P. 1
63073133 Contoh Proposal Ptk Sosiologi

63073133 Contoh Proposal Ptk Sosiologi

|Views: 1,243|Likes:
Published by Dody Setiawan

More info:

Published by: Dody Setiawan on Feb 22, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2014

pdf

text

original

Proposal PTK APLIKASI PENDEKATAN PROBLEM-BASED LEARNING (PBL) DAPAT MENINGKATKAN PEMBELAJARAN SOSIOLOGI PADA KELAS XII

IPS MADRASAH ALIYAH NEGERI 2 SALATIGA TAHUN PELAJARAN 2005 – 2006

Disusun Oleh ………………………………… DEPARTEMEN AGAMA MADRASAH ALIYAH NEGERI SALATIGA 2005

A. JUDUL PENELITIAN Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang berjudul “APLIKASI PENDEKATAN PROBLEM-BASED LEARNING (PBL) DAPAT MENINGKATKAN PEMBELAJARAN SOSIOLOGI PADA KELAS XII IPS MADRASAH ALIYAH NEGERI 2 SALATIGA TAHUN PELAJARAN 2005 – 2006” B. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Berbicara mengenai kualitas sumber daya manusia, pendidikan memegang peranan penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia. (Umaedi (1999 : 1) mengatakan bahwa “Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan sumber daya manusia itu sendiri”. Salah satu strategi kebijakan pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah melalui peningkatan mutu pendidikan. Sejalan dengan perkembangan abad 21, yang dikenal dengan era globalisasi maka diperlukan profesionalisme di segala bidang termasuk dunia pendidikan. Permasalahan yang selalu mengemuka dalam dunia pendidikan adalah bagaimana suatu proses pembelajaran dirancang dan diturunkan dalam praktek. Baik dan buruknya kualitas pendidikan sangat berhubungan dengan kinerja guru dalam menjalankan profesinya sebagai pembelajar. Dalam ruang ini, seorang guru selalu ditantang untuk dapat menemukan format yang tepat dan memformulasikan dalam strategi yang taktis suatu rancangan pembelajaran yang mencerahkan (Parman, 2005 : 9). Berangkat dari latar belakang tersebut, secara mikro (praksis pembelajaran) perlu ditemukan cara terbaik untuk menyampaikan konsep yang diajarkan di dalam mata pelajaran tertentu, sehingga siswa dapat menggunakan dan mengingat lebih lama konsep-konsep tersebut sebagai suatu kompetensi yang berguna. Di samping itu, guru dituntut kemampuannya untuk berkomunikasi secara efektif dengan siswanya. Konsekuensi logis dari tuntutan profesionalitas ini adalah kemampuan menemukan pendekatan dan strategi pembelajaran yang tepat sesuai dengan kekhasan mata pelajaran tertentu.

1

Dalam kedudukannya sebagai sebuah disiplin ilmu sosial yang sudah relatif lama berkembang di lingkungan akademis, secara teoritik idealnya Sosiologi memiliki posisi strategis dalam membahas dan mempelajari masalahmasalah sosial-politik yang berkembang di masyarakat. Karenanya, pengajaran Sosiologi perlu semakin tanggap dan sensitif terhadap perkembangan di masyarakat dan selalu siap dengan pemikiran kritis dan alternatif menjawab tantangan yang ada. Melihat masa depan masyarakat kita, sosiologi semakin dituntut untuk tanggap terhadap isu globalisasi yang didalamnya mencakup demokratisasi, meliputi desentralisasi dan otonomi, penegakkan HAM, good governance (kepemerintahan yang baik), emansipasi, dan masyarakat yang demokratis. Pengajaran Sosiologi di Sekolah Menengah Umum berfungsi untuk meningkatkan kemampuan berfikir, berperilaku, dan berinteraksi dalam keragaman realitas sosial dan budaya berdasarkan etika. Tujuan pengajaran sosiologi Sekolah Menengah Umum pada dasarnya mencakup dua sasaran yang bersifat kognitif dan bersifat praktis. Secara kognitif pengajaran sosiologi dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan dasar sosiologi agar siswa mampu memahami dan menelaah secara rasional komponen-komponen dari individu, kebudayaan dan masyarakat sebagai suatu sistem. Sementara itu sasaran yang bersifat praktis dimaksudkan untuk mengembangkan keterampilan sikap dan perilaku siswa yang rasional dan kritis dalam menghadapi kemajemukan masyarakat, kebudayaan, situasi sosial serta berbagai masalah sosial yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam tataran realitas, pengajaran sosiologi di sekolah, sering kali guru terjebak dengan cara-cara konvensional yang hanya berorientasi pada pencapaian aspek-aspek kognitif yang mengandalkan metode ceramah dalam pembelajarannya. Jika hal ini terjadi, yang terjadi kemudian sebuah verbalisme pengetahuan belaka. Siswa mampu menghafal sejumlah konsep-konsep sosiologi tertentu dalam dimensi akademis, tetapi tidak memiliki kemampuan memecahkan masalah. Pendekatan pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berfikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah. Dengan asumsi dasar pada batasan masalah tersebut, Problem-Based Learning (PBL) menjadi relevan untuk diterapkan sebagai strategi pembelajaran Sosiologi. Dengan pendekatan PBL diasumsikan belajar Sosiologi akan menjadi menarik karena objek yang dipelajari situasi dunia nyata yang dekat dengan kehidupan siswa. Di samping itu, konsep pengetahuan esensial yang dipelajari akan menggerakkan pada kemampuan berpikir tingkat tinggi, dan dengan sendirinya akan mendorong siswa untuk belajar pada situasi bagaimana belajar. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah tersebut di atas, maka secara spesifik masalahnya dapat dirumuskan sebagai berikut: a. Apakah dengan pendekatan Problem-Based Learning dapat meningkatkan pembelajaran Sosiologi pada kelas XII IPS Madrasah Aliyah Negeri 2 SALATIGA tahun pelajaran 2006 – 2007? b. Bagaimana perubahan tingkah laku yang menyertai peningkatan pembelajaran Sosiologi melalui pendekatan Problem-Based Learning? Tujian Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: a. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Sosiologi melalui pendekatan Problem-Based Learning pada kelas XII IPS Madrasah Aliyah Negeri 2 SALATIGA. 3. 2.

2

b. Untuk mengetahui tingkah laku yang menyertai peningkatan pembelajaran Sosiologi melalui pendekatan Problem-Based Learning pada kelas XII IPS Madrasah Aliyah Negeri 2 SALATIGA. Hipotesis Tindakan Hipotesis tindakan penelitian ini adalah: a. Melalui pendekatan Problem-Based Learning kualitas pembelajaran Sosiologi pada kelas XII IPS Madrasah Aliyah Negeri 2 SALATIGA akan meningkat. b. Melalui pendekatan Problem-Based Learning akan terjadi peningkatan tingkah laku yang menyertai pembelajaran Sosiologi kelas XII IPS Madrasah Aliyah Negeri 2 SALATIGA. C. Kajian Teori 1. Definisi Problem-Based Learning Menurut Ibrahim dan Nur (2000: 2), “Pengajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning) dikenal dengan nama lain seperti Project-Based Learning (Pembelajaran Proyek), Experience-Based Education (Pendidikan berdasarkan pengalaman), Authentic Learning (Pembelajaran autentik), dan Anchored instruction (Pembelajaran berakar pada kehidupan nyata)”. Mayo, Donnely, Nash & Schwartz, 1993 dalam Whatis PBL.html mendefinisikan Problem-Based Learning sebagai strategi untuk pemecahan masalah yang signifikan, yang disandarkan pada situasi keadaan yang nyata dan memberikan sumber-sumber, menunjukkan atau memandu dan memberikan petunjuk pada pembelajar untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan pemecahan masalah. Menurut Finkle dan Torp (1995 dalam http://www.corf.html) dijelaskan bahwa Problem-Based Learning adalah sebuah kurikulum sistem pengajaran yang simultan untuk mengembangkan antara strategi pengembangan pemecahan masalah dari dasar pengembangan disiplin pengetahuan dan keterampilan siswa dalam memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi dengan menyesuaikan pada permasalahan yang nyata. Di dalam problem-based learning, siswa bekerja dalam suatu kelompok kecil untuk membahas sesuatu masalah yang tidak dimengerti dan penting, apa yang mereka tidak tahu dan berusaha untuk belajar memecahkan permasalahan tersebut . (White H.B &Richlin, 1996: http://udel/pbl/dancase). Hamzah (2004: http://www.udel.edu/pbl/) menjelaskan bahwa ProblemBased Learning (PBL) merupakan salah satu metode pembelajaran dimana Authentic Assesment (penilaian nyata) dapat diterapkan secara komprehensif. Keuntungan dari pembelajaran Problem-Based Learning yakni, memberikan fokus yang menarik bagi siswa dalam menyusun pemecahan masalah yang nyata dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan permasalahan yang kontekstual melalui penerapan ceramah dan penggabungan penelitian sehingga siswa akan senantiasa aktif menyusun konsep yang akhirnya dimemorikan dalam kognitifnya di dalam pembelajaran yang bermakna. Terkait dengan penilaian tersebut, bahwa salah satu persoalan yang dijumpai guru dalam penerapan KBK adalah menyangkut hal penillaian kompetensi dasar. Bila kurikulum 1994 yang lalu penilaian banyak menekankan pada kemampuan kognitif (pengetahuan) saja, maka dalam kurikulum 2004 (KBK), penilaian mencakup tiga aspek, yaitu kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotor (keterampilan) secara serempak. Untuk mencapai kompetensi dasar yang benar-benar maksimal baik dalam bentuk kognitif, afektif, dan psikomotor secara simultan, kegiatan pembelajaran tidak lagi sekedar menyampaikan dan menerima informasi, tetapi mengolah sebagai masukan pada usaha peningkatan kemampuan. Permasalahan berikutnya adalah bagaimana mengoptimalkan kegiatan pembelajaran yang terarah pada tujuan yang bermakna?. Strategi pembelajaran Problem-Based Learning, merupakan bagian dari metode pembelajaran inquiri yang di dalamnya terdapat juga unsur kooperatif. 4.

3

Agar belajar dapat bermakna secara signifikan diperlukan adanya inisiatif yang datang dari pihak siswa itu sendiri, dan ia harus sepenuhnya terlibat. Hal ini akan dapat terjadi dengan apa yang disebut belajar eksperimental (experimential learning). (Soekamto dan Winataputra, 1996 : 35). Teori belajarar Experimental Learning dikembangkan oleh C. Rogers (1969 dalam Asmawi, 2001 : 6). Teori ini membedakan dua jenis belajar yaitu Cognitive Learning yang berhubungan dengan pengetahuan akademik, dan Experimential Learning yang berhubungan dengan pengetahuan terapan. Dalam teori ini dikembangkan dan diperkenalkan adanya keterlibatan pribadi, inisiatif diri, evaluasi diri, dan dampak langsung yang terjadi pada diri siswa. Berdasarkan teori tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar harus dilakukan oleh siswa atau pembelajar, sedangkan pendidik (guru) hanya sebagai fasilitator. Tugas pokok pengajar atau pendidik adalah menciptakan lingkungan belajar yang baik, membantu pembelajar merumuskan tujuan belajar, menyeimbangkan pertumbuhan intelektual dengan pertumbuhan emosional, menyediakan sumber belajar, berbagi rasa serta pemikiran dengan pembelajar tetapi tidak mendominasi (Asmawi, 2006: 6 – 7). Tidak seperti lingkungan belajar yang terstuktur secara ketat yang dibutuhkan dalam pembelajaran langsung atau penggunaan yang hati-hati kelompok kecil dalam pembelajaran kooperatif, lingkungan belajar dan sistem manajemen dalam pembelajaran berbasis masalah dicirikan oleh sifatnya yang terbuka, ada proses demokrasi, dan peranan siswa yang aktif. Meskipun guru dan siswa melakukan tahapan pembelajaran yang terstruktur dan dapat diprediksi dalam pembelajaran berbasis masalah, norma di sekitar pelajaran adalah norma inkuiri terbuka dan bebas mengemukakan pendapat. Lingkungan belajar menekankan peranan sentral siswa, bukan guru yang ditekankan. (Nurhadi dan Agus Gerrad, 2003: 59). Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa dalam pembelajaran ini lebih mementingkan pengembangan multi aspek, yang tidak hanya mengembangkan aspek kognitif saja. Aspek tersebut didasarkan pada teori kecerdasan majemuk (Multiple Intelligences) Howard Gardner. Ada delapan kecerdasan, yakni: (1) Visual-Spatial, (2) Bodily – Kinesthetic, (3) Musical – Rhytmical, (4) Interpersona, (5) Logical – Mathematical, (6) Verbal – Linguistic, (7) Intrapersona, dan (8) Natural. Dalam belajar eksperimental tersebut, terdapat banyak kendala-kendala dalam rangka untuk mendapat kebermaknaan belajar. Untuk mengatasi hambatan atau kendala dalam pembelajaran tersebut ada tiga tahap yang harus dilakukan yaitu: analisis, penyelesaian, dan penilaian. Setiap tahap ada tujuan dan langkahnya yang dapat disusun sendiri. Menurut Hamzah (2004: http://www.udel.edu/pbl/) Problem-Based Learning (PBL) terbagi dua, yaitu: a. Problem Posing Merupakan suatu proses memunculkan masalah, dan juga suatu langkah untuk memecahkan masalah yang lebih rumit dari sebelumnya. Proses ini dapat dimunculkan dari situasi, siswa atau juga oleh guru. b. Problem Solving Merupakan pemecahan masalah. Dalam problem solving ini meliputi dua aspek yaitu masalah untuk menemukan (problem to find) dan masalah membuktikan (problem to prove). 2. Karakteristik Pendekatan Problem-Based Learning (PBL) Karakteristik dalam metode Problem Based Leaning ini antara lain: a. Pemunculan masalah dari siswa atau situasi masalah dari guru. b. Pengajuan pertanyaan masalah atau soal yang berfokus pada keterkaitan antar disiplin. Penyelidikan authentic atau penyelidikan dalam rangka melakukan reinvention (pengulangan pernyataan masalah).

4

.

.

c. Menghasilkan produk, karya atau penyelesaian masalah. Kerja sama (berpasangan, kelompok kecil atau kelompok besar sesuai dengan pilihan guru dan siswa). Uraian tersebut di atas merupakan proses yang harus dilakukan guru dalam rangka membentuk suatu metode PBL dalam kelas. Penjelasan langkah berikut akan dapat membantu memahami uraian di atas. Langkah dalam pembelajaran PBL dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Tahap Persiapan Dalam tahap ini, guru melakukan studi pendahuluan baik terhadap materi yang akan disampaikan maupun studi untuk penerapan metode yang akan diterapkan. Apakah materi sesuai dengan metode atau tidak. Tindakan berikutnya adalah menentukan tujuan instruksional dari penyampaian materi tersebut, sehingga jelas acuan atau indikatornya yang akan diraih. Dan tahap berikutnya adalah membentuk kelompok, dalam teknik pengelompokan ini siswa yang berkemampuan dan jenis kelaminnya berbeda disatukan dalam satu tim kecil yang terdiri dari lima hingga enam anggota. Sesuai dengan pendapat Slavin (1995: 9) bahwa jumlah sampai lima orang, menurut Manning (1992 : 69) terdiri dari empat sampai lima orang, sedangkan Maltby (1995: 410) anggota setiap kelompok bisa berkisar tiga sampai delapan orang. Menurut Percivall dan Ellington (1988: 79), bahwa jumlah yang ideal untuk satu kelompok sebaiknya berkisar antara empat hingga enam orang. Kemudian setelah guru menyajikan teori utama atau topik kompetensi dasar, siswa diharapkan memunculkan permasalahan. Tahap Pemunculan Masalah Permasalahan dapat dimunculkan dari diri siswa maupun dari guru atau dapat juga dari kenyataan hidup. Dalam penelitian ini sangat mungkin bahwa permasalahan sehari-hari khususnya topik interaksi sosial banyak menimbulkan permasalahan yang dapat diambil. Tahap Investigasi dan Inquiri Masalah Siswa diharapkan dapat berinvestigasi atau inquiri dalam kehidupan nyata terkait dengan topik yang dibahas yaitu interaksi sosial. Setelah siswa menemukan masalah dalam kehidupannya, dalam kelompok mereka akan beradu argumentasi untuk dapat merencanakan strategi dan sekaligus pelaksanaan untuk memecahkan masalah tersebut. Presentasi Hasil Presentasi hasil merupakan tahap terakhir untuk mengecek hasil karya atau produk dari investigasi dan inquiri dalam rangka memecahkan masalah yang timbul dalam kelompok masing-masing. Presentasi dilakukan di depan kelas sehingga kelompok siswa yang lain dapat ikut mengevaluasi produk yang dihasilkan. Di sisi lain presentasi ini bagi guru adalah merupakan sarana untuk penilaian afektif dan psikomotorik dengan memantau keterurutan dan kelancaran kelompok siswa dalam berkomunikasi antar kelompok maupun dalam kelompok baik lisan maupun tulisan. 3. Implementasi Pendekatan Problem-Based Learning Paradigma baru pembelajaran yang dewasa ini menjadi diskursus dalam dunia pendidikan, menekankan pada praksis belajad dengan memberikan ruang bagi siswa untuk mengambil peranan secara aktif dalam belajar. Paradigma baru ini menekankan pada pilihan metode mengajar yang menekankan students-active approach atau student-centered instruction. Salah satu bentuk pembelajaran yang menerapkan students-active approach atau student-centered instruction adalah model pembelajaran berbasis masalah atau Problem-Based Learning (PBL). Problem-Based Learning merupakan model pembelajaran yang memusatkan pada peserta didik. Di samping itu, model Problem-Based Learning merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang berlandaskan pada paradigma konstruktivisme yang sangat mementingkan peserta didik dan berorientasi pada proses belajar siswa (Palina

5

Pannen, Dina Mustafa, dan Mestika Sekarwinahyu, 2001 : 89). Dengan kata lain, melalui PBL siswa ikut secara intensif dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Model PBL merupakan model pembelajaran yang melibatkan siswa dengan masalah nyata, sehingga motivasi dan rasa ingin tahu menjadi meningkat. Dengan demikian siswa diharapkan dapat mengembangkan cara berfikir dan keterampilan yang lebih tinggi. Anies (2003 : 1) mengemukakan bahwa model PBL merupakan suatu metode instruksional yang mempunyai ciri-ciri penggunaan masalah nyata sebagai sebagai konteks siswa yang mempelajari cara berpikir kritis serta keterampilan dalam memecahkan masalah. Lebih lanjut, Gallow (2003 : 1) menjelaskan bahwa PBL meletakkan asumsi dasar pada permasalahan yang berbentuk narasi, kasus, atau dunia nyata yang membutuhkan keahlian. Masalah tersebut tidak dapat didekati dengan solusi final sebagai suatu yang salah atau benar, tetapi menekankan pada solusi bijak yang didasarkan pada pengetahuan dan keterampilan tertentu. Masalah yang menjadi pijakan proses belajar dalam pendekatan ini diambil pada masalah nyata yang siswa dapat melihat, merasakan dan secara geografis dekat dengan mereka. Dalam hal ini, masalah tidak serta merta ditentukan oleh guru. Masalah – meskipun guru sebagai manager utama pembelajaran memiliki kewenangan menentukan topik masalah – tetapi secara otoriter menentukan sendiri secara paksa. D. METODE PENELITIAN 1. Setting Penelitian Penelitian ini berbasis kelas dengan lokasi kelas XII IPS Madrasah Aliyah Negeri 2 SALATIGA Propinsi Jawa Tengah. Akan dilaksanakan tahun 2005 – 2006 yang melibatkan siswa berjumlah 40 siswa. 2. Subyek Penelitian Subyek penelitian adalah siswa kelas XII Madrasah Aliyah Negeri 2 SALATIGA tahun pelajaran 2005 – 2006 yang berjumlah 40 siswa, sebagaimana digambarkan dalam tabel (lampiran). 3. Teknik dan Alat Pengumpulan Data Instrumen pengumpulan data dalam PTK ini ada dua, yaitu instrumen tes dan nontes: a. Tes Tes digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan pembelajaran konsep modernisasi sesaat setelah proses pembelajaran Sosiologi dilaksanakan pada kelas XII IPS Madrasah Aliyah Negeri 2 SALATIGA tahun pelajaran 2005 – 2006. Pada setiap siklus guru memberikan tes untuk mengukur kemampuan siswa dalam penguasaan konsep modernisasi dalam pembelajaran Sosiologi. Pada saat melaksanakan tes tertulis kelas XII IPS Madrasah Aliyah Negeri 2 SALATIGA tahun pelajaran 2005 – 2006 yang berjumlah 40 siswa dibagi menjadi dua gelombang, masing-masing terdiri dari 20 siswa dan 20 siswa. Pembagian kelompok ini dimaksudkan agar peneliti lebih mudah melaksanakan tes tertulis secara objektif untuk mengukur kemampuan siswa secara individual. Non Tes Teknik non tes yang dipilih pada penelitian ini ada 3 yaitu observasi, wawancara, dan jurnal. Observasi digunakan untuk mengetahui tentang respon dan sikap siswa terhadap pemahaman konsep modernisasi dalam pembelajaran Sosiologi, respon dan sikap siswa terhadap pendekatan PBL, dan siswa yang menunjukkan gejala khusus dalam penerapan pendekatan PBL. Wawancara digunakan untuk mengetahui tanggapan dan sikap siswa dalam pelaksanaan pendekatan PBL, penyebab siswa kurang dapat berpartisipasi dalam proses pembelajaran, dan motivasi yang menjadikan siswa bersemangat mengikuti proses pendekatan PBL.

.

6

Jurnal digunakan untuk mengetahui berbagai gejala yang muncul dan tercatat atau terekam pada saat penerapan pendekatan PBL baik yang bersifat maju maupun mundur untuk mengadakan perbaikan pada siklus berikutnya. 4. Validitas Data Hasil belajar (nilai tes) yang divalidasi instrumen tes menentukan validasi teoritik maupun validasi empirik (analisis kualitatif dan kuantitatif). Proses pembelajaran (observasi dan wawancara) yang divalidasi datanya melalui trianggulasi, baik sumber maupun metoda. Untuk kepentingan keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik trianggulasi, yaitu pengujian validitas data dengan cara membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat berbeda, dengan metode kualitatif. Hal ini dapat dicapai dengan jalan: (1) membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara, (2) membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi, (3) membandingkan apa yang dikatakan orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu, (4) membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang di berbagai tingkatan, (5) membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dikumen yang berkaitan (Lexy J. Moleong, 2002 : 178). Analisis Data Teknik yang digunakan untuk analisis data pada penelitian ini adalah teknik deskriptif analitik dengan penjelasan sebagai berikut: a. Data kuantitatif yang diperoleh dari hasil tes diolah dengan menggunakan deskripsi persentase. Nilai yang diperoleh siswa dirata-rata untuk menemukan tingkat pemahaman konsep modernisasi para siswa dalam pembelajaran Sosiologi. Nilai persentase dihitung dengan ketentuan sebagai berikut: NK NP = ------ x 100% R Keterangan: NP = Nilai persentase NK = Nilai komulatif R = Jumlah responden b. Data kualitatif yang diperoleh dari observasi, wawancara dan jurnal diklasifikasikan berdasarkan aspek-aspek yang dijadikan fokus analisis. Data kuantitatif dan kualitatif ini kemudian dikaitkan sebagai dasar untuk mendeskripsikan keberhasilan penerapan pendekatan PBL, yang ditandai dengan meningkatnya pemahaman konsep modernisasi dalam pembelajaran Sosiologi secara klasikal, dan perubahan tingkah laku yang menyertainya. Indikator Kinerja Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) artinya penelitian dengan berbasis pada kelas. Dengan penelitian ini diperoleh manfaat berupa perbaikan praksis yang meliputi penanggulangan berbagai masalah belajar siswa dan kesulitan mengajar oleh guru. Untuk mengevaluasi ada tidaknya dampak positif terhadap tindakan, diperlukan kriteria keberhasilan, yang ditetapkan sebelum tindakan dilakukan. Dari kegiatan refleksi ini, diperoleh ketetapan tentang hal-hal yang telah tercapai menjadi bahan dalam merencanakan kegiatan siklus berikutnya. Indikator kinerja dari data kuantitatif ditetapkan kriteria bahwa semakin meningkat perolehan hasil tes pada kategori diatasnya menunjukkan kriteria peningkatan pembelajaran dalam penelitian tindakan kelas ini. Jadi seumpama pada siklus ke-2 kategori sangat paham lebih besar daripada siklus ke-1 berarti terjadi peningkatan yang positif sebagaimana terlihat pada tabel 1 berikut ini: 6. 5.

7

Tabel 1. Tabel nilai hasil postes untuk tiga siklus FREKUENSI NILAI INTERVAL KATEGORI NILAI Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 Istimewa 91 – 100 Sangat Paham 81 – 90 Paham 71 – 80 Sedang 61 – 70 Kurang 51 – 50 Tidak Paham 0 – 40 JUMLAH Indikator kinerja dari data kualitatif ditetapkan bahwa peningkatan partisipasi responden (siswa) dan peningkatan sikap positif baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya sebagai indikator peningkatan pembelajaran yang positif, dari siklus ke siklus. Jika terjadi sebaliknya maka sebagai indikasi kurang berhasil dalam perlakuan Penelitian Tindakan Kelas ini. Prosedur Penelitian PTK dilaksanakan dalam bentuk proses pengkajian berdaur 4 tahap, yaitu (1) merencanakan, (2) melakukan tindakan, (3) mengamati (observasi), dan (4) merefleksi. Tindakan penelitian ini dilakukan dalam dua siklus sebab setelah dilakukan refleksi yang meliputi analisis dan penilaian terhadap proses tindakan, akan muncul permasalahan atau pemikiran baru sehingga perlu dilakukan perencanaan ulang, pengamatan ulang, tindakan ulang serta dilakukan refleksi ulang. Siklus ke-1 bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman konsep modernisasi dalam pembelajaran Sosiologi, yang kemudian digunakan sebagai bahan refleksi untuk melakukan tindakan pada siklus ke-2. Sedangkan siklus ke-2 dilakukan untuk mengetahui peningkatan pemahaman konsep modernisasi dalam pembelajaran Sosiologi setelah dilakukan perbaikan terhadap pelaksanaan pembelajaran yang didasarkan pada refleksi siklus ke-2, yang dilanjutkan dengan siklus ke-3. Kesimpulan diambil atas dasar perubahan hasil tes dan non tes antara siklus ke-1 ke siklus berikutnya. Dari perubahan hasil tes, jika menunjukkan kenaikan positif secara signifikan berarti terjadi peningkatan hasil pembelajaran. Tetapi jika sebaliknya, maka perlu refleksi dan perbaikan pelaksanaan model pembelajaran yang diterapkan antara siklus selanjutnya. Sedangkan perubahan hasil non tes baik dari wawancara, angket maupun jurnal, diungkap apa adanya sesuai hasil yang telah terkumpul sebagai perbandingan antara siklus ke-1 dengan siklus berikutnya. E. PELAKSANAAN DAN PENJADWALAN 1. a. b. c. 2. a. b. c. 3. a. b. c. Berikut ini adalah jadwal pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas. Kegiatan Siklus I Waktu Persiapan 5 Januari 2005 Pelaksanaan 14 Januari 2005 Refleksi 15 Januari Kegiatan Siklus II Waktu Persiapan 20 Januari 2005 Pelaksanaan 26 Januari 2005 Refleksi 27 Januari 2005 Kegiatan Siklus III Waktu Persiapan Pelaksanaan Refleksi 7.

8

F. RENCANA ANGGARAN Penelitian ini tidak membutuhkan anggaran (biaya) yang berarti, karena tidak diperlukan fasilitas-fasilitas (ATK, Peraga, dll). Kalaupun ada hanya digunakan untuk pembuatan laporan penelitian yang tidak seberapa. G. DAFTAR PUSTAKA Abdul Ghofur. 2004. Pedoman Umum Pengembangan Penilaian Berbasis Kompetensi. Yogyakarta: Depdiknas Dikdasmen Dikmenum. Ahmad Munib. 2004. KBK Sebuah Inovasi Kurikulum dalam Pembelajaran. Edukasi (Jurnal Ilmiah Pendidikan). FIP-UNNES. Edisi Mei – Agustus 2004. Agus Purwito. 2006. Penerapan Metode Pembelajaran Problem-Based Learning dan Minat Belajar dalam Pencapaian Kompetensi Dasar Sosiologi. SALATIGA: Tesis S-2 Prodi Teknologi Pendidikan – UNS. Arnie Fajar. 2002. Portopolio dalam Pembelajaran IPS. Bandung: Remaja Rosda Karya. Anies. 2003. Problem-Based Learning. http://www.suara merdeka.com/harian/ 0304/28/kha2.html.(28 April 2003). Anderson. C.W 1992. Strategic Teaching in Science. (Marchia K Pearshall Relevant Reasearch). Washington: TNSTA. Asmawi Zainul 2001. Alternative Assesment Applied Approach Mengajar di Perguruan Tinggi. Buku 2.09, Jakarta: Dirjen Dikti Depdiknas. Bloom, Menjamin S. 1982. Human Characteristic and School Learning. New York: McGraw-Hill Book Company. Depdiknas. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun 2004. Jakarta: Depdiknas. Finkle & Torp. 1995. http://www.cotf.edu/ete/teacherout.html Fred Percival and Herry Ellington alih bahasa Sudjarwo. S. 1988. Teknologi Pendidikan. Jakarta: Erlangga Hamzah, Upu. 2004. Makalah Workshop Metode-Metode Pembelajaran Problem Based-Learning. Sulawesi Selatan: Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan. http://www.eudel.edu/pbl Moleong. J. Lexy. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Mulyasa. E. 2005. Implementasi Kurikulum 2004, panduan pembelajaran KBfC\Jakarta: Rosda Karya Safari. 2004. Evaluasi Pembelajaran. Jakarta: Dirken Dikdasmen Rirektorat Tenaga Kependidikan. Sutarno. 2002. Pembelajaran Efektif: Upaya Peningkatan Kualitas Lulusan Menuju Penyediaan Sumber Daya Insani yang Unggul. Pidato Pengukuhan Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret. SALATIGA: Sebelas Maret University Press.

9

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->