Fungsi Wahyu

Menggali dan meneliti kembali asa hidup dan pandangan hidup Islam, kita perlu membuka Al Kitab, mengetahui kehendak dan fungsi Wahyu dalam tata-kehidupan manusia dan mengendalikan kemanusaan sesuai dengan pola dan formula Al-Chalik Maha Pencipta Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.
Rangkaian wahyu yang kita angkat dibawah ini, adalah meletakkan tangga tempat naik untuk mengenal hakekat (Ma’rifatul-hakekat), apa tujuan dan sengaja Ilahy menciptakan Hidup dan membuat halaman kemanusiaan bercahaya diatas buminya. Wahai manusia sekalian ! Sesungguhnya telah datang kepada kamu satu keterangan dari Tuhan kamu, dan Kami telah turunkan kepadamu satu cahaya yang nyata. Maka adapun mereka yang beriman kepada Allah dan berpegang kepada Al Qur-an itu, Tuhan akan memasukkan mereka didalam rahmat dan Karunia dari padaNya, dan Ia akan memimpin mereka kejalan yang lurus yang akan menyampaikan mereka kepadaNya. (QS. Annisaa’: 175-176) Wahai ahli kitab ! Sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menerangkan kepada kamu banyak sekali dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan ia (Rasul itu) tidak memperdulikan banyak lagi kesalahan kamu. Sesungguhnya telah datang kepada kamu dari Allah Cahaya dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itu, Allah memimpin orang yang menurut keridlaanNya dijalan keselamatan, dan Kitab itu mengeluarkan mereka daripada belenggu kegelapan kepada cahaya terang dengan idzinNya, dan kitab itu memimpin mereka kejalan yang lurus. (QS. Al Maidah : 15-16) Ini suatu kitab yang kami turunkan kepada kamu, supaya engkau keluarkan manusia dari kungkungan kegelapan kepada Cayaha dengan idzin Tuhan mereka, kejalan Tuhan Yang Maha Gagah, Maha Terpuji. (QS. Ibrahim : 1) Tidak kami turunkan kepadamu Qur-an, supaya engkau jadi susah dan gelisah. Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut. Diturunkan dari Tuhan yang menjadikan bumi serta langit-langit yang tinggi. Barang siapa yang berpaling dari pada peringatan, maka adalah baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengabulkan dia pada hari Qiyamat dalam keadaan buta. Ia berkata : “Wahai Tuhanku ! Mengapakah Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulunya aku adalah orang yang melek” Ia (Allah) menjawab : “Begitulah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, tetapi engkau lupakan dia, dan begitulah hari ini engkau dilupakan. Dan begitulah Kami balas orang yang melewati batas, dan tidak ber Iman kepada ayat-ayat Tuhannya, Dan sesungguhnya ‘adzab Achirat lebih pedih dan lebih kekal. (QS. Thaha : 2-4, 124-127) Allah sediakan untuk mereka siksa yang keras, maka hendaklah kamu berbakti kepada Allah, wahai manusia yang berfikir, yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan kepadamu satu peringatan. Yaitu seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang nyata untuk mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dari belenggu gelap kepada Cahaya terang. Barang siapa ber-Iman kepada Allah dan menjalankan shaleh, pasti Dia masukkan ia kedalam syurga yang mengalir padanya sungai-sungai, dan mereka kekal didalamnya selama-lamanya, sesungguhnya Allah telah menyempurnakan karunia baginya (QS. Atthalaq : 10-11)

Ialah yang menurunkan atas hambaNya perintah yang nyata dan jelas, karena Ia hendak melepaskan kamu dari belenggu kegelapan kepada Cahaya terang, sesungguhnya Allah itu belas kasihan kepada kamu. ( QS. Al Hadied : 9 )

Rangkaian wahyu yang dikemukakan diatas, adalah fundasi-landasan untuk memahamkan apa fungsi dan arti Risalah yang kita bawa ketengah-tengah dunia untuk berbicara dan berkata dalam gelanggang dan halaman kemanusiaan.
Persoalan zaman kita bukanlah lagi berkisar pada ada atau tiadanya Tuhan, tetapi berkisar kepada Tuhan yang mana yang wajib disembah dan di tha’ati. Bukan lagi berkisar kepada perlu atau tidak perlunya agama, tetapi berkisar kepada Agama yang bagaimana yang sanggup menjawab dan memecahkan persoalan dan tuntutan kemanusiaan, agama yang dapat dijadikan anutan dan pegangan. Bukan lagi berkisar pada perlu atau tidaknya Iman dan kepercayaan, tapi berkisar kepada kepercayaan dan keyakinan yang bagaimana yang sesuai dengan Fithrah-Insaniyyah, dasar kemanusiaan yang asli dan murni. Susunan filsafat demi susunan filsafat, ternyata tidak mampu menyiram kemanusiaan dan kehidupan yang kering dan layu. Filsafat ternyata tidak mampu memecahkan rahasia dan misteria hidup, menunjukkan tujuan hidup kepada manusia. Da’wah Islam langsung datang kepada fithrah-Insaniyyah, membuka matahati dan nurani kemanusiaan. Sebagaimana mata biasa tidak mungkin dapat melihat dan menikmati warna yang indah tanpa mata yang dapat melihat, demikian pula matahati dan nurany kemanusiaan tidak akan mampu melihat dan menggunakan hikmah-keagungan Ilahy, tanpa adanya Nur dan Cahaya Wahyu dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Nur dan cahaya Wahyu tidak mungkin pula akan dapat ditangkap oleh hati yang buta dan kemanusiaan yang telah ternoda. Menyambung cahaya besar dengan cahaya kecil, menyambungkan Cahaya Ilahy dengan nurani kemanusiaan, itulah pokok tugas Da’wah Islam dalam arti yang umum. Persoalan kemanusiaan zaman kita demikian menyeluruhnya dan penuhnya. Hanyalah dengan berpedoman kepada Al-Kitab, berpedoman kepada Wahyu, Ideologi Da’wah Islam akan mampu menjawab dan memecahkan persoalan yang penuh dan menyeluruh itu. Muhammad Ali Jinnah pembangun Negara Islam Pakistan itu pernah berkata :

Bahwasannya Islam itu bukan hanya sekedar rentetan upacara ibadah belaka, tetapi adalah satu hukum, satu syari’at yang maha sempurna, mengatur peri kehidupan dan memberikan kesejahteraan kepada pribadi dan masyarakat.
Agama kita yang hanief itu adalah agama yang mahasempurna, diatasnyalah kita hidup menurut ajaran-ajarannya yang luhur, maka sukses-berhasilnya kita bergantung kepada kesediaan dan kerelaan kita mengikuti ajaran-ajaran emas ini, yang dibawa oleh Al Quranul karim dan ditafsirkan oleh Nabi yang besar dengan ucapan dan perbuatannya.

Al Ustadzul Imam Prof. Syech Muhammad Abduh dalam Muqadimah Tafsirnya (Al-Hakiem) menulis :

....... saya yakin sungguh, sebab kelumpuhan dan kelemahan kaum Muslimin adalah oleh karena mereka telah berpaling dari pimpinan Al-Qur-an. Kemuliaan mereka, kemenangan mereka dan hak milik kekuasaan mereka tidaklah akan pulih kembali kepada mereka, kecuali jika mereka telah kembali kepada pimpinan Al-Qur-an, mentha’ati petunjuknya dan memegang teguh talinya, sebagaimana yang mereka dapat lihat dan mengetahui yang demikian itu dengan jelasnya dalam ayat-ayat yang menerangkan demikian itu.

Dengarlah seorang Barat Prof. M. Thonnon ikut menyalahkan Ummat Islam tatkala dia menulis :
....... Tuan orang Timur sangat gemar meniru kami orang Barat : tetapi yang tuan tiru itu ialah perkaraperkara yang amat rendah, kerusakan-kerusakan dan hal-hal yang sama sekali tidak berguna, bahkan tuan sangat gemar meniru kami dalam perkara yang oleh orang Barat sendiri dianggap penyakit yang merusakkan tubuh, dan orang terpelajar Barat memerangi dan membasminya. Jikalau tuan ingin berkemajuan yang sebenar-benarnya dan ingin berdiri sama tinggi dengan kami, maka pertama-tama pegang teguhlah agamamu, sebab aku dapatkan Al-Qur-an itu berisi pengajaran yang amat luhur, cukup mengatur peri lahir dan bathinmu

Nabi Muhammad SAW yang telah memenangkan keyakinan Islam dan berhasil menegakkan Negara Islam yang pertama di Madinah, pada sahir hayatnya meninggalkan pesan dan wasiat kepada Muslimin :
Sesungguhnya aku tinggalkan padamu sesuatu (tuntunan) manakala kamu berpegang teguh kepadanya, maka kamu tidak akan sesat selama-lemanya, suatu ketentuan yang cukup jelas yaitu Kitab Allah dan Sunnah NabiNya

Perjuangan Nabi telah menang dan berhasil menegakkan Daulah dan Hukumah, Syaukah dan Kekuasaan yang berupa Madinatul Munawarah, namun beliau tidak meninggalkan pesan bahwa beliau meninggalkan negara sebagai warisan kepada Ummatnya, tetapi hanyalah Al-Qur-an dan dan Sunnah, harta lama pusaka bersama bagi kaum Muslimin.
Wasiat terachir itu mengajarkan kepada kita bahwa Negara, Daulah dan Hukumah, kekuasaan dibumi hanyalah natijah atau akibat dari berpegang teguhnya kaum Muslimin kepada Qur-an dan Sunnah. Kekuasaan akan lenyap, kemuliaan akan runtuh, persatuan akan binasa, Daulah dan Hukumah akan bertukar dengan perbudakan dan perhambaan, jikalau Ummat Islam telah lepas dari pimpinan Al-Quran dan Sunnah. Berabad-abad Dunia Islam dalam kungkungan dan belenggu imperialisme Nasrani. Chilafah Umaiyah, Abbasiah, Fathimiyah, Usmaniyah runtuh semuanya, dan kekuasaan direbut oleh kaum imperialis, karena kaum Muslimin telah lari dari pimpinan Al-Qur-an dan Sunnah. Keadaan yang demikian itu, telah diramalkan oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah Hadiets : Kamu sekalian senantiasa akan ditolong oleh Allah untuk mengalahkan musuh-musuh kamu, selama kamu tetap memegang teguh Sunnahku. Sekiranya kamu telah keluar dari Sunnahku, Allah akan menurunkan pemerintahan atas kamu semua dari pada musuh-musuh kamu orang yang menakutnakuti kamu. Maka tidak akan dicabut rasa takut dari hati kamu kembali sebelum mentha’ati Sunnahku.

Kekuasaan, kekuatan, kebebasan dan kemuliaan yang dijanjikan dalam Al-Qur-an kepada Ummat Islam, tidak akan diberikan selama mereka tidak berpegang teguh secara konsekwen kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.

menyumbangkan apa yang kita miliki untuk membangun dunia kembali diatas puing reruntuhan dunia lama. ber-amar ma’ruf dan ber-nahi munkar dimuka bumi. membangun dunia dan kemanusiaan yang bersalam dan berbahagia. Suria dan Mesir dan lain-lain negara Muslimin lainnya memesankan. penguasa atasnya. Hanya itulah satu-satunya harta-kekayaan kita. dan lain-lain kepala dari negara Muslimin didunia mengatur kerjasama yang rapi. memberi sumbangan kepada kemanusiaandan kebudayaan. Jikalau Ayub Khan dari Pakistan. Negara dan bangsa-bangsa Afro-Asia yang kini bergolak mengusir penjajah. jikalau Ummat Islam tidak berpedoman kepada Qur-an dan Sunnah. Gempitakan suara Islam dalam segala pertemuan. agar mereka membuktikan ke Islamannya dalam praktek – kenyataan. Sebagai Ummatan wasathan. ikut memberikan sumbangannya untuk membangun bangsa dan negara. Ummat Risalah kita bertanggung jawab atas jalan dan perkembangan dunia dan kemanusiaan. Seluruh Ummat Islam memberikan harapan dan kepercayaan kepada para putera Islam yang kebetulan kini sedang memegang pemerintahan negara. Tidak ada alasan yang dapat menghalangi mereka untuk mengadakan kerjasama dalam menghadapi masalah dunia dan manusia. Kita harus aktif menyumbangkan harta kita kepada kemanusiaan. yalah Qur-an dan Sunnah. Kaum Muslimin seantero nation harus aktif memberikan sumbangan yang positif untuk membangun dunia dan kemanusiaan itu. Sebagai Muslim dia menerima pesan – amanat dari Tuhan Yang Maha Kuasa untuk membawa dan melaksanakan ajaran dan syari’at Islam didaerah kekuasaannya. . Amir Faisal dari Haramain. dalam waktu yang dekat Dunia Islam akan beroleh kembali kedudukannya sebagai pemimpin dan penengah didunia. nasional dan internasional. banyak terdiri dari kaum Muslimin yang terikat oleh ‘Aqidah yang satu dan keyakinan yang serupa. bangsa-bangsa Afro-Asia dan dunia umumnya kini menghadapi pembangunan dalam segala lapangan : pembangunan bangsa dan negara. menuntut muthlak-perlu adanya Daulah dan Hukumah Islamiyah itu. wahai. Dengan Qur-an dan Sunnah kaum Muslimin berbicara kepada manusia. Pena dan pedang Syuhada yang membina Haramain. dan zaman kita ditandai oleh kiamatnya imperialisme dan kolonialisme. Ummat Islam tidak akan mampu berbuat baik. tidak berhak mewarisi bumi sebagai chalifah. Ummat penengah. sosial dan masyarakat. Kemukakan ajaran Islam kepada manusia. perdamaian yang abadi dan sejati. melaksanakan hukum dan syari’at Islam dalam lapangan kemasyarakatan dan kenegaraan. membawa dan memperjuangkan ajaran Islam untuk membangun dunia dan kemanusiaan kembali. Setelah bebas dan lepasnya bangsa-bangsa Afro-Asia dari belenggu imperialisme Barat. tidak berhak memiliki kemuliaan dan kebesaran. Pakistan. agar diatas bumi yang telah merdeka itu tegak Daulah dan Hukumah Islamiyah. Ideologi Da’wah Islam sepenuhnya harus bersumber kepada Qur-an dan Sunnah.Ummat yang sudah lepas dari pimpinan Qur-an dan Sunnah. Dienul Islam sebagai Undang-undang Ilahy dilapangan syachsiyyah dan ijtima’iyyah. milik pusaka kita. Ummat Islam tidak boleh pasif dan statis membiarkan pembangunan dunia tanpa mendengar suara dan bahasa kaum Muslimin. Kita dibangkitkan untuk peri-kemanusiaan. pembangunan dunia dan kemanusiaan. Karena karunia Ilahy ummat Islam didunia sekarang banyak yang memegang kekuasaan dalam negara-negara yang baru merdeka. ekonomi dan politik.

Qur-an dan Hadits. adalah dengan kesadaran. sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapinya pula. (QS. Al A’raf : 17) Ayat-ayat diatas secara langsung juga berbicara kepada Amir Faisal. pujangga dan sarjana Islam yang masyhur Muhammad Iqbal ? Nation building yang kini kita jadikan thema pokok dalam segala kegiatan. Adalah kewajiban Ulama dan Sarjana Islam untuk memberi bekal dan sumbangan kepada para pemimpin negara diseluruh dunia. seperti yang diamanatkan oleh Piagam Jakarta yang terkenal itu. yang memperjuangkan Qur-an dan Sunnah itu dengan pena dan pedang ? Bukankah Negara Pakistan tidak bisa dipisahkan dengan peletak dasar yang pertama. dan ingatlah apa yang tersebut didalamnya supaya kamu menjadi orang Taqwa. Nation Building dan reformisme-modernisme Islam pada hakekatnya adalah satu. Ayub Khan dan lain-lain putera Islam yang memegang kekuasaan negara. dan formil konstitusionil karena Piagam Jakarta tidak boleh dipisahkan dengan UUD 45. Ber-Da’wah kepada para Pemimpin Negara supaya dengan kekuasaan dan syaukah yang ditangan mereka. hukum dan syari’at Islam memerlukan kekuasaan duniawi (weldlijke macht). hakum dan syari’at dan syari’at Islamiyah tidak berkaki dan bertahan. mempunyai kewajiban moril dan formil untuk menjalankan syari’at Islam (Syar’iyyah Islamiyah). Di Indonesia warganegaranya tidak kurang dari 95% yang beragama Islam. bahwa mereka adalah pendukung Qur-an dan Sunnah itu. Menegakkan Qur-an dan Sunnah. Kamu terimalah Kitab yang Aku berikan kepada kamu dengan kekuatan. yang berhak memerintah dan menegah manusia. justru Ummat Islam adalah golongan mayorita dinegeri ini. seperti satunya jasmani dan ruhani. terutama di Afro-Asia yang para Umara’nya banyak terdiri dari kaum Muslimin. jiwa dan jasad. Ajaran Islam yang murni dan asli (Qur-an dan Sunnah) bukan saja berguna untuk nation building kita. tugas pokok dari setiap Mu’min yang memahami fungsi dan misinya didunia. kedua-duanya memberi landasan kebijaksanaan untuk melakukan itu. tidak bisa dipisahkan dengan gerakan reformasi dan modernisasi dalam batang tubuhnya Ummat Islam sendiri. Kewajiban moril karena kita adalah kaum Muslimin. Islam dipakai untuk membangun masyarakat dan negara. bahagia bersama. Kekuasaan itu yang berwenang untuk melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Dalam bidang ini Mujahid Da’wah (Muballigh Islam) dapat memberikan darmabaktinya. Jikalau kita menyebut beberapa kepala Negara diatas agar merintis perjuangan Qur-an dan Sunnah dengan kuasa dan wewenang yang ada ditangannya. menggunakan dia menjadi asas pembangunan untuk kebahagiaan rakyat. agar mereka menggunakan kedudukan dan kekuasaan mereka untuk kejayaan Islam dan kaum Muslimin. Qur-an dan Hadits. Kamu terimalah Kitab yang Aku berikan kepada kamu dengan kekuatan dan dengarkanlah betul-betul. untuk ‘Izzul Islam wal Muslimin. tetapi untuk membangun dunia baru yang bebas dari perbudakan dan perhambaan. Al Baqarah : 63. Bukankah Negara Sa’udi Arabia yang pimpinannya sekarang (1964) ditangan Amir Faisal adalah jerih payah dari perjuangan besar Syechul Islam Muhammad bin Abdulwahhab. menciptakan mashlahatuljama’ah. . Para penjabat Negara dari pusat sampai ke Rukun Tetangga terdiri dari sebagian besar Ummat Islam. 93 . tidak bisa berjalan sendiri.

Kebahasaan Islam dari bahasa Arab salima selamat. sistem perekonomian dan sebagainya. ataukah diperlukan standart umum untuk bisa mengetahui keadaan yang variatif seperti ini. Dari seorang fakir-miskin tak ada kewajiban zakat yang harus dibayarnya. Keadaan ini juga terjadi pada negara lain. BEBERAPA PENDAPAT TENTANG ISLAM Ada dua sisi yang dapat digunakan untuk memahami pengertian Agama Islam.Islam yang tidak bersumber kepada Qur-an dan Sunnah. tidak akan mampuh memberikan sumbangannya bagi pembangunan Bangsa. Padahal tidak bisa mengatasi persoalan pelacuran menghancurkan tempatnya saja. mengedalikan kemanusiaan. sebagai pilihan dan alternatif untuk mengembangkan kehidupan. Sehingga sesuatu yang variatif ini tidak keluar dari ajaran yang tekandung dalam al-Qur’an dan As-Sunnah sehingga tidak akan keluar dari keabsahannya. Gejala seperti ini apakah memang sudah alami yang menjadi sebuah kenyataan untuk bisa diambil hikmahnya. Negara dan Dunia. Adanya sejumlah orang yang pengetahuan tentang ke-Islamannya cukup luas dan mendalam. Karena orang tidak menerima Islam secara sistemik maka antara guru satu dengan yang lainnya tidak akan pernah ketemu karena tidak sebuah silabus yang mengacu menjadi satu kesatuan. malah tidak berhak berbicara atas nama Ummat Islam. malah dia yang berhak menerima zakat. Rumus Ideologi Da’wah yang bersumber kepada Qur-an dan Sunnah. Kalau kepada mereka tentang bagaimana cara mengatasi masalah pelacuran maka yang ada hanya bagaimana menghancurkan tempat pelacuran tersebut. syirik. NUR CHOLIS MAJID : Sikap pasrah kepada Tuhan adalah merupakan hakikat dari pengertian islam. bid’ah dan sebagainya. namun tidak terkoordinasi dan tidak tersusun secara sistemik. B. dan dua ajaran pokok yaitu keesaan Allah dan kesatuan atau persaudaraan ummat manusia menjadi bukti nyata. karena dalam masalah itu tidak serta merta hanya masalah pelacuran tetapi ada masalah yang lauin yaitu ketenaga kerjaan. Kemudian Aslama berserah diri masuk dalam kedamaian. hanya itu sajalah yang dapat kita ketengahkan kepada manusia. pemahaman tentang ke-Islaman ummat Islam di Indonesia sangat variatif. NAAN METODOLOGI Sejak kedatangan Islam abad ke-13 hingga saat ini. kesenjangan sosial. membuat Negara dan Dunia ini menjadi bahagia dan bercahaya buat semuanya. MAULANA MUHAMMAD ALI : Islam adalah agama perdamaian. struktur sosial. yang penuh dengan churafat. yaitu sisi kebahasaan dan sisi peristilahan. tidak mungkin dapat memberikan sahamnya untuk nation building dan character building. sentosa dan damai. Islam yang sudah dikebiri dan dilucuti oleh seribu satu penyakit yang ditumbuhkan oleh Ummat Islam sendiri. Ummat yang tidak berpegang kepada Qur-an dan Sunnah (Ummat Islam) tidak mempunyai apa-apa yang dapat disumbangkannya kepada Dunia dan Manusia. misalkan ada orang yang menguasi ilmu Fiqh tetapi tidak memahami ilmu-ilmu yang lain setiap ada masalah jawabannya selalu ilmu fiqh yang diberikan. Sebagai contoh. Dari sisi peristilahan dalam memberi pengertian para ilmuwan beragama dalam memberi .

Peristilahan ini disamakan pada umumnya agama diluar Islam yang namanya disandarkan kepada nama pendirinya. idenya muncul dan nafasnya dihembuskan oleh semangat tokoh pemikir. Geraknyapun menjadi lamban. Menurut Sosiologi pemikiran teologi dan filosofi selalu terkait dengan politik atau kemasyarakatan. berliku-liku dan bercabang-cabang. ORIENTALIS : islam sering di identikkan dengan Mohammadanism dan Mohammedan. makna dasarnya adalah damai atau tidak mengganggu. manusia dengan alam semesta. C. Sesungguhnya setan musuh yang nyata bagimu” Kata ‫ السـلم‬yang dalam ayat diatas diterjemahkan kedamaian atas Islam. HARUN NASUTION: Islam sebagai agama adalah agama yang ajaran-ajaranya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui nabi Muhammad sebagai rasul. manusia dengan manusia. Setiap pemikir ketika melontarkan gagasan atau buah pikirannya tidak lepas oleh situasi lingkungan yang dihadapi . Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya satu segi. masuklah kamu ke dalam Kedamaian/Islam secara menyeluruh dan jangan kamu ikuti langkah-langkah Setan. AKIBAT YANG TIMBUL DARI PEMAHAMAN ISLAM Perjalanan Islam samapi kini telah melampui kurun waktu lima belas abad dan dipeluk oleh manusia diseluruh penjuru dunia. dan terbina dalam bentuknya terakhir dan sempurna dalam al-Qur’an yang suci yang diwahyukan Tuhan Kepada Nabi-Nya yang terakhir yakni Nabi Muhammad Ibnu Abdullah. Wajar jika sumber mata airnya yang semula bening dan jernih serta mengalir pada alur sempit dan deras dalam perjalanannya menuju muara kian melebar. sufisme dan filsafat saja dengan meninggalkan . Dari definisi itu dapat disimpulkan bahwa Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada manusia melalui Rasul-rasul-Nya berisi hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah. maka kajian pemikiran Islam hanya dibagi dalam bidang teologi (kalam).pengertian antara lain adalah : Ahmad Abdullah Al-Masdoosi (1962) : Islam adalah Kaidah hidup yang diturunkan kepada manusia sejak manusia digelarkan ke muka bumi. Pengertian Islam menurut Maulana Ali dapat dipahami dari Firman Allah surat Al-Baqorah ayat 208 : ٌ ْ ِ ّ ّ ُ َ ْ ُ َ ُ ِّ ِ َ ْ ّ ِ َ ُ ُ ْ ُ ِ َّ َ َ َ ّ َ ِ ّْ ‫ياأيهاالذين أمنواادخلوا فى السلم كافة ولتتبعوا خطوات الشيطان انه لكم عدو مبين‬ ِ ْ ُُ ْ ْ ُ َ َ ْ ِ ّ َ ّ َ َ “Hai Orang-orang yang beriman. demikian juga sebaliknya. Pemikiran Islam dapat diibaratkan dengan sebagai sungai yang besar dan panjang. satu kaidah yang memuat tuntunan yang jelas dan lengkap mengenai aspek hidup manusia baik spritual maupun material. Jika teori ini benar. Setiap pemikiran yang kemudian didukung oleh sekelompok orang. pandangan hidup dan sikap politiknya. Airnya kian pekat karena mengangkut pula lumpur dan sampah. tetapi mengenai beberapa segi dari kehidupan manusia.

karya Ali Syariati dijumpai uraian singkat tentang metode memahami yang pada intinya Islam harus di lihat dari berbagai dimensi. c. Dengan demikian untuk menghasilkan Islam secara utuh dan menyeluruh perlu menatapnya dari berbagai situasi yang mengitari disekitar kalahiran Islam tersebut serta tokoh-tokoh yang mengembangkannya. Dalam buku yang berjudul Tentang Sosiologi Islam. Dengan mempelajari Kitab suci Al-Qur’an dan membandingkan dengan kitab-kitab samawi (atau kitab-kitab yang dikatakan sebagai samawi) lainnya. Begitulah cara paling minimal untuk memahami agama paling besar sekarang ini agar menjadi pemeluk agama yang mantap dan untuk menumbuhkan sikap . Selain dengan menggunakan pendekatan komparasi. karena metode dan pendekatan dalam memahami Islam yang demikian itu masih perlu dilengkapi dengan metode yang bersifat teologis dan normatif. Memahami Islam secara menyeluruh adalah penting walaupun tidak secara detail. Mempelajari kepribadian Rasul Islam dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh besar pembahruan yang pernah hidup dalam sejarah. Dengan mengenal Allah dan membandingkan-Nya dengan sesembahan agama lain b. Dalam hubungan ini ia mengatakan jika kita meninjau Islam dari satu sudut pandangan saja. Mungkin kita berhasil melihatnya secara tepat. Perbandingan menghendaki obyektifitas.ketatanegaraan(politik) dan hukum. Ali Syariati juga menawarkan cara memahami Islam melalui pendekatan aliran. Pencampuradukkan antara Islam sebagai agama dan Islam sebagai rangka historis bagi pengembangan budaya dan peradaban telah dilanggengkan dan pernah berkembang lebih kompleks hingga hari ini. Mempelajari Islam dengan metode ilmiah saja tidak cukup. masyarakat-masyarakat Islam harus dikaji dalam dan untuk diri sendiri. namun tidak cukup apabila kita memahami secara keseluruhan. Untuk itu dalam memahami dan menelaah ajaran Islam yang ada dalam buku-buku ilmiah terkadang perlu kita cermati apakah ajaran ini persial atau apakah sudah komprehensif. Tugas intelektual hari ini ialah mempelajari memahami Islam sebagai aliran pemikiran yang membangkitkan kehidupan manusia. d. Namun demikian. NASRUDDIN RAZAK metode memahami Islam sama dengan Ali Syariati menawarkan metode pemahaman Islam secara menyeluruh. Mempelajari tokoh-tokoh Islam terkemuka dan membandingkan tokoh-tokoh utama agama maupun aliran-aliran pemikiran lain. Secara akademis suatu perbandingan memerlukan persyaratan tertentu. menjadi sebuah kajian yang tidak lengkap. D. ada berbagai cara memahami Islam a. perseorangan maupun masyarakat. Ali Syariati lebih lanjut mengatakan. maka yang akan terlihat hanya satu dimensi saja dari gejalanya yang bersegi banyak. BEBERAPA METODE MEMAHAMI ISLAM Kami mencoba menelusuri metode memahami Islam sepanjang yang dapat dijumpai dari berbagai literaratur ke-islaman. Pada intinya metode ini adalah metode komparasi (perbandingan).

bimbang dan penuh keraguan. menimbulkan skeptis. Islam harus di pelajari dengan integral. Setelah itu dilanjutkan dengan melihat agama sebagai norma ajaran yang berkaitan dengan aspek kehidupan manusia yang secara . kita dapat mengindentifikasi lima aspek dari ciri yang sama dari agama lain. 3. karena orang mengenalnya dari sebagian ulama dan pemeluknya yang telah jauh dari bimbingan Al-Qur’an dan Al-Sunah. lalu dibandingkan dengan topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. maka kita hanya akan melihat satu dimensi dari fenomena-fenomena yang multi faset (terdiri dari banyak segi). Kedua. Kekeliruan memahami Islam. atau melalui pengenalan dari sumber kitab-kitab fiqh dan tasawuf yang semangatnya sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. kritis dan seterusnya dengan metode teologis normatif. Mempelajari Islam dengan cara demikian akan menjadikan orang tersebut sebagai pemeluk Islam yang sinkretisme. yaitu pemahaman Islam dipahami secara komprehensif. karena pada umumnya mereka memiliki pemahaman Islam yang baik yaitu pemahaman yang lahir dari perpaduan ilmu yang dalam terhadap ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah dengan pengalaman yang indah dari praktek ibadah yang dilakukan setiap hari. tidak dengan cara persial artinya ia dipelajari secara menyeluruh sebagai satu kesatuan yang bulat tidak secara sebagian saja. Metode lain yang diajukan Mukti Ali adalah metode tipologi. Untuk memahami agama Islam secara benar Nasruddin Razak mengajukan empat cara : 1. yaitu suatu cara memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama Islam tersebut dengan agama lainnya. yaitu 1)aspek ketuhanan 2)aspek kenabian 3)aspek kitab suci dan 4)aspek keadaan sewaktu munculnya nabi dan orang-orang yang didakwahinya serta individu-individu terpilih yang dihasilkan oleh agama itu. Metode sintesis yaitu suatu cara memahami Islam yang memadukan antara metode ilmiah dengan segala cirinya yang rasional obyektif. Islam perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar dan sarjana-sarjana Islam. juga agama-agama lain. yakni bercampur dengan hal-hal yang tidak islami jauh dari ajaran islam yang murni. Memahami Islam secara persial akan membahayakan. Metode ilmiah digunakan untuk memahami Islam yang terkandung dalam kitab suci. Islam harus dipelajari dari sumber aslinya Al-Qur’an dan hadits. Pertama metode Komparasi. karena agama bersal dari Tuhan. Melalui metode teologis normatif ini seseorang memulai dari meyakini Islam sebagai agama yang mutlak benar. dan apa yang berasal dari Tuhan Mutlak benar. sekalipun kita melihatnya itu betul. empiris dan sosiologis yang ada di masyarakat. Metode ini banyak ahli sosiologi dianggap obyentif berisi klasifikasi topik dan tema sesuai dengan tipenya. apabila kita melihat Islam hanya dari satu segi saja.yang hormat bagi pemeluk agama lainnya. 4. baru kemudian dihubungkan dengan kenyataan historis. Dalam hubungan ini Mukti Ali mengatakan. Dari beberapa metode diatas kita melihat bahwa metode yang dapat digunakan untuk memahami Islam secara garis besar ada dua macam. Islam seharusnya dipahami secara bulat. maka agamapun mutlak benar. 2. Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan teologi normatif yang ada dalam al-Qur’an. Selain itu Mukti Ali juga mengajukan pendapat tentang metode memahami Islam sebagaimana yang dikemukakan oleh Ali Syariati yang menekankan pentingnya melihat Islam secara menyeluruh. dengan demikian akan dihasilkan pemahaman Islam yang obyektif dan utuh. Metode ini juga untuk memahami agama Islam. Hal ini didasarkan pada alasan.

Hal ini dikarenakan pendapat akal manusia kadang melakukan kesalahan baik yang disengaja maupun tidak. Harun Nasution dalam bukunya teologi Islam. ← PENGERTIAN FILSAFAT ISLAM | TASAWUF → Rating tidak diperbolehkan • • • • • • • • • • Melaporkan penyalahgunaan Bagikan Paham Teologis-Normatif dalam Islam tak dapat terlepas dari pemahaman mengenai kondisi obyektif masyarakat. Berikut ini beberapa metode yang ditawarkan oleh ilmuwan muslim yang dapat membantu seorang muslim memahami agamanya. Latar belakang penyebab lain timbulnya paham Teologis-Normatif adalah karena berkembang pesatnya paham teologi teo-centris yang berkembang di dunia Islam. seperti sebab pertama dan terakhir segala sesuatu. METODE MEMAHAMI ISLAM Oleh Rustina N Untuk memahami Islam secara komprehensi dan tepat diperlukan metode. misalnya aspek lingustik dan . Sehingga cara befikir teologis disini berusaha mencari jawaban absolut dari masalah-masalah yang dihadapi. Keyakinan pada wahyu inilah yang menjadi salah satu faktor timbulnya paham TeologisNormatif ini berkembang. Melalui metode teologi normatif yang tergolong tua usianya ini dapat dihasilkan keyakinan dan kecintaan yang kuat. Menurutnya. Karena akal yang diberi oleh Tuhan punya keterbatasan dalam membuka hijabNya. Sehingga pada pendapat akal yang salah dapat menyesatkan atau menyalahkan manusia dalam berbagai bidang kehidupannya. melainkan harus melalui wahyu yang disampaikan oleh Tuhan. Wahyu perlu untuk mengatur masyarakat manusia dan memang demikian pendapat kaun Asy’ariah. namun tidak cukup bila kita ingin memahaminya secara keseluruhan. Namun sampai sekarang kita belum tahu dimana batasan akal yang kita miliki. kewajiban mengetahui baik dan jahat serta kewajiban mengetahui yang baik dan menjauhi yang buruk tidak dapat dicapai oleh akal. jika Islam ditinjau dari satu sudut pandang saja. dalam kaitannya dengan peranan akal Asy’ariyah berpendapat bahwa kewajiban mengetahui Tuhan. bahwa segala sesuatu dalam beragama tak dapat selalu diisolaikan dengan akal atau rasional manusia. kokoh dan militan pada Islam. Mungkin pandangan kita itu akan tepat. Ali Syariati dalam bukunya Tentang Sosiologi Islam menguraikan secara singkat tentang metode memahami Islam yang pada intinya bahwa Islam harus dilihat dari berbagai dimensi. Faktor lainnya dari latar belakang paham Teologis-Normatif ialah karena sikap yang kurang percaya kepada pendapat akal manusia. salah satu fungsi wahyu ialah member tuntunan kepada manusia untuk mengatur hidupnya di dunia. sedangkan metode ilmiah yang dinilai sebagai tergolong muda usianya ini dapat dihasilkan kemampuan menerapkan Islam yang diyakini dan dicintainya itu dalam kenyataan hidup serta memberi jawaban terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi manusia. yakni teologi Asy’ariyah. Buktinya ialah Alquran yang memiliki banyak dimensi. maka yang akan terlihat hanya satu dimensi saja dari gejalanya yang bersegi banyak.keseluruhan diyakini amat ideal. Hal ini memang dapat dapat dibenarkan. Al-Dawwani pernah berkata.

Mukti Ali melihat bahwa untuk melihat Islam sebagai sebuah agama dapat digunakan metode doktriner dan untuk melihat Islam sebagai sebuah disiplin ilmu. yaitu aspek ketuhanan. Demikian juga aspek-aspek filosofis dan keimanan Alquran yang telah banyak dikaji oleh filosof dan teolog. artinya ia dipelajari secara menyeluruh sebagai satu kesatuan yang bulat tidak secara sebagian saja. Amin Abdullah dan Mukti Ali juga menawarkan dua metode memahami Islam. yaitu Alquran dan al-Sunnah. aspek keadaan sewaktu munculnya Nabi dan orang-orang yang . Ali Syariati menawarkan berbagai cara memahami Islam yang pada intinya adalah melalui metode perbandingan serta melalui pendekatan aliran. obyektif yang selanjutnya disebut pendekatan sintesis. aspek kitab suci. Metode lain untuk memahami Islam yang diajukan Mukti Ali adalah metode tipologi. yaitu. aspek kenabian. lalu dibandingkan dengan topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. ketiga. serta agama lain kita dapat menidentifikasi lima aspek atau ciri dari agama itu. Metode perbandingan atau komparasi dengan cara membandingkan Alquran dengan kitab-kitab samawi lainnya.sastra yang telah banyak dipelajari. Islam perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar. atau hanya dari kitab-kitab filih dan tasawuf. kedua. Ia mengajukan empat cara. empiris. empiris. Secara teknis. bukan hanya dari sebagian ulama dan pemeluknya. islam harus dipelajari secara integral. islam harus dipelajari dari sumbernya yang asli. lalu dibandingkan dengan aspek dan ciri yang sama dari agama lain. empiris. sosiologis dan psikologis belum banyak dikaji. dapat digunakan metode ilmiah dengan ciri-ciri rasional. yaitu metode memahami islam secara menyeluruh. mempelajari tokohtokoh Islam terkemuka dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh utama agama atau aliran-aliran pemikiran lain. Keempat. tidak dengan cara parsial. yakni para intelektual muslim memikul tugas dan amanah untuk memahami Islam. Sementara dimensi manusiawinya yang mengandung aspek historis. mempelajari kepribadian Rasul Islam dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh besar pembaharuan yang pernah hidup dalam sejarah. Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan normatif teologis yang ada dalam Alquran lalu dihubungkan dengan kenyataan historis. Selanjutnya terdapat pula metode memahami Islam yang dikemukakan oleh Nasruddin Razak yang hampir sama dengan konsep Ali Syariati. dan sosiologis yang ada di masyarakat. yaitu bahwa untuk melihat Islam sebagai sebuah disiplin ilmu (islamic studies) dapat digunakan pendekatan ilmiah yang ciri-cirinya rasional. Adapun cara kedua dalam memahami Islam menurut Ali Syariati adalah melalui pendekatan aliran. Dalam hal agama Islam.obyektif Sedangkan untuk melihat Islam sebagai agama dapat digunakan pendekatan normatif teologis. mengkajinya sesuai dengan bidangnya masingmasing untuk menumbuhkan pemahaman yang segar tentang Islam demi masa depan ummat manusia yang lebih baik dengan berpedoman pada Alquran dan Sunnah. Aspek-aspek tersebut seharusnya dikaji untuk menghasilkan pemahaman Islam secara menyeluruh. yaitu mengklasifikasi topik dan tema sesuai dengan tipenya. kaum zuamaa dan sarjana-sarjana Islam karena mereka pada umumnya memiliki pemahaman Islam yang baik yang lahir dari perpaduan ilmu yang dalam terhadap Alquran dan Sunnah serta praktek ibadah yang dilakukan setiap hari. pertama. Memahami Islam dengan cara keempat sebagaimana disebutkan di atas sangat diperlukan dalam upaya menunjukkan peran sosial dan kemanusiaan dari ajaran Islam itu sendiri.

metode komparasi. dan militan pada Islam. h. 104-115). kokoh. yaitu suatu cara memahami Islam yang memadukan antara metode ilmiah dengan segala cirinya yang rasional. sedangkan dengan metode ilmiah yang nilai tergolong muda usianya dapat dihasilkan kemampuan menerapkan Islam yang diyakini dan dicintainya dalam kenyataan hidup serta memberi jawaban terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi manusia. Metodologi Studi Islam.didakwahi serta individu-individu terpilih yang dihasilkan oleh agama itu. sedangkan metode teologis normatif digunakan untuk memahmi Islam yang terkandung dalam kitab suci. IV. serta meneliti suasana dan situasi di mana Nabi Muhammad bangkit. A. maka agama pun mutlak benar.empiris. kritis dengan metode teologis normatif. Metode ilmiah digunakan untuk memahami Islam yang nampak dalam kenyataan historis. Mukti Ali : PT. empiris. Metode teologis normatif dimulai dari keyakinan bahwa Islam sebagai agama mutlak benar dengan alasan karena agama berasal dari Tuhan dan apa yang berasal dari Tuhan mutlak benar. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa secara garis besar ada dua metode yang dapat ditempuh untuk memahami Islam. yaitu suatu cara memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama Islam dengan agama lain sehingga dihasilkan pemahaman Islam yang obyektif dan utuh. dan sosiologis. (Abuddin Nata. • • • • • • • • METODE MEMAHAMI AGAMA ISLAM Judul Buku Penulis Penerbit Tahun Terbit Tebal : Metode Memahami Agama Islam : H. Cet. Pertama. Melalui metode teologis normatif yang tergolong tua usianya dapat dihasilkan keyakinan dan kecintaan yang kuat. Bulan Bintang : 1991 : xvi + 233 halaman (termasuk biografi singkat) . sehingga diperlukan pendekatan baru yang harus terus digali oleh pembaharu. Setelah itu dilanjutkan dengan melihat agama sebagaimmana norma ajaran yang berkaitan dengan dengan berbagai aspek kehidupan manusia yang secara keseluruhan diyakini amat ideal. Selanjutnya untuk memahami Islam dapat pula dilakukan dengan memahami kitab sucinya dan mempelajari pribadi Muhammad bin Abdullah. Metode-metode yang digunakan untuk memahi Islam itu suatu saat mungkin dipandang tidak cukup lagi. obyektif. Kedua metode sintesis. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

ia tetap mengkritik cara Barat (orientalis) dalam mempelajari Islam yang hanya mendekati Islam dengan metode ilmiah saja. Akibatnya adalah penelitiannya menarik. Ia lalu mengusulkan bahwa sistem pengajaran dan pendidikan yang paling baik di Indonesia adalah madrasah dalam pesantren. (hlm. sains. Mukti Ali mengatakan bahwa metodologi adalah masalah yang sangat penting dalam sejarah pertumbuhan ilmu. tidak subjektif. 27) • Demikian pula halnya ketika mengkaji tentang Islam. sistematis. Dengan metodologi itu. (hlm. tetapi mereka sebenarnya belum mengerti Islam secara utuh. (hlm. benar. Hal ini diperlukan untuk menghasilkan penelitian yang seobjektif mungkin dan seilmiah mungkin. Pertanyaannya adalah bagaimana metode yang baik itu? Orang-orang Barat yang mengkaji Islam menggunakan metode naturalistik. tetapi tidak baik dalam pengajarannya. • Pada bagian pertama bukunya ini.• Persoalan metodologi selalu menjadi perhatian utama para ilmuwan atau peneliti ketika membahas suatu objek kajian. hanya hanya mempunyai bakat. (hlm. Islam dapat dipahami secara objektif. Metode kognitif yang betul untuk mencari kebenaran adalah lebih penting daripada filsafat. ilmiah. atau sosiologis. 31) • Walaupun demikian. dan lain-lain. psikologis. yang membahas tentang "Ulama dan Pesantren" Mukti Ali menerangkan ciri-ciri pesantren kemudian menyatakan bahwa sistem pesantren baik dalam pendidikannya. v) • Pada bagian kedua bukunya. tidak emosional. Mukti Ali menganjurkan para peneliti Muslim untuk menggunakannya. diperlukan suatu metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. 32) . Mereka hanya mengetahui kulit luarnya agama Islam.

para ulama sudah terbiasa memahami ajaran Islam dengan cara doktriner dan dogmatis. 32) • Mukti Ali mengajukan metode Ali Syari'ati dalam memahami agama Islam. yang sama sekali tidak dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan hidup dalam masyarakat. 3334) • Cara pertama dianggap tidak mencukupi. berbagai pidato dan kuliahnya. sukunya. Ia lalu menawarkan pendekatan baru dalam memahami Islam yaitu pendekatan ilmiah-cumdoktriner atau dengan kata lain metode sintesis. yaitu mempelajari biografinya. buku-buku yang ditulisnya. di mana ia belajar. kejadian- . • Adapun cara pertama. bagaimana keluarganya.• Para ulama pun mendapatkan kritik dari guru besar Ilmu Perbandingan Agama. (hlm. penafsirannya tidak dapat diterapkan dalam masyarakat. teori-teori yang digunakannya. Untuk memahami manusia. IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini. rasnya. bagaimana hidupnya ketika masih kecil. siapa saja guru-gurunya. Ali Syari'ati membandingkan agama dengan manusia. Menurutnya. apa yang dia pelajari. Hal-hal yang berkaitan dengan itu adalah di mana tempat lahir. (hlm. mempelajari hasil karyanya dan mempelajari biografinya. seseorang harus mempelajari dan meneliti hasil karyanya. negerinya. kapan ia lahir. dalam lingkungan apa ia dibesarkan. Seseorang yang ingin mengetahui orang itu lebih jauh. Hal ini dilakukan untuk mengetahui ide dan kepercayaannya sebagai pendahuluan yang harus dilakukan untuk mengetahui orang tersebut. bagaimana kehidupan pendidikan yang diberikan kepadanya. Akibatnya. sehingga timbul kesan bahwa Islam sudah ketinggalan zaman dan sudah tidak sesuai dengan alam pembangunan ini. Karya-karya yang dimaksudkan di sini adalah karangan-karangan intelektualnya atau karya-karya ilmiahnya. maka ada dua cara yang harus ditempuh yaitu. maka ia harus menenpuh cara yang kedua.

1) Allah swt. Kedua. Cara kerja metode ini adalah mengklasifikasikan topik dan tema sesuai dengan tipenya. Metode yang dimaksud adalah metode tipologi. maka yang dipelajari darinya adalah pertama. dan ciri-ciri Tuhan yang dibahas dalam Islam (hlm. gambaran. al-Quran yang merupakan himpunan ide dan output ilmiah dan literer yang terkenal dengan Islam. 2) al-Qur'an sebagai kitab suci agama Islam (hlm. apa saja kegagalan yang ia alami dan apa saja kesuksesan yang ia dapatkan? (hlm.kejadian penting apa saja yang pernah dialami dalam kehidupannya. pelajaran tentang sejarah Islam. 38). 34) • Apabila metode di atas diterapkan pada agama Islam. 4) keadaan sekitar ketika munculnya sang nabi dan keadaan orangorang yang didakwahi. pertama kali muncul (hlm. 3) pribadi Rasulullah saw. Abu Bakar ash-Shiddiq . Kelima aspek tersebut adalah 1) Tuhan. hingga sekarang. konsep. maka setidaknya ada lima aspek atau ciri yang bisa diidentifikasi pada semua agama. 39). (hlm. 40). (hlm. 34) • Selain metode di atas. 37-38) • Jika metode di atas diterapkan pada Islam. Pendekatan ini dianggap banyak digunakan oleh para sarjana Barat dalam memahami manusia. 5) sejarah orang-orang yang berjuang pertama kali bersama Nabi saw. yang berkaitan dengan tipe. 38-39). 2) Nabi. 4) sejarah bangsa Arab ketika Nabi Muhammad saw. 37) • Apabila metode ini diterapkan pada agama. Mukti Ali juga menawarkan metode lain dalam memahami Islam. (hlm. seperti Khadijah (mewakili wanita). maka yang harus dipelajari adalah. 3) Kitab. yaitu mempelajari tentang perkembangan Islam sejak awal misi Nabi Muhammad saw. (hlm. dan 5) pribadi-pribadi pilihan hasil didikan agama tersebut. kemudian dibandingkan dengan topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama.

179 halaman (lahore: Islamic Publication. Beberapa contoh tersebut dibagi ke dalam tiga kelompok sesuai dengan tujuan dan sasaran penulisannya. Bilal bin Rabah (mewakili budak yang dianggap hina dina oleh kaumnya kala itu). Mukti Ali mengkritik Muhammadiyah yang menggunakan al-Qur'an. 4) Abu Bakar Jabir al-Jazairi. 45) • Mukti Ali kemudian memberikan beberapa contoh buku yang membahas tentang Islam secara komprehensif. Padahal. Towards Understanding Islam. Sunnah. Beberapa contoh buku tersebut adalah. 1978). cetakan kesebelas. (42) • Pada bagian ketiga bukunya. dan Ijtihad sebagai metode pendekatan yang digunakan. 260 dan 244 halaman (Doha. The Religion of Islam. 1397/ 1977).(mewakili orang kaya yang terhormat). Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. 2) Abu A'la Maududi. • Kelompok pertama adalah buku-buku yang sengaja ditujukan kepada kelompok khusus seperti khusus ditujukan kepada non-muslim atau ditujukan kepada para intelektual. 1) Harun Nasution. 3) Ahmad A. cetakan . Beberapa contoh kelompok ini adalah. (hlm. 1967). 1973). Qatar: Dar al-Uloom. tetapi Muhammadiyah sendiri belum menghasilkan karya tentang Islam yang bersumber dari al-Qur'an dan Sunnah. cetakan kedua (Jakarta: UI Press. dua jilid. Galwash. 575 halaman (al-Magrib: dar at-Tiba'ah al-Haditsah. saat ini diperlukan pengetahuan tentang ajaran Islam yang komprehensif atau menyeluruh yang bersumber dari al-Qur'an dan Sunnah. 46-47) • Kelompok kedua adalah buku yang ditujukan tidak kepada kelompok khusus. dua jilid. Ali bin Abi Thalib (mewakili pemuda). cetakan ketiga. (hlm. Pelajaran Agama Islam. 1) Hamka. 126 dan 122 halaman. Minhajul Muslim.

• 5. 47) • • Adapun kekurangan buku ini menurut penulis adalah. kedua. • 3. Seringnya terjadi pengulangan pembahasan di berbagai tempat. Buku ini tidak diantarkan oleh penulis lain selain Mukti Ali sendiri.t. • 4. • 2. 1. tetapi ternyata hanya bagian pertama. Al-Islam Aqidah wa Syari'ah.). 1973). 2) Mahmoud Syaltut. dan ketiga yang membahas metode yang dimaksudkan tersebut. cetakan ketiga. sehingga sulit untuk melacak referensi yang digunakan penulis. The Religion of Islam. 1966). Hal ini terjadi disebabkan karena materi buku ini merupakan materi pidato dan prasaran yang di sampaikan di berbagai tempat. sehingga untuk mencari atau memeriksa kata-kata yang dibutuhkan secara cepat. dan sejarah tokoh lainnya. (hlm. 784 halaman (Cairo: The Arab Writer Publication & Printers. . 408 halaman (Jakarta: Bulan Bintang. 570 halaman (Cairo: Dar al-Qalam. (hlm. Buku ini tidak dilengkapi dengan indeks.kelima. selainnya lebih berbicara tentang sejarah Muhammadiyah dan pendirinya. 47) • Kelompok ketiga adalah buku yang mempunyai ciri khusus yaitu berusaha untuk mempertahan Islam dari serangan-serangan dan berbagai tuduhan orang-orang Barat. Contoh buku tersebut adalah Maulana Muhammad Ali. Buku ini tidak dilengkapi dengan foonote dan daftar pustaka. Buku ini berjudul tentang "metode memahami Agama Islam" yang dalam bayangan penulis buku ini membahas secara tuntas tentang berbagai metode yang digunakan dalam memahami agama Islam. t. Kata pengantar dari tokoh lain sangat penting untuk informasi awal dari suatu buku agar tidak terkesan subjektif.

Antropologi mempelajari tentang manusia dan segala perilaku mereka untuk dapat memahami perbedaan kebudayaan manusia. agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya. Melalui pendekatan ini. Padahal informasi yang tidak kalah pentingnya adalah kapan ia lahir. menjadi sangat penting untuk memahami agama. Penelitian antropologi Grounded Research adalah penelitian yang penelitinya terlibat dalam kehidupan masyarakat yang ditelitinya. Antropologi dalam kaitan ini sebagaimana dikatakan Powam Rahardjo. di mana ia lahir bagaimana latar belakang pendidikannya. bahkan sifatnya partisipatif. Dibekali dengan pendekatan yang holistik dan komitmen antropologi akan pemahaman tentang manusia. dan berbagai informasi lainnya. Dengan kata lain bahwa cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologis dalam melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama.• 6. Antropologi. Fenomena-fenomena tersebut selanjutnya diinterpretasi dengan menggunakan kerangka teori tertentu. • • Rabu. lebih mengutamakan pengamatan langsung. Biodata penulis kurang memadai atau kurang lengkap karena hanya mencantumkan jabatan dan bukunya yang baru terbit. Seorang peneliti datang ke lapangan tanpa ada prakonsepsi apapun terhadap fenomena keagamaan yang akan diamatinya. sebagai sebuah ilmu yang mempelajari manusia. 04 November 2009 PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM KAJIAN ISLAM PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM KAJIAN ISLAM Pendahuluan Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. maka sesungguhnya antropologi merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama dan interaksi sosialnya .

Para antropolog menjelaskan keberadaan agama dalam kehidupan manusia dengan membedakan apa yang mereka sebut sebagai common sense dan religious atau mystical event. Penjelasan lain misalnya yang diungkapkan oleh Emile Durkheim tentang fungsi agama sebagai penguat solidaritas sosial. Islam yang menjadi gambaran sesungguhnya dari keberagamaan manusia. makna hakiki dari keberagamaan adalah terletak pada interpretasi dan pengamalan agama. Dua sisi kajian ini-usaha untuk memahami agama dan menegasi eksistensi agama-sesungguhnya menggambarkan betapa kajian tentang agama adalah sebagai persoalan universal manusia. Terlebih dari itu. sementera itu religious sense adalah kegiatan atau kejadian yang terjadi di luar jangkauan kemampuan nalar maupun teknologi. Dalam satu sisi common sense mencerminkan kegiatan sehari-hari yang biasa diselesaikan dengan pertimbangan rasional ataupun dengan bantuan teknologi. Posisi penting manusia dalam Islam juga mengindikasikan bahwa sesungguhnya persoalan utama dalam memahami agama Islam adalah bagaimana memahami manusia. Di Indonesia usaha para antropolog untuk memahami hubungan agama dan sosial telah banyak dilakukan. Barangkali karya Clifford Geertz The Religion of Java yang ditulis pada awal 1960an menjadi karya yang populer sekaligus penting bagi diskusi tentang agama di Indonesia khususnya di Jawa. karena konsep manusia sebagai 'khalifah' (wakil Tuhan) di bumi. misalnya. Oleh karena itu.dengan berbagai budaya. Pandangan Geertz yang mengungkapkan tentang adanya trikotomi-abangan. Walaupun harus disadari pula bahwa usaha-usaha manusia untuk menafikan agama juga sering muncul dan juga menjadi fenomena global masyarakat. sebagai alat untuk memahami realitas kemanusiaan dan memahami Islam yang telah dipraktikkan. Persoalan-persoalan yang dialami manusia adalah sesungguhnya persoalan agama yang sebenarnya. antropologi sangat diperlukan untuk memahami Islam. sesungguhnya mencerminkan betapa agama begitu penting bagi eksistensi manusia. . Nurcholish Madjid mengungkapkan bahwa pendekatan antropologis sangat penting untuk memahami agama Islam. atau Sigmund Freud yang mengungkap posisi penting agama dalam penyeimbang gejala kejiwaan manusia. merupakan simbol akan pentingnya posisi manusia dalam Islam. Dengan demikian memahami Islam yang telah berproses dalam sejarah dan budaya tidak akan lengkap tanpa memahami manusia. Karena realitas keagamaan sesungguhnya adalah realitas kemanusiaan yang mengejawantah dalam dunia nyata. Pergumulan dalam kehidupan kemanusiaan pada dasarnya adalah pergumulan keagamaannya.

pandangan Geertz telah mengilhami banyak orang untuk melihat lebih mendalam tentang interrelasi antara keduanya. ternyata telah mempengaruhi banyak orang dalam melakukan analisis baik tentang hubungan antara agama dan budaya. diinterpretasi. Melihat agama di masyarakat. Karya Geertz ini disebut untuk sekedar memberikan ilustrasi bahwa kajian antropologi di Indonesia telah berhasil membentuk wacana tersendiri tentang hubungan agama dan masyarakat secara luas. dan kaum santri memilih partaipartai yang memberikan perhatian besar terhadap masalah keagamaan. ternyata mempunyai afiliasi politik yang berbeda. Pengelompokkan sosial tersebut mempengaruhi pola interaksi politik yang lebih luas di Indonesia. Teori politik aliran dapat digunakan untuk memberikan penjelasan yang baik mengenai salah satu dasar (basis) pengelompokkan religio-sosial di Indonesia. yang jelas-jelas menunjukkan oposisinya adalah kelompok abangan dan santri. ketika dihadapkan pada realitas politik. Dalam diskursus interaksi antara agama-khususnya Islam-dan budaya di Jawa. Jadi pembahasan tentang bagaimana hubungan agama dan budaya sangat penting untuk melihat agama yang dipraktikkan. dan diyakini oleh penganutnya. Teori politik aliran ini.santri dan priyayi-di dalam masyarakat Jawa. menurut Bahtiar Effendy memberikan arti penting terhadap wacana tentang hubungan antara agama-khususnya Islam-dan negara. priyayi dengan partai nasionalis. Penjelasan Geertz tentang adanya pengelompokkan masyarakat Jawa ke dalam kelompok sosial politik didasarkan pada orientasi ideologi keagamaan. Walaupun Geertz mengkelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga kelompok. ataupun hubungan antara agama dan politik. Antropologi yang melihat langsung secara detil hubungan antara agama dan masarakat dalam tataran grassroot memberikan informasi yang sebenarnya yang terjadi dalam masyarakat. Keterpengaruhan itu bisa dilihat dari beberapa pandangan yang mencoba menerapkan kerangka berfikir Geertz ataupun mereka yang ingin melakukan kritik terhadap wacana Geertz. Kaum abangan lebih dekat dengan partai politik dengan isu-isu kerakyatan. Pandangan trikotomi Geertz tentang pengelompokan masyarakat Jawa berdasar religiokulturalnya berpengaruh terhadap cara pandang para ahli dalam melihat hubungan agama dan politik. bagi antropologi adalah melihat bagaimana agama dipraktikkan. Pernyataan Geertz bahwa abangan adalah kelompok masyarakat yang berbasis pertanian dan santri yang berbasis pada perdagangan dan priyayi yang dominan di dalam birokrasi. .

menjadi sangat penting. Ia lebih optimis melihat perbedaan itu sebagai awal dari keharusan untuk mengadakan dialog antarbudaya untuk menelorkan yang ia . Tetapi perbedaan itu bukan berarti akan menimbulkan konflik seperti apa yang disinyalir oleh Samuel Huntington. Bassam Tibbi mengungkapkan bahwa globalisasi memungkin manusia untuk melakukan dialog antarkebudayaan yang ada di dunia. Bagi ahli politik. menunjukkan bangkitnya "pengetahuan lokal" di era posmodernisme. Penggunaan alat telekomonukasi dan komputer dengan internetnya dapat juga membuktikan bahwa globalisasi telah mencapai pada satu kesepakatan bersama. Artinya pertanyaan apakah globalisasi nanti akan juga menyatukan budaya dunia atau akan munculnya kembali budaya-budaya lokal dalam pertarungan dunia. globalisasi mengimplikasikan makna yang lain. Ungkapan terkenal James Clifford tentang runtuhnya "mercu suar" untuk mengklaim suatu kenyataan dengan ukuran rasionalitas Barat. Terbukanya komunikasi dan ruang bagi dialog antarbudaya memungkinkan masingmasing budaya untuk mengungkapkan atau memberikan alternatif terhadap kebenaran. Ia mengakui bahwa fenomena demokrasi adalah fenomena universal yang mau tidak mau mempengaruhi masyarakat lain yang tidak mempunyai tradisi demokrasi untuk mengadopsinya. Namun bagi ilmu sosial. Walaupun para ilmuwan sosial masih mendebatkan apakah yang disebut sebagai posmodernis adalah "fenomena" atau sebuah kerangka "desconstruction theory". misalnya apa yang disinyalir oleh Fukuyama dengan klaimnya “The End of History and the Last Man”. utamanya mereka yang terlibat langsung dengan urusan budaya seperti antropologi. wujudnya sistem moneter ala Keynesian telah membuktikan bahwa dunia perekonomian menganut satu sistem. Bassam Tibbi tidak menafikan bahwa ada perbedaan-perbedaan yang nyata antara penafsiran demokrasi di Barat dan di wilayah lain sehingga muncul adanya Demokrasi Asia (Asian Democracy) atau Demokrasi Islam (Islamic Democracy). globalisasi berarti adalah diterimanya sistem demokrasi liberal sebagai satu sistem yang laik dipakai. Bagi ahli ekonomi.Kepentingan untuk melihat agama dalam masyarakat juga sangat penting jika dikaitkan dengan wacana posmodernisme yang berkembang belakangan ini. mereka bersepakat tentang bangkitnya-dalam arti diakuinya kembali local knowledge sebagai sebuah kebenaran-budaya lokal dalam percaturan dunia global. Namun demikian hal itu tidak berarti bahwa budayabudaya lokal harus menyerah dan digantikan total dengan demokrasi.

melainkan kajian interpretatif untuk mencari makna (meaning). Tanpa memahami manusia maka pemahaman tentang agama tidak akan menjadi sempurna. artinya kajian agama harus diarahkan pada pemahaman aspek-aspek social context yang melingkupi agama. suatu sistem nilai dunia yang dihasilkan dari gabungan nilai-nilai terbaik dari budaya-budaya yang ada. sebagai system of meaning yang memberikan arti bagi kehidupan dan perilaku manusia. Jika kembali pada persoalan kajian antropologi bagi kajian Islam. maka dapat dilihat relevansinya dengan melihat dari dua hal. Geertz kemudian mengelaborasi pengertian kebudayaan sebagai pola makna (pattern of meaning) yang diwariskan secara historis dan tersimpan dalam simbol-simbol yang dengan itu manusia kemudian berkomunikasi. Dipandang dari makna kebudayaan yang demikian. Di samping itu agama memberikan gambaran tentang realitas yang hendak dicapai oleh manusia. Berdasar pada pengertian ini agama sebagai ethos telah membentuk karakter yang khusus bagi manusia. berperilaku dan memandang kehidupan. Mengutip Max Weber bahwa manusia adalah makhluk yang terjebak dalam jaring-jaring (web) kepentingan yang mereka buat sendiri." Bagi Geertz agama telah memberikan karakter yang khusus bagi manusia yang kemudian mempengaruhi tingkah laku kesehariannya. Hal ini jelas menunjukkan bahwa persoalan agama yang harus diamati secara empiris adalah tentang manusia. karakter dan kualitas dari kehidupan manusia yang berarti juga aspek moral maupun estitika mereka. Kemudian sebagai akibat dari pentingnya kajian manusia. . Pada dasarnya agama diciptakan untuk membantu manusia untuk dapat memenuhi keinginan-keinginan kemanusiaannya. penjelasan antropologi sangat berguna untuk membantu mempelajari agama secara empirik. maka agama sebagai sebuah sistem makna yang tersimpan dalam simbol-simbol suci sesungguhnya adalah pola makna yang diwarisi manusia sebagai ethos dan juga worldview-nya.sebut sebagai "international morality". Oleh karena itu analisis tentang kebudayaan dan manusia dalam tradisi antropologi tidaklah berupaya menemukan hukum-hukum seperti di ilmuilmu alam. adalah aspek esensial manusia yang tidak dapat dipisahkan dalam memahami manusia. Clifford Geertz mengartikan ethos sebagai "tone. maka budaya adalah jaring-jaring itu. Kebudayaan. Kajian agama secara empiris dapat diarahkan ke dalam dua aspek yaitu manusia dan budaya. Pertama. yang kemudian dia bisa memenuhi gambaran realitas kehidupan (worldview) yang hendak dicapai oleh manusia. dan sekaligus mengarahkan kepada kehidupan yang lebih baik. maka mengkaji budaya dan masyarakat yang melingkupi kehidupan manusia juga menjadi sangat penting.

Tradisi Antropologi dalam Kajian Agama: Kajian Empirik Relasi Agama dan Sosial Walaupun sejak awal disadari bahwa kajian tentang agama akan mengalami kesulitan karena meneliti sesuatu yang menyangkut kepercayaan (beliefs) yang ukuran kebenarannya terletak pada keyakinan. berkembang dengan pesat. Kajian agama dengan crossculture akan memberikan gambaran yang variatif tentang hubungan agama dan budaya. dengan mempelajari wacana. Sehingga realitas keagamaan diyakini sebagai sebuah "takdir sosial" yang tak perlu lagi dipahami. tetapi berasal dari wahyu suci Tuhan. Tidak dapat disangkal bahwa kemudian Evans-Pritchard dapat menggambarkan fenomena Sufi di Cyrenica dengan penuh empati. Evans-Pritchard. salah seorang pionir dalam tradisi antropologi sosial di Inggris. Hal ini pernah ia rasakan. Kesulitan mempelajari agama dengan pendekatan budaya. menerjemahkan dan mengkonstruksi ajaran agama ke dalam suatu kerangka sistem yang . mengatakan bahwa dilema kajian tentang agama adalah bahwa pemahaman realitas agama tidak akan sepenuhnya dapat difahami kecuali oleh orang yang mengamalkan agama itu sendiri. dirasakan juga oleh mereka yang beragama. misalnya. Kesulitan itu terjadi karena ketakutan untuk membicarakan masalah agama yang sakral dan bahkan mungkin tabu untuk dipelajari. ketika menulis tentang perjuangan para Sufi di Cyrenica Libia melawan penjajahan Italia. Bukankah penyebaran agama sangat terkait dengan usaha manusia untuk menyebarkannya ke wilayahwilayah lain. jika dalam Islam bisa dilihat peran para sahabat. Persoalan itu ditambah lagi dengan keyakinan bahwa agama adalah bukan hasil rekayasa intelektual manusia. Sesungguhnya harus disadari bahwa tidak dapat dielakkan agama tanpa pengaruh budaya-ulah pikir manusia-tidak akan dapat berkembang meluas ke seluruh manusia. pemahaman dan tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan ajaran agama. Dan bukankah pula usaha-usaha manusia. Dengan pemahaman yang luas akan budaya-budaya yang ada memungkinkan kita untuk melakukan dialog dan barangkali tidak mustahil memunculkan satu gagasan moral dunia seperti apa yang disebut Tibbi sebagai "international morality" berdasarkan pada kekayaan budaya dunia. dimana ia merasa kesulitan untuk menjelaskan fenomena ketaatan pengikut Sufi kepada guru Sufi mereka. terutama abad ke 16 dan 17.Kajian antropologi juga memberikan fasilitas bagi kajian Islam untuk lebih melihat keragamaan pengaruh budaya dalam praktik Islam. Pemahaman realitas nyata dalam sebuah masyarakat akan menemukan suatu kajian Islam yang lebih empiris. tradisi antropologi untuk mengkaji agama.

Termasuk dalam tradisi adalah misalnya E. Kajian-kajian tentang agama berkembang bukannya karena agama ternyata tak dapat dipisahkan dari realitas sosial. Makanya kecenderungan tradisi intelektualisme ini kemudian meneliti dari sudut perkembangan agama dari yang anismisme menuju monoteisme. Kajian-kajian agama baik dalam masyarakat primitif sampai pada masyarakat yang modern menunjukkan bahwa keberadaan agama selalu mengandung dua sisi yang berbarengan. Lahirnya ilmu tafsir. Tradisi kajian agama dalam antropologi diawali dengan mengkaji agama dari sudut pandang intelektualisme yang mencoba untuk melihat definisi agama dalam setiap masyarakat dan kemudian melihat perkembangan (religious development) dalam satu masyarakat. Max Muller berpandangan bahwa agama bermula dari monotheisme kemudian berkembang menjadi agama-agama yang banyak itu. ilmu hadits. Menurut Mircea Eliade perkembangan agama menujukkan adanya gejala seperti bandul jam yang selalu bergerak dari satu ujung ke ujung yang lain. Secara garis besar kajian agama dalam antropologi dapat dikategorikan ke dalam empat kerangka teoritis. Walaupun definisi agama ini sangat minimalis. keberadaan agama dalam masyarakat telah mendorong lahirnya banyak kajian tentang agama. Sebagai fenomena universal yang kompleks. Taylor yang berupaya untuk mendefinisikan agama sebagai kepercayaan terhadap adanya kekuatan supranatural. Keberagaman sosial budaya yang ada di dunia ini mengakibatkan pada kompleksitas agama. intellectualist. Socrates berapa ribu tahun yang lalu menyatakan bahwa fenomena agama adalah fenomena kemanusiaan. functionalist dan symbolist. structuralist. .B. yaitu kecenderungan transendensi dan sekularisasi. berdasar pada ajaran yang terdapat dalam kitab suci.dapat diikuti oleh manusia. Namun perlu juga ditandaskan bahwa sikap mempertanyakan kembali makna agama dan relevansinya dengan kehidupan sosial juga fenomena universal yang ada dimana-mana. Demikian juga agama berkembang dari kecenderungan anismisme menuju monoteisme dan akan kembali ke animisme. tetapi ternyata realitas keagamaan berperan besar dalam perubahan sosial dan transformasi sosial. ilmu fikih dan ilmu usul fikih adalah hasil konstruksi intelektual manusia dalam menerjemahkan ajaran agama sesuai dengan kebutuhan manusia di dalam lingkungan sosial dan budayanya. definis ini menunjukkan kecenderungan melakukan generalisasi realitas agama dari animisme sampai kepada agama monoteis. Tetapi. Pernyataan ini seringkali digunakan para apologis agama untuk menguatkan keyakinan mereka akan betapa mendasarnya posisi agama dalam nilai-nilai kemanusiaan.

magic adalah model bagi kerangka bertindak bagi individu dalam masyarakat. Buku Durkheim. Lewat buku itu Durkheim ingin melihat agama dari bentuknya yang paling sederhana yang diimani oleh suku Aborigin di Asutralia sampai ke agama yang well-structured dan well-organised seperti yang dicerminkan dalam agama monoteis.Ketiga teori. Namun demikian ia tak setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa yang sacred itu selalu bersifat spiritual. fungsionalis dan simbolis. ." Pandangan ini yang mengilhami para antropolog untuk menggunakan pendekatan struktural dalam memahami agama dalam masyarakat. Dalam pengertian ini maka society (masyarakat) bagi Durkheim adalah "struktur dari ikatan sosial yang dikuatkan dengan konsensus moral. Claude Levi-Strauss adalah satu murid Durkheim yang terus mengembangkan pendekatan strukturalisme. Bagi Levi-Strauss agama baik dalam bentuk mitos. Sementara itu pandangan Durkheim tentang fungsi dalam masyarakat sangat berpengaruh dalam tradisi antropologi sosial di Inggris. Branislaw Malinowski mengatakan bahwa fungsi agama dalam masyarakat adalah memberikan jawaban-jawaban terhadap permasalahan-permasalahan yang tidak dapat diselesaikan dengan common sense-rasionalitas dan kemampuan menggunakan teknologi. utamanya untuk mencari jawaban hubungan antara individu dan masyarakat. Di samping kritik terhadap pendekatan intelektualis itu. The Elementary Forms of the Religious Life. sesungguhnya lahir dari Emile Durkheim. Pandangan Durkheim yang mengasumsikan bahwa masyarakat selalu dalam keadaan equilibrium dan saling terikat satu dengan yang lain. Jadi pandangan sosial Durkheim dikembangkan oleh Levi-Strauss kepada tidak saja secara hubungan sosial tetapi juga dalam ideologi dan pikiran sebagai struktur sosial. telah mendorong para antropolog untuk melihat fungsi agama dalam masyarakat yang seimbang tersebut. telah mengilhami banyak orang dalam melihat agama. strukturalis. Fungsi psikologi agama. Dalam agama sederhana suku Aborigin Australia ditemukan bahwa penyembahan kepada yang sacred ternyata diberikan kepada hal-hal yang profan semisal Kanguru. Durkheim juga mengungkapkan bahwa masyarakat dikonseptualisasikan sebagai sebuah totalitas yang diikat oleh hubungan sosial. Durkheim menemukan bahwa aspek terpenting dalam pengertian agama adalah adanya distingsi antara yang sacred dan yang profan. sebagai penguat dari ikatan moral masyarakat dan fungsi sosial agama sebagai penguat solidaritas manusia menjadi dasar dari perkembangan teori fungsionalisme.

ritual digunakan untuk menutup jurang perbedaan yang disebabkan friksi di dalam masyarakat. ada tradisi dalam kajian agama yang berkembang dari pandanganpandangan Weber. Tidak seperti halnya tradisi-tradisi intelektualis dan tradisi Durkheimian. Pandangan Durkheim mengenai makna dan fungsi ritual dalam masyarakat sebagai suatu aktifitas untuk mengembalikan kesatuan masyarakat mengilhami para antropolog untuk menerapkan pandangan ritual sebagai simbol. ritual sebagai medium untuk menegaskan kembali nilai-nilai masyarakat. manusia menggunakan kemampuan rasionalitas dan penciptaan teknologi. walaupun tidak secara eksplisit Durkheim membangun teori simbolisme. ritual sebagai media untuk mengurangi permusuhan (reduce hostility) di antara warga masyarakat yang disebabkan adanya kecurigaan-kecurigaan niat jahat seseorang kepada yang lain. maka dengan kemampuan rasionalitas dan penguasaan teknologinya masyarakat suku Trobiand membuat pagar agar babi tak dapat lagi masuk ke ladangnya. Ketiga. Keempat. fungsionalis dan simbolis-yang berakar dari tradisi Durkheim. Pertama. ritual. Jadi Turner melihat ritual tidak hanya sebagai kewajiban (prescribed) saja. Ritual bagi masyarakat Ndembu adalah tempat mentransendensikan konflik keseharian kepada nilai-nilai spiritual agama. dimana gelombang lautan dan cuaca yang tidak dapat mereka kontrol dengan kemampuan rasionalitas dan teknologi. Teori simbolisme yang menjadi teori dominan pada dekade 70-an sebenarnya juga mengambil akarnya dari Durkheim. melainkan sebagai simbol dari apa yang sebenarnya terjadi dalam masyarakat. Kedua. mereka menggunakan agama sebagai pemecahnya. mereka melakukan ritual dengan sesaji sebagai sarana komunikasi dengan kekuatan spiritual untuk menyelesaikan masalah yang unpredictable. Salah satu yang menggunakan teori tersebut adalah Victor Turner ketika ia melakukan kajian ritual (upacara keagamaan) di masyarakat Ndembu di Afrika.Dalam setiap kali menyelesaikan persoalan-persoalannya. Oleh karena itu. utama cult ritual (ritual yang berhubungan dengan masalah-masalah ketidakberuntungan-misfortune) mengandung empat fungsi sosial yang penting. Maka sebelum mereka berlayar. Turner melihat bahwa ritual adalah simbol yang dipakai oleh masyarakat Ndembu untuk menyampaikan konsep kebersamaan. Weber lebih tertarik untuk melihat hubungan antara doktrin agama dan aktifitas duniawi . Di samping tradisi intelektual dan tiga tradisi-strukturalis. ritual sebagai sarana untuk memantapkan kembali hubungan yang akrab. Namun ketika hendak berburu ikan di lautan. Ketika sebuah masyarakat traditional Suku Trobiand di daerah pesisir Papua Nugini menemukan bahwa ladangnya telah dirusak oleh babi hutan.

yang itu menjadi pusat perhatian antropologi. maka sesungguhnya persoalanpersoalan manusia adalah juga merupakan persoalan agama. Tradisi yang dikembangkan oleh Weber ini banyak diikuti oleh ilmuwan sosial utamanya di Amerika. Misalnya. khususnya sekte Calvinisme. sebagaimana realitas sosial lainnya. Dalam pandangan ilmu sosial.manusia. Pentingnya mempelajari realitas manusia ini juga terlihat dari pesan Al-Qur'an ketika membicarakan konsep-konsep keagamaan. untuk menjelaskan tentang konsep takwa. Di sini terlihat betapa kajian tentang manusia. adalah sesuai dengan karakter buruh modern. Bellah tentang Tokugawa Religion yang mencoba melihat hubungan etika agama dengan restorasi Meiji. Di sini agama diposisikan dalam kerangka sosial empiris. Secara antropologis ungkapan ini berarti bahwa sesungguhnya realitas manusia adalah realitas ketuhanan. yang menjadi perhatian kajian sosial. Kajian yang dilakukan oleh Robert N. Kajian-kajian yang demikian ini tidak lagi mempersoalkan benar dan salahnya suatu agama. Jika agama diperuntukkan untuk kepentingan manusia. dan juga kajian yang dilakukan oleh Geertz tentang pasar di Jawa dan priyayi Bali memakai pendekatan yang dipakai oleh Weber. Akibat yang nyata dari pendekatan kajian di atas menempatkan agama pada realitas empiris yang dapat dilihat dan diteliti. sebab dalam kaitannya dengan kehidupan manusia. pertanyaan keabsahan suatu agama tidak terletak pada argumentasi-argumentasi teologisnya. menjadi sangat penting. walaupun hal yang ghaib juga menjadi hal penting. Tanpa memahami realitas manusiatermasuk di dalamnya adalah realitas sosial budayanya-pemahaman terhadap ketuhanan tidak akan sempurna. tetapi melihat sejauhmana agama-aspek idealisme-mempengaruhi perilaku sosial manusia. karena separuh dari realitas ketuhanan tidak dimengerti. seperti misalnya ekonomi dan politik. Ajaran etika tentang bekerja keras yang selalu muncul dalam tulisan-tulisan pendeta sekte Calvinisme dan yang juga menjadi tema-tema yang diulangulang dalam ceramah keagamaan sekte ini. Al-Qur'an . menunjukkan minat Weber untuk mendiskusikan hubungan antara religious ethic dan kapitalisme. dan perkembangan kapitalisme modern. Dalam kajian tentang hubungan antara etika Protestan. Dalam Islam manusia digambarkan sebagai khalifah (wakil) Tuhan di muka bumi. Al-Qur'an seringkali menggunakan "orang" untuk menjelaskan konsep kesalehan. melainkan terletak pada bagaimana agama dapat berperan dalam kehidupan sosial manusia. tentu hal-hal yang empirislah. Oleh karena itu Weber tidak tertarik untuk mendiskusikan definisi atau argumentasi rasionalitas keberadaan agama.

Pandangan Geertz. dengan segala aspeknya. tetapi agaknya sedikit orang yang berusaha untuk membahasnya lebih mendalam. Walaupun Geertz mengakui bahwa ide yang demikian tidaklah baru. Dan persoalan-persoalan yang dihadapi manusia adalah cerminan dari permasalahan ketuhanan. Kalau kita merujuk pada pesan Qur'an yang demikian itu sesungguhnya. Al-Qur'an menggunakan kata "orang sabar" dan seterusnya. Jadi bagi Geertz norma atau nilai keagamaan harusnya diinterpretasikan sebagai sebuah simbol yang menyimpan konsepsi . untuk menjelaskan konsep sabar. Geertz mengungkapkan bahwa agama harus dilihat sebagai suatu system yang mampu mengubah suatu tatanan masyarakat. maka diperlukan kajian cross culture untuk melihat realitas universal agama. "Religion as a Cultural System. Oleh karena itu Geertz mendefinisikan agama sebagai: "A system of symbols which acts to establish powerful. Geertz mengartikan simbol sebagai suatu kendaraan (vehicle) untuk menyampaikan suatu konsepsi tertentu. Dengan demikian realitas manusia sesungguhnya adalah realitas empiris dari ketuhanan. pervasive and long-lasting moods and motivations of a general order of existence and clothing these conceptions with such an aura of factuality that the moods and motivations seem uniquely realistic. Maka mempelajari realitas manusia. Kenyataan bahwa realitas manusia-yang tercermin dalam bermacam-macam budaya-beragam. Marshal Hodgson menggambarkan bahwa bermacam-macamnya manifestasi agama dalam kebudayaan tertentu-little tradition-sesungguhnya adalah mosaik dari realitas universal agama-great tradition. Agama Sebagai Sistem Budaya Geertz adalah orang pertama yang mengungkapkan pandangan tentang agama sebagai sebuah system budaya. Oleh karena itu pemahaman konsep agama terletak pada pemahaman realitas kemanusiaan. konsep-konsep keagamaan itu termanifestasikan dalam perilaku manusia." dianggap sebagai tulisan klasik tentang agama. Geertz dapat dikategorikan ke dalam kelompok kajian semiotic tradition warisan dari Ferdinand de Saussure yang pertama mengungkapkan tentang makna simbol dalam tradisi linguistik. saat itu ketika teori-teori tentang kajian agama mandeg pada teori-teori besar Mark. Geertz berkayinan bahwa agama adalah system budaya sendiri yang dapat membentuk karakter masyarakat. Tidak seperti pendahulunya yang menganggap agama sebagai bagian kecil dari system budaya. Karya Geertz. memberikan arah baru bagi kajian agama." Dengan pandangan seperti ini. Weber dan Durkheim yang berkutat pada teori fungsionalisme dan struktural fungsionalisme.menunjuk pada konsep "muttaqien". adalah mempelajari Tuhan-baca agama-dalam realitas empiris.

antropologi kebudayaan. Juga bagaimana agama menjadi ideologi kelompok yang kemudian menimbulkan konflik maupun integrasi dalam suatu masyarakat. Pada era dewasa ini. antropologi dipergunakan sebagai suatu hal untuk kepentingan kemanusiaan yang lebih luas. Sementara itu Islam Observed ingin melihat perwujudan agama dalam masyarakat yang berbeda untuk memperlihatkan kemampuan agama dalam mewujudkan masyarakat maupun sebagai perwujudan dari interaksi dengan budaya lokal.tertentu. Yang pertama menunjukkan suatu existensi agama sebagai suatu sistem yang dapat membentuk masyarakat ke dalam cosmic order tertentu. antropologi menjadi amat plural. Geertz menerapkan pandangan-pandangannya untuk meneliti tentang agama dalam satu masyarakat. Pada dataran ini. Buku The Religion of Java memperlihatkan hubungan agama dengan ekonomi dan politik suatu daerah. Antropologi pertama kali dipergunakan oleh kaum Misionaris dalam rangka penyebaran agama Nasrani dan bersamaan dengan itu pula berlangsung sistem penjajahan terhadap negar-negara diluar Eropa. di negara-negara yang masuk dalam kategori Negara ketiga (Negara berkembang) sangat urgen sebagai “pisau analisis” untuk pengambilan kebijakan (policy) dalam rangka pembangunan dan pengembangan masyarakat. maka tidak ada seorang ahli antropologi yang mampu menelaah dan menguasai antropologi secara sempurna dan global. antropologi agama. . sesuai dengan perkembangan ahli-ahli antropologi dalam mengarahkan studinya untuk lebih memahami sifat-sifat dan hajat hidup manusia secara lebih komprehensif. pada satu sisi ia merupakan modes for reality dan di sisi yang lainnya ia merupakan modes of reality. sementara itu sisi modes of reality merupakan pengakuan Geertz akan sisi agama yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan perilaku manusia. Pendidikan Islam Dalam Pendekatan Antropologi Antropologi adalah suatu ilmu yang memahami sifat-sifat semua jenis manusia secara lebih komprehensif. antropologi terfregmentasi menjadi beberapa bagian yang masing-masing ahli antropologi mengkhususkan dirinya pada spesialisasi bidangnya masing-masing. ada bermacam-macam antropologi seperti antropologi ekonomi. antropologi politik. Dan hubungan dengan ini pula. Sebagai suatu disiplin ilmu yang cakupan studinya cukup luas. Karya Geertz yang tertuang dalam The Religion of Java maupun Islam Observed merupakan dua buku yang bercerita bagaimana agama dikaji dalam masyarakat. Simbol keagamaan tersebut mempunyai dua corak yang berbeda. Sehingga. Studi antropologi selain untuk kepentingan pengembangan ilmu itu sendiri.

Karakteristik dari antropologi pendidikan Islam adalah terletak pada sasaran kajiannya yang tertuju pada fenomena pemikiran yang berarah balik dengan fenomena Pendidikan Agama Islam (PAI). maka yang objek dikajiannya adalah penggunaan teori-teori dan metode yang digunakan oleh para antropolog serta pengetahuan yang diperoleh khususnya yang berhubungan dengan kebutuhan manusia atau masyarakat. Artinya bagaimana bagunan keilmuan yang ditonjolkan dalam ekonomi Islam muncul juga dalam dalam antropologi pendidikan Islam. Meskipun berkemungkinan ada yang menjadi antropolog pendidikan setelah memperoleh wawasan pengetahuan dari mengkaji antropologi pendidikan. bukan bertujuan menghasilkan ahli-ahli antropologi melainkan menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang pendidikan melalui perspektif antropologi. Dengan demikian. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana kedudukan antropologi pendidikan sebagai sebuah disiplin studi yang tergolong baru di tambah kata “Islam” sehingga menjadi “antropologi pendidikan Islam”. Seperti dalam ekonomi Islam (juga Hukum Islam) yang sejak awal pertumbuhannya telah diberi contoh oleh Nabi Muhammad dan diteruskan oleh para sahabat. bahwa hal tersebut merupakan suatu langkah yang ada relevansinya dengan isu-isu Islamisasi ilmu pengetahuan. menyampaikna pidatonya dihadapan American Philosophical Association Eastern Division. dan lain sebagainya. seorang filsuf wanita pada tahun 1941. Akan tetapi dalam sejarah kebudayaan Islam belum ada pengakuan terhadap tokoh-tokoh atau pelopor antropologi yang diakui dari zaman Nabi Muhammad atau sesudahnya. maka antropologi pendidikan Islam tentunya harus dikategorikan “sama” dengan ekonomi Islam. Artinya apabila antropologi pendidikan dimunculkan sebagai suatu materi kajian. Dan dalam studi kependidikan yang dikaji melalui pendekatan antropologi. kaidah-kaidah keilmiahannya harus juga bersumber atau didasarkan pada Al Qur’an dan As Sunah. Dengan pola itu. kajian materi antropologi pendidikan. Grace de Raguna. Maka antropologi pendidikan Islam. bahwa antropologi telah memberi lebih banyak kejelasan tentang sifat manusia daripada semua pemikiran filsuf atau studi para ilmuwan di laboratoriumnya. antropologi perkotaan. sehingga muncul pula kaidahkaidah keilmiahannya yang bersumber dari kitab suci Al Qur’an dan dari As Sunah. artinya sesuatu yang dilakukan berupa upaya agar wahyu dan ajaran Islam dapat dijadikan pandangan hidup anak . Pendidikan Agama Islam arahnya dari atas ke bawah.antropologi pendidikan. Hal ini telah menjadi sorotan para ahli pendidikan Islam. maka kajian tersebut masuk dalam sub antropologi yang bias dikenal menjadi antropologi pendidikan.

Pertama dapat kita terapkan dalam upaya mencari konsep-konsep lokal tentang bagaimana agama dan budaya berinteraksi. berucap-kata. Sedangkan masalah yang mendasar pada antropologi pendidikan Islam adalah berpusat pada pengalaman apa yang ditemui. Sebagai ilmu yang mengkhususkan diri . Ketiga. Di sinilah letak pentingnya kajian antropologi dalam mengkaji Islam. Kesimpulan Agaknya kajian-kajian tentang agama dan budaya dapat kita arahkan dalam berbagai kerangka. Masalah ilmiah yang mendasar pada Pendidikan Agama Islam adalah berpusat pada bagaimana (metode) cara yang seharusnya dilakukan. local discourse atau local konwledge yang tumbuh dari pergumulan agama dan budaya dapat dijadikan sebagai tambahan wacana baru globalisasi. kajian tersebut dapat dipusatkan untuk mempetakan Islam lokal dalam sebuah peta besar Islam universal. yang kita kenal sebagai tokoh kedokteran dalam dunia Islam ternyata juga merupakan sorang pemerhati pendidikan anak usia dini yang merupakan pengalaman pertama anak. agar anak dapat membangun pandangan hidup berdasarkan pengalaman agamanya bagi kemampuannya untuk menghadapi lingkungan. Kedua. Ibnu Sina. Uraian di atas memperlihatkan bahwa sesungguhnya pemahaman agama tidak akan lengkap tanpa memahami realitas manusia yang tercermin dalam budayanya. Barangkali tidak berlebihan untuk menyebut bahwa realitas manusia sesungguhnya adalah realitas ketuhanan yang empiris. Sedangkan antropologi pendidikan Islam dari bawah ke atas. Ibnu Sina banyak memaparkan tentang pentingnya pendidikan usia dini yang dimulai dengan pemberian “nama yang baik” dan diteruskan dengan membiasakan berperilaku. mempunyai sesuatu yang diupayakan dalam mendidik anak. Kajian tentang local Islam dapat dijadikan sebagai pengkayaan wacana manusia.didik (manusia). Dalam kitabnya al-Siyasah. Dan juga yang paling urgen adalah penanaman nilai-nilai sosial pada anak seperti rasa belas kasihan (confession) dan empati terhadap orang lain. Posisi penting manusia dalam Islam-seperti digambarkan dalam proses penciptaannya yang ruhnya merupakan tiupan dari ruh Tuhan-memberikan indikasi bahwa manusia menempati posisi penting dalam mengetahui tentang Tuhan. dan berpenampilan yang baik serta pujian dan hukuman dalam mendidikan anak. Dengan demikian pemahaman agama secara keseluruhan tidak akan tercapai tanpa memahami separuh dari agama yaitu manusia.

Bets F. Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik: Humanisme Relegius Sebagai Paradigma Pendidikan Islam. Pendidikan Islam: Tradisi Dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta: PT. 1993 Noto Abuddin. Erosco. Jakarta: Aksara Baru. 2004 Sulaeman. Raja Grafindo Persada. 1988 Imam Tholkhah dan Ahmad Barizi. Erosco. Munandar. 2004. Rajawali. Munandar Sulaeman. Hoselitz. Pengantar Ilmu Antropologi. 2002. 1993 Diposkan oleh tasauf dalam islam di 22:12 0 komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langgan: Poskan Komentar (Atom) Pengikut Arsip Blog • ▼ 2009 (10) o ▼ November (10)  ISLAM MASA KHULAFAUR RASYIDIN . Metodologi Studi Islam. Akbar S. RajaGrafindo Persada. Jakarta: Media Da’wah Azyumardi Azra. Ahmad. 1980 M.. Panduan Dasar Ilmu-Ilmu Sosial. Bandung: PT. Jakarta: PT. Bandung: PT. Jakarta: PT. Kearah Antropologi Islam. Koentjaraningrat. Yogyakarta: Gama Media. DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman Mas’ud. 2002. Jakarta: CV. Ilmu Budaya Dasar.mempelajari manusia-yang merupakan realitas empiris agama-maka antropologi juga merupakan separuh dari ilmu agama itu sendiri. Membuka Jendela Pendidikan: Mengurai Benang Tradisi Dan Integrasi Keilmuan Pendidikan Islam. Logos Wacana Ilmu. Ilmu Budaya Dasar.

. DAN PERADABAN PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM KAJIAN ISLAM PENDEKATAN HISTORIS DALAM STUDI ISLAM PRODUK-PRODUK PEMIKIRAN DAN PERADABAN ISLAM Makalah Filsafat Ilmu makalah Pembelajaran Piqih Makalah METAFISIKA RIVIEW TENTANG TAFSIR dan HADITS TARBAWI MENELADANI SIFAT – SIFAT NABI SAW Kajian ..kajian. .         ISLAM AGAMA. KEBUDAYAAN.

unity of mankind. tidaklah cukup kalimat tauhid tersebut hanya dinyatakan dalam bentuk ucapan (lisan) dan diyakini dalam hati. Pertama. unity of the purpose of life. haji. Sebagai konsekuensi pemikiran ini. dan seterusnya memiliki dimensi sosial. yaitu kesatuan penciptaan. unity of creation. yaitu kesatuan ketuhanan. yaitu kesatuan tujuan hidup. Karena Islam itu . Kualitas ibadah seseorang sangat tergantung pada sejauh mana ibadah tersebut mempengaruhi perilaku sosialnya. satu-satunya tujuan hidup adalah untuk mencapai rida Allah. Jadi. maka Allah pula yang paling tahu apa yang baik atau buruk bagi manusia. Bagi orang yang beriman. puasa. Kedua. sehingga kita betul-betul dapat mencapai kebahagiaan di dunia maupun akhirat. Karena Allah yang menciptakan manusia. Bagi orang yang beriman. yakni yang datangnya dari Allah yang berupa wahyu. Seluruh makhluk di alam semesta ini. Hal ini bisa dirujuk pada pernyataannya yang retoris: “Benang merah dari ajaran Islam adalah keadilan. yaitu kesatuan kemanusiaan. unity of guidance. tetapi harus dilanjutkan dalam bentuk perbuatan. sejarah. baik yang kelihatan maupun yang tidak.Istilah “tauhid sosial” merupakan istilah baru yang diperkenalkannya dalam wacana ilmu-ilmu sosial. geografi. Ketiga. perbedaan warna kulit. unity of Godhead. hanya ada satu pedoman hidup. Menurut Amien Rais. Tauhid sosial dimaksudkan sebagai dimensi sosial dari pengakuan kita bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad itu adalah Rasul-Nya. bahasa. merupakan bagian dari ciptaan Allah. berarti semua ibadah murni (mahdhah) seperti salat. dan segala perbedaan yang melatarbelakangi keragaman umat manusia tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan diskriminasi. yaitu kesatuan pedoman hidup. Keempat. Konsep “tauhid sosial” ini tampaknya muncul dari Amien Rais sebagai respon terhadap meluasnya persoalan ketidakadilan yang ia lihat. tauhid sesungguhnya menurunkan atau mengisyaratkan adanya lima pengertian. yang lahir maupun yang gaib. Sebagai muslim. Kelima.

karena orang Islam selalu resah. orang kemudian mempertanyakan praktek sosial Islam yang dianggap tidak komprehensif. dan selalu ingin mengejawantahkan nilai-nilai keadilan dalam berbagai dimensi kehidupannya. gagasan Tauhid Sosial Syafi’i Ma’arif menggambarkan dua hal: pertama. maka secara potensial setiap orang Islam bisa menjadi trouble maker bagi kemapanan yang tidak adil. adalah kewajiban si kaya untuk melakukan proses pemerataan sosial ekonomi ke seluruh masyarakat. menjadi hak dari si papa untuk mengambil bagiannya dari si kaya. gelisah. Doktrin ini sudah sangat dini dideklarasikan. setiap orang Islam bisa menjadi masalah bagi rezim yang mapan yang mempertahankan ketidakadilan.merupakan religion of justice. walaupun aktualisasinya dalam dimensi kehidupan tidak selalu menjadi kenyataan. ia juga mengatakan. Gelner. Syafi’i Ma’arif menyebutkan Tauhid Sosial sebagai dimensi praksis dari resiko keimanan kepada Allah SWT. Dalam konteks ini. sekaligus memperoleh ridha Allah. iman adalah kekuatan yang menjadi pilar utama perjalanan sejarah umat Islam. kepercayaan kepada ke-Esa-an Allah belum tentu terkait dengan prilaku umat dalam kiprah kesejarahannya. AlQur’an. Secara substasial. Jadi. yaitu pada masa Mekkah tahun-tahun awal. sejarah membuktikan bahwa tauhid menjadi senjata yang hebat dalam menancapkan pilar-pilar kesejarahan Islam. konsep tauhid sosial Amien Rais dapat disimpulkan sebagai tuntutan terwujudnya masyarakat yang adil. Praktek sosial Islam ini banyak dibahasakan dengan berbagai istilah. Dengan kata lain. di bawah prinsip-prinsip . ”Dengan merujuk sosiolog Prof. Padahal. Amien Rais juga mengatakan bahwa di muka bumi ini. antara lain Tauhid Sosial. Dan. Memilih Islam adalah menjalani suatu pola kehidupan yang utuh dan terpadu (integrated). Doktrin tauhid yang menjadi ruh kekuatan Islam tidak pernah hilang dari perjalanan sejarah. Dengan mengutip Ibn Hazim . bila di tengah masyarakat ada kelompok kaya dan miskin. secara sederhana.

tauhid harus diaktualisasikan: pusat keimanan Islam . kita juga mengenal trilogi iman-ilmu-amal. Di dalam ayat tersebut kita melihat adanya trilogi iman-shalat-zakat. Dalam surah Al-Baqarah ayat kedua misalnya. cendekiawan muslim. yang kemudian terwujud dalam dimensi sosial. kemudian mendirikan shalat. Islam berprinsip pada tauhid. Artinya. dikotomik. ‘percaya kepada yang gaib’. Setiap aspek kehidupan yang dijalani merupakan refleksi dari prinsip-prinsip tauhid itu. pemerintah dan umat yang beriman secara keseluruhan. doktrin ‘amrun bi al-ma’ruf wa nahyun ‘ani al-munkar’ dijumpai dalam delapan ayat. Artinya. Oleh karena itu. dan menunaikan zakat. Dengan memperhatikan ini. kekuatan tauhid ini harus diaktualisasikan. menyatakan bahwa nilai-nilai Islam sebenarnya bersifat all-embracing bagi penataan sistem kehidupan sosial. Di dalam Al-Qur’an kita sering sekali membaca seruan agar manusia itu beriman. dua makkiyah dan tiga madaniyyah. Kedua. Masyarakat yang adil harus didirikan dalam prinsip ‘amrun bi al-ma’ruf wa nahyun ‘ani almunkar’. Dalam perspektif yang berbeda. tersebar dalam lima surat. Dalam Al-Qur’an. iman harus mampu menjawab dimensi praksis persoalan keummatan. Sementara dalam formulasi lain. ekonomi dan budaya. Islam menolak pola kehidupan yang fragmentatif. Sehingga kekuatan tauhid inilah yang menjadi pengawal dan pusat dari semua orientasi nilai. ekonomi dan budaya. tugas terbesar Islam sebenarnya adalah melakukan transformasi sosial dan budaya dengan nilainilai tersebut. dan kemudian beramal. pertama-tama yang harus ia miliki adalah iman. dan juga sinkretik. lebih dari segalanya.tauhid. bukan hanya tersimpan dalam teks-teks suci. disebutkan bahwa agar manusia itu menjadi muttaqin. kita dapat menyimpulkan bahwa iman berujung pada amal. Tugas ini dibebankan pada rasul. Praktek kehidupan seperti ini telah ditunjukkan dalam perjalanan kerasulan Muhammad yang diteruskan oleh sebagian generasi setelahnya. pada aksi. Kuntowijoyo. politik. politik.

dimana terdapat tiga kelas sosial di sana. termasuk untuk kemanusiaan. mustadh’afin. Tapi. Islam dan Ketidaksamaan Sosial Ketidaksamaan sosial (social inequality) terjadi di hampir semua komunitas masyarakat dunia. ketidakadilan. yaitu kelas pendeta. kaum fakir. Islam menjadikan tauhid sebagai pusat dari semua orientasi nilai. yakni kelas bangsawan dan kelas budak. kemudian dimensi epistemik. penindasan bahkan perbudakan. Dalam konteks inilah Islam disebut sebagai rahmatan li al’alamin. masyarakat industri menurut terminologi ini hanya mengenal dua kelas. Al-Qur’an juga merefleksikan adanya kenyataan sosial lain mengenai pembagian kelas sosial ini. kesenjangan. Lenin mendefinisikan kelas sosial sebagai golongan sosial dalam sebuah tatanan masyarakat yang ditentukan oleh posisi tertentu dalam proses produksi. ia tidak pernah menjelaskan apa yang dimaksud dengan istilah ‘kelas’. sehingga pada umumnya terminologi kelas dalam konsep Marxis didefinisikan secara mashur oleh Lenin.adalah Tuhan. Dengan melihat penjelasan ini. tetapi ujung aktualisasinya adalah manusia. yaitu . seperti konsep golongan dhu’afa. Masyarakat Arab pada zaman nabi juga terbagi dalam dua kelas sosial. Adanya ketidaksamaan sosial ini pada umumnya melahirkan polarisasi sosial yang dalam banyak hal melahirkan kasus-kasus kemiskinan. kelas bangsawan dan kelas borjuasi. tauhid sosial sebenarnya merupakan perwujudan aksi sosial Islam dalam konteks menjadikannya sebagai rahmatan li al’alamin. Sementara pada saat yang sama melihat manusia sebagai tujuan dari transformasi nilai. Proses menuju ke arah itu harus dimulai dari penguatan dimensi tauhid. Ketidaksamaan sosial ini kemudian dirumuskan dengan membaginya dalam istilah ‘kelas sosial’. Dengan demikian. rahmat untuk alam semesta. dan masakin. Demikian juga dalam masyarakat Eropa abad ke 17. Kemudian juga dikenal kelas proletar Dalam terminologi Marx. Dengan demikian. lalu masuk dalam dimensi amal berupa praktek sosial kepada sesama manusia.

Islam menghendaki adanya distribusi kekayaan dan kekuasaan secara adil bagi segenap lapisan sosial masyarakat. Dalam banyak perspektif. Mengakui jelas tidak sama dengan mentoleransi. atau kapasitas-kapasitas lainnya dari sebagian orang atas sebagian yang lainnya. Kuntowijoyo punya pandangan menarik dalam merumuskan proses transformasi ini. golongan proletar adalah yang paling miskin. sebagai realitas empiris yang ditakdirkan kepada dunia manusia. baru kemudian dilakukan lompatan-lompatan dalam dataran praksis. Kendatipun demikian. ekonomi. Dengan demikian. Marx yakin bahwa dalam masyarakat industrialkapitalis. Terlebih lagi dalam kondisi masyarakat yang dimanjakan oleh arus materialisme sekarang ini. demikian . Al-Qur’an melihat fenomena ketidaksamaan sosial ini sebagai sunnatullah.kelas borjuis dan kelas proletar. Sebaliknya. Sementara dalam Islam. Dengan doktrinnya yang terkenal. Banyak ayat Al-Qur’an yang memaklumkan dilebihkannya derajat sosial. oleh Al-Qur’an dipandang sebagai ajang riel duniawi tempat setiap muslim akan memperjuangkan cita-cita keadilan sosialnya. Keterlibatannya dalam perjuangan inilah yang akan menentukan kualitasnya sebagai khalifatullah fil ‘ardh. Islam juga mengedepankan peran untuk mengutamakan dan membela gologan masyarakat yang tertindas dan lemah seperti kaum dhu’afa dan mustadh’afin. Islam justru memiliki cita-cita sosial untuk secara terus-menerus menegakkan egalitarianisme. Proses ini memang harus dimulai dari transformasi nilai-nilai Islam. “Pada dasarnya seluruh kandungan nilai Islam bersifat normatif”. ini tidak dapat diartikan bahwa AlQur’an mentoleransi social-inequality. Kuntowijoyo mencatat bahwa Islam mengakui adanya deferensiasi dan bahkan polarisasi sosial. ‘materialisme dialektis’ dan ‘determinisme ekonomi’. Cita-Cita Praktek Sosial Islam Persoalannya adalah tidak mudah mewujudkan cita-cita sosial Islam ini. sebagai hukum alam. Realitas sosial empiris yang dipenuhi oleh fenomena diferensiasi dan polarisasi sosial.

iptek. Umat yang terlalu banyak berangan-angan tapi tidak berdaya adalah beban Islam dan beban sejarah. Seruan ini langsung dapat diterjemahkan ke dalam praktek. Ada dua cara bagaimana nilai-nilai normatif ini menjadi operasional dalam kehidupan sehari-hari. Pertama. dan budaya. sosial. Pemberdayaan masyarakat hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang berdaya secara politik. Agaknya cara yang kedua ini lebih relevan pada saat sekarang ini. nilai normatif ini diaktualkan langsung menjadi perilaku. sebab di sana juga . jika kita ingin melakukan restorasi terhadap masyarakat Islam dalam konteks masyarakat industri.Kuntowijoyo. Tingkatnya hanya tingkat angan-angan. Sampai sekarang ini. suatu restorasi yang membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh dari pada sekedar pendekatan legal. kepada yang empirik. Al-Qur’an menyuruh kita bercermin kepada yang kongkret. contohnya adalah seruan praktis Al-Qur’an. Orang yang tidak berdaya tapi ingin memberdayakan masyarakat tidak pernah akan berhasil. ekonomi. Metode transformasi nilai melalui teori ilmu untuk kemudian diaktualisasikan dalam dimensi praksis. Untuk jenis aktualisasi semacam ini. kita belum melakukan usaha semacam itu. bagaimana secara legal prilaku harus sesuai dengan sistem normatif. ke dalam prilaku. Cara yang kedua adalah mentransformasikan nilai-nilai normatif ini menjadi teori ilmu sebelum diaktualisasikan ke dalam prilaku. Ilmu ini cenderung menunjukkan secara langsung. Oleh sebab itu. Pendekatan seperti ini telah dikembangkan melalui ilmu fiqh. memang membutuhkan beberapa fase formulasi: teologi®filsafat sosial®teori sosial®perubahan sosial. Bagaimana mungkin kita dapat mengatur perubahan masyarakat jika kita tak punya teori sosial? Sementara Syafi’i Ma’arif berpendapat bahwa transformasi ini harus dilakukan dengan membongkar teologi klasik yang sudah tidak relevan lagi dengan masalah-masalah pemberdayaan masyarakat karena terlalu intelektual spekulatif. misalnya untuk menghormati orang tua.

Konsep ini merupakan konsep paling pokok dalam aqidah. Dan artinya kita hanya fokus kepada satu Tuhan. Dengan menyadari kekurangan ini. tentu akan sia-sia jika tak didukung oleh kerja-kerja intelektual yang menopang terbentuknya suatu tatanan sosial masyarakat seperti yang kita cita-citakan. pengesaan ini adalah konsep awal dan utama dalam . juga tidak bijak kalau kita hanya menyimpannya dalam teks-teks suci. Perjuangan umat Islam yang masih bergulat untuk bangun dari kemiskinan dan keterbelakangan. Allah telah menciptakan alam semesta sebagai khaliq (pencipta). kejayaan di dunia dibutuhkan untuk menggapai kejayaan di akhirat. tidak lebih tidak kurang. Seperti yang saya katakan tadi. Tapi. Karenanya. Akan tetapi. yakni ayat-ayat kauniyah. Sehingga. sehingga jika seseorang belum mengimani hal ini ia tidak dapat dianggap sebagai seorang muslim yang lurus. Perjuangan ke arah itu memang tidak ringan. Ini tugas kita semua REALITA IMPLEMENTASI TAUHID SOSIAL DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT Diposkan oleh Menuju Cahaya on Sabtu. Tapi itulah tugas kita kalau kita mau menyumbangkan sesuatu yang anggun untuk kemanusiaan. Tauhid sejatinya memerlukan manifestasi dalam realitas empiris. Padahal. dan Dia tidak lain adalah Allah SWT. suatu sistem teologi yang terlalu sibuk mengurus yang serba ghaib dan lupa terhadap yang kongkret tidak akan pernah menang dalam kompetisi duniawi. manusia harus tunduk pada penciptanya. konsep tauhid dalam tataran yang lebih luas tidak cukup hanya dengan membenarkan bahwa Allah itu Maha Esa. Tapi di sisi lain. dan kita adalah makhluq (yang diciptakan). pengakuan kita bahwa Tuhan hanya ada satu. 10 April 2010 Konsep awal dari tauhid adalah menempatkan Allah sebagai Rabb. Jika tauhid kita artikan peng-esaan Tuhan. kita memang sudah didesak untuk segera memikirkan metode transformasi nilai Islam pada level yang empiris melalui diciptakannya ilmu-ilmu sosial Islam. kita perlu melakukan pembongkaran terhadap prinsip-prinsip teologi klasik yang terlalu sibuk mengurus masalah ghaib.terdapat ayat-ayat Allah. Cita-cita sosial Islam untuk melahirkan keadilan sosial bagi seluruh alam memang masih jauh dari cita-cita.

akan tetapi mereka tidak pernah sekalipun melakukan penyembahan terhadapNya baik melalu shalat ataupun puasa atau yang lainnya. mereka tidak fokus terhadap satu kewajiban utama mereka. terutama bisa kita lihat munculnya dukun-dukun entertainer yang sering muncul di televisi. Artinya. tanpa implikasi sosial yang berarti. salah satu aplikasi sosialnya adalah tidak adanya peramal dan dukun. menjadikan anak didik mereka berpendidikan yang sesungguhnya. mereka tidak menghiraukan ketimpanganketimpangan sosial yang terjadi didekatnya. memanusiakan anak-anak didik mereka. Kita tidak bisa dikatan sebagai orang yang bertauhid ketika kita melanggar janji kita dengan Tuhan. meskipun kita tetap percaya dan teguh bahwa Tuhan itu esa. yaitu tadi dikatakan bahwa pengesaan Tuhan berarti hanya fokus kepada satu Tuhan. wiraswasta atau profesi lain dan akhirnya waktu mereka untuk mengajar terkadang terenggut untuk hal-hal yang bukan dalam lingkup mendidika anak-anak mereka.Karena jika kita tidak berpikiran demikian. Contoh kecilnya adalah realita kehidupan para guru—terutama pns—saat ini. kita juga harus setia dan taat terhadap segala janji yang kita ucapkan terhadap orang lain. janji untuk taat terhadap segala aturan yang Dia berikan. Ki Bodo atau yang lainnya. tidak boleh menduakan kewajiban itu dengan kepentingan lain apalgi kepentingan pribadi. ketika kita mengingkari perintahnya. baik ibadah spiritual maupun sosial. bukan pula peramal. menyekutukan kewajiban mereka dengan kepentingan pribadi (setidaknya begitulah saya menyebutnya). hal ini mulai terhapus dan dihapus pada masa ini. jika kita menariknya lebih dalam ia memiliki hal lain yang harus kita aplikasikan dalam kehidupan sosial juga. nampaknya makna ini juga sudah mulai tidak berlaku lagi dalam masyarakat kita. Ini berarti bahwa mereka telah menduakan kewajiban mereka sebagai seorang guru. Tidak bisa kita pungkiri jika saat ini banyak orang percaya bahwa Tuhan itu Esa. mereka juga tidak peka terhadap kehidupan sekitarnya. maka dalam kehidupan seharihari kita juga harus fokus tehadap kewajiban yang kita emban. Maka sama . Hal ini menunjukkan bahwa Tauhid hanya menjadi pajangan hati saja. Kita tahu bahwa kewajiban utama seorang guru adalah mendidik anak didik mereka. Kita bertauhid berarti kita mengikat diri dengan janji kita dengan Tuhan. Kesetiaan dan ketaatan adalah sebuah keniscayaan yang harus kita miliki selama kita menginginkan kehidupan yang tentram. entah Mama laurent. hanya dengan keduanya kita bisa membangun kepercayaan orang lain trhadap kita. Dan lagi-lagi. Akan tetapi. tidak cukup dengan mengesakan Tuhan tanpa melakukan ibadah-ibadah yang di perintahkanNya. Makna ini juga mempunya sisi lain yang dapat dan harus kita implementasikan dalam kehidupan sosial. Akan tetapi hal ini berbanding terbalik dengan kenyataan saat ini. mengaku bahwa Muhammad itu Nabi mereka. Ini adalah pondasi kita untuk menggapai kesejahteraan bersama sebagai mahluk yang oleh Plato disebut Zoon Politicon atau mahluk yang bermasyarakat. Maka menurut penulis. Karena hanya dengan keduanya kita bisa menjalin relasi yang baik dengan orang lain. dimana banyak guru yang tidak hanya menjadi guru. Makna lain—dan merupakan kelanjutan dari makna diatas—adalah bahwa tauhid bisa diartikan kesetiaan dan ketaatan kita terhadap Tuhan. maka berarti kita telah menduakan Dia sebagai Yang Maha memberikan pertolongan. bukan dukun. Tapi konsep pengesaan ini tidak hanya berhenti di sini saja. Jika kita ingat sebuah perkataan Nabi yang menyatakan bahwa jika berjanji lalu kita mengingkari. mereka termasuk orang-orang yang “musyrik sosial”.tauhid. ada yang merangkap pengusaha. artinya kita hanya percaya bahwa Allah-lah yang bisa memberikan pertolongan. Kita harus setia terhadap aturan dan hukum sosial yang ada. maka itu berarti kita masuk dalam golongan orang-orang munafik.

Reaksi masyarakat Mekkah pada umumnya. Dengan mentaati perintah dan cara-cara yang Rosul ajarkan. jika kita tidak setia dan tidak taat terhadap janji kita dalam ranah sosial. Seorang muslim tidak cukup hanya menjalankan tauhid dengan meyakini bahwa Allah itu esa. dan reformasi sosial.dengan hal ini. maka itu berarti bahwa kita “munafik sosial”. Firman Allah “telah aku ciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepadaKu. Tetapi nabi berteguh dan terus berjuang untuk meraih sejumlah pengikut dalam masa lebih dari 13 tahun selama misinya di Mekkah. dengan Tauhid Sosial umat Islam seharusnya mempraktikkan nilai-nilai Tauhid ke dalam realitas sosial secara benar. krena menduakan kewajiban mencari ilmu dengan mencari nilai. baru dikenal ratusan tahun setelah Nabi Muhammad wafat. '07 5:29 AM untuk semuanya Manusia hidup di dunia ini pasti mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Sedangkan makna ibadah adalah taat kepada Allah dengan menjalankan apa yang telah diperintahkan-Nya melalui lesan-lesan para Rosul. Seharusnya. Tauhid sebagai ilmu. dengan Tauhid Sosial tersebut. Tauhid Sosial Sebagai Konsekuensi Tauhiddullah Oleh. Tidar No 21 Oct 31. Al Quran dan sunnah lebih banyak berisi tentang ajaran Agama (Tauhid) dan Moral. Pada waktu nabi menerima wahyu Al Quran.” (QS. Adz-Dzariat (51):56). mulai saat itu pula ia menyebarkan misi keagamaan. 2003:137). Tapi. Allah swt telah menjelaskan didalam Al Quran bahwa jin dan manusia telah diciptakan memiliki maksud dan tujuan untuk beribadah kepadaNya. Hal inilah yang disebut sebagai amal shalih. 1994:27). termasuk oleh para petinggi negeri yang megingkari janjinya dengan memakan uang yang seharusnya tidak mereka makan. (Hasan. khususnya suku Quraisy yang juga merupakan suku nabi sendiri menolak dan menentang secara ekstrim. tetapi juga harus menjalankan perintahNya dan peka terhadap urusan kemanusiaan. seorang hamba akan lebih termotifasi ketaatannya dalam beribadah kepada Allah. Sifat ketundukan dan pengakuan bahwa yang Maha Esa hanyalah Allah. . (Ahmad Tib. adalah bekal seorang hamba dalam manjalankan tugas ibadah. lagi-lagi hal ini juga nampak mulai luntur dalam kehidupan masyarakat kita. (Abdullahi ahmed. Secara umum disepakati bahwa periode Mekkah. 2004:21). agar mendapatkan nilai bagus yang mana hal ini juga berarti “musyrik” terhadap kewajiban utama mereka. Makna ibadah menurut ulama Tauhid adalah meng-Esakan Allah SWT dengan sungguh-sungguh dan merendahkan diri serta menundukkan jiwa setunduk-tunduknya kepadaNya. realita-realita menyedihkan di atas tidak muncul. Pengingkaran tauhid sosial ini juga dilakukan oleh para tullab—yang seharusnya jujur— dengan budaya “mengutip total” alias plagiat bin copy-tempel tugas-tugas mereka. sehingga muncul keseimbangan antara ibadah dan perilaku sosial. Immawan Luqman Novanto Takmir Masjid Tanwir Komlepk PTM Jl. Pengingkarana dan penghianatan telah banyak dilakukan oleh banyak orang.

1979 : 36). melainkan juga keshalehan dan ketaqwaan sosialnya Pandangan Hasan Hanafi yang di kutip oleh Kazuo Shimogaki menyebutkan bahawa. yang diwujudkan dan tercermin dalam berbagai aspek kehidupan. Muhammad Abduh mendefinisikan makna tauhid sebagai suatu ilmu yang membahas tentang wujud Allah. . karena pernyataan iman seseorang kepada Tuhan. Musa Asy'arie menambahkan bahwa makna Tauhid menurut pandangan filsafat Islam adalah suatu sistem pandangan hidup yang menegaskan adanya proses satu kesatuan dan tunggal kemanunggalan dalam berbagai aspek hidup dan kehidupan semua yang ada. ternyata Tauhid memiliki tema pembahasan dan peran yang sangat penting dalam membentuk pribadi seorang muslim. melainkan juga penguasaan manusia atas manusia lain. dan apa yang terlarang menghubungkannya kepada diri mereka. buka sekedar mengetahui bukti-bukti rasional tentang kebenaran wujud dan ke-Esa-an Nya serta bukan sekedar mengenal asma dan sifat-sifatNya. sifat-sifat Allah. Pengingkaran terhadap makna tauhid adalah perbuatan syirik. sejarah membuktikan bahwa tauhid menjadi senjata yang hebat dalam . (Asy'arie. Dari berbagai pandangan tentang makna tauhid yang di maknai oleh Muhammad Abduh. Tauhid bukan sekedar mengenal dan memahami bahwa pencipta alam semesta ini adalah Allah. Musa Asyari. 2002 : 182). yang menjadi asas kesatauan ciptaanNya dalam berbagai bentuk. (Yusran Asmuni. Dengan kata lain. Doktrin tauhid yang menjadi ruh kekuatan Islam tidak pernah hilang dari perjalanan sejarah. Tepatnya dizaman pemerintahan khalifah Al Makmun. dan Hasan Hanafi. 2003:03) . 2002 : 181). Padahal. haruslah menjadi falsafah hidup seorang muslim.Meskipun inti pokok risalah Nabi Muhammad saw adalah tauhid. dan Rosul-rosul Allah yang mempunyai konsekuensi dalam kehidupan berupa praktek sosial umat Islam yang konkrit. tetapi Tauhid sudah terbukti mampu menjadi pilar perjuangan umat Islam. tentang sifat-sifat yang wajib tetap padaNy. (Asy'arie. bukan hanya kepada pengakuan lesan. 2003:20). Bagi seorang muslim dalam konteks Teologi.Istilah ilmu Tauhid itu sendiri baru muncul pada abad ketiga Hijriyah. kepercayaan kepada ke-Esa-an Allah belum tentu terkait dengan prilaku umat dalam kiprah kesejarahannya. pikiran dan hati atau kalbu. juga membahas tentang Rosul-rosul Allah meyakinkan kerosulan mereka. Dalam pandangan Islam. namun pada masa beliau Tauhid belum merupakan ilmu keislaman yang berdiri sendiri. Kholifah ketujuh dinasti Bani Abas. Dari dua pandangan ini. Tauhid adalah pernyataan iman kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. dapat di tarik kesimpula bahwa makna Tauhid adalah tema sentral yang membahas tentang wujud Allah. tetapi juga tindakan dan aktualisasi. tetapi yang paling pokok dari itu adalah penerimaan dan resfons cinta kasih dan kehendak Tuhan yang dialamatkan kepada manusia. Tauhid yang menjadi proses satu kesatuan dan tunggal kemanunggalan dalam berbagai aspek hidup dan kehidupan yang bersumber pada satu Tuhan saja. berasal dan bersumber hanya pada satu Tuhan saja. karena syirik bukan semata-mata tindakan yang ujudnya adalah penyembahan berhala atau kesukaan pergi kekuburan yang maknanya dalam ibadah. walaupun aktualisasinya dalam dimensi kehidupan tidak selalu menjadi kenyataan. jenis dan bidang kehidupan. (Muhammad Abduh. sifat-sifat yang boleh disifatkan kepadaNya dan tentang sifat-sifat yang sama sekali wajib dilenyapkan dari padaNya. adanya golongan penindas dan tertindas maka selama itu pula masyarakat dibalut oleh paham syirik (Shimogaki. dalam suatu sistem. Namun yang terpenting adalah agar sikap ketauhidan ini dapat menyemangati kehidupan sehingga bukan hanya keshalehan individu yang kita harapkan dapat terwujud. selama dalam sistem sosial masyarakat masih ada kesenjangan antara si kaya dengan miskin.

bukan hanya tersimpan dalam teks-teks suci. kemudian mendirikan shalat. politik. 2006. pada aksi. disebutkan bahwa agar manusia itu menjadi muttaqin. kekuatan tauhid ini harus diaktualisasikan. http:// my. pertama-tama yang harus ia miliki adalah iman. dan juga sinkretik. Di dalam ayat tersebut dapat dilihat adanya trilogi iman-shalat-zakat. dan menunaikan zakat. Allah menjelaskan dalam firmanNya bahwa. tetapi ujung aktualisasinya adalah manusia.menancapkan pilar-pilar kesejarahan Islam. Islam menolak pola kehidupan yang fragmentatif. ‘percaya kepada yang gaib’. tauhid harus diaktualisasikan: pusat keimanan Islam adalah Tuhan. Sementara dalam formulasi lain. Sehingga kekuatan tauhid inilah yang menjadi pengawal dan pusat dari semua orientasi nilai Artinya. Dua. iman adalah kekuatan yang menjadi pilar utama perjalanan sejarah umat Islam. karena tauhid menjadi landasan bagi setiap amal yang akan dilakukan. Kedua bentuk kekuatan tauhid ini mempunyai keterkaitan yang tidak bisa dipisahkan. beliau menyebutkan bahwa Tauhid Sosial sebagai dimensi praksis dari resiko keimanan kepada Allah SWT.Com/adieusman/htm) Memilih Islam adalah menjalani suatu pola kehidupan yang utuh dan terpadu (integrated). penulis menyimpulkan bahwa iman berujung pada amal. Dengan memperhatikan ini. gagasan Tauhid Sosial Syafi’i Ma’arif menggambarkan dua hal: pertama. lebih dari segalanya. Islam berprinsip pada tauhid. pemerintah dan umat yang beriman secara keseluruhan. orang kemudian mempertanyakan praktek sosial Islam yang dianggap tidak komprehensif. Secara substasial. ekonomi dan budaya. menyatakan bahwa nilainilai Islam sebenarnya bersifat all-embracing bagi penataan sistem kehidupan sosial. Dalam konteks ini. Kedua. Tauhid adalah pegangan pokok dan sangat menentukan bagi kehidupan manusia. Oleh sebab itu tauhid juga bisa dibagi dalam dua tahapan dalam aktualisasinya. Doktrin ini sudah sangat dini dideklarasikan Al-Qur’an. tugas terbesar Islam sebenarnya adalah melakukan transformasi sosial dan budaya dengan nilai-nilai tersebut. Praktek sosial Islam ini banyak dibahasakan dengan berbagai istilah. Masyarakat yang adil harus didirikan dalam prinsip ‘amrun bi al-ma’ruf wa nahyun ‘ani almunkar’. (Syulthut. Manusia memiliki dua kekuatan. (Qordhawi. politik. ekonomi dan budaya. 1994 : 49).(Ade Usman. dikotomik. tauhid i'tiqadi ilmi (keyakinan teoritis) dengan tauhid amali suluki (amal perbuatan praktis) atau dengan istilah lain dua ketauhidan yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lain. Artinya. Di dalam Al-Qur’an kita sering sekali membaca seruan agar manusia itu beriman.1996:33). Tugas ini dibebankan pada rasul. ada juga trilogi iman-ilmu-amal. 1991 : 197). iman harus mampu menjawab dimensi praksis persoalan keummatan. Dalam perspektif yang berbeda. cendekiawan muslim. orang yang mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang mereka dalam keadaan beriman maka oleh Allah akan diberikan kehidupan yang baik dan juga akan diberi balasan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (An-Nahl: 97).opra. (Kuntowijoyo. Nazairah (penyelidikan) puncaknya adalah mengenal hakekat sesuatu menurut keadaan yang sebenarnya. di bawah prinsip-prinsip tauhid. Kuntowojoyo. Setiap aspek kehidupan yang dijalani merupakan refleksi dari prinsip-prinsip tauhid. Oleh karena itu. Praktek kehidupan seperti ini telah ditunjukkan dalam perjalanan kerasulan Muhammad yang diteruskan oleh sebagian generasi setelahnya. Dalam surah Al-Baqarah ayat kedua misalnya. Amaliah (tindakan) puncaknya melaksanakan menurut semestinya dalam urusan hidup dan penghidupan. yaitu pada masa Mekkah tahun-tahun awal. dan kemudian beramal. antara lain Tauhid Sosial. Adie Usman Musa mengutip dari Syafi’i Ma’arif. maka keduanya harus dijalankan secara seimbang. AM Fatwa menegaskan bahwa setiap perbuatan pribadi akan menyebabkan berbagai implikasi . Pertama. yang kemudian terwujud dalam dimensi sosial.

Dengan kata lain bahwa Tauhidullah harus diujudkan dalam praktek sosial. Tauhid ibadah atau tauhid praktis inilah yang di istilahkan oleh Prof. termasuk untuk kemanusiaan. Tauhid Sosial sebenarnya merupakan perwujudan aksi sosial Islam dalam konteks menjadikannya sebagai rahmatan li al’alamin. Rukun. Dr. ( Rais. Dalam konteks inilah Islam disebut sebagai rahmatan li al’alamin. Dengan melihat penjelasan diatas. 2001:51). Labels • • • • • • Kitab Kitab Kitab Kitab Kitab Kitab Tauhid Tauhid Tauhid Tauhid Tauhid Tauhid 1 2 3 3 3 3 (29) (6) Bab 1 Bab 2 Bab 3 Bab 4 (5) (11) (6) (4) Kitab Tauhid 1 • • • • • • • • • • • • • • Makna Aqidah Dan Urgensinya Sebagai Landasan Agama Sumber-sumber Aqidah Yang Benar dan Manhaj Salaf dalam Mengambil Aqidah. Proses menuju ke arah itu harus dimulai dari penguatan dimensi tauhid. rahmat untuk alam semesta. kemudian dimensi epistemik. Sementara pada saat yang sama melihat manusia sebagai tujuan dari transformasi nilai. Konsekuansi Dan Yang Membatalkannya TaSyRi' Ibadah: Pengertian. Penyimpangan Aqidah Dan Cara-Cara Penanggulangannya Makna Tauhid Rububiyah dan Kefitrahannya serta Pengakuan Orang-orang Musyrik Terhadapnya. Macam Dan Keluasan Cakupannya Paham-Paham Yang Salah Tentang Pembatasan Ibadah Syarat Diterimanya Ibadah . secara konkrit. Dr. realitas sosial. Jika tauhid teoritis dapat melakukan perubahan batiniah dan pembebasan spiritual. (AM. Pengertian Rabb Dalam Al-Qur'an Dan As-Sunnah Alam Semesta Dan Fitrahnya Dalam Tunduk Dan Patuh Kepada Allah Manhaj Al-Qur'an Dalam Menetapkan Wujud Dan Keesaan Al-Khaliq Tauhid Rububiyah Mengharuskan Adanya Tauhid Uluhiyah Makna Tauhid Uluhiyah. Dan Bahwa Ia Adalah Inti Dakwah Para Rasul Makna Syahadatain. Prof. maka tauhid praktis dapat melakukan rekonstruksi dan reformasi sosial.kemasyarakatan. maka tanggung jawab pribadi itu memberi akibat adanya tanggung jawab sosial. Syarat. Fatwa. Islam menjadikan tauhid sebagai pusat dari semua orientasi nilai. bisa diturunkan lagi kedataran pergaulan sosial. Dimaksudkan agar tauhid Ilahiyah dan Rububiyah yang sudah tertanam di kalangan kaum muslimin dan muslimat. Amin Rais mengatakan bahwa yang dimaksud tauhid Sosial adalah dimensi sosial dari Tauhidullah. 1998: 108) Dengan demikian. lalu masuk dalam dimensi amal berupa praktek sosial kepada sesama manusia. Inilah yang sering dipahami dari rahasia susunan Al Quran bahwa setiap kali Kitab Suci menyabut kata iman (aamanu) yang merupakan perbuatan peribadi selalu diikuti dengan penyebutan amal saleh (aamilus shalihati) yang merupakan tindakan kemasyarakatan. Amin Rais dengan sebutan Tauhid Soaial.

raja' (mengharap). Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan hati. Ibadah ialah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Subhannahu wa Ta'ala . raghbah (senang) dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Ibadah ialah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para rasulNya.• • • • • • • • • • • • • • • Pilar-Pilar Ubudiyah Yang Benar Tingkatan Dien Makna Tauhid Asma' Wa Sifat Dan Manhaj Salaf Di Dalamnya Asma' Husna Dan Sifat Kesempurnaan. Ini adalah definisi ibadah yang paling lengkap. 2005 Kitab Tauhid 1 oleh: Dr. Sedangkan shalat. 2. Definisi itu antara lain adalah: 1. 3. lisan dan anggota badan. mahabbah (cinta). Macam-Macam Dan Dampaknya Bentuk-Bentuk Taqlid Kepada Kuffar Yang Buruk Sikap Pasif Kaum Muslimin Dan Problematikanya Ibadah: Pengertian.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan A. Ibadah itu terbagi menjadi ibadah hati. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak . yang zhahir maupun yang batin. tawakkal (ketergantungan). Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu. Rasa khauf (takut). Serta Pendapat Golongan Sesat Berikut Bantahannya Buah Tarbiyah Tauhid Asma' Wa Sifat Pada Diri Individu Dan Masyarakat Al-wala' wal bara' Mudahanah dan Mudarah berikut kaitannya dengan al-wala' wal bara' Beberapa Contoh Tentang Setia Dan Memusuhi Karena Allah Menyayangi Dan Memusuhi Para Ahli Maksiat Menyambut Dan Ikut rayakan Hari Raya Atau Pesta Orang Kafir Serta Berbelasungkawa dlm Hari Duka Mereka Hukum Meminta Bantuan Kepada Orang-Orang Kafir Mengutamakan Tinggal Dan Bekerja Di Negara Kafir Hukum Meniru Kaum Kuffar. Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. zakat. Di dalam syara'. baik berupa ucapan atau perbuatan. tetapi makna dan maksudnya satu. May 18. haji dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). ibadah mempunyai banyak definisi. Definisi Ibadah Ibadah secara etimologi berarti merendahkan diri serta tunduk. lisan dan badan. Macam Dan Keluasan Cakupannya Wednesday.

Wujud Nir-Batas itu. khasyyatullah (takut kepada Allah). jual-beli. minum. maka dia adalah muk-min muwahhid (yang mengesakan Allah). pencipta seluruh wujud. satu-satunya Dzat yang harus disembah. ibadah mencakup seluruh tingkah laku seorang mukmin jika diniatkan qurbah (mendekatkan diri kepada Allah) atau apa-apa yang membantu qurbah. maka mereka menyembahNya sesuai dengan aturan syari'atNya. haji." (Adz-Dazariyat: 56-58) Allah Subhannahu wa Ta'ala memberitahukan. makan. Dan Allah Mahakaya. mengharap nikmatNya dan takut dari siksaNya. ikhlas kepadaNya. Dan refleksi pancaran dari sifat sempurna dan indahNya bertakhta dalam relung jiwa yang merupakan hasil penjagaan jarak dari hawa nafsu. yang merupakan Pemilik kesempurnaan mutlak. zakat. Dan siapa yang hanya menyembahNya dan dengan syari'atNya. puasa. anak yatim. berbuat baik kepada kerabat. Dzat yang tidak memerlukan segala sesuatu. bekerja mencari nafkah. dan selain-Nya tidak pantas disembah. tasbih. Tujuan utama ibadah adalah menemukan jalan untuk mendekatkan diri kepada derajat kesempurnaan mutlak dan mutlak sempurna. auhid Ibadah Maksudnya adalah Allah swt. [2] . jihad. Jadi. orang miskin dan ibnu sabil. Begitu pula cinta kepada Allah dan RasulNya. Siapa yang menyembahNya tetapi dengan selain apa yang disyari'at-kanNya maka ia adalah mubtadi' (pelaku bid'ah). B. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. akan tetapi merekalah yang membutuhkannya. nikah dan sebagainya. anggota badan dan yang lahir dari hati. Ia mencakup semua macam ketaatan yang nampak pada lisan. tidak membutuhkan ibadah mereka. Seperti tidur. Bahkan adat kebiasaan (yang mubah) pun bernilai ibadah jika diniatkan sebagai bekal untuk taat kepadaNya. Maka siapa yang menolak beribadah kepada Allah. Tujuan ini hanya dapat tercapai dengan beribadah kepada Allah swt.menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. shalat. Karenanya. Karena ibadah khusus bagi seseorang yang sempurna mutlak (kamâl mutlaq) dan mutlak sempurna (mutlaq kamâl). Berbagai kebiasaan tersebut jika disertai niat baik (benar) maka menjadi bernilai ibadah yang berhak mendapatkan pahala. Dan sifat ini tidak akan dijumpai selain pada Dzat Nan Kudus. serta menggayutkan diri kepada membina dan menghias diri (tahdzib nafs). tawakkal. sabar terhadap hu-kumNya. amar ma'ruf nahi mungkar. Seperti dzikir. ia adalah sombong. hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala. pemberi seluruh anugerah. Macam-Macam Ibadah Dan Keluasan Cakupannya Ibadah itu banyak macamnya. tidaklah ibadah itu terbatas hanya pada syi'ar-syi'ar yang biasa dikenal. ridha dengan qadha'-Nya. inabah (kembali) kepadaNya. karena ketergantungan mereka kepada Allah. tahlil dan membaca Al-Qur'an.

rang Muslim beriman kepada ketuhanan Allah Ta'ala bagi manusia sejak pertama hingga generasi terakhir, kerububiyahan-Nya terhadap alam semesta, bahwa tidak ada pengaturan dunia selain Dia, dan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia. Oleh karena itu, ia memperuntukkan bagi Allah ibadah-ibadah yang disyariatkan-Nya kepadanya, dan tidak memalingkannya sedikit pun kepada selain Allah. Jika ia minta pertolongan, ia meminta pertolongan kepada Allah. Jika ia bernadzar, ia tidak bernadzar untuk selain Allah. Untuk Allah-lah semua amal perbuatan batinnya, seperti takut, berharap, taubat, cinta, pengagungan, tawakkal, dan amal perbuatan lahiriyahnya seperti shalat, zakat, haji, dan jihad. Itu semua karena dalil-dalil wahyu dan dalil-dalil akal seperti berikut. Dalil-Dalil Wahyu 1. Perintah Allah Ta'ala kepada sikap seperti di atas dalam firman-firman-Nya, seperti firman-firman-Nya berikut ini. o "Sesungguhnya Aku Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengikuti Aku." (Thaha: 14) o "Dan hanya kepada-Kulah kalian harus takut (tunduk)." (Al-Baqarah: 40) o "Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untuk kalian karena itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui." (Al-Baqarah: 21-22) o "Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang benar melainkan Allah." (Muhammad: 19) o "Maka mohonlah perlindungan kepada Allah, sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Fushshilat:36) o "Dan hendaklah orang-orang Mukmin itu bertawakal kepada Allah saja." (AtTaghabun: 13) 2. Penjelasan Allah Ta'ala tentang hal tersebut dalam firman-firman-Nya seperti dalam firman-firman-Nya berikut ini. o "Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thagut'." (An-Nahl: 36) o "Barang siapa ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat dan tidak akan putus." (Al-Baqarah: 256) o "Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwa tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah oleh kalian akan Aku'." (Al-Anbiya': 25) o "Katakanlah, 'Maka apakah kalian menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?'." (Az-Zumar: 64) o "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan." (Al-Fatihah: 5)

"Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu, 'Peringatkanlah oleh kalian, bahwa tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kalian bertakwa kepada-Ku'." (An-Nahl: 2) 3. Penjelasan Rasulullah saw. tentang hal tersebut dalam hadits-haditsnya, seperti dalam hadits-haditsnya berikut ini. o Sabda Rasulullah saw. kepada Muadz bin Jabal r.a. yang beliu utus ke Yaman, "Hendaklah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka ialah hendaknya mereka beribadah kepada Allah Ta'ala." (Muttafaq Alaih). o Sabda Rasulullah saw. kepada Muadz bin Jabal r.a., "Hai Muadz, apa hak Allah atas hamba-hamba?" Muadz bin Jabal menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Rasulullah saw. bersabda, "Yaitu hendaknya mereka beribadah kepada-Nya, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun." (Diriwayatkan An-Nasai dan ia men-shahih-kannya). o Sabda Rasulullah saw. kepada Abdullah bin Abbas Radhiyallahu 'Anhuma, "Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Dan jika engkau minta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah." (Diriwayatkan At-Tirmidzi). o "Sesuatu yang paling aku khawatirkan pada kalian ialah syirik kecil." Para sahabat bertanya, "Apa yang dimaksud dengan syirik kecil, wahai Rasulullah?" Rasulullah saw. menjawab, "Riya'. Pada hari kiamat Allah berfirman setelah membalas manusia dengan amal perbuatan mereka, Pergilah kepada orangorang yang kalian lakukan riya' di dunia, kemudian lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?" (Diriwayatkan Ahmad dari banyak jalur dan hadits ini hasan). o "Bukankah mereka menghalalkan bagi kalian apa yang diharamkan Allah bagi kalian kemudian kalian juga menghalalkannya dan mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah kemudian kalian juga mengharamkannya?" Orang-orang menjawab, "Ya betul." Rasulullah saw. bersabda, "Itulah bentuk ibadah mereka kepadanya." (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan ia meng-hasan-kannya). Sabda di atas diucapkan Rasulullah saw. kepada Adi bin Hatim ketika ia mendengar firman Allah Ta'ala, "Mereka menjadikan pendeta-pendeta, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah." Kemudian Adi bin Hatim berkata, "Wahai Rasulullah, kita tidak menyembah mereka." o "Sesungguhnya permintaan tolong itu tidak kepadaku, namun permintaan tolong itu kepada Allah." (Diriwayatkan Ath-Thabrani. Hadits ini hasan). Sabda di atas diucapkan Rasulullah saw. setelah sebagian sahabat berkata kepada sebagian sahabat yang lain, "Mari kita minta tolong kepada Rasulullah saw. dari orang munafik yang mengganggu kita." o "Barang siapa bersumpah dengan selain Allah, ia telah melakukan syirik." (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan ia meng-hasan-kannya). o "Sesungguhnya mantra, jimat, dan guna-guna adalah syirik." (Diriwayatkan Ahmad, Abu Daud, dan lain sebagainya. Hadits ini hasan).
o

Dalil-Dalil Akal

1. Kesendirian Allah Ta'ala dalam penciptaan makhluk, pemberian rizki, dan pengurusan alam semesta mengharuskan manusia beribadah kepada-Nya saja, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. 2. Semua makhluk membutuhkan Allah Ta'ala. Jadi, tidak satu pun dari makhluk-makhluk pantas menjadi Tuhan yang disembah bersama Allah Ta'ala. 3. Sesuatu yang tidak mampu memberi pertolongan atau perlindungan tidak berhak untuk dimintai kepadanya pertolongan, bernadzar untuknya, bergantung atau bertawakkal kepadanya. Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 65-70.

Jabariyah & Qadariyah
BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Persoalan Iman (aqidah) agaknya merupakan aspek utama dalam ajaran Islam yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad. Pentingnnya masalah aqidah ini dalam ajaran Islam tampak jelas pada misi pertama dakwah Nabi ketika berada di Mekkah. Pada periode Mekkah ini, persoalan aqidah memperoleh perhatian yang cukup kuat dibanding persoalan syari’at, sehingga tema sentral dari ayat-ayat al-Quran yang turun selama periode ini adalah ayat-ayat yang menyerukan kepada masalah keimanan.[[1]] Berbicara masalah aliran pemikiran dalam Islam berarti berbicara tentang Ilmu Kalam. Kalam secara harfiah berarti “kata-kata”. Kaum teolog Islam berdebat dengan kata-kata dalam mempertahankan pendapat dan pemikirannya sehingga teolog disebut sebagai mutakallim yaitu ahli debat yang pintar mengolah kata. Ilmu kalam juga diartikan sebagai teologi Islam atau

Mencakup di dalamnya adalah latar belakang lahirnya sebuah aliran dan ajaranajarannya secara umum. Secara teoritis.ushuluddin.[[2]] Perbedaan teologis di kalangan umat Islam sejak awal memang dapat mengemuka dalam bentuk praktis maupun teoritis. perbedaan itu demikian tampak melalui perdebatan aliran-aliran kalam yang muncul tentang berbagai persoalan. Mempelajari teologi akan memberi seseorang keyakinan yang mendasar dan tidak mudah digoyahkan. Aliran Jabariyah Ajaran-ajaran Jabariyah Aliran Qadariyah Aliran Jabariyah Ajaran-ajaran Qadariyah Refleksi Faham Qadariyah dan Jabariyah : Sebuah Perbandingan tentang Musibah BAB II . TOPIK PEMBAHASAN a. b. para malaikat. meningkat menjadi persoalan teologi. Dalam makalah ini penulis hanya menjelaskan secara singkat dan umum tentang aliran Jabariyah dan Qadariyah. hari akhir dan berbagai ajaran nabi yang tidak mungkin lagi ada peluang untuk memperdebatkannya. keadilan Tuhan. Perbedaan itu kemudian memunculkan berbagai macam aliran. Jabariyah dan Qadariyah serta aliran-aliran lainnya. keimanan kepada para rasul. Syiah. Khawarij. Perbedaan yang pertama muncul dalam Islam bukanlah masalah teologi melainkan di bidang politik. kedudukan wahyu dan akal. Misalnya tentang kekuasaan Allah dan kehendak manusia. e. seiring dengan perjalanan waktu. ilmu yang membahas ajaran-ajaran dasar dari agama. B. Makalah ini akan mencoba menjelaskan aliran Jabariyah dan Qadariyah. Munculnya perbedaan antara umat Islam. Tetapi patut dicatat bahwa perbedaan yang ada umumnya masih sebatas pada aspek filosofis diluar persoalan keesaan Allah. d. f. Akan tetapi perselisihan politik ini. yaitu Mu'tazilah. c.

Di dalam kamus Munjid dijelaskan bahwa nama Jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu. [[3]] Menurut Harun Nasution Jabariyah adalah paham yang menyebutkan bahwa segala perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh Qadha dan Qadar Allah.PEMBAHASAN a. Dengan kata lain adalah manusia mengerjakan perbuatan dalam keadaan terpaksa (majbur).[[6]] yang bersamaan dengan munculnya aliran Qadariayah. Pendapat yang lain mengatakan bahwa paham ini diduga telah muncul sejak sebelum agama Islam datang ke masyarakat Arab. Abu Zahra menuturkan bahwa paham ini muncul sejak zaman sahabat dan masa Bani Umayyah. Salah satu sifat dari Allah adalah al-Jabbar yang berarti Allah Maha Memaksa. tapi yang tumbuh . di sini manusia tidak mempunyai kebebasan dalam berbuat. Ketika itu para ulama membicarakan tentang masalah Qadar dan kekuasaan manusia ketika berhadapan dengan kekuasaan mutlak Tuhan.[[5]] Adapaun tokoh yang mendirikan aliran ini menurut Abu Zaharah dan al-Qasimi adalah Jahm bin Safwan. ALIRAN JABARIYAH (FATALISM/PREDESTINATION) Latar Belakang Lahirnya Jabariyah Secara bahasa Jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung pengertian memaksa. Maksudnya adalah bahwa setiap perbuatan yang dikerjakan manusia tidak berdasarkan kehendak manusia. karena tidak memiliki kemampuan. Ada yang mengistilahlkan bahwa Jabariyah adalah aliran manusia menjadi wayang dan Tuhan sebagai dalangnya. tapi diciptakan oleh Tuhan dan dengan kehendak-Nya. Sedangkan secara istilah Jabariyah adalah menolak adanya perbuatan dari manusia dan menyandarkan semua perbuatan kepada Allah. Kehidupan bangsa Arab yang diliputi oleh gurun pasir sahara telah memberikan pengaruh besar dalam cara hidup mereka.[[4]] Adapun mengenai latar belakang lahirnya aliran Jabariyah tidak adanya penjelelasan yang sarih. Di tengah bumi yang disinari terik matahari dengan air yang sangat sedikit dan udara yang panas ternyata dapat tidak memberikan kesempatan bagi tumbuhnya pepohonan dan suburnya tanaman.

hanya rumput yang kering dan beberapa pohon kuat untuk menghadapi panasnya musim serta keringnya udara. agar terhindar dari kekeliruan penafsiran tentang ayat-ayat Tuhan mengenai takdir. pencuri itu berkata "Tuhan telah menentukan aku mencuri". b. Orang tua itu bertanya.[[8]] Terlepas dari perbedaan pendapat tentang awal lahirnya aliran ini. Khalifah Umar bin al-Khaththab pernah menangkap seorang pencuri. Artinya mereka banyak tergantung dengan Alam. Mendengar itu Umar kemudian marah sekali dan menganggap orang itu telah berdusta. c. Ketika diintrogasi. sehingga menyebabakan mereka kepada paham fatalisme. Pahala dan siksa akan didapat berdasarkan atas amal perbuatan manusia. Ketika Khalifah Ali bin Abu Thalib ditanya tentang qadar Tuhan dalam kaitannya dengan siksa dan pahala.[[7]] Harun Nasution menjelaskan bahwa dalam situasi demikian masyarakat arab tidak melihat jalan untuk mengubah keadaan disekeliling mereka sesuai dengan kehidupan yang diinginkan. Suatu ketika Nabi menjumpai sahabatnya yang sedang bertengkar dalam masalah Takdir Tuhan. Kalau itu sebuah paksaan. tidak ada pahala sebagai balasannya."apabila perjalanan (menuju perang siffin) itu terjadi dengan qadha dan qadar Tuhan. yaitu: hukuman potongan tangan karena mencuri dan hukuman dera karena menggunakan dalil takdir Tuhan. Oleh karena itu Umar memberikan dua jenis hukuman kepada orang itu. Mereka merasa lemah dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup. maka tidak ada pahala dan siksa. gugur pula janji dan . dalam Alquran sendiri banyak terdapat ayat-ayat yeng menunjukkan tentang latar belakang lahirnya paham Jabariyah. Kemudian Ali menjelaskannya bahwa Qadha dan Qadha Tuhan bukanlah sebuah paksaan. Nabi melarang mereka untuk memperdebatkan persoalan tersebut. diantaranya: Selain ayat-ayat Alquran di atas benih-benih faham al-Jabar juga dapat dilihat dalam beberapa peristiwa sejarah: a.

latar belakang lahirnya aliran Jabariyah dapat dibedakan kedalam dua factor. dan melihat Tuhan di akherat. dan tidak pujian bagi orang yang baik dan tidak ada celaan bagi orang berbuat dosa. yaitu pengaruh agama Yahudi bermazhab Qurra dan agama Kristen bermazhab Yacobit. tidak mempunyai kehendak sendiri. Di antara tokoh adalah Jahm bin Shofwan dengan pendapatnya adalah bahwa manusia tidak mempu untuk berbuat apa-apa. yang mempunyai paham yang mengarah kepada Jabariyah. keduanya. Pertama.ancaman Allah. kalam Tuhan. Adapun yang menjadi dasar munculnya paham ini adalah sebagai reaksi dari tiga perkara: pertama. Ada sebuah pandangan mengatakan bahwa aliran Jabar muncul karena adanya pengaruh dari dari pemikriran asing. Pendapat Jahm tentang keterpaksaan ini lebih dikenal dibandingkan dengan pendapatnya tentang surga dan neraka.[[9]] Di samping adanya bibit pengaruh faham jabar yang telah muncul dari pemahaman terhadap ajaran Islam itu sendiri. dan tidak mempunyai pilihan. Ajaran-ajaran Jabariyah Adapun ajaran-ajaran Jabariyah dapat dibedakan menjadi dua kelompok. [[11]] c. Surga dan . Adanya paham Jabar telah mengemuka kepermukaan pada masa Bani Umayyah yang tumbuh berkembang di Syiria.[[10]] Dengan demikian. meniadakan sifat Tuhan. Ia tidak mempunyai daya. telalu tekstualnya pamahaman agama tanpa adanya keberanian menakwilkan dan ketiga adalah adanya aliran salaf yang ditokohi Muqatil bin Sulaiman yang berlebihan dalam menetapkan sifat-sifat Tuhan sehingga membawa kepada Tasybih. Lebih dari itu adalah adanya pengaruh dari luar Islam yang ikut andil dalam melahirkan aliran ini. adanya paham Qadariyah. d. yaitu ekstrim dan moderat. yaitu factor yang berasal dari pemahaman ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari Alquran dan Sunnah. konsep iman. aliran ekstrim.

melihat dan mendengar. Kedua.[[15]] C. Manusia juga tidak dipaksa.[[14]] Dengan demikian ajaran Jabariyah yang ekstrim mengatakan bahwa manusia lemah. ALIRAN QADARIYAH ( FREE WILL AND FREE ACT( . tetapi manusia memperoleh perbuatan yang diciptakan tuhan.[[12]] Aliran ini dikenal juga dengan nama al-Jahmiyyah atau Jabariyah Khalisah. Sedangkan iman dalam pengertianya adalah ma'rifat atau membenarkan dengan hati. tidak berdaya. dan yang kekal hanya Allah. Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk. Allah tidak mempunyai keserupaan dengan manusia seperti berbicara. baik dan buruk yang diterima oleh manusia dalam perjalanan hidupnya adalah merupakan ketentuan Allah. Kalam Tuhan adalah makhluk. tidak mempunyai kehendak dan kemauan bebas sebagaimana dimilki oleh paham Qadariyah. Segala akibat. baik itu positif atau negatif. Tokoh yang berpaham seperti ini adalah Husain bin Muhammad an-Najjar yang mengatakan bahwa Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia. Sedangkan adhDhirar (tokoh jabariayah moderat lainnya) pendapat bahwa Tuhan dapat saja dilihat dengan indera keenam dan perbuatan dapat ditimbulkan oleh dua pihak. Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala hal. Tenaga yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya. tetapi manusia mempunyai bagian di dalamnya. terikat dengan kekuasaan dan kehendak Tuhan. seperti berbicara. mendengar. menjelaskan tentang ajaran pokok dari Jabariyah adalah Alquran adalah makhluk dan sesuatu yang baru dan tidak dapat disifatkan kepada Allah.nerka tidak kekal. dan Tuhan juga tidak dapat dilihat dengan indera mata di akherat kelak. dan hal ini sama dengan konsep yang dikemukakan oleh kaum Murjiah. tetapi manusia mengambil bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu dan Tuhan tidak dapat dilihat di akherat. Seluruh tindakan dan perbuatan manusia tidak boleh lepas dari scenario dan kehendak Allah. dan melihat.[[13]] Ja'ad bin Dirham. tidak seperti wayang yang dikendalikan oleh dalang dan tidak pula menjadi pencipta perbuatan. ajaran Jabariyah yang moderat adalah Tuhan menciptakan perbuatan manusia.

yakni baik dan buruk. mencakup semua perbuatan. yaitu qadara yang bemakna kemampuan dan kekuatan. Harun Nasution menegaskan bahwa aliran ini berasal dari pengertian bahwa manusia mempunyai kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya. Namanya adalah Susan. ia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri. demikian juga pendapat Muhammad Ibnu Syu’ib. Aliran-aliran ini berpendapat bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya.Latar Belakang Lahirnya Aliran Qadariyah Pengertian Qadariyah secara etomologi. karena itu kehadiran Qadariyah dalam wilayah kekuasaanya selalu mendapat tekanan. Hadariansyah. Montgomery Watt menemukan dokumen lain yang menyatakan bahwa paham Qadariyah terdapat dalam kitab ar-Risalah dan ditulis untuk Khalifah Abdul Malik oleh Hasan al-Basri sekitar tahun 700M.[[17]] Sejarah lahirnya aliran Qadariyah tidak dapat diketahui secara pasti dan masih merupakan sebuah perdebatan. dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan. berasal dari bahasa Arab. ada sebagian pakar teologi yang mengatakan bahwa Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh Ma’bad al-Jauhani dan Ghilan ad-Dimasyqi sekitar tahun 70 H/689M. Aliran ini lebih menekankan atas kebebasan dan kekuatan manusia dalam mewujudkan perbutan-perbutannya. orang-orang yang berpaham Qadariyah adalah mereka yang mengatakan bahwa manusia memiliki kebebasan berkehendak dan memiliki kemampuan dalam melakukan perbuatan. sebagaimana yang dikemukakan oleh Ahmad Amin. [[18]] Ibnu Nabatah menjelaskan dalam kitabnya. Adapun secara termenologi istilah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diinrvensi oleh Allah. kemudian masuk Islam dan kembali lagi ke agama Kristen.[[16]] Menurut Ahmad Amin sebagaimana dikutip oleh Dr. bahkan pada zaman Abdul Malik bin Marwan pengaruh Qadariyah dapat dikatakan . aliran Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh orang Irak yang pada mulanya beragama Kristen. Sementara W.[[19]] Ditinjau dari segi politik kehadiran mazhab Qadariyah sebagai isyarat menentang politik Bani Umayyah. Manusia mampu melakukan perbuatan. Akan tetepi menurut Ahmad Amin.

Misalnya manusia ditakdirkan oleh Tuhan tidak mempunyai sirip seperti ikan yang mampu berenang di lautan lepas. baik berbuat baik maupun berbuat jahat.[[20]] d. Manusia mempunyai kewenangan untuk melakukan segala perbuatan atas kehendaknya sendiri. Karena itu sangat pantas. Manusia dalam demensi fisiknya tidak dapat bebruat lain. Tokoh an-Nazzam menyatakan bahwa manusia hidup mempunyai daya. sejak azali. Dengan demikian takdir adalah ketentuan Allah yang diciptakan-Nya bagi alam semesta beserta seluruh isinya. Secara alamiah sesungguhnya manusia telah memiliki takdir yang tidak dapat diubah. yaitu hokum yang dalam istilah Alquran adalah sunnatullah. Demikian juga manusia tidak mempunyai kekuatan seperti gajah yang mampu membawa barang seratus kilogram.lenyap tapi hanya untuk sementara saja. ia berhak mendapatkan pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan juga berhak pula memperoleh hukuman atas kejahatan yang diperbuatnya. . bukan oleh takdir Tuhan. yaitu paham yang mengatakan bahwa nasib manusia telah ditentukan terlebih dahulu. Ganjaran kebaikan di sini disamakan dengan balasan surga kelak di akherat dan ganjaran siksa dengan balasan neraka kelak di akherat. dan dengan daya itu ia dapat berkuasa atas segala perbuatannya. itu didasarkan atas pilihan pribadinya sendiri.[[22]] Faham takdir yang dikembangkan oleh Qadariyah berbeda dengan konsep yang umum yang dipakai oleh bangsa Arab ketika itu. Oleh karena itu. Ajaran-ajaran Qadariyah Harun Nasution menjelaskan pendapat Ghalian tentang ajaran Qadariyah bahwa manusia berkuasa atas perbuatan-perbutannya. sebab dalam perkembangan selanjutnya ajaran Qadariyah itu tertampung dalam Muktazilah. Manusia sendirilah yang melakukan perbuatan baik atas kehendak dan kekuasaan sendiri dan manusia sendiri pula yang melakukan atau menjauhi perbuatan-perbutan jahat atas kemauan dan dayanya sendiri. manusia hanya bertindak menurut nasib yang telah ditentukan sejak azali terhadap dirinya.[[21]] Dengan demikian bahwa segala tingkah laku manusia dilakukan atas kehendaknya sendiri. Dalam perbuatannya. orang yang berbuat akan mendapatkan balasannya sesuai dengan tindakannya. kecuali mengikuti hokum alam.

(QS.                           Artinya : “dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud). barang siapa yang mau beriman maka berimanlah dan barang siapa yang mau kafir maka kafirlah”.Dengan pemahaman seperti ini tidak ada alasan untuk menyandarkan perbuatan kepada Allah.                    Artinya : “Katakanlah kebenaran dari Tuhanmu. kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". Di antara dalil yang mereka gunakan adalah banyak ayat-ayat Alquran yang berbicara dan mendukung paham itu :      Artinya : “Kerjakanlah apa yang kamu kehendaki sesungguhnya Ia melihat apa yang kamu perbuat”.Ali Imran :165)               . Padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar). (QS. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Al-Kahfi : 29). (QS. Fush-Shilat : 40).

Sedang. Sedang yang berpaham Qadariyah akan menjawab. karena semua peristiwa yang berkaitan dengan peranan (perbuatan) manusia harus dipertanggungjawabkan oleh manusia melalui suatu investigasi. Orang Muslim yang berpaham Qadariyah merupakan kalangan yang terbatas atau hanya sedikit dari mereka. paham Jabariyah disebut juga sebagai paham tradisional dan konservatif dalam Islam dan paham Qadariyah disebut juga sebagai paham rasional dan liberal dalam Islam. Refleksi Faham Qadariyah dan Jabariyah : Sebuah Perbandingan tentang Musibah Dalam paham Jabariyah.Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka. manusia digambarkan sebagai berkuasa penuh untuk menentukan dan mengerjakan perbuatannya. Pada perkembangan selanjutnya. Dalam paham Qadariyah.dan aqli (argumen pikiran). Bagi yang berpaham Jabariyah biasanya dengan enteng mengatakan bahwa kecelakaan itu sudah kehendak dan perbuatan Allah. Sedang. . berkaitan dengan perbuatannya. Kedua paham teologi Islam tersebut membawa efek masing-masing. Pada paham Jabariyah semangat melakukan investigasi sangat kecil. manusia digambarkan bagai kapas yang melayang di udara yang tidak memiliki sedikit pun daya untuk menentukan gerakannya yang ditentukan dan digerakkan oleh arus angin. Di negeri-negeri kaum Muslimin. semangat investigasi amat besar. yang berpaham Qadariyah condong mencari tahu di mana letak peranan manusia pada kecelakaan itu. seperti di Indonesia. bukan Allah. Kedua paham teologi Islam tersebut melandaskan diri di atas dalil-dalil naqli (agama) . bahwa perbuatan manusia ditentukan dan dikerjakan oleh manusia. (QS. yang dominan adalah paham Jabariyah. selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka. pada paham Qadariyah.Ar-R’d :11) e. karena semua peristiwa dipandang sudah kehendak dan dilakukan oleh Allah.] yang ada pada diri mereka sendiri”.sesuai pemahaman masing-masing atas nash-nash agama (Alquran dan hadits-hadits Nabi Muhammad) . berkaitan dengan perbuatannya. kecelakaan pesawat terbang. misalnya. Kedua paham itu dapat dicermati pada suatu peristiwa yang menimpa dan berkaitan dengan perbuatan manusia.

dengan memotret lewat satelit kawasan yang dilanda musibah. Dalam hal musibah gempa dan tsunami baru-baru ini. paham Qadariyah membenarkan suatu investigasi (pencaritahuan). sudah cukup bila tindakan membantu korban dan memetik "hikmat" sudah dilakukan. BABIII KESIMPULAN Menurut penulis solusi terhadap pandangan aliran Jabariyah dan Qodariyah yaitu bahwa manusia benar-benar memiliki kebebasan berkehendak dan karenanya ia akan dimintai . Posisi manusia demikian tidak terdapat di dalam paham Jabariyah. Akibat dari perbedaan sikap dan posisi itu. bagi yang berpaham Jabariyah. namun mengajukan pertanyaan yang harus dijawab : adakah andil manusia di dalam "mengganggu" ekosistem kehidupan yang menyebabkan alam "marah" dalam bentuk gempa dan tsunami? Untuk itu. selain manusia dinyatakan sebagai makhluk yang merdeka. meski gempa dan tsunami tidak secara langsung menunjuk perbuatan manusia. juga adalah makhluk yang harus bertanggung jawab atas perbuatannya.Dengan demikian. Sedang hikmat yang dimaksud hanya berupa pengakuan dosa-dosa dan hidup selanjutnya tanpa mengulangi dosa-dosa. dalam paham Qadariyah. misalnya. ilmu pengetahuan lebih pasti berkembang di dalam paham Qadariyah ketimbang Jabariyah. karena menyikapinya sebagai kehendak dan perbuatan Allah. Sedang bagi yang berpaham Qadariyah.

Dari keterangan ajaran-ajaran Jabariyah dan Qodariyah tersebut di atas yang terpenting harus kita pahami bahwa mereka (Jabariyah dan Qodariyah) mengemukakan alasan-alasan dan dalil-dalil serta pendapat yang demikian itu dengan maksud untuk menghindarkan diri dari bahaya yang akan menjerumuskan mereka ke dalam kesesatan beragama dan mencapai kemuliaan dan kesucian Allah SWT dengan sesempurna-sempurnanya. Dalam masalah Iman dan Kufur ajaran Jabariyah yang begitu lemah tetap bisa diberlakukan secara temporal. keimanan dan juga kekufuran. mereka pun tentu akan mencari jalan dan dalil-dalil lain yang lebih tepat. meskipun demikian keputusan tersebut pada dasarnya merupakan pemenuhan takdir (ketentuan) yang telah ditentukan. bahkan jika dirasanya akan berbahaya pula. terutama dalam langkah awal menyampaikan dakwah Islam sehingga dapat merangkul berbagai golongan Islam yang masih memerlukan pengayoman. kursi atau jendela tidak akan tercapai tanpa adanya kayu sementara kayu tersebut yang membuat adalah Allah SWT. Di samping itu pendapat-pendapat Jabariyah sebenarnya didasarkan karena kuatnya iman terhadap qudrot dan irodat Allah SWT. Rosihan. baik Qadariyah ataupun Jabariyah nampaknya memperlihatkan paham yang saling bertentangan sekalipun mereka sama-sama berpegang pada Alquran. kebebasan berkehendak manusia tidak dapat tercapai tanpa campur tangan Allah SWT. (Bandung: Puskata Setia. Penghindaran itu pun tidak mutlak dan tidak selama-lamanya. Anwar. 1996) . Dengan kata lain. Dirasah Islamiyah: Pengantar Studi Sejarah Kebudayaan Islam dan Pemikiran. Hal ini menunjukkan betapa terbukanya kemungkinan perbedaan pendapat dalam Islam. ketaatan dan juga ketidaktaatan. Kedua aliran. Sementara bagi Qodariyah manusia adalah pelaku kebaikan dan juga keburukan. ditambah pula dengan sifat wahdaniat-Nya. DAFTAR PUSTAKA 1. 2006). seperti seseorang yang ingin membuat meja. Yusran. cet ke-2 Asmuni. Ilmu Kalam. 2. (Jakarta: Raja Grafindo Persada. Demikian makalah dari kami yang berjudul “Jabariyah dan Qodariyah” kritik dan saran yang konstruktif sangat kami harapkan demi perbaikan di masa mendatang. Sebagai penutup dalam makalah ini.pertanggungjawaban atas keputusannya.

Filsafat dan Tasawuf. (Beirut-Libanon: Dar al-Kurub al-'Ilmiyah. Nata. 1997) ← Mu’tazilah Murji’ah → Jabariyah dan Qadariyah 16 January 2009 by Kangsata Leave a Comment Terkait qada’ dan qadar. al-Milal wa an-Nihal. Faham Jabariyah pertama kali dipopulerkan oleh Ja’d bin Dirham di Basrah yang intinya menafikan adanya perbuatan otonom . an-Nasyar. 2008) 5. 1998) 9. Pemikiran-pemikiran Teologi dalam Sejarah Pemikiran Islam. Kuliah Ilmu Kalam. Ilmu Kalam. (Bangil: alIzzah. (Jakarta: UI-Press. mula-mula muncul permasalahan tentang kebebasan dan keterpaksaan manusia (al-jabr wa al-ikhtiyar). AB. 1997) Hadariansyah. yaitu Jabariyah dan Qadariyah. (Jakarta: Raja Grafindo Persada. Koreksi atas Pemikiran Kalam dan Filsafat Islam. al-Qaththan. Enseklopedi Islam. Manna Khalil. Maghfur. Abudin.th) 11. (Jakarta: Litera AntarNusa. Nasy'at al-Fikr al-Falsafi fi al-Islam. Ali Syami. cet ke-5 7. asy-Syahrastani. Pemikiran seputar masalah ini melahirkan dua kutub pemikiran ekstrim yang berbeda. 1977) 8.3. (Jakarta: Bulan Bintang. 4. 1986). (Banjarmasin: Antasari Press. "Jabariyah" (Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve. Ahmad. 2002) 6. Harun. Studi Ilmu-ilmu Alqur'an. Tim. Nasution. Muhammad. 2004) 10. Daudy. diterjemahkan dari "Mabahits fi Ulum al-Qur'an. (Cairo: Dar al-Ma'arif. Muhammad ibn Abd al-Karim. Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan. t.

Ide jabariyah ini kemudian terpelihara dalam gerakan pemikiran muridnya yaitu Jahm bin Shafwan. Sedangkan faham Qadariyah dengan tokoh utamanya Ma’bad bin Khalid al-Juhani dan Ghailan al-Dimasyqi menyatakan bahwa semua perbuatan manusia adalah karena kehendaknya sendiri. Dalam pendapatnya. Di samping menerima ide jabariyah.seorang hamba dengan menyandarkan semuanya kepada Allah. . perbuatan manusia berada di luar ruang lingkup kekuasaan atau campur tangan Allah. kehendak maupun usahanya sendiri. Allah bukan sesuatu dan tidak bisa dilihat pada hari kiamat. bebas dari kehendak Allah. yang kepadanya dinisbatkan aliran Jahmiyah. manusia digambarkan tidak memiliki sifat kesanggupan yang hakiki sehingga segala perbuatannya (baik ketaatan atau kemaksiatan) pada dasarnya adalah keterpaksaan (majburah) karena tidak berasal dari kekuasaan. iman adalah ma’rifah dan kekufuran adalah jahl. Jahm juga mengembangkan pemikiranpemikiran lain seperti mengemukakan pendapat bahwa surga dan neraka bersifat fana. Jadi. kalam Allah bersifat tidak qadim.