P. 1
2. PP 26 Tahun 2008 - RTRW Nasional

2. PP 26 Tahun 2008 - RTRW Nasional

|Views: 73|Likes:
Published by Andra Rambu Anarki

More info:

Published by: Andra Rambu Anarki on Feb 21, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/21/2013

pdf

text

original

www.legalitas.

org

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No.48, 2008 PEMERINTAHAN. WILAYAH NASIONAL. Pemda. Pengawasan. Pemanfaatan. Pengendalian. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833)

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA

ta s TENTANG ali RENCANA TATA RUANGg .le WILAYAH NASIONAL ww DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA w
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 20 ayat (6) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional; 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL.

NOMOR 26 TAHUN 2008 .o

rg

Mengingat

:

www.legalitas.org

2008, No 48

2

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional yang selanjutnya disebut RTRWN adalah arahan kebijakan dan strategi pemanfaatan ruang wilayah negara. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya. Tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang. Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. rg

2.

3. 4. 5. 6.

7.

s.o tata ruang. Rencana tata ruang adalah hasil perencanaan lita Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta ga e segenap unsur terkait yang w.l dan sistemnya ditentukan berdasarkan batas aspek administratif dan/atau aspek fungsional. ww

Wilayah nasional adalah seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi berdasarkan peraturan perundangundangan. Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budi daya. Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. Kawasan budi daya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan. Kawasan andalan adalah bagian dari kawasan budi daya, baik di ruang darat maupun ruang laut yang pengembangannya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan tersebut dan kawasan di sekitarnya.

8. 9.

10.

11.

www.legalitas.org

3

2008, No 48

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18. 19.

20.

21.

Kawasan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Kawasan perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Kawasan metropolitan adalah kawasan perkotaan yang terdiri atas sebuah kawasan perkotaan yang berdiri sendiri atau kawasan perkotaan g inti dengan kawasan perkotaan di sekitarnya yang saling memiliki or dengan sistem jaringan . keterkaitan fungsional yang dihubungkan as jumlah penduduk secara prasarana wilayah yang terintegrasilit a dengan juta) jiwa. keseluruhan sekurang-kurangnya g le 1.000.000 (satu .kawasan yang terbentuk dari 2 (dua) atau Kawasan megapolitan adalah wwyang memiliki hubungan fungsional dan lebih kawasan metropolitan w membentuk sebuah sistem. Kawasan strategis nasional adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang ditetapkan sebagai warisan dunia. Kawasan pertahanan negara adalah wilayah yang ditetapkan secara nasional yang digunakan untuk kepentingan pertahanan. Pusat Kegiatan Nasional yang selanjutnya disebut PKN adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala internasional, nasional, atau beberapa provinsi. Pusat Kegiatan Wilayah yang selanjutnya disebut PKW adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala provinsi atau beberapa kabupaten/kota. Pusat Kegiatan Lokal yang selanjutnya disebut PKL adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kabupaten/kota atau beberapa kecamatan.

as 23. Daerah aliran sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya. Wilayah sungai adalah kesatuan wilayah pengelolaan sumber daya air dalam satu atau lebih daerah aliran sungai dan/atau pulau-pulau kecil yang luasnya kurang dari atau sama dengan 2. tanah di bawahnya. dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami. No 48 4 22. Menteri adalah menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang penataan ruang.le dan berbatasan dengan laut wilayah Indonesia adalah jalur di w luar w Indonesia sebagaimanawditetapkan berdasarkan undang-undang yang berlaku tentang perairan Indonesia yang meliputi dasar laut. yang berfungsi menampung. yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan. 25. 27. Pusat Kegiatan Strategis Nasional yang selanjutnya disebut PKSN adalah kawasan perkotaan yang ditetapkan untuk mendorong pengembangan kawasan perbatasan negara. 28. sengaja ditanam. 29. .legalitas.000 km2.www. tempat g tumbuh tanaman. Peraturan zonasi adalah ketentuan yang mengatur tentang persyaratan pemanfaatan ruang dan ketentuan pengendaliannya dan disusun untuk setiap blok/zona peruntukan yang penetapan zonanya dalam rencana rinci tata ruang. dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. menyimpan. yang penggunaannya lebih bersifat terbuka. 30. Bupati atau Walikota. Pemerintah pusat. 26 t ali yang selanjutnya disebut ZEE g Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia . 24. Pemerintah daerah adalah Gubernur. dan air di atasnya dengan batas terluar 200 (dua ratus) mil laut diukur dari garis pangkal laut wilayah Indonesia. Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok. selanjutnya disebut Pemerintah.org 2008. baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang or .

RTRWN menjadi pedoman untuk: a. b. d. KEBIJAKAN.l e w wruang darat. dan ali keterpaduan perencanaan tata ruang wilayah nasional. penyusunan rencana pembangunan jangka menengah nasional. keseimbangan dan keserasian perkembangan antarwilayah. produktif. dan kabupaten/kota dalam rangka pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang. c. nyaman. pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. . Pasal 3 f. b.www. dan ruang udara. provinsi. ruang wilayah berkelanjutan. selanjutnya disebut daerah. penyusunan rencana pembangunan jangka panjang nasional. dan e. h. . keterpaduan pemanfaatan w termasuk ruang di dalam bumi dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan g kabupaten/kota. provinsi. keharmonisan antara lingkungan alam tas lingkungan buatan. DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH NASIONAL Bagian Kesatu Tujuan Penataan Ruang Wilayah Nasional Pasal 2 Penataan ruang wilayah nasional bertujuan untuk mewujudkan: a. keseimbangan dan keserasian kegiatan antarsektor. nasional yang aman. i.org 5 2008. dan pertahanan dan keamanan negara yang dinamis serta integrasi nasional. keterpaduan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional.legalitas. ruang laut. BAB II TUJUAN. Daerah otonom. No 48 31. g or . g.

serta antara kawasan perkotaan dan wilayah di sekitarnya. (2) Strategi untuk peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan ekonomi wilayah meliputi: a. Bagian Kedua Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Wilayah Nasional Pasal 4 Kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah nasional meliputi kebijakan dan strategi pengembangan struktur ruang dan pola ruang.le dan berhierarki. c. dan ekonomi wilayah yang merata w w a b. w peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi. menjaga keterkaitan antarkawasan perkotaan. d. energi. b. antara kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan. Pasal 5 (1) Kebijakan pengembangan struktur ruangssebagaimana dimaksud dalam . dan sumber daya air yang terpadu dan merata di seluruh wilayah nasional. mengembangkan pusat pertumbuhan baru di kawasan yang belum terlayani oleh pusat pertumbuhan. pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah nasional. d.www. e. rg g peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan . mengendalikan perkembangan kota-kota pantai. penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi. No 48 6 c. penataan ruang kawasan strategis nasional. g. pewujudan keterpaduan.o Pasal 4 meliputi: lita a.org 2008.legalitas. keterkaitan. f. (3) Strategi untuk peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana meliputi: . dan mendorong kawasan perkotaan dan pusat pertumbuhan agar lebih kompetitif dan lebih efektif dalam pengembangan wilayah di sekitarnya. dan keseimbangan perkembangan antarwilayah provinsi. dan penataan ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota. telekomunikasi. serta keserasian antarsektor.

meningkatkan jaringan energi untuk memanfaatkan energi terbarukan dan tak terbarukan secara optimal serta mewujudkan keterpaduan sistem penyediaan tenaga listrik.www. No 48 a. pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup. b.org 7 2008. mendorong pengembangan prasarana telekomunikasi terutama di kawasan terisolasi. laut. ruang laut. mewujudkan kawasan berfungsi lindung dalam satu wilayah pulau dengan luas paling sedikit 30% (tiga puluh persen) dari luas pulau tersebut sesuai dengan kondisi ekosistemnya. g Kebijakan dan strategi pengembangan pola ruang sebagaimana dimaksud dalam or Pasal 4 meliputi: s. b. b. (2) Strategi untuk pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup meliputi: a. e. ww kebijakan dan strategi pengembangan kawasan strategis nasional. menetapkan kawasan lindung di ruang darat. Pasal 7 Kebijakan pengembangan kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a meliputi: a. kebijakan dan strategi pengembangan ga le kebijakan dan strategi pengembangan kawasan budi daya. dan pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup. dan meningkatkan jaringan transmisi dan distribusi minyak dan gas bumi. c. termasuk ruang di dalam bumi. dan udara. dan . meningkatkan kualitas jaringan prasarana serta mewujudkan keterpaduan sistem jaringan sumber daya air. c. meningkatkan kualitas jaringan prasarana dan mewujudkan keterpaduan pelayanan transportasi darat. b. dan w. serta mewujudkan sistem jaringan pipa minyak dan gas bumi nasional yang optimal. dan ruang udara. (1) ta likawasan lindung. Pasal 6 d. a.legalitas.

No 48 8 c.www. dan/atau komponen lain yang dibuang ke dalamnya. b.org 2008. menunjang pembangunan eg yang l w. melindungi kemampuan lingkungan hidup dari tekanan perubahan dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan agar tetap mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antarkegiatan budi daya. dalam rangka mewujudkan dan memelihara keseimbangan ekosistem wilayah.legalitas. (1) Kebijakan pengembangan kawasan budi daya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf b meliputi: a. mengelola sumber daya alam tak terbarukan untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan sumber daya alam yang terbarukan untuk menjamin kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya. . melindungi kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat. e. sumber daya alam secara bijaksana mengendalikan pemanfaatan w untuk menjamin w kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan. dan pengendalian perkembangan kegiatan budi daya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan. g. energi. (3) Strategi untuk pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup meliputi: a. dan mengembangkan kegiatan budidaya yang mempunyai daya adaptasi bencana di kawasan rawan bencana. menyelenggarakan upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup. c. mengembalikan dan meningkatkan fungsi kawasan lindung yang telah menurun akibat pengembangan kegiatan budi daya. d. g mencegah terjadinya tindakan yang dapat secara langsung atau or sifat fisik lingkungan . b. Pasal 8 f. tidak langsung menimbulkan perubahan ashidup tidak berfungsi dalam t yang mengakibatkan lingkungan aliberkelanjutan.

mengembangkan kegiatan budi daya untuk menunjang aspek politik. mengembangkan dan melestarikan kawasan budi daya pertanian rg pangan untuk mewujudkan ketahanano pangan nasional.www. membatasi perkembangan kegiatan budi daya terbangun di kawasan rawan bencana untuk meminimalkan potensi kejadian bencana dan potensi kerugian akibat bencana. b. mengembangkan perkotaan metropolitan dan kota besar dengan mengoptimalkan pemanfaaatan ruang secara vertikal dan kompak. (3) Strategi untuk pengendalian perkembangan kegiatan budi daya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan meliputi: a. serta ilmu pengetahuan dan teknologi. ruang laut. e. mengembangkan ruang terbuka hijau dengan luas paling sedikit 30% (tiga puluh persen) dari luas kawasan perkotaan. Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia. dan ruang udara.legalitas. pertahanan dan keamanan. b. termasuk ruang di dalam bumi secara sinergis untuk mewujudkan keseimbangan pemanfaatan ruang wilayah. d. . c. mengembangkan kegiatan budi daya unggulan di dalam kawasan beserta prasarana secara sinergis dan berkelanjutan untuk mendorong pengembangan perekonomian kawasan dan wilayah sekitarnya. menetapkan kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis nasional untuk pemanfaatan sumber daya alam di ruang darat. No 48 (2) Strategi untuk perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antarkegiatan budi daya meliputi: a. dan/atau landas kontinen untuk meningkatkan perekonomian nasional. d.org 9 2008. tas dengan pendekatan gugus mengembangkan pulau-pulau likecil ga pulau untuk meningkatkan daya saing dan mewujudkan skala le ekonomi. f. dan membatasi perkembangan kawasan terbangun di kawasan perkotaan besar dan metropolitan untuk mempertahankan tingkat pelayanan prasarana dan sarana kawasan perkotaan serta mempertahankan fungsi kawasan perdesaan di sekitarnya. dan w. w mengembangkan w kegiatan pengelolaan sumber daya kelautan yang bernilai ekonomi tinggi di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). sosial budaya. . c.

optimal untuk meningkatkan ww w pelestarian dan peningkatan sosial dan budaya bangsa. e. d. as dan mampu bersaing dalam perekonomian internasional. melestarikan keunikan bentang alam. efisien. membatasi pengembangan prasarana dan sarana di dalam dan di sekitar kawasan strategis nasional yang dapat memicu perkembangan kegiatan budi daya. melestarikan keanekaragaman hayati. (2) al dan/atau teknologi tinggi secara pemanfaatan sumber daya g alam . . Strategi untuk pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup meliputi: a. g. dan pengembangan kawasan tertinggal untuk mengurangi kesenjangan tingkat perkembangan antarkawasan. dan ramsar. dan melestarikan warisan budaya nasional. No 48 10 e. c. mencegah pemanfaatan ruang di kawasan strategis nasional yang berpotensi mengurangi fungsi lindung kawasan. f. d.le kesejahteraan masyarakat. Pasal 9 (1) Kebijakan pengembangan kawasan strategis nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c meliputi: a. b. membatasi pemanfaatan ruang di sekitar kawasan strategis nasional yang berpotensi mengurangi fungsi lindung kawasan. pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup untuk mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem. pelestarian dan peningkatan nilai kawasan lindung yang ditetapkan sebagai warisan dunia. peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara. it b. menetapkan kawasan strategis nasional berfungsi lindung.org 2008.legalitas. pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam g or pengembangan perekonomian nasional yang produktif. mengembangkan kegiatan budidaya yang dapat mempertahankan keberadaan pulau-pulau kecil. c. .www. cagar biosfer. mempertahankan dan meningkatkan fungsi perlindungan kawasan.

dan peningkatan fungsi kawasan dalam Strategi untuk pengembangan pengembangan perekonomian nasional meliputi: ww a. .org 11 2008. e. mengembangkan kegiatan budi daya secara selektif di dalam dan di sekitar kawasan strategis nasional untuk menjaga fungsi pertahanan dan keamanan. c. b. dan meningkatkan pelayanan prasarana dan sarana penunjang kegiatan ekonomi.www. mengembangkan kegiatan penunjang dan/atau kegiatan turunan dari pemanfaatan sumber daya dan/atau teknologi tinggi. strategis ta penyangga yang memisahkan lkawasan strategis nasional dengan ai kawasan budi daya terbangun.legalitas. eg b. (4) l w. mengelola dampak negatif kegiatan budi daya agar tidak menurunkan kualitas lingkungan hidup dan efisiensi kawasan. g mengembangkan kawasan lindung dan/atau kawasan budi daya or nasional sebagai zona tidak terbangun di sekitar kawasans. No 48 e. f. d. mengintensifkan promosi peluang investasi. mengelola pemanfaatan sumber daya alam agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung kawasan. menciptakan iklim investasi yang kondusif. (5) Strategi untuk pemanfaatan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi secara optimal meliputi: a. mengembangkan pusat pertumbuhan berbasis potensi sumber daya alam dan kegiatan budi daya unggulan sebagai penggerak utama pengembangan wilayah. f. mengembangkan kegiatan budi daya tidak terbangun di sekitar kawasan strategis nasional yang berfungsi sebagai zona penyangga yang memisahkan kawasan lindung dengan kawasan budi daya terbangun. (3) Strategi untuk peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara meliputi: a. dan merehabilitasi fungsi lindung kawasan yang menurun akibat dampak pemanfaatan ruang yang berkembang di dalam dan di sekitar kawasan strategis nasional. menetapkan kawasan strategis nasional dengan fungsi khusus pertahanan dan keamanan. dan c.

d. dan mencegah dampak negatif pemanfaatan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi terhadap fungsi lingkungan hidup. dan meningkatkan kualitas dan kapasitas sumber daya manusia dalam pengelolaan kegiatan ekonomi. dan melestarikan situs warisan budaya bangsa. c. No 48 12 b. a ww meningkatkan kepariwisataan nasional. meningkatkan kecintaan masyarakat akan nilai budaya yang mencerminkan jati diri bangsa yang berbudi luhur.o ditetapkan sebagai warisan dunia meliputi: lita a. c. meningkatkan akses masyarakat ke sumber pembiayaan. (7) Strategi untuk pelestarian dan peningkatan nilai kawasan yang s.www. d. b. b.org 2008. e. mengembangkan penerapan nilai budaya bangsa dalam kehidupan masyarakat. mengembangkan prasarana dan sarana penunjang kegiatan ekonomi masyarakat. (8) Strategi untuk pengembangan kawasan tertinggal meliputi: a. sumber daya alam secara optimal dan membuka akses dan meningkatkan aksesibilitas antara kawasan tertinggal dan pusat pertumbuhan wilayah.legalitas. c. meningkatkan keterkaitan kegiatan pemanfaatan sumber daya dan/atau teknologi tinggi dengan kegiatan penunjang dan/atau turunannya. (6) Strategi untuk pelestarian dan peningkatan sosial dan budaya bangsa meliputi: a. dan melestarikan keberlanjutan lingkungan hidup. . mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. b. dan keselamatan masyarakat. memanfaatkan berkelanjutan. rg melestarikan keaslian fisik g . c.le serta mempertahankan keseimbangan w ekosistemnya.

www. kawasan perkotaan sedang. b.legalitas. atau kawasan perkotaan kecil. e. dan PKL. d. sistem jaringan transportasi nasional.org 13 2008.000. . (2) sistem perkotaan nasional. kawasan perkotaan besar. PKL ditetapkan dengan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi berdasarkan usulan pemerintah kabupaten/kota. c. Sistemw w Perkotaan Nasional Pasal 11 (1) (2) (3) Sistem perkotaan nasional terdiri atas PKN. dan PKL dapat berupa: a. kawasan metropolitan. Rencana struktur ruang wilayah nasional digambarkan dalam peta g dengan tingkat ketelitian 1:1. sistem jaringan energi nasional. PKN dan PKW tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini. Lampiran I yang merupakan bagian tidak as Pemerintah ini. No 48 BAB III RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH NASIONAL Bagian Kesatu Umum Pasal 10 (1) Rencana struktur ruang wilayah nasional meliputi: a. PKW.000 sebagaimana tercantum dalam orterpisahkan dari Peraturan . c. d. e. b. lit ga Bagian Kedua le w. kawasan megapolitan. Pasal 12 PKN. setelah dikonsultasikan dengan Menteri. dan sistem jaringan sumber daya air. PKW. sistem jaringan telekomunikasi nasional.

www.legalitas. . dan/atau or . dan/atau kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul transportasi yang melayani skala provinsi atau beberapa kabupaten. b. Kawasan yang ditetapkan sebagai PKSN tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini. Pasal 14 (1) PKN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria: a. dan/atau kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul transportasi yang melayani skala kabupaten atau beberapa kecamatan.org 2008. kriteria: ww a. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan jasa skala nasional atau yang melayani g beberapa provinsi. b. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul utama kegiatan ekspor-impor atau pintu gerbang menuju kawasan internasional. (2) b. (3) PKL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria: a. utama transportasi skala nasional atau ga s le kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul kedua kegiatan ekspor-impor yang mendukung PKN. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan jasa yang melayani skala kabupaten atau beberapa kecamatan. c. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul lita melayani beberapa provinsi. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan jasa yang melayani skala provinsi atau beberapa kabupaten. (2) PKW sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) ditetapkan dengan w. No 48 14 Pasal 13 (1) Selain sistem perkotaan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) dikembangkan PKSN untuk mendorong perkembangan kawasan perbatasan negara. c.

pusat perkotaan yang merupakan pusat pertumbuhan ekonomi yang dapat mendorong perkembangan kawasan di sekitarnya.legalitas. dan/atau d.000 (satu juta) w jiwa. c.000 (lima puluh ribu) sampai dengan 100. pusat perkotaan yang berfungsi sebagai pintu gerbang internasional yang menghubungkan dengan negara tetangga.org 15 2008. Pasal 16 (1) Kawasan megapolitan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf a merupakan kawasan yang ditetapkan dengan kriteria memiliki 2 (dua) g atau lebih kawasan metropolitan yang mempunyai hubungan fungsional or .000 (seratus ribu) jiwa. dan c. as t ali (2) Kawasan metropolitan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf b eg merupakan kawasan perkotaan. dan membentuk sebuah sistem. memiliki jumlah penduduk paling sedikit 1.000 (lima ratus ribu) jiwa.lyang ditetapkan dengan kriteria: ww a. terdiri atas satu kawasan perkotaan inti dan beberapa kawasan perkotaan di sekitarnya yang membentuk satu kesatuan pusat perkotaan.000 (lima ratus ribu) jiwa. pusat perkotaan yang merupakan simpul utama transportasi yang menghubungkan wilayah sekitarnya.000. terdapat keterkaitan fungsi antarkawasan perkotaan dalam satu sistem metropolitan. No 48 Pasal 15 PKSN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria: a.www. (3) Kawasan perkotaan besar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf c merupakan kawasan perkotaan yang ditetapkan dengan kriteria jumlah penduduk lebih dari 500. (5) Kawasan perkotaan kecil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf e merupakan kawasan perkotaan yang ditetapkan dengan kriteria jumlah penduduk lebih dari 50. b. (4) Kawasan perkotaan sedang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf d merupakan kawasan perkotaan yang ditetapkan dengan kriteria jumlah penduduk lebih dari 100. pusat perkotaan yang berpotensi sebagai pos pemeriksaan lintas batas dengan negara tetangga.000 (seratus ribu) sampai dengan 500. b. .

dan PKN dan/atau PKW dengan kawasan strategis nasional. jaringan jalan strategis nasional.or tatanan kebandarudaraan atas s dan ruang udara untuk penerbangan. jaringan jalan kolektor primer.legalitas. b. terdiri atas jaringan jalanw w arteri primer. dan jalan tol. dan jaringan transportasi sungai. sistem jaringan transportasi laut. . antara PKSN dan pusat kegiatan lainnya. c. c. jaringan jalur kereta api. b. Sistem jaringan transportasi laut terdiri atas tatanan kepelabuhanan dan alur pelayaran. danau. Jaringan jalan arteri primer dikembangkan secara menerus dan berhierarki berdasarkan kesatuan sistem orientasi untuk menghubungkan: a. b. (2) sistem jaringan transportasi darat. dan sistem jaringan transportasi udara. antar-PKSN dalam satu kawasan perbatasan negara.org 2008. (3) (4) Sistem jaringan transportasi udara terdiri . dan/atau PKN dan/atau PKW dengan bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer/sekunder/tersier dan pelabuhan internasional/nasional. ta Jaringan jalan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) w. c. Sistem jaringan transportasi darat terdiri atas jaringan jalan nasional. Pasalga 18 g li (1) le (2) (3) (4) Jaringan jalan kolektor primer dikembangkan untuk menghubungkan antar-PKW dan antara PKW dan PKL. dan penyeberangan. Jaringan jalan strategis nasional dikembangkan untuk menghubungkan: a. No 48 16 Bagian Ketiga Sistem Jaringan Transportasi Nasional Pasal 17 (1) Sistem jaringan transportasi nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) huruf b terdiri atas: a. antara PKN dan PKW.www. antar-PKN.

dan ga jaringan jalur kereta api khusus. Pasal 19 Jaringan jalan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) mencakup pula jembatan atau terowongan antarpulau serta jembatan atau terowongan antarnegara. dan mendukung aksesibilitas di kawasan perkotaan. c. b. Jembatan atau terowongan antarpulau menghubungkan arus lalu lintas antarpulau. b. antar-PKN. (3) d. . .legalitas. dikembangkan untuk untuk (1) (2) (3) Jembatan atau terowongan antarnegara dikembangkan menghubungkan arus lalu lintas dengan negara tetangga. PKW dengan PKN. a. menghubungkan kawasan perkotaan dengan bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer/sekunder/tersier dan pelabuhan internasional/nasional. d. . b. b. No 48 (5) (6) Jalan tol dikembangkan untuk mempercepat perwujudan jaringan jalan bebas hambatan sebagai bagian dari jaringan jalan nasional. Pasal 20 Jaringan jalur kereta api sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) terdiri g or atas: .www. kereta api antarkota dikembangkan untuk (2) Jaringan jalur menghubungkan: a. Jaringan jalan bebas hambatan tercantum dalam Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini. dan jaringan jalur kereta api perkotaan.org 17 2008. 21 Pasal ww a. atau antar-PKW. ta s li Jaringan jalur kereta api umum terdiri atas: jaringan jalur kereta api antarkota. Jaringan jalur kereta api perkotaan dikembangkan untuk: a.e l w. PKN dengan pusat kegiatan di negara tetangga. antar-PKW . (1) jaringan jalur kereta api umum.

legalitas. Lintas penyeberangan terdiri atas: a. atau pemerintah kabupaten/kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. ww Pelabuhan dan alur pelayaran sungai dan danau beserta prioritas w pengembangannya ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang transportasi sungai dan danau. a.org 2008. No 48 18 (4) (1) (2) (3) (1) (2) (1) (2) (3) Jaringan jalur kereta api antarkota dan perkotaan beserta prioritas pengembangannya ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang perkeretaapian. pelabuhan penyeberangan lintas dalam kabupaten/kota. pelabuhan penyeberangan lintas antarkabupaten/kota. Jaringan jalur kereta api khusus ditetapkan oleh Pemerintah. b. alur pelayaran untuk kegiatan angkutan sungai dan alur pelayaran leg untuk kegiatan angkutan. pelabuhan sungai dan pelabuhan danau. dan as t ali b. Pasal 23 Jaringan transportasi sungai dan danau sebagaimana dimaksud dalam g Pasal 17 ayat (2) terdiri atas: or . lintas penyeberangan antar negara yang menghubungkan antarjaringan jalan pada kawasan perbatasan. Pasal 22 Jaringan jalur kereta api khusus dikembangkan oleh badan usaha tertentu untuk menunjang kegiatan pokok badan usaha tersebut.danau. lintas penyeberangan antarprovinsi yang menghubungkan antarjaringan jalan nasional dan antarjaringan jalur kereta api antarprovinsi. Pelabuhan penyeberangan terdiri atas: a. Pasal 24 Jaringan transportasi penyeberangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) terdiri atas pelabuhan penyeberangan dan lintas penyeberangan. Jaringan jalur kereta api khusus dapat disambungkan dengan jaringan jalur kereta api umum dan jaringan jalur kereta api khusus lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. dan c.www. b. pemerintah provinsi. pelabuhan penyeberangan lintas antarprovinsi dan antarnegara. .

org 19 2008. menjangkau wilayah pelayanan menengah. Pelabuhan umum terdiri atas pelabuhan internasional hub. b. No 48 c. (1) pelabuhan umum. dan pelabuhan khusus. dan pelabuhan lokal. w w. dan penghubung sabuk dalam wilayah nasional. a. b. (4) Lintas penyeberangan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) membentuk jaringan penyeberangan sabuk utara.www. sabuk tengah. pelabuhan internasional. Lintas penyeberangan beserta prioritas pengembangannya ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang transportasi penyeberangan. lintas penyeberangan lintas kabupaten/kota yang menghubungkan antarjaringan jalan provinsi dan jaringan jalur kereta api dalam provinsi. b. c. pelabuhan regional. sabuk selatan. dan menjadi simpul jaringan transportasi laut internasional. d. c. Pasal 25 (5) Tatanan kepelabuhanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) terdiri g or atas: .legalitas. dan lintas pelabuhan penyeberangan dalam kabupaten/kota yang menghubungkan antarjaringan jalan kabupaten/kota dan jaringan jalur kereta api dalam kabupaten/kota. w ga le ta s li Pasal 26 (2) (3) Pelabuhan nasional dikembangkan untuk: a. dan memiliki fungsi sebagai simpul jaringan transportasi laut nasional. . menjangkau wilayah pelayanan sangat luas. melayani kegiatan pelayaran dan alih muat peti kemas angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah menengah. pelabuhan nasional. melayani kegiatan pelayaran dan alih muat peti kemas angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah besar. Pelabuhan internasional hub dan pelabuhan internasional dikembangkan untuk: a.

dan angkutan perintis dalam jumlah menengah. . (3) Alur pelayaran nasional terdiri atas: a. dan angkutan perintis dalam jumlah kecil. pelayaran rakyat. melayani kegiatan pelayaran dan alih muat angkutan laut lokal dan regional. Alur Laut Kepulauan Indonesia. No 48 20 (4) Pelabuhan regional dikembangkan untuk: a. (5) a. alur pelayaran yang menghubungkan pelabuhan nasional dengan pelabuhan internasional atau pelabuhan internasional hub. b. Pasal 28 Pasal 27 (1) (2) Alur pelayaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) terdiri atas alur pelayaran internasional dan alur pelayaran nasional. Alur pelayaran internasional terdiri atas: a. ali Pelabuhan khusus dapat dialihkan fungsinya menjadi pelabuhan umum leg . dan menjangkau wilayah pelayanan terbatas. dan menjangkau wilayah pelayanan menengah.www. jaringan pelayaran yang menghubungkan antarpelabuhan internasional hub dan pelabuhan internasional. dan jaringan pelayaran yang menghubungkan antara pelabuhan internasional hub dan pelabuhan internasional dengan pelabuhan internasional di negara lain.org 2008. b. (1) (2) (3) rg omenunjang pengembangan Pelabuhan khusus dikembangkan untuk. Pelabuhan lokal dikembangkan untuk: b. angkutan sungai. melayani kegiatan pelayaran dan alih muat angkutan laut nasional dan regional. ta s kegiatan atau fungsi tertentu.transportasi laut. pelayaran rakyat. angkutan sungai. dengan memperhatikan sistem ww w Pelabuhan khusus ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang transportasi laut setelah mendapat rekomendasi dari gubernur dan bupati/walikota. c.legalitas. (6) Pelabuhan internasional dan pelabuhan nasional tercantum dalam Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini.

bandar udara bukan pusat penyebaran. bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan sekunder. dan w d. ruang udara di atas bandar udara yang dipergunakan langsung untuk kegiatan bandar udara. alur pelayaran yang menghubungkan antara pelabuhan nasional dan pelabuhan regional.l e ww c. .legalitas. (4) Alur pelayaran internasional ditetapkan berdasarkan kriteria yang berlaku secara internasional dan peraturan perundang-undangan. ai g b.org 21 2008. (1) Bandar udara umum terdiri atas: as t a. dan b. Pasal 32 (1) Ruang udara untuk penerbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (4) terdiri atas: a. No 48 alur pelayaran yang menghubungkan antarpelabuhan nasional. Pasal 30 g or . bandar udara pusat penyebaranlskala pelayanan primer. bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan sekunder. alur pelayaran yang menghubungkan antarpelabuhan regional. . dan d. (2) Bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer. c. Pasal 29 Tatanan kebandarudaraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (4) terdiri atas: a. dan b. ruang udara di sekitar bandar udara yang dipergunakan untuk operasi penerbangan. bandar udara khusus.www. b. dan bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan tersier tercantum dalam Lampiran V yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini. bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan tersier. Pasal 31 Bandar udara khusus dikembangkan untuk menunjang pengembangan kegiatan tertentu dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan di bidang kebandarudaraan. (5) Alur pelayaran nasional ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang transportasi laut. bandar udara umum.

www.legalitas.org

2008, No 48

22

(2)

(3)

(1)

(2)

(3)

(1)

c. ruang udara yang ditetapkan sebagai jalur penerbangan. Ruang udara untuk penerbangan dimanfaatkan dengan mempertimbangkan pemanfaatan ruang udara bagi pertahanan dan keamanan negara. Ruang udara untuk penerbangan diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 33 Jaringan jalan arteri primer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria: a. menghubungkan antar-PKN, antara PKN dan PKW, dan/atau PKN/PKW dengan bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer/sekunder/tersier dan pelabuhan internasional/nasional; b. berupa jalan umum yang melayani angkutan utama; g c. melayani perjalanan jarak jauh; or . as d. memungkinkan untuk lalu lintas dengan kecepatan rata-rata t ali tinggi; dan leg .masuk secara berdaya guna. e. membatasi jumlah jalan ww sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 Jaringan jalan kolektorw primer ayat (1) ditetapkan dengan kriteria: a. menghubungkan antar-PKW dan antara PKW dan PKL; b. berupa jalan umum yang berfungsi melayani angkutan pengumpul atau pembagi; c. melayani perjalanan jarak sedang; d. memungkinkan untuk lalu lintas dengan kecepatan rata-rata sedang; dan e. membatasi jumlah jalan masuk. Kriteria jaringan jalan strategis nasional dan jaringan jalan tol sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 34 Jaringan jalur kereta api antarkota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) huruf a ditetapkan dengan kriteria menghubungkan antara PKN dan pusat kegiatan di negara tetangga, antar-PKN, PKW dengan PKN, atau antar-PKW.

www.legalitas.org

23

2008, No 48

(2)

Jaringan jalur kereta api perkotaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) huruf b ditetapkan dengan kriteria menghubungkan kawasan perkotaan dengan bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer/sekunder/tersier dan pelabuhan internasional/nasional atau mendukung aksesibilitas di kawasan perkotaan metropolitan. Kriteria teknis jaringan jalur kereta api antarkota dan perkotaan ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang perkeretaapian. Pasal 35 Pelabuhan sungai dan pelabuhan danau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf a ditetapkan dengan kriteria: a. b. c. berdekatan dengan kawasan permukiman penduduk; terintegrasi dengan sistem jaringan transportasi darat lainnya; dan berada di luar kawasan lindung.

(3)

(1)

(2)

Pelabuhan penyeberangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat s.o (1) ditetapkan dengan kriteria: lita a.

rg

b. (3)

berada di lokasi yangeg menghubungkan dengan pelabuhan .l jarak terpendek yang memiliki nilai penyeberangan lain pada w ekonomis; dan ww berada di luar kawasan lindung.

a

Kriteria teknis pelabuhan sungai, danau, dan penyeberangan ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang transportasi sungai, danau, dan penyeberangan. Pasal 36 Pelabuhan internasional hub dan pelabuhan internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria: a. b. c. d. berhadapan langsung dengan Alur Laut Kepulauan Indonesia dan/atau jalur pelayaran internasional; berjarak paling jauh 500 (lima ratus) mil dari Alur Laut Kepulauan Indonesia atau jalur pelayaran internasional; bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan PKN dalam sistem transportasi antarnegara; berfungsi sebagai simpul utama pendukung pengembangan produksi kawasan andalan ke pasar internasional;

(1)

www.legalitas.org

2008, No 48

24

e. f.

berada di luar kawasan lindung; dan berada pada perairan yang memiliki kedalaman paling sedikit 12 (dua belas) meter untuk pelabuhan internasional hub dan 9 (sembilan) meter untuk pelabuhan internasional.

(2)

Pelabuhan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria: a. b. c. merupakan bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan PKN dalam sistem transportasi antarprovinsi; berfungsi sebagai simpul pendukung pemasaran produk kawasan andalan ke pasar nasional; memberikan akses bagi pengembangan pulau-pulau kecil dan kawasan andalan laut, termasuk pengembangan kawasan tertinggal; berada di luar kawasan lindung; dan berada pada perairan yang memiliki kedalaman paling sedikit 9 lita (sembilan) meter. a dalam Pasal 26 ayat (1)

d. e. (3)

.or s

g

g .le dimaksud Pelabuhan regional sebagaimana ww ditetapkan dengan kriteria: w
a. b. c.

merupakan bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan PKN atau PKW dalam sistem transportasi antarprovinsi; berfungsi sebagai simpul pendukung pemasaran produk kawasan andalan ke pasar regional; memberikan akses bagi pengembangan kawasan andalan laut, kawasan pedalaman sungai, dan pulau-pulau kecil, termasuk pengembangan kawasan tertinggal; berada di luar kawasan lindung; dan berada pada perairan yang memiliki kedalaman paling sedikit 4 (empat) meter.

d. e. (4)

Pelabuhan lokal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria: a. merupakan bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan PKW atau PKL dalam sistem transportasi antarkabupaten/kota dalam satu provinsi;

000 b.penunjang fungsi pelayanan or PKN.000.000. merupakan bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan PKN. dan pelabuhan lokal ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang transportasi laut. (4) Kriteria teknis bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer. pelabuhan regional. dan melayani penumpang dengan jumlah antara 1.org 25 2008. . b. merupakan bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan PKN atau PKW terdekat. bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan sekunder.000 (satu juta) orang per tahun. (5) berfungsi sebagai simpul pendukung pemasaran produk kawasan budi daya di sekitarnya ke pasar lokal.5 (satu setengah) meter. berada di luar kawasan lindung. dan ta s g (3) Bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan tersier sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) huruf c ditetapkan dengan kriteria: a. e.000 (satu juta) sampai dengan 5.000 (lima juta) orang per tahun. dan bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan tersier ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang transportasi udara.000. b. No 48 b. Pasal 37 Bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) huruf a ditetapkan dengan kriteria: a.000 (lima ratus ribu) sampai dengan 1. pelabuhan nasional. c. pelabuhan internasional. melayani penumpang dengan g . berada pada perairan yang memiliki kedalaman paling sedikit 1. ww skala pelayanan sekunder sebagaimana w Bandar udara pusat penyebaran dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) huruf b ditetapkan dengan kriteria: a.www. dan melayani penumpang dengan jumlah antara 500. dan dapat melayani pelayaran rakyat. d. (1) (2) alijumlah paling sedikit 5. Kriteria teknis pelabuhan internasional hub.l e (lima juta) orang per tahun. merupakan bagian dari prasarana .000.legalitas.

Pasal 43 (1) Jaringan pipa minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 huruf a ditetapkan dengan kriteria: . atau kabel bawah laut.le tugas dan tanggung jawabnya di bidang minyak dan gas bumi. atau lit abeserta prioritas pengembangannya Jaringan pipa minyak dan gas bumi g ditetapkan oleh menteri yang. dan jaringan transmisi tenaga listrik. (1) jaringan pipa minyak dan gas bumi. a Pembangkit tenaga listrik dikembangkan untuk memenuhi penyediaan tenaga listrik sesuai dengan kebutuhan yang mampu mendukung kegiatan perekonomian. kabel bawah tanah. c. ww w Pasal 40 menyalurkan minyak dan gas bumi org kilang pengolahan atau dari s.legalitas. b. tempat penyimpanan ke konsumen. dan jaringan transmisi tenaga listrik ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang energi. pembangkit tenaga listrik. Pasal 41 Jaringan transmisi tenaga listrik dikembangkan untuk menyalurkan tenaga listrik antarsistem yang menggunakan kawat saluran udara.www. Pasal 42 Sistem jaringan pipa minyak dan gas bumi. No 48 26 Bagian Keempat Sistem Jaringan Energi Nasional Pasal 38 Sistem jaringan energi nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) huruf c terdiri atas: a. Pasal 39 Jaringan pipa minyak dan gas bumi dikembangkan untuk: a.org 2008. b. pembangkit tenaga listrik. (2) menyalurkan minyak dan gas bumi dari fasilitas produksi ke kilang pengolahan dan/atau tempat penyimpanan.

kabel bawah laut. c. e. laut. d. b. dan konsumen yang terintegrasi dengan fasilitas tersebut. No 48 a. pulau-pulau kecil. fasilitas pengolahan dan/atau penyimpanan. mendukung ketersediaan pasokan tenaga listrik untuk kepentingan umum di kawasan perkotaan hingga perdesaan. rg berada pada kawasan dan/atau tas luar kawasan yang memiliki di li potensi sumber daya energi. persawahan. perkebunan. berada pada lokasi yang aman terhadap kegiatan lain dengan memperhatikan persyaratan ruang bebas dan jarak aman. melintasi kawasan permukiman. dan menyalurkan tenaga listrik berkapasitas besar dengan tegangan nominal lebih dari 35 (tiga puluh lima) kilo Volt. adanya fasilitas produksi minyak dan gas bumi. e. c. merupakan media penyaluran tenaga listrik adalah kawat saluran udara. hutan. wilayah sungai. g . mendukung pemanfaatan teknologi baru untuk menghasilkan sumber energi yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap energi tak terbarukan. b. dan a b. mendukung pengembangan kawasan perdesaan. w lain dengan .le aman terhadap kegiatan berada pada lokasi yang ww memperhatikan jarak bebas dan jarak aman.www.o Jaringan transmisi tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 huruf c ditetapkan dengan kriteria: a. pulau-pulau kecil. d. dan kawasan terisolasi. (2) Pembangkit tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 huruf b ditetapkan dengan kriteria: a. f. dan kawasan terisolasi. (3) . perdesaan hingga kawasan terisolasi.org 27 2008. mendukung ketersediaan pasokan tenaga listrik untuk kepentingan umum di kawasan perkotaan. dan kabel bawah tanah. dan berfungsi sebagai pendukung sistem pasokan energi nasional. dan jalur transportasi. mendukung pengembangan kawasan perdesaan.legalitas.

o menyediakan pelayanan telekomunikasi di seluruh wilayah nasional. Pasal 47 li w (1) Jaringan terestrial ditetapkan dengan kriteria: a. b. d. dan jaringan satelit. Pasal 46 Jaringan terestrial dikembangkan secara rberkesinambungan untuk s. Bagian Kelima Sistem Jaringan Telekomunikasi Nasional Pasal 45 Sistem jaringan telekomunikasi nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) huruf d terdiri atas: a. c. menghubungkan antarpusat perkotaan nasional. (3) . (2) Jaringan satelit ditetapkan dengan kriteria ketersediaan orbit satelit dan frekuensi radio yang telah terdaftar pada Perhimpunan Telekomunikasi Internasional.org 2008. dan jaringan transmisi tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang energi. ta g a Jaringan satelit dikembangkan guntuk melengkapi sistem jaringan le telekomunikasi nasional melalui satelit komunikasi dan stasiun bumi. No 48 28 Pasal 44 Kriteria teknis jaringan pipa minyak dan gas bumi. w.www. atau mendukung kegiatan berskala internasional. Jaringan terestrial dan satelit beserta prioritas pengembangannya w ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang telekomunikasi. Kriteria teknis jaringan terestrial dan jaringan satelit ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang telekomunikasi. menghubungkan pusat perkotaan nasional dengan pusat kegiatan di negara lain.legalitas. mendukung pengembangan kawasan andalan. (1) (2) (3) jaringan terestrial. pembangkit tenaga listrik. b.

(2) (3) .org 29 2008. Wilayah sungai meliputi wilayah sungai lintas negara. ali g . c. Wilayah sungai tercantum dalam Lampiran VI yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini. Wilayah sungai dan cekungan air tanah lintas provinsi ditetapkan dengan kriteria melintasi dua atau lebih provinsi. wilayah sungai lintas provinsi. dan wilayah sungai strategis nasional. sungai lintas provinsi. dan wilayah sungai strategis nasional as t memperhatikan pola pengelolaan sumber daya air. No 48 Bagian Keenam Sistem Jaringan Sumber Daya Air Pasal 48 (1) Sistem jaringan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) huruf e merupakan sistem sumber daya air pada setiap wilayah sungai dan cekungan air tanah. b. Wilayah sungai strategis nasional ditetapkan dengan kriteria: a. w Pasal 49 (6) (1) Wilayah sungai dan cekungan air tanah lintas negara ditetapkan dengan kriteria melayani kawasan perbatasan negara atau melintasi batas negara.le ditetapkan dengan peraturan menteri Pola pengelolaan sumber daya air ww yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang sumber daya air. wilayah or . melayani kawasan strategis nasional. Cekungan air tanah meliputi cekungan air tanah lintas negara dan lintas provinsi. (2) (3) (4) (5) g Arahan pemanfaatan ruang pada wilayah sungai lintas negara. melayani paling sedikit 1 (satu) daerah irigasi yang luasnya lebih besar atau sama dengan 10.000 (sepuluh ribu) hektar.www. atau kawasan andalan. dan/atau memiliki dampak negatif akibat daya rusak air terhadap pertumbuhan ekonomi yang mengakibatkan tingkat kerugian ekonomi paling sedikit 1% (satu persen) dari produk domestik regional bruto (PDRB) provinsi.legalitas. PKN.

perlindungan terhadap kawasan . (1) kawasan yang bawahannya. dan cagar budaya.org 2008. dan kawasan resapan air.000. b.legalitas. (2) kawasan lindung nasional. Rencana pola ruang wilayah nasional digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1:1. kawasan suaka alam. No 48 30 BAB IV RENCANA POLA RUANG WILAYAH NASIONAL Bagian Kesatu Umum Pasal 50 (1) Rencana pola ruang wilayah nasional terdiri atas: a. dan kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis nasional.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran VII yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini. 51 ww Pasal memberikan perlindungan terhadap kawasan a kawasan perlindungan setempat. e. kawasan rawan bencana alam.o rg Kawasan lindung nasional terdiri atas: a. ga Lindung Nasional Jenis dan Sebaran Kawasan le w. Pasal 52 Kawasan yang memberikan bawahannya terdiri atas: a. kawasan hutan lindung. kawasan lindung geologi.www. kawasan bergambut. d. dan kawasan lindung lainnya. Bagian Kedua Paragraf 1it l Kawasan Lindung Nasional s. f. b. b. pelestarian alam. c. c.

pelestarian alam. kawasan perlindungan plasma nutfah. i. . b. dan (6) Kawasan lindung lainnya terdiri atas: a. kawasan rawan bencana alam geologi. e. dan Kawasan lindung geologi terdiri atas: a. b. kawasan pantai berhutan bakau. d. (3) Kawasan suaka alam. c. f. sempadan sungai.www. taman hutan raya. ramsar. terumbu karang. taman buru. c. kawasan sekitar danau atau waduk. (5) kawasan rawan gelombang pasang. c. c. dan lita kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan.legalitas. dan cagar budaya. . kawasan cagar alam geologi. g. suaka margasatwa dan suaka margasatwa laut. c. kawasan rawan banjir. cagar biosfer. b. b. dan ruang terbuka hijau kota. cagar alam dan cagar alam laut. taman wisata alam dan taman wisata alam laut. leg . kawasan suaka alam. d. h. d. taman nasional dan taman nasional laut. f.or s g a (4) Kawasan rawan bencana alam terdiri atas: ww a. e. No 48 (2) Kawasan perlindungan setempat terdiri atas: a.org 31 2008. terdiri atas: a. sempadan pantai. kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya. kawasan pengungsian satwa. b. dan kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah. w kawasan rawan tanah longsor.

ali g . dan ayat (4). Sebaran kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) dan ayat (6). g. d. b. (2) . dan sempadan mata air. Pasal 53 Kawasan cagar alam geologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (5) huruf a terdiri atas: a. dan kawasan keunikan proses geologi. serta Pasal 53 ayat (1) dengan luas kurang dari 1.000 (seribu) hektar dan sebaran kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1). serta Pasal 53 ayat (1) dengan luas paling sedikit 1. c. ayat (2). kawasan keunikan bentang alam.l e kawasan rawan abrasi. (1) kawasan koridor bagi jenis satwa atau biota laut yang dilindungi. kawasan rawan gerakan tanah. Pasal 54 (3) Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (5) huruf c terdiri atas: a. b. . f. kawasan rawan letusan gunung berapi. kawasan keunikan batuan dan fosil. No 48 32 g. serta Pasal 53 ayat (2) dan ayat (3) ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. kawasan rawan bahaya w kawasan imbuhan air tanah. kawasan yang terletak di zona patahan as t kawasan rawan tsunami. (2) Kawasan rawan bencana alam geologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (5) huruf b terdiri atas: a.www. b. (1) Sebaran kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) dan ayat (6). c. e. dan wwgas beracun.legalitas. kawasan rawan gempa bumi.000 (seribu) hektar tercantum dalam Lampiran VIII yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini.org 2008. rg oaktif.

jenis tanah.l kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan dan sebagai pengontrol ww tata air permukaan. dan intensitas hujan yang jumlah hasil perkalian bobotnya sama dengan 175 (seratus tujuh puluh lima) atau lebih.www. (2) Sempadan sungai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2) huruf b ditetapkan dengan kriteria: a.legalitas. daratan sepanjang tepian laut dengan jarak paling sedikit 100 (seratus) meter dari titik pasang air laut tertinggi ke arah darat.000 (dua ribu) meter di atas permukaan laut. kawasan hutan dengan faktor kemiringan lereng. atau kawasan hutan yang mempunyai ketinggian paling sedikit 2. (2) (3) tas dalam Pasal 52 ayat (1) Kawasan resapan air sebagaimana dimaksud ali kawasan yang mempunyai g huruf c ditetapkan dengan ekriteria . w Pasal 56 Sempadan pantai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2) huruf a ditetapkan dengan kriteria: a. (1) b. c. b. b. dan . No 48 Paragraf 2 Kriteria Kawasan Lindung Nasional Pasal 55 (1) Kawasan hutan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1) huruf a ditetapkan dengan kriteria: a. atau daratan sepanjang tepian laut yang bentuk dan kondisi fisik pantainya curam atau terjal dengan jarak proporsional terhadap bentuk dan kondisi fisik pantai. Kawasan bergambut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1) huruf b ditetapkan dengan kriteria ketebalan gambut 3 (tiga) meter atau g or lebih yang terdapat di hulu sungai atau rawa. daratan sepanjang tepian sungai bertanggul dengan lebar paling sedikit 5 (lima) meter dari kaki tanggul sebelah luar. daratan sepanjang tepian sungai besar tidak bertanggul di luar kawasan permukiman dengan lebar paling sedikit 100 (seratus) meter dari tepi sungai.org 33 2008. kawasan hutan yang mempunyai kemiringan lereng paling sedikit 40% (empat puluh persen). .

daratan dengan jarak 50 (lima puluh) meter sampai dengan 100 (seratus) meter dari titik pasang air danau atau waduk tertinggi. daratan sepanjang tepian anak sungai tidak bertanggul di luar kawasan permukiman dengan lebar paling sedikit 50 (lima puluh) meter dari tepi sungai. b. dan a g (1) t ali c. kawasan yang memiliki keanekaragaman biota. b. b.500 (dua ribu lima ratus) meter persegi. dan merupakan habitat alami yang memberikan tempat atau perlindungan bagi perkembangan keanekaragaman tumbuhan dan satwa. lahan dengan luas paling sedikit 2. baik di lautan maupun di perairan lainnya. memiliki ekosistem khas. serta gejala dan keunikan alam yang terdapat di dalamnya. (3) Kawasan sekitar danau atau waduk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2) huruf c ditetapkan dengan kriteria: a. didominasi komunitas tumbuhan. (3) Suaka margasatwa dan suaka margasatwa laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) huruf c ditetapkan dengan kriteria: .o bentuk satu hamparan dan jalur. atau kombinasi dari s. b. No 48 34 c. (4) Ruang terbuka hijau kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2) huruf d ditetapkan dengan kriteria: a. ekosistem. berbentuk satu hamparan.org 2008.le 57 Pasal w Kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) ww huruf a ditetapkan dengan kriteria: a. atau daratan sepanjang tepian danau atau waduk yang lebarnya proporsional terhadap bentuk dan kondisi fisik danau atau waduk. serta gejala dan keunikan alam yang khas baik di darat maupun di perairan. berbentuk r jalur.www. g . dan/atau mempunyai fungsi utama sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman jenis biota. (2) Kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) huruf b ditetapkan dengan kriteria: a.legalitas. ekosistem.

www. memiliki luas dan bentuk tertentu. merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa migran tertentu. No 48 a. memiliki paling sedikit satu ekosistem yang terdapat di dalamnya yang secara materi atau fisik tidak boleh diubah baik oleh eksploitasi maupun pendudukan manusia.org 35 2008. atau tas satu-satunya contoh di suatu e. b. memiliki ciri khas yang merupakan ali daerah serta keberadaannya g le memerlukan konservasi. memiliki sumber daya alam yang khas dan unik baik berupa jenis tumbuhan maupun jenis satwa dan ekosistemnya serta gejala alam yang masih utuh. dan d. d. memiliki luas yang cukup untuk menjamin kelangsungan proses ekologi secara alami. satwa. . (6) Taman nasional dan taman nasional laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) huruf f ditetapkan dengan kriteria: a. c. c. atau memiliki luas yang cukup sebagai habitat jenis satwa yang bersangkutan. Cagar alam dan cagar alam laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) huruf d ditetapkan dengan kriteria: a. memiliki kondisi alam. b. dan tipe ekosistemnya. berhutan atau bervegetasi tetap yang memiliki tumbuhan dan satwa yang beragam. (4) merupakan tempat hidup dan perkembangbiakan dari suatu jenis satwa yang perlu dilakukan upaya konservasinya. b. w. memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan. baik biota maupun fisiknya yang masih asli atau belum diganggu manusia. g (5) . c.legalitas. diukur dari garis air surut terendah ke arah darat. memiliki keanekaragaman satwa yang tinggi. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 Kawasan pantai berhutan w bakau w ayat (3) huruf e ditetapkan dengan kriteria koridor di sepanjang pantai dengan lebar paling sedikit 130 (seratus tiga puluh) kali nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan. memiliki formasi biota tertentu dan/atau unit-unit penyusunnya.or d.

ww unik. b. Pasal 58 Kawasan rawan tanah longsor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (4) huruf a ditetapkan dengan kriteria kawasan berbentuk lereng yang rawan terhadap perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan. satwa dan ekosistemnya yang masih asli serta formasi geologi yang indah. baik pada kawasan yang ekosistemnya masih utuh maupun kawasan yang sudah berubah. (1) . tanah. g e. berhutan atau bervegetasi tetap yang memiliki tumbuhan dan/atau satwa yang beragam. memiliki keindahan alam dan/atau gejala alam. dan langka. memiliki akses yang baik untuk keperluan pariwisata. Taman hutan raya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) huruf g ditetapkan dengan kriteria: a. dan memiliki luas yang memungkinkan untuk pengembangan koleksi tumbuhan dan/atau satwa jenis asli dan/atau bukan asli. atau material campuran. c. No 48 36 e. bahan rombakan. merupakan kawasan dengan ciri khas baik asli maupun buatan. memiliki daya tarik . memiliki akses yang baik untuk keperluan pariwisata. memiliki arsitektur bentang alam yang baik. (7) memiliki keadaan alam yang asli untuk dikembangkan sebagai pariwisata alam.www. memiliki luas yang cukup untuk menjamin pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya untuk dimanfaatkan bagi kegiatan wisata alam.legalitas.org 2008. dan kondisi lingkungan di sekitarnya pengembangan kegiatan wisata alam. (9) Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) huruf i ditetapkan dengan kriteria sebagai hasil budaya manusia yang bernilai tinggi yang dimanfaatkan untuk pengembangan ilmu pengetahuan. w b.olaut sebagaimana dimaksud Taman wisata alam dan taman wisata alam tas dengan kriteria: dalam Pasal 52 ayat (3) huruf h ditetapkan ali eg a. d. (8) r . f.lalam berupa tumbuhan. mendukung upaya d. c.

b. mendukung keanekaragaman populasi satwa dan/atau flora di wilayah biogeografisnya.legalitas. c. memiliki keterwakilan ekosistem yang masih alami. atau kawasan binaan. rg merupakan bentang alam yang as tcukup luas yang mencerminkan lialam dengan manusia beserta interaksi antara komunitas ga kegiatannya secara harmonis.www. mengalami modifikasi. langka. memiliki luas yang cukup dan tidak membahayakan untuk kegiatan berburu. (3) (1) b. dan .o d. . (2) Ramsar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (6) huruf b ditetapkan dengan kriteria: a. d. Pasal 59 Cagar biosfer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (6) huruf a ditetapkan dengan kriteria: a. atau ekologi komunitas yang terancam. atau merupakan tempat perlindungan bagi satwa dan/atau flora saat melewati masa kritis dalam hidupnya.l e berupa tempat bagi w pemantauan perubahan ekologi melalui ww penelitian dan pendidikan. kawasan yang sudah mengalami degradasi. Kawasan rawan banjir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (4) huruf c ditetapkan dengan kriteria kawasan yang diidentifikasikan sering dan/atau berpotensi tinggi mengalami bencana alam banjir. dan indah. c. memiliki komunitas alam yang unik. berupa lahan basah baik yang bersifat alami atau mendekati alami yang mewakili langka atau unit yang sesuai dengan biogeografisnya. No 48 (2) Kawasan rawan gelombang pasang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (4) huruf b ditetapkan dengan kriteria kawasan sekitar pantai yang rawan terhadap gelombang pasang dengan kecepatan antara 10 sampai dengan 100 kilometer per jam yang timbul akibat angin kencang atau gravitasi bulan atau matahari. hampir langka. mendukung spesies rentan.org 37 2008. (3) Taman buru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (6) huruf c ditetapkan dengan kriteria: a. atau . langka.

atau proses-proses penunjang kehidupan. b. dan kelestarian satwa.www. Pasal 60 (1) Kawasan keunikan batuan dan fosil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1) huruf a ditetapkan dengan kriteria: . merupakan tempat kehidupan satwa yang sejak semula menghuni areal tersebut. dan memiliki luas tertentu yang memungkinkan kelangsungan proses pertumbuhan jenis plasma nutfah. No 48 38 b.org 2008. berupa kawasan memiliki ekosistem unik. memiliki jenis plasma nutfah tertentu yang memungkinkan kelangsungan proses pertumbuhannya. memiliki luas tertentu yanglita memungkinkan berlangsungnya proses hidup dan kehidupanga berkembangbiaknya satwa. b. olahraga. b.o g (6) Terumbu karang sebagaimana. merupakan tempat kehidupan baru bagirsatwa.dimaksud dalam Pasal 52 ayat (6) huruf f ww ditetapkan dengan kriteria: w a. dan mendukung alur migrasi biota laut. dan . b. terdapat satwa buru yang dikembangbiakkan yang memungkinkan perburuan secara teratur dan berkesinambungan dengan mengutamakan segi aspek rekreasi. biota endemik. terdapat di sepanjang pantai dengan kedalaman paling dalam 40 (empat puluh) meter. serta s le berupa kawasan yang terbentuk dari koloni masif dari hewan kecil yang secara bertahap membentuk terumbu karang. (7) Kawasan koridor bagi jenis satwa atau biota laut yang dilindungi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (6) huruf g ditetapkan dengan kriteria: a. (5) Kawasan pengungsian satwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (6) huruf e ditetapkan dengan kriteria: a.legalitas. (4) Kawasan perlindungan plasma nutfah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (6) huruf d ditetapkan dengan kriteria: a. c. c. dan dipisahkan oleh laguna dengan kedalaman antara 40 (empat puluh) sampai dengan 75 (tujuh puluh lima) meter.

dan gumuk vulkanik. c.www. atau . wilayah di sekitar kawah atau kaldera. e. aliran lahar lontaran atau guguran batu pijar dan/atau aliran gas beracun. atau memiliki satu-satunya batuan dan/atau jejak struktur geologi masa lalu. Kawasan keunikan bentang alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1) huruf b ditetapkan dengan kriteria: a. dan/atau wilayah yang sering terlanda awan panas. maar.l e memiliki bentang alam karst. dan/atau geyser.legalitas. memiliki bentang alam goa. memiliki batuan yang mengandung jejak atau sisa kehidupan di masa lampau (fosil). f. b. lita . memiliki bentang alam gumuk pasir pantai.or s g g memiliki bentang alam kubah. kawasan dengan kemunculan sumber api alami. ww a (3) Kawasan keunikan proses geologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1) huruf c ditetapkan dengan kriteria: a. . kawasan poton atau lumpur vulkanik. e. c. fumaroia. memiliki bentang alam ngarai/lembah. atau kawasan dengan kemunculan solfatara. b. No 48 a. memiliki tipe geologi unik. aliran lava. memiliki bentang alam berupa kawah. d. kaldera.org 39 2008. d. Pasal 61 w (1) Kawasan rawan letusan gunung berapi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf a ditetapkan dengan kriteria: a. (2) Kawasan rawan gempa bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf b ditetapkan dengan kriteria kawasan yang berpotensi dan/atau pernah mengalami gempa bumi dengan skala VII sampai dengan XII Modified Mercally Intensity (MMI). b. c. memiliki nilai paleo-antropologi dan arkeologi. b. (2) memiliki keragaman batuan dan dapat berfungsi sebagai laboratorium alam. leher vulkanik.

Kawasan rawan tsunami sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf e ditetapkan dengan kriteria pantai dengan elevasi rendah dan/atau berpotensi atau pernah mengalami tsunami. it dalam Pasal 53 (4) (5) (6) (7) (1) al Pasalg . c. . b. b.le 62 Kawasan imbuhan air tanah sebagaimana dimaksud ww w ayat (3) huruf a ditetapkan dengan kriteria: a. No 48 40 (3) Kawasan rawan gerakan tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf c ditetapkan dengan kriteria memiliki tingkat kerentanan gerakan tanah tinggi. Kawasan yang terletak di zona patahan aktif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf d ditetapkan dengan kriteria sempadan dengan lebar paling sedikit 250 (dua ratus lima puluh) meter dari tepi jalur patahan aktif. daratan di sekeliling mata air yang mempunyai manfaat untuk mempertahankan fungsi mata air.legalitas. dan/atau pernah mengalami bahaya gasas beracun. dan/atau memiliki muka air tanah tidak tertekan yang letaknya lebih tinggi daripada muka air tanah yang tertekan.www. memiliki jenis fisik batuan dengan kemampuan meluluskan air dengan jumlah yang berarti. Kawasan rawan bahaya gas beracun sebagaimana dimaksud dalam Pasal g or 53 ayat (2) huruf g ditetapkan dengan kriteria wilayah yang berpotensi . dan wilayah dengan jarak paling sedikit 200 (dua ratus) meter dari mata air. Kawasan rawan abrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf f ditetapkan dengan kriteria pantai yang berpotensi dan/atau pernah mengalami abrasi. (2) Kawasan sempadan mata air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (3) huruf b ditetapkan dengan kriteria: a. memiliki hubungan hidrogeologis yang menerus dengan daerah lepasan. memiliki lapisan penutup tanah berupa pasir sampai lanau.org 2008. d.

kawasan peruntukan pariwisata.org 41 2008. jenis tanah. jenis tanah. No 48 Bagian Ketiga Kawasan Budi Daya yang Memiliki Nilai Strategis Nasional Paragraf 1 Kawasan Budi Daya Pasal 63 Kawasan budi daya terdiri atas: a. dan intensitas hujan dengan jumlah skor 125 (seratus dua puluh lima) sampai dengan 174 (seratus tujuh puluh empat). dan/atau lita . w wParagraf 2 . b. kawasan peruntukan hutan produksi tetap. kawasan peruntukan industri. kawasan peruntukan permukiman. dan kawasan peruntukan hutan produksi yang dapat dikonversi. dan intensitas hujan dengan jumlah skor paling besar 124 (seratus dua puluh empat). b. Kawasan peruntukan hutan produksi yang dapat dikonversi ditetapkan dengan kriteria: (3) (4) .legalitas. kawasan peruntukan pertanian. e. c.or s g w Kriteria Kawasan Budi Daya Pasal 64 (1) Kawasan peruntukan hutan produksi terdiri atas: a. d. Kawasan peruntukan hutan produksi tetap ditetapkan dengan kriteria memiliki faktor kemiringan lereng. kawasan peruntukan hutan rakyat. c. kawasan peruntukan perikanan. i. kawasan peruntukan hutan produksi. g.www. f. kawasan peruntukan lainnya. h. ga le Kawasan peruntukan hutan produksi terbatas ditetapkan dengan kriteria memiliki faktor kemiringan lereng. kawasan peruntukan pertambangan. (2) kawasan peruntukan hutan produksi terbatas.

pertambangan minyak dan gas bumi. Kriteria teknis kawasan peruntukan hutan rakyat ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang kehutanan. . budi daya. dan kawasan peruntukan hutan produksi yang dapat dikonversi ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang kehutanan. Kriteria teknis kawasan peruntukan perikanan ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang perikanan. Pasal 68 Kawasan peruntukan pertambangan yang memiliki nilai strategis nasional terdiri atas pertambangan mineral dan batubara. a.l e pertanian. serta air tanah. No 48 42 (5) (1) (2) (1) (2) (1) (2) (1) memiliki faktor kemiringan lereng.www. merupakan kawasan yang apabila dikonversi mampu mempertahankan daya dukung dan daya tampung lingkungan. dan/atau b. Pasal 65 Kawasan peruntukan hutan rakyat ditetapkan dengan kriteria kawasan yang dapat diusahakan sebagai hutan oleh orang pada tanah yang dibebani hak milik.org 2008. b. g or Pasal 66 . dan/atau b. pertambangan panas bumi. memiliki kesesuaian lahan g untuk . Kriteria teknis kawasan peruntukan hutan produksi terbatas. dan intensitas hujan dengan jumlah skor paling besar 124 (seratus dua puluh empat). ditetapkan sebagai lahan w c. wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan penangkapan. dapat dikembangkan sesuai dengan tingkat ketersediaan air.legalitas. asdengan kriteria: t Kawasan peruntukan pertanian ditetapkan ali dikembangkan sebagai kawasan a. Kriteria teknis kawasan peruntukan pertanian ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pertanian. kawasan peruntukan hutan produksi tetap. dan/atau d. mendukung ketahanan pangan nasional. ww pertanian pangan abadi. jenis tanah. dan industri pengolahan hasil perikanan. tidak mengganggu kelestarian lingkungan hidup. Pasal 67 Kawasan peruntukan perikanan ditetapkan dengan kriteria: a.

. 70 w (2) Kriteria teknis kawasan peruntukan pariwisata ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pariwisata. sarana. merupakan wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk pemusatan kegiatan pertambangan secara berkelanjutan. dan utilitas pendukung. cair.www. (1) (2) Kriteria teknis kawasan peruntukan permukiman ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang perumahan dan permukiman. c. b. b. (3) Kriteria teknis kawasan peruntukan pertambangan ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pertambangan. . dan/atau merupakan bagian proses upaya merubah kekuatan ekonomi potensil menjadi kekuatan ekonomi riil. dan/atau memiliki kelengkapan prasarana. memiliki akses menuju pusat kegiatan masyarakat di luar kawasan. Pasal 71 Kawasan peruntukan permukiman ditetapkan dengan kriteria: a. No 48 (2) Kawasan peruntukan pertambangan ditetapkan dengan kriteria: a. c. dan/atau tidak mengubah lahan produktif. Pasal 69 Kawasan peruntukan industri ditetapkan dengan kriteria: a. memiliki objek dengan daya tarik wisata.legalitas. atau gas berdasarkan peta/data geologi. dan/atau mendukung upaya pelestarian budaya. memiliki sumber daya bahan tambang yang berwujud padat.org 43 2008. berupa wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan industri.or s g (1) le Pasal w. tidak mengganggu kelestarian fungsi lingkungan hidup. c. (1) (2) a Kriteria teknis kawasan peruntukanlitindustri ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya a bidang industri. b. g di w Kawasan peruntukan pariwisata ditetapkan dengan kriteria: a. b. keindahan alam. berada di luar kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana. dan lingkungan.

. pelabuhan laut dan/atau bandar udara. memiliki kontribusi terhadap produk domestik bruto paling sedikit 0. prasarana listrik. Pasal 73 (1) (2) (3) Kawasan andalan terdiri atas kawasan andalan darat dan kawasan andalan laut.legalitas. dan memiliki sektor unggulan yang sudah berkembang dan/atau sudah ada minat investasi. Pasal 74 li a (1) g ta ww3 (tiga) kawasan perkotaan. e. g Kawasan andalan tercantum dalam Lampiran IX yang merupakan or ini. Nilai strategis nasional meliputi kemampuan kawasan untuk memacu pertumbuhan ekonomi kawasan dan wilayah di sekitarnya serta mendorong pemerataan perkembangan wilayah. serta fasilitas penunjang kegiatan ekonomi kawasan. memiliki paling sedikit 1 (satu) kawasan perkotaan. memiliki jumlah penduduk paling sedikit 3% (tiga persen) dari jumlah penduduk provinsi. c. No 48 44 Paragraf 3 Penetapan Kawasan Budi Daya yang Memiliki Nilai Strategis Nasional Pasal 72 (1) (2) Kawasan budi daya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 yang memiliki nilai strategis nasional ditetapkan sebagai kawasan andalan. Kawasan andalan darat terdiri atas kawasan andalan berkembang dan kawasan andalan prospektif berkembang. bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah s.org 2008. telekomunikasi. b. d.25% (nol koma dua lima persen).05% (nol koma nol lima persen). memiliki paling sedikit w memiliki kontribusi terhadap produk domestik bruto paling sedikit 0.www. (2) Kawasan andalan prospektif berkembang ditetapkan dengan kriteria: a. memiliki prasarana berupa jaringan jalan. c. b.ditetapkan dengan kriteria: a. le Kawasan andalan berkembang. dan air baku. memiliki laju pertumbuhan ekonomi paling sedikit 4% (empat persen) per tahun.

legalitas. gudang amunisi. No 48 d. dan memiliki sektor unggulan yang potensial untuk dikembangkan. e.5% (nol koma lima persen) dari jumlah penduduk provinsi. ww le w. (3) a. pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi. dan prasarana lainnya yang belum memadai. e. BAB V PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS NASIONAL Bagian Kesatu Kriteria Kawasan Strategis Nasional rg Pasal 75 Kawasan andalan laut ditetapkan dengan kriteria: Penetapan kawasan strategis nasional dilakukan berdasarkan kepentingan: al a. c. b. b. memiliki prasarana berupa jaringan jalan. dan memiliki akses menuju pasar nasional atau internasional. diperuntukkan bagi kepentingan pemeliharaan pertahanan negara berdasarkan geostrategi nasional.o ta diperuntukkan bagi basis militer. Pasal 76 Kawasan strategis nasional dari sudut kepentingan pertahanan dan keamanan ditetapkan dengan kriteria: a. c. memiliki jumlah penduduk paling sedikit 0.org 45 2008. daerah uji coba sistem persenjataan. d. keamanan dan pertumbuhan ekonomi. daerah pembuangan amunisi dan peralatan pertahanan lainnya. pelabuhan laut. c. b. g i s. .www. memiliki pusat pengolahan hasil laut. pertahanan dan keamanan. atau merupakan wilayah kedaulatan negara termasuk pulau-pulau kecil terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga dan/atau laut lepas. dan/atau fungsi dan daya dukung lingkungan hidup. dan/atau kawasan industri sistem pertahanan. memiliki sumber daya kelautan. f. sosial dan budaya. daerah latihan militer.

memberikan perlindungan terhadap keanekaragaman budaya. Pasal 79 w Kawasan strategis nasional dari sudut kepentingan pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi ditetapkan dengan kriteria: a. e. h. memiliki potensi ekonomi cepat tumbuh. a w merupakan tempat pelestarian dan pengembangan adat istiadat atau budaya nasional.okawasan tertinggal. memiliki sumber daya alam strategis nasional. e. memiliki kegiatan ekonomi yang memanfaatkan teknologi tinggi. atau ditetapkan untuk mempercepat pertumbuhan r . . berfungsi untuk mempertahankan tingkat produksi sumber energi dalam rangka mewujudkan ketahanan energi nasional. Pasal 78 lita g s g Kawasan strategis nasional dari sudut kepentingan sosial dan budaya ditetapkan .org 2008.www. g. b. merupakan aset nasional atau internasional yang harus dilindungi dan dilestarikan.legalitas. b. d. c.l e dengan kriteria: w a. atau memiliki potensi kerawanan terhadap konflik sosial skala nasional. f. memiliki sektor unggulan yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi nasional. No 48 46 Pasal 77 Kawasan strategis nasional dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi ditetapkan dengan kriteria: a. serta tenaga atom dan nuklir. memiliki potensi ekspor. d. merupakan tempat perlindungan peninggalan budaya nasional. diperuntukkan bagi kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berdasarkan lokasi sumber daya alam strategis nasional. f. b. c. berfungsi untuk mempertahankan tingkat produksi pangan nasional dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional. pengembangan antariksa. merupakan prioritas peningkatan kualitas sosial dan budaya serta jati diri bangsa. didukung jaringan prasarana dan fasilitas penunjang kegiatan ekonomi.

merupakan aset nasional berupa kawasan lindung yang ditetapkan bagi perlindungan ekosistem. memberikan perlindungan terhadap keseimbangan iklim makro. g. atau berfungsi sebagai lokasi penggunaan teknologi tinggi strategis. flora dan/atau fauna yang hampir punah atau diperkirakan akan punah yang harus dilindungi dan/atau dilestarikan. BAB VI (2) (3) .l e luas terhadap kelangsungan w kehidupan. berfungsi sebagai pusat pengendalian tenaga atom dan nuklir. Pasal 80 Kawasan strategis nasional dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup ditetapkan dengan kriteria: a. memberikan perlindungan keseimbangan tata guna air yang setiap tahun berpeluang menimbulkan kerugian negara.or rawan bencana alam nasional. berfungsi sebagai pusat pengendalian dan pengembangan antariksa. merupakan tempat perlindungan keanekaragaman hayati. No 48 c. w wBagian Kedua Pasal 81 Penetapan dan Rencana Pengembangan Kawasan Strategis Nasional a ta s li Penetapan kawasan strategis nasional berdasarkan kepentingan pertahanan dan keamanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. g g sangat menentukan dalam perubahan rona alam dan mempunyai dampak .www. tercantum dalam Lampiran X yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini. e. menuntut prioritas tinggi peningkatan kualitas lingkungan hidup. Pasal 78. f. Kawasan strategis nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pemerintah dapat menetapkan kawasan strategis nasional selain yang tercantum dalam Lampiran X berdasarkan kriteria yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini. . d. b.org 47 2008.legalitas. Pasal 79. d. dan Pasal 80. e. Pasal 82 (1) Penetapan kawasan strategis nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77. atau c.

Pendanaan program pemanfaatan ruang obersumber dari Anggaran . b. arahan perizinan.www. (3) (2) rg (3) le (2) . Pemanfaatan ruang wilayah nasional dilaksanakan melalui penyusunan dan pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta perkiraan pendanaannya.org 2008. perundang-undangan.legalitas. ww BAB VII ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH NASIONAL Bagian Kesatu Umum Pasal 85 (1) Arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional. d. dan/atau kerja g Kerja sama pendanaan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan w. indikasi arahan peraturan zonasi sistem nasional. Arahan pengendalian pemanfaatan ruang terdiri atas: a. Perkiraan pendanaan program pemanfaatan ruang disusun sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. arahan pemberian insentif dan disinsentif. No 48 48 ARAHAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH NASIONAL Pasal 83 (1) (2) Pemanfaatan ruang wilayah nasional berpedoman pada rencana struktur ruang dan pola ruang. dan arahan sanksi. Daerah. investasi swasta. as Pendapatan dan Belanja Negara. Anggaran Pendapatan dan Belanja t ali sama pendanaan. Pasal 84 (1) Program pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 ayat (2) disusun berdasarkan indikasi program utama lima tahunan yang ditetapkan dalam Lampiran XI yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini. c.

yang terdiri atas: a.org 49 2008. pemanfaatan ruang di sekitar jaringan prasarana nasional untuk mendukung berfungsinya sistem perkotaan nasional dan jaringan prasarana nasional. e. (2) g or .ledan kawasan lindung nasional. sistem jaringan telekomunikasi nasional. sistem jaringan energi nasional. No 48 Bagian Kedua Indikasi Arahan Peraturan Zonasi Sistem Nasional Pasal 86 (1) Indikasi arahan peraturan zonasi sistem nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (2) huruf a digunakan sebagai pedoman bagi pemerintah daerah kabupaten/kota dalam menyusun peraturan zonasi. b. dan pembatasan intensitas pemanfaatan ruang agar tidak mengganggu fungsi sistem perkotaan nasional dan jaringan prasarana nasional. f. ww w kawasan budi daya. b. sistem perkotaan nasional. Paragraf 1 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Struktur Ruang Pasal 87 Indikasi arahan peraturan zonasi untuk sistem perkotaan nasional dan jaringan prasarana nasional disusun dengan memperhatikan: a. g. c. as t sistem jaringan sumber daya air. . ali g . Indikasi arahan peraturan zonasi sistem nasional meliputi indikasi arahan peraturan zonasi untuk struktur ruang dan pola ruang.legalitas. ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang yang menyebabkan gangguan terhadap berfungsinya sistem perkotaan nasional dan jaringan prasarana nasional. d. sistem jaringan transportasi nasional. c.www.

b. b. (3) Peraturan zonasi untuk PKL disusun dengan memperhatikan pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi berskala kabupaten/kota yang didukung dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya. pusat promosi investasi dan pemasaran. serta pintu gerbang internasional dengan fasilitas kepabeanan. dan keamanan. No 48 50 Paragraf 2 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Sistem Perkotaan Nasional Pasal 88 (1) Peraturan zonasi untuk PKN disusun dengan memperhatikan: a. imigrasi.www. dan pengembangan fungsi kawasan perkotaan sebagai pusat permukiman dengan tingkat intensitas pemanfaatan ruang menengah hingga tinggi yang kecenderungan pengembangan ruangnya ke arah vertikal. karantina. dan pemanfaatan untuk kegiatan kerja sama militer dengan negara lain secara terbatas dengan memperhatikan kondisi fisik lingkungan dan sosial budaya masyarakat. tas kegiatan ekonomi yang perkotaan yang sesuai dengan ali dilayaninya. pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi perkotaan berskala rg ofasilitas dan infrastruktur provinsi yang didukung dengan . pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi perkotaan berskala internasional dan nasional yang didukung dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya. dan eg b. kawasan perkotaan sebagai pengembangan fungsi ww permukiman dengan tingkat intensitas pemanfaatan pusat ruang menengah yang kecenderungan pengembangan ruangnya ke arah horizontal dikendalikan. Pasal 89 Peraturan zonasi untuk PKSN disusun dengan memperhatikan: a.legalitas. (2) Peraturan zonasi untuk PKW disusun dengan memperhatikan: a. pertahanan.org 2008. l w. pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi perkotaan yang berdaya saing. .

Peraturan zonasi untuk jaringan jalur kereta api disusun dengan memperhatikan: .org 51 2008. Pasal 91 b. danau. dan penetapan garis sempadan bangunan di sisi jaringan jalur kereta api dengan memperhatikan dampak lingkungan dan kebutuhan pengembangan jaringan jalur kereta api. c. dan penyeberangan disusun dengan memperhatikan: a.www. b. ww ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang pengawasan w jalur kereta api yang dapat mengganggu kepentingan operasi dan keselamatan transportasi perkeretaapian. pemanfaatan ruang di sepanjang sisi lita jaringan jalur kereta api dilakukan a hingga tinggi yang kecenderungan dengan tingkat intensitas menengah g pengembangan ruangnya dibatasi. d. pembatasan pemanfaatan ruang yang peka terhadap dampak lingkungan akibat lalu lintas kereta api di sepanjang jalur kereta api. danau. ketentuan pelarangan kegiatan di ruang udara bebas di atas perairan yang berdampak pada keberadaan alur pelayaran sungai.or a. dan penyeberangan. e. ketentuan pelarangan alih fungsi lahan yang berfungsi lindung di sepanjang sisi jalan nasional. keselamatan dan keamanan pelayaran. pemanfaatan ruang di sepanjang sisi jalan nasional dengan tingkat intensitas menengah hingga tinggi yang kecenderungan pengembangan ruangnya dibatasi. (1) .legalitas. c. pembatasan jumlah perlintasan sebidang antara jaringan jalur kereta api dan jalan.l e g s b. No 48 Paragraf 3 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Sistem Jaringan Transportasi Nasional Pasal 90 Peraturan zonasi untuk jaringan jalan nasional disusun dengan memperhatikan: a. Pasal 92 Peraturan zonasi untuk jaringan transportasi sungai. . dan penetapan garis sempadan bangunan di sisi jalan nasional yang memenuhi ketentuan ruang pengawasan jalan.

tas udara bebas di atas badan b. ketentuan pelarangan kegiatan ldi ruang ai g air yang berdampak padalkeberadaan jalur transportasi laut. pembatasan pemanfaatan ruang di dalam Daerah Lingkungan ww w Kerja Pelabuhan dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan harus mendapatkan izin sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. No 48 52 c. dan d. danau. dan penyeberangan. danau. pembatasan pemanfaatan perairan yang berdampak pada keberadaan alur pelayaran sungai. Pasal 93 Peraturan zonasi untuk pelabuhan umum disusun dengan memperhatikan: g a. danau. (2) (3) (1) (2) (1) ketentuan pelarangan kegiatan di bawah perairan yang berdampak pada keberadaan alur pelayaran sungai. dan penyeberangan. pemanfaatan ruang untuk kebutuhan operasional dan or pengembangan kawasan pelabuhan. pemanfaatan ruang pada badan air di sepanjang alur pelayaran dibatasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. pemanfaatan ruang pada kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil di sekitar badan air di sepanjang alur pelayaran dilakukan dengan tidak mengganggu aktivitas pelayaran.legalitas. Pemanfaatan ruang di dalam dan di sekitar pelabuhan sungai. pemanfaatan ruang di sekitar bandar udara sesuai dengan kebutuhan pengembangan bandar udara berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.e c. Pasal 94 Peraturan zonasi untuk bandar udara umum disusun dengan memperhatikan: a. b. pemanfaatan ruang untuk kebutuhan operasional bandar udara.www. dan . dan b. dan . Pemanfaatan ruang di dalam Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan harus mendapatkan izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. . Peraturan zonasi untuk alur pelayaran disusun dengan memperhatikan: a. dan penyeberangan harus memperhatikan kebutuhan ruang untuk operasional dan pengembangan kawasan pelabuhan.org 2008.

letransmisi tenaga listrik disusun dengan (3) Peraturan zonasi untuk jaringan ww memperhatikan ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang bebas di w sepanjang jalur transmisi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.legalitas. Paragraf 5 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Sistem Jaringan Telekomunikasi Nasional Pasal 96 Peraturan zonasi untuk sistem jaringan telekomunikasi disusun dengan memperhatikan pemanfaatan ruang untuk penempatan stasiun bumi dan menara pemancar telekomunikasi yang memperhitungkan aspek keamanan dan keselamatan aktivitas kawasan di sekitarnya. (2) Peraturan zonasi untuk ruang udara untuk penerbangan disusun dengan memperhatikan pembatasan pemanfaatan ruang udara yang digunakan untuk penerbangan agar tidak mengganggu sistem operasional penerbangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangperundangan. No 48 batas-batas Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan dan batas-batas kawasan kebisingan. memperhatikan jarak aman dari kegiatan g . (2) Peraturan zonasi untuk pembangkit tenaga as pembangkit listrik harus t memperhatikan pemanfaatan ruang di sekitar ali lain.org 53 2008. Paragraf 4 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Sistem Jaringan Energi Nasional Pasal 95 (1) Peraturan zonasi untuk jaringan pipa minyak dan gas bumi disusun dengan memperhatikan pemanfaatan ruang di sekitar jaringan pipa minyak dan gas bumi harus memperhitungkan aspek keamanan dan keselamatan kawasan di sekitarnya.www. Paragraf 6 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Sistem Jaringan Sumber Daya Air Pasal 97 Peraturan zonasi untuk sistem jaringan sumber daya air pada wilayah sungai disusun dengan memperhatikan: c. . g or listrik disusun dengan .

pemanfaatan ruang kawasan untuk kegiatan budidaya hanya diizinkan bagi penduduk asli dengan luasan tetap. dan b. pembatasan pemanfaatan ruang yang menurunkan kualitas fungsi or . b. b. b. pembatasan pemanfaatan ruang di sekitar kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana alam. c. pemanfaatan ruang untuk kegiatan pendidikan dan penelitian tanpa mengubah bentang alam. ketentuan pelarangan seluruh kegiatan yang berpotensi merubah tata air dan ekosistem unik. pemanfaatan ruang di sekitar wilayah sungai lintas negara dan lintas provinsi secara selaras dengan pemanfaatan ruang pada wilayah sungai di negara/provinsi yang berbatasan. ketentuan pelarangan seluruh kegiatan yang berpotensi mengurangi luas kawasan hutan dan tutupan vegetasi. Pasal 98 Peraturan zonasi untuk kawasan lindung dan kawasan budi daya disusun dengan memperhatikan: a. (2) Peraturan zonasi untuk kawasan bergambut disusun dengan memperhatikan: a. ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang yang membahayakan keselamatan umum.le Kawasan Lindung Nasional Indikasi Arahan Peraturan Zonasi ww 99 w Pasal (1) Peraturan zonasi untuk kawasan hutan lindung disusun dengan memperhatikan: a. pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa merubah bentang alam.org 2008. dan g d. tidak mengurangi fungsi lindung kawasan. No 48 54 pemanfaatan ruang pada kawasan di sekitar wilayah sungai dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan dan fungsi lindung kawasan. pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa merubah bentang alam. as t ali Paragraf 7 g .legalitas. dan di bawah pengawasan ketat. .www. lingkungan. dan c. dan a.

li adan struktur buatan untuk mencegah pengembangan struktur alami g . ww w pendirian bangunan yang dibatasi hanya untuk menunjang . b. b. c.or s g ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c. d. e. (1) Peraturan zonasi memperhatikan: a. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang fungsi taman rekreasi. . dan penerapan prinsip zero delta Q policy terhadap setiap kegiatan budi daya terbangun yang diajukan izinnya. d. nilai ekologis. penyediaan sumur resapan dan/atau waduk pada lahan terbangun yang sudah ada.l e abrasi. Peraturan zonasi untuk kawasan resapan air disusun dengan memperhatikan: a. dan ketentuan pelarangan semua jenis kegiatan yang menurunkan luas. dan estetika kawasan. c.legalitas. (3) pengendalian material sedimen yang masuk ke kawasan bergambut melalui badan air. dapat (2) Peraturan zonasi untuk sempadan sungai dan kawasan sekitar danau/waduk disusun dengan memperhatikan: a.org 55 2008. pemanfaatan ruang secara terbatas untuk kegiatan budi daya tidak terbangun yang memiliki kemampuan tinggi dalam menahan limpasan air hujan. c. ketentuan pelarangan pendirian bangunan kecuali bangunan yang dimaksudkan untuk pengelolaan badan air dan/atau pemanfaatan air. dan penetapan lebar sempadan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 100 untuk sempadan pantai disusun dengan b. ta kegiatan rekreasi pantai. No 48 c. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau.www.

legalitas. ketentuan pelarangan pemanfaatan kayu bakau. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan sebagaimana dimaksud pada huruf a. pemanfaatan ruang untuk kegiatan wisata alam. No 48 56 (3) Peraturan zonasi untuk ruang terbuka hijau kota disusun dengan memperhatikan: a. cagar alam. e. b. w pemanfaatan ruang untuk penelitian. pemanfaatan ruang untuk kegiatan pendidikan. pemanfaatan ruang untuk kegiatan rekreasi. dan ketentuan pelarangan terhadap penanaman flora dan pelepasan satwa yang bukan merupakan flora dan satwa endemik kawasan. c.org 2008.o le ketentuan pelarangan kegiatan yang dapat merubah bentang alam w. pembatasan kegiatan pemanfaatan sumber daya alam. c. dan ali g w . Pasal 101 (1) Peraturan zonasi untuk kawasan suaka alam. ketentuan pelarangan kegiatan selain yang dimaksud pada huruf a. rg s ketentuan pelarangan kegiatantayang dapat mengurangi daya dukung dan daya tampung lingkungan. e. d. pendidikan. penelitian. ketentuan pelarangan pemanfaatan biota yang dilindungi peraturan perundang-undangan. (2) Peraturan zonasi untuk suaka margasatwa. dan ekosistem. suaka margasatwa laut. dan wisata alam. ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk bangunan penunjang kegiatan rekreasi dan fasilitas umum lainnya. b. c. dan cagar alam laut disusun dengan memperhatikan: a. dan wisata alam. dan . (3) Peraturan zonasi untuk kawasan pantai berhutan bakau disusun dengan memperhatikan: a.www. b. dan ketentuan pelarangan pendirian bangunan permanen selain yang dimaksud pada huruf b. d. b. suaka alam laut dan perairan lainnya disusun dengan memperhatikan: a.

ketentuan pelarangan kegiatan selain yang dimaksud pada huruf a. Peraturan zonasi untuk kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan disusun dengan memperhatikan: a. pendidikan. c. ga li ta s hutan r raya . dan . w. b. dan ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c. dan ketentuan pelarangan kegiatan budi daya yang berpotensi mengurangi tutupan vegetasi atau terumbu karang di zona penyangga. pendidikan. dan pariwisata. d.www. c. pemanfaatan ruang untuk penelitian. w (6) Peraturan zonasi untuk taman wisata alam dan taman wisata alam laut disusun dengan memperhatikan: a. dan ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c.o g disusun dengan ketentuan pelarangan kegiatan selain yang dimaksud pada huruf a. b. untuk taman c. tidak mengurangi fungsi lindung kawasan. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan sebagaimana dimaksud pada huruf a. dan wisata alam. ketentuan pelarangan kegiatan budi daya di zona inti. d.org 57 2008. pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa merubah bentang alam. pemanfaatan ruang kawasan untuk kegiatan budidaya hanya diizinkan bagi penduduk asli di zona penyangga dengan luasan tetap. b. (5) Peraturan zonasi memperhatikan: a. le pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan w sebagaimana dimaksud pada huruf a. dan di bawah pengawasan ketat. (7) pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa mengubah bentang alam. pemanfaatan untuk penelitian. d. (4) ketentuan pelarangan kegiatan yang dapat mengubah mengurangi luas dan/atau mencemari ekosistem bakau. Peraturan zonasi untuk taman nasional dan taman nasional laut disusun dengan memperhatikan: a. No 48 c.legalitas.

leg pemanfaatan ruang bagi kegiatan w umum penting lainnya. permukiman dan fasilitas wwPasal 103 pemanfaatan untuk pariwisata tanpa mengubah bentang alam. c. penentuan lokasi dan jalur evakuasi dari permukiman penduduk. dan penerapan standar keselamatan bagi pemburu dan masyarakat di sekitarnya. dan pengendalian kegiatan budi daya yang dapat merubah bentang alam dan ekosistem. penetapan batas dataran banjir. ketentuan pelarangan perburuan satwa yang tidak ditetapkan sebagai buruan.www. pembatasan pemanfaatan sumber daya alam. c. Peraturan zonasi untuk taman buru disusun dengan memperhatikan: a. dan ancaman bencana.legalitas. . c. jenis. rg oruang terbuka hijau dan pemanfaatan dataran banjir bagi. b. d. b. dan pembangunan fasilitas umum dengan ali ketentuan pelarangan . selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1). tas kepadatan rendah. penangkaran dan pengembangbiakan satwa untuk perburuan. pemanfaatan untuk kegiatan perburuan secara terkendali. c. peraturan zonasi disusun dengan memperhatikan: a. pemanfaatan ruang dengan mempertimbangkan karakteristik. Pasal 102 (1) Peraturan zonasi untuk kawasan rawan tanah longsor dan kawasan rawan gelombang pasang disusun dengan memperhatikan: a. (1) Peraturan zonasi untuk cagar biosfer disusun dengan memperhatikan: a. ketentuan pelarangan kegiatan dan pendirian bangunan yang tidak sesuai dengan fungsi kawasan. dan pembatasan pendirian bangunan kecuali untuk kepentingan pemantauan ancaman bencana dan kepentingan umum. b. No 48 58 b. (2) (3) Peraturan zonasi untuk ramsar disusun dengan memperhatikan peraturan zonasi untuk kawasan lindung.org 2008. (2) Untuk kawasan rawan banjir. b.

dan pembatasan pemanfaatan sumber daya alam. pemanfaatan untuk pariwisata tanpa mengubah bentang alam. pemanfaatan untuk wisata alam tanpa mengubah bentang alam. dan ekosistem unik kawasan.org 59 2008.legalitas. pelestarian flora dan fauna endemik kawasan. ketentuan pelarangan penangkapan biota laut yang dilindungi peraturan perundang-undangan. . ketentuan pelarangan kegiatan pemanfaatan batuan.o ikan dan (6) Peraturan zonasi untuk terumbu karang disusun dengan memperhatikan: a. pemanfaatan untuk wisata alam tanpa mengubah bentang alam. ketentuan pelarangan kegiatan penangkapan rg pengambilan terumbu karang. koridor bagi jenis satwa atau biota laut Peraturan zonasi untuk kawasan w yang dilindungi disusunw dengan memperhatikan: a. dan pembatasan pemanfaatan sumber daya alam. b. b. c. dan kegiatan penggalian dibatasi hanya untuk penelitian arkeologi dan geologi. No 48 (4) Peraturan zonasi untuk kawasan perlindungan plasma nutfah disusun dengan memperhatikan: a. dan/atau pariwisata. (5) Peraturan zonasi untuk kawasan pengungsian satwa disusun dengan memperhatikan: a. c. (7) l w. b. dan s. pemanfaatan untuk pariwisata bahari. c. dan pembatasan kegiatan pemanfaatan sumber daya kelautan untuk mempertahankan makanan bagi biota yang bermigrasi.www. Pasal 104 t ketentuan pelarangan kegiatan lselain yang dimaksud pada huruf b ai yang dapat menimbulkan pencemaran air. budaya. eg a (1) Peraturan zonasi untuk kawasan keunikan batuan dan fosil disusun dengan memperhatikan: a. c. pelestarian flora. b. fauna. b. (2) Peraturan zonasi untuk kawasan keunikan bentang alam disusun dengan memperhatikan pemanfaatannya bagi pelindungan bentang alam yang memiliki ciri langka dan/atau bersifat indah untuk pengembangan ilmu pengetahuan.

b. w penyediaan sumur resapan dan/atau waduk pada lahan terbangun ww yang sudah ada. Pasal 105 Peraturan zonasi untuk kawasan rawan bencana alam geologi disusun dengan memperhatikan: a.l e limpasan air hujan.legalitas. dan pelarangan kegiatan yang dapat menimbulkan pencemaran terhadap mata air. Peraturan zonasi untuk kawasan sempadan mata air disusun dengan memperhatikan: a. pembatasan pemanfaatan hasil hutan untuk menjaga kestabilan neraca sumber daya kehutanan. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau. jenis. penentuan lokasi dan jalur evakuasi dari permukiman penduduk.org 2008. dan ancaman bencana. b. . dan penerapan prinsip zero delta Q policy terhadap setiap kegiatan budi daya terbangun yang diajukan izinnya. No 48 60 (3) Peraturan zonasi untuk kawasan keunikan proses geologi disusun dengan memperhatikan pemanfaatannya bagi pelindungan kawasan yang memiki ciri langka berupa proses geologi tertentu untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan/atau pariwisata. (2) tas kegiatan budi daya tidak pemanfaatan ruang secara terbatas untuk ali terbangun yang memiliki g kemampuan tinggi dalam menahan . a. pemanfaatan ruang dengan mempertimbangkan karakteristik. Pasal 106 (1) Peraturan zonasi untuk kawasan imbuhan air tanah disusun dengan g or memperhatikan: . c. b. c. dan pembatasan pendirian bangunan kecuali untuk kepentingan pemantauan ancaman bencana dan kepentingan umum. Paragraf 8 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi Kawasan Budi Daya Pasal 107 Peraturan zonasi untuk kawasan hutan produksi dan hutan rakyat disusun dengan memperhatikan: a.www.

Pasal 108 Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pertanian disusun dengan memperhatikan: a. dan . ketentuan pelarangan alih fungsi lahan menjadi lahan budi daya non pertanian kecuali untuk pembangunan sistem jaringan prasarana utama. pengaturan kawasan tambang dengan memperhatikan keseimbangan antara biaya dan manfaat serta keseimbangan antara risiko dan manfaat. ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf b. dan c. pemanfaatan ruang untuk permukiman petanigdan/atau nelayan dengan . Pasal 111 Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan industri disusun dengan memperhatikan: a. pengaturan pendirian bangunan agar tidak mengganggu fungsi alur pelayaran yang ditetapkan peraturan perundang-undangan. pengaturan bangunan lain disekitar instalasi dan peralatan kegiatan pertambangan yang berpotensi menimbulkan bahaya dengan memperhatikan kepentingan daerah. dan b.l e c.org 61 2008. No 48 pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan pemanfaatan hasil hutan. b. . tas dan/atau kawasan sabuk li b.www.legalitas. dan b. pemanfaatan ruang untuk kegiatan industri baik yang sesuai dengan kemampuan penggunaan teknologi. Pasal 109 Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan perikanan disusun dengan memperhatikan: a. pemanfaatan sumber dayaww perikanan agar tidak melebihi potensi lestari.or kepadatan rendah. potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia di wilayah sekitarnya. pemanfaatan ruang untuk kawasanapemijahan g hijau. w Pasal 110 Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pertambangan disusun dengan memperhatikan: a. pemanfaatan ruang untuk permukiman petani dengan kepadatan rendah. dan c.

www.legalitas.org

2008, No 48

62

b.

pembatasan pembangunan perumahan baru sekitar kawasan peruntukan industri. Pasal 112

Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pariwisata disusun dengan memperhatikan: a. b. c. d. pemanfaatan potensi alam dan budaya masyarakat sesuai daya dukung dan daya tampung lingkungan; perlindungan terhadap situs peninggalan kebudayaan masa lampau; pembatasan pendirian bangunan hanya untuk menunjang kegiatan pariwisata; dan ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c. Pasal 113

g Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan permukiman disusun dengan or memperhatikan: s.
a. b. c. d. penetapan amplop bangunan; penetapan tema arsitektur bangunan; .l e

g

lita a

ww dan lingkungan; dan penetapan kelengkapan w bangunan
Bagian Ketiga Arahan Perizinan Pasal 114

penetapan jenis dan syarat penggunaan bangunan yang diizinkan.

(1)

Arahan perizinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (2) huruf b merupakan acuan bagi pejabat yang berwenang dalam pemberian izin pemanfaatan ruang berdasarkan rencana struktur dan pola ruang yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah ini. Izin pemanfaatan ruang diberikan oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan kewenangannya. Pemberian izin pemanfaatan ruang dilakukan menurut prosedur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pemberian izin pemanfaatan ruang yang berdampak besar dan penting dikoordinasikan oleh Menteri. Bagian Keempat

(2) (3) (4)

www.legalitas.org

63

2008, No 48

Arahan Insentif dan Disinsentif Pasal 115 (1) Arahan pemberian insentif dan disinsentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (2) huruf c merupakan acuan bagi pemerintah dalam pemberian insentif dan pengenaan disinsentif. Insentif diberikan apabila pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana struktur ruang, rencana pola ruang, dan indikasi arahan peraturan zonasi yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini. Disinsentif dikenakan terhadap pemanfaatan ruang yang perlu dicegah, dibatasi, atau dikurangi keberadaannya berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini. Pasal 116 (1) Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif dalam pemanfaatan ruang wilayah nasional dilakukan oleh Pemerintah kepada pemerintah daerah g dan kepada masyarakat. or .

(2)

(3)

(2)

Pemberian insentif dan pengenaan lita disinsentif dilakukan oleh instansi berwenang sesuai dengan kewenangannya. ga Insentif kepada pemerintah daerah diberikan, antara lain, dalam bentuk: w a. b. c. d. pemberian kompensasi; urun saham; pembangunan serta pengadaan infrastruktur; atau penghargaan. keringanan pajak; pemberian kompensasi; imbalan; sewa ruang; urun saham; penyediaan infrastruktur; kemudahan prosedur perizinan; dan/atau penghargaan.

s

(1)

w

Pasal 117 w.

le

(2)

Insentif kepada masyarakat diberikan, antara lain, dalam bentuk: a. b. c. d. e. f. g. h.

www.legalitas.org

2008, No 48

64

Pasal 118 (1) Disinsentif kepada pemerintah daerah diberikan, antara lain, dalam bentuk: a. b. c. (2) pembatasan penyediaan infrastruktur; pengenaan kompensasi; dan/atau penalti.

Disinsentif dari Pemerintah kepada masyarakat dikenakan, antara lain, dalam bentuk: a. b. c. d. pengenaan pajak yang tinggi; pembatasan penyediaan infrastruktur; pengenaan kompensasi; dan/atau penalti. Pasal 119

(1) (2)

Pemberian insentif dan pengenaanta disinsentif dilakukan menurut ali prosedur sesuai dengan ketentuang peraturan perundang-undangan. Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif dikoordinasikan oleh w. Menteri. ww Bagian Kelima Arahan Sanksi Pasal 120

.or s

g

le

Arahan sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (2) huruf d merupakan acuan dalam pengenaan sanksi terhadap: a. b. c. d. e. pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana struktur ruang dan pola ruang wilayah nasional; pelanggaran ketentuan arahan peraturan zonasi sistem nasional; pemanfaatan ruang tanpa izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRWN; pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRWN; pelanggaran ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRWN;

org 65 2008. g. penghentian sementara kegiatan. . ww dan/atau pemulihan fungsi w ruang.l e pembongkaran bangunan. b.legalitas. huruf e.or s g (2) Terhadap pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 huruf c dikenakan sanksi administratif berupa: a. h. (1) g . pembatalan izin. lita a . g. d. huruf d. dan/atau denda administratif. pencabutan izin. g. pemulihan fungsi ruang. denda administratif. huruf f. penghentian sementara kegiatan. pemanfataan ruang yang menghalangi akses terhadap kawasan yang oleh peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum. huruf b. pembongkaran bangunan. penutupan lokasi. f. e. penutupan lokasi. Pasal 122 Ketentuan mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif diatur dalam peraturan pemerintah tersendiri. e. peringatan tertulis. c. penghentian sementara pelayanan umum. b. dan/atau pemanfaatan ruang dengan izin yang diperoleh dengan prosedur yang tidak benar. d.www. f. c. Pasal 121 Terhadap pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 huruf a. dan huruf g dikenakan sanksi administratif berupa: a. i. No 48 f. penghentian sementara pelayanan umum. peringatan tertulis.

Rencana tata ruang pulau/kepulauan disusun untuk wilayah Pulau Sumatera. Pulau Kalimantan.www. disusun rencana rinci tata ruang yang meliputi: a. No 48 66 BAB VIII KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 123 (1) Untuk operasionalisasi RTRWN. wwPasal 124 Pada saat mulai berlakunya Peraturan Pemerintah ini. BAB X KETENTUAN PENUTUP Pasal 125 RTRWN ini berlaku selama 20 (duapuluh) tahun. dan Pulau Papua. Pasal 127 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. b. dan rencana tata ruang kawasan strategis nasional. maka Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. lita BAB IX ga le KETENTUAN PERALIHAN w.org 2008. (3) (4) g Rencana tata ruang pulau/kepulauan dan rencana tata ruang kawasan or Presiden. strategis nasional ditetapkan dengan Peraturan s. (2) rencana tata ruang pulau/kepulauan. semua ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan penyelenggaraan penataan ruang nasional tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. Pulau Sulawesi. Kepulauan Maluku. Kepulauan Nusa Tenggara. Rencana tata ruang kawasan strategis nasional disusun untuk setiap kawasan strategis nasional.legalitas. Pasal 126 Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini. . Pulau Jawa-Bali.

memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. w ga le ta s li .org 67 2008. MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA .www.legalitas. No 48 Agar setiap orang mengetahuinya.or g ANDI MATTALATTA w w. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 10 Maret 2008 REPUBLIK INDONESIA. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 10 Maret 2008 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.

www.or s g .legalitas. g lita a .org 2008. No 48 68 ww le w.

www.legalitas.org

69

2008, No 48

LAMPIRAN II PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 26 TAHUN 2008 TANGGAL : 10 MARET 2008 SISTEM PERKOTAAN NASIONAL

NO.

PROVINSI

PKN - Lhokseumawe (I/C/1)

PKW

PKSN

1 NANGGROE ACEH DARUSSALAM

- Sabang (I/A/2) - Sabang - Banda Aceh (I/D/1), (II/C/3) - Langsa (II/C/3) (I/A/2)

ww
2 SUMATERA UTARA - Kawasan

le w.

g

lita - Meulaboh a
(I/D/1), (II/C/3)

g or s. (II/C/1)

- Takengon

Perkotaan - Tebingtinggi (II/C/1) - Sidikalang (II/B) - P. Siantar (I/C/1) - Balige (II/C/1) - Rantau Prapat (II/C/1) - Kisaran (II/C/1) - Gunung Sitoli (II/C/1), (I/D/1)

Medan-Binjai-Deli Serdang-Karo (Mebidangro) (I/C/3)

www.legalitas.org

2008, No 48

70

NO.

PROVINSI

PKN

PKW - P.Sidempuan (II/C/1) - Sibolga (II/C/1)

PKSN

3 SUMATERA BARAT

Padang (I/C/1)

- Pariaman (II/C/1) - Sawahlunto (II/C/1) - Muarasiberut (II/C/2) - Bukittinggi (I/C/1) - Dumai (II/A/1)

4 RIAU

- Pekanbaru (I/C/1) - Dumai (I/C/1)

ww

le w.

g

lita - Bangkinang a
(II/B) - Taluk Kuantan (II/C/1) - Bengkalis (II/B) - Bagan Siapiapi (II/B) - Tembilahan (I/C/1) - Rengat (II/C/1) - Pangkalan Kerinci (II/C/1) - Pasir Pangarayan (I/C/1) - Siak Sri Indrapura (II/C/1)

.or s

g

www.legalitas.org

71

2008, No 48

NO.

PROVINSI

PKN

PKW

PKSN

5 KEPULAUAN RIAU - Batam (I/C/3)

- Tanjung Pinang - Batam (II/C/1) - Terempa (II/B) - Daik Lingga (II/B) - Dabo – P. Singkep (II/B) - Tanjung Balai Karimun (II/C/1) (I/A/1) - Ranai (I/A/2)

6 JAMBI

- Jambi (I/C/1)

ww
7 SUMATERA SELATAN - Palembang (I/C/1)

le w.

g

lita - Sarolangun a
(II/B) - Muarabungo (I/C/1) - Muara Bulian (II/C/1) - Muara Enim (I/C/1) - Kayuagung (II/B) - Baturaja (II/B) - Prabumulih (II/C/1) - Lubuk Linggau (II/C/1) - Sekayu (II/B) - Lahat (II/B)

.or s

- Kuala Tungkal (II/B)

g

Liwa (II/C/2) .M e t r o a (II/C/1) .Bengkulu (II/C/1) .Manna (II/C/1) .Kawasan Perkotaan IBUKOTA Jabodetabek (I/C/3) JAKARTA .Serang (I/C/1) .Muko-Muko (II/C/2) .or s (I/B) .org 2008.Kalianda (II/B) .Tanjungpandan 10 LAMPUNG .Bandar Lampung (I/C/1) ww le w.Curup (II/C/2) PKSN 8 BENGKULU 9 BANGKA BELITUNG . PROVINSI PKN PKW .BANTEN 12 BANTEN .Manggar (II/B) g .Menggala (II/B) .Kota Agung (II/B) 11 DAERAH KHUSUS . g lita .Rangkas Bitung (II/B) .www.Pangkal Pinang (I/C/1) .Cilegon (I/C/1) .Pandeglang (II/B) .Kotabumi (II/C/1) .Muntok (II/B) .legalitas. No 48 72 NO.JAWA BARAT .

Klaten (II/C/1) g Perkotaan .legalitas.Sumedang (II/B) .Tasikmalaya (II/C/1) .Cikampek (II/C/1) .Salatiga (II/C/1) .www.Kuningan PKSN 13 JAWA BARAT Bandung Raya (I/C/3) .Purwakarta (I/C/1) . PROVINSI .org 73 2008.Cirebon(I/C/1) 14 JAWA TENGAH .Surakarta (I/C/1) .or s (II/C/1) .Kawasan ww le w.Indramayu (II/C/1) .Sukabumi (I/C/2) . g lita a .Tegal (II/C/1) .Magelang (I/C/1) .Cepu (II/C/1) .Kebumen (II/C/1) Semarang-KendalDemak-UngaranPurwodadi (Kedungsepur) (I/C/3) .Cilacap (I/C/1) . No 48 NO.Cianjur (I/C/1) .Kudus (I/C/1) .Wonosobo (II/C/1) .Pekalongan (I/C/1) .Kawasan PKN PKW Perkotaan .Boyolali (II/B) .

(II/C/1) .Purwokerto (II/C/1) PKSN 15 DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA .Malang (I/C/1) ww le w.www.Kawasan (I/C/3) Perkotaan .Sumenep (II/C/1) .Pasuruan (Gerbangkertosusila) . PROVINSI PKN PKW .Yogyakarta (I/C/3) .Kediri (I/C/1) .org 2008.Sampang (II/C/1) .legalitas.Situbondo (II/C/1) . g lita .Bantul (I/D/1).Tuban (I/C/1) g .Jombang (II/C/1) .Banyuwangi (II/C/1) .Tulung Agung a (II/C/1) .or s (I/C/1) .Madiun (II/C/1) . No 48 74 NO.Probolinggo (II/C/1) .Sleman (II/C/1) 16 JAWA TIMUR .

Soe (II/B) PKSN 17 BALI Denpasar-BangliGianyar.Entikong (I/A/1) . PROVINSI .Kalabahi (I/A/2) .Tabanan (Sarbagita) (I/C/1) 18 NUSA TENGGARA .Jasa (II/A/2) .Kupang TIMUR (I/C/1) .Ende (I/C/1) a .Waingapu (II/C/1) .www.Kawasan PKN PKW Perkotaan . No 48 NO.Paloh (II/A/2) .Ruteng (II/C/1) .Sumbawa Besar (II/C/1) . .Mempawah (II/B) .Negara (II/B) .legalitas.Atambua (I/A/2) .Putussibau (I/A/2) .Labuan Bajo (I/C/1) g (II/B) or s.Jagoibabang (I/A/2)) .Singaraja (I/C/1) .Ketapang (I/B) .Pontianak (I/C/1) .l e lita .Semarapura (II/B) .Entikong (II/A/2) .Maumere (II/C/1) .Nangabadau (I/A/2)) .Kefamenanu 20 KALIMANTAN BARAT .Kefamenanu (I/A/2) w ww g .Raba (II/B) .Mataram (I/C/1) BARAT 19 NUSA TENGGARA .org 75 2008.Singkawang (I/C/1) .Praya (II/B) .Sambas (I/A/1) .

Nunukan – (I/C/1) .Tanjung Redeb .Palangkaraya (I/C/1) .Malinau (II/C/1) .Kawasan Samarinda (I/C/1) Perkotaan .legalitas.Sampit (II/C/1) a .Sanggau (I/C/1) . No 48 76 NO.Buntok (II/C/1) .Amuntai (II/B) .www.Nunukan (I/B) . PROVINSI PKN PKW .Banjarmasin (I/C/1) ww le w.Tarakan (I/C/1) .Simanggaris (I/A/2) .Kuala Kapuas (II/C/1) .Sangata (I/B) .or s g 23 KALIMANTAN TIMUR .org 2008.Tanlumbis (II/B) (I/A/2) .Tanjung Selor (II/C/1) .Kotabaru (II/C/1) .Martapura (II/B) . g lita .Muarateweh (II/C/1) 22 KALIMANTAN SELATAN .Pangkalan Bun (I/C/1) .Marabahan (II/B) .Long Midang (II/A/2) .Sintang (II/C/1) PKSN 21 KALIMANTAN TENGAH .Long Pahangai (II/A/2) Balikpapan – Bontang .

Bitung 26 SULAWESI TENGAH .Kotamobagu (II/C/1) .Long Nawan (II/A/2) 24 GORONTALO .Luwuk (II/C/1) .Tolitoli (II/C/1) .Isimu (II/C/2) g Perkotaan . g lita .Tenggarong (I/B) PKSN .Donggala (II/C/1) .Gorontalo (I/C/1) ww 25 SULAWESI UTARA .or s .www.Sanga-Sanga (II/C/2) .Tahuna (I/A/2) Manado .org 77 2008.Palu (I/C/1) .legalitas.Poso (II/C/3) .Tomohon (I/C/1) .Tanah Grogot (II/C/1) .Kolonedale (II/C/1) .Sungai Nyamuk (II/C/2) .Melonguane (I/A/2) . PROVINSI PKN PKW .Tilamuta (II/C/2) .Kuandang a (II/C/2) .Sendawar (II/C/2) .Buol (II/C/1) .Tondano (II/C/1) . No 48 NO.Kawasan (I/C/1) le w.

Wahai (II/B) .Kolaka (II/C/1) .Dobo (I/A/2) g or (II/C/1) s.Saumlaki .Raha (II/C/1) .Namlea (II/C/1) .org 2008.Lasolo (II/C/1) a .Tual (II/A/1) . . No 48 78 NO.www.Bau-Bau (I/C/1) .Watampone (II/C/1) .legalitas.Werinama (II/C/2) .Unaaha PKSN 27 SULAWESI SELATAN 28 SULAWESI BARAT 29 SULAWESI TENGGARA .Masohi (I/C/1) .Kawasan Perkotaan MakassarSungguminasaTakalar-Maros (Maminasata) (I/C/3) PKW .Pangkajene (II/C/1) .Parepare (II/C/1) .Ilwaki (I/A/2) .Bula (II/B) (I/A/2) .Barru (II/C/1) .Jeneponto (I/C/1) .Ambon (I/C/1) le w.Mamuju (I/C/1) . PROVINSI PKN .Kairatu (II/C/1) . g lita .Kendari (I/C/1) ww 30 MALUKU .Bulukumba (I/C/1) .Palopo (I/C/1) .

Sorong (I/C/1) 33 PAPUA .Arso (II/C/2) .Daruba (I/A/2) 31 MALUKU UTARA 32 PAPUA BARAT .org 79 2008. ali g g or (II/C/1) -.Biak (I/C/1) . No 48 NO.Timika (I/C/1) .Ayamaru (II/C/1) .Muting (II/C/2) Keterangan: I – IV: Tahapan Pengembangan A : Percepatan Pengembangan kota-kota utama kawasan Perbatasan A/1 : Pengembangan/Peningkatan fungsi A/2 : Pengembangan Baru A/3 : Revitalisasi kota-kota yang telah berfungsi B : Mendorong Pengembangan Kota-Kota Sentra Produksi Yang Berbasis Otonomi Daerah .Tidore (II/C/1) .Arso (I/A/1) .Sarmi (II/C/2) .Fak-Fak (I/C/1) . PROVINSI PKN .Sanana (II/C/2) PKSN .Manokwari (I/C/1) .Tanah Merah (II/A/2) .Merauke (I/C/1) .Wamena (II/C/1) .legalitas.Labuha (II/C/1) .Bade (II/C/2) .Jayapura (I/C/1) ww le w.Ternate (I/C/1) PKW .Tobelo (II/C/2) . Nabire as t .www.Merauke (I/A/1) .

DR.or s g . g lita a . H.legalitas. No 48 80 C : Revitalisasi dan Percepatan Pengembangan Kota-Kota Pusat Pertumbuhan Nasional C/1 : Pengembangan/Peningkatan fungsi C/2 : Pengembangan Baru C/3 : Revitalisasi kota-kota yang telah berfungsi D : Pengendalian Kota-kota Berbasis Mitigasi Bencana D/1 : Rehabilitasi kota akibat bencana alam D/2 : Pengendalian perkembangan kota-kota berbasis Mitigasi Bencana PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.org 2008.www. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO ww le w.

Palembang – Indralaya (I/6) 10. Bakauheni – Terbanggi Besar (I/6) ww Pematang Panggang-Kayu AgungSp Indralaya (II/6) Rantau Parapat-Kisaran (II/6) Duri .Batu.legalitas. No 48 LAMPIRAN III PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 26 TAHUN 2008 TANGGAL : 10 MARET 2008 JALAN BEBAS HAMBATAN ANTAR KOTA PULAU SUMATERA 1. 2. 9. 7.www. Sekayu) – Tempino – Jambi (II/6) 12.Balmera (Belawan-Medan-Tj. Dumai . Jambi – Rengat (III/6) 14. Langsa – Lhokseumawe (III/6) .Dumai (II/6) g or – Muka Kuning – 4.Ampar ta s Bandara Hang Nadim (I/6) ali g 3.Sp Sigambal-Rantau Parapat (II/6) 11. Binjai – Langsa (III/6) 16. 4.Binjai – Medan (I/6) le w. Rengat – Pekanbaru (III/6) 15. 6. 3. Medan – Kualanamu – Tebing Tinggi (I/6) Kisaran – Tebing Tinggi (I/6) Pekanbaru – Dumai (I/6) Bukit Tinggi – Padang (I/6) Terbanggi Besar – Pematang Panggang (I/6) DALAM KOTA 1. 8.org 81 2008. Indralaya – Betung (Sp. 5. Morawa) (I/5) 2. Pekanbaru-BangkinangPayakumbuh-Bukit Tinggi (II/6) 13.

2. Jakarta Outer Ring Road I : (Pondok Pinang – Taman Mini. 4. 6. Jembatan Selat Sunda (III/6) PULAU JAWA 1. DALAM KOTA Tomang – Grogol – Pluit (I/5) Cikampek – Padalarang (I/5) Padalarang – Cileunyi (I/5) Cilegon – Bojonegara (I/6) Ciawi . Pd Pinang Ulujami)(I/5) 11. Jakarta Outer Ring Road I: (Ulumai . Tebing Tinggi – P. 3. Cileunyi – Sumedang – Dawuan (I/6) 11. Cakung – Cilincing. Lhokseumawe – Sigli (III/6) 21. Siantar – Prapat – Tarutung – Sibolga (III/6) 23. Kanci – Pejagan (I/6) 13. 3.or s g Pondok Aren – Ulujami (I/5) Cawang – Tanjung Priok (Ir. 4. Sedyatmo (I/5) Pondok Aren – Serpong (I/5) Akses Tanjung Priok (I/5) 10. Lubuk Linggau – Curup – Bengkulu (III/6) 22.Kebon Jeruk. Wiyoto Wiyono. M. Dr. No 48 82 ANTAR KOTA 17. Cikunir – Cakung. 7.www.org 2008. 9. 7. Cikopo – Palimanan (I/6) 12. 2. Hankam Raya – Cikunir. Taman Mini IC – Hankam Raya. 8. Sigli – Banda Aceh (III/6) 18.Sukabumi (I/6) Sukabumi – Ciranjang (I/6) Ciranjang – Padalarang (I/6) ww le w. Palembang – Muara Enim (III/6) 19. 9. Tangerang – Merak (I/5) Jakarta – Bogor – Ciawi (Jagorawi) (I/5) Jakarta – Cikampek (I/5) 1. Muara Enim – Lahat – Lb Linggau (III/6) 20.Sc) (I/5) Tanjung Priok – Pluit (Harbour Road) (I/5) Prof. 5.legalitas. Kebon Jeruk . Semarang – Batang (I/6) 10. 8. 5. g litaJakarta – Tangerang (I/5) a Tomang – Cawang (I/5) . Pejagan – Pemalang (I/6) 14. 6. Pemalang – Batang (I/6) 15.

Ngawi – Kertosono (I/6) 23. Pandaan – Malang (I/6) 28. Gempol – Pasuruan (I/6) 29. Cinere – Cimanggis.www. Cimanggis – Cibitung. Semarang Seksi A. Solo – Mantingan (I/6) 21. Pasuruan – Probolinggo (I/6) DALAM KOTA – Penjaringan) (I/5) 12.org 83 2008. Cilacap – Yogyakarta (III/6) 36. Semarang – Solo (I/6) 18. Semarang – Demak (I/6) 17. Ciamis – Cilacap (IV/6) 19. Kunciran – Serpong. Cibitung – Cilincing (I/6) ww le w. Mojokerto – Surabaya (I/6) 25. Bogor Ring Road (I/6) 21. No 48 ANTAR KOTA 16. Surabaya – Gersik (I/5) 17. Waru (Aloha) – Wonokromo – Tanjung Perak (I/6) 25. Yogyakarta – Solo (I/6) 19. Depok – Antasari (I/6) 20. Cileunyi – Nagrek (III/6) 33. SS Waru – Bandara Juanda (I/6) 26. Probolinggo – Banyuwangi (I/6) 31. Terusan Pasteur – Ujung Berung – Cileunyi (I/6) 22. Serpong – Cinere. Surabaya – Gempol (I/5) 16. Palimanan – Cirebon/Kanci (I/5) 14. Soreang – Pasir Koja (I/6) 24. Gresik-Tuban (II/6) 32. B. Pejagan – Cilacap (III/6) 35. Surabaya – Madura (I/6) 26. Bekasi – Cawang – Kampung Melayu (I/6) 18.legalitas. Bandara Juanda – Tanjung Perak (I/6) . Padalarang – Cileunyi (I/5) 13.or s g 30. dan C (I/5) 15. g lita a . Demak – Tuban (IV/6) 37. Gempol – Pandaan (I/6) 27. Yogyakarta – Bawen (I/6) 20. Cengkareng – Batu Ceper – Kunciran. Mantingan – Ngawi (I/6) 22. Nagrek – Ciamis (III/6) 34. Ujung Berung – Gedebage – Majalaya (I/6) 23. Jakarta Outer Ring Road II: Kamal – Teluk Naga – Batu – Ceper. Kertosono – Mojokerto (I/6) 24.

6.org 2008. 5. 2. 4. Serangan – Tanjung Benoa (I/6) Serangan-Tohpati (I/6) Canggu – Beringit – Batuan – Purnama (I/6) Kuta-Bandar Udara Ngurah Rai (II/6) Kuta-Denpasar-Tohpati (II/6) PULAU SULAWESI 1. Amurang – Kaiya (III/6) 13. 3. lita a . 3.www. Kuta-Tanah Lot-Soka (I/6) Canggu-Beringit-Batuan-Purnama (I/6) Tohpati – Kusumba – Padangbai (II/6) Pakutatan – Soka (II/6) Negara – Pakutatan (II/6) Gilimanuk – Negara (III/6) 5. 5. 3. 6. 9. Jatiasih – Cikarang Kerawang (II/6) – PULAU BALI 1. 2. 4. 4. Pantoloan – Palu (II/6) 12. Isimu – Marisa (III/6) . 2.legalitas. No 48 84 ANTAR KOTA DALAM KOTA 27. Atingola – Isimu (III/6) 14. Menado – Bitung (I/6) Menado-Timohon (I/6) Maros-Mandai-Makassar (I/6) Makassar-Sugguminasa (I/6) Sugguminasa-Takalar (I/6) Limboto-Gorontalo (I/6) Timohon – Amurang (I/6) Pangkajene – Maros (I/6) Makassar – Mandai (I/6) ww le w.or s g Ujung Pandang I (I/5) Makasar Seksi IV (I/6) 10. g 1. Isimu – Gorontalo (II/6) 11. 2. 8. 1. 7.

www. No 48 ANTAR KOTA 15. g lita a . Banjarmasin-Liang Anggang (I/6) 2. Balikpapan-Samarinda (I/6) 4. Sei Puyuh – Pontianak (II/6) 6. Pontianak – Tayan (II/6) 7.or s g 3. Kasimbar – Tobali (III/6) 18. Liang Anggang – Martapura (III/6) 13. Liang Anggang –Pelaihari (II/6) 8. Palopo – Pare Pare ((III/6) 22. Pagatan – Batulicin (III/6) .legalitas. Tobali – Pantoloan (III/6) 25. Kairagi – Mapanget (III/6) 24.org 85 2008. Singkawang – Mempawah (III/6) 9. Tobali – Poso (III/6) 19. Marabahan – Banjarmasin (III/6) 12. Maros – Watampone (III/6) PULAU KALIMANTAN DALAM KOTA 1. Kuala Kapuas –Banjarmasin (III/6) 11. Molosipat – Kasimbar (III/6) 17. Mempawah – Sei Puyuh (III/6) 10. Pelaihari – Pagatan (III/6) 14. ww Sp Penajam-Balikpapan (I/6) le w. Pare Pare – Pangkajene (III/6) 23. Tindantana – Palopo (III/6) 21. Samarinda-Tenggarong (I/6) 5. Marisa – Molosipat (III/6) 16. Poso – Tindantana (III/6) 20.

Samarinda – Bontang (III/6) 18.org 2008. Tanah Grogot – Penajam (III/6) 17. DR. g lita a . SUSILO BAMBANG YUDHOYONO le w. Bontang -Sangata (III/6) DALAM KOTA Keterangan: I – IV : Tahapan Pengembangan 5 6 : Pemantapan jaringan jalan Bebas Hambatan : Pengembangan Jaringan Jalan Bebas Hambatan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.or s g . No 48 86 ANTAR KOTA 15.legalitas. Batulicin – Tanah Grogot (Kuaro) (III/6) 16. ww H.www.

6. Sabang (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) (I/2) Belawan (Provinsi Sumatera Utara) (I/1) Sibolga (Provinsi Sumatera Utara) (II/4) Teluk Bayur (Provinsi Sumatera Barat) (I/1) Dumai (Provinsi Riau) (I/2) g or . Tarakan (Provinsi Kalimantan Timur) (I/1) 19. Bitung (Provinsi Sulawesi Utara) (I/2) 20. Makassar (Provinsi Sulawesi Selatan) (I/1) 22.l e ww Tanjungpriok – DKI Jakarta (dalam satu sistem dengan Bojonegara w Batam (Provinsi Kepulauan Riau) (I/1) Provinsi (Banten) (I/1) 10. Ambon (Provinsi Maluku) (I/2) . 5.org 87 2008.www. Pontianak (Provinsi Kalimantan Barat) (I/1) 16. 4. 2. Arjuna (Provinsi Jawa Barat) (II/1) 11. 7. Benoa (Provinsi Bali) (I/2) 15. Banjarmasin (Provinsi Kalimantan Selatan) (I/1) 17. Tanjung Intan (Provinsi Jawa Tengah) (I/1) 13.legalitas. PELABUHAN INTERNASIONAL 1. 9. Tenau (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (I/1) 23. 8. Balikpapan (Provinsi Kalimantan Timur) (I/1) 18. Tanjung Api-Api – dalam satu sistem dengan Pelabuhan Palembang as t (Sumatera Selatan) (I/1) ali g Panjang (Provinsi Lampung) (I/1) . Tanjung Emas (Provinsi Jawa Tengah) (I/1) 12. Pantoloan (Provinsi Sulawesi Tengah) (I/1) 21. 3. Tanjung Perak (Provinsi Jawa Timur) (I/1) 14. No 48 LAMPIRAN IV PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 26 TAHUN 2008 TANGGAL : 10 MARET 2008 TANGGAL : PELABUHAN SEBAGAI SIMPUL TRANSPORTASI LAUT NASIONAL I.

5. Tanjung Pandan (Provinsi Bangka Belitung) (I/3) 19. No 48 88 24. 8. 7. PELABUHAN NASIONAL 1. Pulau Baai (Provinsi Bengkulu) (III/3) 20. 14. 15. Lhokseumawe (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) (I/3) Meulaboh (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) (I/4) Tanjung Balai Asahan (Provinsi Sumatera Utara) (I/3) Perawang (Provinsi Riau) (I/3) Sungai Pakning (Provinsi Riau) (III/3) Kuala Enok (Provinsi Riau) (III/3) Tanjung Kedabu (Provinsi Riau) (III/3) Buatan (Provinsi Riau) (III/3) Pulau Kijang (Provinsi Riau) (III/3) 10.legalitas. 13.org 2008. Batulicin (Provinsi Kalimantan Selatan) (II/3) 25. Moro Sulit (Provinsi Kepulauan Riau) (III/3) 17. Sorong (Provinsi Papua Barat) (I/2) 25. Kuala Tungkal (Provinsi Jambi) (I/3) 18. Tanjung Sangata (Provinsi Kalimantan Timur) (I/3) 28. 6. 4. Merak (Provinsi Banten) (I/4) 21. 3. Nunukan (Provinsi Kalimantan Timur) (I/3) 26.www. Tembilahan (Provinsi Riau) (I/3) g or (III/3) . Ketapang (Provinsi Kalimantan Barat) (II/3) 23. 9. Samarinda (Provinsi Kalimantan Timur) (I/3) 27. 11. Kumai (Provinsi Kalimantan Tengah) (I/3) 24.l e Dabo – Singkep (Provinsi Kepulauan Riau) (III/3) ww w Ranai (Provinsi Kepulauan Riau) (I/3) 16. Tanjung Redep (Provinsi Kalimantan Timur) (I/3) . Pomako (Provinsi Papua) (I/1) II. Gresik (Provinsi Jawa Timur) (III/3) 22. 12. 2. Tanjung Balai Karimun (Provinsi Kepulauan Riau) as(III/3) t Tanjung Pinang (Provinsi Kepulauan Riau) ali g Pulau Sambu (Provinsi Kepulauan Riau) (III/3) .

Tanjung Selor (Provinsi Kalimantan Timur) (II/3) 31. Merauke (Provinsi Papua) (I/4) Keterangan: I – IV : Tahapan Pengembangan 1 2 3 4 : Pemantapan Pelabuhan Internasional : Pengembangan Pelabuhan Internasional : Pemantapan Pelabuhan Nasional : Pengembangan Pelabuhan Nasional PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Waingapu (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (I/3) 42. Biak (Provinsi Papua) (I/4) 49. Ternate (Provinsi Maluku Utara) (I/4) 43.www. Saumlaki (Provinsi Maluku) (I/3) 46. Donggala (Provinsi Sulawesi Tengah) (I/3) 34. Manokwari (Provinsi Papua Barat) (I/3) 48. No 48 29.org 89 2008. ww le w. Belang-Belang (Provinsi Sulawesi Barat) (II/3) 37. Bima (Provinsi Nusa Tenggara Barat) (I/3) 39. Labuhan Lombok (Provinsi Nusa Tenggara Barat) (I/3) 40. Parepare (Provinsi Sulawesi Selatan) (II/3) 36. Maumere (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (I/3) 41. Jayapura (Provinsi Papua) (I/4) 50. Lembar (Provinsi Nusa Tenggara Barat) (I/3) 38. Toli-toli (Provinsi Sulawesi Tengah) (II/3) 35. Gorontalo (Provinsi Gorontalo) (I/3) 33. Pasir/Tanah Grogot (Provinsi Kalimantan Timur) (II/3) 30. Dobo (Provinsi Maluku) (I/3) 45.legalitas.or s g DR. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO . Labuha (Provinsi Maluku Utara) (I/3) 44. H. Kaimana (Provinsi Papua Barat) (I/3) 47. g lita a . Tanjung Santan (Provinsi Kalimantan Timur) (II/3) 32.

Sam Ratulangi (Provinsi Sulawesi Utara) ww w 7. Ngurah Rai (Provinsi Bali) (I/1) 6. Mutiara (Provinsi Sulawesi Tengah) (I/3) lita a . Sepinggan (Provinsi Kalimantan Timur) (I/1) II. Juanda (Provinsi Jawa Timur) (I/1) 5. Hasanuddin (Provinsi Sulawesi Selatan) (I/2) 1. Selaparang/Praya (Provinsi Nusa Tenggara Barat) (I/4) 8. No 48 90 LAMPIRAN V PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 26 TAHUN 2008 TANGGAL : 10 MARET 2008 BANDAR UDARA SEBAGAI SIMPUL TRANSPORTASI UDARA NASIONAL I. Syamsuddin Noor (Provinsi Kalimantan Selatan) (I/3) 11.legalitas. SM Badaruddin II (Provinsi Sumatera Selatan) (I/4) 5. Majalengka (Provinsi Jawa Barat) (I/3) 6.le (I/1) 8. Kuala Namu (Provinsi Sumatera Utara) (I/2) 2. Soekarno-Hatta (Provinsi Banten) (I/1) 4. Samarinda Baru (Provinsi Kalimantan Timur) (III/4) 12. PUSAT PENYEBARAN PRIMER 1. Supadio (Provinsi Kalimantan Barat) (I/3) 10. Hang Nadim (Provinsi Kepulauan Riau) (I/1) 3. Eltari (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (I/3) 9. Adisutjipto (Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta) – dalam satu sistem dengan Adi Sumarno (Jawa Tengah) (I/3) 2.or s g . Minangkabau (Provinsi Sumatera Barat) (I/3) 3. Sultan Syarif Kasim II (Provinsi Riau) (I/4) 4.org 2008. PUSAT PENYEBARAN SEKUNDER g . Djalaludin (Provinsi Gorontalo) (I/3) 13. Ahmad Yani (Provinsi Jawa Tengah) (I/3) 7.www.

Sultan Thaha (Provinsi Jambi) (I/5) 7. HS Hanandjoeddin (Provinsi Bangka Belitung) (I/5) 9. Abdulrachman Saleh (Provinsi Jawa Timur) (IV/E/5) 13. M. Pinang Kampai (Provinsi Riau) (I/5) 6. Sentani (Provinsi Papua) (I/3) 16. Sultan Iskandar Muda (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) (III/5) 2. Mopah (Provinsi Papua) (I/3) III.www. Rahadi Usman (Provinsi Kalimantan Barat) (I/5) 22. Mau Hau (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (I/5) 17. Husein Sastra Negara (Provinsi Jawa Barat) (I/6) 11. Haliwen (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (IV/5) 18. Wai Oti (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (IV/5) 15.legalitas. PUSAT PENYEBARAN TERSIER 1. g lita a . Aroeboesman (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (I/5) 16. Fatmawati (Provinsi Bengkulu) (III/5) 8. Stagen (Provinsi Kalimantan Selatan) (III/5) 25. Susilo (Provinsi Kalimantan Barat) (I/5) 21. Wolter Monginsidi (Provinsi Sulawesi Tenggara) (II/3) 15. Depati Amir (Provinsi Bangka Belitung) (I/5) 10. Paloh (Provinsi Kalimantan Barat) (I/5) 19. Nunukan (Provinsi Kalimantan Timur) (I/5) ww le w. Iskandar (Provinsi Kalimantan Tengah) (I/5) 24.org 91 2008.or s g . Pangsuma (Provinsi Kalimantan Barat) (I/5) 20. H. Radin Inten II (Provinsi Lampung) (I/5) 3. No 48 14. Ranai (Provinsi Kepulauan Riau) (I/5) 4. Juwata (Provinsi Kalimantan Timur) (IV/6) 26. Cilik Riwut (Provinsi Kalimantan Tengah) (I/5) 23. Kijang (Provinsi Kepulauan Riau) (IV/5) 5. Salahuddin (Provinsi Nusa Tenggara Barat) (IV/5) 14. Cakrabhuwana (Provinsi Jawa Barat) (IV/5) 12. Kalimarau-Berau (Provinsi Kalimantan Timur) (I/5) 27.

No 48 92 28. Domine Eduard Osok (Provinsi Papua Barat) (I/5) 37.or s g PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO .legalitas. Wamena (Provinsi Papua) (II/5) 40. Melonguane (Provinsi Sulawesi Utara) (III/5) 31. Rendani (Provinsi Papua Barat) (I/5) 38. g lita a . Frank Kaisepo (Provinsi Papua) (I/5) 39. Nabire (Provinsi Papua) (II/5) 41. Sultan Babullah (Provinsi Maluku Utara) (I/5) 35. Waisai (Provinsi Papua Barat) (IV/6) 36. Bubung (Provinsi Sulawesi Tengah) (III/5) 32. Timika (Provinsi Papua) (I/5) Keterangan: I – IV : Tahapan Pengembangan 1 2 3 4 5 6 : Pemantapan Bandar Udara Primer : Pengembangan Bandar Udara Primer : Pemantapan Bandar Udara Sekunder : Pengembangan Bandar Udara Sekunder : Pemantapan Bandar Udara Tersier : Pengembangan Bandar Udara Tersier ww le w. Pattimura (Provinsi Maluku) (I/5) 33. Olilit/Saumlaki Baru (Provinsi Maluku) (IV/6) 34.org 2008. H. Bontang (Provinsi Kalimantan Timur) (I/5) 29.www. Tampa Padang (Provinsi Sulawesi Barat) (IV/5) 30. DR.

Rokan (I-IV/A/1) 11. 3.org 93 2008. Meureudu – Baro (IIV/A/1) Jambo Aye (I-IV/A/1) Woyla – Seunagan (IIV/A/1) PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam Nanggroe Aceh Darussalam Nanggroe Aceh Darussalam Nanggroe Aceh Darussalam KETERANGAN Strategis Nasional Strategis Nasional 4.or s g Strategis Nasional Strategis Nasional 6. Kampar (I-IV/A/1) 13. 9. Batang Angkola – Sumatera Utara Batang Gadis (I-IV/A/1) Batang Natal – Batang Batahan (I-IV/A/1) Sumatera Utara – Sumatera Barat Riau – Sumatera Barat Riau Riau – Sumatera Barat Riau – Sumatera Barat 10. Belawan – Ular – Padang (I-IV/A/1) Sumatera Utara Sumatera Utara Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis Nasional Lintas Provinsi Lintas Provinsi Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis 7.legalitas. 2. Siak (I-IV/A/1) 12. Alas – Singkil (I-IV/A/1) Nanggroe Aceh Lintas Provinsi Darussalam dan Sumatera Utara ww le w. No 48 LAMPIRAN VI PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 26 TAHUN 2008 TANGGAL : 10 MARET 2008 WILAYAH SUNGAI (WS) NO WILAYAH SUNGAI (WS) 1. Tripa – Bateue (IIV/A/1) 5. Indragiri (I-IV/A/1) . Toba – Asahan (IIV/A/1) 8.www. g lita a .

or s g Lintas Provinsi Strategis Nasional Lintas Provinsi Strategis Nasional Lintas Provinsi Lintas Provinsi Lintas Provinsi Lintas Provinsi 24. – Sumatera 21. Pulau Batam – Pulau Bintan (I-IV/A/1) Riau Kepulauan Riau Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis Nasional Lintas Provinsi Strategis Nasional 16. Kepulauan Seribu (IIV/A/1) DKI Jakarta – Banten 26. Way Seputih – Way Sekampung (I-IV/A/1) 23.org 2008.Bengkulu – Lampung IV/A/1) 25. Teramang – Ipuh (IIV/A/1) Lampung Bengkulu – Jambi leg lita a . Mesuji – Tulang Bawang Lampung ww (I-IV/A/1) Selatan 22. No 48 94 NO WILAYAH SUNGAI (WS) PROVINSI KETERANGAN Nasional 14. Sugihan (I-IV/A/1) 19. Citanduy (I/A/3) Jawa Barat – Jawa Tengah Lintas Provinsi .www. Reteh (I-IV/A/1) 15. Nasal – Padang Guci (I. Anai – Kuranji – Arau – Sumatera Barat Mangau – Antokan (IIV/A/1) 17. Musi (I-IV/A/1) 20. Batanghari (I-IV/A/1) 18.(IIV/A/1) 27. Banyuasin (I-IV/A/1) Jambi – Sumatera Barat Sumatera Selatan Sumatera Selatan – Bengkulu – Lampung Sumatera Selatan w. Cidanau – Ciujung – Banten – DKI Jakarta – Cidurian – Cisadane – Jawa Barat Ciliwung – Citarum .legalitas.

www.org 95 2008. Pemali – Comal (IIV/A/1) Jawa Barat Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis Nasional Jawa Tengah 30.legalitas. No 48 NO WILAYAH SUNGAI (WS) PROVINSI KETERANGAN 28.l e ww w Daerah Istimewa Lintas Provinsi Yogyakarta – Jawa Tengah g Lintas Provinsi Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis Nasional Lintas Negara Lintas Negara Strategis Nasional Strategis Nasional Lintas Provinsi 36.or Tengah ta s ali g Jawa Timur . Jelai – Kendawangan (I.Jawa Tengah IV/A/1) 32. Benanain (I-IV/A/1) 39. Aesesa (I-IV/A/1) 38. Brantas (I-IV/A/1) 35. Bali – Penida (I-IV/A/1) Bali Jawa Timur – Jawa . Kapuas (I-IV/A/1) 41. Noel – Mina (I-IV/A/1) 40.Kalimantan Barat – . Pulau Lombok (IIV/A/1) 37. Serayu – Bogowonto (I. Progo – Opak – Serang (I-IV/A/1) 33. Jratunseluna (I-IV/A/1) Jawa Tengah 31. Cimanuk – Cisanggarung (IIV/A/1) 29. Bengawan Solo (IIV/A/1) 34. Pawan (I-IV/A/1) Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur – Timor Leste Nusa Tenggara Timur – Timor Leste Kalimantan Barat Kalimantan Barat 42.

Parigi – Poso (I-IV/A/1) Sulawesi Tengah 56. Kahayan (I-IV/A/1) 45.org 2008. Seruyan (I-IV/A/1) 44. Malaysia Kalimantan Timur Sulawesi Utara KETERANGAN Strategis Nasional Strategis Nasional Lintas Provinsi Lintas Negara Strategis Nasional 49. Barito – Kapuas (IIV/A/1) 46. Tondano – Likupang (I. Laa – Tambalako (IIV/A/1) 57.Sulawesi ww IV/A/1) Gorontalo 51.legalitas. Randangan (I-IV/A/1) 54. Palu – Lariang (IIV/A/1) Gorontalo – Sulawesi Utara Gorontalo Gorontalo – Sulawesi Tengah Sulawesi Tengah – Sulawesi Selatan leg lita a . Paguyaman (I-IV/A/1) 53. Sangihe – Talaud (IIV/A/1) PROVINSI Kalimantan Tengah Kalimantan Tengah Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan – Kalimantan Tengah Kalimantan Timur – Serawak.www.or s g Strategis Nasional Strategis Nasional Lintas Provinsi Lintas Provinsi Strategis Nasional Lintas Provinsi Lintas Provinsi Strategis Nasional Strategis Nasional 55. Utara – 50. Sesayap (I-IV/A/1) 47.Sulawesi Utara IV/A/1) w. Dumoga – Sangkup (I. Mahakam (I-IV/A/1) 48. No 48 96 NO WILAYAH SUNGAI (WS) IV/A/1) 43. Limboto – Bulango – Bone (I-IV/A/1) 52. Kaluku – Karama (IIV/A/1) Sulawesi Tengah Sulawesi Barat – Sulawesi Lintas Provinsi Tengah .

Pompengan – Lorena (I.or s g Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis Nasional Lintas Negara Lintas Negara Papua – Papua New Guinea . Kepulauan Kei – Aru (I.www. Walanae – Cenranae (I. Jeneberang (I-IV/A/1) 62. No 48 NO WILAYAH SUNGAI (WS) PROVINSI KETERANGAN 58. Mamberamo – Tami – Apauvar (I-IV/A/1) 69.legalitas. Kepulauan Yamdena – Wetar (I-IV/A/1) 67. Omba (I-IV/A/1) 68.org 97 2008. Einlanden – Digul – Bikuma (I-IV/A/1) Maluku Papua Papua g lita a . Pulau Ambon – Seram Maluku w. Lasolo – Sampara (IIV/A/1) 63.Sulawesi Selatan IV/A/1) 61. Sadang (I-IV/A/1) Sulawesi Selatan – Sulawesi Barat Lintas Provinsi Lintas Provinsi Strategis Nasional Strategis Nasional Lintas Provinsi 60.Sulawesi Selatan – IV/A/1) Sulawesi Tengah – Sulawesi Tenggara 59. (I-IV/A/1) ww 65.Maluku IV/A/1) 66. Pulau Buru (I-IV/A/1) Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara – Sulawesi Selatan – Sulawesi Tengah Maluku le 64.

org 2008. dan Pengendalian Daya Rusak Air PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Pendayagunaan SDA.www. g lita a .legalitas. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO ww le w. DR. No 48 98 Keterangan: I – IV : Tahapan Pengembangan A : Perwujudan Sistem Jaringan SDA A/1 : Konservasi Sumber Daya Air. H.or s g .

legalitas.www. No 48 ww le w. g lita a .org 99 2008.or s g .

1. g lita a g Nusa or Tenggara Timur s. 4. 8. 17.www. 2. 10. 6. 14. 9. 15. No 48 100 LAMPIRAN VIII PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 26 TAHUN 2008 TANGGAL : 10 MARET 2008 KAWASAN LINDUNG NASIONAL NO. 12. 5. 16. KAWASAN LINDUNG Suaka Alam Laut Sambas (I/B/1) Suaka Alam Laut Pulau Sebatik (I/B/1) Suaka Alam Laut Sidat (II/B/1) Suaka Alam Laut Selat Lembeh-Bitung (I/B/1) Suaka Alam Laut Sawu (I/B/1) Suaka Alam Laut Kabupaten Kaimana (II/B/1) LOKASI Kalimantan Barat Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Utara Suaka Margasatwa Rawa Singkil (I/B/2) Nanggroe Aceh Darussalam ww Suaka Margasatwa Karangkading Dan Langkat Timur Laut (II/B/2) Suaka Margasatwa Barumun (I/B/2) Suaka Margasatwa Siranggas (II/B/2) Suaka Margasatwa Dolok Surungan (II/B/2) le w.legalitas. 7.org 2008. 11. 13. 3. Papua Barat Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Utara Suaka Margasatwa Pagai Selatan (II/B/2) Sumatera Barat Suaka Margasatwa Kerumutan (II/B/2) Suaka Margasatwa Pulau Besar/Danau Pulau Bawah (I/B/2) Riau Riau Suaka Margasatwa Bukit Rimbang-Bukit Riau Baling (III/B/2) Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil (II/B/2) Suaka Margasatwa Balai Raja (II/B/2) Riau Riau .

30. 23.legalitas. 24. 36. Suaka Margasatwa Isau-Isau Pasemah s Sumatera Selatan a t (II/B/2) ali g Suaka Margasatwa Bentayan e . 35. 32. 27.l (I/B/2) Sumatera Selatan ww Suaka Margasatwa Dangku (II/B/2) Sumatera Selatan w Suaka Margasatwa Padang Sugihan (II/B/2) Suaka Margasatwa Cikepuh (II/B/2) Suaka Margasatwa Gunung Sawal (II/B/2) Sumatera Selatan Jawa Barat Jawa Barat Suaka Margasatwa Gunung Raya (I/B/2) Sumatera Selatan Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang Jawa Timur (I/B/2) Suaka Margasatwa Pulau Bawean (I/B/2) Suaka Margasatwa Sungai Lamandau (I/B/2) Suaka Margasatwa Pleihari Martapura (I/B/2) Jawa Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Suaka Margasatwa Kuala Lupak (II/B/2) Kalimantan Selatan Suaka Margasatwa Perhatu (III/B/2) Nusa Tenggara Timur . 34. 28.org 101 2008. 37. 18. 29. 22. 20. KAWASAN LINDUNG Suaka Margasatwa Tasik Besar-Tasik Metas (II/B/2) Suaka Margasatwa Tasik Serkap-Tasik Sarang Burung (II/B/2) Suaka Margasatwa Pusat Pelatihan Gajah (II/B/2) Suaka Margasatwa Tasik Tanjung Padang (II/B/2) Suaka Margasatwa Tasik Belat (II/B/2) Suaka Margasatwa Bukit Batu (II/B/2) Suaka Margasatwa Gumai Pasemah (II/B/2) Riau Riau Riau Riau Riau Riau LOKASI Sumatera Selatan g or . 31. 33.www. 19. 25. No 48 NO. 26. 21.

56. 38. 45. 46. 47.Sulawesi Utara Nembo (II/B/2) Suaka Margasatwa Karakelang Utara & Sulawesi Utara Selatan (I/B/2) Suaka Margasatwa Buton Utara (II/B/2) Sulawesi Tenggara Suaka Margasatwa Tanjung Batikolo (II/B/2) Suaka Margasatwa Tanjung Peropa (II/B/2) Sulawesi Tenggara Suaka Margasatwa Lambusango (III/B/2) Sulawesi Tenggara Suaka Margasatwa Tanjung Santigi (I/B/2) Suaka Margasatwa Mampie Lampoko (II/B/2) Suaka Margasatwa Komara (II/B/2) Suaka Margasatwa Pati Pati (II/B/2) Suaka Margasatwa Lombuyan I/II (II/B/2) ww le w. 44. 42. 50. 60. 51. 41.legalitas.www. 52. 55. 59. g lita a g Sulawesi Tenggara or s. 40. 58. 48. 53. 49. 43. KAWASAN LINDUNG Suaka Margasatwa Kateri (III/B/2) Suaka Margasatwa Harlu (III/B/2) Suaka Margasatwa Ale Asisio (II/B/2) Suaka Margasatwa Tambora Selatan (I/B/2) LOKASI Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Suaka Margasatwa Gunung Manembo . No 48 102 NO. 54. Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi Tengah Suaka Margasatwa Bangkiriang (II/B/2) Sulawesi Tengah Suaka Margasatwa Pinjan/Tanjung Matop (II/B/2) Suaka Margasatwa Nantu (II/B/2) Sulawesi Tengah Gorontalo Suaka Margasatwa Pulau Baun (II/B/2) Maluku Suaka Margasatwa Pulau Kobror (I/B/2) Maluku Suaka Margasatwa Tanimbar (I/B/2) Maluku Suaka Margasatwa Pulau Dolok (II/B/2) Papua Suaka Margasatwa Jayawijaya (II/B/2) Papua . 57.org 2008. 39.

80. 73.legalitas. 71.le (I/B/3) Cagar Alam Hutan Pinus Jhanto ww w Cagar Alam Dolok Sibual-Buali (II/A/3) Cagar Alam Dolok Sipirok (I/A/3) Cagar Alam Lubuk Raya (II/B/3) Cagar Alam Sei Ledong (II/B/3) lita a g Papua or Barat s. 70. Raja Ampat Papua Barat (I/B/2) Suaka Margasatwa Laut Pulau Sabuda Tataruga (II/B/2) Suaka Margasatwa Laut Kepulauan Panjang (II/B/2) g . 65. 66. 78.www. 69. 72. 76.org 103 2008. 75 (II/B/3) Sumatera Barat Cagar Alam Lembah Anai (I/B/3) Cagar Alam Batang Pangean I (II/B/3) Cagar Alam Batang Pangean II Reg. 62. 77. Papua Barat Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Utara Cagar Alam Rimbo Panti Reg. 67. 74. 79. 68. 75. 61. 82. 64. 63. KAWASAN LINDUNG Suaka Margasatwa Mamberamo Foja (II/B/2) Papua LOKASI Suaka Margasatwa Danau Bian (II/B/2) Papua Suaka Margasatwa Anggromeos (II/B/2) Papua Suaka Margasatwa Komolon (II/B/2) Suaka Margasatwa Tanjung Mubrani – Sidei – Wibain I – II (I/B/2) Suaka Margasatwa Pulau Venu (II/B/2) Suaka Margasatwa Laut Pulau Kassa (III/B/2) Papua Papua Barat Papua Barat Maluku Suaka Margasatwa Laut Kep. 81. No 48 NO. 49 (III/B/3) Cagar Alam Arau Hilir (II/B/3) Cagar Alam Melampah Alahan Panjang (I/B/3) Cagar Alam Gunung Sago (II/B/3) Sumatera Barat Sumatera Barat Sumatera Barat Sumatera Barat Sumatera Barat Sumatera Barat .

G. 98. Cagar Alam Air Ketebat Danau ww 57 (II/B/3) w lita a g Jambi or s. Hutan Bakau Pantai Timur (I/A/3) Cagar Alam Cempaka (II/B/3) Cagar Alam Sungai Batara (III/B/3) Sumatera Barat Sumatera Barat Sumatera Barat Sumatera Barat Riau Jambi Jambi Cagar Alam Danau Dusun Besar Reg. 85. 91. 86. 90. 101.org 2008.www. 99. 105. 96 (III/B/3) Bengkulu Cagar Alam G. G. Jening Mendayung (I/B/3) Cagar Alam Rawa Danau (II/B/3) Cagar Alam Gunung Tukung Gede (I/B/3) Banten Banten 97.le Tes Reg. 88. G. 102. Permisan. 87. 94. Lalang. 92. Bengkulu Cagar Alam Teluk Klowe Reg. 96.legalitas. Bangka Belitung Maras. 93. 95. 103. 84. KAWASAN LINDUNG LOKASI Cagar Alam Maninjau Utara Dan Selatan Sumatera Barat (II/B/3) Cagar Alam Gunung Singgalang Tandikat Sumatera Barat (I/B/3) Cagar Alam Gunung Merapi (I/B/3) Cagar Alam Air Putih (III/B/3) Cagar Alam Barisan I (II/B/3) Cagar Alam Air Terusan (II/B/3) Cagar Alam Bukit Bungkuk (I/B/3) Cagar Alam Kel. 104. No 48 104 NO. Menumbing. Mangkol. G. 100. 61 Bengkulu (III/B/3) g . 83. 89. Cagar Alam G.Tangkuban Perahu (I/A/3) Jawa Barat Cagar Alam Leuweung Sancang (II/B/3) Jawa Barat Cagar Alam Gunung Tilu (II/B/3) Jawa Barat Cagar Alam Gunung Papandayan (I/B/3) Jawa Barat Cagar Alam Gunung Burangrang (I/B/3) Jawa Barat Cagar Alam Kawah Kamojang (II/B/3) Cagar Alam Gunung Simpang (II/B/3) Jawa Barat Jawa Barat .

123. 124. 114. 109. 106.www. Nusa l ta Nusa Tenggara Barat Cagar Alam Pulau Sangiang (I/A/3)i ga le Nusa Tenggara Barat Cagar Alam Gunung Tambora Selatan w. 117. 122. 108. (I/B/3) ww Cagar Alam Pulau Panjang (II/B/3) Nusa Tenggara Barat Cagar Alam Jereweh (Sekongkang) (II/B/3) Cagar Alam Mandor (II/B/3) Cagar Alam Gunung Raya Pasi (I/B/3) Cagar Alam Muara Kendawangan (II/B/3) Cagar Alam Niyut-Penrissen (I/B/3) Kalimantan Barat Kalimantan Barat Kalimantan Barat Kalimantan Barat Nusa Tenggara Barat Cagar Alam Bukit Sapat Hawung (II/B/3) Kalimatan Tengah Cagar Alam Bukit Tangkiling (II/B/3) Cagar Alam Pararawen I/II (I/B/3) Cagar Alam Muara Kaman Sedulang (II/B/3) Cagar Alam Padang Luwai (II/B/3) Cagar Alam Teluk Apar (I/B/3) Kalimatan Tengah Kalimatan Tengah Kalimantan Timur Kalimantan Timur Kalimantan Timur . 116. 115. 189) (II/B/3) Nusa Tenggara Timur Cagar Alam Way Wuul/Mburak (II/B/3) Nusa Tenggara Timur Cagar Alam Watu Ata (II/B/3) Cagar Alam Wolo Tadho (II/B/3) Cagar Alam Tambora (I/A/3) Cagar Alam Gunung Mutis (II/B/3) Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur g or Tenggara Barat Cagar Alam Toffo Kota Lambu (II/A/3) s. 118. 129. 107. 130. 119.org 105 2008. KAWASAN LINDUNG Cagar Alam Gunung Celering (I/B/3) LOKASI Jawa Tengah Cagar Alam Pulau Nusa Barong (II/B/3) Jawa Timur Cagar Alam Kawah Ijen Merapi UngupUngup (II/B/3) Cagar Alam Batu Kahu I/II/III (I/B/3) Cagar Alam Riung (II/B/3) Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Timur Cagar Alam Maubesi (RTK. 125. 110. 127. 126. 111. 120. 113. 121. 128. 112.legalitas. No 48 NO. 131.

138. 143. 152. 154.legalitas. 155. 159. 137. 158. 146. 151. Selat Laut. 141. 145. 132. 149. Cagar Alam Tanjung Api (II/B/3) Sulawesi Tengah ww (II/B/3) Cagar Alam Faruhumpenai Sulawesi Selatan Cagar Alam Kalaena (II/B/3) Cagar Alam Tanjung Api (II/B/3) Cagar Alam Panua (II/B/3) Cagar Alam Tanjung Panjang (II/B/3) Cagar Alam Pulau Nustaram (II/B/3) Cagar Alam Pulau Nuswotar (II/B/3) Cagar Alam Masbait (II/B/3) Cagar Alam Daab (II/B/3) Cagar Alam Pulau Larat (I/B/3) Cagar Alam Bekau Huhun (II/B/3) Cagar Alam Tafermaar (II/B/3) Cagar Alam Gunung Sahuwai (II/B/3) Cagar Alam Masarete (II/B/3) Sulawesi Selatan Sulawesi Selatan Gorontalo Gorontalo Maluku Maluku Maluku Maluku Maluku Maluku Maluku Maluku Maluku . 135. 150.www.org 2008. 140. 153. 142. 157. 144. No 48 106 NO. 134. KAWASAN LINDUNG Cagar Alam Teluk Adang (I/B/3) Cagar Alam Teluk Kelumpang. Selat Sebuku (I/B/3) Cagar Alam Teluk Pamukan (II/B/3) Cagar Alam Sungai Lulan Dan Sungai Bulan (I/B/3) Cagar Alam Gunung Ambang (I/B/3) Cagar Alam Dua Saudara (II/B/3) Cagar Alam Tangkoko Batuangus (II/B/3) Cagar Alam Morowali (I/B/3) Cagar Alam Pangi Binangga (II/B/3) Cagar Alam Pamona (II/B/3) LOKASI Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Kalimantan Selatan Kalimantan Selatan Sulawesi Utara Sulawesi Utara Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Tengah Sulawesi Tengah g or Cagar Alam Gunung Tinombala (I/B/3) . 156. 136. 133. Sulawesi Tengah tas Sulawesi Tengah Cagar Alam Gunung Sojol (II/B/3) li ga Cagar Alam Gunung Dako (II/B/3) Sulawesi Tengah le w. 139. 147. 148.

174. 179.legalitas. 164. 170. 167. 172. 178.org 107 2008. No 48 NO. 160. 168. 183.www. 163.or s g Papua Barat Papua Barat Papua Barat Papua Barat Papua Barat Papua Barat Papua Barat Cagar Alam Pegunungan Yapen Tengah (II/B/3) Cagar Alam Pulau Waigeo Timur (I/B/3) Papua Barat Cagar Alam Pulau Misool (II/B/3) Cagar Alam Pulau Kofiau (II/B/3) Cagar Alam Pegunungan Wayland (II/B/3) Cagar Alam Teluk Bintuni (I/B/3) Papua Barat Papua Barat Papua Barat Papua Barat Cagar Alam Pegunungan Fak Fak (I/B/3) Papua Barat Cagar Alam Pegunungan Kumawa (II/B/3) Cagar Alam Tamrau Utara (II/B/3) Papua Barat Papua Barat . Cagar Alam Tamrau Selatan (II/B/3) ww Cagar Alam Pulau Supriori (I/B/3) Cagar Alam Pegunungan Wondiboy (II/B/3) Cagar Alam Pegunungan Arfak (II/B/3) . 177. 175. 171. 181. 173. 184. 165. 186. 185. 182. 161. 180. 169. KAWASAN LINDUNG Cagar Alam Tanjung Sial (II/B/3) Cagar Alam Tobalai (II/B/3) Cagar Alam Pulau Seho (II/B/3) Cagar Alam Gunung Sibela (II/B/3) Cagar Alam Lifamatola (II/B/3) Cagar Alam Pulau Obi (I/B/3) Cagar Alam Taliabu (II/B/3) Cagar Alam Cycloops (II/B/3) Cagar Alam Enarotali (II/B/3) Cagar Alam Bupul/Kumbe (II/B/3) Cagar Alam Pulau Waigeo Barat (I/B/3) Maluku LOKASI Maluku Utara Maluku Utara Maluku Utara Maluku Utara Maluku Utara Maluku Utara Papua Papua Papua Papua Barat Cagar Alam Pulau Batanta Barat (II/B/3) Papua Barat lita Cagar Alam Salawati Utara (II/B/3) ga le Cagar Alam Biak Utara (I/A/3) w. 162. 176. 166.

Nanggroe Aceh Darussalam. 191. 206.org 2008. 205. Bengkulu. 194. Taman Nasional Batang Gadis (II/A/4) Taman Nasional Siberut (II/A/4) Taman Nasional Teso Nilo (I/A/4) ww le w. 207. No 48 108 NO. 190. 187. 195.legalitas. Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (I/A/4) Taman Nasional Way Kambas (I/A/4) Taman Nasional Bukit Barisan (I/B/4) Taman Nasional Sembilang (II/A/4) . 192. Anak Krakatau (I/A/3) Cagar Alam Laut Leuweung Sancang (II/B/3) Cagar Alam Laut Kepulauan Karimata (I/B/3) Cagar Alam Laut Kepulauan Aru Tenggara (I/B/3) Cagar Alam Laut Banda (I/B/3) LOKASI Papua Barat Papua Barat Lampung Jawa Barat Kalimantan Barat Maluku Maluku Cagar Alam Laut Pantai Sansafor (II/B/3) Papua Cagar Alam Geologi Karangsembung (II/B/3) Taman Nasional Gunung Leuser (I/A/4) 197.www. Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (I/A/4) Riau-Jambi Taman Nasional Bukit Dua Belas (I/A/4) Jambi Taman Nasional Berbak (I/A/4) Taman Nasional Kerinci Seblat (I/A/4) Jambi Jambi. Sumatera Selatan. 202. 189. 188. 199. 198. KAWASAN LINDUNG Cagar Alam Tanjung Wiay (II/B/3) Cagar Alam Wagura Kote (II/B/3) Cagar Alam Laut P. 196. g lita a g Jawa or Tengah s. 200. 193. 203. Sumatera Barat Lampung & Bengkulu Lampung Lampung Sumatera Selatan 204. 201.

No 48 NO. ww Taman Nasional Gunung Rinjani (I/A/4) Nusa Tenggara Barat Taman Nasional Kelimutu (I/A/4) Taman Nasional Laiwangi –Wanggameti (II/A/4) Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur . KAWASAN LINDUNG Taman Nasional Gunung Gede – Pangrango (I/A/4) LOKASI Jawa Barat Taman Nasional Halimun – Salak (I/A/4) Jawa Barat Taman Nasional Gunung Ciremai (I/A/4) Jawa Barat Taman Nasional Halimun – Salak (I/A/4) Banten Taman Nasional Ujung Kulon (I/A/4) Banten Taman Nasional Gunung Merapi (I/A/4) Daerah Istimewa Yogyakarta. 210. 217. 208. 211. 223. 227. 214. 212. 225. 216. 220. Jawa Tengah Taman Nasional Gunung Merbabu (I/A/4) Taman Nasional Alas Purwo (I/A/4) Taman Nasional Baluran (II/A/4) Jawa Tengah Jawa Timur Taman Nasional Bromo Tengger-Semeru Jawa Timur (I/A/4) lita Jawa Timur Taman Nasional Meru Betiri (I/A/4) ga le Taman Nasional Bali Barat (I/A/4) Bali w. 218. 230. 221.legalitas. 219. 228.org 109 2008. 213.or s Jawa Timur g Taman Nasional Manupeu – Tanah Daru Nusa Tenggara Timur (II/A/4) Taman Nasional Komodo (I/A/4) Nusa Tenggara Timur Taman Nasional Betung Kerihun (I/A/4) Kalimantan Barat Taman Nasional Danau Sentarum (I/A/4) Kalimantan Barat Taman Nasional Gunung Palung (II/A/4) Kalimantan Barat Taman Nasional Bukit Baka – Bukit Raya Kalimantan Barat – (I/A/4) Kalimantan Tengah Taman Nasional Tanjung Puting (I/A/4) Taman Nasional Sebangau (I/A/4) Kalimantan Tengah Kalimantan Tengah . 215. 226. 224. 229. 209. 222.www.

244. KAWASAN LINDUNG Taman Nasional Kayan Mentarang (I/A/4) Taman Nasional Kutai (I/A/4) LOKASI Kalimantan Timur Kalimantan Timur Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Gorontalo (I/A/4) Taman Nasional Lore Lindu (I/A/4) Sulawesi Tengah Taman Nasional Rawa Aopa – Watumohai Sulawesi Tenggara (I/A/4) Taman Nasional Bantimurung – Bulusaraung (II/A/4) Taman Nasional Manusela (I/A/4) Taman Nasional Aketajawe – Lolobata (I/A/4) Taman Nasional Lorentz (I/A/4) Taman Nasional Wasur (I/A/4) Sulawesi Selatan Maluku Maluku Utara Taman Nasional Laut Anambas (II/B/4) Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu DKI Jakarta (I/A/4) Taman Nasional Laut Karimun Jawa (I/B/4) Taman Nasional Laut Komodo (I/A/4) Taman Nasional Laut Selat Pantar (II/A/4) Taman Nasional Laut Bunaken (I/A/4) Taman Nasional Laut Kepulauan Banngai (II/B/4) Taman Nasional Laut Kepulauan Wakatobi (I/A/4) Taman Nasional Laut Taka Bonerate (I/A/4) Jawa Tengah Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan ww le w. 232. 242. 233. 239. 236. No 48 110 NO.org 2008. 235. 248. 247. 245. 249. 243. 240. g lita a g or s. 238. 241.www.legalitas. 231. 234. Papua Papua Kepulauan Riau Taman Nasional Laut Teluk Cendrawasih Papua (I/A/4) . 250. 246. 237.

260. 269. Suryo (I/B/5) Taman Hutan Raya Ngurah Rai (I/B/5) Taman Hutan Raya Nuraksa (I/A/5) Taman Hutan Raya Prof. 261. 252. 256. M. 264. KAWASAN LINDUNG LOKASI Taman Hutan Raya Cut Nyak Dien (Pocut Nanggroe Aceh Meurah Intan) (II/B/5) Darussalam Taman Hutan Raya Bukit Barisan (I/B/5) Sumatera Utara Taman Hutan Raya Dr. 263. 253. Hatta (II/B/5) Sumatera Barat Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim Riau (Minas) (II/B/5) Taman Hutan Raya Thaha Saifuddin (II/B/5) Taman Hutan Raya Raja Lelo (II/B/5) Jambi Bengkulu Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman Lampung (I/B/5) Taman Hutan Raya R.legalitas. g lita a g Jawa or Timur s. Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Taman Hutan Raya Sultan Adam (II/B/5) Kalimantan Selatan Taman Hutan Raya Bukit Suharto (I/B/6) Taman Hutan Raya Murhum (II/B/5) Taman Hutan Raya Palu (II/B/5) Taman Hutan Raya Poboya Paneki (III/B/5) Kalimantan Timur Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Tengah Taman Hutan Raya Bontobahari (II/B/5) Sulawesi Selatan Taman Wisata Alam Holiday Resort (I/B/6) Taman Wisata Alam Muka Kuning (Batam) (I/B/6) Taman Wisata Alam Sungai Dumai (I/A/6) Sumatera Utara Kepulauan Riau Riau . 254.www. 255. 267. Ir.org 111 2008. 257. 266. 251. 259. 258. 270. 262. No 48 NO. 265. 268. Herman Yohannes (I/A/5) ww le w.

289. 272. 275. 287. 281. 282. 277. Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Barat Taman Wisata Alam Tuti Adagae (II/B/6) Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Taman Wisata Alam Pulau Besar (II/B/6) Nusa Tenggara Timur Taman Wisata Alam Menipo (II/B/6) Taman Wisata Alam Ruteng (I/B/6) Taman Wisata Alam Egon Illimedo (II/B/6) Taman Wisata Alam Belimbing (II/B/6) Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Taman Wisata Alam Asuansang (II/B/6) Kalimantan Barat Taman Wisata Alam Dungan (II/B/6) Taman Wisata Alam Gunung Melintang (I/B/6) Kalimantan Barat Kalimantan Barat .www. 283.org 2008. 285. 276. 279. 280. 286.Rawa Taman Wisata Alam Danau ww Taliwang (II/B/6) Taman Wisata Alam Kemang Beleng (II/B/6) g Nusa or Tenggara Barat s. 273. 290. No 48 112 NO. 288. 284. 278. KAWASAN LINDUNG Taman Wisata Alam Sungai Bengkal (II/B/6) Jambi LOKASI Taman Wisata Alam Bukit Kaba (II/B/6) Bengkulu Taman Wisata Alam Pantai Panjang Pulau Baai (I/B/6) Taman Wisata Alam Pulau Sangiang (I/A/6) Bengkulu Banten Taman Wisata Alam Gunung Tampomas Jawa Barat (I/B/6) Taman Wisata Alam Sangeh (I/B/6) Taman Wisata Alam Danau Buyan Dan Danau Tamblingan (I/B/6) Taman Wisata Alam Bangko Bangko (II/B/6) Bali Bali lita Taman Wisata Alam Tanjung Tanpa ga (II/B/6) le w.legalitas. 271. 274.

301. 302.org 113 2008. Siumat. . 303. 299. 300. 294. dan Simanaha (Pisisi) (I/A/6) Taman Wisata Alam Laut Sabang (I/B/6) Nanggroe Aceh Darussalam Taman Wisata Alam Laut Enggano (II/B/6) Nanggroe Aceh Darussalam 307. 298. No 48 NO. 306. 293. 297.www. Sulawesi Selatan Sulawesi Selatan Papua Barat Papua Barat Papua Nanggroe Aceh Darussalam Nanggroe Aceh Darussalam Taman Wisata Alam Klamono (III/B/6) Taman Wisata Alam Laut Pulau Weh (I/A/6) Taman Wisata Alam Laut Kepulauan Banyak (II/A/6) Taman Wisata Alam Laut Perairan Pulau Nanggroe Aceh Darussalam Pinang. KAWASAN LINDUNG Taman Wisata Alam Bukit Kelam Komplek (II/B/6) Taman Wisata Alam Tanjung Keluang/Teluk Keluang (II/B/6) LOKASI Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Taman Wisata Alam Pleihari Tanah Laut Kalimantan Selatan (II/B/6) Taman Wisata Alam Bancea (II/B/6) Taman Wisata Alam Mangolo (II/B/6) Taman Wisata Alam Danau Matano & Mahalona (II/B/6) Taman Wisata Alam Danau Towuti (I/B/6) Taman Wisata Alam Malino (II/B/6) Taman Wisata Alam Cani Sirenrang (II/B/6) Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Sulawesi Selatan g .l e Taman Wisata Alam Lejja w (II/B/6) ww Taman Wisata Alam Beriat (III/B/6) Taman Wisata Alam Teluk Youtefa (II/B/6) lita a g Sulawesi Selatan or s. 292. 295. 296. 291. 304. 308. 305.legalitas.

KAWASAN LINDUNG LOKASI Taman Wisata Alam Laut Kepulauan Pieh Sumatera Barat (II/B/6) Taman Wisata Alam Laut Perairan Belitung (II/B/6) Bangka Belitung Taman Wisata Alam Laut Lampung Barat Lampung (I/B/6) Taman Wisata Alam Laut Cijulang (I/A/6) Jawa Barat Taman Wisata Alam Laut Daerah Pantai Jawa Tengah Ujungnegoro – Roban (I/B/6) Taman Wisata Alam Laut Buleleng (I/A/6) Bali Taman Wisata Alam Laut Gili Meno.or s g Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Barat Taman Wisata Alam Laut Gili Sulat dan Nusa Tenggara Barat Gili Lawang (II/A/6) Taman Wisata Alam Laut Pulau Gili Nusa Tenggara Barat Banta (II/A/6) Taman Wisata Alam Laut Teluk Kupang (I/A/6) Taman Wisata Alam Laut Gugus Pulau Teluk Maumere (I/A/6) Taman Wisata Alam Laut Tujuh Belas Pulau Riung (III/B/6) Taman Wisata Alam Laut Bengkayang (II/B/6) Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Taman Wisata Alam Laut Berau (II/B/6) Kalimantan Timur . 324. 318. 319. 309. 313. 321. 316. 317.legalitas. 315.org 2008. 320. No 48 114 NO.www. 311. 310. 322. Gili Nusa Tenggara Barat Ayer. 323. 312. Gili Trawangan (I/B/6) Taman Wisata Alam Laut Pulau Moyo (I/B/6) (II/B/6) ww Satonda Taman Wisata Alam Laut Pulau w g . 314.l e lita a .

337. 330.org 115 2008. Padaido (II/B/6) Taman Buru Lingga Isaq (I/F) Taman Buru Pulau Pini (I/F) Papua Barat Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Taman Buru Semidang Bukit Kabu (II/F) Bengkulu Taman Buru Gunung Nanu’ua (II/F) Bengkulu . 341. 333. 332. 329. 339. Maluku Maluku Taman Wisata Alam Laut P.www. Kasa Taman Wisata Alam Laut Pulau ww (II/B/6) Taman Wisata Alam Laut P. 327. Marsegu Dsk Maluku (II/B/6) Maluku Taman Wisata Alam Laut Distrik Abun. Papua Barat Sorong (II/B/6) Taman Wisata Alam Laut Kep. 325. 331. 338. KAWASAN LINDUNG Taman Wisata Alam Laut Pulau Laut Barat – Selatan dan Pulau Sembilan (II/B/6) Taman Wisata Alam Laut Pulau Togean dan Pulau Batudaka (I/A/6) Taman Wisata Alam Laut Telok Lasolo (II/B/6) Taman Wisata Alam Laut Kepulauan Padamarang (II/B/6) Taman Wisata Alam Laut Selat Tiworo (II/B/6) Taman Wisata Alam Laut Liwutongkidi (Buton) (II/B/6) Taman Wisata Alam Laut Kepulauan Kapoposang (I/B/6) LOKASI Kalimantan Selatan 326. No 48 NO. Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tenggara lita Taman Wisata Alam Laut Laut Banda ga (I/B/6) le w. 335. Pombo (II/B/6) g Sulawesi Selatan or s. 340. 328. 334.legalitas. 336.

legalitas. 349. 348. 347. 343. KAWASAN LINDUNG Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi (II/F) Taman Buru Gunung Tambora Selatan (I/F) Taman Buru Pulau Moyo (I/F) Taman Buru Dataran Bena (II/F) Taman Buru Pulau Rusa (I/F) Taman Buru Pulau Ndana (II/F) Taman Buru Landusa Tomata (II/F) Taman Buru Padang Mata Osu (III/F) Taman Buru Komara (II/F) Taman Buru Bangkala (II/F) LOKASI Jawa Barat Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Keterangan: I – IV: Tahapan Pengembangan A : Rehabilitasi dan Pemantapan Fungsi Kawasan Lindung Nasional A/1 : Suaka Alam Laut A/2 : Suaka Margasatwa dan Suaka Margasatwa Laut A/3 : Cagar Alam dan Cagar Alam Laut A/4 : Taman Nasional dan Taman Nasional Laut A/5 : Taman Hutan Raya A/6 : Taman Wisata Alam dan Taman Wisata Alam Laut B : Pengembangan Pengelolaan Kawasan Lindung Nasional B/1 : Suaka Alam Laut B/2 : Suaka Margasatwa dan Suaka Margasatwa Laut B/3 : Cagar Alam dan Cagar Alam Laut B/4 : Taman Nasional dan Taman Nasional Laut B/5 : Taman Hutan Raya B/6 : Taman Wisata Alam dan Taman Wisata Alam Laut C : Rehabilitasi dan Pemantapan Fungsi Kawasan Hutan Lindung Nasional C/1 : Kawasan Resapan Air D : Pengembangan Pengelolaan Kawasan Hutan Lindung Nasional E : Rehabilitasi dan Pemantapan Fungsi Kawasan Taman Buru Nasional F : Pengembangan Pengelolaan Kawasan Taman Buru Nasional ww le w. H.or s Sulawesi Selatan g PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. g lita a . No 48 116 NO. 344.org 2008. 345. 342.www. 351. DR. 350. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO . 346.

or s g .pertambangan .(I/F/1) .perikanan .pertambangan .(I/C/1) .(II/F/2) .pertambangan . g lita a .legalitas.pertanian .(I/C/2) .(I/F/2) .perkebunan .(I/B/2) SEKTOR UNGGULAN .www..perikanan laut Kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya .pertanian .(IV/A/2) .(II/E/1) .(II/B/2) Kawasan Pantai Barat Selatan .(I/A/1) .industri ww le w.(II/D/1) .perkebunan Kawasan Andalan Laut Lhokseumawe.pariwisata .(III/C/2) .industri .(III/A/2) . No 48 LAMPIRAN IX PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 26 TAHUN 2008 TANGGAL : 10 MARET 2008 KAWASAN ANDALAN NO 1 PROVINSI / KAWASAN ANDALAN NANGGROE ACEH DARUSSALAM Kawasan Banda Aceh dan sekitarnya .perikanan .(I/D/1) .perikanan Medan dan sekitarnya .(I/F/2) .pertanian .org 117 2008.

(I/E/1) .org 2008.(II/E/2) SEKTOR UNGGULAN .(I/H/1) .(II/A/2) .(II/D/2) Kawasan Tapanuli dan sekitarnya .(II/B/2) .perkebunan .industri .industri .perikanan laut .pertanian .perkebunan .(III/D/2) .(I/D/1) .perkebunan Kawasan Rantau Prapat – Kisaran ww le w. g lita a g or s-.(I/B/2) .www.(II/F/2) .(I/A/1) .(II/A/2) .pertambangan . pariwisata .(II/B/2) .industri .pertanian .(II/B/2) .perikanan .(II/D/2) .pariwisata .(II/F/2) Kawasan Pematang Siantar dan sekitarnya .perikanan .pariwisata .kehutanan . No 48 118 NO 2 PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SUMATERA UTARA Kawasan Perkotaan Metropolitan Medan-Binjai-Deli Serdang-Karo (Mebidangro) .(II/E/2) .perkebunan .industri .pertanian .(II/C/2) .(III/F/2) .pertanian .(I/A/1) .legalitas.

org 119 2008.pertanian .perikanan Kawasan Andalan Laut Lhokseumawe.pertambangan .legalitas.pariwisata .(III/G/2) .www.perikanan .(II/F/2) SEKTOR UNGGULAN . perikanan .perikanan .pertambangan 3 SUMATERA BARAT Kawasan Padang Pariaman dan sekitarnya .(I/D/2) .(III/C/2) .(II/F/2) .(II/E/2) .(I/E/2) .(I/F/2) .perkebunan .(II/A/2) .(IV/B/2) . No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Nias dan sekitarnya .pertambangan w w.(I/G/2) .perikanan laut .(II/F/2) . w leg lita a g or s-.(I/C/2) Kawasan Andalan Laut Selat Malaka dan sekitarnya .pariwisata .perikanan Medan dan sekitarnya .industri .(I/C/2) Kawasan Andalan Laut Nias dan sekitarnya ..

pertanian .Pariwisata 4 RIAU Kawasan Pekanbaru dan sekitarnya .pariwisata Kawasan Andalan Laut MentawaiSiberut dan sekitarnya . No 48 120 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Agam-Bukit Tinggi (PLTA Kuto Panjang) .(II/E/2) .(III/C/2) .pertanian .pertanian .(III/B/2) .Perikanan Kawasan Solok dan sekitarnya (Danau .pariwisata .(II/A/2) .PIP Danau Sngkarak.(I/C/2) . g lita a g or s-. industri .(I/E/2) .(II/G/2) .(I/B/2) .Ketaping) .www.Lubuk Alung.pertambangan Kembar Diatas/Dibawah.(II/D/2) .(II/A/2) Kawasan Mentawai dan sekitarnya .perkebunan .legalitas.(III/B/2) .perkebunan ww le w.(IV/A/2) .pertambangan .(II/A/2) .(II/E/2) .org 2008.pertanian .industri .(III/D/2) .perkebunan .(II/F/2) SEKTOR UNGGULAN .perikanan laut .

legalitas.pertambangan .pariwisata .(I/E/2) .org 121 2008.industri .perkebunan .kehutanan .(I/C/2) 5 KEPULAUAN RIAU .perikanan laut .perkebunan .industri migas lita Kawasan Andalan Laut.Teluk Kuantan-Pangkalan Kerinci .(III/H/2) Kawasan Ujung Batu-Bagan Batu . Selat Malaka ga le dan sekitarnya w.(II/G/2) .kelautan dan sekitarnya .perikanan .pertambangan g Kawasan Zona Batam -Tanjung Pinang .(I/G/2) ww .(II/D/2) .(I/D/2) .industri .(I/D/2) .(II/B/2) SEKTOR UNGGULAN . .(III/A/2) .perkebunan .(II/F/2) Kawasan Natuna dan sekitarnya .pertanian .(I/B/2) .industri .www.(I/D/2) .(I/B/2) .or s .(II/F/2) Kawasan Rengat-Kuala Enok. No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Duri-Dumai dan sekitarnya .perikanan .perikanan .(I/C/1) .(II/G/2) .

pertanian .perikanan . No 48 122 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Andalan Laut Batam dan sekitarnya .perikanan .pertambangan .pertanian .(III/A/2) .(III/A/2) .(I/C/2) .pertanian .(III/E/2) Kawasan Muara Bungo dan sekitarnya .(I/B/2) .(III/A/2) .(II/C/2) .(II/E/2) SEKTOR UNGGULAN .(II/B/2) .perkebunan .pertambangan .pariwisata 6 JAMBI Kawasan Muara Bulian Timur Jambi dan sekitarnya .l e lita a g or s-.pariwisata .(IV/F/2) .www.perkebunan .industri .(II/F/2) .kehutanan w ww g .org 2008.perikanan laut .legalitas.pertambangan .pertambangan .(II/H/2) .(I/B/2) .perkebunan .(I/E/2) Kawasan Andalan Laut Natuna dan sekitarnya .(II/C/2) .pariwisata 7 SUMATERA SELATAN Kawasan Muara Enim dan sekitarnya .(II/D/2) .(I/C/2) .(II/F/2) .

www.legalitas.org

123

2008, No 48

NO

PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Lubuk Linggau dan sekitarnya - (IV/A/2) - (II/B/2) - (IV/D/2) Kawasan Palembang dan sekitarnya - (I/A/2) - (I/D/2) - (I/C/1) - (II/H/2) - (III/F/2) Kawasan Andalan Laut Bangka dan sekitarnya - (III/F/2) - (I/E/2)

SEKTOR UNGGULAN - pertanian - perkebunan - industri

- pertanian - industri - pertambangan - kehutanan - perikanan

8

BENGKULU

ww

le w.

g

lita a

g or s-. pariwisata
- perikanan

Kawasan Bengkulu dan sekitarnya - (II/A/2) - (III/D/2) - (II/B/2) - (II/F/2) - (III/E/2) Kawasan Manna dan sekitarnya - (III/A/2) - (II/B/2) - (II/F/2) - (II/D/2) - (IV/E/2)

- pertanian - industri - perkebunan - perikanan - pariwisata - pertanian - perkebunan - perikanan - industri - pariwisata

www.legalitas.org

2008, No 48

124

NO

PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Andalan Laut Bengkulu - (II/F/2) - (II/E/2)

SEKTOR UNGGULAN - perikanan - pariwisata

9

BANGKA BELITUNG Kawasan Bangka - (IV/A/2) - (IV/B/2) - (II/D/2) - (I/E/2) - (II/F/2) Kawasan Belitung - (IV/A/2) - (IV/B/2) - (II/D/2) - (I/E/2) - pertanian - perkebunan - industri - pariwisata - perikanan

w

ww

g .l e

lita a

.or s

- pertanian - perkebunan - industri - pariwisata - perikanan - pariwisata - perikanan

g

Kawasan Andalan Laut Bangka dan sekitarnya - (III/F/2) - (I/E/2) - (II/F/2) 10 LAMPUNG Kawasan Bandar Lampung- Metro - (I/B/2) - (II/E/2) - (II/D/2) - (IV/A/2) - (IV/F/2)

- perkebunan - pariwisata - industri - pertanian - perikanan

www.legalitas.org

125

2008, No 48

NO

PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Mesuji dan sekitarnya - (II/A/2) - (IV/B/2) - (IV/D/2) Kawasan Kotabumi dan sekitarnya - (IV/A/2) - (II/B/2) - (II/F/2) Kawasan Liwa-Krui - (IV/A/2) - (III/B/2) - (III/F/2) Kawasan Andalan Laut Krakatau dan sekitarnya - (III/F/2) - (II/C/2) - (I/E/2)

SEKTOR UNGGULAN - pertanian - perkebunan - industri - pertanian - perkebunan - perikanan

- pertanian - perkebunan - perikanan laut

w

w. w

leg

lita a

g or s-. perikanan

- pertambangan - pariwisata

11 DAERAH KHUSUS JAKARTA - JAWA BARAT - BANTEN Kawasan Perkotaan Jakarta - (I/D/2) - (I/E/2) - (II/F/2) Kawasan Andalan Laut. Pulau Seribu - (I/F/2) - (I/C/2) - (II/E/2) - industri - pariwisata - perdagangan - jasa - perikanan - perikanan - pertambangan - pariwisata

(I/E/2) .(I/E/2) .(III/F/2) .or s g .perikanan .(II/A/2) .legalitas.(I/D/2) .pertambangan 13 JAWA BARAT g .(I/E/2) . No 48 126 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SEKTOR UNGGULAN 12 BANTEN Kawasan Bojonegara-Merak.(I/E/2) .pertanian .(II/F/2) .org 2008.pariwisata .(III/A/2) .(III/B/2) .industri .perikanan Kawasan Sukabumi dan sekitarnya .pertanian .perikanan .pertambangan .(II/F/2) lita a .(II/D/2) .pariwisata .(II/A/2) .(I/C/2) Kawasan Andalan Laut Krakatau dan sekitarnya .pariwisata .industri .www.Cilegon .l e Kawasan Bogor-Puncak-Cianjur ww (Bopunjur dan sekitarnya) w .perkebunan .(II/F/2) .(II/C/2) .pariwisata .pertanian .perikanan .

pertambangan Kawasan Priangan Timur-Pangandaran .(II/F/2) .pertanian .perikanan .(I/D/2) .industri .(II/A/2) .pertanian .(II/B/2) .(I/A/1) .perkebunan w w.pertanian .(I/E/2) . Karawang (Purwasuka) .industri .(I/C/2) SEKTOR UNGGULAN .org 127 2008.perikanan .legalitas. No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Purwakarta.pariwisata . industri .(I/F/2) .pariwisata .(II/E/2) .industri .(I/D/1) .(IV/D/2) .(II/F/2) Kawasan Cekungan Bandung .pertanian .(II/E/2) .(I/B/2) Kawasan Cirebon-IndramayuMajalengka-Kuningan (Ciayumaja Kuning) dan sekitarnya .pariwisata . w leg lita a g or s-.(II/A/2) .perkebunan .www.perikanan . Subang.(II/A/2) .(II/D/2) .

(I/D/2) .perikanan .(II/H/2) .perikanan .pertanian Rembang.(II/A/2) . Pati. No 48 128 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SEKTOR UNGGULAN 14 JAWA TENGAH Kawasan Surakarta. Kudus.(I/D/1) .industri .legalitas.pertanian ww le w.pariwisata .industri . Ungaran.perikanan . Wonogiri.industri . Blora (Wanarakuti) .kehutanan . Karanganyar.(II/A/2) .pertanian .(I/D/1) . Demak. Jepara.www.pertanian .pertambangan . g lita a .industri .(I/F/2) Kawasan Juwana.org 2008. Salatiga. Purwodadi) .pariwisata Sragen. Klaten (Subosuko-Wonosraten) .(I/E/2) .(I/F/2) .or s g . Boyolali. .(I/E/2) .(II/A/2) .(II/C/2) . Semarang. Sukoharjo.(II/A/2) Kawasan Kedung Sepur (Kendal.(II/D/1) .(I/F/2) Kawasan Bregas . .

No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Jawa Tengah Selatan (Purwokerto.pariwisata .(II/A/2) . Cilacap dan sekitarnya) .(II/D/1) .(II/F/2) .perikanan .(II/F/2) .pariwisata 15 DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Kawasan Yogyakarta dan sekitarnya .industri .legalitas. g lita a g or s-.org 129 2008.(III/E/2) ww le w.perikanan laut .(II/C/2) .perikanan dan sekitarnya .pariwisata .(I/C/2) .perikanan .(I/D/1) . pariwisata .www.(I/C/2) .pertambangan .pariwisata Kawasan Andalan Laut Karimun Jawa .(II/A/2) .pertanian .(III/E/2) .(I/E/2) SEKTOR UNGGULAN .pertambangan .pertambangan .industri .(III/E/2) Kawasan Andalan Laut Cilacap dan sekitarnya .(II/F/2) Kawasan Borobudur dan sekitarnya .(I/E/1) .pertanian . Kebumen.(I/F/2) .

pariwisata .perikanan .industri .pariwisata .(III/E/2) .(II/F/2) Kawasan Tuban-Bojonegoro . Lamongan (Gerbangkertosusila) . Sidoarjo.legalitas.(I/E/2) .pariwisata g .(II/B/2) .perikanan .pertanian . Mojokorto.(IV/E/2) .(II/E/2) Kawasan Malang dan sekitarnya .(I/D/2) .(II/A/2) .pertambangan .(III/A/2) .(II/F/2) .(III/B/) .(I/D/2) .(I/D/1) .perkebunan .(III/A/2) .perikanan .l e Kawasan Probolinggo-Pasuruanww Lumajang w .www.industri .pertanian .(II/D/1) .(III/B/2) .industri .(II/A/2) .perkebunan .perikanan .(II/C/2) .(II/F/2) . No 48 130 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SEKTOR UNGGULAN 16 JAWA TIMUR Kawasan Gresik.pertambangan .pariwisata . Bangkalan.pertanian . Surabaya.(II/C/2) lita a g or s-.(III/F/2) .pertanian .industri .org 2008.perkebunan .

pariwisata .(III/B/2) .Perikanan laut lita Kawasan Madiun dan sekitarnya a g .industri .perikanan .org 131 2008.industri .perikanan .(I/D/2) .legalitas. No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Kediri-Tulung Agung.(I/B/1) .(II/F/2) SEKTOR UNGGULAN .pariwisata .perkebunan .(II/D/2) w .(III/A/2) ww .www.(III/F/2) .(III/B/2) .(II /A/2) .(III/E/2) Kawasan Situbondo-BondowosoJember .perkebunan .(II/B/2) .pertanian .perkebunan .Blitar .pariwisata .(III /E/2) .perikanan .(III/F/2) .(II /D/1) .industri .l e .(III/E/2) Kawasan Banyuwangi dan sekitarnya .industri .perkebunan .pariwisata .(II/E/2) .(III/A/2) .pertanian .pertanian .(II/F/2) .pertanian .(III/A/2) .(II/D/2) .perikanan .or s g .(I/F/2) .(III/A/2) Kawasan Madura dan Kepulauan .pertanian .

(I/D/4) .(I/E/2) 18 NUSA TENGGARA BARAT Kawasan Lombok dan sekitarnya .(II/C/2) . pariwisata .pertanian .www.legalitas.industri .(I/F/2) .(II/F/2) .pariwisata . No 48 132 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Andalan Laut.pariwisata .perikanan .(I/F/2) .pariwisata 17 BALI Kawasan Singaraja dan sekitarnya (Bali Utara) .org 2008.(II/A/1) .pertambangan .(II/A/2) .(III/E/2) SEKTOR UNGGULAN .pertanian .pertanian .(I/E/2) .(I/A/2) .(II/A/2) .perikanan laut .pariwisata .perikanan .(I/E/2) .(II/C/2) .(II/F/2) Kawasan Denpasar-Ubud.(II/F/2) Kawasan Andalan Laut Bali dan sekitarnya .industri . w leg lita a g or s-.pertambangan .Kintamani (Bali Selatan) .(I/E/2) .perikanan w w. Madura dan sekitarnya .pertambangan .perikanan .(II/C/2) .

perikanan laut Kawasan Kupang dan sekitarnya .industri .(III/B/2) ww le w.pertanian .(IV/A/2) .pertanian .pariwisata .perkebunan .pertambangan .(II/E/2) . No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Bima .(II/E/2) .pariwisata .pertanian . pariwisata .www.perikanan laut .(II/D/2) .(III/D/2) .(III/C/2) Kawasan Maumere-Ende .perikanan .pariwisata .perikanan .industri . g lita a g or s-.(I/E/2) .industri .(III/A/2) .(III/H/2) .(II/E/2) .pertanian .(II/E/2) SEKTOR UNGGULAN .(IV/A/2) .(III/C/2) .(I/F/2) .(III/A/2) .(I/F/2) Kawasan Andalan Laut Selat Lombok dan sekitarnya .legalitas.(I/F/2) .pariwisata .(III/D/2) .industri .(I/F/2) Kawasan Sumbawa dan sekitarnya .pertambangan .kehutanan .perikanan 19 NUSA TENGGARA TIMUR .(III/D/2) .org 133 2008.(III/F/2) .

www.(II/F/2) .(IV/B/2) .(IV/A/2) . Flores . pertanian .org 2008. w leg lita a g or s-.perikanan .(II/E/2) .(II/F/2) .perikanan .(III/B/2) .perikanan .pertanian .industri . Sawu-Sumba dan sekitarnya .(IV/A/2) .pariwisata .(I/E/2) .(IV/C/2) .pariwisata .(II/E/2) Kawasan Andalan Laut.perikanan .pariwisata .(IV/B/2) .perkebunan . No 48 134 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Komodo dan sekitarnya . Sumba dan sekitarnya .(IV/E/2) SEKTOR UNGGULAN .(IV/D/2) .pertambangan .perikanan .pariwisata Kawasan Andalan Laut.pariwisata .perkebunan .pertanian w w.(III /F/2) Kawasan Ruteng – Bajawa .(IV/A/2) Kawasan Sumba .legalitas.pariwisata .pertambangan .(II/E/2) .(III/F/2) .(II/E/2) Kawasan Andalan Laut.(III/F/2) .(III/C/2) .perkebunan .

perikanan .(II/B/2) Kawasan Sanggau .perikanan .perikanan .pertanian .Pariwisata w ww g .(III/A/2) . No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SEKTOR UNGGULAN 20 KALIMANTAN BARAT Kawasan Pontianak dan sekitarnya .pertanian .(II/E/2) Kawasan Singkawang dan sekitarnya .(I/B/2) .perkebunan .perkebunan .legalitas.(II/F/2) .(II/D/2) .(II/H/2) Kawasan Kapuas Hulu dan sekitarnya .or s .(III/D/2) .www.industri .kehutanan g .l e lita a .(I/B/2) .perkebunan .(II/F/2) Kawasan Ketapang dan sekitarnya .(I/F/2) .pertanian (III/A/2) .perkebunan .perikanan .industri .pertanian .kehutanan .org 135 2008.pertanian .(II/H/2) .(II/A/2) .(I/H/2) .(I/D/2) .(I/B/2) .(III/A/2) .(II/F/2) .kehutanan .(II/A/2) .industri .

kehutanan .(II/E/2) Kawasan Andalan Laut Ketapang dan sekitarnya .org 2008. w leg lita a g or s-.industri .perikanan .(II/E/2) Kawasan Buntok .pertambangan .(II/B/2) .legalitas.(II/E/2) SEKTOR UNGGULAN .(II/B/2) .www.(III/A/2) .pertanian . No 48 136 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Andalan Laut Pontianak dan sekitarnya .perkebunan .(III/E/2) Kawasan Muarateweh .(II/H/2) .(III/A/2) .pariwisata .kehutanan .kehutanan .pertanian .pariwisata .(II/H/2) .perkebunan .(III/A/2) .(III/H/2) .Pangkalan Bun .(III/F/2) .(II/D/2) . perkebunan .(I/B/2) .(II/F/2) .pariwisata 21 KALIMANTAN TENGAH Kawasan Sampit .pertanian .(III/F/2) .perikanan .(III/C/2) .perikanan .pariwisata w w.

perikanan . perkebunan .(III/A/2) .perkebunan .(II/B/2) .(III/B/2) .www.(III/A/2) g .pertanian .(I/F/2) .pertambangan .pertanian .org 137 2008.(II/H/2) .(II/B/2) .kehutanan .pariwisata 22 KALIMANTAN SELATAN Kawasan Kandangan dan sekitarnya .l e lita a g or s-. No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Kuala Kapuas .pertanian .(II/B/2) .(III/E/2) SEKTOR UNGGULAN .(II/E/2) .(II/D/2) .perikanan .perikanan .(II/F/2) .(III/F/2) Kawasan Andalan Laut Kuala Pembuang .(II/C/2) .perikanan .industri .(III/E/2) ww dan Kawasan Banjarmasin Raya w sekitarnya .industri .(III/A/2) .(III/A/2) .(I/D/2) .(I/F/2) Kawasan Batulicin .pertanian .pariwisata .legalitas.pariwisata .(I/H/2) .perkebunan .(II/E/2) .kehutanan .pariwisata .perkebunan .

(III/B/2) .industri .(III/E/2) Kawasan Tatapanbuma dan sekitarnya .(II/B/2) .pertambangan .industri .(I/C/2) .(I/E/2) .(II/H/2) .(II/C/2) SEKTOR UNGGULAN .perkebunan .org 2008.(II/F/2) .perikanan . No 48 138 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Andalan Laut Pulau Laut .pariwisata .perikanan w ww g .(II/F/2) Kawasan Sasemawa .(I/C/2) .industri .(III/E/2) .kehutanan .perkebunan .kehutanan .or s .l e lita a .(II/F/2) .(I/C/2) .pariwisata .www.(II/H/2) .perikanan .(I/D/2) .(II/D/2) .(I/D/2) .(II/F/2) .perikanan .pertambangan .(II/H/2) .perikanan laut .legalitas.kehutanan .(II/F/2) .pertambangan 23 KALIMANTAN TIMUR Kawasan Tanjung Redeb dan sekitarnya .pariwisata g .pertambangan .

www.pertambangan .perikanan .perikanan .(I/A/2) .pariwisata Kawasan Andalan Laut Tomini dan sekitarnya .(I/F/2) ww le w.(III/C/2) Kawasan Marisa .(II/B/2) .(II/H/2) .(I/D/2) .pariwisata 24 GORONTALO Kawasan Gorontalo .org 139 2008.pertanian .(III/E/2) .(I/B/2) .perikanan .legalitas. No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Bontang-Samarinda sekitarnya (Bonsamtebajam) .perkebunan .(I/C/2) .pertambangan .(II/F/2) . g lita a .(I/F/2) .(II/B/2) .(II/F/2) .(III/E/2) SEKTOR UNGGULAN .(II/F/2) .perikanan .pertambangan .pariwisata Tenggarong.(III/E/2) Kawasan Andalan Laut BontangTarakan dan sekitarnya .industri .or s g .pertanian .(I/C/2) . Balikpapan Penajam dan .kehutanan .perikanan .perkebunan .(III/A/2) .perkebunan .

(II/E/1) .(III/F/2) .(III/F/2) .(III/E/2) 26 SULAWESI TENGAH Kawasan Poso dan sekitarnya .perikanan .(II/A/2) . Bunaken dan sekitarnya .(II/D/2) .pertanian .www.(II/C/2) Kawasan Dumoga-Kotamobagu dan sekitarnya (Bolaang Mongondow2) .industri .(IV/A/2) . No 48 140 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SEKTOR UNGGULAN 25 SULAWESI UTARA Kawasan Manado dan sekitarnya (I/F/2) .pertambangan .(II/B/2) .perkebunan .org 2008.(III/D/2) ww le w.(II/F/2) .perikanan laut .pariwisata .(I/F/2) Kawasan Andalan Laut.pariwisata .perkebunan .pertanian .perikanan .perikanan . g lita a .pariwisata g .(II/C/2) .(I/E/2) .industri .or s .(I/E/2) .pariwisata .perikanan .(II/B/2) .legalitas. Batutoli dan sekitarnya .pertambangan Kawasan Andalan Laut.

(III/A/2) .(II/E/2) ww le w.(III/E/2) Kawasan Kolonedale dan sekitarnya .industri .pertanian .(III/E/2) .or s . g lita a .perikanan .agroindustri .www. No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Toli-toli dan sekitarnya .perikanan .org 141 2008.(II/D/2) .pertambangan .perkebunan .pariwisata Kawasan Palu dan sekitarnya .(II/F/2) .(I/A/2) .(III/F/2) .perikanan .pertanian .pertambangan g .(III/E/2) .legalitas.(II/F/2) .(III/A/2) .(II/B/2) .pariwisata Kawasan Andalan Laut Teluk ToloKepulauan Banggai dan sekitarnya .pariwisata .(II/D/2) .pertambangan .(III/C/2) SEKTOR UNGGULAN .(I/F/2) .pariwisata .(II/B/2) .(III/B/2) .(II/C/2) .pertanian .perikanan .perkebunan .(I/C/2) .perkebunan .

(I/E/2) .www.(II/F/2) .pertanian .(IV/E/2) .org 2008.(II/A/2) .(II/B/2) .pariwisata .agroindustri .(II/E/2) .pertambangan .agroindustri .pariwisata Kawasan Bulukumba-Watampone . No 48 142 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SEKTOR UNGGULAN 27 SULAWESI SELATAN Kawasan Mamminasata dan sekitarnya .(II/D/2) .(I/E/2) .legalitas.l e lita a .(I/D/2) .or s g .agroindustri .perdagangan .pariwisata (Makassar.industri .(II/D/2) .perikanan . Sungguminasa (Gowa).(II/F/2) Kawasan Palopo dan sekitarnya .(I/F/2) Kawasan Pare-Pare dan sekitarnya . Maros. Takalar) .perkebunan .(III/A/2) .perkebunan .perikanan .perikanan w ww g .pertanian .perikanan .(III/B/2) Kawasan Andalan Laut Kapoposang dan sekitarnya .(III/F/2) .(I/F/2) .(II/A/2) .pertanian .pariwisata .(I/D/2) .pertanian .perikanan .(II/A/2) .perkebunan .(IV/C/2) .(II/B/2) .

perikanan .pariwisata Kawasan Andalan Laut Selat Makassar .(III/A/2) .www.perikanan .(I/B/2) .(II/F/2) 29 SULAWESI TENGGARA Kawasan Asesolo/Kendari .or s .(II/H/2) .perikanan .(I/F/2) .(III/C/2) .(II/F/2) .pertambangan .(III/D/2) .(II/E/2) Kawasan Andalan Laut SingkarangTakabonerate dan sekitarnya .kehutanan .(IV/C/2) .(II/D/2) .perkebunan .agroindustri .(III/E/2) SEKTOR UNGGULAN .(II/A/2) .pertambangan .(IV/F/2) .industri .perkebunan .org 143 2008.pertambangan .(IV/C/2) . No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Andalan Laut Teluk Bone dan sekitarnya .l e Kawasan Mamuju dan sekitarnya ww .(I/B/2) w lita a .pertanian .perikanan .pariwisata .agroindustri .(II/F/2) .pariwisata g .(II/E/2) 28 SULAWESI BARAT g .legalitas.perikanan .(III/E/2) .pertanian .(III/D/2) .pariwisata .

(III/F/2) .(II/B/2) .pariwisata .pariwisata w ww g .(III/B/2) .(II/D/2) .(II/C/2) .(IV/E/2) SEKTOR UNGGULAN .(III/C/2) .pertambangan .perkebunan .pariwisata .(III/E/2) Kawasan Andalan Laut Tiworo dan sekitarnya .pertambangan .(III/E/2) Kawasan Mowedong /Kolaka .perkebunan .perikanan .pertanian .(III/F/2) .(III/C/2) .perikanan .perikanan .(IV/H/2) .(III/D/2) . No 48 144 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Kapolimu-Patikala Muna – Buton .org 2008.pertanian .kehutanan .www.(III/F/2) .(III/A/2) Kawasan Andalan Laut Asera Lasolo .(III/F/2) .legalitas.pariwisata g .l e lita a .(III/E/2) Kawasan Andalan Laut KapontoriLasalimu dan sekitarnya .pertambangan .(II/F/2) .pertambangan .agroindustri .(I/C/2) .(III/A/2) .agroindustri .perikanan .perikanan .or s .

kehutanan .perikanan .kehutanan .(III/A/2) .(II/B/2) .P.perikanan .P.pertanian . g lita a rg oindustri s-. .perkebunan .pertanian .(I/F/2) . No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SEKTOR UNGGULAN 30 MALUKU Kawasan Seram .(II/F/2) .pertambangan .(II/H/2) . Tanimbar .pariwisata ww le w.(IV/B/2) .(II/D/2) Kawasan Buru .www.(I/E/2) Kawasan Kei-Aru.pertambangan .(III/A/2) .(I/F/2) .legalitas.pertanian .perikanan .(III/A/2) .perkebunan .perikanan .(III/F/2) .perkebunan .pariwisata .(II/E/2) Kawasan Andalan Laut Banda dan sekitarnya .(III/H/2) .pariwisata . Wetar.(I/F/2) .(III/C/2) .(II/B/2) .perikanan laut .(I/E/2) Kawasan Andalan Laut Arafuru dan sekitarnya .pariwisata .(II/E/2) .(III/C/2) .org 145 2008.

(III/C/2) .perkebunan .pertanian .perkebunan .pariwisata w ww g . Sula .pertambangan .(II/D/2) .(II/F/2) .(II/F/2) .(III/E/2) 32 PAPUA BARAT Kawasan Bintuni .(III/B/2) .pertambangan .perikanan .perkebunan .(II/E/2) Kawasan Bacan -Halmahera Selatan . Weda dan sekitarnya . No 48 146 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SEKTOR UNGGULAN 31 MALUKU UTARA Kawasan Ternate.www.(III/C/2) .(I/F/2) .l e lita a .(III/H/2) .(III/A/2) Kawasan Kep.(III/B/2) . Tidore.(I/C/2) .kehutanan . Sofifi.pertambangan . Sidangoli.(II/F/2) Kawasan Andalan Laut Halmahera dan .perkebunan .(III/A/2) .(II/C/2) .pertanian .perikanan g .(II/B/2) .perikanan laut sekitarnya .perikanan laut .legalitas.org 2008.(III/B/2) .industri .industri .or s .pertambangan .pariwisata .(III/D/2) .

(II/D/2) Kawasan Andalan Laut Raja Ampat Bintuni .industri .www. perikanan .(II/H/2) .pertambangan .pertambangan .perikanan laut .(I/F/2) .perikanan .pertambangan .(II/E/2) SEKTOR UNGGULAN .(II/C/2) Kawasan Sorong dan sekitarnya .org 147 2008.pertanian .pertambangan .(I/C/2) . w leg lita a g or s-.industri .pertanian .(II/D/2) .pariwisata .(III/A/2) .(III/B/2) .industri w w.(III/B/2) . No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Fak-Fak (Bomberai) dan sekitarnya .(III/F/2) .(II/H/2) .(I/F/2) .(I/C/2) .pariwisata 33 PAPUA Kawasan Timika (Tembagapura) dan sekitarnya .(III/E/2) .(I/C/2) .perkebunan .kehutanan .perikanan .perkebunan .kehutanan .(II/D/2) .(I/F/2) .(IV/A/2) .legalitas.

(II/F/2) .(I/E/2) .perikanan .(III/B/2) SEKTOR UNGGULAN .(I/H/2) .pertanian .(II/D/2) .org 2008.industri .perkebunan .www.pertambangan .(III/C/2) .(IV/B/2) .(III/D/2) .(III/D/2) .(II/H/2) .kehutanan .perkebunan . Legare) .kehutanan .(I/C/2) .(II/B/2) .(IV/B/2) . No 48 148 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Biak .perkebunan .(II/B/2) .(I/F/2) . industri .(III/H/2) Kawasan Nabire dan sekitarnya (Aran Moswaren.pertanian .(III/F/2) Kawasan Wamena dan sekitarnya .pertambangan .(II/A/2) Kawasan Memberamo-Lereh (Jayapura) dan sekitarnya .kehutanan .perkebunan .industri .(IV/C/2) Kawasan Merauke dan sekitarnya .legalitas. w leg lita a g or s-.pertanian .pariwisata .(III/A/2) .(IV/A/2) .perikanan .pertanian .pertambangan w w.perikanan .(I/A/2) .perkebunan .

(II/F/2) .(II/F/2) .perikanan .perikanan .pariwisata .l e lita a Kawasan .(II/E/2) SEKTOR UNGGULAN .www.pariwisata Keterangan: I – IV: Tahapan Pengembangan A : Pengembangan dan Pengendalian Pertanian w wAndalan untuk Pertanian Pangan Abadi w A/1 : Pengendalian Kawasan A/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Pertanian B : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Andalan untuk Perkebunan B/1 : Rehabilitasi Kawasan Andalan untuk Perkebunan B/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Perkebunan C : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Andalan untuk sektor g .or s g Andalan untuk Sektor Pertambangan C/1 : Rehabilitasi Kawasan Andalan untuk Pertambangan C/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Pertambangan D : Rehabilitasi dan Pengembangan pengolahan D/1 : Rehabilitasi Kawasan Andalan untuk Industri Pengolahan D/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Industri Pengolahan Kawasan Andalan untuk industri .pertambangan .(III/C/2) .(II/E/2) Kawasan Andalan Laut Jayapura – Sarmi .org 149 2008. No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Andalan Laut Teluk Cendrawasih – Biak dan sekitarnya .legalitas.

SUSILO BAMBANG YUDHOYONO .l e lita a . No 48 150 E : Rehabilitasi Pariwisata dan Pengembangan Kawasan Andalan untuk sektor E/1 : Rehabilitasi Kawasan Andalan untuk Pariwisata E/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Pariwisata F : Rehabilitasi Perikanan F/1 : Rehabilitasi Kawasan Andalan untuk Perikanan F/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Perikanan G : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Andalan untuk sektor Kelautan G/1 : Rehabilitasi Kawasan Andalan untuk Kelautan G/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Kelautan H : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Andalan untuk Kehutanan H/1 : Rehabilitasi Kawasan Andalan untuk Kehutanan H/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Kehutanan dan Pengembangan Kawasan Andalan untuk sektor ww w g .or s g PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. DR. H.org 2008.legalitas.www.

Kawasan Batam. Kawasan Perbatasan Laut RI termasuk 20 pulau kecil terluar dengan negara Semenanjung Malaysia/Vietnam/Singapura (Provinsi Riau dan Kepulauan Riau) (I/D/2) 12.legalitas.www. 2. Bintan. 3. 9.or s g 10. 8. 5. Kawasan Industri Lhokseumawe (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) (I/A/2) Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) (I/A/2) Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Banda Aceh Darussalam (Provinsi Nanggroe Aceh Darusalam) (I/A/2) Kawasan Ekosistem Leuser (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) (I/B/1) Kawasan Perbatasan Laut RI termasuk 2 pulau kecil terluar dengan negara India/Thailand/Semenanjung Malaysia (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara) (I/E/2) 6. Kawasan Lingkungan Hidup Taman Nasional Kerinci Seblat (Provinsi Jambi) (I/B/1) . 7. Kawasan Hutan Lindung Mahato (Provinsi Riau) (I/B/1) 11. 4. Kawasan Perkotaan Medan – Binjai – Deli Serdang – Karo (Mebidangro) (Provinsi Sumatera Utara) (I/A/1) Kawasan Danau Toba dan Sekitarnya (Provinsi Sumatera Utara) (I/B/1) Kawasan Stasiun Pengamat Dirgantara Kototabang (Provinsi Sumatera Barat) (I/D/2) Kawasan Hutan Lindung Bukit Batabuh (Perbatasan Provinsi RiauSumatera Barat) (I/B/1) ww le w. g lita a . No 48 LAMPIRAN X PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 26 TAHUN 2008 TANGGAL : 10 MARET 2008 PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS NASIONAL 1.org 151 2008. dan Karimun (Provinsi Kepulauan Riau) (I/A/2) 13.

Banten. Kawasan Fasilitas Pengolahan Data Digital/Paperprint dan Satelit (Provinsi DKI Jakarta) (I/D/2) 19. Kawasan Stasiun Bumi Penerima Satelit Mikro (Provinsi Jawa Barat) (I/D/2) 26. Kawasan Fasilitas Uji Terbang Roket Pamengpeuk (Provinsi Jawa Barat) (I/D/1) 22. Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta) (I/B/1) 31.org 2008.www. Kawasan Candi Prambanan (Provinsi Jawa Tengah) (I/B/2) 30. Kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (Provinsi Jambi-Riau) (I/B/1) 16. Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (Provinsi Banten) (I/B/1) g . Kawasan Taman Nasional Berbak (Provinsi Jambi) (I/B/1) 15.legalitas. Kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas (Provinsi Jambi) (I/B/1) 17. Kawasan Borobudur dan Sekitarnya (Provinsi Jawa Tengah) (I/B/2) 29. No 48 152 14. Kawasan Stasiun Pengamat Dirgantara Tanjung Sari (Provinsi Jawa Barat) 24. Kawasan Stasiun Pengamat Dirgantara Watukosek (Provinsi Jawa Timur) (I/D/2) 33. Kawasan Instalasi Lingkungan dan Cuaca (Provinsi DKI Jakarta) (I/D/2) 18. dan Jawa Barat) (I/A/1) 20.or s g . Kawasan Perkotaan Jabodetabek-Punjur termasuk Kepulauan Seribu (Provinsi DKI Jakarta. 25.le Jawa Barat) (I/D/2) Kawasan Stasiun Telecomand (Provinsi ww w (I/D/2) lita a . Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung (Provinsi Jawa Barat) (I/A/1) 21. Kawasan Perkotaan Kendal – Demak – Ungaran – Salatiga – Semarang Purwodadi (Kedung Sepur) (Provinsi Jawa Tengah) (I/A/1) 28. Kawasan Pangandaran – Kalipuncang – Segara Anakan – Nusakambangan (Pacangsanak) (Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah) (I/B/1) 27. Kawasan Stasiun Pengamat Dirgantara Pamengpeuk (Provinsi Jawa Barat) (I/D/2) 23. Kawasan Perkotaan Gresik – Bangkalan – Mojokerto – Surabaya – Sidoarjo – Lamongan (Gerbangkertosusila) (Provinsi Jawa Timur) (I/A/1) 32.

43. No 48 34. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Samarinda. Kawasan Perkotaan Denpasar – Badung – Gianyar .or s g Khatulistiwa (Provinsi 44. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Bima (Provinsi Nusa Tenggara Barat) (I/A/2) 36. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Batulicin (Provinsi Kalimantan Selatan) (I/A/2) 48. Kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (Provinsi Kalimantan Tengah) (I/B/1) 47.Tabanan (Sarbagita) (Provinsi Bali) (I/A/1) 35. Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (Provinsi Kalimantan Barat) ww Kalimantan Barat) (I/A/2) (I/B/1) (Provinsi Kalimantan Barat. lita Kawasan Stasiun Pengamat Dirgantara Pontianak (Provinsi Kalimantan ga le Barat) (I/D/2) w. Sanga-sanga. Kawasan Taman Nasional Komodo (Provinsi Nusa Tenggara Barat) (I/B/1) 37. Kawasan Perbatasan Darat RI dan Jantung Kalimantan (Heart of Borneo) 45.www. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Daerah Aliran Sungai Kahayan Kapuas dan Barito (Provinsi Kalimantan Tengah) (I/A/2) 46. Kawasan Perbatasan Darat RI dengan negara Timor Leste (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (I/E/2) 40.legalitas. Kawasan Perbatasan Laut RI termasuk 5 pulau kecil terluar dengan negara Timor Leste/Australia (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (I/E/2) 41. Kalimantan Timur. Balikpapan (Provinsi Kalimantan Timur) (I/A/2) . Muara Jawa.org 153 2008. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Mbay (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (I/A/2) 39. Kawasan Gunung Rinjani (Provinsi Nusa Tenggara Barat) (I/B/1) 38. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu 42. dan Kalimantan Tengah) (I/E/2) .

dan Kendari (Provinsi Sulawesi Tenggara) (I/A/2) 62. Kawasan Kritis Lingkungan Balingara (Provinsi Sulawesi Tengah) (I/B/1) 55. Kawasan Konservasi dan Wisata Daerah Aliran Sungai Tondano (Provinsi Sulawesi Utara) (I/B/1) 52.le Terpadu Ekonomi ww w lita a . Kawasan Laut Banda (Provinsi Maluku) (I/D/1) 65. Kawasan Perbatasan Laut RI termasuk 18 pulau terluar dengan negara Malaysia dan Philipina (Provinsi Kalimantan Timur. Kawasan Soroako dan Sekitarnya (Provinsi Sulawesi Selatan) (I/D/2) 61.legalitas.www. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Buton. Kawasan Poso dan Sekitarnya (Provinsi Sulawesi Tengah) (I/C/1) 54.or s – g Sungguminasa - Takalar 58.Watumohai dan Rawa Tinondo (Provinsi Sulawesi Tenggara) (I/B/1) 63. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Manado – Bitung (Provinsi Sulawesi Utara) (I/A/2) 51. Kawasan Kritis Lingkungan Buol-Lambunu (Provinsi Sulawesi Tengah) (I/B/1) 56. Kawasan Stasiun Bumi Sumber Alam Parepare (Provinsi Sulawesi Selatan) (I/D/2) 60. Kolaka. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Batui (Provinsi Sulawesi Tengah) (I/A/2) 53. Kawasan Perkotaan Makassar – Maros (Mamminasata) (Provinsi Sulawesi Selatan) (I/A/1) 57. No 48 154 49. Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara) (I/E/2) 50. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Seram (Provinsi Maluku) (I/A/2) 64. Kawasan Perbatasan Laut RI termasuk 20 pulau kecil terluar dengan negara Timor Leste/Australia (Provinsi Maluku dan Papua) (I/E/2) . Kawasan Pengembangan Selatan) (I/A/2) Parepare (Provinsi Sulawesi g . Kawasan Toraja dan Sekitarnya (Provinsi Sulawesi Selatan) (I/C/1) 59.org 2008. Kawasan Taman Nasional Rawa Aopa .

org 155 2008. Jawa Timur. Kawasan Stasiun Bumi Satelit Cuaca dan Lingkungan (Provinsi Papua) (I/D/2) 70. Kawasan Konservasi Keanekaragaman Hayati Raja Ampat (Provinsi Papua Barat) (I/B/1) 68. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Biak (Provinsi Papua) (I/A/2) 69. Kawasan Konservasi Keanekaragaman Hayati Teluk Bintuni (Provinsi Papua) (I/B/1) 74. Kawasan Perbatasan Darat RI dengan negara Papua Nugini (Provinsi Papua) (I/E/2) 75.or s g Sumatera Utara. Kawasan Perbatasan berhadapan dengan g . Kawasan Taman Nasional Lorentz (Provinsi Papua) (I/B/1) 73. No 48 66. Jawa Tengah. Kawasan Stasiun Telemetry Tracking and Command Wahana Peluncur Satelit (Provinsi Papua) (I/D/2) 71.l e Negara w termasuk 19 pulau kecil terluar yang laut lepas (Provinsi Nanggroe Aceh Darusalam. Banten. Papua Barat. dan Nusa Tenggara Barat) (I/E/2) Keterangan: I – IV : Tahapan Pengembangan A : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Strategis Nasional Dengan Sudut Kepentingan Ekonomi A/1 : Rehabilitasi/Revitalisasi Kawasan A/2 : Pengembangan/Peningkatan kualitas kawasan B : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Strategis Nasional Dengan Sudut Kepentingan Lingkungan Hidup B/1 : Rehabilitasi/Revitalisasi Kawasan B/2 : Pengembangan/Peningkatan kualitas kawasan .www. ww lita a . Lampung. Kawasan Perbatasan Laut RI termasuk 8 pulau kecil terluar dengan negara Palau (Provinsi Maluku Utara. Jawa Barat. Sumatera Barat. Kawasan Timika (Provinsi Papua) (I/D/2) 72. Bengkulu.legalitas. dan Papua) (I/E/2) 67.

ww le w.or s g DR.legalitas. No 48 156 C : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Strategis Nasional Dengan Sudut Kepentingan Sosial Budaya C/1 : Rehabilitasi/Revitalisasi Kawasan C/2 : Pengembangan/Peningkatan kualitas kawasan D : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Strategis Nasional Dengan Sudut Kepentingan Pendayagunaan Sumberdaya alam dan Teknologi Tinggi D/1 : Rehabilitasi/Revitalisasi Kawasan D/2 : Pengembangan/Peningkatan kualitas kawasan E : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan strategis nasional dengan Sudut Kepentingan Pertahanan dan Keamanan E/1 : Rehabilitasi/Revitalisasi Kawasan E/2 : Pengembangan/Peningkatan kualitas kawasan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO .www. g lita a . H.org 2008.

g lita a .www. No 48 ww le w.or s g .org 157 2008.legalitas.

No 48 158 ww le w.www.org 2008.legalitas. g lita a .or s g .

g lita a .www. No 48 ww le w.org 159 2008.or s g .legalitas.

legalitas. No 48 160 ww le w. g lita a .www.or s g .org 2008.

g lita a .www.legalitas.or s g .org 161 2008. No 48 ww le w.

or s g .www.legalitas. g lita a .org 2008. No 48 162 ww le w.

legalitas.www. g lita a .org 163 2008. No 48 ww le w.or s g .

org 2008.legalitas.or s g . No 48 164 ww le w.www. g lita a .

No 48 ww le w.or s g .org 165 2008.www.legalitas. g lita a .

www. No 48 166 ww le w.or s g . g lita a .legalitas.org 2008.

legalitas.or s g . g lita a . No 48 ww le w.www.org 167 2008.

legalitas. g lita a .org 2008.or s g .www. No 48 168 ww le w.

org 169 2008.or s g .legalitas.www. No 48 ww le w. g lita a .

No 48 170 ww le w.legalitas.org 2008.www.or s g . g lita a .

g lita a .legalitas.www.org 171 2008. No 48 ww le w.or s g .

or s g .legalitas.www. g lita a .org 2008. No 48 172 ww le w.

g lita a .www.or s g . No 48 ww le w.legalitas.org 173 2008.

or s g .org 2008.www. g lita a .legalitas. No 48 174 ww le w.

www.org 175 2008.or s g . g lita a . No 48 ww le w.legalitas.

or s g .legalitas.org 2008.www. g lita a . No 48 176 ww le w.

No 48 ww le w.legalitas.www.org 177 2008. g lita a .or s g .

g lita a .www.legalitas. No 48 178 ww le w.org 2008.or s g .

or s g . No 48 ww le w.www.legalitas. g lita a .org 179 2008.

or s g .www. g lita a .legalitas.org 2008. No 48 180 ww le w.

or s g . g lita a .org 181 2008.legalitas.www. No 48 ww le w.

legalitas. g lita a . No 48 182 ww le w.org 2008.or s g .www.

legalitas. g lita a .org 183 2008. No 48 ww le w.www.or s g .

No 48 184 ww le w.or s g .www. g lita a .org 2008.legalitas.

or s g .org 185 2008. g lita a .legalitas. No 48 ww le w.www.

g lita a .or s g .org 2008. No 48 186 ww le w.www.legalitas.

or s g .org 187 2008. g lita a .legalitas. No 48 ww le w.www.

No 48 188 ww le w.legalitas.www.org 2008. g lita a .or s g .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->