Fungsi Wahyu

Menggali dan meneliti kembali asa hidup dan pandangan hidup Islam, kita perlu membuka Al Kitab, mengetahui kehendak dan fungsi Wahyu dalam tata-kehidupan manusia dan mengendalikan kemanusaan sesuai dengan pola dan formula Al-Chalik Maha Pencipta Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.
Rangkaian wahyu yang kita angkat dibawah ini, adalah meletakkan tangga tempat naik untuk mengenal hakekat (Ma’rifatul-hakekat), apa tujuan dan sengaja Ilahy menciptakan Hidup dan membuat halaman kemanusiaan bercahaya diatas buminya. Wahai manusia sekalian ! Sesungguhnya telah datang kepada kamu satu keterangan dari Tuhan kamu, dan Kami telah turunkan kepadamu satu cahaya yang nyata. Maka adapun mereka yang beriman kepada Allah dan berpegang kepada Al Qur-an itu, Tuhan akan memasukkan mereka didalam rahmat dan Karunia dari padaNya, dan Ia akan memimpin mereka kejalan yang lurus yang akan menyampaikan mereka kepadaNya. (QS. Annisaa’: 175-176) Wahai ahli kitab ! Sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menerangkan kepada kamu banyak sekali dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan ia (Rasul itu) tidak memperdulikan banyak lagi kesalahan kamu. Sesungguhnya telah datang kepada kamu dari Allah Cahaya dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itu, Allah memimpin orang yang menurut keridlaanNya dijalan keselamatan, dan Kitab itu mengeluarkan mereka daripada belenggu kegelapan kepada cahaya terang dengan idzinNya, dan kitab itu memimpin mereka kejalan yang lurus. (QS. Al Maidah : 15-16) Ini suatu kitab yang kami turunkan kepada kamu, supaya engkau keluarkan manusia dari kungkungan kegelapan kepada Cayaha dengan idzin Tuhan mereka, kejalan Tuhan Yang Maha Gagah, Maha Terpuji. (QS. Ibrahim : 1) Tidak kami turunkan kepadamu Qur-an, supaya engkau jadi susah dan gelisah. Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut. Diturunkan dari Tuhan yang menjadikan bumi serta langit-langit yang tinggi. Barang siapa yang berpaling dari pada peringatan, maka adalah baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengabulkan dia pada hari Qiyamat dalam keadaan buta. Ia berkata : “Wahai Tuhanku ! Mengapakah Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulunya aku adalah orang yang melek” Ia (Allah) menjawab : “Begitulah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, tetapi engkau lupakan dia, dan begitulah hari ini engkau dilupakan. Dan begitulah Kami balas orang yang melewati batas, dan tidak ber Iman kepada ayat-ayat Tuhannya, Dan sesungguhnya ‘adzab Achirat lebih pedih dan lebih kekal. (QS. Thaha : 2-4, 124-127) Allah sediakan untuk mereka siksa yang keras, maka hendaklah kamu berbakti kepada Allah, wahai manusia yang berfikir, yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan kepadamu satu peringatan. Yaitu seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang nyata untuk mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dari belenggu gelap kepada Cahaya terang. Barang siapa ber-Iman kepada Allah dan menjalankan shaleh, pasti Dia masukkan ia kedalam syurga yang mengalir padanya sungai-sungai, dan mereka kekal didalamnya selama-lamanya, sesungguhnya Allah telah menyempurnakan karunia baginya (QS. Atthalaq : 10-11)

Ialah yang menurunkan atas hambaNya perintah yang nyata dan jelas, karena Ia hendak melepaskan kamu dari belenggu kegelapan kepada Cahaya terang, sesungguhnya Allah itu belas kasihan kepada kamu. ( QS. Al Hadied : 9 )

Rangkaian wahyu yang dikemukakan diatas, adalah fundasi-landasan untuk memahamkan apa fungsi dan arti Risalah yang kita bawa ketengah-tengah dunia untuk berbicara dan berkata dalam gelanggang dan halaman kemanusiaan.
Persoalan zaman kita bukanlah lagi berkisar pada ada atau tiadanya Tuhan, tetapi berkisar kepada Tuhan yang mana yang wajib disembah dan di tha’ati. Bukan lagi berkisar kepada perlu atau tidak perlunya agama, tetapi berkisar kepada Agama yang bagaimana yang sanggup menjawab dan memecahkan persoalan dan tuntutan kemanusiaan, agama yang dapat dijadikan anutan dan pegangan. Bukan lagi berkisar pada perlu atau tidaknya Iman dan kepercayaan, tapi berkisar kepada kepercayaan dan keyakinan yang bagaimana yang sesuai dengan Fithrah-Insaniyyah, dasar kemanusiaan yang asli dan murni. Susunan filsafat demi susunan filsafat, ternyata tidak mampu menyiram kemanusiaan dan kehidupan yang kering dan layu. Filsafat ternyata tidak mampu memecahkan rahasia dan misteria hidup, menunjukkan tujuan hidup kepada manusia. Da’wah Islam langsung datang kepada fithrah-Insaniyyah, membuka matahati dan nurani kemanusiaan. Sebagaimana mata biasa tidak mungkin dapat melihat dan menikmati warna yang indah tanpa mata yang dapat melihat, demikian pula matahati dan nurany kemanusiaan tidak akan mampu melihat dan menggunakan hikmah-keagungan Ilahy, tanpa adanya Nur dan Cahaya Wahyu dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Nur dan cahaya Wahyu tidak mungkin pula akan dapat ditangkap oleh hati yang buta dan kemanusiaan yang telah ternoda. Menyambung cahaya besar dengan cahaya kecil, menyambungkan Cahaya Ilahy dengan nurani kemanusiaan, itulah pokok tugas Da’wah Islam dalam arti yang umum. Persoalan kemanusiaan zaman kita demikian menyeluruhnya dan penuhnya. Hanyalah dengan berpedoman kepada Al-Kitab, berpedoman kepada Wahyu, Ideologi Da’wah Islam akan mampu menjawab dan memecahkan persoalan yang penuh dan menyeluruh itu. Muhammad Ali Jinnah pembangun Negara Islam Pakistan itu pernah berkata :

Bahwasannya Islam itu bukan hanya sekedar rentetan upacara ibadah belaka, tetapi adalah satu hukum, satu syari’at yang maha sempurna, mengatur peri kehidupan dan memberikan kesejahteraan kepada pribadi dan masyarakat.
Agama kita yang hanief itu adalah agama yang mahasempurna, diatasnyalah kita hidup menurut ajaran-ajarannya yang luhur, maka sukses-berhasilnya kita bergantung kepada kesediaan dan kerelaan kita mengikuti ajaran-ajaran emas ini, yang dibawa oleh Al Quranul karim dan ditafsirkan oleh Nabi yang besar dengan ucapan dan perbuatannya.

Al Ustadzul Imam Prof. Syech Muhammad Abduh dalam Muqadimah Tafsirnya (Al-Hakiem) menulis :

....... saya yakin sungguh, sebab kelumpuhan dan kelemahan kaum Muslimin adalah oleh karena mereka telah berpaling dari pimpinan Al-Qur-an. Kemuliaan mereka, kemenangan mereka dan hak milik kekuasaan mereka tidaklah akan pulih kembali kepada mereka, kecuali jika mereka telah kembali kepada pimpinan Al-Qur-an, mentha’ati petunjuknya dan memegang teguh talinya, sebagaimana yang mereka dapat lihat dan mengetahui yang demikian itu dengan jelasnya dalam ayat-ayat yang menerangkan demikian itu.

Dengarlah seorang Barat Prof. M. Thonnon ikut menyalahkan Ummat Islam tatkala dia menulis :
....... Tuan orang Timur sangat gemar meniru kami orang Barat : tetapi yang tuan tiru itu ialah perkaraperkara yang amat rendah, kerusakan-kerusakan dan hal-hal yang sama sekali tidak berguna, bahkan tuan sangat gemar meniru kami dalam perkara yang oleh orang Barat sendiri dianggap penyakit yang merusakkan tubuh, dan orang terpelajar Barat memerangi dan membasminya. Jikalau tuan ingin berkemajuan yang sebenar-benarnya dan ingin berdiri sama tinggi dengan kami, maka pertama-tama pegang teguhlah agamamu, sebab aku dapatkan Al-Qur-an itu berisi pengajaran yang amat luhur, cukup mengatur peri lahir dan bathinmu

Nabi Muhammad SAW yang telah memenangkan keyakinan Islam dan berhasil menegakkan Negara Islam yang pertama di Madinah, pada sahir hayatnya meninggalkan pesan dan wasiat kepada Muslimin :
Sesungguhnya aku tinggalkan padamu sesuatu (tuntunan) manakala kamu berpegang teguh kepadanya, maka kamu tidak akan sesat selama-lemanya, suatu ketentuan yang cukup jelas yaitu Kitab Allah dan Sunnah NabiNya

Perjuangan Nabi telah menang dan berhasil menegakkan Daulah dan Hukumah, Syaukah dan Kekuasaan yang berupa Madinatul Munawarah, namun beliau tidak meninggalkan pesan bahwa beliau meninggalkan negara sebagai warisan kepada Ummatnya, tetapi hanyalah Al-Qur-an dan dan Sunnah, harta lama pusaka bersama bagi kaum Muslimin.
Wasiat terachir itu mengajarkan kepada kita bahwa Negara, Daulah dan Hukumah, kekuasaan dibumi hanyalah natijah atau akibat dari berpegang teguhnya kaum Muslimin kepada Qur-an dan Sunnah. Kekuasaan akan lenyap, kemuliaan akan runtuh, persatuan akan binasa, Daulah dan Hukumah akan bertukar dengan perbudakan dan perhambaan, jikalau Ummat Islam telah lepas dari pimpinan Al-Quran dan Sunnah. Berabad-abad Dunia Islam dalam kungkungan dan belenggu imperialisme Nasrani. Chilafah Umaiyah, Abbasiah, Fathimiyah, Usmaniyah runtuh semuanya, dan kekuasaan direbut oleh kaum imperialis, karena kaum Muslimin telah lari dari pimpinan Al-Qur-an dan Sunnah. Keadaan yang demikian itu, telah diramalkan oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah Hadiets : Kamu sekalian senantiasa akan ditolong oleh Allah untuk mengalahkan musuh-musuh kamu, selama kamu tetap memegang teguh Sunnahku. Sekiranya kamu telah keluar dari Sunnahku, Allah akan menurunkan pemerintahan atas kamu semua dari pada musuh-musuh kamu orang yang menakutnakuti kamu. Maka tidak akan dicabut rasa takut dari hati kamu kembali sebelum mentha’ati Sunnahku.

Kekuasaan, kekuatan, kebebasan dan kemuliaan yang dijanjikan dalam Al-Qur-an kepada Ummat Islam, tidak akan diberikan selama mereka tidak berpegang teguh secara konsekwen kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.

Hanya itulah satu-satunya harta-kekayaan kita.Ummat yang sudah lepas dari pimpinan Qur-an dan Sunnah. dan zaman kita ditandai oleh kiamatnya imperialisme dan kolonialisme. nasional dan internasional. Setelah bebas dan lepasnya bangsa-bangsa Afro-Asia dari belenggu imperialisme Barat. Negara dan bangsa-bangsa Afro-Asia yang kini bergolak mengusir penjajah. Ummat penengah. ber-amar ma’ruf dan ber-nahi munkar dimuka bumi. tidak berhak memiliki kemuliaan dan kebesaran. sosial dan masyarakat. agar diatas bumi yang telah merdeka itu tegak Daulah dan Hukumah Islamiyah. Seluruh Ummat Islam memberikan harapan dan kepercayaan kepada para putera Islam yang kebetulan kini sedang memegang pemerintahan negara. agar mereka membuktikan ke Islamannya dalam praktek – kenyataan. membangun dunia dan kemanusiaan yang bersalam dan berbahagia. membawa dan memperjuangkan ajaran Islam untuk membangun dunia dan kemanusiaan kembali. Ummat Islam tidak boleh pasif dan statis membiarkan pembangunan dunia tanpa mendengar suara dan bahasa kaum Muslimin. jikalau Ummat Islam tidak berpedoman kepada Qur-an dan Sunnah. Karena karunia Ilahy ummat Islam didunia sekarang banyak yang memegang kekuasaan dalam negara-negara yang baru merdeka. penguasa atasnya. Kita harus aktif menyumbangkan harta kita kepada kemanusiaan. Jikalau Ayub Khan dari Pakistan. Ummat Islam tidak akan mampu berbuat baik. Amir Faisal dari Haramain. milik pusaka kita. menuntut muthlak-perlu adanya Daulah dan Hukumah Islamiyah itu. Gempitakan suara Islam dalam segala pertemuan. Dienul Islam sebagai Undang-undang Ilahy dilapangan syachsiyyah dan ijtima’iyyah. wahai. Dengan Qur-an dan Sunnah kaum Muslimin berbicara kepada manusia. Suria dan Mesir dan lain-lain negara Muslimin lainnya memesankan. Pakistan. banyak terdiri dari kaum Muslimin yang terikat oleh ‘Aqidah yang satu dan keyakinan yang serupa. melaksanakan hukum dan syari’at Islam dalam lapangan kemasyarakatan dan kenegaraan. tidak berhak mewarisi bumi sebagai chalifah. perdamaian yang abadi dan sejati. ekonomi dan politik. menyumbangkan apa yang kita miliki untuk membangun dunia kembali diatas puing reruntuhan dunia lama. ikut memberikan sumbangannya untuk membangun bangsa dan negara. Tidak ada alasan yang dapat menghalangi mereka untuk mengadakan kerjasama dalam menghadapi masalah dunia dan manusia. bangsa-bangsa Afro-Asia dan dunia umumnya kini menghadapi pembangunan dalam segala lapangan : pembangunan bangsa dan negara. Kaum Muslimin seantero nation harus aktif memberikan sumbangan yang positif untuk membangun dunia dan kemanusiaan itu. yalah Qur-an dan Sunnah. Sebagai Ummatan wasathan. Pena dan pedang Syuhada yang membina Haramain. dalam waktu yang dekat Dunia Islam akan beroleh kembali kedudukannya sebagai pemimpin dan penengah didunia. Kita dibangkitkan untuk peri-kemanusiaan. Ummat Risalah kita bertanggung jawab atas jalan dan perkembangan dunia dan kemanusiaan. . Sebagai Muslim dia menerima pesan – amanat dari Tuhan Yang Maha Kuasa untuk membawa dan melaksanakan ajaran dan syari’at Islam didaerah kekuasaannya. memberi sumbangan kepada kemanusiaandan kebudayaan. dan lain-lain kepala dari negara Muslimin didunia mengatur kerjasama yang rapi. Ideologi Da’wah Islam sepenuhnya harus bersumber kepada Qur-an dan Sunnah. Kemukakan ajaran Islam kepada manusia. pembangunan dunia dan kemanusiaan.

untuk ‘Izzul Islam wal Muslimin. bahwa mereka adalah pendukung Qur-an dan Sunnah itu. adalah dengan kesadaran. Kewajiban moril karena kita adalah kaum Muslimin. mempunyai kewajiban moril dan formil untuk menjalankan syari’at Islam (Syar’iyyah Islamiyah). tugas pokok dari setiap Mu’min yang memahami fungsi dan misinya didunia. Ajaran Islam yang murni dan asli (Qur-an dan Sunnah) bukan saja berguna untuk nation building kita. Qur-an dan Hadits. dan formil konstitusionil karena Piagam Jakarta tidak boleh dipisahkan dengan UUD 45. sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapinya pula. yang memperjuangkan Qur-an dan Sunnah itu dengan pena dan pedang ? Bukankah Negara Pakistan tidak bisa dipisahkan dengan peletak dasar yang pertama. Nation Building dan reformisme-modernisme Islam pada hakekatnya adalah satu.Qur-an dan Hadits. seperti yang diamanatkan oleh Piagam Jakarta yang terkenal itu. yang berhak memerintah dan menegah manusia. Bukankah Negara Sa’udi Arabia yang pimpinannya sekarang (1964) ditangan Amir Faisal adalah jerih payah dari perjuangan besar Syechul Islam Muhammad bin Abdulwahhab. 93 . agar mereka menggunakan kedudukan dan kekuasaan mereka untuk kejayaan Islam dan kaum Muslimin. dan ingatlah apa yang tersebut didalamnya supaya kamu menjadi orang Taqwa. hukum dan syari’at Islam memerlukan kekuasaan duniawi (weldlijke macht). Islam dipakai untuk membangun masyarakat dan negara. menggunakan dia menjadi asas pembangunan untuk kebahagiaan rakyat. Ber-Da’wah kepada para Pemimpin Negara supaya dengan kekuasaan dan syaukah yang ditangan mereka. tetapi untuk membangun dunia baru yang bebas dari perbudakan dan perhambaan. Menegakkan Qur-an dan Sunnah. Ayub Khan dan lain-lain putera Islam yang memegang kekuasaan negara. bahagia bersama. Al A’raf : 17) Ayat-ayat diatas secara langsung juga berbicara kepada Amir Faisal. (QS. . pujangga dan sarjana Islam yang masyhur Muhammad Iqbal ? Nation building yang kini kita jadikan thema pokok dalam segala kegiatan. Kamu terimalah Kitab yang Aku berikan kepada kamu dengan kekuatan dan dengarkanlah betul-betul. Di Indonesia warganegaranya tidak kurang dari 95% yang beragama Islam. justru Ummat Islam adalah golongan mayorita dinegeri ini. terutama di Afro-Asia yang para Umara’nya banyak terdiri dari kaum Muslimin. menciptakan mashlahatuljama’ah. Kamu terimalah Kitab yang Aku berikan kepada kamu dengan kekuatan. jiwa dan jasad. Jikalau kita menyebut beberapa kepala Negara diatas agar merintis perjuangan Qur-an dan Sunnah dengan kuasa dan wewenang yang ada ditangannya. tidak bisa berjalan sendiri. seperti satunya jasmani dan ruhani. Al Baqarah : 63. kedua-duanya memberi landasan kebijaksanaan untuk melakukan itu. Para penjabat Negara dari pusat sampai ke Rukun Tetangga terdiri dari sebagian besar Ummat Islam. Kekuasaan itu yang berwenang untuk melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. tidak bisa dipisahkan dengan gerakan reformasi dan modernisasi dalam batang tubuhnya Ummat Islam sendiri. hakum dan syari’at dan syari’at Islamiyah tidak berkaki dan bertahan. Adalah kewajiban Ulama dan Sarjana Islam untuk memberi bekal dan sumbangan kepada para pemimpin negara diseluruh dunia. Dalam bidang ini Mujahid Da’wah (Muballigh Islam) dapat memberikan darmabaktinya.

NAAN METODOLOGI Sejak kedatangan Islam abad ke-13 hingga saat ini. Dari sisi peristilahan dalam memberi pengertian para ilmuwan beragama dalam memberi . kesenjangan sosial. misalkan ada orang yang menguasi ilmu Fiqh tetapi tidak memahami ilmu-ilmu yang lain setiap ada masalah jawabannya selalu ilmu fiqh yang diberikan. Gejala seperti ini apakah memang sudah alami yang menjadi sebuah kenyataan untuk bisa diambil hikmahnya. malah tidak berhak berbicara atas nama Ummat Islam. Karena orang tidak menerima Islam secara sistemik maka antara guru satu dengan yang lainnya tidak akan pernah ketemu karena tidak sebuah silabus yang mengacu menjadi satu kesatuan. Islam yang sudah dikebiri dan dilucuti oleh seribu satu penyakit yang ditumbuhkan oleh Ummat Islam sendiri. BEBERAPA PENDAPAT TENTANG ISLAM Ada dua sisi yang dapat digunakan untuk memahami pengertian Agama Islam. malah dia yang berhak menerima zakat. Sebagai contoh. pemahaman tentang ke-Islaman ummat Islam di Indonesia sangat variatif. Kalau kepada mereka tentang bagaimana cara mengatasi masalah pelacuran maka yang ada hanya bagaimana menghancurkan tempat pelacuran tersebut. sebagai pilihan dan alternatif untuk mengembangkan kehidupan.Islam yang tidak bersumber kepada Qur-an dan Sunnah. NUR CHOLIS MAJID : Sikap pasrah kepada Tuhan adalah merupakan hakikat dari pengertian islam. hanya itu sajalah yang dapat kita ketengahkan kepada manusia. ataukah diperlukan standart umum untuk bisa mengetahui keadaan yang variatif seperti ini. karena dalam masalah itu tidak serta merta hanya masalah pelacuran tetapi ada masalah yang lauin yaitu ketenaga kerjaan. B. Ummat yang tidak berpegang kepada Qur-an dan Sunnah (Ummat Islam) tidak mempunyai apa-apa yang dapat disumbangkannya kepada Dunia dan Manusia. Dari seorang fakir-miskin tak ada kewajiban zakat yang harus dibayarnya. dan dua ajaran pokok yaitu keesaan Allah dan kesatuan atau persaudaraan ummat manusia menjadi bukti nyata. MAULANA MUHAMMAD ALI : Islam adalah agama perdamaian. yang penuh dengan churafat. Padahal tidak bisa mengatasi persoalan pelacuran menghancurkan tempatnya saja. Negara dan Dunia. syirik. sistem perekonomian dan sebagainya. tidak mungkin dapat memberikan sahamnya untuk nation building dan character building. Adanya sejumlah orang yang pengetahuan tentang ke-Islamannya cukup luas dan mendalam. membuat Negara dan Dunia ini menjadi bahagia dan bercahaya buat semuanya. yaitu sisi kebahasaan dan sisi peristilahan. Kemudian Aslama berserah diri masuk dalam kedamaian. tidak akan mampuh memberikan sumbangannya bagi pembangunan Bangsa. struktur sosial. Sehingga sesuatu yang variatif ini tidak keluar dari ajaran yang tekandung dalam al-Qur’an dan As-Sunnah sehingga tidak akan keluar dari keabsahannya. namun tidak terkoordinasi dan tidak tersusun secara sistemik. Kebahasaan Islam dari bahasa Arab salima selamat. Rumus Ideologi Da’wah yang bersumber kepada Qur-an dan Sunnah. bid’ah dan sebagainya. Keadaan ini juga terjadi pada negara lain. sentosa dan damai. mengedalikan kemanusiaan.

C. ORIENTALIS : islam sering di identikkan dengan Mohammadanism dan Mohammedan. tetapi mengenai beberapa segi dari kehidupan manusia. Setiap pemikiran yang kemudian didukung oleh sekelompok orang. makna dasarnya adalah damai atau tidak mengganggu. Setiap pemikir ketika melontarkan gagasan atau buah pikirannya tidak lepas oleh situasi lingkungan yang dihadapi . Airnya kian pekat karena mengangkut pula lumpur dan sampah. Sesungguhnya setan musuh yang nyata bagimu” Kata ‫ السـلم‬yang dalam ayat diatas diterjemahkan kedamaian atas Islam. Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya satu segi. Pemikiran Islam dapat diibaratkan dengan sebagai sungai yang besar dan panjang. manusia dengan alam semesta. sufisme dan filsafat saja dengan meninggalkan . Pengertian Islam menurut Maulana Ali dapat dipahami dari Firman Allah surat Al-Baqorah ayat 208 : ٌ ْ ِ ّ ّ ُ َ ْ ُ َ ُ ِّ ِ َ ْ ّ ِ َ ُ ُ ْ ُ ِ َّ َ َ َ ّ َ ِ ّْ ‫ياأيهاالذين أمنواادخلوا فى السلم كافة ولتتبعوا خطوات الشيطان انه لكم عدو مبين‬ ِ ْ ُُ ْ ْ ُ َ َ ْ ِ ّ َ ّ َ َ “Hai Orang-orang yang beriman. dan terbina dalam bentuknya terakhir dan sempurna dalam al-Qur’an yang suci yang diwahyukan Tuhan Kepada Nabi-Nya yang terakhir yakni Nabi Muhammad Ibnu Abdullah. Wajar jika sumber mata airnya yang semula bening dan jernih serta mengalir pada alur sempit dan deras dalam perjalanannya menuju muara kian melebar. idenya muncul dan nafasnya dihembuskan oleh semangat tokoh pemikir. Peristilahan ini disamakan pada umumnya agama diluar Islam yang namanya disandarkan kepada nama pendirinya. Geraknyapun menjadi lamban. Dari definisi itu dapat disimpulkan bahwa Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada manusia melalui Rasul-rasul-Nya berisi hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah. AKIBAT YANG TIMBUL DARI PEMAHAMAN ISLAM Perjalanan Islam samapi kini telah melampui kurun waktu lima belas abad dan dipeluk oleh manusia diseluruh penjuru dunia.pengertian antara lain adalah : Ahmad Abdullah Al-Masdoosi (1962) : Islam adalah Kaidah hidup yang diturunkan kepada manusia sejak manusia digelarkan ke muka bumi. berliku-liku dan bercabang-cabang. masuklah kamu ke dalam Kedamaian/Islam secara menyeluruh dan jangan kamu ikuti langkah-langkah Setan. Menurut Sosiologi pemikiran teologi dan filosofi selalu terkait dengan politik atau kemasyarakatan. Jika teori ini benar. maka kajian pemikiran Islam hanya dibagi dalam bidang teologi (kalam). demikian juga sebaliknya. manusia dengan manusia. satu kaidah yang memuat tuntunan yang jelas dan lengkap mengenai aspek hidup manusia baik spritual maupun material. HARUN NASUTION: Islam sebagai agama adalah agama yang ajaran-ajaranya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui nabi Muhammad sebagai rasul. pandangan hidup dan sikap politiknya.

Memahami Islam secara menyeluruh adalah penting walaupun tidak secara detail. karena metode dan pendekatan dalam memahami Islam yang demikian itu masih perlu dilengkapi dengan metode yang bersifat teologis dan normatif. Mempelajari kepribadian Rasul Islam dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh besar pembahruan yang pernah hidup dalam sejarah. Pada intinya metode ini adalah metode komparasi (perbandingan). Ali Syariati lebih lanjut mengatakan.ketatanegaraan(politik) dan hukum. Untuk itu dalam memahami dan menelaah ajaran Islam yang ada dalam buku-buku ilmiah terkadang perlu kita cermati apakah ajaran ini persial atau apakah sudah komprehensif. d. Dalam buku yang berjudul Tentang Sosiologi Islam. Dalam hubungan ini ia mengatakan jika kita meninjau Islam dari satu sudut pandangan saja. Perbandingan menghendaki obyektifitas. Mungkin kita berhasil melihatnya secara tepat. c. BEBERAPA METODE MEMAHAMI ISLAM Kami mencoba menelusuri metode memahami Islam sepanjang yang dapat dijumpai dari berbagai literaratur ke-islaman. NASRUDDIN RAZAK metode memahami Islam sama dengan Ali Syariati menawarkan metode pemahaman Islam secara menyeluruh. Mempelajari Islam dengan metode ilmiah saja tidak cukup. Dengan mengenal Allah dan membandingkan-Nya dengan sesembahan agama lain b. masyarakat-masyarakat Islam harus dikaji dalam dan untuk diri sendiri. Selain dengan menggunakan pendekatan komparasi. Ali Syariati juga menawarkan cara memahami Islam melalui pendekatan aliran. karya Ali Syariati dijumpai uraian singkat tentang metode memahami yang pada intinya Islam harus di lihat dari berbagai dimensi. Tugas intelektual hari ini ialah mempelajari memahami Islam sebagai aliran pemikiran yang membangkitkan kehidupan manusia. Begitulah cara paling minimal untuk memahami agama paling besar sekarang ini agar menjadi pemeluk agama yang mantap dan untuk menumbuhkan sikap . Dengan demikian untuk menghasilkan Islam secara utuh dan menyeluruh perlu menatapnya dari berbagai situasi yang mengitari disekitar kalahiran Islam tersebut serta tokoh-tokoh yang mengembangkannya. Namun demikian. perseorangan maupun masyarakat. ada berbagai cara memahami Islam a. Secara akademis suatu perbandingan memerlukan persyaratan tertentu. Mempelajari tokoh-tokoh Islam terkemuka dan membandingkan tokoh-tokoh utama agama maupun aliran-aliran pemikiran lain. namun tidak cukup apabila kita memahami secara keseluruhan. Pencampuradukkan antara Islam sebagai agama dan Islam sebagai rangka historis bagi pengembangan budaya dan peradaban telah dilanggengkan dan pernah berkembang lebih kompleks hingga hari ini. D. maka yang akan terlihat hanya satu dimensi saja dari gejalanya yang bersegi banyak. Dengan mempelajari Kitab suci Al-Qur’an dan membandingkan dengan kitab-kitab samawi (atau kitab-kitab yang dikatakan sebagai samawi) lainnya. menjadi sebuah kajian yang tidak lengkap.

Dari beberapa metode diatas kita melihat bahwa metode yang dapat digunakan untuk memahami Islam secara garis besar ada dua macam. tidak dengan cara persial artinya ia dipelajari secara menyeluruh sebagai satu kesatuan yang bulat tidak secara sebagian saja. Islam perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar dan sarjana-sarjana Islam. kritis dan seterusnya dengan metode teologis normatif. 4. Dalam hubungan ini Mukti Ali mengatakan. yaitu 1)aspek ketuhanan 2)aspek kenabian 3)aspek kitab suci dan 4)aspek keadaan sewaktu munculnya nabi dan orang-orang yang didakwahinya serta individu-individu terpilih yang dihasilkan oleh agama itu. dengan demikian akan dihasilkan pemahaman Islam yang obyektif dan utuh. dan apa yang berasal dari Tuhan Mutlak benar. Metode sintesis yaitu suatu cara memahami Islam yang memadukan antara metode ilmiah dengan segala cirinya yang rasional obyektif. Untuk memahami agama Islam secara benar Nasruddin Razak mengajukan empat cara : 1. Mempelajari Islam dengan cara demikian akan menjadikan orang tersebut sebagai pemeluk Islam yang sinkretisme. Hal ini didasarkan pada alasan. Metode ini banyak ahli sosiologi dianggap obyentif berisi klasifikasi topik dan tema sesuai dengan tipenya. apabila kita melihat Islam hanya dari satu segi saja. Kedua. Melalui metode teologis normatif ini seseorang memulai dari meyakini Islam sebagai agama yang mutlak benar. karena agama bersal dari Tuhan. atau melalui pengenalan dari sumber kitab-kitab fiqh dan tasawuf yang semangatnya sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. sekalipun kita melihatnya itu betul. Islam seharusnya dipahami secara bulat. 2. Metode lain yang diajukan Mukti Ali adalah metode tipologi. Metode ini juga untuk memahami agama Islam. yakni bercampur dengan hal-hal yang tidak islami jauh dari ajaran islam yang murni. baru kemudian dihubungkan dengan kenyataan historis. maka agamapun mutlak benar. kita dapat mengindentifikasi lima aspek dari ciri yang sama dari agama lain. menimbulkan skeptis. 3. Islam harus dipelajari dari sumber aslinya Al-Qur’an dan hadits. Pertama metode Komparasi. empiris dan sosiologis yang ada di masyarakat. Setelah itu dilanjutkan dengan melihat agama sebagai norma ajaran yang berkaitan dengan aspek kehidupan manusia yang secara .yang hormat bagi pemeluk agama lainnya. lalu dibandingkan dengan topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. yaitu pemahaman Islam dipahami secara komprehensif. Selain itu Mukti Ali juga mengajukan pendapat tentang metode memahami Islam sebagaimana yang dikemukakan oleh Ali Syariati yang menekankan pentingnya melihat Islam secara menyeluruh. karena orang mengenalnya dari sebagian ulama dan pemeluknya yang telah jauh dari bimbingan Al-Qur’an dan Al-Sunah. Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan teologi normatif yang ada dalam al-Qur’an. juga agama-agama lain. maka kita hanya akan melihat satu dimensi dari fenomena-fenomena yang multi faset (terdiri dari banyak segi). yaitu suatu cara memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama Islam tersebut dengan agama lainnya. Memahami Islam secara persial akan membahayakan. bimbang dan penuh keraguan. karena pada umumnya mereka memiliki pemahaman Islam yang baik yaitu pemahaman yang lahir dari perpaduan ilmu yang dalam terhadap ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah dengan pengalaman yang indah dari praktek ibadah yang dilakukan setiap hari. Islam harus di pelajari dengan integral. Kekeliruan memahami Islam. Metode ilmiah digunakan untuk memahami Islam yang terkandung dalam kitab suci.

Keyakinan pada wahyu inilah yang menjadi salah satu faktor timbulnya paham TeologisNormatif ini berkembang. Buktinya ialah Alquran yang memiliki banyak dimensi. Namun sampai sekarang kita belum tahu dimana batasan akal yang kita miliki. Karena akal yang diberi oleh Tuhan punya keterbatasan dalam membuka hijabNya. dalam kaitannya dengan peranan akal Asy’ariyah berpendapat bahwa kewajiban mengetahui Tuhan. Hal ini memang dapat dapat dibenarkan. METODE MEMAHAMI ISLAM Oleh Rustina N Untuk memahami Islam secara komprehensi dan tepat diperlukan metode. bahwa segala sesuatu dalam beragama tak dapat selalu diisolaikan dengan akal atau rasional manusia. Harun Nasution dalam bukunya teologi Islam. Sehingga pada pendapat akal yang salah dapat menyesatkan atau menyalahkan manusia dalam berbagai bidang kehidupannya. misalnya aspek lingustik dan . seperti sebab pertama dan terakhir segala sesuatu. Melalui metode teologi normatif yang tergolong tua usianya ini dapat dihasilkan keyakinan dan kecintaan yang kuat. Wahyu perlu untuk mengatur masyarakat manusia dan memang demikian pendapat kaun Asy’ariah. Faktor lainnya dari latar belakang paham Teologis-Normatif ialah karena sikap yang kurang percaya kepada pendapat akal manusia. Ali Syariati dalam bukunya Tentang Sosiologi Islam menguraikan secara singkat tentang metode memahami Islam yang pada intinya bahwa Islam harus dilihat dari berbagai dimensi. ← PENGERTIAN FILSAFAT ISLAM | TASAWUF → Rating tidak diperbolehkan • • • • • • • • • • Melaporkan penyalahgunaan Bagikan Paham Teologis-Normatif dalam Islam tak dapat terlepas dari pemahaman mengenai kondisi obyektif masyarakat. Menurutnya. Berikut ini beberapa metode yang ditawarkan oleh ilmuwan muslim yang dapat membantu seorang muslim memahami agamanya. yakni teologi Asy’ariyah. jika Islam ditinjau dari satu sudut pandang saja. Latar belakang penyebab lain timbulnya paham Teologis-Normatif adalah karena berkembang pesatnya paham teologi teo-centris yang berkembang di dunia Islam. Sehingga cara befikir teologis disini berusaha mencari jawaban absolut dari masalah-masalah yang dihadapi. namun tidak cukup bila kita ingin memahaminya secara keseluruhan.keseluruhan diyakini amat ideal. kewajiban mengetahui baik dan jahat serta kewajiban mengetahui yang baik dan menjauhi yang buruk tidak dapat dicapai oleh akal. salah satu fungsi wahyu ialah member tuntunan kepada manusia untuk mengatur hidupnya di dunia. melainkan harus melalui wahyu yang disampaikan oleh Tuhan. maka yang akan terlihat hanya satu dimensi saja dari gejalanya yang bersegi banyak. Al-Dawwani pernah berkata. sedangkan metode ilmiah yang dinilai sebagai tergolong muda usianya ini dapat dihasilkan kemampuan menerapkan Islam yang diyakini dan dicintainya itu dalam kenyataan hidup serta memberi jawaban terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi manusia. Hal ini dikarenakan pendapat akal manusia kadang melakukan kesalahan baik yang disengaja maupun tidak. kokoh dan militan pada Islam. Mungkin pandangan kita itu akan tepat.

Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan normatif teologis yang ada dalam Alquran lalu dihubungkan dengan kenyataan historis. lalu dibandingkan dengan topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. Aspek-aspek tersebut seharusnya dikaji untuk menghasilkan pemahaman Islam secara menyeluruh. Keempat. empiris. Selanjutnya terdapat pula metode memahami Islam yang dikemukakan oleh Nasruddin Razak yang hampir sama dengan konsep Ali Syariati. Metode lain untuk memahami Islam yang diajukan Mukti Ali adalah metode tipologi. yaitu. Metode perbandingan atau komparasi dengan cara membandingkan Alquran dengan kitab-kitab samawi lainnya. aspek kitab suci. Demikian juga aspek-aspek filosofis dan keimanan Alquran yang telah banyak dikaji oleh filosof dan teolog. aspek kenabian. obyektif yang selanjutnya disebut pendekatan sintesis. artinya ia dipelajari secara menyeluruh sebagai satu kesatuan yang bulat tidak secara sebagian saja. dan sosiologis yang ada di masyarakat. yaitu metode memahami islam secara menyeluruh. Mukti Ali melihat bahwa untuk melihat Islam sebagai sebuah agama dapat digunakan metode doktriner dan untuk melihat Islam sebagai sebuah disiplin ilmu. Dalam hal agama Islam. lalu dibandingkan dengan aspek dan ciri yang sama dari agama lain. Ia mengajukan empat cara. mengkajinya sesuai dengan bidangnya masingmasing untuk menumbuhkan pemahaman yang segar tentang Islam demi masa depan ummat manusia yang lebih baik dengan berpedoman pada Alquran dan Sunnah.sastra yang telah banyak dipelajari. dapat digunakan metode ilmiah dengan ciri-ciri rasional.obyektif Sedangkan untuk melihat Islam sebagai agama dapat digunakan pendekatan normatif teologis. yaitu Alquran dan al-Sunnah. ketiga. sosiologis dan psikologis belum banyak dikaji. kedua. Secara teknis. Adapun cara kedua dalam memahami Islam menurut Ali Syariati adalah melalui pendekatan aliran. aspek keadaan sewaktu munculnya Nabi dan orang-orang yang . Islam perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar. serta agama lain kita dapat menidentifikasi lima aspek atau ciri dari agama itu. kaum zuamaa dan sarjana-sarjana Islam karena mereka pada umumnya memiliki pemahaman Islam yang baik yang lahir dari perpaduan ilmu yang dalam terhadap Alquran dan Sunnah serta praktek ibadah yang dilakukan setiap hari. Sementara dimensi manusiawinya yang mengandung aspek historis. mempelajari tokohtokoh Islam terkemuka dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh utama agama atau aliran-aliran pemikiran lain. Amin Abdullah dan Mukti Ali juga menawarkan dua metode memahami Islam. yaitu mengklasifikasi topik dan tema sesuai dengan tipenya. yakni para intelektual muslim memikul tugas dan amanah untuk memahami Islam. islam harus dipelajari secara integral. Ali Syariati menawarkan berbagai cara memahami Islam yang pada intinya adalah melalui metode perbandingan serta melalui pendekatan aliran. empiris. Memahami Islam dengan cara keempat sebagaimana disebutkan di atas sangat diperlukan dalam upaya menunjukkan peran sosial dan kemanusiaan dari ajaran Islam itu sendiri. bukan hanya dari sebagian ulama dan pemeluknya. yaitu bahwa untuk melihat Islam sebagai sebuah disiplin ilmu (islamic studies) dapat digunakan pendekatan ilmiah yang ciri-cirinya rasional. islam harus dipelajari dari sumbernya yang asli. atau hanya dari kitab-kitab filih dan tasawuf. pertama. yaitu aspek ketuhanan. tidak dengan cara parsial. mempelajari kepribadian Rasul Islam dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh besar pembaharuan yang pernah hidup dalam sejarah. empiris.

Setelah itu dilanjutkan dengan melihat agama sebagaimmana norma ajaran yang berkaitan dengan dengan berbagai aspek kehidupan manusia yang secara keseluruhan diyakini amat ideal. yaitu suatu cara memahami Islam yang memadukan antara metode ilmiah dengan segala cirinya yang rasional. Selanjutnya untuk memahami Islam dapat pula dilakukan dengan memahami kitab sucinya dan mempelajari pribadi Muhammad bin Abdullah. (Abuddin Nata. Pertama. metode komparasi. obyektif. Mukti Ali : PT. sedangkan metode teologis normatif digunakan untuk memahmi Islam yang terkandung dalam kitab suci. Metodologi Studi Islam. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa secara garis besar ada dua metode yang dapat ditempuh untuk memahami Islam. Kedua metode sintesis. maka agama pun mutlak benar. IV. dan militan pada Islam. dan sosiologis. Metode-metode yang digunakan untuk memahi Islam itu suatu saat mungkin dipandang tidak cukup lagi. Jakarta: Raja Grafindo Persada. kritis dengan metode teologis normatif. empiris. h. • • • • • • • • METODE MEMAHAMI AGAMA ISLAM Judul Buku Penulis Penerbit Tahun Terbit Tebal : Metode Memahami Agama Islam : H. sehingga diperlukan pendekatan baru yang harus terus digali oleh pembaharu. kokoh. serta meneliti suasana dan situasi di mana Nabi Muhammad bangkit.didakwahi serta individu-individu terpilih yang dihasilkan oleh agama itu. Cet. yaitu suatu cara memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama Islam dengan agama lain sehingga dihasilkan pemahaman Islam yang obyektif dan utuh. Metode ilmiah digunakan untuk memahami Islam yang nampak dalam kenyataan historis. Melalui metode teologis normatif yang tergolong tua usianya dapat dihasilkan keyakinan dan kecintaan yang kuat. 104-115). Bulan Bintang : 1991 : xvi + 233 halaman (termasuk biografi singkat) .empiris. A. sedangkan dengan metode ilmiah yang nilai tergolong muda usianya dapat dihasilkan kemampuan menerapkan Islam yang diyakini dan dicintainya dalam kenyataan hidup serta memberi jawaban terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi manusia. Metode teologis normatif dimulai dari keyakinan bahwa Islam sebagai agama mutlak benar dengan alasan karena agama berasal dari Tuhan dan apa yang berasal dari Tuhan mutlak benar.

v) • Pada bagian kedua bukunya. • Pada bagian pertama bukunya ini. diperlukan suatu metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. sistematis. Mukti Ali menganjurkan para peneliti Muslim untuk menggunakannya. (hlm. Islam dapat dipahami secara objektif. tidak emosional. tetapi tidak baik dalam pengajarannya. (hlm. Pertanyaannya adalah bagaimana metode yang baik itu? Orang-orang Barat yang mengkaji Islam menggunakan metode naturalistik. 32) . dan lain-lain. 31) • Walaupun demikian. sains. Mereka hanya mengetahui kulit luarnya agama Islam. yang membahas tentang "Ulama dan Pesantren" Mukti Ali menerangkan ciri-ciri pesantren kemudian menyatakan bahwa sistem pesantren baik dalam pendidikannya. Hal ini diperlukan untuk menghasilkan penelitian yang seobjektif mungkin dan seilmiah mungkin. psikologis. hanya hanya mempunyai bakat. tetapi mereka sebenarnya belum mengerti Islam secara utuh. ilmiah. atau sosiologis. 27) • Demikian pula halnya ketika mengkaji tentang Islam. Mukti Ali mengatakan bahwa metodologi adalah masalah yang sangat penting dalam sejarah pertumbuhan ilmu. benar. tidak subjektif. (hlm. Ia lalu mengusulkan bahwa sistem pengajaran dan pendidikan yang paling baik di Indonesia adalah madrasah dalam pesantren. Metode kognitif yang betul untuk mencari kebenaran adalah lebih penting daripada filsafat.• Persoalan metodologi selalu menjadi perhatian utama para ilmuwan atau peneliti ketika membahas suatu objek kajian. Akibatnya adalah penelitiannya menarik. ia tetap mengkritik cara Barat (orientalis) dalam mempelajari Islam yang hanya mendekati Islam dengan metode ilmiah saja. Dengan metodologi itu. (hlm.

kejadian- . yaitu mempelajari biografinya. Seseorang yang ingin mengetahui orang itu lebih jauh. buku-buku yang ditulisnya. (hlm. dalam lingkungan apa ia dibesarkan. IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini. sehingga timbul kesan bahwa Islam sudah ketinggalan zaman dan sudah tidak sesuai dengan alam pembangunan ini. seseorang harus mempelajari dan meneliti hasil karyanya. berbagai pidato dan kuliahnya. • Adapun cara pertama. teori-teori yang digunakannya. Akibatnya. Menurutnya. mempelajari hasil karyanya dan mempelajari biografinya. maka ia harus menenpuh cara yang kedua. siapa saja guru-gurunya. rasnya. penafsirannya tidak dapat diterapkan dalam masyarakat. yang sama sekali tidak dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan hidup dalam masyarakat. apa yang dia pelajari. negerinya. sukunya. kapan ia lahir. Hal-hal yang berkaitan dengan itu adalah di mana tempat lahir. bagaimana keluarganya. di mana ia belajar.• Para ulama pun mendapatkan kritik dari guru besar Ilmu Perbandingan Agama. 32) • Mukti Ali mengajukan metode Ali Syari'ati dalam memahami agama Islam. maka ada dua cara yang harus ditempuh yaitu. para ulama sudah terbiasa memahami ajaran Islam dengan cara doktriner dan dogmatis. Ali Syari'ati membandingkan agama dengan manusia. bagaimana hidupnya ketika masih kecil. Karya-karya yang dimaksudkan di sini adalah karangan-karangan intelektualnya atau karya-karya ilmiahnya. bagaimana kehidupan pendidikan yang diberikan kepadanya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui ide dan kepercayaannya sebagai pendahuluan yang harus dilakukan untuk mengetahui orang tersebut. (hlm. Untuk memahami manusia. Ia lalu menawarkan pendekatan baru dalam memahami Islam yaitu pendekatan ilmiah-cumdoktriner atau dengan kata lain metode sintesis. 3334) • Cara pertama dianggap tidak mencukupi.

Mukti Ali juga menawarkan metode lain dalam memahami Islam. gambaran. seperti Khadijah (mewakili wanita). 37) • Apabila metode ini diterapkan pada agama. 40). pelajaran tentang sejarah Islam. 39). apa saja kegagalan yang ia alami dan apa saja kesuksesan yang ia dapatkan? (hlm. 2) Nabi. 38-39). 4) sejarah bangsa Arab ketika Nabi Muhammad saw. 34) • Selain metode di atas. 4) keadaan sekitar ketika munculnya sang nabi dan keadaan orangorang yang didakwahi. 3) Kitab. 1) Allah swt. (hlm. (hlm. kemudian dibandingkan dengan topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. Cara kerja metode ini adalah mengklasifikasikan topik dan tema sesuai dengan tipenya. maka setidaknya ada lima aspek atau ciri yang bisa diidentifikasi pada semua agama. 5) sejarah orang-orang yang berjuang pertama kali bersama Nabi saw. (hlm. Abu Bakar ash-Shiddiq . maka yang dipelajari darinya adalah pertama. yaitu mempelajari tentang perkembangan Islam sejak awal misi Nabi Muhammad saw. dan ciri-ciri Tuhan yang dibahas dalam Islam (hlm. konsep. pertama kali muncul (hlm. 2) al-Qur'an sebagai kitab suci agama Islam (hlm. Kelima aspek tersebut adalah 1) Tuhan.kejadian penting apa saja yang pernah dialami dalam kehidupannya. 38). hingga sekarang. dan 5) pribadi-pribadi pilihan hasil didikan agama tersebut. (hlm. Metode yang dimaksud adalah metode tipologi. 3) pribadi Rasulullah saw. 34) • Apabila metode di atas diterapkan pada agama Islam. yang berkaitan dengan tipe. Pendekatan ini dianggap banyak digunakan oleh para sarjana Barat dalam memahami manusia. al-Quran yang merupakan himpunan ide dan output ilmiah dan literer yang terkenal dengan Islam. Kedua. maka yang harus dipelajari adalah. 37-38) • Jika metode di atas diterapkan pada Islam.

cetakan kesebelas. Sunnah. Padahal. The Religion of Islam. 1397/ 1977). 45) • Mukti Ali kemudian memberikan beberapa contoh buku yang membahas tentang Islam secara komprehensif. Pelajaran Agama Islam. 575 halaman (al-Magrib: dar at-Tiba'ah al-Haditsah. • Kelompok pertama adalah buku-buku yang sengaja ditujukan kepada kelompok khusus seperti khusus ditujukan kepada non-muslim atau ditujukan kepada para intelektual. dan Ijtihad sebagai metode pendekatan yang digunakan. 2) Abu A'la Maududi. Galwash. 46-47) • Kelompok kedua adalah buku yang ditujukan tidak kepada kelompok khusus. (42) • Pada bagian ketiga bukunya.(mewakili orang kaya yang terhormat). 1973). tetapi Muhammadiyah sendiri belum menghasilkan karya tentang Islam yang bersumber dari al-Qur'an dan Sunnah. (hlm. 260 dan 244 halaman (Doha. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Beberapa contoh buku tersebut adalah. dua jilid. 1) Harun Nasution. 4) Abu Bakar Jabir al-Jazairi. 1978). Beberapa contoh kelompok ini adalah. cetakan kedua (Jakarta: UI Press. Mukti Ali mengkritik Muhammadiyah yang menggunakan al-Qur'an. Minhajul Muslim. Ali bin Abi Thalib (mewakili pemuda). Qatar: Dar al-Uloom. 1967). cetakan . 126 dan 122 halaman. saat ini diperlukan pengetahuan tentang ajaran Islam yang komprehensif atau menyeluruh yang bersumber dari al-Qur'an dan Sunnah. (hlm. 3) Ahmad A. 179 halaman (lahore: Islamic Publication. cetakan ketiga. 1) Hamka. Beberapa contoh tersebut dibagi ke dalam tiga kelompok sesuai dengan tujuan dan sasaran penulisannya. Bilal bin Rabah (mewakili budak yang dianggap hina dina oleh kaumnya kala itu). dua jilid. Towards Understanding Islam.

sehingga untuk mencari atau memeriksa kata-kata yang dibutuhkan secara cepat. • 3. 784 halaman (Cairo: The Arab Writer Publication & Printers. Hal ini terjadi disebabkan karena materi buku ini merupakan materi pidato dan prasaran yang di sampaikan di berbagai tempat. Kata pengantar dari tokoh lain sangat penting untuk informasi awal dari suatu buku agar tidak terkesan subjektif. kedua. Buku ini tidak dilengkapi dengan foonote dan daftar pustaka. selainnya lebih berbicara tentang sejarah Muhammadiyah dan pendirinya. The Religion of Islam. (hlm.). 570 halaman (Cairo: Dar al-Qalam. • 4. • 2. 408 halaman (Jakarta: Bulan Bintang. dan ketiga yang membahas metode yang dimaksudkan tersebut. Buku ini berjudul tentang "metode memahami Agama Islam" yang dalam bayangan penulis buku ini membahas secara tuntas tentang berbagai metode yang digunakan dalam memahami agama Islam. Seringnya terjadi pengulangan pembahasan di berbagai tempat. Contoh buku tersebut adalah Maulana Muhammad Ali. t.t. 2) Mahmoud Syaltut. tetapi ternyata hanya bagian pertama. Al-Islam Aqidah wa Syari'ah. cetakan ketiga. Buku ini tidak diantarkan oleh penulis lain selain Mukti Ali sendiri. 47) • • Adapun kekurangan buku ini menurut penulis adalah. Buku ini tidak dilengkapi dengan indeks. (hlm. 1966). 1. • 5. . 47) • Kelompok ketiga adalah buku yang mempunyai ciri khusus yaitu berusaha untuk mempertahan Islam dari serangan-serangan dan berbagai tuduhan orang-orang Barat. dan sejarah tokoh lainnya.kelima. sehingga sulit untuk melacak referensi yang digunakan penulis. 1973).

Padahal informasi yang tidak kalah pentingnya adalah kapan ia lahir.• 6. Dibekali dengan pendekatan yang holistik dan komitmen antropologi akan pemahaman tentang manusia. bahkan sifatnya partisipatif. Antropologi dalam kaitan ini sebagaimana dikatakan Powam Rahardjo. Antropologi mempelajari tentang manusia dan segala perilaku mereka untuk dapat memahami perbedaan kebudayaan manusia. Fenomena-fenomena tersebut selanjutnya diinterpretasi dengan menggunakan kerangka teori tertentu. Seorang peneliti datang ke lapangan tanpa ada prakonsepsi apapun terhadap fenomena keagamaan yang akan diamatinya. Penelitian antropologi Grounded Research adalah penelitian yang penelitinya terlibat dalam kehidupan masyarakat yang ditelitinya. Antropologi. di mana ia lahir bagaimana latar belakang pendidikannya. sebagai sebuah ilmu yang mempelajari manusia. menjadi sangat penting untuk memahami agama. lebih mengutamakan pengamatan langsung. dan berbagai informasi lainnya. Biodata penulis kurang memadai atau kurang lengkap karena hanya mencantumkan jabatan dan bukunya yang baru terbit. 04 November 2009 PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM KAJIAN ISLAM PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM KAJIAN ISLAM Pendahuluan Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. • • Rabu. Melalui pendekatan ini. maka sesungguhnya antropologi merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama dan interaksi sosialnya . Dengan kata lain bahwa cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologis dalam melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama. agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya.

dengan berbagai budaya. sementera itu religious sense adalah kegiatan atau kejadian yang terjadi di luar jangkauan kemampuan nalar maupun teknologi. Penjelasan lain misalnya yang diungkapkan oleh Emile Durkheim tentang fungsi agama sebagai penguat solidaritas sosial. antropologi sangat diperlukan untuk memahami Islam. Pergumulan dalam kehidupan kemanusiaan pada dasarnya adalah pergumulan keagamaannya. atau Sigmund Freud yang mengungkap posisi penting agama dalam penyeimbang gejala kejiwaan manusia. Posisi penting manusia dalam Islam juga mengindikasikan bahwa sesungguhnya persoalan utama dalam memahami agama Islam adalah bagaimana memahami manusia. Islam yang menjadi gambaran sesungguhnya dari keberagamaan manusia. Pandangan Geertz yang mengungkapkan tentang adanya trikotomi-abangan. . Oleh karena itu. Karena realitas keagamaan sesungguhnya adalah realitas kemanusiaan yang mengejawantah dalam dunia nyata. Barangkali karya Clifford Geertz The Religion of Java yang ditulis pada awal 1960an menjadi karya yang populer sekaligus penting bagi diskusi tentang agama di Indonesia khususnya di Jawa. Dengan demikian memahami Islam yang telah berproses dalam sejarah dan budaya tidak akan lengkap tanpa memahami manusia. merupakan simbol akan pentingnya posisi manusia dalam Islam. Nurcholish Madjid mengungkapkan bahwa pendekatan antropologis sangat penting untuk memahami agama Islam. Di Indonesia usaha para antropolog untuk memahami hubungan agama dan sosial telah banyak dilakukan. Dua sisi kajian ini-usaha untuk memahami agama dan menegasi eksistensi agama-sesungguhnya menggambarkan betapa kajian tentang agama adalah sebagai persoalan universal manusia. Persoalan-persoalan yang dialami manusia adalah sesungguhnya persoalan agama yang sebenarnya. karena konsep manusia sebagai 'khalifah' (wakil Tuhan) di bumi. Terlebih dari itu. misalnya. Para antropolog menjelaskan keberadaan agama dalam kehidupan manusia dengan membedakan apa yang mereka sebut sebagai common sense dan religious atau mystical event. sesungguhnya mencerminkan betapa agama begitu penting bagi eksistensi manusia. Dalam satu sisi common sense mencerminkan kegiatan sehari-hari yang biasa diselesaikan dengan pertimbangan rasional ataupun dengan bantuan teknologi. sebagai alat untuk memahami realitas kemanusiaan dan memahami Islam yang telah dipraktikkan. Walaupun harus disadari pula bahwa usaha-usaha manusia untuk menafikan agama juga sering muncul dan juga menjadi fenomena global masyarakat. makna hakiki dari keberagamaan adalah terletak pada interpretasi dan pengamalan agama.

Keterpengaruhan itu bisa dilihat dari beberapa pandangan yang mencoba menerapkan kerangka berfikir Geertz ataupun mereka yang ingin melakukan kritik terhadap wacana Geertz. Jadi pembahasan tentang bagaimana hubungan agama dan budaya sangat penting untuk melihat agama yang dipraktikkan. dan diyakini oleh penganutnya. dan kaum santri memilih partaipartai yang memberikan perhatian besar terhadap masalah keagamaan. ternyata mempunyai afiliasi politik yang berbeda. Penjelasan Geertz tentang adanya pengelompokkan masyarakat Jawa ke dalam kelompok sosial politik didasarkan pada orientasi ideologi keagamaan. Teori politik aliran dapat digunakan untuk memberikan penjelasan yang baik mengenai salah satu dasar (basis) pengelompokkan religio-sosial di Indonesia. bagi antropologi adalah melihat bagaimana agama dipraktikkan.santri dan priyayi-di dalam masyarakat Jawa. pandangan Geertz telah mengilhami banyak orang untuk melihat lebih mendalam tentang interrelasi antara keduanya. Pandangan trikotomi Geertz tentang pengelompokan masyarakat Jawa berdasar religiokulturalnya berpengaruh terhadap cara pandang para ahli dalam melihat hubungan agama dan politik. Karya Geertz ini disebut untuk sekedar memberikan ilustrasi bahwa kajian antropologi di Indonesia telah berhasil membentuk wacana tersendiri tentang hubungan agama dan masyarakat secara luas. Teori politik aliran ini. Kaum abangan lebih dekat dengan partai politik dengan isu-isu kerakyatan. ternyata telah mempengaruhi banyak orang dalam melakukan analisis baik tentang hubungan antara agama dan budaya. Dalam diskursus interaksi antara agama-khususnya Islam-dan budaya di Jawa. priyayi dengan partai nasionalis. ataupun hubungan antara agama dan politik. diinterpretasi. . yang jelas-jelas menunjukkan oposisinya adalah kelompok abangan dan santri. Walaupun Geertz mengkelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga kelompok. Antropologi yang melihat langsung secara detil hubungan antara agama dan masarakat dalam tataran grassroot memberikan informasi yang sebenarnya yang terjadi dalam masyarakat. ketika dihadapkan pada realitas politik. Melihat agama di masyarakat. Pengelompokkan sosial tersebut mempengaruhi pola interaksi politik yang lebih luas di Indonesia. Pernyataan Geertz bahwa abangan adalah kelompok masyarakat yang berbasis pertanian dan santri yang berbasis pada perdagangan dan priyayi yang dominan di dalam birokrasi. menurut Bahtiar Effendy memberikan arti penting terhadap wacana tentang hubungan antara agama-khususnya Islam-dan negara.

Bassam Tibbi tidak menafikan bahwa ada perbedaan-perbedaan yang nyata antara penafsiran demokrasi di Barat dan di wilayah lain sehingga muncul adanya Demokrasi Asia (Asian Democracy) atau Demokrasi Islam (Islamic Democracy).Kepentingan untuk melihat agama dalam masyarakat juga sangat penting jika dikaitkan dengan wacana posmodernisme yang berkembang belakangan ini. Ia mengakui bahwa fenomena demokrasi adalah fenomena universal yang mau tidak mau mempengaruhi masyarakat lain yang tidak mempunyai tradisi demokrasi untuk mengadopsinya. menunjukkan bangkitnya "pengetahuan lokal" di era posmodernisme. Penggunaan alat telekomonukasi dan komputer dengan internetnya dapat juga membuktikan bahwa globalisasi telah mencapai pada satu kesepakatan bersama. globalisasi berarti adalah diterimanya sistem demokrasi liberal sebagai satu sistem yang laik dipakai. menjadi sangat penting. Namun demikian hal itu tidak berarti bahwa budayabudaya lokal harus menyerah dan digantikan total dengan demokrasi. utamanya mereka yang terlibat langsung dengan urusan budaya seperti antropologi. Tetapi perbedaan itu bukan berarti akan menimbulkan konflik seperti apa yang disinyalir oleh Samuel Huntington. mereka bersepakat tentang bangkitnya-dalam arti diakuinya kembali local knowledge sebagai sebuah kebenaran-budaya lokal dalam percaturan dunia global. Terbukanya komunikasi dan ruang bagi dialog antarbudaya memungkinkan masingmasing budaya untuk mengungkapkan atau memberikan alternatif terhadap kebenaran. Bagi ahli politik. Bagi ahli ekonomi. misalnya apa yang disinyalir oleh Fukuyama dengan klaimnya “The End of History and the Last Man”. Walaupun para ilmuwan sosial masih mendebatkan apakah yang disebut sebagai posmodernis adalah "fenomena" atau sebuah kerangka "desconstruction theory". Namun bagi ilmu sosial. wujudnya sistem moneter ala Keynesian telah membuktikan bahwa dunia perekonomian menganut satu sistem. Artinya pertanyaan apakah globalisasi nanti akan juga menyatukan budaya dunia atau akan munculnya kembali budaya-budaya lokal dalam pertarungan dunia. Ia lebih optimis melihat perbedaan itu sebagai awal dari keharusan untuk mengadakan dialog antarbudaya untuk menelorkan yang ia . Ungkapan terkenal James Clifford tentang runtuhnya "mercu suar" untuk mengklaim suatu kenyataan dengan ukuran rasionalitas Barat. globalisasi mengimplikasikan makna yang lain. Bassam Tibbi mengungkapkan bahwa globalisasi memungkin manusia untuk melakukan dialog antarkebudayaan yang ada di dunia.

maka budaya adalah jaring-jaring itu. Mengutip Max Weber bahwa manusia adalah makhluk yang terjebak dalam jaring-jaring (web) kepentingan yang mereka buat sendiri. Pertama. maka mengkaji budaya dan masyarakat yang melingkupi kehidupan manusia juga menjadi sangat penting. adalah aspek esensial manusia yang tidak dapat dipisahkan dalam memahami manusia. yang kemudian dia bisa memenuhi gambaran realitas kehidupan (worldview) yang hendak dicapai oleh manusia. artinya kajian agama harus diarahkan pada pemahaman aspek-aspek social context yang melingkupi agama.sebut sebagai "international morality". karakter dan kualitas dari kehidupan manusia yang berarti juga aspek moral maupun estitika mereka. Berdasar pada pengertian ini agama sebagai ethos telah membentuk karakter yang khusus bagi manusia. maka dapat dilihat relevansinya dengan melihat dari dua hal. melainkan kajian interpretatif untuk mencari makna (meaning). sebagai system of meaning yang memberikan arti bagi kehidupan dan perilaku manusia. Kebudayaan. berperilaku dan memandang kehidupan." Bagi Geertz agama telah memberikan karakter yang khusus bagi manusia yang kemudian mempengaruhi tingkah laku kesehariannya. Geertz kemudian mengelaborasi pengertian kebudayaan sebagai pola makna (pattern of meaning) yang diwariskan secara historis dan tersimpan dalam simbol-simbol yang dengan itu manusia kemudian berkomunikasi. . Tanpa memahami manusia maka pemahaman tentang agama tidak akan menjadi sempurna. Di samping itu agama memberikan gambaran tentang realitas yang hendak dicapai oleh manusia. Oleh karena itu analisis tentang kebudayaan dan manusia dalam tradisi antropologi tidaklah berupaya menemukan hukum-hukum seperti di ilmuilmu alam. penjelasan antropologi sangat berguna untuk membantu mempelajari agama secara empirik. Hal ini jelas menunjukkan bahwa persoalan agama yang harus diamati secara empiris adalah tentang manusia. maka agama sebagai sebuah sistem makna yang tersimpan dalam simbol-simbol suci sesungguhnya adalah pola makna yang diwarisi manusia sebagai ethos dan juga worldview-nya. suatu sistem nilai dunia yang dihasilkan dari gabungan nilai-nilai terbaik dari budaya-budaya yang ada. Jika kembali pada persoalan kajian antropologi bagi kajian Islam. Dipandang dari makna kebudayaan yang demikian. dan sekaligus mengarahkan kepada kehidupan yang lebih baik. Pada dasarnya agama diciptakan untuk membantu manusia untuk dapat memenuhi keinginan-keinginan kemanusiaannya. Kajian agama secara empiris dapat diarahkan ke dalam dua aspek yaitu manusia dan budaya. Clifford Geertz mengartikan ethos sebagai "tone. Kemudian sebagai akibat dari pentingnya kajian manusia.

jika dalam Islam bisa dilihat peran para sahabat. Kajian agama dengan crossculture akan memberikan gambaran yang variatif tentang hubungan agama dan budaya. Sesungguhnya harus disadari bahwa tidak dapat dielakkan agama tanpa pengaruh budaya-ulah pikir manusia-tidak akan dapat berkembang meluas ke seluruh manusia. menerjemahkan dan mengkonstruksi ajaran agama ke dalam suatu kerangka sistem yang . dengan mempelajari wacana. Bukankah penyebaran agama sangat terkait dengan usaha manusia untuk menyebarkannya ke wilayahwilayah lain.Kajian antropologi juga memberikan fasilitas bagi kajian Islam untuk lebih melihat keragamaan pengaruh budaya dalam praktik Islam. ketika menulis tentang perjuangan para Sufi di Cyrenica Libia melawan penjajahan Italia. tetapi berasal dari wahyu suci Tuhan. pemahaman dan tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan ajaran agama. terutama abad ke 16 dan 17. Persoalan itu ditambah lagi dengan keyakinan bahwa agama adalah bukan hasil rekayasa intelektual manusia. dirasakan juga oleh mereka yang beragama. berkembang dengan pesat. tradisi antropologi untuk mengkaji agama. mengatakan bahwa dilema kajian tentang agama adalah bahwa pemahaman realitas agama tidak akan sepenuhnya dapat difahami kecuali oleh orang yang mengamalkan agama itu sendiri. misalnya. Kesulitan itu terjadi karena ketakutan untuk membicarakan masalah agama yang sakral dan bahkan mungkin tabu untuk dipelajari. Tidak dapat disangkal bahwa kemudian Evans-Pritchard dapat menggambarkan fenomena Sufi di Cyrenica dengan penuh empati. Tradisi Antropologi dalam Kajian Agama: Kajian Empirik Relasi Agama dan Sosial Walaupun sejak awal disadari bahwa kajian tentang agama akan mengalami kesulitan karena meneliti sesuatu yang menyangkut kepercayaan (beliefs) yang ukuran kebenarannya terletak pada keyakinan. Dengan pemahaman yang luas akan budaya-budaya yang ada memungkinkan kita untuk melakukan dialog dan barangkali tidak mustahil memunculkan satu gagasan moral dunia seperti apa yang disebut Tibbi sebagai "international morality" berdasarkan pada kekayaan budaya dunia. dimana ia merasa kesulitan untuk menjelaskan fenomena ketaatan pengikut Sufi kepada guru Sufi mereka. Pemahaman realitas nyata dalam sebuah masyarakat akan menemukan suatu kajian Islam yang lebih empiris. Kesulitan mempelajari agama dengan pendekatan budaya. Sehingga realitas keagamaan diyakini sebagai sebuah "takdir sosial" yang tak perlu lagi dipahami. Hal ini pernah ia rasakan. Dan bukankah pula usaha-usaha manusia. salah seorang pionir dalam tradisi antropologi sosial di Inggris. Evans-Pritchard.

Namun perlu juga ditandaskan bahwa sikap mempertanyakan kembali makna agama dan relevansinya dengan kehidupan sosial juga fenomena universal yang ada dimana-mana. Walaupun definisi agama ini sangat minimalis. Socrates berapa ribu tahun yang lalu menyatakan bahwa fenomena agama adalah fenomena kemanusiaan. . Tetapi. Kajian-kajian agama baik dalam masyarakat primitif sampai pada masyarakat yang modern menunjukkan bahwa keberadaan agama selalu mengandung dua sisi yang berbarengan.B. keberadaan agama dalam masyarakat telah mendorong lahirnya banyak kajian tentang agama. Makanya kecenderungan tradisi intelektualisme ini kemudian meneliti dari sudut perkembangan agama dari yang anismisme menuju monoteisme. Keberagaman sosial budaya yang ada di dunia ini mengakibatkan pada kompleksitas agama. intellectualist. Demikian juga agama berkembang dari kecenderungan anismisme menuju monoteisme dan akan kembali ke animisme. Pernyataan ini seringkali digunakan para apologis agama untuk menguatkan keyakinan mereka akan betapa mendasarnya posisi agama dalam nilai-nilai kemanusiaan. berdasar pada ajaran yang terdapat dalam kitab suci. functionalist dan symbolist. Menurut Mircea Eliade perkembangan agama menujukkan adanya gejala seperti bandul jam yang selalu bergerak dari satu ujung ke ujung yang lain. structuralist. Secara garis besar kajian agama dalam antropologi dapat dikategorikan ke dalam empat kerangka teoritis. Max Muller berpandangan bahwa agama bermula dari monotheisme kemudian berkembang menjadi agama-agama yang banyak itu. Sebagai fenomena universal yang kompleks.dapat diikuti oleh manusia. Kajian-kajian tentang agama berkembang bukannya karena agama ternyata tak dapat dipisahkan dari realitas sosial. ilmu fikih dan ilmu usul fikih adalah hasil konstruksi intelektual manusia dalam menerjemahkan ajaran agama sesuai dengan kebutuhan manusia di dalam lingkungan sosial dan budayanya. yaitu kecenderungan transendensi dan sekularisasi. Taylor yang berupaya untuk mendefinisikan agama sebagai kepercayaan terhadap adanya kekuatan supranatural. ilmu hadits. Tradisi kajian agama dalam antropologi diawali dengan mengkaji agama dari sudut pandang intelektualisme yang mencoba untuk melihat definisi agama dalam setiap masyarakat dan kemudian melihat perkembangan (religious development) dalam satu masyarakat. tetapi ternyata realitas keagamaan berperan besar dalam perubahan sosial dan transformasi sosial. Termasuk dalam tradisi adalah misalnya E. Lahirnya ilmu tafsir. definis ini menunjukkan kecenderungan melakukan generalisasi realitas agama dari animisme sampai kepada agama monoteis.

Ketiga teori. Dalam agama sederhana suku Aborigin Australia ditemukan bahwa penyembahan kepada yang sacred ternyata diberikan kepada hal-hal yang profan semisal Kanguru. strukturalis. . Claude Levi-Strauss adalah satu murid Durkheim yang terus mengembangkan pendekatan strukturalisme. sesungguhnya lahir dari Emile Durkheim. Fungsi psikologi agama. Di samping kritik terhadap pendekatan intelektualis itu. Pandangan Durkheim yang mengasumsikan bahwa masyarakat selalu dalam keadaan equilibrium dan saling terikat satu dengan yang lain. Lewat buku itu Durkheim ingin melihat agama dari bentuknya yang paling sederhana yang diimani oleh suku Aborigin di Asutralia sampai ke agama yang well-structured dan well-organised seperti yang dicerminkan dalam agama monoteis. Buku Durkheim. Durkheim juga mengungkapkan bahwa masyarakat dikonseptualisasikan sebagai sebuah totalitas yang diikat oleh hubungan sosial. Bagi Levi-Strauss agama baik dalam bentuk mitos. sebagai penguat dari ikatan moral masyarakat dan fungsi sosial agama sebagai penguat solidaritas manusia menjadi dasar dari perkembangan teori fungsionalisme. The Elementary Forms of the Religious Life. utamanya untuk mencari jawaban hubungan antara individu dan masyarakat. Durkheim menemukan bahwa aspek terpenting dalam pengertian agama adalah adanya distingsi antara yang sacred dan yang profan. fungsionalis dan simbolis. Dalam pengertian ini maka society (masyarakat) bagi Durkheim adalah "struktur dari ikatan sosial yang dikuatkan dengan konsensus moral. magic adalah model bagi kerangka bertindak bagi individu dalam masyarakat. Sementara itu pandangan Durkheim tentang fungsi dalam masyarakat sangat berpengaruh dalam tradisi antropologi sosial di Inggris. Namun demikian ia tak setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa yang sacred itu selalu bersifat spiritual. telah mendorong para antropolog untuk melihat fungsi agama dalam masyarakat yang seimbang tersebut. telah mengilhami banyak orang dalam melihat agama." Pandangan ini yang mengilhami para antropolog untuk menggunakan pendekatan struktural dalam memahami agama dalam masyarakat. Jadi pandangan sosial Durkheim dikembangkan oleh Levi-Strauss kepada tidak saja secara hubungan sosial tetapi juga dalam ideologi dan pikiran sebagai struktur sosial. Branislaw Malinowski mengatakan bahwa fungsi agama dalam masyarakat adalah memberikan jawaban-jawaban terhadap permasalahan-permasalahan yang tidak dapat diselesaikan dengan common sense-rasionalitas dan kemampuan menggunakan teknologi.

Ketika sebuah masyarakat traditional Suku Trobiand di daerah pesisir Papua Nugini menemukan bahwa ladangnya telah dirusak oleh babi hutan. melainkan sebagai simbol dari apa yang sebenarnya terjadi dalam masyarakat. mereka melakukan ritual dengan sesaji sebagai sarana komunikasi dengan kekuatan spiritual untuk menyelesaikan masalah yang unpredictable. manusia menggunakan kemampuan rasionalitas dan penciptaan teknologi. ritual sebagai media untuk mengurangi permusuhan (reduce hostility) di antara warga masyarakat yang disebabkan adanya kecurigaan-kecurigaan niat jahat seseorang kepada yang lain. ritual. utama cult ritual (ritual yang berhubungan dengan masalah-masalah ketidakberuntungan-misfortune) mengandung empat fungsi sosial yang penting. Pertama. mereka menggunakan agama sebagai pemecahnya. Di samping tradisi intelektual dan tiga tradisi-strukturalis. Pandangan Durkheim mengenai makna dan fungsi ritual dalam masyarakat sebagai suatu aktifitas untuk mengembalikan kesatuan masyarakat mengilhami para antropolog untuk menerapkan pandangan ritual sebagai simbol. fungsionalis dan simbolis-yang berakar dari tradisi Durkheim. Oleh karena itu. Ritual bagi masyarakat Ndembu adalah tempat mentransendensikan konflik keseharian kepada nilai-nilai spiritual agama.Dalam setiap kali menyelesaikan persoalan-persoalannya. dimana gelombang lautan dan cuaca yang tidak dapat mereka kontrol dengan kemampuan rasionalitas dan teknologi. Kedua. Salah satu yang menggunakan teori tersebut adalah Victor Turner ketika ia melakukan kajian ritual (upacara keagamaan) di masyarakat Ndembu di Afrika. ritual sebagai medium untuk menegaskan kembali nilai-nilai masyarakat. Turner melihat bahwa ritual adalah simbol yang dipakai oleh masyarakat Ndembu untuk menyampaikan konsep kebersamaan. ritual sebagai sarana untuk memantapkan kembali hubungan yang akrab. Ketiga. walaupun tidak secara eksplisit Durkheim membangun teori simbolisme. Keempat. maka dengan kemampuan rasionalitas dan penguasaan teknologinya masyarakat suku Trobiand membuat pagar agar babi tak dapat lagi masuk ke ladangnya. Jadi Turner melihat ritual tidak hanya sebagai kewajiban (prescribed) saja. Weber lebih tertarik untuk melihat hubungan antara doktrin agama dan aktifitas duniawi . Maka sebelum mereka berlayar. ada tradisi dalam kajian agama yang berkembang dari pandanganpandangan Weber. Namun ketika hendak berburu ikan di lautan. ritual digunakan untuk menutup jurang perbedaan yang disebabkan friksi di dalam masyarakat. Teori simbolisme yang menjadi teori dominan pada dekade 70-an sebenarnya juga mengambil akarnya dari Durkheim. Tidak seperti halnya tradisi-tradisi intelektualis dan tradisi Durkheimian.

Dalam kajian tentang hubungan antara etika Protestan. maka sesungguhnya persoalanpersoalan manusia adalah juga merupakan persoalan agama. pertanyaan keabsahan suatu agama tidak terletak pada argumentasi-argumentasi teologisnya. Ajaran etika tentang bekerja keras yang selalu muncul dalam tulisan-tulisan pendeta sekte Calvinisme dan yang juga menjadi tema-tema yang diulangulang dalam ceramah keagamaan sekte ini. melainkan terletak pada bagaimana agama dapat berperan dalam kehidupan sosial manusia. dan perkembangan kapitalisme modern. Kajian yang dilakukan oleh Robert N. sebab dalam kaitannya dengan kehidupan manusia. tentu hal-hal yang empirislah. Al-Qur'an seringkali menggunakan "orang" untuk menjelaskan konsep kesalehan. khususnya sekte Calvinisme. Kajian-kajian yang demikian ini tidak lagi mempersoalkan benar dan salahnya suatu agama. Pentingnya mempelajari realitas manusia ini juga terlihat dari pesan Al-Qur'an ketika membicarakan konsep-konsep keagamaan. Di sini terlihat betapa kajian tentang manusia. untuk menjelaskan tentang konsep takwa. Misalnya. Di sini agama diposisikan dalam kerangka sosial empiris. Dalam pandangan ilmu sosial. Tradisi yang dikembangkan oleh Weber ini banyak diikuti oleh ilmuwan sosial utamanya di Amerika. Tanpa memahami realitas manusiatermasuk di dalamnya adalah realitas sosial budayanya-pemahaman terhadap ketuhanan tidak akan sempurna. Dalam Islam manusia digambarkan sebagai khalifah (wakil) Tuhan di muka bumi.manusia. yang menjadi perhatian kajian sosial. menunjukkan minat Weber untuk mendiskusikan hubungan antara religious ethic dan kapitalisme. Al-Qur'an . Oleh karena itu Weber tidak tertarik untuk mendiskusikan definisi atau argumentasi rasionalitas keberadaan agama. karena separuh dari realitas ketuhanan tidak dimengerti. walaupun hal yang ghaib juga menjadi hal penting. adalah sesuai dengan karakter buruh modern. dan juga kajian yang dilakukan oleh Geertz tentang pasar di Jawa dan priyayi Bali memakai pendekatan yang dipakai oleh Weber. Jika agama diperuntukkan untuk kepentingan manusia. tetapi melihat sejauhmana agama-aspek idealisme-mempengaruhi perilaku sosial manusia. seperti misalnya ekonomi dan politik. Bellah tentang Tokugawa Religion yang mencoba melihat hubungan etika agama dengan restorasi Meiji. Akibat yang nyata dari pendekatan kajian di atas menempatkan agama pada realitas empiris yang dapat dilihat dan diteliti. yang itu menjadi pusat perhatian antropologi. Secara antropologis ungkapan ini berarti bahwa sesungguhnya realitas manusia adalah realitas ketuhanan. menjadi sangat penting. sebagaimana realitas sosial lainnya.

Oleh karena itu pemahaman konsep agama terletak pada pemahaman realitas kemanusiaan. Jadi bagi Geertz norma atau nilai keagamaan harusnya diinterpretasikan sebagai sebuah simbol yang menyimpan konsepsi . Karya Geertz. Agama Sebagai Sistem Budaya Geertz adalah orang pertama yang mengungkapkan pandangan tentang agama sebagai sebuah system budaya. Weber dan Durkheim yang berkutat pada teori fungsionalisme dan struktural fungsionalisme. maka diperlukan kajian cross culture untuk melihat realitas universal agama. Marshal Hodgson menggambarkan bahwa bermacam-macamnya manifestasi agama dalam kebudayaan tertentu-little tradition-sesungguhnya adalah mosaik dari realitas universal agama-great tradition. Walaupun Geertz mengakui bahwa ide yang demikian tidaklah baru. tetapi agaknya sedikit orang yang berusaha untuk membahasnya lebih mendalam. adalah mempelajari Tuhan-baca agama-dalam realitas empiris. Dengan demikian realitas manusia sesungguhnya adalah realitas empiris dari ketuhanan. Geertz mengartikan simbol sebagai suatu kendaraan (vehicle) untuk menyampaikan suatu konsepsi tertentu. Tidak seperti pendahulunya yang menganggap agama sebagai bagian kecil dari system budaya. Kalau kita merujuk pada pesan Qur'an yang demikian itu sesungguhnya. Maka mempelajari realitas manusia. Al-Qur'an menggunakan kata "orang sabar" dan seterusnya. Kenyataan bahwa realitas manusia-yang tercermin dalam bermacam-macam budaya-beragam. "Religion as a Cultural System. dengan segala aspeknya. Pandangan Geertz. Geertz berkayinan bahwa agama adalah system budaya sendiri yang dapat membentuk karakter masyarakat. saat itu ketika teori-teori tentang kajian agama mandeg pada teori-teori besar Mark.menunjuk pada konsep "muttaqien". Geertz dapat dikategorikan ke dalam kelompok kajian semiotic tradition warisan dari Ferdinand de Saussure yang pertama mengungkapkan tentang makna simbol dalam tradisi linguistik. konsep-konsep keagamaan itu termanifestasikan dalam perilaku manusia. untuk menjelaskan konsep sabar. Oleh karena itu Geertz mendefinisikan agama sebagai: "A system of symbols which acts to establish powerful." Dengan pandangan seperti ini. pervasive and long-lasting moods and motivations of a general order of existence and clothing these conceptions with such an aura of factuality that the moods and motivations seem uniquely realistic." dianggap sebagai tulisan klasik tentang agama. Geertz mengungkapkan bahwa agama harus dilihat sebagai suatu system yang mampu mengubah suatu tatanan masyarakat. Dan persoalan-persoalan yang dihadapi manusia adalah cerminan dari permasalahan ketuhanan. memberikan arah baru bagi kajian agama.

Pendidikan Islam Dalam Pendekatan Antropologi Antropologi adalah suatu ilmu yang memahami sifat-sifat semua jenis manusia secara lebih komprehensif. antropologi terfregmentasi menjadi beberapa bagian yang masing-masing ahli antropologi mengkhususkan dirinya pada spesialisasi bidangnya masing-masing. pada satu sisi ia merupakan modes for reality dan di sisi yang lainnya ia merupakan modes of reality. Sementara itu Islam Observed ingin melihat perwujudan agama dalam masyarakat yang berbeda untuk memperlihatkan kemampuan agama dalam mewujudkan masyarakat maupun sebagai perwujudan dari interaksi dengan budaya lokal. Pada era dewasa ini. Buku The Religion of Java memperlihatkan hubungan agama dengan ekonomi dan politik suatu daerah. sementara itu sisi modes of reality merupakan pengakuan Geertz akan sisi agama yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan perilaku manusia. Antropologi pertama kali dipergunakan oleh kaum Misionaris dalam rangka penyebaran agama Nasrani dan bersamaan dengan itu pula berlangsung sistem penjajahan terhadap negar-negara diluar Eropa. antropologi dipergunakan sebagai suatu hal untuk kepentingan kemanusiaan yang lebih luas. antropologi agama. Juga bagaimana agama menjadi ideologi kelompok yang kemudian menimbulkan konflik maupun integrasi dalam suatu masyarakat. antropologi menjadi amat plural. Dan hubungan dengan ini pula. Simbol keagamaan tersebut mempunyai dua corak yang berbeda. Karya Geertz yang tertuang dalam The Religion of Java maupun Islam Observed merupakan dua buku yang bercerita bagaimana agama dikaji dalam masyarakat. antropologi kebudayaan. di negara-negara yang masuk dalam kategori Negara ketiga (Negara berkembang) sangat urgen sebagai “pisau analisis” untuk pengambilan kebijakan (policy) dalam rangka pembangunan dan pengembangan masyarakat.tertentu. Studi antropologi selain untuk kepentingan pengembangan ilmu itu sendiri. maka tidak ada seorang ahli antropologi yang mampu menelaah dan menguasai antropologi secara sempurna dan global. Geertz menerapkan pandangan-pandangannya untuk meneliti tentang agama dalam satu masyarakat. ada bermacam-macam antropologi seperti antropologi ekonomi. sesuai dengan perkembangan ahli-ahli antropologi dalam mengarahkan studinya untuk lebih memahami sifat-sifat dan hajat hidup manusia secara lebih komprehensif. Sebagai suatu disiplin ilmu yang cakupan studinya cukup luas. Pada dataran ini. Sehingga. antropologi politik. . Yang pertama menunjukkan suatu existensi agama sebagai suatu sistem yang dapat membentuk masyarakat ke dalam cosmic order tertentu.

dan lain sebagainya. Maka antropologi pendidikan Islam. Dan dalam studi kependidikan yang dikaji melalui pendekatan antropologi. Meskipun berkemungkinan ada yang menjadi antropolog pendidikan setelah memperoleh wawasan pengetahuan dari mengkaji antropologi pendidikan. maka yang objek dikajiannya adalah penggunaan teori-teori dan metode yang digunakan oleh para antropolog serta pengetahuan yang diperoleh khususnya yang berhubungan dengan kebutuhan manusia atau masyarakat. Hal ini telah menjadi sorotan para ahli pendidikan Islam.antropologi pendidikan. artinya sesuatu yang dilakukan berupa upaya agar wahyu dan ajaran Islam dapat dijadikan pandangan hidup anak . Pendidikan Agama Islam arahnya dari atas ke bawah. Artinya bagaimana bagunan keilmuan yang ditonjolkan dalam ekonomi Islam muncul juga dalam dalam antropologi pendidikan Islam. Akan tetapi dalam sejarah kebudayaan Islam belum ada pengakuan terhadap tokoh-tokoh atau pelopor antropologi yang diakui dari zaman Nabi Muhammad atau sesudahnya. kaidah-kaidah keilmiahannya harus juga bersumber atau didasarkan pada Al Qur’an dan As Sunah. maka antropologi pendidikan Islam tentunya harus dikategorikan “sama” dengan ekonomi Islam. maka kajian tersebut masuk dalam sub antropologi yang bias dikenal menjadi antropologi pendidikan. sehingga muncul pula kaidahkaidah keilmiahannya yang bersumber dari kitab suci Al Qur’an dan dari As Sunah. seorang filsuf wanita pada tahun 1941. menyampaikna pidatonya dihadapan American Philosophical Association Eastern Division. bukan bertujuan menghasilkan ahli-ahli antropologi melainkan menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang pendidikan melalui perspektif antropologi. kajian materi antropologi pendidikan. bahwa hal tersebut merupakan suatu langkah yang ada relevansinya dengan isu-isu Islamisasi ilmu pengetahuan. Artinya apabila antropologi pendidikan dimunculkan sebagai suatu materi kajian. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana kedudukan antropologi pendidikan sebagai sebuah disiplin studi yang tergolong baru di tambah kata “Islam” sehingga menjadi “antropologi pendidikan Islam”. bahwa antropologi telah memberi lebih banyak kejelasan tentang sifat manusia daripada semua pemikiran filsuf atau studi para ilmuwan di laboratoriumnya. Grace de Raguna. antropologi perkotaan. Seperti dalam ekonomi Islam (juga Hukum Islam) yang sejak awal pertumbuhannya telah diberi contoh oleh Nabi Muhammad dan diteruskan oleh para sahabat. Dengan demikian. Karakteristik dari antropologi pendidikan Islam adalah terletak pada sasaran kajiannya yang tertuju pada fenomena pemikiran yang berarah balik dengan fenomena Pendidikan Agama Islam (PAI). Dengan pola itu.

didik (manusia). Kajian tentang local Islam dapat dijadikan sebagai pengkayaan wacana manusia. Uraian di atas memperlihatkan bahwa sesungguhnya pemahaman agama tidak akan lengkap tanpa memahami realitas manusia yang tercermin dalam budayanya. Kesimpulan Agaknya kajian-kajian tentang agama dan budaya dapat kita arahkan dalam berbagai kerangka. kajian tersebut dapat dipusatkan untuk mempetakan Islam lokal dalam sebuah peta besar Islam universal. Ibnu Sina. berucap-kata. Pertama dapat kita terapkan dalam upaya mencari konsep-konsep lokal tentang bagaimana agama dan budaya berinteraksi. Dalam kitabnya al-Siyasah. Sedangkan antropologi pendidikan Islam dari bawah ke atas. Barangkali tidak berlebihan untuk menyebut bahwa realitas manusia sesungguhnya adalah realitas ketuhanan yang empiris. Ketiga. Ibnu Sina banyak memaparkan tentang pentingnya pendidikan usia dini yang dimulai dengan pemberian “nama yang baik” dan diteruskan dengan membiasakan berperilaku. dan berpenampilan yang baik serta pujian dan hukuman dalam mendidikan anak. agar anak dapat membangun pandangan hidup berdasarkan pengalaman agamanya bagi kemampuannya untuk menghadapi lingkungan. Kedua. Sedangkan masalah yang mendasar pada antropologi pendidikan Islam adalah berpusat pada pengalaman apa yang ditemui. Dan juga yang paling urgen adalah penanaman nilai-nilai sosial pada anak seperti rasa belas kasihan (confession) dan empati terhadap orang lain. Sebagai ilmu yang mengkhususkan diri . local discourse atau local konwledge yang tumbuh dari pergumulan agama dan budaya dapat dijadikan sebagai tambahan wacana baru globalisasi. Di sinilah letak pentingnya kajian antropologi dalam mengkaji Islam. Dengan demikian pemahaman agama secara keseluruhan tidak akan tercapai tanpa memahami separuh dari agama yaitu manusia. Masalah ilmiah yang mendasar pada Pendidikan Agama Islam adalah berpusat pada bagaimana (metode) cara yang seharusnya dilakukan. yang kita kenal sebagai tokoh kedokteran dalam dunia Islam ternyata juga merupakan sorang pemerhati pendidikan anak usia dini yang merupakan pengalaman pertama anak. mempunyai sesuatu yang diupayakan dalam mendidik anak. Posisi penting manusia dalam Islam-seperti digambarkan dalam proses penciptaannya yang ruhnya merupakan tiupan dari ruh Tuhan-memberikan indikasi bahwa manusia menempati posisi penting dalam mengetahui tentang Tuhan.

Jakarta: CV. Raja Grafindo Persada. Jakarta: Aksara Baru.mempelajari manusia-yang merupakan realitas empiris agama-maka antropologi juga merupakan separuh dari ilmu agama itu sendiri. Ilmu Budaya Dasar. Munandar. Jakarta: Media Da’wah Azyumardi Azra. Erosco. Jakarta: PT. Jakarta: PT. Kearah Antropologi Islam. Pengantar Ilmu Antropologi. Hoselitz. Pendidikan Islam: Tradisi Dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Yogyakarta: Gama Media. 2002. Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik: Humanisme Relegius Sebagai Paradigma Pendidikan Islam. Logos Wacana Ilmu. RajaGrafindo Persada. Bandung: PT. 2002. Erosco. Metodologi Studi Islam. Akbar S. Jakarta: PT.. 1980 M. DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman Mas’ud. Membuka Jendela Pendidikan: Mengurai Benang Tradisi Dan Integrasi Keilmuan Pendidikan Islam. Panduan Dasar Ilmu-Ilmu Sosial. Munandar Sulaeman. Ahmad. Ilmu Budaya Dasar. 1993 Noto Abuddin. Bets F. 2004. 2004 Sulaeman. Rajawali. Bandung: PT. 1988 Imam Tholkhah dan Ahmad Barizi. 1993 Diposkan oleh tasauf dalam islam di 22:12 0 komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langgan: Poskan Komentar (Atom) Pengikut Arsip Blog • ▼ 2009 (10) o ▼ November (10)  ISLAM MASA KHULAFAUR RASYIDIN . Koentjaraningrat.

. DAN PERADABAN PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM KAJIAN ISLAM PENDEKATAN HISTORIS DALAM STUDI ISLAM PRODUK-PRODUK PEMIKIRAN DAN PERADABAN ISLAM Makalah Filsafat Ilmu makalah Pembelajaran Piqih Makalah METAFISIKA RIVIEW TENTANG TAFSIR dan HADITS TARBAWI MENELADANI SIFAT – SIFAT NABI SAW Kajian .         ISLAM AGAMA.kajian... KEBUDAYAAN.

geografi. unity of guidance. Karena Islam itu . unity of the purpose of life. maka Allah pula yang paling tahu apa yang baik atau buruk bagi manusia. Keempat. bahasa. Menurut Amien Rais. Bagi orang yang beriman. sejarah. yaitu kesatuan kemanusiaan. Bagi orang yang beriman. unity of creation. dan segala perbedaan yang melatarbelakangi keragaman umat manusia tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan diskriminasi. satu-satunya tujuan hidup adalah untuk mencapai rida Allah. yaitu kesatuan ketuhanan. Hal ini bisa dirujuk pada pernyataannya yang retoris: “Benang merah dari ajaran Islam adalah keadilan. Kedua. Karena Allah yang menciptakan manusia. yakni yang datangnya dari Allah yang berupa wahyu. Pertama. sehingga kita betul-betul dapat mencapai kebahagiaan di dunia maupun akhirat. Ketiga. berarti semua ibadah murni (mahdhah) seperti salat. perbedaan warna kulit. yaitu kesatuan penciptaan. Seluruh makhluk di alam semesta ini. puasa.Istilah “tauhid sosial” merupakan istilah baru yang diperkenalkannya dalam wacana ilmu-ilmu sosial. dan seterusnya memiliki dimensi sosial. Kelima. unity of Godhead. merupakan bagian dari ciptaan Allah. tauhid sesungguhnya menurunkan atau mengisyaratkan adanya lima pengertian. tetapi harus dilanjutkan dalam bentuk perbuatan. baik yang kelihatan maupun yang tidak. unity of mankind. hanya ada satu pedoman hidup. Tauhid sosial dimaksudkan sebagai dimensi sosial dari pengakuan kita bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad itu adalah Rasul-Nya. yaitu kesatuan tujuan hidup. Sebagai muslim. tidaklah cukup kalimat tauhid tersebut hanya dinyatakan dalam bentuk ucapan (lisan) dan diyakini dalam hati. Konsep “tauhid sosial” ini tampaknya muncul dari Amien Rais sebagai respon terhadap meluasnya persoalan ketidakadilan yang ia lihat. haji. yaitu kesatuan pedoman hidup. Jadi. yang lahir maupun yang gaib. Kualitas ibadah seseorang sangat tergantung pada sejauh mana ibadah tersebut mempengaruhi perilaku sosialnya. Sebagai konsekuensi pemikiran ini.

antara lain Tauhid Sosial. orang kemudian mempertanyakan praktek sosial Islam yang dianggap tidak komprehensif. adalah kewajiban si kaya untuk melakukan proses pemerataan sosial ekonomi ke seluruh masyarakat. sekaligus memperoleh ridha Allah. Syafi’i Ma’arif menyebutkan Tauhid Sosial sebagai dimensi praksis dari resiko keimanan kepada Allah SWT. gagasan Tauhid Sosial Syafi’i Ma’arif menggambarkan dua hal: pertama.merupakan religion of justice. Dengan mengutip Ibn Hazim . Secara substasial. gelisah. karena orang Islam selalu resah. maka secara potensial setiap orang Islam bisa menjadi trouble maker bagi kemapanan yang tidak adil. Padahal. Doktrin tauhid yang menjadi ruh kekuatan Islam tidak pernah hilang dari perjalanan sejarah. setiap orang Islam bisa menjadi masalah bagi rezim yang mapan yang mempertahankan ketidakadilan. ”Dengan merujuk sosiolog Prof. Gelner. konsep tauhid sosial Amien Rais dapat disimpulkan sebagai tuntutan terwujudnya masyarakat yang adil. Praktek sosial Islam ini banyak dibahasakan dengan berbagai istilah. secara sederhana. dan selalu ingin mengejawantahkan nilai-nilai keadilan dalam berbagai dimensi kehidupannya. yaitu pada masa Mekkah tahun-tahun awal. Doktrin ini sudah sangat dini dideklarasikan. di bawah prinsip-prinsip . iman adalah kekuatan yang menjadi pilar utama perjalanan sejarah umat Islam. bila di tengah masyarakat ada kelompok kaya dan miskin. walaupun aktualisasinya dalam dimensi kehidupan tidak selalu menjadi kenyataan. menjadi hak dari si papa untuk mengambil bagiannya dari si kaya. Amien Rais juga mengatakan bahwa di muka bumi ini. Dengan kata lain. ia juga mengatakan. Jadi. Dalam konteks ini. kepercayaan kepada ke-Esa-an Allah belum tentu terkait dengan prilaku umat dalam kiprah kesejarahannya. Memilih Islam adalah menjalani suatu pola kehidupan yang utuh dan terpadu (integrated). AlQur’an. Dan. sejarah membuktikan bahwa tauhid menjadi senjata yang hebat dalam menancapkan pilar-pilar kesejarahan Islam.

tugas terbesar Islam sebenarnya adalah melakukan transformasi sosial dan budaya dengan nilainilai tersebut. kekuatan tauhid ini harus diaktualisasikan. iman harus mampu menjawab dimensi praksis persoalan keummatan. tauhid harus diaktualisasikan: pusat keimanan Islam . tersebar dalam lima surat. Kuntowijoyo. Praktek kehidupan seperti ini telah ditunjukkan dalam perjalanan kerasulan Muhammad yang diteruskan oleh sebagian generasi setelahnya. kemudian mendirikan shalat. Islam berprinsip pada tauhid. Di dalam Al-Qur’an kita sering sekali membaca seruan agar manusia itu beriman. pada aksi.tauhid. dan juga sinkretik. pertama-tama yang harus ia miliki adalah iman. Tugas ini dibebankan pada rasul. politik. politik. Artinya. Dalam Al-Qur’an. Artinya. kita juga mengenal trilogi iman-ilmu-amal. dua makkiyah dan tiga madaniyyah. cendekiawan muslim. dan menunaikan zakat. Dalam surah Al-Baqarah ayat kedua misalnya. Kedua. Islam menolak pola kehidupan yang fragmentatif. Sehingga kekuatan tauhid inilah yang menjadi pengawal dan pusat dari semua orientasi nilai. dan kemudian beramal. Oleh karena itu. ekonomi dan budaya. Masyarakat yang adil harus didirikan dalam prinsip ‘amrun bi al-ma’ruf wa nahyun ‘ani almunkar’. ‘percaya kepada yang gaib’. pemerintah dan umat yang beriman secara keseluruhan. Setiap aspek kehidupan yang dijalani merupakan refleksi dari prinsip-prinsip tauhid itu. ekonomi dan budaya. doktrin ‘amrun bi al-ma’ruf wa nahyun ‘ani al-munkar’ dijumpai dalam delapan ayat. Dalam perspektif yang berbeda. yang kemudian terwujud dalam dimensi sosial. dikotomik. Dengan memperhatikan ini. bukan hanya tersimpan dalam teks-teks suci. kita dapat menyimpulkan bahwa iman berujung pada amal. menyatakan bahwa nilai-nilai Islam sebenarnya bersifat all-embracing bagi penataan sistem kehidupan sosial. lebih dari segalanya. Sementara dalam formulasi lain. Di dalam ayat tersebut kita melihat adanya trilogi iman-shalat-zakat. disebutkan bahwa agar manusia itu menjadi muttaqin.

sehingga pada umumnya terminologi kelas dalam konsep Marxis didefinisikan secara mashur oleh Lenin. Proses menuju ke arah itu harus dimulai dari penguatan dimensi tauhid. seperti konsep golongan dhu’afa. dan masakin. masyarakat industri menurut terminologi ini hanya mengenal dua kelas. Lenin mendefinisikan kelas sosial sebagai golongan sosial dalam sebuah tatanan masyarakat yang ditentukan oleh posisi tertentu dalam proses produksi. kelas bangsawan dan kelas borjuasi. Adanya ketidaksamaan sosial ini pada umumnya melahirkan polarisasi sosial yang dalam banyak hal melahirkan kasus-kasus kemiskinan. Al-Qur’an juga merefleksikan adanya kenyataan sosial lain mengenai pembagian kelas sosial ini. Islam menjadikan tauhid sebagai pusat dari semua orientasi nilai. kaum fakir. mustadh’afin. yaitu . termasuk untuk kemanusiaan. kesenjangan. Sementara pada saat yang sama melihat manusia sebagai tujuan dari transformasi nilai. Dengan melihat penjelasan ini. lalu masuk dalam dimensi amal berupa praktek sosial kepada sesama manusia. Dengan demikian.adalah Tuhan. Dengan demikian. Masyarakat Arab pada zaman nabi juga terbagi dalam dua kelas sosial. tauhid sosial sebenarnya merupakan perwujudan aksi sosial Islam dalam konteks menjadikannya sebagai rahmatan li al’alamin. Ketidaksamaan sosial ini kemudian dirumuskan dengan membaginya dalam istilah ‘kelas sosial’. yaitu kelas pendeta. Dalam konteks inilah Islam disebut sebagai rahmatan li al’alamin. penindasan bahkan perbudakan. Islam dan Ketidaksamaan Sosial Ketidaksamaan sosial (social inequality) terjadi di hampir semua komunitas masyarakat dunia. tetapi ujung aktualisasinya adalah manusia. dimana terdapat tiga kelas sosial di sana. ketidakadilan. kemudian dimensi epistemik. Demikian juga dalam masyarakat Eropa abad ke 17. yakni kelas bangsawan dan kelas budak. ia tidak pernah menjelaskan apa yang dimaksud dengan istilah ‘kelas’. rahmat untuk alam semesta. Tapi. Kemudian juga dikenal kelas proletar Dalam terminologi Marx.

Sebaliknya. Kendatipun demikian. Dengan doktrinnya yang terkenal. sebagai hukum alam. sebagai realitas empiris yang ditakdirkan kepada dunia manusia. “Pada dasarnya seluruh kandungan nilai Islam bersifat normatif”. Realitas sosial empiris yang dipenuhi oleh fenomena diferensiasi dan polarisasi sosial. Banyak ayat Al-Qur’an yang memaklumkan dilebihkannya derajat sosial. demikian . Terlebih lagi dalam kondisi masyarakat yang dimanjakan oleh arus materialisme sekarang ini. Dalam banyak perspektif. Dengan demikian. ekonomi. ini tidak dapat diartikan bahwa AlQur’an mentoleransi social-inequality. ‘materialisme dialektis’ dan ‘determinisme ekonomi’. Al-Qur’an melihat fenomena ketidaksamaan sosial ini sebagai sunnatullah. Marx yakin bahwa dalam masyarakat industrialkapitalis. Islam justru memiliki cita-cita sosial untuk secara terus-menerus menegakkan egalitarianisme. oleh Al-Qur’an dipandang sebagai ajang riel duniawi tempat setiap muslim akan memperjuangkan cita-cita keadilan sosialnya. Islam menghendaki adanya distribusi kekayaan dan kekuasaan secara adil bagi segenap lapisan sosial masyarakat. Keterlibatannya dalam perjuangan inilah yang akan menentukan kualitasnya sebagai khalifatullah fil ‘ardh. Kuntowijoyo punya pandangan menarik dalam merumuskan proses transformasi ini. Cita-Cita Praktek Sosial Islam Persoalannya adalah tidak mudah mewujudkan cita-cita sosial Islam ini. golongan proletar adalah yang paling miskin. Kuntowijoyo mencatat bahwa Islam mengakui adanya deferensiasi dan bahkan polarisasi sosial. Mengakui jelas tidak sama dengan mentoleransi. atau kapasitas-kapasitas lainnya dari sebagian orang atas sebagian yang lainnya. Sementara dalam Islam. Islam juga mengedepankan peran untuk mengutamakan dan membela gologan masyarakat yang tertindas dan lemah seperti kaum dhu’afa dan mustadh’afin. Proses ini memang harus dimulai dari transformasi nilai-nilai Islam. baru kemudian dilakukan lompatan-lompatan dalam dataran praksis.kelas borjuis dan kelas proletar.

Ilmu ini cenderung menunjukkan secara langsung. kepada yang empirik. Seruan ini langsung dapat diterjemahkan ke dalam praktek. sebab di sana juga . Al-Qur’an menyuruh kita bercermin kepada yang kongkret. misalnya untuk menghormati orang tua. Bagaimana mungkin kita dapat mengatur perubahan masyarakat jika kita tak punya teori sosial? Sementara Syafi’i Ma’arif berpendapat bahwa transformasi ini harus dilakukan dengan membongkar teologi klasik yang sudah tidak relevan lagi dengan masalah-masalah pemberdayaan masyarakat karena terlalu intelektual spekulatif. Pemberdayaan masyarakat hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang berdaya secara politik.Kuntowijoyo. Untuk jenis aktualisasi semacam ini. Ada dua cara bagaimana nilai-nilai normatif ini menjadi operasional dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu. Umat yang terlalu banyak berangan-angan tapi tidak berdaya adalah beban Islam dan beban sejarah. Cara yang kedua adalah mentransformasikan nilai-nilai normatif ini menjadi teori ilmu sebelum diaktualisasikan ke dalam prilaku. sosial. suatu restorasi yang membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh dari pada sekedar pendekatan legal. ke dalam prilaku. Sampai sekarang ini. nilai normatif ini diaktualkan langsung menjadi perilaku. bagaimana secara legal prilaku harus sesuai dengan sistem normatif. iptek. Pendekatan seperti ini telah dikembangkan melalui ilmu fiqh. ekonomi. kita belum melakukan usaha semacam itu. Orang yang tidak berdaya tapi ingin memberdayakan masyarakat tidak pernah akan berhasil. Metode transformasi nilai melalui teori ilmu untuk kemudian diaktualisasikan dalam dimensi praksis. Tingkatnya hanya tingkat angan-angan. Agaknya cara yang kedua ini lebih relevan pada saat sekarang ini. dan budaya. contohnya adalah seruan praktis Al-Qur’an. Pertama. jika kita ingin melakukan restorasi terhadap masyarakat Islam dalam konteks masyarakat industri. memang membutuhkan beberapa fase formulasi: teologi®filsafat sosial®teori sosial®perubahan sosial.

kita memang sudah didesak untuk segera memikirkan metode transformasi nilai Islam pada level yang empiris melalui diciptakannya ilmu-ilmu sosial Islam. konsep tauhid dalam tataran yang lebih luas tidak cukup hanya dengan membenarkan bahwa Allah itu Maha Esa. Perjuangan umat Islam yang masih bergulat untuk bangun dari kemiskinan dan keterbelakangan. pengakuan kita bahwa Tuhan hanya ada satu. pengesaan ini adalah konsep awal dan utama dalam . Ini tugas kita semua REALITA IMPLEMENTASI TAUHID SOSIAL DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT Diposkan oleh Menuju Cahaya on Sabtu. Tapi. yakni ayat-ayat kauniyah. Dengan menyadari kekurangan ini. Akan tetapi. Dan artinya kita hanya fokus kepada satu Tuhan. Jika tauhid kita artikan peng-esaan Tuhan. 10 April 2010 Konsep awal dari tauhid adalah menempatkan Allah sebagai Rabb. Allah telah menciptakan alam semesta sebagai khaliq (pencipta). Sehingga. kita perlu melakukan pembongkaran terhadap prinsip-prinsip teologi klasik yang terlalu sibuk mengurus masalah ghaib. juga tidak bijak kalau kita hanya menyimpannya dalam teks-teks suci. dan Dia tidak lain adalah Allah SWT. kejayaan di dunia dibutuhkan untuk menggapai kejayaan di akhirat. Perjuangan ke arah itu memang tidak ringan. sehingga jika seseorang belum mengimani hal ini ia tidak dapat dianggap sebagai seorang muslim yang lurus. dan kita adalah makhluq (yang diciptakan). Karenanya.terdapat ayat-ayat Allah. Tapi itulah tugas kita kalau kita mau menyumbangkan sesuatu yang anggun untuk kemanusiaan. Cita-cita sosial Islam untuk melahirkan keadilan sosial bagi seluruh alam memang masih jauh dari cita-cita. Tauhid sejatinya memerlukan manifestasi dalam realitas empiris. tentu akan sia-sia jika tak didukung oleh kerja-kerja intelektual yang menopang terbentuknya suatu tatanan sosial masyarakat seperti yang kita cita-citakan. Tapi di sisi lain. tidak lebih tidak kurang. Padahal. Konsep ini merupakan konsep paling pokok dalam aqidah. Seperti yang saya katakan tadi. suatu sistem teologi yang terlalu sibuk mengurus yang serba ghaib dan lupa terhadap yang kongkret tidak akan pernah menang dalam kompetisi duniawi. manusia harus tunduk pada penciptanya.

Ini berarti bahwa mereka telah menduakan kewajiban mereka sebagai seorang guru. tanpa implikasi sosial yang berarti. jika kita menariknya lebih dalam ia memiliki hal lain yang harus kita aplikasikan dalam kehidupan sosial juga. terutama bisa kita lihat munculnya dukun-dukun entertainer yang sering muncul di televisi. Kita harus setia terhadap aturan dan hukum sosial yang ada. menjadikan anak didik mereka berpendidikan yang sesungguhnya. akan tetapi mereka tidak pernah sekalipun melakukan penyembahan terhadapNya baik melalu shalat ataupun puasa atau yang lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa Tauhid hanya menjadi pajangan hati saja. Akan tetapi hal ini berbanding terbalik dengan kenyataan saat ini. wiraswasta atau profesi lain dan akhirnya waktu mereka untuk mengajar terkadang terenggut untuk hal-hal yang bukan dalam lingkup mendidika anak-anak mereka. entah Mama laurent. Kita tahu bahwa kewajiban utama seorang guru adalah mendidik anak didik mereka.tauhid. Artinya. Tapi konsep pengesaan ini tidak hanya berhenti di sini saja. bukan dukun. ketika kita mengingkari perintahnya. Ki Bodo atau yang lainnya. salah satu aplikasi sosialnya adalah tidak adanya peramal dan dukun. yaitu tadi dikatakan bahwa pengesaan Tuhan berarti hanya fokus kepada satu Tuhan. Maka sama . mereka termasuk orang-orang yang “musyrik sosial”. mengaku bahwa Muhammad itu Nabi mereka. maka dalam kehidupan seharihari kita juga harus fokus tehadap kewajiban yang kita emban. menyekutukan kewajiban mereka dengan kepentingan pribadi (setidaknya begitulah saya menyebutnya). bukan pula peramal. mereka tidak menghiraukan ketimpanganketimpangan sosial yang terjadi didekatnya. baik ibadah spiritual maupun sosial. tidak boleh menduakan kewajiban itu dengan kepentingan lain apalgi kepentingan pribadi. Kita tidak bisa dikatan sebagai orang yang bertauhid ketika kita melanggar janji kita dengan Tuhan. memanusiakan anak-anak didik mereka. Tidak bisa kita pungkiri jika saat ini banyak orang percaya bahwa Tuhan itu Esa. meskipun kita tetap percaya dan teguh bahwa Tuhan itu esa. Ini adalah pondasi kita untuk menggapai kesejahteraan bersama sebagai mahluk yang oleh Plato disebut Zoon Politicon atau mahluk yang bermasyarakat. artinya kita hanya percaya bahwa Allah-lah yang bisa memberikan pertolongan. Makna lain—dan merupakan kelanjutan dari makna diatas—adalah bahwa tauhid bisa diartikan kesetiaan dan ketaatan kita terhadap Tuhan. mereka juga tidak peka terhadap kehidupan sekitarnya. maka itu berarti kita masuk dalam golongan orang-orang munafik. ada yang merangkap pengusaha. dimana banyak guru yang tidak hanya menjadi guru. kita juga harus setia dan taat terhadap segala janji yang kita ucapkan terhadap orang lain. Maka menurut penulis. Jika kita ingat sebuah perkataan Nabi yang menyatakan bahwa jika berjanji lalu kita mengingkari. Makna ini juga mempunya sisi lain yang dapat dan harus kita implementasikan dalam kehidupan sosial. maka berarti kita telah menduakan Dia sebagai Yang Maha memberikan pertolongan. Kita bertauhid berarti kita mengikat diri dengan janji kita dengan Tuhan. Akan tetapi. Contoh kecilnya adalah realita kehidupan para guru—terutama pns—saat ini. mereka tidak fokus terhadap satu kewajiban utama mereka. hal ini mulai terhapus dan dihapus pada masa ini.Karena jika kita tidak berpikiran demikian. Kesetiaan dan ketaatan adalah sebuah keniscayaan yang harus kita miliki selama kita menginginkan kehidupan yang tentram. Dan lagi-lagi. nampaknya makna ini juga sudah mulai tidak berlaku lagi dalam masyarakat kita. janji untuk taat terhadap segala aturan yang Dia berikan. tidak cukup dengan mengesakan Tuhan tanpa melakukan ibadah-ibadah yang di perintahkanNya. hanya dengan keduanya kita bisa membangun kepercayaan orang lain trhadap kita. Karena hanya dengan keduanya kita bisa menjalin relasi yang baik dengan orang lain.

dan reformasi sosial. mulai saat itu pula ia menyebarkan misi keagamaan. Tauhid sebagai ilmu. 1994:27). 2003:137). jika kita tidak setia dan tidak taat terhadap janji kita dalam ranah sosial. seorang hamba akan lebih termotifasi ketaatannya dalam beribadah kepada Allah. maka itu berarti bahwa kita “munafik sosial”. Sedangkan makna ibadah adalah taat kepada Allah dengan menjalankan apa yang telah diperintahkan-Nya melalui lesan-lesan para Rosul. termasuk oleh para petinggi negeri yang megingkari janjinya dengan memakan uang yang seharusnya tidak mereka makan. (Hasan. Dengan mentaati perintah dan cara-cara yang Rosul ajarkan. Tauhid Sosial Sebagai Konsekuensi Tauhiddullah Oleh. Tapi. 2004:21). baru dikenal ratusan tahun setelah Nabi Muhammad wafat. Secara umum disepakati bahwa periode Mekkah. agar mendapatkan nilai bagus yang mana hal ini juga berarti “musyrik” terhadap kewajiban utama mereka. krena menduakan kewajiban mencari ilmu dengan mencari nilai. realita-realita menyedihkan di atas tidak muncul. Pengingkaran tauhid sosial ini juga dilakukan oleh para tullab—yang seharusnya jujur— dengan budaya “mengutip total” alias plagiat bin copy-tempel tugas-tugas mereka. tetapi juga harus menjalankan perintahNya dan peka terhadap urusan kemanusiaan. Makna ibadah menurut ulama Tauhid adalah meng-Esakan Allah SWT dengan sungguh-sungguh dan merendahkan diri serta menundukkan jiwa setunduk-tunduknya kepadaNya. Al Quran dan sunnah lebih banyak berisi tentang ajaran Agama (Tauhid) dan Moral. .” (QS. Pada waktu nabi menerima wahyu Al Quran. Pengingkarana dan penghianatan telah banyak dilakukan oleh banyak orang. (Abdullahi ahmed. Seharusnya. dengan Tauhid Sosial tersebut. sehingga muncul keseimbangan antara ibadah dan perilaku sosial.dengan hal ini. Hal inilah yang disebut sebagai amal shalih. Sifat ketundukan dan pengakuan bahwa yang Maha Esa hanyalah Allah. khususnya suku Quraisy yang juga merupakan suku nabi sendiri menolak dan menentang secara ekstrim. Immawan Luqman Novanto Takmir Masjid Tanwir Komlepk PTM Jl. dengan Tauhid Sosial umat Islam seharusnya mempraktikkan nilai-nilai Tauhid ke dalam realitas sosial secara benar. Seorang muslim tidak cukup hanya menjalankan tauhid dengan meyakini bahwa Allah itu esa. adalah bekal seorang hamba dalam manjalankan tugas ibadah. lagi-lagi hal ini juga nampak mulai luntur dalam kehidupan masyarakat kita. Adz-Dzariat (51):56). Reaksi masyarakat Mekkah pada umumnya. Firman Allah “telah aku ciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepadaKu. (Ahmad Tib. Allah swt telah menjelaskan didalam Al Quran bahwa jin dan manusia telah diciptakan memiliki maksud dan tujuan untuk beribadah kepadaNya. '07 5:29 AM untuk semuanya Manusia hidup di dunia ini pasti mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Tidar No 21 Oct 31. Tetapi nabi berteguh dan terus berjuang untuk meraih sejumlah pengikut dalam masa lebih dari 13 tahun selama misinya di Mekkah.

Dari berbagai pandangan tentang makna tauhid yang di maknai oleh Muhammad Abduh. karena syirik bukan semata-mata tindakan yang ujudnya adalah penyembahan berhala atau kesukaan pergi kekuburan yang maknanya dalam ibadah. tetapi Tauhid sudah terbukti mampu menjadi pilar perjuangan umat Islam. 2003:20). dan apa yang terlarang menghubungkannya kepada diri mereka. Dari dua pandangan ini. Tepatnya dizaman pemerintahan khalifah Al Makmun. dan Hasan Hanafi. sejarah membuktikan bahwa tauhid menjadi senjata yang hebat dalam . namun pada masa beliau Tauhid belum merupakan ilmu keislaman yang berdiri sendiri. kepercayaan kepada ke-Esa-an Allah belum tentu terkait dengan prilaku umat dalam kiprah kesejarahannya. Padahal. haruslah menjadi falsafah hidup seorang muslim. Namun yang terpenting adalah agar sikap ketauhidan ini dapat menyemangati kehidupan sehingga bukan hanya keshalehan individu yang kita harapkan dapat terwujud. melainkan juga keshalehan dan ketaqwaan sosialnya Pandangan Hasan Hanafi yang di kutip oleh Kazuo Shimogaki menyebutkan bahawa. Muhammad Abduh mendefinisikan makna tauhid sebagai suatu ilmu yang membahas tentang wujud Allah. (Asy'arie.Meskipun inti pokok risalah Nabi Muhammad saw adalah tauhid. tetapi yang paling pokok dari itu adalah penerimaan dan resfons cinta kasih dan kehendak Tuhan yang dialamatkan kepada manusia. sifat-sifat Allah. yang menjadi asas kesatauan ciptaanNya dalam berbagai bentuk. Kholifah ketujuh dinasti Bani Abas. tetapi juga tindakan dan aktualisasi. walaupun aktualisasinya dalam dimensi kehidupan tidak selalu menjadi kenyataan. yang diwujudkan dan tercermin dalam berbagai aspek kehidupan. adanya golongan penindas dan tertindas maka selama itu pula masyarakat dibalut oleh paham syirik (Shimogaki.Istilah ilmu Tauhid itu sendiri baru muncul pada abad ketiga Hijriyah. karena pernyataan iman seseorang kepada Tuhan. melainkan juga penguasaan manusia atas manusia lain. (Asy'arie. (Muhammad Abduh. Tauhid bukan sekedar mengenal dan memahami bahwa pencipta alam semesta ini adalah Allah. tentang sifat-sifat yang wajib tetap padaNy. jenis dan bidang kehidupan. Musa Asy'arie menambahkan bahwa makna Tauhid menurut pandangan filsafat Islam adalah suatu sistem pandangan hidup yang menegaskan adanya proses satu kesatuan dan tunggal kemanunggalan dalam berbagai aspek hidup dan kehidupan semua yang ada. Dalam pandangan Islam. buka sekedar mengetahui bukti-bukti rasional tentang kebenaran wujud dan ke-Esa-an Nya serta bukan sekedar mengenal asma dan sifat-sifatNya. Tauhid yang menjadi proses satu kesatuan dan tunggal kemanunggalan dalam berbagai aspek hidup dan kehidupan yang bersumber pada satu Tuhan saja. dan Rosul-rosul Allah yang mempunyai konsekuensi dalam kehidupan berupa praktek sosial umat Islam yang konkrit. Bagi seorang muslim dalam konteks Teologi. juga membahas tentang Rosul-rosul Allah meyakinkan kerosulan mereka. selama dalam sistem sosial masyarakat masih ada kesenjangan antara si kaya dengan miskin. 1979 : 36). 2002 : 181). bukan hanya kepada pengakuan lesan. Pengingkaran terhadap makna tauhid adalah perbuatan syirik. ternyata Tauhid memiliki tema pembahasan dan peran yang sangat penting dalam membentuk pribadi seorang muslim. 2002 : 182). Doktrin tauhid yang menjadi ruh kekuatan Islam tidak pernah hilang dari perjalanan sejarah. (Yusran Asmuni. Tauhid adalah pernyataan iman kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. sifat-sifat yang boleh disifatkan kepadaNya dan tentang sifat-sifat yang sama sekali wajib dilenyapkan dari padaNya. berasal dan bersumber hanya pada satu Tuhan saja. Dengan kata lain. dapat di tarik kesimpula bahwa makna Tauhid adalah tema sentral yang membahas tentang wujud Allah. 2003:03) . pikiran dan hati atau kalbu. Musa Asyari. dalam suatu sistem. .

menyatakan bahwa nilainilai Islam sebenarnya bersifat all-embracing bagi penataan sistem kehidupan sosial. Tauhid adalah pegangan pokok dan sangat menentukan bagi kehidupan manusia. kekuatan tauhid ini harus diaktualisasikan. Kedua bentuk kekuatan tauhid ini mempunyai keterkaitan yang tidak bisa dipisahkan.menancapkan pilar-pilar kesejarahan Islam. Dalam konteks ini. tauhid i'tiqadi ilmi (keyakinan teoritis) dengan tauhid amali suluki (amal perbuatan praktis) atau dengan istilah lain dua ketauhidan yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lain. Sehingga kekuatan tauhid inilah yang menjadi pengawal dan pusat dari semua orientasi nilai Artinya. (Qordhawi. politik. 1994 : 49). Kedua. iman adalah kekuatan yang menjadi pilar utama perjalanan sejarah umat Islam. http:// my. pertama-tama yang harus ia miliki adalah iman. karena tauhid menjadi landasan bagi setiap amal yang akan dilakukan. Di dalam Al-Qur’an kita sering sekali membaca seruan agar manusia itu beriman. Doktrin ini sudah sangat dini dideklarasikan Al-Qur’an. pemerintah dan umat yang beriman secara keseluruhan. yaitu pada masa Mekkah tahun-tahun awal. Sementara dalam formulasi lain. politik. Nazairah (penyelidikan) puncaknya adalah mengenal hakekat sesuatu menurut keadaan yang sebenarnya. ada juga trilogi iman-ilmu-amal. Artinya. antara lain Tauhid Sosial. pada aksi. ‘percaya kepada yang gaib’. orang kemudian mempertanyakan praktek sosial Islam yang dianggap tidak komprehensif. Masyarakat yang adil harus didirikan dalam prinsip ‘amrun bi al-ma’ruf wa nahyun ‘ani almunkar’. AM Fatwa menegaskan bahwa setiap perbuatan pribadi akan menyebabkan berbagai implikasi . Oleh sebab itu tauhid juga bisa dibagi dalam dua tahapan dalam aktualisasinya. dan menunaikan zakat. lebih dari segalanya. Dalam perspektif yang berbeda. Amaliah (tindakan) puncaknya melaksanakan menurut semestinya dalam urusan hidup dan penghidupan. kemudian mendirikan shalat. Manusia memiliki dua kekuatan. tugas terbesar Islam sebenarnya adalah melakukan transformasi sosial dan budaya dengan nilai-nilai tersebut. (Syulthut. Dengan memperhatikan ini. Adie Usman Musa mengutip dari Syafi’i Ma’arif. yang kemudian terwujud dalam dimensi sosial. cendekiawan muslim. di bawah prinsip-prinsip tauhid. maka keduanya harus dijalankan secara seimbang. beliau menyebutkan bahwa Tauhid Sosial sebagai dimensi praksis dari resiko keimanan kepada Allah SWT. Islam menolak pola kehidupan yang fragmentatif.Com/adieusman/htm) Memilih Islam adalah menjalani suatu pola kehidupan yang utuh dan terpadu (integrated). dan kemudian beramal. Allah menjelaskan dalam firmanNya bahwa. tauhid harus diaktualisasikan: pusat keimanan Islam adalah Tuhan. Secara substasial. Dalam surah Al-Baqarah ayat kedua misalnya. tetapi ujung aktualisasinya adalah manusia. penulis menyimpulkan bahwa iman berujung pada amal. Islam berprinsip pada tauhid.1996:33). dikotomik. dan juga sinkretik. Oleh karena itu. gagasan Tauhid Sosial Syafi’i Ma’arif menggambarkan dua hal: pertama. ekonomi dan budaya. orang yang mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang mereka dalam keadaan beriman maka oleh Allah akan diberikan kehidupan yang baik dan juga akan diberi balasan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (An-Nahl: 97). Tugas ini dibebankan pada rasul. ekonomi dan budaya. Praktek sosial Islam ini banyak dibahasakan dengan berbagai istilah. disebutkan bahwa agar manusia itu menjadi muttaqin. 1991 : 197). Dua. bukan hanya tersimpan dalam teks-teks suci.opra.(Ade Usman. 2006. Praktek kehidupan seperti ini telah ditunjukkan dalam perjalanan kerasulan Muhammad yang diteruskan oleh sebagian generasi setelahnya. iman harus mampu menjawab dimensi praksis persoalan keummatan. Kuntowojoyo. Di dalam ayat tersebut dapat dilihat adanya trilogi iman-shalat-zakat. Pertama. (Kuntowijoyo. Setiap aspek kehidupan yang dijalani merupakan refleksi dari prinsip-prinsip tauhid.

secara konkrit. Syarat. Inilah yang sering dipahami dari rahasia susunan Al Quran bahwa setiap kali Kitab Suci menyabut kata iman (aamanu) yang merupakan perbuatan peribadi selalu diikuti dengan penyebutan amal saleh (aamilus shalihati) yang merupakan tindakan kemasyarakatan. Dengan melihat penjelasan diatas. Macam Dan Keluasan Cakupannya Paham-Paham Yang Salah Tentang Pembatasan Ibadah Syarat Diterimanya Ibadah . Fatwa. Rukun. lalu masuk dalam dimensi amal berupa praktek sosial kepada sesama manusia. Tauhid ibadah atau tauhid praktis inilah yang di istilahkan oleh Prof. Jika tauhid teoritis dapat melakukan perubahan batiniah dan pembebasan spiritual. kemudian dimensi epistemik. Proses menuju ke arah itu harus dimulai dari penguatan dimensi tauhid. Pengertian Rabb Dalam Al-Qur'an Dan As-Sunnah Alam Semesta Dan Fitrahnya Dalam Tunduk Dan Patuh Kepada Allah Manhaj Al-Qur'an Dalam Menetapkan Wujud Dan Keesaan Al-Khaliq Tauhid Rububiyah Mengharuskan Adanya Tauhid Uluhiyah Makna Tauhid Uluhiyah. Dengan kata lain bahwa Tauhidullah harus diujudkan dalam praktek sosial. (AM. maka tauhid praktis dapat melakukan rekonstruksi dan reformasi sosial. Konsekuansi Dan Yang Membatalkannya TaSyRi' Ibadah: Pengertian. Dimaksudkan agar tauhid Ilahiyah dan Rububiyah yang sudah tertanam di kalangan kaum muslimin dan muslimat. Amin Rais mengatakan bahwa yang dimaksud tauhid Sosial adalah dimensi sosial dari Tauhidullah. termasuk untuk kemanusiaan. Penyimpangan Aqidah Dan Cara-Cara Penanggulangannya Makna Tauhid Rububiyah dan Kefitrahannya serta Pengakuan Orang-orang Musyrik Terhadapnya. realitas sosial. Dalam konteks inilah Islam disebut sebagai rahmatan li al’alamin. Amin Rais dengan sebutan Tauhid Soaial. 1998: 108) Dengan demikian. ( Rais. Tauhid Sosial sebenarnya merupakan perwujudan aksi sosial Islam dalam konteks menjadikannya sebagai rahmatan li al’alamin. rahmat untuk alam semesta. Islam menjadikan tauhid sebagai pusat dari semua orientasi nilai. Dan Bahwa Ia Adalah Inti Dakwah Para Rasul Makna Syahadatain.kemasyarakatan. 2001:51). bisa diturunkan lagi kedataran pergaulan sosial. Prof. Labels • • • • • • Kitab Kitab Kitab Kitab Kitab Kitab Tauhid Tauhid Tauhid Tauhid Tauhid Tauhid 1 2 3 3 3 3 (29) (6) Bab 1 Bab 2 Bab 3 Bab 4 (5) (11) (6) (4) Kitab Tauhid 1 • • • • • • • • • • • • • • Makna Aqidah Dan Urgensinya Sebagai Landasan Agama Sumber-sumber Aqidah Yang Benar dan Manhaj Salaf dalam Mengambil Aqidah. Dr. Dr. Sementara pada saat yang sama melihat manusia sebagai tujuan dari transformasi nilai. maka tanggung jawab pribadi itu memberi akibat adanya tanggung jawab sosial.

Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan A. 2005 Kitab Tauhid 1 oleh: Dr. Definisi Ibadah Ibadah secara etimologi berarti merendahkan diri serta tunduk. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.• • • • • • • • • • • • • • • Pilar-Pilar Ubudiyah Yang Benar Tingkatan Dien Makna Tauhid Asma' Wa Sifat Dan Manhaj Salaf Di Dalamnya Asma' Husna Dan Sifat Kesempurnaan. yang zhahir maupun yang batin. Ibadah ialah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Subhannahu wa Ta'ala . Di dalam syara'. baik berupa ucapan atau perbuatan. May 18. tetapi makna dan maksudnya satu. tawakkal (ketergantungan). lisan dan anggota badan. Definisi itu antara lain adalah: 1. raja' (mengharap). mahabbah (cinta). Ini adalah definisi ibadah yang paling lengkap. Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. 2. ibadah mempunyai banyak definisi. 3. Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan hati. Sedangkan shalat. haji dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak . Ibadah itu terbagi menjadi ibadah hati. Macam Dan Keluasan Cakupannya Wednesday. raghbah (senang) dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu. Ibadah ialah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para rasulNya. Macam-Macam Dan Dampaknya Bentuk-Bentuk Taqlid Kepada Kuffar Yang Buruk Sikap Pasif Kaum Muslimin Dan Problematikanya Ibadah: Pengertian. Serta Pendapat Golongan Sesat Berikut Bantahannya Buah Tarbiyah Tauhid Asma' Wa Sifat Pada Diri Individu Dan Masyarakat Al-wala' wal bara' Mudahanah dan Mudarah berikut kaitannya dengan al-wala' wal bara' Beberapa Contoh Tentang Setia Dan Memusuhi Karena Allah Menyayangi Dan Memusuhi Para Ahli Maksiat Menyambut Dan Ikut rayakan Hari Raya Atau Pesta Orang Kafir Serta Berbelasungkawa dlm Hari Duka Mereka Hukum Meminta Bantuan Kepada Orang-Orang Kafir Mengutamakan Tinggal Dan Bekerja Di Negara Kafir Hukum Meniru Kaum Kuffar. lisan dan badan. zakat. Rasa khauf (takut).

khasyyatullah (takut kepada Allah). serta menggayutkan diri kepada membina dan menghias diri (tahdzib nafs)." (Adz-Dazariyat: 56-58) Allah Subhannahu wa Ta'ala memberitahukan. Seperti dzikir. satu-satunya Dzat yang harus disembah. yang merupakan Pemilik kesempurnaan mutlak. Maka siapa yang menolak beribadah kepada Allah. nikah dan sebagainya. jihad. Dzat yang tidak memerlukan segala sesuatu. minum. Dan sifat ini tidak akan dijumpai selain pada Dzat Nan Kudus. Karenanya. Dan siapa yang hanya menyembahNya dan dengan syari'atNya. Tujuan utama ibadah adalah menemukan jalan untuk mendekatkan diri kepada derajat kesempurnaan mutlak dan mutlak sempurna. Dan Allah Mahakaya. Siapa yang menyembahNya tetapi dengan selain apa yang disyari'at-kanNya maka ia adalah mubtadi' (pelaku bid'ah). anak yatim. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. inabah (kembali) kepadaNya. zakat. ia adalah sombong. amar ma'ruf nahi mungkar. tidak membutuhkan ibadah mereka. [2] . tasbih. Dan refleksi pancaran dari sifat sempurna dan indahNya bertakhta dalam relung jiwa yang merupakan hasil penjagaan jarak dari hawa nafsu. bekerja mencari nafkah. hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala. B. Tujuan ini hanya dapat tercapai dengan beribadah kepada Allah swt. ibadah mencakup seluruh tingkah laku seorang mukmin jika diniatkan qurbah (mendekatkan diri kepada Allah) atau apa-apa yang membantu qurbah. Seperti tidur. Bahkan adat kebiasaan (yang mubah) pun bernilai ibadah jika diniatkan sebagai bekal untuk taat kepadaNya. sabar terhadap hu-kumNya. mengharap nikmatNya dan takut dari siksaNya. Jadi. auhid Ibadah Maksudnya adalah Allah swt. anggota badan dan yang lahir dari hati. pencipta seluruh wujud. Karena ibadah khusus bagi seseorang yang sempurna mutlak (kamâl mutlaq) dan mutlak sempurna (mutlaq kamâl). makan. Wujud Nir-Batas itu. akan tetapi merekalah yang membutuhkannya. Berbagai kebiasaan tersebut jika disertai niat baik (benar) maka menjadi bernilai ibadah yang berhak mendapatkan pahala. jual-beli. haji. Macam-Macam Ibadah Dan Keluasan Cakupannya Ibadah itu banyak macamnya. tawakkal. pemberi seluruh anugerah. berbuat baik kepada kerabat. ikhlas kepadaNya. shalat. orang miskin dan ibnu sabil. maka dia adalah muk-min muwahhid (yang mengesakan Allah).menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Begitu pula cinta kepada Allah dan RasulNya. maka mereka menyembahNya sesuai dengan aturan syari'atNya. tahlil dan membaca Al-Qur'an. tidaklah ibadah itu terbatas hanya pada syi'ar-syi'ar yang biasa dikenal. ridha dengan qadha'-Nya. Ia mencakup semua macam ketaatan yang nampak pada lisan. dan selain-Nya tidak pantas disembah. karena ketergantungan mereka kepada Allah. puasa.

rang Muslim beriman kepada ketuhanan Allah Ta'ala bagi manusia sejak pertama hingga generasi terakhir, kerububiyahan-Nya terhadap alam semesta, bahwa tidak ada pengaturan dunia selain Dia, dan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia. Oleh karena itu, ia memperuntukkan bagi Allah ibadah-ibadah yang disyariatkan-Nya kepadanya, dan tidak memalingkannya sedikit pun kepada selain Allah. Jika ia minta pertolongan, ia meminta pertolongan kepada Allah. Jika ia bernadzar, ia tidak bernadzar untuk selain Allah. Untuk Allah-lah semua amal perbuatan batinnya, seperti takut, berharap, taubat, cinta, pengagungan, tawakkal, dan amal perbuatan lahiriyahnya seperti shalat, zakat, haji, dan jihad. Itu semua karena dalil-dalil wahyu dan dalil-dalil akal seperti berikut. Dalil-Dalil Wahyu 1. Perintah Allah Ta'ala kepada sikap seperti di atas dalam firman-firman-Nya, seperti firman-firman-Nya berikut ini. o "Sesungguhnya Aku Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengikuti Aku." (Thaha: 14) o "Dan hanya kepada-Kulah kalian harus takut (tunduk)." (Al-Baqarah: 40) o "Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untuk kalian karena itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui." (Al-Baqarah: 21-22) o "Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang benar melainkan Allah." (Muhammad: 19) o "Maka mohonlah perlindungan kepada Allah, sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Fushshilat:36) o "Dan hendaklah orang-orang Mukmin itu bertawakal kepada Allah saja." (AtTaghabun: 13) 2. Penjelasan Allah Ta'ala tentang hal tersebut dalam firman-firman-Nya seperti dalam firman-firman-Nya berikut ini. o "Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thagut'." (An-Nahl: 36) o "Barang siapa ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat dan tidak akan putus." (Al-Baqarah: 256) o "Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwa tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah oleh kalian akan Aku'." (Al-Anbiya': 25) o "Katakanlah, 'Maka apakah kalian menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?'." (Az-Zumar: 64) o "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan." (Al-Fatihah: 5)

"Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu, 'Peringatkanlah oleh kalian, bahwa tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kalian bertakwa kepada-Ku'." (An-Nahl: 2) 3. Penjelasan Rasulullah saw. tentang hal tersebut dalam hadits-haditsnya, seperti dalam hadits-haditsnya berikut ini. o Sabda Rasulullah saw. kepada Muadz bin Jabal r.a. yang beliu utus ke Yaman, "Hendaklah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka ialah hendaknya mereka beribadah kepada Allah Ta'ala." (Muttafaq Alaih). o Sabda Rasulullah saw. kepada Muadz bin Jabal r.a., "Hai Muadz, apa hak Allah atas hamba-hamba?" Muadz bin Jabal menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Rasulullah saw. bersabda, "Yaitu hendaknya mereka beribadah kepada-Nya, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun." (Diriwayatkan An-Nasai dan ia men-shahih-kannya). o Sabda Rasulullah saw. kepada Abdullah bin Abbas Radhiyallahu 'Anhuma, "Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Dan jika engkau minta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah." (Diriwayatkan At-Tirmidzi). o "Sesuatu yang paling aku khawatirkan pada kalian ialah syirik kecil." Para sahabat bertanya, "Apa yang dimaksud dengan syirik kecil, wahai Rasulullah?" Rasulullah saw. menjawab, "Riya'. Pada hari kiamat Allah berfirman setelah membalas manusia dengan amal perbuatan mereka, Pergilah kepada orangorang yang kalian lakukan riya' di dunia, kemudian lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?" (Diriwayatkan Ahmad dari banyak jalur dan hadits ini hasan). o "Bukankah mereka menghalalkan bagi kalian apa yang diharamkan Allah bagi kalian kemudian kalian juga menghalalkannya dan mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah kemudian kalian juga mengharamkannya?" Orang-orang menjawab, "Ya betul." Rasulullah saw. bersabda, "Itulah bentuk ibadah mereka kepadanya." (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan ia meng-hasan-kannya). Sabda di atas diucapkan Rasulullah saw. kepada Adi bin Hatim ketika ia mendengar firman Allah Ta'ala, "Mereka menjadikan pendeta-pendeta, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah." Kemudian Adi bin Hatim berkata, "Wahai Rasulullah, kita tidak menyembah mereka." o "Sesungguhnya permintaan tolong itu tidak kepadaku, namun permintaan tolong itu kepada Allah." (Diriwayatkan Ath-Thabrani. Hadits ini hasan). Sabda di atas diucapkan Rasulullah saw. setelah sebagian sahabat berkata kepada sebagian sahabat yang lain, "Mari kita minta tolong kepada Rasulullah saw. dari orang munafik yang mengganggu kita." o "Barang siapa bersumpah dengan selain Allah, ia telah melakukan syirik." (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan ia meng-hasan-kannya). o "Sesungguhnya mantra, jimat, dan guna-guna adalah syirik." (Diriwayatkan Ahmad, Abu Daud, dan lain sebagainya. Hadits ini hasan).
o

Dalil-Dalil Akal

1. Kesendirian Allah Ta'ala dalam penciptaan makhluk, pemberian rizki, dan pengurusan alam semesta mengharuskan manusia beribadah kepada-Nya saja, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. 2. Semua makhluk membutuhkan Allah Ta'ala. Jadi, tidak satu pun dari makhluk-makhluk pantas menjadi Tuhan yang disembah bersama Allah Ta'ala. 3. Sesuatu yang tidak mampu memberi pertolongan atau perlindungan tidak berhak untuk dimintai kepadanya pertolongan, bernadzar untuknya, bergantung atau bertawakkal kepadanya. Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 65-70.

Jabariyah & Qadariyah
BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Persoalan Iman (aqidah) agaknya merupakan aspek utama dalam ajaran Islam yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad. Pentingnnya masalah aqidah ini dalam ajaran Islam tampak jelas pada misi pertama dakwah Nabi ketika berada di Mekkah. Pada periode Mekkah ini, persoalan aqidah memperoleh perhatian yang cukup kuat dibanding persoalan syari’at, sehingga tema sentral dari ayat-ayat al-Quran yang turun selama periode ini adalah ayat-ayat yang menyerukan kepada masalah keimanan.[[1]] Berbicara masalah aliran pemikiran dalam Islam berarti berbicara tentang Ilmu Kalam. Kalam secara harfiah berarti “kata-kata”. Kaum teolog Islam berdebat dengan kata-kata dalam mempertahankan pendapat dan pemikirannya sehingga teolog disebut sebagai mutakallim yaitu ahli debat yang pintar mengolah kata. Ilmu kalam juga diartikan sebagai teologi Islam atau

Mempelajari teologi akan memberi seseorang keyakinan yang mendasar dan tidak mudah digoyahkan. perbedaan itu demikian tampak melalui perdebatan aliran-aliran kalam yang muncul tentang berbagai persoalan. Dalam makalah ini penulis hanya menjelaskan secara singkat dan umum tentang aliran Jabariyah dan Qadariyah. meningkat menjadi persoalan teologi. Makalah ini akan mencoba menjelaskan aliran Jabariyah dan Qadariyah. keadilan Tuhan. seiring dengan perjalanan waktu. para malaikat. e. Akan tetapi perselisihan politik ini. keimanan kepada para rasul. hari akhir dan berbagai ajaran nabi yang tidak mungkin lagi ada peluang untuk memperdebatkannya. TOPIK PEMBAHASAN a. Perbedaan yang pertama muncul dalam Islam bukanlah masalah teologi melainkan di bidang politik. Jabariyah dan Qadariyah serta aliran-aliran lainnya. kedudukan wahyu dan akal. b. Perbedaan itu kemudian memunculkan berbagai macam aliran. d.[[2]] Perbedaan teologis di kalangan umat Islam sejak awal memang dapat mengemuka dalam bentuk praktis maupun teoritis. B. Mencakup di dalamnya adalah latar belakang lahirnya sebuah aliran dan ajaranajarannya secara umum.ushuluddin. Khawarij. ilmu yang membahas ajaran-ajaran dasar dari agama. Syiah. Misalnya tentang kekuasaan Allah dan kehendak manusia. yaitu Mu'tazilah. Aliran Jabariyah Ajaran-ajaran Jabariyah Aliran Qadariyah Aliran Jabariyah Ajaran-ajaran Qadariyah Refleksi Faham Qadariyah dan Jabariyah : Sebuah Perbandingan tentang Musibah BAB II . Tetapi patut dicatat bahwa perbedaan yang ada umumnya masih sebatas pada aspek filosofis diluar persoalan keesaan Allah. Munculnya perbedaan antara umat Islam. f. Secara teoritis. c.

Sedangkan secara istilah Jabariyah adalah menolak adanya perbuatan dari manusia dan menyandarkan semua perbuatan kepada Allah. [[3]] Menurut Harun Nasution Jabariyah adalah paham yang menyebutkan bahwa segala perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh Qadha dan Qadar Allah. karena tidak memiliki kemampuan. Abu Zahra menuturkan bahwa paham ini muncul sejak zaman sahabat dan masa Bani Umayyah. Dengan kata lain adalah manusia mengerjakan perbuatan dalam keadaan terpaksa (majbur). ALIRAN JABARIYAH (FATALISM/PREDESTINATION) Latar Belakang Lahirnya Jabariyah Secara bahasa Jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung pengertian memaksa. Pendapat yang lain mengatakan bahwa paham ini diduga telah muncul sejak sebelum agama Islam datang ke masyarakat Arab. Ada yang mengistilahlkan bahwa Jabariyah adalah aliran manusia menjadi wayang dan Tuhan sebagai dalangnya. Kehidupan bangsa Arab yang diliputi oleh gurun pasir sahara telah memberikan pengaruh besar dalam cara hidup mereka. Di dalam kamus Munjid dijelaskan bahwa nama Jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu. Salah satu sifat dari Allah adalah al-Jabbar yang berarti Allah Maha Memaksa. Di tengah bumi yang disinari terik matahari dengan air yang sangat sedikit dan udara yang panas ternyata dapat tidak memberikan kesempatan bagi tumbuhnya pepohonan dan suburnya tanaman.[[5]] Adapaun tokoh yang mendirikan aliran ini menurut Abu Zaharah dan al-Qasimi adalah Jahm bin Safwan. Ketika itu para ulama membicarakan tentang masalah Qadar dan kekuasaan manusia ketika berhadapan dengan kekuasaan mutlak Tuhan. tapi diciptakan oleh Tuhan dan dengan kehendak-Nya.[[4]] Adapun mengenai latar belakang lahirnya aliran Jabariyah tidak adanya penjelelasan yang sarih. tapi yang tumbuh . Maksudnya adalah bahwa setiap perbuatan yang dikerjakan manusia tidak berdasarkan kehendak manusia.[[6]] yang bersamaan dengan munculnya aliran Qadariayah.PEMBAHASAN a. di sini manusia tidak mempunyai kebebasan dalam berbuat.

Ketika diintrogasi. Suatu ketika Nabi menjumpai sahabatnya yang sedang bertengkar dalam masalah Takdir Tuhan. maka tidak ada pahala dan siksa. sehingga menyebabakan mereka kepada paham fatalisme.hanya rumput yang kering dan beberapa pohon kuat untuk menghadapi panasnya musim serta keringnya udara. diantaranya: Selain ayat-ayat Alquran di atas benih-benih faham al-Jabar juga dapat dilihat dalam beberapa peristiwa sejarah: a. Kemudian Ali menjelaskannya bahwa Qadha dan Qadha Tuhan bukanlah sebuah paksaan.[[8]] Terlepas dari perbedaan pendapat tentang awal lahirnya aliran ini. dalam Alquran sendiri banyak terdapat ayat-ayat yeng menunjukkan tentang latar belakang lahirnya paham Jabariyah. Khalifah Umar bin al-Khaththab pernah menangkap seorang pencuri. Orang tua itu bertanya. Mendengar itu Umar kemudian marah sekali dan menganggap orang itu telah berdusta. Mereka merasa lemah dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup. tidak ada pahala sebagai balasannya. Ketika Khalifah Ali bin Abu Thalib ditanya tentang qadar Tuhan dalam kaitannya dengan siksa dan pahala. Kalau itu sebuah paksaan. Oleh karena itu Umar memberikan dua jenis hukuman kepada orang itu.[[7]] Harun Nasution menjelaskan bahwa dalam situasi demikian masyarakat arab tidak melihat jalan untuk mengubah keadaan disekeliling mereka sesuai dengan kehidupan yang diinginkan. pencuri itu berkata "Tuhan telah menentukan aku mencuri". Pahala dan siksa akan didapat berdasarkan atas amal perbuatan manusia."apabila perjalanan (menuju perang siffin) itu terjadi dengan qadha dan qadar Tuhan. agar terhindar dari kekeliruan penafsiran tentang ayat-ayat Tuhan mengenai takdir. b. yaitu: hukuman potongan tangan karena mencuri dan hukuman dera karena menggunakan dalil takdir Tuhan. Nabi melarang mereka untuk memperdebatkan persoalan tersebut. gugur pula janji dan . Artinya mereka banyak tergantung dengan Alam. c.

Pertama. Adapun yang menjadi dasar munculnya paham ini adalah sebagai reaksi dari tiga perkara: pertama. dan melihat Tuhan di akherat. Ia tidak mempunyai daya. meniadakan sifat Tuhan. yaitu ekstrim dan moderat. Adanya paham Jabar telah mengemuka kepermukaan pada masa Bani Umayyah yang tumbuh berkembang di Syiria. aliran ekstrim. yaitu pengaruh agama Yahudi bermazhab Qurra dan agama Kristen bermazhab Yacobit. Di antara tokoh adalah Jahm bin Shofwan dengan pendapatnya adalah bahwa manusia tidak mempu untuk berbuat apa-apa. dan tidak mempunyai pilihan. yang mempunyai paham yang mengarah kepada Jabariyah.[[10]] Dengan demikian. yaitu factor yang berasal dari pemahaman ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari Alquran dan Sunnah. kalam Tuhan. d. Lebih dari itu adalah adanya pengaruh dari luar Islam yang ikut andil dalam melahirkan aliran ini. Pendapat Jahm tentang keterpaksaan ini lebih dikenal dibandingkan dengan pendapatnya tentang surga dan neraka. tidak mempunyai kehendak sendiri. dan tidak pujian bagi orang yang baik dan tidak ada celaan bagi orang berbuat dosa. keduanya.[[9]] Di samping adanya bibit pengaruh faham jabar yang telah muncul dari pemahaman terhadap ajaran Islam itu sendiri. latar belakang lahirnya aliran Jabariyah dapat dibedakan kedalam dua factor. konsep iman. Ada sebuah pandangan mengatakan bahwa aliran Jabar muncul karena adanya pengaruh dari dari pemikriran asing. [[11]] c. Surga dan . adanya paham Qadariyah. telalu tekstualnya pamahaman agama tanpa adanya keberanian menakwilkan dan ketiga adalah adanya aliran salaf yang ditokohi Muqatil bin Sulaiman yang berlebihan dalam menetapkan sifat-sifat Tuhan sehingga membawa kepada Tasybih.ancaman Allah. Ajaran-ajaran Jabariyah Adapun ajaran-ajaran Jabariyah dapat dibedakan menjadi dua kelompok.

dan Tuhan juga tidak dapat dilihat dengan indera mata di akherat kelak. Seluruh tindakan dan perbuatan manusia tidak boleh lepas dari scenario dan kehendak Allah. tidak seperti wayang yang dikendalikan oleh dalang dan tidak pula menjadi pencipta perbuatan. Sedangkan adhDhirar (tokoh jabariayah moderat lainnya) pendapat bahwa Tuhan dapat saja dilihat dengan indera keenam dan perbuatan dapat ditimbulkan oleh dua pihak. Kalam Tuhan adalah makhluk.[[15]] C. menjelaskan tentang ajaran pokok dari Jabariyah adalah Alquran adalah makhluk dan sesuatu yang baru dan tidak dapat disifatkan kepada Allah. dan hal ini sama dengan konsep yang dikemukakan oleh kaum Murjiah. tetapi manusia mempunyai bagian di dalamnya. Tenaga yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya. Tokoh yang berpaham seperti ini adalah Husain bin Muhammad an-Najjar yang mengatakan bahwa Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia. Manusia juga tidak dipaksa.[[12]] Aliran ini dikenal juga dengan nama al-Jahmiyyah atau Jabariyah Khalisah. mendengar.[[14]] Dengan demikian ajaran Jabariyah yang ekstrim mengatakan bahwa manusia lemah. Allah tidak mempunyai keserupaan dengan manusia seperti berbicara. Segala akibat. ajaran Jabariyah yang moderat adalah Tuhan menciptakan perbuatan manusia. tidak berdaya. Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala hal. dan yang kekal hanya Allah. ALIRAN QADARIYAH ( FREE WILL AND FREE ACT( .nerka tidak kekal.[[13]] Ja'ad bin Dirham. baik dan buruk yang diterima oleh manusia dalam perjalanan hidupnya adalah merupakan ketentuan Allah. terikat dengan kekuasaan dan kehendak Tuhan. Kedua. tetapi manusia mengambil bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu dan Tuhan tidak dapat dilihat di akherat. seperti berbicara. tetapi manusia memperoleh perbuatan yang diciptakan tuhan. dan melihat. tidak mempunyai kehendak dan kemauan bebas sebagaimana dimilki oleh paham Qadariyah. Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk. Sedangkan iman dalam pengertianya adalah ma'rifat atau membenarkan dengan hati. melihat dan mendengar. baik itu positif atau negatif.

[[16]] Menurut Ahmad Amin sebagaimana dikutip oleh Dr. Harun Nasution menegaskan bahwa aliran ini berasal dari pengertian bahwa manusia mempunyai kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya. ada sebagian pakar teologi yang mengatakan bahwa Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh Ma’bad al-Jauhani dan Ghilan ad-Dimasyqi sekitar tahun 70 H/689M. Sementara W. mencakup semua perbuatan. yakni baik dan buruk. demikian juga pendapat Muhammad Ibnu Syu’ib. Hadariansyah. Namanya adalah Susan. Aliran-aliran ini berpendapat bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya. Montgomery Watt menemukan dokumen lain yang menyatakan bahwa paham Qadariyah terdapat dalam kitab ar-Risalah dan ditulis untuk Khalifah Abdul Malik oleh Hasan al-Basri sekitar tahun 700M. yaitu qadara yang bemakna kemampuan dan kekuatan. Manusia mampu melakukan perbuatan. dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan. Akan tetepi menurut Ahmad Amin.[[17]] Sejarah lahirnya aliran Qadariyah tidak dapat diketahui secara pasti dan masih merupakan sebuah perdebatan. ia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri. sebagaimana yang dikemukakan oleh Ahmad Amin.[[19]] Ditinjau dari segi politik kehadiran mazhab Qadariyah sebagai isyarat menentang politik Bani Umayyah. orang-orang yang berpaham Qadariyah adalah mereka yang mengatakan bahwa manusia memiliki kebebasan berkehendak dan memiliki kemampuan dalam melakukan perbuatan. karena itu kehadiran Qadariyah dalam wilayah kekuasaanya selalu mendapat tekanan. aliran Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh orang Irak yang pada mulanya beragama Kristen. bahkan pada zaman Abdul Malik bin Marwan pengaruh Qadariyah dapat dikatakan . berasal dari bahasa Arab. Aliran ini lebih menekankan atas kebebasan dan kekuatan manusia dalam mewujudkan perbutan-perbutannya.Latar Belakang Lahirnya Aliran Qadariyah Pengertian Qadariyah secara etomologi. kemudian masuk Islam dan kembali lagi ke agama Kristen. Adapun secara termenologi istilah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diinrvensi oleh Allah. [[18]] Ibnu Nabatah menjelaskan dalam kitabnya.

Ganjaran kebaikan di sini disamakan dengan balasan surga kelak di akherat dan ganjaran siksa dengan balasan neraka kelak di akherat. . Oleh karena itu. Dalam perbuatannya. bukan oleh takdir Tuhan. manusia hanya bertindak menurut nasib yang telah ditentukan sejak azali terhadap dirinya. Misalnya manusia ditakdirkan oleh Tuhan tidak mempunyai sirip seperti ikan yang mampu berenang di lautan lepas. baik berbuat baik maupun berbuat jahat. Karena itu sangat pantas. dan dengan daya itu ia dapat berkuasa atas segala perbuatannya. Dengan demikian takdir adalah ketentuan Allah yang diciptakan-Nya bagi alam semesta beserta seluruh isinya.lenyap tapi hanya untuk sementara saja. Ajaran-ajaran Qadariyah Harun Nasution menjelaskan pendapat Ghalian tentang ajaran Qadariyah bahwa manusia berkuasa atas perbuatan-perbutannya. yaitu hokum yang dalam istilah Alquran adalah sunnatullah. yaitu paham yang mengatakan bahwa nasib manusia telah ditentukan terlebih dahulu. ia berhak mendapatkan pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan juga berhak pula memperoleh hukuman atas kejahatan yang diperbuatnya. Tokoh an-Nazzam menyatakan bahwa manusia hidup mempunyai daya. Demikian juga manusia tidak mempunyai kekuatan seperti gajah yang mampu membawa barang seratus kilogram. Secara alamiah sesungguhnya manusia telah memiliki takdir yang tidak dapat diubah.[[21]] Dengan demikian bahwa segala tingkah laku manusia dilakukan atas kehendaknya sendiri. Manusia dalam demensi fisiknya tidak dapat bebruat lain. orang yang berbuat akan mendapatkan balasannya sesuai dengan tindakannya. kecuali mengikuti hokum alam.[[22]] Faham takdir yang dikembangkan oleh Qadariyah berbeda dengan konsep yang umum yang dipakai oleh bangsa Arab ketika itu.[[20]] d. sebab dalam perkembangan selanjutnya ajaran Qadariyah itu tertampung dalam Muktazilah. Manusia mempunyai kewenangan untuk melakukan segala perbuatan atas kehendaknya sendiri. itu didasarkan atas pilihan pribadinya sendiri. sejak azali. Manusia sendirilah yang melakukan perbuatan baik atas kehendak dan kekuasaan sendiri dan manusia sendiri pula yang melakukan atau menjauhi perbuatan-perbutan jahat atas kemauan dan dayanya sendiri.

Padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar). barang siapa yang mau beriman maka berimanlah dan barang siapa yang mau kafir maka kafirlah”. kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". Di antara dalil yang mereka gunakan adalah banyak ayat-ayat Alquran yang berbicara dan mendukung paham itu :      Artinya : “Kerjakanlah apa yang kamu kehendaki sesungguhnya Ia melihat apa yang kamu perbuat”. (QS.Dengan pemahaman seperti ini tidak ada alasan untuk menyandarkan perbuatan kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.Ali Imran :165)               . Fush-Shilat : 40). (QS. (QS. Al-Kahfi : 29).                           Artinya : “dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud).                    Artinya : “Katakanlah kebenaran dari Tuhanmu.

selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka. manusia digambarkan bagai kapas yang melayang di udara yang tidak memiliki sedikit pun daya untuk menentukan gerakannya yang ditentukan dan digerakkan oleh arus angin. bukan Allah. semangat investigasi amat besar. Kedua paham teologi Islam tersebut membawa efek masing-masing. berkaitan dengan perbuatannya. Dalam paham Qadariyah. yang dominan adalah paham Jabariyah. paham Jabariyah disebut juga sebagai paham tradisional dan konservatif dalam Islam dan paham Qadariyah disebut juga sebagai paham rasional dan liberal dalam Islam. pada paham Qadariyah. berkaitan dengan perbuatannya. yang berpaham Qadariyah condong mencari tahu di mana letak peranan manusia pada kecelakaan itu. Di negeri-negeri kaum Muslimin. karena semua peristiwa dipandang sudah kehendak dan dilakukan oleh Allah. Kedua paham itu dapat dicermati pada suatu peristiwa yang menimpa dan berkaitan dengan perbuatan manusia.] yang ada pada diri mereka sendiri”. Bagi yang berpaham Jabariyah biasanya dengan enteng mengatakan bahwa kecelakaan itu sudah kehendak dan perbuatan Allah. manusia digambarkan sebagai berkuasa penuh untuk menentukan dan mengerjakan perbuatannya. seperti di Indonesia. Orang Muslim yang berpaham Qadariyah merupakan kalangan yang terbatas atau hanya sedikit dari mereka. karena semua peristiwa yang berkaitan dengan peranan (perbuatan) manusia harus dipertanggungjawabkan oleh manusia melalui suatu investigasi. misalnya.Ar-R’d :11) e. Sedang yang berpaham Qadariyah akan menjawab. Refleksi Faham Qadariyah dan Jabariyah : Sebuah Perbandingan tentang Musibah Dalam paham Jabariyah. . kecelakaan pesawat terbang. Sedang. (QS.Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka. bahwa perbuatan manusia ditentukan dan dikerjakan oleh manusia. Kedua paham teologi Islam tersebut melandaskan diri di atas dalil-dalil naqli (agama) . Sedang.sesuai pemahaman masing-masing atas nash-nash agama (Alquran dan hadits-hadits Nabi Muhammad) . Pada paham Jabariyah semangat melakukan investigasi sangat kecil. Pada perkembangan selanjutnya.dan aqli (argumen pikiran).

meski gempa dan tsunami tidak secara langsung menunjuk perbuatan manusia. dalam paham Qadariyah. bagi yang berpaham Jabariyah. Sedang hikmat yang dimaksud hanya berupa pengakuan dosa-dosa dan hidup selanjutnya tanpa mengulangi dosa-dosa. paham Qadariyah membenarkan suatu investigasi (pencaritahuan). BABIII KESIMPULAN Menurut penulis solusi terhadap pandangan aliran Jabariyah dan Qodariyah yaitu bahwa manusia benar-benar memiliki kebebasan berkehendak dan karenanya ia akan dimintai . misalnya. Posisi manusia demikian tidak terdapat di dalam paham Jabariyah. karena menyikapinya sebagai kehendak dan perbuatan Allah. sudah cukup bila tindakan membantu korban dan memetik "hikmat" sudah dilakukan. selain manusia dinyatakan sebagai makhluk yang merdeka. Dalam hal musibah gempa dan tsunami baru-baru ini. ilmu pengetahuan lebih pasti berkembang di dalam paham Qadariyah ketimbang Jabariyah. namun mengajukan pertanyaan yang harus dijawab : adakah andil manusia di dalam "mengganggu" ekosistem kehidupan yang menyebabkan alam "marah" dalam bentuk gempa dan tsunami? Untuk itu. dengan memotret lewat satelit kawasan yang dilanda musibah. juga adalah makhluk yang harus bertanggung jawab atas perbuatannya.Dengan demikian. Sedang bagi yang berpaham Qadariyah. Akibat dari perbedaan sikap dan posisi itu.

Dirasah Islamiyah: Pengantar Studi Sejarah Kebudayaan Islam dan Pemikiran. kebebasan berkehendak manusia tidak dapat tercapai tanpa campur tangan Allah SWT. meskipun demikian keputusan tersebut pada dasarnya merupakan pemenuhan takdir (ketentuan) yang telah ditentukan. 2. Anwar. Dalam masalah Iman dan Kufur ajaran Jabariyah yang begitu lemah tetap bisa diberlakukan secara temporal. terutama dalam langkah awal menyampaikan dakwah Islam sehingga dapat merangkul berbagai golongan Islam yang masih memerlukan pengayoman. Kedua aliran. ketaatan dan juga ketidaktaatan. mereka pun tentu akan mencari jalan dan dalil-dalil lain yang lebih tepat. (Bandung: Puskata Setia. Dengan kata lain. Ilmu Kalam. Dari keterangan ajaran-ajaran Jabariyah dan Qodariyah tersebut di atas yang terpenting harus kita pahami bahwa mereka (Jabariyah dan Qodariyah) mengemukakan alasan-alasan dan dalil-dalil serta pendapat yang demikian itu dengan maksud untuk menghindarkan diri dari bahaya yang akan menjerumuskan mereka ke dalam kesesatan beragama dan mencapai kemuliaan dan kesucian Allah SWT dengan sesempurna-sempurnanya. 2006). ditambah pula dengan sifat wahdaniat-Nya. Hal ini menunjukkan betapa terbukanya kemungkinan perbedaan pendapat dalam Islam. Sementara bagi Qodariyah manusia adalah pelaku kebaikan dan juga keburukan. Penghindaran itu pun tidak mutlak dan tidak selama-lamanya. kursi atau jendela tidak akan tercapai tanpa adanya kayu sementara kayu tersebut yang membuat adalah Allah SWT. cet ke-2 Asmuni. keimanan dan juga kekufuran. DAFTAR PUSTAKA 1. Demikian makalah dari kami yang berjudul “Jabariyah dan Qodariyah” kritik dan saran yang konstruktif sangat kami harapkan demi perbaikan di masa mendatang. baik Qadariyah ataupun Jabariyah nampaknya memperlihatkan paham yang saling bertentangan sekalipun mereka sama-sama berpegang pada Alquran. bahkan jika dirasanya akan berbahaya pula. seperti seseorang yang ingin membuat meja. Yusran. 1996) .pertanggungjawaban atas keputusannya. Sebagai penutup dalam makalah ini. Rosihan. Di samping itu pendapat-pendapat Jabariyah sebenarnya didasarkan karena kuatnya iman terhadap qudrot dan irodat Allah SWT. (Jakarta: Raja Grafindo Persada.

(Bangil: alIzzah. Ilmu Kalam. Manna Khalil. 1998) 9. Faham Jabariyah pertama kali dipopulerkan oleh Ja’d bin Dirham di Basrah yang intinya menafikan adanya perbuatan otonom . t. (Beirut-Libanon: Dar al-Kurub al-'Ilmiyah. (Banjarmasin: Antasari Press. yaitu Jabariyah dan Qadariyah. an-Nasyar. 1986). Muhammad ibn Abd al-Karim. asy-Syahrastani. (Jakarta: Litera AntarNusa. 2008) 5. Koreksi atas Pemikiran Kalam dan Filsafat Islam. 2004) 10. Filsafat dan Tasawuf. 2002) 6. Muhammad. diterjemahkan dari "Mabahits fi Ulum al-Qur'an. 1997) Hadariansyah. Pemikiran-pemikiran Teologi dalam Sejarah Pemikiran Islam. AB. (Cairo: Dar al-Ma'arif. Pemikiran seputar masalah ini melahirkan dua kutub pemikiran ekstrim yang berbeda. Harun. Studi Ilmu-ilmu Alqur'an. "Jabariyah" (Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve. Maghfur. Daudy. al-Milal wa an-Nihal.3. al-Qaththan. Ali Syami. Tim. (Jakarta: UI-Press.th) 11. Ahmad. Nasution. Nata. Kuliah Ilmu Kalam. 1977) 8. (Jakarta: Bulan Bintang. 4. Nasy'at al-Fikr al-Falsafi fi al-Islam. (Jakarta: Raja Grafindo Persada. mula-mula muncul permasalahan tentang kebebasan dan keterpaksaan manusia (al-jabr wa al-ikhtiyar). Enseklopedi Islam. 1997) ← Mu’tazilah Murji’ah → Jabariyah dan Qadariyah 16 January 2009 by Kangsata Leave a Comment Terkait qada’ dan qadar. cet ke-5 7. Abudin. Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan.

Sedangkan faham Qadariyah dengan tokoh utamanya Ma’bad bin Khalid al-Juhani dan Ghailan al-Dimasyqi menyatakan bahwa semua perbuatan manusia adalah karena kehendaknya sendiri. Allah bukan sesuatu dan tidak bisa dilihat pada hari kiamat. iman adalah ma’rifah dan kekufuran adalah jahl. bebas dari kehendak Allah. perbuatan manusia berada di luar ruang lingkup kekuasaan atau campur tangan Allah. yang kepadanya dinisbatkan aliran Jahmiyah.seorang hamba dengan menyandarkan semuanya kepada Allah. Ide jabariyah ini kemudian terpelihara dalam gerakan pemikiran muridnya yaitu Jahm bin Shafwan. kalam Allah bersifat tidak qadim. Dalam pendapatnya. kehendak maupun usahanya sendiri. . manusia digambarkan tidak memiliki sifat kesanggupan yang hakiki sehingga segala perbuatannya (baik ketaatan atau kemaksiatan) pada dasarnya adalah keterpaksaan (majburah) karena tidak berasal dari kekuasaan. Jadi. Jahm juga mengembangkan pemikiranpemikiran lain seperti mengemukakan pendapat bahwa surga dan neraka bersifat fana. Di samping menerima ide jabariyah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful