Fungsi Wahyu

Menggali dan meneliti kembali asa hidup dan pandangan hidup Islam, kita perlu membuka Al Kitab, mengetahui kehendak dan fungsi Wahyu dalam tata-kehidupan manusia dan mengendalikan kemanusaan sesuai dengan pola dan formula Al-Chalik Maha Pencipta Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.
Rangkaian wahyu yang kita angkat dibawah ini, adalah meletakkan tangga tempat naik untuk mengenal hakekat (Ma’rifatul-hakekat), apa tujuan dan sengaja Ilahy menciptakan Hidup dan membuat halaman kemanusiaan bercahaya diatas buminya. Wahai manusia sekalian ! Sesungguhnya telah datang kepada kamu satu keterangan dari Tuhan kamu, dan Kami telah turunkan kepadamu satu cahaya yang nyata. Maka adapun mereka yang beriman kepada Allah dan berpegang kepada Al Qur-an itu, Tuhan akan memasukkan mereka didalam rahmat dan Karunia dari padaNya, dan Ia akan memimpin mereka kejalan yang lurus yang akan menyampaikan mereka kepadaNya. (QS. Annisaa’: 175-176) Wahai ahli kitab ! Sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menerangkan kepada kamu banyak sekali dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan ia (Rasul itu) tidak memperdulikan banyak lagi kesalahan kamu. Sesungguhnya telah datang kepada kamu dari Allah Cahaya dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itu, Allah memimpin orang yang menurut keridlaanNya dijalan keselamatan, dan Kitab itu mengeluarkan mereka daripada belenggu kegelapan kepada cahaya terang dengan idzinNya, dan kitab itu memimpin mereka kejalan yang lurus. (QS. Al Maidah : 15-16) Ini suatu kitab yang kami turunkan kepada kamu, supaya engkau keluarkan manusia dari kungkungan kegelapan kepada Cayaha dengan idzin Tuhan mereka, kejalan Tuhan Yang Maha Gagah, Maha Terpuji. (QS. Ibrahim : 1) Tidak kami turunkan kepadamu Qur-an, supaya engkau jadi susah dan gelisah. Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut. Diturunkan dari Tuhan yang menjadikan bumi serta langit-langit yang tinggi. Barang siapa yang berpaling dari pada peringatan, maka adalah baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengabulkan dia pada hari Qiyamat dalam keadaan buta. Ia berkata : “Wahai Tuhanku ! Mengapakah Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulunya aku adalah orang yang melek” Ia (Allah) menjawab : “Begitulah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, tetapi engkau lupakan dia, dan begitulah hari ini engkau dilupakan. Dan begitulah Kami balas orang yang melewati batas, dan tidak ber Iman kepada ayat-ayat Tuhannya, Dan sesungguhnya ‘adzab Achirat lebih pedih dan lebih kekal. (QS. Thaha : 2-4, 124-127) Allah sediakan untuk mereka siksa yang keras, maka hendaklah kamu berbakti kepada Allah, wahai manusia yang berfikir, yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan kepadamu satu peringatan. Yaitu seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang nyata untuk mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dari belenggu gelap kepada Cahaya terang. Barang siapa ber-Iman kepada Allah dan menjalankan shaleh, pasti Dia masukkan ia kedalam syurga yang mengalir padanya sungai-sungai, dan mereka kekal didalamnya selama-lamanya, sesungguhnya Allah telah menyempurnakan karunia baginya (QS. Atthalaq : 10-11)

Ialah yang menurunkan atas hambaNya perintah yang nyata dan jelas, karena Ia hendak melepaskan kamu dari belenggu kegelapan kepada Cahaya terang, sesungguhnya Allah itu belas kasihan kepada kamu. ( QS. Al Hadied : 9 )

Rangkaian wahyu yang dikemukakan diatas, adalah fundasi-landasan untuk memahamkan apa fungsi dan arti Risalah yang kita bawa ketengah-tengah dunia untuk berbicara dan berkata dalam gelanggang dan halaman kemanusiaan.
Persoalan zaman kita bukanlah lagi berkisar pada ada atau tiadanya Tuhan, tetapi berkisar kepada Tuhan yang mana yang wajib disembah dan di tha’ati. Bukan lagi berkisar kepada perlu atau tidak perlunya agama, tetapi berkisar kepada Agama yang bagaimana yang sanggup menjawab dan memecahkan persoalan dan tuntutan kemanusiaan, agama yang dapat dijadikan anutan dan pegangan. Bukan lagi berkisar pada perlu atau tidaknya Iman dan kepercayaan, tapi berkisar kepada kepercayaan dan keyakinan yang bagaimana yang sesuai dengan Fithrah-Insaniyyah, dasar kemanusiaan yang asli dan murni. Susunan filsafat demi susunan filsafat, ternyata tidak mampu menyiram kemanusiaan dan kehidupan yang kering dan layu. Filsafat ternyata tidak mampu memecahkan rahasia dan misteria hidup, menunjukkan tujuan hidup kepada manusia. Da’wah Islam langsung datang kepada fithrah-Insaniyyah, membuka matahati dan nurani kemanusiaan. Sebagaimana mata biasa tidak mungkin dapat melihat dan menikmati warna yang indah tanpa mata yang dapat melihat, demikian pula matahati dan nurany kemanusiaan tidak akan mampu melihat dan menggunakan hikmah-keagungan Ilahy, tanpa adanya Nur dan Cahaya Wahyu dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Nur dan cahaya Wahyu tidak mungkin pula akan dapat ditangkap oleh hati yang buta dan kemanusiaan yang telah ternoda. Menyambung cahaya besar dengan cahaya kecil, menyambungkan Cahaya Ilahy dengan nurani kemanusiaan, itulah pokok tugas Da’wah Islam dalam arti yang umum. Persoalan kemanusiaan zaman kita demikian menyeluruhnya dan penuhnya. Hanyalah dengan berpedoman kepada Al-Kitab, berpedoman kepada Wahyu, Ideologi Da’wah Islam akan mampu menjawab dan memecahkan persoalan yang penuh dan menyeluruh itu. Muhammad Ali Jinnah pembangun Negara Islam Pakistan itu pernah berkata :

Bahwasannya Islam itu bukan hanya sekedar rentetan upacara ibadah belaka, tetapi adalah satu hukum, satu syari’at yang maha sempurna, mengatur peri kehidupan dan memberikan kesejahteraan kepada pribadi dan masyarakat.
Agama kita yang hanief itu adalah agama yang mahasempurna, diatasnyalah kita hidup menurut ajaran-ajarannya yang luhur, maka sukses-berhasilnya kita bergantung kepada kesediaan dan kerelaan kita mengikuti ajaran-ajaran emas ini, yang dibawa oleh Al Quranul karim dan ditafsirkan oleh Nabi yang besar dengan ucapan dan perbuatannya.

Al Ustadzul Imam Prof. Syech Muhammad Abduh dalam Muqadimah Tafsirnya (Al-Hakiem) menulis :

....... saya yakin sungguh, sebab kelumpuhan dan kelemahan kaum Muslimin adalah oleh karena mereka telah berpaling dari pimpinan Al-Qur-an. Kemuliaan mereka, kemenangan mereka dan hak milik kekuasaan mereka tidaklah akan pulih kembali kepada mereka, kecuali jika mereka telah kembali kepada pimpinan Al-Qur-an, mentha’ati petunjuknya dan memegang teguh talinya, sebagaimana yang mereka dapat lihat dan mengetahui yang demikian itu dengan jelasnya dalam ayat-ayat yang menerangkan demikian itu.

Dengarlah seorang Barat Prof. M. Thonnon ikut menyalahkan Ummat Islam tatkala dia menulis :
....... Tuan orang Timur sangat gemar meniru kami orang Barat : tetapi yang tuan tiru itu ialah perkaraperkara yang amat rendah, kerusakan-kerusakan dan hal-hal yang sama sekali tidak berguna, bahkan tuan sangat gemar meniru kami dalam perkara yang oleh orang Barat sendiri dianggap penyakit yang merusakkan tubuh, dan orang terpelajar Barat memerangi dan membasminya. Jikalau tuan ingin berkemajuan yang sebenar-benarnya dan ingin berdiri sama tinggi dengan kami, maka pertama-tama pegang teguhlah agamamu, sebab aku dapatkan Al-Qur-an itu berisi pengajaran yang amat luhur, cukup mengatur peri lahir dan bathinmu

Nabi Muhammad SAW yang telah memenangkan keyakinan Islam dan berhasil menegakkan Negara Islam yang pertama di Madinah, pada sahir hayatnya meninggalkan pesan dan wasiat kepada Muslimin :
Sesungguhnya aku tinggalkan padamu sesuatu (tuntunan) manakala kamu berpegang teguh kepadanya, maka kamu tidak akan sesat selama-lemanya, suatu ketentuan yang cukup jelas yaitu Kitab Allah dan Sunnah NabiNya

Perjuangan Nabi telah menang dan berhasil menegakkan Daulah dan Hukumah, Syaukah dan Kekuasaan yang berupa Madinatul Munawarah, namun beliau tidak meninggalkan pesan bahwa beliau meninggalkan negara sebagai warisan kepada Ummatnya, tetapi hanyalah Al-Qur-an dan dan Sunnah, harta lama pusaka bersama bagi kaum Muslimin.
Wasiat terachir itu mengajarkan kepada kita bahwa Negara, Daulah dan Hukumah, kekuasaan dibumi hanyalah natijah atau akibat dari berpegang teguhnya kaum Muslimin kepada Qur-an dan Sunnah. Kekuasaan akan lenyap, kemuliaan akan runtuh, persatuan akan binasa, Daulah dan Hukumah akan bertukar dengan perbudakan dan perhambaan, jikalau Ummat Islam telah lepas dari pimpinan Al-Quran dan Sunnah. Berabad-abad Dunia Islam dalam kungkungan dan belenggu imperialisme Nasrani. Chilafah Umaiyah, Abbasiah, Fathimiyah, Usmaniyah runtuh semuanya, dan kekuasaan direbut oleh kaum imperialis, karena kaum Muslimin telah lari dari pimpinan Al-Qur-an dan Sunnah. Keadaan yang demikian itu, telah diramalkan oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah Hadiets : Kamu sekalian senantiasa akan ditolong oleh Allah untuk mengalahkan musuh-musuh kamu, selama kamu tetap memegang teguh Sunnahku. Sekiranya kamu telah keluar dari Sunnahku, Allah akan menurunkan pemerintahan atas kamu semua dari pada musuh-musuh kamu orang yang menakutnakuti kamu. Maka tidak akan dicabut rasa takut dari hati kamu kembali sebelum mentha’ati Sunnahku.

Kekuasaan, kekuatan, kebebasan dan kemuliaan yang dijanjikan dalam Al-Qur-an kepada Ummat Islam, tidak akan diberikan selama mereka tidak berpegang teguh secara konsekwen kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.

Ummat Islam tidak akan mampu berbuat baik. membawa dan memperjuangkan ajaran Islam untuk membangun dunia dan kemanusiaan kembali. Kita dibangkitkan untuk peri-kemanusiaan. Dengan Qur-an dan Sunnah kaum Muslimin berbicara kepada manusia. Sebagai Ummatan wasathan. Suria dan Mesir dan lain-lain negara Muslimin lainnya memesankan. melaksanakan hukum dan syari’at Islam dalam lapangan kemasyarakatan dan kenegaraan. ber-amar ma’ruf dan ber-nahi munkar dimuka bumi. bangsa-bangsa Afro-Asia dan dunia umumnya kini menghadapi pembangunan dalam segala lapangan : pembangunan bangsa dan negara. Hanya itulah satu-satunya harta-kekayaan kita. Ideologi Da’wah Islam sepenuhnya harus bersumber kepada Qur-an dan Sunnah. memberi sumbangan kepada kemanusiaandan kebudayaan. Pakistan. pembangunan dunia dan kemanusiaan. Seluruh Ummat Islam memberikan harapan dan kepercayaan kepada para putera Islam yang kebetulan kini sedang memegang pemerintahan negara. agar mereka membuktikan ke Islamannya dalam praktek – kenyataan. Kemukakan ajaran Islam kepada manusia. perdamaian yang abadi dan sejati.Ummat yang sudah lepas dari pimpinan Qur-an dan Sunnah. dan zaman kita ditandai oleh kiamatnya imperialisme dan kolonialisme. Ummat Islam tidak boleh pasif dan statis membiarkan pembangunan dunia tanpa mendengar suara dan bahasa kaum Muslimin. dan lain-lain kepala dari negara Muslimin didunia mengatur kerjasama yang rapi. Pena dan pedang Syuhada yang membina Haramain. nasional dan internasional. Jikalau Ayub Khan dari Pakistan. banyak terdiri dari kaum Muslimin yang terikat oleh ‘Aqidah yang satu dan keyakinan yang serupa. . Setelah bebas dan lepasnya bangsa-bangsa Afro-Asia dari belenggu imperialisme Barat. tidak berhak memiliki kemuliaan dan kebesaran. milik pusaka kita. Ummat Risalah kita bertanggung jawab atas jalan dan perkembangan dunia dan kemanusiaan. agar diatas bumi yang telah merdeka itu tegak Daulah dan Hukumah Islamiyah. Ummat penengah. membangun dunia dan kemanusiaan yang bersalam dan berbahagia. Negara dan bangsa-bangsa Afro-Asia yang kini bergolak mengusir penjajah. Kita harus aktif menyumbangkan harta kita kepada kemanusiaan. yalah Qur-an dan Sunnah. Amir Faisal dari Haramain. tidak berhak mewarisi bumi sebagai chalifah. jikalau Ummat Islam tidak berpedoman kepada Qur-an dan Sunnah. menyumbangkan apa yang kita miliki untuk membangun dunia kembali diatas puing reruntuhan dunia lama. Sebagai Muslim dia menerima pesan – amanat dari Tuhan Yang Maha Kuasa untuk membawa dan melaksanakan ajaran dan syari’at Islam didaerah kekuasaannya. Gempitakan suara Islam dalam segala pertemuan. Tidak ada alasan yang dapat menghalangi mereka untuk mengadakan kerjasama dalam menghadapi masalah dunia dan manusia. Kaum Muslimin seantero nation harus aktif memberikan sumbangan yang positif untuk membangun dunia dan kemanusiaan itu. ekonomi dan politik. ikut memberikan sumbangannya untuk membangun bangsa dan negara. wahai. Dienul Islam sebagai Undang-undang Ilahy dilapangan syachsiyyah dan ijtima’iyyah. sosial dan masyarakat. menuntut muthlak-perlu adanya Daulah dan Hukumah Islamiyah itu. Karena karunia Ilahy ummat Islam didunia sekarang banyak yang memegang kekuasaan dalam negara-negara yang baru merdeka. penguasa atasnya. dalam waktu yang dekat Dunia Islam akan beroleh kembali kedudukannya sebagai pemimpin dan penengah didunia.

Bukankah Negara Sa’udi Arabia yang pimpinannya sekarang (1964) ditangan Amir Faisal adalah jerih payah dari perjuangan besar Syechul Islam Muhammad bin Abdulwahhab. yang berhak memerintah dan menegah manusia. Dalam bidang ini Mujahid Da’wah (Muballigh Islam) dapat memberikan darmabaktinya. Menegakkan Qur-an dan Sunnah. (QS. Kekuasaan itu yang berwenang untuk melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. untuk ‘Izzul Islam wal Muslimin. adalah dengan kesadaran. menggunakan dia menjadi asas pembangunan untuk kebahagiaan rakyat. tetapi untuk membangun dunia baru yang bebas dari perbudakan dan perhambaan. seperti yang diamanatkan oleh Piagam Jakarta yang terkenal itu. Kewajiban moril karena kita adalah kaum Muslimin. Kamu terimalah Kitab yang Aku berikan kepada kamu dengan kekuatan. hakum dan syari’at dan syari’at Islamiyah tidak berkaki dan bertahan. Adalah kewajiban Ulama dan Sarjana Islam untuk memberi bekal dan sumbangan kepada para pemimpin negara diseluruh dunia. Ajaran Islam yang murni dan asli (Qur-an dan Sunnah) bukan saja berguna untuk nation building kita. hukum dan syari’at Islam memerlukan kekuasaan duniawi (weldlijke macht). Di Indonesia warganegaranya tidak kurang dari 95% yang beragama Islam. seperti satunya jasmani dan ruhani. Kamu terimalah Kitab yang Aku berikan kepada kamu dengan kekuatan dan dengarkanlah betul-betul. sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapinya pula. bahwa mereka adalah pendukung Qur-an dan Sunnah itu. Al Baqarah : 63. agar mereka menggunakan kedudukan dan kekuasaan mereka untuk kejayaan Islam dan kaum Muslimin. tugas pokok dari setiap Mu’min yang memahami fungsi dan misinya didunia. 93 . . menciptakan mashlahatuljama’ah. tidak bisa berjalan sendiri. Ber-Da’wah kepada para Pemimpin Negara supaya dengan kekuasaan dan syaukah yang ditangan mereka. Qur-an dan Hadits. mempunyai kewajiban moril dan formil untuk menjalankan syari’at Islam (Syar’iyyah Islamiyah). justru Ummat Islam adalah golongan mayorita dinegeri ini. bahagia bersama. dan formil konstitusionil karena Piagam Jakarta tidak boleh dipisahkan dengan UUD 45. Jikalau kita menyebut beberapa kepala Negara diatas agar merintis perjuangan Qur-an dan Sunnah dengan kuasa dan wewenang yang ada ditangannya.Qur-an dan Hadits. pujangga dan sarjana Islam yang masyhur Muhammad Iqbal ? Nation building yang kini kita jadikan thema pokok dalam segala kegiatan. tidak bisa dipisahkan dengan gerakan reformasi dan modernisasi dalam batang tubuhnya Ummat Islam sendiri. dan ingatlah apa yang tersebut didalamnya supaya kamu menjadi orang Taqwa. yang memperjuangkan Qur-an dan Sunnah itu dengan pena dan pedang ? Bukankah Negara Pakistan tidak bisa dipisahkan dengan peletak dasar yang pertama. Ayub Khan dan lain-lain putera Islam yang memegang kekuasaan negara. jiwa dan jasad. terutama di Afro-Asia yang para Umara’nya banyak terdiri dari kaum Muslimin. Islam dipakai untuk membangun masyarakat dan negara. Nation Building dan reformisme-modernisme Islam pada hakekatnya adalah satu. Para penjabat Negara dari pusat sampai ke Rukun Tetangga terdiri dari sebagian besar Ummat Islam. Al A’raf : 17) Ayat-ayat diatas secara langsung juga berbicara kepada Amir Faisal. kedua-duanya memberi landasan kebijaksanaan untuk melakukan itu.

kesenjangan sosial. Rumus Ideologi Da’wah yang bersumber kepada Qur-an dan Sunnah. yaitu sisi kebahasaan dan sisi peristilahan. pemahaman tentang ke-Islaman ummat Islam di Indonesia sangat variatif. Negara dan Dunia. syirik. NAAN METODOLOGI Sejak kedatangan Islam abad ke-13 hingga saat ini. karena dalam masalah itu tidak serta merta hanya masalah pelacuran tetapi ada masalah yang lauin yaitu ketenaga kerjaan. ataukah diperlukan standart umum untuk bisa mengetahui keadaan yang variatif seperti ini. B. dan dua ajaran pokok yaitu keesaan Allah dan kesatuan atau persaudaraan ummat manusia menjadi bukti nyata. Ummat yang tidak berpegang kepada Qur-an dan Sunnah (Ummat Islam) tidak mempunyai apa-apa yang dapat disumbangkannya kepada Dunia dan Manusia. mengedalikan kemanusiaan. membuat Negara dan Dunia ini menjadi bahagia dan bercahaya buat semuanya. Padahal tidak bisa mengatasi persoalan pelacuran menghancurkan tempatnya saja.Islam yang tidak bersumber kepada Qur-an dan Sunnah. Keadaan ini juga terjadi pada negara lain. hanya itu sajalah yang dapat kita ketengahkan kepada manusia. misalkan ada orang yang menguasi ilmu Fiqh tetapi tidak memahami ilmu-ilmu yang lain setiap ada masalah jawabannya selalu ilmu fiqh yang diberikan. struktur sosial. tidak mungkin dapat memberikan sahamnya untuk nation building dan character building. Dari sisi peristilahan dalam memberi pengertian para ilmuwan beragama dalam memberi . BEBERAPA PENDAPAT TENTANG ISLAM Ada dua sisi yang dapat digunakan untuk memahami pengertian Agama Islam. Adanya sejumlah orang yang pengetahuan tentang ke-Islamannya cukup luas dan mendalam. Kemudian Aslama berserah diri masuk dalam kedamaian. sistem perekonomian dan sebagainya. sebagai pilihan dan alternatif untuk mengembangkan kehidupan. malah tidak berhak berbicara atas nama Ummat Islam. MAULANA MUHAMMAD ALI : Islam adalah agama perdamaian. Kebahasaan Islam dari bahasa Arab salima selamat. sentosa dan damai. tidak akan mampuh memberikan sumbangannya bagi pembangunan Bangsa. Dari seorang fakir-miskin tak ada kewajiban zakat yang harus dibayarnya. Gejala seperti ini apakah memang sudah alami yang menjadi sebuah kenyataan untuk bisa diambil hikmahnya. Sebagai contoh. bid’ah dan sebagainya. namun tidak terkoordinasi dan tidak tersusun secara sistemik. Karena orang tidak menerima Islam secara sistemik maka antara guru satu dengan yang lainnya tidak akan pernah ketemu karena tidak sebuah silabus yang mengacu menjadi satu kesatuan. Sehingga sesuatu yang variatif ini tidak keluar dari ajaran yang tekandung dalam al-Qur’an dan As-Sunnah sehingga tidak akan keluar dari keabsahannya. NUR CHOLIS MAJID : Sikap pasrah kepada Tuhan adalah merupakan hakikat dari pengertian islam. yang penuh dengan churafat. malah dia yang berhak menerima zakat. Kalau kepada mereka tentang bagaimana cara mengatasi masalah pelacuran maka yang ada hanya bagaimana menghancurkan tempat pelacuran tersebut. Islam yang sudah dikebiri dan dilucuti oleh seribu satu penyakit yang ditumbuhkan oleh Ummat Islam sendiri.

Geraknyapun menjadi lamban. Pengertian Islam menurut Maulana Ali dapat dipahami dari Firman Allah surat Al-Baqorah ayat 208 : ٌ ْ ِ ّ ّ ُ َ ْ ُ َ ُ ِّ ِ َ ْ ّ ِ َ ُ ُ ْ ُ ِ َّ َ َ َ ّ َ ِ ّْ ‫ياأيهاالذين أمنواادخلوا فى السلم كافة ولتتبعوا خطوات الشيطان انه لكم عدو مبين‬ ِ ْ ُُ ْ ْ ُ َ َ ْ ِ ّ َ ّ َ َ “Hai Orang-orang yang beriman. Setiap pemikir ketika melontarkan gagasan atau buah pikirannya tidak lepas oleh situasi lingkungan yang dihadapi . sufisme dan filsafat saja dengan meninggalkan . HARUN NASUTION: Islam sebagai agama adalah agama yang ajaran-ajaranya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui nabi Muhammad sebagai rasul. Pemikiran Islam dapat diibaratkan dengan sebagai sungai yang besar dan panjang.pengertian antara lain adalah : Ahmad Abdullah Al-Masdoosi (1962) : Islam adalah Kaidah hidup yang diturunkan kepada manusia sejak manusia digelarkan ke muka bumi. maka kajian pemikiran Islam hanya dibagi dalam bidang teologi (kalam). Jika teori ini benar. makna dasarnya adalah damai atau tidak mengganggu. Setiap pemikiran yang kemudian didukung oleh sekelompok orang. Wajar jika sumber mata airnya yang semula bening dan jernih serta mengalir pada alur sempit dan deras dalam perjalanannya menuju muara kian melebar. ORIENTALIS : islam sering di identikkan dengan Mohammadanism dan Mohammedan. AKIBAT YANG TIMBUL DARI PEMAHAMAN ISLAM Perjalanan Islam samapi kini telah melampui kurun waktu lima belas abad dan dipeluk oleh manusia diseluruh penjuru dunia. Menurut Sosiologi pemikiran teologi dan filosofi selalu terkait dengan politik atau kemasyarakatan. Peristilahan ini disamakan pada umumnya agama diluar Islam yang namanya disandarkan kepada nama pendirinya. C. Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya satu segi. tetapi mengenai beberapa segi dari kehidupan manusia. satu kaidah yang memuat tuntunan yang jelas dan lengkap mengenai aspek hidup manusia baik spritual maupun material. demikian juga sebaliknya. manusia dengan alam semesta. idenya muncul dan nafasnya dihembuskan oleh semangat tokoh pemikir. masuklah kamu ke dalam Kedamaian/Islam secara menyeluruh dan jangan kamu ikuti langkah-langkah Setan. pandangan hidup dan sikap politiknya. dan terbina dalam bentuknya terakhir dan sempurna dalam al-Qur’an yang suci yang diwahyukan Tuhan Kepada Nabi-Nya yang terakhir yakni Nabi Muhammad Ibnu Abdullah. berliku-liku dan bercabang-cabang. manusia dengan manusia. Sesungguhnya setan musuh yang nyata bagimu” Kata ‫ السـلم‬yang dalam ayat diatas diterjemahkan kedamaian atas Islam. Airnya kian pekat karena mengangkut pula lumpur dan sampah. Dari definisi itu dapat disimpulkan bahwa Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada manusia melalui Rasul-rasul-Nya berisi hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah.

maka yang akan terlihat hanya satu dimensi saja dari gejalanya yang bersegi banyak. Pada intinya metode ini adalah metode komparasi (perbandingan). Dengan demikian untuk menghasilkan Islam secara utuh dan menyeluruh perlu menatapnya dari berbagai situasi yang mengitari disekitar kalahiran Islam tersebut serta tokoh-tokoh yang mengembangkannya. Untuk itu dalam memahami dan menelaah ajaran Islam yang ada dalam buku-buku ilmiah terkadang perlu kita cermati apakah ajaran ini persial atau apakah sudah komprehensif. Mempelajari Islam dengan metode ilmiah saja tidak cukup. Pencampuradukkan antara Islam sebagai agama dan Islam sebagai rangka historis bagi pengembangan budaya dan peradaban telah dilanggengkan dan pernah berkembang lebih kompleks hingga hari ini. Memahami Islam secara menyeluruh adalah penting walaupun tidak secara detail. Namun demikian. Ali Syariati juga menawarkan cara memahami Islam melalui pendekatan aliran. d. namun tidak cukup apabila kita memahami secara keseluruhan. NASRUDDIN RAZAK metode memahami Islam sama dengan Ali Syariati menawarkan metode pemahaman Islam secara menyeluruh. Mempelajari kepribadian Rasul Islam dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh besar pembahruan yang pernah hidup dalam sejarah. Selain dengan menggunakan pendekatan komparasi. Tugas intelektual hari ini ialah mempelajari memahami Islam sebagai aliran pemikiran yang membangkitkan kehidupan manusia. perseorangan maupun masyarakat. ada berbagai cara memahami Islam a. c. karya Ali Syariati dijumpai uraian singkat tentang metode memahami yang pada intinya Islam harus di lihat dari berbagai dimensi. karena metode dan pendekatan dalam memahami Islam yang demikian itu masih perlu dilengkapi dengan metode yang bersifat teologis dan normatif.ketatanegaraan(politik) dan hukum. Dalam buku yang berjudul Tentang Sosiologi Islam. Dengan mengenal Allah dan membandingkan-Nya dengan sesembahan agama lain b. D. Secara akademis suatu perbandingan memerlukan persyaratan tertentu. Perbandingan menghendaki obyektifitas. masyarakat-masyarakat Islam harus dikaji dalam dan untuk diri sendiri. BEBERAPA METODE MEMAHAMI ISLAM Kami mencoba menelusuri metode memahami Islam sepanjang yang dapat dijumpai dari berbagai literaratur ke-islaman. Dengan mempelajari Kitab suci Al-Qur’an dan membandingkan dengan kitab-kitab samawi (atau kitab-kitab yang dikatakan sebagai samawi) lainnya. Dalam hubungan ini ia mengatakan jika kita meninjau Islam dari satu sudut pandangan saja. Begitulah cara paling minimal untuk memahami agama paling besar sekarang ini agar menjadi pemeluk agama yang mantap dan untuk menumbuhkan sikap . Mungkin kita berhasil melihatnya secara tepat. Ali Syariati lebih lanjut mengatakan. Mempelajari tokoh-tokoh Islam terkemuka dan membandingkan tokoh-tokoh utama agama maupun aliran-aliran pemikiran lain. menjadi sebuah kajian yang tidak lengkap.

Metode ini juga untuk memahami agama Islam. Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan teologi normatif yang ada dalam al-Qur’an. empiris dan sosiologis yang ada di masyarakat. Selain itu Mukti Ali juga mengajukan pendapat tentang metode memahami Islam sebagaimana yang dikemukakan oleh Ali Syariati yang menekankan pentingnya melihat Islam secara menyeluruh. yakni bercampur dengan hal-hal yang tidak islami jauh dari ajaran islam yang murni. Islam harus dipelajari dari sumber aslinya Al-Qur’an dan hadits. yaitu pemahaman Islam dipahami secara komprehensif. Islam seharusnya dipahami secara bulat. sekalipun kita melihatnya itu betul. Metode sintesis yaitu suatu cara memahami Islam yang memadukan antara metode ilmiah dengan segala cirinya yang rasional obyektif. Pertama metode Komparasi. tidak dengan cara persial artinya ia dipelajari secara menyeluruh sebagai satu kesatuan yang bulat tidak secara sebagian saja. juga agama-agama lain. Kedua. lalu dibandingkan dengan topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. Mempelajari Islam dengan cara demikian akan menjadikan orang tersebut sebagai pemeluk Islam yang sinkretisme. Dalam hubungan ini Mukti Ali mengatakan. yaitu 1)aspek ketuhanan 2)aspek kenabian 3)aspek kitab suci dan 4)aspek keadaan sewaktu munculnya nabi dan orang-orang yang didakwahinya serta individu-individu terpilih yang dihasilkan oleh agama itu. 3. dan apa yang berasal dari Tuhan Mutlak benar. 4. dengan demikian akan dihasilkan pemahaman Islam yang obyektif dan utuh. yaitu suatu cara memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama Islam tersebut dengan agama lainnya. 2. Metode ini banyak ahli sosiologi dianggap obyentif berisi klasifikasi topik dan tema sesuai dengan tipenya. maka kita hanya akan melihat satu dimensi dari fenomena-fenomena yang multi faset (terdiri dari banyak segi). Hal ini didasarkan pada alasan. Islam perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar dan sarjana-sarjana Islam. baru kemudian dihubungkan dengan kenyataan historis. Metode lain yang diajukan Mukti Ali adalah metode tipologi. Untuk memahami agama Islam secara benar Nasruddin Razak mengajukan empat cara : 1. atau melalui pengenalan dari sumber kitab-kitab fiqh dan tasawuf yang semangatnya sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman.yang hormat bagi pemeluk agama lainnya. kritis dan seterusnya dengan metode teologis normatif. maka agamapun mutlak benar. Islam harus di pelajari dengan integral. Memahami Islam secara persial akan membahayakan. Setelah itu dilanjutkan dengan melihat agama sebagai norma ajaran yang berkaitan dengan aspek kehidupan manusia yang secara . menimbulkan skeptis. apabila kita melihat Islam hanya dari satu segi saja. karena pada umumnya mereka memiliki pemahaman Islam yang baik yaitu pemahaman yang lahir dari perpaduan ilmu yang dalam terhadap ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah dengan pengalaman yang indah dari praktek ibadah yang dilakukan setiap hari. Kekeliruan memahami Islam. karena agama bersal dari Tuhan. Dari beberapa metode diatas kita melihat bahwa metode yang dapat digunakan untuk memahami Islam secara garis besar ada dua macam. Metode ilmiah digunakan untuk memahami Islam yang terkandung dalam kitab suci. Melalui metode teologis normatif ini seseorang memulai dari meyakini Islam sebagai agama yang mutlak benar. karena orang mengenalnya dari sebagian ulama dan pemeluknya yang telah jauh dari bimbingan Al-Qur’an dan Al-Sunah. kita dapat mengindentifikasi lima aspek dari ciri yang sama dari agama lain. bimbang dan penuh keraguan.

Wahyu perlu untuk mengatur masyarakat manusia dan memang demikian pendapat kaun Asy’ariah. Ali Syariati dalam bukunya Tentang Sosiologi Islam menguraikan secara singkat tentang metode memahami Islam yang pada intinya bahwa Islam harus dilihat dari berbagai dimensi. salah satu fungsi wahyu ialah member tuntunan kepada manusia untuk mengatur hidupnya di dunia. sedangkan metode ilmiah yang dinilai sebagai tergolong muda usianya ini dapat dihasilkan kemampuan menerapkan Islam yang diyakini dan dicintainya itu dalam kenyataan hidup serta memberi jawaban terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi manusia. ← PENGERTIAN FILSAFAT ISLAM | TASAWUF → Rating tidak diperbolehkan • • • • • • • • • • Melaporkan penyalahgunaan Bagikan Paham Teologis-Normatif dalam Islam tak dapat terlepas dari pemahaman mengenai kondisi obyektif masyarakat. kokoh dan militan pada Islam. misalnya aspek lingustik dan . Hal ini memang dapat dapat dibenarkan. melainkan harus melalui wahyu yang disampaikan oleh Tuhan. Latar belakang penyebab lain timbulnya paham Teologis-Normatif adalah karena berkembang pesatnya paham teologi teo-centris yang berkembang di dunia Islam. bahwa segala sesuatu dalam beragama tak dapat selalu diisolaikan dengan akal atau rasional manusia. yakni teologi Asy’ariyah. Buktinya ialah Alquran yang memiliki banyak dimensi. seperti sebab pertama dan terakhir segala sesuatu. Sehingga cara befikir teologis disini berusaha mencari jawaban absolut dari masalah-masalah yang dihadapi. dalam kaitannya dengan peranan akal Asy’ariyah berpendapat bahwa kewajiban mengetahui Tuhan. Faktor lainnya dari latar belakang paham Teologis-Normatif ialah karena sikap yang kurang percaya kepada pendapat akal manusia. Sehingga pada pendapat akal yang salah dapat menyesatkan atau menyalahkan manusia dalam berbagai bidang kehidupannya. kewajiban mengetahui baik dan jahat serta kewajiban mengetahui yang baik dan menjauhi yang buruk tidak dapat dicapai oleh akal. METODE MEMAHAMI ISLAM Oleh Rustina N Untuk memahami Islam secara komprehensi dan tepat diperlukan metode. Harun Nasution dalam bukunya teologi Islam. Menurutnya. Keyakinan pada wahyu inilah yang menjadi salah satu faktor timbulnya paham TeologisNormatif ini berkembang. Karena akal yang diberi oleh Tuhan punya keterbatasan dalam membuka hijabNya. maka yang akan terlihat hanya satu dimensi saja dari gejalanya yang bersegi banyak.keseluruhan diyakini amat ideal. Berikut ini beberapa metode yang ditawarkan oleh ilmuwan muslim yang dapat membantu seorang muslim memahami agamanya. Hal ini dikarenakan pendapat akal manusia kadang melakukan kesalahan baik yang disengaja maupun tidak. Mungkin pandangan kita itu akan tepat. Al-Dawwani pernah berkata. Namun sampai sekarang kita belum tahu dimana batasan akal yang kita miliki. Melalui metode teologi normatif yang tergolong tua usianya ini dapat dihasilkan keyakinan dan kecintaan yang kuat. namun tidak cukup bila kita ingin memahaminya secara keseluruhan. jika Islam ditinjau dari satu sudut pandang saja.

dan sosiologis yang ada di masyarakat. Keempat. mempelajari tokohtokoh Islam terkemuka dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh utama agama atau aliran-aliran pemikiran lain. Islam perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar. atau hanya dari kitab-kitab filih dan tasawuf. Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan normatif teologis yang ada dalam Alquran lalu dihubungkan dengan kenyataan historis. yaitu metode memahami islam secara menyeluruh. Selanjutnya terdapat pula metode memahami Islam yang dikemukakan oleh Nasruddin Razak yang hampir sama dengan konsep Ali Syariati. artinya ia dipelajari secara menyeluruh sebagai satu kesatuan yang bulat tidak secara sebagian saja. Dalam hal agama Islam. kaum zuamaa dan sarjana-sarjana Islam karena mereka pada umumnya memiliki pemahaman Islam yang baik yang lahir dari perpaduan ilmu yang dalam terhadap Alquran dan Sunnah serta praktek ibadah yang dilakukan setiap hari. obyektif yang selanjutnya disebut pendekatan sintesis. empiris. serta agama lain kita dapat menidentifikasi lima aspek atau ciri dari agama itu. yakni para intelektual muslim memikul tugas dan amanah untuk memahami Islam. Ia mengajukan empat cara. yaitu aspek ketuhanan. mempelajari kepribadian Rasul Islam dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh besar pembaharuan yang pernah hidup dalam sejarah. islam harus dipelajari secara integral. kedua. Metode perbandingan atau komparasi dengan cara membandingkan Alquran dengan kitab-kitab samawi lainnya. pertama. islam harus dipelajari dari sumbernya yang asli. ketiga.sastra yang telah banyak dipelajari. lalu dibandingkan dengan topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. yaitu. dapat digunakan metode ilmiah dengan ciri-ciri rasional. Ali Syariati menawarkan berbagai cara memahami Islam yang pada intinya adalah melalui metode perbandingan serta melalui pendekatan aliran. aspek kenabian. Sementara dimensi manusiawinya yang mengandung aspek historis. Amin Abdullah dan Mukti Ali juga menawarkan dua metode memahami Islam. Mukti Ali melihat bahwa untuk melihat Islam sebagai sebuah agama dapat digunakan metode doktriner dan untuk melihat Islam sebagai sebuah disiplin ilmu. Demikian juga aspek-aspek filosofis dan keimanan Alquran yang telah banyak dikaji oleh filosof dan teolog. sosiologis dan psikologis belum banyak dikaji. bukan hanya dari sebagian ulama dan pemeluknya. lalu dibandingkan dengan aspek dan ciri yang sama dari agama lain. Memahami Islam dengan cara keempat sebagaimana disebutkan di atas sangat diperlukan dalam upaya menunjukkan peran sosial dan kemanusiaan dari ajaran Islam itu sendiri. yaitu mengklasifikasi topik dan tema sesuai dengan tipenya. empiris. aspek keadaan sewaktu munculnya Nabi dan orang-orang yang . empiris. Aspek-aspek tersebut seharusnya dikaji untuk menghasilkan pemahaman Islam secara menyeluruh. Adapun cara kedua dalam memahami Islam menurut Ali Syariati adalah melalui pendekatan aliran. yaitu Alquran dan al-Sunnah. Secara teknis. aspek kitab suci. yaitu bahwa untuk melihat Islam sebagai sebuah disiplin ilmu (islamic studies) dapat digunakan pendekatan ilmiah yang ciri-cirinya rasional. tidak dengan cara parsial. mengkajinya sesuai dengan bidangnya masingmasing untuk menumbuhkan pemahaman yang segar tentang Islam demi masa depan ummat manusia yang lebih baik dengan berpedoman pada Alquran dan Sunnah. Metode lain untuk memahami Islam yang diajukan Mukti Ali adalah metode tipologi.obyektif Sedangkan untuk melihat Islam sebagai agama dapat digunakan pendekatan normatif teologis.

Cet. Selanjutnya untuk memahami Islam dapat pula dilakukan dengan memahami kitab sucinya dan mempelajari pribadi Muhammad bin Abdullah. empiris. dan militan pada Islam. Kedua metode sintesis. kokoh. Mukti Ali : PT. Jakarta: Raja Grafindo Persada. • • • • • • • • METODE MEMAHAMI AGAMA ISLAM Judul Buku Penulis Penerbit Tahun Terbit Tebal : Metode Memahami Agama Islam : H. sehingga diperlukan pendekatan baru yang harus terus digali oleh pembaharu. dan sosiologis. Pertama. Melalui metode teologis normatif yang tergolong tua usianya dapat dihasilkan keyakinan dan kecintaan yang kuat. Setelah itu dilanjutkan dengan melihat agama sebagaimmana norma ajaran yang berkaitan dengan dengan berbagai aspek kehidupan manusia yang secara keseluruhan diyakini amat ideal. Metode teologis normatif dimulai dari keyakinan bahwa Islam sebagai agama mutlak benar dengan alasan karena agama berasal dari Tuhan dan apa yang berasal dari Tuhan mutlak benar. sedangkan metode teologis normatif digunakan untuk memahmi Islam yang terkandung dalam kitab suci. Metode ilmiah digunakan untuk memahami Islam yang nampak dalam kenyataan historis. metode komparasi. Metodologi Studi Islam. kritis dengan metode teologis normatif. maka agama pun mutlak benar. yaitu suatu cara memahami Islam yang memadukan antara metode ilmiah dengan segala cirinya yang rasional. (Abuddin Nata.didakwahi serta individu-individu terpilih yang dihasilkan oleh agama itu. sedangkan dengan metode ilmiah yang nilai tergolong muda usianya dapat dihasilkan kemampuan menerapkan Islam yang diyakini dan dicintainya dalam kenyataan hidup serta memberi jawaban terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi manusia. Metode-metode yang digunakan untuk memahi Islam itu suatu saat mungkin dipandang tidak cukup lagi. IV. serta meneliti suasana dan situasi di mana Nabi Muhammad bangkit. 104-115). yaitu suatu cara memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama Islam dengan agama lain sehingga dihasilkan pemahaman Islam yang obyektif dan utuh. obyektif. Bulan Bintang : 1991 : xvi + 233 halaman (termasuk biografi singkat) . Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa secara garis besar ada dua metode yang dapat ditempuh untuk memahami Islam. h.empiris. A.

27) • Demikian pula halnya ketika mengkaji tentang Islam. 31) • Walaupun demikian. psikologis. Ia lalu mengusulkan bahwa sistem pengajaran dan pendidikan yang paling baik di Indonesia adalah madrasah dalam pesantren. sistematis. Pertanyaannya adalah bagaimana metode yang baik itu? Orang-orang Barat yang mengkaji Islam menggunakan metode naturalistik. tidak subjektif. ilmiah. (hlm. tetapi mereka sebenarnya belum mengerti Islam secara utuh. Metode kognitif yang betul untuk mencari kebenaran adalah lebih penting daripada filsafat. tetapi tidak baik dalam pengajarannya. (hlm. Dengan metodologi itu. sains. dan lain-lain. yang membahas tentang "Ulama dan Pesantren" Mukti Ali menerangkan ciri-ciri pesantren kemudian menyatakan bahwa sistem pesantren baik dalam pendidikannya.• Persoalan metodologi selalu menjadi perhatian utama para ilmuwan atau peneliti ketika membahas suatu objek kajian. v) • Pada bagian kedua bukunya. Akibatnya adalah penelitiannya menarik. tidak emosional. Islam dapat dipahami secara objektif. Mereka hanya mengetahui kulit luarnya agama Islam. Mukti Ali mengatakan bahwa metodologi adalah masalah yang sangat penting dalam sejarah pertumbuhan ilmu. ia tetap mengkritik cara Barat (orientalis) dalam mempelajari Islam yang hanya mendekati Islam dengan metode ilmiah saja. hanya hanya mempunyai bakat. Mukti Ali menganjurkan para peneliti Muslim untuk menggunakannya. benar. • Pada bagian pertama bukunya ini. (hlm. Hal ini diperlukan untuk menghasilkan penelitian yang seobjektif mungkin dan seilmiah mungkin. diperlukan suatu metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. 32) . (hlm. atau sosiologis.

mempelajari hasil karyanya dan mempelajari biografinya. Akibatnya. apa yang dia pelajari. bagaimana keluarganya. yang sama sekali tidak dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan hidup dalam masyarakat.• Para ulama pun mendapatkan kritik dari guru besar Ilmu Perbandingan Agama. Menurutnya. kejadian- . Untuk memahami manusia. dalam lingkungan apa ia dibesarkan. Seseorang yang ingin mengetahui orang itu lebih jauh. (hlm. Hal ini dilakukan untuk mengetahui ide dan kepercayaannya sebagai pendahuluan yang harus dilakukan untuk mengetahui orang tersebut. yaitu mempelajari biografinya. • Adapun cara pertama. (hlm. maka ada dua cara yang harus ditempuh yaitu. Karya-karya yang dimaksudkan di sini adalah karangan-karangan intelektualnya atau karya-karya ilmiahnya. Hal-hal yang berkaitan dengan itu adalah di mana tempat lahir. Ia lalu menawarkan pendekatan baru dalam memahami Islam yaitu pendekatan ilmiah-cumdoktriner atau dengan kata lain metode sintesis. rasnya. seseorang harus mempelajari dan meneliti hasil karyanya. 3334) • Cara pertama dianggap tidak mencukupi. maka ia harus menenpuh cara yang kedua. kapan ia lahir. sukunya. siapa saja guru-gurunya. di mana ia belajar. para ulama sudah terbiasa memahami ajaran Islam dengan cara doktriner dan dogmatis. bagaimana kehidupan pendidikan yang diberikan kepadanya. teori-teori yang digunakannya. negerinya. 32) • Mukti Ali mengajukan metode Ali Syari'ati dalam memahami agama Islam. berbagai pidato dan kuliahnya. bagaimana hidupnya ketika masih kecil. penafsirannya tidak dapat diterapkan dalam masyarakat. buku-buku yang ditulisnya. sehingga timbul kesan bahwa Islam sudah ketinggalan zaman dan sudah tidak sesuai dengan alam pembangunan ini. IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini. Ali Syari'ati membandingkan agama dengan manusia.

(hlm. dan 5) pribadi-pribadi pilihan hasil didikan agama tersebut. (hlm. 3) Kitab. (hlm. 38-39). (hlm. Mukti Ali juga menawarkan metode lain dalam memahami Islam. 5) sejarah orang-orang yang berjuang pertama kali bersama Nabi saw. yaitu mempelajari tentang perkembangan Islam sejak awal misi Nabi Muhammad saw. Kelima aspek tersebut adalah 1) Tuhan. maka setidaknya ada lima aspek atau ciri yang bisa diidentifikasi pada semua agama. 2) al-Qur'an sebagai kitab suci agama Islam (hlm. 39). Pendekatan ini dianggap banyak digunakan oleh para sarjana Barat dalam memahami manusia. Cara kerja metode ini adalah mengklasifikasikan topik dan tema sesuai dengan tipenya. maka yang dipelajari darinya adalah pertama. dan ciri-ciri Tuhan yang dibahas dalam Islam (hlm. Kedua. gambaran. 38). 1) Allah swt. 4) sejarah bangsa Arab ketika Nabi Muhammad saw. 3) pribadi Rasulullah saw. yang berkaitan dengan tipe. 37-38) • Jika metode di atas diterapkan pada Islam. Metode yang dimaksud adalah metode tipologi. 34) • Selain metode di atas. Abu Bakar ash-Shiddiq . 34) • Apabila metode di atas diterapkan pada agama Islam. konsep. seperti Khadijah (mewakili wanita). pelajaran tentang sejarah Islam. apa saja kegagalan yang ia alami dan apa saja kesuksesan yang ia dapatkan? (hlm. kemudian dibandingkan dengan topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. hingga sekarang. pertama kali muncul (hlm.kejadian penting apa saja yang pernah dialami dalam kehidupannya. 37) • Apabila metode ini diterapkan pada agama. maka yang harus dipelajari adalah. 40). 4) keadaan sekitar ketika munculnya sang nabi dan keadaan orangorang yang didakwahi. al-Quran yang merupakan himpunan ide dan output ilmiah dan literer yang terkenal dengan Islam. 2) Nabi.

1397/ 1977). 4) Abu Bakar Jabir al-Jazairi. Beberapa contoh tersebut dibagi ke dalam tiga kelompok sesuai dengan tujuan dan sasaran penulisannya.(mewakili orang kaya yang terhormat). 575 halaman (al-Magrib: dar at-Tiba'ah al-Haditsah. Bilal bin Rabah (mewakili budak yang dianggap hina dina oleh kaumnya kala itu). cetakan . Towards Understanding Islam. Beberapa contoh buku tersebut adalah. 1) Harun Nasution. tetapi Muhammadiyah sendiri belum menghasilkan karya tentang Islam yang bersumber dari al-Qur'an dan Sunnah. saat ini diperlukan pengetahuan tentang ajaran Islam yang komprehensif atau menyeluruh yang bersumber dari al-Qur'an dan Sunnah. Minhajul Muslim. The Religion of Islam. 1967). 46-47) • Kelompok kedua adalah buku yang ditujukan tidak kepada kelompok khusus. Pelajaran Agama Islam. dan Ijtihad sebagai metode pendekatan yang digunakan. 45) • Mukti Ali kemudian memberikan beberapa contoh buku yang membahas tentang Islam secara komprehensif. 1) Hamka. 1978). Padahal. Qatar: Dar al-Uloom. • Kelompok pertama adalah buku-buku yang sengaja ditujukan kepada kelompok khusus seperti khusus ditujukan kepada non-muslim atau ditujukan kepada para intelektual. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. (42) • Pada bagian ketiga bukunya. (hlm. cetakan kesebelas. 260 dan 244 halaman (Doha. Galwash. 1973). cetakan kedua (Jakarta: UI Press. dua jilid. Mukti Ali mengkritik Muhammadiyah yang menggunakan al-Qur'an. Sunnah. 3) Ahmad A. Ali bin Abi Thalib (mewakili pemuda). dua jilid. (hlm. Beberapa contoh kelompok ini adalah. 126 dan 122 halaman. 179 halaman (lahore: Islamic Publication. cetakan ketiga. 2) Abu A'la Maududi.

408 halaman (Jakarta: Bulan Bintang. 1966).kelima. sehingga sulit untuk melacak referensi yang digunakan penulis. dan ketiga yang membahas metode yang dimaksudkan tersebut. 47) • Kelompok ketiga adalah buku yang mempunyai ciri khusus yaitu berusaha untuk mempertahan Islam dari serangan-serangan dan berbagai tuduhan orang-orang Barat. Buku ini tidak dilengkapi dengan indeks. tetapi ternyata hanya bagian pertama. Kata pengantar dari tokoh lain sangat penting untuk informasi awal dari suatu buku agar tidak terkesan subjektif. kedua. Contoh buku tersebut adalah Maulana Muhammad Ali. selainnya lebih berbicara tentang sejarah Muhammadiyah dan pendirinya. The Religion of Islam. t. • 5. sehingga untuk mencari atau memeriksa kata-kata yang dibutuhkan secara cepat. 47) • • Adapun kekurangan buku ini menurut penulis adalah. Buku ini tidak dilengkapi dengan foonote dan daftar pustaka. (hlm. • 3. 2) Mahmoud Syaltut. Al-Islam Aqidah wa Syari'ah.t. . Buku ini tidak diantarkan oleh penulis lain selain Mukti Ali sendiri. 1. • 2. cetakan ketiga.). 784 halaman (Cairo: The Arab Writer Publication & Printers. • 4. (hlm. Buku ini berjudul tentang "metode memahami Agama Islam" yang dalam bayangan penulis buku ini membahas secara tuntas tentang berbagai metode yang digunakan dalam memahami agama Islam. 570 halaman (Cairo: Dar al-Qalam. Seringnya terjadi pengulangan pembahasan di berbagai tempat. dan sejarah tokoh lainnya. 1973). Hal ini terjadi disebabkan karena materi buku ini merupakan materi pidato dan prasaran yang di sampaikan di berbagai tempat.

lebih mengutamakan pengamatan langsung. bahkan sifatnya partisipatif. di mana ia lahir bagaimana latar belakang pendidikannya. Antropologi dalam kaitan ini sebagaimana dikatakan Powam Rahardjo. Dibekali dengan pendekatan yang holistik dan komitmen antropologi akan pemahaman tentang manusia. Dengan kata lain bahwa cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologis dalam melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama. agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya. • • Rabu. Melalui pendekatan ini. 04 November 2009 PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM KAJIAN ISLAM PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM KAJIAN ISLAM Pendahuluan Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. menjadi sangat penting untuk memahami agama. Antropologi. Penelitian antropologi Grounded Research adalah penelitian yang penelitinya terlibat dalam kehidupan masyarakat yang ditelitinya.• 6. sebagai sebuah ilmu yang mempelajari manusia. Seorang peneliti datang ke lapangan tanpa ada prakonsepsi apapun terhadap fenomena keagamaan yang akan diamatinya. Fenomena-fenomena tersebut selanjutnya diinterpretasi dengan menggunakan kerangka teori tertentu. Antropologi mempelajari tentang manusia dan segala perilaku mereka untuk dapat memahami perbedaan kebudayaan manusia. dan berbagai informasi lainnya. Padahal informasi yang tidak kalah pentingnya adalah kapan ia lahir. Biodata penulis kurang memadai atau kurang lengkap karena hanya mencantumkan jabatan dan bukunya yang baru terbit. maka sesungguhnya antropologi merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama dan interaksi sosialnya .

Dengan demikian memahami Islam yang telah berproses dalam sejarah dan budaya tidak akan lengkap tanpa memahami manusia. Dua sisi kajian ini-usaha untuk memahami agama dan menegasi eksistensi agama-sesungguhnya menggambarkan betapa kajian tentang agama adalah sebagai persoalan universal manusia. Pandangan Geertz yang mengungkapkan tentang adanya trikotomi-abangan. Barangkali karya Clifford Geertz The Religion of Java yang ditulis pada awal 1960an menjadi karya yang populer sekaligus penting bagi diskusi tentang agama di Indonesia khususnya di Jawa. Penjelasan lain misalnya yang diungkapkan oleh Emile Durkheim tentang fungsi agama sebagai penguat solidaritas sosial. antropologi sangat diperlukan untuk memahami Islam. Di Indonesia usaha para antropolog untuk memahami hubungan agama dan sosial telah banyak dilakukan. Para antropolog menjelaskan keberadaan agama dalam kehidupan manusia dengan membedakan apa yang mereka sebut sebagai common sense dan religious atau mystical event. karena konsep manusia sebagai 'khalifah' (wakil Tuhan) di bumi. . sebagai alat untuk memahami realitas kemanusiaan dan memahami Islam yang telah dipraktikkan.dengan berbagai budaya. sementera itu religious sense adalah kegiatan atau kejadian yang terjadi di luar jangkauan kemampuan nalar maupun teknologi. atau Sigmund Freud yang mengungkap posisi penting agama dalam penyeimbang gejala kejiwaan manusia. makna hakiki dari keberagamaan adalah terletak pada interpretasi dan pengamalan agama. Nurcholish Madjid mengungkapkan bahwa pendekatan antropologis sangat penting untuk memahami agama Islam. Islam yang menjadi gambaran sesungguhnya dari keberagamaan manusia. merupakan simbol akan pentingnya posisi manusia dalam Islam. Oleh karena itu. sesungguhnya mencerminkan betapa agama begitu penting bagi eksistensi manusia. Persoalan-persoalan yang dialami manusia adalah sesungguhnya persoalan agama yang sebenarnya. Terlebih dari itu. Posisi penting manusia dalam Islam juga mengindikasikan bahwa sesungguhnya persoalan utama dalam memahami agama Islam adalah bagaimana memahami manusia. Pergumulan dalam kehidupan kemanusiaan pada dasarnya adalah pergumulan keagamaannya. Walaupun harus disadari pula bahwa usaha-usaha manusia untuk menafikan agama juga sering muncul dan juga menjadi fenomena global masyarakat. Dalam satu sisi common sense mencerminkan kegiatan sehari-hari yang biasa diselesaikan dengan pertimbangan rasional ataupun dengan bantuan teknologi. misalnya. Karena realitas keagamaan sesungguhnya adalah realitas kemanusiaan yang mengejawantah dalam dunia nyata.

Karya Geertz ini disebut untuk sekedar memberikan ilustrasi bahwa kajian antropologi di Indonesia telah berhasil membentuk wacana tersendiri tentang hubungan agama dan masyarakat secara luas. Jadi pembahasan tentang bagaimana hubungan agama dan budaya sangat penting untuk melihat agama yang dipraktikkan. Pernyataan Geertz bahwa abangan adalah kelompok masyarakat yang berbasis pertanian dan santri yang berbasis pada perdagangan dan priyayi yang dominan di dalam birokrasi. Dalam diskursus interaksi antara agama-khususnya Islam-dan budaya di Jawa. dan kaum santri memilih partaipartai yang memberikan perhatian besar terhadap masalah keagamaan. Antropologi yang melihat langsung secara detil hubungan antara agama dan masarakat dalam tataran grassroot memberikan informasi yang sebenarnya yang terjadi dalam masyarakat.santri dan priyayi-di dalam masyarakat Jawa. ketika dihadapkan pada realitas politik. Penjelasan Geertz tentang adanya pengelompokkan masyarakat Jawa ke dalam kelompok sosial politik didasarkan pada orientasi ideologi keagamaan. Pengelompokkan sosial tersebut mempengaruhi pola interaksi politik yang lebih luas di Indonesia. ternyata mempunyai afiliasi politik yang berbeda. . priyayi dengan partai nasionalis. Melihat agama di masyarakat. bagi antropologi adalah melihat bagaimana agama dipraktikkan. Walaupun Geertz mengkelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga kelompok. Kaum abangan lebih dekat dengan partai politik dengan isu-isu kerakyatan. ternyata telah mempengaruhi banyak orang dalam melakukan analisis baik tentang hubungan antara agama dan budaya. yang jelas-jelas menunjukkan oposisinya adalah kelompok abangan dan santri. dan diyakini oleh penganutnya. diinterpretasi. menurut Bahtiar Effendy memberikan arti penting terhadap wacana tentang hubungan antara agama-khususnya Islam-dan negara. Teori politik aliran dapat digunakan untuk memberikan penjelasan yang baik mengenai salah satu dasar (basis) pengelompokkan religio-sosial di Indonesia. Keterpengaruhan itu bisa dilihat dari beberapa pandangan yang mencoba menerapkan kerangka berfikir Geertz ataupun mereka yang ingin melakukan kritik terhadap wacana Geertz. Pandangan trikotomi Geertz tentang pengelompokan masyarakat Jawa berdasar religiokulturalnya berpengaruh terhadap cara pandang para ahli dalam melihat hubungan agama dan politik. pandangan Geertz telah mengilhami banyak orang untuk melihat lebih mendalam tentang interrelasi antara keduanya. Teori politik aliran ini. ataupun hubungan antara agama dan politik.

Bassam Tibbi tidak menafikan bahwa ada perbedaan-perbedaan yang nyata antara penafsiran demokrasi di Barat dan di wilayah lain sehingga muncul adanya Demokrasi Asia (Asian Democracy) atau Demokrasi Islam (Islamic Democracy). Bassam Tibbi mengungkapkan bahwa globalisasi memungkin manusia untuk melakukan dialog antarkebudayaan yang ada di dunia. Artinya pertanyaan apakah globalisasi nanti akan juga menyatukan budaya dunia atau akan munculnya kembali budaya-budaya lokal dalam pertarungan dunia. menjadi sangat penting. Walaupun para ilmuwan sosial masih mendebatkan apakah yang disebut sebagai posmodernis adalah "fenomena" atau sebuah kerangka "desconstruction theory". menunjukkan bangkitnya "pengetahuan lokal" di era posmodernisme. mereka bersepakat tentang bangkitnya-dalam arti diakuinya kembali local knowledge sebagai sebuah kebenaran-budaya lokal dalam percaturan dunia global. wujudnya sistem moneter ala Keynesian telah membuktikan bahwa dunia perekonomian menganut satu sistem. misalnya apa yang disinyalir oleh Fukuyama dengan klaimnya “The End of History and the Last Man”. globalisasi berarti adalah diterimanya sistem demokrasi liberal sebagai satu sistem yang laik dipakai. Tetapi perbedaan itu bukan berarti akan menimbulkan konflik seperti apa yang disinyalir oleh Samuel Huntington. Terbukanya komunikasi dan ruang bagi dialog antarbudaya memungkinkan masingmasing budaya untuk mengungkapkan atau memberikan alternatif terhadap kebenaran. Namun demikian hal itu tidak berarti bahwa budayabudaya lokal harus menyerah dan digantikan total dengan demokrasi. Penggunaan alat telekomonukasi dan komputer dengan internetnya dapat juga membuktikan bahwa globalisasi telah mencapai pada satu kesepakatan bersama. Ia lebih optimis melihat perbedaan itu sebagai awal dari keharusan untuk mengadakan dialog antarbudaya untuk menelorkan yang ia . utamanya mereka yang terlibat langsung dengan urusan budaya seperti antropologi.Kepentingan untuk melihat agama dalam masyarakat juga sangat penting jika dikaitkan dengan wacana posmodernisme yang berkembang belakangan ini. Bagi ahli politik. Bagi ahli ekonomi. Ia mengakui bahwa fenomena demokrasi adalah fenomena universal yang mau tidak mau mempengaruhi masyarakat lain yang tidak mempunyai tradisi demokrasi untuk mengadopsinya. Namun bagi ilmu sosial. Ungkapan terkenal James Clifford tentang runtuhnya "mercu suar" untuk mengklaim suatu kenyataan dengan ukuran rasionalitas Barat. globalisasi mengimplikasikan makna yang lain.

Hal ini jelas menunjukkan bahwa persoalan agama yang harus diamati secara empiris adalah tentang manusia. Tanpa memahami manusia maka pemahaman tentang agama tidak akan menjadi sempurna. dan sekaligus mengarahkan kepada kehidupan yang lebih baik. berperilaku dan memandang kehidupan. maka dapat dilihat relevansinya dengan melihat dari dua hal. sebagai system of meaning yang memberikan arti bagi kehidupan dan perilaku manusia. Pertama." Bagi Geertz agama telah memberikan karakter yang khusus bagi manusia yang kemudian mempengaruhi tingkah laku kesehariannya. Jika kembali pada persoalan kajian antropologi bagi kajian Islam. Kebudayaan. . Oleh karena itu analisis tentang kebudayaan dan manusia dalam tradisi antropologi tidaklah berupaya menemukan hukum-hukum seperti di ilmuilmu alam. melainkan kajian interpretatif untuk mencari makna (meaning). maka mengkaji budaya dan masyarakat yang melingkupi kehidupan manusia juga menjadi sangat penting. Dipandang dari makna kebudayaan yang demikian. Mengutip Max Weber bahwa manusia adalah makhluk yang terjebak dalam jaring-jaring (web) kepentingan yang mereka buat sendiri. maka budaya adalah jaring-jaring itu. yang kemudian dia bisa memenuhi gambaran realitas kehidupan (worldview) yang hendak dicapai oleh manusia. maka agama sebagai sebuah sistem makna yang tersimpan dalam simbol-simbol suci sesungguhnya adalah pola makna yang diwarisi manusia sebagai ethos dan juga worldview-nya. adalah aspek esensial manusia yang tidak dapat dipisahkan dalam memahami manusia. Clifford Geertz mengartikan ethos sebagai "tone. penjelasan antropologi sangat berguna untuk membantu mempelajari agama secara empirik. Kajian agama secara empiris dapat diarahkan ke dalam dua aspek yaitu manusia dan budaya. karakter dan kualitas dari kehidupan manusia yang berarti juga aspek moral maupun estitika mereka. Kemudian sebagai akibat dari pentingnya kajian manusia. Di samping itu agama memberikan gambaran tentang realitas yang hendak dicapai oleh manusia. Geertz kemudian mengelaborasi pengertian kebudayaan sebagai pola makna (pattern of meaning) yang diwariskan secara historis dan tersimpan dalam simbol-simbol yang dengan itu manusia kemudian berkomunikasi. Berdasar pada pengertian ini agama sebagai ethos telah membentuk karakter yang khusus bagi manusia. artinya kajian agama harus diarahkan pada pemahaman aspek-aspek social context yang melingkupi agama. suatu sistem nilai dunia yang dihasilkan dari gabungan nilai-nilai terbaik dari budaya-budaya yang ada. Pada dasarnya agama diciptakan untuk membantu manusia untuk dapat memenuhi keinginan-keinginan kemanusiaannya.sebut sebagai "international morality".

Tradisi Antropologi dalam Kajian Agama: Kajian Empirik Relasi Agama dan Sosial Walaupun sejak awal disadari bahwa kajian tentang agama akan mengalami kesulitan karena meneliti sesuatu yang menyangkut kepercayaan (beliefs) yang ukuran kebenarannya terletak pada keyakinan. dengan mempelajari wacana. salah seorang pionir dalam tradisi antropologi sosial di Inggris. jika dalam Islam bisa dilihat peran para sahabat. mengatakan bahwa dilema kajian tentang agama adalah bahwa pemahaman realitas agama tidak akan sepenuhnya dapat difahami kecuali oleh orang yang mengamalkan agama itu sendiri. Persoalan itu ditambah lagi dengan keyakinan bahwa agama adalah bukan hasil rekayasa intelektual manusia. Kesulitan mempelajari agama dengan pendekatan budaya. Bukankah penyebaran agama sangat terkait dengan usaha manusia untuk menyebarkannya ke wilayahwilayah lain. ketika menulis tentang perjuangan para Sufi di Cyrenica Libia melawan penjajahan Italia. Sesungguhnya harus disadari bahwa tidak dapat dielakkan agama tanpa pengaruh budaya-ulah pikir manusia-tidak akan dapat berkembang meluas ke seluruh manusia. Pemahaman realitas nyata dalam sebuah masyarakat akan menemukan suatu kajian Islam yang lebih empiris. Sehingga realitas keagamaan diyakini sebagai sebuah "takdir sosial" yang tak perlu lagi dipahami. Hal ini pernah ia rasakan. dirasakan juga oleh mereka yang beragama. misalnya. tetapi berasal dari wahyu suci Tuhan. Evans-Pritchard. terutama abad ke 16 dan 17. berkembang dengan pesat. dimana ia merasa kesulitan untuk menjelaskan fenomena ketaatan pengikut Sufi kepada guru Sufi mereka.Kajian antropologi juga memberikan fasilitas bagi kajian Islam untuk lebih melihat keragamaan pengaruh budaya dalam praktik Islam. Tidak dapat disangkal bahwa kemudian Evans-Pritchard dapat menggambarkan fenomena Sufi di Cyrenica dengan penuh empati. menerjemahkan dan mengkonstruksi ajaran agama ke dalam suatu kerangka sistem yang . Dengan pemahaman yang luas akan budaya-budaya yang ada memungkinkan kita untuk melakukan dialog dan barangkali tidak mustahil memunculkan satu gagasan moral dunia seperti apa yang disebut Tibbi sebagai "international morality" berdasarkan pada kekayaan budaya dunia. pemahaman dan tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan ajaran agama. Dan bukankah pula usaha-usaha manusia. Kajian agama dengan crossculture akan memberikan gambaran yang variatif tentang hubungan agama dan budaya. tradisi antropologi untuk mengkaji agama. Kesulitan itu terjadi karena ketakutan untuk membicarakan masalah agama yang sakral dan bahkan mungkin tabu untuk dipelajari.

Demikian juga agama berkembang dari kecenderungan anismisme menuju monoteisme dan akan kembali ke animisme. yaitu kecenderungan transendensi dan sekularisasi. Secara garis besar kajian agama dalam antropologi dapat dikategorikan ke dalam empat kerangka teoritis. Socrates berapa ribu tahun yang lalu menyatakan bahwa fenomena agama adalah fenomena kemanusiaan. Max Muller berpandangan bahwa agama bermula dari monotheisme kemudian berkembang menjadi agama-agama yang banyak itu. Taylor yang berupaya untuk mendefinisikan agama sebagai kepercayaan terhadap adanya kekuatan supranatural. Kajian-kajian agama baik dalam masyarakat primitif sampai pada masyarakat yang modern menunjukkan bahwa keberadaan agama selalu mengandung dua sisi yang berbarengan. Pernyataan ini seringkali digunakan para apologis agama untuk menguatkan keyakinan mereka akan betapa mendasarnya posisi agama dalam nilai-nilai kemanusiaan.B. Keberagaman sosial budaya yang ada di dunia ini mengakibatkan pada kompleksitas agama. tetapi ternyata realitas keagamaan berperan besar dalam perubahan sosial dan transformasi sosial. intellectualist. Makanya kecenderungan tradisi intelektualisme ini kemudian meneliti dari sudut perkembangan agama dari yang anismisme menuju monoteisme. Tetapi. Termasuk dalam tradisi adalah misalnya E. . Sebagai fenomena universal yang kompleks.dapat diikuti oleh manusia. Menurut Mircea Eliade perkembangan agama menujukkan adanya gejala seperti bandul jam yang selalu bergerak dari satu ujung ke ujung yang lain. berdasar pada ajaran yang terdapat dalam kitab suci. keberadaan agama dalam masyarakat telah mendorong lahirnya banyak kajian tentang agama. ilmu hadits. Namun perlu juga ditandaskan bahwa sikap mempertanyakan kembali makna agama dan relevansinya dengan kehidupan sosial juga fenomena universal yang ada dimana-mana. ilmu fikih dan ilmu usul fikih adalah hasil konstruksi intelektual manusia dalam menerjemahkan ajaran agama sesuai dengan kebutuhan manusia di dalam lingkungan sosial dan budayanya. Lahirnya ilmu tafsir. Walaupun definisi agama ini sangat minimalis. Kajian-kajian tentang agama berkembang bukannya karena agama ternyata tak dapat dipisahkan dari realitas sosial. Tradisi kajian agama dalam antropologi diawali dengan mengkaji agama dari sudut pandang intelektualisme yang mencoba untuk melihat definisi agama dalam setiap masyarakat dan kemudian melihat perkembangan (religious development) dalam satu masyarakat. structuralist. definis ini menunjukkan kecenderungan melakukan generalisasi realitas agama dari animisme sampai kepada agama monoteis. functionalist dan symbolist.

Namun demikian ia tak setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa yang sacred itu selalu bersifat spiritual. utamanya untuk mencari jawaban hubungan antara individu dan masyarakat. Jadi pandangan sosial Durkheim dikembangkan oleh Levi-Strauss kepada tidak saja secara hubungan sosial tetapi juga dalam ideologi dan pikiran sebagai struktur sosial. . magic adalah model bagi kerangka bertindak bagi individu dalam masyarakat. Branislaw Malinowski mengatakan bahwa fungsi agama dalam masyarakat adalah memberikan jawaban-jawaban terhadap permasalahan-permasalahan yang tidak dapat diselesaikan dengan common sense-rasionalitas dan kemampuan menggunakan teknologi. sebagai penguat dari ikatan moral masyarakat dan fungsi sosial agama sebagai penguat solidaritas manusia menjadi dasar dari perkembangan teori fungsionalisme. Dalam agama sederhana suku Aborigin Australia ditemukan bahwa penyembahan kepada yang sacred ternyata diberikan kepada hal-hal yang profan semisal Kanguru. Claude Levi-Strauss adalah satu murid Durkheim yang terus mengembangkan pendekatan strukturalisme. Durkheim juga mengungkapkan bahwa masyarakat dikonseptualisasikan sebagai sebuah totalitas yang diikat oleh hubungan sosial. Fungsi psikologi agama. Di samping kritik terhadap pendekatan intelektualis itu. Bagi Levi-Strauss agama baik dalam bentuk mitos. Dalam pengertian ini maka society (masyarakat) bagi Durkheim adalah "struktur dari ikatan sosial yang dikuatkan dengan konsensus moral. Pandangan Durkheim yang mengasumsikan bahwa masyarakat selalu dalam keadaan equilibrium dan saling terikat satu dengan yang lain." Pandangan ini yang mengilhami para antropolog untuk menggunakan pendekatan struktural dalam memahami agama dalam masyarakat. The Elementary Forms of the Religious Life. Buku Durkheim. strukturalis. telah mengilhami banyak orang dalam melihat agama. sesungguhnya lahir dari Emile Durkheim. fungsionalis dan simbolis. Lewat buku itu Durkheim ingin melihat agama dari bentuknya yang paling sederhana yang diimani oleh suku Aborigin di Asutralia sampai ke agama yang well-structured dan well-organised seperti yang dicerminkan dalam agama monoteis. Sementara itu pandangan Durkheim tentang fungsi dalam masyarakat sangat berpengaruh dalam tradisi antropologi sosial di Inggris.Ketiga teori. telah mendorong para antropolog untuk melihat fungsi agama dalam masyarakat yang seimbang tersebut. Durkheim menemukan bahwa aspek terpenting dalam pengertian agama adalah adanya distingsi antara yang sacred dan yang profan.

mereka menggunakan agama sebagai pemecahnya. ritual sebagai medium untuk menegaskan kembali nilai-nilai masyarakat. Turner melihat bahwa ritual adalah simbol yang dipakai oleh masyarakat Ndembu untuk menyampaikan konsep kebersamaan. Di samping tradisi intelektual dan tiga tradisi-strukturalis. Oleh karena itu. Ritual bagi masyarakat Ndembu adalah tempat mentransendensikan konflik keseharian kepada nilai-nilai spiritual agama. Teori simbolisme yang menjadi teori dominan pada dekade 70-an sebenarnya juga mengambil akarnya dari Durkheim. melainkan sebagai simbol dari apa yang sebenarnya terjadi dalam masyarakat. Kedua. Ketika sebuah masyarakat traditional Suku Trobiand di daerah pesisir Papua Nugini menemukan bahwa ladangnya telah dirusak oleh babi hutan. ritual sebagai media untuk mengurangi permusuhan (reduce hostility) di antara warga masyarakat yang disebabkan adanya kecurigaan-kecurigaan niat jahat seseorang kepada yang lain. Weber lebih tertarik untuk melihat hubungan antara doktrin agama dan aktifitas duniawi . Pandangan Durkheim mengenai makna dan fungsi ritual dalam masyarakat sebagai suatu aktifitas untuk mengembalikan kesatuan masyarakat mengilhami para antropolog untuk menerapkan pandangan ritual sebagai simbol.Dalam setiap kali menyelesaikan persoalan-persoalannya. Namun ketika hendak berburu ikan di lautan. Ketiga. ritual. Tidak seperti halnya tradisi-tradisi intelektualis dan tradisi Durkheimian. mereka melakukan ritual dengan sesaji sebagai sarana komunikasi dengan kekuatan spiritual untuk menyelesaikan masalah yang unpredictable. fungsionalis dan simbolis-yang berakar dari tradisi Durkheim. walaupun tidak secara eksplisit Durkheim membangun teori simbolisme. Keempat. dimana gelombang lautan dan cuaca yang tidak dapat mereka kontrol dengan kemampuan rasionalitas dan teknologi. ritual sebagai sarana untuk memantapkan kembali hubungan yang akrab. utama cult ritual (ritual yang berhubungan dengan masalah-masalah ketidakberuntungan-misfortune) mengandung empat fungsi sosial yang penting. ada tradisi dalam kajian agama yang berkembang dari pandanganpandangan Weber. Jadi Turner melihat ritual tidak hanya sebagai kewajiban (prescribed) saja. ritual digunakan untuk menutup jurang perbedaan yang disebabkan friksi di dalam masyarakat. Salah satu yang menggunakan teori tersebut adalah Victor Turner ketika ia melakukan kajian ritual (upacara keagamaan) di masyarakat Ndembu di Afrika. Maka sebelum mereka berlayar. maka dengan kemampuan rasionalitas dan penguasaan teknologinya masyarakat suku Trobiand membuat pagar agar babi tak dapat lagi masuk ke ladangnya. manusia menggunakan kemampuan rasionalitas dan penciptaan teknologi. Pertama.

Tanpa memahami realitas manusiatermasuk di dalamnya adalah realitas sosial budayanya-pemahaman terhadap ketuhanan tidak akan sempurna. Kajian-kajian yang demikian ini tidak lagi mempersoalkan benar dan salahnya suatu agama. menunjukkan minat Weber untuk mendiskusikan hubungan antara religious ethic dan kapitalisme. Di sini agama diposisikan dalam kerangka sosial empiris. Oleh karena itu Weber tidak tertarik untuk mendiskusikan definisi atau argumentasi rasionalitas keberadaan agama. khususnya sekte Calvinisme. seperti misalnya ekonomi dan politik. Dalam kajian tentang hubungan antara etika Protestan. Bellah tentang Tokugawa Religion yang mencoba melihat hubungan etika agama dengan restorasi Meiji. Al-Qur'an . Kajian yang dilakukan oleh Robert N. Secara antropologis ungkapan ini berarti bahwa sesungguhnya realitas manusia adalah realitas ketuhanan. yang menjadi perhatian kajian sosial. Dalam Islam manusia digambarkan sebagai khalifah (wakil) Tuhan di muka bumi. dan juga kajian yang dilakukan oleh Geertz tentang pasar di Jawa dan priyayi Bali memakai pendekatan yang dipakai oleh Weber. Dalam pandangan ilmu sosial. tentu hal-hal yang empirislah. Ajaran etika tentang bekerja keras yang selalu muncul dalam tulisan-tulisan pendeta sekte Calvinisme dan yang juga menjadi tema-tema yang diulangulang dalam ceramah keagamaan sekte ini. Jika agama diperuntukkan untuk kepentingan manusia. walaupun hal yang ghaib juga menjadi hal penting. Al-Qur'an seringkali menggunakan "orang" untuk menjelaskan konsep kesalehan. untuk menjelaskan tentang konsep takwa. Akibat yang nyata dari pendekatan kajian di atas menempatkan agama pada realitas empiris yang dapat dilihat dan diteliti. melainkan terletak pada bagaimana agama dapat berperan dalam kehidupan sosial manusia. maka sesungguhnya persoalanpersoalan manusia adalah juga merupakan persoalan agama. menjadi sangat penting.manusia. karena separuh dari realitas ketuhanan tidak dimengerti. Pentingnya mempelajari realitas manusia ini juga terlihat dari pesan Al-Qur'an ketika membicarakan konsep-konsep keagamaan. yang itu menjadi pusat perhatian antropologi. Tradisi yang dikembangkan oleh Weber ini banyak diikuti oleh ilmuwan sosial utamanya di Amerika. tetapi melihat sejauhmana agama-aspek idealisme-mempengaruhi perilaku sosial manusia. dan perkembangan kapitalisme modern. sebab dalam kaitannya dengan kehidupan manusia. sebagaimana realitas sosial lainnya. adalah sesuai dengan karakter buruh modern. pertanyaan keabsahan suatu agama tidak terletak pada argumentasi-argumentasi teologisnya. Misalnya. Di sini terlihat betapa kajian tentang manusia.

Tidak seperti pendahulunya yang menganggap agama sebagai bagian kecil dari system budaya. pervasive and long-lasting moods and motivations of a general order of existence and clothing these conceptions with such an aura of factuality that the moods and motivations seem uniquely realistic. Dengan demikian realitas manusia sesungguhnya adalah realitas empiris dari ketuhanan. Geertz dapat dikategorikan ke dalam kelompok kajian semiotic tradition warisan dari Ferdinand de Saussure yang pertama mengungkapkan tentang makna simbol dalam tradisi linguistik. Geertz mengungkapkan bahwa agama harus dilihat sebagai suatu system yang mampu mengubah suatu tatanan masyarakat. "Religion as a Cultural System. Kenyataan bahwa realitas manusia-yang tercermin dalam bermacam-macam budaya-beragam. saat itu ketika teori-teori tentang kajian agama mandeg pada teori-teori besar Mark. Oleh karena itu Geertz mendefinisikan agama sebagai: "A system of symbols which acts to establish powerful. Marshal Hodgson menggambarkan bahwa bermacam-macamnya manifestasi agama dalam kebudayaan tertentu-little tradition-sesungguhnya adalah mosaik dari realitas universal agama-great tradition." dianggap sebagai tulisan klasik tentang agama. Dan persoalan-persoalan yang dihadapi manusia adalah cerminan dari permasalahan ketuhanan. tetapi agaknya sedikit orang yang berusaha untuk membahasnya lebih mendalam. konsep-konsep keagamaan itu termanifestasikan dalam perilaku manusia." Dengan pandangan seperti ini. Al-Qur'an menggunakan kata "orang sabar" dan seterusnya.menunjuk pada konsep "muttaqien". Geertz mengartikan simbol sebagai suatu kendaraan (vehicle) untuk menyampaikan suatu konsepsi tertentu. adalah mempelajari Tuhan-baca agama-dalam realitas empiris. Agama Sebagai Sistem Budaya Geertz adalah orang pertama yang mengungkapkan pandangan tentang agama sebagai sebuah system budaya. Pandangan Geertz. dengan segala aspeknya. Jadi bagi Geertz norma atau nilai keagamaan harusnya diinterpretasikan sebagai sebuah simbol yang menyimpan konsepsi . maka diperlukan kajian cross culture untuk melihat realitas universal agama. memberikan arah baru bagi kajian agama. Kalau kita merujuk pada pesan Qur'an yang demikian itu sesungguhnya. Oleh karena itu pemahaman konsep agama terletak pada pemahaman realitas kemanusiaan. Weber dan Durkheim yang berkutat pada teori fungsionalisme dan struktural fungsionalisme. Karya Geertz. untuk menjelaskan konsep sabar. Walaupun Geertz mengakui bahwa ide yang demikian tidaklah baru. Geertz berkayinan bahwa agama adalah system budaya sendiri yang dapat membentuk karakter masyarakat. Maka mempelajari realitas manusia.

Pada era dewasa ini. maka tidak ada seorang ahli antropologi yang mampu menelaah dan menguasai antropologi secara sempurna dan global. Geertz menerapkan pandangan-pandangannya untuk meneliti tentang agama dalam satu masyarakat. pada satu sisi ia merupakan modes for reality dan di sisi yang lainnya ia merupakan modes of reality. Pada dataran ini. ada bermacam-macam antropologi seperti antropologi ekonomi. sementara itu sisi modes of reality merupakan pengakuan Geertz akan sisi agama yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan perilaku manusia. Yang pertama menunjukkan suatu existensi agama sebagai suatu sistem yang dapat membentuk masyarakat ke dalam cosmic order tertentu. di negara-negara yang masuk dalam kategori Negara ketiga (Negara berkembang) sangat urgen sebagai “pisau analisis” untuk pengambilan kebijakan (policy) dalam rangka pembangunan dan pengembangan masyarakat. antropologi dipergunakan sebagai suatu hal untuk kepentingan kemanusiaan yang lebih luas. Dan hubungan dengan ini pula. Sementara itu Islam Observed ingin melihat perwujudan agama dalam masyarakat yang berbeda untuk memperlihatkan kemampuan agama dalam mewujudkan masyarakat maupun sebagai perwujudan dari interaksi dengan budaya lokal. antropologi menjadi amat plural. . Pendidikan Islam Dalam Pendekatan Antropologi Antropologi adalah suatu ilmu yang memahami sifat-sifat semua jenis manusia secara lebih komprehensif. antropologi agama. Studi antropologi selain untuk kepentingan pengembangan ilmu itu sendiri. antropologi politik. antropologi kebudayaan. Sehingga. sesuai dengan perkembangan ahli-ahli antropologi dalam mengarahkan studinya untuk lebih memahami sifat-sifat dan hajat hidup manusia secara lebih komprehensif. Antropologi pertama kali dipergunakan oleh kaum Misionaris dalam rangka penyebaran agama Nasrani dan bersamaan dengan itu pula berlangsung sistem penjajahan terhadap negar-negara diluar Eropa. antropologi terfregmentasi menjadi beberapa bagian yang masing-masing ahli antropologi mengkhususkan dirinya pada spesialisasi bidangnya masing-masing. Buku The Religion of Java memperlihatkan hubungan agama dengan ekonomi dan politik suatu daerah. Juga bagaimana agama menjadi ideologi kelompok yang kemudian menimbulkan konflik maupun integrasi dalam suatu masyarakat. Karya Geertz yang tertuang dalam The Religion of Java maupun Islam Observed merupakan dua buku yang bercerita bagaimana agama dikaji dalam masyarakat. Simbol keagamaan tersebut mempunyai dua corak yang berbeda. Sebagai suatu disiplin ilmu yang cakupan studinya cukup luas.tertentu.

Dengan pola itu. maka kajian tersebut masuk dalam sub antropologi yang bias dikenal menjadi antropologi pendidikan. Dan dalam studi kependidikan yang dikaji melalui pendekatan antropologi. kajian materi antropologi pendidikan.antropologi pendidikan. Maka antropologi pendidikan Islam. seorang filsuf wanita pada tahun 1941. artinya sesuatu yang dilakukan berupa upaya agar wahyu dan ajaran Islam dapat dijadikan pandangan hidup anak . maka yang objek dikajiannya adalah penggunaan teori-teori dan metode yang digunakan oleh para antropolog serta pengetahuan yang diperoleh khususnya yang berhubungan dengan kebutuhan manusia atau masyarakat. bahwa antropologi telah memberi lebih banyak kejelasan tentang sifat manusia daripada semua pemikiran filsuf atau studi para ilmuwan di laboratoriumnya. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana kedudukan antropologi pendidikan sebagai sebuah disiplin studi yang tergolong baru di tambah kata “Islam” sehingga menjadi “antropologi pendidikan Islam”. Dengan demikian. bahwa hal tersebut merupakan suatu langkah yang ada relevansinya dengan isu-isu Islamisasi ilmu pengetahuan. bukan bertujuan menghasilkan ahli-ahli antropologi melainkan menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang pendidikan melalui perspektif antropologi. kaidah-kaidah keilmiahannya harus juga bersumber atau didasarkan pada Al Qur’an dan As Sunah. Karakteristik dari antropologi pendidikan Islam adalah terletak pada sasaran kajiannya yang tertuju pada fenomena pemikiran yang berarah balik dengan fenomena Pendidikan Agama Islam (PAI). Artinya bagaimana bagunan keilmuan yang ditonjolkan dalam ekonomi Islam muncul juga dalam dalam antropologi pendidikan Islam. Akan tetapi dalam sejarah kebudayaan Islam belum ada pengakuan terhadap tokoh-tokoh atau pelopor antropologi yang diakui dari zaman Nabi Muhammad atau sesudahnya. Meskipun berkemungkinan ada yang menjadi antropolog pendidikan setelah memperoleh wawasan pengetahuan dari mengkaji antropologi pendidikan. Hal ini telah menjadi sorotan para ahli pendidikan Islam. Grace de Raguna. Artinya apabila antropologi pendidikan dimunculkan sebagai suatu materi kajian. maka antropologi pendidikan Islam tentunya harus dikategorikan “sama” dengan ekonomi Islam. menyampaikna pidatonya dihadapan American Philosophical Association Eastern Division. dan lain sebagainya. antropologi perkotaan. sehingga muncul pula kaidahkaidah keilmiahannya yang bersumber dari kitab suci Al Qur’an dan dari As Sunah. Pendidikan Agama Islam arahnya dari atas ke bawah. Seperti dalam ekonomi Islam (juga Hukum Islam) yang sejak awal pertumbuhannya telah diberi contoh oleh Nabi Muhammad dan diteruskan oleh para sahabat.

Ibnu Sina banyak memaparkan tentang pentingnya pendidikan usia dini yang dimulai dengan pemberian “nama yang baik” dan diteruskan dengan membiasakan berperilaku. Di sinilah letak pentingnya kajian antropologi dalam mengkaji Islam. Dalam kitabnya al-Siyasah. Masalah ilmiah yang mendasar pada Pendidikan Agama Islam adalah berpusat pada bagaimana (metode) cara yang seharusnya dilakukan. Dengan demikian pemahaman agama secara keseluruhan tidak akan tercapai tanpa memahami separuh dari agama yaitu manusia. Sedangkan antropologi pendidikan Islam dari bawah ke atas. Ketiga. Ibnu Sina. Posisi penting manusia dalam Islam-seperti digambarkan dalam proses penciptaannya yang ruhnya merupakan tiupan dari ruh Tuhan-memberikan indikasi bahwa manusia menempati posisi penting dalam mengetahui tentang Tuhan. Dan juga yang paling urgen adalah penanaman nilai-nilai sosial pada anak seperti rasa belas kasihan (confession) dan empati terhadap orang lain. Barangkali tidak berlebihan untuk menyebut bahwa realitas manusia sesungguhnya adalah realitas ketuhanan yang empiris. local discourse atau local konwledge yang tumbuh dari pergumulan agama dan budaya dapat dijadikan sebagai tambahan wacana baru globalisasi. Sebagai ilmu yang mengkhususkan diri . Uraian di atas memperlihatkan bahwa sesungguhnya pemahaman agama tidak akan lengkap tanpa memahami realitas manusia yang tercermin dalam budayanya. Kajian tentang local Islam dapat dijadikan sebagai pengkayaan wacana manusia. kajian tersebut dapat dipusatkan untuk mempetakan Islam lokal dalam sebuah peta besar Islam universal. dan berpenampilan yang baik serta pujian dan hukuman dalam mendidikan anak. mempunyai sesuatu yang diupayakan dalam mendidik anak. berucap-kata.didik (manusia). Pertama dapat kita terapkan dalam upaya mencari konsep-konsep lokal tentang bagaimana agama dan budaya berinteraksi. Kesimpulan Agaknya kajian-kajian tentang agama dan budaya dapat kita arahkan dalam berbagai kerangka. Sedangkan masalah yang mendasar pada antropologi pendidikan Islam adalah berpusat pada pengalaman apa yang ditemui. agar anak dapat membangun pandangan hidup berdasarkan pengalaman agamanya bagi kemampuannya untuk menghadapi lingkungan. Kedua. yang kita kenal sebagai tokoh kedokteran dalam dunia Islam ternyata juga merupakan sorang pemerhati pendidikan anak usia dini yang merupakan pengalaman pertama anak.

Bandung: PT.. RajaGrafindo Persada. Ilmu Budaya Dasar. 1988 Imam Tholkhah dan Ahmad Barizi. Jakarta: Aksara Baru. Pengantar Ilmu Antropologi. Erosco. Kearah Antropologi Islam. Ahmad. Jakarta: PT. Erosco. Jakarta: PT. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu. Yogyakarta: Gama Media. 1993 Diposkan oleh tasauf dalam islam di 22:12 0 komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langgan: Poskan Komentar (Atom) Pengikut Arsip Blog • ▼ 2009 (10) o ▼ November (10)  ISLAM MASA KHULAFAUR RASYIDIN . Jakarta: CV. Pendidikan Islam: Tradisi Dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Rajawali. Membuka Jendela Pendidikan: Mengurai Benang Tradisi Dan Integrasi Keilmuan Pendidikan Islam. 2004 Sulaeman. 2002. Jakarta: Media Da’wah Azyumardi Azra. 2002.mempelajari manusia-yang merupakan realitas empiris agama-maka antropologi juga merupakan separuh dari ilmu agama itu sendiri. 1993 Noto Abuddin. Munandar. Panduan Dasar Ilmu-Ilmu Sosial. Bets F. Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik: Humanisme Relegius Sebagai Paradigma Pendidikan Islam. Akbar S. Bandung: PT. Ilmu Budaya Dasar. 1980 M. Munandar Sulaeman. Raja Grafindo Persada. Hoselitz. Metodologi Studi Islam. 2004. DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman Mas’ud. Koentjaraningrat.

DAN PERADABAN PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM KAJIAN ISLAM PENDEKATAN HISTORIS DALAM STUDI ISLAM PRODUK-PRODUK PEMIKIRAN DAN PERADABAN ISLAM Makalah Filsafat Ilmu makalah Pembelajaran Piqih Makalah METAFISIKA RIVIEW TENTANG TAFSIR dan HADITS TARBAWI MENELADANI SIFAT – SIFAT NABI SAW Kajian .kajian.         ISLAM AGAMA... . KEBUDAYAAN.

Konsep “tauhid sosial” ini tampaknya muncul dari Amien Rais sebagai respon terhadap meluasnya persoalan ketidakadilan yang ia lihat. yaitu kesatuan tujuan hidup. Bagi orang yang beriman. berarti semua ibadah murni (mahdhah) seperti salat. yaitu kesatuan pedoman hidup. yaitu kesatuan penciptaan. Hal ini bisa dirujuk pada pernyataannya yang retoris: “Benang merah dari ajaran Islam adalah keadilan. Sebagai muslim. merupakan bagian dari ciptaan Allah. Keempat. tidaklah cukup kalimat tauhid tersebut hanya dinyatakan dalam bentuk ucapan (lisan) dan diyakini dalam hati. Karena Allah yang menciptakan manusia. yaitu kesatuan kemanusiaan. Bagi orang yang beriman.Istilah “tauhid sosial” merupakan istilah baru yang diperkenalkannya dalam wacana ilmu-ilmu sosial. Jadi. bahasa. dan seterusnya memiliki dimensi sosial. yakni yang datangnya dari Allah yang berupa wahyu. satu-satunya tujuan hidup adalah untuk mencapai rida Allah. yang lahir maupun yang gaib. Kedua. Ketiga. sejarah. unity of mankind. Seluruh makhluk di alam semesta ini. Pertama. yaitu kesatuan ketuhanan. unity of creation. Karena Islam itu . Menurut Amien Rais. unity of Godhead. Kelima. puasa. maka Allah pula yang paling tahu apa yang baik atau buruk bagi manusia. dan segala perbedaan yang melatarbelakangi keragaman umat manusia tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan diskriminasi. tetapi harus dilanjutkan dalam bentuk perbuatan. perbedaan warna kulit. unity of the purpose of life. Kualitas ibadah seseorang sangat tergantung pada sejauh mana ibadah tersebut mempengaruhi perilaku sosialnya. baik yang kelihatan maupun yang tidak. Sebagai konsekuensi pemikiran ini. geografi. Tauhid sosial dimaksudkan sebagai dimensi sosial dari pengakuan kita bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad itu adalah Rasul-Nya. hanya ada satu pedoman hidup. haji. tauhid sesungguhnya menurunkan atau mengisyaratkan adanya lima pengertian. unity of guidance. sehingga kita betul-betul dapat mencapai kebahagiaan di dunia maupun akhirat.

Padahal. AlQur’an. Praktek sosial Islam ini banyak dibahasakan dengan berbagai istilah. setiap orang Islam bisa menjadi masalah bagi rezim yang mapan yang mempertahankan ketidakadilan. bila di tengah masyarakat ada kelompok kaya dan miskin. maka secara potensial setiap orang Islam bisa menjadi trouble maker bagi kemapanan yang tidak adil. antara lain Tauhid Sosial. Jadi. Amien Rais juga mengatakan bahwa di muka bumi ini. ia juga mengatakan. kepercayaan kepada ke-Esa-an Allah belum tentu terkait dengan prilaku umat dalam kiprah kesejarahannya. Syafi’i Ma’arif menyebutkan Tauhid Sosial sebagai dimensi praksis dari resiko keimanan kepada Allah SWT. Secara substasial. Dengan kata lain. ”Dengan merujuk sosiolog Prof. Dengan mengutip Ibn Hazim . gelisah. gagasan Tauhid Sosial Syafi’i Ma’arif menggambarkan dua hal: pertama. Dan. dan selalu ingin mengejawantahkan nilai-nilai keadilan dalam berbagai dimensi kehidupannya. secara sederhana. Dalam konteks ini.merupakan religion of justice. Doktrin tauhid yang menjadi ruh kekuatan Islam tidak pernah hilang dari perjalanan sejarah. Gelner. di bawah prinsip-prinsip . Doktrin ini sudah sangat dini dideklarasikan. sekaligus memperoleh ridha Allah. sejarah membuktikan bahwa tauhid menjadi senjata yang hebat dalam menancapkan pilar-pilar kesejarahan Islam. walaupun aktualisasinya dalam dimensi kehidupan tidak selalu menjadi kenyataan. Memilih Islam adalah menjalani suatu pola kehidupan yang utuh dan terpadu (integrated). konsep tauhid sosial Amien Rais dapat disimpulkan sebagai tuntutan terwujudnya masyarakat yang adil. orang kemudian mempertanyakan praktek sosial Islam yang dianggap tidak komprehensif. karena orang Islam selalu resah. iman adalah kekuatan yang menjadi pilar utama perjalanan sejarah umat Islam. adalah kewajiban si kaya untuk melakukan proses pemerataan sosial ekonomi ke seluruh masyarakat. yaitu pada masa Mekkah tahun-tahun awal. menjadi hak dari si papa untuk mengambil bagiannya dari si kaya.

politik. Kuntowijoyo. Setiap aspek kehidupan yang dijalani merupakan refleksi dari prinsip-prinsip tauhid itu. yang kemudian terwujud dalam dimensi sosial. pada aksi. kekuatan tauhid ini harus diaktualisasikan. Islam menolak pola kehidupan yang fragmentatif. dua makkiyah dan tiga madaniyyah. pertama-tama yang harus ia miliki adalah iman. kemudian mendirikan shalat. politik. Dalam surah Al-Baqarah ayat kedua misalnya. Kedua. Masyarakat yang adil harus didirikan dalam prinsip ‘amrun bi al-ma’ruf wa nahyun ‘ani almunkar’. Oleh karena itu. ‘percaya kepada yang gaib’. kita dapat menyimpulkan bahwa iman berujung pada amal. Artinya. pemerintah dan umat yang beriman secara keseluruhan. disebutkan bahwa agar manusia itu menjadi muttaqin. Dengan memperhatikan ini. dan kemudian beramal.tauhid. kita juga mengenal trilogi iman-ilmu-amal. dan menunaikan zakat. dikotomik. Islam berprinsip pada tauhid. tugas terbesar Islam sebenarnya adalah melakukan transformasi sosial dan budaya dengan nilainilai tersebut. doktrin ‘amrun bi al-ma’ruf wa nahyun ‘ani al-munkar’ dijumpai dalam delapan ayat. Di dalam Al-Qur’an kita sering sekali membaca seruan agar manusia itu beriman. cendekiawan muslim. Di dalam ayat tersebut kita melihat adanya trilogi iman-shalat-zakat. dan juga sinkretik. tauhid harus diaktualisasikan: pusat keimanan Islam . menyatakan bahwa nilai-nilai Islam sebenarnya bersifat all-embracing bagi penataan sistem kehidupan sosial. tersebar dalam lima surat. Sementara dalam formulasi lain. lebih dari segalanya. Sehingga kekuatan tauhid inilah yang menjadi pengawal dan pusat dari semua orientasi nilai. Tugas ini dibebankan pada rasul. bukan hanya tersimpan dalam teks-teks suci. ekonomi dan budaya. iman harus mampu menjawab dimensi praksis persoalan keummatan. ekonomi dan budaya. Praktek kehidupan seperti ini telah ditunjukkan dalam perjalanan kerasulan Muhammad yang diteruskan oleh sebagian generasi setelahnya. Dalam Al-Qur’an. Artinya. Dalam perspektif yang berbeda.

Dengan demikian. Dengan demikian. kemudian dimensi epistemik. termasuk untuk kemanusiaan. rahmat untuk alam semesta. tetapi ujung aktualisasinya adalah manusia. penindasan bahkan perbudakan. kelas bangsawan dan kelas borjuasi. Tapi. Sementara pada saat yang sama melihat manusia sebagai tujuan dari transformasi nilai. masyarakat industri menurut terminologi ini hanya mengenal dua kelas. tauhid sosial sebenarnya merupakan perwujudan aksi sosial Islam dalam konteks menjadikannya sebagai rahmatan li al’alamin. dimana terdapat tiga kelas sosial di sana. sehingga pada umumnya terminologi kelas dalam konsep Marxis didefinisikan secara mashur oleh Lenin. ia tidak pernah menjelaskan apa yang dimaksud dengan istilah ‘kelas’. Ketidaksamaan sosial ini kemudian dirumuskan dengan membaginya dalam istilah ‘kelas sosial’. yaitu . kesenjangan. Kemudian juga dikenal kelas proletar Dalam terminologi Marx. yaitu kelas pendeta. Islam dan Ketidaksamaan Sosial Ketidaksamaan sosial (social inequality) terjadi di hampir semua komunitas masyarakat dunia. lalu masuk dalam dimensi amal berupa praktek sosial kepada sesama manusia. dan masakin. Al-Qur’an juga merefleksikan adanya kenyataan sosial lain mengenai pembagian kelas sosial ini.adalah Tuhan. kaum fakir. mustadh’afin. ketidakadilan. seperti konsep golongan dhu’afa. Islam menjadikan tauhid sebagai pusat dari semua orientasi nilai. Proses menuju ke arah itu harus dimulai dari penguatan dimensi tauhid. Masyarakat Arab pada zaman nabi juga terbagi dalam dua kelas sosial. Adanya ketidaksamaan sosial ini pada umumnya melahirkan polarisasi sosial yang dalam banyak hal melahirkan kasus-kasus kemiskinan. Demikian juga dalam masyarakat Eropa abad ke 17. Dengan melihat penjelasan ini. Dalam konteks inilah Islam disebut sebagai rahmatan li al’alamin. Lenin mendefinisikan kelas sosial sebagai golongan sosial dalam sebuah tatanan masyarakat yang ditentukan oleh posisi tertentu dalam proses produksi. yakni kelas bangsawan dan kelas budak.

kelas borjuis dan kelas proletar. Banyak ayat Al-Qur’an yang memaklumkan dilebihkannya derajat sosial. Keterlibatannya dalam perjuangan inilah yang akan menentukan kualitasnya sebagai khalifatullah fil ‘ardh. Kuntowijoyo mencatat bahwa Islam mengakui adanya deferensiasi dan bahkan polarisasi sosial. Islam justru memiliki cita-cita sosial untuk secara terus-menerus menegakkan egalitarianisme. “Pada dasarnya seluruh kandungan nilai Islam bersifat normatif”. atau kapasitas-kapasitas lainnya dari sebagian orang atas sebagian yang lainnya. ini tidak dapat diartikan bahwa AlQur’an mentoleransi social-inequality. ekonomi. Cita-Cita Praktek Sosial Islam Persoalannya adalah tidak mudah mewujudkan cita-cita sosial Islam ini. ‘materialisme dialektis’ dan ‘determinisme ekonomi’. golongan proletar adalah yang paling miskin. Dalam banyak perspektif. Proses ini memang harus dimulai dari transformasi nilai-nilai Islam. demikian . Sementara dalam Islam. Sebaliknya. oleh Al-Qur’an dipandang sebagai ajang riel duniawi tempat setiap muslim akan memperjuangkan cita-cita keadilan sosialnya. sebagai realitas empiris yang ditakdirkan kepada dunia manusia. Kuntowijoyo punya pandangan menarik dalam merumuskan proses transformasi ini. Dengan doktrinnya yang terkenal. sebagai hukum alam. Al-Qur’an melihat fenomena ketidaksamaan sosial ini sebagai sunnatullah. Islam menghendaki adanya distribusi kekayaan dan kekuasaan secara adil bagi segenap lapisan sosial masyarakat. Islam juga mengedepankan peran untuk mengutamakan dan membela gologan masyarakat yang tertindas dan lemah seperti kaum dhu’afa dan mustadh’afin. Marx yakin bahwa dalam masyarakat industrialkapitalis. Realitas sosial empiris yang dipenuhi oleh fenomena diferensiasi dan polarisasi sosial. Kendatipun demikian. Dengan demikian. Mengakui jelas tidak sama dengan mentoleransi. Terlebih lagi dalam kondisi masyarakat yang dimanjakan oleh arus materialisme sekarang ini. baru kemudian dilakukan lompatan-lompatan dalam dataran praksis.

Sampai sekarang ini. Bagaimana mungkin kita dapat mengatur perubahan masyarakat jika kita tak punya teori sosial? Sementara Syafi’i Ma’arif berpendapat bahwa transformasi ini harus dilakukan dengan membongkar teologi klasik yang sudah tidak relevan lagi dengan masalah-masalah pemberdayaan masyarakat karena terlalu intelektual spekulatif.Kuntowijoyo. contohnya adalah seruan praktis Al-Qur’an. kepada yang empirik. misalnya untuk menghormati orang tua. Cara yang kedua adalah mentransformasikan nilai-nilai normatif ini menjadi teori ilmu sebelum diaktualisasikan ke dalam prilaku. ekonomi. Oleh sebab itu. Pertama. Agaknya cara yang kedua ini lebih relevan pada saat sekarang ini. Tingkatnya hanya tingkat angan-angan. Untuk jenis aktualisasi semacam ini. jika kita ingin melakukan restorasi terhadap masyarakat Islam dalam konteks masyarakat industri. bagaimana secara legal prilaku harus sesuai dengan sistem normatif. Metode transformasi nilai melalui teori ilmu untuk kemudian diaktualisasikan dalam dimensi praksis. nilai normatif ini diaktualkan langsung menjadi perilaku. suatu restorasi yang membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh dari pada sekedar pendekatan legal. kita belum melakukan usaha semacam itu. Umat yang terlalu banyak berangan-angan tapi tidak berdaya adalah beban Islam dan beban sejarah. Pendekatan seperti ini telah dikembangkan melalui ilmu fiqh. iptek. sebab di sana juga . Al-Qur’an menyuruh kita bercermin kepada yang kongkret. dan budaya. sosial. Pemberdayaan masyarakat hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang berdaya secara politik. Ada dua cara bagaimana nilai-nilai normatif ini menjadi operasional dalam kehidupan sehari-hari. memang membutuhkan beberapa fase formulasi: teologi®filsafat sosial®teori sosial®perubahan sosial. Ilmu ini cenderung menunjukkan secara langsung. ke dalam prilaku. Seruan ini langsung dapat diterjemahkan ke dalam praktek. Orang yang tidak berdaya tapi ingin memberdayakan masyarakat tidak pernah akan berhasil.

pengakuan kita bahwa Tuhan hanya ada satu. Tauhid sejatinya memerlukan manifestasi dalam realitas empiris. Ini tugas kita semua REALITA IMPLEMENTASI TAUHID SOSIAL DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT Diposkan oleh Menuju Cahaya on Sabtu. Cita-cita sosial Islam untuk melahirkan keadilan sosial bagi seluruh alam memang masih jauh dari cita-cita. Tapi itulah tugas kita kalau kita mau menyumbangkan sesuatu yang anggun untuk kemanusiaan. kita perlu melakukan pembongkaran terhadap prinsip-prinsip teologi klasik yang terlalu sibuk mengurus masalah ghaib. dan Dia tidak lain adalah Allah SWT. Perjuangan ke arah itu memang tidak ringan. yakni ayat-ayat kauniyah. sehingga jika seseorang belum mengimani hal ini ia tidak dapat dianggap sebagai seorang muslim yang lurus. Jika tauhid kita artikan peng-esaan Tuhan. Allah telah menciptakan alam semesta sebagai khaliq (pencipta). pengesaan ini adalah konsep awal dan utama dalam . Padahal. kita memang sudah didesak untuk segera memikirkan metode transformasi nilai Islam pada level yang empiris melalui diciptakannya ilmu-ilmu sosial Islam. Tapi. Perjuangan umat Islam yang masih bergulat untuk bangun dari kemiskinan dan keterbelakangan. dan kita adalah makhluq (yang diciptakan). tentu akan sia-sia jika tak didukung oleh kerja-kerja intelektual yang menopang terbentuknya suatu tatanan sosial masyarakat seperti yang kita cita-citakan. Dan artinya kita hanya fokus kepada satu Tuhan. manusia harus tunduk pada penciptanya. 10 April 2010 Konsep awal dari tauhid adalah menempatkan Allah sebagai Rabb. tidak lebih tidak kurang. juga tidak bijak kalau kita hanya menyimpannya dalam teks-teks suci. Seperti yang saya katakan tadi. Akan tetapi. kejayaan di dunia dibutuhkan untuk menggapai kejayaan di akhirat. Konsep ini merupakan konsep paling pokok dalam aqidah. Dengan menyadari kekurangan ini.terdapat ayat-ayat Allah. Karenanya. konsep tauhid dalam tataran yang lebih luas tidak cukup hanya dengan membenarkan bahwa Allah itu Maha Esa. suatu sistem teologi yang terlalu sibuk mengurus yang serba ghaib dan lupa terhadap yang kongkret tidak akan pernah menang dalam kompetisi duniawi. Sehingga. Tapi di sisi lain.

Tapi konsep pengesaan ini tidak hanya berhenti di sini saja. hal ini mulai terhapus dan dihapus pada masa ini. ada yang merangkap pengusaha. maka itu berarti kita masuk dalam golongan orang-orang munafik. Kita bertauhid berarti kita mengikat diri dengan janji kita dengan Tuhan. menyekutukan kewajiban mereka dengan kepentingan pribadi (setidaknya begitulah saya menyebutnya). Hal ini menunjukkan bahwa Tauhid hanya menjadi pajangan hati saja. hanya dengan keduanya kita bisa membangun kepercayaan orang lain trhadap kita. mereka tidak fokus terhadap satu kewajiban utama mereka. bukan dukun. mereka juga tidak peka terhadap kehidupan sekitarnya. meskipun kita tetap percaya dan teguh bahwa Tuhan itu esa. Maka sama . dimana banyak guru yang tidak hanya menjadi guru. Maka menurut penulis. jika kita menariknya lebih dalam ia memiliki hal lain yang harus kita aplikasikan dalam kehidupan sosial juga. Kesetiaan dan ketaatan adalah sebuah keniscayaan yang harus kita miliki selama kita menginginkan kehidupan yang tentram. Tidak bisa kita pungkiri jika saat ini banyak orang percaya bahwa Tuhan itu Esa. Ini adalah pondasi kita untuk menggapai kesejahteraan bersama sebagai mahluk yang oleh Plato disebut Zoon Politicon atau mahluk yang bermasyarakat. salah satu aplikasi sosialnya adalah tidak adanya peramal dan dukun. Contoh kecilnya adalah realita kehidupan para guru—terutama pns—saat ini. ketika kita mengingkari perintahnya. Makna lain—dan merupakan kelanjutan dari makna diatas—adalah bahwa tauhid bisa diartikan kesetiaan dan ketaatan kita terhadap Tuhan. nampaknya makna ini juga sudah mulai tidak berlaku lagi dalam masyarakat kita. memanusiakan anak-anak didik mereka. yaitu tadi dikatakan bahwa pengesaan Tuhan berarti hanya fokus kepada satu Tuhan. Ki Bodo atau yang lainnya. akan tetapi mereka tidak pernah sekalipun melakukan penyembahan terhadapNya baik melalu shalat ataupun puasa atau yang lainnya. Akan tetapi hal ini berbanding terbalik dengan kenyataan saat ini. Kita tidak bisa dikatan sebagai orang yang bertauhid ketika kita melanggar janji kita dengan Tuhan. Jika kita ingat sebuah perkataan Nabi yang menyatakan bahwa jika berjanji lalu kita mengingkari.Karena jika kita tidak berpikiran demikian. maka dalam kehidupan seharihari kita juga harus fokus tehadap kewajiban yang kita emban. janji untuk taat terhadap segala aturan yang Dia berikan. wiraswasta atau profesi lain dan akhirnya waktu mereka untuk mengajar terkadang terenggut untuk hal-hal yang bukan dalam lingkup mendidika anak-anak mereka. baik ibadah spiritual maupun sosial. terutama bisa kita lihat munculnya dukun-dukun entertainer yang sering muncul di televisi. Karena hanya dengan keduanya kita bisa menjalin relasi yang baik dengan orang lain. mengaku bahwa Muhammad itu Nabi mereka. menjadikan anak didik mereka berpendidikan yang sesungguhnya. tidak boleh menduakan kewajiban itu dengan kepentingan lain apalgi kepentingan pribadi. Makna ini juga mempunya sisi lain yang dapat dan harus kita implementasikan dalam kehidupan sosial. tidak cukup dengan mengesakan Tuhan tanpa melakukan ibadah-ibadah yang di perintahkanNya. Dan lagi-lagi. Artinya.tauhid. mereka tidak menghiraukan ketimpanganketimpangan sosial yang terjadi didekatnya. mereka termasuk orang-orang yang “musyrik sosial”. tanpa implikasi sosial yang berarti. Ini berarti bahwa mereka telah menduakan kewajiban mereka sebagai seorang guru. entah Mama laurent. Akan tetapi. Kita harus setia terhadap aturan dan hukum sosial yang ada. kita juga harus setia dan taat terhadap segala janji yang kita ucapkan terhadap orang lain. maka berarti kita telah menduakan Dia sebagai Yang Maha memberikan pertolongan. artinya kita hanya percaya bahwa Allah-lah yang bisa memberikan pertolongan. bukan pula peramal. Kita tahu bahwa kewajiban utama seorang guru adalah mendidik anak didik mereka.

(Abdullahi ahmed. Adz-Dzariat (51):56). lagi-lagi hal ini juga nampak mulai luntur dalam kehidupan masyarakat kita. Al Quran dan sunnah lebih banyak berisi tentang ajaran Agama (Tauhid) dan Moral. dengan Tauhid Sosial tersebut. baru dikenal ratusan tahun setelah Nabi Muhammad wafat. (Hasan. Sedangkan makna ibadah adalah taat kepada Allah dengan menjalankan apa yang telah diperintahkan-Nya melalui lesan-lesan para Rosul. Tidar No 21 Oct 31. Reaksi masyarakat Mekkah pada umumnya. agar mendapatkan nilai bagus yang mana hal ini juga berarti “musyrik” terhadap kewajiban utama mereka. jika kita tidak setia dan tidak taat terhadap janji kita dalam ranah sosial. Tapi. '07 5:29 AM untuk semuanya Manusia hidup di dunia ini pasti mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Dengan mentaati perintah dan cara-cara yang Rosul ajarkan. Sifat ketundukan dan pengakuan bahwa yang Maha Esa hanyalah Allah. Makna ibadah menurut ulama Tauhid adalah meng-Esakan Allah SWT dengan sungguh-sungguh dan merendahkan diri serta menundukkan jiwa setunduk-tunduknya kepadaNya. termasuk oleh para petinggi negeri yang megingkari janjinya dengan memakan uang yang seharusnya tidak mereka makan. Seharusnya. Tauhid sebagai ilmu. dengan Tauhid Sosial umat Islam seharusnya mempraktikkan nilai-nilai Tauhid ke dalam realitas sosial secara benar. dan reformasi sosial. Firman Allah “telah aku ciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepadaKu. Pada waktu nabi menerima wahyu Al Quran. Secara umum disepakati bahwa periode Mekkah. (Ahmad Tib. realita-realita menyedihkan di atas tidak muncul. Seorang muslim tidak cukup hanya menjalankan tauhid dengan meyakini bahwa Allah itu esa. tetapi juga harus menjalankan perintahNya dan peka terhadap urusan kemanusiaan. Pengingkaran tauhid sosial ini juga dilakukan oleh para tullab—yang seharusnya jujur— dengan budaya “mengutip total” alias plagiat bin copy-tempel tugas-tugas mereka. Immawan Luqman Novanto Takmir Masjid Tanwir Komlepk PTM Jl.dengan hal ini. adalah bekal seorang hamba dalam manjalankan tugas ibadah. krena menduakan kewajiban mencari ilmu dengan mencari nilai. Hal inilah yang disebut sebagai amal shalih. mulai saat itu pula ia menyebarkan misi keagamaan.” (QS. Pengingkarana dan penghianatan telah banyak dilakukan oleh banyak orang. . maka itu berarti bahwa kita “munafik sosial”. 2003:137). seorang hamba akan lebih termotifasi ketaatannya dalam beribadah kepada Allah. Allah swt telah menjelaskan didalam Al Quran bahwa jin dan manusia telah diciptakan memiliki maksud dan tujuan untuk beribadah kepadaNya. khususnya suku Quraisy yang juga merupakan suku nabi sendiri menolak dan menentang secara ekstrim. 1994:27). sehingga muncul keseimbangan antara ibadah dan perilaku sosial. Tetapi nabi berteguh dan terus berjuang untuk meraih sejumlah pengikut dalam masa lebih dari 13 tahun selama misinya di Mekkah. Tauhid Sosial Sebagai Konsekuensi Tauhiddullah Oleh. 2004:21).

bukan hanya kepada pengakuan lesan. walaupun aktualisasinya dalam dimensi kehidupan tidak selalu menjadi kenyataan. namun pada masa beliau Tauhid belum merupakan ilmu keislaman yang berdiri sendiri. . dalam suatu sistem. adanya golongan penindas dan tertindas maka selama itu pula masyarakat dibalut oleh paham syirik (Shimogaki. Dari berbagai pandangan tentang makna tauhid yang di maknai oleh Muhammad Abduh.Meskipun inti pokok risalah Nabi Muhammad saw adalah tauhid. (Yusran Asmuni. haruslah menjadi falsafah hidup seorang muslim.Istilah ilmu Tauhid itu sendiri baru muncul pada abad ketiga Hijriyah. Kholifah ketujuh dinasti Bani Abas. Bagi seorang muslim dalam konteks Teologi. dan apa yang terlarang menghubungkannya kepada diri mereka. melainkan juga keshalehan dan ketaqwaan sosialnya Pandangan Hasan Hanafi yang di kutip oleh Kazuo Shimogaki menyebutkan bahawa. tentang sifat-sifat yang wajib tetap padaNy. tetapi Tauhid sudah terbukti mampu menjadi pilar perjuangan umat Islam. Tauhid adalah pernyataan iman kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. tetapi juga tindakan dan aktualisasi. 2003:03) . dan Hasan Hanafi. pikiran dan hati atau kalbu. (Muhammad Abduh. karena pernyataan iman seseorang kepada Tuhan. dapat di tarik kesimpula bahwa makna Tauhid adalah tema sentral yang membahas tentang wujud Allah. Tauhid yang menjadi proses satu kesatuan dan tunggal kemanunggalan dalam berbagai aspek hidup dan kehidupan yang bersumber pada satu Tuhan saja. Muhammad Abduh mendefinisikan makna tauhid sebagai suatu ilmu yang membahas tentang wujud Allah. ternyata Tauhid memiliki tema pembahasan dan peran yang sangat penting dalam membentuk pribadi seorang muslim. (Asy'arie. 2003:20). berasal dan bersumber hanya pada satu Tuhan saja. juga membahas tentang Rosul-rosul Allah meyakinkan kerosulan mereka. Dengan kata lain. sifat-sifat Allah. jenis dan bidang kehidupan. yang menjadi asas kesatauan ciptaanNya dalam berbagai bentuk. Padahal. (Asy'arie. Tepatnya dizaman pemerintahan khalifah Al Makmun. Musa Asy'arie menambahkan bahwa makna Tauhid menurut pandangan filsafat Islam adalah suatu sistem pandangan hidup yang menegaskan adanya proses satu kesatuan dan tunggal kemanunggalan dalam berbagai aspek hidup dan kehidupan semua yang ada. karena syirik bukan semata-mata tindakan yang ujudnya adalah penyembahan berhala atau kesukaan pergi kekuburan yang maknanya dalam ibadah. Dari dua pandangan ini. Doktrin tauhid yang menjadi ruh kekuatan Islam tidak pernah hilang dari perjalanan sejarah. sifat-sifat yang boleh disifatkan kepadaNya dan tentang sifat-sifat yang sama sekali wajib dilenyapkan dari padaNya. selama dalam sistem sosial masyarakat masih ada kesenjangan antara si kaya dengan miskin. dan Rosul-rosul Allah yang mempunyai konsekuensi dalam kehidupan berupa praktek sosial umat Islam yang konkrit. melainkan juga penguasaan manusia atas manusia lain. tetapi yang paling pokok dari itu adalah penerimaan dan resfons cinta kasih dan kehendak Tuhan yang dialamatkan kepada manusia. 1979 : 36). yang diwujudkan dan tercermin dalam berbagai aspek kehidupan. Namun yang terpenting adalah agar sikap ketauhidan ini dapat menyemangati kehidupan sehingga bukan hanya keshalehan individu yang kita harapkan dapat terwujud. buka sekedar mengetahui bukti-bukti rasional tentang kebenaran wujud dan ke-Esa-an Nya serta bukan sekedar mengenal asma dan sifat-sifatNya. Tauhid bukan sekedar mengenal dan memahami bahwa pencipta alam semesta ini adalah Allah. Pengingkaran terhadap makna tauhid adalah perbuatan syirik. 2002 : 181). Dalam pandangan Islam. 2002 : 182). sejarah membuktikan bahwa tauhid menjadi senjata yang hebat dalam . kepercayaan kepada ke-Esa-an Allah belum tentu terkait dengan prilaku umat dalam kiprah kesejarahannya. Musa Asyari.

Dua. Oleh sebab itu tauhid juga bisa dibagi dalam dua tahapan dalam aktualisasinya. 1991 : 197). gagasan Tauhid Sosial Syafi’i Ma’arif menggambarkan dua hal: pertama. 1994 : 49).1996:33). Artinya. Islam berprinsip pada tauhid. Di dalam Al-Qur’an kita sering sekali membaca seruan agar manusia itu beriman. yang kemudian terwujud dalam dimensi sosial. dan kemudian beramal. disebutkan bahwa agar manusia itu menjadi muttaqin. yaitu pada masa Mekkah tahun-tahun awal. Secara substasial.opra. Islam menolak pola kehidupan yang fragmentatif. Tugas ini dibebankan pada rasul. antara lain Tauhid Sosial. tauhid harus diaktualisasikan: pusat keimanan Islam adalah Tuhan. Dalam konteks ini. di bawah prinsip-prinsip tauhid. Kedua. iman adalah kekuatan yang menjadi pilar utama perjalanan sejarah umat Islam. (Syulthut. dan juga sinkretik. maka keduanya harus dijalankan secara seimbang. orang kemudian mempertanyakan praktek sosial Islam yang dianggap tidak komprehensif. lebih dari segalanya. pemerintah dan umat yang beriman secara keseluruhan. Dengan memperhatikan ini. dikotomik. http:// my. tugas terbesar Islam sebenarnya adalah melakukan transformasi sosial dan budaya dengan nilai-nilai tersebut.menancapkan pilar-pilar kesejarahan Islam. 2006. Doktrin ini sudah sangat dini dideklarasikan Al-Qur’an. Dalam perspektif yang berbeda. (Qordhawi. dan menunaikan zakat. Amaliah (tindakan) puncaknya melaksanakan menurut semestinya dalam urusan hidup dan penghidupan. Sehingga kekuatan tauhid inilah yang menjadi pengawal dan pusat dari semua orientasi nilai Artinya.(Ade Usman. ada juga trilogi iman-ilmu-amal. Masyarakat yang adil harus didirikan dalam prinsip ‘amrun bi al-ma’ruf wa nahyun ‘ani almunkar’. ‘percaya kepada yang gaib’. beliau menyebutkan bahwa Tauhid Sosial sebagai dimensi praksis dari resiko keimanan kepada Allah SWT. iman harus mampu menjawab dimensi praksis persoalan keummatan. Setiap aspek kehidupan yang dijalani merupakan refleksi dari prinsip-prinsip tauhid. cendekiawan muslim. (Kuntowijoyo. tetapi ujung aktualisasinya adalah manusia. bukan hanya tersimpan dalam teks-teks suci. ekonomi dan budaya. Allah menjelaskan dalam firmanNya bahwa. pertama-tama yang harus ia miliki adalah iman. kekuatan tauhid ini harus diaktualisasikan. Praktek kehidupan seperti ini telah ditunjukkan dalam perjalanan kerasulan Muhammad yang diteruskan oleh sebagian generasi setelahnya. Di dalam ayat tersebut dapat dilihat adanya trilogi iman-shalat-zakat. penulis menyimpulkan bahwa iman berujung pada amal. Sementara dalam formulasi lain. Oleh karena itu.Com/adieusman/htm) Memilih Islam adalah menjalani suatu pola kehidupan yang utuh dan terpadu (integrated). AM Fatwa menegaskan bahwa setiap perbuatan pribadi akan menyebabkan berbagai implikasi . Adie Usman Musa mengutip dari Syafi’i Ma’arif. politik. politik. menyatakan bahwa nilainilai Islam sebenarnya bersifat all-embracing bagi penataan sistem kehidupan sosial. tauhid i'tiqadi ilmi (keyakinan teoritis) dengan tauhid amali suluki (amal perbuatan praktis) atau dengan istilah lain dua ketauhidan yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lain. Tauhid adalah pegangan pokok dan sangat menentukan bagi kehidupan manusia. Kuntowojoyo. Dalam surah Al-Baqarah ayat kedua misalnya. Praktek sosial Islam ini banyak dibahasakan dengan berbagai istilah. karena tauhid menjadi landasan bagi setiap amal yang akan dilakukan. orang yang mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang mereka dalam keadaan beriman maka oleh Allah akan diberikan kehidupan yang baik dan juga akan diberi balasan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (An-Nahl: 97). pada aksi. Kedua bentuk kekuatan tauhid ini mempunyai keterkaitan yang tidak bisa dipisahkan. kemudian mendirikan shalat. Pertama. Nazairah (penyelidikan) puncaknya adalah mengenal hakekat sesuatu menurut keadaan yang sebenarnya. ekonomi dan budaya. Manusia memiliki dua kekuatan.

Tauhid Sosial sebenarnya merupakan perwujudan aksi sosial Islam dalam konteks menjadikannya sebagai rahmatan li al’alamin. 2001:51). Amin Rais dengan sebutan Tauhid Soaial. Dan Bahwa Ia Adalah Inti Dakwah Para Rasul Makna Syahadatain. Dalam konteks inilah Islam disebut sebagai rahmatan li al’alamin. bisa diturunkan lagi kedataran pergaulan sosial. Dr. Penyimpangan Aqidah Dan Cara-Cara Penanggulangannya Makna Tauhid Rububiyah dan Kefitrahannya serta Pengakuan Orang-orang Musyrik Terhadapnya.kemasyarakatan. Tauhid ibadah atau tauhid praktis inilah yang di istilahkan oleh Prof. Fatwa. Dengan melihat penjelasan diatas. Syarat. Konsekuansi Dan Yang Membatalkannya TaSyRi' Ibadah: Pengertian. kemudian dimensi epistemik. Inilah yang sering dipahami dari rahasia susunan Al Quran bahwa setiap kali Kitab Suci menyabut kata iman (aamanu) yang merupakan perbuatan peribadi selalu diikuti dengan penyebutan amal saleh (aamilus shalihati) yang merupakan tindakan kemasyarakatan. termasuk untuk kemanusiaan. lalu masuk dalam dimensi amal berupa praktek sosial kepada sesama manusia. Macam Dan Keluasan Cakupannya Paham-Paham Yang Salah Tentang Pembatasan Ibadah Syarat Diterimanya Ibadah . secara konkrit. realitas sosial. Islam menjadikan tauhid sebagai pusat dari semua orientasi nilai. Dengan kata lain bahwa Tauhidullah harus diujudkan dalam praktek sosial. Jika tauhid teoritis dapat melakukan perubahan batiniah dan pembebasan spiritual. maka tanggung jawab pribadi itu memberi akibat adanya tanggung jawab sosial. Dr. (AM. Rukun. Amin Rais mengatakan bahwa yang dimaksud tauhid Sosial adalah dimensi sosial dari Tauhidullah. Sementara pada saat yang sama melihat manusia sebagai tujuan dari transformasi nilai. Dimaksudkan agar tauhid Ilahiyah dan Rububiyah yang sudah tertanam di kalangan kaum muslimin dan muslimat. Pengertian Rabb Dalam Al-Qur'an Dan As-Sunnah Alam Semesta Dan Fitrahnya Dalam Tunduk Dan Patuh Kepada Allah Manhaj Al-Qur'an Dalam Menetapkan Wujud Dan Keesaan Al-Khaliq Tauhid Rububiyah Mengharuskan Adanya Tauhid Uluhiyah Makna Tauhid Uluhiyah. Prof. maka tauhid praktis dapat melakukan rekonstruksi dan reformasi sosial. ( Rais. 1998: 108) Dengan demikian. Proses menuju ke arah itu harus dimulai dari penguatan dimensi tauhid. rahmat untuk alam semesta. Labels • • • • • • Kitab Kitab Kitab Kitab Kitab Kitab Tauhid Tauhid Tauhid Tauhid Tauhid Tauhid 1 2 3 3 3 3 (29) (6) Bab 1 Bab 2 Bab 3 Bab 4 (5) (11) (6) (4) Kitab Tauhid 1 • • • • • • • • • • • • • • Makna Aqidah Dan Urgensinya Sebagai Landasan Agama Sumber-sumber Aqidah Yang Benar dan Manhaj Salaf dalam Mengambil Aqidah.

Ibadah ialah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Subhannahu wa Ta'ala . tetapi makna dan maksudnya satu. 3. Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan hati. Definisi Ibadah Ibadah secara etimologi berarti merendahkan diri serta tunduk. 2. Ibadah ialah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para rasulNya. Serta Pendapat Golongan Sesat Berikut Bantahannya Buah Tarbiyah Tauhid Asma' Wa Sifat Pada Diri Individu Dan Masyarakat Al-wala' wal bara' Mudahanah dan Mudarah berikut kaitannya dengan al-wala' wal bara' Beberapa Contoh Tentang Setia Dan Memusuhi Karena Allah Menyayangi Dan Memusuhi Para Ahli Maksiat Menyambut Dan Ikut rayakan Hari Raya Atau Pesta Orang Kafir Serta Berbelasungkawa dlm Hari Duka Mereka Hukum Meminta Bantuan Kepada Orang-Orang Kafir Mengutamakan Tinggal Dan Bekerja Di Negara Kafir Hukum Meniru Kaum Kuffar. Rasa khauf (takut). Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak . raja' (mengharap). zakat.• • • • • • • • • • • • • • • Pilar-Pilar Ubudiyah Yang Benar Tingkatan Dien Makna Tauhid Asma' Wa Sifat Dan Manhaj Salaf Di Dalamnya Asma' Husna Dan Sifat Kesempurnaan. baik berupa ucapan atau perbuatan. Definisi itu antara lain adalah: 1. Sedangkan shalat. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi. raghbah (senang) dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). haji dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Macam Dan Keluasan Cakupannya Wednesday. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu. Ibadah itu terbagi menjadi ibadah hati. lisan dan badan. lisan dan anggota badan. Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Macam-Macam Dan Dampaknya Bentuk-Bentuk Taqlid Kepada Kuffar Yang Buruk Sikap Pasif Kaum Muslimin Dan Problematikanya Ibadah: Pengertian. May 18.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan A. ibadah mempunyai banyak definisi. mahabbah (cinta). Ini adalah definisi ibadah yang paling lengkap. Di dalam syara'. yang zhahir maupun yang batin. tawakkal (ketergantungan). 2005 Kitab Tauhid 1 oleh: Dr.

Karenanya. ia adalah sombong. satu-satunya Dzat yang harus disembah. ikhlas kepadaNya. Ia mencakup semua macam ketaatan yang nampak pada lisan. nikah dan sebagainya. tawakkal. hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala. Dan Allah Mahakaya. pemberi seluruh anugerah. orang miskin dan ibnu sabil. Begitu pula cinta kepada Allah dan RasulNya. dan selain-Nya tidak pantas disembah. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. akan tetapi merekalah yang membutuhkannya. Maka siapa yang menolak beribadah kepada Allah. amar ma'ruf nahi mungkar. shalat. Tujuan ini hanya dapat tercapai dengan beribadah kepada Allah swt. Dan siapa yang hanya menyembahNya dan dengan syari'atNya. ridha dengan qadha'-Nya. Bahkan adat kebiasaan (yang mubah) pun bernilai ibadah jika diniatkan sebagai bekal untuk taat kepadaNya. Dan sifat ini tidak akan dijumpai selain pada Dzat Nan Kudus. B. anggota badan dan yang lahir dari hati. jihad. Wujud Nir-Batas itu. berbuat baik kepada kerabat. tidak membutuhkan ibadah mereka. [2] . khasyyatullah (takut kepada Allah). bekerja mencari nafkah. sabar terhadap hu-kumNya. Dan refleksi pancaran dari sifat sempurna dan indahNya bertakhta dalam relung jiwa yang merupakan hasil penjagaan jarak dari hawa nafsu. ibadah mencakup seluruh tingkah laku seorang mukmin jika diniatkan qurbah (mendekatkan diri kepada Allah) atau apa-apa yang membantu qurbah. jual-beli. maka dia adalah muk-min muwahhid (yang mengesakan Allah). maka mereka menyembahNya sesuai dengan aturan syari'atNya. Tujuan utama ibadah adalah menemukan jalan untuk mendekatkan diri kepada derajat kesempurnaan mutlak dan mutlak sempurna. makan. Macam-Macam Ibadah Dan Keluasan Cakupannya Ibadah itu banyak macamnya. Berbagai kebiasaan tersebut jika disertai niat baik (benar) maka menjadi bernilai ibadah yang berhak mendapatkan pahala. Seperti tidur. Dzat yang tidak memerlukan segala sesuatu.menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. minum. yang merupakan Pemilik kesempurnaan mutlak. zakat. tahlil dan membaca Al-Qur'an. puasa. anak yatim. serta menggayutkan diri kepada membina dan menghias diri (tahdzib nafs). auhid Ibadah Maksudnya adalah Allah swt. mengharap nikmatNya dan takut dari siksaNya. karena ketergantungan mereka kepada Allah. Karena ibadah khusus bagi seseorang yang sempurna mutlak (kamâl mutlaq) dan mutlak sempurna (mutlaq kamâl)." (Adz-Dazariyat: 56-58) Allah Subhannahu wa Ta'ala memberitahukan. inabah (kembali) kepadaNya. Jadi. Seperti dzikir. tidaklah ibadah itu terbatas hanya pada syi'ar-syi'ar yang biasa dikenal. Siapa yang menyembahNya tetapi dengan selain apa yang disyari'at-kanNya maka ia adalah mubtadi' (pelaku bid'ah). tasbih. pencipta seluruh wujud. haji.

rang Muslim beriman kepada ketuhanan Allah Ta'ala bagi manusia sejak pertama hingga generasi terakhir, kerububiyahan-Nya terhadap alam semesta, bahwa tidak ada pengaturan dunia selain Dia, dan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia. Oleh karena itu, ia memperuntukkan bagi Allah ibadah-ibadah yang disyariatkan-Nya kepadanya, dan tidak memalingkannya sedikit pun kepada selain Allah. Jika ia minta pertolongan, ia meminta pertolongan kepada Allah. Jika ia bernadzar, ia tidak bernadzar untuk selain Allah. Untuk Allah-lah semua amal perbuatan batinnya, seperti takut, berharap, taubat, cinta, pengagungan, tawakkal, dan amal perbuatan lahiriyahnya seperti shalat, zakat, haji, dan jihad. Itu semua karena dalil-dalil wahyu dan dalil-dalil akal seperti berikut. Dalil-Dalil Wahyu 1. Perintah Allah Ta'ala kepada sikap seperti di atas dalam firman-firman-Nya, seperti firman-firman-Nya berikut ini. o "Sesungguhnya Aku Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengikuti Aku." (Thaha: 14) o "Dan hanya kepada-Kulah kalian harus takut (tunduk)." (Al-Baqarah: 40) o "Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untuk kalian karena itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui." (Al-Baqarah: 21-22) o "Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang benar melainkan Allah." (Muhammad: 19) o "Maka mohonlah perlindungan kepada Allah, sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Fushshilat:36) o "Dan hendaklah orang-orang Mukmin itu bertawakal kepada Allah saja." (AtTaghabun: 13) 2. Penjelasan Allah Ta'ala tentang hal tersebut dalam firman-firman-Nya seperti dalam firman-firman-Nya berikut ini. o "Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thagut'." (An-Nahl: 36) o "Barang siapa ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat dan tidak akan putus." (Al-Baqarah: 256) o "Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwa tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah oleh kalian akan Aku'." (Al-Anbiya': 25) o "Katakanlah, 'Maka apakah kalian menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?'." (Az-Zumar: 64) o "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan." (Al-Fatihah: 5)

"Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu, 'Peringatkanlah oleh kalian, bahwa tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kalian bertakwa kepada-Ku'." (An-Nahl: 2) 3. Penjelasan Rasulullah saw. tentang hal tersebut dalam hadits-haditsnya, seperti dalam hadits-haditsnya berikut ini. o Sabda Rasulullah saw. kepada Muadz bin Jabal r.a. yang beliu utus ke Yaman, "Hendaklah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka ialah hendaknya mereka beribadah kepada Allah Ta'ala." (Muttafaq Alaih). o Sabda Rasulullah saw. kepada Muadz bin Jabal r.a., "Hai Muadz, apa hak Allah atas hamba-hamba?" Muadz bin Jabal menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Rasulullah saw. bersabda, "Yaitu hendaknya mereka beribadah kepada-Nya, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun." (Diriwayatkan An-Nasai dan ia men-shahih-kannya). o Sabda Rasulullah saw. kepada Abdullah bin Abbas Radhiyallahu 'Anhuma, "Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Dan jika engkau minta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah." (Diriwayatkan At-Tirmidzi). o "Sesuatu yang paling aku khawatirkan pada kalian ialah syirik kecil." Para sahabat bertanya, "Apa yang dimaksud dengan syirik kecil, wahai Rasulullah?" Rasulullah saw. menjawab, "Riya'. Pada hari kiamat Allah berfirman setelah membalas manusia dengan amal perbuatan mereka, Pergilah kepada orangorang yang kalian lakukan riya' di dunia, kemudian lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?" (Diriwayatkan Ahmad dari banyak jalur dan hadits ini hasan). o "Bukankah mereka menghalalkan bagi kalian apa yang diharamkan Allah bagi kalian kemudian kalian juga menghalalkannya dan mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah kemudian kalian juga mengharamkannya?" Orang-orang menjawab, "Ya betul." Rasulullah saw. bersabda, "Itulah bentuk ibadah mereka kepadanya." (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan ia meng-hasan-kannya). Sabda di atas diucapkan Rasulullah saw. kepada Adi bin Hatim ketika ia mendengar firman Allah Ta'ala, "Mereka menjadikan pendeta-pendeta, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah." Kemudian Adi bin Hatim berkata, "Wahai Rasulullah, kita tidak menyembah mereka." o "Sesungguhnya permintaan tolong itu tidak kepadaku, namun permintaan tolong itu kepada Allah." (Diriwayatkan Ath-Thabrani. Hadits ini hasan). Sabda di atas diucapkan Rasulullah saw. setelah sebagian sahabat berkata kepada sebagian sahabat yang lain, "Mari kita minta tolong kepada Rasulullah saw. dari orang munafik yang mengganggu kita." o "Barang siapa bersumpah dengan selain Allah, ia telah melakukan syirik." (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan ia meng-hasan-kannya). o "Sesungguhnya mantra, jimat, dan guna-guna adalah syirik." (Diriwayatkan Ahmad, Abu Daud, dan lain sebagainya. Hadits ini hasan).
o

Dalil-Dalil Akal

1. Kesendirian Allah Ta'ala dalam penciptaan makhluk, pemberian rizki, dan pengurusan alam semesta mengharuskan manusia beribadah kepada-Nya saja, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. 2. Semua makhluk membutuhkan Allah Ta'ala. Jadi, tidak satu pun dari makhluk-makhluk pantas menjadi Tuhan yang disembah bersama Allah Ta'ala. 3. Sesuatu yang tidak mampu memberi pertolongan atau perlindungan tidak berhak untuk dimintai kepadanya pertolongan, bernadzar untuknya, bergantung atau bertawakkal kepadanya. Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 65-70.

Jabariyah & Qadariyah
BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Persoalan Iman (aqidah) agaknya merupakan aspek utama dalam ajaran Islam yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad. Pentingnnya masalah aqidah ini dalam ajaran Islam tampak jelas pada misi pertama dakwah Nabi ketika berada di Mekkah. Pada periode Mekkah ini, persoalan aqidah memperoleh perhatian yang cukup kuat dibanding persoalan syari’at, sehingga tema sentral dari ayat-ayat al-Quran yang turun selama periode ini adalah ayat-ayat yang menyerukan kepada masalah keimanan.[[1]] Berbicara masalah aliran pemikiran dalam Islam berarti berbicara tentang Ilmu Kalam. Kalam secara harfiah berarti “kata-kata”. Kaum teolog Islam berdebat dengan kata-kata dalam mempertahankan pendapat dan pemikirannya sehingga teolog disebut sebagai mutakallim yaitu ahli debat yang pintar mengolah kata. Ilmu kalam juga diartikan sebagai teologi Islam atau

kedudukan wahyu dan akal. para malaikat. seiring dengan perjalanan waktu. yaitu Mu'tazilah. d. Mencakup di dalamnya adalah latar belakang lahirnya sebuah aliran dan ajaranajarannya secara umum. b.ushuluddin. Mempelajari teologi akan memberi seseorang keyakinan yang mendasar dan tidak mudah digoyahkan. Perbedaan itu kemudian memunculkan berbagai macam aliran. meningkat menjadi persoalan teologi. perbedaan itu demikian tampak melalui perdebatan aliran-aliran kalam yang muncul tentang berbagai persoalan. Syiah. Khawarij. Makalah ini akan mencoba menjelaskan aliran Jabariyah dan Qadariyah. Munculnya perbedaan antara umat Islam. ilmu yang membahas ajaran-ajaran dasar dari agama. Misalnya tentang kekuasaan Allah dan kehendak manusia. f. hari akhir dan berbagai ajaran nabi yang tidak mungkin lagi ada peluang untuk memperdebatkannya. Perbedaan yang pertama muncul dalam Islam bukanlah masalah teologi melainkan di bidang politik. keadilan Tuhan. B. Jabariyah dan Qadariyah serta aliran-aliran lainnya. Dalam makalah ini penulis hanya menjelaskan secara singkat dan umum tentang aliran Jabariyah dan Qadariyah. TOPIK PEMBAHASAN a. keimanan kepada para rasul. Secara teoritis.[[2]] Perbedaan teologis di kalangan umat Islam sejak awal memang dapat mengemuka dalam bentuk praktis maupun teoritis. Akan tetapi perselisihan politik ini. Tetapi patut dicatat bahwa perbedaan yang ada umumnya masih sebatas pada aspek filosofis diluar persoalan keesaan Allah. e. c. Aliran Jabariyah Ajaran-ajaran Jabariyah Aliran Qadariyah Aliran Jabariyah Ajaran-ajaran Qadariyah Refleksi Faham Qadariyah dan Jabariyah : Sebuah Perbandingan tentang Musibah BAB II .

di sini manusia tidak mempunyai kebebasan dalam berbuat. Pendapat yang lain mengatakan bahwa paham ini diduga telah muncul sejak sebelum agama Islam datang ke masyarakat Arab. tapi diciptakan oleh Tuhan dan dengan kehendak-Nya. Kehidupan bangsa Arab yang diliputi oleh gurun pasir sahara telah memberikan pengaruh besar dalam cara hidup mereka. Sedangkan secara istilah Jabariyah adalah menolak adanya perbuatan dari manusia dan menyandarkan semua perbuatan kepada Allah. Dengan kata lain adalah manusia mengerjakan perbuatan dalam keadaan terpaksa (majbur). Abu Zahra menuturkan bahwa paham ini muncul sejak zaman sahabat dan masa Bani Umayyah. Di dalam kamus Munjid dijelaskan bahwa nama Jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu. Maksudnya adalah bahwa setiap perbuatan yang dikerjakan manusia tidak berdasarkan kehendak manusia. Ketika itu para ulama membicarakan tentang masalah Qadar dan kekuasaan manusia ketika berhadapan dengan kekuasaan mutlak Tuhan. ALIRAN JABARIYAH (FATALISM/PREDESTINATION) Latar Belakang Lahirnya Jabariyah Secara bahasa Jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung pengertian memaksa. Ada yang mengistilahlkan bahwa Jabariyah adalah aliran manusia menjadi wayang dan Tuhan sebagai dalangnya.[[6]] yang bersamaan dengan munculnya aliran Qadariayah. karena tidak memiliki kemampuan.PEMBAHASAN a. Di tengah bumi yang disinari terik matahari dengan air yang sangat sedikit dan udara yang panas ternyata dapat tidak memberikan kesempatan bagi tumbuhnya pepohonan dan suburnya tanaman.[[4]] Adapun mengenai latar belakang lahirnya aliran Jabariyah tidak adanya penjelelasan yang sarih. [[3]] Menurut Harun Nasution Jabariyah adalah paham yang menyebutkan bahwa segala perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh Qadha dan Qadar Allah.[[5]] Adapaun tokoh yang mendirikan aliran ini menurut Abu Zaharah dan al-Qasimi adalah Jahm bin Safwan. tapi yang tumbuh . Salah satu sifat dari Allah adalah al-Jabbar yang berarti Allah Maha Memaksa.

gugur pula janji dan . Pahala dan siksa akan didapat berdasarkan atas amal perbuatan manusia. c. Khalifah Umar bin al-Khaththab pernah menangkap seorang pencuri. Nabi melarang mereka untuk memperdebatkan persoalan tersebut. agar terhindar dari kekeliruan penafsiran tentang ayat-ayat Tuhan mengenai takdir. b. Artinya mereka banyak tergantung dengan Alam. Ketika Khalifah Ali bin Abu Thalib ditanya tentang qadar Tuhan dalam kaitannya dengan siksa dan pahala. sehingga menyebabakan mereka kepada paham fatalisme. Oleh karena itu Umar memberikan dua jenis hukuman kepada orang itu."apabila perjalanan (menuju perang siffin) itu terjadi dengan qadha dan qadar Tuhan. Ketika diintrogasi. Kemudian Ali menjelaskannya bahwa Qadha dan Qadha Tuhan bukanlah sebuah paksaan. maka tidak ada pahala dan siksa.hanya rumput yang kering dan beberapa pohon kuat untuk menghadapi panasnya musim serta keringnya udara. pencuri itu berkata "Tuhan telah menentukan aku mencuri". Kalau itu sebuah paksaan. Mendengar itu Umar kemudian marah sekali dan menganggap orang itu telah berdusta. diantaranya: Selain ayat-ayat Alquran di atas benih-benih faham al-Jabar juga dapat dilihat dalam beberapa peristiwa sejarah: a.[[7]] Harun Nasution menjelaskan bahwa dalam situasi demikian masyarakat arab tidak melihat jalan untuk mengubah keadaan disekeliling mereka sesuai dengan kehidupan yang diinginkan. Suatu ketika Nabi menjumpai sahabatnya yang sedang bertengkar dalam masalah Takdir Tuhan. Mereka merasa lemah dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup. Orang tua itu bertanya. tidak ada pahala sebagai balasannya.[[8]] Terlepas dari perbedaan pendapat tentang awal lahirnya aliran ini. dalam Alquran sendiri banyak terdapat ayat-ayat yeng menunjukkan tentang latar belakang lahirnya paham Jabariyah. yaitu: hukuman potongan tangan karena mencuri dan hukuman dera karena menggunakan dalil takdir Tuhan.

Di antara tokoh adalah Jahm bin Shofwan dengan pendapatnya adalah bahwa manusia tidak mempu untuk berbuat apa-apa. adanya paham Qadariyah. Lebih dari itu adalah adanya pengaruh dari luar Islam yang ikut andil dalam melahirkan aliran ini.ancaman Allah. Pertama. meniadakan sifat Tuhan. [[11]] c. Ada sebuah pandangan mengatakan bahwa aliran Jabar muncul karena adanya pengaruh dari dari pemikriran asing. dan melihat Tuhan di akherat. kalam Tuhan. konsep iman. d. Surga dan . yaitu pengaruh agama Yahudi bermazhab Qurra dan agama Kristen bermazhab Yacobit. yang mempunyai paham yang mengarah kepada Jabariyah. yaitu factor yang berasal dari pemahaman ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari Alquran dan Sunnah. Adanya paham Jabar telah mengemuka kepermukaan pada masa Bani Umayyah yang tumbuh berkembang di Syiria. Adapun yang menjadi dasar munculnya paham ini adalah sebagai reaksi dari tiga perkara: pertama. aliran ekstrim. latar belakang lahirnya aliran Jabariyah dapat dibedakan kedalam dua factor. Pendapat Jahm tentang keterpaksaan ini lebih dikenal dibandingkan dengan pendapatnya tentang surga dan neraka. Ia tidak mempunyai daya.[[10]] Dengan demikian. telalu tekstualnya pamahaman agama tanpa adanya keberanian menakwilkan dan ketiga adalah adanya aliran salaf yang ditokohi Muqatil bin Sulaiman yang berlebihan dalam menetapkan sifat-sifat Tuhan sehingga membawa kepada Tasybih. dan tidak pujian bagi orang yang baik dan tidak ada celaan bagi orang berbuat dosa. Ajaran-ajaran Jabariyah Adapun ajaran-ajaran Jabariyah dapat dibedakan menjadi dua kelompok. yaitu ekstrim dan moderat. keduanya. tidak mempunyai kehendak sendiri. dan tidak mempunyai pilihan.[[9]] Di samping adanya bibit pengaruh faham jabar yang telah muncul dari pemahaman terhadap ajaran Islam itu sendiri.

Seluruh tindakan dan perbuatan manusia tidak boleh lepas dari scenario dan kehendak Allah. tetapi manusia mengambil bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu dan Tuhan tidak dapat dilihat di akherat. baik itu positif atau negatif. dan melihat. dan hal ini sama dengan konsep yang dikemukakan oleh kaum Murjiah. Segala akibat. terikat dengan kekuasaan dan kehendak Tuhan. ALIRAN QADARIYAH ( FREE WILL AND FREE ACT( . Sedangkan iman dalam pengertianya adalah ma'rifat atau membenarkan dengan hati. Kedua. Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala hal. Allah tidak mempunyai keserupaan dengan manusia seperti berbicara. dan Tuhan juga tidak dapat dilihat dengan indera mata di akherat kelak. Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk.[[14]] Dengan demikian ajaran Jabariyah yang ekstrim mengatakan bahwa manusia lemah. seperti berbicara. Manusia juga tidak dipaksa.[[12]] Aliran ini dikenal juga dengan nama al-Jahmiyyah atau Jabariyah Khalisah. Sedangkan adhDhirar (tokoh jabariayah moderat lainnya) pendapat bahwa Tuhan dapat saja dilihat dengan indera keenam dan perbuatan dapat ditimbulkan oleh dua pihak.nerka tidak kekal. tetapi manusia memperoleh perbuatan yang diciptakan tuhan. Tokoh yang berpaham seperti ini adalah Husain bin Muhammad an-Najjar yang mengatakan bahwa Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia. dan yang kekal hanya Allah. mendengar. baik dan buruk yang diterima oleh manusia dalam perjalanan hidupnya adalah merupakan ketentuan Allah. Tenaga yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya.[[13]] Ja'ad bin Dirham. tidak mempunyai kehendak dan kemauan bebas sebagaimana dimilki oleh paham Qadariyah. ajaran Jabariyah yang moderat adalah Tuhan menciptakan perbuatan manusia. tidak berdaya.[[15]] C. Kalam Tuhan adalah makhluk. menjelaskan tentang ajaran pokok dari Jabariyah adalah Alquran adalah makhluk dan sesuatu yang baru dan tidak dapat disifatkan kepada Allah. tidak seperti wayang yang dikendalikan oleh dalang dan tidak pula menjadi pencipta perbuatan. tetapi manusia mempunyai bagian di dalamnya. melihat dan mendengar.

yaitu qadara yang bemakna kemampuan dan kekuatan. Namanya adalah Susan. Akan tetepi menurut Ahmad Amin. sebagaimana yang dikemukakan oleh Ahmad Amin. ada sebagian pakar teologi yang mengatakan bahwa Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh Ma’bad al-Jauhani dan Ghilan ad-Dimasyqi sekitar tahun 70 H/689M. [[18]] Ibnu Nabatah menjelaskan dalam kitabnya. Aliran ini lebih menekankan atas kebebasan dan kekuatan manusia dalam mewujudkan perbutan-perbutannya. Montgomery Watt menemukan dokumen lain yang menyatakan bahwa paham Qadariyah terdapat dalam kitab ar-Risalah dan ditulis untuk Khalifah Abdul Malik oleh Hasan al-Basri sekitar tahun 700M. berasal dari bahasa Arab. yakni baik dan buruk.[[16]] Menurut Ahmad Amin sebagaimana dikutip oleh Dr. aliran Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh orang Irak yang pada mulanya beragama Kristen. mencakup semua perbuatan. Aliran-aliran ini berpendapat bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya. dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan. Sementara W. kemudian masuk Islam dan kembali lagi ke agama Kristen. Hadariansyah. Harun Nasution menegaskan bahwa aliran ini berasal dari pengertian bahwa manusia mempunyai kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya. demikian juga pendapat Muhammad Ibnu Syu’ib. Adapun secara termenologi istilah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diinrvensi oleh Allah. ia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri. bahkan pada zaman Abdul Malik bin Marwan pengaruh Qadariyah dapat dikatakan . Manusia mampu melakukan perbuatan.Latar Belakang Lahirnya Aliran Qadariyah Pengertian Qadariyah secara etomologi. karena itu kehadiran Qadariyah dalam wilayah kekuasaanya selalu mendapat tekanan.[[17]] Sejarah lahirnya aliran Qadariyah tidak dapat diketahui secara pasti dan masih merupakan sebuah perdebatan.[[19]] Ditinjau dari segi politik kehadiran mazhab Qadariyah sebagai isyarat menentang politik Bani Umayyah. orang-orang yang berpaham Qadariyah adalah mereka yang mengatakan bahwa manusia memiliki kebebasan berkehendak dan memiliki kemampuan dalam melakukan perbuatan.

Demikian juga manusia tidak mempunyai kekuatan seperti gajah yang mampu membawa barang seratus kilogram. Misalnya manusia ditakdirkan oleh Tuhan tidak mempunyai sirip seperti ikan yang mampu berenang di lautan lepas. Ajaran-ajaran Qadariyah Harun Nasution menjelaskan pendapat Ghalian tentang ajaran Qadariyah bahwa manusia berkuasa atas perbuatan-perbutannya. Manusia sendirilah yang melakukan perbuatan baik atas kehendak dan kekuasaan sendiri dan manusia sendiri pula yang melakukan atau menjauhi perbuatan-perbutan jahat atas kemauan dan dayanya sendiri. sejak azali. Dalam perbuatannya. kecuali mengikuti hokum alam. baik berbuat baik maupun berbuat jahat. manusia hanya bertindak menurut nasib yang telah ditentukan sejak azali terhadap dirinya. orang yang berbuat akan mendapatkan balasannya sesuai dengan tindakannya. Ganjaran kebaikan di sini disamakan dengan balasan surga kelak di akherat dan ganjaran siksa dengan balasan neraka kelak di akherat. Karena itu sangat pantas. .[[22]] Faham takdir yang dikembangkan oleh Qadariyah berbeda dengan konsep yang umum yang dipakai oleh bangsa Arab ketika itu. Manusia dalam demensi fisiknya tidak dapat bebruat lain. sebab dalam perkembangan selanjutnya ajaran Qadariyah itu tertampung dalam Muktazilah.[[21]] Dengan demikian bahwa segala tingkah laku manusia dilakukan atas kehendaknya sendiri. Manusia mempunyai kewenangan untuk melakukan segala perbuatan atas kehendaknya sendiri. itu didasarkan atas pilihan pribadinya sendiri. Dengan demikian takdir adalah ketentuan Allah yang diciptakan-Nya bagi alam semesta beserta seluruh isinya. Secara alamiah sesungguhnya manusia telah memiliki takdir yang tidak dapat diubah. dan dengan daya itu ia dapat berkuasa atas segala perbuatannya.lenyap tapi hanya untuk sementara saja. Tokoh an-Nazzam menyatakan bahwa manusia hidup mempunyai daya. Oleh karena itu. yaitu hokum yang dalam istilah Alquran adalah sunnatullah. ia berhak mendapatkan pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan juga berhak pula memperoleh hukuman atas kejahatan yang diperbuatnya. yaitu paham yang mengatakan bahwa nasib manusia telah ditentukan terlebih dahulu.[[20]] d. bukan oleh takdir Tuhan.

                   Artinya : “Katakanlah kebenaran dari Tuhanmu. Fush-Shilat : 40). Padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.Ali Imran :165)               . Di antara dalil yang mereka gunakan adalah banyak ayat-ayat Alquran yang berbicara dan mendukung paham itu :      Artinya : “Kerjakanlah apa yang kamu kehendaki sesungguhnya Ia melihat apa yang kamu perbuat”.Dengan pemahaman seperti ini tidak ada alasan untuk menyandarkan perbuatan kepada Allah. Al-Kahfi : 29). barang siapa yang mau beriman maka berimanlah dan barang siapa yang mau kafir maka kafirlah”. (QS.                           Artinya : “dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud). (QS. kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". (QS.

pada paham Qadariyah. selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka. misalnya.Ar-R’d :11) e. Sedang. paham Jabariyah disebut juga sebagai paham tradisional dan konservatif dalam Islam dan paham Qadariyah disebut juga sebagai paham rasional dan liberal dalam Islam. karena semua peristiwa dipandang sudah kehendak dan dilakukan oleh Allah. karena semua peristiwa yang berkaitan dengan peranan (perbuatan) manusia harus dipertanggungjawabkan oleh manusia melalui suatu investigasi. berkaitan dengan perbuatannya. berkaitan dengan perbuatannya. bukan Allah. manusia digambarkan sebagai berkuasa penuh untuk menentukan dan mengerjakan perbuatannya. Orang Muslim yang berpaham Qadariyah merupakan kalangan yang terbatas atau hanya sedikit dari mereka. Kedua paham teologi Islam tersebut melandaskan diri di atas dalil-dalil naqli (agama) . seperti di Indonesia. Pada perkembangan selanjutnya. . Pada paham Jabariyah semangat melakukan investigasi sangat kecil.] yang ada pada diri mereka sendiri”. yang berpaham Qadariyah condong mencari tahu di mana letak peranan manusia pada kecelakaan itu. bahwa perbuatan manusia ditentukan dan dikerjakan oleh manusia. Refleksi Faham Qadariyah dan Jabariyah : Sebuah Perbandingan tentang Musibah Dalam paham Jabariyah. Kedua paham itu dapat dicermati pada suatu peristiwa yang menimpa dan berkaitan dengan perbuatan manusia. Dalam paham Qadariyah. Sedang. Di negeri-negeri kaum Muslimin.dan aqli (argumen pikiran). semangat investigasi amat besar.sesuai pemahaman masing-masing atas nash-nash agama (Alquran dan hadits-hadits Nabi Muhammad) . (QS. Kedua paham teologi Islam tersebut membawa efek masing-masing. manusia digambarkan bagai kapas yang melayang di udara yang tidak memiliki sedikit pun daya untuk menentukan gerakannya yang ditentukan dan digerakkan oleh arus angin.Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka. Sedang yang berpaham Qadariyah akan menjawab. kecelakaan pesawat terbang. yang dominan adalah paham Jabariyah. Bagi yang berpaham Jabariyah biasanya dengan enteng mengatakan bahwa kecelakaan itu sudah kehendak dan perbuatan Allah.

sudah cukup bila tindakan membantu korban dan memetik "hikmat" sudah dilakukan. Posisi manusia demikian tidak terdapat di dalam paham Jabariyah. misalnya. BABIII KESIMPULAN Menurut penulis solusi terhadap pandangan aliran Jabariyah dan Qodariyah yaitu bahwa manusia benar-benar memiliki kebebasan berkehendak dan karenanya ia akan dimintai . bagi yang berpaham Jabariyah.Dengan demikian. karena menyikapinya sebagai kehendak dan perbuatan Allah. Sedang bagi yang berpaham Qadariyah. juga adalah makhluk yang harus bertanggung jawab atas perbuatannya. meski gempa dan tsunami tidak secara langsung menunjuk perbuatan manusia. dengan memotret lewat satelit kawasan yang dilanda musibah. Dalam hal musibah gempa dan tsunami baru-baru ini. paham Qadariyah membenarkan suatu investigasi (pencaritahuan). namun mengajukan pertanyaan yang harus dijawab : adakah andil manusia di dalam "mengganggu" ekosistem kehidupan yang menyebabkan alam "marah" dalam bentuk gempa dan tsunami? Untuk itu. selain manusia dinyatakan sebagai makhluk yang merdeka. Akibat dari perbedaan sikap dan posisi itu. ilmu pengetahuan lebih pasti berkembang di dalam paham Qadariyah ketimbang Jabariyah. dalam paham Qadariyah. Sedang hikmat yang dimaksud hanya berupa pengakuan dosa-dosa dan hidup selanjutnya tanpa mengulangi dosa-dosa.

meskipun demikian keputusan tersebut pada dasarnya merupakan pemenuhan takdir (ketentuan) yang telah ditentukan. bahkan jika dirasanya akan berbahaya pula. (Jakarta: Raja Grafindo Persada. terutama dalam langkah awal menyampaikan dakwah Islam sehingga dapat merangkul berbagai golongan Islam yang masih memerlukan pengayoman. Kedua aliran. 1996) . kebebasan berkehendak manusia tidak dapat tercapai tanpa campur tangan Allah SWT. Di samping itu pendapat-pendapat Jabariyah sebenarnya didasarkan karena kuatnya iman terhadap qudrot dan irodat Allah SWT. Sementara bagi Qodariyah manusia adalah pelaku kebaikan dan juga keburukan. cet ke-2 Asmuni. Dirasah Islamiyah: Pengantar Studi Sejarah Kebudayaan Islam dan Pemikiran. ditambah pula dengan sifat wahdaniat-Nya. Anwar. Demikian makalah dari kami yang berjudul “Jabariyah dan Qodariyah” kritik dan saran yang konstruktif sangat kami harapkan demi perbaikan di masa mendatang. Hal ini menunjukkan betapa terbukanya kemungkinan perbedaan pendapat dalam Islam. Rosihan. DAFTAR PUSTAKA 1. keimanan dan juga kekufuran. kursi atau jendela tidak akan tercapai tanpa adanya kayu sementara kayu tersebut yang membuat adalah Allah SWT. Yusran. (Bandung: Puskata Setia. Dalam masalah Iman dan Kufur ajaran Jabariyah yang begitu lemah tetap bisa diberlakukan secara temporal. mereka pun tentu akan mencari jalan dan dalil-dalil lain yang lebih tepat. ketaatan dan juga ketidaktaatan. Sebagai penutup dalam makalah ini. seperti seseorang yang ingin membuat meja. Penghindaran itu pun tidak mutlak dan tidak selama-lamanya. Dari keterangan ajaran-ajaran Jabariyah dan Qodariyah tersebut di atas yang terpenting harus kita pahami bahwa mereka (Jabariyah dan Qodariyah) mengemukakan alasan-alasan dan dalil-dalil serta pendapat yang demikian itu dengan maksud untuk menghindarkan diri dari bahaya yang akan menjerumuskan mereka ke dalam kesesatan beragama dan mencapai kemuliaan dan kesucian Allah SWT dengan sesempurna-sempurnanya.pertanggungjawaban atas keputusannya. 2. baik Qadariyah ataupun Jabariyah nampaknya memperlihatkan paham yang saling bertentangan sekalipun mereka sama-sama berpegang pada Alquran. 2006). Dengan kata lain. Ilmu Kalam.

"Jabariyah" (Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve. (Cairo: Dar al-Ma'arif. Filsafat dan Tasawuf. al-Qaththan. Ali Syami. Tim. Enseklopedi Islam.th) 11. 1997) ← Mu’tazilah Murji’ah → Jabariyah dan Qadariyah 16 January 2009 by Kangsata Leave a Comment Terkait qada’ dan qadar. diterjemahkan dari "Mabahits fi Ulum al-Qur'an. Maghfur. AB. Abudin. Daudy. Studi Ilmu-ilmu Alqur'an. 1986). t. Kuliah Ilmu Kalam. Pemikiran seputar masalah ini melahirkan dua kutub pemikiran ekstrim yang berbeda. Ilmu Kalam. (Banjarmasin: Antasari Press. (Jakarta: Bulan Bintang. Harun. (Jakarta: UI-Press.3. cet ke-5 7. Nasy'at al-Fikr al-Falsafi fi al-Islam. Faham Jabariyah pertama kali dipopulerkan oleh Ja’d bin Dirham di Basrah yang intinya menafikan adanya perbuatan otonom . Muhammad. Pemikiran-pemikiran Teologi dalam Sejarah Pemikiran Islam. (Beirut-Libanon: Dar al-Kurub al-'Ilmiyah. Koreksi atas Pemikiran Kalam dan Filsafat Islam. mula-mula muncul permasalahan tentang kebebasan dan keterpaksaan manusia (al-jabr wa al-ikhtiyar). Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan. 1997) Hadariansyah. Ahmad. yaitu Jabariyah dan Qadariyah. asy-Syahrastani. 1998) 9. (Bangil: alIzzah. 4. (Jakarta: Litera AntarNusa. an-Nasyar. (Jakarta: Raja Grafindo Persada. Nasution. Nata. 1977) 8. Muhammad ibn Abd al-Karim. al-Milal wa an-Nihal. 2002) 6. Manna Khalil. 2008) 5. 2004) 10.

seorang hamba dengan menyandarkan semuanya kepada Allah. Di samping menerima ide jabariyah. Jadi. manusia digambarkan tidak memiliki sifat kesanggupan yang hakiki sehingga segala perbuatannya (baik ketaatan atau kemaksiatan) pada dasarnya adalah keterpaksaan (majburah) karena tidak berasal dari kekuasaan. iman adalah ma’rifah dan kekufuran adalah jahl. perbuatan manusia berada di luar ruang lingkup kekuasaan atau campur tangan Allah. Dalam pendapatnya. kalam Allah bersifat tidak qadim. kehendak maupun usahanya sendiri. . yang kepadanya dinisbatkan aliran Jahmiyah. Jahm juga mengembangkan pemikiranpemikiran lain seperti mengemukakan pendapat bahwa surga dan neraka bersifat fana. Ide jabariyah ini kemudian terpelihara dalam gerakan pemikiran muridnya yaitu Jahm bin Shafwan. Sedangkan faham Qadariyah dengan tokoh utamanya Ma’bad bin Khalid al-Juhani dan Ghailan al-Dimasyqi menyatakan bahwa semua perbuatan manusia adalah karena kehendaknya sendiri. Allah bukan sesuatu dan tidak bisa dilihat pada hari kiamat. bebas dari kehendak Allah.