P. 1
Fungsi Wahyu

Fungsi Wahyu

|Views: 88|Likes:
Published by baeti37

More info:

Published by: baeti37 on Feb 22, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/09/2013

pdf

text

original

Sections

  • A. Definisi Ibadah
  • B. Macam-Macam Ibadah Dan Keluasan Cakupannya
  • C. ALIRAN QADARIYAH ( FREE WILL AND FREE ACT(

Fungsi Wahyu

Menggali dan meneliti kembali asa hidup dan pandangan hidup Islam, kita perlu membuka Al Kitab, mengetahui kehendak dan fungsi Wahyu dalam tata-kehidupan manusia dan mengendalikan kemanusaan sesuai dengan pola dan formula Al-Chalik Maha Pencipta Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.
Rangkaian wahyu yang kita angkat dibawah ini, adalah meletakkan tangga tempat naik untuk mengenal hakekat (Ma’rifatul-hakekat), apa tujuan dan sengaja Ilahy menciptakan Hidup dan membuat halaman kemanusiaan bercahaya diatas buminya. Wahai manusia sekalian ! Sesungguhnya telah datang kepada kamu satu keterangan dari Tuhan kamu, dan Kami telah turunkan kepadamu satu cahaya yang nyata. Maka adapun mereka yang beriman kepada Allah dan berpegang kepada Al Qur-an itu, Tuhan akan memasukkan mereka didalam rahmat dan Karunia dari padaNya, dan Ia akan memimpin mereka kejalan yang lurus yang akan menyampaikan mereka kepadaNya. (QS. Annisaa’: 175-176) Wahai ahli kitab ! Sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menerangkan kepada kamu banyak sekali dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan ia (Rasul itu) tidak memperdulikan banyak lagi kesalahan kamu. Sesungguhnya telah datang kepada kamu dari Allah Cahaya dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itu, Allah memimpin orang yang menurut keridlaanNya dijalan keselamatan, dan Kitab itu mengeluarkan mereka daripada belenggu kegelapan kepada cahaya terang dengan idzinNya, dan kitab itu memimpin mereka kejalan yang lurus. (QS. Al Maidah : 15-16) Ini suatu kitab yang kami turunkan kepada kamu, supaya engkau keluarkan manusia dari kungkungan kegelapan kepada Cayaha dengan idzin Tuhan mereka, kejalan Tuhan Yang Maha Gagah, Maha Terpuji. (QS. Ibrahim : 1) Tidak kami turunkan kepadamu Qur-an, supaya engkau jadi susah dan gelisah. Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut. Diturunkan dari Tuhan yang menjadikan bumi serta langit-langit yang tinggi. Barang siapa yang berpaling dari pada peringatan, maka adalah baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengabulkan dia pada hari Qiyamat dalam keadaan buta. Ia berkata : “Wahai Tuhanku ! Mengapakah Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulunya aku adalah orang yang melek” Ia (Allah) menjawab : “Begitulah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, tetapi engkau lupakan dia, dan begitulah hari ini engkau dilupakan. Dan begitulah Kami balas orang yang melewati batas, dan tidak ber Iman kepada ayat-ayat Tuhannya, Dan sesungguhnya ‘adzab Achirat lebih pedih dan lebih kekal. (QS. Thaha : 2-4, 124-127) Allah sediakan untuk mereka siksa yang keras, maka hendaklah kamu berbakti kepada Allah, wahai manusia yang berfikir, yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan kepadamu satu peringatan. Yaitu seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang nyata untuk mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dari belenggu gelap kepada Cahaya terang. Barang siapa ber-Iman kepada Allah dan menjalankan shaleh, pasti Dia masukkan ia kedalam syurga yang mengalir padanya sungai-sungai, dan mereka kekal didalamnya selama-lamanya, sesungguhnya Allah telah menyempurnakan karunia baginya (QS. Atthalaq : 10-11)

Ialah yang menurunkan atas hambaNya perintah yang nyata dan jelas, karena Ia hendak melepaskan kamu dari belenggu kegelapan kepada Cahaya terang, sesungguhnya Allah itu belas kasihan kepada kamu. ( QS. Al Hadied : 9 )

Rangkaian wahyu yang dikemukakan diatas, adalah fundasi-landasan untuk memahamkan apa fungsi dan arti Risalah yang kita bawa ketengah-tengah dunia untuk berbicara dan berkata dalam gelanggang dan halaman kemanusiaan.
Persoalan zaman kita bukanlah lagi berkisar pada ada atau tiadanya Tuhan, tetapi berkisar kepada Tuhan yang mana yang wajib disembah dan di tha’ati. Bukan lagi berkisar kepada perlu atau tidak perlunya agama, tetapi berkisar kepada Agama yang bagaimana yang sanggup menjawab dan memecahkan persoalan dan tuntutan kemanusiaan, agama yang dapat dijadikan anutan dan pegangan. Bukan lagi berkisar pada perlu atau tidaknya Iman dan kepercayaan, tapi berkisar kepada kepercayaan dan keyakinan yang bagaimana yang sesuai dengan Fithrah-Insaniyyah, dasar kemanusiaan yang asli dan murni. Susunan filsafat demi susunan filsafat, ternyata tidak mampu menyiram kemanusiaan dan kehidupan yang kering dan layu. Filsafat ternyata tidak mampu memecahkan rahasia dan misteria hidup, menunjukkan tujuan hidup kepada manusia. Da’wah Islam langsung datang kepada fithrah-Insaniyyah, membuka matahati dan nurani kemanusiaan. Sebagaimana mata biasa tidak mungkin dapat melihat dan menikmati warna yang indah tanpa mata yang dapat melihat, demikian pula matahati dan nurany kemanusiaan tidak akan mampu melihat dan menggunakan hikmah-keagungan Ilahy, tanpa adanya Nur dan Cahaya Wahyu dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Nur dan cahaya Wahyu tidak mungkin pula akan dapat ditangkap oleh hati yang buta dan kemanusiaan yang telah ternoda. Menyambung cahaya besar dengan cahaya kecil, menyambungkan Cahaya Ilahy dengan nurani kemanusiaan, itulah pokok tugas Da’wah Islam dalam arti yang umum. Persoalan kemanusiaan zaman kita demikian menyeluruhnya dan penuhnya. Hanyalah dengan berpedoman kepada Al-Kitab, berpedoman kepada Wahyu, Ideologi Da’wah Islam akan mampu menjawab dan memecahkan persoalan yang penuh dan menyeluruh itu. Muhammad Ali Jinnah pembangun Negara Islam Pakistan itu pernah berkata :

Bahwasannya Islam itu bukan hanya sekedar rentetan upacara ibadah belaka, tetapi adalah satu hukum, satu syari’at yang maha sempurna, mengatur peri kehidupan dan memberikan kesejahteraan kepada pribadi dan masyarakat.
Agama kita yang hanief itu adalah agama yang mahasempurna, diatasnyalah kita hidup menurut ajaran-ajarannya yang luhur, maka sukses-berhasilnya kita bergantung kepada kesediaan dan kerelaan kita mengikuti ajaran-ajaran emas ini, yang dibawa oleh Al Quranul karim dan ditafsirkan oleh Nabi yang besar dengan ucapan dan perbuatannya.

Al Ustadzul Imam Prof. Syech Muhammad Abduh dalam Muqadimah Tafsirnya (Al-Hakiem) menulis :

....... saya yakin sungguh, sebab kelumpuhan dan kelemahan kaum Muslimin adalah oleh karena mereka telah berpaling dari pimpinan Al-Qur-an. Kemuliaan mereka, kemenangan mereka dan hak milik kekuasaan mereka tidaklah akan pulih kembali kepada mereka, kecuali jika mereka telah kembali kepada pimpinan Al-Qur-an, mentha’ati petunjuknya dan memegang teguh talinya, sebagaimana yang mereka dapat lihat dan mengetahui yang demikian itu dengan jelasnya dalam ayat-ayat yang menerangkan demikian itu.

Dengarlah seorang Barat Prof. M. Thonnon ikut menyalahkan Ummat Islam tatkala dia menulis :
....... Tuan orang Timur sangat gemar meniru kami orang Barat : tetapi yang tuan tiru itu ialah perkaraperkara yang amat rendah, kerusakan-kerusakan dan hal-hal yang sama sekali tidak berguna, bahkan tuan sangat gemar meniru kami dalam perkara yang oleh orang Barat sendiri dianggap penyakit yang merusakkan tubuh, dan orang terpelajar Barat memerangi dan membasminya. Jikalau tuan ingin berkemajuan yang sebenar-benarnya dan ingin berdiri sama tinggi dengan kami, maka pertama-tama pegang teguhlah agamamu, sebab aku dapatkan Al-Qur-an itu berisi pengajaran yang amat luhur, cukup mengatur peri lahir dan bathinmu

Nabi Muhammad SAW yang telah memenangkan keyakinan Islam dan berhasil menegakkan Negara Islam yang pertama di Madinah, pada sahir hayatnya meninggalkan pesan dan wasiat kepada Muslimin :
Sesungguhnya aku tinggalkan padamu sesuatu (tuntunan) manakala kamu berpegang teguh kepadanya, maka kamu tidak akan sesat selama-lemanya, suatu ketentuan yang cukup jelas yaitu Kitab Allah dan Sunnah NabiNya

Perjuangan Nabi telah menang dan berhasil menegakkan Daulah dan Hukumah, Syaukah dan Kekuasaan yang berupa Madinatul Munawarah, namun beliau tidak meninggalkan pesan bahwa beliau meninggalkan negara sebagai warisan kepada Ummatnya, tetapi hanyalah Al-Qur-an dan dan Sunnah, harta lama pusaka bersama bagi kaum Muslimin.
Wasiat terachir itu mengajarkan kepada kita bahwa Negara, Daulah dan Hukumah, kekuasaan dibumi hanyalah natijah atau akibat dari berpegang teguhnya kaum Muslimin kepada Qur-an dan Sunnah. Kekuasaan akan lenyap, kemuliaan akan runtuh, persatuan akan binasa, Daulah dan Hukumah akan bertukar dengan perbudakan dan perhambaan, jikalau Ummat Islam telah lepas dari pimpinan Al-Quran dan Sunnah. Berabad-abad Dunia Islam dalam kungkungan dan belenggu imperialisme Nasrani. Chilafah Umaiyah, Abbasiah, Fathimiyah, Usmaniyah runtuh semuanya, dan kekuasaan direbut oleh kaum imperialis, karena kaum Muslimin telah lari dari pimpinan Al-Qur-an dan Sunnah. Keadaan yang demikian itu, telah diramalkan oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah Hadiets : Kamu sekalian senantiasa akan ditolong oleh Allah untuk mengalahkan musuh-musuh kamu, selama kamu tetap memegang teguh Sunnahku. Sekiranya kamu telah keluar dari Sunnahku, Allah akan menurunkan pemerintahan atas kamu semua dari pada musuh-musuh kamu orang yang menakutnakuti kamu. Maka tidak akan dicabut rasa takut dari hati kamu kembali sebelum mentha’ati Sunnahku.

Kekuasaan, kekuatan, kebebasan dan kemuliaan yang dijanjikan dalam Al-Qur-an kepada Ummat Islam, tidak akan diberikan selama mereka tidak berpegang teguh secara konsekwen kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.

ber-amar ma’ruf dan ber-nahi munkar dimuka bumi. Karena karunia Ilahy ummat Islam didunia sekarang banyak yang memegang kekuasaan dalam negara-negara yang baru merdeka. tidak berhak mewarisi bumi sebagai chalifah. ekonomi dan politik. Ummat Risalah kita bertanggung jawab atas jalan dan perkembangan dunia dan kemanusiaan. Suria dan Mesir dan lain-lain negara Muslimin lainnya memesankan. tidak berhak memiliki kemuliaan dan kebesaran. Ummat Islam tidak akan mampu berbuat baik. pembangunan dunia dan kemanusiaan. Seluruh Ummat Islam memberikan harapan dan kepercayaan kepada para putera Islam yang kebetulan kini sedang memegang pemerintahan negara. Kita harus aktif menyumbangkan harta kita kepada kemanusiaan. jikalau Ummat Islam tidak berpedoman kepada Qur-an dan Sunnah. yalah Qur-an dan Sunnah.Ummat yang sudah lepas dari pimpinan Qur-an dan Sunnah. memberi sumbangan kepada kemanusiaandan kebudayaan. bangsa-bangsa Afro-Asia dan dunia umumnya kini menghadapi pembangunan dalam segala lapangan : pembangunan bangsa dan negara. Ideologi Da’wah Islam sepenuhnya harus bersumber kepada Qur-an dan Sunnah. Jikalau Ayub Khan dari Pakistan. Kaum Muslimin seantero nation harus aktif memberikan sumbangan yang positif untuk membangun dunia dan kemanusiaan itu. Kita dibangkitkan untuk peri-kemanusiaan. nasional dan internasional. Gempitakan suara Islam dalam segala pertemuan. Dengan Qur-an dan Sunnah kaum Muslimin berbicara kepada manusia. dalam waktu yang dekat Dunia Islam akan beroleh kembali kedudukannya sebagai pemimpin dan penengah didunia. Sebagai Ummatan wasathan. Sebagai Muslim dia menerima pesan – amanat dari Tuhan Yang Maha Kuasa untuk membawa dan melaksanakan ajaran dan syari’at Islam didaerah kekuasaannya. membawa dan memperjuangkan ajaran Islam untuk membangun dunia dan kemanusiaan kembali. Pakistan. menyumbangkan apa yang kita miliki untuk membangun dunia kembali diatas puing reruntuhan dunia lama. sosial dan masyarakat. . wahai. banyak terdiri dari kaum Muslimin yang terikat oleh ‘Aqidah yang satu dan keyakinan yang serupa. Tidak ada alasan yang dapat menghalangi mereka untuk mengadakan kerjasama dalam menghadapi masalah dunia dan manusia. Setelah bebas dan lepasnya bangsa-bangsa Afro-Asia dari belenggu imperialisme Barat. ikut memberikan sumbangannya untuk membangun bangsa dan negara. Negara dan bangsa-bangsa Afro-Asia yang kini bergolak mengusir penjajah. Pena dan pedang Syuhada yang membina Haramain. melaksanakan hukum dan syari’at Islam dalam lapangan kemasyarakatan dan kenegaraan. Dienul Islam sebagai Undang-undang Ilahy dilapangan syachsiyyah dan ijtima’iyyah. Hanya itulah satu-satunya harta-kekayaan kita. membangun dunia dan kemanusiaan yang bersalam dan berbahagia. Amir Faisal dari Haramain. Ummat penengah. dan lain-lain kepala dari negara Muslimin didunia mengatur kerjasama yang rapi. penguasa atasnya. menuntut muthlak-perlu adanya Daulah dan Hukumah Islamiyah itu. Kemukakan ajaran Islam kepada manusia. agar diatas bumi yang telah merdeka itu tegak Daulah dan Hukumah Islamiyah. Ummat Islam tidak boleh pasif dan statis membiarkan pembangunan dunia tanpa mendengar suara dan bahasa kaum Muslimin. agar mereka membuktikan ke Islamannya dalam praktek – kenyataan. dan zaman kita ditandai oleh kiamatnya imperialisme dan kolonialisme. milik pusaka kita. perdamaian yang abadi dan sejati.

Al Baqarah : 63. untuk ‘Izzul Islam wal Muslimin. terutama di Afro-Asia yang para Umara’nya banyak terdiri dari kaum Muslimin. Nation Building dan reformisme-modernisme Islam pada hakekatnya adalah satu. Qur-an dan Hadits. seperti satunya jasmani dan ruhani. justru Ummat Islam adalah golongan mayorita dinegeri ini. tidak bisa dipisahkan dengan gerakan reformasi dan modernisasi dalam batang tubuhnya Ummat Islam sendiri. hakum dan syari’at dan syari’at Islamiyah tidak berkaki dan bertahan. bahagia bersama. 93 . Ber-Da’wah kepada para Pemimpin Negara supaya dengan kekuasaan dan syaukah yang ditangan mereka.Qur-an dan Hadits. tugas pokok dari setiap Mu’min yang memahami fungsi dan misinya didunia. hukum dan syari’at Islam memerlukan kekuasaan duniawi (weldlijke macht). dan formil konstitusionil karena Piagam Jakarta tidak boleh dipisahkan dengan UUD 45. Jikalau kita menyebut beberapa kepala Negara diatas agar merintis perjuangan Qur-an dan Sunnah dengan kuasa dan wewenang yang ada ditangannya. tidak bisa berjalan sendiri. adalah dengan kesadaran. Menegakkan Qur-an dan Sunnah. menggunakan dia menjadi asas pembangunan untuk kebahagiaan rakyat. kedua-duanya memberi landasan kebijaksanaan untuk melakukan itu. (QS. Adalah kewajiban Ulama dan Sarjana Islam untuk memberi bekal dan sumbangan kepada para pemimpin negara diseluruh dunia. Kekuasaan itu yang berwenang untuk melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. menciptakan mashlahatuljama’ah. Para penjabat Negara dari pusat sampai ke Rukun Tetangga terdiri dari sebagian besar Ummat Islam. Al A’raf : 17) Ayat-ayat diatas secara langsung juga berbicara kepada Amir Faisal. Di Indonesia warganegaranya tidak kurang dari 95% yang beragama Islam. Ajaran Islam yang murni dan asli (Qur-an dan Sunnah) bukan saja berguna untuk nation building kita. yang berhak memerintah dan menegah manusia. dan ingatlah apa yang tersebut didalamnya supaya kamu menjadi orang Taqwa. agar mereka menggunakan kedudukan dan kekuasaan mereka untuk kejayaan Islam dan kaum Muslimin. . Kewajiban moril karena kita adalah kaum Muslimin. Islam dipakai untuk membangun masyarakat dan negara. yang memperjuangkan Qur-an dan Sunnah itu dengan pena dan pedang ? Bukankah Negara Pakistan tidak bisa dipisahkan dengan peletak dasar yang pertama. Ayub Khan dan lain-lain putera Islam yang memegang kekuasaan negara. Kamu terimalah Kitab yang Aku berikan kepada kamu dengan kekuatan. Bukankah Negara Sa’udi Arabia yang pimpinannya sekarang (1964) ditangan Amir Faisal adalah jerih payah dari perjuangan besar Syechul Islam Muhammad bin Abdulwahhab. sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapinya pula. bahwa mereka adalah pendukung Qur-an dan Sunnah itu. jiwa dan jasad. mempunyai kewajiban moril dan formil untuk menjalankan syari’at Islam (Syar’iyyah Islamiyah). tetapi untuk membangun dunia baru yang bebas dari perbudakan dan perhambaan. Kamu terimalah Kitab yang Aku berikan kepada kamu dengan kekuatan dan dengarkanlah betul-betul. pujangga dan sarjana Islam yang masyhur Muhammad Iqbal ? Nation building yang kini kita jadikan thema pokok dalam segala kegiatan. seperti yang diamanatkan oleh Piagam Jakarta yang terkenal itu. Dalam bidang ini Mujahid Da’wah (Muballigh Islam) dapat memberikan darmabaktinya.

Dari sisi peristilahan dalam memberi pengertian para ilmuwan beragama dalam memberi . Gejala seperti ini apakah memang sudah alami yang menjadi sebuah kenyataan untuk bisa diambil hikmahnya. yaitu sisi kebahasaan dan sisi peristilahan. Keadaan ini juga terjadi pada negara lain. bid’ah dan sebagainya. sebagai pilihan dan alternatif untuk mengembangkan kehidupan. mengedalikan kemanusiaan. namun tidak terkoordinasi dan tidak tersusun secara sistemik. Sebagai contoh. Kalau kepada mereka tentang bagaimana cara mengatasi masalah pelacuran maka yang ada hanya bagaimana menghancurkan tempat pelacuran tersebut. struktur sosial. malah dia yang berhak menerima zakat. Ummat yang tidak berpegang kepada Qur-an dan Sunnah (Ummat Islam) tidak mempunyai apa-apa yang dapat disumbangkannya kepada Dunia dan Manusia. sentosa dan damai. Sehingga sesuatu yang variatif ini tidak keluar dari ajaran yang tekandung dalam al-Qur’an dan As-Sunnah sehingga tidak akan keluar dari keabsahannya. yang penuh dengan churafat. Rumus Ideologi Da’wah yang bersumber kepada Qur-an dan Sunnah. Karena orang tidak menerima Islam secara sistemik maka antara guru satu dengan yang lainnya tidak akan pernah ketemu karena tidak sebuah silabus yang mengacu menjadi satu kesatuan. NUR CHOLIS MAJID : Sikap pasrah kepada Tuhan adalah merupakan hakikat dari pengertian islam. membuat Negara dan Dunia ini menjadi bahagia dan bercahaya buat semuanya. Islam yang sudah dikebiri dan dilucuti oleh seribu satu penyakit yang ditumbuhkan oleh Ummat Islam sendiri. Negara dan Dunia.Islam yang tidak bersumber kepada Qur-an dan Sunnah. MAULANA MUHAMMAD ALI : Islam adalah agama perdamaian. syirik. malah tidak berhak berbicara atas nama Ummat Islam. pemahaman tentang ke-Islaman ummat Islam di Indonesia sangat variatif. kesenjangan sosial. Kemudian Aslama berserah diri masuk dalam kedamaian. BEBERAPA PENDAPAT TENTANG ISLAM Ada dua sisi yang dapat digunakan untuk memahami pengertian Agama Islam. Dari seorang fakir-miskin tak ada kewajiban zakat yang harus dibayarnya. karena dalam masalah itu tidak serta merta hanya masalah pelacuran tetapi ada masalah yang lauin yaitu ketenaga kerjaan. Padahal tidak bisa mengatasi persoalan pelacuran menghancurkan tempatnya saja. misalkan ada orang yang menguasi ilmu Fiqh tetapi tidak memahami ilmu-ilmu yang lain setiap ada masalah jawabannya selalu ilmu fiqh yang diberikan. Adanya sejumlah orang yang pengetahuan tentang ke-Islamannya cukup luas dan mendalam. ataukah diperlukan standart umum untuk bisa mengetahui keadaan yang variatif seperti ini. dan dua ajaran pokok yaitu keesaan Allah dan kesatuan atau persaudaraan ummat manusia menjadi bukti nyata. hanya itu sajalah yang dapat kita ketengahkan kepada manusia. tidak mungkin dapat memberikan sahamnya untuk nation building dan character building. tidak akan mampuh memberikan sumbangannya bagi pembangunan Bangsa. NAAN METODOLOGI Sejak kedatangan Islam abad ke-13 hingga saat ini. sistem perekonomian dan sebagainya. Kebahasaan Islam dari bahasa Arab salima selamat. B.

tetapi mengenai beberapa segi dari kehidupan manusia. AKIBAT YANG TIMBUL DARI PEMAHAMAN ISLAM Perjalanan Islam samapi kini telah melampui kurun waktu lima belas abad dan dipeluk oleh manusia diseluruh penjuru dunia. pandangan hidup dan sikap politiknya. manusia dengan alam semesta. Sesungguhnya setan musuh yang nyata bagimu” Kata ‫ السـلم‬yang dalam ayat diatas diterjemahkan kedamaian atas Islam. sufisme dan filsafat saja dengan meninggalkan . Peristilahan ini disamakan pada umumnya agama diluar Islam yang namanya disandarkan kepada nama pendirinya. Setiap pemikir ketika melontarkan gagasan atau buah pikirannya tidak lepas oleh situasi lingkungan yang dihadapi . Dari definisi itu dapat disimpulkan bahwa Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada manusia melalui Rasul-rasul-Nya berisi hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah. demikian juga sebaliknya. Geraknyapun menjadi lamban. Setiap pemikiran yang kemudian didukung oleh sekelompok orang. berliku-liku dan bercabang-cabang. Airnya kian pekat karena mengangkut pula lumpur dan sampah. dan terbina dalam bentuknya terakhir dan sempurna dalam al-Qur’an yang suci yang diwahyukan Tuhan Kepada Nabi-Nya yang terakhir yakni Nabi Muhammad Ibnu Abdullah. masuklah kamu ke dalam Kedamaian/Islam secara menyeluruh dan jangan kamu ikuti langkah-langkah Setan. HARUN NASUTION: Islam sebagai agama adalah agama yang ajaran-ajaranya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui nabi Muhammad sebagai rasul. satu kaidah yang memuat tuntunan yang jelas dan lengkap mengenai aspek hidup manusia baik spritual maupun material. makna dasarnya adalah damai atau tidak mengganggu. Pemikiran Islam dapat diibaratkan dengan sebagai sungai yang besar dan panjang. Pengertian Islam menurut Maulana Ali dapat dipahami dari Firman Allah surat Al-Baqorah ayat 208 : ٌ ْ ِ ّ ّ ُ َ ْ ُ َ ُ ِّ ِ َ ْ ّ ِ َ ُ ُ ْ ُ ِ َّ َ َ َ ّ َ ِ ّْ ‫ياأيهاالذين أمنواادخلوا فى السلم كافة ولتتبعوا خطوات الشيطان انه لكم عدو مبين‬ ِ ْ ُُ ْ ْ ُ َ َ ْ ِ ّ َ ّ َ َ “Hai Orang-orang yang beriman. maka kajian pemikiran Islam hanya dibagi dalam bidang teologi (kalam). C.pengertian antara lain adalah : Ahmad Abdullah Al-Masdoosi (1962) : Islam adalah Kaidah hidup yang diturunkan kepada manusia sejak manusia digelarkan ke muka bumi. Jika teori ini benar. manusia dengan manusia. ORIENTALIS : islam sering di identikkan dengan Mohammadanism dan Mohammedan. Menurut Sosiologi pemikiran teologi dan filosofi selalu terkait dengan politik atau kemasyarakatan. Wajar jika sumber mata airnya yang semula bening dan jernih serta mengalir pada alur sempit dan deras dalam perjalanannya menuju muara kian melebar. Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya satu segi. idenya muncul dan nafasnya dihembuskan oleh semangat tokoh pemikir.

Selain dengan menggunakan pendekatan komparasi. menjadi sebuah kajian yang tidak lengkap. Begitulah cara paling minimal untuk memahami agama paling besar sekarang ini agar menjadi pemeluk agama yang mantap dan untuk menumbuhkan sikap . perseorangan maupun masyarakat. Pada intinya metode ini adalah metode komparasi (perbandingan). Namun demikian. Ali Syariati juga menawarkan cara memahami Islam melalui pendekatan aliran. karena metode dan pendekatan dalam memahami Islam yang demikian itu masih perlu dilengkapi dengan metode yang bersifat teologis dan normatif. Mempelajari Islam dengan metode ilmiah saja tidak cukup. maka yang akan terlihat hanya satu dimensi saja dari gejalanya yang bersegi banyak. Ali Syariati lebih lanjut mengatakan. Dengan mengenal Allah dan membandingkan-Nya dengan sesembahan agama lain b. c. Mungkin kita berhasil melihatnya secara tepat. BEBERAPA METODE MEMAHAMI ISLAM Kami mencoba menelusuri metode memahami Islam sepanjang yang dapat dijumpai dari berbagai literaratur ke-islaman. d. karya Ali Syariati dijumpai uraian singkat tentang metode memahami yang pada intinya Islam harus di lihat dari berbagai dimensi.ketatanegaraan(politik) dan hukum. masyarakat-masyarakat Islam harus dikaji dalam dan untuk diri sendiri. Dalam hubungan ini ia mengatakan jika kita meninjau Islam dari satu sudut pandangan saja. Dalam buku yang berjudul Tentang Sosiologi Islam. namun tidak cukup apabila kita memahami secara keseluruhan. Memahami Islam secara menyeluruh adalah penting walaupun tidak secara detail. Tugas intelektual hari ini ialah mempelajari memahami Islam sebagai aliran pemikiran yang membangkitkan kehidupan manusia. Perbandingan menghendaki obyektifitas. D. Dengan demikian untuk menghasilkan Islam secara utuh dan menyeluruh perlu menatapnya dari berbagai situasi yang mengitari disekitar kalahiran Islam tersebut serta tokoh-tokoh yang mengembangkannya. ada berbagai cara memahami Islam a. Secara akademis suatu perbandingan memerlukan persyaratan tertentu. Mempelajari kepribadian Rasul Islam dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh besar pembahruan yang pernah hidup dalam sejarah. NASRUDDIN RAZAK metode memahami Islam sama dengan Ali Syariati menawarkan metode pemahaman Islam secara menyeluruh. Pencampuradukkan antara Islam sebagai agama dan Islam sebagai rangka historis bagi pengembangan budaya dan peradaban telah dilanggengkan dan pernah berkembang lebih kompleks hingga hari ini. Mempelajari tokoh-tokoh Islam terkemuka dan membandingkan tokoh-tokoh utama agama maupun aliran-aliran pemikiran lain. Dengan mempelajari Kitab suci Al-Qur’an dan membandingkan dengan kitab-kitab samawi (atau kitab-kitab yang dikatakan sebagai samawi) lainnya. Untuk itu dalam memahami dan menelaah ajaran Islam yang ada dalam buku-buku ilmiah terkadang perlu kita cermati apakah ajaran ini persial atau apakah sudah komprehensif.

Metode lain yang diajukan Mukti Ali adalah metode tipologi. baru kemudian dihubungkan dengan kenyataan historis. 3. maka kita hanya akan melihat satu dimensi dari fenomena-fenomena yang multi faset (terdiri dari banyak segi). Kedua. Selain itu Mukti Ali juga mengajukan pendapat tentang metode memahami Islam sebagaimana yang dikemukakan oleh Ali Syariati yang menekankan pentingnya melihat Islam secara menyeluruh. karena orang mengenalnya dari sebagian ulama dan pemeluknya yang telah jauh dari bimbingan Al-Qur’an dan Al-Sunah. 2. Pertama metode Komparasi. Kekeliruan memahami Islam. karena pada umumnya mereka memiliki pemahaman Islam yang baik yaitu pemahaman yang lahir dari perpaduan ilmu yang dalam terhadap ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah dengan pengalaman yang indah dari praktek ibadah yang dilakukan setiap hari. menimbulkan skeptis. juga agama-agama lain. lalu dibandingkan dengan topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan teologi normatif yang ada dalam al-Qur’an. Melalui metode teologis normatif ini seseorang memulai dari meyakini Islam sebagai agama yang mutlak benar. apabila kita melihat Islam hanya dari satu segi saja. Memahami Islam secara persial akan membahayakan. Metode sintesis yaitu suatu cara memahami Islam yang memadukan antara metode ilmiah dengan segala cirinya yang rasional obyektif. Islam harus dipelajari dari sumber aslinya Al-Qur’an dan hadits. yaitu suatu cara memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama Islam tersebut dengan agama lainnya. Dari beberapa metode diatas kita melihat bahwa metode yang dapat digunakan untuk memahami Islam secara garis besar ada dua macam. dengan demikian akan dihasilkan pemahaman Islam yang obyektif dan utuh. Metode ini banyak ahli sosiologi dianggap obyentif berisi klasifikasi topik dan tema sesuai dengan tipenya. Dalam hubungan ini Mukti Ali mengatakan. Islam seharusnya dipahami secara bulat. Metode ilmiah digunakan untuk memahami Islam yang terkandung dalam kitab suci. atau melalui pengenalan dari sumber kitab-kitab fiqh dan tasawuf yang semangatnya sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman.yang hormat bagi pemeluk agama lainnya. dan apa yang berasal dari Tuhan Mutlak benar. tidak dengan cara persial artinya ia dipelajari secara menyeluruh sebagai satu kesatuan yang bulat tidak secara sebagian saja. kritis dan seterusnya dengan metode teologis normatif. Mempelajari Islam dengan cara demikian akan menjadikan orang tersebut sebagai pemeluk Islam yang sinkretisme. Islam perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar dan sarjana-sarjana Islam. 4. yaitu 1)aspek ketuhanan 2)aspek kenabian 3)aspek kitab suci dan 4)aspek keadaan sewaktu munculnya nabi dan orang-orang yang didakwahinya serta individu-individu terpilih yang dihasilkan oleh agama itu. Hal ini didasarkan pada alasan. Setelah itu dilanjutkan dengan melihat agama sebagai norma ajaran yang berkaitan dengan aspek kehidupan manusia yang secara . kita dapat mengindentifikasi lima aspek dari ciri yang sama dari agama lain. bimbang dan penuh keraguan. Metode ini juga untuk memahami agama Islam. Islam harus di pelajari dengan integral. sekalipun kita melihatnya itu betul. Untuk memahami agama Islam secara benar Nasruddin Razak mengajukan empat cara : 1. empiris dan sosiologis yang ada di masyarakat. yaitu pemahaman Islam dipahami secara komprehensif. karena agama bersal dari Tuhan. maka agamapun mutlak benar. yakni bercampur dengan hal-hal yang tidak islami jauh dari ajaran islam yang murni.

Faktor lainnya dari latar belakang paham Teologis-Normatif ialah karena sikap yang kurang percaya kepada pendapat akal manusia. jika Islam ditinjau dari satu sudut pandang saja. Hal ini dikarenakan pendapat akal manusia kadang melakukan kesalahan baik yang disengaja maupun tidak. kewajiban mengetahui baik dan jahat serta kewajiban mengetahui yang baik dan menjauhi yang buruk tidak dapat dicapai oleh akal. Keyakinan pada wahyu inilah yang menjadi salah satu faktor timbulnya paham TeologisNormatif ini berkembang. misalnya aspek lingustik dan . Buktinya ialah Alquran yang memiliki banyak dimensi. Sehingga pada pendapat akal yang salah dapat menyesatkan atau menyalahkan manusia dalam berbagai bidang kehidupannya.keseluruhan diyakini amat ideal. ← PENGERTIAN FILSAFAT ISLAM | TASAWUF → Rating tidak diperbolehkan • • • • • • • • • • Melaporkan penyalahgunaan Bagikan Paham Teologis-Normatif dalam Islam tak dapat terlepas dari pemahaman mengenai kondisi obyektif masyarakat. Namun sampai sekarang kita belum tahu dimana batasan akal yang kita miliki. Latar belakang penyebab lain timbulnya paham Teologis-Normatif adalah karena berkembang pesatnya paham teologi teo-centris yang berkembang di dunia Islam. Ali Syariati dalam bukunya Tentang Sosiologi Islam menguraikan secara singkat tentang metode memahami Islam yang pada intinya bahwa Islam harus dilihat dari berbagai dimensi. maka yang akan terlihat hanya satu dimensi saja dari gejalanya yang bersegi banyak. seperti sebab pertama dan terakhir segala sesuatu. Harun Nasution dalam bukunya teologi Islam. dalam kaitannya dengan peranan akal Asy’ariyah berpendapat bahwa kewajiban mengetahui Tuhan. Hal ini memang dapat dapat dibenarkan. namun tidak cukup bila kita ingin memahaminya secara keseluruhan. Karena akal yang diberi oleh Tuhan punya keterbatasan dalam membuka hijabNya. melainkan harus melalui wahyu yang disampaikan oleh Tuhan. Menurutnya. salah satu fungsi wahyu ialah member tuntunan kepada manusia untuk mengatur hidupnya di dunia. Mungkin pandangan kita itu akan tepat. Wahyu perlu untuk mengatur masyarakat manusia dan memang demikian pendapat kaun Asy’ariah. Melalui metode teologi normatif yang tergolong tua usianya ini dapat dihasilkan keyakinan dan kecintaan yang kuat. METODE MEMAHAMI ISLAM Oleh Rustina N Untuk memahami Islam secara komprehensi dan tepat diperlukan metode. Sehingga cara befikir teologis disini berusaha mencari jawaban absolut dari masalah-masalah yang dihadapi. bahwa segala sesuatu dalam beragama tak dapat selalu diisolaikan dengan akal atau rasional manusia. kokoh dan militan pada Islam. Berikut ini beberapa metode yang ditawarkan oleh ilmuwan muslim yang dapat membantu seorang muslim memahami agamanya. Al-Dawwani pernah berkata. yakni teologi Asy’ariyah. sedangkan metode ilmiah yang dinilai sebagai tergolong muda usianya ini dapat dihasilkan kemampuan menerapkan Islam yang diyakini dan dicintainya itu dalam kenyataan hidup serta memberi jawaban terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi manusia.

tidak dengan cara parsial. yaitu aspek ketuhanan. yaitu bahwa untuk melihat Islam sebagai sebuah disiplin ilmu (islamic studies) dapat digunakan pendekatan ilmiah yang ciri-cirinya rasional. lalu dibandingkan dengan topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. empiris. sosiologis dan psikologis belum banyak dikaji. kaum zuamaa dan sarjana-sarjana Islam karena mereka pada umumnya memiliki pemahaman Islam yang baik yang lahir dari perpaduan ilmu yang dalam terhadap Alquran dan Sunnah serta praktek ibadah yang dilakukan setiap hari. Dalam hal agama Islam. dapat digunakan metode ilmiah dengan ciri-ciri rasional. Ia mengajukan empat cara.sastra yang telah banyak dipelajari. Selanjutnya terdapat pula metode memahami Islam yang dikemukakan oleh Nasruddin Razak yang hampir sama dengan konsep Ali Syariati. Memahami Islam dengan cara keempat sebagaimana disebutkan di atas sangat diperlukan dalam upaya menunjukkan peran sosial dan kemanusiaan dari ajaran Islam itu sendiri. serta agama lain kita dapat menidentifikasi lima aspek atau ciri dari agama itu. yaitu. atau hanya dari kitab-kitab filih dan tasawuf. Ali Syariati menawarkan berbagai cara memahami Islam yang pada intinya adalah melalui metode perbandingan serta melalui pendekatan aliran. Metode perbandingan atau komparasi dengan cara membandingkan Alquran dengan kitab-kitab samawi lainnya. Sementara dimensi manusiawinya yang mengandung aspek historis.obyektif Sedangkan untuk melihat Islam sebagai agama dapat digunakan pendekatan normatif teologis. Secara teknis. mempelajari tokohtokoh Islam terkemuka dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh utama agama atau aliran-aliran pemikiran lain. artinya ia dipelajari secara menyeluruh sebagai satu kesatuan yang bulat tidak secara sebagian saja. yaitu Alquran dan al-Sunnah. Metode lain untuk memahami Islam yang diajukan Mukti Ali adalah metode tipologi. aspek kenabian. kedua. obyektif yang selanjutnya disebut pendekatan sintesis. empiris. dan sosiologis yang ada di masyarakat. Amin Abdullah dan Mukti Ali juga menawarkan dua metode memahami Islam. islam harus dipelajari dari sumbernya yang asli. lalu dibandingkan dengan aspek dan ciri yang sama dari agama lain. Keempat. islam harus dipelajari secara integral. empiris. mempelajari kepribadian Rasul Islam dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh besar pembaharuan yang pernah hidup dalam sejarah. aspek kitab suci. yaitu metode memahami islam secara menyeluruh. pertama. Islam perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar. aspek keadaan sewaktu munculnya Nabi dan orang-orang yang . Mukti Ali melihat bahwa untuk melihat Islam sebagai sebuah agama dapat digunakan metode doktriner dan untuk melihat Islam sebagai sebuah disiplin ilmu. Adapun cara kedua dalam memahami Islam menurut Ali Syariati adalah melalui pendekatan aliran. Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan normatif teologis yang ada dalam Alquran lalu dihubungkan dengan kenyataan historis. mengkajinya sesuai dengan bidangnya masingmasing untuk menumbuhkan pemahaman yang segar tentang Islam demi masa depan ummat manusia yang lebih baik dengan berpedoman pada Alquran dan Sunnah. Demikian juga aspek-aspek filosofis dan keimanan Alquran yang telah banyak dikaji oleh filosof dan teolog. ketiga. bukan hanya dari sebagian ulama dan pemeluknya. yakni para intelektual muslim memikul tugas dan amanah untuk memahami Islam. Aspek-aspek tersebut seharusnya dikaji untuk menghasilkan pemahaman Islam secara menyeluruh. yaitu mengklasifikasi topik dan tema sesuai dengan tipenya.

empiris. sedangkan metode teologis normatif digunakan untuk memahmi Islam yang terkandung dalam kitab suci. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Selanjutnya untuk memahami Islam dapat pula dilakukan dengan memahami kitab sucinya dan mempelajari pribadi Muhammad bin Abdullah. Bulan Bintang : 1991 : xvi + 233 halaman (termasuk biografi singkat) . h. A. serta meneliti suasana dan situasi di mana Nabi Muhammad bangkit. dan sosiologis. kokoh.didakwahi serta individu-individu terpilih yang dihasilkan oleh agama itu. Pertama. maka agama pun mutlak benar. IV. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa secara garis besar ada dua metode yang dapat ditempuh untuk memahami Islam. Kedua metode sintesis. sehingga diperlukan pendekatan baru yang harus terus digali oleh pembaharu. Metodologi Studi Islam. obyektif. (Abuddin Nata. dan militan pada Islam. 104-115). • • • • • • • • METODE MEMAHAMI AGAMA ISLAM Judul Buku Penulis Penerbit Tahun Terbit Tebal : Metode Memahami Agama Islam : H. yaitu suatu cara memahami Islam yang memadukan antara metode ilmiah dengan segala cirinya yang rasional. Cet. Metode-metode yang digunakan untuk memahi Islam itu suatu saat mungkin dipandang tidak cukup lagi. Metode ilmiah digunakan untuk memahami Islam yang nampak dalam kenyataan historis. Metode teologis normatif dimulai dari keyakinan bahwa Islam sebagai agama mutlak benar dengan alasan karena agama berasal dari Tuhan dan apa yang berasal dari Tuhan mutlak benar. yaitu suatu cara memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama Islam dengan agama lain sehingga dihasilkan pemahaman Islam yang obyektif dan utuh. metode komparasi. Setelah itu dilanjutkan dengan melihat agama sebagaimmana norma ajaran yang berkaitan dengan dengan berbagai aspek kehidupan manusia yang secara keseluruhan diyakini amat ideal. Mukti Ali : PT. kritis dengan metode teologis normatif. empiris. sedangkan dengan metode ilmiah yang nilai tergolong muda usianya dapat dihasilkan kemampuan menerapkan Islam yang diyakini dan dicintainya dalam kenyataan hidup serta memberi jawaban terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi manusia. Melalui metode teologis normatif yang tergolong tua usianya dapat dihasilkan keyakinan dan kecintaan yang kuat.

(hlm. Dengan metodologi itu. sains. (hlm. hanya hanya mempunyai bakat. diperlukan suatu metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. (hlm. Mukti Ali menganjurkan para peneliti Muslim untuk menggunakannya. sistematis. • Pada bagian pertama bukunya ini. Islam dapat dipahami secara objektif. Metode kognitif yang betul untuk mencari kebenaran adalah lebih penting daripada filsafat. Mukti Ali mengatakan bahwa metodologi adalah masalah yang sangat penting dalam sejarah pertumbuhan ilmu. Ia lalu mengusulkan bahwa sistem pengajaran dan pendidikan yang paling baik di Indonesia adalah madrasah dalam pesantren.• Persoalan metodologi selalu menjadi perhatian utama para ilmuwan atau peneliti ketika membahas suatu objek kajian. yang membahas tentang "Ulama dan Pesantren" Mukti Ali menerangkan ciri-ciri pesantren kemudian menyatakan bahwa sistem pesantren baik dalam pendidikannya. Hal ini diperlukan untuk menghasilkan penelitian yang seobjektif mungkin dan seilmiah mungkin. ia tetap mengkritik cara Barat (orientalis) dalam mempelajari Islam yang hanya mendekati Islam dengan metode ilmiah saja. ilmiah. psikologis. tetapi mereka sebenarnya belum mengerti Islam secara utuh. tidak subjektif. Mereka hanya mengetahui kulit luarnya agama Islam. 31) • Walaupun demikian. v) • Pada bagian kedua bukunya. tetapi tidak baik dalam pengajarannya. atau sosiologis. tidak emosional. 27) • Demikian pula halnya ketika mengkaji tentang Islam. Pertanyaannya adalah bagaimana metode yang baik itu? Orang-orang Barat yang mengkaji Islam menggunakan metode naturalistik. 32) . dan lain-lain. benar. (hlm. Akibatnya adalah penelitiannya menarik.

negerinya. 32) • Mukti Ali mengajukan metode Ali Syari'ati dalam memahami agama Islam. (hlm. maka ia harus menenpuh cara yang kedua. yang sama sekali tidak dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan hidup dalam masyarakat.• Para ulama pun mendapatkan kritik dari guru besar Ilmu Perbandingan Agama. bagaimana kehidupan pendidikan yang diberikan kepadanya. (hlm. rasnya. Untuk memahami manusia. 3334) • Cara pertama dianggap tidak mencukupi. bagaimana keluarganya. • Adapun cara pertama. sehingga timbul kesan bahwa Islam sudah ketinggalan zaman dan sudah tidak sesuai dengan alam pembangunan ini. Hal ini dilakukan untuk mengetahui ide dan kepercayaannya sebagai pendahuluan yang harus dilakukan untuk mengetahui orang tersebut. sukunya. penafsirannya tidak dapat diterapkan dalam masyarakat. yaitu mempelajari biografinya. IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini. buku-buku yang ditulisnya. Hal-hal yang berkaitan dengan itu adalah di mana tempat lahir. di mana ia belajar. berbagai pidato dan kuliahnya. bagaimana hidupnya ketika masih kecil. Ali Syari'ati membandingkan agama dengan manusia. kejadian- . seseorang harus mempelajari dan meneliti hasil karyanya. siapa saja guru-gurunya. Menurutnya. mempelajari hasil karyanya dan mempelajari biografinya. Akibatnya. teori-teori yang digunakannya. Seseorang yang ingin mengetahui orang itu lebih jauh. maka ada dua cara yang harus ditempuh yaitu. para ulama sudah terbiasa memahami ajaran Islam dengan cara doktriner dan dogmatis. Ia lalu menawarkan pendekatan baru dalam memahami Islam yaitu pendekatan ilmiah-cumdoktriner atau dengan kata lain metode sintesis. Karya-karya yang dimaksudkan di sini adalah karangan-karangan intelektualnya atau karya-karya ilmiahnya. kapan ia lahir. apa yang dia pelajari. dalam lingkungan apa ia dibesarkan.

Pendekatan ini dianggap banyak digunakan oleh para sarjana Barat dalam memahami manusia. 4) keadaan sekitar ketika munculnya sang nabi dan keadaan orangorang yang didakwahi. Abu Bakar ash-Shiddiq . kemudian dibandingkan dengan topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. maka yang dipelajari darinya adalah pertama. 37-38) • Jika metode di atas diterapkan pada Islam. Kedua. 3) Kitab. konsep.kejadian penting apa saja yang pernah dialami dalam kehidupannya. 2) Nabi. 5) sejarah orang-orang yang berjuang pertama kali bersama Nabi saw. pertama kali muncul (hlm. 38-39). gambaran. maka setidaknya ada lima aspek atau ciri yang bisa diidentifikasi pada semua agama. 1) Allah swt. yang berkaitan dengan tipe. 3) pribadi Rasulullah saw. Kelima aspek tersebut adalah 1) Tuhan. dan 5) pribadi-pribadi pilihan hasil didikan agama tersebut. yaitu mempelajari tentang perkembangan Islam sejak awal misi Nabi Muhammad saw. 40). hingga sekarang. 34) • Selain metode di atas. 37) • Apabila metode ini diterapkan pada agama. (hlm. seperti Khadijah (mewakili wanita). apa saja kegagalan yang ia alami dan apa saja kesuksesan yang ia dapatkan? (hlm. al-Quran yang merupakan himpunan ide dan output ilmiah dan literer yang terkenal dengan Islam. pelajaran tentang sejarah Islam. 4) sejarah bangsa Arab ketika Nabi Muhammad saw. Cara kerja metode ini adalah mengklasifikasikan topik dan tema sesuai dengan tipenya. 2) al-Qur'an sebagai kitab suci agama Islam (hlm. Metode yang dimaksud adalah metode tipologi. 39). (hlm. 38). dan ciri-ciri Tuhan yang dibahas dalam Islam (hlm. maka yang harus dipelajari adalah. (hlm. (hlm. 34) • Apabila metode di atas diterapkan pada agama Islam. Mukti Ali juga menawarkan metode lain dalam memahami Islam.

cetakan ketiga. cetakan kedua (Jakarta: UI Press. 575 halaman (al-Magrib: dar at-Tiba'ah al-Haditsah. dua jilid. 1) Harun Nasution. saat ini diperlukan pengetahuan tentang ajaran Islam yang komprehensif atau menyeluruh yang bersumber dari al-Qur'an dan Sunnah. cetakan . cetakan kesebelas. 126 dan 122 halaman. 1) Hamka. 260 dan 244 halaman (Doha. • Kelompok pertama adalah buku-buku yang sengaja ditujukan kepada kelompok khusus seperti khusus ditujukan kepada non-muslim atau ditujukan kepada para intelektual. 1978). 4) Abu Bakar Jabir al-Jazairi. 1973). The Religion of Islam. (42) • Pada bagian ketiga bukunya. Padahal. dan Ijtihad sebagai metode pendekatan yang digunakan. 2) Abu A'la Maududi. Qatar: Dar al-Uloom. Sunnah. (hlm. Ali bin Abi Thalib (mewakili pemuda). Beberapa contoh buku tersebut adalah. Mukti Ali mengkritik Muhammadiyah yang menggunakan al-Qur'an. Beberapa contoh tersebut dibagi ke dalam tiga kelompok sesuai dengan tujuan dan sasaran penulisannya. Pelajaran Agama Islam. Towards Understanding Islam. 3) Ahmad A. dua jilid. 45) • Mukti Ali kemudian memberikan beberapa contoh buku yang membahas tentang Islam secara komprehensif. 1397/ 1977). 179 halaman (lahore: Islamic Publication.(mewakili orang kaya yang terhormat). Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Minhajul Muslim. (hlm. 46-47) • Kelompok kedua adalah buku yang ditujukan tidak kepada kelompok khusus. 1967). tetapi Muhammadiyah sendiri belum menghasilkan karya tentang Islam yang bersumber dari al-Qur'an dan Sunnah. Bilal bin Rabah (mewakili budak yang dianggap hina dina oleh kaumnya kala itu). Beberapa contoh kelompok ini adalah. Galwash.

Buku ini tidak dilengkapi dengan foonote dan daftar pustaka. 570 halaman (Cairo: Dar al-Qalam. • 3. Seringnya terjadi pengulangan pembahasan di berbagai tempat. The Religion of Islam. Buku ini tidak diantarkan oleh penulis lain selain Mukti Ali sendiri. sehingga untuk mencari atau memeriksa kata-kata yang dibutuhkan secara cepat. . • 2. Hal ini terjadi disebabkan karena materi buku ini merupakan materi pidato dan prasaran yang di sampaikan di berbagai tempat. Buku ini berjudul tentang "metode memahami Agama Islam" yang dalam bayangan penulis buku ini membahas secara tuntas tentang berbagai metode yang digunakan dalam memahami agama Islam. Al-Islam Aqidah wa Syari'ah. dan ketiga yang membahas metode yang dimaksudkan tersebut.t. cetakan ketiga. Buku ini tidak dilengkapi dengan indeks.kelima. (hlm. kedua. tetapi ternyata hanya bagian pertama. selainnya lebih berbicara tentang sejarah Muhammadiyah dan pendirinya. 1973). Kata pengantar dari tokoh lain sangat penting untuk informasi awal dari suatu buku agar tidak terkesan subjektif. 47) • Kelompok ketiga adalah buku yang mempunyai ciri khusus yaitu berusaha untuk mempertahan Islam dari serangan-serangan dan berbagai tuduhan orang-orang Barat. (hlm. dan sejarah tokoh lainnya. • 5. • 4. 47) • • Adapun kekurangan buku ini menurut penulis adalah. 1. 1966). t. sehingga sulit untuk melacak referensi yang digunakan penulis.). 784 halaman (Cairo: The Arab Writer Publication & Printers. 2) Mahmoud Syaltut. 408 halaman (Jakarta: Bulan Bintang. Contoh buku tersebut adalah Maulana Muhammad Ali.

04 November 2009 PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM KAJIAN ISLAM PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM KAJIAN ISLAM Pendahuluan Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Penelitian antropologi Grounded Research adalah penelitian yang penelitinya terlibat dalam kehidupan masyarakat yang ditelitinya. Antropologi dalam kaitan ini sebagaimana dikatakan Powam Rahardjo. bahkan sifatnya partisipatif. Antropologi. Dibekali dengan pendekatan yang holistik dan komitmen antropologi akan pemahaman tentang manusia.• 6. di mana ia lahir bagaimana latar belakang pendidikannya. lebih mengutamakan pengamatan langsung. • • Rabu. Biodata penulis kurang memadai atau kurang lengkap karena hanya mencantumkan jabatan dan bukunya yang baru terbit. Melalui pendekatan ini. menjadi sangat penting untuk memahami agama. Antropologi mempelajari tentang manusia dan segala perilaku mereka untuk dapat memahami perbedaan kebudayaan manusia. Dengan kata lain bahwa cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologis dalam melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama. sebagai sebuah ilmu yang mempelajari manusia. dan berbagai informasi lainnya. maka sesungguhnya antropologi merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama dan interaksi sosialnya . Fenomena-fenomena tersebut selanjutnya diinterpretasi dengan menggunakan kerangka teori tertentu. Padahal informasi yang tidak kalah pentingnya adalah kapan ia lahir. Seorang peneliti datang ke lapangan tanpa ada prakonsepsi apapun terhadap fenomena keagamaan yang akan diamatinya. agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya.

Dengan demikian memahami Islam yang telah berproses dalam sejarah dan budaya tidak akan lengkap tanpa memahami manusia. karena konsep manusia sebagai 'khalifah' (wakil Tuhan) di bumi. Di Indonesia usaha para antropolog untuk memahami hubungan agama dan sosial telah banyak dilakukan. sebagai alat untuk memahami realitas kemanusiaan dan memahami Islam yang telah dipraktikkan. sesungguhnya mencerminkan betapa agama begitu penting bagi eksistensi manusia. Terlebih dari itu. makna hakiki dari keberagamaan adalah terletak pada interpretasi dan pengamalan agama. Dalam satu sisi common sense mencerminkan kegiatan sehari-hari yang biasa diselesaikan dengan pertimbangan rasional ataupun dengan bantuan teknologi. Karena realitas keagamaan sesungguhnya adalah realitas kemanusiaan yang mengejawantah dalam dunia nyata. antropologi sangat diperlukan untuk memahami Islam. misalnya. Islam yang menjadi gambaran sesungguhnya dari keberagamaan manusia. Walaupun harus disadari pula bahwa usaha-usaha manusia untuk menafikan agama juga sering muncul dan juga menjadi fenomena global masyarakat. Pandangan Geertz yang mengungkapkan tentang adanya trikotomi-abangan. Para antropolog menjelaskan keberadaan agama dalam kehidupan manusia dengan membedakan apa yang mereka sebut sebagai common sense dan religious atau mystical event. merupakan simbol akan pentingnya posisi manusia dalam Islam. Posisi penting manusia dalam Islam juga mengindikasikan bahwa sesungguhnya persoalan utama dalam memahami agama Islam adalah bagaimana memahami manusia. Penjelasan lain misalnya yang diungkapkan oleh Emile Durkheim tentang fungsi agama sebagai penguat solidaritas sosial. Pergumulan dalam kehidupan kemanusiaan pada dasarnya adalah pergumulan keagamaannya. atau Sigmund Freud yang mengungkap posisi penting agama dalam penyeimbang gejala kejiwaan manusia. Nurcholish Madjid mengungkapkan bahwa pendekatan antropologis sangat penting untuk memahami agama Islam. . Oleh karena itu. Dua sisi kajian ini-usaha untuk memahami agama dan menegasi eksistensi agama-sesungguhnya menggambarkan betapa kajian tentang agama adalah sebagai persoalan universal manusia.dengan berbagai budaya. Barangkali karya Clifford Geertz The Religion of Java yang ditulis pada awal 1960an menjadi karya yang populer sekaligus penting bagi diskusi tentang agama di Indonesia khususnya di Jawa. Persoalan-persoalan yang dialami manusia adalah sesungguhnya persoalan agama yang sebenarnya. sementera itu religious sense adalah kegiatan atau kejadian yang terjadi di luar jangkauan kemampuan nalar maupun teknologi.

priyayi dengan partai nasionalis. bagi antropologi adalah melihat bagaimana agama dipraktikkan. ataupun hubungan antara agama dan politik. Melihat agama di masyarakat. dan diyakini oleh penganutnya. pandangan Geertz telah mengilhami banyak orang untuk melihat lebih mendalam tentang interrelasi antara keduanya. ternyata mempunyai afiliasi politik yang berbeda.santri dan priyayi-di dalam masyarakat Jawa. ternyata telah mempengaruhi banyak orang dalam melakukan analisis baik tentang hubungan antara agama dan budaya. Antropologi yang melihat langsung secara detil hubungan antara agama dan masarakat dalam tataran grassroot memberikan informasi yang sebenarnya yang terjadi dalam masyarakat. Walaupun Geertz mengkelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga kelompok. Keterpengaruhan itu bisa dilihat dari beberapa pandangan yang mencoba menerapkan kerangka berfikir Geertz ataupun mereka yang ingin melakukan kritik terhadap wacana Geertz. Teori politik aliran dapat digunakan untuk memberikan penjelasan yang baik mengenai salah satu dasar (basis) pengelompokkan religio-sosial di Indonesia. Kaum abangan lebih dekat dengan partai politik dengan isu-isu kerakyatan. ketika dihadapkan pada realitas politik. menurut Bahtiar Effendy memberikan arti penting terhadap wacana tentang hubungan antara agama-khususnya Islam-dan negara. Pandangan trikotomi Geertz tentang pengelompokan masyarakat Jawa berdasar religiokulturalnya berpengaruh terhadap cara pandang para ahli dalam melihat hubungan agama dan politik. Pernyataan Geertz bahwa abangan adalah kelompok masyarakat yang berbasis pertanian dan santri yang berbasis pada perdagangan dan priyayi yang dominan di dalam birokrasi. Jadi pembahasan tentang bagaimana hubungan agama dan budaya sangat penting untuk melihat agama yang dipraktikkan. Pengelompokkan sosial tersebut mempengaruhi pola interaksi politik yang lebih luas di Indonesia. . yang jelas-jelas menunjukkan oposisinya adalah kelompok abangan dan santri. Penjelasan Geertz tentang adanya pengelompokkan masyarakat Jawa ke dalam kelompok sosial politik didasarkan pada orientasi ideologi keagamaan. Teori politik aliran ini. Dalam diskursus interaksi antara agama-khususnya Islam-dan budaya di Jawa. diinterpretasi. Karya Geertz ini disebut untuk sekedar memberikan ilustrasi bahwa kajian antropologi di Indonesia telah berhasil membentuk wacana tersendiri tentang hubungan agama dan masyarakat secara luas. dan kaum santri memilih partaipartai yang memberikan perhatian besar terhadap masalah keagamaan.

wujudnya sistem moneter ala Keynesian telah membuktikan bahwa dunia perekonomian menganut satu sistem. misalnya apa yang disinyalir oleh Fukuyama dengan klaimnya “The End of History and the Last Man”. Ia mengakui bahwa fenomena demokrasi adalah fenomena universal yang mau tidak mau mempengaruhi masyarakat lain yang tidak mempunyai tradisi demokrasi untuk mengadopsinya. Ungkapan terkenal James Clifford tentang runtuhnya "mercu suar" untuk mengklaim suatu kenyataan dengan ukuran rasionalitas Barat.Kepentingan untuk melihat agama dalam masyarakat juga sangat penting jika dikaitkan dengan wacana posmodernisme yang berkembang belakangan ini. menunjukkan bangkitnya "pengetahuan lokal" di era posmodernisme. Terbukanya komunikasi dan ruang bagi dialog antarbudaya memungkinkan masingmasing budaya untuk mengungkapkan atau memberikan alternatif terhadap kebenaran. utamanya mereka yang terlibat langsung dengan urusan budaya seperti antropologi. Walaupun para ilmuwan sosial masih mendebatkan apakah yang disebut sebagai posmodernis adalah "fenomena" atau sebuah kerangka "desconstruction theory". Bagi ahli politik. Bagi ahli ekonomi. menjadi sangat penting. Ia lebih optimis melihat perbedaan itu sebagai awal dari keharusan untuk mengadakan dialog antarbudaya untuk menelorkan yang ia . Tetapi perbedaan itu bukan berarti akan menimbulkan konflik seperti apa yang disinyalir oleh Samuel Huntington. Namun bagi ilmu sosial. globalisasi mengimplikasikan makna yang lain. mereka bersepakat tentang bangkitnya-dalam arti diakuinya kembali local knowledge sebagai sebuah kebenaran-budaya lokal dalam percaturan dunia global. Penggunaan alat telekomonukasi dan komputer dengan internetnya dapat juga membuktikan bahwa globalisasi telah mencapai pada satu kesepakatan bersama. globalisasi berarti adalah diterimanya sistem demokrasi liberal sebagai satu sistem yang laik dipakai. Namun demikian hal itu tidak berarti bahwa budayabudaya lokal harus menyerah dan digantikan total dengan demokrasi. Bassam Tibbi mengungkapkan bahwa globalisasi memungkin manusia untuk melakukan dialog antarkebudayaan yang ada di dunia. Bassam Tibbi tidak menafikan bahwa ada perbedaan-perbedaan yang nyata antara penafsiran demokrasi di Barat dan di wilayah lain sehingga muncul adanya Demokrasi Asia (Asian Democracy) atau Demokrasi Islam (Islamic Democracy). Artinya pertanyaan apakah globalisasi nanti akan juga menyatukan budaya dunia atau akan munculnya kembali budaya-budaya lokal dalam pertarungan dunia.

yang kemudian dia bisa memenuhi gambaran realitas kehidupan (worldview) yang hendak dicapai oleh manusia. melainkan kajian interpretatif untuk mencari makna (meaning). adalah aspek esensial manusia yang tidak dapat dipisahkan dalam memahami manusia. Hal ini jelas menunjukkan bahwa persoalan agama yang harus diamati secara empiris adalah tentang manusia. Berdasar pada pengertian ini agama sebagai ethos telah membentuk karakter yang khusus bagi manusia. maka agama sebagai sebuah sistem makna yang tersimpan dalam simbol-simbol suci sesungguhnya adalah pola makna yang diwarisi manusia sebagai ethos dan juga worldview-nya. Geertz kemudian mengelaborasi pengertian kebudayaan sebagai pola makna (pattern of meaning) yang diwariskan secara historis dan tersimpan dalam simbol-simbol yang dengan itu manusia kemudian berkomunikasi. Jika kembali pada persoalan kajian antropologi bagi kajian Islam. Pertama. penjelasan antropologi sangat berguna untuk membantu mempelajari agama secara empirik. Pada dasarnya agama diciptakan untuk membantu manusia untuk dapat memenuhi keinginan-keinginan kemanusiaannya. maka budaya adalah jaring-jaring itu." Bagi Geertz agama telah memberikan karakter yang khusus bagi manusia yang kemudian mempengaruhi tingkah laku kesehariannya. karakter dan kualitas dari kehidupan manusia yang berarti juga aspek moral maupun estitika mereka. suatu sistem nilai dunia yang dihasilkan dari gabungan nilai-nilai terbaik dari budaya-budaya yang ada. Dipandang dari makna kebudayaan yang demikian. dan sekaligus mengarahkan kepada kehidupan yang lebih baik. berperilaku dan memandang kehidupan. sebagai system of meaning yang memberikan arti bagi kehidupan dan perilaku manusia. maka mengkaji budaya dan masyarakat yang melingkupi kehidupan manusia juga menjadi sangat penting.sebut sebagai "international morality". Kebudayaan. Mengutip Max Weber bahwa manusia adalah makhluk yang terjebak dalam jaring-jaring (web) kepentingan yang mereka buat sendiri. Tanpa memahami manusia maka pemahaman tentang agama tidak akan menjadi sempurna. Kajian agama secara empiris dapat diarahkan ke dalam dua aspek yaitu manusia dan budaya. maka dapat dilihat relevansinya dengan melihat dari dua hal. Kemudian sebagai akibat dari pentingnya kajian manusia. . Oleh karena itu analisis tentang kebudayaan dan manusia dalam tradisi antropologi tidaklah berupaya menemukan hukum-hukum seperti di ilmuilmu alam. Di samping itu agama memberikan gambaran tentang realitas yang hendak dicapai oleh manusia. Clifford Geertz mengartikan ethos sebagai "tone. artinya kajian agama harus diarahkan pada pemahaman aspek-aspek social context yang melingkupi agama.

terutama abad ke 16 dan 17. dengan mempelajari wacana. Sehingga realitas keagamaan diyakini sebagai sebuah "takdir sosial" yang tak perlu lagi dipahami. Tidak dapat disangkal bahwa kemudian Evans-Pritchard dapat menggambarkan fenomena Sufi di Cyrenica dengan penuh empati. berkembang dengan pesat. jika dalam Islam bisa dilihat peran para sahabat. Kesulitan mempelajari agama dengan pendekatan budaya. dirasakan juga oleh mereka yang beragama. Persoalan itu ditambah lagi dengan keyakinan bahwa agama adalah bukan hasil rekayasa intelektual manusia. salah seorang pionir dalam tradisi antropologi sosial di Inggris. Tradisi Antropologi dalam Kajian Agama: Kajian Empirik Relasi Agama dan Sosial Walaupun sejak awal disadari bahwa kajian tentang agama akan mengalami kesulitan karena meneliti sesuatu yang menyangkut kepercayaan (beliefs) yang ukuran kebenarannya terletak pada keyakinan. misalnya. ketika menulis tentang perjuangan para Sufi di Cyrenica Libia melawan penjajahan Italia. Pemahaman realitas nyata dalam sebuah masyarakat akan menemukan suatu kajian Islam yang lebih empiris. tetapi berasal dari wahyu suci Tuhan. tradisi antropologi untuk mengkaji agama. Hal ini pernah ia rasakan. dimana ia merasa kesulitan untuk menjelaskan fenomena ketaatan pengikut Sufi kepada guru Sufi mereka. pemahaman dan tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan ajaran agama. Sesungguhnya harus disadari bahwa tidak dapat dielakkan agama tanpa pengaruh budaya-ulah pikir manusia-tidak akan dapat berkembang meluas ke seluruh manusia. mengatakan bahwa dilema kajian tentang agama adalah bahwa pemahaman realitas agama tidak akan sepenuhnya dapat difahami kecuali oleh orang yang mengamalkan agama itu sendiri. Kesulitan itu terjadi karena ketakutan untuk membicarakan masalah agama yang sakral dan bahkan mungkin tabu untuk dipelajari. Dan bukankah pula usaha-usaha manusia. Evans-Pritchard. Bukankah penyebaran agama sangat terkait dengan usaha manusia untuk menyebarkannya ke wilayahwilayah lain. menerjemahkan dan mengkonstruksi ajaran agama ke dalam suatu kerangka sistem yang . Kajian agama dengan crossculture akan memberikan gambaran yang variatif tentang hubungan agama dan budaya.Kajian antropologi juga memberikan fasilitas bagi kajian Islam untuk lebih melihat keragamaan pengaruh budaya dalam praktik Islam. Dengan pemahaman yang luas akan budaya-budaya yang ada memungkinkan kita untuk melakukan dialog dan barangkali tidak mustahil memunculkan satu gagasan moral dunia seperti apa yang disebut Tibbi sebagai "international morality" berdasarkan pada kekayaan budaya dunia.

B. Socrates berapa ribu tahun yang lalu menyatakan bahwa fenomena agama adalah fenomena kemanusiaan. Lahirnya ilmu tafsir. Tradisi kajian agama dalam antropologi diawali dengan mengkaji agama dari sudut pandang intelektualisme yang mencoba untuk melihat definisi agama dalam setiap masyarakat dan kemudian melihat perkembangan (religious development) dalam satu masyarakat. definis ini menunjukkan kecenderungan melakukan generalisasi realitas agama dari animisme sampai kepada agama monoteis. Demikian juga agama berkembang dari kecenderungan anismisme menuju monoteisme dan akan kembali ke animisme. . keberadaan agama dalam masyarakat telah mendorong lahirnya banyak kajian tentang agama. structuralist. Max Muller berpandangan bahwa agama bermula dari monotheisme kemudian berkembang menjadi agama-agama yang banyak itu. intellectualist. Menurut Mircea Eliade perkembangan agama menujukkan adanya gejala seperti bandul jam yang selalu bergerak dari satu ujung ke ujung yang lain. Taylor yang berupaya untuk mendefinisikan agama sebagai kepercayaan terhadap adanya kekuatan supranatural. Secara garis besar kajian agama dalam antropologi dapat dikategorikan ke dalam empat kerangka teoritis. functionalist dan symbolist. ilmu fikih dan ilmu usul fikih adalah hasil konstruksi intelektual manusia dalam menerjemahkan ajaran agama sesuai dengan kebutuhan manusia di dalam lingkungan sosial dan budayanya. Sebagai fenomena universal yang kompleks. berdasar pada ajaran yang terdapat dalam kitab suci. Keberagaman sosial budaya yang ada di dunia ini mengakibatkan pada kompleksitas agama. Termasuk dalam tradisi adalah misalnya E. Tetapi. ilmu hadits. Walaupun definisi agama ini sangat minimalis. Kajian-kajian agama baik dalam masyarakat primitif sampai pada masyarakat yang modern menunjukkan bahwa keberadaan agama selalu mengandung dua sisi yang berbarengan.dapat diikuti oleh manusia. Pernyataan ini seringkali digunakan para apologis agama untuk menguatkan keyakinan mereka akan betapa mendasarnya posisi agama dalam nilai-nilai kemanusiaan. Namun perlu juga ditandaskan bahwa sikap mempertanyakan kembali makna agama dan relevansinya dengan kehidupan sosial juga fenomena universal yang ada dimana-mana. tetapi ternyata realitas keagamaan berperan besar dalam perubahan sosial dan transformasi sosial. Makanya kecenderungan tradisi intelektualisme ini kemudian meneliti dari sudut perkembangan agama dari yang anismisme menuju monoteisme. Kajian-kajian tentang agama berkembang bukannya karena agama ternyata tak dapat dipisahkan dari realitas sosial. yaitu kecenderungan transendensi dan sekularisasi.

telah mengilhami banyak orang dalam melihat agama. Durkheim juga mengungkapkan bahwa masyarakat dikonseptualisasikan sebagai sebuah totalitas yang diikat oleh hubungan sosial. . Claude Levi-Strauss adalah satu murid Durkheim yang terus mengembangkan pendekatan strukturalisme. Sementara itu pandangan Durkheim tentang fungsi dalam masyarakat sangat berpengaruh dalam tradisi antropologi sosial di Inggris. Dalam agama sederhana suku Aborigin Australia ditemukan bahwa penyembahan kepada yang sacred ternyata diberikan kepada hal-hal yang profan semisal Kanguru. magic adalah model bagi kerangka bertindak bagi individu dalam masyarakat. Pandangan Durkheim yang mengasumsikan bahwa masyarakat selalu dalam keadaan equilibrium dan saling terikat satu dengan yang lain. fungsionalis dan simbolis. sebagai penguat dari ikatan moral masyarakat dan fungsi sosial agama sebagai penguat solidaritas manusia menjadi dasar dari perkembangan teori fungsionalisme." Pandangan ini yang mengilhami para antropolog untuk menggunakan pendekatan struktural dalam memahami agama dalam masyarakat.Ketiga teori. Di samping kritik terhadap pendekatan intelektualis itu. telah mendorong para antropolog untuk melihat fungsi agama dalam masyarakat yang seimbang tersebut. utamanya untuk mencari jawaban hubungan antara individu dan masyarakat. Buku Durkheim. Dalam pengertian ini maka society (masyarakat) bagi Durkheim adalah "struktur dari ikatan sosial yang dikuatkan dengan konsensus moral. strukturalis. sesungguhnya lahir dari Emile Durkheim. Bagi Levi-Strauss agama baik dalam bentuk mitos. Fungsi psikologi agama. Branislaw Malinowski mengatakan bahwa fungsi agama dalam masyarakat adalah memberikan jawaban-jawaban terhadap permasalahan-permasalahan yang tidak dapat diselesaikan dengan common sense-rasionalitas dan kemampuan menggunakan teknologi. Jadi pandangan sosial Durkheim dikembangkan oleh Levi-Strauss kepada tidak saja secara hubungan sosial tetapi juga dalam ideologi dan pikiran sebagai struktur sosial. Namun demikian ia tak setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa yang sacred itu selalu bersifat spiritual. The Elementary Forms of the Religious Life. Durkheim menemukan bahwa aspek terpenting dalam pengertian agama adalah adanya distingsi antara yang sacred dan yang profan. Lewat buku itu Durkheim ingin melihat agama dari bentuknya yang paling sederhana yang diimani oleh suku Aborigin di Asutralia sampai ke agama yang well-structured dan well-organised seperti yang dicerminkan dalam agama monoteis.

Dalam setiap kali menyelesaikan persoalan-persoalannya. Oleh karena itu. mereka menggunakan agama sebagai pemecahnya. utama cult ritual (ritual yang berhubungan dengan masalah-masalah ketidakberuntungan-misfortune) mengandung empat fungsi sosial yang penting. mereka melakukan ritual dengan sesaji sebagai sarana komunikasi dengan kekuatan spiritual untuk menyelesaikan masalah yang unpredictable. Salah satu yang menggunakan teori tersebut adalah Victor Turner ketika ia melakukan kajian ritual (upacara keagamaan) di masyarakat Ndembu di Afrika. ada tradisi dalam kajian agama yang berkembang dari pandanganpandangan Weber. ritual digunakan untuk menutup jurang perbedaan yang disebabkan friksi di dalam masyarakat. ritual sebagai media untuk mengurangi permusuhan (reduce hostility) di antara warga masyarakat yang disebabkan adanya kecurigaan-kecurigaan niat jahat seseorang kepada yang lain. Pertama. Tidak seperti halnya tradisi-tradisi intelektualis dan tradisi Durkheimian. Teori simbolisme yang menjadi teori dominan pada dekade 70-an sebenarnya juga mengambil akarnya dari Durkheim. Turner melihat bahwa ritual adalah simbol yang dipakai oleh masyarakat Ndembu untuk menyampaikan konsep kebersamaan. ritual sebagai sarana untuk memantapkan kembali hubungan yang akrab. Di samping tradisi intelektual dan tiga tradisi-strukturalis. Ketika sebuah masyarakat traditional Suku Trobiand di daerah pesisir Papua Nugini menemukan bahwa ladangnya telah dirusak oleh babi hutan. Jadi Turner melihat ritual tidak hanya sebagai kewajiban (prescribed) saja. Namun ketika hendak berburu ikan di lautan. Keempat. ritual sebagai medium untuk menegaskan kembali nilai-nilai masyarakat. Ritual bagi masyarakat Ndembu adalah tempat mentransendensikan konflik keseharian kepada nilai-nilai spiritual agama. maka dengan kemampuan rasionalitas dan penguasaan teknologinya masyarakat suku Trobiand membuat pagar agar babi tak dapat lagi masuk ke ladangnya. Ketiga. fungsionalis dan simbolis-yang berakar dari tradisi Durkheim. Pandangan Durkheim mengenai makna dan fungsi ritual dalam masyarakat sebagai suatu aktifitas untuk mengembalikan kesatuan masyarakat mengilhami para antropolog untuk menerapkan pandangan ritual sebagai simbol. Maka sebelum mereka berlayar. ritual. dimana gelombang lautan dan cuaca yang tidak dapat mereka kontrol dengan kemampuan rasionalitas dan teknologi. walaupun tidak secara eksplisit Durkheim membangun teori simbolisme. Weber lebih tertarik untuk melihat hubungan antara doktrin agama dan aktifitas duniawi . melainkan sebagai simbol dari apa yang sebenarnya terjadi dalam masyarakat. manusia menggunakan kemampuan rasionalitas dan penciptaan teknologi. Kedua.

dan juga kajian yang dilakukan oleh Geertz tentang pasar di Jawa dan priyayi Bali memakai pendekatan yang dipakai oleh Weber. melainkan terletak pada bagaimana agama dapat berperan dalam kehidupan sosial manusia. Secara antropologis ungkapan ini berarti bahwa sesungguhnya realitas manusia adalah realitas ketuhanan. Jika agama diperuntukkan untuk kepentingan manusia. untuk menjelaskan tentang konsep takwa. pertanyaan keabsahan suatu agama tidak terletak pada argumentasi-argumentasi teologisnya. yang itu menjadi pusat perhatian antropologi. Dalam pandangan ilmu sosial. Ajaran etika tentang bekerja keras yang selalu muncul dalam tulisan-tulisan pendeta sekte Calvinisme dan yang juga menjadi tema-tema yang diulangulang dalam ceramah keagamaan sekte ini. Tanpa memahami realitas manusiatermasuk di dalamnya adalah realitas sosial budayanya-pemahaman terhadap ketuhanan tidak akan sempurna. sebab dalam kaitannya dengan kehidupan manusia. Dalam kajian tentang hubungan antara etika Protestan. Pentingnya mempelajari realitas manusia ini juga terlihat dari pesan Al-Qur'an ketika membicarakan konsep-konsep keagamaan. Misalnya. yang menjadi perhatian kajian sosial. Oleh karena itu Weber tidak tertarik untuk mendiskusikan definisi atau argumentasi rasionalitas keberadaan agama. Dalam Islam manusia digambarkan sebagai khalifah (wakil) Tuhan di muka bumi. karena separuh dari realitas ketuhanan tidak dimengerti. Kajian yang dilakukan oleh Robert N. Kajian-kajian yang demikian ini tidak lagi mempersoalkan benar dan salahnya suatu agama. sebagaimana realitas sosial lainnya. walaupun hal yang ghaib juga menjadi hal penting. Al-Qur'an . Akibat yang nyata dari pendekatan kajian di atas menempatkan agama pada realitas empiris yang dapat dilihat dan diteliti. Bellah tentang Tokugawa Religion yang mencoba melihat hubungan etika agama dengan restorasi Meiji. tetapi melihat sejauhmana agama-aspek idealisme-mempengaruhi perilaku sosial manusia. tentu hal-hal yang empirislah. maka sesungguhnya persoalanpersoalan manusia adalah juga merupakan persoalan agama. khususnya sekte Calvinisme. Di sini terlihat betapa kajian tentang manusia. seperti misalnya ekonomi dan politik. adalah sesuai dengan karakter buruh modern. Tradisi yang dikembangkan oleh Weber ini banyak diikuti oleh ilmuwan sosial utamanya di Amerika. dan perkembangan kapitalisme modern. menunjukkan minat Weber untuk mendiskusikan hubungan antara religious ethic dan kapitalisme. menjadi sangat penting.manusia. Al-Qur'an seringkali menggunakan "orang" untuk menjelaskan konsep kesalehan. Di sini agama diposisikan dalam kerangka sosial empiris.

dengan segala aspeknya. Geertz berkayinan bahwa agama adalah system budaya sendiri yang dapat membentuk karakter masyarakat. Geertz mengungkapkan bahwa agama harus dilihat sebagai suatu system yang mampu mengubah suatu tatanan masyarakat. Walaupun Geertz mengakui bahwa ide yang demikian tidaklah baru. Agama Sebagai Sistem Budaya Geertz adalah orang pertama yang mengungkapkan pandangan tentang agama sebagai sebuah system budaya. saat itu ketika teori-teori tentang kajian agama mandeg pada teori-teori besar Mark. Oleh karena itu pemahaman konsep agama terletak pada pemahaman realitas kemanusiaan. Oleh karena itu Geertz mendefinisikan agama sebagai: "A system of symbols which acts to establish powerful. Dengan demikian realitas manusia sesungguhnya adalah realitas empiris dari ketuhanan. memberikan arah baru bagi kajian agama." Dengan pandangan seperti ini. Dan persoalan-persoalan yang dihadapi manusia adalah cerminan dari permasalahan ketuhanan.menunjuk pada konsep "muttaqien". tetapi agaknya sedikit orang yang berusaha untuk membahasnya lebih mendalam. konsep-konsep keagamaan itu termanifestasikan dalam perilaku manusia. "Religion as a Cultural System. Tidak seperti pendahulunya yang menganggap agama sebagai bagian kecil dari system budaya. Pandangan Geertz. pervasive and long-lasting moods and motivations of a general order of existence and clothing these conceptions with such an aura of factuality that the moods and motivations seem uniquely realistic. Kalau kita merujuk pada pesan Qur'an yang demikian itu sesungguhnya. Jadi bagi Geertz norma atau nilai keagamaan harusnya diinterpretasikan sebagai sebuah simbol yang menyimpan konsepsi . Maka mempelajari realitas manusia. maka diperlukan kajian cross culture untuk melihat realitas universal agama. Weber dan Durkheim yang berkutat pada teori fungsionalisme dan struktural fungsionalisme. Marshal Hodgson menggambarkan bahwa bermacam-macamnya manifestasi agama dalam kebudayaan tertentu-little tradition-sesungguhnya adalah mosaik dari realitas universal agama-great tradition. adalah mempelajari Tuhan-baca agama-dalam realitas empiris. Geertz mengartikan simbol sebagai suatu kendaraan (vehicle) untuk menyampaikan suatu konsepsi tertentu. Al-Qur'an menggunakan kata "orang sabar" dan seterusnya. untuk menjelaskan konsep sabar." dianggap sebagai tulisan klasik tentang agama. Karya Geertz. Kenyataan bahwa realitas manusia-yang tercermin dalam bermacam-macam budaya-beragam. Geertz dapat dikategorikan ke dalam kelompok kajian semiotic tradition warisan dari Ferdinand de Saussure yang pertama mengungkapkan tentang makna simbol dalam tradisi linguistik.

Juga bagaimana agama menjadi ideologi kelompok yang kemudian menimbulkan konflik maupun integrasi dalam suatu masyarakat. Antropologi pertama kali dipergunakan oleh kaum Misionaris dalam rangka penyebaran agama Nasrani dan bersamaan dengan itu pula berlangsung sistem penjajahan terhadap negar-negara diluar Eropa. Sementara itu Islam Observed ingin melihat perwujudan agama dalam masyarakat yang berbeda untuk memperlihatkan kemampuan agama dalam mewujudkan masyarakat maupun sebagai perwujudan dari interaksi dengan budaya lokal. Geertz menerapkan pandangan-pandangannya untuk meneliti tentang agama dalam satu masyarakat. antropologi kebudayaan. antropologi menjadi amat plural. sementara itu sisi modes of reality merupakan pengakuan Geertz akan sisi agama yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan perilaku manusia. antropologi dipergunakan sebagai suatu hal untuk kepentingan kemanusiaan yang lebih luas. Pendidikan Islam Dalam Pendekatan Antropologi Antropologi adalah suatu ilmu yang memahami sifat-sifat semua jenis manusia secara lebih komprehensif. Yang pertama menunjukkan suatu existensi agama sebagai suatu sistem yang dapat membentuk masyarakat ke dalam cosmic order tertentu. antropologi politik. Dan hubungan dengan ini pula. pada satu sisi ia merupakan modes for reality dan di sisi yang lainnya ia merupakan modes of reality. . antropologi agama. maka tidak ada seorang ahli antropologi yang mampu menelaah dan menguasai antropologi secara sempurna dan global. sesuai dengan perkembangan ahli-ahli antropologi dalam mengarahkan studinya untuk lebih memahami sifat-sifat dan hajat hidup manusia secara lebih komprehensif. Karya Geertz yang tertuang dalam The Religion of Java maupun Islam Observed merupakan dua buku yang bercerita bagaimana agama dikaji dalam masyarakat. ada bermacam-macam antropologi seperti antropologi ekonomi. Sebagai suatu disiplin ilmu yang cakupan studinya cukup luas. Simbol keagamaan tersebut mempunyai dua corak yang berbeda. Pada dataran ini. Studi antropologi selain untuk kepentingan pengembangan ilmu itu sendiri. Pada era dewasa ini. di negara-negara yang masuk dalam kategori Negara ketiga (Negara berkembang) sangat urgen sebagai “pisau analisis” untuk pengambilan kebijakan (policy) dalam rangka pembangunan dan pengembangan masyarakat. Sehingga. antropologi terfregmentasi menjadi beberapa bagian yang masing-masing ahli antropologi mengkhususkan dirinya pada spesialisasi bidangnya masing-masing.tertentu. Buku The Religion of Java memperlihatkan hubungan agama dengan ekonomi dan politik suatu daerah.

Maka antropologi pendidikan Islam. kajian materi antropologi pendidikan. kaidah-kaidah keilmiahannya harus juga bersumber atau didasarkan pada Al Qur’an dan As Sunah. maka antropologi pendidikan Islam tentunya harus dikategorikan “sama” dengan ekonomi Islam. maka kajian tersebut masuk dalam sub antropologi yang bias dikenal menjadi antropologi pendidikan. Grace de Raguna. Artinya bagaimana bagunan keilmuan yang ditonjolkan dalam ekonomi Islam muncul juga dalam dalam antropologi pendidikan Islam. Artinya apabila antropologi pendidikan dimunculkan sebagai suatu materi kajian. seorang filsuf wanita pada tahun 1941.antropologi pendidikan. Dengan demikian. Pendidikan Agama Islam arahnya dari atas ke bawah. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana kedudukan antropologi pendidikan sebagai sebuah disiplin studi yang tergolong baru di tambah kata “Islam” sehingga menjadi “antropologi pendidikan Islam”. Karakteristik dari antropologi pendidikan Islam adalah terletak pada sasaran kajiannya yang tertuju pada fenomena pemikiran yang berarah balik dengan fenomena Pendidikan Agama Islam (PAI). bahwa hal tersebut merupakan suatu langkah yang ada relevansinya dengan isu-isu Islamisasi ilmu pengetahuan. bahwa antropologi telah memberi lebih banyak kejelasan tentang sifat manusia daripada semua pemikiran filsuf atau studi para ilmuwan di laboratoriumnya. sehingga muncul pula kaidahkaidah keilmiahannya yang bersumber dari kitab suci Al Qur’an dan dari As Sunah. maka yang objek dikajiannya adalah penggunaan teori-teori dan metode yang digunakan oleh para antropolog serta pengetahuan yang diperoleh khususnya yang berhubungan dengan kebutuhan manusia atau masyarakat. menyampaikna pidatonya dihadapan American Philosophical Association Eastern Division. antropologi perkotaan. Hal ini telah menjadi sorotan para ahli pendidikan Islam. dan lain sebagainya. Akan tetapi dalam sejarah kebudayaan Islam belum ada pengakuan terhadap tokoh-tokoh atau pelopor antropologi yang diakui dari zaman Nabi Muhammad atau sesudahnya. Dan dalam studi kependidikan yang dikaji melalui pendekatan antropologi. artinya sesuatu yang dilakukan berupa upaya agar wahyu dan ajaran Islam dapat dijadikan pandangan hidup anak . Meskipun berkemungkinan ada yang menjadi antropolog pendidikan setelah memperoleh wawasan pengetahuan dari mengkaji antropologi pendidikan. Dengan pola itu. Seperti dalam ekonomi Islam (juga Hukum Islam) yang sejak awal pertumbuhannya telah diberi contoh oleh Nabi Muhammad dan diteruskan oleh para sahabat. bukan bertujuan menghasilkan ahli-ahli antropologi melainkan menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang pendidikan melalui perspektif antropologi.

Dan juga yang paling urgen adalah penanaman nilai-nilai sosial pada anak seperti rasa belas kasihan (confession) dan empati terhadap orang lain. Kedua. Ibnu Sina banyak memaparkan tentang pentingnya pendidikan usia dini yang dimulai dengan pemberian “nama yang baik” dan diteruskan dengan membiasakan berperilaku. Kajian tentang local Islam dapat dijadikan sebagai pengkayaan wacana manusia. Barangkali tidak berlebihan untuk menyebut bahwa realitas manusia sesungguhnya adalah realitas ketuhanan yang empiris. Kesimpulan Agaknya kajian-kajian tentang agama dan budaya dapat kita arahkan dalam berbagai kerangka. Masalah ilmiah yang mendasar pada Pendidikan Agama Islam adalah berpusat pada bagaimana (metode) cara yang seharusnya dilakukan. Sebagai ilmu yang mengkhususkan diri . Sedangkan masalah yang mendasar pada antropologi pendidikan Islam adalah berpusat pada pengalaman apa yang ditemui.didik (manusia). mempunyai sesuatu yang diupayakan dalam mendidik anak. kajian tersebut dapat dipusatkan untuk mempetakan Islam lokal dalam sebuah peta besar Islam universal. berucap-kata. dan berpenampilan yang baik serta pujian dan hukuman dalam mendidikan anak. Dalam kitabnya al-Siyasah. Dengan demikian pemahaman agama secara keseluruhan tidak akan tercapai tanpa memahami separuh dari agama yaitu manusia. Pertama dapat kita terapkan dalam upaya mencari konsep-konsep lokal tentang bagaimana agama dan budaya berinteraksi. Posisi penting manusia dalam Islam-seperti digambarkan dalam proses penciptaannya yang ruhnya merupakan tiupan dari ruh Tuhan-memberikan indikasi bahwa manusia menempati posisi penting dalam mengetahui tentang Tuhan. Ibnu Sina. Sedangkan antropologi pendidikan Islam dari bawah ke atas. Uraian di atas memperlihatkan bahwa sesungguhnya pemahaman agama tidak akan lengkap tanpa memahami realitas manusia yang tercermin dalam budayanya. agar anak dapat membangun pandangan hidup berdasarkan pengalaman agamanya bagi kemampuannya untuk menghadapi lingkungan. Ketiga. local discourse atau local konwledge yang tumbuh dari pergumulan agama dan budaya dapat dijadikan sebagai tambahan wacana baru globalisasi. yang kita kenal sebagai tokoh kedokteran dalam dunia Islam ternyata juga merupakan sorang pemerhati pendidikan anak usia dini yang merupakan pengalaman pertama anak. Di sinilah letak pentingnya kajian antropologi dalam mengkaji Islam.

mempelajari manusia-yang merupakan realitas empiris agama-maka antropologi juga merupakan separuh dari ilmu agama itu sendiri. Erosco. 1993 Noto Abuddin. Koentjaraningrat. Munandar. Pendidikan Islam: Tradisi Dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. 2002. Membuka Jendela Pendidikan: Mengurai Benang Tradisi Dan Integrasi Keilmuan Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Erosco. Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik: Humanisme Relegius Sebagai Paradigma Pendidikan Islam. 2004. DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman Mas’ud. 1988 Imam Tholkhah dan Ahmad Barizi. Ilmu Budaya Dasar. 2002. Rajawali. Akbar S. Raja Grafindo Persada. Kearah Antropologi Islam. Pengantar Ilmu Antropologi. Yogyakarta: Gama Media. Jakarta: Aksara Baru. Bandung: PT. Panduan Dasar Ilmu-Ilmu Sosial. Hoselitz. Logos Wacana Ilmu. 1980 M.. Jakarta: Media Da’wah Azyumardi Azra. 1993 Diposkan oleh tasauf dalam islam di 22:12 0 komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langgan: Poskan Komentar (Atom) Pengikut Arsip Blog • ▼ 2009 (10) o ▼ November (10)  ISLAM MASA KHULAFAUR RASYIDIN . Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. Ilmu Budaya Dasar. Bets F. Jakarta: CV. Ahmad. 2004 Sulaeman. Bandung: PT. Munandar Sulaeman. Jakarta: PT. Metodologi Studi Islam.

DAN PERADABAN PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM KAJIAN ISLAM PENDEKATAN HISTORIS DALAM STUDI ISLAM PRODUK-PRODUK PEMIKIRAN DAN PERADABAN ISLAM Makalah Filsafat Ilmu makalah Pembelajaran Piqih Makalah METAFISIKA RIVIEW TENTANG TAFSIR dan HADITS TARBAWI MENELADANI SIFAT – SIFAT NABI SAW Kajian .         ISLAM AGAMA.kajian. ... KEBUDAYAAN.

yaitu kesatuan tujuan hidup. tidaklah cukup kalimat tauhid tersebut hanya dinyatakan dalam bentuk ucapan (lisan) dan diyakini dalam hati. Sebagai konsekuensi pemikiran ini. yang lahir maupun yang gaib. sehingga kita betul-betul dapat mencapai kebahagiaan di dunia maupun akhirat.Istilah “tauhid sosial” merupakan istilah baru yang diperkenalkannya dalam wacana ilmu-ilmu sosial. unity of Godhead. merupakan bagian dari ciptaan Allah. Seluruh makhluk di alam semesta ini. unity of the purpose of life. Sebagai muslim. sejarah. Kelima. Konsep “tauhid sosial” ini tampaknya muncul dari Amien Rais sebagai respon terhadap meluasnya persoalan ketidakadilan yang ia lihat. Jadi. Kualitas ibadah seseorang sangat tergantung pada sejauh mana ibadah tersebut mempengaruhi perilaku sosialnya. Karena Allah yang menciptakan manusia. Kedua. unity of creation. Bagi orang yang beriman. maka Allah pula yang paling tahu apa yang baik atau buruk bagi manusia. satu-satunya tujuan hidup adalah untuk mencapai rida Allah. yaitu kesatuan penciptaan. Menurut Amien Rais. yaitu kesatuan pedoman hidup. puasa. geografi. Karena Islam itu . Keempat. tetapi harus dilanjutkan dalam bentuk perbuatan. yakni yang datangnya dari Allah yang berupa wahyu. Tauhid sosial dimaksudkan sebagai dimensi sosial dari pengakuan kita bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad itu adalah Rasul-Nya. baik yang kelihatan maupun yang tidak. dan segala perbedaan yang melatarbelakangi keragaman umat manusia tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan diskriminasi. Pertama. berarti semua ibadah murni (mahdhah) seperti salat. dan seterusnya memiliki dimensi sosial. yaitu kesatuan kemanusiaan. hanya ada satu pedoman hidup. Ketiga. yaitu kesatuan ketuhanan. Hal ini bisa dirujuk pada pernyataannya yang retoris: “Benang merah dari ajaran Islam adalah keadilan. Bagi orang yang beriman. bahasa. perbedaan warna kulit. unity of mankind. tauhid sesungguhnya menurunkan atau mengisyaratkan adanya lima pengertian. unity of guidance. haji.

Doktrin tauhid yang menjadi ruh kekuatan Islam tidak pernah hilang dari perjalanan sejarah. maka secara potensial setiap orang Islam bisa menjadi trouble maker bagi kemapanan yang tidak adil. iman adalah kekuatan yang menjadi pilar utama perjalanan sejarah umat Islam. Amien Rais juga mengatakan bahwa di muka bumi ini. Dan. Praktek sosial Islam ini banyak dibahasakan dengan berbagai istilah. Syafi’i Ma’arif menyebutkan Tauhid Sosial sebagai dimensi praksis dari resiko keimanan kepada Allah SWT. konsep tauhid sosial Amien Rais dapat disimpulkan sebagai tuntutan terwujudnya masyarakat yang adil. ”Dengan merujuk sosiolog Prof. secara sederhana. karena orang Islam selalu resah. antara lain Tauhid Sosial. walaupun aktualisasinya dalam dimensi kehidupan tidak selalu menjadi kenyataan. adalah kewajiban si kaya untuk melakukan proses pemerataan sosial ekonomi ke seluruh masyarakat. setiap orang Islam bisa menjadi masalah bagi rezim yang mapan yang mempertahankan ketidakadilan.merupakan religion of justice. Jadi. Dalam konteks ini. gelisah. AlQur’an. ia juga mengatakan. di bawah prinsip-prinsip . Padahal. dan selalu ingin mengejawantahkan nilai-nilai keadilan dalam berbagai dimensi kehidupannya. yaitu pada masa Mekkah tahun-tahun awal. gagasan Tauhid Sosial Syafi’i Ma’arif menggambarkan dua hal: pertama. orang kemudian mempertanyakan praktek sosial Islam yang dianggap tidak komprehensif. Memilih Islam adalah menjalani suatu pola kehidupan yang utuh dan terpadu (integrated). Doktrin ini sudah sangat dini dideklarasikan. sejarah membuktikan bahwa tauhid menjadi senjata yang hebat dalam menancapkan pilar-pilar kesejarahan Islam. Secara substasial. Gelner. Dengan mengutip Ibn Hazim . kepercayaan kepada ke-Esa-an Allah belum tentu terkait dengan prilaku umat dalam kiprah kesejarahannya. sekaligus memperoleh ridha Allah. menjadi hak dari si papa untuk mengambil bagiannya dari si kaya. Dengan kata lain. bila di tengah masyarakat ada kelompok kaya dan miskin.

tugas terbesar Islam sebenarnya adalah melakukan transformasi sosial dan budaya dengan nilainilai tersebut. bukan hanya tersimpan dalam teks-teks suci. menyatakan bahwa nilai-nilai Islam sebenarnya bersifat all-embracing bagi penataan sistem kehidupan sosial. Tugas ini dibebankan pada rasul. Islam berprinsip pada tauhid. Dalam perspektif yang berbeda. ekonomi dan budaya. tauhid harus diaktualisasikan: pusat keimanan Islam . Dalam Al-Qur’an.tauhid. ekonomi dan budaya. pertama-tama yang harus ia miliki adalah iman. dan juga sinkretik. tersebar dalam lima surat. kemudian mendirikan shalat. iman harus mampu menjawab dimensi praksis persoalan keummatan. kita dapat menyimpulkan bahwa iman berujung pada amal. Artinya. Praktek kehidupan seperti ini telah ditunjukkan dalam perjalanan kerasulan Muhammad yang diteruskan oleh sebagian generasi setelahnya. Sehingga kekuatan tauhid inilah yang menjadi pengawal dan pusat dari semua orientasi nilai. lebih dari segalanya. kekuatan tauhid ini harus diaktualisasikan. cendekiawan muslim. doktrin ‘amrun bi al-ma’ruf wa nahyun ‘ani al-munkar’ dijumpai dalam delapan ayat. politik. pemerintah dan umat yang beriman secara keseluruhan. disebutkan bahwa agar manusia itu menjadi muttaqin. ‘percaya kepada yang gaib’. Masyarakat yang adil harus didirikan dalam prinsip ‘amrun bi al-ma’ruf wa nahyun ‘ani almunkar’. dua makkiyah dan tiga madaniyyah. yang kemudian terwujud dalam dimensi sosial. Sementara dalam formulasi lain. Kuntowijoyo. dan menunaikan zakat. Dengan memperhatikan ini. politik. Kedua. dan kemudian beramal. dikotomik. Islam menolak pola kehidupan yang fragmentatif. pada aksi. Artinya. Oleh karena itu. Dalam surah Al-Baqarah ayat kedua misalnya. Di dalam ayat tersebut kita melihat adanya trilogi iman-shalat-zakat. Di dalam Al-Qur’an kita sering sekali membaca seruan agar manusia itu beriman. kita juga mengenal trilogi iman-ilmu-amal. Setiap aspek kehidupan yang dijalani merupakan refleksi dari prinsip-prinsip tauhid itu.

lalu masuk dalam dimensi amal berupa praktek sosial kepada sesama manusia. dimana terdapat tiga kelas sosial di sana. tetapi ujung aktualisasinya adalah manusia. penindasan bahkan perbudakan. kelas bangsawan dan kelas borjuasi. Proses menuju ke arah itu harus dimulai dari penguatan dimensi tauhid. Dengan melihat penjelasan ini. ia tidak pernah menjelaskan apa yang dimaksud dengan istilah ‘kelas’. Kemudian juga dikenal kelas proletar Dalam terminologi Marx. Dalam konteks inilah Islam disebut sebagai rahmatan li al’alamin. rahmat untuk alam semesta. sehingga pada umumnya terminologi kelas dalam konsep Marxis didefinisikan secara mashur oleh Lenin. Tapi. Islam menjadikan tauhid sebagai pusat dari semua orientasi nilai.adalah Tuhan. Demikian juga dalam masyarakat Eropa abad ke 17. termasuk untuk kemanusiaan. kaum fakir. Masyarakat Arab pada zaman nabi juga terbagi dalam dua kelas sosial. yaitu . Ketidaksamaan sosial ini kemudian dirumuskan dengan membaginya dalam istilah ‘kelas sosial’. yakni kelas bangsawan dan kelas budak. seperti konsep golongan dhu’afa. kesenjangan. Lenin mendefinisikan kelas sosial sebagai golongan sosial dalam sebuah tatanan masyarakat yang ditentukan oleh posisi tertentu dalam proses produksi. tauhid sosial sebenarnya merupakan perwujudan aksi sosial Islam dalam konteks menjadikannya sebagai rahmatan li al’alamin. dan masakin. Dengan demikian. yaitu kelas pendeta. Dengan demikian. kemudian dimensi epistemik. Adanya ketidaksamaan sosial ini pada umumnya melahirkan polarisasi sosial yang dalam banyak hal melahirkan kasus-kasus kemiskinan. ketidakadilan. masyarakat industri menurut terminologi ini hanya mengenal dua kelas. Sementara pada saat yang sama melihat manusia sebagai tujuan dari transformasi nilai. Islam dan Ketidaksamaan Sosial Ketidaksamaan sosial (social inequality) terjadi di hampir semua komunitas masyarakat dunia. Al-Qur’an juga merefleksikan adanya kenyataan sosial lain mengenai pembagian kelas sosial ini. mustadh’afin.

Dengan demikian. Islam justru memiliki cita-cita sosial untuk secara terus-menerus menegakkan egalitarianisme. atau kapasitas-kapasitas lainnya dari sebagian orang atas sebagian yang lainnya. oleh Al-Qur’an dipandang sebagai ajang riel duniawi tempat setiap muslim akan memperjuangkan cita-cita keadilan sosialnya. demikian . ini tidak dapat diartikan bahwa AlQur’an mentoleransi social-inequality. Dengan doktrinnya yang terkenal. Islam juga mengedepankan peran untuk mengutamakan dan membela gologan masyarakat yang tertindas dan lemah seperti kaum dhu’afa dan mustadh’afin. Kuntowijoyo mencatat bahwa Islam mengakui adanya deferensiasi dan bahkan polarisasi sosial. sebagai hukum alam. baru kemudian dilakukan lompatan-lompatan dalam dataran praksis. golongan proletar adalah yang paling miskin. ekonomi. Keterlibatannya dalam perjuangan inilah yang akan menentukan kualitasnya sebagai khalifatullah fil ‘ardh. Sementara dalam Islam. Islam menghendaki adanya distribusi kekayaan dan kekuasaan secara adil bagi segenap lapisan sosial masyarakat. Marx yakin bahwa dalam masyarakat industrialkapitalis. Proses ini memang harus dimulai dari transformasi nilai-nilai Islam. Mengakui jelas tidak sama dengan mentoleransi. Banyak ayat Al-Qur’an yang memaklumkan dilebihkannya derajat sosial. ‘materialisme dialektis’ dan ‘determinisme ekonomi’. Sebaliknya. Cita-Cita Praktek Sosial Islam Persoalannya adalah tidak mudah mewujudkan cita-cita sosial Islam ini.kelas borjuis dan kelas proletar. Terlebih lagi dalam kondisi masyarakat yang dimanjakan oleh arus materialisme sekarang ini. Kuntowijoyo punya pandangan menarik dalam merumuskan proses transformasi ini. Realitas sosial empiris yang dipenuhi oleh fenomena diferensiasi dan polarisasi sosial. Kendatipun demikian. sebagai realitas empiris yang ditakdirkan kepada dunia manusia. Dalam banyak perspektif. Al-Qur’an melihat fenomena ketidaksamaan sosial ini sebagai sunnatullah. “Pada dasarnya seluruh kandungan nilai Islam bersifat normatif”.

ekonomi. Ada dua cara bagaimana nilai-nilai normatif ini menjadi operasional dalam kehidupan sehari-hari. dan budaya. Orang yang tidak berdaya tapi ingin memberdayakan masyarakat tidak pernah akan berhasil. kita belum melakukan usaha semacam itu. Bagaimana mungkin kita dapat mengatur perubahan masyarakat jika kita tak punya teori sosial? Sementara Syafi’i Ma’arif berpendapat bahwa transformasi ini harus dilakukan dengan membongkar teologi klasik yang sudah tidak relevan lagi dengan masalah-masalah pemberdayaan masyarakat karena terlalu intelektual spekulatif. sosial. misalnya untuk menghormati orang tua. memang membutuhkan beberapa fase formulasi: teologi®filsafat sosial®teori sosial®perubahan sosial. Seruan ini langsung dapat diterjemahkan ke dalam praktek. jika kita ingin melakukan restorasi terhadap masyarakat Islam dalam konteks masyarakat industri. Umat yang terlalu banyak berangan-angan tapi tidak berdaya adalah beban Islam dan beban sejarah. Al-Qur’an menyuruh kita bercermin kepada yang kongkret. Agaknya cara yang kedua ini lebih relevan pada saat sekarang ini. nilai normatif ini diaktualkan langsung menjadi perilaku. sebab di sana juga . suatu restorasi yang membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh dari pada sekedar pendekatan legal. iptek. Untuk jenis aktualisasi semacam ini. Pendekatan seperti ini telah dikembangkan melalui ilmu fiqh. Oleh sebab itu. Sampai sekarang ini. Pemberdayaan masyarakat hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang berdaya secara politik. Cara yang kedua adalah mentransformasikan nilai-nilai normatif ini menjadi teori ilmu sebelum diaktualisasikan ke dalam prilaku. kepada yang empirik. Tingkatnya hanya tingkat angan-angan. Pertama. Ilmu ini cenderung menunjukkan secara langsung. Metode transformasi nilai melalui teori ilmu untuk kemudian diaktualisasikan dalam dimensi praksis. contohnya adalah seruan praktis Al-Qur’an. ke dalam prilaku. bagaimana secara legal prilaku harus sesuai dengan sistem normatif.Kuntowijoyo.

Cita-cita sosial Islam untuk melahirkan keadilan sosial bagi seluruh alam memang masih jauh dari cita-cita. juga tidak bijak kalau kita hanya menyimpannya dalam teks-teks suci. Tapi di sisi lain. tentu akan sia-sia jika tak didukung oleh kerja-kerja intelektual yang menopang terbentuknya suatu tatanan sosial masyarakat seperti yang kita cita-citakan. Dengan menyadari kekurangan ini. yakni ayat-ayat kauniyah. dan Dia tidak lain adalah Allah SWT. 10 April 2010 Konsep awal dari tauhid adalah menempatkan Allah sebagai Rabb. Konsep ini merupakan konsep paling pokok dalam aqidah. kita memang sudah didesak untuk segera memikirkan metode transformasi nilai Islam pada level yang empiris melalui diciptakannya ilmu-ilmu sosial Islam. Padahal. Ini tugas kita semua REALITA IMPLEMENTASI TAUHID SOSIAL DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT Diposkan oleh Menuju Cahaya on Sabtu. Tauhid sejatinya memerlukan manifestasi dalam realitas empiris. suatu sistem teologi yang terlalu sibuk mengurus yang serba ghaib dan lupa terhadap yang kongkret tidak akan pernah menang dalam kompetisi duniawi. Dan artinya kita hanya fokus kepada satu Tuhan. Allah telah menciptakan alam semesta sebagai khaliq (pencipta). dan kita adalah makhluq (yang diciptakan). Tapi. Akan tetapi. konsep tauhid dalam tataran yang lebih luas tidak cukup hanya dengan membenarkan bahwa Allah itu Maha Esa. Sehingga.terdapat ayat-ayat Allah. Jika tauhid kita artikan peng-esaan Tuhan. Perjuangan umat Islam yang masih bergulat untuk bangun dari kemiskinan dan keterbelakangan. manusia harus tunduk pada penciptanya. kejayaan di dunia dibutuhkan untuk menggapai kejayaan di akhirat. pengesaan ini adalah konsep awal dan utama dalam . Perjuangan ke arah itu memang tidak ringan. tidak lebih tidak kurang. Seperti yang saya katakan tadi. Karenanya. sehingga jika seseorang belum mengimani hal ini ia tidak dapat dianggap sebagai seorang muslim yang lurus. Tapi itulah tugas kita kalau kita mau menyumbangkan sesuatu yang anggun untuk kemanusiaan. pengakuan kita bahwa Tuhan hanya ada satu. kita perlu melakukan pembongkaran terhadap prinsip-prinsip teologi klasik yang terlalu sibuk mengurus masalah ghaib.

baik ibadah spiritual maupun sosial. wiraswasta atau profesi lain dan akhirnya waktu mereka untuk mengajar terkadang terenggut untuk hal-hal yang bukan dalam lingkup mendidika anak-anak mereka. menjadikan anak didik mereka berpendidikan yang sesungguhnya. artinya kita hanya percaya bahwa Allah-lah yang bisa memberikan pertolongan. mereka tidak fokus terhadap satu kewajiban utama mereka. Kesetiaan dan ketaatan adalah sebuah keniscayaan yang harus kita miliki selama kita menginginkan kehidupan yang tentram. salah satu aplikasi sosialnya adalah tidak adanya peramal dan dukun. Jika kita ingat sebuah perkataan Nabi yang menyatakan bahwa jika berjanji lalu kita mengingkari. Akan tetapi. Hal ini menunjukkan bahwa Tauhid hanya menjadi pajangan hati saja. Makna ini juga mempunya sisi lain yang dapat dan harus kita implementasikan dalam kehidupan sosial. Akan tetapi hal ini berbanding terbalik dengan kenyataan saat ini. Maka menurut penulis. bukan pula peramal. meskipun kita tetap percaya dan teguh bahwa Tuhan itu esa. mereka termasuk orang-orang yang “musyrik sosial”. maka berarti kita telah menduakan Dia sebagai Yang Maha memberikan pertolongan. maka itu berarti kita masuk dalam golongan orang-orang munafik. kita juga harus setia dan taat terhadap segala janji yang kita ucapkan terhadap orang lain. Tapi konsep pengesaan ini tidak hanya berhenti di sini saja. ada yang merangkap pengusaha.Karena jika kita tidak berpikiran demikian.tauhid. Maka sama . yaitu tadi dikatakan bahwa pengesaan Tuhan berarti hanya fokus kepada satu Tuhan. jika kita menariknya lebih dalam ia memiliki hal lain yang harus kita aplikasikan dalam kehidupan sosial juga. Kita tahu bahwa kewajiban utama seorang guru adalah mendidik anak didik mereka. Contoh kecilnya adalah realita kehidupan para guru—terutama pns—saat ini. Ini adalah pondasi kita untuk menggapai kesejahteraan bersama sebagai mahluk yang oleh Plato disebut Zoon Politicon atau mahluk yang bermasyarakat. nampaknya makna ini juga sudah mulai tidak berlaku lagi dalam masyarakat kita. Kita tidak bisa dikatan sebagai orang yang bertauhid ketika kita melanggar janji kita dengan Tuhan. bukan dukun. Ini berarti bahwa mereka telah menduakan kewajiban mereka sebagai seorang guru. Ki Bodo atau yang lainnya. Dan lagi-lagi. Karena hanya dengan keduanya kita bisa menjalin relasi yang baik dengan orang lain. hanya dengan keduanya kita bisa membangun kepercayaan orang lain trhadap kita. menyekutukan kewajiban mereka dengan kepentingan pribadi (setidaknya begitulah saya menyebutnya). mereka juga tidak peka terhadap kehidupan sekitarnya. hal ini mulai terhapus dan dihapus pada masa ini. terutama bisa kita lihat munculnya dukun-dukun entertainer yang sering muncul di televisi. dimana banyak guru yang tidak hanya menjadi guru. akan tetapi mereka tidak pernah sekalipun melakukan penyembahan terhadapNya baik melalu shalat ataupun puasa atau yang lainnya. maka dalam kehidupan seharihari kita juga harus fokus tehadap kewajiban yang kita emban. mengaku bahwa Muhammad itu Nabi mereka. entah Mama laurent. Artinya. tidak cukup dengan mengesakan Tuhan tanpa melakukan ibadah-ibadah yang di perintahkanNya. tanpa implikasi sosial yang berarti. Makna lain—dan merupakan kelanjutan dari makna diatas—adalah bahwa tauhid bisa diartikan kesetiaan dan ketaatan kita terhadap Tuhan. ketika kita mengingkari perintahnya. Kita harus setia terhadap aturan dan hukum sosial yang ada. janji untuk taat terhadap segala aturan yang Dia berikan. tidak boleh menduakan kewajiban itu dengan kepentingan lain apalgi kepentingan pribadi. Tidak bisa kita pungkiri jika saat ini banyak orang percaya bahwa Tuhan itu Esa. Kita bertauhid berarti kita mengikat diri dengan janji kita dengan Tuhan. mereka tidak menghiraukan ketimpanganketimpangan sosial yang terjadi didekatnya. memanusiakan anak-anak didik mereka.

khususnya suku Quraisy yang juga merupakan suku nabi sendiri menolak dan menentang secara ekstrim. maka itu berarti bahwa kita “munafik sosial”. Tidar No 21 Oct 31. tetapi juga harus menjalankan perintahNya dan peka terhadap urusan kemanusiaan. Tetapi nabi berteguh dan terus berjuang untuk meraih sejumlah pengikut dalam masa lebih dari 13 tahun selama misinya di Mekkah. 1994:27). Tauhid sebagai ilmu. Tapi. dengan Tauhid Sosial umat Islam seharusnya mempraktikkan nilai-nilai Tauhid ke dalam realitas sosial secara benar. dengan Tauhid Sosial tersebut. dan reformasi sosial. Firman Allah “telah aku ciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepadaKu. Makna ibadah menurut ulama Tauhid adalah meng-Esakan Allah SWT dengan sungguh-sungguh dan merendahkan diri serta menundukkan jiwa setunduk-tunduknya kepadaNya. agar mendapatkan nilai bagus yang mana hal ini juga berarti “musyrik” terhadap kewajiban utama mereka. (Hasan. Sifat ketundukan dan pengakuan bahwa yang Maha Esa hanyalah Allah. Allah swt telah menjelaskan didalam Al Quran bahwa jin dan manusia telah diciptakan memiliki maksud dan tujuan untuk beribadah kepadaNya. seorang hamba akan lebih termotifasi ketaatannya dalam beribadah kepada Allah. jika kita tidak setia dan tidak taat terhadap janji kita dalam ranah sosial. Pengingkaran tauhid sosial ini juga dilakukan oleh para tullab—yang seharusnya jujur— dengan budaya “mengutip total” alias plagiat bin copy-tempel tugas-tugas mereka. sehingga muncul keseimbangan antara ibadah dan perilaku sosial. 2004:21).dengan hal ini. adalah bekal seorang hamba dalam manjalankan tugas ibadah. Adz-Dzariat (51):56). Pada waktu nabi menerima wahyu Al Quran. Seharusnya. (Abdullahi ahmed. Dengan mentaati perintah dan cara-cara yang Rosul ajarkan.” (QS. lagi-lagi hal ini juga nampak mulai luntur dalam kehidupan masyarakat kita. Pengingkarana dan penghianatan telah banyak dilakukan oleh banyak orang. Reaksi masyarakat Mekkah pada umumnya. Al Quran dan sunnah lebih banyak berisi tentang ajaran Agama (Tauhid) dan Moral. Secara umum disepakati bahwa periode Mekkah. 2003:137). krena menduakan kewajiban mencari ilmu dengan mencari nilai. . Seorang muslim tidak cukup hanya menjalankan tauhid dengan meyakini bahwa Allah itu esa. baru dikenal ratusan tahun setelah Nabi Muhammad wafat. Immawan Luqman Novanto Takmir Masjid Tanwir Komlepk PTM Jl. Hal inilah yang disebut sebagai amal shalih. termasuk oleh para petinggi negeri yang megingkari janjinya dengan memakan uang yang seharusnya tidak mereka makan. Tauhid Sosial Sebagai Konsekuensi Tauhiddullah Oleh. realita-realita menyedihkan di atas tidak muncul. Sedangkan makna ibadah adalah taat kepada Allah dengan menjalankan apa yang telah diperintahkan-Nya melalui lesan-lesan para Rosul. mulai saat itu pula ia menyebarkan misi keagamaan. (Ahmad Tib. '07 5:29 AM untuk semuanya Manusia hidup di dunia ini pasti mempunyai maksud dan tujuan tertentu.

2002 : 182). Tauhid bukan sekedar mengenal dan memahami bahwa pencipta alam semesta ini adalah Allah. sifat-sifat Allah. Musa Asyari. 2003:03) . pikiran dan hati atau kalbu. juga membahas tentang Rosul-rosul Allah meyakinkan kerosulan mereka. Bagi seorang muslim dalam konteks Teologi. 2003:20). Kholifah ketujuh dinasti Bani Abas. 2002 : 181). (Yusran Asmuni. namun pada masa beliau Tauhid belum merupakan ilmu keislaman yang berdiri sendiri. 1979 : 36). yang diwujudkan dan tercermin dalam berbagai aspek kehidupan. dapat di tarik kesimpula bahwa makna Tauhid adalah tema sentral yang membahas tentang wujud Allah. dan apa yang terlarang menghubungkannya kepada diri mereka. tetapi juga tindakan dan aktualisasi. Dari dua pandangan ini. tetapi Tauhid sudah terbukti mampu menjadi pilar perjuangan umat Islam. haruslah menjadi falsafah hidup seorang muslim. selama dalam sistem sosial masyarakat masih ada kesenjangan antara si kaya dengan miskin. tetapi yang paling pokok dari itu adalah penerimaan dan resfons cinta kasih dan kehendak Tuhan yang dialamatkan kepada manusia. kepercayaan kepada ke-Esa-an Allah belum tentu terkait dengan prilaku umat dalam kiprah kesejarahannya. karena pernyataan iman seseorang kepada Tuhan.Istilah ilmu Tauhid itu sendiri baru muncul pada abad ketiga Hijriyah. Pengingkaran terhadap makna tauhid adalah perbuatan syirik. karena syirik bukan semata-mata tindakan yang ujudnya adalah penyembahan berhala atau kesukaan pergi kekuburan yang maknanya dalam ibadah. (Muhammad Abduh. melainkan juga keshalehan dan ketaqwaan sosialnya Pandangan Hasan Hanafi yang di kutip oleh Kazuo Shimogaki menyebutkan bahawa. Dari berbagai pandangan tentang makna tauhid yang di maknai oleh Muhammad Abduh. (Asy'arie. buka sekedar mengetahui bukti-bukti rasional tentang kebenaran wujud dan ke-Esa-an Nya serta bukan sekedar mengenal asma dan sifat-sifatNya. Dalam pandangan Islam. jenis dan bidang kehidupan. bukan hanya kepada pengakuan lesan. dan Hasan Hanafi. Namun yang terpenting adalah agar sikap ketauhidan ini dapat menyemangati kehidupan sehingga bukan hanya keshalehan individu yang kita harapkan dapat terwujud. melainkan juga penguasaan manusia atas manusia lain. Muhammad Abduh mendefinisikan makna tauhid sebagai suatu ilmu yang membahas tentang wujud Allah. Musa Asy'arie menambahkan bahwa makna Tauhid menurut pandangan filsafat Islam adalah suatu sistem pandangan hidup yang menegaskan adanya proses satu kesatuan dan tunggal kemanunggalan dalam berbagai aspek hidup dan kehidupan semua yang ada. yang menjadi asas kesatauan ciptaanNya dalam berbagai bentuk. ternyata Tauhid memiliki tema pembahasan dan peran yang sangat penting dalam membentuk pribadi seorang muslim. tentang sifat-sifat yang wajib tetap padaNy. adanya golongan penindas dan tertindas maka selama itu pula masyarakat dibalut oleh paham syirik (Shimogaki. Doktrin tauhid yang menjadi ruh kekuatan Islam tidak pernah hilang dari perjalanan sejarah. Tepatnya dizaman pemerintahan khalifah Al Makmun. Padahal. berasal dan bersumber hanya pada satu Tuhan saja. sifat-sifat yang boleh disifatkan kepadaNya dan tentang sifat-sifat yang sama sekali wajib dilenyapkan dari padaNya.Meskipun inti pokok risalah Nabi Muhammad saw adalah tauhid. (Asy'arie. Dengan kata lain. Tauhid adalah pernyataan iman kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. sejarah membuktikan bahwa tauhid menjadi senjata yang hebat dalam . . dalam suatu sistem. walaupun aktualisasinya dalam dimensi kehidupan tidak selalu menjadi kenyataan. Tauhid yang menjadi proses satu kesatuan dan tunggal kemanunggalan dalam berbagai aspek hidup dan kehidupan yang bersumber pada satu Tuhan saja. dan Rosul-rosul Allah yang mempunyai konsekuensi dalam kehidupan berupa praktek sosial umat Islam yang konkrit.

Artinya. (Qordhawi. beliau menyebutkan bahwa Tauhid Sosial sebagai dimensi praksis dari resiko keimanan kepada Allah SWT. Sehingga kekuatan tauhid inilah yang menjadi pengawal dan pusat dari semua orientasi nilai Artinya. Allah menjelaskan dalam firmanNya bahwa. (Syulthut. gagasan Tauhid Sosial Syafi’i Ma’arif menggambarkan dua hal: pertama. Praktek sosial Islam ini banyak dibahasakan dengan berbagai istilah.opra. di bawah prinsip-prinsip tauhid. karena tauhid menjadi landasan bagi setiap amal yang akan dilakukan. Amaliah (tindakan) puncaknya melaksanakan menurut semestinya dalam urusan hidup dan penghidupan. Kedua. dan menunaikan zakat.(Ade Usman. Dalam konteks ini. iman harus mampu menjawab dimensi praksis persoalan keummatan. tauhid harus diaktualisasikan: pusat keimanan Islam adalah Tuhan. Dua. orang kemudian mempertanyakan praktek sosial Islam yang dianggap tidak komprehensif. Dalam perspektif yang berbeda. Di dalam ayat tersebut dapat dilihat adanya trilogi iman-shalat-zakat. Kuntowojoyo. ekonomi dan budaya. Sementara dalam formulasi lain.1996:33). yaitu pada masa Mekkah tahun-tahun awal.menancapkan pilar-pilar kesejarahan Islam. Dalam surah Al-Baqarah ayat kedua misalnya. AM Fatwa menegaskan bahwa setiap perbuatan pribadi akan menyebabkan berbagai implikasi . lebih dari segalanya. kemudian mendirikan shalat. Tauhid adalah pegangan pokok dan sangat menentukan bagi kehidupan manusia. http:// my. dikotomik. Dengan memperhatikan ini. Di dalam Al-Qur’an kita sering sekali membaca seruan agar manusia itu beriman. Tugas ini dibebankan pada rasul. bukan hanya tersimpan dalam teks-teks suci. disebutkan bahwa agar manusia itu menjadi muttaqin. Masyarakat yang adil harus didirikan dalam prinsip ‘amrun bi al-ma’ruf wa nahyun ‘ani almunkar’. orang yang mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang mereka dalam keadaan beriman maka oleh Allah akan diberikan kehidupan yang baik dan juga akan diberi balasan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (An-Nahl: 97). pertama-tama yang harus ia miliki adalah iman. politik. tauhid i'tiqadi ilmi (keyakinan teoritis) dengan tauhid amali suluki (amal perbuatan praktis) atau dengan istilah lain dua ketauhidan yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lain. Oleh sebab itu tauhid juga bisa dibagi dalam dua tahapan dalam aktualisasinya. (Kuntowijoyo. Islam berprinsip pada tauhid.Com/adieusman/htm) Memilih Islam adalah menjalani suatu pola kehidupan yang utuh dan terpadu (integrated). dan kemudian beramal. Doktrin ini sudah sangat dini dideklarasikan Al-Qur’an. 1994 : 49). ekonomi dan budaya. Oleh karena itu. iman adalah kekuatan yang menjadi pilar utama perjalanan sejarah umat Islam. politik. Manusia memiliki dua kekuatan. Islam menolak pola kehidupan yang fragmentatif. Nazairah (penyelidikan) puncaknya adalah mengenal hakekat sesuatu menurut keadaan yang sebenarnya. Praktek kehidupan seperti ini telah ditunjukkan dalam perjalanan kerasulan Muhammad yang diteruskan oleh sebagian generasi setelahnya. yang kemudian terwujud dalam dimensi sosial. pada aksi. menyatakan bahwa nilainilai Islam sebenarnya bersifat all-embracing bagi penataan sistem kehidupan sosial. maka keduanya harus dijalankan secara seimbang. Kedua bentuk kekuatan tauhid ini mempunyai keterkaitan yang tidak bisa dipisahkan. 2006. ada juga trilogi iman-ilmu-amal. cendekiawan muslim. antara lain Tauhid Sosial. 1991 : 197). tugas terbesar Islam sebenarnya adalah melakukan transformasi sosial dan budaya dengan nilai-nilai tersebut. Setiap aspek kehidupan yang dijalani merupakan refleksi dari prinsip-prinsip tauhid. penulis menyimpulkan bahwa iman berujung pada amal. Pertama. pemerintah dan umat yang beriman secara keseluruhan. dan juga sinkretik. ‘percaya kepada yang gaib’. Adie Usman Musa mengutip dari Syafi’i Ma’arif. tetapi ujung aktualisasinya adalah manusia. kekuatan tauhid ini harus diaktualisasikan. Secara substasial.

( Rais. Islam menjadikan tauhid sebagai pusat dari semua orientasi nilai. Amin Rais dengan sebutan Tauhid Soaial. Fatwa. Sementara pada saat yang sama melihat manusia sebagai tujuan dari transformasi nilai. Dan Bahwa Ia Adalah Inti Dakwah Para Rasul Makna Syahadatain. rahmat untuk alam semesta. bisa diturunkan lagi kedataran pergaulan sosial. realitas sosial. maka tanggung jawab pribadi itu memberi akibat adanya tanggung jawab sosial. termasuk untuk kemanusiaan. Proses menuju ke arah itu harus dimulai dari penguatan dimensi tauhid. 2001:51). Dr. Dimaksudkan agar tauhid Ilahiyah dan Rububiyah yang sudah tertanam di kalangan kaum muslimin dan muslimat. Inilah yang sering dipahami dari rahasia susunan Al Quran bahwa setiap kali Kitab Suci menyabut kata iman (aamanu) yang merupakan perbuatan peribadi selalu diikuti dengan penyebutan amal saleh (aamilus shalihati) yang merupakan tindakan kemasyarakatan. Konsekuansi Dan Yang Membatalkannya TaSyRi' Ibadah: Pengertian. Labels • • • • • • Kitab Kitab Kitab Kitab Kitab Kitab Tauhid Tauhid Tauhid Tauhid Tauhid Tauhid 1 2 3 3 3 3 (29) (6) Bab 1 Bab 2 Bab 3 Bab 4 (5) (11) (6) (4) Kitab Tauhid 1 • • • • • • • • • • • • • • Makna Aqidah Dan Urgensinya Sebagai Landasan Agama Sumber-sumber Aqidah Yang Benar dan Manhaj Salaf dalam Mengambil Aqidah. secara konkrit. kemudian dimensi epistemik. maka tauhid praktis dapat melakukan rekonstruksi dan reformasi sosial.kemasyarakatan. Dr. Rukun. Pengertian Rabb Dalam Al-Qur'an Dan As-Sunnah Alam Semesta Dan Fitrahnya Dalam Tunduk Dan Patuh Kepada Allah Manhaj Al-Qur'an Dalam Menetapkan Wujud Dan Keesaan Al-Khaliq Tauhid Rububiyah Mengharuskan Adanya Tauhid Uluhiyah Makna Tauhid Uluhiyah. Dengan kata lain bahwa Tauhidullah harus diujudkan dalam praktek sosial. 1998: 108) Dengan demikian. Jika tauhid teoritis dapat melakukan perubahan batiniah dan pembebasan spiritual. lalu masuk dalam dimensi amal berupa praktek sosial kepada sesama manusia. Syarat. Tauhid ibadah atau tauhid praktis inilah yang di istilahkan oleh Prof. Tauhid Sosial sebenarnya merupakan perwujudan aksi sosial Islam dalam konteks menjadikannya sebagai rahmatan li al’alamin. Dalam konteks inilah Islam disebut sebagai rahmatan li al’alamin. Penyimpangan Aqidah Dan Cara-Cara Penanggulangannya Makna Tauhid Rububiyah dan Kefitrahannya serta Pengakuan Orang-orang Musyrik Terhadapnya. Dengan melihat penjelasan diatas. Prof. Amin Rais mengatakan bahwa yang dimaksud tauhid Sosial adalah dimensi sosial dari Tauhidullah. Macam Dan Keluasan Cakupannya Paham-Paham Yang Salah Tentang Pembatasan Ibadah Syarat Diterimanya Ibadah . (AM.

raja' (mengharap). 3. Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. 2005 Kitab Tauhid 1 oleh: Dr. baik berupa ucapan atau perbuatan. haji dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Ibadah ialah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Subhannahu wa Ta'ala . lisan dan anggota badan. Ibadah ialah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para rasulNya. lisan dan badan. Rasa khauf (takut).Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan A. tetapi makna dan maksudnya satu.• • • • • • • • • • • • • • • Pilar-Pilar Ubudiyah Yang Benar Tingkatan Dien Makna Tauhid Asma' Wa Sifat Dan Manhaj Salaf Di Dalamnya Asma' Husna Dan Sifat Kesempurnaan. Di dalam syara'. Definisi Ibadah Ibadah secara etimologi berarti merendahkan diri serta tunduk. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak . Definisi itu antara lain adalah: 1. Macam-Macam Dan Dampaknya Bentuk-Bentuk Taqlid Kepada Kuffar Yang Buruk Sikap Pasif Kaum Muslimin Dan Problematikanya Ibadah: Pengertian. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi. mahabbah (cinta). raghbah (senang) dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). ibadah mempunyai banyak definisi. zakat. May 18. yang zhahir maupun yang batin. Sedangkan shalat. Ibadah itu terbagi menjadi ibadah hati. Ini adalah definisi ibadah yang paling lengkap. Macam Dan Keluasan Cakupannya Wednesday. Serta Pendapat Golongan Sesat Berikut Bantahannya Buah Tarbiyah Tauhid Asma' Wa Sifat Pada Diri Individu Dan Masyarakat Al-wala' wal bara' Mudahanah dan Mudarah berikut kaitannya dengan al-wala' wal bara' Beberapa Contoh Tentang Setia Dan Memusuhi Karena Allah Menyayangi Dan Memusuhi Para Ahli Maksiat Menyambut Dan Ikut rayakan Hari Raya Atau Pesta Orang Kafir Serta Berbelasungkawa dlm Hari Duka Mereka Hukum Meminta Bantuan Kepada Orang-Orang Kafir Mengutamakan Tinggal Dan Bekerja Di Negara Kafir Hukum Meniru Kaum Kuffar. 2. tawakkal (ketergantungan). Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan hati.

ia adalah sombong. puasa. shalat. amar ma'ruf nahi mungkar." (Adz-Dazariyat: 56-58) Allah Subhannahu wa Ta'ala memberitahukan. berbuat baik kepada kerabat. Tujuan ini hanya dapat tercapai dengan beribadah kepada Allah swt. anggota badan dan yang lahir dari hati. Siapa yang menyembahNya tetapi dengan selain apa yang disyari'at-kanNya maka ia adalah mubtadi' (pelaku bid'ah). Begitu pula cinta kepada Allah dan RasulNya. Wujud Nir-Batas itu. Dan sifat ini tidak akan dijumpai selain pada Dzat Nan Kudus. ikhlas kepadaNya. inabah (kembali) kepadaNya.menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. ibadah mencakup seluruh tingkah laku seorang mukmin jika diniatkan qurbah (mendekatkan diri kepada Allah) atau apa-apa yang membantu qurbah. mengharap nikmatNya dan takut dari siksaNya. Dan refleksi pancaran dari sifat sempurna dan indahNya bertakhta dalam relung jiwa yang merupakan hasil penjagaan jarak dari hawa nafsu. tidak membutuhkan ibadah mereka. Seperti dzikir. tahlil dan membaca Al-Qur'an. [2] . Karena ibadah khusus bagi seseorang yang sempurna mutlak (kamâl mutlaq) dan mutlak sempurna (mutlaq kamâl). makan. pemberi seluruh anugerah. yang merupakan Pemilik kesempurnaan mutlak. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. pencipta seluruh wujud. jihad. B. satu-satunya Dzat yang harus disembah. Maka siapa yang menolak beribadah kepada Allah. anak yatim. orang miskin dan ibnu sabil. maka dia adalah muk-min muwahhid (yang mengesakan Allah). Ia mencakup semua macam ketaatan yang nampak pada lisan. Dan siapa yang hanya menyembahNya dan dengan syari'atNya. khasyyatullah (takut kepada Allah). hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala. ridha dengan qadha'-Nya. auhid Ibadah Maksudnya adalah Allah swt. Seperti tidur. tawakkal. nikah dan sebagainya. haji. sabar terhadap hu-kumNya. Berbagai kebiasaan tersebut jika disertai niat baik (benar) maka menjadi bernilai ibadah yang berhak mendapatkan pahala. karena ketergantungan mereka kepada Allah. dan selain-Nya tidak pantas disembah. Bahkan adat kebiasaan (yang mubah) pun bernilai ibadah jika diniatkan sebagai bekal untuk taat kepadaNya. tasbih. Karenanya. bekerja mencari nafkah. zakat. serta menggayutkan diri kepada membina dan menghias diri (tahdzib nafs). maka mereka menyembahNya sesuai dengan aturan syari'atNya. jual-beli. akan tetapi merekalah yang membutuhkannya. Dzat yang tidak memerlukan segala sesuatu. tidaklah ibadah itu terbatas hanya pada syi'ar-syi'ar yang biasa dikenal. minum. Dan Allah Mahakaya. Macam-Macam Ibadah Dan Keluasan Cakupannya Ibadah itu banyak macamnya. Tujuan utama ibadah adalah menemukan jalan untuk mendekatkan diri kepada derajat kesempurnaan mutlak dan mutlak sempurna. Jadi.

rang Muslim beriman kepada ketuhanan Allah Ta'ala bagi manusia sejak pertama hingga generasi terakhir, kerububiyahan-Nya terhadap alam semesta, bahwa tidak ada pengaturan dunia selain Dia, dan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia. Oleh karena itu, ia memperuntukkan bagi Allah ibadah-ibadah yang disyariatkan-Nya kepadanya, dan tidak memalingkannya sedikit pun kepada selain Allah. Jika ia minta pertolongan, ia meminta pertolongan kepada Allah. Jika ia bernadzar, ia tidak bernadzar untuk selain Allah. Untuk Allah-lah semua amal perbuatan batinnya, seperti takut, berharap, taubat, cinta, pengagungan, tawakkal, dan amal perbuatan lahiriyahnya seperti shalat, zakat, haji, dan jihad. Itu semua karena dalil-dalil wahyu dan dalil-dalil akal seperti berikut. Dalil-Dalil Wahyu 1. Perintah Allah Ta'ala kepada sikap seperti di atas dalam firman-firman-Nya, seperti firman-firman-Nya berikut ini. o "Sesungguhnya Aku Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengikuti Aku." (Thaha: 14) o "Dan hanya kepada-Kulah kalian harus takut (tunduk)." (Al-Baqarah: 40) o "Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untuk kalian karena itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui." (Al-Baqarah: 21-22) o "Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang benar melainkan Allah." (Muhammad: 19) o "Maka mohonlah perlindungan kepada Allah, sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Fushshilat:36) o "Dan hendaklah orang-orang Mukmin itu bertawakal kepada Allah saja." (AtTaghabun: 13) 2. Penjelasan Allah Ta'ala tentang hal tersebut dalam firman-firman-Nya seperti dalam firman-firman-Nya berikut ini. o "Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thagut'." (An-Nahl: 36) o "Barang siapa ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat dan tidak akan putus." (Al-Baqarah: 256) o "Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwa tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah oleh kalian akan Aku'." (Al-Anbiya': 25) o "Katakanlah, 'Maka apakah kalian menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?'." (Az-Zumar: 64) o "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan." (Al-Fatihah: 5)

"Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu, 'Peringatkanlah oleh kalian, bahwa tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kalian bertakwa kepada-Ku'." (An-Nahl: 2) 3. Penjelasan Rasulullah saw. tentang hal tersebut dalam hadits-haditsnya, seperti dalam hadits-haditsnya berikut ini. o Sabda Rasulullah saw. kepada Muadz bin Jabal r.a. yang beliu utus ke Yaman, "Hendaklah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka ialah hendaknya mereka beribadah kepada Allah Ta'ala." (Muttafaq Alaih). o Sabda Rasulullah saw. kepada Muadz bin Jabal r.a., "Hai Muadz, apa hak Allah atas hamba-hamba?" Muadz bin Jabal menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Rasulullah saw. bersabda, "Yaitu hendaknya mereka beribadah kepada-Nya, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun." (Diriwayatkan An-Nasai dan ia men-shahih-kannya). o Sabda Rasulullah saw. kepada Abdullah bin Abbas Radhiyallahu 'Anhuma, "Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Dan jika engkau minta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah." (Diriwayatkan At-Tirmidzi). o "Sesuatu yang paling aku khawatirkan pada kalian ialah syirik kecil." Para sahabat bertanya, "Apa yang dimaksud dengan syirik kecil, wahai Rasulullah?" Rasulullah saw. menjawab, "Riya'. Pada hari kiamat Allah berfirman setelah membalas manusia dengan amal perbuatan mereka, Pergilah kepada orangorang yang kalian lakukan riya' di dunia, kemudian lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?" (Diriwayatkan Ahmad dari banyak jalur dan hadits ini hasan). o "Bukankah mereka menghalalkan bagi kalian apa yang diharamkan Allah bagi kalian kemudian kalian juga menghalalkannya dan mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah kemudian kalian juga mengharamkannya?" Orang-orang menjawab, "Ya betul." Rasulullah saw. bersabda, "Itulah bentuk ibadah mereka kepadanya." (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan ia meng-hasan-kannya). Sabda di atas diucapkan Rasulullah saw. kepada Adi bin Hatim ketika ia mendengar firman Allah Ta'ala, "Mereka menjadikan pendeta-pendeta, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah." Kemudian Adi bin Hatim berkata, "Wahai Rasulullah, kita tidak menyembah mereka." o "Sesungguhnya permintaan tolong itu tidak kepadaku, namun permintaan tolong itu kepada Allah." (Diriwayatkan Ath-Thabrani. Hadits ini hasan). Sabda di atas diucapkan Rasulullah saw. setelah sebagian sahabat berkata kepada sebagian sahabat yang lain, "Mari kita minta tolong kepada Rasulullah saw. dari orang munafik yang mengganggu kita." o "Barang siapa bersumpah dengan selain Allah, ia telah melakukan syirik." (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan ia meng-hasan-kannya). o "Sesungguhnya mantra, jimat, dan guna-guna adalah syirik." (Diriwayatkan Ahmad, Abu Daud, dan lain sebagainya. Hadits ini hasan).
o

Dalil-Dalil Akal

1. Kesendirian Allah Ta'ala dalam penciptaan makhluk, pemberian rizki, dan pengurusan alam semesta mengharuskan manusia beribadah kepada-Nya saja, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. 2. Semua makhluk membutuhkan Allah Ta'ala. Jadi, tidak satu pun dari makhluk-makhluk pantas menjadi Tuhan yang disembah bersama Allah Ta'ala. 3. Sesuatu yang tidak mampu memberi pertolongan atau perlindungan tidak berhak untuk dimintai kepadanya pertolongan, bernadzar untuknya, bergantung atau bertawakkal kepadanya. Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 65-70.

Jabariyah & Qadariyah
BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Persoalan Iman (aqidah) agaknya merupakan aspek utama dalam ajaran Islam yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad. Pentingnnya masalah aqidah ini dalam ajaran Islam tampak jelas pada misi pertama dakwah Nabi ketika berada di Mekkah. Pada periode Mekkah ini, persoalan aqidah memperoleh perhatian yang cukup kuat dibanding persoalan syari’at, sehingga tema sentral dari ayat-ayat al-Quran yang turun selama periode ini adalah ayat-ayat yang menyerukan kepada masalah keimanan.[[1]] Berbicara masalah aliran pemikiran dalam Islam berarti berbicara tentang Ilmu Kalam. Kalam secara harfiah berarti “kata-kata”. Kaum teolog Islam berdebat dengan kata-kata dalam mempertahankan pendapat dan pemikirannya sehingga teolog disebut sebagai mutakallim yaitu ahli debat yang pintar mengolah kata. Ilmu kalam juga diartikan sebagai teologi Islam atau

Dalam makalah ini penulis hanya menjelaskan secara singkat dan umum tentang aliran Jabariyah dan Qadariyah. yaitu Mu'tazilah.[[2]] Perbedaan teologis di kalangan umat Islam sejak awal memang dapat mengemuka dalam bentuk praktis maupun teoritis. e. para malaikat. keimanan kepada para rasul. Perbedaan itu kemudian memunculkan berbagai macam aliran. ilmu yang membahas ajaran-ajaran dasar dari agama. Aliran Jabariyah Ajaran-ajaran Jabariyah Aliran Qadariyah Aliran Jabariyah Ajaran-ajaran Qadariyah Refleksi Faham Qadariyah dan Jabariyah : Sebuah Perbandingan tentang Musibah BAB II . perbedaan itu demikian tampak melalui perdebatan aliran-aliran kalam yang muncul tentang berbagai persoalan. seiring dengan perjalanan waktu. Syiah. Akan tetapi perselisihan politik ini. Munculnya perbedaan antara umat Islam. b. Khawarij. meningkat menjadi persoalan teologi. hari akhir dan berbagai ajaran nabi yang tidak mungkin lagi ada peluang untuk memperdebatkannya. d. keadilan Tuhan. Mempelajari teologi akan memberi seseorang keyakinan yang mendasar dan tidak mudah digoyahkan. Misalnya tentang kekuasaan Allah dan kehendak manusia. B. f. Secara teoritis. c. Tetapi patut dicatat bahwa perbedaan yang ada umumnya masih sebatas pada aspek filosofis diluar persoalan keesaan Allah. Jabariyah dan Qadariyah serta aliran-aliran lainnya. TOPIK PEMBAHASAN a.ushuluddin. kedudukan wahyu dan akal. Makalah ini akan mencoba menjelaskan aliran Jabariyah dan Qadariyah. Perbedaan yang pertama muncul dalam Islam bukanlah masalah teologi melainkan di bidang politik. Mencakup di dalamnya adalah latar belakang lahirnya sebuah aliran dan ajaranajarannya secara umum.

Kehidupan bangsa Arab yang diliputi oleh gurun pasir sahara telah memberikan pengaruh besar dalam cara hidup mereka.[[5]] Adapaun tokoh yang mendirikan aliran ini menurut Abu Zaharah dan al-Qasimi adalah Jahm bin Safwan. Sedangkan secara istilah Jabariyah adalah menolak adanya perbuatan dari manusia dan menyandarkan semua perbuatan kepada Allah. Pendapat yang lain mengatakan bahwa paham ini diduga telah muncul sejak sebelum agama Islam datang ke masyarakat Arab. Ketika itu para ulama membicarakan tentang masalah Qadar dan kekuasaan manusia ketika berhadapan dengan kekuasaan mutlak Tuhan. di sini manusia tidak mempunyai kebebasan dalam berbuat.[[4]] Adapun mengenai latar belakang lahirnya aliran Jabariyah tidak adanya penjelelasan yang sarih. Maksudnya adalah bahwa setiap perbuatan yang dikerjakan manusia tidak berdasarkan kehendak manusia. Abu Zahra menuturkan bahwa paham ini muncul sejak zaman sahabat dan masa Bani Umayyah. tapi yang tumbuh . Dengan kata lain adalah manusia mengerjakan perbuatan dalam keadaan terpaksa (majbur). ALIRAN JABARIYAH (FATALISM/PREDESTINATION) Latar Belakang Lahirnya Jabariyah Secara bahasa Jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung pengertian memaksa. [[3]] Menurut Harun Nasution Jabariyah adalah paham yang menyebutkan bahwa segala perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh Qadha dan Qadar Allah. Di tengah bumi yang disinari terik matahari dengan air yang sangat sedikit dan udara yang panas ternyata dapat tidak memberikan kesempatan bagi tumbuhnya pepohonan dan suburnya tanaman. Salah satu sifat dari Allah adalah al-Jabbar yang berarti Allah Maha Memaksa. Ada yang mengistilahlkan bahwa Jabariyah adalah aliran manusia menjadi wayang dan Tuhan sebagai dalangnya. karena tidak memiliki kemampuan.PEMBAHASAN a. tapi diciptakan oleh Tuhan dan dengan kehendak-Nya.[[6]] yang bersamaan dengan munculnya aliran Qadariayah. Di dalam kamus Munjid dijelaskan bahwa nama Jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu.

sehingga menyebabakan mereka kepada paham fatalisme. Orang tua itu bertanya. Kemudian Ali menjelaskannya bahwa Qadha dan Qadha Tuhan bukanlah sebuah paksaan. Oleh karena itu Umar memberikan dua jenis hukuman kepada orang itu. yaitu: hukuman potongan tangan karena mencuri dan hukuman dera karena menggunakan dalil takdir Tuhan. Ketika Khalifah Ali bin Abu Thalib ditanya tentang qadar Tuhan dalam kaitannya dengan siksa dan pahala.[[7]] Harun Nasution menjelaskan bahwa dalam situasi demikian masyarakat arab tidak melihat jalan untuk mengubah keadaan disekeliling mereka sesuai dengan kehidupan yang diinginkan. Ketika diintrogasi. Kalau itu sebuah paksaan. Nabi melarang mereka untuk memperdebatkan persoalan tersebut. tidak ada pahala sebagai balasannya.[[8]] Terlepas dari perbedaan pendapat tentang awal lahirnya aliran ini. maka tidak ada pahala dan siksa.hanya rumput yang kering dan beberapa pohon kuat untuk menghadapi panasnya musim serta keringnya udara. Artinya mereka banyak tergantung dengan Alam. Mereka merasa lemah dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup. b. diantaranya: Selain ayat-ayat Alquran di atas benih-benih faham al-Jabar juga dapat dilihat dalam beberapa peristiwa sejarah: a. dalam Alquran sendiri banyak terdapat ayat-ayat yeng menunjukkan tentang latar belakang lahirnya paham Jabariyah. pencuri itu berkata "Tuhan telah menentukan aku mencuri". c."apabila perjalanan (menuju perang siffin) itu terjadi dengan qadha dan qadar Tuhan. Pahala dan siksa akan didapat berdasarkan atas amal perbuatan manusia. Suatu ketika Nabi menjumpai sahabatnya yang sedang bertengkar dalam masalah Takdir Tuhan. Mendengar itu Umar kemudian marah sekali dan menganggap orang itu telah berdusta. agar terhindar dari kekeliruan penafsiran tentang ayat-ayat Tuhan mengenai takdir. gugur pula janji dan . Khalifah Umar bin al-Khaththab pernah menangkap seorang pencuri.

Lebih dari itu adalah adanya pengaruh dari luar Islam yang ikut andil dalam melahirkan aliran ini. Di antara tokoh adalah Jahm bin Shofwan dengan pendapatnya adalah bahwa manusia tidak mempu untuk berbuat apa-apa. Surga dan . yaitu pengaruh agama Yahudi bermazhab Qurra dan agama Kristen bermazhab Yacobit. tidak mempunyai kehendak sendiri. telalu tekstualnya pamahaman agama tanpa adanya keberanian menakwilkan dan ketiga adalah adanya aliran salaf yang ditokohi Muqatil bin Sulaiman yang berlebihan dalam menetapkan sifat-sifat Tuhan sehingga membawa kepada Tasybih. aliran ekstrim. Adapun yang menjadi dasar munculnya paham ini adalah sebagai reaksi dari tiga perkara: pertama. d. yang mempunyai paham yang mengarah kepada Jabariyah. Pendapat Jahm tentang keterpaksaan ini lebih dikenal dibandingkan dengan pendapatnya tentang surga dan neraka. dan tidak pujian bagi orang yang baik dan tidak ada celaan bagi orang berbuat dosa. konsep iman.[[10]] Dengan demikian. latar belakang lahirnya aliran Jabariyah dapat dibedakan kedalam dua factor. Pertama. [[11]] c. Ajaran-ajaran Jabariyah Adapun ajaran-ajaran Jabariyah dapat dibedakan menjadi dua kelompok. Ada sebuah pandangan mengatakan bahwa aliran Jabar muncul karena adanya pengaruh dari dari pemikriran asing.ancaman Allah. dan melihat Tuhan di akherat. yaitu ekstrim dan moderat.[[9]] Di samping adanya bibit pengaruh faham jabar yang telah muncul dari pemahaman terhadap ajaran Islam itu sendiri. dan tidak mempunyai pilihan. yaitu factor yang berasal dari pemahaman ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari Alquran dan Sunnah. kalam Tuhan. meniadakan sifat Tuhan. adanya paham Qadariyah. Adanya paham Jabar telah mengemuka kepermukaan pada masa Bani Umayyah yang tumbuh berkembang di Syiria. Ia tidak mempunyai daya. keduanya.

Manusia juga tidak dipaksa. Allah tidak mempunyai keserupaan dengan manusia seperti berbicara.[[15]] C. Kedua. Tenaga yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya.[[13]] Ja'ad bin Dirham. dan hal ini sama dengan konsep yang dikemukakan oleh kaum Murjiah. dan melihat. tidak berdaya. baik dan buruk yang diterima oleh manusia dalam perjalanan hidupnya adalah merupakan ketentuan Allah. seperti berbicara. tidak mempunyai kehendak dan kemauan bebas sebagaimana dimilki oleh paham Qadariyah. tetapi manusia mempunyai bagian di dalamnya. mendengar. ajaran Jabariyah yang moderat adalah Tuhan menciptakan perbuatan manusia.nerka tidak kekal. ALIRAN QADARIYAH ( FREE WILL AND FREE ACT( . Segala akibat. Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala hal. melihat dan mendengar. Sedangkan iman dalam pengertianya adalah ma'rifat atau membenarkan dengan hati.[[12]] Aliran ini dikenal juga dengan nama al-Jahmiyyah atau Jabariyah Khalisah. tetapi manusia mengambil bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu dan Tuhan tidak dapat dilihat di akherat. Seluruh tindakan dan perbuatan manusia tidak boleh lepas dari scenario dan kehendak Allah. baik itu positif atau negatif. Tokoh yang berpaham seperti ini adalah Husain bin Muhammad an-Najjar yang mengatakan bahwa Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia. tidak seperti wayang yang dikendalikan oleh dalang dan tidak pula menjadi pencipta perbuatan. Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk. dan yang kekal hanya Allah. Sedangkan adhDhirar (tokoh jabariayah moderat lainnya) pendapat bahwa Tuhan dapat saja dilihat dengan indera keenam dan perbuatan dapat ditimbulkan oleh dua pihak. tetapi manusia memperoleh perbuatan yang diciptakan tuhan. Kalam Tuhan adalah makhluk. menjelaskan tentang ajaran pokok dari Jabariyah adalah Alquran adalah makhluk dan sesuatu yang baru dan tidak dapat disifatkan kepada Allah.[[14]] Dengan demikian ajaran Jabariyah yang ekstrim mengatakan bahwa manusia lemah. terikat dengan kekuasaan dan kehendak Tuhan. dan Tuhan juga tidak dapat dilihat dengan indera mata di akherat kelak.

yaitu qadara yang bemakna kemampuan dan kekuatan.[[19]] Ditinjau dari segi politik kehadiran mazhab Qadariyah sebagai isyarat menentang politik Bani Umayyah. kemudian masuk Islam dan kembali lagi ke agama Kristen. yakni baik dan buruk. Aliran ini lebih menekankan atas kebebasan dan kekuatan manusia dalam mewujudkan perbutan-perbutannya. karena itu kehadiran Qadariyah dalam wilayah kekuasaanya selalu mendapat tekanan. Sementara W. orang-orang yang berpaham Qadariyah adalah mereka yang mengatakan bahwa manusia memiliki kebebasan berkehendak dan memiliki kemampuan dalam melakukan perbuatan. Adapun secara termenologi istilah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diinrvensi oleh Allah. ada sebagian pakar teologi yang mengatakan bahwa Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh Ma’bad al-Jauhani dan Ghilan ad-Dimasyqi sekitar tahun 70 H/689M. aliran Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh orang Irak yang pada mulanya beragama Kristen. Aliran-aliran ini berpendapat bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya. berasal dari bahasa Arab. sebagaimana yang dikemukakan oleh Ahmad Amin. dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan. [[18]] Ibnu Nabatah menjelaskan dalam kitabnya. Akan tetepi menurut Ahmad Amin.[[17]] Sejarah lahirnya aliran Qadariyah tidak dapat diketahui secara pasti dan masih merupakan sebuah perdebatan. Namanya adalah Susan. Montgomery Watt menemukan dokumen lain yang menyatakan bahwa paham Qadariyah terdapat dalam kitab ar-Risalah dan ditulis untuk Khalifah Abdul Malik oleh Hasan al-Basri sekitar tahun 700M. mencakup semua perbuatan.[[16]] Menurut Ahmad Amin sebagaimana dikutip oleh Dr. demikian juga pendapat Muhammad Ibnu Syu’ib. bahkan pada zaman Abdul Malik bin Marwan pengaruh Qadariyah dapat dikatakan . Manusia mampu melakukan perbuatan. Hadariansyah. ia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri. Harun Nasution menegaskan bahwa aliran ini berasal dari pengertian bahwa manusia mempunyai kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya.Latar Belakang Lahirnya Aliran Qadariyah Pengertian Qadariyah secara etomologi.

sebab dalam perkembangan selanjutnya ajaran Qadariyah itu tertampung dalam Muktazilah. ia berhak mendapatkan pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan juga berhak pula memperoleh hukuman atas kejahatan yang diperbuatnya. Ganjaran kebaikan di sini disamakan dengan balasan surga kelak di akherat dan ganjaran siksa dengan balasan neraka kelak di akherat. bukan oleh takdir Tuhan. Dengan demikian takdir adalah ketentuan Allah yang diciptakan-Nya bagi alam semesta beserta seluruh isinya. dan dengan daya itu ia dapat berkuasa atas segala perbuatannya. Dalam perbuatannya. Secara alamiah sesungguhnya manusia telah memiliki takdir yang tidak dapat diubah. Manusia sendirilah yang melakukan perbuatan baik atas kehendak dan kekuasaan sendiri dan manusia sendiri pula yang melakukan atau menjauhi perbuatan-perbutan jahat atas kemauan dan dayanya sendiri. Demikian juga manusia tidak mempunyai kekuatan seperti gajah yang mampu membawa barang seratus kilogram. . Oleh karena itu.[[21]] Dengan demikian bahwa segala tingkah laku manusia dilakukan atas kehendaknya sendiri. Manusia dalam demensi fisiknya tidak dapat bebruat lain. Ajaran-ajaran Qadariyah Harun Nasution menjelaskan pendapat Ghalian tentang ajaran Qadariyah bahwa manusia berkuasa atas perbuatan-perbutannya. yaitu hokum yang dalam istilah Alquran adalah sunnatullah. orang yang berbuat akan mendapatkan balasannya sesuai dengan tindakannya. sejak azali.[[22]] Faham takdir yang dikembangkan oleh Qadariyah berbeda dengan konsep yang umum yang dipakai oleh bangsa Arab ketika itu. itu didasarkan atas pilihan pribadinya sendiri. Manusia mempunyai kewenangan untuk melakukan segala perbuatan atas kehendaknya sendiri. kecuali mengikuti hokum alam.[[20]] d. manusia hanya bertindak menurut nasib yang telah ditentukan sejak azali terhadap dirinya. Karena itu sangat pantas.lenyap tapi hanya untuk sementara saja. yaitu paham yang mengatakan bahwa nasib manusia telah ditentukan terlebih dahulu. Misalnya manusia ditakdirkan oleh Tuhan tidak mempunyai sirip seperti ikan yang mampu berenang di lautan lepas. baik berbuat baik maupun berbuat jahat. Tokoh an-Nazzam menyatakan bahwa manusia hidup mempunyai daya.

(QS.                    Artinya : “Katakanlah kebenaran dari Tuhanmu.Ali Imran :165)               . Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Di antara dalil yang mereka gunakan adalah banyak ayat-ayat Alquran yang berbicara dan mendukung paham itu :      Artinya : “Kerjakanlah apa yang kamu kehendaki sesungguhnya Ia melihat apa yang kamu perbuat”. barang siapa yang mau beriman maka berimanlah dan barang siapa yang mau kafir maka kafirlah”. Fush-Shilat : 40).                           Artinya : “dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud).Dengan pemahaman seperti ini tidak ada alasan untuk menyandarkan perbuatan kepada Allah. Al-Kahfi : 29). Padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar). (QS. kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". (QS.

karena semua peristiwa dipandang sudah kehendak dan dilakukan oleh Allah. bahwa perbuatan manusia ditentukan dan dikerjakan oleh manusia. Kedua paham teologi Islam tersebut melandaskan diri di atas dalil-dalil naqli (agama) . bukan Allah. berkaitan dengan perbuatannya. manusia digambarkan bagai kapas yang melayang di udara yang tidak memiliki sedikit pun daya untuk menentukan gerakannya yang ditentukan dan digerakkan oleh arus angin. yang berpaham Qadariyah condong mencari tahu di mana letak peranan manusia pada kecelakaan itu. Kedua paham teologi Islam tersebut membawa efek masing-masing. Di negeri-negeri kaum Muslimin. berkaitan dengan perbuatannya. (QS. kecelakaan pesawat terbang.Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka.] yang ada pada diri mereka sendiri”. manusia digambarkan sebagai berkuasa penuh untuk menentukan dan mengerjakan perbuatannya.sesuai pemahaman masing-masing atas nash-nash agama (Alquran dan hadits-hadits Nabi Muhammad) . Sedang. Kedua paham itu dapat dicermati pada suatu peristiwa yang menimpa dan berkaitan dengan perbuatan manusia. pada paham Qadariyah. Pada paham Jabariyah semangat melakukan investigasi sangat kecil. yang dominan adalah paham Jabariyah. Bagi yang berpaham Jabariyah biasanya dengan enteng mengatakan bahwa kecelakaan itu sudah kehendak dan perbuatan Allah. Dalam paham Qadariyah. semangat investigasi amat besar. paham Jabariyah disebut juga sebagai paham tradisional dan konservatif dalam Islam dan paham Qadariyah disebut juga sebagai paham rasional dan liberal dalam Islam. misalnya.dan aqli (argumen pikiran). Refleksi Faham Qadariyah dan Jabariyah : Sebuah Perbandingan tentang Musibah Dalam paham Jabariyah. Orang Muslim yang berpaham Qadariyah merupakan kalangan yang terbatas atau hanya sedikit dari mereka. Sedang.Ar-R’d :11) e. . selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka. karena semua peristiwa yang berkaitan dengan peranan (perbuatan) manusia harus dipertanggungjawabkan oleh manusia melalui suatu investigasi. Sedang yang berpaham Qadariyah akan menjawab. seperti di Indonesia. Pada perkembangan selanjutnya.

namun mengajukan pertanyaan yang harus dijawab : adakah andil manusia di dalam "mengganggu" ekosistem kehidupan yang menyebabkan alam "marah" dalam bentuk gempa dan tsunami? Untuk itu. Posisi manusia demikian tidak terdapat di dalam paham Jabariyah. bagi yang berpaham Jabariyah. meski gempa dan tsunami tidak secara langsung menunjuk perbuatan manusia.Dengan demikian. paham Qadariyah membenarkan suatu investigasi (pencaritahuan). sudah cukup bila tindakan membantu korban dan memetik "hikmat" sudah dilakukan. ilmu pengetahuan lebih pasti berkembang di dalam paham Qadariyah ketimbang Jabariyah. Akibat dari perbedaan sikap dan posisi itu. juga adalah makhluk yang harus bertanggung jawab atas perbuatannya. dalam paham Qadariyah. Dalam hal musibah gempa dan tsunami baru-baru ini. selain manusia dinyatakan sebagai makhluk yang merdeka. karena menyikapinya sebagai kehendak dan perbuatan Allah. BABIII KESIMPULAN Menurut penulis solusi terhadap pandangan aliran Jabariyah dan Qodariyah yaitu bahwa manusia benar-benar memiliki kebebasan berkehendak dan karenanya ia akan dimintai . dengan memotret lewat satelit kawasan yang dilanda musibah. Sedang hikmat yang dimaksud hanya berupa pengakuan dosa-dosa dan hidup selanjutnya tanpa mengulangi dosa-dosa. Sedang bagi yang berpaham Qadariyah. misalnya.

Dirasah Islamiyah: Pengantar Studi Sejarah Kebudayaan Islam dan Pemikiran. (Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2. baik Qadariyah ataupun Jabariyah nampaknya memperlihatkan paham yang saling bertentangan sekalipun mereka sama-sama berpegang pada Alquran. 2006). cet ke-2 Asmuni. keimanan dan juga kekufuran. Kedua aliran. Hal ini menunjukkan betapa terbukanya kemungkinan perbedaan pendapat dalam Islam. (Bandung: Puskata Setia. ketaatan dan juga ketidaktaatan. Rosihan. mereka pun tentu akan mencari jalan dan dalil-dalil lain yang lebih tepat. Dari keterangan ajaran-ajaran Jabariyah dan Qodariyah tersebut di atas yang terpenting harus kita pahami bahwa mereka (Jabariyah dan Qodariyah) mengemukakan alasan-alasan dan dalil-dalil serta pendapat yang demikian itu dengan maksud untuk menghindarkan diri dari bahaya yang akan menjerumuskan mereka ke dalam kesesatan beragama dan mencapai kemuliaan dan kesucian Allah SWT dengan sesempurna-sempurnanya. kursi atau jendela tidak akan tercapai tanpa adanya kayu sementara kayu tersebut yang membuat adalah Allah SWT. meskipun demikian keputusan tersebut pada dasarnya merupakan pemenuhan takdir (ketentuan) yang telah ditentukan. Ilmu Kalam. DAFTAR PUSTAKA 1. Sementara bagi Qodariyah manusia adalah pelaku kebaikan dan juga keburukan. Sebagai penutup dalam makalah ini. Di samping itu pendapat-pendapat Jabariyah sebenarnya didasarkan karena kuatnya iman terhadap qudrot dan irodat Allah SWT.pertanggungjawaban atas keputusannya. ditambah pula dengan sifat wahdaniat-Nya. kebebasan berkehendak manusia tidak dapat tercapai tanpa campur tangan Allah SWT. terutama dalam langkah awal menyampaikan dakwah Islam sehingga dapat merangkul berbagai golongan Islam yang masih memerlukan pengayoman. Penghindaran itu pun tidak mutlak dan tidak selama-lamanya. Anwar. Demikian makalah dari kami yang berjudul “Jabariyah dan Qodariyah” kritik dan saran yang konstruktif sangat kami harapkan demi perbaikan di masa mendatang. Yusran. Dalam masalah Iman dan Kufur ajaran Jabariyah yang begitu lemah tetap bisa diberlakukan secara temporal. 1996) . seperti seseorang yang ingin membuat meja. Dengan kata lain. bahkan jika dirasanya akan berbahaya pula.

Nasution. (Jakarta: Bulan Bintang. Kuliah Ilmu Kalam. 1997) ← Mu’tazilah Murji’ah → Jabariyah dan Qadariyah 16 January 2009 by Kangsata Leave a Comment Terkait qada’ dan qadar. (Banjarmasin: Antasari Press. Abudin. Pemikiran-pemikiran Teologi dalam Sejarah Pemikiran Islam. (Jakarta: UI-Press. 1997) Hadariansyah. Koreksi atas Pemikiran Kalam dan Filsafat Islam. (Beirut-Libanon: Dar al-Kurub al-'Ilmiyah. diterjemahkan dari "Mabahits fi Ulum al-Qur'an. 1998) 9. Muhammad. Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan. al-Milal wa an-Nihal. Enseklopedi Islam. 4. Studi Ilmu-ilmu Alqur'an. Muhammad ibn Abd al-Karim. (Bangil: alIzzah. mula-mula muncul permasalahan tentang kebebasan dan keterpaksaan manusia (al-jabr wa al-ikhtiyar). 2008) 5. Filsafat dan Tasawuf.th) 11. t. Pemikiran seputar masalah ini melahirkan dua kutub pemikiran ekstrim yang berbeda. asy-Syahrastani. Manna Khalil. al-Qaththan. Faham Jabariyah pertama kali dipopulerkan oleh Ja’d bin Dirham di Basrah yang intinya menafikan adanya perbuatan otonom .3. 2004) 10. Tim. Nata. (Jakarta: Raja Grafindo Persada. 1986). cet ke-5 7. 1977) 8. Ahmad. Ilmu Kalam. (Jakarta: Litera AntarNusa. Nasy'at al-Fikr al-Falsafi fi al-Islam. Maghfur. Ali Syami. (Cairo: Dar al-Ma'arif. yaitu Jabariyah dan Qadariyah. Daudy. an-Nasyar. "Jabariyah" (Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve. AB. Harun. 2002) 6.

Jahm juga mengembangkan pemikiranpemikiran lain seperti mengemukakan pendapat bahwa surga dan neraka bersifat fana. Allah bukan sesuatu dan tidak bisa dilihat pada hari kiamat. Ide jabariyah ini kemudian terpelihara dalam gerakan pemikiran muridnya yaitu Jahm bin Shafwan. bebas dari kehendak Allah. Jadi. iman adalah ma’rifah dan kekufuran adalah jahl. Di samping menerima ide jabariyah. perbuatan manusia berada di luar ruang lingkup kekuasaan atau campur tangan Allah. yang kepadanya dinisbatkan aliran Jahmiyah. kalam Allah bersifat tidak qadim. Sedangkan faham Qadariyah dengan tokoh utamanya Ma’bad bin Khalid al-Juhani dan Ghailan al-Dimasyqi menyatakan bahwa semua perbuatan manusia adalah karena kehendaknya sendiri. . manusia digambarkan tidak memiliki sifat kesanggupan yang hakiki sehingga segala perbuatannya (baik ketaatan atau kemaksiatan) pada dasarnya adalah keterpaksaan (majburah) karena tidak berasal dari kekuasaan.seorang hamba dengan menyandarkan semuanya kepada Allah. Dalam pendapatnya. kehendak maupun usahanya sendiri.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->