Fungsi Wahyu

Menggali dan meneliti kembali asa hidup dan pandangan hidup Islam, kita perlu membuka Al Kitab, mengetahui kehendak dan fungsi Wahyu dalam tata-kehidupan manusia dan mengendalikan kemanusaan sesuai dengan pola dan formula Al-Chalik Maha Pencipta Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.
Rangkaian wahyu yang kita angkat dibawah ini, adalah meletakkan tangga tempat naik untuk mengenal hakekat (Ma’rifatul-hakekat), apa tujuan dan sengaja Ilahy menciptakan Hidup dan membuat halaman kemanusiaan bercahaya diatas buminya. Wahai manusia sekalian ! Sesungguhnya telah datang kepada kamu satu keterangan dari Tuhan kamu, dan Kami telah turunkan kepadamu satu cahaya yang nyata. Maka adapun mereka yang beriman kepada Allah dan berpegang kepada Al Qur-an itu, Tuhan akan memasukkan mereka didalam rahmat dan Karunia dari padaNya, dan Ia akan memimpin mereka kejalan yang lurus yang akan menyampaikan mereka kepadaNya. (QS. Annisaa’: 175-176) Wahai ahli kitab ! Sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menerangkan kepada kamu banyak sekali dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan ia (Rasul itu) tidak memperdulikan banyak lagi kesalahan kamu. Sesungguhnya telah datang kepada kamu dari Allah Cahaya dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itu, Allah memimpin orang yang menurut keridlaanNya dijalan keselamatan, dan Kitab itu mengeluarkan mereka daripada belenggu kegelapan kepada cahaya terang dengan idzinNya, dan kitab itu memimpin mereka kejalan yang lurus. (QS. Al Maidah : 15-16) Ini suatu kitab yang kami turunkan kepada kamu, supaya engkau keluarkan manusia dari kungkungan kegelapan kepada Cayaha dengan idzin Tuhan mereka, kejalan Tuhan Yang Maha Gagah, Maha Terpuji. (QS. Ibrahim : 1) Tidak kami turunkan kepadamu Qur-an, supaya engkau jadi susah dan gelisah. Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut. Diturunkan dari Tuhan yang menjadikan bumi serta langit-langit yang tinggi. Barang siapa yang berpaling dari pada peringatan, maka adalah baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengabulkan dia pada hari Qiyamat dalam keadaan buta. Ia berkata : “Wahai Tuhanku ! Mengapakah Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulunya aku adalah orang yang melek” Ia (Allah) menjawab : “Begitulah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, tetapi engkau lupakan dia, dan begitulah hari ini engkau dilupakan. Dan begitulah Kami balas orang yang melewati batas, dan tidak ber Iman kepada ayat-ayat Tuhannya, Dan sesungguhnya ‘adzab Achirat lebih pedih dan lebih kekal. (QS. Thaha : 2-4, 124-127) Allah sediakan untuk mereka siksa yang keras, maka hendaklah kamu berbakti kepada Allah, wahai manusia yang berfikir, yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan kepadamu satu peringatan. Yaitu seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang nyata untuk mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dari belenggu gelap kepada Cahaya terang. Barang siapa ber-Iman kepada Allah dan menjalankan shaleh, pasti Dia masukkan ia kedalam syurga yang mengalir padanya sungai-sungai, dan mereka kekal didalamnya selama-lamanya, sesungguhnya Allah telah menyempurnakan karunia baginya (QS. Atthalaq : 10-11)

Ialah yang menurunkan atas hambaNya perintah yang nyata dan jelas, karena Ia hendak melepaskan kamu dari belenggu kegelapan kepada Cahaya terang, sesungguhnya Allah itu belas kasihan kepada kamu. ( QS. Al Hadied : 9 )

Rangkaian wahyu yang dikemukakan diatas, adalah fundasi-landasan untuk memahamkan apa fungsi dan arti Risalah yang kita bawa ketengah-tengah dunia untuk berbicara dan berkata dalam gelanggang dan halaman kemanusiaan.
Persoalan zaman kita bukanlah lagi berkisar pada ada atau tiadanya Tuhan, tetapi berkisar kepada Tuhan yang mana yang wajib disembah dan di tha’ati. Bukan lagi berkisar kepada perlu atau tidak perlunya agama, tetapi berkisar kepada Agama yang bagaimana yang sanggup menjawab dan memecahkan persoalan dan tuntutan kemanusiaan, agama yang dapat dijadikan anutan dan pegangan. Bukan lagi berkisar pada perlu atau tidaknya Iman dan kepercayaan, tapi berkisar kepada kepercayaan dan keyakinan yang bagaimana yang sesuai dengan Fithrah-Insaniyyah, dasar kemanusiaan yang asli dan murni. Susunan filsafat demi susunan filsafat, ternyata tidak mampu menyiram kemanusiaan dan kehidupan yang kering dan layu. Filsafat ternyata tidak mampu memecahkan rahasia dan misteria hidup, menunjukkan tujuan hidup kepada manusia. Da’wah Islam langsung datang kepada fithrah-Insaniyyah, membuka matahati dan nurani kemanusiaan. Sebagaimana mata biasa tidak mungkin dapat melihat dan menikmati warna yang indah tanpa mata yang dapat melihat, demikian pula matahati dan nurany kemanusiaan tidak akan mampu melihat dan menggunakan hikmah-keagungan Ilahy, tanpa adanya Nur dan Cahaya Wahyu dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Nur dan cahaya Wahyu tidak mungkin pula akan dapat ditangkap oleh hati yang buta dan kemanusiaan yang telah ternoda. Menyambung cahaya besar dengan cahaya kecil, menyambungkan Cahaya Ilahy dengan nurani kemanusiaan, itulah pokok tugas Da’wah Islam dalam arti yang umum. Persoalan kemanusiaan zaman kita demikian menyeluruhnya dan penuhnya. Hanyalah dengan berpedoman kepada Al-Kitab, berpedoman kepada Wahyu, Ideologi Da’wah Islam akan mampu menjawab dan memecahkan persoalan yang penuh dan menyeluruh itu. Muhammad Ali Jinnah pembangun Negara Islam Pakistan itu pernah berkata :

Bahwasannya Islam itu bukan hanya sekedar rentetan upacara ibadah belaka, tetapi adalah satu hukum, satu syari’at yang maha sempurna, mengatur peri kehidupan dan memberikan kesejahteraan kepada pribadi dan masyarakat.
Agama kita yang hanief itu adalah agama yang mahasempurna, diatasnyalah kita hidup menurut ajaran-ajarannya yang luhur, maka sukses-berhasilnya kita bergantung kepada kesediaan dan kerelaan kita mengikuti ajaran-ajaran emas ini, yang dibawa oleh Al Quranul karim dan ditafsirkan oleh Nabi yang besar dengan ucapan dan perbuatannya.

Al Ustadzul Imam Prof. Syech Muhammad Abduh dalam Muqadimah Tafsirnya (Al-Hakiem) menulis :

....... saya yakin sungguh, sebab kelumpuhan dan kelemahan kaum Muslimin adalah oleh karena mereka telah berpaling dari pimpinan Al-Qur-an. Kemuliaan mereka, kemenangan mereka dan hak milik kekuasaan mereka tidaklah akan pulih kembali kepada mereka, kecuali jika mereka telah kembali kepada pimpinan Al-Qur-an, mentha’ati petunjuknya dan memegang teguh talinya, sebagaimana yang mereka dapat lihat dan mengetahui yang demikian itu dengan jelasnya dalam ayat-ayat yang menerangkan demikian itu.

Dengarlah seorang Barat Prof. M. Thonnon ikut menyalahkan Ummat Islam tatkala dia menulis :
....... Tuan orang Timur sangat gemar meniru kami orang Barat : tetapi yang tuan tiru itu ialah perkaraperkara yang amat rendah, kerusakan-kerusakan dan hal-hal yang sama sekali tidak berguna, bahkan tuan sangat gemar meniru kami dalam perkara yang oleh orang Barat sendiri dianggap penyakit yang merusakkan tubuh, dan orang terpelajar Barat memerangi dan membasminya. Jikalau tuan ingin berkemajuan yang sebenar-benarnya dan ingin berdiri sama tinggi dengan kami, maka pertama-tama pegang teguhlah agamamu, sebab aku dapatkan Al-Qur-an itu berisi pengajaran yang amat luhur, cukup mengatur peri lahir dan bathinmu

Nabi Muhammad SAW yang telah memenangkan keyakinan Islam dan berhasil menegakkan Negara Islam yang pertama di Madinah, pada sahir hayatnya meninggalkan pesan dan wasiat kepada Muslimin :
Sesungguhnya aku tinggalkan padamu sesuatu (tuntunan) manakala kamu berpegang teguh kepadanya, maka kamu tidak akan sesat selama-lemanya, suatu ketentuan yang cukup jelas yaitu Kitab Allah dan Sunnah NabiNya

Perjuangan Nabi telah menang dan berhasil menegakkan Daulah dan Hukumah, Syaukah dan Kekuasaan yang berupa Madinatul Munawarah, namun beliau tidak meninggalkan pesan bahwa beliau meninggalkan negara sebagai warisan kepada Ummatnya, tetapi hanyalah Al-Qur-an dan dan Sunnah, harta lama pusaka bersama bagi kaum Muslimin.
Wasiat terachir itu mengajarkan kepada kita bahwa Negara, Daulah dan Hukumah, kekuasaan dibumi hanyalah natijah atau akibat dari berpegang teguhnya kaum Muslimin kepada Qur-an dan Sunnah. Kekuasaan akan lenyap, kemuliaan akan runtuh, persatuan akan binasa, Daulah dan Hukumah akan bertukar dengan perbudakan dan perhambaan, jikalau Ummat Islam telah lepas dari pimpinan Al-Quran dan Sunnah. Berabad-abad Dunia Islam dalam kungkungan dan belenggu imperialisme Nasrani. Chilafah Umaiyah, Abbasiah, Fathimiyah, Usmaniyah runtuh semuanya, dan kekuasaan direbut oleh kaum imperialis, karena kaum Muslimin telah lari dari pimpinan Al-Qur-an dan Sunnah. Keadaan yang demikian itu, telah diramalkan oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah Hadiets : Kamu sekalian senantiasa akan ditolong oleh Allah untuk mengalahkan musuh-musuh kamu, selama kamu tetap memegang teguh Sunnahku. Sekiranya kamu telah keluar dari Sunnahku, Allah akan menurunkan pemerintahan atas kamu semua dari pada musuh-musuh kamu orang yang menakutnakuti kamu. Maka tidak akan dicabut rasa takut dari hati kamu kembali sebelum mentha’ati Sunnahku.

Kekuasaan, kekuatan, kebebasan dan kemuliaan yang dijanjikan dalam Al-Qur-an kepada Ummat Islam, tidak akan diberikan selama mereka tidak berpegang teguh secara konsekwen kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.

Setelah bebas dan lepasnya bangsa-bangsa Afro-Asia dari belenggu imperialisme Barat. pembangunan dunia dan kemanusiaan. jikalau Ummat Islam tidak berpedoman kepada Qur-an dan Sunnah. Kita harus aktif menyumbangkan harta kita kepada kemanusiaan. Dienul Islam sebagai Undang-undang Ilahy dilapangan syachsiyyah dan ijtima’iyyah. Pakistan. tidak berhak memiliki kemuliaan dan kebesaran. Kaum Muslimin seantero nation harus aktif memberikan sumbangan yang positif untuk membangun dunia dan kemanusiaan itu. ikut memberikan sumbangannya untuk membangun bangsa dan negara. Sebagai Muslim dia menerima pesan – amanat dari Tuhan Yang Maha Kuasa untuk membawa dan melaksanakan ajaran dan syari’at Islam didaerah kekuasaannya. Seluruh Ummat Islam memberikan harapan dan kepercayaan kepada para putera Islam yang kebetulan kini sedang memegang pemerintahan negara. Ummat penengah. membawa dan memperjuangkan ajaran Islam untuk membangun dunia dan kemanusiaan kembali. milik pusaka kita. Dengan Qur-an dan Sunnah kaum Muslimin berbicara kepada manusia. agar diatas bumi yang telah merdeka itu tegak Daulah dan Hukumah Islamiyah. nasional dan internasional. Sebagai Ummatan wasathan. Ummat Islam tidak akan mampu berbuat baik. Kita dibangkitkan untuk peri-kemanusiaan. Pena dan pedang Syuhada yang membina Haramain. wahai. agar mereka membuktikan ke Islamannya dalam praktek – kenyataan. Gempitakan suara Islam dalam segala pertemuan. Ummat Risalah kita bertanggung jawab atas jalan dan perkembangan dunia dan kemanusiaan. sosial dan masyarakat. Negara dan bangsa-bangsa Afro-Asia yang kini bergolak mengusir penjajah. dalam waktu yang dekat Dunia Islam akan beroleh kembali kedudukannya sebagai pemimpin dan penengah didunia. Ideologi Da’wah Islam sepenuhnya harus bersumber kepada Qur-an dan Sunnah. penguasa atasnya. banyak terdiri dari kaum Muslimin yang terikat oleh ‘Aqidah yang satu dan keyakinan yang serupa. bangsa-bangsa Afro-Asia dan dunia umumnya kini menghadapi pembangunan dalam segala lapangan : pembangunan bangsa dan negara. . dan lain-lain kepala dari negara Muslimin didunia mengatur kerjasama yang rapi. dan zaman kita ditandai oleh kiamatnya imperialisme dan kolonialisme. Karena karunia Ilahy ummat Islam didunia sekarang banyak yang memegang kekuasaan dalam negara-negara yang baru merdeka.Ummat yang sudah lepas dari pimpinan Qur-an dan Sunnah. menuntut muthlak-perlu adanya Daulah dan Hukumah Islamiyah itu. Hanya itulah satu-satunya harta-kekayaan kita. Amir Faisal dari Haramain. Ummat Islam tidak boleh pasif dan statis membiarkan pembangunan dunia tanpa mendengar suara dan bahasa kaum Muslimin. perdamaian yang abadi dan sejati. membangun dunia dan kemanusiaan yang bersalam dan berbahagia. melaksanakan hukum dan syari’at Islam dalam lapangan kemasyarakatan dan kenegaraan. ekonomi dan politik. menyumbangkan apa yang kita miliki untuk membangun dunia kembali diatas puing reruntuhan dunia lama. Tidak ada alasan yang dapat menghalangi mereka untuk mengadakan kerjasama dalam menghadapi masalah dunia dan manusia. Suria dan Mesir dan lain-lain negara Muslimin lainnya memesankan. tidak berhak mewarisi bumi sebagai chalifah. yalah Qur-an dan Sunnah. ber-amar ma’ruf dan ber-nahi munkar dimuka bumi. Jikalau Ayub Khan dari Pakistan. memberi sumbangan kepada kemanusiaandan kebudayaan. Kemukakan ajaran Islam kepada manusia.

Di Indonesia warganegaranya tidak kurang dari 95% yang beragama Islam. adalah dengan kesadaran. untuk ‘Izzul Islam wal Muslimin. dan ingatlah apa yang tersebut didalamnya supaya kamu menjadi orang Taqwa.Qur-an dan Hadits. menciptakan mashlahatuljama’ah. bahwa mereka adalah pendukung Qur-an dan Sunnah itu. menggunakan dia menjadi asas pembangunan untuk kebahagiaan rakyat. Kamu terimalah Kitab yang Aku berikan kepada kamu dengan kekuatan. yang berhak memerintah dan menegah manusia. jiwa dan jasad. Kekuasaan itu yang berwenang untuk melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. . dan formil konstitusionil karena Piagam Jakarta tidak boleh dipisahkan dengan UUD 45. hukum dan syari’at Islam memerlukan kekuasaan duniawi (weldlijke macht). tidak bisa dipisahkan dengan gerakan reformasi dan modernisasi dalam batang tubuhnya Ummat Islam sendiri. Islam dipakai untuk membangun masyarakat dan negara. pujangga dan sarjana Islam yang masyhur Muhammad Iqbal ? Nation building yang kini kita jadikan thema pokok dalam segala kegiatan. Nation Building dan reformisme-modernisme Islam pada hakekatnya adalah satu. agar mereka menggunakan kedudukan dan kekuasaan mereka untuk kejayaan Islam dan kaum Muslimin. bahagia bersama. justru Ummat Islam adalah golongan mayorita dinegeri ini. kedua-duanya memberi landasan kebijaksanaan untuk melakukan itu. Kewajiban moril karena kita adalah kaum Muslimin. Ber-Da’wah kepada para Pemimpin Negara supaya dengan kekuasaan dan syaukah yang ditangan mereka. Ajaran Islam yang murni dan asli (Qur-an dan Sunnah) bukan saja berguna untuk nation building kita. Al Baqarah : 63. Jikalau kita menyebut beberapa kepala Negara diatas agar merintis perjuangan Qur-an dan Sunnah dengan kuasa dan wewenang yang ada ditangannya. Ayub Khan dan lain-lain putera Islam yang memegang kekuasaan negara. seperti satunya jasmani dan ruhani. mempunyai kewajiban moril dan formil untuk menjalankan syari’at Islam (Syar’iyyah Islamiyah). Menegakkan Qur-an dan Sunnah. Al A’raf : 17) Ayat-ayat diatas secara langsung juga berbicara kepada Amir Faisal. Para penjabat Negara dari pusat sampai ke Rukun Tetangga terdiri dari sebagian besar Ummat Islam. Dalam bidang ini Mujahid Da’wah (Muballigh Islam) dapat memberikan darmabaktinya. tetapi untuk membangun dunia baru yang bebas dari perbudakan dan perhambaan. yang memperjuangkan Qur-an dan Sunnah itu dengan pena dan pedang ? Bukankah Negara Pakistan tidak bisa dipisahkan dengan peletak dasar yang pertama. Qur-an dan Hadits. Bukankah Negara Sa’udi Arabia yang pimpinannya sekarang (1964) ditangan Amir Faisal adalah jerih payah dari perjuangan besar Syechul Islam Muhammad bin Abdulwahhab. Adalah kewajiban Ulama dan Sarjana Islam untuk memberi bekal dan sumbangan kepada para pemimpin negara diseluruh dunia. 93 . seperti yang diamanatkan oleh Piagam Jakarta yang terkenal itu. hakum dan syari’at dan syari’at Islamiyah tidak berkaki dan bertahan. Kamu terimalah Kitab yang Aku berikan kepada kamu dengan kekuatan dan dengarkanlah betul-betul. tidak bisa berjalan sendiri. terutama di Afro-Asia yang para Umara’nya banyak terdiri dari kaum Muslimin. tugas pokok dari setiap Mu’min yang memahami fungsi dan misinya didunia. (QS. sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapinya pula.

kesenjangan sosial. sistem perekonomian dan sebagainya. Adanya sejumlah orang yang pengetahuan tentang ke-Islamannya cukup luas dan mendalam. membuat Negara dan Dunia ini menjadi bahagia dan bercahaya buat semuanya. Kalau kepada mereka tentang bagaimana cara mengatasi masalah pelacuran maka yang ada hanya bagaimana menghancurkan tempat pelacuran tersebut. karena dalam masalah itu tidak serta merta hanya masalah pelacuran tetapi ada masalah yang lauin yaitu ketenaga kerjaan. hanya itu sajalah yang dapat kita ketengahkan kepada manusia. Sebagai contoh. Dari sisi peristilahan dalam memberi pengertian para ilmuwan beragama dalam memberi . yaitu sisi kebahasaan dan sisi peristilahan. Padahal tidak bisa mengatasi persoalan pelacuran menghancurkan tempatnya saja. Kemudian Aslama berserah diri masuk dalam kedamaian. Islam yang sudah dikebiri dan dilucuti oleh seribu satu penyakit yang ditumbuhkan oleh Ummat Islam sendiri. malah dia yang berhak menerima zakat. NUR CHOLIS MAJID : Sikap pasrah kepada Tuhan adalah merupakan hakikat dari pengertian islam. Karena orang tidak menerima Islam secara sistemik maka antara guru satu dengan yang lainnya tidak akan pernah ketemu karena tidak sebuah silabus yang mengacu menjadi satu kesatuan. ataukah diperlukan standart umum untuk bisa mengetahui keadaan yang variatif seperti ini. MAULANA MUHAMMAD ALI : Islam adalah agama perdamaian. Gejala seperti ini apakah memang sudah alami yang menjadi sebuah kenyataan untuk bisa diambil hikmahnya. namun tidak terkoordinasi dan tidak tersusun secara sistemik. malah tidak berhak berbicara atas nama Ummat Islam. bid’ah dan sebagainya. Rumus Ideologi Da’wah yang bersumber kepada Qur-an dan Sunnah. dan dua ajaran pokok yaitu keesaan Allah dan kesatuan atau persaudaraan ummat manusia menjadi bukti nyata. mengedalikan kemanusiaan. tidak mungkin dapat memberikan sahamnya untuk nation building dan character building.Islam yang tidak bersumber kepada Qur-an dan Sunnah. Ummat yang tidak berpegang kepada Qur-an dan Sunnah (Ummat Islam) tidak mempunyai apa-apa yang dapat disumbangkannya kepada Dunia dan Manusia. sebagai pilihan dan alternatif untuk mengembangkan kehidupan. B. Dari seorang fakir-miskin tak ada kewajiban zakat yang harus dibayarnya. Sehingga sesuatu yang variatif ini tidak keluar dari ajaran yang tekandung dalam al-Qur’an dan As-Sunnah sehingga tidak akan keluar dari keabsahannya. misalkan ada orang yang menguasi ilmu Fiqh tetapi tidak memahami ilmu-ilmu yang lain setiap ada masalah jawabannya selalu ilmu fiqh yang diberikan. struktur sosial. sentosa dan damai. pemahaman tentang ke-Islaman ummat Islam di Indonesia sangat variatif. Negara dan Dunia. syirik. NAAN METODOLOGI Sejak kedatangan Islam abad ke-13 hingga saat ini. tidak akan mampuh memberikan sumbangannya bagi pembangunan Bangsa. Kebahasaan Islam dari bahasa Arab salima selamat. yang penuh dengan churafat. BEBERAPA PENDAPAT TENTANG ISLAM Ada dua sisi yang dapat digunakan untuk memahami pengertian Agama Islam. Keadaan ini juga terjadi pada negara lain.

Menurut Sosiologi pemikiran teologi dan filosofi selalu terkait dengan politik atau kemasyarakatan. idenya muncul dan nafasnya dihembuskan oleh semangat tokoh pemikir. pandangan hidup dan sikap politiknya. satu kaidah yang memuat tuntunan yang jelas dan lengkap mengenai aspek hidup manusia baik spritual maupun material. Peristilahan ini disamakan pada umumnya agama diluar Islam yang namanya disandarkan kepada nama pendirinya. Setiap pemikiran yang kemudian didukung oleh sekelompok orang. Wajar jika sumber mata airnya yang semula bening dan jernih serta mengalir pada alur sempit dan deras dalam perjalanannya menuju muara kian melebar. Pengertian Islam menurut Maulana Ali dapat dipahami dari Firman Allah surat Al-Baqorah ayat 208 : ٌ ْ ِ ّ ّ ُ َ ْ ُ َ ُ ِّ ِ َ ْ ّ ِ َ ُ ُ ْ ُ ِ َّ َ َ َ ّ َ ِ ّْ ‫ياأيهاالذين أمنواادخلوا فى السلم كافة ولتتبعوا خطوات الشيطان انه لكم عدو مبين‬ ِ ْ ُُ ْ ْ ُ َ َ ْ ِ ّ َ ّ َ َ “Hai Orang-orang yang beriman. makna dasarnya adalah damai atau tidak mengganggu. Jika teori ini benar. C. manusia dengan alam semesta. masuklah kamu ke dalam Kedamaian/Islam secara menyeluruh dan jangan kamu ikuti langkah-langkah Setan. Dari definisi itu dapat disimpulkan bahwa Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada manusia melalui Rasul-rasul-Nya berisi hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah. Geraknyapun menjadi lamban. Pemikiran Islam dapat diibaratkan dengan sebagai sungai yang besar dan panjang. Setiap pemikir ketika melontarkan gagasan atau buah pikirannya tidak lepas oleh situasi lingkungan yang dihadapi . demikian juga sebaliknya. tetapi mengenai beberapa segi dari kehidupan manusia. maka kajian pemikiran Islam hanya dibagi dalam bidang teologi (kalam). ORIENTALIS : islam sering di identikkan dengan Mohammadanism dan Mohammedan. HARUN NASUTION: Islam sebagai agama adalah agama yang ajaran-ajaranya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui nabi Muhammad sebagai rasul. Sesungguhnya setan musuh yang nyata bagimu” Kata ‫ السـلم‬yang dalam ayat diatas diterjemahkan kedamaian atas Islam. sufisme dan filsafat saja dengan meninggalkan .pengertian antara lain adalah : Ahmad Abdullah Al-Masdoosi (1962) : Islam adalah Kaidah hidup yang diturunkan kepada manusia sejak manusia digelarkan ke muka bumi. Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya satu segi. dan terbina dalam bentuknya terakhir dan sempurna dalam al-Qur’an yang suci yang diwahyukan Tuhan Kepada Nabi-Nya yang terakhir yakni Nabi Muhammad Ibnu Abdullah. berliku-liku dan bercabang-cabang. AKIBAT YANG TIMBUL DARI PEMAHAMAN ISLAM Perjalanan Islam samapi kini telah melampui kurun waktu lima belas abad dan dipeluk oleh manusia diseluruh penjuru dunia. manusia dengan manusia. Airnya kian pekat karena mengangkut pula lumpur dan sampah.

Mempelajari kepribadian Rasul Islam dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh besar pembahruan yang pernah hidup dalam sejarah. namun tidak cukup apabila kita memahami secara keseluruhan. BEBERAPA METODE MEMAHAMI ISLAM Kami mencoba menelusuri metode memahami Islam sepanjang yang dapat dijumpai dari berbagai literaratur ke-islaman. d. Ali Syariati juga menawarkan cara memahami Islam melalui pendekatan aliran. Pada intinya metode ini adalah metode komparasi (perbandingan). Dalam hubungan ini ia mengatakan jika kita meninjau Islam dari satu sudut pandangan saja. ada berbagai cara memahami Islam a. perseorangan maupun masyarakat.ketatanegaraan(politik) dan hukum. Untuk itu dalam memahami dan menelaah ajaran Islam yang ada dalam buku-buku ilmiah terkadang perlu kita cermati apakah ajaran ini persial atau apakah sudah komprehensif. Begitulah cara paling minimal untuk memahami agama paling besar sekarang ini agar menjadi pemeluk agama yang mantap dan untuk menumbuhkan sikap . NASRUDDIN RAZAK metode memahami Islam sama dengan Ali Syariati menawarkan metode pemahaman Islam secara menyeluruh. Perbandingan menghendaki obyektifitas. Memahami Islam secara menyeluruh adalah penting walaupun tidak secara detail. karya Ali Syariati dijumpai uraian singkat tentang metode memahami yang pada intinya Islam harus di lihat dari berbagai dimensi. karena metode dan pendekatan dalam memahami Islam yang demikian itu masih perlu dilengkapi dengan metode yang bersifat teologis dan normatif. D. Selain dengan menggunakan pendekatan komparasi. Tugas intelektual hari ini ialah mempelajari memahami Islam sebagai aliran pemikiran yang membangkitkan kehidupan manusia. c. Ali Syariati lebih lanjut mengatakan. Namun demikian. Secara akademis suatu perbandingan memerlukan persyaratan tertentu. Dengan mengenal Allah dan membandingkan-Nya dengan sesembahan agama lain b. Mempelajari tokoh-tokoh Islam terkemuka dan membandingkan tokoh-tokoh utama agama maupun aliran-aliran pemikiran lain. Mungkin kita berhasil melihatnya secara tepat. masyarakat-masyarakat Islam harus dikaji dalam dan untuk diri sendiri. Pencampuradukkan antara Islam sebagai agama dan Islam sebagai rangka historis bagi pengembangan budaya dan peradaban telah dilanggengkan dan pernah berkembang lebih kompleks hingga hari ini. maka yang akan terlihat hanya satu dimensi saja dari gejalanya yang bersegi banyak. Dalam buku yang berjudul Tentang Sosiologi Islam. Dengan demikian untuk menghasilkan Islam secara utuh dan menyeluruh perlu menatapnya dari berbagai situasi yang mengitari disekitar kalahiran Islam tersebut serta tokoh-tokoh yang mengembangkannya. Dengan mempelajari Kitab suci Al-Qur’an dan membandingkan dengan kitab-kitab samawi (atau kitab-kitab yang dikatakan sebagai samawi) lainnya. Mempelajari Islam dengan metode ilmiah saja tidak cukup. menjadi sebuah kajian yang tidak lengkap.

Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan teologi normatif yang ada dalam al-Qur’an. kritis dan seterusnya dengan metode teologis normatif. Mempelajari Islam dengan cara demikian akan menjadikan orang tersebut sebagai pemeluk Islam yang sinkretisme. menimbulkan skeptis.yang hormat bagi pemeluk agama lainnya. karena orang mengenalnya dari sebagian ulama dan pemeluknya yang telah jauh dari bimbingan Al-Qur’an dan Al-Sunah. 2. 4. Metode ilmiah digunakan untuk memahami Islam yang terkandung dalam kitab suci. Kedua. lalu dibandingkan dengan topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. dan apa yang berasal dari Tuhan Mutlak benar. Melalui metode teologis normatif ini seseorang memulai dari meyakini Islam sebagai agama yang mutlak benar. atau melalui pengenalan dari sumber kitab-kitab fiqh dan tasawuf yang semangatnya sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Selain itu Mukti Ali juga mengajukan pendapat tentang metode memahami Islam sebagaimana yang dikemukakan oleh Ali Syariati yang menekankan pentingnya melihat Islam secara menyeluruh. bimbang dan penuh keraguan. karena pada umumnya mereka memiliki pemahaman Islam yang baik yaitu pemahaman yang lahir dari perpaduan ilmu yang dalam terhadap ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah dengan pengalaman yang indah dari praktek ibadah yang dilakukan setiap hari. Islam perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar dan sarjana-sarjana Islam. yaitu suatu cara memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama Islam tersebut dengan agama lainnya. dengan demikian akan dihasilkan pemahaman Islam yang obyektif dan utuh. tidak dengan cara persial artinya ia dipelajari secara menyeluruh sebagai satu kesatuan yang bulat tidak secara sebagian saja. yaitu pemahaman Islam dipahami secara komprehensif. sekalipun kita melihatnya itu betul. Pertama metode Komparasi. Kekeliruan memahami Islam. yaitu 1)aspek ketuhanan 2)aspek kenabian 3)aspek kitab suci dan 4)aspek keadaan sewaktu munculnya nabi dan orang-orang yang didakwahinya serta individu-individu terpilih yang dihasilkan oleh agama itu. Setelah itu dilanjutkan dengan melihat agama sebagai norma ajaran yang berkaitan dengan aspek kehidupan manusia yang secara . Islam harus dipelajari dari sumber aslinya Al-Qur’an dan hadits. Dalam hubungan ini Mukti Ali mengatakan. Dari beberapa metode diatas kita melihat bahwa metode yang dapat digunakan untuk memahami Islam secara garis besar ada dua macam. maka kita hanya akan melihat satu dimensi dari fenomena-fenomena yang multi faset (terdiri dari banyak segi). maka agamapun mutlak benar. yakni bercampur dengan hal-hal yang tidak islami jauh dari ajaran islam yang murni. Metode sintesis yaitu suatu cara memahami Islam yang memadukan antara metode ilmiah dengan segala cirinya yang rasional obyektif. Islam harus di pelajari dengan integral. kita dapat mengindentifikasi lima aspek dari ciri yang sama dari agama lain. Metode ini juga untuk memahami agama Islam. Hal ini didasarkan pada alasan. karena agama bersal dari Tuhan. Metode ini banyak ahli sosiologi dianggap obyentif berisi klasifikasi topik dan tema sesuai dengan tipenya. Metode lain yang diajukan Mukti Ali adalah metode tipologi. 3. apabila kita melihat Islam hanya dari satu segi saja. empiris dan sosiologis yang ada di masyarakat. baru kemudian dihubungkan dengan kenyataan historis. juga agama-agama lain. Memahami Islam secara persial akan membahayakan. Untuk memahami agama Islam secara benar Nasruddin Razak mengajukan empat cara : 1. Islam seharusnya dipahami secara bulat.

Keyakinan pada wahyu inilah yang menjadi salah satu faktor timbulnya paham TeologisNormatif ini berkembang. Melalui metode teologi normatif yang tergolong tua usianya ini dapat dihasilkan keyakinan dan kecintaan yang kuat. Faktor lainnya dari latar belakang paham Teologis-Normatif ialah karena sikap yang kurang percaya kepada pendapat akal manusia. salah satu fungsi wahyu ialah member tuntunan kepada manusia untuk mengatur hidupnya di dunia. sedangkan metode ilmiah yang dinilai sebagai tergolong muda usianya ini dapat dihasilkan kemampuan menerapkan Islam yang diyakini dan dicintainya itu dalam kenyataan hidup serta memberi jawaban terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi manusia. melainkan harus melalui wahyu yang disampaikan oleh Tuhan. misalnya aspek lingustik dan . yakni teologi Asy’ariyah. Al-Dawwani pernah berkata. Ali Syariati dalam bukunya Tentang Sosiologi Islam menguraikan secara singkat tentang metode memahami Islam yang pada intinya bahwa Islam harus dilihat dari berbagai dimensi. jika Islam ditinjau dari satu sudut pandang saja. Namun sampai sekarang kita belum tahu dimana batasan akal yang kita miliki. Wahyu perlu untuk mengatur masyarakat manusia dan memang demikian pendapat kaun Asy’ariah. Harun Nasution dalam bukunya teologi Islam. ← PENGERTIAN FILSAFAT ISLAM | TASAWUF → Rating tidak diperbolehkan • • • • • • • • • • Melaporkan penyalahgunaan Bagikan Paham Teologis-Normatif dalam Islam tak dapat terlepas dari pemahaman mengenai kondisi obyektif masyarakat. kewajiban mengetahui baik dan jahat serta kewajiban mengetahui yang baik dan menjauhi yang buruk tidak dapat dicapai oleh akal. Sehingga cara befikir teologis disini berusaha mencari jawaban absolut dari masalah-masalah yang dihadapi. Hal ini dikarenakan pendapat akal manusia kadang melakukan kesalahan baik yang disengaja maupun tidak. Hal ini memang dapat dapat dibenarkan.keseluruhan diyakini amat ideal. bahwa segala sesuatu dalam beragama tak dapat selalu diisolaikan dengan akal atau rasional manusia. METODE MEMAHAMI ISLAM Oleh Rustina N Untuk memahami Islam secara komprehensi dan tepat diperlukan metode. namun tidak cukup bila kita ingin memahaminya secara keseluruhan. maka yang akan terlihat hanya satu dimensi saja dari gejalanya yang bersegi banyak. Mungkin pandangan kita itu akan tepat. seperti sebab pertama dan terakhir segala sesuatu. Latar belakang penyebab lain timbulnya paham Teologis-Normatif adalah karena berkembang pesatnya paham teologi teo-centris yang berkembang di dunia Islam. Menurutnya. kokoh dan militan pada Islam. Karena akal yang diberi oleh Tuhan punya keterbatasan dalam membuka hijabNya. Berikut ini beberapa metode yang ditawarkan oleh ilmuwan muslim yang dapat membantu seorang muslim memahami agamanya. Buktinya ialah Alquran yang memiliki banyak dimensi. dalam kaitannya dengan peranan akal Asy’ariyah berpendapat bahwa kewajiban mengetahui Tuhan. Sehingga pada pendapat akal yang salah dapat menyesatkan atau menyalahkan manusia dalam berbagai bidang kehidupannya.

kedua. islam harus dipelajari dari sumbernya yang asli. artinya ia dipelajari secara menyeluruh sebagai satu kesatuan yang bulat tidak secara sebagian saja. yaitu mengklasifikasi topik dan tema sesuai dengan tipenya. lalu dibandingkan dengan aspek dan ciri yang sama dari agama lain. atau hanya dari kitab-kitab filih dan tasawuf. Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan normatif teologis yang ada dalam Alquran lalu dihubungkan dengan kenyataan historis. mempelajari tokohtokoh Islam terkemuka dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh utama agama atau aliran-aliran pemikiran lain. yaitu aspek ketuhanan. Amin Abdullah dan Mukti Ali juga menawarkan dua metode memahami Islam. yaitu bahwa untuk melihat Islam sebagai sebuah disiplin ilmu (islamic studies) dapat digunakan pendekatan ilmiah yang ciri-cirinya rasional. pertama. Mukti Ali melihat bahwa untuk melihat Islam sebagai sebuah agama dapat digunakan metode doktriner dan untuk melihat Islam sebagai sebuah disiplin ilmu. ketiga. aspek keadaan sewaktu munculnya Nabi dan orang-orang yang . yaitu metode memahami islam secara menyeluruh.sastra yang telah banyak dipelajari. empiris. Sementara dimensi manusiawinya yang mengandung aspek historis. Secara teknis. lalu dibandingkan dengan topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. sosiologis dan psikologis belum banyak dikaji. aspek kenabian. empiris. mempelajari kepribadian Rasul Islam dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh besar pembaharuan yang pernah hidup dalam sejarah. Adapun cara kedua dalam memahami Islam menurut Ali Syariati adalah melalui pendekatan aliran. Aspek-aspek tersebut seharusnya dikaji untuk menghasilkan pemahaman Islam secara menyeluruh. Islam perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar. Dalam hal agama Islam. empiris. islam harus dipelajari secara integral. aspek kitab suci. serta agama lain kita dapat menidentifikasi lima aspek atau ciri dari agama itu. yaitu. dapat digunakan metode ilmiah dengan ciri-ciri rasional. Keempat. kaum zuamaa dan sarjana-sarjana Islam karena mereka pada umumnya memiliki pemahaman Islam yang baik yang lahir dari perpaduan ilmu yang dalam terhadap Alquran dan Sunnah serta praktek ibadah yang dilakukan setiap hari. dan sosiologis yang ada di masyarakat. mengkajinya sesuai dengan bidangnya masingmasing untuk menumbuhkan pemahaman yang segar tentang Islam demi masa depan ummat manusia yang lebih baik dengan berpedoman pada Alquran dan Sunnah. bukan hanya dari sebagian ulama dan pemeluknya. yakni para intelektual muslim memikul tugas dan amanah untuk memahami Islam. Metode lain untuk memahami Islam yang diajukan Mukti Ali adalah metode tipologi. Metode perbandingan atau komparasi dengan cara membandingkan Alquran dengan kitab-kitab samawi lainnya. Ia mengajukan empat cara. Selanjutnya terdapat pula metode memahami Islam yang dikemukakan oleh Nasruddin Razak yang hampir sama dengan konsep Ali Syariati. yaitu Alquran dan al-Sunnah. obyektif yang selanjutnya disebut pendekatan sintesis.obyektif Sedangkan untuk melihat Islam sebagai agama dapat digunakan pendekatan normatif teologis. Memahami Islam dengan cara keempat sebagaimana disebutkan di atas sangat diperlukan dalam upaya menunjukkan peran sosial dan kemanusiaan dari ajaran Islam itu sendiri. tidak dengan cara parsial. Ali Syariati menawarkan berbagai cara memahami Islam yang pada intinya adalah melalui metode perbandingan serta melalui pendekatan aliran. Demikian juga aspek-aspek filosofis dan keimanan Alquran yang telah banyak dikaji oleh filosof dan teolog.

104-115). metode komparasi. Bulan Bintang : 1991 : xvi + 233 halaman (termasuk biografi singkat) . sehingga diperlukan pendekatan baru yang harus terus digali oleh pembaharu. • • • • • • • • METODE MEMAHAMI AGAMA ISLAM Judul Buku Penulis Penerbit Tahun Terbit Tebal : Metode Memahami Agama Islam : H.didakwahi serta individu-individu terpilih yang dihasilkan oleh agama itu. Kedua metode sintesis. kokoh. yaitu suatu cara memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama Islam dengan agama lain sehingga dihasilkan pemahaman Islam yang obyektif dan utuh. Metodologi Studi Islam. Mukti Ali : PT. Cet. Setelah itu dilanjutkan dengan melihat agama sebagaimmana norma ajaran yang berkaitan dengan dengan berbagai aspek kehidupan manusia yang secara keseluruhan diyakini amat ideal. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa secara garis besar ada dua metode yang dapat ditempuh untuk memahami Islam. A. obyektif. kritis dengan metode teologis normatif.empiris. serta meneliti suasana dan situasi di mana Nabi Muhammad bangkit. sedangkan metode teologis normatif digunakan untuk memahmi Islam yang terkandung dalam kitab suci. (Abuddin Nata. IV. empiris. yaitu suatu cara memahami Islam yang memadukan antara metode ilmiah dengan segala cirinya yang rasional. Pertama. sedangkan dengan metode ilmiah yang nilai tergolong muda usianya dapat dihasilkan kemampuan menerapkan Islam yang diyakini dan dicintainya dalam kenyataan hidup serta memberi jawaban terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi manusia. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Selanjutnya untuk memahami Islam dapat pula dilakukan dengan memahami kitab sucinya dan mempelajari pribadi Muhammad bin Abdullah. h. dan militan pada Islam. Melalui metode teologis normatif yang tergolong tua usianya dapat dihasilkan keyakinan dan kecintaan yang kuat. dan sosiologis. Metode-metode yang digunakan untuk memahi Islam itu suatu saat mungkin dipandang tidak cukup lagi. Metode ilmiah digunakan untuk memahami Islam yang nampak dalam kenyataan historis. Metode teologis normatif dimulai dari keyakinan bahwa Islam sebagai agama mutlak benar dengan alasan karena agama berasal dari Tuhan dan apa yang berasal dari Tuhan mutlak benar. maka agama pun mutlak benar.

hanya hanya mempunyai bakat. tetapi mereka sebenarnya belum mengerti Islam secara utuh. 27) • Demikian pula halnya ketika mengkaji tentang Islam. v) • Pada bagian kedua bukunya. Islam dapat dipahami secara objektif. (hlm. sains. psikologis. 32) . (hlm. yang membahas tentang "Ulama dan Pesantren" Mukti Ali menerangkan ciri-ciri pesantren kemudian menyatakan bahwa sistem pesantren baik dalam pendidikannya. Akibatnya adalah penelitiannya menarik. ia tetap mengkritik cara Barat (orientalis) dalam mempelajari Islam yang hanya mendekati Islam dengan metode ilmiah saja. diperlukan suatu metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Mukti Ali mengatakan bahwa metodologi adalah masalah yang sangat penting dalam sejarah pertumbuhan ilmu. sistematis. Ia lalu mengusulkan bahwa sistem pengajaran dan pendidikan yang paling baik di Indonesia adalah madrasah dalam pesantren. dan lain-lain. Mereka hanya mengetahui kulit luarnya agama Islam. (hlm. • Pada bagian pertama bukunya ini. atau sosiologis. Mukti Ali menganjurkan para peneliti Muslim untuk menggunakannya. Dengan metodologi itu. ilmiah. Metode kognitif yang betul untuk mencari kebenaran adalah lebih penting daripada filsafat. 31) • Walaupun demikian.• Persoalan metodologi selalu menjadi perhatian utama para ilmuwan atau peneliti ketika membahas suatu objek kajian. tidak subjektif. benar. tetapi tidak baik dalam pengajarannya. (hlm. Pertanyaannya adalah bagaimana metode yang baik itu? Orang-orang Barat yang mengkaji Islam menggunakan metode naturalistik. tidak emosional. Hal ini diperlukan untuk menghasilkan penelitian yang seobjektif mungkin dan seilmiah mungkin.

IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini. Menurutnya. bagaimana kehidupan pendidikan yang diberikan kepadanya. teori-teori yang digunakannya. dalam lingkungan apa ia dibesarkan. maka ia harus menenpuh cara yang kedua. di mana ia belajar. penafsirannya tidak dapat diterapkan dalam masyarakat. Hal-hal yang berkaitan dengan itu adalah di mana tempat lahir. negerinya. para ulama sudah terbiasa memahami ajaran Islam dengan cara doktriner dan dogmatis. Akibatnya. (hlm. Untuk memahami manusia. seseorang harus mempelajari dan meneliti hasil karyanya. bagaimana hidupnya ketika masih kecil. 3334) • Cara pertama dianggap tidak mencukupi. Hal ini dilakukan untuk mengetahui ide dan kepercayaannya sebagai pendahuluan yang harus dilakukan untuk mengetahui orang tersebut. apa yang dia pelajari. yang sama sekali tidak dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan hidup dalam masyarakat. • Adapun cara pertama. Seseorang yang ingin mengetahui orang itu lebih jauh. buku-buku yang ditulisnya. rasnya. mempelajari hasil karyanya dan mempelajari biografinya. maka ada dua cara yang harus ditempuh yaitu. Ali Syari'ati membandingkan agama dengan manusia. sukunya. Karya-karya yang dimaksudkan di sini adalah karangan-karangan intelektualnya atau karya-karya ilmiahnya. yaitu mempelajari biografinya. siapa saja guru-gurunya.• Para ulama pun mendapatkan kritik dari guru besar Ilmu Perbandingan Agama. Ia lalu menawarkan pendekatan baru dalam memahami Islam yaitu pendekatan ilmiah-cumdoktriner atau dengan kata lain metode sintesis. sehingga timbul kesan bahwa Islam sudah ketinggalan zaman dan sudah tidak sesuai dengan alam pembangunan ini. (hlm. bagaimana keluarganya. 32) • Mukti Ali mengajukan metode Ali Syari'ati dalam memahami agama Islam. kapan ia lahir. kejadian- . berbagai pidato dan kuliahnya.

34) • Apabila metode di atas diterapkan pada agama Islam. gambaran.kejadian penting apa saja yang pernah dialami dalam kehidupannya. Kedua. Mukti Ali juga menawarkan metode lain dalam memahami Islam. (hlm. yaitu mempelajari tentang perkembangan Islam sejak awal misi Nabi Muhammad saw. 5) sejarah orang-orang yang berjuang pertama kali bersama Nabi saw. dan ciri-ciri Tuhan yang dibahas dalam Islam (hlm. (hlm. yang berkaitan dengan tipe. 39). (hlm. hingga sekarang. 37) • Apabila metode ini diterapkan pada agama. 37-38) • Jika metode di atas diterapkan pada Islam. 1) Allah swt. 34) • Selain metode di atas. 4) keadaan sekitar ketika munculnya sang nabi dan keadaan orangorang yang didakwahi. 2) al-Qur'an sebagai kitab suci agama Islam (hlm. 3) pribadi Rasulullah saw. kemudian dibandingkan dengan topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. apa saja kegagalan yang ia alami dan apa saja kesuksesan yang ia dapatkan? (hlm. 4) sejarah bangsa Arab ketika Nabi Muhammad saw. konsep. 3) Kitab. Kelima aspek tersebut adalah 1) Tuhan. maka setidaknya ada lima aspek atau ciri yang bisa diidentifikasi pada semua agama. Cara kerja metode ini adalah mengklasifikasikan topik dan tema sesuai dengan tipenya. seperti Khadijah (mewakili wanita). 38). Abu Bakar ash-Shiddiq . 38-39). 40). dan 5) pribadi-pribadi pilihan hasil didikan agama tersebut. pertama kali muncul (hlm. pelajaran tentang sejarah Islam. al-Quran yang merupakan himpunan ide dan output ilmiah dan literer yang terkenal dengan Islam. (hlm. 2) Nabi. maka yang dipelajari darinya adalah pertama. maka yang harus dipelajari adalah. Pendekatan ini dianggap banyak digunakan oleh para sarjana Barat dalam memahami manusia. Metode yang dimaksud adalah metode tipologi.

1) Hamka. The Religion of Islam. dua jilid. cetakan kesebelas. 126 dan 122 halaman. dua jilid. Ali bin Abi Thalib (mewakili pemuda). dan Ijtihad sebagai metode pendekatan yang digunakan. (hlm. 1973). 45) • Mukti Ali kemudian memberikan beberapa contoh buku yang membahas tentang Islam secara komprehensif. Beberapa contoh buku tersebut adalah. 4) Abu Bakar Jabir al-Jazairi. • Kelompok pertama adalah buku-buku yang sengaja ditujukan kepada kelompok khusus seperti khusus ditujukan kepada non-muslim atau ditujukan kepada para intelektual. saat ini diperlukan pengetahuan tentang ajaran Islam yang komprehensif atau menyeluruh yang bersumber dari al-Qur'an dan Sunnah. 1978). tetapi Muhammadiyah sendiri belum menghasilkan karya tentang Islam yang bersumber dari al-Qur'an dan Sunnah. Qatar: Dar al-Uloom. cetakan ketiga. Padahal. cetakan kedua (Jakarta: UI Press. Bilal bin Rabah (mewakili budak yang dianggap hina dina oleh kaumnya kala itu). 575 halaman (al-Magrib: dar at-Tiba'ah al-Haditsah. 2) Abu A'la Maududi.(mewakili orang kaya yang terhormat). Pelajaran Agama Islam. 1397/ 1977). Towards Understanding Islam. 1967). 46-47) • Kelompok kedua adalah buku yang ditujukan tidak kepada kelompok khusus. 179 halaman (lahore: Islamic Publication. (hlm. Beberapa contoh tersebut dibagi ke dalam tiga kelompok sesuai dengan tujuan dan sasaran penulisannya. Minhajul Muslim. Mukti Ali mengkritik Muhammadiyah yang menggunakan al-Qur'an. Sunnah. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. 1) Harun Nasution. Galwash. (42) • Pada bagian ketiga bukunya. 260 dan 244 halaman (Doha. cetakan . Beberapa contoh kelompok ini adalah. 3) Ahmad A.

selainnya lebih berbicara tentang sejarah Muhammadiyah dan pendirinya. 570 halaman (Cairo: Dar al-Qalam. Buku ini berjudul tentang "metode memahami Agama Islam" yang dalam bayangan penulis buku ini membahas secara tuntas tentang berbagai metode yang digunakan dalam memahami agama Islam.t. . Contoh buku tersebut adalah Maulana Muhammad Ali. 47) • • Adapun kekurangan buku ini menurut penulis adalah. 408 halaman (Jakarta: Bulan Bintang. (hlm. kedua. Buku ini tidak diantarkan oleh penulis lain selain Mukti Ali sendiri. Seringnya terjadi pengulangan pembahasan di berbagai tempat. 2) Mahmoud Syaltut. dan ketiga yang membahas metode yang dimaksudkan tersebut. Al-Islam Aqidah wa Syari'ah. Buku ini tidak dilengkapi dengan indeks. 1966). • 5. dan sejarah tokoh lainnya. • 4. • 3. • 2. Kata pengantar dari tokoh lain sangat penting untuk informasi awal dari suatu buku agar tidak terkesan subjektif.kelima. 1973). Buku ini tidak dilengkapi dengan foonote dan daftar pustaka. tetapi ternyata hanya bagian pertama. 1. t. 47) • Kelompok ketiga adalah buku yang mempunyai ciri khusus yaitu berusaha untuk mempertahan Islam dari serangan-serangan dan berbagai tuduhan orang-orang Barat. 784 halaman (Cairo: The Arab Writer Publication & Printers. cetakan ketiga. sehingga untuk mencari atau memeriksa kata-kata yang dibutuhkan secara cepat. The Religion of Islam. (hlm. Hal ini terjadi disebabkan karena materi buku ini merupakan materi pidato dan prasaran yang di sampaikan di berbagai tempat.). sehingga sulit untuk melacak referensi yang digunakan penulis.

Biodata penulis kurang memadai atau kurang lengkap karena hanya mencantumkan jabatan dan bukunya yang baru terbit. di mana ia lahir bagaimana latar belakang pendidikannya.• 6. lebih mengutamakan pengamatan langsung. maka sesungguhnya antropologi merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama dan interaksi sosialnya . dan berbagai informasi lainnya. 04 November 2009 PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM KAJIAN ISLAM PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM KAJIAN ISLAM Pendahuluan Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Antropologi mempelajari tentang manusia dan segala perilaku mereka untuk dapat memahami perbedaan kebudayaan manusia. agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya. • • Rabu. Antropologi dalam kaitan ini sebagaimana dikatakan Powam Rahardjo. Padahal informasi yang tidak kalah pentingnya adalah kapan ia lahir. sebagai sebuah ilmu yang mempelajari manusia. bahkan sifatnya partisipatif. Melalui pendekatan ini. Dibekali dengan pendekatan yang holistik dan komitmen antropologi akan pemahaman tentang manusia. menjadi sangat penting untuk memahami agama. Antropologi. Dengan kata lain bahwa cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologis dalam melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama. Fenomena-fenomena tersebut selanjutnya diinterpretasi dengan menggunakan kerangka teori tertentu. Penelitian antropologi Grounded Research adalah penelitian yang penelitinya terlibat dalam kehidupan masyarakat yang ditelitinya. Seorang peneliti datang ke lapangan tanpa ada prakonsepsi apapun terhadap fenomena keagamaan yang akan diamatinya.

antropologi sangat diperlukan untuk memahami Islam. Dalam satu sisi common sense mencerminkan kegiatan sehari-hari yang biasa diselesaikan dengan pertimbangan rasional ataupun dengan bantuan teknologi.dengan berbagai budaya. Pandangan Geertz yang mengungkapkan tentang adanya trikotomi-abangan. sementera itu religious sense adalah kegiatan atau kejadian yang terjadi di luar jangkauan kemampuan nalar maupun teknologi. sebagai alat untuk memahami realitas kemanusiaan dan memahami Islam yang telah dipraktikkan. Dua sisi kajian ini-usaha untuk memahami agama dan menegasi eksistensi agama-sesungguhnya menggambarkan betapa kajian tentang agama adalah sebagai persoalan universal manusia. makna hakiki dari keberagamaan adalah terletak pada interpretasi dan pengamalan agama. Barangkali karya Clifford Geertz The Religion of Java yang ditulis pada awal 1960an menjadi karya yang populer sekaligus penting bagi diskusi tentang agama di Indonesia khususnya di Jawa. Nurcholish Madjid mengungkapkan bahwa pendekatan antropologis sangat penting untuk memahami agama Islam. Karena realitas keagamaan sesungguhnya adalah realitas kemanusiaan yang mengejawantah dalam dunia nyata. Di Indonesia usaha para antropolog untuk memahami hubungan agama dan sosial telah banyak dilakukan. Oleh karena itu. Posisi penting manusia dalam Islam juga mengindikasikan bahwa sesungguhnya persoalan utama dalam memahami agama Islam adalah bagaimana memahami manusia. Penjelasan lain misalnya yang diungkapkan oleh Emile Durkheim tentang fungsi agama sebagai penguat solidaritas sosial. Dengan demikian memahami Islam yang telah berproses dalam sejarah dan budaya tidak akan lengkap tanpa memahami manusia. sesungguhnya mencerminkan betapa agama begitu penting bagi eksistensi manusia. Pergumulan dalam kehidupan kemanusiaan pada dasarnya adalah pergumulan keagamaannya. misalnya. Para antropolog menjelaskan keberadaan agama dalam kehidupan manusia dengan membedakan apa yang mereka sebut sebagai common sense dan religious atau mystical event. karena konsep manusia sebagai 'khalifah' (wakil Tuhan) di bumi. merupakan simbol akan pentingnya posisi manusia dalam Islam. Terlebih dari itu. Islam yang menjadi gambaran sesungguhnya dari keberagamaan manusia. Persoalan-persoalan yang dialami manusia adalah sesungguhnya persoalan agama yang sebenarnya. . Walaupun harus disadari pula bahwa usaha-usaha manusia untuk menafikan agama juga sering muncul dan juga menjadi fenomena global masyarakat. atau Sigmund Freud yang mengungkap posisi penting agama dalam penyeimbang gejala kejiwaan manusia.

Teori politik aliran ini. Pernyataan Geertz bahwa abangan adalah kelompok masyarakat yang berbasis pertanian dan santri yang berbasis pada perdagangan dan priyayi yang dominan di dalam birokrasi. menurut Bahtiar Effendy memberikan arti penting terhadap wacana tentang hubungan antara agama-khususnya Islam-dan negara. pandangan Geertz telah mengilhami banyak orang untuk melihat lebih mendalam tentang interrelasi antara keduanya. Dalam diskursus interaksi antara agama-khususnya Islam-dan budaya di Jawa. bagi antropologi adalah melihat bagaimana agama dipraktikkan. priyayi dengan partai nasionalis. Kaum abangan lebih dekat dengan partai politik dengan isu-isu kerakyatan. ternyata telah mempengaruhi banyak orang dalam melakukan analisis baik tentang hubungan antara agama dan budaya. Penjelasan Geertz tentang adanya pengelompokkan masyarakat Jawa ke dalam kelompok sosial politik didasarkan pada orientasi ideologi keagamaan. diinterpretasi. . Karya Geertz ini disebut untuk sekedar memberikan ilustrasi bahwa kajian antropologi di Indonesia telah berhasil membentuk wacana tersendiri tentang hubungan agama dan masyarakat secara luas. Walaupun Geertz mengkelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga kelompok. Antropologi yang melihat langsung secara detil hubungan antara agama dan masarakat dalam tataran grassroot memberikan informasi yang sebenarnya yang terjadi dalam masyarakat. Pengelompokkan sosial tersebut mempengaruhi pola interaksi politik yang lebih luas di Indonesia. Melihat agama di masyarakat. Jadi pembahasan tentang bagaimana hubungan agama dan budaya sangat penting untuk melihat agama yang dipraktikkan.santri dan priyayi-di dalam masyarakat Jawa. dan diyakini oleh penganutnya. yang jelas-jelas menunjukkan oposisinya adalah kelompok abangan dan santri. ataupun hubungan antara agama dan politik. Teori politik aliran dapat digunakan untuk memberikan penjelasan yang baik mengenai salah satu dasar (basis) pengelompokkan religio-sosial di Indonesia. ketika dihadapkan pada realitas politik. Pandangan trikotomi Geertz tentang pengelompokan masyarakat Jawa berdasar religiokulturalnya berpengaruh terhadap cara pandang para ahli dalam melihat hubungan agama dan politik. Keterpengaruhan itu bisa dilihat dari beberapa pandangan yang mencoba menerapkan kerangka berfikir Geertz ataupun mereka yang ingin melakukan kritik terhadap wacana Geertz. ternyata mempunyai afiliasi politik yang berbeda. dan kaum santri memilih partaipartai yang memberikan perhatian besar terhadap masalah keagamaan.

Ungkapan terkenal James Clifford tentang runtuhnya "mercu suar" untuk mengklaim suatu kenyataan dengan ukuran rasionalitas Barat. wujudnya sistem moneter ala Keynesian telah membuktikan bahwa dunia perekonomian menganut satu sistem. mereka bersepakat tentang bangkitnya-dalam arti diakuinya kembali local knowledge sebagai sebuah kebenaran-budaya lokal dalam percaturan dunia global. Bagi ahli ekonomi. Walaupun para ilmuwan sosial masih mendebatkan apakah yang disebut sebagai posmodernis adalah "fenomena" atau sebuah kerangka "desconstruction theory". Bagi ahli politik. Namun demikian hal itu tidak berarti bahwa budayabudaya lokal harus menyerah dan digantikan total dengan demokrasi. utamanya mereka yang terlibat langsung dengan urusan budaya seperti antropologi. globalisasi berarti adalah diterimanya sistem demokrasi liberal sebagai satu sistem yang laik dipakai. menunjukkan bangkitnya "pengetahuan lokal" di era posmodernisme. Ia mengakui bahwa fenomena demokrasi adalah fenomena universal yang mau tidak mau mempengaruhi masyarakat lain yang tidak mempunyai tradisi demokrasi untuk mengadopsinya. Bassam Tibbi tidak menafikan bahwa ada perbedaan-perbedaan yang nyata antara penafsiran demokrasi di Barat dan di wilayah lain sehingga muncul adanya Demokrasi Asia (Asian Democracy) atau Demokrasi Islam (Islamic Democracy). Ia lebih optimis melihat perbedaan itu sebagai awal dari keharusan untuk mengadakan dialog antarbudaya untuk menelorkan yang ia . Artinya pertanyaan apakah globalisasi nanti akan juga menyatukan budaya dunia atau akan munculnya kembali budaya-budaya lokal dalam pertarungan dunia. Namun bagi ilmu sosial. Penggunaan alat telekomonukasi dan komputer dengan internetnya dapat juga membuktikan bahwa globalisasi telah mencapai pada satu kesepakatan bersama. menjadi sangat penting. globalisasi mengimplikasikan makna yang lain. Terbukanya komunikasi dan ruang bagi dialog antarbudaya memungkinkan masingmasing budaya untuk mengungkapkan atau memberikan alternatif terhadap kebenaran.Kepentingan untuk melihat agama dalam masyarakat juga sangat penting jika dikaitkan dengan wacana posmodernisme yang berkembang belakangan ini. Tetapi perbedaan itu bukan berarti akan menimbulkan konflik seperti apa yang disinyalir oleh Samuel Huntington. Bassam Tibbi mengungkapkan bahwa globalisasi memungkin manusia untuk melakukan dialog antarkebudayaan yang ada di dunia. misalnya apa yang disinyalir oleh Fukuyama dengan klaimnya “The End of History and the Last Man”.

Oleh karena itu analisis tentang kebudayaan dan manusia dalam tradisi antropologi tidaklah berupaya menemukan hukum-hukum seperti di ilmuilmu alam. Di samping itu agama memberikan gambaran tentang realitas yang hendak dicapai oleh manusia. Pertama. Geertz kemudian mengelaborasi pengertian kebudayaan sebagai pola makna (pattern of meaning) yang diwariskan secara historis dan tersimpan dalam simbol-simbol yang dengan itu manusia kemudian berkomunikasi. artinya kajian agama harus diarahkan pada pemahaman aspek-aspek social context yang melingkupi agama. Dipandang dari makna kebudayaan yang demikian. dan sekaligus mengarahkan kepada kehidupan yang lebih baik. berperilaku dan memandang kehidupan. Kebudayaan. sebagai system of meaning yang memberikan arti bagi kehidupan dan perilaku manusia." Bagi Geertz agama telah memberikan karakter yang khusus bagi manusia yang kemudian mempengaruhi tingkah laku kesehariannya. maka mengkaji budaya dan masyarakat yang melingkupi kehidupan manusia juga menjadi sangat penting. adalah aspek esensial manusia yang tidak dapat dipisahkan dalam memahami manusia. Kemudian sebagai akibat dari pentingnya kajian manusia. Berdasar pada pengertian ini agama sebagai ethos telah membentuk karakter yang khusus bagi manusia. melainkan kajian interpretatif untuk mencari makna (meaning).sebut sebagai "international morality". . Pada dasarnya agama diciptakan untuk membantu manusia untuk dapat memenuhi keinginan-keinginan kemanusiaannya. Tanpa memahami manusia maka pemahaman tentang agama tidak akan menjadi sempurna. maka budaya adalah jaring-jaring itu. Hal ini jelas menunjukkan bahwa persoalan agama yang harus diamati secara empiris adalah tentang manusia. karakter dan kualitas dari kehidupan manusia yang berarti juga aspek moral maupun estitika mereka. maka dapat dilihat relevansinya dengan melihat dari dua hal. yang kemudian dia bisa memenuhi gambaran realitas kehidupan (worldview) yang hendak dicapai oleh manusia. Kajian agama secara empiris dapat diarahkan ke dalam dua aspek yaitu manusia dan budaya. Mengutip Max Weber bahwa manusia adalah makhluk yang terjebak dalam jaring-jaring (web) kepentingan yang mereka buat sendiri. suatu sistem nilai dunia yang dihasilkan dari gabungan nilai-nilai terbaik dari budaya-budaya yang ada. Clifford Geertz mengartikan ethos sebagai "tone. penjelasan antropologi sangat berguna untuk membantu mempelajari agama secara empirik. maka agama sebagai sebuah sistem makna yang tersimpan dalam simbol-simbol suci sesungguhnya adalah pola makna yang diwarisi manusia sebagai ethos dan juga worldview-nya. Jika kembali pada persoalan kajian antropologi bagi kajian Islam.

Kesulitan mempelajari agama dengan pendekatan budaya. Sehingga realitas keagamaan diyakini sebagai sebuah "takdir sosial" yang tak perlu lagi dipahami. dengan mempelajari wacana. Sesungguhnya harus disadari bahwa tidak dapat dielakkan agama tanpa pengaruh budaya-ulah pikir manusia-tidak akan dapat berkembang meluas ke seluruh manusia. pemahaman dan tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan ajaran agama. mengatakan bahwa dilema kajian tentang agama adalah bahwa pemahaman realitas agama tidak akan sepenuhnya dapat difahami kecuali oleh orang yang mengamalkan agama itu sendiri.Kajian antropologi juga memberikan fasilitas bagi kajian Islam untuk lebih melihat keragamaan pengaruh budaya dalam praktik Islam. berkembang dengan pesat. ketika menulis tentang perjuangan para Sufi di Cyrenica Libia melawan penjajahan Italia. Dengan pemahaman yang luas akan budaya-budaya yang ada memungkinkan kita untuk melakukan dialog dan barangkali tidak mustahil memunculkan satu gagasan moral dunia seperti apa yang disebut Tibbi sebagai "international morality" berdasarkan pada kekayaan budaya dunia. dimana ia merasa kesulitan untuk menjelaskan fenomena ketaatan pengikut Sufi kepada guru Sufi mereka. jika dalam Islam bisa dilihat peran para sahabat. Tidak dapat disangkal bahwa kemudian Evans-Pritchard dapat menggambarkan fenomena Sufi di Cyrenica dengan penuh empati. Bukankah penyebaran agama sangat terkait dengan usaha manusia untuk menyebarkannya ke wilayahwilayah lain. salah seorang pionir dalam tradisi antropologi sosial di Inggris. terutama abad ke 16 dan 17. tetapi berasal dari wahyu suci Tuhan. Pemahaman realitas nyata dalam sebuah masyarakat akan menemukan suatu kajian Islam yang lebih empiris. Persoalan itu ditambah lagi dengan keyakinan bahwa agama adalah bukan hasil rekayasa intelektual manusia. Dan bukankah pula usaha-usaha manusia. Tradisi Antropologi dalam Kajian Agama: Kajian Empirik Relasi Agama dan Sosial Walaupun sejak awal disadari bahwa kajian tentang agama akan mengalami kesulitan karena meneliti sesuatu yang menyangkut kepercayaan (beliefs) yang ukuran kebenarannya terletak pada keyakinan. tradisi antropologi untuk mengkaji agama. misalnya. Evans-Pritchard. Kajian agama dengan crossculture akan memberikan gambaran yang variatif tentang hubungan agama dan budaya. menerjemahkan dan mengkonstruksi ajaran agama ke dalam suatu kerangka sistem yang . Hal ini pernah ia rasakan. dirasakan juga oleh mereka yang beragama. Kesulitan itu terjadi karena ketakutan untuk membicarakan masalah agama yang sakral dan bahkan mungkin tabu untuk dipelajari.

yaitu kecenderungan transendensi dan sekularisasi. Tetapi. Menurut Mircea Eliade perkembangan agama menujukkan adanya gejala seperti bandul jam yang selalu bergerak dari satu ujung ke ujung yang lain. Lahirnya ilmu tafsir. ilmu fikih dan ilmu usul fikih adalah hasil konstruksi intelektual manusia dalam menerjemahkan ajaran agama sesuai dengan kebutuhan manusia di dalam lingkungan sosial dan budayanya. Tradisi kajian agama dalam antropologi diawali dengan mengkaji agama dari sudut pandang intelektualisme yang mencoba untuk melihat definisi agama dalam setiap masyarakat dan kemudian melihat perkembangan (religious development) dalam satu masyarakat. keberadaan agama dalam masyarakat telah mendorong lahirnya banyak kajian tentang agama. Walaupun definisi agama ini sangat minimalis. Taylor yang berupaya untuk mendefinisikan agama sebagai kepercayaan terhadap adanya kekuatan supranatural. Secara garis besar kajian agama dalam antropologi dapat dikategorikan ke dalam empat kerangka teoritis. Makanya kecenderungan tradisi intelektualisme ini kemudian meneliti dari sudut perkembangan agama dari yang anismisme menuju monoteisme. Max Muller berpandangan bahwa agama bermula dari monotheisme kemudian berkembang menjadi agama-agama yang banyak itu. functionalist dan symbolist. Socrates berapa ribu tahun yang lalu menyatakan bahwa fenomena agama adalah fenomena kemanusiaan. tetapi ternyata realitas keagamaan berperan besar dalam perubahan sosial dan transformasi sosial. structuralist. . Demikian juga agama berkembang dari kecenderungan anismisme menuju monoteisme dan akan kembali ke animisme. Kajian-kajian agama baik dalam masyarakat primitif sampai pada masyarakat yang modern menunjukkan bahwa keberadaan agama selalu mengandung dua sisi yang berbarengan. ilmu hadits.dapat diikuti oleh manusia. Pernyataan ini seringkali digunakan para apologis agama untuk menguatkan keyakinan mereka akan betapa mendasarnya posisi agama dalam nilai-nilai kemanusiaan. Keberagaman sosial budaya yang ada di dunia ini mengakibatkan pada kompleksitas agama. berdasar pada ajaran yang terdapat dalam kitab suci. Sebagai fenomena universal yang kompleks. Namun perlu juga ditandaskan bahwa sikap mempertanyakan kembali makna agama dan relevansinya dengan kehidupan sosial juga fenomena universal yang ada dimana-mana. Termasuk dalam tradisi adalah misalnya E.B. Kajian-kajian tentang agama berkembang bukannya karena agama ternyata tak dapat dipisahkan dari realitas sosial. definis ini menunjukkan kecenderungan melakukan generalisasi realitas agama dari animisme sampai kepada agama monoteis. intellectualist.

" Pandangan ini yang mengilhami para antropolog untuk menggunakan pendekatan struktural dalam memahami agama dalam masyarakat. . Di samping kritik terhadap pendekatan intelektualis itu. Branislaw Malinowski mengatakan bahwa fungsi agama dalam masyarakat adalah memberikan jawaban-jawaban terhadap permasalahan-permasalahan yang tidak dapat diselesaikan dengan common sense-rasionalitas dan kemampuan menggunakan teknologi. Buku Durkheim. Durkheim menemukan bahwa aspek terpenting dalam pengertian agama adalah adanya distingsi antara yang sacred dan yang profan. telah mengilhami banyak orang dalam melihat agama. The Elementary Forms of the Religious Life. sesungguhnya lahir dari Emile Durkheim. Claude Levi-Strauss adalah satu murid Durkheim yang terus mengembangkan pendekatan strukturalisme. Fungsi psikologi agama. sebagai penguat dari ikatan moral masyarakat dan fungsi sosial agama sebagai penguat solidaritas manusia menjadi dasar dari perkembangan teori fungsionalisme. Pandangan Durkheim yang mengasumsikan bahwa masyarakat selalu dalam keadaan equilibrium dan saling terikat satu dengan yang lain. Durkheim juga mengungkapkan bahwa masyarakat dikonseptualisasikan sebagai sebuah totalitas yang diikat oleh hubungan sosial. Dalam pengertian ini maka society (masyarakat) bagi Durkheim adalah "struktur dari ikatan sosial yang dikuatkan dengan konsensus moral. Bagi Levi-Strauss agama baik dalam bentuk mitos. strukturalis. Dalam agama sederhana suku Aborigin Australia ditemukan bahwa penyembahan kepada yang sacred ternyata diberikan kepada hal-hal yang profan semisal Kanguru. Lewat buku itu Durkheim ingin melihat agama dari bentuknya yang paling sederhana yang diimani oleh suku Aborigin di Asutralia sampai ke agama yang well-structured dan well-organised seperti yang dicerminkan dalam agama monoteis.Ketiga teori. Jadi pandangan sosial Durkheim dikembangkan oleh Levi-Strauss kepada tidak saja secara hubungan sosial tetapi juga dalam ideologi dan pikiran sebagai struktur sosial. utamanya untuk mencari jawaban hubungan antara individu dan masyarakat. telah mendorong para antropolog untuk melihat fungsi agama dalam masyarakat yang seimbang tersebut. fungsionalis dan simbolis. Sementara itu pandangan Durkheim tentang fungsi dalam masyarakat sangat berpengaruh dalam tradisi antropologi sosial di Inggris. magic adalah model bagi kerangka bertindak bagi individu dalam masyarakat. Namun demikian ia tak setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa yang sacred itu selalu bersifat spiritual.

Ketiga. Oleh karena itu. Maka sebelum mereka berlayar. ritual digunakan untuk menutup jurang perbedaan yang disebabkan friksi di dalam masyarakat. fungsionalis dan simbolis-yang berakar dari tradisi Durkheim. utama cult ritual (ritual yang berhubungan dengan masalah-masalah ketidakberuntungan-misfortune) mengandung empat fungsi sosial yang penting. walaupun tidak secara eksplisit Durkheim membangun teori simbolisme. dimana gelombang lautan dan cuaca yang tidak dapat mereka kontrol dengan kemampuan rasionalitas dan teknologi. Jadi Turner melihat ritual tidak hanya sebagai kewajiban (prescribed) saja. Ritual bagi masyarakat Ndembu adalah tempat mentransendensikan konflik keseharian kepada nilai-nilai spiritual agama.Dalam setiap kali menyelesaikan persoalan-persoalannya. ritual sebagai medium untuk menegaskan kembali nilai-nilai masyarakat. ritual. manusia menggunakan kemampuan rasionalitas dan penciptaan teknologi. Ketika sebuah masyarakat traditional Suku Trobiand di daerah pesisir Papua Nugini menemukan bahwa ladangnya telah dirusak oleh babi hutan. ritual sebagai media untuk mengurangi permusuhan (reduce hostility) di antara warga masyarakat yang disebabkan adanya kecurigaan-kecurigaan niat jahat seseorang kepada yang lain. mereka melakukan ritual dengan sesaji sebagai sarana komunikasi dengan kekuatan spiritual untuk menyelesaikan masalah yang unpredictable. maka dengan kemampuan rasionalitas dan penguasaan teknologinya masyarakat suku Trobiand membuat pagar agar babi tak dapat lagi masuk ke ladangnya. ritual sebagai sarana untuk memantapkan kembali hubungan yang akrab. Pandangan Durkheim mengenai makna dan fungsi ritual dalam masyarakat sebagai suatu aktifitas untuk mengembalikan kesatuan masyarakat mengilhami para antropolog untuk menerapkan pandangan ritual sebagai simbol. Keempat. Kedua. Tidak seperti halnya tradisi-tradisi intelektualis dan tradisi Durkheimian. mereka menggunakan agama sebagai pemecahnya. Di samping tradisi intelektual dan tiga tradisi-strukturalis. Salah satu yang menggunakan teori tersebut adalah Victor Turner ketika ia melakukan kajian ritual (upacara keagamaan) di masyarakat Ndembu di Afrika. Pertama. Turner melihat bahwa ritual adalah simbol yang dipakai oleh masyarakat Ndembu untuk menyampaikan konsep kebersamaan. Namun ketika hendak berburu ikan di lautan. Teori simbolisme yang menjadi teori dominan pada dekade 70-an sebenarnya juga mengambil akarnya dari Durkheim. Weber lebih tertarik untuk melihat hubungan antara doktrin agama dan aktifitas duniawi . melainkan sebagai simbol dari apa yang sebenarnya terjadi dalam masyarakat. ada tradisi dalam kajian agama yang berkembang dari pandanganpandangan Weber.

Dalam pandangan ilmu sosial. pertanyaan keabsahan suatu agama tidak terletak pada argumentasi-argumentasi teologisnya. Tanpa memahami realitas manusiatermasuk di dalamnya adalah realitas sosial budayanya-pemahaman terhadap ketuhanan tidak akan sempurna. Al-Qur'an seringkali menggunakan "orang" untuk menjelaskan konsep kesalehan. Dalam Islam manusia digambarkan sebagai khalifah (wakil) Tuhan di muka bumi. dan perkembangan kapitalisme modern. menunjukkan minat Weber untuk mendiskusikan hubungan antara religious ethic dan kapitalisme. menjadi sangat penting. Pentingnya mempelajari realitas manusia ini juga terlihat dari pesan Al-Qur'an ketika membicarakan konsep-konsep keagamaan. Misalnya. sebagaimana realitas sosial lainnya. Tradisi yang dikembangkan oleh Weber ini banyak diikuti oleh ilmuwan sosial utamanya di Amerika. Kajian-kajian yang demikian ini tidak lagi mempersoalkan benar dan salahnya suatu agama. tetapi melihat sejauhmana agama-aspek idealisme-mempengaruhi perilaku sosial manusia. melainkan terletak pada bagaimana agama dapat berperan dalam kehidupan sosial manusia. dan juga kajian yang dilakukan oleh Geertz tentang pasar di Jawa dan priyayi Bali memakai pendekatan yang dipakai oleh Weber. maka sesungguhnya persoalanpersoalan manusia adalah juga merupakan persoalan agama. sebab dalam kaitannya dengan kehidupan manusia. karena separuh dari realitas ketuhanan tidak dimengerti. Jika agama diperuntukkan untuk kepentingan manusia. khususnya sekte Calvinisme. seperti misalnya ekonomi dan politik.manusia. Akibat yang nyata dari pendekatan kajian di atas menempatkan agama pada realitas empiris yang dapat dilihat dan diteliti. yang menjadi perhatian kajian sosial. Ajaran etika tentang bekerja keras yang selalu muncul dalam tulisan-tulisan pendeta sekte Calvinisme dan yang juga menjadi tema-tema yang diulangulang dalam ceramah keagamaan sekte ini. Di sini agama diposisikan dalam kerangka sosial empiris. Kajian yang dilakukan oleh Robert N. Bellah tentang Tokugawa Religion yang mencoba melihat hubungan etika agama dengan restorasi Meiji. yang itu menjadi pusat perhatian antropologi. adalah sesuai dengan karakter buruh modern. Dalam kajian tentang hubungan antara etika Protestan. Di sini terlihat betapa kajian tentang manusia. untuk menjelaskan tentang konsep takwa. Secara antropologis ungkapan ini berarti bahwa sesungguhnya realitas manusia adalah realitas ketuhanan. Oleh karena itu Weber tidak tertarik untuk mendiskusikan definisi atau argumentasi rasionalitas keberadaan agama. walaupun hal yang ghaib juga menjadi hal penting. tentu hal-hal yang empirislah. Al-Qur'an .

Karya Geertz. Marshal Hodgson menggambarkan bahwa bermacam-macamnya manifestasi agama dalam kebudayaan tertentu-little tradition-sesungguhnya adalah mosaik dari realitas universal agama-great tradition. Weber dan Durkheim yang berkutat pada teori fungsionalisme dan struktural fungsionalisme. Agama Sebagai Sistem Budaya Geertz adalah orang pertama yang mengungkapkan pandangan tentang agama sebagai sebuah system budaya. Oleh karena itu pemahaman konsep agama terletak pada pemahaman realitas kemanusiaan. adalah mempelajari Tuhan-baca agama-dalam realitas empiris. Kenyataan bahwa realitas manusia-yang tercermin dalam bermacam-macam budaya-beragam. memberikan arah baru bagi kajian agama.menunjuk pada konsep "muttaqien". Tidak seperti pendahulunya yang menganggap agama sebagai bagian kecil dari system budaya. Dan persoalan-persoalan yang dihadapi manusia adalah cerminan dari permasalahan ketuhanan. Al-Qur'an menggunakan kata "orang sabar" dan seterusnya. Geertz dapat dikategorikan ke dalam kelompok kajian semiotic tradition warisan dari Ferdinand de Saussure yang pertama mengungkapkan tentang makna simbol dalam tradisi linguistik. maka diperlukan kajian cross culture untuk melihat realitas universal agama." Dengan pandangan seperti ini. Oleh karena itu Geertz mendefinisikan agama sebagai: "A system of symbols which acts to establish powerful. Walaupun Geertz mengakui bahwa ide yang demikian tidaklah baru. "Religion as a Cultural System. saat itu ketika teori-teori tentang kajian agama mandeg pada teori-teori besar Mark. dengan segala aspeknya. Dengan demikian realitas manusia sesungguhnya adalah realitas empiris dari ketuhanan. Pandangan Geertz. untuk menjelaskan konsep sabar. Kalau kita merujuk pada pesan Qur'an yang demikian itu sesungguhnya. Geertz berkayinan bahwa agama adalah system budaya sendiri yang dapat membentuk karakter masyarakat. pervasive and long-lasting moods and motivations of a general order of existence and clothing these conceptions with such an aura of factuality that the moods and motivations seem uniquely realistic. Jadi bagi Geertz norma atau nilai keagamaan harusnya diinterpretasikan sebagai sebuah simbol yang menyimpan konsepsi . konsep-konsep keagamaan itu termanifestasikan dalam perilaku manusia. tetapi agaknya sedikit orang yang berusaha untuk membahasnya lebih mendalam." dianggap sebagai tulisan klasik tentang agama. Geertz mengartikan simbol sebagai suatu kendaraan (vehicle) untuk menyampaikan suatu konsepsi tertentu. Maka mempelajari realitas manusia. Geertz mengungkapkan bahwa agama harus dilihat sebagai suatu system yang mampu mengubah suatu tatanan masyarakat.

maka tidak ada seorang ahli antropologi yang mampu menelaah dan menguasai antropologi secara sempurna dan global. Pendidikan Islam Dalam Pendekatan Antropologi Antropologi adalah suatu ilmu yang memahami sifat-sifat semua jenis manusia secara lebih komprehensif. antropologi politik. Sehingga. Antropologi pertama kali dipergunakan oleh kaum Misionaris dalam rangka penyebaran agama Nasrani dan bersamaan dengan itu pula berlangsung sistem penjajahan terhadap negar-negara diluar Eropa.tertentu. Pada era dewasa ini. Sementara itu Islam Observed ingin melihat perwujudan agama dalam masyarakat yang berbeda untuk memperlihatkan kemampuan agama dalam mewujudkan masyarakat maupun sebagai perwujudan dari interaksi dengan budaya lokal. Dan hubungan dengan ini pula. Pada dataran ini. . sesuai dengan perkembangan ahli-ahli antropologi dalam mengarahkan studinya untuk lebih memahami sifat-sifat dan hajat hidup manusia secara lebih komprehensif. di negara-negara yang masuk dalam kategori Negara ketiga (Negara berkembang) sangat urgen sebagai “pisau analisis” untuk pengambilan kebijakan (policy) dalam rangka pembangunan dan pengembangan masyarakat. Juga bagaimana agama menjadi ideologi kelompok yang kemudian menimbulkan konflik maupun integrasi dalam suatu masyarakat. sementara itu sisi modes of reality merupakan pengakuan Geertz akan sisi agama yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan perilaku manusia. antropologi terfregmentasi menjadi beberapa bagian yang masing-masing ahli antropologi mengkhususkan dirinya pada spesialisasi bidangnya masing-masing. Buku The Religion of Java memperlihatkan hubungan agama dengan ekonomi dan politik suatu daerah. antropologi kebudayaan. Simbol keagamaan tersebut mempunyai dua corak yang berbeda. Karya Geertz yang tertuang dalam The Religion of Java maupun Islam Observed merupakan dua buku yang bercerita bagaimana agama dikaji dalam masyarakat. Studi antropologi selain untuk kepentingan pengembangan ilmu itu sendiri. antropologi dipergunakan sebagai suatu hal untuk kepentingan kemanusiaan yang lebih luas. antropologi agama. Geertz menerapkan pandangan-pandangannya untuk meneliti tentang agama dalam satu masyarakat. Sebagai suatu disiplin ilmu yang cakupan studinya cukup luas. Yang pertama menunjukkan suatu existensi agama sebagai suatu sistem yang dapat membentuk masyarakat ke dalam cosmic order tertentu. antropologi menjadi amat plural. ada bermacam-macam antropologi seperti antropologi ekonomi. pada satu sisi ia merupakan modes for reality dan di sisi yang lainnya ia merupakan modes of reality.

Maka antropologi pendidikan Islam. Dengan pola itu. Akan tetapi dalam sejarah kebudayaan Islam belum ada pengakuan terhadap tokoh-tokoh atau pelopor antropologi yang diakui dari zaman Nabi Muhammad atau sesudahnya. menyampaikna pidatonya dihadapan American Philosophical Association Eastern Division. bahwa antropologi telah memberi lebih banyak kejelasan tentang sifat manusia daripada semua pemikiran filsuf atau studi para ilmuwan di laboratoriumnya. Seperti dalam ekonomi Islam (juga Hukum Islam) yang sejak awal pertumbuhannya telah diberi contoh oleh Nabi Muhammad dan diteruskan oleh para sahabat. kajian materi antropologi pendidikan. antropologi perkotaan. maka kajian tersebut masuk dalam sub antropologi yang bias dikenal menjadi antropologi pendidikan. Artinya apabila antropologi pendidikan dimunculkan sebagai suatu materi kajian. maka antropologi pendidikan Islam tentunya harus dikategorikan “sama” dengan ekonomi Islam. dan lain sebagainya. seorang filsuf wanita pada tahun 1941. Dan dalam studi kependidikan yang dikaji melalui pendekatan antropologi. kaidah-kaidah keilmiahannya harus juga bersumber atau didasarkan pada Al Qur’an dan As Sunah. Meskipun berkemungkinan ada yang menjadi antropolog pendidikan setelah memperoleh wawasan pengetahuan dari mengkaji antropologi pendidikan. bahwa hal tersebut merupakan suatu langkah yang ada relevansinya dengan isu-isu Islamisasi ilmu pengetahuan. maka yang objek dikajiannya adalah penggunaan teori-teori dan metode yang digunakan oleh para antropolog serta pengetahuan yang diperoleh khususnya yang berhubungan dengan kebutuhan manusia atau masyarakat. Pendidikan Agama Islam arahnya dari atas ke bawah. bukan bertujuan menghasilkan ahli-ahli antropologi melainkan menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang pendidikan melalui perspektif antropologi. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana kedudukan antropologi pendidikan sebagai sebuah disiplin studi yang tergolong baru di tambah kata “Islam” sehingga menjadi “antropologi pendidikan Islam”. artinya sesuatu yang dilakukan berupa upaya agar wahyu dan ajaran Islam dapat dijadikan pandangan hidup anak . sehingga muncul pula kaidahkaidah keilmiahannya yang bersumber dari kitab suci Al Qur’an dan dari As Sunah. Grace de Raguna. Hal ini telah menjadi sorotan para ahli pendidikan Islam. Artinya bagaimana bagunan keilmuan yang ditonjolkan dalam ekonomi Islam muncul juga dalam dalam antropologi pendidikan Islam. Karakteristik dari antropologi pendidikan Islam adalah terletak pada sasaran kajiannya yang tertuju pada fenomena pemikiran yang berarah balik dengan fenomena Pendidikan Agama Islam (PAI).antropologi pendidikan. Dengan demikian.

Posisi penting manusia dalam Islam-seperti digambarkan dalam proses penciptaannya yang ruhnya merupakan tiupan dari ruh Tuhan-memberikan indikasi bahwa manusia menempati posisi penting dalam mengetahui tentang Tuhan. Uraian di atas memperlihatkan bahwa sesungguhnya pemahaman agama tidak akan lengkap tanpa memahami realitas manusia yang tercermin dalam budayanya. Dan juga yang paling urgen adalah penanaman nilai-nilai sosial pada anak seperti rasa belas kasihan (confession) dan empati terhadap orang lain. local discourse atau local konwledge yang tumbuh dari pergumulan agama dan budaya dapat dijadikan sebagai tambahan wacana baru globalisasi. kajian tersebut dapat dipusatkan untuk mempetakan Islam lokal dalam sebuah peta besar Islam universal. Dengan demikian pemahaman agama secara keseluruhan tidak akan tercapai tanpa memahami separuh dari agama yaitu manusia. Sedangkan antropologi pendidikan Islam dari bawah ke atas. mempunyai sesuatu yang diupayakan dalam mendidik anak. berucap-kata. Di sinilah letak pentingnya kajian antropologi dalam mengkaji Islam. Masalah ilmiah yang mendasar pada Pendidikan Agama Islam adalah berpusat pada bagaimana (metode) cara yang seharusnya dilakukan.didik (manusia). Dalam kitabnya al-Siyasah. Sedangkan masalah yang mendasar pada antropologi pendidikan Islam adalah berpusat pada pengalaman apa yang ditemui. dan berpenampilan yang baik serta pujian dan hukuman dalam mendidikan anak. yang kita kenal sebagai tokoh kedokteran dalam dunia Islam ternyata juga merupakan sorang pemerhati pendidikan anak usia dini yang merupakan pengalaman pertama anak. Ibnu Sina. Ibnu Sina banyak memaparkan tentang pentingnya pendidikan usia dini yang dimulai dengan pemberian “nama yang baik” dan diteruskan dengan membiasakan berperilaku. Kajian tentang local Islam dapat dijadikan sebagai pengkayaan wacana manusia. Sebagai ilmu yang mengkhususkan diri . Barangkali tidak berlebihan untuk menyebut bahwa realitas manusia sesungguhnya adalah realitas ketuhanan yang empiris. Ketiga. Kesimpulan Agaknya kajian-kajian tentang agama dan budaya dapat kita arahkan dalam berbagai kerangka. Kedua. Pertama dapat kita terapkan dalam upaya mencari konsep-konsep lokal tentang bagaimana agama dan budaya berinteraksi. agar anak dapat membangun pandangan hidup berdasarkan pengalaman agamanya bagi kemampuannya untuk menghadapi lingkungan.

Yogyakarta: Gama Media. Ilmu Budaya Dasar. Hoselitz. Munandar. Ahmad. Ilmu Budaya Dasar. 1988 Imam Tholkhah dan Ahmad Barizi. Munandar Sulaeman. Bandung: PT. 1980 M. DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman Mas’ud. Erosco. 2004. Metodologi Studi Islam. Bets F. Jakarta: CV. Jakarta: PT. 2002. Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik: Humanisme Relegius Sebagai Paradigma Pendidikan Islam. Jakarta: Aksara Baru. 2002.mempelajari manusia-yang merupakan realitas empiris agama-maka antropologi juga merupakan separuh dari ilmu agama itu sendiri. Jakarta: Media Da’wah Azyumardi Azra. Akbar S. Membuka Jendela Pendidikan: Mengurai Benang Tradisi Dan Integrasi Keilmuan Pendidikan Islam. Pendidikan Islam: Tradisi Dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Pengantar Ilmu Antropologi. Bandung: PT. Erosco. Panduan Dasar Ilmu-Ilmu Sosial.. 1993 Noto Abuddin. Logos Wacana Ilmu. 1993 Diposkan oleh tasauf dalam islam di 22:12 0 komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langgan: Poskan Komentar (Atom) Pengikut Arsip Blog • ▼ 2009 (10) o ▼ November (10)  ISLAM MASA KHULAFAUR RASYIDIN . Rajawali. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. RajaGrafindo Persada. Kearah Antropologi Islam. Jakarta: PT. Koentjaraningrat. 2004 Sulaeman.

. DAN PERADABAN PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM KAJIAN ISLAM PENDEKATAN HISTORIS DALAM STUDI ISLAM PRODUK-PRODUK PEMIKIRAN DAN PERADABAN ISLAM Makalah Filsafat Ilmu makalah Pembelajaran Piqih Makalah METAFISIKA RIVIEW TENTANG TAFSIR dan HADITS TARBAWI MENELADANI SIFAT – SIFAT NABI SAW Kajian ..kajian.         ISLAM AGAMA. KEBUDAYAAN..

geografi. Seluruh makhluk di alam semesta ini. yaitu kesatuan tujuan hidup. Karena Allah yang menciptakan manusia. Sebagai muslim. Bagi orang yang beriman. berarti semua ibadah murni (mahdhah) seperti salat. sejarah. Sebagai konsekuensi pemikiran ini. bahasa. haji. Keempat. unity of Godhead. hanya ada satu pedoman hidup. puasa. unity of mankind. yaitu kesatuan penciptaan. Karena Islam itu . Menurut Amien Rais. tetapi harus dilanjutkan dalam bentuk perbuatan. yang lahir maupun yang gaib.Istilah “tauhid sosial” merupakan istilah baru yang diperkenalkannya dalam wacana ilmu-ilmu sosial. unity of the purpose of life. tauhid sesungguhnya menurunkan atau mengisyaratkan adanya lima pengertian. yaitu kesatuan ketuhanan. Jadi. maka Allah pula yang paling tahu apa yang baik atau buruk bagi manusia. Kualitas ibadah seseorang sangat tergantung pada sejauh mana ibadah tersebut mempengaruhi perilaku sosialnya. Hal ini bisa dirujuk pada pernyataannya yang retoris: “Benang merah dari ajaran Islam adalah keadilan. yaitu kesatuan pedoman hidup. Kedua. Kelima. satu-satunya tujuan hidup adalah untuk mencapai rida Allah. merupakan bagian dari ciptaan Allah. baik yang kelihatan maupun yang tidak. Ketiga. unity of guidance. tidaklah cukup kalimat tauhid tersebut hanya dinyatakan dalam bentuk ucapan (lisan) dan diyakini dalam hati. perbedaan warna kulit. dan segala perbedaan yang melatarbelakangi keragaman umat manusia tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan diskriminasi. unity of creation. Konsep “tauhid sosial” ini tampaknya muncul dari Amien Rais sebagai respon terhadap meluasnya persoalan ketidakadilan yang ia lihat. Tauhid sosial dimaksudkan sebagai dimensi sosial dari pengakuan kita bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad itu adalah Rasul-Nya. Pertama. Bagi orang yang beriman. dan seterusnya memiliki dimensi sosial. yaitu kesatuan kemanusiaan. sehingga kita betul-betul dapat mencapai kebahagiaan di dunia maupun akhirat. yakni yang datangnya dari Allah yang berupa wahyu.

maka secara potensial setiap orang Islam bisa menjadi trouble maker bagi kemapanan yang tidak adil. ia juga mengatakan. sekaligus memperoleh ridha Allah. iman adalah kekuatan yang menjadi pilar utama perjalanan sejarah umat Islam. karena orang Islam selalu resah. Padahal. Dalam konteks ini. Memilih Islam adalah menjalani suatu pola kehidupan yang utuh dan terpadu (integrated). ”Dengan merujuk sosiolog Prof. Doktrin ini sudah sangat dini dideklarasikan. bila di tengah masyarakat ada kelompok kaya dan miskin. Dengan mengutip Ibn Hazim . Dan. gagasan Tauhid Sosial Syafi’i Ma’arif menggambarkan dua hal: pertama. Doktrin tauhid yang menjadi ruh kekuatan Islam tidak pernah hilang dari perjalanan sejarah. konsep tauhid sosial Amien Rais dapat disimpulkan sebagai tuntutan terwujudnya masyarakat yang adil. Gelner. adalah kewajiban si kaya untuk melakukan proses pemerataan sosial ekonomi ke seluruh masyarakat. di bawah prinsip-prinsip . setiap orang Islam bisa menjadi masalah bagi rezim yang mapan yang mempertahankan ketidakadilan. secara sederhana. Amien Rais juga mengatakan bahwa di muka bumi ini. sejarah membuktikan bahwa tauhid menjadi senjata yang hebat dalam menancapkan pilar-pilar kesejarahan Islam. yaitu pada masa Mekkah tahun-tahun awal. Syafi’i Ma’arif menyebutkan Tauhid Sosial sebagai dimensi praksis dari resiko keimanan kepada Allah SWT. walaupun aktualisasinya dalam dimensi kehidupan tidak selalu menjadi kenyataan. Secara substasial.merupakan religion of justice. orang kemudian mempertanyakan praktek sosial Islam yang dianggap tidak komprehensif. Praktek sosial Islam ini banyak dibahasakan dengan berbagai istilah. Jadi. menjadi hak dari si papa untuk mengambil bagiannya dari si kaya. AlQur’an. antara lain Tauhid Sosial. Dengan kata lain. kepercayaan kepada ke-Esa-an Allah belum tentu terkait dengan prilaku umat dalam kiprah kesejarahannya. gelisah. dan selalu ingin mengejawantahkan nilai-nilai keadilan dalam berbagai dimensi kehidupannya.

bukan hanya tersimpan dalam teks-teks suci. Sehingga kekuatan tauhid inilah yang menjadi pengawal dan pusat dari semua orientasi nilai. pada aksi. yang kemudian terwujud dalam dimensi sosial. kita dapat menyimpulkan bahwa iman berujung pada amal. cendekiawan muslim. Dalam surah Al-Baqarah ayat kedua misalnya. iman harus mampu menjawab dimensi praksis persoalan keummatan. Di dalam Al-Qur’an kita sering sekali membaca seruan agar manusia itu beriman. Kedua. dan menunaikan zakat. ‘percaya kepada yang gaib’. Praktek kehidupan seperti ini telah ditunjukkan dalam perjalanan kerasulan Muhammad yang diteruskan oleh sebagian generasi setelahnya. dikotomik. kita juga mengenal trilogi iman-ilmu-amal. ekonomi dan budaya. dan kemudian beramal. Dalam Al-Qur’an. menyatakan bahwa nilai-nilai Islam sebenarnya bersifat all-embracing bagi penataan sistem kehidupan sosial. Islam menolak pola kehidupan yang fragmentatif. dan juga sinkretik. Tugas ini dibebankan pada rasul. ekonomi dan budaya. tugas terbesar Islam sebenarnya adalah melakukan transformasi sosial dan budaya dengan nilainilai tersebut. Dalam perspektif yang berbeda. tersebar dalam lima surat. Dengan memperhatikan ini. politik. Islam berprinsip pada tauhid. Kuntowijoyo. Artinya. pertama-tama yang harus ia miliki adalah iman. tauhid harus diaktualisasikan: pusat keimanan Islam . Oleh karena itu. lebih dari segalanya. doktrin ‘amrun bi al-ma’ruf wa nahyun ‘ani al-munkar’ dijumpai dalam delapan ayat. pemerintah dan umat yang beriman secara keseluruhan. Setiap aspek kehidupan yang dijalani merupakan refleksi dari prinsip-prinsip tauhid itu. Artinya. politik. Di dalam ayat tersebut kita melihat adanya trilogi iman-shalat-zakat. Sementara dalam formulasi lain. kekuatan tauhid ini harus diaktualisasikan.tauhid. kemudian mendirikan shalat. disebutkan bahwa agar manusia itu menjadi muttaqin. Masyarakat yang adil harus didirikan dalam prinsip ‘amrun bi al-ma’ruf wa nahyun ‘ani almunkar’. dua makkiyah dan tiga madaniyyah.

ia tidak pernah menjelaskan apa yang dimaksud dengan istilah ‘kelas’. tauhid sosial sebenarnya merupakan perwujudan aksi sosial Islam dalam konteks menjadikannya sebagai rahmatan li al’alamin.adalah Tuhan. dimana terdapat tiga kelas sosial di sana. Dalam konteks inilah Islam disebut sebagai rahmatan li al’alamin. Al-Qur’an juga merefleksikan adanya kenyataan sosial lain mengenai pembagian kelas sosial ini. tetapi ujung aktualisasinya adalah manusia. penindasan bahkan perbudakan. dan masakin. yaitu kelas pendeta. Dengan demikian. ketidakadilan. seperti konsep golongan dhu’afa. Tapi. Dengan melihat penjelasan ini. mustadh’afin. rahmat untuk alam semesta. kaum fakir. yaitu . Masyarakat Arab pada zaman nabi juga terbagi dalam dua kelas sosial. kesenjangan. Islam menjadikan tauhid sebagai pusat dari semua orientasi nilai. sehingga pada umumnya terminologi kelas dalam konsep Marxis didefinisikan secara mashur oleh Lenin. Proses menuju ke arah itu harus dimulai dari penguatan dimensi tauhid. Ketidaksamaan sosial ini kemudian dirumuskan dengan membaginya dalam istilah ‘kelas sosial’. kemudian dimensi epistemik. masyarakat industri menurut terminologi ini hanya mengenal dua kelas. termasuk untuk kemanusiaan. lalu masuk dalam dimensi amal berupa praktek sosial kepada sesama manusia. Demikian juga dalam masyarakat Eropa abad ke 17. Kemudian juga dikenal kelas proletar Dalam terminologi Marx. Lenin mendefinisikan kelas sosial sebagai golongan sosial dalam sebuah tatanan masyarakat yang ditentukan oleh posisi tertentu dalam proses produksi. Dengan demikian. Adanya ketidaksamaan sosial ini pada umumnya melahirkan polarisasi sosial yang dalam banyak hal melahirkan kasus-kasus kemiskinan. Islam dan Ketidaksamaan Sosial Ketidaksamaan sosial (social inequality) terjadi di hampir semua komunitas masyarakat dunia. Sementara pada saat yang sama melihat manusia sebagai tujuan dari transformasi nilai. yakni kelas bangsawan dan kelas budak. kelas bangsawan dan kelas borjuasi.

Banyak ayat Al-Qur’an yang memaklumkan dilebihkannya derajat sosial. sebagai hukum alam. Islam justru memiliki cita-cita sosial untuk secara terus-menerus menegakkan egalitarianisme. Proses ini memang harus dimulai dari transformasi nilai-nilai Islam. golongan proletar adalah yang paling miskin. baru kemudian dilakukan lompatan-lompatan dalam dataran praksis. Sebaliknya. ‘materialisme dialektis’ dan ‘determinisme ekonomi’. Sementara dalam Islam. Keterlibatannya dalam perjuangan inilah yang akan menentukan kualitasnya sebagai khalifatullah fil ‘ardh. Mengakui jelas tidak sama dengan mentoleransi. ekonomi. Islam menghendaki adanya distribusi kekayaan dan kekuasaan secara adil bagi segenap lapisan sosial masyarakat. Dengan demikian. Islam juga mengedepankan peran untuk mengutamakan dan membela gologan masyarakat yang tertindas dan lemah seperti kaum dhu’afa dan mustadh’afin. sebagai realitas empiris yang ditakdirkan kepada dunia manusia. Al-Qur’an melihat fenomena ketidaksamaan sosial ini sebagai sunnatullah. Cita-Cita Praktek Sosial Islam Persoalannya adalah tidak mudah mewujudkan cita-cita sosial Islam ini. Realitas sosial empiris yang dipenuhi oleh fenomena diferensiasi dan polarisasi sosial. demikian . oleh Al-Qur’an dipandang sebagai ajang riel duniawi tempat setiap muslim akan memperjuangkan cita-cita keadilan sosialnya. Kendatipun demikian. Kuntowijoyo punya pandangan menarik dalam merumuskan proses transformasi ini.kelas borjuis dan kelas proletar. atau kapasitas-kapasitas lainnya dari sebagian orang atas sebagian yang lainnya. Marx yakin bahwa dalam masyarakat industrialkapitalis. Kuntowijoyo mencatat bahwa Islam mengakui adanya deferensiasi dan bahkan polarisasi sosial. Dalam banyak perspektif. “Pada dasarnya seluruh kandungan nilai Islam bersifat normatif”. Terlebih lagi dalam kondisi masyarakat yang dimanjakan oleh arus materialisme sekarang ini. Dengan doktrinnya yang terkenal. ini tidak dapat diartikan bahwa AlQur’an mentoleransi social-inequality.

misalnya untuk menghormati orang tua. Bagaimana mungkin kita dapat mengatur perubahan masyarakat jika kita tak punya teori sosial? Sementara Syafi’i Ma’arif berpendapat bahwa transformasi ini harus dilakukan dengan membongkar teologi klasik yang sudah tidak relevan lagi dengan masalah-masalah pemberdayaan masyarakat karena terlalu intelektual spekulatif. Tingkatnya hanya tingkat angan-angan. kita belum melakukan usaha semacam itu. Pertama. Agaknya cara yang kedua ini lebih relevan pada saat sekarang ini. sosial. ke dalam prilaku. Ilmu ini cenderung menunjukkan secara langsung. iptek. bagaimana secara legal prilaku harus sesuai dengan sistem normatif. Orang yang tidak berdaya tapi ingin memberdayakan masyarakat tidak pernah akan berhasil. sebab di sana juga . jika kita ingin melakukan restorasi terhadap masyarakat Islam dalam konteks masyarakat industri. nilai normatif ini diaktualkan langsung menjadi perilaku. kepada yang empirik. ekonomi. Pemberdayaan masyarakat hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang berdaya secara politik. Sampai sekarang ini. Al-Qur’an menyuruh kita bercermin kepada yang kongkret. Umat yang terlalu banyak berangan-angan tapi tidak berdaya adalah beban Islam dan beban sejarah. Metode transformasi nilai melalui teori ilmu untuk kemudian diaktualisasikan dalam dimensi praksis. dan budaya. Seruan ini langsung dapat diterjemahkan ke dalam praktek. Oleh sebab itu. Ada dua cara bagaimana nilai-nilai normatif ini menjadi operasional dalam kehidupan sehari-hari. Cara yang kedua adalah mentransformasikan nilai-nilai normatif ini menjadi teori ilmu sebelum diaktualisasikan ke dalam prilaku. contohnya adalah seruan praktis Al-Qur’an. Untuk jenis aktualisasi semacam ini.Kuntowijoyo. suatu restorasi yang membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh dari pada sekedar pendekatan legal. memang membutuhkan beberapa fase formulasi: teologi®filsafat sosial®teori sosial®perubahan sosial. Pendekatan seperti ini telah dikembangkan melalui ilmu fiqh.

Tauhid sejatinya memerlukan manifestasi dalam realitas empiris. dan Dia tidak lain adalah Allah SWT. Perjuangan umat Islam yang masih bergulat untuk bangun dari kemiskinan dan keterbelakangan. Seperti yang saya katakan tadi. Karenanya. dan kita adalah makhluq (yang diciptakan). Tapi di sisi lain. pengesaan ini adalah konsep awal dan utama dalam . tentu akan sia-sia jika tak didukung oleh kerja-kerja intelektual yang menopang terbentuknya suatu tatanan sosial masyarakat seperti yang kita cita-citakan. kejayaan di dunia dibutuhkan untuk menggapai kejayaan di akhirat. Dengan menyadari kekurangan ini. Ini tugas kita semua REALITA IMPLEMENTASI TAUHID SOSIAL DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT Diposkan oleh Menuju Cahaya on Sabtu. Cita-cita sosial Islam untuk melahirkan keadilan sosial bagi seluruh alam memang masih jauh dari cita-cita. Padahal. konsep tauhid dalam tataran yang lebih luas tidak cukup hanya dengan membenarkan bahwa Allah itu Maha Esa. kita memang sudah didesak untuk segera memikirkan metode transformasi nilai Islam pada level yang empiris melalui diciptakannya ilmu-ilmu sosial Islam. Dan artinya kita hanya fokus kepada satu Tuhan. Akan tetapi. manusia harus tunduk pada penciptanya. Sehingga. Tapi itulah tugas kita kalau kita mau menyumbangkan sesuatu yang anggun untuk kemanusiaan. pengakuan kita bahwa Tuhan hanya ada satu. Konsep ini merupakan konsep paling pokok dalam aqidah. suatu sistem teologi yang terlalu sibuk mengurus yang serba ghaib dan lupa terhadap yang kongkret tidak akan pernah menang dalam kompetisi duniawi. Allah telah menciptakan alam semesta sebagai khaliq (pencipta). kita perlu melakukan pembongkaran terhadap prinsip-prinsip teologi klasik yang terlalu sibuk mengurus masalah ghaib.terdapat ayat-ayat Allah. Tapi. Perjuangan ke arah itu memang tidak ringan. Jika tauhid kita artikan peng-esaan Tuhan. tidak lebih tidak kurang. yakni ayat-ayat kauniyah. 10 April 2010 Konsep awal dari tauhid adalah menempatkan Allah sebagai Rabb. sehingga jika seseorang belum mengimani hal ini ia tidak dapat dianggap sebagai seorang muslim yang lurus. juga tidak bijak kalau kita hanya menyimpannya dalam teks-teks suci.

Dan lagi-lagi. Akan tetapi. Akan tetapi hal ini berbanding terbalik dengan kenyataan saat ini. janji untuk taat terhadap segala aturan yang Dia berikan. maka dalam kehidupan seharihari kita juga harus fokus tehadap kewajiban yang kita emban. maka itu berarti kita masuk dalam golongan orang-orang munafik. tidak boleh menduakan kewajiban itu dengan kepentingan lain apalgi kepentingan pribadi. meskipun kita tetap percaya dan teguh bahwa Tuhan itu esa. terutama bisa kita lihat munculnya dukun-dukun entertainer yang sering muncul di televisi. menjadikan anak didik mereka berpendidikan yang sesungguhnya. yaitu tadi dikatakan bahwa pengesaan Tuhan berarti hanya fokus kepada satu Tuhan. menyekutukan kewajiban mereka dengan kepentingan pribadi (setidaknya begitulah saya menyebutnya). Ini adalah pondasi kita untuk menggapai kesejahteraan bersama sebagai mahluk yang oleh Plato disebut Zoon Politicon atau mahluk yang bermasyarakat.tauhid. Makna lain—dan merupakan kelanjutan dari makna diatas—adalah bahwa tauhid bisa diartikan kesetiaan dan ketaatan kita terhadap Tuhan. dimana banyak guru yang tidak hanya menjadi guru. mereka termasuk orang-orang yang “musyrik sosial”. tanpa implikasi sosial yang berarti. Kesetiaan dan ketaatan adalah sebuah keniscayaan yang harus kita miliki selama kita menginginkan kehidupan yang tentram. maka berarti kita telah menduakan Dia sebagai Yang Maha memberikan pertolongan. bukan dukun. Kita harus setia terhadap aturan dan hukum sosial yang ada. baik ibadah spiritual maupun sosial. wiraswasta atau profesi lain dan akhirnya waktu mereka untuk mengajar terkadang terenggut untuk hal-hal yang bukan dalam lingkup mendidika anak-anak mereka. Tidak bisa kita pungkiri jika saat ini banyak orang percaya bahwa Tuhan itu Esa. Jika kita ingat sebuah perkataan Nabi yang menyatakan bahwa jika berjanji lalu kita mengingkari. jika kita menariknya lebih dalam ia memiliki hal lain yang harus kita aplikasikan dalam kehidupan sosial juga. Contoh kecilnya adalah realita kehidupan para guru—terutama pns—saat ini. Kita tahu bahwa kewajiban utama seorang guru adalah mendidik anak didik mereka. hal ini mulai terhapus dan dihapus pada masa ini. Ki Bodo atau yang lainnya. Ini berarti bahwa mereka telah menduakan kewajiban mereka sebagai seorang guru. akan tetapi mereka tidak pernah sekalipun melakukan penyembahan terhadapNya baik melalu shalat ataupun puasa atau yang lainnya. mereka tidak fokus terhadap satu kewajiban utama mereka. Maka sama .Karena jika kita tidak berpikiran demikian. Artinya. tidak cukup dengan mengesakan Tuhan tanpa melakukan ibadah-ibadah yang di perintahkanNya. Kita tidak bisa dikatan sebagai orang yang bertauhid ketika kita melanggar janji kita dengan Tuhan. kita juga harus setia dan taat terhadap segala janji yang kita ucapkan terhadap orang lain. artinya kita hanya percaya bahwa Allah-lah yang bisa memberikan pertolongan. bukan pula peramal. Kita bertauhid berarti kita mengikat diri dengan janji kita dengan Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa Tauhid hanya menjadi pajangan hati saja. mereka juga tidak peka terhadap kehidupan sekitarnya. ketika kita mengingkari perintahnya. Maka menurut penulis. ada yang merangkap pengusaha. memanusiakan anak-anak didik mereka. mereka tidak menghiraukan ketimpanganketimpangan sosial yang terjadi didekatnya. hanya dengan keduanya kita bisa membangun kepercayaan orang lain trhadap kita. Makna ini juga mempunya sisi lain yang dapat dan harus kita implementasikan dalam kehidupan sosial. Karena hanya dengan keduanya kita bisa menjalin relasi yang baik dengan orang lain. entah Mama laurent. salah satu aplikasi sosialnya adalah tidak adanya peramal dan dukun. mengaku bahwa Muhammad itu Nabi mereka. Tapi konsep pengesaan ini tidak hanya berhenti di sini saja. nampaknya makna ini juga sudah mulai tidak berlaku lagi dalam masyarakat kita.

sehingga muncul keseimbangan antara ibadah dan perilaku sosial. 2004:21). mulai saat itu pula ia menyebarkan misi keagamaan. Pengingkaran tauhid sosial ini juga dilakukan oleh para tullab—yang seharusnya jujur— dengan budaya “mengutip total” alias plagiat bin copy-tempel tugas-tugas mereka. (Hasan. Adz-Dzariat (51):56). Reaksi masyarakat Mekkah pada umumnya. baru dikenal ratusan tahun setelah Nabi Muhammad wafat. dengan Tauhid Sosial umat Islam seharusnya mempraktikkan nilai-nilai Tauhid ke dalam realitas sosial secara benar. Dengan mentaati perintah dan cara-cara yang Rosul ajarkan. termasuk oleh para petinggi negeri yang megingkari janjinya dengan memakan uang yang seharusnya tidak mereka makan. adalah bekal seorang hamba dalam manjalankan tugas ibadah. Tapi. Pengingkarana dan penghianatan telah banyak dilakukan oleh banyak orang. Allah swt telah menjelaskan didalam Al Quran bahwa jin dan manusia telah diciptakan memiliki maksud dan tujuan untuk beribadah kepadaNya. krena menduakan kewajiban mencari ilmu dengan mencari nilai. Secara umum disepakati bahwa periode Mekkah. Seharusnya. jika kita tidak setia dan tidak taat terhadap janji kita dalam ranah sosial. lagi-lagi hal ini juga nampak mulai luntur dalam kehidupan masyarakat kita. realita-realita menyedihkan di atas tidak muncul. 2003:137). maka itu berarti bahwa kita “munafik sosial”. Tetapi nabi berteguh dan terus berjuang untuk meraih sejumlah pengikut dalam masa lebih dari 13 tahun selama misinya di Mekkah. Tauhid sebagai ilmu.dengan hal ini. . Tidar No 21 Oct 31. (Ahmad Tib. agar mendapatkan nilai bagus yang mana hal ini juga berarti “musyrik” terhadap kewajiban utama mereka. Tauhid Sosial Sebagai Konsekuensi Tauhiddullah Oleh. dan reformasi sosial. 1994:27). Sifat ketundukan dan pengakuan bahwa yang Maha Esa hanyalah Allah. dengan Tauhid Sosial tersebut. Al Quran dan sunnah lebih banyak berisi tentang ajaran Agama (Tauhid) dan Moral. Firman Allah “telah aku ciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepadaKu. Makna ibadah menurut ulama Tauhid adalah meng-Esakan Allah SWT dengan sungguh-sungguh dan merendahkan diri serta menundukkan jiwa setunduk-tunduknya kepadaNya. Hal inilah yang disebut sebagai amal shalih. Seorang muslim tidak cukup hanya menjalankan tauhid dengan meyakini bahwa Allah itu esa.” (QS. seorang hamba akan lebih termotifasi ketaatannya dalam beribadah kepada Allah. Immawan Luqman Novanto Takmir Masjid Tanwir Komlepk PTM Jl. Pada waktu nabi menerima wahyu Al Quran. Sedangkan makna ibadah adalah taat kepada Allah dengan menjalankan apa yang telah diperintahkan-Nya melalui lesan-lesan para Rosul. khususnya suku Quraisy yang juga merupakan suku nabi sendiri menolak dan menentang secara ekstrim. tetapi juga harus menjalankan perintahNya dan peka terhadap urusan kemanusiaan. '07 5:29 AM untuk semuanya Manusia hidup di dunia ini pasti mempunyai maksud dan tujuan tertentu. (Abdullahi ahmed.

haruslah menjadi falsafah hidup seorang muslim. Dari berbagai pandangan tentang makna tauhid yang di maknai oleh Muhammad Abduh. Tauhid adalah pernyataan iman kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. 1979 : 36). Namun yang terpenting adalah agar sikap ketauhidan ini dapat menyemangati kehidupan sehingga bukan hanya keshalehan individu yang kita harapkan dapat terwujud. karena pernyataan iman seseorang kepada Tuhan. Doktrin tauhid yang menjadi ruh kekuatan Islam tidak pernah hilang dari perjalanan sejarah. Dalam pandangan Islam. Padahal. Musa Asyari. melainkan juga keshalehan dan ketaqwaan sosialnya Pandangan Hasan Hanafi yang di kutip oleh Kazuo Shimogaki menyebutkan bahawa. 2002 : 181). kepercayaan kepada ke-Esa-an Allah belum tentu terkait dengan prilaku umat dalam kiprah kesejarahannya. (Muhammad Abduh. (Asy'arie.Meskipun inti pokok risalah Nabi Muhammad saw adalah tauhid. dan apa yang terlarang menghubungkannya kepada diri mereka. tetapi Tauhid sudah terbukti mampu menjadi pilar perjuangan umat Islam. yang diwujudkan dan tercermin dalam berbagai aspek kehidupan. Musa Asy'arie menambahkan bahwa makna Tauhid menurut pandangan filsafat Islam adalah suatu sistem pandangan hidup yang menegaskan adanya proses satu kesatuan dan tunggal kemanunggalan dalam berbagai aspek hidup dan kehidupan semua yang ada. dalam suatu sistem. Tauhid yang menjadi proses satu kesatuan dan tunggal kemanunggalan dalam berbagai aspek hidup dan kehidupan yang bersumber pada satu Tuhan saja. karena syirik bukan semata-mata tindakan yang ujudnya adalah penyembahan berhala atau kesukaan pergi kekuburan yang maknanya dalam ibadah. yang menjadi asas kesatauan ciptaanNya dalam berbagai bentuk. dan Hasan Hanafi. buka sekedar mengetahui bukti-bukti rasional tentang kebenaran wujud dan ke-Esa-an Nya serta bukan sekedar mengenal asma dan sifat-sifatNya. sifat-sifat yang boleh disifatkan kepadaNya dan tentang sifat-sifat yang sama sekali wajib dilenyapkan dari padaNya. berasal dan bersumber hanya pada satu Tuhan saja. pikiran dan hati atau kalbu. Bagi seorang muslim dalam konteks Teologi. ternyata Tauhid memiliki tema pembahasan dan peran yang sangat penting dalam membentuk pribadi seorang muslim. jenis dan bidang kehidupan. Tauhid bukan sekedar mengenal dan memahami bahwa pencipta alam semesta ini adalah Allah. Muhammad Abduh mendefinisikan makna tauhid sebagai suatu ilmu yang membahas tentang wujud Allah. tentang sifat-sifat yang wajib tetap padaNy. 2002 : 182). dan Rosul-rosul Allah yang mempunyai konsekuensi dalam kehidupan berupa praktek sosial umat Islam yang konkrit. 2003:20).Istilah ilmu Tauhid itu sendiri baru muncul pada abad ketiga Hijriyah. adanya golongan penindas dan tertindas maka selama itu pula masyarakat dibalut oleh paham syirik (Shimogaki. juga membahas tentang Rosul-rosul Allah meyakinkan kerosulan mereka. tetapi yang paling pokok dari itu adalah penerimaan dan resfons cinta kasih dan kehendak Tuhan yang dialamatkan kepada manusia. . (Asy'arie. namun pada masa beliau Tauhid belum merupakan ilmu keislaman yang berdiri sendiri. selama dalam sistem sosial masyarakat masih ada kesenjangan antara si kaya dengan miskin. Dari dua pandangan ini. walaupun aktualisasinya dalam dimensi kehidupan tidak selalu menjadi kenyataan. tetapi juga tindakan dan aktualisasi. sifat-sifat Allah. 2003:03) . bukan hanya kepada pengakuan lesan. Dengan kata lain. dapat di tarik kesimpula bahwa makna Tauhid adalah tema sentral yang membahas tentang wujud Allah. sejarah membuktikan bahwa tauhid menjadi senjata yang hebat dalam . Tepatnya dizaman pemerintahan khalifah Al Makmun. melainkan juga penguasaan manusia atas manusia lain. (Yusran Asmuni. Kholifah ketujuh dinasti Bani Abas. Pengingkaran terhadap makna tauhid adalah perbuatan syirik.

menyatakan bahwa nilainilai Islam sebenarnya bersifat all-embracing bagi penataan sistem kehidupan sosial. tetapi ujung aktualisasinya adalah manusia. kekuatan tauhid ini harus diaktualisasikan. ekonomi dan budaya. Sementara dalam formulasi lain. kemudian mendirikan shalat. Secara substasial. tauhid harus diaktualisasikan: pusat keimanan Islam adalah Tuhan. (Qordhawi. karena tauhid menjadi landasan bagi setiap amal yang akan dilakukan. Dalam konteks ini. Masyarakat yang adil harus didirikan dalam prinsip ‘amrun bi al-ma’ruf wa nahyun ‘ani almunkar’. Sehingga kekuatan tauhid inilah yang menjadi pengawal dan pusat dari semua orientasi nilai Artinya. yang kemudian terwujud dalam dimensi sosial. tugas terbesar Islam sebenarnya adalah melakukan transformasi sosial dan budaya dengan nilai-nilai tersebut. Kedua. Di dalam Al-Qur’an kita sering sekali membaca seruan agar manusia itu beriman. dan kemudian beramal. Allah menjelaskan dalam firmanNya bahwa. ekonomi dan budaya. penulis menyimpulkan bahwa iman berujung pada amal. 1991 : 197). dikotomik. orang kemudian mempertanyakan praktek sosial Islam yang dianggap tidak komprehensif. dan juga sinkretik. Pertama. http:// my. iman harus mampu menjawab dimensi praksis persoalan keummatan. Setiap aspek kehidupan yang dijalani merupakan refleksi dari prinsip-prinsip tauhid. lebih dari segalanya.(Ade Usman.Com/adieusman/htm) Memilih Islam adalah menjalani suatu pola kehidupan yang utuh dan terpadu (integrated). di bawah prinsip-prinsip tauhid. politik. (Kuntowijoyo. gagasan Tauhid Sosial Syafi’i Ma’arif menggambarkan dua hal: pertama. iman adalah kekuatan yang menjadi pilar utama perjalanan sejarah umat Islam. Manusia memiliki dua kekuatan. Adie Usman Musa mengutip dari Syafi’i Ma’arif. cendekiawan muslim. Tugas ini dibebankan pada rasul. pertama-tama yang harus ia miliki adalah iman. orang yang mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang mereka dalam keadaan beriman maka oleh Allah akan diberikan kehidupan yang baik dan juga akan diberi balasan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (An-Nahl: 97). yaitu pada masa Mekkah tahun-tahun awal. dan menunaikan zakat.opra. Oleh karena itu. maka keduanya harus dijalankan secara seimbang. Artinya. Kuntowojoyo. pada aksi. Oleh sebab itu tauhid juga bisa dibagi dalam dua tahapan dalam aktualisasinya.1996:33). 2006. ‘percaya kepada yang gaib’.menancapkan pilar-pilar kesejarahan Islam. beliau menyebutkan bahwa Tauhid Sosial sebagai dimensi praksis dari resiko keimanan kepada Allah SWT. Dalam perspektif yang berbeda. Dengan memperhatikan ini. politik. (Syulthut. Tauhid adalah pegangan pokok dan sangat menentukan bagi kehidupan manusia. Di dalam ayat tersebut dapat dilihat adanya trilogi iman-shalat-zakat. Praktek kehidupan seperti ini telah ditunjukkan dalam perjalanan kerasulan Muhammad yang diteruskan oleh sebagian generasi setelahnya. Amaliah (tindakan) puncaknya melaksanakan menurut semestinya dalam urusan hidup dan penghidupan. Dalam surah Al-Baqarah ayat kedua misalnya. Dua. disebutkan bahwa agar manusia itu menjadi muttaqin. antara lain Tauhid Sosial. 1994 : 49). bukan hanya tersimpan dalam teks-teks suci. Islam berprinsip pada tauhid. tauhid i'tiqadi ilmi (keyakinan teoritis) dengan tauhid amali suluki (amal perbuatan praktis) atau dengan istilah lain dua ketauhidan yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lain. Kedua bentuk kekuatan tauhid ini mempunyai keterkaitan yang tidak bisa dipisahkan. Islam menolak pola kehidupan yang fragmentatif. pemerintah dan umat yang beriman secara keseluruhan. Doktrin ini sudah sangat dini dideklarasikan Al-Qur’an. Nazairah (penyelidikan) puncaknya adalah mengenal hakekat sesuatu menurut keadaan yang sebenarnya. Praktek sosial Islam ini banyak dibahasakan dengan berbagai istilah. ada juga trilogi iman-ilmu-amal. AM Fatwa menegaskan bahwa setiap perbuatan pribadi akan menyebabkan berbagai implikasi .

Dimaksudkan agar tauhid Ilahiyah dan Rububiyah yang sudah tertanam di kalangan kaum muslimin dan muslimat. Amin Rais dengan sebutan Tauhid Soaial. Tauhid ibadah atau tauhid praktis inilah yang di istilahkan oleh Prof. Dr. Amin Rais mengatakan bahwa yang dimaksud tauhid Sosial adalah dimensi sosial dari Tauhidullah. Dalam konteks inilah Islam disebut sebagai rahmatan li al’alamin.kemasyarakatan. Proses menuju ke arah itu harus dimulai dari penguatan dimensi tauhid. Dan Bahwa Ia Adalah Inti Dakwah Para Rasul Makna Syahadatain. termasuk untuk kemanusiaan. bisa diturunkan lagi kedataran pergaulan sosial. Labels • • • • • • Kitab Kitab Kitab Kitab Kitab Kitab Tauhid Tauhid Tauhid Tauhid Tauhid Tauhid 1 2 3 3 3 3 (29) (6) Bab 1 Bab 2 Bab 3 Bab 4 (5) (11) (6) (4) Kitab Tauhid 1 • • • • • • • • • • • • • • Makna Aqidah Dan Urgensinya Sebagai Landasan Agama Sumber-sumber Aqidah Yang Benar dan Manhaj Salaf dalam Mengambil Aqidah. Tauhid Sosial sebenarnya merupakan perwujudan aksi sosial Islam dalam konteks menjadikannya sebagai rahmatan li al’alamin. maka tanggung jawab pribadi itu memberi akibat adanya tanggung jawab sosial. Dengan melihat penjelasan diatas. 1998: 108) Dengan demikian. Macam Dan Keluasan Cakupannya Paham-Paham Yang Salah Tentang Pembatasan Ibadah Syarat Diterimanya Ibadah . kemudian dimensi epistemik. Inilah yang sering dipahami dari rahasia susunan Al Quran bahwa setiap kali Kitab Suci menyabut kata iman (aamanu) yang merupakan perbuatan peribadi selalu diikuti dengan penyebutan amal saleh (aamilus shalihati) yang merupakan tindakan kemasyarakatan. Rukun. Penyimpangan Aqidah Dan Cara-Cara Penanggulangannya Makna Tauhid Rububiyah dan Kefitrahannya serta Pengakuan Orang-orang Musyrik Terhadapnya. Fatwa. Dr. realitas sosial. lalu masuk dalam dimensi amal berupa praktek sosial kepada sesama manusia. Jika tauhid teoritis dapat melakukan perubahan batiniah dan pembebasan spiritual. ( Rais. Konsekuansi Dan Yang Membatalkannya TaSyRi' Ibadah: Pengertian. Prof. Syarat. Sementara pada saat yang sama melihat manusia sebagai tujuan dari transformasi nilai. Dengan kata lain bahwa Tauhidullah harus diujudkan dalam praktek sosial. rahmat untuk alam semesta. (AM. secara konkrit. maka tauhid praktis dapat melakukan rekonstruksi dan reformasi sosial. Pengertian Rabb Dalam Al-Qur'an Dan As-Sunnah Alam Semesta Dan Fitrahnya Dalam Tunduk Dan Patuh Kepada Allah Manhaj Al-Qur'an Dalam Menetapkan Wujud Dan Keesaan Al-Khaliq Tauhid Rububiyah Mengharuskan Adanya Tauhid Uluhiyah Makna Tauhid Uluhiyah. 2001:51). Islam menjadikan tauhid sebagai pusat dari semua orientasi nilai.

mahabbah (cinta). Di dalam syara'. tetapi makna dan maksudnya satu. tawakkal (ketergantungan). Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi. Sedangkan shalat. raja' (mengharap). raghbah (senang) dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Macam Dan Keluasan Cakupannya Wednesday. Ibadah ialah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Subhannahu wa Ta'ala . Definisi Ibadah Ibadah secara etimologi berarti merendahkan diri serta tunduk. Rasa khauf (takut). Definisi itu antara lain adalah: 1. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak . May 18. ibadah mempunyai banyak definisi. 2005 Kitab Tauhid 1 oleh: Dr. Macam-Macam Dan Dampaknya Bentuk-Bentuk Taqlid Kepada Kuffar Yang Buruk Sikap Pasif Kaum Muslimin Dan Problematikanya Ibadah: Pengertian. Ibadah ialah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para rasulNya. 3. lisan dan badan. Ibadah itu terbagi menjadi ibadah hati. 2. lisan dan anggota badan.• • • • • • • • • • • • • • • Pilar-Pilar Ubudiyah Yang Benar Tingkatan Dien Makna Tauhid Asma' Wa Sifat Dan Manhaj Salaf Di Dalamnya Asma' Husna Dan Sifat Kesempurnaan. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu. Ini adalah definisi ibadah yang paling lengkap. haji dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). yang zhahir maupun yang batin. baik berupa ucapan atau perbuatan. Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Serta Pendapat Golongan Sesat Berikut Bantahannya Buah Tarbiyah Tauhid Asma' Wa Sifat Pada Diri Individu Dan Masyarakat Al-wala' wal bara' Mudahanah dan Mudarah berikut kaitannya dengan al-wala' wal bara' Beberapa Contoh Tentang Setia Dan Memusuhi Karena Allah Menyayangi Dan Memusuhi Para Ahli Maksiat Menyambut Dan Ikut rayakan Hari Raya Atau Pesta Orang Kafir Serta Berbelasungkawa dlm Hari Duka Mereka Hukum Meminta Bantuan Kepada Orang-Orang Kafir Mengutamakan Tinggal Dan Bekerja Di Negara Kafir Hukum Meniru Kaum Kuffar. zakat.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan A. Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan hati.

Ia mencakup semua macam ketaatan yang nampak pada lisan. berbuat baik kepada kerabat. Dan refleksi pancaran dari sifat sempurna dan indahNya bertakhta dalam relung jiwa yang merupakan hasil penjagaan jarak dari hawa nafsu. ibadah mencakup seluruh tingkah laku seorang mukmin jika diniatkan qurbah (mendekatkan diri kepada Allah) atau apa-apa yang membantu qurbah. tidaklah ibadah itu terbatas hanya pada syi'ar-syi'ar yang biasa dikenal. [2] . inabah (kembali) kepadaNya. orang miskin dan ibnu sabil. satu-satunya Dzat yang harus disembah. Dzat yang tidak memerlukan segala sesuatu. jual-beli. bekerja mencari nafkah. zakat. Jadi. karena ketergantungan mereka kepada Allah. serta menggayutkan diri kepada membina dan menghias diri (tahdzib nafs). Wujud Nir-Batas itu. pencipta seluruh wujud. sabar terhadap hu-kumNya. Macam-Macam Ibadah Dan Keluasan Cakupannya Ibadah itu banyak macamnya. tawakkal. jihad. Dan siapa yang hanya menyembahNya dan dengan syari'atNya. mengharap nikmatNya dan takut dari siksaNya. puasa. Tujuan utama ibadah adalah menemukan jalan untuk mendekatkan diri kepada derajat kesempurnaan mutlak dan mutlak sempurna. dan selain-Nya tidak pantas disembah. ikhlas kepadaNya. pemberi seluruh anugerah. Dan sifat ini tidak akan dijumpai selain pada Dzat Nan Kudus. makan. khasyyatullah (takut kepada Allah). yang merupakan Pemilik kesempurnaan mutlak. Bahkan adat kebiasaan (yang mubah) pun bernilai ibadah jika diniatkan sebagai bekal untuk taat kepadaNya. Karena ibadah khusus bagi seseorang yang sempurna mutlak (kamâl mutlaq) dan mutlak sempurna (mutlaq kamâl). hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala. tasbih. Tujuan ini hanya dapat tercapai dengan beribadah kepada Allah swt. anak yatim. Karenanya. shalat. Dan Allah Mahakaya. Siapa yang menyembahNya tetapi dengan selain apa yang disyari'at-kanNya maka ia adalah mubtadi' (pelaku bid'ah). maka dia adalah muk-min muwahhid (yang mengesakan Allah). Berbagai kebiasaan tersebut jika disertai niat baik (benar) maka menjadi bernilai ibadah yang berhak mendapatkan pahala." (Adz-Dazariyat: 56-58) Allah Subhannahu wa Ta'ala memberitahukan. ia adalah sombong. amar ma'ruf nahi mungkar. Begitu pula cinta kepada Allah dan RasulNya. B. anggota badan dan yang lahir dari hati. Seperti tidur. nikah dan sebagainya. Maka siapa yang menolak beribadah kepada Allah. ridha dengan qadha'-Nya. maka mereka menyembahNya sesuai dengan aturan syari'atNya. Seperti dzikir.menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. auhid Ibadah Maksudnya adalah Allah swt. tidak membutuhkan ibadah mereka. haji. akan tetapi merekalah yang membutuhkannya. minum. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. tahlil dan membaca Al-Qur'an.

rang Muslim beriman kepada ketuhanan Allah Ta'ala bagi manusia sejak pertama hingga generasi terakhir, kerububiyahan-Nya terhadap alam semesta, bahwa tidak ada pengaturan dunia selain Dia, dan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia. Oleh karena itu, ia memperuntukkan bagi Allah ibadah-ibadah yang disyariatkan-Nya kepadanya, dan tidak memalingkannya sedikit pun kepada selain Allah. Jika ia minta pertolongan, ia meminta pertolongan kepada Allah. Jika ia bernadzar, ia tidak bernadzar untuk selain Allah. Untuk Allah-lah semua amal perbuatan batinnya, seperti takut, berharap, taubat, cinta, pengagungan, tawakkal, dan amal perbuatan lahiriyahnya seperti shalat, zakat, haji, dan jihad. Itu semua karena dalil-dalil wahyu dan dalil-dalil akal seperti berikut. Dalil-Dalil Wahyu 1. Perintah Allah Ta'ala kepada sikap seperti di atas dalam firman-firman-Nya, seperti firman-firman-Nya berikut ini. o "Sesungguhnya Aku Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengikuti Aku." (Thaha: 14) o "Dan hanya kepada-Kulah kalian harus takut (tunduk)." (Al-Baqarah: 40) o "Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untuk kalian karena itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui." (Al-Baqarah: 21-22) o "Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang benar melainkan Allah." (Muhammad: 19) o "Maka mohonlah perlindungan kepada Allah, sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Fushshilat:36) o "Dan hendaklah orang-orang Mukmin itu bertawakal kepada Allah saja." (AtTaghabun: 13) 2. Penjelasan Allah Ta'ala tentang hal tersebut dalam firman-firman-Nya seperti dalam firman-firman-Nya berikut ini. o "Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thagut'." (An-Nahl: 36) o "Barang siapa ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat dan tidak akan putus." (Al-Baqarah: 256) o "Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwa tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah oleh kalian akan Aku'." (Al-Anbiya': 25) o "Katakanlah, 'Maka apakah kalian menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?'." (Az-Zumar: 64) o "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan." (Al-Fatihah: 5)

"Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu, 'Peringatkanlah oleh kalian, bahwa tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kalian bertakwa kepada-Ku'." (An-Nahl: 2) 3. Penjelasan Rasulullah saw. tentang hal tersebut dalam hadits-haditsnya, seperti dalam hadits-haditsnya berikut ini. o Sabda Rasulullah saw. kepada Muadz bin Jabal r.a. yang beliu utus ke Yaman, "Hendaklah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka ialah hendaknya mereka beribadah kepada Allah Ta'ala." (Muttafaq Alaih). o Sabda Rasulullah saw. kepada Muadz bin Jabal r.a., "Hai Muadz, apa hak Allah atas hamba-hamba?" Muadz bin Jabal menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Rasulullah saw. bersabda, "Yaitu hendaknya mereka beribadah kepada-Nya, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun." (Diriwayatkan An-Nasai dan ia men-shahih-kannya). o Sabda Rasulullah saw. kepada Abdullah bin Abbas Radhiyallahu 'Anhuma, "Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Dan jika engkau minta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah." (Diriwayatkan At-Tirmidzi). o "Sesuatu yang paling aku khawatirkan pada kalian ialah syirik kecil." Para sahabat bertanya, "Apa yang dimaksud dengan syirik kecil, wahai Rasulullah?" Rasulullah saw. menjawab, "Riya'. Pada hari kiamat Allah berfirman setelah membalas manusia dengan amal perbuatan mereka, Pergilah kepada orangorang yang kalian lakukan riya' di dunia, kemudian lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?" (Diriwayatkan Ahmad dari banyak jalur dan hadits ini hasan). o "Bukankah mereka menghalalkan bagi kalian apa yang diharamkan Allah bagi kalian kemudian kalian juga menghalalkannya dan mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah kemudian kalian juga mengharamkannya?" Orang-orang menjawab, "Ya betul." Rasulullah saw. bersabda, "Itulah bentuk ibadah mereka kepadanya." (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan ia meng-hasan-kannya). Sabda di atas diucapkan Rasulullah saw. kepada Adi bin Hatim ketika ia mendengar firman Allah Ta'ala, "Mereka menjadikan pendeta-pendeta, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah." Kemudian Adi bin Hatim berkata, "Wahai Rasulullah, kita tidak menyembah mereka." o "Sesungguhnya permintaan tolong itu tidak kepadaku, namun permintaan tolong itu kepada Allah." (Diriwayatkan Ath-Thabrani. Hadits ini hasan). Sabda di atas diucapkan Rasulullah saw. setelah sebagian sahabat berkata kepada sebagian sahabat yang lain, "Mari kita minta tolong kepada Rasulullah saw. dari orang munafik yang mengganggu kita." o "Barang siapa bersumpah dengan selain Allah, ia telah melakukan syirik." (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan ia meng-hasan-kannya). o "Sesungguhnya mantra, jimat, dan guna-guna adalah syirik." (Diriwayatkan Ahmad, Abu Daud, dan lain sebagainya. Hadits ini hasan).
o

Dalil-Dalil Akal

1. Kesendirian Allah Ta'ala dalam penciptaan makhluk, pemberian rizki, dan pengurusan alam semesta mengharuskan manusia beribadah kepada-Nya saja, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. 2. Semua makhluk membutuhkan Allah Ta'ala. Jadi, tidak satu pun dari makhluk-makhluk pantas menjadi Tuhan yang disembah bersama Allah Ta'ala. 3. Sesuatu yang tidak mampu memberi pertolongan atau perlindungan tidak berhak untuk dimintai kepadanya pertolongan, bernadzar untuknya, bergantung atau bertawakkal kepadanya. Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 65-70.

Jabariyah & Qadariyah
BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Persoalan Iman (aqidah) agaknya merupakan aspek utama dalam ajaran Islam yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad. Pentingnnya masalah aqidah ini dalam ajaran Islam tampak jelas pada misi pertama dakwah Nabi ketika berada di Mekkah. Pada periode Mekkah ini, persoalan aqidah memperoleh perhatian yang cukup kuat dibanding persoalan syari’at, sehingga tema sentral dari ayat-ayat al-Quran yang turun selama periode ini adalah ayat-ayat yang menyerukan kepada masalah keimanan.[[1]] Berbicara masalah aliran pemikiran dalam Islam berarti berbicara tentang Ilmu Kalam. Kalam secara harfiah berarti “kata-kata”. Kaum teolog Islam berdebat dengan kata-kata dalam mempertahankan pendapat dan pemikirannya sehingga teolog disebut sebagai mutakallim yaitu ahli debat yang pintar mengolah kata. Ilmu kalam juga diartikan sebagai teologi Islam atau

perbedaan itu demikian tampak melalui perdebatan aliran-aliran kalam yang muncul tentang berbagai persoalan. Secara teoritis. Perbedaan itu kemudian memunculkan berbagai macam aliran. TOPIK PEMBAHASAN a. kedudukan wahyu dan akal. Tetapi patut dicatat bahwa perbedaan yang ada umumnya masih sebatas pada aspek filosofis diluar persoalan keesaan Allah. Misalnya tentang kekuasaan Allah dan kehendak manusia.[[2]] Perbedaan teologis di kalangan umat Islam sejak awal memang dapat mengemuka dalam bentuk praktis maupun teoritis. Khawarij. para malaikat. seiring dengan perjalanan waktu.ushuluddin. Akan tetapi perselisihan politik ini. B. meningkat menjadi persoalan teologi. ilmu yang membahas ajaran-ajaran dasar dari agama. hari akhir dan berbagai ajaran nabi yang tidak mungkin lagi ada peluang untuk memperdebatkannya. b. keadilan Tuhan. f. Syiah. Perbedaan yang pertama muncul dalam Islam bukanlah masalah teologi melainkan di bidang politik. keimanan kepada para rasul. c. Mencakup di dalamnya adalah latar belakang lahirnya sebuah aliran dan ajaranajarannya secara umum. Mempelajari teologi akan memberi seseorang keyakinan yang mendasar dan tidak mudah digoyahkan. Jabariyah dan Qadariyah serta aliran-aliran lainnya. Aliran Jabariyah Ajaran-ajaran Jabariyah Aliran Qadariyah Aliran Jabariyah Ajaran-ajaran Qadariyah Refleksi Faham Qadariyah dan Jabariyah : Sebuah Perbandingan tentang Musibah BAB II . Makalah ini akan mencoba menjelaskan aliran Jabariyah dan Qadariyah. yaitu Mu'tazilah. d. Dalam makalah ini penulis hanya menjelaskan secara singkat dan umum tentang aliran Jabariyah dan Qadariyah. e. Munculnya perbedaan antara umat Islam.

PEMBAHASAN a. Sedangkan secara istilah Jabariyah adalah menolak adanya perbuatan dari manusia dan menyandarkan semua perbuatan kepada Allah. Di dalam kamus Munjid dijelaskan bahwa nama Jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu. Ada yang mengistilahlkan bahwa Jabariyah adalah aliran manusia menjadi wayang dan Tuhan sebagai dalangnya.[[6]] yang bersamaan dengan munculnya aliran Qadariayah. Dengan kata lain adalah manusia mengerjakan perbuatan dalam keadaan terpaksa (majbur).[[5]] Adapaun tokoh yang mendirikan aliran ini menurut Abu Zaharah dan al-Qasimi adalah Jahm bin Safwan.[[4]] Adapun mengenai latar belakang lahirnya aliran Jabariyah tidak adanya penjelelasan yang sarih. Salah satu sifat dari Allah adalah al-Jabbar yang berarti Allah Maha Memaksa. karena tidak memiliki kemampuan. Di tengah bumi yang disinari terik matahari dengan air yang sangat sedikit dan udara yang panas ternyata dapat tidak memberikan kesempatan bagi tumbuhnya pepohonan dan suburnya tanaman. Ketika itu para ulama membicarakan tentang masalah Qadar dan kekuasaan manusia ketika berhadapan dengan kekuasaan mutlak Tuhan. di sini manusia tidak mempunyai kebebasan dalam berbuat. Abu Zahra menuturkan bahwa paham ini muncul sejak zaman sahabat dan masa Bani Umayyah. ALIRAN JABARIYAH (FATALISM/PREDESTINATION) Latar Belakang Lahirnya Jabariyah Secara bahasa Jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung pengertian memaksa. tapi yang tumbuh . Kehidupan bangsa Arab yang diliputi oleh gurun pasir sahara telah memberikan pengaruh besar dalam cara hidup mereka. Maksudnya adalah bahwa setiap perbuatan yang dikerjakan manusia tidak berdasarkan kehendak manusia. tapi diciptakan oleh Tuhan dan dengan kehendak-Nya. [[3]] Menurut Harun Nasution Jabariyah adalah paham yang menyebutkan bahwa segala perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh Qadha dan Qadar Allah. Pendapat yang lain mengatakan bahwa paham ini diduga telah muncul sejak sebelum agama Islam datang ke masyarakat Arab.

Mendengar itu Umar kemudian marah sekali dan menganggap orang itu telah berdusta. Orang tua itu bertanya. Nabi melarang mereka untuk memperdebatkan persoalan tersebut. Artinya mereka banyak tergantung dengan Alam. dalam Alquran sendiri banyak terdapat ayat-ayat yeng menunjukkan tentang latar belakang lahirnya paham Jabariyah. c. diantaranya: Selain ayat-ayat Alquran di atas benih-benih faham al-Jabar juga dapat dilihat dalam beberapa peristiwa sejarah: a.[[7]] Harun Nasution menjelaskan bahwa dalam situasi demikian masyarakat arab tidak melihat jalan untuk mengubah keadaan disekeliling mereka sesuai dengan kehidupan yang diinginkan. Khalifah Umar bin al-Khaththab pernah menangkap seorang pencuri.[[8]] Terlepas dari perbedaan pendapat tentang awal lahirnya aliran ini. Pahala dan siksa akan didapat berdasarkan atas amal perbuatan manusia. yaitu: hukuman potongan tangan karena mencuri dan hukuman dera karena menggunakan dalil takdir Tuhan. tidak ada pahala sebagai balasannya. Ketika diintrogasi. Kalau itu sebuah paksaan. b. Suatu ketika Nabi menjumpai sahabatnya yang sedang bertengkar dalam masalah Takdir Tuhan. Mereka merasa lemah dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup. maka tidak ada pahala dan siksa. agar terhindar dari kekeliruan penafsiran tentang ayat-ayat Tuhan mengenai takdir. pencuri itu berkata "Tuhan telah menentukan aku mencuri". sehingga menyebabakan mereka kepada paham fatalisme. Ketika Khalifah Ali bin Abu Thalib ditanya tentang qadar Tuhan dalam kaitannya dengan siksa dan pahala. gugur pula janji dan .hanya rumput yang kering dan beberapa pohon kuat untuk menghadapi panasnya musim serta keringnya udara. Oleh karena itu Umar memberikan dua jenis hukuman kepada orang itu."apabila perjalanan (menuju perang siffin) itu terjadi dengan qadha dan qadar Tuhan. Kemudian Ali menjelaskannya bahwa Qadha dan Qadha Tuhan bukanlah sebuah paksaan.

telalu tekstualnya pamahaman agama tanpa adanya keberanian menakwilkan dan ketiga adalah adanya aliran salaf yang ditokohi Muqatil bin Sulaiman yang berlebihan dalam menetapkan sifat-sifat Tuhan sehingga membawa kepada Tasybih. [[11]] c. kalam Tuhan. yaitu ekstrim dan moderat.[[10]] Dengan demikian. latar belakang lahirnya aliran Jabariyah dapat dibedakan kedalam dua factor. adanya paham Qadariyah. Ajaran-ajaran Jabariyah Adapun ajaran-ajaran Jabariyah dapat dibedakan menjadi dua kelompok. yaitu factor yang berasal dari pemahaman ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari Alquran dan Sunnah. keduanya. dan melihat Tuhan di akherat. Adanya paham Jabar telah mengemuka kepermukaan pada masa Bani Umayyah yang tumbuh berkembang di Syiria. Adapun yang menjadi dasar munculnya paham ini adalah sebagai reaksi dari tiga perkara: pertama. Ia tidak mempunyai daya. tidak mempunyai kehendak sendiri. aliran ekstrim. yang mempunyai paham yang mengarah kepada Jabariyah. Pertama.ancaman Allah. Pendapat Jahm tentang keterpaksaan ini lebih dikenal dibandingkan dengan pendapatnya tentang surga dan neraka.[[9]] Di samping adanya bibit pengaruh faham jabar yang telah muncul dari pemahaman terhadap ajaran Islam itu sendiri. Lebih dari itu adalah adanya pengaruh dari luar Islam yang ikut andil dalam melahirkan aliran ini. d. Surga dan . dan tidak pujian bagi orang yang baik dan tidak ada celaan bagi orang berbuat dosa. meniadakan sifat Tuhan. dan tidak mempunyai pilihan. Di antara tokoh adalah Jahm bin Shofwan dengan pendapatnya adalah bahwa manusia tidak mempu untuk berbuat apa-apa. yaitu pengaruh agama Yahudi bermazhab Qurra dan agama Kristen bermazhab Yacobit. konsep iman. Ada sebuah pandangan mengatakan bahwa aliran Jabar muncul karena adanya pengaruh dari dari pemikriran asing.

terikat dengan kekuasaan dan kehendak Tuhan. tidak seperti wayang yang dikendalikan oleh dalang dan tidak pula menjadi pencipta perbuatan. dan melihat. Tokoh yang berpaham seperti ini adalah Husain bin Muhammad an-Najjar yang mengatakan bahwa Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia. ALIRAN QADARIYAH ( FREE WILL AND FREE ACT( . Allah tidak mempunyai keserupaan dengan manusia seperti berbicara. mendengar. dan hal ini sama dengan konsep yang dikemukakan oleh kaum Murjiah. tetapi manusia memperoleh perbuatan yang diciptakan tuhan. Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk. Seluruh tindakan dan perbuatan manusia tidak boleh lepas dari scenario dan kehendak Allah. baik dan buruk yang diterima oleh manusia dalam perjalanan hidupnya adalah merupakan ketentuan Allah. ajaran Jabariyah yang moderat adalah Tuhan menciptakan perbuatan manusia. dan yang kekal hanya Allah. tidak mempunyai kehendak dan kemauan bebas sebagaimana dimilki oleh paham Qadariyah. baik itu positif atau negatif.[[13]] Ja'ad bin Dirham. melihat dan mendengar. Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala hal.nerka tidak kekal.[[15]] C. menjelaskan tentang ajaran pokok dari Jabariyah adalah Alquran adalah makhluk dan sesuatu yang baru dan tidak dapat disifatkan kepada Allah. tidak berdaya. Kedua. Segala akibat. Sedangkan iman dalam pengertianya adalah ma'rifat atau membenarkan dengan hati. Tenaga yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya. tetapi manusia mengambil bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu dan Tuhan tidak dapat dilihat di akherat. Sedangkan adhDhirar (tokoh jabariayah moderat lainnya) pendapat bahwa Tuhan dapat saja dilihat dengan indera keenam dan perbuatan dapat ditimbulkan oleh dua pihak.[[12]] Aliran ini dikenal juga dengan nama al-Jahmiyyah atau Jabariyah Khalisah. tetapi manusia mempunyai bagian di dalamnya. Manusia juga tidak dipaksa. seperti berbicara. Kalam Tuhan adalah makhluk. dan Tuhan juga tidak dapat dilihat dengan indera mata di akherat kelak.[[14]] Dengan demikian ajaran Jabariyah yang ekstrim mengatakan bahwa manusia lemah.

Sementara W. Namanya adalah Susan. Aliran ini lebih menekankan atas kebebasan dan kekuatan manusia dalam mewujudkan perbutan-perbutannya.[[19]] Ditinjau dari segi politik kehadiran mazhab Qadariyah sebagai isyarat menentang politik Bani Umayyah. Hadariansyah. Akan tetepi menurut Ahmad Amin. Adapun secara termenologi istilah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diinrvensi oleh Allah. berasal dari bahasa Arab. yakni baik dan buruk. mencakup semua perbuatan. Manusia mampu melakukan perbuatan. bahkan pada zaman Abdul Malik bin Marwan pengaruh Qadariyah dapat dikatakan .[[16]] Menurut Ahmad Amin sebagaimana dikutip oleh Dr. Harun Nasution menegaskan bahwa aliran ini berasal dari pengertian bahwa manusia mempunyai kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya. dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan. [[18]] Ibnu Nabatah menjelaskan dalam kitabnya. sebagaimana yang dikemukakan oleh Ahmad Amin.[[17]] Sejarah lahirnya aliran Qadariyah tidak dapat diketahui secara pasti dan masih merupakan sebuah perdebatan. Montgomery Watt menemukan dokumen lain yang menyatakan bahwa paham Qadariyah terdapat dalam kitab ar-Risalah dan ditulis untuk Khalifah Abdul Malik oleh Hasan al-Basri sekitar tahun 700M. Aliran-aliran ini berpendapat bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya. demikian juga pendapat Muhammad Ibnu Syu’ib. kemudian masuk Islam dan kembali lagi ke agama Kristen. yaitu qadara yang bemakna kemampuan dan kekuatan. aliran Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh orang Irak yang pada mulanya beragama Kristen. ada sebagian pakar teologi yang mengatakan bahwa Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh Ma’bad al-Jauhani dan Ghilan ad-Dimasyqi sekitar tahun 70 H/689M. karena itu kehadiran Qadariyah dalam wilayah kekuasaanya selalu mendapat tekanan. orang-orang yang berpaham Qadariyah adalah mereka yang mengatakan bahwa manusia memiliki kebebasan berkehendak dan memiliki kemampuan dalam melakukan perbuatan. ia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri.Latar Belakang Lahirnya Aliran Qadariyah Pengertian Qadariyah secara etomologi.

Misalnya manusia ditakdirkan oleh Tuhan tidak mempunyai sirip seperti ikan yang mampu berenang di lautan lepas. Oleh karena itu. orang yang berbuat akan mendapatkan balasannya sesuai dengan tindakannya. dan dengan daya itu ia dapat berkuasa atas segala perbuatannya.[[20]] d. . Karena itu sangat pantas. Ganjaran kebaikan di sini disamakan dengan balasan surga kelak di akherat dan ganjaran siksa dengan balasan neraka kelak di akherat. Secara alamiah sesungguhnya manusia telah memiliki takdir yang tidak dapat diubah. Tokoh an-Nazzam menyatakan bahwa manusia hidup mempunyai daya. sejak azali. Ajaran-ajaran Qadariyah Harun Nasution menjelaskan pendapat Ghalian tentang ajaran Qadariyah bahwa manusia berkuasa atas perbuatan-perbutannya. yaitu hokum yang dalam istilah Alquran adalah sunnatullah. sebab dalam perkembangan selanjutnya ajaran Qadariyah itu tertampung dalam Muktazilah. Manusia sendirilah yang melakukan perbuatan baik atas kehendak dan kekuasaan sendiri dan manusia sendiri pula yang melakukan atau menjauhi perbuatan-perbutan jahat atas kemauan dan dayanya sendiri. baik berbuat baik maupun berbuat jahat. Manusia dalam demensi fisiknya tidak dapat bebruat lain. yaitu paham yang mengatakan bahwa nasib manusia telah ditentukan terlebih dahulu. Manusia mempunyai kewenangan untuk melakukan segala perbuatan atas kehendaknya sendiri. manusia hanya bertindak menurut nasib yang telah ditentukan sejak azali terhadap dirinya.[[22]] Faham takdir yang dikembangkan oleh Qadariyah berbeda dengan konsep yang umum yang dipakai oleh bangsa Arab ketika itu. kecuali mengikuti hokum alam. Dengan demikian takdir adalah ketentuan Allah yang diciptakan-Nya bagi alam semesta beserta seluruh isinya. Demikian juga manusia tidak mempunyai kekuatan seperti gajah yang mampu membawa barang seratus kilogram. itu didasarkan atas pilihan pribadinya sendiri. bukan oleh takdir Tuhan.[[21]] Dengan demikian bahwa segala tingkah laku manusia dilakukan atas kehendaknya sendiri.lenyap tapi hanya untuk sementara saja. ia berhak mendapatkan pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan juga berhak pula memperoleh hukuman atas kejahatan yang diperbuatnya. Dalam perbuatannya.

Dengan pemahaman seperti ini tidak ada alasan untuk menyandarkan perbuatan kepada Allah. (QS. Al-Kahfi : 29). Fush-Shilat : 40). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.Ali Imran :165)               . Di antara dalil yang mereka gunakan adalah banyak ayat-ayat Alquran yang berbicara dan mendukung paham itu :      Artinya : “Kerjakanlah apa yang kamu kehendaki sesungguhnya Ia melihat apa yang kamu perbuat”. kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". (QS. Padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar). barang siapa yang mau beriman maka berimanlah dan barang siapa yang mau kafir maka kafirlah”.                           Artinya : “dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud).                    Artinya : “Katakanlah kebenaran dari Tuhanmu. (QS.

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka. Pada paham Jabariyah semangat melakukan investigasi sangat kecil. Pada perkembangan selanjutnya. Kedua paham teologi Islam tersebut melandaskan diri di atas dalil-dalil naqli (agama) . pada paham Qadariyah. karena semua peristiwa dipandang sudah kehendak dan dilakukan oleh Allah. misalnya. Dalam paham Qadariyah. Kedua paham teologi Islam tersebut membawa efek masing-masing.dan aqli (argumen pikiran). Di negeri-negeri kaum Muslimin. paham Jabariyah disebut juga sebagai paham tradisional dan konservatif dalam Islam dan paham Qadariyah disebut juga sebagai paham rasional dan liberal dalam Islam. Kedua paham itu dapat dicermati pada suatu peristiwa yang menimpa dan berkaitan dengan perbuatan manusia. . Sedang yang berpaham Qadariyah akan menjawab. semangat investigasi amat besar. berkaitan dengan perbuatannya. berkaitan dengan perbuatannya. seperti di Indonesia. yang berpaham Qadariyah condong mencari tahu di mana letak peranan manusia pada kecelakaan itu. yang dominan adalah paham Jabariyah. bukan Allah.] yang ada pada diri mereka sendiri”. karena semua peristiwa yang berkaitan dengan peranan (perbuatan) manusia harus dipertanggungjawabkan oleh manusia melalui suatu investigasi. Sedang. selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka. Bagi yang berpaham Jabariyah biasanya dengan enteng mengatakan bahwa kecelakaan itu sudah kehendak dan perbuatan Allah.sesuai pemahaman masing-masing atas nash-nash agama (Alquran dan hadits-hadits Nabi Muhammad) . Orang Muslim yang berpaham Qadariyah merupakan kalangan yang terbatas atau hanya sedikit dari mereka. bahwa perbuatan manusia ditentukan dan dikerjakan oleh manusia. kecelakaan pesawat terbang.Ar-R’d :11) e. Sedang. manusia digambarkan sebagai berkuasa penuh untuk menentukan dan mengerjakan perbuatannya. manusia digambarkan bagai kapas yang melayang di udara yang tidak memiliki sedikit pun daya untuk menentukan gerakannya yang ditentukan dan digerakkan oleh arus angin. (QS. Refleksi Faham Qadariyah dan Jabariyah : Sebuah Perbandingan tentang Musibah Dalam paham Jabariyah.

dengan memotret lewat satelit kawasan yang dilanda musibah. juga adalah makhluk yang harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Sedang hikmat yang dimaksud hanya berupa pengakuan dosa-dosa dan hidup selanjutnya tanpa mengulangi dosa-dosa. Dalam hal musibah gempa dan tsunami baru-baru ini.Dengan demikian. ilmu pengetahuan lebih pasti berkembang di dalam paham Qadariyah ketimbang Jabariyah. karena menyikapinya sebagai kehendak dan perbuatan Allah. namun mengajukan pertanyaan yang harus dijawab : adakah andil manusia di dalam "mengganggu" ekosistem kehidupan yang menyebabkan alam "marah" dalam bentuk gempa dan tsunami? Untuk itu. paham Qadariyah membenarkan suatu investigasi (pencaritahuan). Akibat dari perbedaan sikap dan posisi itu. Sedang bagi yang berpaham Qadariyah. sudah cukup bila tindakan membantu korban dan memetik "hikmat" sudah dilakukan. BABIII KESIMPULAN Menurut penulis solusi terhadap pandangan aliran Jabariyah dan Qodariyah yaitu bahwa manusia benar-benar memiliki kebebasan berkehendak dan karenanya ia akan dimintai . bagi yang berpaham Jabariyah. misalnya. dalam paham Qadariyah. Posisi manusia demikian tidak terdapat di dalam paham Jabariyah. meski gempa dan tsunami tidak secara langsung menunjuk perbuatan manusia. selain manusia dinyatakan sebagai makhluk yang merdeka.

Hal ini menunjukkan betapa terbukanya kemungkinan perbedaan pendapat dalam Islam. Ilmu Kalam. terutama dalam langkah awal menyampaikan dakwah Islam sehingga dapat merangkul berbagai golongan Islam yang masih memerlukan pengayoman. Dari keterangan ajaran-ajaran Jabariyah dan Qodariyah tersebut di atas yang terpenting harus kita pahami bahwa mereka (Jabariyah dan Qodariyah) mengemukakan alasan-alasan dan dalil-dalil serta pendapat yang demikian itu dengan maksud untuk menghindarkan diri dari bahaya yang akan menjerumuskan mereka ke dalam kesesatan beragama dan mencapai kemuliaan dan kesucian Allah SWT dengan sesempurna-sempurnanya. Demikian makalah dari kami yang berjudul “Jabariyah dan Qodariyah” kritik dan saran yang konstruktif sangat kami harapkan demi perbaikan di masa mendatang. 2006). keimanan dan juga kekufuran. baik Qadariyah ataupun Jabariyah nampaknya memperlihatkan paham yang saling bertentangan sekalipun mereka sama-sama berpegang pada Alquran. Yusran. 1996) . kursi atau jendela tidak akan tercapai tanpa adanya kayu sementara kayu tersebut yang membuat adalah Allah SWT. mereka pun tentu akan mencari jalan dan dalil-dalil lain yang lebih tepat.pertanggungjawaban atas keputusannya. Dengan kata lain. Rosihan. Anwar. Penghindaran itu pun tidak mutlak dan tidak selama-lamanya. ditambah pula dengan sifat wahdaniat-Nya. ketaatan dan juga ketidaktaatan. (Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2. Sebagai penutup dalam makalah ini. Kedua aliran. Dirasah Islamiyah: Pengantar Studi Sejarah Kebudayaan Islam dan Pemikiran. kebebasan berkehendak manusia tidak dapat tercapai tanpa campur tangan Allah SWT. seperti seseorang yang ingin membuat meja. Dalam masalah Iman dan Kufur ajaran Jabariyah yang begitu lemah tetap bisa diberlakukan secara temporal. cet ke-2 Asmuni. meskipun demikian keputusan tersebut pada dasarnya merupakan pemenuhan takdir (ketentuan) yang telah ditentukan. DAFTAR PUSTAKA 1. Sementara bagi Qodariyah manusia adalah pelaku kebaikan dan juga keburukan. (Bandung: Puskata Setia. Di samping itu pendapat-pendapat Jabariyah sebenarnya didasarkan karena kuatnya iman terhadap qudrot dan irodat Allah SWT. bahkan jika dirasanya akan berbahaya pula.

Studi Ilmu-ilmu Alqur'an. (Bangil: alIzzah. Kuliah Ilmu Kalam. Ali Syami. 1998) 9. Nata. Enseklopedi Islam. (Jakarta: Bulan Bintang. 2008) 5. Koreksi atas Pemikiran Kalam dan Filsafat Islam. (Jakarta: Raja Grafindo Persada. Nasy'at al-Fikr al-Falsafi fi al-Islam. 1977) 8. Harun. 2002) 6. Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Ahmad. 2004) 10. 1997) Hadariansyah. al-Milal wa an-Nihal. Filsafat dan Tasawuf. (Cairo: Dar al-Ma'arif.th) 11. Nasution. asy-Syahrastani. mula-mula muncul permasalahan tentang kebebasan dan keterpaksaan manusia (al-jabr wa al-ikhtiyar). Abudin. (Jakarta: Litera AntarNusa. al-Qaththan. Ilmu Kalam. 1986).3. 1997) ← Mu’tazilah Murji’ah → Jabariyah dan Qadariyah 16 January 2009 by Kangsata Leave a Comment Terkait qada’ dan qadar. an-Nasyar. Pemikiran seputar masalah ini melahirkan dua kutub pemikiran ekstrim yang berbeda. (Banjarmasin: Antasari Press. diterjemahkan dari "Mabahits fi Ulum al-Qur'an. Faham Jabariyah pertama kali dipopulerkan oleh Ja’d bin Dirham di Basrah yang intinya menafikan adanya perbuatan otonom . Manna Khalil. t. Pemikiran-pemikiran Teologi dalam Sejarah Pemikiran Islam. (Jakarta: UI-Press. Maghfur. Daudy. (Beirut-Libanon: Dar al-Kurub al-'Ilmiyah. cet ke-5 7. "Jabariyah" (Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve. AB. Muhammad ibn Abd al-Karim. 4. Muhammad. Tim. yaitu Jabariyah dan Qadariyah.

Jahm juga mengembangkan pemikiranpemikiran lain seperti mengemukakan pendapat bahwa surga dan neraka bersifat fana. kehendak maupun usahanya sendiri. Sedangkan faham Qadariyah dengan tokoh utamanya Ma’bad bin Khalid al-Juhani dan Ghailan al-Dimasyqi menyatakan bahwa semua perbuatan manusia adalah karena kehendaknya sendiri. Dalam pendapatnya. Di samping menerima ide jabariyah. iman adalah ma’rifah dan kekufuran adalah jahl. perbuatan manusia berada di luar ruang lingkup kekuasaan atau campur tangan Allah. Ide jabariyah ini kemudian terpelihara dalam gerakan pemikiran muridnya yaitu Jahm bin Shafwan. . bebas dari kehendak Allah. kalam Allah bersifat tidak qadim. yang kepadanya dinisbatkan aliran Jahmiyah. Allah bukan sesuatu dan tidak bisa dilihat pada hari kiamat.seorang hamba dengan menyandarkan semuanya kepada Allah. Jadi. manusia digambarkan tidak memiliki sifat kesanggupan yang hakiki sehingga segala perbuatannya (baik ketaatan atau kemaksiatan) pada dasarnya adalah keterpaksaan (majburah) karena tidak berasal dari kekuasaan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful