Lampiran 9

Gambar 1. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 1

Gambar 2. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 1

358

Lampiran 9

Gambar 3. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 2

Gambar 4. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 2

359

Lampiran 9

Gambar 5. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 3

Gambar 6. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 3

360

ABSTRACT Tri Hartiti Retnowati. Developing of Assessment Instrument for Children’s Painting in Elementary School. Dissertation. Yogyakarta: Graduate School, Yogyakarta State University, 2009. This study aim at developing an assessment specification for children’s painting in elementary schools by developing a valid and reliable assessment instrument to measure the performance of children’s painting. The development of this assessment instrument was intended to guide the painting teachers in elementary schools in carrying out assessment objectively. This study is a development research which uses quantitative and qualitative approaches. The development process was carried out in five phases, covering initial study, defining, designing, developing, and dissemination phases. The subjects of this study were elementary schools’ teachers and pupils in the first grade to third grades and painting teachers in Muhammadiyah Sapen Yogyakarta elementary school, MIN (Islamic State Elementary School) Tempel, and Langen Sari Yogyakarta elementary school. The construct of the instrument consisting of instrument for process, product, self, and group assessment was developed based on the suggestion of art education, children’s art painting, evaluation, and painting experts. The reliability coefficient of the assessment instrument was computed based on generalizeability theory developed by Crick and Brennan consisting of G (generalized study) and D (decision study) theories with the variance of person, rater, item, person rater interaction, and error components using Genova computer package program, and interrater Cohen’s Kappa fomula. The findings of this study suggest that first, the specification of the assessment instrument for performance of children’s painting in elementary school is in the form of observation sheet consisting of indicators, descriptions, and rubrics (criteria). The components of assessment object are process, product, self assessment, and group assessment. Second, the characteristics of the performance assessment instrument of children’s painting in elementary school consisting of validity, reliability coefficient, and its implementation have been verified. The validity evidence is obtained through three focus group discussions and one seminar. The average of Cohen’s Kappa tend to be higher than genova coefficient and the estimation of Genova coefficient using a nonlinear equation tends to be more accurate than one using a linear equation. The highest coefficent of Genova for process assessment is in grade 1 with 7 items rated, that is 0.91, for product assessment in grade 1 with 3 items rated, that is 0.76, for self assessment, that is 0.68, and for group assessment in grades 1, that is 0.86. The average of cofficients genova is 0.71 and the average of Cohen’s Cappa is 0.73. Both of this value are higher than the minimum criteria, 0.70. Third, the guideline of using performance assessment instrument of children’s painting in elementary school is in the form of a booklet. It consists of background, rationale, components of assessment, guideline, and application sample. Forth, the requirements for elementary school teachers for using this instrument cover the relevant educational background, having experiences in art of paintings, good comprehension toward the guideline of performance assessment for children’s painting, and being responsive toward reformation and changes.

iii

ABSTRAK
Tri Hartiti Retnowati. Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak di Sekolah Dasar. Disertasi. Yogyakarta: Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta, 2009. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan spesifikasi penilaian karya seni lukis anak di sekolah dasar dengan mengembangkan instrumen penilaian yang sahih dan andal untuk mengukur hasil belajar seni lukis anak. Pengembangan instrumen penilaian hasil belajar seni lukis anak sekolah dasar ini dimaksudkan agar para guru seni lukis pada jenjang pendidikan dasar dapat melakukan penilaian secara objektif. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan yang menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Proses pengembangan dilakukan melalui lima tahap yaitu tahap studi awal, tahap pendefinisian, tahap perancangan, tahap pengembangan, dan tahap diseminasi. Penetapan konstruk instrumen yang terdiri atas instrumen penilaian proses, penilaian produk, penilaian diri, dan penilaian kelompok dilakukan melalui pendapat pakar pendidikan seni, pakar seni lukis anak, pakar pengukuran, dan praktisi lapangan. Subjek penelitian ini terdiri atas dua elemen yaitu pendidik dan peserta didik sekolah dasar kelas satu sampai dengan kelas tiga dan pendidik seni lukis anak di SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta, MIN Tempel, dan SDN Langen Sari Yogyakarta. Penentuan koefisien reliabilitas instrumen penilaian dilakukan dengan menggunakan paket program genova berdasarkan teori Generalizability yang dikembangkan oleh Cric dan Brennan yang terdiri atas teori G (Generalized study) dan D (Decision study) yang komponen variansinya adalah person, rater, item, interaksi person dan rater, dan kesalahan, serta dengan koefisien interrater Cohen’s Kappa. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah: 1). Spesifikasi instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD berbentuk lembar pengamatan yang terdiri atas indikator, deskripsi, dan rubrik (kriteria), serta komponen yang menjadi objek penilaian meliputi proses, produk, penilaian diri, dan penilaian kelompok, 2). Karakteristik instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak yang mencakup validitas, reliabilitas, dan keterpakaian di SD telah teruji. Validitas telah teruji melalui focus group discussion sebanyak 3 kali dan sekali seminar. Rata-rata koefisien Cohen’s Kappa cenderung lebih tinggi dibanding rata-rata koefisien genova dan koefisien genova dengan persamaan nonlinear cenderung lebih teliti dibanding dengan persamaan linear. Besar koefisien genova paling tinggi untuk penilaian proses di kelas 1 dengan 7 item yang dirating yaitu 0,91, penilaian produk di kelas 1 dengan 3 item yang dirating yaitu 0,76, penilaian diri di kelas 1 yaitu 0,68, sedang penilaian kelompok di kelas 1 yaitu 0,86. Ratarata koefisien Genova secara keseluruhan adalah 0,71. Adapun rata-rata koefisien Cohen’s Kappa yaitu 0,73. Kedua nilai rata-rata ini telah memenuhi kriteria minimum yang disyaratkan yaitu 0,70, 3). Pedoman penggunaan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak dalam bentuk booklet. Booklet terdiri atas latar belakang, rasional, komponen yang dinilai, petunjuk penggunaan, dan contoh aplikasi, 4). Persyaratan yang harus dipenuhi pendidik SD agar kompeten menggunakan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD meliputi latar belakang pendidikan yang relevan, memiliki pengalaman dalam bidang seni lukis, memahami pedoman penilaian hasil belajar karya seni lukis anak, dan responsip terhadap pembaharuan dan perubahan.

ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang dan Identifikasi Masalah Pada dasarnya manusia memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai estetika agar dapat hidup dengan baik di masyarakat dan memiliki rasa keindahan. Pengetahuan berkaitan dengan penalaran yang diperlukan dalam memecahkan masalah. Keterampilan berhubungan dengan gerak anggota badan dalam mengerjakan pekerjaan. Rasa keindahan atau kepekaan estetik berkaitan dengan seni, sehingga orang yang memiliki apresiasi terhadap seni merasakan indah dalam hidupnya. Oleh karena itu setiap orang harus memiliki kepekaan estetik agar dapat merasakan keindahan dalam hidupnya. Dalam perspektif pendidikan, seni dipandang sebagai salah satu alat atau media untuk memberikan keseimbangan antara intelektualitas dengan sensibilitas, rasionalitas dengan irrasionalitas, dan akal pikiran dengan kepekaan emosi. Bahkan dalam batas-batas tertentu, seni menjadi sarana untuk mempertajam

moral dan watak seseorang (Rohidi, 2000: 55). Pendidikan seni bertujuan mengembangkan kedewasaan diri anak didik yang utuh dan seimbang dengan cara memberikan perlakuan yang dapat merangsang kepekaan estetik dan kreativitas peserta didik. Dengan demikian untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan pengembangan estetik melalui pendidikan seni. Pengembangan kepekaan estetik merupakan bagian dari pengembangan kepribadian seseorang, yang dilakukan melalui pendidikan seni. Dalam Peraturan Pemerintah No 19 tahun 2005 (PP Nomor 19, 2005) tentang standar nasional

1

pendidikan,

masalah

kepekaan

estetik

memperoleh

penekanan

dalam

pengembangan kemampuan peserta didik melalui kelompok mata pelajaran estetika. Pada peraturan ini, kelompok mata pelajaran estetika yang harus dipelajari peserta didik mempunyai arah pengembangan untuk meningkatkan: (1) sensitivitas, (2) kemampuan mengekspresikan, dan (3) kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni. Kemampuan mengapresiasi dan mengekspresikan keindahan serta harmoni mencakup apresiasi dan ekspresi, baik dalam kehidupan individual sehingga mampu menikmati dan mensyukuri hidup, maupun dalam kehidupan kemasyarakatan sehingga mampu menciptakan kebersamaan yang harmonis (BSNP, 2006: 78-79). Kelompok mata pelajaran estetika merupakan pelaksanaan dari pendidikan seni yang tergolong unik karena melekatnya "pengalaman estetik" pada diri seseorang. Dalam pendidikan seni, pengalaman estetik merupakan

sesuatu yang esensial. Menurut Linderman (1984: 54), pengalaman estetik mencakup pengalaman-pengalaman perseptual, kultural, dan artistik. Pengalaman perseptual dikembangkan melalui kegiatan kreatif, imajinatif, dan intelektual. Pengalaman kultural melalui kegiatan pemahaman terhadap hasil warisan budaya lama dan baru, sedangkan pengalaman artistik melalui kegiatan kreatif dan

apresiatif. Dengan demikian pengalaman estetik memberi peluang bagi seseorang untuk memahami dunia dari sudut pandangan yang berbeda dengan aspek pengetahuan. Cara memahami dunia yang ditawarkan oleh seni bersifat intuitif, tak terduga, dan kreatif, serta dikomunikasikan dalam bahasa warna, bunyi, gerak, atau isyarat yang bersifat simbolis.

2

” (BSNP. serta mentalitasnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Anugrah (2006) sebagai berikut. emosi. pendidikan seni amat menghargai pengalaman pribadi yang menantang anak untuk bertindak kreatif melalui pemecahan masalah artistik.”. Kegiatan melukis bagi anak-anak seusia anak sekolah dasar merupakan kegiatan naluriah dan menjadi kesenangan anak karena muncul atas desakan perkembangan emosi artistik yang bersifat kodrati. dan /atau pandangan anak terhadap sesuatu. Pendidikan Seni Budaya di sekolah memiliki dua fungsi yaitu: (1) untuk menumbuhkan kepekaan rasa estetik dan artistik sehingga terbentuk sikap kritis. Melukis bagi anak-anak merupakan aktivitas psikologis dalam rangka mengekspresikan gagasan. imajinasi. perasaaan. apresiatif.Pada seni melekat kesediaan untuk mengimajinasikan segala kemungkinan. dan muatan lokal yang relevan. Karena itulah. Standar kompetensi kelompok mata pelajaran estetika pada jenjang sekolah dasar adalah: ”menunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni dan budaya lokal. Salah satu kegiatan seni yang dilaksanakan di sekolah dasar adalah seni lukis yang merupakan bagian dari seni rupa. intelektual. (2) untuk membentuk pribadi yang harmonis dalam berlogika dan beretika bagi elaborasi peserta didik untuk mencapai kecerdasan emosional. Kelompok mata pelajaran estetika dilaksanakan pada semua jenjang pendidikan dari sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah atas atau yang sederajat dengan standar kompetensinya disebutkan dalam PP 19 tahun 2005 yaitu: ”membentuk karakter peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa seni dan pemahaman budaya. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. dan kreatif pada diri peserta didik secara komprehensif. 2006: 140). mengeksplorasi ambiguitas. Anak 3 . seni dan budaya. dan menerima keragaman pandangan. spiritual. keterampilan.

1994a: 31). bebas. Ungkapan pribadinya muncul melalui bentuk-bentuk dengan makna simbolik tertentu. spontan. Penilaian proses antara lain melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan kompetensi peserta didik (PP Nomor 19. 4 . Hal ini sesuai dengan kompetensi yang dituntut sebagai seorang guru yaitu menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar. warna dan sebagainya sesuai dengan suara batin dan lingkungan anak. Didukung oleh penalaran anak yang wajar. maka sifat-sifat yang demikian juga hadir dalam karya lukis anak. Mereka dengan asyik melakukan coret-mencoret. pikirkan dan khayalkan. Mereka melukis sebagai wujud pengungkapan pikiran dan perasaan tanpa terbatas pada apa yang dilihat oleh mata kepala saja. Sebagaimana kehidupan dan keadaan jiwa anak-anak yang pada umumnya bersifat bermain-main. Penggunaan unsur-unsur pada lukisannya tergantung pada keasyikan pemikiran dan fantasinya. Dalam konteks pendidikan. gembira. melainkan lebih pada apa yang mereka mengerti. Pengetahuan dan pemahaman ini diperlukan agar pendidik mampu memberikan bimbingan dan menilai hasil belajar karya peserta didik . maka hasil karya anak tampak sungguh naif. bidang. 2005). dan eksperimental. mengekspresikan perasaannya melalui garis. intuitif dan lebih dekat dengan sifat bermain pada anak. Lebih banyak yang akan mereka ceritakan maka lebih banyak pula bentuk yang dimunculkan (Soesatyo.melukis adalah menceritakan atau mengungkapkan (mengekspresikan) sesuatu yang ada pada dirinya secara intuitif dan spontan lewat media seni lukis (Soesatyo. seorang pendidik harus mempunyai pengetahuan dan pemahaman tentang makna karya seni lukis bagi peserta didik. 1994b: 32).

Danunegaran SD Muh.Karangkajen SD Muh. padahal pelajaran melukis bagi anak-anak adalah pelajaran yang menyenangkan. Sebagian besar guru sekolah dasar merupakan guru kelas.Penelitian ini didasarkan pada asumsi bahwa pemahaman guru-guru terhadap hakekat pendidikan seni terutama pelaksanaan pembelajaran seni lukis sekolah dasar belum seperti yang diharapkan sehingga mereka cenderung membimbing secara kurang tepat antara lain menilai secara subjektif. (lihat Tabel 1) Tabel 1 Daftar Peserta Studi Awal No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Nama Guru (Singkatan) SW PB SR NH AG PN EL RL RP SW SS WA TR RH ET MR SR RP SL LP Umur (Tahun) 49 36 39 47 54 45 55 50 35 38 32 39 31 33 27 35 29 34 44 28 Pengalaman Mengajar (Tahun) 24 11 14 22 29 20 30 25 10 13 7 14 6 8 4 10 5 9 19 4 Nama Sekolah SD Lempuyangan 2 SD Lempuyangan 1 SD Lempuyangan 3 SD Tegal Panggung SDN Widoro SD Suryodiningratan 4 SD Langensari SD Samirono SD Suryodiningratan 3 SD Pujokusumon 3 SD Muh. Danunegaran SD Muh. Kauman 5 . Papringan SD Muh. Hal ini diakui oleh dua puluh orang guru yang dapat ditemui dalam studi awal penelitian. Papringan SD Muh. Gowongan SD Muh. Nitikan SD Muh.Nitikan SD Muh.Penumping SD Muh. sehingga kemampuan dalam menilai karya anak belum seperti yang diharapkan. Subjektivitas dalam penilaian karya seni lukis anak pada dasarnya disebabkan oleh kesulitan guru dalam menentukan kriteria penilaian. Dengan demikian masalah subjektivitas menjadi masalah yang tidak dapat dihindari dalam penilaian karya lukis anak.

(2) guru merasa kesulitan untuk menentukan kriteria dalam penilaian karya seni lukis anak. Sebagai guru kelas dan tidak pernah mendapat pelatihan tentang penilaian seni lukis sehingga guru mengalami kesulitan dalam menilai proses dan produk karya seni lukis. (3) belum adanya pedoman yang dapat dijadikan pegangan guru untuk melakukan penilaian seni lukis anak yang sesuai dengan perkembangan anak. Kedua aspek penilaian ini akan memberikan gambaran tentang kemampuan melukis siswa yang sebenarnya. Pada penilaian proses seorang guru dapat mengamati bagaimana aktivitas siswa dalam membuat karya lukis. baik penilaian proses maupun produk karya seni lukis anak. Kenyataan di lapangan menunjukkan penilaian proses dan produk dilakukan guru sebatas pengetahuan yang dimiliki guru tentang seni lukis. karena latar belakang pendidikan bukan dari bidang seni rupa. Pada penilaian produk seorang guru dapat melihat hasil karya siswa setelah mengalami serangkaian proses pembuatan karya. permasalahan penilaian karya lukis anak merupakan permasalahan yang sangat penting untuk dipecahkan karena akan 6 . dapat dirinci permasalahan di lapangan dalam penilaian karya seni lukis anak sebagai berikut: (1) adanya faktor subjektivitas dalam menilai karya seni lukis anak. Hal ini lebih disebabkan karena tidak ada kriteria yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menilai proses dan produk karya seni lukis anak tersebut.Penilaian hasil karya lukis siswa perlu meninjau dua aspek yaitu proses pembuatan karya lukis dan hasil karya lukis itu sendiri. Berdasarkan studi awal yang dilakukan. dari jawaban dan pendapat yang dikemukakan para guru. Dalam konteks pendidikan.

dan dunia anak-anak itu sendiri. dengan harapan agar penilaian mendekati objektivitas. juga harus dilihat dari segi atau sisi anak-anak itu sendiri yang menghasilkan karya yaitu dengan menghayati kondisi kejiwaan anak.menjadi kendala dalam proses pembelajaran seni lukis anak. Selama ini. 7 . B. Studi awal tersebut menggambarkan keadaan sesungguhnya di lapangan bagaimana guru-guru. tentunya tidak adil apabila hanya dilihat dari segi tampilan karya tersebut. Rasional yang Mendasari Pentingnya Masalah Memahami karya lukis anak. khususnya di Indonesia. guru seni lukis menggunakan instrumen penilaian yang disusun secara mandiri. Hal inilah yang melandasi penelitian ini untuk mengembangkan instrumen penilaian karya seni lukis anak. Oleh karena itu masalah seni lukis anak tidak dapat dipisahkan dari tinjauan ilmu jiwa anak terutama dalam hal ini anak sekolah dasar. Merupakan dampak selanjutnya adalah tidak berfungsinya tujuan pendidikan seni budaya dan keterampilan dalam mengembangkan sensitivitas. Hingga saat ini instrumen penilaian karya seni lukis anak yang telah teruji secara ilmiah yang dapat digunakan oleh guru sekolah dasar. terutama dari hakekat seni. kreativitas. kehidupan anak. ekspresi estetis. khususnya pengajar seni lukis kesulitan menentukan kriteria penilaian seni lukis anak. Tetapi. timbul perbedaan persepsi tentang instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar antara guru yang satu dengan lainnya. dan kreativitas peserta didik. Akibatnya. belum tersedia.

PP 19 tahun 2005 disebutkan bahwa seorang pendidik harus mempunyai kompetensi pedagogik yakni kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik. Dalam pasal 28 ayat (3) butir a. Untuk melakukan penilaian yang objektif diperlukan instrumen penilaian. Agar penyelenggaraan proses belajar mengajar di sekolah memperoleh hasil yang penilaiannya dapat optimal hendaknya guru memiliki pengetahuan dalam menilai karya lukis anak. Penilaian merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran. sehingga dapat memacu anak belajar seni lukis. seorang guru harus mempunyai pengetahuan dan kemampuan apresiasi yang tinggi terhadap karya tersebut sehingga dapat mengerti.Cara pandang atau apresiasi guru terhadap hasil karya lukis anak berbeda dengan karya lukis orang dewasa. Instrumen penilaian ini akan membantu guru dalam menilai karya lukis anak secara objektif. seorang guru harus pula mempunyai wawasan yang luas dan dapat mengerti kelemahan dan kekurangan hasil karya lukis anak. dan 8 . evaluasi hasil belajar. Kegiatan seni lukis anak memiliki wilayah tersendiri dan karenanya harus dilihat serta dinilai tersendiri (Soesatyo. sehingga hasil dipertanggungjawabkan. 1994a: 33). Apalagi sampai pada suatu kesimpulan berupa penilaian yang dapat dipertanggungjawabkan. perancangan dan pelaksanaan pembelajaran. Penilaian bertujuan untuk mengetahui proses dan hasil belajar mengajar seni luksi anak. baik proses maupun hasilnya. dan menghargai yang didasari pengertian yang terkandung dalam karya. Di samping hal tersebut. Untuk sampai pada penilaian karya lukis anak. menerima.

Penilaian yang dilakukan guru di sekolah saat ini belum menggunakan instrumen yang dapat dipertanggungjawabkan dilihat dari kriteria yang digunakan.pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Sistem penilaian kelompok mata pelajaran estetika harus memperhatikan esensi kelompok mata pelajaran itu sendiri. Keberhasilan pendidikan seni tidak lepas dari peranan guru dalam menilai karya lukis anak. Dalam berbagai kasus. Kompetensi pedagogik mencakup kemampuan melaksanakan pembelajaran dan menilai proses dan hasil belajar peserta didik. Dalam penilaian karya seni lukis anak perlu ditegaskan tidak adanya hal yang salah. keliru atau betul. sebab yang ada hanyalah tingkat kemampuan anak. Oleh karenanya faktor psikologis seperti dunia anak. kehidupan anak. guru tidak mampu menjelaskan kriteria yang digunakannya dalam memberikan nilai enam. Berkaitan dengan hal tersebut di atas. dan kejiwaan anak perlu dipertimbangkan dalam menilai karya seni lukis anak. Kegiatan penilaian memerlukan instrumen penilaian. sering terjadi penilaian karya seni khususnya karya seni lukis anak tidak berpijak pada argumen yang tepat. Hal ini dipertegas pada pasal 64 ayat 5 Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 tahun 2005 9 . Dengan demikian diperlukan suatu instrumen yang dapat diacu untuk menilai karya seni lukis anak. Akibatnya. agar hasil penilaian lebih akuntabel. atau tujuh atau delapan dalam menilai hasil belajar praktek seni lukis anak. salah satu panduan penilaian yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan adalah panduan penilaian kelompok mata pelajaran estetika.

tentang Standar Nasional Pendidikan. sehingga hasil penilaian dapat objektif dan dapat dipertanggung jawabkan. Penegasan ini mengisyaratkan diperlukan cara penilaian yang bersifat khusus. Untuk menentukan kadar keartistikan suatu lukisan diperlukan ukuran atau kriteria tertentu. sedang. Penilaiannya dapat diartikan sebagai upaya menentukan kadar keartistikan. Hal inilah yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pendidikan seni (Yahya. maka di dalamnya terdapat dimensi keindahan. penilaian terhadap seni lukis anak harus merupakan upaya untuk menunjukkan nilai-nilai artistik lukisan tersebut. 10 . bahwa “Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran estetika dilakukan melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan ekspresi psikomotorik peserta didik”. penilaian tidak akan terjebak menjadi like and dislike karena menggunakan ukuran yang jelas. apakah tinggi. Kriteria tersebut akan memudahkan penikmat dalam mengevaluasi lukisan (Yahya. atau rendah. diperlukan instrumen yang didalamnya terdapat kriteria yang telah ditetapkan lebih dahulu. Dengan demikian untuk memudahkan pendidik dalam menilai karya lukis anak. 2001: 15). Dengan demikian. Hal ini akan memudahkan pendidik untuk menilai karya seni lukis anak dengan membandingkan hasil karya dengan kriteria yang telah ditetapkan. Dengan cara demikian. 2001: 14). Karena lukisan anak merupakan wujud ekspresi artistik.

4. Untuk menggunakan instrumen penilaian hasil belajar seni lukis anak sekolah dasar secara optimal. kompetensi apa yang perlu dikuasai guru? D. Mengembangkan komponen instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di sekolah dasar. Mengembangkan instrumen penilaian yang valid. Bagaimana karakteristik instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak yang mencakup validitas. Menentukan kriteria penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di sekolah dasar. Rumusan Masalah Masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. 11 . 2. reliabel. untuk dapat menggunakan secara kompeten instrumen hasil belajar seni lukis anak. Bagaimana bentuk dan isi pedoman penggunaan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak? 4. Bagaimana komponen instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di sekolah dasar? 2. dan praktis untuk mengukur hasil belajar seni lukis anak.C. 3. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1. reliabilitas. dan keterpakaian di sekolah dasar? 3. Mengetahui persyaratan apa yang harus dipenuhi pendidik sekolah dasar.

Instumen penilaian tersebut diperlukan untuk membantu guru dalam memberikan penilaian yang objektif terhadap kemampuan seni lukis anak. 12 . diharapkan mendapatkan produk berupa instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar yang valid dan reliabel. Tahap awal mencakup indikator-indikator yang berhubungan dengan pengkondisian awal siswa sebelum melukis seperti kesiapan alat dan bahan yang diperlukan untuk melukis. Manfaat Penelitian Hasil penelitian akan memberi sumbangan teori pada kriteria instrumen penilaian seni lukis anak yang teruji secara empirik. Spesifikasi produk yang diharapkan adalah sebagai berikut: 1. Secara praktis hasil penelitian diharapkan akan menjadi acuan guru pengajar seni dalam melakukan penilaian hasil karya seni lukis anak. Spesifikasi Produk Hasil penelitian dan pengembangan.E. Penilaian proses Penilaian proses terdiri dari tahap awal dan tahap inti. F. Tahap inti mencakup indikator yang berhubungan dengan aktivitas siswa dalam melukis baik dari segi kemampuan intelektual. maupun kondisi psikologis yang mempengaruhi kualitas karya yang dihasilkan seperti keberanian dan ketekunan. Penilaian yang objektif akan membantu seorang guru mengidentifikasi kemampuan siswa dalam melukis. waktu.

dan keberhasilan karya temannya. Penilaian diri Penilaian diri mengungkap informasi dari tiap peserta didik. dalam penilaian kelompok peserta didik diharapkan dapat menangani problem. kemudian peserta didik yang lain memberikan respons dalam bentuk bahasan kritis. 13 . Penilaian produk Penilaian produk mengungkap adanya unsur kreativitas. sehingga terkembangkan sikap oto kritis dalam memberikan penilaian terhadap hasil karya temannya. Disamping itu. bermanfaat atau tidak. serta pengalaman-pengalaman berharga mana yang berhasil dipelajari dalam kegiatan tersebut. dan hasilnya memuaskan atau tidak. 4. apakah mengerjakannya mudah atau sulit. 3. serta teknik melukis. Penilaian kelompok Penilaian kelompok memberikan kesempatan peserta didik menunjukkan satu atau dua karya mereka secara bergiliran. apakah suatu kegiatan melukis bagi dirinya menarik atau membosankan.2. kegagalan. ekspresi. sebagaimana tercantum dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk bidang seni yang terdiri dari gambar ekspresif dan imajinatif.

Konstruk instrumen penilaian ini merupakan “tingkat ukuran” (yard stick) karya seni lukis anak. Bukti validitas suatu instrumen harus memiliki validitas interpretasi hasil pengukurannya. Model Pengembangan Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Data kualitatif yang diperlukan merupakan landasan teoritis bangunan konstruk instrumen. instrumen. yang pengumpulannya dimulai sejak awal pengembangan konstruk. Bukti validitas interpretasi hasil pengukuran instrumen penilaian karya seni lukis anak memerlukan data kualitatif dan kuantitatif. Konsep validitas bersifat “unity concept” yang dibangun dari teori yang melandasi konsep pengembangan. Pendekatan ini digunakan.BAB III METODE PENELITIAN A. Penelitian pengembangan digunakan untuk menghasilkan instrumen yang baku dalam menilai karya lukis anak. Instrumen yang dikembangkan disertai dengan pedoman penggunaan instrumen. Data kuantitatif yang berupa hasil penilaian pendidik terhadap karya lukis anak 152 . karena pengembangan instrumen penilaian seni lukis anak harus dimulai dengan membangun konstruk yang diukur. dan bukti empirik. Instrumen penilaian seni lukis anak. sesuai dengan Standard for educational and psychological testing (1999) harus memiliki bukti validitas interpretasi hasil pengukuran. termasuk praktisi seni lukis dan guru seni lukis di sekolah dasar. melalui berbagai penelusuran dan diskusi pakar seni lukis dan pendidikan seni lukis.

Kriteria pengembangan konstruk instrumen mencakup aspek proses dan hasil karya lukis anak. penelitian ini menggunakan modifikasi model Semmel & Semmel dengan model Plomp. Sesuai dengan tujuannya. Thiagarajan. Setiap aspek diurai menjadi sejumlah indikator. (2) design. (4) test. Plomp.diperlukan untuk memperoleh informasi tentang besarnya koefisien keandalan hasil ukur instrumen. Setelah indikator disusun menjadi item yang dirakit menjadi instrumen utuh. 9) Final product revision. 7) Operational product revision. Semmel & Semmel dikenal dengan Four-D Model. Tahapan pengembangannya meliputi: define. develop.8) Operstionsl field testing. 153 . 275-276) ada sepuluh langkah dalam melakukan R & D. yaitu Define. Beberapa model penelitian dan pengembangan yang dipakai dalam penelitian dan pengembangan (R & D) antara lain: model Semmel & Semmel. Design. 10) Dissemination and implementation. Model Thiagarajan. (5) evaluation and revision. Menurut Borg & Gall ( 1983. dan model Borg & Gall. 3) Preliminary field testing. design. Instrumen diujicobakan kepada sejumlah pendidik agar dapat diketahui keterpakaiannya dan diestimasi koefisien reliabilitas hasil ukurnya. 1) Research and information collecting 2) Planning. seperti berikut ini. Pengembangan instrumen ini dilakukan dengan mengadopsi model penelitian dan pengembangan pendidikan secara umum. and (6) implemention. 5) Main product revision. Develop and Disseminate. (3) realization construction. dan dissemination atau yang dikenal dengan 4D. yaitu dimulainya dengan tahap preliminary investigation yang dikemukakan oleh Plomp dan research & development menurut Semmel (1974:5). Menurut Plomp (1997: 78) langkah-langkah R & D adalah sebagai berikut: (1) preliminary investigation. 6) Main field testing. 3) Develop preliminary form of product.

dalam hal ini adalah kriteria karya lukis anak. kegiatan yang dilakukan adalah merumuskan definisi konstruk. Secara rinci model pengembangan instrumen disajikan pada Gambar 40. dan penyusunan item instrumen. Kegiatan yang dilakukan tahap design adalah telaah konstruk instrumen oleh para pakar dan guru sekolah dasar seni budaya (seni lukis).Pada tahap define. Model Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak 154 . Terakhir. kegiatan yang dilakukan adalah uji coba instrumen terhadap guru sekolah dasar. Tahap develop. kriteria. kegiatan yang dilakukan adalah mengembangkan indikator. Research & Develepment Model PRELIMINARY INVESTIGATION Identifikasi kebutuhan alat penilaian seni lukis Elaborasi kebutuhan alat penilaian seni lukis yang relevan DEFINE Merumuskan definisi konstruk instrumen Mengkaji konsep instrumen karya lukis anak berdasarkan teori Penentuan konstruk instrumen Telaah konstruk oleh pakar Mendesain konstruk instrumen Pengembangan indikator Penyusunan item instrumen Telaah item instrumen Perbaikan instrumen Uji coba instrumen Analisis instrumen Pembakuan instrumen FGD Sosialisasi instrumen karya lukis anak DESIGN DEVELOP DISSEMINATE Gambar 40. deskripsi. dan mengkaji konsep instrumen karya lukis anak berdasarkan teori dan hasil penelitian yang relevan. tahap dissemination.

tentang pentingnya profesionalisme guru pendidikan seni dan komitmen terhadap tugas merupakan faktor penting untuk kelangsungan pembelajaran dan pencapaian kualitas hasil belajar anak didik. yang dilatarbelakangi bagaimana membuat suatu penilaian menjadi sebuah elemen pembelajaran yang aktif dan positif dari pengajaran. Prosedur Pengembangan Berdasarkan model pengembangan pada Gambar 40. Tahap Studi Awal Pada tahap awal (preliminary investigation) ini. Demikian juga hasil penelitian Coney tahun 1999. antara lain penelitian Ismiyanto tahun 2002 yaitu penelitian tentang visualisasi lukisan karya anak-anak usia sekolah dasar ditinjau dari tema dan subjek mencerminkan kehidupannya dan menunjukkan adanya upaya anak mengidentifikasi diri dalam karyanya. Selain itu. 1. Hasil penelitian membuahkan tujuh kriteria untuk melihat kemajuan anak dalam berkarya seni yaitu: (1) kemampuan untuk mengamati dan merekam 155 .B. Penelitian yang relevan tersebut. tahapan atau prosedur pengembangan lebih lanjut dapat dijabarkan sebagai berikut. Penelitian Syahrul yang dilakukan tahun 2001. sasaran penilaian karya seni lukis. penjelajahan juga dilakukan terhadap hasil-hasil penelitian yang relevan untuk mendukung gagasan instrumen penilaian seni lukis yang sesuai dengan kebutuhan guru di lapangan. dilakukan pengkajian pustaka yang berkaitan dengan identifikasi jenis. Substansi yang ditelaah pada tahap ini adalah mengkaji analisis kurikulum yang berlaku untuk matapelajaran seni budaya dan keterampilan.

level. sasaran penilaian seni lukis diikuti penjabaran indikator. (4) ekspresi dan kontrol atas ide-ide yang diungkapkan termasuk kreativitas. selanjutnya dilakukan elaborasi terhadap ketiga unsur tersebut. Dengan demikian hasil karya seni lukis pada dasarnya dapat dinilai dari sudut kreativitas. Tahap pendefinisian merupakan tahap 156 . sehingga diperoleh indikator dan deskripsi. deskripsi. dan (7) komitmen anak dalam mengerjakan tugas rumah. dan kriteria penilaian yang disajikan pada Gambar 41. Tahapan Studi Awal Pengembangan Instrumen Seni Lukis Anak 2. analisis kurikulum.pengalaman visual anak. (5) pencapaian sasaran pembelajaran. Kemudian untuk mendapatkan kebutuhan realita di lapangan. dan kriteria penilaiannya. Setelah dilakukan identifikasi pada ketiga hal tersebut. (2) pengembangan ketrampilan teknis. yaitu mengolah ketiga unsur tersebut. ekspresi dan teknik. (6) menekankan kembali batasan-batasan dari suatu tugas. dan studi lapangan. Kajian Pustaka Analisis Kurikulum Masalah Riil Elaborasi Indikator Deskripsi Level Kriteria Gambar 41. yaitu kajian pustaka. (3) minat dan motivasi anak. maka dilakukan wawancara terhadap guruguru yang mengajar seni lukis di SD. Tahap Pendefinisian Tahap pendefinisian (define) adalah tindakan untuk menyusun definisi tentang unsur.

Tahap Perancangan Tahap perancangan (design) adalah tindakan merancang kisi-kisi instrumen alat pengukur karya seni lukis sehingga bisa diketahui dimensi yang diukur atau konten dan jabaran dari tiap-tiap unsur sasaran penilaian seni lukis. keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk. kelancaran penuangan ide. Kisi-kisi yang dimaksudkan sebagai upaya memaparkan pola hubungan antara konstruk (dimensi yang diukur) dengan indikator. 157 . Dengan demikian kisi-kisi dapat dipakai sebagai bukti pada proses validasi. kesiapan alat dan bahan untuk melukis. ekspresi. dan teknik. deskripsi. Tahapan Pendefinisian Instrumen Seni Lukis Anak 3. Indikator menjadi acuan dalam mengembangkan item.lanjutan dari tahap awal. keberanian menggunakan media. yaitu pendefinisian tentang indikator. Selanjutnya masing-masing indikator dijabarkan menjadi deskripsi. dan item. ketekunan. Setelah deskripsi dikembangkan secara operasional. deskripsi. kriteria. dan rubrik penskoran. yaitu: tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat. Dalam kaitan dengan ini. kreativitas. pemanfaatan waktu. kriteria. Indikator Deskripsi Kriteria Rubrik Bagan 42. Visualisasi proses ini disajikan pada Gambar 43. kemudian ditetapkan kriteria disertai rubrik penskoran. indikator yang terjaring ada 10 macam.

dan pertimbangan tentang topik yang didiskusikan. Menurut Krueger. FGD putaran pertama dilakukan 158 . Perangkat instrumen ini disebut prototipe awal instrumen penilaian seni lukis. & Casey. A.Kajian Pustaka Kebutuhan Lapangan Dimensi (Kisi-kisi) . . dan perakitan kisi-kisi. selanjutnya kisi-kisi diperbaiki dan dirakit sehingga menjadi acuan dalam penyusunan item. Pentelaahan kisi-kisi dilakukan oleh pakar seni lukis anak. FGD adalah suatu metode diskusi secara mendalam yang melibatkan kelompok kecil yang homogen (6-12 orang) untuk mendiskusikan topik tertentu. M. (2000).Produk Konten Sasaran Gambar 43. berdasarkan kisi-kisi Item yang disusun menjadi perangkat instrumen penilaian seni lukis. pakar pendidikan seni. perbaikan. sikap.Proses . Setelah prototipe awal diperoleh kemudian ditindaklanjuti dengan validasi ahli dengan teknik FGD sebanyak tiga putaran. Tujuan diskusi adalah untuk menggunakan dinamika kelompok. dan guru seni lukis dalam forum Focus Group Discussion (FGD). dengan bantuan seorang moderator/fasilitator untuk mendorong peserta mengungkapkan pendapat. Tahapan Perancanganan Instrumen Seni Lukis Anak 4. R. A. Tahap Pengembangan Pada tahap pengembangan (development) dilakukan penyusunan kisikisi penelaahan.Berdasarkan hasil FGD.

dilakukan revisi. sehingga diperoleh prototipe 2 (dua). penilaian kelompok merupakan hasil dari FGD putaran 3 (tiga) yang diselenggarakan pada tanggal 10 April 2008. yaitu tahap awal dan tahap inti. Setelah memperhatikan saran dan temuan hasil FGD putaran pertama. berupa kriteria seni lukis anak. dan kemudian diperoleh bobot prosentase penilaian proses 60% dan produk 40%. kemudian diperoleh saran dan temuan berupa diskripsi dari masing-masing indikator. Pada tahap 2 (dua) berdasarkan kriteria hasil FGD putaran kedua. Setelah direvisi kemudian digunakan untuk menyempurnakan prototipe 2 (dua) menjadi prototipe 3 (tiga) yaitu. 159 . penilaian diri. dan 4 (empat) orang pendidik seni lukis sekolah dasar. selanjutnya dilakukan revisi sehingga diperoleh prototipe 1. Kesimpulan hasil FGD adalah bahwa penilaian dilakukan pada komponen proses dan komponen produk pembelajaran.pada tanggal 26 Februari tahun 2008 di Pascasarjana UNY yang dihadiri oleh 7 (tujuh) peserta FGD terdiri dari: 1 (satu) orang pakar pendidikan seni. Komponen proses terdiri 2 (dua) tahap. 1(satu) orang pakar seni lukis anak. dihadiri oleh 8 (delapan) orang terdiri dari 3 (tiga) orang pakar pengukuran. 1 (satu) orang pakar pendidikan seni. yang dilaksanakan pada tanggal 13 Maret 2008 dihadiri 7 (tujuh) orang terdiri dari: 2 (dua) orang pakar pendidikan seni. dan 4 (empat) orang pendidik seni lukis sekolah dasar. dan 3 (tiga) pendidik seni lukis sekolah dasar. Setelah prototipe 1 direvisi selanjutnya dilakukan FGD putaran 2. Berdasarkan saran dan temuan pada FGD putaran 2 (dua). 2 (dua) orang pakar seni lukis anak.

tahap inti). Skema Tahap Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak 160 .Selanjutnya hasil dari FGD tahap 3 (tiga) berupa prototipe 3 (tiga) diseminarkan pada tanggal 16 April 2008 di Pascasarjana UNY yang dihadiri oleh 10 orang terdiri dari 1 (satu) orang pakar pendidikan seni/promotor. Untuk kejelasan tahap-tahap pengembangan instrumen dapat dilihat pada Gambar 44. 3 (tiga) pakar pengukuran. penilaian produk. Indikator Deskripsi Level Kriteria Prototipe 1 FGD-1 Analisis Revisi Indikator Prototipe 2 FGD-2 Analisis Item Revisi Deskripsi Prototipe 3 FGD-3 Analisis Revisi Kriteria Prototipe Tentatif Gambar 44. sehingga diperoleh hasil instrumen penilaian seni lukis anak yang terdiri dari penilaian proses (tahap awal. Hasil dari seminar yang berupa instrumen penilaian seni lukis anak kemudian dipakai untuk pengambilan data uji coba penelitian. 6 (enam) mahasiswa S3 PEP UNY.

Tahap Diseminasi (Disseminate) Setelah uji coba sampai dengan analisis data uji coba instrumen dan menghasilkan instrumen prototipe tentatif. Draf Pedoman FGD Analisis Revisi Pedoman Baku Gambar 45. (3) daerah ini dipilih juga karena banyak karya seni lukis yang berkembang di daerah ini. Uji coba Produk 1. keterbacaan. dan kelayakan penyajian yang meliputi sistematika. Tempat ini dipilih karena berbagai pertimbangan Yogyakarta: (1) memiliki cukup banyak sekolah dasar yang melaksanakan program pembelajaran seni lukis anak. Skema Tahap Diseminasi Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak C. Desain Uji coba Uji coba ini dilakukan di Kota Yogyakarta.5. Pedoman penilaian seni lukis anak divalidasi oleh pendidik seni lukis melalui FGD yang meliputi petunjuk penggunaan. Tahapan diseminasi tersebut disajikan pada Gambar 45. yang ditandai banyaknya 161 . dan penampilan fisik. (2) ketersediaan pendidik dalam bidang seni lukis. Kemudian diadakan sosialisasi pada pendidik dan praktisi. kriteria penilaian. maka tahap selanjutnya adalah membuat pedoman instrumen penilaian seni lukis anak.

Hasilnya kemudian dianalisis dan direvisi sehingga menjadi instrumen baku. daerah lain. Disain uji coba produk mengikuti Prototipe Instrumen Seminar Analisis Revisi Instrumen Baku Draf Panduan FGD Revisi Panduan Baku Gambar 46. dan (4) frekuensi lomba seni lukis anak yang relatif cukup tinggi dibandingkan alur seperti Gambar 46. 2. 162 Selanjutnya . pakar pengukuran dan pakar pendidikan seni. keterpakaian pedoman penggunaan instrumen. Konstruk instrumen penilaian karya lukis anak merupakan kriteria penilaian karya lukis anak. dan 3 di tiga sekolah dengan melibatkan tiga orang guru seni lukis. Hasil uji coba yang berupa prototipe instrumen penilaian karya lukis anak dan kemudian diseminarkan pada tanggal 16 April 2008 yang dihadiri 12 (dua belas) orang terdiri dari promotor.sanggar seni lukis anak. Uji coba ini bertujuan untuk memperoleh informasi dari lapangan tentang konstruk instrumen. dan proses pengembangan instrumen. Guru seni lukis yang terlibat diberi pelatihan sebelum melaksanakan uji coba. Desain Uji coba Intrumen Seni Lukis Desain uji coba seperti tampak pada Bagan 8 dilakukan di kelas 1.

Subjek Coba Subjek uji coba adalah pendidik yang mengajar seni lukis anak yang ada di tiga sekolah di Kota Yogyakarta. dan kelayakan penyajian yang meliputi sistematika. Sekolah Dasar Muhammadiyah Sapen. Pada tahap G-study dipilih tiga sekolah. keterbacaan. Sekolah Dasar Negeri Langensari . dan Sekolah Dasar MIN Tempel. kriteria penilaian.study dan tahap D-study. Subjek penelitian peserta didik dipilih melalui dua tahap. Pada tahap D-study. Ketiga sekolah tersebut tersebar pada kota Yogyakarta dan kabupaten Sleman. jumlahnya sebanyak 20 orang di ambil secara random. 2. Subjek penelitian adalah peserta didik yang terdiri dari tiga sekolah. Pendidik diperlukan sebagai subjek uji coba untuk memperoleh koefisien keandalan instrumen dan keterpakaian instrumen penilaian karya lukis anak. yaitu tahap G. dan penampilan fisik. masingmasing sekolah dipilih satu guru seni lukis. Sedangkan masing-masing sekolah terdiri dari siswa kelas satu. 163 dengan asumsi bahwa kedua . dan tiga. pemilihan subjek penelitian ditentukan berdasarkan koefisien G-study dalam wilayah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. dua.disusun draft pedoman penggunaan instrumen seni lukis anak dan kemudian divalidasi oleh pendidik seni lukis anak melalui FGD yang meliputi petunjuk penggunaan. Hasil FGD ini digunakan untuk memperbaiki pedoman penilaian sehingga menjadi pedoman guru dalam menilai seni lukis anak.

Instrumen ini dilengkapi dengan pedoman penilaiannya. produk. Data ini diperoleh melalui diskusi para pakar seni lukis. Jenis Instrumen Pengumpul Data Data penelitian ini terdiri atas data kuantitatif dan kualitatif.kabupaten/kota tersebut dapat mewakili/representatif DIY. dua. 164 . Data kualitatif diperoleh melalui instrumen penilaian diri dan penilaian kelompok dalam bentuk jawaban terbuka dari subjek penelitian. Dari ketiga sekolah tersebut dipilih kelas satu. Data kuantiatif digunakan untuk memperoleh koefisien keandalan instrumen. 3. dan penilaian kelompok. dan tiga. dan tiga sebagai subjek ujicoba karena pada KTSP untuk tingkat Sekolah Dasar dalam mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan seni lukis hanya dilaksanakan pada kelas satu. Data ini berupa hasil penilaian karya lukis anak yang dilakukan oleh pendidik. Data kualitatif digunakan untuk mengembangkan konstruk instrumen. dua. Selain itu data kualitatif dan kuantitatif digunakan untuk menentukan keterpakaian instrumen. dan praktisi lapangan. Penentuan tiga sekolah tersebut didasarkan pada pertimbangan sekolah yang melaksanakan pembelajaran seni sesuai dengan KTSP dengan didukung tenaga pendidik yang memiliki latar belakang pendidikan seni rupa. Pedoman penilaian seni lukis anak merupakan acuan yang digunakan pendidik dalam menilai seni lukis anak. penilaian diri. pakar pendidikan seni lukis. Data kuantitatif diperoleh melalui intrumen untuk menilai proses.

Pada G-study dilakukan estimasi sejumlah varians komponen. Menurut Brennan (1983: 3). Banyaknya komponen ditentukan oleh model yang digunakan. teori generalizability adalah teori pengukuran modern yang memiliki keunggulan dibanding teori tes klasik. Pada teori ini ada G (generalized study) dan D (decision study).Pedoman ini berisi cara menggunakan instrumen. menskor. Teknik Analisis Data Pengujian konstruk instrumen dilakukan melalui pendapat para pakar bidang seni lukis. yaitu universe berlakunya generalisasi D-study dengan suatu prosedur pengukuran tertentu. D-study menekankan estimasi. Hasil dari G-study digunakan pada D-study. dan interpretasi dari varians komponen untuk membuat keputusan. Hal yang penting pada D-study adalah spesifikasi dari generalisasi universe. dengan prosedur pengukuran yang baik. 4. Pertemuan dengan kelompok yang berbeda dilakukan tiga kali untuk memperoleh masukan yang lebih banyak sehingga diperoleh hasil yang dapat diandalkan. dan para praktisi lapangan. Penentuan koefisien keandalan instrumen penilaian dilakukan dengan menggunakan paket program komputer Genova berdasarkan teori generalizability yang dikembangkan oleh Crick dan Brennan pada tahun 1983 yang disebut dengan A Generalized Analysis of Variance System. Menurut Thomson (2003: 43). penggunaan. pakar bidang penilaian pendidikan. Beberapa keunggulan yang penting adalah: (1) memperhitungkan sumber 165 . dan menafsirkan hasilnya.

item. termasuk varians kesalahan. maka dapat diestimasi varians sebenarnya (true variance). dan (3) mengestimasi koefisien keandalan baik yang relatif maupun yang merupakan varians total.kesalahan pengukuran yang jamak secara simultan. dan kesalahan. Estimasi varians setiap komponen 166 . yaitu rasio varians sebenarnya terhadap varians keseluruhan komponen. (2) memperhatikan efek kesalahan pengukuran interaksi. nested. 2 2 σ p . Varians komponen yang berbaur pada rancangan bersarang (p. varians kesalahan.e = σ p + σ r2:i . i: r D-study. Penelitian ini absolut. Penelitian ini menggunakan GENOVA yang komponen variansnya adalah person.r:i . generalizeability dan koefiesien phi untuk one-facet. G studynya menggunakan rancangan bersarang (nested design) dan D-study-nya juga menggunakan rancangan bersarang (nested design). interaksi person dan rater.e Keterangan: p = person r = guru/rater i = item r:i = rater bersarang pada item e = kesalahan Setelah varians komponen diperoleh.e) adalah jumlah varians komponen dalam Gstudy bersarang yang dapat ditulis sebagai berikut. rater. Besarnya koefisien keandalan sebenarnya dan rasio antara varians sistematik atau varians menggunakan satu facet p x(i: r) G-study yang bersarang untuk mengestimasi varians komponen. Selanjutnya dapat diestimasi besarnya indek keandalan hasil pengukuran. r:i.

σ²(p) adalah varians person (peserta didik). varians rater yang bersarang pada item. yaitu item bersarang pada rater. Besarnya koefisien keandalan instrumen penilaian adalah: σ²(p) Eρ² = —————— σ²(p) + σ²(δ) Eρ² adalah nilai harapan koefisien keandalan instrumen. varians rater. sedang untuk efek interaksinya adalah varians person item. Cara penilai (rater) dalam menilai karya lukis anak (p) tergantung pada pendapat penilai terhadap item yang dinilai. Rancangan px(r:i) ini berdasarkan analisis varians efek random memiliki efek utama: p. σ²(r : i) = σ²(r. σ²(δ) adalah varians kesalahan. Besarnya varians r bersarang pada i dapat ditulis sebagai berikut. Jadi ada varians person. r:i dan efek interaksinya adalah pi. Rancangan yang digunakan untuk G-study adalah px(i:r).dan besarnya indeks keandalan hasil pengukuran dengan instrumen yang dikembangkan peneliti menggunakan paket program GENOVA. 167 . sehingga dikatakan rater bersarang pada item. dan varians penilai bersarang pada i untuk efek utama. penilai dalam menilai hasil karya lukis anak berinteraksi dengan anak yang bersarang pada item. r. ri)= σ²(r) + σ²(ri). pr bersarang pada i.

Selanjutnya nilai koefisien κ yang dihasilkan dibandingkan dengan kriteria minimal yang diperkenankan. Koefisien interrater adalah salah satu sarana untuk melihat tingkat konsistensi atau keajegan antar rater dalam memberikan rating terhadap unjuk kerja karya seni lukis siswa. varians item.70 (Linn. dan kelas 3. Pada penilaian proses. Untuk keperluan ini. yaitu 0. 1990: 143). pada penilaian produk ada 3 (tiga) item. kelas 2. dan varians interaksi rater item. 168 .Varians kesalahan terdiri atas varians rater. sedangkan penilaian diri dan penilaian kelompok masing-masing ada 5 (lima) item. Untuk melihat reliabilitas dari kriteria instrumen penilaian seni lukis anak hasil uji coba. ada 7 (tujuh) item yang menjadi objek penilaian. digunakan koefisien Cohen’s Kappa. digunakan analisis koefisien interrater. Besarnya varians ini diestimasi dengan menggunakan teknik analisis varians rancangan efek random. Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian instrumen seni lukis anak untuk kelas 1.

seni grafis. Keduanya bisa dipecah berdasar atas medium. 2000: 55). pendidikan adalah membentuk manusia yang memiliki kepribadian yang kuat dan beradab sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan zaman. lukisan. pendidikan seni rupa selain melatih keterampilan peserta didik agar lancar berkarya seni rupa. Pengertian Pendidikan Seni Rupa Pada hakekatnya pendidikan merupakan suatu proses untuk mempersiapkan peserta didik menuju ke kedewasaan. dan cita rasa estetik peserta didik. intarsia. Pendidikan Seni Rupa 1. Ditinjau dari tujuannya. monumen. dan kesadaran kultural dalam kehidupan bermasyarakat (Rohidi. dan kolase dan (2) seni rupa tiga dimensi seperti patung. Secara visual Soedarso (2006: 97) membagi seni rupa menjadi dua bagian besar. fotografi. Pendidikan seni rupa berfungsi mengembangkan kepekaan rasa. tenun. dengan segala watak. pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan untuk dapat hidup di tengahtengah masyarakat dan kemudian dapat memberikan manfaat bagi lingkungan. kesadaran sosial. sulam. dan benda produknya. mengembangkan etika. Dalam proses pembelajarannya. yaitu (1) seni rupa dua dimensi seperti gambar. kreativitas.BAB II KAJIAN PUSTAKA A. keramik dan sebagian besar seni kriya lainnya. Dengan demikian pendidikan seni rupa merupakan media untuk mencapai tujuan pendidikan secara umum. juga dimaksudkan sebagai sarana atau alat pendidikan. 14 . mosaik. bangunan. teknik atau proses pembuatan.

dan lain-lain. dan inovatif. dalam hal ini menyatukan proses penciptaan karya yaitu antara sistematis. yang mempunyai peranan memenuhi tujuan-tujuan tertentu dalam kehidupan manusia tidak hanya memenuhi kebutuhan estetik semata. dan desain. Seni kria menekankan pada keterampilan teknik pembuatan karya dengan hasil karya yang bersifat fungsional dan non fungsional. seni patung. seperti lukisan atau patung. dan seni grafis. ada pula yang menyebut sebagai pure art (seni murni). logam. pembicaraan tentang seni rupa terkait dengan masalah keindahan. kreatif. tekstil. misalnya kayu. tanah liat.Sejalan dengan hal tersebut di atas. benda. Sedangkan pengertian seni rupa sendiri adalah suatu hasil interpretasi dan tanggapan pengalaman manusia dalam bentuk visual dan rabaan. serta menggunakan media tertentu. Rohidi dan Hartiti (2002: 8-9) mengemukakan: seni rupa dapat dibedakan menjadi seni rupa murni. seni kria. ditinjau dari proses pembuatan dan bentuk karya yang dihasilkan. atau lingkungan yang didasarkan pada persyaratan-persyaratan tertentu. Desain merujuk pada proses pembuatan karya yang maksud dan tujuannya telah ditentukan lebih dahulu. Secara umum. Keindahan adalah nilai-nilai estetik yang menyertai sebuah karya seni 15 . Istilah seni rupa secara etimologi merupakan padanan kata dari visual art (seni rupa yang dapat dilihat/diraba). Dalam hal ini penciptaan benda hias yang mengutamakan nilai artistik dikenal dengan sebutan craft (seni kria). meliputi seni lukis. fine art (seni indah). Namun istilah pure art di masa sekarang dipadankan dengan karya seni murni yang tidak memiliki kegunaan praktis. Karya desain berupa rancangan gambar. Seni rupa murni menekankan pada ungkapan pikiran dan perasaan.

Hal ini tentunya didukung oleh kemampuan pengungkapan ekspresi intuitif dan perasaan estetis seseorang melalui teknik. dan konsep dalam penciptaan karya seni rupa. yang menyebabkan reaksi emosional atau respons estetik. keseimbangan (balance). Pendidikan seni rupa berperan tidak hanya dalam pembentukan pribadi yang harmonis dalam logika. Keindahan juga dipahami sebagai pengalaman estetik yang diperoleh ketika seseorang mencerap objek seni atau dapat dipahami sebagai sebuah objek yang memiliki unsur keindahan. Sesungguhnyalah pengalaman estetik dapat menyebabkan timbulnya reaksi emosional atau respons estetik seseorang. Jalan yang ditempuh sesuai yang tercantum pada pedoman khusus mata 16 . tetapi juga berperan dalam perkembangan anak untuk mencapai kecerdaan emosional (EQ). dan rasa senang. bahan. Reaksi ini mungkin sesuai atau tidak sesuai dengan pendapat orang tersebut. ketika mengamati karya seni rupa. intelektual (IQ). karya seni rupa dapat menimbulkan berbagai kesan misalnya indah. adversitas (AQ) dan spiritual (SQ). baik secara mental dan/atau pun fisik. unik. Prinsip-prinsip keindahan tersebut adalah unsur kesatuan (unity).rupa. rasa estetik dan artristiknya. Menurut Pappas (2006: 3). dan sebagainya bagi apresian. dan kontras (contrast) sehingga menimbulkan perasaan nikmat. keselarasan (harmony). untuk menentukan kualitas karya harus mempertimbangkan nilai-nilai keindahan yang disebut dengan prinsip-prinsip keindahan. Disamping itu. Dalam dunia kesenirupaan. haru. serta etika. kinestetika. moral (MQ). menarik. bahagia. pengalaman estetik adalah perasaan (positif atau negatif) yang merupakan reaksi seseorang. nyaman.

pengaruh seniman besar terhadap karya tersebut. garis. Pengalaman estetik dalam pendidikan seni rupa di sekolah. media (teknik). yang dilakukan melalui pengamatan dan pembahasan karya seni rupa. Kegiatan pembahasan untuk memperoleh kesadaran dan pemahaman tentang penciptaan karya seni rupa berdasarkan telaah tentang seniman dan zamannya. Aktivitas yang dilakukan melalui kegitan eksplorasi dan eksperimen dalam mengolah gagasan (konsep). tekstur. dan penghargaan terhadap karya seni. secara individual maupun kelompok. baik tradisi maupun modern. proses dan teknik berkarya sesuai dengan nilai budaya dan keindahan dengan tidak mengesampingkan aspek fungsi serta sesuai dengan konteks sosial budaya masyarakat sebagai sarana untuk menumbuhkan sikap saling memahami. Kegiatan apresiasi bertujuan mengembangkan kesadaran. 2006: 186). Sedangkan pada kegiatan kreasi (creation). bentuk. bidang. sedangkan untuk tingkat SD 17 . tujuan penciptaan. diimplementasikan dalam dua kegiatan yaitu apresiasi (appreciation) dan kreasi (creation). Pendidikan seni di sekolah diimplementasikan dalam bentuk mata pelajaran Seni Budaya untuk tingkat SMA dan SMP. warna. volume. dengan mengambil unsur-unsur titik. sehingga dapat memberikan penghargaan. peserta didik diberi peluang untuk mengekspresikan pengalaman estetiknya dalam wujud karya seni rupa. melalui pencerapan nilai intrinsik dari karya seni rupa tersebut.pelajaran adalah dengan cara mempelajari elemen. pemahaman. Kegiatan pengamatan dimaksudkan untuk memperoleh pengalaman estetik. prinsip. dan ruang untuk mewujudkan karya seni rupa. menghargai. dan menghormati (BSNP.

Sesuatu yang disampaikan berupa buah pemikiran dan perasaan yang diwujud inderakan dengan menggunakan sarana yang dapat diamati lewat panca indera. Dengan demikian kemampuan ekspresi perlu dikembangkan pada peserta didik sejak dini karena peserta didik dimungkinkan dapat mengungkapkan berbagai pengalaman atau berbagai hal yang menggejala dalam dirinya untuk dikomunikasikan kepada orang lain melalui senirupa khususnya sebagai sesuatu 18 . Mata pelajaran Seni Budaya tersebut mencakup seni rupa. Lim Chin Choy (2005: 293) mengatakan bahwa ekspresi bertujuan untuk mempertunjukkan kepada orang lain (to exhibit). Namun demikian. Mengungkapkan sesuatu dengan kata. dapat juga sebagai ekspresi diri yaitu ekspresi keindividuan seseorang. Ekspresi dalam pendidikan seni adalah curahan jiwa/isi hati yang menekankan pada proses pengungkapkan pengalaman estetik peserta didik yang berkaitan dengan emosi. dan seni drama. dan menjadi terapeutik atau menumbuhkan kreativitas. Sejalan dengan hal tersebut. Pembelajaran seni rupa di sekolah memiliki sasaran sebagai berikut. Berekspresi dapat pula berfungsi sebagai katarsis. a. seni tari. daya pikir. Menurut Soehardjo (2005: 120) ekspresi merupakan ungkapan penyampaian sesuatu dari seseorang kepada orang lain. Mengembangkan Ekspresi Ekspresi pada dasarnya merupakan kebutuhan dalam hidup manusia untuk mencari kepuasan.adalah Seni Budaya dan Ketrampilan. imajinasi dan keinginan peserta didik. tindakan atau lukisan adalah hal yang menyenangkan dan meringankan. seni musik. sehingga dapat dikatakan bahwa dengan berekspresi dapat meringankan ketegangan seseorang.

Padahal. juga melatih keberanian mengungkapkan pengalaman estetik.yang ada maknanya. melatih anak berpikir merdeka. seni lukis misalnya karena anak relatif belum banyak pengetahuan tentang aturan-aturan/norma-norma yang mengikatnya. kualifikasi perlu di buat hubungan antara pengalaman estetik dengan pengalaman merasakan. kemampuan membuat analisis yang tepat. Jika semua pengalaman dirasakan sebagai pengalaman estetik. Ia memberi kesempatan kepada anak untuk melahirkan pengalaman batinnya dengan leluasa. sesungguhnya pengalaman estetik merupakan suatu pengalaman yang khas dan unik yang ditandai dengan terpuaskannya “hasrat akan sesuatu yang harmoni dan lengkap. Dampak selanjutnya diharapkan peserta didik memiliki daya cipta.” Kepuasan ini lahir dari proses keterlibatan batin. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik terlatih dan mampu mengemukakan isi hati. 2001: 1). tanpa paksaan. membiasakan anak untuk mengeluarkan isi hatinya dengan bebas. Walaupun demikian. Karya seni yang 19 . Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Soedarso (1973: 5) bahwa pendidikan seni rupa adalah pendidikan ekspresi. sehingga hasil karyanya terkesan jujur dan spontan. ide dan gagasan-gagasannya. Anak biasanya lebih bebas dalam berekspresi untuk mewujudkan suatu karya seni rupa. kemampuan menanggapi suatu masalah. tidak takut salah. baik dalam proses kreasi maupun dalam kegiatan persepsi (Salam. Di samping itu . Karena ketidaktahuan inilah anak cenderung lebih bebas dan merasa leluasa. Dengan demikian pengalaman berekspresi menunjang dasar-dasar kebebasan. maka pengalaman estetik kehilangan sifatnya yang khas. daya menyesuaikan diri dalam segala situasi.

Mengembangkan Sensitivitas Sensitif artinya peka/perasa terhadap rangsangan. Garis. Melalui aktivitas seni rupa. Dengan demikian sebelum berkarya peserta didik dimotivasi mengamati objek dengan berbagai masalahnya sebelum dituangkan dalam karyanya. dan cepat dapat menghayati sesuatu. kemampuan anak dalam mengolah kesadarannya terhadap orang lain di lingkungan sekitar dalam berkomunikasi. telinga. tetapi mencerminkan ekspresi kejiwaan yang kuat. kepekaan menjadi terlatih sehingga apabila ada permasalahan peserta didik bisa merasakan dan diharapkan dapat mengatasi permasalahan tersebut. warna. bekerjasama. Dengan melatih kepekaan rasa diharapkan kelak anak dapat menjadi anggota masyarakat yang dapat menjaga lingkungannya dan ikut melestarikan peninggalan seni dan budaya. Terutama peka terhadap lingkungan yang banyak mengandung permasalahan.dihasilkan menunjukkan kemurnian pengungkapan perasaan mereka. Demikian juga kepekaan sosial terhadap lingkungan sekitar serta kemampuan bekerjasama dalam membuat karya kelompok dapat mengolah sikap dan perasaan sosial anak. 20 . mudah menerima. Peran pendidik diharapkan dapat mengembangkan kepekaan atau sensitivitas yang dimiliki peserta didik. mudah mencerap suatu rangsangan. Peserta didik diberi kesempatan untuk menggunakan panca indera seperti mata. Peserta didik menjadi peka terhadap lingkungan. b. dan tekstur bukan lagi sebagai elemen fisik. dan indera peraba menjadi dasar cerapan dalam berkarya. hidung. menghargai dan dihargai dapat dipupuk.

maupun proses mencipta dalam organisasi dari kehidupan subjektif pikiran dan praktis manusia. Ada tiga tahap proses kreatif yang dikemukakan Chapman (1978: 45). mencari sumber gagasan. yaitu proses penyempurnaan. lingkungan. (2) Elaboration and refinement. apresiasi. yaitu: (1) Inception of an idea. orisinalitas karya. keadaan mental yang sangat khusus sifatnya. Adapun unsur pendorong dalam laku kreatif seperti yang diungkapkan Dix dan Ernst dalam Susanto (2003: 9) adalah adanya sarana. merupakan tahap terakhir yaitu proses visualisasi dengan medium yang merupakan sarana untuk memvisualisaikan gagasan menjadi suatu karya seni. inspirasi. pertumbuhan. proses perenungan. namun juga melibatkan kepekaan intuitf. merupakan tahap awal yaitu usaha menemukan gagasan. Dengan demikian proses kreatif merupakan pengejawantahan emosi dan representasi posisi pemikiran pembuat karya terhadap berbagai masalah yang dihadapi. proses evolusi. keterampilan. dan identitas. pengembangan dan pemantapan gagasan menjadi suatu gambaran pravisual untuk diwujudkan menjadi ujud yang konkrit. Berbicara mengenai sifat bawah sadar berarti memasuki wilayah proses kreatif yang menurut Susanto (2003: 8) yaitu wilayah proses perubahan. suatu sikap. Mengembangkan Kreativitas Kreativitas adalah suatu kondisi.c. Unsur-unsur 21 . Padahal sesuatu yang intuitif itu bersifat bawah sadar. sekaligus merupakan proses aktualisasi diri atau kapabilitas yang dihadirkan dalam karya seni. Kreativitas bukan hanya muncul dari suatu hasil pemikiran dan dorongan perasaan. (3) Execution in a medium.

karena tidak terdapat kembarannya. Hal ini sangat berguna dalam pembentukan pribadi anak. sikap yang untuk tidak selalu puas dengan apa yang sudah ada dan sudah didapat. daya pikir. memperkaya. media bereksplorasi. karena belum pernah ada sebelumnya. memperinci) suatu gagasan. asli (original). Hal ini didukung oleh Munandar (1999: 50) yang mengatakan bahwa kreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran. karena dengan membuat karya seni rupa membentuk anak untuk berani mengambil resiko. karena dihasilkan oleh diri sendiri pelaku seni. dan ber-kebaruan (novelty). 2. keluwesan (fleksibilitas) dan orisinalitas dalam berpikir. imajinasi serta keinginan anak tanpa memperhatikan apakah ungkapan yang tervisualisasi dalam karya tersebut dapat dimengerti oleh orang lain atau tidak. media untuk berkomunikasi. sikap untuk selalu mencari sesuatu yang orang lain belum mengetahuinya. Manfaat Pendidikan Seni Rupa Kegiatan seni mempunyai manfaat langsung maupun tidak langsung yang dapat dirasakan oleh peserta didik. karena melalui kegiatan seni rupa anak dapat mengungkapkan apa yang ada dalam dirinya yang berkaitan dengan emosi. Sebagai media ekspresi. media pengembangan bakat seni yang dimilikinya. Manfaat langsung yang dapat dirasakan adalah sebagai media untuk berekspresi. Dengan demikian melalui seni rupa kreativitas anak dapat berkembang. 22 .tersebut saling berpadu dan saling mempengaruhi dan saling bergantung untuk menjalankan tahapan-tahapan dalam membentuk karya seni. serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan. Tampilan karya yang kreatif selalu tampil tunggal (unicness).

melalui eksplorasi dengan bahan-bahan yang ada untuk membuat karya seni rupa. Bakat adalah kondisi atau rangkaian karakteristik yang 23 . kegiatan seni rupa menawarkan beragam potensi.Dalam hal ini anak merasakan adanya kepuasan karena ada kebebasan dalam mengungkap apa yang ada dalam dirinya melalui pembuatan karya seninya. isi pesan. maka anak akan positif tindakannya sesuai dengan perkembangan usianya. melakukan tindakan sesuai dengan kebutuhan dan dapat menilai kesesuaian tindakannya dengan norma yang berlaku di masyarakat serta dapat memprediksi akibat yang diambil dari tindakan tersebut. Sebagai media komunikasi. Kematangan emosi anak menurut Wedwick (2006) adalah kemampuan untuk mengekspresikan perasaannya. Dengan demikian seni rupa dapat dikatakan sebagai media komunikasi karena pengirim pesan dapat mengungkap isi pesan ke dalam simbol bermakna yang dapat diterima oleh orang lain sebagai penerima pesan. Pesan yang disampaikan dalam seni rupa adalah gagasan yang berupa simbol yang dituangkan dalam karya seni rupa. Sebagai media bereksplorasi. Dengan demikian apabila kematangan emosi anak terlatih. Anak memiliki kebebasan dalam bereksperimen. Sebagai media pengembangan bakat. dalam aktivitas komunikasi terdapat unsur: pengirim pesan. dan penerima pesan. dan mampu bertingkah laku dengan penuh tanggung jawab serta mampu mempertanggungjawabkan tingkah lakunya dalam berkomunikasi. kegiatan seni rupa memerlukan alat-alat atau bahan yang secara langsung maupun tidak langsung mengembangkan kemampuan bernalar bagi anak.

dipandang sebagai gejala kemampuan individu untuk memperoleh pengetahuan. Dimensi psikomotorik mencakup koordinasi dan fleksibilitas gerakan. Adapun dimensi bakat meliputi persepsi. Karena keunikannya ini dalam pendidikannya memerlukan pendekatan-pendekatan agar tujuan pendidikan seni rupa itu sendiri dapat tercapai. Pendekatan Berbasis Anak Pendekatan Berbasis Anak berpijak pada filosofi bahwa dalam mendidik anak melalui seni. psikomotorik dan intelektual. maka bakat tersebut tidak akan berkembang bahkan menjadi bakat terpendam dan tidak dapat diwujudkan. Pada waktu memberikan kesempatan berekspresi harus bertitik tolak dari anak. kreatif. pendengaran. yaitu: a. 3. Pendekatan dalam Proses Pendidikan dan Pembelajaran Seni Rupa Pada hakekatnya pendidikan seni rupa bersifat unik. Ada tiga pendekatan dalam pendidikan seni rupa yang populer saat ini. pendidik haruslah menjadikan anak sebagai pusat. yaitu kegiatan yang bersifat ekspresif. kegiatan seni rupa melalui latihan-latihan membuat karya seni rupa memupuk bakat anak. dan kinestesi. 1952: 12). Herbert Read 24 . Hal ini dapat dilihat pada dimensi bakat yang terkait dalam pembuatan karya seni rupa yaitu. Dengan demikian. yaitu penglihatan. persepsi terkait dengan kepekaan dari masingmasing pancaindera yang berhubungan dengan perhatian. Sedangkan dimensi intelektual meliputi ingatan dan berpikir. dari pada seseorang yang mempunyai bakat kreatif namun tidak dipupuk. Dengan demikian bakat anak yang terpupuk sejak awal akan lebih baik perkembangannya. dan estetik. keterampilan atau serangkaian respon melalui latihan-latihan (Bennet.

1990: 195). Ia merupakan orang yang pertama kali mengakui secara terbuka nilai intrinsik karya seni rupa anak. dan pendampingan. sesuatu yang tumbuh secara alamiah pada diri anak dalam mengkomunikasikan dirinya (Read. karya seni rupa anak adalah karya seni yang hanya mampu dihasilkan oleh anak (Efland. Pada pendekatan berbasis anak ini tugas pendidik adalah memberikan pengalaman kepada anak yang dapat merangsang munculnya ekspresi pribadi anak. Hal ini dimaksudkan untuk menyiapkan pengalaman belajar yang dapat merangsang ekspresi pribadi anak.dalam Education through Art yang menyatakan bahwa naluri berolah seni rupa anak adalah suatu yang universal. Dengan demikian cara pembelajarannyapun pendidik memberikan kemudahan pada anak dalam melaksanakan kegiatan belajar yang diinginkannya. Peranan pendidik sebagai fasilitator. yaitu dengan pemberian motivasi. Dengan demikian anak diberi kebebasan dalam kegiatan penciptaan karya sehingga anak dapat mengaktualisasikan dirinya dengan bebas tanpa pengaruh orang dewasa dalam proses pembuatan karyanya. 1970: 10). karena ekspresi diri anak sesungguhnyalah tidak bisa diajarkan oleh pendidik. 25 . dengan peragaan. memberikan kemudahan kepada anak dalam mempelajari atau melakukan apa yang menjadi keinginan anak agar anak berkembang secara alamiah melalui pengalaman seni. Tokoh yang dikenal dalam pendekatan ekspresi bebas ini adalah Frank Cizek dari Austria. Garha (1980: 60) mengatakan bahwa pendekatan ini sebagai ekspresi bebas yang memberikan keleluasaaan kepada anak-anak untuk dapat menyalurkan ungkapan perasaan tanpa dibatasi oleh aturan atau norma cipta konvensional dalam membuat gambar.

Dalam hal ini pendidik memenuhi apa 26 .Pendekatan ekspresi bebas ini kemudian didukung dan disebarluaskan oleh dua tokoh pendidik seni yaitu Viktor Lowenfeld dari Amerika Serikat dan Herbert Read dari Inggris. Hal ini memperjelas bahwa pengaruh lingkungan menyebabkan adanya berbagai corak berdasarkan perkembangan dan temperamen jiwa anak. 2001: 13). Selanjutnya Lowenfeld mengatakan bahwa “…mental growth depends upon a rich and varied relationship between a child and his environment. ekspresi dalam proses pembuatan karya seni rupa yang dilaksanakan secara alamiah berdampak positif bagi perkembangan intelektual. pendidik berperan sebagai pendamping dan memotivasi anak untuk menggali inspirasi anak. 1982: 6-7). emosional. baik merupakan perasaan sedih atau gembira. Dengan demikian pendidikan seni rupa merupakan tempat pemberian pengalaman yang menarik yang menyadarkan anak akan lingkungannya. Dalam hal ini dihubungkan antara kegiatan seni rupa dengan kesehatan mental karena kegiatan seni rupa merupakan media untuk menyalurkan perasaan. such a relationship is a basic ingredient of a creative art experience” (Lowenfeld. Dalam merancang pembelajaran pendekatan ekspresi bebas secara murni. kreativitas dan perkembangan sosial anak. Read (1970: 30) memberi penegasan bahwa dalam ekspresi bebas. pelaksanaan kegiatan pembelajarannya menggunakan model emerging curriculum yakni kegiatan pembelajaran yang tidak dirancang sebelumnya tetapi berkembang sesuai keinginan anak (Salam. Penekanan Read adalah bahwa ekspresi diri anak tidak dapat diajarkan dan peranan pendidik adalah sebagai fasilitator. Menurut Viktor Lowenfeld.

Ada tumbuh-tumbuhan. yang merangsang untuk mengekspresikan nya lewat karya yang dibuatnya. misal: detail dari bentuk daun. Untuk mengatasi hal tersebut di atas. dan sebagainya. Caranya adalah sebagai berikut: pelaksanaan pembelajaran seperti pada umunya pendidik melaksanakan pembelajaran sesuai dengan jadwal dan waktu yang ditetapkan. orang berlalu lalang. gambar-gambar. Pendidik kemudian memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk mengarahkan perhatian anak pada hal-hal yang dilihatnya tetapi diabaikan anak. Lebih tepat bila dilaksanakan pada lembaga pendidikan yang bersifat non formal seperti sanggar. Untuk membangkitkan dan memotivasi ekspresi anak.yang menjadi kemauan anak dan pendidik memfasilitasinya. (2) adanya kontak langsung anak dengan keadaan sekelilingnya. slide. Sesungguhnyalah pendekatan ekspresi bebas secara murni ini sangat sulit dilaksanakan pada sekolah formal karena terikat adanya jadwal. film. tulang-tulang daun akan membentuk keartistikan tersendiri. bentuk bunga semakin ke ujung daun bunga semakin kecil permukaannya. waktu yang ditentukan sehingga menjadi terbatas pelaksanaannya. dan sebagainya. kemudian ada dialog dengan pendidik. Didukung oleh media yang dipersiapkan pendidik bisa berupa photo. dan 27 . Dari cerita dan dialog dengan anak akan timbul tema-tema cerita yang menyentuh kehidupan anak. kursus-kurus. penerapan pendekatan ekspresi bebas di sekolah maka dikembangkan pendekatan ekspresi bebas yang bersifat “terarah”. kendaraan. Anak diberi kesempatan memperhatikan keadaan sekitar kelas atau sekolah. dan sebagainya. pendidik pada awal pembelajaran memberikan motivasi dengan berbagai cara antara lain: (1) memberi kesempatan pada anak untuk bercerita tentang hal-hal yang menarik yang dialaminya.

Setelah pemberian motivasi. namun jangan sampai terjebak apa yang didemonstrasikan menjadi hal yang harus ditiru oleh anak. Pendekatan berbasis disiplin ini berdasar pada teori pedagogi tentang pelaksanaan proses belajar mengajar yang dicetuskan pada tahun 1980 di Amerika .sebagainya. Dalam hal ini pendidik berperan sebagai pendamping untuk memberikan bantuan pada anak. builts on the premise that art can be 28 . Dengan demikian hasil penilaian tidak ada istilah salah atau benar karena ekspresi anak bersifat unik dan alamiah. Pendekatan Berbasis Disiplin Pendekatan berbasis disiplin berpijak pada filosofi bahwa dalam mendidik anak melalui seni. Dengan demikian pendekatan dari berbagai aspek dipadukan dengan proses pengalaman belajar yang terkoordinasi secara menyeluruh menjadi sangat diperlukan. Penilaian yang diberikan pendidik bersifat apresiatif yaitu bersifat menerima dan menghargai apa yang diungkapkan atau diciptakan oleh anak dengan menunjukkan kemungkinan peningkatan kualitas dari karya yang diciptakannya tersebut (Salam. b. Teori ini disebut sebagai Discipline-Based Art Education (DBAE). 2001: 14). (3) pendidik mendemonstrasikan proses penciptaan karya pada anak. pendidik meminta anak untuk mengekspresikan dirinya secara bebas dalam pembuatan karya seni rupa. pendidik menjadikan disiplin ilmu seni sebagai hal yang harus dikuasai oleh anak. Menurut Brent Wilson “DBAE. Karena setiap subjek seni didekati dengan suatu premis bahwa setiap subjek seni memiliki kekhasan yang berbeda dengan subjek seni yang lain sehingga diperlukan suatu pendekatan sebagai suatu “discipline” ilmu yang mandiri.

critical. appreciating. Pendidikan Seni Berbasis Disiplin.taught most effectively by integrating content from four basic disciplines-art making. atau DBAE (Disciplin Based Art Education). sejarah seni (art history). and understanding. Dengan demikian pelaksanaan pendidikan seni rupa sesuai yang tersirat dalam DBAE pelaksanaannya tidak memilah keempatnya tetapi berusaha untuk mengintegrasikannya. Hal ini diperkuat dengan gagasan Eisner (1997:16) bahwa. dan estetika. Aesthetic education therefore represented a balance among producing. sebagaimana tentang dunia visual di sekeliling mereka. memahami dan mengapresiasi seni. art history. and cultural and/or historical realms as necessary for leading the child to aesthetic experiences. Tersurat pula dalam sebuah monograf dari The Getty Center for Education in the Arts. art criticism. 2000: 19). sejarah seni. Eisner (1997: 20) membahas komponen estetika sebagai “berguna bagi anak-anak untuk menjadi reflektif tentang basis penilaian mereka berkaitan dengan kualitas karya seni. kritik seni (art criticism) dan estetika/filsafat seni (aesthetics) dalam suatu pengalaman belajar yang menyeluruh.” Karena itu. para peserta didik harus berusaha melakukan dialog berkelanjutan tentang hakikat dan makna seni dalam kehidupan mereka. kritik seni. Hal ini menyiratkan bahwa seni dapat diajarkan secara efektif bila mengintegrasikan makna empat dasar disiplin tersebut. mengarahkan untuk mencipta. Identified the productive. Dialog ini paling baik diungkapkan dalam bidang filosofis estetika. 29 . yaitu: penciptaan seni (artistic creation). produksi seni. and aesthetics (the philosophy of art)-into a holistic learning experience” (Wailling.

30 . Pendekatan seni rupa berbasis multikutural merupakan salah satu bagian dari pendidikan multikultural yang bertujuan mengenalkan keragaman budaya melalui kegiatan penikmatan. penciptaan dan pembahasan keindahan rupa (visual). karena memiliki isi pengetahuan (body of knowledge).Pada hakekatnya seni adalah sebagai kegiatan artistik. (3) a set of characteristic procedures and ways of working that facilitate exploration and inquiry. Dipandangnya seni rupa sebagai disipiln ilmu merupakan asumsi pokok yang mendasari pendekatan pendidikan seni rupa berbasis disiplin. suku. c. Pada saat ini. Pengenalan keragaman budaya tersebut dengan cara membuka diri terhadap berbagai budaya lain yang lahir atas dasar ras. pendekatan Berbasis Konteks yang menonjol adalah pendidikan seni multikultural. namun demikian seni rupa sebagai disiplin ilmu dalam pelaksanaannya tidak hanya memberikan kesempatan pada anak untuk mengekspresikan emosinya saja tetapi kegiatan mempelajari ilmu seni juga harus dilakukan. adanya metode kerja yang memfasilitasi kegiatan eksplorasi dan penelitian. adanya komunitas pakar yang mempelajari ilmu tersebut. Dengan demikian seni rupa dapat dikatakan sebagai sebuah disiplin ilmu. karena sudah memenuhi tiga ciri disiplin ilmu yang dikemukakan oleh Dobbs (1992: 9) sebagai berikut: (1) a recognized body of knowledge or content. kelas sosial. konteks sosial masyarakat harus menjadi perhatian yang utama. Pendekatan Berbasis Konteks Pendekatan berbasis konteks berpijak pada filosofis bahwa dalam mendidik anak melalui seni. agama. (2) a community of scholars who study the discipline.

Pendidikan berbasis multikultural dikelompokkan menjadi tiga. atau pendekatan. agama. Anak menjadi luas wawasannya dan memahami karya seni rupa orang lain dan pencipta karya yang mungkin sangat berbeda karya tersebut dengan keyakinan dan tradisi yang ada pada anak lebih tepat diterapkan pada kelas yang tidak multikultur. dan sebagainya) lain agar memiliki sikap apresiatif terhadap kelompok yang menjadi fokus pembicaraan. Dengan cakupan yang luas itulah pendekatan ini menggunakan berbagai bentuk teori dan praktek yang sesuai dengan konteks sosial dan budayanya. pendidikan seni rupa multikultural pada dasarnya merupakan sebuah filosofi. dan lain-lain. etnis. Dengan demikian tidak identik dengan satu model program pembelajaran tertentu. Sebagai konsep dasar. dimana beragam program pembelajaran dikembangkan. Dengan demikian menjadi fokus utama yang merupakan wacana pendidkan seni rupa multikultural adalah persoalan pluralisme sosial dan keragaman budaya. dan keterampilan seni yang difokuskan pada pengenalan seni kelompok (ras. Materi pembelajarannya meliputi pengetahuan sikap. Hal yang terpenting dalam hal ini adalah bahwa semangat untuk mempromosikan keragaman budaya dilakukan melalui kegiatan seni rupa. Metode pembelajarannya bersifat pengenalan berbagai bentuk seni 31 . keragaman budaya/etnis dan kontekstualisme. yaitu: 1) Model Pengenalan Model ini bertujuan memperkenalkan anak akan budaya lain.jenis kelamin. sehingga cakupan menjadi luas. gagasan besar. Merupakan ciri yang mendasar model kurikulum pendekatan multikultural yang harus dipertimbangkan yaitu adanya pluralisme sosial.

dari kelompok lain melalui ceramah. Apabila diterapkan dalam pembelajaran yang bersifat teoritis yaitu estetika. dan kriteria keindahannya masing-masing. pendidik. Model pengamalan ini lebih tepat diterapkan pada kelas yang bersifat multi kultur. Kemudian diwujudkan secara visual dengan media yang sesuai dengan kemauan peserta didik. karyawan menciptakan suasana yang kondusif merefleksi adanya keragaman budaya yang ada. dan lain-lain mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar. Penerapan pembelajaran model pengamalan ini dalam praktek penciptaan karya seni rupa salah satu cara adalah dengan menggali tema dari peserta didik yang bervariasi sesuai dengan latar belakang peserta didik. Evaluasi yang dilakukan adalah untuk mengetahui sejauh mana anak dapat mengapresiasi budaya/seni kelompok lain yang ditunjukkan pada kemampuan untuk hidup bersama secara harmonis. maka perlu dukungan dari berbagai pihak antara lain: kebijakan sekolah (aturan. ras. makna. sejarah seni rupa. diskusi dan praktek pembuatan karya. peragaan. Pelaksananan model pengamalan ini agar berhasil dengan baik. Evaluasi yang dilaksanakan dalam konteks untuk mengetahui sejauh mana anak dapat memahami dan mengapresiasi budaya/seni kelompok lain. 2) Model Pengamalan Tujuan model pengamalan adalah membangun kesadaran untuk hidup bersama dan tidak melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan konflik. golongan tertentu. kurikulum) tidak mencerminkan adanya diskriminasi. Dengan demikian kegiatan pembelajarannya anak yang terdiri dari berbagai suku. agama. 32 . Dalam hal ini tidak ada standar baku yang dapat diberlakukan untuk semua. apresiasi (kritik seni rupa) juga harus mengingat pada keragaman prinsip.

politik. suku. maka pendidik sudah selayaknya mengadakan perombakan dalam kurikulum dan pembelajarannya. Pendukung kelompok model perombakan mengatakan bahwa budaya bukanlah suatu yang harus diterima dan tanpa perubahan. kelas sosial. dan kesukuan. kondisi sosial yang ada di masyarakat. agama. Langkah pertama pendidik 33 . Selanjutnya terdapat lima langkah dalam mengembangkan kurikulum pendidikan seni rupa berbasis multikultural. oleh karena itu perlu ada peninjauan. jender. Mereka mencari pendekatan yang lebih demokratik yang memberikan peluang bagi kelompok yang terpinggirkan untuk menyuarakan dirinnya dalam proses pendidikan seni rupa. dalam Salam (2001: 29) menyatakan bahwa yang menjadi pendukung pendidikan seni rupa multikultural model perombakan ini menegaskan bahwa dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. jenis kelamin. agama. dan menumbuhkan kepekaan semua pihak pada asumsi yang dianggap benar yang ada pada ideologi yang dominan. Wasson dkk. usia. mereka memusatkan perhatian pada faktor-faktor yang dinamik dan kompleks yang mempengaruhi interaksi manusia yakni kemampuan fisik dan mental.3) Model Perombakan Berdasarkan perlakuan yang tidak kondusif karena adanya ketidak adilan atas dasar ras. Menurut Salam (2001: 27) pendukung pendidikan seni rupa multikultural model perombakan ini tampaknya tergolong sebagai pengembang kurikulum yang dikelompokkan sebagai kaum rekonstruksionis sosial yang memandang pendidik sebagai politikus yang harus memilih dua pilihan: sebagai kelompok konservatif yang akan melayani sang penguasa atau sebagai kelompok perombak yang mencoba untuk mencari alternatif-alternatif.

Langkah ketiga. Langkah kedua. menanang nilai yang dianut peserta didik. pendidik dan peserta didik berkolaborasi mengadakan penyelidikan masalah-masalah yang ada kaitannya dengan bahan kurikulum yang dipilih. Pendidikan Seni Rupa di Sekolah Dasar di Indonesia a. dan lain-lain. Lima langkah yang dikemukakan oleh Wasson tersebut di atas merupakan salah satu cara penyusunan kurikulum pendidikan berbasis multikultural. Tinjauan Historis Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan dinamika masyarakat yang senantiasa berkembang. suku. mengklarifikasi. Pestalozzi (1746-1827) 34 .menganalisis dan memperbaiki sikap negatif yang mungkin mereka miliki terhadap pluralisme social dan keragaman suku. Tindakan yang ditempuh dengan mengidentifikasi masalah sosial yang berkaitan dengan agama. Kemudian mengumpulkan data. Merupakan langkah terakhir yaitu langkah kelima pendidik melaksanakan program evaluasi baik formatif maupun sumatif. Dimulai dengan kegiatan yang hanya mencakup menggambar di sekolah umum. tingkat kehidupan munusia. maka pendidikan seni rupapun mengalami perkembangan terutama di Sekolah Dasar. pendidik dan peserta didik melakukan analisis situasi supaya akrab dengan masyarakat. Ketiga pendekatan pendidikan seni rupa yang telah diuraikan di atas merupakan tiga pendekatan utama yang mempengaruhi pemikiran dan praktek pendidikan seni rupa dewasa ini. membuat keputusan reflektif kemudian mengambil langkah nyata sesuai keputusan. 4. jenis kelamin. Langkah keempat. pendidik dan peserta didik memilih bahan kurikulum relevan dan menarik.

Riset pertama yang membahas seni anak tepatnya dilaksanakan pada musim dingin pada tahun 1882 oleh Corrado Ricci seorang penyair Italia yang hasilnya merupakan dukungan studi tentang ekspresi seni sebagai suatu alat untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam pada pengalaman total anak-anak. sebagai hasil dari studi lahirlah pandangan baru tentang dunia anak yang amat besar pengaruhnya terhadap pendidikan seni rupa. Menurut pandangannya. Pada tahun-tahun tersebut. 35 . Dengan demikian fungsi pelajaran menggambar adalah untuk mempersiapkan tenaga kerja pangsa pasar tertentu yang membutuhkan kemampuan seseorang menggambar bangun dan pengamatan yang tajam. Kemudian era studi anak pada akhir abad ini merupakan sebuah gerakan yang meluas dan berpusat pada pola-pola prilaku anak pada setiap perkembangannya.merupakan pakar yang berhasil memasukkan pelajaran menggambar di sekolah umum tersebut. Perkembangan selanjutnya pada akhir abad ke 19. lahir teori-teori yang berpusat pada pola-pola perilaku anak pada setiap tahap perkembangannya. Hal ini diperkuat pernyataan Uhlin (1975:18) yang menyatakan bahwa International congresses were formed in those years to pool data and structure theories which would communicate just what it as that the child was resolving at a particular chronological age. menggambar adalah sarana untuk mengembangkan pengamatan. Sebuah gagasan tentang tahap-tahap pertumbuhan dalam perkembangan artistik anak muncul dalam studi ini. dan berfungsi untuk melatih penguasaaan ketrampilan.

salah satu hasilnya adalah ditemukannya pola perkembangan menggambar anak berdasarkan usia anak Sejalan dengan penemuan adanya pola kemampuan menggambar anak. dan kerajinan. Selanjutnya studi awal tentang anak dilakukan para ahli.Pandangan baru ini melihat anak sebagai pribadi yang unik yang berbeda dengan orang dewasa. bebas dari pengaruh orang dewasa. adalah orang pertama yang memberikan pengakuan adanya nilai yang terkandung pada karya seni rupa anak. disain. maka muncullah pandangan baru tentang pembelajaran seni rupa anak yang berfokus pada perkembangan alamiah anak dan pengalaman belajar anak. menurut Read hanya orang dewasalah yang memilki kematangan perasaan dan intelektual yang dipandang layak untuk menghasilkan karya seni (Read. didirikan sekolah khusus untuk anak-anak pribumi dengan tujuan menyiapkan tenaga siap pakai untuk dipekerjakan sebagai tenaga administrasi pada masa pemerintahan kolonial. Frank Cizek. Pada masa sebelumnya. Di Indonesia pada masa pemerintahan Belanda. 36 . Mulailah adanya pengakuan karya seni rupa anak sebagai karya seni rupa yang sesungguhnya. Memasuki abad ke 20 perkembangan seni rupa memasuki babak baru. 1970: 1). Ia menegaskan bahwa seni rupa anak hanya mampu dihasilkan oleh anak dan anak menggambar harus diberi kesempatan untuk tumbuh bagaikan bunga yang berkembang dengan sendirinya secara alami. seorang pendidik dan perupa dari Wina. dengan terbitnya banyak jurnal pendidikan seni rupa sebagai hasil penelitian. Pendidikan seni rupa yang sebelumnya hanya terbatas pada kegiatan menggambar menjadi lebih luas mencakup pembelajaran apresiasi seni rupa.

dan sadar budaya adalah dasar dari metode pendidikan seni rupa yang diterapkan di Taman Peserta didik (Holt. dan kerajinan tangan adalah mata pelajaran yang 37 . Hal ini mencerminkan sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia cenderung tidak menggambarkan keadaan atau suasana Indonesia. keaslian. tetapi menanamkan tradisi Barat sebagai suatu kemajuan.M Soewadi Soerjaningrat atau dikenal dengan Ki Hajar Dewantoro mendirikan sekolah swasta untuk kepentingan anak-anak pribumi dan menurut pandangannya pendidikan seni rupa merupakan alat untuk menanamkan kepribadian Indonesia. Buku-buku pelajaran yang dipakai adalah buku-buku yang merupakan gambar-gambar pemandangan di Belanda dengan kincir angin. 1967: 195). menghargai budaya dan tradisinya sendiri. waktu itu bentuk pelajarannya adalah pelajaran menggambar dengan orientasi pemberian keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja secara mandiri pada pemerintah kolonial. mencetak. Pada prinsipnya Mohammad Syafei menentang pendidikan pemerintah kolonial yang hanya mengutamakan pendidikan intelektual dan kurang memperhatikan pengembangan kepribadian anak. suasana peternakan dan bunga tulipnya. menghargai budaya dan tradisi bangsa sendiri. Namun yang terjadi selanjutnya timbul ketidakpuasan dari kaum pribumi terpelajar yang menginginkan perlunya anak-anak Indonesia mengenal. Pelajaran menggambar. di Sumatra Barat tepatnya di Kayutanam berdiri pula Indonesische-Nederlandsche School (INS) oleh Mohammad Syafei. Bersamaan dengan didirikannya Taman Peserta didik. Kemudian oleh R. Ekspresi diri. Akibat yang diinginkan anakanak Indonesia tidak dapat mengenal.Demikian juga pada pelajaran seni rupa.

pelaksanaan pendidikan seni rupa tidak mengalami perubahan yang berarti. anak-anak diajarkan keterampilan agar memiliki kemampuan membuat barang yang bersifat fungsional. dan teknologi. Pendidik sebagai fasilitator memberikan kemudahan-kemudahan pada anak. yang kesemuanya bertujuan melatih pengamatan anak. Pada mata pelajaran menggambar meliputi menggambar alam benda. perspektif. hanya objek gambar bukan lagi pemandangan di Belanda tetapi pemandangan alam Indonesia. Baru pada tahun 1964 istilah “menggambar” diganti dengan “seni rupa”. seni teater. seni musik. 38 . Perkembangan selanjutnya pendidikan menggambar yang menekankan pada teknik menggambar tidak digunakan sejalan dengan diterapkannya pendidikan seni rupa pada kurikulum sekolah (kurikulum tahun 1975) dan kurikulum sesudahnya dan pada kurikulum yang berlaku sekarang ini (KTSP). Pada menggambar ekspresi. ilustrasi. Pendidikan seni rupa tidak dikenal sebagai istilah yang mandiri di Sekolah Dasar. seni tari. dan menggambar ekspresi.dianggap penting. kerajinan. dan dijual untuk menambah beaya kegiatan sekolah. Lingkup materi pembelajarannya meliputi seni rupa. Dalam rumusan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) merupakan bagian dari kelompok mata pelajaran Estetika dan nama mata pelajarannya adalah Seni Budaya dan Keterampilan. Pembelajaran masih mengembangkan kemampuan anak melalui latihan koordinasi mata dan tangan. Pada kelas-kelas untuk akhir. Pada masa awal kemerdekaan. anak-anak diberi kebebasan untuk menyatakan ide dan perasaannya.

Dalam hal ini banyak yang dapat dipelajari. Pada art production adalah suatu disiplin dalam hal penciptaan seni rupa. sejalan dengan implementasi kurikulum tahun 1975. sedangkan art criticism adalah disiplin yang memfokuskan perhatian pada persepsi dan deskripsi untuk menjawab pertanyaan tentang apa yang diamati pada suatu karya seni rupa. merupakan proses kreatif melalui pengolahan bermacam-macam materi untuk menciptakan efek visual yang diinginkan. yang merupakan babakan baru dalam sejarah pendidikan seni rupa di Indonesia. Keempat bidang tersebut tidak harus diajarkan secara terpisah tetapi diajarkan secara terpadu. 1992: 9).b. penikmatan. dialami. Keempat bidang tersebut dijabarkan dalam mata ajaran dan tercermin dalam kurikulum meliputi. Babakan baru tersebut menyangkut 2 hal pokok yakni: (1) penerapan “ pendekatan disiplin (DBAE)” dalam hal isi pembelajaran seni rupa. art production. art history. 1) Penerapan pendekatan disiplin Seperti telah dikemukakan dimuka bahwa pendekatan disiplin mempunyai ciri adanya program pembelajaran yang sistematik dan berkelanjutan dalam empat bidang yaitu: bidang penciptaan. Pendekatan Pendidikan Seni Rupa yang dianut di Indonesia Diterapkannya pendidikan sistem di sekolah. dieksplorasi oleh anak. pemahaman. art criticism. dan penilaian merupakan gambaran untuk memperoleh kualitas karya seni rupa yang diamati. untuk menjelaskan makna dari apa yang diamati adalah melalui kegiatan analisis dan penafsiran. dan penilaian. Art history adalah disiplin 39 . dan (2) penerapan “pendekatan sistem” dalam rancangan kegiatan pembelajaran seni rupa. and aesthetics (Dobbs.

kegiatan pembelajaran terdiri atas berbagai komponen yang satu sama lain terikat dalam satu sistem dengan tujuan sebagai komponen utama yang memberi arah pada komponen lainnya. dan estetika. mencetak. Demikian pula dengan KTSP yang berlaku saat ini mengacu pada Standar Isi yang kandungannya mencerminkan kekomprehensifan isi sebagaimana yang diamanatkan oleh pendekatan disiplin. Kegiatan pembelajaran yang 40 . pandangan ini diakomodasi yang ditandai dengan meluasnya cakupan mata pelajaran seni rupa. termasuk kegiatan penilaian hasil belajar. dsb. Menurut pendekatan sistem.yang memfokuskan perhatian pada peran seni rupa dan seniman dalam konteks social. pengalaman keindahan dan sumbangannya terhadap kehidupan dan kebudayaan manusia. kritik seni rupa. Tujuan inilah yang menjadi acuan seluruh kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru. Dengan demikian pendekatan disiplin memandang kegiatan pembelajaran di sekolah seyogyanya tidak hanya menyangkut kegiatan berkarya seni rupa seperti melukis. mematung. Kurikulum selanjutnyapun yang muncul melanjutkan apa yang dimulai pada kurikulum tahun 1975 .. Dalam kurikulum tahun 1975. Aesthetics adalah disiplin yang memfokuskan pada diskusi hakekat dan makna seni rupa. Pendekatan sistem dalam terminologi Kurikulum 1975 dikenal sebagai PPSI. tetapi juga mencakup sejarah senirupa. Pendekatan sistem menuntut kegiatan pembelajaran yang berorientasi pada tujuan yang telah dirumuskan terlebih dahulu. 2) Penerapan pendekatan sistem Dalam kurikulum 1975 dituntut diterapkannya pendekatan sistem dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. politik dan budaya.

dan keterampilan seni rupa. Evaluasinya dilihat dalam konteks sejauhmana anak memperoleh pengetahuan. agar anak memiliki pengetahuan. Tujuan pembelajaran menekankan kemampuan yang harus dikuasai oleh peserta didik yaitu: pengetahuan. sangat mempertimbangkan aspek psikologis anak sejalan dengan tumbuhnya kesadaran akan pentingnya menjadikan anak sebagai pusat perhatian guru dalam kegiatan pembelajaran. Dalam hal ini pendekatan sistem merupakan kerangka acuan yang rasional dalam memadu komponen-komponen pembelajaran yang saling berkaitan.beroreintasi pada tujuan ini berlanjut pada kurikulum yang diperkenalkan kemudian. komponen pelaksanaan pembelajaran. 41 . kritik seni. sejarah seni. dan ketrampilan bidang seni rupa meliputi: produksi/karya seni. Penerapan pendekatan disiplin dalam pendidikan seni rupa di sekolah di Indonesia. tujuan pembelajaran identik dengan kompetensi tertentu yang diharapkan untuk dicapai oleh anak dalam kegiatan pembelajaran. peragaan. dan estetika. sikap. komponen evaluasi saling berkaitan. ketrampilan bidang seni rupa. sikap. Peranan pendidik dalam pendekatan ini dituntut dapat memberikan kemudahan bagi anak untuk mendapatkan pengetahuan. dan praktek membuat karya seni rupa. diskusi. sikap. Sesuai tujuan pendekatan berbasis disiplin. sikap dan keterampilan seni rupa seperti yang dirumuskan pada tujuan pembelajaran. Misal komponen tujuan pembelajaran. Sedangkan metode pembelajarannya yang memungkinkan anak memiliki pengetahuan. dan keterampilan seni adalah ceramah. sikap. Dalam konteks KTSP.

Pada rentang usia tersebut anak mengalami fase tertentu. yaitu masa usia sekolah dasar sering disebut juga sebagai masa intelektual atau masa keserasian bersekolah. suku. Hal ini diharapkan akan berdampak pada tumbuhnya rasa penghargaan terhadap keragaman karya-budaya yang dimulai dari lingkungannnya. dan golongan sosial ekonomi di lingkungan sekitarnya. ras. dimana anak mengalami masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju awal remaja. Karakteristik Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar Anak usia sekolah dasar pada umumnya ada pada usia 6 sampai dengan 12 tahun. Pemikiran anak dalam 42 . B. tetapi juga memberikan pembelajaran cara mempelajari bagaimana menikmati suatu karya seni rupa. Menurut Piaget (1950: 45-49) ”pada masa itu adalah anak mengalami yang disebut dengan tahap operasi konkret (concrete operations)” dicirikan dengan perkembangan sistem pemikiran yang didasarkan pada aturanaturan tertentu yang logis. bahkan mereka diberikan pula cara memahami konteks dari sebuah karya seni rupa dari berbagai masa.Dengan demikian pada hakekatnya pendekatan berbasis disiplin pada pendidikan seni rupa membawa anak tidak hanya diberi kesempatan untuk berekspresi seni rupa. budaya. Ditinjau dari sudut pandang psikologis masuk dalam kategori childhood. Anak sudah dapat berpikir lebih menyeluruh dengan melihat banyak unsur dalam waktu yang bersamaan. sesuai dengan yang ada dalam Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) Sekolah Dasar antara lain: Menghargai keberagaman agama.

(d) melanjutkan perkembangan pemerolehan bahasa. mengemukakan ciri-ciri anak pada anak pada usia 6 dan 7 tahun sebagai berikut: (a) anak beralih dari daya pikir anak yang bersifat imajinatif. ke cara berpikir tahap operasional konkret.banyak hal sudah lebih teratur dan terarah karena sudah dapat berpikir seriasi. (g) mulai berpikir abstrak. (f) belajar berangkat dari persepsi dan pengalaman langsung. bahwa anak mulai berpikir tentang perbedaan bahkan menentang dan bersikap hati-hati. Secara umum pada usia sekolah dasar ini. namun belajar lebih banyak terjadi berdasarkan pengalaman konkretnya. (h) lebih membutuhkan suatu pujian dan persetujuan dari orang dewasa. namun demikian perlu diketahui adanya perbedaan tingkat kecepatan kematangan anak sangat dipengaruhi oleh kehidupan lingkungan sosial budaya masyarakatnya. (j) belajar berpartisipasi dalam suatu kelompok sebagai anggota. hal ini juga didukung oleh Piaget yang mengemukakan. Berikut ini karakteristik anak usia sekolah dasar pada setiap tahapnya. (e) sudah mulai memisahkan antara fantasi dari realitas. yaitu tahap I pada usia 6-7 tahun. (k) mulai menumbuhkan rasa keadilan dan menginginkan perasaan yang bebas dari orang 43 . bahkan mengambil kesimpulan secara probabilitas. tahap ke II usia 8-9 tahun. dibagi menjadi tiga tahap. (b) anak mulai mempunyai pengalaman pada tahap kepandaian dan perasaan rendah diri. klasifikasi dengan lebih baik. dan tahap III pada usia 1012 tahun. (c) menerima konsep secara benar (baik) berdasarkan hadiah dan persetujuan. Menurut Brady (1991: 35-37) yang didukung beberapa ahli yang lain. (i) menunjukkan sensitivitas rasa dan sikap terhadap anak disekitarnya dan orang dewasa.

(h) mulai mencari 44 . (e) minat pada kelompok sudah lebih meningkat bahkan mencari kekariban dalam sebuah kelompok. (c) mulai menerima konsep yang benar berdasarkan aturan. dan (k) sudah mulai membentuk persahabatan yang khusus dengan temannya. (b) Erickson berpendapat bahwa anak mempunyai pengalaman pada tahap kepandaian dan perasaan rendah diri. (g) menghargai petualangan imaginatif. (c) dapat menerima masalah yang benar berdasarkan ke-fairan. (i) mempunyai ketertarikan pada hobi bahkan koleksi yang lebih bervariasi. (d) memiliki perhatian dan penghormatan dari kelompok kini lebih penting.dewasa. bahwa anak sudah dapat melihat hubungan yang lebih abstrak. (f) mulai mengembangkan konsep dan hubungan spasial. (h) mulai menunjukkan minat dan keterampilan yang berbeda dengan kelompoknya. (b) anak mulai berpengalaman pada tahap kepandaian dan perasaan rendah diri. (j) adanya peningkatan kemampuan mengutarakan sebuah ide ke dalam kata-kata. (d) sudah mempunyai ketertarikan yang kuat dalam sebuah aktivitas sosial. Selanjutnya dikemukakan lagi oleh Brady (1991: 35-7) bahwa anak usia 8 dan 9 tahun: (a) pemfungsian tahap berpikir operasional konkret menurut Piaget. (l) menunjukkan perilaku yang egosentris bahkan sering menuntut apa yang menjadi keinginannya. Perkembangan anak pada usia 10 sampai 12 tahun: (a) pemfungsian tahap operasional konkret menurut Piaget. (e) mulai melihat sesuatu dengan sudut pandang orang lain bahkan sifat egosentris sudah semakin berkurang. (f) mengadopsi orang lain menjadi model daripada orang tua. bahwa anak sudah mulai berpikir lebih fleksibel dan hati-hati. (g) mulai menunjukkan minat pada aktivitas yang khusus.

persetujuan dan ingin mengesankan. yang secara otomatis mempengaruhi perkembangan fungsi-fungsi organ tubuh. yaitu mereka memiliki banyak energi untuk memenuhi keinginan mereka terutama bermain yang mereka senangi. Pada usia awal sekolah dasar anak-anak yang normal berada dalam masa yang energetic. Berikut ini dibahas secara umum sisi perkembangan anak sekolah dasar secara singkat. (i) ingin menunjukkan kemampuan serta kemauan untuk melihat sudut pandang orang lain. 45 . Karena itu menurut Hurlock (1991: 150) melalui latihan yang berat anak dapat melepaskan tenaga yang tertahan dan membebaskan tubuh dari ketegangan. kreativitas. emosional. bertambahnya berat badan. a. (l) mempunyai citarasa keadilan bahkan kepedulian terhadap orang lain. Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yaitu peningkatan ukuran struktur yang mempengaruhi perkembangan intelektual dan mental anak. (k) menunjukkan adanya perbedaan di antara individu. dan sosial. dan (m) memahami dan menerima adanya aturan berdasarkan perbedaan jenis kelamin. sehingga hampir tidak pernah terlihat kesan lelah pada fisik mereka. Perkembangan fisik dan motorik Perkembangan fisik anak meliputi bertambah besar dan tingginya ukuran tubuh. (j) mencari nilai-nilai. Pertumbuhan dan perkembangan realitasnya tidak dapat dipisahkan. Anak dalam usia 6 sampai 12 tahun memiliki karya seni rupa yang bersifat khas sebagai cerminan dari tingkat kemampuan dan kesenangannya. Perkembangan anak meliputi perkembangan fisik intelektual.

c. Anak-anak sudah belajar mengembangkan konsep berpikir sederhana. Perkembangan emosional Emosionalitas seseorang mengalami perkembangan seiring bertambahnya usia. b. mengingat. dan pengalaman hidup. baik secara fisik maupun secara psikologis. menilai intensitas perasaan. Anak usia 7-11 tahun sudah lebih mampu berpikir. reversibility (bolak-balik). dimana anak-anak telah mampu menggunakan simbol-simbol untuk melakukan suatu operasi atau aktivitas mental. kompensasi. dan berkomunikasi. menunda pemuasan. kognisi. berlawanan dari aktivitas fisik yang selama ini diterapkan untuk memecahkan masalah atau untuk berpikir. klasifikasi. struktur (konsep atau pola pikir) dan fungsi (organisasi dan adaptasi). mengungkapkan peraaan. seringkali 46 . belajar. Perkembangan intelektual Perkembangan intelektual dikenal dengan perkembangan intelegensi. mengelola perasaan. pendidikan. konversi. dan lain-lain. karena proses kognitif mereka tidak terlalu egosentris lagi dan sudah lebih logis lagi. atau kecerdasan. Pada diri anak-anak ketika kontrol emosionalnya masih labil dalam intensitas emosi yang tinggi. dan keputusasaan. Keterampilan emosional meliputi aktivitas: mengidentifikasi dan memberi nama perasaan-perasaan. identitas. angka. seperti pemisahan. Piaget merinci intelegensi dalam komponen isi (apa yang dipikirkan). mengendalikan dorongan hati. mengurangi stress.kegelisahan. mengetahui perbedaan antara perasaan dan tindakan. kemudian mereka mengendurkan diri. Piaget menamakan usia ini sebagai periode operasional konkret.

1999: 9). senirupa. Perkembangan kreativitas Anak usia sekolah dasar dinamai dengan “usia kreatif” (Hurlock. tetapi lingkungan yang tidak mendukung dapat menghambat bahkan merusak potensi kreatif peserta didik tersebut. kritik. Perkembangan kreativitas peserta didik dapat diamati pada proses dan karya kreatif peserta didik. drama. kreativitas itu muncul melalui 47 . Di sekolah diselenggarakan bermain yang mendidik yang mencakup kegiatan olah raga. musik yang teratur dalam kurikulum. Sebagai contoh. 1991: 147) atau masa “keemasan berekspresi kreatif” (Herawati. dan cara pertumbuhannya yaitu: 1) Ada beberapa cara yang dilakukan anak-anak kecil untuk mengungkapkan pemikirannya yang beragam. d. atau cemoohan orang dewasa atau orang lain mereka akan mengarahkan tenaganya ke dalam kegiatan-kegiatan kreatif. Suatu rentang kehidupan dimana akan ditentukan apakah anak-anak menjadi konfomis atau mencipta karya yang baru dan orisinal. masa berimajinasi tinggi dan masa bermain. Untuk itu aktivitas bermain yang menantang dan latihanlatihan yang berat dinilai dapat menjadi alat katarsis emosinya. Menurut Abdussalam (2005: 50-51) ada beberapa pilar kreativitas dan faktor yang mempengaruhi munculnya kepribadian seorang anak. lingkungannya. Penelitian mengenai kreativitas menunjukkan bahwa bila anak-anak tidak dihalangi oleh rintangan-rintangan lingkungannya. kehidupan.mereka merasa tertekan secara emosional akibat perlakuan dan batasan-batasan dari lingkungan mereka. Perkembangan kreativitas peserta didik dapat distimulasi dengan banyak cara.

4) Permainan anak-anak merupakan pilar pemikiran kreatif yang paling penting. dan aktivitas yang berbeda-beda itu merupakan sesuatu yang penting dan pilar yang besar dalam membentuk kreativitas pada diri anak 3) Permulaan kreativitas itu ditandai dengan perolehan beberapa hal. berbohong. Imajinasi dituntun untuk berkembang melalui rangsang bentuk-bentuk dan struktur garis yang dikembangkan menjadi suatu bentuk yang dapat dikenali dan unik. bercanda. bernyanyi. Dalam kegiatan ini. dan gerakan. musik. pengembangan alternatif. baik yang berupa aktivitas melukis. dan membaca. menjelajahi tentang hal-hal yang unik dan belum pernah dibuat orang lain. penekanannya adalah pada rasa ingin tahu.beberapa perantara atau gambaran-gambaran akal. menemukan dan menghasikan sesuatu. bersukaria. Pada masa anak-anak ini. Menurut Torrance (1981) mengembangkan kreativitas melalui dua kegiatan yaitu kegiatan verbal dan figural. membentuk. beberapa aspek dari kreativitas dirangsang seperti kemampuan untuk 48 . Kegiatan verbal adalah pengembangan kreativitas dengan menyatakan ide melalui kata-kata. kita mendapati seorang anak itu dapat berbicara. 2) Menikmati pengalaman-pengalaman. serta kemampuan untuk menyelesaikan sebagian permasalahan atau perlawanan ditengah-tengah beraktivitas. mencontoh. bertanya. permainan. melukis. atau melalui aktivitas seni. Sedangkan kegiatan figural adalah pengembangan visual “ visual thinking” yaitu melalui bentuk dan garis. bermain. mewarnai. mengikuti. menirukan. dan produksi bentuk-bentuk yang baru. berkhayal.

misalnya berpikir tentang apa yang dapat digunakan terhadap sebuah kaleng susu selain untuk tempat susu. kegiatan ini bertujuan mengembangkan fantasi yang tinggi dengan memberikan suatu gambaran atau ilustrasi yang mustahil dapat terjadi. melengkapi dan memperjelas sesuatu. c. kegiatan ini bertujuan mengembangkan rasa keingintahuan tentang kemungkinan-kemungkinan serta kemampuan untuk memformulasikan hipotesa. Usulan Quesstion Activity. kemampua untuk mengkombinasikan. Usulan Uses Activity. misalnya kenapa Tuhan memilih buah apel untuk menggoda Siti Hawa. e. d. kegiatan yang dilakukan adalah apa yang bisa dibuat atau dikembangkan berdasarkan rangsangan visual dari mainan tersebut. pengembangan ide secara figural ada tiga macam yakni: 49 . Misalnya dalam melihat sebuah gambar. Ask and Guess Activity. misalnya sebuah mainan anak-anak. dicari sesuatu yang tidak terdapat dalam gambar. kegiatan yang bertujuan untuk membeberkan pikiran dari sesuatu yang telah mapan.memecahkan ide sebanyak mungkin. Just Suppose Activity. b. kegiatan ini dimaksudkan untuk mendapatkan berbagai macam rspon dari suatu pertanyaan yang tidak biasa. Product Improvement Activity. Berbeda dengan pengembangan ide secara verbal. Pengembangan kreativitas melalui rangsangan verbal terdiri dari beberapa jenis yaitu: a. kegiatan yang memberi kesempatan untuk mengembangkan ide-ide dari sesuatu yang telah ada.

Perkembangan sosial Perkembangan sosial adalah perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengaqn tuntutan sosial atau menjadi orang yang mampu bermasyarakat. kegiatan ini dimaksudkan mengembangkan kemampuan dalam menemukan sesuatu yang belum memiliki maksud yang jelas dalam suatu rangsang visual. Picture Construction Activity. hanya saja kegiatan ini dikembangkan dari satu jenis unsur sebagai rangsang pengembang ide. misalnya bentuk lingkaran. menciptakan ketegangan mental untuk keluar dari permasalahan dengan melengkapi gambar melalui cara yang sederhana dan semudah mungkin. Untuk mendapatkan respon yang orisinal ketegangan emosi harus terkontrol. b. Hal ini dapat dilakukan dengan menambah elaborasi sehingga diketemukan cara pemecahan masalahnya. e. Dalam hal ini yang dikembangkan adalah kemampuan membuat variasi dari sebuah jenis rangsang visual. kegiatan ini mirip dengan Incomplete Figure Activity. c. garis sejajar dalam jumlah tertentu dan juga dalam gerakan terbatas. Biasanya ada sepuluh bentuk yang tak lengkap untuk disempurnakan dalam waktu yang terbatas. 50 . Repeated Figure Activity. kegaitan ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan untuk membuat struktur dan kesatuan. kemudian bentuk tersebut dikembangkan menjadi bentuk yang lengkap dan menceritakan sesuatu secara visual.a. Misalnya diberikan rangsangan visual berbentuk buah. Incomplete Figure Activity.

Mereka harus melalui paling tidak tiga proses sosialisasi seperti yang diungkapkan Hurlock (1991: 250) antara lain: belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial. Pada anak usia sekolah dasar. Penekanan kegiatan seni lebih pada ekspresi diri. pikir. Keberhasilan sosial tidak ditentukan semata-mata karena keunggulan intelektual. Berdasarkan karakteristik tingkat perkembangan tersebut di atas dan sesuai dengan tujuan pendidikan sekolah dasar. Penekanan pengolahan seni di SD terletak pada kegiatan bermain. pengolahan imajinasi dan kreasi. karsa dan karya dilakukan dalam permainan melalui medium rupa. anak semakin senang berada bersama-sama dengan kelompok-kelompok kecil anak-anak umur sebaya. mulai tertarik pada permainan kelompok. anak menetapkan kriteria baru. untuk memilih teman bermain. bunyi dan gerak. 51 . Mereka tidak begitu bergairah lagi bepergian bersama orang tuanya. tetapi untuk menjadi pribadi yang sosial mereka harus belajar dalam waktu yang tidak singkat. rasa dan cipta. dan perkembangan sikap sosial.Walaupun pada dasarnya setiap manusia adalah makhluk sosial. di samping kriteria alam. Bentuk pengolahan kesadaran perseptual. maka pendidikan seni di SD lebih menekankan pada pengembangan kemampuan dasar anak dalam mengolah kemampuan mental dan kesiapan belajar. banyak orang yang berhasil dalam perkembangan intelektual tetapi tidak berhasil lam perkembangan sosialnya. memainkan peran sosial yang dapat diterima.

karena garis yang pertama menentukan bentuk suatu karya lukis secara keseluruhannya. binatang. seperti pemandangan alam. Dalam pembuatan sebuah karya seni lukis. Lebih jelas lagi seni lukis merupakan suatu pengucapan pengalaman artistik seseorang yang dicurahkan ke dalam bidang dua dimensi dengan menggunakan garis. atau bahan lainnya. figur manusia. bahkan kurang dimengerti oleh orang awam. Seni lukis adalah salah satu lingkup seni murni berwujud dua dimensi. dan tekstur. Elemen-elemen seni lukis 1) Garis Pada dasarnya garis merupakan elemen utama dalam seni lukis. Karya lukis bergaya ekspresionis (penuh perasaan) memiliki objek benda atau figur yang dibuat dengan garis dan warna yang bernuansa emosi pelukisnya. bidang. Lukisan bergaya abstrak berasal dari khayalan kreatif senimannya. ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. bentuknya tidak nyata. Karya seni lukis bergaya naturalis (potret) dibuat persis seperti objek aslinya. atau benda lainnya. Pengertian dan Jenis Seni Lukis Seni lukis merupakan bagian dari bidang seni rupa murni yang berwujud dua dimensi. tetapi mengandung berbagai alternatif rupa yang baru. umumnya dibuat di atas kain kanvas berpigura dengan bahan cat minyak. yaitu elemen seni lukis dan kaidah-kaidah komposisi. cat akrilik. warna. a. sehingga seni lukis merupakan karya yang terlepas dari unsur-unsur kegunaan praktis. Pembelajaran Seni Lukis di Sekolah Dasar 1. Karya seni lukis yang juga sering disebut dengan lukisan.C. 52 . tersamar. Objek dan gaya lukisan sangatlah beragam.

suasana. dan kontur. dan susunan objek. massa.Garis merupakan hasil suatu goresan yang diakibatkan oleh sebuah titik bergerak lurus sehingga membentuk jejak. Garis adalah batas limit suatu benda. Kesan yang diciptakan juga tergantung dari ukuran. Garis yang kencang memberikan perasaan yang berbeda dari garis yang berbelok atau melengkung. yaitu: (a) garis nyata. 53 . irama. Selanjutnya Ruta (2005: 22) mengatakan bahwa garis dapat menyatakan bentuk. garis merupakan sebuah goresan. dan dari letaknya terhadap garis-garis yang lain. kumpulan dari beberapa titik dan sebuah bentuk yang mengandung arti yang melebihi daripada titik. keras. tebal-tipisnya. (b) garis semu. Wujud garis dapat dibedakan menjadi dua macam. tekstur. sehingga meninggalkan bekas yang nyata. Yang satu memberi kesan yang kaku. yaitu garis yang terjadi karena kesan yang dapat ditangkap oleh mata yang sesungguhnya merupakan batas limit suatu benda. karena bentuknya yang menimbulkan perasaan tertentu kepada si pengamat. ruang. Apabila dilihat dari bentuk garis. warna. gerak. warna. garis ini dihasilkan dan terjadi karena suatu goresan. dan susunan dari objek-objek. massa. Sesuai dengan pendapat di atas. gelap terang. ruang. dan yang lain memberikan kesan luwes dan lemah lembut. Djelantik (1999: 19) mengemukakan bahwa garis sebagai bentuk mengandung arti lebih daripada titik karena dengan bentuknya sendiri garis menimbulkan kesan tertentu pada pengamat. sedang warnanya berfungsi sebagai penunjang dan menambahkan kualitas tersendiri.

dibatasi oleh garis lengkung bebas yang mengesankan keceriaan dan pertumbuhan Gambar 2. Demikian juga dengan garis. dibatasi oleh beberapa garis lurus yang secara matematis tidak bertalian. titik dapat berupa bidang.2) Bidang Bidang merupakan suatu area yang dibatasi oleh garis. Bidang Geometris (b) Bidang organik. baik garis nyata maupun garis semu. dibuat secara terukur Gambar 1. namun bidang belum tentu titik. Jenis bidang dapat dibagi menjadi empat bagian yaitu: (a) Bidang geometris. 54 . Dengan demikian. bahwa garis dapat berupa bidang. Bidang Organik (c) Bidang bersudut. namun bidang belum tentu berwujud garis.

Gambar 5.Gambar 3. Gambar 4. Komposisi Ruang Negartif dan Positif 55 . Bidang Tak Beraturan 3) Ruang Ruang dapat diartikan sebagai keluasan yang dibatasi oleh limit baik keluasan positif maupun keluasan negatif. Bidang Bersudut (d) Bidang tak beraturan. Keluasan positif yaitu ruang yang sering menggambarkan objek sedangkan keluasan negatif yaitu keluasan dalam bentuk dua dimensi ruang negatif ini sering menjadi background. dibatasi oleh garis lurus dan lengkung yang secara matematis tidak bertalian.

yaitu semakin jauh suatu bentuk akan terlihat semakin kecil. 56 . sedangkan warna dingin berkesan menjauh. satu bentuk menumpang pada bentuk lain. Gambar 6. Gambar 7. Ruang dengan Teknik Pergantian Warna (c) Pergantian bentuk dan ukuran.Beberapa teknik dalam pencapaian ruang dalam karya dua dimensi yaitu: (a) Penumpangan. Gambar 8. Bentuk yang nampak berada di depan atau di atas bentuk lain. semakin jauh suatu benda warnanya semakin memudar atau warna panas akan berkesan mendekat. tekstur yang kasar akan tampak lebih dekat dibandingkan dengan tekstur halus. Ruang dengan Teknik Pergantian Bentuk dan Ukuran (d) Pergantian tekstur. Ruang dengan Teknik Penumpangan (b) Pergantian warna.

Ruang dengan Teknik Bayangan (g) Manipulasi dengan teknik gelap terang atau dengan perbedaan/perubahan tekstur. Ruang dengan Teknik Pergantian Tekstur (e) Pelengkungan atau pelekukan. Gambar 12. Ruang dengan Teknik Gelap Terang 57 . Gambar 11. Gambar 10. yaitu penambahan dapat dilakukan dibelakang atau di depan. Ruang dengan Teknik Pelengkungan (f) Penambahan bayangan pada bentuk. hal in terjadi dengan menukarkan kedudukan bentuk untuk membangkitkan ruang maya.Gambar 9.

ada yang kasar. Terangnya seluruh warna adalah putih dan gelapnya seluruh warna adalah hitam. seperti merah. halus. yaitu istilah yang sering digunakan untuk menunjukkan nama dari suatu warna. biru. (b) Value. Nilai raba suatu permukaan benda tersebut dapat berbeda-beda. kuning. berkaitan tentang cerah dan suramnya warna. Merubah value menjadi terang dapat dengan cara menambah warna putih secara bertingkat disebut tint. Sedangkan tekstur semu adalah nilai raba suatu permukaan benda hanya dapat dinilai secara visual. sebaliknya merubah value menjadi gelap dengan cara menambah warna hitam secara bertingkat disebut shade. Tekstur nyata yang dimaksud disini adalah nilai raba suatu permukaan benda secara fisik dapat dirasakan oleh indera raba. yaitu kualitas dari suatu warna yang menunjukkan suatu hue. (c) Intensity. hijau. lunak. Jenis tekstur ada dua macam.4) Tekstur Tekstur merupakan nilai raba suatu permukaan benda. yaitu: (a) Hue. dan lain-lain. yaitu istilah yang digunakan untuk menunjukkan terang gelapnya warna. yaitu: tekstur nyata dan tekstur semu. keras. Oleh karena itu putih dan hitam tidak termasuk dalam lingkaran warna. oranye. kasap. dan licin. Hue yang murni adalah 58 . misalnya tekstur batu. 5) Warna Warna yang sering kita lihat atau gunakan dalam kehidupan sehari-hari dapat dibedakan menjadi tiga dimensi. tetapi tidak dapat dinilai atau dirasakan oleh alat indera raba.

kuning dengan oranye. (c) Komplementer. yaitu susunan warna yang kontras atau bertentangan. biru. sehingga menimbulkan sensasi visual panas dan dingin. dan violet. Klasifikasi temperatur warna tersebut dapat dilihat pada lingkaran warna: warna panas terdiri dari warna kuning. Sedangkan warna dingin terdiri atas: kuning-hijau. (b) Monocromatik. Untuk lebih jelasnya lingkaran warna dapat dilihat pada gambar berikut: 59 . yaitu hubungan warna yang saling bersebelahan pada lingkaran warna. dan ungu merah. kuning-oranye. Semua warna memiliki temperatur. biru-violet. oranye-merah. hitam. oranye dengan merah. hiaju-biru.cemerlang dan kuat. hijau. seperti hijau dengan kuning. oranye. yaitu sebagai berikut: (a) Analogus. merah. yaitu campuran warna-warna dari ketiga variabel dimensi warna yang berasal dari satu warna yang berlainan nilai dan intensitasnya. Selain dimensi warna yang telah dijelaskan di atas. Mengurangi intensutas suatu warna dapat dicapai dengan mencampur atau menambah hue yang murni dengan warna-warna netral seperti putih. dan sebagainya. dan abu-abu atau mencampur dengan warna komplemennya atau dapat juga dengan warna-warna yang ada disebelahnya. Hue dalam intensitasnya yang lebih rendah adalah lebih lembut. ada beberapa hubungan antar warna.

bidang dengan tekstur. Lingkaran Warna b. Kesatuan (Unity) Nilai kesatuan dapat dicapai dengan mengkomposisikan elemen-elemen yang memiliki karakter yang sama. garis dengan tekstur. dan antar semua elemen. antar bidang. Kesatuan dapat dirinci menjadi kesatuan antar warna. artinya nilai dari sebuah karya seimbang. Keseimbangan (Balance) Keseimbangan dalam karya seni rupa adalah keserasian bobot dari unsurunsur seni rupa itu sendiri. 2. kesatuan antar garis dengan warna. walaupun mungkin wujud dan jumlahnya tidak sama atau bahkan 60 . yaitu sebagai berikut: 1. garis dengan bidang. Kaidah-kaidah Komposisi Ada beberapa kaidah komposisi yang perlu diperhatikan pembuatan sebuah karya lukis.Gambar 13. antar garis. warna dengan tekstur. kesatuan antar tekstur.

Keseimbangan simetris merupakan keseimbangan antara dua sisi sama kuatnya. Perubahan tersebut dapat juga terjadi karena adanya pengulangan. Irama yang monotone terjadi karena adanya pengulangan wujud dan jumlah yang sama. Keseimbangan dalam karya seni rupa dapat dibedakan menjadi dua bagian. Dengan kata lain. misalnya: proporsi manusia adalah 61 . Keseimbangan asimetris ini memberi kesan yang labil. Menurut sifatnya. Sedangkan irama yang dinamis dapat terjadi karena adanya pengulangan bentuk yang sangat variatif. Keseimbangan asimetris merupakan keseimbangan yang dicapai dengan menyerasikan bobot antar unsur yang bersebelahan. sehingga mempunyai kesan yang tidak membosankan. namun wujud dan jumlahnya tidak sama.bertentangan. yaitu: keseimbangan simetris dan keseimbangan asimetris. artinya antara sisi kanan dan sisi kiri dari sebuah karya seni rupa memiliki wujud dan jumlah yang sama kuatnya. sehingga dalam irama ini terjadi penekanan-penekanan. 4. 3. yaitu irama monotone dan irama dinamis. bagian yang satu merupakan cerminan bagian yang lainnya. Proporsi Proporsi merupakan hubungan-hubungan ukuran dari bagian-bagian dalam keseluruhan suatu bentuk atau objek. irama dapat dibedakan menjadi dua. Irama (Rhythm) Irama merupakan perubahan-perubahan warna dan bentuk secara teratur yang membawa perasaan hanyut di dalam perubahan-perubahan yang terjadi. dinamis. atau cepat-lambat. seperti keras-lunak.

misalnya dalam warna terdapat keserasian yang bersifat karib (analog) dan keserasian kontras. lebar bahu. Pusat Perhatian (Center of Interest) Dalam komposisi seni diperlukan adanya pusat perhatian yang dapat memberikan aksentuasi yang disebut dengan dominasi dalam sebuah karya seni rupa. Dominasi dapat diciptakan melalui unsur utama yang didukung oleh dengan menampilkan unsur-unsur penunjang lainnya sehingga menghasilkan sesuatu yang kontras. atau panjang batang tubuh (torso). 62 .antara ukuran kepala dengan tinggi badan. cahaya atau gelap terang. merah-kuning. Adapun tujuan keserasian adalah untuk menciptakan keselarasan dan keharmonisan dari unsur-unsur yang berbeda. 6. Keserasian Keserasian merupakan prinsip yang digunakan untuk menyatukan unsurunsur rupa walaupun berasal dari berbagai bentuk yang berbeda. Proporsi digunakan untuk menciptakan keteraturan yang dapat membentuk standar keindahan dan kesempurnaan. 5. Sedangkan keserasian kontras yaitu pertentangan (komplementer) yang bersifat ganda. oranye-kuning. Hubungan proporsi ini misalnya mengenai warna. dan oranye. bentuk dan jumlah elemenelemen seni rupa lainnya. Keserasian karib pada warna ditandai dengan mendampingkan warna merah. Persoalan proporsi sangat berhubungan dengan ukuran atau dimensi anatar bagian yang satu dengan bagian yang lain dalam suatu karya seni. kontras dan silang dalam lingkaran warna.

Dengan demikian untuk menentukan hasil karya seni lukis yang baik dari peserta didiknya tentunya seorang pendidik dituntut memiliki kompetensi sebagai pendidik mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan pada Sekolah Dasar.Demikian elemen-elemen seni lukis dan kaidah-kaidah komposisi yang ada dalam karya seni lukis. jelas dan dinamis. yang menyebutkan bahwa pendidik mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan harus mempunyai kompetensi: menguasai materi. dalam membentuk imaji kreatif dari karya seni. tari. Hal ini sesuai dengan PP 19 tahun 2005 tentang Standar Penilaian Pendidikan. atau merupakan bahan-bahan kelahiran ekspresi kontrastik yang serba menyala. apresiasi. merupakan tanda-tanda positif karya bermutu. dan kreasi/rekreasi) yang mendukung pelaksanaan pembelajaran seni budaya (seni rupa. luar biasa atau langka. dan pola pikir keilmuan (mencakup materi yang bersifat konsepsi. Konstruk yang tidak merusak harmoni dengan kemampuan membawakan kehidupan. Kesan unik. warna dan tekstur bukan lagi sebagai elemen-elemen pisik tetapi mencerminkan ekspresi kejiwaan yang kuat bagi pembuat karya lukis tersebut. sehingga diharapkan hasil penilaian yang dilakukan 63 . struktur. Kusnadi (1991: 18) menyebutkan: bahwa pengolahan elemen-elemen tersebut mencerminkan ekspresi kejiwaan yang kuat. Kadang-kadang lembut sampai immaterial. konsep. Berkenaan dengan pengolahan elemen-elemen dan kaidah komposisi sehingga merupakan tanda-tanda karya seni lukis yang bermutu. teater) dan keterampilan (PP 19 tahun 2005). namun dalam kenyataan apabila sudah menjadi suatu bentuk karya seni lukis: elemen garis. musik.

kreativitas. Penggunaan warna sesuai dengan suasana hatinya.pendidik memenuhi esensi yang dipersyaratkan pada penilaian karya seni anak. Kegiatan seni di samping penting bagi perkembangan kognitif juga memberikan rangsangan bagi pertumbuhan persepsi. emosional. Dengan lukisan anak dapat dibaca jiwa dan kehidupan anak-anak yang bersifat polos. Apa yang dituangkan dalam tema lukisannya adalah apa yang dilihatnya sesuai dengan lingkungan hidup yang nyata dan khayalnya. anak tidak ada rasa takut. Goresannya spontan dan bebas: miring kesana kemari. interpersonal. Dalam proses melukis. dapat memberikan suatu pandangan tingkah laku dan apresiasi pertumbuhan dan perkembangan bervariasi yang dialami anak. intelektual. 1982). Dengan kegiatan ini perlu diketahui apa yang dapat dikembangkan pada diri anak secara maksimal. social. hitam dan seterusnya. kecerdasan spiritual. yang dapat diterapkan pada 64 . biru. perceptual. social. visual/spasial. naturalist. dan estetik (Lowenfeld. Seni Lukis bagi Anak Usia Sekolah Dasar a. 2. dam krativitas anak. sesuai dengan “kacamata” anak. logical/mathematical. emosional. seprti fisik. sangat berani: merah kuning. Peran pendidikan seni yang multi dimensional pada dasarnya dapat mengembangkan kemampuan dasar manusia. Seni Lukis sebagai Cerminan Isi Jiwa Mencermati lukisan anak dan cara mereka menggambarkan lingkungannya. Demikian juga pada multiple intelegences gardner yang membagi karakteristik kecerdasan menjadi sembilan jalur yaitu: verbal/linguistic. karena lukisan anak itu sendiri mencerminkan segi kejiwaan anak.

Kehidupan dan kemampuan untuk terus 65 . Setiap perubahan situasi membutuhkan fleksibilitas berpikir. Dalam kegiatan melukis. 2001). Semua ini merupakan indikator dari perkembangan intelektualnya. Dapat dilihat dari beberapa banyak pengetahuan tentang objek yang digambarkan dan hubungannya dengan lingkungannya. Anak yang sulit menyesuaikan diri. bersikap. Hal ini dapat dilihat bagaimana anak menggambarkan sesuatu yang menurutnya penting dan melibatkan emosinya. dengan melukis anak mendapat kesempatan untuk menumbuhkan emosinya. Dalam membimbing anak. sering ia tuangkan ke dalam gambarnya.lukisan anak-anak. Anak yang terlambat berkembang konsepsinya sesuai kemampuan usianya. perkembangan intelektual dapat dilihat pada gambar anak. Sejauh mana ia menyadari lingkungannya. Perkembangan intelektual seiring dengan perkembangan usianya. dimungkinkan terlambat pula perkembangan intelektualnya. akan terlihat keterlibatan segi kejiwaan anak sehingga mencerminkan kondisi kejiwaan anak. cirinya adalah anak dapat memvisualisasikan imajinasi ke dalam kenyataan yang dituangkan dalam bentuk tulisan (Jamaris. Apabila ia dekat dengan ibunya atau dengan temannya. Persepsi. dan berimajinasi. Intelektual. penanaman dan pertumbuhan indrawi merupakan bagian yang sangat penting dalam kegiatan seni. akan senang menggambar apa yang telah dibuatnya sehingga terjadi pengulangan-pengulangan yang kurang melibatkan emosi. Seiring dengan kecerdasan visual/spasial yang merupakan salah satu karakteristik jalur kecerdasan. perlu diciptakan kondisi yang melatih anak mampu menyesuaikan dirinya. Emosi.

pertumbuhan kreativitas segera terlihat begitu anak mulai dapat membuat goresan. dan menyusun sesuatu secara personal. Hal itu dapat dilihat dari sensitivitas anak dalam mengorganisasikan unsur-unsur rupa menjadi suatu susunan yang terpadu secara spontan dan intuitif. Mungkin orang tuanya. sebagai dasar kegiatan seni dapat diartikan sebagai cara mengorganisasikan pikiran dan perasaan yang dijadikan suatu ekpresi dan komunikasi dengan orang lain. dan tekstur disebut seni rupa termasuk di dalamnya seni lukis. Estetik. Oleh sebab itu penting memberikan kesempatan pada anak untuk mengasah kepekaan persepsinya. ruang. dan memberikan reaksi terhadap unsur visual tersebut. Organisasi garis. kakaknya. bentuk. Dalam kegiatan seni. Kreatif. Sosial. atau situasi sosial lainnya. Kepekaan tersebut dapat tercermin dari bagaimana anak menggunakan. Anak memiliki pengalaman dengan dirinya dan orang lain. Hal ini menandakan usia dini telah memiliki kesadaran sosial. Anak yang jarang mendapat pengalaman persepsi akan memperlihatkan kemampuan yang rendah dalam melakukan observasi dan kesadaran akan suatu perbedaan kualitas visual benda.belajar tergantung dari kualitas indrawi manusia. adiknya. temannya. Perkembangan persepsi dapat didentifikasi melalui gambar yang dibuat anak. bentuk. Biasanya anak menggambarkan wujud yang paling dikenalnya yaitu bentuk orang. rasa estetik anak tumbuh secara alami. dan ruang. tekstur. pertumbuhan sosial anak dapat diketahui melalui gambar yang dibuatnya. Dalam gambar atau 66 . Observasi secara visual adalah kegiatan utama dalam seni rupa. Tujuannya untuk mengasah kepekaan rasa terhadap warna. warna. menikmati.

Dalam berkarya. anak akan mengalami kemandegan kebebasan kreatifnya. pertumbuhan kreatif dapat diidentifikasi melalui bagaimana karya itu dibuat secara imajinatif dan mandiri. Untuk menjadi kreatif. Mereka mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam ujud karya seni rupa atau lukisan tanpa terbatas pada apa yang terlihat dengan mata kepala saja. He recognized in these simple forms that the child draws a description of the subject according to his knowledge of that subject and not according to its visual appearance. Ciri Seni Lukis Anak Anak berbuat dan berkarya atas dasar daya nalar anak. anak tidak harus terampil. melainkan lebih pada apa yang mereka mengerti.lukisan anak. pikirkan atau khayalkan. serta menentukan tema. Dengan demikian anak menggambar mulai yang paling sederhana yaitu dengan garis-garis dan berkembang menjadi bentuk-bentuk yang representasional dan detail sesuai dengan perkembangan usia sesuai dengan pengetahuannya sendiri bukan menurut penampakan visual. Dengan penalaran anak wajar 67 . Mereka akan cenderung tergantung dan meniru pekerjaan orang lain. Banyak sedikitnya unsur pada lukisan sangat tergantung pada keasyikan pemikiran dan fantasinya. tetapi memiliki suatu kebebasan dalam ekplorasi dan ekperimen bahan. Perkembangan menggambar anak menurut Ricci (1960: 302-307): The child starts drawing with an “interlacing network of lines” and then moves on to simple representational foms which become more detailed with age. lebih banyak yang akan mereka ceritakan maka lebih banyak pula bentuk yang akan dimunculkannya. jika dipaksa untuk membuat sesuatu yang tidak berhubungan dengan dirinya. b.

68 . melainkan didasarkan pada ingatan atau imajinasi. Pada periode selanjutnya gambar anak menunjukkan bukti adanya unsur imajinasi dan kesadaran yang lebih tinggi terhadap gerakan linier. Perkembangan Gambar Anak Perhatian terhadap perkembangan gambar anak-anak merupakan hal yang baru. Gambar anak di sini meniru objek (representasional). Cooke tidak memberikan gambaran yang menyeluruh tentang tahap keempat pada gambar anak-anak. bulu. tetapi ia menetapkannya antara umur empat sampai sembilan tahun. Ia menemukan empat tahap perkembangan simbolik pada anak-anak. Mata. Pada tahun 1885-1886 Ebenezer Cooke melakukan penelitian tentang perkembangan gambar anak-anak yang pertama kalinya.dan spontan maka hasilnya tampak sungguh naif. Ungkapan pribadinya muncul melalui bentuk-bentuk dengan makna simbolik tertentu. tetapi menurut Cooke. ketika anak sangat aktif mempelajari bendabenda di sekelilingnya. dan ekor digambarkan tanpa pemahaman tentang jumlah dan hubungan antara bagian-bagian objek itu. Cooke menyatakan bahwa pada tahap ketiga gambar anak telah menunjukkan adanya hubungan yang alami antarbagian tersebut. Gambar anak bukan merupakan tiruan objek-objek di alam. Perkembangan pertama berkisar antara umur dua sampai lima tahun. c. intuitif. dan lebih dekat pada sifat bermain. kaki. Pada masa itu anak telah mampu meniru benda-benda di alam dan menghasilkan gambar yang mencerminkan analisis terhadap benda-benda yang dilihatnya. Hasil gambarnya baru merupakan coreng-moreng yang menunjukkan akibat gerakan otot. anak belum memperhatikan ketepatan penggambarannya.

Daftar ini bukan merupakan daftar lengkap para ahli yang telah memberikan sumbangan pengetahuan tentang urutan tahap-tahap dalam simbolisasi visual. Clark (1902). Kellogg (1955). Barnes (1893). Krötzsch (1917). Sir Cyril Burt menyimpulkan adanya tujuh tahap perkembangan. Herrick (1893). Namun. Wuiff (1927). Griffiths (1935). Levenstein (1905). Perez (1888). tetapi tidak terdapat kesesuaian mengenai jumlah tahap perkembangan dan penyebab-penyebabnya. Sully (1896). Shinn (1897). Maitland (1895). ia selayaknya mendapat penghargaan sebagai orang yang pertama kali menulis tentang gambar anak-anak. Lowenfeld (1947). Götze (1898). Lark-Horovitz (1959). Rouma (1913). hasil-hasil penelitian terhadap gambar anak-anak menunjukkan adanya kesesuaian umum mengenai urutan dan wujud simbol visual perkembangan gambar anak. Menurut Lansing (1976: 138139). Baldwin (1894). Sebagai contoh. O’Shea (1894). Stern (1910). Kerschenstein (1905). 1) Gambar Anak pada Tahap Figuratif (3-12 Tahun) Pada dasarnya gambar anak mengalami tahap-tahap perkembangan tertentu sesuai dengan perkembangan umurnya. namun daftar ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap karya gambar anak-anak telah muncul sejak tahun 1885. Pada tahun-tahun berikutnya. dan Eisner (1967). Luquet (1913). Eng (1931). ditemukan tambahan informasi dari hasil observasi dan penelitian oleh Ricci (1887).Ebenezer Cooke adalah guru Bahasa Inggris dan observasinya tidak begitu akurat. salah satu di antaranya tahap 69 . Burt (1921). Kebanyakan perhatian itu berasal dari tumbuhnya minat terhadap psikologi dan penelitian yang sistematik terhadap anak. Brown (1897). Lukens (1896).

(2) tahap figurative (umur empat sampai dua belas tahun). (2) subtahap figuratif 70 . tetapi peneliti yang lain hanya menganggapnya sebagai fase transisi. halus. dan (3) tahap keputusan artistic (umur dua belas tahuh ke atas). Peneliti tertentu menganggap suatu susunan pada gambar anak sebagai karakteristik tahap perkembangan tertentu. dan kontinyu. Lansing (1976: 147-178) membagi tahap figuratif menjadi tiga subtahap: (1) subtahap figuratif awal (umur tiga sampai empat tahun).represi. perkembangan gambar anak pada dasarnya dapat disederhanakan menjadi tiga tahap pokok: (1) tahap coreng-moreng (umur dua sampai empat tahun). 1976: 138-139). Selanjutnya. Ketidaksesuaian mengenai jumlah tahapan tersebut pada dasarnya terjadi karena perkembangan gambar anak bersifat gradual. Pada tahap coreng-moreng anak membuat simbolsimbol visual karena rangsangan gerakan otot. yang lebih penting. karena tahap represi sulit diprediksi. Pada tahap figuratif anak membuat simbol-simbol visual sebagai cara untuk memahami benda-benda dan kejadian-kejadian dalam kehidupan nyata dan menggunakannya untuk memberikan informasi kepada orang lain. sesuai pendapat para ahli (Lansing. hanya terdapat enam tahap perkembangan. Pada tahap keputusan artistik anak membuat simbol-simbol visual sebagai cara untuk memahami konsep-konsep nyata maupun abstrak dan. sedangkan menurut Viktor Lowenfeld. kemudian mengontrol gerakangerakan otot itu. sebagai cara untuk mengubah atau mempengaruhi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan budaya. dan akhirnya mengaturnya sehingga mengesankan “sesuatu hal”.

Gambar Manusia oleh Anak Umur Empat Tahun (Sumber: Lansing. yaitu anak di kelompok bermain. Secara keseluruhan unsurunsur tersebut menggambarkan manusia secara umum. Subtahap figuratif awal ini berkembang dari tahap coreng-moreng secara hampir tidak tampak. Gambar 14. Lingkaran menggambarkan kepala atau badan dan garis-garis lengkung menggambarkan kaki dan rambut. and Art Education) 71 . Pada gambar 14 tampak usaha pertama anak untuk menggambarkan manusia. Art.tengah (umur empat sampai tujuh tahun). Artist. Dalam tahap perkembangan simbolik ini gambar anak menunjukkan hubungan dengan kenyataan visual. dan (3) subtahap figuratif akhir (umur tujuh sampai dua belas tahun) yang dapat diuraikan sebagai berikut. tetapi ia mampu atau tidak mengetahui cara menggambarkannya. taman kanak-kanak. gambar anak menyerupai benda-benda di lingkungan nyata. 1976. dan kadang-kadang juga di kelas dua sekolah dasar. kelas satu sekolah dasar. (a) Subtahap Figuratif Awal Subtahap figuratif awal terjadi pada anak umur tiga sampai enam tahun. Dengan kata lain. gambar anak merupakan petunjuk kematangan intelektual yang bagus sampai umur sepuluh tahun. Pada umumnya anak pertama kali menggambarkan figur manusia. Anak mungkin mengetahui bagian-bagian tubuh manusia yang lain. karena figur manusia itu digambarkan berdasarkan kombinasi dari coreng-moreng. Oleh karena itu.

pada masa perkembangan ini juga anak memasukkan unsur benda-benda yang lain untuk memenuhi bidang gambar. Dalam hal ini. Dengan demikian. Pada gambar 15 figur-figur manusia digambarkan menggantung di langit bersama-sama dengan piring. Konsep anak tentang benda-benda di lingkungannya berubah atau berkembang dan berangsur-angsur menjadi rinci. meskipun mungkin memiliki kaitan antara objek yang satu dengan yang lain. Kecepatan perubahan gambar anak ini mengalami penurunan setelah anak mencapai umur lebih dari tujuh tahun.Pada subtahap figuratif awal kemampuan motorik anak terus berkembang dan aktivitas perseptualnya meningkat. mula-mula anak memusatkan perhatiannya pada suatu objek sampai selesai. demikian juga hasil gambarnya. Selain objek manusia. dalam menggambar suatu objek anak mulai menggunakan cara tertentu. dan rumah penyihir. Hal ini menjadikan objek-objek tertentu digambarkan tegak. sedangkan objek-objek lainnya digambarkan terbalik. ia menggeser-geser atau mengubah-ubah posisi kertas untuk menjangkau bagian-bagian bidang gambar yang belum terisi. tetapi pada kesempatan lain menggunakan cara yang lain. Bilamana perlu. 72 . kemudian melupakannya dan berganti memusatkan perhatiannya pada objek yang lain sampai selesai dan demikian seterusnya. susunan objek-objek itu tidak memberikan hubungan makna. benang. Sebagai contoh. Perubahan atau perkembangan gambar anak pada tahap ini berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan tahap-tahap perkembangan sebelum maupun sesudahnya.

Gambar 15. Pada masa perkembangan ini. misanya wanita digambarkan dengan warna ungu. anak baru sedikit atau belum memiliki kesadaran untuk berpikir tentang keindahan. Art. gambar kepala orang lebih besar dari pada pohon atau gambar anak lebih besar dari rumah. Dengan kata lain. warna. Objek-objek digambarkan dan disusun dengan cara tertentu sesuai dengan perasaan atau intuisi anak. Kaki dan tangan manusia hanya digambarkan dengan garis lurus. and Art Education) Ciri lain gambar anak pada subtahap figuratif awal adalah penggambaran objek-objek dengan ukuran yang berlebihan. sedangkan anjingnya digambarkan dengan warna hijau. Penggunaan unsur garis. Gambar Anak Pada Awal Munculnya Tahap Figuratif dengan Objek-objek yang Menggantung di Langit (Sumber: Lansing. gambar anak pada subtahap ini tidak begitu naturalistik. Kemiripan gambar anak dengan kenyataan baru menandakan objek-objek secara umum. 73 . Artist. 1976. dan tekstur sedikit atau tidak memiliki hubungan dengan kenyataan. Pada umumnya anak begitu senang menggambar dan bertahan pada masa perkembangan ini hingga waktu yang lama. Sebagai contoh.

74 . Gambar seperti ini merupakan satu-satunya tahap simbolisasi yang dapat dijumpai pada berbagai jenjang umur. Hal ini berarti bahwa objek yang berada di bagian atas mengarah ke langit. Dalam masa perkembangan ini simbol visual anak bertambah rumit dan terus cenderung mengarah pada ketelitian.(b) Subtahap Figuratif Tengah Gambar anak pada subtahap ini terutama dapat dijumpai di taman kanak- kanak dan di kelas satu. Namun demikian. Garis dasar ini dapat berupa garis yang dibuat oleh anak atau garis tepi kertas. Benda-benda yang terletak di tanah dalam kenyataan sekarang dibuat berdiri pada garis yang menggambarkan tanah. Garis ini disebut garis dasar (base line) dan merupakan ciri pokok tahap figuratif tengah. jelas bahwa gambar anak sekarang telah memiliki orientasi bawah dan atas. tiga. sedangkan objek yang berada di bagian bawah bidang gambar mengarah ke tanah. Perubahan yang paling penting dari subtahap sebelumnya dapat dilihat pada susunan simbol-simbol dalam gambar anak. perlu diketahui guru bahwa gambar seperti ini mungkin muncul di berbagai jenjang sekolah dari playgroup sampai sekolah menengah pertama. dan empat sekolah dasar. Susunan ini dapat dilihat pada gambar 16. Dengan demikian. Penempatan satu objek berkaitan dengan objek lain sekarang tampak jelas disengaja dan bermakna.

Hasil Gambar Anak Umur Lima Tahun. and Art Education) Pada gambar 16. Art. dan beberapa kotak berada di tengah bidang gambar. Art. and Art Education) Gambar anak pada subtahap figuratif tengah dapat dilihat dengan jelas pada gambar 17.Gambar 16. Tampak di sini simbol figur yang 75 . Gambar Anak Pada Subtahap Figuratif Tengah (Sumber: Lansing. Simbol anak kecil itu tampak berdiri kokoh di atas tanah (garis dasar) yang tidak lagi menggantung di udara. Karena gambar tanah dan kotak itu tampak menggantung. Artist. Artist. Di atas anak terdapat corengan yang menggambarkan langit. Gambar 17. 1976. maka lebih tepat dikatakan bahwa gambar ini menunjukkan peralihan dari subtahap ini dan subtahap sebelumnya. garis dasar terletak agak ke tengah bidang gambar dan anak serta bunga-bunga berdiri di atasnya. Yang Menunjukkan Masa Peralihan dari Subtahap Figuratif Awal ke Subtahap Figuratif Tengah (Sumber: Lansing. 1976.

Harimau dalam Kandang (Sumber: Lansing. Gambar 18.lebih kompleks dibandingkan dengan simbol figur pada gambar-gambar sebelumnya. Pada masa perkembangan ini binatang semacam itu digambarkan anak dengan kepala seperti wajah manusia. pada Gambar 18 kepala harimau digambarkan mirip wajah manusia. Objek yang tidak sering ditemukan anak disimbolkan secara sederhana. 1976. Asap muncul di atas mesin dan matahari (objek yang banyak terdapat di dalam gambar anak) bersinar dengan terang. karena anak tidak mungkin melihatnya dari dekat. Kecenderungan kompleksitas ini dapat dilihat pada simbol-simbol yang paling sering ditemukan anak di lingkungannya. 76 . Sebagai contoh. Artist. and Art Education) Gambar 19 menunjukkan gambar kereta dengan gerbong awak kereta (caboose) dan mesin di sebelah kiri serta orang di sebelah kanan. Anak tidak memiliki imajinasi yang kompleks tentang kepala binatang itu. Art.

karena anak telah menciptakan ilusi kedalaman dengan bentukbentuk yang tumpang tindih. Artist. Gambar Anak Umur Lima Tahun Menunjukkan Objek-objek Yang Ada di dalam Maupun di luar Rumah (Sumber: Lansing. Art. and Art Education) Meskipun gambar (simbol grafis) anak semakin kompleks atau rinci (detail). dalam periode perkembangan ini masih begitu naturalistik. Gambar 20 menunjukkan gambar anak yang hampir mencapai tahap selanjutnya (subtahap figuratif akhir).Gambar 19. and Art Education) Gambar 20. Gambar Kereta oleh Anak Umur Lima Tahun (Sumber: Lansing. 1976. Di sini anak masih menggunakan garis dasar. Art. 1976. Artist. Perbandingan ini merupakan contoh perkembangan yang terjadi dalam suatu 77 .

seperti ditunjukkan pada Gambar 22 dan 23. Gambar 23 dibuat oleh anak umur lima tahun. sedangkan gambar anak pada gambar 21 merupakan karya anak umur sepuluh tahun.subtahap. Gambar itu masih datar dan kaku. kecuali tahap coreng-moreng. 1976. Gambar 21. Cara penggambaran ini biasanya ditemukan pada subtahap figuratif tengah. tetapi pada akhir subtahap figuratif tengah gambar anak belum begitu mirip dengan kenyataan. 78 . sedangkan gambar 22 dibuat oleh anak umur sepuluh tahun. and Art Education) Ciri yang lain gambar anak pada tahap perkembangan ini adalah gambar sinar-x (x-ray drawing). Gambar ini merupakan penggabungan penampakan dari dalam dan sekaligus dari luar suatu objek. Jelas bahwa dengan kematangan perkembangan anak. sedangkan gambar 23 ibu dan dua anak di dalam badannya. Gambar 22 menunjukkan bus penuh dengan para penumpangnya. Gambar 20 merupakan karya anak umur lima tahun. Art. Gambar Anak Umur Sepuluh Tahun (Sumber: Lansing. Artist. gambar figur yang dibuat anak semakin realistik. tetapi dapat ditemukan juga pada semua tahap perkembangan.

Art. Artist. 1976. 1976. jalan dan kendaraan-kendaraan lainnya digambarkan secara tampak atas. Gambar X-ray oleh Anak Umur Lima Tahun yang Menunjukkan Ibu Dengan Dua Anak di Dalamnya (Sumber: Lansing. and Art Education) Gambar 23. sedangkan rumah terletak pada garis dasar yang lain. Ciri gambar semacam ini juga tampak pada Gambar 24. seperti tampak pada gambar 22. Gambar Bus Penuh Dengan Penumpang (Sumber: Lansing. and Art Education) Selain penggambaran secara sinar-x. Gambar rebahan 79 . Sementara itu. Lowenfeld menyebut cara menggambar ini gambar rebahan (folding over) yang juga merupakan ciri pokok subtahap figuratif tengah.Gambar 22. Artist. Jadi. Dalam gambar ini tampak gambar sebuah mobil terletak pada satu garis dasar. digunakan dua garis dasar. untuk menggambarkan ruang. pada subtahap perkembangan ini juga ditemukan adanya kombinasi gambar tampak atas (plan) dan tampak sisi (elevation) dalam satu gambar. Art.

80 . karyanya akan terus berkembang. dan tujuh. pada umumnya gambar anak berhenti pada subtahap figuratif akhir. Art. mengesankan ruang. Setelah umur sebelas atau dua belas tahun anak biasanya tidak aktif menggambar lagi dan jika anak terus aktif menggambar. meja. Gambar subtahap ini tidak terdapat lagi pada anak di atas kelas tujuh. Gambar 24. dan lapangan sepak bola. Selain itu. Namun. Anak juga membuat objek di tempat yang dekat dengan ukuran yang lebih besar dari pada objek di tempat yang jauh. enam. Perbedaan yang paling penting antara subtahap figuratif tengah dan subtahap figuratif akhir adalah munculnya penggunaan perspektif sebagai pengganti garis dasar. sehingga lebih dekat dengan kenyataan. Gambar Anak yang Menunjukkan Penggabungan Antara Tampak Depan dan Tampak Atas (Sumber: Lansing. and Art Education) (c) Subtahap Figuratif Akhir Gambar pada subtahap figuratif akhir mungkin dimulai pada anak kelas tiga. 1976. Artist.misalnya digunakan anak untuk menggambarkan sisi jalan. Objek tidak lagi terletak pada garis dasar tetapi terletak di atas bidang yang tampak membentang ke belakang. tetapi kebanyakan ditemukan pada anak kelas lima.

Art. Pada gambar 25 anak menggambarkan setiap kendaraan dengan menggunakan perspektif linier. Gambar 25. 1976. and Art Education) 81 . Penggunaan perspektif linier ini ditunjukaan pada gambar 25 dan gambar 26. Perspektif linier adalah cara menggambarkan garis-garis sejajar secara khusus untuk mengesankan kedalaman. Gambar Bus Yang Penuh Sesak oleh Penumpang Yang Digambarkan Dengan Perspektif Linier (Sumber: Lansing. Art. Artist. and Art Education) Gambar 26. Artist. Kadang-kadang anak pada subtahap ini telah menggunakan perspektif linier. Seperti tampak pada jalan yang menuju ke tempat yang jauh. 1976. kedua garis tepinya seolah-olah terus saling mendekat. Pada gambar 26 tampak juga bahwa anak menggunakan perspektif linier untuk menggambarkan tempat duduk. Gambar yang Menunjukkan Penggunakan Perspektif Linier oleh Anak Kelas Lima (Sumber: Lansing.anak tidak lagi menggambarkan objek-objek secara tembus pandang (gambar sinar-x).

dada. bibir. Anak perempuan misalnya mengidentifikasikan dirinya dengan perawat. kontur tubuh. Anak pada subtahap ini juga mengidentikasikan dirinya dengan peran dalam bidang pekerjaan sesuai dengan jenis kelaminnya. dan guru. sedangkan orang laki-laki dengan rambut pendek. pada tahap perkembangan ini anak menggambarkan orang perempuan dengan rambut panjang yang berombak. tentara. pundak yang lebar. rambut. Anak laki-laki misalnya mengidentifikasikan dirinya sebagai pemain sepak bola. ibu. Bahkan kebanyakan bagian-bagian itu digambarkan dengan rinci. hidung. kuping.Selain perspektif linier. dan jari-jari. lengan. Gambar 28 menunjukkan gambar pemain tenis laki-laki dan perempuan yang dapat dibedakan dengan ciri-ciri yang jelas pada pakaiannya. Pada subtahap figuratif akhir ini dalam menggambar orang anak telah membedakan ciri-ciri orang menurut jenis kelaminnya dengan lebih jelas. mata. Pada umumnya anak belum merasa puas jika belum dapat menggambarkan dirinya sesuai dengan peran-peran itu secara cukup realistik. bintang film. dan bibir yang mencolok. dan otot-otot yang menonjol. gambar anak pada subtahap figuratif akhir menunjukkan tingkat realisme yang lebih tinggi pada setiap objek. dan lutut menunjukkan anak ciri-ciri perempuan. polisi. Bagi anak-anak tertentu penggambaran secara realistik ini akan 82 . leher. badan. dan pilot. Untuk figur manusia. Rambut yang panjang. Namun. siku-siku. anak telah menggambar seluruh unsur tubuh: kepala. telapak tangan. Pada Gambar 27 dua anak perempuan digambarkan sebagai pemain drumband. kaki. Pada tahap sebelumnya mungkin anak sudah menggambarkan orang perempuan dengan rok dan orang laki-laki dengan celana panjang.

dan sebagian lagi akan berhenti membuat simbol-simbol visual. sebagian anak lainnya akan berganti dengan penggunaan simbol-simbol abstrak. and Art Education) Gambar 28. Artist. Gambar 27. Gambar Yang Menunjukkan Perbedaan Anak Laki-laki dan Perempuan Dengan Ciri-Ciri Pakaian yang Rinci (Sumber: Lansing. 1976. Artist. and Art Education) 83 . Art. Gambar Anak Perempuan Yang Mengidentifikasi Dirinya dengan Pemain Drumband (Sumber: Lansing. Art. 1976.terus berkembang.

belum dapat coretan berupa lingkaran. yaitu: (a) Corengan tak beraturan: bentuk sembarangan. Pada tahap ini unsur warna belum penting. Pada masa ini merupakan pengalaman dari aktivitas motorik anak. 1981: 2. Di bawah ini adalah contoh gambar anak pada tahap corengan tidak beraturan: Gambar 29. Periode ini terbagi dalam 3 tahap. Goresan dibuat dengan 84 . wujud gambarnya berupa goresan tebal tipis dengan arah yang belum terkendali. anak bersemangat dalam membuat coretan. mencoreng tanpa melihat kertas.Sedangkan menurut Lowenfeld & Britain dalam buku Creative Mental Growth (1982) membuat periodisasi lukisan anak sebagai berikut: 1) Periode Coreng Moreng (Scribbling Period) Periode ini berlaku bagi anak berusia 2 sampai 4 tahun (masa pra sekolah). Corengan Tak Beraturan (Sumber: Hardiman. adalah ciri tahapan mencoreng paling awal. Art Activities for Children) (b) Corengan terkendali: anak mulai menemukan kendali visual terhadap coretan yang dibuatnya denagn kata lain sudah ada koordinasi antara perkembangan visual dan perkembangn motorik.

baik horixontal. Cirinya: bentuk semakin bervariasi. 1981: 2. 85 . Corengan Terkendali (Sumber: Hardiman. Art Activities for Children) (c) Corengan bernama: merupakan tahap terakhir masa mencoreng. Corengan Bernama (Sumber: Hardiman. Terdapat pengulangan pencoretan garis. Warna mulai menyita perhatian anak. 1981: 2. anak mulai memberi nama pada hasil coretannya. menggunakan waktu yang semakin banyak. lengkung . bahkan lingkaran. vertical.penuh semangat. Gambar 30. Gambar 31. Art Activities for Children) Gambar di bawah ini merupakan salah satu karya anak periode coreng moreng pada usia 3 tahun.

ataupun disiplin. pohon. dan sebagainya.Gambar 32. pendidik. dan berbagai hal baru kaitannya dengan perkembangan jiwa. gambar bersifat bagan makin dapat dikenali. 1978: 39. menjelajah. pelajaran. Gambar di bawah ini merupakan contoh periode pra bagan karya anak usia 7 tahun (Horovitz. rumah. 1973: 83). mulai menggambar manusia walau masih sangat sederhana. gambar manusia. maupun emosi mereka. Pada usia 5 tahun. Child Art Therapy) 2) Periode Pra Bagan (Pre Schematic Periode) Berlaku bagi anak berusia 4 sampai 7 tahun (taman kanak-kanak). teman sekolah. Dengan demikian anak mulai menggambar bentukbentuk yang ada hubunganya dengan dunia sekitar dan membangun ikatan emosional dengan apa yang digambar. Berbagai pengalaman berarti mereka temukan dengan adanya interaksi dengan dunia baru. bereksperimen. Usia 6 tahun. 86 . Coreng Moreng Anak Usia 3 Tahun (Sumber: Rubin. rasa. Pada periode ini anak mendapat kesempatan mencipta. alat peraga. dkk.

yaitu: gambar yang menyertakan pula benda atau obyek di dalam ruang yang sebenarnya tidak kelihatan. 87 . Anak mulai menggambar obyek dalam suatu hubungan yang logis dengan obyek lain. dkk. Pra Bagan Anak Usia 7 Tahun (Sumber: Horovitz. Muncul gejala yang disebut “sinar X” (Xray).Gambar 33. Understanding Children’s Art for Better Teaching) Gambar 34. 1982: 430. Konsep ruang mulai nampak dengan adanya pengaturan atau hubungan antara obyek dengan ruang. 1973: 83. Creative and Mental Growth) 3) Periode Bagan (Schematic Period) Berlaku pada anak usia 7 sampai 9 tahun. Pra Bagan Anak Usia 4-7 Tahun (Sumber: Lowenfeld.

Understanding Children’s Art for Better Teaching) 88 . Kesadaran visual anak mulai berkembang. Karakteristik warna mulai mendapat perhatian anak. gambar jadi kelihatan kaku. 1982: 431.Gambar 35. 1973: 182 (Part 3). dkk. tetapi spontanitas menjadi hilang. Bagan Anak Usia 10 Tahun (Sumber: Horovitz. Creative and Mental Growth) 4) Periode Awal Realisme (Early Realism) Berlaku bagi anak berusia 9 sampai 12 tahun. mulai memeperhatikan detail. lalaki dan wanita secara jelas. Bagan Anak Usia 7-9 Tahun (Sumber: Lowenfeld. Gambar 36. tetapi belum dapat menampilkan perubahan efek warna dan baying-bayang. anak mulai mengekspresikan karakter sex.

introspektif. 1973: 182 (Part 3). Bagan Anak Usia 13 Tahun (Sumber: Horovitz. dkk.5) Periode Naturalistik Semu (Pseudo Naturalistic) Berlaku pada anak usia 12 sampai 14 tahun (masa pra puber) Merupakan akhir dari aktivitas spontan. Gambar 37. Seni rupa menjadi produk dari suatu usaha yang serius. idealistic dan mulai memikirkan hubungan dirinya dengan masyarakat. anak menjadi kritis terhadap karyanya sendiri. Understanding Children’s Art for Better Teaching) 6) Periode pengambilan keputusan Berlaku pada anak remaja usia 14 sampai 17 tahun Anak bersikap kritis terhadap diri sendiri. 89 . Anak tidak lagi menggambar apa yang diketahuinya tetapi apa yang dilihatnya.

serta tinjauan secara psikoanalisis yang dikemukakan oleh Edmund Burke Feldman (1970). Beberapa penelitian tentang adanya bermacam tipe lukisan anak-anak ditinjau dari segi-segi tertentu dapat disebutkan antara lain: klasifikasi empirik atas perbedaan pure-style lukisan anak-anak oleh Herbert Read (1945). Pengertian tipe visual adalah bahwa titik tolak penghayatan anak lebih banyak berdasar pengamatan atau konsepsi visual atas 90 . yaitu: “the visual type” dan “the haptic type”.Gambar 38. tipologi oleh Victor Lowenfeld (1952). Understanding Children’s Art for Better Teaching) d. dkk. Tipe karya lukis anak dapat diidentifikasi berkat adanya berbagai studi yang dilakukan oleh para ilmuwan khususnya dalam bidang pendidikan dan psikologi. Menurut Victor Lowenfeld ada dua tipe lukisan anak-anak. 1973: 182 (Part 3). Bagan Anak Usia 14 Tahun (Sumber: Horovitz. Tipologi Seni Lukis Anak Tipologi dalam seni lukis anak diartikan sebagai pembahasan tentang tipe atau gaya atau corak yang dapat diamati pada hasil karya lukis anak.

bentuk alam sekitar atau objek lukisannya. sedang penggunaan warna tidak sebagai terjemahan bahan objek melainkan lebih nyata sebagai simbol yang sesuai dengan perasaan subjektifnya. Lebih menyukai objek yang mengelompok. tidak perspektivis. tetapi lebih menyukai objek-objek yang statis. tidak mengupayakan ilusi keruangan secara optis. Secara lebih terperinci Herbert Read mendasarkan klasifikasi empiriknya atas perbedaan “pure style” lukisan anak-anak menjadi dua belas kategori lukisan sebagai hasil penelitian dari beribu-ribu gambar anak-anak dari berbagai tipe sekolah. menunjukkan gerak dan proposi figur ekspresif. menggunakan warna sebagai terjemahan objek secara material. dan ternyata ciri-ciri lukisannya mengarah pada realisme naturalistik. sebagai hubungan kesatuannya yang organis. Ke dua belas kategori tersebut sebagai berikut: 1) Organic: pelukisannya berdasarkan pengamatan visual dan menunjukkan hubungan yang akrab dengan objek-objek eksternal. bergerak dari pada objek yang terpisah dan diam. Dalam hal ini faktor eksternal relatif lebih berperan. memperlihatkan plastisitas gerak objek dan proporsi visual. kemudian diklasifikasikan. Dalam hal ini faktor internal lebih nampak berperan. ciri-ciri lukisannya lebih menonjol sebagai ungkapan perasaan subjektif yang mengarah kepada corak non realistik. 2) Lyrical: pernyataan bentuk objeknya sama atau serupa dengan yang organic. diam seperti halnya objek alam 91 . Pada tipe haptic atau non visual titik tolak penghayatan anak lebih banyak berdasar “ideal concept”nya.

tetapi merupakan representasi dunia internal anak sendiri. kurang menunjukkan perhatian terhadap bagian-bagian kecil (detail) yang terdapat pada objek. Bentuk-bentuk bagan seperti pada periode awal anak melukis tetap digunakan. Lebih menunjukkan karakteristik sebagai lukisan anak perempuan. 5) Structural form: Kecenderungan anak untuk mendeformasi objek menjadi bentu-bentuk geometrik yang merupakan esensi bentuk-bentuk eksternal. 3) Impresionist: lebih banyak sekedar melukiskan hasil penangkapan kesan sesaat terhadap situasi atau suasana objek secara cepat. merekam setiap detailnya sebanyak mungkin yang dapat dilihat dan diingat dan menggambarkannya dalam struktur yang kurang organis. 4) Rythmical pattern: berdasarkan hasil pengamatan terhadap bentuk-bentuk objek tersebut dibuat pola-pola bentuk objek tertentu yang diulang-ulang secara ritmis dengan berbagai variasi sehingga memenuhi bidang lukisan.benda (still-life) dengan pengerjaan yang halus. Aktivitas citra nonvisual dari 92 . lembut. 8) Expressionist: terdapat kecenderungan yang menonjol untuk mendistorsi bentuk dan warna objek untuk mengungkapkan sensasi internal/subjektif anak secara spontan. 9) Enumerative: anak dengan penglihatannya secara cermat mengontrol objeknya. 7) Haptic: menunjukkan pelukisan yang tidak berdasar pada konsep pengamatan visual terhadap objek. 6) Schematic: menggunakan bentuk-bentuk geometrik tetapi melepaskan diri dari ikatan struktur objek alam. lebih menonjol sebagai disain yang simbolik daripada penggambaran bagan secara realistik.

Sedangkan rythmical patern. haptic. baik dalam penampilan organisasi tema. Sesungguhnya klasifikasi tersebut diakui sendiri oleh Herbert Read kurang bersifat definitif dalam arti sebenarnya masih sangat mungkin terjadi reduksi atau perluasan kategori-kategori dalam kenyataan yang lebih luas maupun lebih khusus. 12) Literary: Anak menggunakan tema-tema dari cerita atau dongeng yang didapat sendiri dari bacaan atau dongeng dari guru. yaitu: organic. lirycal dan impressionist yang sama-sama menggunakan wujud atau bentuk alam sesuai dengan pegamatan visualnya. schematic.mata lebih banyak sebagai alat perekam tanpa benyak melibatkan sensasi untuk menciptakan keutuhan suasana. Oleh karena itu Herbert Read mereduksi ke-12 kategori lukisan anak-anak 93 . Berdasarkan klasifikasi di atas dapat dikatakan bahwa cara pelukisan anakanak yang sepenuhnya berdasarkan basis realistik-naturalistik adalah tiga kategori yang pertama. 11) Romantic: Anak mengambil tema-tema kehidupan tetapi diintensifkan dengan fantasinya sendiri. structural form. tidak menampilkan ilusi keruangan/kedalaman guna menciptakan pola-pola manarik. dipadukan dengan rekonstruksi ingatan dan kenangannya terhadap sesuatu yang berhubngan dengan tema tersebut. yang diungkap kembali lewat narasi bentuk dan warna. meriah. 10) Decorative: anak memanfaatkan sifat-sifat dua dimensional. expressionist dan decorative dapat dimasukkan ke dalam golongan non realistik. meskipun dalam kadar dan kecenderungan yang berbeda-beda. bentuk. pewarnaan yang bersifat datar.

cenderung lebih banyak mengandalkan aktivitas intelektual yang berdasar kepada gejala faktual obyektif. Dalam katagori enumeratif tidak terdapat proyeksi semacam itu. (5) haptic. Pada kategori organic indra mata lebih berfungsi sebagai saluran kamunikasi (penghubung) antar jiwa si pelukis dengan obyek yang diamati untuk ditulis. physiological/intrasubjective. intuition) beserta kecenderungan kerakterologis (extrovert. introvert) dari fungsi-fungsi mental tersebut. Di sini tidak terdapat unsur diri (pribadi) si pelukis. (6) enumerative. (7) decorative. Hasilnya masih berupa lukisan. (2) empathetic. Kedua. 94 . dengan demikian bersifat introversif. (4) structural form. (3) rhythmical pattern.di atas menjadi 8 kategori yaitu: (1) organic. Reduksi di atas tetap mempertimbangkan relevansinya yaitu: Pertama. character). associative. Pada katagori organic anak tidak hanya merperhitungkan obyek yang dilukis seadanya tetapi juga memperhitungkan hubungan organisnya. 4 tipe fungsi mental Jung (thinking. sensation. yang obyektif/naturalistik tetapi vital dan organik. Indera mata sekedar berfungsi sebagai alat perekam fakta fisik (obyek yang dilukis). Di sini si pelukis memproyeksikan dan meleburkan dirinya ke dalam obyek lukisannya. feeling. (8) imaginative. Pada tipe fungsi mental: thinking. Tipe fungsi mental yang demikian relevan dengan kecenderungan imitatif dalam penggambaran bentuk-bentuk obyek eksternal pada beberapa katagori lukisan anak-anak. 4 tipe apresiasi estetik Bullough (objective. dengan demikian bersifat ekstroversif.

dalam lukisannya diolah menurut perasaannya. Intuisi adalah fungsi mental yang banyak tampil pada ekspresi musikal. melankolik dan lain-lain) dalam bentuk-bentuk motif yang merupakan simbolisasi perasaan anak. di mana titik tolak ubahan bentuk obyek lukisannya diambil dari pola-pola bentuk yang abstrak geometrik. anak lebih banyak menggunakan perasaannya dalam menanggapi sesuatu hal. Ekspresi haptic adalah aspek introvert dari tipe fungsi mental: sensation. Perasaan dapat diekspresikan secara lebih subjektif. 95 . Kecenderungan introvert dapat dilihat pada katagori structural form. Bentuk-bentuk alami (natural) diubah (guna mengekspresikan perasaan riang. Apabila menanggapi bentuk dan warna obyek. tidak harus sama dengan sifat-sifat fisik bentuk dan warna obyek secara "kasat mata". tidak bertolak dari sifat-extroversif seperti pada kategori decorative. maka menunjukkan ciri intuisi yang bersifat extrovert. dan "empathy" adalah aspek ekstrovert dari tipe fungsi mental yang sama. I. Dalam hal anak menciptakan motif-motif yang didasarkan pada bentuk-bentuk eksternal/alam dan mengkonstruirnya dalam pola-pola yang ritmis. namun lebih banyak menurut suasana hati anak.Tipe fungsi mental: feeling. Anak yang bertipe fungsi mental: intuition nampak dalam kecenderungan mengembangkan aksen-aksen ritme spontan dalam lukisannya dengan motif-motif bentuk yang relevan.ukisan anak-anak dengan ekspresi extroverted feeling terdapat pada kategori decorative. Misalnya bunga yang diberi warna cerah untuk mengekspresikan keriaan. namun dari imajinasi anak sendiri seperti pada kategori imaginative.

Sesuai dengan karakteristik mata pelajaran seni rupa seni lukis khususnya. ada dua tipe yang membedakannya yaitu tipe visual dan non visual. 3. Kedua tipe ini menurut Lowenfeld dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam menilai karya lukis anak. dan nilai rekreasi. Namun masing-masing secara khusus memiliki ciri tersendiri bila dilihat dari karya lukis yang dihasilkan. berekspresi. Metode Pembelajaran Seni Lukis Anak Sekolah Dasar Dalam suatu pembelajaran tentunya ditetapkan terlebih dahulu tujuan pembelajaran.Dengan demikian hubungan antara 8 kategori lukisan anak-anak di atas dengan tipe-tipe psikologis dapat digambarkan sebagai berikut: Tabel 2. yang pada prinsipnya disenangi anak karena ada muatan nilai bermain. Maka dibutuhkan kejelian pendidik dalam memilih 96 . Untuk mencapai tujuan yang diharapkan tentunya digunakan strategi atau teknik yang disebut dengan metode. Tipe-Tipe Psikologis Anak & kategori lukisan anak Thinking Feeling Sensation Intuition : extrovert introvert : extrovert introvert : extrovert introvert : extrovert introvert = enumerative = organic = decorative = imaginative = empathetic = expressionist (haptic) = rhytmical pattern = structural form Anak dalam menuang ekspresi artistik senantiasa berbeda. Dengan demikian tujuan metode pembelajaran adalah merencanakan dan melaksanakan cara-cara yang efektif untuk mencapai tujuan.

perhatian. dan teknik sehingga mereka dapat membuat berbagai karya lukis. Motivasi yang dapat diberikan untuk anak usia sekolah dasar misalnya: berupa cerita baik cerita dongeng maupun cerita yang sesuai dengan keadaan lingkungan mereka. sentuhan suasana yang aktual. memberi bekal life skill kepada peserta didik. nyanyian. dan ekspresif adalah melalui kegiatan berkarya seni rupa. perlu diketahui bahwa pada dasarnya setiap anak mempunyai potensi berkarya seni rupa yang berbeda-beda. Langkah-langkah Pembelajaran Seni Lukis Salah satu jalan untuk membentuk pribadi anak yang sensitif.metode yang tepat agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. yaitu metode pendidikan yang dapat mendukung pengembangan creative thingking peserta didik. salah satunya adalah dengan berkarya seni lukis. dan arah tujuan dari pembelajaran. 97 . Dalam proses membuat karya seni lukis. dan gairah anak untuk berkarya. ataupun sebuah rekaman yang dapat mereka ungkapkan kembali. alat. keadaan lingkungan atau suasana. Berikut ini langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran seni lukis anak di sekolah dasar agar dapat berkarya sesuai dengan minat. dan menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan (Enjoyfull learning). anak akan dapat mengenal berbagai bahan. Untuk melaksanakan pembelajaran seni lukis pada peserta didik. a. 1) Pemberian Motivasi Pemberian motivasi merupakan upaya yang dilakukan untuk membangkitkan semangat dan minat anak terhadap tugas-tugas yang akan diberikan untuk dikerjakan. kreatif. Model-model motivasi sangat banyak tergantung pada tingkat usia anak.

98 . Proses interaksi antara pendidik dan peserta didik harus selalu dikondisikan dalam suasana segar. Dalam kegiatan ini anak juga dapat langsung diajak mengamati dan menghayati karya-karya atau benda-benda yang ada disekitar mereka. pengenalan dan percobaan penggunaan media. Contoh karya tersebut bukan semata-mata untuk dicontoh.2) Pemberian Peragaan Peragaan merupakan mempertunjukkan atau menampilkan sebuah objek yang dapat diamati dan diperbincangkan sesuai dengan tugas yang akan dikerjakan oleh anak. baik karya orang dewasa maupun karya anak-anak. dan diakhiri dengan tahap penyelesaian. Pelatihan dapat diberikan setelah anak memahami apa yang diperagakan dan memahami tugas yang disampaikan oleh pendidik. Dalam hal ini anak diberi kebebasan menerima makna tugas dan mencoba menggunakan media yang ada. melainkan untuk memperjelas keterangan dan sekaligus memberikan daya tarik bagi anak. bebas. Hal ini dilakukan agar anak selalu termotivasi untuk mempersiapkan diri dalam mengerjakan tugas yang diberikan. 3) Pemberian Pelatihan Pelatihan diberikan agar anak mempunyai pengalaman langsung dan diberi kebebasan berekspresi menggunakan media yang telah tersedia. Objek yang dapat dipertunjukkan dapat berupa contoh-contoh karya lukisan. pengorganisasian unsur-unsur visual seperti pemilihan objek dan penyusunan komposisi. Dalam proses pelatihan ini terjadi alur penciptaan yang meliputi penyusunan konsep dan penuangan ide. dan gembira.

pendidik dapat berdiskusi langsung dengan setiap anak sesuai dengan tingkat permasalahan atau kesulitan yang dihadapinya.4) Pemantauan Pemantauan dilakukan untuk mengetahui sejauh mana anak-anak dapat berekspresi menggunakan media yang ada. namun lebih mengarah pada bimbingan individual. Tahap ini dapat dikatakan sebagai tahap evaluasi karya. bertindak sebagai “Tut Wuri Handayani”. Melalui tahap ini. apabila memungkinkan karya-karya tersebut dapat dibahas. dikaji. Untuk lebih jelasnya. Pada tahap ini pendidik sangat berperan penuh. dan didiskusikan oleh anak. kelima langkah pembelajaran seni lukis di atas yang dapat diterapkan di sekolah dasar dapat digambarkan sebagai berikut: 99 . Diskusi lebih mengerah pada pemberian stimulasi untuk menemukan pemecahan permasalahan yang terdapat pada anak. Pendidik pada mulanya melakukan bimbingan secara klasikal atau kelompok. Dalam pemantauan. 5) Pemaparan Karya Seni Lukis Anak Akhir dari proses pembelajaran seni lukis adalah megumpulkan karya anak kemudian memilih karya yang dapat dipamerkan atau dipertunjukkan untuk dapat diamati secara bersama-sama. Dapat juga anak diberi kesempatan untuk menceritakan hasil lukisannya sendiri. pendidik dapat memberikan pujian untuk hasil karya yang dikerjakan dengan baik.

alat. kemampuan mengekspresikan dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni. Kegiatan apresiasi. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 (Peraturan Pemerintah.Motivasi Peragaan yaitu mengamati dan menghayati objek disertai dengan pengenalan bahan. sedangkan rekreasi menampilkan/menggelar karya seni. Kegiatan kreasi mempunyai makna menciptakan karya seni yang baru. dan penjelasan teknik secukupnya. Pelatihan yaitu kebebasan berekspresi dengan media yang ada Pemaparan karya. 2005) disebutkan tujuan mata pelajaran Seni Budaya dan Ketrampilan adalah untuk meningkatkan sensitifitas. Pada kegiatan ini peserta 100 . evaluasi dan pemberian pujian bagi hasil karya yang baik Pemantauan dan pembimbingan Gambar 39. Langkah-langkah Pembelajaran Seni Lukis 4. termasuk di dalamnya yang bersifat rekreatif (performance). Dalam mata pelajaran tersebut. dua kegiatan yang saling terkait satu sama lain yaitu apresiasi dan kreasi. mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan adalah nama dari kelompok mata pelajaran estetika yang dilaksanakan pada tingkat sekolah dasar. Dalam hal ini tentunya keterlibatan intelektual dan pengalaman estetik peserta didik sangat berperan. dimaksudkan melatih perkembangan kepekaan rasa estetik peserta didik. Peserta didik berperan sebagai pengamat yang menghayati gejala keindahan yang ada dalam karya seni kemudian menanggapinya. Seni Lukis sebagai indikator gambar ekspresi dalam KTSP Dalam kurikulum KTSP. disertai dengan tanya jawab.

Merupakan titik tolak dari menggambar ekspresi adalah kondisi kejiwaan anak. kelas dua semester satu dan semester dua. dilaksanakan pada kelas satu semester dua. ide 101 . ilustrasi. relief. 2006: 4). Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran Seni Budaya dan Kerajinan Sekolah Dasar berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 yang meliputi kegiatan apresiasi dan kreasi secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 1 halaman 270. menjadikan semua tanggapan yang diterima oleh anak akan menimbulkan reaksi pada diri anak. Misalnya dalam pembuatan karya seni lukis dikenal adanya aspek bentuk yang diubah menjadi struktur. dan sebagainya) (BSNP. Reaksi yang bersifat subjektif dapat dilihat dari perbuatan anak yang serba spontan. Secara rinci khusus pelaksanaan seni lukis di sekolah dasar ada dalam penjabaran kompetensi Kreasi Seni Budaya dan Keterampilan dapat dilihat pada lampiran 2 halaman 275.didik secara aktif menghasilkan suatu karya seni (lukisan. Menggambar ekspresi menurut tujuannya. juga kelas tiga semester dua. Dengan sifat anak-anak yang subjektif. Dalam hal ini keterlibatan intelektual peserta didik sangat dominan. Hal ini memerlukan kerja intelektual. disebutkan bahwa mengekspresikan diri melalui karya gambar ekspresif dan mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif. terlihat dalam katakata yang diucapkan dan ungkapan jiwa melalui gambar. Kamaril (2005: 7) mengungkapkan bahwa menggambar ekspresi adalah: usaha mengungkapkan dan mengkomunikasikan pikiran. Pada kompetensi dasar di atas. Jacques Maritain dalam Sumardjo (2000: 51) menyebutkan adanya ekspresi intelektual yang diperlukan untuk mengubah bentuk menjadi struktur.

gejolak perasaan/emosi serta imajinasi dalam wujud dwimatra yang bernilai artistik dengan menggunakan garis dan warna. Sebagai contoh. gagasan gejolak perasaan/emosi. piring yang bisa terbang. cat air. diraba secara langsung maupun tidak langsung. Merupakan hal yang terpenting dalam melukis untuk anak sekolah dasar adalah keberanian. Salam (2001: 50) mengatakan bahwa kegiatan menggambar/melukis ekspresi di sekolah dipengaruhi oleh paham ekspresionisme yakni suatu paham yang meyakini bahwa dalam menggambar/melukis seseorang seyogyanya menggores secara berani dan spontan agar perasaannya dapat tersalur secara apa adanya tanpa dipengaruhi oleh kemampuan intelektualnya. 102 . kemauan. Bahan dan alat yang dimaksud disini adalah bahan dan alat yang digunakan untuk mencetuskan ide. peserta didik menggambar laba-laba raksasa yang besarnya melebihi ukuran pesawat terbang. didengar. Selanjutnya sesuai dengan tujuan dan kompetensi dasar yang ada dalam kurikulum. tinta. kuas. Bahan dan alat tersebut adalah kertas. kanvas. dan sebagainya. dan imajinasi yang diperoleh dari apa yang dilihat. dan ketrampilan peserta didik dalam menggunakan bahan dan alat. Dengan demikian gambar/lukisan yang dihasilkan peserta didik bersifat sangat pribadi. manusia berkepala kuda . Menggambar imajinatif adalah salah satu kegiatan menggambar/melukis yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menyatakan daya khayalnya. produk dari menggambar ekspresi disebut dengan karya seni lukis. Hal-hal yang tidak ditemukan secara nyata di dunia ini ditampilkan oleh peserta didik melalui gambar imajinasi. Dalam hal ini guru seyogyanya tidak ikut campur dalam menentukan apa yang harus diungkapkan oleh peserta didik.gagasan.

Mencermati ciri-ciri perkembangan anak pada usia masa ini. yaitu: gambar yang menyertakan pula benda atau obyek di dalam ruang yang sebenarnya tidak kelihatan. dan sebagainya. pengamatan semakin teliti dan semakin tahu siapa dirinya dalam hubungan dengan lingkungannya. secara umum hasil karya lukis anak merupakan cerita yang luas dengan penampilan gambar yang lengkap dan dibuat dengan teknik yang mantap. Anak sudah dapat berpikir lebih menyeluruh dengan melihat banyak unsur dalam waktu yang sama (decentering). Dalam hal penggunaan warna disikapi sebagai bentuk yang mendekati pada warna yang sebenarnya. Pada kelas satu sampai dengan kelas tiga sekolah dasar periodisasi mengggambar anak. anak pada masa ini menyebutnya sebagai tahap operasi konkret yang bercirikan bahwa perkembangan system pemikirannya didasarkan pada aturan-aturan tertentu yang logis. kedudukan anak ada pada menurut periode bagan (schematic period) yaitu pada anak usia 7 sampai 9 tahun. Dengan demikian anak mulai menggambar obyek dalam suatu hubungan yang logis dengan obyek lain. Mereka telah memiliki konsep cerita yang sudah banyak. Sedangkan menurut Piaget. Hasil gambar peserta didik merupakan wujud dari kreativitas dan ketrampilannya. cat minyak. Muncul gejala yang disebut “sinar X” (X-ray) atau tembus pandang.cat akrilik. 103 . Konsep ruang mulai nampak dengan adanya pengaturan atau hubungan antara obyek dengan ruang walaupun masih sederhana dengan meletakkan dalam satu garis vertical sebagai garis dasar. pewarna alami misal daun. buah. Menurut Susanto (2003: 294): pada masa ini merupakan konsep tentang bentuk dasar dari pengalaman kreatif anak.

Dia masih menggunakan bentuk geometrik untuk menggambarkan idenya. Anak bekerja dengan tujuan sesuai apa yang ada dalam pikirannya bahwa apa yang dihasilkan sangat berarti bagi dia. menguranginya. Dia mempunyai sebuah konsep jelas dari bentuk orang dan mulai lebih spesifik menggunakan kecenderungan untuk menunjukkan simbol misal.Dimulai pada usia enam tahun anak mulai mapan di dalam dunia nyata dan menjadi bagian sosial dari interrelationship (hubungan di dalam struktur). tetapi ia sampai pada referensi rasional yang utuh dari bentuk dan ruang skematik pada usia tujuh tahun. Anak juga mempunyai tujuan memperoleh pengalaman dan pengetahuan memperbesar tendensi alaminya guna diwujudkan dalam ekspresi gambarnya. Tipe-tipe perseptual menjadi nyata dalam seni pada anak usia sembilan tahun ketika ia matang secara sosial. 104 . Sebelumnya ia telah mengumpulkan detil-detil dalam gambranya ketika ia tumbuh. dia menggunakan garis pergerakan dari tubuh dan bibir dari gambarnya. tapi menambahnya. Seiring dengan berjalannya waktu. dan detil-detil tersebut mencerminkan pertumbuhan inteletualnya. Kualitas estetik yang tinggi dari referensi fisik-emosionalnya pada tahun-tahun awal sekarang disubordinasikan pada pengisahan yang ideologis. pada tahapan simbolik anak pada usia 7-9 tahun membutuhkan koordinasi fisik yang cukup untuk memberikan pembelajaran cara pemakaian peralatan seni dan materi yang digunakan dalam membuat karya seninya. atau memvariasi elemen-elemen tertentu menurut pada subjek yang sedang digambarkan.

anak menggunakan secara emosional. Pada waktu dia menimbun garis dasar untuk memberitahukan keseluruhan cerita atau menggambar garis dasar sekeliling tepi dari kertasnya untuk menunjukkan seluruh pemandangan. kemudian secara bertahap merasakan pentingnya hubungannya dengan objek. dimana keduanya sesuatu yang abstrak dari ruangan dan sebuah rasa dari posisi dan direksi dari sesuatu dalam ruangan.Pada tahap ini juga anak menunjukkan sebuah rasa dari hubungan spatial. menggambar 105 . anak mengatur objek-objek dikedua tepi dari gambar dan langit dipandang sebagai pusat. Anak pada tahapan ini juga kekurangan sebuah realisasi dari hubungan ruang dan waktu dan biasanya beberapa kejadian dalam satu gambar. secara sebenarnya menurut pandangan visual mereka. Pada visualisasi kedalaman ekspresi. Selanjutnya menurut Kellogg ( 1967: 181-215) secara lebih jelas lagi menyatakan bahwa pada usia 7-9 tahun anak tersebut mengalami tahapan sebagai berikut: 1) 2) Periodisasi pada periode bagan ( Schematic period). Dia biasanya menggunakan sebuah garis dasar dalam gambarnya. Pada penggunaan warna. anak belum menyadari bahwa ketika beberapa objek dipandang dari satu sudut. Pada tipe sinar X dari ekspresi. satu objek mungkin sebagian tidak akan terlihat. objek terlihat secara fisik. Selanjutnya anak merasakan bahwa macam-macam objek dalam lingkungannya mempunyai warna berbeda-beda. Pada karya anak terlihat bahwa semuanya penting dan harus terlihat serentak. Mempunyai konsep cerita yang banyak.

Semakin tahu siapa dirinya dalam hubungan dengan lingkungannya.3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Pengamatan semakin teliti. Ia akan masuk dalam kedua tipe tersebut. Dengan demikian perlakuan. pembelajaran dan penilaian hasil karya seni lukis anak pada periode tersebut hendaknya mengacu pada perkembangan periode yang sedang dialami oleh anak. atau ia akan menjadi introvert perseptual-sosial dan haptik dan tidak tergantung pada bidang dalam seninya. dan pada kadar tertentu. Adanya gejala tembus pandang (X-ray). Penggunaan warna mendekati warna yang sebenarnya. Perkembangan selanjutnya anak akan menjadi ekstrovert perseptual-sosial apabila tergantung pada aspek visual daslam bidang seninya. Identifikasi semacam itu akan mengarahkan anak laki-laki untuk melebih-lebihkan proyeksi diri menjadi berupa citra-citra yang mengerikan. Konsep ruang mulai nampak adanya pengaturan walaupun masih sederhana. sementara anak gadis akan cenderung mengidealisasi dirinya sendiri dalam citra wanita yang glamor dan matang. 106 . Secara umum hasil karya merupakan cerita yang luas dengan penampilan gambar yang lengkap dan teknik yang mantap. akan menjadi berorientasi pada gang karena adanya kebutuhan untuk mengidentifikasi dengan lebih mendalam peran seksual-diri. Adanya garis vertikal sebagai garis dasar tempat objek.

and psychomotor (ability to handle specific processes involving physical coordination) skills. kepekaan rasa estetik. dan psikomotorik (BSNP DIKNAS. mencakup aspek kognitif. 2006: 14). atau teater. intellectual abilities). Dalam proses pembelajaran seni lukis ada pengalaman tertentu yang lebih 107 . implementasi pelaksanaan terlihat dalam Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Estetika disebutkan bahwa: standar kompetensi kreasi/rekreasi berkaitan dengan kemampuan peserta didik dalam menciptakan atau mengekspresikan diri melalui karya seni rupa. dan ketrampilan motorik yang tercermin pada karya seni yang dihasilkan atau dipertunjukkan (BSNP. Pada karya seni rupa penuangan gambar ekspresi adalah karya seni lukis. Sehubungan dengan hal tersebut di atas.D. 2006: 5). Dalam PP No 19 tahun 2005 disebutkan bahwa: penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik (BSNP. Fungsi Penilaian dalam Pendidikan Seni Pada umumnya penilaian dapat diartikan sebagai aktivitas pembandingan suatu hasil pengukuran terhadap acuan tertentu. 2006: 7) Hal ini sesuai dengan pernyataan Gaitskell (1975: 62) sebagai berikut: Behaviorists in art education also recommend that the three major domains of learning be maintained. tari. These domains. musik. Penilaian pendidikan seni rupa ditujukan untuk menilai hasil belajar peserta didik secara menyeluruh. fact. Kemampuan ini terbentuk dari kombinasi pengetahuan. or classifications of learning… cognititive (knowledge. afektif. Penilaian dalam Pembelajaran Seni Lukis di Sekolah Dasar 1. affective (feelings and attitudes).

Dengan demikian untuk menilai karya seni lukis peserta didik diperlukan tidak hanya dari segi hasil saja tetapi juga proses pembuatan karya tersebut. observasi. dan teknik untuk berkomunikasi secara visual (Salam. bahan. teknik penilaian observasi secara individual sekurang-kurangnya dilaksanakan satu kali dalam satu semester. (3) untuk mata pelajaran selain kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. 2001: 8). Tingkah laku peserta didik di luar situasi tes lebih menunjukkan penampilan yang wajar dan non artificial dalam mengaplikasikan kemampuan kognitif. afektif dan psikomotor yang banyak diantaranya tidak dapat terjaring oleh tes. pengalaman memahami dan mengaplikasikan alat. (2) teknik penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat berupa tes tertulis. Karya seni lukis tentunya tidak relevan diukur dengan alat tes yang hanya mengukur aspek kognitif. tes praktek.ditekankan antara lain: pengalaman penghayatan dan penilaian terhadap nilai keindahan. Apalagi bila dikaitkan tujuan pendidikan seni rupa adalah membina kemampuan peserta didik ber. Selanjutnya pada Bab IV: Standar Proses Pasal 22 dijelaskan sebagai berikut: (1) penilaian hasil pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat 3 pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai. 108 . sedangkan penampilan peserta didik dalam aspek afektif dan psikomotor sangat sulit datanya diukur melalui tes. Hal ini sesuai dengan PP 19 tahun 2005. tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 64 ayat 5 menyatakan: “Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran estetika dilakukan melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan ekspresi psikomotor peserta didik”. dan penugasan perseorangan atau kelompok.self expression secara kreatif-estetik lewat penggunaan media seni rupa.

i. berarti prosedur penilaian. c. f. Objektif. tidak dipengaruhi subjektivitas penilai. status sosial ekonomi. berarti penilaian seni rupa tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama. Terpadu. maupun hasil. Sahih. Terbuka. g. tenaga pendidik. Sistematis. Dengan melakukan kegiatan asesmen dapat diketahui perubahan yang terjadi pada anak didik. suku. atau administrator. baik dari teknik. Adil. 109 . h. adat istiadat. grup. dan gender. prosedur. berarti penilaian seni rupa oleh pendidik seni rupa merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran. berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku. 2. d. Karakteristik Penilaian dalam Pendidikan Seni Pada uraian terdahulu telah disebutkan bahwa penilaian seni lukis anak meliputi penilaian proses dan penilaian hasil atau produk. budaya. yang mengacu pada Peraturan Menteri No 20 tahun 2007: a. Menyeluruh dan berkesinambungan.Berikut ini prinsip penilaian karya senirupa pada jenjang pendidikan dasar. Akuntabel. berarti penilaian oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai. kriteria penilaian. berarti penilaian seni rupa didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas. b. e. Pada dasarnya assessmen adalah kegiatan mengumpulkan informasi tentang kualitas dan kuantitas perubahan pada anak didik. berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapain kompetensi yang ditetapkan. untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik. berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan. dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan. antara lain peserta didik. berarti penilaian seni rupa didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur. Untuk mengetahui keberhasilan program pembelajaran selalu dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik. Beracuan kriteria. Dengan demikian untuk memecahkan permasalahan penilaian proses dan hasil karya peserta didik tersebut perlu digunakan pendekatan penilaian yaitu performance assessment.

The subject of the decision making is the individual. usually an employee or a student. not a program or product reflecting a group’s activity. using a variety of instruments and strategies. Ada lima unsur-unsur kunci dalam definisi yang dikemukakan oleh Berk. melalui proses pembelajaran yang menunjukkan kemampuan peserta didik dalam proses dan produk. Performance assessment is a process.Sedangkan penilaian kinerja (performance assessment) menurut Berk sebagai berikut: performance assessment is the process of gathering data by systematic observation for making decisions about an individual (Berk. 2. 1986: ix). Dimulai pada proses pembuatan karya seni lukis. The data are collected by means of systematic observation. pengetahuan dan ketrampilan. (Berk. not a test or any single measurement device. The data are integrated for the purpose of making specific decisions. penerapan. Zainul (2005: 4) menyatakan bahwa asesmen kinerja secara sederhana didefinisikan sebagai penilaian terhadap proses perolehan. 5. The focus of this process is data gathering. 110 . bila dihubungan dengan karakter mata pelajaran seni rupa khususnya seni lukis performance assessment sesuai untuk menilai karya seni lukis peserta didik. 3. Selanjutnya Berk mengatakan bahwa dalam Performance assessment selalu terkait dengan adanya rubrik penilaian yang merupakan bagian dari Performance assessment: Subsumed under the rubric Performance assessment are a host of other related terms that are often used synonymously with it. 1986: ix). sampai dengan hasil akhir atau produk seni lukis peserta didik. Melengkapi pendapat tersebut. 4. Berdasarkan pendapat Berk di atas. yaitu: 1.

(4) dengan mengetahui kriteria yang digunakan untuk mengukur dan menilai keberhasilan proses pembelajarannya. Menurut Maertel yang dikutip oleh Zainul (2005: 3) bahwa pada prinsipnya performance assessment mempunyai dua karakteristik dasar yaitu: (a) peserta didik diminta mendemonstrasikan kemampuannya dalam membuat kreasi suatu produk atau terlibat dalam aktivitas perbuatan. (b) hasil karya atau produk lebih penting dari pada perbuatan (performance)nya. melalui proses pembelajaran yang menunjukkan kemampuan peserta didik dalam proses dan produk. pengetahuan dan ketrampilan. namun pengertian yang dapat disampaikan antara lain dari Berk (1986: ix) yang mengatakan bahwa “Performance assessment is the process of gathering data by systematic observation for making decisions about an individual”. asesmen juga untuk memperbaiki proses pembelajaran. Selanjutnya dinyatakan pula bahwa asesmen kinerja diwujudkan berdasarkan empat asumsi pokok. (3) asesmen tidak hanya untuk mengetahui posisi peserta didik pada suatu saat dalam proses pembelajaran. (2) tugasugas yang diberikan atau dikerjakan oleh peserta didik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan proses pembelajaran. Pengertian Performance Assessment Berbagai pengertian yang disampaikan para ahli evaluasi tentang Performance assessment. penerapan. Zainul (2005: 4) menyatakan bahwa asesmen kinerja secara sederhana didefinisikan sebagai penilaian terhadap proses perolehan. tetapi lebih dari itu. 111 . peserta didik akan secara terbuka dan aktif berupaya untuk mencapai tujuan pembelajaran. Melengkapi pendapat tersebut. yaitu: (1) asesmen kinerja yang didasarkan pada partisipasi aktif peserta didik.a.

artinya apakah tugas yang diberikan peserta didik sepadan dengan apa yang sering dialami dalam kehidupan sehari-hari. agama. tempat. apakah yang akan dinilai itu produk atau perbuatan (performance) tergantung pada karakteristik domain yang diukur. 112 . artinya apakah tugas-tugas yang diberikan relevan untuk dapat dilaksanakan mengingat faktor beaya. artinya tugas yang diberikan sudah relevan dengan yang diajarkan pendidik di kelas.kriteria tersebut sebagai berikut: 1) Generalizability.Selanjutnya Messick (1995: 33) mengatakan bahwa dalam hal memilih. 4) Teachability. apakah perbuatan dan produk sama penting atau dominan yang mana tergantung juga pada karakteristik bidang yang dinilai. 2) Authenticity. artinya tugas yang diberikan sudah adil untuk peserta didik tidak bias gender. waktu . artinya apakah tugas yang diberikan kepada peserta didik telah mengukur lebih dari satu kemampuan-kemampuan yang diinginkan. 5) Fairness. 3) Multiple foci. artinya apakah tugas yang diberikan dapat diskor dengan akurat dan reliabel. dan peralatan yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas tersebut. Dalam menentukan domain ini perlu ada judgment dari pendidik. 7) Scorability. Untuk melihat apakah Performance assessment yang dilakukan telah memenuhi standar kualitas. atau social ekonomi. suku bangsa. artinya apakah tugas-tugas yang diberikan pada anak didik telah memadai untuk digeneralisasikan pada tugas-tugas lain yang sejenis. 6) Feasibility. Popham (1995: 147) mengemukakan kriteria.

adalah dua makna yang terkandung dalam konsep validitas. validitas isi (content validity). tidak berlaku untuk tujuan yang lain juga untuk kondisi yang berbeda. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Pengukuran Validitas dan reliabilitas merupakan hal utama yang harus dipenuhi untuk menentukan kualitas suatu instrumen penilaian. Sesungguhnyalah persoalan validitas instrumen berhubungan dengan pertanyaan. Relevans menunjuk pada kemampuan instrumen untuk memerankan fungsi untuk apa instrumen dimaksudkan. Dengan demikian menjadi masalah pokok yang berkaitan dengan validitas instrumen adalah apakah instrumen tersebut menghasilkan informasi yang diinginkan secara tepat sesuai tujuan yang diperlukan. Validitas konstruk menunjuk pada sejauh mana instrumen yang disusun 113 . 2004: 144-145). Babbie. menggambarkan keadaan yang sebenarnya. dan validitas criteria (criterion-related validity). sifat-sifat. yaitu validitas konstruk (construct validity). apakah suatu instrumen mampu menggambarkan ciri-ciri. Suatu instrumen dikatakan valid untuk tujuan tertentu. Secara umum terdapat tiga macam validitas. 2000: 686. sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. 1) Validitas Validitas instrumen dapat dimaknai sebagai ketepatan dalam memberikan interpretasi terhadap hasil pengukurannya.b. Sedangkan accuracy menunjuk pada ketepatan instrumen mengidentifikasi aspek-aspek yang akan diukur secara tepat. Relevans dan accuracy. (Kerlinger. atau aspek apa saja yang akan diukur.

dan kritik dari para ahli terkait. Dengan demikian analisis faktor digunakan untuk mencari bentuk validitas konstruk. untuk 114 . Validitas konstruk disusun berdasarkan pada konsep teori yang sudah mapan dan pertimbangan-pertimbangan yang rasional.mampu menghasilkan butir-butir pertanyaan yang dilandasi oleh konsep teoritik tertentu. Ada dua makna dalam validitas isi yaitu. Untuk memantapkan validitas konstruk dibutuhkan expert judgment yaitu masukan. Langkah selanjutnya pada validitas isi adalah menjabarkan dalam aspek yang terperinci selanjutnya didiskripsikan indikator- indilkatornya. Validitas isi berhubungan dengan kemampuan instrumen untuk menggambarkan secara tepat domain prilaku yang diukur. Menurut Kerlinger (2000: 687) analisis faktor merupakan metode yang tidak terelakkan untuk meneliti validitas konstruk. Validitas konstruk sendiri digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menjelaskan varians pada hasil pengukuran. diperlukan pendekatan logis dan empirik. Prosedur yang ditempuh untuk memperoleh validitas konstruk yang diharapkan. pertimbangan. Validitas isi berhubungan dengan pertanyaan seberapa jauh butir-butir instrumen mencerminkan keseluruhan isi dari aspek yang hendak diukur. Validitas sampling berhubungan dengan pertanyaan seberapa jauh butir-butir instrumen merupakan sampel yang representatif dari keseluruhan aspek yang diukur. Selanjutnya dimintakan pertimbangan kolega atau ahli yang berkompeten melalui forum diskusi antar ahli (focus group discussion). Dimulai dengan dengan menyusun daftar keseluruhan isi materi atau domain yang dimaksud. validitas butir dan validitas sampling.

Secara konsep instrumen yang reliabel adalah apabila digunakan terhadap subjek yang sama akan menunjukkan hasil yang sama. Pada validitas kriteria diteliti dengan membandingkan suatu kriterium eksternal. kritik. Salah satu pendekatan dasar untuk mengukur reliabilitas adalah stabilitas. Dua kriteria yang digunakan pada validitas kriteria adalah kriteria konkuren dan kriteria prediktif. Stabilitas diperoleh dengan mengkorelasikan skor siswa dari dua kali pelaksanaan tes. Pada penelitian ini digunakan validitas isi dan validitaas konstruk. 115 . 1984: 44). 2) Reliabilitas Reliabilitas instrumen menunjukkan tingkat kestabilan. dimana kriterium yang ditetapkan harus sudah teruji secara empiris di lapangan dan mempunyai konsistensi yang cukup tinggi. dan evaluasi guna menyempurnakan instrumen yang disusun. saran. konsestensi. dan atau kehandalan instrumen untuk menggambarkan gejala seperti apa adanya.memperoleh masukan. walaupun dalam waktu dan kondisi yang berbeda. keajegan. Berdasarkan uraian di atas. Validitas kriteria menjawab pertanyaan sejauh mana suatu tes dapat memprediksi penampilan kemampuan pada waktu yang akan datang (validitas prediktif) dan mengestimasi kemampuan saat sekarang berdasarkan suatu pengukuran selain tes itu sendiri (Fernandes. dapat ditarik suatu pengertian bahwa untuk pengembangan afektif dapat digunakan semua jenis validitas atau salah satu jenis validitas. menggunakan korelasi intraklas (interclass correlation).

Sebaliknya jika selang waktu terlalu lama. Penilaian “Performance Assessment” Karya Seni Lukis Anak Pendekatan yang digunakan dalam performance assessment adalah metode holistic dan metode analytic . Metode holistic adalah cara penilaian apabila para penskor (rater) memberikan penilaian secara keseluruhan dari hasil kinerja tes. Apabila selang waktu terlalu pendek subjek akan mengingat jawaban yang diberikan pada waktu pengkuran pertama. dan rating scales (Depdiknas. 1984:35). dua peneliti menggunakan alat ukur yang sama untuk mengukur kemampuan seseorang kemudian hasil pengukuran tersebut dikorelasikan. Cara lain untuk menilai reliabilitas adalah dengan menggunakan teknik intereter yaitu. subjek akan memberikan jawaban yang lain karena hasil belajar selama waktu selang tersebut. c. Penggunaan bentuk reliabilitas tes-retes yang menjadi masalah adalah selang waktu pelaksanaan pengukuran. 2003: 66).Penggunaan korelasi intraklas dimaksudkan untuk memberikan indeks mengukur kesamaan pasangan skor dalam hubungannya dengan variabilitas total dari seluruh skor (Fernandes. Sedangkan metode analytic adalah apabila para penskor memberikan penilaian dari setiap aspek yang berhubungan dengan hasil kinerja yang dinilai. Pada cara penilaian metode analytic apabila digunakan untuk menilai kemampuan ketrampilan yaitu dengan menggunakan checklist. 116 . hal ini mengakibatkan meningkatnya koefisien reliabilitasnya.

Sudarmaji (1979: 23) mengemukakan bahwa Gestalt bersumber pada ilmu jiwa global (gestalt.Pelaksanaan kedua metode pendekatan tersebut dalam performance assessment karya seni lukis sebagai berikut: 1) Metode holistic Metode holistic dikenal juga dengan metode global yang bersumber dari ilmu jiwa global (Gestalt. Menurut Garha (1980: 115) karya seni sendiri merupakan suatu Gestalt. totalitet) yang memandang bahwa suatu karya seni secara utuh yaitu keseluruhan bentuk. Metode ini menganjurkan untuk menilai karya seni dari perwujudannya secara utuh. pola. Dengan demikian kesan keseluruhan dari karya tersebut menjadi salah satu pertimbangan memberikan penilaian suatu karya. lepas dari perwutuhan 117 . seluruh unsur-unsur pembentukannya harus mendukung ide atau ungkapan perasaan yang akan disampaikan penciptanya. 1982: 8). struktur atau suatu konvigurasi terpadu yang memiliki sifat-sifat khusus tidak dapat diperoleh dari penjumlahan bagian-bagiannya secara terpisah. Tidak dari unsur-unsurnya yang dipandang tersendiri. Suatu hasil karya seni rupa keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh bentuk yang dicapai saja tetapi oleh keberhasilan penyusunan unsur-unsur pembentukannya menjadi suatu kesatuan ungkapan. disebut metode ganzheit. Gestalt mempunyai sesuatu yang melebihi jumlah unsur-unsurnya. dan Gestalt timbul terlebih dahulu dari bagian-bagiannya. Gestalt merupakan suatu aliran dalam psikologi dengan pokok pikiran utamanya bahwa suatu keseluruhan adalah lebih besar dari pada penjumlahan bagiannya (Dali. totalitet).

warna. Hal ini mendukung yang dikemukakan oleh Duane dan Prebel (1967: 115) bahwa untuk mengukur kualitas artistik suatu karya seni dapat dilakukan dengan mengunakan prinsip seni. garis. gelap terang. Kemudian wujud dipisah-pisahkan lagi atas komposisi. dan volume. 2) Metode analytic Penilaian dengan pendekatan penilaian analisis yaitu. kedua metode tersebut sebaiknya digunakan secara bersamaan. kualitas karya secara keseluruhan tidak akan sama dengan kualitas unsurunsur yang membentuk karya tersebut. perspekif. menilai karya seni lukis anak dengan memerinci unsur-unsurnya. Hal ini berdasarkan pendapat Sudarmaji (1979: 23) yang mengatakan bahwa: pendekatan analitik menilai dengan secara terpisah bagian-bagiannya misal dilihat dari isi atau tema. bentuk/shape. dan organisasi unsur. Gelap terang. Ganzheit tidak mencukupi. hubungan antar unsur. proporsi. anatomi. pewarnaan. Sesungguhnyalah 118 . memandang bahwa karya seni lukis anak dilihat sebagai suatu komposisi bentuk yang dapat dipahami melalui peranan elemenelemen bentuk seperti garis. Untuk menilai suatu karya seni berpendapat bahwa secara objektif.Dengan demikian apabila dihubungkan dengan kualitas karya seni lukis. Pendekatan ini. Soedarso (1987: 85) pada saat seseorang ingin mengadakan penilaian. dan sebagainya. Dengan demikian dalam proses penilaian untuk mendekati objektivitas. Masih diperlukan suatu analisa yang mendalam berdasar suatu prinsipPrinsip yang dimaksud dalam karya disini adalah penerapan prinsip seni.

Berikut ini penilaian proses dan penilaian produk karya lukis peserta didik.In art education. namun perlu pula dilihat bagian-perbagian. Penilaian Proses Karya Seni Lukis Tujuan penilaian proses karya adalah untuk mengamati kompetensi peserta didik dalam berkreasi membuat karya seni lukis. Agar pengamatan pendidik lebih 119 .Karena proses penilaian membangun bimbingan terhadap peserta didik dan memperjelas tujuan dan pemenuhan dalam proses pembelajaran. a. Aspek yang Dinilai dalam Karya Seni Lukis Sesuai dengan prinsip performance assessment yang telah diuraikan di atas. Menurut Conrad (1964: 271) the processes of evaluation help to build guides and to define and clarity the purposes and accomplishments of the educational processes. the evaluation prosesses are natural parts of art activity.penilaian karya seni lukis anak yang didasarkan pada objek secara keseluruhan (global). Pelaksanaan penilaian dilakukan dengan mengamati peserta didik dalam melaksanakan tugas yang diberikan dalam proses pembelajaran dengan tidak mengganggu aktivitas belajar peserta didik. maka penilain proses sangat diperlukan apalagi proses penilaian merupakan bagian yang alami dari aktivitas seni. (b) hasil karya atau produknya. performance assessment mempunyai dua karakteristik dasar yaitu: (a) peserta didik diminta mendemonstrasikan kemampuannya dalam membuat kreasi suatu produk atau terlibat dalam aktivitas perbuatan. 3. Dengan demikian penilaian karya seni lukis peserta didik meliputi dua aspek yaitu aspek proses pembuatan karya dan aspek hasil karya seni lukis peserta didik.

dan lain sebagainya. perlu dilengkapi dilengkapi dengan instrumen non tes yaitu check list atau skala rentang. bagaimana peserta didik memanfaatkan waktu. Dengan instrumen teknik non tes akan diperoleh data akurat dengan tidak kehilangan aktivitas yang dilakukan oleh peserta didik. yaitu terutama penampilan-penampilan peserta didik dalam aspek afektif dan psikomotorik. Non tes digunakan tatkala pengertian evaluasi tidak sekedar identik dengan testing tetapi mempunyai pengertian yang lebih luas yaitu suatu proses penentuan nilai-nilai fenomena-fenomena yang secara edukasional relevan (Eisner. Selama kegiatan proses belajar mengajar berlangsung dalam pembelajaran seni lukis. Teknik non tes bukannya tidak mengandung kelemahan seperti halnya teknik. bagaimana kelancaran ekspresi mareka. tetapi apabila dikembangkan secara kreatif dan diinterpretasi secara bijaksana dapat memberikan informasi evaluatif yang memiliki tingkat kesahihan (valid) tinggi. cara maupun metode yang lain. bagaimana mereka membangun dan mengorganisasikan kesatuan-kesatuan estetis. bagaimana cara memecahkan masalah penciptaan yang mungkin mereka jumpai. bagaimana penanganan alat dan bahan yang digunakan.terarah. 120 . sistematis. pendidik melakukan penilaian dengan secara langsung mengamati bagaimana peserta didik membuat karya lukis. dan komprehensif untuk memperoleh data yang akurat dengan tidak kehilangan aktivitas yang dilakukan peserta didik. 1997: 204). Sesungguhnya kemampuan-kemampuan peserta didik yang dikembangkan dalam pendidikan seni rupa lebih banyak dalam bentuk penampilan yang sulit diukur dengan tes.

Usaha menemukan kualitakualita berharga dari proses dan hasil kerja peserta didik dalam hal ini lebih banyak dapat ditempuh lewat non tes. kemungkinan-kemungkinan penciptaan yang tidak terduga sebelumnya yang muncul dalam proses berekspresi dan berkreasi dengan media seni rupa merupakan hasil pendidikan seni rupa yang sulit diterapkan kriteria ekstrinsik dalam tujuan pendidikan. Penilaian di bidang ini lebih tepat tidak dengan penggunaan kriteria yang ditentukan terlebih dahulu untuk standar pencocokkan tingkah laku atau hasil kerja peserta didik. Relatif tidak sulit untuk ditetapkan kriteria keberhasilan peserta didik yang dapat dikenakan pada hasil belajar yang dapat diukur secara objektif melalui tes.Dalam pendidikan seni rupa. patung. menyiapkan bahan dan alat untuk membuat patung. penguasaan teoritis kesenirupaan dan keterampilan-keterampilan bersifat non ekspresif. Inspirasi-inspirasi. melainkan dengan usaha menemukan kualita-kualita berharga dalam proses dan hasil kerja peserta didik. Tidak mudah orang meramalkan secara pasti yang akan terjadi sebagai hasil aktivitas tersebut. dan sebagainya. simbol-simbol personal. dan lain sebagainya. 121 . bagaimana menyiapkan alat-alat dan bahan untuk melukis. seperti kemungkinan-kemungkinan ekspresif-kreatifestetis dari lukisan. seni garfik. penemuan-penemuan ide. misalnya apresiasi. seperti dikatakan oleh Eisner (1997: 211) sebagai berikut: “Many of the most highly prized outcomes of art education are not capable of being stated in advance in the form of instruction objectives”. Tetapi kegiatan-kegiatan seni rupa yang bersifat ekspresif-kreatif-estetis sulit untuk terlebih dahulu ditetapkan kriteria keberhasilan objektif yang dapat diberlakukan secara klasikal.

dan alasan-alasan kondisional lainnya. dan catatan anecdotal. Karya seni rupa peserta didik sebagai visualisasi visi dan idea peserta didik tidak selalu dengan mudah dapat dibaca. tentang nilai-nilai baru yang dapat dipetik dari pengalaman mencipta. pendidik seni rupa dapat mengumpulkan data yang mungkin tidak terjaring oleh 122 . Melalui pengisian format seperti pada Tabel 3 oleh peserta didik.Di depan telah disebutkan bahwa instrumen non tes antara lain chek-list. Untuk keperluan tersebut De Francisco-Italio (1958: 224-227) mengembangkan apa yang disebut: Pupil’s Self-Evalution Form. rating scale. dapat dipastikan bahwa selalu ada data evaluatif yang sebenarnya relevan tetapi tidak sempat tertangkap oleh kacamata tersebut. Mekanisme penggunaan instrumen-instrumen tersebut pada dasarnya adalah sepenuhnya di tangan pendidik. yaitu suatu format yang dapat digunakan peserta didik untuk menerangkan hasil kegiatannya dalam bidang seni rupa sesuai dengan pendapat dan perasaannya. Data yang terkumpul adalah data yang tertangkap oleh kacamata pendidik. Mengingat kepekaan kacamata pendidik yang relatif terbatas dan bahwa proses dan hasil penciptaan karya seni rupa menyangkut segi jiwani yang kompleks. terutama hal-hal yang sangat bersifat personal seperti: kelancaran dan kepuasan ekspresinya. Hal-hal yang bersifat personal dalam aktivitas penciptaan tersebut merupakan data pelengkap yang sangat diperlukan dalam rangka usaha penilaian untuk melihat peserta didik secara objektif. Disini dapat dituliskan juga tentang alasan-alasan dari pendapat dan keterangan yang diberikan tentang karyanya seperti pada contoh format Tabel 3.

1958: 227) PUPIL’S SELF EVALUATION FORM Pupil ‘s Name __________________ Date ____________ Grade _________________________ Very Good I think my picture is I think my linoleum cut is I think my illustration is I think my modeling is I think my weaving is Good Fair Poor Reasons I Think So Sesungguhnya penilaian atas karyanya sendiri merupakan hal yang penting dalam bidang seni. Tabel 3. Tentunya semua ini sesuai dengan tingkat 123 . untuk mendapatkan masukkan data evaluatif dari pihak peserta didik De Francisco-Italio menggunakan yang disebut The Jury System yaitu.kacamatanya. penjurian oleh sekelompok peserta didik bergantian menilai karya-karya seni rupa di kelasnya dan dapat pula dilengkapi dengan class discussion system yaitu diskusi kelas untuk membahas karya-karya tersebut. Peserta didik perlu memahami proses pembelajaran. dan pendidik memahami apa yang dianggap peserta didik menarik atau penting dalam sebuah tugas yang diberikan Dalam hal ini perlu peserta didik menjadi mengetahui tentang dirinya sendiri. Selain dengan menggunakan format seperti di atas. Pupil’s Self Evaluation Form (Sumber: Francisco. tetapi merupakan sesuatu yang dihayati dan dirasakan oleh peserta didik yang bersangkutan. Pendidik harus mempertimbangkan baik perkembangan personal maupun perkembangan akademik.

Student Self Evaluation Form (Sumber: Eisner. tetapi juga diperlukan dalam rangka peningkatan bimbingan peserta didik selanjutnya. I found the work on it: 3. I thought this project was: Boring ___ ___ ___ ___ ___ Exciting 2. hasilnya baik atau buruk. mudah atau sulit. The most important things I got out of this project were: __________ __________________________________________________________ __________________________________________________________ Dengan pengisian dan pengumpulan format di atas. serta pengalaman-pengalaman berharga mana yang berhasil dipelajari dalam kegiatan tersebut dan seterusnya seperti dapat dilihat pada Tabel 4.perkembangan paserta didik tersebut. Tabel 4. bermanfaat atau tidak. apakah suatu kegiatan seni rupa itu menarik atau membosankan. Untuk melengkapi objektivitas penilaian Eisner (1997: 223-204) menyarankan penggunaan format penilaian oleh peserta didik sendiri yang disebut: Student Self-evaluation form yang dapat memberikan informasi dari tiap peserta didik. This project was my: Worst piece Best piece of work ___ ___ ___ ___ ___ of work 5. Data yang terkumpul di atas tidak saja bermanfaat untuk melengkapi pertimbangan penentuan hasil penilaian. 1997: 203) Student Self-Evaluation Form Name _________________________________ Date __________________________________ Name of Project ________________________________ Date Completed ________________________________ 1. I think I learned: From this project Easy A lot ___ ___ ___ ___ ___ Difficult ___ ___ ___ ___ ___ A little 4. pendidik dapat memperoleh informasi tentang pengaruh suatu kegiatan seni rupa bagi para 124 .

melainkan juga apa yang perlu peserta didik ketahui tentang dirinya sendiri. yaitu peserta didik diminta menunjukkan satu atau dua karya mereka secara bergiliran. tingkat kepuasan mereka dan lain sebagainya. kemudian yang bersangkutan diminta menjelaskan karyanya dan selanjutnya kelompok peserta didik yang lain memberikan respons dalam bentuk bahasan kritis. Selanjutnya Eisner sebagaimana menurut De Francesco-Italio. Kumpulan format-format yang masuk ketangan pendidik setiap kali selesai kegiatan akan merupakan rekaman data penilaian peserta didik sendiri terhadap perkembangannya secara kontinyu dalam olah seni rupa selama satu satu tahun akademik berlangsung. kadar keterlibatan mereka dalam kegiatan. para peserta didik mendapatkan kesempatan untuk mengungkapkan apa yang telah dilakukan atau dihasilkan dari suatu kegiatan berkarya. Berdasarkan pengisian format di atas. Dengan demikian proses pembelajaran merupakan titik tolak untuk pengajaran dan sebagai pendidik harus menanyakan tidak hanya apa yang perlu diketahui oleh pendidik. menyarankan penggunaan teknik lain yang juga berguna untuk evaluasi dalam pendidikan seni rupa adalah apa yang disebutnya The Group Critique. Menurut Barrett: “ In art the pupils perception of the learning process is the starting point for teaching” and “we must ask not only what we need to know as teachers but what the pupils need to know about themselves”. apa yang telah berhasil mereka pelajari dari kegiatan tersebut.peserta didik. prosedur demikian memungkinkan peserta 125 . Kedua. dengan demikian terkembangkan sikap oto kritis peserta didik. Beberapa keuntungan dengan cara demikian adalah: pertama.

Bagaimana mereka menangani problem-problem. Ketiga. prosedur demikian memberikan kesempatan dan bahan bagi pendidik untuk menggunakan komentar-komentar peserta didik sebagai masukkan diagnostik dan remedial. Dalam hal ini pendidik memfokuskan perhatiannya pada hasil karya lukis yang diciptakan oleh peserta didik yang tentunya tidak terlepas dari proses penciptaannya. The processes of evaluation help to build guides and to define and clarity the purposes and accomplishments of educational processes. Dengan demikian penetapan kriteria harus disesuaikan dengan perkembangan usia anak dan kriteria tidak bersifat kaku. and their knowledges. Salah satunya pendapat Aspin dalam Ross (1982: 66) yang menyatakan bahwa: Work of art is correctly described as “unique particulars”. Kriteria untuk melakukan penilaian produk karya seni lukis cukup sulit karena adanya keragaman cara pandang terhadap karya seni. Dengan demikian terkembangkan sikap apresiatif peserta didik. b. but the description prompts the question: how can something which is unique generate criteria for evaluating other unique objects? Sifat unik ini mempunyai sifat satu-satunya dan hanya 126 . dan keberhasilan-keberhasilan dalam berkarya. kegagalan-kegagalan. Conrad (1964: 271) menjelaskan bahwa: Evaluation criteria are not rigid.didik secara sistematis mengetahui bagaimana perkembangan peserta didik yang lain. their abilities. Oleh karena itu kegiatan penilaian memerlukan kriteria. New criteria must be formulated for each group of children because children are constantly growing and changing in their thinking. Penilaian Produk Karya Seni Lukis Pada prinsipnya tujuan penilaian produk seni lukis adalah untuk melihat kompetensi peserta didik dalam membuat karya cipta seni lukis.

is that judgements and interpretations should be informed with considerable consensus about the criteria to be applied when determining quality. dan setiap proses intersubjektif selalu mendatangkan konflik. sulit menerapkan kriteria yang sama Perdebatan-perdebatan yang sering terjadi karena perbedaan pemahaman. karena masing-masing kepentingan tidak ada titik temu.g. Hal ini menunjukkan bahwa penilaian dari suatu pekerjaan seni tidak hanya konsisten secara konseptual tetapi diperlukan juga praktisnya.berlaku untuk karya tersebut sehingga untuk menilai karya yang lain. Namun demikian. science) and that a high degree of consensus about criteria appropriate for judging art work is not only conceptually consistent with the notion of art. Sehubungan dengan kriteria pada penilaian karya seni tersebut di atas. Baik buruknya pekerjaan seni dibenarkan dengan adanya referensi dari kriteria-kriteria yang disetujui oleh khalayak umum. Dengan demikian pada waktu menentukan kualitas karya diperlukan kriteria-kriteria yang merupakan konsensus dan sudah dipertimbangkan terlebih dahulu. 1983: 5) menyebutkan bahwa: What matters most in the arts as in science. Disini penilaian dapat dilihat sebagai suatu proses intersubjektif. Pepper (1973: 451) berpendapat bahwa bisa saja perbedaan yang terjadi disebabkan oleh pandangan kontekstual yang tidak sama. meminjam dari penilaian kritik. Lebih jauh lagi dalam dokumen APU (“Aesthetic Development”. It contends that judgements about the merits of art work can be justified with reference to publicly agreed criteria. Heyfron (1986: 56) berpendapat bahwa: … that the arts are not fundamentally different from other subjects in the curriculum (e. but also practicably desirable. Sumardjo (2000: 48) mengatakan bahwa meskipun seni itu kontekstual secara 127 .

They are complete exploitation of media. ekspresivisme. dan seni merupakan bentuk ungkapan manusia. etc.bentuk dan isi. Menurut Waterman (1959: 382-383) …there are a few criteria for judgment. It is fundamental that teachers see assessment criteria as a means to support and sustain students' work. which is just as important. Dengan demikian ada sejumlah kriteria untuk penilaian yang dapat diterapkan pada seni dan kriteria adalah eksplorasi total atas media dan penggunaan media yang unik. the unique use of the media…. dan instrumentalisme.. relation of form to matter.These criteria. 128 . Mamannoor (2002: 49) mengatakan bahwa berdasarkan banyak referensi. help us to understand art as a manifestation of experience. Assessment will go wrong from the outset if students or teachers see it as a way of controlling work and imposing ideas. disodorkan dasar pemahaman yang sama dalam metode pertimbangan penilaian suatu yakni formalisme. however. subordination of ornamention to form. which apply to the arts. Berdasarkan sifat universal dari seni itu sendiri. are not “sure alls” or “cure alls” for the making of the perfect art product. It is essential that students see assessment criteria as a tool to help them progress in their work. Ditinjau dari kebermaknaan keberadaan kriteria penilaian bagi pendidik dan peserta didik salah satu pendapat sebagai berikut. Untuk memberikan dasar pertimbangan penilaian. namun ada pula nilai-nilai yang sifatnya universal karena struktur jiwa manusia itu sepanjang sejarahnya sama. They can. Coney (1999: 2). Kriteria tersebut dapat membantu untuk memahami seni sebagai perwujudan suatu pengalaman. maka dapatlah dibuat suatu pendekatan untuk membuat kriteria dari suatu penilaian hasil karya seni dalam hal ini karya seni lukis anak. implicitly or explicitly recognized in analytical criticism and capable of formulation.

Dengan demikian pertimbangan penilaian formalisme menekankan pada tinjauan terhadap unsur-unsur visual yang terorganisasikan dalam komposisi sebuah karya seni rupa. Dengan demikian penilaian formalisme lebih mengutamakan pembahasan karya tanpa harus mendalami atau menelursuri apa yang ada didalamnya. termasuk unsurunsur yang dialami oleh pembuat karya. Bell (1968: 26) mengatakan bahwa. Selanjutnya Feldman (1967: 459) memberikan contoh sederhana pada dunia ekspresi anak-anak sebagai berikut: bagi anak-anak. dorongan untuk berkomunikasi menunjukkan kebutuhan dirinya sendiri yang lebih kuat dari pada keinginan untuk menghiasi. memodivikasi. komposisi. Sudarmaji (1979: 33) menyatakan ukuran seni yang menitik beratkan pada factor wujud (form) disebut formalisme: yaitu bentuk.Pertimbangan penilaian formalisme. Pertimbangan penilaian ekspresivisme. harmoni. texture dan sebagainya. Ekspresivisme adalah sebutan untuk apresian yang cenderung menilai karya seni dari segi ekspresi (Sudarmaji. 1979: 33). bentuk-bentuk signifikan suatu karya seni rupa merupakan kualitas umum sebuah karya seni rupa. suatu pertimbangan penilaian yang cenderung melihat faktor pencipta karya sebagai orang yang melibatkan unsur-unsur pribadinya kedalam proses penciptaan karyanya. Sehubungan dengan hal tersebut Feldman (1967: 446) menjelaskan. pelaksanaannya menempatkan unsurunsur estetika sebagai tinjauan utamanya bersifat representatif dari bentuk-bentuk signifikan yang dikandung dalam karya seni tersebut. bahwa pertimbangan penilaian formalisme menempatkan mutu artistik pada suatu kualitas yang terintegrasi dalam pengorganisasian secara formal dari suatu karya seni rupa. atau hasil 129 .

dan sebagainya. melainkan suatu kajian yang berkaitan dengan hal-hal yang melatarbelakanginya. Seni rupa buatan anak-anak sering dinikmati melalui khayalan dan dirancang dengan warna bebas yang tak bisa dirintangi. gelap terang.akhirnya sampai mencapai arti ‘keindahan’ yang dapat dimengerti oleh orang dewasa. Dengan demikian penilaian secara instrumental sering digunakan dalam penilaian karyakarya seni rupa kontemporer. Dengan demikian pengungkapan perasaan dan gagasan-gagasan menjadi pertimbangan yang utama dalam penilaian ekspresivisme. Berdasarkan ketiga pertimbangan penilaian di atas. proporsi. Mamannoor (2002: 52) mengatakan bahwa gagasan-gagasan orisinal seorang seniman (pencipta karya) yang ditampilkan melalui suatu karya seni rupa sangat penting untuk dijadikan sebagai kriteria penilaian. Konsekuensinya dari hal tersebut di atas. Feldman (1967: 463) mengatakan bahwa penilaian instrumentalisme tidak hanya mengutamakan penyampaian gagasan dan pengejawantahan kehendak (seperti pada penilaian ekpresivisme). sosial. karena karya-karya seni rupa kontemporer biasanya dilatarbelakangi motivasi tertentu. politik. pertama hal yang meliputi unsur-unsur visual yang terdapat pada karya tersebut antara lain: bentuk. dapatlah dirumuskan suatu pengertian bahwa untuk memberikan suatu penilaian pada karya seni dan sampai pada suatu keputusan diperlukan kriteria yang menjangkau tiga hal yaitu. komposisi. mengandung makna kontekstual. moral. perspekif. 130 . religi. anatomi. yaitu ketika proses penggubahan seni rupa mengacu pada unsurunsur yang melatarbelakangi pencipta seni misal budaya. Pertimbangan penilaian instrumentalisme.

tidak meniru karya yang sudah ada atau karya orang lain. Selanjutnya berkaitan dengan penentuan kriteria. memiliki pengetahuan tentang karakter masing-masing media. Ketiga. teknik. makna konstektual yaitu suatu kajian yang berkaitan dengan hal-hal yang melatar belakangi proses penggubahan karya. Cat minyak 131 . secara umum pada aspek original dituntut kreativitas dalam menciptakan karya seni. anak bekerja dengan kebebasan emosi dalam mengungkapkan isi hatinya. design. ide. Suatu hasil karya seni akan berhasil apabila pembuat karya sensitif terhadap media yang digunakan. sensitivity to the appropriate use materials. and consistency of concept. bentuk visual. Dengan demikian. sehingga karyakarya mereka benar-benar murni. Aspek sensitif menggunakan material berkaitan dengan penguasaan media yang digunakan untuk mewujudkan karya seni. Duane dan Prebel (1967: 127) mengemukakan bahwa: “…Criteria upon which many art professionals agree include degree of originality. cocok untuk digunakan dengan teknik transparan. kreativitas. menggunakan konsep. Pada lukisan anak-anak dimana melukis merupakan suatu pengalaman berkarya. and execution”. tidak ada kecenderungan untuk meniru karya orang lain. Untuk menentukan tingkat originalitas suatu karya lebih dititikberatkan pada ide. Aspek tingkat original pada suatu hasil karya seni adalah terkait dengan sikap dari pembuat karya yang mengutamakan keaslian karya. Kedua. atau pengalamannya sendiri. keterlibatan unsur-unsur pribadi melalui proses pengungkapan perasaan dan gagasan-gagasan dari pembuat karya.pewarnaan. misal cat air mempunyai karakter lembut. dan sebagainya. dan kepribadian.

Pada anak-anak dalam berkarya. dan sebagainya. proporsi. Aspek kriteria desain menitik beratkan pada unsur desain yaitu kaidahkaidah komposisi. semakin bertambah pula pengalaman dan tingkat penalarannya. dapat dilihat dari keseluruhan aktivitas peserta didik yang meliputi langkah-langkah dan prosedur dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh pendidik. irama. Aspek konsistensi dengan konsep merupakan suatu karya seni yang mengandung suatu konsep dari pembuat karya yang disampaikan lewat hasil karya seninya. dan alat. yaitu antara lain nilai kesatuan. sehingga akan memberikan efek pengamatan yang berbeda dari masing-masing karya. dengan demikian masalah teknis pemakaian bahan dan alat serta umur anak merupakan sesuatu hal yang perlu diperhatikan dalam menilai lukisan anak. bahan . anak sering menggunakan lebih dari satu macam. Mereka akan semakin baik dalam penguasaan media. atau bahkan merasa 132 . Bahkan ada yang mengkombinasikan teknik goresan dengan teknik tempel dari elemen lain. keseimbangan. Dikatakan tidak konsisten dengan konsep dalam membuat karya apabila karya yang dibuat bentuknya tidak menunjang tema.yang mempunyai sifat menutup. Dewobroto (2002: 9) berpendapat bahwa semakin bertambah umur si anak. Konsisten tidaknya pembuat karya terhadap suatu konsep tampak pada tema dan bentuk visual pada karyanya. misal bagaimana penggunaan bahan dan alat dimulai dari persiapan sampai dengan sentuhan akhir dalam pembuatan karya. Aspek pelaksanaan. kontras. dan sebagainya. asyik. bagaimana anak dalam mengerjakan tugas apakah merasa senang.

Variasi yang pertama dan indikator yang dikemukakan sebagai berikut: Personal growth. Keaslian ide-ide c. Kerapian dan rupa secara umum dari sebuah karya seni f. dan yang kedua: personal growth. Kemungkinan akan kerjasama d. Kemampuan dalam menggunakan alat dan media e. dan growth in art skills. Tertarik pada seni ekspresionis b. Tanggung jawab dalam perawatan bahan e. misal kebersihan karya tidak terkesan kotor merupakan sesuatu yang termasuk dalam aspek pelaksanaan.tertekan sehingga tidak lancar dalam penuangan idenya. a. dan growth in art skills. social growth. social growth. Tanggung jawab terhadap penyelesaian sebuah karya seni g. Apresiasi terhadap karya anak-anak lain h. Lain lagi yang dikemukakan Conrad (1964: 274) membuat kriteria dengan variasi yang meliputi: personal growth. Evaluasi atas usaha sendiri Social growth a. social growth. Ada dua variasiyang dikemukakan. Kontribusi terhadap proyek kelompok c. Pemakaian dan pemilihan warna d. pertama meliputi: personal growth. Sampai dengan penerapan kaidah etis dan etika. Kemampuan untuk mengikuti petunjuk umum b. Kerjasama dalam “cleaning up” setiap akhir periode 133 .

krayon. Tanggung jawab terhadap penyelesaian sebuah karya seni Social growth a. Kontribusi terhadap kelompok b. Penemuan e. dan growth in art skills. Berkenaan dengan penentuan kriteria yang ditetapkan untuk tujuan objektivitas penilaian. Kemampuan dalam menggunakan alat dan media. kapur. Ketrampilan dalam bahan tiga dimensi d. dll. Pengalaman teknis Pengunaan dari masing-masing variasi dan indikatornya tergantung dari hasil diskusi yang disepakati bersama. tinta. c. Ketrampilan mendesain kemampuan untuk mengorganisasi ide b. Menghormati karya orang lain Growth in art skills a. Keaslian c. masing-masing indikator sebagai berikut: Personal growth a.Variasi yang kedua meliputi: personal growth. Kerjasama dengan yang lain c. d. Kerapian dan rupa secara umum dari sebuah karya seni e. Ketertarikan akan seni b. Ketrampilan menggunakan cat. social growth. Heyfron (1986: 69) menyarankan sebagai berikut: 1) the possibility of intersubjective agreement 134 .

E. dimana tes tersebut disesuaikan dengan sebuah tujuan kurikuler dan menunjukkan validitas isi yang paling besar. Hasilnya kurang dari setengah dari tujuan-tujuan yang ada dalam kesenian memiliki tes-tes yang terstandarisasi. sedangkan karya seni rupa lebih dominan pada komponen emosi. kemudian mengevaluasi setiap tes dengan kriteria tertentu.2) truth to the nature of the phenomenan under investigation 3) the identification of “reasonable” grounds for supporting judgements Mengacu pada pendapat para ahli di atas. Hoepfner dkk. kesesuaian penggunaan media atau material. Hasil Penelitian Yang Relevan 1. konsistensi konsep. Dengan demikian kepekaan pengalaman estetik seseorang untuk melihat tingkat original. sedangkan kekayaan konsep yang ada pada anak diketahui melalui inklusi dan definisi 135 . Bahkan. desain. dalam penilaian karya seni rupa untuk melihat kualitas dan sampai pada baik dan tidak baik diperlukan suatu kriteria yang meliputi dua unsur yaitu fisiko plastik dan ideo plastik dan ada persetujuan antar subjek. Dalam hal ini seorang pendidik seni rupa dituntut untuk mempunyai kepekaan pengalaman estetik yang tinggi dan wawasan yang luas tentang perkembangan karya seni rupa. Seperti diketahui bahwa untuk menelaah suatu hasil karya seni rupa tentunya harus dapat dijelaskan secara rasio. sebagain besar testes yang diberikan pada tujuan-tujuan seni tidak dirancang sebagai tes-tes kesenian melainkan sebagai tes-tes untuk perkembangan kognitif. dan pelaksanaannya sangat diperlukan. dalam penelitiannya dengan mengadakan survei pada semua tes yang dipublikasikan bagi anak sekolah tingkat dasar.

(b) komposisi dan perspektif lukisan anak. tujuannya untuk mencerminkan keadaan-keadaan afeksional pada penyesuaian psikologis. Hal ini menunjukkan bahwa sangat masuk akal untuk berpendapat bahwa sebagian besar dari tes-tes yang dievaluasi dalam bidang seni tidak terdapat di sini. Sedangkan tes yang mengungkap kesukaan anak. (d) fenomena lukisan anak-anak usia SD dilihat dari aspek usia dan jenis kelamin. Sedangkan perspektif yang digunakan adalah perspektif tutup menutup (realistis). tumpukan. Temuan penelitian ini adalah sebagai berikut: lukisan anak usia SD dilihat dari: (a) objek dan temanya mencerminkan kehidupannya dan menunjukkan adanya upaya anak untuk mengidentifikasikan diri dalam karyanya. 2. mengetahui. (b) komposisi yang ditampilkan yaitu komposisi vertikal. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi. Penelitian Ismiyanto (2002) pada sanggar seni lukis “Pangudi Luhur” Semarang dan sanggar seni Lukis “Gramedia” Jakarta. bahan. kendati validitas isinya diperingkatkan paling tinggi atau bahkan paling rendah (Ralph Hoepfner. dan teknik yang digunakan anak-anak dalam berkarya. 136 . 1983: 251-256). wawancara.anak-anak dalam upaya mereka menggambar orang dan benda-benda. dan dokumentasi. memahami. Pengumpulan data yang digunakan adalah observasi. dan angular. (c) alat . horizontal “segitiga”. dan menjelaskan mengenai: (a) visualisasi lukisan karya anak-anak usia SD ditinjau dari tema dan objeknya. Sedangkan analisis data yang digunakan adalah analisis isi dengan fokus pada telaah kritis visualisasi lukisan anak-anak. burung. simetri setangkup dan radial. diagonal.

Hal ini dikarenakan. spontanitasnya. 3. Ditinjau dari jenis kelamin terdapat perbedaan dalam pewarnaan dan goresan. (d) berdasarkan kelompok usia tidak terdapat perbedaan dalam memvisualisasikan objek. dalam melukis seorang anak berusaha untuk memvisualisasikan kehidupannya. dan simulatif (aktivitas). Adapun hasil lukisan anak ditempat tersebut dapat dibedakan antara lukisan hasil anak laki-laki dan hasil anak perempuan. Penelitian tentang instrumen pengukuran untuk mengukur respon estetik berdasarkan hasil penelitian Prihadi (2007) menyimpulkan bahwa penggunaan semantic differential ternyata mampu mengukur respon estetik peserta didik menurut faktor evaluatif. Penggunaan semantik differential dapat aplikasikan untuk mengukur respon siswa tingkat SD terhadap hasil karya lukis yang dilihatnya. anak laki-laki lebih spontan dan dinamis. formal (potensi). tetapi perbedaan tersebut tidak terdapat pada anak-anak kelompok kelas rendah pada usia SD. baik dalam pewarnaan. komposisi. Analisis varians hasil pengukuran menunjukkan ada perbedaan respon estetik siswa 137 . perspektif. Hal ini berarti bahwa respon estetik siswa dapat digunakan untuk menilai kualitas lukisan serta bentuk dan kesan gerak pada lukisan. Perbedaan ini tampak tertutama pada pewarnaan dan goresan.dan perpaduan perspektif burung dan tumpukan. sifat alamiah seorang anak sering muncul dalam hasil lukisaanya. Berdasarkan hasil penelitian ini. diperoleh informasi bahwa dalam melukis. (c) media yang digunakan adalah krayon dan/atau mixed media dan teknik yang digunakan dussel dan out-line (garis-garis kontur).

(4) pemahaman tema. (3) kesiapan bahan dan alat. Secara umum hasil melukis peserta didik di sanggar pratista menunjukkan adanya kedinamisan garis yaitu antara lain garis tebal dan kuat. Hasil penelitian ini juga menunjukkan adanya interaksi pengaruh gaya dan tema lukisan terhadap respon estetik peserta didik. (3) originalitas. (5) harmoni keseluruhan. 4. dan deformatif) dan tema lukisan (alam benda. Kombinasi media pastel dan cat air memberikan kesan mantap dan kuat dalam penggunaan warna. (6) keseriusan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang digunakan adalah menggunakan pendekatan individual dengan metode pemberian contoh. Penelitian lain dilakukan Martono dan Retnowati (2007) tentang strategi pembelajaran seni lukis anak di sanggar Pratista Yogyakarta dengan subjek penelitian adalah anak-anak yang belajar melukis di sanggar tersebut. potret pria. dan dokumentasi. semideformatif. dan potret wanita).berdasarkan gaya lukisan (naturalistic. Penilaian yang dilakukan meliputi penilaian proses dan penilaian produk atau hasil karya. Metode pemberian contoh dengan sket di kertas kerja peserta didik dimaksudkan untuk memotivasi peserta didik melukis bukan untuk dicontoh atau untuk ditiru. pemandangan alam. (2) kreativitas. (4) pewarnaan. Sedangkan indikator penilaian produk sebagai berikut: (1) kesesuaian tema. (5) ketekunan. (7) percaya diri. Pangumpulan data menggunakan metode observasi. Karya 138 . Untuk penilaian proses indikator yang digunakan adalah: (1) kelancaran membuat sket (2) penuangan ide. yaitu anak-anak usia dini yang berjumlah 25 anak dengan usia antara 3 sampai dengan 7 tahun. wawancara.

Masalah yang diperiksa dipilah ke dalam tujuantujuan sebagai berikut: (1) untuk memeriksa efek-efek perkembangan usia (kelas lima. dan sebelas) pada tanggapan subjek atas rangsangan seni. Penelitian yang dilakukan Newton (1989) dari University of Missouri bertujuan untuk mengetahui/memeriksa tentang perubahan-perubahan perkembangan tanggapan estetis pada dimensi-dimensi stilistik dan isi rangsangan seni dengan menggunakan tanggapan verbal dan non-verbal. dan masingmasing dari 150 subjek diuji secara perorangan. dan (4) untuk meletakkan dimensidimensi penting di dalam beragam skala diferensial semantik. Hasil penelitan menunjukkan bahwa anak-anak kelas lima memiliki evaluasi yang 139 . dan sebelas. Tingkatan kelas subjek adalah kelas lima. delapan. (2) untuk memeriksa baik peringkat verbal (pada diferensial semantik) maupun tanggapan-tanggapan non-verbal (looking time [LT] dan rating time [RT]).lukis peserta didik menggambarkan dunia anak dengan tema pilihannya sendiri sesuai dengan pengalaman dalam kehidupannya. delapan. (3) untuk menyelidiki efek-efek jenis-jenis rangsangan (dimensidimensi gaya dan isi slide-slide lukisan. 5. dengan menggunakan pengukuran verbal dan non-verbal. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan slide-slide lukisan secara bertahap pada subjek- subjek sekolah dasar dan menengah. dan pengukuran non-verbal memandang waktu dan rata-rata waktu (LT/RT). Tanggapan-tanggapan verbal diukur dengan instrumen diferensial semantik. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis faktor. analisis variasi dengan pengukuran berulang. dan the Fisher Least Significant Differenc.

Kriteria penilaian memberi suatu kerangka bagi pendidik dan peserta didik untuk menentukan teknik-teknik dan aspek-aspek dari karya mereka yang mereka kerjakann dengan benar. Pendidik hendaknya memberikan penilaian menyeluruh atas karya siswa dengan menyertakan alasan-alasan. untuk membantu pendidik memahami bagaimana peserta didik beajar dari suatu proyek.lebih tinggi. untuk bicara 140 . Hal ini menunjukkan bawah anakanak kelas lima menunjukkan kesiapan dan keterbukaan yang nampaknya berkurang ketika anak-anak menjadi dewasa. dan ketidakpastian/kemunculan yang lebih rendah (lebih familiar dan kurang kompleks). Kriteria inipun bertujuan untuk membiarkan peserta didik membuat evaluasi sendiri mengenai kemajuan mereka. baik kepada guru maupun siswa. Penilaian dengan mudah disertakan dalam setiap tahapan suatu proyek. dilatarbelakangi bagaimana membuat suatu penilaian menjadi sebuah elemen pembelajaran yang aktif dan bagian positif dari pengajaran. dengan cara membangun kepercayaan diri. Sehingga siswa merasakan makna dari peningkatan. dan menggugah semangat siswa untuk mengekspresikan ide-ide mereka kapada guru dan kelompoknya. arti dari bertambahnya pengetahuan yang sudah mereka kuasai. Kriteria penilaian yang bagus memberikan suatu bahasan. Penelitian yang dilaksanakan oleh Coney (1999) tentang pentingnya kriteria untuk menilai hasil karya seni lukis anak. dan LT/RT yang lebih panjang ketimbang anak-anak kelas delapan maupun sebelas. dan letak keunggulan dan kelemahan mereka. 6. Suatu kriteria telah dikembangkan untuk mencapai tujuan ini.

digunakan untuk merekam 141 . dan memepermudah guru memahami pendekatan yang diambil siswa secara individual. dilakukan studi kasus yang dilakukan terhadap enam peserta didik dalam suatu proyek nyata. mulai dari sikap menerima hingga menolak secara total. dan penilaian riil. kolase. tujuan. Dalam menentukan serangkaian kriteria untuk mengevaluasi karya seni dan desain. Selanjutnya atas dasar hal tersebut di atas. Banyak hasil pendidikan seni yang paling berharga tidak kapabel bila dibilang maju dalam bentuk tujuan-tujuan pengajarannya. Sikap atas penilaian dalam bidang seni dan desain bisa bermacam-macam. Proyek terdiri dari empat aspek. padahal pendidikan seni penting sekali untuk memupuk spontanitas dan eksperimentasi. perlulah kiranya menyeimbangkan kebebasan siswa untuk mengeksplorasi dan merespon pengalaman-pengalaman dengan kebutuhan untuk berkembang dan mempelajari ketrampilan-ketrampilan yang tepat. Sudah diterima secara luas bahwa penilaian harus mengevaluasi perkembangan siswa. tetapi menemukakan pentingnya kreativitas. yaitu: melukis. Dengan sebuah kerangka yang didesain untuk digunakan dalam setiap mata pelajaran selama berlangsungnya suatu proyek. Sebuah pandangan kompromis yang tercantum dalam tugas ini menerima prinsip penilaian. Penilaian atas dasar kriteria yang dikembangkan dalam laporan ini. tugas rumah.mengenai kemajuan dan pembelajaran dalan suatu cara yang penuh makna. Pada proyek dilengkapi dengan judul. sasaran. penilaian diripun dibangkitkan demi membantu siswa memahami kemajuaanya sendiri.

teknik.kemampuan masing-masing dengan tujuh kriteria sebagai berikut: (1) kemampuan untuk mengamati dan merekam suatu pengalaman visual. 142 . (3) minat dan motivasi serta penggunaan bahasa seni dan desain. (7) komitmen untuk menunaikan tugas rumah sebagai bagian dari riset untuk suatu proyek. seperti pengamatan penuh selidik atas wajah manusia atau atas bunyi ucapan manusia. yang diharapkan terbukti cukup flesibel untuk tugas-tugas yang berbeda. Penelitian Freeman (1997) bertujuan ingin menjelaskan bagaimana seorang anak didorong untuk mengerahkan segala kemampuan internalnya dalam berbagai wilayah yang berbeda. disalurkan dalam ranah perkembangan dengan pengaruh-pengaruh dari luar si anak maupun dari dalam anak. 7. (6) menekankan kembali batasan-batasan dari suatu proyek. serta peralatan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: kriteria-kriteria yang dikembangkan dapat mengekspresikan elemen-elemen krusial dari kemajuan dalam seni dan desain. dan memberi keuntungan baik pada pendidik maupun peserta didik. (5) pencapaian sasaran pembelajaran. Model ini sudah umum dan telah diterapkan pada studi tentang bagaimana anak-anak menjadi kreatif dalam menggambar sesuatu yang belum pernah mereka coba sebelumnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan kemampuan- kemampuan awal dari anak-anak. (4) ekspresi dan kontrol atas ide-ide. (2) pengembangan ketrampilan teknis dan penggunaan bahan. Dengan menggunakan model Karmiloff-Smith dikenal sebagai Representational Redescription Model (RRM).

tidak semua anak cukup eksplisit mengungkapkan penilaiannya. oleh karena representasi-representasi mental tahap awal (a) tidak sepenuhnya eksplisit dan dengan demikian tidak mudah diakses semau-maunya oleh anak. Tantangan tersebut biasanya dilontarkan dengan menyuruh si anak menggambar berdasarkan imajinasinya atau meminta si anak mengekspresikan fantasinya. Sayangnya.Cara terbaik untuk melihat apakah seorang anak memiliki kemampuan internal ataukah tidak adalah dengan menugasinya menggambar sesuatu yang diperkirakan belum pernah ia lihat dan ia gambar sebelumnya. seturut model RRM. Ini akan memudahkan untuk membedakan anak yang bertumpu pada kemampuan eksternal semisal “hantu” atau “raksasa” dari anak lain yang bertumpu pada sebuah kemampuan internal dan menciptakan sebuah lukisan yang sepenuhnya “keluar dari kepalanya sendiri. pertama melibatkan 62 anak usia lima tahunan dan 62 anak usia sembilan tahunan.”. Modifikasi yang dibuat hanyalah meminta anak menjelaskan bagaimana mereka berhasil menggambarkan “sosok manusia yang belum pernah ada. tetapi dari mereka yang 143 . (c) dan berkaitan dengan penataan tindakan-tindakan praktis dan dengan demikian tidak mudah diuraikan untuk kepentingan pengaturan tindakantindakan inovatif.’. Hal itu terjadi. Suatu imajinasi yang aktif atau fantasi kehidupan yang hidup tidak dengan sendirinya menjamin sebuah inovasi dalam ekspresi atau tindakan. (b) kemungkinan besar tersimpan dalam otak secara terpisah-pisah sehingga keterhubungannya tidak diketahui oleh anak. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen.

bertambah pulalah meteri verbal yang diperoleh begitu saja (tanpa usaha keras) dari anak untuk tujuan pembahasan karya. dan mayoritas anak yang lebih tua (67 %) menerangkan bagaimana mereka membuat inovasi dari kemampuan-kemampuan internal mereka. Hal ini dapat dilihat pada: pertama. Ini masuk akal mengingat kepercayaan atas suatu model eksternal tidak otomatis membuat anak akan lebih berhasil dalam membedakan lukisan. Perbedaan ini secara statistik bersifat signifikan. dari lukisan normalnya mengenai sosok manusia apa adanya yang sudah dikumpulkan sebelum eksperimen dimulai. di kalangan anak-anak yang bertumpu pada sebuah model yang disebutkan sebagai eksternal tidak ada hubungan terjadi antara seberapa terkait ungkapan verbal mereka dan seberapa kreatif hasil karya mereka itu dinilai. Hal itu menegaskan bahwa ketika kemampuan-kemampuan internal untuk inovasi grafis meningkat. mayoritas anak yang lebih muda usia (61 %) menyebut suatu karakter fiksional eksternal sebagai model mereka. dan barangkali bisa memantik ide-ide yang bermanfaat. 144 . Eksperimen ini membuahkan hasil yang selaras dengan eksperimennya Karmiloff-Smith: hanya 8 % dari anak yang lebih muda usia berani membuat lukisan yang silang kategori bila dibandingkan dengan 39 % dari anak-anak yang lebih tua.ternyata cukup eksplisit 36 anak usia lima tahunan dan 52 anak usia sembilan tahunan.

Karya seni dilihat dari produknya mengandung nilai intrinsik dan nilai ekstrinsik. tidak takut salah. Kerangka Pikir Pada prinsipnya menilai karya seni harus menentukan dulu dasar yang digunakan untuk melakukan penilaian. Nilai ekstrinsik satu produk tertentu hanya bisa dievaluasi oleh keberhasilan empiris. seni lukis misalnya karena anak relatif belum banyak pengetahuan tentang aturan-aturan/norma-norma yang mengikatnya. namun analisis histori membuktikan bahwa seni lazim merupakan alat untuk sesuatu yang lain. Sesungguhnyalah produk seni harus membenarkan keberadaannya. Kriteria tidak mengakhiri suatu proses kreatif karena kriteria bukanlah suatu batasan-batasan. bahan akan berubah seiring dengan budaya dan filosofis sosial yang diungkapkannya. Dengan demikian untuk menilai suatu karya seni perlu pemahaman apa yang harus dilakukan bukan apa yang tidak bisa dilakukan. Garis. Karena ketidaktahuan inilah anak cenderung lebih bebas dan merasa leluasa. 145 . Tidak mudah untuk menyerap hal-hal yang tidak memiliki nilai apapun. Nilai intrinsik suatu karya seni yang sempurna sekalipun tidak akan lepas dari kualitas bahan yang dipakainya. sehingga hasil karyanya terkesan jujur dan spontan. Pada karya sendiri terdapat elemen-elemen desain atau prinsip-prinsip seni yang tidak akan berubah. karena pada umumnya orang memiliki tujuan ketika melakukan penilaian.F. Pada anak-anak biasanya lebih bebas dalam berekspresi dalam mewujudkan suatu karya seni rupa. Tetapi penggunaan elemen-elemen desain atau prinsip-prinsip seni. Karya seni yang dihasilkan menunjukkan kemurnian pengungkapan perasaan mereka.

Sementara bentukbentuk ini mungkin dengan mudah dapat dikenali dalam artian muncul dari karakter yang sederhana sampai ke karakter yang kompleks. Bahkan hasil karya lukis anak dapat menunjukkan bagaimana seseorang anak berpikir dan menangani masalah. Mulai masa bayi sampai masa dewasa awal anak melalui beberapa fase dasar perkembangan sebagaimana tercermin dalam seni. Segi empat menyarankan 146 . Secara universal. dimana mereka mengembangkan daya ciptanya. dan tekstur bukan lagi sebagai elemen-elemen fisik. Pengalaman-pengalaman paling awal atas bahan merupakan sebuah karakter sensori-motor. bentuk-bentuk tersebut juga merepresentasikan secara simbolis tugas-tugas kehidupan anak-anak yang masih kecil. perkembangan seni lukis anak ada tahapannya. pengertian Lukisan tersebut dapat ditafsirkan dalam perkembangan dan dapat mengungkapkan informasi tentang kepribadian anak. sesuai dengan bertambahnya usia anak. dalam pengertian gestalt visual-motor. dan melalui manipulasi dan percobaan visual pada periode ini. dan sesungguhnyalah lukisan anak-anak mempunyai makna yang profan yaitu mengandung makna lebih dalam dari pada permukaannya.warna. tetapi mencerminkan ekspresi kejiwaan yang kuat. sebuah kemampuan untuk memproduksi bentuk pun tercapai. Melukis bagi anak-anak sebentuk permainan. Kegiatan anak-anak melukis adalah suatu cara untuk mengkomunikasikan perasaan dan gagasannya. Lingkaran mengindikasikan secara simbolis anak yang sedang mengidentifikasi diri sebagai suatu entitas fisik yang terpisah dari ibu dan sekaligus terikat dalam ketergantungan personal dengan ibu tersebut.

Seorang anak akan menjadi introvert perseptual-sosial dan haptik dan tidak tergantung pada bidang dalam seninya. Tipe-tipe perseptual menjadi nyata dalam seni pada anak usia sembilan tahun ketika ia matang secara sosial. Identifikasi semacam itu membuat kecendrungan anak laki-laki untuk melebih-lebihkan proyeksi diri menjadi berupa citra yang mengerikan. Namun 147 . atau anak akan menjadi ekstrovert perseptual-sosial dan tergantung pada visual dalam seninya. Kemungkinan akan terjadi anak masuk dalam kedua tipe tersebut. Demikianlah perkembangan kepekaan artistik anak-anak yang terlihat dalam goresan-goresan karyanya pada usia 2 sampai dengan 6 tahun. Kualitas estetik yang tinggi dari referensi fisik-emosionalnya pada tahun-tahun awal sekarang disubordinasikan pada pengisahan yang ideologis. sedangkan anak perempuan akan cenderung mengidealisasi dirinya sendiri dalam citra wanita yang glamor dan matang.penutupan-ego anak ketika ia mencoba mengklarifikasi diri dalam konteks lingkungannya. dan detil-detil tersebut mencerminkan pertumbuhan inteletualnya. Pada usia enam tahun anak mulai mapan di dalam dunia nyata dan menjadi bagian sosial dari interrelationship (hubungan di dalam struktur). tetapi ia sampai pada referensi rasional yang utuh dari bentuk dan ruang skematik pada usia tujuh tahun. dan pada kadar tertentu. Sebelumnya ia telah mengumpulkan detil-detil dalam gambranya ketika ia tumbuh. akan menjadi berorientasi pada kelompok karena adanya kebutuhan untuk mengidentifikasi dengan lebih mendalam peran seksual-diri.

the group critique untuk mengembangkan sikap oto kritis peserta didik dan mengetahui perkembangan peserta didik yang lain. bagaimana sikap. Untuk penilaian produk karya seni lukis peserta didik diperlukan kriteria. kegagalankegagalan. kelancaran dalam menggunakan media. maupun proses pendidikan. pendidik dapat menilai tingkah laku peserta didik. baik karena perkembangan anak sendiri.kepekaan artistik ini akhirnya akan lenyap disadari atau tidak disadari. Kepekaan artistik anak akhirnya terdesak oleh kemampuan logika yang melihat seluruh isi alam tidak lagi dari penghayatan seni dan imajinasi anak. Pendidikpun dapat menggunakan komentar peserta didik untuk masukkan diagnostik dan remedial. Karena di lapangan masih banyak kendala khususnya pendidik yang tidak memiliki pengalaman dan 148 . Berdasarkan hal tersebut di atas. dan keberhasilannya. demikian juga untuk penilai/ penafsir dari karya lukis tersebut berdasar kriteria yang ada. Penilaian proses meliputi student self evaluation yang menghasilkan data pengukuran diri sendiri. penentuan kriteria pengukuran hasil karya lukis anak pada anak kelas 1 sampai dengan kelas 3 sekolah dasar sesuai yang tercantum dalam KTSP yaitu pada usia tujuh sampai dengan sembilan tahun kiranya harus melihat perkembangan usia dan tahapan perkembangan seni anak Dalam hal ini performance assessment yang digunakan untuk menilai kaya lukis anak. dan juga lingkungan. mengetahui masalah-masalah. meliputi penilaian proses dan produk. Selanjutnya pada waktu proses pembuatan karya lukis. dan kepuasan anak. Mengingat seni sendiri sifatnya subjektif sehingga perlu suatu kesepakatan objektif dalam prosedur-prosedur yang diperlukan. pemanfaatan waktu.

pendidikan khusus dalam bidang seni lukis,

maka perlu ada tindakan untuk

melatih pendidik menafsirkan karya lukis peserta didik dengan menggunakan kriteria yang sudah disepakati dan diujicoba. Penentuan kriteria instrumen seni lukis peserta didik yang dikembangkan tentunya harus memenuhi persayaratan instrumen yang baik yaitu persyaratan validitas dan reliabilitas. Validitas isi dan validitas konstruk yang digunakan untuk menguji kriteria instrumen ini. Untuk mencapai validitas isi, disusun kisikisi berdasar teori-teori yang melandasinya kemudian dibahas dalam suatu focus group discussion oleh para ahli di bidang seni rupa (expert judgment) khususnya seni rupa anak. Sedangkan untuk mengistimasi reliabilitas instrumen

menggunakan intereter dengan membandingkan antar penilai. Kriteria instrumen untuk menilai karya seni lukis peserta didik tentunya harus memenuhi komponen rasio dan emosi. Karena untuk menelaah suatu karya seni cenderung penjelasan secara rasio, sedangkan karya seni dominan dengan emosi yang pengungkapannya memerlukan kepekaan intuitif. Dengan demikian diperlukan kepekaan intuitif untuk menjelaskan secara rasional. Pendidik sebagai orang yang melakukan penilaian mestinya dituntut dengan kepekaan intuitif

tersebut, sehingga subjektivitas dalam penilaian dapat diminalisir. Kriteria instrumen digunakan untuk mengembangkan instrumen karya lukis anak yang mencakup proses dan hasilnya. Instrumen karya lukis anak yang dikembangkan harus diketahui karakteristiknya. Karakteristik instrumen penilaian meliputi kesahihan (validity), keandalan (reliability), dan rubrik, yaitu cara

149

pemberian skor. Selain itu hal yang penting adalah keterpakaian instrumen ini oleh guru di sekolah dasar.

G. Pertanyaan Penelitian Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka pikir di atas, maka pertanyaan penelitiannya adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. Bagaimana kriteria instrumen penilaian karya seni lukis anak? Bagaimana validitas konstruk instrumen penilaian karya seni lukis anak? Bagaimana reliabilitas kriteria instrumen yang dikembangkan? Bagaimana rubrik penilaian karya seni lukis anak? Sejauhmana instrumen penilaian karya lukis anak ini dapat digunakan oleh guru?

H. Hipotesis Uji Model Dalam rangka untuk melihat efektifitas model yang dibuat di lapangan, perlu dilakukan uji model. Untuk menguji model tersebut, digunakan hipotesis sebagai panduan untuk melakukan justifikasi apakah efektif atau tidak menurut pengguna. Uji model ini mencakup kriteria atau konstruk instrumen. Berdasarkan permasalahan penelitian dan kajian pustaka yang melandasi dan didukung oleh kerangka pikir, maka hipotesis penelitiannya sebagai berikut: 1. Konstruk instrumen penilaian proses seni lukis anak terdiri dari sikap,

pemanfatan waktu, cara menggunakan alat, kepuasan. 2. Konstruk instrumen penilaian hasil karya lukis anak terdiri atas kreativitas, ekspresi, ketrampilan penggunaan bahan dan alat (teknik). 150

3.

Instrumen yang dikembangkan berdasarkan konstruk instrumen penilaian proses dan produk akan menghasilkan penilaian yang andal (reliable).

4. Instrumen penilaian seni lukis anak yang dikembangkan dapat digunakan guru dalam menilai proses dan hasil karya lukis anak.

151

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Data Uji Coba Berdasarkan langkah-langkah tahapan pengembangan, data hasil uji coba disajikan secara berturut-turut berikut ini. 1. Data Studi Awal a. Hasil Analisis Kurikulum Analisis kurikulum dimaksudkan untuk mengetahui keterkaitan antara tujuan pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan (seni lukis) dengan standar kompetensi lulusan (SKL) tingkat satuan pendidikan sekolah dasar. Tujuan mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan di sekolah dasar dalam standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah adalah sebagai berikut. Mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan: (1) memahami konsep dan pentingnya seni budaya dan keterampilan; (2) menampilkan sikap apresiasi terhadap seni budaya dan keterampilan; (3) menampilkan kreativitas melalui seni budaya dan ketrampilan; (4) menampilkan peran serta dalam seni budaya dan keterampilan dalam tingkat lokal, regional, maupun global (BSNP, 2006:192). Dalam Permen 22 tahun 2006 dinyatakan bahwa Standar Kompetensi Lulusan (SKL) SD/MI secara umum adalah sebagai berikut. 1) Menjalankan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan anak 2) Mengenal kekurangan dan kelebihan diri sendiri 3) Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungannya 4) Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi di lingkungan sekitarnya 5) Menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kreatif

169

6) Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif, dengan bimbingan guru/pendidik 7) Menunjukkan rasa keingintahuan yang tinggi dan menyadari potensinya 8) Menunjukkan kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari 9) Menunjukkan kemampuan mengenali gejala alam dan sosial di lingkungan sekitar 10) Menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan 11) Menunjukkan kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa, negara, dan tanah air Indonesia 12) Menunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni dan budaya lokal 13) Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang 14) Berkomunikasi secara jelas dan santun 15) Bekerja sama dalam kelompok, tolong-menolong, dan menjaga diri sendiri dalam lingkungan keluarga dan teman sebaya 16) Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis 17) Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung Hasil analisis kurikulum menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan yang sangat erat antara tujuan pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan dengan

Standar Kompetensi Lulusan (SKL) tingkat satuan pendidikan sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah (SD/MI). Keterkaitan tersebut disajikan pada Tabel 5. Tabel 5 menunjukkan bahwa mata pelajaran Seni Budaya dan Ketrampilan mempunyai sumbangan yang cukup strategis terhadap pencapaian SKL SD. Hal ini berarti keberhasilan pembelajaran Seni Budaya akan mendukung keberhasilan pencapaian SKL SD, khususnya SKL No 5 sampai dengan 13, kemudian SKL No. 14 dan 15.

170

Tabel 5 Hubungan antara Tujuan Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan (PSB) dengan SKL Satuan Pendidikan SD No. Tjn. PSB 1 2 3 4 Nomor Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan SD 1 2 3 4 5 6 X X X X 7 X X X 8 X X X 9 10 11 12 13 14 15 16 X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X 17

X X X X X

b. Hasil Analisis Kebutuhan Lapangan Analisis kebutuhan lapangan melibatkan 20 orang guru yang mengajar mata pelajaran seni lukis. Ada 14 item yang diidentifikasi dalam studi awal ini, yaitu kurikulum, buku acuan, bahan dan alat, penentuan tema lukisan, minat anak, metode penilaian, prosedur penilaian, komponen yang dinilai, kriteria penilaian, penentuan skor, unsur kreativitas, kesulitan yang dihadapi, pandangan guru, dan partisipasi sekolah/anak dalam lomba lukis. Hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti berkaitan dengan masing-masing item tersebut dapat dielaborasi berikut. Pembelajaran seni lukis anak, 75% menggunakan kurikulum tingkat

satuan pendidikan (KTSP) dan sisanya 25% menggunakan gabungan KTSP dengan kurikulum sebelumnya. Informasi tersebut disajikan pada Gambar 47. KTSP yang dikembangkan berdasarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Permen No 22 tahun 2006 tentang standar isi pendidikan merupakan

kurikulum terbaru yang digunakan pada jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah. Kurikulum yang digunakan sebelumnya adalah kurikulum 2004, yaitu kurikulum berbasis kompetensi (KBK). KTSP pada dasarnya sama dengan

171

kurikulum 2004, perbedaannya hanya level standar kompetensi yang ingin dicapai dan cakupannya.

Gambar 47. Jenis Kurikulum Yang Digunakan Hasil Studi Awal Hasil wawancara menunjukkan bahwa hanya 5% guru menggunakan 85% guru,

buku acuan yang sesuai dengan KTSP. Sebagian besar guru, menggunakan

buku yang sesuai KTSP dan sumber lain, dan 10 % guru

menggunakan buku yang tidak sesuai KTSP. Infomasi kesesuaian buku yang digunakan dengan KTSP disajikan pada Gambar 48. Dalam kaitan dengan penyiapan alat dan bahan pembelajaran seni lukis, teridentifikasi ada 5 (lima) komponen yang menyiapkannya, yaitu

Gambar 48. Kesesuaian Buku Yang Digunakan Hasil Studi Awal

172

komponen ketiga. komponen kedua. 10% tema ditentukan oleh siswa.siswa. 10% guru. dan sekolah. 25% siswa yang menyiapkan alat dan bahan pembelajaran. dan 60% tema ditentukan bersama antara guru dan siswa. Dalam kaitan dengan penentuan tema lukisan tersebut. 40% sekolah dan siswa yang menyiapkan alat dan bahan. 173 . komponen keempat. Data tersebut menunjukkan bahwa sekolah secara mandiri belum mampu menyediakan alat dan bahan yang diperlukan untuk pembelajaran Informasi tentang penyiapan alat dan bahan disajikan pada Gambar 49. guru. guru dan siswa. Pembelajaran seni lukis diawali dengan penentuan tema yang akan dilukis oleh siswa. dan sekolah yang menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam pembelajaran. 20% guru dan siswa yang menyiapkan alat dan bahan. Subjek Yang Menyiapkan Alat dan Bahan Hasil Studi Awal pembelajaran. Informasi ini disajikan pada Gambar 50. ada 30% tema ditentukan oleh guru sesuai dengan kurikulum. guru. 5% guru yang menyiapkan alat dan bahan Gambar 49. sekolah dan siswa. Komponen pertama. serta gabungan siswa. siswa. dan komponen kelima.

Gambar 50. 174 . Minat Siswa dalam Belajar Hasil Studi Awal minat yang sangat tinggi. Distribusi minat siswa terhadap pelajaran seni lukis hasil studi awal disajikan pada Gambar 51. dan 10% siswa tidak berminat dalam melukis. 15% anak kurang berminat. Hasil Studi Awal Subjek Yang Menentukan Tema Lukisan Penentuan tema merupakan tahap yang sangat krusial dalam pembelajaran seni lukis karena berkaitan dengan minat siswa. Hasil identifikasi melalui wawancara diperoleh bahwa menurut persepsi guru ada 75% siswa memiliki Gambar 51.

5% guru menggunakan portofolio. metode penilaian yang digunakan memiliki karakteristik yang berbeda. Gambar 52. 30% guru menggunakan portofolio. 15% guru menggabungkan metode pengamatan. 20% guru guru menggunakan pengamatan dan tes menggunakan portofolio dan tes perbuatan. Dalam melakukan penilaian 60% guru memberikan uraian prosedur yang sesuai dengan langkah-langkah penilaian dan 40% tidak memberikan uraian prosedur.Metode yang digunakan guru dalam melakukan penilaian seni lukis siswa adalah 15% guru menggunakan metode pengamatan. 5% 5% guru menggunakan tes perbuatan. termasuk uraian dan prosedur dalam memberikan penilaian. Informasi tersebut dapat disajikan pada Gambar 52. portofolio dan tes perbuatan dalam memberikan penilaian terhadap siswa. dan 5% guru tidak memahami metode penilaian. Kesesuaian prosedur dalam melakukan penilaian setidaknya dapat memberikan patokan bagi guru dalam upaya menghindari subjektifitas penilai. 175 . Hasil Studi Awal Jenis Penilaian Yang Digunakan Guru Selanjutnya. Informasi tentang uraian dan prosedur dalam melakukan penilaian disajikan pada Gambar 53. pengamatan perbuatan.

176 .Gambar 53. Gambar 54 memberikan gambaran bahwa secara umum gabungan komponen proses dan produk merupakan objek penilaian yang dilakukan oleh guru. Hasil Studi Awal Komponen Penilaian Guru komponen proses. 5% Gambar 54. Hasil Studi Awal Kesesuaian Prosedur Yang Digunakan dalam Penilaian Dalam kaitan dengan komponen-komponen yang dinilai dalam pembelajaran seni lukis selama ini menunjukkan bahwa 40% hanya komponen produk. dan 55% komponen proses dan produk. Informasi hasil studi awal ini disajikan dalam bentuk grafik seperti Gambar 54.

dan yang menjawab tidak tahu (5%). Hasil wawancara peneliti dengan guru 177 . Informasi tentang penentuan skor dalam penilaian seni lukis anak hasil studi awal ini disajikan pada Gambar 56. komposisi bidang. kombinasi angka dan huruf (5%). dan komposisi bidang. yaitu melalui pemberian angka (80%). keberanian sebesar 70%.Gambar 55. Hasil studi awal menunjukkan bahwa ada dua macam penentuan skor dalam menilai karya lukis siswa yang dilakukan. cara mewarnai produknya. Secara grafik. Kriteria produk meliputi komposisi warna. langkah selanjutnya adalah penentuan skor. kurang baik (10%). Gambar 56 menunjukkan bahwa penentuan skor dalam penilaian seni lukis anak yang dilakukan oleh guru pada umumnya melalui pemberian angka. baik. Hasil Studi Awal Kriteria Penilaian Guru Komponen proses dan produk yang dinilai terdiri atas beberapa kriteria. Kriteria proses meliputi sikap. informasi ini disajikan pada Gambar 55. ada 5% guru memberikan kriteria proses yang meliputi cara melukis. pemberian huruf misalnya sangat baik. kesesuaian warna. kesesuaian lukisan dengan tema sebesar 25% . Di samping itu. Setelah menetapkan kriteria untuk setiap komponen penilaian. semangat.

Hasil studi awal menunjukkan bahwa untuk melihat unsur kreativitas dalam sebuah produk hasil karya seni siswa. Skor angka yang diberikan pada hasil karya seni lukis anak belum dapat dijadikan sebagai dasar bagi guru untuk melihat kreativitas dari anak. 70% guru mengungkapkan dengan memperhatikan Gambar 57. Hasil Studi Awal Unsur Kreativitas dalam Penilaian oleh Guru 178 . guru tersebut tidak memberikan jawaban yang pasti.Gambar 56. semuanya serba kemungkinan. Hasil Studi Awal Jenis Penentuan Skor Penilaian oleh Guru tentang apa makna angka yang diberikan misalnya 60.

Informasi ini disajikan pada Gambar 58.kesesuaian unsur-unsur rupa serta kemampuan anak dalam mengembangkan ide. misalnya faktor-faktor yang dinilai kelengkapan peralatan dan bahan yang dibawa tidak memahami seni. Secara grafik. Untuk mengatasi kesulitan tersebut. dan keseriusan siswa. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi guru dalam melakukan penilaian seni lukis anak ternyata cukup banyak. dan 30% guru belum mengungkapkan kriteria kreativitas anak. Kesulitan Guru dalam Penilaian Hasil Studi Awal praktis untuk menilai. siswa. 35% guru mengungkapkan berasal dari siswa. semua guru menyarankan perlunya instrumen penilaian yang praktis untuk mempermudah dan menyeragamkan 179 . Hasil identifikasi menunjukkan bahwa 40% guru mengungkapkan karena tidak ada pedoman yang Gambar 58. 20% guru mengungkapkan dan 5% guru mengungkapkan tidak ada kesulitan. informasi ini dapat disajikan pada Gambar 57. Kemudian peneliti menanyakan kepada guru tentang kesulitan yang dialami dalam melakukan penilaian seni lukis anak.

50% siswa cukup mengikuti lomba lukis. Hasil Studi Awal Partisipasi Siswa atau Sekolah dalam Kegiatan Lomba 180 . Sajian informasi tersebut dalam bentuk grafik dapat dilihat pada Gambar 60. informasi tentang perlu tidaknya instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak disajikan pada Gambar 59. Secara grafik. 20% siswa jarang mengikuti lomba lukis. Gambar 60.penilaian yang dilakukan guru. Gambar 59. Hasil Studi Awal Tanggapan Guru Perlunya Instrumen Penilaian Partisipasi sekolah atau siswa dalam mengikuti kegiatan lomba seni lukis berdasarkan wawancara yang peneliti lakukan menunjukkan bahwa 25% siswa sering mengikuti lomba lukis. dan 5% siswa tidak pernah mengikuti lomba.

Papringan SD Muh.Perancis B.Danunegaran SD Muh. tampak bahwa pembelajaran dan penilaian pendidikan seni lukis sungguh memprihatinkan. Gowongan SD Muh. Sebaran guru dan latar belakang guru disajikan pada Tabel 6. Nitikan SD Muh.Indonesia Psikologi Tek.Indonesia B. terutama jika dilihat dari guru yang melaksanakan penilaian. Pada umumnya (95%) guru yang mengajarkan dan melaksanakan penilaian seni lukis anak tidak memiliki latar belakang pendidikan atau pengalaman seni.Nitikan SD Muh.Penumping SD Muh. Kauman Jenis Guru Guru kelas Guru bidang studi Bidang Keahlian Seni lukis IPS Olah raga B. Papringan SD Muh.Karangkajen SD Muh.Indonesia &IPS √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Agama & Sains B. Pendidikan Lukis & Tari Mencermati informasi yang disajikan pada Tabel 6. Tabel 6 Daftar Peserta Studi Awal Inisial resp SW PB SR NH AG PN EL RL RP SW SS WA TR RH ET MR SR RP SL LP Usia (Tahun) 49 36 39 47 54 45 55 50 35 38 32 39 31 33 27 35 29 34 44 28 Asal Sekolah SD Lempuyangan 2 SD Lempuyangan 1 SD Lempuyangan 3 SD Tegal Panggung SDN Widoro SD Suryodiningratan 4 SD Langensari SD Samirono SD Suryodiningratan 3 SD Pujokusumon 3 SD Muh. 181 . Danunegaran SD Muh.Berdasarkan temuan studi awal tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan penilaian seni lukis anak selama ini masih perlu perbaikkan dan peningkatan.

Data Pendefinisian Pada langkah ini didapatkan definisi konstruk instrumen dan kajian atas konsep instrumen karya lukis anak yang dijabarkan dari kajian teori. dapat ditarik kesimpulan bahwa instrumen penilaian seni lukis anak perlu dikembangkan untuk mempermudah guru dalam melakukan penilaian yang lebih objektif. Perbedaan ini tampak pada Gambar 47-58 serta Tabel 6. Gambar tersebut mengungkapkan secara eksplisit bahwa 100% guru yang diteliti menyatakan sangat perlu instrumen penilaian yang praktis sehingga untuk mempermudah dan menyeragamkan penilaian guru.Pendidik yang memiliki pemahaman dan pengetahuan tentang seni lukis sangat sedikit (hanya 5%) yaitu mereka yang berlatar belakang pendidikan seni. sehingga kualitas pembelajaran dan penilaian seni lukis masih sangat rendah. Berdasarkan uraian hasil studi awal di atas. Pendefisian ini pada dasarnya dihasilkan dari pendalaman literatur tentang seni dan strategi pendidikannya. 182 . 2. Adanya perbedaan ini. sehingga memerlukan perhatian yang serius dari semua pihak yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan seni lukis. kriteria dan rubrik penentuan skor. Penyimpulan ini didasarkan pada perbedaan karakteristik pembelajaran seni yang dilakukan oleh setiap guru. Selain fakta yang ditunjukkan pada gambar dan tabel tersebut. deskripsi. Kenyataan ini merupakan suatu gambaran tentang pembelajaran dan penilaian seni lukis yang terjadi selama ini. Definisi konstruk instrumen karya seni lukis anak dijabarkan menurut indikator. perlunya pengembangan instrumen seni lukis didasarkan juga pada fakta yang disajikan pada gambar 59. dikhawatirkan akan memicu terjadinya penilaian yang cenderung subjektif.

2002: 20). Dengan demikian indikator merupakan suatu petunjuk atau acuan sehingga memudahkan guru dalam melakukan penilaian. Dalam penelitian ini deskripsi didefinisikan sebagai paparan kata-kata yang secara terperinci dari indikator yang diturunkan yang digunakan sebagai dasar untuk mengamati objek penilaian. Indikator merupakan tolok ukur (Rohandi. jelas. patokan untuk mempertimbangkan atau menentukan sesuatu. Indikator Indikator adalah suatu karakteristik. dan disepakati penilai dan siswa. Kriteria adalah kadar ukuran. Dengan demikian kriteria atau rubrik merupakan panduan memberi skor. Kriteria atau Rubrik Kriteria atau rubrik adalah pedoman menilai kinerja atau hasil kerja. Kemudian. Deskripsi Deskripsi adalah suatu paparan dengan kata-kata yang terperinci (Novianto. ciri-ciri. Novianto (2005: 230) mengemukakan bahwa indikator adalah alat untuk mengukur dan sebagai petunjuk. aspek-aspek atau konsep-konsep yang akan dinilai dan gradasi mutu. (Novianto. Dalam penelitian ini rubrik merupakan daftar kriteria yang diwujudkan dengan dimensi-dimensi kinerja. 183 . perbuatan. 2005: 306).a. 2005:141). b. mulai dari tingkat yang paling sempurna sampai dengan tingkat yang paling rendah. Rubrik dapat membantu seseorang untuk menentukan tingkat ketercapaian kinerja. c. Indikator keberhasilan karya seni lukis anak dapat dilihat pada lampiran 1 halaman 271.

Dimensi penilaian proses adalah penilaian yang ditunjukkan untuk mengamati kompetensi peserta didik dalam berkreasi membuat karya seni lukis. Setelah itu dilakukan proses telaah dengan memanfaatkan validasi ahli untuk menperoleh kesepakatan dalam menentukan validasi ahli konstruk penilaian. media Pengg.3. Hasil digunakan sebagai dasar untuk merancang konstruk instrumen secara utuh. dan konten serta sasaran penilaian. dimensi produk. unsur Ketekunan Waktu Kretivitas Ekspresi Teknik • • Penilaian diri Penilaian kelompok Gambar 61. Konfigurasi dari konstruk instrumen yang komprehensif dan utuh mengandung prototipe dimensi proses. sedangkan dimensi penilaian 184 . konstruk instrumen yang telah didefinisikan pada Awal • • Tanggapan siswa Kesiapan alat Proses Guru Inti Karya Seni Guru Produk Siswa • • • • • • • • Penuangan ide Pengg. Data Perancangan Pada tahap perancangan. Instrumen Penilaian Seni Lukis Hasil Tahap Rancangan tahap sebelumnya ditetapkan menjadi konstruk instrumen pendidikan seni lukis anak. Masing-masing dapat disimak pada Gambar 61.

deskripsi dan 185 . 4) ketekunan. Hasil FGD kedua adalah kesepakatan tentang deskripsi masing-masing indikator yang ditemukan pada FGD pertama. 4. ekspresi. Seminar dilaksanakan untuk mendapat masukan dan saran berkaitan dengan indikator. analisis dan pembakuan. Hasil FGD pertama adalah kesepakatan bahwa penilaian seni lukis anak terdiri atas komponen proses dan produk dengan perbandingan 60% untuk proses dan 40% untuk produk. 3) keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk. Tahap awal meliputi: 1) tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat. telaah item. Hasil FGD ketiga adalah kesepakatan tentang kriteria masing-masing indikator dan deskripsi yang diperoleh pada dua FGD sebelumnya. 2) kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis. uji coba instrumen. Data Pengembangan Tahapan ini merupakan tahap elaborasi lanjut setelah prototipe hasil perancangan diperoleh pada tahap sebelumnya. penyusunan item instrumen. Indikator proses teridiri atas tahap awal dan tahap inti. Rangkuman hasil FGD kedua disajikan pada Tabel 7. Kegiatannya meliputi pengembangan indikator. Komponen proses terdiri atas 5 (lima) indikator dan komponen produk 3 (tiga) indikator.produk adalah penilaian yang ditunjukkan untuk melihat kompetensi peserta didik dalam membuat karya cipta seni lukis. Indikator tahap inti meliputi: 1) kelancaran penuangan ide. 2) keberanian menggunakan media. 5) pemanfaatan waktu. Indikator produk terdiri atas kreativitas. dan teknik. perbaikan item. Langkah pengembangan berikutnya adalah seminar.

kualitas cara penggambaran. unsur-unsur bentuk bidang. 3 186 . A. serta kebersihan karya yang dihasilkan 3 4 5 B 1 2. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik 2 Kesiapan alat dan bahan Suatu kondisi peserta didik yang sudah yang akan digunakan siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk untuk melukis pembuatan karya lukisnya A.2 Tahap Inti 1 Kelancaran penuangan ide Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara kualitas ide yang dikembangkan dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut 2 Keberanian menggunakan Keberanian menggunakan media (alat dan media bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik inkonvensional dalam melukis Keberanian menggunakan Keberanian menggunakan titik. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik. garis. Hasil FGD Pertama dan Kedua No A.1 1 Indikator Komponen Proses Tahap Awal Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Deskripsi Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi. Ketekunan Kondisi peserta didik untuk mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh-sungguh Pemanfaatan waktu Penggunaan waktu sebaik-baiknya untuk membuat karya lukis Komponen Produk Kreativitas Keaslian bentuk (kemampuan menciptakan bentuk yang khas). kebaruan teknik dan konsep cerita Ekspresi Kejelasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema Teknik Kemampuan menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya.Tabel 7.

2) cukup. Gambar 62 merupakan rubrik skor yang disusun untuk setiap indikator dengan masing-masing indikator terdiri dari 4 level/tingkatan penilaian yaitu: 4) sangat baik. khususnya berkaitan dengan kriteria dan rubrik penskoran. Pedoman penggunaan intrumen meliputi petunjuk penggunaan. 3) baik. 5. Ada beberapa perubahan mendasar yang diperoleh dari peserta seminar. Proses kesepakatan terkait dengan perubahan-perubahan pada instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar melalui FGD dan seminar dilakukan melalui pengkajian bersama yang dilandasi oleh kajian teori yang ada. 187 . sedangkan hasil seminar disajikan pada Gambar 63. tampak sejumlah perubahan yang mendasar pada kriteria untuk setiap level penilaian. Perubahan ini dimaksudkan untuk lebih menyederhanakan rubrik penskoran tanpa mengurangi maksud yang ingin dicapai yaitu menciptakan instrumen penilaian seni lukis yang valid dan andal. Hasil FGD Ketiga disajikan dalam Gambar 62. dan kelayakan penyajian yang meliputi sistimatika. Adapun pada Gambar 63. Hasil kesepakatan dalam FGD adalah pedoman dapat digunakan di sekolah. Akhir dari tahap pengembangan adalah kegiatan melakukan uji empiris instrumen. Diseminasi Tahap diseminasi merupakan tahap sosialisasi instrumen dan pedoman penggunaan instrumen penilaian seni lukis anak pada pendidik seni lukis sekolah dasar. Data lengkap hasil FGD ini dapat dilihat pada Lampiran 3 halaman 276. penskorannya.kriteria yang telah disepakari pada tahap FGD. keterbacaan dan penampilan fisik. kriteria penilaian. dan 1) kurang.

Indikator Kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis • • • • Sangat baik Bertanya seperlunya seputar tema lukisan kepada guru Tidak pernah mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan sangat cepat Memperlihatkan kegairahan yang sangat tinggi untuk memulai melukis Deskripsi Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik Level Kurang • Sangat sering bertanya seputar tema lukisan kepada guru • Sering mengeluh dengan tema yang diberikan • Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan lambat • Memperlihatkan kegairahan yang kurang untuk memulai melukis Sangat baik • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan sangat lengkap • Alat dan bahan sangat siap untuk digunakan • Alat dan bahan sangat mendukung kegiatan melukis Deskripsi Suatu kondisi peserta didik yang sudah siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya Kurang • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan kurang lengkap • Alat dan bahan kurang siap untuk digunakan • Alat dan bahan kurang mendukung kegiatan melukis Level Baik • Jarang bertanya seputar tema lukisan kepada guru • Jarang mengeluh dengan tema yang diberikan • Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan cepat • Memperlihatkan kegairahan yang tinggi untuk memulai melukis Cukup • Sering bertanya seputar tema lukisan kepada guru • Cukup sering mengeluh dengan tema yang diberikan • Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan cukup cepat • Memperlihatkan kegairahan yang cukup tinggi untuk memulai melukis Baik • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan lengkap • Alat dan bahan siap untuk digunakan • Alat dan bahan mendukung kegiatan melukis Cukup • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan cukup lengkap • Alat dan bahan cukup siap untuk digunakan • Alat dan bahan sangat mendukung kegiatan melukis Gambar 62.1. Rangkuman Hasil FGD Ketiga 188 . Indikator Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Tahap Awal 2.

bidang) sangat mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna sangat mendekati warna sebenarnya Sangat berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis • • • • Level Cukup • Cukup cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Cukup tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media cukup sesuai dengan karakteristiknya Deskripsi Kemampuan menggunakan media (alat dan bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik bebas dalam melukis 2. dan warna untuk menghasilkan bentuk yang orisional/khas Baik Variasi unsur-unsur bentuk(garis.Lanjutan Gambar 62 Baik • Cepat dalam menemukan ide • Tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide • Cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Cukup • Cukup cepat dalam menemukan ide • Cukup tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide • Cukup cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media • Baik • Cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media sesuai dengan karakteristiknya Sangat baik • Sangat cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Sangat tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media sangat sesuai dengan karakteristiknya Sangat baik • Sangat cepat dalam menemukan ide • Sangat tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide • Sangat cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Kurang • Lambat dalam menemukan ide • Kurang tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide • Lambat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media • • Sangat baik Sangat baik Variasi unsur-unsur bentuk (garis. bidang. bidang) mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna mendekati warna sebenarnya Berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis Level Cukup Variasi unsurunsur bentuk (garis. Indikator Kelancaran penuangan ide • Kurang Variasi unsurunsur bentuk sedikit (garis. bidang) cukup mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna cukup mendekati warna sebenarnya Cukup berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis • • Kurang • Lambat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Kurang tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media kurang sesuai dengan karakteristiknya • 1. Indikator Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk Deskripsi Kemampuan menggunakan titik. bidang) mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna tidak mendekati warna sebenarnya Kurang berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis • • • Tahap Inti 189 . Indikator Keberanian menggunakan media Level Deskripsi Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara ide yang ada dalam diri siswa dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut 3. garis.

Indikator Tahap Inti Ketekunan Deskripsi Penggunaan waktu sebaik-baiknya dilakukan untuk membuat karya lukis Sangat baik • Menyelesaikan karya lukis dengan sangat tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang sangat tuntas Kurang • Menyelesaikan karya lukis dengan kurang tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang kurang tuntas Cukup • Menyelesaikan karya lukis dengan cukup tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang cukup tuntas Sangat baik • Sangat serius dalam membuat karya lukis • Perhatian terhadap karya lukis sangat terfokus Deskripsi Kondisi peserta didik untuk mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh-sungguh Level Level Kurang • Tidak serius dalam membuat karya lukis • Perhatian terhadap karya lukis kurang terfokus Baik • Menyelesaikan karya lukis dengan tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang tuntas Baik • Serius dalam membuat karya lukis • Perhatian terhadap karya lukis terfokus Cukup • Cukup serius dalam membuat karya lukis • Perhatian terhadap karya lukis cukup terfokus 190 .Lanjutan Gambar 62 4. Indikator Pemanfaatan waktu 5.

Indikator Ekspresi 3. Indikator Kreativitas 2.Lanjutan Gambar 62 • • • • • Baik Jarang melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang tinggi memodifikasi objek Warna yang digunakan bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang tinggi menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang banyak dalam dalam Cukup • • • • • Cukup sering melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan cukup bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang cukup banyak Sangat baik • • • • • Tidak pernah melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang sangat tinggi dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan sangat bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang sangat tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang sangat banyak Kurang • • Level • • • Sering melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang kurang memodifikasi objek Warna yang digunakan kurang bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang kurang menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang kurang banyak dalam dalam Deskripsi Keaslian bentuk (kemampuan menciptakan bentuk-bentuk baru) 1. Indikator Teknik Produk Deskripsi Sangat baik • Sangat jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Sangat tegas/ spontan dalam mengungkapkan garis Sangat berani dalam mengorganisasikan unsurunsur karya lukis Kejelasan dalam mengungkapkan isi/tema/konsep lukisan • Kurang Kurang jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Kurang tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Kurang berani dalam mengorganisasikan unsurunsur karya lukis • • • • Level Sangat baik • Alat dan bahan yang digunakan sangat sesuai karakteristiknya • Sangat teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan sangat bersih Deskripsi Kemampuan menggunakan alat dan bahan sesuai dengan karakteristiknya serta kebersihan karya yang dihasilkan Level Kurang • Alat dan bahan yang digunakan kurang sesuai karakteristiknya • Kurang teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan kurang bersih • Baik Jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Berani dalam mengorganisasikan unsurunsur karya lukis Cukup • Cukup jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Cukup tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Cukup berani dalam mengorganisasikan unsurunsur karya lukis • • • • Baik • Alat dan bahan yang digunakan sesuai karakteristiknya • Teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan bersih Cukup • Alat dan bahan yang digunakan cukup sesuai karakteristiknya • Cukup teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan cukup bersih 191 .

Indikator Kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis Deskripsi Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik Deskripsi Suatu kondisi peserta didik yang sudah siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek Menerima Memahami Melaksanakan Sangat baik Terpenuhi 3 aspek Lengkap Relevan Siap digunakan Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek Lengkap Relevan Siap digunakan • • • Sangat baik Terpenuhi 3 aspek Menerima Memahami Melaksanakan Level • • • • • • Level • • • • • • Baik Terpenuhi 2 aspek Menerima Memahami Melaksanakan • • • Kurang Terpenuhi aspek Menerima Memahami Melaksanakan 1 • • • Baik Terpenuhi 2 aspek Lengkap Relevan Siap digunakan • • • Kurang Terpenuhi aspek Lengkap Relevan Siap digunakan 1 Gambar 63. Rangkuman Hasil Seminar Instrumen Penilaian Seni Lukis 192 . Indikator Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Tahap Awal 2.1.

bidang. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik. Indikator Kelancaran penuangan ide Tahap Inti 193 . Indikator Keberanian menggunakan media Level Deskripsi Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara ide yang ada dalam diri siswa dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut 3. Indikator Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk Deskripsi Keberanian menggunakan titik.Lanjutan Gambar 63 Baik Terpenuhi 2 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Kurang Terpenuhi 1 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Baik Terpenuhi 2 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Lambat • Tepat • Sesuai dengan media Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Berani • Tepat • Artistik Baik Terpenuhi aspek • Berani • Tepat • Artistik 2 Level Deskripsi Kemampuan menggunakan media (alat dan bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik bebas dalam melukis 2. Level Kurang Terpenuhi 1 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Berani • Tepat • Artistik Kurang Terpenuhi aspek • Berani • Tepat • Artistik 1 1. garis.

Indikator Pemanfaatan waktu Tahap Inti Sangat baik • Menyelesaikan karya lukis dengan sangat tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang sangat tuntas Deskripsi Penggunaan waktu sebaik-baiknya dilakukan untuk membuat karya lukis Level Kurang • Menyelesaikan karya lukis dengan kurang tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang kurang tuntas Sangat baik Karya sebelum berakhir selesai waktu Deskripsi Penggunaan waktu sebaik-baiknya dilakukan untuk membuat karya lukis Sangat kurang Karya tidak selesai saat waktu berakhir Level Baik • Menyelesaikan karya lukis dengan tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang tuntas Cukup • Menyelesaikan karya lukis dengan cukup tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang cukup tuntas Baik Karya selesai tepat waktu Kurang Karya hampir selesai saat waktu berakhir 194 . Indikator Pemanfaatan waktu 5.Lanjutan Gambar 63 4.

Indikator Teknik Deskripsi Kejelasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Produk Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Deskripsi Kemampuan menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya. serta kebersihan karya yang dihasilkan Level Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Level Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Baik Terpenuhi 2 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Kurang Terpenuhi 1 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Baik Terpenuhi 2 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Kurang Terpenuhi 1 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih 195 . kebaruan teknik dan konsep cerita 2. kualitas cara penggambaran. Indikator Kreativitas 3. Indikator Ekspresi 1.Lanjutan Gambar 63 Baik Terpenuhi 2 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Kurang Terpenuhi 1 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Level Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Deskripsi Keaslian bentuk (kemampuan menciptakan bentuk yang khas).

Setelah koefisien G dapat diketahui. Data Uji Coba Bagian ini mendeskripsikan tentang hasil uji coba penggunaan instrumen penilaian yang diujicobakan kepada tiga orang guru sebagai rater atau penilai terhadap penilaian karya seni lukis (beberapa hasil karya lukis anak dapat dilihat pada lampiran 9 hal. Kegiatan uji coba ini dipaparkan data hasil uji coba pada keempat kawasan tersebut. dan (3) data uji coba komponen penilaian diri. penilaian produk. (2) data uji coba komponen penilaian produk. Instrumen penilaian ini terdiri atas empat komponen utama yakni penilaian proses.358). dalam pengembangan ini yakni sumber variansi murid (P). Hasil ujicoba instrumen ini disajikan pada bagian analisis data. Analisis Data 1.B. maka pada tahapan analisis lanjut (analisis D study) akan didapatkan informasi tentang keputusan seberapa jauh penggunaan 196 . Data uji coba terdiri dari 4 (empat) komponen yaitu (1) data uji coba komponen penilaian proses. dan (4) data uji coba komponen penilaian kelompok. penilai (R) dan item kriteria penilaian (I). penilaian diri dan penilaian kelompok pada pengguna di lapangan. Komponen-komponen yang digunakan sebagai acuan untuk melakukan rating oleh para rater telah diperoleh dari hasil pengembangan pada tahap sebelumnya dan dikenal dengan produk tentatif instrumen penilaian karya seni lukis. Hasil analisis G study digunakan untuk mengetahui koefisien reliabilitas alat penilaian yang dikembangkan serta estimasi komponen variansi kesalahan yang diakibatkan oleh berbagai sumber variansi.

95 2 113235.00 100.43 5174.60 1062 15.18 35943.64 189.51 175.58 0.14 118 43. 197 .85 771345.28 413296.86 2 103984.instrumen yang telah diuji memiliki keberlakuan pada faset yang lebih luas terutama menyangkut kesamaan kondisi pengukuran.62 Total 3395152.23 4.29 59 130.16 18 158.15 3.56 I:R 836923.95 204981.07 Nested pada Penilai) 800302. Hasil rangkuman analisis G study untuk penilaian proses di kelas 1.46 41.27% dari seluruh komponen varian harapan.63 59 132.14 7701.59 2 31.15 0.00 6004.07 15.72 207969.71 5130.00 16124.04 0.48 PI:R ( Interaksi 9244. kelas 2 dan di kelas 3 menunjukkan bahwa estimasi variance true skor yang terbesar dari faset yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) di kelas 1 adalah sumber variansi kesalahan pengukuran komponen item yang nested pada penilai (I:R) dengan proporsi 86.29 18 11387.33 7823.00 581347. dan dapat diterimanya kondisi faset tersebut bagi rater atau penilai yang lain.28 Murid dan Item 868049.04 62.00 242.15 1259 124816.40 189997. a.55 1259 193.00 426924.94 118 0.68 18 10555.07 421.29 3432.14 4.00 3.00 18127.27 41.28 1062 17.29 24.28 17.84 0.98 0.40 457402.00 100.90 8728.43 222.60 100. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Proses Sumber Variansi Murid (P) Kelas 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 JK1 JK2 db KR Varian 0.29 Penilai (R) 631942.3 59 3.93 0.04 52.00 53.43 PR (Interaksi Murid 6092.40 31282540.38 2.21 dan Penilai) 644940.69 0. Penilai.20 2854. Hasil Analisis Genova Untuk Estimasi Komponen Variansi 1) Analisis Estimasi Komponen Varians Komponen Penilaian Proses Rangkuman analisis G study dari data uji coba komponen penilaian proses dapat disajikan sebagaimana pada Tabel 8.96 9.60 381079.76 193.60 Catatan: JK1 = sums of squares for mean scores. Hal yang sama Tabel 8 Estimasi Komponen Variansi Siswa. JK2 = sums of squares for score effects.56 1062 0.18 3.85 594179.00 0.53 5874.77 86.00 297.73 3.71 118 43.66 226469.83 4.42 % Total Varian 4.06 457.14 1259 114729.67 0.

Sumber variansi item yang bersarang pada penilai (I:R) merupakan komponen varian yang paling dominan. 198 . Kondisi yang demikian berarti bahwa faset yang berkaitan dengan objek pengukuran untuk penilaian proses. hal ini diduga karena guru yang menjadi rater atau penilai baru mengenal model dan konstruk alat penilaian yang dikembangkan.77%. interaksi murid dan item nested pada penilai (PI:R) proporsinya tampak lebih kecil terhadap seluruh komponen variansi hasil penilaian proses kualitas karya seni lukis dibanding proporsi komponen varians penilai (R) dan kriteria penilaian yang nested pada penilai (I:R).untuk di kelas 2 dan kelas 3 . dan yang terbesar adalah sumber variansi penilai (R) dengan proporsi masing-masing 53.04% dan 52. Sumber variansi komponen yang lain yakni murid (P). yang dominan mempengaruhi variansi kesalahan pengukuran adalah item yang bersarang pada penilai (I:R) dan untuk uji coba di kelas 2 dan di kelas 3 adalah penilai (R). Pada uji coba di kelas 2 dan di kelas 3. kondisi semacam itu telah bergeser yakni bukan lagi komponen varians item yang bersarang pada penilai (I:R) yang dominan sebagai penentu varians kesalahan pengukuran melainkan penilai atau rater. Hal ini dapat dipahami karena faktor pemahaman dan latihan atau pengalaman guru sangat dituntut untuk bisa melakukan penilaian yang benar sesuai konstruk yang dikandung oleh alat penilaian yang dikembangkan. interaksi murid dengan penilai (PR). Selain itu penggunaan alat penilaian yang dikembangkan ini merupakan cara baru yang berbeda dengan caracara konvensional sebagaimana yang lazim digunakan oleh para guru sebelum cara penilaian ini dikenalkan.

00 Catatan: JK1 = sums of squares for mean scores.70 26.00 262591.60 1083712.65 234248. Latihan dan pengalaman bagi penilai dalam menggunakan alat penilaian untuk menilai kualitas karya seni lukis merupakan cara untuk mengurangi kesalahan pengukuran dan untuk meningkatkan tingkat konsistensi dan keajegan hasil penilaian.64 62.68 1.73 5734.15 4.23 86.25 48209.98 356.23 34039.16 1.08 94.48 63.05 25.70 51427.65 53598.13 25.54 45534.48 40. 2) Analisis Estimasi Komponen Varian Komponen Penilaian Produk Rangkuman analisis G study dari data uji coba komponen penilaian produk dapat disajikan sebagaimana pada Tabel 9.51 5248.07 91069.77 38434.95 1.90 14230.80 5104.50 96419.83 80.67 60.67 209554. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Produk Sumber Variansi Murid (P) Penilai (R) I:R PR (Interaksi Murid dan Penilai) PI:R ( Interaksi Murid dan Item Nested pada Penilai) Total Kelas 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 JK1 118655.02 251512.00 121393.38 34407.17 100.29 6405.71 54775.61 5673.42 Varian 7.24 221.86 40.64 232.96 11558.50 9.89 9154.86 95492.86 40.26 241766.98 db 59 59 59 2 2 2 6 6 6 118 118 118 354 354 354 539 539 539 KR 108.27 199841.00 100.09 95.25 158537. peranan penilai (R) merupakan sumber variansi kesalahan pengukuran terbesar.00 1050134.25 213078.27 233.20 32. 199 .12 106.59 44.00 255520.60 7.65 27.00 100.05 10. JK2 = sums of squares for score effects.60 4607.98 382. Penilai.16 % Total Varian 1.90 JK2 6421.00 0.52 47746.00 2.77 219396.60 1013040.49 150357.81 146747.00 113876.Hasil uji coba ini menunjukkan bahwa pada penerapan alat penilaian karya seni lukis untuk komponen proses.00 39.21 0.25 4733.00 275197.83 4719.07 25.33 222531.69 0.20 32.65 366.03 6.89 207726. Hasil rangkuman analisis Tabel 9 Estimasi Komponen Variansi Siswa.45 5.

64%. peranan penilai (R) tetap merupakan sumber varians kesalahan pengukuran yang terbesar seperti halnya pada penilaian proses. Sumber variansi komponen yang lain yakni murid (P). Berdasarkan analisis ini penerapan alat penilaian karya seni lukis untuk komponen produk.68%. dan di kelas 3 sebesar 26. Sumber variansi yang lain tidak begitu besar proporsinya sebagai komponen varians untuk penilaian produk. kelas 2 dan di kelas 3 menunjukkan bahwa estimasi varian true skor yang terbesar dari faset yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) adalah sumber variansi kesalahan pengukuran komponen penilai (R) dengan proporsi komponen varians di kelas 1 sebesar 63.07%. interaksi murid dengan penilai (PR). di kelas 2 sebesar 60.G study untuk penilaian produk di kelas 1. interaksi murid dan item bersarang pada penilai (PI:R) proporsinya tampak lebih kecil terhadap variansi hasil penilaian proses kualitas karya seni lukis dibanding pengaruh kedua sumber variansi penilai (R) dan kriteria penilaian yang bersarang pada penilai (I:R).70%. Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa faset yang berkaitan dengan objek pengukuran untuk penilaian produk.67%. Kemudian berikutnya adalah sumber varians kesalahan untuk komponen item yang bersarang pada penilai (I:R) dengan proporsi komponen varians di kelas 1 sebesar 25.65%. Untuk itu masih dibutuhkan juga latihan dan pengalaman bagi penilai dalam menggunakan instrumen penilaian produk untuk menilai kualitas karya seni lukis siswa agar 200 . di kelas 2 sebesar 27. faset yang dominan sebagai variansi kesalahan pengukuran adalah penilai (R) dan item yang bersarang pada penilai (I:R). dan di kelas 3 sebesar 62.

JK2 = sums of squares for score effects.93 2885.03 2.65 3.05 12 7307.50 204742.36 100.44 2 43028.96 2 44678.56 100.82 263505.44 59 70.36 118 35.61 3 0.00 7478.76 365927.30 118 19.09 1.19 129. 3) Analisis Estimasi Komponen Varians Penilaian Diri Rangkuman analisis G study dari data uji coba komponen penilaian diri dapat disajikan sebagaimana pada Tabel 10.23 PI:R ( Interaksi 1 353340.77 5.34 708 12.23 135.82 349803.67 899 55542.45 256501.75 708 13.10 198782.56 3. kelas 2 dan di kelas 3 menunjukkan bahwa estimasi skor true variance dari faset yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) komponennya lebih banyak pada sumber variansi kesalahan pengukuran komponen penilai (R) dan proporsi komponen memiliki item yang nested pada penilai (I:R).15 1.16 I:R 2 368044.23 270.96 2 47344.56 10.15 1 245471. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Diri Sumber Variansi Murid (P) Kelas JK1 JK2 db KR Varian % Total Varian 1 166008.93 2 178809. Hasil rangkuman analisis G study untuk penilaian diri di kelas 1.13 4168.12 100.97 1 333164.28 94688.80 12 8119.04 Murid dan Item 2 380667.08 97430.00 Total 2 1473892.40 6594.75 121.88 1 1354225.72 46.20 2259.48 122. Penilai.71 3 171313.53 59 111.20 4175. 201 .37 87693. Sumber varians penilai (R) Tabel 10 Estimasi Komponen Variansi Siswa.90 263.48 130.00 Catatan: JK1 = sums of squares for mean scores.00 9119.33 280.19 Penilai (R) 2 270613.40 2835.14 48.57 46.11 1.98 0.77 Nested pada Penilai) 3 4.37 PR (Interaksi Murid 1 256241.72 0.67 3 45.31 86057.30 118 24.72 119.26 12 7775.28 5.42 1.00 3 1407051.68 dan Penilai) 2 275758.61 59 48.66 89356.38 4.30 193926.92 93302.28 13.00 45.00 9405.13 899 50496.91 1.00 708 10.24 3 47.88 12.30 899 52561.dapat meningkatkan tingkat konsistensi dan keajegan hasil penilaian serta tingkat kesepakatan pemahaman terhadap konstruk sasaran penilaian karya seni lukis untuk komponen produk di antara para penilai.

19%. ternyata peranan penilai (R) dan item yang nested pada penilai (I:R) tetap merupakan sumber variansi kesalahan pengukuran yang dominan seperti halnya pada penilaian proses maupun produk. di kelas 2 sebesar 46. Untuk itu masih dibutuhkan juga latihan dan pengalaman bagi penilai dalam menggunakan alat penilaian produk untuk menilai kualitas karya seni lukis siswa untuk dapat meningkatkan tingkat konsistensi dan keajegan hasil penilaian serta tingkat kesepakatan pemahaman terhadap konstruk sasaran penilaian karya seni lukis untuk komponen penilaian diri di antara para penilai. Penerapan alat penilaian karya seni lukis untuk komponen penilaian diri. dan di kelas 3 sebesar 47. 202 . Sumber variansi komponen item yang bersarang pada penilai (I:R) mempunyai proporsi komponen varians di kelas 1 sebesar 46. di kelas 2 sebesar 48.82%.24%. Sumber variansi komponen variansi kesalahan pengukuran yang lain yakni murid (P).45%. yang dominan sebagai komponen variansi kesalahan pengukuran adalah penilai atau rater (R) dan item yang nested pada penilai (I:R). interaksi murid dan item nested pada penilai (PI:R) proporsi komponen variannya tampak lebih kecil terhadap variansi hasil penilaian proses kualitas karya seni lukis dibanding pengaruh kedua sumber variansi penilai (R) dan kriteria penilaian yang bersarang pada penilai (I:R). Kondisi yang demikian dapat dimaknai bahwa faset yang berkaitan dengan objek pengukuran untuk penilaian diri. interaksi murid dengan penilai (PR). dan di kelas 3 sebesar 45.67%.proporsi komponen varians di kelas 1 sebesar 45.16%.

77 2.45 12566.93 208358.80 331756.99 62.16 62.73 30.31 73.23 308648.87 0.95 53276. Penilai.30 1311529.74 17.56 1.91 1.10 61.84 4439. 203 .00 331741.00 100.59 58671.60 151769.4) Analisis Estimasi Komponen Varian Komponen Penilaian Kelompok Rangkuman analisis G study dari data uji coba komponen penilaian kelompok dapat disajikan sebagaimana pada Tabel 11.43 62284. Kemudian berikutnya adalah sumber varians kesalahan pengukuran untuk komponen item yang nested pada penilai (I:R) dengan proporsi komponen Tabel 11 Estimasi Komponen Variansi Siswa.00 1308980.75 265.30 1524234.67 6106.39 27.03 Varian 4.75 13.70 100.21 305622.13 362484.07 4241.167%.20 65190. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Kelompok Sumber Variansi Murid (P) Penilai (R) I:R PR (Interaksi Murid dan Penilai) PI:R ( Interaksi Murid dan Item Nested pada Penilai) Total Kelas 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 JK1 153334.20 263997.68 4030.60 JK2 7461.67 252349.16 17.99%.39%.00 100.60 306093.24 4595.75 13.84 20.43 265.03 6.69 90.28 255372.93 297293.85 14466. di kelas 2 sebesar 62.46 db 59 59 59 2 2 2 12 12 12 118 118 118 708 708 708 899 899 899 KR 126.58 4439.88 265917.92 162.72 51. Hasil rangkuman analisis G study untuk penilaian kelompok di kelas 1.60 7. kelas 2 dan di kelas 3 menunjukkan bahwa estimasi varian true skor yang terbesar dari faset yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) adalah sumber varians kesalahan pengukuran komponen penilai (R) dengan proporsi komponen varian di kelas 1 sebesar 61.43 57873.75 67844.64 184566.53 185882.20 9797.68 4.22 % Total Varian 1.26 77.42 2.80 4.98 2.92 108197.88 53238.47 1.67 177281.13 106476.84 20.65 6.35 5432.75 2.95 34.47 77.86 124569.43 165.00 Catatan: JK1 = sums of squares for mean scores.00 381082. dan di kelas 3 sebesar 62.48 73.68 53272. JK2 = sums of squares for score effects.03 27.55 189.75 35.60 4558.96 54098.77 300.

dan di kelas 3 sebesar 27. interaksi murid dengan penilai (PR). Kondisi yang demikian berarti faset yang berkaitan dengan objek pengukuran untuk penilaian kelompok. Berdasarkan analisis komponen varians untuk dapat terbentuknya faset pengukuran yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admisible observations) kualitas karya seni lukis di kelas 1.03%.77%.varians di kelas 1 sebesar 27. penilaian diri dan penilaian kelompok). Dengan demikian penerapan alat penilaian karya seni lukis untuk komponen penilaian kelompok. interaksi murid dan item bersarang pada penilai (PI:R) proporsinya tampak lebih kecil terhadap varians hasil penilaian kelompok kualitas karya seni lukis dibanding pengaruh kedua sumber varians penilai (R) dan kriteria penilaian yang bersarang pada penilai (I:R).73%. produk. dapat disimpulkan bahwa komponen penilai (R) atau guru dan kriteria 204 . peranan penilai (R) tetap merupakan sumber variansi kesalahan pengukuran yang terbesar seperti halnya pada komponen penilaian lainnya. kelas 2 dan di kelas 3 pada semua komponen penilaian (proses. Sumber varians komponen yang lain yakni murid (P). di kelas 2 sebesar 30. Untuk itu masih dibutuhkan juga latihan dan pengalaman bagi penilai dalam menggunakan alat penilaian kelompok untuk menilai kualitas karya seni lukis siswa untuk dapat meningkatkan tingkat konsistensi dan keajegan hasil penilaian serta tingkat kesepakatan pemahaman terhadap konstruk sasaran penilaian karya seni lukis untuk komponen penilaian kelompok di antara para penilai. varians kesalahan pengukuran yang dominan adalah penilai atau rater (R) dan item yang bersarang pada penilai (I:R).

di atas memberi petunjuk bahwa pengembangan alat penilaian kualitas karya seni lukis sudah menunjukkan indikasi kebermaknaan untuk digunakan sebagai sarana melakukan observasi. Hasil Analisis dipaparkan pada uraian berikut. produk. Koefisien G dari komponen-komponen penilaian kualitas karya seni lukis hasil uji coba menunjukkan bahwa secara keseluruhan pengembangan model instrumen penilaian kualitas karya seni lukis dapat diterima untuk digunakan melakukan penilaian pada faset yang lebih luas atau dengan kata lain telah memenuhi untuk kepentingan faset pengukuran yang berkaitan dengan objek 205 . Linn.penilaian yang nested pada penilai (I:R) merupakan sumber varians komponen varians kesalahan pengukuran yang utama. Hasil analisis komponen varians untuk penilaian proses. dipakai persyaratan minimal koefisien G Sebesar 0. b. Untuk maksud tersebut dilakukan analisis lanjut terhadap hasil Genova (koefisien G) dan analisis tingkat perubahan koefisien G pada level analisis hasil D study. Oleh sebab itu dalam pengembangan ini. Untuk mengetahui apakah hasil pengembangan tersebut telah memenuhi standar minimal. kedua sumber variansi ini harus diperhatikan secara seksama dalam usaha menyempurnakan alat penilaian kualitas karya seni lukis.70 (Nunnaly.1989:106) agar memenuhi syarat bagi penggunaan pada faset yang lebih luas. Analisis Data Hasil G Study (Koefisien G) Hasil G study untuk mengetahui tingkat kebermaknaan penggunaan alat penilaian kualitas karya seni lukis dari uji coba di lapangan dapat dirangkum pada Tabel 12. 1978: 245. penilaian diri dan penilaian kelompok.

91* 0. 206 . Penilaian Kelompok 5.61 0.71* *) memenuhi syarat menurut kriteria standard minimal Linn. Proses 2.67* 0. Semua komponen Sasaran Uji (Faset) Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Jumlah Item 7 7 7 3 3 3 5 5 5 5 5 5 15 15 15 Koefisien G 0.74* 0.75* 0.68* 0.80* 0. Tabel 12 Rangkuman Hasil G Study dan Koefisien G Pada Berbagai Komponen dan Berbagai Faset Terapan Uji Coba Komponen 1.86* 0.70) >persyaratan <persyaratan <persyaratan >persyaratan <persyaratan <persyaratan <persyaratan <persyaratan <persyaratan >persyaratan >persyaratan >persyaratan >persyaratan <persyaratan <persyaratan Rerata Koefisien G 0.65 0. keterampilan dan pengalaman agar diperoleh hasil pengukuran yang konsisten.81* 0.63 0.67* 0. maka terapan model penilaian pada faset di kelas 1 sudah memberikan bukti bahwa model yang dikembangkan dapat digunakan untuk penilaian pada faset yang lebih luas.67* Keterangan (Linn ≥ 0.62 0. Penilaian Diri 4.66* 0.70.50 0. Jika dilihat dari karakteristik faset uji coba untuk semua komponen. tetapi jika memperhatikan koefisien G pada terapan faset di kelas 2 dan di kelas 3.76* 0. Produk 3.82* 0. maka model yang dikembangkan masih memerlukan penyempurnaan dalam hal administrasi penyelenggaraan yakni harus meningkatkan keterampilan guru sebagai penilai atau rater agar ada peningkatan pemahaman.65* 0. 0.71.pengukuran (universe of admissible observations) pada kualitas karya seni lukis anak yakni ditunjukkan oleh indeks koefisien G sebesar 0.

c. maka tindakan untuk melatih guru agar berpengalaman dalam menggunakan alat penilaian ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kebermaknaan penggunaan model ini pada faset yang lebih luas. Dengan mencermati setiap tahap rancangan D study pada komposisi besar sampel tertentu maka akan dapat diperoleh informasi koefisien G dan juga diperoleh informasi berapa kenaikan indeks kebermaknaan pada koefisien G setelah satu butir komponen penilaian dilibatkan untuk mengukur atau menilai. 207 . sedangkan untuk komponen penilaian produk dan penilaian diri masih memerlukan upaya penyempurnaan. Analisis Data Hasil D Study Tujuan analisis D study adalah untuk menjawab pertanyaan rancangan D study yang mana harus dipilih dan seberapa banyak butir komponen penilaian harus dicakup sebagai sarana mengukur dan menilai kualitas karya lukis sehingga dapat menunjukkan kebermaknaan untuk faset yang lebih luas. Uraian berikut memaparkan hasil-hasil analisis D study ini. 1) D Study untuk Penilaian Proses Rangkuman hasil analisis D-Study Genova untuk uji coba penilaian proses berturut-turut dapat disajikan pada Tabel 13 sampai dengan Tabel 15. Untuk menjawab pertanyaan ini dan tujuan tersirat didalamnya analisis pada setiap hasil D study dapat digunakan.Jika ditilik pada rerata komponen penilaian pada masing-masing kelompok ternyata untuk komponen penilaian proses dan penilaian kelompok telah memenuhi syarat untuk digunakan pada faset yang lebih luas. Berdasarkan elaborasi sumber variansi komponen variansi kesalahan pengukuran sebagaimana telah dibahas di atas.

Tabel 13 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Proses dan Tingkat Perubahan pada Kelas 1 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.82. penilai cukup menggunakan indikator 1 dan 2 saja Jika ingin meningkatkan tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi maka jumlah indikator penilaian 208 .07 0.50659 0.75.82088 0. yaitu 0. Berdasarkan kenyataan ini maka dapat dikatakan bahwa untuk mencapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas.02 0.60. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2 (dapat dilihat pada Tabel 6). GENERALIZABILITY COEF. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.04 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 001-006 001-007 60 60 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 6 7 0.02 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0.36976 0. Untuk komponen penilaian proses di kelas 1 jika komposisinya hanya menggunakan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60. R.01 Tabel 13 berturut-turut memberi gambaran tentang perubahan koefisien Generalizability untuk berbagai komposisi ukuran sampel P.30556 0.75341 0.22681 0.46809 0.60437 0.42308 0. dan I. R = 3 dan I = 1) maka tingkat atau koefisien kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.85936 0.15 0.88424 0. maka tingkat atau koefisien kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.70. demikian seterusnya untuk rancangan 001-003 diperoleh koefisien sebesar 0. dengan P = 60.91448 0. R INF I INF. Artinya penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai sebesar 60%.12791 0.90163 0.

04223 0.50637 0.04396 dalam konteks ini jika 7 (tujuh) indikator digunakan maka akan dicapai koefisien kesepahaman dan kesepakatan sebesar 91. jumlahnya tergantung pada kondisi faset yang bersangkutan Tabel 14 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Proses dan Tingkat Perubahan pada Kelas 2 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.04082 0.03 0.04322 0. GENERALIZABILITY COEF.02724 0. 2.51. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.65527 0. 3.66933 0. minimal 0. dengan P = 60.01 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 001-006 001-007 60 60 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 6 7 0. Artinya penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai sebesar 38%.38. Berdasarkan kenyataan ini maka dapat dikatakan bahwa untuk mencapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas.13 0. Jika ingin meningkatkan tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi maka 209 .03500 0. Tabel 14 memberi gambaran bahwa penilai dalam menggunakan komponen penilaian proses hanya dengan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60.63655 0. 4 dan 5 sekaligus. PHI Selisih Koefisien Genova 0.02 0.03868 0.70. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2 memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (D study design nomor 001-002.harus ditambah.37765 0.61040 0.06 0. R INF I INF.57128 0.04 0.45%. penilai harus menggunakan indikator 1.

PHI Selisih Koefisien Genova 0.52.02 0.51665 0.58.04594 0. Berdasarkan kenyataan ini maka dapat dikatakan bahwa untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas.39. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002. dengan P = 60.61338 0. GENERALIZABILITY COEF.03720 0.63724 0. begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan kaoefisien sebesar 0. jumlahnya tergantung pada kondisi faset yang bersangkutan.66689 0.06 0.01 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 001-006 001-007 60 60 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 6 7 0.04673 jumlah indikator penilaian harus ditambah.04111 0. jumlahnya tergantung pada kondisi faset yang bersangkutan Pada Tabel 15 memberi gambaran bahwa penilai dalam menggunakan komponen penilaian proses di kelas 3 jika hanya dengan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60.12 0. penilai harus menggunakan indikator 1 sampai dengan 6 secara simultan. R INF I INF.02 0.65421 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.Tabel 15 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Proses dan Tingkat Perubahan pada Kelas 3 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. dalam konteks ini jika 7 (tujuh) 210 .04339 0.02894 0.57735 0.39277 0.04489 0. Jika ingin meningkatkan tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi maka penggunaan indikator penilaian harus ditambah. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.04 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.

68.indikator digunakan semua dicapai koefisien kesepahaman dan kesepakatan mencapai 66. begitu seterusnya untuk rancangan 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.16 0. Tetapi jika 211 . dengan P = 60. R INF I INF.76238 0.76. 2) D Study untuk Penilaian Produk Rangkuman hasil analisis D-Study Genova untuk uji coba penilaian produk berturut-turut dapat disajikan pada Tabel 16 sampai dengan Tabel 18. GENERALIZABILITY COEF. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.08 001-001 001-002 001-003 60 60 60 3 3 3 1 2 3 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. Tabel 16 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Produk dan Tingkat Perubahannya pada Kelas 1 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.68142 0. Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai sebesar 52%. penilai cukup menggunakan indikator 1 dan 2 saja.31555 0. Menurut kenyataan ini maka dapat dikatakan bahwa untuk penggunaan komponen penilaian produk agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas.18733 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.52.40882 Tabel 16 memberi gambaran bahwa penilai dalam menggunakan komponen penilaian produk di kelas 1 jika hanya menggunakan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60. PHI Selisih Koefisien Genova 0.69%.51678 0.

GENERALIZABILITY COEF. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.49896 0. Tabel 17 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian produk di kelas 2 hanya dengan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60.21486 Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai sebesar 25%.24922 0. dengan P = 60.25. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.10 001-001 001-002 001-003 60 60 60 3 3 3 1 2 3 0. R INF I INF.15 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0.39900 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. penilai harus menggunakan semua indikator yang ada dan dianjurkan untuk menambah indikator lain yang sejenis untuk melengkapi jabaran konstruk yang ada sehingga 212 .08359 0. Kenyataan ini menunjukkan bahwa untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas. Tabel 17 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Produk dan Tingkat Perubahan pada Kelas 2 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.50.ingin diperoleh tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi maka penggunaan indikator 1 dan 2 bersama sekaligus dengan indikator nomor 3 sangat dianjurkan.15429 0.40 begitu seterusnya untuk rancangan 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.

12330 0.62263 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0. dengan P = 60.35.10 001-001 001-002 001-003 60 60 60 3 3 3 1 2 3 0.Tabel 18 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian produk di kelas 3 hanya dengan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. GENERALIZABILITY COEF.52 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0. 213 . Penambahan indikator sejenis yang relevan untuk meningkatkan kebermaknaan penilaian produk di kelas 2 memerlukan telaah lanjut tersendiri.52380 0. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas.Tabel 18 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Produk dan Tingkat Perubahan pada Kelas 3 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.29672 dapat dicapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi.21953 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (D study design nomor 001-002. R INF I INF.17 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.62.35483 0. penilai harus menggunakan indikator yang ada dan ditambah lagi indikator lain untuk melengkapi jabaran konstruk yang ada sehingga dapat dicapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi. Artinya 35% penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai.

R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. Tabel 19 Tabel 19 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Diri dan Tingkat Perubahan pada Kelas 1 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.63325 0.46. PHI Selisih Koefisien Genova 0.58001 0. Untuk mencapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi seyogianya semua indikator yang ada digunakan secara simultan.66370 0.09222 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian diri di kelas 1 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60.05585 0.05 0.08319 0.08861 0.63.03 0.12 0. R INF I INF.3) D Study untuk Penilaian Diri Rangkuman hasil analisis D-Study Genova untuk uji coba penilaian diri berberturut-turut dapat disajikan pada Tabel 19 sampai dengan Tabel 21. GENERALIZABILITY COEF. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002. 3 dan 4.68342 0.02 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0. 214 . penilai paling tidak harus menggunakan indikator 1. dengan P = 60. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.58 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.07412 0.70).46320 0. Artinya 46% penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian diri. 2.

07 0. Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Diri dan Tingkat Perubahan pada Kelas 2 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.70).03184 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangn D study nomor 001-002. R = 3 dan I = 1) Tabel 20.03495 0.32649 0.46 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.02095 0.03553 memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. Untuk mencapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi semua indikator yang ada dipakai dan jika memngkinkan ditambah lagi indikator lain dan digunakan secara simultan. dengan P = 60.53.05 0.53194 0.03 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0. GENERALIZABILITY COEF.60852 0.13 0. R INF I INF. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.33. penilai paling tidak harus menggunakan semua indikator yang ada.02818 0.Tabel 20 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian diri di kelas 2 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60. Artinya penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian diri sebesar 33%.45963 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.57735 0. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0. PHI Selisih Koefisien Genova 0. 215 .

Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. GENERALIZABILITY COEF.07 0. penilai paling tidak harus menggunakan semua indikator yang ada. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.52 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0. 216 .63114 0.38.04534 0.03 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0. R INF I INF.59. Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Diri dan Tingkat Perubahan pada Kelas 3 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancngan D study nomor 001-002. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.05482 0. Artinya 38% penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian diri yang dipakai.51820 0.Tabel 21.05125 0.05721 Tabel 21 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian diri di kelas 3 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60.03369 0.70).38162 0.58839 0. 4) D Study untuk Penilaian Kelompok Rangkuman hasil analisis D-Study Genova untuk uji coba penilaian kelompok berturut-turut dapat disajikan pada Tabel 22 sampai dengan Tabel 24. dengan P = 60.14 0.65991 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0.04 0.

16 0.83052 0. R INF I INF. penilai sudah cukup hanya menggnakan butir indikator 1 dan 2 saja.19211 0. dengan P = 60.70).48748 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2. Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian kelompok yang dipakai sebesar 55%. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0.08 0. 217 . GENERALIZABILITY COEF.04 0.32230 0.71 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.79.85966 0.54316 Tabel 22 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian kelompok di kelas 1 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60.71016 0.78611 0.03 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0.Tabel 22 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Kelompok dan Tingkat Perubahan pada Kelas 1 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.41635 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.55058 0.55. PHI Selisih Koefisien Genova 0. tetapi jika ingin mendapatkan tingkat kebermaknaan yang lebih tinggi penggunaan semua butir indikator yang ada lebih dianjurkan. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.

09 0.82088 0.10856 0. R = 3 dan I = 1).04 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0.19586 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. maka besarnya koefisien reliabilitas dalam koefisien G adalah sebesar 0. R INF I INF.36.17 0.78569 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.73. Tabel 24 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian kelompok di kelas 3 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60.48. tetapi jika ingin mendapatkan tingkat kebermaknaan yang lebih tinggi dianjurkan menggunakan semua butir indikator yang ada. PHI Selisih Koefisien Genova 0.47823 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.26759 0.05 0. GENERALIZABILITY COEF. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002. dengan P = 60.70). penilai sudah cukup hanya menggnakan butir indikator 1 dan 2 saja.64703 0. 218 .73331 0.32757 0.Tabel 23 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Kelompok dan Tingkat Perubahan pada Kelas 2 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.37840 Tabel 23 memberi gambaran bahwa jika penilai menggunakan komponen penilaian kelompok di kelas 2 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0.65 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0. Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian kelompok yang dipakai sebesar 48%.

2.32818 0.69224 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. penilai sudah cukup hanya menggunakan butir indikator 1.26813 0.19630 0.Tabel 24 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Kelompok dan Tingkat Perubahan pada Kelas 3 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.52934 0. Secara umum hasil analisis D study telah memberi petunjuk dan alternatif penggunaan alat penilaian kepada pengguna instrumen penilaian kualitas karya seni lukis untuk mempertimbangkan penggunaan indikator-indikator penilaian yang relevan dengan sasaran yang dinilai dan mempertimbangkan tingkat reliabilitas kebermaknaan hasil penilaian.17 0.73765 0. dengan P = 60. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa ada beberapa rancangan dari hasil D study yang 219 . R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.05 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0. R INF I INF.10883 0. tetapi jika ingin mendapatkan tingkat kebermaknaan yang lebih tinggi dianjurkan menggunakan semua butir indikator yang ada. 3 dan 4 saja. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0.63.70). GENERALIZABILITY COEF. PHI Selisih Koefisien Genova 0.53 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.37912 Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian kelompok yang dipakai sebesar 36% Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.10 0.06 0.35993 0.62784 0.

71 . Tabel 26 untuk kelas 2. Pada penilaian proses ini. yaitu 0. dan kelas 3. berikut ini disajikan hasil analisis koefisien interrater. yaitu sebesar 0. Rangkuman hasil perhitungan konsistensi dan kesepakatan tiga rater tersebut disajikan pada Tabel 25 untuk kelas 1.73. a.75. kelas 2. dan Tabel 27 untuk kelas 3.mereferensikan perlunya penambahan indikator untuk komponen penilaian tertentu yaitu untuk komponen-komponen penilaian produk dan penilaian diri untuk sasaran penilaian kelompok tertentu. Koefisien interrater merupakan salah satu sarana untuk melihat tingkat konsistensi atau keajegan antar penilai dalam memberikan rating terhadap unjuk kerja karya seni lukis siswa.73. peneliti menggunakan koefisien Cohen’s Kappa. 2. dan antara UD dengan DI sebesar 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai proses kelas 1 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. ada 7 (tujuh) item yang menjadi objek penilaian. Data Uji Coba Koefisien Interrater Konfirmasi data hasil uji coba dari hasil Anava. Untuk keperluan ini. 220 . Tabel 25 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketujuh item yang dirating tersebut. Koefisien Interrater pada Penilaian Proses Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian proses instrumen pendidikan seni lukis anak untuk kelas 1.

yaitu 0. yaitu sebesar 0.70.70 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai proses kelas 2 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.68 0. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas.72 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 67%.81 0.78 0.67 0.70 0.65 0. Tabel 26 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketujuh item yang dirating tersebut.67.79 0.75 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan.81 0. Nilai koefisien κ 221 .77 0. yaitu 0.74 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0.78 0.68 0.84 0.64.67.72 2 0.71 0.68 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.70.63 0.82 3 ST 4 5 6 7 1 2 3 UD 4 5 6 7 UD DI 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 73% .Tabel 25 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Proses Kelas 1 Penilai 1 0.

55 0.68 0.46 0.81 0.67 0.59 0.76 0.62 0.75 0.63 2 0.63 0.65 3 4 5 6 7 1 2 3 UD 4 5 6 7 UD DI tersebut mendekati kriteria minimal yang digunakan.57 0. Tabel 27 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Proses Kelas 3 Penilai ST 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 1 0.67 0.6 0.65 0.61 0.81 0.56 0.71 3 4 5 6 7 1 2 3 UD 4 5 6 7 UD DI 0.68 0.75 0.85 0. yaitu 0.Tabel 26 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Proses Kelas 2 Penilai ST 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 1 0.77 0. syarat 1978:245 Linn.70 (Nunally.66 0. 1989:106).64 0.73 0.64 0. sehingga instrumen tersebut mendekati koefisien reliabilitas.56 0.7 0.61 2 0.71 222 .9 0.70 0.69 0.74 0.69 0.66 0.57 0.62 0.76 0.73 0.

Rangkuman hasil perhitungan konsistensi dan kesepakatan tiga rater tersebut disajikan pada Tabel 28 untuk kelas 1. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas. yaitu 0. Tabel 29 untuk kelas 2.70.88. kelas 2. dan antara UD dengan DI sebesar 0. ada 3 (tiga) item yang menjadi objek penilaian. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 73%. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai produk kelas 1 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.68. dan Tabel 30 untuk kelas 3. b. 223 . Pada penilaian produk ini. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. Tabel 28 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga item yang dirating tersebut. yaitu sebesar 0.88.74. yaitu 0. yaitu 0.88. yaitu sebesar 0. dan kelas 3. dan antara UD dengan DI sebesar 0.63.73. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.88. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menila proses kelas 3 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. Koefisien Interrater pada Penilaian Produk Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian proses instrumen pendidikan seni lukis anak untuk kelas 1.Tabel 27 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketujuh item yang dirating tersebut.

dan antara UD dengan DI sebesar 0.96. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas.Tabel 28 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Produk Kelas 1 Penilai ST 1 1 UD 2 3 1 DI 2 3 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.97.70. 224 . yaitu 0. yaitu 0. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 97%.97.92 0. yaitu sebesar 0.92 0.92 0.88 0.85 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan.70.85 0. yaitu 0.88 0. Pada Tabel 29 menunjukkan koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga item yang dirating tersebut.97. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai produk kelas 2 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.88 2 3 1 UD 2 3 Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 88%. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan.85 0.

98 0. yaitu sebesar 0.95 0.94. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai Tabel 30 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Produk Kelas 3 Penilai ST 1 1 UD 2 3 1 DI 2 3 0.93 0.Tabel 29 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Produk Kelas 2 Penilai ST 1 1 UD 2 3 1 DI 2 3 0.90 0.98 0.95 0.95 0.93 0.93 0.82 2 3 1 UD 2 3 secara keseluruhan dalam menilai produk kelas 3 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.95 0.98 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. 225 .98 0.92. yaitu 0.93 0.98 0.93.98 0.89.98 2 3 1 UD 2 3 Tabel 30 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga item yang dirating tersebut.93 0.

dan Tabel 33 untuk kelas 3. yaitu 0. c.70. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas.82. Tabel 31 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut.70. Rangkuman hasil perhitungan konsistensi dan kesepakatan tiga rater tersebut disajikan pada Tabel 31 untuk kelas 1. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. yaitu sebesar 0.84. 226 . Koefisien Interrater pada Penilaian Diri Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian diri instrumen pendidikan seni lukis anak untuk kelas 1. kelas 2. Pada penilaian diri ini. dan kelas 3. dan antara UD dengan DI sebesar 0.82. Tabel 32 untuk kelas 2. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman yang sama terhadap konstruk penilaian sebesar 82%. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. ada 5 (lima) item yang menjadi objek penilaian. yaitu 0.82.Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman yang sama terhadap kostruk penilaian sebesar 92%. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai penilaian diri kelas 1 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. yaitu 0.

00 0.77 1.87 0.55 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan Tabel 32 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Diri Kelas 2 Penilai ST UD 1 2 3 4 5 1 2 3 4 1.57 0.65.88 0.Tabel 31 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Diri Kelas 1 Penilai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 0.96 0.53 0.89 2 0.54 0.73 0.73 227 .66 0.74 0.85 0.77 0.84 0.63 ST 3 4 5 1 2 UD 3 4 5 U D D I Tabel 32 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut. dan antara UD dengan DI sebesar 0.89 0.50 0.85 0.88 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. yaitu 0.56 0.00 0.92 0.86 0.88 0.84.74 5 U D D I 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 0.81 0.76 0.67.

yaitu sebesar 0.82 2 0.68. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam peilaian diri kelas 3 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga pasangan tersebut. yaitu sebesar 0.penilai secara keseluruhan dalam menilai penilaian diri kelas 2 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman yang sama terhadap konstruk penilaian sebesar 72%.80 0.82 ST 3 4 5 1 2 UD 3 4 5 U D D I Tabel 33 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut.91 0.85 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan.0% ketiga penilai tersebut memiliki 228 . Nilai tersebut memberi gambaran bahwa 75.75.79 0.82 0.40 0.72. Tabel 33 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Diri Kelas 3 Penilai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0.76 0.50 0.70.91 0.62 0. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat reliabilitas.75.76 0.76 0.84. yaitu 0.82 0. yaitu 0.

kelas 2.48. Pada penilaian kelompok ini. dan kelas 3.51. 2005: 143). Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan.64 (Cohen & Swerdlik. yaitu 0. dan Tabel 36 untuk kelas 3. yaitu 0. d. Nilai koefisien κ tersebut lebih kecil dari kriteria minimal yang digunakan. yaitu sebesar 0. Koefisien Interrater pada Penilaian Kelompok Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian kelompok instrumen pendidikan seni lukis anak untuk kelas 1.59. Tabel 34 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut.44.persepsi dan pemahaman yang sama terhadap kostruk penilaian. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat reliabel. ada 5 (lima) item yang menjadi objek penilaian. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 51%. dan antara UD dengan DI sebesar 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.70. Rangkuman hasil perhitungan konsistensi dan kesepakatan tiga rater tersebut disajikan pada Tabel 34 untuk kelas 1. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam penilaian kelompok kelas 1 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga pasangan tersebut. 229 . Tabel 35 untuk kelas 2. sehingga instrumen tersebut belum memenuhi syarat koefisien reliabilitas. yaitu 0.

dan antara UD dengan DI sebesar 0.46 Tabel 35 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut.53 0.37.29. yaitu 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 33%.37 0.34. yaitu sebesar 0.67 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam penilaian kelompok kelas 2 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. sehingga instrumen tersebut belum memenuhi syarat koefisien reliabilitas.49 0.55 0. 230 .49 0.48 0.61 5 0.33.29 0.54 0.70.52 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih kecil dari kriteria minimal yang digunakan.56 0. yaitu 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.38 0.69 0.U D D I 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Tabel 34 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Kelompok Kelas 1 Penilai ST UD 1 2 3 4 5 1 2 3 4 0.

Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.83 0.71 0.57 ST 3 4 5 1 2 UD 3 4 5 U D D I 231 .Tabel 35 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Kelompok Kelas 2 Penilai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 0.55 0.27 0.86 0.20 0.68 0.39 ST 3 4 5 1 2 UD 3 4 5 U D D I Tabel 36 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut.77 0.14 0.76 0.11 0.20 0.69. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam penilaian kelompok kelas 3 dapat diketahui dengan Tabel 36 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Kelompok Kelas 3 Penilai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 0.79 2 0.82 0.21 0.76 0.76 0. yaitu 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0.26 0.45 0.42 0.41 0.78 0.74.46 0.72 0.65 0.62 0.75.48 2 0.32 0.

kriteria dan rubrik. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. D. 1. dan pedoman penggunaan instrumen penilaian seni lukis pada tahap focus group discussion (FGD) dan seminar. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 73%.mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas. perbandingan kedua pendekatan tersebut disajikan berikut.73. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya. Tahap revisi dalam setiap tahap pengembangan berkaitan dengan revisi indikator. Revisi Produk Bagian revisi produk dalam pengembangan instrumen penilaian seni lukis dalam disertasi ini mengikuti revisi produk dalam setiap tahap pengembangan. yaitu sebesar 0. Penilaian Proses Penilaian proses instrumen penilaian seni lukis dilakukan oleh 3 (tiga) orang rater terhadap 60 orang siswa dengan 7 (tujuh) indikator instrumen. deskripsi. analisis kesepakatan dan kesepahaman rater terhadap konstruk instrumen digunakan dua 232 . Kajian Produk Hasil analisis tingkat kesepahaman dan kesepakatan rater (reliabilitas interrater) dengan menggunakan koefisien Genova dan koefisien Cohen Kappa menunjukkan bahwa instrumen penilaian seni lukis telah memenuhi syarat/kriteria minimal reliabilitas yang digunakan. Namun demikian.70. yaitu 0. sehingga C.

18 0.73 0. peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan relibilitas antar rater. Walaupun demikian.04 Tabel 37 memberi gambaran bahwa koefesien Genova untuk kelas 1 pada penilaian proses lebih tinggi dibandingkan dengan koefisien kappa. Jadi varians kesalahan dengan metode Genova lebih diperhitungkan dalam analisis. peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan/menetapkan relibilitas antar penilai. Rangkuman perbandingan koefisien kedua pendekatan tersebut disajikan pada Tabel 37 Tabel 37 Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Proses Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Koefisien Genova 0.00 0. Koefisien Genova untuk Kelas 2 sama dengan koefisien kappa.91 0.67 Koefisien Kappa 0. estimasi dengan Genova lebih memberikan hasil kesepakatan dan kesepahaman rater yang lebih kuat dibandingkan dengan koefisien kappa.67 0. Oleh karena itu. sementara metode Cohen kappa tidak diperhatikan. Dengan demikian.67 0.73 Selisih 0. Hal ini memberi gambaran bahwa kedua pendekatan yang digunakan memberikan hasil yang sama. 233 .pendekatan yaitu pendekatan Genova dan pendekatan Cohen Kappa. Dalam kaitan dengan ini. pendekatan Genova lebih lengkap karena melibatkan tiga dimensi sementara pendekatan kappa hanya dua dimensi.

Sama dengan kasus kelas 2, koefisien Genova untuk kelas 3 lebih rendah dibandingkan dengan koefisien kappa. Dalam kasus ini, peneliti masih menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova dibandingkan dengan koefisien kappa. Hal tersebut disebabkan karena sumber varians kesalahan pada analisis koefisien kappa belum diperhatikan sehingga memberikan hasil yang lebih tinggi. Jika varians kesalahan diperhatikan maka kemungkinan akan memberikan hasil yang kurang lebih sama dengan yang diperoleh melalui koefisien Genova.
2. Penilaian Produk

Penilaian produk instrumen penilaian seni lukis dilakukan oleh 3 (tiga) orang rater terhadap 60 orang siswa dengan 3 (tiga) indikator instrumen. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, analisis kesepakatan dan kesepahaman rater terhadap konstruk instrumen digunakan dua pendekatan yaitu pendekatan Genova dan pendekatan Cohen Kappa. Rangkuman perbandingan koefisien kedua pendekatan tersebut disajikan pada Tabel 38. Tabel 38 Perbadingan koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Produk Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Koefisien Genova
0,76 0,49 0,62

Koefisien Kappa
0,88 0,97 0,92

Selisih 0,12 0,48 0,30

Tabel 38 memberi gambaran bahwa koefesien Genova untuk kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 pada penilaian produk lebih rendah dibandingkan dengan koefisien 234

kappa. Dalam kaitan dengan ini, estimasi dengan Genova lebih memberikan hasil kesepakatan dan kesepahaman rater yang lebih kuat dibandingkan dengan koefisien kappa. Oleh karena itu, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan relibilitas antar rater. Pendekatan Genova lebih lengkap karena melibatkan tiga dimensi, sementara pendekatan kappa hanya dua dimensi. Jadi varians kesalahan dengan metode Genova lebih diperhitungkan dalam analisis, sementara metode Cohen kappa tidak diperhatikan, Sumber varians kesalahan pada analisis koefisien kappa

belum diperhatikan sehingga memberikan hasil yang lebih tinggi. Jika varians kesalahan diperhatikan maka kemungkinan akan memberikan hasil yang kurang lebih sama dengan yang diperoleh melalui koefisien Genova. Dengan demikian, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan/menetapkan relibilitas antar penilai.
3. Penilaian Diri

Penilaian diri pada instrumen penilaian seni lukis dilakukan oleh 3 (tiga) orang rater terhadap 60 orang siswa dengan 5 (lima) indikator instrumen. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, analisis kesepakatan dan kesepahaman rater terhadap konstruk instrumen digunakan dua pendekatan yaitu pendekatan Genova dan pendekatan Cohen Kappa. Rangkuman perbandingan koefisien kedua pendekatan tersebut disajikan pada Tabel 39.

235

Tabel 39 Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Diri Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Koefisien Genova
0,68 0,61 0,66

Koefisien Kappa 0,82 0,72 0,75

Selisih 0,14 0,11 0,09

Tabel 39 memberi gambaran bahwa koefesien Genova untuk kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 pada penilaian diri lebih rendah dibandingkan dengan koefisien kappa. Dalam kaitan dengan ini, estimasi dengan Genova lebih memberikan hasil kesepakatan dan kesepahaman rater yang lebih kuat dibandingkan dengan koefisien kappa. Oleh karena itu, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan relibilitas antar rater, Pendekatan Genova lebih lengkap karena melibatkan tiga dimensi sementara pendekatan kappa hanya dua dimensi. Jadi varians kesalahan dengan metode Genova lebih diperhitungkan dalam analisis sementara metode Cohen kappa kesalahan pada analisis koefisien kappa

tidak diperhatikan, Sumber varians

belum diperhatikan sehingga memberikan hasil yang lebih tinggi. Jika varians kesalahan diperhatikan maka kemungkinan akan memberikan hasil yang kurang lebih sama dengan yang diperoleh melalui koefisien Genova. Dengan demikian, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan/menetapkan relibilitas antar penilai.

236

4. Penilaian Kelompok

Penilaian kelompok pada instrumen penilaian seni lukis dilakukan oleh 3 (tiga) orang rater terhadap 60 orang siswa dengan 5 (lima) indikator instrumen. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, analisis kesepakatan dan kesepahaman rater terhadap konstruk instrumen digunakan dua Tabel 40 Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Kelompok Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Koefisien Genova
0,86 0,82 0,74

Koefisien Kappa 0,51 0,33 0,73

Selisih 0,35 0,49 0,01

pendekatan yaitu pendekatan Genova dan pendekatan Cohen Kappa. Rangkuman perbandingan koefisien kedua pendekatan tersebut disajikan pada Tabel 40. Tabel 40 memberi gambaran bahwa koefesien Genova untuk kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 pada penilaian kelompok lebih tinggi dibandingkan dengan koefisien kappa. Dalam kaitan dengan ini, estimasi dengan Genova lebih memberikan hasil kesepakatan dan kesepahaman rater yang lebih kuat dibandingkan dengan koefisien kappa. Oleh karena itu, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan relibilitas antar rater.
5. Tren Perkembangan Koefisien Genova

Tren perkembangan koefisien Genova hasil penilaian 3 (tiga) orang rater pada penilaian instrumen seni lukis baik untuk penilaian proses, produk, penilaian 237

diri, dan penilaian kelompok disajikan pada gambar berikut.
a. Penilaian Proses Kelas 1

Koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 1 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater, Gambar 64 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 1 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Sebagai bahan perbandingan, kedua persamaan disajikan sebagai berikut. Tabel 41 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 1 Persamaan Linear
y = 0,0461x + 0,6355

Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik)
y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985

dengan: y = estimasi koefisien Genova,
x = banyak item yang dirating oleh rater,

Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 82,34%, sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam

memprediksi sebesar 97,5% sebagaimana yang tampak pada Gambar 64. Berdasarkan tingkat determinasi ini, tampak bahwa persamaan non-linear memberikan besarnya koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 4 ditulis

238

x =4, maka koefisien Genova untuk masing-masing persamaan diperoleh dengan

mensubstitusikan x =4 pada kedua persamaan seperti ditunjukan berikut: Tabel 42 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =4 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0,0461x + 0,6355 = 0,0461(4) + 0,6355 = 0,8199 Persamaan non-linear y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985 = −0,0114(4) 2 + 0,1374(4) + 0,4985 = 0,8657

Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 4 menggunakan persamaan linear adalah 0,8199, sedangkan bila menggunakan persamaan non-linear adalah 0,8657. Adapun koefisien Genova yang

sesungguhnya untuk x =4 adalah 0,85936. Hasil ini menunjukkan bahwa persamaan non-linear memberikan hasil yang lebih akurat, namun penafsirannya
Y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985

R2 = 0,975

Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear

,

,

,

Gambar 64. Tren perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 1 adalah banyak item yang dirating maksimum 6, karena lebih dari itu ditafsirkan tidak banyak berubah, walau pada grafik menunjukkan penurunan. Karakteristik

ini muncul sebagai akibat sifat-sifat yang berlaku pada persamaan non-linear 239

(kuadratik). Pada jumlah item < 6, kurva cenderung naik itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. Namun kurva akan cenderung turun setelah mencapai titik kulminasi yaitu untuk x =6. Akibatnya untuk jumlah item>6 kecenderungan estimasi koefisien Genova akan mengalami penurunan. Secara matematik penentuan titik kulminasi atau titik maksimum dilakukan dengan menggunakan konsep turunan pertama fungsi sebagai berikut:

y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985 y 1 = 2.(−0,0114) x + 0,1374
Nilai x yang menyebabkan y bernilai maksimum diperoleh dengan mmbuat dengan nol ditulis y 1 = 0

y1

y 1 = 2.(−0,0114) x + 0,1374 0 = 2.(−0,0114) x + 0,1374 x= 0,1374 = 6,026 ≈ 6 2.0,0114

Jadi estimasi nilai koefisien Genova maksimum terjadi pada saat item yang dirating sebanyak 6 buah. Adapun nilai koefisien Genovanya dientukan sebagai berikut. y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985

= −0,0114(6) 2 + 0,1374(6) + 0,4985 = 0,9125
b. Penilaian Proses Kelas 2

Koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 2 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang

240

x = banyak item yang dirating oleh rater.0442 x + 0.dirating oleh rater. kedua persamaan disajikan sebagai berikut. Gambar 65 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 2 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik).3984 Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0. Berdasarkan tingkat determinasi ini. sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam memprediksi sebesar 98. Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating.47%. maka koefisien Genova untuk masingmasing persamaan diperoleh dengan mensubstitusikan persamaan seperti ditunjukan berikut: x =6 pada kedua 241 .2798 dengan: y = estimasi koefisien Genova. Sebagai bahan perbandingan.0099 x 2 + 0. Tabel 43 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 2 Persamaan Linear y = 0.30%.1233 x + 0. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 6 ditulis x =6. tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik. Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 85.

0099(6) 2 + 0. pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan karakteristik yang unik.65527.3984 = 0.2798 = −0. Namun kurva akan cenderung turun setelah mencapai titik kulminasi yaitu u ntuk x = 6.1233 x + 0.6632 Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 6 menggunakan persamaan linear adalah 0. Karakteristik ini muncul sebagai akibat sifatsifat yang berlaku pada persamaan non-linear (kuadratik).2798 = 0.0442(6) + 0. Adapun koefisien Genova yang sesungguhnya untuk x =6 adalah 0.1233(6) + 0.0099 x 2 + 0.6636 Persamaan non-linear y = −0. Akibatnya untuk jumlah item >6 kecenderungan estimasi koefisien Genova akan mengalami penurunan.3984 = 0. Hasil ini menunjukkan bahwa persamaan non-linear memberikan hasil yang lebih akurat. Berdasarkan Gambar 65.6632. kurva cenderung naik itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. Secara matematis penentuan titik kulminasi atau titik maksimum dilakukan dengan 242 . Pada jumlah item < 6. adanya pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti.6636. terutama untuk jumlah item yang banyak.Tabel 44 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =6 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0. sedangkan menggunakan persamaan non-linear 0. Namun demikian.0442 x + 0.

y = − 0 ,0099 x 2 + 0 ,1233 x + 0 , 279

R2 = 0,983

Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear

,

,

,

Gambar 65. Tren perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 2 menggunakan konsep turunan pertama fungsi sebagai berikut:
y = −0,0099 x 2 + 0,1233x + 0,2798 y 1 = 2.(−0,0099) x + 0,1233

Nilai

x

yang menyebabkan

y

bernilai maksimum diperoleh dengan

menyamadengankan y 1 dengan nol ditulis y 1 = 0
y 1 = 2.(−0,0099) x + 0,1233 0 = 2.(−0,0099) x + 0,1233 x=

0,1233 = 6.227 ≈ 6 2.0,0099

Jadi estimasi nilai koefisien Genova maksimum terjadi pada saat item yang dirating sebanyak 6 buah. Adapun nilai koefisien Genovanya dientukan sebagai berikut.
y = −0,0099 x 2 + 0,1233 x + 0,2798

243

= −0,0099(6) 2 + 0,1233(6) + 0,2798 = 0,6632
c. Penilaian Proses Kelas 3

Koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 3 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater, Gambar 66 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 3 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Sebagai bahan perbandingan, kedua persamaan disajikan sebagai berikut. Tabel 45 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 3 Persamaan Linear
y = 0,0413x + 0,4144

Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0,0095 x 2 + 0,1174 x + 0,3003

dengan:

y = estimasi koefisien Genova,
x = banyak item yang dirating oleh rater,

Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 84,64%, sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam

memprediksi sebesar 98,10% sebagaimana tampak pada Gambar 66. Berdasarkan tingkat determinasi ini, tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan 244

memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 3 ditulis
x =3, maka koefisien Genova untuk masing-masing persamaan diperoleh dengan

mensubstitusikan x =3 pada kedua persamaan seperti ditunjukan berikut: Tabel 46 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =3 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0,0413x + 0,4144 = 0,0413(3) + 0,4144 = 0,5383 Persamaan non-linear y = −0,0095 x 2 + 0,1174 x + 0,3003 = −0,0095(3) 2 + 0,1174(3) + 0,3003 = 0,567

Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 3 menggunakan persamaan linear adalah 0,5383, sedangkan bila menggunakan

y = − 0 , 0095 x 2 + 0 ,1174 x + 0 , 3003

R2 = 0,981

Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear

,

,

,

Gambar 66. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 3

245

persamaan non-linear sebesar 0,567.

Adapun koefisien Genova yang

sesungguhnya untuk x =3 adalah 0,57735. Dari hasil ini tampak persamaan nonlinear memberikan pendekatan yang lebih akurat. Namun demikian, adanya pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti, terutama untuk jumlah item yang banyak. Berdasarkan Gambar 66, pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan karakteristik yang unik. Karakteristik ini muncul sebagai akibat sifat-sifat yang berlaku pada persamaan non-linear (kuadratik). Pada jumlah item < 6, kurva cenderung naik itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. Namun kurva akan cenderung turun setelah mencapai titik kulminasi yaitu untuk x =6. Akibatnya untuk jumlah item>6 kecenderungan estimasi koefisien Genova akan mengalami penurunan. Secara matematis penentuan titik kulminasi atau titik maksimum dilakukan dengan menggunakan konsep turunan pertama fungsi sebagai berikut: y = −0,0095 x 2 + 0,1174 x + 0,3003 y 1 = 2.(−0,0095) x + 0,1174 Nilai
x

yang menyebabkan

y

bernilai maksimum diperoleh dengan

menyamadengankan y 1 dengan nol ditulis y 1 = 0
y 1 = 2.(−0,0099) x + 0,1174 0 = 2.(−0,0095) x + 0,1174 0,1174 x= = 6,179 ≈ 6 2.0,0095 Jadi estimasi nilai koefisien Genova maksimum terjadi pada saat item yang dirating sebanyak 6 buah. Adapun nilai koefisien Genovanya sebagai berikut.

246

y = −0,0095 x 2 + 0,1174 x + 0,3003 = −0,0095(6) 2 + 0,1174(6) + 0,3003 = 0,6627
d. Penilaian Produk Kelas 1

Koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 1 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater, Gambar 67 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 1 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Sebagai bahan perbandingan, kedua persamaan disajikan sebagai berikut. Tabel 47 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 1 Persamaan Linear y = 0,1228 x + 0,4079 Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0,0418 x 2 + 0,2902 x + 0,2685

dengan:

y = estimasi koefisien Genova,
x = banyak item yang dirating oleh rater,

Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 96,2%, sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam

memprediksi sebesar 100% sebagaimana tampak pada Gambar 67. Berdasarkan tingkat determinasi ini, tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan 247

memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 3 ditulis
x =3, maka koefisien Genova untuk masing-masing persamaan diperoleh dengan

mensubstitusikan x =3 pada kedua persamaan seperti ditunjukan berikut: Tabel 48 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =3 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0,1228 x + 0,4079 = 0,1228(3) + 0,4079 = 0,7763 Persamaan non-linear y = −0,0418 x 2 + 0,2902 x + 0,2685 = −0,0418(3) 2 + 0,2902(3) + 0,2685 = 0,7629

Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 3 menggunakan persamaan linear adalah 0,7763, sedangkan menggunakan persamaan non-linear 0,7629. Adapun koefisien Genova yang sesungguhnya

y = − 0 , 0418 x 2 + 0 , 2902 x + 0 , 268

R 2 = 1,000

Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear

,

,

,

Gambar 67. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 1

248

untuk x =3 adalah 0,76238. Hasil ini menunjukkan bahwa persamaan non-linear memberikan pendekatan yang lebih akurat. Namun demikian, adanya

pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti, terutama untuk jumlah item yang banyak. Berdasarkan Gambar 67, pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan kurva cenderung monoton naik untuk setiap jumlah item yang dirating, itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. Karena kecenderungan kurva yang monoton naik, maka nilai maksimum koefisien genova terjadi untuk banyaknya item yang dirating 3 atau x = 3 , adapun nilai koefisien Genovanya sebagai berikut: y = −0,0418 x 2 + 0,2902 x + 0,2685 = −0,0418(3) 2 + 0,2902(3) + 0,2685 = 0,7629
e. Penilaian Produk Kelas 2

Koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 2 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater, Gambar 68 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 2 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Sebagai bahan perbandingan, kedua persamaan disajikan sebagai berikut.

249

0249(2) 2 + 0. Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 98.0496 = −0. sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam memprediksi sebesar 100%.0496 dengan: y = estimasi koefisien Genova.0249 x 2 + 0.1327 Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0.1249 x + 0.2245 x + 0. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 2 ditulis x =2.3825 Persamaan non-linear y = −0.1327 = 0.1249(2) + 0.1327 = 0. x = banyak item yang dirating oleh rater.0249 x 2 + 0. maka koefisien Genova untuk masingmasing persamaan diperoleh dengan mensubstitusikan persamaan seperti ditunjukan berikut: Tabel 50 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =2 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0.2245 x + 0.Tabel 49 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 2 Persamaan Linear y = 0.1249 x + 0.69%.2245(2) + 0. Berdasarkan tingkat determinasi ini.0496 = 0.3990 x =2 pada kedua 250 . tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik.

. terutama untuk jumlah item yang banyak.3990. Dari hasil ini tampak persamaan non-linear memberikan pendekatan yang lebih akurat. maka nilai maksimum koefisien Genova terjadi untuk banyaknya item yang dirating 3 atau x = 3 . Karena kecenderungan kurva yang monoton naik.000 Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear . y = − 0 .3990. sedangkan menggunakan persamaan non-linear 0. Namun demikian. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 2 Gambar 68 menunjukkan bahwa pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan kurva cenderung monoton naik untuk setiap jumlah item yang dirating. adapun nilai koefisien Genovanya sebagai berikut: 251 . 2245 x + 0 . .Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 2 menggunakan persamaan linear adalah 0. itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. adanya pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti. untuk Adapun koefisien Genova yang sesungguhnya x =2 adalah 0. 0249 x 2 + 0 . 0496 R 2 = 1. Gambar 68.3825.

0496 = 0.0249(3) 2 + 0. x = banyak item yang dirating oleh rater Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 97. tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik. Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating.2245(3) + 0. Gambar 69 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 3 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik).0309 x 2 + 0.1339 x + 0.76%. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 1 ditulis x =1.0496 = −0. Sebagai bahan perbandingan. maka koefisien Genova untuk masing- 252 .1020 dengan: y = estimasi koefisien Genova. Berdasarkan tingkat determinasi ini. kedua persamaan disajikan sebagai berikut. Penilaian Produk Kelas 3 Koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 3 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater. Tabel 51 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 3 Persamaan Linear y = 0.y = −0. sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam memprediksi sebesar 100%.2326 Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0.2416 x + 0.0249 x 2 + 0.4989 f.2245 x + 0.

1020 = 0. .2326 = 0.masing persamaan diperoleh dengan mensubstitusikan persamaan seperti ditunjukan berikut: x =1 pada kedua Tabel 52 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =1 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0. adanya pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti. .2416(1) + 0.1020 = −0.3127 Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 2 menggunakan persamaan linear adalah 0. Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear y = − 0 .2326 = 0. Namun demikian.1 R 2 = 1 .0309(1) 2 + 0.3990. . 2416 x + 0 . Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 3 253 . 0309 x 2 + 0 .1339 x + 0.2416 x + 0. sedangkan menggunakan persamaan non-linear 0. Hasil ini menunjukkana bahwa persamaan non-linear memberikan pendekatan yang lebih akurat.0309 x 2 + 0. Adapun koefisien Genova yang sesungguhnya untuk x =2 adalah 0.3990.3665 Persamaan non-linear y = −0. 000 Gambar 69.1339(1) + 0.3825.

pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan kurva cenderung monoton naik untuk setiap jumlah item yang dirating. Tabel 53 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Diri Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Linear y = 0.067 x + 0.2245(3) + 0.1808 y = −0. maka nilai maksimum koefisien genova terjadi untuk banyaknya item yang dirating 3 atau x = 3 . Berdasarkan gambar di atas.0496 = 0.terutama untuk jumlah item yang banyak.0496 = −0.2685 254 . Gambar 70 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian diri ketiga kelas dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non linear dengan rumusan sebagai berikut.4989 g. adapun nilai koefisien genovanya sebagai berikut: y = −0.3390 y = 0. Karena kecenderungan kurva yang monoton naik.418 x 2 + 0.1671x + 0.2902 x + 0.4475 non-linear y = −0.1454 x + 0. itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating.0249 x 2 + 0.015 x 2 + 0.0682 x + 0.2245 x + 0. dan kelas 3 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh penilai.355 y = −0. kelas 2. Penilaian Diri Kecenderungan koefisien Genova pada penilaian diri di kelas 1.0165 x 2 + 0.0249(3) 2 + 0.2963 y = 0.0524 x + 0.

26% (untuk kelas 1 ).10% (untuk kelas 1 ).60% (untuk kelas 2 ) dan 100% (untuk kelas 3). R 2 = 0 . Berdasarkan koefisien determinasi tampak dengan jelas bahwa pendekatan dengan persamaan non-linear memberikan estimasi nilai koefisien Genova yang lebih baik.3390 . Adapun nilai estimasi maksimum 255 . . sedangkan koefisien determinasi model non-linear persamaan tersebut dalam memprediksi sebesar 99. . . . y = −0. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Diri Gambar 70 menunjukkan bahwa estimasi besarnya nilai koefisien Genova baik dengan persamaan non-linear maupun persamaan linear memberi gambaran bahwa konsistensi dan kestabilan rater dalam merating di kelas 2 dan kelas 3 lebih baik dibandingkan dengan di kelas 1. 92.87% (untuk kelas 3). .1671 + 0. y = −0.0418 x 2 + 0. 99. y = −0.2685 R2 = 1. Hal ini dibuktikan oleh tren koefisien Genova yang lebih tinggi untuk setiap peningkatan jumlah item yang dirating dibandingkan dengan koefisien Genova di kelas 1. 991 Keterangan Kurva Linear Kurva Non-Linear Kurva Data Asli Kelas 1 Kurva Data Asli Kelas 2 Kurva Data Asli Kelas 3 .1808 x R 2 = 0.1454x + 0.996 .dengan tingkat determinasi model linear persamaan tersebut dalam memprediksi sebesar 88.0165x2 + 0.2902 x + 0.000 Gambar 70. . Begitu juga konsistensi rater dalam merating kelas 3 lebih baik dari kelas 2.02% (untuk kelas 2 ) dan 90.0155x2 + 0.

256 .1808 = 0.6038 Penilaian kelas 3: y = −0.6745 h.6726 Penilaian kelas 2: y = −0. Gambar 71 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian diri ketiga kelas dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non linear dengan rumusan sebagai berikut.3390 = 0.1808 = −0.1454 x + 0.0155(4) 2 + 0.koefisien Genova dengan pendekatan persamaan non-linear pada penilaian diri kelas 1.1671x + 0.0155 x 2 + 0.2685 =0.2902 x + 0.2902(5) + 0. dan 5 buah.1671(5) + 0.2685 = −0.0165 x 2 + 0.418(5) 2 + 0.1454(4) + 0.3390 = −0. dan kelas 3 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh penilai.418 x 2 + 0. 5 buah. 2 dan 3 berturut-turut terjadi pada saat jumlah item 4 buah. kelas 2. Penilaian Kelompok Kecenderungan koefisien Genova pada penilaian kelompok di kelas 1. Besarnya nilai koefisien genova tersebut dihitung sebagai berikut: Penilaian kelas 1: y = −0.0165(5) 2 + 0.

1728 dengan tingkat determinasi model linear persamaan tersebut dalam memprediksi sebesar 89.5259 y = 0.020 x 2 + 0.3139 Non-linear y = −0. R2 = 0.1992 x + 0.0201 2 + 0.1992 x + 0. y = − 0.3796 .4458 y = 0.2953 y = −0. .21% (untuk kelas 1). Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Kelompok 257 . R = 0.2127x + 0.1728 x R2 = 0.0215 x 2 + 0.0739x + 0. . Dari koefisien determinasi tampak dengan jelas bahwa pendekatan dengan persamaan non-linear memberikan estimasi nilai koefisien Genova yang lebih baik.0918x + 0. . sedangkan koefisien determinasi model non-linear persamaan tersebut dalam memprediksi sebesar 99.Tabel 54 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Kelompok Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Linear y = 0.0209 x 2 + 0.2953 . .3796 y = −0.992 2 Keterangan Kurva Linear Kurva Non-Linear Kurva Data Asli Kelas 1 Kurva Data Asli Kelas 2 Kurva Data Asli Kelas 3 . 90.75% (untuk kelas 2) dan 93.2114 x + 0. y = −0.2127 x + 0.20% (untuk kelas 1 ).40% (untuk kelas 3).994 .70 % (untuk kelas 3).997 Gambar 71.0215 x 2 + 0. y = −0.0824x + 0.0209 x 2 + 0.40% (untuk kelas 2 ) dan 99. .2114 x + 0. 99.

1728 = −0.8523 Penilaian kelas 2: y = −0.0209 x 2 + 0.Pada Gambar 71 tampak bahwa pendekatan nilai koefisien Genova baik dengan persamaan non-linear maupun persamaan linear memberi gambaran bahwa konsistensi dan kestabilan rater dalam merating di kelas 2 dan kelas 3 lebih baik dibandingkan dengan di kelas 1.8153 Penilaian kelas 3: y = −0. Hal ini ditunjukkan oleh varians skor yang 258 . Adapun nilai hampiran maksimum koefisien Genova dengan pendekatan persamaan non-linear pada penilaian kelompok kelas 1.2953 = −0.1992(5) + 0.0215(5) 2 + 0.0215 x 2 + 0.020 x 2 + 0.3796 = 0. Begitu juga konsistensi rater dalam merating kelas 2 lebih baik dari kelas 3 .7365 Secara keseluruhan pendekatan persamaan nonlinear lebih akurat dibanding dengan persamaan linear.1728 =0.3796 = −0.2114(5) + 0. 2 dan 3 berturut-turut terjadi pada saat jumlah item 5 buah.2127 x + 0. Setidaknya hal itu dibuktikan oleh tren koefisien Genova yang lebih tinggi untuk setiap peningkatan jumlah item yang dirating dibandingkan dengan koefisien Genova di kelas 1.2953 = 0.2127(5) + 0.020(5) 2 + 0.2114 x + 0.0209(5) 2 + 0.1992 x + 0. Besarnya nilai koefisien genova tersebut dihitung sebagai berikut: Penilaian kelas 1: y = −0.

dapat dijelaskan oleh persamaan nonlinear. dapat diketahui instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar yang terdiri dari instrumen penilaian proses. Koefisien G dari komponenkomponen penilaian kualitas karya seni lukis hasil uji coba menunjukkan. Oleh karena pembaca harus hati-hati dalam menafsirkan persamaan nonlinear. Setiap persamaan nonlinear menunjukkan ada penurunan keoefisein Genova bila jumlah item atau indikator ditambah. Berdasarkan uraian tentang hasil dan pembahasan. Dengan demikian. 259 . instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar telah memenuhi syarat validitas dan reliabilitas untuk digunakan dalam proses penilaian secara luas. Data-data yang diperoleh melalui ujicoba dianalisis untuk membuktikan validitas dan reliabilitas menggunakan program Genova.71. Namun hal yang perlu diperhatikan bahwa jumlah item paling banyak yang dinilai adalah pada nilai maksimum koefisien reliabilitas. instrumen penilaian diri. instrumen penilaian produk. walau pendekatan yang lebih akurat dibanding persamaan linear. secara keseluruhan pengembangan model instrumen penilaian karya seni lukis dapat diterima untuk digunakan melakukan penilaian pada faset yang lebih luas atau telah memenuhi untuk kepentingan faset pengukuran yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) pada kualitas karya seni lukis anak yakni ditunjukkan oleh indeks koefisien G sebesar 0. Harga maksimum koefisien Genova adalah harga maksimum kurve persamaan nonlinear. dan instrumen penilaian kelompok telah mengalami serangkaian ujicoba.

Validitas telah teruji melalui proses focus group discussion sebanyak 3 kali dan seminar sekali. komponen yang dinilai. 318) 260 . 2. Pedoman penggunaan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak dalam bentuk buklet.73 telah memenuhi kriteria minimal yang dipersyaratkan yaitu 0. Simpulan Tentang Produk Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dijelaskan pada BAB IV.71 dan koefisien interrater 0. dan rubrik (kriteria). dan penilaian kelompok. penggunaan bahasa. dapat disusun kesimpulan sebagai berikut. dan contoh aplikasi. Buklet terdiri atas latar belakang. Reliabilitas telah teruji melalui teknik generalizeability theory (Teori G) dan interrater Cohen’s Kappa. rasional. Koefisien Genova untuk instrumen ini sebesar 0. Pedoman penilaian sudah divalidasi oleh guru pengguna yang meliputi keterpakaian. Karakteristik instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak yang mencakup validitas. komponen penilaian diri 5 (lima) item. komponen produk 3 (tiga) item. produk.70. 3. petunjuk penggunaan. Pengguna instrumen ini adalah pendidik sebagai rater. reliabilitas. Komponen proses terdiri atas 7 (tujuh) item. dan keterpakaian di SD telah teruji. dan komponen penilaian kelompok 5 (lima) item. deskripsi. 1. penilaian diri.BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. dan efisiensi (hasil validasi dapat dilihat pada Tabel 7 hal. Komponen yang menjadi objek penilaian meliputi proses. Spesifikasi instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD berbentuk lembar pengamatan yang di dalamnya terdiri atas indikator.

C. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan baik dari segi metode maupun aplikasi. Persyaratan yang harus dipenuhi pendidik SD agar kompeten menggunakan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD meliputi latar belakang pendidikan yang relevan. memiliki pengalaman dalam bidang seni lukis. 2. 1. penelitian ini tidak menjangkau pembuktian asumsi tersebut. Penelitian ini didasarkan pada asumsi bahwa guru-guru seni lukis sekolah dasar cerendung memberikan penilaian secara subjektif.4. sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut. Saran Pemanfaatan Saran yng diajukan berdasarkan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. memahami pedoman penilaian hasil belajar karya seni lukis anak. Tetapi. dan responsif terhadap pembaharuan dan perubahan agar kegiatan pembelajaran seni dapat menyesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan jaman. Pengembangan instrumen hanya sampai pada tahap pengembangan dan belum sampai pada tahap diseminasi agar instrumen hasil pengembangan dapat digunakan secara lebih luas. Untuk sekolah hendaknya mengadakan pelatihan penggunaan instrumen penilaian seni lukis anak bagi guru mata pelajaran seni budaya dan 261 . B. 1.

D. 3. 4. 262 . Untuk menguji keefektifan instrumen hasil pengembangan secara empirik masih diperlukan penelitian diseminasi pada daerah yang lebih luas.keterampilan di sekolah dasar. 3. 2. dan Pengembangan Produk Lebih Lanjut 1. Untuk mengetahui lebih dalam tentang latar belakang penciptaan karya seni lukis anak agar penilaian lebih objektif maka guru hendaknya membiasakan anak untuk menilai karya lukis sendiri dan karya temannya. agar guru dapat memberikan penilaian secara objektif hasil seni lukis anak. Sekolah-Sekolah Dasar yang tidak memiliki guru khusus seni budaya dapat memberdayakan dosen pendidikan seni rupa di LPTK sebagai pendamping. 5. Desiminasi pedoman penilaian karya lukis anak dapat dilakukan melalui musyawarah guru mata pelajaran seni budaya di sekolah dasar. Bagi guru SD yang akan menggunakan instrumen penilaian ini hendaknya memahami dengan baik setiap item yang tercantum dalam instrumen penilaian seni lukis anak agar tercapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang tinggi antar sesama pengguna. 2. Instrumen yang telah dikembangkan ini divalidasi kembali dengan menggunakan sekolah yang berbeda agar diperoleh produk yang lebih baik. sehingga diperoleh manfaat yang lebih besar. maka PGSD hendaknya mengadakan studi pilihan/paket bidang seni sehingga kelak tenaga guru yang dihasilkan bisa sebagai konsultan bagi guru yang lain. Diseminasi. Mengingat pentingnya bidang seni di sekolah dasar.

................................................................................ Ruang dengan Teknik Pergantian Tekstur....... Ruang dengan Teknik Penumpangan.............. Gambar Anak Umur Lima Tahun Menunjukkan Objek-Objek yang Ada di Dalam Maupun di Luar Rumah..... Gambar 18.... Gambar 22.... Ruang dengan Teknik Gelap Terang.............................. Gambar 23................................................ Gambar 16............. Gambar Anak Pada Awal Munculnya Tahap Figuratif dengan Objek-Objek yang Menggantung di Langit... Gambar 2........... Gambar Anak Umur Empat Sepuluh Tahun........................................ Gambar Manusia oleh Anak Umur Empat Tahun.............................. Harimau Dalam Kandang................ Gambar Kereta oleh Anak Umur Lima Tahun.... Gambar 15............................. Ruang dengan Teknik Pergantian Warna............................... Gambar 5..... Gambar 9............ Gambar Anak Pada Subtahap Figuratif Tengah…………………...DAFTAR GAMBAR Gambar 1........................... Gambar 21.... Gambar Bus Penuh Dengan Penumpang......... Gambar 13.................... Ruang dengan Teknik Bayangan............... Bidang Geometris......... Gambar 12............................................................ Gambar 14....... Gambar 24........................................................ Gambar 20. Gambar 19. Gambar 7.... Bidang Bersudut..................................... Hasil Gambar Anak Umur Lima Tahun........ Gambar 6................................................ Komposisi Ruang Negartif dan Positif.. Ruang dengan Teknik Pelengkungan.......... Gambar 11............................... Gambar 10..................... yang Menunjukkan Masa Peralihan dari Subtahap Figuratif Awal ke Subtahap Figuratif Tengah…………………………………………………… Gambar 17.......................... Lingkaran Warna.................. Gambar 4................ Gambar Anak yang Menunjukkan Penggabungan xv 79 77 78 79 75 75 76 77 73 54 54 55 55 55 56 56 56 57 57 57 57 60 71 .......... Ruang dengan Teknik Pergantian Bentuk dan Ukuran.......................................... Gambar 8....................... Bidang Tak Beraturan......... Gambar 3...... Gambar X-ray Oleh Anak Umur Lima Tahun yang Menunjukkan Ibu Dengan Dua Anak di Dalamnya.......................... Bidang Organik……………………………………………………............

................. Gambar 26...................... Gambar 25.............................. Subjek yang Menyiapkan Alat dan Bahan Hasil Studi Awal.. Gambar 42........ Langkah-Langkah Pembelajaran Seni Lukis........................................................................... Pra Bagan Anak Usia 4-7 Tahun...... Kesesuaian Buku yang Digunakan Hasil Studi Awal………...... Tahapan Perancanganan Instrumen Seni Lukis Anak................... Gambar Anak Perempuan yang Mengidentifikasi Dirinya Dengan Pemain Drumband............. Gambar 28.................................. Corengan Bernama........................... Gambar 38.................................... Desain Ujicoba Intrumen Seni Lukis................. Bagan Anak Usia 13 Tahun..... Gambar 29................... Corengan Terkendali.. Gambar 31...... Gambar 43... 161 162 172 172 173 xvi ................. Gambar 41........................................Antara Tampak Depan dan Tampak Atas....... Tahapan Pendefinisian Instrumen Seni Lukis Anak........... Jenis Kurikulum yang Digunakan Hasil Studi Awal................... Gambar 36................................. Gambar 49........................ Gambar 34.. Gambar 47................. Coreng Moreng Anak Usia 3 Tahun..... Gambar 32.......... Gambar 48.................................................. Corengan Tak Beraturan........................... Gambar 27............................................................... Skema Tahap Diseminasi Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak...................................... Gambar 46. Gambar 37........................ Gambar yang Menunjukkan Penggunakan Perspektif Linier Oleh Anak Kelas Lima..... Gambar 30....................... Gambar 33................ Skema Tahap Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak 160 Gambar 45.................. Bagan Anak Usia 7-9 Tahun................................... Gambar yang Menunjukkan Perbedaan Anak Laki-laki dan Perempuan Dengan Ciri-Ciri Pakaian yang Rinci............ Bagan Anak Usia 14 Tahun.............................. Tahapan Studi Awal Pengembangan Instrumen Seni Lukis Anak..................................................... Gambar 35.. Gambar 39...... Gambar Bus yang Penuh Sesak Oleh Penumpang yang Digambarkan Dengan Perspektif Linier......... Model Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak......... Pra Bagan Anak Usia 7 Tahun............. Bagan Anak Usia 10 Tahun.... Gambar 40... 80 81 81 83 83 84 85 85 86 87 87 88 88 89 90 100 154 156 157 158 Gambar 44..........

.... Gambar 67........ Gambar 53................................... Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 3.............. Minat siswa dalam belajar Hasil Studi Awal.... Gambar 52.......Gambar 50............... Gambar 65........................................................................ Instrumen Penilaian Seni Lukis Hasil Tahap Rancangan............................. Gambar 68...... Kesulitan Guru dalam Penilaian Hasil Studi Awal. Tren perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 2…………………………………………………… Gambar 66.............…………………..... Rangkuman Hasil FGD Ketiga.................................... Gambar 62.......... Gambar 59. Rangkuman Hasil Seminar Instrumen Penilaian Seni Lukis ................. Hasil Studi Awal Jenis Penilaian yang Digunakan Guru ..................................... Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 2.............................. Hasil Studi Awal Komponen Penilaian Guru............................... Hasil Studi Awal Partisipasi Siswa atau Sekolah dalam Kegiatan Lomba................. Gambar 58...... Hasil Studi Awal Subjek yang Menentukan Tema Lukisan ........... Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 1................................ Hasil Studi Awal Tanggapan Guru Perlunya Instrumen Penilaian ............. Gambar 63... Tren perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 1............... Hasil Studi Awal Kriteria Penilaian Guru ...................... Gambar 60..................... Hasil Studi Awal Unsur Kreativitas dalam Penilaian oleh Guru……………………………………………………......... Gambar 61........................................................... Gambar 56.............................. Gambar 55........... Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 3......................... Hasil Studi Awal Jenis Penentuan Skor Penilaian oleh Guru ... Hasil Studi Awal Kesesuaian Prosedur yang Digunakan dalam Penilaian ....................................... Gambar 69.. Gambar 51........... Gambar 54................ Gambar 64..................... Gambar 57................................ 174 174 175 176 176 177 178 178 179 180 180 184 188 192 239 243 245 248 251 253 xvii ...

........................ Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Diri.................................... Gambar 71..................................... 257 255 xviii ............................................. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Kelompok.......Gambar 70.

A......... Manfaat Pendidikan Seni Rupa ................ Spesifikasi Produk ……….………............................ Manfaat Penelitian ………......... 2................ Pengertian Pendidikan Seni Rupa ......….. Rasional yang Melandasi Pentingnya Masalah ……………... Latar Belakang dan Identifikasi Masalah .…… E..……....................... 1...................……............ Rumusan Masalah…................................. Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini ...... 4.................. DAFTAR GAMBAR .……………………………………………................………………………………………………...….…………………................……………………………………………………………….......... …..................... Tujuan Penelitian ............................................. Pendidikan Seni Rupa di Sekolah Dasar Di Indonesia .... 2.............. Pengertian dan Jenis Seni Lukis ................................DAFTAR ISI ABSTRAK............. DAFTAR ISI ..…… B...... KAJIAN PUSTAKA ………….................….............……………………………………………………....... B................. DAFTAR LAMPIRAN ... Pembelajaran Seni Lukis di Sekolah Dasar ……………………….......………....…………........………………………………………………………………..... BAB I...................................... Seni Lukis bagi Anak Usia Sekolah Dasar .......……...................................................………………………………………………………........... PENDAHULUAN……………………………………………………… A...... PERNYATAAN KEASLIAN ....…… BAB II.............… D............ Pendekatan dalam Pendidikan Seni Rupa ......................................… E.............……… C.......………………………………………………………….... 1.... 3........................... KATA PENGANTAR .………………....................................….. DAFTAR TABEL ...... ABSTRACT.............................…............................. C.……. Pendidikan Seni Rupa ………............... ii iii iv v vii viii xi xv xix 1 1 7 11 11 12 12 14 14 14 22 24 34 42 52 52 64 viii ..……………….. LEMBAR PENGESAHAN ..

……..................... Tahap Pengembangan ................................................ Data Perancangan.............................. 1.................... Uji Coba Produk ……………………...........……………… B..... ……………………………………...... Teknik Analisis Data .......……................ Tahap Studi Awal ............. Aspek yang Dinilai dalam Karya Seni Lukis.......... D............ METODE PENELITIAN ........ 2.................. 3...... BAB III.................….................... Fungsi Penilaian dalam Pendidikan Seni ...……............................. Penilaian dalam Pembelajaran Seni Lukis di Sekolah Dasar ......................…… A......... Karakteristik Penilaian dalam Pendidikan Seni ...................…..... F.................……......... G.3. Data Uji Coba ………...…….....………............. 3........ H............... E............ 2.................... Prosedur Pengembangan ………………………………………… 1....... Model Pengembangan .............................................. Seni Lukis sebagai Indikator Gambar Ekspresi dalam KTSP .............. 2.................................................. 2.............................................................…… A..................... Hipotesis Uji Model ………................ ix . Tahap Perancangan ................ Kerangka Pikir …............ D....................... 3................. Tahap Pendefinisian ..................................... Data Pengembangan ....….............. 4..................................………...... 96 100 107 107 109 119 135 145 150 150 152 152 155 155 156 157 158 161 161 161 163 164 165 169 169 169 182 184 185 ....... Data Pendefinisian ............ BAB IV.…………..... Hasil Penelitian yang Relevan ………............................……......... HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN............................... 5......................................... Metode Pembelajaran Seni Lukis Anak Sekolah Dasar .................... 4..……........... Jenis Instrumen Pengumpulan Data .................. 4.…… 1................. Data Studi Awal .................……………….... 4............. Tahap Diseminasi ........................ Desain Uji Coba ................................... Pertanyaan Penelitian ……….......................................…......................……….... Subjek Coba ........… 1........... 3...........................

.. Penilaian Proses ......... Revisi Produk………………….........……………… B.... Data Uji Coba... D............... C............. KESIMPULAN DAN SARAN .............................................. 2.. Penilaian Produk .....................… 1.........………........... 235 237 237 260 260 261 261 262 263 BAB V.... Diseminasi ....................................................... Data Uji Coba Koefisien Interrater ..... Keterbatasan Penelitian………………………………........................…………………......................... 2.................. Analisis Data .......… …………………………………….......5..............………… C............…….......................…................… DAFTAR PUSTAKA ............................... Simpulan ......…… A......... 1...…………....................................................................................................................................................................…….......... Saran Pemanfaatan ……………………..............… D..............................……….............. 5.... 3................ Diseminasi dan Pengembangan Produk Lebih Lajut ………............. 4................... x .. Tren Perkembanagan Koefisien Genova ..................... Kajian Produk ..... Penilaian Kelompok ........ Penilaian Diri....…………………………….......... 187 196 196 220 232 232 232 234 .......... B..........................

................................................................. Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Produk Kelas 3 xi 212 211 210 209 208 206 203 201 199 197 171 181 186 5 96 123 124 ....... Penilai...... Tipe-Tipe Psikologis Anak dan Katagori Lukisan Anak..................... Hasil FGD Pertama dan Kedua.................... Penilai...................... Estimasi Komponen Variansi Siswa........... Tabel 12.................... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Produk Kelas 2 dan Tingkat Perubahannya............................................. Tabel 10.............................. Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Proses Kelas 3 dan Tingkat Perubahannya... Estimasi Komponen Variansi Siswa............................................... Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Kelompok.......... Estimasi Komponen Variansi Siswa................................ Pupil’s Self Evaluation Form.............. Penilai............................................................. Hubungan antara Tujuan Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan (PSB) dengan SKL Satuan Pendidikan SD................... Tabel 11........................ Tabel 13............ Daftar Peserta Studi Awal.. Tabel 16.. Tabel 15.........DAFTAR TABEL Tabel 1................. Rangkuman Hasil G Study dan Koefisien G Pada Berbagai Komponen dan Berbagai Faset Terapan Uji Coba............................................................................... Estimasi Komponen Variansi Siswa.............................. Tabel 5..................... Tabel 4.............. Penilai.. Tabel 2................ Tabel 7. Tabel 8............................... Tabel 3.... Tabel 18........ Tabel 9................................. Tabel 6................. Student Self Evaluation Form.............................. Tabel 17...... Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Diri........ Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Proses Kelas 2 dan Tingkat Perubahannya........................... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Proses Kelas 1 dan Tingkat Perubahannya .............. Tabel 14... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Produk Kelas 1 dan Tingkat Perubahannya.... Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Produk................................................................ Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Proses. Daftar Peserta Studi Awal...........

......................... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Kelompok Kelas 2 dan Tingkat Perubahannya ...................................................................... Tabel 29......... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Diri Kelas 3 dan Tingkat Perubahannya.................................................. Tabel 23......................................................................................................... Tabel 24.. Tabel 27........................... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai 227 225 xii ..................................... 225 Tabel 30.................... Tabel 25... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Kelompok Kelas 1 dan Tingkat Perubahannya................................ Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Produk Kelas 1.................... Tabel 26................. Tabel 21....................... Tabel 20.... Tabel 22....... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Diri Kelas 1....................................................... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Kelompok Kelas 3 dan Tingkat Perubahannya......... Tabel 32.....................dan Tingkat Perubahannya........................... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Proses Kelas 2.......................... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai 213 214 215 216 217 218 219 221 222 222 224 Pada Penilaian Produk Kelas 2..................................................................................................... Tabel 28......... Tabel 31..................................................................................................................................... Tabel 19................................. Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Proses Kelas.................. Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Diri Kelas 1 dan Tingkat Perubahannya ....................... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Produk Kelas 3............... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Diri Kelas 2 dan Tingkat Perubahannya........................ Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Proses Kelas 1................................................ Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Diri Kelas 2.................... 227 Tabel 33..........................

.............................. Tabel 34.................. Tabel 36. Tabel 50........ Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =3 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear ................. Tabel 45................ Tabel 47..................................... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 1......................................................................... Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =2 228 230 231 231 233 234 236 237 238 239 241 242 244 245 247 248 250 xiii .................. Tabel 40........ Tabel 39........ Tabel 42................................................................................... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 3....... Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =6 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear ................................Pada Penilaian Diri Kelas 3....................................................................................... Tabel 37................................................. Perbadingan koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Produk ..... Tabel 35............ Tabel 49................... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 2.................. Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 2........................ Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Kelompok Kelas 1.............. Perbadingan koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Proses ......... Tabel 38.....Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 1.... Tabel 46... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Kelompok Kelas 3.... Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Diri............. Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =4 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear....... Tabel 43.... Tabel 48................................................ Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Kelompok Kelas 2..................... Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Kelompok................... Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =3 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear ..... Tabel 44................... Tabel 41............

........ Tabel 53...... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 3.......................................................... Tabel 52................................Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear ............ Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =1 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear ............. Tabel 51.. Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Diri.................... Tabel 54.................... 250 252 253 254 257 xiv ......................................................Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Kelompok.................................................

.......DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1..................... Contoh Hasil Karya Seni Lukis Anak........... Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Seni Budaya dalam KTSP Lampiran 2.... Lampiran 9........................................ Lampiran 6.......... Kompetensi Kreasi Seni Budaya dan Keterampilan................... Hasil Seminar...................... Lampiran 11...................................................... Hasil FGD............................................................................. Surat Ijin Penelitian. Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak.. Hasil Analisis Genova................................................................................... Daftar Hadir FGD dan Seminar..................................... 270 275 276 293 296 306 318 321 358 361 365 xix ..................... Lampiran 10..................................... Lampiran 5....... Lampiran 7.................... Hasil Wawancara Keterpakaian Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak Lampiran 8...... Data Hasil Penilaian Seni Lukis Anak................ Lampiran 3............................................................................................................ Lampiran 4........

04701261001 Disertasi ini ditulis untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk mendapatkan gelar Doktor Pendidikan Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA YOGYAKARTA 2009 i .PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ANAK DI SEKOLAH DASAR Oleh: Tri Hartiti Retnowati NIM.

reliabel. Ph. kemudahan. 2.Pd. Dekan FBS Univesitas Negeri Yogyakarta beserta staf. dan bimbingan yang sangat berharga. kepala MIN Tempel Sleman yang telah memberikan ijin dan segenap bantuannya pada pelaksanaan ujicoba instrumen penilaian seni lukis anak. Sofyan Salam. hidayah. sehingga disertasi ini menjadi lebih baik. 7. 6. Kepala SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta. atas perhatian dan dukungan sehingga disertasi ini selesai. Prof. Rektor Universitas Negeri Yogyakarta. sehingga disertasi ini dapat diselesaikan. dan inayahNya. Dalam kesempatan ini. 5. 4. serta dorongan semangat kepada penulis sehingga disertasi ini dapat terwujud. kepala SDN Langensari Yogyakarta. Suyata.D dan Prof. penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada: 1.. Disertasi ini bertujuan mengembangkan instrumen penilaian karya seni lukis anak yang valid. dan praktis untuk digunakan guru di sekolah dasar.D selaku reviewer disertasi ini yang telah memberi masukan kepada penulis. bantuan. Para guru yang telah membantu pelaksanaan ujicoba instrumen penilaian seni lukis anak yaitu Ibu Udawati S.KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas berkat limpahan rahmat. Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta beserta segenap staf administrasi. atas segala kebijaksanaan. Ph.D selaku promotor disertasi ini. taufiq. dan Bapak Dodi Suyanto. Bapak Sutarno S. yang diberikan sehingga disertasi ini dapat selesai. yang telah memberikan kesempatan untuk melanjutkan studi S-3 pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta. yang telah memberikan arahan. perhatian. v .Pd. Penyelesaian disertasi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Ph. Prof. Kumaidi. 3.

8. Para pakar pendidik seni dan seni lukis anak-anak serta guru seni lukis di sekolah dasar yang telah berpartisipasi dalam FGD sehingga instrumen ini dapat terwujud. 9. Segenap teman-teman Jurusan Pendidikan Seni Rupa FBS UNY dan mahasiswa angkatan tahun 2004 Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan S3 Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta yang dengan penuh keakraban memberikan dorongan moral dan segenap bantuan yang diberikan sehingga disertasi ini dapat selesai. Akhirnya rasa terimakasih yang sangat pribadi disampaikan kepada suami tercinta Prof. Djemari Mardapi Ph.D., dan anak-anak: Dian Puspita Sari dan suami, Febriaditya Agung Nugroho, dan Muhammad Harfiansyah Makarim yang dengan penuh pengertian dan pengorbanan selama penulis menyelesaikan studi. Semoga amal kebaikan bapak/ibu dan teman-teman semua

mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Amin.

Yogyakarta,

Mei 2009

Tri Hartiti Retnowati NIM. 04701261001

vi

PERNYATAAN KEASLIAN Yang bertandatangan di bawah ini Nama Mahasiswa Nomor Mahasiswa Program Studi Lembaga Asal : Tri Hartiti Retnowati : 04701261001 : Penelitian dan Evaluasi Pendidikan : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi ini merupakan hasil karya saya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya dalam disertasi ini tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Yogyakarta, April 2009 Yang membuat pernyataan

Tri Hartiti Retnowati

vii

Lampiran 1 Tabel 1. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Seni Budaya dan Kerajinan Sekolah Dasar Berdasarkan KTSP 2006 Kelas I, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengidentifikasi unsur rupa pada benda di alam sekitar 1.2 Menyatakan sikap apresiatif terhadap unsur rupa pada benda di alam sekitar 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresif 2.2 Mengekspresikan diri melalui teknik menggunting menempel KOMPETENSI DASAR

Kelas I, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya sent rupa 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengidentifikasi unsur rupa pada benda di alam sekitar 1.2 Menyatakan sikap apresiatif terhadap unsur rupa pada benda di alam sekitar 2.1 Mengekspresikan diri melalui karya seni gambar Ekspresif 2.2 Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa dua dimensi dengan teknik menempel KOMPETENSI DASAR

Kelas II, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya sent rupa 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengenal unsur rupa pada karya seni rupa 1.2 Menunjukkan sikap apresiatif terhadap unsur rupa pada Karya seni rupa 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar Ekspresif 2.2 Mengekspresikan diri melalui teknik cetak tunggal KOMPETENSI DASAR

270

Kelas II, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 2. Mengekspresikan diri melalui seni rupa. 1.1 Mengidentifikasi unsur rupa pada karya seni rupa 1.2 Menunjukkan sikap apresiatifterhadap unsur rupa pada karya seni rupa tiga dimensi 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresi 2.2 Menggunakan klise cetak timbul 2.3 Mengekspresikan diri melalui teknik cetak timbul KOMPETENSI DASAR

Kelas III, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 2. Mengekspresikan diri melalui seni rupa. 1.1 Menjelaskan symbol dalam karya seni rupa dua dimensi 1.2 Menunjukkan sikap apresiatif terhadap symbol dalam karya seni rupa dua dimensi 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif Mengenai diri sendiri 2.2 Mengekspresikan diri melalui gambar dekoratif dari motif Hias daerah setempat KOMPETENSI DASAR

Kelas III, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa KOMPETENSI DASAR

1.

Mengapresiasi karya seni rupa Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

1.1 Menjelaskan simbol dalam karya seni rupa tiga dimensi 1.2 Menunjukkan sikap apresiatifterhadap simbol dalam karya seni rupa tiga dimensi 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif mengenai alam sekitar 2.2 Memberi hiasan/warna pada benda tiga dimensi

2.

271

Kelas IV, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.1 Menjelaskan makna karya seni rupa terapan 1.2 Mengidentifikasi jenis karya seni rupa terapan yang ada di daerah setempat 1.3 Menunjukkan sikap apresiatif terhadap kesesuaian karya seni rupa terapan 1.4 Menunjukkan sikap apresiatif terhadap keartistikan karya seni rupa terapan 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi dengan tema benda alam: buah-buahan, tangkai, kerang, dsb 2.2 Memamerkan hasil gambar ilustrasi dengan tema benda alam: buah-buahan, tangkai, kerang, dsb di depan kelas KOMPETENSI DASAR

Kelas IV, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.1 1.2 1.3 Menjelaskan makna seni rupa murni Mengidentifikasi jenis karya seni rupa murni yang ada di daerah setempat Menampilkan sikap apresiatif terhadap karya seni rupa murni Membuat relief dari bahan plastis dengan pola motif hias Menyiapkan karya seni rupa yang dibuat untuk pameran kelas KOMPETENSI DASAR

2.

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

2.1 2.2

2.3

Menata karya seni rupa yang dibuat dalam bentuk pameran kelas

272

Kelas V, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.1 1.2 1.3 Menjelaskan makna motif hias Mengidentifikasi jenis motif hias pada karya seni rupa Nusantara daerah setempat Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan motif hias karya seni rupa Nusantara daerah setempat Mengekspresikan diri melalui gambar dekoratif dengan motif hias Nusantara 2.2 Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi dengan tema hewan dan kehidupannya 2.3 Membuat motif hias dasar jumputan pada kain KOMPETENSI DASAR

2.

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

2.1

Kelas V, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.2 1.3 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengekspresikan diri melalui gambar dekoratif dengan motif hias Nusantara Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi dengan tema hewan dan kehidupannya Membuat motif hias dasar jumputan pada kain Membuat topeng secara kreatif dalam hal teknik dan bahan Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi manusia dan kehidupannya KOMPETENSI DASAR

2.1 2.2

2.3

Menyiapkan karya seni rupa yang diciptakan untuk pameran kelas

2.4

Menata karya seni rupa yang diciptakan dalam bentuk pameran kelas/sekolah

273

Kelas VI, Semester 1

STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.1 1.2 1.3

KOMPETENSI DASAR Mengidentifikasi jenis motif hias pada karya seni rupa Nusantara daerah lain Menjelaskan cara membatik Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan motif hias karya seni rupa Nusantara daerah lain Membatik dengan teknik sederhana Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi dengan tema suasana di sekitar sekolah 2.3 2.4 Merancang boneka Membuat boneka berdasarkan rancangan

2.

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

2.1 2.2

Kelas VI, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.2 1.1 Mengidentifikasi jenis motif hias pada karya seni rupa Nusantara daerah lain Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan motif hias karya seni rupa Nusantara daerah lain Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi suasana alam sekitar KOMPETENSI DASAR

2.

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

2.1

2.2

Menyiapkan karya seni rupa yang dibuat untuk pameran kelas

2.3

Menata karya seni rupa yang dibuat untuk pameran kelas

274

2 Menyatakan sikap apresiatif terhadap unsur rupa pada benda di alam sekitar 2.2 Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa dua dimensi dengan teknik menempel KOMPETENSI DASAR Kelas II.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresif 2.2 Menggunakan klise cetak timbul 1. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresi 1. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1. Kompetensi Kreasi Seni Budaya dan Keterampilan Kelas I.1 Mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif mengenai alam sekitar 12 Memberi hiasan/warna pada benda tiga dimensi 275 .1 Mengekspresikan diri melalui gambar Ekspresif 1.3 Mengekspresikan diri melalui teknik cetak timbul KOMPETENSI DASAR Kelas III. Semester 2 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa KOMPETENSI DASAR 1.2 Mengekspresikan diri melalui teknik cetak tunggal KOMPETENSI DASAR Kelas II. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1. Semester 2 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa.1 Mengekspresikan diri melalui karya seni gambar Ekspresif 1.1 Mengidentifikasi unsur rupa pada benda di alam sekitar 1. Semester 1 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Semester 2 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1.Lampiran 2 Tabel 2. Semester 1 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1.2 Mengekspresikan diri melalui teknik menggunting menempel KOMPETENSI DASAR Kelas I. Mengapresiasi karya seni rupa 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1. 1.

276 .

maka dalam proses penyusunannya perlu mempertimbangan pemikiran para pakar serta guru yang terlibat langsung dalam pembelajaran. Disamping itu. Latar belakang Pembelajaran seni lukis merupakan bagian penting dari aktivitas belajar di sekolah. Disertasi yang berjudul ” Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak” merupakan representasi kebutuhan lapangan khususnya guru-guru pada jenjang pendidikan dasar yang mengkehendaki adanya suatu instrumen penilaian seni lukis yang valid dan reliabel sehingga dapat mengurangi subjektivitas guru dalam menilai karya siswa. indikator-indikator dari setiap penilaian baik proses maupun produk perlu ditetapkan dengan memperhatikan berbagai pemikiran yang disesuaikan dengan perkembangan jiwa dan perkembangan gambar anak untuk manentukan hasil penilaian seni lukis anak. dilaksanakan FGD tahap 1 yang difokuskan untuk menjaring aspirasi yang berhubungan dengan tahap awal penyusunan instrumen penilaian seni lukis anak. mulai dari para pakar sebagai perumus materi sampai dengan guru mata pelajaran sebagai pelaksana sekaligus evaluator kegiatan pembelajaran. dalam setiap pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kegiatan belajar seni lukis keikutsertaan para pakar seni lukis serta guru-guru pengampu di sekolah merupakan suatu kebutuhan yang mutlak. Mengingat instrumen merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran seni lukis. Oleh karenannya. Dalam pelaksanaannya. Kedua permasalahan tersebut merupakan topik yang akan dibahas dalam FGD tahap 1 sebagai langkah awal dalam penyusunan instrumen penilaian seni lukis anak. Berdasarkan Performance Assesment dalam penilaian seni lukis anak terdapat dua unsur penting yaitu penilaian proses dan produk. keterlibatan berbagai pihak sangat diperlukan.Lampiran 3 FOCUS GROUP DISCUSSION TAHAP 1 “ PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. Namun demikian. persentase penilaian kedua unsur tersebut masih menjadi dilema yang perlu diputuskan dengan pertimbangan yang matang. 276 . Berdasarkan alasan inilah.

Menentukan bobot persentase dari penilaian karya seni lukis anak yang terdiri dari proses dan produk. Adapun jalannya pelaksanaan FGD tersebut disajikan pada tabel berkut: Waktu 15.Lampiran 3 B.15-18.40 277 .45-16.30-15.Pd Udawati. Diskusi sesi 1 untuk memutuskan bobot persentase dari penilaian karya seni lukis anak yang terdiri dari proses dan produk Diskusi sesi 2 untuk menentukan indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak.15 18. M.00-15.Pd Dody S Dwi Susanto (Pakar pendidikan seni) ( Pakar seni lukis anak) (Pakar seni lukis anak UNY) (Guru pendidikan seni anak SD Sapen I) (Guru pendidikan seni anak SD Sapen II) (Guru pendidikan seni anak MIN Tempel) (Guru pendidikan seni anak Sekolah Dasar) D. 2.30 18.30-18. Deskripsi pelaksanaan FGD tahap I dilaksanakan pada tanggal 26 Februari 2008 bertempat di Ruang Sidang Program Pascasarjana UNY. M.Affandi Dewobroto. S.15-18.Pd Enrizal. C. Menentukan indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak. S.Sn Bambang Prihadi. target dari FGD tahap 1 ini adalah: 1.15 16. Penyimpulan dan penyampaian hasil diskusi Penutupan dengan doa bersama 15. M. Target yang ingin dicapai Berdasarkan latar belakang.45 Aktivitas Pembukaan mengutarakan maksud dan tujuan FGD diikuti dengan perkenalan peserta yang hadir Presentasi pengenalan topik yang akan dibahas yaitu menentukan bobot persentase dari penilaian karya seni lukis anak yang terdiri dari proses dan produk dan menentukan indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak.30 15. Peserta yang hadir Drs.

Sn Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 50% sedangkan produk 50% hal ini dikarenakan antara proses dan produk terdapat keseimbangan .Pd Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% Dody S Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% karena proses cenderung memperlihatkan potensi seorang anak dalam berkarya seni Dwi Susanto Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% Apakah indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak Drs.Pd Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% karena proses lebih memperlihatkan kesungguhan siswa dalam melukis Udawati. keterampuilan mengorganisasikan keterampilan estetis. tahap inti terdiri dari kelancaran penuangan ide. S.Lampiran 3 E. dan tahap akhir. Adapun penilain proses terdiri dari kreativitas dan ekspresi. Tahap awal terdiri dari tanggapan anak terhadap tema dan kesiapan alat dan bahan. M. tahap inti. S.Affandi Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% mengingat proses lebih menentukan hasil karya yang diperoleh siswa Dewobroto. S. M.Pd Penilaian proses dibagi menjadi dua tahap yaitu tahap awal dan tahap inti karena tahap akhir berupa penilaian diri dan kelompok bukan merupakan bagian dari proses seorang anak dalam berkarya Udawati.Pd Dalam penilaian produk perlu adanya tambahan indikator yaitu teknik Enrizal. M. pemanfaatan waktu.Sn Dalam penilaian proses pada tahap inti perlu adanya tambahan kriteria yaitu pemahaman tema karena tanpa adanya pemahaman tema akan sulit bagi siswa untuk dapat melukis dengan baik Bambang P. Dewobroto. M. sedangkan tahap akhir terdiri dari penilian diri. dengan kata lain apabila proses baik maka produk pun akan baik begitu juga jika produk baik maka proses pun baik Bambang P.Affandi Penilaian proses dibagi menjadi tahap awal. S. M.Pd Dalam penilaian proses untuk kegiatan inti perlu 278 Masukan peserta Sesi 2 Pertanyaan Masukan peserta . Masukan peserta yang hadir Sesi 1 Pertanyaan Berapa persenkah bobot untuk penilaian proses dan produk Drs. M.Pd Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% karena proses seseorang dalam berkarya lebih penting dari hasil yang diperoleh Enrizal.

Ketekunan 5. Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk 4. Kelancaran penuangan ide 2. Indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak 1. Keberanian menggunakan media 3.Lampiran 3 adanya indikator ketekunan serta keberanian dalam menggunakan unsur-unsur bentuk Dalam penilaian proses untuk kegiatan inti perlu adanya indikator keberanian menggunakan media Penilaian diri dan penilaian kelompok bukan merupakan bagian dari proses seseorang dalam berkarya. Kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis Tahap awal Proses 1. Kesimpulan 1. Bobot persentase minimal untuk penilaian proses 60% dan produk 40% 2. Pemanfaatan waktu Tahap inti Kreativitas Produk Ekspresi Teknik Penilaian Diri Penilaian Kelompok 279 . Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat 2. jadi untuk penilaian proses dan penilaian kelompok lebih baik terpisah tetapi tetap merupakan bagian dari penialian karya seni lukis anak Dody S Dwi Susanto F.

Lampiran 3 FOCUS GROUP DISCUSSION TAHAP II “ PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. M. Adapun jalannya pelaksanaan FGD tersebut disajikan pada tabel berkut: 280 . Proses olah pikir dari para pakar dan guru untuk menentukan deskripsi dari setiap indikator dilaksanakan pada FGD tahap II. Suwarno Bambang P. C. Peserta yang hadir Drs. S. Susapto Murdowo. M. diperlukan berbagai pemikiran yang didasari pemahaman konsep yang mendalam tentang karya seni lukis anak. S.Pd Sutarno. Latar belakang Menindaklanjuti hasil yang diperoleh dari FGD tahap I. target dari FGD tahap II ini adalah menentukan deskripsi dari setiap indikator pada penilaian proses dan produk.Sn (Pakar pendidikan seni) (Pakar seni lukis anak UNY) (Guru pendidikan seni anak SD Sapen I) (Guru pendidikan seni anak SD) (Guru pendidikan seni anak SD Sapen II) (Guru pendidikan seni anak Sekolah Dasar) (Praktisi dan pakar seni lukis ) D. Target yang ingin dicapai Berdasarkan latar belakang. selanjutnya perlu adanya deskripsi dari masing-masing indikator pada penilaian proses dan produk. Oleh karena itu keterlibatan para pakar seni lukis anak dan guru sangat diperlukan. Deskripsi indikator ini mencakup gambaran secara terperinci dari setiap indikator yang diperoleh dari FGD tahap I. B.Pd Udawati. S. Untuk mendeskripsiakan indikator ini.Pd Enrizal.Pd Dody S Drs. Deskripsi pelaksanaan FGD tahap II dilaksanakan pada tanggal 13 Maret 2007 bertempat di Ruang Sidang Program Pascasarjana UNY.

Diskusi sesi 1 untuk menentukan deskripsi dari setiap indikator pada penilaian proses Diskusi sesi 2 untuk menentukan deskripsi dari setiap indikator pada penilaian produk. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik Drs. M. S.50-19. Penyimpulan dan penyampaian hasil diskusi Penutupan dengan doa bersama 15.Lampiran 3 Waktu 15.Pd • Untuk tahap inti indikator 2 deskripsinya adalah: Keberanian menggunakan media dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik inkonvensional dalam melukis • Kemudian diperlengkap menjadi: Keberanian menggunakan media (alat dan bahan)dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik inkonvensional dalam melukis Udawati.Sn Suatu kondisi peserta didik yang sudah siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya Bambang P.00 E. Suwarno • Untuk tahap awal indikator 1 deskripsinya adalah: Reaksi peserta didik berupa perilaku yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik • Kemudian diperlengkap menjadi: Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi. S. Susapto M.50 18.30 15.Pd • Untuk tahap inti indikator 1 deskripsinya adalah: Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara ide yang ada dalam diri siswa dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut • Kemudian diperlengkap menjadi: Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara kualitas ide yang dikembangkan dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut Enrizal.30-18. Masukan peserta yang hadir Sesi 1 Pertanyaan Bagaimanakah deskripsi untuk indikator penilaian proses Drs.30 17.00-15. Untuk tahap awal indikator 2 deskripsinya adalah: M.45-17.30-18.30 18.45 Aktivitas Pembukaan mengutarakan maksud dan tujuan FGD diikuti dengan perkenalan peserta yang hadir Presentasi pengenalan topik yang akan dibahas yaitu menentukan deskripsi dari setiap indikator pada penilaian proses dan produk.Pd • Untuk tahap inti indikator 3 deskripsinya adalah: 281 Masukan peserta .30-15.

dan kemampuan untuk menyesuaikan dengan perkembangan terkini serta kesesuaian dengan karakteristik bahan/material yang digunakan Drs. kebaruan teknik dan konsep cerita Bambang P. ide-ide. garis. M.Pd Untuk indikator 3 deskripsinya adalah: Kemampuan peserta didik dalam menyesuaikan antara media/alat yang digunakan dengan bentuk-bentuk yang dibuat dalam karya lukisnya. S.Sn bentuk (kemampuan menciptakan bentuk yang khas). dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik Untuk tahap inti indikator 4 deskripsinya adalah: Kondisi peserta didik untuk mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh-sungguh Untuk tahap inti indikator 5 deskripsinya adalah: Penggunaan waktu sebaik-baiknya untuk membuat karya lukis Dody S Sutarno. S.Pd Untuk indikator no 2 deskripsinya adalah: Suatu kelancaran dalam penuangan ide yang dilihat dari ketegasan pada goresan. S. Suwarno Untuk penilaian produk indikator 1 deskripsinya adalah: Suatu produk dari hasil pemikiran atau perilaku peserta didik yang merupakan kekuatan konseptual melalui karya lukisnya yaitu meliputi kepekaan pada suatu masalah. S. garis.Lampiran 3 Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik • Kemudian diperlengkap menjadi: Keberanian menggunakan titik. serta kebersihan karya yang dihasilkan Sutarno. kemampuan abstraksinya. bentuk karya lukis peserta didik. dan kebersihan karya 282 . Deskripsi indikator 1 disederhanakan menjadi Keaslian M.Pd Deskripsi indikator 2 disederhanakan menjadi: Kejelasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema Udawati. ketelitian dalam penyelesaian. keaslian.Pd Untuk indikator 3 deskripsinya adalah: Kemampuan peserta didik dalam menyesuaikan antara media/alat yang digunakan dengan bentuk-bentuk yang dibuat dalam karya lukisnya. dan keberhasilan karya Dody S Deskripsi indikator 3 disederhanakan menjadi: Kemampuan menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya.Pd Sesi 2 Pertanyaan Masukan peserta Bagaimanakah deskripsi untuk indikator penilaian hasil Drs. dan keberanian dalam mengorganisasikan unsur-unsur rupa tersebut Enrizal. kualitas cara penggambaran. warna. Susapto M. keberhasilan karya. bidang. ketelitian dalam penyelesaian.

1 1 Indikator Komponen Proses Tahap Awal Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Deskripsi Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi. Ketekunan Kondisi peserta didik untuk mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh-sungguh Pemanfaatan waktu Penggunaan waktu sebaik-baiknya untuk membuat karya lukis Komponen Produk Kreativitas Keaslian bentuk (kemampuan menciptakan bentuk yang khas). kualitas cara penggambaran. Kesimpulan Hasil dari FGD 2 ini adalah sebagai berikut: No A.2 Tahap Inti 1 Kelancaran penuangan ide Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara kualitas ide yang dikembangkan dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut 2 Keberanian menggunakan Keberanian menggunakan media (alat dan media bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik inkonvensional dalam melukis Keberanian menggunakan Keberanian menggunakan titik. A.Lampiran 3 F. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik 2 Kesiapan alat dan bahan Suatu kondisi peserta didik yang sudah yang akan digunakan siap melakukan tugas dengan perlengkapan untuk melukis bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya A. 3 283 . serta kebersihan karya yang dihasilkan 3 4 5 B 1 2. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik. kebaruan teknik dan konsep cerita Ekspresi Kejelasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema Teknik Kemampuan menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya. garis. unsur-unsur bentuk bidang.

selain diperlukan adanya pakar serta guru seni lukis. M. S. Kriteria ini merupakan penjabaran dari deskripsi setiap indikator yang terdapat dalam penilaian.Pd Sutarno. maka dilaksanakan FGD tahap III untuk membahas rubrik skor penilaian proses dan produk serta instrumen awal penilaian diri dan kelompok.Si Bambang P.Pd Dodi sudaryanto Dwi Udawati F (Ahli pengukuran ) (Ahli pengukuran) (Ahli pengukuran) ( Pakar seni lukis anak UNY) ( Guru seni lukis SD) ( Guru seni lukis MIN Tempel) ( Guru seni lukis SD Sapen II) 284 . Target yang ingin dicapai Berdasarkan latar belakang. Oleh karena itu. perlu juga adanya ahli pengukuran untuk memberikan masukan terkait dengan segi kepraktisan. Dalam proses penyusunan rubrik skor ini. kevalidan. target dari FGD tahap III ini adalah menentukan rubrik penskoran untuk masing-masing indikator dalam penilaian proses dan produk serta membahas instrumen penilaian diri dan kelompok. Peserta yang hadir Dr. Latar belakang Sebuah penilaian yang baik mengandung kriteria yang berlaku secara umum. dan kereliabelan instrumen yang akan dibuat.Lampiran 3 FOCUS GROUP DISCUSSION TAHAP III “ PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. setelah menkentukan deskripsi indikator baik untuk penilian proses maupun penilaian produk langkah selanjutnya adalah pembuatan rubrik skor untuk menentukan kriteria dari setiap level penilaian yang diberikan. B. Heri Retnowati Suratno Mansyur. Berdasarkan alasan inilah. M. C.

45-17. sangat tepat. kurang relevan.45-19. sangat relevan. baik.Pd 285 . siap digunakan Kurang kriteriannya: kurang lengkap. sangat sesuai dengan media sedangkan untuk level lainnya menyesuaikan.30 18. sangat kurang Untuk tahap inti indikator 1 level sangat baik kriteriannya adalah: sangat cepat. Masukan peserta yang hadir Sesi 1 Pertanyaan Masukan peserta Bagaimanakah kriteria rubrik skor untuk penilaian proses Dr.00-15.45 18.Si Bambang P. pembahasan awal instrumen penilaian diri dan kelompok Diskusi sesi 1 untuk menentukan rubrik penskoran penilaian proses. sangat tepat. Deskripsi pelaksanaan FGD tahap III dilaksanakan pada tanggal 10 April 2007 bertempat di Ruang Sidang Program Pascasarjana UNY. Adapun jalannya pelaksanaan FGD tersebut disajikan pada tabel berkut: Waktu 15.45 Aktivitas Pembukaan mengutarakan maksud dan tujuan FGD diikuti dengan perkenalan peserta yang hadir Presentasi pengenalan topik yang akan dibahas yaitu menentukan rubrik penskoran untuk setiap indikator pada penilaian proses dan produk. cukup lengkap. M. sangat siap digunakan Baik kriterianya: lengkap.30 15.Lampiran 3 D. S. pembahasan instrumen penilaian diri dan kelompok Penyimpulan dan penyampaian hasil diskusi Penutupan dengan doa bersama 15.30-18. dan kurang lengkap Suratno Kriteria untuk setiap level dibuat dengan sederhana.00 E. Untuk tahap inti indikator 2 level sangat baik kriterianya adalah: sangat cepat.Pd Sutarno. Diskusi sesi 2 untuk menentukan rubrik penskoran penilaian produk. kurang.30-15. Mansyur. dan sering atau sangat lengkap. tidak siap digunakan Sangat kurang kriterianya: kurang lengkap . misalnya untuk tahap awal indikator 2 Sangat baik kriterianya: sangat lengkap. relevan.30 17. tidak siap digunakan Sebaiknya kriteria diganti menjadi sangat baik. jarang. lengkap. cukup. M. Heri Retnowati Level penilaian bisa berupa: tidak pernah.30-18. tidak relevan.

Si Untuk penilaian produk indikator 2 level sangat baik kriteriannya: Sangat jelas Bambang P.Lampiran 3 sangat sesuai dengan karakteristik media sedangkan untuk level lainnya menyesuaikan Untuk tahap inti indikator 3 level sangat baik kriterianya adalah:sangat berani. teknik sangat inovatif Suratno Untuk penilaian produk indikator 1 level sangat baik kriteriannya: bentuk yang diciptakan sangat khas. sangat bersih Untuk penilaian diri dan penilaian kelompok katagori jawaban dapat dibuat dengan menggambar ekspresi muka baik itu marah. M.Pd Dodi sudaryanto Dwi Udawati F F. atau senang Masukan peserta Sutarno. S. Heri Retnowati Untuk penilaian produk indikator 1 level sangat baik kriteriannya: bentuk yang diciptakan sangat khas.Pd Untuk penilaian produk indikator 2 level sangat baik kriteriannya: sangat jelas. biasa-biasa. sangat cermat. M. sangat tepat . Kesimpulan Kesimpulan FGD tahap III ini dapat dilihat pada tabel 286 . sangat berani dalam karya Untuk penilaian produk indikator 3 level sangat baik kriteriannya:sangat sesuai karakteristik media. sangat tegas Untuk penilaian produk indikator 2 level sangat baik kriteriannya: sangat jelas. sangat tegas. konsep cerita sangat kaya Mansyur. teknik sangat inovatif. sangat artistik Untuk tahap inti indikator 4 level sangat baik kriterianya adalah:Sangat bersungguh-sungguh Untuk tahap inti indikator 5 level sangat baik kriterianya adalah:Karya selesai sebelum waktu berakhir Dodi sudaryanto Dwi Udawati F Sesi 2 Pertanyaan Bagaimanakah kriteria rubrik skor untuk penilaian produk Dr.

Sangat baik perilaku (ekspresi. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik 3. Baik 2. Cukup • • • • 1. Kurang • • • • 287 .Lampiran 3 Tabel 3 Rangkuman Hasil FGD Ketiga No 1 Indiaktor Komponen Proses tahap Awal Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Deskripsi Level Kriteria • • • • • • • • Bertanya seperlunya seputar tema lukisan kepada guru Tidak pernah mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan sangat cepat Memperlihatkan kegairahan yang sangat tinggi untuk memulai melukis Jarang bertanya seputar tema lukisan kepada guru Jarang mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan cepat Memperlihatkan kegairahan yang tinggi untuk memulai melukis Sering bertanya seputar tema lukisan kepada guru Cukup sering mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan cukup cepat Memperlihatkan kegairahan yang cukup tinggi untuk memulai melukis Sangat sering bertanya seputar tema lukisan kepada guru Sering mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan lambat Memperlihatkan kegairahan yang kurang untuk memulai melukis Reaksi peserta didik berupa 4.

Sangat baik waktu membuat karya lukis ide yaitu adanya keseimbangan antara ide yang ada dalam diri siswa dengan keterampilan 3. Cukup 1. Kurang 288 . Kurang No 3 Indiaktor Komopnen Deskripsi Level Proses tahap Inti Kelancaran penuangan Kondisi peserta didik pada 4. Baik untuk memvisualisasikan ide tersebut 2. Baik lukisnya 2.Lampiran 3 No 2 Indiaktor Kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis Deskripsi Level Suatu kondisi peserta didik 4. Cukup Kriteria • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan sangat lengkap • Alat dan bahan sangat siap untuk digunakan • Alat dan bahan sangat mendukung kegiatan melukis • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan lengkap • Alat dan bahan siap untuk digunakan • Alat dan bahan mendukung kegiatan melukis • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan cukup lengkap • Alat dan bahan cukup siap untuk digunakan • Alat dan bahan sangat mendukung kegiatan melukis • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan kurang lengkap • Alat dan bahan kurang siap untuk digunakan • Alat dan bahan kurang mendukung kegiatan melukis Kriteria • • • • • • • • • • • Sangat cepat dalam menemukan ide Sangat tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide Sangat cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Cepat dalam menemukan ide Tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide Cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Cukup cepat dalam menemukan ide Cukup tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide Cukup cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Lambat dalam menemukan ide Kurang tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide 1. Sangat baik yang sudah siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya 3.

Sangat baik unsur.Lampiran 3 • Lambat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media No 4 Indiaktor Keberanian menggunakan media Deskripsi Level Kemampuan menggunakan 4. bidang. bidang) sangat mendukung pertimbangan estetik • Penggunaan warna sangat mendekati warna sebenarnya • Sangat berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis • Variasi unsur-unsur bentuk(garis. Baik Kriteria • Variasi unsur-unsur bentuk (garis. Kurang Kriteria • Sangat cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Sangat tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media sangat sesuai dengan karakteristiknya • Cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media sesuai dengan karakteristiknya • Cukup cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Cukup tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media cukup sesuai dengan karakteristiknya • Lambat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Kurang tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media kurang sesuai dengan karakteristiknya No 5 Indiaktor Keberanian menggunakan unsur bentuk Deskripsi Level Kemampuan menggunakan 4. Cukup 1. garis.titik. Sangat baik media (alat dan bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik bebas dalam melukis 3. bidang) mendukung pertimbangan estetik • Penggunaan warna mendekati warna sebenarnya 289 . Baik 2. dan warna untuk menghasilkan bentuk yang orisional/khas 3.

Sangat baik menciptakan bentuk-bentuk baru) Tidak pernah melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang sangat tinggi dalam memodifikasi objek 290 . Kurang 7 Ketekunan Kondisi peserta didik untuk 4.Lampiran 3 • 2.3. Cukup • • • 1. Baik 2. bidang) cukup mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna cukup mendekati warna sebenarnya Cukup berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis Variasi unsur-unsur bentuk sedikit (garis.4. bidang) mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna tidak mendekati warna sebenarnya Kurang berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis Menyelesaikan karya lukis dengan sangat tepat waktu Memperlihatkan hasil karya lukis yang sangat tuntas Menyelesaikan karya lukis dengan tepat waktu Memperlihatkan hasil karya lukis yang tuntas Menyelesaikan karya lukis dengan cukup tepat waktu Memperlihatkan hasil karya lukis yang cukup tuntas Menyelesaikan karya lukis dengan kurang tepat waktu Memperlihatkan hasil karya lukis yang kurang tuntas Sangat serius dalam membuat karya lukis Perhatian terhadap karya lukis sangat terfokus Serius dalam membuat karya lukis Perhatian terhadap karya lukis terfokus Cukup serius dalam membuat karya lukis Perhatian terhadap karya lukis cukup terfokus Tidak serius dalam membuat karya lukis Perhatian terhadap karya lukis kurang terfokus Keaslian bentuk (kemampuan 4. Sangat baik mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh. Cukup 1. Kurang No 8 Indiaktor Komponen Produk Kreativitas Deskripsi Level • • • • • • • • • • • • • • • • Kriteria • • Berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis Variasi unsur-unsur bentuk (garis. Sangat baik untuk 3. Kurang • • • 6 Pemanfaatan waktu Penggunaan waktu baiknya dilakukan membuat karya lukis sebaik. Baik sungguh 2. Cukup 1.

Kurang No 9 Indiaktor Ekspresi Deskripsi Level Kejelasan dalam 4. Sangat baik mengungkapkan isi/tema/konsep lukisan 3. Cukup 1.Lampiran 3 • • • • • • • • • • • • • • • • • Warna yang digunakan sangat bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang sangat tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang sangat banyak Jarang melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang tinggi dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang banyak Cukup sering melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan cukup bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang cukup banyak Sering melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang kurang dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan kurang bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang kurang dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang kurang banyak 3. Baik • Kriteria • Sangat jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan • Sangat tegas/ spontan dalam mengungkapkan garis • Sangat berani dalam mengorganisasikan unsur-unsur karya lukis • Jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan • Tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna 291 . Baik 2.

Cukup No 10 Indiaktor Teknik Deskripsi Level Kemampuan menggunakan alat 4. Kurang Kriteria • Alat dan bahan yang digunakan sangat sesuai karakteristiknya • Sangat teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan sangat bersih • Alat dan bahan yang digunakan sesuai karakteristiknya • Teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan bersih • Alat dan bahan yang digunakan cukup sesuai karakteristiknya • Cukup teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan cukup bersih • Alat dan bahan yang digunakan kurang sesuai karakteristiknya • Kurang teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan kurang bersih 292 . Sangat baik dan bahan sesuai dengan karakteristiknya serta kebersihan karya yang dihasilkan 3. Cukup 1. Kurang • • • Berani dalam mengorganisasikan unsur-unsur karya lukis Cukup jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Cukup tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Cukup berani dalam mengorganisasikan unsur-unsur karya lukis Kurang jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Kurang tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Kurang berani dalam mengorganisasikan unsur-unsur karya lukis 2. Baik 2.Lampiran 3 • • • • 1.

II.Pd Sudiyatno. ahli pengukuran.D Dr.Pd Endang Sulistyowati. maka disusunlah instrumen penilaian seni lukis anak yang terdiri dari instrumen penilaian proses dan produk. Sofyan Salam. C. Target yang ingin dicapai Berdasarkan latar belakang. M. serta mahasiswa S3 program studi PEP. dan instrumen penilaian kelompok. dilaksanakanlah seminar instrumen dengan melibatkan pakar seni lukis anak . Heri Retnowati Suratno.Pd Harun.Lampiran 4 SEMINAR “ PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. dan instrumen penilaian kelompok. dan III. M. instrumen penilaian diri. Oleh karena itu. M. Ph.Pd (Pakar seni lukis anak/promotor) (Ahli pengukuran) (Ahli pengukuran) (Ahli pengukuran) ( Dosen dan Mahasiswa PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) 293 .Pd Wasis. M. instrumen penilain diri. Peserta yang hadir Prof. Namun demikian. M.Pd Kulsum. instrumen yang telah disusun tersebut masih memerlukan fiksasi dari ahli-ahli pengukuran.Pd Mansur. M. target dari seminar ini adalah untuk melakukan fiksasi terhadap instrumen penilaian seni lukis anak yang terdiri dari instrumen penilaian proses dan produk. M.Pd Sujiatno. M. B. Latar belakang Berdasarkan hasil yang diperoleh dari FGD tahap I.

Sofyan Salam. misalnya sebagai berikut: • Sangat baik jika ketiga kriteria terpenuhi • Baik jika hanya dua kriteria yang terpenuhi • Kurang jika hanya satu yang terpenuhi • Sangat kurang jika tidak ada satu pun kriteria yang terpenuhi Suratno.00-08. Deskripsi pelaksanaan Seminar dilaksanakan pada tanggal 16 April 2008 bertempat di Ruang Diskusi Mahasiswa Program Pascasarjana UNY.Pd Suatu instrumen harus disusun sesederhana mungkin tetapi mewakili apa yang ingin kita ketahui dengan instrumen itu. Ph.30-08.15 Aktivitas Pembukaan mengutarakan maksud dan tujuan seminar diikuti dengan perkenalan peserta yang hadir Presentasi pengenalan topik yang akan dibahas yaitu instrumen penilaian proses dan produk. M. kita tidak harus menggunakan sistem hierarkis artinya dari atas kebawahtetapi bebas kriteria yang terpenuhi Harun.30 08.15 10.Pd Penentuan level dilakukan berdasarkan banyaknya keterpenuhan kriteria.Pd Dalam menentukan level dengan cara menentukan banyaknya kriteria yang dipenuhi.40 E. Adapun kronologis pelaksanaan seminar tersebut disajikan pada tabel berkut: Waktu 08. M. M.15-10.Lampiran 4 D.15-09. Heri Retnowati Penentuan level dilakukan dengan menentukan banyaknya kriteria yang dipenuhi. Oleh karena itu.30 10.15 09.30-10. dan instrumen penilaian kelompok Diskusi sesi 1 untuk fiksasi instrumen penilaian proses dan produk Diskusi sesi 2 untuk fiksasi instrumen penilaian diri dan kelompok Penyimpulan dan penyampaian hasil diskusi Penutupan dengan doa bersama 08. instrumen penilaian diri. Masukan peserta yang hadir Sesi 1 Pertanyaan Masukan peserta Berapa persenkah bobot untuk penilaian proses dan produk Prof. 294 .D Kata-kata sangat atau segera dihilangkan karena indikator yang menyatakan sangat atau segera sangat sulit ditentukan Dr. dengan demikian setiap level mengandung kriteria yang sama hanya tingkat keterpenuhannya yang berbeda Mansur.15-10.

tetapi dapat diacak Dengan tidak memberlakukannya sistem hierarkis. 295 .Pd Sujiatno. sebuah angket perlu juga memperhatikan desainnya seperti identitas siswa hal ini dimaksudkan agar pengisian angket tidak dilakukan serta merta. M.Pd Sesi 2 Pertanyaan Masukan peserta Apakah indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak Prof. M. M. Ph. senang berwarna hijau. netral berwarna kuning.Pd Selain dari segi konten.D Penggunaan gambar pada sebuah angket merupakan sesuatu yang baru dan menarik serta mudah digunakan siswa Dr. Harun. perlu juga ditambahkan adanya soal yang berbentuk uraian agar siswa dapat lebih mengekspresikan perasaanya Suratno.Pd Soal berbentuk uraian cukup diberikan satu soal karena untuk menghindari kejenuhan siswa dalam menuliskan ungkapan ekspresinya Mansur. M.Pd Instrumen penilaian yang dikombinasikan dengan gambar merupakan sesuatu yang baru dan menarik. M.Pd Sudiyatno.Pd Wasis. sebaiknya gambar yang dimunculkan diberi aksen warna yang disesuaikan dengan gambar tersebut. Misal marah berwarna merah. M. M. M.Lampiran 4 kriteri ada baiknya dibatasi maksimal terdiri dari tiga buah kata Perlu dilakukan penyederhanaan kata-kata agar lebih mudah untuk digunakan Setiap kriteria tidak menunjukan tingkatan. Kesimpulan Kesimpulan dari seminar ini berupa draft instrumen penilaian seni lukis anak yang siap digunakan.Pd Agar lebih menarik. Kulsum. jadi keterpenuhan kriteria tidak harus dari atas ke bawah atau sebaliknya.Sofyan Salam. Instrumen tersebut akan berdampak pada tingkat keakuratan siswa dalam mengungkapkan perasaanya terkait dengan aktivitas seni rupa yang dilakukan F. Heri Retnowati Disamping adanya soal pilihan ganda. praktisi yaitu guru seni akan lebih mudah dalam menggunakan instrumen ini Penentuan level penilaian dengan metode tingkat keterpenuhan kriteria akan mempermudah guru dan menghemat waktu penggunaanya Endang Sulistyowati.

296 . Teknik dari karya yang dihasilkan Butir 1 2 B. Ketekunan dalam membuat karya Tahap akhir 1. Tanggapan anak tentang tema lukisan yang akan dibuat 2. Kelancaran penuangan ide 2. Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk 4. Kreativitas dari karya yang dihasilkan 2. Pemanfaatan waktu 5. Ekspresi dari karya yang dihasilkan 3. Keberanian menggunakan media 3. Kesiapan bahan dan alat yang akan digunakan untuk melukis Tahap inti 1.3 4 KISI-KISI ANGKET PENILAIAN PROSES DAN PRODUK No A. 1 2 3 4 5 1 2 3 C. Indikator Tahap awal 1.Lampiran 5 KISI-KISI INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” KISI-KISI LEMBAR EVALUASI DIRI No 1 2 3 Indikator Perasaan siswa terhadap tugas yang diberikan Kemampuan siswa dalam mengerjakan tugas Perasaan siswa terhadap karya yang dihasilkan KISI-KISI LEMBAR EVALUASI KELOMPOK No 1 2 3 4 Indikator Kemampuan siswa dalam menggambar objek Kemampuan siswa dalam memilih warna Kebersihan karya Penilaian terhadap lukisan secara keseluruhan Butir 1 2 3 4 Butir 1 2.

Sangat baik perilaku (ekspresi. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik 3. Kurang 1. Tahap Awal No 1 Indikator Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Deskripsi Level Reaksi peserta didik berupa 4. Baik Kriteria Terpenuhi 3 aspek • Menerima • Memahami • Melaksanakan Terpenuhi 2 aspek • Menerima • Memahami • Melaksanakan Terpenuhi 1 aspek • Menerima • Memahami • Melaksanakan Tidak terpenuhi 3 aspek • Menerima • Memahami • Melaksanakan Terpenuhi 3 aspek • Lengkap • Relevan • Siap digunakan Terpenuhi 2 aspek • Lengkap • Relevan • Siap digunakan 2. PROSES PEMBELAJARAN 1.Sangat kurang 2 Kesiapan alat dan bahan Suatu kondisi peserta didik yang 4.Lampiran 5 RUBRIK SKOR RUBRIK SKOR PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. Sangat baik yang akan digunakan sudah siap melakukan tugas untuk melukis dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya 3. Baik 297 .

Baik memvisualisasikan ide tersebut Kriteria Terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Terpenuhi 2 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Terpenuhi 1 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Tidak terpenuhi 3 aspek • Lambat • Tepat • Sesuai dengan media Terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media 2. Sangat baik waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara kualitas ide yang dikembangkan dengan keterampilan untuk 3. Kurang Terpenuhi 1 aspek • Lengkap • Relevan • Siap digunakan Tidak terpenuhi 3 aspek • Lengkap • Relevan • Siap digunakan 1. Tahap Inti No 1 Indikator Kelancaran ide Level penuangan Kondisi peserta didik pada 4.Sangat kurang 2 Keberanian menggunakan media Keberanian menggunakan media 4.Sangat kurang 2. Sangat baik (alat dan bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik 298 . Kurang 1.Lampiran 5 2.

garis.Sangat kurang 4 Ketekunan Kondisi peserta didik untuk 4. Sangat baik unsur. Sangat baik mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguhsungguh 3. Kurang 1. Baik Bersungguh-sungguh . bidang.Lampiran 5 inkonvensional dalam melukis 3. Baik 2. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik. 3. Kurang 1. Baik Terpenuhi 2 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Terpenuhi 1 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Tidak terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Terpenuhi 3 aspek • Berani • Tepat • Artistik Terpenuhi 2 aspek • Berani • Tepat • Artistik Terpenuhi 1 aspek • Berani • Tepat • Artistik Tidak terpenuhi 3 aspek • Berani • Tepat • Artistik • • 299 Sangat bersungguh-sungguh 2. 4.Sangat kurang 3 Keberanian menggunakan unsur bentuk Keberanian menggunakan titik.

Sangat baik untuk 3.Sangat kurang • 5 Pemanfaatan waktu Penggunaan waktu baiknya dilakukan membuat karya lukis sebaik. Kurang • 1.Lampiran 5 2. Kurang 1. Kurang 300 .Sangat kurang B. PRODUK No Indikator 1 Kreativitas • • Karya selesai tepat waktu Karya hampir selesai saat waktu berakhir Karya tidak selesai saat waktu berakhir • Tidak bersungguh-sungguh Kurang bersungguh-sungguh Karya selesai sebelum waktu berakhir Level Keaslian bentuk (kemampuan 4. Baik Kriteria Terpenuhi 3 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Terpenuhi 2 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Terpenuhi 1 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya 2. kebaruan teknik dan konsep cerita 3.4. Sangat baik menciptakan bentuk yang khas). Baik • 2.

Lampiran 5 1.Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Terpenuhi 3 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Terpenuhi 2 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Terpenuhi 1 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Tidak terpenuhi 3 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Terpenuhi 3 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Terpenuhi 2 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih 2. kualitas cara penggambaran. Sangat baik mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema 3. serta kebersihan karya yang dihasilkan 3. Ekspresi Kejelasan dalam 4.Sangat kurang 3 Teknik Kemampuan menggunakan alat 4. Kurang 1. Sangat baik dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya. Baik 2. Baik 301 .

Sangat kurang 302 .Lampiran 5 2. Kurang Terpenuhi 1 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Tidak terpenuhi 3 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih 1.

..................... Kreativitas dari karya yang dihasilkan 2........................................ Ekspresi dari karya yang dihasilkan 3....2 Tahap inti 1.................... Kelancaran penuangan ide 2............... ....................................... Tanggapan anak tentang tema lukisan yang akan dibuat 2........ Keberanian menggunakan media 3......1 Proses Tahap awal Baik (3) Kurang (2) Sangat kurang (1) 1. Pemanfaatan waktu 5............... 303 ............................ Teknik dari karya yang dihasilkan Catatan: ....................Lampiran 5 ANGKET PENILAIAN PROSES DAN PRODUK ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ANAK” Nama siswa : KODE G02 Kelas/semester : Nama tugas Tanggal Nama penilai : : : Berilah tanda v pada kolom yang sesuai dengan pilihan anda! No Indikator Sangat baik (4) A A......................................... Kesiapan bahan dan alat yang akan digunakan untuk melukis A................. Keberanian menggunakan unsurunsur bentuk 4............... Ketekunan dalam membuat karya B Produk 1......

.... 304 ............... KODE S01 2................................ dalam proses penciptaan karya saya 4................................................................................. Saya .Lampiran 5 LEMBAR PENILAIAN DIRI ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ANAK” Nama : Tanggal : Nama tugas : Tanggal pengumpulan : Berilah tanda v pada kotak yang dipilih! 1........................terhadap tugas yang diberikan......................................... .......... .............................. Saya.................................. 3..........terhadap hasil pekerjaan saya..................... dalam mengerjakan tugas... Saya ........................... Ceritakanlah pengalaman menarikmu serta kendala-kendala yang dihadapi selama pembuatan karya lukis serta usaha-usaha untuk mengatasi kendala-kendala tersebut ! ............................................................................................................................... Saya................

.......................... KODE S02 2..............................................terhadap bentuk objek lukisan................ Berilah saran dan pendapatmu terhadap karya lukis yang dibuat! ........................................ ........................... Saya………………….. Nama penilai: 305 .... Saya ..........................Lampiran 5 LEMBAR PENILAIAN KELOMPOK (Peer Assessment) ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ANAK” Nama pemilik : Tanggal : Nama tugas : Tanggal pengumpulan : Berilah tanda v pada kotak yang dipilih! 1...........................terhadap kebersihan lukisan 4....................... ................... 3.................................................................. Saya…………………terhadap lukisan secara keseluruhan....................................................... Saya …………………terhadap komposisi warna yang digunakan...........

 Farid Abdurrahman        Sutarno  1  3  3  4  4  3  4  3  3  2  4  3  4  4  4  4  3  3  3  4  3  4  1  4  3  3  4  4  3  4  4  2  2  4  4  3  3  4  4  2  4  4  4  2  4  4  4  4  4  4  4  4  2  4  4  4  4  4  4  4  4  2  2  4  4  3  4  2  3  2  4  4  4  4  3  4  4  3  1  4  3  4  4  2  3  3  3  4  3  4  4  2  2  4  4  4  3  4  4  3  3  4  4  2  2  4  4  4  4  4  4  4  2  4  4  3  3  3  3  2  4  2  3  4  4  2  4  2  2  2  3  3  3  4  3  4  3  2  3  3  2  3  3  3  3  3  4  4  3  3  4  2  2  4  4  3  3  3  4  3  4  4  3  3  3  4  4  3  4  4  4  4  4  4  3  3  4  3  4  3  4  1  3  4  4  3  4  2  3  2  3  3  4  4  3  3  3  2  3  3  3  3  3  3  2  3  4  4  4  4  4  2  2  4  4  3  2  4  3  3  4  4  3  3  4  4  4  3  4  4  3  4  3  4  3  3  4  3  4  2  4  1  2  4  4  2  4  2  3  1  2  3  3  4  3  3  2  2  3  4  1  3  2  2  2  3  4  4  4  3  4  2  2  4  4  3  2  4  3  4  4  4  3  3  3  3  4  3  4  4  3  4  2  4  3  3  4  3  4  4  4                  Udawati  2  3  4  4  2  4  2  2  2  3  3  3  4  3  4  2  2  3  3  3  3  3  3  3  3  4  4  3  3  4  2  2  4  3  3  3  3  3  3  4  4  3  3  3  4  4  4  4  4  4  4  4  4  3  3  3  3  4  3  4  1  3  4  4  3  4  2  3  2  3  4  3  4  3  3  3  2  3  3  3  3  3  3  2  3  4  4  4  4  4  2  3  4  3  3  3  4  3  3  4  4  3  3  4  4  4  3  4  4  3  4  3  4  3  3  3  3  3  2  4  1  2  4  4  2  4  2  3  1  3  3  3  4  3  3  3  2  3  3  1  3  2  2  2  3  3  4  4  3  4  2  2  4  2  3  3  4  3  4  4  4  3  3  3  3  4  4  4  4  3  4  2  4  3  3  3  3  4  3  4  2  3  2  4  3  2  3  3  3  4  2  3  4  3  3  2  3  4  2  3  2  2  4  3  3  3  4  3  3  4  2  3  3  3  3  3  4  3  4  4  4  3  3  3  4  4  3  4  3  3  4  2  4  4  3  4  4  4  2  4              Dodi  1  3  3  4  3  4  2  3  2  2  3  3  4  4  4  3  2  3  3  3  3  3  3  2  3  4  4  4  4  4  2  2  4  4  3  3  3  4  3  4  4  3  3  4  4  4  3  4  4  3  4  3  4  3  3  3  4  4  3  4  1  2  3  4  2  4  2  3  1  2  3  3  4  4  4  3  2  3  2  3  3  2  2  2  3  4  4  4  3  4  2  2  4  4  3  4  3  4  4  3  4  3  3  3  3  4  3  4  4  3  4  2  4  3  3  3  3  3  3  4      2  3  4  5  6  7  1  2  3  4  5  6  7  1  2  3  4  5  6  7  2  3  4  4  3  4  3  3  3  3  3  3  4  3  3  3  3  4  4  3  2  2  4  3  3  3  4  3  3  4  2  3  3  3  3  3  4  4  4  4  4  3  3  3  4  4  3  4  4  3  4  2  4  4  3  4  4  4  2  4  1  2  2  2  1  2  1  1  2  2  2  2  4  2  2  2  3  3  3  3  3  3  3  3  4  4  3  4  4  4  2  3  3  3  4  3  3  4  4  4  4  4  4  4  4  4  4  4  4  3  4  2  4  4  4  3  3  4  3  4  3  3  4  4  3  4  3  3  2  2  3  3  4  2  4  2  3  3  3  3  4  1  4  3  3  4  4  3  4  4  2  2  4  3  3  3  4  3  2  4  4  4  2  4  4  4  3  4  4  4  4  2  4  4  4  3  4  4  3  4  2  2  4  4  3  4  2  3  2  3  3  3  4  3  3  3  3  1  3  3  4  4  2  3  3  3  4  3  4  4  2  2  4  3  4  3  4  3  3  3  4  4  2  2  4  4  3  4  4  4  4  2  4  4  3  3  4  2  2  4  1  2  3  2  1  4  1  1  2  3  3  3  4  3  4  3  3  3  3  2  3  3  3  3  4  4  3  3  4  4  2  3  3  3  4  3  3  3  4  4  4  4  4  4  4  4  3  4  4  3  4  2  4  4  4  4  4  4  2  4  3  3  3  4  3  4  3  3  2  1  1  2  4  4  4  3  3  3  1  1  4  1  4  3  3  4  4  3  4  4  2  2  4  4  3  3  4  3  2  4  4  4  2  4  4  4  3  4  4  4  4  2  4  4  4  4  4  4  3  4  2  2  3  4  3  4  2  3  2  3  3  3  4  4  4  3  3  1  3  3  4  4  2  3  3  3  4  3  4  4  2  2  4  4  4  4  4  4  3  4  4  4  2  2  4  4  4  4  4  4  4  2  4  4  3  4  4  2  2  4  2  3  4  4  2  4  2  2  2  2  3  3  4  4  4  3  2  3  3  3  3  3  3  3  3  4  4  3  3  4  2  2  4  4  3  4  4  4  3  4  4  3  3  3  4  4  3  4  4  4  4  4  4  3  3  4  4  4  4  4  2  3  3  4  3  4  3  3  3  4  2  2  4  3  3  2  3  4  2  3  2  2  4  3  3  4  4  4  3  4  2  3  3  4  3  3  4  3  4  4  4  3  3  3  4  4  2  4  4  3  4  2  4  4  3  4  4  4  1  4  1  2  3  2  1  2  1  1  2  2  3  2  4  4  4  3  3  3  3  3  3  3  3  3  4  4  3  3  4  4  2  3  3  4  4  3  4  3  4  4  4  4  4  4  4  4  3  4  4  3  4  2  4  4  4  4  4  4  2  4  Muhammad Roofi'l A  Nida Salma Hajaroh  Nurfitri Andani  Ragil Saputro Mujiono  Rif'atul Widaan Khotibin Tamhid  Royhan Ikbar  Sekar Cendana Arum  Nadila Fatimatuzzahra A.Lutfi Mahendra  M.Naufal Rizqita  Rayhan Adikusuma  Rizky Dafa P  Aqlia Tsalisa Azmani  Ashylla Paramadanti  Cahyaningtyas Iftitah  Chairunnisa Yulia W  Dyah Pradina P  Dyah Sekar Ayu K  Fahra Prahastanti P  Hana Fazah Nur S  Keisha Amadea  Nabila Permata Sari  Nur Azizah  Ranita Salsabila  Ria Rahma Sukma W  Septiana Tidar  Andika Bagas  Andi Maulana  Ade Itko M  Anindita Dara L  David Revaru  Vebrian Agung W  Kurniawan Dwi Y  M.  Malaghina Kusuma H  Rio Satya Fauzi  Freddy PP  Siti Aziroh Rahmatika  Shella Kumalasari  Shelli Puspitasari  Sugiharto.  Amelia Noor Putri M  Artantri Widasari  Chatarine Dyela Eillen R  Dicky Armayuda  Eridani Kartiko Adi  Gatot Ismail  Gufron Gilang Zahru Saputra  Indah Budi Kartikarini  Insan Fadilah Harvianto  Ismalia Ramadhani Putri  M.B. Dava Surya Abi Y.Lampiran 6 Data Penilaian Proses Kelas I  Nama  Ade Firmansyah  Daffa Malik Falaq  Deandra Visto D  M.A.N  Siska Tri W  Yacinta Nararia S  Karizma Putri R  Salwa Sauzan R  Alfia Rahma De  Anissa N.M  306 .

Tsani Ihsani Y Muh.Zauhar Nanda Naya P.Lampiran 6 Data Penilaian Proses Kelas II Nama Afkar Zaka Y Alif Fahmi Mahendra Azka Hikam Z M.W Pradipta Wisnu Timur Dwi Indraja Agni Vasha Salsabila Alvira Niryana Aulia Astagina Dhiyaurrohmah Kamila Muyasaroh Melinia Debbytasari Noor Diana Arrasyid Oktaviana Rahindra Shafa Nabilla Haya Sheila Alfauziya P Yuliana Zahrajuncta Lusiana Martini Amelia Prisca Brigita Anggun Pratiwi Anisa Nur Rahmah Arviananda Ade H Bintang Nugrahani Galang Permataputra Galuh Intisari Muh. Abdul Gani Sarining Hanggani Kasih Teddy Arfansyah N Yuliana Larasari Dikta Wahyu Pratama Awang Pramono Isla Magda S Joko Bagus B Novia Permatasari Kusuma Nuraini Yulia Catur Wulandari Ikhsan Panji Irawan A'Issyatun Wahyu Ningsih Ainun Amaliya Paramita Arini Dewi Nuraini Chusnunnisa Suryanudin Ummu Habibah Halida Salsabila Hasna Maretta Sausana Hasna Ulfiaa Humairoh Rosida Akhir Khilmi Khayatun Nisha Kiki Dwi Widyasari Lutfina Aribah Miftakhurrohmah Nafisa Ainurrahmah Novryan Armawida Rizki Putri Utami Salman Kurnia Haq Sinta Primadita Siti Maryam S Wakhid Hasyim Sutarno 1 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 4 3 3 3 4 4 3 4 4 3 2 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 Udawati 6 4 4 2 4 2 2 3 3 4 4 3 3 4 3 4 4 4 4 4 3 2 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 3 4 2 3 4 4 4 3 3 4 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 2 4 4 Dodi 6 4 4 3 4 4 2 3 2 2 3 2 3 4 3 4 4 4 3 2 2 2 3 4 4 3 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 2 4 3 3 2 3 4 4 3 3 3 4 2 3 3 3 4 4 4 4 3 3 2 4 4 2 3 4 3 1 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 2 3 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 3 4 4 3 4 4 4 2 3 4 4 4 3 4 4 2 2 2 2 4 2 4 4 3 3 4 3 3 4 4 2 3 4 3 4 3 3 3 4 4 4 4 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 3 4 3 2 3 3 4 3 4 3 3 4 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 4 4 4 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 4 3 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 4 4 2 3 3 5 3 4 3 4 4 4 2 2 3 4 4 3 2 4 4 4 4 4 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 4 3 3 4 4 4 3 3 3 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 2 3 4 7 3 3 3 3 4 4 1 2 2 2 3 2 2 2 2 4 4 4 3 2 4 4 4 4 3 4 2 3 3 3 4 4 4 4 4 2 4 3 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 2 4 4 1 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 2 3 3 4 4 3 3 3 3 4 3 4 3 4 3 3 4 3 3 4 3 4 4 4 4 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 3 3 2 4 4 2 3 4 3 1 4 4 3 3 3 4 4 3 4 3 2 4 3 4 2 3 2 3 3 4 4 4 3 4 3 4 3 4 3 4 3 2 4 3 3 4 3 4 4 3 2 3 4 3 4 3 3 4 2 2 2 2 3 2 4 4 3 3 4 3 3 2 4 2 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 2 3 3 4 4 3 4 3 4 4 3 4 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 4 2 3 2 3 4 4 4 3 4 3 2 3 3 4 3 4 2 3 4 4 3 3 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 4 4 4 3 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 3 2 3 3 5 3 4 3 4 4 4 2 2 3 4 3 3 2 3 4 4 4 3 2 3 2 3 4 3 4 3 2 4 3 4 3 3 3 4 3 2 4 2 2 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 2 3 4 4 3 3 3 3 2 4 4 7 3 3 3 3 4 4 1 3 4 3 3 3 2 4 4 4 4 3 2 3 4 4 4 4 3 2 4 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 3 3 3 3 4 4 3 3 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 2 3 4 1 3 4 3 3 2 4 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 3 3 4 3 3 4 3 4 4 4 4 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 3 4 2 4 4 2 3 4 3 1 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 3 4 4 3 4 4 4 2 3 4 4 4 4 4 4 2 2 2 2 4 2 4 4 3 3 4 2 3 4 2 2 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 4 2 3 2 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 3 2 3 3 5 3 3 3 4 4 4 2 2 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 4 4 2 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 4 4 3 2 4 4 6 4 4 3 4 4 4 3 2 3 3 4 3 4 3 4 4 3 4 4 3 2 3 4 4 3 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 2 4 3 3 2 3 4 4 4 3 3 4 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 2 4 4 7 3 4 3 3 4 4 1 3 4 4 4 4 2 4 2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 2 4 3 4 3 3 4 4 4 3 3 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 2 3 4 307 . Aqib Husni Fadhli Muh.

Ibrahim  M.Fauzan  M.Lampiran 6 Data Penilaian Proses Kelas III  Nama  Alwi Izha Farandi  David Aldi Saputra  Laode Aldifan  M.Farizi Gustaf  M.Zulfikar  Muqni Aqsoinna  Suryatama Gallang  Aulia Rizki  Dini Puspo  Elfira Ciptaningtyas  Elma Damarista  Fadhila Khoirunisa  Inna Salma Fahman  Khanifah Noor  Nur Amalia Andini  Ratu Yeremenia S  Syifa Azizah  Ade Yoga Endy S  Bekti Rachmawati  Maria Sri Adiningsih  Novianto Adi Saputra  Wahyu Praktika D  Yunina Dea J  Bilqies Amalia A  Nova Puspitasari  Anggita Wulandari  Anjas Deva Felano  Eria Putri Pratiwi  Fitriyani  Ika Purwaningsih  Ilham Yusril Munawar  Massayu Seilla Annisa  Musriati  Rivan Pandu Adi Winata  Muh.Afdan Nurul Hilman  M. Miftahul Firdaus  Anggi Dwina Siregar  Rusmini  Afiana Nurkholishotus Shohibah  Andi Rahmat Wulansyah  Eka Yuliani  Fegi Tri Damayanti  Fitri Nurul Hanifah  Imam Zuhdi  Inna Rahmatul Ulya  Jalu Ukir Damatama  Hilda Ayu Wibisana  Ninggih Annisa Daniswara  Pilar Paksi Pratama  Rafli Khooinurizal  Rapsanjani  Riswa Rahman Fahmi  Rivani Rahmania Afifah  Rizki Nur Chaerani  Rizqi Haritz Pebiantara  Zanityara Syah Syadila  Zetta Nillawati Reyka Putri  Nurul Arifah        Sutarno  2  3  3  4  4  3  3  3  4  4  3  4  4  4  4  3  3  3  3  3  2  3  3  3  3  4  3  4  4  3  4  2  4  3  4  4  4  4  3  3  4  3  2  3  4  4  4  4  3  3  4  4  3  2  4  3  4  4  4  4  2  4  3  4  4  3  3  3  3  4  3  4  4  4  4  4  4  2  4  4  2  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  2  4  3  4  4  3  3  4  3  4  4  4  4  4  4  3  3  3  3  4  3  2  2  3  4  4  4  4  4  3  3  3  4  4  1  3  3  4  4  3  3  4  4  4  3  3  3  3  3  2  2  2  3  3  4  3  3  3  3  3  2  4  3  3  3  4  4  3  3  4  3  3  3  4  3  3  4  3  4  3  3  3  2  4  3  4  3  3  3  2  3  3  4  4  2  3  3  4  3  4  4  4  4  4  3  3  3  4  3  2  2  3  3  3  4  3  3  3  4  4  2  3  3  3  3  4  4  3  4  3  3  3  3  4  3  3  4  2  4  3  3  3  2  3  2  4  3  3  2  1  3  3  4  4  2  2  2  4  3  3  4  4  3  4  3  3  3  3  3  2  2  3  3  3  4  3  3  3  4  4  2  4  3  4  3  4  4  3  4  4  3  3  3  4  3  3  4  2  4  3  4  3  2  3  2  4  3  3  2  3  3  3  4  4  4  3  3  3  3  3  3  4  3  3  3  3  3  4  3  4  2  3  2  3  4  3  4  4  4  4  2  4  2  3  3  4  3  3  3  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  3  4  3  2  3  4  4  2  3  3                Udawati  3  3  3  4  4  3  3  3  3  4  3  3  4  4  4  3  3  3  3  3  2  2  2  3  3  4  3  3  3  2  4  2  3  3  3  3  4  4  3  3  4  4  3  3  4  3  3  4  3  4  3  3  3  2  3  3  4  3  3  3  2  3  3  4  4  3  3  3  3  3  3  4  4  4  4  3  3  3  4  3  2  2  3  3  3  4  3  3  3  3  4  2  3  3  3  3  3  4  3  4  4  3  3  3  4  3  3  4  2  4  3  3  3  2  3  3  3  3  3  2  1  3  3  4  4  3  3  3  3  4  3  4  4  3  4  3  3  3  3  3  2  2  3  3  3  4  3  4  3  2  4  2  3  3  4  2  4  4  3  4  4  3  3  3  4  3  3  4  2  4  3  4  2  2  3  3  3  3  3  2  3  3  3  4  4  4  3  3  3  3  3  3  4  3  3  3  3  3  4  3  4  2  3  2  3  4  4  4  4  3  4  2  3  2  3  4  4  3  3  3  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  3  4  3  2  3  3  4  2  3  3              Dodi  2  3  3  4  4  3  3  3  3  4  2  2  4  4  4  4  3  3  4  3  2  2  3  3  3  4  3  4  3  3  4  2  3  3  3  3  3  4  3  4  4  3  3  3  4  4  3  4  2  4  3  3  2  2  2  3  4  3  3  2  1  3  3  4  4  3  3  3  3  4  2  2  4  3  4  4  3  3  3  3  2  2  3  3  3  4  3  4  3  2  4  2  3  3  4  3  3  4  3  4  4  4  3  3  4  4  3  4  2  4  3  4  2  2  2  2  4  3  2  2      1  2  3  4  5  6  7  1  2  3  4  5  6  7  1  2  3  4  5  6  7  3  3  4  4  4  1  3  3  4  4  4  4  4  4  4  4  3  2  3  3  3  3  3  3  3  4  4  4  3  3  4  2  4  3  4  4  4  4  4  4  4  4  4  3  4  3  4  4  3  4  3  4  3  2  4  3  4  3  4  4  2  4  3  4  4  4  3  3  4  4  3  4  4  4  4  3  3  2  3  3  2  3  3  3  3  4  3  3  3  3  3  2  3  3  4  3  2  4  3  3  3  3  2  3  4  3  4  4  3  3  4  4  3  2  3  3  4  4  3  4  2  3  3  4  4  4  3  4  3  4  3  4  4  4  4  4  4  2  4  4  2  3  3  3  3  4  3  3  3  3  3  2  3  3  4  3  3  3  4  3  3  4  4  4  4  4  3  3  3  3  4  3  2  2  3  3  3  4  3  4  3  3  4  4  4  4  3  3  4  3  3  4  4  4  4  4  3  3  3  3  3  3  3  3  3  4  3  3  3  3  4  2  3  3  4  3  4  4  4  4  4  3  4  3  4  4  4  4  3  4  3  4  3  2  4  3  4  3  4  4  2  3  3  4  4  4  3  3  4  4  1  1  4  4  4  4  3  2  3  3  2  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  2  3  3  4  3  3  4  3  3  4  3  3  3  4  4  4  4  3  3  4  4  3  2  3  3  3  4  3  4  2  4  4  4  4  4  4  3  4  4  1  3  4  4  4  4  4  2  4  4  2  3  3  3  3  4  4  4  4  4  4  2  4  4  4  4  4  3  4  3  4  4  4  4  4  4  3  3  3  3  4  3  2  2  4  4  4  4  4  4  3  3  3  4  4  4  3  3  4  4  2  2  4  4  3  4  3  3  3  3  2  2  2  3  3  4  3  4  3  3  4  2  3  3  3  3  4  4  3  3  4  4  3  3  4  4  3  4  3  4  3  3  3  2  3  3  4  3  3  3  3  3  3  4  4  3  4  3  3  4  3  3  4  3  4  3  3  3  4  3  4  2  3  2  3  4  3  4  3  3  4  2  3  2  3  3  4  3  3  3  4  2  3  3  4  4  4  3  3  4  3  4  2  2  2  3  3  2  3  3  3  3  3  4  4  3  4  3  4  2  2  2  4  4  4  4  3  3  3  3  3  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  2  3  2  4  3  4  4  4  4  4  3  3  3  4  4  4  4  3  4  3  4  3  2  3  3  4  3  3  4  308 .

A.B.Lampiran 6 Data Penilain Produk Kelas I Nama Ade Firmansyah Daffa Malik Falaq Deandra Visto D M. Malaghina Kusuma H Rio Satya Fauzi Freddy PP Siti Aziroh Rahmatika Shella Kumalasari Shelli Puspitasari Sugiharto.Lutfi Mahendra M.N Siska Tri W Yacinta Nararia S Karizma Putri R Salwa Sauzan R Alfia Rahma De Anissa N.M Sutarno 1 4 1 2 4 4 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 2 3 3 3 4 3 1 2 4 2 4 3 4 4 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 4 4 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 2 2 3 2 3 2 3 2 4 3 2 2 3 1 3 4 2 2 3 2 1 3 4 3 3 2 4 4 3 4 2 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 3 3 2 4 3 4 4 Udawaty 1 4 1 2 4 4 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 2 3 3 3 4 3 1 2 4 2 4 3 4 4 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 4 4 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 2 2 3 2 3 2 3 2 4 3 2 2 3 1 3 4 2 2 3 2 1 3 4 3 3 2 4 4 3 4 2 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 3 3 2 4 3 4 4 1 Dodi 2 4 1 2 4 4 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 2 3 3 3 4 3 1 4 2 4 3 4 4 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 4 4 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 2 2 3 2 3 2 3 2 4 3 2 2 3 1 3 4 2 2 3 2 1 3 4 3 3 2 4 4 3 4 2 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 3 3 2 4 3 4 4 309 . Dava Surya Abi Y.Naufal Rizqita Rayhan Adikusuma Rizky Dafa P Aqlia Tsalisa Azmani Ashylla Paramadanti Cahyaningtyas Iftitah Chairunnisa Yulia W Dyah Pradina P Dyah Sekar Ayu K Fahra Prahastanti P Hana Fazah Nur S Keisha Amadea Nabila Permata Sari Nur Azizah Ranita Salsabila Ria Rahma Sukma W Septiana Tidar Andika Bagas Andi Maulana Ade Itko M Anindita Dara L David Revaru Vebrian Agung W Kurniawan Dwi Y M. Amelia Noor Putri M Artantri Widasari Chatarine Dyela Eillen R Dicky Armayuda Eridani Kartiko Adi Gatot Ismail Gufron Gilang Zahru Saputra Indah Budi Kartikarini Insan Fadilah Harvianto Ismalia Ramadhani Putri Muhammad Farid Abdurrahman Muhammad Roofi'l Adiyatma Nida Salma Hajaroh Nurfitri Andani Ragil Saputro Mujiono Rif'atul Widaan Khotibin Tamhid Royhan Ikbar Sekar Cendana Arum Nadila Fatimatuzzahra A.

W Pradipta Wisnu Timur Dwi Indraja Agni Vasha Salsabila Alvira Niryana Aulia Astagina Dhiyaurrohmah Kamila Muyasaroh Melinia Debbytasari Noor Diana Arrasyid Oktaviana Rahindra Shafa Nabilla Haya Sheila Alfauziya P Yuliana Zahrajuncta Lusiana Martini Amelia Prisca Brigita Anggun Pratiwi Anisa Nur Rahmah Arviananda Ade H Bintang Nugrahani Galang Permataputra Galuh Intisari Muh.Lampiran 6 Data Penilain Produk Kelas II Nama Afkar Zaka Y Alif Fahmi Mahendra Azka Hikam Z M.Zauhar Nanda Naya P. Aqib Husni Fadhli Muh. Tsani Ihsani Y Muh. Abdul Gani Sarining Hanggani Kasih Teddy Arfansyah N Yuliana Larasari Dikta Wahyu Pratama Awang Pramono Isla Magda S Joko Bagus B Novia Permatasari Kusuma Nuraini Yulia Catur Wulandari Ikhsan Panji Irawan A'Issyatun Wahyu Ningsih Ainun Amaliya Paramita Arini Dewi Nuraini Chusnunnisa Suryanudin Ummu Habibah Halida Salsabila Hasna Maretta Sausana Hasna Ulfiaa Humairoh Rosida Akhir Khilmi Khayatun Nisha Kiki Dwi Widyasari Lutfina Aribah Miftakhurrohmah Nafisa Ainurrahmah Novryan Armawida Rizki Putri Utami Salman Kurnia Haq Sinta Primadita Siti Maryam S Wakhid Hasyim 1 4 2 1 3 4 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 3 2 4 4 4 2 4 4 3 4 2 3 4 2 3 2 3 3 3 2 3 3 4 4 1 4 4 2 3 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 2 3 1 Sutarno 2 3 3 3 3 3 2 2 4 2 3 2 2 3 2 1 4 4 2 2 3 4 3 3 4 1 4 4 2 4 1 3 3 1 3 4 3 3 1 2 2 2 3 4 3 3 3 4 4 2 4 4 3 3 4 4 2 4 4 4 2 3 3 4 3 4 1 3 3 3 4 1 2 3 1 4 2 2 4 4 3 4 3 3 3 4 3 2 2 2 1 3 2 2 3 4 3 2 1 2 4 3 3 4 4 4 2 4 2 4 4 3 4 2 4 3 2 4 2 4 4 4 Udawaty 1 4 2 1 3 4 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 3 2 4 4 4 2 4 4 3 4 2 3 4 4 3 2 3 3 3 2 3 3 4 4 1 4 4 2 3 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 2 3 1 2 3 3 3 3 3 2 2 4 2 3 2 2 3 2 1 4 4 2 2 3 4 3 3 4 1 4 4 2 4 1 3 2 1 3 4 3 3 1 2 2 2 3 4 3 3 3 4 4 2 4 4 3 3 4 4 2 4 4 4 2 3 3 4 3 4 1 4 3 3 4 1 2 3 1 4 2 2 4 4 3 4 3 3 3 4 3 4 2 2 1 3 2 3 3 4 3 2 1 2 4 3 3 4 4 4 2 4 2 4 4 3 4 2 4 3 2 4 2 4 4 4 1 Dodi 2 4 2 1 3 4 3 3 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 3 2 4 4 4 2 4 4 3 4 2 3 4 2 3 2 3 3 3 2 3 3 4 4 1 4 4 2 3 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 2 3 1 3 3 3 3 3 2 2 4 2 3 2 2 3 2 1 4 4 2 2 3 4 3 3 4 1 4 4 2 4 1 3 4 1 3 4 3 3 1 2 2 2 3 4 3 3 3 4 4 2 4 4 3 3 4 4 2 4 4 4 2 3 3 4 3 4 1 4 3 3 4 1 2 3 1 4 2 2 4 4 3 4 3 3 3 4 3 2 2 2 1 3 2 3 3 4 3 2 1 2 4 3 3 4 4 4 2 4 2 4 4 3 4 2 4 3 2 4 2 4 4 4 310 .

Fauzan M.Afdan Nurul Hilman M.Lampiran 6 Data Penilain Produk Kelas III Nama Alwi Izha Farandi David Aldi Saputra Laode Aldifan M.Zulfikar Muqni Aqsoinna Suryatama Gallang Aulia Rizki Dini Puspo Elfira Ciptaningtyas Elma Damarista Fadhila Khoirunisa Inna Salma Fahman Khanifah Noor Nur Amalia Andini Ratu Yeremenia S Syifa Azizah Ade Yoga Endy S Bekti Rachmawati Maria Sri Adiningsih Wahyu Praktika D Yunina Dea J Bilqies Amalia A Nova Puspitasari Anggita Wulandari Anjas Deva Felano Eria Putri Pratiwi Fitriyani Ika Purwaningsih Ilham Yusril Munawar Massayu Seilla Annisa Musriati Novianto Adi Saputra Rivan Pandu Adi Winata Muh. Miftahul Firdaus Anggi Dwina Siregar Rusmini Afiana Nurkholishotus Shohibah Andi Rahmat Wulansyah Eka Yuliani Fegi Tri Damayanti Fitri Nurul Hanifah Imam Zuhdi Inna Rahmatul Ulya Jalu Ukir Damatama Hilda Ayu Wibisana Ninggih Annisa Daniswara Pilar Paksi Pratama Rafli Khooinurizal Rapsanjani Riswa Rahman Fahmi Rivani Rahmania Afifah Rizki Nur Chaerani Rizqi Haritz Pebiantara Zanityara Syah Syadila Zetta Nillawati Reyka Putri Nurul Arifah 1 3 3 1 2 4 2 3 4 2 4 4 3 3 4 1 2 2 3 4 3 2 3 3 3 2 2 4 3 2 3 3 4 1 4 3 2 4 2 3 3 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 4 2 2 1 3 2 2 Sutarno 2 2 3 3 4 3 3 2 3 4 1 3 4 4 3 4 3 1 3 2 2 3 2 3 3 2 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 2 1 4 4 4 4 4 3 2 2 3 3 2 1 2 2 2 4 3 4 3 2 2 3 2 3 1 2 3 3 4 2 2 3 3 2 3 3 3 4 2 4 3 4 4 3 4 1 4 4 4 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 4 4 2 2 2 4 3 2 3 4 4 3 3 2 4 2 3 2 3 3 3 4 3 3 4 Udawaty 1 3 3 1 2 4 2 3 4 2 4 4 3 3 4 1 3 2 3 2 3 2 3 3 3 2 2 4 3 2 3 3 4 1 4 3 2 4 2 3 3 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 4 2 2 1 3 2 2 2 2 3 3 4 3 3 2 3 4 1 3 4 4 3 4 3 1 3 4 2 3 2 3 3 2 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 2 2 4 4 4 4 4 3 2 2 3 3 2 1 2 2 2 4 3 4 3 2 2 3 2 3 1 2 3 3 4 2 2 3 3 2 3 3 3 4 2 4 3 3 2 3 4 1 4 4 4 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 4 1 2 2 2 4 3 2 3 4 4 3 3 2 4 2 3 2 3 3 3 4 3 3 4 1 Dodi 2 3 3 1 2 4 2 3 4 2 4 4 3 3 4 1 2 2 3 4 3 2 3 3 3 2 2 4 3 2 3 3 4 1 4 3 2 4 2 3 3 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 4 2 2 1 2 2 2 2 3 3 4 3 3 2 3 4 1 3 4 4 3 4 3 1 3 2 2 3 2 3 3 2 3 1 3 3 4 4 4 4 4 3 2 2 4 4 4 4 4 3 2 2 3 3 2 1 2 2 2 4 3 4 3 2 3 3 2 3 1 2 3 3 4 2 2 3 3 2 3 3 3 4 3 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 4 4 2 2 2 4 3 2 3 3 4 3 3 2 4 2 3 2 3 3 3 4 3 3 4 311 .Ibrahim M.Farizi Gustaf M.

B.A.M 3 3 2 3 2 3 1 2 2 2 3 3 3 3 1 3 2 2 2 3 3 3 2 3 2 3 2 2 2 3 2 2 2 3 2 2 2 2 1 2 3 3 2 3 2 2 1 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 2 1 1 3 3 2 3 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 1 1 1 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 2 2 3 3 2 3 3 2 3 1 2 3 2 2 2 3 3 1 1 3 3 2 3 2 2 3 3 2 3 2 1 3 3 3 2 3 2 2 1 3 3 1 2 3 1 3 3 2 2 1 1 3 2 3 2 2 3 2 2 3 2 1 1 3 2 3 3 2 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 2 3 2 2 3 3 3 1 3 3 2 1 1 2 2 2 3 3 3 1 2 2 3 2 3 2 2 2 3 2 3 2 2 3 2 3 3 2 2 2 2 2 3 1 2 3 3 2 3 2 2 1 2 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 1 1 2 2 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 2 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 2 1 2 3 3 3 2 1 1 3 3 3 1 3 3 3 2 3 1 2 1 3 2 3 3 3 2 1 1 1 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 2 1 3 3 3 1 2 2 3 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 2 2 3 1 3 3 2 3 2 1 3 2 1 2 2 3 3 2 1 1 1 3 1 1 3 3 3 2 1 3 3 1 3 2 2 3 3 2 1 1 3 3 2 3 3 3 1 3 2 3 3 1 1 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 1 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 2 1 1 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 1 3 3 3 3 3 2 1 1 1 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 1 1 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 312 .Naufal Rizqita Rayhan Adikusuma Rizky Dafa P Aqlia Tsalisa Azmani Ashylla Paramadanti Cahyaningtyas Iftitah Chairunnisa Yulia W Dyah Pradina P Dyah Sekar Ayu K Fahra Prahastanti P Hana Fazah Nur S Keisha Amadea Nabila Permata Sari Nur Azizah Ranita Salsabila Ria Rahma Sukma W Septiana Tidar Andika Bagas Andi Maulana Ade Itko M Anindita Dara L David Revaru Vebrian Agung W Kurniawan Dwi Y M.Lampiran 6 Data Penilaian Kelompok Kelas I Nama Siswa 1 3 2 Sutarno 2 3 1 3 2 2 4 3 3 5 1 1 1 1 2 Udawati 2 3 2 2 1 2 4 2 3 5 1 1 3 3 2 3 1 1 1 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 2 1 2 3 1 2 2 2 1 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 3 3 1 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 1 3 2 2 3 1 Dody 3 4 3 3 2 3 5 1 1 3 3 2 3 1 1 1 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 2 1 1 1 1 3 3 3 1 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 Ade Firmansyah Daffa Malik Falaq Deandra Visto D M. Amelia Noor Putri M Artantri Widasari Chatarine Dyela Eillen R Dicky Armayuda Eridani Kartiko Adi Gatot Ismail Gufron Gilang Zahru Saputra Indah Budi Kartikarini Insan Fadilah Harvianto Ismalia Ramadhani Putri Muhammad Farid Abdurrahman Muhammad Roofi'l Adiyatma Nida Salma Hajaroh Nurfitri Andani Ragil Saputro Mujiono Rif'atul Widaan Khotibin Tamhid Royhan Ikbar Sekar Cendana Arum Nadila Fatimatuzzahra A. Malaghina Kusuma H Rio Satya Fauzi Freddy PP Siti Aziroh Rahmatika Shella Kumalasari Shelli Puspitasari Sugiharto.Lutfi Mahendra M. Dava Surya Abi Y.N Siska Tri W Yacinta Nararia S Karizma Putri R Salwa Sauzan R Alfia Rahma De Anissa N.

Lampiran 6 Data Penilaian Kelompok Kelas II Nama Siswa 1 2 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 1 2 3 2 2 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 Sutarno 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 3 2 2 2 3 1 2 3 2 2 3 2 2 3 3 3 3 3 1 1 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 1 3 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 1 2 3 3 2 2 2 2 2 3 3 3 2 3 3 3 2 2 2 2 2 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 2 1 1 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Udawati 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 1 3 1 3 2 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 2 2 3 2 3 3 2 3 3 1 2 2 3 1 2 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 2 3 3 2 1 1 2 2 1 2 3 3 3 3 2 2 2 1 2 3 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 3 2 2 2 3 1 2 3 2 2 2 3 2 3 2 3 3 3 1 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 2 2 2 2 2 3 3 3 3 1 3 2 2 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 1 2 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Dody 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 3 2 2 3 3 1 2 3 2 2 3 2 2 3 3 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 1 3 3 2 2 3 1 3 1 3 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 Afkar Zaka Y Alif Fahmi Mahendra Azka Hikam Z M. Aqib Husni Fadhli Muh. Tsani Ihsani Y Muh.Zauhar Nanda Naya P.W Pradipta Wisnu Timur Dwi Indraja Agni Vasha Salsabila Alvira Niryana Aulia Astagina Dhiyaurrohmah Kamila Muyasaroh Melinia Debbytasari Noor Diana Arrasyid Oktaviana Rahindra Shafa Nabilla Haya Sheila Alfauziya P Yuliana Zahrajuncta Lusiana Martini Amelia Prisca Brigita Anggun Pratiwi Anisa Nur Rahmah Arviananda Ade H Bintang Nugrahani Galang Permataputra Galuh Intisari Muh. Abdul Gani Sarining Hanggani Kasih Teddy Arfansyah N Yuliana Larasari Dikta Wahyu Pratama Awang Pramono Isla Magda S Joko Bagus B Novia Permatasari Kusuma Nuraini Yulia Catur Wulandari Ikhsan Panji Irawan A'Issyatun Wahyu Ningsih Ainun Amaliya Paramita Arini Dewi Nuraini Chusnunnisa Suryanudin Ummu Habibah Halida Salsabila Hasna Maretta Sausana Hasna Ulfiaa Humairoh Rosida Akhir Khilmi Khayatun Nisha Kiki Dwi Widyasari Lutfina Aribah Miftakhurrohmah Nafisa Ainurrahmah Novryan Armawida Rizki Putri Utami Salman Kurnia Haq Sinta Primadita Siti Maryam S Wakhid Hasyim 3 1 2 3 3 2 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 1 2 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 3 2 2 313 .

Afdan Nurul Hilman M.Lampiran 6 Data Penilaian Kelompok Kelas III Nama Siswa Alwi Izha Farandi David Aldi Saputra Laode Aldifan M.Fauzan M.Zulfikar Muqni Aqsoinna Suryatama Gallang Aulia Rizki Dini Puspo Elfira Ciptaningtyas Elma Damarista Fadhila Khoirunisa Inna Salma Fahman Khanifah Noor Nur Amalia Andini Ratu Yeremenia S Syifa Azizah Ade Yoga Endy S Bekti Rachmawati Maria Sri Adiningsih Novianto Adi Saputra Wahyu Praktika D Yunina Dea J Bilqies Amalia A Nova Puspitasari Anggita Wulandari Anjas Deva Felano Eria Putri Pratiwi Fitriyani Ika Purwaningsih Ilham Yusril Munawar Massayu Seilla Annisa Musriati Rivan Pandu Adi Winata Muh. Miftahul Firdaus Anggi Dwina Siregar Rusmini Afiana Nurkholishotus Shohibah Andi Rahmat Wulansyah Eka Yuliani Fegi Tri Damayanti Fitri Nurul Hanifah Imam Zuhdi Inna Rahmatul Ulya Jalu Ukir Damatama Hilda Ayu Wibisana Ninggih Annisa Daniswara Pilar Paksi Pratama Rafli Khooinurizal Rapsanjani Riswa Rahman Fahmi Rivani Rahmania Afifah Rizki Nur Chaerani Rizqi Haritz Pebiantara Zanityara Syah Syadila Zetta Nillawati Reyka Putri Nurul Arifah 1 3 2 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 2 2 1 2 3 3 3 3 3 2 1 2 3 3 3 2 3 2 1 2 3 3 3 3 3 2 3 2 2 2 3 2 2 2 Sutarno 3 4 2 2 3 2 2 3 3 3 2 1 1 2 2 3 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 1 3 1 3 3 1 2 2 3 3 2 2 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 1 2 3 3 1 3 2 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 1 1 2 2 2 3 2 2 3 1 2 2 3 3 2 5 2 1 3 1 2 3 2 3 2 2 3 1 3 2 2 2 2 2 2 3 2 2 3 1 1 3 3 2 3 3 3 2 3 1 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 1 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 1 3 2 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 3 2 3 1 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 1 3 3 3 3 2 1 2 3 3 3 2 3 2 1 2 3 3 3 3 3 2 3 2 2 2 3 2 2 2 Udawati 3 4 2 2 3 2 2 3 2 3 2 1 1 2 2 3 1 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 3 2 2 2 2 2 2 3 3 1 2 3 3 2 3 1 3 1 3 3 1 2 2 1 2 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 1 2 3 3 1 3 2 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 1 1 2 2 2 3 2 2 3 1 2 2 3 3 2 5 2 1 3 1 2 3 2 3 2 2 3 1 3 2 2 2 2 2 3 2 1 1 1 1 3 3 3 3 1 2 2 2 2 1 3 2 2 3 2 2 3 3 2 2 1 3 3 3 1 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 2 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 2 2 3 2 2 1 2 3 3 3 3 3 3 1 2 3 3 3 2 2 2 1 2 3 3 3 3 2 2 3 2 2 2 3 2 2 2 Dody 3 4 2 2 3 2 2 3 2 3 2 1 1 2 2 3 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 1 3 3 1 2 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 3 1 2 3 3 1 3 2 3 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 2 3 1 1 2 2 2 3 2 2 3 1 2 2 3 3 2 5 2 1 3 1 2 3 2 3 2 2 3 1 3 2 2 2 2 2 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 2 1 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 314 .Ibrahim M.Farizi Gustaf M.

Dava Surya Abi Y.Lutfi Mahendra M.A.M 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 Sutarno 2 3 4 2 2 3 2 1 3 2 3 2 3 2 3 3 2 3 2 3 3 2 2 3 3 1 2 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 2 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 2 1 2 3 2 1 3 2 2 2 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 1 3 3 1 2 2 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 1 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 2 3 1 1 2 2 3 3 1 3 2 2 1 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 5 2 2 3 3 1 2 1 3 1 2 3 3 3 3 2 2 1 1 3 3 3 2 2 3 1 2 3 3 3 2 2 2 3 2 3 2 1 2 3 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 Udawati 2 3 4 2 2 3 2 1 3 2 3 2 3 3 2 2 2 3 2 3 3 2 2 3 3 1 2 2 3 2 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 2 1 2 3 2 1 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 2 2 2 2 1 3 3 1 2 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 3 2 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 2 3 1 1 2 2 3 3 1 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 5 2 2 3 3 2 2 1 3 1 2 3 3 3 3 3 3 1 1 3 2 3 2 2 3 2 1 3 3 3 2 2 2 3 2 2 1 2 2 2 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 2 2 2 3 2 1 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 1 2 2 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 Dodi 3 4 1 2 3 2 1 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 2 2 1 3 3 1 2 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 1 1 2 2 3 3 1 3 1 3 1 3 3 3 3 1 3 3 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 5 2 2 3 3 2 2 1 3 1 2 3 3 3 3 3 1 1 1 3 3 3 2 2 3 1 2 3 3 3 2 2 2 3 2 3 1 1 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 315 . Malaghina Kusuma H Rio Satya Fauzi Freddy PP Siti Aziroh Rahmatika Shella Kumalasari Shelli Puspitasari Sugiharto.N Siska Tri W Yacinta Nararia S Karizma Putri R Salwa Sauzan R Alfia Rahma De Anissa N. Amelia Noor Putri M Artantri Widasari Chatarine Dyela Eillen R Dicky Armayuda Eridani Kartiko Adi Gatot Ismail Gufron Gilang Zahru Saputra Indah Budi Kartikarini Insan Fadilah Harvianto Ismalia Ramadhani Putri Muhammad Farid Abdurrahman Muhammad Roofi'l Adiyatma Nida Salma Hajaroh Nurfitri Andani Ragil Saputro Mujiono Rif'atul Widaan Khotibin Tamhid Royhan Ikbar Sekar Cendana Arum Nadila Fatimatuzzahra A.Lampiran 6 Data Penilaian Diri Kelas I Nama Ade Firmansyah Daffa Malik Falaq Deandra Visto D M.Naufal Rizqita Rayhan Adikusuma Rizky Dafa P Aqlia Tsalisa Azmani Ashylla Paramadanti Cahyaningtyas Iftitah Chairunnisa Yulia W Dyah Pradina P Dyah Sekar Ayu K Fahra Prahastanti P Hana Fazah Nur S Keisha Amadea Nabila Permata Sari Nur Azizah Ranita Salsabila Ria Rahma Sukma W Septiana Tidar Andika Bagas Andi Maulana Ade Itko M Anindita Dara L David Revaru Vebrian Agung W Kurniawan Dwi Y M.B.

Abdul Gani Sarining Hanggani Kasih Teddy Arfansyah N Yuliana Larasari Dikta Wahyu Pratama Awang Pramono Isla Magda S Joko Bagus B Novia Permatasari Kusuma Nuraini Yulia Catur Wulandari Ikhsan Panji Irawan A'Issyatun Wahyu Ningsih Ainun Amaliya Paramita Arini Dewi Nuraini Chusnunnisa Suryanudin Ummu Habibah Halida Salsabila Hasna Maretta Sausana Hasna Ulfiaa Humairoh Rosida Akhir Khilmi Khayatun Nisha Kiki Dwi Widyasari Lutfina Aribah Miftakhurrohmah Nafisa Ainurrahmah Novryan Armawida Rizki Putri Utami Salman Kurnia Haq Sinta Primadita Siti Maryam S Wakhid Hasyim 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Sutarno 2 3 4 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 1 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 1 1 3 3 2 3 2 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 3 1 1 3 3 2 3 2 3 1 3 1 3 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 2 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Udawati 2 3 4 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 1 3 2 3 3 3 3 2 2 2 3 2 1 2 1 3 1 2 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 3 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 2 2 1 3 3 3 3 2 3 1 3 2 2 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 Dodi 3 4 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 1 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 2 3 3 3 2 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 1 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 2 3 1 3 1 3 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 316 .W Pradipta Wisnu Timur Dwi Indraja Agni Vasha Salsabila Alvira Niryana Aulia Astagina Dhiyaurrohmah Kamila Muyasaroh Melinia Debbytasari Noor Diana Arrasyid Oktaviana Rahindra Shafa Nabilla Haya Sheila Alfauziya P Yuliana Zahrajuncta Lusiana Martini Amelia Prisca Brigita Anggun Pratiwi Anisa Nur Rahmah Arviananda Ade H Bintang Nugrahani Galang Permataputra Galuh Intisari Muh.Lampiran 6 Data Penilaian Diri Kelas II Nama 1 Afkar Zaka Y Alif Fahmi Mahendra Azka Hikam Z M.Zauhar Nanda Naya P. Aqib Husni Fadhli Muh. Tsani Ihsani Y Muh.

Farizi Gustaf M.Afdan Nurul Hilman M.Ibrahim M. Miftahul Firdaus Anggi Dwina Siregar Rusmini Afiana Nurkholishotus Shohibah Andi Rahmat Wulansyah Eka Yuliani Fegi Tri Damayanti Fitri Nurul Hanifah Imam Zuhdi Inna Rahmatul Ulya Jalu Ukir Damatama Hilda Ayu Wibisana Ninggih Annisa Daniswara Pilar Paksi Pratama Rafli Khooinurizal Rapsanjani Riswa Rahman Fahmi Rivani Rahmania Afifah Rizki Nur Chaerani Rizqi Haritz Pebiantara Zanityara Syah Syadila Zetta Nillawati Reyka Putri Nurul Arifah 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 Sutarno 2 3 4 2 3 3 3 3 2 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 2 2 2 2 3 3 3 2 3 2 2 3 3 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 2 3 3 2 2 2 2 2 1 3 3 2 2 2 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 5 2 3 3 3 3 1 2 3 3 3 1 1 2 3 3 3 3 2 3 2 2 2 2 2 3 1 1 3 2 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 1 3 3 2 2 1 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 1 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 1 1 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 Udawati 2 3 4 2 3 2 3 3 3 2 3 3 2 1 2 1 3 3 2 1 3 3 3 3 3 2 2 1 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 1 2 3 3 3 2 3 1 3 3 2 2 2 3 2 1 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 2 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 3 3 3 5 2 3 3 3 3 1 2 3 3 3 1 1 2 3 3 3 3 2 2 3 3 2 2 2 2 1 1 3 2 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 1 3 3 2 2 1 3 3 3 1 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 Dodi 2 3 4 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 2 2 1 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 2 3 3 2 2 2 2 2 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 5 2 3 3 3 3 1 2 3 3 3 1 1 2 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 2 3 1 1 3 2 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 1 3 3 2 2 1 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 317 .Zulfikar Muqni Aqsoinna Suryatama Gallang Aulia Rizki Dini Puspo Elfira Ciptaningtyas Elma Damarista Fadhila Khoirunisa Inna Salma Fahman Khanifah Noor Nur Amalia Andini Ratu Yeremenia S Syifa Azizah Ade Yoga Endy S Bekti Rachmawati Maria Sri Adiningsih Novianto Adi Saputra Wahyu Praktika D Yunina Dea J Bilqies Amalia A Nova Puspitasari Anggita Wulandari Anjas Deva Felano Eria Putri Pratiwi Fitriyani Ika Purwaningsih Ilham Yusril Munawar Massayu Seilla Annisa Musriati Rivan Pandu Adi Winata Muh.Fauzan M.Lampiran 6 Data Penilaian Diri Kelas III Nama 1 Alwi Izha Farandi David Aldi Saputra Laode Aldifan M.

Lampiran 7 Tabel 3 Hasil Wawancara Keterpakaian Instrumen Penilaian Hasil Belajar Karya Seni Lukis Anak Komponen Guru A Guru B Guru C Keseluruhan Kepraktisan .Mudah . sederhana dan komunakatif yang digunakan? Bagaimana dengan alokasi Sesuai dengan yang disiapkan. Hanya saja. tentang IPSLA? Baik dalam hal apa? Baik dalam kaitan dengan: • Objektif • Dapat memberikan kemudahan dalam melakukan penilaian • Dapat dipertanggungjawabkan 3 4 Bagaimana dengan bahasa Mudah dipahami. waktu yang digunakan untuk untuk memahami dan mempelajari aplikasi melakukan penilaian? penilaian ini membutuhkan waktu tersendiri Apakah Bapak membutuhkan Tidak. saya dapat melakukannya sendiri bantuan tenaga lain dalam melakukan penilaian? Bagaimana dengan biaya Tidak ada masalah pelaksanaan penilaian? 5 6   319 .Sederhana Bahasa ‐ Baku ‐ Komunikatif ‐ Mudah dipahami Efisiensi ‐ Waktu ‐ Tenaga ‐ Biaya Mudah Cukup Ya Ya Ya Mudah Sederhana Ya Ya Ya Mudah Sederhana Ya Ya Ya Mudah Sederhana Ya Ya Ya Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Hasil wawancara dengan 3 orang guru sebagai rater sebagai berikut: 1. Hasil wawancara dengan guru A (20 Desember 2008) No 1 2 Pertanyaan Jawaban Bagaimana tanggapan bapak Menurut saya instrumen ini baik.

tidak ada pelaksanaan penilaian? masalah. mudah dimengerti dan yang digunakan? sederhana serta menampung karakteristik seni sebagai ekspresi maupun imajinasi anak.Lampiran 7 2. waktu yang digunakan untuk akan lebih baik lagi jika ada waktu tersendiri melakukan penilaian? untuk memahmi cara penggunaan instrumen tersebut. Secara pribadi. bantuan tenaga lain dalam melakukan penilaian? Bagaimana dengan biaya Biaya pelaksanaan menurut saya. saya menjadi lebih mudah melakukan penilaian karena kriterianya lebih jelas. Hasil wawancara dengan guru B (27 Desember 2008) No 1 Pertanyaan Jawaban Bagaimana tanggapan bapak Instrumen ini sudah baik. 2 Baik dalam hal apa? Instrumen ini lebih menunjukkan kondisi yang sudah mengurangi tingkat subyektivitas guru dalam menilai. Bagaimana dengan alokasi Menurut saya. 4 5 Apakah Bapak membutuhkan Saya cukup dapat melakukannya sendiri. 3 Bagaimana dengan bahasa Bahasanya jelas. Selain itu mudah diterapkan dan hasil penilaian didukung oleh bukti otentik penilaian. 6   320 . sudah dapat tentang IPSLA? menampung aspirasi saya sebagai guru untuk menilai karya lukisan anak didik. karena menurut saya pola penilaian ini berbeda dengan yang sering saya lakukan selama ini. alokasinya sudah cukup Tetapi.

Lampiran 7 3.   321 . 2 Baik dalam hal apa? Instrumen ini memudahkan dalam menentukan kriteria nilai. 3 Bagaimana dengan bahasa Bahasa dari instrumen ini cukup mudah dicerna yang digunakan? dan dimengerti. efisiensi dan kejelasan bahasa yang digunakan pada butir-butir indikator dan deskriptor beserta kriteria yang dipakai dalam instrumen ini sudah dipandang layak untuk diterapkan sebagai sarana penilaian. Hasil wawancara dengan guru C (3 Januari 2009) No 1 Pertanyaan Jawaban Bagaimana tanggapan Instrumen penilaian ini sangat membantu diri bapak tentang IPSLA? saya dalam melakukan penilaian karya seni lukis anak. Pengalaman saya hanya menggunakan intuisi untuk memberikan nilai siswa. waktu yang digunakan Namun. saya dapat membutuhkan bantuan melakukannya sendiri tenaga lain dalam melakukan penilaian? Bagaimana dengan biaya Saya pikir tidak ada persoalan dengan biaya pelaksanaan penilaian? pelaksanaan 6 Dari ketiga hasil wawancara dengan para guru yang menjadi rater dalam uji coba instrumen penilaian karya seni lukis anak dapat disimpulkan bahwa semua rater menyatakan instrumen sudah memadai. dari sudut efektivitas. Panduannya jelas sehingga mudah untuk diterapkan. karena pada waktu sebelumnya tidak pernah saya menilai dengan instrumen yang baku. Mereka mengatakan bahwa dengan hadirnya instrumen ini menjadikan pekerjaan penilaian karya seni lukis anak menjadi mudah karena ada dasar rujukannya dan obyektif. Hal ini dikarenakan. 4 Bagaimana dengan alokasi Waktunya saya anggap sudah cukup memadai. 5 Apakah bapak Tanpa bantuan orang lainpun. untuk memahami lebih lanjut tentang untuk melakukan penilaian? penerapan dari penilaian ini butuh waktu yang cukup.

Brennan Principal Investigator.D. and no official endorsement should be inferred 322 .Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Ed. Iowa 52242 VERSION 3. PA 19104 Robert L. Brennan. Crick. Director. Ed.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E.D. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. GENOVA was developed in part under contract No.1 January. Robert L. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City.

0) 0.28571 24..RANDOM MODEL .RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 6004...1459530 0..1304946 I:R 18 2.56429 565..6380683 2.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 0.0121476 ----------------------------------------------------------------------------- 323 .75428 118 1062 MI:R 1062 9244..27635 15..58571 31.M X (I:R) DESIGN .00000 297.21134 0.2801856 0.50277 59 118 R 2 5874.45714 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 1259 3432..2801856 0..15714 158.28019 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 5811.20000 2854.30476 3.RANDOM MODEL .76190 193.0042666 MI:R 1062 0.29286 0.54286 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ G STUDY DATA SET 1 .1426746 0.M X (I:R) DESIGN ..8357072 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 (0.19744 QF 2 QF 18 QF I:R 18 8728..92582 18 1062 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 6092.0) (0...0) 0.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ..6380683 0.04286 62.0282800 R 2 (0.55714 0...0) (0....93810 0.

14267 0.= INF.16602 0.02335 0.32425 0.82088 0.14267 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.14267 0.17381 0.48638 0.90163 0.88424 0.97275 0.15602 0.22261 0.60437 0.85936 0.91448 0.46809 001-007 60 3 7 0.14267 0.14920 0.09340 0.44283 0. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.01868 0.03113 0.30556 001-004 60 3 4 0.29602 0. INF.14267 0.75341 0.19455 0.16135 0.14267 0.50659 324 .18937 0. INF.36976 001-005 60 3 5 0.17856 0.13896 0.14267 0. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 0.42308 001-006 60 3 6 0.24319 0.22681 001-003 60 3 3 0.04670 0.12791 001-002 60 3 2 0. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.01557 0.01334 0.15824 0. NO UNIV.23607 0.12822 0.16213 0.88329 0.

D. PA 19104 Robert L.D. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Brennan. Director. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Iowa 52242 VERSION 3. Ed.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Ed.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output.1 January. and no official endorsement should be inferred 325 . Robert L. Crick. Brennan Principal Investigator. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. GENOVA was developed in part under contract No. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia.

.70556 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 1259 462576.RANDOM MODEL ..56891 118 1062 MI:R 1062 868049..0690028 17.06900 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 405472.8256646 3.M X (I:R) DESIGN .8155720 MI:R 1062 17.....2264384 4.4293997 190.2264384 1.0690028 0.5130078 189.M X (I:R) DESIGN .65952 226469..97698 9.95397 113234.29444 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ G STUDY DATA SET 1 .29048 11387.16548 18 1062 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 644940.5130078 60.62778 132.14127 43..02413 59 118 R 2 631942.33333 7823..Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .RANDOM MODEL .8337173 I:R 18 189..92016 QF 2 QF 18 QF I:R 18 836923.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 4...84947 667.28095 17.00000 18127..60386 3..8256646 0.7400351 ----------------------------------------------------------------------------- 326 ..RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 413296.95000 204981..0192379 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 3..42857 5174.4293997 242.84865 2.1747172 R 2 242..

04082 001-005 60 3 5 4.08803 91. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.22644 6.37765 0.65527 0.39822 3.96489 150.61040 0. NO UNIV.22644 6.69764 99.92226 89.85716 93.63959 2.41316 95.22644 7.71795 0.16732 0. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 4.04396 327 .34649 4.63655 0.03858 101.50637 0.22350 93.04322 001-007 60 3 7 4.30019 96. INF.31447 2.66933 0.17178 105.= INF.02724 001-002 60 3 2 4.12006 116.44580 0. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF. INF.55466 0.94569 144.03868 001-004 60 3 4 4.56180 91.03500 001-003 60 3 3 4.57128 0.51536 112.53441 0.22644 8.19133 6.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.04223 001-006 60 3 6 4.44994 2.22644 11.22644 6.22644 6.99010 0.93947 0.92408 2.

Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City.1 January. GENOVA was developed in part under contract No. Ed. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Ed.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Crick. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Iowa 52242 VERSION 3. Brennan Principal Investigator. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Brennan. and no official endorsement should be inferred 328 . Robert L. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Director.D. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. PA 19104 Robert L.D.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E.

3838259 222..82499 QF 2 QF 18 QF I:R 18 771345.6707246 175..71905 207969..Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ..20235 18 1062 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 594179.2480372 I:R 18 175.14286 7701.1452227 1.85714 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 1259 426924..RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .00000 16124...28571 130.RANDOM MODEL .M X (I:R) DESIGN .1832437 0.70952 43.M X (I:R) DESIGN ..18324 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 373377.60476 15.68095 10555.53027 3..RANDOM MODEL ...42672 695..OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 4..1452227 4.86372 118 1062 MI:R 1062 800302.0424779 0...1567972 R 2 222.0424779 4.93095 9.6319846 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 4..00204 59 118 R 2 581347.86190 103984...8073981 MI:R 1062 15.3838259 175..6582771 ----------------------------------------------------------------------------- 329 .48059 2.14286 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------G STUDY DATA SET 1 .71429 5130.40000 189997.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 381079.6707246 55.1832437 15.

14522 6.14522 7. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 4. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.17974 3.61338 0.14522 10.19903 85. INF.02894 001-002 60 3 2 4.07050 84.65421 0.50493 2.75799 2.19101 86.94774 0. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.07843 83.61276 91.86075 0.56372 82.04111 001-004 60 3 4 4.09342 132.33623 2.14522 6. INF.99303 0.02326 3.14522 8.04673 330 .68143 93.63724 0.21573 2.28443 103.04339 001-005 60 3 5 4.54012 0.= INF.59681 0.40857 139.03720 001-003 60 3 3 4.04594 001-007 60 3 7 4.14522 6.35971 88.57735 0.55380 6.14522 6.87803 107.03452 96.87980 0. NO UNIV.51665 0.37993 88.76657 0.39277 0.66689 0.04489 001-006 60 3 6 4.

Ed.D. Iowa 52242 VERSION 3.1 January. Director. Crick.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). GENOVA was developed in part under contract No. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. PA 19104 Robert L. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Ed. Brennan. and no official endorsement should be inferred 331 . however the authors can make no assurances that the program is totally without error. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Robert L.D. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Brennan Principal Investigator.

..75000 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 539 150357.25000 95492..25000 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES..72001 118 354 MK:P 354 262591.90000 25.6351956 188..1238858 47..38843 QF 2 QF 6 QF K:P 6 241766.37391 6 354 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 219396.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .44673 59 118 P 2 207726..M X (K:P) DESIGN ..1503453 7.25000 108.8612994 25.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 7.00000 6421.00000 9154.6351956 233.2807234 P 2 233.1503453 2..50000 47746.0202936 MK:P 354 25.2258624 K:P 6 94.RANDOM MODEL ..2067797 6.83475 2.2774647 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 6..01667 34039.RANDOM MODEL .25000 8.29444 219..86130 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 112233.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES ...RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 118655.8612994 1. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .M X (K:P) DESIGN .76667 5673...33333 5248.48164 1.9383863 ----------------------------------------------------------------------------- 332 ..2067797 2..83333 44.1238858 94..

86517 0.81053 0.= INF.88216 0.40882 003-004 60 3 4 9.52949 4.67475 333 .45732 0.99506 31.61738 003-008 60 3 8 9.67196 0.44390 3.65627 0.66584 5. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.99753 15.53543 003-006 60 3 6 9.21927 13.51678 0.03323 0.09275 2.21927 12.37438 2.76238 0.99901 6.43674 6.17710 0.64839 003-009 60 3 9 9.21927 11.47972 003-005 60 3 5 9.89535 0.68142 0.21927 17.65976 0.71358 4. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF. 3 INF.21927 10.65601 1.15511 9.21927 10.62043 39.91281 0.21927 10.40670 0.84245 0.58037 003-007 60 3 7 9.95783 4.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO. NO UNIV.18733 003-002 60 3 2 9.90588 0.33169 10.94336 1. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 9.21927 10.09344 0.21927 10.65569 0.72409 7.99877 8.31555 003-003 60 3 3 9.31022 19.87348 13.83970 8.07755 4.99938 4.23149 5.45076 1.29683 1.

D. and no official endorsement should be inferred 334 . Iowa 52242 VERSION 3. PA 19104 Robert L.D. Director. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Brennan.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. GENOVA was developed in part under contract No. Ed. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output.1 January. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Crick.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Robert L. Ed. Brennan Principal Investigator.

..2433642 190.20044 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 116659.37778 6405.0) 1.4708098 4.53519 7.23387 2.0131503 ----------------------------------------------------------------------------- 335 ..0921532 53.95556 40.2004394 3.RANDOM MODEL ..34477 6 354 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 222531.00000 14230.3811039 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 (0...00000 4733..OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 4..2004394 40. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .07037 48209.99658 0.59630 39.65000 38434.9927976 MK:P 354 40.4481586 1...RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 121393.66667 4719...20185 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 539 158537..RANDOM MODEL ..2190112 K:P 6 106.0921532 106..79815 80.M X (K:P) DESIGN ..00602 59 118 P 2 213078.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .0) (0..27222 96419.99493 118 354 MK:P 354 275197...7131546 P 2 232.2444968 232.79815 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.52624 QF 2 QF 6 QF K:P 6 251512.72963 159.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .M X (K:P) DESIGN .

97098 0.44816 7.70007 24.84831 13.14823 6.31323 003-006 60 3 6 4.42188 003-009 60 3 9 4.00537 0.44816 8.25473 11.57041 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.44816 6. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.46672 16.52256 0.21486 003-004 60 3 4 4.23336 8.40015 48.96631 5.69913 0.76420 35.67502 6.66152 0.44816 6.45084 336 .38969 003-008 60 3 8 4.15805 0. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 4.08359 003-002 60 3 2 4.35004 12.38210 17.91431 6. 3 INF.12819 2.24922 0.41824 4.19161 0.26733 003-005 60 3 5 4.68152 2.93706 1.12318 1.35372 003-007 60 3 7 4.39900 0.44816 11.44816 6.66574 0.74922 0.62402 0.86783 0.93660 0.36247 1.02829 0.09552 4. NO UNIV.12737 6.44816 17.72645 0.75284 7.68003 9.44816 7.44816 5.48891 5.15429 003-003 60 3 3 4.91487 4.49896 0.= INF.79820 3.19105 8.

2001 GENOVA has been checked for accuracy of output.D.D.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. GENOVA was developed in part under contract No. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. and no official endorsement should be inferred 337 . Iowa 52242 VERSION 3. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). PA 19104 Robert L. Ed. Crick.1 January. Robert L. Brennan. Ed. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Brennan Principal Investigator. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Director.

48889 32..0322348 95.21571 59 118 P 2 199841..8679808 MK:P 354 32..65110 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 108772.0322348 47.8286649 P 2 221.19597 118 354 MK:P 354 255520.58519 175..M X (K:P) DESIGN .M X (K:P) DESIGN .4473033 ----------------------------------------------------------------------------- 338 .6510986 32..00000 4607.7882273 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 2..25556 91069.22593 45534.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .0757167 179.93150 QF 2 QF 6 QF K:P 6 234248.52304 2..51111 5734.61296 7.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 113876.63223 6 354 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 209554.6510986 2..2747960 5.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 5..88889 5104.76667 34407...0757167 221.RANDOM MODEL .5847308 K:P 6 95..88519 39.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .97037 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.00000 11558... F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .RANDOM MODEL .85926 86..1329253 1....04987 1..2747960 1.1329253 2.02963 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 539 146747.

98577 7.95857 0.19507 1.06446 0.98577 7.29672 003-004 60 3 4 5.73332 0.42762 5.55481 6.81481 0.36002 003-005 60 3 5 5.47152 0.45765 003-007 60 3 7 5.08211 0.52380 0.83193 0.72901 3.36046 5.98577 9. 3 INF. NO UNIV.28056 16.08016 4. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.98577 11.88370 42.98577 7.81395 7.54059 1.09352 5.61367 3. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 5.98577 8.98577 16.41287 003-006 60 3 6 5.= INF.79381 0.63963 0.34623 1.86947 10.35483 0.02917 0.70670 2.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.16251 2.64028 8.55865 339 .18704 10.49609 003-008 60 3 8 5.62263 0.21953 003-003 60 3 3 5.76743 0.44185 21.40956 0.65102 0.62790 14.98577 8.12330 003-002 60 3 2 5. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.20930 4.51222 6.98577 7.52944 003-009 60 3 9 5.32014 4.71937 0.79972 1.56111 31.72092 10.68749 0.17674 8.

N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Brennan. Iowa 52242 VERSION 3. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Brennan Principal Investigator. Ed. GENOVA was developed in part under contract No.D. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Crick. Robert L.D.1 January. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. PA 19104 Robert L. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Ed.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. and no official endorsement should be inferred 340 . Director. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia.

M X (I:R) DESIGN .4198870 4..77168 3.3831865 R 2 118.35778 35.2849529 0.9244401 MI:R 708 13..RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 166008.....8367147 I:R 12 121.72111 5..9962241 101.36667 87693.RANDOM MODEL .28495 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 159413.2849529 13.74667 13.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES ..0924859 5..31333 86057.4198870 0.66349 118 708 MI:R 708 353340.87111 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 193926.9962241 118..20000 4175.44222 43028.7050921 ----------------------------------------------------------------------------- 341 .87034 QF 2 QF 12 QF I:R 12 333164.07756 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 256241.0924859 1....0345275 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 4..75444 550..40000 6594.5744915 121. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .12889 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES..RANDOM MODEL .05333 7307..38439 2..5744915 46.52889 111.M X (I:R) DESIGN .00000 9405.15879 59 118 R 2 245471..Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 5.

09249 7. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.58001 0.99410 5.= INF.07416 0.09185 80.12933 47.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.09249 10.09249 7.61528 60.89456 0.09249 8.77994 3.09249 8.37347 0.46320 0.68342 0.07412 001-003 60 3 3 5.90161 86.35896 50.09222 342 .66370 0. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 5.63325 0.37699 49.05585 001-002 60 3 2 5.45145 2.58038 52. INF.12309 53.68745 63. NO UNIV.30772 0. INF.08319 001-004 60 3 4 5.08861 001-005 60 3 5 5.94940 56.04189 2.92450 0.67286 2. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.

however the authors can make no assurances that the program is totally without error.1 January. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. GENOVA was developed in part under contract No.D. Ed.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). PA 19104 Robert L. and no official endorsement should be inferred 343 .D.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Crick. Brennan Principal Investigator. Ed. Director. Iowa 52242 VERSION 3. Brennan. Robert L.

00000 10.5621469 0.RANDOM MODEL .93333 2885.5605806 ----------------------------------------------------------------------------- 344 .32111 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 204742.5069182 MI:R 708 10.82499 QF 2 QF 12 QF I:R 12 368044.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .81276 118 708 MI:R 708 380667.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 1..96222 47344...28333 94688.20000 2259.67889 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES....55443 59 118 R 2 270613..7169002 0..M X (I:R) DESIGN .1445198 51.M X (I:R) DESIGN .48111 5.08333 97430.90868 2..1463633 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 1..14665 1.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ..30444 19. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .23333 768.7222109 130.RANDOM MODEL .00000 7478...61222 48..RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 178809.5621469 10.80000 8119...71051 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 275758.1445198 135.56215 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 175924.7169002 1.7222109 112.0598736 I:R 12 135.6129639 R 2 130..9841356 1.9841356 0...

63805 0.26058 1.31679 2.28859 54. INF.65229 0.74587 60.03405 001-005 60 3 5 1.33600 58.60852 0.89339 0. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.73001 1.= INF.09302 92.07715 4.02095 001-002 60 3 2 1.53194 0.57735 0. INF.02818 001-003 60 3 3 1.45963 0.98414 3. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.33266 68.03553 345 .72353 0.98414 3.17010 0.71526 88. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 1.45248 56. NO UNIV.98414 4.86015 52.98414 6.27644 53.43081 66.03184 001-004 60 3 4 1.98414 3.32649 0.43661 1.

Ed. and no official endorsement should be inferred 346 . 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. PA 19104 Robert L. Crick. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Brennan Principal Investigator. Iowa 52242 VERSION 3.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Robert L.1 January. Director.D. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Brennan. GENOVA was developed in part under contract No. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Ed.D. however the authors can make no assurances that the program is totally without error.

8775790 R 2 122.13333 4168.02800 1.40000 2835...18833 603...2295160 0.6836219 ----------------------------------------------------------------------------- 347 ..65151 2.3717985 129.65667 89356..34000 12..6352875 MI:R 708 12. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .9738173 122.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 3..2295160 2...64383 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 263505.1082335 3.96222 44678.8804237 12.91667 93302.30556 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.30444 24.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 171313.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ...RANDOM MODEL .9738173 105.00000 9119..73806 QF 2 QF 12 QF I:R 12 349803.48111 5..M X (I:R) DESIGN ..1082335 0.86547 118 708 MI:R 708 365927..94038 59 118 R 2 256501.88042 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 167144..M X (I:R) DESIGN .RANDOM MODEL .43889 70.3717985 48...26000 7775.9790840 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 2.69444 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 198782.8804237 0.7628148 I:R 12 129.

71010 1.25095 0.44315 62. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.03665 89. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 3.69456 0.10823 5.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.= INF.65321 0. NO UNIV.10823 4.88991 65.28256 2.15185 84.05125 001-004 60 3 4 3.05721 348 .58880 51.14488 5.05482 001-005 60 3 5 3.81654 53. INF.63114 0.92477 1.60187 51.65991 0.10823 4. INF.51820 0.04534 001-003 60 3 3 3.54025 55.10823 5.10823 8.45396 0.99814 2.38162 0.03369 001-002 60 3 2 3.21793 49.58839 0.17433 57.85434 0.

1 January. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. and no official endorsement should be inferred 349 . Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. however the authors can make no assurances that the program is totally without error.D. Brennan. Ed. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Crick. Robert L. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E.D. Ed. PA 19104 Robert L. GENOVA was developed in part under contract No. Iowa 52242 VERSION 3. Director. Brennan Principal Investigator. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC).

RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .74637 2....M X (K:P) DESIGN .9420122 ----------------------------------------------------------------------------- 350 .12015 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 265917.91547 118 708 MK:P 708 331756..74887 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 145873..M X (K:P) DESIGN .46772 2.6933522 27.5502787 162.9814237 1.9652808 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 6.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .59556 126.6087719 K:P 12 73..7994991 1.....93333 106476...RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 153334.90125 QF 2 QF 12 QF K:P 12 305622.RANDOM MODEL .3493034 MK:P 708 17.9814237 4.20000 4439.RANDOM MODEL .00000 12566.60000 6106.5502787 125.6933522 73.20000 17.7994991 6.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 4.43111 11.07111 51.13333 53272..86222 53238..66667 7461. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .92889 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.7488701 0...5902820 P 2 162.44399 59 118 P 2 252349.35000 250.07111 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 185882...7488701 17..

34182 0.24792 8.24792 10. 3 INF.32230 003-003 60 3 3 7.62019 6.24792 13.19211 003-002 60 3 2 7.24037 12.24792 8.91629 30.18326 6.72700 1.95815 15.48748 003-005 60 3 5 7.16025 8.05341 0.97210 10.78385 0.45233 0. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN. NO UNIV.47907 7.09615 5.54316 351 .22002 1.85966 0.43118 1. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.20607 2.= INF.28656 0.71016 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.16421 5.48074 24.41635 003-004 60 3 4 7.78611 0.55058 0.83052 0.24792 9. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 7.

however the authors can make no assurances that the program is totally without error. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Iowa 52242 VERSION 3. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Director. Crick.1 January.D. GENOVA was developed in part under contract No. Brennan.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --.D. Brennan Principal Investigator. Robert L. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. PA 19104 Robert L. and no official endorsement should be inferred 352 . Ed. Ed.

95333 5432.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 177281.96000 11..M X (K:P) DESIGN .7344855 ----------------------------------------------------------------------------- 353 ..24000 77.59752 118 708 MK:P 708 381082...4215348 4.9825944 P 2 189.68000 35.00000 9797.41861 QF 2 QF 12 QF K:P 12 362484..M X (K:P) DESIGN .2220360 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 4.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .4342429 146..7541243 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ...36000 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 208358.3123446 34.14926 59 118 P 2 297293..64000 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 2..4342429 189.25831 2.20000 4241.9665221 K:P 12 90..84667 13.92000 62284.83877 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 172723.94644 2.8387665 0.9396860 MK:P 708 13.57944 392..7541243 2.60000 4558...8387665 13.4215348 0.3123446 90. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .RANDOM MODEL .RANDOM MODEL ..23333 65190....28000 124569..56240 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 306093.

25146 0.19586 003-003 60 3 3 4.82088 0.22797 8.38120 1.30646 17.94341 6. 3 INF.22797 6.61292 34.32757 003-005 60 3 5 4.10856 003-002 60 3 2 4.71704 30.92258 6.22797 5. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 4.15055 0.73331 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.37846 354 . SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.64703 0.22797 5.61572 0.10667 0.13080 0.15323 8.57235 10.53443 2.35852 15. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.26759 003-004 60 3 4 4.= INF.84089 4.16096 0.67926 7.22797 5.78569 0.76561 1. NO UNIV.47823 0.53764 11.

1 January.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E.D. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Robert L. Director. Brennan. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Crick. GENOVA was developed in part under contract No. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. and no official endorsement should be inferred 355 . Iowa 52242 VERSION 3. Brennan Principal Investigator. Ed.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --.D. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). PA 19104 Robert L. Ed. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy.

7446817 0.53333 20.M X (K:P) DESIGN .RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .00000 14466.6548211 73.45111 34.68222 54098.9151488 2..4846516 165..80000 4030..53444 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 184566.14764 QF 2 QF 12 QF K:P 12 308648.4329567 1.0844687 ----------------------------------------------------------------------------- 356 .28242 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 263997.7446817 2..9081929 MK:P 708 20.6348177 K:P 12 73..4846516 127..84111 12.67163 118 708 MK:P 708 331741.RANDOM MODEL ....28021 59 118 P 2 255372.6548211 27. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .9676270 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 2.9151488 0...66667 4439.M X (K:P) DESIGN .4329567 20..21667 108197.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 2.66667 4595.15637 1.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 151769.13222 77..RANDOM MODEL .46556 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.43296 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 147174.72222 217....88360 2..9850545 P 2 165.88333 53276.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ...

32818 003-005 60 3 5 3.26813 003-004 60 3 4 3.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.72896 0.35993 0.19224 1. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.83004 5.19630 003-003 60 3 3 3.70275 7.99686 0.28554 0.62784 0.68130 12.10037 2.23554 3.83004 5.= INF.10883 003-002 60 3 2 3.84065 6.52934 0.73765 0.69224 0. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 3.64103 6.36220 6. 3 INF.23011 0.45420 8.40549 15.81099 31. NO UNIV.39640 0.83004 7.83004 10.37912 357 .53279 1.27252 4.27033 10.36259 24.83004 6.

LEMBAR PENGESAHAN .

G. Affandi. J. A. Mengembangkan kreativitas anak. G. Yogyakarta: Gama Media. Laure. “ Children and their books: The right book for the right child I”. Bennet. (2004). (2004). M. D. Allen Mary. London: The John Hopkins Press Ltd. W. Brandy. Iowa City: ACT Publication.. Hal D. (1952). Fungsi pendidikan seni budaya di sekolah. Bambang Prihadi. Second edition. A. (1991). Yogyakarta. Educational research: An introduction. Mengenal seni rupa anak. (2005). Jakarta: Universitas Terbuka. & Yen Wendy. Phoenix AZ: The Oryx Press. Dewobroto. The practice of social research. (10 Agustus 2006).DAFTAR PUSTAKA Abdussalam Al-Khalili. Seashore. K. Introduction to measurement theory.. New York: Longman. Assessment and education in the arts. Zainul. Alternative assessment. Melbourne: The Macmillan Company. Anugrah. & Wesman. Pengembangan instrumen pengukuran respons estetik siswa sekolah pertama menggunakan semantic diferential. Borg. J. Belmont CA: Wadworth Thomson Learning Inc. Brennan.R. (2007). (2005). tidak diterbutkan. Give them wings. Berk. Aspin. Performance assessment. & Gall. Fourth edition. New York: The Psychological Corporation.G. H. Kompas. A. 263 . Ch. Dalam Malcom Ross The Aesthetic Imperative. Pergamon. Assessment for excellence. (1986). (1993). Babbie. (1983). the experience of children’s literature. Differential aptitude test manual. (1979). (1982). Universitas Negeri Yogyakara. (1983). Ronald. W. E.D. Dwi. dalam Maurice Saxby & Gordon Winch (EDS). California: Brooks Cole Publihsing Company. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Robert L. Asmawi. Astin. Tesis Magister. Element of generalizability theory.

assessment criteria. Corwin Press. Depdiknas. file: // J: Assessment Criteria. Rethinking how art is taught: A critical convergence. Iowa: W. Dirjen Dikdasmen. (2003). Duane & Prebel. Jakarta: BSNP. George. Inc. Amerika: Prentice Hall Inc. (1975). (1992). Santa Monica CA: The Gety Center. Cut Kamaril. M. Art education its means and ends. CA. Sistem penilaian kelas SD. SMA. (Terjemahan Tim Inisiasi). (2000). Linda. Assessment criteria for art and design teaching. A. (1967). Conrad.. Isobel J. Multiple intelligences: Metode terbaru melesatkan kecerdasan. Jakarta: Universitas Terbuka. Djemari Mardapi. (1982). Harcourt Brace Jovanovich. Thousand Oaks. Wailling. The aesthetic hypothesis. Children and their art methods for the elementry Atlanta school. SMP. Penelitian kerja sama antara Lemlit IKIP Yogyakarta dan Balitbang Depdikas. Brown Company. (1964). (1999). New York: Harper & Brother Publisher. Campbell. (1998). dkk. Coney. California: Chandler Publishing Company. Art for exceptional children. The process of art education in the elementary school. 264 . Clive Bell.M. California: Dickenson Publishing Inc. Depok: Inisisasi Press. Dobbs. The DBAE handbook: An overview of disciplinebased art education. Uhlin. dari. Dali Gulo. Art form: An introduction to the visual arts. Donovan. Diambil pada tanggal 8 Nopember 2005. Estetika sebuah pengantar. Steven Marks. A. Kamus psikologi. (1999). Bandung: Tonis. dkk.M. Jakarta. Inc. Dubuque. (1975). (2002). Gaitskell.BSNP. dan SMK. (2005). (1968). htm. (2006). Bandung: MSPI. Standar nasional pendidikan. (1958). Charles D. R. Survei kegiatan guru dalam melakukan penilaian di kelas. De Francesco-Italio. Pendidikan seni rupa/ kerajinan tangan. Djelantik. Donald.

P 23-34 Gaitskell. Jakarta: National Education Planning. A.Hall. Yogyakarta: Galangpress Fernandes. (1991). Estetika sebagai kritik dan apresiasi seni. (1987). Eisner. Theodore Zernich. Englewood Cliffs. George W. Studies in art education. Gronlund.” curricular considerations for visual arts education: rationale. E. Dalam Teks-teks kunci estetika flsafat seni. Megawati. (1973).Edmund. Herawati.28 :227-233 Griffin. Champion. Efland.J. Inc. (1967).X. Holt. Iriaji. Greer. & Nix. Dwarne. Measurement and evaluation in teaching. 31 No. and Curiculum Development. Burke Feldman. George. (1999). “Human behavior: Its implications for curriculum development in art. (1984). Publisher. Conrad. Studies in Art Education.. H. Art as image and idea. (Eds. Reston.N. Peter. History of art education. dkk. development and evaluation. (1997). (1985). Charles. Horovitz. Freeman. VA:NAEA. P. Inc. D. 265 . W. Inc. National Art Education Association. New Jersey: PrenticeHall. (1964). Atlanta: Harcourt Brage Jovanovich. London: Harcout Brace Javanovich. Evaluation. Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar. N. The process of art education in the elementary school. New York and London: Teachers College. Pendidikan seni rupa. Understanding children’s art for better teaching. Testing and measurement. IL: Stipes. Hoepfner. (1974). J: Prentice. Ralph. (1997). “A structure of dicipline concepts for DBAE”. (1983). (1967). The Board of Trutes: The Journal Aestetic Education. Eymeren. New York: Macmillan Publishing Company. Departemen Pendidikan dan kebudayaan. (2005). Merrill Publishing Company. Claire. (1990). I thaca. Identifying resources from which children advance into pictorial innovation. 251-258.). Winter Vol. Elliot W.4 . H. Educational assessment and reporting. Art in Indonesia. Ohio: Charles E. the journal of issues and research: 25 (4). (1975). Children and their art. NY: Cornell UP. N. Hardiman . Educating artistic vision. Arthur D.

Toronto: Nelson Thomson Learning. (2006). P. 3. (2002). (1976). (1967). Earl. Rhoda and Scott O’Dell. Kane. Art & crafts for the classroom. Elizabeth B. (1955). N. Jilid 1 Edisi Ke enam. I/03. Dalam teks-teks kunci estetika flsafat seni. (2000). & Casey. artists and art education.M. A. Lim Chin Choy. R. Jakob. Lansing. Linn. Art. (2001). American Council on Education and Praeger Publishers. Sage Publications Kusnadi. (1995). James. USA: Macmillan Publishing Company. New York: Macmillan Publising Company. and Lee H. Frederick M. (1991). Kellogg. (Terjemahan dr. 18. (1977). (2000). Foundations of behavioral research. Logan. Robert L. Growth of art in American schools. A. California: CRM INC. Yogyakarta: Galangpress. Bandung: Penerbit ITB. Jakarta: UNJ. Jurnal Bahasa dan Seni. Analisis lukisan karya anak-anak usia sekolah dasar : studi dokumenter hasil karya anak-anak sanggar lukis di kota Jakarta dan Semarang. The psychology of chidren’s art.). New York: Harcour Brace Jovanovich. Classroom assessment what teacher need to know. Keindahan yang digemari dan pengejawantahannya. Popham. Filsafat seni. Perkembangan anak. Muchlichah Zarkasih). Jamaris. B.. Approach to art in education. Validation. Linderman. K. Kritik seni dan penciptaan seni rupa. Chapman (1978). 86-97. (1990). Focus groups: A practical guide for applied research. Measurement and evaluation in teaching. Krueger. M. ( 2005). Jakarta: Erlangga Ismiyanto. New York: McGraw-Hill. S. H. Laura. 266 . Meitasari Tjandrasa dan Dra.Hurlock. Michael T. Sumardjo. (2000). C. New York: Harper & Brother. Martini. Model pembelajaran terpadu berbasis kecerdasan jamak. MA: A Simon & Schuster Company. (Eds. Kerlinger F. Jurnal Seni. (1991).

21 Maret 2005. Strategi pembelajaran seni lukis anak usia dini di Sanggar Pratista Yogyakarta. London: The Macmillan Company. (2003). (2007). New York: Analytic. S. Concepts in art and education. “Guidelines for evaluation and assessment in art and design education 5-18 Years”. ( 2002).No. Spring 1989. Jakarta: Rora Karya. Mikke Susanto. New York: American Elsevier. (1982). Mamannoor.Lowenfeld. Creative and mental growth. Soekidjo. Wacana kritik seni rupa di Indonesia. Stuart. nomor 22. “Excellence in arts teaching and learning: A collaborative responsibility of maturing partnership. (2006). & Britain. Notoatmojo. The psychology of intelligence. Messick. tahun 2005. Peraturan menteri.76-85. Tri Hartiti. Jakarta: PT Rineka Cipta. Viktor. New York: Pergamon Press. Martono & Retnowati.. George. Novianto. Inc. Volume 9.Vol 15. (1980). Membongkar seni rupa. The board of trustees of the university of illinois. Peraturan pemerintah . New York: Macmillan Publishing Co. 1990. 267 . P. Garha. (1970). Surakarta: Bringin 55. Kamus lengkap Bahasa Indonesia. tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. David. Myers. (1989). Barrett. Nomor 19. Macdonald. J. tahun 2006. Lambert. (1970). Journal of Art and Design Education. Permendiknas RI. Yogyakarta: FBS UNY.3. (2005). Malcom Ross.”. Brace & World. (1986). (1995). Newton. Piaget. Bandung: Nuansa. (1950). Connie. Oho. Validity of psychological assessment. Seni rupa. New York: Harcourt. University of Maryland Libraries. No. Yogyakata: Jendela. Pengembangan sumber daya manusia.1. Maurice. Assessment in art education a necessary discipline or a loss of happiness?. Online. (2003). The history and philosophy of art education. W. Pappas. (2005). tentang standar nasional pendidikan.Visual Arts Research. Peraturan Pemerintah RI.

(1997). Soedarso. PL2LPTK. Ruta. 183-192. Corrado. disiplin dan multikultural dalam pendidikan seni rupa. Pepper. Pendidikan seni dari konsep sampai program.302-307. Salam. Penilaian dengan non tes dalam proses belajar mengajar. Assessment program evaluation. Tjetjep Rohendi. J. Yogyakarta: Badan Penerbit ISI Yogyakarta.Yogyakarta:Aquarius Offset. Stephen. Tri Hartiti. (1983). (1994b). I Made. Elementary school art for classroom teachers.3 (1906). Soesatyo. Makalah disajikan dalam Seminar & Lokakarya Nasional Pendidikan Seni. Bandung: STISI Press. M. Soeharjo.A. R. Malang: Balai Kajian Seni dan Desain. Ricci. A. (2005). John. Rohidi. Implikasi garis dalam seni rupa. L’art de bambini. Survai terhadap kondisi guru-guru pendidikan kesenian di SLTP/SMU sumatera barat. London: Harper & Row Publishers. Syahrul. Yogyakarta: Sanggar Melati Suci. (2000). Pendidikan seni. (1971). Netherlands: Twente University. Pratiknyo Prawironegoero. Development research on/in educational development. Herbert. Contextualistic criticism. Education through art.A: Simon & Schuster Custom Publishing. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah. (2002). Apresiasi seni lukis anak-anak. Read. (2001). Tjetjep Rohandi & Retnowati. (2006). & Thomas. (1973). Pendekatan ekspresi diri. R. (1994). J.Plomp. (2005). Pedagogical Sem. Dirjen Dikti. S. (2001). Trilogi seni penciptaan eksistensi dan kegunaan seni.. Leipzig. Stark. Needham Heights. Jakarta: Depdikbud. 268 . Kesenian dalam pendekatan budaya. Rohidi. C. “Komposisi” Jurnal Pendidikan Bahasa Sastra dan Seni. Soesatyo. T. Sanggar melati suci (1979-1994).(1970). London: The Shenval Press. Sawyer. vol 2 No 2. (1994a). Jurnal Rupa volume 4 no 1 September 2005. (1960). New York: Reinhart and Winston Inc. di Jakarta. Sofyan.

W. Constructive education for children.. Measurement and evaluation in psychology and education . M. Early adolescent literacy learning fall 2006. Paris: Harrap London. L.edu/ivc pada tanggal 1 Juli 2007. E. (1959). Minneapolis Indiana University. UNY. Victor. Peacock. D. (2006). Wall. Yahya. E. Suryahadi. (2001).10. W.. Waterman. Gepard. Utami Munandar.coe. P.ilstu. Semmel.D. (1974). Edward. I. Linda. Bunga rampai pendidikan seni. S & Semmel. (1999). O. New York : John Wiley & Sons. Wedwick. Educational evaluation amd decision making. G. Foley. M. Instructional development for training teachers of exceptional children: A sourcebook. J. Sudarmaji. Toronto: Pergamon Press. Robert. Dasar-dasar kritik seni rupa.. (1975). Hammond. Guba. (1986). D. Evaluasi dalam perspektif pendidikan seni (Pidato Ilmiah. Paul. Agung. Section 01 and 02. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. (1981).. Evalution of the art product. art education. Lexington: Personal Press. 2001) 269 . pp.. M. Thorndike. & Hagen. Itasca. Il: F. Paul Torrance test of creative thinking.. S. A. (1971). (1979). J. (1991). Amri. (2005). R. H. Marriman. Yogyakarta: Unit Litbang P3G Thiagarajan. L. L.. Heyfron . “Objectivity and assessment in art” in assessment in arts education. Kreativitas dan keberbakatan strategi mewujudkan potensi kreatif dan bakat.57.Stufflebeam.. Diakses dari http://www. Torrance. & Provus. Elizabeth.C. W. Jakarta: Balai Seni Rupa Jakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful