 menit 5 detik - - Perlakuan : No Titik Perlakuan 1 Ujung Batang Arah Daun Mengatup Ke atas Seluruh anak daun mengatup secara bersamaan 2 Tengah Batang Ke atas Daun kedua dan keempat menutup terlebih dahulu kemudian disusul daun pertama 3 Ujung Daun Ke Atas Daun kedua diikuti daun Pertama 4 Tengah Daun Ke atas Daun kedua.01875 m/s Selang Membuka 15 menit .02625 m/s 13 menit 39 detik Pola Mengatup Kecepatan Mengatup 0.0011 m/s 23 menit 27 detik 41 menit 0.menutup secara bersamaan 4 Tengah Daun Ke atas Daun mulai mengatup dari anak daun paling pangkal diikuti dengan anak daun atasnya 5 Percabangan - m/s 2 detik 0.0007 m/s 0. dan ketujuh 5 Percabangan Ke Atas Dari daun ketujuh menuju daun pertama (dari adun paling bawah ke atas) 0. diikuti daun pertama. keenam. kelima.

Setelah sentuhan dilakukan. c. Lidi yang kami gunakan berukuran 5 cm. tengah batang. Praktikan dan Mimosa pudica yang dipakai dalam percobaan disamakan. dan percabangan batang. Sentuhan pada tengah batang. Percobaan pertama yaitu percobaan dengan menggunakan lidi sebagai rangsang sentuh dimana ini termasuk dalam rangsangan luar. Berikut merupakan penjelasan dari masing-masing perlakuan. Sentuhan selanjutnya yakni pada bagian tengah batang. Seperti halnya sentuhan pada ujung batang. daun putri malu juga tidak memperlihatkan reaksi ketika dilakukan sentuhan pada bagian ini. Bagian ujung batang merupakan bagian pertama yang dilakukan sentuhan menggunakan lidi. Pada sentuhan di bagian ini. Sentuhan pada ujung batang. Dari percobaan yang telah kami lakukan. PEMBAHASAN Praktikum ini bertujuan untuk mengamati perilaku Mimosa pudica (putri malu) jika disentuh dengan lidi pada beberapa titik sentuh. Dengan kata lain. Bagian dari tumbuhan putri malu yang akan dilakukan sentuhan menggunakan lidi adalah ujung batang. kami mencermati bahwa terdapat reaksi daun putri malu ketika lidi disentuhkan pada ujung daun. Titik tetes atau sentuh pada Mimosa pudica ini sama pada tiap p erlakuan. b. Sentuhan pada ujung daun. tidak terjadi katupan pada daun putri malu. kami mendapatkan data sebagai berikut a. yaitu pada ujung batang. tengah daun (tengah cabang ibu tangkai daun). Arah katupan sepasang anak daun tersebut yaitu mengarah ke atas sehingga saling .G. dan ditetesi dengan kloroform pada beberapa titik tetes. hal ini sebagai control. kami mengamati bahwa daun putri malu tidak memperlihatkan reaksi terhadap sentuhan ini dimana daun putri malu tidak mengatup ketika dilakukan sentuhan. ujung daun. Reaksi yang dimaksud tentu saja mengatupnya daun putri malu dimana sepasang anak daun pada bagian ujung daun mengatup secara bersamaan. tengah batang. tengah daun (tengah cabang ibu tangkai daun) dan percabangan batang. ujung daun. ditetesi dengan air.

Berdasarkan catatan waktu dan jarak yang telah kami ukur. e. Sentuhan pada tengah daun (tengah cabang ibu tangkai daun). Dari sini. kami dapat mengetahui bahwa pola katupan anak daun adalah secara bersamaan. hal yang dapat kami lihat adalah mengatupnya 1 helai anak daun putri malu.bertangkupan satu sama lain. Seperti halnya sentuhan pada ujung daun. Saat kami menyentuhkan lidi pada bagian ini. sedangkan anak daun yang tersentuh lidi tidak mengatup. d. kami menunggu membukanya kembali anak daun dari keadaan mengatup. lebih cepat 30 detik dari percobaan sebelumnya. Sentuhan selanjutnya yaitu pada tengah daun (tengah cabang ibu tangkai daun). Sentuhan pada bagian ini merupakan sentuhan terakhir yang dilakukan. maka kami dapat mengestimasikan kecepatan yang dibutuhkan anak daun untuk mengatup adalah 0. Pada bagian ini. Anak daun yang mengatup adalah anak daun yang terkena sentuhan lidi. pada sentuhan tengah daun (tengah cabang ibu tangkai daun) juga meperlihatkan reaksi mengatup pada daun putri malu. Adapun selang waktu untuk membuka kembali seperti semula sekitar 4 menit 58 detik. jarak yang dapat kami ukur adalah 0. Adapun waktu yang diperlukan untuk mengatup dari keadaan membuka sebelumnya adalah 1 detik. . Selang waktu membuka kembali yang kami peroleh yaitu 4 menit 28 detik. Selanjutnya. Selain itu. Sentuhan pada percabangan batang. daun putri malu tidak mengatup sebagaimana hal ini terjadi pada sentuhan bagian ujung batang dan tengah batang. kami juga menghitung jarak yaitu 0. kami mencatat bahwa waktu yang dibutuhkan anak daun untuk saling menutup dari keadaan membuka sebelumnya yakni sekitar 1 detik.6 cm.006 m/s.3 cm sehingga diperoleh kecepatan mengatup sekitar 0. Setelah menunggu beberapa saat. Arah katupan anak daun tersebut sama dengan arah katupan anak daun pada ujung daun yang disentuh yakni mengatup kearah atas. kami mengamati bahwa sepasang anak daun yang mengatup kembali membuka seperti sebelum dilakukan sentuhan.003 m/s. Selain itu. Selanjutnya.

Pada percobaan ini Kami membuat control yang lebih banyak agar kemungkinan kesalahan dalam percobaan semakin kecil. Sebaliknya. Hal yang perlu diingat yakni hanya anak daun yang disentuh sajalah yang mengatup. Berapapun tekanan sentuhan menggunakan lidi yang kami berikan. tidak ada perubahan yang terjadi pada daun putri malu.Berdasarkan data yang kami peroleh. ketika kami menyentuhkan lidi pada bagian ujung daun dan tengah daun (tengah cabang ibu tangkai daun) memperlihatkan reaksi yang berbeda dibandingkan sentuhan pada 3 bagian sebelumnya. maka anak daun pun mengatup. Percobaan yang kedua yaitu pelakuan dengan air. tengah batang. Pada ujung daun yang disentuh maka hanya sepasang anak daun saja yang mengatup tanpa mempengaruhi kondisi anak daun lain. yaitu dengan menyamakan individu yang . Dari data ini. daun putri malu tidak mengatup. tengah batang. maka kami dapat membandingkan reaksi daun putri malu yang timbul karena sentuhan lidi pada beberapa bagian. Dari seluruh percobaan sentuhan menggunakan lidi dapat ditarik satu kesimpulan bahwa bagian tumbuhan putri malu yang sensitif pada rangsang sentuhan adalah daun. Perlakuan ini dilakukan dengan meneteskan satu tetes air pada ujung batang. Gerak etionom adalah gerak tumbuhan dipengaruhi oleh rangsangang yang datangnya dari luar tumbuhan. hanya 1 helai anak daun yang mengatup sementara helai-helai lain tidak terpengaruh. dan percabangan batang. ujung daun. Begitu pula saat lidi disentuhkan pada bagian tengah daun. Rangsang sentuhan yang diberikan pada daun putri malu merupakan rangsang luar sehingga gerak daun putri malu yang diakibatkan oleh rangsang ini adalah gerak etionom. Selang waktu yang dibutuhkan anak daun untuk membuka kembali dari keadaan mengatup yakni 4 menit 58 detik pada anak daun yang berada di ujung daun dan 4 menit 28 detik pada anak daun yang berada di tengah daun. percabangan. dan pada tengah daun. dapat dilihat bahwa selang waktu membuka kembali pada anak daun yang berada di tengah daun lebih cepat 30 detik daripada anak daun yang berada di ujung daun. Saat anak daun pada kedua bagian tersebut disentuh. Ketika lidi disentuhkan pada bagian ujung batang.

Tetesan yang diberikan pada setiap perlakuan adalah satu tetes dengan ketinggian 5 cm dan pada individu yang sama yaitu putri malu di lapangan FBS Barat. Penetesan pada titik ini memberikan respon yaitu mengatupnya semua anak daun pada cabang ibu tangkai daun kedua dan ketiga serta sepasang anak daun pada ujung ibu tangkai daun pertama dan keempat. Pada percobaan kelima atau percobaan terakhir untuk perlakuan dengan air pada tengah daun juga mamberikan pengaruh pada putri malu tersebut. Pada percobaan pertama diawali dengan penetesan pada ujung batang. Namun.anak daun itu mengatup setelah 2 detik diberi perlakuan tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat yaitu 0. Waktu pengatupan daun setelah diberi perlakuan lebih cepat 4 detik dari perlakuan pada titik ujung daun yaitu anak daun. Semua anak daun dari cabang ibu tangkai daun yang pertengahannya daunnya diberi perlakuan memberikan respon dengan mengatupkan daunnya. . Demikian juga dengan percobaan kedua dan ketiga. kecepatan mengatup.0075 m/s dan membuka kembali setelah 8 menit 2 detik. Arah pengatupan anak daun ini yaitu ke atas dan mengatup secara bersama-sama. Pada percobaan keempat yaitu penetesan pada ujung batang. Kecepatan mengatup yaitu 0. Anak-anak daun ini tidak serta merta menutup setelah diberikan perlakuan tetapi mengatup setelah 6 detik diberi tetesan air. menyamakan tinggi penetesan air. tetap terdapat perbedaan pada pola pengatupan.diperlakukan. serta menyamakan praktikan yang melakukan penetesan. jumlah anak daun yang mengatup. Hal ini mungkin terjadi karena penetesan tersebut belum bisa memberikan tekanan minimal yang dibutuhkan oleh putri malu untuk meluruhkan ibu tangkainya maupun untuk mengatupkan daunnya. waktu reaksi mengatup setelah diberi perlakuan. pada tengah batang dan pada percabangan tidak memberikan pengaruh pada putri malu tersebut.07 m/s. dan lamanya anak daun-anak daun itu mengatup. Pada penetesan ini tidak memberikan pengaruh apa-apa pada putri malu tersebut. Tidak terjadi peluruhuan ibu tangkai daun maupun pengatupan daun. menyamakan tetesan air yang digunakan pada tiap titik perlakuan.

01875 m/s. Seluruh anak daun pada daun kedua mengatup beserta tangkainya yang ikut merebah. Selang waktu membukanya anak daun-anak daun tersebut yakni lebih cepat yaitu 7 menit 5 detik. kedua dan keempat mengatup. Pengatupan yang terjadi pada perlakuan keempat dan kelima disebabkan oleh menurunnya tekanan turgor pada ibu tangkai dauin dan pada tulang daun. Pengamatan ketiga bertujuan untuk mengetahui perilaku putri malu terhadap kloroform. Perlakuan pertama yaitu meneteskan kloroform pada ujung batang tumbuhan putri malu. Mereka tidak mengatup secara bersama-sama tetapi daun mengatup mulai dari anak daun paling pangkal diikuti dengan anak daun atasnya. Waktu yang diperlukan untuk mengatup adalah 4 detik dengan jarak katupan 7. Hasil yang diperoleh dari perlakuan ini adalah arah katupan anak daun putri malu arahnya ke atas dan batangnya merebah. Sedangkan waktu yang diperlukan untuk membuka kembali adalah 15 menit.pengatupan anak daun. Daun pertama. batang yang diberi tetesan kloroform sama dengan batang dari perlakuan pertama. yang diawali dengan mengatupnya daun kedua dan keempat kemudian diikuti daun . ujung daun.5 cm sehingga diperoleh kecepatan mengatup 0. Hal ini merupakan akibat dari sentuhan/tekanan yang diberikan oleh tetes air sehingga sel-sel motor pada putri malu yang mengandung cairan mengalirkan air ke dalam ruang antar sel. tengah daun (percabangan ibu tangkai daun). Perlakuan kedua dilakukan dengan cara meneteskan kloroform pada bagian tengah batang tumbuhan putri malu. dan pada percabangan batang putri malu. Hasil yang diperoleh dari perlakuan ini adalah arah katupan anak daun putri malu arahnya ke atas dan batangnya merebah. Perlakuan tersebut dilakukan dengan cara meneteskan larutan kloroform sebanyak 1 tetes dari ketinggian 5 cm pada ujung batang. bagian tengah batang. Ada 5 perlakuan yang dilakukan untuk mengetahui efek yang diberikan kloroform terhadap perilaku membuka dan menutupnya daun putri malu.anak daun ini pun berbeda polanya. Pola mengatupnya yaitu semua anak daun mengatup secara bersama-sama.

Perlakuan keempat yaitu meneteskan kloroform pada tengah daun (tengah cabang tangkai daun). kemudian kedua. Waktu yang diperlukan untuk mengatup adalah 4 detik dengan jarak katupan 10.0007 m/s. Pada daun pertama semua anak daun menutup secara bersamaan. kesatu dan diakhiri yang keempat (arah dari pangkal ke ujung).pertama.ketiga. Waktu yang diperlukan untuk mengatup adalah 51 detik dengan jarak katupan 3.5 cm sehingga diperoleh kecepatan mengatup 0.02625 m/s. dilanjutkan drengan anak daun pada cabang ibu tangkai kedua (arah menutup anak daun dari pangkal ke ujung). Sedangkan waktu yang diperlukan untuk membuka kembali adalah 23 menit 27 detik. ketiga. keenam dan ketujuh. kelima. Hasil yang diperoleh dari perlakuan ini adalah arah katupan anak daun putri malu arahnya ke atas dan batangnya merebah. keempat dan kelima semua anak daun menutup secara bersamaan Pada daun keenam dan ketujuh anak daun pada cabang ibu tangkai pertama menutup terlebih dahulu. Pada daun pertama. kemudian diikuti anak daun pada cabang ibu tangkai kedua. pola mengatupnya diawali dengan mengatupnya daun kedua yaitu anak daun pada cabang ibu tangkai yang ketiga (arah dari ujung ke pangkal). Waktu yang diperlukan untuk mengatup adalah 1 menit 35 detik dengan jarak katupan 10 cm sehingga diperoleh kecepatan mengatup . keempat. Pada daun kedua anak daun menutup dimulai dari anak daun pada cabang ibu tangkai ketiga. Hasil yang diperoleh dari perlakuan ini adalah arah katupan anak daun putri malu arahnya ke atas dan batangnya merebah. Daun pertama dan kedua mengatup.5 cm sehingga diperoleh kecepatan mengatup 0. keenam dan terakhir daun ketujuh. Sedangkan waktu yang diperlukan untuk membuka kembali adalah 13 menit 39 detik. kedua. kelima. Setelah daun putri malu membuka kembali dari perlakuan kedua dilanjutkan dengan perlakuan ketiga yaitu dengan meneteskan kloroform pada ujung daun. ketiga. Pola mengatupnya diawali dari daun kedua diikuti daun pertama. keempat dan terakhir pertama (arah menutup anak daun dari pangkala ke ujung). Daun yang mengatup adalah daun pertama. daun keempat.

Perlakuan terakhir yaitu perlakuan kelima dilakukan dengan cara meneteskan kloroform pada percabangan batang tumbuhan putri m alu. Putri malu ini seakan-akan jatuh pingsan dan daun-daunnya tergulung erat. yang terjadi sebenarnya tidaklah demikian karena putri malu bukan makhluk hidup yang memiliki sistem syaraf. pulvinus pada pangkal tangkai daun dan pangkal tangkai anak daun akan menyebabkan tangkai daun dan tangkai anak daun mengarah ke bawah. Namun. Lalu tangkai daun pun terkulai oleh karena hilangnya turgor pada pangkalnya.0011 m/s. Arah menutup semua anak daun sama yaitu menutup ke arah atas dan diikuti dengan rebahnya tangkai daun. Tetapi pulvinus pada pangkal anak daun berperan dengan cara sebaliknya. Semua daun pada batang tersebut mengatup. Sedangkan waktu yang diperlukan untuk membuka kembali adalah 27 menit 40 detik. Dalam peristiwa ini.000813 m/s. daun Putri malu menguncup akibat hilangnya turgor karena air dalam sel-sel pulvinus keluar. Dengan kata lain.0. Pada saat mereaksi senyawa kloroform. Sedangkan waktu yang diperlukan untuk membuka kembali adalah 41 menit. Kelima perlakuan yang telah dilakukan di atas ternyata memberikan efek yang berebeda-beda terhadap pola menutup. Hasil yang diperoleh dari perlakuan ini adalah arah katupan anak daun putri malu arahnya ke atas dan batangnya merebah. pada saat tumbuhan terangsang. Waktu yang diperlukan untuk mengatup adalah 2 menit 3 detik dengan jarak katupan 10 cm sehingga diperoleh kecepatan mengatup 0. . kami menduga bahwa kloroform yang diteteskan pada tumbuhan putri malu tersebut menyebabkan terjadinya perubahan keseimbangan air (turgor) dalam sel-sel pulvinus. Pulvinus pada pangkal anak daun berperan sama seperti pulvinus pada pangkal tangkai daun. kecepatan menutup dan lama waktu yang diperlukan daun putri malu untuk membuka kembali. Perilaku menutupnya daun putri malu oleh kloroform ini terlihat seperti terjadinya proses pembiusan yang mengakibatkan tumbuhan putri malu ini seolah-oleh seperti pingsan. dengan pola katupan yaitu dari daun ketujuh menuju daun pertama (dari daun paling bawah ke daun paling atas).

3. Mimosa pudica (putri malu) jika ditetesi dengan kloroform pada beberapa titik penetesan semuanya memberikan respon katupan daun. Namun kecepatan. KESIMPULAN 1. Sentuhan pada ujung daun memberikan respon sepasang anak daun mengatup dan sentuhan pada tengah daun memberikan respon satu helai daun mengatup. tengah batang dan percabangan tidak memberikan respon apapun. Namun kecepatan. yaitu ke atas. Mimosa pudica (putri malu) jika ditetesi dengan air pada beberapa titik penetesan memberikan respon yang berbeda-beda. . Mimosa pudica (putri malu) jika disentuh dengan lidi pada beberapa titik sentuh memberikan respon yang berbeda-beda. 2. Sentuhan pada ujung batang. pola katupan dan selang waktu membuka kembali berbeda. Semua arah katupan sama. yaitu ke atas. pola katupan dan selang waktu membuka kembali berbeda. Namun kecepatan. H.Sedangkan pulvinus pada pangkal anak daun menyebabkan anak-anak daun mengarah ke atas sehingga saling menutup. Tetesan air pada ujung batang. yaitu ke atas. Masing-masing katupan memiliki arah katupan yang sama. tengah batang dan percabangan tidak memberikan respon apapun. Masing-masing katupan memiliki arah katupan yang sama. Tetesan air pada ujung daun memberikan respon semua anak daun pada cabang ibu tangkai daun kedua dan ketiga serta satu pasang anak daun pada ujung cabang ibu tangkai daun pertama dan keempat mengatup. pola katupan dan selang waktu membuka kembali masing-masing katupan berbeda. Tetesan air pada tengah daun memberikan respon semua anak daun dari salah satu cabang ibu tangkai daun mengatup. Yang memiliki kecepatan tertinggi adalah tetesan pada tengah batang dan yang paling lama selang waktu membukanya adalah tetesan pada percabangan.

2009.htm . International Journal Of Pharmacy And Pharmaceutical Sciences.kew. Vol. Dkk. 1.org/index.DAFTAR PUSTAKA Nilesh Kumar. Issue 2 : Mimosa Pudica L. A Sensitive Plant Lovely Professional University College Of Pharmacy And Technology http://www.