Lampiran 9

Gambar 1. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 1

Gambar 2. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 1

358

Lampiran 9

Gambar 3. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 2

Gambar 4. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 2

359

Lampiran 9

Gambar 5. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 3

Gambar 6. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 3

360

ABSTRACT Tri Hartiti Retnowati. Developing of Assessment Instrument for Children’s Painting in Elementary School. Dissertation. Yogyakarta: Graduate School, Yogyakarta State University, 2009. This study aim at developing an assessment specification for children’s painting in elementary schools by developing a valid and reliable assessment instrument to measure the performance of children’s painting. The development of this assessment instrument was intended to guide the painting teachers in elementary schools in carrying out assessment objectively. This study is a development research which uses quantitative and qualitative approaches. The development process was carried out in five phases, covering initial study, defining, designing, developing, and dissemination phases. The subjects of this study were elementary schools’ teachers and pupils in the first grade to third grades and painting teachers in Muhammadiyah Sapen Yogyakarta elementary school, MIN (Islamic State Elementary School) Tempel, and Langen Sari Yogyakarta elementary school. The construct of the instrument consisting of instrument for process, product, self, and group assessment was developed based on the suggestion of art education, children’s art painting, evaluation, and painting experts. The reliability coefficient of the assessment instrument was computed based on generalizeability theory developed by Crick and Brennan consisting of G (generalized study) and D (decision study) theories with the variance of person, rater, item, person rater interaction, and error components using Genova computer package program, and interrater Cohen’s Kappa fomula. The findings of this study suggest that first, the specification of the assessment instrument for performance of children’s painting in elementary school is in the form of observation sheet consisting of indicators, descriptions, and rubrics (criteria). The components of assessment object are process, product, self assessment, and group assessment. Second, the characteristics of the performance assessment instrument of children’s painting in elementary school consisting of validity, reliability coefficient, and its implementation have been verified. The validity evidence is obtained through three focus group discussions and one seminar. The average of Cohen’s Kappa tend to be higher than genova coefficient and the estimation of Genova coefficient using a nonlinear equation tends to be more accurate than one using a linear equation. The highest coefficent of Genova for process assessment is in grade 1 with 7 items rated, that is 0.91, for product assessment in grade 1 with 3 items rated, that is 0.76, for self assessment, that is 0.68, and for group assessment in grades 1, that is 0.86. The average of cofficients genova is 0.71 and the average of Cohen’s Cappa is 0.73. Both of this value are higher than the minimum criteria, 0.70. Third, the guideline of using performance assessment instrument of children’s painting in elementary school is in the form of a booklet. It consists of background, rationale, components of assessment, guideline, and application sample. Forth, the requirements for elementary school teachers for using this instrument cover the relevant educational background, having experiences in art of paintings, good comprehension toward the guideline of performance assessment for children’s painting, and being responsive toward reformation and changes.

iii

ABSTRAK
Tri Hartiti Retnowati. Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak di Sekolah Dasar. Disertasi. Yogyakarta: Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta, 2009. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan spesifikasi penilaian karya seni lukis anak di sekolah dasar dengan mengembangkan instrumen penilaian yang sahih dan andal untuk mengukur hasil belajar seni lukis anak. Pengembangan instrumen penilaian hasil belajar seni lukis anak sekolah dasar ini dimaksudkan agar para guru seni lukis pada jenjang pendidikan dasar dapat melakukan penilaian secara objektif. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan yang menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Proses pengembangan dilakukan melalui lima tahap yaitu tahap studi awal, tahap pendefinisian, tahap perancangan, tahap pengembangan, dan tahap diseminasi. Penetapan konstruk instrumen yang terdiri atas instrumen penilaian proses, penilaian produk, penilaian diri, dan penilaian kelompok dilakukan melalui pendapat pakar pendidikan seni, pakar seni lukis anak, pakar pengukuran, dan praktisi lapangan. Subjek penelitian ini terdiri atas dua elemen yaitu pendidik dan peserta didik sekolah dasar kelas satu sampai dengan kelas tiga dan pendidik seni lukis anak di SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta, MIN Tempel, dan SDN Langen Sari Yogyakarta. Penentuan koefisien reliabilitas instrumen penilaian dilakukan dengan menggunakan paket program genova berdasarkan teori Generalizability yang dikembangkan oleh Cric dan Brennan yang terdiri atas teori G (Generalized study) dan D (Decision study) yang komponen variansinya adalah person, rater, item, interaksi person dan rater, dan kesalahan, serta dengan koefisien interrater Cohen’s Kappa. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah: 1). Spesifikasi instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD berbentuk lembar pengamatan yang terdiri atas indikator, deskripsi, dan rubrik (kriteria), serta komponen yang menjadi objek penilaian meliputi proses, produk, penilaian diri, dan penilaian kelompok, 2). Karakteristik instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak yang mencakup validitas, reliabilitas, dan keterpakaian di SD telah teruji. Validitas telah teruji melalui focus group discussion sebanyak 3 kali dan sekali seminar. Rata-rata koefisien Cohen’s Kappa cenderung lebih tinggi dibanding rata-rata koefisien genova dan koefisien genova dengan persamaan nonlinear cenderung lebih teliti dibanding dengan persamaan linear. Besar koefisien genova paling tinggi untuk penilaian proses di kelas 1 dengan 7 item yang dirating yaitu 0,91, penilaian produk di kelas 1 dengan 3 item yang dirating yaitu 0,76, penilaian diri di kelas 1 yaitu 0,68, sedang penilaian kelompok di kelas 1 yaitu 0,86. Ratarata koefisien Genova secara keseluruhan adalah 0,71. Adapun rata-rata koefisien Cohen’s Kappa yaitu 0,73. Kedua nilai rata-rata ini telah memenuhi kriteria minimum yang disyaratkan yaitu 0,70, 3). Pedoman penggunaan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak dalam bentuk booklet. Booklet terdiri atas latar belakang, rasional, komponen yang dinilai, petunjuk penggunaan, dan contoh aplikasi, 4). Persyaratan yang harus dipenuhi pendidik SD agar kompeten menggunakan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD meliputi latar belakang pendidikan yang relevan, memiliki pengalaman dalam bidang seni lukis, memahami pedoman penilaian hasil belajar karya seni lukis anak, dan responsip terhadap pembaharuan dan perubahan.

ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang dan Identifikasi Masalah Pada dasarnya manusia memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai estetika agar dapat hidup dengan baik di masyarakat dan memiliki rasa keindahan. Pengetahuan berkaitan dengan penalaran yang diperlukan dalam memecahkan masalah. Keterampilan berhubungan dengan gerak anggota badan dalam mengerjakan pekerjaan. Rasa keindahan atau kepekaan estetik berkaitan dengan seni, sehingga orang yang memiliki apresiasi terhadap seni merasakan indah dalam hidupnya. Oleh karena itu setiap orang harus memiliki kepekaan estetik agar dapat merasakan keindahan dalam hidupnya. Dalam perspektif pendidikan, seni dipandang sebagai salah satu alat atau media untuk memberikan keseimbangan antara intelektualitas dengan sensibilitas, rasionalitas dengan irrasionalitas, dan akal pikiran dengan kepekaan emosi. Bahkan dalam batas-batas tertentu, seni menjadi sarana untuk mempertajam

moral dan watak seseorang (Rohidi, 2000: 55). Pendidikan seni bertujuan mengembangkan kedewasaan diri anak didik yang utuh dan seimbang dengan cara memberikan perlakuan yang dapat merangsang kepekaan estetik dan kreativitas peserta didik. Dengan demikian untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan pengembangan estetik melalui pendidikan seni. Pengembangan kepekaan estetik merupakan bagian dari pengembangan kepribadian seseorang, yang dilakukan melalui pendidikan seni. Dalam Peraturan Pemerintah No 19 tahun 2005 (PP Nomor 19, 2005) tentang standar nasional

1

pendidikan,

masalah

kepekaan

estetik

memperoleh

penekanan

dalam

pengembangan kemampuan peserta didik melalui kelompok mata pelajaran estetika. Pada peraturan ini, kelompok mata pelajaran estetika yang harus dipelajari peserta didik mempunyai arah pengembangan untuk meningkatkan: (1) sensitivitas, (2) kemampuan mengekspresikan, dan (3) kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni. Kemampuan mengapresiasi dan mengekspresikan keindahan serta harmoni mencakup apresiasi dan ekspresi, baik dalam kehidupan individual sehingga mampu menikmati dan mensyukuri hidup, maupun dalam kehidupan kemasyarakatan sehingga mampu menciptakan kebersamaan yang harmonis (BSNP, 2006: 78-79). Kelompok mata pelajaran estetika merupakan pelaksanaan dari pendidikan seni yang tergolong unik karena melekatnya "pengalaman estetik" pada diri seseorang. Dalam pendidikan seni, pengalaman estetik merupakan

sesuatu yang esensial. Menurut Linderman (1984: 54), pengalaman estetik mencakup pengalaman-pengalaman perseptual, kultural, dan artistik. Pengalaman perseptual dikembangkan melalui kegiatan kreatif, imajinatif, dan intelektual. Pengalaman kultural melalui kegiatan pemahaman terhadap hasil warisan budaya lama dan baru, sedangkan pengalaman artistik melalui kegiatan kreatif dan

apresiatif. Dengan demikian pengalaman estetik memberi peluang bagi seseorang untuk memahami dunia dari sudut pandangan yang berbeda dengan aspek pengetahuan. Cara memahami dunia yang ditawarkan oleh seni bersifat intuitif, tak terduga, dan kreatif, serta dikomunikasikan dalam bahasa warna, bunyi, gerak, atau isyarat yang bersifat simbolis.

2

Pada seni melekat kesediaan untuk mengimajinasikan segala kemungkinan. apresiatif. emosi. intelektual. Kelompok mata pelajaran estetika dilaksanakan pada semua jenjang pendidikan dari sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah atas atau yang sederajat dengan standar kompetensinya disebutkan dalam PP 19 tahun 2005 yaitu: ”membentuk karakter peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa seni dan pemahaman budaya. Karena itulah.” (BSNP. Hal ini sesuai dengan pendapat Anugrah (2006) sebagai berikut. 2006: 140). Standar kompetensi kelompok mata pelajaran estetika pada jenjang sekolah dasar adalah: ”menunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni dan budaya lokal. dan /atau pandangan anak terhadap sesuatu. Kegiatan melukis bagi anak-anak seusia anak sekolah dasar merupakan kegiatan naluriah dan menjadi kesenangan anak karena muncul atas desakan perkembangan emosi artistik yang bersifat kodrati. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. (2) untuk membentuk pribadi yang harmonis dalam berlogika dan beretika bagi elaborasi peserta didik untuk mencapai kecerdasan emosional. Melukis bagi anak-anak merupakan aktivitas psikologis dalam rangka mengekspresikan gagasan. keterampilan. Anak 3 . dan muatan lokal yang relevan. seni dan budaya. Salah satu kegiatan seni yang dilaksanakan di sekolah dasar adalah seni lukis yang merupakan bagian dari seni rupa. pendidikan seni amat menghargai pengalaman pribadi yang menantang anak untuk bertindak kreatif melalui pemecahan masalah artistik. dan menerima keragaman pandangan. perasaaan. mengeksplorasi ambiguitas. serta mentalitasnya. spiritual. Pendidikan Seni Budaya di sekolah memiliki dua fungsi yaitu: (1) untuk menumbuhkan kepekaan rasa estetik dan artistik sehingga terbentuk sikap kritis. imajinasi.”. dan kreatif pada diri peserta didik secara komprehensif.

1994a: 31). 1994b: 32). intuitif dan lebih dekat dengan sifat bermain pada anak. Didukung oleh penalaran anak yang wajar. 2005). seorang pendidik harus mempunyai pengetahuan dan pemahaman tentang makna karya seni lukis bagi peserta didik. Mereka melukis sebagai wujud pengungkapan pikiran dan perasaan tanpa terbatas pada apa yang dilihat oleh mata kepala saja. Penilaian proses antara lain melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan kompetensi peserta didik (PP Nomor 19. gembira. bidang. Dalam konteks pendidikan. pikirkan dan khayalkan. Mereka dengan asyik melakukan coret-mencoret. Pengetahuan dan pemahaman ini diperlukan agar pendidik mampu memberikan bimbingan dan menilai hasil belajar karya peserta didik . 4 . Penggunaan unsur-unsur pada lukisannya tergantung pada keasyikan pemikiran dan fantasinya. Hal ini sesuai dengan kompetensi yang dituntut sebagai seorang guru yaitu menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar. melainkan lebih pada apa yang mereka mengerti. mengekspresikan perasaannya melalui garis. bebas. spontan. Sebagaimana kehidupan dan keadaan jiwa anak-anak yang pada umumnya bersifat bermain-main. maka sifat-sifat yang demikian juga hadir dalam karya lukis anak. dan eksperimental.melukis adalah menceritakan atau mengungkapkan (mengekspresikan) sesuatu yang ada pada dirinya secara intuitif dan spontan lewat media seni lukis (Soesatyo. Lebih banyak yang akan mereka ceritakan maka lebih banyak pula bentuk yang dimunculkan (Soesatyo. warna dan sebagainya sesuai dengan suara batin dan lingkungan anak. maka hasil karya anak tampak sungguh naif. Ungkapan pribadinya muncul melalui bentuk-bentuk dengan makna simbolik tertentu.

Subjektivitas dalam penilaian karya seni lukis anak pada dasarnya disebabkan oleh kesulitan guru dalam menentukan kriteria penilaian.Karangkajen SD Muh. Danunegaran SD Muh. Kauman 5 . Nitikan SD Muh. Papringan SD Muh.Danunegaran SD Muh. Hal ini diakui oleh dua puluh orang guru yang dapat ditemui dalam studi awal penelitian.Penelitian ini didasarkan pada asumsi bahwa pemahaman guru-guru terhadap hakekat pendidikan seni terutama pelaksanaan pembelajaran seni lukis sekolah dasar belum seperti yang diharapkan sehingga mereka cenderung membimbing secara kurang tepat antara lain menilai secara subjektif. Papringan SD Muh. (lihat Tabel 1) Tabel 1 Daftar Peserta Studi Awal No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Nama Guru (Singkatan) SW PB SR NH AG PN EL RL RP SW SS WA TR RH ET MR SR RP SL LP Umur (Tahun) 49 36 39 47 54 45 55 50 35 38 32 39 31 33 27 35 29 34 44 28 Pengalaman Mengajar (Tahun) 24 11 14 22 29 20 30 25 10 13 7 14 6 8 4 10 5 9 19 4 Nama Sekolah SD Lempuyangan 2 SD Lempuyangan 1 SD Lempuyangan 3 SD Tegal Panggung SDN Widoro SD Suryodiningratan 4 SD Langensari SD Samirono SD Suryodiningratan 3 SD Pujokusumon 3 SD Muh.Nitikan SD Muh. Gowongan SD Muh. Sebagian besar guru sekolah dasar merupakan guru kelas. Dengan demikian masalah subjektivitas menjadi masalah yang tidak dapat dihindari dalam penilaian karya lukis anak.Penumping SD Muh. sehingga kemampuan dalam menilai karya anak belum seperti yang diharapkan. padahal pelajaran melukis bagi anak-anak adalah pelajaran yang menyenangkan.

Penilaian hasil karya lukis siswa perlu meninjau dua aspek yaitu proses pembuatan karya lukis dan hasil karya lukis itu sendiri. Pada penilaian proses seorang guru dapat mengamati bagaimana aktivitas siswa dalam membuat karya lukis. Sebagai guru kelas dan tidak pernah mendapat pelatihan tentang penilaian seni lukis sehingga guru mengalami kesulitan dalam menilai proses dan produk karya seni lukis. Kedua aspek penilaian ini akan memberikan gambaran tentang kemampuan melukis siswa yang sebenarnya. dari jawaban dan pendapat yang dikemukakan para guru. baik penilaian proses maupun produk karya seni lukis anak. Berdasarkan studi awal yang dilakukan. Hal ini lebih disebabkan karena tidak ada kriteria yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menilai proses dan produk karya seni lukis anak tersebut. Kenyataan di lapangan menunjukkan penilaian proses dan produk dilakukan guru sebatas pengetahuan yang dimiliki guru tentang seni lukis. Pada penilaian produk seorang guru dapat melihat hasil karya siswa setelah mengalami serangkaian proses pembuatan karya. permasalahan penilaian karya lukis anak merupakan permasalahan yang sangat penting untuk dipecahkan karena akan 6 . karena latar belakang pendidikan bukan dari bidang seni rupa. (2) guru merasa kesulitan untuk menentukan kriteria dalam penilaian karya seni lukis anak. Dalam konteks pendidikan. dapat dirinci permasalahan di lapangan dalam penilaian karya seni lukis anak sebagai berikut: (1) adanya faktor subjektivitas dalam menilai karya seni lukis anak. (3) belum adanya pedoman yang dapat dijadikan pegangan guru untuk melakukan penilaian seni lukis anak yang sesuai dengan perkembangan anak.

7 . belum tersedia. khususnya pengajar seni lukis kesulitan menentukan kriteria penilaian seni lukis anak. Akibatnya. Hingga saat ini instrumen penilaian karya seni lukis anak yang telah teruji secara ilmiah yang dapat digunakan oleh guru sekolah dasar. Merupakan dampak selanjutnya adalah tidak berfungsinya tujuan pendidikan seni budaya dan keterampilan dalam mengembangkan sensitivitas. dengan harapan agar penilaian mendekati objektivitas. ekspresi estetis. kehidupan anak. juga harus dilihat dari segi atau sisi anak-anak itu sendiri yang menghasilkan karya yaitu dengan menghayati kondisi kejiwaan anak. dan dunia anak-anak itu sendiri. terutama dari hakekat seni. tentunya tidak adil apabila hanya dilihat dari segi tampilan karya tersebut. Hal inilah yang melandasi penelitian ini untuk mengembangkan instrumen penilaian karya seni lukis anak. Selama ini. Tetapi. guru seni lukis menggunakan instrumen penilaian yang disusun secara mandiri. dan kreativitas peserta didik.menjadi kendala dalam proses pembelajaran seni lukis anak. Rasional yang Mendasari Pentingnya Masalah Memahami karya lukis anak. Oleh karena itu masalah seni lukis anak tidak dapat dipisahkan dari tinjauan ilmu jiwa anak terutama dalam hal ini anak sekolah dasar. B. kreativitas. Studi awal tersebut menggambarkan keadaan sesungguhnya di lapangan bagaimana guru-guru. khususnya di Indonesia. timbul perbedaan persepsi tentang instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar antara guru yang satu dengan lainnya.

baik proses maupun hasilnya. PP 19 tahun 2005 disebutkan bahwa seorang pendidik harus mempunyai kompetensi pedagogik yakni kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik. perancangan dan pelaksanaan pembelajaran. dan menghargai yang didasari pengertian yang terkandung dalam karya. Dalam pasal 28 ayat (3) butir a. seorang guru harus mempunyai pengetahuan dan kemampuan apresiasi yang tinggi terhadap karya tersebut sehingga dapat mengerti. Apalagi sampai pada suatu kesimpulan berupa penilaian yang dapat dipertanggungjawabkan. sehingga dapat memacu anak belajar seni lukis. Untuk sampai pada penilaian karya lukis anak. Kegiatan seni lukis anak memiliki wilayah tersendiri dan karenanya harus dilihat serta dinilai tersendiri (Soesatyo.Cara pandang atau apresiasi guru terhadap hasil karya lukis anak berbeda dengan karya lukis orang dewasa. sehingga hasil dipertanggungjawabkan. Instrumen penilaian ini akan membantu guru dalam menilai karya lukis anak secara objektif. evaluasi hasil belajar. Penilaian merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran. 1994a: 33). seorang guru harus pula mempunyai wawasan yang luas dan dapat mengerti kelemahan dan kekurangan hasil karya lukis anak. dan 8 . Untuk melakukan penilaian yang objektif diperlukan instrumen penilaian. Di samping hal tersebut. Penilaian bertujuan untuk mengetahui proses dan hasil belajar mengajar seni luksi anak. menerima. Agar penyelenggaraan proses belajar mengajar di sekolah memperoleh hasil yang penilaiannya dapat optimal hendaknya guru memiliki pengetahuan dalam menilai karya lukis anak.

Akibatnya. sering terjadi penilaian karya seni khususnya karya seni lukis anak tidak berpijak pada argumen yang tepat. Berkaitan dengan hal tersebut di atas. Sistem penilaian kelompok mata pelajaran estetika harus memperhatikan esensi kelompok mata pelajaran itu sendiri. Hal ini dipertegas pada pasal 64 ayat 5 Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 tahun 2005 9 . kehidupan anak. Penilaian yang dilakukan guru di sekolah saat ini belum menggunakan instrumen yang dapat dipertanggungjawabkan dilihat dari kriteria yang digunakan. Dalam berbagai kasus. Dengan demikian diperlukan suatu instrumen yang dapat diacu untuk menilai karya seni lukis anak.pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Oleh karenanya faktor psikologis seperti dunia anak. Dalam penilaian karya seni lukis anak perlu ditegaskan tidak adanya hal yang salah. agar hasil penilaian lebih akuntabel. sebab yang ada hanyalah tingkat kemampuan anak. guru tidak mampu menjelaskan kriteria yang digunakannya dalam memberikan nilai enam. atau tujuh atau delapan dalam menilai hasil belajar praktek seni lukis anak. dan kejiwaan anak perlu dipertimbangkan dalam menilai karya seni lukis anak. Keberhasilan pendidikan seni tidak lepas dari peranan guru dalam menilai karya lukis anak. keliru atau betul. Kompetensi pedagogik mencakup kemampuan melaksanakan pembelajaran dan menilai proses dan hasil belajar peserta didik. Kegiatan penilaian memerlukan instrumen penilaian. salah satu panduan penilaian yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan adalah panduan penilaian kelompok mata pelajaran estetika.

Kriteria tersebut akan memudahkan penikmat dalam mengevaluasi lukisan (Yahya. Dengan cara demikian. sehingga hasil penilaian dapat objektif dan dapat dipertanggung jawabkan. atau rendah. penilaian tidak akan terjebak menjadi like and dislike karena menggunakan ukuran yang jelas. Hal inilah yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pendidikan seni (Yahya. Untuk menentukan kadar keartistikan suatu lukisan diperlukan ukuran atau kriteria tertentu. 10 .tentang Standar Nasional Pendidikan. 2001: 15). Hal ini akan memudahkan pendidik untuk menilai karya seni lukis anak dengan membandingkan hasil karya dengan kriteria yang telah ditetapkan. apakah tinggi. penilaian terhadap seni lukis anak harus merupakan upaya untuk menunjukkan nilai-nilai artistik lukisan tersebut. Penilaiannya dapat diartikan sebagai upaya menentukan kadar keartistikan. Penegasan ini mengisyaratkan diperlukan cara penilaian yang bersifat khusus. maka di dalamnya terdapat dimensi keindahan. sedang. Karena lukisan anak merupakan wujud ekspresi artistik. 2001: 14). Dengan demikian. diperlukan instrumen yang didalamnya terdapat kriteria yang telah ditetapkan lebih dahulu. bahwa “Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran estetika dilakukan melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan ekspresi psikomotorik peserta didik”. Dengan demikian untuk memudahkan pendidik dalam menilai karya lukis anak.

untuk dapat menggunakan secara kompeten instrumen hasil belajar seni lukis anak. reliabilitas. Mengembangkan instrumen penilaian yang valid. dan keterpakaian di sekolah dasar? 3.C. 2. Bagaimana bentuk dan isi pedoman penggunaan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak? 4. 11 . 4. Rumusan Masalah Masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Untuk menggunakan instrumen penilaian hasil belajar seni lukis anak sekolah dasar secara optimal. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1. Bagaimana karakteristik instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak yang mencakup validitas. kompetensi apa yang perlu dikuasai guru? D. Menentukan kriteria penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di sekolah dasar. reliabel. dan praktis untuk mengukur hasil belajar seni lukis anak. Mengetahui persyaratan apa yang harus dipenuhi pendidik sekolah dasar. 3. Bagaimana komponen instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di sekolah dasar? 2. Mengembangkan komponen instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di sekolah dasar.

Tahap inti mencakup indikator yang berhubungan dengan aktivitas siswa dalam melukis baik dari segi kemampuan intelektual. Spesifikasi Produk Hasil penelitian dan pengembangan. Secara praktis hasil penelitian diharapkan akan menjadi acuan guru pengajar seni dalam melakukan penilaian hasil karya seni lukis anak. waktu. Spesifikasi produk yang diharapkan adalah sebagai berikut: 1. diharapkan mendapatkan produk berupa instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar yang valid dan reliabel. maupun kondisi psikologis yang mempengaruhi kualitas karya yang dihasilkan seperti keberanian dan ketekunan. 12 . Instumen penilaian tersebut diperlukan untuk membantu guru dalam memberikan penilaian yang objektif terhadap kemampuan seni lukis anak.E. Manfaat Penelitian Hasil penelitian akan memberi sumbangan teori pada kriteria instrumen penilaian seni lukis anak yang teruji secara empirik. Penilaian proses Penilaian proses terdiri dari tahap awal dan tahap inti. Tahap awal mencakup indikator-indikator yang berhubungan dengan pengkondisian awal siswa sebelum melukis seperti kesiapan alat dan bahan yang diperlukan untuk melukis. F. Penilaian yang objektif akan membantu seorang guru mengidentifikasi kemampuan siswa dalam melukis.

apakah mengerjakannya mudah atau sulit. serta teknik melukis. ekspresi. Penilaian produk Penilaian produk mengungkap adanya unsur kreativitas. 4. Disamping itu.2. apakah suatu kegiatan melukis bagi dirinya menarik atau membosankan. serta pengalaman-pengalaman berharga mana yang berhasil dipelajari dalam kegiatan tersebut. 13 . dan keberhasilan karya temannya. sebagaimana tercantum dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk bidang seni yang terdiri dari gambar ekspresif dan imajinatif. dalam penilaian kelompok peserta didik diharapkan dapat menangani problem. kegagalan. Penilaian kelompok Penilaian kelompok memberikan kesempatan peserta didik menunjukkan satu atau dua karya mereka secara bergiliran. dan hasilnya memuaskan atau tidak. sehingga terkembangkan sikap oto kritis dalam memberikan penilaian terhadap hasil karya temannya. Penilaian diri Penilaian diri mengungkap informasi dari tiap peserta didik. kemudian peserta didik yang lain memberikan respons dalam bentuk bahasan kritis. 3. bermanfaat atau tidak.

karena pengembangan instrumen penilaian seni lukis anak harus dimulai dengan membangun konstruk yang diukur. Konsep validitas bersifat “unity concept” yang dibangun dari teori yang melandasi konsep pengembangan. Bukti validitas suatu instrumen harus memiliki validitas interpretasi hasil pengukurannya. melalui berbagai penelusuran dan diskusi pakar seni lukis dan pendidikan seni lukis. Model Pengembangan Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Bukti validitas interpretasi hasil pengukuran instrumen penilaian karya seni lukis anak memerlukan data kualitatif dan kuantitatif.BAB III METODE PENELITIAN A. Data kuantitatif yang berupa hasil penilaian pendidik terhadap karya lukis anak 152 . Data kualitatif yang diperlukan merupakan landasan teoritis bangunan konstruk instrumen. sesuai dengan Standard for educational and psychological testing (1999) harus memiliki bukti validitas interpretasi hasil pengukuran. Konstruk instrumen penilaian ini merupakan “tingkat ukuran” (yard stick) karya seni lukis anak. Instrumen penilaian seni lukis anak. yang pengumpulannya dimulai sejak awal pengembangan konstruk. Penelitian pengembangan digunakan untuk menghasilkan instrumen yang baku dalam menilai karya lukis anak. Instrumen yang dikembangkan disertai dengan pedoman penggunaan instrumen. termasuk praktisi seni lukis dan guru seni lukis di sekolah dasar. Pendekatan ini digunakan. instrumen. dan bukti empirik.

design. and (6) implemention. 275-276) ada sepuluh langkah dalam melakukan R & D. Design. yaitu Define. Develop and Disseminate. 3) Develop preliminary form of product. Setelah indikator disusun menjadi item yang dirakit menjadi instrumen utuh. (5) evaluation and revision. seperti berikut ini. develop. (3) realization construction. Thiagarajan. 6) Main field testing. dan model Borg & Gall. Kriteria pengembangan konstruk instrumen mencakup aspek proses dan hasil karya lukis anak. 5) Main product revision. Pengembangan instrumen ini dilakukan dengan mengadopsi model penelitian dan pengembangan pendidikan secara umum. Semmel & Semmel dikenal dengan Four-D Model. Plomp. (2) design. Instrumen diujicobakan kepada sejumlah pendidik agar dapat diketahui keterpakaiannya dan diestimasi koefisien reliabilitas hasil ukurnya. penelitian ini menggunakan modifikasi model Semmel & Semmel dengan model Plomp. (4) test. Tahapan pengembangannya meliputi: define. 3) Preliminary field testing. Setiap aspek diurai menjadi sejumlah indikator. Sesuai dengan tujuannya. Menurut Borg & Gall ( 1983. dan dissemination atau yang dikenal dengan 4D.8) Operstionsl field testing. Model Thiagarajan. 7) Operational product revision. 10) Dissemination and implementation. 9) Final product revision. yaitu dimulainya dengan tahap preliminary investigation yang dikemukakan oleh Plomp dan research & development menurut Semmel (1974:5). Beberapa model penelitian dan pengembangan yang dipakai dalam penelitian dan pengembangan (R & D) antara lain: model Semmel & Semmel. 153 . 1) Research and information collecting 2) Planning. Menurut Plomp (1997: 78) langkah-langkah R & D adalah sebagai berikut: (1) preliminary investigation.diperlukan untuk memperoleh informasi tentang besarnya koefisien keandalan hasil ukur instrumen.

kriteria. kegiatan yang dilakukan adalah mengembangkan indikator. deskripsi. Research & Develepment Model PRELIMINARY INVESTIGATION Identifikasi kebutuhan alat penilaian seni lukis Elaborasi kebutuhan alat penilaian seni lukis yang relevan DEFINE Merumuskan definisi konstruk instrumen Mengkaji konsep instrumen karya lukis anak berdasarkan teori Penentuan konstruk instrumen Telaah konstruk oleh pakar Mendesain konstruk instrumen Pengembangan indikator Penyusunan item instrumen Telaah item instrumen Perbaikan instrumen Uji coba instrumen Analisis instrumen Pembakuan instrumen FGD Sosialisasi instrumen karya lukis anak DESIGN DEVELOP DISSEMINATE Gambar 40. kegiatan yang dilakukan adalah uji coba instrumen terhadap guru sekolah dasar. dalam hal ini adalah kriteria karya lukis anak. Terakhir. Tahap develop. dan mengkaji konsep instrumen karya lukis anak berdasarkan teori dan hasil penelitian yang relevan. Model Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak 154 .Pada tahap define. Secara rinci model pengembangan instrumen disajikan pada Gambar 40. tahap dissemination. dan penyusunan item instrumen. Kegiatan yang dilakukan tahap design adalah telaah konstruk instrumen oleh para pakar dan guru sekolah dasar seni budaya (seni lukis). kegiatan yang dilakukan adalah merumuskan definisi konstruk.

Penelitian yang relevan tersebut. penjelajahan juga dilakukan terhadap hasil-hasil penelitian yang relevan untuk mendukung gagasan instrumen penilaian seni lukis yang sesuai dengan kebutuhan guru di lapangan. yang dilatarbelakangi bagaimana membuat suatu penilaian menjadi sebuah elemen pembelajaran yang aktif dan positif dari pengajaran. antara lain penelitian Ismiyanto tahun 2002 yaitu penelitian tentang visualisasi lukisan karya anak-anak usia sekolah dasar ditinjau dari tema dan subjek mencerminkan kehidupannya dan menunjukkan adanya upaya anak mengidentifikasi diri dalam karyanya. dilakukan pengkajian pustaka yang berkaitan dengan identifikasi jenis. Tahap Studi Awal Pada tahap awal (preliminary investigation) ini.B. Prosedur Pengembangan Berdasarkan model pengembangan pada Gambar 40. Selain itu. Demikian juga hasil penelitian Coney tahun 1999. Substansi yang ditelaah pada tahap ini adalah mengkaji analisis kurikulum yang berlaku untuk matapelajaran seni budaya dan keterampilan. tahapan atau prosedur pengembangan lebih lanjut dapat dijabarkan sebagai berikut. tentang pentingnya profesionalisme guru pendidikan seni dan komitmen terhadap tugas merupakan faktor penting untuk kelangsungan pembelajaran dan pencapaian kualitas hasil belajar anak didik. 1. Penelitian Syahrul yang dilakukan tahun 2001. sasaran penilaian karya seni lukis. Hasil penelitian membuahkan tujuh kriteria untuk melihat kemajuan anak dalam berkarya seni yaitu: (1) kemampuan untuk mengamati dan merekam 155 .

(5) pencapaian sasaran pembelajaran. (6) menekankan kembali batasan-batasan dari suatu tugas. Kemudian untuk mendapatkan kebutuhan realita di lapangan. (4) ekspresi dan kontrol atas ide-ide yang diungkapkan termasuk kreativitas. selanjutnya dilakukan elaborasi terhadap ketiga unsur tersebut. Kajian Pustaka Analisis Kurikulum Masalah Riil Elaborasi Indikator Deskripsi Level Kriteria Gambar 41. (3) minat dan motivasi anak. sehingga diperoleh indikator dan deskripsi. Tahap Pendefinisian Tahap pendefinisian (define) adalah tindakan untuk menyusun definisi tentang unsur. (2) pengembangan ketrampilan teknis. dan kriteria penilaiannya. Setelah dilakukan identifikasi pada ketiga hal tersebut. dan studi lapangan. level. maka dilakukan wawancara terhadap guruguru yang mengajar seni lukis di SD. Tahap pendefinisian merupakan tahap 156 .pengalaman visual anak. ekspresi dan teknik. deskripsi. yaitu mengolah ketiga unsur tersebut. dan kriteria penilaian yang disajikan pada Gambar 41. sasaran penilaian seni lukis diikuti penjabaran indikator. Dengan demikian hasil karya seni lukis pada dasarnya dapat dinilai dari sudut kreativitas. Tahapan Studi Awal Pengembangan Instrumen Seni Lukis Anak 2. analisis kurikulum. yaitu kajian pustaka. dan (7) komitmen anak dalam mengerjakan tugas rumah.

Setelah deskripsi dikembangkan secara operasional. ekspresi. Indikator Deskripsi Kriteria Rubrik Bagan 42. Kisi-kisi yang dimaksudkan sebagai upaya memaparkan pola hubungan antara konstruk (dimensi yang diukur) dengan indikator. kriteria. indikator yang terjaring ada 10 macam. ketekunan. pemanfaatan waktu. Visualisasi proses ini disajikan pada Gambar 43. kesiapan alat dan bahan untuk melukis. kriteria. Tahapan Pendefinisian Instrumen Seni Lukis Anak 3. kreativitas. dan teknik. deskripsi. yaitu: tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat. keberanian menggunakan media. Dengan demikian kisi-kisi dapat dipakai sebagai bukti pada proses validasi. Selanjutnya masing-masing indikator dijabarkan menjadi deskripsi. Indikator menjadi acuan dalam mengembangkan item. dan item. yaitu pendefinisian tentang indikator. kemudian ditetapkan kriteria disertai rubrik penskoran. 157 . kelancaran penuangan ide. Tahap Perancangan Tahap perancangan (design) adalah tindakan merancang kisi-kisi instrumen alat pengukur karya seni lukis sehingga bisa diketahui dimensi yang diukur atau konten dan jabaran dari tiap-tiap unsur sasaran penilaian seni lukis. keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk. deskripsi. dan rubrik penskoran.lanjutan dari tahap awal. Dalam kaitan dengan ini.

Produk Konten Sasaran Gambar 43. M. pakar pendidikan seni. Menurut Krueger. FGD putaran pertama dilakukan 158 .Proses . Perangkat instrumen ini disebut prototipe awal instrumen penilaian seni lukis. & Casey.Berdasarkan hasil FGD. Setelah prototipe awal diperoleh kemudian ditindaklanjuti dengan validasi ahli dengan teknik FGD sebanyak tiga putaran. sikap. dan perakitan kisi-kisi. dan guru seni lukis dalam forum Focus Group Discussion (FGD). Pentelaahan kisi-kisi dilakukan oleh pakar seni lukis anak. FGD adalah suatu metode diskusi secara mendalam yang melibatkan kelompok kecil yang homogen (6-12 orang) untuk mendiskusikan topik tertentu. R. dengan bantuan seorang moderator/fasilitator untuk mendorong peserta mengungkapkan pendapat. dan pertimbangan tentang topik yang didiskusikan. . Tahap Pengembangan Pada tahap pengembangan (development) dilakukan penyusunan kisikisi penelaahan.Kajian Pustaka Kebutuhan Lapangan Dimensi (Kisi-kisi) . Tahapan Perancanganan Instrumen Seni Lukis Anak 4. selanjutnya kisi-kisi diperbaiki dan dirakit sehingga menjadi acuan dalam penyusunan item. A. berdasarkan kisi-kisi Item yang disusun menjadi perangkat instrumen penilaian seni lukis. Tujuan diskusi adalah untuk menggunakan dinamika kelompok. perbaikan. A. (2000).

pada tanggal 26 Februari tahun 2008 di Pascasarjana UNY yang dihadiri oleh 7 (tujuh) peserta FGD terdiri dari: 1 (satu) orang pakar pendidikan seni. dan 4 (empat) orang pendidik seni lukis sekolah dasar. 159 . berupa kriteria seni lukis anak. Komponen proses terdiri 2 (dua) tahap. yang dilaksanakan pada tanggal 13 Maret 2008 dihadiri 7 (tujuh) orang terdiri dari: 2 (dua) orang pakar pendidikan seni. sehingga diperoleh prototipe 2 (dua). dan 4 (empat) orang pendidik seni lukis sekolah dasar. kemudian diperoleh saran dan temuan berupa diskripsi dari masing-masing indikator. 2 (dua) orang pakar seni lukis anak. dan 3 (tiga) pendidik seni lukis sekolah dasar. Berdasarkan saran dan temuan pada FGD putaran 2 (dua). dan kemudian diperoleh bobot prosentase penilaian proses 60% dan produk 40%. Setelah memperhatikan saran dan temuan hasil FGD putaran pertama. penilaian diri. dihadiri oleh 8 (delapan) orang terdiri dari 3 (tiga) orang pakar pengukuran. Setelah prototipe 1 direvisi selanjutnya dilakukan FGD putaran 2. yaitu tahap awal dan tahap inti. penilaian kelompok merupakan hasil dari FGD putaran 3 (tiga) yang diselenggarakan pada tanggal 10 April 2008. Setelah direvisi kemudian digunakan untuk menyempurnakan prototipe 2 (dua) menjadi prototipe 3 (tiga) yaitu. Pada tahap 2 (dua) berdasarkan kriteria hasil FGD putaran kedua. dilakukan revisi. 1(satu) orang pakar seni lukis anak. 1 (satu) orang pakar pendidikan seni. selanjutnya dilakukan revisi sehingga diperoleh prototipe 1. Kesimpulan hasil FGD adalah bahwa penilaian dilakukan pada komponen proses dan komponen produk pembelajaran.

penilaian produk.Selanjutnya hasil dari FGD tahap 3 (tiga) berupa prototipe 3 (tiga) diseminarkan pada tanggal 16 April 2008 di Pascasarjana UNY yang dihadiri oleh 10 orang terdiri dari 1 (satu) orang pakar pendidikan seni/promotor. Hasil dari seminar yang berupa instrumen penilaian seni lukis anak kemudian dipakai untuk pengambilan data uji coba penelitian. tahap inti). Skema Tahap Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak 160 . sehingga diperoleh hasil instrumen penilaian seni lukis anak yang terdiri dari penilaian proses (tahap awal. Indikator Deskripsi Level Kriteria Prototipe 1 FGD-1 Analisis Revisi Indikator Prototipe 2 FGD-2 Analisis Item Revisi Deskripsi Prototipe 3 FGD-3 Analisis Revisi Kriteria Prototipe Tentatif Gambar 44. Untuk kejelasan tahap-tahap pengembangan instrumen dapat dilihat pada Gambar 44. 3 (tiga) pakar pengukuran. 6 (enam) mahasiswa S3 PEP UNY.

(2) ketersediaan pendidik dalam bidang seni lukis. dan penampilan fisik. Skema Tahap Diseminasi Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak C. Pedoman penilaian seni lukis anak divalidasi oleh pendidik seni lukis melalui FGD yang meliputi petunjuk penggunaan. keterbacaan. kriteria penilaian. Tempat ini dipilih karena berbagai pertimbangan Yogyakarta: (1) memiliki cukup banyak sekolah dasar yang melaksanakan program pembelajaran seni lukis anak. dan kelayakan penyajian yang meliputi sistematika. yang ditandai banyaknya 161 .5. maka tahap selanjutnya adalah membuat pedoman instrumen penilaian seni lukis anak. Uji coba Produk 1. Kemudian diadakan sosialisasi pada pendidik dan praktisi. Tahap Diseminasi (Disseminate) Setelah uji coba sampai dengan analisis data uji coba instrumen dan menghasilkan instrumen prototipe tentatif. Desain Uji coba Uji coba ini dilakukan di Kota Yogyakarta. (3) daerah ini dipilih juga karena banyak karya seni lukis yang berkembang di daerah ini. Draf Pedoman FGD Analisis Revisi Pedoman Baku Gambar 45. Tahapan diseminasi tersebut disajikan pada Gambar 45.

Desain Uji coba Intrumen Seni Lukis Desain uji coba seperti tampak pada Bagan 8 dilakukan di kelas 1. 162 Selanjutnya . Hasilnya kemudian dianalisis dan direvisi sehingga menjadi instrumen baku. Uji coba ini bertujuan untuk memperoleh informasi dari lapangan tentang konstruk instrumen. keterpakaian pedoman penggunaan instrumen. dan 3 di tiga sekolah dengan melibatkan tiga orang guru seni lukis. 2.sanggar seni lukis anak. Disain uji coba produk mengikuti Prototipe Instrumen Seminar Analisis Revisi Instrumen Baku Draf Panduan FGD Revisi Panduan Baku Gambar 46. dan proses pengembangan instrumen. dan (4) frekuensi lomba seni lukis anak yang relatif cukup tinggi dibandingkan alur seperti Gambar 46. daerah lain. Guru seni lukis yang terlibat diberi pelatihan sebelum melaksanakan uji coba. Hasil uji coba yang berupa prototipe instrumen penilaian karya lukis anak dan kemudian diseminarkan pada tanggal 16 April 2008 yang dihadiri 12 (dua belas) orang terdiri dari promotor. Konstruk instrumen penilaian karya lukis anak merupakan kriteria penilaian karya lukis anak. pakar pengukuran dan pakar pendidikan seni.

yaitu tahap G.study dan tahap D-study. Sekolah Dasar Muhammadiyah Sapen. Pendidik diperlukan sebagai subjek uji coba untuk memperoleh koefisien keandalan instrumen dan keterpakaian instrumen penilaian karya lukis anak. Pada tahap G-study dipilih tiga sekolah. Sedangkan masing-masing sekolah terdiri dari siswa kelas satu. Hasil FGD ini digunakan untuk memperbaiki pedoman penilaian sehingga menjadi pedoman guru dalam menilai seni lukis anak. masingmasing sekolah dipilih satu guru seni lukis. keterbacaan. Subjek Coba Subjek uji coba adalah pendidik yang mengajar seni lukis anak yang ada di tiga sekolah di Kota Yogyakarta. jumlahnya sebanyak 20 orang di ambil secara random. dan tiga. dan penampilan fisik. Ketiga sekolah tersebut tersebar pada kota Yogyakarta dan kabupaten Sleman. Subjek penelitian adalah peserta didik yang terdiri dari tiga sekolah. 163 dengan asumsi bahwa kedua . Pada tahap D-study. dan kelayakan penyajian yang meliputi sistematika. dua. pemilihan subjek penelitian ditentukan berdasarkan koefisien G-study dalam wilayah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sekolah Dasar Negeri Langensari .disusun draft pedoman penggunaan instrumen seni lukis anak dan kemudian divalidasi oleh pendidik seni lukis anak melalui FGD yang meliputi petunjuk penggunaan. 2. Subjek penelitian peserta didik dipilih melalui dua tahap. dan Sekolah Dasar MIN Tempel. kriteria penilaian.

Data ini diperoleh melalui diskusi para pakar seni lukis. penilaian diri. Selain itu data kualitatif dan kuantitatif digunakan untuk menentukan keterpakaian instrumen. Data kualitatif diperoleh melalui instrumen penilaian diri dan penilaian kelompok dalam bentuk jawaban terbuka dari subjek penelitian. produk. Data ini berupa hasil penilaian karya lukis anak yang dilakukan oleh pendidik. dan tiga. dan penilaian kelompok. Dari ketiga sekolah tersebut dipilih kelas satu. dan tiga sebagai subjek ujicoba karena pada KTSP untuk tingkat Sekolah Dasar dalam mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan seni lukis hanya dilaksanakan pada kelas satu. 164 . Jenis Instrumen Pengumpul Data Data penelitian ini terdiri atas data kuantitatif dan kualitatif. dua. dua. Data kualitatif digunakan untuk mengembangkan konstruk instrumen. 3. Penentuan tiga sekolah tersebut didasarkan pada pertimbangan sekolah yang melaksanakan pembelajaran seni sesuai dengan KTSP dengan didukung tenaga pendidik yang memiliki latar belakang pendidikan seni rupa. Data kuantiatif digunakan untuk memperoleh koefisien keandalan instrumen.kabupaten/kota tersebut dapat mewakili/representatif DIY. dan praktisi lapangan. Instrumen ini dilengkapi dengan pedoman penilaiannya. Pedoman penilaian seni lukis anak merupakan acuan yang digunakan pendidik dalam menilai seni lukis anak. pakar pendidikan seni lukis. Data kuantitatif diperoleh melalui intrumen untuk menilai proses.

dengan prosedur pengukuran yang baik. Menurut Brennan (1983: 3). menskor. Banyaknya komponen ditentukan oleh model yang digunakan. Pertemuan dengan kelompok yang berbeda dilakukan tiga kali untuk memperoleh masukan yang lebih banyak sehingga diperoleh hasil yang dapat diandalkan. yaitu universe berlakunya generalisasi D-study dengan suatu prosedur pengukuran tertentu. Teknik Analisis Data Pengujian konstruk instrumen dilakukan melalui pendapat para pakar bidang seni lukis. Menurut Thomson (2003: 43). Pada G-study dilakukan estimasi sejumlah varians komponen. pakar bidang penilaian pendidikan. Penentuan koefisien keandalan instrumen penilaian dilakukan dengan menggunakan paket program komputer Genova berdasarkan teori generalizability yang dikembangkan oleh Crick dan Brennan pada tahun 1983 yang disebut dengan A Generalized Analysis of Variance System.Pedoman ini berisi cara menggunakan instrumen. Hal yang penting pada D-study adalah spesifikasi dari generalisasi universe. Hasil dari G-study digunakan pada D-study. dan para praktisi lapangan. penggunaan. dan interpretasi dari varians komponen untuk membuat keputusan. 4. teori generalizability adalah teori pengukuran modern yang memiliki keunggulan dibanding teori tes klasik. D-study menekankan estimasi. Pada teori ini ada G (generalized study) dan D (decision study). Beberapa keunggulan yang penting adalah: (1) memperhitungkan sumber 165 . dan menafsirkan hasilnya.

G studynya menggunakan rancangan bersarang (nested design) dan D-study-nya juga menggunakan rancangan bersarang (nested design). termasuk varians kesalahan. interaksi person dan rater. Penelitian ini absolut. varians kesalahan. yaitu rasio varians sebenarnya terhadap varians keseluruhan komponen.e = σ p + σ r2:i . nested. dan kesalahan. 2 2 σ p .kesalahan pengukuran yang jamak secara simultan. Penelitian ini menggunakan GENOVA yang komponen variansnya adalah person. i: r D-study. r:i. maka dapat diestimasi varians sebenarnya (true variance).r:i . generalizeability dan koefiesien phi untuk one-facet. Besarnya koefisien keandalan sebenarnya dan rasio antara varians sistematik atau varians menggunakan satu facet p x(i: r) G-study yang bersarang untuk mengestimasi varians komponen.e Keterangan: p = person r = guru/rater i = item r:i = rater bersarang pada item e = kesalahan Setelah varians komponen diperoleh. rater. Estimasi varians setiap komponen 166 . dan (3) mengestimasi koefisien keandalan baik yang relatif maupun yang merupakan varians total. Selanjutnya dapat diestimasi besarnya indek keandalan hasil pengukuran. item. Varians komponen yang berbaur pada rancangan bersarang (p.e) adalah jumlah varians komponen dalam Gstudy bersarang yang dapat ditulis sebagai berikut. (2) memperhatikan efek kesalahan pengukuran interaksi.

varians rater.dan besarnya indeks keandalan hasil pengukuran dengan instrumen yang dikembangkan peneliti menggunakan paket program GENOVA. r:i dan efek interaksinya adalah pi. ri)= σ²(r) + σ²(ri). Jadi ada varians person. sehingga dikatakan rater bersarang pada item. Besarnya varians r bersarang pada i dapat ditulis sebagai berikut. 167 . Cara penilai (rater) dalam menilai karya lukis anak (p) tergantung pada pendapat penilai terhadap item yang dinilai. sedang untuk efek interaksinya adalah varians person item. penilai dalam menilai hasil karya lukis anak berinteraksi dengan anak yang bersarang pada item. σ²(r : i) = σ²(r. Rancangan px(r:i) ini berdasarkan analisis varians efek random memiliki efek utama: p. dan varians penilai bersarang pada i untuk efek utama. Besarnya koefisien keandalan instrumen penilaian adalah: σ²(p) Eρ² = —————— σ²(p) + σ²(δ) Eρ² adalah nilai harapan koefisien keandalan instrumen. pr bersarang pada i. σ²(p) adalah varians person (peserta didik). Rancangan yang digunakan untuk G-study adalah px(i:r). σ²(δ) adalah varians kesalahan. yaitu item bersarang pada rater. varians rater yang bersarang pada item. r.

kelas 2. Untuk keperluan ini. pada penilaian produk ada 3 (tiga) item. Besarnya varians ini diestimasi dengan menggunakan teknik analisis varians rancangan efek random. dan kelas 3. Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian instrumen seni lukis anak untuk kelas 1. Koefisien interrater adalah salah satu sarana untuk melihat tingkat konsistensi atau keajegan antar rater dalam memberikan rating terhadap unjuk kerja karya seni lukis siswa. 1990: 143). Untuk melihat reliabilitas dari kriteria instrumen penilaian seni lukis anak hasil uji coba.70 (Linn. digunakan analisis koefisien interrater. varians item. sedangkan penilaian diri dan penilaian kelompok masing-masing ada 5 (lima) item.Varians kesalahan terdiri atas varians rater. 168 . dan varians interaksi rater item. ada 7 (tujuh) item yang menjadi objek penilaian. yaitu 0. digunakan koefisien Cohen’s Kappa. Selanjutnya nilai koefisien κ yang dihasilkan dibandingkan dengan kriteria minimal yang diperkenankan. Pada penilaian proses.

sulam. tenun. Secara visual Soedarso (2006: 97) membagi seni rupa menjadi dua bagian besar.BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Dalam proses pembelajarannya. dan kolase dan (2) seni rupa tiga dimensi seperti patung. Pengertian Pendidikan Seni Rupa Pada hakekatnya pendidikan merupakan suatu proses untuk mempersiapkan peserta didik menuju ke kedewasaan. lukisan. dan cita rasa estetik peserta didik. kreativitas. Pendidikan seni rupa berfungsi mengembangkan kepekaan rasa. dengan segala watak. intarsia. mosaik. kesadaran sosial. mengembangkan etika. Dengan demikian pendidikan seni rupa merupakan media untuk mencapai tujuan pendidikan secara umum. Pendidikan Seni Rupa 1. teknik atau proses pembuatan. dan benda produknya. juga dimaksudkan sebagai sarana atau alat pendidikan. pendidikan adalah membentuk manusia yang memiliki kepribadian yang kuat dan beradab sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan zaman. fotografi. 14 . Keduanya bisa dipecah berdasar atas medium. pendidikan seni rupa selain melatih keterampilan peserta didik agar lancar berkarya seni rupa. bangunan. keramik dan sebagian besar seni kriya lainnya. pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan untuk dapat hidup di tengahtengah masyarakat dan kemudian dapat memberikan manfaat bagi lingkungan. monumen. yaitu (1) seni rupa dua dimensi seperti gambar. dan kesadaran kultural dalam kehidupan bermasyarakat (Rohidi. seni grafis. Ditinjau dari tujuannya. 2000: 55).

ditinjau dari proses pembuatan dan bentuk karya yang dihasilkan. meliputi seni lukis. Seni rupa murni menekankan pada ungkapan pikiran dan perasaan. pembicaraan tentang seni rupa terkait dengan masalah keindahan. yang mempunyai peranan memenuhi tujuan-tujuan tertentu dalam kehidupan manusia tidak hanya memenuhi kebutuhan estetik semata.Sejalan dengan hal tersebut di atas. dalam hal ini menyatukan proses penciptaan karya yaitu antara sistematis. dan desain. seni kria. tanah liat. Rohidi dan Hartiti (2002: 8-9) mengemukakan: seni rupa dapat dibedakan menjadi seni rupa murni. Keindahan adalah nilai-nilai estetik yang menyertai sebuah karya seni 15 . benda. atau lingkungan yang didasarkan pada persyaratan-persyaratan tertentu. Sedangkan pengertian seni rupa sendiri adalah suatu hasil interpretasi dan tanggapan pengalaman manusia dalam bentuk visual dan rabaan. misalnya kayu. kreatif. Namun istilah pure art di masa sekarang dipadankan dengan karya seni murni yang tidak memiliki kegunaan praktis. Istilah seni rupa secara etimologi merupakan padanan kata dari visual art (seni rupa yang dapat dilihat/diraba). Secara umum. seni patung. dan inovatif. Karya desain berupa rancangan gambar. tekstil. logam. dan seni grafis. seperti lukisan atau patung. serta menggunakan media tertentu. ada pula yang menyebut sebagai pure art (seni murni). fine art (seni indah). Seni kria menekankan pada keterampilan teknik pembuatan karya dengan hasil karya yang bersifat fungsional dan non fungsional. Desain merujuk pada proses pembuatan karya yang maksud dan tujuannya telah ditentukan lebih dahulu. dan lain-lain. Dalam hal ini penciptaan benda hias yang mengutamakan nilai artistik dikenal dengan sebutan craft (seni kria).

rupa. baik secara mental dan/atau pun fisik. bahan. dan sebagainya bagi apresian. Hal ini tentunya didukung oleh kemampuan pengungkapan ekspresi intuitif dan perasaan estetis seseorang melalui teknik. ketika mengamati karya seni rupa. rasa estetik dan artristiknya. nyaman. Jalan yang ditempuh sesuai yang tercantum pada pedoman khusus mata 16 . dan rasa senang. bahagia. Prinsip-prinsip keindahan tersebut adalah unsur kesatuan (unity). Keindahan juga dipahami sebagai pengalaman estetik yang diperoleh ketika seseorang mencerap objek seni atau dapat dipahami sebagai sebuah objek yang memiliki unsur keindahan. haru. Menurut Pappas (2006: 3). karya seni rupa dapat menimbulkan berbagai kesan misalnya indah. intelektual (IQ). Pendidikan seni rupa berperan tidak hanya dalam pembentukan pribadi yang harmonis dalam logika. keseimbangan (balance). adversitas (AQ) dan spiritual (SQ). yang menyebabkan reaksi emosional atau respons estetik. Sesungguhnyalah pengalaman estetik dapat menyebabkan timbulnya reaksi emosional atau respons estetik seseorang. unik. Reaksi ini mungkin sesuai atau tidak sesuai dengan pendapat orang tersebut. menarik. dan konsep dalam penciptaan karya seni rupa. pengalaman estetik adalah perasaan (positif atau negatif) yang merupakan reaksi seseorang. serta etika. tetapi juga berperan dalam perkembangan anak untuk mencapai kecerdaan emosional (EQ). moral (MQ). Disamping itu. untuk menentukan kualitas karya harus mempertimbangkan nilai-nilai keindahan yang disebut dengan prinsip-prinsip keindahan. Dalam dunia kesenirupaan. kinestetika. keselarasan (harmony). dan kontras (contrast) sehingga menimbulkan perasaan nikmat.

tujuan penciptaan. dan menghormati (BSNP. baik tradisi maupun modern. dan ruang untuk mewujudkan karya seni rupa. sehingga dapat memberikan penghargaan. dan penghargaan terhadap karya seni. secara individual maupun kelompok. Kegiatan apresiasi bertujuan mengembangkan kesadaran. melalui pencerapan nilai intrinsik dari karya seni rupa tersebut. volume. Kegiatan pengamatan dimaksudkan untuk memperoleh pengalaman estetik. pengaruh seniman besar terhadap karya tersebut. warna. Kegiatan pembahasan untuk memperoleh kesadaran dan pemahaman tentang penciptaan karya seni rupa berdasarkan telaah tentang seniman dan zamannya. peserta didik diberi peluang untuk mengekspresikan pengalaman estetiknya dalam wujud karya seni rupa. dengan mengambil unsur-unsur titik. sedangkan untuk tingkat SD 17 . Aktivitas yang dilakukan melalui kegitan eksplorasi dan eksperimen dalam mengolah gagasan (konsep). Pengalaman estetik dalam pendidikan seni rupa di sekolah.pelajaran adalah dengan cara mempelajari elemen. pemahaman. Sedangkan pada kegiatan kreasi (creation). 2006: 186). prinsip. bentuk. garis. tekstur. yang dilakukan melalui pengamatan dan pembahasan karya seni rupa. menghargai. bidang. proses dan teknik berkarya sesuai dengan nilai budaya dan keindahan dengan tidak mengesampingkan aspek fungsi serta sesuai dengan konteks sosial budaya masyarakat sebagai sarana untuk menumbuhkan sikap saling memahami. diimplementasikan dalam dua kegiatan yaitu apresiasi (appreciation) dan kreasi (creation). Pendidikan seni di sekolah diimplementasikan dalam bentuk mata pelajaran Seni Budaya untuk tingkat SMA dan SMP. media (teknik).

Sesuatu yang disampaikan berupa buah pemikiran dan perasaan yang diwujud inderakan dengan menggunakan sarana yang dapat diamati lewat panca indera. Menurut Soehardjo (2005: 120) ekspresi merupakan ungkapan penyampaian sesuatu dari seseorang kepada orang lain. dan menjadi terapeutik atau menumbuhkan kreativitas. seni tari. a. Lim Chin Choy (2005: 293) mengatakan bahwa ekspresi bertujuan untuk mempertunjukkan kepada orang lain (to exhibit). seni musik. tindakan atau lukisan adalah hal yang menyenangkan dan meringankan.adalah Seni Budaya dan Ketrampilan. Ekspresi dalam pendidikan seni adalah curahan jiwa/isi hati yang menekankan pada proses pengungkapkan pengalaman estetik peserta didik yang berkaitan dengan emosi. Mata pelajaran Seni Budaya tersebut mencakup seni rupa. sehingga dapat dikatakan bahwa dengan berekspresi dapat meringankan ketegangan seseorang. Mengungkapkan sesuatu dengan kata. daya pikir. Sejalan dengan hal tersebut. imajinasi dan keinginan peserta didik. Namun demikian. Berekspresi dapat pula berfungsi sebagai katarsis. dapat juga sebagai ekspresi diri yaitu ekspresi keindividuan seseorang. Dengan demikian kemampuan ekspresi perlu dikembangkan pada peserta didik sejak dini karena peserta didik dimungkinkan dapat mengungkapkan berbagai pengalaman atau berbagai hal yang menggejala dalam dirinya untuk dikomunikasikan kepada orang lain melalui senirupa khususnya sebagai sesuatu 18 . Pembelajaran seni rupa di sekolah memiliki sasaran sebagai berikut. Mengembangkan Ekspresi Ekspresi pada dasarnya merupakan kebutuhan dalam hidup manusia untuk mencari kepuasan. dan seni drama.

Jika semua pengalaman dirasakan sebagai pengalaman estetik. juga melatih keberanian mengungkapkan pengalaman estetik.” Kepuasan ini lahir dari proses keterlibatan batin. melatih anak berpikir merdeka. tidak takut salah. Dengan demikian pengalaman berekspresi menunjang dasar-dasar kebebasan. kualifikasi perlu di buat hubungan antara pengalaman estetik dengan pengalaman merasakan. tanpa paksaan. Di samping itu . kemampuan menanggapi suatu masalah. seni lukis misalnya karena anak relatif belum banyak pengetahuan tentang aturan-aturan/norma-norma yang mengikatnya. Walaupun demikian. maka pengalaman estetik kehilangan sifatnya yang khas.yang ada maknanya. 2001: 1). Hal ini dimaksudkan agar peserta didik terlatih dan mampu mengemukakan isi hati. sehingga hasil karyanya terkesan jujur dan spontan. kemampuan membuat analisis yang tepat. Karya seni yang 19 . Anak biasanya lebih bebas dalam berekspresi untuk mewujudkan suatu karya seni rupa. daya menyesuaikan diri dalam segala situasi. Ia memberi kesempatan kepada anak untuk melahirkan pengalaman batinnya dengan leluasa. baik dalam proses kreasi maupun dalam kegiatan persepsi (Salam. ide dan gagasan-gagasannya. Karena ketidaktahuan inilah anak cenderung lebih bebas dan merasa leluasa. Dampak selanjutnya diharapkan peserta didik memiliki daya cipta. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Soedarso (1973: 5) bahwa pendidikan seni rupa adalah pendidikan ekspresi. membiasakan anak untuk mengeluarkan isi hatinya dengan bebas. Padahal. sesungguhnya pengalaman estetik merupakan suatu pengalaman yang khas dan unik yang ditandai dengan terpuaskannya “hasrat akan sesuatu yang harmoni dan lengkap.

Peserta didik menjadi peka terhadap lingkungan. mudah mencerap suatu rangsangan. dan cepat dapat menghayati sesuatu. hidung. Demikian juga kepekaan sosial terhadap lingkungan sekitar serta kemampuan bekerjasama dalam membuat karya kelompok dapat mengolah sikap dan perasaan sosial anak. Peserta didik diberi kesempatan untuk menggunakan panca indera seperti mata.dihasilkan menunjukkan kemurnian pengungkapan perasaan mereka. dan indera peraba menjadi dasar cerapan dalam berkarya. Mengembangkan Sensitivitas Sensitif artinya peka/perasa terhadap rangsangan. Melalui aktivitas seni rupa. mudah menerima. Garis. kemampuan anak dalam mengolah kesadarannya terhadap orang lain di lingkungan sekitar dalam berkomunikasi. Terutama peka terhadap lingkungan yang banyak mengandung permasalahan. menghargai dan dihargai dapat dipupuk. Dengan demikian sebelum berkarya peserta didik dimotivasi mengamati objek dengan berbagai masalahnya sebelum dituangkan dalam karyanya. Dengan melatih kepekaan rasa diharapkan kelak anak dapat menjadi anggota masyarakat yang dapat menjaga lingkungannya dan ikut melestarikan peninggalan seni dan budaya. telinga. 20 . bekerjasama. Peran pendidik diharapkan dapat mengembangkan kepekaan atau sensitivitas yang dimiliki peserta didik. dan tekstur bukan lagi sebagai elemen fisik. tetapi mencerminkan ekspresi kejiwaan yang kuat. warna. kepekaan menjadi terlatih sehingga apabila ada permasalahan peserta didik bisa merasakan dan diharapkan dapat mengatasi permasalahan tersebut. b.

pertumbuhan. Kreativitas bukan hanya muncul dari suatu hasil pemikiran dan dorongan perasaan. sekaligus merupakan proses aktualisasi diri atau kapabilitas yang dihadirkan dalam karya seni. Padahal sesuatu yang intuitif itu bersifat bawah sadar. maupun proses mencipta dalam organisasi dari kehidupan subjektif pikiran dan praktis manusia. namun juga melibatkan kepekaan intuitf. Berbicara mengenai sifat bawah sadar berarti memasuki wilayah proses kreatif yang menurut Susanto (2003: 8) yaitu wilayah proses perubahan. apresiasi. merupakan tahap awal yaitu usaha menemukan gagasan. (3) Execution in a medium. orisinalitas karya. dan identitas. proses evolusi. pengembangan dan pemantapan gagasan menjadi suatu gambaran pravisual untuk diwujudkan menjadi ujud yang konkrit. yaitu proses penyempurnaan. mencari sumber gagasan. Unsur-unsur 21 . inspirasi. yaitu: (1) Inception of an idea. keterampilan. lingkungan. Ada tiga tahap proses kreatif yang dikemukakan Chapman (1978: 45). suatu sikap.c. proses perenungan. keadaan mental yang sangat khusus sifatnya. Adapun unsur pendorong dalam laku kreatif seperti yang diungkapkan Dix dan Ernst dalam Susanto (2003: 9) adalah adanya sarana. Dengan demikian proses kreatif merupakan pengejawantahan emosi dan representasi posisi pemikiran pembuat karya terhadap berbagai masalah yang dihadapi. merupakan tahap terakhir yaitu proses visualisasi dengan medium yang merupakan sarana untuk memvisualisaikan gagasan menjadi suatu karya seni. (2) Elaboration and refinement. Mengembangkan Kreativitas Kreativitas adalah suatu kondisi.

media pengembangan bakat seni yang dimilikinya. serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan. media bereksplorasi.tersebut saling berpadu dan saling mempengaruhi dan saling bergantung untuk menjalankan tahapan-tahapan dalam membentuk karya seni. imajinasi serta keinginan anak tanpa memperhatikan apakah ungkapan yang tervisualisasi dalam karya tersebut dapat dimengerti oleh orang lain atau tidak. Manfaat Pendidikan Seni Rupa Kegiatan seni mempunyai manfaat langsung maupun tidak langsung yang dapat dirasakan oleh peserta didik. Tampilan karya yang kreatif selalu tampil tunggal (unicness). daya pikir. memperinci) suatu gagasan. keluwesan (fleksibilitas) dan orisinalitas dalam berpikir. asli (original). Dengan demikian melalui seni rupa kreativitas anak dapat berkembang. sikap yang untuk tidak selalu puas dengan apa yang sudah ada dan sudah didapat. karena belum pernah ada sebelumnya. Hal ini didukung oleh Munandar (1999: 50) yang mengatakan bahwa kreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran. 22 . memperkaya. sikap untuk selalu mencari sesuatu yang orang lain belum mengetahuinya. karena dengan membuat karya seni rupa membentuk anak untuk berani mengambil resiko. media untuk berkomunikasi. 2. Hal ini sangat berguna dalam pembentukan pribadi anak. Sebagai media ekspresi. karena tidak terdapat kembarannya. karena dihasilkan oleh diri sendiri pelaku seni. karena melalui kegiatan seni rupa anak dapat mengungkapkan apa yang ada dalam dirinya yang berkaitan dengan emosi. dan ber-kebaruan (novelty). Manfaat langsung yang dapat dirasakan adalah sebagai media untuk berekspresi.

kegiatan seni rupa memerlukan alat-alat atau bahan yang secara langsung maupun tidak langsung mengembangkan kemampuan bernalar bagi anak. Dengan demikian seni rupa dapat dikatakan sebagai media komunikasi karena pengirim pesan dapat mengungkap isi pesan ke dalam simbol bermakna yang dapat diterima oleh orang lain sebagai penerima pesan.Dalam hal ini anak merasakan adanya kepuasan karena ada kebebasan dalam mengungkap apa yang ada dalam dirinya melalui pembuatan karya seninya. Sebagai media komunikasi. melalui eksplorasi dengan bahan-bahan yang ada untuk membuat karya seni rupa. dalam aktivitas komunikasi terdapat unsur: pengirim pesan. isi pesan. melakukan tindakan sesuai dengan kebutuhan dan dapat menilai kesesuaian tindakannya dengan norma yang berlaku di masyarakat serta dapat memprediksi akibat yang diambil dari tindakan tersebut. dan penerima pesan. Sebagai media pengembangan bakat. Sebagai media bereksplorasi. Pesan yang disampaikan dalam seni rupa adalah gagasan yang berupa simbol yang dituangkan dalam karya seni rupa. Anak memiliki kebebasan dalam bereksperimen. Bakat adalah kondisi atau rangkaian karakteristik yang 23 . dan mampu bertingkah laku dengan penuh tanggung jawab serta mampu mempertanggungjawabkan tingkah lakunya dalam berkomunikasi. Dengan demikian apabila kematangan emosi anak terlatih. kegiatan seni rupa menawarkan beragam potensi. Kematangan emosi anak menurut Wedwick (2006) adalah kemampuan untuk mengekspresikan perasaannya. maka anak akan positif tindakannya sesuai dengan perkembangan usianya.

psikomotorik dan intelektual. dan estetik. yaitu: a. pendidik haruslah menjadikan anak sebagai pusat. dan kinestesi. Pada waktu memberikan kesempatan berekspresi harus bertitik tolak dari anak. Pendekatan Berbasis Anak Pendekatan Berbasis Anak berpijak pada filosofi bahwa dalam mendidik anak melalui seni. Sedangkan dimensi intelektual meliputi ingatan dan berpikir. kreatif. kegiatan seni rupa melalui latihan-latihan membuat karya seni rupa memupuk bakat anak. keterampilan atau serangkaian respon melalui latihan-latihan (Bennet. Pendekatan dalam Proses Pendidikan dan Pembelajaran Seni Rupa Pada hakekatnya pendidikan seni rupa bersifat unik. Karena keunikannya ini dalam pendidikannya memerlukan pendekatan-pendekatan agar tujuan pendidikan seni rupa itu sendiri dapat tercapai. Hal ini dapat dilihat pada dimensi bakat yang terkait dalam pembuatan karya seni rupa yaitu. persepsi terkait dengan kepekaan dari masingmasing pancaindera yang berhubungan dengan perhatian. Dengan demikian bakat anak yang terpupuk sejak awal akan lebih baik perkembangannya. pendengaran. yaitu kegiatan yang bersifat ekspresif. Adapun dimensi bakat meliputi persepsi. Ada tiga pendekatan dalam pendidikan seni rupa yang populer saat ini. dari pada seseorang yang mempunyai bakat kreatif namun tidak dipupuk. yaitu penglihatan. 1952: 12).dipandang sebagai gejala kemampuan individu untuk memperoleh pengetahuan. Herbert Read 24 . 3. Dimensi psikomotorik mencakup koordinasi dan fleksibilitas gerakan. maka bakat tersebut tidak akan berkembang bahkan menjadi bakat terpendam dan tidak dapat diwujudkan. Dengan demikian.

karya seni rupa anak adalah karya seni yang hanya mampu dihasilkan oleh anak (Efland. Tokoh yang dikenal dalam pendekatan ekspresi bebas ini adalah Frank Cizek dari Austria. yaitu dengan pemberian motivasi. Garha (1980: 60) mengatakan bahwa pendekatan ini sebagai ekspresi bebas yang memberikan keleluasaaan kepada anak-anak untuk dapat menyalurkan ungkapan perasaan tanpa dibatasi oleh aturan atau norma cipta konvensional dalam membuat gambar. Peranan pendidik sebagai fasilitator. 25 . 1990: 195). Hal ini dimaksudkan untuk menyiapkan pengalaman belajar yang dapat merangsang ekspresi pribadi anak. sesuatu yang tumbuh secara alamiah pada diri anak dalam mengkomunikasikan dirinya (Read. Pada pendekatan berbasis anak ini tugas pendidik adalah memberikan pengalaman kepada anak yang dapat merangsang munculnya ekspresi pribadi anak. dan pendampingan.dalam Education through Art yang menyatakan bahwa naluri berolah seni rupa anak adalah suatu yang universal. memberikan kemudahan kepada anak dalam mempelajari atau melakukan apa yang menjadi keinginan anak agar anak berkembang secara alamiah melalui pengalaman seni. karena ekspresi diri anak sesungguhnyalah tidak bisa diajarkan oleh pendidik. dengan peragaan. Ia merupakan orang yang pertama kali mengakui secara terbuka nilai intrinsik karya seni rupa anak. 1970: 10). Dengan demikian anak diberi kebebasan dalam kegiatan penciptaan karya sehingga anak dapat mengaktualisasikan dirinya dengan bebas tanpa pengaruh orang dewasa dalam proses pembuatan karyanya. Dengan demikian cara pembelajarannyapun pendidik memberikan kemudahan pada anak dalam melaksanakan kegiatan belajar yang diinginkannya.

kreativitas dan perkembangan sosial anak. Read (1970: 30) memberi penegasan bahwa dalam ekspresi bebas. Dalam hal ini pendidik memenuhi apa 26 . 2001: 13). Selanjutnya Lowenfeld mengatakan bahwa “…mental growth depends upon a rich and varied relationship between a child and his environment. Menurut Viktor Lowenfeld. ekspresi dalam proses pembuatan karya seni rupa yang dilaksanakan secara alamiah berdampak positif bagi perkembangan intelektual. such a relationship is a basic ingredient of a creative art experience” (Lowenfeld. Dalam merancang pembelajaran pendekatan ekspresi bebas secara murni. pelaksanaan kegiatan pembelajarannya menggunakan model emerging curriculum yakni kegiatan pembelajaran yang tidak dirancang sebelumnya tetapi berkembang sesuai keinginan anak (Salam. emosional.Pendekatan ekspresi bebas ini kemudian didukung dan disebarluaskan oleh dua tokoh pendidik seni yaitu Viktor Lowenfeld dari Amerika Serikat dan Herbert Read dari Inggris. Dengan demikian pendidikan seni rupa merupakan tempat pemberian pengalaman yang menarik yang menyadarkan anak akan lingkungannya. Dalam hal ini dihubungkan antara kegiatan seni rupa dengan kesehatan mental karena kegiatan seni rupa merupakan media untuk menyalurkan perasaan. baik merupakan perasaan sedih atau gembira. pendidik berperan sebagai pendamping dan memotivasi anak untuk menggali inspirasi anak. Penekanan Read adalah bahwa ekspresi diri anak tidak dapat diajarkan dan peranan pendidik adalah sebagai fasilitator. 1982: 6-7). Hal ini memperjelas bahwa pengaruh lingkungan menyebabkan adanya berbagai corak berdasarkan perkembangan dan temperamen jiwa anak.

Didukung oleh media yang dipersiapkan pendidik bisa berupa photo. dan sebagainya. penerapan pendekatan ekspresi bebas di sekolah maka dikembangkan pendekatan ekspresi bebas yang bersifat “terarah”. kursus-kurus. gambar-gambar. Sesungguhnyalah pendekatan ekspresi bebas secara murni ini sangat sulit dilaksanakan pada sekolah formal karena terikat adanya jadwal. Pendidik kemudian memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk mengarahkan perhatian anak pada hal-hal yang dilihatnya tetapi diabaikan anak. tulang-tulang daun akan membentuk keartistikan tersendiri.yang menjadi kemauan anak dan pendidik memfasilitasinya. (2) adanya kontak langsung anak dengan keadaan sekelilingnya. Untuk mengatasi hal tersebut di atas. slide. Anak diberi kesempatan memperhatikan keadaan sekitar kelas atau sekolah. Dari cerita dan dialog dengan anak akan timbul tema-tema cerita yang menyentuh kehidupan anak. pendidik pada awal pembelajaran memberikan motivasi dengan berbagai cara antara lain: (1) memberi kesempatan pada anak untuk bercerita tentang hal-hal yang menarik yang dialaminya. Untuk membangkitkan dan memotivasi ekspresi anak. dan sebagainya. kemudian ada dialog dengan pendidik. misal: detail dari bentuk daun. kendaraan. Lebih tepat bila dilaksanakan pada lembaga pendidikan yang bersifat non formal seperti sanggar. film. bentuk bunga semakin ke ujung daun bunga semakin kecil permukaannya. yang merangsang untuk mengekspresikan nya lewat karya yang dibuatnya. Ada tumbuh-tumbuhan. waktu yang ditentukan sehingga menjadi terbatas pelaksanaannya. orang berlalu lalang. Caranya adalah sebagai berikut: pelaksanaan pembelajaran seperti pada umunya pendidik melaksanakan pembelajaran sesuai dengan jadwal dan waktu yang ditetapkan. dan 27 . dan sebagainya.

Penilaian yang diberikan pendidik bersifat apresiatif yaitu bersifat menerima dan menghargai apa yang diungkapkan atau diciptakan oleh anak dengan menunjukkan kemungkinan peningkatan kualitas dari karya yang diciptakannya tersebut (Salam. Dengan demikian pendekatan dari berbagai aspek dipadukan dengan proses pengalaman belajar yang terkoordinasi secara menyeluruh menjadi sangat diperlukan. (3) pendidik mendemonstrasikan proses penciptaan karya pada anak. Menurut Brent Wilson “DBAE. Pendekatan berbasis disiplin ini berdasar pada teori pedagogi tentang pelaksanaan proses belajar mengajar yang dicetuskan pada tahun 1980 di Amerika . Dalam hal ini pendidik berperan sebagai pendamping untuk memberikan bantuan pada anak.sebagainya. b. Setelah pemberian motivasi. Dengan demikian hasil penilaian tidak ada istilah salah atau benar karena ekspresi anak bersifat unik dan alamiah. builts on the premise that art can be 28 . Teori ini disebut sebagai Discipline-Based Art Education (DBAE). Pendekatan Berbasis Disiplin Pendekatan berbasis disiplin berpijak pada filosofi bahwa dalam mendidik anak melalui seni. namun jangan sampai terjebak apa yang didemonstrasikan menjadi hal yang harus ditiru oleh anak. Karena setiap subjek seni didekati dengan suatu premis bahwa setiap subjek seni memiliki kekhasan yang berbeda dengan subjek seni yang lain sehingga diperlukan suatu pendekatan sebagai suatu “discipline” ilmu yang mandiri. 2001: 14). pendidik meminta anak untuk mengekspresikan dirinya secara bebas dalam pembuatan karya seni rupa. pendidik menjadikan disiplin ilmu seni sebagai hal yang harus dikuasai oleh anak.

Hal ini menyiratkan bahwa seni dapat diajarkan secara efektif bila mengintegrasikan makna empat dasar disiplin tersebut. Aesthetic education therefore represented a balance among producing. 2000: 19). Hal ini diperkuat dengan gagasan Eisner (1997:16) bahwa. art criticism. 29 . sebagaimana tentang dunia visual di sekeliling mereka. Pendidikan Seni Berbasis Disiplin. Identified the productive. memahami dan mengapresiasi seni. appreciating. Dengan demikian pelaksanaan pendidikan seni rupa sesuai yang tersirat dalam DBAE pelaksanaannya tidak memilah keempatnya tetapi berusaha untuk mengintegrasikannya. para peserta didik harus berusaha melakukan dialog berkelanjutan tentang hakikat dan makna seni dalam kehidupan mereka. kritik seni (art criticism) dan estetika/filsafat seni (aesthetics) dalam suatu pengalaman belajar yang menyeluruh. art history.taught most effectively by integrating content from four basic disciplines-art making. and understanding. mengarahkan untuk mencipta. and cultural and/or historical realms as necessary for leading the child to aesthetic experiences. sejarah seni. Dialog ini paling baik diungkapkan dalam bidang filosofis estetika. yaitu: penciptaan seni (artistic creation).” Karena itu. atau DBAE (Disciplin Based Art Education). Eisner (1997: 20) membahas komponen estetika sebagai “berguna bagi anak-anak untuk menjadi reflektif tentang basis penilaian mereka berkaitan dengan kualitas karya seni. dan estetika. critical. Tersurat pula dalam sebuah monograf dari The Getty Center for Education in the Arts. produksi seni. and aesthetics (the philosophy of art)-into a holistic learning experience” (Wailling. kritik seni. sejarah seni (art history).

suku.Pada hakekatnya seni adalah sebagai kegiatan artistik. namun demikian seni rupa sebagai disiplin ilmu dalam pelaksanaannya tidak hanya memberikan kesempatan pada anak untuk mengekspresikan emosinya saja tetapi kegiatan mempelajari ilmu seni juga harus dilakukan. adanya metode kerja yang memfasilitasi kegiatan eksplorasi dan penelitian. Pendekatan Berbasis Konteks Pendekatan berbasis konteks berpijak pada filosofis bahwa dalam mendidik anak melalui seni. karena memiliki isi pengetahuan (body of knowledge). c. pendekatan Berbasis Konteks yang menonjol adalah pendidikan seni multikultural. Pengenalan keragaman budaya tersebut dengan cara membuka diri terhadap berbagai budaya lain yang lahir atas dasar ras. 30 . (2) a community of scholars who study the discipline. konteks sosial masyarakat harus menjadi perhatian yang utama. Dengan demikian seni rupa dapat dikatakan sebagai sebuah disiplin ilmu. adanya komunitas pakar yang mempelajari ilmu tersebut. Pendekatan seni rupa berbasis multikutural merupakan salah satu bagian dari pendidikan multikultural yang bertujuan mengenalkan keragaman budaya melalui kegiatan penikmatan. (3) a set of characteristic procedures and ways of working that facilitate exploration and inquiry. kelas sosial. Dipandangnya seni rupa sebagai disipiln ilmu merupakan asumsi pokok yang mendasari pendekatan pendidikan seni rupa berbasis disiplin. karena sudah memenuhi tiga ciri disiplin ilmu yang dikemukakan oleh Dobbs (1992: 9) sebagai berikut: (1) a recognized body of knowledge or content. Pada saat ini. penciptaan dan pembahasan keindahan rupa (visual). agama.

Dengan demikian menjadi fokus utama yang merupakan wacana pendidkan seni rupa multikultural adalah persoalan pluralisme sosial dan keragaman budaya. Hal yang terpenting dalam hal ini adalah bahwa semangat untuk mempromosikan keragaman budaya dilakukan melalui kegiatan seni rupa. Dengan cakupan yang luas itulah pendekatan ini menggunakan berbagai bentuk teori dan praktek yang sesuai dengan konteks sosial dan budayanya. dan sebagainya) lain agar memiliki sikap apresiatif terhadap kelompok yang menjadi fokus pembicaraan. atau pendekatan. Metode pembelajarannya bersifat pengenalan berbagai bentuk seni 31 . etnis. Materi pembelajarannya meliputi pengetahuan sikap. yaitu: 1) Model Pengenalan Model ini bertujuan memperkenalkan anak akan budaya lain. pendidikan seni rupa multikultural pada dasarnya merupakan sebuah filosofi. Merupakan ciri yang mendasar model kurikulum pendekatan multikultural yang harus dipertimbangkan yaitu adanya pluralisme sosial. dan lain-lain.jenis kelamin. dimana beragam program pembelajaran dikembangkan. dan keterampilan seni yang difokuskan pada pengenalan seni kelompok (ras. Anak menjadi luas wawasannya dan memahami karya seni rupa orang lain dan pencipta karya yang mungkin sangat berbeda karya tersebut dengan keyakinan dan tradisi yang ada pada anak lebih tepat diterapkan pada kelas yang tidak multikultur. Dengan demikian tidak identik dengan satu model program pembelajaran tertentu. gagasan besar. Sebagai konsep dasar. Pendidikan berbasis multikultural dikelompokkan menjadi tiga. sehingga cakupan menjadi luas. keragaman budaya/etnis dan kontekstualisme. agama.

agama. Kemudian diwujudkan secara visual dengan media yang sesuai dengan kemauan peserta didik. apresiasi (kritik seni rupa) juga harus mengingat pada keragaman prinsip. makna. golongan tertentu. dan kriteria keindahannya masing-masing. karyawan menciptakan suasana yang kondusif merefleksi adanya keragaman budaya yang ada. sejarah seni rupa. kurikulum) tidak mencerminkan adanya diskriminasi. Model pengamalan ini lebih tepat diterapkan pada kelas yang bersifat multi kultur. Pelaksananan model pengamalan ini agar berhasil dengan baik. maka perlu dukungan dari berbagai pihak antara lain: kebijakan sekolah (aturan. Evaluasi yang dilaksanakan dalam konteks untuk mengetahui sejauh mana anak dapat memahami dan mengapresiasi budaya/seni kelompok lain. Penerapan pembelajaran model pengamalan ini dalam praktek penciptaan karya seni rupa salah satu cara adalah dengan menggali tema dari peserta didik yang bervariasi sesuai dengan latar belakang peserta didik. pendidik. Evaluasi yang dilakukan adalah untuk mengetahui sejauh mana anak dapat mengapresiasi budaya/seni kelompok lain yang ditunjukkan pada kemampuan untuk hidup bersama secara harmonis. Apabila diterapkan dalam pembelajaran yang bersifat teoritis yaitu estetika. 32 . 2) Model Pengamalan Tujuan model pengamalan adalah membangun kesadaran untuk hidup bersama dan tidak melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan konflik. Dalam hal ini tidak ada standar baku yang dapat diberlakukan untuk semua. diskusi dan praktek pembuatan karya. peragaan. Dengan demikian kegiatan pembelajarannya anak yang terdiri dari berbagai suku. dan lain-lain mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar.dari kelompok lain melalui ceramah. ras.

Pendukung kelompok model perombakan mengatakan bahwa budaya bukanlah suatu yang harus diterima dan tanpa perubahan. maka pendidik sudah selayaknya mengadakan perombakan dalam kurikulum dan pembelajarannya. oleh karena itu perlu ada peninjauan. suku. Wasson dkk. kelas sosial. Menurut Salam (2001: 27) pendukung pendidikan seni rupa multikultural model perombakan ini tampaknya tergolong sebagai pengembang kurikulum yang dikelompokkan sebagai kaum rekonstruksionis sosial yang memandang pendidik sebagai politikus yang harus memilih dua pilihan: sebagai kelompok konservatif yang akan melayani sang penguasa atau sebagai kelompok perombak yang mencoba untuk mencari alternatif-alternatif. kondisi sosial yang ada di masyarakat. dan kesukuan. jenis kelamin. agama. dalam Salam (2001: 29) menyatakan bahwa yang menjadi pendukung pendidikan seni rupa multikultural model perombakan ini menegaskan bahwa dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.3) Model Perombakan Berdasarkan perlakuan yang tidak kondusif karena adanya ketidak adilan atas dasar ras. jender. politik. Selanjutnya terdapat lima langkah dalam mengembangkan kurikulum pendidikan seni rupa berbasis multikultural. Mereka mencari pendekatan yang lebih demokratik yang memberikan peluang bagi kelompok yang terpinggirkan untuk menyuarakan dirinnya dalam proses pendidikan seni rupa. Langkah pertama pendidik 33 . usia. mereka memusatkan perhatian pada faktor-faktor yang dinamik dan kompleks yang mempengaruhi interaksi manusia yakni kemampuan fisik dan mental. dan menumbuhkan kepekaan semua pihak pada asumsi yang dianggap benar yang ada pada ideologi yang dominan. agama.

jenis kelamin. Pestalozzi (1746-1827) 34 . pendidik dan peserta didik melakukan analisis situasi supaya akrab dengan masyarakat. membuat keputusan reflektif kemudian mengambil langkah nyata sesuai keputusan. Tinjauan Historis Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan dinamika masyarakat yang senantiasa berkembang. Kemudian mengumpulkan data. maka pendidikan seni rupapun mengalami perkembangan terutama di Sekolah Dasar. menanang nilai yang dianut peserta didik. pendidik dan peserta didik berkolaborasi mengadakan penyelidikan masalah-masalah yang ada kaitannya dengan bahan kurikulum yang dipilih. pendidik dan peserta didik memilih bahan kurikulum relevan dan menarik.menganalisis dan memperbaiki sikap negatif yang mungkin mereka miliki terhadap pluralisme social dan keragaman suku. Langkah ketiga. Pendidikan Seni Rupa di Sekolah Dasar di Indonesia a. Dimulai dengan kegiatan yang hanya mencakup menggambar di sekolah umum. Langkah kedua. Ketiga pendekatan pendidikan seni rupa yang telah diuraikan di atas merupakan tiga pendekatan utama yang mempengaruhi pemikiran dan praktek pendidikan seni rupa dewasa ini. mengklarifikasi. dan lain-lain. Langkah keempat. suku. 4. Tindakan yang ditempuh dengan mengidentifikasi masalah sosial yang berkaitan dengan agama. tingkat kehidupan munusia. Merupakan langkah terakhir yaitu langkah kelima pendidik melaksanakan program evaluasi baik formatif maupun sumatif. Lima langkah yang dikemukakan oleh Wasson tersebut di atas merupakan salah satu cara penyusunan kurikulum pendidikan berbasis multikultural.

menggambar adalah sarana untuk mengembangkan pengamatan. Hal ini diperkuat pernyataan Uhlin (1975:18) yang menyatakan bahwa International congresses were formed in those years to pool data and structure theories which would communicate just what it as that the child was resolving at a particular chronological age. Pada tahun-tahun tersebut. Perkembangan selanjutnya pada akhir abad ke 19. Sebuah gagasan tentang tahap-tahap pertumbuhan dalam perkembangan artistik anak muncul dalam studi ini. dan berfungsi untuk melatih penguasaaan ketrampilan. Kemudian era studi anak pada akhir abad ini merupakan sebuah gerakan yang meluas dan berpusat pada pola-pola prilaku anak pada setiap perkembangannya. lahir teori-teori yang berpusat pada pola-pola perilaku anak pada setiap tahap perkembangannya.merupakan pakar yang berhasil memasukkan pelajaran menggambar di sekolah umum tersebut. Menurut pandangannya. sebagai hasil dari studi lahirlah pandangan baru tentang dunia anak yang amat besar pengaruhnya terhadap pendidikan seni rupa. Riset pertama yang membahas seni anak tepatnya dilaksanakan pada musim dingin pada tahun 1882 oleh Corrado Ricci seorang penyair Italia yang hasilnya merupakan dukungan studi tentang ekspresi seni sebagai suatu alat untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam pada pengalaman total anak-anak. 35 . Dengan demikian fungsi pelajaran menggambar adalah untuk mempersiapkan tenaga kerja pangsa pasar tertentu yang membutuhkan kemampuan seseorang menggambar bangun dan pengamatan yang tajam.

Pandangan baru ini melihat anak sebagai pribadi yang unik yang berbeda dengan orang dewasa. didirikan sekolah khusus untuk anak-anak pribumi dengan tujuan menyiapkan tenaga siap pakai untuk dipekerjakan sebagai tenaga administrasi pada masa pemerintahan kolonial. menurut Read hanya orang dewasalah yang memilki kematangan perasaan dan intelektual yang dipandang layak untuk menghasilkan karya seni (Read. Selanjutnya studi awal tentang anak dilakukan para ahli. maka muncullah pandangan baru tentang pembelajaran seni rupa anak yang berfokus pada perkembangan alamiah anak dan pengalaman belajar anak. Memasuki abad ke 20 perkembangan seni rupa memasuki babak baru. adalah orang pertama yang memberikan pengakuan adanya nilai yang terkandung pada karya seni rupa anak. Frank Cizek. Pendidikan seni rupa yang sebelumnya hanya terbatas pada kegiatan menggambar menjadi lebih luas mencakup pembelajaran apresiasi seni rupa. Di Indonesia pada masa pemerintahan Belanda. salah satu hasilnya adalah ditemukannya pola perkembangan menggambar anak berdasarkan usia anak Sejalan dengan penemuan adanya pola kemampuan menggambar anak. dan kerajinan. seorang pendidik dan perupa dari Wina. disain. dengan terbitnya banyak jurnal pendidikan seni rupa sebagai hasil penelitian. Ia menegaskan bahwa seni rupa anak hanya mampu dihasilkan oleh anak dan anak menggambar harus diberi kesempatan untuk tumbuh bagaikan bunga yang berkembang dengan sendirinya secara alami. bebas dari pengaruh orang dewasa. Mulailah adanya pengakuan karya seni rupa anak sebagai karya seni rupa yang sesungguhnya. 1970: 1). Pada masa sebelumnya. 36 .

M Soewadi Soerjaningrat atau dikenal dengan Ki Hajar Dewantoro mendirikan sekolah swasta untuk kepentingan anak-anak pribumi dan menurut pandangannya pendidikan seni rupa merupakan alat untuk menanamkan kepribadian Indonesia. Bersamaan dengan didirikannya Taman Peserta didik. dan kerajinan tangan adalah mata pelajaran yang 37 . 1967: 195). di Sumatra Barat tepatnya di Kayutanam berdiri pula Indonesische-Nederlandsche School (INS) oleh Mohammad Syafei. mencetak. Hal ini mencerminkan sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia cenderung tidak menggambarkan keadaan atau suasana Indonesia. Namun yang terjadi selanjutnya timbul ketidakpuasan dari kaum pribumi terpelajar yang menginginkan perlunya anak-anak Indonesia mengenal. Pada prinsipnya Mohammad Syafei menentang pendidikan pemerintah kolonial yang hanya mengutamakan pendidikan intelektual dan kurang memperhatikan pengembangan kepribadian anak. waktu itu bentuk pelajarannya adalah pelajaran menggambar dengan orientasi pemberian keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja secara mandiri pada pemerintah kolonial. Buku-buku pelajaran yang dipakai adalah buku-buku yang merupakan gambar-gambar pemandangan di Belanda dengan kincir angin. tetapi menanamkan tradisi Barat sebagai suatu kemajuan. menghargai budaya dan tradisi bangsa sendiri. Pelajaran menggambar. dan sadar budaya adalah dasar dari metode pendidikan seni rupa yang diterapkan di Taman Peserta didik (Holt. keaslian. Kemudian oleh R. Akibat yang diinginkan anakanak Indonesia tidak dapat mengenal. menghargai budaya dan tradisinya sendiri. suasana peternakan dan bunga tulipnya.Demikian juga pada pelajaran seni rupa. Ekspresi diri.

Pada menggambar ekspresi. Pada mata pelajaran menggambar meliputi menggambar alam benda. Pada masa awal kemerdekaan. seni tari. Pada kelas-kelas untuk akhir. Lingkup materi pembelajarannya meliputi seni rupa. dan teknologi. yang kesemuanya bertujuan melatih pengamatan anak. hanya objek gambar bukan lagi pemandangan di Belanda tetapi pemandangan alam Indonesia. anak-anak diajarkan keterampilan agar memiliki kemampuan membuat barang yang bersifat fungsional. ilustrasi. Baru pada tahun 1964 istilah “menggambar” diganti dengan “seni rupa”. dan menggambar ekspresi. Pembelajaran masih mengembangkan kemampuan anak melalui latihan koordinasi mata dan tangan. seni teater. Perkembangan selanjutnya pendidikan menggambar yang menekankan pada teknik menggambar tidak digunakan sejalan dengan diterapkannya pendidikan seni rupa pada kurikulum sekolah (kurikulum tahun 1975) dan kurikulum sesudahnya dan pada kurikulum yang berlaku sekarang ini (KTSP). pelaksanaan pendidikan seni rupa tidak mengalami perubahan yang berarti. Pendidik sebagai fasilitator memberikan kemudahan-kemudahan pada anak. Dalam rumusan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) merupakan bagian dari kelompok mata pelajaran Estetika dan nama mata pelajarannya adalah Seni Budaya dan Keterampilan. 38 . anak-anak diberi kebebasan untuk menyatakan ide dan perasaannya. perspektif.dianggap penting. dan dijual untuk menambah beaya kegiatan sekolah. kerajinan. seni musik. Pendidikan seni rupa tidak dikenal sebagai istilah yang mandiri di Sekolah Dasar.

Keempat bidang tersebut tidak harus diajarkan secara terpisah tetapi diajarkan secara terpadu. dialami. Keempat bidang tersebut dijabarkan dalam mata ajaran dan tercermin dalam kurikulum meliputi. Dalam hal ini banyak yang dapat dipelajari. sedangkan art criticism adalah disiplin yang memfokuskan perhatian pada persepsi dan deskripsi untuk menjawab pertanyaan tentang apa yang diamati pada suatu karya seni rupa. dieksplorasi oleh anak. merupakan proses kreatif melalui pengolahan bermacam-macam materi untuk menciptakan efek visual yang diinginkan. Pendekatan Pendidikan Seni Rupa yang dianut di Indonesia Diterapkannya pendidikan sistem di sekolah. yang merupakan babakan baru dalam sejarah pendidikan seni rupa di Indonesia. 1992: 9). untuk menjelaskan makna dari apa yang diamati adalah melalui kegiatan analisis dan penafsiran. Art history adalah disiplin 39 . sejalan dengan implementasi kurikulum tahun 1975. Pada art production adalah suatu disiplin dalam hal penciptaan seni rupa. dan penilaian. dan (2) penerapan “pendekatan sistem” dalam rancangan kegiatan pembelajaran seni rupa. dan penilaian merupakan gambaran untuk memperoleh kualitas karya seni rupa yang diamati. art criticism. art production. penikmatan. pemahaman. and aesthetics (Dobbs. art history. 1) Penerapan pendekatan disiplin Seperti telah dikemukakan dimuka bahwa pendekatan disiplin mempunyai ciri adanya program pembelajaran yang sistematik dan berkelanjutan dalam empat bidang yaitu: bidang penciptaan.b. Babakan baru tersebut menyangkut 2 hal pokok yakni: (1) penerapan “ pendekatan disiplin (DBAE)” dalam hal isi pembelajaran seni rupa.

Aesthetics adalah disiplin yang memfokuskan pada diskusi hakekat dan makna seni rupa. pandangan ini diakomodasi yang ditandai dengan meluasnya cakupan mata pelajaran seni rupa. kritik seni rupa. dan estetika. Menurut pendekatan sistem. tetapi juga mencakup sejarah senirupa.yang memfokuskan perhatian pada peran seni rupa dan seniman dalam konteks social. 2) Penerapan pendekatan sistem Dalam kurikulum 1975 dituntut diterapkannya pendekatan sistem dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. pengalaman keindahan dan sumbangannya terhadap kehidupan dan kebudayaan manusia. mencetak. Kurikulum selanjutnyapun yang muncul melanjutkan apa yang dimulai pada kurikulum tahun 1975 . mematung. dsb. Tujuan inilah yang menjadi acuan seluruh kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru. Dalam kurikulum tahun 1975. Kegiatan pembelajaran yang 40 . kegiatan pembelajaran terdiri atas berbagai komponen yang satu sama lain terikat dalam satu sistem dengan tujuan sebagai komponen utama yang memberi arah pada komponen lainnya. Pendekatan sistem menuntut kegiatan pembelajaran yang berorientasi pada tujuan yang telah dirumuskan terlebih dahulu. Dengan demikian pendekatan disiplin memandang kegiatan pembelajaran di sekolah seyogyanya tidak hanya menyangkut kegiatan berkarya seni rupa seperti melukis. politik dan budaya. Demikian pula dengan KTSP yang berlaku saat ini mengacu pada Standar Isi yang kandungannya mencerminkan kekomprehensifan isi sebagaimana yang diamanatkan oleh pendekatan disiplin.. termasuk kegiatan penilaian hasil belajar. Pendekatan sistem dalam terminologi Kurikulum 1975 dikenal sebagai PPSI.

tujuan pembelajaran identik dengan kompetensi tertentu yang diharapkan untuk dicapai oleh anak dalam kegiatan pembelajaran. komponen pelaksanaan pembelajaran. dan ketrampilan bidang seni rupa meliputi: produksi/karya seni. Penerapan pendekatan disiplin dalam pendidikan seni rupa di sekolah di Indonesia. 41 . agar anak memiliki pengetahuan. dan estetika. sangat mempertimbangkan aspek psikologis anak sejalan dengan tumbuhnya kesadaran akan pentingnya menjadikan anak sebagai pusat perhatian guru dalam kegiatan pembelajaran. dan praktek membuat karya seni rupa. Sesuai tujuan pendekatan berbasis disiplin. Dalam hal ini pendekatan sistem merupakan kerangka acuan yang rasional dalam memadu komponen-komponen pembelajaran yang saling berkaitan. sikap. sikap dan keterampilan seni rupa seperti yang dirumuskan pada tujuan pembelajaran. Peranan pendidik dalam pendekatan ini dituntut dapat memberikan kemudahan bagi anak untuk mendapatkan pengetahuan. Tujuan pembelajaran menekankan kemampuan yang harus dikuasai oleh peserta didik yaitu: pengetahuan. sikap. diskusi. Dalam konteks KTSP. peragaan. sejarah seni. Sedangkan metode pembelajarannya yang memungkinkan anak memiliki pengetahuan. dan keterampilan seni adalah ceramah. kritik seni.beroreintasi pada tujuan ini berlanjut pada kurikulum yang diperkenalkan kemudian. dan keterampilan seni rupa. sikap. komponen evaluasi saling berkaitan. sikap. ketrampilan bidang seni rupa. Misal komponen tujuan pembelajaran. Evaluasinya dilihat dalam konteks sejauhmana anak memperoleh pengetahuan.

Ditinjau dari sudut pandang psikologis masuk dalam kategori childhood.Dengan demikian pada hakekatnya pendekatan berbasis disiplin pada pendidikan seni rupa membawa anak tidak hanya diberi kesempatan untuk berekspresi seni rupa. Pada rentang usia tersebut anak mengalami fase tertentu. budaya. bahkan mereka diberikan pula cara memahami konteks dari sebuah karya seni rupa dari berbagai masa. suku. tetapi juga memberikan pembelajaran cara mempelajari bagaimana menikmati suatu karya seni rupa. Karakteristik Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar Anak usia sekolah dasar pada umumnya ada pada usia 6 sampai dengan 12 tahun. yaitu masa usia sekolah dasar sering disebut juga sebagai masa intelektual atau masa keserasian bersekolah. dimana anak mengalami masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju awal remaja. dan golongan sosial ekonomi di lingkungan sekitarnya. B. sesuai dengan yang ada dalam Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) Sekolah Dasar antara lain: Menghargai keberagaman agama. Anak sudah dapat berpikir lebih menyeluruh dengan melihat banyak unsur dalam waktu yang bersamaan. Hal ini diharapkan akan berdampak pada tumbuhnya rasa penghargaan terhadap keragaman karya-budaya yang dimulai dari lingkungannnya. Menurut Piaget (1950: 45-49) ”pada masa itu adalah anak mengalami yang disebut dengan tahap operasi konkret (concrete operations)” dicirikan dengan perkembangan sistem pemikiran yang didasarkan pada aturanaturan tertentu yang logis. Pemikiran anak dalam 42 . ras.

mengemukakan ciri-ciri anak pada anak pada usia 6 dan 7 tahun sebagai berikut: (a) anak beralih dari daya pikir anak yang bersifat imajinatif. (h) lebih membutuhkan suatu pujian dan persetujuan dari orang dewasa. tahap ke II usia 8-9 tahun. ke cara berpikir tahap operasional konkret. Berikut ini karakteristik anak usia sekolah dasar pada setiap tahapnya. (k) mulai menumbuhkan rasa keadilan dan menginginkan perasaan yang bebas dari orang 43 . hal ini juga didukung oleh Piaget yang mengemukakan. (i) menunjukkan sensitivitas rasa dan sikap terhadap anak disekitarnya dan orang dewasa. dan tahap III pada usia 1012 tahun. dibagi menjadi tiga tahap. Secara umum pada usia sekolah dasar ini. yaitu tahap I pada usia 6-7 tahun. namun demikian perlu diketahui adanya perbedaan tingkat kecepatan kematangan anak sangat dipengaruhi oleh kehidupan lingkungan sosial budaya masyarakatnya. Menurut Brady (1991: 35-37) yang didukung beberapa ahli yang lain. klasifikasi dengan lebih baik. (d) melanjutkan perkembangan pemerolehan bahasa. (e) sudah mulai memisahkan antara fantasi dari realitas. (b) anak mulai mempunyai pengalaman pada tahap kepandaian dan perasaan rendah diri. bahkan mengambil kesimpulan secara probabilitas. (j) belajar berpartisipasi dalam suatu kelompok sebagai anggota. (f) belajar berangkat dari persepsi dan pengalaman langsung. (c) menerima konsep secara benar (baik) berdasarkan hadiah dan persetujuan.banyak hal sudah lebih teratur dan terarah karena sudah dapat berpikir seriasi. namun belajar lebih banyak terjadi berdasarkan pengalaman konkretnya. bahwa anak mulai berpikir tentang perbedaan bahkan menentang dan bersikap hati-hati. (g) mulai berpikir abstrak.

(b) anak mulai berpengalaman pada tahap kepandaian dan perasaan rendah diri. (b) Erickson berpendapat bahwa anak mempunyai pengalaman pada tahap kepandaian dan perasaan rendah diri. (e) mulai melihat sesuatu dengan sudut pandang orang lain bahkan sifat egosentris sudah semakin berkurang. bahwa anak sudah mulai berpikir lebih fleksibel dan hati-hati.dewasa. (h) mulai mencari 44 . (f) mengadopsi orang lain menjadi model daripada orang tua. (f) mulai mengembangkan konsep dan hubungan spasial. (d) memiliki perhatian dan penghormatan dari kelompok kini lebih penting. (j) adanya peningkatan kemampuan mengutarakan sebuah ide ke dalam kata-kata. (g) menghargai petualangan imaginatif. (h) mulai menunjukkan minat dan keterampilan yang berbeda dengan kelompoknya. (d) sudah mempunyai ketertarikan yang kuat dalam sebuah aktivitas sosial. (l) menunjukkan perilaku yang egosentris bahkan sering menuntut apa yang menjadi keinginannya. (c) mulai menerima konsep yang benar berdasarkan aturan. Selanjutnya dikemukakan lagi oleh Brady (1991: 35-7) bahwa anak usia 8 dan 9 tahun: (a) pemfungsian tahap berpikir operasional konkret menurut Piaget. dan (k) sudah mulai membentuk persahabatan yang khusus dengan temannya. Perkembangan anak pada usia 10 sampai 12 tahun: (a) pemfungsian tahap operasional konkret menurut Piaget. (e) minat pada kelompok sudah lebih meningkat bahkan mencari kekariban dalam sebuah kelompok. (g) mulai menunjukkan minat pada aktivitas yang khusus. (c) dapat menerima masalah yang benar berdasarkan ke-fairan. (i) mempunyai ketertarikan pada hobi bahkan koleksi yang lebih bervariasi. bahwa anak sudah dapat melihat hubungan yang lebih abstrak.

Karena itu menurut Hurlock (1991: 150) melalui latihan yang berat anak dapat melepaskan tenaga yang tertahan dan membebaskan tubuh dari ketegangan. dan sosial.persetujuan dan ingin mengesankan. Pertumbuhan dan perkembangan realitasnya tidak dapat dipisahkan. Perkembangan fisik dan motorik Perkembangan fisik anak meliputi bertambah besar dan tingginya ukuran tubuh. kreativitas. Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yaitu peningkatan ukuran struktur yang mempengaruhi perkembangan intelektual dan mental anak. yaitu mereka memiliki banyak energi untuk memenuhi keinginan mereka terutama bermain yang mereka senangi. a. sehingga hampir tidak pernah terlihat kesan lelah pada fisik mereka. (i) ingin menunjukkan kemampuan serta kemauan untuk melihat sudut pandang orang lain. 45 . emosional. (k) menunjukkan adanya perbedaan di antara individu. dan (m) memahami dan menerima adanya aturan berdasarkan perbedaan jenis kelamin. (j) mencari nilai-nilai. (l) mempunyai citarasa keadilan bahkan kepedulian terhadap orang lain. Perkembangan anak meliputi perkembangan fisik intelektual. Berikut ini dibahas secara umum sisi perkembangan anak sekolah dasar secara singkat. yang secara otomatis mempengaruhi perkembangan fungsi-fungsi organ tubuh. Pada usia awal sekolah dasar anak-anak yang normal berada dalam masa yang energetic. Anak dalam usia 6 sampai 12 tahun memiliki karya seni rupa yang bersifat khas sebagai cerminan dari tingkat kemampuan dan kesenangannya. bertambahnya berat badan.

baik secara fisik maupun secara psikologis. atau kecerdasan. Keterampilan emosional meliputi aktivitas: mengidentifikasi dan memberi nama perasaan-perasaan. belajar. mengingat. klasifikasi. Anak-anak sudah belajar mengembangkan konsep berpikir sederhana. kemudian mereka mengendurkan diri. struktur (konsep atau pola pikir) dan fungsi (organisasi dan adaptasi). mengelola perasaan. dan keputusasaan. Anak usia 7-11 tahun sudah lebih mampu berpikir. pendidikan. mengetahui perbedaan antara perasaan dan tindakan. Perkembangan emosional Emosionalitas seseorang mengalami perkembangan seiring bertambahnya usia. Piaget menamakan usia ini sebagai periode operasional konkret. berlawanan dari aktivitas fisik yang selama ini diterapkan untuk memecahkan masalah atau untuk berpikir. seperti pemisahan. menunda pemuasan. konversi. identitas. dan lain-lain. Piaget merinci intelegensi dalam komponen isi (apa yang dipikirkan). kognisi. c. menilai intensitas perasaan. angka. kompensasi. mengurangi stress. karena proses kognitif mereka tidak terlalu egosentris lagi dan sudah lebih logis lagi. dimana anak-anak telah mampu menggunakan simbol-simbol untuk melakukan suatu operasi atau aktivitas mental. reversibility (bolak-balik). mengungkapkan peraaan. seringkali 46 . b. mengendalikan dorongan hati. dan berkomunikasi. Perkembangan intelektual Perkembangan intelektual dikenal dengan perkembangan intelegensi. dan pengalaman hidup. Pada diri anak-anak ketika kontrol emosionalnya masih labil dalam intensitas emosi yang tinggi.kegelisahan.

mereka merasa tertekan secara emosional akibat perlakuan dan batasan-batasan dari lingkungan mereka. Untuk itu aktivitas bermain yang menantang dan latihanlatihan yang berat dinilai dapat menjadi alat katarsis emosinya. Perkembangan kreativitas peserta didik dapat diamati pada proses dan karya kreatif peserta didik. drama. kehidupan. Di sekolah diselenggarakan bermain yang mendidik yang mencakup kegiatan olah raga. Suatu rentang kehidupan dimana akan ditentukan apakah anak-anak menjadi konfomis atau mencipta karya yang baru dan orisinal. Perkembangan kreativitas peserta didik dapat distimulasi dengan banyak cara. masa berimajinasi tinggi dan masa bermain. Menurut Abdussalam (2005: 50-51) ada beberapa pilar kreativitas dan faktor yang mempengaruhi munculnya kepribadian seorang anak. kreativitas itu muncul melalui 47 . d. Perkembangan kreativitas Anak usia sekolah dasar dinamai dengan “usia kreatif” (Hurlock. tetapi lingkungan yang tidak mendukung dapat menghambat bahkan merusak potensi kreatif peserta didik tersebut. 1999: 9). atau cemoohan orang dewasa atau orang lain mereka akan mengarahkan tenaganya ke dalam kegiatan-kegiatan kreatif. Penelitian mengenai kreativitas menunjukkan bahwa bila anak-anak tidak dihalangi oleh rintangan-rintangan lingkungannya. musik yang teratur dalam kurikulum. senirupa. dan cara pertumbuhannya yaitu: 1) Ada beberapa cara yang dilakukan anak-anak kecil untuk mengungkapkan pemikirannya yang beragam. kritik. lingkungannya. 1991: 147) atau masa “keemasan berekspresi kreatif” (Herawati. Sebagai contoh.

penekanannya adalah pada rasa ingin tahu. serta kemampuan untuk menyelesaikan sebagian permasalahan atau perlawanan ditengah-tengah beraktivitas. mencontoh. atau melalui aktivitas seni. pengembangan alternatif. Imajinasi dituntun untuk berkembang melalui rangsang bentuk-bentuk dan struktur garis yang dikembangkan menjadi suatu bentuk yang dapat dikenali dan unik. berkhayal. membentuk. 2) Menikmati pengalaman-pengalaman.beberapa perantara atau gambaran-gambaran akal. mengikuti. bersukaria. mewarnai. beberapa aspek dari kreativitas dirangsang seperti kemampuan untuk 48 . dan gerakan. Pada masa anak-anak ini. Dalam kegiatan ini. berbohong. dan membaca. bermain. dan produksi bentuk-bentuk yang baru. bercanda. Kegiatan verbal adalah pengembangan kreativitas dengan menyatakan ide melalui kata-kata. 4) Permainan anak-anak merupakan pilar pemikiran kreatif yang paling penting. Menurut Torrance (1981) mengembangkan kreativitas melalui dua kegiatan yaitu kegiatan verbal dan figural. bernyanyi. permainan. dan aktivitas yang berbeda-beda itu merupakan sesuatu yang penting dan pilar yang besar dalam membentuk kreativitas pada diri anak 3) Permulaan kreativitas itu ditandai dengan perolehan beberapa hal. menjelajahi tentang hal-hal yang unik dan belum pernah dibuat orang lain. menirukan. melukis. Sedangkan kegiatan figural adalah pengembangan visual “ visual thinking” yaitu melalui bentuk dan garis. menemukan dan menghasikan sesuatu. bertanya. baik yang berupa aktivitas melukis. musik. kita mendapati seorang anak itu dapat berbicara.

dicari sesuatu yang tidak terdapat dalam gambar. kegiatan yang bertujuan untuk membeberkan pikiran dari sesuatu yang telah mapan. Just Suppose Activity. Berbeda dengan pengembangan ide secara verbal. Ask and Guess Activity. b. misalnya sebuah mainan anak-anak. kegiatan yang dilakukan adalah apa yang bisa dibuat atau dikembangkan berdasarkan rangsangan visual dari mainan tersebut. misalnya berpikir tentang apa yang dapat digunakan terhadap sebuah kaleng susu selain untuk tempat susu. misalnya kenapa Tuhan memilih buah apel untuk menggoda Siti Hawa. e. Usulan Uses Activity.memecahkan ide sebanyak mungkin. kegiatan yang memberi kesempatan untuk mengembangkan ide-ide dari sesuatu yang telah ada. melengkapi dan memperjelas sesuatu. Product Improvement Activity. Pengembangan kreativitas melalui rangsangan verbal terdiri dari beberapa jenis yaitu: a. pengembangan ide secara figural ada tiga macam yakni: 49 . Misalnya dalam melihat sebuah gambar. kegiatan ini dimaksudkan untuk mendapatkan berbagai macam rspon dari suatu pertanyaan yang tidak biasa. d. c. Usulan Quesstion Activity. kegiatan ini bertujuan mengembangkan rasa keingintahuan tentang kemungkinan-kemungkinan serta kemampuan untuk memformulasikan hipotesa. kegiatan ini bertujuan mengembangkan fantasi yang tinggi dengan memberikan suatu gambaran atau ilustrasi yang mustahil dapat terjadi. kemampua untuk mengkombinasikan.

Dalam hal ini yang dikembangkan adalah kemampuan membuat variasi dari sebuah jenis rangsang visual. misalnya bentuk lingkaran. Picture Construction Activity. kemudian bentuk tersebut dikembangkan menjadi bentuk yang lengkap dan menceritakan sesuatu secara visual. 50 . Biasanya ada sepuluh bentuk yang tak lengkap untuk disempurnakan dalam waktu yang terbatas. kegiatan ini mirip dengan Incomplete Figure Activity.a. kegaitan ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan untuk membuat struktur dan kesatuan. menciptakan ketegangan mental untuk keluar dari permasalahan dengan melengkapi gambar melalui cara yang sederhana dan semudah mungkin. e. Misalnya diberikan rangsangan visual berbentuk buah. Untuk mendapatkan respon yang orisinal ketegangan emosi harus terkontrol. kegiatan ini dimaksudkan mengembangkan kemampuan dalam menemukan sesuatu yang belum memiliki maksud yang jelas dalam suatu rangsang visual. b. Perkembangan sosial Perkembangan sosial adalah perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengaqn tuntutan sosial atau menjadi orang yang mampu bermasyarakat. garis sejajar dalam jumlah tertentu dan juga dalam gerakan terbatas. Repeated Figure Activity. Hal ini dapat dilakukan dengan menambah elaborasi sehingga diketemukan cara pemecahan masalahnya. hanya saja kegiatan ini dikembangkan dari satu jenis unsur sebagai rangsang pengembang ide. Incomplete Figure Activity. c.

untuk memilih teman bermain. memainkan peran sosial yang dapat diterima. anak menetapkan kriteria baru. tetapi untuk menjadi pribadi yang sosial mereka harus belajar dalam waktu yang tidak singkat. bunyi dan gerak. Berdasarkan karakteristik tingkat perkembangan tersebut di atas dan sesuai dengan tujuan pendidikan sekolah dasar. Pada anak usia sekolah dasar. anak semakin senang berada bersama-sama dengan kelompok-kelompok kecil anak-anak umur sebaya.Walaupun pada dasarnya setiap manusia adalah makhluk sosial. pikir. pengolahan imajinasi dan kreasi. di samping kriteria alam. Bentuk pengolahan kesadaran perseptual. karsa dan karya dilakukan dalam permainan melalui medium rupa. Mereka harus melalui paling tidak tiga proses sosialisasi seperti yang diungkapkan Hurlock (1991: 250) antara lain: belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial. dan perkembangan sikap sosial. Keberhasilan sosial tidak ditentukan semata-mata karena keunggulan intelektual. 51 . rasa dan cipta. Penekanan pengolahan seni di SD terletak pada kegiatan bermain. maka pendidikan seni di SD lebih menekankan pada pengembangan kemampuan dasar anak dalam mengolah kemampuan mental dan kesiapan belajar. Penekanan kegiatan seni lebih pada ekspresi diri. banyak orang yang berhasil dalam perkembangan intelektual tetapi tidak berhasil lam perkembangan sosialnya. mulai tertarik pada permainan kelompok. Mereka tidak begitu bergairah lagi bepergian bersama orang tuanya.

yaitu elemen seni lukis dan kaidah-kaidah komposisi. bentuknya tidak nyata. Lebih jelas lagi seni lukis merupakan suatu pengucapan pengalaman artistik seseorang yang dicurahkan ke dalam bidang dua dimensi dengan menggunakan garis. Objek dan gaya lukisan sangatlah beragam. atau bahan lainnya. Lukisan bergaya abstrak berasal dari khayalan kreatif senimannya. 52 . Elemen-elemen seni lukis 1) Garis Pada dasarnya garis merupakan elemen utama dalam seni lukis. dan tekstur. Seni lukis adalah salah satu lingkup seni murni berwujud dua dimensi. karena garis yang pertama menentukan bentuk suatu karya lukis secara keseluruhannya. cat akrilik. binatang. bidang. Karya seni lukis bergaya naturalis (potret) dibuat persis seperti objek aslinya. Pembelajaran Seni Lukis di Sekolah Dasar 1.C. bahkan kurang dimengerti oleh orang awam. Karya lukis bergaya ekspresionis (penuh perasaan) memiliki objek benda atau figur yang dibuat dengan garis dan warna yang bernuansa emosi pelukisnya. Dalam pembuatan sebuah karya seni lukis. tersamar. ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. warna. a. Pengertian dan Jenis Seni Lukis Seni lukis merupakan bagian dari bidang seni rupa murni yang berwujud dua dimensi. sehingga seni lukis merupakan karya yang terlepas dari unsur-unsur kegunaan praktis. umumnya dibuat di atas kain kanvas berpigura dengan bahan cat minyak. seperti pemandangan alam. tetapi mengandung berbagai alternatif rupa yang baru. figur manusia. Karya seni lukis yang juga sering disebut dengan lukisan. atau benda lainnya.

yaitu: (a) garis nyata.Garis merupakan hasil suatu goresan yang diakibatkan oleh sebuah titik bergerak lurus sehingga membentuk jejak. sedang warnanya berfungsi sebagai penunjang dan menambahkan kualitas tersendiri. warna. irama. garis merupakan sebuah goresan. warna. Yang satu memberi kesan yang kaku. Kesan yang diciptakan juga tergantung dari ukuran. Garis adalah batas limit suatu benda. massa. tebal-tipisnya. dan susunan objek. kumpulan dari beberapa titik dan sebuah bentuk yang mengandung arti yang melebihi daripada titik. ruang. tekstur. Selanjutnya Ruta (2005: 22) mengatakan bahwa garis dapat menyatakan bentuk. Wujud garis dapat dibedakan menjadi dua macam. dan kontur. dan yang lain memberikan kesan luwes dan lemah lembut. dan susunan dari objek-objek. yaitu garis yang terjadi karena kesan yang dapat ditangkap oleh mata yang sesungguhnya merupakan batas limit suatu benda. karena bentuknya yang menimbulkan perasaan tertentu kepada si pengamat. ruang. 53 . gelap terang. Garis yang kencang memberikan perasaan yang berbeda dari garis yang berbelok atau melengkung. massa. Apabila dilihat dari bentuk garis. suasana. garis ini dihasilkan dan terjadi karena suatu goresan. sehingga meninggalkan bekas yang nyata. Djelantik (1999: 19) mengemukakan bahwa garis sebagai bentuk mengandung arti lebih daripada titik karena dengan bentuknya sendiri garis menimbulkan kesan tertentu pada pengamat. Sesuai dengan pendapat di atas. keras. (b) garis semu. dan dari letaknya terhadap garis-garis yang lain. gerak.

dibatasi oleh garis lengkung bebas yang mengesankan keceriaan dan pertumbuhan Gambar 2. namun bidang belum tentu berwujud garis. bahwa garis dapat berupa bidang. dibatasi oleh beberapa garis lurus yang secara matematis tidak bertalian. Jenis bidang dapat dibagi menjadi empat bagian yaitu: (a) Bidang geometris. baik garis nyata maupun garis semu. Bidang Geometris (b) Bidang organik. namun bidang belum tentu titik.2) Bidang Bidang merupakan suatu area yang dibatasi oleh garis. 54 . dibuat secara terukur Gambar 1. Dengan demikian. Demikian juga dengan garis. titik dapat berupa bidang. Bidang Organik (c) Bidang bersudut.

Bidang Tak Beraturan 3) Ruang Ruang dapat diartikan sebagai keluasan yang dibatasi oleh limit baik keluasan positif maupun keluasan negatif. Bidang Bersudut (d) Bidang tak beraturan. Gambar 4. dibatasi oleh garis lurus dan lengkung yang secara matematis tidak bertalian. Gambar 5. Keluasan positif yaitu ruang yang sering menggambarkan objek sedangkan keluasan negatif yaitu keluasan dalam bentuk dua dimensi ruang negatif ini sering menjadi background. Komposisi Ruang Negartif dan Positif 55 .Gambar 3.

Beberapa teknik dalam pencapaian ruang dalam karya dua dimensi yaitu: (a) Penumpangan. Ruang dengan Teknik Pergantian Warna (c) Pergantian bentuk dan ukuran. Gambar 8. yaitu semakin jauh suatu bentuk akan terlihat semakin kecil. sedangkan warna dingin berkesan menjauh. Ruang dengan Teknik Pergantian Bentuk dan Ukuran (d) Pergantian tekstur. 56 . Gambar 7. Gambar 6. satu bentuk menumpang pada bentuk lain. tekstur yang kasar akan tampak lebih dekat dibandingkan dengan tekstur halus. Ruang dengan Teknik Penumpangan (b) Pergantian warna. Bentuk yang nampak berada di depan atau di atas bentuk lain. semakin jauh suatu benda warnanya semakin memudar atau warna panas akan berkesan mendekat.

Gambar 10. yaitu penambahan dapat dilakukan dibelakang atau di depan. Ruang dengan Teknik Pergantian Tekstur (e) Pelengkungan atau pelekukan. Ruang dengan Teknik Gelap Terang 57 . Gambar 12. Ruang dengan Teknik Bayangan (g) Manipulasi dengan teknik gelap terang atau dengan perbedaan/perubahan tekstur. Gambar 11. Ruang dengan Teknik Pelengkungan (f) Penambahan bayangan pada bentuk.Gambar 9. hal in terjadi dengan menukarkan kedudukan bentuk untuk membangkitkan ruang maya.

5) Warna Warna yang sering kita lihat atau gunakan dalam kehidupan sehari-hari dapat dibedakan menjadi tiga dimensi. Sedangkan tekstur semu adalah nilai raba suatu permukaan benda hanya dapat dinilai secara visual. Jenis tekstur ada dua macam. yaitu: tekstur nyata dan tekstur semu. (b) Value. halus. seperti merah. Nilai raba suatu permukaan benda tersebut dapat berbeda-beda. dan licin. hijau. Terangnya seluruh warna adalah putih dan gelapnya seluruh warna adalah hitam. sebaliknya merubah value menjadi gelap dengan cara menambah warna hitam secara bertingkat disebut shade. Oleh karena itu putih dan hitam tidak termasuk dalam lingkaran warna. kasap. Merubah value menjadi terang dapat dengan cara menambah warna putih secara bertingkat disebut tint. biru. yaitu istilah yang digunakan untuk menunjukkan terang gelapnya warna. dan lain-lain. Hue yang murni adalah 58 . oranye. (c) Intensity. yaitu: (a) Hue. Tekstur nyata yang dimaksud disini adalah nilai raba suatu permukaan benda secara fisik dapat dirasakan oleh indera raba. kuning. misalnya tekstur batu. lunak. yaitu istilah yang sering digunakan untuk menunjukkan nama dari suatu warna. keras. ada yang kasar. tetapi tidak dapat dinilai atau dirasakan oleh alat indera raba. berkaitan tentang cerah dan suramnya warna.4) Tekstur Tekstur merupakan nilai raba suatu permukaan benda. yaitu kualitas dari suatu warna yang menunjukkan suatu hue.

Untuk lebih jelasnya lingkaran warna dapat dilihat pada gambar berikut: 59 . kuning dengan oranye. dan ungu merah. seperti hijau dengan kuning. hitam. dan violet. biru. ada beberapa hubungan antar warna.cemerlang dan kuat. Mengurangi intensutas suatu warna dapat dicapai dengan mencampur atau menambah hue yang murni dengan warna-warna netral seperti putih. oranye-merah. Selain dimensi warna yang telah dijelaskan di atas. kuning-oranye. Sedangkan warna dingin terdiri atas: kuning-hijau. dan sebagainya. yaitu campuran warna-warna dari ketiga variabel dimensi warna yang berasal dari satu warna yang berlainan nilai dan intensitasnya. hijau. (b) Monocromatik. merah. hiaju-biru. yaitu susunan warna yang kontras atau bertentangan. Semua warna memiliki temperatur. oranye. yaitu hubungan warna yang saling bersebelahan pada lingkaran warna. Klasifikasi temperatur warna tersebut dapat dilihat pada lingkaran warna: warna panas terdiri dari warna kuning. Hue dalam intensitasnya yang lebih rendah adalah lebih lembut. biru-violet. yaitu sebagai berikut: (a) Analogus. dan abu-abu atau mencampur dengan warna komplemennya atau dapat juga dengan warna-warna yang ada disebelahnya. sehingga menimbulkan sensasi visual panas dan dingin. oranye dengan merah. (c) Komplementer.

antar bidang. bidang dengan tekstur. artinya nilai dari sebuah karya seimbang. Kaidah-kaidah Komposisi Ada beberapa kaidah komposisi yang perlu diperhatikan pembuatan sebuah karya lukis. kesatuan antar garis dengan warna. garis dengan tekstur. Lingkaran Warna b. walaupun mungkin wujud dan jumlahnya tidak sama atau bahkan 60 . warna dengan tekstur. garis dengan bidang. 2. dan antar semua elemen.Gambar 13. antar garis. Kesatuan dapat dirinci menjadi kesatuan antar warna. Kesatuan (Unity) Nilai kesatuan dapat dicapai dengan mengkomposisikan elemen-elemen yang memiliki karakter yang sama. yaitu sebagai berikut: 1. kesatuan antar tekstur. Keseimbangan (Balance) Keseimbangan dalam karya seni rupa adalah keserasian bobot dari unsurunsur seni rupa itu sendiri.

yaitu irama monotone dan irama dinamis. Keseimbangan asimetris merupakan keseimbangan yang dicapai dengan menyerasikan bobot antar unsur yang bersebelahan. Perubahan tersebut dapat juga terjadi karena adanya pengulangan. Menurut sifatnya. misalnya: proporsi manusia adalah 61 . atau cepat-lambat. Irama yang monotone terjadi karena adanya pengulangan wujud dan jumlah yang sama. Proporsi Proporsi merupakan hubungan-hubungan ukuran dari bagian-bagian dalam keseluruhan suatu bentuk atau objek. seperti keras-lunak. Keseimbangan dalam karya seni rupa dapat dibedakan menjadi dua bagian. Keseimbangan simetris merupakan keseimbangan antara dua sisi sama kuatnya. dinamis. Dengan kata lain. irama dapat dibedakan menjadi dua. Sedangkan irama yang dinamis dapat terjadi karena adanya pengulangan bentuk yang sangat variatif. Irama (Rhythm) Irama merupakan perubahan-perubahan warna dan bentuk secara teratur yang membawa perasaan hanyut di dalam perubahan-perubahan yang terjadi. bagian yang satu merupakan cerminan bagian yang lainnya. Keseimbangan asimetris ini memberi kesan yang labil. 3. sehingga mempunyai kesan yang tidak membosankan. namun wujud dan jumlahnya tidak sama.bertentangan. sehingga dalam irama ini terjadi penekanan-penekanan. artinya antara sisi kanan dan sisi kiri dari sebuah karya seni rupa memiliki wujud dan jumlah yang sama kuatnya. 4. yaitu: keseimbangan simetris dan keseimbangan asimetris.

cahaya atau gelap terang. Dominasi dapat diciptakan melalui unsur utama yang didukung oleh dengan menampilkan unsur-unsur penunjang lainnya sehingga menghasilkan sesuatu yang kontras. Adapun tujuan keserasian adalah untuk menciptakan keselarasan dan keharmonisan dari unsur-unsur yang berbeda. atau panjang batang tubuh (torso). merah-kuning. Keserasian Keserasian merupakan prinsip yang digunakan untuk menyatukan unsurunsur rupa walaupun berasal dari berbagai bentuk yang berbeda. lebar bahu. Pusat Perhatian (Center of Interest) Dalam komposisi seni diperlukan adanya pusat perhatian yang dapat memberikan aksentuasi yang disebut dengan dominasi dalam sebuah karya seni rupa. Persoalan proporsi sangat berhubungan dengan ukuran atau dimensi anatar bagian yang satu dengan bagian yang lain dalam suatu karya seni. dan oranye. 62 . 5. Keserasian karib pada warna ditandai dengan mendampingkan warna merah. oranye-kuning. Proporsi digunakan untuk menciptakan keteraturan yang dapat membentuk standar keindahan dan kesempurnaan. 6.antara ukuran kepala dengan tinggi badan. Sedangkan keserasian kontras yaitu pertentangan (komplementer) yang bersifat ganda. Hubungan proporsi ini misalnya mengenai warna. misalnya dalam warna terdapat keserasian yang bersifat karib (analog) dan keserasian kontras. kontras dan silang dalam lingkaran warna. bentuk dan jumlah elemenelemen seni rupa lainnya.

namun dalam kenyataan apabila sudah menjadi suatu bentuk karya seni lukis: elemen garis. konsep. luar biasa atau langka. Kusnadi (1991: 18) menyebutkan: bahwa pengolahan elemen-elemen tersebut mencerminkan ekspresi kejiwaan yang kuat. musik. dan kreasi/rekreasi) yang mendukung pelaksanaan pembelajaran seni budaya (seni rupa. dalam membentuk imaji kreatif dari karya seni. apresiasi. jelas dan dinamis. warna dan tekstur bukan lagi sebagai elemen-elemen pisik tetapi mencerminkan ekspresi kejiwaan yang kuat bagi pembuat karya lukis tersebut.Demikian elemen-elemen seni lukis dan kaidah-kaidah komposisi yang ada dalam karya seni lukis. struktur. yang menyebutkan bahwa pendidik mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan harus mempunyai kompetensi: menguasai materi. Kadang-kadang lembut sampai immaterial. sehingga diharapkan hasil penilaian yang dilakukan 63 . atau merupakan bahan-bahan kelahiran ekspresi kontrastik yang serba menyala. Kesan unik. Hal ini sesuai dengan PP 19 tahun 2005 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Berkenaan dengan pengolahan elemen-elemen dan kaidah komposisi sehingga merupakan tanda-tanda karya seni lukis yang bermutu. dan pola pikir keilmuan (mencakup materi yang bersifat konsepsi. merupakan tanda-tanda positif karya bermutu. tari. teater) dan keterampilan (PP 19 tahun 2005). Dengan demikian untuk menentukan hasil karya seni lukis yang baik dari peserta didiknya tentunya seorang pendidik dituntut memiliki kompetensi sebagai pendidik mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan pada Sekolah Dasar. Konstruk yang tidak merusak harmoni dengan kemampuan membawakan kehidupan.

pendidik memenuhi esensi yang dipersyaratkan pada penilaian karya seni anak. Goresannya spontan dan bebas: miring kesana kemari. Penggunaan warna sesuai dengan suasana hatinya. visual/spasial. naturalist. anak tidak ada rasa takut. sesuai dengan “kacamata” anak. Dalam proses melukis. Seni Lukis sebagai Cerminan Isi Jiwa Mencermati lukisan anak dan cara mereka menggambarkan lingkungannya. dan estetik (Lowenfeld. Kegiatan seni di samping penting bagi perkembangan kognitif juga memberikan rangsangan bagi pertumbuhan persepsi. sangat berani: merah kuning. Dengan lukisan anak dapat dibaca jiwa dan kehidupan anak-anak yang bersifat polos. Seni Lukis bagi Anak Usia Sekolah Dasar a. 1982). Demikian juga pada multiple intelegences gardner yang membagi karakteristik kecerdasan menjadi sembilan jalur yaitu: verbal/linguistic. Dengan kegiatan ini perlu diketahui apa yang dapat dikembangkan pada diri anak secara maksimal. 2. emosional. seprti fisik. Peran pendidikan seni yang multi dimensional pada dasarnya dapat mengembangkan kemampuan dasar manusia. hitam dan seterusnya. yang dapat diterapkan pada 64 . biru. social. perceptual. Apa yang dituangkan dalam tema lukisannya adalah apa yang dilihatnya sesuai dengan lingkungan hidup yang nyata dan khayalnya. dapat memberikan suatu pandangan tingkah laku dan apresiasi pertumbuhan dan perkembangan bervariasi yang dialami anak. interpersonal. emosional. kreativitas. kecerdasan spiritual. karena lukisan anak itu sendiri mencerminkan segi kejiwaan anak. intelektual. dam krativitas anak. logical/mathematical. social.

Dapat dilihat dari beberapa banyak pengetahuan tentang objek yang digambarkan dan hubungannya dengan lingkungannya. akan terlihat keterlibatan segi kejiwaan anak sehingga mencerminkan kondisi kejiwaan anak. akan senang menggambar apa yang telah dibuatnya sehingga terjadi pengulangan-pengulangan yang kurang melibatkan emosi. Hal ini dapat dilihat bagaimana anak menggambarkan sesuatu yang menurutnya penting dan melibatkan emosinya. Emosi. Semua ini merupakan indikator dari perkembangan intelektualnya. Perkembangan intelektual seiring dengan perkembangan usianya. Sejauh mana ia menyadari lingkungannya. Intelektual.lukisan anak-anak. penanaman dan pertumbuhan indrawi merupakan bagian yang sangat penting dalam kegiatan seni. 2001). Dalam kegiatan melukis. Dalam membimbing anak. Apabila ia dekat dengan ibunya atau dengan temannya. perlu diciptakan kondisi yang melatih anak mampu menyesuaikan dirinya. cirinya adalah anak dapat memvisualisasikan imajinasi ke dalam kenyataan yang dituangkan dalam bentuk tulisan (Jamaris. Seiring dengan kecerdasan visual/spasial yang merupakan salah satu karakteristik jalur kecerdasan. sering ia tuangkan ke dalam gambarnya. Persepsi. dimungkinkan terlambat pula perkembangan intelektualnya. Anak yang sulit menyesuaikan diri. dengan melukis anak mendapat kesempatan untuk menumbuhkan emosinya. Setiap perubahan situasi membutuhkan fleksibilitas berpikir. bersikap. Kehidupan dan kemampuan untuk terus 65 . perkembangan intelektual dapat dilihat pada gambar anak. dan berimajinasi. Anak yang terlambat berkembang konsepsinya sesuai kemampuan usianya.

Kreatif. Perkembangan persepsi dapat didentifikasi melalui gambar yang dibuat anak. bentuk. rasa estetik anak tumbuh secara alami. Observasi secara visual adalah kegiatan utama dalam seni rupa. sebagai dasar kegiatan seni dapat diartikan sebagai cara mengorganisasikan pikiran dan perasaan yang dijadikan suatu ekpresi dan komunikasi dengan orang lain. Tujuannya untuk mengasah kepekaan rasa terhadap warna. Oleh sebab itu penting memberikan kesempatan pada anak untuk mengasah kepekaan persepsinya. pertumbuhan kreativitas segera terlihat begitu anak mulai dapat membuat goresan. atau situasi sosial lainnya. menikmati. kakaknya. Hal itu dapat dilihat dari sensitivitas anak dalam mengorganisasikan unsur-unsur rupa menjadi suatu susunan yang terpadu secara spontan dan intuitif. Mungkin orang tuanya. Dalam gambar atau 66 . ruang. Estetik. Anak yang jarang mendapat pengalaman persepsi akan memperlihatkan kemampuan yang rendah dalam melakukan observasi dan kesadaran akan suatu perbedaan kualitas visual benda. dan memberikan reaksi terhadap unsur visual tersebut. Kepekaan tersebut dapat tercermin dari bagaimana anak menggunakan. Hal ini menandakan usia dini telah memiliki kesadaran sosial. pertumbuhan sosial anak dapat diketahui melalui gambar yang dibuatnya. Biasanya anak menggambarkan wujud yang paling dikenalnya yaitu bentuk orang. Anak memiliki pengalaman dengan dirinya dan orang lain. Organisasi garis. temannya. Dalam kegiatan seni. dan tekstur disebut seni rupa termasuk di dalamnya seni lukis. dan ruang.belajar tergantung dari kualitas indrawi manusia. tekstur. Sosial. warna. bentuk. adiknya. dan menyusun sesuatu secara personal.

Mereka mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam ujud karya seni rupa atau lukisan tanpa terbatas pada apa yang terlihat dengan mata kepala saja. Dengan penalaran anak wajar 67 . Dengan demikian anak menggambar mulai yang paling sederhana yaitu dengan garis-garis dan berkembang menjadi bentuk-bentuk yang representasional dan detail sesuai dengan perkembangan usia sesuai dengan pengetahuannya sendiri bukan menurut penampakan visual. serta menentukan tema.lukisan anak. tetapi memiliki suatu kebebasan dalam ekplorasi dan ekperimen bahan. b. He recognized in these simple forms that the child draws a description of the subject according to his knowledge of that subject and not according to its visual appearance. Dalam berkarya. Perkembangan menggambar anak menurut Ricci (1960: 302-307): The child starts drawing with an “interlacing network of lines” and then moves on to simple representational foms which become more detailed with age. Mereka akan cenderung tergantung dan meniru pekerjaan orang lain. anak tidak harus terampil. anak akan mengalami kemandegan kebebasan kreatifnya. jika dipaksa untuk membuat sesuatu yang tidak berhubungan dengan dirinya. lebih banyak yang akan mereka ceritakan maka lebih banyak pula bentuk yang akan dimunculkannya. melainkan lebih pada apa yang mereka mengerti. pertumbuhan kreatif dapat diidentifikasi melalui bagaimana karya itu dibuat secara imajinatif dan mandiri. Untuk menjadi kreatif. Ciri Seni Lukis Anak Anak berbuat dan berkarya atas dasar daya nalar anak. Banyak sedikitnya unsur pada lukisan sangat tergantung pada keasyikan pemikiran dan fantasinya. pikirkan atau khayalkan.

Ia menemukan empat tahap perkembangan simbolik pada anak-anak. ketika anak sangat aktif mempelajari bendabenda di sekelilingnya. melainkan didasarkan pada ingatan atau imajinasi. Hasil gambarnya baru merupakan coreng-moreng yang menunjukkan akibat gerakan otot. intuitif. Mata. Perkembangan Gambar Anak Perhatian terhadap perkembangan gambar anak-anak merupakan hal yang baru. tetapi ia menetapkannya antara umur empat sampai sembilan tahun. tetapi menurut Cooke.dan spontan maka hasilnya tampak sungguh naif. Cooke menyatakan bahwa pada tahap ketiga gambar anak telah menunjukkan adanya hubungan yang alami antarbagian tersebut. Gambar anak bukan merupakan tiruan objek-objek di alam. Pada tahun 1885-1886 Ebenezer Cooke melakukan penelitian tentang perkembangan gambar anak-anak yang pertama kalinya. kaki. bulu. Cooke tidak memberikan gambaran yang menyeluruh tentang tahap keempat pada gambar anak-anak. Pada masa itu anak telah mampu meniru benda-benda di alam dan menghasilkan gambar yang mencerminkan analisis terhadap benda-benda yang dilihatnya. Perkembangan pertama berkisar antara umur dua sampai lima tahun. dan ekor digambarkan tanpa pemahaman tentang jumlah dan hubungan antara bagian-bagian objek itu. 68 . Ungkapan pribadinya muncul melalui bentuk-bentuk dengan makna simbolik tertentu. Gambar anak di sini meniru objek (representasional). dan lebih dekat pada sifat bermain. anak belum memperhatikan ketepatan penggambarannya. c. Pada periode selanjutnya gambar anak menunjukkan bukti adanya unsur imajinasi dan kesadaran yang lebih tinggi terhadap gerakan linier.

ia selayaknya mendapat penghargaan sebagai orang yang pertama kali menulis tentang gambar anak-anak. tetapi tidak terdapat kesesuaian mengenai jumlah tahap perkembangan dan penyebab-penyebabnya. Götze (1898). Brown (1897). Barnes (1893). Kellogg (1955). Rouma (1913). Perez (1888). Wuiff (1927). Eng (1931). Menurut Lansing (1976: 138139). ditemukan tambahan informasi dari hasil observasi dan penelitian oleh Ricci (1887). dan Eisner (1967). Sully (1896). Baldwin (1894). Griffiths (1935). Maitland (1895). Stern (1910). Levenstein (1905). hasil-hasil penelitian terhadap gambar anak-anak menunjukkan adanya kesesuaian umum mengenai urutan dan wujud simbol visual perkembangan gambar anak. Namun. 1) Gambar Anak pada Tahap Figuratif (3-12 Tahun) Pada dasarnya gambar anak mengalami tahap-tahap perkembangan tertentu sesuai dengan perkembangan umurnya. Krötzsch (1917). Lukens (1896). Pada tahun-tahun berikutnya. Kebanyakan perhatian itu berasal dari tumbuhnya minat terhadap psikologi dan penelitian yang sistematik terhadap anak. Sebagai contoh. Sir Cyril Burt menyimpulkan adanya tujuh tahap perkembangan. Clark (1902). Shinn (1897). Burt (1921). Lowenfeld (1947).Ebenezer Cooke adalah guru Bahasa Inggris dan observasinya tidak begitu akurat. salah satu di antaranya tahap 69 . Daftar ini bukan merupakan daftar lengkap para ahli yang telah memberikan sumbangan pengetahuan tentang urutan tahap-tahap dalam simbolisasi visual. Herrick (1893). O’Shea (1894). namun daftar ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap karya gambar anak-anak telah muncul sejak tahun 1885. Kerschenstein (1905). Luquet (1913). Lark-Horovitz (1959).

(2) tahap figurative (umur empat sampai dua belas tahun). Pada tahap figuratif anak membuat simbol-simbol visual sebagai cara untuk memahami benda-benda dan kejadian-kejadian dalam kehidupan nyata dan menggunakannya untuk memberikan informasi kepada orang lain. dan (3) tahap keputusan artistic (umur dua belas tahuh ke atas). Lansing (1976: 147-178) membagi tahap figuratif menjadi tiga subtahap: (1) subtahap figuratif awal (umur tiga sampai empat tahun). dan akhirnya mengaturnya sehingga mengesankan “sesuatu hal”. sebagai cara untuk mengubah atau mempengaruhi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan budaya. Ketidaksesuaian mengenai jumlah tahapan tersebut pada dasarnya terjadi karena perkembangan gambar anak bersifat gradual. hanya terdapat enam tahap perkembangan. kemudian mengontrol gerakangerakan otot itu. dan kontinyu. perkembangan gambar anak pada dasarnya dapat disederhanakan menjadi tiga tahap pokok: (1) tahap coreng-moreng (umur dua sampai empat tahun). Selanjutnya. tetapi peneliti yang lain hanya menganggapnya sebagai fase transisi. karena tahap represi sulit diprediksi.represi. Peneliti tertentu menganggap suatu susunan pada gambar anak sebagai karakteristik tahap perkembangan tertentu. sesuai pendapat para ahli (Lansing. 1976: 138-139). sedangkan menurut Viktor Lowenfeld. yang lebih penting. (2) subtahap figuratif 70 . halus. Pada tahap coreng-moreng anak membuat simbolsimbol visual karena rangsangan gerakan otot. Pada tahap keputusan artistik anak membuat simbol-simbol visual sebagai cara untuk memahami konsep-konsep nyata maupun abstrak dan.

Dalam tahap perkembangan simbolik ini gambar anak menunjukkan hubungan dengan kenyataan visual. tetapi ia mampu atau tidak mengetahui cara menggambarkannya. dan (3) subtahap figuratif akhir (umur tujuh sampai dua belas tahun) yang dapat diuraikan sebagai berikut. kelas satu sekolah dasar. gambar anak menyerupai benda-benda di lingkungan nyata. Pada umumnya anak pertama kali menggambarkan figur manusia. Secara keseluruhan unsurunsur tersebut menggambarkan manusia secara umum. Pada gambar 14 tampak usaha pertama anak untuk menggambarkan manusia. gambar anak merupakan petunjuk kematangan intelektual yang bagus sampai umur sepuluh tahun. Dengan kata lain. (a) Subtahap Figuratif Awal Subtahap figuratif awal terjadi pada anak umur tiga sampai enam tahun. taman kanak-kanak. Art. 1976. Artist. Oleh karena itu. dan kadang-kadang juga di kelas dua sekolah dasar. yaitu anak di kelompok bermain. Lingkaran menggambarkan kepala atau badan dan garis-garis lengkung menggambarkan kaki dan rambut. Anak mungkin mengetahui bagian-bagian tubuh manusia yang lain. and Art Education) 71 . Gambar 14.tengah (umur empat sampai tujuh tahun). karena figur manusia itu digambarkan berdasarkan kombinasi dari coreng-moreng. Gambar Manusia oleh Anak Umur Empat Tahun (Sumber: Lansing. Subtahap figuratif awal ini berkembang dari tahap coreng-moreng secara hampir tidak tampak.

susunan objek-objek itu tidak memberikan hubungan makna. Dengan demikian.Pada subtahap figuratif awal kemampuan motorik anak terus berkembang dan aktivitas perseptualnya meningkat. Sebagai contoh. kemudian melupakannya dan berganti memusatkan perhatiannya pada objek yang lain sampai selesai dan demikian seterusnya. dan rumah penyihir. Perubahan atau perkembangan gambar anak pada tahap ini berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan tahap-tahap perkembangan sebelum maupun sesudahnya. Bilamana perlu. Pada gambar 15 figur-figur manusia digambarkan menggantung di langit bersama-sama dengan piring. meskipun mungkin memiliki kaitan antara objek yang satu dengan yang lain. dalam menggambar suatu objek anak mulai menggunakan cara tertentu. Hal ini menjadikan objek-objek tertentu digambarkan tegak. benang. Dalam hal ini. mula-mula anak memusatkan perhatiannya pada suatu objek sampai selesai. demikian juga hasil gambarnya. 72 . tetapi pada kesempatan lain menggunakan cara yang lain. Kecepatan perubahan gambar anak ini mengalami penurunan setelah anak mencapai umur lebih dari tujuh tahun. pada masa perkembangan ini juga anak memasukkan unsur benda-benda yang lain untuk memenuhi bidang gambar. Konsep anak tentang benda-benda di lingkungannya berubah atau berkembang dan berangsur-angsur menjadi rinci. sedangkan objek-objek lainnya digambarkan terbalik. ia menggeser-geser atau mengubah-ubah posisi kertas untuk menjangkau bagian-bagian bidang gambar yang belum terisi. Selain objek manusia.

Artist. anak baru sedikit atau belum memiliki kesadaran untuk berpikir tentang keindahan. 73 . gambar kepala orang lebih besar dari pada pohon atau gambar anak lebih besar dari rumah.Gambar 15. Objek-objek digambarkan dan disusun dengan cara tertentu sesuai dengan perasaan atau intuisi anak. sedangkan anjingnya digambarkan dengan warna hijau. gambar anak pada subtahap ini tidak begitu naturalistik. Pada masa perkembangan ini. Kemiripan gambar anak dengan kenyataan baru menandakan objek-objek secara umum. misanya wanita digambarkan dengan warna ungu. and Art Education) Ciri lain gambar anak pada subtahap figuratif awal adalah penggambaran objek-objek dengan ukuran yang berlebihan. 1976. Sebagai contoh. dan tekstur sedikit atau tidak memiliki hubungan dengan kenyataan. Art. Gambar Anak Pada Awal Munculnya Tahap Figuratif dengan Objek-objek yang Menggantung di Langit (Sumber: Lansing. Pada umumnya anak begitu senang menggambar dan bertahan pada masa perkembangan ini hingga waktu yang lama. Penggunaan unsur garis. Dengan kata lain. warna. Kaki dan tangan manusia hanya digambarkan dengan garis lurus.

Hal ini berarti bahwa objek yang berada di bagian atas mengarah ke langit. dan empat sekolah dasar.(b) Subtahap Figuratif Tengah Gambar anak pada subtahap ini terutama dapat dijumpai di taman kanak- kanak dan di kelas satu. Dengan demikian. sedangkan objek yang berada di bagian bawah bidang gambar mengarah ke tanah. Perubahan yang paling penting dari subtahap sebelumnya dapat dilihat pada susunan simbol-simbol dalam gambar anak. Namun demikian. Dalam masa perkembangan ini simbol visual anak bertambah rumit dan terus cenderung mengarah pada ketelitian. perlu diketahui guru bahwa gambar seperti ini mungkin muncul di berbagai jenjang sekolah dari playgroup sampai sekolah menengah pertama. 74 . Penempatan satu objek berkaitan dengan objek lain sekarang tampak jelas disengaja dan bermakna. Susunan ini dapat dilihat pada gambar 16. Benda-benda yang terletak di tanah dalam kenyataan sekarang dibuat berdiri pada garis yang menggambarkan tanah. Garis ini disebut garis dasar (base line) dan merupakan ciri pokok tahap figuratif tengah. tiga. Garis dasar ini dapat berupa garis yang dibuat oleh anak atau garis tepi kertas. Gambar seperti ini merupakan satu-satunya tahap simbolisasi yang dapat dijumpai pada berbagai jenjang umur. jelas bahwa gambar anak sekarang telah memiliki orientasi bawah dan atas.

1976.Gambar 16. Gambar Anak Pada Subtahap Figuratif Tengah (Sumber: Lansing. Art. Simbol anak kecil itu tampak berdiri kokoh di atas tanah (garis dasar) yang tidak lagi menggantung di udara. and Art Education) Pada gambar 16. Artist. Tampak di sini simbol figur yang 75 . and Art Education) Gambar anak pada subtahap figuratif tengah dapat dilihat dengan jelas pada gambar 17. Artist. dan beberapa kotak berada di tengah bidang gambar. 1976. Karena gambar tanah dan kotak itu tampak menggantung. Hasil Gambar Anak Umur Lima Tahun. garis dasar terletak agak ke tengah bidang gambar dan anak serta bunga-bunga berdiri di atasnya. maka lebih tepat dikatakan bahwa gambar ini menunjukkan peralihan dari subtahap ini dan subtahap sebelumnya. Di atas anak terdapat corengan yang menggambarkan langit. Art. Yang Menunjukkan Masa Peralihan dari Subtahap Figuratif Awal ke Subtahap Figuratif Tengah (Sumber: Lansing. Gambar 17.

Asap muncul di atas mesin dan matahari (objek yang banyak terdapat di dalam gambar anak) bersinar dengan terang.lebih kompleks dibandingkan dengan simbol figur pada gambar-gambar sebelumnya. Art. Gambar 18. Objek yang tidak sering ditemukan anak disimbolkan secara sederhana. Harimau dalam Kandang (Sumber: Lansing. and Art Education) Gambar 19 menunjukkan gambar kereta dengan gerbong awak kereta (caboose) dan mesin di sebelah kiri serta orang di sebelah kanan. Pada masa perkembangan ini binatang semacam itu digambarkan anak dengan kepala seperti wajah manusia. 76 . Artist. Anak tidak memiliki imajinasi yang kompleks tentang kepala binatang itu. Kecenderungan kompleksitas ini dapat dilihat pada simbol-simbol yang paling sering ditemukan anak di lingkungannya. pada Gambar 18 kepala harimau digambarkan mirip wajah manusia. karena anak tidak mungkin melihatnya dari dekat. 1976. Sebagai contoh.

Gambar Anak Umur Lima Tahun Menunjukkan Objek-objek Yang Ada di dalam Maupun di luar Rumah (Sumber: Lansing. Artist.Gambar 19. Gambar Kereta oleh Anak Umur Lima Tahun (Sumber: Lansing. 1976. Di sini anak masih menggunakan garis dasar. Artist. karena anak telah menciptakan ilusi kedalaman dengan bentukbentuk yang tumpang tindih. dalam periode perkembangan ini masih begitu naturalistik. and Art Education) Gambar 20. Gambar 20 menunjukkan gambar anak yang hampir mencapai tahap selanjutnya (subtahap figuratif akhir). and Art Education) Meskipun gambar (simbol grafis) anak semakin kompleks atau rinci (detail). Art. Art. Perbandingan ini merupakan contoh perkembangan yang terjadi dalam suatu 77 . 1976.

78 . tetapi pada akhir subtahap figuratif tengah gambar anak belum begitu mirip dengan kenyataan. seperti ditunjukkan pada Gambar 22 dan 23. sedangkan gambar 22 dibuat oleh anak umur sepuluh tahun. kecuali tahap coreng-moreng.subtahap. Artist. and Art Education) Ciri yang lain gambar anak pada tahap perkembangan ini adalah gambar sinar-x (x-ray drawing). Gambar ini merupakan penggabungan penampakan dari dalam dan sekaligus dari luar suatu objek. sedangkan gambar anak pada gambar 21 merupakan karya anak umur sepuluh tahun. Gambar 20 merupakan karya anak umur lima tahun. Art. Gambar 23 dibuat oleh anak umur lima tahun. Cara penggambaran ini biasanya ditemukan pada subtahap figuratif tengah. gambar figur yang dibuat anak semakin realistik. Gambar 21. Gambar itu masih datar dan kaku. Gambar 22 menunjukkan bus penuh dengan para penumpangnya. tetapi dapat ditemukan juga pada semua tahap perkembangan. Gambar Anak Umur Sepuluh Tahun (Sumber: Lansing. sedangkan gambar 23 ibu dan dua anak di dalam badannya. 1976. Jelas bahwa dengan kematangan perkembangan anak.

jalan dan kendaraan-kendaraan lainnya digambarkan secara tampak atas. seperti tampak pada gambar 22. untuk menggambarkan ruang. digunakan dua garis dasar. Gambar Bus Penuh Dengan Penumpang (Sumber: Lansing. Ciri gambar semacam ini juga tampak pada Gambar 24. sedangkan rumah terletak pada garis dasar yang lain. Dalam gambar ini tampak gambar sebuah mobil terletak pada satu garis dasar. Sementara itu. Gambar rebahan 79 . and Art Education) Gambar 23.Gambar 22. Art. Lowenfeld menyebut cara menggambar ini gambar rebahan (folding over) yang juga merupakan ciri pokok subtahap figuratif tengah. Artist. 1976. Art. 1976. pada subtahap perkembangan ini juga ditemukan adanya kombinasi gambar tampak atas (plan) dan tampak sisi (elevation) dalam satu gambar. Jadi. and Art Education) Selain penggambaran secara sinar-x. Artist. Gambar X-ray oleh Anak Umur Lima Tahun yang Menunjukkan Ibu Dengan Dua Anak di Dalamnya (Sumber: Lansing.

misalnya digunakan anak untuk menggambarkan sisi jalan. enam. Gambar subtahap ini tidak terdapat lagi pada anak di atas kelas tujuh. and Art Education) (c) Subtahap Figuratif Akhir Gambar pada subtahap figuratif akhir mungkin dimulai pada anak kelas tiga. Artist. Objek tidak lagi terletak pada garis dasar tetapi terletak di atas bidang yang tampak membentang ke belakang. pada umumnya gambar anak berhenti pada subtahap figuratif akhir. Setelah umur sebelas atau dua belas tahun anak biasanya tidak aktif menggambar lagi dan jika anak terus aktif menggambar. dan lapangan sepak bola. Namun. Art. Perbedaan yang paling penting antara subtahap figuratif tengah dan subtahap figuratif akhir adalah munculnya penggunaan perspektif sebagai pengganti garis dasar. tetapi kebanyakan ditemukan pada anak kelas lima. mengesankan ruang. dan tujuh. Anak juga membuat objek di tempat yang dekat dengan ukuran yang lebih besar dari pada objek di tempat yang jauh. meja. 1976. Gambar 24. Selain itu. Gambar Anak yang Menunjukkan Penggabungan Antara Tampak Depan dan Tampak Atas (Sumber: Lansing. 80 . sehingga lebih dekat dengan kenyataan. karyanya akan terus berkembang.

Penggunaan perspektif linier ini ditunjukaan pada gambar 25 dan gambar 26. Seperti tampak pada jalan yang menuju ke tempat yang jauh.anak tidak lagi menggambarkan objek-objek secara tembus pandang (gambar sinar-x). kedua garis tepinya seolah-olah terus saling mendekat. 1976. Artist. Kadang-kadang anak pada subtahap ini telah menggunakan perspektif linier. and Art Education) Gambar 26. Pada gambar 26 tampak juga bahwa anak menggunakan perspektif linier untuk menggambarkan tempat duduk. Art. Art. 1976. Gambar Bus Yang Penuh Sesak oleh Penumpang Yang Digambarkan Dengan Perspektif Linier (Sumber: Lansing. Artist. and Art Education) 81 . Gambar yang Menunjukkan Penggunakan Perspektif Linier oleh Anak Kelas Lima (Sumber: Lansing. Pada gambar 25 anak menggambarkan setiap kendaraan dengan menggunakan perspektif linier. Gambar 25. Perspektif linier adalah cara menggambarkan garis-garis sejajar secara khusus untuk mengesankan kedalaman.

mata. telapak tangan. gambar anak pada subtahap figuratif akhir menunjukkan tingkat realisme yang lebih tinggi pada setiap objek. dada. kaki. Gambar 28 menunjukkan gambar pemain tenis laki-laki dan perempuan yang dapat dibedakan dengan ciri-ciri yang jelas pada pakaiannya. Namun. hidung. dan guru. lengan. Pada Gambar 27 dua anak perempuan digambarkan sebagai pemain drumband. leher. bintang film. Anak pada subtahap ini juga mengidentikasikan dirinya dengan peran dalam bidang pekerjaan sesuai dengan jenis kelaminnya. bibir. dan bibir yang mencolok. kuping. badan. Bagi anak-anak tertentu penggambaran secara realistik ini akan 82 . dan jari-jari. dan otot-otot yang menonjol.Selain perspektif linier. kontur tubuh. Bahkan kebanyakan bagian-bagian itu digambarkan dengan rinci. anak telah menggambar seluruh unsur tubuh: kepala. dan pilot. Untuk figur manusia. rambut. pada tahap perkembangan ini anak menggambarkan orang perempuan dengan rambut panjang yang berombak. sedangkan orang laki-laki dengan rambut pendek. Anak laki-laki misalnya mengidentifikasikan dirinya sebagai pemain sepak bola. Pada umumnya anak belum merasa puas jika belum dapat menggambarkan dirinya sesuai dengan peran-peran itu secara cukup realistik. tentara. Anak perempuan misalnya mengidentifikasikan dirinya dengan perawat. siku-siku. pundak yang lebar. Pada subtahap figuratif akhir ini dalam menggambar orang anak telah membedakan ciri-ciri orang menurut jenis kelaminnya dengan lebih jelas. ibu. Rambut yang panjang. polisi. dan lutut menunjukkan anak ciri-ciri perempuan. Pada tahap sebelumnya mungkin anak sudah menggambarkan orang perempuan dengan rok dan orang laki-laki dengan celana panjang.

Gambar Yang Menunjukkan Perbedaan Anak Laki-laki dan Perempuan Dengan Ciri-Ciri Pakaian yang Rinci (Sumber: Lansing. Artist. dan sebagian lagi akan berhenti membuat simbol-simbol visual. 1976. sebagian anak lainnya akan berganti dengan penggunaan simbol-simbol abstrak. Gambar Anak Perempuan Yang Mengidentifikasi Dirinya dengan Pemain Drumband (Sumber: Lansing. 1976. and Art Education) 83 . Artist. Art. Art. Gambar 27.terus berkembang. and Art Education) Gambar 28.

wujud gambarnya berupa goresan tebal tipis dengan arah yang belum terkendali. Corengan Tak Beraturan (Sumber: Hardiman. yaitu: (a) Corengan tak beraturan: bentuk sembarangan. Art Activities for Children) (b) Corengan terkendali: anak mulai menemukan kendali visual terhadap coretan yang dibuatnya denagn kata lain sudah ada koordinasi antara perkembangan visual dan perkembangn motorik.Sedangkan menurut Lowenfeld & Britain dalam buku Creative Mental Growth (1982) membuat periodisasi lukisan anak sebagai berikut: 1) Periode Coreng Moreng (Scribbling Period) Periode ini berlaku bagi anak berusia 2 sampai 4 tahun (masa pra sekolah). Goresan dibuat dengan 84 . Di bawah ini adalah contoh gambar anak pada tahap corengan tidak beraturan: Gambar 29. anak bersemangat dalam membuat coretan. Periode ini terbagi dalam 3 tahap. Pada tahap ini unsur warna belum penting. belum dapat coretan berupa lingkaran. mencoreng tanpa melihat kertas. adalah ciri tahapan mencoreng paling awal. 1981: 2. Pada masa ini merupakan pengalaman dari aktivitas motorik anak.

vertical. lengkung . 1981: 2. Cirinya: bentuk semakin bervariasi. Gambar 31. bahkan lingkaran. Art Activities for Children) Gambar di bawah ini merupakan salah satu karya anak periode coreng moreng pada usia 3 tahun. Corengan Bernama (Sumber: Hardiman. Warna mulai menyita perhatian anak. menggunakan waktu yang semakin banyak. Terdapat pengulangan pencoretan garis. 85 . baik horixontal.penuh semangat. anak mulai memberi nama pada hasil coretannya. Gambar 30. Art Activities for Children) (c) Corengan bernama: merupakan tahap terakhir masa mencoreng. 1981: 2. Corengan Terkendali (Sumber: Hardiman.

Child Art Therapy) 2) Periode Pra Bagan (Pre Schematic Periode) Berlaku bagi anak berusia 4 sampai 7 tahun (taman kanak-kanak). 1978: 39. dkk. gambar bersifat bagan makin dapat dikenali. ataupun disiplin. mulai menggambar manusia walau masih sangat sederhana. pohon. Coreng Moreng Anak Usia 3 Tahun (Sumber: Rubin. dan sebagainya. alat peraga. maupun emosi mereka. bereksperimen. pendidik. 86 .Gambar 32. teman sekolah. rumah. 1973: 83). dan berbagai hal baru kaitannya dengan perkembangan jiwa. Berbagai pengalaman berarti mereka temukan dengan adanya interaksi dengan dunia baru. Pada periode ini anak mendapat kesempatan mencipta. Dengan demikian anak mulai menggambar bentukbentuk yang ada hubunganya dengan dunia sekitar dan membangun ikatan emosional dengan apa yang digambar. rasa. gambar manusia. Gambar di bawah ini merupakan contoh periode pra bagan karya anak usia 7 tahun (Horovitz. pelajaran. menjelajah. Pada usia 5 tahun. Usia 6 tahun.

87 . Anak mulai menggambar obyek dalam suatu hubungan yang logis dengan obyek lain. Pra Bagan Anak Usia 4-7 Tahun (Sumber: Lowenfeld. Muncul gejala yang disebut “sinar X” (Xray). Konsep ruang mulai nampak dengan adanya pengaturan atau hubungan antara obyek dengan ruang. dkk. Creative and Mental Growth) 3) Periode Bagan (Schematic Period) Berlaku pada anak usia 7 sampai 9 tahun. yaitu: gambar yang menyertakan pula benda atau obyek di dalam ruang yang sebenarnya tidak kelihatan. Pra Bagan Anak Usia 7 Tahun (Sumber: Horovitz. 1973: 83.Gambar 33. Understanding Children’s Art for Better Teaching) Gambar 34. 1982: 430.

gambar jadi kelihatan kaku. lalaki dan wanita secara jelas. Bagan Anak Usia 10 Tahun (Sumber: Horovitz. tetapi belum dapat menampilkan perubahan efek warna dan baying-bayang. anak mulai mengekspresikan karakter sex. Kesadaran visual anak mulai berkembang. mulai memeperhatikan detail. tetapi spontanitas menjadi hilang. Understanding Children’s Art for Better Teaching) 88 . 1982: 431. 1973: 182 (Part 3). Karakteristik warna mulai mendapat perhatian anak. dkk.Gambar 35. Creative and Mental Growth) 4) Periode Awal Realisme (Early Realism) Berlaku bagi anak berusia 9 sampai 12 tahun. Gambar 36. Bagan Anak Usia 7-9 Tahun (Sumber: Lowenfeld.

anak menjadi kritis terhadap karyanya sendiri. introspektif. Gambar 37. dkk. idealistic dan mulai memikirkan hubungan dirinya dengan masyarakat.5) Periode Naturalistik Semu (Pseudo Naturalistic) Berlaku pada anak usia 12 sampai 14 tahun (masa pra puber) Merupakan akhir dari aktivitas spontan. Anak tidak lagi menggambar apa yang diketahuinya tetapi apa yang dilihatnya. 89 . Seni rupa menjadi produk dari suatu usaha yang serius. Bagan Anak Usia 13 Tahun (Sumber: Horovitz. Understanding Children’s Art for Better Teaching) 6) Periode pengambilan keputusan Berlaku pada anak remaja usia 14 sampai 17 tahun Anak bersikap kritis terhadap diri sendiri. 1973: 182 (Part 3).

Understanding Children’s Art for Better Teaching) d. dkk. Tipologi Seni Lukis Anak Tipologi dalam seni lukis anak diartikan sebagai pembahasan tentang tipe atau gaya atau corak yang dapat diamati pada hasil karya lukis anak. tipologi oleh Victor Lowenfeld (1952). Bagan Anak Usia 14 Tahun (Sumber: Horovitz. Beberapa penelitian tentang adanya bermacam tipe lukisan anak-anak ditinjau dari segi-segi tertentu dapat disebutkan antara lain: klasifikasi empirik atas perbedaan pure-style lukisan anak-anak oleh Herbert Read (1945). Menurut Victor Lowenfeld ada dua tipe lukisan anak-anak. Tipe karya lukis anak dapat diidentifikasi berkat adanya berbagai studi yang dilakukan oleh para ilmuwan khususnya dalam bidang pendidikan dan psikologi. 1973: 182 (Part 3). yaitu: “the visual type” dan “the haptic type”.Gambar 38. Pengertian tipe visual adalah bahwa titik tolak penghayatan anak lebih banyak berdasar pengamatan atau konsepsi visual atas 90 . serta tinjauan secara psikoanalisis yang dikemukakan oleh Edmund Burke Feldman (1970).

menggunakan warna sebagai terjemahan objek secara material. bergerak dari pada objek yang terpisah dan diam. memperlihatkan plastisitas gerak objek dan proporsi visual. sebagai hubungan kesatuannya yang organis. tidak perspektivis. Ke dua belas kategori tersebut sebagai berikut: 1) Organic: pelukisannya berdasarkan pengamatan visual dan menunjukkan hubungan yang akrab dengan objek-objek eksternal. diam seperti halnya objek alam 91 . 2) Lyrical: pernyataan bentuk objeknya sama atau serupa dengan yang organic. menunjukkan gerak dan proposi figur ekspresif. Dalam hal ini faktor internal lebih nampak berperan. Pada tipe haptic atau non visual titik tolak penghayatan anak lebih banyak berdasar “ideal concept”nya. ciri-ciri lukisannya lebih menonjol sebagai ungkapan perasaan subjektif yang mengarah kepada corak non realistik. sedang penggunaan warna tidak sebagai terjemahan bahan objek melainkan lebih nyata sebagai simbol yang sesuai dengan perasaan subjektifnya. Secara lebih terperinci Herbert Read mendasarkan klasifikasi empiriknya atas perbedaan “pure style” lukisan anak-anak menjadi dua belas kategori lukisan sebagai hasil penelitian dari beribu-ribu gambar anak-anak dari berbagai tipe sekolah. tetapi lebih menyukai objek-objek yang statis. Lebih menyukai objek yang mengelompok.bentuk alam sekitar atau objek lukisannya. dan ternyata ciri-ciri lukisannya mengarah pada realisme naturalistik. tidak mengupayakan ilusi keruangan secara optis. kemudian diklasifikasikan. Dalam hal ini faktor eksternal relatif lebih berperan.

7) Haptic: menunjukkan pelukisan yang tidak berdasar pada konsep pengamatan visual terhadap objek. 8) Expressionist: terdapat kecenderungan yang menonjol untuk mendistorsi bentuk dan warna objek untuk mengungkapkan sensasi internal/subjektif anak secara spontan.benda (still-life) dengan pengerjaan yang halus. 9) Enumerative: anak dengan penglihatannya secara cermat mengontrol objeknya. 3) Impresionist: lebih banyak sekedar melukiskan hasil penangkapan kesan sesaat terhadap situasi atau suasana objek secara cepat. tetapi merupakan representasi dunia internal anak sendiri. Bentuk-bentuk bagan seperti pada periode awal anak melukis tetap digunakan. kurang menunjukkan perhatian terhadap bagian-bagian kecil (detail) yang terdapat pada objek. merekam setiap detailnya sebanyak mungkin yang dapat dilihat dan diingat dan menggambarkannya dalam struktur yang kurang organis. lebih menonjol sebagai disain yang simbolik daripada penggambaran bagan secara realistik. 5) Structural form: Kecenderungan anak untuk mendeformasi objek menjadi bentu-bentuk geometrik yang merupakan esensi bentuk-bentuk eksternal. 6) Schematic: menggunakan bentuk-bentuk geometrik tetapi melepaskan diri dari ikatan struktur objek alam. Aktivitas citra nonvisual dari 92 . lembut. 4) Rythmical pattern: berdasarkan hasil pengamatan terhadap bentuk-bentuk objek tersebut dibuat pola-pola bentuk objek tertentu yang diulang-ulang secara ritmis dengan berbagai variasi sehingga memenuhi bidang lukisan. Lebih menunjukkan karakteristik sebagai lukisan anak perempuan.

bentuk. baik dalam penampilan organisasi tema. 10) Decorative: anak memanfaatkan sifat-sifat dua dimensional. haptic. dipadukan dengan rekonstruksi ingatan dan kenangannya terhadap sesuatu yang berhubngan dengan tema tersebut. tidak menampilkan ilusi keruangan/kedalaman guna menciptakan pola-pola manarik. lirycal dan impressionist yang sama-sama menggunakan wujud atau bentuk alam sesuai dengan pegamatan visualnya. Oleh karena itu Herbert Read mereduksi ke-12 kategori lukisan anak-anak 93 . schematic. meskipun dalam kadar dan kecenderungan yang berbeda-beda. meriah. yaitu: organic. Sesungguhnya klasifikasi tersebut diakui sendiri oleh Herbert Read kurang bersifat definitif dalam arti sebenarnya masih sangat mungkin terjadi reduksi atau perluasan kategori-kategori dalam kenyataan yang lebih luas maupun lebih khusus. pewarnaan yang bersifat datar. yang diungkap kembali lewat narasi bentuk dan warna. 12) Literary: Anak menggunakan tema-tema dari cerita atau dongeng yang didapat sendiri dari bacaan atau dongeng dari guru. structural form. Sedangkan rythmical patern. 11) Romantic: Anak mengambil tema-tema kehidupan tetapi diintensifkan dengan fantasinya sendiri. Berdasarkan klasifikasi di atas dapat dikatakan bahwa cara pelukisan anakanak yang sepenuhnya berdasarkan basis realistik-naturalistik adalah tiga kategori yang pertama. expressionist dan decorative dapat dimasukkan ke dalam golongan non realistik.mata lebih banyak sebagai alat perekam tanpa benyak melibatkan sensasi untuk menciptakan keutuhan suasana.

character). (6) enumerative. cenderung lebih banyak mengandalkan aktivitas intelektual yang berdasar kepada gejala faktual obyektif. (2) empathetic. associative. Di sini si pelukis memproyeksikan dan meleburkan dirinya ke dalam obyek lukisannya. 4 tipe fungsi mental Jung (thinking. yang obyektif/naturalistik tetapi vital dan organik.di atas menjadi 8 kategori yaitu: (1) organic. 94 . Pada tipe fungsi mental: thinking. sensation. (8) imaginative. 4 tipe apresiasi estetik Bullough (objective. Dalam katagori enumeratif tidak terdapat proyeksi semacam itu. Pada kategori organic indra mata lebih berfungsi sebagai saluran kamunikasi (penghubung) antar jiwa si pelukis dengan obyek yang diamati untuk ditulis. (4) structural form. Pada katagori organic anak tidak hanya merperhitungkan obyek yang dilukis seadanya tetapi juga memperhitungkan hubungan organisnya. (5) haptic. (3) rhythmical pattern. introvert) dari fungsi-fungsi mental tersebut. Di sini tidak terdapat unsur diri (pribadi) si pelukis. physiological/intrasubjective. feeling. Hasilnya masih berupa lukisan. (7) decorative. Kedua. dengan demikian bersifat introversif. Indera mata sekedar berfungsi sebagai alat perekam fakta fisik (obyek yang dilukis). Tipe fungsi mental yang demikian relevan dengan kecenderungan imitatif dalam penggambaran bentuk-bentuk obyek eksternal pada beberapa katagori lukisan anak-anak. Reduksi di atas tetap mempertimbangkan relevansinya yaitu: Pertama. intuition) beserta kecenderungan kerakterologis (extrovert. dengan demikian bersifat ekstroversif.

di mana titik tolak ubahan bentuk obyek lukisannya diambil dari pola-pola bentuk yang abstrak geometrik. tidak harus sama dengan sifat-sifat fisik bentuk dan warna obyek secara "kasat mata". namun dari imajinasi anak sendiri seperti pada kategori imaginative. Anak yang bertipe fungsi mental: intuition nampak dalam kecenderungan mengembangkan aksen-aksen ritme spontan dalam lukisannya dengan motif-motif bentuk yang relevan. 95 . dalam lukisannya diolah menurut perasaannya. Misalnya bunga yang diberi warna cerah untuk mengekspresikan keriaan. maka menunjukkan ciri intuisi yang bersifat extrovert. I. Intuisi adalah fungsi mental yang banyak tampil pada ekspresi musikal. melankolik dan lain-lain) dalam bentuk-bentuk motif yang merupakan simbolisasi perasaan anak. Ekspresi haptic adalah aspek introvert dari tipe fungsi mental: sensation.ukisan anak-anak dengan ekspresi extroverted feeling terdapat pada kategori decorative. Perasaan dapat diekspresikan secara lebih subjektif. dan "empathy" adalah aspek ekstrovert dari tipe fungsi mental yang sama. Kecenderungan introvert dapat dilihat pada katagori structural form.Tipe fungsi mental: feeling. Apabila menanggapi bentuk dan warna obyek. Bentuk-bentuk alami (natural) diubah (guna mengekspresikan perasaan riang. namun lebih banyak menurut suasana hati anak. Dalam hal anak menciptakan motif-motif yang didasarkan pada bentuk-bentuk eksternal/alam dan mengkonstruirnya dalam pola-pola yang ritmis. anak lebih banyak menggunakan perasaannya dalam menanggapi sesuatu hal. tidak bertolak dari sifat-extroversif seperti pada kategori decorative.

dan nilai rekreasi. yang pada prinsipnya disenangi anak karena ada muatan nilai bermain. Dengan demikian tujuan metode pembelajaran adalah merencanakan dan melaksanakan cara-cara yang efektif untuk mencapai tujuan. Kedua tipe ini menurut Lowenfeld dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam menilai karya lukis anak. berekspresi. Tipe-Tipe Psikologis Anak & kategori lukisan anak Thinking Feeling Sensation Intuition : extrovert introvert : extrovert introvert : extrovert introvert : extrovert introvert = enumerative = organic = decorative = imaginative = empathetic = expressionist (haptic) = rhytmical pattern = structural form Anak dalam menuang ekspresi artistik senantiasa berbeda. Sesuai dengan karakteristik mata pelajaran seni rupa seni lukis khususnya. 3. Metode Pembelajaran Seni Lukis Anak Sekolah Dasar Dalam suatu pembelajaran tentunya ditetapkan terlebih dahulu tujuan pembelajaran. ada dua tipe yang membedakannya yaitu tipe visual dan non visual.Dengan demikian hubungan antara 8 kategori lukisan anak-anak di atas dengan tipe-tipe psikologis dapat digambarkan sebagai berikut: Tabel 2. Namun masing-masing secara khusus memiliki ciri tersendiri bila dilihat dari karya lukis yang dihasilkan. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan tentunya digunakan strategi atau teknik yang disebut dengan metode. Maka dibutuhkan kejelian pendidik dalam memilih 96 .

perlu diketahui bahwa pada dasarnya setiap anak mempunyai potensi berkarya seni rupa yang berbeda-beda. Berikut ini langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran seni lukis anak di sekolah dasar agar dapat berkarya sesuai dengan minat. sentuhan suasana yang aktual. 1) Pemberian Motivasi Pemberian motivasi merupakan upaya yang dilakukan untuk membangkitkan semangat dan minat anak terhadap tugas-tugas yang akan diberikan untuk dikerjakan. memberi bekal life skill kepada peserta didik.metode yang tepat agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. keadaan lingkungan atau suasana. dan arah tujuan dari pembelajaran. dan gairah anak untuk berkarya. kreatif. nyanyian. dan teknik sehingga mereka dapat membuat berbagai karya lukis. Dalam proses membuat karya seni lukis. Model-model motivasi sangat banyak tergantung pada tingkat usia anak. alat. salah satunya adalah dengan berkarya seni lukis. yaitu metode pendidikan yang dapat mendukung pengembangan creative thingking peserta didik. ataupun sebuah rekaman yang dapat mereka ungkapkan kembali. anak akan dapat mengenal berbagai bahan. 97 . a. Langkah-langkah Pembelajaran Seni Lukis Salah satu jalan untuk membentuk pribadi anak yang sensitif. perhatian. dan menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan (Enjoyfull learning). Motivasi yang dapat diberikan untuk anak usia sekolah dasar misalnya: berupa cerita baik cerita dongeng maupun cerita yang sesuai dengan keadaan lingkungan mereka. dan ekspresif adalah melalui kegiatan berkarya seni rupa. Untuk melaksanakan pembelajaran seni lukis pada peserta didik.

dan gembira. 98 . melainkan untuk memperjelas keterangan dan sekaligus memberikan daya tarik bagi anak. Hal ini dilakukan agar anak selalu termotivasi untuk mempersiapkan diri dalam mengerjakan tugas yang diberikan. Objek yang dapat dipertunjukkan dapat berupa contoh-contoh karya lukisan. bebas. Proses interaksi antara pendidik dan peserta didik harus selalu dikondisikan dalam suasana segar. pengenalan dan percobaan penggunaan media. dan diakhiri dengan tahap penyelesaian. 3) Pemberian Pelatihan Pelatihan diberikan agar anak mempunyai pengalaman langsung dan diberi kebebasan berekspresi menggunakan media yang telah tersedia. Pelatihan dapat diberikan setelah anak memahami apa yang diperagakan dan memahami tugas yang disampaikan oleh pendidik.2) Pemberian Peragaan Peragaan merupakan mempertunjukkan atau menampilkan sebuah objek yang dapat diamati dan diperbincangkan sesuai dengan tugas yang akan dikerjakan oleh anak. baik karya orang dewasa maupun karya anak-anak. pengorganisasian unsur-unsur visual seperti pemilihan objek dan penyusunan komposisi. Dalam hal ini anak diberi kebebasan menerima makna tugas dan mencoba menggunakan media yang ada. Dalam proses pelatihan ini terjadi alur penciptaan yang meliputi penyusunan konsep dan penuangan ide. Dalam kegiatan ini anak juga dapat langsung diajak mengamati dan menghayati karya-karya atau benda-benda yang ada disekitar mereka. Contoh karya tersebut bukan semata-mata untuk dicontoh.

apabila memungkinkan karya-karya tersebut dapat dibahas. Dapat juga anak diberi kesempatan untuk menceritakan hasil lukisannya sendiri. dan didiskusikan oleh anak. namun lebih mengarah pada bimbingan individual. Diskusi lebih mengerah pada pemberian stimulasi untuk menemukan pemecahan permasalahan yang terdapat pada anak. pendidik dapat memberikan pujian untuk hasil karya yang dikerjakan dengan baik. Melalui tahap ini.4) Pemantauan Pemantauan dilakukan untuk mengetahui sejauh mana anak-anak dapat berekspresi menggunakan media yang ada. Untuk lebih jelasnya. Pendidik pada mulanya melakukan bimbingan secara klasikal atau kelompok. Pada tahap ini pendidik sangat berperan penuh. bertindak sebagai “Tut Wuri Handayani”. Dalam pemantauan. kelima langkah pembelajaran seni lukis di atas yang dapat diterapkan di sekolah dasar dapat digambarkan sebagai berikut: 99 . Tahap ini dapat dikatakan sebagai tahap evaluasi karya. pendidik dapat berdiskusi langsung dengan setiap anak sesuai dengan tingkat permasalahan atau kesulitan yang dihadapinya. dikaji. 5) Pemaparan Karya Seni Lukis Anak Akhir dari proses pembelajaran seni lukis adalah megumpulkan karya anak kemudian memilih karya yang dapat dipamerkan atau dipertunjukkan untuk dapat diamati secara bersama-sama.

dimaksudkan melatih perkembangan kepekaan rasa estetik peserta didik. termasuk di dalamnya yang bersifat rekreatif (performance). mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan adalah nama dari kelompok mata pelajaran estetika yang dilaksanakan pada tingkat sekolah dasar. 2005) disebutkan tujuan mata pelajaran Seni Budaya dan Ketrampilan adalah untuk meningkatkan sensitifitas. sedangkan rekreasi menampilkan/menggelar karya seni. Dalam mata pelajaran tersebut. Pada kegiatan ini peserta 100 . Peserta didik berperan sebagai pengamat yang menghayati gejala keindahan yang ada dalam karya seni kemudian menanggapinya. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 (Peraturan Pemerintah. dan penjelasan teknik secukupnya. Dalam hal ini tentunya keterlibatan intelektual dan pengalaman estetik peserta didik sangat berperan. alat. Langkah-langkah Pembelajaran Seni Lukis 4. Pelatihan yaitu kebebasan berekspresi dengan media yang ada Pemaparan karya. kemampuan mengekspresikan dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni. Seni Lukis sebagai indikator gambar ekspresi dalam KTSP Dalam kurikulum KTSP. dua kegiatan yang saling terkait satu sama lain yaitu apresiasi dan kreasi. Kegiatan kreasi mempunyai makna menciptakan karya seni yang baru. evaluasi dan pemberian pujian bagi hasil karya yang baik Pemantauan dan pembimbingan Gambar 39.Motivasi Peragaan yaitu mengamati dan menghayati objek disertai dengan pengenalan bahan. Kegiatan apresiasi. disertai dengan tanya jawab.

Secara rinci khusus pelaksanaan seni lukis di sekolah dasar ada dalam penjabaran kompetensi Kreasi Seni Budaya dan Keterampilan dapat dilihat pada lampiran 2 halaman 275. dan sebagainya) (BSNP. ilustrasi. Misalnya dalam pembuatan karya seni lukis dikenal adanya aspek bentuk yang diubah menjadi struktur. Menggambar ekspresi menurut tujuannya.didik secara aktif menghasilkan suatu karya seni (lukisan. dilaksanakan pada kelas satu semester dua. juga kelas tiga semester dua. Hal ini memerlukan kerja intelektual. menjadikan semua tanggapan yang diterima oleh anak akan menimbulkan reaksi pada diri anak. Kamaril (2005: 7) mengungkapkan bahwa menggambar ekspresi adalah: usaha mengungkapkan dan mengkomunikasikan pikiran. Reaksi yang bersifat subjektif dapat dilihat dari perbuatan anak yang serba spontan. disebutkan bahwa mengekspresikan diri melalui karya gambar ekspresif dan mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif. Jacques Maritain dalam Sumardjo (2000: 51) menyebutkan adanya ekspresi intelektual yang diperlukan untuk mengubah bentuk menjadi struktur. kelas dua semester satu dan semester dua. ide 101 . Dengan sifat anak-anak yang subjektif. 2006: 4). Dalam hal ini keterlibatan intelektual peserta didik sangat dominan. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran Seni Budaya dan Kerajinan Sekolah Dasar berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 yang meliputi kegiatan apresiasi dan kreasi secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 1 halaman 270. Merupakan titik tolak dari menggambar ekspresi adalah kondisi kejiwaan anak. terlihat dalam katakata yang diucapkan dan ungkapan jiwa melalui gambar. relief. Pada kompetensi dasar di atas.

peserta didik menggambar laba-laba raksasa yang besarnya melebihi ukuran pesawat terbang. Dengan demikian gambar/lukisan yang dihasilkan peserta didik bersifat sangat pribadi. tinta. kanvas. didengar. 102 . Dalam hal ini guru seyogyanya tidak ikut campur dalam menentukan apa yang harus diungkapkan oleh peserta didik. manusia berkepala kuda . Salam (2001: 50) mengatakan bahwa kegiatan menggambar/melukis ekspresi di sekolah dipengaruhi oleh paham ekspresionisme yakni suatu paham yang meyakini bahwa dalam menggambar/melukis seseorang seyogyanya menggores secara berani dan spontan agar perasaannya dapat tersalur secara apa adanya tanpa dipengaruhi oleh kemampuan intelektualnya. Sebagai contoh. Bahan dan alat tersebut adalah kertas. Merupakan hal yang terpenting dalam melukis untuk anak sekolah dasar adalah keberanian. diraba secara langsung maupun tidak langsung.gagasan. kemauan. produk dari menggambar ekspresi disebut dengan karya seni lukis. Hal-hal yang tidak ditemukan secara nyata di dunia ini ditampilkan oleh peserta didik melalui gambar imajinasi. dan imajinasi yang diperoleh dari apa yang dilihat. gejolak perasaan/emosi serta imajinasi dalam wujud dwimatra yang bernilai artistik dengan menggunakan garis dan warna. cat air. Menggambar imajinatif adalah salah satu kegiatan menggambar/melukis yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menyatakan daya khayalnya. kuas. Selanjutnya sesuai dengan tujuan dan kompetensi dasar yang ada dalam kurikulum. piring yang bisa terbang. Bahan dan alat yang dimaksud disini adalah bahan dan alat yang digunakan untuk mencetuskan ide. dan ketrampilan peserta didik dalam menggunakan bahan dan alat. gagasan gejolak perasaan/emosi. dan sebagainya.

Sedangkan menurut Piaget. Menurut Susanto (2003: 294): pada masa ini merupakan konsep tentang bentuk dasar dari pengalaman kreatif anak. anak pada masa ini menyebutnya sebagai tahap operasi konkret yang bercirikan bahwa perkembangan system pemikirannya didasarkan pada aturan-aturan tertentu yang logis. 103 .cat akrilik. buah. Dengan demikian anak mulai menggambar obyek dalam suatu hubungan yang logis dengan obyek lain. kedudukan anak ada pada menurut periode bagan (schematic period) yaitu pada anak usia 7 sampai 9 tahun. pengamatan semakin teliti dan semakin tahu siapa dirinya dalam hubungan dengan lingkungannya. cat minyak. secara umum hasil karya lukis anak merupakan cerita yang luas dengan penampilan gambar yang lengkap dan dibuat dengan teknik yang mantap. Pada kelas satu sampai dengan kelas tiga sekolah dasar periodisasi mengggambar anak. Hasil gambar peserta didik merupakan wujud dari kreativitas dan ketrampilannya. Muncul gejala yang disebut “sinar X” (X-ray) atau tembus pandang. yaitu: gambar yang menyertakan pula benda atau obyek di dalam ruang yang sebenarnya tidak kelihatan. Mereka telah memiliki konsep cerita yang sudah banyak. Mencermati ciri-ciri perkembangan anak pada usia masa ini. pewarna alami misal daun. Dalam hal penggunaan warna disikapi sebagai bentuk yang mendekati pada warna yang sebenarnya. dan sebagainya. Anak sudah dapat berpikir lebih menyeluruh dengan melihat banyak unsur dalam waktu yang sama (decentering). Konsep ruang mulai nampak dengan adanya pengaturan atau hubungan antara obyek dengan ruang walaupun masih sederhana dengan meletakkan dalam satu garis vertical sebagai garis dasar.

tapi menambahnya. dia menggunakan garis pergerakan dari tubuh dan bibir dari gambarnya. Kualitas estetik yang tinggi dari referensi fisik-emosionalnya pada tahun-tahun awal sekarang disubordinasikan pada pengisahan yang ideologis. Dia mempunyai sebuah konsep jelas dari bentuk orang dan mulai lebih spesifik menggunakan kecenderungan untuk menunjukkan simbol misal. Tipe-tipe perseptual menjadi nyata dalam seni pada anak usia sembilan tahun ketika ia matang secara sosial. atau memvariasi elemen-elemen tertentu menurut pada subjek yang sedang digambarkan. pada tahapan simbolik anak pada usia 7-9 tahun membutuhkan koordinasi fisik yang cukup untuk memberikan pembelajaran cara pemakaian peralatan seni dan materi yang digunakan dalam membuat karya seninya. menguranginya. 104 . Sebelumnya ia telah mengumpulkan detil-detil dalam gambranya ketika ia tumbuh. Anak bekerja dengan tujuan sesuai apa yang ada dalam pikirannya bahwa apa yang dihasilkan sangat berarti bagi dia. Seiring dengan berjalannya waktu.Dimulai pada usia enam tahun anak mulai mapan di dalam dunia nyata dan menjadi bagian sosial dari interrelationship (hubungan di dalam struktur). tetapi ia sampai pada referensi rasional yang utuh dari bentuk dan ruang skematik pada usia tujuh tahun. Dia masih menggunakan bentuk geometrik untuk menggambarkan idenya. dan detil-detil tersebut mencerminkan pertumbuhan inteletualnya. Anak juga mempunyai tujuan memperoleh pengalaman dan pengetahuan memperbesar tendensi alaminya guna diwujudkan dalam ekspresi gambarnya.

kemudian secara bertahap merasakan pentingnya hubungannya dengan objek. Mempunyai konsep cerita yang banyak. Selanjutnya anak merasakan bahwa macam-macam objek dalam lingkungannya mempunyai warna berbeda-beda. Dia biasanya menggunakan sebuah garis dasar dalam gambarnya. Pada penggunaan warna. menggambar 105 . anak mengatur objek-objek dikedua tepi dari gambar dan langit dipandang sebagai pusat. anak belum menyadari bahwa ketika beberapa objek dipandang dari satu sudut. objek terlihat secara fisik. Pada waktu dia menimbun garis dasar untuk memberitahukan keseluruhan cerita atau menggambar garis dasar sekeliling tepi dari kertasnya untuk menunjukkan seluruh pemandangan. Selanjutnya menurut Kellogg ( 1967: 181-215) secara lebih jelas lagi menyatakan bahwa pada usia 7-9 tahun anak tersebut mengalami tahapan sebagai berikut: 1) 2) Periodisasi pada periode bagan ( Schematic period). Anak pada tahapan ini juga kekurangan sebuah realisasi dari hubungan ruang dan waktu dan biasanya beberapa kejadian dalam satu gambar. Pada visualisasi kedalaman ekspresi. Pada karya anak terlihat bahwa semuanya penting dan harus terlihat serentak. dimana keduanya sesuatu yang abstrak dari ruangan dan sebuah rasa dari posisi dan direksi dari sesuatu dalam ruangan. Pada tipe sinar X dari ekspresi. satu objek mungkin sebagian tidak akan terlihat. anak menggunakan secara emosional. secara sebenarnya menurut pandangan visual mereka.Pada tahap ini juga anak menunjukkan sebuah rasa dari hubungan spatial.

pembelajaran dan penilaian hasil karya seni lukis anak pada periode tersebut hendaknya mengacu pada perkembangan periode yang sedang dialami oleh anak. Ia akan masuk dalam kedua tipe tersebut. Semakin tahu siapa dirinya dalam hubungan dengan lingkungannya. dan pada kadar tertentu. Penggunaan warna mendekati warna yang sebenarnya. Dengan demikian perlakuan. Adanya garis vertikal sebagai garis dasar tempat objek. 106 . Secara umum hasil karya merupakan cerita yang luas dengan penampilan gambar yang lengkap dan teknik yang mantap. atau ia akan menjadi introvert perseptual-sosial dan haptik dan tidak tergantung pada bidang dalam seninya. Adanya gejala tembus pandang (X-ray). sementara anak gadis akan cenderung mengidealisasi dirinya sendiri dalam citra wanita yang glamor dan matang. Identifikasi semacam itu akan mengarahkan anak laki-laki untuk melebih-lebihkan proyeksi diri menjadi berupa citra-citra yang mengerikan. Konsep ruang mulai nampak adanya pengaturan walaupun masih sederhana.3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Pengamatan semakin teliti. Perkembangan selanjutnya anak akan menjadi ekstrovert perseptual-sosial apabila tergantung pada aspek visual daslam bidang seninya. akan menjadi berorientasi pada gang karena adanya kebutuhan untuk mengidentifikasi dengan lebih mendalam peran seksual-diri.

Penilaian pendidikan seni rupa ditujukan untuk menilai hasil belajar peserta didik secara menyeluruh. Penilaian dalam Pembelajaran Seni Lukis di Sekolah Dasar 1. intellectual abilities). tari. Dalam proses pembelajaran seni lukis ada pengalaman tertentu yang lebih 107 .D. 2006: 14). dan ketrampilan motorik yang tercermin pada karya seni yang dihasilkan atau dipertunjukkan (BSNP. Dalam PP No 19 tahun 2005 disebutkan bahwa: penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik (BSNP. 2006: 5). affective (feelings and attitudes). implementasi pelaksanaan terlihat dalam Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Estetika disebutkan bahwa: standar kompetensi kreasi/rekreasi berkaitan dengan kemampuan peserta didik dalam menciptakan atau mengekspresikan diri melalui karya seni rupa. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. These domains. musik. Kemampuan ini terbentuk dari kombinasi pengetahuan. Pada karya seni rupa penuangan gambar ekspresi adalah karya seni lukis. fact. and psychomotor (ability to handle specific processes involving physical coordination) skills. or classifications of learning… cognititive (knowledge. mencakup aspek kognitif. dan psikomotorik (BSNP DIKNAS. kepekaan rasa estetik. afektif. Fungsi Penilaian dalam Pendidikan Seni Pada umumnya penilaian dapat diartikan sebagai aktivitas pembandingan suatu hasil pengukuran terhadap acuan tertentu. atau teater. 2006: 7) Hal ini sesuai dengan pernyataan Gaitskell (1975: 62) sebagai berikut: Behaviorists in art education also recommend that the three major domains of learning be maintained.

ditekankan antara lain: pengalaman penghayatan dan penilaian terhadap nilai keindahan. 2001: 8). Hal ini sesuai dengan PP 19 tahun 2005. pengalaman memahami dan mengaplikasikan alat. tes praktek. tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 64 ayat 5 menyatakan: “Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran estetika dilakukan melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan ekspresi psikomotor peserta didik”. Selanjutnya pada Bab IV: Standar Proses Pasal 22 dijelaskan sebagai berikut: (1) penilaian hasil pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat 3 pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai. bahan. sedangkan penampilan peserta didik dalam aspek afektif dan psikomotor sangat sulit datanya diukur melalui tes. (2) teknik penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat berupa tes tertulis. observasi. Tingkah laku peserta didik di luar situasi tes lebih menunjukkan penampilan yang wajar dan non artificial dalam mengaplikasikan kemampuan kognitif. teknik penilaian observasi secara individual sekurang-kurangnya dilaksanakan satu kali dalam satu semester. Karya seni lukis tentunya tidak relevan diukur dengan alat tes yang hanya mengukur aspek kognitif. 108 . dan penugasan perseorangan atau kelompok.self expression secara kreatif-estetik lewat penggunaan media seni rupa. dan teknik untuk berkomunikasi secara visual (Salam. Apalagi bila dikaitkan tujuan pendidikan seni rupa adalah membina kemampuan peserta didik ber. (3) untuk mata pelajaran selain kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. afektif dan psikomotor yang banyak diantaranya tidak dapat terjaring oleh tes. Dengan demikian untuk menilai karya seni lukis peserta didik diperlukan tidak hanya dari segi hasil saja tetapi juga proses pembuatan karya tersebut.

Karakteristik Penilaian dalam Pendidikan Seni Pada uraian terdahulu telah disebutkan bahwa penilaian seni lukis anak meliputi penilaian proses dan penilaian hasil atau produk. untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik. tenaga pendidik. Untuk mengetahui keberhasilan program pembelajaran selalu dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik. d. tidak dipengaruhi subjektivitas penilai. berarti prosedur penilaian. berarti penilaian oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai. Sistematis. Terpadu. b. g. Pada dasarnya assessmen adalah kegiatan mengumpulkan informasi tentang kualitas dan kuantitas perubahan pada anak didik. berarti penilaian seni rupa tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama. h. adat istiadat. berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapain kompetensi yang ditetapkan.Berikut ini prinsip penilaian karya senirupa pada jenjang pendidikan dasar. Terbuka. berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan. f. berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku. yang mengacu pada Peraturan Menteri No 20 tahun 2007: a. status sosial ekonomi. dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan. budaya. Objektif. Beracuan kriteria. dan gender. Dengan melakukan kegiatan asesmen dapat diketahui perubahan yang terjadi pada anak didik. e. Sahih. grup. atau administrator. Dengan demikian untuk memecahkan permasalahan penilaian proses dan hasil karya peserta didik tersebut perlu digunakan pendekatan penilaian yaitu performance assessment. maupun hasil. kriteria penilaian. 109 . baik dari teknik. c. berarti penilaian seni rupa oleh pendidik seni rupa merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran. prosedur. suku. berarti penilaian seni rupa didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas. Menyeluruh dan berkesinambungan. berarti penilaian seni rupa didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur. Adil. i. Akuntabel. antara lain peserta didik. 2.

penerapan. 5. 110 . 2. The subject of the decision making is the individual. pengetahuan dan ketrampilan. not a program or product reflecting a group’s activity. Dimulai pada proses pembuatan karya seni lukis. 1986: ix). 3. melalui proses pembelajaran yang menunjukkan kemampuan peserta didik dalam proses dan produk. 4. bila dihubungan dengan karakter mata pelajaran seni rupa khususnya seni lukis performance assessment sesuai untuk menilai karya seni lukis peserta didik. Melengkapi pendapat tersebut. Ada lima unsur-unsur kunci dalam definisi yang dikemukakan oleh Berk. Zainul (2005: 4) menyatakan bahwa asesmen kinerja secara sederhana didefinisikan sebagai penilaian terhadap proses perolehan. sampai dengan hasil akhir atau produk seni lukis peserta didik. not a test or any single measurement device. The focus of this process is data gathering. The data are collected by means of systematic observation. Performance assessment is a process. Selanjutnya Berk mengatakan bahwa dalam Performance assessment selalu terkait dengan adanya rubrik penilaian yang merupakan bagian dari Performance assessment: Subsumed under the rubric Performance assessment are a host of other related terms that are often used synonymously with it. yaitu: 1. 1986: ix). usually an employee or a student. using a variety of instruments and strategies. (Berk. Berdasarkan pendapat Berk di atas.Sedangkan penilaian kinerja (performance assessment) menurut Berk sebagai berikut: performance assessment is the process of gathering data by systematic observation for making decisions about an individual (Berk. The data are integrated for the purpose of making specific decisions.

Menurut Maertel yang dikutip oleh Zainul (2005: 3) bahwa pada prinsipnya performance assessment mempunyai dua karakteristik dasar yaitu: (a) peserta didik diminta mendemonstrasikan kemampuannya dalam membuat kreasi suatu produk atau terlibat dalam aktivitas perbuatan. tetapi lebih dari itu. 111 . namun pengertian yang dapat disampaikan antara lain dari Berk (1986: ix) yang mengatakan bahwa “Performance assessment is the process of gathering data by systematic observation for making decisions about an individual”. Melengkapi pendapat tersebut. Zainul (2005: 4) menyatakan bahwa asesmen kinerja secara sederhana didefinisikan sebagai penilaian terhadap proses perolehan. (b) hasil karya atau produk lebih penting dari pada perbuatan (performance)nya. asesmen juga untuk memperbaiki proses pembelajaran. (4) dengan mengetahui kriteria yang digunakan untuk mengukur dan menilai keberhasilan proses pembelajarannya. (3) asesmen tidak hanya untuk mengetahui posisi peserta didik pada suatu saat dalam proses pembelajaran. penerapan. peserta didik akan secara terbuka dan aktif berupaya untuk mencapai tujuan pembelajaran. pengetahuan dan ketrampilan. Selanjutnya dinyatakan pula bahwa asesmen kinerja diwujudkan berdasarkan empat asumsi pokok.a. yaitu: (1) asesmen kinerja yang didasarkan pada partisipasi aktif peserta didik. melalui proses pembelajaran yang menunjukkan kemampuan peserta didik dalam proses dan produk. (2) tugasugas yang diberikan atau dikerjakan oleh peserta didik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan proses pembelajaran. Pengertian Performance Assessment Berbagai pengertian yang disampaikan para ahli evaluasi tentang Performance assessment.

artinya apakah tugas yang diberikan dapat diskor dengan akurat dan reliabel. artinya tugas yang diberikan sudah relevan dengan yang diajarkan pendidik di kelas. Popham (1995: 147) mengemukakan kriteria. 2) Authenticity. 3) Multiple foci. dan peralatan yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas tersebut. agama. artinya apakah tugas-tugas yang diberikan relevan untuk dapat dilaksanakan mengingat faktor beaya. 112 . apakah yang akan dinilai itu produk atau perbuatan (performance) tergantung pada karakteristik domain yang diukur. 5) Fairness. Dalam menentukan domain ini perlu ada judgment dari pendidik.Selanjutnya Messick (1995: 33) mengatakan bahwa dalam hal memilih. suku bangsa. tempat. 6) Feasibility. apakah perbuatan dan produk sama penting atau dominan yang mana tergantung juga pada karakteristik bidang yang dinilai. 7) Scorability. waktu . artinya apakah tugas yang diberikan peserta didik sepadan dengan apa yang sering dialami dalam kehidupan sehari-hari. artinya tugas yang diberikan sudah adil untuk peserta didik tidak bias gender. atau social ekonomi. artinya apakah tugas yang diberikan kepada peserta didik telah mengukur lebih dari satu kemampuan-kemampuan yang diinginkan. Untuk melihat apakah Performance assessment yang dilakukan telah memenuhi standar kualitas.kriteria tersebut sebagai berikut: 1) Generalizability. artinya apakah tugas-tugas yang diberikan pada anak didik telah memadai untuk digeneralisasikan pada tugas-tugas lain yang sejenis. 4) Teachability.

2004: 144-145). 1) Validitas Validitas instrumen dapat dimaknai sebagai ketepatan dalam memberikan interpretasi terhadap hasil pengukurannya. Relevans dan accuracy. sifat-sifat. Sesungguhnyalah persoalan validitas instrumen berhubungan dengan pertanyaan. Validitas konstruk menunjuk pada sejauh mana instrumen yang disusun 113 . sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. validitas isi (content validity). atau aspek apa saja yang akan diukur. apakah suatu instrumen mampu menggambarkan ciri-ciri. yaitu validitas konstruk (construct validity). adalah dua makna yang terkandung dalam konsep validitas. Suatu instrumen dikatakan valid untuk tujuan tertentu. Sedangkan accuracy menunjuk pada ketepatan instrumen mengidentifikasi aspek-aspek yang akan diukur secara tepat.b. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Pengukuran Validitas dan reliabilitas merupakan hal utama yang harus dipenuhi untuk menentukan kualitas suatu instrumen penilaian. Secara umum terdapat tiga macam validitas. Relevans menunjuk pada kemampuan instrumen untuk memerankan fungsi untuk apa instrumen dimaksudkan. Babbie. (Kerlinger. dan validitas criteria (criterion-related validity). 2000: 686. menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Dengan demikian menjadi masalah pokok yang berkaitan dengan validitas instrumen adalah apakah instrumen tersebut menghasilkan informasi yang diinginkan secara tepat sesuai tujuan yang diperlukan. tidak berlaku untuk tujuan yang lain juga untuk kondisi yang berbeda.

Langkah selanjutnya pada validitas isi adalah menjabarkan dalam aspek yang terperinci selanjutnya didiskripsikan indikator- indilkatornya. Dimulai dengan dengan menyusun daftar keseluruhan isi materi atau domain yang dimaksud. Validitas isi berhubungan dengan pertanyaan seberapa jauh butir-butir instrumen mencerminkan keseluruhan isi dari aspek yang hendak diukur. Validitas konstruk disusun berdasarkan pada konsep teori yang sudah mapan dan pertimbangan-pertimbangan yang rasional. Validitas konstruk sendiri digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menjelaskan varians pada hasil pengukuran. dan kritik dari para ahli terkait. pertimbangan. Ada dua makna dalam validitas isi yaitu. untuk 114 . Selanjutnya dimintakan pertimbangan kolega atau ahli yang berkompeten melalui forum diskusi antar ahli (focus group discussion). validitas butir dan validitas sampling. Untuk memantapkan validitas konstruk dibutuhkan expert judgment yaitu masukan. Prosedur yang ditempuh untuk memperoleh validitas konstruk yang diharapkan. Menurut Kerlinger (2000: 687) analisis faktor merupakan metode yang tidak terelakkan untuk meneliti validitas konstruk. Dengan demikian analisis faktor digunakan untuk mencari bentuk validitas konstruk. Validitas isi berhubungan dengan kemampuan instrumen untuk menggambarkan secara tepat domain prilaku yang diukur. diperlukan pendekatan logis dan empirik. Validitas sampling berhubungan dengan pertanyaan seberapa jauh butir-butir instrumen merupakan sampel yang representatif dari keseluruhan aspek yang diukur.mampu menghasilkan butir-butir pertanyaan yang dilandasi oleh konsep teoritik tertentu.

konsestensi. menggunakan korelasi intraklas (interclass correlation). Salah satu pendekatan dasar untuk mengukur reliabilitas adalah stabilitas. walaupun dalam waktu dan kondisi yang berbeda. Stabilitas diperoleh dengan mengkorelasikan skor siswa dari dua kali pelaksanaan tes. Pada validitas kriteria diteliti dengan membandingkan suatu kriterium eksternal. Berdasarkan uraian di atas. dapat ditarik suatu pengertian bahwa untuk pengembangan afektif dapat digunakan semua jenis validitas atau salah satu jenis validitas. kritik. saran. keajegan. 2) Reliabilitas Reliabilitas instrumen menunjukkan tingkat kestabilan. dimana kriterium yang ditetapkan harus sudah teruji secara empiris di lapangan dan mempunyai konsistensi yang cukup tinggi. Secara konsep instrumen yang reliabel adalah apabila digunakan terhadap subjek yang sama akan menunjukkan hasil yang sama. 115 . 1984: 44). dan atau kehandalan instrumen untuk menggambarkan gejala seperti apa adanya. dan evaluasi guna menyempurnakan instrumen yang disusun. Dua kriteria yang digunakan pada validitas kriteria adalah kriteria konkuren dan kriteria prediktif. Validitas kriteria menjawab pertanyaan sejauh mana suatu tes dapat memprediksi penampilan kemampuan pada waktu yang akan datang (validitas prediktif) dan mengestimasi kemampuan saat sekarang berdasarkan suatu pengukuran selain tes itu sendiri (Fernandes.memperoleh masukan. Pada penelitian ini digunakan validitas isi dan validitaas konstruk.

1984:35). Pada cara penilaian metode analytic apabila digunakan untuk menilai kemampuan ketrampilan yaitu dengan menggunakan checklist. 116 . dan rating scales (Depdiknas. Metode holistic adalah cara penilaian apabila para penskor (rater) memberikan penilaian secara keseluruhan dari hasil kinerja tes. Penggunaan bentuk reliabilitas tes-retes yang menjadi masalah adalah selang waktu pelaksanaan pengukuran. Sedangkan metode analytic adalah apabila para penskor memberikan penilaian dari setiap aspek yang berhubungan dengan hasil kinerja yang dinilai. Penilaian “Performance Assessment” Karya Seni Lukis Anak Pendekatan yang digunakan dalam performance assessment adalah metode holistic dan metode analytic .Penggunaan korelasi intraklas dimaksudkan untuk memberikan indeks mengukur kesamaan pasangan skor dalam hubungannya dengan variabilitas total dari seluruh skor (Fernandes. Cara lain untuk menilai reliabilitas adalah dengan menggunakan teknik intereter yaitu. 2003: 66). dua peneliti menggunakan alat ukur yang sama untuk mengukur kemampuan seseorang kemudian hasil pengukuran tersebut dikorelasikan. hal ini mengakibatkan meningkatnya koefisien reliabilitasnya. c. Sebaliknya jika selang waktu terlalu lama. Apabila selang waktu terlalu pendek subjek akan mengingat jawaban yang diberikan pada waktu pengkuran pertama. subjek akan memberikan jawaban yang lain karena hasil belajar selama waktu selang tersebut.

lepas dari perwutuhan 117 . Suatu hasil karya seni rupa keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh bentuk yang dicapai saja tetapi oleh keberhasilan penyusunan unsur-unsur pembentukannya menjadi suatu kesatuan ungkapan.Pelaksanaan kedua metode pendekatan tersebut dalam performance assessment karya seni lukis sebagai berikut: 1) Metode holistic Metode holistic dikenal juga dengan metode global yang bersumber dari ilmu jiwa global (Gestalt. 1982: 8). Metode ini menganjurkan untuk menilai karya seni dari perwujudannya secara utuh. struktur atau suatu konvigurasi terpadu yang memiliki sifat-sifat khusus tidak dapat diperoleh dari penjumlahan bagian-bagiannya secara terpisah. disebut metode ganzheit. Tidak dari unsur-unsurnya yang dipandang tersendiri. Sudarmaji (1979: 23) mengemukakan bahwa Gestalt bersumber pada ilmu jiwa global (gestalt. Dengan demikian kesan keseluruhan dari karya tersebut menjadi salah satu pertimbangan memberikan penilaian suatu karya. pola. totalitet). totalitet) yang memandang bahwa suatu karya seni secara utuh yaitu keseluruhan bentuk. Menurut Garha (1980: 115) karya seni sendiri merupakan suatu Gestalt. seluruh unsur-unsur pembentukannya harus mendukung ide atau ungkapan perasaan yang akan disampaikan penciptanya. Gestalt merupakan suatu aliran dalam psikologi dengan pokok pikiran utamanya bahwa suatu keseluruhan adalah lebih besar dari pada penjumlahan bagiannya (Dali. Gestalt mempunyai sesuatu yang melebihi jumlah unsur-unsurnya. dan Gestalt timbul terlebih dahulu dari bagian-bagiannya.

Soedarso (1987: 85) pada saat seseorang ingin mengadakan penilaian. Pendekatan ini. Dengan demikian dalam proses penilaian untuk mendekati objektivitas. proporsi. hubungan antar unsur. anatomi. pewarnaan. dan organisasi unsur. dan sebagainya. memandang bahwa karya seni lukis anak dilihat sebagai suatu komposisi bentuk yang dapat dipahami melalui peranan elemenelemen bentuk seperti garis. Kemudian wujud dipisah-pisahkan lagi atas komposisi. Untuk menilai suatu karya seni berpendapat bahwa secara objektif. warna. gelap terang. Gelap terang. kualitas karya secara keseluruhan tidak akan sama dengan kualitas unsurunsur yang membentuk karya tersebut. Hal ini mendukung yang dikemukakan oleh Duane dan Prebel (1967: 115) bahwa untuk mengukur kualitas artistik suatu karya seni dapat dilakukan dengan mengunakan prinsip seni. Masih diperlukan suatu analisa yang mendalam berdasar suatu prinsipPrinsip yang dimaksud dalam karya disini adalah penerapan prinsip seni. Hal ini berdasarkan pendapat Sudarmaji (1979: 23) yang mengatakan bahwa: pendekatan analitik menilai dengan secara terpisah bagian-bagiannya misal dilihat dari isi atau tema. 2) Metode analytic Penilaian dengan pendekatan penilaian analisis yaitu. dan volume. Sesungguhnyalah 118 . bentuk/shape. perspekif. Ganzheit tidak mencukupi. garis. kedua metode tersebut sebaiknya digunakan secara bersamaan.Dengan demikian apabila dihubungkan dengan kualitas karya seni lukis. menilai karya seni lukis anak dengan memerinci unsur-unsurnya.

Agar pengamatan pendidik lebih 119 . Aspek yang Dinilai dalam Karya Seni Lukis Sesuai dengan prinsip performance assessment yang telah diuraikan di atas.penilaian karya seni lukis anak yang didasarkan pada objek secara keseluruhan (global). Penilaian Proses Karya Seni Lukis Tujuan penilaian proses karya adalah untuk mengamati kompetensi peserta didik dalam berkreasi membuat karya seni lukis. the evaluation prosesses are natural parts of art activity. Berikut ini penilaian proses dan penilaian produk karya lukis peserta didik. a. maka penilain proses sangat diperlukan apalagi proses penilaian merupakan bagian yang alami dari aktivitas seni.In art education. Dengan demikian penilaian karya seni lukis peserta didik meliputi dua aspek yaitu aspek proses pembuatan karya dan aspek hasil karya seni lukis peserta didik. Menurut Conrad (1964: 271) the processes of evaluation help to build guides and to define and clarity the purposes and accomplishments of the educational processes.Karena proses penilaian membangun bimbingan terhadap peserta didik dan memperjelas tujuan dan pemenuhan dalam proses pembelajaran. performance assessment mempunyai dua karakteristik dasar yaitu: (a) peserta didik diminta mendemonstrasikan kemampuannya dalam membuat kreasi suatu produk atau terlibat dalam aktivitas perbuatan. (b) hasil karya atau produknya. Pelaksanaan penilaian dilakukan dengan mengamati peserta didik dalam melaksanakan tugas yang diberikan dalam proses pembelajaran dengan tidak mengganggu aktivitas belajar peserta didik. 3. namun perlu pula dilihat bagian-perbagian.

perlu dilengkapi dilengkapi dengan instrumen non tes yaitu check list atau skala rentang. bagaimana penanganan alat dan bahan yang digunakan.terarah. Selama kegiatan proses belajar mengajar berlangsung dalam pembelajaran seni lukis. yaitu terutama penampilan-penampilan peserta didik dalam aspek afektif dan psikomotorik. 120 . Sesungguhnya kemampuan-kemampuan peserta didik yang dikembangkan dalam pendidikan seni rupa lebih banyak dalam bentuk penampilan yang sulit diukur dengan tes. pendidik melakukan penilaian dengan secara langsung mengamati bagaimana peserta didik membuat karya lukis. Teknik non tes bukannya tidak mengandung kelemahan seperti halnya teknik. bagaimana cara memecahkan masalah penciptaan yang mungkin mereka jumpai. dan komprehensif untuk memperoleh data yang akurat dengan tidak kehilangan aktivitas yang dilakukan peserta didik. dan lain sebagainya. sistematis. cara maupun metode yang lain. Non tes digunakan tatkala pengertian evaluasi tidak sekedar identik dengan testing tetapi mempunyai pengertian yang lebih luas yaitu suatu proses penentuan nilai-nilai fenomena-fenomena yang secara edukasional relevan (Eisner. Dengan instrumen teknik non tes akan diperoleh data akurat dengan tidak kehilangan aktivitas yang dilakukan oleh peserta didik. bagaimana kelancaran ekspresi mareka. tetapi apabila dikembangkan secara kreatif dan diinterpretasi secara bijaksana dapat memberikan informasi evaluatif yang memiliki tingkat kesahihan (valid) tinggi. 1997: 204). bagaimana mereka membangun dan mengorganisasikan kesatuan-kesatuan estetis. bagaimana peserta didik memanfaatkan waktu.

bagaimana menyiapkan alat-alat dan bahan untuk melukis. Relatif tidak sulit untuk ditetapkan kriteria keberhasilan peserta didik yang dapat dikenakan pada hasil belajar yang dapat diukur secara objektif melalui tes. dan lain sebagainya. patung. simbol-simbol personal. dan sebagainya. 121 . seperti dikatakan oleh Eisner (1997: 211) sebagai berikut: “Many of the most highly prized outcomes of art education are not capable of being stated in advance in the form of instruction objectives”. penemuan-penemuan ide. Penilaian di bidang ini lebih tepat tidak dengan penggunaan kriteria yang ditentukan terlebih dahulu untuk standar pencocokkan tingkah laku atau hasil kerja peserta didik. misalnya apresiasi. Usaha menemukan kualitakualita berharga dari proses dan hasil kerja peserta didik dalam hal ini lebih banyak dapat ditempuh lewat non tes. seperti kemungkinan-kemungkinan ekspresif-kreatifestetis dari lukisan. penguasaan teoritis kesenirupaan dan keterampilan-keterampilan bersifat non ekspresif.Dalam pendidikan seni rupa. melainkan dengan usaha menemukan kualita-kualita berharga dalam proses dan hasil kerja peserta didik. Tidak mudah orang meramalkan secara pasti yang akan terjadi sebagai hasil aktivitas tersebut. Inspirasi-inspirasi. seni garfik. kemungkinan-kemungkinan penciptaan yang tidak terduga sebelumnya yang muncul dalam proses berekspresi dan berkreasi dengan media seni rupa merupakan hasil pendidikan seni rupa yang sulit diterapkan kriteria ekstrinsik dalam tujuan pendidikan. Tetapi kegiatan-kegiatan seni rupa yang bersifat ekspresif-kreatif-estetis sulit untuk terlebih dahulu ditetapkan kriteria keberhasilan objektif yang dapat diberlakukan secara klasikal. menyiapkan bahan dan alat untuk membuat patung.

dan alasan-alasan kondisional lainnya. rating scale. dan catatan anecdotal. Karya seni rupa peserta didik sebagai visualisasi visi dan idea peserta didik tidak selalu dengan mudah dapat dibaca. Data yang terkumpul adalah data yang tertangkap oleh kacamata pendidik. pendidik seni rupa dapat mengumpulkan data yang mungkin tidak terjaring oleh 122 . Melalui pengisian format seperti pada Tabel 3 oleh peserta didik. terutama hal-hal yang sangat bersifat personal seperti: kelancaran dan kepuasan ekspresinya. Hal-hal yang bersifat personal dalam aktivitas penciptaan tersebut merupakan data pelengkap yang sangat diperlukan dalam rangka usaha penilaian untuk melihat peserta didik secara objektif. Mengingat kepekaan kacamata pendidik yang relatif terbatas dan bahwa proses dan hasil penciptaan karya seni rupa menyangkut segi jiwani yang kompleks.Di depan telah disebutkan bahwa instrumen non tes antara lain chek-list. yaitu suatu format yang dapat digunakan peserta didik untuk menerangkan hasil kegiatannya dalam bidang seni rupa sesuai dengan pendapat dan perasaannya. tentang nilai-nilai baru yang dapat dipetik dari pengalaman mencipta. Mekanisme penggunaan instrumen-instrumen tersebut pada dasarnya adalah sepenuhnya di tangan pendidik. Disini dapat dituliskan juga tentang alasan-alasan dari pendapat dan keterangan yang diberikan tentang karyanya seperti pada contoh format Tabel 3. Untuk keperluan tersebut De Francisco-Italio (1958: 224-227) mengembangkan apa yang disebut: Pupil’s Self-Evalution Form. dapat dipastikan bahwa selalu ada data evaluatif yang sebenarnya relevan tetapi tidak sempat tertangkap oleh kacamata tersebut.

Tabel 3. untuk mendapatkan masukkan data evaluatif dari pihak peserta didik De Francisco-Italio menggunakan yang disebut The Jury System yaitu. Pendidik harus mempertimbangkan baik perkembangan personal maupun perkembangan akademik. penjurian oleh sekelompok peserta didik bergantian menilai karya-karya seni rupa di kelasnya dan dapat pula dilengkapi dengan class discussion system yaitu diskusi kelas untuk membahas karya-karya tersebut.kacamatanya. tetapi merupakan sesuatu yang dihayati dan dirasakan oleh peserta didik yang bersangkutan. Pupil’s Self Evaluation Form (Sumber: Francisco. 1958: 227) PUPIL’S SELF EVALUATION FORM Pupil ‘s Name __________________ Date ____________ Grade _________________________ Very Good I think my picture is I think my linoleum cut is I think my illustration is I think my modeling is I think my weaving is Good Fair Poor Reasons I Think So Sesungguhnya penilaian atas karyanya sendiri merupakan hal yang penting dalam bidang seni. Peserta didik perlu memahami proses pembelajaran. Selain dengan menggunakan format seperti di atas. Tentunya semua ini sesuai dengan tingkat 123 . dan pendidik memahami apa yang dianggap peserta didik menarik atau penting dalam sebuah tugas yang diberikan Dalam hal ini perlu peserta didik menjadi mengetahui tentang dirinya sendiri.

pendidik dapat memperoleh informasi tentang pengaruh suatu kegiatan seni rupa bagi para 124 . hasilnya baik atau buruk. 1997: 203) Student Self-Evaluation Form Name _________________________________ Date __________________________________ Name of Project ________________________________ Date Completed ________________________________ 1. The most important things I got out of this project were: __________ __________________________________________________________ __________________________________________________________ Dengan pengisian dan pengumpulan format di atas. mudah atau sulit. I think I learned: From this project Easy A lot ___ ___ ___ ___ ___ Difficult ___ ___ ___ ___ ___ A little 4. Untuk melengkapi objektivitas penilaian Eisner (1997: 223-204) menyarankan penggunaan format penilaian oleh peserta didik sendiri yang disebut: Student Self-evaluation form yang dapat memberikan informasi dari tiap peserta didik. This project was my: Worst piece Best piece of work ___ ___ ___ ___ ___ of work 5. Data yang terkumpul di atas tidak saja bermanfaat untuk melengkapi pertimbangan penentuan hasil penilaian. apakah suatu kegiatan seni rupa itu menarik atau membosankan.perkembangan paserta didik tersebut. tetapi juga diperlukan dalam rangka peningkatan bimbingan peserta didik selanjutnya. bermanfaat atau tidak. serta pengalaman-pengalaman berharga mana yang berhasil dipelajari dalam kegiatan tersebut dan seterusnya seperti dapat dilihat pada Tabel 4. Student Self Evaluation Form (Sumber: Eisner. I found the work on it: 3. Tabel 4. I thought this project was: Boring ___ ___ ___ ___ ___ Exciting 2.

Menurut Barrett: “ In art the pupils perception of the learning process is the starting point for teaching” and “we must ask not only what we need to know as teachers but what the pupils need to know about themselves”. kadar keterlibatan mereka dalam kegiatan. apa yang telah berhasil mereka pelajari dari kegiatan tersebut. prosedur demikian memungkinkan peserta 125 . yaitu peserta didik diminta menunjukkan satu atau dua karya mereka secara bergiliran. tingkat kepuasan mereka dan lain sebagainya. Kedua. melainkan juga apa yang perlu peserta didik ketahui tentang dirinya sendiri.peserta didik. para peserta didik mendapatkan kesempatan untuk mengungkapkan apa yang telah dilakukan atau dihasilkan dari suatu kegiatan berkarya. Beberapa keuntungan dengan cara demikian adalah: pertama. kemudian yang bersangkutan diminta menjelaskan karyanya dan selanjutnya kelompok peserta didik yang lain memberikan respons dalam bentuk bahasan kritis. Selanjutnya Eisner sebagaimana menurut De Francesco-Italio. Berdasarkan pengisian format di atas. Dengan demikian proses pembelajaran merupakan titik tolak untuk pengajaran dan sebagai pendidik harus menanyakan tidak hanya apa yang perlu diketahui oleh pendidik. Kumpulan format-format yang masuk ketangan pendidik setiap kali selesai kegiatan akan merupakan rekaman data penilaian peserta didik sendiri terhadap perkembangannya secara kontinyu dalam olah seni rupa selama satu satu tahun akademik berlangsung. dengan demikian terkembangkan sikap oto kritis peserta didik. menyarankan penggunaan teknik lain yang juga berguna untuk evaluasi dalam pendidikan seni rupa adalah apa yang disebutnya The Group Critique.

Ketiga. their abilities. dan keberhasilan-keberhasilan dalam berkarya. Dengan demikian terkembangkan sikap apresiatif peserta didik.didik secara sistematis mengetahui bagaimana perkembangan peserta didik yang lain. prosedur demikian memberikan kesempatan dan bahan bagi pendidik untuk menggunakan komentar-komentar peserta didik sebagai masukkan diagnostik dan remedial. New criteria must be formulated for each group of children because children are constantly growing and changing in their thinking. Penilaian Produk Karya Seni Lukis Pada prinsipnya tujuan penilaian produk seni lukis adalah untuk melihat kompetensi peserta didik dalam membuat karya cipta seni lukis. and their knowledges. Dalam hal ini pendidik memfokuskan perhatiannya pada hasil karya lukis yang diciptakan oleh peserta didik yang tentunya tidak terlepas dari proses penciptaannya. but the description prompts the question: how can something which is unique generate criteria for evaluating other unique objects? Sifat unik ini mempunyai sifat satu-satunya dan hanya 126 . Kriteria untuk melakukan penilaian produk karya seni lukis cukup sulit karena adanya keragaman cara pandang terhadap karya seni. The processes of evaluation help to build guides and to define and clarity the purposes and accomplishments of educational processes. Dengan demikian penetapan kriteria harus disesuaikan dengan perkembangan usia anak dan kriteria tidak bersifat kaku. Conrad (1964: 271) menjelaskan bahwa: Evaluation criteria are not rigid. Bagaimana mereka menangani problem-problem. kegagalan-kegagalan. b. Salah satunya pendapat Aspin dalam Ross (1982: 66) yang menyatakan bahwa: Work of art is correctly described as “unique particulars”. Oleh karena itu kegiatan penilaian memerlukan kriteria.

g. science) and that a high degree of consensus about criteria appropriate for judging art work is not only conceptually consistent with the notion of art. sulit menerapkan kriteria yang sama Perdebatan-perdebatan yang sering terjadi karena perbedaan pemahaman. It contends that judgements about the merits of art work can be justified with reference to publicly agreed criteria. Dengan demikian pada waktu menentukan kualitas karya diperlukan kriteria-kriteria yang merupakan konsensus dan sudah dipertimbangkan terlebih dahulu. Pepper (1973: 451) berpendapat bahwa bisa saja perbedaan yang terjadi disebabkan oleh pandangan kontekstual yang tidak sama. Sehubungan dengan kriteria pada penilaian karya seni tersebut di atas. Hal ini menunjukkan bahwa penilaian dari suatu pekerjaan seni tidak hanya konsisten secara konseptual tetapi diperlukan juga praktisnya. Namun demikian. Disini penilaian dapat dilihat sebagai suatu proses intersubjektif. karena masing-masing kepentingan tidak ada titik temu. 1983: 5) menyebutkan bahwa: What matters most in the arts as in science. meminjam dari penilaian kritik. Sumardjo (2000: 48) mengatakan bahwa meskipun seni itu kontekstual secara 127 . Heyfron (1986: 56) berpendapat bahwa: … that the arts are not fundamentally different from other subjects in the curriculum (e. Baik buruknya pekerjaan seni dibenarkan dengan adanya referensi dari kriteria-kriteria yang disetujui oleh khalayak umum. is that judgements and interpretations should be informed with considerable consensus about the criteria to be applied when determining quality. Lebih jauh lagi dalam dokumen APU (“Aesthetic Development”.berlaku untuk karya tersebut sehingga untuk menilai karya yang lain. dan setiap proses intersubjektif selalu mendatangkan konflik. but also practicably desirable.

. They are complete exploitation of media.These criteria. Coney (1999: 2). dan instrumentalisme. disodorkan dasar pemahaman yang sama dalam metode pertimbangan penilaian suatu yakni formalisme. They can. implicitly or explicitly recognized in analytical criticism and capable of formulation. Menurut Waterman (1959: 382-383) …there are a few criteria for judgment. Dengan demikian ada sejumlah kriteria untuk penilaian yang dapat diterapkan pada seni dan kriteria adalah eksplorasi total atas media dan penggunaan media yang unik. It is essential that students see assessment criteria as a tool to help them progress in their work. subordination of ornamention to form. namun ada pula nilai-nilai yang sifatnya universal karena struktur jiwa manusia itu sepanjang sejarahnya sama. Mamannoor (2002: 49) mengatakan bahwa berdasarkan banyak referensi. relation of form to matter. etc. Ditinjau dari kebermaknaan keberadaan kriteria penilaian bagi pendidik dan peserta didik salah satu pendapat sebagai berikut. ekspresivisme. Berdasarkan sifat universal dari seni itu sendiri. Untuk memberikan dasar pertimbangan penilaian. Kriteria tersebut dapat membantu untuk memahami seni sebagai perwujudan suatu pengalaman. which apply to the arts. which is just as important. Assessment will go wrong from the outset if students or teachers see it as a way of controlling work and imposing ideas. It is fundamental that teachers see assessment criteria as a means to support and sustain students' work. however.bentuk dan isi. help us to understand art as a manifestation of experience. 128 . dan seni merupakan bentuk ungkapan manusia. maka dapatlah dibuat suatu pendekatan untuk membuat kriteria dari suatu penilaian hasil karya seni dalam hal ini karya seni lukis anak. the unique use of the media…. are not “sure alls” or “cure alls” for the making of the perfect art product.

suatu pertimbangan penilaian yang cenderung melihat faktor pencipta karya sebagai orang yang melibatkan unsur-unsur pribadinya kedalam proses penciptaan karyanya. Sudarmaji (1979: 33) menyatakan ukuran seni yang menitik beratkan pada factor wujud (form) disebut formalisme: yaitu bentuk. Sehubungan dengan hal tersebut Feldman (1967: 446) menjelaskan. Ekspresivisme adalah sebutan untuk apresian yang cenderung menilai karya seni dari segi ekspresi (Sudarmaji. komposisi. dorongan untuk berkomunikasi menunjukkan kebutuhan dirinya sendiri yang lebih kuat dari pada keinginan untuk menghiasi. memodivikasi. harmoni. Selanjutnya Feldman (1967: 459) memberikan contoh sederhana pada dunia ekspresi anak-anak sebagai berikut: bagi anak-anak. bahwa pertimbangan penilaian formalisme menempatkan mutu artistik pada suatu kualitas yang terintegrasi dalam pengorganisasian secara formal dari suatu karya seni rupa.Pertimbangan penilaian formalisme. Bell (1968: 26) mengatakan bahwa. termasuk unsurunsur yang dialami oleh pembuat karya. Pertimbangan penilaian ekspresivisme. atau hasil 129 . 1979: 33). Dengan demikian penilaian formalisme lebih mengutamakan pembahasan karya tanpa harus mendalami atau menelursuri apa yang ada didalamnya. pelaksanaannya menempatkan unsurunsur estetika sebagai tinjauan utamanya bersifat representatif dari bentuk-bentuk signifikan yang dikandung dalam karya seni tersebut. Dengan demikian pertimbangan penilaian formalisme menekankan pada tinjauan terhadap unsur-unsur visual yang terorganisasikan dalam komposisi sebuah karya seni rupa. texture dan sebagainya. bentuk-bentuk signifikan suatu karya seni rupa merupakan kualitas umum sebuah karya seni rupa.

perspekif. politik. proporsi. sosial. komposisi. moral. anatomi. karena karya-karya seni rupa kontemporer biasanya dilatarbelakangi motivasi tertentu. Seni rupa buatan anak-anak sering dinikmati melalui khayalan dan dirancang dengan warna bebas yang tak bisa dirintangi. gelap terang. mengandung makna kontekstual. Pertimbangan penilaian instrumentalisme. 130 . Mamannoor (2002: 52) mengatakan bahwa gagasan-gagasan orisinal seorang seniman (pencipta karya) yang ditampilkan melalui suatu karya seni rupa sangat penting untuk dijadikan sebagai kriteria penilaian. Feldman (1967: 463) mengatakan bahwa penilaian instrumentalisme tidak hanya mengutamakan penyampaian gagasan dan pengejawantahan kehendak (seperti pada penilaian ekpresivisme). Konsekuensinya dari hal tersebut di atas. Berdasarkan ketiga pertimbangan penilaian di atas. dapatlah dirumuskan suatu pengertian bahwa untuk memberikan suatu penilaian pada karya seni dan sampai pada suatu keputusan diperlukan kriteria yang menjangkau tiga hal yaitu.akhirnya sampai mencapai arti ‘keindahan’ yang dapat dimengerti oleh orang dewasa. melainkan suatu kajian yang berkaitan dengan hal-hal yang melatarbelakanginya. Dengan demikian pengungkapan perasaan dan gagasan-gagasan menjadi pertimbangan yang utama dalam penilaian ekspresivisme. Dengan demikian penilaian secara instrumental sering digunakan dalam penilaian karyakarya seni rupa kontemporer. dan sebagainya. pertama hal yang meliputi unsur-unsur visual yang terdapat pada karya tersebut antara lain: bentuk. yaitu ketika proses penggubahan seni rupa mengacu pada unsurunsur yang melatarbelakangi pencipta seni misal budaya. religi.

Pada lukisan anak-anak dimana melukis merupakan suatu pengalaman berkarya. secara umum pada aspek original dituntut kreativitas dalam menciptakan karya seni. misal cat air mempunyai karakter lembut. dan sebagainya. Duane dan Prebel (1967: 127) mengemukakan bahwa: “…Criteria upon which many art professionals agree include degree of originality. Selanjutnya berkaitan dengan penentuan kriteria. dan kepribadian. design. tidak ada kecenderungan untuk meniru karya orang lain. Aspek tingkat original pada suatu hasil karya seni adalah terkait dengan sikap dari pembuat karya yang mengutamakan keaslian karya.pewarnaan. anak bekerja dengan kebebasan emosi dalam mengungkapkan isi hatinya. ide. menggunakan konsep. Dengan demikian. cocok untuk digunakan dengan teknik transparan. memiliki pengetahuan tentang karakter masing-masing media. atau pengalamannya sendiri. teknik. and consistency of concept. keterlibatan unsur-unsur pribadi melalui proses pengungkapan perasaan dan gagasan-gagasan dari pembuat karya. Suatu hasil karya seni akan berhasil apabila pembuat karya sensitif terhadap media yang digunakan. and execution”. sehingga karyakarya mereka benar-benar murni. Cat minyak 131 . Kedua. Aspek sensitif menggunakan material berkaitan dengan penguasaan media yang digunakan untuk mewujudkan karya seni. bentuk visual. kreativitas. Untuk menentukan tingkat originalitas suatu karya lebih dititikberatkan pada ide. makna konstektual yaitu suatu kajian yang berkaitan dengan hal-hal yang melatar belakangi proses penggubahan karya. tidak meniru karya yang sudah ada atau karya orang lain. sensitivity to the appropriate use materials. Ketiga.

yang mempunyai sifat menutup. dan sebagainya. misal bagaimana penggunaan bahan dan alat dimulai dari persiapan sampai dengan sentuhan akhir dalam pembuatan karya. dengan demikian masalah teknis pemakaian bahan dan alat serta umur anak merupakan sesuatu hal yang perlu diperhatikan dalam menilai lukisan anak. irama. Konsisten tidaknya pembuat karya terhadap suatu konsep tampak pada tema dan bentuk visual pada karyanya. keseimbangan. dan alat. Mereka akan semakin baik dalam penguasaan media. dan sebagainya. yaitu antara lain nilai kesatuan. Aspek konsistensi dengan konsep merupakan suatu karya seni yang mengandung suatu konsep dari pembuat karya yang disampaikan lewat hasil karya seninya. Aspek pelaksanaan. Aspek kriteria desain menitik beratkan pada unsur desain yaitu kaidahkaidah komposisi. sehingga akan memberikan efek pengamatan yang berbeda dari masing-masing karya. semakin bertambah pula pengalaman dan tingkat penalarannya. asyik. Dewobroto (2002: 9) berpendapat bahwa semakin bertambah umur si anak. bagaimana anak dalam mengerjakan tugas apakah merasa senang. atau bahkan merasa 132 . Bahkan ada yang mengkombinasikan teknik goresan dengan teknik tempel dari elemen lain. Dikatakan tidak konsisten dengan konsep dalam membuat karya apabila karya yang dibuat bentuknya tidak menunjang tema. dapat dilihat dari keseluruhan aktivitas peserta didik yang meliputi langkah-langkah dan prosedur dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh pendidik. bahan . Pada anak-anak dalam berkarya. anak sering menggunakan lebih dari satu macam. kontras. proporsi.

Tanggung jawab terhadap penyelesaian sebuah karya seni g. Kemungkinan akan kerjasama d. dan yang kedua: personal growth. Keaslian ide-ide c. Kerapian dan rupa secara umum dari sebuah karya seni f. Sampai dengan penerapan kaidah etis dan etika. Variasi yang pertama dan indikator yang dikemukakan sebagai berikut: Personal growth. Kontribusi terhadap proyek kelompok c. social growth. dan growth in art skills. Kerjasama dalam “cleaning up” setiap akhir periode 133 . Pemakaian dan pemilihan warna d. Ada dua variasiyang dikemukakan. Tertarik pada seni ekspresionis b. Tanggung jawab dalam perawatan bahan e. dan growth in art skills.tertekan sehingga tidak lancar dalam penuangan idenya. pertama meliputi: personal growth. Kemampuan dalam menggunakan alat dan media e. Kemampuan untuk mengikuti petunjuk umum b. misal kebersihan karya tidak terkesan kotor merupakan sesuatu yang termasuk dalam aspek pelaksanaan. Evaluasi atas usaha sendiri Social growth a. Lain lagi yang dikemukakan Conrad (1964: 274) membuat kriteria dengan variasi yang meliputi: personal growth. social growth. a. Apresiasi terhadap karya anak-anak lain h. social growth.

krayon. Menghormati karya orang lain Growth in art skills a. Penemuan e. Kontribusi terhadap kelompok b. kapur. Kerjasama dengan yang lain c. dll. c. social growth. Pengalaman teknis Pengunaan dari masing-masing variasi dan indikatornya tergantung dari hasil diskusi yang disepakati bersama. Ketrampilan mendesain kemampuan untuk mengorganisasi ide b. Kemampuan dalam menggunakan alat dan media. Tanggung jawab terhadap penyelesaian sebuah karya seni Social growth a. Berkenaan dengan penentuan kriteria yang ditetapkan untuk tujuan objektivitas penilaian. Ketrampilan menggunakan cat. d. Kerapian dan rupa secara umum dari sebuah karya seni e. Ketertarikan akan seni b.Variasi yang kedua meliputi: personal growth. Keaslian c. tinta. masing-masing indikator sebagai berikut: Personal growth a. Ketrampilan dalam bahan tiga dimensi d. Heyfron (1986: 69) menyarankan sebagai berikut: 1) the possibility of intersubjective agreement 134 . dan growth in art skills.

dalam penelitiannya dengan mengadakan survei pada semua tes yang dipublikasikan bagi anak sekolah tingkat dasar. sebagain besar testes yang diberikan pada tujuan-tujuan seni tidak dirancang sebagai tes-tes kesenian melainkan sebagai tes-tes untuk perkembangan kognitif. E. dan pelaksanaannya sangat diperlukan. kesesuaian penggunaan media atau material. sedangkan kekayaan konsep yang ada pada anak diketahui melalui inklusi dan definisi 135 . sedangkan karya seni rupa lebih dominan pada komponen emosi. Bahkan. dimana tes tersebut disesuaikan dengan sebuah tujuan kurikuler dan menunjukkan validitas isi yang paling besar.2) truth to the nature of the phenomenan under investigation 3) the identification of “reasonable” grounds for supporting judgements Mengacu pada pendapat para ahli di atas. Dengan demikian kepekaan pengalaman estetik seseorang untuk melihat tingkat original. Hoepfner dkk. desain. Dalam hal ini seorang pendidik seni rupa dituntut untuk mempunyai kepekaan pengalaman estetik yang tinggi dan wawasan yang luas tentang perkembangan karya seni rupa. Hasilnya kurang dari setengah dari tujuan-tujuan yang ada dalam kesenian memiliki tes-tes yang terstandarisasi. Hasil Penelitian Yang Relevan 1. kemudian mengevaluasi setiap tes dengan kriteria tertentu. Seperti diketahui bahwa untuk menelaah suatu hasil karya seni rupa tentunya harus dapat dijelaskan secara rasio. konsistensi konsep. dalam penilaian karya seni rupa untuk melihat kualitas dan sampai pada baik dan tidak baik diperlukan suatu kriteria yang meliputi dua unsur yaitu fisiko plastik dan ideo plastik dan ada persetujuan antar subjek.

Sedangkan tes yang mengungkap kesukaan anak. tujuannya untuk mencerminkan keadaan-keadaan afeksional pada penyesuaian psikologis. (b) komposisi yang ditampilkan yaitu komposisi vertikal. dan angular. Penelitian Ismiyanto (2002) pada sanggar seni lukis “Pangudi Luhur” Semarang dan sanggar seni Lukis “Gramedia” Jakarta. dan teknik yang digunakan anak-anak dalam berkarya. burung. Hal ini menunjukkan bahwa sangat masuk akal untuk berpendapat bahwa sebagian besar dari tes-tes yang dievaluasi dalam bidang seni tidak terdapat di sini. tumpukan. (b) komposisi dan perspektif lukisan anak. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi. kendati validitas isinya diperingkatkan paling tinggi atau bahkan paling rendah (Ralph Hoepfner. horizontal “segitiga”. simetri setangkup dan radial. dan menjelaskan mengenai: (a) visualisasi lukisan karya anak-anak usia SD ditinjau dari tema dan objeknya. Sedangkan perspektif yang digunakan adalah perspektif tutup menutup (realistis). wawancara. 2.anak-anak dalam upaya mereka menggambar orang dan benda-benda. 136 . diagonal. bahan. 1983: 251-256). memahami. Pengumpulan data yang digunakan adalah observasi. (c) alat . mengetahui. (d) fenomena lukisan anak-anak usia SD dilihat dari aspek usia dan jenis kelamin. Temuan penelitian ini adalah sebagai berikut: lukisan anak usia SD dilihat dari: (a) objek dan temanya mencerminkan kehidupannya dan menunjukkan adanya upaya anak untuk mengidentifikasikan diri dalam karyanya. dan dokumentasi. Sedangkan analisis data yang digunakan adalah analisis isi dengan fokus pada telaah kritis visualisasi lukisan anak-anak.

Penggunaan semantik differential dapat aplikasikan untuk mengukur respon siswa tingkat SD terhadap hasil karya lukis yang dilihatnya. perspektif. Adapun hasil lukisan anak ditempat tersebut dapat dibedakan antara lukisan hasil anak laki-laki dan hasil anak perempuan. komposisi. dan simulatif (aktivitas).dan perpaduan perspektif burung dan tumpukan. Berdasarkan hasil penelitian ini. Ditinjau dari jenis kelamin terdapat perbedaan dalam pewarnaan dan goresan. 3. diperoleh informasi bahwa dalam melukis. Analisis varians hasil pengukuran menunjukkan ada perbedaan respon estetik siswa 137 . baik dalam pewarnaan. dalam melukis seorang anak berusaha untuk memvisualisasikan kehidupannya. tetapi perbedaan tersebut tidak terdapat pada anak-anak kelompok kelas rendah pada usia SD. sifat alamiah seorang anak sering muncul dalam hasil lukisaanya. formal (potensi). Hal ini dikarenakan. Hal ini berarti bahwa respon estetik siswa dapat digunakan untuk menilai kualitas lukisan serta bentuk dan kesan gerak pada lukisan. (c) media yang digunakan adalah krayon dan/atau mixed media dan teknik yang digunakan dussel dan out-line (garis-garis kontur). (d) berdasarkan kelompok usia tidak terdapat perbedaan dalam memvisualisasikan objek. Penelitian tentang instrumen pengukuran untuk mengukur respon estetik berdasarkan hasil penelitian Prihadi (2007) menyimpulkan bahwa penggunaan semantic differential ternyata mampu mengukur respon estetik peserta didik menurut faktor evaluatif. Perbedaan ini tampak tertutama pada pewarnaan dan goresan. anak laki-laki lebih spontan dan dinamis. spontanitasnya.

(4) pewarnaan. dan dokumentasi. semideformatif. Secara umum hasil melukis peserta didik di sanggar pratista menunjukkan adanya kedinamisan garis yaitu antara lain garis tebal dan kuat. Hasil penelitian ini juga menunjukkan adanya interaksi pengaruh gaya dan tema lukisan terhadap respon estetik peserta didik. pemandangan alam. (5) ketekunan. (3) originalitas. (6) keseriusan. potret pria. (3) kesiapan bahan dan alat. (7) percaya diri. wawancara. Kombinasi media pastel dan cat air memberikan kesan mantap dan kuat dalam penggunaan warna. yaitu anak-anak usia dini yang berjumlah 25 anak dengan usia antara 3 sampai dengan 7 tahun. dan potret wanita). Metode pemberian contoh dengan sket di kertas kerja peserta didik dimaksudkan untuk memotivasi peserta didik melukis bukan untuk dicontoh atau untuk ditiru. Penelitian lain dilakukan Martono dan Retnowati (2007) tentang strategi pembelajaran seni lukis anak di sanggar Pratista Yogyakarta dengan subjek penelitian adalah anak-anak yang belajar melukis di sanggar tersebut. (4) pemahaman tema. (5) harmoni keseluruhan. Penilaian yang dilakukan meliputi penilaian proses dan penilaian produk atau hasil karya. 4. Karya 138 . (2) kreativitas.berdasarkan gaya lukisan (naturalistic. Untuk penilaian proses indikator yang digunakan adalah: (1) kelancaran membuat sket (2) penuangan ide. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang digunakan adalah menggunakan pendekatan individual dengan metode pemberian contoh. Pangumpulan data menggunakan metode observasi. dan deformatif) dan tema lukisan (alam benda. Sedangkan indikator penilaian produk sebagai berikut: (1) kesesuaian tema.

dan masingmasing dari 150 subjek diuji secara perorangan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan slide-slide lukisan secara bertahap pada subjek- subjek sekolah dasar dan menengah.lukis peserta didik menggambarkan dunia anak dengan tema pilihannya sendiri sesuai dengan pengalaman dalam kehidupannya. 5. Masalah yang diperiksa dipilah ke dalam tujuantujuan sebagai berikut: (1) untuk memeriksa efek-efek perkembangan usia (kelas lima. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis faktor. Tanggapan-tanggapan verbal diukur dengan instrumen diferensial semantik. Penelitian yang dilakukan Newton (1989) dari University of Missouri bertujuan untuk mengetahui/memeriksa tentang perubahan-perubahan perkembangan tanggapan estetis pada dimensi-dimensi stilistik dan isi rangsangan seni dengan menggunakan tanggapan verbal dan non-verbal. (3) untuk menyelidiki efek-efek jenis-jenis rangsangan (dimensidimensi gaya dan isi slide-slide lukisan. Tingkatan kelas subjek adalah kelas lima. dan (4) untuk meletakkan dimensidimensi penting di dalam beragam skala diferensial semantik. dan the Fisher Least Significant Differenc. dengan menggunakan pengukuran verbal dan non-verbal. dan sebelas. dan sebelas) pada tanggapan subjek atas rangsangan seni. delapan. dan pengukuran non-verbal memandang waktu dan rata-rata waktu (LT/RT). (2) untuk memeriksa baik peringkat verbal (pada diferensial semantik) maupun tanggapan-tanggapan non-verbal (looking time [LT] dan rating time [RT]). analisis variasi dengan pengukuran berulang. Hasil penelitan menunjukkan bahwa anak-anak kelas lima memiliki evaluasi yang 139 . delapan.

dan ketidakpastian/kemunculan yang lebih rendah (lebih familiar dan kurang kompleks). dan LT/RT yang lebih panjang ketimbang anak-anak kelas delapan maupun sebelas. dilatarbelakangi bagaimana membuat suatu penilaian menjadi sebuah elemen pembelajaran yang aktif dan bagian positif dari pengajaran. arti dari bertambahnya pengetahuan yang sudah mereka kuasai. dan menggugah semangat siswa untuk mengekspresikan ide-ide mereka kapada guru dan kelompoknya. Kriteria penilaian yang bagus memberikan suatu bahasan. Sehingga siswa merasakan makna dari peningkatan. dengan cara membangun kepercayaan diri. Kriteria penilaian memberi suatu kerangka bagi pendidik dan peserta didik untuk menentukan teknik-teknik dan aspek-aspek dari karya mereka yang mereka kerjakann dengan benar.lebih tinggi. Kriteria inipun bertujuan untuk membiarkan peserta didik membuat evaluasi sendiri mengenai kemajuan mereka. dan letak keunggulan dan kelemahan mereka. Suatu kriteria telah dikembangkan untuk mencapai tujuan ini. Pendidik hendaknya memberikan penilaian menyeluruh atas karya siswa dengan menyertakan alasan-alasan. Penilaian dengan mudah disertakan dalam setiap tahapan suatu proyek. untuk membantu pendidik memahami bagaimana peserta didik beajar dari suatu proyek. Penelitian yang dilaksanakan oleh Coney (1999) tentang pentingnya kriteria untuk menilai hasil karya seni lukis anak. untuk bicara 140 . Hal ini menunjukkan bawah anakanak kelas lima menunjukkan kesiapan dan keterbukaan yang nampaknya berkurang ketika anak-anak menjadi dewasa. baik kepada guru maupun siswa. 6.

Banyak hasil pendidikan seni yang paling berharga tidak kapabel bila dibilang maju dalam bentuk tujuan-tujuan pengajarannya. Pada proyek dilengkapi dengan judul. Sudah diterima secara luas bahwa penilaian harus mengevaluasi perkembangan siswa. dan memepermudah guru memahami pendekatan yang diambil siswa secara individual. kolase. perlulah kiranya menyeimbangkan kebebasan siswa untuk mengeksplorasi dan merespon pengalaman-pengalaman dengan kebutuhan untuk berkembang dan mempelajari ketrampilan-ketrampilan yang tepat. dan penilaian riil. sasaran. Proyek terdiri dari empat aspek. mulai dari sikap menerima hingga menolak secara total. yaitu: melukis.mengenai kemajuan dan pembelajaran dalan suatu cara yang penuh makna. Selanjutnya atas dasar hal tersebut di atas. Sikap atas penilaian dalam bidang seni dan desain bisa bermacam-macam. penilaian diripun dibangkitkan demi membantu siswa memahami kemajuaanya sendiri. Penilaian atas dasar kriteria yang dikembangkan dalam laporan ini. Dalam menentukan serangkaian kriteria untuk mengevaluasi karya seni dan desain. tetapi menemukakan pentingnya kreativitas. dilakukan studi kasus yang dilakukan terhadap enam peserta didik dalam suatu proyek nyata. Sebuah pandangan kompromis yang tercantum dalam tugas ini menerima prinsip penilaian. digunakan untuk merekam 141 . Dengan sebuah kerangka yang didesain untuk digunakan dalam setiap mata pelajaran selama berlangsungnya suatu proyek. tugas rumah. padahal pendidikan seni penting sekali untuk memupuk spontanitas dan eksperimentasi. tujuan.

(6) menekankan kembali batasan-batasan dari suatu proyek. dan memberi keuntungan baik pada pendidik maupun peserta didik. Dengan menggunakan model Karmiloff-Smith dikenal sebagai Representational Redescription Model (RRM). yang diharapkan terbukti cukup flesibel untuk tugas-tugas yang berbeda. 142 . (7) komitmen untuk menunaikan tugas rumah sebagai bagian dari riset untuk suatu proyek. serta peralatan. (4) ekspresi dan kontrol atas ide-ide. seperti pengamatan penuh selidik atas wajah manusia atau atas bunyi ucapan manusia. (5) pencapaian sasaran pembelajaran. teknik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: kriteria-kriteria yang dikembangkan dapat mengekspresikan elemen-elemen krusial dari kemajuan dalam seni dan desain. disalurkan dalam ranah perkembangan dengan pengaruh-pengaruh dari luar si anak maupun dari dalam anak.kemampuan masing-masing dengan tujuh kriteria sebagai berikut: (1) kemampuan untuk mengamati dan merekam suatu pengalaman visual. 7. (2) pengembangan ketrampilan teknis dan penggunaan bahan. Model ini sudah umum dan telah diterapkan pada studi tentang bagaimana anak-anak menjadi kreatif dalam menggambar sesuatu yang belum pernah mereka coba sebelumnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan kemampuan- kemampuan awal dari anak-anak. Penelitian Freeman (1997) bertujuan ingin menjelaskan bagaimana seorang anak didorong untuk mengerahkan segala kemampuan internalnya dalam berbagai wilayah yang berbeda. (3) minat dan motivasi serta penggunaan bahasa seni dan desain.

seturut model RRM. tidak semua anak cukup eksplisit mengungkapkan penilaiannya. pertama melibatkan 62 anak usia lima tahunan dan 62 anak usia sembilan tahunan. Suatu imajinasi yang aktif atau fantasi kehidupan yang hidup tidak dengan sendirinya menjamin sebuah inovasi dalam ekspresi atau tindakan.’. (b) kemungkinan besar tersimpan dalam otak secara terpisah-pisah sehingga keterhubungannya tidak diketahui oleh anak.”. (c) dan berkaitan dengan penataan tindakan-tindakan praktis dan dengan demikian tidak mudah diuraikan untuk kepentingan pengaturan tindakantindakan inovatif. Ini akan memudahkan untuk membedakan anak yang bertumpu pada kemampuan eksternal semisal “hantu” atau “raksasa” dari anak lain yang bertumpu pada sebuah kemampuan internal dan menciptakan sebuah lukisan yang sepenuhnya “keluar dari kepalanya sendiri. Tantangan tersebut biasanya dilontarkan dengan menyuruh si anak menggambar berdasarkan imajinasinya atau meminta si anak mengekspresikan fantasinya. oleh karena representasi-representasi mental tahap awal (a) tidak sepenuhnya eksplisit dan dengan demikian tidak mudah diakses semau-maunya oleh anak. Hal itu terjadi. tetapi dari mereka yang 143 . Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen. Modifikasi yang dibuat hanyalah meminta anak menjelaskan bagaimana mereka berhasil menggambarkan “sosok manusia yang belum pernah ada.Cara terbaik untuk melihat apakah seorang anak memiliki kemampuan internal ataukah tidak adalah dengan menugasinya menggambar sesuatu yang diperkirakan belum pernah ia lihat dan ia gambar sebelumnya. Sayangnya.

ternyata cukup eksplisit 36 anak usia lima tahunan dan 52 anak usia sembilan tahunan. Eksperimen ini membuahkan hasil yang selaras dengan eksperimennya Karmiloff-Smith: hanya 8 % dari anak yang lebih muda usia berani membuat lukisan yang silang kategori bila dibandingkan dengan 39 % dari anak-anak yang lebih tua. Perbedaan ini secara statistik bersifat signifikan. dan mayoritas anak yang lebih tua (67 %) menerangkan bagaimana mereka membuat inovasi dari kemampuan-kemampuan internal mereka. Hal ini dapat dilihat pada: pertama. Hal itu menegaskan bahwa ketika kemampuan-kemampuan internal untuk inovasi grafis meningkat. dan barangkali bisa memantik ide-ide yang bermanfaat. 144 . bertambah pulalah meteri verbal yang diperoleh begitu saja (tanpa usaha keras) dari anak untuk tujuan pembahasan karya. mayoritas anak yang lebih muda usia (61 %) menyebut suatu karakter fiksional eksternal sebagai model mereka. Ini masuk akal mengingat kepercayaan atas suatu model eksternal tidak otomatis membuat anak akan lebih berhasil dalam membedakan lukisan. dari lukisan normalnya mengenai sosok manusia apa adanya yang sudah dikumpulkan sebelum eksperimen dimulai. di kalangan anak-anak yang bertumpu pada sebuah model yang disebutkan sebagai eksternal tidak ada hubungan terjadi antara seberapa terkait ungkapan verbal mereka dan seberapa kreatif hasil karya mereka itu dinilai.

Nilai intrinsik suatu karya seni yang sempurna sekalipun tidak akan lepas dari kualitas bahan yang dipakainya. Pada anak-anak biasanya lebih bebas dalam berekspresi dalam mewujudkan suatu karya seni rupa. Karena ketidaktahuan inilah anak cenderung lebih bebas dan merasa leluasa. 145 . seni lukis misalnya karena anak relatif belum banyak pengetahuan tentang aturan-aturan/norma-norma yang mengikatnya.F. Kerangka Pikir Pada prinsipnya menilai karya seni harus menentukan dulu dasar yang digunakan untuk melakukan penilaian. Karya seni dilihat dari produknya mengandung nilai intrinsik dan nilai ekstrinsik. Tidak mudah untuk menyerap hal-hal yang tidak memiliki nilai apapun. Nilai ekstrinsik satu produk tertentu hanya bisa dievaluasi oleh keberhasilan empiris. namun analisis histori membuktikan bahwa seni lazim merupakan alat untuk sesuatu yang lain. Pada karya sendiri terdapat elemen-elemen desain atau prinsip-prinsip seni yang tidak akan berubah. Dengan demikian untuk menilai suatu karya seni perlu pemahaman apa yang harus dilakukan bukan apa yang tidak bisa dilakukan. sehingga hasil karyanya terkesan jujur dan spontan. Garis. Sesungguhnyalah produk seni harus membenarkan keberadaannya. Kriteria tidak mengakhiri suatu proses kreatif karena kriteria bukanlah suatu batasan-batasan. karena pada umumnya orang memiliki tujuan ketika melakukan penilaian. Karya seni yang dihasilkan menunjukkan kemurnian pengungkapan perasaan mereka. bahan akan berubah seiring dengan budaya dan filosofis sosial yang diungkapkannya. tidak takut salah. Tetapi penggunaan elemen-elemen desain atau prinsip-prinsip seni.

sebuah kemampuan untuk memproduksi bentuk pun tercapai. Secara universal. pengertian Lukisan tersebut dapat ditafsirkan dalam perkembangan dan dapat mengungkapkan informasi tentang kepribadian anak. Segi empat menyarankan 146 . dalam pengertian gestalt visual-motor. bentuk-bentuk tersebut juga merepresentasikan secara simbolis tugas-tugas kehidupan anak-anak yang masih kecil. Melukis bagi anak-anak sebentuk permainan. Pengalaman-pengalaman paling awal atas bahan merupakan sebuah karakter sensori-motor. dan tekstur bukan lagi sebagai elemen-elemen fisik. dimana mereka mengembangkan daya ciptanya. perkembangan seni lukis anak ada tahapannya. Mulai masa bayi sampai masa dewasa awal anak melalui beberapa fase dasar perkembangan sebagaimana tercermin dalam seni. sesuai dengan bertambahnya usia anak. dan melalui manipulasi dan percobaan visual pada periode ini. Bahkan hasil karya lukis anak dapat menunjukkan bagaimana seseorang anak berpikir dan menangani masalah. dan sesungguhnyalah lukisan anak-anak mempunyai makna yang profan yaitu mengandung makna lebih dalam dari pada permukaannya. Sementara bentukbentuk ini mungkin dengan mudah dapat dikenali dalam artian muncul dari karakter yang sederhana sampai ke karakter yang kompleks. tetapi mencerminkan ekspresi kejiwaan yang kuat. Lingkaran mengindikasikan secara simbolis anak yang sedang mengidentifikasi diri sebagai suatu entitas fisik yang terpisah dari ibu dan sekaligus terikat dalam ketergantungan personal dengan ibu tersebut. Kegiatan anak-anak melukis adalah suatu cara untuk mengkomunikasikan perasaan dan gagasannya.warna.

dan pada kadar tertentu. Pada usia enam tahun anak mulai mapan di dalam dunia nyata dan menjadi bagian sosial dari interrelationship (hubungan di dalam struktur). akan menjadi berorientasi pada kelompok karena adanya kebutuhan untuk mengidentifikasi dengan lebih mendalam peran seksual-diri. atau anak akan menjadi ekstrovert perseptual-sosial dan tergantung pada visual dalam seninya. Tipe-tipe perseptual menjadi nyata dalam seni pada anak usia sembilan tahun ketika ia matang secara sosial. sedangkan anak perempuan akan cenderung mengidealisasi dirinya sendiri dalam citra wanita yang glamor dan matang. tetapi ia sampai pada referensi rasional yang utuh dari bentuk dan ruang skematik pada usia tujuh tahun. dan detil-detil tersebut mencerminkan pertumbuhan inteletualnya. Kualitas estetik yang tinggi dari referensi fisik-emosionalnya pada tahun-tahun awal sekarang disubordinasikan pada pengisahan yang ideologis. Namun 147 . Kemungkinan akan terjadi anak masuk dalam kedua tipe tersebut. Identifikasi semacam itu membuat kecendrungan anak laki-laki untuk melebih-lebihkan proyeksi diri menjadi berupa citra yang mengerikan. Sebelumnya ia telah mengumpulkan detil-detil dalam gambranya ketika ia tumbuh.penutupan-ego anak ketika ia mencoba mengklarifikasi diri dalam konteks lingkungannya. Demikianlah perkembangan kepekaan artistik anak-anak yang terlihat dalam goresan-goresan karyanya pada usia 2 sampai dengan 6 tahun. Seorang anak akan menjadi introvert perseptual-sosial dan haptik dan tidak tergantung pada bidang dalam seninya.

maupun proses pendidikan. penentuan kriteria pengukuran hasil karya lukis anak pada anak kelas 1 sampai dengan kelas 3 sekolah dasar sesuai yang tercantum dalam KTSP yaitu pada usia tujuh sampai dengan sembilan tahun kiranya harus melihat perkembangan usia dan tahapan perkembangan seni anak Dalam hal ini performance assessment yang digunakan untuk menilai kaya lukis anak. Pendidikpun dapat menggunakan komentar peserta didik untuk masukkan diagnostik dan remedial. Kepekaan artistik anak akhirnya terdesak oleh kemampuan logika yang melihat seluruh isi alam tidak lagi dari penghayatan seni dan imajinasi anak. Berdasarkan hal tersebut di atas. pendidik dapat menilai tingkah laku peserta didik. kelancaran dalam menggunakan media. Mengingat seni sendiri sifatnya subjektif sehingga perlu suatu kesepakatan objektif dalam prosedur-prosedur yang diperlukan. dan kepuasan anak. dan juga lingkungan. Penilaian proses meliputi student self evaluation yang menghasilkan data pengukuran diri sendiri. baik karena perkembangan anak sendiri. pemanfaatan waktu. Untuk penilaian produk karya seni lukis peserta didik diperlukan kriteria. bagaimana sikap. demikian juga untuk penilai/ penafsir dari karya lukis tersebut berdasar kriteria yang ada. the group critique untuk mengembangkan sikap oto kritis peserta didik dan mengetahui perkembangan peserta didik yang lain. dan keberhasilannya.kepekaan artistik ini akhirnya akan lenyap disadari atau tidak disadari. meliputi penilaian proses dan produk. Selanjutnya pada waktu proses pembuatan karya lukis. Karena di lapangan masih banyak kendala khususnya pendidik yang tidak memiliki pengalaman dan 148 . mengetahui masalah-masalah. kegagalankegagalan.

pendidikan khusus dalam bidang seni lukis,

maka perlu ada tindakan untuk

melatih pendidik menafsirkan karya lukis peserta didik dengan menggunakan kriteria yang sudah disepakati dan diujicoba. Penentuan kriteria instrumen seni lukis peserta didik yang dikembangkan tentunya harus memenuhi persayaratan instrumen yang baik yaitu persyaratan validitas dan reliabilitas. Validitas isi dan validitas konstruk yang digunakan untuk menguji kriteria instrumen ini. Untuk mencapai validitas isi, disusun kisikisi berdasar teori-teori yang melandasinya kemudian dibahas dalam suatu focus group discussion oleh para ahli di bidang seni rupa (expert judgment) khususnya seni rupa anak. Sedangkan untuk mengistimasi reliabilitas instrumen

menggunakan intereter dengan membandingkan antar penilai. Kriteria instrumen untuk menilai karya seni lukis peserta didik tentunya harus memenuhi komponen rasio dan emosi. Karena untuk menelaah suatu karya seni cenderung penjelasan secara rasio, sedangkan karya seni dominan dengan emosi yang pengungkapannya memerlukan kepekaan intuitif. Dengan demikian diperlukan kepekaan intuitif untuk menjelaskan secara rasional. Pendidik sebagai orang yang melakukan penilaian mestinya dituntut dengan kepekaan intuitif

tersebut, sehingga subjektivitas dalam penilaian dapat diminalisir. Kriteria instrumen digunakan untuk mengembangkan instrumen karya lukis anak yang mencakup proses dan hasilnya. Instrumen karya lukis anak yang dikembangkan harus diketahui karakteristiknya. Karakteristik instrumen penilaian meliputi kesahihan (validity), keandalan (reliability), dan rubrik, yaitu cara

149

pemberian skor. Selain itu hal yang penting adalah keterpakaian instrumen ini oleh guru di sekolah dasar.

G. Pertanyaan Penelitian Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka pikir di atas, maka pertanyaan penelitiannya adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. Bagaimana kriteria instrumen penilaian karya seni lukis anak? Bagaimana validitas konstruk instrumen penilaian karya seni lukis anak? Bagaimana reliabilitas kriteria instrumen yang dikembangkan? Bagaimana rubrik penilaian karya seni lukis anak? Sejauhmana instrumen penilaian karya lukis anak ini dapat digunakan oleh guru?

H. Hipotesis Uji Model Dalam rangka untuk melihat efektifitas model yang dibuat di lapangan, perlu dilakukan uji model. Untuk menguji model tersebut, digunakan hipotesis sebagai panduan untuk melakukan justifikasi apakah efektif atau tidak menurut pengguna. Uji model ini mencakup kriteria atau konstruk instrumen. Berdasarkan permasalahan penelitian dan kajian pustaka yang melandasi dan didukung oleh kerangka pikir, maka hipotesis penelitiannya sebagai berikut: 1. Konstruk instrumen penilaian proses seni lukis anak terdiri dari sikap,

pemanfatan waktu, cara menggunakan alat, kepuasan. 2. Konstruk instrumen penilaian hasil karya lukis anak terdiri atas kreativitas, ekspresi, ketrampilan penggunaan bahan dan alat (teknik). 150

3.

Instrumen yang dikembangkan berdasarkan konstruk instrumen penilaian proses dan produk akan menghasilkan penilaian yang andal (reliable).

4. Instrumen penilaian seni lukis anak yang dikembangkan dapat digunakan guru dalam menilai proses dan hasil karya lukis anak.

151

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Data Uji Coba Berdasarkan langkah-langkah tahapan pengembangan, data hasil uji coba disajikan secara berturut-turut berikut ini. 1. Data Studi Awal a. Hasil Analisis Kurikulum Analisis kurikulum dimaksudkan untuk mengetahui keterkaitan antara tujuan pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan (seni lukis) dengan standar kompetensi lulusan (SKL) tingkat satuan pendidikan sekolah dasar. Tujuan mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan di sekolah dasar dalam standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah adalah sebagai berikut. Mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan: (1) memahami konsep dan pentingnya seni budaya dan keterampilan; (2) menampilkan sikap apresiasi terhadap seni budaya dan keterampilan; (3) menampilkan kreativitas melalui seni budaya dan ketrampilan; (4) menampilkan peran serta dalam seni budaya dan keterampilan dalam tingkat lokal, regional, maupun global (BSNP, 2006:192). Dalam Permen 22 tahun 2006 dinyatakan bahwa Standar Kompetensi Lulusan (SKL) SD/MI secara umum adalah sebagai berikut. 1) Menjalankan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan anak 2) Mengenal kekurangan dan kelebihan diri sendiri 3) Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungannya 4) Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi di lingkungan sekitarnya 5) Menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kreatif

169

6) Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif, dengan bimbingan guru/pendidik 7) Menunjukkan rasa keingintahuan yang tinggi dan menyadari potensinya 8) Menunjukkan kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari 9) Menunjukkan kemampuan mengenali gejala alam dan sosial di lingkungan sekitar 10) Menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan 11) Menunjukkan kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa, negara, dan tanah air Indonesia 12) Menunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni dan budaya lokal 13) Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang 14) Berkomunikasi secara jelas dan santun 15) Bekerja sama dalam kelompok, tolong-menolong, dan menjaga diri sendiri dalam lingkungan keluarga dan teman sebaya 16) Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis 17) Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung Hasil analisis kurikulum menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan yang sangat erat antara tujuan pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan dengan

Standar Kompetensi Lulusan (SKL) tingkat satuan pendidikan sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah (SD/MI). Keterkaitan tersebut disajikan pada Tabel 5. Tabel 5 menunjukkan bahwa mata pelajaran Seni Budaya dan Ketrampilan mempunyai sumbangan yang cukup strategis terhadap pencapaian SKL SD. Hal ini berarti keberhasilan pembelajaran Seni Budaya akan mendukung keberhasilan pencapaian SKL SD, khususnya SKL No 5 sampai dengan 13, kemudian SKL No. 14 dan 15.

170

Tabel 5 Hubungan antara Tujuan Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan (PSB) dengan SKL Satuan Pendidikan SD No. Tjn. PSB 1 2 3 4 Nomor Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan SD 1 2 3 4 5 6 X X X X 7 X X X 8 X X X 9 10 11 12 13 14 15 16 X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X 17

X X X X X

b. Hasil Analisis Kebutuhan Lapangan Analisis kebutuhan lapangan melibatkan 20 orang guru yang mengajar mata pelajaran seni lukis. Ada 14 item yang diidentifikasi dalam studi awal ini, yaitu kurikulum, buku acuan, bahan dan alat, penentuan tema lukisan, minat anak, metode penilaian, prosedur penilaian, komponen yang dinilai, kriteria penilaian, penentuan skor, unsur kreativitas, kesulitan yang dihadapi, pandangan guru, dan partisipasi sekolah/anak dalam lomba lukis. Hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti berkaitan dengan masing-masing item tersebut dapat dielaborasi berikut. Pembelajaran seni lukis anak, 75% menggunakan kurikulum tingkat

satuan pendidikan (KTSP) dan sisanya 25% menggunakan gabungan KTSP dengan kurikulum sebelumnya. Informasi tersebut disajikan pada Gambar 47. KTSP yang dikembangkan berdasarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Permen No 22 tahun 2006 tentang standar isi pendidikan merupakan

kurikulum terbaru yang digunakan pada jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah. Kurikulum yang digunakan sebelumnya adalah kurikulum 2004, yaitu kurikulum berbasis kompetensi (KBK). KTSP pada dasarnya sama dengan

171

kurikulum 2004, perbedaannya hanya level standar kompetensi yang ingin dicapai dan cakupannya.

Gambar 47. Jenis Kurikulum Yang Digunakan Hasil Studi Awal Hasil wawancara menunjukkan bahwa hanya 5% guru menggunakan 85% guru,

buku acuan yang sesuai dengan KTSP. Sebagian besar guru, menggunakan

buku yang sesuai KTSP dan sumber lain, dan 10 % guru

menggunakan buku yang tidak sesuai KTSP. Infomasi kesesuaian buku yang digunakan dengan KTSP disajikan pada Gambar 48. Dalam kaitan dengan penyiapan alat dan bahan pembelajaran seni lukis, teridentifikasi ada 5 (lima) komponen yang menyiapkannya, yaitu

Gambar 48. Kesesuaian Buku Yang Digunakan Hasil Studi Awal

172

20% guru dan siswa yang menyiapkan alat dan bahan. 25% siswa yang menyiapkan alat dan bahan pembelajaran. dan sekolah yang menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam pembelajaran. Dalam kaitan dengan penentuan tema lukisan tersebut.siswa. dan 60% tema ditentukan bersama antara guru dan siswa. guru. guru. 10% tema ditentukan oleh siswa. Komponen pertama. Pembelajaran seni lukis diawali dengan penentuan tema yang akan dilukis oleh siswa. Data tersebut menunjukkan bahwa sekolah secara mandiri belum mampu menyediakan alat dan bahan yang diperlukan untuk pembelajaran Informasi tentang penyiapan alat dan bahan disajikan pada Gambar 49. komponen kedua. 40% sekolah dan siswa yang menyiapkan alat dan bahan. ada 30% tema ditentukan oleh guru sesuai dengan kurikulum. komponen ketiga. guru dan siswa. 10% guru. komponen keempat. Subjek Yang Menyiapkan Alat dan Bahan Hasil Studi Awal pembelajaran. serta gabungan siswa. 5% guru yang menyiapkan alat dan bahan Gambar 49. dan sekolah. siswa. dan komponen kelima. 173 . Informasi ini disajikan pada Gambar 50. sekolah dan siswa.

Gambar 50. Hasil identifikasi melalui wawancara diperoleh bahwa menurut persepsi guru ada 75% siswa memiliki Gambar 51. 174 . Hasil Studi Awal Subjek Yang Menentukan Tema Lukisan Penentuan tema merupakan tahap yang sangat krusial dalam pembelajaran seni lukis karena berkaitan dengan minat siswa. Minat Siswa dalam Belajar Hasil Studi Awal minat yang sangat tinggi. Distribusi minat siswa terhadap pelajaran seni lukis hasil studi awal disajikan pada Gambar 51. 15% anak kurang berminat. dan 10% siswa tidak berminat dalam melukis.

30% guru menggunakan portofolio. 15% guru menggabungkan metode pengamatan. Kesesuaian prosedur dalam melakukan penilaian setidaknya dapat memberikan patokan bagi guru dalam upaya menghindari subjektifitas penilai. Gambar 52. 175 . 5% guru menggunakan portofolio. pengamatan perbuatan. termasuk uraian dan prosedur dalam memberikan penilaian. Informasi tentang uraian dan prosedur dalam melakukan penilaian disajikan pada Gambar 53.Metode yang digunakan guru dalam melakukan penilaian seni lukis siswa adalah 15% guru menggunakan metode pengamatan. Dalam melakukan penilaian 60% guru memberikan uraian prosedur yang sesuai dengan langkah-langkah penilaian dan 40% tidak memberikan uraian prosedur. metode penilaian yang digunakan memiliki karakteristik yang berbeda. 20% guru guru menggunakan pengamatan dan tes menggunakan portofolio dan tes perbuatan. Informasi tersebut dapat disajikan pada Gambar 52. dan 5% guru tidak memahami metode penilaian. 5% 5% guru menggunakan tes perbuatan. portofolio dan tes perbuatan dalam memberikan penilaian terhadap siswa. Hasil Studi Awal Jenis Penilaian Yang Digunakan Guru Selanjutnya.

Gambar 53. Gambar 54 memberikan gambaran bahwa secara umum gabungan komponen proses dan produk merupakan objek penilaian yang dilakukan oleh guru. Hasil Studi Awal Komponen Penilaian Guru komponen proses. 5% Gambar 54. 176 . dan 55% komponen proses dan produk. Hasil Studi Awal Kesesuaian Prosedur Yang Digunakan dalam Penilaian Dalam kaitan dengan komponen-komponen yang dinilai dalam pembelajaran seni lukis selama ini menunjukkan bahwa 40% hanya komponen produk. Informasi hasil studi awal ini disajikan dalam bentuk grafik seperti Gambar 54.

Setelah menetapkan kriteria untuk setiap komponen penilaian. dan komposisi bidang. Hasil wawancara peneliti dengan guru 177 . Gambar 56 menunjukkan bahwa penentuan skor dalam penilaian seni lukis anak yang dilakukan oleh guru pada umumnya melalui pemberian angka. Kriteria proses meliputi sikap. yaitu melalui pemberian angka (80%). kesesuaian lukisan dengan tema sebesar 25% . baik. Hasil Studi Awal Kriteria Penilaian Guru Komponen proses dan produk yang dinilai terdiri atas beberapa kriteria. dan yang menjawab tidak tahu (5%). Di samping itu. pemberian huruf misalnya sangat baik. ada 5% guru memberikan kriteria proses yang meliputi cara melukis. Hasil studi awal menunjukkan bahwa ada dua macam penentuan skor dalam menilai karya lukis siswa yang dilakukan. cara mewarnai produknya. Secara grafik. Informasi tentang penentuan skor dalam penilaian seni lukis anak hasil studi awal ini disajikan pada Gambar 56. Kriteria produk meliputi komposisi warna. semangat.Gambar 55. langkah selanjutnya adalah penentuan skor. keberanian sebesar 70%. kesesuaian warna. informasi ini disajikan pada Gambar 55. komposisi bidang. kombinasi angka dan huruf (5%). kurang baik (10%).

guru tersebut tidak memberikan jawaban yang pasti.Gambar 56. Hasil Studi Awal Jenis Penentuan Skor Penilaian oleh Guru tentang apa makna angka yang diberikan misalnya 60. Hasil studi awal menunjukkan bahwa untuk melihat unsur kreativitas dalam sebuah produk hasil karya seni siswa. semuanya serba kemungkinan. Skor angka yang diberikan pada hasil karya seni lukis anak belum dapat dijadikan sebagai dasar bagi guru untuk melihat kreativitas dari anak. 70% guru mengungkapkan dengan memperhatikan Gambar 57. Hasil Studi Awal Unsur Kreativitas dalam Penilaian oleh Guru 178 .

Kesulitan-kesulitan yang dihadapi guru dalam melakukan penilaian seni lukis anak ternyata cukup banyak. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa 40% guru mengungkapkan karena tidak ada pedoman yang Gambar 58. Kesulitan Guru dalam Penilaian Hasil Studi Awal praktis untuk menilai. siswa. dan 30% guru belum mengungkapkan kriteria kreativitas anak. Untuk mengatasi kesulitan tersebut. dan keseriusan siswa. Kemudian peneliti menanyakan kepada guru tentang kesulitan yang dialami dalam melakukan penilaian seni lukis anak. 20% guru mengungkapkan dan 5% guru mengungkapkan tidak ada kesulitan. Secara grafik. 35% guru mengungkapkan berasal dari siswa. Informasi ini disajikan pada Gambar 58. misalnya faktor-faktor yang dinilai kelengkapan peralatan dan bahan yang dibawa tidak memahami seni. semua guru menyarankan perlunya instrumen penilaian yang praktis untuk mempermudah dan menyeragamkan 179 .kesesuaian unsur-unsur rupa serta kemampuan anak dalam mengembangkan ide. informasi ini dapat disajikan pada Gambar 57.

informasi tentang perlu tidaknya instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak disajikan pada Gambar 59. Gambar 60. 50% siswa cukup mengikuti lomba lukis. Sajian informasi tersebut dalam bentuk grafik dapat dilihat pada Gambar 60.penilaian yang dilakukan guru. Hasil Studi Awal Partisipasi Siswa atau Sekolah dalam Kegiatan Lomba 180 . Hasil Studi Awal Tanggapan Guru Perlunya Instrumen Penilaian Partisipasi sekolah atau siswa dalam mengikuti kegiatan lomba seni lukis berdasarkan wawancara yang peneliti lakukan menunjukkan bahwa 25% siswa sering mengikuti lomba lukis. dan 5% siswa tidak pernah mengikuti lomba. 20% siswa jarang mengikuti lomba lukis. Secara grafik. Gambar 59.

Perancis B. terutama jika dilihat dari guru yang melaksanakan penilaian.Karangkajen SD Muh. Pendidikan Lukis & Tari Mencermati informasi yang disajikan pada Tabel 6.Indonesia &IPS √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Agama & Sains B.Indonesia Psikologi Tek. Papringan SD Muh. Tabel 6 Daftar Peserta Studi Awal Inisial resp SW PB SR NH AG PN EL RL RP SW SS WA TR RH ET MR SR RP SL LP Usia (Tahun) 49 36 39 47 54 45 55 50 35 38 32 39 31 33 27 35 29 34 44 28 Asal Sekolah SD Lempuyangan 2 SD Lempuyangan 1 SD Lempuyangan 3 SD Tegal Panggung SDN Widoro SD Suryodiningratan 4 SD Langensari SD Samirono SD Suryodiningratan 3 SD Pujokusumon 3 SD Muh. Danunegaran SD Muh. Papringan SD Muh.Penumping SD Muh. 181 .Danunegaran SD Muh. Sebaran guru dan latar belakang guru disajikan pada Tabel 6. Gowongan SD Muh. tampak bahwa pembelajaran dan penilaian pendidikan seni lukis sungguh memprihatinkan.Berdasarkan temuan studi awal tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan penilaian seni lukis anak selama ini masih perlu perbaikkan dan peningkatan.Nitikan SD Muh. Kauman Jenis Guru Guru kelas Guru bidang studi Bidang Keahlian Seni lukis IPS Olah raga B. Pada umumnya (95%) guru yang mengajarkan dan melaksanakan penilaian seni lukis anak tidak memiliki latar belakang pendidikan atau pengalaman seni. Nitikan SD Muh.Indonesia B.

2. sehingga kualitas pembelajaran dan penilaian seni lukis masih sangat rendah. dapat ditarik kesimpulan bahwa instrumen penilaian seni lukis anak perlu dikembangkan untuk mempermudah guru dalam melakukan penilaian yang lebih objektif. Berdasarkan uraian hasil studi awal di atas. Perbedaan ini tampak pada Gambar 47-58 serta Tabel 6. sehingga memerlukan perhatian yang serius dari semua pihak yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan seni lukis. perlunya pengembangan instrumen seni lukis didasarkan juga pada fakta yang disajikan pada gambar 59. Adanya perbedaan ini. 182 . Pendefisian ini pada dasarnya dihasilkan dari pendalaman literatur tentang seni dan strategi pendidikannya.Pendidik yang memiliki pemahaman dan pengetahuan tentang seni lukis sangat sedikit (hanya 5%) yaitu mereka yang berlatar belakang pendidikan seni. Definisi konstruk instrumen karya seni lukis anak dijabarkan menurut indikator. kriteria dan rubrik penentuan skor. Penyimpulan ini didasarkan pada perbedaan karakteristik pembelajaran seni yang dilakukan oleh setiap guru. dikhawatirkan akan memicu terjadinya penilaian yang cenderung subjektif. Kenyataan ini merupakan suatu gambaran tentang pembelajaran dan penilaian seni lukis yang terjadi selama ini. deskripsi. Gambar tersebut mengungkapkan secara eksplisit bahwa 100% guru yang diteliti menyatakan sangat perlu instrumen penilaian yang praktis sehingga untuk mempermudah dan menyeragamkan penilaian guru. Data Pendefinisian Pada langkah ini didapatkan definisi konstruk instrumen dan kajian atas konsep instrumen karya lukis anak yang dijabarkan dari kajian teori. Selain fakta yang ditunjukkan pada gambar dan tabel tersebut.

Indikator keberhasilan karya seni lukis anak dapat dilihat pada lampiran 1 halaman 271. 2005:141). Kemudian. aspek-aspek atau konsep-konsep yang akan dinilai dan gradasi mutu. Dalam penelitian ini rubrik merupakan daftar kriteria yang diwujudkan dengan dimensi-dimensi kinerja. dan disepakati penilai dan siswa. Indikator merupakan tolok ukur (Rohandi. Kriteria atau Rubrik Kriteria atau rubrik adalah pedoman menilai kinerja atau hasil kerja. c. perbuatan. 183 . patokan untuk mempertimbangkan atau menentukan sesuatu. Dengan demikian indikator merupakan suatu petunjuk atau acuan sehingga memudahkan guru dalam melakukan penilaian. jelas. Dengan demikian kriteria atau rubrik merupakan panduan memberi skor. (Novianto. Kriteria adalah kadar ukuran. Rubrik dapat membantu seseorang untuk menentukan tingkat ketercapaian kinerja. Indikator Indikator adalah suatu karakteristik. 2002: 20). 2005: 306). Novianto (2005: 230) mengemukakan bahwa indikator adalah alat untuk mengukur dan sebagai petunjuk. Dalam penelitian ini deskripsi didefinisikan sebagai paparan kata-kata yang secara terperinci dari indikator yang diturunkan yang digunakan sebagai dasar untuk mengamati objek penilaian.a. Deskripsi Deskripsi adalah suatu paparan dengan kata-kata yang terperinci (Novianto. mulai dari tingkat yang paling sempurna sampai dengan tingkat yang paling rendah. b. ciri-ciri.

media Pengg. unsur Ketekunan Waktu Kretivitas Ekspresi Teknik • • Penilaian diri Penilaian kelompok Gambar 61. sedangkan dimensi penilaian 184 . Masing-masing dapat disimak pada Gambar 61. dimensi produk. Konfigurasi dari konstruk instrumen yang komprehensif dan utuh mengandung prototipe dimensi proses. Data Perancangan Pada tahap perancangan. dan konten serta sasaran penilaian. Dimensi penilaian proses adalah penilaian yang ditunjukkan untuk mengamati kompetensi peserta didik dalam berkreasi membuat karya seni lukis. konstruk instrumen yang telah didefinisikan pada Awal • • Tanggapan siswa Kesiapan alat Proses Guru Inti Karya Seni Guru Produk Siswa • • • • • • • • Penuangan ide Pengg. Hasil digunakan sebagai dasar untuk merancang konstruk instrumen secara utuh. Setelah itu dilakukan proses telaah dengan memanfaatkan validasi ahli untuk menperoleh kesepakatan dalam menentukan validasi ahli konstruk penilaian. Instrumen Penilaian Seni Lukis Hasil Tahap Rancangan tahap sebelumnya ditetapkan menjadi konstruk instrumen pendidikan seni lukis anak.3.

Indikator produk terdiri atas kreativitas.produk adalah penilaian yang ditunjukkan untuk melihat kompetensi peserta didik dalam membuat karya cipta seni lukis. Indikator proses teridiri atas tahap awal dan tahap inti. 3) keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk. perbaikan item. telaah item. Hasil FGD pertama adalah kesepakatan bahwa penilaian seni lukis anak terdiri atas komponen proses dan produk dengan perbandingan 60% untuk proses dan 40% untuk produk. Tahap awal meliputi: 1) tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat. 4) ketekunan. Hasil FGD kedua adalah kesepakatan tentang deskripsi masing-masing indikator yang ditemukan pada FGD pertama. Langkah pengembangan berikutnya adalah seminar. 5) pemanfaatan waktu. dan teknik. Komponen proses terdiri atas 5 (lima) indikator dan komponen produk 3 (tiga) indikator. ekspresi. Data Pengembangan Tahapan ini merupakan tahap elaborasi lanjut setelah prototipe hasil perancangan diperoleh pada tahap sebelumnya. 2) keberanian menggunakan media. 2) kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis. penyusunan item instrumen. deskripsi dan 185 . Seminar dilaksanakan untuk mendapat masukan dan saran berkaitan dengan indikator. 4. Hasil FGD ketiga adalah kesepakatan tentang kriteria masing-masing indikator dan deskripsi yang diperoleh pada dua FGD sebelumnya. analisis dan pembakuan. Rangkuman hasil FGD kedua disajikan pada Tabel 7. Kegiatannya meliputi pengembangan indikator. Indikator tahap inti meliputi: 1) kelancaran penuangan ide. uji coba instrumen.

Tabel 7. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik. kualitas cara penggambaran. Hasil FGD Pertama dan Kedua No A. kebaruan teknik dan konsep cerita Ekspresi Kejelasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema Teknik Kemampuan menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya.2 Tahap Inti 1 Kelancaran penuangan ide Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara kualitas ide yang dikembangkan dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut 2 Keberanian menggunakan Keberanian menggunakan media (alat dan media bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik inkonvensional dalam melukis Keberanian menggunakan Keberanian menggunakan titik. garis. Ketekunan Kondisi peserta didik untuk mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh-sungguh Pemanfaatan waktu Penggunaan waktu sebaik-baiknya untuk membuat karya lukis Komponen Produk Kreativitas Keaslian bentuk (kemampuan menciptakan bentuk yang khas). serta kebersihan karya yang dihasilkan 3 4 5 B 1 2.1 1 Indikator Komponen Proses Tahap Awal Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Deskripsi Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi. unsur-unsur bentuk bidang. 3 186 . A. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik 2 Kesiapan alat dan bahan Suatu kondisi peserta didik yang sudah yang akan digunakan siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk untuk melukis pembuatan karya lukisnya A.

kriteria penilaian. Perubahan ini dimaksudkan untuk lebih menyederhanakan rubrik penskoran tanpa mengurangi maksud yang ingin dicapai yaitu menciptakan instrumen penilaian seni lukis yang valid dan andal. sedangkan hasil seminar disajikan pada Gambar 63. Hasil kesepakatan dalam FGD adalah pedoman dapat digunakan di sekolah. 5. Ada beberapa perubahan mendasar yang diperoleh dari peserta seminar. tampak sejumlah perubahan yang mendasar pada kriteria untuk setiap level penilaian. Pedoman penggunaan intrumen meliputi petunjuk penggunaan. Diseminasi Tahap diseminasi merupakan tahap sosialisasi instrumen dan pedoman penggunaan instrumen penilaian seni lukis anak pada pendidik seni lukis sekolah dasar. Akhir dari tahap pengembangan adalah kegiatan melakukan uji empiris instrumen. keterbacaan dan penampilan fisik. 187 . Adapun pada Gambar 63. Data lengkap hasil FGD ini dapat dilihat pada Lampiran 3 halaman 276. Hasil FGD Ketiga disajikan dalam Gambar 62. Proses kesepakatan terkait dengan perubahan-perubahan pada instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar melalui FGD dan seminar dilakukan melalui pengkajian bersama yang dilandasi oleh kajian teori yang ada. dan 1) kurang. dan kelayakan penyajian yang meliputi sistimatika. Gambar 62 merupakan rubrik skor yang disusun untuk setiap indikator dengan masing-masing indikator terdiri dari 4 level/tingkatan penilaian yaitu: 4) sangat baik. 3) baik.kriteria yang telah disepakari pada tahap FGD. 2) cukup. penskorannya. khususnya berkaitan dengan kriteria dan rubrik penskoran.

Indikator Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Tahap Awal 2. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik Level Kurang • Sangat sering bertanya seputar tema lukisan kepada guru • Sering mengeluh dengan tema yang diberikan • Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan lambat • Memperlihatkan kegairahan yang kurang untuk memulai melukis Sangat baik • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan sangat lengkap • Alat dan bahan sangat siap untuk digunakan • Alat dan bahan sangat mendukung kegiatan melukis Deskripsi Suatu kondisi peserta didik yang sudah siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya Kurang • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan kurang lengkap • Alat dan bahan kurang siap untuk digunakan • Alat dan bahan kurang mendukung kegiatan melukis Level Baik • Jarang bertanya seputar tema lukisan kepada guru • Jarang mengeluh dengan tema yang diberikan • Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan cepat • Memperlihatkan kegairahan yang tinggi untuk memulai melukis Cukup • Sering bertanya seputar tema lukisan kepada guru • Cukup sering mengeluh dengan tema yang diberikan • Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan cukup cepat • Memperlihatkan kegairahan yang cukup tinggi untuk memulai melukis Baik • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan lengkap • Alat dan bahan siap untuk digunakan • Alat dan bahan mendukung kegiatan melukis Cukup • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan cukup lengkap • Alat dan bahan cukup siap untuk digunakan • Alat dan bahan sangat mendukung kegiatan melukis Gambar 62. Rangkuman Hasil FGD Ketiga 188 . Indikator Kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis • • • • Sangat baik Bertanya seperlunya seputar tema lukisan kepada guru Tidak pernah mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan sangat cepat Memperlihatkan kegairahan yang sangat tinggi untuk memulai melukis Deskripsi Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi.1.

bidang. garis. bidang) cukup mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna cukup mendekati warna sebenarnya Cukup berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis • • Kurang • Lambat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Kurang tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media kurang sesuai dengan karakteristiknya • 1. bidang) sangat mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna sangat mendekati warna sebenarnya Sangat berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis • • • • Level Cukup • Cukup cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Cukup tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media cukup sesuai dengan karakteristiknya Deskripsi Kemampuan menggunakan media (alat dan bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik bebas dalam melukis 2.Lanjutan Gambar 62 Baik • Cepat dalam menemukan ide • Tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide • Cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Cukup • Cukup cepat dalam menemukan ide • Cukup tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide • Cukup cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media • Baik • Cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media sesuai dengan karakteristiknya Sangat baik • Sangat cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Sangat tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media sangat sesuai dengan karakteristiknya Sangat baik • Sangat cepat dalam menemukan ide • Sangat tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide • Sangat cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Kurang • Lambat dalam menemukan ide • Kurang tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide • Lambat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media • • Sangat baik Sangat baik Variasi unsur-unsur bentuk (garis. dan warna untuk menghasilkan bentuk yang orisional/khas Baik Variasi unsur-unsur bentuk(garis. Indikator Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk Deskripsi Kemampuan menggunakan titik. bidang) mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna mendekati warna sebenarnya Berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis Level Cukup Variasi unsurunsur bentuk (garis. Indikator Keberanian menggunakan media Level Deskripsi Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara ide yang ada dalam diri siswa dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut 3. bidang) mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna tidak mendekati warna sebenarnya Kurang berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis • • • Tahap Inti 189 . Indikator Kelancaran penuangan ide • Kurang Variasi unsurunsur bentuk sedikit (garis.

Indikator Pemanfaatan waktu 5. Indikator Tahap Inti Ketekunan Deskripsi Penggunaan waktu sebaik-baiknya dilakukan untuk membuat karya lukis Sangat baik • Menyelesaikan karya lukis dengan sangat tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang sangat tuntas Kurang • Menyelesaikan karya lukis dengan kurang tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang kurang tuntas Cukup • Menyelesaikan karya lukis dengan cukup tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang cukup tuntas Sangat baik • Sangat serius dalam membuat karya lukis • Perhatian terhadap karya lukis sangat terfokus Deskripsi Kondisi peserta didik untuk mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh-sungguh Level Level Kurang • Tidak serius dalam membuat karya lukis • Perhatian terhadap karya lukis kurang terfokus Baik • Menyelesaikan karya lukis dengan tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang tuntas Baik • Serius dalam membuat karya lukis • Perhatian terhadap karya lukis terfokus Cukup • Cukup serius dalam membuat karya lukis • Perhatian terhadap karya lukis cukup terfokus 190 .Lanjutan Gambar 62 4.

Indikator Ekspresi 3. Indikator Teknik Produk Deskripsi Sangat baik • Sangat jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Sangat tegas/ spontan dalam mengungkapkan garis Sangat berani dalam mengorganisasikan unsurunsur karya lukis Kejelasan dalam mengungkapkan isi/tema/konsep lukisan • Kurang Kurang jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Kurang tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Kurang berani dalam mengorganisasikan unsurunsur karya lukis • • • • Level Sangat baik • Alat dan bahan yang digunakan sangat sesuai karakteristiknya • Sangat teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan sangat bersih Deskripsi Kemampuan menggunakan alat dan bahan sesuai dengan karakteristiknya serta kebersihan karya yang dihasilkan Level Kurang • Alat dan bahan yang digunakan kurang sesuai karakteristiknya • Kurang teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan kurang bersih • Baik Jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Berani dalam mengorganisasikan unsurunsur karya lukis Cukup • Cukup jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Cukup tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Cukup berani dalam mengorganisasikan unsurunsur karya lukis • • • • Baik • Alat dan bahan yang digunakan sesuai karakteristiknya • Teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan bersih Cukup • Alat dan bahan yang digunakan cukup sesuai karakteristiknya • Cukup teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan cukup bersih 191 . Indikator Kreativitas 2.Lanjutan Gambar 62 • • • • • Baik Jarang melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang tinggi memodifikasi objek Warna yang digunakan bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang tinggi menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang banyak dalam dalam Cukup • • • • • Cukup sering melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan cukup bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang cukup banyak Sangat baik • • • • • Tidak pernah melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang sangat tinggi dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan sangat bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang sangat tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang sangat banyak Kurang • • Level • • • Sering melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang kurang memodifikasi objek Warna yang digunakan kurang bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang kurang menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang kurang banyak dalam dalam Deskripsi Keaslian bentuk (kemampuan menciptakan bentuk-bentuk baru) 1.

Indikator Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Tahap Awal 2. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik Deskripsi Suatu kondisi peserta didik yang sudah siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek Menerima Memahami Melaksanakan Sangat baik Terpenuhi 3 aspek Lengkap Relevan Siap digunakan Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek Lengkap Relevan Siap digunakan • • • Sangat baik Terpenuhi 3 aspek Menerima Memahami Melaksanakan Level • • • • • • Level • • • • • • Baik Terpenuhi 2 aspek Menerima Memahami Melaksanakan • • • Kurang Terpenuhi aspek Menerima Memahami Melaksanakan 1 • • • Baik Terpenuhi 2 aspek Lengkap Relevan Siap digunakan • • • Kurang Terpenuhi aspek Lengkap Relevan Siap digunakan 1 Gambar 63. Indikator Kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis Deskripsi Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi. Rangkuman Hasil Seminar Instrumen Penilaian Seni Lukis 192 .1.

Lanjutan Gambar 63 Baik Terpenuhi 2 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Kurang Terpenuhi 1 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Baik Terpenuhi 2 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Lambat • Tepat • Sesuai dengan media Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Berani • Tepat • Artistik Baik Terpenuhi aspek • Berani • Tepat • Artistik 2 Level Deskripsi Kemampuan menggunakan media (alat dan bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik bebas dalam melukis 2. Indikator Kelancaran penuangan ide Tahap Inti 193 . Indikator Keberanian menggunakan media Level Deskripsi Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara ide yang ada dalam diri siswa dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut 3. Indikator Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk Deskripsi Keberanian menggunakan titik. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik. Level Kurang Terpenuhi 1 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Berani • Tepat • Artistik Kurang Terpenuhi aspek • Berani • Tepat • Artistik 1 1. garis. bidang.

Indikator Pemanfaatan waktu Tahap Inti Sangat baik • Menyelesaikan karya lukis dengan sangat tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang sangat tuntas Deskripsi Penggunaan waktu sebaik-baiknya dilakukan untuk membuat karya lukis Level Kurang • Menyelesaikan karya lukis dengan kurang tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang kurang tuntas Sangat baik Karya sebelum berakhir selesai waktu Deskripsi Penggunaan waktu sebaik-baiknya dilakukan untuk membuat karya lukis Sangat kurang Karya tidak selesai saat waktu berakhir Level Baik • Menyelesaikan karya lukis dengan tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang tuntas Cukup • Menyelesaikan karya lukis dengan cukup tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang cukup tuntas Baik Karya selesai tepat waktu Kurang Karya hampir selesai saat waktu berakhir 194 . Indikator Pemanfaatan waktu 5.Lanjutan Gambar 63 4.

Indikator Kreativitas 3. Indikator Teknik Deskripsi Kejelasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Produk Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Deskripsi Kemampuan menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya. kebaruan teknik dan konsep cerita 2. kualitas cara penggambaran. serta kebersihan karya yang dihasilkan Level Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Level Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Baik Terpenuhi 2 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Kurang Terpenuhi 1 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Baik Terpenuhi 2 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Kurang Terpenuhi 1 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih 195 . Indikator Ekspresi 1.Lanjutan Gambar 63 Baik Terpenuhi 2 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Kurang Terpenuhi 1 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Level Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Deskripsi Keaslian bentuk (kemampuan menciptakan bentuk yang khas).

dan (3) data uji coba komponen penilaian diri. penilaian diri dan penilaian kelompok pada pengguna di lapangan. Hasil analisis G study digunakan untuk mengetahui koefisien reliabilitas alat penilaian yang dikembangkan serta estimasi komponen variansi kesalahan yang diakibatkan oleh berbagai sumber variansi. Hasil ujicoba instrumen ini disajikan pada bagian analisis data. Instrumen penilaian ini terdiri atas empat komponen utama yakni penilaian proses. Kegiatan uji coba ini dipaparkan data hasil uji coba pada keempat kawasan tersebut. Data Uji Coba Bagian ini mendeskripsikan tentang hasil uji coba penggunaan instrumen penilaian yang diujicobakan kepada tiga orang guru sebagai rater atau penilai terhadap penilaian karya seni lukis (beberapa hasil karya lukis anak dapat dilihat pada lampiran 9 hal. maka pada tahapan analisis lanjut (analisis D study) akan didapatkan informasi tentang keputusan seberapa jauh penggunaan 196 . penilaian produk. dalam pengembangan ini yakni sumber variansi murid (P). Komponen-komponen yang digunakan sebagai acuan untuk melakukan rating oleh para rater telah diperoleh dari hasil pengembangan pada tahap sebelumnya dan dikenal dengan produk tentatif instrumen penilaian karya seni lukis. penilai (R) dan item kriteria penilaian (I).358). (2) data uji coba komponen penilaian produk.B. Analisis Data 1. Setelah koefisien G dapat diketahui. Data uji coba terdiri dari 4 (empat) komponen yaitu (1) data uji coba komponen penilaian proses. dan (4) data uji coba komponen penilaian kelompok.

77 86. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Proses Sumber Variansi Murid (P) Kelas 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 JK1 JK2 db KR Varian 0.55 1259 193.06 457.29 24.28 Murid dan Item 868049.instrumen yang telah diuji memiliki keberlakuan pada faset yang lebih luas terutama menyangkut kesamaan kondisi pengukuran.00 6004.71 5130.73 3. Penilai.85 594179.14 1259 114729.43 PR (Interaksi Murid 6092.29 3432.40 457402.59 2 31.56 I:R 836923.60 100. Hal yang sama Tabel 8 Estimasi Komponen Variansi Siswa.00 100.95 2 113235.14 118 43.00 100. 197 .76 193.71 118 43.43 222.67 0.85 771345.48 PI:R ( Interaksi 9244.29 18 11387.15 3.28 1062 17. a.43 5174.00 242.00 3.29 59 130.00 53.62 Total 3395152.00 581347.29 Penilai (R) 631942.96 9.66 226469.00 18127.04 52.07 421. JK2 = sums of squares for score effects.51 175.00 16124.38 2.18 3.60 Catatan: JK1 = sums of squares for mean scores.63 59 132.64 189.21 dan Penilai) 644940.58 0.16 18 158.33 7823.23 4.40 189997.07 Nested pada Penilai) 800302.27 41.93 0.84 0.14 7701.60 1062 15.18 35943. Hasil Analisis Genova Untuk Estimasi Komponen Variansi 1) Analisis Estimasi Komponen Varians Komponen Penilaian Proses Rangkuman analisis G study dari data uji coba komponen penilaian proses dapat disajikan sebagaimana pada Tabel 8.69 0.00 297.94 118 0.27% dari seluruh komponen varian harapan.15 0.72 207969.53 5874.00 426924.40 31282540.90 8728.95 204981.83 4.20 2854.60 381079. kelas 2 dan di kelas 3 menunjukkan bahwa estimasi variance true skor yang terbesar dari faset yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) di kelas 1 adalah sumber variansi kesalahan pengukuran komponen item yang nested pada penilai (I:R) dengan proporsi 86.86 2 103984.14 4.28 17.07 15.00 0.28 413296.98 0.04 0. dan dapat diterimanya kondisi faset tersebut bagi rater atau penilai yang lain. Hasil rangkuman analisis G study untuk penilaian proses di kelas 1.68 18 10555.46 41.42 % Total Varian 4.04 62.15 1259 124816.56 1062 0.3 59 3.

Kondisi yang demikian berarti bahwa faset yang berkaitan dengan objek pengukuran untuk penilaian proses.77%. hal ini diduga karena guru yang menjadi rater atau penilai baru mengenal model dan konstruk alat penilaian yang dikembangkan. dan yang terbesar adalah sumber variansi penilai (R) dengan proporsi masing-masing 53.04% dan 52.untuk di kelas 2 dan kelas 3 . Sumber variansi komponen yang lain yakni murid (P). Pada uji coba di kelas 2 dan di kelas 3. kondisi semacam itu telah bergeser yakni bukan lagi komponen varians item yang bersarang pada penilai (I:R) yang dominan sebagai penentu varians kesalahan pengukuran melainkan penilai atau rater. Hal ini dapat dipahami karena faktor pemahaman dan latihan atau pengalaman guru sangat dituntut untuk bisa melakukan penilaian yang benar sesuai konstruk yang dikandung oleh alat penilaian yang dikembangkan. interaksi murid dan item nested pada penilai (PI:R) proporsinya tampak lebih kecil terhadap seluruh komponen variansi hasil penilaian proses kualitas karya seni lukis dibanding proporsi komponen varians penilai (R) dan kriteria penilaian yang nested pada penilai (I:R). yang dominan mempengaruhi variansi kesalahan pengukuran adalah item yang bersarang pada penilai (I:R) dan untuk uji coba di kelas 2 dan di kelas 3 adalah penilai (R). Sumber variansi item yang bersarang pada penilai (I:R) merupakan komponen varian yang paling dominan. Selain itu penggunaan alat penilaian yang dikembangkan ini merupakan cara baru yang berbeda dengan caracara konvensional sebagaimana yang lazim digunakan oleh para guru sebelum cara penilaian ini dikenalkan. interaksi murid dengan penilai (PR). 198 .

25 213078.00 121393.67 209554.23 34039.64 232.65 366.20 32.25 158537.60 1083712. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Produk Sumber Variansi Murid (P) Penilai (R) I:R PR (Interaksi Murid dan Penilai) PI:R ( Interaksi Murid dan Item Nested pada Penilai) Total Kelas 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 JK1 118655.05 25.00 2.86 40.16 % Total Varian 1.71 54775.24 221.49 150357.86 40.60 1013040.13 25.27 233.61 5673.68 1.29 6405.00 1050134. Latihan dan pengalaman bagi penilai dalam menggunakan alat penilaian untuk menilai kualitas karya seni lukis merupakan cara untuk mengurangi kesalahan pengukuran dan untuk meningkatkan tingkat konsistensi dan keajegan hasil penilaian.00 113876.89 207726.69 0.70 51427.09 95.03 6.89 9154.00 0.65 234248.96 11558.54 45534.48 40.65 27.64 62.73 5734.02 251512.83 80.81 146747.38 34407.70 26.42 Varian 7.00 275197.26 241766. Penilai.59 44.90 JK2 6421.00 100.08 94.20 32.00 39.83 4719.60 7.07 25.51 5248.25 4733.25 48209.48 63.16 1.05 10.12 106.23 86.50 9. 199 .95 1.98 db 59 59 59 2 2 2 6 6 6 118 118 118 354 354 354 539 539 539 KR 108.21 0.00 Catatan: JK1 = sums of squares for mean scores.80 5104.60 4607. Hasil rangkuman analisis Tabel 9 Estimasi Komponen Variansi Siswa.27 199841. 2) Analisis Estimasi Komponen Varian Komponen Penilaian Produk Rangkuman analisis G study dari data uji coba komponen penilaian produk dapat disajikan sebagaimana pada Tabel 9. peranan penilai (R) merupakan sumber variansi kesalahan pengukuran terbesar.50 96419.65 53598.00 262591.86 95492.33 222531.Hasil uji coba ini menunjukkan bahwa pada penerapan alat penilaian karya seni lukis untuk komponen proses.98 356.45 5.52 47746.90 14230.17 100.00 100.98 382. JK2 = sums of squares for score effects.15 4.77 219396.67 60.77 38434.07 91069.00 255520.

Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa faset yang berkaitan dengan objek pengukuran untuk penilaian produk. Sumber variansi yang lain tidak begitu besar proporsinya sebagai komponen varians untuk penilaian produk. interaksi murid dengan penilai (PR).68%. Berdasarkan analisis ini penerapan alat penilaian karya seni lukis untuk komponen produk. Sumber variansi komponen yang lain yakni murid (P).65%. faset yang dominan sebagai variansi kesalahan pengukuran adalah penilai (R) dan item yang bersarang pada penilai (I:R). dan di kelas 3 sebesar 26.70%. peranan penilai (R) tetap merupakan sumber varians kesalahan pengukuran yang terbesar seperti halnya pada penilaian proses. di kelas 2 sebesar 60.G study untuk penilaian produk di kelas 1. kelas 2 dan di kelas 3 menunjukkan bahwa estimasi varian true skor yang terbesar dari faset yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) adalah sumber variansi kesalahan pengukuran komponen penilai (R) dengan proporsi komponen varians di kelas 1 sebesar 63. Untuk itu masih dibutuhkan juga latihan dan pengalaman bagi penilai dalam menggunakan instrumen penilaian produk untuk menilai kualitas karya seni lukis siswa agar 200 .67%.07%.64%. di kelas 2 sebesar 27. dan di kelas 3 sebesar 62. Kemudian berikutnya adalah sumber varians kesalahan untuk komponen item yang bersarang pada penilai (I:R) dengan proporsi komponen varians di kelas 1 sebesar 25. interaksi murid dan item bersarang pada penilai (PI:R) proporsinya tampak lebih kecil terhadap variansi hasil penilaian proses kualitas karya seni lukis dibanding pengaruh kedua sumber variansi penilai (R) dan kriteria penilaian yang bersarang pada penilai (I:R).

93 2885.23 135.48 130.00 708 10.75 121.23 270.57 46.23 PI:R ( Interaksi 1 353340.14 48.19 129.75 708 13.08 97430.30 899 52561.00 7478.98 0.34 708 12.10 198782.82 349803.67 3 45.40 6594.24 3 47.28 13. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Diri Sumber Variansi Murid (P) Kelas JK1 JK2 db KR Varian % Total Varian 1 166008.65 3.56 10.50 204742. kelas 2 dan di kelas 3 menunjukkan bahwa estimasi skor true variance dari faset yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) komponennya lebih banyak pada sumber variansi kesalahan pengukuran komponen penilai (R) dan proporsi komponen memiliki item yang nested pada penilai (I:R).96 2 44678.09 1.00 9405.42 1.00 45. Hasil rangkuman analisis G study untuk penilaian diri di kelas 1.05 12 7307.00 9119.19 Penilai (R) 2 270613.37 87693.44 2 43028.53 59 111.72 46.67 899 55542.91 1.30 118 19.30 193926.90 263.dapat meningkatkan tingkat konsistensi dan keajegan hasil penilaian serta tingkat kesepakatan pemahaman terhadap konstruk sasaran penilaian karya seni lukis untuk komponen produk di antara para penilai.61 3 0.20 4175.13 4168.72 0.96 2 47344.82 263505.97 1 333164. Penilai.66 89356.56 3.45 256501.15 1 245471.77 5.33 280.00 Catatan: JK1 = sums of squares for mean scores.36 118 35.00 Total 2 1473892.36 100.61 59 48.44 59 70.15 1.20 2259.12 100.48 122.37 PR (Interaksi Murid 1 256241.71 3 171313.88 1 1354225. Sumber varians penilai (R) Tabel 10 Estimasi Komponen Variansi Siswa.93 2 178809.26 12 7775.68 dan Penilai) 2 275758.56 100.04 Murid dan Item 2 380667.92 93302.28 94688.11 1. 201 .77 Nested pada Penilai) 3 4.30 118 24.88 12.00 3 1407051.03 2. JK2 = sums of squares for score effects.76 365927.38 4. 3) Analisis Estimasi Komponen Varians Penilaian Diri Rangkuman analisis G study dari data uji coba komponen penilaian diri dapat disajikan sebagaimana pada Tabel 10.13 899 50496.80 12 8119.72 119.16 I:R 2 368044.31 86057.40 2835.28 5.

ternyata peranan penilai (R) dan item yang nested pada penilai (I:R) tetap merupakan sumber variansi kesalahan pengukuran yang dominan seperti halnya pada penilaian proses maupun produk. dan di kelas 3 sebesar 45. dan di kelas 3 sebesar 47. interaksi murid dengan penilai (PR).16%. Untuk itu masih dibutuhkan juga latihan dan pengalaman bagi penilai dalam menggunakan alat penilaian produk untuk menilai kualitas karya seni lukis siswa untuk dapat meningkatkan tingkat konsistensi dan keajegan hasil penilaian serta tingkat kesepakatan pemahaman terhadap konstruk sasaran penilaian karya seni lukis untuk komponen penilaian diri di antara para penilai. Sumber variansi komponen variansi kesalahan pengukuran yang lain yakni murid (P). Penerapan alat penilaian karya seni lukis untuk komponen penilaian diri.45%. Kondisi yang demikian dapat dimaknai bahwa faset yang berkaitan dengan objek pengukuran untuk penilaian diri. interaksi murid dan item nested pada penilai (PI:R) proporsi komponen variannya tampak lebih kecil terhadap variansi hasil penilaian proses kualitas karya seni lukis dibanding pengaruh kedua sumber variansi penilai (R) dan kriteria penilaian yang bersarang pada penilai (I:R). 202 .24%.82%. di kelas 2 sebesar 46. yang dominan sebagai komponen variansi kesalahan pengukuran adalah penilai atau rater (R) dan item yang nested pada penilai (I:R). Sumber variansi komponen item yang bersarang pada penilai (I:R) mempunyai proporsi komponen varians di kelas 1 sebesar 46.67%.19%.proporsi komponen varians di kelas 1 sebesar 45. di kelas 2 sebesar 48.

20 65190.53 185882.95 34. Hasil rangkuman analisis G study untuk penilaian kelompok di kelas 1.60 306093.75 13.68 53272.75 35.30 1311529.67 6106.95 53276.64 184566.13 362484.03 Varian 4.16 62.03 6. 203 .73 30.28 255372. Kemudian berikutnya adalah sumber varians kesalahan pengukuran untuk komponen item yang nested pada penilai (I:R) dengan proporsi komponen Tabel 11 Estimasi Komponen Variansi Siswa.43 57873.16 17.84 4439.72 51.13 106476. dan di kelas 3 sebesar 62.23 308648.20 263997. Penilai.86 124569. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Kelompok Sumber Variansi Murid (P) Penilai (R) I:R PR (Interaksi Murid dan Penilai) PI:R ( Interaksi Murid dan Item Nested pada Penilai) Total Kelas 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 JK1 153334.00 Catatan: JK1 = sums of squares for mean scores. JK2 = sums of squares for score effects.88 53238.4) Analisis Estimasi Komponen Varian Komponen Penilaian Kelompok Rangkuman analisis G study dari data uji coba komponen penilaian kelompok dapat disajikan sebagaimana pada Tabel 11.59 58671.10 61.93 208358. kelas 2 dan di kelas 3 menunjukkan bahwa estimasi varian true skor yang terbesar dari faset yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) adalah sumber varians kesalahan pengukuran komponen penilai (R) dengan proporsi komponen varian di kelas 1 sebesar 61.43 165.46 db 59 59 59 2 2 2 12 12 12 118 118 118 708 708 708 899 899 899 KR 126.00 100.00 1308980.00 100.22 % Total Varian 1.92 108197.00 381082.03 27.45 12566.99%.56 1.30 1524234.75 265.67 252349.67 177281.92 162.80 331756.85 14466.80 4.47 77.42 2.60 151769.87 0.47 1.39%.93 297293.07 4241.91 1.98 2.75 13.84 20.88 265917.43 62284.77 300.20 9797.26 77.68 4.24 4595.65 6.75 2.35 5432.00 331741.70 100.60 JK2 7461.39 27.74 17.99 62.77 2.21 305622.31 73. di kelas 2 sebesar 62.43 265.69 90.60 7.58 4439.60 4558.96 54098.167%.84 20.55 189.75 67844.68 4030.48 73.

Kondisi yang demikian berarti faset yang berkaitan dengan objek pengukuran untuk penilaian kelompok. Untuk itu masih dibutuhkan juga latihan dan pengalaman bagi penilai dalam menggunakan alat penilaian kelompok untuk menilai kualitas karya seni lukis siswa untuk dapat meningkatkan tingkat konsistensi dan keajegan hasil penilaian serta tingkat kesepakatan pemahaman terhadap konstruk sasaran penilaian karya seni lukis untuk komponen penilaian kelompok di antara para penilai. interaksi murid dan item bersarang pada penilai (PI:R) proporsinya tampak lebih kecil terhadap varians hasil penilaian kelompok kualitas karya seni lukis dibanding pengaruh kedua sumber varians penilai (R) dan kriteria penilaian yang bersarang pada penilai (I:R).03%. Sumber varians komponen yang lain yakni murid (P). Berdasarkan analisis komponen varians untuk dapat terbentuknya faset pengukuran yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admisible observations) kualitas karya seni lukis di kelas 1. peranan penilai (R) tetap merupakan sumber variansi kesalahan pengukuran yang terbesar seperti halnya pada komponen penilaian lainnya. di kelas 2 sebesar 30. penilaian diri dan penilaian kelompok). Dengan demikian penerapan alat penilaian karya seni lukis untuk komponen penilaian kelompok.73%. dapat disimpulkan bahwa komponen penilai (R) atau guru dan kriteria 204 .varians di kelas 1 sebesar 27. dan di kelas 3 sebesar 27. produk. varians kesalahan pengukuran yang dominan adalah penilai atau rater (R) dan item yang bersarang pada penilai (I:R). kelas 2 dan di kelas 3 pada semua komponen penilaian (proses.77%. interaksi murid dengan penilai (PR).

Analisis Data Hasil G Study (Koefisien G) Hasil G study untuk mengetahui tingkat kebermaknaan penggunaan alat penilaian kualitas karya seni lukis dari uji coba di lapangan dapat dirangkum pada Tabel 12. Untuk maksud tersebut dilakukan analisis lanjut terhadap hasil Genova (koefisien G) dan analisis tingkat perubahan koefisien G pada level analisis hasil D study. Koefisien G dari komponen-komponen penilaian kualitas karya seni lukis hasil uji coba menunjukkan bahwa secara keseluruhan pengembangan model instrumen penilaian kualitas karya seni lukis dapat diterima untuk digunakan melakukan penilaian pada faset yang lebih luas atau dengan kata lain telah memenuhi untuk kepentingan faset pengukuran yang berkaitan dengan objek 205 .penilaian yang nested pada penilai (I:R) merupakan sumber varians komponen varians kesalahan pengukuran yang utama. b. Hasil Analisis dipaparkan pada uraian berikut. 1978: 245. Untuk mengetahui apakah hasil pengembangan tersebut telah memenuhi standar minimal. Linn. Hasil analisis komponen varians untuk penilaian proses. Oleh sebab itu dalam pengembangan ini. produk. dipakai persyaratan minimal koefisien G Sebesar 0. penilaian diri dan penilaian kelompok. kedua sumber variansi ini harus diperhatikan secara seksama dalam usaha menyempurnakan alat penilaian kualitas karya seni lukis.1989:106) agar memenuhi syarat bagi penggunaan pada faset yang lebih luas. di atas memberi petunjuk bahwa pengembangan alat penilaian kualitas karya seni lukis sudah menunjukkan indikasi kebermaknaan untuk digunakan sebagai sarana melakukan observasi.70 (Nunnaly.

71.61 0. Tabel 12 Rangkuman Hasil G Study dan Koefisien G Pada Berbagai Komponen dan Berbagai Faset Terapan Uji Coba Komponen 1.86* 0.91* 0.70. Jika dilihat dari karakteristik faset uji coba untuk semua komponen. tetapi jika memperhatikan koefisien G pada terapan faset di kelas 2 dan di kelas 3. Proses 2.70) >persyaratan <persyaratan <persyaratan >persyaratan <persyaratan <persyaratan <persyaratan <persyaratan <persyaratan >persyaratan >persyaratan >persyaratan >persyaratan <persyaratan <persyaratan Rerata Koefisien G 0.82* 0.75* 0.65* 0.65 0. maka model yang dikembangkan masih memerlukan penyempurnaan dalam hal administrasi penyelenggaraan yakni harus meningkatkan keterampilan guru sebagai penilai atau rater agar ada peningkatan pemahaman.68* 0.50 0.80* 0.67* 0.81* 0. maka terapan model penilaian pada faset di kelas 1 sudah memberikan bukti bahwa model yang dikembangkan dapat digunakan untuk penilaian pada faset yang lebih luas.71* *) memenuhi syarat menurut kriteria standard minimal Linn.66* 0.67* Keterangan (Linn ≥ 0.67* 0. 0.63 0. keterampilan dan pengalaman agar diperoleh hasil pengukuran yang konsisten.76* 0. Penilaian Diri 4.pengukuran (universe of admissible observations) pada kualitas karya seni lukis anak yakni ditunjukkan oleh indeks koefisien G sebesar 0.62 0. Penilaian Kelompok 5. 206 . Produk 3.74* 0. Semua komponen Sasaran Uji (Faset) Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Jumlah Item 7 7 7 3 3 3 5 5 5 5 5 5 15 15 15 Koefisien G 0.

Analisis Data Hasil D Study Tujuan analisis D study adalah untuk menjawab pertanyaan rancangan D study yang mana harus dipilih dan seberapa banyak butir komponen penilaian harus dicakup sebagai sarana mengukur dan menilai kualitas karya lukis sehingga dapat menunjukkan kebermaknaan untuk faset yang lebih luas. Uraian berikut memaparkan hasil-hasil analisis D study ini. Dengan mencermati setiap tahap rancangan D study pada komposisi besar sampel tertentu maka akan dapat diperoleh informasi koefisien G dan juga diperoleh informasi berapa kenaikan indeks kebermaknaan pada koefisien G setelah satu butir komponen penilaian dilibatkan untuk mengukur atau menilai. 1) D Study untuk Penilaian Proses Rangkuman hasil analisis D-Study Genova untuk uji coba penilaian proses berturut-turut dapat disajikan pada Tabel 13 sampai dengan Tabel 15. Berdasarkan elaborasi sumber variansi komponen variansi kesalahan pengukuran sebagaimana telah dibahas di atas. Untuk menjawab pertanyaan ini dan tujuan tersirat didalamnya analisis pada setiap hasil D study dapat digunakan. sedangkan untuk komponen penilaian produk dan penilaian diri masih memerlukan upaya penyempurnaan. maka tindakan untuk melatih guru agar berpengalaman dalam menggunakan alat penilaian ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kebermaknaan penggunaan model ini pada faset yang lebih luas.Jika ditilik pada rerata komponen penilaian pada masing-masing kelompok ternyata untuk komponen penilaian proses dan penilaian kelompok telah memenuhi syarat untuk digunakan pada faset yang lebih luas. 207 . c.

02 0.Tabel 13 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Proses dan Tingkat Perubahan pada Kelas 1 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. Berdasarkan kenyataan ini maka dapat dikatakan bahwa untuk mencapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas.30556 0. R = 3 dan I = 1) maka tingkat atau koefisien kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.75.82.36976 0.12791 0.15 0.70.02 0. R INF I INF. dengan P = 60. maka tingkat atau koefisien kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. demikian seterusnya untuk rancangan 001-003 diperoleh koefisien sebesar 0.90163 0.91448 0.42308 0.75341 0.07 0.82088 0.22681 0.04 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 001-006 001-007 60 60 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 6 7 0. Untuk komponen penilaian proses di kelas 1 jika komposisinya hanya menggunakan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002. R. Artinya penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai sebesar 60%.46809 0.01 Tabel 13 berturut-turut memberi gambaran tentang perubahan koefisien Generalizability untuk berbagai komposisi ukuran sampel P.85936 0. dan I.60. yaitu 0.88424 0. penilai cukup menggunakan indikator 1 dan 2 saja Jika ingin meningkatkan tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi maka jumlah indikator penilaian 208 .60437 0.50659 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2 (dapat dilihat pada Tabel 6). GENERALIZABILITY COEF.

66933 0.13 0.01 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 001-006 001-007 60 60 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 6 7 0.06 0. penilai harus menggunakan indikator 1. Jika penilai menggunakan dua indikator (D study design nomor 001-002.04 0. 2.04223 0.02724 0.38.63655 0.harus ditambah. Jika ingin meningkatkan tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi maka 209 .50637 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.51.65527 0.61040 0.04082 0.04322 0.45%. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2 memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.03868 0. dengan P = 60.57128 0. Berdasarkan kenyataan ini maka dapat dikatakan bahwa untuk mencapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas. PHI Selisih Koefisien Genova 0.70. R INF I INF. jumlahnya tergantung pada kondisi faset yang bersangkutan Tabel 14 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Proses dan Tingkat Perubahan pada Kelas 2 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. Artinya penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai sebesar 38%.03500 0.04396 dalam konteks ini jika 7 (tujuh) indikator digunakan maka akan dicapai koefisien kesepahaman dan kesepakatan sebesar 91. 3. minimal 0. GENERALIZABILITY COEF. Tabel 14 memberi gambaran bahwa penilai dalam menggunakan komponen penilaian proses hanya dengan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60. 4 dan 5 sekaligus.37765 0.02 0.03 0.

51665 0.04111 0.04673 jumlah indikator penilaian harus ditambah. Berdasarkan kenyataan ini maka dapat dikatakan bahwa untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas.57735 0. jumlahnya tergantung pada kondisi faset yang bersangkutan.02 0.02894 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0.04 0. penilai harus menggunakan indikator 1 sampai dengan 6 secara simultan.58.04594 0. GENERALIZABILITY COEF.06 0. R INF I INF. dalam konteks ini jika 7 (tujuh) 210 . Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.12 0.61338 0. jumlahnya tergantung pada kondisi faset yang bersangkutan Pada Tabel 15 memberi gambaran bahwa penilai dalam menggunakan komponen penilaian proses di kelas 3 jika hanya dengan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60. begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan kaoefisien sebesar 0.Tabel 15 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Proses dan Tingkat Perubahan pada Kelas 3 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.02 0.39277 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.03720 0.66689 0.04339 0.65421 0.39. dengan P = 60. Jika ingin meningkatkan tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi maka penggunaan indikator penilaian harus ditambah.52.01 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 001-006 001-007 60 60 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 6 7 0.63724 0.04489 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.

R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.indikator digunakan semua dicapai koefisien kesepahaman dan kesepakatan mencapai 66. begitu seterusnya untuk rancangan 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.76. Tabel 16 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Produk dan Tingkat Perubahannya pada Kelas 1 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. Menurut kenyataan ini maka dapat dikatakan bahwa untuk penggunaan komponen penilaian produk agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas. dengan P = 60. penilai cukup menggunakan indikator 1 dan 2 saja. PHI Selisih Koefisien Genova 0.31555 0.18733 0. R INF I INF.16 0.68. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.40882 Tabel 16 memberi gambaran bahwa penilai dalam menggunakan komponen penilaian produk di kelas 1 jika hanya menggunakan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60.68142 0.69%. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2. Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai sebesar 52%.52.51678 0.08 001-001 001-002 001-003 60 60 60 3 3 3 1 2 3 0. GENERALIZABILITY COEF. Tetapi jika 211 .76238 0. 2) D Study untuk Penilaian Produk Rangkuman hasil analisis D-Study Genova untuk uji coba penilaian produk berturut-turut dapat disajikan pada Tabel 16 sampai dengan Tabel 18.

penilai harus menggunakan semua indikator yang ada dan dianjurkan untuk menambah indikator lain yang sejenis untuk melengkapi jabaran konstruk yang ada sehingga 212 .ingin diperoleh tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi maka penggunaan indikator 1 dan 2 bersama sekaligus dengan indikator nomor 3 sangat dianjurkan. dengan P = 60. Tabel 17 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Produk dan Tingkat Perubahan pada Kelas 2 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.15 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.21486 Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai sebesar 25%.25. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.08359 0.49896 0. Kenyataan ini menunjukkan bahwa untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas.40 begitu seterusnya untuk rancangan 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. R INF I INF.15429 0.10 001-001 001-002 001-003 60 60 60 3 3 3 1 2 3 0.24922 0. Tabel 17 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian produk di kelas 2 hanya dengan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60. GENERALIZABILITY COEF. PHI Selisih Koefisien Genova 0.39900 0.50. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.

62263 0. 213 . Penambahan indikator sejenis yang relevan untuk meningkatkan kebermaknaan penilaian produk di kelas 2 memerlukan telaah lanjut tersendiri. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.10 001-001 001-002 001-003 60 60 60 3 3 3 1 2 3 0.Tabel 18 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Produk dan Tingkat Perubahan pada Kelas 3 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.35483 0. R INF I INF.35.29672 dapat dicapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.52380 0.62. penilai harus menggunakan indikator yang ada dan ditambah lagi indikator lain untuk melengkapi jabaran konstruk yang ada sehingga dapat dicapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi. GENERALIZABILITY COEF. Artinya 35% penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai. PHI Selisih Koefisien Genova 0.21953 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (D study design nomor 001-002.17 0.12330 0. dengan P = 60. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.52 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.Tabel 18 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian produk di kelas 3 hanya dengan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60.

63.02 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0.70).12 0.05585 0. Tabel 19 Tabel 19 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Diri dan Tingkat Perubahan pada Kelas 1 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. 214 . PHI Selisih Koefisien Genova 0.07412 0.58 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.46.08319 0. R INF I INF. penilai paling tidak harus menggunakan indikator 1. 2. Artinya 46% penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian diri.66370 0. 3 dan 4.58001 0.03 0.08861 0.46320 0.63325 0. Untuk mencapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi seyogianya semua indikator yang ada digunakan secara simultan.3) D Study untuk Penilaian Diri Rangkuman hasil analisis D-Study Genova untuk uji coba penilaian diri berberturut-turut dapat disajikan pada Tabel 19 sampai dengan Tabel 21. dengan P = 60.68342 0. GENERALIZABILITY COEF.05 0.09222 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian diri di kelas 1 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60.

02095 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangn D study nomor 001-002.60852 0. GENERALIZABILITY COEF. Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Diri dan Tingkat Perubahan pada Kelas 2 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.07 0. penilai paling tidak harus menggunakan semua indikator yang ada.03495 0. R = 3 dan I = 1) Tabel 20.02818 0.05 0.45963 0.53194 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.46 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0.03184 0. Artinya penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian diri sebesar 33%. Untuk mencapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi semua indikator yang ada dipakai dan jika memngkinkan ditambah lagi indikator lain dan digunakan secara simultan.53. 215 .03 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2. dengan P = 60.57735 0. R INF I INF.13 0.03553 memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0.32649 0.Tabel 20 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian diri di kelas 2 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60.33.70).

PHI Selisih Koefisien Genova 0.03 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0.58839 0.38.04 0.Tabel 21. 4) D Study untuk Penilaian Kelompok Rangkuman hasil analisis D-Study Genova untuk uji coba penilaian kelompok berturut-turut dapat disajikan pada Tabel 22 sampai dengan Tabel 24.05721 Tabel 21 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian diri di kelas 3 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60.07 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancngan D study nomor 001-002. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0.70).38162 0. 216 .03369 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.63114 0. Artinya 38% penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian diri yang dipakai.51820 0. R INF I INF.59.52 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.14 0.05482 0.05125 0. GENERALIZABILITY COEF. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. penilai paling tidak harus menggunakan semua indikator yang ada.65991 0. Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Diri dan Tingkat Perubahan pada Kelas 3 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.04534 0. dengan P = 60.

Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0.79.41635 0.54316 Tabel 22 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian kelompok di kelas 1 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60. dengan P = 60.70).04 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002. tetapi jika ingin mendapatkan tingkat kebermaknaan yang lebih tinggi penggunaan semua butir indikator yang ada lebih dianjurkan.71 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0. 217 .71016 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.55.08 0.03 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0.85966 0. GENERALIZABILITY COEF.48748 0. R INF I INF. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.16 0.83052 0.55058 0.Tabel 22 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Kelompok dan Tingkat Perubahan pada Kelas 1 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.32230 0. Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian kelompok yang dipakai sebesar 55%.78611 0.19211 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2. penilai sudah cukup hanya menggnakan butir indikator 1 dan 2 saja.

05 0.17 0. R = 3 dan I = 1).36. Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian kelompok yang dipakai sebesar 48%. dengan P = 60.47823 0.32757 0.37840 Tabel 23 memberi gambaran bahwa jika penilai menggunakan komponen penilaian kelompok di kelas 2 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60. 218 . R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.78569 0.10856 0. penilai sudah cukup hanya menggnakan butir indikator 1 dan 2 saja.82088 0.Tabel 23 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Kelompok dan Tingkat Perubahan pada Kelas 2 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. GENERALIZABILITY COEF.64703 0. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0. PHI Selisih Koefisien Genova 0.73331 0.19586 0.04 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0. R INF I INF.65 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.73.09 0. tetapi jika ingin mendapatkan tingkat kebermaknaan yang lebih tinggi dianjurkan menggunakan semua butir indikator yang ada.26759 0. Tabel 24 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian kelompok di kelas 3 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. maka besarnya koefisien reliabilitas dalam koefisien G adalah sebesar 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.70).48.

3 dan 4 saja. tetapi jika ingin mendapatkan tingkat kebermaknaan yang lebih tinggi dianjurkan menggunakan semua butir indikator yang ada. Secara umum hasil analisis D study telah memberi petunjuk dan alternatif penggunaan alat penilaian kepada pengguna instrumen penilaian kualitas karya seni lukis untuk mempertimbangkan penggunaan indikator-indikator penilaian yang relevan dengan sasaran yang dinilai dan mempertimbangkan tingkat reliabilitas kebermaknaan hasil penilaian.26813 0.73765 0. R INF I INF. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.32818 0.35993 0.37912 Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian kelompok yang dipakai sebesar 36% Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.52934 0.63.17 0.62784 0. penilai sudah cukup hanya menggunakan butir indikator 1. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0.69224 0.06 0.19630 0.Tabel 24 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Kelompok dan Tingkat Perubahan pada Kelas 3 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.10 0. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa ada beberapa rancangan dari hasil D study yang 219 .10883 0.05 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0. dengan P = 60.70).53 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0. GENERALIZABILITY COEF. 2.

Data Uji Coba Koefisien Interrater Konfirmasi data hasil uji coba dari hasil Anava. 220 . Untuk keperluan ini. Tabel 25 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketujuh item yang dirating tersebut. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.71 . Pada penilaian proses ini. Koefisien Interrater pada Penilaian Proses Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian proses instrumen pendidikan seni lukis anak untuk kelas 1.mereferensikan perlunya penambahan indikator untuk komponen penilaian tertentu yaitu untuk komponen-komponen penilaian produk dan penilaian diri untuk sasaran penilaian kelompok tertentu. Rangkuman hasil perhitungan konsistensi dan kesepakatan tiga rater tersebut disajikan pada Tabel 25 untuk kelas 1. a. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai proses kelas 1 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. kelas 2. dan Tabel 27 untuk kelas 3. 2. ada 7 (tujuh) item yang menjadi objek penilaian.73. berikut ini disajikan hasil analisis koefisien interrater. Tabel 26 untuk kelas 2. peneliti menggunakan koefisien Cohen’s Kappa.75. yaitu 0. dan kelas 3.73. dan antara UD dengan DI sebesar 0. Koefisien interrater merupakan salah satu sarana untuk melihat tingkat konsistensi atau keajegan antar penilai dalam memberikan rating terhadap unjuk kerja karya seni lukis siswa. yaitu sebesar 0.

77 0. yaitu 0.Tabel 25 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Proses Kelas 1 Penilai 1 0.70. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai proses kelas 2 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. Nilai koefisien κ 221 .84 0. yaitu 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.82 3 ST 4 5 6 7 1 2 3 UD 4 5 6 7 UD DI 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 73% .70 0.70 0.79 0.64.74 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 67%.67. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas.63 0. Tabel 26 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketujuh item yang dirating tersebut.67.78 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0.81 0.72 0.72 2 0.70.81 0.71 0.65 0.67 0. yaitu sebesar 0.78 0.68 0.68 0.75 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan.68 0.

75 0.76 0.68 0.69 0.74 0.70 0.56 0.61 0.71 3 4 5 6 7 1 2 3 UD 4 5 6 7 UD DI 0.77 0.55 0.66 0.64 0.57 0.68 0.65 0.56 0.63 2 0. sehingga instrumen tersebut mendekati koefisien reliabilitas.66 0.75 0.69 0.Tabel 26 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Proses Kelas 2 Penilai ST 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 1 0.73 0. yaitu 0.9 0.6 0.64 0.62 0.63 0.46 0.81 0.7 0.65 3 4 5 6 7 1 2 3 UD 4 5 6 7 UD DI tersebut mendekati kriteria minimal yang digunakan.85 0.81 0. syarat 1978:245 Linn.76 0. Tabel 27 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Proses Kelas 3 Penilai ST 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 1 0.57 0.67 0.73 0. 1989:106).70 (Nunally.61 2 0.59 0.71 222 .67 0.62 0.

sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas. dan antara UD dengan DI sebesar 0. kelas 2. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai produk kelas 1 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. Tabel 29 untuk kelas 2.88. dan antara UD dengan DI sebesar 0.73.88. Pada penilaian produk ini. yaitu 0.63. Tabel 28 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga item yang dirating tersebut. Rangkuman hasil perhitungan konsistensi dan kesepakatan tiga rater tersebut disajikan pada Tabel 28 untuk kelas 1. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan.70. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. Koefisien Interrater pada Penilaian Produk Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian proses instrumen pendidikan seni lukis anak untuk kelas 1. yaitu sebesar 0. 223 . yaitu 0. yaitu 0.74.88.88. dan Tabel 30 untuk kelas 3. yaitu sebesar 0. dan kelas 3. ada 3 (tiga) item yang menjadi objek penilaian.Tabel 27 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketujuh item yang dirating tersebut. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.68. b. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 73%. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menila proses kelas 3 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.

sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas.96. yaitu 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. yaitu 0.70.88 2 3 1 UD 2 3 Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 88%.88 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. yaitu sebesar 0. Pada Tabel 29 menunjukkan koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga item yang dirating tersebut. yaitu 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai produk kelas 2 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.88 0.97.85 0.70.85 0.85 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 97%. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.Tabel 28 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Produk Kelas 1 Penilai ST 1 1 UD 2 3 1 DI 2 3 0.92 0.97.97. 224 . sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas. dan antara UD dengan DI sebesar 0.92 0.92 0.

98 0.93.89.98 0.93 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.95 0. 225 .82 2 3 1 UD 2 3 secara keseluruhan dalam menilai produk kelas 3 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai Tabel 30 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Produk Kelas 3 Penilai ST 1 1 UD 2 3 1 DI 2 3 0.93 0.98 0.93 0.92. yaitu 0.93 0.90 0.98 0.94. yaitu sebesar 0.98 2 3 1 UD 2 3 Tabel 30 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga item yang dirating tersebut.95 0.95 0.95 0.93 0.98 0.98 0.Tabel 29 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Produk Kelas 2 Penilai ST 1 1 UD 2 3 1 DI 2 3 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0.

dan kelas 3. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai penilaian diri kelas 1 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas.Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman yang sama terhadap kostruk penilaian sebesar 92%. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. c. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan.70. Pada penilaian diri ini. yaitu 0. Tabel 31 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut.82. dan antara UD dengan DI sebesar 0. yaitu 0.70. Koefisien Interrater pada Penilaian Diri Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian diri instrumen pendidikan seni lukis anak untuk kelas 1. Tabel 32 untuk kelas 2.84. Rangkuman hasil perhitungan konsistensi dan kesepakatan tiga rater tersebut disajikan pada Tabel 31 untuk kelas 1. yaitu 0. yaitu sebesar 0.82. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas. dan Tabel 33 untuk kelas 3. 226 .82. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman yang sama terhadap konstruk penilaian sebesar 82%. kelas 2. ada 5 (lima) item yang menjadi objek penilaian. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.

81 0.88 0.85 0.53 0.89 2 0.56 0.00 0.54 0.65. Tingkat konsistensi dan kesepakatan Tabel 32 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Diri Kelas 2 Penilai ST UD 1 2 3 4 5 1 2 3 4 1.00 0.87 0.74 0. yaitu 0.89 0.96 0.55 0.66 0.85 0.73 0.67. dan antara UD dengan DI sebesar 0.77 0.63 ST 3 4 5 1 2 UD 3 4 5 U D D I Tabel 32 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut.50 0.76 0.88 0.92 0.74 5 U D D I 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 0.84 0.88 0.Tabel 31 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Diri Kelas 1 Penilai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 0.57 0.77 1.73 227 .84.86 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.

82 0.82 0. yaitu 0. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat reliabilitas.91 0.penilai secara keseluruhan dalam menilai penilaian diri kelas 2 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.75.40 0.91 0.84. yaitu 0.70.76 0. yaitu sebesar 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0.82 2 0.82 ST 3 4 5 1 2 UD 3 4 5 U D D I Tabel 33 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut.62 0. Tabel 33 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Diri Kelas 3 Penilai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 0.76 0. yaitu sebesar 0.80 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman yang sama terhadap konstruk penilaian sebesar 72%. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan.85 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa 75.76 0.75.0% ketiga penilai tersebut memiliki 228 .68. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam peilaian diri kelas 3 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga pasangan tersebut.50 0.72.79 0.

70.48. dan kelas 3. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam penilaian kelompok kelas 1 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga pasangan tersebut. kelas 2. dan antara UD dengan DI sebesar 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih kecil dari kriteria minimal yang digunakan.59.51.64 (Cohen & Swerdlik. Koefisien Interrater pada Penilaian Kelompok Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian kelompok instrumen pendidikan seni lukis anak untuk kelas 1.persepsi dan pemahaman yang sama terhadap kostruk penilaian. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat reliabel. yaitu 0. Tabel 35 untuk kelas 2. Pada penilaian kelompok ini. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. sehingga instrumen tersebut belum memenuhi syarat koefisien reliabilitas. yaitu 0. 2005: 143). ada 5 (lima) item yang menjadi objek penilaian. yaitu 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 51%. Tabel 34 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut.44. Rangkuman hasil perhitungan konsistensi dan kesepakatan tiga rater tersebut disajikan pada Tabel 34 untuk kelas 1. 229 . d. yaitu sebesar 0. dan Tabel 36 untuk kelas 3.

49 0.33.61 5 0. yaitu 0.38 0.56 0.54 0.29 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. 230 .69 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih kecil dari kriteria minimal yang digunakan.37. sehingga instrumen tersebut belum memenuhi syarat koefisien reliabilitas.49 0. yaitu 0.48 0.53 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 33%.U D D I 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Tabel 34 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Kelompok Kelas 1 Penilai ST UD 1 2 3 4 5 1 2 3 4 0.34.70. yaitu sebesar 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam penilaian kelompok kelas 2 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.29.52 0.37 0.46 Tabel 35 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut. dan antara UD dengan DI sebesar 0.55 0.67 0.

20 0.77 0.39 ST 3 4 5 1 2 UD 3 4 5 U D D I Tabel 36 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut.26 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.20 0.65 0.55 0.48 2 0.75.62 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0.68 0.72 0.74.76 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam penilaian kelompok kelas 3 dapat diketahui dengan Tabel 36 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Kelompok Kelas 3 Penilai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 0.78 0.21 0.27 0.83 0.79 2 0.32 0.11 0. yaitu 0.76 0.69.82 0.45 0.71 0.76 0.41 0.57 ST 3 4 5 1 2 UD 3 4 5 U D D I 231 .14 0.Tabel 35 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Kelompok Kelas 2 Penilai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 0.46 0.86 0.42 0.

analisis kesepakatan dan kesepahaman rater terhadap konstruk instrumen digunakan dua 232 . yaitu sebesar 0. sehingga C. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. Namun demikian. Tahap revisi dalam setiap tahap pengembangan berkaitan dengan revisi indikator. perbandingan kedua pendekatan tersebut disajikan berikut. instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas.73. deskripsi. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 73%. D. yaitu 0. 1. dan pedoman penggunaan instrumen penilaian seni lukis pada tahap focus group discussion (FGD) dan seminar. Kajian Produk Hasil analisis tingkat kesepahaman dan kesepakatan rater (reliabilitas interrater) dengan menggunakan koefisien Genova dan koefisien Cohen Kappa menunjukkan bahwa instrumen penilaian seni lukis telah memenuhi syarat/kriteria minimal reliabilitas yang digunakan.mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.70. kriteria dan rubrik. Penilaian Proses Penilaian proses instrumen penilaian seni lukis dilakukan oleh 3 (tiga) orang rater terhadap 60 orang siswa dengan 7 (tujuh) indikator instrumen. Revisi Produk Bagian revisi produk dalam pengembangan instrumen penilaian seni lukis dalam disertasi ini mengikuti revisi produk dalam setiap tahap pengembangan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya.

Rangkuman perbandingan koefisien kedua pendekatan tersebut disajikan pada Tabel 37 Tabel 37 Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Proses Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Koefisien Genova 0. Oleh karena itu. pendekatan Genova lebih lengkap karena melibatkan tiga dimensi sementara pendekatan kappa hanya dua dimensi. 233 . Walaupun demikian. peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan/menetapkan relibilitas antar penilai. estimasi dengan Genova lebih memberikan hasil kesepakatan dan kesepahaman rater yang lebih kuat dibandingkan dengan koefisien kappa.04 Tabel 37 memberi gambaran bahwa koefesien Genova untuk kelas 1 pada penilaian proses lebih tinggi dibandingkan dengan koefisien kappa.00 0. Jadi varians kesalahan dengan metode Genova lebih diperhitungkan dalam analisis. sementara metode Cohen kappa tidak diperhatikan.18 0. Dengan demikian.67 Koefisien Kappa 0. Dalam kaitan dengan ini.73 Selisih 0.73 0. Hal ini memberi gambaran bahwa kedua pendekatan yang digunakan memberikan hasil yang sama.67 0.91 0.67 0. peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan relibilitas antar rater.pendekatan yaitu pendekatan Genova dan pendekatan Cohen Kappa. Koefisien Genova untuk Kelas 2 sama dengan koefisien kappa.

Sama dengan kasus kelas 2, koefisien Genova untuk kelas 3 lebih rendah dibandingkan dengan koefisien kappa. Dalam kasus ini, peneliti masih menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova dibandingkan dengan koefisien kappa. Hal tersebut disebabkan karena sumber varians kesalahan pada analisis koefisien kappa belum diperhatikan sehingga memberikan hasil yang lebih tinggi. Jika varians kesalahan diperhatikan maka kemungkinan akan memberikan hasil yang kurang lebih sama dengan yang diperoleh melalui koefisien Genova.
2. Penilaian Produk

Penilaian produk instrumen penilaian seni lukis dilakukan oleh 3 (tiga) orang rater terhadap 60 orang siswa dengan 3 (tiga) indikator instrumen. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, analisis kesepakatan dan kesepahaman rater terhadap konstruk instrumen digunakan dua pendekatan yaitu pendekatan Genova dan pendekatan Cohen Kappa. Rangkuman perbandingan koefisien kedua pendekatan tersebut disajikan pada Tabel 38. Tabel 38 Perbadingan koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Produk Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Koefisien Genova
0,76 0,49 0,62

Koefisien Kappa
0,88 0,97 0,92

Selisih 0,12 0,48 0,30

Tabel 38 memberi gambaran bahwa koefesien Genova untuk kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 pada penilaian produk lebih rendah dibandingkan dengan koefisien 234

kappa. Dalam kaitan dengan ini, estimasi dengan Genova lebih memberikan hasil kesepakatan dan kesepahaman rater yang lebih kuat dibandingkan dengan koefisien kappa. Oleh karena itu, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan relibilitas antar rater. Pendekatan Genova lebih lengkap karena melibatkan tiga dimensi, sementara pendekatan kappa hanya dua dimensi. Jadi varians kesalahan dengan metode Genova lebih diperhitungkan dalam analisis, sementara metode Cohen kappa tidak diperhatikan, Sumber varians kesalahan pada analisis koefisien kappa

belum diperhatikan sehingga memberikan hasil yang lebih tinggi. Jika varians kesalahan diperhatikan maka kemungkinan akan memberikan hasil yang kurang lebih sama dengan yang diperoleh melalui koefisien Genova. Dengan demikian, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan/menetapkan relibilitas antar penilai.
3. Penilaian Diri

Penilaian diri pada instrumen penilaian seni lukis dilakukan oleh 3 (tiga) orang rater terhadap 60 orang siswa dengan 5 (lima) indikator instrumen. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, analisis kesepakatan dan kesepahaman rater terhadap konstruk instrumen digunakan dua pendekatan yaitu pendekatan Genova dan pendekatan Cohen Kappa. Rangkuman perbandingan koefisien kedua pendekatan tersebut disajikan pada Tabel 39.

235

Tabel 39 Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Diri Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Koefisien Genova
0,68 0,61 0,66

Koefisien Kappa 0,82 0,72 0,75

Selisih 0,14 0,11 0,09

Tabel 39 memberi gambaran bahwa koefesien Genova untuk kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 pada penilaian diri lebih rendah dibandingkan dengan koefisien kappa. Dalam kaitan dengan ini, estimasi dengan Genova lebih memberikan hasil kesepakatan dan kesepahaman rater yang lebih kuat dibandingkan dengan koefisien kappa. Oleh karena itu, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan relibilitas antar rater, Pendekatan Genova lebih lengkap karena melibatkan tiga dimensi sementara pendekatan kappa hanya dua dimensi. Jadi varians kesalahan dengan metode Genova lebih diperhitungkan dalam analisis sementara metode Cohen kappa kesalahan pada analisis koefisien kappa

tidak diperhatikan, Sumber varians

belum diperhatikan sehingga memberikan hasil yang lebih tinggi. Jika varians kesalahan diperhatikan maka kemungkinan akan memberikan hasil yang kurang lebih sama dengan yang diperoleh melalui koefisien Genova. Dengan demikian, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan/menetapkan relibilitas antar penilai.

236

4. Penilaian Kelompok

Penilaian kelompok pada instrumen penilaian seni lukis dilakukan oleh 3 (tiga) orang rater terhadap 60 orang siswa dengan 5 (lima) indikator instrumen. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, analisis kesepakatan dan kesepahaman rater terhadap konstruk instrumen digunakan dua Tabel 40 Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Kelompok Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Koefisien Genova
0,86 0,82 0,74

Koefisien Kappa 0,51 0,33 0,73

Selisih 0,35 0,49 0,01

pendekatan yaitu pendekatan Genova dan pendekatan Cohen Kappa. Rangkuman perbandingan koefisien kedua pendekatan tersebut disajikan pada Tabel 40. Tabel 40 memberi gambaran bahwa koefesien Genova untuk kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 pada penilaian kelompok lebih tinggi dibandingkan dengan koefisien kappa. Dalam kaitan dengan ini, estimasi dengan Genova lebih memberikan hasil kesepakatan dan kesepahaman rater yang lebih kuat dibandingkan dengan koefisien kappa. Oleh karena itu, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan relibilitas antar rater.
5. Tren Perkembangan Koefisien Genova

Tren perkembangan koefisien Genova hasil penilaian 3 (tiga) orang rater pada penilaian instrumen seni lukis baik untuk penilaian proses, produk, penilaian 237

diri, dan penilaian kelompok disajikan pada gambar berikut.
a. Penilaian Proses Kelas 1

Koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 1 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater, Gambar 64 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 1 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Sebagai bahan perbandingan, kedua persamaan disajikan sebagai berikut. Tabel 41 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 1 Persamaan Linear
y = 0,0461x + 0,6355

Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik)
y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985

dengan: y = estimasi koefisien Genova,
x = banyak item yang dirating oleh rater,

Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 82,34%, sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam

memprediksi sebesar 97,5% sebagaimana yang tampak pada Gambar 64. Berdasarkan tingkat determinasi ini, tampak bahwa persamaan non-linear memberikan besarnya koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 4 ditulis

238

x =4, maka koefisien Genova untuk masing-masing persamaan diperoleh dengan

mensubstitusikan x =4 pada kedua persamaan seperti ditunjukan berikut: Tabel 42 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =4 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0,0461x + 0,6355 = 0,0461(4) + 0,6355 = 0,8199 Persamaan non-linear y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985 = −0,0114(4) 2 + 0,1374(4) + 0,4985 = 0,8657

Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 4 menggunakan persamaan linear adalah 0,8199, sedangkan bila menggunakan persamaan non-linear adalah 0,8657. Adapun koefisien Genova yang

sesungguhnya untuk x =4 adalah 0,85936. Hasil ini menunjukkan bahwa persamaan non-linear memberikan hasil yang lebih akurat, namun penafsirannya
Y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985

R2 = 0,975

Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear

,

,

,

Gambar 64. Tren perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 1 adalah banyak item yang dirating maksimum 6, karena lebih dari itu ditafsirkan tidak banyak berubah, walau pada grafik menunjukkan penurunan. Karakteristik

ini muncul sebagai akibat sifat-sifat yang berlaku pada persamaan non-linear 239

(kuadratik). Pada jumlah item < 6, kurva cenderung naik itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. Namun kurva akan cenderung turun setelah mencapai titik kulminasi yaitu untuk x =6. Akibatnya untuk jumlah item>6 kecenderungan estimasi koefisien Genova akan mengalami penurunan. Secara matematik penentuan titik kulminasi atau titik maksimum dilakukan dengan menggunakan konsep turunan pertama fungsi sebagai berikut:

y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985 y 1 = 2.(−0,0114) x + 0,1374
Nilai x yang menyebabkan y bernilai maksimum diperoleh dengan mmbuat dengan nol ditulis y 1 = 0

y1

y 1 = 2.(−0,0114) x + 0,1374 0 = 2.(−0,0114) x + 0,1374 x= 0,1374 = 6,026 ≈ 6 2.0,0114

Jadi estimasi nilai koefisien Genova maksimum terjadi pada saat item yang dirating sebanyak 6 buah. Adapun nilai koefisien Genovanya dientukan sebagai berikut. y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985

= −0,0114(6) 2 + 0,1374(6) + 0,4985 = 0,9125
b. Penilaian Proses Kelas 2

Koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 2 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang

240

Tabel 43 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 2 Persamaan Linear y = 0. Sebagai bahan perbandingan.0099 x 2 + 0. Berdasarkan tingkat determinasi ini. sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam memprediksi sebesar 98. kedua persamaan disajikan sebagai berikut. Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Gambar 65 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 2 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik).1233 x + 0.47%. x = banyak item yang dirating oleh rater.30%. tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik.dirating oleh rater. maka koefisien Genova untuk masingmasing persamaan diperoleh dengan mensubstitusikan persamaan seperti ditunjukan berikut: x =6 pada kedua 241 . Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 85. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 6 ditulis x =6.0442 x + 0.2798 dengan: y = estimasi koefisien Genova.3984 Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0.

1233(6) + 0.6632. Hasil ini menunjukkan bahwa persamaan non-linear memberikan hasil yang lebih akurat. pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan karakteristik yang unik.2798 = −0. Pada jumlah item < 6.6636 Persamaan non-linear y = −0.1233 x + 0.2798 = 0. Adapun koefisien Genova yang sesungguhnya untuk x =6 adalah 0.0442 x + 0. Namun demikian. Namun kurva akan cenderung turun setelah mencapai titik kulminasi yaitu u ntuk x = 6.0099(6) 2 + 0.0442(6) + 0.Tabel 44 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =6 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0. Berdasarkan Gambar 65.0099 x 2 + 0. terutama untuk jumlah item yang banyak. sedangkan menggunakan persamaan non-linear 0. Karakteristik ini muncul sebagai akibat sifatsifat yang berlaku pada persamaan non-linear (kuadratik). Secara matematis penentuan titik kulminasi atau titik maksimum dilakukan dengan 242 .6632 Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 6 menggunakan persamaan linear adalah 0. Akibatnya untuk jumlah item >6 kecenderungan estimasi koefisien Genova akan mengalami penurunan.3984 = 0.6636. kurva cenderung naik itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating.3984 = 0. adanya pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti.65527.

y = − 0 ,0099 x 2 + 0 ,1233 x + 0 , 279

R2 = 0,983

Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear

,

,

,

Gambar 65. Tren perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 2 menggunakan konsep turunan pertama fungsi sebagai berikut:
y = −0,0099 x 2 + 0,1233x + 0,2798 y 1 = 2.(−0,0099) x + 0,1233

Nilai

x

yang menyebabkan

y

bernilai maksimum diperoleh dengan

menyamadengankan y 1 dengan nol ditulis y 1 = 0
y 1 = 2.(−0,0099) x + 0,1233 0 = 2.(−0,0099) x + 0,1233 x=

0,1233 = 6.227 ≈ 6 2.0,0099

Jadi estimasi nilai koefisien Genova maksimum terjadi pada saat item yang dirating sebanyak 6 buah. Adapun nilai koefisien Genovanya dientukan sebagai berikut.
y = −0,0099 x 2 + 0,1233 x + 0,2798

243

= −0,0099(6) 2 + 0,1233(6) + 0,2798 = 0,6632
c. Penilaian Proses Kelas 3

Koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 3 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater, Gambar 66 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 3 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Sebagai bahan perbandingan, kedua persamaan disajikan sebagai berikut. Tabel 45 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 3 Persamaan Linear
y = 0,0413x + 0,4144

Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0,0095 x 2 + 0,1174 x + 0,3003

dengan:

y = estimasi koefisien Genova,
x = banyak item yang dirating oleh rater,

Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 84,64%, sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam

memprediksi sebesar 98,10% sebagaimana tampak pada Gambar 66. Berdasarkan tingkat determinasi ini, tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan 244

memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 3 ditulis
x =3, maka koefisien Genova untuk masing-masing persamaan diperoleh dengan

mensubstitusikan x =3 pada kedua persamaan seperti ditunjukan berikut: Tabel 46 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =3 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0,0413x + 0,4144 = 0,0413(3) + 0,4144 = 0,5383 Persamaan non-linear y = −0,0095 x 2 + 0,1174 x + 0,3003 = −0,0095(3) 2 + 0,1174(3) + 0,3003 = 0,567

Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 3 menggunakan persamaan linear adalah 0,5383, sedangkan bila menggunakan

y = − 0 , 0095 x 2 + 0 ,1174 x + 0 , 3003

R2 = 0,981

Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear

,

,

,

Gambar 66. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 3

245

persamaan non-linear sebesar 0,567.

Adapun koefisien Genova yang

sesungguhnya untuk x =3 adalah 0,57735. Dari hasil ini tampak persamaan nonlinear memberikan pendekatan yang lebih akurat. Namun demikian, adanya pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti, terutama untuk jumlah item yang banyak. Berdasarkan Gambar 66, pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan karakteristik yang unik. Karakteristik ini muncul sebagai akibat sifat-sifat yang berlaku pada persamaan non-linear (kuadratik). Pada jumlah item < 6, kurva cenderung naik itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. Namun kurva akan cenderung turun setelah mencapai titik kulminasi yaitu untuk x =6. Akibatnya untuk jumlah item>6 kecenderungan estimasi koefisien Genova akan mengalami penurunan. Secara matematis penentuan titik kulminasi atau titik maksimum dilakukan dengan menggunakan konsep turunan pertama fungsi sebagai berikut: y = −0,0095 x 2 + 0,1174 x + 0,3003 y 1 = 2.(−0,0095) x + 0,1174 Nilai
x

yang menyebabkan

y

bernilai maksimum diperoleh dengan

menyamadengankan y 1 dengan nol ditulis y 1 = 0
y 1 = 2.(−0,0099) x + 0,1174 0 = 2.(−0,0095) x + 0,1174 0,1174 x= = 6,179 ≈ 6 2.0,0095 Jadi estimasi nilai koefisien Genova maksimum terjadi pada saat item yang dirating sebanyak 6 buah. Adapun nilai koefisien Genovanya sebagai berikut.

246

y = −0,0095 x 2 + 0,1174 x + 0,3003 = −0,0095(6) 2 + 0,1174(6) + 0,3003 = 0,6627
d. Penilaian Produk Kelas 1

Koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 1 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater, Gambar 67 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 1 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Sebagai bahan perbandingan, kedua persamaan disajikan sebagai berikut. Tabel 47 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 1 Persamaan Linear y = 0,1228 x + 0,4079 Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0,0418 x 2 + 0,2902 x + 0,2685

dengan:

y = estimasi koefisien Genova,
x = banyak item yang dirating oleh rater,

Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 96,2%, sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam

memprediksi sebesar 100% sebagaimana tampak pada Gambar 67. Berdasarkan tingkat determinasi ini, tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan 247

memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 3 ditulis
x =3, maka koefisien Genova untuk masing-masing persamaan diperoleh dengan

mensubstitusikan x =3 pada kedua persamaan seperti ditunjukan berikut: Tabel 48 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =3 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0,1228 x + 0,4079 = 0,1228(3) + 0,4079 = 0,7763 Persamaan non-linear y = −0,0418 x 2 + 0,2902 x + 0,2685 = −0,0418(3) 2 + 0,2902(3) + 0,2685 = 0,7629

Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 3 menggunakan persamaan linear adalah 0,7763, sedangkan menggunakan persamaan non-linear 0,7629. Adapun koefisien Genova yang sesungguhnya

y = − 0 , 0418 x 2 + 0 , 2902 x + 0 , 268

R 2 = 1,000

Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear

,

,

,

Gambar 67. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 1

248

untuk x =3 adalah 0,76238. Hasil ini menunjukkan bahwa persamaan non-linear memberikan pendekatan yang lebih akurat. Namun demikian, adanya

pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti, terutama untuk jumlah item yang banyak. Berdasarkan Gambar 67, pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan kurva cenderung monoton naik untuk setiap jumlah item yang dirating, itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. Karena kecenderungan kurva yang monoton naik, maka nilai maksimum koefisien genova terjadi untuk banyaknya item yang dirating 3 atau x = 3 , adapun nilai koefisien Genovanya sebagai berikut: y = −0,0418 x 2 + 0,2902 x + 0,2685 = −0,0418(3) 2 + 0,2902(3) + 0,2685 = 0,7629
e. Penilaian Produk Kelas 2

Koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 2 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater, Gambar 68 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 2 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Sebagai bahan perbandingan, kedua persamaan disajikan sebagai berikut.

249

sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam memprediksi sebesar 100%.69%. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 2 ditulis x =2.3990 x =2 pada kedua 250 .2245(2) + 0. maka koefisien Genova untuk masingmasing persamaan diperoleh dengan mensubstitusikan persamaan seperti ditunjukan berikut: Tabel 50 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =2 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0. Berdasarkan tingkat determinasi ini.1249 x + 0.1249(2) + 0.0249 x 2 + 0.3825 Persamaan non-linear y = −0.1327 = 0.0249(2) 2 + 0.0249 x 2 + 0.0496 = 0. tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik.1327 Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0. x = banyak item yang dirating oleh rater.Tabel 49 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 2 Persamaan Linear y = 0.1327 = 0.1249 x + 0.2245 x + 0. Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 98.0496 dengan: y = estimasi koefisien Genova.2245 x + 0.0496 = −0.

Dari hasil ini tampak persamaan non-linear memberikan pendekatan yang lebih akurat. 0249 x 2 + 0 .3825. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 2 Gambar 68 menunjukkan bahwa pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan kurva cenderung monoton naik untuk setiap jumlah item yang dirating. Gambar 68. Karena kecenderungan kurva yang monoton naik. maka nilai maksimum koefisien Genova terjadi untuk banyaknya item yang dirating 3 atau x = 3 .000 Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear . 0496 R 2 = 1. untuk Adapun koefisien Genova yang sesungguhnya x =2 adalah 0. . terutama untuk jumlah item yang banyak.3990.3990. y = − 0 . adapun nilai koefisien Genovanya sebagai berikut: 251 . sedangkan menggunakan persamaan non-linear 0. itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. adanya pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti. 2245 x + 0 . Namun demikian.Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 2 menggunakan persamaan linear adalah 0. .

0249(3) 2 + 0. maka koefisien Genova untuk masing- 252 .2245 x + 0. Penilaian Produk Kelas 3 Koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 3 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater.y = −0. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 1 ditulis x =1. Berdasarkan tingkat determinasi ini.2416 x + 0.4989 f.2245(3) + 0. x = banyak item yang dirating oleh rater Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 97. kedua persamaan disajikan sebagai berikut.1339 x + 0. tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik.2326 Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0. Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating.0249 x 2 + 0. sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam memprediksi sebesar 100%.0496 = −0. Tabel 51 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 3 Persamaan Linear y = 0. Sebagai bahan perbandingan.1020 dengan: y = estimasi koefisien Genova.76%.0496 = 0.0309 x 2 + 0. Gambar 69 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 3 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik).

3990. Namun demikian. Hasil ini menunjukkana bahwa persamaan non-linear memberikan pendekatan yang lebih akurat. Adapun koefisien Genova yang sesungguhnya untuk x =2 adalah 0.0309 x 2 + 0.1339(1) + 0.2416 x + 0.1020 = 0. 2416 x + 0 . . Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear y = − 0 .3127 Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 2 menggunakan persamaan linear adalah 0. adanya pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti.2326 = 0.3825.2326 = 0.0309(1) 2 + 0. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 3 253 . . 0309 x 2 + 0 .3665 Persamaan non-linear y = −0. .2416(1) + 0. sedangkan menggunakan persamaan non-linear 0.masing persamaan diperoleh dengan mensubstitusikan persamaan seperti ditunjukan berikut: x =1 pada kedua Tabel 52 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =1 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0.3990. 000 Gambar 69.1 R 2 = 1 .1339 x + 0.1020 = −0.

0682 x + 0.355 y = −0.1671x + 0.1454 x + 0. adapun nilai koefisien genovanya sebagai berikut: y = −0. kelas 2.0496 = −0.2902 x + 0. itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. Gambar 70 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian diri ketiga kelas dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non linear dengan rumusan sebagai berikut.0524 x + 0.2245 x + 0.1808 y = −0. dan kelas 3 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh penilai.0249(3) 2 + 0. pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan kurva cenderung monoton naik untuk setiap jumlah item yang dirating.terutama untuk jumlah item yang banyak.2963 y = 0.2685 254 . Berdasarkan gambar di atas.3390 y = 0. Tabel 53 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Diri Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Linear y = 0. maka nilai maksimum koefisien genova terjadi untuk banyaknya item yang dirating 3 atau x = 3 .4989 g.015 x 2 + 0.418 x 2 + 0. Penilaian Diri Kecenderungan koefisien Genova pada penilaian diri di kelas 1.067 x + 0.0496 = 0.0249 x 2 + 0.4475 non-linear y = −0.0165 x 2 + 0.2245(3) + 0. Karena kecenderungan kurva yang monoton naik.

26% (untuk kelas 1 ).996 .87% (untuk kelas 3). sedangkan koefisien determinasi model non-linear persamaan tersebut dalam memprediksi sebesar 99. Berdasarkan koefisien determinasi tampak dengan jelas bahwa pendekatan dengan persamaan non-linear memberikan estimasi nilai koefisien Genova yang lebih baik.000 Gambar 70.0418 x 2 + 0. y = −0.2685 R2 = 1.60% (untuk kelas 2 ) dan 100% (untuk kelas 3). 99. . Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Diri Gambar 70 menunjukkan bahwa estimasi besarnya nilai koefisien Genova baik dengan persamaan non-linear maupun persamaan linear memberi gambaran bahwa konsistensi dan kestabilan rater dalam merating di kelas 2 dan kelas 3 lebih baik dibandingkan dengan di kelas 1. Adapun nilai estimasi maksimum 255 . 991 Keterangan Kurva Linear Kurva Non-Linear Kurva Data Asli Kelas 1 Kurva Data Asli Kelas 2 Kurva Data Asli Kelas 3 . . . y = −0. . 92.1454x + 0. .02% (untuk kelas 2 ) dan 90. y = −0.0165x2 + 0.1808 x R 2 = 0.10% (untuk kelas 1 ).dengan tingkat determinasi model linear persamaan tersebut dalam memprediksi sebesar 88.2902 x + 0.3390 . R 2 = 0 .1671 + 0. Begitu juga konsistensi rater dalam merating kelas 3 lebih baik dari kelas 2.0155x2 + 0. Hal ini dibuktikan oleh tren koefisien Genova yang lebih tinggi untuk setiap peningkatan jumlah item yang dirating dibandingkan dengan koefisien Genova di kelas 1. .

1454(4) + 0. Penilaian Kelompok Kecenderungan koefisien Genova pada penilaian kelompok di kelas 1. 2 dan 3 berturut-turut terjadi pada saat jumlah item 4 buah.2685 =0.0165 x 2 + 0.koefisien Genova dengan pendekatan persamaan non-linear pada penilaian diri kelas 1.2902 x + 0.1671x + 0.6745 h.1808 = 0.1808 = −0.6038 Penilaian kelas 3: y = −0.0165(5) 2 + 0. dan 5 buah. 5 buah.3390 = 0.3390 = −0. Gambar 71 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian diri ketiga kelas dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non linear dengan rumusan sebagai berikut. kelas 2.0155 x 2 + 0.418 x 2 + 0.1671(5) + 0. dan kelas 3 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh penilai.1454 x + 0.2902(5) + 0.0155(4) 2 + 0.418(5) 2 + 0.6726 Penilaian kelas 2: y = −0.2685 = −0. 256 . Besarnya nilai koefisien genova tersebut dihitung sebagai berikut: Penilaian kelas 1: y = −0.

. R2 = 0.0209 x 2 + 0.3796 y = −0.75% (untuk kelas 2) dan 93. .0209 x 2 + 0.2127x + 0. 90.0824x + 0. y = −0.0739x + 0. .994 . R = 0.2127 x + 0.3139 Non-linear y = −0.5259 y = 0. 99.3796 .992 2 Keterangan Kurva Linear Kurva Non-Linear Kurva Data Asli Kelas 1 Kurva Data Asli Kelas 2 Kurva Data Asli Kelas 3 .4458 y = 0.1992 x + 0.2114 x + 0.Tabel 54 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Kelompok Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Linear y = 0.20% (untuk kelas 1 ).1728 x R2 = 0.2953 y = −0.40% (untuk kelas 2 ) dan 99.0215 x 2 + 0.2114 x + 0.0215 x 2 + 0.1728 dengan tingkat determinasi model linear persamaan tersebut dalam memprediksi sebesar 89.21% (untuk kelas 1). Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Kelompok 257 . sedangkan koefisien determinasi model non-linear persamaan tersebut dalam memprediksi sebesar 99. Dari koefisien determinasi tampak dengan jelas bahwa pendekatan dengan persamaan non-linear memberikan estimasi nilai koefisien Genova yang lebih baik.020 x 2 + 0.70 % (untuk kelas 3). y = −0. .1992 x + 0.997 Gambar 71.40% (untuk kelas 3).0918x + 0.0201 2 + 0. . y = − 0.2953 .

Setidaknya hal itu dibuktikan oleh tren koefisien Genova yang lebih tinggi untuk setiap peningkatan jumlah item yang dirating dibandingkan dengan koefisien Genova di kelas 1.0209(5) 2 + 0. Adapun nilai hampiran maksimum koefisien Genova dengan pendekatan persamaan non-linear pada penilaian kelompok kelas 1.3796 = −0.7365 Secara keseluruhan pendekatan persamaan nonlinear lebih akurat dibanding dengan persamaan linear.2953 = 0.2127(5) + 0.Pada Gambar 71 tampak bahwa pendekatan nilai koefisien Genova baik dengan persamaan non-linear maupun persamaan linear memberi gambaran bahwa konsistensi dan kestabilan rater dalam merating di kelas 2 dan kelas 3 lebih baik dibandingkan dengan di kelas 1.1728 = −0.2114 x + 0. 2 dan 3 berturut-turut terjadi pada saat jumlah item 5 buah.2953 = −0.0215(5) 2 + 0.1992 x + 0. Besarnya nilai koefisien genova tersebut dihitung sebagai berikut: Penilaian kelas 1: y = −0.8153 Penilaian kelas 3: y = −0. Hal ini ditunjukkan oleh varians skor yang 258 .2114(5) + 0.1992(5) + 0.020(5) 2 + 0.2127 x + 0.0215 x 2 + 0.8523 Penilaian kelas 2: y = −0.3796 = 0.020 x 2 + 0.1728 =0. Begitu juga konsistensi rater dalam merating kelas 2 lebih baik dari kelas 3 .0209 x 2 + 0.

Dengan demikian. secara keseluruhan pengembangan model instrumen penilaian karya seni lukis dapat diterima untuk digunakan melakukan penilaian pada faset yang lebih luas atau telah memenuhi untuk kepentingan faset pengukuran yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) pada kualitas karya seni lukis anak yakni ditunjukkan oleh indeks koefisien G sebesar 0. Data-data yang diperoleh melalui ujicoba dianalisis untuk membuktikan validitas dan reliabilitas menggunakan program Genova. walau pendekatan yang lebih akurat dibanding persamaan linear. Koefisien G dari komponenkomponen penilaian kualitas karya seni lukis hasil uji coba menunjukkan. Berdasarkan uraian tentang hasil dan pembahasan. Setiap persamaan nonlinear menunjukkan ada penurunan keoefisein Genova bila jumlah item atau indikator ditambah. dapat diketahui instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar yang terdiri dari instrumen penilaian proses. Harga maksimum koefisien Genova adalah harga maksimum kurve persamaan nonlinear. 259 . instrumen penilaian produk. instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar telah memenuhi syarat validitas dan reliabilitas untuk digunakan dalam proses penilaian secara luas. Oleh karena pembaca harus hati-hati dalam menafsirkan persamaan nonlinear.dapat dijelaskan oleh persamaan nonlinear. Namun hal yang perlu diperhatikan bahwa jumlah item paling banyak yang dinilai adalah pada nilai maksimum koefisien reliabilitas. instrumen penilaian diri.71. dan instrumen penilaian kelompok telah mengalami serangkaian ujicoba.

3. Reliabilitas telah teruji melalui teknik generalizeability theory (Teori G) dan interrater Cohen’s Kappa. komponen yang dinilai. Pengguna instrumen ini adalah pendidik sebagai rater. reliabilitas. produk. komponen produk 3 (tiga) item. penggunaan bahasa. dan contoh aplikasi. dapat disusun kesimpulan sebagai berikut. 2. Komponen proses terdiri atas 7 (tujuh) item. petunjuk penggunaan. Pedoman penggunaan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak dalam bentuk buklet. Validitas telah teruji melalui proses focus group discussion sebanyak 3 kali dan seminar sekali. deskripsi. Koefisien Genova untuk instrumen ini sebesar 0.70. dan penilaian kelompok. 318) 260 . komponen penilaian diri 5 (lima) item. penilaian diri. Simpulan Tentang Produk Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dijelaskan pada BAB IV. dan komponen penilaian kelompok 5 (lima) item. dan keterpakaian di SD telah teruji. Karakteristik instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak yang mencakup validitas. Pedoman penilaian sudah divalidasi oleh guru pengguna yang meliputi keterpakaian. 1.71 dan koefisien interrater 0. rasional. dan rubrik (kriteria). Spesifikasi instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD berbentuk lembar pengamatan yang di dalamnya terdiri atas indikator. Buklet terdiri atas latar belakang. dan efisiensi (hasil validasi dapat dilihat pada Tabel 7 hal.73 telah memenuhi kriteria minimal yang dipersyaratkan yaitu 0. Komponen yang menjadi objek penilaian meliputi proses.BAB V SIMPULAN DAN SARAN A.

memahami pedoman penilaian hasil belajar karya seni lukis anak. sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut. memiliki pengalaman dalam bidang seni lukis. Tetapi. penelitian ini tidak menjangkau pembuktian asumsi tersebut. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan baik dari segi metode maupun aplikasi. B. Pengembangan instrumen hanya sampai pada tahap pengembangan dan belum sampai pada tahap diseminasi agar instrumen hasil pengembangan dapat digunakan secara lebih luas. Saran Pemanfaatan Saran yng diajukan berdasarkan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut.4. Untuk sekolah hendaknya mengadakan pelatihan penggunaan instrumen penilaian seni lukis anak bagi guru mata pelajaran seni budaya dan 261 . 1. Persyaratan yang harus dipenuhi pendidik SD agar kompeten menggunakan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD meliputi latar belakang pendidikan yang relevan. Penelitian ini didasarkan pada asumsi bahwa guru-guru seni lukis sekolah dasar cerendung memberikan penilaian secara subjektif. C. 2. 1. dan responsif terhadap pembaharuan dan perubahan agar kegiatan pembelajaran seni dapat menyesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan jaman.

3. 4. Desiminasi pedoman penilaian karya lukis anak dapat dilakukan melalui musyawarah guru mata pelajaran seni budaya di sekolah dasar. 2. Bagi guru SD yang akan menggunakan instrumen penilaian ini hendaknya memahami dengan baik setiap item yang tercantum dalam instrumen penilaian seni lukis anak agar tercapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang tinggi antar sesama pengguna. agar guru dapat memberikan penilaian secara objektif hasil seni lukis anak. Untuk mengetahui lebih dalam tentang latar belakang penciptaan karya seni lukis anak agar penilaian lebih objektif maka guru hendaknya membiasakan anak untuk menilai karya lukis sendiri dan karya temannya. dan Pengembangan Produk Lebih Lanjut 1. maka PGSD hendaknya mengadakan studi pilihan/paket bidang seni sehingga kelak tenaga guru yang dihasilkan bisa sebagai konsultan bagi guru yang lain. D. sehingga diperoleh manfaat yang lebih besar. 262 . 5. Mengingat pentingnya bidang seni di sekolah dasar. Sekolah-Sekolah Dasar yang tidak memiliki guru khusus seni budaya dapat memberdayakan dosen pendidikan seni rupa di LPTK sebagai pendamping. Instrumen yang telah dikembangkan ini divalidasi kembali dengan menggunakan sekolah yang berbeda agar diperoleh produk yang lebih baik. 2.keterampilan di sekolah dasar. Diseminasi. Untuk menguji keefektifan instrumen hasil pengembangan secara empirik masih diperlukan penelitian diseminasi pada daerah yang lebih luas. 3.

....................... Lingkaran Warna............ Gambar 21....................... Gambar 2.................................. Gambar 18...DAFTAR GAMBAR Gambar 1.......................... Ruang dengan Teknik Penumpangan.. Bidang Tak Beraturan............. Gambar 3... Gambar 14......... Gambar 16.. Gambar 4............... Gambar 20................... Ruang dengan Teknik Pelengkungan......................... Gambar X-ray Oleh Anak Umur Lima Tahun yang Menunjukkan Ibu Dengan Dua Anak di Dalamnya.................................................................................... yang Menunjukkan Masa Peralihan dari Subtahap Figuratif Awal ke Subtahap Figuratif Tengah…………………………………………………… Gambar 17........................... Gambar 13......... Bidang Bersudut....... Gambar 10. Ruang dengan Teknik Pergantian Tekstur.......................... Hasil Gambar Anak Umur Lima Tahun. Gambar 5...... Gambar 12............................ Gambar Anak Umur Empat Sepuluh Tahun........ Gambar 15.......................................... Gambar 9...................... Gambar Anak Umur Lima Tahun Menunjukkan Objek-Objek yang Ada di Dalam Maupun di Luar Rumah........................... Ruang dengan Teknik Gelap Terang.......... Komposisi Ruang Negartif dan Positif................. Bidang Organik……………………………………………………............ Ruang dengan Teknik Bayangan.......... Gambar Anak Pada Awal Munculnya Tahap Figuratif dengan Objek-Objek yang Menggantung di Langit....................................... Gambar Manusia oleh Anak Umur Empat Tahun.............................. Bidang Geometris..... Gambar 6....... Gambar Bus Penuh Dengan Penumpang........................................ Gambar 22.......................... Harimau Dalam Kandang... Gambar Kereta oleh Anak Umur Lima Tahun........... Ruang dengan Teknik Pergantian Warna..................................... Gambar Anak yang Menunjukkan Penggabungan xv 79 77 78 79 75 75 76 77 73 54 54 55 55 55 56 56 56 57 57 57 57 60 71 .. Gambar 11.... Gambar 19............................................................. Gambar 24......................... Gambar Anak Pada Subtahap Figuratif Tengah…………………..................... Gambar 23....... Gambar 7..... Ruang dengan Teknik Pergantian Bentuk dan Ukuran......................... Gambar 8.....................................................

.......................................................... Gambar 41...................... Gambar 27. Subjek yang Menyiapkan Alat dan Bahan Hasil Studi Awal.................... Gambar 29.............. Corengan Tak Beraturan........ Corengan Bernama..... Gambar 48.................................... Gambar yang Menunjukkan Penggunakan Perspektif Linier Oleh Anak Kelas Lima... Gambar 40..... Gambar 43............... Bagan Anak Usia 13 Tahun................... Gambar 38................ Gambar 47.............. Coreng Moreng Anak Usia 3 Tahun................................................................. Gambar 36..... Gambar 25.......... Gambar 39..... Gambar 28................................................... Jenis Kurikulum yang Digunakan Hasil Studi Awal............ Gambar Anak Perempuan yang Mengidentifikasi Dirinya Dengan Pemain Drumband. Gambar 46............ Langkah-Langkah Pembelajaran Seni Lukis.......... Gambar 37........... Gambar Bus yang Penuh Sesak Oleh Penumpang yang Digambarkan Dengan Perspektif Linier....................... Skema Tahap Diseminasi Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak.... Gambar 31......................... Tahapan Studi Awal Pengembangan Instrumen Seni Lukis Anak........................... Gambar 33..........Antara Tampak Depan dan Tampak Atas..................... Kesesuaian Buku yang Digunakan Hasil Studi Awal………......................... Bagan Anak Usia 10 Tahun............................................. Skema Tahap Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak 160 Gambar 45..................................................... Model Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak...................... Tahapan Perancanganan Instrumen Seni Lukis Anak......... Gambar 32............................... Bagan Anak Usia 7-9 Tahun.. Gambar 30......... Gambar 42........................... Gambar 49......... Gambar 34. Pra Bagan Anak Usia 7 Tahun............ Tahapan Pendefinisian Instrumen Seni Lukis Anak...................... Desain Ujicoba Intrumen Seni Lukis................................ Gambar yang Menunjukkan Perbedaan Anak Laki-laki dan Perempuan Dengan Ciri-Ciri Pakaian yang Rinci......... Corengan Terkendali......... 161 162 172 172 173 xvi .. Pra Bagan Anak Usia 4-7 Tahun....... Bagan Anak Usia 14 Tahun................................................ Gambar 35......................................... 80 81 81 83 83 84 85 85 86 87 87 88 88 89 90 100 154 156 157 158 Gambar 44..... Gambar 26...................................

............................. Gambar 59........................................................................ Gambar 67..... Gambar 55. Rangkuman Hasil Seminar Instrumen Penilaian Seni Lukis .................................. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 2... Gambar 61.....................Gambar 50.............................................. Gambar 57............ Gambar 60................................................. Gambar 68............... Gambar 56.... Gambar 62.…………………................................ Instrumen Penilaian Seni Lukis Hasil Tahap Rancangan........ Gambar 51...... Hasil Studi Awal Subjek yang Menentukan Tema Lukisan ................. Gambar 64... Gambar 65................... Gambar 52.............. Kesulitan Guru dalam Penilaian Hasil Studi Awal...................................... Tren perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 2…………………………………………………… Gambar 66........... Gambar 53................... Minat siswa dalam belajar Hasil Studi Awal............. Hasil Studi Awal Tanggapan Guru Perlunya Instrumen Penilaian .................... Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 1............. Hasil Studi Awal Kesesuaian Prosedur yang Digunakan dalam Penilaian ................... Hasil Studi Awal Jenis Penentuan Skor Penilaian oleh Guru ........................................ Hasil Studi Awal Partisipasi Siswa atau Sekolah dalam Kegiatan Lomba...................... Hasil Studi Awal Jenis Penilaian yang Digunakan Guru .... Gambar 58.................................................................. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 3.......... Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 3................. Rangkuman Hasil FGD Ketiga..... Gambar 69............ Gambar 54.... Gambar 63....... Tren perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 1................ Hasil Studi Awal Kriteria Penilaian Guru ......... Hasil Studi Awal Unsur Kreativitas dalam Penilaian oleh Guru……………………………………………………................... 174 174 175 176 176 177 178 178 179 180 180 184 188 192 239 243 245 248 251 253 xvii .............. Hasil Studi Awal Komponen Penilaian Guru.......

............... 257 255 xviii ....Gambar 70............................................ Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Kelompok......... Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Diri.................................................................... Gambar 71..........

2. Latar Belakang dan Identifikasi Masalah ........ A..….…...........…..........................………………………………………………………………......… E.............………………………………………………........ Rasional yang Melandasi Pentingnya Masalah ……………............. Pendekatan dalam Pendidikan Seni Rupa ................ 3...……………….. LEMBAR PENGESAHAN ................…..……....................… D............................……………….... Pembelajaran Seni Lukis di Sekolah Dasar ……………………….…………………………………………….. DAFTAR LAMPIRAN .........………………………………………………………….. DAFTAR GAMBAR ...... B.....……… C..……………………………………………………………….......................................................................…............... 1... Tujuan Penelitian ................ KAJIAN PUSTAKA …………..…… BAB II....... Spesifikasi Produk ……….....................…….................………….................... 1.........................................................………………………………………………………...... ABSTRACT... Manfaat Pendidikan Seni Rupa ........ DAFTAR TABEL .................………................................ 2.DAFTAR ISI ABSTRAK....... DAFTAR ISI .........……...................... Pendidikan Seni Rupa ……….................... BAB I.......... ….............. PENDAHULUAN……………………………………………………… A........................…… E................... PERNYATAAN KEASLIAN ..……….…………………......…….......................................................................... Manfaat Penelitian ……….............. ii iii iv v vii viii xi xv xix 1 1 7 11 11 12 12 14 14 14 22 24 34 42 52 52 64 viii .....................…… B..……………………………………………………..... Seni Lukis bagi Anak Usia Sekolah Dasar .... Pendidikan Seni Rupa di Sekolah Dasar Di Indonesia ..................... 4.............. Pengertian dan Jenis Seni Lukis ......... KATA PENGANTAR ... Pengertian Pendidikan Seni Rupa ..... Rumusan Masalah….... Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini ... C..............

..... Seni Lukis sebagai Indikator Gambar Ekspresi dalam KTSP .............. ……………………………………..................……...................... Tahap Diseminasi ................................ BAB IV...........….............................. 2.…… A. Prosedur Pengembangan ………………………………………… 1.... 2......... METODE PENELITIAN .......... Jenis Instrumen Pengumpulan Data ................................… 1...................... Hasil Penelitian yang Relevan ………..............................………….................... 4........... Data Pendefinisian ..……......................................................……….................. Tahap Pengembangan .... Data Pengembangan .………......…..................... Uji Coba Produk ……………………........... Desain Uji Coba ..... 3........... Teknik Analisis Data ........……...…...................... 5.…....................... 3................ Karakteristik Penilaian dalam Pendidikan Seni ..……………… B.........…… 1..... 96 100 107 107 109 119 135 145 150 150 152 152 155 155 156 157 158 161 161 161 163 164 165 169 169 169 182 184 185 ........................................................................................ H.................... Tahap Pendefinisian ......................................................…….. D. Tahap Perancangan ..................................................……....................................................... Kerangka Pikir …............. Tahap Studi Awal ....................... 4.. E......................... 4............………................................................... ix ... F....... 1... Aspek yang Dinilai dalam Karya Seni Lukis.......... BAB III...........…… A...................……....................... 2........ Model Pengembangan .. Pertanyaan Penelitian ……….................................. D............ 3.......... G.. Fungsi Penilaian dalam Pendidikan Seni ......... Penilaian dalam Pembelajaran Seni Lukis di Sekolah Dasar ................. Metode Pembelajaran Seni Lukis Anak Sekolah Dasar ............. Data Studi Awal ..............3..................... Subjek Coba ... 4............................………………...................... 2.......…….............. Data Perancangan............... 3............. Hipotesis Uji Model ………......... Data Uji Coba ………......................... HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.

.....................…………………...........................................................…… A..... Revisi Produk…………………... 187 196 196 220 232 232 232 234 ... Kajian Produk .......................... 1.............................……............................… D. Saran Pemanfaatan …………………….……………… B..................................................… …………………………………….... KESIMPULAN DAN SARAN .............. Simpulan ................… DAFTAR PUSTAKA ..........……...................... x ........................ D........... 2.. 3......... 5.......................................... Data Uji Coba Koefisien Interrater ..………................................. B.............................................… 1............. Penilaian Kelompok ..................... Diseminasi .……………………………........................ Penilaian Proses ... 2.............. Penilaian Produk ................. C.…...........………… C........................... Diseminasi dan Pengembangan Produk Lebih Lajut ………....... 235 237 237 260 260 261 261 262 263 BAB V......... Keterbatasan Penelitian………………………………................................. 4........................…………................. Penilaian Diri..... Tren Perkembanagan Koefisien Genova ........................... Data Uji Coba.................... Analisis Data ................................……….....5..

. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Kelompok........... Tabel 5........................DAFTAR TABEL Tabel 1.................................... Daftar Peserta Studi Awal. Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Proses Kelas 2 dan Tingkat Perubahannya................ Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Produk Kelas 2 dan Tingkat Perubahannya............................................ Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Proses............................................ Estimasi Komponen Variansi Siswa........................................ Tabel 7......... Tabel 18. Tabel 9... Tabel 11... Tabel 8........ Tabel 16......... Tabel 3............................................................................... Tabel 17........ Penilai....... Pupil’s Self Evaluation Form................................. Penilai................... Tabel 12............ Tipe-Tipe Psikologis Anak dan Katagori Lukisan Anak...................... Tabel 4.. Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Produk Kelas 1 dan Tingkat Perubahannya.................... Tabel 10........... Tabel 14................... Tabel 13.............. Daftar Peserta Studi Awal..................................................... Tabel 6............................................................................. Penilai...... Estimasi Komponen Variansi Siswa.............................................. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Produk.......................................... Penilai.......... Tabel 2... Estimasi Komponen Variansi Siswa............... Tabel 15................. Hubungan antara Tujuan Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan (PSB) dengan SKL Satuan Pendidikan SD... Student Self Evaluation Form...................................... Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Diri................ Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Produk Kelas 3 xi 212 211 210 209 208 206 203 201 199 197 171 181 186 5 96 123 124 .......................................... Hasil FGD Pertama dan Kedua...... Rangkuman Hasil G Study dan Koefisien G Pada Berbagai Komponen dan Berbagai Faset Terapan Uji Coba............... Estimasi Komponen Variansi Siswa................ Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Proses Kelas 1 dan Tingkat Perubahannya ......... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Proses Kelas 3 dan Tingkat Perubahannya.............

............................................................. Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Produk Kelas 1.................................................................. Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai 227 225 xii .................................................................................... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Diri Kelas 1 dan Tingkat Perubahannya ........................................ 227 Tabel 33.......................................dan Tingkat Perubahannya.................................................. Tabel 24................. Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Kelompok Kelas 1 dan Tingkat Perubahannya................. Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Diri Kelas 1..................... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Produk Kelas 3............... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Proses Kelas 2............................................................................... Tabel 27.......................................... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Diri Kelas 2.................. Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Proses Kelas..... Tabel 21.................................. Tabel 29.................................................... Tabel 25...... Tabel 26............................................................. Tabel 23........ Tabel 28..... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai 213 214 215 216 217 218 219 221 222 222 224 Pada Penilaian Produk Kelas 2...................................................................... Tabel 32........... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Diri Kelas 3 dan Tingkat Perubahannya...... Tabel 31............ Tabel 19........... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Kelompok Kelas 3 dan Tingkat Perubahannya.. Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Proses Kelas 1........ 225 Tabel 30.......................................... Tabel 20............................................................... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Diri Kelas 2 dan Tingkat Perubahannya...................... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Kelompok Kelas 2 dan Tingkat Perubahannya ................ Tabel 22........................................................

............................. Tabel 43.. Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =6 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear ...................................... Tabel 50...................... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 2......................... Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =3 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear ... Tabel 42........................ Tabel 45.................... Tabel 41....Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 1........Pada Penilaian Diri Kelas 3....................... Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =2 228 230 231 231 233 234 236 237 238 239 241 242 244 245 247 248 250 xiii ... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 3. Tabel 44.......... Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Diri................ Tabel 48................. Tabel 38...................... Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =4 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear.................. Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =3 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear ...... Tabel 46................................................... Tabel 36.............. Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Kelompok Kelas 2......... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 1................................... Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Kelompok.. Tabel 49........................ Tabel 47.. Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Kelompok Kelas 3..................... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 2... Perbadingan koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Proses ........ Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Kelompok Kelas 1........................................... Tabel 37........................... Tabel 34................................................. Tabel 40. Tabel 39.................................................................................................. Perbadingan koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Produk ............................................................. Tabel 35..................

............ Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 3........................ Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Diri................ Tabel 53........................... Tabel 52.....................Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear ................................................................................ 250 252 253 254 257 xiv ........ Tabel 51................................................ Tabel 54...Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Kelompok....... Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =1 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear ............................

.... Data Hasil Penilaian Seni Lukis Anak.. Hasil Wawancara Keterpakaian Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak Lampiran 8............................. Lampiran 11........................................... Contoh Hasil Karya Seni Lukis Anak................................. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Seni Budaya dalam KTSP Lampiran 2.............................................. 270 275 276 293 296 306 318 321 358 361 365 xix ........ Lampiran 9............................... Hasil FGD.............................. Lampiran 6........ Daftar Hadir FGD dan Seminar............................................................. Kompetensi Kreasi Seni Budaya dan Keterampilan.......DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1.......................... Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak................................ Lampiran 4.................................................................................... Hasil Analisis Genova.............. Lampiran 7............................................................................... Lampiran 5................. Lampiran 10.................. Lampiran 3............... Surat Ijin Penelitian.................... Hasil Seminar....

04701261001 Disertasi ini ditulis untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk mendapatkan gelar Doktor Pendidikan Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA YOGYAKARTA 2009 i .PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ANAK DI SEKOLAH DASAR Oleh: Tri Hartiti Retnowati NIM.

Dalam kesempatan ini. Ph. 7. atas perhatian dan dukungan sehingga disertasi ini selesai. serta dorongan semangat kepada penulis sehingga disertasi ini dapat terwujud. Bapak Sutarno S. Dekan FBS Univesitas Negeri Yogyakarta beserta staf. dan praktis untuk digunakan guru di sekolah dasar. bantuan. dan inayahNya. kepala SDN Langensari Yogyakarta.Pd. Kepala SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta. Suyata. 6.D selaku promotor disertasi ini. yang diberikan sehingga disertasi ini dapat selesai. kepala MIN Tempel Sleman yang telah memberikan ijin dan segenap bantuannya pada pelaksanaan ujicoba instrumen penilaian seni lukis anak. dan bimbingan yang sangat berharga.D dan Prof. yang telah memberikan arahan.KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas berkat limpahan rahmat.D selaku reviewer disertasi ini yang telah memberi masukan kepada penulis. Rektor Universitas Negeri Yogyakarta.Pd. yang telah memberikan kesempatan untuk melanjutkan studi S-3 pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta. Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta beserta segenap staf administrasi. 4. 5. Ph. sehingga disertasi ini menjadi lebih baik. Ph. Sofyan Salam. Disertasi ini bertujuan mengembangkan instrumen penilaian karya seni lukis anak yang valid. reliabel. penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada: 1. Prof. Penyelesaian disertasi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. perhatian. Prof. sehingga disertasi ini dapat diselesaikan. 2. hidayah. 3. atas segala kebijaksanaan. dan Bapak Dodi Suyanto. v . Para guru yang telah membantu pelaksanaan ujicoba instrumen penilaian seni lukis anak yaitu Ibu Udawati S. Kumaidi. kemudahan.. taufiq.

8. Para pakar pendidik seni dan seni lukis anak-anak serta guru seni lukis di sekolah dasar yang telah berpartisipasi dalam FGD sehingga instrumen ini dapat terwujud. 9. Segenap teman-teman Jurusan Pendidikan Seni Rupa FBS UNY dan mahasiswa angkatan tahun 2004 Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan S3 Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta yang dengan penuh keakraban memberikan dorongan moral dan segenap bantuan yang diberikan sehingga disertasi ini dapat selesai. Akhirnya rasa terimakasih yang sangat pribadi disampaikan kepada suami tercinta Prof. Djemari Mardapi Ph.D., dan anak-anak: Dian Puspita Sari dan suami, Febriaditya Agung Nugroho, dan Muhammad Harfiansyah Makarim yang dengan penuh pengertian dan pengorbanan selama penulis menyelesaikan studi. Semoga amal kebaikan bapak/ibu dan teman-teman semua

mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Amin.

Yogyakarta,

Mei 2009

Tri Hartiti Retnowati NIM. 04701261001

vi

PERNYATAAN KEASLIAN Yang bertandatangan di bawah ini Nama Mahasiswa Nomor Mahasiswa Program Studi Lembaga Asal : Tri Hartiti Retnowati : 04701261001 : Penelitian dan Evaluasi Pendidikan : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi ini merupakan hasil karya saya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya dalam disertasi ini tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Yogyakarta, April 2009 Yang membuat pernyataan

Tri Hartiti Retnowati

vii

Lampiran 1 Tabel 1. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Seni Budaya dan Kerajinan Sekolah Dasar Berdasarkan KTSP 2006 Kelas I, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengidentifikasi unsur rupa pada benda di alam sekitar 1.2 Menyatakan sikap apresiatif terhadap unsur rupa pada benda di alam sekitar 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresif 2.2 Mengekspresikan diri melalui teknik menggunting menempel KOMPETENSI DASAR

Kelas I, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya sent rupa 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengidentifikasi unsur rupa pada benda di alam sekitar 1.2 Menyatakan sikap apresiatif terhadap unsur rupa pada benda di alam sekitar 2.1 Mengekspresikan diri melalui karya seni gambar Ekspresif 2.2 Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa dua dimensi dengan teknik menempel KOMPETENSI DASAR

Kelas II, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya sent rupa 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengenal unsur rupa pada karya seni rupa 1.2 Menunjukkan sikap apresiatif terhadap unsur rupa pada Karya seni rupa 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar Ekspresif 2.2 Mengekspresikan diri melalui teknik cetak tunggal KOMPETENSI DASAR

270

Kelas II, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 2. Mengekspresikan diri melalui seni rupa. 1.1 Mengidentifikasi unsur rupa pada karya seni rupa 1.2 Menunjukkan sikap apresiatifterhadap unsur rupa pada karya seni rupa tiga dimensi 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresi 2.2 Menggunakan klise cetak timbul 2.3 Mengekspresikan diri melalui teknik cetak timbul KOMPETENSI DASAR

Kelas III, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 2. Mengekspresikan diri melalui seni rupa. 1.1 Menjelaskan symbol dalam karya seni rupa dua dimensi 1.2 Menunjukkan sikap apresiatif terhadap symbol dalam karya seni rupa dua dimensi 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif Mengenai diri sendiri 2.2 Mengekspresikan diri melalui gambar dekoratif dari motif Hias daerah setempat KOMPETENSI DASAR

Kelas III, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa KOMPETENSI DASAR

1.

Mengapresiasi karya seni rupa Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

1.1 Menjelaskan simbol dalam karya seni rupa tiga dimensi 1.2 Menunjukkan sikap apresiatifterhadap simbol dalam karya seni rupa tiga dimensi 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif mengenai alam sekitar 2.2 Memberi hiasan/warna pada benda tiga dimensi

2.

271

Kelas IV, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.1 Menjelaskan makna karya seni rupa terapan 1.2 Mengidentifikasi jenis karya seni rupa terapan yang ada di daerah setempat 1.3 Menunjukkan sikap apresiatif terhadap kesesuaian karya seni rupa terapan 1.4 Menunjukkan sikap apresiatif terhadap keartistikan karya seni rupa terapan 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi dengan tema benda alam: buah-buahan, tangkai, kerang, dsb 2.2 Memamerkan hasil gambar ilustrasi dengan tema benda alam: buah-buahan, tangkai, kerang, dsb di depan kelas KOMPETENSI DASAR

Kelas IV, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.1 1.2 1.3 Menjelaskan makna seni rupa murni Mengidentifikasi jenis karya seni rupa murni yang ada di daerah setempat Menampilkan sikap apresiatif terhadap karya seni rupa murni Membuat relief dari bahan plastis dengan pola motif hias Menyiapkan karya seni rupa yang dibuat untuk pameran kelas KOMPETENSI DASAR

2.

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

2.1 2.2

2.3

Menata karya seni rupa yang dibuat dalam bentuk pameran kelas

272

Kelas V, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.1 1.2 1.3 Menjelaskan makna motif hias Mengidentifikasi jenis motif hias pada karya seni rupa Nusantara daerah setempat Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan motif hias karya seni rupa Nusantara daerah setempat Mengekspresikan diri melalui gambar dekoratif dengan motif hias Nusantara 2.2 Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi dengan tema hewan dan kehidupannya 2.3 Membuat motif hias dasar jumputan pada kain KOMPETENSI DASAR

2.

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

2.1

Kelas V, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.2 1.3 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengekspresikan diri melalui gambar dekoratif dengan motif hias Nusantara Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi dengan tema hewan dan kehidupannya Membuat motif hias dasar jumputan pada kain Membuat topeng secara kreatif dalam hal teknik dan bahan Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi manusia dan kehidupannya KOMPETENSI DASAR

2.1 2.2

2.3

Menyiapkan karya seni rupa yang diciptakan untuk pameran kelas

2.4

Menata karya seni rupa yang diciptakan dalam bentuk pameran kelas/sekolah

273

Kelas VI, Semester 1

STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.1 1.2 1.3

KOMPETENSI DASAR Mengidentifikasi jenis motif hias pada karya seni rupa Nusantara daerah lain Menjelaskan cara membatik Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan motif hias karya seni rupa Nusantara daerah lain Membatik dengan teknik sederhana Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi dengan tema suasana di sekitar sekolah 2.3 2.4 Merancang boneka Membuat boneka berdasarkan rancangan

2.

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

2.1 2.2

Kelas VI, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.2 1.1 Mengidentifikasi jenis motif hias pada karya seni rupa Nusantara daerah lain Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan motif hias karya seni rupa Nusantara daerah lain Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi suasana alam sekitar KOMPETENSI DASAR

2.

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

2.1

2.2

Menyiapkan karya seni rupa yang dibuat untuk pameran kelas

2.3

Menata karya seni rupa yang dibuat untuk pameran kelas

274

1 Mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif mengenai alam sekitar 12 Memberi hiasan/warna pada benda tiga dimensi 275 . 1.2 Mengekspresikan diri melalui teknik cetak tunggal KOMPETENSI DASAR Kelas II.1 Mengekspresikan diri melalui karya seni gambar Ekspresif 1.2 Menggunakan klise cetak timbul 1. Semester 2 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1.2 Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa dua dimensi dengan teknik menempel KOMPETENSI DASAR Kelas II. Mengapresiasi karya seni rupa 2.1 Mengidentifikasi unsur rupa pada benda di alam sekitar 1. Semester 1 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresi 1. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.2 Mengekspresikan diri melalui teknik menggunting menempel KOMPETENSI DASAR Kelas I. Kompetensi Kreasi Seni Budaya dan Keterampilan Kelas I. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.Lampiran 2 Tabel 2.3 Mengekspresikan diri melalui teknik cetak timbul KOMPETENSI DASAR Kelas III. Semester 2 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresif 2.2 Menyatakan sikap apresiatif terhadap unsur rupa pada benda di alam sekitar 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar Ekspresif 1. Semester 2 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa KOMPETENSI DASAR 1. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1. Semester 1 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1.

276 .

indikator-indikator dari setiap penilaian baik proses maupun produk perlu ditetapkan dengan memperhatikan berbagai pemikiran yang disesuaikan dengan perkembangan jiwa dan perkembangan gambar anak untuk manentukan hasil penilaian seni lukis anak. Kedua permasalahan tersebut merupakan topik yang akan dibahas dalam FGD tahap 1 sebagai langkah awal dalam penyusunan instrumen penilaian seni lukis anak. persentase penilaian kedua unsur tersebut masih menjadi dilema yang perlu diputuskan dengan pertimbangan yang matang.Lampiran 3 FOCUS GROUP DISCUSSION TAHAP 1 “ PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. Namun demikian. Mengingat instrumen merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran seni lukis. dalam setiap pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kegiatan belajar seni lukis keikutsertaan para pakar seni lukis serta guru-guru pengampu di sekolah merupakan suatu kebutuhan yang mutlak. keterlibatan berbagai pihak sangat diperlukan. Berdasarkan Performance Assesment dalam penilaian seni lukis anak terdapat dua unsur penting yaitu penilaian proses dan produk. Berdasarkan alasan inilah. mulai dari para pakar sebagai perumus materi sampai dengan guru mata pelajaran sebagai pelaksana sekaligus evaluator kegiatan pembelajaran. Oleh karenannya. Disamping itu. dilaksanakan FGD tahap 1 yang difokuskan untuk menjaring aspirasi yang berhubungan dengan tahap awal penyusunan instrumen penilaian seni lukis anak. Disertasi yang berjudul ” Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak” merupakan representasi kebutuhan lapangan khususnya guru-guru pada jenjang pendidikan dasar yang mengkehendaki adanya suatu instrumen penilaian seni lukis yang valid dan reliabel sehingga dapat mengurangi subjektivitas guru dalam menilai karya siswa. maka dalam proses penyusunannya perlu mempertimbangan pemikiran para pakar serta guru yang terlibat langsung dalam pembelajaran. Latar belakang Pembelajaran seni lukis merupakan bagian penting dari aktivitas belajar di sekolah. Dalam pelaksanaannya. 276 .

30-15.30-18.Affandi Dewobroto. Menentukan indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak. Adapun jalannya pelaksanaan FGD tersebut disajikan pada tabel berkut: Waktu 15.00-15. S. target dari FGD tahap 1 ini adalah: 1. M. S. Penyimpulan dan penyampaian hasil diskusi Penutupan dengan doa bersama 15. Menentukan bobot persentase dari penilaian karya seni lukis anak yang terdiri dari proses dan produk.Lampiran 3 B.30 15.45 Aktivitas Pembukaan mengutarakan maksud dan tujuan FGD diikuti dengan perkenalan peserta yang hadir Presentasi pengenalan topik yang akan dibahas yaitu menentukan bobot persentase dari penilaian karya seni lukis anak yang terdiri dari proses dan produk dan menentukan indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak.Pd Enrizal.15-18.Pd Udawati.30 18. C.15 18. Diskusi sesi 1 untuk memutuskan bobot persentase dari penilaian karya seni lukis anak yang terdiri dari proses dan produk Diskusi sesi 2 untuk menentukan indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak.45-16. Deskripsi pelaksanaan FGD tahap I dilaksanakan pada tanggal 26 Februari 2008 bertempat di Ruang Sidang Program Pascasarjana UNY. M. Target yang ingin dicapai Berdasarkan latar belakang.40 277 .15-18. M.Sn Bambang Prihadi.15 16. Peserta yang hadir Drs. 2.Pd Dody S Dwi Susanto (Pakar pendidikan seni) ( Pakar seni lukis anak) (Pakar seni lukis anak UNY) (Guru pendidikan seni anak SD Sapen I) (Guru pendidikan seni anak SD Sapen II) (Guru pendidikan seni anak MIN Tempel) (Guru pendidikan seni anak Sekolah Dasar) D.

dengan kata lain apabila proses baik maka produk pun akan baik begitu juga jika produk baik maka proses pun baik Bambang P. sedangkan tahap akhir terdiri dari penilian diri. tahap inti. keterampuilan mengorganisasikan keterampilan estetis.Affandi Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% mengingat proses lebih menentukan hasil karya yang diperoleh siswa Dewobroto. M.Pd Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% Dody S Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% karena proses cenderung memperlihatkan potensi seorang anak dalam berkarya seni Dwi Susanto Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% Apakah indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak Drs. S. M. S. M. pemanfaatan waktu.Pd Dalam penilaian proses untuk kegiatan inti perlu 278 Masukan peserta Sesi 2 Pertanyaan Masukan peserta . Dewobroto.Pd Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% karena proses seseorang dalam berkarya lebih penting dari hasil yang diperoleh Enrizal. M.Pd Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% karena proses lebih memperlihatkan kesungguhan siswa dalam melukis Udawati. Masukan peserta yang hadir Sesi 1 Pertanyaan Berapa persenkah bobot untuk penilaian proses dan produk Drs. S. S.Lampiran 3 E.Affandi Penilaian proses dibagi menjadi tahap awal. M.Pd Dalam penilaian produk perlu adanya tambahan indikator yaitu teknik Enrizal. dan tahap akhir. M.Pd Penilaian proses dibagi menjadi dua tahap yaitu tahap awal dan tahap inti karena tahap akhir berupa penilaian diri dan kelompok bukan merupakan bagian dari proses seorang anak dalam berkarya Udawati.Sn Dalam penilaian proses pada tahap inti perlu adanya tambahan kriteria yaitu pemahaman tema karena tanpa adanya pemahaman tema akan sulit bagi siswa untuk dapat melukis dengan baik Bambang P. Adapun penilain proses terdiri dari kreativitas dan ekspresi. Tahap awal terdiri dari tanggapan anak terhadap tema dan kesiapan alat dan bahan. tahap inti terdiri dari kelancaran penuangan ide.Sn Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 50% sedangkan produk 50% hal ini dikarenakan antara proses dan produk terdapat keseimbangan .

Keberanian menggunakan media 3. Pemanfaatan waktu Tahap inti Kreativitas Produk Ekspresi Teknik Penilaian Diri Penilaian Kelompok 279 . Kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis Tahap awal Proses 1. Bobot persentase minimal untuk penilaian proses 60% dan produk 40% 2. Indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak 1. Kelancaran penuangan ide 2. jadi untuk penilaian proses dan penilaian kelompok lebih baik terpisah tetapi tetap merupakan bagian dari penialian karya seni lukis anak Dody S Dwi Susanto F. Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk 4.Lampiran 3 adanya indikator ketekunan serta keberanian dalam menggunakan unsur-unsur bentuk Dalam penilaian proses untuk kegiatan inti perlu adanya indikator keberanian menggunakan media Penilaian diri dan penilaian kelompok bukan merupakan bagian dari proses seseorang dalam berkarya. Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat 2. Ketekunan 5. Kesimpulan 1.

Deskripsi pelaksanaan FGD tahap II dilaksanakan pada tanggal 13 Maret 2007 bertempat di Ruang Sidang Program Pascasarjana UNY. target dari FGD tahap II ini adalah menentukan deskripsi dari setiap indikator pada penilaian proses dan produk. Target yang ingin dicapai Berdasarkan latar belakang. Oleh karena itu keterlibatan para pakar seni lukis anak dan guru sangat diperlukan. M. Deskripsi indikator ini mencakup gambaran secara terperinci dari setiap indikator yang diperoleh dari FGD tahap I.Pd Dody S Drs. Susapto Murdowo. Suwarno Bambang P.Lampiran 3 FOCUS GROUP DISCUSSION TAHAP II “ PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A.Pd Udawati. S. Latar belakang Menindaklanjuti hasil yang diperoleh dari FGD tahap I. C. diperlukan berbagai pemikiran yang didasari pemahaman konsep yang mendalam tentang karya seni lukis anak. Adapun jalannya pelaksanaan FGD tersebut disajikan pada tabel berkut: 280 . S.Pd Sutarno. Untuk mendeskripsiakan indikator ini. B. Proses olah pikir dari para pakar dan guru untuk menentukan deskripsi dari setiap indikator dilaksanakan pada FGD tahap II. selanjutnya perlu adanya deskripsi dari masing-masing indikator pada penilaian proses dan produk. S. M. Peserta yang hadir Drs.Pd Enrizal.Sn (Pakar pendidikan seni) (Pakar seni lukis anak UNY) (Guru pendidikan seni anak SD Sapen I) (Guru pendidikan seni anak SD) (Guru pendidikan seni anak SD Sapen II) (Guru pendidikan seni anak Sekolah Dasar) (Praktisi dan pakar seni lukis ) D.

M.45-17.30 15. S.45 Aktivitas Pembukaan mengutarakan maksud dan tujuan FGD diikuti dengan perkenalan peserta yang hadir Presentasi pengenalan topik yang akan dibahas yaitu menentukan deskripsi dari setiap indikator pada penilaian proses dan produk.Sn Suatu kondisi peserta didik yang sudah siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya Bambang P. Masukan peserta yang hadir Sesi 1 Pertanyaan Bagaimanakah deskripsi untuk indikator penilaian proses Drs.30-18. S. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik Drs.Pd • Untuk tahap inti indikator 2 deskripsinya adalah: Keberanian menggunakan media dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik inkonvensional dalam melukis • Kemudian diperlengkap menjadi: Keberanian menggunakan media (alat dan bahan)dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik inkonvensional dalam melukis Udawati.00-15.50 18.30 17.30-15.Lampiran 3 Waktu 15.30-18. Suwarno • Untuk tahap awal indikator 1 deskripsinya adalah: Reaksi peserta didik berupa perilaku yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik • Kemudian diperlengkap menjadi: Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi. Susapto M.30 18.00 E.Pd • Untuk tahap inti indikator 3 deskripsinya adalah: 281 Masukan peserta . Penyimpulan dan penyampaian hasil diskusi Penutupan dengan doa bersama 15. Diskusi sesi 1 untuk menentukan deskripsi dari setiap indikator pada penilaian proses Diskusi sesi 2 untuk menentukan deskripsi dari setiap indikator pada penilaian produk.50-19. Untuk tahap awal indikator 2 deskripsinya adalah: M.Pd • Untuk tahap inti indikator 1 deskripsinya adalah: Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara ide yang ada dalam diri siswa dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut • Kemudian diperlengkap menjadi: Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara kualitas ide yang dikembangkan dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut Enrizal.

ketelitian dalam penyelesaian.Pd Untuk indikator 3 deskripsinya adalah: Kemampuan peserta didik dalam menyesuaikan antara media/alat yang digunakan dengan bentuk-bentuk yang dibuat dalam karya lukisnya. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik Untuk tahap inti indikator 4 deskripsinya adalah: Kondisi peserta didik untuk mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh-sungguh Untuk tahap inti indikator 5 deskripsinya adalah: Penggunaan waktu sebaik-baiknya untuk membuat karya lukis Dody S Sutarno. garis. dan kebersihan karya 282 . kemampuan abstraksinya.Pd Deskripsi indikator 2 disederhanakan menjadi: Kejelasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema Udawati.Pd Untuk indikator 3 deskripsinya adalah: Kemampuan peserta didik dalam menyesuaikan antara media/alat yang digunakan dengan bentuk-bentuk yang dibuat dalam karya lukisnya. bentuk karya lukis peserta didik. ketelitian dalam penyelesaian. S. kebaruan teknik dan konsep cerita Bambang P. ide-ide. keaslian. dan keberanian dalam mengorganisasikan unsur-unsur rupa tersebut Enrizal. dan keberhasilan karya Dody S Deskripsi indikator 3 disederhanakan menjadi: Kemampuan menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya. Deskripsi indikator 1 disederhanakan menjadi Keaslian M. Susapto M. keberhasilan karya. S. S. garis. M.Pd Untuk indikator no 2 deskripsinya adalah: Suatu kelancaran dalam penuangan ide yang dilihat dari ketegasan pada goresan. S. Suwarno Untuk penilaian produk indikator 1 deskripsinya adalah: Suatu produk dari hasil pemikiran atau perilaku peserta didik yang merupakan kekuatan konseptual melalui karya lukisnya yaitu meliputi kepekaan pada suatu masalah. dan kemampuan untuk menyesuaikan dengan perkembangan terkini serta kesesuaian dengan karakteristik bahan/material yang digunakan Drs. kualitas cara penggambaran.Pd Sesi 2 Pertanyaan Masukan peserta Bagaimanakah deskripsi untuk indikator penilaian hasil Drs. serta kebersihan karya yang dihasilkan Sutarno.Lampiran 3 Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik • Kemudian diperlengkap menjadi: Keberanian menggunakan titik.Sn bentuk (kemampuan menciptakan bentuk yang khas). warna. bidang.

1 1 Indikator Komponen Proses Tahap Awal Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Deskripsi Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik.2 Tahap Inti 1 Kelancaran penuangan ide Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara kualitas ide yang dikembangkan dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut 2 Keberanian menggunakan Keberanian menggunakan media (alat dan media bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik inkonvensional dalam melukis Keberanian menggunakan Keberanian menggunakan titik. 3 283 . ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik 2 Kesiapan alat dan bahan Suatu kondisi peserta didik yang sudah yang akan digunakan siap melakukan tugas dengan perlengkapan untuk melukis bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya A. kualitas cara penggambaran. serta kebersihan karya yang dihasilkan 3 4 5 B 1 2. A. Ketekunan Kondisi peserta didik untuk mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh-sungguh Pemanfaatan waktu Penggunaan waktu sebaik-baiknya untuk membuat karya lukis Komponen Produk Kreativitas Keaslian bentuk (kemampuan menciptakan bentuk yang khas). Kesimpulan Hasil dari FGD 2 ini adalah sebagai berikut: No A.Lampiran 3 F. unsur-unsur bentuk bidang. garis. kebaruan teknik dan konsep cerita Ekspresi Kejelasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema Teknik Kemampuan menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya.

kevalidan. selain diperlukan adanya pakar serta guru seni lukis. maka dilaksanakan FGD tahap III untuk membahas rubrik skor penilaian proses dan produk serta instrumen awal penilaian diri dan kelompok. C. S. Peserta yang hadir Dr.Si Bambang P.Pd Sutarno. Latar belakang Sebuah penilaian yang baik mengandung kriteria yang berlaku secara umum. Berdasarkan alasan inilah. target dari FGD tahap III ini adalah menentukan rubrik penskoran untuk masing-masing indikator dalam penilaian proses dan produk serta membahas instrumen penilaian diri dan kelompok.Pd Dodi sudaryanto Dwi Udawati F (Ahli pengukuran ) (Ahli pengukuran) (Ahli pengukuran) ( Pakar seni lukis anak UNY) ( Guru seni lukis SD) ( Guru seni lukis MIN Tempel) ( Guru seni lukis SD Sapen II) 284 . perlu juga adanya ahli pengukuran untuk memberikan masukan terkait dengan segi kepraktisan. Dalam proses penyusunan rubrik skor ini. Oleh karena itu. M. Heri Retnowati Suratno Mansyur. dan kereliabelan instrumen yang akan dibuat. Target yang ingin dicapai Berdasarkan latar belakang. Kriteria ini merupakan penjabaran dari deskripsi setiap indikator yang terdapat dalam penilaian. setelah menkentukan deskripsi indikator baik untuk penilian proses maupun penilaian produk langkah selanjutnya adalah pembuatan rubrik skor untuk menentukan kriteria dari setiap level penilaian yang diberikan.Lampiran 3 FOCUS GROUP DISCUSSION TAHAP III “ PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. M. B.

Si Bambang P. baik. Diskusi sesi 2 untuk menentukan rubrik penskoran penilaian produk. Adapun jalannya pelaksanaan FGD tersebut disajikan pada tabel berkut: Waktu 15. lengkap.45-17. Deskripsi pelaksanaan FGD tahap III dilaksanakan pada tanggal 10 April 2007 bertempat di Ruang Sidang Program Pascasarjana UNY. M. kurang relevan.30 17. misalnya untuk tahap awal indikator 2 Sangat baik kriterianya: sangat lengkap.45 Aktivitas Pembukaan mengutarakan maksud dan tujuan FGD diikuti dengan perkenalan peserta yang hadir Presentasi pengenalan topik yang akan dibahas yaitu menentukan rubrik penskoran untuk setiap indikator pada penilaian proses dan produk. Heri Retnowati Level penilaian bisa berupa: tidak pernah. pembahasan instrumen penilaian diri dan kelompok Penyimpulan dan penyampaian hasil diskusi Penutupan dengan doa bersama 15. sangat kurang Untuk tahap inti indikator 1 level sangat baik kriteriannya adalah: sangat cepat.00-15. tidak siap digunakan Sangat kurang kriterianya: kurang lengkap . jarang.45-19. cukup lengkap. sangat tepat. dan kurang lengkap Suratno Kriteria untuk setiap level dibuat dengan sederhana.Lampiran 3 D. sangat tepat. tidak relevan. relevan.45 18.30 18. Untuk tahap inti indikator 2 level sangat baik kriterianya adalah: sangat cepat. dan sering atau sangat lengkap. tidak siap digunakan Sebaiknya kriteria diganti menjadi sangat baik. sangat relevan. cukup.Pd Sutarno.Pd 285 . Mansyur.00 E. siap digunakan Kurang kriteriannya: kurang lengkap. M. kurang. pembahasan awal instrumen penilaian diri dan kelompok Diskusi sesi 1 untuk menentukan rubrik penskoran penilaian proses.30 15.30-15. sangat sesuai dengan media sedangkan untuk level lainnya menyesuaikan.30-18. S.30-18. sangat siap digunakan Baik kriterianya: lengkap. Masukan peserta yang hadir Sesi 1 Pertanyaan Masukan peserta Bagaimanakah kriteria rubrik skor untuk penilaian proses Dr.

teknik sangat inovatif. teknik sangat inovatif Suratno Untuk penilaian produk indikator 1 level sangat baik kriteriannya: bentuk yang diciptakan sangat khas. Kesimpulan Kesimpulan FGD tahap III ini dapat dilihat pada tabel 286 . sangat tepat .Pd Dodi sudaryanto Dwi Udawati F F. sangat tegas. konsep cerita sangat kaya Mansyur. sangat tegas Untuk penilaian produk indikator 2 level sangat baik kriteriannya: sangat jelas. S.Si Untuk penilaian produk indikator 2 level sangat baik kriteriannya: Sangat jelas Bambang P. M. Heri Retnowati Untuk penilaian produk indikator 1 level sangat baik kriteriannya: bentuk yang diciptakan sangat khas.Pd Untuk penilaian produk indikator 2 level sangat baik kriteriannya: sangat jelas. M. sangat artistik Untuk tahap inti indikator 4 level sangat baik kriterianya adalah:Sangat bersungguh-sungguh Untuk tahap inti indikator 5 level sangat baik kriterianya adalah:Karya selesai sebelum waktu berakhir Dodi sudaryanto Dwi Udawati F Sesi 2 Pertanyaan Bagaimanakah kriteria rubrik skor untuk penilaian produk Dr. biasa-biasa. sangat bersih Untuk penilaian diri dan penilaian kelompok katagori jawaban dapat dibuat dengan menggambar ekspresi muka baik itu marah. sangat berani dalam karya Untuk penilaian produk indikator 3 level sangat baik kriteriannya:sangat sesuai karakteristik media. sangat cermat.Lampiran 3 sangat sesuai dengan karakteristik media sedangkan untuk level lainnya menyesuaikan Untuk tahap inti indikator 3 level sangat baik kriterianya adalah:sangat berani. atau senang Masukan peserta Sutarno.

Lampiran 3 Tabel 3 Rangkuman Hasil FGD Ketiga No 1 Indiaktor Komponen Proses tahap Awal Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Deskripsi Level Kriteria • • • • • • • • Bertanya seperlunya seputar tema lukisan kepada guru Tidak pernah mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan sangat cepat Memperlihatkan kegairahan yang sangat tinggi untuk memulai melukis Jarang bertanya seputar tema lukisan kepada guru Jarang mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan cepat Memperlihatkan kegairahan yang tinggi untuk memulai melukis Sering bertanya seputar tema lukisan kepada guru Cukup sering mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan cukup cepat Memperlihatkan kegairahan yang cukup tinggi untuk memulai melukis Sangat sering bertanya seputar tema lukisan kepada guru Sering mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan lambat Memperlihatkan kegairahan yang kurang untuk memulai melukis Reaksi peserta didik berupa 4. Baik 2. Kurang • • • • 287 . ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik 3. Sangat baik perilaku (ekspresi. Cukup • • • • 1.

Kurang 288 . Cukup Kriteria • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan sangat lengkap • Alat dan bahan sangat siap untuk digunakan • Alat dan bahan sangat mendukung kegiatan melukis • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan lengkap • Alat dan bahan siap untuk digunakan • Alat dan bahan mendukung kegiatan melukis • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan cukup lengkap • Alat dan bahan cukup siap untuk digunakan • Alat dan bahan sangat mendukung kegiatan melukis • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan kurang lengkap • Alat dan bahan kurang siap untuk digunakan • Alat dan bahan kurang mendukung kegiatan melukis Kriteria • • • • • • • • • • • Sangat cepat dalam menemukan ide Sangat tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide Sangat cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Cepat dalam menemukan ide Tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide Cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Cukup cepat dalam menemukan ide Cukup tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide Cukup cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Lambat dalam menemukan ide Kurang tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide 1. Cukup 1.Lampiran 3 No 2 Indiaktor Kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis Deskripsi Level Suatu kondisi peserta didik 4. Sangat baik waktu membuat karya lukis ide yaitu adanya keseimbangan antara ide yang ada dalam diri siswa dengan keterampilan 3. Sangat baik yang sudah siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya 3. Baik untuk memvisualisasikan ide tersebut 2. Baik lukisnya 2. Kurang No 3 Indiaktor Komopnen Deskripsi Level Proses tahap Inti Kelancaran penuangan Kondisi peserta didik pada 4.

Sangat baik unsur. Sangat baik media (alat dan bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik bebas dalam melukis 3. bidang) mendukung pertimbangan estetik • Penggunaan warna mendekati warna sebenarnya 289 . garis.Lampiran 3 • Lambat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media No 4 Indiaktor Keberanian menggunakan media Deskripsi Level Kemampuan menggunakan 4. Baik Kriteria • Variasi unsur-unsur bentuk (garis. Cukup 1. Baik 2. bidang) sangat mendukung pertimbangan estetik • Penggunaan warna sangat mendekati warna sebenarnya • Sangat berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis • Variasi unsur-unsur bentuk(garis.titik. dan warna untuk menghasilkan bentuk yang orisional/khas 3. Kurang Kriteria • Sangat cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Sangat tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media sangat sesuai dengan karakteristiknya • Cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media sesuai dengan karakteristiknya • Cukup cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Cukup tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media cukup sesuai dengan karakteristiknya • Lambat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Kurang tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media kurang sesuai dengan karakteristiknya No 5 Indiaktor Keberanian menggunakan unsur bentuk Deskripsi Level Kemampuan menggunakan 4. bidang.

Cukup • • • 1. Kurang • • • 6 Pemanfaatan waktu Penggunaan waktu baiknya dilakukan membuat karya lukis sebaik. bidang) mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna tidak mendekati warna sebenarnya Kurang berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis Menyelesaikan karya lukis dengan sangat tepat waktu Memperlihatkan hasil karya lukis yang sangat tuntas Menyelesaikan karya lukis dengan tepat waktu Memperlihatkan hasil karya lukis yang tuntas Menyelesaikan karya lukis dengan cukup tepat waktu Memperlihatkan hasil karya lukis yang cukup tuntas Menyelesaikan karya lukis dengan kurang tepat waktu Memperlihatkan hasil karya lukis yang kurang tuntas Sangat serius dalam membuat karya lukis Perhatian terhadap karya lukis sangat terfokus Serius dalam membuat karya lukis Perhatian terhadap karya lukis terfokus Cukup serius dalam membuat karya lukis Perhatian terhadap karya lukis cukup terfokus Tidak serius dalam membuat karya lukis Perhatian terhadap karya lukis kurang terfokus Keaslian bentuk (kemampuan 4. Kurang 7 Ketekunan Kondisi peserta didik untuk 4. Sangat baik mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh. Cukup 1. Baik 2. Sangat baik untuk 3. Kurang No 8 Indiaktor Komponen Produk Kreativitas Deskripsi Level • • • • • • • • • • • • • • • • Kriteria • • Berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis Variasi unsur-unsur bentuk (garis. Sangat baik menciptakan bentuk-bentuk baru) Tidak pernah melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang sangat tinggi dalam memodifikasi objek 290 . bidang) cukup mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna cukup mendekati warna sebenarnya Cukup berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis Variasi unsur-unsur bentuk sedikit (garis. Cukup 1.Lampiran 3 • 2. Baik sungguh 2.3.4.

Baik • Kriteria • Sangat jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan • Sangat tegas/ spontan dalam mengungkapkan garis • Sangat berani dalam mengorganisasikan unsur-unsur karya lukis • Jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan • Tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna 291 . Baik 2. Cukup 1. Sangat baik mengungkapkan isi/tema/konsep lukisan 3.Lampiran 3 • • • • • • • • • • • • • • • • • Warna yang digunakan sangat bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang sangat tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang sangat banyak Jarang melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang tinggi dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang banyak Cukup sering melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan cukup bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang cukup banyak Sering melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang kurang dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan kurang bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang kurang dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang kurang banyak 3. Kurang No 9 Indiaktor Ekspresi Deskripsi Level Kejelasan dalam 4.

Cukup 1. Kurang Kriteria • Alat dan bahan yang digunakan sangat sesuai karakteristiknya • Sangat teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan sangat bersih • Alat dan bahan yang digunakan sesuai karakteristiknya • Teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan bersih • Alat dan bahan yang digunakan cukup sesuai karakteristiknya • Cukup teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan cukup bersih • Alat dan bahan yang digunakan kurang sesuai karakteristiknya • Kurang teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan kurang bersih 292 . Cukup No 10 Indiaktor Teknik Deskripsi Level Kemampuan menggunakan alat 4. Baik 2. Sangat baik dan bahan sesuai dengan karakteristiknya serta kebersihan karya yang dihasilkan 3.Lampiran 3 • • • • 1. Kurang • • • Berani dalam mengorganisasikan unsur-unsur karya lukis Cukup jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Cukup tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Cukup berani dalam mengorganisasikan unsur-unsur karya lukis Kurang jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Kurang tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Kurang berani dalam mengorganisasikan unsur-unsur karya lukis 2.

Ph. instrumen penilain diri. M. C. M. M. dilaksanakanlah seminar instrumen dengan melibatkan pakar seni lukis anak . Oleh karena itu. dan instrumen penilaian kelompok.Pd Wasis. Latar belakang Berdasarkan hasil yang diperoleh dari FGD tahap I. Sofyan Salam. B.D Dr.Pd (Pakar seni lukis anak/promotor) (Ahli pengukuran) (Ahli pengukuran) (Ahli pengukuran) ( Dosen dan Mahasiswa PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) 293 . M.Pd Kulsum.Pd Harun. II. dan instrumen penilaian kelompok.Pd Endang Sulistyowati. M. serta mahasiswa S3 program studi PEP. M. target dari seminar ini adalah untuk melakukan fiksasi terhadap instrumen penilaian seni lukis anak yang terdiri dari instrumen penilaian proses dan produk.Pd Sujiatno. ahli pengukuran. Namun demikian. Peserta yang hadir Prof.Pd Sudiyatno. instrumen yang telah disusun tersebut masih memerlukan fiksasi dari ahli-ahli pengukuran. M. instrumen penilaian diri. maka disusunlah instrumen penilaian seni lukis anak yang terdiri dari instrumen penilaian proses dan produk. Target yang ingin dicapai Berdasarkan latar belakang.Pd Mansur. dan III.Lampiran 4 SEMINAR “ PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. M. Heri Retnowati Suratno.

40 E.15-10. M.D Kata-kata sangat atau segera dihilangkan karena indikator yang menyatakan sangat atau segera sangat sulit ditentukan Dr. dengan demikian setiap level mengandung kriteria yang sama hanya tingkat keterpenuhannya yang berbeda Mansur.15-10.Pd Dalam menentukan level dengan cara menentukan banyaknya kriteria yang dipenuhi.30-08.15 09.30 10.Lampiran 4 D. kita tidak harus menggunakan sistem hierarkis artinya dari atas kebawahtetapi bebas kriteria yang terpenuhi Harun.15-09.30 08.30-10.00-08.Pd Suatu instrumen harus disusun sesederhana mungkin tetapi mewakili apa yang ingin kita ketahui dengan instrumen itu. Oleh karena itu. M. Deskripsi pelaksanaan Seminar dilaksanakan pada tanggal 16 April 2008 bertempat di Ruang Diskusi Mahasiswa Program Pascasarjana UNY.Sofyan Salam. Adapun kronologis pelaksanaan seminar tersebut disajikan pada tabel berkut: Waktu 08. Heri Retnowati Penentuan level dilakukan dengan menentukan banyaknya kriteria yang dipenuhi.15 10. misalnya sebagai berikut: • Sangat baik jika ketiga kriteria terpenuhi • Baik jika hanya dua kriteria yang terpenuhi • Kurang jika hanya satu yang terpenuhi • Sangat kurang jika tidak ada satu pun kriteria yang terpenuhi Suratno. Ph. dan instrumen penilaian kelompok Diskusi sesi 1 untuk fiksasi instrumen penilaian proses dan produk Diskusi sesi 2 untuk fiksasi instrumen penilaian diri dan kelompok Penyimpulan dan penyampaian hasil diskusi Penutupan dengan doa bersama 08. instrumen penilaian diri.15 Aktivitas Pembukaan mengutarakan maksud dan tujuan seminar diikuti dengan perkenalan peserta yang hadir Presentasi pengenalan topik yang akan dibahas yaitu instrumen penilaian proses dan produk. M.Pd Penentuan level dilakukan berdasarkan banyaknya keterpenuhan kriteria. 294 . Masukan peserta yang hadir Sesi 1 Pertanyaan Masukan peserta Berapa persenkah bobot untuk penilaian proses dan produk Prof.

Pd Sesi 2 Pertanyaan Masukan peserta Apakah indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak Prof. Heri Retnowati Disamping adanya soal pilihan ganda. Misal marah berwarna merah. praktisi yaitu guru seni akan lebih mudah dalam menggunakan instrumen ini Penentuan level penilaian dengan metode tingkat keterpenuhan kriteria akan mempermudah guru dan menghemat waktu penggunaanya Endang Sulistyowati. M. M. Kesimpulan Kesimpulan dari seminar ini berupa draft instrumen penilaian seni lukis anak yang siap digunakan. 295 .D Penggunaan gambar pada sebuah angket merupakan sesuatu yang baru dan menarik serta mudah digunakan siswa Dr. Kulsum. perlu juga ditambahkan adanya soal yang berbentuk uraian agar siswa dapat lebih mengekspresikan perasaanya Suratno. sebuah angket perlu juga memperhatikan desainnya seperti identitas siswa hal ini dimaksudkan agar pengisian angket tidak dilakukan serta merta. Instrumen tersebut akan berdampak pada tingkat keakuratan siswa dalam mengungkapkan perasaanya terkait dengan aktivitas seni rupa yang dilakukan F. M. M.Pd Wasis. Ph. tetapi dapat diacak Dengan tidak memberlakukannya sistem hierarkis. sebaiknya gambar yang dimunculkan diberi aksen warna yang disesuaikan dengan gambar tersebut. Harun. M. jadi keterpenuhan kriteria tidak harus dari atas ke bawah atau sebaliknya.Pd Agar lebih menarik.Pd Sudiyatno.Lampiran 4 kriteri ada baiknya dibatasi maksimal terdiri dari tiga buah kata Perlu dilakukan penyederhanaan kata-kata agar lebih mudah untuk digunakan Setiap kriteria tidak menunjukan tingkatan. M.Sofyan Salam. senang berwarna hijau. M.Pd Sujiatno.Pd Selain dari segi konten.Pd Instrumen penilaian yang dikombinasikan dengan gambar merupakan sesuatu yang baru dan menarik.Pd Soal berbentuk uraian cukup diberikan satu soal karena untuk menghindari kejenuhan siswa dalam menuliskan ungkapan ekspresinya Mansur. M. netral berwarna kuning.

Keberanian menggunakan media 3. Tanggapan anak tentang tema lukisan yang akan dibuat 2. Ekspresi dari karya yang dihasilkan 3. Kesiapan bahan dan alat yang akan digunakan untuk melukis Tahap inti 1. 296 . Kelancaran penuangan ide 2. Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk 4.3 4 KISI-KISI ANGKET PENILAIAN PROSES DAN PRODUK No A. Kreativitas dari karya yang dihasilkan 2. Pemanfaatan waktu 5. Indikator Tahap awal 1. Ketekunan dalam membuat karya Tahap akhir 1. Teknik dari karya yang dihasilkan Butir 1 2 B. 1 2 3 4 5 1 2 3 C.Lampiran 5 KISI-KISI INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” KISI-KISI LEMBAR EVALUASI DIRI No 1 2 3 Indikator Perasaan siswa terhadap tugas yang diberikan Kemampuan siswa dalam mengerjakan tugas Perasaan siswa terhadap karya yang dihasilkan KISI-KISI LEMBAR EVALUASI KELOMPOK No 1 2 3 4 Indikator Kemampuan siswa dalam menggambar objek Kemampuan siswa dalam memilih warna Kebersihan karya Penilaian terhadap lukisan secara keseluruhan Butir 1 2 3 4 Butir 1 2.

Baik Kriteria Terpenuhi 3 aspek • Menerima • Memahami • Melaksanakan Terpenuhi 2 aspek • Menerima • Memahami • Melaksanakan Terpenuhi 1 aspek • Menerima • Memahami • Melaksanakan Tidak terpenuhi 3 aspek • Menerima • Memahami • Melaksanakan Terpenuhi 3 aspek • Lengkap • Relevan • Siap digunakan Terpenuhi 2 aspek • Lengkap • Relevan • Siap digunakan 2.Lampiran 5 RUBRIK SKOR RUBRIK SKOR PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. Baik 297 .Sangat kurang 2 Kesiapan alat dan bahan Suatu kondisi peserta didik yang 4. Sangat baik perilaku (ekspresi. Tahap Awal No 1 Indikator Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Deskripsi Level Reaksi peserta didik berupa 4. Kurang 1. Sangat baik yang akan digunakan sudah siap melakukan tugas untuk melukis dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya 3. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik 3. PROSES PEMBELAJARAN 1.

Tahap Inti No 1 Indikator Kelancaran ide Level penuangan Kondisi peserta didik pada 4. Sangat baik (alat dan bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik 298 .Lampiran 5 2. Baik memvisualisasikan ide tersebut Kriteria Terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Terpenuhi 2 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Terpenuhi 1 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Tidak terpenuhi 3 aspek • Lambat • Tepat • Sesuai dengan media Terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media 2.Sangat kurang 2. Sangat baik waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara kualitas ide yang dikembangkan dengan keterampilan untuk 3.Sangat kurang 2 Keberanian menggunakan media Keberanian menggunakan media 4. Kurang 1. Kurang Terpenuhi 1 aspek • Lengkap • Relevan • Siap digunakan Tidak terpenuhi 3 aspek • Lengkap • Relevan • Siap digunakan 1.

Sangat baik unsur. 3. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik. 4.Sangat kurang 4 Ketekunan Kondisi peserta didik untuk 4. Kurang 1. Baik 2.Sangat kurang 3 Keberanian menggunakan unsur bentuk Keberanian menggunakan titik. Sangat baik mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguhsungguh 3.Lampiran 5 inkonvensional dalam melukis 3. bidang. Kurang 1. Baik Terpenuhi 2 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Terpenuhi 1 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Tidak terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Terpenuhi 3 aspek • Berani • Tepat • Artistik Terpenuhi 2 aspek • Berani • Tepat • Artistik Terpenuhi 1 aspek • Berani • Tepat • Artistik Tidak terpenuhi 3 aspek • Berani • Tepat • Artistik • • 299 Sangat bersungguh-sungguh 2. Baik Bersungguh-sungguh .garis.

PRODUK No Indikator 1 Kreativitas • • Karya selesai tepat waktu Karya hampir selesai saat waktu berakhir Karya tidak selesai saat waktu berakhir • Tidak bersungguh-sungguh Kurang bersungguh-sungguh Karya selesai sebelum waktu berakhir Level Keaslian bentuk (kemampuan 4. Baik • 2. Kurang 300 . Kurang 1.Sangat kurang B. Sangat baik untuk 3. Kurang • 1.4.Sangat kurang • 5 Pemanfaatan waktu Penggunaan waktu baiknya dilakukan membuat karya lukis sebaik. Sangat baik menciptakan bentuk yang khas).Lampiran 5 2. Baik Kriteria Terpenuhi 3 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Terpenuhi 2 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Terpenuhi 1 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya 2. kebaruan teknik dan konsep cerita 3.

Sangat baik mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema 3.Sangat kurang 3 Teknik Kemampuan menggunakan alat 4. Ekspresi Kejelasan dalam 4.Lampiran 5 1. Kurang 1.Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Terpenuhi 3 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Terpenuhi 2 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Terpenuhi 1 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Tidak terpenuhi 3 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Terpenuhi 3 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Terpenuhi 2 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih 2. Baik 2. kualitas cara penggambaran. Baik 301 . serta kebersihan karya yang dihasilkan 3. Sangat baik dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya.

Sangat kurang 302 . Kurang Terpenuhi 1 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Tidak terpenuhi 3 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih 1.Lampiran 5 2.

.......................... 303 ................................. Keberanian menggunakan media 3...............................2 Tahap inti 1..... ......... Ketekunan dalam membuat karya B Produk 1... Kesiapan bahan dan alat yang akan digunakan untuk melukis A................ Keberanian menggunakan unsurunsur bentuk 4................ Pemanfaatan waktu 5............... Teknik dari karya yang dihasilkan Catatan: ....Lampiran 5 ANGKET PENILAIAN PROSES DAN PRODUK ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ANAK” Nama siswa : KODE G02 Kelas/semester : Nama tugas Tanggal Nama penilai : : : Berilah tanda v pada kolom yang sesuai dengan pilihan anda! No Indikator Sangat baik (4) A A............................................. Kelancaran penuangan ide 2..1 Proses Tahap awal Baik (3) Kurang (2) Sangat kurang (1) 1............... Kreativitas dari karya yang dihasilkan 2................................................ Tanggapan anak tentang tema lukisan yang akan dibuat 2.......... Ekspresi dari karya yang dihasilkan 3..................

........................................................... KODE S01 2......................... Saya ....... 3... dalam proses penciptaan karya saya 4................................. ........... Saya............................................................................... Saya ...... 304 ...........Lampiran 5 LEMBAR PENILAIAN DIRI ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ANAK” Nama : Tanggal : Nama tugas : Tanggal pengumpulan : Berilah tanda v pada kotak yang dipilih! 1..........terhadap hasil pekerjaan saya......................................................................... ................................................. Ceritakanlah pengalaman menarikmu serta kendala-kendala yang dihadapi selama pembuatan karya lukis serta usaha-usaha untuk mengatasi kendala-kendala tersebut ! ................................... Saya...............terhadap tugas yang diberikan. dalam mengerjakan tugas...........................................................

.................................................................................................................... KODE S02 2.................................................. Saya…………………terhadap lukisan secara keseluruhan........... Saya ........................................... 3..... Saya………………….... Nama penilai: 305 .............................terhadap bentuk objek lukisan.. Saya …………………terhadap komposisi warna yang digunakan.....................................Lampiran 5 LEMBAR PENILAIAN KELOMPOK (Peer Assessment) ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ANAK” Nama pemilik : Tanggal : Nama tugas : Tanggal pengumpulan : Berilah tanda v pada kotak yang dipilih! 1...................................................... ........................... Berilah saran dan pendapatmu terhadap karya lukis yang dibuat! . ......terhadap kebersihan lukisan 4...

Lampiran 6 Data Penilaian Proses Kelas I  Nama  Ade Firmansyah  Daffa Malik Falaq  Deandra Visto D  M.Lutfi Mahendra  M.  Amelia Noor Putri M  Artantri Widasari  Chatarine Dyela Eillen R  Dicky Armayuda  Eridani Kartiko Adi  Gatot Ismail  Gufron Gilang Zahru Saputra  Indah Budi Kartikarini  Insan Fadilah Harvianto  Ismalia Ramadhani Putri  M.Naufal Rizqita  Rayhan Adikusuma  Rizky Dafa P  Aqlia Tsalisa Azmani  Ashylla Paramadanti  Cahyaningtyas Iftitah  Chairunnisa Yulia W  Dyah Pradina P  Dyah Sekar Ayu K  Fahra Prahastanti P  Hana Fazah Nur S  Keisha Amadea  Nabila Permata Sari  Nur Azizah  Ranita Salsabila  Ria Rahma Sukma W  Septiana Tidar  Andika Bagas  Andi Maulana  Ade Itko M  Anindita Dara L  David Revaru  Vebrian Agung W  Kurniawan Dwi Y  M.N  Siska Tri W  Yacinta Nararia S  Karizma Putri R  Salwa Sauzan R  Alfia Rahma De  Anissa N.A. Farid Abdurrahman        Sutarno  1  3  3  4  4  3  4  3  3  2  4  3  4  4  4  4  3  3  3  4  3  4  1  4  3  3  4  4  3  4  4  2  2  4  4  3  3  4  4  2  4  4  4  2  4  4  4  4  4  4  4  4  2  4  4  4  4  4  4  4  4  2  2  4  4  3  4  2  3  2  4  4  4  4  3  4  4  3  1  4  3  4  4  2  3  3  3  4  3  4  4  2  2  4  4  4  3  4  4  3  3  4  4  2  2  4  4  4  4  4  4  4  2  4  4  3  3  3  3  2  4  2  3  4  4  2  4  2  2  2  3  3  3  4  3  4  3  2  3  3  2  3  3  3  3  3  4  4  3  3  4  2  2  4  4  3  3  3  4  3  4  4  3  3  3  4  4  3  4  4  4  4  4  4  3  3  4  3  4  3  4  1  3  4  4  3  4  2  3  2  3  3  4  4  3  3  3  2  3  3  3  3  3  3  2  3  4  4  4  4  4  2  2  4  4  3  2  4  3  3  4  4  3  3  4  4  4  3  4  4  3  4  3  4  3  3  4  3  4  2  4  1  2  4  4  2  4  2  3  1  2  3  3  4  3  3  2  2  3  4  1  3  2  2  2  3  4  4  4  3  4  2  2  4  4  3  2  4  3  4  4  4  3  3  3  3  4  3  4  4  3  4  2  4  3  3  4  3  4  4  4                  Udawati  2  3  4  4  2  4  2  2  2  3  3  3  4  3  4  2  2  3  3  3  3  3  3  3  3  4  4  3  3  4  2  2  4  3  3  3  3  3  3  4  4  3  3  3  4  4  4  4  4  4  4  4  4  3  3  3  3  4  3  4  1  3  4  4  3  4  2  3  2  3  4  3  4  3  3  3  2  3  3  3  3  3  3  2  3  4  4  4  4  4  2  3  4  3  3  3  4  3  3  4  4  3  3  4  4  4  3  4  4  3  4  3  4  3  3  3  3  3  2  4  1  2  4  4  2  4  2  3  1  3  3  3  4  3  3  3  2  3  3  1  3  2  2  2  3  3  4  4  3  4  2  2  4  2  3  3  4  3  4  4  4  3  3  3  3  4  4  4  4  3  4  2  4  3  3  3  3  4  3  4  2  3  2  4  3  2  3  3  3  4  2  3  4  3  3  2  3  4  2  3  2  2  4  3  3  3  4  3  3  4  2  3  3  3  3  3  4  3  4  4  4  3  3  3  4  4  3  4  3  3  4  2  4  4  3  4  4  4  2  4              Dodi  1  3  3  4  3  4  2  3  2  2  3  3  4  4  4  3  2  3  3  3  3  3  3  2  3  4  4  4  4  4  2  2  4  4  3  3  3  4  3  4  4  3  3  4  4  4  3  4  4  3  4  3  4  3  3  3  4  4  3  4  1  2  3  4  2  4  2  3  1  2  3  3  4  4  4  3  2  3  2  3  3  2  2  2  3  4  4  4  3  4  2  2  4  4  3  4  3  4  4  3  4  3  3  3  3  4  3  4  4  3  4  2  4  3  3  3  3  3  3  4      2  3  4  5  6  7  1  2  3  4  5  6  7  1  2  3  4  5  6  7  2  3  4  4  3  4  3  3  3  3  3  3  4  3  3  3  3  4  4  3  2  2  4  3  3  3  4  3  3  4  2  3  3  3  3  3  4  4  4  4  4  3  3  3  4  4  3  4  4  3  4  2  4  4  3  4  4  4  2  4  1  2  2  2  1  2  1  1  2  2  2  2  4  2  2  2  3  3  3  3  3  3  3  3  4  4  3  4  4  4  2  3  3  3  4  3  3  4  4  4  4  4  4  4  4  4  4  4  4  3  4  2  4  4  4  3  3  4  3  4  3  3  4  4  3  4  3  3  2  2  3  3  4  2  4  2  3  3  3  3  4  1  4  3  3  4  4  3  4  4  2  2  4  3  3  3  4  3  2  4  4  4  2  4  4  4  3  4  4  4  4  2  4  4  4  3  4  4  3  4  2  2  4  4  3  4  2  3  2  3  3  3  4  3  3  3  3  1  3  3  4  4  2  3  3  3  4  3  4  4  2  2  4  3  4  3  4  3  3  3  4  4  2  2  4  4  3  4  4  4  4  2  4  4  3  3  4  2  2  4  1  2  3  2  1  4  1  1  2  3  3  3  4  3  4  3  3  3  3  2  3  3  3  3  4  4  3  3  4  4  2  3  3  3  4  3  3  3  4  4  4  4  4  4  4  4  3  4  4  3  4  2  4  4  4  4  4  4  2  4  3  3  3  4  3  4  3  3  2  1  1  2  4  4  4  3  3  3  1  1  4  1  4  3  3  4  4  3  4  4  2  2  4  4  3  3  4  3  2  4  4  4  2  4  4  4  3  4  4  4  4  2  4  4  4  4  4  4  3  4  2  2  3  4  3  4  2  3  2  3  3  3  4  4  4  3  3  1  3  3  4  4  2  3  3  3  4  3  4  4  2  2  4  4  4  4  4  4  3  4  4  4  2  2  4  4  4  4  4  4  4  2  4  4  3  4  4  2  2  4  2  3  4  4  2  4  2  2  2  2  3  3  4  4  4  3  2  3  3  3  3  3  3  3  3  4  4  3  3  4  2  2  4  4  3  4  4  4  3  4  4  3  3  3  4  4  3  4  4  4  4  4  4  3  3  4  4  4  4  4  2  3  3  4  3  4  3  3  3  4  2  2  4  3  3  2  3  4  2  3  2  2  4  3  3  4  4  4  3  4  2  3  3  4  3  3  4  3  4  4  4  3  3  3  4  4  2  4  4  3  4  2  4  4  3  4  4  4  1  4  1  2  3  2  1  2  1  1  2  2  3  2  4  4  4  3  3  3  3  3  3  3  3  3  4  4  3  3  4  4  2  3  3  4  4  3  4  3  4  4  4  4  4  4  4  4  3  4  4  3  4  2  4  4  4  4  4  4  2  4  Muhammad Roofi'l A  Nida Salma Hajaroh  Nurfitri Andani  Ragil Saputro Mujiono  Rif'atul Widaan Khotibin Tamhid  Royhan Ikbar  Sekar Cendana Arum  Nadila Fatimatuzzahra A.M  306 . Dava Surya Abi Y.  Malaghina Kusuma H  Rio Satya Fauzi  Freddy PP  Siti Aziroh Rahmatika  Shella Kumalasari  Shelli Puspitasari  Sugiharto.B.

Tsani Ihsani Y Muh.Lampiran 6 Data Penilaian Proses Kelas II Nama Afkar Zaka Y Alif Fahmi Mahendra Azka Hikam Z M.W Pradipta Wisnu Timur Dwi Indraja Agni Vasha Salsabila Alvira Niryana Aulia Astagina Dhiyaurrohmah Kamila Muyasaroh Melinia Debbytasari Noor Diana Arrasyid Oktaviana Rahindra Shafa Nabilla Haya Sheila Alfauziya P Yuliana Zahrajuncta Lusiana Martini Amelia Prisca Brigita Anggun Pratiwi Anisa Nur Rahmah Arviananda Ade H Bintang Nugrahani Galang Permataputra Galuh Intisari Muh. Abdul Gani Sarining Hanggani Kasih Teddy Arfansyah N Yuliana Larasari Dikta Wahyu Pratama Awang Pramono Isla Magda S Joko Bagus B Novia Permatasari Kusuma Nuraini Yulia Catur Wulandari Ikhsan Panji Irawan A'Issyatun Wahyu Ningsih Ainun Amaliya Paramita Arini Dewi Nuraini Chusnunnisa Suryanudin Ummu Habibah Halida Salsabila Hasna Maretta Sausana Hasna Ulfiaa Humairoh Rosida Akhir Khilmi Khayatun Nisha Kiki Dwi Widyasari Lutfina Aribah Miftakhurrohmah Nafisa Ainurrahmah Novryan Armawida Rizki Putri Utami Salman Kurnia Haq Sinta Primadita Siti Maryam S Wakhid Hasyim Sutarno 1 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 4 3 3 3 4 4 3 4 4 3 2 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 Udawati 6 4 4 2 4 2 2 3 3 4 4 3 3 4 3 4 4 4 4 4 3 2 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 3 4 2 3 4 4 4 3 3 4 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 2 4 4 Dodi 6 4 4 3 4 4 2 3 2 2 3 2 3 4 3 4 4 4 3 2 2 2 3 4 4 3 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 2 4 3 3 2 3 4 4 3 3 3 4 2 3 3 3 4 4 4 4 3 3 2 4 4 2 3 4 3 1 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 2 3 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 3 4 4 3 4 4 4 2 3 4 4 4 3 4 4 2 2 2 2 4 2 4 4 3 3 4 3 3 4 4 2 3 4 3 4 3 3 3 4 4 4 4 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 3 4 3 2 3 3 4 3 4 3 3 4 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 4 4 4 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 4 3 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 4 4 2 3 3 5 3 4 3 4 4 4 2 2 3 4 4 3 2 4 4 4 4 4 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 4 3 3 4 4 4 3 3 3 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 2 3 4 7 3 3 3 3 4 4 1 2 2 2 3 2 2 2 2 4 4 4 3 2 4 4 4 4 3 4 2 3 3 3 4 4 4 4 4 2 4 3 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 2 4 4 1 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 2 3 3 4 4 3 3 3 3 4 3 4 3 4 3 3 4 3 3 4 3 4 4 4 4 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 3 3 2 4 4 2 3 4 3 1 4 4 3 3 3 4 4 3 4 3 2 4 3 4 2 3 2 3 3 4 4 4 3 4 3 4 3 4 3 4 3 2 4 3 3 4 3 4 4 3 2 3 4 3 4 3 3 4 2 2 2 2 3 2 4 4 3 3 4 3 3 2 4 2 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 2 3 3 4 4 3 4 3 4 4 3 4 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 4 2 3 2 3 4 4 4 3 4 3 2 3 3 4 3 4 2 3 4 4 3 3 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 4 4 4 3 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 3 2 3 3 5 3 4 3 4 4 4 2 2 3 4 3 3 2 3 4 4 4 3 2 3 2 3 4 3 4 3 2 4 3 4 3 3 3 4 3 2 4 2 2 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 2 3 4 4 3 3 3 3 2 4 4 7 3 3 3 3 4 4 1 3 4 3 3 3 2 4 4 4 4 3 2 3 4 4 4 4 3 2 4 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 3 3 3 3 4 4 3 3 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 2 3 4 1 3 4 3 3 2 4 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 3 3 4 3 3 4 3 4 4 4 4 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 3 4 2 4 4 2 3 4 3 1 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 3 4 4 3 4 4 4 2 3 4 4 4 4 4 4 2 2 2 2 4 2 4 4 3 3 4 2 3 4 2 2 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 4 2 3 2 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 3 2 3 3 5 3 3 3 4 4 4 2 2 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 4 4 2 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 4 4 3 2 4 4 6 4 4 3 4 4 4 3 2 3 3 4 3 4 3 4 4 3 4 4 3 2 3 4 4 3 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 2 4 3 3 2 3 4 4 4 3 3 4 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 2 4 4 7 3 4 3 3 4 4 1 3 4 4 4 4 2 4 2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 2 4 3 4 3 3 4 4 4 3 3 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 2 3 4 307 .Zauhar Nanda Naya P. Aqib Husni Fadhli Muh.

 Miftahul Firdaus  Anggi Dwina Siregar  Rusmini  Afiana Nurkholishotus Shohibah  Andi Rahmat Wulansyah  Eka Yuliani  Fegi Tri Damayanti  Fitri Nurul Hanifah  Imam Zuhdi  Inna Rahmatul Ulya  Jalu Ukir Damatama  Hilda Ayu Wibisana  Ninggih Annisa Daniswara  Pilar Paksi Pratama  Rafli Khooinurizal  Rapsanjani  Riswa Rahman Fahmi  Rivani Rahmania Afifah  Rizki Nur Chaerani  Rizqi Haritz Pebiantara  Zanityara Syah Syadila  Zetta Nillawati Reyka Putri  Nurul Arifah        Sutarno  2  3  3  4  4  3  3  3  4  4  3  4  4  4  4  3  3  3  3  3  2  3  3  3  3  4  3  4  4  3  4  2  4  3  4  4  4  4  3  3  4  3  2  3  4  4  4  4  3  3  4  4  3  2  4  3  4  4  4  4  2  4  3  4  4  3  3  3  3  4  3  4  4  4  4  4  4  2  4  4  2  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  2  4  3  4  4  3  3  4  3  4  4  4  4  4  4  3  3  3  3  4  3  2  2  3  4  4  4  4  4  3  3  3  4  4  1  3  3  4  4  3  3  4  4  4  3  3  3  3  3  2  2  2  3  3  4  3  3  3  3  3  2  4  3  3  3  4  4  3  3  4  3  3  3  4  3  3  4  3  4  3  3  3  2  4  3  4  3  3  3  2  3  3  4  4  2  3  3  4  3  4  4  4  4  4  3  3  3  4  3  2  2  3  3  3  4  3  3  3  4  4  2  3  3  3  3  4  4  3  4  3  3  3  3  4  3  3  4  2  4  3  3  3  2  3  2  4  3  3  2  1  3  3  4  4  2  2  2  4  3  3  4  4  3  4  3  3  3  3  3  2  2  3  3  3  4  3  3  3  4  4  2  4  3  4  3  4  4  3  4  4  3  3  3  4  3  3  4  2  4  3  4  3  2  3  2  4  3  3  2  3  3  3  4  4  4  3  3  3  3  3  3  4  3  3  3  3  3  4  3  4  2  3  2  3  4  3  4  4  4  4  2  4  2  3  3  4  3  3  3  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  3  4  3  2  3  4  4  2  3  3                Udawati  3  3  3  4  4  3  3  3  3  4  3  3  4  4  4  3  3  3  3  3  2  2  2  3  3  4  3  3  3  2  4  2  3  3  3  3  4  4  3  3  4  4  3  3  4  3  3  4  3  4  3  3  3  2  3  3  4  3  3  3  2  3  3  4  4  3  3  3  3  3  3  4  4  4  4  3  3  3  4  3  2  2  3  3  3  4  3  3  3  3  4  2  3  3  3  3  3  4  3  4  4  3  3  3  4  3  3  4  2  4  3  3  3  2  3  3  3  3  3  2  1  3  3  4  4  3  3  3  3  4  3  4  4  3  4  3  3  3  3  3  2  2  3  3  3  4  3  4  3  2  4  2  3  3  4  2  4  4  3  4  4  3  3  3  4  3  3  4  2  4  3  4  2  2  3  3  3  3  3  2  3  3  3  4  4  4  3  3  3  3  3  3  4  3  3  3  3  3  4  3  4  2  3  2  3  4  4  4  4  3  4  2  3  2  3  4  4  3  3  3  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  3  4  3  2  3  3  4  2  3  3              Dodi  2  3  3  4  4  3  3  3  3  4  2  2  4  4  4  4  3  3  4  3  2  2  3  3  3  4  3  4  3  3  4  2  3  3  3  3  3  4  3  4  4  3  3  3  4  4  3  4  2  4  3  3  2  2  2  3  4  3  3  2  1  3  3  4  4  3  3  3  3  4  2  2  4  3  4  4  3  3  3  3  2  2  3  3  3  4  3  4  3  2  4  2  3  3  4  3  3  4  3  4  4  4  3  3  4  4  3  4  2  4  3  4  2  2  2  2  4  3  2  2      1  2  3  4  5  6  7  1  2  3  4  5  6  7  1  2  3  4  5  6  7  3  3  4  4  4  1  3  3  4  4  4  4  4  4  4  4  3  2  3  3  3  3  3  3  3  4  4  4  3  3  4  2  4  3  4  4  4  4  4  4  4  4  4  3  4  3  4  4  3  4  3  4  3  2  4  3  4  3  4  4  2  4  3  4  4  4  3  3  4  4  3  4  4  4  4  3  3  2  3  3  2  3  3  3  3  4  3  3  3  3  3  2  3  3  4  3  2  4  3  3  3  3  2  3  4  3  4  4  3  3  4  4  3  2  3  3  4  4  3  4  2  3  3  4  4  4  3  4  3  4  3  4  4  4  4  4  4  2  4  4  2  3  3  3  3  4  3  3  3  3  3  2  3  3  4  3  3  3  4  3  3  4  4  4  4  4  3  3  3  3  4  3  2  2  3  3  3  4  3  4  3  3  4  4  4  4  3  3  4  3  3  4  4  4  4  4  3  3  3  3  3  3  3  3  3  4  3  3  3  3  4  2  3  3  4  3  4  4  4  4  4  3  4  3  4  4  4  4  3  4  3  4  3  2  4  3  4  3  4  4  2  3  3  4  4  4  3  3  4  4  1  1  4  4  4  4  3  2  3  3  2  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  2  3  3  4  3  3  4  3  3  4  3  3  3  4  4  4  4  3  3  4  4  3  2  3  3  3  4  3  4  2  4  4  4  4  4  4  3  4  4  1  3  4  4  4  4  4  2  4  4  2  3  3  3  3  4  4  4  4  4  4  2  4  4  4  4  4  3  4  3  4  4  4  4  4  4  3  3  3  3  4  3  2  2  4  4  4  4  4  4  3  3  3  4  4  4  3  3  4  4  2  2  4  4  3  4  3  3  3  3  2  2  2  3  3  4  3  4  3  3  4  2  3  3  3  3  4  4  3  3  4  4  3  3  4  4  3  4  3  4  3  3  3  2  3  3  4  3  3  3  3  3  3  4  4  3  4  3  3  4  3  3  4  3  4  3  3  3  4  3  4  2  3  2  3  4  3  4  3  3  4  2  3  2  3  3  4  3  3  3  4  2  3  3  4  4  4  3  3  4  3  4  2  2  2  3  3  2  3  3  3  3  3  4  4  3  4  3  4  2  2  2  4  4  4  4  3  3  3  3  3  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  2  3  2  4  3  4  4  4  4  4  3  3  3  4  4  4  4  3  4  3  4  3  2  3  3  4  3  3  4  308 .Farizi Gustaf  M.Lampiran 6 Data Penilaian Proses Kelas III  Nama  Alwi Izha Farandi  David Aldi Saputra  Laode Aldifan  M.Zulfikar  Muqni Aqsoinna  Suryatama Gallang  Aulia Rizki  Dini Puspo  Elfira Ciptaningtyas  Elma Damarista  Fadhila Khoirunisa  Inna Salma Fahman  Khanifah Noor  Nur Amalia Andini  Ratu Yeremenia S  Syifa Azizah  Ade Yoga Endy S  Bekti Rachmawati  Maria Sri Adiningsih  Novianto Adi Saputra  Wahyu Praktika D  Yunina Dea J  Bilqies Amalia A  Nova Puspitasari  Anggita Wulandari  Anjas Deva Felano  Eria Putri Pratiwi  Fitriyani  Ika Purwaningsih  Ilham Yusril Munawar  Massayu Seilla Annisa  Musriati  Rivan Pandu Adi Winata  Muh.Fauzan  M.Afdan Nurul Hilman  M.Ibrahim  M.

Naufal Rizqita Rayhan Adikusuma Rizky Dafa P Aqlia Tsalisa Azmani Ashylla Paramadanti Cahyaningtyas Iftitah Chairunnisa Yulia W Dyah Pradina P Dyah Sekar Ayu K Fahra Prahastanti P Hana Fazah Nur S Keisha Amadea Nabila Permata Sari Nur Azizah Ranita Salsabila Ria Rahma Sukma W Septiana Tidar Andika Bagas Andi Maulana Ade Itko M Anindita Dara L David Revaru Vebrian Agung W Kurniawan Dwi Y M.B.Lampiran 6 Data Penilain Produk Kelas I Nama Ade Firmansyah Daffa Malik Falaq Deandra Visto D M.Lutfi Mahendra M. Dava Surya Abi Y. Malaghina Kusuma H Rio Satya Fauzi Freddy PP Siti Aziroh Rahmatika Shella Kumalasari Shelli Puspitasari Sugiharto.M Sutarno 1 4 1 2 4 4 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 2 3 3 3 4 3 1 2 4 2 4 3 4 4 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 4 4 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 2 2 3 2 3 2 3 2 4 3 2 2 3 1 3 4 2 2 3 2 1 3 4 3 3 2 4 4 3 4 2 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 3 3 2 4 3 4 4 Udawaty 1 4 1 2 4 4 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 2 3 3 3 4 3 1 2 4 2 4 3 4 4 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 4 4 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 2 2 3 2 3 2 3 2 4 3 2 2 3 1 3 4 2 2 3 2 1 3 4 3 3 2 4 4 3 4 2 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 3 3 2 4 3 4 4 1 Dodi 2 4 1 2 4 4 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 2 3 3 3 4 3 1 4 2 4 3 4 4 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 4 4 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 2 2 3 2 3 2 3 2 4 3 2 2 3 1 3 4 2 2 3 2 1 3 4 3 3 2 4 4 3 4 2 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 3 3 2 4 3 4 4 309 .A.N Siska Tri W Yacinta Nararia S Karizma Putri R Salwa Sauzan R Alfia Rahma De Anissa N. Amelia Noor Putri M Artantri Widasari Chatarine Dyela Eillen R Dicky Armayuda Eridani Kartiko Adi Gatot Ismail Gufron Gilang Zahru Saputra Indah Budi Kartikarini Insan Fadilah Harvianto Ismalia Ramadhani Putri Muhammad Farid Abdurrahman Muhammad Roofi'l Adiyatma Nida Salma Hajaroh Nurfitri Andani Ragil Saputro Mujiono Rif'atul Widaan Khotibin Tamhid Royhan Ikbar Sekar Cendana Arum Nadila Fatimatuzzahra A.

Lampiran 6 Data Penilain Produk Kelas II Nama Afkar Zaka Y Alif Fahmi Mahendra Azka Hikam Z M. Aqib Husni Fadhli Muh. Tsani Ihsani Y Muh.Zauhar Nanda Naya P.W Pradipta Wisnu Timur Dwi Indraja Agni Vasha Salsabila Alvira Niryana Aulia Astagina Dhiyaurrohmah Kamila Muyasaroh Melinia Debbytasari Noor Diana Arrasyid Oktaviana Rahindra Shafa Nabilla Haya Sheila Alfauziya P Yuliana Zahrajuncta Lusiana Martini Amelia Prisca Brigita Anggun Pratiwi Anisa Nur Rahmah Arviananda Ade H Bintang Nugrahani Galang Permataputra Galuh Intisari Muh. Abdul Gani Sarining Hanggani Kasih Teddy Arfansyah N Yuliana Larasari Dikta Wahyu Pratama Awang Pramono Isla Magda S Joko Bagus B Novia Permatasari Kusuma Nuraini Yulia Catur Wulandari Ikhsan Panji Irawan A'Issyatun Wahyu Ningsih Ainun Amaliya Paramita Arini Dewi Nuraini Chusnunnisa Suryanudin Ummu Habibah Halida Salsabila Hasna Maretta Sausana Hasna Ulfiaa Humairoh Rosida Akhir Khilmi Khayatun Nisha Kiki Dwi Widyasari Lutfina Aribah Miftakhurrohmah Nafisa Ainurrahmah Novryan Armawida Rizki Putri Utami Salman Kurnia Haq Sinta Primadita Siti Maryam S Wakhid Hasyim 1 4 2 1 3 4 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 3 2 4 4 4 2 4 4 3 4 2 3 4 2 3 2 3 3 3 2 3 3 4 4 1 4 4 2 3 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 2 3 1 Sutarno 2 3 3 3 3 3 2 2 4 2 3 2 2 3 2 1 4 4 2 2 3 4 3 3 4 1 4 4 2 4 1 3 3 1 3 4 3 3 1 2 2 2 3 4 3 3 3 4 4 2 4 4 3 3 4 4 2 4 4 4 2 3 3 4 3 4 1 3 3 3 4 1 2 3 1 4 2 2 4 4 3 4 3 3 3 4 3 2 2 2 1 3 2 2 3 4 3 2 1 2 4 3 3 4 4 4 2 4 2 4 4 3 4 2 4 3 2 4 2 4 4 4 Udawaty 1 4 2 1 3 4 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 3 2 4 4 4 2 4 4 3 4 2 3 4 4 3 2 3 3 3 2 3 3 4 4 1 4 4 2 3 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 2 3 1 2 3 3 3 3 3 2 2 4 2 3 2 2 3 2 1 4 4 2 2 3 4 3 3 4 1 4 4 2 4 1 3 2 1 3 4 3 3 1 2 2 2 3 4 3 3 3 4 4 2 4 4 3 3 4 4 2 4 4 4 2 3 3 4 3 4 1 4 3 3 4 1 2 3 1 4 2 2 4 4 3 4 3 3 3 4 3 4 2 2 1 3 2 3 3 4 3 2 1 2 4 3 3 4 4 4 2 4 2 4 4 3 4 2 4 3 2 4 2 4 4 4 1 Dodi 2 4 2 1 3 4 3 3 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 3 2 4 4 4 2 4 4 3 4 2 3 4 2 3 2 3 3 3 2 3 3 4 4 1 4 4 2 3 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 2 3 1 3 3 3 3 3 2 2 4 2 3 2 2 3 2 1 4 4 2 2 3 4 3 3 4 1 4 4 2 4 1 3 4 1 3 4 3 3 1 2 2 2 3 4 3 3 3 4 4 2 4 4 3 3 4 4 2 4 4 4 2 3 3 4 3 4 1 4 3 3 4 1 2 3 1 4 2 2 4 4 3 4 3 3 3 4 3 2 2 2 1 3 2 3 3 4 3 2 1 2 4 3 3 4 4 4 2 4 2 4 4 3 4 2 4 3 2 4 2 4 4 4 310 .

Afdan Nurul Hilman M.Lampiran 6 Data Penilain Produk Kelas III Nama Alwi Izha Farandi David Aldi Saputra Laode Aldifan M.Ibrahim M. Miftahul Firdaus Anggi Dwina Siregar Rusmini Afiana Nurkholishotus Shohibah Andi Rahmat Wulansyah Eka Yuliani Fegi Tri Damayanti Fitri Nurul Hanifah Imam Zuhdi Inna Rahmatul Ulya Jalu Ukir Damatama Hilda Ayu Wibisana Ninggih Annisa Daniswara Pilar Paksi Pratama Rafli Khooinurizal Rapsanjani Riswa Rahman Fahmi Rivani Rahmania Afifah Rizki Nur Chaerani Rizqi Haritz Pebiantara Zanityara Syah Syadila Zetta Nillawati Reyka Putri Nurul Arifah 1 3 3 1 2 4 2 3 4 2 4 4 3 3 4 1 2 2 3 4 3 2 3 3 3 2 2 4 3 2 3 3 4 1 4 3 2 4 2 3 3 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 4 2 2 1 3 2 2 Sutarno 2 2 3 3 4 3 3 2 3 4 1 3 4 4 3 4 3 1 3 2 2 3 2 3 3 2 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 2 1 4 4 4 4 4 3 2 2 3 3 2 1 2 2 2 4 3 4 3 2 2 3 2 3 1 2 3 3 4 2 2 3 3 2 3 3 3 4 2 4 3 4 4 3 4 1 4 4 4 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 4 4 2 2 2 4 3 2 3 4 4 3 3 2 4 2 3 2 3 3 3 4 3 3 4 Udawaty 1 3 3 1 2 4 2 3 4 2 4 4 3 3 4 1 3 2 3 2 3 2 3 3 3 2 2 4 3 2 3 3 4 1 4 3 2 4 2 3 3 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 4 2 2 1 3 2 2 2 2 3 3 4 3 3 2 3 4 1 3 4 4 3 4 3 1 3 4 2 3 2 3 3 2 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 2 2 4 4 4 4 4 3 2 2 3 3 2 1 2 2 2 4 3 4 3 2 2 3 2 3 1 2 3 3 4 2 2 3 3 2 3 3 3 4 2 4 3 3 2 3 4 1 4 4 4 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 4 1 2 2 2 4 3 2 3 4 4 3 3 2 4 2 3 2 3 3 3 4 3 3 4 1 Dodi 2 3 3 1 2 4 2 3 4 2 4 4 3 3 4 1 2 2 3 4 3 2 3 3 3 2 2 4 3 2 3 3 4 1 4 3 2 4 2 3 3 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 4 2 2 1 2 2 2 2 3 3 4 3 3 2 3 4 1 3 4 4 3 4 3 1 3 2 2 3 2 3 3 2 3 1 3 3 4 4 4 4 4 3 2 2 4 4 4 4 4 3 2 2 3 3 2 1 2 2 2 4 3 4 3 2 3 3 2 3 1 2 3 3 4 2 2 3 3 2 3 3 3 4 3 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 4 4 2 2 2 4 3 2 3 3 4 3 3 2 4 2 3 2 3 3 3 4 3 3 4 311 .Farizi Gustaf M.Zulfikar Muqni Aqsoinna Suryatama Gallang Aulia Rizki Dini Puspo Elfira Ciptaningtyas Elma Damarista Fadhila Khoirunisa Inna Salma Fahman Khanifah Noor Nur Amalia Andini Ratu Yeremenia S Syifa Azizah Ade Yoga Endy S Bekti Rachmawati Maria Sri Adiningsih Wahyu Praktika D Yunina Dea J Bilqies Amalia A Nova Puspitasari Anggita Wulandari Anjas Deva Felano Eria Putri Pratiwi Fitriyani Ika Purwaningsih Ilham Yusril Munawar Massayu Seilla Annisa Musriati Novianto Adi Saputra Rivan Pandu Adi Winata Muh.Fauzan M.

B. Malaghina Kusuma H Rio Satya Fauzi Freddy PP Siti Aziroh Rahmatika Shella Kumalasari Shelli Puspitasari Sugiharto.Naufal Rizqita Rayhan Adikusuma Rizky Dafa P Aqlia Tsalisa Azmani Ashylla Paramadanti Cahyaningtyas Iftitah Chairunnisa Yulia W Dyah Pradina P Dyah Sekar Ayu K Fahra Prahastanti P Hana Fazah Nur S Keisha Amadea Nabila Permata Sari Nur Azizah Ranita Salsabila Ria Rahma Sukma W Septiana Tidar Andika Bagas Andi Maulana Ade Itko M Anindita Dara L David Revaru Vebrian Agung W Kurniawan Dwi Y M.N Siska Tri W Yacinta Nararia S Karizma Putri R Salwa Sauzan R Alfia Rahma De Anissa N.Lampiran 6 Data Penilaian Kelompok Kelas I Nama Siswa 1 3 2 Sutarno 2 3 1 3 2 2 4 3 3 5 1 1 1 1 2 Udawati 2 3 2 2 1 2 4 2 3 5 1 1 3 3 2 3 1 1 1 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 2 1 2 3 1 2 2 2 1 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 3 3 1 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 1 3 2 2 3 1 Dody 3 4 3 3 2 3 5 1 1 3 3 2 3 1 1 1 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 2 1 1 1 1 3 3 3 1 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 Ade Firmansyah Daffa Malik Falaq Deandra Visto D M.A.Lutfi Mahendra M. Amelia Noor Putri M Artantri Widasari Chatarine Dyela Eillen R Dicky Armayuda Eridani Kartiko Adi Gatot Ismail Gufron Gilang Zahru Saputra Indah Budi Kartikarini Insan Fadilah Harvianto Ismalia Ramadhani Putri Muhammad Farid Abdurrahman Muhammad Roofi'l Adiyatma Nida Salma Hajaroh Nurfitri Andani Ragil Saputro Mujiono Rif'atul Widaan Khotibin Tamhid Royhan Ikbar Sekar Cendana Arum Nadila Fatimatuzzahra A.M 3 3 2 3 2 3 1 2 2 2 3 3 3 3 1 3 2 2 2 3 3 3 2 3 2 3 2 2 2 3 2 2 2 3 2 2 2 2 1 2 3 3 2 3 2 2 1 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 2 1 1 3 3 2 3 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 1 1 1 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 2 2 3 3 2 3 3 2 3 1 2 3 2 2 2 3 3 1 1 3 3 2 3 2 2 3 3 2 3 2 1 3 3 3 2 3 2 2 1 3 3 1 2 3 1 3 3 2 2 1 1 3 2 3 2 2 3 2 2 3 2 1 1 3 2 3 3 2 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 2 3 2 2 3 3 3 1 3 3 2 1 1 2 2 2 3 3 3 1 2 2 3 2 3 2 2 2 3 2 3 2 2 3 2 3 3 2 2 2 2 2 3 1 2 3 3 2 3 2 2 1 2 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 1 1 2 2 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 2 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 2 1 2 3 3 3 2 1 1 3 3 3 1 3 3 3 2 3 1 2 1 3 2 3 3 3 2 1 1 1 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 2 1 3 3 3 1 2 2 3 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 2 2 3 1 3 3 2 3 2 1 3 2 1 2 2 3 3 2 1 1 1 3 1 1 3 3 3 2 1 3 3 1 3 2 2 3 3 2 1 1 3 3 2 3 3 3 1 3 2 3 3 1 1 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 1 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 2 1 1 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 1 3 3 3 3 3 2 1 1 1 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 1 1 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 312 . Dava Surya Abi Y.

Tsani Ihsani Y Muh.W Pradipta Wisnu Timur Dwi Indraja Agni Vasha Salsabila Alvira Niryana Aulia Astagina Dhiyaurrohmah Kamila Muyasaroh Melinia Debbytasari Noor Diana Arrasyid Oktaviana Rahindra Shafa Nabilla Haya Sheila Alfauziya P Yuliana Zahrajuncta Lusiana Martini Amelia Prisca Brigita Anggun Pratiwi Anisa Nur Rahmah Arviananda Ade H Bintang Nugrahani Galang Permataputra Galuh Intisari Muh. Abdul Gani Sarining Hanggani Kasih Teddy Arfansyah N Yuliana Larasari Dikta Wahyu Pratama Awang Pramono Isla Magda S Joko Bagus B Novia Permatasari Kusuma Nuraini Yulia Catur Wulandari Ikhsan Panji Irawan A'Issyatun Wahyu Ningsih Ainun Amaliya Paramita Arini Dewi Nuraini Chusnunnisa Suryanudin Ummu Habibah Halida Salsabila Hasna Maretta Sausana Hasna Ulfiaa Humairoh Rosida Akhir Khilmi Khayatun Nisha Kiki Dwi Widyasari Lutfina Aribah Miftakhurrohmah Nafisa Ainurrahmah Novryan Armawida Rizki Putri Utami Salman Kurnia Haq Sinta Primadita Siti Maryam S Wakhid Hasyim 3 1 2 3 3 2 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 1 2 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 3 2 2 313 .Lampiran 6 Data Penilaian Kelompok Kelas II Nama Siswa 1 2 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 1 2 3 2 2 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 Sutarno 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 3 2 2 2 3 1 2 3 2 2 3 2 2 3 3 3 3 3 1 1 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 1 3 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 1 2 3 3 2 2 2 2 2 3 3 3 2 3 3 3 2 2 2 2 2 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 2 1 1 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Udawati 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 1 3 1 3 2 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 2 2 3 2 3 3 2 3 3 1 2 2 3 1 2 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 2 3 3 2 1 1 2 2 1 2 3 3 3 3 2 2 2 1 2 3 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 3 2 2 2 3 1 2 3 2 2 2 3 2 3 2 3 3 3 1 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 2 2 2 2 2 3 3 3 3 1 3 2 2 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 1 2 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Dody 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 3 2 2 3 3 1 2 3 2 2 3 2 2 3 3 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 1 3 3 2 2 3 1 3 1 3 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 Afkar Zaka Y Alif Fahmi Mahendra Azka Hikam Z M.Zauhar Nanda Naya P. Aqib Husni Fadhli Muh.

Afdan Nurul Hilman M.Farizi Gustaf M.Ibrahim M.Zulfikar Muqni Aqsoinna Suryatama Gallang Aulia Rizki Dini Puspo Elfira Ciptaningtyas Elma Damarista Fadhila Khoirunisa Inna Salma Fahman Khanifah Noor Nur Amalia Andini Ratu Yeremenia S Syifa Azizah Ade Yoga Endy S Bekti Rachmawati Maria Sri Adiningsih Novianto Adi Saputra Wahyu Praktika D Yunina Dea J Bilqies Amalia A Nova Puspitasari Anggita Wulandari Anjas Deva Felano Eria Putri Pratiwi Fitriyani Ika Purwaningsih Ilham Yusril Munawar Massayu Seilla Annisa Musriati Rivan Pandu Adi Winata Muh.Fauzan M. Miftahul Firdaus Anggi Dwina Siregar Rusmini Afiana Nurkholishotus Shohibah Andi Rahmat Wulansyah Eka Yuliani Fegi Tri Damayanti Fitri Nurul Hanifah Imam Zuhdi Inna Rahmatul Ulya Jalu Ukir Damatama Hilda Ayu Wibisana Ninggih Annisa Daniswara Pilar Paksi Pratama Rafli Khooinurizal Rapsanjani Riswa Rahman Fahmi Rivani Rahmania Afifah Rizki Nur Chaerani Rizqi Haritz Pebiantara Zanityara Syah Syadila Zetta Nillawati Reyka Putri Nurul Arifah 1 3 2 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 2 2 1 2 3 3 3 3 3 2 1 2 3 3 3 2 3 2 1 2 3 3 3 3 3 2 3 2 2 2 3 2 2 2 Sutarno 3 4 2 2 3 2 2 3 3 3 2 1 1 2 2 3 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 1 3 1 3 3 1 2 2 3 3 2 2 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 1 2 3 3 1 3 2 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 1 1 2 2 2 3 2 2 3 1 2 2 3 3 2 5 2 1 3 1 2 3 2 3 2 2 3 1 3 2 2 2 2 2 2 3 2 2 3 1 1 3 3 2 3 3 3 2 3 1 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 1 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 1 3 2 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 3 2 3 1 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 1 3 3 3 3 2 1 2 3 3 3 2 3 2 1 2 3 3 3 3 3 2 3 2 2 2 3 2 2 2 Udawati 3 4 2 2 3 2 2 3 2 3 2 1 1 2 2 3 1 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 3 2 2 2 2 2 2 3 3 1 2 3 3 2 3 1 3 1 3 3 1 2 2 1 2 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 1 2 3 3 1 3 2 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 1 1 2 2 2 3 2 2 3 1 2 2 3 3 2 5 2 1 3 1 2 3 2 3 2 2 3 1 3 2 2 2 2 2 3 2 1 1 1 1 3 3 3 3 1 2 2 2 2 1 3 2 2 3 2 2 3 3 2 2 1 3 3 3 1 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 2 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 2 2 3 2 2 1 2 3 3 3 3 3 3 1 2 3 3 3 2 2 2 1 2 3 3 3 3 2 2 3 2 2 2 3 2 2 2 Dody 3 4 2 2 3 2 2 3 2 3 2 1 1 2 2 3 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 1 3 3 1 2 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 3 1 2 3 3 1 3 2 3 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 2 3 1 1 2 2 2 3 2 2 3 1 2 2 3 3 2 5 2 1 3 1 2 3 2 3 2 2 3 1 3 2 2 2 2 2 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 2 1 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 314 .Lampiran 6 Data Penilaian Kelompok Kelas III Nama Siswa Alwi Izha Farandi David Aldi Saputra Laode Aldifan M.

B.Lampiran 6 Data Penilaian Diri Kelas I Nama Ade Firmansyah Daffa Malik Falaq Deandra Visto D M.Lutfi Mahendra M. Malaghina Kusuma H Rio Satya Fauzi Freddy PP Siti Aziroh Rahmatika Shella Kumalasari Shelli Puspitasari Sugiharto.N Siska Tri W Yacinta Nararia S Karizma Putri R Salwa Sauzan R Alfia Rahma De Anissa N.M 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 Sutarno 2 3 4 2 2 3 2 1 3 2 3 2 3 2 3 3 2 3 2 3 3 2 2 3 3 1 2 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 2 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 2 1 2 3 2 1 3 2 2 2 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 1 3 3 1 2 2 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 1 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 2 3 1 1 2 2 3 3 1 3 2 2 1 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 5 2 2 3 3 1 2 1 3 1 2 3 3 3 3 2 2 1 1 3 3 3 2 2 3 1 2 3 3 3 2 2 2 3 2 3 2 1 2 3 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 Udawati 2 3 4 2 2 3 2 1 3 2 3 2 3 3 2 2 2 3 2 3 3 2 2 3 3 1 2 2 3 2 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 2 1 2 3 2 1 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 2 2 2 2 1 3 3 1 2 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 3 2 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 2 3 1 1 2 2 3 3 1 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 5 2 2 3 3 2 2 1 3 1 2 3 3 3 3 3 3 1 1 3 2 3 2 2 3 2 1 3 3 3 2 2 2 3 2 2 1 2 2 2 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 2 2 2 3 2 1 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 1 2 2 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 Dodi 3 4 1 2 3 2 1 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 2 2 1 3 3 1 2 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 1 1 2 2 3 3 1 3 1 3 1 3 3 3 3 1 3 3 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 5 2 2 3 3 2 2 1 3 1 2 3 3 3 3 3 1 1 1 3 3 3 2 2 3 1 2 3 3 3 2 2 2 3 2 3 1 1 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 315 .A.Naufal Rizqita Rayhan Adikusuma Rizky Dafa P Aqlia Tsalisa Azmani Ashylla Paramadanti Cahyaningtyas Iftitah Chairunnisa Yulia W Dyah Pradina P Dyah Sekar Ayu K Fahra Prahastanti P Hana Fazah Nur S Keisha Amadea Nabila Permata Sari Nur Azizah Ranita Salsabila Ria Rahma Sukma W Septiana Tidar Andika Bagas Andi Maulana Ade Itko M Anindita Dara L David Revaru Vebrian Agung W Kurniawan Dwi Y M. Dava Surya Abi Y. Amelia Noor Putri M Artantri Widasari Chatarine Dyela Eillen R Dicky Armayuda Eridani Kartiko Adi Gatot Ismail Gufron Gilang Zahru Saputra Indah Budi Kartikarini Insan Fadilah Harvianto Ismalia Ramadhani Putri Muhammad Farid Abdurrahman Muhammad Roofi'l Adiyatma Nida Salma Hajaroh Nurfitri Andani Ragil Saputro Mujiono Rif'atul Widaan Khotibin Tamhid Royhan Ikbar Sekar Cendana Arum Nadila Fatimatuzzahra A.

Aqib Husni Fadhli Muh. Tsani Ihsani Y Muh.Zauhar Nanda Naya P.W Pradipta Wisnu Timur Dwi Indraja Agni Vasha Salsabila Alvira Niryana Aulia Astagina Dhiyaurrohmah Kamila Muyasaroh Melinia Debbytasari Noor Diana Arrasyid Oktaviana Rahindra Shafa Nabilla Haya Sheila Alfauziya P Yuliana Zahrajuncta Lusiana Martini Amelia Prisca Brigita Anggun Pratiwi Anisa Nur Rahmah Arviananda Ade H Bintang Nugrahani Galang Permataputra Galuh Intisari Muh. Abdul Gani Sarining Hanggani Kasih Teddy Arfansyah N Yuliana Larasari Dikta Wahyu Pratama Awang Pramono Isla Magda S Joko Bagus B Novia Permatasari Kusuma Nuraini Yulia Catur Wulandari Ikhsan Panji Irawan A'Issyatun Wahyu Ningsih Ainun Amaliya Paramita Arini Dewi Nuraini Chusnunnisa Suryanudin Ummu Habibah Halida Salsabila Hasna Maretta Sausana Hasna Ulfiaa Humairoh Rosida Akhir Khilmi Khayatun Nisha Kiki Dwi Widyasari Lutfina Aribah Miftakhurrohmah Nafisa Ainurrahmah Novryan Armawida Rizki Putri Utami Salman Kurnia Haq Sinta Primadita Siti Maryam S Wakhid Hasyim 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Sutarno 2 3 4 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 1 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 1 1 3 3 2 3 2 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 3 1 1 3 3 2 3 2 3 1 3 1 3 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 2 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Udawati 2 3 4 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 1 3 2 3 3 3 3 2 2 2 3 2 1 2 1 3 1 2 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 3 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 2 2 1 3 3 3 3 2 3 1 3 2 2 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 Dodi 3 4 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 1 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 2 3 3 3 2 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 1 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 2 3 1 3 1 3 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 316 .Lampiran 6 Data Penilaian Diri Kelas II Nama 1 Afkar Zaka Y Alif Fahmi Mahendra Azka Hikam Z M.

Zulfikar Muqni Aqsoinna Suryatama Gallang Aulia Rizki Dini Puspo Elfira Ciptaningtyas Elma Damarista Fadhila Khoirunisa Inna Salma Fahman Khanifah Noor Nur Amalia Andini Ratu Yeremenia S Syifa Azizah Ade Yoga Endy S Bekti Rachmawati Maria Sri Adiningsih Novianto Adi Saputra Wahyu Praktika D Yunina Dea J Bilqies Amalia A Nova Puspitasari Anggita Wulandari Anjas Deva Felano Eria Putri Pratiwi Fitriyani Ika Purwaningsih Ilham Yusril Munawar Massayu Seilla Annisa Musriati Rivan Pandu Adi Winata Muh.Farizi Gustaf M. Miftahul Firdaus Anggi Dwina Siregar Rusmini Afiana Nurkholishotus Shohibah Andi Rahmat Wulansyah Eka Yuliani Fegi Tri Damayanti Fitri Nurul Hanifah Imam Zuhdi Inna Rahmatul Ulya Jalu Ukir Damatama Hilda Ayu Wibisana Ninggih Annisa Daniswara Pilar Paksi Pratama Rafli Khooinurizal Rapsanjani Riswa Rahman Fahmi Rivani Rahmania Afifah Rizki Nur Chaerani Rizqi Haritz Pebiantara Zanityara Syah Syadila Zetta Nillawati Reyka Putri Nurul Arifah 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 Sutarno 2 3 4 2 3 3 3 3 2 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 2 2 2 2 3 3 3 2 3 2 2 3 3 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 2 3 3 2 2 2 2 2 1 3 3 2 2 2 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 5 2 3 3 3 3 1 2 3 3 3 1 1 2 3 3 3 3 2 3 2 2 2 2 2 3 1 1 3 2 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 1 3 3 2 2 1 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 1 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 1 1 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 Udawati 2 3 4 2 3 2 3 3 3 2 3 3 2 1 2 1 3 3 2 1 3 3 3 3 3 2 2 1 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 1 2 3 3 3 2 3 1 3 3 2 2 2 3 2 1 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 2 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 3 3 3 5 2 3 3 3 3 1 2 3 3 3 1 1 2 3 3 3 3 2 2 3 3 2 2 2 2 1 1 3 2 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 1 3 3 2 2 1 3 3 3 1 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 Dodi 2 3 4 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 2 2 1 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 2 3 3 2 2 2 2 2 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 5 2 3 3 3 3 1 2 3 3 3 1 1 2 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 2 3 1 1 3 2 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 1 3 3 2 2 1 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 317 .Ibrahim M.Fauzan M.Afdan Nurul Hilman M.Lampiran 6 Data Penilaian Diri Kelas III Nama 1 Alwi Izha Farandi David Aldi Saputra Laode Aldifan M.

Hanya saja. waktu yang digunakan untuk untuk memahami dan mempelajari aplikasi melakukan penilaian? penilaian ini membutuhkan waktu tersendiri Apakah Bapak membutuhkan Tidak. Hasil wawancara dengan guru A (20 Desember 2008) No 1 2 Pertanyaan Jawaban Bagaimana tanggapan bapak Menurut saya instrumen ini baik.Mudah .Sederhana Bahasa ‐ Baku ‐ Komunikatif ‐ Mudah dipahami Efisiensi ‐ Waktu ‐ Tenaga ‐ Biaya Mudah Cukup Ya Ya Ya Mudah Sederhana Ya Ya Ya Mudah Sederhana Ya Ya Ya Mudah Sederhana Ya Ya Ya Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Hasil wawancara dengan 3 orang guru sebagai rater sebagai berikut: 1. tentang IPSLA? Baik dalam hal apa? Baik dalam kaitan dengan: • Objektif • Dapat memberikan kemudahan dalam melakukan penilaian • Dapat dipertanggungjawabkan 3 4 Bagaimana dengan bahasa Mudah dipahami. saya dapat melakukannya sendiri bantuan tenaga lain dalam melakukan penilaian? Bagaimana dengan biaya Tidak ada masalah pelaksanaan penilaian? 5 6   319 . sederhana dan komunakatif yang digunakan? Bagaimana dengan alokasi Sesuai dengan yang disiapkan.Lampiran 7 Tabel 3 Hasil Wawancara Keterpakaian Instrumen Penilaian Hasil Belajar Karya Seni Lukis Anak Komponen Guru A Guru B Guru C Keseluruhan Kepraktisan .

bantuan tenaga lain dalam melakukan penilaian? Bagaimana dengan biaya Biaya pelaksanaan menurut saya. alokasinya sudah cukup Tetapi. 4 5 Apakah Bapak membutuhkan Saya cukup dapat melakukannya sendiri. tidak ada pelaksanaan penilaian? masalah. Selain itu mudah diterapkan dan hasil penilaian didukung oleh bukti otentik penilaian.Lampiran 7 2. 2 Baik dalam hal apa? Instrumen ini lebih menunjukkan kondisi yang sudah mengurangi tingkat subyektivitas guru dalam menilai. sudah dapat tentang IPSLA? menampung aspirasi saya sebagai guru untuk menilai karya lukisan anak didik. 3 Bagaimana dengan bahasa Bahasanya jelas. Bagaimana dengan alokasi Menurut saya. Secara pribadi. saya menjadi lebih mudah melakukan penilaian karena kriterianya lebih jelas. mudah dimengerti dan yang digunakan? sederhana serta menampung karakteristik seni sebagai ekspresi maupun imajinasi anak. waktu yang digunakan untuk akan lebih baik lagi jika ada waktu tersendiri melakukan penilaian? untuk memahmi cara penggunaan instrumen tersebut. karena menurut saya pola penilaian ini berbeda dengan yang sering saya lakukan selama ini. 6   320 . Hasil wawancara dengan guru B (27 Desember 2008) No 1 Pertanyaan Jawaban Bagaimana tanggapan bapak Instrumen ini sudah baik.

dari sudut efektivitas. Hal ini dikarenakan. efisiensi dan kejelasan bahasa yang digunakan pada butir-butir indikator dan deskriptor beserta kriteria yang dipakai dalam instrumen ini sudah dipandang layak untuk diterapkan sebagai sarana penilaian. untuk memahami lebih lanjut tentang untuk melakukan penilaian? penerapan dari penilaian ini butuh waktu yang cukup. waktu yang digunakan Namun. 3 Bagaimana dengan bahasa Bahasa dari instrumen ini cukup mudah dicerna yang digunakan? dan dimengerti. Hasil wawancara dengan guru C (3 Januari 2009) No 1 Pertanyaan Jawaban Bagaimana tanggapan Instrumen penilaian ini sangat membantu diri bapak tentang IPSLA? saya dalam melakukan penilaian karya seni lukis anak. Mereka mengatakan bahwa dengan hadirnya instrumen ini menjadikan pekerjaan penilaian karya seni lukis anak menjadi mudah karena ada dasar rujukannya dan obyektif. saya dapat membutuhkan bantuan melakukannya sendiri tenaga lain dalam melakukan penilaian? Bagaimana dengan biaya Saya pikir tidak ada persoalan dengan biaya pelaksanaan penilaian? pelaksanaan 6 Dari ketiga hasil wawancara dengan para guru yang menjadi rater dalam uji coba instrumen penilaian karya seni lukis anak dapat disimpulkan bahwa semua rater menyatakan instrumen sudah memadai.Lampiran 7 3. 5 Apakah bapak Tanpa bantuan orang lainpun. Panduannya jelas sehingga mudah untuk diterapkan. Pengalaman saya hanya menggunakan intuisi untuk memberikan nilai siswa. 4 Bagaimana dengan alokasi Waktunya saya anggap sudah cukup memadai. 2 Baik dalam hal apa? Instrumen ini memudahkan dalam menentukan kriteria nilai. karena pada waktu sebelumnya tidak pernah saya menilai dengan instrumen yang baku.   321 .

Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Director.D. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia.1 January. PA 19104 Robert L. Iowa 52242 VERSION 3. Brennan. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Crick. Ed. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City.D. Ed. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Brennan Principal Investigator. Robert L.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. and no official endorsement should be inferred 322 . GENOVA was developed in part under contract No.

RANDOM MODEL .8357072 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 (0.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 6004..21134 0.15714 158.....0282800 R 2 (0...55714 0.0) 0.28571 24.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 0.93810 0.M X (I:R) DESIGN ..45714 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 1259 3432..0) (0.1459530 0....20000 2854.19744 QF 2 QF 18 QF I:R 18 8728.29286 0.0) 0.0121476 ----------------------------------------------------------------------------- 323 .1426746 0..92582 18 1062 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 6092..Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .30476 3.76190 193.0) (0..2801856 0.04286 62.54286 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ G STUDY DATA SET 1 .50277 59 118 R 2 5874.28019 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 5811.1304946 I:R 18 2..2801856 0..27635 15.56429 565.M X (I:R) DESIGN .RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .6380683 2.0042666 MI:R 1062 0.RANDOM MODEL .00000 297.58571 31..75428 118 1062 MI:R 1062 9244..6380683 0.

12791 001-002 60 3 2 0. NO UNIV.23607 0.15602 0. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.14267 0.22681 001-003 60 3 3 0.15824 0.13896 0.02335 0. INF.91448 0.18937 0.19455 0.01868 0.24319 0.14267 0.14267 0.75341 0.60437 0.12822 0.03113 0.01557 0.88329 0. INF.16213 0.= INF.09340 0.82088 0.46809 001-007 60 3 7 0.42308 001-006 60 3 6 0.16135 0.17381 0.30556 001-004 60 3 4 0.14267 0.29602 0.14267 0.97275 0.14920 0.36976 001-005 60 3 5 0.50659 324 .01334 0.22261 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.16602 0.04670 0. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 0. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.14267 0.85936 0.32425 0.17856 0.14267 0.88424 0.90163 0.44283 0.48638 0.

Brennan Principal Investigator.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Brennan. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. PA 19104 Robert L.D. Ed. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Director.1 January. Robert L.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Ed. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). and no official endorsement should be inferred 325 .D. Crick. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. GENOVA was developed in part under contract No. Iowa 52242 VERSION 3. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia.

M X (I:R) DESIGN ..70556 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 1259 462576..2264384 1...14127 43.84865 2...65952 226469.84947 667..8256646 0..RANDOM MODEL .OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 4.1747172 R 2 242.0690028 17.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ....8155720 MI:R 1062 17.0192379 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 3.4293997 242..29048 11387.2264384 4.33333 7823...28095 17.97698 9..95397 113234.0690028 0.42857 5174..8256646 3.8337173 I:R 18 189.06900 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 405472.7400351 ----------------------------------------------------------------------------- 326 .00000 18127.29444 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ G STUDY DATA SET 1 .92016 QF 2 QF 18 QF I:R 18 836923.56891 118 1062 MI:R 1062 868049.RANDOM MODEL .RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 413296.16548 18 1062 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 644940.5130078 60.95000 204981.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES ...02413 59 118 R 2 631942.60386 3.62778 132.5130078 189..M X (I:R) DESIGN .4293997 190.

17178 105.30019 96.04223 001-006 60 3 6 4.51536 112. INF.22644 11.02724 001-002 60 3 2 4.22644 7.= INF.44580 0.56180 91.71795 0.63959 2.31447 2. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 4.08803 91.69764 99.22644 8.16732 0.03868 001-004 60 3 4 4.39822 3. INF. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.12006 116.66933 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.34649 4.44994 2.53441 0.04082 001-005 60 3 5 4.03858 101.22644 6.55466 0.41316 95. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.93947 0.99010 0.94569 144.22644 6.19133 6.85716 93.63655 0.50637 0.61040 0.22644 6.92408 2.04396 327 .22644 6.22350 93.03500 001-003 60 3 3 4. NO UNIV.57128 0.96489 150.65527 0.04322 001-007 60 3 7 4.92226 89.37765 0.

Crick. Ed. Robert L. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output.D. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). PA 19104 Robert L.1 January. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy.D. Iowa 52242 VERSION 3.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. and no official endorsement should be inferred 328 . Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Brennan Principal Investigator. Brennan.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Ed. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. GENOVA was developed in part under contract No. Director.

.0424779 0...8073981 MI:R 1062 15.2480372 I:R 18 175..0424779 4.RANDOM MODEL .71429 5130.86190 103984.1452227 1..60476 15.6582771 ----------------------------------------------------------------------------- 329 .14286 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------G STUDY DATA SET 1 .93095 9.RANDOM MODEL .53027 3.3838259 175..85714 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 1259 426924..70952 43.M X (I:R) DESIGN ..OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 4..3838259 222.00000 16124..40000 189997.28571 130..42672 695.82499 QF 2 QF 18 QF I:R 18 771345..RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES ..48059 2.20235 18 1062 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 594179.1832437 0..86372 118 1062 MI:R 1062 800302.6707246 175..6707246 55.M X (I:R) DESIGN .6319846 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 4.71905 207969.1567972 R 2 222.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .18324 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 373377.00204 59 118 R 2 581347...1452227 4.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 381079.14286 7701...68095 10555.1832437 15.

55380 6.61276 91.04673 330 .87803 107.04594 001-007 60 3 7 4. INF.= INF.75799 2.61338 0.54012 0. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.19903 85.39277 0.37993 88.63724 0.14522 6.40857 139.35971 88.14522 8.17974 3. INF.59681 0.56372 82.66689 0.99303 0. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 4.14522 10.87980 0.28443 103.19101 86.04339 001-005 60 3 5 4.03452 96.94774 0.65421 0.76657 0.02326 3.04489 001-006 60 3 6 4.02894 001-002 60 3 2 4.04111 001-004 60 3 4 4.07050 84.57735 0.86075 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.68143 93.33623 2.21573 2.14522 6. NO UNIV.09342 132.50493 2.51665 0.14522 6.14522 6.03720 001-003 60 3 3 4. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.14522 7.07843 83.

1 January. GENOVA was developed in part under contract No. and no official endorsement should be inferred 331 .D. Iowa 52242 VERSION 3. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Crick.D. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. PA 19104 Robert L. Brennan Principal Investigator. Ed. Ed. Director. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Brennan.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Robert L. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia.

.8612994 25.2774647 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 6.90000 25.75000 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 539 150357...OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 7.6351956 188.86130 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 112233..29444 219.25000 108.01667 34039.RANDOM MODEL .1238858 94..48164 1...1503453 7.1503453 2...Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .72001 118 354 MK:P 354 262591.25000 8. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .25000 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES..44673 59 118 P 2 207726.M X (K:P) DESIGN ..2807234 P 2 233...83333 44.38843 QF 2 QF 6 QF K:P 6 241766.0202936 MK:P 354 25.00000 6421.00000 9154.76667 5673..50000 47746.1238858 47.2067797 2.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 118655.2258624 K:P 6 94..6351956 233.25000 95492.M X (K:P) DESIGN .9383863 ----------------------------------------------------------------------------- 332 ..33333 5248..37391 6 354 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 219396..RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .8612994 1..RANDOM MODEL .2067797 6.83475 2.

52949 4.81053 0.21927 10.68142 0.99506 31.67196 0.31022 19.61738 003-008 60 3 8 9.29683 1.45732 0.33169 10.99753 15.09344 0.47972 003-005 60 3 5 9.03323 0.21927 10. 3 INF.64839 003-009 60 3 9 9.21927 10.18733 003-002 60 3 2 9.95783 4.83970 8.17710 0.84245 0.94336 1.21927 11.21927 10.66584 5.99901 6.= INF.71358 4.21927 17.45076 1.76238 0. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.90588 0.86517 0.65601 1.62043 39.65976 0.67475 333 .09275 2.89535 0.58037 003-007 60 3 7 9.51678 0.53543 003-006 60 3 6 9.40670 0.43674 6.88216 0.72409 7.21927 13.37438 2.40882 003-004 60 3 4 9.23149 5.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.99938 4. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 9.91281 0.65569 0.21927 12. NO UNIV.44390 3.99877 8.31555 003-003 60 3 3 9.07755 4.87348 13.65627 0.21927 10.15511 9.

GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Robert L.1 January. and no official endorsement should be inferred 334 . Ed. GENOVA was developed in part under contract No. Iowa 52242 VERSION 3. however the authors can make no assurances that the program is totally without error.D. Brennan. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Crick. PA 19104 Robert L.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Brennan Principal Investigator. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output.D. Ed. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Director. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC).

4708098 4...0131503 ----------------------------------------------------------------------------- 335 ..RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 121393.2444968 232.20185 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 539 158537.0) (0.2190112 K:P 6 106.99658 0.3811039 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 (0.0) 1.RANDOM MODEL .23387 2....95556 40.52624 QF 2 QF 6 QF K:P 6 251512.2433642 190.00000 4733.7131546 P 2 232.07037 48209.72963 159..34477 6 354 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 222531.RANDOM MODEL .4481586 1.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 4.65000 38434.00602 59 118 P 2 213078.0921532 53.27222 96419..M X (K:P) DESIGN .00000 14230....37778 6405.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES . F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .9927976 MK:P 354 40..20044 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 116659.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .2004394 3..0921532 106...79815 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES..59630 39..66667 4719..M X (K:P) DESIGN .2004394 40.79815 80.99493 118 354 MK:P 354 275197..53519 7.

44816 11.46672 16.42188 003-009 60 3 9 4.91431 6.35372 003-007 60 3 7 4.= INF.12318 1.12819 2.49896 0.09552 4.79820 3.44816 17.75284 7.08359 003-002 60 3 2 4.66152 0.26733 003-005 60 3 5 4.00537 0.52256 0.23336 8.91487 4.44816 6.36247 1.39900 0.76420 35.84831 13.68152 2.02829 0.21486 003-004 60 3 4 4.93660 0.19161 0. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.15429 003-003 60 3 3 4.40015 48.44816 6.44816 8.48891 5.12737 6.31323 003-006 60 3 6 4.68003 9.93706 1.86783 0.97098 0.25473 11.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.96631 5.44816 7.62402 0.66574 0. 3 INF.69913 0.67502 6.38210 17. NO UNIV.44816 5.15805 0.24922 0.44816 6.41824 4.74922 0.57041 0.44816 7.72645 0.14823 6.35004 12. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 4.19105 8.38969 003-008 60 3 8 4.70007 24.45084 336 .

and no official endorsement should be inferred 337 .1 January. PA 19104 Robert L. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Crick. GENOVA was developed in part under contract No. Ed. Iowa 52242 VERSION 3.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Brennan Principal Investigator. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Brennan. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output.D. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Director.D.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Robert L. Ed.

88889 5104...76667 34407..88519 39.0757167 179.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 113876.00000 4607.58519 175.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .0757167 221..0322348 47.6510986 32..21571 59 118 P 2 199841.2747960 1..19597 118 354 MK:P 354 255520.48889 32.0322348 95.51111 5734.. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .8286649 P 2 221..65110 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 108772..02963 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 539 146747..4473033 ----------------------------------------------------------------------------- 338 .61296 7..M X (K:P) DESIGN ..5847308 K:P 6 95.8679808 MK:P 354 32.63223 6 354 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 209554.93150 QF 2 QF 6 QF K:P 6 234248.1329253 1...85926 86.2747960 5.25556 91069.RANDOM MODEL ..97037 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES..M X (K:P) DESIGN .RANDOM MODEL .6510986 2.52304 2.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 5.7882273 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 2.04987 1.1329253 2.00000 11558...RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .22593 45534..

63963 0.42762 5.55865 339 .70670 2.52380 0.47152 0.17674 8.08211 0.65102 0.20930 4.08016 4.29672 003-004 60 3 4 5.49609 003-008 60 3 8 5.41287 003-006 60 3 6 5.45765 003-007 60 3 7 5.09352 5.55481 6.36002 003-005 60 3 5 5.16251 2. NO UNIV.79381 0.72092 10.56111 31.06446 0. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 5.83193 0.98577 8. 3 INF.73332 0. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.32014 4.98577 7.62790 14.81481 0.98577 11.98577 7.81395 7.76743 0.12330 003-002 60 3 2 5.19507 1.21953 003-003 60 3 3 5.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.98577 8.79972 1.88370 42.18704 10.= INF.36046 5.34623 1.51222 6.02917 0.98577 9.98577 7.98577 16.40956 0.86947 10.28056 16.54059 1.62263 0.35483 0.72901 3.68749 0.52944 003-009 60 3 9 5.71937 0.64028 8.44185 21.98577 7.61367 3. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.95857 0.

Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Director. PA 19104 Robert L. Brennan.D.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E.D.1 January. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Iowa 52242 VERSION 3. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). and no official endorsement should be inferred 340 . GENOVA was developed in part under contract No. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Ed. Ed. Robert L. Brennan Principal Investigator. Crick. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia.

OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 5..72111 5.77168 3.44222 43028.0924859 5..9244401 MI:R 708 13.9962241 101.66349 118 708 MI:R 708 353340....38439 2.RANDOM MODEL .31333 86057.8367147 I:R 12 121.05333 7307.4198870 4.52889 111...0345275 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 4..RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 166008.35778 35.36667 87693.M X (I:R) DESIGN ..2849529 13.28495 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 159413.5744915 46.4198870 0..RANDOM MODEL .15879 59 118 R 2 245471.5744915 121.75444 550..87034 QF 2 QF 12 QF I:R 12 333164.74667 13.12889 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES..20000 4175... F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .9962241 118..3831865 R 2 118.00000 9405...40000 6594.M X (I:R) DESIGN .Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .07756 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 256241.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .0924859 1.87111 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 193926...2849529 0.7050921 ----------------------------------------------------------------------------- 341 .

07412 001-003 60 3 3 5. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.09249 7.09249 10.08861 001-005 60 3 5 5.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.37347 0.09249 8.09222 342 .77994 3.58038 52.45145 2.37699 49.12309 53.30772 0. INF.68342 0. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 5.63325 0.68745 63.08319 001-004 60 3 4 5.04189 2.61528 60.92450 0.66370 0.89456 0.58001 0.09249 7.09249 8.46320 0. NO UNIV. INF.09185 80.= INF.07416 0.94940 56.90161 86.12933 47.99410 5.05585 001-002 60 3 2 5.35896 50. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.67286 2.

Ed. Brennan Principal Investigator. Robert L. GENOVA was developed in part under contract No. Crick. and no official endorsement should be inferred 343 . Ed.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Director.1 January. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Brennan. Iowa 52242 VERSION 3. however the authors can make no assurances that the program is totally without error.D.D. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). PA 19104 Robert L.

82499 QF 2 QF 12 QF I:R 12 368044.. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .5605806 ----------------------------------------------------------------------------- 344 .61222 48.96222 47344..6129639 R 2 130.30444 19..1445198 51.RANDOM MODEL .M X (I:R) DESIGN .08333 97430...00000 7478.7169002 1.56215 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 175924.00000 10.48111 5.28333 94688.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .23333 768.5621469 0.93333 2885.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 178809.14665 1....1463633 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 1.7222109 112..1445198 135.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .71051 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 275758.0598736 I:R 12 135..5069182 MI:R 708 10.7169002 0.5621469 10...80000 8119..20000 2259.90868 2.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 1...9841356 1.9841356 0..RANDOM MODEL .81276 118 708 MI:R 708 380667..7222109 130.M X (I:R) DESIGN .67889 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES..32111 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 204742..55443 59 118 R 2 270613.

98414 3.07715 4.33600 58.71526 88.98414 3.03553 345 .53194 0. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.03184 001-004 60 3 4 1.43661 1.03405 001-005 60 3 5 1.89339 0.65229 0.98414 4.45963 0. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 1.73001 1.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.74587 60.27644 53.60852 0.45248 56.57735 0.63805 0.= INF.98414 3.72353 0.86015 52.31679 2.28859 54.02818 001-003 60 3 3 1. INF. NO UNIV.33266 68.17010 0.43081 66. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF. INF.98414 6.09302 92.32649 0.02095 001-002 60 3 2 1.26058 1.

GENOVA was developed in part under contract No. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Brennan.1 January. Director. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. however the authors can make no assurances that the program is totally without error.D. Crick. and no official endorsement should be inferred 346 . Ed.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Brennan Principal Investigator. PA 19104 Robert L. Iowa 52242 VERSION 3.D. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Robert L. Ed.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output.

.88042 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 167144.9738173 122.1082335 0.48111 5.7628148 I:R 12 129..94038 59 118 R 2 256501.34000 12.8804237 0.96222 44678..3717985 48.26000 7775..30556 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES...1082335 3.M X (I:R) DESIGN ..69444 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 198782. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .86547 118 708 MI:R 708 365927..Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .6352875 MI:R 708 12..OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 3.3717985 129..43889 70.30444 24.40000 2835.73806 QF 2 QF 12 QF I:R 12 349803.9790840 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 2..02800 1.2295160 2.2295160 0.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES ..6836219 ----------------------------------------------------------------------------- 347 .RANDOM MODEL .M X (I:R) DESIGN .65151 2.91667 93302.8775790 R 2 122.RANDOM MODEL ..9738173 105.13333 4168..00000 9119.18833 603..65667 89356.8804237 12.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 171313....64383 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 263505..

INF.10823 5.58880 51.45396 0.14488 5.05721 348 .25095 0.03665 89.99814 2.54025 55.= INF. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 3.65991 0.05125 001-004 60 3 4 3. INF.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.17433 57. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.05482 001-005 60 3 5 3. NO UNIV.51820 0.28256 2.10823 4.44315 62.58839 0.81654 53.38162 0.71010 1.88991 65.03369 001-002 60 3 2 3.85434 0.10823 4.15185 84.10823 5.21793 49.60187 51.92477 1. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.65321 0.69456 0.63114 0.10823 8.04534 001-003 60 3 3 3.

D. Director. Ed.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E.D. GENOVA was developed in part under contract No. Brennan. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Crick. Robert L. Iowa 52242 VERSION 3.1 January. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Brennan Principal Investigator. and no official endorsement should be inferred 349 . PA 19104 Robert L. Ed. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output.

7994991 1.91547 118 708 MK:P 708 331756.12015 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 265917.7488701 17.20000 4439..9652808 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 6.66667 7461.90125 QF 2 QF 12 QF K:P 12 305622..5502787 125.RANDOM MODEL .07111 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 185882.13333 53272.5902820 P 2 162.6933522 27....9420122 ----------------------------------------------------------------------------- 350 .44399 59 118 P 2 252349.35000 250.9814237 1.RANDOM MODEL .74887 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 145873.86222 53238.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 4.6087719 K:P 12 73.07111 51..M X (K:P) DESIGN .7488701 0.59556 126..20000 17.9814237 4.60000 6106..Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .7994991 6...00000 12566. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 ...RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 153334.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES ..5502787 162.93333 106476.M X (K:P) DESIGN ...46772 2.74637 2.3493034 MK:P 708 17....43111 11.6933522 73..92889 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.

22002 1.95815 15. 3 INF.47907 7.54316 351 .16025 8.18326 6.48748 003-005 60 3 5 7.24037 12.85966 0.43118 1.24792 10.09615 5. NO UNIV.41635 003-004 60 3 4 7.91629 30.48074 24.78611 0.45233 0. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.32230 003-003 60 3 3 7.16421 5.97210 10.24792 8. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 7.= INF.24792 8.05341 0.72700 1.83052 0.24792 9.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.62019 6.28656 0.71016 0.55058 0.34182 0.78385 0. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.19211 003-002 60 3 2 7.24792 13.20607 2.

1 January. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Ed.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. and no official endorsement should be inferred 352 . Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City.D.D.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Brennan Principal Investigator. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Brennan. Robert L. GENOVA was developed in part under contract No. Ed. PA 19104 Robert L. Director. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Iowa 52242 VERSION 3. Crick. however the authors can make no assurances that the program is totally without error.

RANDOM MODEL .8387665 13.4215348 4.96000 11.7344855 ----------------------------------------------------------------------------- 353 .83877 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 172723.4215348 0..20000 4241.94644 2.57944 392.9665221 K:P 12 90.84667 13.9396860 MK:P 708 13.RANDOM MODEL .28000 124569..M X (K:P) DESIGN .25831 2.4342429 189.56240 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 306093..M X (K:P) DESIGN ..RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 177281.60000 4558.7541243 2.8387665 0..OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 2...Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ....68000 35.95333 5432.9825944 P 2 189.4342429 146........64000 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.00000 9797. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .24000 77.23333 65190..7541243 0..RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .2220360 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 4.59752 118 708 MK:P 708 381082.3123446 90.41861 QF 2 QF 12 QF K:P 12 362484.92000 62284.36000 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 208358.3123446 34.14926 59 118 P 2 297293.

= INF.30646 17.57235 10.61572 0.84089 4.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.25146 0. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.22797 5.26759 003-004 60 3 4 4.71704 30.37846 354 .22797 6.16096 0.22797 5.61292 34.76561 1.22797 5.35852 15.64703 0.47823 0.19586 003-003 60 3 3 4.92258 6.53764 11.22797 8.15055 0.78569 0.10856 003-002 60 3 2 4. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 4.10667 0.82088 0.32757 003-005 60 3 5 4.13080 0.67926 7.73331 0. 3 INF.94341 6. NO UNIV.15323 8.53443 2. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.38120 1.

D. GENOVA was developed in part under contract No. Robert L. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output.D.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Ed. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Iowa 52242 VERSION 3. PA 19104 Robert L. Director. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. and no official endorsement should be inferred 355 .1 January. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Brennan. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Brennan Principal Investigator. Ed. Crick.

46556 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.M X (K:P) DESIGN .45111 34.66667 4439.4329567 20.88360 2.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES ....00000 14466.RANDOM MODEL .9081929 MK:P 708 20..Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .66667 4595.80000 4030.9151488 0..9151488 2.9850545 P 2 165..84111 12.21667 108197.6548211 27.7446817 2..13222 77.67163 118 708 MK:P 708 331741.6548211 73.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 2.72222 217.7446817 0...53444 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 184566.0844687 ----------------------------------------------------------------------------- 356 .. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .53333 20....4329567 1.14764 QF 2 QF 12 QF K:P 12 308648.M X (K:P) DESIGN ..43296 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 147174...15637 1.RANDOM MODEL .6348177 K:P 12 73..28021 59 118 P 2 255372.9676270 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 2.4846516 127.4846516 165..68222 54098..28242 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 263997.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 151769.88333 53276.

99686 0. NO UNIV.39640 0.45420 8.68130 12.64103 6.23554 3.62784 0.40549 15. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.27252 4.84065 6.37912 357 .32818 003-005 60 3 5 3.36220 6. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.26813 003-004 60 3 4 3.53279 1.= INF.73765 0.69224 0.83004 10.70275 7.52934 0.28554 0. 3 INF.72896 0. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 3.36259 24.35993 0.10883 003-002 60 3 2 3.83004 7.19630 003-003 60 3 3 3.81099 31.83004 6.83004 5.19224 1.10037 2.83004 5.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.27033 10.23011 0.

LEMBAR PENGESAHAN .

Berk. K. G. D. New York: The Psychological Corporation. (2007). J. (2004). & Yen Wendy. Fungsi pendidikan seni budaya di sekolah. Assessment for excellence. Zainul. Second edition. G. Affandi. Melbourne: The Macmillan Company. Element of generalizability theory. Dwi. Performance assessment. (1983). Phoenix AZ: The Oryx Press. Belmont CA: Wadworth Thomson Learning Inc. Laure. Aspin. Introduction to measurement theory. Allen Mary.D. Babbie. (1993). The practice of social research. Differential aptitude test manual. A. Astin. “ Children and their books: The right book for the right child I”. (1986). Give them wings. & Gall. W. Asmawi. the experience of children’s literature. (1979). Seashore. (2005).G. Fourth edition. A. Iowa City: ACT Publication. 263 . Educational research: An introduction. Tesis Magister. London: The John Hopkins Press Ltd. Yogyakarta. Jakarta: Universitas Terbuka. Anugrah.. (10 Agustus 2006). Ch. Mengembangkan kreativitas anak. H. & Wesman. tidak diterbutkan.R. Pergamon. (1991). New York: Longman. M. Kompas. Mengenal seni rupa anak. (1952). (1982). E. J. Ronald. Yogyakarta: Gama Media.. Brandy. Bennet. Hal D. dalam Maurice Saxby & Gordon Winch (EDS). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Assessment and education in the arts. (2005). Borg. Bambang Prihadi. Alternative assessment. (1983). W. A. Pengembangan instrumen pengukuran respons estetik siswa sekolah pertama menggunakan semantic diferential.DAFTAR PUSTAKA Abdussalam Al-Khalili. Brennan. (2004). Dalam Malcom Ross The Aesthetic Imperative. California: Brooks Cole Publihsing Company. Robert L. Universitas Negeri Yogyakara. Dewobroto.

Penelitian kerja sama antara Lemlit IKIP Yogyakarta dan Balitbang Depdikas. Djelantik. dkk. dan SMK. assessment criteria. CA. Jakarta. The process of art education in the elementary school. Corwin Press. (Terjemahan Tim Inisiasi). Dubuque.M. (1968). Assessment criteria for art and design teaching. file: // J: Assessment Criteria. Art for exceptional children. htm. (1999). Rethinking how art is taught: A critical convergence. Bandung: MSPI. Inc. 264 . New York: Harper & Brother Publisher. Kamus psikologi. Cut Kamaril. Dali Gulo. Gaitskell. Linda. Depdiknas. Coney. Conrad. (1975). Campbell. M. SMP. Art education its means and ends. De Francesco-Italio. dkk. (2006). Jakarta: BSNP.. (1998). The aesthetic hypothesis. Jakarta: Universitas Terbuka. Bandung: Tonis. Dobbs. (1975). Diambil pada tanggal 8 Nopember 2005. Harcourt Brace Jovanovich. (1982). Duane & Prebel. Isobel J. (2003). (1964). Sistem penilaian kelas SD. Wailling. Depok: Inisisasi Press. Charles D. Standar nasional pendidikan. Iowa: W. Amerika: Prentice Hall Inc. Donovan. A. A. Survei kegiatan guru dalam melakukan penilaian di kelas. Art form: An introduction to the visual arts. Estetika sebuah pengantar. Children and their art methods for the elementry Atlanta school. (2002). R.BSNP. Clive Bell. dari. The DBAE handbook: An overview of disciplinebased art education. (1967). (1958). (1999). Donald. George. SMA. Pendidikan seni rupa/ kerajinan tangan. (2005). (2000). Uhlin. Dirjen Dikdasmen. Multiple intelligences: Metode terbaru melesatkan kecerdasan. Brown Company. Inc.M. (1992). Steven Marks. Thousand Oaks. Djemari Mardapi. California: Dickenson Publishing Inc. California: Chandler Publishing Company. Santa Monica CA: The Gety Center.

New York and London: Teachers College. IL: Stipes. Eymeren.. Measurement and evaluation in teaching. Studies in art education. Greer. Educational assessment and reporting. “A structure of dicipline concepts for DBAE”. Conrad. Inc. New York: Macmillan Publishing Company. I thaca. N.4 . P. (1990). dkk. Champion. (1985).). Efland. Winter Vol. Pendidikan seni rupa. H. Theodore Zernich. “Human behavior: Its implications for curriculum development in art. Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Claire. D. A.28 :227-233 Griffin. Testing and measurement. The Board of Trutes: The Journal Aestetic Education. (Eds. Charles.Hall. (1967). Dalam Teks-teks kunci estetika flsafat seni. Gronlund. Departemen Pendidikan dan kebudayaan. Publisher. (1967). (1973). (1987). Educating artistic vision. Merrill Publishing Company. Inc. (1974).Edmund. Atlanta: Harcourt Brage Jovanovich. (1997). W. Eisner. (1975).N. Holt. (1997). Estetika sebagai kritik dan apresiasi seni. Inc. Dwarne. Hoepfner. H. NY: Cornell UP. the journal of issues and research: 25 (4). George W. Art as image and idea. History of art education. J: Prentice. N. (1983). & Nix. (1999). (1964). London: Harcout Brace Javanovich. Reston. development and evaluation. Ohio: Charles E. Evaluation. (1991). The process of art education in the elementary school. Ralph. Englewood Cliffs. 31 No. Burke Feldman. Herawati. Hardiman . 251-258. Peter. and Curiculum Development. VA:NAEA. George. Studies in Art Education. Yogyakarta: Galangpress Fernandes. P 23-34 Gaitskell. Iriaji. (1984).J. 265 . Horovitz. Identifying resources from which children advance into pictorial innovation. Understanding children’s art for better teaching. Megawati. New Jersey: PrenticeHall. Elliot W. Art in Indonesia. (2005). Freeman. National Art Education Association. Jakarta: National Education Planning. Children and their art.X. E. Arthur D.” curricular considerations for visual arts education: rationale.

(2000). (1990). Art.). Art & crafts for the classroom. S. Michael T.. Popham. 3. Muchlichah Zarkasih). (1955). B. (2006). I/03. 86-97. New York: Harcour Brace Jovanovich. Foundations of behavioral research. K. Kane. Measurement and evaluation in teaching. 18. Growth of art in American schools. Jakarta: UNJ. A. New York: Macmillan Publising Company. Jurnal Seni. artists and art education. Jakarta: Erlangga Ismiyanto. (1991). Linderman. Kritik seni dan penciptaan seni rupa. (2000). Jamaris. Keindahan yang digemari dan pengejawantahannya. Frederick M. Elizabeth B. The psychology of chidren’s art. A. Dalam teks-teks kunci estetika flsafat seni. Linn. Sage Publications Kusnadi. Kellogg. 266 . and Lee H. California: CRM INC. Jakob. MA: A Simon & Schuster Company. (1967). Classroom assessment what teacher need to know. M. & Casey. Logan. Laura. (2002). (1977). Rhoda and Scott O’Dell. (1976). Filsafat seni. Chapman (1978). Bandung: Penerbit ITB. Meitasari Tjandrasa dan Dra. (Eds. Model pembelajaran terpadu berbasis kecerdasan jamak. (2001).M. P. Krueger. N.Hurlock. New York: Harper & Brother. Jilid 1 Edisi Ke enam. Lansing. (Terjemahan dr. James. Kerlinger F. USA: Macmillan Publishing Company. Martini. American Council on Education and Praeger Publishers. Approach to art in education. Earl. (1991). Analisis lukisan karya anak-anak usia sekolah dasar : studi dokumenter hasil karya anak-anak sanggar lukis di kota Jakarta dan Semarang. C. Sumardjo. Perkembangan anak. ( 2005). Validation. Robert L. R. (1995). New York: McGraw-Hill. Jurnal Bahasa dan Seni. Focus groups: A practical guide for applied research. (2000). Toronto: Nelson Thomson Learning. Lim Chin Choy. Yogyakarta: Galangpress. H.

Jakarta: Rora Karya.No. Notoatmojo.21 Maret 2005. Inc. The board of trustees of the university of illinois. Brace & World. (2005). New York: American Elsevier. New York: Harcourt. Martono & Retnowati. George. Yogyakata: Jendela.3. Seni rupa. Macdonald. Yogyakarta: FBS UNY. Bandung: Nuansa. Messick. tahun 2006. (1995). tentang standar nasional pendidikan. University of Maryland Libraries.76-85. The psychology of intelligence. New York: Pergamon Press. (2007). Assessment in art education a necessary discipline or a loss of happiness?. (1986). David. Wacana kritik seni rupa di Indonesia. 1990. Surakarta: Bringin 55. (2006). Connie. Mikke Susanto. New York: Macmillan Publishing Co. Novianto. Viktor. Tri Hartiti. J. “Excellence in arts teaching and learning: A collaborative responsibility of maturing partnership. “Guidelines for evaluation and assessment in art and design education 5-18 Years”. Spring 1989. (1970). Nomor 19. (2005). Membongkar seni rupa.”.Lowenfeld. Lambert. Creative and mental growth. (1982). Kamus lengkap Bahasa Indonesia. Online. tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. Volume 9. No. (1989).Vol 15. Permendiknas RI. nomor 22. (1980). Pengembangan sumber daya manusia. London: The Macmillan Company. W. Mamannoor. ( 2002). Strategi pembelajaran seni lukis anak usia dini di Sanggar Pratista Yogyakarta.1. Garha. Pappas. Maurice. Peraturan menteri. S.Visual Arts Research. Oho. Peraturan pemerintah . Concepts in art and education. P. Soekidjo. Journal of Art and Design Education. Jakarta: PT Rineka Cipta. & Britain. Newton. (1950). The history and philosophy of art education. Piaget. tahun 2005. 267 .. New York: Analytic. (2003). Barrett. Stuart. Peraturan Pemerintah RI. (2003). Malcom Ross. Validity of psychological assessment. (1970). Myers.

Apresiasi seni lukis anak-anak. Tri Hartiti. Pedagogical Sem. Rohidi. Netherlands: Twente University. Ricci.A: Simon & Schuster Custom Publishing. Implikasi garis dalam seni rupa. (1994). (1997). Sawyer. R. Pepper. Herbert. Contextualistic criticism. Needham Heights. (1971). J. Tjetjep Rohendi.302-307. Read.Yogyakarta:Aquarius Offset. Pendekatan ekspresi diri. Trilogi seni penciptaan eksistensi dan kegunaan seni. London: The Shenval Press. Salam. Yogyakarta: Badan Penerbit ISI Yogyakarta. (2005). S. J. Makalah disajikan dalam Seminar & Lokakarya Nasional Pendidikan Seni. disiplin dan multikultural dalam pendidikan seni rupa. Stark.A. (1973). Ruta. 268 . PL2LPTK. C. (2006). Syahrul. Jakarta: Depdikbud. Education through art. & Thomas. I Made. 183-192. Malang: Balai Kajian Seni dan Desain. M. Tjetjep Rohandi & Retnowati. Sanggar melati suci (1979-1994). Stephen. Yogyakarta: Sanggar Melati Suci. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah. (1994a). (1960).3 (1906). Pendidikan seni. New York: Reinhart and Winston Inc. (1983).(1970). Corrado. London: Harper & Row Publishers. Pendidikan seni dari konsep sampai program. vol 2 No 2. “Komposisi” Jurnal Pendidikan Bahasa Sastra dan Seni. Bandung: STISI Press. (2002). (2005). (2001). Soesatyo. Pratiknyo Prawironegoero. Elementary school art for classroom teachers. Assessment program evaluation. T. Kesenian dalam pendekatan budaya. di Jakarta. (1994b). Dirjen Dikti. Jurnal Rupa volume 4 no 1 September 2005. Development research on/in educational development. (2000). A. Sofyan. (2001). L’art de bambini. Soeharjo. John. Leipzig. Rohidi.. Soesatyo. Penilaian dengan non tes dalam proses belajar mengajar.Plomp. Survai terhadap kondisi guru-guru pendidikan kesenian di SLTP/SMU sumatera barat. R. Soedarso.

Measurement and evaluation in psychology and education .. R. (2005). Marriman. UNY. (1986). Torrance. Instructional development for training teachers of exceptional children: A sourcebook. L. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Utami Munandar. H. (1959). & Hagen. (2001). (1971). D. Jakarta: Balai Seni Rupa Jakarta.. Guba. art education. Early adolescent literacy learning fall 2006.. Yahya. J.ilstu. Wall. M. Itasca. G. Amri. (1991). Foley. Paul.. Lexington: Personal Press. 2001) 269 . Evalution of the art product.D. Suryahadi. Agung. Paul Torrance test of creative thinking. Thorndike. Educational evaluation amd decision making. Dasar-dasar kritik seni rupa.. “Objectivity and assessment in art” in assessment in arts education. Elizabeth.. Yogyakarta: Unit Litbang P3G Thiagarajan.Stufflebeam. Edward. Gepard. L. Heyfron . New York : John Wiley & Sons. Evaluasi dalam perspektif pendidikan seni (Pidato Ilmiah. Semmel.C. D. O. Waterman. M. Constructive education for children. Wedwick. Sudarmaji. M.coe. Robert. J. pp. Minneapolis Indiana University. W. (1974). (1981). (1975). (2006). Linda. Peacock. A. Hammond.. L. W. Paris: Harrap London. (1979). W. & Provus.57. I. P. S. Kreativitas dan keberbakatan strategi mewujudkan potensi kreatif dan bakat.. (1999). Victor.10. S & Semmel.edu/ivc pada tanggal 1 Juli 2007. Section 01 and 02. Bunga rampai pendidikan seni. E. Diakses dari http://www. Il: F. E. Toronto: Pergamon Press.