P. 1
Fungsi, Tugas Dan Wewenang KOMNAS HAM

Fungsi, Tugas Dan Wewenang KOMNAS HAM

|Views: 18,961|Likes:
Published by ViktorLi Hendra
fungsi, tugas dan wewenang KOMNAS HAM
fungsi, tugas dan wewenang KOMNAS HAM

More info:

Categories:Types, Business/Law
Published by: ViktorLi Hendra on Feb 22, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial
List Price: $0.99 Buy Now

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

10/07/2013

$0.99

USD

pdf

text

original

NO.4. PELAJARI TENTANG TEORI SISTEM HUKUM DARI W. FRIEDMAN JAWAB: Teori sistem hukum dari Lawrence M.

Friedman menyatakan: bahwa sebagai suatu sistem hukum dari sistem kemasyarakatan, maka hukum mencakup tiga komponen yaitu: a. legal substance (substansi hukum); merupakan aturan-aturan, norma-norma dan pola prilaku nyata manusia yang berada dalam sistem itu termasuk produk yang dihasilkan oleh orang yang berada di dalam sistem hukum itu, mencakup keputusan yang mereka keluarkan atau aturan baru yang mereka susun. b. legal structure (struktur hukum); merupakan kerangka, bagian yang tetap bertahan, bagian yang memberikan semacam bentuk dan batasan terhadap keseluruhan instansi-instansi penegak hukum. Di Indonesia yang merupakan struktur dari sistem hukum antara lain; institusi atau penegak hukum seperti advokat, polisi, jaksa dan hakim. c. legal culture (budaya hukum); merupakan suasana pikiran sistem dan kekuatan sosial yang menentukan bagaimana hukum itu digunakan, dihindari atau disalahgunakan oleh masyarakat. SOAL NO.5 ApakahFungsi, TugasdanWewenang KOMNAS HAM? JAWAB: FUNGSI KOMNAS HAM: melaksanakanfungsipengkajiandanpenelitian melaksanakanfungsipenyuluhan melaksanakanfungsipemantauan melaksanakanfungsimediasitentanghakasasimanusia TUGAS DAN WEWENANG 1. TugasdanWewenangdalamfungsipengkajiandanpenelitian a. pengkajiandanpenelitianberbagaiinstrumenintemasionalhakasasimanusiadengantujuanme mberikan saran-saran mengenaikemungkinanaksesidanatauratifikasi; b. pengkajiandanpenelitianberbagaiperaturanperundangundanganuntukmemberikanrekomendasimengenaipembentukan, perubahan, danpencabutanperaturanperundang-undangan yang berkaitandenganhakasasimanusia; c. penerbitanhasilpengkajiandanpenelitian; d. studikepustakaan, studilapangandanstudi banding di negara lain mengenaihakasasimanusia; e. pembahasanberbagaimasalah yang berkaitandenganperlindungan, penegakan,danpemajuanhakasasimanusia; dan f. kerjasamapengkajiandanpenelitiandenganorganisasi, lembagaataupihaklainnya, baiktingkatnasional, regional, maupuninternasionaldalambidanghakasasimanusia.

upayapeningkatankesadaranmasyarakattentanghakasasimanusiamela]uilembagapendidika n formal dannonformalsertaberbagaikalanganlainnya. b. pemberianpendapatberdasarkanpersetujuanKetuaPengadilanterhadapperkaratertentu yang sedangdalam proses peradilan. b. baikditingkatnasional. regional. c. Bilamanadalamperkaratersebutterdapatpelanggaranhakasasimanusiadalammasalahpublikdanacar apemeriksaanolehpengadilan yang kemudianpendapatKomnas HAM tersebutwajibdiberitahukanoleh hakim kepadaparapihak. TugasdanWewenangdalamfungsimediasitentanghakasasimanusia a. dan h. dan c. d. dankepadasaksipengadudimintamenyerahkanbukti yang diperlukan. penyampaianrekomendasiatassuatukasuspelanggaranhakasasimanusiakepadaPemerintahuntukditi ndaklanjutipenyelesaiannya. pekarangan. d. danpenilaianahli. lembagaataupihaklainnya. pemanggilansaksiuntukdimintadandidengarkesaksiannya. dan e. e. pengamatanpe]aksanaanhakasasimanusiadanpenyusunanlaporanhasilpengamatantersebut. 3. f. perdamaiankeduabelahpihak. maupuninternasionaldalambidanghakasasimanusia. b. c. kerjasamadenganorganisasi. penyebarluasanwawasanmengenaihakasasimanusiakepadamasyarakat Indonesia. bangunan. TugasdanWewenangdalamfungsipemantauan a. penyelidikandanpemeriksaanterhadapperistiwa yang timbuldalammasyarakat yang berdasarkansifatataulingkupnyapatutdidugaterdapatpelanggaranhakasasimanusia. pemeriksaansetempatterhadaprumah. negosiasi. penyelesaianperkaramelaluicarakonsultasi. Pembentukan Hukum HAM Internasional . peninjauan di tempatkejadiandantempatlainnya yang dianggapperlu. pemberian saran kepadaparapihakuntukmenyelesaikansengketamelaluipengadilan. 4. g. HUKUM HAM INTERNASIONAL DAN NASIONAL A. pemanggilankepadapihakpengaduataukorbanmaupunpihak yang diadukanuntukdimintaidandidengarketerangannya. konsiliasi. TugasdanWewenangdalamfungsipenyuluhan a. dantempat-tempatlainnya yang didudukiataudimilikipihaktertentudenganpersetujuanKetuaPengadilan.2. penyampaianrekomendasiatassuatukasuspelanggaranhakasasimanusiakepadaDewanPerwakilan Rakyat Republik Indonesia untukditindaklanjuti. HUKUM HAM INTERNASIONAL 1. mediasi. pemanggilanterhadappihakterkaituntukmemberikanketerangansecaratertulisataumenyerah kandokumen yang diper]ukansesuaidenganaslinyadenganpersetujuanKetuaPengadilan.

Kewengan dari Majelis Umum PBB yang terkait dengan HAM adalah membuat rekomendasi dalam bentuk resolusi. yang dilindungi dapat berupa individu. b. yang diantaranya menghasilkan Resolusi A/RES/217. Tugasnya adalah memberikan bantuan kepada Majelis Umum PBB untuk peningkatan kerjasama dalam bidan ekonomi dan sosial. Standar HAM Internasional dibentuk dan dikembangkan dalam berbagai forum internasional. dan kewenangan untuk membuat organ tambahan (subsidiary organs) yang kemudian membentuk Dewan Hak Asasi Manusia melalui Resolusi A/RES/60/251. merupakan organ utama dari PBB. Majelis Umum PBB (United Nations General Assembly) Majelis Umum PBB merupakan salah satu organ utama dari PBB yang setiap negara anggota PBB terwakili di dalamnya. Beberapa Badan PBB yang terkait dengan Penegakan Hukum dan Pembentukan standar HAM Internasional: a. kelompok atau harta benda. atau bentuk lainnya seperti deklarasi maupun petunjuk teknis. Dalam membahas racangan tersebut dilakukan penelitian yang mendalam dan perdebatan yang panjang sampi disepakati teks akhir dari perjanjian dan deklarasi. perjanjian internasional. Dalam sistem PBB. Proses pembentukan ini tidak hanya membahas bentuk dan substansi dari rancangan deklarasi dan perjanjian yang akan disepakati tetapi juga dibahas secara detail pasal per pasal dan kata perkata dari isi perjanjian yang kemudian disepakati menjadi perjanjian internasional oleh negaranegara. Dalam HAM. Negara atau pejabat negara sebagai bagian dari negara mempunyai kewajiban dalam lingkup internasional untuk melindungi warga negara beserta harta bendanya. mesahan atau mengsksesi dan mentransformasikannya ke dalam hukum nasional dari perjanjian tersebut. tentang Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Salah satu badan di bawah Dewan Ekonomi dan Sosial adalah Komisi HAM PBB (United Nations Commission for Human Rights) yang kemudian digantikan oleh Dewan HAM PBB. Hal ini dilakukan agar semua pandangan dari berbagai negara dengan sistem hukum yang berbeda dapat diakomodasi dalam rancangan perjanjian atau deklarasi. Proses pembentukan standar ini dilakukan oleh perwakilan negara-negara dalam forum internasional melalui proses yang panjang dan dalam kurun waktu yang cukup lama. HAM termasuk kedalam sistem hukum internasional (dibentuk oleh masyarakat internasional yang terdiri dari negara-negara). Walaupun pada akhirnya seperti dalam perjanjian internasional masih dibutuhak tindakan lebih lanjut dari negara-negara untuk menandatangani. Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (United Nations Economic and Social Council) Dewan Ekonomi dan Sosial PBB. . seperti halnya Majelis Umum PBB. setiap perwakilan dari anggota PBB diundang untuk melakukan persiapan dan negosiasi terkait dengan pembentukan standar HAM internasional. Kemudian negara menyatakan persetujuannya dan terikat pada hukum internasional tersebut.Secara internasional. Negara mempunyai peranan penting dalam membentuk sistem hukum tersebut melalui kebiasaan.

e. Sub Komisi ini terdiri atas 26 ahli HAM. Kedudukan Dewan HAM adalah sebagai badan tambahan dari Majelis Umum PBB. konvensi. merupakan kebiasaan umum yang diterima sebagai „hukum‟. b. Sumber hukum internasional sebagaimana tercantum dalam Pasal 38 ayat 1 Piagam Mahkamah Internasional terdiri dari 3 sumber utama dan 2 sumber tambahan. d. bertujuan untuk membentuk hukum sehingga mempunyai akibat hukum. Dewan Hak Asasi Manusia (United Nations Human Rights Council) Dewan HAM PBB. yang menggantikan posisi dari Komisi HAM PBB. Pertemuan Berkala mengenai Pencegahan Tindak Pidana dan Penanganan Pelaku Tindak Pidana (Periodic Congresses on the Prevention of Crime and the Treatment of Offenders) 2. merupakan perjanjian yang dihasilkan oleh organ PBB ini. perjanjian dan lain-lain. Putusan Hakim . c. Bentuknya dapat berupa kovenan. Hukum Perjanjian Internasional Perjanjian internasional adalah perjanjian yang dibuat oleh anggota masyarakat internasional yang terdiri dari negara-negara. Prinsip Hukum Umum Prinsip Hukum Umum adalah asas hukum umum yang terdapat dan berlaku dalam hukum nasional negara-negara di dunia.Sebagian besar perjanjian internasional HAM. Sub Komisi Pengenalan dan Perlindungan HAM (Sub-Commission on Promotion dan Protection of Human Rigths) Sub Komisi Pengenalan dan Perlindungan HAM adalah badan dibawah Dewan HAM yang bertugas melakukan penelitian atas perlakuan yang tidak adil dan membuat rekomendasi bahwa HAM dapat terlindungi secara hukum. Hukum Kebiasaan Internasional Kebiasaan internasional (Customary International Law) adalah kebiasaan internasional antar negara-negara di dunia. Sumber hukum tersebut adalah: a. c. Sosial dan Budaya (International Covenant on Economic. seperti Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights) dan Kovenan Internasional Hak Ekonomi. Social dan Cultural Rights). Sumber Hukum Internasional HAM Norma dan standar HAM berasal dari hukum internasional. merupakan organ PBB yang dibentuk berdasarkan Resolusi Majelis Umum PBB A/RES/60/251. d. Tugas utamanya adalah melakukan tindak lanjut terhadap pelanggaran HAM yang terjadi di dunia. Prinsip ini mendasari sistem hukum positif dan lembaga hukum yang ada di dunia.

Instrumen Hukum yang Mengikat . Protokol dan Annex tidak berdiri sendiri dalam pelaksanaannya. jenis kelamin. Pendapat para ahli hukum internasional Pendapat ahli hukum internasional yang terkemuka adalah hasil penelitian dan tulisan yang sering dipakai sebagai pedoman untuk menemukan apa yang menjadi hukum internasional. keputusan tersebut dapat digunakan untuk membuktikan adanya kaidah hukum internasional mengenai suatu perkara. sosial. bahasa atau agama …” Komitmen ini kemudian ditindaklanjuti oleh PBB melalui pembentukan instrumeninstrumen hukumyang mengatur tentang HAM sebagai berikut: a.Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights) . dan menggalakan serta meningkatkan penghormatan bagi hak asasi manusia dan kebebasan fundamental bagi semua orang tanpa pembedaan ras. Kedua resolusi yang dikeluarkan oleh Dewan Keamanan PBB. komitmen untuk memenuhi. Namun demikian. Agreement. diantaranya dalam Pasal 1 (3): ”Untuk memajukan kerjasama internasional dalam memecahkan masalah-masalah internasional dibidang ekonomi. c. diantaranya adalah: a. Dalam hukum internasional sebagaimana juga dalam hukum HAM internasional terdapat beberapa bentuk produk hukum. karena terkait erat dengan perjanjian induknya. Meskipun demikian. Keputusan pengadilan ini hanya mengikat para pihak yang bersengketa saja. pertama adalah resolusi yang dihasilkan oleh Majelis Umum PBB. Resolusi Dewan Keamana PBB mempunyai kekuatan hukum. 3. Protocol dan Annex adalah penjelasan atau aturan lebih lanjut dari Konvensi atau perjanjian internasional. Resolusi ini tidak mempunyai kekuatan hukum walaupun ada beberapa Resolusi yang cukup otoritatif seperti Resolusi tentang DUHAM. e. Pakta. Konvensi mempunyai nama yang bermacam-macam seperti Kovenant. Resolusi adalah keputusan yang diambil oleh suatu badan dalam organisasi internasional dalam hal ini adalah PBB. Instrumen Hukum HAM Dalam Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). b. melindungi HAM serta menghormati kebebasan pokok manusia secara universal ditegaskan secara berulangulang. Pendapat tersebut bukan merupakan suatu hukum. dimana negara anggota PBB harus mengikuti isi dari resolusi yang dikeluarkan oleh DK PBB. budaya dan kemanusiaan. Di PBB terdapat dua resolusi yang sangat penting. Charter (Piagam) dan lain-lain. Konvensi adalah perjanjian internasional yang jelah mempunyai kekuatan hukum. yang didasarkan pada tiga sumber hukum utama di atas.Putusan pengadilan internasional merupakan sumber hukum tambahan dari tiga sumber hukum utama di atas.

Pasal-pasal tersebut secara berturut-turut menetapkan hak untuk hidup. hak atas keadilan. karena dalam hak ekonomi terdapat prinsip non-diskriminasi dan perlindungan terhadap penghilangan paksa. misalnya (yang terkait dengan penegakan hukum) Pasal 3. DUHAM merupakan pedoman bagi penegak hukum dalam melakukan pekerjaannya. Social dan Cultural Rights) Kovenan ini mulai berlaku pada Januari 1976. Indonesia turut mengaksesinya[1] atau pengesahannya melalui Undang-Undang No. Pelaksanaan Kovenan ini diawasi oleh Komite Hak Asasi Manusia.Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) merupakan langkah besar yang diambil oleh masyarakat internasional pada tahun 1948. DUHAM merupakan kerangka tujuan HAM yang dirancang dalam bentuk umum dan merupakan sumber utama pembentukan dua instrumen HAM. Aparat penegak hukum dalam melaksanakan tugasnya tidak lepas dari masalah ekonomi. . 5. dan budaya masyarakat. dan . 9. 10 dan 11. Norma-norma yang terdapat dalam DUHAM merupakan norma internasional yang disepakati dan diterima oleh negara-negara di dunia melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa. dan merendahkan martabat manusia. diperlakukan atau dihukum secara kejam.Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. . . sehingga mengikat pemerintah beserta aparatnya. yaitu: Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik serta Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. hak atas praduga tak bersalah sampai terbukti bersalah. Indonesia melalui UU No. Kovenan ini telah disahkan oleh lebih dari 100 negara di dunia. Hak-hak yang terdapat dalam DUHAM merupakan realisasi dari hak-hak dasar yang terdapat dalam Piagam PBB. hak atas kebebasan dan keamanan diri. Alasan perlunya mempertimbangkan hak-hak dalam Kovenan ini adalah[2]: . sosial. Sosial dan Budaya. 11 tahun 2005 mengesahkannya. . . . Sosial dan Budaya (International Covenant on Economic.Hak hidup.Hak untuk tidak dipenjara semata-mata atas dasar ketidakmampuan memenuhi kewajiban kontraktual. .Asumsi bahwa hak ekonomi dan hak sosial tidak penting diterapkan dalam pekerjaan seharihari adalah tidak benar. 12 tahun 2005. . tidak manusiawi atau direndahkan martabat. Konvenan ini mengatur mengenai: . pelarangan penyiksaanperlakuan-penghukuman lain yang kejam.Hak untuk tidak dihukum dengan hukuman yang berlaku surut dalam penerapan hukum pidana. pelarangan penangkapan sewenang-wenang. serta pelarangan hukuman berlaku surut.Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights) Hak-hak dalam DUHAM diatur secara lebih jelas dan rinci dalam Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik.Hak atas kemerdekaan dan keamanan pribadi.Hukum berlaku tidak pada keadaan vakum. yang mulai berlaku secara internasional sejak Maret 1976.Hak atas persamaan kedudukan di depan pengadilan dan badan peradilan. tidak manusiawi. Secara keseluruhan.Hak untuk tidak disiksa.

pengembalian (refouler). 5 tahun 1998. administrasi. 2) menjamin agar setiap orang yang menyatakan bahwa dirinya telah disiksa dalam suatu wilayah kewenangan hukum mempunyai hak untuk mengadu. Seperti halnya Kovenan tentang Hak Sipil dan Politik. pengusiran. · Konvensi Menentang Penyiksaan (Convention against Torture and Other Cruel. Terdapat larangan terhadap segala bentuk diskriminasi rasial dalam bidang politik. Kovenan ini dalam pelaksanaannya juga diawasi oleh suatu Komite (Komite tentang Hak Ekonomi. Konvensi ini menetapkan Genosida sebagai kejahatan internasional dan menetapkan perlunya kerjasama internasional untuk mencegah dan menghapuskan kejahatan genosida.Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminsasi Rasial (International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination) Konvensi ini mulai berlaku sejak Januari 1969 dan disah oleh Indonesia melalui UU No. . Indonesia melalui UU No. 29 tahun 1999. yang mengawasi pelaksanaannya. Konvensi ini mewajibkan negara untuk mengambil langkah-langkah legislatif. atau langkah-langkah efektif lainnya guna: 1) mencegah tindak penyiksaan. Sosial dan Budaya). 4) menjamin korban memperoleh ganti rugi serta (hak untuk mendapatkan) kompensasi yang adil dan layak. Kovensi ini mengatur lebih lanjut mengenai apa yang terdapat dalam Kovenan tentang Hak Sipil dan Politik. sosial dan budaya.Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women) . . atau pengekstradisian seseorang ke negara lain apabila terdapat alasan yang cukup kuat untuk menduga bahwa orang tersebut akan berada dalam keadaan bahaya (karena menjadi sasaran penyiksaan). Indonesia mesahkan Konvensi ini melalui UU No. memastikan agar kasusnya diperiksa dengan segera oleh pihak-pihak yang berwenang secara tidak memihak. 3) menjamin bahwa orang yang mengadu dan saksi-saksinya dilindungi dari segala perlakuan buruk atau intimidasi sebagai akibat dari pengaduan atau kesaksian yang mereka berikan. asal usul dan suku bangsa. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM menetapkan genosida sebagai salah satu pelanggaran HAM berat. Inhuman or Degrading Treatment or Punishment) Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam. yang dibentuk berdasarkan aturan yang terdapat didalamnya. . ekonomi. Konvensi ini dalam pelaksanaannya diawasi oleh Komite Menentang Penyiksaan (CAT). Konvensi ini juga membentuk Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial. Tidak Manusia dan Merendahkan Martabat Manusia (Kovensi Menentang Penyiksaan) mulai berlaku sejak Januari 1987. Konvensi ini juga menjamin hak setiap orang untuk diperlakukan sama di depan hukum tanpa membedakan ras. warna kulit.Konvensi Genosida (Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide) Kovensi ini mulai berlaku pada Januari 1951. Selain itu.. hukum.Hak-hak yang dilindungi oleh dua Kovenan diakui secara universal sebagai sesuatu yang saling terkait satu sama lain.

penanganan terhadap informasi rahasia. pelarangan penyiksaan-perlakuan-penghukuman lain yang kejam. ekonomi. universalitas dari hak-hak mereka. sosial budaya. walinya yang sah. Konvensi ini juga mengatur mengenai pembentukan Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW). . Kovensi Pengungsi menentukan empat prinsip HAM dalam menangani pengungsi. Konvensi ini mensyaratkan agar negara melakukan segala cara yang tepat dan tanpa ditunda-tunda untuk menjalankan suatu kebijakan yang menghapus diskriminasi terhadap perempuan serta memberikan kesempatan kepada mereka untuk mendapatkan HAM dan kebebasan dasar berdasarkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. dan sipil. penggunaan kekerasan. Sejak pemberlakuannya. Pedoman ini memberikan arahan bagi penegak hukum dalam menjalankan tugasnya. Indonesia belum mesahkan Konvensi ini walaupun menghadapi banyak masalah pengungsi. jenis kelamin. . asal usul kebangsaan atau sosial. warna kulit. kekayaan. yaitu: persamaan hak. Dalam Konvensi ini negara harus menghormati dan menjamin hak bagi setiap anak tanpa diskriminasi ras. atau kepercayaan orang tua anak. Negara juga harus mengambil langkah-langkah yang layak untuk memastikan bahwa anak dilindungi dari segala bentuk diskriminasi atau hukuman yang didasarkan pada status. atau anggota keluarganya. serta hak untuk mencari dan mendapatkan suaka dari penghukuman. opini politik atau keanggotaan pada kelompok tertentu. kecacatan. tidak manusiawi dan merendahkan . Terdapat delapan pasal yang mengatur mengenai tanggung jawab penegak hukum yaitu. pendapat yang disampaikan. Instrumen Hukum yang Tidak Mengikat . tidak bisa atau tidak mau pulang karena ketakutan.Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of the Child) Konvensi Hak Anak mulai berlaku sejak September 1990 dan disahkan oleh Indonesia melalui Keppres No. Dalam pelaksanaannya. konvensi ini telah menjadi instrumen internasional yang menghapuskan diskriminasi terhadap perempuan dalam bidang politik. b. Pengungsi dalam konvensi ini didefinisikan sebagai mereka yang meninggalkan negaranya karena takut disiksa atas alasan ras. agama. kewarganegaraan. 36 tahun 1990. Konvensi ini juga membentuk Komite Hak Anak (CRC) untuk mengawasi pelaksanaan isi Konvensi.Kovensi ini mulai berlaku sejak September 1981 dan dirafikasi oleh Indonesia melalui UU No. kebangsaan. perlindungan HAM. pendapat politik atau pendapat lainnya. tidak adanya pengasingan terhadap hak-hak mereka. bahasa. kelahiran atau status lain. kegiatan. agama. Pengungsi dibedakan dengan istilah “internaly displaced person” atau pengungsi yang berpindah daerah dalam satu negara. 7 tahun 1984.Konvensi Mengenai Status Pengungsi (Convention relating to the Status of Refugees) Konvesi ini mulai berlaku sejak April 1954.Pedoman Berperilaku bagi Penegak Hukum (Code of Conduct for Law Enforcement Officials) Majelis Umum PBB pada tahun 1979 mengeluarkan resolusi 34/169 tentang Pedoman Pelaksanaan Bagi Penegak Hukum.

serta menyatakan agar diambil langkah-langkah seperlunya untuk menjamin pelaksanaannya. serta penghargaan terhadap hukum dan undang-undang. pemberantasan korupsi. .Deklarasi Mengenai Penghilangan Paksa (Declaration on the Protection of All Persons from Enforced Disappearance) Deklarasi ini diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada Desember 1992. Ditegaskan agar para pembela HAM melakukan aktivitasnya dengan cara-cara damai.Prinsip-Prinsip Dasar Mengenai Penggunaan Kekerasan dan Senjata Api (Basic Principles on the Use of Force and Firearms by Law Enforcement Officials) Prinsip-prinsip ini diadopsi oleh PBB pada tahun 1990. Arbitrary and Summary Executions ) Prinsip-prinsip tentang Pencegahan dan Penyelidikan Efektif terhadap Hukuman Mati yang Tidak Sah. disamping juga menjelaskan hubungan antara HAM dan hukum nasional suatu negara.Deklarasi Mengenai Pembela HAM (Declaration on Human Rights Defender) Deklarasi ini diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1998.martabat manusia. Deklarasi tersebut memuat hak dan kewajiban wanita berdasarkan persamaan hak dengan pria. serta tanggung jawab yang harus dilakukan oleh para pembela HAM.Prinsip-prinsip tentang Hukuman Mati yang Tidak Sah. Prinsip-prinsip ini memberikan . .Deklarasi Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan (Declaration on the Elimination of Violence against Women) Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1967 telah mengadopsi Deklarasi mengenai Penghapusan Diskriminasi terhadap wanita. . Sewenang-sewenang dan Sumir(Principles on the Effective Prevention and Investigation of Extra-legal. Sewenang-sewenang dan Sumir merupakan prinsip-prinsip yang direkomendasikan oleh Dewan Ekonomi dan Sosial PBB pada bulan Mei 2003. administrasi. Deklarasi ini menjadi dasar dalam penyusunan rancangan Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita. . Deklarasi ini mensyaratkan adanya langkah-langkah legislatif. maupun langkah-langkah efektif lainnya untuk mencegah dan menghapuskan tindakan penghilangan paksa. Deklarasi ini tidak membentuk hak-hak baru tetapi lebih pada memberikan panduan bagi para pembela HAM terkait dengan pekerjaan mereka. hukum. Di dalamnya terdapat 21 (dua puluh satu) pasal yang mengatur mengenai pencegahan tindakan penahanan tanpa tujuan yang jelas atau sebagai tindakan kejahatan terhadap kemanusiaan. perlindungan kesehatan tahanan. Deklarasi Pembela HAM memberikan perlindungan bagi para pembela HAM dalam melakukan kegiatan mereka. . menekankan bahwa penggunaan kekerasan dan senjata api hanya dapat dilakukan jika diperlukan serta sesuai dengan tugas pokok maupun fungsi yang diatur oleh peraturan perundangan. Digarisbawahi tugas-tugas negara dalam pemenuhan HAM.

Komnas Perempuan dan Komnas Anak. · Media Masa. Prinsip-prinsip ini juga mejelaskan secara rinci mengenai jaminan terhadap pemenuhan hak untuk hidup. Prinsip-prinsip ini menekankan pentingnya pengawasan (termasuk kejelasan dalam rantai komando) terhadap lembaga-lembaga penegak hukum. · Dewan Perwakilan Rakyat. 4.panduan bagi penegak hukum dalam mengadili para pelaku tindak pidana. · Komisi Nasional HAM. pengawasan dilakukan antara lain oleh: · Lembaga pemerintah termasuk Polisi. Di tingkat nasional. Adapun pengawasan di tingkat internasional atau PBB didasarkan pada perjanjian internasional mengenai HAM: Perjanjian (Instrumen) Hak Asasi Manusia Badan Pengawas Pelaksanaan Perjanjian Komite Hak Ekonomi. Social dan Cultural Rights) Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik(International Covenant on Civil and Political Rights) Konvensi Internasional tentang Penghapusan Bentuk Diskriminasi Ras Komite Penghapusan Diskriminasi Ras (Committee on EliminationRacial Discrimination) Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Diskriminasi terhadap Perempuan (Committee Perempuan (Convention on the Elimination of onEliminations Discrimination AgainstWomen) All Forms of Discrimination against Women) Konvensi menentang Penyiksaan dan Komite Menentang Penyiksaan (Committee Perlakuan atau Penghukuman Lain yang on Against Torture) Kenjam. Pengawasan terhadap Pemenuhan HAM Pengawasan HAM dibagi dua. · Pusat Kajian di Universitas. · Organisasi Keagamaan. Sosial dan Budaya (Committee on EconomicSocial and Cultural Rights) Komite Hak Asasi Manusia (HumanRights Committee) Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Inhuman or Degrading Treatment or Punishment) . · Organisasi Profesi seperti IDI dan Peradi. yaitu pengawasan di tingkat nasional dan tingkat internasional. Sosial dan Budaya (International Covenant on Economic. · Lembaga Swadaya Masyarakat. Tidak Manusiawi dan Merendahkan Martabat Manusia (Convention against Torture and Other Cruel. · Pengadilan.

[4] Sehingga untuk menerapkan hukum internasional yang melindungi HAM. maka secara otomatis perjanjian internasional itu menjadi hukum nasionalnya. Pada sisi lain negara mempunyai kebebasan untuk menentukan acuannya dalam melaksanakan kewajibannya dalam hukum internasional dan menyesuaikan hukum nasionalnya dengan hukum internasional. Pengawasan ditujukan agar terjadi dialog antara komite HAM terkait dengan negara-negara peserta yang bertujuan untuk membantu transformasi konvensi HAM internasional kedalam perundang-undangan nasional serta membantu pelaksanaan kewajiban yang harus dilakukan oleh negara. harus mengetahui dengan baik bagaimana hubungan antara hukum internsional dengan hukum nasional negara yang bersangkutan. Pengawasan ini berfungsi untuk mengiventarisasi secara periodik dan sistematik terhadap kemajuan yang telah dicapai oleh negara-negara terkait dengan pelaksanaan kewajiban yang terdapat di dalam konvensi. agar negara dapat menyesuaikan hukum nasionalnya dengan kewajibannya di dalam hukum internsional. Walaupun sistem pengawasan dari setiap konvensi mengenai HAM berbeda-beda tetapi satu dengan yang lainnya saling melengkapi.Konvensi Hak Anak ( Convention on the Komite Hak Anak (Committee on Rights of the Rights of the Child) Child) Setiap perjanjian internasional HAM mempunyai sistem pengawasan yang berbeda-beda. MENGITEGRASIKAN INSTRUMEN DALAM HUKUM NASIONAL HUKUM HAM INTERNASIONAL KE 1. misalnya. Dialog ini dilakukan secara terbuka antara Komite dan wakil dari negara. ratifikasi saja tidak cukup. . sebagai bagian dari negara.[3] Dengan demikian maka jika suatu negara telah meratifikasi dan menjadi pihak dalam perjanjian internasional untuk melindungan HAM. Kedua teori terseubut adalah sebagai berikut: 1. Teori Hubungan antara Hukum Internasional dan Hukum Nasional Dalam Pasal 27 dari Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian Internasional (the Law of the Treaties) ditegaskan bahwa negara tidak dapat menjadikan hukum nasionalnya sebagai alasan untuk tidak dapat menjalankan kewajiban perjanjian internasional. didasarkan pada pemikiran bahwa hukum nasional dan hukum internasional adalah satu kesatuan sistem hukum. B. Teori monoisme. 2. didasarkan pada pemikiran bahwa hukum internasional dan hukum nasional merupakan dua sistem atau perangkat hukum yang terpisah. Terdapat dua teori untuk menjelaskan hubungan antara hukum internasional dan hukum nasional. yang biasanya dilakukan melalui undang-undang yang dibuat oleh parlemen. Teori dualisme. untuk itu maka sebaiknya aparat penegak hukum. perlu adanya suatu transformasi hukum internasional ke dalam hukum nasional. tetapi juga terdapat kesamaan pada sisi lain. Walaupun dalam sistem hukum internasional dan sistem nasional terdapat perbedaan yang sangat jelas.

dalam penerapan prinsip ini hakim dapat mendasarkan putusannya pada interpretasi atas hukum HAM internasional atau yurisprudensi kasus-kasus HAM diputus oleh pengadilan internasional. dengan menyebutkan perlindungan HAM dalam pasal-pasal yang ada di dalam undang-undang dasar yang diambil dari DUHAM. Tetapi hal ini sangat bergantung pada situasi dan kondiri hukum dari negara yang bersangkutan. diantaranya adalah: 1. Jika terdapat kekosongan hukum. 24 tahun 2000 mengenai Perjanjian Internasional. hakim dan advokat dapat mendasarkan pada hukum internasional. dengan menjadikan perjanjian internasional mengenai HAM menjadi hukum nasionalnya sehingga segala hak dan kewajiban yang ada dalam hukum internasional menjadi hak dan kewajiban di dalam hukum nasionalnya. ”Pengesahan perjanjian internasional sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan undang-undang atau keputusan presiden. 3. Inkorporasi. Hal ini juga memperlihatkan bahwa Indonesia memandang hukum nasional dan hukum internasional sebagai dua sistem hukum yang berbeda dan terpisah satu dengan yang lainnya. 2. Konstitusi. dibeberapa negara. hal ini terlihat dalam Pasal 9 ayat 2 UU No. 5. Indonesia adalah negara yang menganut paham dualisme. Pemberlakuan secara langsung. 6. 24 tahun 2000. Perundang-undangan nasional. . jika terjadi kekosongan hukum mengenai HAM.Dalam menerapkan kedua teori tersebut negara dapat mempraktekkannya dalam berbagai macam cara untuk menjadi hukum nasional. Praktek ini biasa dilakukan olen negara Inggris. Praktik Pengitegrasian Perjanjian Internasional ke dalam Hukum Nasional di Indonesia Di Indonesia pratik pengesahan atau pemberlakuan hukum internasional ke dalam hukum nasional di dasarkan atas Undang Undanga No. dinyatakan bahwa. Interpretasi dalam sistem common law. ICCPR atau ICESCR. 2. 4. perjanjian internasional mengenai HAM langsung menjadi hukum nasional setelah negara yang bersangkutan menyatakan ratifikasi atas perjanjian internasional tersebut. mengeluarkan undang-undang mengenai HAM yang menjelaskan lebih terperinci mengenai HAM yang ada di dalam konstitusi. Perjanjian internasional harus ditransformasikan menjadi hukum nasional dalam bentuk peraturan perundang-undangan melalui undang-undang yang dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) atau dengan keputusan presiden. putusan kasus-kasus internasional atau pada kasus-kasus dari negara lain untuk dapat menerapkan prinsip dasar dari HAM.” Dengan demikian pemberlakuan perjanjian internasional ke dalam hukum nasional indonesia tidak serta merta.

dan keamanan negara b. hak atas persamaan di hadapan hukum dan dalam pemerintahan (Pasal 27 ayat (1)). Dengan demikian. tanpa perlu adanya persetujuan dari parlemen. Perjanjian internasional yang tidak disebutkan di atas dapat disahkan melalui keputusan presiden. hak atas pekerjaan (Pasal27 ayat (2)). Walaupun tidak secara langsung terdapat kata-kata HAM tetapi dari beberapa bagian baik dalam pembukaannya dan batang tubuhnya dinyatakan bahwa HAM dijamin dalam UUD 1945. Sifat dari negara hukum adalah dimana alat-alat perlengkapan negara bertindak sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. hal ini tertuan dalam Undang Undang Dasar 1945 (UUD 1945) yang asli. kedaulatan atau hak berdaulat negara d. Latar Belakang Negara (termasuk di dalamnya Pemerintah dan lembaga-lembaga negara lainnya) dalam melaksanakan tindakan-tindakannya harus dilandasi oleh peraturan hukum sehingga dapat dipertanggung jawabkan secara hukum.[5] Negara hukum mempunyai ciri sebagai berikut[6]: · Pengakuan dan perlindungan HAM. perdamaian. masalah politik. Dengan demikian pemberlakuan perjanjian internasional mengenai HAM kedalam hukum internasional perlu adanya pengesahan dari parlemen agar dapat ditransformasikan ke dalam hukum nasional Indonesia. perubahan wilayah atau penetapan batas wilayah negara c. ketertiban. pembentukan kaidah hukum baru f. hak atas penghidupan yang layak (Pasal 27 ayat (2)). C. .kesejahteraan dan kecerdasan seluruh warganya. perlindungan hak-hak. kebebasan berserikat dan berkumpul (pasal 28). Indonesia sebagai negara hukum mempunyai kewajiban untuk melindunga HAM warganya. HAK ASASI MANUSIA DAN HUKUM NASIONAL 1. hak asasi manusia dan lingkungan hidup e. Negara bertanggung jawab terhadap keamanan. · Peradilan yang bebas dan tidak memihak. pertahanan.Pengesahan perjanjian internasional dilakukan melalui undang-undang apabila berkenaan dengan: a. Hak-hak tersebut adalah hak semua bangsa untuk merdeka (alinea pertama pembukaan). · Didasarkan pada rule of law. pinjaman dan/atau hibah luar negeri. dalam negara hukum harus ada jaminan dan perlindungan HAM yang didasarkan pada ketentuan-ketentuan hukum dan bukan berdasarkan kemauan pribadi atau kelompok.

[7] Setidaknya kemajuan yang sama.5 bulan karena Indonesia kembali kepada negara kesatuan dan ditetapkanya UUD Sementara RI. juga terdapat dalam-Undang Dasar Sementara RI (UUDSRI) dengan kembalinya Indonesia menjadi negara kesatuan. Langkah-langkah ini kemudian diikuti dengan ratifikasi Konvensi Anti Penyiksaan melalui UU No. Pemberlakuan beberapa peraturan perundang-undangan dan pesahkanan beberapa konvensi internasional mengenai HAM menunjukkan bahwa secara de jurepemerintah telah mengakui HAM yang bersifat universal. Terdapat 38 pasal dalam UUDSRI. 29 tahun 1999. Dalam sejarah Indonesia. dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4557. 5 tahun 1998 dan Konvensi Anti Diskriminasi Ras melalui UU No. HAM diatur dalam Bagian V tentang “Hak-hak dan Kebebasan Dasar Manusia”. Di dalam Konstitusi RIS ini setidak-tidaknya terdapat pasal-pasal yang mengatur mengenai HAM secara eksplisit sebanyak 35 pasal dari 197 pasal yang ada. ketika Indonesia baru saja diakui sebagai negara oleh Belanda. kebebasan beragama (Pasal 29 ayat (2)). Pada tahun 1998 Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN HAM) dicanangkan melalui Keputusan Presiden No. XVII/MPR/1998 tertanggal 13 November 1998. HAM dalam Konstitusi RIS diatur dalam Bab V yang berjudul “Hak-hak dan Kebebasan-kebebasan Dasar Manusia”. Sosial dan Budaya yang termuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 118. 129 tahun 1998. 40 tahun 2004. serta · Undang-undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik yang termuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 . 50 tahun 1993. 1950 (dari keseluruhan 146 pasal. Namun hal ini hanya berlaku selama 8. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia oleh Presiden dan DPR sebagai undangundang ”payung” bagi semua peraturan perundang-undangan yang telah ada maupun peraturan perundang-undangan yang akan dibentuk kemudian. yang disusul dengan ditetapkannya · UU No. atau sekitar 26 persen) yang mengatur HAM.kebebasan mengeluarkan pendapat (pasal 28). Diantaranya adalah melalui GBHN maupun pelembagaan HAM melalui Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden No. Pemerintahan Orde Baru sejak 1993 mulai tampak memperhatikan masalah HAM. yang kemudian diperbaharui dengan Keputusan Presiden No. Namun hal ini hanya berlansung dari 15 Agustus 1950-4 Juli 1959. secara konstitusional.[8] Dengan Dekrit Presiden 1959 yang mengembalikan konstitusi Indonesia kembali kepada UUD 1945 yang berlansung sampai dengan pemerintahan Orde Baru. · Perkembangan selanjutnya adalah diundangkannya Undang-undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. dan hak atas pendidikan (Pasal 31 ayat (1)). Langkah-langkah yang telah diambil tersebut diperkuat dengan · TAP MPR No. bentuk dari negara Indonesia berubah menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS) selama tahun 19491950.

Kewajiban dan tanggung jawab pemerintah adalah menghormati. ekonomi. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia memberikan asas-asas tentang pengakuan negara terhadap HAM. 9. Hak untuk Berkeluarga dan melanjutkan keturunan (Pasal 10). hukum tidak tertulis dan hukum internasional mengenai HAM. sehingga pemerintah selalu memperhatikan hak-hak masyarakat dalam setiap pembuatan kebijakan. sehingga menjadikan HAM sebagai hak-hak konstitusional. 6. berhasil tidaknya penegakan HAM di Indonesia sangat bergantung pada penegakan hukum. Hak Turut Serta dalam Pemerintahan (Pasal 43-44). UU No. dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4558. berbangsa dan bernegara. Hak atas Rasa Aman (Pasal 28-35). Hak-hak Anak (Pasal 52 -66). 7. Selain dari HAM yang diatur dalam UU No. 10. 39 tahun 1999. sosial budaya. Namun demikian. Hal ini meliputi langkah implementasi yang efektif dalam bidang hukum. termasuk didalamnya fungsi aparat penegak hukum. hankam dan lain-lain. menegakkan. Hal tersebut diwujudkan dengan ditetapkannya UU No. 3. 39 tahun 1999. Perubahan kedua UUD 1945 Bab XA juga memuat mengenai HAM yang terdiri dari 10 pasal (Pasal 28A -28J). Hak Hidup (Pasal 9). Adapun HAM dan kebebasan dasar manusia dapat dikelompokkan sebagai berikut: 1. Kewajiban untuk menghormati hak asasi orang lain. yaitu: 1. 2. 3. dikaruniai akal dan hati nurani untuk hidup bermasyarakat. 2.Nomor 119. Hal tersebut memberikan kepastian hukum bagi masyarakat yang mendambakan penegakan hak-hak asasinya. Kewajiban warga negara wajib turut serta dalam upaya pembelaan negara. 2. Instrumen Hukum HAM Nasional Undang-Undang No. politik. melindungi. Hak Memperoleh keadilan (Pasal 17-19). Dalam UU No. Hak-hak Perempuan (Pasal 45 – 51). 5. Hak Mengembangkan Diri (Pasal 11-16). bahwa setiap individu dilahirkan bebas dengan harkat dan martabat yang sama. 8. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia oleh Presiden dan DPR untuk mengadili pelanggar HAM yang berat. 4. Hak Kebebasan Pribaditurut serta dalam Pemerintahan (Pasal 20-27). Setiap orang wajib patuh pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ketentuan-ketentuan yang dimuat dalam perubahan kedua UUD 1945 tersebut merangkum ketentuan yang terdapat dalam 106 pasal UU No. dan memajukan HAM. 39 tahun 1999 mengatur kewajiban dan tanggung jawab pemerintah dalam penegakan HAM di Indonesia. 39 tahun 1999 Pasal 104 ayat (1) dinyatakan bahwa perlu dibentuk pengadilan HAM untuk mengadili para pelanggar HAM yang berat. terdapat juga pengaturan kewajiban dasar manusia. . Hak atas Kesejahteraan (Pasal 36-42).

Kewajiban untuk tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan oleh undang-undang.4. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->