Ada SUSPENSI

A. Definisi Suspensi adalah suatu bentuk sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa. Zat yang terdispersi harus halus dan tidak boleh cepat mengendap. Jika dikocok, perlahan-lahan endapan harus segera terdispersi kembali. Suspensi merupakan sistem heterogen yang terdiri dari dua fase, yaitu: 1. Fase kontinyu (fase luar) umumnya merupakan cairan atau semi padat. 2. Fase terdispersi (fase dalam) terbuat dari partikel-partikel berukuran 0,5 m atau lebih, yang pada dasarnya tidak larut, tetapi terdispersi seluruhnya dalam fase kontinyu. Alasan pembuatan sediaan suspensi adalah: 1. Beberapa orang sulit untuk menelan obat dalam bentuk tablet atau kapsul. Sediaan suspensi mempermudah pemberian obat pada anak, karena mereka lebih menyukai sediaan obat dalam bentuk cairan daripada bentuk tablet atau kapsul. 2. Obat sukar larut dalam air. 3. Menutupi rasa obat yang pahit. 4. Obat lebih stabil dalam bentuk suspensi dibandingkan dalam bentuk terlarut. B. Macam-macam Suspensi Suspensi merupakan sediaan farmasi yang menurut bentuk sediaannya dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu suspensi cair dan suspensi kering (rekonstitusi). Suspensi cair adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat yang terdispersi dalam fase cair, sedangkan suspensi kering adalah suspensi yang harus disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan. Berdasarkan penggunaannya, suspensi terdiri dari beberapa jenis yaitu: 1. Suspensi oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat dalam bentuk halus yang terdispersi dalam fase cair dengan bahan pengaroma yang sesuai dan ditujukan untuk penggunaan oral. 2. Suspensi topikal adalah sediaan cair mengandung partikel padat dalam bentuk halus yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditujukan untuk penggunaan pada kulit. 3. Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair yang mengandung partikel-partikel halus yang ditujukan untuk diteteskan pada telinga bagian luar. 4. Suspensi optalmik adalah sediaan cair steril yang mengandung partikel-partikel halus yang terdispersi dalam cairan pembawa yang ditujukkan untuk penggunaan pada mata. 5. Suspensi untuk injeksi adalah sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikan secara intravena atau ke dalam saluran spinal. 6. Suspensi untuk injeksi terkontinyu adalah sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai.

Berdasarkan istilah, suspensi terdiri dari beberapa jenis, yaitu: 1. Susu, suspensi dengan pembawa yang mengandung air dan ditujukan untuk pemakaian oral. Contohnya : susu magnesia. 2. Magma, suspensi zat padat organik dalam air seperti lumpur, jika zat padatnya mempunyai kecenderungan terhidrasi dan teragregasi yang menghasilkan konsistensi seperti gel dan sifat reologi tiksotropik. Contohnya : magma bentonit. 3. Lotio, untuk golongan suspensi topikal dan emulsi untuk pemakaian pada kulit. Contoh : lotio kalamin. C. Formulasi Umum Sediaan Suspensi Dalam memformulasikan suatu sediaan suspensi, harus diperhatikan faktor-faktor seperti distribusi besar ukuran partikel, luas permukaan partikel dan pengaruh bentuk kristal. Selain itu faktor pemilihan pH, ukuran partikel, viskositas, flokulasi, rasa, warna dan bau adalah faktor penting yang harus dikontrol pada waktu formulasi. Pada umumnya formula umum suspensi farmasi terdiri atas: 1. Zat Aktif Suspensi merupakan bentuk sediaan untuk obat-obat yang tidak larut atau sukar larut dalam medium pendispersinya. Jika obat kurang stabil dalam media cair, bentuk berbeda dari obat seperti bentuk ester atau garam yang tidak larut dalam air dapat dibuat dalam bentuk suspensi. Contohnya adalah antibiotik yang tidak stabil dalam media cair dapat dibuat dalam bentuk suspensi kering dan obat-obat yang tidak larut juga dapat diformulasikan sebagai suspensi untuk penggunaan topikal, seperti calamine lotion. Partikel dari fase terdispersi umumnya adalah bahan padat yang tidak larut dalam medium pendispersi. Partikel dari fase terdispers pada suspensi berisi partikel-partikel kasar, biasanya dengan ukuran diameter 1 sampai 50 mikron. Umumnya karena ukuran yang lebih besar, partikel terdispersi dalam suatu dispersi kasar kecenderungannya lebih besar untuk memisahkan diri dari medium dispersi. Kebanyakan padatan dalam dispersi cenderung mengendap pada dasar wadah karena bobot jenisnya lebih besar daripada medium pendispersi. Ukuran dari partikel zat aktif bentuk padat pada suspensi merupakan hal yang paling penting. Pengurangan ukuran partikel umumnya diperoleh dengan penggilingan kering sebelum pencampuran fase terdispersi ke dalam medium pendispersi. Seperti ditunjukkan dalam hukum Stoke’s, pengecilan ukuran partikel dari suatu suspensoid berguna untuk kestabilan suspensi karena laju endap dari partikel padat berkurang kalau ukuran partikel dikurangi. Pengurangan ukuran partikel menghasilkan laju pengendapan yang lambat dan lebih seragam. Tetapi, hindari pengurangan ukuran partikel terlalu besar karena partikel-partikel yang halus mempunyai kecenderungan membentuk suatu padatan (cake) yang kompak pada waktu mengendap ke dasar wadah. Bentuk partikel dari suspensoid (fase terdispersi) juga mempengaruhi pembentukan cake dan stabilitas produk. Partikel berbentuk bulat simetris dari suspensi menghasilkan suspensi yang lebih stabil daripada partikel-partikel bentuk jarum yang asimetris dari bahan yang sama. Partikel berbentuk jarum membentuk endapan yang keras bila didiamkan dan tidak dapat disebarkan lagi, sedangkan partikel bulat tidak memadat bila didiamkan.

1

Kelarutan zat aktif dipengaruhi oleh faktor-faktor yang juga mempengaruhi pelarutan partikel-partikel spesifik dalam sediaan “suspensi” yaitu : a. Kekentalan yang tidak hanya disebabkan oleh surfaktan yang ditambahkan ke fase luar untuk menstabilkan suspensi, tetapi juga oleh kekentalan struktur sediaan keseluruhan yang disebabkan reorganisasi partikel dalam cairan selama pengendapan. Jadi konsentrasi partikel, granulometri dan bentuk partikel merupakan unsur penentu. b. Ukuran partikel tidak hanya harus sangat halus, tetapi juga tidak berubah. Pertumbuhan kristal selama penyimpanan sediaan akan menghambat laju pelarutan. Timbulnya ”caking”, yaitu pembentukan endapan yang sangat sukar didispersikan disebabkan karena partikel-partikel suspensi saling bergabung. c. Adanya flokulasi sangat penting karena hal itu dapat mencegah terjadinya ”caking” yang pengaruhnya terhadap ketersediaanhayati tak dapat diabaikan. Pembentukan dan cara pembentukannya merupakan faktor yang penting. Flokulasi yang terjadi pada media berair yang disebabkan oleh adanya jembatan hidrogen jelas mempunyai aksi yang merugikan, sedangkan flokulasi karena surfaktan kurang merugikan. Bahan-bahan aktif obat yang dapat dibuat dalam bentuk suspensi antara lain: asetaminofen. Ibuprofen, famotidin, pseudoefedrin, chlorpeniramini maleas, astemizole, terfenadine, dekstrometorfan, famotidin, simethicone dan obat-obat antasida. 2. Zat Tambahan a. Zat pensuspensi (suspending agent) Berfungsi untuk memperlambat pengendapan, mencegah penurunan partikel, dan mencegah penggumpalan resin dan bahan berlemak. Cara kerjanya sebagai suspending agent adalah meningkatkan kekentalan larutan, suspending agent membentuk film yang mengelilingi partikel dan menurunkan atraksi antar partikel. Suspensi yang baik mempunyai kekentalan yang sedang dan partikelnya terlindung dari gumpalan/aglomerasi. Faktor pemilihan suspending agent : - Penggunaan bahan (oral/topikal). - Komposisi kimia. - Stabilitas pembawa dan shelf life. - Produk, sumber, inkompabilitas dengan bahan lainnya. Contoh suspending agent : - Golongan polisakarida: acacia gom, tragakan, alginat natrium. - Golongan selulosa: metil selulosa, hidroksi metil selulosa, Na-CMC, avicel. - Golongan tanah liat: bentonit, alumunium magnesium silikat, hektokrite, veegum. - Golongan sintetik: karbomer, karboksipolimetilen, koloidal silikon diokside. b. Zat pembasah (wetting agent) Bahan padat zat aktif bisa terbasahkan oleh cairan dan ada pula yang sulit untuk dibasahkan. Tingkatan pembasahan tergantung dari afinitas bahan aktif terhadap air dan sifat dari zat padat yang bisa bersifat hidrofil atau hidrofob. Umumnya bahan aktif pada sediaaan suspensi bersifat hidrofob, dimana sangat

2

Contoh pemanis antara lain: .Kombinasi sorbitol: sirupus simpleks = 30% b/v : 10% b/v. galaktosa. Pewarna sintetis digunakan pada konsentrasi 0. sorbitan ester.Sukrosa dapat menyebabkan kristalisasi. .05%.5% akan melarutkan partikel – partikel yang sangat kecil yang akan mengubah distribusi ukuran partikel dan pertumbuhan kristal. dextrosa.05 sampai 0. dan rasa sediaan.001% tergantung dari tingkat warna yang diinginkan dan kemampuannya mewarnai sediaan. Penggunaan surfaktan dengan konsentrasi dibawah 0. Fungsi bahan pembasah untuk menurunkan tegangan permukaan bahan dengan air (sudut kontak) dan meningkatkan disperse bahan yang tidak larut dengan memperkecil sudut kontak antara partikel zat padat dan larutan pembawa. Surfaktan non ionik yang mempunyai nilai HLB berkisar antara 7-10 adalah yang terbaik sebagai pembasah. sukrosa 20-25%. Pewarna yang digunakan bisa berasal dari alam maupun sintetis. Surfaktan nonionik lebih baik untuk pembasah karena mempunyai range pH yang cukup besar dan mempunyai toksisitas yang rendah. sodium laurel sulfat. Contoh zat pembasah : polisorbat. menarik konsumen. sukrosa. glukosa. manitol dan gliserin. pigmen tumbuhan dan hewan. . Pewarna alami bersumber dari mineral. sirupus simplek dan gula alkohol seperti sorbitol. fruktosa. Catatan: . Pemanis Zat ini digunakan untuk menutupi rasa pahit dari sediaan obat. Sedangkan pada penggunaan konsentrasi surfaktan lebih dari 0. Konsentrasi surfaktan yang digunakan rendah bervariasi antara 0. .sulit untuk dibasahi sehingga akan mengapung pada permukaan cairan pembawa. tekstur. sakarin 0. bau. Warna sediaan harus disesuaikan dengan rasanya dan baunya harus pula menambah rasa tersebut. ribosa. Pewarna dan pemberi aroma Penggunaan zat pemberi warna dan pemberi aroma dalam preparat farmasi digunakan untuk tujuan estetika.0005% to 0. .Pemanis yang biasa digunakan: sorbitol.5%. Penggunaan surfaktan sebagai wetting agent juga memperlambat terbentuknya kristal. 3 . Na sakarin dan aspartam. .Pemanis sintetis Na siklamat. c.Sebagai kombinasi dengan pemanis sintetis: siklamat 0. . sebagai pembantu sensori untuk pemberi rasa dan untuk menunjukkan kekhasan produk. manosa.5% dan tergantung pada bahan padat yang akan disuspensikan karena bila terlalu tinggi dapat terjadi solubilisasi. busa. memberikan rasa yang tidak enak dan mengganggu kestabilan sediaan.Konsentrasi pemanis yang digunakan tergantung pada derajat kemanisan yang dibutuhkan oleh sediaan suspensi. Dalam memformulasikan suatu produk farmasi harus mempertimbangkan warna.Pemanis biasa Gula seperti xylosa. d. xylitol.05% akan memberikan hasil yang kurang maksimal dalam pembasahan.pH > 5 dipakai sorbitol karena sukrosa pada pH ini akan terurai dan menyebabkan perubahan volume.maltosa.

chlorophyll (green).Pahit : Wild Cherry. Contoh pemberi rasa/aroma adalah: . saffron (kuning). . . . Mafile. Apricot. vanili. caramel (brown). brilliant blue (biru). Peach. .Asam benzoat/Na benzoat. carrots (kuning).Asin : Butterscoth. Cara kerja pengawet: . annatto seeds (kuning). . Raspberry. Pengawet yang paling sering digunakan antara lain: .Denaturasi enzim atau protein-protein sel lain. Vanili. Licorice.1-0. pengawet juga diperlukan bila sediaan dipergunakan untuk pemakaian berulang (multiple dose).Oksidasi dari konstituen lain. Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam pemberian pengawet adalah: . e.Senyawa ammonium (ammonium klorida kuartener).Hidrolisis. amaranth (merah).2% total). . Chocolate.Manis : Buah-buahan berry. sunset yellow (kuning).Pengawet cukup larut dalam air untuk mencapai konsentrasi yang memadai dalam fase air dari dua sistem fase atau lebih.Konsentrasi dari pengawet yang dibutuhkan tidak mempengaruhi keamanan atau rasa tidak enak dari pasien bila preparat tersebut diberikan dengan rute yang dimaksud. indigo carmine (biru).Pengawet mempunyai kestabilan memadai dan tidak akan berkurang dalam konsentrasi karena penguraian kimia atau volatilisasi selama shelf-life dari preparat yang dikendaki. Mint spiceanisi.Pengawet efektif dalam mencegah pertumbuhan dari mikrorganisme yang dianggap kontaminan paling banyak dari preparat yang diformulasikan. atau bila mengandung larutan gula encer harus diawetkan terhadap kontaminasi mikroorganisme. . emulsi. . Passion fruit. atau bahan obat tidak mengganggu efektifitas dari zat pengawet. .Metal/propil paraben (2:1 hingga 0. Pengawet Preparat cairan atau setengah padat khususnya sirup.Contoh pewarna adalah: titanium dioksida (putih). madder plant (kuning kemerahan). Mint combination. suspense terutama yang mengandung bahan alam. Selain itu.Pengawet dapat bercampur secara sempurna dengan bahan-bahan formulasi lainnya dan tidak terganggu atas penambahannya. Walnut.Memodifikasi permeabilitas membran. 4 . . indigo (biru). tartarazine(kuning).Proporsi pengawet yang tetap tidak terdisosiasi pada pH pembuatan sedemikian rupa sehingga mampu mempenetrasi mikrioorganisme dan merusak integritasnya. . . . Wintergreen mint. .Chlorbutanol/chlorreksol (untuk obat luar/mengiritasi). .Asam : Citrus.Pengawet tidak dipengaruhi oleh wadah atau tutup sediaan/preparat. carmine (merah). Rootbeer.

memperbesar potensi pengawet. hidroksikumeran. dan hidroksi dari p. parenteral. Jenis Dapar Dapar Fosfat pKa pKa1 = 2. dapat sitrat.24 Penggunaan sediaan oral. kasein. dan peningkat kelarutan. BHA.Dapat bercampur dengan konstituen lain pada sediaan.20 pKa1 = 3. dan optalmik Dapar sitrat Dapar asetat Dapar karbonat Dapar borat sediaan oral. . Hal ini merusak radikal bebas dan mencegah terbawanya peroksida. hidroksikroman.15 pKa2 = 7.Fenol monohidrat : timol.fenilamin diamin. edestin. tokoferol. bau. Pendapar Fungsi dari pendapar antara lain sebagai pengatur pH. . turunan amino. tidak merangsang. . dan tidak membentuk hasil antara (sediaan)yang berbahaya.f. kecuali untuk zat aktif yang mudah terurai karena teroksidasi. . dan dapar asetat. g.128 pKa2 = 4. Antioksidan bekerja efektif pada dosis rendah. NDGA. Kriteria dapar yang baik adalah yang mempunyai kapasitas yang cukup untuk mempertahankan pH.Tidak menimbulkan warna. pirogalol.74 pKa = 6. memiliki pka yang mendekati nilai pH yang diinginkan dan tidak bermasalah dalam inkopatibiltas dan toksisitas. Tokoferol : kathekol.Senyawa mengandung nitrogen : ester alkanolamin.Efektif dalam konsentrasi rendah. BHT.34 pKa2 = 10. . Cara kerja antioksidan adalah dengan memblokir reaksi oksidatif yang berantain pada tahap awal dengan memberikan atom hydrogen.Senyawa mengandung belerang : sisteina hidroklotida.Tidak toksik.Gol kuinol : hidrokuinon. difenilamin. dan optalmik sediaan oral sediaan oral sediaan optalmik 5 . Antioksidan Antioksidan jarang digunakan pada sediaan suspensi.Segera larut atau terdispersi pada medium. . Contoh dapar yang lazim digunakan: dapar fosfat.36 pKa = 9. . Beberapa antioksidan yang lazim digunakan: .Gol.761 pKa3 = 7. parenteral. Hal yang perlu diperhatikan dalam memilih antioksidan: . dan rasa yang tidak dikehendaki.20 pKa = 4. asam galat. .

Hal ini disebabkan adanya percabangan rantai polimer yang membentuk struktur seperti gel dalam sistem dan dapat tersbsorpsi pada permukaan partikel padat serta mempertahankan kedudukan mereka dalam bentuk sistem flokulasi. Polimer hidrofilik yang berperan sebagi koloid hidrofil yang mencegah caking dapat juga berfungsi membentuk agregat longgar. Contoh acidifier yang sering digunakan adalah asam sitrat. bismuth subkarbonat. Surfaktan nonionic lebih disukai karena secara kimia lebih kompetibel dengan bahan lainnya yang ada dalam formula.7%. Flokulating agent dapat menyebabkan suatu suspensi dapat mengendap tetapi mudah terdispersi kembali. Bentonit digunakan sebagai flokulating agent pada pembuatan suspense bismuth subnitrat pada konsentrasi 0. yaitu : . Konsentarsi yang digunakan berkisar 0.1% diketahui dapat berperan sebagai flokulating agent pada pembuatan obat yang disuspensikan dalam sorbitol atau berbasis sirup. i. Penambahan elektrolit yang berlebihan atau muatan yang berlawanan dapat menyebabkan pertikel memisah dan membentuk system flokulasi sehingga menurunkan kebutuhan konsentrasi surfaktan. Konsentrasi yang tinggi dari surfaktan dapat menghsilkan rasa yang buruk. - - 6 . elektrolit dengan valensi tiga lebih jarang digunkan daripada elektrolit bervalensi satu. Kemampuan elektrolit untuk memflokulasi partikel hidrofobik tergantung dari valensi ionnya. peningkat kestabilan suspense memperbesar potensial pengawet dan peningkat kelarutan. membentuk busa dan caking. Elektrolit Penambahan elektrolit anorganik pada suspense dapat menurunkan potensial zeta partikel yang terdispersi dan menyebabkan flokulasi. Polimer seperti xantin gom digunakan sebagai flokulating agent dalam pembuatan sulfaguanidin. Floculating agent Flokulating agent adalah bahan yang dapat menyebabkan suatu partikel berhubungan secara bersama membentuk suatu agregat. Acidifier Acidifier berfungsi sebagi pengatur pH.001 sampai 1% b/v.Surfaktan Surfaktan ionic dapat digunakan sebagai flokulating agent. Floculating agent dapat dibagi menjadi 4 kelompok. Meskipun lebih efektif. serta obat lain. Penggunaan tunggal surfaktan atau bersama koloid protektif dapat membentuk suatu sistem flokulasi yang baik. Polimer hidrofilik Senyawa ini memiliki bobot molekul yang tinggi dengan rantai karbon panjang termasuk beberapa bahan yang pada konsentrasi besar berperan sebagai suspending agent. Clay Clay pada konsentrasi sama atau lebih besar dari 0.h.

dan cairan higroskopis lainnya digunakan sebagai zat pembasah bila suatu pembawa air akan digunakan sebagai medium pendispersi. gliserin. medium pendispersi (yang telah dicampur dengan semua komponen-komponen formulasi yang larut seperti pewarna. disebut hidrofob. magnesium karbonat. Cara Pembuatan Suspensi Pembuatan sediaan suspensi terdiri dari empat tahap. carbo ligni dan carbo animali sering digunakan sebagai obat diare karena mempunyai daya absorpsi terhadap toksin dan bakteri. carbo adsorben. 2.Bahan Natrium lauril sulfat Dokusat natrium Benzalkonium klorida Cetyloiridinum klorida Polisorbat 80 Sorbiton monolaurat CMC-Na Xantan gom Tragakan Metilselulosa PFG Magnesium aluminium Silikat Attapulgit Bentonit Kalium dihidrogen fosfat AlCl3 NaCl Tipe Surfaktan Polimer hidrofil Clay Muatan Ion Anion Anion Kation Kation Nonionik Nonionik Anion Anion Anion Nonionik Nonionik Anion Anion Anion Anion Kation Elektrolit D. Serbuk yang sulit dibasahi oleh air. Homogenisasi fase terdispersi dalam medium pendispersi. magnesium sterat dan serbuk yang mudah dibasahi oleh air. pembasahan partikel dari serbuk yang tak larut dalam cairan pembawa (medium pendispersi) adalah langkah yang penting. disebut hidrofil. Pencampuran dan pendispersian fase terdispersi di dalam medium pendispersi. Kadang-kadang sukar mendispersi serbuk karena adanya udara. Setelah serbuk dibasahi. mendispersikan partikel tersebut dan kemudian menyebabkan terjadinya penetrasi medium perndispersi ke dalam serbuk. 4. Carbo adsorbens. lemak. seperti: sulfur. Pembasahan partikel fase terdispersi. Alkohol. dan lain-lain. yaitu: 1. Penghalusan fase terdispersi. seperti: toluen. maka tidak benar bila 7 . Dalam pembuatan suspensi. 3. zinc oksida. jika fase terdispersi tidak larut dalam medium pendispersi. Bahan-bahan tersebut berfungsi menggantikan udara dicelah-celah partikel. pemberi rasa dan pengawet) ditambahkan sebagian demi sebagian ke serbuk tersebut lalu dicampur secara merata.

Serbuk yang demikian disebut memiliki sifat hidrofob. Hal tersebut karena adanya udara. Sedimen terbentuk lambat. bismuth subnitrat dilakukan dengan menggerus dulu dengan air kira-kira ¼ beratnya. 8 . cepat mengendap dan pada penyimpanan tidak terjadi cake dan mudah tersuspensi kembali. atau kontaminan pada serbuk. Sedimen tidak membentuk cake yang Sedimen akhirnya akan membentuk cake keras dan padat serta mudah terdispersi yang keras dan sukar terdispersi kembali. 2. akan terjadi agregas. Sedimentasi terjadi cepat. Wujud suspensi kurang bagus sebab Wujud suspensi bagus karena zat sedimentasi terjadi cepat dan di atasnya tersuspensi dalam waktu relatif lama. setelah itu dicampurkan dengan medium pendispersinya. diencerkan. Sistem Deflokulasi Partikel deflokulasi mengendap perlahan dan akhirnya membentuk sedimen. dan polietilenglikol. Sedimentasi yang terjadi lambat. 2. Sistem Flokulasi Dalam sistem flokulasi. Partikel suspensi dalam keadaan terpisah satu dengan yang lainnya. Mensuspensi garam bismuth seperti bismuth subsalisilat. Mudah dan sukarnya serbuk dibasahi tergantung pada besarnya sudut kontak antara zat terdispersi dengan medium. Untuk menurunkan tegangan permukaan antara partikel zat padat dengan cairan tersebut perlu ditambahkan zat pembasah atau wetting agent. partikel flokulasi terikat lemah. Serbuk yang sangat halus mudah termasuki udara sehingga sukar dibasahi. serbuk akan mengambang di atas cairan. kemudian baru diencerkan. 4. Setelah larut dalam pelarut organik. 5. bismuth subkarbonat. terjadi daerah cairan yang jernih dan Terlihat bahwa ada endapan dan cairan atas nyata. Flokulasi Deflokulasi 1. masingmasing partikel mengendap terpisah dan partikel berada dalam ukuran paling kecil. Secara umum. sifat partikel flokulasi dan deflokulasi adalah: No. Sistem Pembentukan Suspensi 1.ditambahkan lendir karena akan mengurangi daya kerjanya. propilenglikol. Sedimen terbentuk cepat. Jika sudut kontak ± 90o. maka itu hanya digerus dengan air dan bila terdapat pula sirup maka digerus dengan sirup. larutan zat ini kemudian diencerkan dengan larutan pensuspensi dalam air sehingga akan terjadi endapan halus tersuspensi dengan bahan pensuspensi. Partikel merupakan agregat yang bebas. Metode Dispersi Metode ini dilakukan dengan cara menambahkan serbuk bahan obat ke dalam musilago yang telah terbentuk. dan akhirnya terbentuk cake yang keras dan sukar tersuspensi kembali. 2. Metode Presipitasi Zat yang hendak didispersikan dilarutkan dahulu ke dalam pelarut organik yang hendak dicampur dengan air. berkabut. Suspensi dapat dibuat dengan metode sebagai berikut: 1. lemak. 3. kembali seperti semula. Cairan organik tersebut adalah etanol. Perlu diketahui bahwa kadang-kadang terjadi kesukaran pada saat mendispersikan serbuk ke dalam pembawa.

2. Bahan pemflokulasi yang dipergunakan dapat berupa larutan elektrolit. Penggunaan “structured vehicle” untuk menjaga partikel deflokulasi dalam suspensi. Jika dikehendaki. Perhitungan Dosis Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perhitungan dosis suspensi adalah : 1. Partikel diberi zat pembasah dan dispersi medium. Produk akhir yang diperoleh ialah suspensi flokulasi dalam structured vehicle. surfaktan. Untuk partikel yang bermuatan positif digunakan zat pemflokulasi yang bermuatan negatif. atau polimer. untuk suspensi bismut subnitrat yang bermuatan positif digunakan zat pemflokulasi yang bermuatan negatif yaitu kalium fosfat monobase. 2. Untuk obat tidak berkhasiat keras disuspensi dengan Pulvis Gummosus sebanyak 1% dari jumlah cairan obat minum. E. 4. dan lain-lain. bentonit. Diperoleh suspensi flokulasi sebagai produk akhir. yaitu: 1. agar flok yang terjadi tidak cepat mengendap. dan sebaliknya. tetapi dengan pegocokan ringan mudah disuspensikan kembali. 3. Penggunaan prinsip-prinsip flokulasi untuk membentuk flok. gom.Untuk membuat suspensi stabil secara fisik ada dua cara. atau polimer. 2. biasanya larutan elektrolit. Structured vehicle adalah larutan hidrokoloid seperti tilose. 5. Pembuatan suspensi sistem flokulasi: 1. Untuk obat berkhasiat keras disuspensi dengan Pulvis Gummosus sebanyak 2% dari jumlah cairan obat minum. Setelah itu ditambahkan zat pemflokulasi. Contohnya. surfaktan. maka ditambah structured vehicle. Untuk suspensi sulfonamida yang bermuatan negatif digunakan zat pemflokulasi yang bermuatan positif yaitu AlCl3 (aluminium klorida). meskipun cepat terjadi pengendapan. 9 .

5 mg = 0. Pengerjaan resep Nama Obat OB UD Atropin K 1/3 Sulfat mg Belladonae extract Sirupus Simplex K B 20/80 mg - Kelarutan Khasiat Larut dalam kurang dari 1 Parasimpatolitikum bagian air dan lebih kurang 3 bagian etanol.7 b. sukar larut dalam kloroform.108 FI III. Atropin sulfat = Dosis gabungan (kombinasi) = 29% + 58.5% = 87.567 2.5% (<100%) 10 . Perhitungan TM : Volume 1 (satu) sendok makan = 15 mL Berat jenis sirup = 1.98-99 FI III. 3. OB/OK : -/ Atropin sulfat dan Belladonae extract. Atropin sulfat = Dosis sekali : 0.5 x 1. 5 Februari 2010 R/ Atropin sulfat 0. 4.3 g/mL = 19.F. Belladonae extract = x 100% = 58. 77 Depok No. praktis tidaklarut dalam eter dan benzen. hal.5% 20 a.0015 g Belladonae extract 0.5 b.5 g Oleh karena itu. Telp. 021-82962356 Depok. hal. ad. sirop.7 mg 100 a. Parasimpatolitikum Sangat mudah larut dalam Pemanis air Referensi FI III. Margonda Raya No. Contoh Resep Suspensi Resep 1: dr. Kelengkapan resep : Lengkap.3 g/mL (kandungan gula lebih dari 16. Belladonae extract = x 60 mg = 11.29 x 100% = 29% 1 11. hal.29 mg 100 19.dest 100 g Stddc Pro : Tita (dewasa) 1. 105/M/87 Jl. tiap 1 sdm mengandung : 19. Sri Faedah SIP No.06 g Sirupus simplex 20 mL m. Aq.f.6 %) Bobot sirup tiap sendok makan = 15 mL x 1.

Botol ditara 100 g.87% = 72. Belladonae extract = x 100% = 43.Tidak Boleh Diulang Tanpa Resep Baru Dari Dokter APOTEK SMART Jl. kemudian dilarutkan dengan air secukupnya hingga homogen. f. Digerus 0. 7. Sirupus simplex = 20 mL x 1.0015 g Atropin sulfat. 78 Depok APA : Andita Manda. S. kemudian dikocok hingga homogen. b.7 b. Margonda Raya No. g. Diberi etiket dan label. 05/02/2010 TITA Sehari tiga kali satu sendok makan OBAT LUAR KOCOK DAHULU TIDAK BOLEH DIULANG TANPA RESEP BARU DARI DOKTER 11 . d. Etiket : Putih 9. Ditambahkan aquadest hingga 100 g. kemudian dilarutkan dengan air secukupnya hingga homogen. 6 ke dalam botol berisi sirupus simplex. c.06 g Belladonae extract. h.06 gram c. 10 Tgl. dikocok. Ditimbang bahan-bahan yang diperlukan. Dimasukkan campuran larutan no. e.87% 80 a.3 g/mL = 26 gram d. SIK Nomor : 12345 No.87% (<100%) 5. Cara Pembuatan : a. Atropin sulfat = Dosis gabungan (kombinasi) = 29% + 43. Aquadest ad 100 gram 6. Atropin sulfat = 0.Dosis sehari : 3x0. i.0015 gram b. Digerus 0. Label : . Dicampurkan larutan Atropin sulfat dan larutan Belladonae extract hingga merata dan larut sempurna.simplex 26 g ke dalam wadah/botol sirop yang telah ditara. Apt.Kocok Dahulu . Farm. Wadah : Botol coklat 8.29 x 100% = 29% 3 3x11. Belladonae extract = 0. Dimasukkan Sir. Perhitungan Bahan : a..

Margonda No 77 Depok No Izin Praktek : DU 1234567/14000 Depok. Sri Faedah.d.Resep 2: dr. 7 Februari 2010 R/ Bactrim suspensi adde CTM Codein s. Sp A.d cth 1 100 0.20 Pro: Dude (15 tahun) Komposisi: Tiap 5 ml mengandung Bactrim Suspensi:  Trimetoprim 40 mg  Sulfametoksazol 200 mg Perhitungan TM 1.10 0. CTM : -/40 mg Dosis per hari = 15/20 x 40 mg = 30 mg Dalam resep: 1 kali = TM sekali = TM 1 hari = 2. Codein 60/300 mg Dosis sekali = Dosis sehari = Dalam Resep: Sekali = = TM sekali = TM sehari = Perhitungan Bahan  Trimetoprim = 100/5 x 40 = 800 mg  Sulfametoksazol = 100/5 x 200 = 4 g  CTM = 100 mg 12 . Jl.t.

8 + 4 + 0. kemudian campur ad homogen dan masukkan dalam botol 4. S. sulfametoksazol 4 g.. Apt. Margonda Raya No. masukkan dalam botol 6. larutkan dalam air dan masukkan dalam botol 5.2 ml Cara Pembuatan 1.2 + 2 + 14) = 79. aquadest 14 ml 3. Beri etiket dan label APOTEK SMART Jl. Tambahkan air ad 100. Tara botol 100 ml 2. PGS 2 g. Gerus bahan No. Farm. Timbang Codein HCl 200 mg. 78 Depok APA : Andita Manda.1 + 0.   Codein HCl = PGS 2% = 2/100 x 100 = 2 g Air untuk PGS = 7 x PGS = 7 x 2 g = 14 ml Aquadest = 100. larutkan dalam air.30 – (0.30 g dan kocok ad homogen 7. SIK Nomor : 12345 No.2 masing-masing. 07/02/2010 DUDE Sehari tiga kali satu sendok teh KOCOK DAHULU TIDAK BOLEH DIULANG TANPA RESEP BARU DARI DOKTER 13 . Timbang CTM 100 mg. Timbang trimetoprim 800 mg. 10 Tgl.

3 g/mL = 26 g Ol. Menthae Pip.d. Menthae Pip.18/ 45 x 100 % = 13.07) x 200.73% TM sehari = 3x6.25 mg= 6.pip = 70 mL PGS 2% = 2/100 x 100 = 2 g Air untuk PGS = 7 x PGS = 7 x 2 g = 14 ml Aquadest sisa = 100 – (0.5x19 mg = 66.Simplex = 20 mLx 1. = 3.5 tetes Pro: Dude (15 tahun) Komposisi: Tiap 5 ml mengandung Bactrim Suspensi:  Trimetoprim 40 mg  Sulfametoksazol 200 mg Netherland Pharm.2 mL 3.menth.5 x 19 g= 66.8 + 4 + 2 + 14) = 79.menthae pip s. Margonda No 77 Depok No Izin Praktek : DU 1234567/14000 Depok.simplex Ol.3) / (100+0.2+26+0. Sri Faedah.24% 14 . Diencerkan hingga 1000 mL dengan Aqua Menthae Pip.pip = 3. Jl.d cth 1 100 0. 1 mL Ol.5 g Aqua menth.18 mg TM sekali = 6.5 tetes Ol.Resep 3: dr.5 mg=70 mg Perhitungan TM Codein 60/300 mg Dosis sekali = Dosis sehari = Dalam Resep: Sekali = (3x1.5 tetes = 3.18/ 225 x 100% = 8. Perhitungan Bahan  Trimetoprim = 100/5 x 40 = 800 mg  Sulfametoksazol = 100/5 x 200 = 4 g       Codein HCl = Syr. Sp A.20 20 mL 3. 7 Februari 2010 R/ Bactrim suspensi adde Codein Syr.t.

Tambahkan 70 mL Aqua Menth. 4. http://www.ff. 5. G. Gerus bahan No.Cara Pembuatan 1. Philadelphia : Lippincot Williams. Margonda Raya No 117. 5.pip 6. Sediaan Suspensi. 6. Anief. Ansel. Tambahkan air ad 126. sulfametoksazol 4 g. Timbang trimetoprim 800 mg. The Science and Practice of Pharmacy 28th Ed. Banker. 15 . Beri etiket dan label APOTEK SMART MANTAP Jl. 1979. Depok. 3.unair.2 masing-masing. New York : Marcel Dekker. aquadest 14 ml 3.25 mg. Timbang Codein HCl 200. 8 Februari 2010. 2002. 2000.A.M. Remington.S. S. 2007. 1989. Pharmaceutics-The Science of Dosage Form Design.. Apt. Banker. Aulton.E.id/emodule/farmasetika/LIKUIDA%20SUSPENSI. SIK Nomor: 1234567 KOCOK DAHULU TIDAK BOLEH DIULANG TANPA RESEP BARU DARI DOKTER No. Rieger. M. edisi keempat.00. Teori dan Praktik. 7. 2. Tristiana. Jakarta : UI Press. 4. G. pk. New York : Marcel Dekker. 21. kemudian aduk hingga terbentuk bactrin suspensi. H. Ilmu Meracik Obat.07/02/10 DUDE Sehari tiga kali satu sendok teh DAFTAR PUSTAKA 1. M. Tara botol 150 g 2. 2. M. Disperse System.. Penerjemah : Farida Ibrahim. PGS 2 g. masukkan dalam botol.Farm. dan masukkan dalam botol.27 g dan kocok ad homogen 7. 2000. 1989..S. Lieberman. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. digerus dan larutkan dalam air. C. APA: Andita Manda.ac. Rhodes.T. New York : Churchill Livingstone.pdf. Howard C. 10 Tgl. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Pharmaceutical Dosage Form. Erawati. Modern Pharmaceutics (Disperse System).

cukup kocok dahulu. tidak perlu pendispersian dahulu sebelum digunakan. Hal tersebut dibedakan karena umumnya pada bahan-bahan yang digunakan dalam suspensi kering terdapat bahan yang tidak stabil dalam air selama jangka waktu penyimpanan yang lama. sumber suspending agent. c) Stabilitas pembawa dan waktu hidup produk d) Produk. Pertanyaan (Yulita) : Bagaimana cara memilih suspending agent yang baik? Jawab (Helsa devina): Faktor2 pemilihan suspending agent a) Penggunaan bahan Pemilihan suspending agent diplih sesuai dengan bahan dan penggunaan sediaan apakan digunakan untuk oral atau topical. inkompatibiltas dari suspending agent. 16 . sedangkan pada suspensi kering perlu rekonstitusi atau pendispersian dengan air terlebih dahulu sebelum digunakan. Untuk penggunaan oral dipilih suspending agent yang tidak dapat mengiritasi kulit. sedangkan pada suspensi biasanya umumnya digunakan bahan-bahan yang cukup stabil. 2.Pertanyaan dan Jawaban Hasil Diskusi Kelompok Suspensi 1. b) Komposisi kmia dari zat aktif tidak berinteraksi dengan suspending agent Contonhya seperti tragacant yang digunakan untuk serbuk yang sukar berdifusi. Pertanyaan (Galih Prakarsa): Bagaimana stabilitas atau perbedaan suspensi biasa dengan suspensi kering? Jawaban (Andita M): Pada suspensi biasa. Contoh bahan aktif yang dibuat suspensi kering karena ketidakstabilannya adalah antibiotik kloramfenikol palmitat.

e. dalam bentuk tetesan kecil (2). Emulgator anionik (anion aktif) Contoh : Natrium palmitat. Komponen utama emulsi: 1. Pewarna : Beta-carotene. Emulsi merupakan sediaan yang mengandung dua zat yang tidak dapat bercampur. asesulfam K.EMULSI Definisi Menurut Farmakope Indonesia edisi III. Emulgator amfoter (emulgator M/A) Contoh : Protein. serbuk karbon. terdispersi dalam cairan pembawa. maltol. amaranth. etilparaben. stearil alkohol. sorbitol. Span. 2. Menurut Farmakope Indonesia edisi IV. tartrazine. dimana diperlukan suatu zat yang dapat mengemulsikan kedua cairan tersebut atau yang disebut zat pengemulsi (emulsifier. 5. Propil galat. kondrus. dimana cairan yang satu terdispersi menjadi butir-butir kecil dalam cairan yang lain. Fase Minyak 3. emulsi adalah sistem dua fase. emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat. Antioksidan : BHA. yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain. Zat Pengemulsi a. flavouring agent serta pewarna juga dapat ditambahkan pada pembuatan emulsi untuk pemakaian dalam. Komponen lain juga bisa ditambahkan adalah pengawet. Komposisi Emulsi Emulsi terdiri dari tiga komponen utama yaitu fase air. erythrosine. 17 . biasanya terdiri dari minyak dan air. sunset yellow. metilparaben. Emulgator tak larut Contoh : bentonit. Fase Air 2. ethyl vanillin. 3. Cetrimid d. Perasa : ethyl maltol. Emulgator Nonionik (bukan ionik) Contoh : setil alkohol. tragakan. Benzalkoniumbromida. Pengawet : Asam sorbat. BHT. 4. aspartam. Natrium stearat c. TBHQ. Emulgator kationik (kation aktif) Contoh : Alkoniumbromida. siklamat. sakarin. emulgator). benzalkonium klorida. aluminium hidroksida Komponen Tambahan: 1. sodium siklamat. fase minyak dan komponen ketiga yaitu zat pengemulsi. Tween. dan pektin. pemanis. dan menthol. propilparaben. b. distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok (1). agar. Bahan-bahan karbohidrat (emulgator M/A) Contoh : akasia (gom). Pemanis : Sukrosa. Lesitin f. asam malat. Indigo carmine.

pectin. Teori Lapisan Listrik Rangkap Jika minyak terdispersi ke dalam air. 2. Dapat membentuk lapisan film yang kuat tetapi lunak b. emulsi digolongkan menjadi tiga macam. Sehingga tiap partikel 18 .40. Emulgator yang digunakan adalah: a. 3. Minyak sebagai fase internal dan air sebagai fase eksternal. contoh: gom arab. Emulgator yang biasa digunakan adalah emulgator golongan karbohidrat. adalah emulsi yang terdiri atas butiran air yang tersebar atau terdispersi ke dalam minyak. agar. Jumlahnya cukup untuk menutup semua permukaan partikel fase dispers. Sistem ini bisa terdapat dalam bentuk M/A/M atau A/M/A. Emulsi tipe O/W (Oil in Water) atau M/A (minyak dalam air).60.80).60. Teori Film Plastic (interfacial film) Teori ini mengatakan bahwa emulgator akan diserap pada batas antara air dan minyak.40.dan TEA lauril sulfat b. sehingga terbentuk lapisan film yang akan membungkus partikel fase dispers. 3. Syarat emulgator yang dipakai: a. golongan ampoterik contoh:ammonium kwartener 2. adalah emulsi yang terdiri atas butiran minyak yang tersebar atau terdispersi ke dalam air.setil piridinium klorida c. Semakin tinggi perbedaan tegangan yang terjadi di bidang batas. sedangkan lapisan berikutnya akan mempunyai muatan yang berlawanan dengan lapisan di depannya. Tegangan yang terjadi pada air akan bertambah dengan penambahan garam-garam anorganik atau senyawa elektrolit. Tegangan yang terjadi pada permukaan disebut tegangan permukaan (Surface Tension). semakin sulit kedua zat cair tersebut untuk bercampur.Na lauril sulfat. satu lapis air yang langsung berhubungan dengan permukaan minyak akan bermuatan sejenis. Emulgator akan menurunkan tegangan yang terjadi pada bidang batas sehingga kedua zat cair akan mudah bercampur. sehingga fase dispers menjadi stabil. c. yaitu: 1. Dengan terbungkusnya partikel tersebut.80) d. tetapi akan berkurang dengan penambahan senyawa organic tertentu antara lain sabun. golongan anionic contoh:TEA. Sistem emulsi ganda: Dimana bola-bola emulsi yang terbentuk masih terdapat lagi bolabola dari fase lainnya. Teori Terbentuknya Emulsi (4) 1. Span (20. usaha antara partikel yang sejenis untuk bergabung menjadi terhalang. golongan kationik contoh:benzalkonium klorida. Air sebagai fase internal dan minyak sebagai fase eksternal. tragacanth.Tipe Emulsi Berdasarkan macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal maupun eksternal. Emulsi tipe W/O (Water in Oil) atau A/M (air dalam minyak). Dapat membentuk lapisan film dengan cepat dan dapat menutup semua partikel dengan segera. Tegangan yang terjadi antara dua batas cairan yang tidak bercampur disebut tegangan bidang batas (interfacial tension). golongan nonionic contoh Tween (20. Teori Tegangan Permukaan (Surface Tension) Daya kohesi suatu zat selalu sama sehingga pada permukaan suatu zat cair akan terjadi perbedaan tegangan karena tidak adanya keseimbangan daya kohesi.

3. Bahan formulatif cair yang 19 . karena susunan listrik yang menyelubungi setiap partikel minyak mempunyai susunan yang sama. aerosol. Emulgator yang digunakan bisa digunakan adalah emulgator yang berasal dari bahan-bahan dari partikel padat halus. diantaranya (3): 1. Dengan demikian antara partikel sejenis akan tolakmenolak dan stabilitas emulsi akan bertambah. alukol.minyak dilindungi oleh 2 benteng lapisan listrik yang saling berlawanan. Stabilitas Sediaan Emulsi Ketidakstabilan emulsi dapat dilihat dari fase internal yang cenderung membentuk agregat. 1. 2 bagian air dan 1 bagian gom ditambahkan untuk membuat emulsi pertama atau emulsi awal. 2. Benteng tersebut akan menolak setiap usaha partikel minyak yang akan mengadakan penggabungan menjadi satu molekul yang besar. Metode gom kering atau metode continental Metode ini juga dikenal sebagai metode “4:2:1” karena untuk 4 bagian (volume) mnyak. magnesium hdroksida. Harus digunakan mortir dengan permukaan dalam yang kasar bukan yang halus untuk menjamin kerja penggilingan yang tepat dan pengurangan ukuran bulatan selama penyiapan emulsi. Creaming atau Flokulasi (3) Adalah peristiwa terbentuknya dua lapisan emulsi yang memiliki viskositas yang berbeda. dan globul yang besar (agregat) naik ke permukaan atau turun ke dasar dan membentuk lapisan yang tebal (koalesensi). dimana agregat dari bulatannya fase dalam mempunyai kecenderungan yang lebih besar untuk naik kepermukaan emulsi atau jatuh kedasar emulsi tersebut dengan keadaan yang bersifat reversibel atau dapat didistribusikan kembali melalui pengocokan. Cracking atau Koalesensi (7) Adalah peristiwa pecahnya emulsi karena adanya penggabungan partikel-partikel kecil fase terdispersi membentuk lapisan atau endapan yang bersifat ireversibel dimana emulsi tidak dapat terbentuk kembali seperti semula melalui pengocokan Metode Pembuatan Emulsi Ada tiga metode pembuatan emulsi. Inversi Ialah suatu peristiwa pecahnya emulsi dengan tiba-tiba dari satu tipe ke tipe yang lain. dua bagian air kemudian ditambahkan sekaligus dan kedua campuran tersebut digerus dengan segera serta terusmenerus hingga terdengar bunyi “krek” pada pergerakan alu. Sesudah gom dan minyak dicampur. contoh: bentonit.

Bahan-bahan yang sangat polar atau hidrofilik angkanya lebih besar daripada bahan-bahan yang kurang polar dan lebih lipofilik. Tambahkan sisa air sedikit demi sedikit sambil dikocok. ditambahkan dua bagian air kemudian botol ditutup dan campuran tersebut dikocok dengan kuat dalam wadah tertutup. zat penstabil. Nilai HLB sebagai berikut: . pemilihan emulsifying agent memiliki nilai HLB yang sama atau hampir sama dengan fase minyak dari emulsi yang dimaksud. Metode botol atau botol forbes Digunakan untuk minyak menguap dan zat –zat yang bersifat minyak dan mempunyai viskositas rendah. Dalam menggunakan konsep HLB untuk pembuatan emulsi. . Minyaknya kemudian ditambahkan dengan perlahan-lahan kemudian campuran tersebut diaduk sampai minyaknya teremulsi. 4. Zat pengemulsi atau surface active agent dapat dikategorikan berdasarkan sifat hydrophilic-lipophilic balance atau nilai HLB. Campuran tersebut haruslah kental selama proses itu. Dengan metode ini. .HLB 13-20 bersifat sebagai solubilizer. masing-masing zat pengemulsi ditandai dengan nilai HLB atau nilai yang mengindikasikan substansi polaritas. dua atau lebih zat pengemulsi dapat dikombinasikan untuk mencapai nilai HLB yang tepat.HLB 8-18 menghasilkan emulsi m/a. Walaupun nilai HLB paling tinggi adalah 40 tetapi kisaran yang biasa digunakan adalah antara 1-20. 2.HLB 1-3 bersifat antibusa. Zat padat seperti pengawet. Sesudah semua bagian minyak ditambahkan. .HLB 3-6 sebagai pengemulsi (a/m). sampai 1 untuk asam oleat. Dalam metode ini. mucilage gom dibuat dengan menghaluskan gom arab dengan air dua kali beratnya dalam suatu mortir. serbuk gom dimasukkan ke dalam botol kering. Metode gom basah atau metode Inggris Pada metode ini. yang bervariasi nilainya dari 40 untuk sodium lauril sulfat. . 3.HLB 13-15 berfungsi sebagai deterjen. . 20 . Metode HLB (Hydrophilic-lipophilic balance) atau HLB Value (6) Zat pengemulsi seringkali memiliki bagian hidrofilik dan bagian lipofilik yang salah satunya lebih atau kurang dominan. Jika dibutuhkan. Zat-zat yang mempunyai Nilai HLB juga berguna dalam mendeskripsikan sifat fungsional sutau bahan surface active agent. Metode ini cocok untuk emulsi minyak-minyak yang sangat kental dan cara ini digunakan terutama bila emulgator yang akan dipakai berupa cairan atau harus dilarutkan dulu dengan air.HLB 7-10 memperlihatkan sifat pembasah yang baik. Sistem HLB juga ditetapkan untuk minyak-minyak dan zat-zat seperti minyak. pemberi rasa biasanya dilarutkan dalam air dengan volume yang sesuai kemudian ditambahkan ke dalam emulsi utama. pewarna. campuran diaduk selama beberapa menit untuk memastikan homogenitasnya setelah itu volumenya dicukupkan dengan air.larut dalam fase luar atau bercampur dengan fase luar bisa ditambahkan kemudian ke dalam emulsi utama tersebut dengan pengadukkan. air bisa ditambahkan dan diaduk ke dalam campuran tersebut sebelum bagian minyak berikutnya ditambahkan.

1 = 2. 4. Jumlah Tween 20 (HLB 16.9 CARA KERJA 1. aquadest dan oleum ricini sejumlah yang dibutuhkan. surfaktan kationik efektif pada pH 3-7 dan surfaktan anionic membutuhkan pH lebih besar dari 8. Aquadest 100 – (20 + 5) = 75 g c.1 x 5 = 2. 3.6) Tween 20 (16. 21 .7 3. Larutkan tween 20 dengan aquadest panas (suhu ± 700C) 6.Span 20 (HLB=8. Surfaktan nonionic efektif pada pH 3-10. Jumlah emulgator 5/100 x 100 = 5 g b.7) 12 Span 20 (8. span 20.7) dan Span 20 (HLB 8. 5.Tween 20 (HLB=16. kemudian dilebur di panangas air. Tambahkan campuran minyak dan air lalu segera dimasukkan ke dalam homogenizer. Hitung jumlah tween 20 dan span 20 yang dibutuhkan.4 Tween 20 = 3.6) 4.1 Span 20 = 5 .4/8.f. Kalibrasi botol sesuai dengan jumlah aquades yang dibutuhkan (100 mL). Campurkan span 20 ke dalam cawan penguap yang berisi oleum ricini. Timbang masing-masing tween 20.Sifat ionik dari surfaktan merupakan pertimbangan yang penting ketika memilih surfaktan untuk emulsi. 2.emulsi Perhitungan Bahan: a.6) Aqua ad 100 m. Contoh Perhitungan HLB R/ Oleum Ricini 20 (HLB butuh = 12) Emulgator 5 .7) .4  3.2.7  4.

Bandung. 9.A et all. Goeswin. Pennsylvania. Agoes. 2006. Edisi 3. Goeswin dan Darijanto. Bandung. 2. 3. Anonim.DAFTAR PUSTAKA 1. Troy. Pennsylvania. E. Jogjakarta. Pengembangan Sediaan Farmasi. Universitas Indonesia Press. Anief. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. King.Y. Lieberman. Lachmann. Farmakope Indonesia Edisi IV. Remington’s Pharmaceutical Sciences. Moh. Farmakope Indonesia Edisi III. Agoes. Howard C. Anonim. Ilmu Meracik Obat.1989. Herbert A. Marcel Dekker. Jakarta. Jakarta. Dispensing of Medication. Jakarta. 1971. 8. Lieberman. Teori dan Praktek Farmasi Industri.W. 5. 1993. ST. D. Jilid 2. Pharmaceutical Dosage Form Disperse System Vol. Mack Publishing Company. Dalam: Martin. Jakarta. Inc. & Barker. Mack Publishing Company. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Gadjah Mada University Press. 1979. 1989. 2000. H. UI Press. Ansel. 6. Emulsification. Teori dan Praktek. New York.. 7. ITB. 4. J. 15th Edition. 10. 1994. ITB. 1995. 22 . Koning. 1975. Leon.C. Teknologi Likuida dan Semi Solida. David B. (Ed). dan Joseph L. 2.

Dua tipe multi emulsi adalah air/minyak/air (water/in oil/in water atau w/o/w) dan minyak/air/minyak (oil/in water/in oil atau o/w/o). .bau.rasa. . Multi emulsi tipe w/o/w mengandung dua fase air yang dipisahkan oleh lapisan minyak yang berperan sebagai membran cair.tidak toksik dalam batas penggunaan . 23 . Jelaskan tentang multiemulsi dan emulgator yang biasa di gunakan? (Penanya: Hamka Hamdan) 2.Metode HLB: Sistem HLB juga ditetapkan untuk minyak-minyak dan zat-zat seperti minyak. 2.Pertanyaan dan Jawaban Pertanyaan: 1. Bagaimana cara memilih metode pembuatan emulsi? Jawaban: 1. Multi emulsi merupakan sistem dispersi yang kompleks dimana globul dari fase terdispersi mengandung droplet yang lebih kecil yang mempunyai sifat yang sama dengan fase eksternalnya. Bagaimana cara memilih emulgator yang baik? (Penanya: Yulita) 3.warna lemah 3. Multi emulsi mempunyai potensi tinggi terhadap pengendalian dan perpanjangan laju pelepasan obat.Metode Gom Kering: metode yg umum digunakan dalam pembuatan emulsi.Metode Gom Kering: Metode ini cocok untuk emulsi minyak-minyak yang sangat kental dan cara ini digunakan terutama bila emulgator yang akan dipakai berupa cairan atau harus dilarutkan dulu dengan air. Memilih emulgator: .mampu menjaga stabilitas emulsi hingga mencapai shelf time (usia simpan) .Metode Botol: Digunakan untuk minyak menguap dan zat –zat yang bersifat minyak dan mempunyai viskositas rendah. Sistem multi emulsi ini juga digunakan dalam upaya menghindari degradasi dari zat aktif. .dapat bercampur (tidak OTT) dengan bahan obat atau bahan tambahan lainnya . Memilih metode pembuatan emulsi: . Emulgator yang digunakan adalah surfaktan yang bersifat hidrofobik dan hidrofilik.tidak mengganggu stabilitas dan efektivitas bahan obat . Sementara multi emulsi o/w/o mengandung dua fase minyak yang dipisahkan oleh lapisan air.

Sirup obat. tidak mengandung obat tetapi mengandung zat pewangi atau penyedap lain. Sirup Ada 3 macam sirup yaitu : a. larutan topical 2. Sirup simpleks. a. penggunaan wadah tahan cahaya perlu dipertimbangkan (2). misal: terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur.LARUTAN ORAL Menurut Farmakope Indonesia edisi IV. Disini etanol berfungsi mempertinggi kelarutan obat pada elixir dapat pula ditmbahkan glicerol. Sediaan larutan memiliki kestabilan lebih rendah dibandingkan sediaan padat. Potio effervescent adalah Saturatio yang CO2 nya lewat jenuh. Potiones (obat minum) Adalah solutio yang dimaksudkan untuk pemakaian dalam (peroral). Beberapa contoh sediaan larutan oral yaitu: 1. 24 . Contohnya : solutio citratis magnesici. maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan. Netralisasi. b.25 % b/v. Larutan yang diberikan secara parenteral: injeksi Larutan oral adalah sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral. c. mengandung satu atau lebih zat dengan atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma. saturatio dan potio effervescent. Saturatio adalah Obat minum yang dibuat dengan mereaksikan asam dengan basa tetapi gas yang terjadi ditahan dalam wadah sehingga larutan jenuh dengan gas. Sedangkan untuk pengganti gula bisa digunakan sirup gula. larutan merupakan suatu sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut. Netralisasi adalah obat minum yang dibuat dengan mencampurkan bagian asam dan bagian basa sampai reaksi selesai dan larutan bersifat netral. Berdasarkan sistem pelarut dan zat terlarut: spirit. Selain berbentuk larutan potio dapat juga berbentuk emulsi atau suspensi. pengawet. Elixir Adalah sediaan larutan yang mengandung bahan obat dan bahan tambahan (pemanis. c. umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiiki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau dicampurkan (2). 4. sorbitol atau propilenglikol. 3. 2. Cara pemberian: larutan oral. Bentuk sediaan larutan digolongkan menurut: 1. pemanis atau pewarna yang larut dalam air atau campuran kosolven-air. tingtur. Oleh karena molekulmolekul dalam larutan terdispersi secara merata. b. mengandung 65 % gula dalam larutan nipagin 0. mengandung satu atau lebih jenis obat dengan atau tanpa zat tambahan digunakan untuk pengobatan. untuk sediaan larutan yang mengandung pelarut mudah menguap harus menggunakan wadah tertutup dan terhindar dari panas berlebih. dan larutan air. 3. pewarna dan pewangi) sehingga memiliki bau dan rasa yang sedap dan sebagai pelarut digunakan campuran air – etanol. Untuk senyawa-senyawa yang tidak stabil dan mudah mengalami degradasi secara fitokimia. amygdalas ammonicus. Penambahan sirup ini bertujuan untuk menutup rasa atau bau obat yang tidak enak. Sirup pewangi.

Tetesan butiran kabut harus seragam dan sangat halus sehingga dapat mencapai bronkhioli. Karena larutan ini mengandung bahan obat atau antiseptik. 25 . Dapat ditambahkan zat dapar dan zat pengawet. baik untuk pengobatan maupun untuk membersihkan. Guttae Nasalis Tetes hidung adalah obat yang digunakan untuk hidung dengan cara meneteskan obat kedalam rongga hidung. apabila tidak dinyatakan lain maka dimaksudkan untuk obat dalam. untuk penggunaan topical pada kulit. tidak boleh mengandung zat lendir. 4. Minyak lemak atau minyak mineral tidak boleh digunakan sebagai cairan pembawa. emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan. anthelmintic dan lain-lain. Selain untuk membersihkan enema juga berfungsi sebagai karminativa. partikel halus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan pada kornea. Tetes mata juga tersedia dalam bentuk suspensi. Collyrium adalah sediaan berupa larutan steril. bebas pirogen. 9. Injectiones / Obat suntik Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan. Dimaksudkan untuk digunakan sebagai pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan. pendapar dan pengawet. 7. digunakan untuk membersihkan mata. 6. seperti etanol dan poliol. 2. diagnostic. atau disemprotkan dalam bentuk kabut kedalam saluran pernafasan.5. 3. Enema yang digunakan untuk membersihkan atau penolong pada sembelit atau pembersih feces sebelum operasi. Contohnya : Betadin gargle. yang disuntikan dengan cara merobek jaringan kedalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Guttae Ophthalmicae Tetes mata adalah larutan steril bebas partikel asing merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas sedemikian rupa hingga sesuai digunakan pada mata. isotonis. emolient. Sediaan-sediaan yang termasuk larutan topikal yaitu: 1. Larutan topikal merupakan larutan yang biasanya mengandung air tetapi seringkali mengandung pelarut lain. 5. Guttae Oris Tetes mulut adalah Obat tetes yang digunakan untuk mulut dengan cara mengencerkan lebih dahulu dengan air untuk dikumur-kumur. sedativa. Gargarisma Gargarisma / obat kumur mulut adalah sediaan berupa larutan umumnya dalam keadaan pekat yang harus diencerkan dahulu sebelum digunakan. emulsi atau suspensi. atau untuk penggunaan pada permukaan mukosa mulut. Contoh : Betadin Vagina Douche. Guttae (drops) Guttae / obat tetes adalah sediaan cair berupa larutan. dapat mengandung zat pensuspensi. Lavement / Enema / Clysma Cairan yang pemakaiannya per rectum / colon yang gunanya untuk membersihkan atau menghasilkan efek terapi setempat atau sistemik. jernih. 8. Douche Adalah larutan dalam air yang dimaksudkan dengan suatu alat kedalam vagina. tidak untuk ditelan. Inhalation Sediaan yang dimaksudkan untuk disedot oleh hidung atau mulut.

Sediaan ini diberi label. Zat itu ditambahkan sejumlah volume tertentu dalam botol dan kocok hingga terlarut sempurna. Jika perlu rasa pahit dan rasa yang memabukkan (nauseous) ditutupi dengan flavour. Dapat ditambahkan gliserol. dikemas dan disimpan yang cocok. Farmakope Indonesia Edisi IV (2) Eliksir adalah larutan oral yang mengandung etanol sebagai kosolven. Epithema / Obat kompres Adalah cairan yang dipakai untuk mendatangkan rasa dingin pada tempat-tempat yang sakit dan panas karena radang atau berdasarkan sifat perbedaan tekanan osmose digunakan untuk mngeringkan luka bernanah. British Pharmacopoeia 2002 (4) Eliksir adalah larutan oral yang jernih dan memiliki rasa dan bau yang enak. shelf life dapat dianggap kira – kira 2 tahun.sebagai pengganti gula dapat ditambahkan sirup simpleks. sorbitol dan propilen glikol. Beberapa zat aktif yang dibuat eliksir (contoh: pheneticillin dan phenoxy methipenisilin) ditandai dengan bentuk bubuk atau granul kerena zat aktif itu tidak stabil dalam larutan. Formularium Nasional Edisi II (3) Eliksir adalah sediaan berupa larutan yang mempunyai rasa dan bau yang sedap. dan diformulasikan dengan rasa yang enak dan biasanya sangat stabil. dan dapat juga mengandung etanol (96%) atau pelarut etanol. 11. dan pewarna buatan dapat ditambahkan untuk memberikan penampilan yang menarik. b. Contoh eliksir adalah Chloral eliksir. Contoh : Rivanol. Beberapa contoh diatas merupakan contoh dari sediaan larutan yang berdasarkan dari cara pemberian obat. zat warna dan zat pewangi. Eliksir merupakan produk yang jernih. ELIKSIR 1. Sebagai pelarut utama digunakan etanol 90% yang dimaksudkan untuk mempertinggi kelarutan obat. c. mengandung satu atau lebih zat aktif yang dilarutkan dalam pembawa yang biasanya mengandung sukrosa yang tinggi atau polihidrik alkohol atau alkohol yang cocok. untuk pengobatan anak (paediatric) harus dibuat segera tetapi stabil. Pembahasan lebih mendalam mengenai sediaan oral elixir dan sediaan topikal gargarisma. Eliksir merupakan produk yang kurang umum. disimpan ditempat yang dingin dan umur sediaan hanya 7 hari. Eliksir umumnya mengandung obat yang poten seperti antibiotik. Definisi: a. mengandung selain obat juga zat tambahan seperti gula dan atau zat pemanis lainnya. zat pengawet. untuk digunakan sebagai obat dalam. antihistamin dan sedatif. Contoh larutan 10 % Borax dalam gliserin. Litus Oris Oles bibir adalah cairan agak kental dan pemakaiannya secara disapukan dalam mulut. Kejernihan dapat dicapai dengan pemilihan pembawa yang tepat dan beberapa hal dalam pembuatannya. 26 . tidak seperti mixtura yang seringkali keruh akibat dari minyak atau bahan tumbuhan lain yang tersuspensi.10.

aspartam. penambahan gliserin harus diperhatikan karena gliserin dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan diare. f. Karena ada komponen air dalam sediaan maka perlu ditambahkan pengawet.zat berkhasiat . sirupus simpleks. pengawet. (Excipients edisi 4 hal 390 ) h. manis. Ketercampuran zat aktif dengan pelarut campur ataupun zat tambahan untuk menghindari terjadinya pengendapan. e.kelarutan. propilen glikol x %.pelarut utama (etanol dan air perbandingan tertentu sesuai dengan daya melarut zat berkhasiat) . Untuk penambahan sirupus simpleks lebih dari 30% harus diperhatikan terjadinya cap locking pada tutup botol sediaan. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi (1) Eliksir adalah sediaan hidroalkohol jernih.Kd campuran = (%air x Kd air) + (% alk x Kd air) + (% prop Gli x Kd prop Gli) Misal: Untuk zat yang ke arah polar: Kd camp > Kd zat aktif Untuk zat yang ke arah non polar: Kd camp < Kd zat aktif. Gliserin sebagai anti cap locking. pemilihan zat aktif perlu memperhatikan pemerian (rasa dan bau). 4. Formula umum eliksir R/ : .Asam & garam benzoat 0. air 90-x % . gliserol.02%.3% ( teori dan praktek industri Hal 963) . pengkomples. Produksi larutan yang jernih Kekeruhan dari bahan pewangi (flavour) yang terdiri dari minyak essensial dan pengendapan dari ekstrak tumbuhan tidak boleh ada dalam eliksir. propilen glikol) . pewangi. antioksidan) 6. antcaplocking agent. konstanta dielektrik pelarut. ketercampuran bahan. Untuk sediaan oral.18% dan propil paraben 0. sorbitol Pemilihan pelarut campur didasarkan: . propilen glikol. dll b. ditambahkan juga rasa dan warna yang sesuai (antara warna dan essens yang ditambahkan harus ada kesesuaian). d. penstabil kimia seperti pendapar. siklamat. yang dimaksudkan untuk penggunaan secara oral.Kd (jika diketahui Kd zat aktif) . Pembawa Pembawa eliksir berbeda dengan pembawa mixtura karena: a. Dasar pemilihan pelarut campur: toksisitas. pengawet yang dapat digunakan: . dan seringkali ditambahkan flavor (aroma dan perasa) untuk meningkatkan kelezatannya. misal: alkohol 10 %.d.1-0. Pelarut campur yang digunakan: etanol. 5.Kombinasi metil paraben 0.hal yang dianggap perlu dalam pembuatan eliksir : a. Pertumbuhan kristal yang disebabkan oleh perubahan suhu.pelarut tambahan (gliserol. Pemanis yang dapat digunakan : gula. Peningkat rasa seperti pemanis perlu diberikan untuk meningkatkan penerimaan. Karena itu perlu diberikan anti cap locking. sorbitol. c. sorbitol. pewarna. Sediaan eliksir yang baik harus mempunyai viskositas yang cukup untuk memudahkan penuangan. keseragaman ukuran.bahan pembantu (pemanis. Hal . g. kelarutan. Kira-kira 10-20 % 27 .

Bila dua larutan selesai dicampur. propilen glikol dan gliserol sebagai pelarut campur. Dalam eliksir parasetamol digunakan alkohol. Sering campuran akhir akan tidak jernih. sebab alkohol tidak dianjurkan untuk diberikan kepada anak-anak sebagai pelarut. mempunyai kemampuan mengabsorbsi kelebihan minyak-minyak dan karena itu membantu menghilangkannya dari larutan. c. Zat yang larut dalam air dilarutkan dalam air. dan propilen glikol. Jenis-jenis bahan pembawa adalah sebagai berikut: Sebagai pelarut utama digunakan etanol 90%. Pembuatan eliksir Eliksir biasanya dibuat seperti larutan sederhana dengan pengadukan dan atau dengan pencampuran dua atau lebih bahan-bahan cair. namun biasanya elikisir memiliki kadar alcohol 5- 28 . Propilen glikol memberikan rasa manis seperti gliserol.(Fornas ed. tetapi keruh. Bila memungkinkan eliksir untuk anak-anak diformulasikan mengandung sedikit alkohol atau tidak sama sekali. filter yang sering digunakan membantu dalam pembuatan eliksir. Alkohol bila digunakan dengan konsentrasi cukup rendah mempunyai aktivitas fisiologis dan dalam konsentrasi yang tinggi memberikan rasa membakar. Harus diingat bahwa kadar alkohol tiap eliksir besar kepentingannya untuk kelarutan dari bahan-bahan. . Talk. dapat ditambahkan gliserol. seperti kelebihan yang mungkin dihasilkan dalam membuang minyak dan pewarna yang berlebihan dari larutan dan juga dalam peningkatan waktu penyaringan yang dibutuhkan untuk mendapatkan kejernihan. b. Keseksamaan harus dilakukan untuk tidak menggunakan penolong saringan dalam jumlah berlebihan. Propilen glikol digunakan sebagai pelarut minyak essensial dari bahan kimia organik yang tidak larut air. contoh: . Alkohol juga menekan ketidaknyamanan rasa asin dari bromida. maka selama proses penyaringan. sedangkan zat yang larut dalam alcohol dilarutkan dalam alcohol. terutama karena pemisahan beberapa minyak pemberi rasa dengan menurunnya konsentrasi alkohol. eliksir biasanya dibiarkan selama beberapa jam yang ditentukan untuk menjamin penjenuhan pelarut hidroalkohol dan untuk memungkinkan butiran minyak bergabung sehingga dapat dihilangkan dengan lebih mudah dengan cara disaring.fenobarbital sukar larut dalam air tetapi dapat menghasilkan larutan yang jernih jika dibuat dengan melarutkan alkohol dan kemudian dilarutkan dalam gliserol dan air. 7 bagian alkohol. Eliksir mengandung alcohol 3% hingga 44%. Kmudian larutan dalam air dimasukkan ke larutan dalam alcohol sedikit-demi sedikit sambil diaduk rata. Produksi sediaan yang berasa enak Kandungan utama dari eliksir adalah sirup atau sirup yang mengandung flavour (syrop flavour). kertas saring harus dibasahi dengan larutan hidroalkohol yang mempunyai kadar alkohol yang sama dengan larutan alkohol atau harus digunakan yang kering. campuran dibuat sesuai volume dengan pelarut atau pembawa tertentu. sorbitol. 9 bagian propilen glikol dan 40 bagian gliserol.Satu bagian parasetamol larut dalam 70 bagian air. garam iodida dan yang lainnya. Larutan medicarrent dengan kelarutan yang rendah dalam air Kadang-kadang jika suatu medicarrent yang poten memiliki kelarutan rendah harus diberikan maka dibuat sebagai larutan dengan pelarut campur yang akan melarutkan dengan sempurna. Bila ini terjadi.alkohol digunakan untuk melarutkan minyak termasuk gliserol yang juga sebagai pelarut pewangi berminyak.II hal 313) 7.

3. Sedangkan bila kurang dari 1/6 volum sediaan. Timbang Mebhidrolina napadisilat 1 g dan dilarutkan dalam ± 5 g air. Etanol dan gliserin ditimbang dalam cawan penguap 4. Akan tetapi adanya bahan-bahan ini menambah kekentalan eliksir dan memperlambat kecepatan penyaringan. Simpleks ditimbang dalam botol 3.10%. Yuni DUM No. simpleks Etanol Aquadest =1g =5g = 10 g = 15 g = 100 . sorbitol. membantu kelarutan zat terlarut. Adanya gliserin. Sirup dilarutkan dalam air. dan meningkatkan kestabilan sediaan. Kadar sirup lebih dari atau sama dengan 1/6 volume sediaan maka berat jenisnya 1. Masukkan etanol dan gliserin ke dalam botol 6. Simpleks Etanol Mf. Contoh resep Dr. Beri etiket dan label 29 . maka brat jenisnya 1. gerus hingga larut dan dimasukkan ke dalam botol 5. Tara botol 2. dan propilen glikol dalam eliksir umumnya memberi andil pada efek pelarut dari pembawa hidroalkohol. sirup. Margonda 4 Depok Depok. Sir.(1 + 5 + 10 + 15) = 69 g Pembuatan: 1. Eliksir Stdd SK 1 1 5 10 15 100 Perhitungan Bahan Mebhidrolina napadisilat Gliserin Sir. Cukupkan berat dengan menambah air ad 100 g 7. 5 Februari 2010 R/ Mebhidrolina napadisilat Gliserin Sir.55/DINKES/2000 Jl.

Margonda 4 Depok Depok.06 g = 60 mg : 60 mg/360 mg x 100% = 16. gerus Phenobarbital.dest ad 0. kemudian kalibrasi botol 100 ml 2. beri etiket dan label. larutkan dalam etanol 5 ml (kelarutan phenobarbital 1:8 dalam etanol) 3. 5. etanol 15 ml. Citri pada larutan tersebut secukupnya dan tambahkan pewarna secukupnya. Siapkan bahan dan alat. Tambahkan aquadest ad 100 ml. 5 Februari 2010 R/ Phenobarbital Propilenglikol Etanol Sorbitol 70% Ol. Tambahkan Ol. Siapkan pelarut yaitu propilenglikol 10 ml. Timbang Phenobarbital 0.4 g.55/DINKES/2000 Jl. 100 ml S t d d Cth 1 Pro : Rossi (12 thn) Nama Obat Phenobarbital DO G TM 300 mg/600 mg Farmakologis Sedativum Kelarutan Larut dalam etanol PERHITUNGAN : TM Phenobarbital : 1 kali 1 hari Dosis pemakaian : 1 kali pakai % pemakaian 1 kali 1 hari pakai % pemakaian 1 hari : 12/20 x 300 mg = 180 mg : 12/20 x 600 mg = 360 mg : 5 ml/100 ml x 0. campur ketiga bahan tersebut.4 g 10 ml 20 ml 60 ml qs. Coloris Aq.Dr. Citri Corr. Yuni DUM No.11% : 3 x 5 ml/100 ml x 0.67% Cara pembuatan : 1. 30 . qs.4 g = 0. aduk ad homogen lalu masukkan ke dalam botol. sorbitol 70 % 60ml. aduk ad homogen 4.02 g = 20 mg : 20 mg/180 mg x 100 % = 11.4 g = 0.

harus dilakukan penyaringan sebelum dicampur dengan zat lain. Jenis obat kumur lain selain gargarisma yaitu mouthwash (pencuci mulut). Contoh Resep (9) Dr. Nama paten untuk pencuci mulut adalah Corsodyl (Clorhexidine) dan Betadine (Povidone-iodine) (6).  Tawas sangat mudah larut dalam air. Menthae Pip.GARGARISMA 1. beri etiket dan label. sehingga dapat langsung ditambahkan air 31 . 5. larutkan dalam aquadest 20 ml (kelarutan zink klorida sangat mudah larut dalam air). Gtt (guttae) II Aqua dest. tidak untuk ditelan”.f. Contoh obat kumur adalah obat kumur fenol BPC.3 g ke dalam campuran nomor 3. 5 Februari 2010 R/ Zinci chloride 1 Aluminii et Kalii Sulfass 1 Acidum Salicylicum 0. Oleh karena itu. Setelah beberapa waktu (biasanya selama satu menit) obat kumur tersebut harus dikeluarkan. Margonda 4 Depok Depok. Timbang zink klorida 1 g. Perhatian :  Untuk zink klorida.55/DINKES/2000 Jl. Definisi Obat kumur adalah sediaan berupa larutan. Yuni DUM No. umumnya dalam bentuk pekat yang harus diencerkan terlebih dahulu sebelum digunakan. Cara pembuatan : 1. Bahan aktif biasanya merupakan antiseptik dan agen bakterisid. Pencuci mulut serupa dengan obat kumur tetapi digunakan secara spesifik untuk mengatasi kondisi mulut. kemudian kalibrasi botol 300 ml 2. larutkan dalam aquadest 20 ml 4. 3. 2. 6. dimaksudkan untuk digunakan sebagai pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan (5). Tambahkan aquadest ad 300 ml. gerus zink klorida. Siapkan bahan dan alat. Nama paten obat kumur adalah Listerine (6). Ad 300 ml m. Obat kumur tidak boleh ditelan tetapi ditahan di tenggorokkan. Obat kumur adalah larutan yang digunakan untuk mengobati infeksi tenggorokan.300 Ol. Sediaanya dalam bentuk pekat sehingga sebelum digunakan harus diencerkan terlebih dahulu. Timbang aluminium kalium sulfat (tawas) 1 g. Setelah campuran bahan homogen tambahkan oleum menthae 2 tetes dan kemudian diaduk lagi sampai homogen lalu masukkan ke dalam botol. Tambahkan Asam salisilat 0. Penandaan pada etiket harus juga tertera penunjuk pengenceran sebelum digunakan dan “Hanya untuk kumur. gargle. aduk sampai homogen. larutannya dalam air akan membentuk zink oksida yang berbentuk Kristal. Contoh pencuci mulut adalah pencuci mulut NaCl BP.

alkohol. PERTANYAAN 1.  Agen perasa Contoh : peppermint. antibakteri.  Fungsi alkohol dalam gargarisma adalah sebagai pelarut dan antiseptik  Contoh sediaan gargarisma yang mengandung alkohol : Bactidol® (Pfizer) dengan komposisi Heksetidina 0.  Pelarut Contoh : aquadest. Asam salisilat memiliki kelarutan yang kecil dalam air. Tabel 2. Diklasifikasikan sebagai P2.  Keratolitik Contoh : Asam salisilat Fungsi : antifungi. radang gusi. Ada pula metode yang yang lain untuk meningkatkan kelarutan asam salisilat dalam air. Antiseptik lokal dalam pengobatan radang mulut dan tenggorokan disebabkan bakteri dan jamur termasuk sariawan. kondisi peradangan pada mulut dan faring. Setelah itu. adstringent. yaitu dengan melarutkannya dalam air panas. Apakah alkohol dapat ditambahkan ke dalam sediaan gargarisma (Angelina) ? JAWABAN  Alkohol dapat ditambahkan ke dalam gargarisma. gerus hingga homogeny. mentol. keratolitik.1% dan alkohol 9% (Dedy Akhfa) 32 . metil salisilat. 3. mg (1%) b/v fingivitis. dan perasa. stomatitis. sariawan.  Adstringent Contoh : Alumunium kalium sulfat (tawas) Sebagai digunakan alumunium Fungsi : menyempitkan selaput lendir. jangan ditelan”. Penandaan Penandaan : pada etiket harus juga tertera petunjuk pengenceran sebelum digunakan dan label “Hanya untuk dikumur.1%. spearmint. radang amandel. perlu ditambahkan dengan spiritus Fortier 2-3 tetes. radang tenggorokan. Povidon iodida 10 Faringitis. tambahkan air. dan meningkatkan penetrasi obat lain. Contoh Obat Kumur yang berada dipasaran Nama Dagang (pabrik) Bactidol® (Pfizer) Komposisi Heksetidina alkohol 9% Betadine® (Mundipharma) Indikasi 0. dan cengkeh Fungsi : Untuk menutupi rasa zat aktif yang tidak enak 4. Oleh karena itu. Bahan Tambahan Bahan tambahan yang biasa terkandung dalam obat kumur atau gargarisma adalah pelarut.

1995. 4. Ansel.. Pharmaceutical Practice. Anonim. Sian C Owen. A. New York: Churchill Livingstone. Anonim. 7. terjemahan Farida Ibrahim. Jakarta: UI press. Paul J Sheskey. 8. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 5. Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktek. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Rowe. Yogyakarta. Handbook of Excipient.1989. E. 1979. hlm: 178-179. 6. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 3. Fauzia. 182 & 189. 33 . Farmakope Indonesia Edisi IV. hal 95-131. 2. Winfield. 9. Formularium Nasional Edisi II. edisi keempat. Anonim. 2004. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Anonim. Richards. Anief M. M. 2009. Jakarta. Farmakope Indonesia Edisi III. Bentuk sediaan obat cair. 3th Edition. 1989. 1978. Howard C.J. R. Raymond C. 2004. British Pharmacopoeia 2007 version 11.DAFTAR ACUAN 1. Gadjah Mada University Press. American Pharmaceutical Association.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful