P. 1
Ulumul Quran

Ulumul Quran

|Views: 37|Likes:
Published by Isfahannur Olive

More info:

Published by: Isfahannur Olive on Feb 22, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/05/2013

pdf

text

original

Makalah ulumul Quran

TAFSIR TEMATIK

Oleh KHAIRUL BADRI, Lc.

Pembimbing DR. LUKMANUL HAKIM, M.Ag

PROGRAM PASCA SARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI AR- RANIRY DARUSSALAM BANDA ACEH 2010-2011
1

Qur’an ada berdasar subjek atau topik.BAB I PENDAHULUAN Kitab suci al-Quran merupakan kitab pedoman seluruh umat islam. 1972). Yaitu yang menggunakan nash dalam menafsirkan. Maka sepeninggalan rasulullah mereka harus berijtihad tentang pemahaman ayat.Tafsir maudhu’i atau tematik ada berdasar surah al. 210. tafsir kulli dan tafsir muqaran. Ilmu-Ilmu Al-Qur’an: Media Pokok dalam Menafsirkan Al-Qur’an (Djakarta: Bulan Bintang. Sementara tafsir bial-ra’y atau dikenal juga dengan tafsir dirayah adalah tafsir yang lebih mengandalkan pada ijtihad yang shahih.Tafsir tematik berdasarkan surah digagas pertama kali oleh Syaikh Mahmud Syaltut. terj. kalau pada masa-masa awal islam nabi berfungsi sebagai mubayyin al-Quran. Dasar pengelompokkan terhadap tafsir pun berbeda-beda. Diantara pengelompokan tersebut dan sudah dikenal sejak masa nabi Muhammad SAW adalah tafsir bi al-atsar.Abdul Hay al. M. B e n t u k tafsir berkembang sedemikian pesat dari waktu ke waktu sesuai dengan tuntutan dan konteks. Berdasarkan metode terbagi menjadi tafsir tahlili. Mohammad Aly Ash-Shabuny. Ilmu tafsir sudah ada sejak nabi Muhammad SAW.Dr. Moch Shudlori Umar dan Moh. tafsir maudhu’i. oleh karenanya umat islam perlu mengkaji lebih jauh isi dari kitab suci al-quran. Pada makalah ini pemakalah akan menguraikan apa yang dikatakan dengan tafsir maudhui bagaimana sejarah perkembangan dan manfa’at tafsir tematik dan apa langkah-langkah yang ditempuh dalam menerapkan metode tafsir tematik dan bagaimana keistimewaan tafsir tematik dalam menuntaskan persoalan-persoalan masyarakat kontemporer 1 T. baik al-Qur’an dengan al-Qur’an maupun al-Qur’an dengan sunnah. hlm. dan banyak yang menyebut dengan tafsir riwayah.ayat al-Quran sehingga lahirlah berbagai macam bentuk penafsiran. Sehingga para sahabat langsung bertanya kepada nabi jika mereka tidak mengetahui maknanya. 204 dan 224. Al-Ma‘arif. 1970). Hasi Ash-Shiddieqy. sementara tafsir tematik berdasarkan topik oleh Prof. 2 .Farmawi. 234. 205. Pengantar Studi al-Qur’an [AtTibyan]. Matsna (Bandung: P.1 Tafsir berkembang terus dari waktu ke waktu sesuai dengan tuntutan dan kontek zaman.T.

Anwâr al-Tanzîl karya al-Baidlawi (w. Kenyataanya. diantaranya pertama. walaupun telah banyak menghindari kekurangan-kekurangan metode lama. Mahmud Syaltut. Ini bisa dilihat. dimana ayat dan surat yang satu dengan lainnya saling terkait. ijmali. Para ulama melihat metode tahlili dan muqarin kurang bisa menjawab tantangan zaman kekurangan dari metode klasik. kitab-kitab tafsir senantiasa memiliki corak tertentu yang bisa dirasakan secara jelas bahwa penulisnya ‘memaksakan sesuatu pada al-Qur`an’. Melihat masih adanya kelemahan tafsir tersebut maka Prof. individual dan terlepas dari konteks umumnya sebagai kesatuan. karena tidak kurang satu petunjuk yang saling berhubungan tercantum dalam sekian banyak surat yang terpisah-pisah. muqarin dan maudlu’i. Tafsir Al-Qur'an Al-Karim. pada tafsir al-Kasysyaf karya alZamakhshari (1074-1143). dengan menjelaskan tujuan-tujuan utama serta petunjuk-petunjuk yang dapat dipetik darinya. misalnya. Syaikh Al-Azhar. 1388) atau Bahr al-Muhît karya Abu Hayyan (1344).BAB II PEMBAHASAN A. setelah tafsir al-Thabari. tasawuf atau setidaknya aliran kaidah bahasa tertentu. Melihat kekurangan ini maka pada bulan Januari 1960. Dr. tetapi dengan jalan membahas surat demi surat atau bagian suatu surat. Larat belakang tafsir tematik Beberapa macam metode yang digunakan dalam ilmu tafsir antara lain metode tahlili(klasik). Walaupun ide tentang kesatuan dan isi petunjuk surat demi surat telah pernah dilontarkan oleh Al-Syathibi (w. Di situ beliau menafsirkan Al-Quran bukan ayat demi ayat. tapi perwujudan ide itu dalam satu kitab Tafsir baru dimulai oleh Mahmud Syaltut. 3 . masih menjadikan pembahasan mengenai petunjuk Al-Quran secara terpisahpisah. padahal al-Qur`an adalah satu kesatuan yang utuh. 1388 M). berupa faham teologi. Ahmad Sayyid Al-Kumiy. kemungkinan masuknya ide mufasir sendiri yang tidak sesuai dengan maksud ayat yang sebenarnya. Ketua Jurusan Tafsir pada Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar sampai tahun 1981 mengenalkan pada umat islam dengan metode maudlu’I atau tematik. fiqh. Kritik bint al-Syathi ini bukan tidak beralasan. Metode ini. Kedua. menerbitkan Tafsirnya. memperlakukan ayat secara atomistik.

4 . 87.ayat al-Quran yang membahas masalah tertentu dari berbagai surat yang disesuai dengan masa turunnya. hal 233. Quraish. (2) tematik berdasar subyek. 1992. Sedangkan tafsir maudhui adalah Satu metode tafsir yang mufassirnya berupaya menghimpun ayat-ayat al-Qur'an dari berbagai surah dan yang berkaitan dengan persoalan dan topik yang ditetapkan sebelumnya. Al -burhan fi ulumilo Quran. 2004 ) hal 27 3 2 Shihab.3 Ada juga yang mendefenisikan sebagai sebuah metode penafsiran dengan cara menghimpun seluruh ayat.4 Adapun tafsir tematik secara umum dapat dibagi menjadi dua.Pengertian Tafsir Maudhui. 111 4 Ahmad syurbasyi . jilid 1cet 1. Bandung: Mizan. studi tentang sejarah perkembangan tafsir. Misalnya ingin mengetahui bagaimana konsep zakat menurut Islam. serta menyimpulkan kandungan hukum dan hikmahnya2. Metode ini di Indonesia dikenal dengan metode tafsir Tematik. cet 1. Membumikan al-Qu‟an. (bairut : maktabh al-ayriyah. tematik subjek adalah menafsirkan al-Qur’an dengan cara menetapkan satu subjek tertentu untuk dibahas.B. Kemudian penafsir membahas dan menganalisa kandungan ayat-ayat tersebut sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh. salah seorang pakar tafsir dan ilmu-ilmu al-Qur'an kebanggaan masyarakat Indonesia. metode tematik ini dapat digunakan. yaitu: (1) tematik berdasar surah al-Qur’an Tematik berdasarkan surah al-Qur’an adalah menafsirkan al-Qur’an dengan cara membahas satu surah tertentu dari al-Qur’an dengan mengambil bahasan pokok dari surat dimaksud. badrunddin al-zarkasyi. (Jakarta : kalam mulia 1999). yang kemudian di kembangkan oleh Quraish Shihab. sambil memerhatikan sebab turunnya ayat seterusnya menganalisa lewat ilmu bantu dari masalah yang dibahas sebagai konsep yang utuh dari al-Quran. Para ulama mendefinisikan tafsir sebagai ilmu yang digunakan untuk memahami dan menjelaskan makna-makna kitab Allah yang diturunkan kepada nabinya.

al-Mar’ah fî al-Qur’ân. dan menjadi ketua jurusan Tafsir sampai tahun 1981.1:61-72. al-Burhân fî ‘Ulûm al-Qur`ân (Beirût: Dâr al-Kutub al-‘Ilmîyah. Syaikh Mahmud Syaltut. Quraish Shihab. yang berjudul alBayan fî Aqsam al-Quran. Sedangkan tafsir maudu‘i berdasarkan subjek digagas pertama kali oleh Prof.).6 Kemudian tafsir model ini dikembangkan dan disempurnakan lebih sistematis oleh Prof.1350H. tafsir tematik berdasarkan surah digagas pertama kali oleh seorang guru besar jurusan Tafsir. dan karya Abul A’la al-Maududi. 5 .7 misalnya adalah salah satu contoh yang paling awal yang menekankan pentingnya tafsir yang menekankan bahasan surah demi surah. pada tahun 1977. dengan karyanya al. pada Januari 1960. fakultas Ushuluddin Universitas alAzhar. Kaitannya dengan tafsir tematik berdasar surah al-Qur’an. Mufradat al-Quran 5 M. Sejarah perkembangannya Menurut catatan Quraish. hlm. Ahmad Sayyid al-Kumiy. Dr. Dr. jurusan Tafsir.C. Demikian juga Suyuti (w. 6 7 Badr al-Dîn Muh}ammad al-Zarkashî. fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar. seorang guru besar di institusi yang sama dengan Syaikh Mahmud Syaltut. Tafsir al-Qur’an al-Karim. Zarkashi (745-794/1344-1392). Membumikan al-Quran. 115. Abdul Hay al-Farmawi. dalam kitabnya al-Bidayah fi al-Tafsir al-Maudu‘i: Dirasah Manhajiyah Maudu‘iyah.Burhân. diantaranya adalah karya Ibn Qayyim alJauzîyah (1292. Namun kalau merujuk pada catatan lain. al-Ribâ fî al-Qur’ân.Quran oleh Abu ‘Ubaid. kelahiran tafsir tematik jauh lebih awal dari apa yang dicatat Quraish Shihab. baik tematik berdasar surah maupun berdasarkan subjek. al-Insân fî al-Qur’ân. Model tafsir ini digagas pada tahun seribu sembilan ratus enam puluhan. Membumikan al-Quran. 5 Buah dari tafsir model ini menurut Quraish Shihab di antaranya adalah karya-karya Abbas Mahmud al-Aqqad. M. 114. 1408/1988). ulama besar dari mazhab Hanbali. hlm. Sementa tematik berdasar subyek. Majaz al. Karya ini termuat dalam kitabnya. 911/1505) dalam karyanya al-Itqan. Quraish Shihab.

Nama-nama kitab tafsir tematik. Pada tahun 1977. Abdul Hay Al-Farmawiy. Asbab al-Nuzul oleh Abu al-Hasan Naisaburi (w. yang juga menjabat guru besar pada Fakultas Ushuluddin Al-Azhar. oleh Ar Raghib 6 Nasikh Wa Mansukh Minal Qur’an. baik tematik berdasarkan surah al-Qur’an maupun tematik berdasar subyek/topik. tafsir tematik sudah diperkenalkan sejak sejarah awal tafsir. (4) Memahami kolerasi ayat-ayat tersebut dalam surahnya masing masing 6 . langkah penerapan metode maudhui Menurut Abdul Hay Al-Farmawiy dalam bukunya Al-Bidayah fi AlTafsir Al-mawdhu’i secara rinci menyebutkan ada tujuh langkah yang ditempauh dalam menerapkan metode tematik ini. Dr. Sebuah kesempurnaan dalam sebuah pemahaman terhadap alQur’an.disertai pengetahuan tentang azbabun nuzulnya. oleh Al Wahidi 8 Ahkamul Qur’an. Lebih jauh. perumusan konsep ini secara metodologis dan sistematis berkembang di masa kontemporer. menerbitkan buku Al-Bidayah fi AlTafsirAl-Mawdhu'i 2 Prof. (3) Menyusun runtutan ayat sesuai masa turunnya. Prof. oleh Abu Ja’far An Nuhas 7 Asbabun Nuzul. yaitu . Al Qur’am mampu menemani dan berbicara dengan dunia alam semesta sepanjang zaman. Beberapa kitab tafsir yang menggunakan metode tematik ini adalah: 1. Dr. D.oleh al-Raghib al-Isfahani. 468/1076). oleh Abu Ubaidah 5 Mufrodatul Qur’an. oleh Al Jashshash E. al-Wahidi al- Karena itu. Al-Husaini Abu Farhah menulis Al-Futuhat Al-Rabbaniyyah fi AlTafsir Al-Mawdhu'i li Al-Ayat Al-Qur'aniyyah 3 Al bayan Fi Aqsamil Qur’an. (1) Menetapkan masalah yang akan dibahas ( topik ) (2) Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah terseabut . oleh Ibnu Qoyyim 4 Majazul Qur’an. meskipun tidak fenomena umum. Demikian juga jumlahnya semakin bertambah di awal abad ke 20.

(1)Penetapan masalah Walaupun metode ini dapat menampaung semua masalah yang diajukan namun akan lebih baik apabila permasalahan yang dibahas itu diproritaskan pada persoalan yang langsung menyentuh dan dirasakan oleh masyarakat. Bagi mereka yang bermaksud menguraikan suatu kisah atau kejadian maka runtutan yang dibutuhkan adalah runtutan kronologis peristiwa. atau yang pada lahirnya bertentangan.Antara lain. atau dan yang khash (khusus).ayatnya yang mempunyai pengertian yang sama.Quraish Shihab. Hlm. metode penafsiran semacam ini langsung memberi jawaban terhadap problem masyarakat tertentu di tempat tertentu pula. (2)Menyusun ayat sesuai dengan masa turun. sehingga kesemuanya bertemu dalam satu muara. (7)Mempelajari menghimpun ayat-ayat tersebut secara keseluruhan dengan jalan ayat. Hlm.Quraish sama-sama sependapat bahwa langkah awal yang ditempuh 8 9 M. keterbelakangan. Dengan demikian. (3) Kesempurnaan metode tematik dapat dicapai apabila sejak dini sang mufassir berusaha memahami arti kosakata ayat dengan merujuk kepada penggunaan Al-Qur’an sendiri. penyakit lainnya.116 7 . mengkompromikan antara yang ‘am ( umum) muthlak dan muqayyad.Hal ini dapat dinilai sebagai pengembangan dari tafsir bi al-ma’tsur tematik9 yang pada hakikatnya merupakan benih awal dari metode Dari uraian di atas. tanpa perbedaan8 Sementara menurut M. (6) Melengkapi pembahasan dengan hadis-hadis yang relevan dengan pokok pembahasan.(5) Menyusun pembahasan dalam kerangka yang sempurna. Membumikan Al-Qur’an. baik yang dikemukakan Abdul Hay Al-farmawiy maupun M.Quraish Shihab ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan didalam menerapkan metode tematik ini.115 Ibid. misalnya dan lain- petunjuk Al-Qur’an tentang kemiskinan.

Keistimewaan Tafsir Tematik dan kekurangannya Dari paparan di atas dapat diketahui bahwa tafsir tematik mempunyai keistimewaan di dalam menuntaskan persoalan-persoalan masyarakat dibandingkan metode lainnya. antara lain. Misalnya.dalam mempergunakan metode tafsir tematik adalah menetapkan topik atau masalah yang akan dibahas kemudian menghimpun ayat-ayat yang mempunyai pengertian yang sama dengan topik dan dilengkapi dengan hadis-hadis yang relefan dengan pokok bahasan dan yang perlu dicatat topik yang dibahas diusahakan pada persoalan yang langsung menyentuh kepentingan msyarakat. apabila ingin membahas tentang zakat misalnya. Hal ini membuktikan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk hidup. biasanya kedua ibadah itu diungkapkan dalam satu ayat.Dengan demikian ia dapat membawa kita kepada pendapat Al-Qur’an tentang berbagai problem hidup disertai dengan jawaban-jawabannya. 1. Disamping mempunyai kelebihan tafsir tematik juga memiliki kekurangan antara lain adalah. Memenggal ayat al-Quran Menggeal ayat al-Quran yang dimaksud disini adalah menggambil suatu kasus yang terdapat dalam satu ayat atau lebih yang mengandung banyak permasalahan nyang berbeda. maka mau tak mau masalah shalat 8 . (b) kesimpulan yang dihasilkan oleh metode tematik mudah dipahami. agar Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup dapat memberi jawaban terhadap problem masyarakat itu. F. sekaligus membuktikan bahwa Al-Qur’an sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat . (c) Metode ini memungkinkan seseorang untuk menolak anggapan adanya ayat-ayat yang bertentangan dalam Al-Qura’an. Hal ini disebabkan ia membawa pembaca kepada petunjuk Al-Qur’an tanpa mengemukakan berbagai pembahasan terperinci dalam satu disiplin ilmu. dalam ayat yang terdapat petunjuk tentang shalat dan zakat. ( a ) menafsirkan ayat dengan ayat atau dengan hadis Nabi adalah suatu cara terbaik di dalam menafsirkan Al-Qur’an.

10 Namun selama tidak merusak pemahaman. (jakarta pustak firdaus. seperti maslah fiqh. 2.tauhid tasauf dan lain lain. Muhammad amin suma. majaz. arti secara bahasa.11 G.harus ditinggalkan. 1. isti‟arah. Di dalam metode ini juga dijelaskan tentang sesuatu yang dapat diistinbatkan dari ayat baik hukum figh. aqidah. studi ilmu al-Quran. perintah. Cara seperti ini dipandang kurang sopan terhadap ayat alquran terutama oleh kalangan ulama shalaf. sasaran yang dituju dan kandungan ayat baik unsur i‟jaz. perbedaan metode maudhui dengan metode lain. janji. dan fokus pada pembahsan zakat suapaya tidak mengganggu waktu menganlisanya. ancaman. apalagi kebanyakan ulama dahulu sering memenggal ayat-ayat al-Quran sesuai dengan keperluan yang sedang mereka bahas. asbabun nuzul. sebenarnya cara seperti itu tidak dianggap suatu yang negatif. Satu metode tafsir yang mufassirnya berusaha menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Qur‟an dari segala segi dan maknanya dengan memperhatikan runtutan ayat-ayat al-Qur‟an sebagaimana tercantum dalam mushaf. toha putra) hal 14.khazanha al-asrar jaliyah al-azkar. Dengan ditetapkannya judul penafsiran maka pemahaman suatu ayat menjadi terbatas pada masalah yang akan di bahas. perbedaan dengan metode tahlili. Dan setiap huruf mengandung makna yang dapat dijangkau oleh manusia dan ada juga yang tak terjangkau oleh manusia. Di dalam metode ini mufassir memaparkan arti kosakata.2001)hal 128 9 . larangan. dalil syar‟iy. munasabah. kinayah. balaghah dan keindahan susunan kalimatnya. karena seperti yang dinyatakan oleh imam zarkasyi. dan setiap batas mengandung makna yang paling dalam. serta 10 11 Muhammad haqqi an-nazly. (semarang. menjelaskan arti yang dikehendaki. pendapat para ulama tafsir dan lain-lain yang berkaitan dengan teks atau kandungan ayat-ayat al-Qur‟an. akibatnya seorang mufasir hanya terikat oleh judul padahal tidak mustahil suatu ayat dapat ditinjau dari berbagai macam sudut. norma-norma akhlak. Membatasi pemahaman ayat. haqiqat.sebab letat urut ayat dalam al-quran merupakan maslah taufiqy. bahwa setiap ayat al-Quran itu mengandung makna zahir dan makna batin.

dan yang memiliki redaksi yang berbeda bagi masalah atau kasus yang di duga sama. karena ayat yang di tafsirkan sering kali di temukan keterkaitannya dengan suatu ayat yang lain atau surat yang lain.14 Metode ini memiliki pengertian dan lapangan yang lebih luas. Sedangkan mufasir tahlili berusaha untuk mengungkapkan segaka sesuatu yang bersangkutan dengan ayat. a.118 13 14 Ahmad syurbasyi . Sedangkan mufasir tahlili hanya mengungkapkan penafsiran ayat secara berdiri sendiri. Mufasir maudhui berusaha untuk menuntaskan permaslahan yang menjadi pokok pembahsan. studi tentang sejarah perkembangan tafsir. tetapi lebih terikat dengan susunan dengan masa turunnya ayat.mengemukakan kaitan antara ayat-ayat dan relevansinya dengan surat sebelum dan sesudahnya. sedangklan mufasir tahlili sangat memerhatikan susunan ayat dalam al-Quran. yang berbicara tentang masalah atau kasus yang berbeda. Hal 233. tetapi hanya membahas pokok masalah yang akan di bahas. perbedaan itu antara lain adalah. cet 1. Muhammad Baqir. yaitu membandingkan antara ayat-ayat al-Qur'an yang berbicara tentang satu masalah atau kasus. (Jakarta : kalam mulia 1999). 10 .13 2. c. Mufasir maudhui tidak membahas segala masalah yang terkandung dalam ayat. sehingga persoalan yang di bahas tidak tuntas. Mufasir maudhui ketika menafsirkan ayat mereka tidak terikat dengan susunan ayat dalam mushaf. Membumikan Al-Qur’an. perbedaan dengan metode muqarin. serta membandingkan pendapat ulama ulama tafsir yang menyangkut dengan penafsiran sebuah ayat.Quraish Shihab. 1980. 10 M. juga membandingkan antara-ayat-ayat al-Qur'an dengan hadits-hadits Nabi Saw yang menjelaskan kandungan al-Qur'an serta mengkompromikannya sehingga 12 Al-Shadr. Hlm. b. Termasuk dalam objek ini membandingkan ayat at-Quran dengan hadits nabi yang nampaknya bertentangan. Baqir al-Shadr memberi nama lain metode tahlily dengan metode tajzi‟iy. al-Tafsir al-Maudhu‟iy wa al-Tafsir al-Tajzi‟iy fi al-Qur‟an al-Karim. yaitu menafsirkan ayat-ayat al-Qur‟an dari beberapa segi.12 Metode tersebut jelas berbeda dengan metode maudhui yang telah kita jelaskan diatas. Metode mugarin merupakan metode menafsirkan al-Quran dengan membandingkan ayat-ayat al-Quran yang memiliki persamaan atu kemiripan redaksi. Beirut: Dar al-Ta‟ruf.

Membandingkan ayat dengan hadis. seorang mufasir disamping menghimpun semua ayat yang berkaitan dengan masalah yang dibahas. yang kelihatannya bertentangan. ia juga mencari persamaan-persamaan. Di sini kita melihat bahwa jangkauan bahasan metode komparasi lebih sempit dari metode Mawdhu'i. Imam Syafi'i. seorang mufasir. disamping menghimpun semua ayat yang berkaitan dengan masalah yang dibahas. karena yang pertama hanya terbatas dalam perbedaan redaksi semata-mata. Hal ini diharapkan mufassir memiliki kelebihan dan bersikap profesinalisme dalam menggali makna-makna al-Qur‟an yang belum berhasil diungkap oleh mufassir-mufassir yang lainnya. Sementar dalam metode maudhui. khususnya dalam bidang yang dinamakan mukhtalif al-hadits. Imam Malik dan penganut mazhabnya dapat menerima hadis yang tidak sejalan dengan ayat. Sikap ulama dalam hal ini berbeda-beda. ia juga mencari persamaan persamaan. serta segala petunjuk yang dikandungnya. Mufasir yang menempuh metode ini. tidak mengarahkan pandangannya kepada petunjuk-petunjuk yang dikandung oleh ayat-ayat yang dibandingkannya itu. sepert misalnya Al-Khatib Al-Iskafi dalam kitabnya Durrah Al-Tanzil wa Ghurrah Al-Ta'wil. Disini sangat jelas kalau metode penafsiran muqarin sangat menonjolkan perbedaan yang kemudian membandingkan antara perbedaan tersebut. selama berkaitan dengan pokok bahasan yang ditetapkan. dan mana penafsiran yang tidak memenuhi syarat. Dalam metode ini mufassir dituntut mampu menganalisis pendapat-pendapat para ulama tafsir sehingga dapat mengambil kesimpulan mana penafsirannya yang dianggap benar dan diterima akal. khususnya jika sanad hadis tersebut sahih. Abu Hanifah dan penganut mazhabnya menolak sejak dini hadis yang bertentangan atau tidak sejalan dengan ayat Al-Quran. Sementara itu. Sementara dalam metode Mawdhu'i. serta segala petunjuk yang terkandung dalamnya selama berkaitan dengan pokok yang dibahasnya 11 . apabila ada qarinah (pendukung bagi hadis tersebut) berupa pengalaman penduduk Madinah atau ijma' ulama. dilakukan juga oleh ulama hadis. Lainnya.menghilangkan dugaan adanya pertentangan diantara hadits-hadits Nabi Saw. kecuali dalam rangka penjelasan sebab-sebab perbedaan redaksional. berupaya untuk mengkompromikan ayat dan hadis tersebut.

BAB IV PENUTUP Dari uraian yang dikemukakan di atas dapat diketahui bahwa sejarah munculnya tafsir tematik berdasarkan surah digagas pertama kali oleh seorang guru besar Al-Azhar Syaikh Mahmud Syaltut. menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan topik tersebut.hanya saja metode ini lebih memfokuskan pada suatu poembahasan dan menjelaskannya sejelas-jelasnya. 12 . tapi di balik itu tujuan daripadanya dalah untuk membahas dan mengupas sebauh masalh dengan setuntas tuntusnya. Langkah yang dilakukan dalam metode tematik ini adalah menetapkan masalah yang akan dibahas. pada tahun 1960.Dr. sedangkan berdasarkan tema digagas pertama kali oleh Prof. melengkapi ayat-ayat dengan hadis-hadis yang relevan dengan topik pembahasan kemudian dibahas dan disimpulkan. Keistimewaan tafsir metode tematik adalah menafsirkan ayat dengan ayat atau dengan hadis Nabi merupakan cara terbaik dalam menafsirkan Al-Qur’an.Abdul Hay Al-Farmawiy. dan ini tidak menyatakan kalau metode maudhui berdiri sendiri. Selain hal tersebut metode maudhui terkesan memenggalkan ayat dan membatasi pemahamannya hanya pada judulnya saja sehingga terlihat kurang sopan dan kurang opjektif. sementara itu kesimpulan yang diambil mudah dipahami tanpa mengemukakan berbagai pembahasan terperinci dalam satu disiplin ilmu dan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup secara konkrit dapat menjawab problem-problem yang dihadapkan masyarakat.Kumiy dan disempurnakan lebih sistematis oleh Prof. pada tahun1977. Ahmad Sayyid al. Begitu juag metode ini memiliki perbedaan yang sangat jauh dengan metode penafsiran yang lain.Dr.padahl metode maudhui ini juda lahir dari metode penafisran tahlili dan muqaranah.

1972). Moch Shudlori Umar dan Moh. Badrunddin al-zarkasyi. Matsna (Bandung: P. (bairut : maktabh al-ayriyah. Quraish Shihab. Al-Shadr. ilmu tafsir. (semarang. Muhammad haqqi an-nazly. toha putra). Al-Ma‘arif. Pengantar Studi al-Qur’an [At-Tibyan]. studi tentang sejarah perkembangan tafsir. Mohammad Aly Ash-Shabuny. terj.2001). Ahmad syurbasyi . 1980. Muhammad amin suma. 13 . studi ilmu al-Quran. Badr al-Dîn Muh}ammad al-Zarkashî. 2004 ). (jakarta pustak firdaus. M. Hasi Ash-Shiddieqy. jilid 1cet 1. Beirut: Dar al-Ta‟ruf. al-Tafsir al-Maudhu‟iy wa al-Tafsir al-Tajzi‟iy fi al-Qur'an al-Karim. Ilmu-Ilmu Al-Qur’an: Media Pokok dalam Menafsirkan Al-Qur’an (Djakarta: Bulan Bintang. Al -burhan fi ulumilo Quran.khazanha al-asrar jaliyah al-azkar. al-Burhân fî ‘Ulûm al-Qur`ân (Beirût: Dâr alKutub al-‘Ilmîyah. cet 1( bandung : pustaka setia.T. cet 1. Membumikan al-Quran. M. 1970). (Jakarta : kalam mulia 1999). 2000). 1408/1988) Rosihon anwar. Muhammad Baqir.DAFTAR PUSTAKA T.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->