www.legalitas.

org

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No.48, 2008 PEMERINTAHAN. WILAYAH NASIONAL. Pemda. Pengawasan. Pemanfaatan. Pengendalian. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833)

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA

ta s TENTANG ali RENCANA TATA RUANGg .le WILAYAH NASIONAL ww DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA w
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 20 ayat (6) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional; 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL.

NOMOR 26 TAHUN 2008 .o

rg

Mengingat

:

www.legalitas.org

2008, No 48

2

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional yang selanjutnya disebut RTRWN adalah arahan kebijakan dan strategi pemanfaatan ruang wilayah negara. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya. Tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang. Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. rg

2.

3. 4. 5. 6.

7.

s.o tata ruang. Rencana tata ruang adalah hasil perencanaan lita Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta ga e segenap unsur terkait yang w.l dan sistemnya ditentukan berdasarkan batas aspek administratif dan/atau aspek fungsional. ww

Wilayah nasional adalah seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi berdasarkan peraturan perundangundangan. Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budi daya. Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. Kawasan budi daya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan. Kawasan andalan adalah bagian dari kawasan budi daya, baik di ruang darat maupun ruang laut yang pengembangannya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan tersebut dan kawasan di sekitarnya.

8. 9.

10.

11.

www.legalitas.org

3

2008, No 48

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18. 19.

20.

21.

Kawasan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Kawasan perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Kawasan metropolitan adalah kawasan perkotaan yang terdiri atas sebuah kawasan perkotaan yang berdiri sendiri atau kawasan perkotaan g inti dengan kawasan perkotaan di sekitarnya yang saling memiliki or dengan sistem jaringan . keterkaitan fungsional yang dihubungkan as jumlah penduduk secara prasarana wilayah yang terintegrasilit a dengan juta) jiwa. keseluruhan sekurang-kurangnya g le 1.000.000 (satu .kawasan yang terbentuk dari 2 (dua) atau Kawasan megapolitan adalah wwyang memiliki hubungan fungsional dan lebih kawasan metropolitan w membentuk sebuah sistem. Kawasan strategis nasional adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang ditetapkan sebagai warisan dunia. Kawasan pertahanan negara adalah wilayah yang ditetapkan secara nasional yang digunakan untuk kepentingan pertahanan. Pusat Kegiatan Nasional yang selanjutnya disebut PKN adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala internasional, nasional, atau beberapa provinsi. Pusat Kegiatan Wilayah yang selanjutnya disebut PKW adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala provinsi atau beberapa kabupaten/kota. Pusat Kegiatan Lokal yang selanjutnya disebut PKL adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kabupaten/kota atau beberapa kecamatan.

Bupati atau Walikota. selanjutnya disebut Pemerintah. yang berfungsi menampung. dan air di atasnya dengan batas terluar 200 (dua ratus) mil laut diukur dari garis pangkal laut wilayah Indonesia. 24. Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok. 26 t ali yang selanjutnya disebut ZEE g Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia . yang penggunaannya lebih bersifat terbuka. Peraturan zonasi adalah ketentuan yang mengatur tentang persyaratan pemanfaatan ruang dan ketentuan pengendaliannya dan disusun untuk setiap blok/zona peruntukan yang penetapan zonanya dalam rencana rinci tata ruang. as 23.www.000 km2. tempat g tumbuh tanaman. 27. yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan. 25. adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. menyimpan. Daerah aliran sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya.legalitas. Menteri adalah menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang penataan ruang.le dan berbatasan dengan laut wilayah Indonesia adalah jalur di w luar w Indonesia sebagaimanawditetapkan berdasarkan undang-undang yang berlaku tentang perairan Indonesia yang meliputi dasar laut. Pemerintah daerah adalah Gubernur. Pusat Kegiatan Strategis Nasional yang selanjutnya disebut PKSN adalah kawasan perkotaan yang ditetapkan untuk mendorong pengembangan kawasan perbatasan negara. 30. 28. Wilayah sungai adalah kesatuan wilayah pengelolaan sumber daya air dalam satu atau lebih daerah aliran sungai dan/atau pulau-pulau kecil yang luasnya kurang dari atau sama dengan 2. No 48 4 22.org 2008. . dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami. 29. tanah di bawahnya. baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang or . sengaja ditanam. Pemerintah pusat.

pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. penyusunan rencana pembangunan jangka menengah nasional. provinsi.legalitas. keharmonisan antara lingkungan alam tas lingkungan buatan. RTRWN menjadi pedoman untuk: a. c. adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. keterpaduan pemanfaatan w termasuk ruang di dalam bumi dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan ali keterpaduan perencanaan tata ruang wilayah nasional. nyaman. b. No 48 31. BAB II TUJUAN. d. selanjutnya disebut daerah. keseimbangan dan keserasian perkembangan antarwilayah. dan kabupaten/kota dalam rangka pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang. dan e. dan g kabupaten/kota. KEBIJAKAN. g. keterpaduan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional. . dan ruang udara. Daerah otonom. DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH NASIONAL Bagian Kesatu Tujuan Penataan Ruang Wilayah Nasional Pasal 2 Penataan ruang wilayah nasional bertujuan untuk mewujudkan: a.l e w wruang darat. produktif. provinsi. dan pertahanan dan keamanan negara yang dinamis serta integrasi nasional. . h.www. Pasal 3 f. ruang wilayah berkelanjutan. penyusunan rencana pembangunan jangka panjang nasional. nasional yang aman. b. ruang laut. g or . keseimbangan dan keserasian kegiatan antarsektor. i.org 5 2008.

le dan berhierarki.legalitas. penataan ruang kawasan strategis nasional. Pasal 5 (1) Kebijakan pengembangan struktur ruangssebagaimana dimaksud dalam . f. mengembangkan pusat pertumbuhan baru di kawasan yang belum terlayani oleh pusat pertumbuhan. serta keserasian antarsektor.www. antara kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan. (2) Strategi untuk peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan ekonomi wilayah meliputi: a. dan sumber daya air yang terpadu dan merata di seluruh wilayah nasional. d. (3) Strategi untuk peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana meliputi: . g.o Pasal 4 meliputi: lita a. keterkaitan. w peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi. pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah nasional. dan keseimbangan perkembangan antarwilayah provinsi. dan mendorong kawasan perkotaan dan pusat pertumbuhan agar lebih kompetitif dan lebih efektif dalam pengembangan wilayah di sekitarnya. pewujudan keterpaduan. rg g peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan . e. d. penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi. energi. mengendalikan perkembangan kota-kota pantai. dan ekonomi wilayah yang merata w w a b. dan penataan ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota. No 48 6 c. b.org 2008. c. telekomunikasi. menjaga keterkaitan antarkawasan perkotaan. serta antara kawasan perkotaan dan wilayah di sekitarnya. Bagian Kedua Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Wilayah Nasional Pasal 4 Kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah nasional meliputi kebijakan dan strategi pengembangan struktur ruang dan pola ruang.

Pasal 6 d. (2) Strategi untuk pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup meliputi: a. ww kebijakan dan strategi pengembangan kawasan strategis nasional. dan w. g Kebijakan dan strategi pengembangan pola ruang sebagaimana dimaksud dalam or Pasal 4 meliputi: s. Pasal 7 Kebijakan pengembangan kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a meliputi: a. pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup. dan pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup. laut. b. ruang laut. menetapkan kawasan lindung di ruang darat.www. dan udara. c. a. c.org 7 2008. (1) ta likawasan lindung. b. dan meningkatkan jaringan transmisi dan distribusi minyak dan gas bumi. dan ruang udara. meningkatkan jaringan energi untuk memanfaatkan energi terbarukan dan tak terbarukan secara optimal serta mewujudkan keterpaduan sistem penyediaan tenaga listrik. serta mewujudkan sistem jaringan pipa minyak dan gas bumi nasional yang optimal. No 48 a. b. meningkatkan kualitas jaringan prasarana dan mewujudkan keterpaduan pelayanan transportasi darat. mewujudkan kawasan berfungsi lindung dalam satu wilayah pulau dengan luas paling sedikit 30% (tiga puluh persen) dari luas pulau tersebut sesuai dengan kondisi ekosistemnya. b. kebijakan dan strategi pengembangan ga le kebijakan dan strategi pengembangan kawasan budi daya. dan . termasuk ruang di dalam bumi. meningkatkan kualitas jaringan prasarana serta mewujudkan keterpaduan sistem jaringan sumber daya air. e. mendorong pengembangan prasarana telekomunikasi terutama di kawasan terisolasi.legalitas.

perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antarkegiatan budi daya. Pasal 8 f. tidak langsung menimbulkan perubahan ashidup tidak berfungsi dalam t yang mengakibatkan lingkungan aliberkelanjutan. c. b. energi. dalam rangka mewujudkan dan memelihara keseimbangan ekosistem wilayah. mengembalikan dan meningkatkan fungsi kawasan lindung yang telah menurun akibat pengembangan kegiatan budi daya. melindungi kemampuan lingkungan hidup dari tekanan perubahan dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan agar tetap mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. menunjang pembangunan eg yang l w. (3) Strategi untuk pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup meliputi: a. sumber daya alam secara bijaksana mengendalikan pemanfaatan w untuk menjamin w kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan. d. g.www. dan pengendalian perkembangan kegiatan budi daya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan. dan mengembangkan kegiatan budidaya yang mempunyai daya adaptasi bencana di kawasan rawan bencana. (1) Kebijakan pengembangan kawasan budi daya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf b meliputi: a. dan/atau komponen lain yang dibuang ke dalamnya. g mencegah terjadinya tindakan yang dapat secara langsung atau or sifat fisik lingkungan . menyelenggarakan upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup. . e. melindungi kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat. mengelola sumber daya alam tak terbarukan untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan sumber daya alam yang terbarukan untuk menjamin kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya.legalitas.org 2008. b. No 48 8 c.

mengembangkan perkotaan metropolitan dan kota besar dengan mengoptimalkan pemanfaaatan ruang secara vertikal dan kompak. .www. Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia. d. dan w. c. dan/atau landas kontinen untuk meningkatkan perekonomian nasional. mengembangkan dan melestarikan kawasan budi daya pertanian rg pangan untuk mewujudkan ketahanano pangan nasional. tas dengan pendekatan gugus mengembangkan pulau-pulau likecil ga pulau untuk meningkatkan daya saing dan mewujudkan skala le ekonomi. No 48 (2) Strategi untuk perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antarkegiatan budi daya meliputi: a. mengembangkan kegiatan budi daya untuk menunjang aspek politik. e. b. (3) Strategi untuk pengendalian perkembangan kegiatan budi daya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan meliputi: a. ruang laut. f. w mengembangkan w kegiatan pengelolaan sumber daya kelautan yang bernilai ekonomi tinggi di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). pertahanan dan keamanan. b. dan ruang udara. membatasi perkembangan kegiatan budi daya terbangun di kawasan rawan bencana untuk meminimalkan potensi kejadian bencana dan potensi kerugian akibat bencana. mengembangkan ruang terbuka hijau dengan luas paling sedikit 30% (tiga puluh persen) dari luas kawasan perkotaan. dan membatasi perkembangan kawasan terbangun di kawasan perkotaan besar dan metropolitan untuk mempertahankan tingkat pelayanan prasarana dan sarana kawasan perkotaan serta mempertahankan fungsi kawasan perdesaan di sekitarnya. sosial budaya. d. mengembangkan kegiatan budi daya unggulan di dalam kawasan beserta prasarana secara sinergis dan berkelanjutan untuk mendorong pengembangan perekonomian kawasan dan wilayah sekitarnya.legalitas. c. menetapkan kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis nasional untuk pemanfaatan sumber daya alam di ruang darat.org 9 2008. serta ilmu pengetahuan dan teknologi. . termasuk ruang di dalam bumi secara sinergis untuk mewujudkan keseimbangan pemanfaatan ruang wilayah.

Pasal 9 (1) Kebijakan pengembangan kawasan strategis nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c meliputi: a. menetapkan kawasan strategis nasional berfungsi lindung. mengembangkan kegiatan budidaya yang dapat mempertahankan keberadaan pulau-pulau kecil. peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara. membatasi pemanfaatan ruang di sekitar kawasan strategis nasional yang berpotensi mengurangi fungsi lindung kawasan. . b. (2) al dan/atau teknologi tinggi secara pemanfaatan sumber daya g alam . as dan mampu bersaing dalam perekonomian internasional. d. melestarikan keunikan bentang alam. dan ramsar.le kesejahteraan masyarakat. optimal untuk meningkatkan ww w pelestarian dan peningkatan sosial dan budaya bangsa. mencegah pemanfaatan ruang di kawasan strategis nasional yang berpotensi mengurangi fungsi lindung kawasan.org 2008. No 48 10 e. cagar biosfer. efisien. dan pengembangan kawasan tertinggal untuk mengurangi kesenjangan tingkat perkembangan antarkawasan.www. melestarikan keanekaragaman hayati. e. f. c. d. pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam g or pengembangan perekonomian nasional yang produktif. c. dan melestarikan warisan budaya nasional. . Strategi untuk pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup meliputi: a. pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup untuk mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem. g. pelestarian dan peningkatan nilai kawasan lindung yang ditetapkan sebagai warisan dunia. it b. mempertahankan dan meningkatkan fungsi perlindungan kawasan. membatasi pengembangan prasarana dan sarana di dalam dan di sekitar kawasan strategis nasional yang dapat memicu perkembangan kegiatan budi daya.legalitas.

(5) Strategi untuk pemanfaatan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi secara optimal meliputi: a. dan c. d. mengelola pemanfaatan sumber daya alam agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung kawasan. mengembangkan kegiatan budi daya secara selektif di dalam dan di sekitar kawasan strategis nasional untuk menjaga fungsi pertahanan dan keamanan. menetapkan kawasan strategis nasional dengan fungsi khusus pertahanan dan keamanan. menciptakan iklim investasi yang kondusif. dan merehabilitasi fungsi lindung kawasan yang menurun akibat dampak pemanfaatan ruang yang berkembang di dalam dan di sekitar kawasan strategis nasional. f. eg b.www. mengembangkan pusat pertumbuhan berbasis potensi sumber daya alam dan kegiatan budi daya unggulan sebagai penggerak utama pengembangan wilayah. No 48 e. mengintensifkan promosi peluang investasi. c. mengembangkan kegiatan penunjang dan/atau kegiatan turunan dari pemanfaatan sumber daya dan/atau teknologi tinggi. mengembangkan kegiatan budi daya tidak terbangun di sekitar kawasan strategis nasional yang berfungsi sebagai zona penyangga yang memisahkan kawasan lindung dengan kawasan budi daya terbangun. strategis ta penyangga yang memisahkan lkawasan strategis nasional dengan ai kawasan budi daya terbangun. e. dan meningkatkan pelayanan prasarana dan sarana penunjang kegiatan ekonomi.legalitas. mengelola dampak negatif kegiatan budi daya agar tidak menurunkan kualitas lingkungan hidup dan efisiensi kawasan.org 11 2008. (4) l w. (3) Strategi untuk peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara meliputi: a. . g mengembangkan kawasan lindung dan/atau kawasan budi daya or nasional sebagai zona tidak terbangun di sekitar kawasans. f. b. dan peningkatan fungsi kawasan dalam Strategi untuk pengembangan pengembangan perekonomian nasional meliputi: ww a.

dan mencegah dampak negatif pemanfaatan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi terhadap fungsi lingkungan hidup.org 2008. meningkatkan keterkaitan kegiatan pemanfaatan sumber daya dan/atau teknologi tinggi dengan kegiatan penunjang dan/atau turunannya. dan keselamatan masyarakat. c.o ditetapkan sebagai warisan dunia meliputi: lita a. dan melestarikan situs warisan budaya bangsa. meningkatkan akses masyarakat ke sumber pembiayaan. b. (7) Strategi untuk pelestarian dan peningkatan nilai kawasan yang s. meningkatkan kecintaan masyarakat akan nilai budaya yang mencerminkan jati diri bangsa yang berbudi luhur. e. a ww meningkatkan kepariwisataan nasional. No 48 12 b. (8) Strategi untuk pengembangan kawasan tertinggal meliputi: a. . rg melestarikan keaslian fisik g . d. d. sumber daya alam secara optimal dan membuka akses dan meningkatkan aksesibilitas antara kawasan tertinggal dan pusat pertumbuhan wilayah. mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. (6) Strategi untuk pelestarian dan peningkatan sosial dan budaya bangsa meliputi: a.legalitas. dan melestarikan keberlanjutan lingkungan hidup. b.le serta mempertahankan keseimbangan w ekosistemnya. memanfaatkan berkelanjutan. mengembangkan prasarana dan sarana penunjang kegiatan ekonomi masyarakat. b. mengembangkan penerapan nilai budaya bangsa dalam kehidupan masyarakat. c.www. c. dan meningkatkan kualitas dan kapasitas sumber daya manusia dalam pengelolaan kegiatan ekonomi. c.

legalitas. PKW.000 sebagaimana tercantum dalam orterpisahkan dari Peraturan . d. . sistem jaringan telekomunikasi nasional.org 13 2008. PKL ditetapkan dengan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi berdasarkan usulan pemerintah kabupaten/kota. Lampiran I yang merupakan bagian tidak as Pemerintah ini. c. atau kawasan perkotaan kecil. e. kawasan perkotaan besar. setelah dikonsultasikan dengan Menteri.www. b. b. c. e. (2) sistem perkotaan nasional. kawasan perkotaan sedang. sistem jaringan energi nasional.000. d. lit ga Bagian Kedua le w. kawasan megapolitan. Sistemw w Perkotaan Nasional Pasal 11 (1) (2) (3) Sistem perkotaan nasional terdiri atas PKN. PKW. dan PKL dapat berupa: a. kawasan metropolitan. Pasal 12 PKN. dan PKL. No 48 BAB III RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH NASIONAL Bagian Kesatu Umum Pasal 10 (1) Rencana struktur ruang wilayah nasional meliputi: a. sistem jaringan transportasi nasional. PKN dan PKW tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini. dan sistem jaringan sumber daya air. Rencana struktur ruang wilayah nasional digambarkan dalam peta g dengan tingkat ketelitian 1:1.

dan/atau or . (2) PKW sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) ditetapkan dengan w. No 48 14 Pasal 13 (1) Selain sistem perkotaan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) dikembangkan PKSN untuk mendorong perkembangan kawasan perbatasan negara. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan jasa yang melayani skala provinsi atau beberapa kabupaten. (2) b.legalitas. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan jasa skala nasional atau yang melayani g beberapa provinsi.org 2008. c.www. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul lita melayani beberapa provinsi. c. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan jasa yang melayani skala kabupaten atau beberapa kecamatan. Pasal 14 (1) PKN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria: a. utama transportasi skala nasional atau ga s le kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul kedua kegiatan ekspor-impor yang mendukung PKN. dan/atau kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul transportasi yang melayani skala kabupaten atau beberapa kecamatan. b. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul utama kegiatan ekspor-impor atau pintu gerbang menuju kawasan internasional. Kawasan yang ditetapkan sebagai PKSN tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini. (3) PKL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria: a. b. . kriteria: ww a. dan/atau kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul transportasi yang melayani skala provinsi atau beberapa kabupaten.

b. No 48 Pasal 15 PKSN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria: a.000 (seratus ribu) sampai dengan 500. (4) Kawasan perkotaan sedang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf d merupakan kawasan perkotaan yang ditetapkan dengan kriteria jumlah penduduk lebih dari 100. (5) Kawasan perkotaan kecil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf e merupakan kawasan perkotaan yang ditetapkan dengan kriteria jumlah penduduk lebih dari 50.lyang ditetapkan dengan kriteria: ww a.000. dan membentuk sebuah sistem.www.000 (satu juta) w jiwa. dan/atau d. pusat perkotaan yang merupakan simpul utama transportasi yang menghubungkan wilayah sekitarnya. pusat perkotaan yang berpotensi sebagai pos pemeriksaan lintas batas dengan negara tetangga. memiliki jumlah penduduk paling sedikit 1. terdiri atas satu kawasan perkotaan inti dan beberapa kawasan perkotaan di sekitarnya yang membentuk satu kesatuan pusat perkotaan.org 15 2008. terdapat keterkaitan fungsi antarkawasan perkotaan dalam satu sistem metropolitan. Pasal 16 (1) Kawasan megapolitan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf a merupakan kawasan yang ditetapkan dengan kriteria memiliki 2 (dua) g atau lebih kawasan metropolitan yang mempunyai hubungan fungsional or . pusat perkotaan yang merupakan pusat pertumbuhan ekonomi yang dapat mendorong perkembangan kawasan di sekitarnya.000 (lima puluh ribu) sampai dengan 100. c. b. pusat perkotaan yang berfungsi sebagai pintu gerbang internasional yang menghubungkan dengan negara tetangga. as t ali (2) Kawasan metropolitan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf b eg merupakan kawasan perkotaan.000 (seratus ribu) jiwa.000 (lima ratus ribu) jiwa.legalitas.000 (lima ratus ribu) jiwa. . dan c. (3) Kawasan perkotaan besar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf c merupakan kawasan perkotaan yang ditetapkan dengan kriteria jumlah penduduk lebih dari 500.

c. (2) sistem jaringan transportasi darat. Pasalga 18 g li (1) le (2) (3) (4) Jaringan jalan kolektor primer dikembangkan untuk menghubungkan antar-PKW dan antara PKW dan PKL. antara PKN dan PKW. antar-PKSN dalam satu kawasan perbatasan negara. Jaringan jalan arteri primer dikembangkan secara menerus dan berhierarki berdasarkan kesatuan sistem orientasi untuk menghubungkan: a. jaringan jalur kereta api. Sistem jaringan transportasi laut terdiri atas tatanan kepelabuhanan dan alur pelayaran. antar-PKN. ta Jaringan jalan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) w. jaringan jalan strategis nasional. c. Jaringan jalan strategis nasional dikembangkan untuk menghubungkan: a. c. Sistem jaringan transportasi darat terdiri atas jaringan jalan nasional. dan penyeberangan. terdiri atas jaringan jalanw w arteri primer. . b.legalitas. b. b. danau. dan jaringan transportasi sungai.www.org 2008. jaringan jalan kolektor primer. antara PKSN dan pusat kegiatan lainnya. dan sistem jaringan transportasi udara.or tatanan kebandarudaraan atas s dan ruang udara untuk penerbangan. dan/atau PKN dan/atau PKW dengan bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer/sekunder/tersier dan pelabuhan internasional/nasional. dan jalan tol. No 48 16 Bagian Ketiga Sistem Jaringan Transportasi Nasional Pasal 17 (1) Sistem jaringan transportasi nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) huruf b terdiri atas: a. dan PKN dan/atau PKW dengan kawasan strategis nasional. sistem jaringan transportasi laut. (3) (4) Sistem jaringan transportasi udara terdiri .

b. (1) jaringan jalur kereta api umum.legalitas. b. dan jaringan jalur kereta api perkotaan. Pasal 19 Jaringan jalan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) mencakup pula jembatan atau terowongan antarpulau serta jembatan atau terowongan antarnegara. antar-PKN. PKN dengan pusat kegiatan di negara tetangga. 21 Pasal ww a. d. . dikembangkan untuk untuk (1) (2) (3) Jembatan atau terowongan antarnegara dikembangkan menghubungkan arus lalu lintas dengan negara tetangga. b. . No 48 (5) (6) Jalan tol dikembangkan untuk mempercepat perwujudan jaringan jalan bebas hambatan sebagai bagian dari jaringan jalan nasional. ta s li Jaringan jalur kereta api umum terdiri atas: jaringan jalur kereta api antarkota. b. antar-PKW . .e l w. Pasal 20 Jaringan jalur kereta api sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) terdiri g or atas: . a. Jaringan jalan bebas hambatan tercantum dalam Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini. menghubungkan kawasan perkotaan dengan bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer/sekunder/tersier dan pelabuhan internasional/nasional. PKW dengan PKN. (3) d. atau antar-PKW. dan mendukung aksesibilitas di kawasan perkotaan. Jembatan atau terowongan antarpulau menghubungkan arus lalu lintas antarpulau. kereta api antarkota dikembangkan untuk (2) Jaringan jalur menghubungkan: a. dan ga jaringan jalur kereta api khusus. c. Jaringan jalur kereta api perkotaan dikembangkan untuk: a.www.org 17 2008.

pemerintah provinsi. pelabuhan penyeberangan lintas dalam kabupaten/kota. Pasal 23 Jaringan transportasi sungai dan danau sebagaimana dimaksud dalam g Pasal 17 ayat (2) terdiri atas: or . Jaringan jalur kereta api khusus ditetapkan oleh Pemerintah.legalitas. dan as t ali b. pelabuhan penyeberangan lintas antarprovinsi dan antarnegara. Lintas penyeberangan terdiri atas: a.org 2008. ww Pelabuhan dan alur pelayaran sungai dan danau beserta prioritas w pengembangannya ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang transportasi sungai dan danau. . pelabuhan penyeberangan lintas antarkabupaten/kota. dan c. lintas penyeberangan antar negara yang menghubungkan antarjaringan jalan pada kawasan perbatasan. lintas penyeberangan antarprovinsi yang menghubungkan antarjaringan jalan nasional dan antarjaringan jalur kereta api antarprovinsi. a. Pasal 24 Jaringan transportasi penyeberangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) terdiri atas pelabuhan penyeberangan dan lintas penyeberangan. b.danau. alur pelayaran untuk kegiatan angkutan sungai dan alur pelayaran leg untuk kegiatan angkutan. b. Pelabuhan penyeberangan terdiri atas: a. atau pemerintah kabupaten/kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Jaringan jalur kereta api khusus dapat disambungkan dengan jaringan jalur kereta api umum dan jaringan jalur kereta api khusus lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. No 48 18 (4) (1) (2) (3) (1) (2) (1) (2) (3) Jaringan jalur kereta api antarkota dan perkotaan beserta prioritas pengembangannya ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang perkeretaapian. pelabuhan sungai dan pelabuhan danau. Pasal 22 Jaringan jalur kereta api khusus dikembangkan oleh badan usaha tertentu untuk menunjang kegiatan pokok badan usaha tersebut.www.

www. dan menjadi simpul jaringan transportasi laut internasional. d. pelabuhan internasional. menjangkau wilayah pelayanan sangat luas. No 48 c. pelabuhan nasional. dan pelabuhan khusus. (1) pelabuhan umum. w w.legalitas. pelabuhan regional. sabuk selatan. . lintas penyeberangan lintas kabupaten/kota yang menghubungkan antarjaringan jalan provinsi dan jaringan jalur kereta api dalam provinsi. a. melayani kegiatan pelayaran dan alih muat peti kemas angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah besar. Pelabuhan umum terdiri atas pelabuhan internasional hub. dan penghubung sabuk dalam wilayah nasional. dan memiliki fungsi sebagai simpul jaringan transportasi laut nasional. b. w ga le ta s li Pasal 26 (2) (3) Pelabuhan nasional dikembangkan untuk: a. Pelabuhan internasional hub dan pelabuhan internasional dikembangkan untuk: a.org 19 2008. dan pelabuhan lokal. Pasal 25 (5) Tatanan kepelabuhanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) terdiri g or atas: . (4) Lintas penyeberangan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) membentuk jaringan penyeberangan sabuk utara. b. melayani kegiatan pelayaran dan alih muat peti kemas angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah menengah. dan lintas pelabuhan penyeberangan dalam kabupaten/kota yang menghubungkan antarjaringan jalan kabupaten/kota dan jaringan jalur kereta api dalam kabupaten/kota. c. menjangkau wilayah pelayanan menengah. c. b. Lintas penyeberangan beserta prioritas pengembangannya ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang transportasi penyeberangan. sabuk tengah.

(6) Pelabuhan internasional dan pelabuhan nasional tercantum dalam Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini. . (1) (2) (3) rg omenunjang pengembangan Pelabuhan khusus dikembangkan untuk. dengan memperhatikan sistem ww w Pelabuhan khusus ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang transportasi laut setelah mendapat rekomendasi dari gubernur dan bupati/walikota.legalitas. dan menjangkau wilayah pelayanan menengah. melayani kegiatan pelayaran dan alih muat angkutan laut nasional dan regional. angkutan sungai. dan menjangkau wilayah pelayanan terbatas. b.transportasi laut. Alur pelayaran internasional terdiri atas: a. jaringan pelayaran yang menghubungkan antarpelabuhan internasional hub dan pelabuhan internasional. dan angkutan perintis dalam jumlah menengah. Pelabuhan lokal dikembangkan untuk: b. alur pelayaran yang menghubungkan pelabuhan nasional dengan pelabuhan internasional atau pelabuhan internasional hub. dan jaringan pelayaran yang menghubungkan antara pelabuhan internasional hub dan pelabuhan internasional dengan pelabuhan internasional di negara lain. angkutan sungai.www.org 2008. dan angkutan perintis dalam jumlah kecil. Pasal 28 Pasal 27 (1) (2) Alur pelayaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) terdiri atas alur pelayaran internasional dan alur pelayaran nasional. melayani kegiatan pelayaran dan alih muat angkutan laut lokal dan regional. pelayaran rakyat. (3) Alur pelayaran nasional terdiri atas: a. ali Pelabuhan khusus dapat dialihkan fungsinya menjadi pelabuhan umum leg . Alur Laut Kepulauan Indonesia. No 48 20 (4) Pelabuhan regional dikembangkan untuk: a. c. (5) a. b. pelayaran rakyat. ta s kegiatan atau fungsi tertentu.

dan w d. bandar udara bukan pusat penyebaran. Pasal 29 Tatanan kebandarudaraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (4) terdiri atas: a. dan b. No 48 alur pelayaran yang menghubungkan antarpelabuhan nasional. bandar udara umum. . Pasal 31 Bandar udara khusus dikembangkan untuk menunjang pengembangan kegiatan tertentu dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan di bidang kebandarudaraan. ruang udara di sekitar bandar udara yang dipergunakan untuk operasi penerbangan. dan d. b. alur pelayaran yang menghubungkan antarpelabuhan regional. ruang udara di atas bandar udara yang dipergunakan langsung untuk kegiatan bandar udara. bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan sekunder. dan b.www. bandar udara pusat penyebaranlskala pelayanan primer. alur pelayaran yang menghubungkan antara pelabuhan nasional dan pelabuhan regional. bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan sekunder.legalitas. (2) Bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer. dan bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan tersier tercantum dalam Lampiran V yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini. bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan tersier. Pasal 30 g or . c. ai g b. bandar udara khusus. . (5) Alur pelayaran nasional ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang transportasi laut.l e ww c. Pasal 32 (1) Ruang udara untuk penerbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (4) terdiri atas: a.org 21 2008. (4) Alur pelayaran internasional ditetapkan berdasarkan kriteria yang berlaku secara internasional dan peraturan perundang-undangan. (1) Bandar udara umum terdiri atas: as t a.

www.legalitas.org

2008, No 48

22

(2)

(3)

(1)

(2)

(3)

(1)

c. ruang udara yang ditetapkan sebagai jalur penerbangan. Ruang udara untuk penerbangan dimanfaatkan dengan mempertimbangkan pemanfaatan ruang udara bagi pertahanan dan keamanan negara. Ruang udara untuk penerbangan diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 33 Jaringan jalan arteri primer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria: a. menghubungkan antar-PKN, antara PKN dan PKW, dan/atau PKN/PKW dengan bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer/sekunder/tersier dan pelabuhan internasional/nasional; b. berupa jalan umum yang melayani angkutan utama; g c. melayani perjalanan jarak jauh; or . as d. memungkinkan untuk lalu lintas dengan kecepatan rata-rata t ali tinggi; dan leg .masuk secara berdaya guna. e. membatasi jumlah jalan ww sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 Jaringan jalan kolektorw primer ayat (1) ditetapkan dengan kriteria: a. menghubungkan antar-PKW dan antara PKW dan PKL; b. berupa jalan umum yang berfungsi melayani angkutan pengumpul atau pembagi; c. melayani perjalanan jarak sedang; d. memungkinkan untuk lalu lintas dengan kecepatan rata-rata sedang; dan e. membatasi jumlah jalan masuk. Kriteria jaringan jalan strategis nasional dan jaringan jalan tol sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 34 Jaringan jalur kereta api antarkota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) huruf a ditetapkan dengan kriteria menghubungkan antara PKN dan pusat kegiatan di negara tetangga, antar-PKN, PKW dengan PKN, atau antar-PKW.

www.legalitas.org

23

2008, No 48

(2)

Jaringan jalur kereta api perkotaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) huruf b ditetapkan dengan kriteria menghubungkan kawasan perkotaan dengan bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer/sekunder/tersier dan pelabuhan internasional/nasional atau mendukung aksesibilitas di kawasan perkotaan metropolitan. Kriteria teknis jaringan jalur kereta api antarkota dan perkotaan ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang perkeretaapian. Pasal 35 Pelabuhan sungai dan pelabuhan danau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf a ditetapkan dengan kriteria: a. b. c. berdekatan dengan kawasan permukiman penduduk; terintegrasi dengan sistem jaringan transportasi darat lainnya; dan berada di luar kawasan lindung.

(3)

(1)

(2)

Pelabuhan penyeberangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat s.o (1) ditetapkan dengan kriteria: lita a.

rg

b. (3)

berada di lokasi yangeg menghubungkan dengan pelabuhan .l jarak terpendek yang memiliki nilai penyeberangan lain pada w ekonomis; dan ww berada di luar kawasan lindung.

a

Kriteria teknis pelabuhan sungai, danau, dan penyeberangan ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang transportasi sungai, danau, dan penyeberangan. Pasal 36 Pelabuhan internasional hub dan pelabuhan internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria: a. b. c. d. berhadapan langsung dengan Alur Laut Kepulauan Indonesia dan/atau jalur pelayaran internasional; berjarak paling jauh 500 (lima ratus) mil dari Alur Laut Kepulauan Indonesia atau jalur pelayaran internasional; bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan PKN dalam sistem transportasi antarnegara; berfungsi sebagai simpul utama pendukung pengembangan produksi kawasan andalan ke pasar internasional;

(1)

www.legalitas.org

2008, No 48

24

e. f.

berada di luar kawasan lindung; dan berada pada perairan yang memiliki kedalaman paling sedikit 12 (dua belas) meter untuk pelabuhan internasional hub dan 9 (sembilan) meter untuk pelabuhan internasional.

(2)

Pelabuhan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria: a. b. c. merupakan bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan PKN dalam sistem transportasi antarprovinsi; berfungsi sebagai simpul pendukung pemasaran produk kawasan andalan ke pasar nasional; memberikan akses bagi pengembangan pulau-pulau kecil dan kawasan andalan laut, termasuk pengembangan kawasan tertinggal; berada di luar kawasan lindung; dan berada pada perairan yang memiliki kedalaman paling sedikit 9 lita (sembilan) meter. a dalam Pasal 26 ayat (1)

d. e. (3)

.or s

g

g .le dimaksud Pelabuhan regional sebagaimana ww ditetapkan dengan kriteria: w
a. b. c.

merupakan bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan PKN atau PKW dalam sistem transportasi antarprovinsi; berfungsi sebagai simpul pendukung pemasaran produk kawasan andalan ke pasar regional; memberikan akses bagi pengembangan kawasan andalan laut, kawasan pedalaman sungai, dan pulau-pulau kecil, termasuk pengembangan kawasan tertinggal; berada di luar kawasan lindung; dan berada pada perairan yang memiliki kedalaman paling sedikit 4 (empat) meter.

d. e. (4)

Pelabuhan lokal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria: a. merupakan bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan PKW atau PKL dalam sistem transportasi antarkabupaten/kota dalam satu provinsi;

dan bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan tersier ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang transportasi udara. Pasal 37 Bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) huruf a ditetapkan dengan kriteria: a. pelabuhan regional. b. Kriteria teknis pelabuhan internasional hub. melayani penumpang dengan g .penunjang fungsi pelayanan or PKN. e.5 (satu setengah) meter. c. berada di luar kawasan lindung. ww skala pelayanan sekunder sebagaimana w Bandar udara pusat penyebaran dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) huruf b ditetapkan dengan kriteria: a. pelabuhan internasional. dan dapat melayani pelayaran rakyat. (5) berfungsi sebagai simpul pendukung pemasaran produk kawasan budi daya di sekitarnya ke pasar lokal.000.legalitas.org 25 2008. berada pada perairan yang memiliki kedalaman paling sedikit 1. merupakan bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan PKN atau PKW terdekat. No 48 b.000.000. dan pelabuhan lokal ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang transportasi laut. merupakan bagian dari prasarana . merupakan bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan PKN. (1) (2) alijumlah paling sedikit 5.000 (satu juta) orang per tahun.000. . b. d.000 (lima juta) orang per tahun.000 (satu juta) sampai dengan 5. bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan sekunder.000 (lima ratus ribu) sampai dengan 1. dan melayani penumpang dengan jumlah antara 500.www.000 b. dan ta s g (3) Bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan tersier sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) huruf c ditetapkan dengan kriteria: a.l e (lima juta) orang per tahun. dan melayani penumpang dengan jumlah antara 1. pelabuhan nasional. (4) Kriteria teknis bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer.

ww w Pasal 40 menyalurkan minyak dan gas bumi org kilang pengolahan atau dari s. (1) jaringan pipa minyak dan gas bumi. kabel bawah tanah. atau lit abeserta prioritas pengembangannya Jaringan pipa minyak dan gas bumi g ditetapkan oleh menteri yang. pembangkit tenaga listrik. a Pembangkit tenaga listrik dikembangkan untuk memenuhi penyediaan tenaga listrik sesuai dengan kebutuhan yang mampu mendukung kegiatan perekonomian. dan jaringan transmisi tenaga listrik ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang energi. atau kabel bawah laut. tempat penyimpanan ke konsumen. (2) menyalurkan minyak dan gas bumi dari fasilitas produksi ke kilang pengolahan dan/atau tempat penyimpanan. c. b. b. Pasal 42 Sistem jaringan pipa minyak dan gas bumi. Pasal 39 Jaringan pipa minyak dan gas bumi dikembangkan untuk: a. No 48 26 Bagian Keempat Sistem Jaringan Energi Nasional Pasal 38 Sistem jaringan energi nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) huruf c terdiri atas: a. Pasal 41 Jaringan transmisi tenaga listrik dikembangkan untuk menyalurkan tenaga listrik antarsistem yang menggunakan kawat saluran udara.legalitas.org 2008. dan jaringan transmisi tenaga listrik.www.le tugas dan tanggung jawabnya di bidang minyak dan gas bumi. pembangkit tenaga listrik. Pasal 43 (1) Jaringan pipa minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 huruf a ditetapkan dengan kriteria: .

dan konsumen yang terintegrasi dengan fasilitas tersebut. melintasi kawasan permukiman. (3) . berada pada lokasi yang aman terhadap kegiatan lain dengan memperhatikan persyaratan ruang bebas dan jarak aman. persawahan. pulau-pulau kecil. d.le aman terhadap kegiatan berada pada lokasi yang ww memperhatikan jarak bebas dan jarak aman. fasilitas pengolahan dan/atau penyimpanan. mendukung pemanfaatan teknologi baru untuk menghasilkan sumber energi yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap energi tak terbarukan. perdesaan hingga kawasan terisolasi. mendukung pengembangan kawasan perdesaan. e. dan kabel bawah tanah. w lain dengan . pulau-pulau kecil.www. f. laut. kabel bawah laut. g .legalitas. adanya fasilitas produksi minyak dan gas bumi. rg berada pada kawasan dan/atau tas luar kawasan yang memiliki di li potensi sumber daya energi.o Jaringan transmisi tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 huruf c ditetapkan dengan kriteria: a. merupakan media penyaluran tenaga listrik adalah kawat saluran udara. dan menyalurkan tenaga listrik berkapasitas besar dengan tegangan nominal lebih dari 35 (tiga puluh lima) kilo Volt. c. No 48 a. b. dan a b. perkebunan. dan kawasan terisolasi. mendukung ketersediaan pasokan tenaga listrik untuk kepentingan umum di kawasan perkotaan hingga perdesaan. b. mendukung ketersediaan pasokan tenaga listrik untuk kepentingan umum di kawasan perkotaan. (2) Pembangkit tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 huruf b ditetapkan dengan kriteria: a. e. dan berfungsi sebagai pendukung sistem pasokan energi nasional. hutan.org 27 2008. mendukung pengembangan kawasan perdesaan. dan kawasan terisolasi. wilayah sungai. d. dan jalur transportasi. c.

(2) Jaringan satelit ditetapkan dengan kriteria ketersediaan orbit satelit dan frekuensi radio yang telah terdaftar pada Perhimpunan Telekomunikasi Internasional. w.org 2008. Jaringan terestrial dan satelit beserta prioritas pengembangannya w ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang telekomunikasi. b. pembangkit tenaga listrik. d.legalitas. Kriteria teknis jaringan terestrial dan jaringan satelit ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang telekomunikasi.www. No 48 28 Pasal 44 Kriteria teknis jaringan pipa minyak dan gas bumi. dan jaringan satelit. atau mendukung kegiatan berskala internasional. dan jaringan transmisi tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang energi. c. (1) (2) (3) jaringan terestrial. Bagian Kelima Sistem Jaringan Telekomunikasi Nasional Pasal 45 Sistem jaringan telekomunikasi nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) huruf d terdiri atas: a. b. ta g a Jaringan satelit dikembangkan guntuk melengkapi sistem jaringan le telekomunikasi nasional melalui satelit komunikasi dan stasiun bumi. menghubungkan antarpusat perkotaan nasional. mendukung pengembangan kawasan andalan. menghubungkan pusat perkotaan nasional dengan pusat kegiatan di negara lain. Pasal 47 li w (1) Jaringan terestrial ditetapkan dengan kriteria: a. (3) . Pasal 46 Jaringan terestrial dikembangkan secara rberkesinambungan untuk s.o menyediakan pelayanan telekomunikasi di seluruh wilayah nasional.

Wilayah sungai strategis nasional ditetapkan dengan kriteria: a. Wilayah sungai tercantum dalam Lampiran VI yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini. Wilayah sungai dan cekungan air tanah lintas provinsi ditetapkan dengan kriteria melintasi dua atau lebih provinsi. wilayah or . c. wilayah sungai lintas provinsi. ali g .000 (sepuluh ribu) hektar. No 48 Bagian Keenam Sistem Jaringan Sumber Daya Air Pasal 48 (1) Sistem jaringan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) huruf e merupakan sistem sumber daya air pada setiap wilayah sungai dan cekungan air tanah. Cekungan air tanah meliputi cekungan air tanah lintas negara dan lintas provinsi. dan wilayah sungai strategis nasional. (2) (3) (4) (5) g Arahan pemanfaatan ruang pada wilayah sungai lintas negara. dan wilayah sungai strategis nasional as t memperhatikan pola pengelolaan sumber daya air.legalitas. sungai lintas provinsi. melayani kawasan strategis nasional. (2) (3) .le ditetapkan dengan peraturan menteri Pola pengelolaan sumber daya air ww yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang sumber daya air. Wilayah sungai meliputi wilayah sungai lintas negara. b. PKN.org 29 2008. atau kawasan andalan. melayani paling sedikit 1 (satu) daerah irigasi yang luasnya lebih besar atau sama dengan 10. w Pasal 49 (6) (1) Wilayah sungai dan cekungan air tanah lintas negara ditetapkan dengan kriteria melayani kawasan perbatasan negara atau melintasi batas negara.www. dan/atau memiliki dampak negatif akibat daya rusak air terhadap pertumbuhan ekonomi yang mengakibatkan tingkat kerugian ekonomi paling sedikit 1% (satu persen) dari produk domestik regional bruto (PDRB) provinsi.

(1) kawasan yang bawahannya.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran VII yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini. b. e. No 48 30 BAB IV RENCANA POLA RUANG WILAYAH NASIONAL Bagian Kesatu Umum Pasal 50 (1) Rencana pola ruang wilayah nasional terdiri atas: a. kawasan lindung geologi. dan kawasan resapan air.000. kawasan suaka alam. ga Lindung Nasional Jenis dan Sebaran Kawasan le w.org 2008. Bagian Kedua Paragraf 1it l Kawasan Lindung Nasional s. f. Pasal 52 Kawasan yang memberikan bawahannya terdiri atas: a. kawasan bergambut. 51 ww Pasal memberikan perlindungan terhadap kawasan a kawasan perlindungan setempat. dan kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis nasional. Rencana pola ruang wilayah nasional digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1:1. kawasan hutan lindung. pelestarian alam.www.legalitas. c. (2) kawasan lindung nasional. b. c. dan kawasan lindung lainnya. b. d.o rg Kawasan lindung nasional terdiri atas: a. perlindungan terhadap kawasan . kawasan rawan bencana alam. dan cagar budaya.

kawasan cagar alam geologi. (5) kawasan rawan gelombang pasang.or s g a (4) Kawasan rawan bencana alam terdiri atas: ww a. No 48 (2) Kawasan perlindungan setempat terdiri atas: a. b. cagar biosfer. pelestarian alam. f. kawasan pengungsian satwa. suaka margasatwa dan suaka margasatwa laut.org 31 2008. b. taman nasional dan taman nasional laut. b. e. dan ruang terbuka hijau kota. kawasan sekitar danau atau waduk. c. taman buru. taman wisata alam dan taman wisata alam laut. leg . sempadan pantai. b. cagar alam dan cagar alam laut.www. e. w kawasan rawan tanah longsor. d. dan Kawasan lindung geologi terdiri atas: a. kawasan pantai berhutan bakau. dan kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah. c. d. . kawasan rawan banjir. kawasan rawan bencana alam geologi. b. dan cagar budaya. kawasan suaka alam. kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya. dan lita kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan. terumbu karang. c. c. taman hutan raya. sempadan sungai. dan (6) Kawasan lindung lainnya terdiri atas: a. kawasan perlindungan plasma nutfah. terdiri atas: a. . d. g. c. (3) Kawasan suaka alam. i. f. ramsar.legalitas. h.

(2) .legalitas. (1) Sebaran kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) dan ayat (6). b. serta Pasal 53 ayat (1) dengan luas kurang dari 1. g. (1) kawasan koridor bagi jenis satwa atau biota laut yang dilindungi. d.000 (seribu) hektar tercantum dalam Lampiran VIII yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini. dan kawasan keunikan proses geologi. kawasan keunikan batuan dan fosil. c. kawasan rawan letusan gunung berapi. kawasan rawan gempa bumi.l e kawasan rawan abrasi.org 2008. b. kawasan rawan gerakan tanah. No 48 32 g. kawasan yang terletak di zona patahan as t kawasan rawan tsunami. Pasal 54 (3) Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (5) huruf c terdiri atas: a. b. c. Pasal 53 Kawasan cagar alam geologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (5) huruf a terdiri atas: a. dan wwgas beracun. dan sempadan mata air. serta Pasal 53 ayat (2) dan ayat (3) ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.www. rg oaktif. Sebaran kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) dan ayat (6). serta Pasal 53 ayat (1) dengan luas paling sedikit 1. f. dan ayat (4).000 (seribu) hektar dan sebaran kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1). kawasan keunikan bentang alam. ayat (2). (2) Kawasan rawan bencana alam geologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (5) huruf b terdiri atas: a. ali g . . e. kawasan rawan bahaya w kawasan imbuhan air tanah.

kawasan hutan dengan faktor kemiringan lereng. kawasan hutan yang mempunyai kemiringan lereng paling sedikit 40% (empat puluh persen). dan intensitas hujan yang jumlah hasil perkalian bobotnya sama dengan 175 (seratus tujuh puluh lima) atau lebih. daratan sepanjang tepian laut dengan jarak paling sedikit 100 (seratus) meter dari titik pasang air laut tertinggi ke arah darat. atau daratan sepanjang tepian laut yang bentuk dan kondisi fisik pantainya curam atau terjal dengan jarak proporsional terhadap bentuk dan kondisi fisik pantai.l kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan dan sebagai pengontrol ww tata air permukaan.org 33 2008. dan . (2) Sempadan sungai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2) huruf b ditetapkan dengan kriteria: a.000 (dua ribu) meter di atas permukaan laut. w Pasal 56 Sempadan pantai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2) huruf a ditetapkan dengan kriteria: a. b. (2) (3) tas dalam Pasal 52 ayat (1) Kawasan resapan air sebagaimana dimaksud ali kawasan yang mempunyai g huruf c ditetapkan dengan ekriteria .www. c. atau kawasan hutan yang mempunyai ketinggian paling sedikit 2. Kawasan bergambut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1) huruf b ditetapkan dengan kriteria ketebalan gambut 3 (tiga) meter atau g or lebih yang terdapat di hulu sungai atau rawa. (1) b.legalitas. b. jenis tanah. . No 48 Paragraf 2 Kriteria Kawasan Lindung Nasional Pasal 55 (1) Kawasan hutan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1) huruf a ditetapkan dengan kriteria: a. daratan sepanjang tepian sungai besar tidak bertanggul di luar kawasan permukiman dengan lebar paling sedikit 100 (seratus) meter dari tepi sungai. daratan sepanjang tepian sungai bertanggul dengan lebar paling sedikit 5 (lima) meter dari kaki tanggul sebelah luar.

dan merupakan habitat alami yang memberikan tempat atau perlindungan bagi perkembangan keanekaragaman tumbuhan dan satwa.le 57 Pasal w Kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) ww huruf a ditetapkan dengan kriteria: a. berbentuk satu hamparan. (4) Ruang terbuka hijau kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2) huruf d ditetapkan dengan kriteria: a. dan a g (1) t ali c. serta gejala dan keunikan alam yang khas baik di darat maupun di perairan. daratan dengan jarak 50 (lima puluh) meter sampai dengan 100 (seratus) meter dari titik pasang air danau atau waduk tertinggi. b. kawasan yang memiliki keanekaragaman biota. dan/atau mempunyai fungsi utama sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman jenis biota. b. ekosistem.legalitas. b.org 2008. didominasi komunitas tumbuhan. memiliki ekosistem khas. ekosistem. baik di lautan maupun di perairan lainnya. (2) Kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) huruf b ditetapkan dengan kriteria: a. b. berbentuk r jalur. daratan sepanjang tepian anak sungai tidak bertanggul di luar kawasan permukiman dengan lebar paling sedikit 50 (lima puluh) meter dari tepi sungai. serta gejala dan keunikan alam yang terdapat di dalamnya. No 48 34 c.www. g . (3) Suaka margasatwa dan suaka margasatwa laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) huruf c ditetapkan dengan kriteria: . (3) Kawasan sekitar danau atau waduk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2) huruf c ditetapkan dengan kriteria: a.o bentuk satu hamparan dan jalur. atau kombinasi dari s. lahan dengan luas paling sedikit 2.500 (dua ribu lima ratus) meter persegi. atau daratan sepanjang tepian danau atau waduk yang lebarnya proporsional terhadap bentuk dan kondisi fisik danau atau waduk.

b. Cagar alam dan cagar alam laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) huruf d ditetapkan dengan kriteria: a. memiliki paling sedikit satu ekosistem yang terdapat di dalamnya yang secara materi atau fisik tidak boleh diubah baik oleh eksploitasi maupun pendudukan manusia. dan d. merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa migran tertentu. w. c. memiliki luas dan bentuk tertentu. No 48 a. memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan. b. c. . d. berhutan atau bervegetasi tetap yang memiliki tumbuhan dan satwa yang beragam. satwa. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 Kawasan pantai berhutan w bakau w ayat (3) huruf e ditetapkan dengan kriteria koridor di sepanjang pantai dengan lebar paling sedikit 130 (seratus tiga puluh) kali nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan. atau tas satu-satunya contoh di suatu e. memiliki formasi biota tertentu dan/atau unit-unit penyusunnya. memiliki ciri khas yang merupakan ali daerah serta keberadaannya g le memerlukan konservasi. memiliki luas yang cukup untuk menjamin kelangsungan proses ekologi secara alami. c. b. baik biota maupun fisiknya yang masih asli atau belum diganggu manusia. atau memiliki luas yang cukup sebagai habitat jenis satwa yang bersangkutan. memiliki sumber daya alam yang khas dan unik baik berupa jenis tumbuhan maupun jenis satwa dan ekosistemnya serta gejala alam yang masih utuh. diukur dari garis air surut terendah ke arah darat.legalitas. (6) Taman nasional dan taman nasional laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) huruf f ditetapkan dengan kriteria: a. dan tipe ekosistemnya. memiliki kondisi alam. (4) merupakan tempat hidup dan perkembangbiakan dari suatu jenis satwa yang perlu dilakukan upaya konservasinya.www. memiliki keanekaragaman satwa yang tinggi.org 35 2008. g (5) .or d.

memiliki arsitektur bentang alam yang baik. (1) . atau material campuran. ww unik. dan langka. memiliki keindahan alam dan/atau gejala alam. berhutan atau bervegetasi tetap yang memiliki tumbuhan dan/atau satwa yang beragam. g e.lalam berupa tumbuhan. (8) r . d. memiliki akses yang baik untuk keperluan pariwisata. merupakan kawasan dengan ciri khas baik asli maupun buatan. satwa dan ekosistemnya yang masih asli serta formasi geologi yang indah. dan memiliki luas yang memungkinkan untuk pengembangan koleksi tumbuhan dan/atau satwa jenis asli dan/atau bukan asli. memiliki akses yang baik untuk keperluan pariwisata. Taman hutan raya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) huruf g ditetapkan dengan kriteria: a. bahan rombakan.www. c. mendukung upaya d. memiliki luas yang cukup untuk menjamin pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya untuk dimanfaatkan bagi kegiatan wisata alam. memiliki daya tarik . tanah.olaut sebagaimana dimaksud Taman wisata alam dan taman wisata alam tas dengan kriteria: dalam Pasal 52 ayat (3) huruf h ditetapkan ali eg a. No 48 36 e. Pasal 58 Kawasan rawan tanah longsor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (4) huruf a ditetapkan dengan kriteria kawasan berbentuk lereng yang rawan terhadap perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan. f.legalitas. (7) memiliki keadaan alam yang asli untuk dikembangkan sebagai pariwisata alam. b. dan kondisi lingkungan di sekitarnya pengembangan kegiatan wisata alam.org 2008. baik pada kawasan yang ekosistemnya masih utuh maupun kawasan yang sudah berubah. w b. (9) Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) huruf i ditetapkan dengan kriteria sebagai hasil budaya manusia yang bernilai tinggi yang dimanfaatkan untuk pengembangan ilmu pengetahuan. c.

langka. atau ekologi komunitas yang terancam.l e berupa tempat bagi w pemantauan perubahan ekologi melalui ww penelitian dan pendidikan. c. (3) (1) b. kawasan yang sudah mengalami degradasi. Kawasan rawan banjir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (4) huruf c ditetapkan dengan kriteria kawasan yang diidentifikasikan sering dan/atau berpotensi tinggi mengalami bencana alam banjir. (2) Ramsar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (6) huruf b ditetapkan dengan kriteria: a. d. (3) Taman buru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (6) huruf c ditetapkan dengan kriteria: a. b.org 37 2008. mendukung spesies rentan. memiliki keterwakilan ekosistem yang masih alami. . dan . dan indah. atau merupakan tempat perlindungan bagi satwa dan/atau flora saat melewati masa kritis dalam hidupnya. Pasal 59 Cagar biosfer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (6) huruf a ditetapkan dengan kriteria: a.legalitas. mendukung keanekaragaman populasi satwa dan/atau flora di wilayah biogeografisnya. memiliki luas yang cukup dan tidak membahayakan untuk kegiatan berburu. atau kawasan binaan.o d. hampir langka. berupa lahan basah baik yang bersifat alami atau mendekati alami yang mewakili langka atau unit yang sesuai dengan biogeografisnya. rg merupakan bentang alam yang as tcukup luas yang mencerminkan lialam dengan manusia beserta interaksi antara komunitas ga kegiatannya secara harmonis. mengalami modifikasi. c. langka.www. No 48 (2) Kawasan rawan gelombang pasang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (4) huruf b ditetapkan dengan kriteria kawasan sekitar pantai yang rawan terhadap gelombang pasang dengan kecepatan antara 10 sampai dengan 100 kilometer per jam yang timbul akibat angin kencang atau gravitasi bulan atau matahari. atau . memiliki komunitas alam yang unik.

memiliki luas tertentu yanglita memungkinkan berlangsungnya proses hidup dan kehidupanga berkembangbiaknya satwa. dan kelestarian satwa. c. dan mendukung alur migrasi biota laut. atau proses-proses penunjang kehidupan. b. merupakan tempat kehidupan satwa yang sejak semula menghuni areal tersebut. olahraga. berupa kawasan memiliki ekosistem unik.dimaksud dalam Pasal 52 ayat (6) huruf f ww ditetapkan dengan kriteria: w a. Pasal 60 (1) Kawasan keunikan batuan dan fosil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1) huruf a ditetapkan dengan kriteria: . dan memiliki luas tertentu yang memungkinkan kelangsungan proses pertumbuhan jenis plasma nutfah. No 48 38 b. serta s le berupa kawasan yang terbentuk dari koloni masif dari hewan kecil yang secara bertahap membentuk terumbu karang.legalitas.o g (6) Terumbu karang sebagaimana. dan dipisahkan oleh laguna dengan kedalaman antara 40 (empat puluh) sampai dengan 75 (tujuh puluh lima) meter. b. (5) Kawasan pengungsian satwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (6) huruf e ditetapkan dengan kriteria: a. c. merupakan tempat kehidupan baru bagirsatwa. b. dan . biota endemik. terdapat di sepanjang pantai dengan kedalaman paling dalam 40 (empat puluh) meter. memiliki jenis plasma nutfah tertentu yang memungkinkan kelangsungan proses pertumbuhannya.org 2008. b.www. (7) Kawasan koridor bagi jenis satwa atau biota laut yang dilindungi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (6) huruf g ditetapkan dengan kriteria: a. (4) Kawasan perlindungan plasma nutfah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (6) huruf d ditetapkan dengan kriteria: a. terdapat satwa buru yang dikembangbiakkan yang memungkinkan perburuan secara teratur dan berkesinambungan dengan mengutamakan segi aspek rekreasi.

dan/atau geyser. memiliki bentang alam goa. e. Pasal 61 w (1) Kawasan rawan letusan gunung berapi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf a ditetapkan dengan kriteria: a. atau kawasan dengan kemunculan solfatara. maar. d. (2) Kawasan rawan gempa bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf b ditetapkan dengan kriteria kawasan yang berpotensi dan/atau pernah mengalami gempa bumi dengan skala VII sampai dengan XII Modified Mercally Intensity (MMI). d. kawasan dengan kemunculan sumber api alami. No 48 a.www. memiliki batuan yang mengandung jejak atau sisa kehidupan di masa lampau (fosil).org 39 2008. kawasan poton atau lumpur vulkanik. c. Kawasan keunikan bentang alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1) huruf b ditetapkan dengan kriteria: a. . memiliki bentang alam gumuk pasir pantai. aliran lava. memiliki tipe geologi unik. kaldera.l e memiliki bentang alam karst. lita . c.or s g g memiliki bentang alam kubah.legalitas. memiliki bentang alam ngarai/lembah. aliran lahar lontaran atau guguran batu pijar dan/atau aliran gas beracun. ww a (3) Kawasan keunikan proses geologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1) huruf c ditetapkan dengan kriteria: a. (2) memiliki keragaman batuan dan dapat berfungsi sebagai laboratorium alam. atau . b. atau memiliki satu-satunya batuan dan/atau jejak struktur geologi masa lalu. memiliki nilai paleo-antropologi dan arkeologi. wilayah di sekitar kawah atau kaldera. e. b. b. dan/atau wilayah yang sering terlanda awan panas. fumaroia. f. leher vulkanik. memiliki bentang alam berupa kawah. b. dan gumuk vulkanik. c.

d. .www. daratan di sekeliling mata air yang mempunyai manfaat untuk mempertahankan fungsi mata air.org 2008. (2) Kawasan sempadan mata air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (3) huruf b ditetapkan dengan kriteria: a. dan/atau pernah mengalami bahaya gasas beracun.legalitas. No 48 40 (3) Kawasan rawan gerakan tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf c ditetapkan dengan kriteria memiliki tingkat kerentanan gerakan tanah tinggi. memiliki hubungan hidrogeologis yang menerus dengan daerah lepasan. memiliki lapisan penutup tanah berupa pasir sampai lanau.le 62 Kawasan imbuhan air tanah sebagaimana dimaksud ww w ayat (3) huruf a ditetapkan dengan kriteria: a. b. memiliki jenis fisik batuan dengan kemampuan meluluskan air dengan jumlah yang berarti. Kawasan rawan bahaya gas beracun sebagaimana dimaksud dalam Pasal g or 53 ayat (2) huruf g ditetapkan dengan kriteria wilayah yang berpotensi . dan wilayah dengan jarak paling sedikit 200 (dua ratus) meter dari mata air. c. b. it dalam Pasal 53 (4) (5) (6) (7) (1) al Pasalg . Kawasan yang terletak di zona patahan aktif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf d ditetapkan dengan kriteria sempadan dengan lebar paling sedikit 250 (dua ratus lima puluh) meter dari tepi jalur patahan aktif. Kawasan rawan tsunami sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf e ditetapkan dengan kriteria pantai dengan elevasi rendah dan/atau berpotensi atau pernah mengalami tsunami. Kawasan rawan abrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf f ditetapkan dengan kriteria pantai yang berpotensi dan/atau pernah mengalami abrasi. dan/atau memiliki muka air tanah tidak tertekan yang letaknya lebih tinggi daripada muka air tanah yang tertekan.

kawasan peruntukan hutan produksi tetap. dan intensitas hujan dengan jumlah skor paling besar 124 (seratus dua puluh empat). ga le Kawasan peruntukan hutan produksi terbatas ditetapkan dengan kriteria memiliki faktor kemiringan lereng.legalitas. kawasan peruntukan hutan produksi. jenis tanah.org 41 2008. b. c. kawasan peruntukan lainnya. No 48 Bagian Ketiga Kawasan Budi Daya yang Memiliki Nilai Strategis Nasional Paragraf 1 Kawasan Budi Daya Pasal 63 Kawasan budi daya terdiri atas: a. Kawasan peruntukan hutan produksi yang dapat dikonversi ditetapkan dengan kriteria: (3) (4) . kawasan peruntukan pariwisata. Kawasan peruntukan hutan produksi tetap ditetapkan dengan kriteria memiliki faktor kemiringan lereng. kawasan peruntukan permukiman. kawasan peruntukan perikanan. (2) kawasan peruntukan hutan produksi terbatas. c. w wParagraf 2 . e. g. dan/atau lita . dan kawasan peruntukan hutan produksi yang dapat dikonversi. h. jenis tanah. f. kawasan peruntukan pertambangan.www. kawasan peruntukan pertanian. d. kawasan peruntukan industri. kawasan peruntukan hutan rakyat.or s g w Kriteria Kawasan Budi Daya Pasal 64 (1) Kawasan peruntukan hutan produksi terdiri atas: a. b. dan intensitas hujan dengan jumlah skor 125 (seratus dua puluh lima) sampai dengan 174 (seratus tujuh puluh empat). i.

www. tidak mengganggu kelestarian lingkungan hidup. Pasal 68 Kawasan peruntukan pertambangan yang memiliki nilai strategis nasional terdiri atas pertambangan mineral dan batubara.legalitas.l e pertanian. Kriteria teknis kawasan peruntukan hutan produksi terbatas. ditetapkan sebagai lahan w c. Pasal 65 Kawasan peruntukan hutan rakyat ditetapkan dengan kriteria kawasan yang dapat diusahakan sebagai hutan oleh orang pada tanah yang dibebani hak milik. dan intensitas hujan dengan jumlah skor paling besar 124 (seratus dua puluh empat). budi daya. Pasal 67 Kawasan peruntukan perikanan ditetapkan dengan kriteria: a. asdengan kriteria: t Kawasan peruntukan pertanian ditetapkan ali dikembangkan sebagai kawasan a. . wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan penangkapan. Kriteria teknis kawasan peruntukan perikanan ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang perikanan. dapat dikembangkan sesuai dengan tingkat ketersediaan air. Kriteria teknis kawasan peruntukan pertanian ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pertanian. dan/atau b. pertambangan minyak dan gas bumi. dan kawasan peruntukan hutan produksi yang dapat dikonversi ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang kehutanan. dan/atau d. serta air tanah. dan/atau b. memiliki kesesuaian lahan g untuk . a. merupakan kawasan yang apabila dikonversi mampu mempertahankan daya dukung dan daya tampung lingkungan. dan industri pengolahan hasil perikanan. kawasan peruntukan hutan produksi tetap.org 2008. ww pertanian pangan abadi. jenis tanah. No 48 42 (5) (1) (2) (1) (2) (1) (2) (1) memiliki faktor kemiringan lereng. g or Pasal 66 . b. mendukung ketahanan pangan nasional. Kriteria teknis kawasan peruntukan hutan rakyat ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang kehutanan. pertambangan panas bumi.

dan/atau tidak mengubah lahan produktif. atau gas berdasarkan peta/data geologi.or s g (1) le Pasal w. berada di luar kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana. Pasal 71 Kawasan peruntukan permukiman ditetapkan dengan kriteria: a. b. . b. dan/atau merupakan bagian proses upaya merubah kekuatan ekonomi potensil menjadi kekuatan ekonomi riil. dan/atau mendukung upaya pelestarian budaya. dan utilitas pendukung. (3) Kriteria teknis kawasan peruntukan pertambangan ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pertambangan. (1) (2) Kriteria teknis kawasan peruntukan permukiman ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang perumahan dan permukiman. berupa wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan industri. g di w Kawasan peruntukan pariwisata ditetapkan dengan kriteria: a. No 48 (2) Kawasan peruntukan pertambangan ditetapkan dengan kriteria: a. c. merupakan wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk pemusatan kegiatan pertambangan secara berkelanjutan.org 43 2008. memiliki objek dengan daya tarik wisata.www. 70 w (2) Kriteria teknis kawasan peruntukan pariwisata ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pariwisata. memiliki akses menuju pusat kegiatan masyarakat di luar kawasan. b. (1) (2) a Kriteria teknis kawasan peruntukanlitindustri ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya a bidang industri. dan/atau memiliki kelengkapan prasarana. sarana. cair. tidak mengganggu kelestarian fungsi lingkungan hidup. keindahan alam.legalitas. c. c. . b. memiliki sumber daya bahan tambang yang berwujud padat. dan lingkungan. Pasal 69 Kawasan peruntukan industri ditetapkan dengan kriteria: a.

prasarana listrik. Pasal 74 li a (1) g ta ww3 (tiga) kawasan perkotaan. dan air baku. dan memiliki sektor unggulan yang sudah berkembang dan/atau sudah ada minat investasi. c. b. memiliki paling sedikit 1 (satu) kawasan perkotaan. e.ditetapkan dengan kriteria: a. pelabuhan laut dan/atau bandar udara. No 48 44 Paragraf 3 Penetapan Kawasan Budi Daya yang Memiliki Nilai Strategis Nasional Pasal 72 (1) (2) Kawasan budi daya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 yang memiliki nilai strategis nasional ditetapkan sebagai kawasan andalan. memiliki paling sedikit w memiliki kontribusi terhadap produk domestik bruto paling sedikit 0. memiliki kontribusi terhadap produk domestik bruto paling sedikit 0. (2) Kawasan andalan prospektif berkembang ditetapkan dengan kriteria: a. Pasal 73 (1) (2) (3) Kawasan andalan terdiri atas kawasan andalan darat dan kawasan andalan laut. b. serta fasilitas penunjang kegiatan ekonomi kawasan.05% (nol koma nol lima persen). g Kawasan andalan tercantum dalam Lampiran IX yang merupakan or ini.www.org 2008. memiliki jumlah penduduk paling sedikit 3% (tiga persen) dari jumlah penduduk provinsi. telekomunikasi. Kawasan andalan darat terdiri atas kawasan andalan berkembang dan kawasan andalan prospektif berkembang. memiliki prasarana berupa jaringan jalan. Nilai strategis nasional meliputi kemampuan kawasan untuk memacu pertumbuhan ekonomi kawasan dan wilayah di sekitarnya serta mendorong pemerataan perkembangan wilayah. c. . le Kawasan andalan berkembang. memiliki laju pertumbuhan ekonomi paling sedikit 4% (empat persen) per tahun.legalitas. bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah s.25% (nol koma dua lima persen). d.

b. No 48 d. f. b. dan memiliki sektor unggulan yang potensial untuk dikembangkan. ww le w.legalitas. b. (3) a. . diperuntukkan bagi kepentingan pemeliharaan pertahanan negara berdasarkan geostrategi nasional. dan/atau fungsi dan daya dukung lingkungan hidup.5% (nol koma lima persen) dari jumlah penduduk provinsi. c. daerah uji coba sistem persenjataan. c. e. e. atau merupakan wilayah kedaulatan negara termasuk pulau-pulau kecil terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga dan/atau laut lepas.o ta diperuntukkan bagi basis militer. dan/atau kawasan industri sistem pertahanan. gudang amunisi. d. memiliki pusat pengolahan hasil laut. Pasal 76 Kawasan strategis nasional dari sudut kepentingan pertahanan dan keamanan ditetapkan dengan kriteria: a. daerah latihan militer. memiliki prasarana berupa jaringan jalan. memiliki sumber daya kelautan. g i s. sosial dan budaya. dan memiliki akses menuju pasar nasional atau internasional. pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi. pelabuhan laut. keamanan dan pertumbuhan ekonomi.org 45 2008. BAB V PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS NASIONAL Bagian Kesatu Kriteria Kawasan Strategis Nasional rg Pasal 75 Kawasan andalan laut ditetapkan dengan kriteria: Penetapan kawasan strategis nasional dilakukan berdasarkan kepentingan: al a.www. daerah pembuangan amunisi dan peralatan pertahanan lainnya. pertahanan dan keamanan. memiliki jumlah penduduk paling sedikit 0. dan prasarana lainnya yang belum memadai. c.

c. diperuntukkan bagi kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berdasarkan lokasi sumber daya alam strategis nasional. didukung jaringan prasarana dan fasilitas penunjang kegiatan ekonomi. Pasal 78 lita g s g Kawasan strategis nasional dari sudut kepentingan sosial dan budaya ditetapkan . e.okawasan tertinggal. Pasal 79 w Kawasan strategis nasional dari sudut kepentingan pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi ditetapkan dengan kriteria: a. memberikan perlindungan terhadap keanekaragaman budaya. memiliki sektor unggulan yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi nasional. merupakan aset nasional atau internasional yang harus dilindungi dan dilestarikan. pengembangan antariksa. b. c. berfungsi untuk mempertahankan tingkat produksi pangan nasional dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional. memiliki kegiatan ekonomi yang memanfaatkan teknologi tinggi.org 2008. d. atau memiliki potensi kerawanan terhadap konflik sosial skala nasional. merupakan tempat perlindungan peninggalan budaya nasional. . e. f. merupakan prioritas peningkatan kualitas sosial dan budaya serta jati diri bangsa. No 48 46 Pasal 77 Kawasan strategis nasional dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi ditetapkan dengan kriteria: a.legalitas. serta tenaga atom dan nuklir. berfungsi untuk mempertahankan tingkat produksi sumber energi dalam rangka mewujudkan ketahanan energi nasional. g.l e dengan kriteria: w a.www. b. d. a w merupakan tempat pelestarian dan pengembangan adat istiadat atau budaya nasional. h. memiliki potensi ekspor. f. b. atau ditetapkan untuk mempercepat pertumbuhan r . memiliki potensi ekonomi cepat tumbuh. memiliki sumber daya alam strategis nasional.

www. memberikan perlindungan keseimbangan tata guna air yang setiap tahun berpeluang menimbulkan kerugian negara. d. menuntut prioritas tinggi peningkatan kualitas lingkungan hidup. berfungsi sebagai pusat pengendalian dan pengembangan antariksa. g.l e luas terhadap kelangsungan w kehidupan. Pemerintah dapat menetapkan kawasan strategis nasional selain yang tercantum dalam Lampiran X berdasarkan kriteria yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini. tercantum dalam Lampiran X yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini.legalitas. Pasal 82 (1) Penetapan kawasan strategis nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77. . memberikan perlindungan terhadap keseimbangan iklim makro. Pasal 80 Kawasan strategis nasional dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup ditetapkan dengan kriteria: a. atau berfungsi sebagai lokasi penggunaan teknologi tinggi strategis. flora dan/atau fauna yang hampir punah atau diperkirakan akan punah yang harus dilindungi dan/atau dilestarikan. d. merupakan aset nasional berupa kawasan lindung yang ditetapkan bagi perlindungan ekosistem. merupakan tempat perlindungan keanekaragaman hayati. Kawasan strategis nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan. atau c. w wBagian Kedua Pasal 81 Penetapan dan Rencana Pengembangan Kawasan Strategis Nasional a ta s li Penetapan kawasan strategis nasional berdasarkan kepentingan pertahanan dan keamanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.org 47 2008. BAB VI (2) (3) . dan Pasal 80. b. e. berfungsi sebagai pusat pengendalian tenaga atom dan nuklir. g g sangat menentukan dalam perubahan rona alam dan mempunyai dampak . Pasal 79. f. No 48 c.or rawan bencana alam nasional. e. Pasal 78.

Pasal 84 (1) Program pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 ayat (2) disusun berdasarkan indikasi program utama lima tahunan yang ditetapkan dalam Lampiran XI yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini. as Pendapatan dan Belanja Negara. ww BAB VII ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH NASIONAL Bagian Kesatu Umum Pasal 85 (1) Arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional. No 48 48 ARAHAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH NASIONAL Pasal 83 (1) (2) Pemanfaatan ruang wilayah nasional berpedoman pada rencana struktur ruang dan pola ruang. Daerah. dan/atau kerja g Kerja sama pendanaan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan w. Anggaran Pendapatan dan Belanja t ali sama pendanaan. indikasi arahan peraturan zonasi sistem nasional. perundang-undangan. arahan perizinan.org 2008. Pemanfaatan ruang wilayah nasional dilaksanakan melalui penyusunan dan pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta perkiraan pendanaannya. Pendanaan program pemanfaatan ruang obersumber dari Anggaran . investasi swasta. b.www. Arahan pengendalian pemanfaatan ruang terdiri atas: a. c. arahan pemberian insentif dan disinsentif. (3) (2) rg (3) le (2) .legalitas. dan arahan sanksi. Perkiraan pendanaan program pemanfaatan ruang disusun sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. d.

ww w kawasan budi daya. d. ali g .ledan kawasan lindung nasional. sistem jaringan transportasi nasional. c. c. . No 48 Bagian Kedua Indikasi Arahan Peraturan Zonasi Sistem Nasional Pasal 86 (1) Indikasi arahan peraturan zonasi sistem nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (2) huruf a digunakan sebagai pedoman bagi pemerintah daerah kabupaten/kota dalam menyusun peraturan zonasi. yang terdiri atas: a. b.www. dan pembatasan intensitas pemanfaatan ruang agar tidak mengganggu fungsi sistem perkotaan nasional dan jaringan prasarana nasional. ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang yang menyebabkan gangguan terhadap berfungsinya sistem perkotaan nasional dan jaringan prasarana nasional. sistem perkotaan nasional. as t sistem jaringan sumber daya air. pemanfaatan ruang di sekitar jaringan prasarana nasional untuk mendukung berfungsinya sistem perkotaan nasional dan jaringan prasarana nasional. sistem jaringan energi nasional. Indikasi arahan peraturan zonasi sistem nasional meliputi indikasi arahan peraturan zonasi untuk struktur ruang dan pola ruang.legalitas. f. g. b. sistem jaringan telekomunikasi nasional. Paragraf 1 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Struktur Ruang Pasal 87 Indikasi arahan peraturan zonasi untuk sistem perkotaan nasional dan jaringan prasarana nasional disusun dengan memperhatikan: a. e.org 49 2008. (2) g or .

pusat promosi investasi dan pemasaran.org 2008. pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi perkotaan berskala internasional dan nasional yang didukung dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya. . b. l w. pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi perkotaan yang berdaya saing. Pasal 89 Peraturan zonasi untuk PKSN disusun dengan memperhatikan: a. dan eg b. serta pintu gerbang internasional dengan fasilitas kepabeanan.www. pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi perkotaan berskala rg ofasilitas dan infrastruktur provinsi yang didukung dengan . tas kegiatan ekonomi yang perkotaan yang sesuai dengan ali dilayaninya. imigrasi. (2) Peraturan zonasi untuk PKW disusun dengan memperhatikan: a. b. dan pemanfaatan untuk kegiatan kerja sama militer dengan negara lain secara terbatas dengan memperhatikan kondisi fisik lingkungan dan sosial budaya masyarakat.legalitas. No 48 50 Paragraf 2 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Sistem Perkotaan Nasional Pasal 88 (1) Peraturan zonasi untuk PKN disusun dengan memperhatikan: a. dan keamanan. pertahanan. dan pengembangan fungsi kawasan perkotaan sebagai pusat permukiman dengan tingkat intensitas pemanfaatan ruang menengah hingga tinggi yang kecenderungan pengembangan ruangnya ke arah vertikal. kawasan perkotaan sebagai pengembangan fungsi ww permukiman dengan tingkat intensitas pemanfaatan pusat ruang menengah yang kecenderungan pengembangan ruangnya ke arah horizontal dikendalikan. (3) Peraturan zonasi untuk PKL disusun dengan memperhatikan pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi berskala kabupaten/kota yang didukung dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya. karantina.

dan penetapan garis sempadan bangunan di sisi jalan nasional yang memenuhi ketentuan ruang pengawasan jalan. Peraturan zonasi untuk jaringan jalur kereta api disusun dengan memperhatikan: . No 48 Paragraf 3 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Sistem Jaringan Transportasi Nasional Pasal 90 Peraturan zonasi untuk jaringan jalan nasional disusun dengan memperhatikan: a. ketentuan pelarangan kegiatan di ruang udara bebas di atas perairan yang berdampak pada keberadaan alur pelayaran sungai. c. ww ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang pengawasan w jalur kereta api yang dapat mengganggu kepentingan operasi dan keselamatan transportasi perkeretaapian.legalitas. dan penyeberangan disusun dengan memperhatikan: a. keselamatan dan keamanan pelayaran. pembatasan pemanfaatan ruang yang peka terhadap dampak lingkungan akibat lalu lintas kereta api di sepanjang jalur kereta api. pemanfaatan ruang di sepanjang sisi lita jaringan jalur kereta api dilakukan a hingga tinggi yang kecenderungan dengan tingkat intensitas menengah g pengembangan ruangnya dibatasi. e. . dan penyeberangan. (1) . Pasal 91 b. c. pembatasan jumlah perlintasan sebidang antara jaringan jalur kereta api dan jalan. Pasal 92 Peraturan zonasi untuk jaringan transportasi sungai.or a.www. b. d. ketentuan pelarangan alih fungsi lahan yang berfungsi lindung di sepanjang sisi jalan nasional. dan penetapan garis sempadan bangunan di sisi jaringan jalur kereta api dengan memperhatikan dampak lingkungan dan kebutuhan pengembangan jaringan jalur kereta api.org 51 2008.l e g s b. danau. pemanfaatan ruang di sepanjang sisi jalan nasional dengan tingkat intensitas menengah hingga tinggi yang kecenderungan pengembangan ruangnya dibatasi. danau.

danau. pemanfaatan ruang pada badan air di sepanjang alur pelayaran dibatasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. pemanfaatan ruang untuk kebutuhan operasional bandar udara.e c. Pemanfaatan ruang di dalam Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan harus mendapatkan izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.org 2008. dan penyeberangan. Pemanfaatan ruang di dalam dan di sekitar pelabuhan sungai. ketentuan pelarangan kegiatan ldi ruang ai g air yang berdampak padalkeberadaan jalur transportasi laut. No 48 52 c. dan penyeberangan. pemanfaatan ruang pada kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil di sekitar badan air di sepanjang alur pelayaran dilakukan dengan tidak mengganggu aktivitas pelayaran. . dan . dan . dan d. pemanfaatan ruang di sekitar bandar udara sesuai dengan kebutuhan pengembangan bandar udara berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. pemanfaatan ruang untuk kebutuhan operasional dan or pengembangan kawasan pelabuhan. Pasal 94 Peraturan zonasi untuk bandar udara umum disusun dengan memperhatikan: a. danau. pembatasan pemanfaatan ruang di dalam Daerah Lingkungan ww w Kerja Pelabuhan dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan harus mendapatkan izin sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. dan b. danau. b. Peraturan zonasi untuk alur pelayaran disusun dengan memperhatikan: a. dan penyeberangan harus memperhatikan kebutuhan ruang untuk operasional dan pengembangan kawasan pelabuhan.legalitas. (2) (3) (1) (2) (1) ketentuan pelarangan kegiatan di bawah perairan yang berdampak pada keberadaan alur pelayaran sungai. tas udara bebas di atas badan b. pembatasan pemanfaatan perairan yang berdampak pada keberadaan alur pelayaran sungai.www. Pasal 93 Peraturan zonasi untuk pelabuhan umum disusun dengan memperhatikan: g a.

Paragraf 6 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Sistem Jaringan Sumber Daya Air Pasal 97 Peraturan zonasi untuk sistem jaringan sumber daya air pada wilayah sungai disusun dengan memperhatikan: c. . g or listrik disusun dengan .www.org 53 2008. Paragraf 5 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Sistem Jaringan Telekomunikasi Nasional Pasal 96 Peraturan zonasi untuk sistem jaringan telekomunikasi disusun dengan memperhatikan pemanfaatan ruang untuk penempatan stasiun bumi dan menara pemancar telekomunikasi yang memperhitungkan aspek keamanan dan keselamatan aktivitas kawasan di sekitarnya.legalitas.letransmisi tenaga listrik disusun dengan (3) Peraturan zonasi untuk jaringan ww memperhatikan ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang bebas di w sepanjang jalur transmisi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. (2) Peraturan zonasi untuk pembangkit tenaga as pembangkit listrik harus t memperhatikan pemanfaatan ruang di sekitar ali lain. memperhatikan jarak aman dari kegiatan g . (2) Peraturan zonasi untuk ruang udara untuk penerbangan disusun dengan memperhatikan pembatasan pemanfaatan ruang udara yang digunakan untuk penerbangan agar tidak mengganggu sistem operasional penerbangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangperundangan. No 48 batas-batas Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan dan batas-batas kawasan kebisingan. Paragraf 4 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Sistem Jaringan Energi Nasional Pasal 95 (1) Peraturan zonasi untuk jaringan pipa minyak dan gas bumi disusun dengan memperhatikan pemanfaatan ruang di sekitar jaringan pipa minyak dan gas bumi harus memperhitungkan aspek keamanan dan keselamatan kawasan di sekitarnya.

dan c. b. (2) Peraturan zonasi untuk kawasan bergambut disusun dengan memperhatikan: a. dan di bawah pengawasan ketat. Pasal 98 Peraturan zonasi untuk kawasan lindung dan kawasan budi daya disusun dengan memperhatikan: a. No 48 54 pemanfaatan ruang pada kawasan di sekitar wilayah sungai dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan dan fungsi lindung kawasan. b. ketentuan pelarangan seluruh kegiatan yang berpotensi mengurangi luas kawasan hutan dan tutupan vegetasi.le Kawasan Lindung Nasional Indikasi Arahan Peraturan Zonasi ww 99 w Pasal (1) Peraturan zonasi untuk kawasan hutan lindung disusun dengan memperhatikan: a. b. lingkungan. pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa merubah bentang alam. pemanfaatan ruang untuk kegiatan pendidikan dan penelitian tanpa mengubah bentang alam. c. ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang yang membahayakan keselamatan umum. tidak mengurangi fungsi lindung kawasan. pembatasan pemanfaatan ruang yang menurunkan kualitas fungsi or . . dan g d. as t ali Paragraf 7 g . pembatasan pemanfaatan ruang di sekitar kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana alam.www. pemanfaatan ruang di sekitar wilayah sungai lintas negara dan lintas provinsi secara selaras dengan pemanfaatan ruang pada wilayah sungai di negara/provinsi yang berbatasan. dan a.legalitas.org 2008. ketentuan pelarangan seluruh kegiatan yang berpotensi merubah tata air dan ekosistem unik. pemanfaatan ruang kawasan untuk kegiatan budidaya hanya diizinkan bagi penduduk asli dengan luasan tetap. pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa merubah bentang alam. dan b.

penyediaan sumur resapan dan/atau waduk pada lahan terbangun yang sudah ada. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang fungsi taman rekreasi. dapat (2) Peraturan zonasi untuk sempadan sungai dan kawasan sekitar danau/waduk disusun dengan memperhatikan: a. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau. . c.org 55 2008. Pasal 100 untuk sempadan pantai disusun dengan b.l e abrasi. ketentuan pelarangan pendirian bangunan kecuali bangunan yang dimaksudkan untuk pengelolaan badan air dan/atau pemanfaatan air. No 48 c. pemanfaatan ruang secara terbatas untuk kegiatan budi daya tidak terbangun yang memiliki kemampuan tinggi dalam menahan limpasan air hujan. c. b. nilai ekologis. (1) Peraturan zonasi memperhatikan: a.legalitas. dan penetapan lebar sempadan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.or s g ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c. dan penerapan prinsip zero delta Q policy terhadap setiap kegiatan budi daya terbangun yang diajukan izinnya. ta kegiatan rekreasi pantai.www. Peraturan zonasi untuk kawasan resapan air disusun dengan memperhatikan: a. e. b. d. dan estetika kawasan. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau. ww w pendirian bangunan yang dibatasi hanya untuk menunjang . d. c. li adan struktur buatan untuk mencegah pengembangan struktur alami g . dan ketentuan pelarangan semua jenis kegiatan yang menurunkan luas. (3) pengendalian material sedimen yang masuk ke kawasan bergambut melalui badan air.

pemanfaatan ruang untuk kegiatan pendidikan. d. c. dan wisata alam. e. pendidikan. dan ekosistem. ketentuan pelarangan pemanfaatan kayu bakau. b.www. c. dan cagar alam laut disusun dengan memperhatikan: a. b.o le ketentuan pelarangan kegiatan yang dapat merubah bentang alam w. cagar alam. c.legalitas. (3) Peraturan zonasi untuk kawasan pantai berhutan bakau disusun dengan memperhatikan: a. w pemanfaatan ruang untuk penelitian. b. b. Pasal 101 (1) Peraturan zonasi untuk kawasan suaka alam. pemanfaatan ruang untuk kegiatan wisata alam. penelitian. dan ketentuan pelarangan terhadap penanaman flora dan pelepasan satwa yang bukan merupakan flora dan satwa endemik kawasan. pemanfaatan ruang untuk kegiatan rekreasi. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan sebagaimana dimaksud pada huruf a. d. dan . (2) Peraturan zonasi untuk suaka margasatwa. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk bangunan penunjang kegiatan rekreasi dan fasilitas umum lainnya. dan ali g w .org 2008. No 48 56 (3) Peraturan zonasi untuk ruang terbuka hijau kota disusun dengan memperhatikan: a. suaka alam laut dan perairan lainnya disusun dengan memperhatikan: a. e. dan wisata alam. suaka margasatwa laut. ketentuan pelarangan kegiatan selain yang dimaksud pada huruf a. pembatasan kegiatan pemanfaatan sumber daya alam. rg s ketentuan pelarangan kegiatantayang dapat mengurangi daya dukung dan daya tampung lingkungan. ketentuan pelarangan pemanfaatan biota yang dilindungi peraturan perundang-undangan. ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c. dan ketentuan pelarangan pendirian bangunan permanen selain yang dimaksud pada huruf b.

dan di bawah pengawasan ketat. c. d. pendidikan. No 48 c. dan ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c. pemanfaatan ruang kawasan untuk kegiatan budidaya hanya diizinkan bagi penduduk asli di zona penyangga dengan luasan tetap. pemanfaatan untuk penelitian. (7) pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa mengubah bentang alam.o g disusun dengan ketentuan pelarangan kegiatan selain yang dimaksud pada huruf a. (4) ketentuan pelarangan kegiatan yang dapat mengubah mengurangi luas dan/atau mencemari ekosistem bakau. ga li ta s hutan r raya . ketentuan pelarangan kegiatan selain yang dimaksud pada huruf a. b.www. pendidikan. dan pariwisata. c. le pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan w sebagaimana dimaksud pada huruf a. pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa merubah bentang alam. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan sebagaimana dimaksud pada huruf a. dan ketentuan pelarangan kegiatan budi daya yang berpotensi mengurangi tutupan vegetasi atau terumbu karang di zona penyangga. pemanfaatan ruang untuk penelitian. dan ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c. Peraturan zonasi untuk taman nasional dan taman nasional laut disusun dengan memperhatikan: a. untuk taman c. dan wisata alam. w (6) Peraturan zonasi untuk taman wisata alam dan taman wisata alam laut disusun dengan memperhatikan: a. d.legalitas. dan . Peraturan zonasi untuk kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan disusun dengan memperhatikan: a. w. ketentuan pelarangan kegiatan budi daya di zona inti. d. b.org 57 2008. tidak mengurangi fungsi lindung kawasan. (5) Peraturan zonasi memperhatikan: a. b.

permukiman dan fasilitas wwPasal 103 pemanfaatan untuk pariwisata tanpa mengubah bentang alam. d. (2) (3) Peraturan zonasi untuk ramsar disusun dengan memperhatikan peraturan zonasi untuk kawasan lindung. penangkaran dan pengembangbiakan satwa untuk perburuan. ketentuan pelarangan perburuan satwa yang tidak ditetapkan sebagai buruan. (2) Untuk kawasan rawan banjir. Peraturan zonasi untuk taman buru disusun dengan memperhatikan: a.legalitas. b. ketentuan pelarangan kegiatan dan pendirian bangunan yang tidak sesuai dengan fungsi kawasan. tas kepadatan rendah. rg oruang terbuka hijau dan pemanfaatan dataran banjir bagi. pemanfaatan ruang dengan mempertimbangkan karakteristik. c. penentuan lokasi dan jalur evakuasi dari permukiman penduduk. peraturan zonasi disusun dengan memperhatikan: a.org 2008. No 48 58 b. penetapan batas dataran banjir. c. b. b. c. dan penerapan standar keselamatan bagi pemburu dan masyarakat di sekitarnya. c.www. b. (1) Peraturan zonasi untuk cagar biosfer disusun dengan memperhatikan: a. Pasal 102 (1) Peraturan zonasi untuk kawasan rawan tanah longsor dan kawasan rawan gelombang pasang disusun dengan memperhatikan: a. jenis. dan pembatasan pendirian bangunan kecuali untuk kepentingan pemantauan ancaman bencana dan kepentingan umum. . dan pengendalian kegiatan budi daya yang dapat merubah bentang alam dan ekosistem. pemanfaatan untuk kegiatan perburuan secara terkendali. pembatasan pemanfaatan sumber daya alam. selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan ancaman bencana. dan pembangunan fasilitas umum dengan ali ketentuan pelarangan .leg pemanfaatan ruang bagi kegiatan w umum penting lainnya.

dan pembatasan kegiatan pemanfaatan sumber daya kelautan untuk mempertahankan makanan bagi biota yang bermigrasi. . b. b. c. b. ketentuan pelarangan kegiatan penangkapan rg pengambilan terumbu karang. pemanfaatan untuk wisata alam tanpa mengubah bentang alam. dan pembatasan pemanfaatan sumber daya alam. dan/atau pariwisata. c. pelestarian flora dan fauna endemik kawasan. pemanfaatan untuk wisata alam tanpa mengubah bentang alam. ketentuan pelarangan kegiatan pemanfaatan batuan. b. Pasal 104 t ketentuan pelarangan kegiatan lselain yang dimaksud pada huruf b ai yang dapat menimbulkan pencemaran air. eg a (1) Peraturan zonasi untuk kawasan keunikan batuan dan fosil disusun dengan memperhatikan: a.legalitas. (7) l w. (5) Peraturan zonasi untuk kawasan pengungsian satwa disusun dengan memperhatikan: a.www. fauna.org 59 2008. pelestarian flora. pemanfaatan untuk pariwisata bahari. dan kegiatan penggalian dibatasi hanya untuk penelitian arkeologi dan geologi. (2) Peraturan zonasi untuk kawasan keunikan bentang alam disusun dengan memperhatikan pemanfaatannya bagi pelindungan bentang alam yang memiliki ciri langka dan/atau bersifat indah untuk pengembangan ilmu pengetahuan. pemanfaatan untuk pariwisata tanpa mengubah bentang alam. b. dan s. c. dan ekosistem unik kawasan. ketentuan pelarangan penangkapan biota laut yang dilindungi peraturan perundang-undangan. koridor bagi jenis satwa atau biota laut Peraturan zonasi untuk kawasan w yang dilindungi disusunw dengan memperhatikan: a. c. No 48 (4) Peraturan zonasi untuk kawasan perlindungan plasma nutfah disusun dengan memperhatikan: a. budaya.o ikan dan (6) Peraturan zonasi untuk terumbu karang disusun dengan memperhatikan: a. dan pembatasan pemanfaatan sumber daya alam.

org 2008. Pasal 106 (1) Peraturan zonasi untuk kawasan imbuhan air tanah disusun dengan g or memperhatikan: . dan penerapan prinsip zero delta Q policy terhadap setiap kegiatan budi daya terbangun yang diajukan izinnya. b. c. . penentuan lokasi dan jalur evakuasi dari permukiman penduduk. jenis.www. a. Pasal 105 Peraturan zonasi untuk kawasan rawan bencana alam geologi disusun dengan memperhatikan: a. b. (2) tas kegiatan budi daya tidak pemanfaatan ruang secara terbatas untuk ali terbangun yang memiliki g kemampuan tinggi dalam menahan . pembatasan pemanfaatan hasil hutan untuk menjaga kestabilan neraca sumber daya kehutanan.legalitas. c. Paragraf 8 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi Kawasan Budi Daya Pasal 107 Peraturan zonasi untuk kawasan hutan produksi dan hutan rakyat disusun dengan memperhatikan: a. dan ancaman bencana. b. pemanfaatan ruang dengan mempertimbangkan karakteristik. No 48 60 (3) Peraturan zonasi untuk kawasan keunikan proses geologi disusun dengan memperhatikan pemanfaatannya bagi pelindungan kawasan yang memiki ciri langka berupa proses geologi tertentu untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan/atau pariwisata. Peraturan zonasi untuk kawasan sempadan mata air disusun dengan memperhatikan: a. dan pembatasan pendirian bangunan kecuali untuk kepentingan pemantauan ancaman bencana dan kepentingan umum.l e limpasan air hujan. dan pelarangan kegiatan yang dapat menimbulkan pencemaran terhadap mata air. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau. w penyediaan sumur resapan dan/atau waduk pada lahan terbangun ww yang sudah ada.

dan c. pemanfaatan ruang untuk kegiatan industri baik yang sesuai dengan kemampuan penggunaan teknologi. pemanfaatan ruang untuk permukiman petanigdan/atau nelayan dengan .or kepadatan rendah. pengaturan pendirian bangunan agar tidak mengganggu fungsi alur pelayaran yang ditetapkan peraturan perundang-undangan. pemanfaatan ruang untuk permukiman petani dengan kepadatan rendah. Pasal 109 Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan perikanan disusun dengan memperhatikan: a. pemanfaatan sumber dayaww perikanan agar tidak melebihi potensi lestari. dan c. tas dan/atau kawasan sabuk li b. dan .org 61 2008. w Pasal 110 Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pertambangan disusun dengan memperhatikan: a.www. potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia di wilayah sekitarnya. pemanfaatan ruang untuk kawasanapemijahan g hijau. pengaturan kawasan tambang dengan memperhatikan keseimbangan antara biaya dan manfaat serta keseimbangan antara risiko dan manfaat.legalitas. No 48 pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan pemanfaatan hasil hutan. Pasal 108 Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pertanian disusun dengan memperhatikan: a. . dan b. b. dan b. Pasal 111 Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan industri disusun dengan memperhatikan: a.l e c. ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf b. ketentuan pelarangan alih fungsi lahan menjadi lahan budi daya non pertanian kecuali untuk pembangunan sistem jaringan prasarana utama. pengaturan bangunan lain disekitar instalasi dan peralatan kegiatan pertambangan yang berpotensi menimbulkan bahaya dengan memperhatikan kepentingan daerah.

www.legalitas.org

2008, No 48

62

b.

pembatasan pembangunan perumahan baru sekitar kawasan peruntukan industri. Pasal 112

Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pariwisata disusun dengan memperhatikan: a. b. c. d. pemanfaatan potensi alam dan budaya masyarakat sesuai daya dukung dan daya tampung lingkungan; perlindungan terhadap situs peninggalan kebudayaan masa lampau; pembatasan pendirian bangunan hanya untuk menunjang kegiatan pariwisata; dan ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c. Pasal 113

g Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan permukiman disusun dengan or memperhatikan: s.
a. b. c. d. penetapan amplop bangunan; penetapan tema arsitektur bangunan; .l e

g

lita a

ww dan lingkungan; dan penetapan kelengkapan w bangunan
Bagian Ketiga Arahan Perizinan Pasal 114

penetapan jenis dan syarat penggunaan bangunan yang diizinkan.

(1)

Arahan perizinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (2) huruf b merupakan acuan bagi pejabat yang berwenang dalam pemberian izin pemanfaatan ruang berdasarkan rencana struktur dan pola ruang yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah ini. Izin pemanfaatan ruang diberikan oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan kewenangannya. Pemberian izin pemanfaatan ruang dilakukan menurut prosedur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pemberian izin pemanfaatan ruang yang berdampak besar dan penting dikoordinasikan oleh Menteri. Bagian Keempat

(2) (3) (4)

www.legalitas.org

63

2008, No 48

Arahan Insentif dan Disinsentif Pasal 115 (1) Arahan pemberian insentif dan disinsentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (2) huruf c merupakan acuan bagi pemerintah dalam pemberian insentif dan pengenaan disinsentif. Insentif diberikan apabila pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana struktur ruang, rencana pola ruang, dan indikasi arahan peraturan zonasi yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini. Disinsentif dikenakan terhadap pemanfaatan ruang yang perlu dicegah, dibatasi, atau dikurangi keberadaannya berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini. Pasal 116 (1) Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif dalam pemanfaatan ruang wilayah nasional dilakukan oleh Pemerintah kepada pemerintah daerah g dan kepada masyarakat. or .

(2)

(3)

(2)

Pemberian insentif dan pengenaan lita disinsentif dilakukan oleh instansi berwenang sesuai dengan kewenangannya. ga Insentif kepada pemerintah daerah diberikan, antara lain, dalam bentuk: w a. b. c. d. pemberian kompensasi; urun saham; pembangunan serta pengadaan infrastruktur; atau penghargaan. keringanan pajak; pemberian kompensasi; imbalan; sewa ruang; urun saham; penyediaan infrastruktur; kemudahan prosedur perizinan; dan/atau penghargaan.

s

(1)

w

Pasal 117 w.

le

(2)

Insentif kepada masyarakat diberikan, antara lain, dalam bentuk: a. b. c. d. e. f. g. h.

www.legalitas.org

2008, No 48

64

Pasal 118 (1) Disinsentif kepada pemerintah daerah diberikan, antara lain, dalam bentuk: a. b. c. (2) pembatasan penyediaan infrastruktur; pengenaan kompensasi; dan/atau penalti.

Disinsentif dari Pemerintah kepada masyarakat dikenakan, antara lain, dalam bentuk: a. b. c. d. pengenaan pajak yang tinggi; pembatasan penyediaan infrastruktur; pengenaan kompensasi; dan/atau penalti. Pasal 119

(1) (2)

Pemberian insentif dan pengenaanta disinsentif dilakukan menurut ali prosedur sesuai dengan ketentuang peraturan perundang-undangan. Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif dikoordinasikan oleh w. Menteri. ww Bagian Kelima Arahan Sanksi Pasal 120

.or s

g

le

Arahan sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (2) huruf d merupakan acuan dalam pengenaan sanksi terhadap: a. b. c. d. e. pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana struktur ruang dan pola ruang wilayah nasional; pelanggaran ketentuan arahan peraturan zonasi sistem nasional; pemanfaatan ruang tanpa izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRWN; pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRWN; pelanggaran ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRWN;

penghentian sementara kegiatan. huruf e. h. Pasal 121 Terhadap pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 huruf a. pencabutan izin.l e pembongkaran bangunan. . g. f. pembatalan izin. b. d. penghentian sementara pelayanan umum.or s g (2) Terhadap pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 huruf c dikenakan sanksi administratif berupa: a. peringatan tertulis. huruf d. penghentian sementara pelayanan umum. denda administratif. g. (1) g . pemanfataan ruang yang menghalangi akses terhadap kawasan yang oleh peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum. b. ww dan/atau pemulihan fungsi w ruang. lita a . penutupan lokasi. dan/atau denda administratif. dan/atau pemanfaatan ruang dengan izin yang diperoleh dengan prosedur yang tidak benar. e.legalitas. penghentian sementara kegiatan. No 48 f.org 65 2008. penutupan lokasi. dan huruf g dikenakan sanksi administratif berupa: a. huruf f.www. pembongkaran bangunan. c. c. e. g. i. f. d. pemulihan fungsi ruang. huruf b. peringatan tertulis. Pasal 122 Ketentuan mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif diatur dalam peraturan pemerintah tersendiri.

disusun rencana rinci tata ruang yang meliputi: a. Pasal 127 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. dan rencana tata ruang kawasan strategis nasional. dan Pulau Papua. strategis nasional ditetapkan dengan Peraturan s. . No 48 66 BAB VIII KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 123 (1) Untuk operasionalisasi RTRWN.www. Pasal 126 Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini. b. Pulau Sulawesi. Pulau Kalimantan. maka Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pulau Jawa-Bali. (2) rencana tata ruang pulau/kepulauan. BAB X KETENTUAN PENUTUP Pasal 125 RTRWN ini berlaku selama 20 (duapuluh) tahun. wwPasal 124 Pada saat mulai berlakunya Peraturan Pemerintah ini. lita BAB IX ga le KETENTUAN PERALIHAN w. (3) (4) g Rencana tata ruang pulau/kepulauan dan rencana tata ruang kawasan or Presiden.org 2008. Rencana tata ruang pulau/kepulauan disusun untuk wilayah Pulau Sumatera. semua ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan penyelenggaraan penataan ruang nasional tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. Kepulauan Maluku. Kepulauan Nusa Tenggara. Rencana tata ruang kawasan strategis nasional disusun untuk setiap kawasan strategis nasional.legalitas.

MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA .legalitas.www. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 10 Maret 2008 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. w ga le ta s li . No 48 Agar setiap orang mengetahuinya.or g ANDI MATTALATTA w w.org 67 2008. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 10 Maret 2008 REPUBLIK INDONESIA. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

www.org 2008. No 48 68 ww le w.or s g . g lita a .legalitas.

www.legalitas.org

69

2008, No 48

LAMPIRAN II PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 26 TAHUN 2008 TANGGAL : 10 MARET 2008 SISTEM PERKOTAAN NASIONAL

NO.

PROVINSI

PKN - Lhokseumawe (I/C/1)

PKW

PKSN

1 NANGGROE ACEH DARUSSALAM

- Sabang (I/A/2) - Sabang - Banda Aceh (I/D/1), (II/C/3) - Langsa (II/C/3) (I/A/2)

ww
2 SUMATERA UTARA - Kawasan

le w.

g

lita - Meulaboh a
(I/D/1), (II/C/3)

g or s. (II/C/1)

- Takengon

Perkotaan - Tebingtinggi (II/C/1) - Sidikalang (II/B) - P. Siantar (I/C/1) - Balige (II/C/1) - Rantau Prapat (II/C/1) - Kisaran (II/C/1) - Gunung Sitoli (II/C/1), (I/D/1)

Medan-Binjai-Deli Serdang-Karo (Mebidangro) (I/C/3)

www.legalitas.org

2008, No 48

70

NO.

PROVINSI

PKN

PKW - P.Sidempuan (II/C/1) - Sibolga (II/C/1)

PKSN

3 SUMATERA BARAT

Padang (I/C/1)

- Pariaman (II/C/1) - Sawahlunto (II/C/1) - Muarasiberut (II/C/2) - Bukittinggi (I/C/1) - Dumai (II/A/1)

4 RIAU

- Pekanbaru (I/C/1) - Dumai (I/C/1)

ww

le w.

g

lita - Bangkinang a
(II/B) - Taluk Kuantan (II/C/1) - Bengkalis (II/B) - Bagan Siapiapi (II/B) - Tembilahan (I/C/1) - Rengat (II/C/1) - Pangkalan Kerinci (II/C/1) - Pasir Pangarayan (I/C/1) - Siak Sri Indrapura (II/C/1)

.or s

g

www.legalitas.org

71

2008, No 48

NO.

PROVINSI

PKN

PKW

PKSN

5 KEPULAUAN RIAU - Batam (I/C/3)

- Tanjung Pinang - Batam (II/C/1) - Terempa (II/B) - Daik Lingga (II/B) - Dabo – P. Singkep (II/B) - Tanjung Balai Karimun (II/C/1) (I/A/1) - Ranai (I/A/2)

6 JAMBI

- Jambi (I/C/1)

ww
7 SUMATERA SELATAN - Palembang (I/C/1)

le w.

g

lita - Sarolangun a
(II/B) - Muarabungo (I/C/1) - Muara Bulian (II/C/1) - Muara Enim (I/C/1) - Kayuagung (II/B) - Baturaja (II/B) - Prabumulih (II/C/1) - Lubuk Linggau (II/C/1) - Sekayu (II/B) - Lahat (II/B)

.or s

- Kuala Tungkal (II/B)

g

Manna (II/C/1) .Muko-Muko (II/C/2) .www.Tanjungpandan 10 LAMPUNG .Kawasan Perkotaan IBUKOTA Jabodetabek (I/C/3) JAKARTA .Pangkal Pinang (I/C/1) .BANTEN 12 BANTEN .Curup (II/C/2) PKSN 8 BENGKULU 9 BANGKA BELITUNG .Menggala (II/B) . g lita . PROVINSI PKN PKW .Rangkas Bitung (II/B) .M e t r o a (II/C/1) .org 2008.or s (I/B) .Muntok (II/B) . No 48 72 NO.legalitas.Kotabumi (II/C/1) .Pandeglang (II/B) .Kalianda (II/B) .Liwa (II/C/2) .Manggar (II/B) g .Serang (I/C/1) .Bandar Lampung (I/C/1) ww le w.Kota Agung (II/B) 11 DAERAH KHUSUS .Cilegon (I/C/1) .JAWA BARAT .Bengkulu (II/C/1) .

Cirebon(I/C/1) 14 JAWA TENGAH .Purwakarta (I/C/1) .Surakarta (I/C/1) .Kuningan PKSN 13 JAWA BARAT Bandung Raya (I/C/3) .Kawasan PKN PKW Perkotaan .Tegal (II/C/1) . PROVINSI .org 73 2008.Kawasan ww le w. No 48 NO.www.Kebumen (II/C/1) Semarang-KendalDemak-UngaranPurwodadi (Kedungsepur) (I/C/3) .Boyolali (II/B) .Sumedang (II/B) .Cikampek (II/C/1) .Tasikmalaya (II/C/1) .Pekalongan (I/C/1) .Sukabumi (I/C/2) .Klaten (II/C/1) g Perkotaan .Salatiga (II/C/1) .Wonosobo (II/C/1) .Kudus (I/C/1) .Cilacap (I/C/1) .legalitas.Cianjur (I/C/1) .or s (II/C/1) .Indramayu (II/C/1) .Cepu (II/C/1) . g lita a .Magelang (I/C/1) .

Banyuwangi (II/C/1) . No 48 74 NO.Situbondo (II/C/1) .Tuban (I/C/1) g .Sleman (II/C/1) 16 JAWA TIMUR . g lita . PROVINSI PKN PKW .www.Purwokerto (II/C/1) PKSN 15 DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA .Kediri (I/C/1) .Probolinggo (II/C/1) .Bantul (I/D/1).org 2008.Tulung Agung a (II/C/1) . (II/C/1) .legalitas.Sampang (II/C/1) .or s (I/C/1) .Jombang (II/C/1) .Yogyakarta (I/C/3) .Madiun (II/C/1) .Malang (I/C/1) ww le w.Pasuruan (Gerbangkertosusila) .Kawasan (I/C/3) Perkotaan .Sumenep (II/C/1) .

PROVINSI .org 75 2008.Ruteng (II/C/1) .Nangabadau (I/A/2)) .Paloh (II/A/2) .Entikong (II/A/2) .Entikong (I/A/1) .Singaraja (I/C/1) .Sambas (I/A/1) .Mempawah (II/B) .Jasa (II/A/2) . No 48 NO.Kefamenanu (I/A/2) w ww g .Sumbawa Besar (II/C/1) .Raba (II/B) .Jagoibabang (I/A/2)) .Ende (I/C/1) a .Putussibau (I/A/2) .Maumere (II/C/1) .Soe (II/B) PKSN 17 BALI Denpasar-BangliGianyar.Ketapang (I/B) .l e lita . .Atambua (I/A/2) .Mataram (I/C/1) BARAT 19 NUSA TENGGARA .Pontianak (I/C/1) .www.Labuan Bajo (I/C/1) g (II/B) or s.Kalabahi (I/A/2) .Semarapura (II/B) .Negara (II/B) .Waingapu (II/C/1) .Kefamenanu 20 KALIMANTAN BARAT .Praya (II/B) .Singkawang (I/C/1) .legalitas.Kupang TIMUR (I/C/1) .Tabanan (Sarbagita) (I/C/1) 18 NUSA TENGGARA .Kawasan PKN PKW Perkotaan .

Tanlumbis (II/B) (I/A/2) . No 48 76 NO.Banjarmasin (I/C/1) ww le w.Kotabaru (II/C/1) .Amuntai (II/B) .Muarateweh (II/C/1) 22 KALIMANTAN SELATAN .Malinau (II/C/1) .Martapura (II/B) .Tanjung Redeb .Long Midang (II/A/2) . g lita .Tanjung Selor (II/C/1) .legalitas.Kuala Kapuas (II/C/1) .org 2008.Long Pahangai (II/A/2) Balikpapan – Bontang .Pangkalan Bun (I/C/1) . PROVINSI PKN PKW .Sangata (I/B) .Buntok (II/C/1) .Simanggaris (I/A/2) .or s g 23 KALIMANTAN TIMUR .Nunukan (I/B) .Sampit (II/C/1) a .Sintang (II/C/1) PKSN 21 KALIMANTAN TENGAH .Nunukan – (I/C/1) .Sanggau (I/C/1) .Tarakan (I/C/1) .Palangkaraya (I/C/1) .Marabahan (II/B) .Kawasan Samarinda (I/C/1) Perkotaan .www.

Long Nawan (II/A/2) 24 GORONTALO .org 77 2008.Donggala (II/C/1) .or s . g lita .Tolitoli (II/C/1) .Kawasan (I/C/1) le w.www.Luwuk (II/C/1) .Sungai Nyamuk (II/C/2) .Poso (II/C/3) .Kolonedale (II/C/1) .Sendawar (II/C/2) .Gorontalo (I/C/1) ww 25 SULAWESI UTARA .Tahuna (I/A/2) Manado .Tanah Grogot (II/C/1) .Buol (II/C/1) .Tilamuta (II/C/2) .Palu (I/C/1) .Bitung 26 SULAWESI TENGAH .Kuandang a (II/C/2) .legalitas.Isimu (II/C/2) g Perkotaan . No 48 NO.Melonguane (I/A/2) . PROVINSI PKN PKW .Tondano (II/C/1) .Tenggarong (I/B) PKSN .Sanga-Sanga (II/C/2) .Tomohon (I/C/1) .Kotamobagu (II/C/1) .

Watampone (II/C/1) .Pangkajene (II/C/1) .Kairatu (II/C/1) .Unaaha PKSN 27 SULAWESI SELATAN 28 SULAWESI BARAT 29 SULAWESI TENGGARA .Kolaka (II/C/1) .Ambon (I/C/1) le w.Saumlaki . g lita .Kawasan Perkotaan MakassarSungguminasaTakalar-Maros (Maminasata) (I/C/3) PKW . .www.Barru (II/C/1) .Wahai (II/B) . No 48 78 NO.Bau-Bau (I/C/1) .Namlea (II/C/1) .Mamuju (I/C/1) .legalitas.Dobo (I/A/2) g or (II/C/1) s.Bulukumba (I/C/1) .org 2008.Palopo (I/C/1) .Jeneponto (I/C/1) .Tual (II/A/1) .Masohi (I/C/1) . PROVINSI PKN .Lasolo (II/C/1) a .Ilwaki (I/A/2) .Kendari (I/C/1) ww 30 MALUKU .Werinama (II/C/2) .Raha (II/C/1) .Parepare (II/C/1) .Bula (II/B) (I/A/2) .

Merauke (I/A/1) . No 48 NO.Labuha (II/C/1) . PROVINSI PKN .legalitas.Muting (II/C/2) Keterangan: I – IV: Tahapan Pengembangan A : Percepatan Pengembangan kota-kota utama kawasan Perbatasan A/1 : Pengembangan/Peningkatan fungsi A/2 : Pengembangan Baru A/3 : Revitalisasi kota-kota yang telah berfungsi B : Mendorong Pengembangan Kota-Kota Sentra Produksi Yang Berbasis Otonomi Daerah .Sarmi (II/C/2) .Arso (I/A/1) . Nabire as t .Wamena (II/C/1) .org 79 2008.Daruba (I/A/2) 31 MALUKU UTARA 32 PAPUA BARAT .Sanana (II/C/2) PKSN .Biak (I/C/1) . ali g g or (II/C/1) -.Tobelo (II/C/2) .Fak-Fak (I/C/1) .Ternate (I/C/1) PKW .Timika (I/C/1) .Manokwari (I/C/1) .www.Jayapura (I/C/1) ww le w.Sorong (I/C/1) 33 PAPUA .Tidore (II/C/1) .Arso (II/C/2) .Bade (II/C/2) .Merauke (I/C/1) .Tanah Merah (II/A/2) .Ayamaru (II/C/1) .

or s g .org 2008. No 48 80 C : Revitalisasi dan Percepatan Pengembangan Kota-Kota Pusat Pertumbuhan Nasional C/1 : Pengembangan/Peningkatan fungsi C/2 : Pengembangan Baru C/3 : Revitalisasi kota-kota yang telah berfungsi D : Pengendalian Kota-kota Berbasis Mitigasi Bencana D/1 : Rehabilitasi kota akibat bencana alam D/2 : Pengendalian perkembangan kota-kota berbasis Mitigasi Bencana PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.legalitas. g lita a . DR.www. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO ww le w. H.

3. Pekanbaru-BangkinangPayakumbuh-Bukit Tinggi (II/6) 13. 9. Jambi – Rengat (III/6) 14. Dumai . 4. Medan – Kualanamu – Tebing Tinggi (I/6) Kisaran – Tebing Tinggi (I/6) Pekanbaru – Dumai (I/6) Bukit Tinggi – Padang (I/6) Terbanggi Besar – Pematang Panggang (I/6) DALAM KOTA 1. 2.Sp Sigambal-Rantau Parapat (II/6) 11. Langsa – Lhokseumawe (III/6) .Binjai – Medan (I/6) le w. Bakauheni – Terbanggi Besar (I/6) ww Pematang Panggang-Kayu AgungSp Indralaya (II/6) Rantau Parapat-Kisaran (II/6) Duri . Indralaya – Betung (Sp.Palembang – Indralaya (I/6) 10. 8. Rengat – Pekanbaru (III/6) 15. Sekayu) – Tempino – Jambi (II/6) 12. 7. Morawa) (I/5) 2.legalitas. No 48 LAMPIRAN III PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 26 TAHUN 2008 TANGGAL : 10 MARET 2008 JALAN BEBAS HAMBATAN ANTAR KOTA PULAU SUMATERA 1.Batu.org 81 2008.Dumai (II/6) g or – Muka Kuning – 4. Binjai – Langsa (III/6) 16. 6.Balmera (Belawan-Medan-Tj.www. 5.Ampar ta s Bandara Hang Nadim (I/6) ali g 3.

Taman Mini IC – Hankam Raya. Cakung – Cilincing. Wiyoto Wiyono. 2. 2. No 48 82 ANTAR KOTA 17. Siantar – Prapat – Tarutung – Sibolga (III/6) 23. 4. 5. Hankam Raya – Cikunir. Sedyatmo (I/5) Pondok Aren – Serpong (I/5) Akses Tanjung Priok (I/5) 10. 5. Cikopo – Palimanan (I/6) 12. Cileunyi – Sumedang – Dawuan (I/6) 11. 7. Sigli – Banda Aceh (III/6) 18. Lhokseumawe – Sigli (III/6) 21. 6. Pd Pinang Ulujami)(I/5) 11. g litaJakarta – Tangerang (I/5) a Tomang – Cawang (I/5) . 3. Jembatan Selat Sunda (III/6) PULAU JAWA 1. 9.or s g Pondok Aren – Ulujami (I/5) Cawang – Tanjung Priok (Ir. Dr. 3. Kebon Jeruk . 9. Cikunir – Cakung. Kanci – Pejagan (I/6) 13. 8. 6. Muara Enim – Lahat – Lb Linggau (III/6) 20. Jakarta Outer Ring Road I : (Pondok Pinang – Taman Mini.org 2008. Semarang – Batang (I/6) 10. Tangerang – Merak (I/5) Jakarta – Bogor – Ciawi (Jagorawi) (I/5) Jakarta – Cikampek (I/5) 1. 8.Sukabumi (I/6) Sukabumi – Ciranjang (I/6) Ciranjang – Padalarang (I/6) ww le w.Sc) (I/5) Tanjung Priok – Pluit (Harbour Road) (I/5) Prof.legalitas. Pejagan – Pemalang (I/6) 14. DALAM KOTA Tomang – Grogol – Pluit (I/5) Cikampek – Padalarang (I/5) Padalarang – Cileunyi (I/5) Cilegon – Bojonegara (I/6) Ciawi .Kebon Jeruk. M. 7. Lubuk Linggau – Curup – Bengkulu (III/6) 22. 4.www. Jakarta Outer Ring Road I: (Ulumai . Palembang – Muara Enim (III/6) 19. Pemalang – Batang (I/6) 15. Tebing Tinggi – P.

Mojokerto – Surabaya (I/6) 25. Waru (Aloha) – Wonokromo – Tanjung Perak (I/6) 25. Gempol – Pandaan (I/6) 27. Pasuruan – Probolinggo (I/6) DALAM KOTA – Penjaringan) (I/5) 12. Pandaan – Malang (I/6) 28. Palimanan – Cirebon/Kanci (I/5) 14. Bogor Ring Road (I/6) 21. dan C (I/5) 15. Kertosono – Mojokerto (I/6) 24. Solo – Mantingan (I/6) 21.www. Kunciran – Serpong. Pejagan – Cilacap (III/6) 35. Yogyakarta – Solo (I/6) 19.org 83 2008. Serpong – Cinere. No 48 ANTAR KOTA 16. Cinere – Cimanggis. Bekasi – Cawang – Kampung Melayu (I/6) 18. Jakarta Outer Ring Road II: Kamal – Teluk Naga – Batu – Ceper. Cileunyi – Nagrek (III/6) 33. Gempol – Pasuruan (I/6) 29. B. Gresik-Tuban (II/6) 32. Yogyakarta – Bawen (I/6) 20. Cengkareng – Batu Ceper – Kunciran. Cilacap – Yogyakarta (III/6) 36. Mantingan – Ngawi (I/6) 22. Demak – Tuban (IV/6) 37. Semarang – Solo (I/6) 18. Soreang – Pasir Koja (I/6) 24. Bandara Juanda – Tanjung Perak (I/6) . g lita a . Surabaya – Gersik (I/5) 17. Terusan Pasteur – Ujung Berung – Cileunyi (I/6) 22.legalitas. Ciamis – Cilacap (IV/6) 19. Surabaya – Gempol (I/5) 16. Cimanggis – Cibitung. Ujung Berung – Gedebage – Majalaya (I/6) 23. Padalarang – Cileunyi (I/5) 13. Surabaya – Madura (I/6) 26. Probolinggo – Banyuwangi (I/6) 31. Ngawi – Kertosono (I/6) 23. Cibitung – Cilincing (I/6) ww le w. Depok – Antasari (I/6) 20. Nagrek – Ciamis (III/6) 34. Semarang – Demak (I/6) 17. Semarang Seksi A. SS Waru – Bandara Juanda (I/6) 26.or s g 30.

4. Atingola – Isimu (III/6) 14. 1. 2. No 48 84 ANTAR KOTA DALAM KOTA 27. 5. Isimu – Gorontalo (II/6) 11. 7. 8.org 2008. Serangan – Tanjung Benoa (I/6) Serangan-Tohpati (I/6) Canggu – Beringit – Batuan – Purnama (I/6) Kuta-Bandar Udara Ngurah Rai (II/6) Kuta-Denpasar-Tohpati (II/6) PULAU SULAWESI 1.or s g Ujung Pandang I (I/5) Makasar Seksi IV (I/6) 10. Kuta-Tanah Lot-Soka (I/6) Canggu-Beringit-Batuan-Purnama (I/6) Tohpati – Kusumba – Padangbai (II/6) Pakutatan – Soka (II/6) Negara – Pakutatan (II/6) Gilimanuk – Negara (III/6) 5. 4.legalitas. 2. Menado – Bitung (I/6) Menado-Timohon (I/6) Maros-Mandai-Makassar (I/6) Makassar-Sugguminasa (I/6) Sugguminasa-Takalar (I/6) Limboto-Gorontalo (I/6) Timohon – Amurang (I/6) Pangkajene – Maros (I/6) Makassar – Mandai (I/6) ww le w. 4. 2. 6. g 1. 6. Isimu – Marisa (III/6) . Pantoloan – Palu (II/6) 12. 2. Jatiasih – Cikarang Kerawang (II/6) – PULAU BALI 1. 9.www. Amurang – Kaiya (III/6) 13. 3. 3. 3. 5. lita a .

Kuala Kapuas –Banjarmasin (III/6) 11. Liang Anggang –Pelaihari (II/6) 8. Marabahan – Banjarmasin (III/6) 12. Pontianak – Tayan (II/6) 7. Tindantana – Palopo (III/6) 21.org 85 2008.legalitas. Pagatan – Batulicin (III/6) . Kairagi – Mapanget (III/6) 24. g lita a . Molosipat – Kasimbar (III/6) 17. Balikpapan-Samarinda (I/6) 4. ww Sp Penajam-Balikpapan (I/6) le w. No 48 ANTAR KOTA 15.or s g 3. Poso – Tindantana (III/6) 20. Maros – Watampone (III/6) PULAU KALIMANTAN DALAM KOTA 1. Singkawang – Mempawah (III/6) 9.www. Kasimbar – Tobali (III/6) 18. Pelaihari – Pagatan (III/6) 14. Sei Puyuh – Pontianak (II/6) 6. Mempawah – Sei Puyuh (III/6) 10. Marisa – Molosipat (III/6) 16. Tobali – Poso (III/6) 19. Pare Pare – Pangkajene (III/6) 23. Samarinda-Tenggarong (I/6) 5. Liang Anggang – Martapura (III/6) 13. Banjarmasin-Liang Anggang (I/6) 2. Tobali – Pantoloan (III/6) 25. Palopo – Pare Pare ((III/6) 22.

www. No 48 86 ANTAR KOTA 15.legalitas. Tanah Grogot – Penajam (III/6) 17.org 2008. ww H. DR. Bontang -Sangata (III/6) DALAM KOTA Keterangan: I – IV : Tahapan Pengembangan 5 6 : Pemantapan jaringan jalan Bebas Hambatan : Pengembangan Jaringan Jalan Bebas Hambatan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Samarinda – Bontang (III/6) 18. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO le w. Batulicin – Tanah Grogot (Kuaro) (III/6) 16. g lita a .or s g .

Tanjung Intan (Provinsi Jawa Tengah) (I/1) 13. Tenau (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (I/1) 23. 4. Tanjung Api-Api – dalam satu sistem dengan Pelabuhan Palembang as t (Sumatera Selatan) (I/1) ali g Panjang (Provinsi Lampung) (I/1) . Pontianak (Provinsi Kalimantan Barat) (I/1) 16.www. Arjuna (Provinsi Jawa Barat) (II/1) 11. Pantoloan (Provinsi Sulawesi Tengah) (I/1) 21. Benoa (Provinsi Bali) (I/2) 15. 8. 2.legalitas. No 48 LAMPIRAN IV PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 26 TAHUN 2008 TANGGAL : 10 MARET 2008 TANGGAL : PELABUHAN SEBAGAI SIMPUL TRANSPORTASI LAUT NASIONAL I. Tarakan (Provinsi Kalimantan Timur) (I/1) 19. Bitung (Provinsi Sulawesi Utara) (I/2) 20. Makassar (Provinsi Sulawesi Selatan) (I/1) 22. 7.l e ww Tanjungpriok – DKI Jakarta (dalam satu sistem dengan Bojonegara w Batam (Provinsi Kepulauan Riau) (I/1) Provinsi (Banten) (I/1) 10. Tanjung Emas (Provinsi Jawa Tengah) (I/1) 12. 9. Tanjung Perak (Provinsi Jawa Timur) (I/1) 14. 6.org 87 2008. Balikpapan (Provinsi Kalimantan Timur) (I/1) 18. 3. Ambon (Provinsi Maluku) (I/2) . PELABUHAN INTERNASIONAL 1. Banjarmasin (Provinsi Kalimantan Selatan) (I/1) 17. Sabang (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) (I/2) Belawan (Provinsi Sumatera Utara) (I/1) Sibolga (Provinsi Sumatera Utara) (II/4) Teluk Bayur (Provinsi Sumatera Barat) (I/1) Dumai (Provinsi Riau) (I/2) g or . 5.

Batulicin (Provinsi Kalimantan Selatan) (II/3) 25. Tembilahan (Provinsi Riau) (I/3) g or (III/3) . Tanjung Redep (Provinsi Kalimantan Timur) (I/3) . 9. Merak (Provinsi Banten) (I/4) 21. 3. 4. 15. Gresik (Provinsi Jawa Timur) (III/3) 22. 7. 11. Kumai (Provinsi Kalimantan Tengah) (I/3) 24. 12. No 48 88 24. Sorong (Provinsi Papua Barat) (I/2) 25.www. Tanjung Pandan (Provinsi Bangka Belitung) (I/3) 19. 6. Ketapang (Provinsi Kalimantan Barat) (II/3) 23. 13. Tanjung Sangata (Provinsi Kalimantan Timur) (I/3) 28. Pomako (Provinsi Papua) (I/1) II.org 2008. Samarinda (Provinsi Kalimantan Timur) (I/3) 27. Moro Sulit (Provinsi Kepulauan Riau) (III/3) 17. 2. PELABUHAN NASIONAL 1. Kuala Tungkal (Provinsi Jambi) (I/3) 18. 14. Nunukan (Provinsi Kalimantan Timur) (I/3) 26.legalitas.l e Dabo – Singkep (Provinsi Kepulauan Riau) (III/3) ww w Ranai (Provinsi Kepulauan Riau) (I/3) 16. Lhokseumawe (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) (I/3) Meulaboh (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) (I/4) Tanjung Balai Asahan (Provinsi Sumatera Utara) (I/3) Perawang (Provinsi Riau) (I/3) Sungai Pakning (Provinsi Riau) (III/3) Kuala Enok (Provinsi Riau) (III/3) Tanjung Kedabu (Provinsi Riau) (III/3) Buatan (Provinsi Riau) (III/3) Pulau Kijang (Provinsi Riau) (III/3) 10. Pulau Baai (Provinsi Bengkulu) (III/3) 20. 5. Tanjung Balai Karimun (Provinsi Kepulauan Riau) as(III/3) t Tanjung Pinang (Provinsi Kepulauan Riau) ali g Pulau Sambu (Provinsi Kepulauan Riau) (III/3) . 8.

or s g DR. H. Donggala (Provinsi Sulawesi Tengah) (I/3) 34. Jayapura (Provinsi Papua) (I/4) 50. Bima (Provinsi Nusa Tenggara Barat) (I/3) 39. No 48 29. Tanjung Selor (Provinsi Kalimantan Timur) (II/3) 31. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO . Biak (Provinsi Papua) (I/4) 49. g lita a . Tanjung Santan (Provinsi Kalimantan Timur) (II/3) 32. Lembar (Provinsi Nusa Tenggara Barat) (I/3) 38. Parepare (Provinsi Sulawesi Selatan) (II/3) 36. Saumlaki (Provinsi Maluku) (I/3) 46. Maumere (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (I/3) 41. Waingapu (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (I/3) 42. Gorontalo (Provinsi Gorontalo) (I/3) 33. Manokwari (Provinsi Papua Barat) (I/3) 48. Labuha (Provinsi Maluku Utara) (I/3) 44. Dobo (Provinsi Maluku) (I/3) 45.www.org 89 2008. ww le w. Merauke (Provinsi Papua) (I/4) Keterangan: I – IV : Tahapan Pengembangan 1 2 3 4 : Pemantapan Pelabuhan Internasional : Pengembangan Pelabuhan Internasional : Pemantapan Pelabuhan Nasional : Pengembangan Pelabuhan Nasional PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Belang-Belang (Provinsi Sulawesi Barat) (II/3) 37. Ternate (Provinsi Maluku Utara) (I/4) 43. Pasir/Tanah Grogot (Provinsi Kalimantan Timur) (II/3) 30. Toli-toli (Provinsi Sulawesi Tengah) (II/3) 35. Labuhan Lombok (Provinsi Nusa Tenggara Barat) (I/3) 40. Kaimana (Provinsi Papua Barat) (I/3) 47.legalitas.

Sepinggan (Provinsi Kalimantan Timur) (I/1) II. Soekarno-Hatta (Provinsi Banten) (I/1) 4. Juanda (Provinsi Jawa Timur) (I/1) 5.www.or s g . Sultan Syarif Kasim II (Provinsi Riau) (I/4) 4. Hang Nadim (Provinsi Kepulauan Riau) (I/1) 3. Djalaludin (Provinsi Gorontalo) (I/3) 13. Eltari (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (I/3) 9. Mutiara (Provinsi Sulawesi Tengah) (I/3) lita a . Adisutjipto (Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta) – dalam satu sistem dengan Adi Sumarno (Jawa Tengah) (I/3) 2. Ngurah Rai (Provinsi Bali) (I/1) 6. Supadio (Provinsi Kalimantan Barat) (I/3) 10. Samarinda Baru (Provinsi Kalimantan Timur) (III/4) 12. Syamsuddin Noor (Provinsi Kalimantan Selatan) (I/3) 11. Hasanuddin (Provinsi Sulawesi Selatan) (I/2) 1.legalitas. Sam Ratulangi (Provinsi Sulawesi Utara) ww w 7. Ahmad Yani (Provinsi Jawa Tengah) (I/3) 7. No 48 90 LAMPIRAN V PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 26 TAHUN 2008 TANGGAL : 10 MARET 2008 BANDAR UDARA SEBAGAI SIMPUL TRANSPORTASI UDARA NASIONAL I. Minangkabau (Provinsi Sumatera Barat) (I/3) 3. SM Badaruddin II (Provinsi Sumatera Selatan) (I/4) 5. PUSAT PENYEBARAN SEKUNDER g . PUSAT PENYEBARAN PRIMER 1. Selaparang/Praya (Provinsi Nusa Tenggara Barat) (I/4) 8.le (I/1) 8. Kuala Namu (Provinsi Sumatera Utara) (I/2) 2.org 2008. Majalengka (Provinsi Jawa Barat) (I/3) 6.

Haliwen (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (IV/5) 18. Sultan Iskandar Muda (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) (III/5) 2.www. Wai Oti (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (IV/5) 15. Rahadi Usman (Provinsi Kalimantan Barat) (I/5) 22. Mopah (Provinsi Papua) (I/3) III. Sultan Thaha (Provinsi Jambi) (I/5) 7. Juwata (Provinsi Kalimantan Timur) (IV/6) 26. Wolter Monginsidi (Provinsi Sulawesi Tenggara) (II/3) 15. Husein Sastra Negara (Provinsi Jawa Barat) (I/6) 11. Iskandar (Provinsi Kalimantan Tengah) (I/5) 24. M. Stagen (Provinsi Kalimantan Selatan) (III/5) 25. Susilo (Provinsi Kalimantan Barat) (I/5) 21. Fatmawati (Provinsi Bengkulu) (III/5) 8. Abdulrachman Saleh (Provinsi Jawa Timur) (IV/E/5) 13. No 48 14. Mau Hau (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (I/5) 17. Salahuddin (Provinsi Nusa Tenggara Barat) (IV/5) 14. PUSAT PENYEBARAN TERSIER 1. Pangsuma (Provinsi Kalimantan Barat) (I/5) 20.legalitas. Paloh (Provinsi Kalimantan Barat) (I/5) 19. Kalimarau-Berau (Provinsi Kalimantan Timur) (I/5) 27. Cakrabhuwana (Provinsi Jawa Barat) (IV/5) 12. H.or s g . Nunukan (Provinsi Kalimantan Timur) (I/5) ww le w. Ranai (Provinsi Kepulauan Riau) (I/5) 4.org 91 2008. g lita a . Aroeboesman (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (I/5) 16. Pinang Kampai (Provinsi Riau) (I/5) 6. Sentani (Provinsi Papua) (I/3) 16. Radin Inten II (Provinsi Lampung) (I/5) 3. HS Hanandjoeddin (Provinsi Bangka Belitung) (I/5) 9. Kijang (Provinsi Kepulauan Riau) (IV/5) 5. Cilik Riwut (Provinsi Kalimantan Tengah) (I/5) 23. Depati Amir (Provinsi Bangka Belitung) (I/5) 10.

Waisai (Provinsi Papua Barat) (IV/6) 36.www.org 2008. Bontang (Provinsi Kalimantan Timur) (I/5) 29. Bubung (Provinsi Sulawesi Tengah) (III/5) 32. Wamena (Provinsi Papua) (II/5) 40. No 48 92 28.legalitas.or s g PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO . Sultan Babullah (Provinsi Maluku Utara) (I/5) 35. Timika (Provinsi Papua) (I/5) Keterangan: I – IV : Tahapan Pengembangan 1 2 3 4 5 6 : Pemantapan Bandar Udara Primer : Pengembangan Bandar Udara Primer : Pemantapan Bandar Udara Sekunder : Pengembangan Bandar Udara Sekunder : Pemantapan Bandar Udara Tersier : Pengembangan Bandar Udara Tersier ww le w. g lita a . H. Frank Kaisepo (Provinsi Papua) (I/5) 39. Pattimura (Provinsi Maluku) (I/5) 33. Tampa Padang (Provinsi Sulawesi Barat) (IV/5) 30. Melonguane (Provinsi Sulawesi Utara) (III/5) 31. DR. Rendani (Provinsi Papua Barat) (I/5) 38. Nabire (Provinsi Papua) (II/5) 41. Olilit/Saumlaki Baru (Provinsi Maluku) (IV/6) 34. Domine Eduard Osok (Provinsi Papua Barat) (I/5) 37.

g lita a . Belawan – Ular – Padang (I-IV/A/1) Sumatera Utara Sumatera Utara Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis Nasional Lintas Provinsi Lintas Provinsi Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis 7. 9. Kampar (I-IV/A/1) 13. Toba – Asahan (IIV/A/1) 8. 2. No 48 LAMPIRAN VI PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 26 TAHUN 2008 TANGGAL : 10 MARET 2008 WILAYAH SUNGAI (WS) NO WILAYAH SUNGAI (WS) 1.legalitas. Siak (I-IV/A/1) 12. Alas – Singkil (I-IV/A/1) Nanggroe Aceh Lintas Provinsi Darussalam dan Sumatera Utara ww le w.org 93 2008. 3. Meureudu – Baro (IIV/A/1) Jambo Aye (I-IV/A/1) Woyla – Seunagan (IIV/A/1) PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam Nanggroe Aceh Darussalam Nanggroe Aceh Darussalam Nanggroe Aceh Darussalam KETERANGAN Strategis Nasional Strategis Nasional 4. Indragiri (I-IV/A/1) .www. Rokan (I-IV/A/1) 11. Tripa – Bateue (IIV/A/1) 5.or s g Strategis Nasional Strategis Nasional 6. Batang Angkola – Sumatera Utara Batang Gadis (I-IV/A/1) Batang Natal – Batang Batahan (I-IV/A/1) Sumatera Utara – Sumatera Barat Riau – Sumatera Barat Riau Riau – Sumatera Barat Riau – Sumatera Barat 10.

Kepulauan Seribu (IIV/A/1) DKI Jakarta – Banten 26.(IIV/A/1) 27. Sugihan (I-IV/A/1) 19.Bengkulu – Lampung IV/A/1) 25.www. Mesuji – Tulang Bawang Lampung ww (I-IV/A/1) Selatan 22. Teramang – Ipuh (IIV/A/1) Lampung Bengkulu – Jambi leg lita a . Nasal – Padang Guci (I. Pulau Batam – Pulau Bintan (I-IV/A/1) Riau Kepulauan Riau Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis Nasional Lintas Provinsi Strategis Nasional 16. – Sumatera 21.legalitas. Citanduy (I/A/3) Jawa Barat – Jawa Tengah Lintas Provinsi . No 48 94 NO WILAYAH SUNGAI (WS) PROVINSI KETERANGAN Nasional 14. Banyuasin (I-IV/A/1) Jambi – Sumatera Barat Sumatera Selatan Sumatera Selatan – Bengkulu – Lampung Sumatera Selatan w.or s g Lintas Provinsi Strategis Nasional Lintas Provinsi Strategis Nasional Lintas Provinsi Lintas Provinsi Lintas Provinsi Lintas Provinsi 24. Anai – Kuranji – Arau – Sumatera Barat Mangau – Antokan (IIV/A/1) 17. Cidanau – Ciujung – Banten – DKI Jakarta – Cidurian – Cisadane – Jawa Barat Ciliwung – Citarum . Musi (I-IV/A/1) 20.org 2008. Batanghari (I-IV/A/1) 18. Way Seputih – Way Sekampung (I-IV/A/1) 23. Reteh (I-IV/A/1) 15.

Jratunseluna (I-IV/A/1) Jawa Tengah 31. Serayu – Bogowonto (I.or Tengah ta s ali g Jawa Timur .legalitas.Jawa Tengah IV/A/1) 32. Bali – Penida (I-IV/A/1) Bali Jawa Timur – Jawa . No 48 NO WILAYAH SUNGAI (WS) PROVINSI KETERANGAN 28.org 95 2008. Progo – Opak – Serang (I-IV/A/1) 33. Brantas (I-IV/A/1) 35. Jelai – Kendawangan (I. Noel – Mina (I-IV/A/1) 40. Kapuas (I-IV/A/1) 41.l e ww w Daerah Istimewa Lintas Provinsi Yogyakarta – Jawa Tengah g Lintas Provinsi Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis Nasional Lintas Negara Lintas Negara Strategis Nasional Strategis Nasional Lintas Provinsi 36.Kalimantan Barat – . Benanain (I-IV/A/1) 39. Cimanuk – Cisanggarung (IIV/A/1) 29. Pulau Lombok (IIV/A/1) 37. Aesesa (I-IV/A/1) 38. Pemali – Comal (IIV/A/1) Jawa Barat Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis Nasional Jawa Tengah 30. Bengawan Solo (IIV/A/1) 34.www. Pawan (I-IV/A/1) Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur – Timor Leste Nusa Tenggara Timur – Timor Leste Kalimantan Barat Kalimantan Barat 42.

Malaysia Kalimantan Timur Sulawesi Utara KETERANGAN Strategis Nasional Strategis Nasional Lintas Provinsi Lintas Negara Strategis Nasional 49. No 48 96 NO WILAYAH SUNGAI (WS) IV/A/1) 43. Sangihe – Talaud (IIV/A/1) PROVINSI Kalimantan Tengah Kalimantan Tengah Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan – Kalimantan Tengah Kalimantan Timur – Serawak. Limboto – Bulango – Bone (I-IV/A/1) 52. Kaluku – Karama (IIV/A/1) Sulawesi Tengah Sulawesi Barat – Sulawesi Lintas Provinsi Tengah .or s g Strategis Nasional Strategis Nasional Lintas Provinsi Lintas Provinsi Strategis Nasional Lintas Provinsi Lintas Provinsi Strategis Nasional Strategis Nasional 55. Dumoga – Sangkup (I.Sulawesi Utara IV/A/1) w. Randangan (I-IV/A/1) 54. Sesayap (I-IV/A/1) 47.Sulawesi ww IV/A/1) Gorontalo 51. Utara – 50. Tondano – Likupang (I.org 2008. Kahayan (I-IV/A/1) 45. Barito – Kapuas (IIV/A/1) 46. Mahakam (I-IV/A/1) 48. Paguyaman (I-IV/A/1) 53. Parigi – Poso (I-IV/A/1) Sulawesi Tengah 56.legalitas. Palu – Lariang (IIV/A/1) Gorontalo – Sulawesi Utara Gorontalo Gorontalo – Sulawesi Tengah Sulawesi Tengah – Sulawesi Selatan leg lita a . Laa – Tambalako (IIV/A/1) 57. Seruyan (I-IV/A/1) 44.www.

Sulawesi Selatan IV/A/1) 61. No 48 NO WILAYAH SUNGAI (WS) PROVINSI KETERANGAN 58. Lasolo – Sampara (IIV/A/1) 63. Pulau Ambon – Seram Maluku w. Mamberamo – Tami – Apauvar (I-IV/A/1) 69. Einlanden – Digul – Bikuma (I-IV/A/1) Maluku Papua Papua g lita a . Omba (I-IV/A/1) 68.Maluku IV/A/1) 66. Pompengan – Lorena (I.or s g Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis Nasional Lintas Negara Lintas Negara Papua – Papua New Guinea .Sulawesi Selatan – IV/A/1) Sulawesi Tengah – Sulawesi Tenggara 59. Walanae – Cenranae (I.org 97 2008. Pulau Buru (I-IV/A/1) Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara – Sulawesi Selatan – Sulawesi Tengah Maluku le 64. Kepulauan Kei – Aru (I. Kepulauan Yamdena – Wetar (I-IV/A/1) 67.www. (I-IV/A/1) ww 65.legalitas. Jeneberang (I-IV/A/1) 62. Sadang (I-IV/A/1) Sulawesi Selatan – Sulawesi Barat Lintas Provinsi Lintas Provinsi Strategis Nasional Strategis Nasional Lintas Provinsi 60.

or s g . SUSILO BAMBANG YUDHOYONO ww le w. Pendayagunaan SDA. No 48 98 Keterangan: I – IV : Tahapan Pengembangan A : Perwujudan Sistem Jaringan SDA A/1 : Konservasi Sumber Daya Air. dan Pengendalian Daya Rusak Air PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. H.legalitas. g lita a . DR.www.org 2008.

org 99 2008.or s g .www. g lita a . No 48 ww le w.legalitas.

6. 17. Papua Barat Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Utara Suaka Margasatwa Pagai Selatan (II/B/2) Sumatera Barat Suaka Margasatwa Kerumutan (II/B/2) Suaka Margasatwa Pulau Besar/Danau Pulau Bawah (I/B/2) Riau Riau Suaka Margasatwa Bukit Rimbang-Bukit Riau Baling (III/B/2) Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil (II/B/2) Suaka Margasatwa Balai Raja (II/B/2) Riau Riau . 15.org 2008. 9. 5. 11. KAWASAN LINDUNG Suaka Alam Laut Sambas (I/B/1) Suaka Alam Laut Pulau Sebatik (I/B/1) Suaka Alam Laut Sidat (II/B/1) Suaka Alam Laut Selat Lembeh-Bitung (I/B/1) Suaka Alam Laut Sawu (I/B/1) Suaka Alam Laut Kabupaten Kaimana (II/B/1) LOKASI Kalimantan Barat Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Utara Suaka Margasatwa Rawa Singkil (I/B/2) Nanggroe Aceh Darussalam ww Suaka Margasatwa Karangkading Dan Langkat Timur Laut (II/B/2) Suaka Margasatwa Barumun (I/B/2) Suaka Margasatwa Siranggas (II/B/2) Suaka Margasatwa Dolok Surungan (II/B/2) le w. 10. 16. 12. 7. 1.www. 2. No 48 100 LAMPIRAN VIII PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 26 TAHUN 2008 TANGGAL : 10 MARET 2008 KAWASAN LINDUNG NASIONAL NO. 3. 14. g lita a g Nusa or Tenggara Timur s. 4.legalitas. 8. 13.

25. 36.org 101 2008. Suaka Margasatwa Isau-Isau Pasemah s Sumatera Selatan a t (II/B/2) ali g Suaka Margasatwa Bentayan e . 23. 35. 28. 33.l (I/B/2) Sumatera Selatan ww Suaka Margasatwa Dangku (II/B/2) Sumatera Selatan w Suaka Margasatwa Padang Sugihan (II/B/2) Suaka Margasatwa Cikepuh (II/B/2) Suaka Margasatwa Gunung Sawal (II/B/2) Sumatera Selatan Jawa Barat Jawa Barat Suaka Margasatwa Gunung Raya (I/B/2) Sumatera Selatan Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang Jawa Timur (I/B/2) Suaka Margasatwa Pulau Bawean (I/B/2) Suaka Margasatwa Sungai Lamandau (I/B/2) Suaka Margasatwa Pleihari Martapura (I/B/2) Jawa Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Suaka Margasatwa Kuala Lupak (II/B/2) Kalimantan Selatan Suaka Margasatwa Perhatu (III/B/2) Nusa Tenggara Timur .legalitas. 22. 31. 32. No 48 NO.www. 27. 37. 24. 19. 20. 26. 34. KAWASAN LINDUNG Suaka Margasatwa Tasik Besar-Tasik Metas (II/B/2) Suaka Margasatwa Tasik Serkap-Tasik Sarang Burung (II/B/2) Suaka Margasatwa Pusat Pelatihan Gajah (II/B/2) Suaka Margasatwa Tasik Tanjung Padang (II/B/2) Suaka Margasatwa Tasik Belat (II/B/2) Suaka Margasatwa Bukit Batu (II/B/2) Suaka Margasatwa Gumai Pasemah (II/B/2) Riau Riau Riau Riau Riau Riau LOKASI Sumatera Selatan g or . 21. 30. 18. 29.

54. 51. KAWASAN LINDUNG Suaka Margasatwa Kateri (III/B/2) Suaka Margasatwa Harlu (III/B/2) Suaka Margasatwa Ale Asisio (II/B/2) Suaka Margasatwa Tambora Selatan (I/B/2) LOKASI Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Suaka Margasatwa Gunung Manembo . 50. 39.legalitas.Sulawesi Utara Nembo (II/B/2) Suaka Margasatwa Karakelang Utara & Sulawesi Utara Selatan (I/B/2) Suaka Margasatwa Buton Utara (II/B/2) Sulawesi Tenggara Suaka Margasatwa Tanjung Batikolo (II/B/2) Suaka Margasatwa Tanjung Peropa (II/B/2) Sulawesi Tenggara Suaka Margasatwa Lambusango (III/B/2) Sulawesi Tenggara Suaka Margasatwa Tanjung Santigi (I/B/2) Suaka Margasatwa Mampie Lampoko (II/B/2) Suaka Margasatwa Komara (II/B/2) Suaka Margasatwa Pati Pati (II/B/2) Suaka Margasatwa Lombuyan I/II (II/B/2) ww le w.org 2008. 49. 38. 58. No 48 102 NO. 47. g lita a g Sulawesi Tenggara or s. 53. 59. 46. 43. 41. 45.www. Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi Tengah Suaka Margasatwa Bangkiriang (II/B/2) Sulawesi Tengah Suaka Margasatwa Pinjan/Tanjung Matop (II/B/2) Suaka Margasatwa Nantu (II/B/2) Sulawesi Tengah Gorontalo Suaka Margasatwa Pulau Baun (II/B/2) Maluku Suaka Margasatwa Pulau Kobror (I/B/2) Maluku Suaka Margasatwa Tanimbar (I/B/2) Maluku Suaka Margasatwa Pulau Dolok (II/B/2) Papua Suaka Margasatwa Jayawijaya (II/B/2) Papua . 44. 57. 60. 40. 42. 55. 56. 48. 52.

72. 64. 78. 67. 76. KAWASAN LINDUNG Suaka Margasatwa Mamberamo Foja (II/B/2) Papua LOKASI Suaka Margasatwa Danau Bian (II/B/2) Papua Suaka Margasatwa Anggromeos (II/B/2) Papua Suaka Margasatwa Komolon (II/B/2) Suaka Margasatwa Tanjung Mubrani – Sidei – Wibain I – II (I/B/2) Suaka Margasatwa Pulau Venu (II/B/2) Suaka Margasatwa Laut Pulau Kassa (III/B/2) Papua Papua Barat Papua Barat Maluku Suaka Margasatwa Laut Kep. 65. 82. No 48 NO. 74. 49 (III/B/3) Cagar Alam Arau Hilir (II/B/3) Cagar Alam Melampah Alahan Panjang (I/B/3) Cagar Alam Gunung Sago (II/B/3) Sumatera Barat Sumatera Barat Sumatera Barat Sumatera Barat Sumatera Barat Sumatera Barat . Raja Ampat Papua Barat (I/B/2) Suaka Margasatwa Laut Pulau Sabuda Tataruga (II/B/2) Suaka Margasatwa Laut Kepulauan Panjang (II/B/2) g . 69. 71. 75. 81. 61. 66. 68. 63. 80.legalitas.org 103 2008. Papua Barat Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Utara Cagar Alam Rimbo Panti Reg. 77. 70.le (I/B/3) Cagar Alam Hutan Pinus Jhanto ww w Cagar Alam Dolok Sibual-Buali (II/A/3) Cagar Alam Dolok Sipirok (I/A/3) Cagar Alam Lubuk Raya (II/B/3) Cagar Alam Sei Ledong (II/B/3) lita a g Papua or Barat s. 75 (II/B/3) Sumatera Barat Cagar Alam Lembah Anai (I/B/3) Cagar Alam Batang Pangean I (II/B/3) Cagar Alam Batang Pangean II Reg. 73. 79. 62.www.

le Tes Reg. 93. G. 105. No 48 104 NO. 94. 61 Bengkulu (III/B/3) g .legalitas.Tangkuban Perahu (I/A/3) Jawa Barat Cagar Alam Leuweung Sancang (II/B/3) Jawa Barat Cagar Alam Gunung Tilu (II/B/3) Jawa Barat Cagar Alam Gunung Papandayan (I/B/3) Jawa Barat Cagar Alam Gunung Burangrang (I/B/3) Jawa Barat Cagar Alam Kawah Kamojang (II/B/3) Cagar Alam Gunung Simpang (II/B/3) Jawa Barat Jawa Barat . 85. Bangka Belitung Maras. 102. G. 83. 96 (III/B/3) Bengkulu Cagar Alam G. G. Lalang. Hutan Bakau Pantai Timur (I/A/3) Cagar Alam Cempaka (II/B/3) Cagar Alam Sungai Batara (III/B/3) Sumatera Barat Sumatera Barat Sumatera Barat Sumatera Barat Riau Jambi Jambi Cagar Alam Danau Dusun Besar Reg.www. 98. 101. Bengkulu Cagar Alam Teluk Klowe Reg. 100. G. 99. Cagar Alam G. 91.org 2008. 92. Permisan. Mangkol. 84. 103. Cagar Alam Air Ketebat Danau ww 57 (II/B/3) w lita a g Jambi or s. 89. 104. Menumbing. 88. Jening Mendayung (I/B/3) Cagar Alam Rawa Danau (II/B/3) Cagar Alam Gunung Tukung Gede (I/B/3) Banten Banten 97. KAWASAN LINDUNG LOKASI Cagar Alam Maninjau Utara Dan Selatan Sumatera Barat (II/B/3) Cagar Alam Gunung Singgalang Tandikat Sumatera Barat (I/B/3) Cagar Alam Gunung Merapi (I/B/3) Cagar Alam Air Putih (III/B/3) Cagar Alam Barisan I (II/B/3) Cagar Alam Air Terusan (II/B/3) Cagar Alam Bukit Bungkuk (I/B/3) Cagar Alam Kel. 96. 90. 87. 86. 95.

109. 127. 118. 128. 119. KAWASAN LINDUNG Cagar Alam Gunung Celering (I/B/3) LOKASI Jawa Tengah Cagar Alam Pulau Nusa Barong (II/B/3) Jawa Timur Cagar Alam Kawah Ijen Merapi UngupUngup (II/B/3) Cagar Alam Batu Kahu I/II/III (I/B/3) Cagar Alam Riung (II/B/3) Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Timur Cagar Alam Maubesi (RTK. 117.org 105 2008. 130. 131. 110. 129. 126. 112. 106. (I/B/3) ww Cagar Alam Pulau Panjang (II/B/3) Nusa Tenggara Barat Cagar Alam Jereweh (Sekongkang) (II/B/3) Cagar Alam Mandor (II/B/3) Cagar Alam Gunung Raya Pasi (I/B/3) Cagar Alam Muara Kendawangan (II/B/3) Cagar Alam Niyut-Penrissen (I/B/3) Kalimantan Barat Kalimantan Barat Kalimantan Barat Kalimantan Barat Nusa Tenggara Barat Cagar Alam Bukit Sapat Hawung (II/B/3) Kalimatan Tengah Cagar Alam Bukit Tangkiling (II/B/3) Cagar Alam Pararawen I/II (I/B/3) Cagar Alam Muara Kaman Sedulang (II/B/3) Cagar Alam Padang Luwai (II/B/3) Cagar Alam Teluk Apar (I/B/3) Kalimatan Tengah Kalimatan Tengah Kalimantan Timur Kalimantan Timur Kalimantan Timur .legalitas. 108. No 48 NO. 124. 123. 115. 113. 116. 107. 114. Nusa l ta Nusa Tenggara Barat Cagar Alam Pulau Sangiang (I/A/3)i ga le Nusa Tenggara Barat Cagar Alam Gunung Tambora Selatan w. 122. 125. 111.www. 189) (II/B/3) Nusa Tenggara Timur Cagar Alam Way Wuul/Mburak (II/B/3) Nusa Tenggara Timur Cagar Alam Watu Ata (II/B/3) Cagar Alam Wolo Tadho (II/B/3) Cagar Alam Tambora (I/A/3) Cagar Alam Gunung Mutis (II/B/3) Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur g or Tenggara Barat Cagar Alam Toffo Kota Lambu (II/A/3) s. 120. 121.

153.org 2008. 142. 139. Selat Sebuku (I/B/3) Cagar Alam Teluk Pamukan (II/B/3) Cagar Alam Sungai Lulan Dan Sungai Bulan (I/B/3) Cagar Alam Gunung Ambang (I/B/3) Cagar Alam Dua Saudara (II/B/3) Cagar Alam Tangkoko Batuangus (II/B/3) Cagar Alam Morowali (I/B/3) Cagar Alam Pangi Binangga (II/B/3) Cagar Alam Pamona (II/B/3) LOKASI Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Kalimantan Selatan Kalimantan Selatan Sulawesi Utara Sulawesi Utara Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Tengah Sulawesi Tengah g or Cagar Alam Gunung Tinombala (I/B/3) . 132. Sulawesi Tengah tas Sulawesi Tengah Cagar Alam Gunung Sojol (II/B/3) li ga Cagar Alam Gunung Dako (II/B/3) Sulawesi Tengah le w. 134. 144. 159. 150. No 48 106 NO. 154. 137. 155. 156. 152. KAWASAN LINDUNG Cagar Alam Teluk Adang (I/B/3) Cagar Alam Teluk Kelumpang. 140. 157. 141. 138.legalitas. 135. 146. 145. 133. 151. Cagar Alam Tanjung Api (II/B/3) Sulawesi Tengah ww (II/B/3) Cagar Alam Faruhumpenai Sulawesi Selatan Cagar Alam Kalaena (II/B/3) Cagar Alam Tanjung Api (II/B/3) Cagar Alam Panua (II/B/3) Cagar Alam Tanjung Panjang (II/B/3) Cagar Alam Pulau Nustaram (II/B/3) Cagar Alam Pulau Nuswotar (II/B/3) Cagar Alam Masbait (II/B/3) Cagar Alam Daab (II/B/3) Cagar Alam Pulau Larat (I/B/3) Cagar Alam Bekau Huhun (II/B/3) Cagar Alam Tafermaar (II/B/3) Cagar Alam Gunung Sahuwai (II/B/3) Cagar Alam Masarete (II/B/3) Sulawesi Selatan Sulawesi Selatan Gorontalo Gorontalo Maluku Maluku Maluku Maluku Maluku Maluku Maluku Maluku Maluku . 148. 147. 149. Selat Laut.www. 158. 136. 143.

179. 167. 160. 164. No 48 NO. 182. 172. 170. 176.org 107 2008. 174. 177. 175. 173. 162. 180. 168. 169.www.or s g Papua Barat Papua Barat Papua Barat Papua Barat Papua Barat Papua Barat Papua Barat Cagar Alam Pegunungan Yapen Tengah (II/B/3) Cagar Alam Pulau Waigeo Timur (I/B/3) Papua Barat Cagar Alam Pulau Misool (II/B/3) Cagar Alam Pulau Kofiau (II/B/3) Cagar Alam Pegunungan Wayland (II/B/3) Cagar Alam Teluk Bintuni (I/B/3) Papua Barat Papua Barat Papua Barat Papua Barat Cagar Alam Pegunungan Fak Fak (I/B/3) Papua Barat Cagar Alam Pegunungan Kumawa (II/B/3) Cagar Alam Tamrau Utara (II/B/3) Papua Barat Papua Barat . KAWASAN LINDUNG Cagar Alam Tanjung Sial (II/B/3) Cagar Alam Tobalai (II/B/3) Cagar Alam Pulau Seho (II/B/3) Cagar Alam Gunung Sibela (II/B/3) Cagar Alam Lifamatola (II/B/3) Cagar Alam Pulau Obi (I/B/3) Cagar Alam Taliabu (II/B/3) Cagar Alam Cycloops (II/B/3) Cagar Alam Enarotali (II/B/3) Cagar Alam Bupul/Kumbe (II/B/3) Cagar Alam Pulau Waigeo Barat (I/B/3) Maluku LOKASI Maluku Utara Maluku Utara Maluku Utara Maluku Utara Maluku Utara Maluku Utara Papua Papua Papua Papua Barat Cagar Alam Pulau Batanta Barat (II/B/3) Papua Barat lita Cagar Alam Salawati Utara (II/B/3) ga le Cagar Alam Biak Utara (I/A/3) w. 166. 161. Cagar Alam Tamrau Selatan (II/B/3) ww Cagar Alam Pulau Supriori (I/B/3) Cagar Alam Pegunungan Wondiboy (II/B/3) Cagar Alam Pegunungan Arfak (II/B/3) . 165. 186. 171. 184. 185. 178.legalitas. 183. 181. 163.

188. 189. 191. 196. 194. Anak Krakatau (I/A/3) Cagar Alam Laut Leuweung Sancang (II/B/3) Cagar Alam Laut Kepulauan Karimata (I/B/3) Cagar Alam Laut Kepulauan Aru Tenggara (I/B/3) Cagar Alam Laut Banda (I/B/3) LOKASI Papua Barat Papua Barat Lampung Jawa Barat Kalimantan Barat Maluku Maluku Cagar Alam Laut Pantai Sansafor (II/B/3) Papua Cagar Alam Geologi Karangsembung (II/B/3) Taman Nasional Gunung Leuser (I/A/4) 197. 203. 205. 195. 187. Nanggroe Aceh Darussalam. 202. Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (I/A/4) Riau-Jambi Taman Nasional Bukit Dua Belas (I/A/4) Jambi Taman Nasional Berbak (I/A/4) Taman Nasional Kerinci Seblat (I/A/4) Jambi Jambi.legalitas. Sumatera Selatan. Sumatera Barat Lampung & Bengkulu Lampung Lampung Sumatera Selatan 204.www. 207. KAWASAN LINDUNG Cagar Alam Tanjung Wiay (II/B/3) Cagar Alam Wagura Kote (II/B/3) Cagar Alam Laut P. 200.org 2008. 201. 199. 190. Taman Nasional Batang Gadis (II/A/4) Taman Nasional Siberut (II/A/4) Taman Nasional Teso Nilo (I/A/4) ww le w. Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (I/A/4) Taman Nasional Way Kambas (I/A/4) Taman Nasional Bukit Barisan (I/B/4) Taman Nasional Sembilang (II/A/4) . g lita a g Jawa or Tengah s. 198. 193. 206. No 48 108 NO. 192. Bengkulu.

227. 219. 214. 222. 218. 212. 210. Jawa Tengah Taman Nasional Gunung Merbabu (I/A/4) Taman Nasional Alas Purwo (I/A/4) Taman Nasional Baluran (II/A/4) Jawa Tengah Jawa Timur Taman Nasional Bromo Tengger-Semeru Jawa Timur (I/A/4) lita Jawa Timur Taman Nasional Meru Betiri (I/A/4) ga le Taman Nasional Bali Barat (I/A/4) Bali w. 211. ww Taman Nasional Gunung Rinjani (I/A/4) Nusa Tenggara Barat Taman Nasional Kelimutu (I/A/4) Taman Nasional Laiwangi –Wanggameti (II/A/4) Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur . 215. 221. 209. 226. 220. 223. 229. 217. 208.or s Jawa Timur g Taman Nasional Manupeu – Tanah Daru Nusa Tenggara Timur (II/A/4) Taman Nasional Komodo (I/A/4) Nusa Tenggara Timur Taman Nasional Betung Kerihun (I/A/4) Kalimantan Barat Taman Nasional Danau Sentarum (I/A/4) Kalimantan Barat Taman Nasional Gunung Palung (II/A/4) Kalimantan Barat Taman Nasional Bukit Baka – Bukit Raya Kalimantan Barat – (I/A/4) Kalimantan Tengah Taman Nasional Tanjung Puting (I/A/4) Taman Nasional Sebangau (I/A/4) Kalimantan Tengah Kalimantan Tengah .legalitas.www. 228. 225.org 109 2008. 224. KAWASAN LINDUNG Taman Nasional Gunung Gede – Pangrango (I/A/4) LOKASI Jawa Barat Taman Nasional Halimun – Salak (I/A/4) Jawa Barat Taman Nasional Gunung Ciremai (I/A/4) Jawa Barat Taman Nasional Halimun – Salak (I/A/4) Banten Taman Nasional Ujung Kulon (I/A/4) Banten Taman Nasional Gunung Merapi (I/A/4) Daerah Istimewa Yogyakarta. 230. 216. No 48 NO. 213.

235. 246. 243. 238. 239. 245. 234.www. 231. Papua Papua Kepulauan Riau Taman Nasional Laut Teluk Cendrawasih Papua (I/A/4) . 233. 236. 248. 247.org 2008. 250. 237. KAWASAN LINDUNG Taman Nasional Kayan Mentarang (I/A/4) Taman Nasional Kutai (I/A/4) LOKASI Kalimantan Timur Kalimantan Timur Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Gorontalo (I/A/4) Taman Nasional Lore Lindu (I/A/4) Sulawesi Tengah Taman Nasional Rawa Aopa – Watumohai Sulawesi Tenggara (I/A/4) Taman Nasional Bantimurung – Bulusaraung (II/A/4) Taman Nasional Manusela (I/A/4) Taman Nasional Aketajawe – Lolobata (I/A/4) Taman Nasional Lorentz (I/A/4) Taman Nasional Wasur (I/A/4) Sulawesi Selatan Maluku Maluku Utara Taman Nasional Laut Anambas (II/B/4) Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu DKI Jakarta (I/A/4) Taman Nasional Laut Karimun Jawa (I/B/4) Taman Nasional Laut Komodo (I/A/4) Taman Nasional Laut Selat Pantar (II/A/4) Taman Nasional Laut Bunaken (I/A/4) Taman Nasional Laut Kepulauan Banngai (II/B/4) Taman Nasional Laut Kepulauan Wakatobi (I/A/4) Taman Nasional Laut Taka Bonerate (I/A/4) Jawa Tengah Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan ww le w. 249. No 48 110 NO. g lita a g or s. 232. 241. 242. 244. 240.legalitas.

254. 267. Ir. g lita a g Jawa or Timur s. 262. 251. No 48 NO. KAWASAN LINDUNG LOKASI Taman Hutan Raya Cut Nyak Dien (Pocut Nanggroe Aceh Meurah Intan) (II/B/5) Darussalam Taman Hutan Raya Bukit Barisan (I/B/5) Sumatera Utara Taman Hutan Raya Dr. 258. 256. 260. 252. 270. 257.org 111 2008. 266. Suryo (I/B/5) Taman Hutan Raya Ngurah Rai (I/B/5) Taman Hutan Raya Nuraksa (I/A/5) Taman Hutan Raya Prof. 264. 263. Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Taman Hutan Raya Sultan Adam (II/B/5) Kalimantan Selatan Taman Hutan Raya Bukit Suharto (I/B/6) Taman Hutan Raya Murhum (II/B/5) Taman Hutan Raya Palu (II/B/5) Taman Hutan Raya Poboya Paneki (III/B/5) Kalimantan Timur Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Tengah Taman Hutan Raya Bontobahari (II/B/5) Sulawesi Selatan Taman Wisata Alam Holiday Resort (I/B/6) Taman Wisata Alam Muka Kuning (Batam) (I/B/6) Taman Wisata Alam Sungai Dumai (I/A/6) Sumatera Utara Kepulauan Riau Riau .www.legalitas. Herman Yohannes (I/A/5) ww le w. 265. 259. 269. 255. M. 268. 253. Hatta (II/B/5) Sumatera Barat Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim Riau (Minas) (II/B/5) Taman Hutan Raya Thaha Saifuddin (II/B/5) Taman Hutan Raya Raja Lelo (II/B/5) Jambi Bengkulu Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman Lampung (I/B/5) Taman Hutan Raya R. 261.

287. Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Barat Taman Wisata Alam Tuti Adagae (II/B/6) Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Taman Wisata Alam Pulau Besar (II/B/6) Nusa Tenggara Timur Taman Wisata Alam Menipo (II/B/6) Taman Wisata Alam Ruteng (I/B/6) Taman Wisata Alam Egon Illimedo (II/B/6) Taman Wisata Alam Belimbing (II/B/6) Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Taman Wisata Alam Asuansang (II/B/6) Kalimantan Barat Taman Wisata Alam Dungan (II/B/6) Taman Wisata Alam Gunung Melintang (I/B/6) Kalimantan Barat Kalimantan Barat . 284. 272. 288. 282. 276. 285. 274.Rawa Taman Wisata Alam Danau ww Taliwang (II/B/6) Taman Wisata Alam Kemang Beleng (II/B/6) g Nusa or Tenggara Barat s. 271. KAWASAN LINDUNG Taman Wisata Alam Sungai Bengkal (II/B/6) Jambi LOKASI Taman Wisata Alam Bukit Kaba (II/B/6) Bengkulu Taman Wisata Alam Pantai Panjang Pulau Baai (I/B/6) Taman Wisata Alam Pulau Sangiang (I/A/6) Bengkulu Banten Taman Wisata Alam Gunung Tampomas Jawa Barat (I/B/6) Taman Wisata Alam Sangeh (I/B/6) Taman Wisata Alam Danau Buyan Dan Danau Tamblingan (I/B/6) Taman Wisata Alam Bangko Bangko (II/B/6) Bali Bali lita Taman Wisata Alam Tanjung Tanpa ga (II/B/6) le w. 280.org 2008. 283. 290. 286. No 48 112 NO.www. 289.legalitas. 275. 279. 281. 273. 277. 278.

org 113 2008. 305. 295. 297. 308. Sulawesi Selatan Sulawesi Selatan Papua Barat Papua Barat Papua Nanggroe Aceh Darussalam Nanggroe Aceh Darussalam Taman Wisata Alam Klamono (III/B/6) Taman Wisata Alam Laut Pulau Weh (I/A/6) Taman Wisata Alam Laut Kepulauan Banyak (II/A/6) Taman Wisata Alam Laut Perairan Pulau Nanggroe Aceh Darussalam Pinang. 304. 294. 300. 293. Siumat.legalitas. 291. dan Simanaha (Pisisi) (I/A/6) Taman Wisata Alam Laut Sabang (I/B/6) Nanggroe Aceh Darussalam Taman Wisata Alam Laut Enggano (II/B/6) Nanggroe Aceh Darussalam 307. 298. 299.l e Taman Wisata Alam Lejja w (II/B/6) ww Taman Wisata Alam Beriat (III/B/6) Taman Wisata Alam Teluk Youtefa (II/B/6) lita a g Sulawesi Selatan or s. 303. 292. 306. 296. KAWASAN LINDUNG Taman Wisata Alam Bukit Kelam Komplek (II/B/6) Taman Wisata Alam Tanjung Keluang/Teluk Keluang (II/B/6) LOKASI Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Taman Wisata Alam Pleihari Tanah Laut Kalimantan Selatan (II/B/6) Taman Wisata Alam Bancea (II/B/6) Taman Wisata Alam Mangolo (II/B/6) Taman Wisata Alam Danau Matano & Mahalona (II/B/6) Taman Wisata Alam Danau Towuti (I/B/6) Taman Wisata Alam Malino (II/B/6) Taman Wisata Alam Cani Sirenrang (II/B/6) Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Sulawesi Selatan g . 301. . No 48 NO.www. 302.

Gili Nusa Tenggara Barat Ayer. 310. 320. 324. 319. 311. 314. 316. 315.l e lita a . 312.legalitas. 313. 321.or s g Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Barat Taman Wisata Alam Laut Gili Sulat dan Nusa Tenggara Barat Gili Lawang (II/A/6) Taman Wisata Alam Laut Pulau Gili Nusa Tenggara Barat Banta (II/A/6) Taman Wisata Alam Laut Teluk Kupang (I/A/6) Taman Wisata Alam Laut Gugus Pulau Teluk Maumere (I/A/6) Taman Wisata Alam Laut Tujuh Belas Pulau Riung (III/B/6) Taman Wisata Alam Laut Bengkayang (II/B/6) Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Taman Wisata Alam Laut Berau (II/B/6) Kalimantan Timur . 318.www. Gili Trawangan (I/B/6) Taman Wisata Alam Laut Pulau Moyo (I/B/6) (II/B/6) ww Satonda Taman Wisata Alam Laut Pulau w g . 322. KAWASAN LINDUNG LOKASI Taman Wisata Alam Laut Kepulauan Pieh Sumatera Barat (II/B/6) Taman Wisata Alam Laut Perairan Belitung (II/B/6) Bangka Belitung Taman Wisata Alam Laut Lampung Barat Lampung (I/B/6) Taman Wisata Alam Laut Cijulang (I/A/6) Jawa Barat Taman Wisata Alam Laut Daerah Pantai Jawa Tengah Ujungnegoro – Roban (I/B/6) Taman Wisata Alam Laut Buleleng (I/A/6) Bali Taman Wisata Alam Laut Gili Meno. 309.org 2008. No 48 114 NO. 317. 323.

Maluku Maluku Taman Wisata Alam Laut P. Papua Barat Sorong (II/B/6) Taman Wisata Alam Laut Kep. 337. Kasa Taman Wisata Alam Laut Pulau ww (II/B/6) Taman Wisata Alam Laut P. No 48 NO. 335. 325. Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tenggara lita Taman Wisata Alam Laut Laut Banda ga (I/B/6) le w.org 115 2008. Padaido (II/B/6) Taman Buru Lingga Isaq (I/F) Taman Buru Pulau Pini (I/F) Papua Barat Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Taman Buru Semidang Bukit Kabu (II/F) Bengkulu Taman Buru Gunung Nanu’ua (II/F) Bengkulu . 328. 334. Pombo (II/B/6) g Sulawesi Selatan or s. Marsegu Dsk Maluku (II/B/6) Maluku Taman Wisata Alam Laut Distrik Abun. 331. 340. 336. 330. 338. 339. 332. KAWASAN LINDUNG Taman Wisata Alam Laut Pulau Laut Barat – Selatan dan Pulau Sembilan (II/B/6) Taman Wisata Alam Laut Pulau Togean dan Pulau Batudaka (I/A/6) Taman Wisata Alam Laut Telok Lasolo (II/B/6) Taman Wisata Alam Laut Kepulauan Padamarang (II/B/6) Taman Wisata Alam Laut Selat Tiworo (II/B/6) Taman Wisata Alam Laut Liwutongkidi (Buton) (II/B/6) Taman Wisata Alam Laut Kepulauan Kapoposang (I/B/6) LOKASI Kalimantan Selatan 326.legalitas. 341. 327. 333. 329.www.

No 48 116 NO. 348. 342. 343. H.www.legalitas. 347.org 2008. 344. 351. 346. KAWASAN LINDUNG Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi (II/F) Taman Buru Gunung Tambora Selatan (I/F) Taman Buru Pulau Moyo (I/F) Taman Buru Dataran Bena (II/F) Taman Buru Pulau Rusa (I/F) Taman Buru Pulau Ndana (II/F) Taman Buru Landusa Tomata (II/F) Taman Buru Padang Mata Osu (III/F) Taman Buru Komara (II/F) Taman Buru Bangkala (II/F) LOKASI Jawa Barat Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Keterangan: I – IV: Tahapan Pengembangan A : Rehabilitasi dan Pemantapan Fungsi Kawasan Lindung Nasional A/1 : Suaka Alam Laut A/2 : Suaka Margasatwa dan Suaka Margasatwa Laut A/3 : Cagar Alam dan Cagar Alam Laut A/4 : Taman Nasional dan Taman Nasional Laut A/5 : Taman Hutan Raya A/6 : Taman Wisata Alam dan Taman Wisata Alam Laut B : Pengembangan Pengelolaan Kawasan Lindung Nasional B/1 : Suaka Alam Laut B/2 : Suaka Margasatwa dan Suaka Margasatwa Laut B/3 : Cagar Alam dan Cagar Alam Laut B/4 : Taman Nasional dan Taman Nasional Laut B/5 : Taman Hutan Raya B/6 : Taman Wisata Alam dan Taman Wisata Alam Laut C : Rehabilitasi dan Pemantapan Fungsi Kawasan Hutan Lindung Nasional C/1 : Kawasan Resapan Air D : Pengembangan Pengelolaan Kawasan Hutan Lindung Nasional E : Rehabilitasi dan Pemantapan Fungsi Kawasan Taman Buru Nasional F : Pengembangan Pengelolaan Kawasan Taman Buru Nasional ww le w. 349. 350. DR. g lita a . 345.or s Sulawesi Selatan g PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO .

or s g .perikanan .industri ww le w.(I/C/2) .(I/A/1) .(I/F/2) .perikanan . g lita a .perikanan laut Kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya .(I/F/1) .legalitas.(I/C/1) .org 117 2008.pertanian .pertambangan . No 48 LAMPIRAN IX PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 26 TAHUN 2008 TANGGAL : 10 MARET 2008 KAWASAN ANDALAN NO 1 PROVINSI / KAWASAN ANDALAN NANGGROE ACEH DARUSSALAM Kawasan Banda Aceh dan sekitarnya .(II/E/1) .pertanian ..pariwisata .(I/B/2) SEKTOR UNGGULAN .(III/A/2) .pertambangan .perkebunan .perikanan Medan dan sekitarnya .www.(II/D/1) .(IV/A/2) .(III/C/2) .(I/D/1) .pertambangan .(II/B/2) Kawasan Pantai Barat Selatan .(I/F/2) .perkebunan Kawasan Andalan Laut Lhokseumawe.pertanian .(II/F/2) .industri .

(I/E/1) .kehutanan .(I/D/1) .(I/A/1) .(II/B/2) .perkebunan .(II/E/2) SEKTOR UNGGULAN .industri .perikanan .pertambangan .perkebunan Kawasan Rantau Prapat – Kisaran ww le w.perikanan laut .(III/F/2) . g lita a g or s-.industri .(II/A/2) .pertanian .perikanan .(I/B/2) .pertanian .(II/B/2) .(II/E/2) .perkebunan .(II/D/2) .(II/C/2) .industri .org 2008.pariwisata . No 48 118 NO 2 PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SUMATERA UTARA Kawasan Perkotaan Metropolitan Medan-Binjai-Deli Serdang-Karo (Mebidangro) .pertanian .(II/F/2) .(II/B/2) .(II/F/2) Kawasan Pematang Siantar dan sekitarnya .(III/D/2) .(I/H/1) .legalitas.industri .(I/A/1) .perkebunan . pariwisata .pertanian .www.(II/A/2) .(II/D/2) Kawasan Tapanuli dan sekitarnya .pariwisata .

. perikanan .(II/F/2) .pertambangan .perikanan Medan dan sekitarnya .(II/F/2) .legalitas. w leg lita a g or s-.(III/G/2) .(I/G/2) .(I/C/2) Kawasan Andalan Laut Selat Malaka dan sekitarnya .pertanian .perikanan laut .(I/C/2) Kawasan Andalan Laut Nias dan sekitarnya .(II/A/2) .(IV/B/2) .org 119 2008.(II/E/2) .(I/F/2) .perikanan .pertambangan 3 SUMATERA BARAT Kawasan Padang Pariaman dan sekitarnya .perikanan Kawasan Andalan Laut Lhokseumawe.industri .www.pertambangan w w.pariwisata . No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Nias dan sekitarnya .(II/F/2) SEKTOR UNGGULAN .(I/D/2) .perkebunan .(I/E/2) .(III/C/2) .pariwisata .perikanan .

(II/A/2) .Lubuk Alung.(III/B/2) .legalitas.pariwisata .Ketaping) .(II/E/2) .perkebunan ww le w.(I/E/2) .(I/B/2) .pertambangan Kembar Diatas/Dibawah.pertanian .(III/B/2) .(II/E/2) .(II/A/2) Kawasan Mentawai dan sekitarnya .(II/D/2) .(III/C/2) .perikanan laut .Perikanan Kawasan Solok dan sekitarnya (Danau .pariwisata Kawasan Andalan Laut MentawaiSiberut dan sekitarnya .pertanian .(II/G/2) . g lita a g or s-.PIP Danau Sngkarak.(I/C/2) .perkebunan .pertambangan . No 48 120 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Agam-Bukit Tinggi (PLTA Kuto Panjang) .(II/F/2) SEKTOR UNGGULAN .(II/A/2) . industri .Pariwisata 4 RIAU Kawasan Pekanbaru dan sekitarnya .pertanian .org 2008.www.perkebunan .industri .(IV/A/2) .(III/D/2) .pertanian .

industri migas lita Kawasan Andalan Laut.(III/H/2) Kawasan Ujung Batu-Bagan Batu .perkebunan .or s .(I/G/2) ww .(I/C/1) .industri .(I/D/2) .kehutanan .(II/D/2) .(I/D/2) .(II/G/2) .(I/E/2) .industri .kelautan dan sekitarnya .pariwisata .Teluk Kuantan-Pangkalan Kerinci .pertambangan .perkebunan .perikanan .(II/F/2) Kawasan Rengat-Kuala Enok.(I/C/2) 5 KEPULAUAN RIAU .perkebunan .perikanan .(III/A/2) .www.org 121 2008. No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Duri-Dumai dan sekitarnya .pertambangan g Kawasan Zona Batam -Tanjung Pinang .(II/B/2) SEKTOR UNGGULAN .pertanian . .legalitas.(I/B/2) .(II/G/2) .perikanan laut .industri .(I/D/2) . Selat Malaka ga le dan sekitarnya w.(I/B/2) .(II/F/2) Kawasan Natuna dan sekitarnya .perikanan .

pertanian .(I/C/2) .pertambangan .(II/H/2) .pertambangan .(II/E/2) SEKTOR UNGGULAN .pertanian .pariwisata 7 SUMATERA SELATAN Kawasan Muara Enim dan sekitarnya .(I/B/2) .perikanan .perkebunan .perkebunan . pertanian .www.(II/C/2) .(II/B/2) .(II/D/2) .(II/F/2) .l e lita a g or s-.kehutanan w ww g .pertambangan .(I/E/2) Kawasan Andalan Laut Natuna dan sekitarnya .perikanan .(III/A/2) .perikanan laut . No 48 122 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Andalan Laut Batam dan sekitarnya .industri .(III/A/2) .(I/B/2) .org 2008.(III/A/2) .(II/F/2) .pariwisata 6 JAMBI Kawasan Muara Bulian Timur Jambi dan sekitarnya .(I/C/2) .perkebunan .legalitas.(III/E/2) Kawasan Muara Bungo dan sekitarnya .(II/C/2) .pariwisata .pertambangan .(IV/F/2) .

www.legalitas.org

123

2008, No 48

NO

PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Lubuk Linggau dan sekitarnya - (IV/A/2) - (II/B/2) - (IV/D/2) Kawasan Palembang dan sekitarnya - (I/A/2) - (I/D/2) - (I/C/1) - (II/H/2) - (III/F/2) Kawasan Andalan Laut Bangka dan sekitarnya - (III/F/2) - (I/E/2)

SEKTOR UNGGULAN - pertanian - perkebunan - industri

- pertanian - industri - pertambangan - kehutanan - perikanan

8

BENGKULU

ww

le w.

g

lita a

g or s-. pariwisata
- perikanan

Kawasan Bengkulu dan sekitarnya - (II/A/2) - (III/D/2) - (II/B/2) - (II/F/2) - (III/E/2) Kawasan Manna dan sekitarnya - (III/A/2) - (II/B/2) - (II/F/2) - (II/D/2) - (IV/E/2)

- pertanian - industri - perkebunan - perikanan - pariwisata - pertanian - perkebunan - perikanan - industri - pariwisata

www.legalitas.org

2008, No 48

124

NO

PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Andalan Laut Bengkulu - (II/F/2) - (II/E/2)

SEKTOR UNGGULAN - perikanan - pariwisata

9

BANGKA BELITUNG Kawasan Bangka - (IV/A/2) - (IV/B/2) - (II/D/2) - (I/E/2) - (II/F/2) Kawasan Belitung - (IV/A/2) - (IV/B/2) - (II/D/2) - (I/E/2) - pertanian - perkebunan - industri - pariwisata - perikanan

w

ww

g .l e

lita a

.or s

- pertanian - perkebunan - industri - pariwisata - perikanan - pariwisata - perikanan

g

Kawasan Andalan Laut Bangka dan sekitarnya - (III/F/2) - (I/E/2) - (II/F/2) 10 LAMPUNG Kawasan Bandar Lampung- Metro - (I/B/2) - (II/E/2) - (II/D/2) - (IV/A/2) - (IV/F/2)

- perkebunan - pariwisata - industri - pertanian - perikanan

www.legalitas.org

125

2008, No 48

NO

PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Mesuji dan sekitarnya - (II/A/2) - (IV/B/2) - (IV/D/2) Kawasan Kotabumi dan sekitarnya - (IV/A/2) - (II/B/2) - (II/F/2) Kawasan Liwa-Krui - (IV/A/2) - (III/B/2) - (III/F/2) Kawasan Andalan Laut Krakatau dan sekitarnya - (III/F/2) - (II/C/2) - (I/E/2)

SEKTOR UNGGULAN - pertanian - perkebunan - industri - pertanian - perkebunan - perikanan

- pertanian - perkebunan - perikanan laut

w

w. w

leg

lita a

g or s-. perikanan

- pertambangan - pariwisata

11 DAERAH KHUSUS JAKARTA - JAWA BARAT - BANTEN Kawasan Perkotaan Jakarta - (I/D/2) - (I/E/2) - (II/F/2) Kawasan Andalan Laut. Pulau Seribu - (I/F/2) - (I/C/2) - (II/E/2) - industri - pariwisata - perdagangan - jasa - perikanan - perikanan - pertambangan - pariwisata

Cilegon .pertambangan 13 JAWA BARAT g .org 2008.industri .perikanan .pertanian .pariwisata .(I/E/2) .or s g .(I/D/2) .(II/F/2) .(II/D/2) .(I/E/2) .pertanian .(III/A/2) .pertanian .pertambangan .(II/F/2) lita a .(II/A/2) .(III/B/2) .(II/A/2) .pariwisata .perikanan .perikanan Kawasan Sukabumi dan sekitarnya .pariwisata .www.perkebunan .(I/C/2) Kawasan Andalan Laut Krakatau dan sekitarnya . No 48 126 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SEKTOR UNGGULAN 12 BANTEN Kawasan Bojonegara-Merak.(I/E/2) .industri .legalitas.(I/E/2) .perikanan .(III/F/2) .l e Kawasan Bogor-Puncak-Cianjur ww (Bopunjur dan sekitarnya) w .pariwisata .(II/F/2) .(II/C/2) .

(I/C/2) SEKTOR UNGGULAN .perkebunan .(II/A/2) .pariwisata .(I/F/2) .pertanian .pertanian .pertambangan Kawasan Priangan Timur-Pangandaran .(II/F/2) .(I/E/2) .perikanan .pariwisata .perkebunan w w.pertanian . w leg lita a g or s-. industri .(II/A/2) .(I/D/2) .(II/E/2) .(II/B/2) .org 127 2008.(II/A/2) .perikanan . No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Purwakarta.www. Karawang (Purwasuka) .pariwisata .(I/B/2) Kawasan Cirebon-IndramayuMajalengka-Kuningan (Ciayumaja Kuning) dan sekitarnya .perikanan .(IV/D/2) . Subang.industri .(II/E/2) .(II/D/2) .(I/D/1) .industri .pertanian .industri .legalitas.(I/A/1) .(II/F/2) Kawasan Cekungan Bandung .

(II/A/2) .(II/C/2) . g lita a .pariwisata . Blora (Wanarakuti) .(I/D/1) .(II/D/1) .pertanian . Pati.org 2008. Jepara. .perikanan .industri . .or s g .(II/A/2) . Kudus.kehutanan .(I/F/2) . Purwodadi) .www.pertambangan .perikanan . Sukoharjo.(I/D/1) .pertanian .(I/E/2) .(I/D/2) . Semarang.industri .(II/A/2) .(II/H/2) .pertanian ww le w.legalitas. Wonogiri.(I/F/2) Kawasan Juwana. Klaten (Subosuko-Wonosraten) .(I/E/2) .(I/F/2) Kawasan Bregas .industri . No 48 128 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SEKTOR UNGGULAN 14 JAWA TENGAH Kawasan Surakarta.perikanan .pariwisata Sragen. Karanganyar.pertanian Rembang. Boyolali. Salatiga.industri . Demak.(II/A/2) Kawasan Kedung Sepur (Kendal. Ungaran.

perikanan .(II/F/2) .industri .(II/F/2) .pertambangan .(II/C/2) .perikanan .(I/E/2) SEKTOR UNGGULAN .(II/A/2) .perikanan laut .pertambangan .(I/E/1) .(I/D/1) .pertanian .www.pertambangan .(I/C/2) .pariwisata Kawasan Andalan Laut Karimun Jawa . g lita a g or s-.pariwisata 15 DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Kawasan Yogyakarta dan sekitarnya .(II/D/1) .(III/E/2) ww le w. Cilacap dan sekitarnya) .(II/A/2) . No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Jawa Tengah Selatan (Purwokerto.(I/C/2) .pertanian .legalitas. Kebumen.pariwisata .perikanan dan sekitarnya . pariwisata .(III/E/2) .(III/E/2) Kawasan Andalan Laut Cilacap dan sekitarnya .org 129 2008.industri .(I/F/2) .pariwisata .(II/F/2) Kawasan Borobudur dan sekitarnya .

(II/B/2) .pertambangan .(II/F/2) .perkebunan .legalitas.(III/A/2) .org 2008.(II/D/1) .(I/D/1) .l e Kawasan Probolinggo-Pasuruanww Lumajang w .(I/D/2) .pariwisata .perkebunan .(III/B/2) .industri .pertanian .industri .pertanian .www.perikanan .(I/D/2) .(II/C/2) lita a g or s-.(III/B/) . pariwisata .(II/A/2) .(II/E/2) Kawasan Malang dan sekitarnya .pertambangan .(II/F/2) Kawasan Tuban-Bojonegoro .(II/A/2) .(II/C/2) . Lamongan (Gerbangkertosusila) .(I/E/2) . Surabaya.(II/F/2) . Bangkalan.(III/F/2) .industri . Sidoarjo.pariwisata .perikanan .(IV/E/2) . No 48 130 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SEKTOR UNGGULAN 16 JAWA TIMUR Kawasan Gresik.industri .perikanan .perkebunan .pariwisata g .pertanian .(III/E/2) .(III/A/2) . Mojokorto.perikanan .pertanian .

perkebunan .pariwisata .pariwisata .perkebunan .(II/B/2) .pertanian .pariwisata .(III/E/2) Kawasan Situbondo-BondowosoJember .legalitas.pariwisata .industri .(II/E/2) .perkebunan .(III/E/2) Kawasan Banyuwangi dan sekitarnya .l e . No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Kediri-Tulung Agung.(III/A/2) .(I/D/2) .Blitar .pertanian .perikanan .industri .(II /D/1) .(I/B/1) .(III /E/2) .(III/A/2) .or s g .perikanan .www.(II/F/2) .Perikanan laut lita Kawasan Madiun dan sekitarnya a g .(II/D/2) w .(III/B/2) .pertanian .(III/F/2) .org 131 2008.industri .(II /A/2) .(III/F/2) .pertanian .(II/D/2) .(III/A/2) Kawasan Madura dan Kepulauan .pertanian .(II/F/2) SEKTOR UNGGULAN .(I/F/2) .perikanan .(III/B/2) .perikanan .(III/A/2) ww .industri .perkebunan .

pariwisata .org 2008.perikanan w w.industri .pertambangan . No 48 132 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Andalan Laut.(II/C/2) .pertambangan .perikanan .(I/F/2) .(I/E/2) .(I/A/2) .(I/E/2) 18 NUSA TENGGARA BARAT Kawasan Lombok dan sekitarnya .perikanan .(I/F/2) . Madura dan sekitarnya .industri .(II/F/2) Kawasan Andalan Laut Bali dan sekitarnya .(II/A/1) .pertanian .pertambangan .(III/E/2) SEKTOR UNGGULAN . pariwisata .(II/C/2) .(II/F/2) .(I/D/4) .pertanian .legalitas. w leg lita a g or s-.pariwisata 17 BALI Kawasan Singaraja dan sekitarnya (Bali Utara) .(I/E/2) .perikanan .Kintamani (Bali Selatan) .perikanan laut .pertanian .www.pariwisata .(I/E/2) .(II/A/2) .(II/F/2) Kawasan Denpasar-Ubud.pariwisata .(II/C/2) .(II/A/2) .

No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Bima .(III/A/2) .perkebunan .(I/E/2) .(III/A/2) .(I/F/2) .(I/F/2) Kawasan Andalan Laut Selat Lombok dan sekitarnya .pariwisata .kehutanan .(IV/A/2) .(I/F/2) .industri .(IV/A/2) .(II/E/2) SEKTOR UNGGULAN .perikanan laut Kawasan Kupang dan sekitarnya .(III/H/2) .org 133 2008.industri .perikanan .pariwisata . pariwisata .(III/D/2) .perikanan .www.pertambangan .(II/E/2) .perikanan 19 NUSA TENGGARA TIMUR .(II/D/2) .perikanan laut .industri .(III/C/2) Kawasan Maumere-Ende .(I/F/2) Kawasan Sumbawa dan sekitarnya .industri .(II/E/2) .pertanian .pertanian .(III/C/2) .(III/B/2) ww le w.(III/D/2) .pertambangan .pertanian .pariwisata .(III/F/2) .pertanian .pariwisata .legalitas. g lita a g or s-.(III/D/2) .(II/E/2) .

(II/E/2) .perikanan .(IV/B/2) .(IV/D/2) .pertanian .perikanan .(II/E/2) Kawasan Andalan Laut.(II/E/2) .perkebunan .(IV/A/2) . No 48 134 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Komodo dan sekitarnya .perikanan .(IV/B/2) .(IV/C/2) .pariwisata .pertanian w w.(III/B/2) .(II/E/2) Kawasan Andalan Laut.(III /F/2) Kawasan Ruteng – Bajawa . Sumba dan sekitarnya .legalitas.(III/C/2) . w leg lita a g or s-.(I/E/2) .(III/F/2) .(IV/E/2) SEKTOR UNGGULAN .pariwisata .pariwisata . Flores .(IV/A/2) . pertanian . Sawu-Sumba dan sekitarnya .pertambangan .pariwisata Kawasan Andalan Laut.perikanan .(III/F/2) .perkebunan .(II/F/2) .www.pariwisata .pariwisata .industri .org 2008.perkebunan .(II/F/2) .perikanan .(IV/A/2) Kawasan Sumba .pertambangan .

pertanian .l e lita a .www.perkebunan .(I/B/2) .industri .(II/F/2) .industri .perkebunan .perikanan .legalitas.pertanian .(II/A/2) .perikanan .(II/H/2) Kawasan Kapuas Hulu dan sekitarnya .perikanan .org 135 2008.(III/A/2) .(I/D/2) .(III/D/2) .(II/F/2) Kawasan Ketapang dan sekitarnya .(II/H/2) .pertanian .(III/A/2) .perikanan .(II/D/2) .(I/F/2) .(I/H/2) .perkebunan .Pariwisata w ww g . No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SEKTOR UNGGULAN 20 KALIMANTAN BARAT Kawasan Pontianak dan sekitarnya .pertanian (III/A/2) .kehutanan .industri .perkebunan .(I/B/2) .pertanian .kehutanan .(II/A/2) .(II/F/2) .(II/E/2) Kawasan Singkawang dan sekitarnya .(I/B/2) .kehutanan g .(II/B/2) Kawasan Sanggau .or s .

pariwisata .legalitas.www.(III/A/2) .(III/C/2) .kehutanan .kehutanan .perikanan .(I/B/2) .kehutanan . w leg lita a g or s-.(II/F/2) .(II/B/2) .(III/F/2) .perikanan . perkebunan .pariwisata .(III/F/2) .Pangkalan Bun .pariwisata w w.pertambangan .(III/A/2) .pertanian .pertanian .(III/E/2) Kawasan Muarateweh .(II/H/2) .(II/E/2) Kawasan Buntok .perikanan .org 2008. No 48 136 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Andalan Laut Pontianak dan sekitarnya .pertanian .perkebunan .(II/B/2) .pariwisata 21 KALIMANTAN TENGAH Kawasan Sampit .(III/A/2) .(II/E/2) Kawasan Andalan Laut Ketapang dan sekitarnya .(II/D/2) .(II/E/2) SEKTOR UNGGULAN .(II/H/2) .industri .(III/H/2) .perkebunan .

kehutanan .(I/D/2) .org 137 2008.(II/C/2) .(II/B/2) .perikanan .perkebunan .pertanian .(III/E/2) ww dan Kawasan Banjarmasin Raya w sekitarnya .pariwisata .(II/F/2) .legalitas.(III/F/2) Kawasan Andalan Laut Kuala Pembuang .(III/A/2) .(III/B/2) .pariwisata .pertambangan .(I/H/2) .industri .(II/B/2) .l e lita a g or s-. No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Kuala Kapuas .www.pertanian .(III/A/2) g .perikanan .perikanan .industri .(II/E/2) .(II/H/2) .(I/F/2) Kawasan Batulicin .(III/E/2) SEKTOR UNGGULAN .(I/F/2) .perikanan .(III/A/2) .(III/A/2) . perkebunan .pariwisata 22 KALIMANTAN SELATAN Kawasan Kandangan dan sekitarnya .pertanian .(II/E/2) .kehutanan .perkebunan .perkebunan .(II/B/2) .pariwisata .(II/D/2) .pertanian .

(II/C/2) SEKTOR UNGGULAN .pertambangan .(I/C/2) .(II/H/2) .pertambangan .pariwisata .(II/F/2) .perkebunan .industri .(II/H/2) .pariwisata g .pertambangan 23 KALIMANTAN TIMUR Kawasan Tanjung Redeb dan sekitarnya .(II/D/2) .(I/C/2) .perikanan .(I/D/2) .(II/B/2) .(II/F/2) .(II/F/2) .org 2008.perikanan laut .kehutanan .industri . No 48 138 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Andalan Laut Pulau Laut .(II/F/2) Kawasan Sasemawa .kehutanan .perikanan w ww g .(III/E/2) .legalitas.(I/E/2) .or s .perkebunan .(I/D/2) .industri .perikanan .perikanan .l e lita a .pertambangan .pariwisata .(II/F/2) .(III/B/2) .(II/H/2) .www.(I/C/2) .kehutanan .(III/E/2) Kawasan Tatapanbuma dan sekitarnya .

g lita a .pertanian .legalitas.perikanan .(I/A/2) .(III/E/2) Kawasan Andalan Laut BontangTarakan dan sekitarnya .perkebunan .(II/B/2) .pertambangan .(I/B/2) .(II/F/2) .perkebunan .(II/F/2) .pariwisata 24 GORONTALO Kawasan Gorontalo .perikanan .(I/F/2) ww le w.(II/B/2) .pariwisata Tenggarong.perikanan . No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Bontang-Samarinda sekitarnya (Bonsamtebajam) .pertambangan .pertambangan .(I/C/2) .kehutanan .pertanian . Balikpapan Penajam dan .or s g .industri .(I/F/2) .(II/H/2) .www.perikanan .(I/C/2) .(I/D/2) .(III/C/2) Kawasan Marisa .perkebunan .(III/E/2) .org 139 2008.(II/F/2) .perikanan .pariwisata Kawasan Andalan Laut Tomini dan sekitarnya .(III/A/2) .(III/E/2) SEKTOR UNGGULAN .

org 2008.(IV/A/2) . No 48 140 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SEKTOR UNGGULAN 25 SULAWESI UTARA Kawasan Manado dan sekitarnya (I/F/2) .(I/E/2) .(II/B/2) .(II/A/2) .perkebunan .perikanan .(II/D/2) .perikanan .industri .industri .pertanian .pertambangan Kawasan Andalan Laut.or s .(III/F/2) .perikanan laut .legalitas.pariwisata .(II/C/2) Kawasan Dumoga-Kotamobagu dan sekitarnya (Bolaang Mongondow2) . Batutoli dan sekitarnya .perikanan .(III/E/2) 26 SULAWESI TENGAH Kawasan Poso dan sekitarnya .pertambangan .(III/D/2) ww le w. g lita a .(II/F/2) .pariwisata g .(II/E/1) .(II/C/2) .(I/E/2) .(I/F/2) Kawasan Andalan Laut. Bunaken dan sekitarnya .perikanan .(II/B/2) .(III/F/2) .www.pariwisata .pariwisata .perkebunan .pertanian .

perikanan .pariwisata .or s .(II/F/2) .pertanian .perkebunan .(III/F/2) .(II/B/2) .agroindustri .(III/E/2) .(III/A/2) .pertanian .(I/F/2) .(III/C/2) SEKTOR UNGGULAN .pertambangan .(I/C/2) .legalitas.pertambangan . No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Toli-toli dan sekitarnya .www.(I/A/2) .(III/E/2) .pertambangan g .pertanian .perikanan .org 141 2008.(III/B/2) .(II/C/2) .perikanan .(II/D/2) .pariwisata .perikanan .(II/B/2) .(III/E/2) Kawasan Kolonedale dan sekitarnya .pariwisata Kawasan Andalan Laut Teluk ToloKepulauan Banggai dan sekitarnya .perkebunan .perkebunan .(II/E/2) ww le w.(II/F/2) .(II/D/2) .pariwisata Kawasan Palu dan sekitarnya . g lita a .industri .(III/A/2) .

industri .agroindustri .perikanan .pertambangan .pariwisata (Makassar.(IV/E/2) .perdagangan .(II/F/2) Kawasan Palopo dan sekitarnya .(I/E/2) .perkebunan .perkebunan .org 2008.(II/A/2) .pertanian .agroindustri .pertanian .www.perikanan .(I/E/2) .(II/B/2) .pariwisata .agroindustri .(I/F/2) Kawasan Pare-Pare dan sekitarnya .or s g .(III/B/2) Kawasan Andalan Laut Kapoposang dan sekitarnya .(III/F/2) .(II/E/2) .(II/B/2) .perikanan w ww g .(I/D/2) .(I/D/2) .(II/D/2) .perikanan . No 48 142 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SEKTOR UNGGULAN 27 SULAWESI SELATAN Kawasan Mamminasata dan sekitarnya .(II/A/2) .pertanian . Takalar) .(III/A/2) .(IV/C/2) .(II/D/2) .pariwisata Kawasan Bulukumba-Watampone .legalitas.(I/F/2) .(II/F/2) .perikanan .pariwisata .perkebunan . Maros.l e lita a . Sungguminasa (Gowa).(II/A/2) .pertanian .

(I/B/2) w lita a .industri .perkebunan .(II/F/2) .(II/A/2) .perikanan .(IV/F/2) .(III/D/2) .(II/F/2) .pertanian .(III/E/2) SEKTOR UNGGULAN .legalitas.(II/F/2) 29 SULAWESI TENGGARA Kawasan Asesolo/Kendari .(II/E/2) Kawasan Andalan Laut SingkarangTakabonerate dan sekitarnya .kehutanan .(I/B/2) .perikanan .(I/F/2) .agroindustri .pertambangan . No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Andalan Laut Teluk Bone dan sekitarnya .(IV/C/2) .(II/D/2) .pertambangan .pertambangan .(II/E/2) 28 SULAWESI BARAT g .pariwisata .perikanan .(III/E/2) .(IV/C/2) .perikanan .org 143 2008.l e Kawasan Mamuju dan sekitarnya ww .(III/A/2) .perikanan .pertanian .pariwisata .pariwisata Kawasan Andalan Laut Selat Makassar .(III/D/2) .(III/C/2) .pariwisata g .(II/H/2) .perkebunan .agroindustri .or s .www.

perikanan .perikanan .(III/E/2) Kawasan Mowedong /Kolaka .perikanan .(III/D/2) .(III/F/2) .org 2008.pertambangan .perikanan .pertambangan .l e lita a .pariwisata .pariwisata w ww g .pariwisata .(III/A/2) .kehutanan .legalitas.perkebunan .(III/E/2) Kawasan Andalan Laut Tiworo dan sekitarnya .(I/C/2) .perkebunan .agroindustri .(II/F/2) .pariwisata g .(III/F/2) .(II/D/2) .(II/C/2) .(III/B/2) .pertanian . No 48 144 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Kapolimu-Patikala Muna – Buton .(IV/E/2) SEKTOR UNGGULAN .(III/C/2) .(III/E/2) Kawasan Andalan Laut KapontoriLasalimu dan sekitarnya .pertambangan .(III/C/2) .(II/B/2) .pertanian .www.(III/F/2) .pertambangan .(III/F/2) .or s .(IV/H/2) .perikanan .agroindustri .(III/A/2) Kawasan Andalan Laut Asera Lasolo .

legalitas.(III/F/2) .(I/F/2) .(III/C/2) .pariwisata .org 145 2008.(IV/B/2) .(III/A/2) .www.P.perikanan laut .pertambangan .(II/H/2) .pertanian .(II/B/2) .(II/E/2) Kawasan Andalan Laut Banda dan sekitarnya .(II/E/2) .(II/D/2) Kawasan Buru .perikanan .perikanan .kehutanan .perikanan .pertanian .(III/A/2) .perkebunan .pariwisata ww le w.(III/H/2) . g lita a rg oindustri s-. Tanimbar .perkebunan .(II/B/2) . No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SEKTOR UNGGULAN 30 MALUKU Kawasan Seram .perikanan .kehutanan .(III/C/2) .P.(III/A/2) .(II/F/2) .pertanian .pertambangan .perkebunan .(I/E/2) Kawasan Kei-Aru.(I/F/2) .(I/F/2) .pariwisata . .pariwisata .(I/E/2) Kawasan Andalan Laut Arafuru dan sekitarnya . Wetar.

(II/F/2) .(II/E/2) Kawasan Bacan -Halmahera Selatan .pariwisata .(III/B/2) .(III/H/2) .org 2008.perikanan .pertambangan . No 48 146 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SEKTOR UNGGULAN 31 MALUKU UTARA Kawasan Ternate.industri . Sidangoli.perikanan g .(I/C/2) .kehutanan .pertambangan .l e lita a .perikanan laut sekitarnya . Weda dan sekitarnya .(I/F/2) .perkebunan . Sula .pariwisata w ww g .(III/C/2) .pertambangan .(III/B/2) .perkebunan .(II/F/2) Kawasan Andalan Laut Halmahera dan .pertanian .perkebunan .(III/A/2) .(III/E/2) 32 PAPUA BARAT Kawasan Bintuni . Tidore.www.industri .perkebunan .or s .pertambangan .perikanan laut .(II/B/2) .pertanian . Sofifi.(II/C/2) .(III/C/2) .(II/D/2) .(II/F/2) .(III/D/2) .(III/A/2) Kawasan Kep.(III/B/2) .legalitas.

(II/D/2) .pertanian .(II/H/2) .perikanan .perikanan .kehutanan . No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Fak-Fak (Bomberai) dan sekitarnya .(I/C/2) .pertambangan .(I/C/2) .(III/E/2) .(I/F/2) .org 147 2008.pariwisata .(I/F/2) .(IV/A/2) .(I/F/2) .pertambangan .pariwisata 33 PAPUA Kawasan Timika (Tembagapura) dan sekitarnya .industri w w.(II/C/2) Kawasan Sorong dan sekitarnya .(II/H/2) .pertambangan .(II/E/2) SEKTOR UNGGULAN .(I/C/2) .(III/A/2) .(III/B/2) . perikanan .perkebunan .perikanan laut .www.(III/F/2) .pertanian .industri .perkebunan .(III/B/2) .(II/D/2) .industri .pertambangan . w leg lita a g or s-.(II/D/2) Kawasan Andalan Laut Raja Ampat Bintuni .legalitas.kehutanan .

pertambangan .kehutanan .pertanian .pertanian .(III/H/2) Kawasan Nabire dan sekitarnya (Aran Moswaren.org 2008.(II/B/2) .(II/F/2) . industri .www.perkebunan .(I/H/2) . w leg lita a g or s-.(III/C/2) .pertambangan .perikanan .(III/D/2) .(III/D/2) .(IV/B/2) .perkebunan . Legare) .industri .(III/A/2) .perkebunan .pertanian . No 48 148 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Biak .(IV/B/2) .(I/C/2) .(II/H/2) .kehutanan .perikanan .(II/D/2) .(I/F/2) .industri .(I/E/2) .(IV/C/2) Kawasan Merauke dan sekitarnya .legalitas.pertambangan w w.(II/B/2) .(III/B/2) SEKTOR UNGGULAN .(II/A/2) Kawasan Memberamo-Lereh (Jayapura) dan sekitarnya .perkebunan .(III/F/2) Kawasan Wamena dan sekitarnya .perkebunan .kehutanan .(I/A/2) .(IV/A/2) .pertanian .perikanan .pariwisata .

(II/E/2) Kawasan Andalan Laut Jayapura – Sarmi .(II/F/2) .pariwisata .pertambangan .pariwisata Keterangan: I – IV: Tahapan Pengembangan A : Pengembangan dan Pengendalian Pertanian w wAndalan untuk Pertanian Pangan Abadi w A/1 : Pengendalian Kawasan A/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Pertanian B : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Andalan untuk Perkebunan B/1 : Rehabilitasi Kawasan Andalan untuk Perkebunan B/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Perkebunan C : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Andalan untuk sektor g .(II/F/2) .l e lita a Kawasan . No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Andalan Laut Teluk Cendrawasih – Biak dan sekitarnya .(II/E/2) SEKTOR UNGGULAN .legalitas.perikanan .(III/C/2) .perikanan .org 149 2008.www.or s g Andalan untuk Sektor Pertambangan C/1 : Rehabilitasi Kawasan Andalan untuk Pertambangan C/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Pertambangan D : Rehabilitasi dan Pengembangan pengolahan D/1 : Rehabilitasi Kawasan Andalan untuk Industri Pengolahan D/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Industri Pengolahan Kawasan Andalan untuk industri .

H.www. DR.or s g PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.l e lita a .org 2008. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO .legalitas. No 48 150 E : Rehabilitasi Pariwisata dan Pengembangan Kawasan Andalan untuk sektor E/1 : Rehabilitasi Kawasan Andalan untuk Pariwisata E/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Pariwisata F : Rehabilitasi Perikanan F/1 : Rehabilitasi Kawasan Andalan untuk Perikanan F/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Perikanan G : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Andalan untuk sektor Kelautan G/1 : Rehabilitasi Kawasan Andalan untuk Kelautan G/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Kelautan H : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Andalan untuk Kehutanan H/1 : Rehabilitasi Kawasan Andalan untuk Kehutanan H/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Kehutanan dan Pengembangan Kawasan Andalan untuk sektor ww w g .

Kawasan Industri Lhokseumawe (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) (I/A/2) Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) (I/A/2) Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Banda Aceh Darussalam (Provinsi Nanggroe Aceh Darusalam) (I/A/2) Kawasan Ekosistem Leuser (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) (I/B/1) Kawasan Perbatasan Laut RI termasuk 2 pulau kecil terluar dengan negara India/Thailand/Semenanjung Malaysia (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara) (I/E/2) 6. Kawasan Lingkungan Hidup Taman Nasional Kerinci Seblat (Provinsi Jambi) (I/B/1) . Kawasan Perbatasan Laut RI termasuk 20 pulau kecil terluar dengan negara Semenanjung Malaysia/Vietnam/Singapura (Provinsi Riau dan Kepulauan Riau) (I/D/2) 12. Kawasan Hutan Lindung Mahato (Provinsi Riau) (I/B/1) 11. 7. No 48 LAMPIRAN X PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 26 TAHUN 2008 TANGGAL : 10 MARET 2008 PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS NASIONAL 1.legalitas. dan Karimun (Provinsi Kepulauan Riau) (I/A/2) 13. Kawasan Perkotaan Medan – Binjai – Deli Serdang – Karo (Mebidangro) (Provinsi Sumatera Utara) (I/A/1) Kawasan Danau Toba dan Sekitarnya (Provinsi Sumatera Utara) (I/B/1) Kawasan Stasiun Pengamat Dirgantara Kototabang (Provinsi Sumatera Barat) (I/D/2) Kawasan Hutan Lindung Bukit Batabuh (Perbatasan Provinsi RiauSumatera Barat) (I/B/1) ww le w. 9. g lita a . 2.www.org 151 2008. Bintan.or s g 10. 3. 4. Kawasan Batam. 5. 8.

Kawasan Fasilitas Pengolahan Data Digital/Paperprint dan Satelit (Provinsi DKI Jakarta) (I/D/2) 19. Kawasan Perkotaan Kendal – Demak – Ungaran – Salatiga – Semarang Purwodadi (Kedung Sepur) (Provinsi Jawa Tengah) (I/A/1) 28. Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta) (I/B/1) 31.org 2008. No 48 152 14. Kawasan Instalasi Lingkungan dan Cuaca (Provinsi DKI Jakarta) (I/D/2) 18. Kawasan Pangandaran – Kalipuncang – Segara Anakan – Nusakambangan (Pacangsanak) (Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah) (I/B/1) 27.www. Kawasan Stasiun Bumi Penerima Satelit Mikro (Provinsi Jawa Barat) (I/D/2) 26. Kawasan Stasiun Pengamat Dirgantara Tanjung Sari (Provinsi Jawa Barat) 24. 25. Kawasan Perkotaan Jabodetabek-Punjur termasuk Kepulauan Seribu (Provinsi DKI Jakarta. Kawasan Borobudur dan Sekitarnya (Provinsi Jawa Tengah) (I/B/2) 29. Kawasan Taman Nasional Berbak (Provinsi Jambi) (I/B/1) 15. Kawasan Candi Prambanan (Provinsi Jawa Tengah) (I/B/2) 30. Banten. Kawasan Perkotaan Gresik – Bangkalan – Mojokerto – Surabaya – Sidoarjo – Lamongan (Gerbangkertosusila) (Provinsi Jawa Timur) (I/A/1) 32. Kawasan Stasiun Pengamat Dirgantara Pamengpeuk (Provinsi Jawa Barat) (I/D/2) 23.or s g .legalitas. dan Jawa Barat) (I/A/1) 20.le Jawa Barat) (I/D/2) Kawasan Stasiun Telecomand (Provinsi ww w (I/D/2) lita a . Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (Provinsi Banten) (I/B/1) g . Kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas (Provinsi Jambi) (I/B/1) 17. Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung (Provinsi Jawa Barat) (I/A/1) 21. Kawasan Stasiun Pengamat Dirgantara Watukosek (Provinsi Jawa Timur) (I/D/2) 33. Kawasan Fasilitas Uji Terbang Roket Pamengpeuk (Provinsi Jawa Barat) (I/D/1) 22. Kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (Provinsi Jambi-Riau) (I/B/1) 16.

lita Kawasan Stasiun Pengamat Dirgantara Pontianak (Provinsi Kalimantan ga le Barat) (I/D/2) w. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Batulicin (Provinsi Kalimantan Selatan) (I/A/2) 48. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Samarinda. Kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (Provinsi Kalimantan Tengah) (I/B/1) 47. Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (Provinsi Kalimantan Barat) ww Kalimantan Barat) (I/A/2) (I/B/1) (Provinsi Kalimantan Barat. Kawasan Perbatasan Darat RI dan Jantung Kalimantan (Heart of Borneo) 45. 43. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Mbay (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (I/A/2) 39.or s g Khatulistiwa (Provinsi 44.www. Sanga-sanga. Muara Jawa.legalitas. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu 42. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Bima (Provinsi Nusa Tenggara Barat) (I/A/2) 36. Kawasan Gunung Rinjani (Provinsi Nusa Tenggara Barat) (I/B/1) 38. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Daerah Aliran Sungai Kahayan Kapuas dan Barito (Provinsi Kalimantan Tengah) (I/A/2) 46. No 48 34.org 153 2008. dan Kalimantan Tengah) (I/E/2) . Kawasan Taman Nasional Komodo (Provinsi Nusa Tenggara Barat) (I/B/1) 37. Kawasan Perbatasan Laut RI termasuk 5 pulau kecil terluar dengan negara Timor Leste/Australia (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (I/E/2) 41. Kawasan Perbatasan Darat RI dengan negara Timor Leste (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (I/E/2) 40. Balikpapan (Provinsi Kalimantan Timur) (I/A/2) . Kalimantan Timur.Tabanan (Sarbagita) (Provinsi Bali) (I/A/1) 35. Kawasan Perkotaan Denpasar – Badung – Gianyar .

Kawasan Pengembangan Selatan) (I/A/2) Parepare (Provinsi Sulawesi g . Kawasan Toraja dan Sekitarnya (Provinsi Sulawesi Selatan) (I/C/1) 59. Kawasan Soroako dan Sekitarnya (Provinsi Sulawesi Selatan) (I/D/2) 61. Kawasan Stasiun Bumi Sumber Alam Parepare (Provinsi Sulawesi Selatan) (I/D/2) 60. Kawasan Laut Banda (Provinsi Maluku) (I/D/1) 65.www. dan Kendari (Provinsi Sulawesi Tenggara) (I/A/2) 62.or s – g Sungguminasa - Takalar 58. Kawasan Perkotaan Makassar – Maros (Mamminasata) (Provinsi Sulawesi Selatan) (I/A/1) 57.le Terpadu Ekonomi ww w lita a .legalitas. Kawasan Kritis Lingkungan Balingara (Provinsi Sulawesi Tengah) (I/B/1) 55. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Manado – Bitung (Provinsi Sulawesi Utara) (I/A/2) 51. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Buton. No 48 154 49. Kawasan Konservasi dan Wisata Daerah Aliran Sungai Tondano (Provinsi Sulawesi Utara) (I/B/1) 52.Watumohai dan Rawa Tinondo (Provinsi Sulawesi Tenggara) (I/B/1) 63. Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara) (I/E/2) 50. Kawasan Poso dan Sekitarnya (Provinsi Sulawesi Tengah) (I/C/1) 54. Kawasan Perbatasan Laut RI termasuk 18 pulau terluar dengan negara Malaysia dan Philipina (Provinsi Kalimantan Timur. Kolaka.org 2008. Kawasan Kritis Lingkungan Buol-Lambunu (Provinsi Sulawesi Tengah) (I/B/1) 56. Kawasan Taman Nasional Rawa Aopa . Kawasan Perbatasan Laut RI termasuk 20 pulau kecil terluar dengan negara Timor Leste/Australia (Provinsi Maluku dan Papua) (I/E/2) . Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Batui (Provinsi Sulawesi Tengah) (I/A/2) 53. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Seram (Provinsi Maluku) (I/A/2) 64.

or s g Sumatera Utara. No 48 66. Sumatera Barat. Banten. Jawa Timur. Kawasan Taman Nasional Lorentz (Provinsi Papua) (I/B/1) 73. Kawasan Stasiun Telemetry Tracking and Command Wahana Peluncur Satelit (Provinsi Papua) (I/D/2) 71. Jawa Tengah. Jawa Barat.legalitas. Kawasan Perbatasan Darat RI dengan negara Papua Nugini (Provinsi Papua) (I/E/2) 75.org 155 2008.www. Bengkulu.l e Negara w termasuk 19 pulau kecil terluar yang laut lepas (Provinsi Nanggroe Aceh Darusalam. Lampung. Kawasan Stasiun Bumi Satelit Cuaca dan Lingkungan (Provinsi Papua) (I/D/2) 70. Papua Barat. dan Papua) (I/E/2) 67. dan Nusa Tenggara Barat) (I/E/2) Keterangan: I – IV : Tahapan Pengembangan A : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Strategis Nasional Dengan Sudut Kepentingan Ekonomi A/1 : Rehabilitasi/Revitalisasi Kawasan A/2 : Pengembangan/Peningkatan kualitas kawasan B : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Strategis Nasional Dengan Sudut Kepentingan Lingkungan Hidup B/1 : Rehabilitasi/Revitalisasi Kawasan B/2 : Pengembangan/Peningkatan kualitas kawasan . Kawasan Konservasi Keanekaragaman Hayati Raja Ampat (Provinsi Papua Barat) (I/B/1) 68. Kawasan Perbatasan berhadapan dengan g . Kawasan Timika (Provinsi Papua) (I/D/2) 72. Kawasan Konservasi Keanekaragaman Hayati Teluk Bintuni (Provinsi Papua) (I/B/1) 74. Kawasan Perbatasan Laut RI termasuk 8 pulau kecil terluar dengan negara Palau (Provinsi Maluku Utara. ww lita a . Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Biak (Provinsi Papua) (I/A/2) 69.

or s g DR.www. No 48 156 C : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Strategis Nasional Dengan Sudut Kepentingan Sosial Budaya C/1 : Rehabilitasi/Revitalisasi Kawasan C/2 : Pengembangan/Peningkatan kualitas kawasan D : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Strategis Nasional Dengan Sudut Kepentingan Pendayagunaan Sumberdaya alam dan Teknologi Tinggi D/1 : Rehabilitasi/Revitalisasi Kawasan D/2 : Pengembangan/Peningkatan kualitas kawasan E : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan strategis nasional dengan Sudut Kepentingan Pertahanan dan Keamanan E/1 : Rehabilitasi/Revitalisasi Kawasan E/2 : Pengembangan/Peningkatan kualitas kawasan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. ww le w. H.legalitas. g lita a . SUSILO BAMBANG YUDHOYONO .org 2008.

or s g .org 157 2008.www. No 48 ww le w.legalitas. g lita a .

or s g .org 2008. No 48 158 ww le w.www. g lita a .legalitas.

No 48 ww le w.org 159 2008.www. g lita a .legalitas.or s g .

No 48 160 ww le w. g lita a .or s g .www.org 2008.legalitas.

or s g .org 161 2008. g lita a .www.legalitas. No 48 ww le w.

or s g .org 2008. g lita a .legalitas. No 48 162 ww le w.www.

No 48 ww le w.org 163 2008.www. g lita a .or s g .legalitas.

or s g .legalitas. No 48 164 ww le w. g lita a .org 2008.www.

www. g lita a .or s g . No 48 ww le w.legalitas.org 165 2008.

or s g .www.legalitas. No 48 166 ww le w.org 2008. g lita a .

or s g .www. g lita a .org 167 2008. No 48 ww le w.legalitas.

g lita a .or s g .www. No 48 168 ww le w.legalitas.org 2008.

www.org 169 2008.legalitas.or s g . No 48 ww le w. g lita a .

or s g .www. g lita a .org 2008.legalitas. No 48 170 ww le w.

or s g . g lita a .org 171 2008.legalitas. No 48 ww le w.www.

g lita a .legalitas.www.org 2008. No 48 172 ww le w.or s g .

org 173 2008.or s g .www. No 48 ww le w. g lita a .legalitas.

or s g .org 2008.legalitas. No 48 174 ww le w. g lita a .www.

No 48 ww le w. g lita a .or s g .org 175 2008.legalitas.www.

g lita a .org 2008.www.legalitas.or s g . No 48 176 ww le w.

or s g .www. No 48 ww le w.legalitas.org 177 2008. g lita a .

No 48 178 ww le w.legalitas.www. g lita a .or s g .org 2008.

org 179 2008.or s g .www.legalitas. No 48 ww le w. g lita a .

legalitas. No 48 180 ww le w. g lita a .www.or s g .org 2008.

No 48 ww le w. g lita a .or s g .org 181 2008.www.legalitas.

legalitas. g lita a .org 2008.or s g . No 48 182 ww le w.www.

www.or s g .legalitas.org 183 2008. g lita a . No 48 ww le w.

www. g lita a . No 48 184 ww le w.or s g .org 2008.legalitas.

or s g . g lita a . No 48 ww le w.org 185 2008.legalitas.www.

legalitas.or s g .www. g lita a .org 2008. No 48 186 ww le w.

www. g lita a .legalitas.org 187 2008. No 48 ww le w.or s g .

g lita a .www. No 48 188 ww le w.org 2008.or s g .legalitas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful