www.legalitas.

org

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No.48, 2008 PEMERINTAHAN. WILAYAH NASIONAL. Pemda. Pengawasan. Pemanfaatan. Pengendalian. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833)

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA

ta s TENTANG ali RENCANA TATA RUANGg .le WILAYAH NASIONAL ww DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA w
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 20 ayat (6) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional; 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL.

NOMOR 26 TAHUN 2008 .o

rg

Mengingat

:

www.legalitas.org

2008, No 48

2

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional yang selanjutnya disebut RTRWN adalah arahan kebijakan dan strategi pemanfaatan ruang wilayah negara. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya. Tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang. Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. rg

2.

3. 4. 5. 6.

7.

s.o tata ruang. Rencana tata ruang adalah hasil perencanaan lita Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta ga e segenap unsur terkait yang w.l dan sistemnya ditentukan berdasarkan batas aspek administratif dan/atau aspek fungsional. ww

Wilayah nasional adalah seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi berdasarkan peraturan perundangundangan. Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budi daya. Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. Kawasan budi daya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan. Kawasan andalan adalah bagian dari kawasan budi daya, baik di ruang darat maupun ruang laut yang pengembangannya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan tersebut dan kawasan di sekitarnya.

8. 9.

10.

11.

www.legalitas.org

3

2008, No 48

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18. 19.

20.

21.

Kawasan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Kawasan perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Kawasan metropolitan adalah kawasan perkotaan yang terdiri atas sebuah kawasan perkotaan yang berdiri sendiri atau kawasan perkotaan g inti dengan kawasan perkotaan di sekitarnya yang saling memiliki or dengan sistem jaringan . keterkaitan fungsional yang dihubungkan as jumlah penduduk secara prasarana wilayah yang terintegrasilit a dengan juta) jiwa. keseluruhan sekurang-kurangnya g le 1.000.000 (satu .kawasan yang terbentuk dari 2 (dua) atau Kawasan megapolitan adalah wwyang memiliki hubungan fungsional dan lebih kawasan metropolitan w membentuk sebuah sistem. Kawasan strategis nasional adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang ditetapkan sebagai warisan dunia. Kawasan pertahanan negara adalah wilayah yang ditetapkan secara nasional yang digunakan untuk kepentingan pertahanan. Pusat Kegiatan Nasional yang selanjutnya disebut PKN adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala internasional, nasional, atau beberapa provinsi. Pusat Kegiatan Wilayah yang selanjutnya disebut PKW adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala provinsi atau beberapa kabupaten/kota. Pusat Kegiatan Lokal yang selanjutnya disebut PKL adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kabupaten/kota atau beberapa kecamatan.

sengaja ditanam. menyimpan. 28. tempat g tumbuh tanaman. selanjutnya disebut Pemerintah. Pemerintah pusat. Bupati atau Walikota.legalitas.le dan berbatasan dengan laut wilayah Indonesia adalah jalur di w luar w Indonesia sebagaimanawditetapkan berdasarkan undang-undang yang berlaku tentang perairan Indonesia yang meliputi dasar laut.org 2008.www. dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami. 29. 25. 30. Peraturan zonasi adalah ketentuan yang mengatur tentang persyaratan pemanfaatan ruang dan ketentuan pengendaliannya dan disusun untuk setiap blok/zona peruntukan yang penetapan zonanya dalam rencana rinci tata ruang. Wilayah sungai adalah kesatuan wilayah pengelolaan sumber daya air dalam satu atau lebih daerah aliran sungai dan/atau pulau-pulau kecil yang luasnya kurang dari atau sama dengan 2. yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan. No 48 4 22. Daerah aliran sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya.000 km2. dan air di atasnya dengan batas terluar 200 (dua ratus) mil laut diukur dari garis pangkal laut wilayah Indonesia. yang berfungsi menampung. 27. Pusat Kegiatan Strategis Nasional yang selanjutnya disebut PKSN adalah kawasan perkotaan yang ditetapkan untuk mendorong pengembangan kawasan perbatasan negara. Menteri adalah menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang penataan ruang. 24. Pemerintah daerah adalah Gubernur. yang penggunaannya lebih bersifat terbuka. dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. 26 t ali yang selanjutnya disebut ZEE g Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia . adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. . Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok. baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang or . tanah di bawahnya. as 23.

c. keterpaduan pemanfaatan w termasuk ruang di dalam bumi dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. No 48 31. keseimbangan dan keserasian kegiatan antarsektor. dan g kabupaten/kota. i. penyusunan rencana pembangunan jangka menengah nasional. Pasal 3 f. b. keseimbangan dan keserasian perkembangan antarwilayah.org 5 2008. DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH NASIONAL Bagian Kesatu Tujuan Penataan Ruang Wilayah Nasional Pasal 2 Penataan ruang wilayah nasional bertujuan untuk mewujudkan: a. dan ruang udara. g or . penyusunan rencana pembangunan jangka panjang nasional. RTRWN menjadi pedoman untuk: a. ruang laut. d. adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.legalitas.l e w wruang darat. ruang wilayah berkelanjutan. dan ali keterpaduan perencanaan tata ruang wilayah nasional. nasional yang aman. provinsi. keharmonisan antara lingkungan alam tas lingkungan buatan. b. KEBIJAKAN. dan pertahanan dan keamanan negara yang dinamis serta integrasi nasional. BAB II TUJUAN. nyaman. pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. dan kabupaten/kota dalam rangka pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang. produktif.www. selanjutnya disebut daerah. h. provinsi. . dan e. keterpaduan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional. . g. Daerah otonom.

No 48 6 c. dan sumber daya air yang terpadu dan merata di seluruh wilayah nasional.legalitas. f.o Pasal 4 meliputi: lita a. b. g. mengendalikan perkembangan kota-kota pantai. d. pewujudan keterpaduan. penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi. rg g peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan .le dan berhierarki. d. antara kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan. Bagian Kedua Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Wilayah Nasional Pasal 4 Kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah nasional meliputi kebijakan dan strategi pengembangan struktur ruang dan pola ruang. (2) Strategi untuk peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan ekonomi wilayah meliputi: a. penataan ruang kawasan strategis nasional. e. energi. telekomunikasi.org 2008. pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah nasional. serta keserasian antarsektor. dan ekonomi wilayah yang merata w w a b. c. serta antara kawasan perkotaan dan wilayah di sekitarnya. dan keseimbangan perkembangan antarwilayah provinsi. keterkaitan.www. w peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi. dan penataan ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota. Pasal 5 (1) Kebijakan pengembangan struktur ruangssebagaimana dimaksud dalam . dan mendorong kawasan perkotaan dan pusat pertumbuhan agar lebih kompetitif dan lebih efektif dalam pengembangan wilayah di sekitarnya. menjaga keterkaitan antarkawasan perkotaan. mengembangkan pusat pertumbuhan baru di kawasan yang belum terlayani oleh pusat pertumbuhan. (3) Strategi untuk peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana meliputi: .

laut. mendorong pengembangan prasarana telekomunikasi terutama di kawasan terisolasi. ruang laut. serta mewujudkan sistem jaringan pipa minyak dan gas bumi nasional yang optimal. Pasal 6 d. Pasal 7 Kebijakan pengembangan kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a meliputi: a. g Kebijakan dan strategi pengembangan pola ruang sebagaimana dimaksud dalam or Pasal 4 meliputi: s. c. pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup. b. e. b. (2) Strategi untuk pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup meliputi: a. dan ruang udara.www.legalitas. dan udara. No 48 a. b. termasuk ruang di dalam bumi. mewujudkan kawasan berfungsi lindung dalam satu wilayah pulau dengan luas paling sedikit 30% (tiga puluh persen) dari luas pulau tersebut sesuai dengan kondisi ekosistemnya. dan pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup. dan meningkatkan jaringan transmisi dan distribusi minyak dan gas bumi. dan w. menetapkan kawasan lindung di ruang darat. kebijakan dan strategi pengembangan ga le kebijakan dan strategi pengembangan kawasan budi daya. b. c. meningkatkan kualitas jaringan prasarana serta mewujudkan keterpaduan sistem jaringan sumber daya air. a. meningkatkan kualitas jaringan prasarana dan mewujudkan keterpaduan pelayanan transportasi darat. meningkatkan jaringan energi untuk memanfaatkan energi terbarukan dan tak terbarukan secara optimal serta mewujudkan keterpaduan sistem penyediaan tenaga listrik. dan .org 7 2008. ww kebijakan dan strategi pengembangan kawasan strategis nasional. (1) ta likawasan lindung.

c. menunjang pembangunan eg yang l w. mengembalikan dan meningkatkan fungsi kawasan lindung yang telah menurun akibat pengembangan kegiatan budi daya. mengelola sumber daya alam tak terbarukan untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan sumber daya alam yang terbarukan untuk menjamin kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya. melindungi kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat. perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antarkegiatan budi daya. melindungi kemampuan lingkungan hidup dari tekanan perubahan dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan agar tetap mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. dalam rangka mewujudkan dan memelihara keseimbangan ekosistem wilayah. g mencegah terjadinya tindakan yang dapat secara langsung atau or sifat fisik lingkungan . Pasal 8 f. dan mengembangkan kegiatan budidaya yang mempunyai daya adaptasi bencana di kawasan rawan bencana. .legalitas. (1) Kebijakan pengembangan kawasan budi daya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf b meliputi: a. e.www. d. sumber daya alam secara bijaksana mengendalikan pemanfaatan w untuk menjamin w kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan. No 48 8 c. b. energi. tidak langsung menimbulkan perubahan ashidup tidak berfungsi dalam t yang mengakibatkan lingkungan aliberkelanjutan. (3) Strategi untuk pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup meliputi: a. g. dan pengendalian perkembangan kegiatan budi daya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan. dan/atau komponen lain yang dibuang ke dalamnya. b. menyelenggarakan upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup.org 2008.

f. membatasi perkembangan kegiatan budi daya terbangun di kawasan rawan bencana untuk meminimalkan potensi kejadian bencana dan potensi kerugian akibat bencana. d. w mengembangkan w kegiatan pengelolaan sumber daya kelautan yang bernilai ekonomi tinggi di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). . . b. c. (3) Strategi untuk pengendalian perkembangan kegiatan budi daya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan meliputi: a. sosial budaya. mengembangkan kegiatan budi daya unggulan di dalam kawasan beserta prasarana secara sinergis dan berkelanjutan untuk mendorong pengembangan perekonomian kawasan dan wilayah sekitarnya.www. d. ruang laut. mengembangkan perkotaan metropolitan dan kota besar dengan mengoptimalkan pemanfaaatan ruang secara vertikal dan kompak. No 48 (2) Strategi untuk perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antarkegiatan budi daya meliputi: a. serta ilmu pengetahuan dan teknologi. e. mengembangkan kegiatan budi daya untuk menunjang aspek politik.legalitas. dan/atau landas kontinen untuk meningkatkan perekonomian nasional. menetapkan kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis nasional untuk pemanfaatan sumber daya alam di ruang darat. mengembangkan dan melestarikan kawasan budi daya pertanian rg pangan untuk mewujudkan ketahanano pangan nasional. b. dan membatasi perkembangan kawasan terbangun di kawasan perkotaan besar dan metropolitan untuk mempertahankan tingkat pelayanan prasarana dan sarana kawasan perkotaan serta mempertahankan fungsi kawasan perdesaan di sekitarnya. termasuk ruang di dalam bumi secara sinergis untuk mewujudkan keseimbangan pemanfaatan ruang wilayah.org 9 2008. mengembangkan ruang terbuka hijau dengan luas paling sedikit 30% (tiga puluh persen) dari luas kawasan perkotaan. dan w. dan ruang udara. c. pertahanan dan keamanan. tas dengan pendekatan gugus mengembangkan pulau-pulau likecil ga pulau untuk meningkatkan daya saing dan mewujudkan skala le ekonomi. Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia.

.le kesejahteraan masyarakat. pelestarian dan peningkatan nilai kawasan lindung yang ditetapkan sebagai warisan dunia. . melestarikan keanekaragaman hayati. melestarikan keunikan bentang alam. pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam g or pengembangan perekonomian nasional yang produktif. f. Strategi untuk pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup meliputi: a. mencegah pemanfaatan ruang di kawasan strategis nasional yang berpotensi mengurangi fungsi lindung kawasan. it b. mempertahankan dan meningkatkan fungsi perlindungan kawasan. optimal untuk meningkatkan ww w pelestarian dan peningkatan sosial dan budaya bangsa. dan melestarikan warisan budaya nasional. d. (2) al dan/atau teknologi tinggi secara pemanfaatan sumber daya g alam . e. mengembangkan kegiatan budidaya yang dapat mempertahankan keberadaan pulau-pulau kecil. dan pengembangan kawasan tertinggal untuk mengurangi kesenjangan tingkat perkembangan antarkawasan. as dan mampu bersaing dalam perekonomian internasional. c. cagar biosfer.org 2008.www. d. membatasi pemanfaatan ruang di sekitar kawasan strategis nasional yang berpotensi mengurangi fungsi lindung kawasan. Pasal 9 (1) Kebijakan pengembangan kawasan strategis nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c meliputi: a. b. No 48 10 e. c.legalitas. g. dan ramsar. pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup untuk mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem. menetapkan kawasan strategis nasional berfungsi lindung. efisien. peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara. membatasi pengembangan prasarana dan sarana di dalam dan di sekitar kawasan strategis nasional yang dapat memicu perkembangan kegiatan budi daya.

org 11 2008. dan meningkatkan pelayanan prasarana dan sarana penunjang kegiatan ekonomi. menciptakan iklim investasi yang kondusif.legalitas. b. f. f. (3) Strategi untuk peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara meliputi: a. mengintensifkan promosi peluang investasi. mengembangkan pusat pertumbuhan berbasis potensi sumber daya alam dan kegiatan budi daya unggulan sebagai penggerak utama pengembangan wilayah. (5) Strategi untuk pemanfaatan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi secara optimal meliputi: a. dan peningkatan fungsi kawasan dalam Strategi untuk pengembangan pengembangan perekonomian nasional meliputi: ww a.www. e. mengembangkan kegiatan budi daya tidak terbangun di sekitar kawasan strategis nasional yang berfungsi sebagai zona penyangga yang memisahkan kawasan lindung dengan kawasan budi daya terbangun. d. c. (4) l w. . mengelola pemanfaatan sumber daya alam agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung kawasan. mengembangkan kegiatan budi daya secara selektif di dalam dan di sekitar kawasan strategis nasional untuk menjaga fungsi pertahanan dan keamanan. strategis ta penyangga yang memisahkan lkawasan strategis nasional dengan ai kawasan budi daya terbangun. menetapkan kawasan strategis nasional dengan fungsi khusus pertahanan dan keamanan. mengembangkan kegiatan penunjang dan/atau kegiatan turunan dari pemanfaatan sumber daya dan/atau teknologi tinggi. dan c. mengelola dampak negatif kegiatan budi daya agar tidak menurunkan kualitas lingkungan hidup dan efisiensi kawasan. g mengembangkan kawasan lindung dan/atau kawasan budi daya or nasional sebagai zona tidak terbangun di sekitar kawasans. eg b. No 48 e. dan merehabilitasi fungsi lindung kawasan yang menurun akibat dampak pemanfaatan ruang yang berkembang di dalam dan di sekitar kawasan strategis nasional.

a ww meningkatkan kepariwisataan nasional. No 48 12 b. dan melestarikan keberlanjutan lingkungan hidup. (7) Strategi untuk pelestarian dan peningkatan nilai kawasan yang s. meningkatkan akses masyarakat ke sumber pembiayaan. b.org 2008. mengembangkan prasarana dan sarana penunjang kegiatan ekonomi masyarakat. dan mencegah dampak negatif pemanfaatan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi terhadap fungsi lingkungan hidup. . sumber daya alam secara optimal dan membuka akses dan meningkatkan aksesibilitas antara kawasan tertinggal dan pusat pertumbuhan wilayah. b. rg melestarikan keaslian fisik g . mengembangkan penerapan nilai budaya bangsa dalam kehidupan masyarakat.legalitas. e. dan keselamatan masyarakat. dan meningkatkan kualitas dan kapasitas sumber daya manusia dalam pengelolaan kegiatan ekonomi.www. (8) Strategi untuk pengembangan kawasan tertinggal meliputi: a. mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. b. meningkatkan keterkaitan kegiatan pemanfaatan sumber daya dan/atau teknologi tinggi dengan kegiatan penunjang dan/atau turunannya. d.le serta mempertahankan keseimbangan w ekosistemnya. d. meningkatkan kecintaan masyarakat akan nilai budaya yang mencerminkan jati diri bangsa yang berbudi luhur. c. c. c. memanfaatkan berkelanjutan.o ditetapkan sebagai warisan dunia meliputi: lita a. dan melestarikan situs warisan budaya bangsa. (6) Strategi untuk pelestarian dan peningkatan sosial dan budaya bangsa meliputi: a. c.

sistem jaringan energi nasional.legalitas. PKW. kawasan perkotaan sedang. e. lit ga Bagian Kedua le w. PKW. kawasan metropolitan. sistem jaringan transportasi nasional. d. No 48 BAB III RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH NASIONAL Bagian Kesatu Umum Pasal 10 (1) Rencana struktur ruang wilayah nasional meliputi: a. kawasan perkotaan besar.org 13 2008. . e. dan PKL. c. sistem jaringan telekomunikasi nasional. b. Lampiran I yang merupakan bagian tidak as Pemerintah ini. b.000. Sistemw w Perkotaan Nasional Pasal 11 (1) (2) (3) Sistem perkotaan nasional terdiri atas PKN.www. dan PKL dapat berupa: a.000 sebagaimana tercantum dalam orterpisahkan dari Peraturan . (2) sistem perkotaan nasional. kawasan megapolitan. atau kawasan perkotaan kecil. Rencana struktur ruang wilayah nasional digambarkan dalam peta g dengan tingkat ketelitian 1:1. c. Pasal 12 PKN. PKN dan PKW tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini. d. setelah dikonsultasikan dengan Menteri. PKL ditetapkan dengan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi berdasarkan usulan pemerintah kabupaten/kota. dan sistem jaringan sumber daya air.

dan/atau or . kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan jasa yang melayani skala provinsi atau beberapa kabupaten. (2) PKW sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) ditetapkan dengan w. b.legalitas. c. (3) PKL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria: a. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan jasa yang melayani skala kabupaten atau beberapa kecamatan. No 48 14 Pasal 13 (1) Selain sistem perkotaan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) dikembangkan PKSN untuk mendorong perkembangan kawasan perbatasan negara. Pasal 14 (1) PKN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria: a. b. dan/atau kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul transportasi yang melayani skala kabupaten atau beberapa kecamatan. dan/atau kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul transportasi yang melayani skala provinsi atau beberapa kabupaten. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan jasa skala nasional atau yang melayani g beberapa provinsi. . Kawasan yang ditetapkan sebagai PKSN tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini. c. (2) b. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul utama kegiatan ekspor-impor atau pintu gerbang menuju kawasan internasional.org 2008. kriteria: ww a.www. utama transportasi skala nasional atau ga s le kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul kedua kegiatan ekspor-impor yang mendukung PKN. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul lita melayani beberapa provinsi.

lyang ditetapkan dengan kriteria: ww a. pusat perkotaan yang merupakan pusat pertumbuhan ekonomi yang dapat mendorong perkembangan kawasan di sekitarnya. terdiri atas satu kawasan perkotaan inti dan beberapa kawasan perkotaan di sekitarnya yang membentuk satu kesatuan pusat perkotaan. b. dan c. (5) Kawasan perkotaan kecil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf e merupakan kawasan perkotaan yang ditetapkan dengan kriteria jumlah penduduk lebih dari 50. pusat perkotaan yang merupakan simpul utama transportasi yang menghubungkan wilayah sekitarnya. as t ali (2) Kawasan metropolitan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf b eg merupakan kawasan perkotaan.www. pusat perkotaan yang berfungsi sebagai pintu gerbang internasional yang menghubungkan dengan negara tetangga.000 (lima ratus ribu) jiwa. c.000 (lima puluh ribu) sampai dengan 100.legalitas. pusat perkotaan yang berpotensi sebagai pos pemeriksaan lintas batas dengan negara tetangga. memiliki jumlah penduduk paling sedikit 1. b. dan membentuk sebuah sistem.org 15 2008. Pasal 16 (1) Kawasan megapolitan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf a merupakan kawasan yang ditetapkan dengan kriteria memiliki 2 (dua) g atau lebih kawasan metropolitan yang mempunyai hubungan fungsional or . dan/atau d. terdapat keterkaitan fungsi antarkawasan perkotaan dalam satu sistem metropolitan. (3) Kawasan perkotaan besar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf c merupakan kawasan perkotaan yang ditetapkan dengan kriteria jumlah penduduk lebih dari 500.000.000 (seratus ribu) jiwa. . (4) Kawasan perkotaan sedang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf d merupakan kawasan perkotaan yang ditetapkan dengan kriteria jumlah penduduk lebih dari 100.000 (lima ratus ribu) jiwa. No 48 Pasal 15 PKSN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria: a.000 (satu juta) w jiwa.000 (seratus ribu) sampai dengan 500.

legalitas. c. (2) sistem jaringan transportasi darat. Pasalga 18 g li (1) le (2) (3) (4) Jaringan jalan kolektor primer dikembangkan untuk menghubungkan antar-PKW dan antara PKW dan PKL. Sistem jaringan transportasi darat terdiri atas jaringan jalan nasional. danau. jaringan jalan strategis nasional. dan PKN dan/atau PKW dengan kawasan strategis nasional. Jaringan jalan strategis nasional dikembangkan untuk menghubungkan: a. c.org 2008. Sistem jaringan transportasi laut terdiri atas tatanan kepelabuhanan dan alur pelayaran. . b. antara PKN dan PKW. (3) (4) Sistem jaringan transportasi udara terdiri . sistem jaringan transportasi laut. b. ta Jaringan jalan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) w. jaringan jalur kereta api. dan jalan tol. Jaringan jalan arteri primer dikembangkan secara menerus dan berhierarki berdasarkan kesatuan sistem orientasi untuk menghubungkan: a. antar-PKSN dalam satu kawasan perbatasan negara. dan penyeberangan. c.or tatanan kebandarudaraan atas s dan ruang udara untuk penerbangan. antar-PKN. antara PKSN dan pusat kegiatan lainnya. dan jaringan transportasi sungai. b. dan/atau PKN dan/atau PKW dengan bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer/sekunder/tersier dan pelabuhan internasional/nasional. jaringan jalan kolektor primer. No 48 16 Bagian Ketiga Sistem Jaringan Transportasi Nasional Pasal 17 (1) Sistem jaringan transportasi nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) huruf b terdiri atas: a.www. dan sistem jaringan transportasi udara. terdiri atas jaringan jalanw w arteri primer.

dan mendukung aksesibilitas di kawasan perkotaan. b. (3) d. PKW dengan PKN. . dan ga jaringan jalur kereta api khusus. d. b. dikembangkan untuk untuk (1) (2) (3) Jembatan atau terowongan antarnegara dikembangkan menghubungkan arus lalu lintas dengan negara tetangga. a. Pasal 20 Jaringan jalur kereta api sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) terdiri g or atas: . antar-PKN. (1) jaringan jalur kereta api umum. b. antar-PKW . dan jaringan jalur kereta api perkotaan. No 48 (5) (6) Jalan tol dikembangkan untuk mempercepat perwujudan jaringan jalan bebas hambatan sebagai bagian dari jaringan jalan nasional. ta s li Jaringan jalur kereta api umum terdiri atas: jaringan jalur kereta api antarkota. Pasal 19 Jaringan jalan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) mencakup pula jembatan atau terowongan antarpulau serta jembatan atau terowongan antarnegara. PKN dengan pusat kegiatan di negara tetangga.www. atau antar-PKW. 21 Pasal ww a. Jaringan jalan bebas hambatan tercantum dalam Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini. b. Jembatan atau terowongan antarpulau menghubungkan arus lalu lintas antarpulau. kereta api antarkota dikembangkan untuk (2) Jaringan jalur menghubungkan: a. c. .e l w. Jaringan jalur kereta api perkotaan dikembangkan untuk: a. . menghubungkan kawasan perkotaan dengan bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer/sekunder/tersier dan pelabuhan internasional/nasional.legalitas.org 17 2008.

Pasal 22 Jaringan jalur kereta api khusus dikembangkan oleh badan usaha tertentu untuk menunjang kegiatan pokok badan usaha tersebut.www. pelabuhan penyeberangan lintas dalam kabupaten/kota. atau pemerintah kabupaten/kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 23 Jaringan transportasi sungai dan danau sebagaimana dimaksud dalam g Pasal 17 ayat (2) terdiri atas: or .legalitas. Jaringan jalur kereta api khusus dapat disambungkan dengan jaringan jalur kereta api umum dan jaringan jalur kereta api khusus lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. dan c. lintas penyeberangan antarprovinsi yang menghubungkan antarjaringan jalan nasional dan antarjaringan jalur kereta api antarprovinsi. a. b. b. pelabuhan penyeberangan lintas antarprovinsi dan antarnegara. Lintas penyeberangan terdiri atas: a. . ww Pelabuhan dan alur pelayaran sungai dan danau beserta prioritas w pengembangannya ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang transportasi sungai dan danau. Pasal 24 Jaringan transportasi penyeberangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) terdiri atas pelabuhan penyeberangan dan lintas penyeberangan. pelabuhan penyeberangan lintas antarkabupaten/kota. Pelabuhan penyeberangan terdiri atas: a.org 2008.danau. No 48 18 (4) (1) (2) (3) (1) (2) (1) (2) (3) Jaringan jalur kereta api antarkota dan perkotaan beserta prioritas pengembangannya ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang perkeretaapian. alur pelayaran untuk kegiatan angkutan sungai dan alur pelayaran leg untuk kegiatan angkutan. dan as t ali b. lintas penyeberangan antar negara yang menghubungkan antarjaringan jalan pada kawasan perbatasan. pelabuhan sungai dan pelabuhan danau. pemerintah provinsi. Jaringan jalur kereta api khusus ditetapkan oleh Pemerintah.

w w. lintas penyeberangan lintas kabupaten/kota yang menghubungkan antarjaringan jalan provinsi dan jaringan jalur kereta api dalam provinsi. Pelabuhan umum terdiri atas pelabuhan internasional hub. pelabuhan regional. dan memiliki fungsi sebagai simpul jaringan transportasi laut nasional. d. menjangkau wilayah pelayanan menengah. dan menjadi simpul jaringan transportasi laut internasional. melayani kegiatan pelayaran dan alih muat peti kemas angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah menengah. pelabuhan internasional. melayani kegiatan pelayaran dan alih muat peti kemas angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah besar. No 48 c. (1) pelabuhan umum. sabuk selatan. a. c.org 19 2008. b. b. w ga le ta s li Pasal 26 (2) (3) Pelabuhan nasional dikembangkan untuk: a.legalitas. Pasal 25 (5) Tatanan kepelabuhanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) terdiri g or atas: . c. dan pelabuhan lokal. sabuk tengah. . (4) Lintas penyeberangan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) membentuk jaringan penyeberangan sabuk utara. Lintas penyeberangan beserta prioritas pengembangannya ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang transportasi penyeberangan. menjangkau wilayah pelayanan sangat luas. pelabuhan nasional. dan pelabuhan khusus.www. dan lintas pelabuhan penyeberangan dalam kabupaten/kota yang menghubungkan antarjaringan jalan kabupaten/kota dan jaringan jalur kereta api dalam kabupaten/kota. Pelabuhan internasional hub dan pelabuhan internasional dikembangkan untuk: a. dan penghubung sabuk dalam wilayah nasional. b.

www. pelayaran rakyat. melayani kegiatan pelayaran dan alih muat angkutan laut nasional dan regional. Alur Laut Kepulauan Indonesia.org 2008. jaringan pelayaran yang menghubungkan antarpelabuhan internasional hub dan pelabuhan internasional. No 48 20 (4) Pelabuhan regional dikembangkan untuk: a. dan angkutan perintis dalam jumlah menengah. b. (3) Alur pelayaran nasional terdiri atas: a. (6) Pelabuhan internasional dan pelabuhan nasional tercantum dalam Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini. dan angkutan perintis dalam jumlah kecil. melayani kegiatan pelayaran dan alih muat angkutan laut lokal dan regional.transportasi laut. (1) (2) (3) rg omenunjang pengembangan Pelabuhan khusus dikembangkan untuk. angkutan sungai. ali Pelabuhan khusus dapat dialihkan fungsinya menjadi pelabuhan umum leg .legalitas. alur pelayaran yang menghubungkan pelabuhan nasional dengan pelabuhan internasional atau pelabuhan internasional hub. dan jaringan pelayaran yang menghubungkan antara pelabuhan internasional hub dan pelabuhan internasional dengan pelabuhan internasional di negara lain. dan menjangkau wilayah pelayanan terbatas. dan menjangkau wilayah pelayanan menengah. ta s kegiatan atau fungsi tertentu. c. Pasal 28 Pasal 27 (1) (2) Alur pelayaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) terdiri atas alur pelayaran internasional dan alur pelayaran nasional. Pelabuhan lokal dikembangkan untuk: b. (5) a. . b. dengan memperhatikan sistem ww w Pelabuhan khusus ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang transportasi laut setelah mendapat rekomendasi dari gubernur dan bupati/walikota. Alur pelayaran internasional terdiri atas: a. angkutan sungai. pelayaran rakyat.

No 48 alur pelayaran yang menghubungkan antarpelabuhan nasional. ai g b. Pasal 31 Bandar udara khusus dikembangkan untuk menunjang pengembangan kegiatan tertentu dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan di bidang kebandarudaraan. dan d. bandar udara umum.www. . (4) Alur pelayaran internasional ditetapkan berdasarkan kriteria yang berlaku secara internasional dan peraturan perundang-undangan.legalitas. dan b. bandar udara pusat penyebaranlskala pelayanan primer. bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan tersier. bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan sekunder. (1) Bandar udara umum terdiri atas: as t a. dan bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan tersier tercantum dalam Lampiran V yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini. bandar udara khusus. dan w d. alur pelayaran yang menghubungkan antarpelabuhan regional. (5) Alur pelayaran nasional ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang transportasi laut. Pasal 29 Tatanan kebandarudaraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (4) terdiri atas: a. dan b. bandar udara bukan pusat penyebaran. (2) Bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer.l e ww c. b. bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan sekunder. ruang udara di sekitar bandar udara yang dipergunakan untuk operasi penerbangan. Pasal 30 g or .org 21 2008. Pasal 32 (1) Ruang udara untuk penerbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (4) terdiri atas: a. c. ruang udara di atas bandar udara yang dipergunakan langsung untuk kegiatan bandar udara. alur pelayaran yang menghubungkan antara pelabuhan nasional dan pelabuhan regional. .

www.legalitas.org

2008, No 48

22

(2)

(3)

(1)

(2)

(3)

(1)

c. ruang udara yang ditetapkan sebagai jalur penerbangan. Ruang udara untuk penerbangan dimanfaatkan dengan mempertimbangkan pemanfaatan ruang udara bagi pertahanan dan keamanan negara. Ruang udara untuk penerbangan diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 33 Jaringan jalan arteri primer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria: a. menghubungkan antar-PKN, antara PKN dan PKW, dan/atau PKN/PKW dengan bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer/sekunder/tersier dan pelabuhan internasional/nasional; b. berupa jalan umum yang melayani angkutan utama; g c. melayani perjalanan jarak jauh; or . as d. memungkinkan untuk lalu lintas dengan kecepatan rata-rata t ali tinggi; dan leg .masuk secara berdaya guna. e. membatasi jumlah jalan ww sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 Jaringan jalan kolektorw primer ayat (1) ditetapkan dengan kriteria: a. menghubungkan antar-PKW dan antara PKW dan PKL; b. berupa jalan umum yang berfungsi melayani angkutan pengumpul atau pembagi; c. melayani perjalanan jarak sedang; d. memungkinkan untuk lalu lintas dengan kecepatan rata-rata sedang; dan e. membatasi jumlah jalan masuk. Kriteria jaringan jalan strategis nasional dan jaringan jalan tol sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 34 Jaringan jalur kereta api antarkota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) huruf a ditetapkan dengan kriteria menghubungkan antara PKN dan pusat kegiatan di negara tetangga, antar-PKN, PKW dengan PKN, atau antar-PKW.

www.legalitas.org

23

2008, No 48

(2)

Jaringan jalur kereta api perkotaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) huruf b ditetapkan dengan kriteria menghubungkan kawasan perkotaan dengan bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer/sekunder/tersier dan pelabuhan internasional/nasional atau mendukung aksesibilitas di kawasan perkotaan metropolitan. Kriteria teknis jaringan jalur kereta api antarkota dan perkotaan ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang perkeretaapian. Pasal 35 Pelabuhan sungai dan pelabuhan danau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf a ditetapkan dengan kriteria: a. b. c. berdekatan dengan kawasan permukiman penduduk; terintegrasi dengan sistem jaringan transportasi darat lainnya; dan berada di luar kawasan lindung.

(3)

(1)

(2)

Pelabuhan penyeberangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat s.o (1) ditetapkan dengan kriteria: lita a.

rg

b. (3)

berada di lokasi yangeg menghubungkan dengan pelabuhan .l jarak terpendek yang memiliki nilai penyeberangan lain pada w ekonomis; dan ww berada di luar kawasan lindung.

a

Kriteria teknis pelabuhan sungai, danau, dan penyeberangan ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang transportasi sungai, danau, dan penyeberangan. Pasal 36 Pelabuhan internasional hub dan pelabuhan internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria: a. b. c. d. berhadapan langsung dengan Alur Laut Kepulauan Indonesia dan/atau jalur pelayaran internasional; berjarak paling jauh 500 (lima ratus) mil dari Alur Laut Kepulauan Indonesia atau jalur pelayaran internasional; bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan PKN dalam sistem transportasi antarnegara; berfungsi sebagai simpul utama pendukung pengembangan produksi kawasan andalan ke pasar internasional;

(1)

www.legalitas.org

2008, No 48

24

e. f.

berada di luar kawasan lindung; dan berada pada perairan yang memiliki kedalaman paling sedikit 12 (dua belas) meter untuk pelabuhan internasional hub dan 9 (sembilan) meter untuk pelabuhan internasional.

(2)

Pelabuhan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria: a. b. c. merupakan bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan PKN dalam sistem transportasi antarprovinsi; berfungsi sebagai simpul pendukung pemasaran produk kawasan andalan ke pasar nasional; memberikan akses bagi pengembangan pulau-pulau kecil dan kawasan andalan laut, termasuk pengembangan kawasan tertinggal; berada di luar kawasan lindung; dan berada pada perairan yang memiliki kedalaman paling sedikit 9 lita (sembilan) meter. a dalam Pasal 26 ayat (1)

d. e. (3)

.or s

g

g .le dimaksud Pelabuhan regional sebagaimana ww ditetapkan dengan kriteria: w
a. b. c.

merupakan bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan PKN atau PKW dalam sistem transportasi antarprovinsi; berfungsi sebagai simpul pendukung pemasaran produk kawasan andalan ke pasar regional; memberikan akses bagi pengembangan kawasan andalan laut, kawasan pedalaman sungai, dan pulau-pulau kecil, termasuk pengembangan kawasan tertinggal; berada di luar kawasan lindung; dan berada pada perairan yang memiliki kedalaman paling sedikit 4 (empat) meter.

d. e. (4)

Pelabuhan lokal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria: a. merupakan bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan PKW atau PKL dalam sistem transportasi antarkabupaten/kota dalam satu provinsi;

merupakan bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan PKN. pelabuhan internasional. dan bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan tersier ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang transportasi udara. bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan sekunder. dan ta s g (3) Bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan tersier sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) huruf c ditetapkan dengan kriteria: a. dan pelabuhan lokal ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang transportasi laut. pelabuhan regional. ww skala pelayanan sekunder sebagaimana w Bandar udara pusat penyebaran dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) huruf b ditetapkan dengan kriteria: a.000 (lima ratus ribu) sampai dengan 1.000.legalitas. (5) berfungsi sebagai simpul pendukung pemasaran produk kawasan budi daya di sekitarnya ke pasar lokal. (4) Kriteria teknis bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer.000 b.penunjang fungsi pelayanan or PKN. melayani penumpang dengan g . . b. dan melayani penumpang dengan jumlah antara 1.l e (lima juta) orang per tahun. (1) (2) alijumlah paling sedikit 5. dan melayani penumpang dengan jumlah antara 500. Pasal 37 Bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) huruf a ditetapkan dengan kriteria: a. e.000 (satu juta) sampai dengan 5. Kriteria teknis pelabuhan internasional hub.000 (satu juta) orang per tahun.000.000 (lima juta) orang per tahun. c. d. dan dapat melayani pelayaran rakyat. b.000. berada pada perairan yang memiliki kedalaman paling sedikit 1.000. pelabuhan nasional.www.org 25 2008. berada di luar kawasan lindung. No 48 b.5 (satu setengah) meter. merupakan bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan PKN atau PKW terdekat. merupakan bagian dari prasarana .

(1) jaringan pipa minyak dan gas bumi.legalitas.le tugas dan tanggung jawabnya di bidang minyak dan gas bumi.org 2008. b. (2) menyalurkan minyak dan gas bumi dari fasilitas produksi ke kilang pengolahan dan/atau tempat penyimpanan. a Pembangkit tenaga listrik dikembangkan untuk memenuhi penyediaan tenaga listrik sesuai dengan kebutuhan yang mampu mendukung kegiatan perekonomian. tempat penyimpanan ke konsumen.www. pembangkit tenaga listrik. atau kabel bawah laut. b. dan jaringan transmisi tenaga listrik. Pasal 42 Sistem jaringan pipa minyak dan gas bumi. kabel bawah tanah. pembangkit tenaga listrik. dan jaringan transmisi tenaga listrik ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang energi. No 48 26 Bagian Keempat Sistem Jaringan Energi Nasional Pasal 38 Sistem jaringan energi nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) huruf c terdiri atas: a. ww w Pasal 40 menyalurkan minyak dan gas bumi org kilang pengolahan atau dari s. c. Pasal 41 Jaringan transmisi tenaga listrik dikembangkan untuk menyalurkan tenaga listrik antarsistem yang menggunakan kawat saluran udara. Pasal 43 (1) Jaringan pipa minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 huruf a ditetapkan dengan kriteria: . Pasal 39 Jaringan pipa minyak dan gas bumi dikembangkan untuk: a. atau lit abeserta prioritas pengembangannya Jaringan pipa minyak dan gas bumi g ditetapkan oleh menteri yang.

dan a b.org 27 2008. e. laut. kabel bawah laut. persawahan.www. mendukung pengembangan kawasan perdesaan. g . dan kawasan terisolasi. berada pada lokasi yang aman terhadap kegiatan lain dengan memperhatikan persyaratan ruang bebas dan jarak aman. c. d. w lain dengan . (3) . mendukung pengembangan kawasan perdesaan. pulau-pulau kecil. b. b. dan berfungsi sebagai pendukung sistem pasokan energi nasional. mendukung ketersediaan pasokan tenaga listrik untuk kepentingan umum di kawasan perkotaan. mendukung ketersediaan pasokan tenaga listrik untuk kepentingan umum di kawasan perkotaan hingga perdesaan. melintasi kawasan permukiman. adanya fasilitas produksi minyak dan gas bumi.legalitas. wilayah sungai. rg berada pada kawasan dan/atau tas luar kawasan yang memiliki di li potensi sumber daya energi. No 48 a. dan kawasan terisolasi. dan konsumen yang terintegrasi dengan fasilitas tersebut. dan menyalurkan tenaga listrik berkapasitas besar dengan tegangan nominal lebih dari 35 (tiga puluh lima) kilo Volt. c. dan kabel bawah tanah. e. hutan. fasilitas pengolahan dan/atau penyimpanan. mendukung pemanfaatan teknologi baru untuk menghasilkan sumber energi yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap energi tak terbarukan. pulau-pulau kecil.le aman terhadap kegiatan berada pada lokasi yang ww memperhatikan jarak bebas dan jarak aman.o Jaringan transmisi tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 huruf c ditetapkan dengan kriteria: a. f. (2) Pembangkit tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 huruf b ditetapkan dengan kriteria: a. perdesaan hingga kawasan terisolasi. perkebunan. dan jalur transportasi. d. merupakan media penyaluran tenaga listrik adalah kawat saluran udara.

atau mendukung kegiatan berskala internasional.www. Bagian Kelima Sistem Jaringan Telekomunikasi Nasional Pasal 45 Sistem jaringan telekomunikasi nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) huruf d terdiri atas: a.o menyediakan pelayanan telekomunikasi di seluruh wilayah nasional. No 48 28 Pasal 44 Kriteria teknis jaringan pipa minyak dan gas bumi. (2) Jaringan satelit ditetapkan dengan kriteria ketersediaan orbit satelit dan frekuensi radio yang telah terdaftar pada Perhimpunan Telekomunikasi Internasional. (3) . Pasal 46 Jaringan terestrial dikembangkan secara rberkesinambungan untuk s. menghubungkan antarpusat perkotaan nasional. (1) (2) (3) jaringan terestrial. b. Jaringan terestrial dan satelit beserta prioritas pengembangannya w ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang telekomunikasi. mendukung pengembangan kawasan andalan. d. ta g a Jaringan satelit dikembangkan guntuk melengkapi sistem jaringan le telekomunikasi nasional melalui satelit komunikasi dan stasiun bumi. Kriteria teknis jaringan terestrial dan jaringan satelit ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang telekomunikasi. c.org 2008. dan jaringan transmisi tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang energi. b. Pasal 47 li w (1) Jaringan terestrial ditetapkan dengan kriteria: a. dan jaringan satelit. menghubungkan pusat perkotaan nasional dengan pusat kegiatan di negara lain. w. pembangkit tenaga listrik.legalitas.

dan wilayah sungai strategis nasional as t memperhatikan pola pengelolaan sumber daya air. c. dan/atau memiliki dampak negatif akibat daya rusak air terhadap pertumbuhan ekonomi yang mengakibatkan tingkat kerugian ekonomi paling sedikit 1% (satu persen) dari produk domestik regional bruto (PDRB) provinsi. (2) (3) (4) (5) g Arahan pemanfaatan ruang pada wilayah sungai lintas negara.www. melayani kawasan strategis nasional.legalitas. sungai lintas provinsi. wilayah sungai lintas provinsi. b. (2) (3) . w Pasal 49 (6) (1) Wilayah sungai dan cekungan air tanah lintas negara ditetapkan dengan kriteria melayani kawasan perbatasan negara atau melintasi batas negara.000 (sepuluh ribu) hektar. Cekungan air tanah meliputi cekungan air tanah lintas negara dan lintas provinsi. Wilayah sungai tercantum dalam Lampiran VI yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini. Wilayah sungai meliputi wilayah sungai lintas negara. ali g . Wilayah sungai dan cekungan air tanah lintas provinsi ditetapkan dengan kriteria melintasi dua atau lebih provinsi. No 48 Bagian Keenam Sistem Jaringan Sumber Daya Air Pasal 48 (1) Sistem jaringan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) huruf e merupakan sistem sumber daya air pada setiap wilayah sungai dan cekungan air tanah. melayani paling sedikit 1 (satu) daerah irigasi yang luasnya lebih besar atau sama dengan 10. Wilayah sungai strategis nasional ditetapkan dengan kriteria: a.le ditetapkan dengan peraturan menteri Pola pengelolaan sumber daya air ww yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang sumber daya air. wilayah or . atau kawasan andalan. PKN. dan wilayah sungai strategis nasional.org 29 2008.

dan kawasan resapan air. dan kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis nasional.org 2008.www. d. dan kawasan lindung lainnya. pelestarian alam. kawasan lindung geologi. dan cagar budaya. c.legalitas.000.o rg Kawasan lindung nasional terdiri atas: a. kawasan rawan bencana alam. (1) kawasan yang bawahannya. kawasan suaka alam. b. c. ga Lindung Nasional Jenis dan Sebaran Kawasan le w. (2) kawasan lindung nasional. kawasan hutan lindung. b. kawasan bergambut. Pasal 52 Kawasan yang memberikan bawahannya terdiri atas: a. f. Rencana pola ruang wilayah nasional digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1:1. b. 51 ww Pasal memberikan perlindungan terhadap kawasan a kawasan perlindungan setempat. No 48 30 BAB IV RENCANA POLA RUANG WILAYAH NASIONAL Bagian Kesatu Umum Pasal 50 (1) Rencana pola ruang wilayah nasional terdiri atas: a. Bagian Kedua Paragraf 1it l Kawasan Lindung Nasional s. e. perlindungan terhadap kawasan .000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran VII yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini.

kawasan rawan bencana alam geologi. dan lita kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan. kawasan perlindungan plasma nutfah. c. taman hutan raya. suaka margasatwa dan suaka margasatwa laut. terumbu karang.legalitas. cagar biosfer. e. taman wisata alam dan taman wisata alam laut. dan (6) Kawasan lindung lainnya terdiri atas: a. f. b. w kawasan rawan tanah longsor.org 31 2008. (3) Kawasan suaka alam. b. dan ruang terbuka hijau kota. ramsar. c. i. kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya. (5) kawasan rawan gelombang pasang. d. b. dan Kawasan lindung geologi terdiri atas: a. taman buru. . kawasan rawan banjir. c. taman nasional dan taman nasional laut. e. terdiri atas: a.or s g a (4) Kawasan rawan bencana alam terdiri atas: ww a. kawasan pengungsian satwa. kawasan pantai berhutan bakau. g. . kawasan sekitar danau atau waduk. kawasan cagar alam geologi. h. sempadan pantai. d. dan kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah. dan cagar budaya. d. cagar alam dan cagar alam laut.www. c. pelestarian alam. c. b. f. sempadan sungai. leg . b. kawasan suaka alam. No 48 (2) Kawasan perlindungan setempat terdiri atas: a.

www. ali g . b. kawasan keunikan bentang alam. kawasan rawan letusan gunung berapi. No 48 32 g. (2) . serta Pasal 53 ayat (1) dengan luas paling sedikit 1. c.l e kawasan rawan abrasi. Sebaran kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) dan ayat (6). g. kawasan keunikan batuan dan fosil. c. kawasan rawan gerakan tanah. b. d. .000 (seribu) hektar dan sebaran kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1). (1) Sebaran kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) dan ayat (6). (2) Kawasan rawan bencana alam geologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (5) huruf b terdiri atas: a. (1) kawasan koridor bagi jenis satwa atau biota laut yang dilindungi. dan kawasan keunikan proses geologi. f. dan wwgas beracun. serta Pasal 53 ayat (2) dan ayat (3) ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Pasal 54 (3) Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (5) huruf c terdiri atas: a. rg oaktif. ayat (2). kawasan rawan gempa bumi.legalitas. kawasan rawan bahaya w kawasan imbuhan air tanah. serta Pasal 53 ayat (1) dengan luas kurang dari 1. b. dan sempadan mata air. kawasan yang terletak di zona patahan as t kawasan rawan tsunami.org 2008. Pasal 53 Kawasan cagar alam geologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (5) huruf a terdiri atas: a. dan ayat (4). e.000 (seribu) hektar tercantum dalam Lampiran VIII yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini.

Kawasan bergambut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1) huruf b ditetapkan dengan kriteria ketebalan gambut 3 (tiga) meter atau g or lebih yang terdapat di hulu sungai atau rawa. dan . No 48 Paragraf 2 Kriteria Kawasan Lindung Nasional Pasal 55 (1) Kawasan hutan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1) huruf a ditetapkan dengan kriteria: a. (2) Sempadan sungai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2) huruf b ditetapkan dengan kriteria: a. daratan sepanjang tepian sungai bertanggul dengan lebar paling sedikit 5 (lima) meter dari kaki tanggul sebelah luar. c. w Pasal 56 Sempadan pantai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2) huruf a ditetapkan dengan kriteria: a. daratan sepanjang tepian sungai besar tidak bertanggul di luar kawasan permukiman dengan lebar paling sedikit 100 (seratus) meter dari tepi sungai. b. (2) (3) tas dalam Pasal 52 ayat (1) Kawasan resapan air sebagaimana dimaksud ali kawasan yang mempunyai g huruf c ditetapkan dengan ekriteria . (1) b. dan intensitas hujan yang jumlah hasil perkalian bobotnya sama dengan 175 (seratus tujuh puluh lima) atau lebih. . daratan sepanjang tepian laut dengan jarak paling sedikit 100 (seratus) meter dari titik pasang air laut tertinggi ke arah darat. atau daratan sepanjang tepian laut yang bentuk dan kondisi fisik pantainya curam atau terjal dengan jarak proporsional terhadap bentuk dan kondisi fisik pantai.l kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan dan sebagai pengontrol ww tata air permukaan. jenis tanah. kawasan hutan yang mempunyai kemiringan lereng paling sedikit 40% (empat puluh persen).000 (dua ribu) meter di atas permukaan laut. kawasan hutan dengan faktor kemiringan lereng.www. b.org 33 2008.legalitas. atau kawasan hutan yang mempunyai ketinggian paling sedikit 2.

dan a g (1) t ali c.legalitas.500 (dua ribu lima ratus) meter persegi. berbentuk satu hamparan. daratan dengan jarak 50 (lima puluh) meter sampai dengan 100 (seratus) meter dari titik pasang air danau atau waduk tertinggi.org 2008. b. b. (2) Kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) huruf b ditetapkan dengan kriteria: a. atau daratan sepanjang tepian danau atau waduk yang lebarnya proporsional terhadap bentuk dan kondisi fisik danau atau waduk. memiliki ekosistem khas. baik di lautan maupun di perairan lainnya. b.le 57 Pasal w Kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) ww huruf a ditetapkan dengan kriteria: a. (3) Kawasan sekitar danau atau waduk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2) huruf c ditetapkan dengan kriteria: a. berbentuk r jalur.www. dan/atau mempunyai fungsi utama sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman jenis biota. serta gejala dan keunikan alam yang terdapat di dalamnya. serta gejala dan keunikan alam yang khas baik di darat maupun di perairan. b. kawasan yang memiliki keanekaragaman biota. (4) Ruang terbuka hijau kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2) huruf d ditetapkan dengan kriteria: a. ekosistem. ekosistem. didominasi komunitas tumbuhan. No 48 34 c. daratan sepanjang tepian anak sungai tidak bertanggul di luar kawasan permukiman dengan lebar paling sedikit 50 (lima puluh) meter dari tepi sungai.o bentuk satu hamparan dan jalur. (3) Suaka margasatwa dan suaka margasatwa laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) huruf c ditetapkan dengan kriteria: . lahan dengan luas paling sedikit 2. dan merupakan habitat alami yang memberikan tempat atau perlindungan bagi perkembangan keanekaragaman tumbuhan dan satwa. atau kombinasi dari s. g .

memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan. baik biota maupun fisiknya yang masih asli atau belum diganggu manusia.or d. c. w.legalitas. memiliki sumber daya alam yang khas dan unik baik berupa jenis tumbuhan maupun jenis satwa dan ekosistemnya serta gejala alam yang masih utuh. b. dan d. memiliki keanekaragaman satwa yang tinggi.www. merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa migran tertentu. diukur dari garis air surut terendah ke arah darat. b.org 35 2008. c. memiliki kondisi alam. memiliki paling sedikit satu ekosistem yang terdapat di dalamnya yang secara materi atau fisik tidak boleh diubah baik oleh eksploitasi maupun pendudukan manusia. (6) Taman nasional dan taman nasional laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) huruf f ditetapkan dengan kriteria: a. g (5) . b. No 48 a. Cagar alam dan cagar alam laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) huruf d ditetapkan dengan kriteria: a. satwa. d. atau memiliki luas yang cukup sebagai habitat jenis satwa yang bersangkutan. memiliki ciri khas yang merupakan ali daerah serta keberadaannya g le memerlukan konservasi. . memiliki luas dan bentuk tertentu. (4) merupakan tempat hidup dan perkembangbiakan dari suatu jenis satwa yang perlu dilakukan upaya konservasinya. memiliki luas yang cukup untuk menjamin kelangsungan proses ekologi secara alami. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 Kawasan pantai berhutan w bakau w ayat (3) huruf e ditetapkan dengan kriteria koridor di sepanjang pantai dengan lebar paling sedikit 130 (seratus tiga puluh) kali nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan. memiliki formasi biota tertentu dan/atau unit-unit penyusunnya. atau tas satu-satunya contoh di suatu e. berhutan atau bervegetasi tetap yang memiliki tumbuhan dan satwa yang beragam. c. dan tipe ekosistemnya.

dan langka. w b. b. Taman hutan raya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) huruf g ditetapkan dengan kriteria: a. No 48 36 e. (9) Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) huruf i ditetapkan dengan kriteria sebagai hasil budaya manusia yang bernilai tinggi yang dimanfaatkan untuk pengembangan ilmu pengetahuan. memiliki akses yang baik untuk keperluan pariwisata. bahan rombakan. satwa dan ekosistemnya yang masih asli serta formasi geologi yang indah. memiliki daya tarik . atau material campuran. tanah. (8) r . memiliki luas yang cukup untuk menjamin pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya untuk dimanfaatkan bagi kegiatan wisata alam.olaut sebagaimana dimaksud Taman wisata alam dan taman wisata alam tas dengan kriteria: dalam Pasal 52 ayat (3) huruf h ditetapkan ali eg a. c. g e. Pasal 58 Kawasan rawan tanah longsor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (4) huruf a ditetapkan dengan kriteria kawasan berbentuk lereng yang rawan terhadap perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan. (7) memiliki keadaan alam yang asli untuk dikembangkan sebagai pariwisata alam. memiliki arsitektur bentang alam yang baik. mendukung upaya d.www. (1) . dan kondisi lingkungan di sekitarnya pengembangan kegiatan wisata alam.org 2008.lalam berupa tumbuhan. dan memiliki luas yang memungkinkan untuk pengembangan koleksi tumbuhan dan/atau satwa jenis asli dan/atau bukan asli. memiliki akses yang baik untuk keperluan pariwisata.legalitas. berhutan atau bervegetasi tetap yang memiliki tumbuhan dan/atau satwa yang beragam. f. d. merupakan kawasan dengan ciri khas baik asli maupun buatan. ww unik. c. memiliki keindahan alam dan/atau gejala alam. baik pada kawasan yang ekosistemnya masih utuh maupun kawasan yang sudah berubah.

mengalami modifikasi. Kawasan rawan banjir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (4) huruf c ditetapkan dengan kriteria kawasan yang diidentifikasikan sering dan/atau berpotensi tinggi mengalami bencana alam banjir. memiliki keterwakilan ekosistem yang masih alami. atau ekologi komunitas yang terancam. atau . dan . mendukung keanekaragaman populasi satwa dan/atau flora di wilayah biogeografisnya. c. rg merupakan bentang alam yang as tcukup luas yang mencerminkan lialam dengan manusia beserta interaksi antara komunitas ga kegiatannya secara harmonis. atau kawasan binaan. mendukung spesies rentan. atau merupakan tempat perlindungan bagi satwa dan/atau flora saat melewati masa kritis dalam hidupnya.l e berupa tempat bagi w pemantauan perubahan ekologi melalui ww penelitian dan pendidikan. b. berupa lahan basah baik yang bersifat alami atau mendekati alami yang mewakili langka atau unit yang sesuai dengan biogeografisnya.org 37 2008. langka. memiliki komunitas alam yang unik. langka. d. (3) (1) b. No 48 (2) Kawasan rawan gelombang pasang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (4) huruf b ditetapkan dengan kriteria kawasan sekitar pantai yang rawan terhadap gelombang pasang dengan kecepatan antara 10 sampai dengan 100 kilometer per jam yang timbul akibat angin kencang atau gravitasi bulan atau matahari. (2) Ramsar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (6) huruf b ditetapkan dengan kriteria: a.legalitas. (3) Taman buru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (6) huruf c ditetapkan dengan kriteria: a.o d. c. memiliki luas yang cukup dan tidak membahayakan untuk kegiatan berburu. dan indah. hampir langka.www. kawasan yang sudah mengalami degradasi. . Pasal 59 Cagar biosfer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (6) huruf a ditetapkan dengan kriteria: a.

dan dipisahkan oleh laguna dengan kedalaman antara 40 (empat puluh) sampai dengan 75 (tujuh puluh lima) meter. memiliki jenis plasma nutfah tertentu yang memungkinkan kelangsungan proses pertumbuhannya.dimaksud dalam Pasal 52 ayat (6) huruf f ww ditetapkan dengan kriteria: w a.legalitas. (5) Kawasan pengungsian satwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (6) huruf e ditetapkan dengan kriteria: a. biota endemik. dan mendukung alur migrasi biota laut.o g (6) Terumbu karang sebagaimana. (4) Kawasan perlindungan plasma nutfah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (6) huruf d ditetapkan dengan kriteria: a. Pasal 60 (1) Kawasan keunikan batuan dan fosil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1) huruf a ditetapkan dengan kriteria: . c.www. b. serta s le berupa kawasan yang terbentuk dari koloni masif dari hewan kecil yang secara bertahap membentuk terumbu karang. dan kelestarian satwa. dan . (7) Kawasan koridor bagi jenis satwa atau biota laut yang dilindungi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (6) huruf g ditetapkan dengan kriteria: a. b. c. atau proses-proses penunjang kehidupan. berupa kawasan memiliki ekosistem unik. b.org 2008. merupakan tempat kehidupan baru bagirsatwa. merupakan tempat kehidupan satwa yang sejak semula menghuni areal tersebut. terdapat di sepanjang pantai dengan kedalaman paling dalam 40 (empat puluh) meter. olahraga. b. memiliki luas tertentu yanglita memungkinkan berlangsungnya proses hidup dan kehidupanga berkembangbiaknya satwa. dan memiliki luas tertentu yang memungkinkan kelangsungan proses pertumbuhan jenis plasma nutfah. terdapat satwa buru yang dikembangbiakkan yang memungkinkan perburuan secara teratur dan berkesinambungan dengan mengutamakan segi aspek rekreasi. No 48 38 b.

memiliki tipe geologi unik. ww a (3) Kawasan keunikan proses geologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1) huruf c ditetapkan dengan kriteria: a. wilayah di sekitar kawah atau kaldera. d. memiliki bentang alam gumuk pasir pantai.l e memiliki bentang alam karst.legalitas. atau memiliki satu-satunya batuan dan/atau jejak struktur geologi masa lalu. kawasan dengan kemunculan sumber api alami. kaldera. c. b. Kawasan keunikan bentang alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1) huruf b ditetapkan dengan kriteria: a. dan gumuk vulkanik. (2) memiliki keragaman batuan dan dapat berfungsi sebagai laboratorium alam. dan/atau wilayah yang sering terlanda awan panas. f.or s g g memiliki bentang alam kubah. e. e. (2) Kawasan rawan gempa bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf b ditetapkan dengan kriteria kawasan yang berpotensi dan/atau pernah mengalami gempa bumi dengan skala VII sampai dengan XII Modified Mercally Intensity (MMI). fumaroia. aliran lava. No 48 a. b. maar. . memiliki bentang alam ngarai/lembah. c. b. c. dan/atau geyser. atau kawasan dengan kemunculan solfatara. memiliki nilai paleo-antropologi dan arkeologi.www. memiliki bentang alam goa. memiliki batuan yang mengandung jejak atau sisa kehidupan di masa lampau (fosil). d.org 39 2008. atau . aliran lahar lontaran atau guguran batu pijar dan/atau aliran gas beracun. b. memiliki bentang alam berupa kawah. kawasan poton atau lumpur vulkanik. leher vulkanik. lita . Pasal 61 w (1) Kawasan rawan letusan gunung berapi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf a ditetapkan dengan kriteria: a.

Kawasan rawan bahaya gas beracun sebagaimana dimaksud dalam Pasal g or 53 ayat (2) huruf g ditetapkan dengan kriteria wilayah yang berpotensi . Kawasan yang terletak di zona patahan aktif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf d ditetapkan dengan kriteria sempadan dengan lebar paling sedikit 250 (dua ratus lima puluh) meter dari tepi jalur patahan aktif. daratan di sekeliling mata air yang mempunyai manfaat untuk mempertahankan fungsi mata air. c. Kawasan rawan tsunami sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf e ditetapkan dengan kriteria pantai dengan elevasi rendah dan/atau berpotensi atau pernah mengalami tsunami. b. dan/atau memiliki muka air tanah tidak tertekan yang letaknya lebih tinggi daripada muka air tanah yang tertekan.legalitas. d. .www. No 48 40 (3) Kawasan rawan gerakan tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf c ditetapkan dengan kriteria memiliki tingkat kerentanan gerakan tanah tinggi.org 2008. dan/atau pernah mengalami bahaya gasas beracun.le 62 Kawasan imbuhan air tanah sebagaimana dimaksud ww w ayat (3) huruf a ditetapkan dengan kriteria: a. (2) Kawasan sempadan mata air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (3) huruf b ditetapkan dengan kriteria: a. memiliki jenis fisik batuan dengan kemampuan meluluskan air dengan jumlah yang berarti. Kawasan rawan abrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf f ditetapkan dengan kriteria pantai yang berpotensi dan/atau pernah mengalami abrasi. memiliki lapisan penutup tanah berupa pasir sampai lanau. it dalam Pasal 53 (4) (5) (6) (7) (1) al Pasalg . dan wilayah dengan jarak paling sedikit 200 (dua ratus) meter dari mata air. b. memiliki hubungan hidrogeologis yang menerus dengan daerah lepasan.

i. Kawasan peruntukan hutan produksi tetap ditetapkan dengan kriteria memiliki faktor kemiringan lereng.or s g w Kriteria Kawasan Budi Daya Pasal 64 (1) Kawasan peruntukan hutan produksi terdiri atas: a. Kawasan peruntukan hutan produksi yang dapat dikonversi ditetapkan dengan kriteria: (3) (4) . g. kawasan peruntukan hutan rakyat. jenis tanah.www. (2) kawasan peruntukan hutan produksi terbatas. d.org 41 2008. ga le Kawasan peruntukan hutan produksi terbatas ditetapkan dengan kriteria memiliki faktor kemiringan lereng. kawasan peruntukan hutan produksi tetap. dan intensitas hujan dengan jumlah skor paling besar 124 (seratus dua puluh empat). kawasan peruntukan lainnya. kawasan peruntukan industri. kawasan peruntukan pertanian. b.legalitas. w wParagraf 2 . kawasan peruntukan perikanan. c. dan/atau lita . kawasan peruntukan pertambangan. jenis tanah. No 48 Bagian Ketiga Kawasan Budi Daya yang Memiliki Nilai Strategis Nasional Paragraf 1 Kawasan Budi Daya Pasal 63 Kawasan budi daya terdiri atas: a. dan intensitas hujan dengan jumlah skor 125 (seratus dua puluh lima) sampai dengan 174 (seratus tujuh puluh empat). dan kawasan peruntukan hutan produksi yang dapat dikonversi. kawasan peruntukan hutan produksi. kawasan peruntukan pariwisata. b. kawasan peruntukan permukiman. h. e. c. f.

pertambangan minyak dan gas bumi. jenis tanah. kawasan peruntukan hutan produksi tetap. budi daya.l e pertanian. ditetapkan sebagai lahan w c.org 2008. dan intensitas hujan dengan jumlah skor paling besar 124 (seratus dua puluh empat). asdengan kriteria: t Kawasan peruntukan pertanian ditetapkan ali dikembangkan sebagai kawasan a. Pasal 67 Kawasan peruntukan perikanan ditetapkan dengan kriteria: a. dapat dikembangkan sesuai dengan tingkat ketersediaan air. dan kawasan peruntukan hutan produksi yang dapat dikonversi ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang kehutanan. dan industri pengolahan hasil perikanan. mendukung ketahanan pangan nasional. merupakan kawasan yang apabila dikonversi mampu mempertahankan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Kriteria teknis kawasan peruntukan hutan rakyat ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang kehutanan. Kriteria teknis kawasan peruntukan hutan produksi terbatas. Pasal 65 Kawasan peruntukan hutan rakyat ditetapkan dengan kriteria kawasan yang dapat diusahakan sebagai hutan oleh orang pada tanah yang dibebani hak milik. tidak mengganggu kelestarian lingkungan hidup. memiliki kesesuaian lahan g untuk . a. pertambangan panas bumi. Kriteria teknis kawasan peruntukan perikanan ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang perikanan. dan/atau b. Pasal 68 Kawasan peruntukan pertambangan yang memiliki nilai strategis nasional terdiri atas pertambangan mineral dan batubara. dan/atau b. .legalitas. ww pertanian pangan abadi.www. serta air tanah. Kriteria teknis kawasan peruntukan pertanian ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pertanian. b. No 48 42 (5) (1) (2) (1) (2) (1) (2) (1) memiliki faktor kemiringan lereng. dan/atau d. wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan penangkapan. g or Pasal 66 .

c. dan lingkungan. berada di luar kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana. tidak mengganggu kelestarian fungsi lingkungan hidup. dan/atau merupakan bagian proses upaya merubah kekuatan ekonomi potensil menjadi kekuatan ekonomi riil. (1) (2) a Kriteria teknis kawasan peruntukanlitindustri ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya a bidang industri. cair. (3) Kriteria teknis kawasan peruntukan pertambangan ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pertambangan. dan/atau tidak mengubah lahan produktif. berupa wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan industri. No 48 (2) Kawasan peruntukan pertambangan ditetapkan dengan kriteria: a. c. .legalitas.org 43 2008. b. . dan/atau mendukung upaya pelestarian budaya. keindahan alam. c. memiliki objek dengan daya tarik wisata. b. memiliki akses menuju pusat kegiatan masyarakat di luar kawasan. sarana. g di w Kawasan peruntukan pariwisata ditetapkan dengan kriteria: a.www. dan/atau memiliki kelengkapan prasarana. b. memiliki sumber daya bahan tambang yang berwujud padat. b. Pasal 69 Kawasan peruntukan industri ditetapkan dengan kriteria: a. Pasal 71 Kawasan peruntukan permukiman ditetapkan dengan kriteria: a. (1) (2) Kriteria teknis kawasan peruntukan permukiman ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang perumahan dan permukiman. atau gas berdasarkan peta/data geologi. dan utilitas pendukung. merupakan wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk pemusatan kegiatan pertambangan secara berkelanjutan.or s g (1) le Pasal w. 70 w (2) Kriteria teknis kawasan peruntukan pariwisata ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pariwisata.

prasarana listrik. (2) Kawasan andalan prospektif berkembang ditetapkan dengan kriteria: a.www.ditetapkan dengan kriteria: a.25% (nol koma dua lima persen). serta fasilitas penunjang kegiatan ekonomi kawasan. . le Kawasan andalan berkembang.05% (nol koma nol lima persen). No 48 44 Paragraf 3 Penetapan Kawasan Budi Daya yang Memiliki Nilai Strategis Nasional Pasal 72 (1) (2) Kawasan budi daya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 yang memiliki nilai strategis nasional ditetapkan sebagai kawasan andalan. Pasal 73 (1) (2) (3) Kawasan andalan terdiri atas kawasan andalan darat dan kawasan andalan laut. dan memiliki sektor unggulan yang sudah berkembang dan/atau sudah ada minat investasi. Kawasan andalan darat terdiri atas kawasan andalan berkembang dan kawasan andalan prospektif berkembang. g Kawasan andalan tercantum dalam Lampiran IX yang merupakan or ini. memiliki kontribusi terhadap produk domestik bruto paling sedikit 0. b. memiliki paling sedikit w memiliki kontribusi terhadap produk domestik bruto paling sedikit 0. memiliki paling sedikit 1 (satu) kawasan perkotaan. telekomunikasi. pelabuhan laut dan/atau bandar udara. e. Pasal 74 li a (1) g ta ww3 (tiga) kawasan perkotaan. memiliki jumlah penduduk paling sedikit 3% (tiga persen) dari jumlah penduduk provinsi. bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah s. d. memiliki laju pertumbuhan ekonomi paling sedikit 4% (empat persen) per tahun. b.org 2008. Nilai strategis nasional meliputi kemampuan kawasan untuk memacu pertumbuhan ekonomi kawasan dan wilayah di sekitarnya serta mendorong pemerataan perkembangan wilayah. c.legalitas. c. dan air baku. memiliki prasarana berupa jaringan jalan.

gudang amunisi. pelabuhan laut. daerah latihan militer. Pasal 76 Kawasan strategis nasional dari sudut kepentingan pertahanan dan keamanan ditetapkan dengan kriteria: a.legalitas. daerah uji coba sistem persenjataan. e. No 48 d. keamanan dan pertumbuhan ekonomi. memiliki jumlah penduduk paling sedikit 0. BAB V PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS NASIONAL Bagian Kesatu Kriteria Kawasan Strategis Nasional rg Pasal 75 Kawasan andalan laut ditetapkan dengan kriteria: Penetapan kawasan strategis nasional dilakukan berdasarkan kepentingan: al a. b. .5% (nol koma lima persen) dari jumlah penduduk provinsi. dan/atau fungsi dan daya dukung lingkungan hidup.www.org 45 2008. memiliki pusat pengolahan hasil laut. dan memiliki sektor unggulan yang potensial untuk dikembangkan. pertahanan dan keamanan. memiliki prasarana berupa jaringan jalan. c. d. ww le w. c. b. sosial dan budaya. (3) a. b. dan prasarana lainnya yang belum memadai. pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi. f. dan/atau kawasan industri sistem pertahanan. atau merupakan wilayah kedaulatan negara termasuk pulau-pulau kecil terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga dan/atau laut lepas. c.o ta diperuntukkan bagi basis militer. memiliki sumber daya kelautan. diperuntukkan bagi kepentingan pemeliharaan pertahanan negara berdasarkan geostrategi nasional. g i s. dan memiliki akses menuju pasar nasional atau internasional. daerah pembuangan amunisi dan peralatan pertahanan lainnya. e.

atau memiliki potensi kerawanan terhadap konflik sosial skala nasional. f. merupakan tempat perlindungan peninggalan budaya nasional.okawasan tertinggal. berfungsi untuk mempertahankan tingkat produksi sumber energi dalam rangka mewujudkan ketahanan energi nasional.www.org 2008. b. diperuntukkan bagi kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berdasarkan lokasi sumber daya alam strategis nasional. Pasal 79 w Kawasan strategis nasional dari sudut kepentingan pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi ditetapkan dengan kriteria: a. atau ditetapkan untuk mempercepat pertumbuhan r . memiliki potensi ekonomi cepat tumbuh. pengembangan antariksa. g. berfungsi untuk mempertahankan tingkat produksi pangan nasional dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional. c. Pasal 78 lita g s g Kawasan strategis nasional dari sudut kepentingan sosial dan budaya ditetapkan . merupakan prioritas peningkatan kualitas sosial dan budaya serta jati diri bangsa. a w merupakan tempat pelestarian dan pengembangan adat istiadat atau budaya nasional. merupakan aset nasional atau internasional yang harus dilindungi dan dilestarikan. h. No 48 46 Pasal 77 Kawasan strategis nasional dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi ditetapkan dengan kriteria: a. memiliki kegiatan ekonomi yang memanfaatkan teknologi tinggi.legalitas. memberikan perlindungan terhadap keanekaragaman budaya. memiliki potensi ekspor. memiliki sumber daya alam strategis nasional.l e dengan kriteria: w a. b. d. memiliki sektor unggulan yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi nasional. d. serta tenaga atom dan nuklir. c. f. . b. e. e. didukung jaringan prasarana dan fasilitas penunjang kegiatan ekonomi.

memberikan perlindungan terhadap keseimbangan iklim makro. berfungsi sebagai pusat pengendalian dan pengembangan antariksa.or rawan bencana alam nasional. Pasal 78. menuntut prioritas tinggi peningkatan kualitas lingkungan hidup.l e luas terhadap kelangsungan w kehidupan. . atau c. merupakan tempat perlindungan keanekaragaman hayati. w wBagian Kedua Pasal 81 Penetapan dan Rencana Pengembangan Kawasan Strategis Nasional a ta s li Penetapan kawasan strategis nasional berdasarkan kepentingan pertahanan dan keamanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. No 48 c.www. f. Pasal 82 (1) Penetapan kawasan strategis nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77. Pasal 79. e. merupakan aset nasional berupa kawasan lindung yang ditetapkan bagi perlindungan ekosistem. dan Pasal 80. e. d. b. Pasal 80 Kawasan strategis nasional dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup ditetapkan dengan kriteria: a.legalitas. Pemerintah dapat menetapkan kawasan strategis nasional selain yang tercantum dalam Lampiran X berdasarkan kriteria yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini. g.org 47 2008. atau berfungsi sebagai lokasi penggunaan teknologi tinggi strategis. memberikan perlindungan keseimbangan tata guna air yang setiap tahun berpeluang menimbulkan kerugian negara. d. flora dan/atau fauna yang hampir punah atau diperkirakan akan punah yang harus dilindungi dan/atau dilestarikan. BAB VI (2) (3) . Kawasan strategis nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan. berfungsi sebagai pusat pengendalian tenaga atom dan nuklir. tercantum dalam Lampiran X yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini. g g sangat menentukan dalam perubahan rona alam dan mempunyai dampak .

perundang-undangan. Arahan pengendalian pemanfaatan ruang terdiri atas: a. arahan perizinan. as Pendapatan dan Belanja Negara. (3) (2) rg (3) le (2) . ww BAB VII ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH NASIONAL Bagian Kesatu Umum Pasal 85 (1) Arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional. Perkiraan pendanaan program pemanfaatan ruang disusun sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. investasi swasta. Pasal 84 (1) Program pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 ayat (2) disusun berdasarkan indikasi program utama lima tahunan yang ditetapkan dalam Lampiran XI yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini. dan arahan sanksi. Pendanaan program pemanfaatan ruang obersumber dari Anggaran . c. Pemanfaatan ruang wilayah nasional dilaksanakan melalui penyusunan dan pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta perkiraan pendanaannya. arahan pemberian insentif dan disinsentif.org 2008.legalitas. dan/atau kerja g Kerja sama pendanaan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan w.www. indikasi arahan peraturan zonasi sistem nasional. Anggaran Pendapatan dan Belanja t ali sama pendanaan. d. b. Daerah. No 48 48 ARAHAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH NASIONAL Pasal 83 (1) (2) Pemanfaatan ruang wilayah nasional berpedoman pada rencana struktur ruang dan pola ruang.

dan pembatasan intensitas pemanfaatan ruang agar tidak mengganggu fungsi sistem perkotaan nasional dan jaringan prasarana nasional. ali g . f. pemanfaatan ruang di sekitar jaringan prasarana nasional untuk mendukung berfungsinya sistem perkotaan nasional dan jaringan prasarana nasional. d. yang terdiri atas: a. No 48 Bagian Kedua Indikasi Arahan Peraturan Zonasi Sistem Nasional Pasal 86 (1) Indikasi arahan peraturan zonasi sistem nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (2) huruf a digunakan sebagai pedoman bagi pemerintah daerah kabupaten/kota dalam menyusun peraturan zonasi. Indikasi arahan peraturan zonasi sistem nasional meliputi indikasi arahan peraturan zonasi untuk struktur ruang dan pola ruang. sistem perkotaan nasional. (2) g or . g. Paragraf 1 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Struktur Ruang Pasal 87 Indikasi arahan peraturan zonasi untuk sistem perkotaan nasional dan jaringan prasarana nasional disusun dengan memperhatikan: a. sistem jaringan telekomunikasi nasional. as t sistem jaringan sumber daya air. . sistem jaringan energi nasional.ledan kawasan lindung nasional. ww w kawasan budi daya. e. c.org 49 2008. sistem jaringan transportasi nasional. b. c.legalitas. b.www. ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang yang menyebabkan gangguan terhadap berfungsinya sistem perkotaan nasional dan jaringan prasarana nasional.

org 2008. karantina. imigrasi. l w. . tas kegiatan ekonomi yang perkotaan yang sesuai dengan ali dilayaninya.legalitas. serta pintu gerbang internasional dengan fasilitas kepabeanan. (3) Peraturan zonasi untuk PKL disusun dengan memperhatikan pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi berskala kabupaten/kota yang didukung dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya. Pasal 89 Peraturan zonasi untuk PKSN disusun dengan memperhatikan: a. (2) Peraturan zonasi untuk PKW disusun dengan memperhatikan: a. b. dan pengembangan fungsi kawasan perkotaan sebagai pusat permukiman dengan tingkat intensitas pemanfaatan ruang menengah hingga tinggi yang kecenderungan pengembangan ruangnya ke arah vertikal. pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi perkotaan berskala rg ofasilitas dan infrastruktur provinsi yang didukung dengan . kawasan perkotaan sebagai pengembangan fungsi ww permukiman dengan tingkat intensitas pemanfaatan pusat ruang menengah yang kecenderungan pengembangan ruangnya ke arah horizontal dikendalikan. dan pemanfaatan untuk kegiatan kerja sama militer dengan negara lain secara terbatas dengan memperhatikan kondisi fisik lingkungan dan sosial budaya masyarakat. No 48 50 Paragraf 2 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Sistem Perkotaan Nasional Pasal 88 (1) Peraturan zonasi untuk PKN disusun dengan memperhatikan: a. dan eg b. pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi perkotaan yang berdaya saing. pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi perkotaan berskala internasional dan nasional yang didukung dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya. pertahanan. dan keamanan.www. b. pusat promosi investasi dan pemasaran.

d. Peraturan zonasi untuk jaringan jalur kereta api disusun dengan memperhatikan: . danau. Pasal 91 b. pemanfaatan ruang di sepanjang sisi jalan nasional dengan tingkat intensitas menengah hingga tinggi yang kecenderungan pengembangan ruangnya dibatasi. pembatasan jumlah perlintasan sebidang antara jaringan jalur kereta api dan jalan. Pasal 92 Peraturan zonasi untuk jaringan transportasi sungai. ww ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang pengawasan w jalur kereta api yang dapat mengganggu kepentingan operasi dan keselamatan transportasi perkeretaapian.org 51 2008. pembatasan pemanfaatan ruang yang peka terhadap dampak lingkungan akibat lalu lintas kereta api di sepanjang jalur kereta api. . (1) .or a. dan penetapan garis sempadan bangunan di sisi jalan nasional yang memenuhi ketentuan ruang pengawasan jalan.l e g s b. ketentuan pelarangan alih fungsi lahan yang berfungsi lindung di sepanjang sisi jalan nasional. dan penyeberangan. c. dan penetapan garis sempadan bangunan di sisi jaringan jalur kereta api dengan memperhatikan dampak lingkungan dan kebutuhan pengembangan jaringan jalur kereta api. keselamatan dan keamanan pelayaran. No 48 Paragraf 3 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Sistem Jaringan Transportasi Nasional Pasal 90 Peraturan zonasi untuk jaringan jalan nasional disusun dengan memperhatikan: a. ketentuan pelarangan kegiatan di ruang udara bebas di atas perairan yang berdampak pada keberadaan alur pelayaran sungai. pemanfaatan ruang di sepanjang sisi lita jaringan jalur kereta api dilakukan a hingga tinggi yang kecenderungan dengan tingkat intensitas menengah g pengembangan ruangnya dibatasi. b. e. danau.legalitas. c.www. dan penyeberangan disusun dengan memperhatikan: a.

pemanfaatan ruang untuk kebutuhan operasional bandar udara. Pemanfaatan ruang di dalam dan di sekitar pelabuhan sungai. Pasal 94 Peraturan zonasi untuk bandar udara umum disusun dengan memperhatikan: a. pembatasan pemanfaatan perairan yang berdampak pada keberadaan alur pelayaran sungai. dan penyeberangan. dan penyeberangan harus memperhatikan kebutuhan ruang untuk operasional dan pengembangan kawasan pelabuhan. danau. dan . danau. danau. pembatasan pemanfaatan ruang di dalam Daerah Lingkungan ww w Kerja Pelabuhan dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan harus mendapatkan izin sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku.e c. No 48 52 c. tas udara bebas di atas badan b.www. pemanfaatan ruang pada kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil di sekitar badan air di sepanjang alur pelayaran dilakukan dengan tidak mengganggu aktivitas pelayaran. dan d. pemanfaatan ruang untuk kebutuhan operasional dan or pengembangan kawasan pelabuhan. Peraturan zonasi untuk alur pelayaran disusun dengan memperhatikan: a. (2) (3) (1) (2) (1) ketentuan pelarangan kegiatan di bawah perairan yang berdampak pada keberadaan alur pelayaran sungai. b. dan penyeberangan. dan b. ketentuan pelarangan kegiatan ldi ruang ai g air yang berdampak padalkeberadaan jalur transportasi laut.org 2008. . dan . pemanfaatan ruang di sekitar bandar udara sesuai dengan kebutuhan pengembangan bandar udara berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.legalitas. Pemanfaatan ruang di dalam Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan harus mendapatkan izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 93 Peraturan zonasi untuk pelabuhan umum disusun dengan memperhatikan: g a. pemanfaatan ruang pada badan air di sepanjang alur pelayaran dibatasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

org 53 2008. No 48 batas-batas Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan dan batas-batas kawasan kebisingan.www. . Paragraf 4 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Sistem Jaringan Energi Nasional Pasal 95 (1) Peraturan zonasi untuk jaringan pipa minyak dan gas bumi disusun dengan memperhatikan pemanfaatan ruang di sekitar jaringan pipa minyak dan gas bumi harus memperhitungkan aspek keamanan dan keselamatan kawasan di sekitarnya.legalitas.letransmisi tenaga listrik disusun dengan (3) Peraturan zonasi untuk jaringan ww memperhatikan ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang bebas di w sepanjang jalur transmisi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. (2) Peraturan zonasi untuk pembangkit tenaga as pembangkit listrik harus t memperhatikan pemanfaatan ruang di sekitar ali lain. Paragraf 5 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Sistem Jaringan Telekomunikasi Nasional Pasal 96 Peraturan zonasi untuk sistem jaringan telekomunikasi disusun dengan memperhatikan pemanfaatan ruang untuk penempatan stasiun bumi dan menara pemancar telekomunikasi yang memperhitungkan aspek keamanan dan keselamatan aktivitas kawasan di sekitarnya. g or listrik disusun dengan . memperhatikan jarak aman dari kegiatan g . Paragraf 6 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Sistem Jaringan Sumber Daya Air Pasal 97 Peraturan zonasi untuk sistem jaringan sumber daya air pada wilayah sungai disusun dengan memperhatikan: c. (2) Peraturan zonasi untuk ruang udara untuk penerbangan disusun dengan memperhatikan pembatasan pemanfaatan ruang udara yang digunakan untuk penerbangan agar tidak mengganggu sistem operasional penerbangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangperundangan.

ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang yang membahayakan keselamatan umum.le Kawasan Lindung Nasional Indikasi Arahan Peraturan Zonasi ww 99 w Pasal (1) Peraturan zonasi untuk kawasan hutan lindung disusun dengan memperhatikan: a. lingkungan. b. (2) Peraturan zonasi untuk kawasan bergambut disusun dengan memperhatikan: a. tidak mengurangi fungsi lindung kawasan. pemanfaatan ruang di sekitar wilayah sungai lintas negara dan lintas provinsi secara selaras dengan pemanfaatan ruang pada wilayah sungai di negara/provinsi yang berbatasan. pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa merubah bentang alam. dan a. dan b. b. pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa merubah bentang alam. dan c. . No 48 54 pemanfaatan ruang pada kawasan di sekitar wilayah sungai dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan dan fungsi lindung kawasan.org 2008.legalitas. dan g d. ketentuan pelarangan seluruh kegiatan yang berpotensi mengurangi luas kawasan hutan dan tutupan vegetasi. dan di bawah pengawasan ketat. Pasal 98 Peraturan zonasi untuk kawasan lindung dan kawasan budi daya disusun dengan memperhatikan: a. c. pembatasan pemanfaatan ruang di sekitar kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana alam. pemanfaatan ruang kawasan untuk kegiatan budidaya hanya diizinkan bagi penduduk asli dengan luasan tetap. pemanfaatan ruang untuk kegiatan pendidikan dan penelitian tanpa mengubah bentang alam. ketentuan pelarangan seluruh kegiatan yang berpotensi merubah tata air dan ekosistem unik.www. b. as t ali Paragraf 7 g . pembatasan pemanfaatan ruang yang menurunkan kualitas fungsi or .

l e abrasi. ww w pendirian bangunan yang dibatasi hanya untuk menunjang .legalitas. c. b. c. dan ketentuan pelarangan semua jenis kegiatan yang menurunkan luas.or s g ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c. pemanfaatan ruang secara terbatas untuk kegiatan budi daya tidak terbangun yang memiliki kemampuan tinggi dalam menahan limpasan air hujan. (1) Peraturan zonasi memperhatikan: a. (3) pengendalian material sedimen yang masuk ke kawasan bergambut melalui badan air. dan penetapan lebar sempadan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang fungsi taman rekreasi. d. d. c. nilai ekologis. . dan penerapan prinsip zero delta Q policy terhadap setiap kegiatan budi daya terbangun yang diajukan izinnya. penyediaan sumur resapan dan/atau waduk pada lahan terbangun yang sudah ada. e. ta kegiatan rekreasi pantai. li adan struktur buatan untuk mencegah pengembangan struktur alami g . pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau. dan estetika kawasan. Pasal 100 untuk sempadan pantai disusun dengan b. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau. ketentuan pelarangan pendirian bangunan kecuali bangunan yang dimaksudkan untuk pengelolaan badan air dan/atau pemanfaatan air.www. b. dapat (2) Peraturan zonasi untuk sempadan sungai dan kawasan sekitar danau/waduk disusun dengan memperhatikan: a. Peraturan zonasi untuk kawasan resapan air disusun dengan memperhatikan: a. No 48 c.org 55 2008.

pembatasan kegiatan pemanfaatan sumber daya alam. b. dan ketentuan pelarangan terhadap penanaman flora dan pelepasan satwa yang bukan merupakan flora dan satwa endemik kawasan.legalitas. e. dan ketentuan pelarangan pendirian bangunan permanen selain yang dimaksud pada huruf b. c. pendidikan. suaka alam laut dan perairan lainnya disusun dengan memperhatikan: a. dan ali g w . ketentuan pelarangan kegiatan selain yang dimaksud pada huruf a. c. b.www. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk bangunan penunjang kegiatan rekreasi dan fasilitas umum lainnya. c. pemanfaatan ruang untuk kegiatan pendidikan. pemanfaatan ruang untuk kegiatan wisata alam. Pasal 101 (1) Peraturan zonasi untuk kawasan suaka alam.o le ketentuan pelarangan kegiatan yang dapat merubah bentang alam w. d. (3) Peraturan zonasi untuk kawasan pantai berhutan bakau disusun dengan memperhatikan: a. dan ekosistem. dan cagar alam laut disusun dengan memperhatikan: a. rg s ketentuan pelarangan kegiatantayang dapat mengurangi daya dukung dan daya tampung lingkungan. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan sebagaimana dimaksud pada huruf a. penelitian. pemanfaatan ruang untuk kegiatan rekreasi. b.org 2008. w pemanfaatan ruang untuk penelitian. (2) Peraturan zonasi untuk suaka margasatwa. dan . dan wisata alam. e. No 48 56 (3) Peraturan zonasi untuk ruang terbuka hijau kota disusun dengan memperhatikan: a. ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c. ketentuan pelarangan pemanfaatan kayu bakau. dan wisata alam. cagar alam. b. suaka margasatwa laut. ketentuan pelarangan pemanfaatan biota yang dilindungi peraturan perundang-undangan. d.

dan di bawah pengawasan ketat.o g disusun dengan ketentuan pelarangan kegiatan selain yang dimaksud pada huruf a. pemanfaatan ruang untuk penelitian. (5) Peraturan zonasi memperhatikan: a.legalitas. dan wisata alam. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan sebagaimana dimaksud pada huruf a. ketentuan pelarangan kegiatan selain yang dimaksud pada huruf a. ga li ta s hutan r raya . d. dan ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c. pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa merubah bentang alam.org 57 2008. dan ketentuan pelarangan kegiatan budi daya yang berpotensi mengurangi tutupan vegetasi atau terumbu karang di zona penyangga. c. b. dan pariwisata. c. (4) ketentuan pelarangan kegiatan yang dapat mengubah mengurangi luas dan/atau mencemari ekosistem bakau. pendidikan. Peraturan zonasi untuk taman nasional dan taman nasional laut disusun dengan memperhatikan: a. d. dan ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c. Peraturan zonasi untuk kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan disusun dengan memperhatikan: a. le pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan w sebagaimana dimaksud pada huruf a. pemanfaatan untuk penelitian. dan . tidak mengurangi fungsi lindung kawasan. pemanfaatan ruang kawasan untuk kegiatan budidaya hanya diizinkan bagi penduduk asli di zona penyangga dengan luasan tetap. d.www. w (6) Peraturan zonasi untuk taman wisata alam dan taman wisata alam laut disusun dengan memperhatikan: a. b. pendidikan. No 48 c. b. w. ketentuan pelarangan kegiatan budi daya di zona inti. (7) pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa mengubah bentang alam. untuk taman c.

jenis. penentuan lokasi dan jalur evakuasi dari permukiman penduduk. c. dan penerapan standar keselamatan bagi pemburu dan masyarakat di sekitarnya. penangkaran dan pengembangbiakan satwa untuk perburuan. dan pembangunan fasilitas umum dengan ali ketentuan pelarangan . c. dan pengendalian kegiatan budi daya yang dapat merubah bentang alam dan ekosistem. Pasal 102 (1) Peraturan zonasi untuk kawasan rawan tanah longsor dan kawasan rawan gelombang pasang disusun dengan memperhatikan: a. ketentuan pelarangan kegiatan dan pendirian bangunan yang tidak sesuai dengan fungsi kawasan. tas kepadatan rendah. (2) (3) Peraturan zonasi untuk ramsar disusun dengan memperhatikan peraturan zonasi untuk kawasan lindung. rg oruang terbuka hijau dan pemanfaatan dataran banjir bagi. No 48 58 b. b. b.legalitas. dan pembatasan pendirian bangunan kecuali untuk kepentingan pemantauan ancaman bencana dan kepentingan umum. ketentuan pelarangan perburuan satwa yang tidak ditetapkan sebagai buruan. selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1). peraturan zonasi disusun dengan memperhatikan: a. b.org 2008.www. b. pemanfaatan ruang dengan mempertimbangkan karakteristik. . dan ancaman bencana. penetapan batas dataran banjir. (2) Untuk kawasan rawan banjir. d. c. pembatasan pemanfaatan sumber daya alam. permukiman dan fasilitas wwPasal 103 pemanfaatan untuk pariwisata tanpa mengubah bentang alam. Peraturan zonasi untuk taman buru disusun dengan memperhatikan: a. pemanfaatan untuk kegiatan perburuan secara terkendali. c.leg pemanfaatan ruang bagi kegiatan w umum penting lainnya. (1) Peraturan zonasi untuk cagar biosfer disusun dengan memperhatikan: a.

Pasal 104 t ketentuan pelarangan kegiatan lselain yang dimaksud pada huruf b ai yang dapat menimbulkan pencemaran air. (2) Peraturan zonasi untuk kawasan keunikan bentang alam disusun dengan memperhatikan pemanfaatannya bagi pelindungan bentang alam yang memiliki ciri langka dan/atau bersifat indah untuk pengembangan ilmu pengetahuan. b. ketentuan pelarangan kegiatan pemanfaatan batuan. . dan ekosistem unik kawasan. budaya. c. b. eg a (1) Peraturan zonasi untuk kawasan keunikan batuan dan fosil disusun dengan memperhatikan: a. pemanfaatan untuk wisata alam tanpa mengubah bentang alam. dan/atau pariwisata. b. b. dan pembatasan kegiatan pemanfaatan sumber daya kelautan untuk mempertahankan makanan bagi biota yang bermigrasi. No 48 (4) Peraturan zonasi untuk kawasan perlindungan plasma nutfah disusun dengan memperhatikan: a. pemanfaatan untuk wisata alam tanpa mengubah bentang alam. pemanfaatan untuk pariwisata bahari. pemanfaatan untuk pariwisata tanpa mengubah bentang alam.org 59 2008. b. fauna. pelestarian flora. ketentuan pelarangan kegiatan penangkapan rg pengambilan terumbu karang. (5) Peraturan zonasi untuk kawasan pengungsian satwa disusun dengan memperhatikan: a.legalitas. dan pembatasan pemanfaatan sumber daya alam.o ikan dan (6) Peraturan zonasi untuk terumbu karang disusun dengan memperhatikan: a.www. ketentuan pelarangan penangkapan biota laut yang dilindungi peraturan perundang-undangan. c. koridor bagi jenis satwa atau biota laut Peraturan zonasi untuk kawasan w yang dilindungi disusunw dengan memperhatikan: a. dan s. c. dan kegiatan penggalian dibatasi hanya untuk penelitian arkeologi dan geologi. c. (7) l w. pelestarian flora dan fauna endemik kawasan. dan pembatasan pemanfaatan sumber daya alam.

l e limpasan air hujan. pemanfaatan ruang dengan mempertimbangkan karakteristik.org 2008. dan pembatasan pendirian bangunan kecuali untuk kepentingan pemantauan ancaman bencana dan kepentingan umum. pembatasan pemanfaatan hasil hutan untuk menjaga kestabilan neraca sumber daya kehutanan. a. No 48 60 (3) Peraturan zonasi untuk kawasan keunikan proses geologi disusun dengan memperhatikan pemanfaatannya bagi pelindungan kawasan yang memiki ciri langka berupa proses geologi tertentu untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan/atau pariwisata. b. penentuan lokasi dan jalur evakuasi dari permukiman penduduk. . dan pelarangan kegiatan yang dapat menimbulkan pencemaran terhadap mata air. dan ancaman bencana. jenis. b. c. Peraturan zonasi untuk kawasan sempadan mata air disusun dengan memperhatikan: a. b.www. dan penerapan prinsip zero delta Q policy terhadap setiap kegiatan budi daya terbangun yang diajukan izinnya. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau. w penyediaan sumur resapan dan/atau waduk pada lahan terbangun ww yang sudah ada. (2) tas kegiatan budi daya tidak pemanfaatan ruang secara terbatas untuk ali terbangun yang memiliki g kemampuan tinggi dalam menahan . Pasal 106 (1) Peraturan zonasi untuk kawasan imbuhan air tanah disusun dengan g or memperhatikan: . Pasal 105 Peraturan zonasi untuk kawasan rawan bencana alam geologi disusun dengan memperhatikan: a. c.legalitas. Paragraf 8 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi Kawasan Budi Daya Pasal 107 Peraturan zonasi untuk kawasan hutan produksi dan hutan rakyat disusun dengan memperhatikan: a.

dan b. Pasal 108 Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pertanian disusun dengan memperhatikan: a.or kepadatan rendah. dan . pengaturan kawasan tambang dengan memperhatikan keseimbangan antara biaya dan manfaat serta keseimbangan antara risiko dan manfaat.www. pemanfaatan sumber dayaww perikanan agar tidak melebihi potensi lestari. pemanfaatan ruang untuk kawasanapemijahan g hijau. No 48 pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan pemanfaatan hasil hutan. pemanfaatan ruang untuk permukiman petanigdan/atau nelayan dengan . pemanfaatan ruang untuk permukiman petani dengan kepadatan rendah. tas dan/atau kawasan sabuk li b. potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia di wilayah sekitarnya. pengaturan bangunan lain disekitar instalasi dan peralatan kegiatan pertambangan yang berpotensi menimbulkan bahaya dengan memperhatikan kepentingan daerah. . dan c. ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf b. ketentuan pelarangan alih fungsi lahan menjadi lahan budi daya non pertanian kecuali untuk pembangunan sistem jaringan prasarana utama. w Pasal 110 Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pertambangan disusun dengan memperhatikan: a.l e c. pengaturan pendirian bangunan agar tidak mengganggu fungsi alur pelayaran yang ditetapkan peraturan perundang-undangan. dan b.legalitas. b. Pasal 109 Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan perikanan disusun dengan memperhatikan: a.org 61 2008. pemanfaatan ruang untuk kegiatan industri baik yang sesuai dengan kemampuan penggunaan teknologi. dan c. Pasal 111 Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan industri disusun dengan memperhatikan: a.

www.legalitas.org

2008, No 48

62

b.

pembatasan pembangunan perumahan baru sekitar kawasan peruntukan industri. Pasal 112

Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pariwisata disusun dengan memperhatikan: a. b. c. d. pemanfaatan potensi alam dan budaya masyarakat sesuai daya dukung dan daya tampung lingkungan; perlindungan terhadap situs peninggalan kebudayaan masa lampau; pembatasan pendirian bangunan hanya untuk menunjang kegiatan pariwisata; dan ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c. Pasal 113

g Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan permukiman disusun dengan or memperhatikan: s.
a. b. c. d. penetapan amplop bangunan; penetapan tema arsitektur bangunan; .l e

g

lita a

ww dan lingkungan; dan penetapan kelengkapan w bangunan
Bagian Ketiga Arahan Perizinan Pasal 114

penetapan jenis dan syarat penggunaan bangunan yang diizinkan.

(1)

Arahan perizinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (2) huruf b merupakan acuan bagi pejabat yang berwenang dalam pemberian izin pemanfaatan ruang berdasarkan rencana struktur dan pola ruang yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah ini. Izin pemanfaatan ruang diberikan oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan kewenangannya. Pemberian izin pemanfaatan ruang dilakukan menurut prosedur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pemberian izin pemanfaatan ruang yang berdampak besar dan penting dikoordinasikan oleh Menteri. Bagian Keempat

(2) (3) (4)

www.legalitas.org

63

2008, No 48

Arahan Insentif dan Disinsentif Pasal 115 (1) Arahan pemberian insentif dan disinsentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (2) huruf c merupakan acuan bagi pemerintah dalam pemberian insentif dan pengenaan disinsentif. Insentif diberikan apabila pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana struktur ruang, rencana pola ruang, dan indikasi arahan peraturan zonasi yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini. Disinsentif dikenakan terhadap pemanfaatan ruang yang perlu dicegah, dibatasi, atau dikurangi keberadaannya berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini. Pasal 116 (1) Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif dalam pemanfaatan ruang wilayah nasional dilakukan oleh Pemerintah kepada pemerintah daerah g dan kepada masyarakat. or .

(2)

(3)

(2)

Pemberian insentif dan pengenaan lita disinsentif dilakukan oleh instansi berwenang sesuai dengan kewenangannya. ga Insentif kepada pemerintah daerah diberikan, antara lain, dalam bentuk: w a. b. c. d. pemberian kompensasi; urun saham; pembangunan serta pengadaan infrastruktur; atau penghargaan. keringanan pajak; pemberian kompensasi; imbalan; sewa ruang; urun saham; penyediaan infrastruktur; kemudahan prosedur perizinan; dan/atau penghargaan.

s

(1)

w

Pasal 117 w.

le

(2)

Insentif kepada masyarakat diberikan, antara lain, dalam bentuk: a. b. c. d. e. f. g. h.

www.legalitas.org

2008, No 48

64

Pasal 118 (1) Disinsentif kepada pemerintah daerah diberikan, antara lain, dalam bentuk: a. b. c. (2) pembatasan penyediaan infrastruktur; pengenaan kompensasi; dan/atau penalti.

Disinsentif dari Pemerintah kepada masyarakat dikenakan, antara lain, dalam bentuk: a. b. c. d. pengenaan pajak yang tinggi; pembatasan penyediaan infrastruktur; pengenaan kompensasi; dan/atau penalti. Pasal 119

(1) (2)

Pemberian insentif dan pengenaanta disinsentif dilakukan menurut ali prosedur sesuai dengan ketentuang peraturan perundang-undangan. Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif dikoordinasikan oleh w. Menteri. ww Bagian Kelima Arahan Sanksi Pasal 120

.or s

g

le

Arahan sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (2) huruf d merupakan acuan dalam pengenaan sanksi terhadap: a. b. c. d. e. pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana struktur ruang dan pola ruang wilayah nasional; pelanggaran ketentuan arahan peraturan zonasi sistem nasional; pemanfaatan ruang tanpa izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRWN; pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRWN; pelanggaran ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRWN;

peringatan tertulis. i. g. penghentian sementara pelayanan umum. penutupan lokasi. b. f. ww dan/atau pemulihan fungsi w ruang. pembongkaran bangunan. penghentian sementara kegiatan. penutupan lokasi. pembatalan izin. g. pemulihan fungsi ruang. (1) g . d. e. Pasal 121 Terhadap pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 huruf a.l e pembongkaran bangunan. huruf e. dan/atau denda administratif. huruf b. e. huruf d. c. dan/atau pemanfaatan ruang dengan izin yang diperoleh dengan prosedur yang tidak benar. dan huruf g dikenakan sanksi administratif berupa: a. c. Pasal 122 Ketentuan mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif diatur dalam peraturan pemerintah tersendiri. g. lita a . d. h. denda administratif. f. . pemanfataan ruang yang menghalangi akses terhadap kawasan yang oleh peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum. penghentian sementara kegiatan.legalitas. pencabutan izin. No 48 f.org 65 2008.or s g (2) Terhadap pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 huruf c dikenakan sanksi administratif berupa: a.www. b. penghentian sementara pelayanan umum. huruf f. peringatan tertulis.

www. . maka Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. strategis nasional ditetapkan dengan Peraturan s. disusun rencana rinci tata ruang yang meliputi: a. Kepulauan Maluku. No 48 66 BAB VIII KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 123 (1) Untuk operasionalisasi RTRWN. lita BAB IX ga le KETENTUAN PERALIHAN w. dan Pulau Papua. Pulau Kalimantan. Pulau Sulawesi. Rencana tata ruang pulau/kepulauan disusun untuk wilayah Pulau Sumatera. BAB X KETENTUAN PENUTUP Pasal 125 RTRWN ini berlaku selama 20 (duapuluh) tahun. Pasal 127 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. (3) (4) g Rencana tata ruang pulau/kepulauan dan rencana tata ruang kawasan or Presiden. semua ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan penyelenggaraan penataan ruang nasional tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. dan rencana tata ruang kawasan strategis nasional.org 2008. Pulau Jawa-Bali. wwPasal 124 Pada saat mulai berlakunya Peraturan Pemerintah ini. Pasal 126 Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini.legalitas. Rencana tata ruang kawasan strategis nasional disusun untuk setiap kawasan strategis nasional. b. (2) rencana tata ruang pulau/kepulauan. Kepulauan Nusa Tenggara.

memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.legalitas.or g ANDI MATTALATTA w w. MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA . SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 10 Maret 2008 REPUBLIK INDONESIA. w ga le ta s li .www. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 10 Maret 2008 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. No 48 Agar setiap orang mengetahuinya.org 67 2008.

www.org 2008. No 48 68 ww le w.legalitas. g lita a .or s g .

www.legalitas.org

69

2008, No 48

LAMPIRAN II PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 26 TAHUN 2008 TANGGAL : 10 MARET 2008 SISTEM PERKOTAAN NASIONAL

NO.

PROVINSI

PKN - Lhokseumawe (I/C/1)

PKW

PKSN

1 NANGGROE ACEH DARUSSALAM

- Sabang (I/A/2) - Sabang - Banda Aceh (I/D/1), (II/C/3) - Langsa (II/C/3) (I/A/2)

ww
2 SUMATERA UTARA - Kawasan

le w.

g

lita - Meulaboh a
(I/D/1), (II/C/3)

g or s. (II/C/1)

- Takengon

Perkotaan - Tebingtinggi (II/C/1) - Sidikalang (II/B) - P. Siantar (I/C/1) - Balige (II/C/1) - Rantau Prapat (II/C/1) - Kisaran (II/C/1) - Gunung Sitoli (II/C/1), (I/D/1)

Medan-Binjai-Deli Serdang-Karo (Mebidangro) (I/C/3)

www.legalitas.org

2008, No 48

70

NO.

PROVINSI

PKN

PKW - P.Sidempuan (II/C/1) - Sibolga (II/C/1)

PKSN

3 SUMATERA BARAT

Padang (I/C/1)

- Pariaman (II/C/1) - Sawahlunto (II/C/1) - Muarasiberut (II/C/2) - Bukittinggi (I/C/1) - Dumai (II/A/1)

4 RIAU

- Pekanbaru (I/C/1) - Dumai (I/C/1)

ww

le w.

g

lita - Bangkinang a
(II/B) - Taluk Kuantan (II/C/1) - Bengkalis (II/B) - Bagan Siapiapi (II/B) - Tembilahan (I/C/1) - Rengat (II/C/1) - Pangkalan Kerinci (II/C/1) - Pasir Pangarayan (I/C/1) - Siak Sri Indrapura (II/C/1)

.or s

g

www.legalitas.org

71

2008, No 48

NO.

PROVINSI

PKN

PKW

PKSN

5 KEPULAUAN RIAU - Batam (I/C/3)

- Tanjung Pinang - Batam (II/C/1) - Terempa (II/B) - Daik Lingga (II/B) - Dabo – P. Singkep (II/B) - Tanjung Balai Karimun (II/C/1) (I/A/1) - Ranai (I/A/2)

6 JAMBI

- Jambi (I/C/1)

ww
7 SUMATERA SELATAN - Palembang (I/C/1)

le w.

g

lita - Sarolangun a
(II/B) - Muarabungo (I/C/1) - Muara Bulian (II/C/1) - Muara Enim (I/C/1) - Kayuagung (II/B) - Baturaja (II/B) - Prabumulih (II/C/1) - Lubuk Linggau (II/C/1) - Sekayu (II/B) - Lahat (II/B)

.or s

- Kuala Tungkal (II/B)

g

Kawasan Perkotaan IBUKOTA Jabodetabek (I/C/3) JAKARTA .Kalianda (II/B) .Menggala (II/B) .Serang (I/C/1) . No 48 72 NO.M e t r o a (II/C/1) .Manggar (II/B) g .Manna (II/C/1) .Kota Agung (II/B) 11 DAERAH KHUSUS .Cilegon (I/C/1) .Bandar Lampung (I/C/1) ww le w.org 2008.www.JAWA BARAT .or s (I/B) .Curup (II/C/2) PKSN 8 BENGKULU 9 BANGKA BELITUNG .Bengkulu (II/C/1) .Tanjungpandan 10 LAMPUNG .Pandeglang (II/B) .legalitas.Rangkas Bitung (II/B) .Pangkal Pinang (I/C/1) .Muntok (II/B) .Liwa (II/C/2) .Kotabumi (II/C/1) . PROVINSI PKN PKW .BANTEN 12 BANTEN . g lita .Muko-Muko (II/C/2) .

Indramayu (II/C/1) .Kawasan PKN PKW Perkotaan .Cikampek (II/C/1) .Cirebon(I/C/1) 14 JAWA TENGAH .Sumedang (II/B) .Cianjur (I/C/1) .www.Sukabumi (I/C/2) .Kawasan ww le w.Kebumen (II/C/1) Semarang-KendalDemak-UngaranPurwodadi (Kedungsepur) (I/C/3) .Kudus (I/C/1) .Wonosobo (II/C/1) . g lita a .Magelang (I/C/1) .legalitas.or s (II/C/1) .org 73 2008.Kuningan PKSN 13 JAWA BARAT Bandung Raya (I/C/3) .Klaten (II/C/1) g Perkotaan .Surakarta (I/C/1) .Pekalongan (I/C/1) .Salatiga (II/C/1) .Tasikmalaya (II/C/1) . No 48 NO.Boyolali (II/B) . PROVINSI .Cepu (II/C/1) .Tegal (II/C/1) .Purwakarta (I/C/1) .Cilacap (I/C/1) .

(II/C/1) .Kediri (I/C/1) .Tulung Agung a (II/C/1) .Yogyakarta (I/C/3) .legalitas.Situbondo (II/C/1) .Kawasan (I/C/3) Perkotaan .Tuban (I/C/1) g .Bantul (I/D/1).Malang (I/C/1) ww le w.Probolinggo (II/C/1) .www.or s (I/C/1) . No 48 74 NO. PROVINSI PKN PKW .org 2008.Banyuwangi (II/C/1) .Sampang (II/C/1) .Purwokerto (II/C/1) PKSN 15 DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA .Jombang (II/C/1) .Pasuruan (Gerbangkertosusila) .Sumenep (II/C/1) . g lita .Madiun (II/C/1) .Sleman (II/C/1) 16 JAWA TIMUR .

Raba (II/B) .Singaraja (I/C/1) .Kalabahi (I/A/2) .org 75 2008. No 48 NO.Entikong (I/A/1) .Labuan Bajo (I/C/1) g (II/B) or s.legalitas.Ruteng (II/C/1) .Mataram (I/C/1) BARAT 19 NUSA TENGGARA .Waingapu (II/C/1) .Sambas (I/A/1) .Jasa (II/A/2) .Kefamenanu 20 KALIMANTAN BARAT .Semarapura (II/B) .Ende (I/C/1) a .Singkawang (I/C/1) .Soe (II/B) PKSN 17 BALI Denpasar-BangliGianyar.Maumere (II/C/1) .l e lita .www.Mempawah (II/B) .Jagoibabang (I/A/2)) . PROVINSI . .Sumbawa Besar (II/C/1) .Entikong (II/A/2) .Praya (II/B) .Nangabadau (I/A/2)) .Kefamenanu (I/A/2) w ww g .Paloh (II/A/2) .Atambua (I/A/2) .Pontianak (I/C/1) .Kupang TIMUR (I/C/1) .Negara (II/B) .Tabanan (Sarbagita) (I/C/1) 18 NUSA TENGGARA .Putussibau (I/A/2) .Ketapang (I/B) .Kawasan PKN PKW Perkotaan .

Tarakan (I/C/1) .Tanlumbis (II/B) (I/A/2) .legalitas.Palangkaraya (I/C/1) .Marabahan (II/B) . g lita .Nunukan (I/B) .Muarateweh (II/C/1) 22 KALIMANTAN SELATAN .www.org 2008.Buntok (II/C/1) .Martapura (II/B) .Kotabaru (II/C/1) .Simanggaris (I/A/2) .Tanjung Selor (II/C/1) .Malinau (II/C/1) .Nunukan – (I/C/1) .Pangkalan Bun (I/C/1) .Kuala Kapuas (II/C/1) .Sanggau (I/C/1) .Sintang (II/C/1) PKSN 21 KALIMANTAN TENGAH .Sampit (II/C/1) a . PROVINSI PKN PKW . No 48 76 NO.Long Pahangai (II/A/2) Balikpapan – Bontang .Banjarmasin (I/C/1) ww le w.or s g 23 KALIMANTAN TIMUR .Amuntai (II/B) .Kawasan Samarinda (I/C/1) Perkotaan .Sangata (I/B) .Tanjung Redeb .Long Midang (II/A/2) .

Kuandang a (II/C/2) .Sanga-Sanga (II/C/2) .Tanah Grogot (II/C/1) .Tondano (II/C/1) .Tenggarong (I/B) PKSN .Kotamobagu (II/C/1) .Donggala (II/C/1) .org 77 2008.Sendawar (II/C/2) .or s .legalitas.Melonguane (I/A/2) .Sungai Nyamuk (II/C/2) .Gorontalo (I/C/1) ww 25 SULAWESI UTARA .Tolitoli (II/C/1) .Palu (I/C/1) .www.Kolonedale (II/C/1) .Isimu (II/C/2) g Perkotaan .Poso (II/C/3) . g lita . PROVINSI PKN PKW .Luwuk (II/C/1) .Long Nawan (II/A/2) 24 GORONTALO .Tilamuta (II/C/2) .Kawasan (I/C/1) le w.Bitung 26 SULAWESI TENGAH .Buol (II/C/1) . No 48 NO.Tahuna (I/A/2) Manado .Tomohon (I/C/1) .

Unaaha PKSN 27 SULAWESI SELATAN 28 SULAWESI BARAT 29 SULAWESI TENGGARA .Masohi (I/C/1) .Tual (II/A/1) .Namlea (II/C/1) .Ambon (I/C/1) le w.Jeneponto (I/C/1) . .Wahai (II/B) .Saumlaki .Bulukumba (I/C/1) .legalitas.www. No 48 78 NO.Ilwaki (I/A/2) .Lasolo (II/C/1) a .Pangkajene (II/C/1) .Parepare (II/C/1) .Palopo (I/C/1) .Bula (II/B) (I/A/2) .Kawasan Perkotaan MakassarSungguminasaTakalar-Maros (Maminasata) (I/C/3) PKW . g lita .Raha (II/C/1) .Dobo (I/A/2) g or (II/C/1) s. PROVINSI PKN .Barru (II/C/1) .Bau-Bau (I/C/1) .Mamuju (I/C/1) .Kairatu (II/C/1) .Watampone (II/C/1) .Kendari (I/C/1) ww 30 MALUKU .org 2008.Werinama (II/C/2) .Kolaka (II/C/1) .

Timika (I/C/1) .org 79 2008. No 48 NO.Merauke (I/A/1) .Ayamaru (II/C/1) .legalitas.Wamena (II/C/1) .Tidore (II/C/1) .Daruba (I/A/2) 31 MALUKU UTARA 32 PAPUA BARAT .Sarmi (II/C/2) .Biak (I/C/1) .Labuha (II/C/1) .Merauke (I/C/1) .www.Sorong (I/C/1) 33 PAPUA . ali g g or (II/C/1) -.Fak-Fak (I/C/1) .Manokwari (I/C/1) .Sanana (II/C/2) PKSN . Nabire as t .Muting (II/C/2) Keterangan: I – IV: Tahapan Pengembangan A : Percepatan Pengembangan kota-kota utama kawasan Perbatasan A/1 : Pengembangan/Peningkatan fungsi A/2 : Pengembangan Baru A/3 : Revitalisasi kota-kota yang telah berfungsi B : Mendorong Pengembangan Kota-Kota Sentra Produksi Yang Berbasis Otonomi Daerah .Ternate (I/C/1) PKW . PROVINSI PKN .Tanah Merah (II/A/2) .Arso (II/C/2) .Tobelo (II/C/2) .Bade (II/C/2) .Arso (I/A/1) .Jayapura (I/C/1) ww le w.

www. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO ww le w.org 2008. No 48 80 C : Revitalisasi dan Percepatan Pengembangan Kota-Kota Pusat Pertumbuhan Nasional C/1 : Pengembangan/Peningkatan fungsi C/2 : Pengembangan Baru C/3 : Revitalisasi kota-kota yang telah berfungsi D : Pengendalian Kota-kota Berbasis Mitigasi Bencana D/1 : Rehabilitasi kota akibat bencana alam D/2 : Pengendalian perkembangan kota-kota berbasis Mitigasi Bencana PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. DR.legalitas.or s g . H. g lita a .

2.org 81 2008. Medan – Kualanamu – Tebing Tinggi (I/6) Kisaran – Tebing Tinggi (I/6) Pekanbaru – Dumai (I/6) Bukit Tinggi – Padang (I/6) Terbanggi Besar – Pematang Panggang (I/6) DALAM KOTA 1. Pekanbaru-BangkinangPayakumbuh-Bukit Tinggi (II/6) 13.Sp Sigambal-Rantau Parapat (II/6) 11. 7. Sekayu) – Tempino – Jambi (II/6) 12.Ampar ta s Bandara Hang Nadim (I/6) ali g 3.legalitas. Dumai . 5.Dumai (II/6) g or – Muka Kuning – 4.Palembang – Indralaya (I/6) 10. Morawa) (I/5) 2. 4.Batu. Langsa – Lhokseumawe (III/6) . Rengat – Pekanbaru (III/6) 15. Binjai – Langsa (III/6) 16.Balmera (Belawan-Medan-Tj. Jambi – Rengat (III/6) 14. No 48 LAMPIRAN III PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 26 TAHUN 2008 TANGGAL : 10 MARET 2008 JALAN BEBAS HAMBATAN ANTAR KOTA PULAU SUMATERA 1.Binjai – Medan (I/6) le w. Indralaya – Betung (Sp. 6. Bakauheni – Terbanggi Besar (I/6) ww Pematang Panggang-Kayu AgungSp Indralaya (II/6) Rantau Parapat-Kisaran (II/6) Duri . 9.www. 3. 8.

Lubuk Linggau – Curup – Bengkulu (III/6) 22. Tangerang – Merak (I/5) Jakarta – Bogor – Ciawi (Jagorawi) (I/5) Jakarta – Cikampek (I/5) 1. Sigli – Banda Aceh (III/6) 18. Wiyoto Wiyono.legalitas. Palembang – Muara Enim (III/6) 19. g litaJakarta – Tangerang (I/5) a Tomang – Cawang (I/5) . Cileunyi – Sumedang – Dawuan (I/6) 11. 5. Jembatan Selat Sunda (III/6) PULAU JAWA 1. Dr. Jakarta Outer Ring Road I: (Ulumai . Pd Pinang Ulujami)(I/5) 11. Cakung – Cilincing. 4. 8. Lhokseumawe – Sigli (III/6) 21. 7. Hankam Raya – Cikunir. Kebon Jeruk . Pemalang – Batang (I/6) 15. 2. 3. Pejagan – Pemalang (I/6) 14. DALAM KOTA Tomang – Grogol – Pluit (I/5) Cikampek – Padalarang (I/5) Padalarang – Cileunyi (I/5) Cilegon – Bojonegara (I/6) Ciawi . Semarang – Batang (I/6) 10.Kebon Jeruk. M. Kanci – Pejagan (I/6) 13. Cikunir – Cakung.or s g Pondok Aren – Ulujami (I/5) Cawang – Tanjung Priok (Ir.Sukabumi (I/6) Sukabumi – Ciranjang (I/6) Ciranjang – Padalarang (I/6) ww le w.Sc) (I/5) Tanjung Priok – Pluit (Harbour Road) (I/5) Prof. 6. 7. Siantar – Prapat – Tarutung – Sibolga (III/6) 23. Jakarta Outer Ring Road I : (Pondok Pinang – Taman Mini. No 48 82 ANTAR KOTA 17.www. 8. 3. 5. 9.org 2008. 4. Cikopo – Palimanan (I/6) 12. Tebing Tinggi – P. Muara Enim – Lahat – Lb Linggau (III/6) 20. Taman Mini IC – Hankam Raya. Sedyatmo (I/5) Pondok Aren – Serpong (I/5) Akses Tanjung Priok (I/5) 10. 6. 9. 2.

Pasuruan – Probolinggo (I/6) DALAM KOTA – Penjaringan) (I/5) 12. g lita a . Pandaan – Malang (I/6) 28. Palimanan – Cirebon/Kanci (I/5) 14. Waru (Aloha) – Wonokromo – Tanjung Perak (I/6) 25. Mojokerto – Surabaya (I/6) 25. No 48 ANTAR KOTA 16. Yogyakarta – Solo (I/6) 19. Mantingan – Ngawi (I/6) 22. Surabaya – Madura (I/6) 26. Surabaya – Gempol (I/5) 16. Serpong – Cinere. Cibitung – Cilincing (I/6) ww le w. Semarang – Solo (I/6) 18.www.org 83 2008. Surabaya – Gersik (I/5) 17. Soreang – Pasir Koja (I/6) 24. Kertosono – Mojokerto (I/6) 24. Cilacap – Yogyakarta (III/6) 36. Ujung Berung – Gedebage – Majalaya (I/6) 23. Semarang – Demak (I/6) 17. Terusan Pasteur – Ujung Berung – Cileunyi (I/6) 22. Bogor Ring Road (I/6) 21. Cimanggis – Cibitung. Probolinggo – Banyuwangi (I/6) 31. Solo – Mantingan (I/6) 21. Gempol – Pasuruan (I/6) 29. Gempol – Pandaan (I/6) 27. SS Waru – Bandara Juanda (I/6) 26. Depok – Antasari (I/6) 20. Yogyakarta – Bawen (I/6) 20. Ngawi – Kertosono (I/6) 23. Padalarang – Cileunyi (I/5) 13. B. Cengkareng – Batu Ceper – Kunciran. Demak – Tuban (IV/6) 37. Cinere – Cimanggis. Semarang Seksi A. Bekasi – Cawang – Kampung Melayu (I/6) 18. dan C (I/5) 15. Kunciran – Serpong.legalitas. Nagrek – Ciamis (III/6) 34.or s g 30. Bandara Juanda – Tanjung Perak (I/6) . Jakarta Outer Ring Road II: Kamal – Teluk Naga – Batu – Ceper. Gresik-Tuban (II/6) 32. Pejagan – Cilacap (III/6) 35. Ciamis – Cilacap (IV/6) 19. Cileunyi – Nagrek (III/6) 33.

2.org 2008. 1. 7. Menado – Bitung (I/6) Menado-Timohon (I/6) Maros-Mandai-Makassar (I/6) Makassar-Sugguminasa (I/6) Sugguminasa-Takalar (I/6) Limboto-Gorontalo (I/6) Timohon – Amurang (I/6) Pangkajene – Maros (I/6) Makassar – Mandai (I/6) ww le w. 9. 3. Isimu – Gorontalo (II/6) 11. Kuta-Tanah Lot-Soka (I/6) Canggu-Beringit-Batuan-Purnama (I/6) Tohpati – Kusumba – Padangbai (II/6) Pakutatan – Soka (II/6) Negara – Pakutatan (II/6) Gilimanuk – Negara (III/6) 5. 2. 5. 3. Serangan – Tanjung Benoa (I/6) Serangan-Tohpati (I/6) Canggu – Beringit – Batuan – Purnama (I/6) Kuta-Bandar Udara Ngurah Rai (II/6) Kuta-Denpasar-Tohpati (II/6) PULAU SULAWESI 1. 4. lita a . Pantoloan – Palu (II/6) 12. Jatiasih – Cikarang Kerawang (II/6) – PULAU BALI 1. Amurang – Kaiya (III/6) 13. Isimu – Marisa (III/6) . g 1. 2. 6. 8. 3. 2. 4. Atingola – Isimu (III/6) 14.or s g Ujung Pandang I (I/5) Makasar Seksi IV (I/6) 10. No 48 84 ANTAR KOTA DALAM KOTA 27.legalitas.www. 4. 6. 5.

Palopo – Pare Pare ((III/6) 22. Sei Puyuh – Pontianak (II/6) 6.or s g 3. Molosipat – Kasimbar (III/6) 17. ww Sp Penajam-Balikpapan (I/6) le w. Pontianak – Tayan (II/6) 7. Marabahan – Banjarmasin (III/6) 12. Pelaihari – Pagatan (III/6) 14. Tindantana – Palopo (III/6) 21. Kuala Kapuas –Banjarmasin (III/6) 11. Kasimbar – Tobali (III/6) 18.legalitas.www. g lita a . Kairagi – Mapanget (III/6) 24. Tobali – Pantoloan (III/6) 25. No 48 ANTAR KOTA 15. Tobali – Poso (III/6) 19. Liang Anggang –Pelaihari (II/6) 8. Pare Pare – Pangkajene (III/6) 23.org 85 2008. Pagatan – Batulicin (III/6) . Maros – Watampone (III/6) PULAU KALIMANTAN DALAM KOTA 1. Liang Anggang – Martapura (III/6) 13. Marisa – Molosipat (III/6) 16. Banjarmasin-Liang Anggang (I/6) 2. Samarinda-Tenggarong (I/6) 5. Mempawah – Sei Puyuh (III/6) 10. Singkawang – Mempawah (III/6) 9. Balikpapan-Samarinda (I/6) 4. Poso – Tindantana (III/6) 20.

Samarinda – Bontang (III/6) 18.or s g . Batulicin – Tanah Grogot (Kuaro) (III/6) 16.org 2008. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO le w. DR.legalitas. No 48 86 ANTAR KOTA 15.www. g lita a . Bontang -Sangata (III/6) DALAM KOTA Keterangan: I – IV : Tahapan Pengembangan 5 6 : Pemantapan jaringan jalan Bebas Hambatan : Pengembangan Jaringan Jalan Bebas Hambatan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Tanah Grogot – Penajam (III/6) 17. ww H.

Sabang (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) (I/2) Belawan (Provinsi Sumatera Utara) (I/1) Sibolga (Provinsi Sumatera Utara) (II/4) Teluk Bayur (Provinsi Sumatera Barat) (I/1) Dumai (Provinsi Riau) (I/2) g or . Pontianak (Provinsi Kalimantan Barat) (I/1) 16. Makassar (Provinsi Sulawesi Selatan) (I/1) 22. PELABUHAN INTERNASIONAL 1. Arjuna (Provinsi Jawa Barat) (II/1) 11. Ambon (Provinsi Maluku) (I/2) . 3.www. Benoa (Provinsi Bali) (I/2) 15. Tanjung Intan (Provinsi Jawa Tengah) (I/1) 13. 5. 8. 2. 9. 6. Tarakan (Provinsi Kalimantan Timur) (I/1) 19. Tenau (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (I/1) 23. Tanjung Emas (Provinsi Jawa Tengah) (I/1) 12. Tanjung Api-Api – dalam satu sistem dengan Pelabuhan Palembang as t (Sumatera Selatan) (I/1) ali g Panjang (Provinsi Lampung) (I/1) . Tanjung Perak (Provinsi Jawa Timur) (I/1) 14. Balikpapan (Provinsi Kalimantan Timur) (I/1) 18. Banjarmasin (Provinsi Kalimantan Selatan) (I/1) 17. Bitung (Provinsi Sulawesi Utara) (I/2) 20.org 87 2008.l e ww Tanjungpriok – DKI Jakarta (dalam satu sistem dengan Bojonegara w Batam (Provinsi Kepulauan Riau) (I/1) Provinsi (Banten) (I/1) 10. No 48 LAMPIRAN IV PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 26 TAHUN 2008 TANGGAL : 10 MARET 2008 TANGGAL : PELABUHAN SEBAGAI SIMPUL TRANSPORTASI LAUT NASIONAL I. Pantoloan (Provinsi Sulawesi Tengah) (I/1) 21. 7. 4.legalitas.

legalitas. No 48 88 24.org 2008. Nunukan (Provinsi Kalimantan Timur) (I/3) 26. Sorong (Provinsi Papua Barat) (I/2) 25. 13. 3. Tanjung Sangata (Provinsi Kalimantan Timur) (I/3) 28.l e Dabo – Singkep (Provinsi Kepulauan Riau) (III/3) ww w Ranai (Provinsi Kepulauan Riau) (I/3) 16. Tanjung Redep (Provinsi Kalimantan Timur) (I/3) . Moro Sulit (Provinsi Kepulauan Riau) (III/3) 17. 6. Pulau Baai (Provinsi Bengkulu) (III/3) 20. 2. Batulicin (Provinsi Kalimantan Selatan) (II/3) 25. 12. Tembilahan (Provinsi Riau) (I/3) g or (III/3) .www. Samarinda (Provinsi Kalimantan Timur) (I/3) 27. Kumai (Provinsi Kalimantan Tengah) (I/3) 24. 14. Pomako (Provinsi Papua) (I/1) II. 11. Merak (Provinsi Banten) (I/4) 21. Tanjung Balai Karimun (Provinsi Kepulauan Riau) as(III/3) t Tanjung Pinang (Provinsi Kepulauan Riau) ali g Pulau Sambu (Provinsi Kepulauan Riau) (III/3) . PELABUHAN NASIONAL 1. Ketapang (Provinsi Kalimantan Barat) (II/3) 23. 9. 5. 4. 7. 8. Tanjung Pandan (Provinsi Bangka Belitung) (I/3) 19. Lhokseumawe (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) (I/3) Meulaboh (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) (I/4) Tanjung Balai Asahan (Provinsi Sumatera Utara) (I/3) Perawang (Provinsi Riau) (I/3) Sungai Pakning (Provinsi Riau) (III/3) Kuala Enok (Provinsi Riau) (III/3) Tanjung Kedabu (Provinsi Riau) (III/3) Buatan (Provinsi Riau) (III/3) Pulau Kijang (Provinsi Riau) (III/3) 10. Kuala Tungkal (Provinsi Jambi) (I/3) 18. 15. Gresik (Provinsi Jawa Timur) (III/3) 22.

g lita a . Gorontalo (Provinsi Gorontalo) (I/3) 33. Donggala (Provinsi Sulawesi Tengah) (I/3) 34.legalitas. Toli-toli (Provinsi Sulawesi Tengah) (II/3) 35.or s g DR. Kaimana (Provinsi Papua Barat) (I/3) 47. Tanjung Selor (Provinsi Kalimantan Timur) (II/3) 31. No 48 29. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO . Belang-Belang (Provinsi Sulawesi Barat) (II/3) 37. Pasir/Tanah Grogot (Provinsi Kalimantan Timur) (II/3) 30. Labuhan Lombok (Provinsi Nusa Tenggara Barat) (I/3) 40. Ternate (Provinsi Maluku Utara) (I/4) 43. Dobo (Provinsi Maluku) (I/3) 45. Maumere (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (I/3) 41. Bima (Provinsi Nusa Tenggara Barat) (I/3) 39. ww le w.www. Manokwari (Provinsi Papua Barat) (I/3) 48. Saumlaki (Provinsi Maluku) (I/3) 46. Biak (Provinsi Papua) (I/4) 49.org 89 2008. Labuha (Provinsi Maluku Utara) (I/3) 44. Jayapura (Provinsi Papua) (I/4) 50. Tanjung Santan (Provinsi Kalimantan Timur) (II/3) 32. Waingapu (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (I/3) 42. Merauke (Provinsi Papua) (I/4) Keterangan: I – IV : Tahapan Pengembangan 1 2 3 4 : Pemantapan Pelabuhan Internasional : Pengembangan Pelabuhan Internasional : Pemantapan Pelabuhan Nasional : Pengembangan Pelabuhan Nasional PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Parepare (Provinsi Sulawesi Selatan) (II/3) 36. H. Lembar (Provinsi Nusa Tenggara Barat) (I/3) 38.

Selaparang/Praya (Provinsi Nusa Tenggara Barat) (I/4) 8. Mutiara (Provinsi Sulawesi Tengah) (I/3) lita a . Ngurah Rai (Provinsi Bali) (I/1) 6. Samarinda Baru (Provinsi Kalimantan Timur) (III/4) 12. Minangkabau (Provinsi Sumatera Barat) (I/3) 3. Ahmad Yani (Provinsi Jawa Tengah) (I/3) 7.org 2008. Hang Nadim (Provinsi Kepulauan Riau) (I/1) 3. Juanda (Provinsi Jawa Timur) (I/1) 5. Syamsuddin Noor (Provinsi Kalimantan Selatan) (I/3) 11. Sepinggan (Provinsi Kalimantan Timur) (I/1) II. No 48 90 LAMPIRAN V PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 26 TAHUN 2008 TANGGAL : 10 MARET 2008 BANDAR UDARA SEBAGAI SIMPUL TRANSPORTASI UDARA NASIONAL I. Adisutjipto (Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta) – dalam satu sistem dengan Adi Sumarno (Jawa Tengah) (I/3) 2. SM Badaruddin II (Provinsi Sumatera Selatan) (I/4) 5.or s g . Sultan Syarif Kasim II (Provinsi Riau) (I/4) 4. Soekarno-Hatta (Provinsi Banten) (I/1) 4. Sam Ratulangi (Provinsi Sulawesi Utara) ww w 7. Supadio (Provinsi Kalimantan Barat) (I/3) 10. Djalaludin (Provinsi Gorontalo) (I/3) 13. Majalengka (Provinsi Jawa Barat) (I/3) 6. PUSAT PENYEBARAN SEKUNDER g . Hasanuddin (Provinsi Sulawesi Selatan) (I/2) 1.www. PUSAT PENYEBARAN PRIMER 1. Eltari (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (I/3) 9. Kuala Namu (Provinsi Sumatera Utara) (I/2) 2.le (I/1) 8.legalitas.

PUSAT PENYEBARAN TERSIER 1. Wolter Monginsidi (Provinsi Sulawesi Tenggara) (II/3) 15. Pinang Kampai (Provinsi Riau) (I/5) 6.www. Husein Sastra Negara (Provinsi Jawa Barat) (I/6) 11. Iskandar (Provinsi Kalimantan Tengah) (I/5) 24. Ranai (Provinsi Kepulauan Riau) (I/5) 4. Kijang (Provinsi Kepulauan Riau) (IV/5) 5. Haliwen (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (IV/5) 18. Juwata (Provinsi Kalimantan Timur) (IV/6) 26.org 91 2008. Sultan Iskandar Muda (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) (III/5) 2. HS Hanandjoeddin (Provinsi Bangka Belitung) (I/5) 9. Cilik Riwut (Provinsi Kalimantan Tengah) (I/5) 23. Stagen (Provinsi Kalimantan Selatan) (III/5) 25.legalitas. Kalimarau-Berau (Provinsi Kalimantan Timur) (I/5) 27. Depati Amir (Provinsi Bangka Belitung) (I/5) 10. Sultan Thaha (Provinsi Jambi) (I/5) 7. Abdulrachman Saleh (Provinsi Jawa Timur) (IV/E/5) 13. Nunukan (Provinsi Kalimantan Timur) (I/5) ww le w. Aroeboesman (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (I/5) 16. Rahadi Usman (Provinsi Kalimantan Barat) (I/5) 22. g lita a . Mau Hau (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (I/5) 17. Wai Oti (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (IV/5) 15. Mopah (Provinsi Papua) (I/3) III. M. No 48 14. Sentani (Provinsi Papua) (I/3) 16. Radin Inten II (Provinsi Lampung) (I/5) 3. Susilo (Provinsi Kalimantan Barat) (I/5) 21. Salahuddin (Provinsi Nusa Tenggara Barat) (IV/5) 14. Fatmawati (Provinsi Bengkulu) (III/5) 8. Cakrabhuwana (Provinsi Jawa Barat) (IV/5) 12. Paloh (Provinsi Kalimantan Barat) (I/5) 19. Pangsuma (Provinsi Kalimantan Barat) (I/5) 20.or s g . H.

DR. Rendani (Provinsi Papua Barat) (I/5) 38. Nabire (Provinsi Papua) (II/5) 41. Frank Kaisepo (Provinsi Papua) (I/5) 39. Wamena (Provinsi Papua) (II/5) 40. Olilit/Saumlaki Baru (Provinsi Maluku) (IV/6) 34. Bubung (Provinsi Sulawesi Tengah) (III/5) 32.legalitas. Melonguane (Provinsi Sulawesi Utara) (III/5) 31.or s g PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.org 2008.www. Waisai (Provinsi Papua Barat) (IV/6) 36. Pattimura (Provinsi Maluku) (I/5) 33. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO . Tampa Padang (Provinsi Sulawesi Barat) (IV/5) 30. Bontang (Provinsi Kalimantan Timur) (I/5) 29. g lita a . Timika (Provinsi Papua) (I/5) Keterangan: I – IV : Tahapan Pengembangan 1 2 3 4 5 6 : Pemantapan Bandar Udara Primer : Pengembangan Bandar Udara Primer : Pemantapan Bandar Udara Sekunder : Pengembangan Bandar Udara Sekunder : Pemantapan Bandar Udara Tersier : Pengembangan Bandar Udara Tersier ww le w. Sultan Babullah (Provinsi Maluku Utara) (I/5) 35. No 48 92 28. Domine Eduard Osok (Provinsi Papua Barat) (I/5) 37.

Batang Angkola – Sumatera Utara Batang Gadis (I-IV/A/1) Batang Natal – Batang Batahan (I-IV/A/1) Sumatera Utara – Sumatera Barat Riau – Sumatera Barat Riau Riau – Sumatera Barat Riau – Sumatera Barat 10.or s g Strategis Nasional Strategis Nasional 6. 2.org 93 2008. Rokan (I-IV/A/1) 11. Kampar (I-IV/A/1) 13. 3. Indragiri (I-IV/A/1) .www. Toba – Asahan (IIV/A/1) 8. g lita a . Meureudu – Baro (IIV/A/1) Jambo Aye (I-IV/A/1) Woyla – Seunagan (IIV/A/1) PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam Nanggroe Aceh Darussalam Nanggroe Aceh Darussalam Nanggroe Aceh Darussalam KETERANGAN Strategis Nasional Strategis Nasional 4. Alas – Singkil (I-IV/A/1) Nanggroe Aceh Lintas Provinsi Darussalam dan Sumatera Utara ww le w. Siak (I-IV/A/1) 12. 9. Belawan – Ular – Padang (I-IV/A/1) Sumatera Utara Sumatera Utara Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis Nasional Lintas Provinsi Lintas Provinsi Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis 7. Tripa – Bateue (IIV/A/1) 5. No 48 LAMPIRAN VI PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 26 TAHUN 2008 TANGGAL : 10 MARET 2008 WILAYAH SUNGAI (WS) NO WILAYAH SUNGAI (WS) 1.legalitas.

Teramang – Ipuh (IIV/A/1) Lampung Bengkulu – Jambi leg lita a . Cidanau – Ciujung – Banten – DKI Jakarta – Cidurian – Cisadane – Jawa Barat Ciliwung – Citarum .(IIV/A/1) 27. Kepulauan Seribu (IIV/A/1) DKI Jakarta – Banten 26. Banyuasin (I-IV/A/1) Jambi – Sumatera Barat Sumatera Selatan Sumatera Selatan – Bengkulu – Lampung Sumatera Selatan w. Reteh (I-IV/A/1) 15.www. Pulau Batam – Pulau Bintan (I-IV/A/1) Riau Kepulauan Riau Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis Nasional Lintas Provinsi Strategis Nasional 16.or s g Lintas Provinsi Strategis Nasional Lintas Provinsi Strategis Nasional Lintas Provinsi Lintas Provinsi Lintas Provinsi Lintas Provinsi 24.Bengkulu – Lampung IV/A/1) 25. Way Seputih – Way Sekampung (I-IV/A/1) 23.legalitas. Nasal – Padang Guci (I. Mesuji – Tulang Bawang Lampung ww (I-IV/A/1) Selatan 22. Citanduy (I/A/3) Jawa Barat – Jawa Tengah Lintas Provinsi . Batanghari (I-IV/A/1) 18. No 48 94 NO WILAYAH SUNGAI (WS) PROVINSI KETERANGAN Nasional 14.org 2008. Musi (I-IV/A/1) 20. Sugihan (I-IV/A/1) 19. – Sumatera 21. Anai – Kuranji – Arau – Sumatera Barat Mangau – Antokan (IIV/A/1) 17.

Brantas (I-IV/A/1) 35. Aesesa (I-IV/A/1) 38.or Tengah ta s ali g Jawa Timur . Jelai – Kendawangan (I.org 95 2008. Benanain (I-IV/A/1) 39. Cimanuk – Cisanggarung (IIV/A/1) 29. Jratunseluna (I-IV/A/1) Jawa Tengah 31. Noel – Mina (I-IV/A/1) 40. Pemali – Comal (IIV/A/1) Jawa Barat Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis Nasional Jawa Tengah 30.Kalimantan Barat – . Pawan (I-IV/A/1) Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur – Timor Leste Nusa Tenggara Timur – Timor Leste Kalimantan Barat Kalimantan Barat 42. Kapuas (I-IV/A/1) 41. Pulau Lombok (IIV/A/1) 37. Bali – Penida (I-IV/A/1) Bali Jawa Timur – Jawa . Serayu – Bogowonto (I. Bengawan Solo (IIV/A/1) 34.www.l e ww w Daerah Istimewa Lintas Provinsi Yogyakarta – Jawa Tengah g Lintas Provinsi Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis Nasional Lintas Negara Lintas Negara Strategis Nasional Strategis Nasional Lintas Provinsi 36. No 48 NO WILAYAH SUNGAI (WS) PROVINSI KETERANGAN 28. Progo – Opak – Serang (I-IV/A/1) 33.Jawa Tengah IV/A/1) 32.legalitas.

Sesayap (I-IV/A/1) 47. Dumoga – Sangkup (I. No 48 96 NO WILAYAH SUNGAI (WS) IV/A/1) 43.legalitas. Parigi – Poso (I-IV/A/1) Sulawesi Tengah 56. Limboto – Bulango – Bone (I-IV/A/1) 52. Seruyan (I-IV/A/1) 44. Mahakam (I-IV/A/1) 48. Utara – 50. Laa – Tambalako (IIV/A/1) 57. Tondano – Likupang (I. Palu – Lariang (IIV/A/1) Gorontalo – Sulawesi Utara Gorontalo Gorontalo – Sulawesi Tengah Sulawesi Tengah – Sulawesi Selatan leg lita a . Kahayan (I-IV/A/1) 45. Sangihe – Talaud (IIV/A/1) PROVINSI Kalimantan Tengah Kalimantan Tengah Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan – Kalimantan Tengah Kalimantan Timur – Serawak. Barito – Kapuas (IIV/A/1) 46.Sulawesi Utara IV/A/1) w.org 2008. Randangan (I-IV/A/1) 54. Kaluku – Karama (IIV/A/1) Sulawesi Tengah Sulawesi Barat – Sulawesi Lintas Provinsi Tengah . Malaysia Kalimantan Timur Sulawesi Utara KETERANGAN Strategis Nasional Strategis Nasional Lintas Provinsi Lintas Negara Strategis Nasional 49.or s g Strategis Nasional Strategis Nasional Lintas Provinsi Lintas Provinsi Strategis Nasional Lintas Provinsi Lintas Provinsi Strategis Nasional Strategis Nasional 55.www.Sulawesi ww IV/A/1) Gorontalo 51. Paguyaman (I-IV/A/1) 53.

Walanae – Cenranae (I.Sulawesi Selatan IV/A/1) 61. Jeneberang (I-IV/A/1) 62. Kepulauan Kei – Aru (I. Pulau Buru (I-IV/A/1) Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara – Sulawesi Selatan – Sulawesi Tengah Maluku le 64.Maluku IV/A/1) 66.Sulawesi Selatan – IV/A/1) Sulawesi Tengah – Sulawesi Tenggara 59. Sadang (I-IV/A/1) Sulawesi Selatan – Sulawesi Barat Lintas Provinsi Lintas Provinsi Strategis Nasional Strategis Nasional Lintas Provinsi 60. No 48 NO WILAYAH SUNGAI (WS) PROVINSI KETERANGAN 58. (I-IV/A/1) ww 65.www. Pulau Ambon – Seram Maluku w. Omba (I-IV/A/1) 68.legalitas. Einlanden – Digul – Bikuma (I-IV/A/1) Maluku Papua Papua g lita a . Mamberamo – Tami – Apauvar (I-IV/A/1) 69. Pompengan – Lorena (I. Lasolo – Sampara (IIV/A/1) 63. Kepulauan Yamdena – Wetar (I-IV/A/1) 67.org 97 2008.or s g Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis Nasional Strategis Nasional Lintas Negara Lintas Negara Papua – Papua New Guinea .

or s g .org 2008. Pendayagunaan SDA. H. No 48 98 Keterangan: I – IV : Tahapan Pengembangan A : Perwujudan Sistem Jaringan SDA A/1 : Konservasi Sumber Daya Air. dan Pengendalian Daya Rusak Air PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO ww le w. DR. g lita a .www.legalitas.

g lita a . No 48 ww le w.org 99 2008.or s g .legalitas.www.

12. g lita a g Nusa or Tenggara Timur s. 8. KAWASAN LINDUNG Suaka Alam Laut Sambas (I/B/1) Suaka Alam Laut Pulau Sebatik (I/B/1) Suaka Alam Laut Sidat (II/B/1) Suaka Alam Laut Selat Lembeh-Bitung (I/B/1) Suaka Alam Laut Sawu (I/B/1) Suaka Alam Laut Kabupaten Kaimana (II/B/1) LOKASI Kalimantan Barat Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Utara Suaka Margasatwa Rawa Singkil (I/B/2) Nanggroe Aceh Darussalam ww Suaka Margasatwa Karangkading Dan Langkat Timur Laut (II/B/2) Suaka Margasatwa Barumun (I/B/2) Suaka Margasatwa Siranggas (II/B/2) Suaka Margasatwa Dolok Surungan (II/B/2) le w. 6. 5. 4. Papua Barat Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Utara Suaka Margasatwa Pagai Selatan (II/B/2) Sumatera Barat Suaka Margasatwa Kerumutan (II/B/2) Suaka Margasatwa Pulau Besar/Danau Pulau Bawah (I/B/2) Riau Riau Suaka Margasatwa Bukit Rimbang-Bukit Riau Baling (III/B/2) Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil (II/B/2) Suaka Margasatwa Balai Raja (II/B/2) Riau Riau . 10.org 2008. 1. 3. 14. 9.legalitas. 13. 7. 15. 16.www. 2. No 48 100 LAMPIRAN VIII PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 26 TAHUN 2008 TANGGAL : 10 MARET 2008 KAWASAN LINDUNG NASIONAL NO. 17. 11.

24. No 48 NO. 25. 31. 20. KAWASAN LINDUNG Suaka Margasatwa Tasik Besar-Tasik Metas (II/B/2) Suaka Margasatwa Tasik Serkap-Tasik Sarang Burung (II/B/2) Suaka Margasatwa Pusat Pelatihan Gajah (II/B/2) Suaka Margasatwa Tasik Tanjung Padang (II/B/2) Suaka Margasatwa Tasik Belat (II/B/2) Suaka Margasatwa Bukit Batu (II/B/2) Suaka Margasatwa Gumai Pasemah (II/B/2) Riau Riau Riau Riau Riau Riau LOKASI Sumatera Selatan g or . 18. 28.legalitas.www. 21. 36. 26. 23.l (I/B/2) Sumatera Selatan ww Suaka Margasatwa Dangku (II/B/2) Sumatera Selatan w Suaka Margasatwa Padang Sugihan (II/B/2) Suaka Margasatwa Cikepuh (II/B/2) Suaka Margasatwa Gunung Sawal (II/B/2) Sumatera Selatan Jawa Barat Jawa Barat Suaka Margasatwa Gunung Raya (I/B/2) Sumatera Selatan Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang Jawa Timur (I/B/2) Suaka Margasatwa Pulau Bawean (I/B/2) Suaka Margasatwa Sungai Lamandau (I/B/2) Suaka Margasatwa Pleihari Martapura (I/B/2) Jawa Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Suaka Margasatwa Kuala Lupak (II/B/2) Kalimantan Selatan Suaka Margasatwa Perhatu (III/B/2) Nusa Tenggara Timur . 30. 33. 34. 35. Suaka Margasatwa Isau-Isau Pasemah s Sumatera Selatan a t (II/B/2) ali g Suaka Margasatwa Bentayan e . 19. 37. 29.org 101 2008. 27. 32. 22.

49. 58. 47. 44. 59. 42. KAWASAN LINDUNG Suaka Margasatwa Kateri (III/B/2) Suaka Margasatwa Harlu (III/B/2) Suaka Margasatwa Ale Asisio (II/B/2) Suaka Margasatwa Tambora Selatan (I/B/2) LOKASI Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Suaka Margasatwa Gunung Manembo . 41.legalitas. 39.www. g lita a g Sulawesi Tenggara or s. 46.Sulawesi Utara Nembo (II/B/2) Suaka Margasatwa Karakelang Utara & Sulawesi Utara Selatan (I/B/2) Suaka Margasatwa Buton Utara (II/B/2) Sulawesi Tenggara Suaka Margasatwa Tanjung Batikolo (II/B/2) Suaka Margasatwa Tanjung Peropa (II/B/2) Sulawesi Tenggara Suaka Margasatwa Lambusango (III/B/2) Sulawesi Tenggara Suaka Margasatwa Tanjung Santigi (I/B/2) Suaka Margasatwa Mampie Lampoko (II/B/2) Suaka Margasatwa Komara (II/B/2) Suaka Margasatwa Pati Pati (II/B/2) Suaka Margasatwa Lombuyan I/II (II/B/2) ww le w. 48. 40. 54. Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi Tengah Suaka Margasatwa Bangkiriang (II/B/2) Sulawesi Tengah Suaka Margasatwa Pinjan/Tanjung Matop (II/B/2) Suaka Margasatwa Nantu (II/B/2) Sulawesi Tengah Gorontalo Suaka Margasatwa Pulau Baun (II/B/2) Maluku Suaka Margasatwa Pulau Kobror (I/B/2) Maluku Suaka Margasatwa Tanimbar (I/B/2) Maluku Suaka Margasatwa Pulau Dolok (II/B/2) Papua Suaka Margasatwa Jayawijaya (II/B/2) Papua . No 48 102 NO. 56. 60. 55. 57. 52. 51. 38.org 2008. 43. 50. 45. 53.

KAWASAN LINDUNG Suaka Margasatwa Mamberamo Foja (II/B/2) Papua LOKASI Suaka Margasatwa Danau Bian (II/B/2) Papua Suaka Margasatwa Anggromeos (II/B/2) Papua Suaka Margasatwa Komolon (II/B/2) Suaka Margasatwa Tanjung Mubrani – Sidei – Wibain I – II (I/B/2) Suaka Margasatwa Pulau Venu (II/B/2) Suaka Margasatwa Laut Pulau Kassa (III/B/2) Papua Papua Barat Papua Barat Maluku Suaka Margasatwa Laut Kep. 73.legalitas. 67. 77. 75.org 103 2008. 79. 66. 62. 80. 70. 63. 81. 61. 82. 74. No 48 NO. 76.le (I/B/3) Cagar Alam Hutan Pinus Jhanto ww w Cagar Alam Dolok Sibual-Buali (II/A/3) Cagar Alam Dolok Sipirok (I/A/3) Cagar Alam Lubuk Raya (II/B/3) Cagar Alam Sei Ledong (II/B/3) lita a g Papua or Barat s. 64. 71. 65.www. Raja Ampat Papua Barat (I/B/2) Suaka Margasatwa Laut Pulau Sabuda Tataruga (II/B/2) Suaka Margasatwa Laut Kepulauan Panjang (II/B/2) g . Papua Barat Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Utara Cagar Alam Rimbo Panti Reg. 69. 75 (II/B/3) Sumatera Barat Cagar Alam Lembah Anai (I/B/3) Cagar Alam Batang Pangean I (II/B/3) Cagar Alam Batang Pangean II Reg. 72. 49 (III/B/3) Cagar Alam Arau Hilir (II/B/3) Cagar Alam Melampah Alahan Panjang (I/B/3) Cagar Alam Gunung Sago (II/B/3) Sumatera Barat Sumatera Barat Sumatera Barat Sumatera Barat Sumatera Barat Sumatera Barat . 68. 78.

org 2008. 105. Cagar Alam G.le Tes Reg. 104. Mangkol. 90. Permisan.www.legalitas. 87. 98. Bangka Belitung Maras. KAWASAN LINDUNG LOKASI Cagar Alam Maninjau Utara Dan Selatan Sumatera Barat (II/B/3) Cagar Alam Gunung Singgalang Tandikat Sumatera Barat (I/B/3) Cagar Alam Gunung Merapi (I/B/3) Cagar Alam Air Putih (III/B/3) Cagar Alam Barisan I (II/B/3) Cagar Alam Air Terusan (II/B/3) Cagar Alam Bukit Bungkuk (I/B/3) Cagar Alam Kel. 83. 101. 95. 103. 89. 96. Jening Mendayung (I/B/3) Cagar Alam Rawa Danau (II/B/3) Cagar Alam Gunung Tukung Gede (I/B/3) Banten Banten 97. G. 91. 100. 86. Menumbing. 85. No 48 104 NO. 93. 99. G. 92. Bengkulu Cagar Alam Teluk Klowe Reg.Tangkuban Perahu (I/A/3) Jawa Barat Cagar Alam Leuweung Sancang (II/B/3) Jawa Barat Cagar Alam Gunung Tilu (II/B/3) Jawa Barat Cagar Alam Gunung Papandayan (I/B/3) Jawa Barat Cagar Alam Gunung Burangrang (I/B/3) Jawa Barat Cagar Alam Kawah Kamojang (II/B/3) Cagar Alam Gunung Simpang (II/B/3) Jawa Barat Jawa Barat . G. G. Hutan Bakau Pantai Timur (I/A/3) Cagar Alam Cempaka (II/B/3) Cagar Alam Sungai Batara (III/B/3) Sumatera Barat Sumatera Barat Sumatera Barat Sumatera Barat Riau Jambi Jambi Cagar Alam Danau Dusun Besar Reg. 84. 88. 96 (III/B/3) Bengkulu Cagar Alam G. 102. Cagar Alam Air Ketebat Danau ww 57 (II/B/3) w lita a g Jambi or s. 94. Lalang. 61 Bengkulu (III/B/3) g .

120. 119. 125. 118. 189) (II/B/3) Nusa Tenggara Timur Cagar Alam Way Wuul/Mburak (II/B/3) Nusa Tenggara Timur Cagar Alam Watu Ata (II/B/3) Cagar Alam Wolo Tadho (II/B/3) Cagar Alam Tambora (I/A/3) Cagar Alam Gunung Mutis (II/B/3) Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur g or Tenggara Barat Cagar Alam Toffo Kota Lambu (II/A/3) s.legalitas. 121. 124. 115. Nusa l ta Nusa Tenggara Barat Cagar Alam Pulau Sangiang (I/A/3)i ga le Nusa Tenggara Barat Cagar Alam Gunung Tambora Selatan w. 131. KAWASAN LINDUNG Cagar Alam Gunung Celering (I/B/3) LOKASI Jawa Tengah Cagar Alam Pulau Nusa Barong (II/B/3) Jawa Timur Cagar Alam Kawah Ijen Merapi UngupUngup (II/B/3) Cagar Alam Batu Kahu I/II/III (I/B/3) Cagar Alam Riung (II/B/3) Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Timur Cagar Alam Maubesi (RTK.org 105 2008. 129. 111. (I/B/3) ww Cagar Alam Pulau Panjang (II/B/3) Nusa Tenggara Barat Cagar Alam Jereweh (Sekongkang) (II/B/3) Cagar Alam Mandor (II/B/3) Cagar Alam Gunung Raya Pasi (I/B/3) Cagar Alam Muara Kendawangan (II/B/3) Cagar Alam Niyut-Penrissen (I/B/3) Kalimantan Barat Kalimantan Barat Kalimantan Barat Kalimantan Barat Nusa Tenggara Barat Cagar Alam Bukit Sapat Hawung (II/B/3) Kalimatan Tengah Cagar Alam Bukit Tangkiling (II/B/3) Cagar Alam Pararawen I/II (I/B/3) Cagar Alam Muara Kaman Sedulang (II/B/3) Cagar Alam Padang Luwai (II/B/3) Cagar Alam Teluk Apar (I/B/3) Kalimatan Tengah Kalimatan Tengah Kalimantan Timur Kalimantan Timur Kalimantan Timur . 106. 113. 126. 107. 117. 127. 108. 128. 112. No 48 NO.www. 109. 116. 122. 123. 114. 110. 130.

KAWASAN LINDUNG Cagar Alam Teluk Adang (I/B/3) Cagar Alam Teluk Kelumpang. 138. 149. 132. 140.org 2008. 139. No 48 106 NO.www. 148.legalitas. Selat Sebuku (I/B/3) Cagar Alam Teluk Pamukan (II/B/3) Cagar Alam Sungai Lulan Dan Sungai Bulan (I/B/3) Cagar Alam Gunung Ambang (I/B/3) Cagar Alam Dua Saudara (II/B/3) Cagar Alam Tangkoko Batuangus (II/B/3) Cagar Alam Morowali (I/B/3) Cagar Alam Pangi Binangga (II/B/3) Cagar Alam Pamona (II/B/3) LOKASI Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Kalimantan Selatan Kalimantan Selatan Sulawesi Utara Sulawesi Utara Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Tengah Sulawesi Tengah g or Cagar Alam Gunung Tinombala (I/B/3) . 147. 142. 141. 155. 159. 144. 154. Sulawesi Tengah tas Sulawesi Tengah Cagar Alam Gunung Sojol (II/B/3) li ga Cagar Alam Gunung Dako (II/B/3) Sulawesi Tengah le w. 150. 157. 146. 136. 156. 135. 151. 134. 133. 158. 143. 137. 152. 145. 153. Cagar Alam Tanjung Api (II/B/3) Sulawesi Tengah ww (II/B/3) Cagar Alam Faruhumpenai Sulawesi Selatan Cagar Alam Kalaena (II/B/3) Cagar Alam Tanjung Api (II/B/3) Cagar Alam Panua (II/B/3) Cagar Alam Tanjung Panjang (II/B/3) Cagar Alam Pulau Nustaram (II/B/3) Cagar Alam Pulau Nuswotar (II/B/3) Cagar Alam Masbait (II/B/3) Cagar Alam Daab (II/B/3) Cagar Alam Pulau Larat (I/B/3) Cagar Alam Bekau Huhun (II/B/3) Cagar Alam Tafermaar (II/B/3) Cagar Alam Gunung Sahuwai (II/B/3) Cagar Alam Masarete (II/B/3) Sulawesi Selatan Sulawesi Selatan Gorontalo Gorontalo Maluku Maluku Maluku Maluku Maluku Maluku Maluku Maluku Maluku . Selat Laut.

164. 177. 160.or s g Papua Barat Papua Barat Papua Barat Papua Barat Papua Barat Papua Barat Papua Barat Cagar Alam Pegunungan Yapen Tengah (II/B/3) Cagar Alam Pulau Waigeo Timur (I/B/3) Papua Barat Cagar Alam Pulau Misool (II/B/3) Cagar Alam Pulau Kofiau (II/B/3) Cagar Alam Pegunungan Wayland (II/B/3) Cagar Alam Teluk Bintuni (I/B/3) Papua Barat Papua Barat Papua Barat Papua Barat Cagar Alam Pegunungan Fak Fak (I/B/3) Papua Barat Cagar Alam Pegunungan Kumawa (II/B/3) Cagar Alam Tamrau Utara (II/B/3) Papua Barat Papua Barat . 176. 182. 170.org 107 2008. No 48 NO. 179. 174. 168. 186. 169. 185.www. 166. 172. 173. Cagar Alam Tamrau Selatan (II/B/3) ww Cagar Alam Pulau Supriori (I/B/3) Cagar Alam Pegunungan Wondiboy (II/B/3) Cagar Alam Pegunungan Arfak (II/B/3) . KAWASAN LINDUNG Cagar Alam Tanjung Sial (II/B/3) Cagar Alam Tobalai (II/B/3) Cagar Alam Pulau Seho (II/B/3) Cagar Alam Gunung Sibela (II/B/3) Cagar Alam Lifamatola (II/B/3) Cagar Alam Pulau Obi (I/B/3) Cagar Alam Taliabu (II/B/3) Cagar Alam Cycloops (II/B/3) Cagar Alam Enarotali (II/B/3) Cagar Alam Bupul/Kumbe (II/B/3) Cagar Alam Pulau Waigeo Barat (I/B/3) Maluku LOKASI Maluku Utara Maluku Utara Maluku Utara Maluku Utara Maluku Utara Maluku Utara Papua Papua Papua Papua Barat Cagar Alam Pulau Batanta Barat (II/B/3) Papua Barat lita Cagar Alam Salawati Utara (II/B/3) ga le Cagar Alam Biak Utara (I/A/3) w. 171. 161. 175. 178. 163. 180.legalitas. 165. 167. 184. 162. 181. 183.

Anak Krakatau (I/A/3) Cagar Alam Laut Leuweung Sancang (II/B/3) Cagar Alam Laut Kepulauan Karimata (I/B/3) Cagar Alam Laut Kepulauan Aru Tenggara (I/B/3) Cagar Alam Laut Banda (I/B/3) LOKASI Papua Barat Papua Barat Lampung Jawa Barat Kalimantan Barat Maluku Maluku Cagar Alam Laut Pantai Sansafor (II/B/3) Papua Cagar Alam Geologi Karangsembung (II/B/3) Taman Nasional Gunung Leuser (I/A/4) 197. 206. 198. 199. 201.legalitas. 190. 202. Nanggroe Aceh Darussalam. KAWASAN LINDUNG Cagar Alam Tanjung Wiay (II/B/3) Cagar Alam Wagura Kote (II/B/3) Cagar Alam Laut P. Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (I/A/4) Riau-Jambi Taman Nasional Bukit Dua Belas (I/A/4) Jambi Taman Nasional Berbak (I/A/4) Taman Nasional Kerinci Seblat (I/A/4) Jambi Jambi. g lita a g Jawa or Tengah s. 192. Sumatera Barat Lampung & Bengkulu Lampung Lampung Sumatera Selatan 204. Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (I/A/4) Taman Nasional Way Kambas (I/A/4) Taman Nasional Bukit Barisan (I/B/4) Taman Nasional Sembilang (II/A/4) .www. Taman Nasional Batang Gadis (II/A/4) Taman Nasional Siberut (II/A/4) Taman Nasional Teso Nilo (I/A/4) ww le w. 187. 207. 188. Bengkulu. 189. Sumatera Selatan. No 48 108 NO. 191. 194. 205. 196. 203. 193. 200.org 2008. 195.

227. 226. 224. 229. 218. 214. 230. 223. 222.www. 225. 212.org 109 2008. ww Taman Nasional Gunung Rinjani (I/A/4) Nusa Tenggara Barat Taman Nasional Kelimutu (I/A/4) Taman Nasional Laiwangi –Wanggameti (II/A/4) Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur . 209. 213. 210. 217. 219.or s Jawa Timur g Taman Nasional Manupeu – Tanah Daru Nusa Tenggara Timur (II/A/4) Taman Nasional Komodo (I/A/4) Nusa Tenggara Timur Taman Nasional Betung Kerihun (I/A/4) Kalimantan Barat Taman Nasional Danau Sentarum (I/A/4) Kalimantan Barat Taman Nasional Gunung Palung (II/A/4) Kalimantan Barat Taman Nasional Bukit Baka – Bukit Raya Kalimantan Barat – (I/A/4) Kalimantan Tengah Taman Nasional Tanjung Puting (I/A/4) Taman Nasional Sebangau (I/A/4) Kalimantan Tengah Kalimantan Tengah . 208. KAWASAN LINDUNG Taman Nasional Gunung Gede – Pangrango (I/A/4) LOKASI Jawa Barat Taman Nasional Halimun – Salak (I/A/4) Jawa Barat Taman Nasional Gunung Ciremai (I/A/4) Jawa Barat Taman Nasional Halimun – Salak (I/A/4) Banten Taman Nasional Ujung Kulon (I/A/4) Banten Taman Nasional Gunung Merapi (I/A/4) Daerah Istimewa Yogyakarta. 211. 220. No 48 NO. 228. Jawa Tengah Taman Nasional Gunung Merbabu (I/A/4) Taman Nasional Alas Purwo (I/A/4) Taman Nasional Baluran (II/A/4) Jawa Tengah Jawa Timur Taman Nasional Bromo Tengger-Semeru Jawa Timur (I/A/4) lita Jawa Timur Taman Nasional Meru Betiri (I/A/4) ga le Taman Nasional Bali Barat (I/A/4) Bali w. 216.legalitas. 215. 221.

250. 241. 243. g lita a g or s. Papua Papua Kepulauan Riau Taman Nasional Laut Teluk Cendrawasih Papua (I/A/4) . 235.legalitas. 249. 248. 238. 245. 247. 240. 236. 242. 237.www. 239. 244. KAWASAN LINDUNG Taman Nasional Kayan Mentarang (I/A/4) Taman Nasional Kutai (I/A/4) LOKASI Kalimantan Timur Kalimantan Timur Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Gorontalo (I/A/4) Taman Nasional Lore Lindu (I/A/4) Sulawesi Tengah Taman Nasional Rawa Aopa – Watumohai Sulawesi Tenggara (I/A/4) Taman Nasional Bantimurung – Bulusaraung (II/A/4) Taman Nasional Manusela (I/A/4) Taman Nasional Aketajawe – Lolobata (I/A/4) Taman Nasional Lorentz (I/A/4) Taman Nasional Wasur (I/A/4) Sulawesi Selatan Maluku Maluku Utara Taman Nasional Laut Anambas (II/B/4) Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu DKI Jakarta (I/A/4) Taman Nasional Laut Karimun Jawa (I/B/4) Taman Nasional Laut Komodo (I/A/4) Taman Nasional Laut Selat Pantar (II/A/4) Taman Nasional Laut Bunaken (I/A/4) Taman Nasional Laut Kepulauan Banngai (II/B/4) Taman Nasional Laut Kepulauan Wakatobi (I/A/4) Taman Nasional Laut Taka Bonerate (I/A/4) Jawa Tengah Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan ww le w. No 48 110 NO. 246.org 2008. 231. 233. 234. 232.

266. Hatta (II/B/5) Sumatera Barat Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim Riau (Minas) (II/B/5) Taman Hutan Raya Thaha Saifuddin (II/B/5) Taman Hutan Raya Raja Lelo (II/B/5) Jambi Bengkulu Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman Lampung (I/B/5) Taman Hutan Raya R. 255. Ir. 269. 267. 261. 260. 263. 257. Herman Yohannes (I/A/5) ww le w. 253. 265. 262. 264. 254.org 111 2008. No 48 NO. Suryo (I/B/5) Taman Hutan Raya Ngurah Rai (I/B/5) Taman Hutan Raya Nuraksa (I/A/5) Taman Hutan Raya Prof.legalitas. Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Taman Hutan Raya Sultan Adam (II/B/5) Kalimantan Selatan Taman Hutan Raya Bukit Suharto (I/B/6) Taman Hutan Raya Murhum (II/B/5) Taman Hutan Raya Palu (II/B/5) Taman Hutan Raya Poboya Paneki (III/B/5) Kalimantan Timur Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Tengah Taman Hutan Raya Bontobahari (II/B/5) Sulawesi Selatan Taman Wisata Alam Holiday Resort (I/B/6) Taman Wisata Alam Muka Kuning (Batam) (I/B/6) Taman Wisata Alam Sungai Dumai (I/A/6) Sumatera Utara Kepulauan Riau Riau . 270. 259. 251. 256. 252. g lita a g Jawa or Timur s.www. M. KAWASAN LINDUNG LOKASI Taman Hutan Raya Cut Nyak Dien (Pocut Nanggroe Aceh Meurah Intan) (II/B/5) Darussalam Taman Hutan Raya Bukit Barisan (I/B/5) Sumatera Utara Taman Hutan Raya Dr. 268. 258.

279. Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Barat Taman Wisata Alam Tuti Adagae (II/B/6) Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Taman Wisata Alam Pulau Besar (II/B/6) Nusa Tenggara Timur Taman Wisata Alam Menipo (II/B/6) Taman Wisata Alam Ruteng (I/B/6) Taman Wisata Alam Egon Illimedo (II/B/6) Taman Wisata Alam Belimbing (II/B/6) Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Taman Wisata Alam Asuansang (II/B/6) Kalimantan Barat Taman Wisata Alam Dungan (II/B/6) Taman Wisata Alam Gunung Melintang (I/B/6) Kalimantan Barat Kalimantan Barat . 287. 278. 288. 271. No 48 112 NO. 284.Rawa Taman Wisata Alam Danau ww Taliwang (II/B/6) Taman Wisata Alam Kemang Beleng (II/B/6) g Nusa or Tenggara Barat s. 274. 275. 272. 273. 276. 289. 280. 281. 286. 290.org 2008. 283. 285. KAWASAN LINDUNG Taman Wisata Alam Sungai Bengkal (II/B/6) Jambi LOKASI Taman Wisata Alam Bukit Kaba (II/B/6) Bengkulu Taman Wisata Alam Pantai Panjang Pulau Baai (I/B/6) Taman Wisata Alam Pulau Sangiang (I/A/6) Bengkulu Banten Taman Wisata Alam Gunung Tampomas Jawa Barat (I/B/6) Taman Wisata Alam Sangeh (I/B/6) Taman Wisata Alam Danau Buyan Dan Danau Tamblingan (I/B/6) Taman Wisata Alam Bangko Bangko (II/B/6) Bali Bali lita Taman Wisata Alam Tanjung Tanpa ga (II/B/6) le w.legalitas.www. 282. 277.

legalitas.www. 300. Siumat. 292. KAWASAN LINDUNG Taman Wisata Alam Bukit Kelam Komplek (II/B/6) Taman Wisata Alam Tanjung Keluang/Teluk Keluang (II/B/6) LOKASI Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Taman Wisata Alam Pleihari Tanah Laut Kalimantan Selatan (II/B/6) Taman Wisata Alam Bancea (II/B/6) Taman Wisata Alam Mangolo (II/B/6) Taman Wisata Alam Danau Matano & Mahalona (II/B/6) Taman Wisata Alam Danau Towuti (I/B/6) Taman Wisata Alam Malino (II/B/6) Taman Wisata Alam Cani Sirenrang (II/B/6) Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Sulawesi Selatan g . 291. 301. 308. 304.org 113 2008. 306. 305. Sulawesi Selatan Sulawesi Selatan Papua Barat Papua Barat Papua Nanggroe Aceh Darussalam Nanggroe Aceh Darussalam Taman Wisata Alam Klamono (III/B/6) Taman Wisata Alam Laut Pulau Weh (I/A/6) Taman Wisata Alam Laut Kepulauan Banyak (II/A/6) Taman Wisata Alam Laut Perairan Pulau Nanggroe Aceh Darussalam Pinang. 297. 303. No 48 NO. . dan Simanaha (Pisisi) (I/A/6) Taman Wisata Alam Laut Sabang (I/B/6) Nanggroe Aceh Darussalam Taman Wisata Alam Laut Enggano (II/B/6) Nanggroe Aceh Darussalam 307. 295. 294. 302. 298. 299. 293.l e Taman Wisata Alam Lejja w (II/B/6) ww Taman Wisata Alam Beriat (III/B/6) Taman Wisata Alam Teluk Youtefa (II/B/6) lita a g Sulawesi Selatan or s. 296.

No 48 114 NO. Gili Trawangan (I/B/6) Taman Wisata Alam Laut Pulau Moyo (I/B/6) (II/B/6) ww Satonda Taman Wisata Alam Laut Pulau w g . 317. 320. 324.l e lita a . 310. 313. 309. 316.www.legalitas. 323. 321. 312. 315. KAWASAN LINDUNG LOKASI Taman Wisata Alam Laut Kepulauan Pieh Sumatera Barat (II/B/6) Taman Wisata Alam Laut Perairan Belitung (II/B/6) Bangka Belitung Taman Wisata Alam Laut Lampung Barat Lampung (I/B/6) Taman Wisata Alam Laut Cijulang (I/A/6) Jawa Barat Taman Wisata Alam Laut Daerah Pantai Jawa Tengah Ujungnegoro – Roban (I/B/6) Taman Wisata Alam Laut Buleleng (I/A/6) Bali Taman Wisata Alam Laut Gili Meno. 318. 311. 314.or s g Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Barat Taman Wisata Alam Laut Gili Sulat dan Nusa Tenggara Barat Gili Lawang (II/A/6) Taman Wisata Alam Laut Pulau Gili Nusa Tenggara Barat Banta (II/A/6) Taman Wisata Alam Laut Teluk Kupang (I/A/6) Taman Wisata Alam Laut Gugus Pulau Teluk Maumere (I/A/6) Taman Wisata Alam Laut Tujuh Belas Pulau Riung (III/B/6) Taman Wisata Alam Laut Bengkayang (II/B/6) Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Taman Wisata Alam Laut Berau (II/B/6) Kalimantan Timur . Gili Nusa Tenggara Barat Ayer.org 2008. 319. 322.

Pombo (II/B/6) g Sulawesi Selatan or s. Papua Barat Sorong (II/B/6) Taman Wisata Alam Laut Kep. 341. No 48 NO. 339. 334.org 115 2008. Padaido (II/B/6) Taman Buru Lingga Isaq (I/F) Taman Buru Pulau Pini (I/F) Papua Barat Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Taman Buru Semidang Bukit Kabu (II/F) Bengkulu Taman Buru Gunung Nanu’ua (II/F) Bengkulu . 330. 332. 335. 329. Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tenggara lita Taman Wisata Alam Laut Laut Banda ga (I/B/6) le w. Kasa Taman Wisata Alam Laut Pulau ww (II/B/6) Taman Wisata Alam Laut P. 340. 331. KAWASAN LINDUNG Taman Wisata Alam Laut Pulau Laut Barat – Selatan dan Pulau Sembilan (II/B/6) Taman Wisata Alam Laut Pulau Togean dan Pulau Batudaka (I/A/6) Taman Wisata Alam Laut Telok Lasolo (II/B/6) Taman Wisata Alam Laut Kepulauan Padamarang (II/B/6) Taman Wisata Alam Laut Selat Tiworo (II/B/6) Taman Wisata Alam Laut Liwutongkidi (Buton) (II/B/6) Taman Wisata Alam Laut Kepulauan Kapoposang (I/B/6) LOKASI Kalimantan Selatan 326. Maluku Maluku Taman Wisata Alam Laut P. 337. 333. 338. Marsegu Dsk Maluku (II/B/6) Maluku Taman Wisata Alam Laut Distrik Abun.legalitas.www. 336. 325. 327. 328.

344.or s Sulawesi Selatan g PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.legalitas. H. KAWASAN LINDUNG Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi (II/F) Taman Buru Gunung Tambora Selatan (I/F) Taman Buru Pulau Moyo (I/F) Taman Buru Dataran Bena (II/F) Taman Buru Pulau Rusa (I/F) Taman Buru Pulau Ndana (II/F) Taman Buru Landusa Tomata (II/F) Taman Buru Padang Mata Osu (III/F) Taman Buru Komara (II/F) Taman Buru Bangkala (II/F) LOKASI Jawa Barat Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Keterangan: I – IV: Tahapan Pengembangan A : Rehabilitasi dan Pemantapan Fungsi Kawasan Lindung Nasional A/1 : Suaka Alam Laut A/2 : Suaka Margasatwa dan Suaka Margasatwa Laut A/3 : Cagar Alam dan Cagar Alam Laut A/4 : Taman Nasional dan Taman Nasional Laut A/5 : Taman Hutan Raya A/6 : Taman Wisata Alam dan Taman Wisata Alam Laut B : Pengembangan Pengelolaan Kawasan Lindung Nasional B/1 : Suaka Alam Laut B/2 : Suaka Margasatwa dan Suaka Margasatwa Laut B/3 : Cagar Alam dan Cagar Alam Laut B/4 : Taman Nasional dan Taman Nasional Laut B/5 : Taman Hutan Raya B/6 : Taman Wisata Alam dan Taman Wisata Alam Laut C : Rehabilitasi dan Pemantapan Fungsi Kawasan Hutan Lindung Nasional C/1 : Kawasan Resapan Air D : Pengembangan Pengelolaan Kawasan Hutan Lindung Nasional E : Rehabilitasi dan Pemantapan Fungsi Kawasan Taman Buru Nasional F : Pengembangan Pengelolaan Kawasan Taman Buru Nasional ww le w.www. 348. 350. 349. 351. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO . 346. 345. 342. 347. No 48 116 NO. g lita a . DR.org 2008. 343.

(IV/A/2) .(III/C/2) .perikanan .pertanian .pertambangan .(III/A/2) .org 117 2008. g lita a .(I/C/2) .legalitas.industri .(I/B/2) SEKTOR UNGGULAN .pertanian .pertambangan .perikanan laut Kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya . No 48 LAMPIRAN IX PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 26 TAHUN 2008 TANGGAL : 10 MARET 2008 KAWASAN ANDALAN NO 1 PROVINSI / KAWASAN ANDALAN NANGGROE ACEH DARUSSALAM Kawasan Banda Aceh dan sekitarnya .(I/C/1) .(I/F/2) .(II/E/1) .industri ww le w.(II/F/2) ..(I/F/1) .or s g .perikanan .pertanian .(I/D/1) .perikanan Medan dan sekitarnya .pertambangan .perkebunan Kawasan Andalan Laut Lhokseumawe.(II/B/2) Kawasan Pantai Barat Selatan .www.pariwisata .perkebunan .(I/A/1) .(II/D/1) .(I/F/2) .

perkebunan .(II/E/2) .industri .perikanan . pariwisata . g lita a g or s-.(I/H/1) .(III/D/2) .(I/A/1) .industri .(II/B/2) .(II/E/2) SEKTOR UNGGULAN .pertambangan .org 2008.pertanian .(II/D/2) Kawasan Tapanuli dan sekitarnya .(II/B/2) . No 48 118 NO 2 PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SUMATERA UTARA Kawasan Perkotaan Metropolitan Medan-Binjai-Deli Serdang-Karo (Mebidangro) .(I/D/1) .perkebunan Kawasan Rantau Prapat – Kisaran ww le w.pertanian .(II/D/2) .(II/A/2) .industri .(II/C/2) .(II/A/2) .legalitas.www.(I/B/2) .pertanian .industri .(II/F/2) .pertanian .(II/F/2) Kawasan Pematang Siantar dan sekitarnya .perikanan .perikanan laut .perkebunan .(I/E/1) .pariwisata .(II/B/2) .(III/F/2) .pariwisata .(I/A/1) .kehutanan .perkebunan .

(III/C/2) .(III/G/2) .(I/C/2) Kawasan Andalan Laut Nias dan sekitarnya . w leg lita a g or s-.(I/G/2) .pertambangan .perikanan Kawasan Andalan Laut Lhokseumawe.(I/F/2) ..perikanan laut .(II/E/2) .pertambangan 3 SUMATERA BARAT Kawasan Padang Pariaman dan sekitarnya .(I/E/2) .(II/F/2) .(I/C/2) Kawasan Andalan Laut Selat Malaka dan sekitarnya .pariwisata .(II/F/2) SEKTOR UNGGULAN .perkebunan .perikanan .(IV/B/2) .pariwisata .(II/A/2) . perikanan . No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Nias dan sekitarnya .pertambangan w w.industri .perikanan .(II/F/2) .legalitas.perikanan Medan dan sekitarnya .org 119 2008.pertanian .www.(I/D/2) .

(I/E/2) .perkebunan .industri .(II/F/2) SEKTOR UNGGULAN . industri .pertanian .(III/C/2) .org 2008.www.(I/B/2) .pertanian .(I/C/2) .(III/B/2) .perkebunan ww le w.Pariwisata 4 RIAU Kawasan Pekanbaru dan sekitarnya .Perikanan Kawasan Solok dan sekitarnya (Danau .pertambangan Kembar Diatas/Dibawah.pertanian . No 48 120 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Agam-Bukit Tinggi (PLTA Kuto Panjang) .(II/E/2) .pertanian .perkebunan .(II/A/2) .pertambangan .(III/B/2) .(II/D/2) .pariwisata Kawasan Andalan Laut MentawaiSiberut dan sekitarnya .legalitas.Ketaping) .(II/A/2) Kawasan Mentawai dan sekitarnya .PIP Danau Sngkarak.(IV/A/2) .(III/D/2) .pariwisata .(II/A/2) .Lubuk Alung.(II/E/2) .perikanan laut .(II/G/2) . g lita a g or s-.

(II/G/2) .(III/A/2) .pariwisata .(II/G/2) .pertanian .(I/B/2) .kelautan dan sekitarnya .kehutanan .pertambangan .(II/F/2) Kawasan Natuna dan sekitarnya . No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Duri-Dumai dan sekitarnya .(I/C/1) .(I/G/2) ww .(I/E/2) .Teluk Kuantan-Pangkalan Kerinci .(I/D/2) .(II/B/2) SEKTOR UNGGULAN .industri migas lita Kawasan Andalan Laut.www.(I/B/2) .industri .perkebunan .(I/C/2) 5 KEPULAUAN RIAU .org 121 2008.perkebunan .pertambangan g Kawasan Zona Batam -Tanjung Pinang .perkebunan .perikanan .or s .industri .industri . .perikanan .(I/D/2) .(III/H/2) Kawasan Ujung Batu-Bagan Batu .(II/D/2) . Selat Malaka ga le dan sekitarnya w.(II/F/2) Kawasan Rengat-Kuala Enok.(I/D/2) .perikanan .legalitas.perikanan laut .

org 2008.(II/F/2) .(II/D/2) .perikanan .(IV/F/2) .perkebunan .(III/E/2) Kawasan Muara Bungo dan sekitarnya .pariwisata 7 SUMATERA SELATAN Kawasan Muara Enim dan sekitarnya .pariwisata .pertambangan .(III/A/2) .kehutanan w ww g .pertambangan .perikanan .l e lita a g or s-.pertambangan .perikanan laut .perkebunan .(II/F/2) .(II/E/2) SEKTOR UNGGULAN .(I/C/2) .pariwisata 6 JAMBI Kawasan Muara Bulian Timur Jambi dan sekitarnya .(I/E/2) Kawasan Andalan Laut Natuna dan sekitarnya .pertanian . No 48 122 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Andalan Laut Batam dan sekitarnya .www.(II/B/2) .(I/B/2) .(III/A/2) .perkebunan .(I/C/2) .legalitas.(III/A/2) .(II/C/2) .pertanian .(II/C/2) .(I/B/2) .(II/H/2) .pertambangan . pertanian .industri .

www.legalitas.org

123

2008, No 48

NO

PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Lubuk Linggau dan sekitarnya - (IV/A/2) - (II/B/2) - (IV/D/2) Kawasan Palembang dan sekitarnya - (I/A/2) - (I/D/2) - (I/C/1) - (II/H/2) - (III/F/2) Kawasan Andalan Laut Bangka dan sekitarnya - (III/F/2) - (I/E/2)

SEKTOR UNGGULAN - pertanian - perkebunan - industri

- pertanian - industri - pertambangan - kehutanan - perikanan

8

BENGKULU

ww

le w.

g

lita a

g or s-. pariwisata
- perikanan

Kawasan Bengkulu dan sekitarnya - (II/A/2) - (III/D/2) - (II/B/2) - (II/F/2) - (III/E/2) Kawasan Manna dan sekitarnya - (III/A/2) - (II/B/2) - (II/F/2) - (II/D/2) - (IV/E/2)

- pertanian - industri - perkebunan - perikanan - pariwisata - pertanian - perkebunan - perikanan - industri - pariwisata

www.legalitas.org

2008, No 48

124

NO

PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Andalan Laut Bengkulu - (II/F/2) - (II/E/2)

SEKTOR UNGGULAN - perikanan - pariwisata

9

BANGKA BELITUNG Kawasan Bangka - (IV/A/2) - (IV/B/2) - (II/D/2) - (I/E/2) - (II/F/2) Kawasan Belitung - (IV/A/2) - (IV/B/2) - (II/D/2) - (I/E/2) - pertanian - perkebunan - industri - pariwisata - perikanan

w

ww

g .l e

lita a

.or s

- pertanian - perkebunan - industri - pariwisata - perikanan - pariwisata - perikanan

g

Kawasan Andalan Laut Bangka dan sekitarnya - (III/F/2) - (I/E/2) - (II/F/2) 10 LAMPUNG Kawasan Bandar Lampung- Metro - (I/B/2) - (II/E/2) - (II/D/2) - (IV/A/2) - (IV/F/2)

- perkebunan - pariwisata - industri - pertanian - perikanan

www.legalitas.org

125

2008, No 48

NO

PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Mesuji dan sekitarnya - (II/A/2) - (IV/B/2) - (IV/D/2) Kawasan Kotabumi dan sekitarnya - (IV/A/2) - (II/B/2) - (II/F/2) Kawasan Liwa-Krui - (IV/A/2) - (III/B/2) - (III/F/2) Kawasan Andalan Laut Krakatau dan sekitarnya - (III/F/2) - (II/C/2) - (I/E/2)

SEKTOR UNGGULAN - pertanian - perkebunan - industri - pertanian - perkebunan - perikanan

- pertanian - perkebunan - perikanan laut

w

w. w

leg

lita a

g or s-. perikanan

- pertambangan - pariwisata

11 DAERAH KHUSUS JAKARTA - JAWA BARAT - BANTEN Kawasan Perkotaan Jakarta - (I/D/2) - (I/E/2) - (II/F/2) Kawasan Andalan Laut. Pulau Seribu - (I/F/2) - (I/C/2) - (II/E/2) - industri - pariwisata - perdagangan - jasa - perikanan - perikanan - pertambangan - pariwisata

(I/E/2) .(I/E/2) .pertambangan .perikanan .(III/F/2) .pertanian .perikanan .pertambangan 13 JAWA BARAT g .legalitas.pariwisata .(I/E/2) . No 48 126 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SEKTOR UNGGULAN 12 BANTEN Kawasan Bojonegara-Merak.pariwisata .perikanan .perikanan Kawasan Sukabumi dan sekitarnya .pertanian .(III/A/2) .pariwisata .Cilegon .industri .or s g .(I/E/2) .(II/C/2) .pertanian .(II/D/2) .pariwisata .perkebunan .(II/F/2) .(I/D/2) .(II/A/2) .www.(II/F/2) lita a .(II/F/2) .(I/C/2) Kawasan Andalan Laut Krakatau dan sekitarnya .(III/B/2) .org 2008.l e Kawasan Bogor-Puncak-Cianjur ww (Bopunjur dan sekitarnya) w .(II/A/2) .industri .

No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Purwakarta. Karawang (Purwasuka) .(II/A/2) .(I/B/2) Kawasan Cirebon-IndramayuMajalengka-Kuningan (Ciayumaja Kuning) dan sekitarnya .(I/C/2) SEKTOR UNGGULAN .perkebunan w w.(I/A/1) .(II/A/2) .(IV/D/2) . w leg lita a g or s-.(II/B/2) . industri .perikanan .perikanan .pariwisata .(II/E/2) .www.pariwisata .pertanian .pariwisata .legalitas.(II/F/2) .pertanian .pertanian .(II/F/2) Kawasan Cekungan Bandung .(I/F/2) .industri .perkebunan .(I/D/2) .industri .industri .pertanian .(II/E/2) .(II/D/2) .(I/D/1) . Subang.(I/E/2) .org 127 2008.pertambangan Kawasan Priangan Timur-Pangandaran .(II/A/2) .perikanan .

pariwisata Sragen.industri .(II/C/2) . Purwodadi) .(II/A/2) . .(I/F/2) Kawasan Bregas . g lita a .(II/A/2) .(II/A/2) .(I/E/2) . Kudus. Pati. Boyolali. Blora (Wanarakuti) .kehutanan .(I/E/2) .(I/D/2) .(I/D/1) .pariwisata . Jepara.(II/H/2) . Wonogiri.pertanian ww le w.or s g .(I/F/2) Kawasan Juwana.pertanian . Ungaran.(I/F/2) .(I/D/1) .industri .industri .industri .pertanian Rembang. No 48 128 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SEKTOR UNGGULAN 14 JAWA TENGAH Kawasan Surakarta. Demak.perikanan . Salatiga.(II/A/2) Kawasan Kedung Sepur (Kendal. Sukoharjo.perikanan .pertanian .(II/D/1) .pertambangan . Karanganyar. Semarang. . Klaten (Subosuko-Wonosraten) .www.legalitas.perikanan .org 2008.

(III/E/2) ww le w.(I/C/2) .perikanan dan sekitarnya .perikanan laut .industri .www. Kebumen.(II/C/2) .pariwisata .org 129 2008.(II/F/2) .(II/A/2) .(II/A/2) . g lita a g or s-.pertambangan .(I/F/2) .legalitas. No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Jawa Tengah Selatan (Purwokerto.(I/E/2) SEKTOR UNGGULAN .(II/D/1) .perikanan .(II/F/2) .pertambangan .pariwisata Kawasan Andalan Laut Karimun Jawa . pariwisata .(I/E/1) .pertanian .pariwisata .(III/E/2) .(II/F/2) Kawasan Borobudur dan sekitarnya .(I/D/1) .perikanan .(III/E/2) Kawasan Andalan Laut Cilacap dan sekitarnya .industri .pertanian . Cilacap dan sekitarnya) .pertambangan .(I/C/2) .pariwisata 15 DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Kawasan Yogyakarta dan sekitarnya .

industri .pertanian .(III/A/2) .pertanian .(I/E/2) .(III/F/2) .(III/E/2) .(II/B/2) .pariwisata .pertambangan .(II/F/2) .perkebunan . Sidoarjo.pertambangan .pertanian . Bangkalan.pertanian .perikanan .perikanan .(III/B/) . No 48 130 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SEKTOR UNGGULAN 16 JAWA TIMUR Kawasan Gresik. Lamongan (Gerbangkertosusila) .org 2008.(II/C/2) .(I/D/2) .pariwisata .industri .l e Kawasan Probolinggo-Pasuruanww Lumajang w .perkebunan .(II/A/2) .(II/C/2) lita a g or s-. pariwisata .perikanan .legalitas.(IV/E/2) .industri .(II/F/2) .(II/F/2) Kawasan Tuban-Bojonegoro .perkebunan . Surabaya.perikanan .(II/D/1) .(III/B/2) .(II/A/2) .industri .pariwisata g .(II/E/2) Kawasan Malang dan sekitarnya .(III/A/2) . Mojokorto.(I/D/2) .(I/D/1) .www.

pertanian .(I/B/1) .Perikanan laut lita Kawasan Madiun dan sekitarnya a g .(I/F/2) .legalitas.or s g .(II/F/2) .(I/D/2) .(II/D/2) w .www.perikanan .perikanan .pariwisata .pertanian .perikanan .pertanian .(III /E/2) .(III/A/2) Kawasan Madura dan Kepulauan .perkebunan .(III/A/2) .pariwisata .l e .(III/B/2) .(II /D/1) .Blitar .industri .(II/E/2) .org 131 2008.pertanian .perkebunan .(III/A/2) ww .perkebunan .perikanan . No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Kediri-Tulung Agung.(III/B/2) .industri .pariwisata .industri .(III/F/2) .pertanian .(II/F/2) SEKTOR UNGGULAN .pariwisata .(II/D/2) .(II/B/2) .(III/A/2) .industri .perkebunan .(III/F/2) .(II /A/2) .(III/E/2) Kawasan Situbondo-BondowosoJember .(III/E/2) Kawasan Banyuwangi dan sekitarnya .

industri .industri .(II/F/2) Kawasan Denpasar-Ubud.(II/F/2) . Madura dan sekitarnya .pariwisata .pertanian .pertambangan .org 2008.(I/A/2) . No 48 132 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Andalan Laut.pariwisata 17 BALI Kawasan Singaraja dan sekitarnya (Bali Utara) .(I/E/2) .(II/A/2) .pariwisata .perikanan .perikanan w w. pariwisata .(I/F/2) .(II/C/2) .Kintamani (Bali Selatan) .(I/E/2) .pariwisata .pertambangan .(II/C/2) .pertanian .(II/A/2) .(I/F/2) .(II/A/1) .(III/E/2) SEKTOR UNGGULAN . w leg lita a g or s-.pertanian .perikanan .www.perikanan .legalitas.(I/E/2) 18 NUSA TENGGARA BARAT Kawasan Lombok dan sekitarnya .(II/C/2) .perikanan laut .(I/E/2) .pertambangan .(II/F/2) Kawasan Andalan Laut Bali dan sekitarnya .(I/D/4) .

(III/H/2) .perikanan .pertambangan .industri .legalitas.(I/F/2) Kawasan Andalan Laut Selat Lombok dan sekitarnya .pertanian .pariwisata .(I/F/2) .industri .(I/F/2) .(III/B/2) ww le w.(II/E/2) .pertambangan .(III/A/2) .(II/D/2) .(I/E/2) . No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Bima .org 133 2008. g lita a g or s-.www.pertanian .pariwisata .(III/F/2) .pariwisata .(III/D/2) .(III/C/2) .(IV/A/2) .pertanian .(III/D/2) .(IV/A/2) .industri . pariwisata .perkebunan .(III/C/2) Kawasan Maumere-Ende .(I/F/2) Kawasan Sumbawa dan sekitarnya .pertanian .perikanan laut Kawasan Kupang dan sekitarnya .(II/E/2) .kehutanan .perikanan 19 NUSA TENGGARA TIMUR .industri .(II/E/2) SEKTOR UNGGULAN .perikanan .perikanan laut .(II/E/2) .(III/A/2) .pariwisata .(III/D/2) .

pertambangan .pertanian w w.(I/E/2) .perikanan .(IV/A/2) . pertanian .(II/E/2) Kawasan Andalan Laut.(IV/C/2) .(IV/B/2) .(IV/A/2) .pariwisata .pariwisata .(II/E/2) Kawasan Andalan Laut.perikanan .pertambangan .pariwisata .(II/E/2) . Flores .pariwisata .(III/C/2) . Sawu-Sumba dan sekitarnya .pariwisata Kawasan Andalan Laut.industri . Sumba dan sekitarnya .(III/F/2) .perkebunan .legalitas. w leg lita a g or s-.(II/F/2) .pertanian .(IV/A/2) Kawasan Sumba .(III/B/2) .(IV/E/2) SEKTOR UNGGULAN .org 2008.(II/E/2) .www.perkebunan .perikanan .(IV/D/2) .perikanan .(II/F/2) .(IV/B/2) .pariwisata .(III /F/2) Kawasan Ruteng – Bajawa .(III/F/2) .perkebunan . No 48 134 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Komodo dan sekitarnya .perikanan .

l e lita a .(I/B/2) .kehutanan . No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SEKTOR UNGGULAN 20 KALIMANTAN BARAT Kawasan Pontianak dan sekitarnya .(II/F/2) Kawasan Ketapang dan sekitarnya .(II/A/2) .perkebunan .(II/F/2) .(III/A/2) .pertanian .(II/B/2) Kawasan Sanggau .pertanian .(III/A/2) .org 135 2008.industri .(I/D/2) .www.perkebunan .pertanian .(II/F/2) .perikanan .perkebunan .industri .legalitas.perikanan .(I/F/2) .Pariwisata w ww g .kehutanan .(I/H/2) .(II/H/2) .pertanian .(II/A/2) .(II/H/2) Kawasan Kapuas Hulu dan sekitarnya .pertanian (III/A/2) .perkebunan .(II/D/2) .(III/D/2) .or s .industri .(I/B/2) .perikanan .(I/B/2) .kehutanan g .perikanan .(II/E/2) Kawasan Singkawang dan sekitarnya .

(I/B/2) .kehutanan . w leg lita a g or s-.(II/F/2) .pertanian .(II/B/2) .perkebunan .pariwisata 21 KALIMANTAN TENGAH Kawasan Sampit .(II/H/2) .industri .(III/E/2) Kawasan Muarateweh .kehutanan .(II/B/2) .pariwisata .(II/E/2) Kawasan Andalan Laut Ketapang dan sekitarnya .www.(III/F/2) .perikanan .kehutanan . No 48 136 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Andalan Laut Pontianak dan sekitarnya .(II/D/2) .perikanan .perikanan .(III/C/2) .org 2008.(II/H/2) .(III/A/2) .pariwisata w w.pariwisata .(III/A/2) .(III/F/2) .pertambangan .Pangkalan Bun .pertanian .(II/E/2) SEKTOR UNGGULAN .legalitas.pertanian .perkebunan .(III/H/2) .(III/A/2) .(II/E/2) Kawasan Buntok . perkebunan .

kehutanan .(I/F/2) Kawasan Batulicin .perikanan .pertanian .perikanan .perikanan .perikanan .kehutanan .legalitas.perkebunan .www.(III/A/2) g .l e lita a g or s-.(III/A/2) .org 137 2008.perkebunan .industri .pertanian .industri .(II/F/2) .(III/E/2) ww dan Kawasan Banjarmasin Raya w sekitarnya . perkebunan .pariwisata 22 KALIMANTAN SELATAN Kawasan Kandangan dan sekitarnya .pariwisata .(III/B/2) .pertanian . No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Kuala Kapuas .(II/D/2) .(II/B/2) .(III/F/2) Kawasan Andalan Laut Kuala Pembuang .(III/A/2) .(II/H/2) .(I/F/2) .pariwisata .pertambangan .pariwisata .(II/B/2) .(III/A/2) .pertanian .(II/C/2) .(II/B/2) .(III/E/2) SEKTOR UNGGULAN .perkebunan .(II/E/2) .(I/H/2) .(I/D/2) .(II/E/2) .

(II/F/2) Kawasan Sasemawa .(III/E/2) Kawasan Tatapanbuma dan sekitarnya .or s .(II/C/2) SEKTOR UNGGULAN .pariwisata .l e lita a .industri .kehutanan .pertambangan . No 48 138 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Andalan Laut Pulau Laut .(III/B/2) .(II/F/2) .perikanan .(I/C/2) .perikanan .industri .pariwisata g .perikanan w ww g .(I/D/2) .legalitas.(II/F/2) .pariwisata .perkebunan .(I/C/2) .pertambangan .perkebunan .pertambangan .industri .(II/F/2) .(II/F/2) .(I/C/2) .(II/D/2) .org 2008.(II/B/2) .kehutanan .perikanan laut .(II/H/2) .www.(I/D/2) .(II/H/2) .perikanan .kehutanan .(II/H/2) .pertambangan 23 KALIMANTAN TIMUR Kawasan Tanjung Redeb dan sekitarnya .(III/E/2) .(I/E/2) .

(I/F/2) .(I/A/2) .pertambangan .(II/H/2) .perikanan .pertanian .perkebunan .pertambangan .industri .(II/B/2) .perikanan .legalitas.(I/B/2) .perikanan .(I/C/2) .(I/C/2) .kehutanan .(III/E/2) . No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Bontang-Samarinda sekitarnya (Bonsamtebajam) .pariwisata Kawasan Andalan Laut Tomini dan sekitarnya .pariwisata Tenggarong.(III/E/2) SEKTOR UNGGULAN .perkebunan .(III/E/2) Kawasan Andalan Laut BontangTarakan dan sekitarnya .(I/F/2) ww le w.(II/F/2) .pariwisata 24 GORONTALO Kawasan Gorontalo .(II/F/2) .www. g lita a .(II/F/2) .perikanan .(II/B/2) .pertambangan . Balikpapan Penajam dan .pertanian .perkebunan .(III/C/2) Kawasan Marisa .or s g .perikanan .org 139 2008.(I/D/2) .(III/A/2) .

(II/C/2) Kawasan Dumoga-Kotamobagu dan sekitarnya (Bolaang Mongondow2) .(II/E/1) .pertanian .(II/B/2) .perkebunan .www.(IV/A/2) .industri .(II/A/2) .(II/F/2) .(II/B/2) .(III/D/2) ww le w.perikanan .perikanan .(III/F/2) .perikanan .pertanian .or s .industri . g lita a . No 48 140 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SEKTOR UNGGULAN 25 SULAWESI UTARA Kawasan Manado dan sekitarnya (I/F/2) .(I/F/2) Kawasan Andalan Laut.pariwisata .pariwisata .(III/F/2) .pertambangan .pariwisata g . Bunaken dan sekitarnya . Batutoli dan sekitarnya .perikanan .(I/E/2) .(III/E/2) 26 SULAWESI TENGAH Kawasan Poso dan sekitarnya .(I/E/2) .perkebunan .(II/C/2) .pariwisata .(II/D/2) .perikanan laut .org 2008.legalitas.pertambangan Kawasan Andalan Laut.

(III/F/2) .pertambangan g .(III/E/2) .perkebunan .perikanan .pariwisata Kawasan Palu dan sekitarnya .(II/F/2) .(III/E/2) .(I/A/2) .pertanian .pariwisata .(I/F/2) .(II/D/2) .(II/B/2) .or s .(II/B/2) .(II/F/2) .legalitas.(III/B/2) .agroindustri .(III/C/2) SEKTOR UNGGULAN .(II/C/2) .(III/E/2) Kawasan Kolonedale dan sekitarnya .perikanan .perkebunan .pertanian .pariwisata .pertambangan . No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Toli-toli dan sekitarnya .pertanian .(III/A/2) .industri .(II/D/2) .perikanan .pariwisata Kawasan Andalan Laut Teluk ToloKepulauan Banggai dan sekitarnya .perikanan .(II/E/2) ww le w.pertambangan . g lita a .org 141 2008.(I/C/2) .perkebunan .(III/A/2) .www.

agroindustri .(II/E/2) .(I/F/2) Kawasan Pare-Pare dan sekitarnya .legalitas.(II/B/2) .perkebunan .(II/D/2) .(IV/C/2) .agroindustri .(II/A/2) .agroindustri .pariwisata .perikanan .(I/D/2) .perikanan .(III/A/2) .perikanan .(I/E/2) .perikanan .(III/B/2) Kawasan Andalan Laut Kapoposang dan sekitarnya .(II/A/2) .(IV/E/2) . Sungguminasa (Gowa).(II/F/2) Kawasan Palopo dan sekitarnya .org 2008. No 48 142 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SEKTOR UNGGULAN 27 SULAWESI SELATAN Kawasan Mamminasata dan sekitarnya .pariwisata .(I/D/2) .pertambangan .pertanian .perdagangan .(II/A/2) .(II/D/2) .perikanan w ww g .pariwisata Kawasan Bulukumba-Watampone . Takalar) .(III/F/2) .(I/F/2) . Maros.perkebunan .(II/F/2) .l e lita a .(II/B/2) .pertanian .perkebunan .pertanian .www.pariwisata (Makassar.(I/E/2) .pertanian .or s g .industri .

pertanian .(II/F/2) .agroindustri .(III/E/2) SEKTOR UNGGULAN .(III/E/2) .(II/E/2) Kawasan Andalan Laut SingkarangTakabonerate dan sekitarnya .(III/D/2) .or s .perikanan .pertanian .(II/F/2) 29 SULAWESI TENGGARA Kawasan Asesolo/Kendari .perikanan .(IV/F/2) .(II/A/2) .(I/B/2) .pariwisata .agroindustri .pertambangan .pariwisata g .(I/F/2) .(II/H/2) . No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Andalan Laut Teluk Bone dan sekitarnya .perkebunan .(I/B/2) w lita a .perkebunan .perikanan .(II/F/2) .(II/D/2) .(III/D/2) .industri .(IV/C/2) .(II/E/2) 28 SULAWESI BARAT g .(III/A/2) .www.pertambangan .l e Kawasan Mamuju dan sekitarnya ww .(IV/C/2) .pariwisata Kawasan Andalan Laut Selat Makassar .(III/C/2) .kehutanan .pertambangan .pariwisata .org 143 2008.perikanan .legalitas.perikanan .

(II/F/2) .pertambangan .(III/C/2) .perikanan .pariwisata .pariwisata . No 48 144 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Kapolimu-Patikala Muna – Buton .pertanian .pariwisata w ww g .pertambangan .pariwisata g .(III/A/2) Kawasan Andalan Laut Asera Lasolo .perikanan .(IV/E/2) SEKTOR UNGGULAN .(IV/H/2) .perikanan .(III/E/2) Kawasan Andalan Laut Tiworo dan sekitarnya .(III/F/2) .agroindustri .(III/F/2) .(III/C/2) .(I/C/2) .legalitas.perkebunan .(III/F/2) .(III/A/2) .pertanian .agroindustri .(III/B/2) .or s .(II/D/2) .perkebunan .(III/E/2) Kawasan Mowedong /Kolaka .l e lita a .(II/B/2) .perikanan .kehutanan .(III/D/2) .(III/E/2) Kawasan Andalan Laut KapontoriLasalimu dan sekitarnya .pertambangan .org 2008.(III/F/2) .www.(II/C/2) .pertambangan .perikanan .

(II/E/2) Kawasan Andalan Laut Banda dan sekitarnya .(I/F/2) .(III/A/2) .(II/F/2) .(II/D/2) Kawasan Buru .(III/A/2) .www.(II/B/2) .kehutanan .kehutanan .pariwisata .perikanan .pariwisata .(I/F/2) . Tanimbar .legalitas.P. No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SEKTOR UNGGULAN 30 MALUKU Kawasan Seram .(II/B/2) . Wetar. g lita a rg oindustri s-.perikanan laut .pariwisata .(IV/B/2) .(III/H/2) .(III/C/2) .(III/C/2) .perkebunan .P.perikanan .(I/E/2) Kawasan Andalan Laut Arafuru dan sekitarnya .perikanan .pertambangan .org 145 2008.pertanian . .pertanian .pariwisata ww le w.perkebunan .(I/F/2) .(II/E/2) .pertambangan .(II/H/2) .(III/F/2) .perikanan .(I/E/2) Kawasan Kei-Aru.perkebunan .(III/A/2) .pertanian .

pariwisata w ww g .org 2008.(II/E/2) Kawasan Bacan -Halmahera Selatan .perkebunan .pertambangan .(III/A/2) .(II/F/2) Kawasan Andalan Laut Halmahera dan .or s .perikanan laut .perikanan laut sekitarnya .(III/B/2) .pertanian .perkebunan .(III/B/2) .(III/E/2) 32 PAPUA BARAT Kawasan Bintuni . Tidore.www.(I/C/2) .(II/D/2) .pertambangan .pertanian .industri .perkebunan .l e lita a .(I/F/2) . Sula .(III/H/2) .perikanan g .(III/D/2) . Weda dan sekitarnya . Sofifi.(III/C/2) . No 48 146 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SEKTOR UNGGULAN 31 MALUKU UTARA Kawasan Ternate.(III/B/2) .(II/B/2) .legalitas.kehutanan .(III/C/2) .(II/F/2) . Sidangoli.pertambangan .(II/C/2) .perkebunan .(III/A/2) Kawasan Kep.industri .perikanan .pertambangan .(II/F/2) .pariwisata .

perikanan .perikanan .(II/D/2) Kawasan Andalan Laut Raja Ampat Bintuni .pertambangan .perkebunan .(I/C/2) .industri .(III/B/2) .pertanian .pertambangan . No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Fak-Fak (Bomberai) dan sekitarnya .(I/F/2) .(II/H/2) .(III/F/2) .(II/D/2) .(III/A/2) .pariwisata 33 PAPUA Kawasan Timika (Tembagapura) dan sekitarnya .org 147 2008.(I/F/2) .(III/B/2) .kehutanan .(I/F/2) .(I/C/2) .pertambangan .(I/C/2) .(III/E/2) .industri .pariwisata .(IV/A/2) .(II/E/2) SEKTOR UNGGULAN .www.pertanian .perkebunan .industri w w.perikanan laut . w leg lita a g or s-.legalitas.(II/H/2) . perikanan .(II/C/2) Kawasan Sorong dan sekitarnya .kehutanan .(II/D/2) .pertambangan .

(IV/B/2) .kehutanan .(II/B/2) .(I/H/2) .(I/F/2) . w leg lita a g or s-.(III/B/2) SEKTOR UNGGULAN .(II/D/2) .(II/A/2) Kawasan Memberamo-Lereh (Jayapura) dan sekitarnya .perikanan .(I/E/2) .pertambangan .(III/D/2) .(III/C/2) .pertanian .pertambangan .pertanian .(IV/C/2) Kawasan Merauke dan sekitarnya .industri . industri .(III/A/2) .legalitas.industri .www.pertanian .kehutanan .(I/C/2) .(III/D/2) .perkebunan .org 2008.(II/H/2) .(IV/B/2) .(II/B/2) .perikanan .(II/F/2) .perkebunan .perkebunan .pertanian . No 48 148 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Biak .(III/F/2) Kawasan Wamena dan sekitarnya .perikanan .kehutanan .perkebunan .pariwisata . Legare) .(I/A/2) .(III/H/2) Kawasan Nabire dan sekitarnya (Aran Moswaren.pertambangan w w.(IV/A/2) .perkebunan .

perikanan .(II/F/2) .pariwisata Keterangan: I – IV: Tahapan Pengembangan A : Pengembangan dan Pengendalian Pertanian w wAndalan untuk Pertanian Pangan Abadi w A/1 : Pengendalian Kawasan A/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Pertanian B : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Andalan untuk Perkebunan B/1 : Rehabilitasi Kawasan Andalan untuk Perkebunan B/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Perkebunan C : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Andalan untuk sektor g .l e lita a Kawasan .www. No 48 NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN Kawasan Andalan Laut Teluk Cendrawasih – Biak dan sekitarnya .org 149 2008.(II/E/2) SEKTOR UNGGULAN .perikanan .pariwisata .(II/F/2) .(III/C/2) .(II/E/2) Kawasan Andalan Laut Jayapura – Sarmi .legalitas.or s g Andalan untuk Sektor Pertambangan C/1 : Rehabilitasi Kawasan Andalan untuk Pertambangan C/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Pertambangan D : Rehabilitasi dan Pengembangan pengolahan D/1 : Rehabilitasi Kawasan Andalan untuk Industri Pengolahan D/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Industri Pengolahan Kawasan Andalan untuk industri .pertambangan .

l e lita a .www. No 48 150 E : Rehabilitasi Pariwisata dan Pengembangan Kawasan Andalan untuk sektor E/1 : Rehabilitasi Kawasan Andalan untuk Pariwisata E/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Pariwisata F : Rehabilitasi Perikanan F/1 : Rehabilitasi Kawasan Andalan untuk Perikanan F/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Perikanan G : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Andalan untuk sektor Kelautan G/1 : Rehabilitasi Kawasan Andalan untuk Kelautan G/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Kelautan H : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Andalan untuk Kehutanan H/1 : Rehabilitasi Kawasan Andalan untuk Kehutanan H/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Kehutanan dan Pengembangan Kawasan Andalan untuk sektor ww w g .or s g PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. DR. H.legalitas.org 2008. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO .

Kawasan Perkotaan Medan – Binjai – Deli Serdang – Karo (Mebidangro) (Provinsi Sumatera Utara) (I/A/1) Kawasan Danau Toba dan Sekitarnya (Provinsi Sumatera Utara) (I/B/1) Kawasan Stasiun Pengamat Dirgantara Kototabang (Provinsi Sumatera Barat) (I/D/2) Kawasan Hutan Lindung Bukit Batabuh (Perbatasan Provinsi RiauSumatera Barat) (I/B/1) ww le w.legalitas. Kawasan Industri Lhokseumawe (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) (I/A/2) Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) (I/A/2) Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Banda Aceh Darussalam (Provinsi Nanggroe Aceh Darusalam) (I/A/2) Kawasan Ekosistem Leuser (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) (I/B/1) Kawasan Perbatasan Laut RI termasuk 2 pulau kecil terluar dengan negara India/Thailand/Semenanjung Malaysia (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara) (I/E/2) 6. Bintan. Kawasan Lingkungan Hidup Taman Nasional Kerinci Seblat (Provinsi Jambi) (I/B/1) .or s g 10. 4.www. 7. 2. No 48 LAMPIRAN X PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 26 TAHUN 2008 TANGGAL : 10 MARET 2008 PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS NASIONAL 1.org 151 2008. Kawasan Hutan Lindung Mahato (Provinsi Riau) (I/B/1) 11. 9. 3. 5. g lita a . dan Karimun (Provinsi Kepulauan Riau) (I/A/2) 13. 8. Kawasan Perbatasan Laut RI termasuk 20 pulau kecil terluar dengan negara Semenanjung Malaysia/Vietnam/Singapura (Provinsi Riau dan Kepulauan Riau) (I/D/2) 12. Kawasan Batam.

Kawasan Stasiun Pengamat Dirgantara Watukosek (Provinsi Jawa Timur) (I/D/2) 33. No 48 152 14. Kawasan Fasilitas Pengolahan Data Digital/Paperprint dan Satelit (Provinsi DKI Jakarta) (I/D/2) 19. Kawasan Perkotaan Kendal – Demak – Ungaran – Salatiga – Semarang Purwodadi (Kedung Sepur) (Provinsi Jawa Tengah) (I/A/1) 28. Kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (Provinsi Jambi-Riau) (I/B/1) 16. Kawasan Stasiun Pengamat Dirgantara Tanjung Sari (Provinsi Jawa Barat) 24. Kawasan Stasiun Bumi Penerima Satelit Mikro (Provinsi Jawa Barat) (I/D/2) 26. Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung (Provinsi Jawa Barat) (I/A/1) 21.legalitas. Kawasan Pangandaran – Kalipuncang – Segara Anakan – Nusakambangan (Pacangsanak) (Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah) (I/B/1) 27. Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (Provinsi Banten) (I/B/1) g . Kawasan Stasiun Pengamat Dirgantara Pamengpeuk (Provinsi Jawa Barat) (I/D/2) 23.www. Kawasan Perkotaan Jabodetabek-Punjur termasuk Kepulauan Seribu (Provinsi DKI Jakarta. Banten. dan Jawa Barat) (I/A/1) 20. Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta) (I/B/1) 31.or s g . Kawasan Fasilitas Uji Terbang Roket Pamengpeuk (Provinsi Jawa Barat) (I/D/1) 22. Kawasan Candi Prambanan (Provinsi Jawa Tengah) (I/B/2) 30. Kawasan Instalasi Lingkungan dan Cuaca (Provinsi DKI Jakarta) (I/D/2) 18.org 2008. 25. Kawasan Taman Nasional Berbak (Provinsi Jambi) (I/B/1) 15. Kawasan Borobudur dan Sekitarnya (Provinsi Jawa Tengah) (I/B/2) 29. Kawasan Perkotaan Gresik – Bangkalan – Mojokerto – Surabaya – Sidoarjo – Lamongan (Gerbangkertosusila) (Provinsi Jawa Timur) (I/A/1) 32. Kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas (Provinsi Jambi) (I/B/1) 17.le Jawa Barat) (I/D/2) Kawasan Stasiun Telecomand (Provinsi ww w (I/D/2) lita a .

No 48 34. 43.legalitas. Balikpapan (Provinsi Kalimantan Timur) (I/A/2) . Kalimantan Timur. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Samarinda. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu 42. Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (Provinsi Kalimantan Barat) ww Kalimantan Barat) (I/A/2) (I/B/1) (Provinsi Kalimantan Barat. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Mbay (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (I/A/2) 39. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Batulicin (Provinsi Kalimantan Selatan) (I/A/2) 48.or s g Khatulistiwa (Provinsi 44. Kawasan Perbatasan Laut RI termasuk 5 pulau kecil terluar dengan negara Timor Leste/Australia (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (I/E/2) 41. Kawasan Perkotaan Denpasar – Badung – Gianyar . Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Bima (Provinsi Nusa Tenggara Barat) (I/A/2) 36. lita Kawasan Stasiun Pengamat Dirgantara Pontianak (Provinsi Kalimantan ga le Barat) (I/D/2) w. dan Kalimantan Tengah) (I/E/2) .Tabanan (Sarbagita) (Provinsi Bali) (I/A/1) 35. Kawasan Perbatasan Darat RI dan Jantung Kalimantan (Heart of Borneo) 45. Kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (Provinsi Kalimantan Tengah) (I/B/1) 47. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Daerah Aliran Sungai Kahayan Kapuas dan Barito (Provinsi Kalimantan Tengah) (I/A/2) 46. Sanga-sanga. Kawasan Taman Nasional Komodo (Provinsi Nusa Tenggara Barat) (I/B/1) 37. Kawasan Perbatasan Darat RI dengan negara Timor Leste (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (I/E/2) 40. Kawasan Gunung Rinjani (Provinsi Nusa Tenggara Barat) (I/B/1) 38. Muara Jawa.org 153 2008.www.

Kawasan Perbatasan Laut RI termasuk 18 pulau terluar dengan negara Malaysia dan Philipina (Provinsi Kalimantan Timur. Kawasan Konservasi dan Wisata Daerah Aliran Sungai Tondano (Provinsi Sulawesi Utara) (I/B/1) 52. Kolaka. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Buton. Kawasan Toraja dan Sekitarnya (Provinsi Sulawesi Selatan) (I/C/1) 59. Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara) (I/E/2) 50. Kawasan Laut Banda (Provinsi Maluku) (I/D/1) 65. Kawasan Taman Nasional Rawa Aopa . Kawasan Perbatasan Laut RI termasuk 20 pulau kecil terluar dengan negara Timor Leste/Australia (Provinsi Maluku dan Papua) (I/E/2) . No 48 154 49.org 2008. Kawasan Poso dan Sekitarnya (Provinsi Sulawesi Tengah) (I/C/1) 54. Kawasan Kritis Lingkungan Buol-Lambunu (Provinsi Sulawesi Tengah) (I/B/1) 56. Kawasan Perkotaan Makassar – Maros (Mamminasata) (Provinsi Sulawesi Selatan) (I/A/1) 57. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Batui (Provinsi Sulawesi Tengah) (I/A/2) 53. Kawasan Soroako dan Sekitarnya (Provinsi Sulawesi Selatan) (I/D/2) 61.Watumohai dan Rawa Tinondo (Provinsi Sulawesi Tenggara) (I/B/1) 63.le Terpadu Ekonomi ww w lita a . Kawasan Stasiun Bumi Sumber Alam Parepare (Provinsi Sulawesi Selatan) (I/D/2) 60.or s – g Sungguminasa - Takalar 58. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Manado – Bitung (Provinsi Sulawesi Utara) (I/A/2) 51. dan Kendari (Provinsi Sulawesi Tenggara) (I/A/2) 62.legalitas. Kawasan Kritis Lingkungan Balingara (Provinsi Sulawesi Tengah) (I/B/1) 55. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Seram (Provinsi Maluku) (I/A/2) 64.www. Kawasan Pengembangan Selatan) (I/A/2) Parepare (Provinsi Sulawesi g .

Kawasan Stasiun Bumi Satelit Cuaca dan Lingkungan (Provinsi Papua) (I/D/2) 70. Kawasan Konservasi Keanekaragaman Hayati Raja Ampat (Provinsi Papua Barat) (I/B/1) 68. Kawasan Taman Nasional Lorentz (Provinsi Papua) (I/B/1) 73. Kawasan Perbatasan Darat RI dengan negara Papua Nugini (Provinsi Papua) (I/E/2) 75.org 155 2008. dan Nusa Tenggara Barat) (I/E/2) Keterangan: I – IV : Tahapan Pengembangan A : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Strategis Nasional Dengan Sudut Kepentingan Ekonomi A/1 : Rehabilitasi/Revitalisasi Kawasan A/2 : Pengembangan/Peningkatan kualitas kawasan B : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Strategis Nasional Dengan Sudut Kepentingan Lingkungan Hidup B/1 : Rehabilitasi/Revitalisasi Kawasan B/2 : Pengembangan/Peningkatan kualitas kawasan . Jawa Barat.www. Bengkulu. No 48 66. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Biak (Provinsi Papua) (I/A/2) 69. Kawasan Stasiun Telemetry Tracking and Command Wahana Peluncur Satelit (Provinsi Papua) (I/D/2) 71.legalitas. Jawa Timur.l e Negara w termasuk 19 pulau kecil terluar yang laut lepas (Provinsi Nanggroe Aceh Darusalam. Kawasan Konservasi Keanekaragaman Hayati Teluk Bintuni (Provinsi Papua) (I/B/1) 74. Sumatera Barat. Kawasan Timika (Provinsi Papua) (I/D/2) 72. ww lita a . Papua Barat. Lampung. Kawasan Perbatasan Laut RI termasuk 8 pulau kecil terluar dengan negara Palau (Provinsi Maluku Utara. Banten. dan Papua) (I/E/2) 67. Kawasan Perbatasan berhadapan dengan g .or s g Sumatera Utara. Jawa Tengah.

www.or s g DR.org 2008. No 48 156 C : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Strategis Nasional Dengan Sudut Kepentingan Sosial Budaya C/1 : Rehabilitasi/Revitalisasi Kawasan C/2 : Pengembangan/Peningkatan kualitas kawasan D : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Strategis Nasional Dengan Sudut Kepentingan Pendayagunaan Sumberdaya alam dan Teknologi Tinggi D/1 : Rehabilitasi/Revitalisasi Kawasan D/2 : Pengembangan/Peningkatan kualitas kawasan E : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan strategis nasional dengan Sudut Kepentingan Pertahanan dan Keamanan E/1 : Rehabilitasi/Revitalisasi Kawasan E/2 : Pengembangan/Peningkatan kualitas kawasan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. ww le w. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO . g lita a .legalitas.

or s g . No 48 ww le w.legalitas.www.org 157 2008. g lita a .

www. g lita a .org 2008.or s g .legalitas. No 48 158 ww le w.

No 48 ww le w.org 159 2008.or s g .legalitas. g lita a .www.

No 48 160 ww le w.or s g .org 2008.www.legalitas. g lita a .

legalitas. No 48 ww le w.org 161 2008.or s g . g lita a .www.

or s g . No 48 162 ww le w. g lita a .legalitas.org 2008.www.

legalitas.www.org 163 2008.or s g . g lita a . No 48 ww le w.

g lita a .or s g .legalitas.www.org 2008. No 48 164 ww le w.

org 165 2008.legalitas.www. No 48 ww le w.or s g . g lita a .

legalitas.or s g . g lita a .www.org 2008. No 48 166 ww le w.

g lita a .or s g .legalitas. No 48 ww le w.www.org 167 2008.

g lita a . No 48 168 ww le w.legalitas.www.org 2008.or s g .

legalitas.org 169 2008.www.or s g . No 48 ww le w. g lita a .

or s g .www. g lita a .org 2008. No 48 170 ww le w.legalitas.

org 171 2008.legalitas.or s g .www. No 48 ww le w. g lita a .

org 2008. No 48 172 ww le w. g lita a .or s g .www.legalitas.

g lita a . No 48 ww le w.legalitas.www.org 173 2008.or s g .

www. g lita a .legalitas.or s g .org 2008. No 48 174 ww le w.

No 48 ww le w. g lita a .org 175 2008.www.or s g .legalitas.

legalitas. No 48 176 ww le w.or s g .www.org 2008. g lita a .

legalitas.www.org 177 2008. g lita a .or s g . No 48 ww le w.

org 2008. g lita a . No 48 178 ww le w.www.legalitas.or s g .

g lita a .or s g .legalitas.www.org 179 2008. No 48 ww le w.

g lita a .org 2008.legalitas.or s g . No 48 180 ww le w.www.

org 181 2008.legalitas. No 48 ww le w.www.or s g . g lita a .

legalitas. No 48 182 ww le w.www.org 2008. g lita a .or s g .

org 183 2008.legalitas. No 48 ww le w. g lita a .or s g .www.

g lita a .legalitas. No 48 184 ww le w.or s g .org 2008.www.

www. No 48 ww le w.legalitas. g lita a .or s g .org 185 2008.

No 48 186 ww le w.or s g . g lita a .legalitas.www.org 2008.

No 48 ww le w.www.org 187 2008. g lita a .legalitas.or s g .

No 48 188 ww le w.www.or s g . g lita a .legalitas.org 2008.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful