Lampiran 9

Gambar 1. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 1

Gambar 2. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 1

358

Lampiran 9

Gambar 3. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 2

Gambar 4. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 2

359

Lampiran 9

Gambar 5. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 3

Gambar 6. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 3

360

ABSTRACT Tri Hartiti Retnowati. Developing of Assessment Instrument for Children’s Painting in Elementary School. Dissertation. Yogyakarta: Graduate School, Yogyakarta State University, 2009. This study aim at developing an assessment specification for children’s painting in elementary schools by developing a valid and reliable assessment instrument to measure the performance of children’s painting. The development of this assessment instrument was intended to guide the painting teachers in elementary schools in carrying out assessment objectively. This study is a development research which uses quantitative and qualitative approaches. The development process was carried out in five phases, covering initial study, defining, designing, developing, and dissemination phases. The subjects of this study were elementary schools’ teachers and pupils in the first grade to third grades and painting teachers in Muhammadiyah Sapen Yogyakarta elementary school, MIN (Islamic State Elementary School) Tempel, and Langen Sari Yogyakarta elementary school. The construct of the instrument consisting of instrument for process, product, self, and group assessment was developed based on the suggestion of art education, children’s art painting, evaluation, and painting experts. The reliability coefficient of the assessment instrument was computed based on generalizeability theory developed by Crick and Brennan consisting of G (generalized study) and D (decision study) theories with the variance of person, rater, item, person rater interaction, and error components using Genova computer package program, and interrater Cohen’s Kappa fomula. The findings of this study suggest that first, the specification of the assessment instrument for performance of children’s painting in elementary school is in the form of observation sheet consisting of indicators, descriptions, and rubrics (criteria). The components of assessment object are process, product, self assessment, and group assessment. Second, the characteristics of the performance assessment instrument of children’s painting in elementary school consisting of validity, reliability coefficient, and its implementation have been verified. The validity evidence is obtained through three focus group discussions and one seminar. The average of Cohen’s Kappa tend to be higher than genova coefficient and the estimation of Genova coefficient using a nonlinear equation tends to be more accurate than one using a linear equation. The highest coefficent of Genova for process assessment is in grade 1 with 7 items rated, that is 0.91, for product assessment in grade 1 with 3 items rated, that is 0.76, for self assessment, that is 0.68, and for group assessment in grades 1, that is 0.86. The average of cofficients genova is 0.71 and the average of Cohen’s Cappa is 0.73. Both of this value are higher than the minimum criteria, 0.70. Third, the guideline of using performance assessment instrument of children’s painting in elementary school is in the form of a booklet. It consists of background, rationale, components of assessment, guideline, and application sample. Forth, the requirements for elementary school teachers for using this instrument cover the relevant educational background, having experiences in art of paintings, good comprehension toward the guideline of performance assessment for children’s painting, and being responsive toward reformation and changes.

iii

ABSTRAK
Tri Hartiti Retnowati. Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak di Sekolah Dasar. Disertasi. Yogyakarta: Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta, 2009. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan spesifikasi penilaian karya seni lukis anak di sekolah dasar dengan mengembangkan instrumen penilaian yang sahih dan andal untuk mengukur hasil belajar seni lukis anak. Pengembangan instrumen penilaian hasil belajar seni lukis anak sekolah dasar ini dimaksudkan agar para guru seni lukis pada jenjang pendidikan dasar dapat melakukan penilaian secara objektif. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan yang menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Proses pengembangan dilakukan melalui lima tahap yaitu tahap studi awal, tahap pendefinisian, tahap perancangan, tahap pengembangan, dan tahap diseminasi. Penetapan konstruk instrumen yang terdiri atas instrumen penilaian proses, penilaian produk, penilaian diri, dan penilaian kelompok dilakukan melalui pendapat pakar pendidikan seni, pakar seni lukis anak, pakar pengukuran, dan praktisi lapangan. Subjek penelitian ini terdiri atas dua elemen yaitu pendidik dan peserta didik sekolah dasar kelas satu sampai dengan kelas tiga dan pendidik seni lukis anak di SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta, MIN Tempel, dan SDN Langen Sari Yogyakarta. Penentuan koefisien reliabilitas instrumen penilaian dilakukan dengan menggunakan paket program genova berdasarkan teori Generalizability yang dikembangkan oleh Cric dan Brennan yang terdiri atas teori G (Generalized study) dan D (Decision study) yang komponen variansinya adalah person, rater, item, interaksi person dan rater, dan kesalahan, serta dengan koefisien interrater Cohen’s Kappa. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah: 1). Spesifikasi instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD berbentuk lembar pengamatan yang terdiri atas indikator, deskripsi, dan rubrik (kriteria), serta komponen yang menjadi objek penilaian meliputi proses, produk, penilaian diri, dan penilaian kelompok, 2). Karakteristik instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak yang mencakup validitas, reliabilitas, dan keterpakaian di SD telah teruji. Validitas telah teruji melalui focus group discussion sebanyak 3 kali dan sekali seminar. Rata-rata koefisien Cohen’s Kappa cenderung lebih tinggi dibanding rata-rata koefisien genova dan koefisien genova dengan persamaan nonlinear cenderung lebih teliti dibanding dengan persamaan linear. Besar koefisien genova paling tinggi untuk penilaian proses di kelas 1 dengan 7 item yang dirating yaitu 0,91, penilaian produk di kelas 1 dengan 3 item yang dirating yaitu 0,76, penilaian diri di kelas 1 yaitu 0,68, sedang penilaian kelompok di kelas 1 yaitu 0,86. Ratarata koefisien Genova secara keseluruhan adalah 0,71. Adapun rata-rata koefisien Cohen’s Kappa yaitu 0,73. Kedua nilai rata-rata ini telah memenuhi kriteria minimum yang disyaratkan yaitu 0,70, 3). Pedoman penggunaan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak dalam bentuk booklet. Booklet terdiri atas latar belakang, rasional, komponen yang dinilai, petunjuk penggunaan, dan contoh aplikasi, 4). Persyaratan yang harus dipenuhi pendidik SD agar kompeten menggunakan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD meliputi latar belakang pendidikan yang relevan, memiliki pengalaman dalam bidang seni lukis, memahami pedoman penilaian hasil belajar karya seni lukis anak, dan responsip terhadap pembaharuan dan perubahan.

ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang dan Identifikasi Masalah Pada dasarnya manusia memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai estetika agar dapat hidup dengan baik di masyarakat dan memiliki rasa keindahan. Pengetahuan berkaitan dengan penalaran yang diperlukan dalam memecahkan masalah. Keterampilan berhubungan dengan gerak anggota badan dalam mengerjakan pekerjaan. Rasa keindahan atau kepekaan estetik berkaitan dengan seni, sehingga orang yang memiliki apresiasi terhadap seni merasakan indah dalam hidupnya. Oleh karena itu setiap orang harus memiliki kepekaan estetik agar dapat merasakan keindahan dalam hidupnya. Dalam perspektif pendidikan, seni dipandang sebagai salah satu alat atau media untuk memberikan keseimbangan antara intelektualitas dengan sensibilitas, rasionalitas dengan irrasionalitas, dan akal pikiran dengan kepekaan emosi. Bahkan dalam batas-batas tertentu, seni menjadi sarana untuk mempertajam

moral dan watak seseorang (Rohidi, 2000: 55). Pendidikan seni bertujuan mengembangkan kedewasaan diri anak didik yang utuh dan seimbang dengan cara memberikan perlakuan yang dapat merangsang kepekaan estetik dan kreativitas peserta didik. Dengan demikian untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan pengembangan estetik melalui pendidikan seni. Pengembangan kepekaan estetik merupakan bagian dari pengembangan kepribadian seseorang, yang dilakukan melalui pendidikan seni. Dalam Peraturan Pemerintah No 19 tahun 2005 (PP Nomor 19, 2005) tentang standar nasional

1

pendidikan,

masalah

kepekaan

estetik

memperoleh

penekanan

dalam

pengembangan kemampuan peserta didik melalui kelompok mata pelajaran estetika. Pada peraturan ini, kelompok mata pelajaran estetika yang harus dipelajari peserta didik mempunyai arah pengembangan untuk meningkatkan: (1) sensitivitas, (2) kemampuan mengekspresikan, dan (3) kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni. Kemampuan mengapresiasi dan mengekspresikan keindahan serta harmoni mencakup apresiasi dan ekspresi, baik dalam kehidupan individual sehingga mampu menikmati dan mensyukuri hidup, maupun dalam kehidupan kemasyarakatan sehingga mampu menciptakan kebersamaan yang harmonis (BSNP, 2006: 78-79). Kelompok mata pelajaran estetika merupakan pelaksanaan dari pendidikan seni yang tergolong unik karena melekatnya "pengalaman estetik" pada diri seseorang. Dalam pendidikan seni, pengalaman estetik merupakan

sesuatu yang esensial. Menurut Linderman (1984: 54), pengalaman estetik mencakup pengalaman-pengalaman perseptual, kultural, dan artistik. Pengalaman perseptual dikembangkan melalui kegiatan kreatif, imajinatif, dan intelektual. Pengalaman kultural melalui kegiatan pemahaman terhadap hasil warisan budaya lama dan baru, sedangkan pengalaman artistik melalui kegiatan kreatif dan

apresiatif. Dengan demikian pengalaman estetik memberi peluang bagi seseorang untuk memahami dunia dari sudut pandangan yang berbeda dengan aspek pengetahuan. Cara memahami dunia yang ditawarkan oleh seni bersifat intuitif, tak terduga, dan kreatif, serta dikomunikasikan dalam bahasa warna, bunyi, gerak, atau isyarat yang bersifat simbolis.

2

apresiatif. Anak 3 .”. Salah satu kegiatan seni yang dilaksanakan di sekolah dasar adalah seni lukis yang merupakan bagian dari seni rupa. dan kreatif pada diri peserta didik secara komprehensif.Pada seni melekat kesediaan untuk mengimajinasikan segala kemungkinan. seni dan budaya.” (BSNP. Kegiatan melukis bagi anak-anak seusia anak sekolah dasar merupakan kegiatan naluriah dan menjadi kesenangan anak karena muncul atas desakan perkembangan emosi artistik yang bersifat kodrati. Karena itulah. 2006: 140). Pendidikan Seni Budaya di sekolah memiliki dua fungsi yaitu: (1) untuk menumbuhkan kepekaan rasa estetik dan artistik sehingga terbentuk sikap kritis. dan muatan lokal yang relevan. dan menerima keragaman pandangan. intelektual. Melukis bagi anak-anak merupakan aktivitas psikologis dalam rangka mengekspresikan gagasan. Standar kompetensi kelompok mata pelajaran estetika pada jenjang sekolah dasar adalah: ”menunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni dan budaya lokal. emosi. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. pendidikan seni amat menghargai pengalaman pribadi yang menantang anak untuk bertindak kreatif melalui pemecahan masalah artistik. mengeksplorasi ambiguitas. Hal ini sesuai dengan pendapat Anugrah (2006) sebagai berikut. Kelompok mata pelajaran estetika dilaksanakan pada semua jenjang pendidikan dari sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah atas atau yang sederajat dengan standar kompetensinya disebutkan dalam PP 19 tahun 2005 yaitu: ”membentuk karakter peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa seni dan pemahaman budaya. serta mentalitasnya. keterampilan. imajinasi. perasaaan. dan /atau pandangan anak terhadap sesuatu. spiritual. (2) untuk membentuk pribadi yang harmonis dalam berlogika dan beretika bagi elaborasi peserta didik untuk mencapai kecerdasan emosional.

spontan. 2005). 1994a: 31). Dalam konteks pendidikan. Pengetahuan dan pemahaman ini diperlukan agar pendidik mampu memberikan bimbingan dan menilai hasil belajar karya peserta didik . mengekspresikan perasaannya melalui garis. Penggunaan unsur-unsur pada lukisannya tergantung pada keasyikan pemikiran dan fantasinya. Didukung oleh penalaran anak yang wajar.melukis adalah menceritakan atau mengungkapkan (mengekspresikan) sesuatu yang ada pada dirinya secara intuitif dan spontan lewat media seni lukis (Soesatyo. gembira. bidang. 4 . Penilaian proses antara lain melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan kompetensi peserta didik (PP Nomor 19. intuitif dan lebih dekat dengan sifat bermain pada anak. Ungkapan pribadinya muncul melalui bentuk-bentuk dengan makna simbolik tertentu. maka sifat-sifat yang demikian juga hadir dalam karya lukis anak. dan eksperimental. seorang pendidik harus mempunyai pengetahuan dan pemahaman tentang makna karya seni lukis bagi peserta didik. 1994b: 32). warna dan sebagainya sesuai dengan suara batin dan lingkungan anak. Sebagaimana kehidupan dan keadaan jiwa anak-anak yang pada umumnya bersifat bermain-main. Hal ini sesuai dengan kompetensi yang dituntut sebagai seorang guru yaitu menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar. maka hasil karya anak tampak sungguh naif. pikirkan dan khayalkan. Mereka dengan asyik melakukan coret-mencoret. bebas. Lebih banyak yang akan mereka ceritakan maka lebih banyak pula bentuk yang dimunculkan (Soesatyo. melainkan lebih pada apa yang mereka mengerti. Mereka melukis sebagai wujud pengungkapan pikiran dan perasaan tanpa terbatas pada apa yang dilihat oleh mata kepala saja.

Danunegaran SD Muh. padahal pelajaran melukis bagi anak-anak adalah pelajaran yang menyenangkan.Karangkajen SD Muh.Penumping SD Muh. Nitikan SD Muh. Hal ini diakui oleh dua puluh orang guru yang dapat ditemui dalam studi awal penelitian. Dengan demikian masalah subjektivitas menjadi masalah yang tidak dapat dihindari dalam penilaian karya lukis anak. Papringan SD Muh. Sebagian besar guru sekolah dasar merupakan guru kelas. sehingga kemampuan dalam menilai karya anak belum seperti yang diharapkan.Penelitian ini didasarkan pada asumsi bahwa pemahaman guru-guru terhadap hakekat pendidikan seni terutama pelaksanaan pembelajaran seni lukis sekolah dasar belum seperti yang diharapkan sehingga mereka cenderung membimbing secara kurang tepat antara lain menilai secara subjektif. Subjektivitas dalam penilaian karya seni lukis anak pada dasarnya disebabkan oleh kesulitan guru dalam menentukan kriteria penilaian. Gowongan SD Muh. (lihat Tabel 1) Tabel 1 Daftar Peserta Studi Awal No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Nama Guru (Singkatan) SW PB SR NH AG PN EL RL RP SW SS WA TR RH ET MR SR RP SL LP Umur (Tahun) 49 36 39 47 54 45 55 50 35 38 32 39 31 33 27 35 29 34 44 28 Pengalaman Mengajar (Tahun) 24 11 14 22 29 20 30 25 10 13 7 14 6 8 4 10 5 9 19 4 Nama Sekolah SD Lempuyangan 2 SD Lempuyangan 1 SD Lempuyangan 3 SD Tegal Panggung SDN Widoro SD Suryodiningratan 4 SD Langensari SD Samirono SD Suryodiningratan 3 SD Pujokusumon 3 SD Muh.Danunegaran SD Muh. Papringan SD Muh.Nitikan SD Muh. Kauman 5 .

Pada penilaian produk seorang guru dapat melihat hasil karya siswa setelah mengalami serangkaian proses pembuatan karya. Dalam konteks pendidikan. Pada penilaian proses seorang guru dapat mengamati bagaimana aktivitas siswa dalam membuat karya lukis. permasalahan penilaian karya lukis anak merupakan permasalahan yang sangat penting untuk dipecahkan karena akan 6 . (2) guru merasa kesulitan untuk menentukan kriteria dalam penilaian karya seni lukis anak. dari jawaban dan pendapat yang dikemukakan para guru. Kedua aspek penilaian ini akan memberikan gambaran tentang kemampuan melukis siswa yang sebenarnya.Penilaian hasil karya lukis siswa perlu meninjau dua aspek yaitu proses pembuatan karya lukis dan hasil karya lukis itu sendiri. Berdasarkan studi awal yang dilakukan. Hal ini lebih disebabkan karena tidak ada kriteria yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menilai proses dan produk karya seni lukis anak tersebut. Kenyataan di lapangan menunjukkan penilaian proses dan produk dilakukan guru sebatas pengetahuan yang dimiliki guru tentang seni lukis. karena latar belakang pendidikan bukan dari bidang seni rupa. baik penilaian proses maupun produk karya seni lukis anak. Sebagai guru kelas dan tidak pernah mendapat pelatihan tentang penilaian seni lukis sehingga guru mengalami kesulitan dalam menilai proses dan produk karya seni lukis. (3) belum adanya pedoman yang dapat dijadikan pegangan guru untuk melakukan penilaian seni lukis anak yang sesuai dengan perkembangan anak. dapat dirinci permasalahan di lapangan dalam penilaian karya seni lukis anak sebagai berikut: (1) adanya faktor subjektivitas dalam menilai karya seni lukis anak.

khususnya di Indonesia. Selama ini. juga harus dilihat dari segi atau sisi anak-anak itu sendiri yang menghasilkan karya yaitu dengan menghayati kondisi kejiwaan anak. kehidupan anak. tentunya tidak adil apabila hanya dilihat dari segi tampilan karya tersebut. dengan harapan agar penilaian mendekati objektivitas. Tetapi. ekspresi estetis. Studi awal tersebut menggambarkan keadaan sesungguhnya di lapangan bagaimana guru-guru. dan kreativitas peserta didik. terutama dari hakekat seni. belum tersedia. timbul perbedaan persepsi tentang instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar antara guru yang satu dengan lainnya. Hal inilah yang melandasi penelitian ini untuk mengembangkan instrumen penilaian karya seni lukis anak. 7 . B. dan dunia anak-anak itu sendiri. Rasional yang Mendasari Pentingnya Masalah Memahami karya lukis anak. kreativitas. Oleh karena itu masalah seni lukis anak tidak dapat dipisahkan dari tinjauan ilmu jiwa anak terutama dalam hal ini anak sekolah dasar. guru seni lukis menggunakan instrumen penilaian yang disusun secara mandiri.menjadi kendala dalam proses pembelajaran seni lukis anak. khususnya pengajar seni lukis kesulitan menentukan kriteria penilaian seni lukis anak. Hingga saat ini instrumen penilaian karya seni lukis anak yang telah teruji secara ilmiah yang dapat digunakan oleh guru sekolah dasar. Akibatnya. Merupakan dampak selanjutnya adalah tidak berfungsinya tujuan pendidikan seni budaya dan keterampilan dalam mengembangkan sensitivitas.

evaluasi hasil belajar. Kegiatan seni lukis anak memiliki wilayah tersendiri dan karenanya harus dilihat serta dinilai tersendiri (Soesatyo. PP 19 tahun 2005 disebutkan bahwa seorang pendidik harus mempunyai kompetensi pedagogik yakni kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik. Apalagi sampai pada suatu kesimpulan berupa penilaian yang dapat dipertanggungjawabkan. seorang guru harus mempunyai pengetahuan dan kemampuan apresiasi yang tinggi terhadap karya tersebut sehingga dapat mengerti.Cara pandang atau apresiasi guru terhadap hasil karya lukis anak berbeda dengan karya lukis orang dewasa. dan 8 . Penilaian bertujuan untuk mengetahui proses dan hasil belajar mengajar seni luksi anak. sehingga dapat memacu anak belajar seni lukis. Di samping hal tersebut. sehingga hasil dipertanggungjawabkan. baik proses maupun hasilnya. Agar penyelenggaraan proses belajar mengajar di sekolah memperoleh hasil yang penilaiannya dapat optimal hendaknya guru memiliki pengetahuan dalam menilai karya lukis anak. Penilaian merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran. Untuk sampai pada penilaian karya lukis anak. Instrumen penilaian ini akan membantu guru dalam menilai karya lukis anak secara objektif. seorang guru harus pula mempunyai wawasan yang luas dan dapat mengerti kelemahan dan kekurangan hasil karya lukis anak. menerima. Dalam pasal 28 ayat (3) butir a. dan menghargai yang didasari pengertian yang terkandung dalam karya. 1994a: 33). perancangan dan pelaksanaan pembelajaran. Untuk melakukan penilaian yang objektif diperlukan instrumen penilaian.

Hal ini dipertegas pada pasal 64 ayat 5 Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 tahun 2005 9 . Kegiatan penilaian memerlukan instrumen penilaian. Berkaitan dengan hal tersebut di atas. Penilaian yang dilakukan guru di sekolah saat ini belum menggunakan instrumen yang dapat dipertanggungjawabkan dilihat dari kriteria yang digunakan. salah satu panduan penilaian yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan adalah panduan penilaian kelompok mata pelajaran estetika. atau tujuh atau delapan dalam menilai hasil belajar praktek seni lukis anak. kehidupan anak.pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. dan kejiwaan anak perlu dipertimbangkan dalam menilai karya seni lukis anak. sering terjadi penilaian karya seni khususnya karya seni lukis anak tidak berpijak pada argumen yang tepat. agar hasil penilaian lebih akuntabel. sebab yang ada hanyalah tingkat kemampuan anak. Kompetensi pedagogik mencakup kemampuan melaksanakan pembelajaran dan menilai proses dan hasil belajar peserta didik. Akibatnya. Dalam penilaian karya seni lukis anak perlu ditegaskan tidak adanya hal yang salah. Sistem penilaian kelompok mata pelajaran estetika harus memperhatikan esensi kelompok mata pelajaran itu sendiri. guru tidak mampu menjelaskan kriteria yang digunakannya dalam memberikan nilai enam. Dalam berbagai kasus. Keberhasilan pendidikan seni tidak lepas dari peranan guru dalam menilai karya lukis anak. Dengan demikian diperlukan suatu instrumen yang dapat diacu untuk menilai karya seni lukis anak. keliru atau betul. Oleh karenanya faktor psikologis seperti dunia anak.

2001: 15). Hal ini akan memudahkan pendidik untuk menilai karya seni lukis anak dengan membandingkan hasil karya dengan kriteria yang telah ditetapkan. Dengan demikian. apakah tinggi. 10 . Penilaiannya dapat diartikan sebagai upaya menentukan kadar keartistikan. sehingga hasil penilaian dapat objektif dan dapat dipertanggung jawabkan. Dengan demikian untuk memudahkan pendidik dalam menilai karya lukis anak.tentang Standar Nasional Pendidikan. penilaian tidak akan terjebak menjadi like and dislike karena menggunakan ukuran yang jelas. Penegasan ini mengisyaratkan diperlukan cara penilaian yang bersifat khusus. Hal inilah yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pendidikan seni (Yahya. sedang. atau rendah. Karena lukisan anak merupakan wujud ekspresi artistik. bahwa “Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran estetika dilakukan melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan ekspresi psikomotorik peserta didik”. penilaian terhadap seni lukis anak harus merupakan upaya untuk menunjukkan nilai-nilai artistik lukisan tersebut. Untuk menentukan kadar keartistikan suatu lukisan diperlukan ukuran atau kriteria tertentu. diperlukan instrumen yang didalamnya terdapat kriteria yang telah ditetapkan lebih dahulu. Dengan cara demikian. maka di dalamnya terdapat dimensi keindahan. 2001: 14). Kriteria tersebut akan memudahkan penikmat dalam mengevaluasi lukisan (Yahya.

reliabilitas. 2. 4. Menentukan kriteria penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di sekolah dasar. reliabel. untuk dapat menggunakan secara kompeten instrumen hasil belajar seni lukis anak. Mengembangkan komponen instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di sekolah dasar. Mengembangkan instrumen penilaian yang valid. dan praktis untuk mengukur hasil belajar seni lukis anak. Rumusan Masalah Masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. 3. 11 . Bagaimana karakteristik instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak yang mencakup validitas. Untuk menggunakan instrumen penilaian hasil belajar seni lukis anak sekolah dasar secara optimal. kompetensi apa yang perlu dikuasai guru? D. dan keterpakaian di sekolah dasar? 3.C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1. Bagaimana komponen instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di sekolah dasar? 2. Bagaimana bentuk dan isi pedoman penggunaan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak? 4. Mengetahui persyaratan apa yang harus dipenuhi pendidik sekolah dasar.

12 . Instumen penilaian tersebut diperlukan untuk membantu guru dalam memberikan penilaian yang objektif terhadap kemampuan seni lukis anak.E. Tahap inti mencakup indikator yang berhubungan dengan aktivitas siswa dalam melukis baik dari segi kemampuan intelektual. Tahap awal mencakup indikator-indikator yang berhubungan dengan pengkondisian awal siswa sebelum melukis seperti kesiapan alat dan bahan yang diperlukan untuk melukis. Spesifikasi produk yang diharapkan adalah sebagai berikut: 1. Penilaian proses Penilaian proses terdiri dari tahap awal dan tahap inti. Spesifikasi Produk Hasil penelitian dan pengembangan. F. Secara praktis hasil penelitian diharapkan akan menjadi acuan guru pengajar seni dalam melakukan penilaian hasil karya seni lukis anak. Manfaat Penelitian Hasil penelitian akan memberi sumbangan teori pada kriteria instrumen penilaian seni lukis anak yang teruji secara empirik. Penilaian yang objektif akan membantu seorang guru mengidentifikasi kemampuan siswa dalam melukis. maupun kondisi psikologis yang mempengaruhi kualitas karya yang dihasilkan seperti keberanian dan ketekunan. diharapkan mendapatkan produk berupa instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar yang valid dan reliabel. waktu.

ekspresi. serta teknik melukis. dan hasilnya memuaskan atau tidak. bermanfaat atau tidak. 4. apakah mengerjakannya mudah atau sulit. dan keberhasilan karya temannya. 3. Penilaian kelompok Penilaian kelompok memberikan kesempatan peserta didik menunjukkan satu atau dua karya mereka secara bergiliran. 13 . Penilaian diri Penilaian diri mengungkap informasi dari tiap peserta didik. kemudian peserta didik yang lain memberikan respons dalam bentuk bahasan kritis. sehingga terkembangkan sikap oto kritis dalam memberikan penilaian terhadap hasil karya temannya. apakah suatu kegiatan melukis bagi dirinya menarik atau membosankan. sebagaimana tercantum dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk bidang seni yang terdiri dari gambar ekspresif dan imajinatif. dalam penilaian kelompok peserta didik diharapkan dapat menangani problem. serta pengalaman-pengalaman berharga mana yang berhasil dipelajari dalam kegiatan tersebut. Disamping itu. kegagalan.2. Penilaian produk Penilaian produk mengungkap adanya unsur kreativitas.

Pendekatan ini digunakan. Instrumen penilaian seni lukis anak. Model Pengembangan Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. dan bukti empirik. Data kuantitatif yang berupa hasil penilaian pendidik terhadap karya lukis anak 152 . instrumen. Bukti validitas suatu instrumen harus memiliki validitas interpretasi hasil pengukurannya. karena pengembangan instrumen penilaian seni lukis anak harus dimulai dengan membangun konstruk yang diukur. Penelitian pengembangan digunakan untuk menghasilkan instrumen yang baku dalam menilai karya lukis anak. Bukti validitas interpretasi hasil pengukuran instrumen penilaian karya seni lukis anak memerlukan data kualitatif dan kuantitatif. Instrumen yang dikembangkan disertai dengan pedoman penggunaan instrumen. Konstruk instrumen penilaian ini merupakan “tingkat ukuran” (yard stick) karya seni lukis anak. melalui berbagai penelusuran dan diskusi pakar seni lukis dan pendidikan seni lukis. Konsep validitas bersifat “unity concept” yang dibangun dari teori yang melandasi konsep pengembangan. Data kualitatif yang diperlukan merupakan landasan teoritis bangunan konstruk instrumen. sesuai dengan Standard for educational and psychological testing (1999) harus memiliki bukti validitas interpretasi hasil pengukuran. termasuk praktisi seni lukis dan guru seni lukis di sekolah dasar. yang pengumpulannya dimulai sejak awal pengembangan konstruk.BAB III METODE PENELITIAN A.

5) Main product revision. 7) Operational product revision. Develop and Disseminate.8) Operstionsl field testing. design. (5) evaluation and revision. yaitu Define. seperti berikut ini. (2) design.diperlukan untuk memperoleh informasi tentang besarnya koefisien keandalan hasil ukur instrumen. develop. Instrumen diujicobakan kepada sejumlah pendidik agar dapat diketahui keterpakaiannya dan diestimasi koefisien reliabilitas hasil ukurnya. 9) Final product revision. Thiagarajan. dan dissemination atau yang dikenal dengan 4D. 153 . dan model Borg & Gall. 6) Main field testing. and (6) implemention. Menurut Plomp (1997: 78) langkah-langkah R & D adalah sebagai berikut: (1) preliminary investigation. Sesuai dengan tujuannya. 10) Dissemination and implementation. 275-276) ada sepuluh langkah dalam melakukan R & D. Model Thiagarajan. Kriteria pengembangan konstruk instrumen mencakup aspek proses dan hasil karya lukis anak. Setelah indikator disusun menjadi item yang dirakit menjadi instrumen utuh. Beberapa model penelitian dan pengembangan yang dipakai dalam penelitian dan pengembangan (R & D) antara lain: model Semmel & Semmel. 1) Research and information collecting 2) Planning. Design. Plomp. penelitian ini menggunakan modifikasi model Semmel & Semmel dengan model Plomp. (3) realization construction. Setiap aspek diurai menjadi sejumlah indikator. Menurut Borg & Gall ( 1983. (4) test. 3) Preliminary field testing. Semmel & Semmel dikenal dengan Four-D Model. 3) Develop preliminary form of product. Tahapan pengembangannya meliputi: define. Pengembangan instrumen ini dilakukan dengan mengadopsi model penelitian dan pengembangan pendidikan secara umum. yaitu dimulainya dengan tahap preliminary investigation yang dikemukakan oleh Plomp dan research & development menurut Semmel (1974:5).

deskripsi. Terakhir. kriteria.Pada tahap define. Kegiatan yang dilakukan tahap design adalah telaah konstruk instrumen oleh para pakar dan guru sekolah dasar seni budaya (seni lukis). dan penyusunan item instrumen. kegiatan yang dilakukan adalah merumuskan definisi konstruk. dalam hal ini adalah kriteria karya lukis anak. kegiatan yang dilakukan adalah mengembangkan indikator. Tahap develop. tahap dissemination. Research & Develepment Model PRELIMINARY INVESTIGATION Identifikasi kebutuhan alat penilaian seni lukis Elaborasi kebutuhan alat penilaian seni lukis yang relevan DEFINE Merumuskan definisi konstruk instrumen Mengkaji konsep instrumen karya lukis anak berdasarkan teori Penentuan konstruk instrumen Telaah konstruk oleh pakar Mendesain konstruk instrumen Pengembangan indikator Penyusunan item instrumen Telaah item instrumen Perbaikan instrumen Uji coba instrumen Analisis instrumen Pembakuan instrumen FGD Sosialisasi instrumen karya lukis anak DESIGN DEVELOP DISSEMINATE Gambar 40. dan mengkaji konsep instrumen karya lukis anak berdasarkan teori dan hasil penelitian yang relevan. Secara rinci model pengembangan instrumen disajikan pada Gambar 40. kegiatan yang dilakukan adalah uji coba instrumen terhadap guru sekolah dasar. Model Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak 154 .

tahapan atau prosedur pengembangan lebih lanjut dapat dijabarkan sebagai berikut. Tahap Studi Awal Pada tahap awal (preliminary investigation) ini. tentang pentingnya profesionalisme guru pendidikan seni dan komitmen terhadap tugas merupakan faktor penting untuk kelangsungan pembelajaran dan pencapaian kualitas hasil belajar anak didik. 1. penjelajahan juga dilakukan terhadap hasil-hasil penelitian yang relevan untuk mendukung gagasan instrumen penilaian seni lukis yang sesuai dengan kebutuhan guru di lapangan. yang dilatarbelakangi bagaimana membuat suatu penilaian menjadi sebuah elemen pembelajaran yang aktif dan positif dari pengajaran.B. sasaran penilaian karya seni lukis. antara lain penelitian Ismiyanto tahun 2002 yaitu penelitian tentang visualisasi lukisan karya anak-anak usia sekolah dasar ditinjau dari tema dan subjek mencerminkan kehidupannya dan menunjukkan adanya upaya anak mengidentifikasi diri dalam karyanya. Selain itu. Demikian juga hasil penelitian Coney tahun 1999. dilakukan pengkajian pustaka yang berkaitan dengan identifikasi jenis. Substansi yang ditelaah pada tahap ini adalah mengkaji analisis kurikulum yang berlaku untuk matapelajaran seni budaya dan keterampilan. Penelitian Syahrul yang dilakukan tahun 2001. Hasil penelitian membuahkan tujuh kriteria untuk melihat kemajuan anak dalam berkarya seni yaitu: (1) kemampuan untuk mengamati dan merekam 155 . Penelitian yang relevan tersebut. Prosedur Pengembangan Berdasarkan model pengembangan pada Gambar 40.

Tahapan Studi Awal Pengembangan Instrumen Seni Lukis Anak 2. sehingga diperoleh indikator dan deskripsi. Kajian Pustaka Analisis Kurikulum Masalah Riil Elaborasi Indikator Deskripsi Level Kriteria Gambar 41. Tahap Pendefinisian Tahap pendefinisian (define) adalah tindakan untuk menyusun definisi tentang unsur. sasaran penilaian seni lukis diikuti penjabaran indikator. maka dilakukan wawancara terhadap guruguru yang mengajar seni lukis di SD. Tahap pendefinisian merupakan tahap 156 . deskripsi. yaitu mengolah ketiga unsur tersebut. Dengan demikian hasil karya seni lukis pada dasarnya dapat dinilai dari sudut kreativitas. dan kriteria penilaiannya. (3) minat dan motivasi anak.pengalaman visual anak. Kemudian untuk mendapatkan kebutuhan realita di lapangan. level. ekspresi dan teknik. analisis kurikulum. Setelah dilakukan identifikasi pada ketiga hal tersebut. (6) menekankan kembali batasan-batasan dari suatu tugas. dan kriteria penilaian yang disajikan pada Gambar 41. yaitu kajian pustaka. (2) pengembangan ketrampilan teknis. (5) pencapaian sasaran pembelajaran. (4) ekspresi dan kontrol atas ide-ide yang diungkapkan termasuk kreativitas. dan studi lapangan. selanjutnya dilakukan elaborasi terhadap ketiga unsur tersebut. dan (7) komitmen anak dalam mengerjakan tugas rumah.

deskripsi. kelancaran penuangan ide. kesiapan alat dan bahan untuk melukis. indikator yang terjaring ada 10 macam. kriteria. keberanian menggunakan media. Indikator Deskripsi Kriteria Rubrik Bagan 42. Dalam kaitan dengan ini. pemanfaatan waktu. yaitu pendefinisian tentang indikator. deskripsi. Indikator menjadi acuan dalam mengembangkan item. kriteria. Tahap Perancangan Tahap perancangan (design) adalah tindakan merancang kisi-kisi instrumen alat pengukur karya seni lukis sehingga bisa diketahui dimensi yang diukur atau konten dan jabaran dari tiap-tiap unsur sasaran penilaian seni lukis. yaitu: tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat. dan rubrik penskoran. Kisi-kisi yang dimaksudkan sebagai upaya memaparkan pola hubungan antara konstruk (dimensi yang diukur) dengan indikator. keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk. kemudian ditetapkan kriteria disertai rubrik penskoran. dan item. dan teknik. Tahapan Pendefinisian Instrumen Seni Lukis Anak 3. Visualisasi proses ini disajikan pada Gambar 43.lanjutan dari tahap awal. 157 . Setelah deskripsi dikembangkan secara operasional. Dengan demikian kisi-kisi dapat dipakai sebagai bukti pada proses validasi. kreativitas. Selanjutnya masing-masing indikator dijabarkan menjadi deskripsi. ketekunan. ekspresi.

FGD putaran pertama dilakukan 158 . FGD adalah suatu metode diskusi secara mendalam yang melibatkan kelompok kecil yang homogen (6-12 orang) untuk mendiskusikan topik tertentu. dan pertimbangan tentang topik yang didiskusikan. R. perbaikan.Proses . berdasarkan kisi-kisi Item yang disusun menjadi perangkat instrumen penilaian seni lukis. Menurut Krueger. A. sikap. dan guru seni lukis dalam forum Focus Group Discussion (FGD).Produk Konten Sasaran Gambar 43. dengan bantuan seorang moderator/fasilitator untuk mendorong peserta mengungkapkan pendapat. Tahapan Perancanganan Instrumen Seni Lukis Anak 4. & Casey.Berdasarkan hasil FGD. Pentelaahan kisi-kisi dilakukan oleh pakar seni lukis anak. dan perakitan kisi-kisi. selanjutnya kisi-kisi diperbaiki dan dirakit sehingga menjadi acuan dalam penyusunan item. Setelah prototipe awal diperoleh kemudian ditindaklanjuti dengan validasi ahli dengan teknik FGD sebanyak tiga putaran. Tahap Pengembangan Pada tahap pengembangan (development) dilakukan penyusunan kisikisi penelaahan. Perangkat instrumen ini disebut prototipe awal instrumen penilaian seni lukis. . Tujuan diskusi adalah untuk menggunakan dinamika kelompok.Kajian Pustaka Kebutuhan Lapangan Dimensi (Kisi-kisi) . A. M. pakar pendidikan seni. (2000).

1(satu) orang pakar seni lukis anak. Berdasarkan saran dan temuan pada FGD putaran 2 (dua). Pada tahap 2 (dua) berdasarkan kriteria hasil FGD putaran kedua. 159 . penilaian kelompok merupakan hasil dari FGD putaran 3 (tiga) yang diselenggarakan pada tanggal 10 April 2008. penilaian diri. dilakukan revisi. Komponen proses terdiri 2 (dua) tahap. selanjutnya dilakukan revisi sehingga diperoleh prototipe 1. kemudian diperoleh saran dan temuan berupa diskripsi dari masing-masing indikator. Setelah prototipe 1 direvisi selanjutnya dilakukan FGD putaran 2.pada tanggal 26 Februari tahun 2008 di Pascasarjana UNY yang dihadiri oleh 7 (tujuh) peserta FGD terdiri dari: 1 (satu) orang pakar pendidikan seni. Setelah memperhatikan saran dan temuan hasil FGD putaran pertama. 1 (satu) orang pakar pendidikan seni. yaitu tahap awal dan tahap inti. yang dilaksanakan pada tanggal 13 Maret 2008 dihadiri 7 (tujuh) orang terdiri dari: 2 (dua) orang pakar pendidikan seni. berupa kriteria seni lukis anak. 2 (dua) orang pakar seni lukis anak. dan 3 (tiga) pendidik seni lukis sekolah dasar. Setelah direvisi kemudian digunakan untuk menyempurnakan prototipe 2 (dua) menjadi prototipe 3 (tiga) yaitu. dan 4 (empat) orang pendidik seni lukis sekolah dasar. dan 4 (empat) orang pendidik seni lukis sekolah dasar. Kesimpulan hasil FGD adalah bahwa penilaian dilakukan pada komponen proses dan komponen produk pembelajaran. dihadiri oleh 8 (delapan) orang terdiri dari 3 (tiga) orang pakar pengukuran. dan kemudian diperoleh bobot prosentase penilaian proses 60% dan produk 40%. sehingga diperoleh prototipe 2 (dua).

tahap inti).Selanjutnya hasil dari FGD tahap 3 (tiga) berupa prototipe 3 (tiga) diseminarkan pada tanggal 16 April 2008 di Pascasarjana UNY yang dihadiri oleh 10 orang terdiri dari 1 (satu) orang pakar pendidikan seni/promotor. sehingga diperoleh hasil instrumen penilaian seni lukis anak yang terdiri dari penilaian proses (tahap awal. 6 (enam) mahasiswa S3 PEP UNY. penilaian produk. 3 (tiga) pakar pengukuran. Hasil dari seminar yang berupa instrumen penilaian seni lukis anak kemudian dipakai untuk pengambilan data uji coba penelitian. Indikator Deskripsi Level Kriteria Prototipe 1 FGD-1 Analisis Revisi Indikator Prototipe 2 FGD-2 Analisis Item Revisi Deskripsi Prototipe 3 FGD-3 Analisis Revisi Kriteria Prototipe Tentatif Gambar 44. Skema Tahap Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak 160 . Untuk kejelasan tahap-tahap pengembangan instrumen dapat dilihat pada Gambar 44.

Skema Tahap Diseminasi Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak C. yang ditandai banyaknya 161 . Pedoman penilaian seni lukis anak divalidasi oleh pendidik seni lukis melalui FGD yang meliputi petunjuk penggunaan. (2) ketersediaan pendidik dalam bidang seni lukis. Uji coba Produk 1. dan kelayakan penyajian yang meliputi sistematika. maka tahap selanjutnya adalah membuat pedoman instrumen penilaian seni lukis anak. Tahapan diseminasi tersebut disajikan pada Gambar 45.5. Desain Uji coba Uji coba ini dilakukan di Kota Yogyakarta. Draf Pedoman FGD Analisis Revisi Pedoman Baku Gambar 45. Tahap Diseminasi (Disseminate) Setelah uji coba sampai dengan analisis data uji coba instrumen dan menghasilkan instrumen prototipe tentatif. Tempat ini dipilih karena berbagai pertimbangan Yogyakarta: (1) memiliki cukup banyak sekolah dasar yang melaksanakan program pembelajaran seni lukis anak. keterbacaan. (3) daerah ini dipilih juga karena banyak karya seni lukis yang berkembang di daerah ini. kriteria penilaian. dan penampilan fisik. Kemudian diadakan sosialisasi pada pendidik dan praktisi.

Hasil uji coba yang berupa prototipe instrumen penilaian karya lukis anak dan kemudian diseminarkan pada tanggal 16 April 2008 yang dihadiri 12 (dua belas) orang terdiri dari promotor. daerah lain. 162 Selanjutnya . Desain Uji coba Intrumen Seni Lukis Desain uji coba seperti tampak pada Bagan 8 dilakukan di kelas 1. dan 3 di tiga sekolah dengan melibatkan tiga orang guru seni lukis. keterpakaian pedoman penggunaan instrumen. Guru seni lukis yang terlibat diberi pelatihan sebelum melaksanakan uji coba. Uji coba ini bertujuan untuk memperoleh informasi dari lapangan tentang konstruk instrumen. Disain uji coba produk mengikuti Prototipe Instrumen Seminar Analisis Revisi Instrumen Baku Draf Panduan FGD Revisi Panduan Baku Gambar 46. Hasilnya kemudian dianalisis dan direvisi sehingga menjadi instrumen baku. Konstruk instrumen penilaian karya lukis anak merupakan kriteria penilaian karya lukis anak. dan proses pengembangan instrumen.sanggar seni lukis anak. pakar pengukuran dan pakar pendidikan seni. 2. dan (4) frekuensi lomba seni lukis anak yang relatif cukup tinggi dibandingkan alur seperti Gambar 46.

Sekolah Dasar Negeri Langensari . keterbacaan. dan Sekolah Dasar MIN Tempel. Pada tahap G-study dipilih tiga sekolah. dua. Subjek penelitian peserta didik dipilih melalui dua tahap. jumlahnya sebanyak 20 orang di ambil secara random. Sekolah Dasar Muhammadiyah Sapen. masingmasing sekolah dipilih satu guru seni lukis. Sedangkan masing-masing sekolah terdiri dari siswa kelas satu. pemilihan subjek penelitian ditentukan berdasarkan koefisien G-study dalam wilayah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada tahap D-study. Hasil FGD ini digunakan untuk memperbaiki pedoman penilaian sehingga menjadi pedoman guru dalam menilai seni lukis anak. Subjek Coba Subjek uji coba adalah pendidik yang mengajar seni lukis anak yang ada di tiga sekolah di Kota Yogyakarta.study dan tahap D-study. kriteria penilaian. Subjek penelitian adalah peserta didik yang terdiri dari tiga sekolah. Ketiga sekolah tersebut tersebar pada kota Yogyakarta dan kabupaten Sleman. dan kelayakan penyajian yang meliputi sistematika. Pendidik diperlukan sebagai subjek uji coba untuk memperoleh koefisien keandalan instrumen dan keterpakaian instrumen penilaian karya lukis anak. 2. 163 dengan asumsi bahwa kedua . dan tiga. yaitu tahap G. dan penampilan fisik.disusun draft pedoman penggunaan instrumen seni lukis anak dan kemudian divalidasi oleh pendidik seni lukis anak melalui FGD yang meliputi petunjuk penggunaan.

3. dan praktisi lapangan.kabupaten/kota tersebut dapat mewakili/representatif DIY. Data ini diperoleh melalui diskusi para pakar seni lukis. Penentuan tiga sekolah tersebut didasarkan pada pertimbangan sekolah yang melaksanakan pembelajaran seni sesuai dengan KTSP dengan didukung tenaga pendidik yang memiliki latar belakang pendidikan seni rupa. Data ini berupa hasil penilaian karya lukis anak yang dilakukan oleh pendidik. dan penilaian kelompok. penilaian diri. dua. pakar pendidikan seni lukis. Dari ketiga sekolah tersebut dipilih kelas satu. dan tiga sebagai subjek ujicoba karena pada KTSP untuk tingkat Sekolah Dasar dalam mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan seni lukis hanya dilaksanakan pada kelas satu. Instrumen ini dilengkapi dengan pedoman penilaiannya. Data kuantiatif digunakan untuk memperoleh koefisien keandalan instrumen. dua. Data kualitatif diperoleh melalui instrumen penilaian diri dan penilaian kelompok dalam bentuk jawaban terbuka dari subjek penelitian. dan tiga. Selain itu data kualitatif dan kuantitatif digunakan untuk menentukan keterpakaian instrumen. 164 . produk. Data kuantitatif diperoleh melalui intrumen untuk menilai proses. Data kualitatif digunakan untuk mengembangkan konstruk instrumen. Pedoman penilaian seni lukis anak merupakan acuan yang digunakan pendidik dalam menilai seni lukis anak. Jenis Instrumen Pengumpul Data Data penelitian ini terdiri atas data kuantitatif dan kualitatif.

dan interpretasi dari varians komponen untuk membuat keputusan. Hal yang penting pada D-study adalah spesifikasi dari generalisasi universe.Pedoman ini berisi cara menggunakan instrumen. 4. penggunaan. Penentuan koefisien keandalan instrumen penilaian dilakukan dengan menggunakan paket program komputer Genova berdasarkan teori generalizability yang dikembangkan oleh Crick dan Brennan pada tahun 1983 yang disebut dengan A Generalized Analysis of Variance System. dengan prosedur pengukuran yang baik. pakar bidang penilaian pendidikan. Menurut Thomson (2003: 43). menskor. Teknik Analisis Data Pengujian konstruk instrumen dilakukan melalui pendapat para pakar bidang seni lukis. teori generalizability adalah teori pengukuran modern yang memiliki keunggulan dibanding teori tes klasik. dan para praktisi lapangan. D-study menekankan estimasi. Pertemuan dengan kelompok yang berbeda dilakukan tiga kali untuk memperoleh masukan yang lebih banyak sehingga diperoleh hasil yang dapat diandalkan. Pada G-study dilakukan estimasi sejumlah varians komponen. Beberapa keunggulan yang penting adalah: (1) memperhitungkan sumber 165 . Pada teori ini ada G (generalized study) dan D (decision study). Menurut Brennan (1983: 3). Banyaknya komponen ditentukan oleh model yang digunakan. yaitu universe berlakunya generalisasi D-study dengan suatu prosedur pengukuran tertentu. dan menafsirkan hasilnya. Hasil dari G-study digunakan pada D-study.

i: r D-study. varians kesalahan.kesalahan pengukuran yang jamak secara simultan.e = σ p + σ r2:i . dan kesalahan. nested. termasuk varians kesalahan. Besarnya koefisien keandalan sebenarnya dan rasio antara varians sistematik atau varians menggunakan satu facet p x(i: r) G-study yang bersarang untuk mengestimasi varians komponen. 2 2 σ p . maka dapat diestimasi varians sebenarnya (true variance). interaksi person dan rater. Penelitian ini absolut. Estimasi varians setiap komponen 166 . item.e Keterangan: p = person r = guru/rater i = item r:i = rater bersarang pada item e = kesalahan Setelah varians komponen diperoleh. Selanjutnya dapat diestimasi besarnya indek keandalan hasil pengukuran. generalizeability dan koefiesien phi untuk one-facet. (2) memperhatikan efek kesalahan pengukuran interaksi. dan (3) mengestimasi koefisien keandalan baik yang relatif maupun yang merupakan varians total.e) adalah jumlah varians komponen dalam Gstudy bersarang yang dapat ditulis sebagai berikut. G studynya menggunakan rancangan bersarang (nested design) dan D-study-nya juga menggunakan rancangan bersarang (nested design).r:i . yaitu rasio varians sebenarnya terhadap varians keseluruhan komponen. Penelitian ini menggunakan GENOVA yang komponen variansnya adalah person. r:i. rater. Varians komponen yang berbaur pada rancangan bersarang (p.

penilai dalam menilai hasil karya lukis anak berinteraksi dengan anak yang bersarang pada item. sedang untuk efek interaksinya adalah varians person item. σ²(r : i) = σ²(r. Cara penilai (rater) dalam menilai karya lukis anak (p) tergantung pada pendapat penilai terhadap item yang dinilai. sehingga dikatakan rater bersarang pada item. σ²(p) adalah varians person (peserta didik). r. varians rater yang bersarang pada item. Rancangan yang digunakan untuk G-study adalah px(i:r). Jadi ada varians person. varians rater. 167 . r:i dan efek interaksinya adalah pi. dan varians penilai bersarang pada i untuk efek utama. Besarnya koefisien keandalan instrumen penilaian adalah: σ²(p) Eρ² = —————— σ²(p) + σ²(δ) Eρ² adalah nilai harapan koefisien keandalan instrumen.dan besarnya indeks keandalan hasil pengukuran dengan instrumen yang dikembangkan peneliti menggunakan paket program GENOVA. Rancangan px(r:i) ini berdasarkan analisis varians efek random memiliki efek utama: p. pr bersarang pada i. Besarnya varians r bersarang pada i dapat ditulis sebagai berikut. σ²(δ) adalah varians kesalahan. yaitu item bersarang pada rater. ri)= σ²(r) + σ²(ri).

Untuk melihat reliabilitas dari kriteria instrumen penilaian seni lukis anak hasil uji coba. Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian instrumen seni lukis anak untuk kelas 1. sedangkan penilaian diri dan penilaian kelompok masing-masing ada 5 (lima) item. varians item. ada 7 (tujuh) item yang menjadi objek penilaian. digunakan koefisien Cohen’s Kappa.70 (Linn. pada penilaian produk ada 3 (tiga) item. yaitu 0. Selanjutnya nilai koefisien κ yang dihasilkan dibandingkan dengan kriteria minimal yang diperkenankan.Varians kesalahan terdiri atas varians rater. dan kelas 3. Koefisien interrater adalah salah satu sarana untuk melihat tingkat konsistensi atau keajegan antar rater dalam memberikan rating terhadap unjuk kerja karya seni lukis siswa. 1990: 143). dan varians interaksi rater item. Untuk keperluan ini. kelas 2. 168 . Besarnya varians ini diestimasi dengan menggunakan teknik analisis varians rancangan efek random. Pada penilaian proses. digunakan analisis koefisien interrater.

tenun.BAB II KAJIAN PUSTAKA A. bangunan. pendidikan seni rupa selain melatih keterampilan peserta didik agar lancar berkarya seni rupa. Secara visual Soedarso (2006: 97) membagi seni rupa menjadi dua bagian besar. intarsia. Ditinjau dari tujuannya. lukisan. fotografi. Dalam proses pembelajarannya. yaitu (1) seni rupa dua dimensi seperti gambar. monumen. Pendidikan Seni Rupa 1. dan kesadaran kultural dalam kehidupan bermasyarakat (Rohidi. keramik dan sebagian besar seni kriya lainnya. 14 . dan benda produknya. Pengertian Pendidikan Seni Rupa Pada hakekatnya pendidikan merupakan suatu proses untuk mempersiapkan peserta didik menuju ke kedewasaan. mengembangkan etika. dan cita rasa estetik peserta didik. kreativitas. 2000: 55). Dengan demikian pendidikan seni rupa merupakan media untuk mencapai tujuan pendidikan secara umum. kesadaran sosial. Pendidikan seni rupa berfungsi mengembangkan kepekaan rasa. dan kolase dan (2) seni rupa tiga dimensi seperti patung. pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan untuk dapat hidup di tengahtengah masyarakat dan kemudian dapat memberikan manfaat bagi lingkungan. mosaik. dengan segala watak. pendidikan adalah membentuk manusia yang memiliki kepribadian yang kuat dan beradab sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan zaman. Keduanya bisa dipecah berdasar atas medium. juga dimaksudkan sebagai sarana atau alat pendidikan. teknik atau proses pembuatan. sulam. seni grafis.

logam. benda. misalnya kayu. tanah liat. ditinjau dari proses pembuatan dan bentuk karya yang dihasilkan. Seni kria menekankan pada keterampilan teknik pembuatan karya dengan hasil karya yang bersifat fungsional dan non fungsional. Desain merujuk pada proses pembuatan karya yang maksud dan tujuannya telah ditentukan lebih dahulu. meliputi seni lukis. tekstil. yang mempunyai peranan memenuhi tujuan-tujuan tertentu dalam kehidupan manusia tidak hanya memenuhi kebutuhan estetik semata. atau lingkungan yang didasarkan pada persyaratan-persyaratan tertentu. dalam hal ini menyatukan proses penciptaan karya yaitu antara sistematis. kreatif. seperti lukisan atau patung. Sedangkan pengertian seni rupa sendiri adalah suatu hasil interpretasi dan tanggapan pengalaman manusia dalam bentuk visual dan rabaan. seni kria. dan inovatif. dan desain.Sejalan dengan hal tersebut di atas. Istilah seni rupa secara etimologi merupakan padanan kata dari visual art (seni rupa yang dapat dilihat/diraba). dan lain-lain. Keindahan adalah nilai-nilai estetik yang menyertai sebuah karya seni 15 . ada pula yang menyebut sebagai pure art (seni murni). pembicaraan tentang seni rupa terkait dengan masalah keindahan. Rohidi dan Hartiti (2002: 8-9) mengemukakan: seni rupa dapat dibedakan menjadi seni rupa murni. Secara umum. Karya desain berupa rancangan gambar. fine art (seni indah). seni patung. serta menggunakan media tertentu. Seni rupa murni menekankan pada ungkapan pikiran dan perasaan. dan seni grafis. Dalam hal ini penciptaan benda hias yang mengutamakan nilai artistik dikenal dengan sebutan craft (seni kria). Namun istilah pure art di masa sekarang dipadankan dengan karya seni murni yang tidak memiliki kegunaan praktis.

menarik. dan rasa senang. keselarasan (harmony). yang menyebabkan reaksi emosional atau respons estetik. nyaman. Dalam dunia kesenirupaan. dan sebagainya bagi apresian. moral (MQ). Hal ini tentunya didukung oleh kemampuan pengungkapan ekspresi intuitif dan perasaan estetis seseorang melalui teknik. adversitas (AQ) dan spiritual (SQ). ketika mengamati karya seni rupa. pengalaman estetik adalah perasaan (positif atau negatif) yang merupakan reaksi seseorang. haru. kinestetika.rupa. Reaksi ini mungkin sesuai atau tidak sesuai dengan pendapat orang tersebut. Sesungguhnyalah pengalaman estetik dapat menyebabkan timbulnya reaksi emosional atau respons estetik seseorang. Menurut Pappas (2006: 3). Pendidikan seni rupa berperan tidak hanya dalam pembentukan pribadi yang harmonis dalam logika. Jalan yang ditempuh sesuai yang tercantum pada pedoman khusus mata 16 . serta etika. bahagia. intelektual (IQ). dan konsep dalam penciptaan karya seni rupa. karya seni rupa dapat menimbulkan berbagai kesan misalnya indah. Disamping itu. rasa estetik dan artristiknya. Prinsip-prinsip keindahan tersebut adalah unsur kesatuan (unity). unik. dan kontras (contrast) sehingga menimbulkan perasaan nikmat. bahan. keseimbangan (balance). baik secara mental dan/atau pun fisik. tetapi juga berperan dalam perkembangan anak untuk mencapai kecerdaan emosional (EQ). Keindahan juga dipahami sebagai pengalaman estetik yang diperoleh ketika seseorang mencerap objek seni atau dapat dipahami sebagai sebuah objek yang memiliki unsur keindahan. untuk menentukan kualitas karya harus mempertimbangkan nilai-nilai keindahan yang disebut dengan prinsip-prinsip keindahan.

yang dilakukan melalui pengamatan dan pembahasan karya seni rupa. warna. pemahaman. dan menghormati (BSNP. peserta didik diberi peluang untuk mengekspresikan pengalaman estetiknya dalam wujud karya seni rupa. Kegiatan pembahasan untuk memperoleh kesadaran dan pemahaman tentang penciptaan karya seni rupa berdasarkan telaah tentang seniman dan zamannya. Kegiatan pengamatan dimaksudkan untuk memperoleh pengalaman estetik. garis. Pendidikan seni di sekolah diimplementasikan dalam bentuk mata pelajaran Seni Budaya untuk tingkat SMA dan SMP. bentuk. Pengalaman estetik dalam pendidikan seni rupa di sekolah. melalui pencerapan nilai intrinsik dari karya seni rupa tersebut. bidang. dengan mengambil unsur-unsur titik. tujuan penciptaan. dan penghargaan terhadap karya seni. 2006: 186). tekstur. baik tradisi maupun modern. diimplementasikan dalam dua kegiatan yaitu apresiasi (appreciation) dan kreasi (creation). proses dan teknik berkarya sesuai dengan nilai budaya dan keindahan dengan tidak mengesampingkan aspek fungsi serta sesuai dengan konteks sosial budaya masyarakat sebagai sarana untuk menumbuhkan sikap saling memahami. Sedangkan pada kegiatan kreasi (creation). volume. Aktivitas yang dilakukan melalui kegitan eksplorasi dan eksperimen dalam mengolah gagasan (konsep). pengaruh seniman besar terhadap karya tersebut. media (teknik). menghargai. secara individual maupun kelompok. Kegiatan apresiasi bertujuan mengembangkan kesadaran. sedangkan untuk tingkat SD 17 . prinsip. dan ruang untuk mewujudkan karya seni rupa. sehingga dapat memberikan penghargaan.pelajaran adalah dengan cara mempelajari elemen.

Lim Chin Choy (2005: 293) mengatakan bahwa ekspresi bertujuan untuk mempertunjukkan kepada orang lain (to exhibit). seni musik. seni tari. Sesuatu yang disampaikan berupa buah pemikiran dan perasaan yang diwujud inderakan dengan menggunakan sarana yang dapat diamati lewat panca indera. a. Pembelajaran seni rupa di sekolah memiliki sasaran sebagai berikut. Namun demikian. tindakan atau lukisan adalah hal yang menyenangkan dan meringankan. sehingga dapat dikatakan bahwa dengan berekspresi dapat meringankan ketegangan seseorang. imajinasi dan keinginan peserta didik. Mengungkapkan sesuatu dengan kata. dan menjadi terapeutik atau menumbuhkan kreativitas. Ekspresi dalam pendidikan seni adalah curahan jiwa/isi hati yang menekankan pada proses pengungkapkan pengalaman estetik peserta didik yang berkaitan dengan emosi. Menurut Soehardjo (2005: 120) ekspresi merupakan ungkapan penyampaian sesuatu dari seseorang kepada orang lain. Mata pelajaran Seni Budaya tersebut mencakup seni rupa. Berekspresi dapat pula berfungsi sebagai katarsis. daya pikir. dan seni drama. Dengan demikian kemampuan ekspresi perlu dikembangkan pada peserta didik sejak dini karena peserta didik dimungkinkan dapat mengungkapkan berbagai pengalaman atau berbagai hal yang menggejala dalam dirinya untuk dikomunikasikan kepada orang lain melalui senirupa khususnya sebagai sesuatu 18 .adalah Seni Budaya dan Ketrampilan. dapat juga sebagai ekspresi diri yaitu ekspresi keindividuan seseorang. Mengembangkan Ekspresi Ekspresi pada dasarnya merupakan kebutuhan dalam hidup manusia untuk mencari kepuasan. Sejalan dengan hal tersebut.

Karena ketidaktahuan inilah anak cenderung lebih bebas dan merasa leluasa. daya menyesuaikan diri dalam segala situasi. kualifikasi perlu di buat hubungan antara pengalaman estetik dengan pengalaman merasakan. Dengan demikian pengalaman berekspresi menunjang dasar-dasar kebebasan. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Soedarso (1973: 5) bahwa pendidikan seni rupa adalah pendidikan ekspresi. sesungguhnya pengalaman estetik merupakan suatu pengalaman yang khas dan unik yang ditandai dengan terpuaskannya “hasrat akan sesuatu yang harmoni dan lengkap. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik terlatih dan mampu mengemukakan isi hati. juga melatih keberanian mengungkapkan pengalaman estetik. maka pengalaman estetik kehilangan sifatnya yang khas. ide dan gagasan-gagasannya. Karya seni yang 19 . Di samping itu . kemampuan membuat analisis yang tepat. seni lukis misalnya karena anak relatif belum banyak pengetahuan tentang aturan-aturan/norma-norma yang mengikatnya. 2001: 1). Ia memberi kesempatan kepada anak untuk melahirkan pengalaman batinnya dengan leluasa. kemampuan menanggapi suatu masalah.” Kepuasan ini lahir dari proses keterlibatan batin. tidak takut salah. sehingga hasil karyanya terkesan jujur dan spontan. membiasakan anak untuk mengeluarkan isi hatinya dengan bebas. Walaupun demikian.yang ada maknanya. Dampak selanjutnya diharapkan peserta didik memiliki daya cipta. Padahal. Jika semua pengalaman dirasakan sebagai pengalaman estetik. melatih anak berpikir merdeka. tanpa paksaan. baik dalam proses kreasi maupun dalam kegiatan persepsi (Salam. Anak biasanya lebih bebas dalam berekspresi untuk mewujudkan suatu karya seni rupa.

Peran pendidik diharapkan dapat mengembangkan kepekaan atau sensitivitas yang dimiliki peserta didik. Dengan demikian sebelum berkarya peserta didik dimotivasi mengamati objek dengan berbagai masalahnya sebelum dituangkan dalam karyanya. Terutama peka terhadap lingkungan yang banyak mengandung permasalahan. b. Peserta didik menjadi peka terhadap lingkungan. Melalui aktivitas seni rupa. hidung. dan tekstur bukan lagi sebagai elemen fisik. bekerjasama. mudah mencerap suatu rangsangan. tetapi mencerminkan ekspresi kejiwaan yang kuat. warna. Dengan melatih kepekaan rasa diharapkan kelak anak dapat menjadi anggota masyarakat yang dapat menjaga lingkungannya dan ikut melestarikan peninggalan seni dan budaya.dihasilkan menunjukkan kemurnian pengungkapan perasaan mereka. telinga. kepekaan menjadi terlatih sehingga apabila ada permasalahan peserta didik bisa merasakan dan diharapkan dapat mengatasi permasalahan tersebut. dan cepat dapat menghayati sesuatu. Peserta didik diberi kesempatan untuk menggunakan panca indera seperti mata. Garis. Mengembangkan Sensitivitas Sensitif artinya peka/perasa terhadap rangsangan. mudah menerima. menghargai dan dihargai dapat dipupuk. Demikian juga kepekaan sosial terhadap lingkungan sekitar serta kemampuan bekerjasama dalam membuat karya kelompok dapat mengolah sikap dan perasaan sosial anak. 20 . kemampuan anak dalam mengolah kesadarannya terhadap orang lain di lingkungan sekitar dalam berkomunikasi. dan indera peraba menjadi dasar cerapan dalam berkarya.

proses perenungan. maupun proses mencipta dalam organisasi dari kehidupan subjektif pikiran dan praktis manusia. pengembangan dan pemantapan gagasan menjadi suatu gambaran pravisual untuk diwujudkan menjadi ujud yang konkrit. sekaligus merupakan proses aktualisasi diri atau kapabilitas yang dihadirkan dalam karya seni. merupakan tahap terakhir yaitu proses visualisasi dengan medium yang merupakan sarana untuk memvisualisaikan gagasan menjadi suatu karya seni. Dengan demikian proses kreatif merupakan pengejawantahan emosi dan representasi posisi pemikiran pembuat karya terhadap berbagai masalah yang dihadapi. mencari sumber gagasan. merupakan tahap awal yaitu usaha menemukan gagasan. (2) Elaboration and refinement. Unsur-unsur 21 . inspirasi. lingkungan. Padahal sesuatu yang intuitif itu bersifat bawah sadar. orisinalitas karya.c. suatu sikap. Berbicara mengenai sifat bawah sadar berarti memasuki wilayah proses kreatif yang menurut Susanto (2003: 8) yaitu wilayah proses perubahan. Kreativitas bukan hanya muncul dari suatu hasil pemikiran dan dorongan perasaan. pertumbuhan. Adapun unsur pendorong dalam laku kreatif seperti yang diungkapkan Dix dan Ernst dalam Susanto (2003: 9) adalah adanya sarana. (3) Execution in a medium. yaitu: (1) Inception of an idea. yaitu proses penyempurnaan. keterampilan. Ada tiga tahap proses kreatif yang dikemukakan Chapman (1978: 45). proses evolusi. dan identitas. apresiasi. namun juga melibatkan kepekaan intuitf. keadaan mental yang sangat khusus sifatnya. Mengembangkan Kreativitas Kreativitas adalah suatu kondisi.

Dengan demikian melalui seni rupa kreativitas anak dapat berkembang. karena dihasilkan oleh diri sendiri pelaku seni. sikap untuk selalu mencari sesuatu yang orang lain belum mengetahuinya. karena melalui kegiatan seni rupa anak dapat mengungkapkan apa yang ada dalam dirinya yang berkaitan dengan emosi. sikap yang untuk tidak selalu puas dengan apa yang sudah ada dan sudah didapat. daya pikir. memperinci) suatu gagasan. media pengembangan bakat seni yang dimilikinya.tersebut saling berpadu dan saling mempengaruhi dan saling bergantung untuk menjalankan tahapan-tahapan dalam membentuk karya seni. Tampilan karya yang kreatif selalu tampil tunggal (unicness). asli (original). Manfaat Pendidikan Seni Rupa Kegiatan seni mempunyai manfaat langsung maupun tidak langsung yang dapat dirasakan oleh peserta didik. karena belum pernah ada sebelumnya. dan ber-kebaruan (novelty). karena dengan membuat karya seni rupa membentuk anak untuk berani mengambil resiko. keluwesan (fleksibilitas) dan orisinalitas dalam berpikir. media untuk berkomunikasi. Manfaat langsung yang dapat dirasakan adalah sebagai media untuk berekspresi. memperkaya. 22 . serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan. media bereksplorasi. Hal ini didukung oleh Munandar (1999: 50) yang mengatakan bahwa kreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran. 2. Hal ini sangat berguna dalam pembentukan pribadi anak. Sebagai media ekspresi. imajinasi serta keinginan anak tanpa memperhatikan apakah ungkapan yang tervisualisasi dalam karya tersebut dapat dimengerti oleh orang lain atau tidak. karena tidak terdapat kembarannya.

dan mampu bertingkah laku dengan penuh tanggung jawab serta mampu mempertanggungjawabkan tingkah lakunya dalam berkomunikasi. Anak memiliki kebebasan dalam bereksperimen. Bakat adalah kondisi atau rangkaian karakteristik yang 23 . dan penerima pesan. Sebagai media pengembangan bakat. isi pesan.Dalam hal ini anak merasakan adanya kepuasan karena ada kebebasan dalam mengungkap apa yang ada dalam dirinya melalui pembuatan karya seninya. Kematangan emosi anak menurut Wedwick (2006) adalah kemampuan untuk mengekspresikan perasaannya. kegiatan seni rupa memerlukan alat-alat atau bahan yang secara langsung maupun tidak langsung mengembangkan kemampuan bernalar bagi anak. melakukan tindakan sesuai dengan kebutuhan dan dapat menilai kesesuaian tindakannya dengan norma yang berlaku di masyarakat serta dapat memprediksi akibat yang diambil dari tindakan tersebut. Sebagai media bereksplorasi. maka anak akan positif tindakannya sesuai dengan perkembangan usianya. melalui eksplorasi dengan bahan-bahan yang ada untuk membuat karya seni rupa. Dengan demikian seni rupa dapat dikatakan sebagai media komunikasi karena pengirim pesan dapat mengungkap isi pesan ke dalam simbol bermakna yang dapat diterima oleh orang lain sebagai penerima pesan. kegiatan seni rupa menawarkan beragam potensi. Pesan yang disampaikan dalam seni rupa adalah gagasan yang berupa simbol yang dituangkan dalam karya seni rupa. dalam aktivitas komunikasi terdapat unsur: pengirim pesan. Dengan demikian apabila kematangan emosi anak terlatih. Sebagai media komunikasi.

psikomotorik dan intelektual. pendengaran. Pendekatan Berbasis Anak Pendekatan Berbasis Anak berpijak pada filosofi bahwa dalam mendidik anak melalui seni. Dengan demikian bakat anak yang terpupuk sejak awal akan lebih baik perkembangannya. yaitu kegiatan yang bersifat ekspresif. Ada tiga pendekatan dalam pendidikan seni rupa yang populer saat ini. dan kinestesi. 1952: 12). Pada waktu memberikan kesempatan berekspresi harus bertitik tolak dari anak. Pendekatan dalam Proses Pendidikan dan Pembelajaran Seni Rupa Pada hakekatnya pendidikan seni rupa bersifat unik. kegiatan seni rupa melalui latihan-latihan membuat karya seni rupa memupuk bakat anak. kreatif. dari pada seseorang yang mempunyai bakat kreatif namun tidak dipupuk. keterampilan atau serangkaian respon melalui latihan-latihan (Bennet. Dengan demikian. Karena keunikannya ini dalam pendidikannya memerlukan pendekatan-pendekatan agar tujuan pendidikan seni rupa itu sendiri dapat tercapai. Dimensi psikomotorik mencakup koordinasi dan fleksibilitas gerakan. Adapun dimensi bakat meliputi persepsi. Herbert Read 24 . yaitu: a. pendidik haruslah menjadikan anak sebagai pusat. 3. dan estetik.dipandang sebagai gejala kemampuan individu untuk memperoleh pengetahuan. persepsi terkait dengan kepekaan dari masingmasing pancaindera yang berhubungan dengan perhatian. yaitu penglihatan. Hal ini dapat dilihat pada dimensi bakat yang terkait dalam pembuatan karya seni rupa yaitu. Sedangkan dimensi intelektual meliputi ingatan dan berpikir. maka bakat tersebut tidak akan berkembang bahkan menjadi bakat terpendam dan tidak dapat diwujudkan.

Dengan demikian anak diberi kebebasan dalam kegiatan penciptaan karya sehingga anak dapat mengaktualisasikan dirinya dengan bebas tanpa pengaruh orang dewasa dalam proses pembuatan karyanya. karya seni rupa anak adalah karya seni yang hanya mampu dihasilkan oleh anak (Efland. Dengan demikian cara pembelajarannyapun pendidik memberikan kemudahan pada anak dalam melaksanakan kegiatan belajar yang diinginkannya. dengan peragaan.dalam Education through Art yang menyatakan bahwa naluri berolah seni rupa anak adalah suatu yang universal. Peranan pendidik sebagai fasilitator. dan pendampingan. Hal ini dimaksudkan untuk menyiapkan pengalaman belajar yang dapat merangsang ekspresi pribadi anak. 25 . Ia merupakan orang yang pertama kali mengakui secara terbuka nilai intrinsik karya seni rupa anak. Tokoh yang dikenal dalam pendekatan ekspresi bebas ini adalah Frank Cizek dari Austria. Pada pendekatan berbasis anak ini tugas pendidik adalah memberikan pengalaman kepada anak yang dapat merangsang munculnya ekspresi pribadi anak. Garha (1980: 60) mengatakan bahwa pendekatan ini sebagai ekspresi bebas yang memberikan keleluasaaan kepada anak-anak untuk dapat menyalurkan ungkapan perasaan tanpa dibatasi oleh aturan atau norma cipta konvensional dalam membuat gambar. memberikan kemudahan kepada anak dalam mempelajari atau melakukan apa yang menjadi keinginan anak agar anak berkembang secara alamiah melalui pengalaman seni. karena ekspresi diri anak sesungguhnyalah tidak bisa diajarkan oleh pendidik. 1970: 10). sesuatu yang tumbuh secara alamiah pada diri anak dalam mengkomunikasikan dirinya (Read. 1990: 195). yaitu dengan pemberian motivasi.

Menurut Viktor Lowenfeld. ekspresi dalam proses pembuatan karya seni rupa yang dilaksanakan secara alamiah berdampak positif bagi perkembangan intelektual. kreativitas dan perkembangan sosial anak. Hal ini memperjelas bahwa pengaruh lingkungan menyebabkan adanya berbagai corak berdasarkan perkembangan dan temperamen jiwa anak. 2001: 13). Dalam hal ini pendidik memenuhi apa 26 . emosional.Pendekatan ekspresi bebas ini kemudian didukung dan disebarluaskan oleh dua tokoh pendidik seni yaitu Viktor Lowenfeld dari Amerika Serikat dan Herbert Read dari Inggris. 1982: 6-7). baik merupakan perasaan sedih atau gembira. Read (1970: 30) memberi penegasan bahwa dalam ekspresi bebas. Dalam hal ini dihubungkan antara kegiatan seni rupa dengan kesehatan mental karena kegiatan seni rupa merupakan media untuk menyalurkan perasaan. such a relationship is a basic ingredient of a creative art experience” (Lowenfeld. Selanjutnya Lowenfeld mengatakan bahwa “…mental growth depends upon a rich and varied relationship between a child and his environment. Penekanan Read adalah bahwa ekspresi diri anak tidak dapat diajarkan dan peranan pendidik adalah sebagai fasilitator. pendidik berperan sebagai pendamping dan memotivasi anak untuk menggali inspirasi anak. Dengan demikian pendidikan seni rupa merupakan tempat pemberian pengalaman yang menarik yang menyadarkan anak akan lingkungannya. pelaksanaan kegiatan pembelajarannya menggunakan model emerging curriculum yakni kegiatan pembelajaran yang tidak dirancang sebelumnya tetapi berkembang sesuai keinginan anak (Salam. Dalam merancang pembelajaran pendekatan ekspresi bebas secara murni.

film. gambar-gambar. tulang-tulang daun akan membentuk keartistikan tersendiri. Didukung oleh media yang dipersiapkan pendidik bisa berupa photo. dan sebagainya. Untuk membangkitkan dan memotivasi ekspresi anak. bentuk bunga semakin ke ujung daun bunga semakin kecil permukaannya. Sesungguhnyalah pendekatan ekspresi bebas secara murni ini sangat sulit dilaksanakan pada sekolah formal karena terikat adanya jadwal. (2) adanya kontak langsung anak dengan keadaan sekelilingnya. Ada tumbuh-tumbuhan. yang merangsang untuk mengekspresikan nya lewat karya yang dibuatnya. dan 27 . dan sebagainya. kursus-kurus. orang berlalu lalang.yang menjadi kemauan anak dan pendidik memfasilitasinya. dan sebagainya. Pendidik kemudian memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk mengarahkan perhatian anak pada hal-hal yang dilihatnya tetapi diabaikan anak. slide. pendidik pada awal pembelajaran memberikan motivasi dengan berbagai cara antara lain: (1) memberi kesempatan pada anak untuk bercerita tentang hal-hal yang menarik yang dialaminya. kendaraan. waktu yang ditentukan sehingga menjadi terbatas pelaksanaannya. Caranya adalah sebagai berikut: pelaksanaan pembelajaran seperti pada umunya pendidik melaksanakan pembelajaran sesuai dengan jadwal dan waktu yang ditetapkan. penerapan pendekatan ekspresi bebas di sekolah maka dikembangkan pendekatan ekspresi bebas yang bersifat “terarah”. Lebih tepat bila dilaksanakan pada lembaga pendidikan yang bersifat non formal seperti sanggar. Dari cerita dan dialog dengan anak akan timbul tema-tema cerita yang menyentuh kehidupan anak. Untuk mengatasi hal tersebut di atas. Anak diberi kesempatan memperhatikan keadaan sekitar kelas atau sekolah. misal: detail dari bentuk daun. kemudian ada dialog dengan pendidik.

(3) pendidik mendemonstrasikan proses penciptaan karya pada anak. Dengan demikian hasil penilaian tidak ada istilah salah atau benar karena ekspresi anak bersifat unik dan alamiah. builts on the premise that art can be 28 . pendidik menjadikan disiplin ilmu seni sebagai hal yang harus dikuasai oleh anak. namun jangan sampai terjebak apa yang didemonstrasikan menjadi hal yang harus ditiru oleh anak. Pendekatan Berbasis Disiplin Pendekatan berbasis disiplin berpijak pada filosofi bahwa dalam mendidik anak melalui seni. Pendekatan berbasis disiplin ini berdasar pada teori pedagogi tentang pelaksanaan proses belajar mengajar yang dicetuskan pada tahun 1980 di Amerika . Setelah pemberian motivasi. pendidik meminta anak untuk mengekspresikan dirinya secara bebas dalam pembuatan karya seni rupa. Karena setiap subjek seni didekati dengan suatu premis bahwa setiap subjek seni memiliki kekhasan yang berbeda dengan subjek seni yang lain sehingga diperlukan suatu pendekatan sebagai suatu “discipline” ilmu yang mandiri. Dalam hal ini pendidik berperan sebagai pendamping untuk memberikan bantuan pada anak.sebagainya. 2001: 14). Penilaian yang diberikan pendidik bersifat apresiatif yaitu bersifat menerima dan menghargai apa yang diungkapkan atau diciptakan oleh anak dengan menunjukkan kemungkinan peningkatan kualitas dari karya yang diciptakannya tersebut (Salam. Dengan demikian pendekatan dari berbagai aspek dipadukan dengan proses pengalaman belajar yang terkoordinasi secara menyeluruh menjadi sangat diperlukan. Teori ini disebut sebagai Discipline-Based Art Education (DBAE). Menurut Brent Wilson “DBAE. b.

Pendidikan Seni Berbasis Disiplin. and aesthetics (the philosophy of art)-into a holistic learning experience” (Wailling. sejarah seni. Identified the productive. yaitu: penciptaan seni (artistic creation). art history. art criticism. Eisner (1997: 20) membahas komponen estetika sebagai “berguna bagi anak-anak untuk menjadi reflektif tentang basis penilaian mereka berkaitan dengan kualitas karya seni.taught most effectively by integrating content from four basic disciplines-art making. appreciating. kritik seni (art criticism) dan estetika/filsafat seni (aesthetics) dalam suatu pengalaman belajar yang menyeluruh. sebagaimana tentang dunia visual di sekeliling mereka. atau DBAE (Disciplin Based Art Education). Dialog ini paling baik diungkapkan dalam bidang filosofis estetika. memahami dan mengapresiasi seni. Hal ini diperkuat dengan gagasan Eisner (1997:16) bahwa.” Karena itu. 29 . dan estetika. and cultural and/or historical realms as necessary for leading the child to aesthetic experiences. Dengan demikian pelaksanaan pendidikan seni rupa sesuai yang tersirat dalam DBAE pelaksanaannya tidak memilah keempatnya tetapi berusaha untuk mengintegrasikannya. para peserta didik harus berusaha melakukan dialog berkelanjutan tentang hakikat dan makna seni dalam kehidupan mereka. and understanding. critical. kritik seni. Hal ini menyiratkan bahwa seni dapat diajarkan secara efektif bila mengintegrasikan makna empat dasar disiplin tersebut. produksi seni. sejarah seni (art history). 2000: 19). Aesthetic education therefore represented a balance among producing. mengarahkan untuk mencipta. Tersurat pula dalam sebuah monograf dari The Getty Center for Education in the Arts.

30 . suku. Dengan demikian seni rupa dapat dikatakan sebagai sebuah disiplin ilmu. kelas sosial. Pendekatan Berbasis Konteks Pendekatan berbasis konteks berpijak pada filosofis bahwa dalam mendidik anak melalui seni. adanya komunitas pakar yang mempelajari ilmu tersebut. adanya metode kerja yang memfasilitasi kegiatan eksplorasi dan penelitian.Pada hakekatnya seni adalah sebagai kegiatan artistik. karena sudah memenuhi tiga ciri disiplin ilmu yang dikemukakan oleh Dobbs (1992: 9) sebagai berikut: (1) a recognized body of knowledge or content. konteks sosial masyarakat harus menjadi perhatian yang utama. (2) a community of scholars who study the discipline. karena memiliki isi pengetahuan (body of knowledge). Pada saat ini. c. (3) a set of characteristic procedures and ways of working that facilitate exploration and inquiry. penciptaan dan pembahasan keindahan rupa (visual). Pengenalan keragaman budaya tersebut dengan cara membuka diri terhadap berbagai budaya lain yang lahir atas dasar ras. agama. Dipandangnya seni rupa sebagai disipiln ilmu merupakan asumsi pokok yang mendasari pendekatan pendidikan seni rupa berbasis disiplin. Pendekatan seni rupa berbasis multikutural merupakan salah satu bagian dari pendidikan multikultural yang bertujuan mengenalkan keragaman budaya melalui kegiatan penikmatan. namun demikian seni rupa sebagai disiplin ilmu dalam pelaksanaannya tidak hanya memberikan kesempatan pada anak untuk mengekspresikan emosinya saja tetapi kegiatan mempelajari ilmu seni juga harus dilakukan. pendekatan Berbasis Konteks yang menonjol adalah pendidikan seni multikultural.

Sebagai konsep dasar. dimana beragam program pembelajaran dikembangkan. Dengan cakupan yang luas itulah pendekatan ini menggunakan berbagai bentuk teori dan praktek yang sesuai dengan konteks sosial dan budayanya. etnis. Anak menjadi luas wawasannya dan memahami karya seni rupa orang lain dan pencipta karya yang mungkin sangat berbeda karya tersebut dengan keyakinan dan tradisi yang ada pada anak lebih tepat diterapkan pada kelas yang tidak multikultur. sehingga cakupan menjadi luas. Hal yang terpenting dalam hal ini adalah bahwa semangat untuk mempromosikan keragaman budaya dilakukan melalui kegiatan seni rupa.jenis kelamin. dan keterampilan seni yang difokuskan pada pengenalan seni kelompok (ras. keragaman budaya/etnis dan kontekstualisme. pendidikan seni rupa multikultural pada dasarnya merupakan sebuah filosofi. gagasan besar. Dengan demikian menjadi fokus utama yang merupakan wacana pendidkan seni rupa multikultural adalah persoalan pluralisme sosial dan keragaman budaya. Materi pembelajarannya meliputi pengetahuan sikap. Pendidikan berbasis multikultural dikelompokkan menjadi tiga. Metode pembelajarannya bersifat pengenalan berbagai bentuk seni 31 . dan lain-lain. dan sebagainya) lain agar memiliki sikap apresiatif terhadap kelompok yang menjadi fokus pembicaraan. agama. Dengan demikian tidak identik dengan satu model program pembelajaran tertentu. Merupakan ciri yang mendasar model kurikulum pendekatan multikultural yang harus dipertimbangkan yaitu adanya pluralisme sosial. atau pendekatan. yaitu: 1) Model Pengenalan Model ini bertujuan memperkenalkan anak akan budaya lain.

dan lain-lain mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar. pendidik. kurikulum) tidak mencerminkan adanya diskriminasi. Dengan demikian kegiatan pembelajarannya anak yang terdiri dari berbagai suku. 2) Model Pengamalan Tujuan model pengamalan adalah membangun kesadaran untuk hidup bersama dan tidak melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan konflik. karyawan menciptakan suasana yang kondusif merefleksi adanya keragaman budaya yang ada. sejarah seni rupa. Apabila diterapkan dalam pembelajaran yang bersifat teoritis yaitu estetika. makna. agama. golongan tertentu. dan kriteria keindahannya masing-masing. peragaan. diskusi dan praktek pembuatan karya. Pelaksananan model pengamalan ini agar berhasil dengan baik. apresiasi (kritik seni rupa) juga harus mengingat pada keragaman prinsip. Model pengamalan ini lebih tepat diterapkan pada kelas yang bersifat multi kultur. Dalam hal ini tidak ada standar baku yang dapat diberlakukan untuk semua. Penerapan pembelajaran model pengamalan ini dalam praktek penciptaan karya seni rupa salah satu cara adalah dengan menggali tema dari peserta didik yang bervariasi sesuai dengan latar belakang peserta didik. maka perlu dukungan dari berbagai pihak antara lain: kebijakan sekolah (aturan. ras. 32 . Evaluasi yang dilakukan adalah untuk mengetahui sejauh mana anak dapat mengapresiasi budaya/seni kelompok lain yang ditunjukkan pada kemampuan untuk hidup bersama secara harmonis. Kemudian diwujudkan secara visual dengan media yang sesuai dengan kemauan peserta didik. Evaluasi yang dilaksanakan dalam konteks untuk mengetahui sejauh mana anak dapat memahami dan mengapresiasi budaya/seni kelompok lain.dari kelompok lain melalui ceramah.

dan menumbuhkan kepekaan semua pihak pada asumsi yang dianggap benar yang ada pada ideologi yang dominan. mereka memusatkan perhatian pada faktor-faktor yang dinamik dan kompleks yang mempengaruhi interaksi manusia yakni kemampuan fisik dan mental.3) Model Perombakan Berdasarkan perlakuan yang tidak kondusif karena adanya ketidak adilan atas dasar ras. oleh karena itu perlu ada peninjauan. jender. kelas sosial. agama. dan kesukuan. maka pendidik sudah selayaknya mengadakan perombakan dalam kurikulum dan pembelajarannya. suku. kondisi sosial yang ada di masyarakat. Pendukung kelompok model perombakan mengatakan bahwa budaya bukanlah suatu yang harus diterima dan tanpa perubahan. Selanjutnya terdapat lima langkah dalam mengembangkan kurikulum pendidikan seni rupa berbasis multikultural. agama. Menurut Salam (2001: 27) pendukung pendidikan seni rupa multikultural model perombakan ini tampaknya tergolong sebagai pengembang kurikulum yang dikelompokkan sebagai kaum rekonstruksionis sosial yang memandang pendidik sebagai politikus yang harus memilih dua pilihan: sebagai kelompok konservatif yang akan melayani sang penguasa atau sebagai kelompok perombak yang mencoba untuk mencari alternatif-alternatif. Wasson dkk. Mereka mencari pendekatan yang lebih demokratik yang memberikan peluang bagi kelompok yang terpinggirkan untuk menyuarakan dirinnya dalam proses pendidikan seni rupa. jenis kelamin. dalam Salam (2001: 29) menyatakan bahwa yang menjadi pendukung pendidikan seni rupa multikultural model perombakan ini menegaskan bahwa dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. politik. Langkah pertama pendidik 33 . usia.

Tindakan yang ditempuh dengan mengidentifikasi masalah sosial yang berkaitan dengan agama. pendidik dan peserta didik berkolaborasi mengadakan penyelidikan masalah-masalah yang ada kaitannya dengan bahan kurikulum yang dipilih.menganalisis dan memperbaiki sikap negatif yang mungkin mereka miliki terhadap pluralisme social dan keragaman suku. dan lain-lain. mengklarifikasi. Langkah kedua. 4. Ketiga pendekatan pendidikan seni rupa yang telah diuraikan di atas merupakan tiga pendekatan utama yang mempengaruhi pemikiran dan praktek pendidikan seni rupa dewasa ini. Lima langkah yang dikemukakan oleh Wasson tersebut di atas merupakan salah satu cara penyusunan kurikulum pendidikan berbasis multikultural. membuat keputusan reflektif kemudian mengambil langkah nyata sesuai keputusan. Pestalozzi (1746-1827) 34 . Pendidikan Seni Rupa di Sekolah Dasar di Indonesia a. Tinjauan Historis Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan dinamika masyarakat yang senantiasa berkembang. maka pendidikan seni rupapun mengalami perkembangan terutama di Sekolah Dasar. Langkah keempat. tingkat kehidupan munusia. Dimulai dengan kegiatan yang hanya mencakup menggambar di sekolah umum. Kemudian mengumpulkan data. pendidik dan peserta didik melakukan analisis situasi supaya akrab dengan masyarakat. suku. Merupakan langkah terakhir yaitu langkah kelima pendidik melaksanakan program evaluasi baik formatif maupun sumatif. Langkah ketiga. jenis kelamin. pendidik dan peserta didik memilih bahan kurikulum relevan dan menarik. menanang nilai yang dianut peserta didik.

dan berfungsi untuk melatih penguasaaan ketrampilan. Sebuah gagasan tentang tahap-tahap pertumbuhan dalam perkembangan artistik anak muncul dalam studi ini. lahir teori-teori yang berpusat pada pola-pola perilaku anak pada setiap tahap perkembangannya. sebagai hasil dari studi lahirlah pandangan baru tentang dunia anak yang amat besar pengaruhnya terhadap pendidikan seni rupa. 35 . Pada tahun-tahun tersebut. Dengan demikian fungsi pelajaran menggambar adalah untuk mempersiapkan tenaga kerja pangsa pasar tertentu yang membutuhkan kemampuan seseorang menggambar bangun dan pengamatan yang tajam. menggambar adalah sarana untuk mengembangkan pengamatan. Hal ini diperkuat pernyataan Uhlin (1975:18) yang menyatakan bahwa International congresses were formed in those years to pool data and structure theories which would communicate just what it as that the child was resolving at a particular chronological age. Perkembangan selanjutnya pada akhir abad ke 19.merupakan pakar yang berhasil memasukkan pelajaran menggambar di sekolah umum tersebut. Kemudian era studi anak pada akhir abad ini merupakan sebuah gerakan yang meluas dan berpusat pada pola-pola prilaku anak pada setiap perkembangannya. Riset pertama yang membahas seni anak tepatnya dilaksanakan pada musim dingin pada tahun 1882 oleh Corrado Ricci seorang penyair Italia yang hasilnya merupakan dukungan studi tentang ekspresi seni sebagai suatu alat untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam pada pengalaman total anak-anak. Menurut pandangannya.

1970: 1). Ia menegaskan bahwa seni rupa anak hanya mampu dihasilkan oleh anak dan anak menggambar harus diberi kesempatan untuk tumbuh bagaikan bunga yang berkembang dengan sendirinya secara alami. Pendidikan seni rupa yang sebelumnya hanya terbatas pada kegiatan menggambar menjadi lebih luas mencakup pembelajaran apresiasi seni rupa. disain. 36 . dengan terbitnya banyak jurnal pendidikan seni rupa sebagai hasil penelitian. Pada masa sebelumnya. Di Indonesia pada masa pemerintahan Belanda. Selanjutnya studi awal tentang anak dilakukan para ahli. seorang pendidik dan perupa dari Wina. Frank Cizek. maka muncullah pandangan baru tentang pembelajaran seni rupa anak yang berfokus pada perkembangan alamiah anak dan pengalaman belajar anak. adalah orang pertama yang memberikan pengakuan adanya nilai yang terkandung pada karya seni rupa anak. salah satu hasilnya adalah ditemukannya pola perkembangan menggambar anak berdasarkan usia anak Sejalan dengan penemuan adanya pola kemampuan menggambar anak. dan kerajinan. didirikan sekolah khusus untuk anak-anak pribumi dengan tujuan menyiapkan tenaga siap pakai untuk dipekerjakan sebagai tenaga administrasi pada masa pemerintahan kolonial. Memasuki abad ke 20 perkembangan seni rupa memasuki babak baru. Mulailah adanya pengakuan karya seni rupa anak sebagai karya seni rupa yang sesungguhnya.Pandangan baru ini melihat anak sebagai pribadi yang unik yang berbeda dengan orang dewasa. bebas dari pengaruh orang dewasa. menurut Read hanya orang dewasalah yang memilki kematangan perasaan dan intelektual yang dipandang layak untuk menghasilkan karya seni (Read.

Pada prinsipnya Mohammad Syafei menentang pendidikan pemerintah kolonial yang hanya mengutamakan pendidikan intelektual dan kurang memperhatikan pengembangan kepribadian anak. Ekspresi diri. suasana peternakan dan bunga tulipnya. Akibat yang diinginkan anakanak Indonesia tidak dapat mengenal. tetapi menanamkan tradisi Barat sebagai suatu kemajuan. mencetak. Hal ini mencerminkan sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia cenderung tidak menggambarkan keadaan atau suasana Indonesia.Demikian juga pada pelajaran seni rupa. Buku-buku pelajaran yang dipakai adalah buku-buku yang merupakan gambar-gambar pemandangan di Belanda dengan kincir angin. di Sumatra Barat tepatnya di Kayutanam berdiri pula Indonesische-Nederlandsche School (INS) oleh Mohammad Syafei. Pelajaran menggambar.M Soewadi Soerjaningrat atau dikenal dengan Ki Hajar Dewantoro mendirikan sekolah swasta untuk kepentingan anak-anak pribumi dan menurut pandangannya pendidikan seni rupa merupakan alat untuk menanamkan kepribadian Indonesia. menghargai budaya dan tradisi bangsa sendiri. waktu itu bentuk pelajarannya adalah pelajaran menggambar dengan orientasi pemberian keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja secara mandiri pada pemerintah kolonial. keaslian. 1967: 195). dan kerajinan tangan adalah mata pelajaran yang 37 . Namun yang terjadi selanjutnya timbul ketidakpuasan dari kaum pribumi terpelajar yang menginginkan perlunya anak-anak Indonesia mengenal. dan sadar budaya adalah dasar dari metode pendidikan seni rupa yang diterapkan di Taman Peserta didik (Holt. Bersamaan dengan didirikannya Taman Peserta didik. menghargai budaya dan tradisinya sendiri. Kemudian oleh R.

Pendidikan seni rupa tidak dikenal sebagai istilah yang mandiri di Sekolah Dasar. kerajinan. seni teater.dianggap penting. anak-anak diajarkan keterampilan agar memiliki kemampuan membuat barang yang bersifat fungsional. yang kesemuanya bertujuan melatih pengamatan anak. Pada menggambar ekspresi. Baru pada tahun 1964 istilah “menggambar” diganti dengan “seni rupa”. dan teknologi. pelaksanaan pendidikan seni rupa tidak mengalami perubahan yang berarti. Perkembangan selanjutnya pendidikan menggambar yang menekankan pada teknik menggambar tidak digunakan sejalan dengan diterapkannya pendidikan seni rupa pada kurikulum sekolah (kurikulum tahun 1975) dan kurikulum sesudahnya dan pada kurikulum yang berlaku sekarang ini (KTSP). Pada kelas-kelas untuk akhir. dan dijual untuk menambah beaya kegiatan sekolah. 38 . seni tari. perspektif. Pada mata pelajaran menggambar meliputi menggambar alam benda. Pembelajaran masih mengembangkan kemampuan anak melalui latihan koordinasi mata dan tangan. ilustrasi. anak-anak diberi kebebasan untuk menyatakan ide dan perasaannya. hanya objek gambar bukan lagi pemandangan di Belanda tetapi pemandangan alam Indonesia. Pada masa awal kemerdekaan. Lingkup materi pembelajarannya meliputi seni rupa. Pendidik sebagai fasilitator memberikan kemudahan-kemudahan pada anak. dan menggambar ekspresi. seni musik. Dalam rumusan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) merupakan bagian dari kelompok mata pelajaran Estetika dan nama mata pelajarannya adalah Seni Budaya dan Keterampilan.

art criticism. 1) Penerapan pendekatan disiplin Seperti telah dikemukakan dimuka bahwa pendekatan disiplin mempunyai ciri adanya program pembelajaran yang sistematik dan berkelanjutan dalam empat bidang yaitu: bidang penciptaan. Art history adalah disiplin 39 . untuk menjelaskan makna dari apa yang diamati adalah melalui kegiatan analisis dan penafsiran. art history. dialami. dan penilaian merupakan gambaran untuk memperoleh kualitas karya seni rupa yang diamati. art production. dan penilaian. penikmatan. Keempat bidang tersebut dijabarkan dalam mata ajaran dan tercermin dalam kurikulum meliputi. dan (2) penerapan “pendekatan sistem” dalam rancangan kegiatan pembelajaran seni rupa. and aesthetics (Dobbs. yang merupakan babakan baru dalam sejarah pendidikan seni rupa di Indonesia. Keempat bidang tersebut tidak harus diajarkan secara terpisah tetapi diajarkan secara terpadu. dieksplorasi oleh anak. pemahaman. Pada art production adalah suatu disiplin dalam hal penciptaan seni rupa. merupakan proses kreatif melalui pengolahan bermacam-macam materi untuk menciptakan efek visual yang diinginkan. Pendekatan Pendidikan Seni Rupa yang dianut di Indonesia Diterapkannya pendidikan sistem di sekolah. sedangkan art criticism adalah disiplin yang memfokuskan perhatian pada persepsi dan deskripsi untuk menjawab pertanyaan tentang apa yang diamati pada suatu karya seni rupa. Babakan baru tersebut menyangkut 2 hal pokok yakni: (1) penerapan “ pendekatan disiplin (DBAE)” dalam hal isi pembelajaran seni rupa. sejalan dengan implementasi kurikulum tahun 1975.b. Dalam hal ini banyak yang dapat dipelajari. 1992: 9).

termasuk kegiatan penilaian hasil belajar.yang memfokuskan perhatian pada peran seni rupa dan seniman dalam konteks social. 2) Penerapan pendekatan sistem Dalam kurikulum 1975 dituntut diterapkannya pendekatan sistem dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. pengalaman keindahan dan sumbangannya terhadap kehidupan dan kebudayaan manusia. dsb. kegiatan pembelajaran terdiri atas berbagai komponen yang satu sama lain terikat dalam satu sistem dengan tujuan sebagai komponen utama yang memberi arah pada komponen lainnya. Kegiatan pembelajaran yang 40 .. Dalam kurikulum tahun 1975. tetapi juga mencakup sejarah senirupa. politik dan budaya. Menurut pendekatan sistem. Demikian pula dengan KTSP yang berlaku saat ini mengacu pada Standar Isi yang kandungannya mencerminkan kekomprehensifan isi sebagaimana yang diamanatkan oleh pendekatan disiplin. mematung. dan estetika. Pendekatan sistem menuntut kegiatan pembelajaran yang berorientasi pada tujuan yang telah dirumuskan terlebih dahulu. Pendekatan sistem dalam terminologi Kurikulum 1975 dikenal sebagai PPSI. Aesthetics adalah disiplin yang memfokuskan pada diskusi hakekat dan makna seni rupa. Tujuan inilah yang menjadi acuan seluruh kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru. pandangan ini diakomodasi yang ditandai dengan meluasnya cakupan mata pelajaran seni rupa. mencetak. kritik seni rupa. Kurikulum selanjutnyapun yang muncul melanjutkan apa yang dimulai pada kurikulum tahun 1975 . Dengan demikian pendekatan disiplin memandang kegiatan pembelajaran di sekolah seyogyanya tidak hanya menyangkut kegiatan berkarya seni rupa seperti melukis.

Dalam hal ini pendekatan sistem merupakan kerangka acuan yang rasional dalam memadu komponen-komponen pembelajaran yang saling berkaitan. Penerapan pendekatan disiplin dalam pendidikan seni rupa di sekolah di Indonesia. kritik seni.beroreintasi pada tujuan ini berlanjut pada kurikulum yang diperkenalkan kemudian. sejarah seni. Peranan pendidik dalam pendekatan ini dituntut dapat memberikan kemudahan bagi anak untuk mendapatkan pengetahuan. komponen pelaksanaan pembelajaran. sikap. Misal komponen tujuan pembelajaran. 41 . Sesuai tujuan pendekatan berbasis disiplin. sikap dan keterampilan seni rupa seperti yang dirumuskan pada tujuan pembelajaran. agar anak memiliki pengetahuan. sikap. Evaluasinya dilihat dalam konteks sejauhmana anak memperoleh pengetahuan. dan praktek membuat karya seni rupa. dan keterampilan seni adalah ceramah. sikap. sikap. tujuan pembelajaran identik dengan kompetensi tertentu yang diharapkan untuk dicapai oleh anak dalam kegiatan pembelajaran. dan estetika. Dalam konteks KTSP. Tujuan pembelajaran menekankan kemampuan yang harus dikuasai oleh peserta didik yaitu: pengetahuan. Sedangkan metode pembelajarannya yang memungkinkan anak memiliki pengetahuan. dan keterampilan seni rupa. peragaan. dan ketrampilan bidang seni rupa meliputi: produksi/karya seni. ketrampilan bidang seni rupa. sangat mempertimbangkan aspek psikologis anak sejalan dengan tumbuhnya kesadaran akan pentingnya menjadikan anak sebagai pusat perhatian guru dalam kegiatan pembelajaran. diskusi. komponen evaluasi saling berkaitan.

budaya. Anak sudah dapat berpikir lebih menyeluruh dengan melihat banyak unsur dalam waktu yang bersamaan. ras. Ditinjau dari sudut pandang psikologis masuk dalam kategori childhood. Menurut Piaget (1950: 45-49) ”pada masa itu adalah anak mengalami yang disebut dengan tahap operasi konkret (concrete operations)” dicirikan dengan perkembangan sistem pemikiran yang didasarkan pada aturanaturan tertentu yang logis. Pada rentang usia tersebut anak mengalami fase tertentu. sesuai dengan yang ada dalam Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) Sekolah Dasar antara lain: Menghargai keberagaman agama. Pemikiran anak dalam 42 . Hal ini diharapkan akan berdampak pada tumbuhnya rasa penghargaan terhadap keragaman karya-budaya yang dimulai dari lingkungannnya. dan golongan sosial ekonomi di lingkungan sekitarnya. B. dimana anak mengalami masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju awal remaja. Karakteristik Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar Anak usia sekolah dasar pada umumnya ada pada usia 6 sampai dengan 12 tahun.Dengan demikian pada hakekatnya pendekatan berbasis disiplin pada pendidikan seni rupa membawa anak tidak hanya diberi kesempatan untuk berekspresi seni rupa. suku. yaitu masa usia sekolah dasar sering disebut juga sebagai masa intelektual atau masa keserasian bersekolah. tetapi juga memberikan pembelajaran cara mempelajari bagaimana menikmati suatu karya seni rupa. bahkan mereka diberikan pula cara memahami konteks dari sebuah karya seni rupa dari berbagai masa.

(d) melanjutkan perkembangan pemerolehan bahasa. mengemukakan ciri-ciri anak pada anak pada usia 6 dan 7 tahun sebagai berikut: (a) anak beralih dari daya pikir anak yang bersifat imajinatif. (h) lebih membutuhkan suatu pujian dan persetujuan dari orang dewasa. tahap ke II usia 8-9 tahun. (i) menunjukkan sensitivitas rasa dan sikap terhadap anak disekitarnya dan orang dewasa. (e) sudah mulai memisahkan antara fantasi dari realitas.banyak hal sudah lebih teratur dan terarah karena sudah dapat berpikir seriasi. ke cara berpikir tahap operasional konkret. bahkan mengambil kesimpulan secara probabilitas. (b) anak mulai mempunyai pengalaman pada tahap kepandaian dan perasaan rendah diri. namun demikian perlu diketahui adanya perbedaan tingkat kecepatan kematangan anak sangat dipengaruhi oleh kehidupan lingkungan sosial budaya masyarakatnya. klasifikasi dengan lebih baik. (g) mulai berpikir abstrak. Menurut Brady (1991: 35-37) yang didukung beberapa ahli yang lain. namun belajar lebih banyak terjadi berdasarkan pengalaman konkretnya. dibagi menjadi tiga tahap. Secara umum pada usia sekolah dasar ini. (j) belajar berpartisipasi dalam suatu kelompok sebagai anggota. hal ini juga didukung oleh Piaget yang mengemukakan. bahwa anak mulai berpikir tentang perbedaan bahkan menentang dan bersikap hati-hati. dan tahap III pada usia 1012 tahun. (f) belajar berangkat dari persepsi dan pengalaman langsung. Berikut ini karakteristik anak usia sekolah dasar pada setiap tahapnya. (k) mulai menumbuhkan rasa keadilan dan menginginkan perasaan yang bebas dari orang 43 . yaitu tahap I pada usia 6-7 tahun. (c) menerima konsep secara benar (baik) berdasarkan hadiah dan persetujuan.

Selanjutnya dikemukakan lagi oleh Brady (1991: 35-7) bahwa anak usia 8 dan 9 tahun: (a) pemfungsian tahap berpikir operasional konkret menurut Piaget. (b) anak mulai berpengalaman pada tahap kepandaian dan perasaan rendah diri. (c) mulai menerima konsep yang benar berdasarkan aturan. Perkembangan anak pada usia 10 sampai 12 tahun: (a) pemfungsian tahap operasional konkret menurut Piaget. bahwa anak sudah mulai berpikir lebih fleksibel dan hati-hati. (g) menghargai petualangan imaginatif. bahwa anak sudah dapat melihat hubungan yang lebih abstrak.dewasa. (g) mulai menunjukkan minat pada aktivitas yang khusus. dan (k) sudah mulai membentuk persahabatan yang khusus dengan temannya. (c) dapat menerima masalah yang benar berdasarkan ke-fairan. (d) memiliki perhatian dan penghormatan dari kelompok kini lebih penting. (e) mulai melihat sesuatu dengan sudut pandang orang lain bahkan sifat egosentris sudah semakin berkurang. (h) mulai menunjukkan minat dan keterampilan yang berbeda dengan kelompoknya. (e) minat pada kelompok sudah lebih meningkat bahkan mencari kekariban dalam sebuah kelompok. (j) adanya peningkatan kemampuan mengutarakan sebuah ide ke dalam kata-kata. (h) mulai mencari 44 . (f) mengadopsi orang lain menjadi model daripada orang tua. (l) menunjukkan perilaku yang egosentris bahkan sering menuntut apa yang menjadi keinginannya. (f) mulai mengembangkan konsep dan hubungan spasial. (i) mempunyai ketertarikan pada hobi bahkan koleksi yang lebih bervariasi. (d) sudah mempunyai ketertarikan yang kuat dalam sebuah aktivitas sosial. (b) Erickson berpendapat bahwa anak mempunyai pengalaman pada tahap kepandaian dan perasaan rendah diri.

Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yaitu peningkatan ukuran struktur yang mempengaruhi perkembangan intelektual dan mental anak. (i) ingin menunjukkan kemampuan serta kemauan untuk melihat sudut pandang orang lain. (j) mencari nilai-nilai. kreativitas. (k) menunjukkan adanya perbedaan di antara individu. dan (m) memahami dan menerima adanya aturan berdasarkan perbedaan jenis kelamin. Anak dalam usia 6 sampai 12 tahun memiliki karya seni rupa yang bersifat khas sebagai cerminan dari tingkat kemampuan dan kesenangannya. a. Perkembangan anak meliputi perkembangan fisik intelektual. (l) mempunyai citarasa keadilan bahkan kepedulian terhadap orang lain.persetujuan dan ingin mengesankan. yaitu mereka memiliki banyak energi untuk memenuhi keinginan mereka terutama bermain yang mereka senangi. dan sosial. Perkembangan fisik dan motorik Perkembangan fisik anak meliputi bertambah besar dan tingginya ukuran tubuh. Pertumbuhan dan perkembangan realitasnya tidak dapat dipisahkan. Pada usia awal sekolah dasar anak-anak yang normal berada dalam masa yang energetic. sehingga hampir tidak pernah terlihat kesan lelah pada fisik mereka. 45 . Berikut ini dibahas secara umum sisi perkembangan anak sekolah dasar secara singkat. Karena itu menurut Hurlock (1991: 150) melalui latihan yang berat anak dapat melepaskan tenaga yang tertahan dan membebaskan tubuh dari ketegangan. emosional. yang secara otomatis mempengaruhi perkembangan fungsi-fungsi organ tubuh. bertambahnya berat badan.

reversibility (bolak-balik). dan lain-lain. identitas. kompensasi. belajar. mengendalikan dorongan hati. dan pengalaman hidup. Keterampilan emosional meliputi aktivitas: mengidentifikasi dan memberi nama perasaan-perasaan. mengurangi stress. mengingat. atau kecerdasan. Perkembangan emosional Emosionalitas seseorang mengalami perkembangan seiring bertambahnya usia. seperti pemisahan. menilai intensitas perasaan. dimana anak-anak telah mampu menggunakan simbol-simbol untuk melakukan suatu operasi atau aktivitas mental. seringkali 46 . struktur (konsep atau pola pikir) dan fungsi (organisasi dan adaptasi). kognisi. Perkembangan intelektual Perkembangan intelektual dikenal dengan perkembangan intelegensi. pendidikan. dan berkomunikasi. menunda pemuasan. b.kegelisahan. c. Piaget menamakan usia ini sebagai periode operasional konkret. karena proses kognitif mereka tidak terlalu egosentris lagi dan sudah lebih logis lagi. angka. mengetahui perbedaan antara perasaan dan tindakan. mengelola perasaan. Anak-anak sudah belajar mengembangkan konsep berpikir sederhana. dan keputusasaan. kemudian mereka mengendurkan diri. Pada diri anak-anak ketika kontrol emosionalnya masih labil dalam intensitas emosi yang tinggi. konversi. baik secara fisik maupun secara psikologis. klasifikasi. Anak usia 7-11 tahun sudah lebih mampu berpikir. Piaget merinci intelegensi dalam komponen isi (apa yang dipikirkan). mengungkapkan peraaan. berlawanan dari aktivitas fisik yang selama ini diterapkan untuk memecahkan masalah atau untuk berpikir.

dan cara pertumbuhannya yaitu: 1) Ada beberapa cara yang dilakukan anak-anak kecil untuk mengungkapkan pemikirannya yang beragam. lingkungannya. 1991: 147) atau masa “keemasan berekspresi kreatif” (Herawati. Perkembangan kreativitas peserta didik dapat diamati pada proses dan karya kreatif peserta didik. Sebagai contoh. atau cemoohan orang dewasa atau orang lain mereka akan mengarahkan tenaganya ke dalam kegiatan-kegiatan kreatif. d. senirupa. tetapi lingkungan yang tidak mendukung dapat menghambat bahkan merusak potensi kreatif peserta didik tersebut. kritik. kreativitas itu muncul melalui 47 . drama. Perkembangan kreativitas Anak usia sekolah dasar dinamai dengan “usia kreatif” (Hurlock. Suatu rentang kehidupan dimana akan ditentukan apakah anak-anak menjadi konfomis atau mencipta karya yang baru dan orisinal. Di sekolah diselenggarakan bermain yang mendidik yang mencakup kegiatan olah raga. Menurut Abdussalam (2005: 50-51) ada beberapa pilar kreativitas dan faktor yang mempengaruhi munculnya kepribadian seorang anak. Penelitian mengenai kreativitas menunjukkan bahwa bila anak-anak tidak dihalangi oleh rintangan-rintangan lingkungannya. musik yang teratur dalam kurikulum. Perkembangan kreativitas peserta didik dapat distimulasi dengan banyak cara.mereka merasa tertekan secara emosional akibat perlakuan dan batasan-batasan dari lingkungan mereka. masa berimajinasi tinggi dan masa bermain. kehidupan. Untuk itu aktivitas bermain yang menantang dan latihanlatihan yang berat dinilai dapat menjadi alat katarsis emosinya. 1999: 9).

pengembangan alternatif. membentuk. 4) Permainan anak-anak merupakan pilar pemikiran kreatif yang paling penting. dan gerakan. penekanannya adalah pada rasa ingin tahu. Dalam kegiatan ini. dan membaca. beberapa aspek dari kreativitas dirangsang seperti kemampuan untuk 48 . bersukaria. kita mendapati seorang anak itu dapat berbicara. berkhayal. serta kemampuan untuk menyelesaikan sebagian permasalahan atau perlawanan ditengah-tengah beraktivitas. bercanda. Kegiatan verbal adalah pengembangan kreativitas dengan menyatakan ide melalui kata-kata. dan aktivitas yang berbeda-beda itu merupakan sesuatu yang penting dan pilar yang besar dalam membentuk kreativitas pada diri anak 3) Permulaan kreativitas itu ditandai dengan perolehan beberapa hal. atau melalui aktivitas seni. 2) Menikmati pengalaman-pengalaman. musik. mengikuti. mewarnai. bernyanyi.beberapa perantara atau gambaran-gambaran akal. bermain. menemukan dan menghasikan sesuatu. Pada masa anak-anak ini. menjelajahi tentang hal-hal yang unik dan belum pernah dibuat orang lain. baik yang berupa aktivitas melukis. bertanya. mencontoh. menirukan. berbohong. dan produksi bentuk-bentuk yang baru. permainan. Imajinasi dituntun untuk berkembang melalui rangsang bentuk-bentuk dan struktur garis yang dikembangkan menjadi suatu bentuk yang dapat dikenali dan unik. melukis. Menurut Torrance (1981) mengembangkan kreativitas melalui dua kegiatan yaitu kegiatan verbal dan figural. Sedangkan kegiatan figural adalah pengembangan visual “ visual thinking” yaitu melalui bentuk dan garis.

Pengembangan kreativitas melalui rangsangan verbal terdiri dari beberapa jenis yaitu: a. melengkapi dan memperjelas sesuatu. kemampua untuk mengkombinasikan. Product Improvement Activity. dicari sesuatu yang tidak terdapat dalam gambar. Just Suppose Activity. Ask and Guess Activity. pengembangan ide secara figural ada tiga macam yakni: 49 . Berbeda dengan pengembangan ide secara verbal. kegiatan ini dimaksudkan untuk mendapatkan berbagai macam rspon dari suatu pertanyaan yang tidak biasa. misalnya berpikir tentang apa yang dapat digunakan terhadap sebuah kaleng susu selain untuk tempat susu. Usulan Uses Activity. misalnya sebuah mainan anak-anak. Usulan Quesstion Activity. kegiatan ini bertujuan mengembangkan fantasi yang tinggi dengan memberikan suatu gambaran atau ilustrasi yang mustahil dapat terjadi.memecahkan ide sebanyak mungkin. e. kegiatan yang bertujuan untuk membeberkan pikiran dari sesuatu yang telah mapan. d. b. misalnya kenapa Tuhan memilih buah apel untuk menggoda Siti Hawa. kegiatan yang dilakukan adalah apa yang bisa dibuat atau dikembangkan berdasarkan rangsangan visual dari mainan tersebut. kegiatan ini bertujuan mengembangkan rasa keingintahuan tentang kemungkinan-kemungkinan serta kemampuan untuk memformulasikan hipotesa. Misalnya dalam melihat sebuah gambar. kegiatan yang memberi kesempatan untuk mengembangkan ide-ide dari sesuatu yang telah ada. c.

menciptakan ketegangan mental untuk keluar dari permasalahan dengan melengkapi gambar melalui cara yang sederhana dan semudah mungkin. Hal ini dapat dilakukan dengan menambah elaborasi sehingga diketemukan cara pemecahan masalahnya. e. garis sejajar dalam jumlah tertentu dan juga dalam gerakan terbatas. Repeated Figure Activity. hanya saja kegiatan ini dikembangkan dari satu jenis unsur sebagai rangsang pengembang ide. Picture Construction Activity. c. kegaitan ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan untuk membuat struktur dan kesatuan. Biasanya ada sepuluh bentuk yang tak lengkap untuk disempurnakan dalam waktu yang terbatas. kegiatan ini mirip dengan Incomplete Figure Activity. kemudian bentuk tersebut dikembangkan menjadi bentuk yang lengkap dan menceritakan sesuatu secara visual. kegiatan ini dimaksudkan mengembangkan kemampuan dalam menemukan sesuatu yang belum memiliki maksud yang jelas dalam suatu rangsang visual. misalnya bentuk lingkaran. 50 . Untuk mendapatkan respon yang orisinal ketegangan emosi harus terkontrol. Incomplete Figure Activity.a. Perkembangan sosial Perkembangan sosial adalah perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengaqn tuntutan sosial atau menjadi orang yang mampu bermasyarakat. Dalam hal ini yang dikembangkan adalah kemampuan membuat variasi dari sebuah jenis rangsang visual. b. Misalnya diberikan rangsangan visual berbentuk buah.

anak menetapkan kriteria baru. di samping kriteria alam. Mereka harus melalui paling tidak tiga proses sosialisasi seperti yang diungkapkan Hurlock (1991: 250) antara lain: belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial. anak semakin senang berada bersama-sama dengan kelompok-kelompok kecil anak-anak umur sebaya. Mereka tidak begitu bergairah lagi bepergian bersama orang tuanya. Berdasarkan karakteristik tingkat perkembangan tersebut di atas dan sesuai dengan tujuan pendidikan sekolah dasar. dan perkembangan sikap sosial. bunyi dan gerak. Pada anak usia sekolah dasar. rasa dan cipta. maka pendidikan seni di SD lebih menekankan pada pengembangan kemampuan dasar anak dalam mengolah kemampuan mental dan kesiapan belajar. untuk memilih teman bermain. tetapi untuk menjadi pribadi yang sosial mereka harus belajar dalam waktu yang tidak singkat. mulai tertarik pada permainan kelompok. Penekanan kegiatan seni lebih pada ekspresi diri. Keberhasilan sosial tidak ditentukan semata-mata karena keunggulan intelektual. banyak orang yang berhasil dalam perkembangan intelektual tetapi tidak berhasil lam perkembangan sosialnya. karsa dan karya dilakukan dalam permainan melalui medium rupa.Walaupun pada dasarnya setiap manusia adalah makhluk sosial. 51 . Penekanan pengolahan seni di SD terletak pada kegiatan bermain. Bentuk pengolahan kesadaran perseptual. pikir. memainkan peran sosial yang dapat diterima. pengolahan imajinasi dan kreasi.

figur manusia. atau bahan lainnya. Karya seni lukis bergaya naturalis (potret) dibuat persis seperti objek aslinya. tersamar. a. binatang.C. karena garis yang pertama menentukan bentuk suatu karya lukis secara keseluruhannya. Objek dan gaya lukisan sangatlah beragam. atau benda lainnya. Karya seni lukis yang juga sering disebut dengan lukisan. bahkan kurang dimengerti oleh orang awam. sehingga seni lukis merupakan karya yang terlepas dari unsur-unsur kegunaan praktis. seperti pemandangan alam. ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. umumnya dibuat di atas kain kanvas berpigura dengan bahan cat minyak. yaitu elemen seni lukis dan kaidah-kaidah komposisi. Karya lukis bergaya ekspresionis (penuh perasaan) memiliki objek benda atau figur yang dibuat dengan garis dan warna yang bernuansa emosi pelukisnya. bentuknya tidak nyata. Pembelajaran Seni Lukis di Sekolah Dasar 1. tetapi mengandung berbagai alternatif rupa yang baru. Dalam pembuatan sebuah karya seni lukis. warna. Pengertian dan Jenis Seni Lukis Seni lukis merupakan bagian dari bidang seni rupa murni yang berwujud dua dimensi. Lukisan bergaya abstrak berasal dari khayalan kreatif senimannya. cat akrilik. bidang. Lebih jelas lagi seni lukis merupakan suatu pengucapan pengalaman artistik seseorang yang dicurahkan ke dalam bidang dua dimensi dengan menggunakan garis. 52 . Seni lukis adalah salah satu lingkup seni murni berwujud dua dimensi. Elemen-elemen seni lukis 1) Garis Pada dasarnya garis merupakan elemen utama dalam seni lukis. dan tekstur.

Yang satu memberi kesan yang kaku. kumpulan dari beberapa titik dan sebuah bentuk yang mengandung arti yang melebihi daripada titik. suasana. massa. massa. Selanjutnya Ruta (2005: 22) mengatakan bahwa garis dapat menyatakan bentuk. 53 . keras. (b) garis semu. Djelantik (1999: 19) mengemukakan bahwa garis sebagai bentuk mengandung arti lebih daripada titik karena dengan bentuknya sendiri garis menimbulkan kesan tertentu pada pengamat. tebal-tipisnya. Garis yang kencang memberikan perasaan yang berbeda dari garis yang berbelok atau melengkung. yaitu garis yang terjadi karena kesan yang dapat ditangkap oleh mata yang sesungguhnya merupakan batas limit suatu benda. dan susunan dari objek-objek. dan susunan objek. ruang. gelap terang. karena bentuknya yang menimbulkan perasaan tertentu kepada si pengamat. garis ini dihasilkan dan terjadi karena suatu goresan. gerak. Garis adalah batas limit suatu benda. warna. irama.Garis merupakan hasil suatu goresan yang diakibatkan oleh sebuah titik bergerak lurus sehingga membentuk jejak. sedang warnanya berfungsi sebagai penunjang dan menambahkan kualitas tersendiri. Apabila dilihat dari bentuk garis. dan yang lain memberikan kesan luwes dan lemah lembut. warna. tekstur. yaitu: (a) garis nyata. sehingga meninggalkan bekas yang nyata. Kesan yang diciptakan juga tergantung dari ukuran. garis merupakan sebuah goresan. dan dari letaknya terhadap garis-garis yang lain. dan kontur. ruang. Wujud garis dapat dibedakan menjadi dua macam. Sesuai dengan pendapat di atas.

Bidang Geometris (b) Bidang organik. 54 . namun bidang belum tentu titik. dibatasi oleh garis lengkung bebas yang mengesankan keceriaan dan pertumbuhan Gambar 2. namun bidang belum tentu berwujud garis. dibatasi oleh beberapa garis lurus yang secara matematis tidak bertalian. Jenis bidang dapat dibagi menjadi empat bagian yaitu: (a) Bidang geometris. baik garis nyata maupun garis semu.2) Bidang Bidang merupakan suatu area yang dibatasi oleh garis. dibuat secara terukur Gambar 1. bahwa garis dapat berupa bidang. Demikian juga dengan garis. Bidang Organik (c) Bidang bersudut. titik dapat berupa bidang. Dengan demikian.

dibatasi oleh garis lurus dan lengkung yang secara matematis tidak bertalian. Gambar 5. Bidang Bersudut (d) Bidang tak beraturan.Gambar 3. Bidang Tak Beraturan 3) Ruang Ruang dapat diartikan sebagai keluasan yang dibatasi oleh limit baik keluasan positif maupun keluasan negatif. Komposisi Ruang Negartif dan Positif 55 . Gambar 4. Keluasan positif yaitu ruang yang sering menggambarkan objek sedangkan keluasan negatif yaitu keluasan dalam bentuk dua dimensi ruang negatif ini sering menjadi background.

Ruang dengan Teknik Pergantian Bentuk dan Ukuran (d) Pergantian tekstur. Ruang dengan Teknik Pergantian Warna (c) Pergantian bentuk dan ukuran. Bentuk yang nampak berada di depan atau di atas bentuk lain. sedangkan warna dingin berkesan menjauh. Gambar 8. Ruang dengan Teknik Penumpangan (b) Pergantian warna. 56 . Gambar 7. semakin jauh suatu benda warnanya semakin memudar atau warna panas akan berkesan mendekat. Gambar 6. yaitu semakin jauh suatu bentuk akan terlihat semakin kecil. tekstur yang kasar akan tampak lebih dekat dibandingkan dengan tekstur halus. satu bentuk menumpang pada bentuk lain.Beberapa teknik dalam pencapaian ruang dalam karya dua dimensi yaitu: (a) Penumpangan.

hal in terjadi dengan menukarkan kedudukan bentuk untuk membangkitkan ruang maya. Gambar 11. Ruang dengan Teknik Pergantian Tekstur (e) Pelengkungan atau pelekukan. Ruang dengan Teknik Bayangan (g) Manipulasi dengan teknik gelap terang atau dengan perbedaan/perubahan tekstur. Gambar 10. Gambar 12. Ruang dengan Teknik Pelengkungan (f) Penambahan bayangan pada bentuk.Gambar 9. Ruang dengan Teknik Gelap Terang 57 . yaitu penambahan dapat dilakukan dibelakang atau di depan.

4) Tekstur Tekstur merupakan nilai raba suatu permukaan benda. tetapi tidak dapat dinilai atau dirasakan oleh alat indera raba. yaitu: tekstur nyata dan tekstur semu. ada yang kasar. lunak. yaitu: (a) Hue. Hue yang murni adalah 58 . hijau. sebaliknya merubah value menjadi gelap dengan cara menambah warna hitam secara bertingkat disebut shade. kasap. Merubah value menjadi terang dapat dengan cara menambah warna putih secara bertingkat disebut tint. (b) Value. berkaitan tentang cerah dan suramnya warna. yaitu kualitas dari suatu warna yang menunjukkan suatu hue. Tekstur nyata yang dimaksud disini adalah nilai raba suatu permukaan benda secara fisik dapat dirasakan oleh indera raba. seperti merah. Nilai raba suatu permukaan benda tersebut dapat berbeda-beda. misalnya tekstur batu. yaitu istilah yang digunakan untuk menunjukkan terang gelapnya warna. kuning. 5) Warna Warna yang sering kita lihat atau gunakan dalam kehidupan sehari-hari dapat dibedakan menjadi tiga dimensi. keras. halus. Jenis tekstur ada dua macam. dan licin. oranye. Terangnya seluruh warna adalah putih dan gelapnya seluruh warna adalah hitam. dan lain-lain. yaitu istilah yang sering digunakan untuk menunjukkan nama dari suatu warna. Sedangkan tekstur semu adalah nilai raba suatu permukaan benda hanya dapat dinilai secara visual. biru. Oleh karena itu putih dan hitam tidak termasuk dalam lingkaran warna. (c) Intensity.

Sedangkan warna dingin terdiri atas: kuning-hijau. Mengurangi intensutas suatu warna dapat dicapai dengan mencampur atau menambah hue yang murni dengan warna-warna netral seperti putih. dan violet. merah. Semua warna memiliki temperatur. dan sebagainya. ada beberapa hubungan antar warna. hijau. kuning dengan oranye. kuning-oranye. yaitu sebagai berikut: (a) Analogus. Klasifikasi temperatur warna tersebut dapat dilihat pada lingkaran warna: warna panas terdiri dari warna kuning.cemerlang dan kuat. Untuk lebih jelasnya lingkaran warna dapat dilihat pada gambar berikut: 59 . oranye. oranye-merah. hiaju-biru. dan abu-abu atau mencampur dengan warna komplemennya atau dapat juga dengan warna-warna yang ada disebelahnya. (c) Komplementer. (b) Monocromatik. sehingga menimbulkan sensasi visual panas dan dingin. Hue dalam intensitasnya yang lebih rendah adalah lebih lembut. yaitu campuran warna-warna dari ketiga variabel dimensi warna yang berasal dari satu warna yang berlainan nilai dan intensitasnya. yaitu hubungan warna yang saling bersebelahan pada lingkaran warna. biru-violet. hitam. Selain dimensi warna yang telah dijelaskan di atas. yaitu susunan warna yang kontras atau bertentangan. biru. seperti hijau dengan kuning. oranye dengan merah. dan ungu merah.

Gambar 13. antar bidang. warna dengan tekstur. Keseimbangan (Balance) Keseimbangan dalam karya seni rupa adalah keserasian bobot dari unsurunsur seni rupa itu sendiri. Kesatuan (Unity) Nilai kesatuan dapat dicapai dengan mengkomposisikan elemen-elemen yang memiliki karakter yang sama. yaitu sebagai berikut: 1. Kaidah-kaidah Komposisi Ada beberapa kaidah komposisi yang perlu diperhatikan pembuatan sebuah karya lukis. kesatuan antar garis dengan warna. antar garis. garis dengan tekstur. kesatuan antar tekstur. 2. Kesatuan dapat dirinci menjadi kesatuan antar warna. artinya nilai dari sebuah karya seimbang. dan antar semua elemen. bidang dengan tekstur. garis dengan bidang. walaupun mungkin wujud dan jumlahnya tidak sama atau bahkan 60 . Lingkaran Warna b.

artinya antara sisi kanan dan sisi kiri dari sebuah karya seni rupa memiliki wujud dan jumlah yang sama kuatnya.bertentangan. Perubahan tersebut dapat juga terjadi karena adanya pengulangan. misalnya: proporsi manusia adalah 61 . dinamis. Menurut sifatnya. Keseimbangan asimetris ini memberi kesan yang labil. Proporsi Proporsi merupakan hubungan-hubungan ukuran dari bagian-bagian dalam keseluruhan suatu bentuk atau objek. seperti keras-lunak. bagian yang satu merupakan cerminan bagian yang lainnya. 4. Irama yang monotone terjadi karena adanya pengulangan wujud dan jumlah yang sama. Keseimbangan dalam karya seni rupa dapat dibedakan menjadi dua bagian. Irama (Rhythm) Irama merupakan perubahan-perubahan warna dan bentuk secara teratur yang membawa perasaan hanyut di dalam perubahan-perubahan yang terjadi. Keseimbangan simetris merupakan keseimbangan antara dua sisi sama kuatnya. 3. irama dapat dibedakan menjadi dua. Keseimbangan asimetris merupakan keseimbangan yang dicapai dengan menyerasikan bobot antar unsur yang bersebelahan. Sedangkan irama yang dinamis dapat terjadi karena adanya pengulangan bentuk yang sangat variatif. yaitu: keseimbangan simetris dan keseimbangan asimetris. yaitu irama monotone dan irama dinamis. sehingga mempunyai kesan yang tidak membosankan. sehingga dalam irama ini terjadi penekanan-penekanan. atau cepat-lambat. namun wujud dan jumlahnya tidak sama. Dengan kata lain.

6. 62 . bentuk dan jumlah elemenelemen seni rupa lainnya. Adapun tujuan keserasian adalah untuk menciptakan keselarasan dan keharmonisan dari unsur-unsur yang berbeda. misalnya dalam warna terdapat keserasian yang bersifat karib (analog) dan keserasian kontras. Pusat Perhatian (Center of Interest) Dalam komposisi seni diperlukan adanya pusat perhatian yang dapat memberikan aksentuasi yang disebut dengan dominasi dalam sebuah karya seni rupa. kontras dan silang dalam lingkaran warna. 5. Hubungan proporsi ini misalnya mengenai warna. oranye-kuning.antara ukuran kepala dengan tinggi badan. dan oranye. Keserasian karib pada warna ditandai dengan mendampingkan warna merah. atau panjang batang tubuh (torso). Keserasian Keserasian merupakan prinsip yang digunakan untuk menyatukan unsurunsur rupa walaupun berasal dari berbagai bentuk yang berbeda. lebar bahu. cahaya atau gelap terang. merah-kuning. Sedangkan keserasian kontras yaitu pertentangan (komplementer) yang bersifat ganda. Dominasi dapat diciptakan melalui unsur utama yang didukung oleh dengan menampilkan unsur-unsur penunjang lainnya sehingga menghasilkan sesuatu yang kontras. Persoalan proporsi sangat berhubungan dengan ukuran atau dimensi anatar bagian yang satu dengan bagian yang lain dalam suatu karya seni. Proporsi digunakan untuk menciptakan keteraturan yang dapat membentuk standar keindahan dan kesempurnaan.

dalam membentuk imaji kreatif dari karya seni. Hal ini sesuai dengan PP 19 tahun 2005 tentang Standar Penilaian Pendidikan. yang menyebutkan bahwa pendidik mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan harus mempunyai kompetensi: menguasai materi.Demikian elemen-elemen seni lukis dan kaidah-kaidah komposisi yang ada dalam karya seni lukis. Berkenaan dengan pengolahan elemen-elemen dan kaidah komposisi sehingga merupakan tanda-tanda karya seni lukis yang bermutu. luar biasa atau langka. merupakan tanda-tanda positif karya bermutu. jelas dan dinamis. teater) dan keterampilan (PP 19 tahun 2005). Kadang-kadang lembut sampai immaterial. atau merupakan bahan-bahan kelahiran ekspresi kontrastik yang serba menyala. Kesan unik. Konstruk yang tidak merusak harmoni dengan kemampuan membawakan kehidupan. dan pola pikir keilmuan (mencakup materi yang bersifat konsepsi. sehingga diharapkan hasil penilaian yang dilakukan 63 . musik. dan kreasi/rekreasi) yang mendukung pelaksanaan pembelajaran seni budaya (seni rupa. Kusnadi (1991: 18) menyebutkan: bahwa pengolahan elemen-elemen tersebut mencerminkan ekspresi kejiwaan yang kuat. konsep. Dengan demikian untuk menentukan hasil karya seni lukis yang baik dari peserta didiknya tentunya seorang pendidik dituntut memiliki kompetensi sebagai pendidik mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan pada Sekolah Dasar. struktur. warna dan tekstur bukan lagi sebagai elemen-elemen pisik tetapi mencerminkan ekspresi kejiwaan yang kuat bagi pembuat karya lukis tersebut. namun dalam kenyataan apabila sudah menjadi suatu bentuk karya seni lukis: elemen garis. tari. apresiasi.

Goresannya spontan dan bebas: miring kesana kemari. interpersonal. hitam dan seterusnya. Seni Lukis sebagai Cerminan Isi Jiwa Mencermati lukisan anak dan cara mereka menggambarkan lingkungannya. dapat memberikan suatu pandangan tingkah laku dan apresiasi pertumbuhan dan perkembangan bervariasi yang dialami anak. logical/mathematical. Apa yang dituangkan dalam tema lukisannya adalah apa yang dilihatnya sesuai dengan lingkungan hidup yang nyata dan khayalnya. social. social. Peran pendidikan seni yang multi dimensional pada dasarnya dapat mengembangkan kemampuan dasar manusia. sangat berani: merah kuning. Seni Lukis bagi Anak Usia Sekolah Dasar a. kecerdasan spiritual. 1982). perceptual. Dalam proses melukis. karena lukisan anak itu sendiri mencerminkan segi kejiwaan anak.pendidik memenuhi esensi yang dipersyaratkan pada penilaian karya seni anak. kreativitas. yang dapat diterapkan pada 64 . Dengan lukisan anak dapat dibaca jiwa dan kehidupan anak-anak yang bersifat polos. Dengan kegiatan ini perlu diketahui apa yang dapat dikembangkan pada diri anak secara maksimal. sesuai dengan “kacamata” anak. Kegiatan seni di samping penting bagi perkembangan kognitif juga memberikan rangsangan bagi pertumbuhan persepsi. visual/spasial. emosional. emosional. biru. seprti fisik. dan estetik (Lowenfeld. Demikian juga pada multiple intelegences gardner yang membagi karakteristik kecerdasan menjadi sembilan jalur yaitu: verbal/linguistic. naturalist. Penggunaan warna sesuai dengan suasana hatinya. intelektual. anak tidak ada rasa takut. dam krativitas anak. 2.

Semua ini merupakan indikator dari perkembangan intelektualnya. dengan melukis anak mendapat kesempatan untuk menumbuhkan emosinya. Emosi. Intelektual. Persepsi. Dapat dilihat dari beberapa banyak pengetahuan tentang objek yang digambarkan dan hubungannya dengan lingkungannya. Kehidupan dan kemampuan untuk terus 65 . dan berimajinasi. Dalam kegiatan melukis. Dalam membimbing anak. dimungkinkan terlambat pula perkembangan intelektualnya. cirinya adalah anak dapat memvisualisasikan imajinasi ke dalam kenyataan yang dituangkan dalam bentuk tulisan (Jamaris. akan senang menggambar apa yang telah dibuatnya sehingga terjadi pengulangan-pengulangan yang kurang melibatkan emosi. perlu diciptakan kondisi yang melatih anak mampu menyesuaikan dirinya. penanaman dan pertumbuhan indrawi merupakan bagian yang sangat penting dalam kegiatan seni. akan terlihat keterlibatan segi kejiwaan anak sehingga mencerminkan kondisi kejiwaan anak. Anak yang terlambat berkembang konsepsinya sesuai kemampuan usianya. bersikap. Setiap perubahan situasi membutuhkan fleksibilitas berpikir. Anak yang sulit menyesuaikan diri. Sejauh mana ia menyadari lingkungannya. Hal ini dapat dilihat bagaimana anak menggambarkan sesuatu yang menurutnya penting dan melibatkan emosinya. perkembangan intelektual dapat dilihat pada gambar anak. 2001). sering ia tuangkan ke dalam gambarnya. Apabila ia dekat dengan ibunya atau dengan temannya. Perkembangan intelektual seiring dengan perkembangan usianya.lukisan anak-anak. Seiring dengan kecerdasan visual/spasial yang merupakan salah satu karakteristik jalur kecerdasan.

belajar tergantung dari kualitas indrawi manusia. menikmati. Kreatif. Hal itu dapat dilihat dari sensitivitas anak dalam mengorganisasikan unsur-unsur rupa menjadi suatu susunan yang terpadu secara spontan dan intuitif. Perkembangan persepsi dapat didentifikasi melalui gambar yang dibuat anak. adiknya. dan memberikan reaksi terhadap unsur visual tersebut. temannya. bentuk. pertumbuhan sosial anak dapat diketahui melalui gambar yang dibuatnya. Dalam kegiatan seni. Tujuannya untuk mengasah kepekaan rasa terhadap warna. Organisasi garis. kakaknya. Observasi secara visual adalah kegiatan utama dalam seni rupa. Anak memiliki pengalaman dengan dirinya dan orang lain. Biasanya anak menggambarkan wujud yang paling dikenalnya yaitu bentuk orang. Dalam gambar atau 66 . warna. Anak yang jarang mendapat pengalaman persepsi akan memperlihatkan kemampuan yang rendah dalam melakukan observasi dan kesadaran akan suatu perbedaan kualitas visual benda. sebagai dasar kegiatan seni dapat diartikan sebagai cara mengorganisasikan pikiran dan perasaan yang dijadikan suatu ekpresi dan komunikasi dengan orang lain. dan tekstur disebut seni rupa termasuk di dalamnya seni lukis. Sosial. Estetik. dan menyusun sesuatu secara personal. Oleh sebab itu penting memberikan kesempatan pada anak untuk mengasah kepekaan persepsinya. Hal ini menandakan usia dini telah memiliki kesadaran sosial. atau situasi sosial lainnya. rasa estetik anak tumbuh secara alami. dan ruang. bentuk. tekstur. ruang. Kepekaan tersebut dapat tercermin dari bagaimana anak menggunakan. pertumbuhan kreativitas segera terlihat begitu anak mulai dapat membuat goresan. Mungkin orang tuanya.

serta menentukan tema. jika dipaksa untuk membuat sesuatu yang tidak berhubungan dengan dirinya. Mereka mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam ujud karya seni rupa atau lukisan tanpa terbatas pada apa yang terlihat dengan mata kepala saja. anak tidak harus terampil.lukisan anak. melainkan lebih pada apa yang mereka mengerti. b. Banyak sedikitnya unsur pada lukisan sangat tergantung pada keasyikan pemikiran dan fantasinya. lebih banyak yang akan mereka ceritakan maka lebih banyak pula bentuk yang akan dimunculkannya. pertumbuhan kreatif dapat diidentifikasi melalui bagaimana karya itu dibuat secara imajinatif dan mandiri. Perkembangan menggambar anak menurut Ricci (1960: 302-307): The child starts drawing with an “interlacing network of lines” and then moves on to simple representational foms which become more detailed with age. pikirkan atau khayalkan. Dalam berkarya. Mereka akan cenderung tergantung dan meniru pekerjaan orang lain. tetapi memiliki suatu kebebasan dalam ekplorasi dan ekperimen bahan. Ciri Seni Lukis Anak Anak berbuat dan berkarya atas dasar daya nalar anak. He recognized in these simple forms that the child draws a description of the subject according to his knowledge of that subject and not according to its visual appearance. Dengan demikian anak menggambar mulai yang paling sederhana yaitu dengan garis-garis dan berkembang menjadi bentuk-bentuk yang representasional dan detail sesuai dengan perkembangan usia sesuai dengan pengetahuannya sendiri bukan menurut penampakan visual. Dengan penalaran anak wajar 67 . anak akan mengalami kemandegan kebebasan kreatifnya. Untuk menjadi kreatif.

Pada masa itu anak telah mampu meniru benda-benda di alam dan menghasilkan gambar yang mencerminkan analisis terhadap benda-benda yang dilihatnya. Cooke menyatakan bahwa pada tahap ketiga gambar anak telah menunjukkan adanya hubungan yang alami antarbagian tersebut. anak belum memperhatikan ketepatan penggambarannya. dan ekor digambarkan tanpa pemahaman tentang jumlah dan hubungan antara bagian-bagian objek itu. Pada periode selanjutnya gambar anak menunjukkan bukti adanya unsur imajinasi dan kesadaran yang lebih tinggi terhadap gerakan linier. melainkan didasarkan pada ingatan atau imajinasi. Ia menemukan empat tahap perkembangan simbolik pada anak-anak. tetapi menurut Cooke. Gambar anak di sini meniru objek (representasional). intuitif. Perkembangan pertama berkisar antara umur dua sampai lima tahun. Perkembangan Gambar Anak Perhatian terhadap perkembangan gambar anak-anak merupakan hal yang baru. kaki. Hasil gambarnya baru merupakan coreng-moreng yang menunjukkan akibat gerakan otot. Cooke tidak memberikan gambaran yang menyeluruh tentang tahap keempat pada gambar anak-anak. tetapi ia menetapkannya antara umur empat sampai sembilan tahun. 68 . ketika anak sangat aktif mempelajari bendabenda di sekelilingnya. Ungkapan pribadinya muncul melalui bentuk-bentuk dengan makna simbolik tertentu. c. Mata. Gambar anak bukan merupakan tiruan objek-objek di alam. bulu. dan lebih dekat pada sifat bermain.dan spontan maka hasilnya tampak sungguh naif. Pada tahun 1885-1886 Ebenezer Cooke melakukan penelitian tentang perkembangan gambar anak-anak yang pertama kalinya.

Clark (1902). Barnes (1893). dan Eisner (1967). Lukens (1896). Eng (1931). Götze (1898). Sir Cyril Burt menyimpulkan adanya tujuh tahap perkembangan. Baldwin (1894). Sebagai contoh. Menurut Lansing (1976: 138139). Luquet (1913).Ebenezer Cooke adalah guru Bahasa Inggris dan observasinya tidak begitu akurat. Levenstein (1905). Burt (1921). Shinn (1897). Sully (1896). Kellogg (1955). Stern (1910). salah satu di antaranya tahap 69 . 1) Gambar Anak pada Tahap Figuratif (3-12 Tahun) Pada dasarnya gambar anak mengalami tahap-tahap perkembangan tertentu sesuai dengan perkembangan umurnya. Wuiff (1927). hasil-hasil penelitian terhadap gambar anak-anak menunjukkan adanya kesesuaian umum mengenai urutan dan wujud simbol visual perkembangan gambar anak. Namun. tetapi tidak terdapat kesesuaian mengenai jumlah tahap perkembangan dan penyebab-penyebabnya. Rouma (1913). Kerschenstein (1905). ditemukan tambahan informasi dari hasil observasi dan penelitian oleh Ricci (1887). Pada tahun-tahun berikutnya. Brown (1897). Lark-Horovitz (1959). Lowenfeld (1947). Kebanyakan perhatian itu berasal dari tumbuhnya minat terhadap psikologi dan penelitian yang sistematik terhadap anak. Krötzsch (1917). Herrick (1893). Griffiths (1935). namun daftar ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap karya gambar anak-anak telah muncul sejak tahun 1885. Daftar ini bukan merupakan daftar lengkap para ahli yang telah memberikan sumbangan pengetahuan tentang urutan tahap-tahap dalam simbolisasi visual. Maitland (1895). O’Shea (1894). ia selayaknya mendapat penghargaan sebagai orang yang pertama kali menulis tentang gambar anak-anak. Perez (1888).

Pada tahap keputusan artistik anak membuat simbol-simbol visual sebagai cara untuk memahami konsep-konsep nyata maupun abstrak dan. Lansing (1976: 147-178) membagi tahap figuratif menjadi tiga subtahap: (1) subtahap figuratif awal (umur tiga sampai empat tahun). karena tahap represi sulit diprediksi. sebagai cara untuk mengubah atau mempengaruhi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan budaya. (2) subtahap figuratif 70 . Pada tahap figuratif anak membuat simbol-simbol visual sebagai cara untuk memahami benda-benda dan kejadian-kejadian dalam kehidupan nyata dan menggunakannya untuk memberikan informasi kepada orang lain. kemudian mengontrol gerakangerakan otot itu. Selanjutnya. dan akhirnya mengaturnya sehingga mengesankan “sesuatu hal”. dan kontinyu. (2) tahap figurative (umur empat sampai dua belas tahun). sedangkan menurut Viktor Lowenfeld. Ketidaksesuaian mengenai jumlah tahapan tersebut pada dasarnya terjadi karena perkembangan gambar anak bersifat gradual. dan (3) tahap keputusan artistic (umur dua belas tahuh ke atas).represi. halus. hanya terdapat enam tahap perkembangan. perkembangan gambar anak pada dasarnya dapat disederhanakan menjadi tiga tahap pokok: (1) tahap coreng-moreng (umur dua sampai empat tahun). sesuai pendapat para ahli (Lansing. 1976: 138-139). Pada tahap coreng-moreng anak membuat simbolsimbol visual karena rangsangan gerakan otot. tetapi peneliti yang lain hanya menganggapnya sebagai fase transisi. yang lebih penting. Peneliti tertentu menganggap suatu susunan pada gambar anak sebagai karakteristik tahap perkembangan tertentu.

tetapi ia mampu atau tidak mengetahui cara menggambarkannya. (a) Subtahap Figuratif Awal Subtahap figuratif awal terjadi pada anak umur tiga sampai enam tahun. Secara keseluruhan unsurunsur tersebut menggambarkan manusia secara umum. taman kanak-kanak. and Art Education) 71 . gambar anak menyerupai benda-benda di lingkungan nyata.tengah (umur empat sampai tujuh tahun). dan (3) subtahap figuratif akhir (umur tujuh sampai dua belas tahun) yang dapat diuraikan sebagai berikut. Artist. 1976. Anak mungkin mengetahui bagian-bagian tubuh manusia yang lain. yaitu anak di kelompok bermain. Dalam tahap perkembangan simbolik ini gambar anak menunjukkan hubungan dengan kenyataan visual. Pada gambar 14 tampak usaha pertama anak untuk menggambarkan manusia. Gambar Manusia oleh Anak Umur Empat Tahun (Sumber: Lansing. Dengan kata lain. Lingkaran menggambarkan kepala atau badan dan garis-garis lengkung menggambarkan kaki dan rambut. karena figur manusia itu digambarkan berdasarkan kombinasi dari coreng-moreng. gambar anak merupakan petunjuk kematangan intelektual yang bagus sampai umur sepuluh tahun. Gambar 14. Art. Oleh karena itu. kelas satu sekolah dasar. Subtahap figuratif awal ini berkembang dari tahap coreng-moreng secara hampir tidak tampak. dan kadang-kadang juga di kelas dua sekolah dasar. Pada umumnya anak pertama kali menggambarkan figur manusia.

dan rumah penyihir. meskipun mungkin memiliki kaitan antara objek yang satu dengan yang lain. Selain objek manusia. Dalam hal ini. Perubahan atau perkembangan gambar anak pada tahap ini berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan tahap-tahap perkembangan sebelum maupun sesudahnya. benang. Kecepatan perubahan gambar anak ini mengalami penurunan setelah anak mencapai umur lebih dari tujuh tahun. ia menggeser-geser atau mengubah-ubah posisi kertas untuk menjangkau bagian-bagian bidang gambar yang belum terisi. pada masa perkembangan ini juga anak memasukkan unsur benda-benda yang lain untuk memenuhi bidang gambar. sedangkan objek-objek lainnya digambarkan terbalik. Sebagai contoh. Hal ini menjadikan objek-objek tertentu digambarkan tegak. susunan objek-objek itu tidak memberikan hubungan makna. kemudian melupakannya dan berganti memusatkan perhatiannya pada objek yang lain sampai selesai dan demikian seterusnya. mula-mula anak memusatkan perhatiannya pada suatu objek sampai selesai. 72 . Bilamana perlu. tetapi pada kesempatan lain menggunakan cara yang lain. Pada gambar 15 figur-figur manusia digambarkan menggantung di langit bersama-sama dengan piring.Pada subtahap figuratif awal kemampuan motorik anak terus berkembang dan aktivitas perseptualnya meningkat. Konsep anak tentang benda-benda di lingkungannya berubah atau berkembang dan berangsur-angsur menjadi rinci. Dengan demikian. demikian juga hasil gambarnya. dalam menggambar suatu objek anak mulai menggunakan cara tertentu.

73 . gambar kepala orang lebih besar dari pada pohon atau gambar anak lebih besar dari rumah. anak baru sedikit atau belum memiliki kesadaran untuk berpikir tentang keindahan. Gambar Anak Pada Awal Munculnya Tahap Figuratif dengan Objek-objek yang Menggantung di Langit (Sumber: Lansing. 1976. Pada umumnya anak begitu senang menggambar dan bertahan pada masa perkembangan ini hingga waktu yang lama. warna. Kaki dan tangan manusia hanya digambarkan dengan garis lurus. Art. sedangkan anjingnya digambarkan dengan warna hijau. Kemiripan gambar anak dengan kenyataan baru menandakan objek-objek secara umum. misanya wanita digambarkan dengan warna ungu. Artist. Dengan kata lain. and Art Education) Ciri lain gambar anak pada subtahap figuratif awal adalah penggambaran objek-objek dengan ukuran yang berlebihan. gambar anak pada subtahap ini tidak begitu naturalistik. Pada masa perkembangan ini. Penggunaan unsur garis.Gambar 15. Sebagai contoh. dan tekstur sedikit atau tidak memiliki hubungan dengan kenyataan. Objek-objek digambarkan dan disusun dengan cara tertentu sesuai dengan perasaan atau intuisi anak.

tiga. Garis dasar ini dapat berupa garis yang dibuat oleh anak atau garis tepi kertas.(b) Subtahap Figuratif Tengah Gambar anak pada subtahap ini terutama dapat dijumpai di taman kanak- kanak dan di kelas satu. Penempatan satu objek berkaitan dengan objek lain sekarang tampak jelas disengaja dan bermakna. Susunan ini dapat dilihat pada gambar 16. Benda-benda yang terletak di tanah dalam kenyataan sekarang dibuat berdiri pada garis yang menggambarkan tanah. Dalam masa perkembangan ini simbol visual anak bertambah rumit dan terus cenderung mengarah pada ketelitian. jelas bahwa gambar anak sekarang telah memiliki orientasi bawah dan atas. dan empat sekolah dasar. Garis ini disebut garis dasar (base line) dan merupakan ciri pokok tahap figuratif tengah. Namun demikian. sedangkan objek yang berada di bagian bawah bidang gambar mengarah ke tanah. 74 . Hal ini berarti bahwa objek yang berada di bagian atas mengarah ke langit. Dengan demikian. Perubahan yang paling penting dari subtahap sebelumnya dapat dilihat pada susunan simbol-simbol dalam gambar anak. perlu diketahui guru bahwa gambar seperti ini mungkin muncul di berbagai jenjang sekolah dari playgroup sampai sekolah menengah pertama. Gambar seperti ini merupakan satu-satunya tahap simbolisasi yang dapat dijumpai pada berbagai jenjang umur.

dan beberapa kotak berada di tengah bidang gambar. Karena gambar tanah dan kotak itu tampak menggantung. Art. maka lebih tepat dikatakan bahwa gambar ini menunjukkan peralihan dari subtahap ini dan subtahap sebelumnya. and Art Education) Gambar anak pada subtahap figuratif tengah dapat dilihat dengan jelas pada gambar 17. Tampak di sini simbol figur yang 75 .Gambar 16. Gambar Anak Pada Subtahap Figuratif Tengah (Sumber: Lansing. Hasil Gambar Anak Umur Lima Tahun. Gambar 17. and Art Education) Pada gambar 16. Art. 1976. Simbol anak kecil itu tampak berdiri kokoh di atas tanah (garis dasar) yang tidak lagi menggantung di udara. Artist. Di atas anak terdapat corengan yang menggambarkan langit. Yang Menunjukkan Masa Peralihan dari Subtahap Figuratif Awal ke Subtahap Figuratif Tengah (Sumber: Lansing. Artist. 1976. garis dasar terletak agak ke tengah bidang gambar dan anak serta bunga-bunga berdiri di atasnya.

Sebagai contoh. Kecenderungan kompleksitas ini dapat dilihat pada simbol-simbol yang paling sering ditemukan anak di lingkungannya. and Art Education) Gambar 19 menunjukkan gambar kereta dengan gerbong awak kereta (caboose) dan mesin di sebelah kiri serta orang di sebelah kanan. Artist. pada Gambar 18 kepala harimau digambarkan mirip wajah manusia. Pada masa perkembangan ini binatang semacam itu digambarkan anak dengan kepala seperti wajah manusia. Harimau dalam Kandang (Sumber: Lansing. 1976. Objek yang tidak sering ditemukan anak disimbolkan secara sederhana. 76 . karena anak tidak mungkin melihatnya dari dekat. Gambar 18. Art. Anak tidak memiliki imajinasi yang kompleks tentang kepala binatang itu.lebih kompleks dibandingkan dengan simbol figur pada gambar-gambar sebelumnya. Asap muncul di atas mesin dan matahari (objek yang banyak terdapat di dalam gambar anak) bersinar dengan terang.

and Art Education) Meskipun gambar (simbol grafis) anak semakin kompleks atau rinci (detail). Art. Di sini anak masih menggunakan garis dasar. 1976. Art. Gambar Anak Umur Lima Tahun Menunjukkan Objek-objek Yang Ada di dalam Maupun di luar Rumah (Sumber: Lansing. karena anak telah menciptakan ilusi kedalaman dengan bentukbentuk yang tumpang tindih. and Art Education) Gambar 20. 1976. Perbandingan ini merupakan contoh perkembangan yang terjadi dalam suatu 77 .Gambar 19. Gambar 20 menunjukkan gambar anak yang hampir mencapai tahap selanjutnya (subtahap figuratif akhir). dalam periode perkembangan ini masih begitu naturalistik. Artist. Gambar Kereta oleh Anak Umur Lima Tahun (Sumber: Lansing. Artist.

subtahap. Gambar itu masih datar dan kaku. 1976. gambar figur yang dibuat anak semakin realistik. Gambar 23 dibuat oleh anak umur lima tahun. Artist. Jelas bahwa dengan kematangan perkembangan anak. tetapi dapat ditemukan juga pada semua tahap perkembangan. Gambar 20 merupakan karya anak umur lima tahun. sedangkan gambar anak pada gambar 21 merupakan karya anak umur sepuluh tahun. kecuali tahap coreng-moreng. Cara penggambaran ini biasanya ditemukan pada subtahap figuratif tengah. Gambar Anak Umur Sepuluh Tahun (Sumber: Lansing. Gambar ini merupakan penggabungan penampakan dari dalam dan sekaligus dari luar suatu objek. Gambar 21. Art. sedangkan gambar 22 dibuat oleh anak umur sepuluh tahun. seperti ditunjukkan pada Gambar 22 dan 23. sedangkan gambar 23 ibu dan dua anak di dalam badannya. 78 . Gambar 22 menunjukkan bus penuh dengan para penumpangnya. and Art Education) Ciri yang lain gambar anak pada tahap perkembangan ini adalah gambar sinar-x (x-ray drawing). tetapi pada akhir subtahap figuratif tengah gambar anak belum begitu mirip dengan kenyataan.

Artist. Ciri gambar semacam ini juga tampak pada Gambar 24. Gambar X-ray oleh Anak Umur Lima Tahun yang Menunjukkan Ibu Dengan Dua Anak di Dalamnya (Sumber: Lansing. Lowenfeld menyebut cara menggambar ini gambar rebahan (folding over) yang juga merupakan ciri pokok subtahap figuratif tengah. sedangkan rumah terletak pada garis dasar yang lain. pada subtahap perkembangan ini juga ditemukan adanya kombinasi gambar tampak atas (plan) dan tampak sisi (elevation) dalam satu gambar. seperti tampak pada gambar 22. and Art Education) Gambar 23. Gambar Bus Penuh Dengan Penumpang (Sumber: Lansing. untuk menggambarkan ruang. Dalam gambar ini tampak gambar sebuah mobil terletak pada satu garis dasar. 1976. 1976. digunakan dua garis dasar. Art. jalan dan kendaraan-kendaraan lainnya digambarkan secara tampak atas. and Art Education) Selain penggambaran secara sinar-x. Artist. Gambar rebahan 79 .Gambar 22. Art. Jadi. Sementara itu.

pada umumnya gambar anak berhenti pada subtahap figuratif akhir. Artist. Art. dan tujuh. Namun. dan lapangan sepak bola.misalnya digunakan anak untuk menggambarkan sisi jalan. meja. karyanya akan terus berkembang. 1976. sehingga lebih dekat dengan kenyataan. Gambar Anak yang Menunjukkan Penggabungan Antara Tampak Depan dan Tampak Atas (Sumber: Lansing. Anak juga membuat objek di tempat yang dekat dengan ukuran yang lebih besar dari pada objek di tempat yang jauh. Setelah umur sebelas atau dua belas tahun anak biasanya tidak aktif menggambar lagi dan jika anak terus aktif menggambar. 80 . and Art Education) (c) Subtahap Figuratif Akhir Gambar pada subtahap figuratif akhir mungkin dimulai pada anak kelas tiga. Perbedaan yang paling penting antara subtahap figuratif tengah dan subtahap figuratif akhir adalah munculnya penggunaan perspektif sebagai pengganti garis dasar. Gambar subtahap ini tidak terdapat lagi pada anak di atas kelas tujuh. enam. Gambar 24. tetapi kebanyakan ditemukan pada anak kelas lima. Selain itu. Objek tidak lagi terletak pada garis dasar tetapi terletak di atas bidang yang tampak membentang ke belakang. mengesankan ruang.

anak tidak lagi menggambarkan objek-objek secara tembus pandang (gambar sinar-x). Gambar Bus Yang Penuh Sesak oleh Penumpang Yang Digambarkan Dengan Perspektif Linier (Sumber: Lansing. Artist. and Art Education) Gambar 26. Art. Seperti tampak pada jalan yang menuju ke tempat yang jauh. Kadang-kadang anak pada subtahap ini telah menggunakan perspektif linier. Perspektif linier adalah cara menggambarkan garis-garis sejajar secara khusus untuk mengesankan kedalaman. Gambar yang Menunjukkan Penggunakan Perspektif Linier oleh Anak Kelas Lima (Sumber: Lansing. Art. Gambar 25. 1976. Pada gambar 25 anak menggambarkan setiap kendaraan dengan menggunakan perspektif linier. Artist. 1976. Pada gambar 26 tampak juga bahwa anak menggunakan perspektif linier untuk menggambarkan tempat duduk. Penggunaan perspektif linier ini ditunjukaan pada gambar 25 dan gambar 26. kedua garis tepinya seolah-olah terus saling mendekat. and Art Education) 81 .

Pada umumnya anak belum merasa puas jika belum dapat menggambarkan dirinya sesuai dengan peran-peran itu secara cukup realistik. telapak tangan. sedangkan orang laki-laki dengan rambut pendek. Namun. gambar anak pada subtahap figuratif akhir menunjukkan tingkat realisme yang lebih tinggi pada setiap objek. Pada subtahap figuratif akhir ini dalam menggambar orang anak telah membedakan ciri-ciri orang menurut jenis kelaminnya dengan lebih jelas. pada tahap perkembangan ini anak menggambarkan orang perempuan dengan rambut panjang yang berombak. rambut. siku-siku. kontur tubuh. mata. Anak perempuan misalnya mengidentifikasikan dirinya dengan perawat. lengan. dan jari-jari. dan bibir yang mencolok. bibir. dan guru. anak telah menggambar seluruh unsur tubuh: kepala. Anak laki-laki misalnya mengidentifikasikan dirinya sebagai pemain sepak bola. hidung. Rambut yang panjang. Untuk figur manusia. tentara. Pada tahap sebelumnya mungkin anak sudah menggambarkan orang perempuan dengan rok dan orang laki-laki dengan celana panjang. kaki. dan pilot. bintang film. Bahkan kebanyakan bagian-bagian itu digambarkan dengan rinci. kuping. Pada Gambar 27 dua anak perempuan digambarkan sebagai pemain drumband. badan.Selain perspektif linier. ibu. polisi. dan otot-otot yang menonjol. Gambar 28 menunjukkan gambar pemain tenis laki-laki dan perempuan yang dapat dibedakan dengan ciri-ciri yang jelas pada pakaiannya. Bagi anak-anak tertentu penggambaran secara realistik ini akan 82 . leher. pundak yang lebar. Anak pada subtahap ini juga mengidentikasikan dirinya dengan peran dalam bidang pekerjaan sesuai dengan jenis kelaminnya. dada. dan lutut menunjukkan anak ciri-ciri perempuan.

Artist. sebagian anak lainnya akan berganti dengan penggunaan simbol-simbol abstrak. Gambar Yang Menunjukkan Perbedaan Anak Laki-laki dan Perempuan Dengan Ciri-Ciri Pakaian yang Rinci (Sumber: Lansing. Gambar 27. 1976. and Art Education) 83 . 1976. Art. dan sebagian lagi akan berhenti membuat simbol-simbol visual. and Art Education) Gambar 28.terus berkembang. Gambar Anak Perempuan Yang Mengidentifikasi Dirinya dengan Pemain Drumband (Sumber: Lansing. Artist. Art.

Art Activities for Children) (b) Corengan terkendali: anak mulai menemukan kendali visual terhadap coretan yang dibuatnya denagn kata lain sudah ada koordinasi antara perkembangan visual dan perkembangn motorik. yaitu: (a) Corengan tak beraturan: bentuk sembarangan. Di bawah ini adalah contoh gambar anak pada tahap corengan tidak beraturan: Gambar 29. wujud gambarnya berupa goresan tebal tipis dengan arah yang belum terkendali. Goresan dibuat dengan 84 . belum dapat coretan berupa lingkaran. 1981: 2. Pada masa ini merupakan pengalaman dari aktivitas motorik anak. mencoreng tanpa melihat kertas. anak bersemangat dalam membuat coretan. Corengan Tak Beraturan (Sumber: Hardiman. Periode ini terbagi dalam 3 tahap. adalah ciri tahapan mencoreng paling awal.Sedangkan menurut Lowenfeld & Britain dalam buku Creative Mental Growth (1982) membuat periodisasi lukisan anak sebagai berikut: 1) Periode Coreng Moreng (Scribbling Period) Periode ini berlaku bagi anak berusia 2 sampai 4 tahun (masa pra sekolah). Pada tahap ini unsur warna belum penting.

1981: 2. baik horixontal. Corengan Bernama (Sumber: Hardiman. Corengan Terkendali (Sumber: Hardiman. Art Activities for Children) Gambar di bawah ini merupakan salah satu karya anak periode coreng moreng pada usia 3 tahun. Terdapat pengulangan pencoretan garis. Gambar 30. Art Activities for Children) (c) Corengan bernama: merupakan tahap terakhir masa mencoreng.penuh semangat. Warna mulai menyita perhatian anak. Cirinya: bentuk semakin bervariasi. anak mulai memberi nama pada hasil coretannya. menggunakan waktu yang semakin banyak. lengkung . vertical. Gambar 31. 1981: 2. bahkan lingkaran. 85 .

dan berbagai hal baru kaitannya dengan perkembangan jiwa. pendidik. rasa. 1978: 39. bereksperimen. Dengan demikian anak mulai menggambar bentukbentuk yang ada hubunganya dengan dunia sekitar dan membangun ikatan emosional dengan apa yang digambar. menjelajah. dkk. alat peraga. Pada usia 5 tahun. pelajaran. Berbagai pengalaman berarti mereka temukan dengan adanya interaksi dengan dunia baru. 1973: 83). Pada periode ini anak mendapat kesempatan mencipta. pohon. teman sekolah.Gambar 32. rumah. dan sebagainya. Coreng Moreng Anak Usia 3 Tahun (Sumber: Rubin. maupun emosi mereka. Gambar di bawah ini merupakan contoh periode pra bagan karya anak usia 7 tahun (Horovitz. ataupun disiplin. mulai menggambar manusia walau masih sangat sederhana. Child Art Therapy) 2) Periode Pra Bagan (Pre Schematic Periode) Berlaku bagi anak berusia 4 sampai 7 tahun (taman kanak-kanak). gambar manusia. Usia 6 tahun. gambar bersifat bagan makin dapat dikenali. 86 .

Konsep ruang mulai nampak dengan adanya pengaturan atau hubungan antara obyek dengan ruang. Pra Bagan Anak Usia 4-7 Tahun (Sumber: Lowenfeld. 87 . yaitu: gambar yang menyertakan pula benda atau obyek di dalam ruang yang sebenarnya tidak kelihatan. Creative and Mental Growth) 3) Periode Bagan (Schematic Period) Berlaku pada anak usia 7 sampai 9 tahun. dkk. Muncul gejala yang disebut “sinar X” (Xray). Pra Bagan Anak Usia 7 Tahun (Sumber: Horovitz. Understanding Children’s Art for Better Teaching) Gambar 34. Anak mulai menggambar obyek dalam suatu hubungan yang logis dengan obyek lain. 1982: 430.Gambar 33. 1973: 83.

Creative and Mental Growth) 4) Periode Awal Realisme (Early Realism) Berlaku bagi anak berusia 9 sampai 12 tahun. Karakteristik warna mulai mendapat perhatian anak. mulai memeperhatikan detail. Bagan Anak Usia 7-9 Tahun (Sumber: Lowenfeld. tetapi spontanitas menjadi hilang. Kesadaran visual anak mulai berkembang. 1973: 182 (Part 3). anak mulai mengekspresikan karakter sex. Bagan Anak Usia 10 Tahun (Sumber: Horovitz. gambar jadi kelihatan kaku. lalaki dan wanita secara jelas.Gambar 35. Understanding Children’s Art for Better Teaching) 88 . 1982: 431. tetapi belum dapat menampilkan perubahan efek warna dan baying-bayang. dkk. Gambar 36.

Anak tidak lagi menggambar apa yang diketahuinya tetapi apa yang dilihatnya. Seni rupa menjadi produk dari suatu usaha yang serius. anak menjadi kritis terhadap karyanya sendiri. 89 . Understanding Children’s Art for Better Teaching) 6) Periode pengambilan keputusan Berlaku pada anak remaja usia 14 sampai 17 tahun Anak bersikap kritis terhadap diri sendiri.5) Periode Naturalistik Semu (Pseudo Naturalistic) Berlaku pada anak usia 12 sampai 14 tahun (masa pra puber) Merupakan akhir dari aktivitas spontan. Bagan Anak Usia 13 Tahun (Sumber: Horovitz. idealistic dan mulai memikirkan hubungan dirinya dengan masyarakat. Gambar 37. introspektif. 1973: 182 (Part 3). dkk.

Pengertian tipe visual adalah bahwa titik tolak penghayatan anak lebih banyak berdasar pengamatan atau konsepsi visual atas 90 . tipologi oleh Victor Lowenfeld (1952). Beberapa penelitian tentang adanya bermacam tipe lukisan anak-anak ditinjau dari segi-segi tertentu dapat disebutkan antara lain: klasifikasi empirik atas perbedaan pure-style lukisan anak-anak oleh Herbert Read (1945). dkk. Bagan Anak Usia 14 Tahun (Sumber: Horovitz. Menurut Victor Lowenfeld ada dua tipe lukisan anak-anak. Understanding Children’s Art for Better Teaching) d. serta tinjauan secara psikoanalisis yang dikemukakan oleh Edmund Burke Feldman (1970). yaitu: “the visual type” dan “the haptic type”. Tipe karya lukis anak dapat diidentifikasi berkat adanya berbagai studi yang dilakukan oleh para ilmuwan khususnya dalam bidang pendidikan dan psikologi. Tipologi Seni Lukis Anak Tipologi dalam seni lukis anak diartikan sebagai pembahasan tentang tipe atau gaya atau corak yang dapat diamati pada hasil karya lukis anak.Gambar 38. 1973: 182 (Part 3).

ciri-ciri lukisannya lebih menonjol sebagai ungkapan perasaan subjektif yang mengarah kepada corak non realistik. Pada tipe haptic atau non visual titik tolak penghayatan anak lebih banyak berdasar “ideal concept”nya. menggunakan warna sebagai terjemahan objek secara material. sebagai hubungan kesatuannya yang organis. bergerak dari pada objek yang terpisah dan diam. sedang penggunaan warna tidak sebagai terjemahan bahan objek melainkan lebih nyata sebagai simbol yang sesuai dengan perasaan subjektifnya. Dalam hal ini faktor eksternal relatif lebih berperan. tidak perspektivis. Ke dua belas kategori tersebut sebagai berikut: 1) Organic: pelukisannya berdasarkan pengamatan visual dan menunjukkan hubungan yang akrab dengan objek-objek eksternal. dan ternyata ciri-ciri lukisannya mengarah pada realisme naturalistik.bentuk alam sekitar atau objek lukisannya. Dalam hal ini faktor internal lebih nampak berperan. Secara lebih terperinci Herbert Read mendasarkan klasifikasi empiriknya atas perbedaan “pure style” lukisan anak-anak menjadi dua belas kategori lukisan sebagai hasil penelitian dari beribu-ribu gambar anak-anak dari berbagai tipe sekolah. tidak mengupayakan ilusi keruangan secara optis. menunjukkan gerak dan proposi figur ekspresif. 2) Lyrical: pernyataan bentuk objeknya sama atau serupa dengan yang organic. memperlihatkan plastisitas gerak objek dan proporsi visual. Lebih menyukai objek yang mengelompok. diam seperti halnya objek alam 91 . kemudian diklasifikasikan. tetapi lebih menyukai objek-objek yang statis.

8) Expressionist: terdapat kecenderungan yang menonjol untuk mendistorsi bentuk dan warna objek untuk mengungkapkan sensasi internal/subjektif anak secara spontan. lembut. 6) Schematic: menggunakan bentuk-bentuk geometrik tetapi melepaskan diri dari ikatan struktur objek alam. tetapi merupakan representasi dunia internal anak sendiri. Bentuk-bentuk bagan seperti pada periode awal anak melukis tetap digunakan. Lebih menunjukkan karakteristik sebagai lukisan anak perempuan. merekam setiap detailnya sebanyak mungkin yang dapat dilihat dan diingat dan menggambarkannya dalam struktur yang kurang organis. 7) Haptic: menunjukkan pelukisan yang tidak berdasar pada konsep pengamatan visual terhadap objek. 4) Rythmical pattern: berdasarkan hasil pengamatan terhadap bentuk-bentuk objek tersebut dibuat pola-pola bentuk objek tertentu yang diulang-ulang secara ritmis dengan berbagai variasi sehingga memenuhi bidang lukisan. kurang menunjukkan perhatian terhadap bagian-bagian kecil (detail) yang terdapat pada objek. 9) Enumerative: anak dengan penglihatannya secara cermat mengontrol objeknya. Aktivitas citra nonvisual dari 92 .benda (still-life) dengan pengerjaan yang halus. 3) Impresionist: lebih banyak sekedar melukiskan hasil penangkapan kesan sesaat terhadap situasi atau suasana objek secara cepat. 5) Structural form: Kecenderungan anak untuk mendeformasi objek menjadi bentu-bentuk geometrik yang merupakan esensi bentuk-bentuk eksternal. lebih menonjol sebagai disain yang simbolik daripada penggambaran bagan secara realistik.

lirycal dan impressionist yang sama-sama menggunakan wujud atau bentuk alam sesuai dengan pegamatan visualnya. 10) Decorative: anak memanfaatkan sifat-sifat dua dimensional. Sesungguhnya klasifikasi tersebut diakui sendiri oleh Herbert Read kurang bersifat definitif dalam arti sebenarnya masih sangat mungkin terjadi reduksi atau perluasan kategori-kategori dalam kenyataan yang lebih luas maupun lebih khusus. structural form.mata lebih banyak sebagai alat perekam tanpa benyak melibatkan sensasi untuk menciptakan keutuhan suasana. pewarnaan yang bersifat datar. meriah. tidak menampilkan ilusi keruangan/kedalaman guna menciptakan pola-pola manarik. haptic. 11) Romantic: Anak mengambil tema-tema kehidupan tetapi diintensifkan dengan fantasinya sendiri. baik dalam penampilan organisasi tema. Oleh karena itu Herbert Read mereduksi ke-12 kategori lukisan anak-anak 93 . Berdasarkan klasifikasi di atas dapat dikatakan bahwa cara pelukisan anakanak yang sepenuhnya berdasarkan basis realistik-naturalistik adalah tiga kategori yang pertama. schematic. yang diungkap kembali lewat narasi bentuk dan warna. meskipun dalam kadar dan kecenderungan yang berbeda-beda. 12) Literary: Anak menggunakan tema-tema dari cerita atau dongeng yang didapat sendiri dari bacaan atau dongeng dari guru. Sedangkan rythmical patern. yaitu: organic. expressionist dan decorative dapat dimasukkan ke dalam golongan non realistik. dipadukan dengan rekonstruksi ingatan dan kenangannya terhadap sesuatu yang berhubngan dengan tema tersebut. bentuk.

yang obyektif/naturalistik tetapi vital dan organik. character). 4 tipe apresiasi estetik Bullough (objective. associative. Pada tipe fungsi mental: thinking.di atas menjadi 8 kategori yaitu: (1) organic. (2) empathetic. 4 tipe fungsi mental Jung (thinking. Di sini tidak terdapat unsur diri (pribadi) si pelukis. Di sini si pelukis memproyeksikan dan meleburkan dirinya ke dalam obyek lukisannya. Dalam katagori enumeratif tidak terdapat proyeksi semacam itu. feeling. dengan demikian bersifat introversif. (3) rhythmical pattern. cenderung lebih banyak mengandalkan aktivitas intelektual yang berdasar kepada gejala faktual obyektif. Kedua. (4) structural form. (5) haptic. sensation. Indera mata sekedar berfungsi sebagai alat perekam fakta fisik (obyek yang dilukis). (8) imaginative. (6) enumerative. Tipe fungsi mental yang demikian relevan dengan kecenderungan imitatif dalam penggambaran bentuk-bentuk obyek eksternal pada beberapa katagori lukisan anak-anak. Pada kategori organic indra mata lebih berfungsi sebagai saluran kamunikasi (penghubung) antar jiwa si pelukis dengan obyek yang diamati untuk ditulis. dengan demikian bersifat ekstroversif. 94 . Pada katagori organic anak tidak hanya merperhitungkan obyek yang dilukis seadanya tetapi juga memperhitungkan hubungan organisnya. physiological/intrasubjective. intuition) beserta kecenderungan kerakterologis (extrovert. (7) decorative. Reduksi di atas tetap mempertimbangkan relevansinya yaitu: Pertama. introvert) dari fungsi-fungsi mental tersebut. Hasilnya masih berupa lukisan.

Tipe fungsi mental: feeling. Apabila menanggapi bentuk dan warna obyek. dalam lukisannya diolah menurut perasaannya. Kecenderungan introvert dapat dilihat pada katagori structural form. melankolik dan lain-lain) dalam bentuk-bentuk motif yang merupakan simbolisasi perasaan anak. tidak bertolak dari sifat-extroversif seperti pada kategori decorative.ukisan anak-anak dengan ekspresi extroverted feeling terdapat pada kategori decorative. Dalam hal anak menciptakan motif-motif yang didasarkan pada bentuk-bentuk eksternal/alam dan mengkonstruirnya dalam pola-pola yang ritmis. tidak harus sama dengan sifat-sifat fisik bentuk dan warna obyek secara "kasat mata". Intuisi adalah fungsi mental yang banyak tampil pada ekspresi musikal. maka menunjukkan ciri intuisi yang bersifat extrovert. Bentuk-bentuk alami (natural) diubah (guna mengekspresikan perasaan riang. namun lebih banyak menurut suasana hati anak. I. Ekspresi haptic adalah aspek introvert dari tipe fungsi mental: sensation. Perasaan dapat diekspresikan secara lebih subjektif. namun dari imajinasi anak sendiri seperti pada kategori imaginative. Misalnya bunga yang diberi warna cerah untuk mengekspresikan keriaan. Anak yang bertipe fungsi mental: intuition nampak dalam kecenderungan mengembangkan aksen-aksen ritme spontan dalam lukisannya dengan motif-motif bentuk yang relevan. anak lebih banyak menggunakan perasaannya dalam menanggapi sesuatu hal. dan "empathy" adalah aspek ekstrovert dari tipe fungsi mental yang sama. di mana titik tolak ubahan bentuk obyek lukisannya diambil dari pola-pola bentuk yang abstrak geometrik. 95 .

Metode Pembelajaran Seni Lukis Anak Sekolah Dasar Dalam suatu pembelajaran tentunya ditetapkan terlebih dahulu tujuan pembelajaran. Tipe-Tipe Psikologis Anak & kategori lukisan anak Thinking Feeling Sensation Intuition : extrovert introvert : extrovert introvert : extrovert introvert : extrovert introvert = enumerative = organic = decorative = imaginative = empathetic = expressionist (haptic) = rhytmical pattern = structural form Anak dalam menuang ekspresi artistik senantiasa berbeda. 3. Kedua tipe ini menurut Lowenfeld dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam menilai karya lukis anak. berekspresi. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan tentunya digunakan strategi atau teknik yang disebut dengan metode. Namun masing-masing secara khusus memiliki ciri tersendiri bila dilihat dari karya lukis yang dihasilkan.Dengan demikian hubungan antara 8 kategori lukisan anak-anak di atas dengan tipe-tipe psikologis dapat digambarkan sebagai berikut: Tabel 2. Maka dibutuhkan kejelian pendidik dalam memilih 96 . Dengan demikian tujuan metode pembelajaran adalah merencanakan dan melaksanakan cara-cara yang efektif untuk mencapai tujuan. dan nilai rekreasi. yang pada prinsipnya disenangi anak karena ada muatan nilai bermain. Sesuai dengan karakteristik mata pelajaran seni rupa seni lukis khususnya. ada dua tipe yang membedakannya yaitu tipe visual dan non visual.

anak akan dapat mengenal berbagai bahan. dan menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan (Enjoyfull learning). dan arah tujuan dari pembelajaran. dan teknik sehingga mereka dapat membuat berbagai karya lukis. Dalam proses membuat karya seni lukis. salah satunya adalah dengan berkarya seni lukis. alat. Motivasi yang dapat diberikan untuk anak usia sekolah dasar misalnya: berupa cerita baik cerita dongeng maupun cerita yang sesuai dengan keadaan lingkungan mereka. 97 .metode yang tepat agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. dan gairah anak untuk berkarya. nyanyian. perlu diketahui bahwa pada dasarnya setiap anak mempunyai potensi berkarya seni rupa yang berbeda-beda. memberi bekal life skill kepada peserta didik. Untuk melaksanakan pembelajaran seni lukis pada peserta didik. a. Model-model motivasi sangat banyak tergantung pada tingkat usia anak. Langkah-langkah Pembelajaran Seni Lukis Salah satu jalan untuk membentuk pribadi anak yang sensitif. 1) Pemberian Motivasi Pemberian motivasi merupakan upaya yang dilakukan untuk membangkitkan semangat dan minat anak terhadap tugas-tugas yang akan diberikan untuk dikerjakan. kreatif. Berikut ini langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran seni lukis anak di sekolah dasar agar dapat berkarya sesuai dengan minat. perhatian. sentuhan suasana yang aktual. yaitu metode pendidikan yang dapat mendukung pengembangan creative thingking peserta didik. keadaan lingkungan atau suasana. dan ekspresif adalah melalui kegiatan berkarya seni rupa. ataupun sebuah rekaman yang dapat mereka ungkapkan kembali.

3) Pemberian Pelatihan Pelatihan diberikan agar anak mempunyai pengalaman langsung dan diberi kebebasan berekspresi menggunakan media yang telah tersedia. 98 . dan diakhiri dengan tahap penyelesaian. Contoh karya tersebut bukan semata-mata untuk dicontoh. Pelatihan dapat diberikan setelah anak memahami apa yang diperagakan dan memahami tugas yang disampaikan oleh pendidik. Dalam kegiatan ini anak juga dapat langsung diajak mengamati dan menghayati karya-karya atau benda-benda yang ada disekitar mereka. Proses interaksi antara pendidik dan peserta didik harus selalu dikondisikan dalam suasana segar.2) Pemberian Peragaan Peragaan merupakan mempertunjukkan atau menampilkan sebuah objek yang dapat diamati dan diperbincangkan sesuai dengan tugas yang akan dikerjakan oleh anak. pengorganisasian unsur-unsur visual seperti pemilihan objek dan penyusunan komposisi. dan gembira. Dalam hal ini anak diberi kebebasan menerima makna tugas dan mencoba menggunakan media yang ada. pengenalan dan percobaan penggunaan media. Hal ini dilakukan agar anak selalu termotivasi untuk mempersiapkan diri dalam mengerjakan tugas yang diberikan. Objek yang dapat dipertunjukkan dapat berupa contoh-contoh karya lukisan. melainkan untuk memperjelas keterangan dan sekaligus memberikan daya tarik bagi anak. baik karya orang dewasa maupun karya anak-anak. bebas. Dalam proses pelatihan ini terjadi alur penciptaan yang meliputi penyusunan konsep dan penuangan ide.

Pada tahap ini pendidik sangat berperan penuh. dikaji. Pendidik pada mulanya melakukan bimbingan secara klasikal atau kelompok. bertindak sebagai “Tut Wuri Handayani”. pendidik dapat berdiskusi langsung dengan setiap anak sesuai dengan tingkat permasalahan atau kesulitan yang dihadapinya. Melalui tahap ini. Untuk lebih jelasnya.4) Pemantauan Pemantauan dilakukan untuk mengetahui sejauh mana anak-anak dapat berekspresi menggunakan media yang ada. pendidik dapat memberikan pujian untuk hasil karya yang dikerjakan dengan baik. apabila memungkinkan karya-karya tersebut dapat dibahas. Dalam pemantauan. Tahap ini dapat dikatakan sebagai tahap evaluasi karya. kelima langkah pembelajaran seni lukis di atas yang dapat diterapkan di sekolah dasar dapat digambarkan sebagai berikut: 99 . dan didiskusikan oleh anak. namun lebih mengarah pada bimbingan individual. Dapat juga anak diberi kesempatan untuk menceritakan hasil lukisannya sendiri. Diskusi lebih mengerah pada pemberian stimulasi untuk menemukan pemecahan permasalahan yang terdapat pada anak. 5) Pemaparan Karya Seni Lukis Anak Akhir dari proses pembelajaran seni lukis adalah megumpulkan karya anak kemudian memilih karya yang dapat dipamerkan atau dipertunjukkan untuk dapat diamati secara bersama-sama.

sedangkan rekreasi menampilkan/menggelar karya seni. termasuk di dalamnya yang bersifat rekreatif (performance). Peserta didik berperan sebagai pengamat yang menghayati gejala keindahan yang ada dalam karya seni kemudian menanggapinya. dua kegiatan yang saling terkait satu sama lain yaitu apresiasi dan kreasi. Dalam mata pelajaran tersebut. Kegiatan apresiasi. dimaksudkan melatih perkembangan kepekaan rasa estetik peserta didik. kemampuan mengekspresikan dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni. mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan adalah nama dari kelompok mata pelajaran estetika yang dilaksanakan pada tingkat sekolah dasar. Pada kegiatan ini peserta 100 . evaluasi dan pemberian pujian bagi hasil karya yang baik Pemantauan dan pembimbingan Gambar 39. dan penjelasan teknik secukupnya. 2005) disebutkan tujuan mata pelajaran Seni Budaya dan Ketrampilan adalah untuk meningkatkan sensitifitas. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 (Peraturan Pemerintah. alat. Kegiatan kreasi mempunyai makna menciptakan karya seni yang baru. Seni Lukis sebagai indikator gambar ekspresi dalam KTSP Dalam kurikulum KTSP.Motivasi Peragaan yaitu mengamati dan menghayati objek disertai dengan pengenalan bahan. Pelatihan yaitu kebebasan berekspresi dengan media yang ada Pemaparan karya. disertai dengan tanya jawab. Dalam hal ini tentunya keterlibatan intelektual dan pengalaman estetik peserta didik sangat berperan. Langkah-langkah Pembelajaran Seni Lukis 4.

relief. Kamaril (2005: 7) mengungkapkan bahwa menggambar ekspresi adalah: usaha mengungkapkan dan mengkomunikasikan pikiran. Merupakan titik tolak dari menggambar ekspresi adalah kondisi kejiwaan anak. Dalam hal ini keterlibatan intelektual peserta didik sangat dominan. Jacques Maritain dalam Sumardjo (2000: 51) menyebutkan adanya ekspresi intelektual yang diperlukan untuk mengubah bentuk menjadi struktur. ilustrasi. ide 101 . Pada kompetensi dasar di atas. 2006: 4). dan sebagainya) (BSNP. terlihat dalam katakata yang diucapkan dan ungkapan jiwa melalui gambar. Dengan sifat anak-anak yang subjektif.didik secara aktif menghasilkan suatu karya seni (lukisan. kelas dua semester satu dan semester dua. Reaksi yang bersifat subjektif dapat dilihat dari perbuatan anak yang serba spontan. dilaksanakan pada kelas satu semester dua. Misalnya dalam pembuatan karya seni lukis dikenal adanya aspek bentuk yang diubah menjadi struktur. menjadikan semua tanggapan yang diterima oleh anak akan menimbulkan reaksi pada diri anak. Hal ini memerlukan kerja intelektual. Menggambar ekspresi menurut tujuannya. juga kelas tiga semester dua. disebutkan bahwa mengekspresikan diri melalui karya gambar ekspresif dan mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran Seni Budaya dan Kerajinan Sekolah Dasar berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 yang meliputi kegiatan apresiasi dan kreasi secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 1 halaman 270. Secara rinci khusus pelaksanaan seni lukis di sekolah dasar ada dalam penjabaran kompetensi Kreasi Seni Budaya dan Keterampilan dapat dilihat pada lampiran 2 halaman 275.

Bahan dan alat yang dimaksud disini adalah bahan dan alat yang digunakan untuk mencetuskan ide. cat air. dan ketrampilan peserta didik dalam menggunakan bahan dan alat. kemauan. diraba secara langsung maupun tidak langsung. manusia berkepala kuda . piring yang bisa terbang. gejolak perasaan/emosi serta imajinasi dalam wujud dwimatra yang bernilai artistik dengan menggunakan garis dan warna. Menggambar imajinatif adalah salah satu kegiatan menggambar/melukis yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menyatakan daya khayalnya. peserta didik menggambar laba-laba raksasa yang besarnya melebihi ukuran pesawat terbang. didengar. gagasan gejolak perasaan/emosi. Hal-hal yang tidak ditemukan secara nyata di dunia ini ditampilkan oleh peserta didik melalui gambar imajinasi. 102 . dan imajinasi yang diperoleh dari apa yang dilihat. tinta. Bahan dan alat tersebut adalah kertas. dan sebagainya. Dalam hal ini guru seyogyanya tidak ikut campur dalam menentukan apa yang harus diungkapkan oleh peserta didik. Merupakan hal yang terpenting dalam melukis untuk anak sekolah dasar adalah keberanian. Sebagai contoh. Dengan demikian gambar/lukisan yang dihasilkan peserta didik bersifat sangat pribadi. produk dari menggambar ekspresi disebut dengan karya seni lukis.gagasan. Salam (2001: 50) mengatakan bahwa kegiatan menggambar/melukis ekspresi di sekolah dipengaruhi oleh paham ekspresionisme yakni suatu paham yang meyakini bahwa dalam menggambar/melukis seseorang seyogyanya menggores secara berani dan spontan agar perasaannya dapat tersalur secara apa adanya tanpa dipengaruhi oleh kemampuan intelektualnya. kanvas. kuas. Selanjutnya sesuai dengan tujuan dan kompetensi dasar yang ada dalam kurikulum.

Dalam hal penggunaan warna disikapi sebagai bentuk yang mendekati pada warna yang sebenarnya. cat minyak. Mencermati ciri-ciri perkembangan anak pada usia masa ini. Pada kelas satu sampai dengan kelas tiga sekolah dasar periodisasi mengggambar anak. Anak sudah dapat berpikir lebih menyeluruh dengan melihat banyak unsur dalam waktu yang sama (decentering). secara umum hasil karya lukis anak merupakan cerita yang luas dengan penampilan gambar yang lengkap dan dibuat dengan teknik yang mantap. yaitu: gambar yang menyertakan pula benda atau obyek di dalam ruang yang sebenarnya tidak kelihatan. kedudukan anak ada pada menurut periode bagan (schematic period) yaitu pada anak usia 7 sampai 9 tahun. Konsep ruang mulai nampak dengan adanya pengaturan atau hubungan antara obyek dengan ruang walaupun masih sederhana dengan meletakkan dalam satu garis vertical sebagai garis dasar. 103 . Dengan demikian anak mulai menggambar obyek dalam suatu hubungan yang logis dengan obyek lain. Hasil gambar peserta didik merupakan wujud dari kreativitas dan ketrampilannya. Sedangkan menurut Piaget. pengamatan semakin teliti dan semakin tahu siapa dirinya dalam hubungan dengan lingkungannya. Muncul gejala yang disebut “sinar X” (X-ray) atau tembus pandang. Menurut Susanto (2003: 294): pada masa ini merupakan konsep tentang bentuk dasar dari pengalaman kreatif anak.cat akrilik. dan sebagainya. Mereka telah memiliki konsep cerita yang sudah banyak. pewarna alami misal daun. buah. anak pada masa ini menyebutnya sebagai tahap operasi konkret yang bercirikan bahwa perkembangan system pemikirannya didasarkan pada aturan-aturan tertentu yang logis.

Dia masih menggunakan bentuk geometrik untuk menggambarkan idenya. menguranginya. tapi menambahnya. Dia mempunyai sebuah konsep jelas dari bentuk orang dan mulai lebih spesifik menggunakan kecenderungan untuk menunjukkan simbol misal. Kualitas estetik yang tinggi dari referensi fisik-emosionalnya pada tahun-tahun awal sekarang disubordinasikan pada pengisahan yang ideologis. pada tahapan simbolik anak pada usia 7-9 tahun membutuhkan koordinasi fisik yang cukup untuk memberikan pembelajaran cara pemakaian peralatan seni dan materi yang digunakan dalam membuat karya seninya. tetapi ia sampai pada referensi rasional yang utuh dari bentuk dan ruang skematik pada usia tujuh tahun. 104 . Sebelumnya ia telah mengumpulkan detil-detil dalam gambranya ketika ia tumbuh. Anak bekerja dengan tujuan sesuai apa yang ada dalam pikirannya bahwa apa yang dihasilkan sangat berarti bagi dia. Seiring dengan berjalannya waktu. dan detil-detil tersebut mencerminkan pertumbuhan inteletualnya. atau memvariasi elemen-elemen tertentu menurut pada subjek yang sedang digambarkan. Anak juga mempunyai tujuan memperoleh pengalaman dan pengetahuan memperbesar tendensi alaminya guna diwujudkan dalam ekspresi gambarnya. dia menggunakan garis pergerakan dari tubuh dan bibir dari gambarnya.Dimulai pada usia enam tahun anak mulai mapan di dalam dunia nyata dan menjadi bagian sosial dari interrelationship (hubungan di dalam struktur). Tipe-tipe perseptual menjadi nyata dalam seni pada anak usia sembilan tahun ketika ia matang secara sosial.

secara sebenarnya menurut pandangan visual mereka. Pada waktu dia menimbun garis dasar untuk memberitahukan keseluruhan cerita atau menggambar garis dasar sekeliling tepi dari kertasnya untuk menunjukkan seluruh pemandangan. Dia biasanya menggunakan sebuah garis dasar dalam gambarnya. satu objek mungkin sebagian tidak akan terlihat. menggambar 105 . dimana keduanya sesuatu yang abstrak dari ruangan dan sebuah rasa dari posisi dan direksi dari sesuatu dalam ruangan. anak menggunakan secara emosional. Pada tipe sinar X dari ekspresi. Pada karya anak terlihat bahwa semuanya penting dan harus terlihat serentak. Selanjutnya anak merasakan bahwa macam-macam objek dalam lingkungannya mempunyai warna berbeda-beda. Pada penggunaan warna.Pada tahap ini juga anak menunjukkan sebuah rasa dari hubungan spatial. Pada visualisasi kedalaman ekspresi. kemudian secara bertahap merasakan pentingnya hubungannya dengan objek. Mempunyai konsep cerita yang banyak. Selanjutnya menurut Kellogg ( 1967: 181-215) secara lebih jelas lagi menyatakan bahwa pada usia 7-9 tahun anak tersebut mengalami tahapan sebagai berikut: 1) 2) Periodisasi pada periode bagan ( Schematic period). anak belum menyadari bahwa ketika beberapa objek dipandang dari satu sudut. objek terlihat secara fisik. anak mengatur objek-objek dikedua tepi dari gambar dan langit dipandang sebagai pusat. Anak pada tahapan ini juga kekurangan sebuah realisasi dari hubungan ruang dan waktu dan biasanya beberapa kejadian dalam satu gambar.

akan menjadi berorientasi pada gang karena adanya kebutuhan untuk mengidentifikasi dengan lebih mendalam peran seksual-diri. Secara umum hasil karya merupakan cerita yang luas dengan penampilan gambar yang lengkap dan teknik yang mantap. dan pada kadar tertentu. Perkembangan selanjutnya anak akan menjadi ekstrovert perseptual-sosial apabila tergantung pada aspek visual daslam bidang seninya. Adanya garis vertikal sebagai garis dasar tempat objek. Konsep ruang mulai nampak adanya pengaturan walaupun masih sederhana. Penggunaan warna mendekati warna yang sebenarnya. Dengan demikian perlakuan.3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Pengamatan semakin teliti. atau ia akan menjadi introvert perseptual-sosial dan haptik dan tidak tergantung pada bidang dalam seninya. sementara anak gadis akan cenderung mengidealisasi dirinya sendiri dalam citra wanita yang glamor dan matang. Ia akan masuk dalam kedua tipe tersebut. Identifikasi semacam itu akan mengarahkan anak laki-laki untuk melebih-lebihkan proyeksi diri menjadi berupa citra-citra yang mengerikan. Semakin tahu siapa dirinya dalam hubungan dengan lingkungannya. 106 . pembelajaran dan penilaian hasil karya seni lukis anak pada periode tersebut hendaknya mengacu pada perkembangan periode yang sedang dialami oleh anak. Adanya gejala tembus pandang (X-ray).

kepekaan rasa estetik. or classifications of learning… cognititive (knowledge. Dalam proses pembelajaran seni lukis ada pengalaman tertentu yang lebih 107 . These domains. atau teater. Pada karya seni rupa penuangan gambar ekspresi adalah karya seni lukis. 2006: 5). Penilaian dalam Pembelajaran Seni Lukis di Sekolah Dasar 1. dan psikomotorik (BSNP DIKNAS. affective (feelings and attitudes). Penilaian pendidikan seni rupa ditujukan untuk menilai hasil belajar peserta didik secara menyeluruh. intellectual abilities). musik.D. 2006: 14). 2006: 7) Hal ini sesuai dengan pernyataan Gaitskell (1975: 62) sebagai berikut: Behaviorists in art education also recommend that the three major domains of learning be maintained. Fungsi Penilaian dalam Pendidikan Seni Pada umumnya penilaian dapat diartikan sebagai aktivitas pembandingan suatu hasil pengukuran terhadap acuan tertentu. dan ketrampilan motorik yang tercermin pada karya seni yang dihasilkan atau dipertunjukkan (BSNP. and psychomotor (ability to handle specific processes involving physical coordination) skills. tari. mencakup aspek kognitif. implementasi pelaksanaan terlihat dalam Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Estetika disebutkan bahwa: standar kompetensi kreasi/rekreasi berkaitan dengan kemampuan peserta didik dalam menciptakan atau mengekspresikan diri melalui karya seni rupa. afektif. Kemampuan ini terbentuk dari kombinasi pengetahuan. fact. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. Dalam PP No 19 tahun 2005 disebutkan bahwa: penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik (BSNP.

observasi. 108 . tes praktek. dan teknik untuk berkomunikasi secara visual (Salam. Tingkah laku peserta didik di luar situasi tes lebih menunjukkan penampilan yang wajar dan non artificial dalam mengaplikasikan kemampuan kognitif. 2001: 8). teknik penilaian observasi secara individual sekurang-kurangnya dilaksanakan satu kali dalam satu semester. bahan. pengalaman memahami dan mengaplikasikan alat. Karya seni lukis tentunya tidak relevan diukur dengan alat tes yang hanya mengukur aspek kognitif. dan penugasan perseorangan atau kelompok. Apalagi bila dikaitkan tujuan pendidikan seni rupa adalah membina kemampuan peserta didik ber. afektif dan psikomotor yang banyak diantaranya tidak dapat terjaring oleh tes. Selanjutnya pada Bab IV: Standar Proses Pasal 22 dijelaskan sebagai berikut: (1) penilaian hasil pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat 3 pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai.ditekankan antara lain: pengalaman penghayatan dan penilaian terhadap nilai keindahan. (3) untuk mata pelajaran selain kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. (2) teknik penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat berupa tes tertulis. Hal ini sesuai dengan PP 19 tahun 2005. sedangkan penampilan peserta didik dalam aspek afektif dan psikomotor sangat sulit datanya diukur melalui tes.self expression secara kreatif-estetik lewat penggunaan media seni rupa. Dengan demikian untuk menilai karya seni lukis peserta didik diperlukan tidak hanya dari segi hasil saja tetapi juga proses pembuatan karya tersebut. tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 64 ayat 5 menyatakan: “Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran estetika dilakukan melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan ekspresi psikomotor peserta didik”.

dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan. berarti prosedur penilaian. adat istiadat. antara lain peserta didik. Untuk mengetahui keberhasilan program pembelajaran selalu dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik. Beracuan kriteria. berarti penilaian seni rupa didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas. Akuntabel. Sahih. berarti penilaian seni rupa tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama. g. yang mengacu pada Peraturan Menteri No 20 tahun 2007: a. grup. prosedur. Adil. Dengan demikian untuk memecahkan permasalahan penilaian proses dan hasil karya peserta didik tersebut perlu digunakan pendekatan penilaian yaitu performance assessment. berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan. i. e. Terpadu. budaya. berarti penilaian oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai. f. tenaga pendidik. untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik. Menyeluruh dan berkesinambungan.Berikut ini prinsip penilaian karya senirupa pada jenjang pendidikan dasar. d. h. 2. kriteria penilaian. tidak dipengaruhi subjektivitas penilai. suku. Pada dasarnya assessmen adalah kegiatan mengumpulkan informasi tentang kualitas dan kuantitas perubahan pada anak didik. 109 . Sistematis. c. berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapain kompetensi yang ditetapkan. Karakteristik Penilaian dalam Pendidikan Seni Pada uraian terdahulu telah disebutkan bahwa penilaian seni lukis anak meliputi penilaian proses dan penilaian hasil atau produk. berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku. Dengan melakukan kegiatan asesmen dapat diketahui perubahan yang terjadi pada anak didik. status sosial ekonomi. Objektif. b. baik dari teknik. Terbuka. berarti penilaian seni rupa oleh pendidik seni rupa merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran. maupun hasil. berarti penilaian seni rupa didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur. atau administrator. dan gender.

1986: ix). (Berk. pengetahuan dan ketrampilan. melalui proses pembelajaran yang menunjukkan kemampuan peserta didik dalam proses dan produk. The focus of this process is data gathering. 4. bila dihubungan dengan karakter mata pelajaran seni rupa khususnya seni lukis performance assessment sesuai untuk menilai karya seni lukis peserta didik. Berdasarkan pendapat Berk di atas. Melengkapi pendapat tersebut. Selanjutnya Berk mengatakan bahwa dalam Performance assessment selalu terkait dengan adanya rubrik penilaian yang merupakan bagian dari Performance assessment: Subsumed under the rubric Performance assessment are a host of other related terms that are often used synonymously with it. The data are collected by means of systematic observation. Performance assessment is a process. 2. Zainul (2005: 4) menyatakan bahwa asesmen kinerja secara sederhana didefinisikan sebagai penilaian terhadap proses perolehan. using a variety of instruments and strategies. 1986: ix). penerapan. 5. sampai dengan hasil akhir atau produk seni lukis peserta didik. Dimulai pada proses pembuatan karya seni lukis. Ada lima unsur-unsur kunci dalam definisi yang dikemukakan oleh Berk. not a program or product reflecting a group’s activity. usually an employee or a student. not a test or any single measurement device. 3. The data are integrated for the purpose of making specific decisions. The subject of the decision making is the individual. 110 . yaitu: 1.Sedangkan penilaian kinerja (performance assessment) menurut Berk sebagai berikut: performance assessment is the process of gathering data by systematic observation for making decisions about an individual (Berk.

pengetahuan dan ketrampilan. namun pengertian yang dapat disampaikan antara lain dari Berk (1986: ix) yang mengatakan bahwa “Performance assessment is the process of gathering data by systematic observation for making decisions about an individual”. tetapi lebih dari itu. peserta didik akan secara terbuka dan aktif berupaya untuk mencapai tujuan pembelajaran. (4) dengan mengetahui kriteria yang digunakan untuk mengukur dan menilai keberhasilan proses pembelajarannya. yaitu: (1) asesmen kinerja yang didasarkan pada partisipasi aktif peserta didik. Melengkapi pendapat tersebut. Menurut Maertel yang dikutip oleh Zainul (2005: 3) bahwa pada prinsipnya performance assessment mempunyai dua karakteristik dasar yaitu: (a) peserta didik diminta mendemonstrasikan kemampuannya dalam membuat kreasi suatu produk atau terlibat dalam aktivitas perbuatan. melalui proses pembelajaran yang menunjukkan kemampuan peserta didik dalam proses dan produk. 111 . (2) tugasugas yang diberikan atau dikerjakan oleh peserta didik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan proses pembelajaran. asesmen juga untuk memperbaiki proses pembelajaran. Zainul (2005: 4) menyatakan bahwa asesmen kinerja secara sederhana didefinisikan sebagai penilaian terhadap proses perolehan.a. penerapan. (b) hasil karya atau produk lebih penting dari pada perbuatan (performance)nya. Selanjutnya dinyatakan pula bahwa asesmen kinerja diwujudkan berdasarkan empat asumsi pokok. Pengertian Performance Assessment Berbagai pengertian yang disampaikan para ahli evaluasi tentang Performance assessment. (3) asesmen tidak hanya untuk mengetahui posisi peserta didik pada suatu saat dalam proses pembelajaran.

dan peralatan yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas tersebut. Dalam menentukan domain ini perlu ada judgment dari pendidik. 6) Feasibility. 112 . artinya apakah tugas yang diberikan peserta didik sepadan dengan apa yang sering dialami dalam kehidupan sehari-hari. 2) Authenticity. artinya apakah tugas yang diberikan dapat diskor dengan akurat dan reliabel. 3) Multiple foci. agama.Selanjutnya Messick (1995: 33) mengatakan bahwa dalam hal memilih. artinya tugas yang diberikan sudah relevan dengan yang diajarkan pendidik di kelas. suku bangsa. artinya tugas yang diberikan sudah adil untuk peserta didik tidak bias gender. atau social ekonomi. 5) Fairness.kriteria tersebut sebagai berikut: 1) Generalizability. Untuk melihat apakah Performance assessment yang dilakukan telah memenuhi standar kualitas. 7) Scorability. 4) Teachability. artinya apakah tugas-tugas yang diberikan pada anak didik telah memadai untuk digeneralisasikan pada tugas-tugas lain yang sejenis. artinya apakah tugas-tugas yang diberikan relevan untuk dapat dilaksanakan mengingat faktor beaya. apakah yang akan dinilai itu produk atau perbuatan (performance) tergantung pada karakteristik domain yang diukur. artinya apakah tugas yang diberikan kepada peserta didik telah mengukur lebih dari satu kemampuan-kemampuan yang diinginkan. waktu . apakah perbuatan dan produk sama penting atau dominan yang mana tergantung juga pada karakteristik bidang yang dinilai. Popham (1995: 147) mengemukakan kriteria. tempat.

atau aspek apa saja yang akan diukur. tidak berlaku untuk tujuan yang lain juga untuk kondisi yang berbeda. sifat-sifat. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Pengukuran Validitas dan reliabilitas merupakan hal utama yang harus dipenuhi untuk menentukan kualitas suatu instrumen penilaian. Sesungguhnyalah persoalan validitas instrumen berhubungan dengan pertanyaan. Relevans dan accuracy. validitas isi (content validity). Sedangkan accuracy menunjuk pada ketepatan instrumen mengidentifikasi aspek-aspek yang akan diukur secara tepat. adalah dua makna yang terkandung dalam konsep validitas.b. 2000: 686. Secara umum terdapat tiga macam validitas. menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Validitas konstruk menunjuk pada sejauh mana instrumen yang disusun 113 . (Kerlinger. yaitu validitas konstruk (construct validity). apakah suatu instrumen mampu menggambarkan ciri-ciri. Babbie. sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Relevans menunjuk pada kemampuan instrumen untuk memerankan fungsi untuk apa instrumen dimaksudkan. 1) Validitas Validitas instrumen dapat dimaknai sebagai ketepatan dalam memberikan interpretasi terhadap hasil pengukurannya. Dengan demikian menjadi masalah pokok yang berkaitan dengan validitas instrumen adalah apakah instrumen tersebut menghasilkan informasi yang diinginkan secara tepat sesuai tujuan yang diperlukan. dan validitas criteria (criterion-related validity). Suatu instrumen dikatakan valid untuk tujuan tertentu. 2004: 144-145).

Validitas sampling berhubungan dengan pertanyaan seberapa jauh butir-butir instrumen merupakan sampel yang representatif dari keseluruhan aspek yang diukur. Prosedur yang ditempuh untuk memperoleh validitas konstruk yang diharapkan. Dimulai dengan dengan menyusun daftar keseluruhan isi materi atau domain yang dimaksud. Validitas isi berhubungan dengan kemampuan instrumen untuk menggambarkan secara tepat domain prilaku yang diukur. dan kritik dari para ahli terkait.mampu menghasilkan butir-butir pertanyaan yang dilandasi oleh konsep teoritik tertentu. Ada dua makna dalam validitas isi yaitu. Menurut Kerlinger (2000: 687) analisis faktor merupakan metode yang tidak terelakkan untuk meneliti validitas konstruk. Validitas konstruk sendiri digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menjelaskan varians pada hasil pengukuran. Validitas isi berhubungan dengan pertanyaan seberapa jauh butir-butir instrumen mencerminkan keseluruhan isi dari aspek yang hendak diukur. pertimbangan. Langkah selanjutnya pada validitas isi adalah menjabarkan dalam aspek yang terperinci selanjutnya didiskripsikan indikator- indilkatornya. Dengan demikian analisis faktor digunakan untuk mencari bentuk validitas konstruk. diperlukan pendekatan logis dan empirik. validitas butir dan validitas sampling. Selanjutnya dimintakan pertimbangan kolega atau ahli yang berkompeten melalui forum diskusi antar ahli (focus group discussion). untuk 114 . Untuk memantapkan validitas konstruk dibutuhkan expert judgment yaitu masukan. Validitas konstruk disusun berdasarkan pada konsep teori yang sudah mapan dan pertimbangan-pertimbangan yang rasional.

menggunakan korelasi intraklas (interclass correlation). Stabilitas diperoleh dengan mengkorelasikan skor siswa dari dua kali pelaksanaan tes. dan evaluasi guna menyempurnakan instrumen yang disusun. dapat ditarik suatu pengertian bahwa untuk pengembangan afektif dapat digunakan semua jenis validitas atau salah satu jenis validitas. walaupun dalam waktu dan kondisi yang berbeda. Secara konsep instrumen yang reliabel adalah apabila digunakan terhadap subjek yang sama akan menunjukkan hasil yang sama. 115 . Salah satu pendekatan dasar untuk mengukur reliabilitas adalah stabilitas. Pada validitas kriteria diteliti dengan membandingkan suatu kriterium eksternal. dan atau kehandalan instrumen untuk menggambarkan gejala seperti apa adanya. Berdasarkan uraian di atas. Dua kriteria yang digunakan pada validitas kriteria adalah kriteria konkuren dan kriteria prediktif. 1984: 44). keajegan. Pada penelitian ini digunakan validitas isi dan validitaas konstruk. 2) Reliabilitas Reliabilitas instrumen menunjukkan tingkat kestabilan. Validitas kriteria menjawab pertanyaan sejauh mana suatu tes dapat memprediksi penampilan kemampuan pada waktu yang akan datang (validitas prediktif) dan mengestimasi kemampuan saat sekarang berdasarkan suatu pengukuran selain tes itu sendiri (Fernandes.memperoleh masukan. saran. kritik. dimana kriterium yang ditetapkan harus sudah teruji secara empiris di lapangan dan mempunyai konsistensi yang cukup tinggi. konsestensi.

subjek akan memberikan jawaban yang lain karena hasil belajar selama waktu selang tersebut. Pada cara penilaian metode analytic apabila digunakan untuk menilai kemampuan ketrampilan yaitu dengan menggunakan checklist. 2003: 66). hal ini mengakibatkan meningkatnya koefisien reliabilitasnya. Penggunaan bentuk reliabilitas tes-retes yang menjadi masalah adalah selang waktu pelaksanaan pengukuran. Cara lain untuk menilai reliabilitas adalah dengan menggunakan teknik intereter yaitu. Sedangkan metode analytic adalah apabila para penskor memberikan penilaian dari setiap aspek yang berhubungan dengan hasil kinerja yang dinilai. 1984:35). dan rating scales (Depdiknas. dua peneliti menggunakan alat ukur yang sama untuk mengukur kemampuan seseorang kemudian hasil pengukuran tersebut dikorelasikan. Apabila selang waktu terlalu pendek subjek akan mengingat jawaban yang diberikan pada waktu pengkuran pertama.Penggunaan korelasi intraklas dimaksudkan untuk memberikan indeks mengukur kesamaan pasangan skor dalam hubungannya dengan variabilitas total dari seluruh skor (Fernandes. Metode holistic adalah cara penilaian apabila para penskor (rater) memberikan penilaian secara keseluruhan dari hasil kinerja tes. c. 116 . Penilaian “Performance Assessment” Karya Seni Lukis Anak Pendekatan yang digunakan dalam performance assessment adalah metode holistic dan metode analytic . Sebaliknya jika selang waktu terlalu lama.

struktur atau suatu konvigurasi terpadu yang memiliki sifat-sifat khusus tidak dapat diperoleh dari penjumlahan bagian-bagiannya secara terpisah. 1982: 8). seluruh unsur-unsur pembentukannya harus mendukung ide atau ungkapan perasaan yang akan disampaikan penciptanya. Menurut Garha (1980: 115) karya seni sendiri merupakan suatu Gestalt. Sudarmaji (1979: 23) mengemukakan bahwa Gestalt bersumber pada ilmu jiwa global (gestalt. totalitet). Dengan demikian kesan keseluruhan dari karya tersebut menjadi salah satu pertimbangan memberikan penilaian suatu karya. Gestalt mempunyai sesuatu yang melebihi jumlah unsur-unsurnya. totalitet) yang memandang bahwa suatu karya seni secara utuh yaitu keseluruhan bentuk. lepas dari perwutuhan 117 . Metode ini menganjurkan untuk menilai karya seni dari perwujudannya secara utuh.Pelaksanaan kedua metode pendekatan tersebut dalam performance assessment karya seni lukis sebagai berikut: 1) Metode holistic Metode holistic dikenal juga dengan metode global yang bersumber dari ilmu jiwa global (Gestalt. Suatu hasil karya seni rupa keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh bentuk yang dicapai saja tetapi oleh keberhasilan penyusunan unsur-unsur pembentukannya menjadi suatu kesatuan ungkapan. disebut metode ganzheit. Gestalt merupakan suatu aliran dalam psikologi dengan pokok pikiran utamanya bahwa suatu keseluruhan adalah lebih besar dari pada penjumlahan bagiannya (Dali. Tidak dari unsur-unsurnya yang dipandang tersendiri. pola. dan Gestalt timbul terlebih dahulu dari bagian-bagiannya.

perspekif. Sesungguhnyalah 118 . Hal ini berdasarkan pendapat Sudarmaji (1979: 23) yang mengatakan bahwa: pendekatan analitik menilai dengan secara terpisah bagian-bagiannya misal dilihat dari isi atau tema. Masih diperlukan suatu analisa yang mendalam berdasar suatu prinsipPrinsip yang dimaksud dalam karya disini adalah penerapan prinsip seni. Untuk menilai suatu karya seni berpendapat bahwa secara objektif. 2) Metode analytic Penilaian dengan pendekatan penilaian analisis yaitu. Kemudian wujud dipisah-pisahkan lagi atas komposisi. Dengan demikian dalam proses penilaian untuk mendekati objektivitas. warna. dan volume. Pendekatan ini. dan organisasi unsur. Ganzheit tidak mencukupi. pewarnaan. hubungan antar unsur. kedua metode tersebut sebaiknya digunakan secara bersamaan. dan sebagainya. Gelap terang. garis. menilai karya seni lukis anak dengan memerinci unsur-unsurnya. proporsi. anatomi. kualitas karya secara keseluruhan tidak akan sama dengan kualitas unsurunsur yang membentuk karya tersebut. gelap terang. bentuk/shape. Hal ini mendukung yang dikemukakan oleh Duane dan Prebel (1967: 115) bahwa untuk mengukur kualitas artistik suatu karya seni dapat dilakukan dengan mengunakan prinsip seni. memandang bahwa karya seni lukis anak dilihat sebagai suatu komposisi bentuk yang dapat dipahami melalui peranan elemenelemen bentuk seperti garis.Dengan demikian apabila dihubungkan dengan kualitas karya seni lukis. Soedarso (1987: 85) pada saat seseorang ingin mengadakan penilaian.

penilaian karya seni lukis anak yang didasarkan pada objek secara keseluruhan (global).In art education. Aspek yang Dinilai dalam Karya Seni Lukis Sesuai dengan prinsip performance assessment yang telah diuraikan di atas. performance assessment mempunyai dua karakteristik dasar yaitu: (a) peserta didik diminta mendemonstrasikan kemampuannya dalam membuat kreasi suatu produk atau terlibat dalam aktivitas perbuatan. a. Berikut ini penilaian proses dan penilaian produk karya lukis peserta didik. 3. Pelaksanaan penilaian dilakukan dengan mengamati peserta didik dalam melaksanakan tugas yang diberikan dalam proses pembelajaran dengan tidak mengganggu aktivitas belajar peserta didik. the evaluation prosesses are natural parts of art activity. Penilaian Proses Karya Seni Lukis Tujuan penilaian proses karya adalah untuk mengamati kompetensi peserta didik dalam berkreasi membuat karya seni lukis. Dengan demikian penilaian karya seni lukis peserta didik meliputi dua aspek yaitu aspek proses pembuatan karya dan aspek hasil karya seni lukis peserta didik. maka penilain proses sangat diperlukan apalagi proses penilaian merupakan bagian yang alami dari aktivitas seni. Menurut Conrad (1964: 271) the processes of evaluation help to build guides and to define and clarity the purposes and accomplishments of the educational processes. Agar pengamatan pendidik lebih 119 . (b) hasil karya atau produknya.Karena proses penilaian membangun bimbingan terhadap peserta didik dan memperjelas tujuan dan pemenuhan dalam proses pembelajaran. namun perlu pula dilihat bagian-perbagian.

bagaimana mereka membangun dan mengorganisasikan kesatuan-kesatuan estetis. bagaimana penanganan alat dan bahan yang digunakan. 120 . pendidik melakukan penilaian dengan secara langsung mengamati bagaimana peserta didik membuat karya lukis. Selama kegiatan proses belajar mengajar berlangsung dalam pembelajaran seni lukis. 1997: 204). cara maupun metode yang lain.terarah. Non tes digunakan tatkala pengertian evaluasi tidak sekedar identik dengan testing tetapi mempunyai pengertian yang lebih luas yaitu suatu proses penentuan nilai-nilai fenomena-fenomena yang secara edukasional relevan (Eisner. Sesungguhnya kemampuan-kemampuan peserta didik yang dikembangkan dalam pendidikan seni rupa lebih banyak dalam bentuk penampilan yang sulit diukur dengan tes. bagaimana kelancaran ekspresi mareka. bagaimana peserta didik memanfaatkan waktu. bagaimana cara memecahkan masalah penciptaan yang mungkin mereka jumpai. dan komprehensif untuk memperoleh data yang akurat dengan tidak kehilangan aktivitas yang dilakukan peserta didik. perlu dilengkapi dilengkapi dengan instrumen non tes yaitu check list atau skala rentang. tetapi apabila dikembangkan secara kreatif dan diinterpretasi secara bijaksana dapat memberikan informasi evaluatif yang memiliki tingkat kesahihan (valid) tinggi. dan lain sebagainya. yaitu terutama penampilan-penampilan peserta didik dalam aspek afektif dan psikomotorik. Dengan instrumen teknik non tes akan diperoleh data akurat dengan tidak kehilangan aktivitas yang dilakukan oleh peserta didik. Teknik non tes bukannya tidak mengandung kelemahan seperti halnya teknik. sistematis.

Tidak mudah orang meramalkan secara pasti yang akan terjadi sebagai hasil aktivitas tersebut. dan sebagainya. 121 . Usaha menemukan kualitakualita berharga dari proses dan hasil kerja peserta didik dalam hal ini lebih banyak dapat ditempuh lewat non tes.Dalam pendidikan seni rupa. Relatif tidak sulit untuk ditetapkan kriteria keberhasilan peserta didik yang dapat dikenakan pada hasil belajar yang dapat diukur secara objektif melalui tes. menyiapkan bahan dan alat untuk membuat patung. Penilaian di bidang ini lebih tepat tidak dengan penggunaan kriteria yang ditentukan terlebih dahulu untuk standar pencocokkan tingkah laku atau hasil kerja peserta didik. Tetapi kegiatan-kegiatan seni rupa yang bersifat ekspresif-kreatif-estetis sulit untuk terlebih dahulu ditetapkan kriteria keberhasilan objektif yang dapat diberlakukan secara klasikal. melainkan dengan usaha menemukan kualita-kualita berharga dalam proses dan hasil kerja peserta didik. simbol-simbol personal. Inspirasi-inspirasi. patung. seni garfik. misalnya apresiasi. bagaimana menyiapkan alat-alat dan bahan untuk melukis. penemuan-penemuan ide. kemungkinan-kemungkinan penciptaan yang tidak terduga sebelumnya yang muncul dalam proses berekspresi dan berkreasi dengan media seni rupa merupakan hasil pendidikan seni rupa yang sulit diterapkan kriteria ekstrinsik dalam tujuan pendidikan. seperti dikatakan oleh Eisner (1997: 211) sebagai berikut: “Many of the most highly prized outcomes of art education are not capable of being stated in advance in the form of instruction objectives”. seperti kemungkinan-kemungkinan ekspresif-kreatifestetis dari lukisan. dan lain sebagainya. penguasaan teoritis kesenirupaan dan keterampilan-keterampilan bersifat non ekspresif.

tentang nilai-nilai baru yang dapat dipetik dari pengalaman mencipta. dapat dipastikan bahwa selalu ada data evaluatif yang sebenarnya relevan tetapi tidak sempat tertangkap oleh kacamata tersebut. Disini dapat dituliskan juga tentang alasan-alasan dari pendapat dan keterangan yang diberikan tentang karyanya seperti pada contoh format Tabel 3. Mengingat kepekaan kacamata pendidik yang relatif terbatas dan bahwa proses dan hasil penciptaan karya seni rupa menyangkut segi jiwani yang kompleks. Untuk keperluan tersebut De Francisco-Italio (1958: 224-227) mengembangkan apa yang disebut: Pupil’s Self-Evalution Form. Mekanisme penggunaan instrumen-instrumen tersebut pada dasarnya adalah sepenuhnya di tangan pendidik. Melalui pengisian format seperti pada Tabel 3 oleh peserta didik. yaitu suatu format yang dapat digunakan peserta didik untuk menerangkan hasil kegiatannya dalam bidang seni rupa sesuai dengan pendapat dan perasaannya. Hal-hal yang bersifat personal dalam aktivitas penciptaan tersebut merupakan data pelengkap yang sangat diperlukan dalam rangka usaha penilaian untuk melihat peserta didik secara objektif. Data yang terkumpul adalah data yang tertangkap oleh kacamata pendidik. rating scale. pendidik seni rupa dapat mengumpulkan data yang mungkin tidak terjaring oleh 122 . Karya seni rupa peserta didik sebagai visualisasi visi dan idea peserta didik tidak selalu dengan mudah dapat dibaca. dan catatan anecdotal.Di depan telah disebutkan bahwa instrumen non tes antara lain chek-list. dan alasan-alasan kondisional lainnya. terutama hal-hal yang sangat bersifat personal seperti: kelancaran dan kepuasan ekspresinya.

1958: 227) PUPIL’S SELF EVALUATION FORM Pupil ‘s Name __________________ Date ____________ Grade _________________________ Very Good I think my picture is I think my linoleum cut is I think my illustration is I think my modeling is I think my weaving is Good Fair Poor Reasons I Think So Sesungguhnya penilaian atas karyanya sendiri merupakan hal yang penting dalam bidang seni. untuk mendapatkan masukkan data evaluatif dari pihak peserta didik De Francisco-Italio menggunakan yang disebut The Jury System yaitu. Pupil’s Self Evaluation Form (Sumber: Francisco. tetapi merupakan sesuatu yang dihayati dan dirasakan oleh peserta didik yang bersangkutan. Tentunya semua ini sesuai dengan tingkat 123 . Peserta didik perlu memahami proses pembelajaran. Selain dengan menggunakan format seperti di atas. Pendidik harus mempertimbangkan baik perkembangan personal maupun perkembangan akademik.kacamatanya. dan pendidik memahami apa yang dianggap peserta didik menarik atau penting dalam sebuah tugas yang diberikan Dalam hal ini perlu peserta didik menjadi mengetahui tentang dirinya sendiri. penjurian oleh sekelompok peserta didik bergantian menilai karya-karya seni rupa di kelasnya dan dapat pula dilengkapi dengan class discussion system yaitu diskusi kelas untuk membahas karya-karya tersebut. Tabel 3.

I think I learned: From this project Easy A lot ___ ___ ___ ___ ___ Difficult ___ ___ ___ ___ ___ A little 4. apakah suatu kegiatan seni rupa itu menarik atau membosankan. hasilnya baik atau buruk.perkembangan paserta didik tersebut. I thought this project was: Boring ___ ___ ___ ___ ___ Exciting 2. Untuk melengkapi objektivitas penilaian Eisner (1997: 223-204) menyarankan penggunaan format penilaian oleh peserta didik sendiri yang disebut: Student Self-evaluation form yang dapat memberikan informasi dari tiap peserta didik. 1997: 203) Student Self-Evaluation Form Name _________________________________ Date __________________________________ Name of Project ________________________________ Date Completed ________________________________ 1. tetapi juga diperlukan dalam rangka peningkatan bimbingan peserta didik selanjutnya. Data yang terkumpul di atas tidak saja bermanfaat untuk melengkapi pertimbangan penentuan hasil penilaian. This project was my: Worst piece Best piece of work ___ ___ ___ ___ ___ of work 5. Tabel 4. pendidik dapat memperoleh informasi tentang pengaruh suatu kegiatan seni rupa bagi para 124 . serta pengalaman-pengalaman berharga mana yang berhasil dipelajari dalam kegiatan tersebut dan seterusnya seperti dapat dilihat pada Tabel 4. bermanfaat atau tidak. I found the work on it: 3. Student Self Evaluation Form (Sumber: Eisner. mudah atau sulit. The most important things I got out of this project were: __________ __________________________________________________________ __________________________________________________________ Dengan pengisian dan pengumpulan format di atas.

kemudian yang bersangkutan diminta menjelaskan karyanya dan selanjutnya kelompok peserta didik yang lain memberikan respons dalam bentuk bahasan kritis. menyarankan penggunaan teknik lain yang juga berguna untuk evaluasi dalam pendidikan seni rupa adalah apa yang disebutnya The Group Critique.peserta didik. prosedur demikian memungkinkan peserta 125 . dengan demikian terkembangkan sikap oto kritis peserta didik. kadar keterlibatan mereka dalam kegiatan. Kumpulan format-format yang masuk ketangan pendidik setiap kali selesai kegiatan akan merupakan rekaman data penilaian peserta didik sendiri terhadap perkembangannya secara kontinyu dalam olah seni rupa selama satu satu tahun akademik berlangsung. Menurut Barrett: “ In art the pupils perception of the learning process is the starting point for teaching” and “we must ask not only what we need to know as teachers but what the pupils need to know about themselves”. Kedua. Berdasarkan pengisian format di atas. Beberapa keuntungan dengan cara demikian adalah: pertama. Dengan demikian proses pembelajaran merupakan titik tolak untuk pengajaran dan sebagai pendidik harus menanyakan tidak hanya apa yang perlu diketahui oleh pendidik. tingkat kepuasan mereka dan lain sebagainya. para peserta didik mendapatkan kesempatan untuk mengungkapkan apa yang telah dilakukan atau dihasilkan dari suatu kegiatan berkarya. melainkan juga apa yang perlu peserta didik ketahui tentang dirinya sendiri. yaitu peserta didik diminta menunjukkan satu atau dua karya mereka secara bergiliran. Selanjutnya Eisner sebagaimana menurut De Francesco-Italio. apa yang telah berhasil mereka pelajari dari kegiatan tersebut.

The processes of evaluation help to build guides and to define and clarity the purposes and accomplishments of educational processes. Ketiga. Dalam hal ini pendidik memfokuskan perhatiannya pada hasil karya lukis yang diciptakan oleh peserta didik yang tentunya tidak terlepas dari proses penciptaannya. dan keberhasilan-keberhasilan dalam berkarya. but the description prompts the question: how can something which is unique generate criteria for evaluating other unique objects? Sifat unik ini mempunyai sifat satu-satunya dan hanya 126 . Salah satunya pendapat Aspin dalam Ross (1982: 66) yang menyatakan bahwa: Work of art is correctly described as “unique particulars”. Penilaian Produk Karya Seni Lukis Pada prinsipnya tujuan penilaian produk seni lukis adalah untuk melihat kompetensi peserta didik dalam membuat karya cipta seni lukis. New criteria must be formulated for each group of children because children are constantly growing and changing in their thinking. Conrad (1964: 271) menjelaskan bahwa: Evaluation criteria are not rigid.didik secara sistematis mengetahui bagaimana perkembangan peserta didik yang lain. Dengan demikian terkembangkan sikap apresiatif peserta didik. kegagalan-kegagalan. Dengan demikian penetapan kriteria harus disesuaikan dengan perkembangan usia anak dan kriteria tidak bersifat kaku. Bagaimana mereka menangani problem-problem. their abilities. and their knowledges. Oleh karena itu kegiatan penilaian memerlukan kriteria. b. prosedur demikian memberikan kesempatan dan bahan bagi pendidik untuk menggunakan komentar-komentar peserta didik sebagai masukkan diagnostik dan remedial. Kriteria untuk melakukan penilaian produk karya seni lukis cukup sulit karena adanya keragaman cara pandang terhadap karya seni.

Baik buruknya pekerjaan seni dibenarkan dengan adanya referensi dari kriteria-kriteria yang disetujui oleh khalayak umum.g. It contends that judgements about the merits of art work can be justified with reference to publicly agreed criteria.berlaku untuk karya tersebut sehingga untuk menilai karya yang lain. Namun demikian. 1983: 5) menyebutkan bahwa: What matters most in the arts as in science. sulit menerapkan kriteria yang sama Perdebatan-perdebatan yang sering terjadi karena perbedaan pemahaman. Disini penilaian dapat dilihat sebagai suatu proses intersubjektif. Dengan demikian pada waktu menentukan kualitas karya diperlukan kriteria-kriteria yang merupakan konsensus dan sudah dipertimbangkan terlebih dahulu. karena masing-masing kepentingan tidak ada titik temu. Lebih jauh lagi dalam dokumen APU (“Aesthetic Development”. science) and that a high degree of consensus about criteria appropriate for judging art work is not only conceptually consistent with the notion of art. meminjam dari penilaian kritik. is that judgements and interpretations should be informed with considerable consensus about the criteria to be applied when determining quality. Sumardjo (2000: 48) mengatakan bahwa meskipun seni itu kontekstual secara 127 . but also practicably desirable. Pepper (1973: 451) berpendapat bahwa bisa saja perbedaan yang terjadi disebabkan oleh pandangan kontekstual yang tidak sama. Heyfron (1986: 56) berpendapat bahwa: … that the arts are not fundamentally different from other subjects in the curriculum (e. Sehubungan dengan kriteria pada penilaian karya seni tersebut di atas. Hal ini menunjukkan bahwa penilaian dari suatu pekerjaan seni tidak hanya konsisten secara konseptual tetapi diperlukan juga praktisnya. dan setiap proses intersubjektif selalu mendatangkan konflik.

Coney (1999: 2). They are complete exploitation of media. Assessment will go wrong from the outset if students or teachers see it as a way of controlling work and imposing ideas. Ditinjau dari kebermaknaan keberadaan kriteria penilaian bagi pendidik dan peserta didik salah satu pendapat sebagai berikut. They can. however. Berdasarkan sifat universal dari seni itu sendiri. etc. Kriteria tersebut dapat membantu untuk memahami seni sebagai perwujudan suatu pengalaman. which is just as important. namun ada pula nilai-nilai yang sifatnya universal karena struktur jiwa manusia itu sepanjang sejarahnya sama. It is fundamental that teachers see assessment criteria as a means to support and sustain students' work. dan seni merupakan bentuk ungkapan manusia. ekspresivisme. disodorkan dasar pemahaman yang sama dalam metode pertimbangan penilaian suatu yakni formalisme. which apply to the arts. 128 .bentuk dan isi. the unique use of the media….These criteria. Mamannoor (2002: 49) mengatakan bahwa berdasarkan banyak referensi. subordination of ornamention to form. Dengan demikian ada sejumlah kriteria untuk penilaian yang dapat diterapkan pada seni dan kriteria adalah eksplorasi total atas media dan penggunaan media yang unik. dan instrumentalisme. Menurut Waterman (1959: 382-383) …there are a few criteria for judgment.. help us to understand art as a manifestation of experience. It is essential that students see assessment criteria as a tool to help them progress in their work. relation of form to matter. maka dapatlah dibuat suatu pendekatan untuk membuat kriteria dari suatu penilaian hasil karya seni dalam hal ini karya seni lukis anak. Untuk memberikan dasar pertimbangan penilaian. are not “sure alls” or “cure alls” for the making of the perfect art product. implicitly or explicitly recognized in analytical criticism and capable of formulation.

memodivikasi. atau hasil 129 . bahwa pertimbangan penilaian formalisme menempatkan mutu artistik pada suatu kualitas yang terintegrasi dalam pengorganisasian secara formal dari suatu karya seni rupa. Pertimbangan penilaian ekspresivisme. Dengan demikian pertimbangan penilaian formalisme menekankan pada tinjauan terhadap unsur-unsur visual yang terorganisasikan dalam komposisi sebuah karya seni rupa. pelaksanaannya menempatkan unsurunsur estetika sebagai tinjauan utamanya bersifat representatif dari bentuk-bentuk signifikan yang dikandung dalam karya seni tersebut. Bell (1968: 26) mengatakan bahwa. 1979: 33).Pertimbangan penilaian formalisme. Selanjutnya Feldman (1967: 459) memberikan contoh sederhana pada dunia ekspresi anak-anak sebagai berikut: bagi anak-anak. bentuk-bentuk signifikan suatu karya seni rupa merupakan kualitas umum sebuah karya seni rupa. Sehubungan dengan hal tersebut Feldman (1967: 446) menjelaskan. termasuk unsurunsur yang dialami oleh pembuat karya. Ekspresivisme adalah sebutan untuk apresian yang cenderung menilai karya seni dari segi ekspresi (Sudarmaji. komposisi. Sudarmaji (1979: 33) menyatakan ukuran seni yang menitik beratkan pada factor wujud (form) disebut formalisme: yaitu bentuk. Dengan demikian penilaian formalisme lebih mengutamakan pembahasan karya tanpa harus mendalami atau menelursuri apa yang ada didalamnya. dorongan untuk berkomunikasi menunjukkan kebutuhan dirinya sendiri yang lebih kuat dari pada keinginan untuk menghiasi. texture dan sebagainya. harmoni. suatu pertimbangan penilaian yang cenderung melihat faktor pencipta karya sebagai orang yang melibatkan unsur-unsur pribadinya kedalam proses penciptaan karyanya.

religi. Konsekuensinya dari hal tersebut di atas.akhirnya sampai mencapai arti ‘keindahan’ yang dapat dimengerti oleh orang dewasa. melainkan suatu kajian yang berkaitan dengan hal-hal yang melatarbelakanginya. Pertimbangan penilaian instrumentalisme. anatomi. politik. mengandung makna kontekstual. moral. Dengan demikian penilaian secara instrumental sering digunakan dalam penilaian karyakarya seni rupa kontemporer. pertama hal yang meliputi unsur-unsur visual yang terdapat pada karya tersebut antara lain: bentuk. perspekif. Berdasarkan ketiga pertimbangan penilaian di atas. Seni rupa buatan anak-anak sering dinikmati melalui khayalan dan dirancang dengan warna bebas yang tak bisa dirintangi. komposisi. Feldman (1967: 463) mengatakan bahwa penilaian instrumentalisme tidak hanya mengutamakan penyampaian gagasan dan pengejawantahan kehendak (seperti pada penilaian ekpresivisme). gelap terang. Mamannoor (2002: 52) mengatakan bahwa gagasan-gagasan orisinal seorang seniman (pencipta karya) yang ditampilkan melalui suatu karya seni rupa sangat penting untuk dijadikan sebagai kriteria penilaian. yaitu ketika proses penggubahan seni rupa mengacu pada unsurunsur yang melatarbelakangi pencipta seni misal budaya. Dengan demikian pengungkapan perasaan dan gagasan-gagasan menjadi pertimbangan yang utama dalam penilaian ekspresivisme. sosial. dapatlah dirumuskan suatu pengertian bahwa untuk memberikan suatu penilaian pada karya seni dan sampai pada suatu keputusan diperlukan kriteria yang menjangkau tiga hal yaitu. dan sebagainya. 130 . proporsi. karena karya-karya seni rupa kontemporer biasanya dilatarbelakangi motivasi tertentu.

teknik. cocok untuk digunakan dengan teknik transparan. Cat minyak 131 . makna konstektual yaitu suatu kajian yang berkaitan dengan hal-hal yang melatar belakangi proses penggubahan karya. ide. menggunakan konsep. dan sebagainya. and execution”. dan kepribadian. Kedua. Ketiga. Duane dan Prebel (1967: 127) mengemukakan bahwa: “…Criteria upon which many art professionals agree include degree of originality. secara umum pada aspek original dituntut kreativitas dalam menciptakan karya seni. anak bekerja dengan kebebasan emosi dalam mengungkapkan isi hatinya. tidak ada kecenderungan untuk meniru karya orang lain. Pada lukisan anak-anak dimana melukis merupakan suatu pengalaman berkarya. atau pengalamannya sendiri. tidak meniru karya yang sudah ada atau karya orang lain.pewarnaan. bentuk visual. misal cat air mempunyai karakter lembut. Selanjutnya berkaitan dengan penentuan kriteria. sensitivity to the appropriate use materials. Dengan demikian. Untuk menentukan tingkat originalitas suatu karya lebih dititikberatkan pada ide. memiliki pengetahuan tentang karakter masing-masing media. kreativitas. keterlibatan unsur-unsur pribadi melalui proses pengungkapan perasaan dan gagasan-gagasan dari pembuat karya. Suatu hasil karya seni akan berhasil apabila pembuat karya sensitif terhadap media yang digunakan. Aspek sensitif menggunakan material berkaitan dengan penguasaan media yang digunakan untuk mewujudkan karya seni. design. and consistency of concept. Aspek tingkat original pada suatu hasil karya seni adalah terkait dengan sikap dari pembuat karya yang mengutamakan keaslian karya. sehingga karyakarya mereka benar-benar murni.

kontras. Konsisten tidaknya pembuat karya terhadap suatu konsep tampak pada tema dan bentuk visual pada karyanya. proporsi. bagaimana anak dalam mengerjakan tugas apakah merasa senang. Dewobroto (2002: 9) berpendapat bahwa semakin bertambah umur si anak. Bahkan ada yang mengkombinasikan teknik goresan dengan teknik tempel dari elemen lain.yang mempunyai sifat menutup. yaitu antara lain nilai kesatuan. misal bagaimana penggunaan bahan dan alat dimulai dari persiapan sampai dengan sentuhan akhir dalam pembuatan karya. Aspek konsistensi dengan konsep merupakan suatu karya seni yang mengandung suatu konsep dari pembuat karya yang disampaikan lewat hasil karya seninya. asyik. Dikatakan tidak konsisten dengan konsep dalam membuat karya apabila karya yang dibuat bentuknya tidak menunjang tema. atau bahkan merasa 132 . bahan . Aspek pelaksanaan. semakin bertambah pula pengalaman dan tingkat penalarannya. irama. Mereka akan semakin baik dalam penguasaan media. dan sebagainya. dengan demikian masalah teknis pemakaian bahan dan alat serta umur anak merupakan sesuatu hal yang perlu diperhatikan dalam menilai lukisan anak. sehingga akan memberikan efek pengamatan yang berbeda dari masing-masing karya. keseimbangan. dan alat. Aspek kriteria desain menitik beratkan pada unsur desain yaitu kaidahkaidah komposisi. dan sebagainya. dapat dilihat dari keseluruhan aktivitas peserta didik yang meliputi langkah-langkah dan prosedur dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh pendidik. anak sering menggunakan lebih dari satu macam. Pada anak-anak dalam berkarya.

Tanggung jawab terhadap penyelesaian sebuah karya seni g. Sampai dengan penerapan kaidah etis dan etika. Lain lagi yang dikemukakan Conrad (1964: 274) membuat kriteria dengan variasi yang meliputi: personal growth. Kemampuan untuk mengikuti petunjuk umum b. dan growth in art skills. Tanggung jawab dalam perawatan bahan e. social growth. Tertarik pada seni ekspresionis b. Variasi yang pertama dan indikator yang dikemukakan sebagai berikut: Personal growth. Kemungkinan akan kerjasama d. Ada dua variasiyang dikemukakan. Apresiasi terhadap karya anak-anak lain h. Kemampuan dalam menggunakan alat dan media e.tertekan sehingga tidak lancar dalam penuangan idenya. social growth. dan yang kedua: personal growth. Keaslian ide-ide c. social growth. Kerjasama dalam “cleaning up” setiap akhir periode 133 . Kerapian dan rupa secara umum dari sebuah karya seni f. dan growth in art skills. a. pertama meliputi: personal growth. Kontribusi terhadap proyek kelompok c. Evaluasi atas usaha sendiri Social growth a. misal kebersihan karya tidak terkesan kotor merupakan sesuatu yang termasuk dalam aspek pelaksanaan. Pemakaian dan pemilihan warna d.

Ketrampilan mendesain kemampuan untuk mengorganisasi ide b. Tanggung jawab terhadap penyelesaian sebuah karya seni Social growth a.Variasi yang kedua meliputi: personal growth. Ketrampilan dalam bahan tiga dimensi d. masing-masing indikator sebagai berikut: Personal growth a. Ketertarikan akan seni b. Kerapian dan rupa secara umum dari sebuah karya seni e. Kemampuan dalam menggunakan alat dan media. d. Menghormati karya orang lain Growth in art skills a. kapur. Pengalaman teknis Pengunaan dari masing-masing variasi dan indikatornya tergantung dari hasil diskusi yang disepakati bersama. c. Heyfron (1986: 69) menyarankan sebagai berikut: 1) the possibility of intersubjective agreement 134 . Keaslian c. tinta. Kerjasama dengan yang lain c. dan growth in art skills. krayon. Kontribusi terhadap kelompok b. social growth. Berkenaan dengan penentuan kriteria yang ditetapkan untuk tujuan objektivitas penilaian. dll. Penemuan e. Ketrampilan menggunakan cat.

Bahkan. kesesuaian penggunaan media atau material. kemudian mengevaluasi setiap tes dengan kriteria tertentu. Hoepfner dkk. Seperti diketahui bahwa untuk menelaah suatu hasil karya seni rupa tentunya harus dapat dijelaskan secara rasio. E.2) truth to the nature of the phenomenan under investigation 3) the identification of “reasonable” grounds for supporting judgements Mengacu pada pendapat para ahli di atas. sebagain besar testes yang diberikan pada tujuan-tujuan seni tidak dirancang sebagai tes-tes kesenian melainkan sebagai tes-tes untuk perkembangan kognitif. konsistensi konsep. Hasilnya kurang dari setengah dari tujuan-tujuan yang ada dalam kesenian memiliki tes-tes yang terstandarisasi. dalam penilaian karya seni rupa untuk melihat kualitas dan sampai pada baik dan tidak baik diperlukan suatu kriteria yang meliputi dua unsur yaitu fisiko plastik dan ideo plastik dan ada persetujuan antar subjek. dimana tes tersebut disesuaikan dengan sebuah tujuan kurikuler dan menunjukkan validitas isi yang paling besar. sedangkan karya seni rupa lebih dominan pada komponen emosi. sedangkan kekayaan konsep yang ada pada anak diketahui melalui inklusi dan definisi 135 . Hasil Penelitian Yang Relevan 1. Dalam hal ini seorang pendidik seni rupa dituntut untuk mempunyai kepekaan pengalaman estetik yang tinggi dan wawasan yang luas tentang perkembangan karya seni rupa. dan pelaksanaannya sangat diperlukan. dalam penelitiannya dengan mengadakan survei pada semua tes yang dipublikasikan bagi anak sekolah tingkat dasar. desain. Dengan demikian kepekaan pengalaman estetik seseorang untuk melihat tingkat original.

kendati validitas isinya diperingkatkan paling tinggi atau bahkan paling rendah (Ralph Hoepfner. Sedangkan tes yang mengungkap kesukaan anak. burung. Sedangkan analisis data yang digunakan adalah analisis isi dengan fokus pada telaah kritis visualisasi lukisan anak-anak. (b) komposisi yang ditampilkan yaitu komposisi vertikal. Penelitian Ismiyanto (2002) pada sanggar seni lukis “Pangudi Luhur” Semarang dan sanggar seni Lukis “Gramedia” Jakarta. tujuannya untuk mencerminkan keadaan-keadaan afeksional pada penyesuaian psikologis. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi. dan angular. horizontal “segitiga”. (d) fenomena lukisan anak-anak usia SD dilihat dari aspek usia dan jenis kelamin. memahami. diagonal. Pengumpulan data yang digunakan adalah observasi. bahan. 136 . Hal ini menunjukkan bahwa sangat masuk akal untuk berpendapat bahwa sebagian besar dari tes-tes yang dievaluasi dalam bidang seni tidak terdapat di sini. simetri setangkup dan radial. (c) alat . (b) komposisi dan perspektif lukisan anak. 1983: 251-256). mengetahui. tumpukan. Temuan penelitian ini adalah sebagai berikut: lukisan anak usia SD dilihat dari: (a) objek dan temanya mencerminkan kehidupannya dan menunjukkan adanya upaya anak untuk mengidentifikasikan diri dalam karyanya. dan menjelaskan mengenai: (a) visualisasi lukisan karya anak-anak usia SD ditinjau dari tema dan objeknya. wawancara.anak-anak dalam upaya mereka menggambar orang dan benda-benda. 2. dan teknik yang digunakan anak-anak dalam berkarya. dan dokumentasi. Sedangkan perspektif yang digunakan adalah perspektif tutup menutup (realistis).

Hal ini berarti bahwa respon estetik siswa dapat digunakan untuk menilai kualitas lukisan serta bentuk dan kesan gerak pada lukisan. formal (potensi). Adapun hasil lukisan anak ditempat tersebut dapat dibedakan antara lukisan hasil anak laki-laki dan hasil anak perempuan. Ditinjau dari jenis kelamin terdapat perbedaan dalam pewarnaan dan goresan. spontanitasnya. Penggunaan semantik differential dapat aplikasikan untuk mengukur respon siswa tingkat SD terhadap hasil karya lukis yang dilihatnya. dan simulatif (aktivitas). Penelitian tentang instrumen pengukuran untuk mengukur respon estetik berdasarkan hasil penelitian Prihadi (2007) menyimpulkan bahwa penggunaan semantic differential ternyata mampu mengukur respon estetik peserta didik menurut faktor evaluatif. perspektif. dalam melukis seorang anak berusaha untuk memvisualisasikan kehidupannya. (d) berdasarkan kelompok usia tidak terdapat perbedaan dalam memvisualisasikan objek. sifat alamiah seorang anak sering muncul dalam hasil lukisaanya. Analisis varians hasil pengukuran menunjukkan ada perbedaan respon estetik siswa 137 . Perbedaan ini tampak tertutama pada pewarnaan dan goresan. tetapi perbedaan tersebut tidak terdapat pada anak-anak kelompok kelas rendah pada usia SD. Hal ini dikarenakan.dan perpaduan perspektif burung dan tumpukan. Berdasarkan hasil penelitian ini. (c) media yang digunakan adalah krayon dan/atau mixed media dan teknik yang digunakan dussel dan out-line (garis-garis kontur). 3. diperoleh informasi bahwa dalam melukis. baik dalam pewarnaan. komposisi. anak laki-laki lebih spontan dan dinamis.

potret pria. Secara umum hasil melukis peserta didik di sanggar pratista menunjukkan adanya kedinamisan garis yaitu antara lain garis tebal dan kuat. Kombinasi media pastel dan cat air memberikan kesan mantap dan kuat dalam penggunaan warna. yaitu anak-anak usia dini yang berjumlah 25 anak dengan usia antara 3 sampai dengan 7 tahun. pemandangan alam. Untuk penilaian proses indikator yang digunakan adalah: (1) kelancaran membuat sket (2) penuangan ide. (5) harmoni keseluruhan. (3) originalitas. Penelitian lain dilakukan Martono dan Retnowati (2007) tentang strategi pembelajaran seni lukis anak di sanggar Pratista Yogyakarta dengan subjek penelitian adalah anak-anak yang belajar melukis di sanggar tersebut. 4. Penilaian yang dilakukan meliputi penilaian proses dan penilaian produk atau hasil karya. dan deformatif) dan tema lukisan (alam benda. Metode pemberian contoh dengan sket di kertas kerja peserta didik dimaksudkan untuk memotivasi peserta didik melukis bukan untuk dicontoh atau untuk ditiru. Sedangkan indikator penilaian produk sebagai berikut: (1) kesesuaian tema. dan potret wanita). (6) keseriusan. Pangumpulan data menggunakan metode observasi. semideformatif. wawancara. (7) percaya diri. dan dokumentasi. (3) kesiapan bahan dan alat.berdasarkan gaya lukisan (naturalistic. (5) ketekunan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan adanya interaksi pengaruh gaya dan tema lukisan terhadap respon estetik peserta didik. Karya 138 . (4) pewarnaan. (2) kreativitas. (4) pemahaman tema. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang digunakan adalah menggunakan pendekatan individual dengan metode pemberian contoh.

analisis variasi dengan pengukuran berulang. Hasil penelitan menunjukkan bahwa anak-anak kelas lima memiliki evaluasi yang 139 . dan (4) untuk meletakkan dimensidimensi penting di dalam beragam skala diferensial semantik. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis faktor. 5. Tingkatan kelas subjek adalah kelas lima. delapan. (3) untuk menyelidiki efek-efek jenis-jenis rangsangan (dimensidimensi gaya dan isi slide-slide lukisan. Penelitian yang dilakukan Newton (1989) dari University of Missouri bertujuan untuk mengetahui/memeriksa tentang perubahan-perubahan perkembangan tanggapan estetis pada dimensi-dimensi stilistik dan isi rangsangan seni dengan menggunakan tanggapan verbal dan non-verbal. dan sebelas. (2) untuk memeriksa baik peringkat verbal (pada diferensial semantik) maupun tanggapan-tanggapan non-verbal (looking time [LT] dan rating time [RT]). delapan. Masalah yang diperiksa dipilah ke dalam tujuantujuan sebagai berikut: (1) untuk memeriksa efek-efek perkembangan usia (kelas lima. dan sebelas) pada tanggapan subjek atas rangsangan seni.lukis peserta didik menggambarkan dunia anak dengan tema pilihannya sendiri sesuai dengan pengalaman dalam kehidupannya. dan pengukuran non-verbal memandang waktu dan rata-rata waktu (LT/RT). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan slide-slide lukisan secara bertahap pada subjek- subjek sekolah dasar dan menengah. dan the Fisher Least Significant Differenc. dan masingmasing dari 150 subjek diuji secara perorangan. dengan menggunakan pengukuran verbal dan non-verbal. Tanggapan-tanggapan verbal diukur dengan instrumen diferensial semantik.

dan letak keunggulan dan kelemahan mereka. untuk membantu pendidik memahami bagaimana peserta didik beajar dari suatu proyek. dan menggugah semangat siswa untuk mengekspresikan ide-ide mereka kapada guru dan kelompoknya. dilatarbelakangi bagaimana membuat suatu penilaian menjadi sebuah elemen pembelajaran yang aktif dan bagian positif dari pengajaran. Penilaian dengan mudah disertakan dalam setiap tahapan suatu proyek. Hal ini menunjukkan bawah anakanak kelas lima menunjukkan kesiapan dan keterbukaan yang nampaknya berkurang ketika anak-anak menjadi dewasa. 6. Kriteria inipun bertujuan untuk membiarkan peserta didik membuat evaluasi sendiri mengenai kemajuan mereka. untuk bicara 140 .lebih tinggi. Kriteria penilaian yang bagus memberikan suatu bahasan. Penelitian yang dilaksanakan oleh Coney (1999) tentang pentingnya kriteria untuk menilai hasil karya seni lukis anak. baik kepada guru maupun siswa. Suatu kriteria telah dikembangkan untuk mencapai tujuan ini. dengan cara membangun kepercayaan diri. Kriteria penilaian memberi suatu kerangka bagi pendidik dan peserta didik untuk menentukan teknik-teknik dan aspek-aspek dari karya mereka yang mereka kerjakann dengan benar. dan LT/RT yang lebih panjang ketimbang anak-anak kelas delapan maupun sebelas. dan ketidakpastian/kemunculan yang lebih rendah (lebih familiar dan kurang kompleks). Pendidik hendaknya memberikan penilaian menyeluruh atas karya siswa dengan menyertakan alasan-alasan. Sehingga siswa merasakan makna dari peningkatan. arti dari bertambahnya pengetahuan yang sudah mereka kuasai.

dan memepermudah guru memahami pendekatan yang diambil siswa secara individual. perlulah kiranya menyeimbangkan kebebasan siswa untuk mengeksplorasi dan merespon pengalaman-pengalaman dengan kebutuhan untuk berkembang dan mempelajari ketrampilan-ketrampilan yang tepat. tetapi menemukakan pentingnya kreativitas. padahal pendidikan seni penting sekali untuk memupuk spontanitas dan eksperimentasi. mulai dari sikap menerima hingga menolak secara total. Proyek terdiri dari empat aspek. kolase. Dalam menentukan serangkaian kriteria untuk mengevaluasi karya seni dan desain. digunakan untuk merekam 141 . Dengan sebuah kerangka yang didesain untuk digunakan dalam setiap mata pelajaran selama berlangsungnya suatu proyek. dan penilaian riil.mengenai kemajuan dan pembelajaran dalan suatu cara yang penuh makna. Penilaian atas dasar kriteria yang dikembangkan dalam laporan ini. Pada proyek dilengkapi dengan judul. tujuan. Sikap atas penilaian dalam bidang seni dan desain bisa bermacam-macam. tugas rumah. Sebuah pandangan kompromis yang tercantum dalam tugas ini menerima prinsip penilaian. Sudah diterima secara luas bahwa penilaian harus mengevaluasi perkembangan siswa. Selanjutnya atas dasar hal tersebut di atas. dilakukan studi kasus yang dilakukan terhadap enam peserta didik dalam suatu proyek nyata. Banyak hasil pendidikan seni yang paling berharga tidak kapabel bila dibilang maju dalam bentuk tujuan-tujuan pengajarannya. yaitu: melukis. penilaian diripun dibangkitkan demi membantu siswa memahami kemajuaanya sendiri. sasaran.

Model ini sudah umum dan telah diterapkan pada studi tentang bagaimana anak-anak menjadi kreatif dalam menggambar sesuatu yang belum pernah mereka coba sebelumnya. 142 . teknik. Penelitian Freeman (1997) bertujuan ingin menjelaskan bagaimana seorang anak didorong untuk mengerahkan segala kemampuan internalnya dalam berbagai wilayah yang berbeda. (5) pencapaian sasaran pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan kemampuan- kemampuan awal dari anak-anak. Dengan menggunakan model Karmiloff-Smith dikenal sebagai Representational Redescription Model (RRM). disalurkan dalam ranah perkembangan dengan pengaruh-pengaruh dari luar si anak maupun dari dalam anak. (7) komitmen untuk menunaikan tugas rumah sebagai bagian dari riset untuk suatu proyek. (4) ekspresi dan kontrol atas ide-ide. (2) pengembangan ketrampilan teknis dan penggunaan bahan. seperti pengamatan penuh selidik atas wajah manusia atau atas bunyi ucapan manusia. serta peralatan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: kriteria-kriteria yang dikembangkan dapat mengekspresikan elemen-elemen krusial dari kemajuan dalam seni dan desain.kemampuan masing-masing dengan tujuh kriteria sebagai berikut: (1) kemampuan untuk mengamati dan merekam suatu pengalaman visual. (3) minat dan motivasi serta penggunaan bahasa seni dan desain. 7. (6) menekankan kembali batasan-batasan dari suatu proyek. yang diharapkan terbukti cukup flesibel untuk tugas-tugas yang berbeda. dan memberi keuntungan baik pada pendidik maupun peserta didik.

(b) kemungkinan besar tersimpan dalam otak secara terpisah-pisah sehingga keterhubungannya tidak diketahui oleh anak.Cara terbaik untuk melihat apakah seorang anak memiliki kemampuan internal ataukah tidak adalah dengan menugasinya menggambar sesuatu yang diperkirakan belum pernah ia lihat dan ia gambar sebelumnya. Hal itu terjadi. tidak semua anak cukup eksplisit mengungkapkan penilaiannya. Tantangan tersebut biasanya dilontarkan dengan menyuruh si anak menggambar berdasarkan imajinasinya atau meminta si anak mengekspresikan fantasinya. oleh karena representasi-representasi mental tahap awal (a) tidak sepenuhnya eksplisit dan dengan demikian tidak mudah diakses semau-maunya oleh anak. Sayangnya. Suatu imajinasi yang aktif atau fantasi kehidupan yang hidup tidak dengan sendirinya menjamin sebuah inovasi dalam ekspresi atau tindakan. Ini akan memudahkan untuk membedakan anak yang bertumpu pada kemampuan eksternal semisal “hantu” atau “raksasa” dari anak lain yang bertumpu pada sebuah kemampuan internal dan menciptakan sebuah lukisan yang sepenuhnya “keluar dari kepalanya sendiri. pertama melibatkan 62 anak usia lima tahunan dan 62 anak usia sembilan tahunan. Modifikasi yang dibuat hanyalah meminta anak menjelaskan bagaimana mereka berhasil menggambarkan “sosok manusia yang belum pernah ada. tetapi dari mereka yang 143 . Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen.’.”. (c) dan berkaitan dengan penataan tindakan-tindakan praktis dan dengan demikian tidak mudah diuraikan untuk kepentingan pengaturan tindakantindakan inovatif. seturut model RRM.

Ini masuk akal mengingat kepercayaan atas suatu model eksternal tidak otomatis membuat anak akan lebih berhasil dalam membedakan lukisan. dari lukisan normalnya mengenai sosok manusia apa adanya yang sudah dikumpulkan sebelum eksperimen dimulai. Hal itu menegaskan bahwa ketika kemampuan-kemampuan internal untuk inovasi grafis meningkat. mayoritas anak yang lebih muda usia (61 %) menyebut suatu karakter fiksional eksternal sebagai model mereka. Eksperimen ini membuahkan hasil yang selaras dengan eksperimennya Karmiloff-Smith: hanya 8 % dari anak yang lebih muda usia berani membuat lukisan yang silang kategori bila dibandingkan dengan 39 % dari anak-anak yang lebih tua. Perbedaan ini secara statistik bersifat signifikan.ternyata cukup eksplisit 36 anak usia lima tahunan dan 52 anak usia sembilan tahunan. dan barangkali bisa memantik ide-ide yang bermanfaat. dan mayoritas anak yang lebih tua (67 %) menerangkan bagaimana mereka membuat inovasi dari kemampuan-kemampuan internal mereka. bertambah pulalah meteri verbal yang diperoleh begitu saja (tanpa usaha keras) dari anak untuk tujuan pembahasan karya. 144 . Hal ini dapat dilihat pada: pertama. di kalangan anak-anak yang bertumpu pada sebuah model yang disebutkan sebagai eksternal tidak ada hubungan terjadi antara seberapa terkait ungkapan verbal mereka dan seberapa kreatif hasil karya mereka itu dinilai.

145 . Nilai intrinsik suatu karya seni yang sempurna sekalipun tidak akan lepas dari kualitas bahan yang dipakainya. Pada karya sendiri terdapat elemen-elemen desain atau prinsip-prinsip seni yang tidak akan berubah. Dengan demikian untuk menilai suatu karya seni perlu pemahaman apa yang harus dilakukan bukan apa yang tidak bisa dilakukan. Karena ketidaktahuan inilah anak cenderung lebih bebas dan merasa leluasa. tidak takut salah. Sesungguhnyalah produk seni harus membenarkan keberadaannya. Karya seni dilihat dari produknya mengandung nilai intrinsik dan nilai ekstrinsik. Kriteria tidak mengakhiri suatu proses kreatif karena kriteria bukanlah suatu batasan-batasan. karena pada umumnya orang memiliki tujuan ketika melakukan penilaian.F. Tetapi penggunaan elemen-elemen desain atau prinsip-prinsip seni. Garis. namun analisis histori membuktikan bahwa seni lazim merupakan alat untuk sesuatu yang lain. Nilai ekstrinsik satu produk tertentu hanya bisa dievaluasi oleh keberhasilan empiris. Karya seni yang dihasilkan menunjukkan kemurnian pengungkapan perasaan mereka. sehingga hasil karyanya terkesan jujur dan spontan. Pada anak-anak biasanya lebih bebas dalam berekspresi dalam mewujudkan suatu karya seni rupa. Kerangka Pikir Pada prinsipnya menilai karya seni harus menentukan dulu dasar yang digunakan untuk melakukan penilaian. seni lukis misalnya karena anak relatif belum banyak pengetahuan tentang aturan-aturan/norma-norma yang mengikatnya. bahan akan berubah seiring dengan budaya dan filosofis sosial yang diungkapkannya. Tidak mudah untuk menyerap hal-hal yang tidak memiliki nilai apapun.

dan melalui manipulasi dan percobaan visual pada periode ini. dan sesungguhnyalah lukisan anak-anak mempunyai makna yang profan yaitu mengandung makna lebih dalam dari pada permukaannya. tetapi mencerminkan ekspresi kejiwaan yang kuat. Sementara bentukbentuk ini mungkin dengan mudah dapat dikenali dalam artian muncul dari karakter yang sederhana sampai ke karakter yang kompleks. Kegiatan anak-anak melukis adalah suatu cara untuk mengkomunikasikan perasaan dan gagasannya. sebuah kemampuan untuk memproduksi bentuk pun tercapai. Bahkan hasil karya lukis anak dapat menunjukkan bagaimana seseorang anak berpikir dan menangani masalah. Secara universal. Mulai masa bayi sampai masa dewasa awal anak melalui beberapa fase dasar perkembangan sebagaimana tercermin dalam seni. Lingkaran mengindikasikan secara simbolis anak yang sedang mengidentifikasi diri sebagai suatu entitas fisik yang terpisah dari ibu dan sekaligus terikat dalam ketergantungan personal dengan ibu tersebut. dalam pengertian gestalt visual-motor. dimana mereka mengembangkan daya ciptanya. Pengalaman-pengalaman paling awal atas bahan merupakan sebuah karakter sensori-motor. dan tekstur bukan lagi sebagai elemen-elemen fisik. Melukis bagi anak-anak sebentuk permainan.warna. sesuai dengan bertambahnya usia anak. Segi empat menyarankan 146 . perkembangan seni lukis anak ada tahapannya. bentuk-bentuk tersebut juga merepresentasikan secara simbolis tugas-tugas kehidupan anak-anak yang masih kecil. pengertian Lukisan tersebut dapat ditafsirkan dalam perkembangan dan dapat mengungkapkan informasi tentang kepribadian anak.

penutupan-ego anak ketika ia mencoba mengklarifikasi diri dalam konteks lingkungannya. Namun 147 . atau anak akan menjadi ekstrovert perseptual-sosial dan tergantung pada visual dalam seninya. tetapi ia sampai pada referensi rasional yang utuh dari bentuk dan ruang skematik pada usia tujuh tahun. Pada usia enam tahun anak mulai mapan di dalam dunia nyata dan menjadi bagian sosial dari interrelationship (hubungan di dalam struktur). Tipe-tipe perseptual menjadi nyata dalam seni pada anak usia sembilan tahun ketika ia matang secara sosial. dan pada kadar tertentu. Kualitas estetik yang tinggi dari referensi fisik-emosionalnya pada tahun-tahun awal sekarang disubordinasikan pada pengisahan yang ideologis. Demikianlah perkembangan kepekaan artistik anak-anak yang terlihat dalam goresan-goresan karyanya pada usia 2 sampai dengan 6 tahun. Kemungkinan akan terjadi anak masuk dalam kedua tipe tersebut. akan menjadi berorientasi pada kelompok karena adanya kebutuhan untuk mengidentifikasi dengan lebih mendalam peran seksual-diri. Sebelumnya ia telah mengumpulkan detil-detil dalam gambranya ketika ia tumbuh. Seorang anak akan menjadi introvert perseptual-sosial dan haptik dan tidak tergantung pada bidang dalam seninya. Identifikasi semacam itu membuat kecendrungan anak laki-laki untuk melebih-lebihkan proyeksi diri menjadi berupa citra yang mengerikan. dan detil-detil tersebut mencerminkan pertumbuhan inteletualnya. sedangkan anak perempuan akan cenderung mengidealisasi dirinya sendiri dalam citra wanita yang glamor dan matang.

dan keberhasilannya. meliputi penilaian proses dan produk.kepekaan artistik ini akhirnya akan lenyap disadari atau tidak disadari. kelancaran dalam menggunakan media. mengetahui masalah-masalah. Penilaian proses meliputi student self evaluation yang menghasilkan data pengukuran diri sendiri. Kepekaan artistik anak akhirnya terdesak oleh kemampuan logika yang melihat seluruh isi alam tidak lagi dari penghayatan seni dan imajinasi anak. maupun proses pendidikan. Mengingat seni sendiri sifatnya subjektif sehingga perlu suatu kesepakatan objektif dalam prosedur-prosedur yang diperlukan. demikian juga untuk penilai/ penafsir dari karya lukis tersebut berdasar kriteria yang ada. Pendidikpun dapat menggunakan komentar peserta didik untuk masukkan diagnostik dan remedial. Karena di lapangan masih banyak kendala khususnya pendidik yang tidak memiliki pengalaman dan 148 . the group critique untuk mengembangkan sikap oto kritis peserta didik dan mengetahui perkembangan peserta didik yang lain. Untuk penilaian produk karya seni lukis peserta didik diperlukan kriteria. baik karena perkembangan anak sendiri. kegagalankegagalan. bagaimana sikap. dan kepuasan anak. dan juga lingkungan. Selanjutnya pada waktu proses pembuatan karya lukis. pemanfaatan waktu. pendidik dapat menilai tingkah laku peserta didik. penentuan kriteria pengukuran hasil karya lukis anak pada anak kelas 1 sampai dengan kelas 3 sekolah dasar sesuai yang tercantum dalam KTSP yaitu pada usia tujuh sampai dengan sembilan tahun kiranya harus melihat perkembangan usia dan tahapan perkembangan seni anak Dalam hal ini performance assessment yang digunakan untuk menilai kaya lukis anak. Berdasarkan hal tersebut di atas.

pendidikan khusus dalam bidang seni lukis,

maka perlu ada tindakan untuk

melatih pendidik menafsirkan karya lukis peserta didik dengan menggunakan kriteria yang sudah disepakati dan diujicoba. Penentuan kriteria instrumen seni lukis peserta didik yang dikembangkan tentunya harus memenuhi persayaratan instrumen yang baik yaitu persyaratan validitas dan reliabilitas. Validitas isi dan validitas konstruk yang digunakan untuk menguji kriteria instrumen ini. Untuk mencapai validitas isi, disusun kisikisi berdasar teori-teori yang melandasinya kemudian dibahas dalam suatu focus group discussion oleh para ahli di bidang seni rupa (expert judgment) khususnya seni rupa anak. Sedangkan untuk mengistimasi reliabilitas instrumen

menggunakan intereter dengan membandingkan antar penilai. Kriteria instrumen untuk menilai karya seni lukis peserta didik tentunya harus memenuhi komponen rasio dan emosi. Karena untuk menelaah suatu karya seni cenderung penjelasan secara rasio, sedangkan karya seni dominan dengan emosi yang pengungkapannya memerlukan kepekaan intuitif. Dengan demikian diperlukan kepekaan intuitif untuk menjelaskan secara rasional. Pendidik sebagai orang yang melakukan penilaian mestinya dituntut dengan kepekaan intuitif

tersebut, sehingga subjektivitas dalam penilaian dapat diminalisir. Kriteria instrumen digunakan untuk mengembangkan instrumen karya lukis anak yang mencakup proses dan hasilnya. Instrumen karya lukis anak yang dikembangkan harus diketahui karakteristiknya. Karakteristik instrumen penilaian meliputi kesahihan (validity), keandalan (reliability), dan rubrik, yaitu cara

149

pemberian skor. Selain itu hal yang penting adalah keterpakaian instrumen ini oleh guru di sekolah dasar.

G. Pertanyaan Penelitian Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka pikir di atas, maka pertanyaan penelitiannya adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. Bagaimana kriteria instrumen penilaian karya seni lukis anak? Bagaimana validitas konstruk instrumen penilaian karya seni lukis anak? Bagaimana reliabilitas kriteria instrumen yang dikembangkan? Bagaimana rubrik penilaian karya seni lukis anak? Sejauhmana instrumen penilaian karya lukis anak ini dapat digunakan oleh guru?

H. Hipotesis Uji Model Dalam rangka untuk melihat efektifitas model yang dibuat di lapangan, perlu dilakukan uji model. Untuk menguji model tersebut, digunakan hipotesis sebagai panduan untuk melakukan justifikasi apakah efektif atau tidak menurut pengguna. Uji model ini mencakup kriteria atau konstruk instrumen. Berdasarkan permasalahan penelitian dan kajian pustaka yang melandasi dan didukung oleh kerangka pikir, maka hipotesis penelitiannya sebagai berikut: 1. Konstruk instrumen penilaian proses seni lukis anak terdiri dari sikap,

pemanfatan waktu, cara menggunakan alat, kepuasan. 2. Konstruk instrumen penilaian hasil karya lukis anak terdiri atas kreativitas, ekspresi, ketrampilan penggunaan bahan dan alat (teknik). 150

3.

Instrumen yang dikembangkan berdasarkan konstruk instrumen penilaian proses dan produk akan menghasilkan penilaian yang andal (reliable).

4. Instrumen penilaian seni lukis anak yang dikembangkan dapat digunakan guru dalam menilai proses dan hasil karya lukis anak.

151

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Data Uji Coba Berdasarkan langkah-langkah tahapan pengembangan, data hasil uji coba disajikan secara berturut-turut berikut ini. 1. Data Studi Awal a. Hasil Analisis Kurikulum Analisis kurikulum dimaksudkan untuk mengetahui keterkaitan antara tujuan pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan (seni lukis) dengan standar kompetensi lulusan (SKL) tingkat satuan pendidikan sekolah dasar. Tujuan mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan di sekolah dasar dalam standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah adalah sebagai berikut. Mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan: (1) memahami konsep dan pentingnya seni budaya dan keterampilan; (2) menampilkan sikap apresiasi terhadap seni budaya dan keterampilan; (3) menampilkan kreativitas melalui seni budaya dan ketrampilan; (4) menampilkan peran serta dalam seni budaya dan keterampilan dalam tingkat lokal, regional, maupun global (BSNP, 2006:192). Dalam Permen 22 tahun 2006 dinyatakan bahwa Standar Kompetensi Lulusan (SKL) SD/MI secara umum adalah sebagai berikut. 1) Menjalankan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan anak 2) Mengenal kekurangan dan kelebihan diri sendiri 3) Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungannya 4) Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi di lingkungan sekitarnya 5) Menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kreatif

169

6) Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif, dengan bimbingan guru/pendidik 7) Menunjukkan rasa keingintahuan yang tinggi dan menyadari potensinya 8) Menunjukkan kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari 9) Menunjukkan kemampuan mengenali gejala alam dan sosial di lingkungan sekitar 10) Menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan 11) Menunjukkan kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa, negara, dan tanah air Indonesia 12) Menunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni dan budaya lokal 13) Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang 14) Berkomunikasi secara jelas dan santun 15) Bekerja sama dalam kelompok, tolong-menolong, dan menjaga diri sendiri dalam lingkungan keluarga dan teman sebaya 16) Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis 17) Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung Hasil analisis kurikulum menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan yang sangat erat antara tujuan pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan dengan

Standar Kompetensi Lulusan (SKL) tingkat satuan pendidikan sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah (SD/MI). Keterkaitan tersebut disajikan pada Tabel 5. Tabel 5 menunjukkan bahwa mata pelajaran Seni Budaya dan Ketrampilan mempunyai sumbangan yang cukup strategis terhadap pencapaian SKL SD. Hal ini berarti keberhasilan pembelajaran Seni Budaya akan mendukung keberhasilan pencapaian SKL SD, khususnya SKL No 5 sampai dengan 13, kemudian SKL No. 14 dan 15.

170

Tabel 5 Hubungan antara Tujuan Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan (PSB) dengan SKL Satuan Pendidikan SD No. Tjn. PSB 1 2 3 4 Nomor Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan SD 1 2 3 4 5 6 X X X X 7 X X X 8 X X X 9 10 11 12 13 14 15 16 X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X 17

X X X X X

b. Hasil Analisis Kebutuhan Lapangan Analisis kebutuhan lapangan melibatkan 20 orang guru yang mengajar mata pelajaran seni lukis. Ada 14 item yang diidentifikasi dalam studi awal ini, yaitu kurikulum, buku acuan, bahan dan alat, penentuan tema lukisan, minat anak, metode penilaian, prosedur penilaian, komponen yang dinilai, kriteria penilaian, penentuan skor, unsur kreativitas, kesulitan yang dihadapi, pandangan guru, dan partisipasi sekolah/anak dalam lomba lukis. Hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti berkaitan dengan masing-masing item tersebut dapat dielaborasi berikut. Pembelajaran seni lukis anak, 75% menggunakan kurikulum tingkat

satuan pendidikan (KTSP) dan sisanya 25% menggunakan gabungan KTSP dengan kurikulum sebelumnya. Informasi tersebut disajikan pada Gambar 47. KTSP yang dikembangkan berdasarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Permen No 22 tahun 2006 tentang standar isi pendidikan merupakan

kurikulum terbaru yang digunakan pada jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah. Kurikulum yang digunakan sebelumnya adalah kurikulum 2004, yaitu kurikulum berbasis kompetensi (KBK). KTSP pada dasarnya sama dengan

171

kurikulum 2004, perbedaannya hanya level standar kompetensi yang ingin dicapai dan cakupannya.

Gambar 47. Jenis Kurikulum Yang Digunakan Hasil Studi Awal Hasil wawancara menunjukkan bahwa hanya 5% guru menggunakan 85% guru,

buku acuan yang sesuai dengan KTSP. Sebagian besar guru, menggunakan

buku yang sesuai KTSP dan sumber lain, dan 10 % guru

menggunakan buku yang tidak sesuai KTSP. Infomasi kesesuaian buku yang digunakan dengan KTSP disajikan pada Gambar 48. Dalam kaitan dengan penyiapan alat dan bahan pembelajaran seni lukis, teridentifikasi ada 5 (lima) komponen yang menyiapkannya, yaitu

Gambar 48. Kesesuaian Buku Yang Digunakan Hasil Studi Awal

172

dan komponen kelima. dan sekolah yang menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam pembelajaran. ada 30% tema ditentukan oleh guru sesuai dengan kurikulum. Data tersebut menunjukkan bahwa sekolah secara mandiri belum mampu menyediakan alat dan bahan yang diperlukan untuk pembelajaran Informasi tentang penyiapan alat dan bahan disajikan pada Gambar 49. komponen keempat. komponen ketiga. guru.siswa. Dalam kaitan dengan penentuan tema lukisan tersebut. 5% guru yang menyiapkan alat dan bahan Gambar 49. 25% siswa yang menyiapkan alat dan bahan pembelajaran. 173 . 10% tema ditentukan oleh siswa. 40% sekolah dan siswa yang menyiapkan alat dan bahan. guru. komponen kedua. dan sekolah. dan 60% tema ditentukan bersama antara guru dan siswa. Komponen pertama. Subjek Yang Menyiapkan Alat dan Bahan Hasil Studi Awal pembelajaran. Informasi ini disajikan pada Gambar 50. 20% guru dan siswa yang menyiapkan alat dan bahan. 10% guru. sekolah dan siswa. Pembelajaran seni lukis diawali dengan penentuan tema yang akan dilukis oleh siswa. siswa. serta gabungan siswa. guru dan siswa.

Minat Siswa dalam Belajar Hasil Studi Awal minat yang sangat tinggi. dan 10% siswa tidak berminat dalam melukis.Gambar 50. Distribusi minat siswa terhadap pelajaran seni lukis hasil studi awal disajikan pada Gambar 51. 174 . Hasil identifikasi melalui wawancara diperoleh bahwa menurut persepsi guru ada 75% siswa memiliki Gambar 51. 15% anak kurang berminat. Hasil Studi Awal Subjek Yang Menentukan Tema Lukisan Penentuan tema merupakan tahap yang sangat krusial dalam pembelajaran seni lukis karena berkaitan dengan minat siswa.

175 . 30% guru menggunakan portofolio. pengamatan perbuatan. 5% 5% guru menggunakan tes perbuatan.Metode yang digunakan guru dalam melakukan penilaian seni lukis siswa adalah 15% guru menggunakan metode pengamatan. Informasi tentang uraian dan prosedur dalam melakukan penilaian disajikan pada Gambar 53. Hasil Studi Awal Jenis Penilaian Yang Digunakan Guru Selanjutnya. Dalam melakukan penilaian 60% guru memberikan uraian prosedur yang sesuai dengan langkah-langkah penilaian dan 40% tidak memberikan uraian prosedur. Gambar 52. dan 5% guru tidak memahami metode penilaian. 15% guru menggabungkan metode pengamatan. 5% guru menggunakan portofolio. termasuk uraian dan prosedur dalam memberikan penilaian. portofolio dan tes perbuatan dalam memberikan penilaian terhadap siswa. 20% guru guru menggunakan pengamatan dan tes menggunakan portofolio dan tes perbuatan. Kesesuaian prosedur dalam melakukan penilaian setidaknya dapat memberikan patokan bagi guru dalam upaya menghindari subjektifitas penilai. metode penilaian yang digunakan memiliki karakteristik yang berbeda. Informasi tersebut dapat disajikan pada Gambar 52.

Gambar 54 memberikan gambaran bahwa secara umum gabungan komponen proses dan produk merupakan objek penilaian yang dilakukan oleh guru. 176 . Hasil Studi Awal Komponen Penilaian Guru komponen proses. 5% Gambar 54. Hasil Studi Awal Kesesuaian Prosedur Yang Digunakan dalam Penilaian Dalam kaitan dengan komponen-komponen yang dinilai dalam pembelajaran seni lukis selama ini menunjukkan bahwa 40% hanya komponen produk.Gambar 53. Informasi hasil studi awal ini disajikan dalam bentuk grafik seperti Gambar 54. dan 55% komponen proses dan produk.

yaitu melalui pemberian angka (80%). keberanian sebesar 70%. Informasi tentang penentuan skor dalam penilaian seni lukis anak hasil studi awal ini disajikan pada Gambar 56. Secara grafik. Hasil Studi Awal Kriteria Penilaian Guru Komponen proses dan produk yang dinilai terdiri atas beberapa kriteria. kesesuaian lukisan dengan tema sebesar 25% . Gambar 56 menunjukkan bahwa penentuan skor dalam penilaian seni lukis anak yang dilakukan oleh guru pada umumnya melalui pemberian angka. Di samping itu.Gambar 55. kurang baik (10%). langkah selanjutnya adalah penentuan skor. ada 5% guru memberikan kriteria proses yang meliputi cara melukis. dan komposisi bidang. informasi ini disajikan pada Gambar 55. baik. komposisi bidang. Hasil wawancara peneliti dengan guru 177 . kombinasi angka dan huruf (5%). pemberian huruf misalnya sangat baik. kesesuaian warna. cara mewarnai produknya. Kriteria produk meliputi komposisi warna. Setelah menetapkan kriteria untuk setiap komponen penilaian. Hasil studi awal menunjukkan bahwa ada dua macam penentuan skor dalam menilai karya lukis siswa yang dilakukan. dan yang menjawab tidak tahu (5%). semangat. Kriteria proses meliputi sikap.

Hasil Studi Awal Unsur Kreativitas dalam Penilaian oleh Guru 178 . 70% guru mengungkapkan dengan memperhatikan Gambar 57.Gambar 56. semuanya serba kemungkinan. Hasil studi awal menunjukkan bahwa untuk melihat unsur kreativitas dalam sebuah produk hasil karya seni siswa. Hasil Studi Awal Jenis Penentuan Skor Penilaian oleh Guru tentang apa makna angka yang diberikan misalnya 60. guru tersebut tidak memberikan jawaban yang pasti. Skor angka yang diberikan pada hasil karya seni lukis anak belum dapat dijadikan sebagai dasar bagi guru untuk melihat kreativitas dari anak.

Kemudian peneliti menanyakan kepada guru tentang kesulitan yang dialami dalam melakukan penilaian seni lukis anak. misalnya faktor-faktor yang dinilai kelengkapan peralatan dan bahan yang dibawa tidak memahami seni. Kesulitan Guru dalam Penilaian Hasil Studi Awal praktis untuk menilai. 35% guru mengungkapkan berasal dari siswa.kesesuaian unsur-unsur rupa serta kemampuan anak dalam mengembangkan ide. 20% guru mengungkapkan dan 5% guru mengungkapkan tidak ada kesulitan. Informasi ini disajikan pada Gambar 58. Secara grafik. dan keseriusan siswa. Untuk mengatasi kesulitan tersebut. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi guru dalam melakukan penilaian seni lukis anak ternyata cukup banyak. dan 30% guru belum mengungkapkan kriteria kreativitas anak. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa 40% guru mengungkapkan karena tidak ada pedoman yang Gambar 58. informasi ini dapat disajikan pada Gambar 57. semua guru menyarankan perlunya instrumen penilaian yang praktis untuk mempermudah dan menyeragamkan 179 . siswa.

Hasil Studi Awal Tanggapan Guru Perlunya Instrumen Penilaian Partisipasi sekolah atau siswa dalam mengikuti kegiatan lomba seni lukis berdasarkan wawancara yang peneliti lakukan menunjukkan bahwa 25% siswa sering mengikuti lomba lukis. Secara grafik. Sajian informasi tersebut dalam bentuk grafik dapat dilihat pada Gambar 60. 50% siswa cukup mengikuti lomba lukis. Gambar 59. informasi tentang perlu tidaknya instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak disajikan pada Gambar 59. Hasil Studi Awal Partisipasi Siswa atau Sekolah dalam Kegiatan Lomba 180 . 20% siswa jarang mengikuti lomba lukis.penilaian yang dilakukan guru. Gambar 60. dan 5% siswa tidak pernah mengikuti lomba.

Pada umumnya (95%) guru yang mengajarkan dan melaksanakan penilaian seni lukis anak tidak memiliki latar belakang pendidikan atau pengalaman seni.Indonesia Psikologi Tek. Papringan SD Muh.Berdasarkan temuan studi awal tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan penilaian seni lukis anak selama ini masih perlu perbaikkan dan peningkatan. Nitikan SD Muh. terutama jika dilihat dari guru yang melaksanakan penilaian.Danunegaran SD Muh.Indonesia &IPS √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Agama & Sains B.Karangkajen SD Muh. tampak bahwa pembelajaran dan penilaian pendidikan seni lukis sungguh memprihatinkan. Gowongan SD Muh.Indonesia B.Perancis B. Sebaran guru dan latar belakang guru disajikan pada Tabel 6.Nitikan SD Muh. Kauman Jenis Guru Guru kelas Guru bidang studi Bidang Keahlian Seni lukis IPS Olah raga B.Penumping SD Muh. Tabel 6 Daftar Peserta Studi Awal Inisial resp SW PB SR NH AG PN EL RL RP SW SS WA TR RH ET MR SR RP SL LP Usia (Tahun) 49 36 39 47 54 45 55 50 35 38 32 39 31 33 27 35 29 34 44 28 Asal Sekolah SD Lempuyangan 2 SD Lempuyangan 1 SD Lempuyangan 3 SD Tegal Panggung SDN Widoro SD Suryodiningratan 4 SD Langensari SD Samirono SD Suryodiningratan 3 SD Pujokusumon 3 SD Muh. Danunegaran SD Muh. 181 . Pendidikan Lukis & Tari Mencermati informasi yang disajikan pada Tabel 6. Papringan SD Muh.

Berdasarkan uraian hasil studi awal di atas. sehingga kualitas pembelajaran dan penilaian seni lukis masih sangat rendah. 182 . Data Pendefinisian Pada langkah ini didapatkan definisi konstruk instrumen dan kajian atas konsep instrumen karya lukis anak yang dijabarkan dari kajian teori. dikhawatirkan akan memicu terjadinya penilaian yang cenderung subjektif. Adanya perbedaan ini. 2. deskripsi. Penyimpulan ini didasarkan pada perbedaan karakteristik pembelajaran seni yang dilakukan oleh setiap guru. Gambar tersebut mengungkapkan secara eksplisit bahwa 100% guru yang diteliti menyatakan sangat perlu instrumen penilaian yang praktis sehingga untuk mempermudah dan menyeragamkan penilaian guru. kriteria dan rubrik penentuan skor. Kenyataan ini merupakan suatu gambaran tentang pembelajaran dan penilaian seni lukis yang terjadi selama ini. Perbedaan ini tampak pada Gambar 47-58 serta Tabel 6. Definisi konstruk instrumen karya seni lukis anak dijabarkan menurut indikator. Pendefisian ini pada dasarnya dihasilkan dari pendalaman literatur tentang seni dan strategi pendidikannya. Selain fakta yang ditunjukkan pada gambar dan tabel tersebut. perlunya pengembangan instrumen seni lukis didasarkan juga pada fakta yang disajikan pada gambar 59. sehingga memerlukan perhatian yang serius dari semua pihak yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan seni lukis. dapat ditarik kesimpulan bahwa instrumen penilaian seni lukis anak perlu dikembangkan untuk mempermudah guru dalam melakukan penilaian yang lebih objektif.Pendidik yang memiliki pemahaman dan pengetahuan tentang seni lukis sangat sedikit (hanya 5%) yaitu mereka yang berlatar belakang pendidikan seni.

aspek-aspek atau konsep-konsep yang akan dinilai dan gradasi mutu. 2002: 20). ciri-ciri. patokan untuk mempertimbangkan atau menentukan sesuatu. Dengan demikian indikator merupakan suatu petunjuk atau acuan sehingga memudahkan guru dalam melakukan penilaian. Kriteria atau Rubrik Kriteria atau rubrik adalah pedoman menilai kinerja atau hasil kerja. Novianto (2005: 230) mengemukakan bahwa indikator adalah alat untuk mengukur dan sebagai petunjuk. Dalam penelitian ini rubrik merupakan daftar kriteria yang diwujudkan dengan dimensi-dimensi kinerja. Deskripsi Deskripsi adalah suatu paparan dengan kata-kata yang terperinci (Novianto. 2005:141). 2005: 306). Indikator Indikator adalah suatu karakteristik. Indikator keberhasilan karya seni lukis anak dapat dilihat pada lampiran 1 halaman 271. dan disepakati penilai dan siswa. c. Kriteria adalah kadar ukuran. Rubrik dapat membantu seseorang untuk menentukan tingkat ketercapaian kinerja. Dengan demikian kriteria atau rubrik merupakan panduan memberi skor. 183 .a. Dalam penelitian ini deskripsi didefinisikan sebagai paparan kata-kata yang secara terperinci dari indikator yang diturunkan yang digunakan sebagai dasar untuk mengamati objek penilaian. (Novianto. Kemudian. jelas. b. Indikator merupakan tolok ukur (Rohandi. perbuatan. mulai dari tingkat yang paling sempurna sampai dengan tingkat yang paling rendah.

konstruk instrumen yang telah didefinisikan pada Awal • • Tanggapan siswa Kesiapan alat Proses Guru Inti Karya Seni Guru Produk Siswa • • • • • • • • Penuangan ide Pengg. Setelah itu dilakukan proses telaah dengan memanfaatkan validasi ahli untuk menperoleh kesepakatan dalam menentukan validasi ahli konstruk penilaian. dimensi produk. Data Perancangan Pada tahap perancangan. sedangkan dimensi penilaian 184 . Konfigurasi dari konstruk instrumen yang komprehensif dan utuh mengandung prototipe dimensi proses. dan konten serta sasaran penilaian. Instrumen Penilaian Seni Lukis Hasil Tahap Rancangan tahap sebelumnya ditetapkan menjadi konstruk instrumen pendidikan seni lukis anak. Dimensi penilaian proses adalah penilaian yang ditunjukkan untuk mengamati kompetensi peserta didik dalam berkreasi membuat karya seni lukis. Masing-masing dapat disimak pada Gambar 61. Hasil digunakan sebagai dasar untuk merancang konstruk instrumen secara utuh. media Pengg. unsur Ketekunan Waktu Kretivitas Ekspresi Teknik • • Penilaian diri Penilaian kelompok Gambar 61.3.

Data Pengembangan Tahapan ini merupakan tahap elaborasi lanjut setelah prototipe hasil perancangan diperoleh pada tahap sebelumnya. telaah item. 3) keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk. 5) pemanfaatan waktu. Kegiatannya meliputi pengembangan indikator. Indikator produk terdiri atas kreativitas. 2) keberanian menggunakan media. Indikator proses teridiri atas tahap awal dan tahap inti. perbaikan item. 2) kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis.produk adalah penilaian yang ditunjukkan untuk melihat kompetensi peserta didik dalam membuat karya cipta seni lukis. Komponen proses terdiri atas 5 (lima) indikator dan komponen produk 3 (tiga) indikator. dan teknik. analisis dan pembakuan. deskripsi dan 185 . ekspresi. Seminar dilaksanakan untuk mendapat masukan dan saran berkaitan dengan indikator. Tahap awal meliputi: 1) tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat. Hasil FGD ketiga adalah kesepakatan tentang kriteria masing-masing indikator dan deskripsi yang diperoleh pada dua FGD sebelumnya. penyusunan item instrumen. 4) ketekunan. 4. uji coba instrumen. Indikator tahap inti meliputi: 1) kelancaran penuangan ide. Rangkuman hasil FGD kedua disajikan pada Tabel 7. Hasil FGD pertama adalah kesepakatan bahwa penilaian seni lukis anak terdiri atas komponen proses dan produk dengan perbandingan 60% untuk proses dan 40% untuk produk. Hasil FGD kedua adalah kesepakatan tentang deskripsi masing-masing indikator yang ditemukan pada FGD pertama. Langkah pengembangan berikutnya adalah seminar.

kebaruan teknik dan konsep cerita Ekspresi Kejelasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema Teknik Kemampuan menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya. Ketekunan Kondisi peserta didik untuk mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh-sungguh Pemanfaatan waktu Penggunaan waktu sebaik-baiknya untuk membuat karya lukis Komponen Produk Kreativitas Keaslian bentuk (kemampuan menciptakan bentuk yang khas). ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik 2 Kesiapan alat dan bahan Suatu kondisi peserta didik yang sudah yang akan digunakan siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk untuk melukis pembuatan karya lukisnya A.Tabel 7. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik.1 1 Indikator Komponen Proses Tahap Awal Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Deskripsi Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi. unsur-unsur bentuk bidang.2 Tahap Inti 1 Kelancaran penuangan ide Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara kualitas ide yang dikembangkan dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut 2 Keberanian menggunakan Keberanian menggunakan media (alat dan media bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik inkonvensional dalam melukis Keberanian menggunakan Keberanian menggunakan titik. serta kebersihan karya yang dihasilkan 3 4 5 B 1 2. kualitas cara penggambaran. A. 3 186 . garis. Hasil FGD Pertama dan Kedua No A.

sedangkan hasil seminar disajikan pada Gambar 63. Hasil FGD Ketiga disajikan dalam Gambar 62. Diseminasi Tahap diseminasi merupakan tahap sosialisasi instrumen dan pedoman penggunaan instrumen penilaian seni lukis anak pada pendidik seni lukis sekolah dasar. 3) baik. 5. Perubahan ini dimaksudkan untuk lebih menyederhanakan rubrik penskoran tanpa mengurangi maksud yang ingin dicapai yaitu menciptakan instrumen penilaian seni lukis yang valid dan andal. 2) cukup.kriteria yang telah disepakari pada tahap FGD. Gambar 62 merupakan rubrik skor yang disusun untuk setiap indikator dengan masing-masing indikator terdiri dari 4 level/tingkatan penilaian yaitu: 4) sangat baik. 187 . tampak sejumlah perubahan yang mendasar pada kriteria untuk setiap level penilaian. Adapun pada Gambar 63. kriteria penilaian. khususnya berkaitan dengan kriteria dan rubrik penskoran. Ada beberapa perubahan mendasar yang diperoleh dari peserta seminar. Akhir dari tahap pengembangan adalah kegiatan melakukan uji empiris instrumen. keterbacaan dan penampilan fisik. penskorannya. dan kelayakan penyajian yang meliputi sistimatika. Data lengkap hasil FGD ini dapat dilihat pada Lampiran 3 halaman 276. Proses kesepakatan terkait dengan perubahan-perubahan pada instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar melalui FGD dan seminar dilakukan melalui pengkajian bersama yang dilandasi oleh kajian teori yang ada. Hasil kesepakatan dalam FGD adalah pedoman dapat digunakan di sekolah. Pedoman penggunaan intrumen meliputi petunjuk penggunaan. dan 1) kurang.

1. Indikator Kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis • • • • Sangat baik Bertanya seperlunya seputar tema lukisan kepada guru Tidak pernah mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan sangat cepat Memperlihatkan kegairahan yang sangat tinggi untuk memulai melukis Deskripsi Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik Level Kurang • Sangat sering bertanya seputar tema lukisan kepada guru • Sering mengeluh dengan tema yang diberikan • Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan lambat • Memperlihatkan kegairahan yang kurang untuk memulai melukis Sangat baik • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan sangat lengkap • Alat dan bahan sangat siap untuk digunakan • Alat dan bahan sangat mendukung kegiatan melukis Deskripsi Suatu kondisi peserta didik yang sudah siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya Kurang • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan kurang lengkap • Alat dan bahan kurang siap untuk digunakan • Alat dan bahan kurang mendukung kegiatan melukis Level Baik • Jarang bertanya seputar tema lukisan kepada guru • Jarang mengeluh dengan tema yang diberikan • Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan cepat • Memperlihatkan kegairahan yang tinggi untuk memulai melukis Cukup • Sering bertanya seputar tema lukisan kepada guru • Cukup sering mengeluh dengan tema yang diberikan • Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan cukup cepat • Memperlihatkan kegairahan yang cukup tinggi untuk memulai melukis Baik • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan lengkap • Alat dan bahan siap untuk digunakan • Alat dan bahan mendukung kegiatan melukis Cukup • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan cukup lengkap • Alat dan bahan cukup siap untuk digunakan • Alat dan bahan sangat mendukung kegiatan melukis Gambar 62. Indikator Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Tahap Awal 2. Rangkuman Hasil FGD Ketiga 188 .

bidang) mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna tidak mendekati warna sebenarnya Kurang berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis • • • Tahap Inti 189 . garis. bidang) cukup mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna cukup mendekati warna sebenarnya Cukup berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis • • Kurang • Lambat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Kurang tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media kurang sesuai dengan karakteristiknya • 1. bidang) sangat mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna sangat mendekati warna sebenarnya Sangat berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis • • • • Level Cukup • Cukup cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Cukup tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media cukup sesuai dengan karakteristiknya Deskripsi Kemampuan menggunakan media (alat dan bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik bebas dalam melukis 2.Lanjutan Gambar 62 Baik • Cepat dalam menemukan ide • Tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide • Cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Cukup • Cukup cepat dalam menemukan ide • Cukup tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide • Cukup cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media • Baik • Cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media sesuai dengan karakteristiknya Sangat baik • Sangat cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Sangat tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media sangat sesuai dengan karakteristiknya Sangat baik • Sangat cepat dalam menemukan ide • Sangat tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide • Sangat cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Kurang • Lambat dalam menemukan ide • Kurang tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide • Lambat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media • • Sangat baik Sangat baik Variasi unsur-unsur bentuk (garis. dan warna untuk menghasilkan bentuk yang orisional/khas Baik Variasi unsur-unsur bentuk(garis. Indikator Kelancaran penuangan ide • Kurang Variasi unsurunsur bentuk sedikit (garis. Indikator Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk Deskripsi Kemampuan menggunakan titik. Indikator Keberanian menggunakan media Level Deskripsi Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara ide yang ada dalam diri siswa dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut 3. bidang. bidang) mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna mendekati warna sebenarnya Berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis Level Cukup Variasi unsurunsur bentuk (garis.

Indikator Tahap Inti Ketekunan Deskripsi Penggunaan waktu sebaik-baiknya dilakukan untuk membuat karya lukis Sangat baik • Menyelesaikan karya lukis dengan sangat tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang sangat tuntas Kurang • Menyelesaikan karya lukis dengan kurang tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang kurang tuntas Cukup • Menyelesaikan karya lukis dengan cukup tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang cukup tuntas Sangat baik • Sangat serius dalam membuat karya lukis • Perhatian terhadap karya lukis sangat terfokus Deskripsi Kondisi peserta didik untuk mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh-sungguh Level Level Kurang • Tidak serius dalam membuat karya lukis • Perhatian terhadap karya lukis kurang terfokus Baik • Menyelesaikan karya lukis dengan tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang tuntas Baik • Serius dalam membuat karya lukis • Perhatian terhadap karya lukis terfokus Cukup • Cukup serius dalam membuat karya lukis • Perhatian terhadap karya lukis cukup terfokus 190 . Indikator Pemanfaatan waktu 5.Lanjutan Gambar 62 4.

Indikator Kreativitas 2. Indikator Teknik Produk Deskripsi Sangat baik • Sangat jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Sangat tegas/ spontan dalam mengungkapkan garis Sangat berani dalam mengorganisasikan unsurunsur karya lukis Kejelasan dalam mengungkapkan isi/tema/konsep lukisan • Kurang Kurang jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Kurang tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Kurang berani dalam mengorganisasikan unsurunsur karya lukis • • • • Level Sangat baik • Alat dan bahan yang digunakan sangat sesuai karakteristiknya • Sangat teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan sangat bersih Deskripsi Kemampuan menggunakan alat dan bahan sesuai dengan karakteristiknya serta kebersihan karya yang dihasilkan Level Kurang • Alat dan bahan yang digunakan kurang sesuai karakteristiknya • Kurang teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan kurang bersih • Baik Jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Berani dalam mengorganisasikan unsurunsur karya lukis Cukup • Cukup jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Cukup tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Cukup berani dalam mengorganisasikan unsurunsur karya lukis • • • • Baik • Alat dan bahan yang digunakan sesuai karakteristiknya • Teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan bersih Cukup • Alat dan bahan yang digunakan cukup sesuai karakteristiknya • Cukup teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan cukup bersih 191 .Lanjutan Gambar 62 • • • • • Baik Jarang melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang tinggi memodifikasi objek Warna yang digunakan bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang tinggi menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang banyak dalam dalam Cukup • • • • • Cukup sering melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan cukup bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang cukup banyak Sangat baik • • • • • Tidak pernah melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang sangat tinggi dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan sangat bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang sangat tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang sangat banyak Kurang • • Level • • • Sering melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang kurang memodifikasi objek Warna yang digunakan kurang bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang kurang menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang kurang banyak dalam dalam Deskripsi Keaslian bentuk (kemampuan menciptakan bentuk-bentuk baru) 1. Indikator Ekspresi 3.

Rangkuman Hasil Seminar Instrumen Penilaian Seni Lukis 192 . Indikator Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Tahap Awal 2. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik Deskripsi Suatu kondisi peserta didik yang sudah siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek Menerima Memahami Melaksanakan Sangat baik Terpenuhi 3 aspek Lengkap Relevan Siap digunakan Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek Lengkap Relevan Siap digunakan • • • Sangat baik Terpenuhi 3 aspek Menerima Memahami Melaksanakan Level • • • • • • Level • • • • • • Baik Terpenuhi 2 aspek Menerima Memahami Melaksanakan • • • Kurang Terpenuhi aspek Menerima Memahami Melaksanakan 1 • • • Baik Terpenuhi 2 aspek Lengkap Relevan Siap digunakan • • • Kurang Terpenuhi aspek Lengkap Relevan Siap digunakan 1 Gambar 63. Indikator Kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis Deskripsi Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi.1.

Lanjutan Gambar 63 Baik Terpenuhi 2 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Kurang Terpenuhi 1 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Baik Terpenuhi 2 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Lambat • Tepat • Sesuai dengan media Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Berani • Tepat • Artistik Baik Terpenuhi aspek • Berani • Tepat • Artistik 2 Level Deskripsi Kemampuan menggunakan media (alat dan bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik bebas dalam melukis 2. garis. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik. Level Kurang Terpenuhi 1 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Berani • Tepat • Artistik Kurang Terpenuhi aspek • Berani • Tepat • Artistik 1 1. Indikator Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk Deskripsi Keberanian menggunakan titik. Indikator Keberanian menggunakan media Level Deskripsi Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara ide yang ada dalam diri siswa dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut 3. bidang. Indikator Kelancaran penuangan ide Tahap Inti 193 .

Lanjutan Gambar 63 4. Indikator Pemanfaatan waktu Tahap Inti Sangat baik • Menyelesaikan karya lukis dengan sangat tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang sangat tuntas Deskripsi Penggunaan waktu sebaik-baiknya dilakukan untuk membuat karya lukis Level Kurang • Menyelesaikan karya lukis dengan kurang tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang kurang tuntas Sangat baik Karya sebelum berakhir selesai waktu Deskripsi Penggunaan waktu sebaik-baiknya dilakukan untuk membuat karya lukis Sangat kurang Karya tidak selesai saat waktu berakhir Level Baik • Menyelesaikan karya lukis dengan tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang tuntas Cukup • Menyelesaikan karya lukis dengan cukup tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang cukup tuntas Baik Karya selesai tepat waktu Kurang Karya hampir selesai saat waktu berakhir 194 . Indikator Pemanfaatan waktu 5.

kualitas cara penggambaran. kebaruan teknik dan konsep cerita 2. Indikator Teknik Deskripsi Kejelasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Produk Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Deskripsi Kemampuan menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya.Lanjutan Gambar 63 Baik Terpenuhi 2 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Kurang Terpenuhi 1 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Level Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Deskripsi Keaslian bentuk (kemampuan menciptakan bentuk yang khas). Indikator Ekspresi 1. serta kebersihan karya yang dihasilkan Level Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Level Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Baik Terpenuhi 2 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Kurang Terpenuhi 1 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Baik Terpenuhi 2 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Kurang Terpenuhi 1 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih 195 . Indikator Kreativitas 3.

dan (4) data uji coba komponen penilaian kelompok. (2) data uji coba komponen penilaian produk. Komponen-komponen yang digunakan sebagai acuan untuk melakukan rating oleh para rater telah diperoleh dari hasil pengembangan pada tahap sebelumnya dan dikenal dengan produk tentatif instrumen penilaian karya seni lukis. dalam pengembangan ini yakni sumber variansi murid (P). maka pada tahapan analisis lanjut (analisis D study) akan didapatkan informasi tentang keputusan seberapa jauh penggunaan 196 . penilaian diri dan penilaian kelompok pada pengguna di lapangan. Analisis Data 1. penilaian produk. penilai (R) dan item kriteria penilaian (I). Data uji coba terdiri dari 4 (empat) komponen yaitu (1) data uji coba komponen penilaian proses. Data Uji Coba Bagian ini mendeskripsikan tentang hasil uji coba penggunaan instrumen penilaian yang diujicobakan kepada tiga orang guru sebagai rater atau penilai terhadap penilaian karya seni lukis (beberapa hasil karya lukis anak dapat dilihat pada lampiran 9 hal. Instrumen penilaian ini terdiri atas empat komponen utama yakni penilaian proses.B. dan (3) data uji coba komponen penilaian diri. Setelah koefisien G dapat diketahui. Kegiatan uji coba ini dipaparkan data hasil uji coba pada keempat kawasan tersebut. Hasil ujicoba instrumen ini disajikan pada bagian analisis data. Hasil analisis G study digunakan untuk mengetahui koefisien reliabilitas alat penilaian yang dikembangkan serta estimasi komponen variansi kesalahan yang diakibatkan oleh berbagai sumber variansi.358).

23 4. a.29 18 11387.00 16124.83 4.63 59 132.43 222.29 3432.86 2 103984.00 426924.29 24.18 3.56 1062 0. 197 .00 242.27 41.18 35943.14 118 43.14 7701.00 18127.96 9.27% dari seluruh komponen varian harapan.29 Penilai (R) 631942. Penilai.28 413296.60 Catatan: JK1 = sums of squares for mean scores.43 PR (Interaksi Murid 6092.00 297.15 1259 124816.28 1062 17.15 3.69 0.14 4.55 1259 193. Hal yang sama Tabel 8 Estimasi Komponen Variansi Siswa.00 53.60 381079.38 2.51 175.21 dan Penilai) 644940.71 118 43.00 6004.64 189.20 2854.46 41.77 86.00 3.04 62.56 I:R 836923.66 226469.00 581347.95 2 113235.40 457402.04 52.28 17.06 457.85 594179.40 31282540.98 0.84 0.14 1259 114729. JK2 = sums of squares for score effects.16 18 158.07 Nested pada Penilai) 800302.76 193.07 15.53 5874.15 0.42 % Total Varian 4.90 8728.85 771345.28 Murid dan Item 868049.00 100.40 189997. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Proses Sumber Variansi Murid (P) Kelas 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 JK1 JK2 db KR Varian 0.04 0.48 PI:R ( Interaksi 9244.60 1062 15.43 5174.95 204981.00 0.67 0. dan dapat diterimanya kondisi faset tersebut bagi rater atau penilai yang lain.07 421.59 2 31.3 59 3.58 0.33 7823.68 18 10555.62 Total 3395152. kelas 2 dan di kelas 3 menunjukkan bahwa estimasi variance true skor yang terbesar dari faset yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) di kelas 1 adalah sumber variansi kesalahan pengukuran komponen item yang nested pada penilai (I:R) dengan proporsi 86.71 5130.29 59 130.94 118 0. Hasil Analisis Genova Untuk Estimasi Komponen Variansi 1) Analisis Estimasi Komponen Varians Komponen Penilaian Proses Rangkuman analisis G study dari data uji coba komponen penilaian proses dapat disajikan sebagaimana pada Tabel 8.73 3.93 0.00 100. Hasil rangkuman analisis G study untuk penilaian proses di kelas 1.60 100.72 207969.instrumen yang telah diuji memiliki keberlakuan pada faset yang lebih luas terutama menyangkut kesamaan kondisi pengukuran.

77%. Selain itu penggunaan alat penilaian yang dikembangkan ini merupakan cara baru yang berbeda dengan caracara konvensional sebagaimana yang lazim digunakan oleh para guru sebelum cara penilaian ini dikenalkan. Sumber variansi item yang bersarang pada penilai (I:R) merupakan komponen varian yang paling dominan. hal ini diduga karena guru yang menjadi rater atau penilai baru mengenal model dan konstruk alat penilaian yang dikembangkan.untuk di kelas 2 dan kelas 3 . interaksi murid dan item nested pada penilai (PI:R) proporsinya tampak lebih kecil terhadap seluruh komponen variansi hasil penilaian proses kualitas karya seni lukis dibanding proporsi komponen varians penilai (R) dan kriteria penilaian yang nested pada penilai (I:R). 198 . Hal ini dapat dipahami karena faktor pemahaman dan latihan atau pengalaman guru sangat dituntut untuk bisa melakukan penilaian yang benar sesuai konstruk yang dikandung oleh alat penilaian yang dikembangkan. Sumber variansi komponen yang lain yakni murid (P). kondisi semacam itu telah bergeser yakni bukan lagi komponen varians item yang bersarang pada penilai (I:R) yang dominan sebagai penentu varians kesalahan pengukuran melainkan penilai atau rater. yang dominan mempengaruhi variansi kesalahan pengukuran adalah item yang bersarang pada penilai (I:R) dan untuk uji coba di kelas 2 dan di kelas 3 adalah penilai (R). Pada uji coba di kelas 2 dan di kelas 3. Kondisi yang demikian berarti bahwa faset yang berkaitan dengan objek pengukuran untuk penilaian proses. interaksi murid dengan penilai (PR). dan yang terbesar adalah sumber variansi penilai (R) dengan proporsi masing-masing 53.04% dan 52.

13 25.00 262591.24 221.69 0.65 366. Hasil rangkuman analisis Tabel 9 Estimasi Komponen Variansi Siswa.03 6.77 38434.05 10.09 95.65 234248.70 26.60 1083712.60 7.38 34407.00 1050134.50 96419.83 80.00 39.25 158537.26 241766.86 40.96 11558.51 5248.25 48209.27 199841.49 150357.16 % Total Varian 1.21 0.86 40.Hasil uji coba ini menunjukkan bahwa pada penerapan alat penilaian karya seni lukis untuk komponen proses.27 233.90 14230.54 45534. peranan penilai (R) merupakan sumber variansi kesalahan pengukuran terbesar.90 JK2 6421.67 209554.23 34039.20 32.16 1.45 5.77 219396.07 91069.00 275197.68 1. 199 .70 51427.00 2.07 25. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Produk Sumber Variansi Murid (P) Penilai (R) I:R PR (Interaksi Murid dan Penilai) PI:R ( Interaksi Murid dan Item Nested pada Penilai) Total Kelas 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 JK1 118655.23 86.12 106.89 9154.02 251512.05 25.65 53598.50 9.00 100.67 60.17 100.25 4733.80 5104.48 40.29 6405.00 113876.00 255520.15 4.73 5734.64 62.59 44.25 213078.48 63.33 222531.00 0.20 32. Penilai.83 4719.81 146747.60 4607. Latihan dan pengalaman bagi penilai dalam menggunakan alat penilaian untuk menilai kualitas karya seni lukis merupakan cara untuk mengurangi kesalahan pengukuran dan untuk meningkatkan tingkat konsistensi dan keajegan hasil penilaian.00 121393.65 27.52 47746.60 1013040.71 54775. 2) Analisis Estimasi Komponen Varian Komponen Penilaian Produk Rangkuman analisis G study dari data uji coba komponen penilaian produk dapat disajikan sebagaimana pada Tabel 9.61 5673.08 94.98 db 59 59 59 2 2 2 6 6 6 118 118 118 354 354 354 539 539 539 KR 108.89 207726.86 95492.64 232.98 382.00 Catatan: JK1 = sums of squares for mean scores.98 356.95 1. JK2 = sums of squares for score effects.00 100.42 Varian 7.

Berdasarkan analisis ini penerapan alat penilaian karya seni lukis untuk komponen produk. Sumber variansi yang lain tidak begitu besar proporsinya sebagai komponen varians untuk penilaian produk. faset yang dominan sebagai variansi kesalahan pengukuran adalah penilai (R) dan item yang bersarang pada penilai (I:R). dan di kelas 3 sebesar 62.68%.67%. Sumber variansi komponen yang lain yakni murid (P). Untuk itu masih dibutuhkan juga latihan dan pengalaman bagi penilai dalam menggunakan instrumen penilaian produk untuk menilai kualitas karya seni lukis siswa agar 200 . di kelas 2 sebesar 60.70%. Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa faset yang berkaitan dengan objek pengukuran untuk penilaian produk. peranan penilai (R) tetap merupakan sumber varians kesalahan pengukuran yang terbesar seperti halnya pada penilaian proses. interaksi murid dan item bersarang pada penilai (PI:R) proporsinya tampak lebih kecil terhadap variansi hasil penilaian proses kualitas karya seni lukis dibanding pengaruh kedua sumber variansi penilai (R) dan kriteria penilaian yang bersarang pada penilai (I:R). dan di kelas 3 sebesar 26.65%.G study untuk penilaian produk di kelas 1. interaksi murid dengan penilai (PR). Kemudian berikutnya adalah sumber varians kesalahan untuk komponen item yang bersarang pada penilai (I:R) dengan proporsi komponen varians di kelas 1 sebesar 25. kelas 2 dan di kelas 3 menunjukkan bahwa estimasi varian true skor yang terbesar dari faset yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) adalah sumber variansi kesalahan pengukuran komponen penilai (R) dengan proporsi komponen varians di kelas 1 sebesar 63.64%.07%. di kelas 2 sebesar 27.

00 9405.24 3 47.09 1.76 365927.00 Catatan: JK1 = sums of squares for mean scores.12 100.38 4.28 13.72 0.72 119.48 130. kelas 2 dan di kelas 3 menunjukkan bahwa estimasi skor true variance dari faset yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) komponennya lebih banyak pada sumber variansi kesalahan pengukuran komponen penilai (R) dan proporsi komponen memiliki item yang nested pada penilai (I:R).30 193926. 3) Analisis Estimasi Komponen Varians Penilaian Diri Rangkuman analisis G study dari data uji coba komponen penilaian diri dapat disajikan sebagaimana pada Tabel 10.28 5.15 1 245471.72 46.19 Penilai (R) 2 270613.00 3 1407051. Hasil rangkuman analisis G study untuk penilaian diri di kelas 1.00 Total 2 1473892.20 4175.28 94688.20 2259.37 87693.48 122. 201 .88 1 1354225.44 2 43028.82 263505.34 708 12.31 86057.30 899 52561.04 Murid dan Item 2 380667.26 12 7775.68 dan Penilai) 2 275758.96 2 47344.10 198782.00 708 10.77 5.36 100.71 3 171313.37 PR (Interaksi Murid 1 256241.57 46.61 3 0.33 280.91 1.08 97430.30 118 24.13 4168. Sumber varians penilai (R) Tabel 10 Estimasi Komponen Variansi Siswa.82 349803.75 708 13.98 0.23 270.dapat meningkatkan tingkat konsistensi dan keajegan hasil penilaian serta tingkat kesepakatan pemahaman terhadap konstruk sasaran penilaian karya seni lukis untuk komponen produk di antara para penilai.45 256501.00 45.30 118 19.40 2835.61 59 48.67 899 55542.36 118 35.75 121.77 Nested pada Penilai) 3 4.14 48.53 59 111.00 7478.23 PI:R ( Interaksi 1 353340.90 263. JK2 = sums of squares for score effects.00 9119. Penilai.88 12.56 3.16 I:R 2 368044.92 93302.67 3 45.93 2885.80 12 8119.40 6594.15 1.19 129.42 1.50 204742.96 2 44678.05 12 7307.93 2 178809.03 2.56 100. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Diri Sumber Variansi Murid (P) Kelas JK1 JK2 db KR Varian % Total Varian 1 166008.23 135.13 899 50496.11 1.44 59 70.56 10.97 1 333164.65 3.66 89356.

24%.16%. Sumber variansi komponen item yang bersarang pada penilai (I:R) mempunyai proporsi komponen varians di kelas 1 sebesar 46. Penerapan alat penilaian karya seni lukis untuk komponen penilaian diri. interaksi murid dan item nested pada penilai (PI:R) proporsi komponen variannya tampak lebih kecil terhadap variansi hasil penilaian proses kualitas karya seni lukis dibanding pengaruh kedua sumber variansi penilai (R) dan kriteria penilaian yang bersarang pada penilai (I:R). ternyata peranan penilai (R) dan item yang nested pada penilai (I:R) tetap merupakan sumber variansi kesalahan pengukuran yang dominan seperti halnya pada penilaian proses maupun produk.proporsi komponen varians di kelas 1 sebesar 45. interaksi murid dengan penilai (PR).82%.19%.67%. di kelas 2 sebesar 48. Untuk itu masih dibutuhkan juga latihan dan pengalaman bagi penilai dalam menggunakan alat penilaian produk untuk menilai kualitas karya seni lukis siswa untuk dapat meningkatkan tingkat konsistensi dan keajegan hasil penilaian serta tingkat kesepakatan pemahaman terhadap konstruk sasaran penilaian karya seni lukis untuk komponen penilaian diri di antara para penilai.45%. dan di kelas 3 sebesar 45. Kondisi yang demikian dapat dimaknai bahwa faset yang berkaitan dengan objek pengukuran untuk penilaian diri. 202 . dan di kelas 3 sebesar 47. yang dominan sebagai komponen variansi kesalahan pengukuran adalah penilai atau rater (R) dan item yang nested pada penilai (I:R). Sumber variansi komponen variansi kesalahan pengukuran yang lain yakni murid (P). di kelas 2 sebesar 46.

96 54098.80 4.70 100.4) Analisis Estimasi Komponen Varian Komponen Penilaian Kelompok Rangkuman analisis G study dari data uji coba komponen penilaian kelompok dapat disajikan sebagaimana pada Tabel 11.43 165.24 4595.03 6.68 4.00 381082. Hasil rangkuman analisis G study untuk penilaian kelompok di kelas 1.98 2.60 306093.00 Catatan: JK1 = sums of squares for mean scores.43 62284. dan di kelas 3 sebesar 62.72 51. kelas 2 dan di kelas 3 menunjukkan bahwa estimasi varian true skor yang terbesar dari faset yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) adalah sumber varians kesalahan pengukuran komponen penilai (R) dengan proporsi komponen varian di kelas 1 sebesar 61.75 2.13 362484.73 30.75 67844.56 1.16 17.07 4241.26 77.47 77.16 62.59 58671.85 14466.39%.167%.10 61.95 34.77 2.30 1311529.58 4439.23 308648. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Kelompok Sumber Variansi Murid (P) Penilai (R) I:R PR (Interaksi Murid dan Penilai) PI:R ( Interaksi Murid dan Item Nested pada Penilai) Total Kelas 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 JK1 153334.20 263997.84 20. 203 .88 265917.67 6106.99%.43 265.77 300.39 27.88 53238.43 57873.53 185882.95 53276.21 305622.67 177281.46 db 59 59 59 2 2 2 12 12 12 118 118 118 708 708 708 899 899 899 KR 126.60 151769.84 4439.80 331756.68 53272.87 0.30 1524234.42 2.47 1.84 20.93 297293.99 62.74 17.92 162. Penilai.92 108197.13 106476.60 4558.00 1308980.65 6.60 7.60 JK2 7461.03 27.03 Varian 4.00 100.55 189.75 13.22 % Total Varian 1.31 73.48 73.75 13.91 1.93 208358.68 4030. di kelas 2 sebesar 62.67 252349.28 255372. JK2 = sums of squares for score effects.69 90.75 35.64 184566.75 265. Kemudian berikutnya adalah sumber varians kesalahan pengukuran untuk komponen item yang nested pada penilai (I:R) dengan proporsi komponen Tabel 11 Estimasi Komponen Variansi Siswa.00 100.45 12566.86 124569.20 65190.35 5432.20 9797.00 331741.

interaksi murid dan item bersarang pada penilai (PI:R) proporsinya tampak lebih kecil terhadap varians hasil penilaian kelompok kualitas karya seni lukis dibanding pengaruh kedua sumber varians penilai (R) dan kriteria penilaian yang bersarang pada penilai (I:R). interaksi murid dengan penilai (PR). Kondisi yang demikian berarti faset yang berkaitan dengan objek pengukuran untuk penilaian kelompok. dan di kelas 3 sebesar 27. Untuk itu masih dibutuhkan juga latihan dan pengalaman bagi penilai dalam menggunakan alat penilaian kelompok untuk menilai kualitas karya seni lukis siswa untuk dapat meningkatkan tingkat konsistensi dan keajegan hasil penilaian serta tingkat kesepakatan pemahaman terhadap konstruk sasaran penilaian karya seni lukis untuk komponen penilaian kelompok di antara para penilai. peranan penilai (R) tetap merupakan sumber variansi kesalahan pengukuran yang terbesar seperti halnya pada komponen penilaian lainnya. varians kesalahan pengukuran yang dominan adalah penilai atau rater (R) dan item yang bersarang pada penilai (I:R). produk.03%. di kelas 2 sebesar 30. penilaian diri dan penilaian kelompok). Berdasarkan analisis komponen varians untuk dapat terbentuknya faset pengukuran yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admisible observations) kualitas karya seni lukis di kelas 1.73%.77%.varians di kelas 1 sebesar 27. Sumber varians komponen yang lain yakni murid (P). dapat disimpulkan bahwa komponen penilai (R) atau guru dan kriteria 204 . kelas 2 dan di kelas 3 pada semua komponen penilaian (proses. Dengan demikian penerapan alat penilaian karya seni lukis untuk komponen penilaian kelompok.

Linn. b. kedua sumber variansi ini harus diperhatikan secara seksama dalam usaha menyempurnakan alat penilaian kualitas karya seni lukis.1989:106) agar memenuhi syarat bagi penggunaan pada faset yang lebih luas. Hasil Analisis dipaparkan pada uraian berikut. di atas memberi petunjuk bahwa pengembangan alat penilaian kualitas karya seni lukis sudah menunjukkan indikasi kebermaknaan untuk digunakan sebagai sarana melakukan observasi. Oleh sebab itu dalam pengembangan ini. 1978: 245. penilaian diri dan penilaian kelompok. Untuk maksud tersebut dilakukan analisis lanjut terhadap hasil Genova (koefisien G) dan analisis tingkat perubahan koefisien G pada level analisis hasil D study. Untuk mengetahui apakah hasil pengembangan tersebut telah memenuhi standar minimal. dipakai persyaratan minimal koefisien G Sebesar 0. Hasil analisis komponen varians untuk penilaian proses.70 (Nunnaly. produk.penilaian yang nested pada penilai (I:R) merupakan sumber varians komponen varians kesalahan pengukuran yang utama. Koefisien G dari komponen-komponen penilaian kualitas karya seni lukis hasil uji coba menunjukkan bahwa secara keseluruhan pengembangan model instrumen penilaian kualitas karya seni lukis dapat diterima untuk digunakan melakukan penilaian pada faset yang lebih luas atau dengan kata lain telah memenuhi untuk kepentingan faset pengukuran yang berkaitan dengan objek 205 . Analisis Data Hasil G Study (Koefisien G) Hasil G study untuk mengetahui tingkat kebermaknaan penggunaan alat penilaian kualitas karya seni lukis dari uji coba di lapangan dapat dirangkum pada Tabel 12.

keterampilan dan pengalaman agar diperoleh hasil pengukuran yang konsisten.71. 206 .67* Keterangan (Linn ≥ 0. Penilaian Kelompok 5.86* 0.50 0.68* 0.71* *) memenuhi syarat menurut kriteria standard minimal Linn. maka model yang dikembangkan masih memerlukan penyempurnaan dalam hal administrasi penyelenggaraan yakni harus meningkatkan keterampilan guru sebagai penilai atau rater agar ada peningkatan pemahaman.70) >persyaratan <persyaratan <persyaratan >persyaratan <persyaratan <persyaratan <persyaratan <persyaratan <persyaratan >persyaratan >persyaratan >persyaratan >persyaratan <persyaratan <persyaratan Rerata Koefisien G 0.66* 0.74* 0. Produk 3. 0. maka terapan model penilaian pada faset di kelas 1 sudah memberikan bukti bahwa model yang dikembangkan dapat digunakan untuk penilaian pada faset yang lebih luas.76* 0.61 0. tetapi jika memperhatikan koefisien G pada terapan faset di kelas 2 dan di kelas 3. Tabel 12 Rangkuman Hasil G Study dan Koefisien G Pada Berbagai Komponen dan Berbagai Faset Terapan Uji Coba Komponen 1. Proses 2.62 0.63 0.91* 0.82* 0.65* 0. Penilaian Diri 4.65 0.67* 0.75* 0.70.pengukuran (universe of admissible observations) pada kualitas karya seni lukis anak yakni ditunjukkan oleh indeks koefisien G sebesar 0.81* 0.67* 0. Semua komponen Sasaran Uji (Faset) Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Jumlah Item 7 7 7 3 3 3 5 5 5 5 5 5 15 15 15 Koefisien G 0. Jika dilihat dari karakteristik faset uji coba untuk semua komponen.80* 0.

sedangkan untuk komponen penilaian produk dan penilaian diri masih memerlukan upaya penyempurnaan. Uraian berikut memaparkan hasil-hasil analisis D study ini. Analisis Data Hasil D Study Tujuan analisis D study adalah untuk menjawab pertanyaan rancangan D study yang mana harus dipilih dan seberapa banyak butir komponen penilaian harus dicakup sebagai sarana mengukur dan menilai kualitas karya lukis sehingga dapat menunjukkan kebermaknaan untuk faset yang lebih luas.Jika ditilik pada rerata komponen penilaian pada masing-masing kelompok ternyata untuk komponen penilaian proses dan penilaian kelompok telah memenuhi syarat untuk digunakan pada faset yang lebih luas. Dengan mencermati setiap tahap rancangan D study pada komposisi besar sampel tertentu maka akan dapat diperoleh informasi koefisien G dan juga diperoleh informasi berapa kenaikan indeks kebermaknaan pada koefisien G setelah satu butir komponen penilaian dilibatkan untuk mengukur atau menilai. c. Untuk menjawab pertanyaan ini dan tujuan tersirat didalamnya analisis pada setiap hasil D study dapat digunakan. 1) D Study untuk Penilaian Proses Rangkuman hasil analisis D-Study Genova untuk uji coba penilaian proses berturut-turut dapat disajikan pada Tabel 13 sampai dengan Tabel 15. maka tindakan untuk melatih guru agar berpengalaman dalam menggunakan alat penilaian ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kebermaknaan penggunaan model ini pada faset yang lebih luas. 207 . Berdasarkan elaborasi sumber variansi komponen variansi kesalahan pengukuran sebagaimana telah dibahas di atas.

Artinya penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai sebesar 60%. R = 3 dan I = 1) maka tingkat atau koefisien kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. maka tingkat atau koefisien kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.12791 0.60.Tabel 13 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Proses dan Tingkat Perubahan pada Kelas 1 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. R.22681 0.01 Tabel 13 berturut-turut memberi gambaran tentang perubahan koefisien Generalizability untuk berbagai komposisi ukuran sampel P. yaitu 0.04 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 001-006 001-007 60 60 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 6 7 0.70.82088 0.60437 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.85936 0.42308 0.46809 0. R INF I INF. GENERALIZABILITY COEF.02 0.91448 0. demikian seterusnya untuk rancangan 001-003 diperoleh koefisien sebesar 0.75341 0. penilai cukup menggunakan indikator 1 dan 2 saja Jika ingin meningkatkan tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi maka jumlah indikator penilaian 208 .02 0.30556 0.82. Untuk komponen penilaian proses di kelas 1 jika komposisinya hanya menggunakan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60. PHI Selisih Koefisien Genova 0.88424 0.90163 0. dengan P = 60.07 0.75.36976 0.50659 0.15 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2 (dapat dilihat pada Tabel 6). Berdasarkan kenyataan ini maka dapat dikatakan bahwa untuk mencapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas. dan I.

57128 0.01 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 001-006 001-007 60 60 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 6 7 0. Artinya penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai sebesar 38%. penilai harus menggunakan indikator 1.04082 0.04223 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. 4 dan 5 sekaligus. Jika ingin meningkatkan tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi maka 209 .02724 0.65527 0.04 0.13 0.50637 0.61040 0.03868 0.03500 0. jumlahnya tergantung pada kondisi faset yang bersangkutan Tabel 14 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Proses dan Tingkat Perubahan pada Kelas 2 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.03 0. 3. R INF I INF. Jika penilai menggunakan dua indikator (D study design nomor 001-002.38.51. dengan P = 60.66933 0.04322 0.45%.02 0.04396 dalam konteks ini jika 7 (tujuh) indikator digunakan maka akan dicapai koefisien kesepahaman dan kesepakatan sebesar 91.37765 0.63655 0.70. Berdasarkan kenyataan ini maka dapat dikatakan bahwa untuk mencapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas. PHI Selisih Koefisien Genova 0. minimal 0.harus ditambah. Tabel 14 memberi gambaran bahwa penilai dalam menggunakan komponen penilaian proses hanya dengan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2 memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.06 0. GENERALIZABILITY COEF. 2.

39. begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan kaoefisien sebesar 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.58.02894 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.52.66689 0.63724 0.04339 0. penilai harus menggunakan indikator 1 sampai dengan 6 secara simultan. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.04673 jumlah indikator penilaian harus ditambah. Berdasarkan kenyataan ini maka dapat dikatakan bahwa untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas.02 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002. dalam konteks ini jika 7 (tujuh) 210 . Jika ingin meningkatkan tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi maka penggunaan indikator penilaian harus ditambah.04594 0. jumlahnya tergantung pada kondisi faset yang bersangkutan.39277 0. R INF I INF.51665 0. jumlahnya tergantung pada kondisi faset yang bersangkutan Pada Tabel 15 memberi gambaran bahwa penilai dalam menggunakan komponen penilaian proses di kelas 3 jika hanya dengan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60. dengan P = 60.04111 0.12 0.01 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 001-006 001-007 60 60 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 6 7 0.65421 0.02 0.61338 0.57735 0.03720 0.04 0.Tabel 15 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Proses dan Tingkat Perubahan pada Kelas 3 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. GENERALIZABILITY COEF.04489 0.06 0.

dengan P = 60. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.31555 0. Tabel 16 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Produk dan Tingkat Perubahannya pada Kelas 1 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. Tetapi jika 211 .40882 Tabel 16 memberi gambaran bahwa penilai dalam menggunakan komponen penilaian produk di kelas 1 jika hanya menggunakan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. Menurut kenyataan ini maka dapat dikatakan bahwa untuk penggunaan komponen penilaian produk agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas.indikator digunakan semua dicapai koefisien kesepahaman dan kesepakatan mencapai 66. penilai cukup menggunakan indikator 1 dan 2 saja.68142 0. Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai sebesar 52%.68.16 0.52. 2) D Study untuk Penilaian Produk Rangkuman hasil analisis D-Study Genova untuk uji coba penilaian produk berturut-turut dapat disajikan pada Tabel 16 sampai dengan Tabel 18.18733 0. R INF I INF.51678 0.76. PHI Selisih Koefisien Genova 0. GENERALIZABILITY COEF. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.08 001-001 001-002 001-003 60 60 60 3 3 3 1 2 3 0.69%.76238 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002. begitu seterusnya untuk rancangan 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.

25.15429 0.40 begitu seterusnya untuk rancangan 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0. Tabel 17 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian produk di kelas 2 hanya dengan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60.08359 0. dengan P = 60.10 001-001 001-002 001-003 60 60 60 3 3 3 1 2 3 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.24922 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.15 0. Kenyataan ini menunjukkan bahwa untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas. Tabel 17 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Produk dan Tingkat Perubahan pada Kelas 2 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.21486 Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai sebesar 25%. penilai harus menggunakan semua indikator yang ada dan dianjurkan untuk menambah indikator lain yang sejenis untuk melengkapi jabaran konstruk yang ada sehingga 212 .39900 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0. R INF I INF.49896 0.50.ingin diperoleh tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi maka penggunaan indikator 1 dan 2 bersama sekaligus dengan indikator nomor 3 sangat dianjurkan. GENERALIZABILITY COEF.

Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas. penilai harus menggunakan indikator yang ada dan ditambah lagi indikator lain untuk melengkapi jabaran konstruk yang ada sehingga dapat dicapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi. PHI Selisih Koefisien Genova 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. GENERALIZABILITY COEF. 213 . R INF I INF. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.35.Tabel 18 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian produk di kelas 3 hanya dengan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60. Penambahan indikator sejenis yang relevan untuk meningkatkan kebermaknaan penilaian produk di kelas 2 memerlukan telaah lanjut tersendiri.10 001-001 001-002 001-003 60 60 60 3 3 3 1 2 3 0.12330 0.21953 0.17 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.62.52 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0. dengan P = 60.29672 dapat dicapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi.62263 0.52380 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (D study design nomor 001-002.35483 0. Artinya 35% penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai.Tabel 18 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Produk dan Tingkat Perubahan pada Kelas 3 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.

memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2. penilai paling tidak harus menggunakan indikator 1.46320 0.05585 0. 214 .08861 0.09222 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian diri di kelas 1 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60.05 0. 3 dan 4.02 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. GENERALIZABILITY COEF. Artinya 46% penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian diri.63325 0.46.70). Tabel 19 Tabel 19 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Diri dan Tingkat Perubahan pada Kelas 1 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. 2. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.58001 0.03 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0.68342 0. Untuk mencapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi seyogianya semua indikator yang ada digunakan secara simultan. dengan P = 60. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0.3) D Study untuk Penilaian Diri Rangkuman hasil analisis D-Study Genova untuk uji coba penilaian diri berberturut-turut dapat disajikan pada Tabel 19 sampai dengan Tabel 21.63.66370 0.08319 0. R INF I INF.58 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.07412 0.12 0.

dengan P = 60.13 0. 215 .02095 0. Artinya penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian diri sebesar 33%.03495 0.70).05 0. penilai paling tidak harus menggunakan semua indikator yang ada. R INF I INF.53194 0.32649 0.45963 0.02818 0.60852 0.46 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0. R = 3 dan I = 1) Tabel 20. GENERALIZABILITY COEF. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangn D study nomor 001-002.57735 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0. Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Diri dan Tingkat Perubahan pada Kelas 2 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.07 0.03 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.Tabel 20 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian diri di kelas 2 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60.03184 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.33.53.03553 memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. Untuk mencapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi semua indikator yang ada dipakai dan jika memngkinkan ditambah lagi indikator lain dan digunakan secara simultan.

Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0.58839 0.04534 0. dengan P = 60.63114 0.Tabel 21. R INF I INF.70).05721 Tabel 21 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian diri di kelas 3 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60.14 0. 216 .05482 0.07 0.03 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0. Artinya 38% penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian diri yang dipakai.59. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.38.65991 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancngan D study nomor 001-002. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.51820 0. 4) D Study untuk Penilaian Kelompok Rangkuman hasil analisis D-Study Genova untuk uji coba penilaian kelompok berturut-turut dapat disajikan pada Tabel 22 sampai dengan Tabel 24. penilai paling tidak harus menggunakan semua indikator yang ada.04 0.38162 0.03369 0.05125 0.52 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0. GENERALIZABILITY COEF. Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Diri dan Tingkat Perubahan pada Kelas 3 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.

54316 Tabel 22 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian kelompok di kelas 1 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0.Tabel 22 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Kelompok dan Tingkat Perubahan pada Kelas 1 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. penilai sudah cukup hanya menggnakan butir indikator 1 dan 2 saja. 217 . tetapi jika ingin mendapatkan tingkat kebermaknaan yang lebih tinggi penggunaan semua butir indikator yang ada lebih dianjurkan.19211 0.78611 0.85966 0.79.71016 0.16 0. Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian kelompok yang dipakai sebesar 55%.83052 0. GENERALIZABILITY COEF.48748 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0. R INF I INF. dengan P = 60.03 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.41635 0.70).08 0.32230 0.55058 0.04 0.71 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.55.

Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian kelompok yang dipakai sebesar 48%.70).09 0.47823 0. R = 3 dan I = 1).37840 Tabel 23 memberi gambaran bahwa jika penilai menggunakan komponen penilaian kelompok di kelas 2 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60.32757 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2. PHI Selisih Koefisien Genova 0.10856 0.17 0.82088 0.73. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. maka besarnya koefisien reliabilitas dalam koefisien G adalah sebesar 0.73331 0.78569 0.64703 0. GENERALIZABILITY COEF. Tabel 24 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian kelompok di kelas 3 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60. penilai sudah cukup hanya menggnakan butir indikator 1 dan 2 saja.48. R INF I INF.Tabel 23 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Kelompok dan Tingkat Perubahan pada Kelas 2 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0.19586 0.05 0. tetapi jika ingin mendapatkan tingkat kebermaknaan yang lebih tinggi dianjurkan menggunakan semua butir indikator yang ada.36.26759 0.65 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. 218 . dengan P = 60.04 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0.

63.10883 0. GENERALIZABILITY COEF. Secara umum hasil analisis D study telah memberi petunjuk dan alternatif penggunaan alat penilaian kepada pengguna instrumen penilaian kualitas karya seni lukis untuk mempertimbangkan penggunaan indikator-indikator penilaian yang relevan dengan sasaran yang dinilai dan mempertimbangkan tingkat reliabilitas kebermaknaan hasil penilaian.32818 0.17 0.10 0.69224 0. penilai sudah cukup hanya menggunakan butir indikator 1. 2.53 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0. tetapi jika ingin mendapatkan tingkat kebermaknaan yang lebih tinggi dianjurkan menggunakan semua butir indikator yang ada. 3 dan 4 saja.06 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.35993 0.70). PHI Selisih Koefisien Genova 0.73765 0.52934 0. R INF I INF.05 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.19630 0.26813 0.62784 0. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa ada beberapa rancangan dari hasil D study yang 219 . dengan P = 60.Tabel 24 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Kelompok dan Tingkat Perubahan pada Kelas 3 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.37912 Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian kelompok yang dipakai sebesar 36% Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0.

2. Pada penilaian proses ini. berikut ini disajikan hasil analisis koefisien interrater. dan kelas 3.mereferensikan perlunya penambahan indikator untuk komponen penilaian tertentu yaitu untuk komponen-komponen penilaian produk dan penilaian diri untuk sasaran penilaian kelompok tertentu. Koefisien interrater merupakan salah satu sarana untuk melihat tingkat konsistensi atau keajegan antar penilai dalam memberikan rating terhadap unjuk kerja karya seni lukis siswa. Tabel 26 untuk kelas 2. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai proses kelas 1 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.75. dan Tabel 27 untuk kelas 3. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. yaitu sebesar 0. Tabel 25 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketujuh item yang dirating tersebut.71 .73. 220 . ada 7 (tujuh) item yang menjadi objek penilaian. Rangkuman hasil perhitungan konsistensi dan kesepakatan tiga rater tersebut disajikan pada Tabel 25 untuk kelas 1. Untuk keperluan ini. peneliti menggunakan koefisien Cohen’s Kappa. dan antara UD dengan DI sebesar 0. kelas 2.73. Koefisien Interrater pada Penilaian Proses Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian proses instrumen pendidikan seni lukis anak untuk kelas 1. yaitu 0. Data Uji Coba Koefisien Interrater Konfirmasi data hasil uji coba dari hasil Anava. a.

65 0.70 0.67.63 0.79 0.68 0.75 0. Tabel 26 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketujuh item yang dirating tersebut.70.74 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 67%. yaitu 0.68 0.71 0.81 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0.78 0.68 0.Tabel 25 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Proses Kelas 1 Penilai 1 0.67 0. Nilai koefisien κ 221 .84 0. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas.82 3 ST 4 5 6 7 1 2 3 UD 4 5 6 7 UD DI 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 73% .72 0.67.81 0.72 2 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.77 0. yaitu sebesar 0. yaitu 0.78 0.70 0.70. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai proses kelas 2 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.64.

71 222 .65 0.63 0.73 0.62 0.77 0.67 0.55 0.68 0.59 0.66 0.9 0.61 2 0.70 0.73 0.64 0.64 0.68 0.69 0.7 0.76 0. syarat 1978:245 Linn.71 3 4 5 6 7 1 2 3 UD 4 5 6 7 UD DI 0.75 0.56 0.56 0.69 0.74 0.81 0.6 0.75 0.66 0.85 0. Tabel 27 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Proses Kelas 3 Penilai ST 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 1 0.65 3 4 5 6 7 1 2 3 UD 4 5 6 7 UD DI tersebut mendekati kriteria minimal yang digunakan.63 2 0.67 0.81 0.70 (Nunally. sehingga instrumen tersebut mendekati koefisien reliabilitas.61 0.57 0.76 0. yaitu 0.62 0.57 0.Tabel 26 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Proses Kelas 2 Penilai ST 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 1 0.46 0. 1989:106).

dan kelas 3. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas. yaitu 0. Tabel 28 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga item yang dirating tersebut.73.74. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. Tabel 29 untuk kelas 2. yaitu sebesar 0. b. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menila proses kelas 3 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. ada 3 (tiga) item yang menjadi objek penilaian.88.88.70. yaitu 0. 223 . Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 73%.88. yaitu sebesar 0.63. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai produk kelas 1 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. dan antara UD dengan DI sebesar 0. Koefisien Interrater pada Penilaian Produk Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian proses instrumen pendidikan seni lukis anak untuk kelas 1.Tabel 27 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketujuh item yang dirating tersebut.88.68. yaitu 0. Pada penilaian produk ini. Rangkuman hasil perhitungan konsistensi dan kesepakatan tiga rater tersebut disajikan pada Tabel 28 untuk kelas 1. dan Tabel 30 untuk kelas 3. kelas 2. dan antara UD dengan DI sebesar 0.

97.85 0.92 0.85 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. 224 . dan antara UD dengan DI sebesar 0.92 0.88 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai produk kelas 2 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.97. yaitu 0.96.70.88 2 3 1 UD 2 3 Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 88%.70.88 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 97%. yaitu sebesar 0.Tabel 28 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Produk Kelas 1 Penilai ST 1 1 UD 2 3 1 DI 2 3 0.85 0. yaitu 0. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas. Pada Tabel 29 menunjukkan koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga item yang dirating tersebut.97. yaitu 0.92 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas.

95 0.92.93 0.95 0.Tabel 29 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Produk Kelas 2 Penilai ST 1 1 UD 2 3 1 DI 2 3 0.93 0. yaitu sebesar 0.93 0.98 0.93 0.93. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai Tabel 30 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Produk Kelas 3 Penilai ST 1 1 UD 2 3 1 DI 2 3 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0.82 2 3 1 UD 2 3 secara keseluruhan dalam menilai produk kelas 3 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.98 0.89.98 0.98 2 3 1 UD 2 3 Tabel 30 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga item yang dirating tersebut. yaitu 0.98 0.90 0.94.95 0.98 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.98 0.93 0.95 0. 225 .

dan antara UD dengan DI sebesar 0. yaitu 0. yaitu 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai penilaian diri kelas 1 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. yaitu 0. Pada penilaian diri ini.82.82. kelas 2.70. dan Tabel 33 untuk kelas 3.84. Tabel 31 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut. yaitu sebesar 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman yang sama terhadap konstruk penilaian sebesar 82%. c.Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman yang sama terhadap kostruk penilaian sebesar 92%. Rangkuman hasil perhitungan konsistensi dan kesepakatan tiga rater tersebut disajikan pada Tabel 31 untuk kelas 1. 226 .70. Tabel 32 untuk kelas 2. ada 5 (lima) item yang menjadi objek penilaian. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas. dan kelas 3.82. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. Koefisien Interrater pada Penilaian Diri Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian diri instrumen pendidikan seni lukis anak untuk kelas 1.

65.50 0.63 ST 3 4 5 1 2 UD 3 4 5 U D D I Tabel 32 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut. Tingkat konsistensi dan kesepakatan Tabel 32 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Diri Kelas 2 Penilai ST UD 1 2 3 4 5 1 2 3 4 1.81 0.84.53 0.55 0.86 0.67.87 0.85 0.89 0.66 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.76 0.73 227 .74 0.84 0.Tabel 31 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Diri Kelas 1 Penilai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0.74 5 U D D I 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 0.00 0.73 0.56 0.92 0.88 0.88 0.88 0.54 0.57 0.77 1.96 0.77 0.85 0.00 0. yaitu 0.89 2 0.

yaitu 0.76 0.68. dan antara UD dengan DI sebesar 0.91 0. yaitu 0.40 0.76 0. Tabel 33 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Diri Kelas 3 Penilai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 0.79 0.penilai secara keseluruhan dalam menilai penilaian diri kelas 2 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.82 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman yang sama terhadap konstruk penilaian sebesar 72%. yaitu sebesar 0.0% ketiga penilai tersebut memiliki 228 . sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat reliabilitas. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa 75.50 0.75.70.75. yaitu sebesar 0.82 2 0.72.80 0.62 0.91 0.76 0.84.82 0.85 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam peilaian diri kelas 3 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga pasangan tersebut.82 ST 3 4 5 1 2 UD 3 4 5 U D D I Tabel 33 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut.

Nilai koefisien κ tersebut lebih kecil dari kriteria minimal yang digunakan.44. dan Tabel 36 untuk kelas 3.64 (Cohen & Swerdlik. Rangkuman hasil perhitungan konsistensi dan kesepakatan tiga rater tersebut disajikan pada Tabel 34 untuk kelas 1.48. Tabel 35 untuk kelas 2. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. sehingga instrumen tersebut belum memenuhi syarat koefisien reliabilitas. d. 2005: 143). 229 .59. yaitu 0.70. dan kelas 3.51. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 51%. yaitu 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat reliabel. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. ada 5 (lima) item yang menjadi objek penilaian. Koefisien Interrater pada Penilaian Kelompok Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian kelompok instrumen pendidikan seni lukis anak untuk kelas 1. kelas 2. yaitu 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam penilaian kelompok kelas 1 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga pasangan tersebut. yaitu sebesar 0. Tabel 34 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut. Pada penilaian kelompok ini.persepsi dan pemahaman yang sama terhadap kostruk penilaian.

53 0.46 Tabel 35 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam penilaian kelompok kelas 2 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.49 0.38 0.48 0.70.52 0.37 0.49 0. yaitu sebesar 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih kecil dari kriteria minimal yang digunakan. yaitu 0.69 0.56 0.61 5 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0.29 0.37.55 0.U D D I 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Tabel 34 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Kelompok Kelas 1 Penilai ST UD 1 2 3 4 5 1 2 3 4 0.67 0. 230 .34.29. yaitu 0. sehingga instrumen tersebut belum memenuhi syarat koefisien reliabilitas. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 33%.54 0.33.

75.11 0.72 0.45 0.69.74.83 0.21 0.Tabel 35 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Kelompok Kelas 2 Penilai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 0.46 0.27 0.62 0.71 0.76 0.79 2 0.57 ST 3 4 5 1 2 UD 3 4 5 U D D I 231 . dan antara UD dengan DI sebesar 0.20 0.26 0.82 0.32 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam penilaian kelompok kelas 3 dapat diketahui dengan Tabel 36 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Kelompok Kelas 3 Penilai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 0. yaitu 0.39 ST 3 4 5 1 2 UD 3 4 5 U D D I Tabel 36 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut.78 0.14 0.86 0.20 0.77 0.76 0.48 2 0.41 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.76 0.42 0.65 0.68 0.55 0.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya. Tahap revisi dalam setiap tahap pengembangan berkaitan dengan revisi indikator. perbandingan kedua pendekatan tersebut disajikan berikut. yaitu sebesar 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 73%. instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas. analisis kesepakatan dan kesepahaman rater terhadap konstruk instrumen digunakan dua 232 . kriteria dan rubrik. Namun demikian. 1. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. yaitu 0. Revisi Produk Bagian revisi produk dalam pengembangan instrumen penilaian seni lukis dalam disertasi ini mengikuti revisi produk dalam setiap tahap pengembangan. sehingga C. deskripsi. Kajian Produk Hasil analisis tingkat kesepahaman dan kesepakatan rater (reliabilitas interrater) dengan menggunakan koefisien Genova dan koefisien Cohen Kappa menunjukkan bahwa instrumen penilaian seni lukis telah memenuhi syarat/kriteria minimal reliabilitas yang digunakan.70. Penilaian Proses Penilaian proses instrumen penilaian seni lukis dilakukan oleh 3 (tiga) orang rater terhadap 60 orang siswa dengan 7 (tujuh) indikator instrumen. dan pedoman penggunaan instrumen penilaian seni lukis pada tahap focus group discussion (FGD) dan seminar.mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.73. D.

pendekatan Genova lebih lengkap karena melibatkan tiga dimensi sementara pendekatan kappa hanya dua dimensi. 233 .73 0. Dengan demikian. Dalam kaitan dengan ini. peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan/menetapkan relibilitas antar penilai. Rangkuman perbandingan koefisien kedua pendekatan tersebut disajikan pada Tabel 37 Tabel 37 Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Proses Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Koefisien Genova 0. Koefisien Genova untuk Kelas 2 sama dengan koefisien kappa. peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan relibilitas antar rater. estimasi dengan Genova lebih memberikan hasil kesepakatan dan kesepahaman rater yang lebih kuat dibandingkan dengan koefisien kappa.04 Tabel 37 memberi gambaran bahwa koefesien Genova untuk kelas 1 pada penilaian proses lebih tinggi dibandingkan dengan koefisien kappa. Hal ini memberi gambaran bahwa kedua pendekatan yang digunakan memberikan hasil yang sama.91 0. sementara metode Cohen kappa tidak diperhatikan. Walaupun demikian.18 0. Jadi varians kesalahan dengan metode Genova lebih diperhitungkan dalam analisis.73 Selisih 0. Oleh karena itu.pendekatan yaitu pendekatan Genova dan pendekatan Cohen Kappa.67 0.67 Koefisien Kappa 0.67 0.00 0.

Sama dengan kasus kelas 2, koefisien Genova untuk kelas 3 lebih rendah dibandingkan dengan koefisien kappa. Dalam kasus ini, peneliti masih menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova dibandingkan dengan koefisien kappa. Hal tersebut disebabkan karena sumber varians kesalahan pada analisis koefisien kappa belum diperhatikan sehingga memberikan hasil yang lebih tinggi. Jika varians kesalahan diperhatikan maka kemungkinan akan memberikan hasil yang kurang lebih sama dengan yang diperoleh melalui koefisien Genova.
2. Penilaian Produk

Penilaian produk instrumen penilaian seni lukis dilakukan oleh 3 (tiga) orang rater terhadap 60 orang siswa dengan 3 (tiga) indikator instrumen. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, analisis kesepakatan dan kesepahaman rater terhadap konstruk instrumen digunakan dua pendekatan yaitu pendekatan Genova dan pendekatan Cohen Kappa. Rangkuman perbandingan koefisien kedua pendekatan tersebut disajikan pada Tabel 38. Tabel 38 Perbadingan koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Produk Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Koefisien Genova
0,76 0,49 0,62

Koefisien Kappa
0,88 0,97 0,92

Selisih 0,12 0,48 0,30

Tabel 38 memberi gambaran bahwa koefesien Genova untuk kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 pada penilaian produk lebih rendah dibandingkan dengan koefisien 234

kappa. Dalam kaitan dengan ini, estimasi dengan Genova lebih memberikan hasil kesepakatan dan kesepahaman rater yang lebih kuat dibandingkan dengan koefisien kappa. Oleh karena itu, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan relibilitas antar rater. Pendekatan Genova lebih lengkap karena melibatkan tiga dimensi, sementara pendekatan kappa hanya dua dimensi. Jadi varians kesalahan dengan metode Genova lebih diperhitungkan dalam analisis, sementara metode Cohen kappa tidak diperhatikan, Sumber varians kesalahan pada analisis koefisien kappa

belum diperhatikan sehingga memberikan hasil yang lebih tinggi. Jika varians kesalahan diperhatikan maka kemungkinan akan memberikan hasil yang kurang lebih sama dengan yang diperoleh melalui koefisien Genova. Dengan demikian, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan/menetapkan relibilitas antar penilai.
3. Penilaian Diri

Penilaian diri pada instrumen penilaian seni lukis dilakukan oleh 3 (tiga) orang rater terhadap 60 orang siswa dengan 5 (lima) indikator instrumen. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, analisis kesepakatan dan kesepahaman rater terhadap konstruk instrumen digunakan dua pendekatan yaitu pendekatan Genova dan pendekatan Cohen Kappa. Rangkuman perbandingan koefisien kedua pendekatan tersebut disajikan pada Tabel 39.

235

Tabel 39 Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Diri Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Koefisien Genova
0,68 0,61 0,66

Koefisien Kappa 0,82 0,72 0,75

Selisih 0,14 0,11 0,09

Tabel 39 memberi gambaran bahwa koefesien Genova untuk kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 pada penilaian diri lebih rendah dibandingkan dengan koefisien kappa. Dalam kaitan dengan ini, estimasi dengan Genova lebih memberikan hasil kesepakatan dan kesepahaman rater yang lebih kuat dibandingkan dengan koefisien kappa. Oleh karena itu, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan relibilitas antar rater, Pendekatan Genova lebih lengkap karena melibatkan tiga dimensi sementara pendekatan kappa hanya dua dimensi. Jadi varians kesalahan dengan metode Genova lebih diperhitungkan dalam analisis sementara metode Cohen kappa kesalahan pada analisis koefisien kappa

tidak diperhatikan, Sumber varians

belum diperhatikan sehingga memberikan hasil yang lebih tinggi. Jika varians kesalahan diperhatikan maka kemungkinan akan memberikan hasil yang kurang lebih sama dengan yang diperoleh melalui koefisien Genova. Dengan demikian, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan/menetapkan relibilitas antar penilai.

236

4. Penilaian Kelompok

Penilaian kelompok pada instrumen penilaian seni lukis dilakukan oleh 3 (tiga) orang rater terhadap 60 orang siswa dengan 5 (lima) indikator instrumen. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, analisis kesepakatan dan kesepahaman rater terhadap konstruk instrumen digunakan dua Tabel 40 Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Kelompok Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Koefisien Genova
0,86 0,82 0,74

Koefisien Kappa 0,51 0,33 0,73

Selisih 0,35 0,49 0,01

pendekatan yaitu pendekatan Genova dan pendekatan Cohen Kappa. Rangkuman perbandingan koefisien kedua pendekatan tersebut disajikan pada Tabel 40. Tabel 40 memberi gambaran bahwa koefesien Genova untuk kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 pada penilaian kelompok lebih tinggi dibandingkan dengan koefisien kappa. Dalam kaitan dengan ini, estimasi dengan Genova lebih memberikan hasil kesepakatan dan kesepahaman rater yang lebih kuat dibandingkan dengan koefisien kappa. Oleh karena itu, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan relibilitas antar rater.
5. Tren Perkembangan Koefisien Genova

Tren perkembangan koefisien Genova hasil penilaian 3 (tiga) orang rater pada penilaian instrumen seni lukis baik untuk penilaian proses, produk, penilaian 237

diri, dan penilaian kelompok disajikan pada gambar berikut.
a. Penilaian Proses Kelas 1

Koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 1 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater, Gambar 64 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 1 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Sebagai bahan perbandingan, kedua persamaan disajikan sebagai berikut. Tabel 41 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 1 Persamaan Linear
y = 0,0461x + 0,6355

Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik)
y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985

dengan: y = estimasi koefisien Genova,
x = banyak item yang dirating oleh rater,

Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 82,34%, sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam

memprediksi sebesar 97,5% sebagaimana yang tampak pada Gambar 64. Berdasarkan tingkat determinasi ini, tampak bahwa persamaan non-linear memberikan besarnya koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 4 ditulis

238

x =4, maka koefisien Genova untuk masing-masing persamaan diperoleh dengan

mensubstitusikan x =4 pada kedua persamaan seperti ditunjukan berikut: Tabel 42 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =4 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0,0461x + 0,6355 = 0,0461(4) + 0,6355 = 0,8199 Persamaan non-linear y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985 = −0,0114(4) 2 + 0,1374(4) + 0,4985 = 0,8657

Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 4 menggunakan persamaan linear adalah 0,8199, sedangkan bila menggunakan persamaan non-linear adalah 0,8657. Adapun koefisien Genova yang

sesungguhnya untuk x =4 adalah 0,85936. Hasil ini menunjukkan bahwa persamaan non-linear memberikan hasil yang lebih akurat, namun penafsirannya
Y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985

R2 = 0,975

Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear

,

,

,

Gambar 64. Tren perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 1 adalah banyak item yang dirating maksimum 6, karena lebih dari itu ditafsirkan tidak banyak berubah, walau pada grafik menunjukkan penurunan. Karakteristik

ini muncul sebagai akibat sifat-sifat yang berlaku pada persamaan non-linear 239

(kuadratik). Pada jumlah item < 6, kurva cenderung naik itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. Namun kurva akan cenderung turun setelah mencapai titik kulminasi yaitu untuk x =6. Akibatnya untuk jumlah item>6 kecenderungan estimasi koefisien Genova akan mengalami penurunan. Secara matematik penentuan titik kulminasi atau titik maksimum dilakukan dengan menggunakan konsep turunan pertama fungsi sebagai berikut:

y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985 y 1 = 2.(−0,0114) x + 0,1374
Nilai x yang menyebabkan y bernilai maksimum diperoleh dengan mmbuat dengan nol ditulis y 1 = 0

y1

y 1 = 2.(−0,0114) x + 0,1374 0 = 2.(−0,0114) x + 0,1374 x= 0,1374 = 6,026 ≈ 6 2.0,0114

Jadi estimasi nilai koefisien Genova maksimum terjadi pada saat item yang dirating sebanyak 6 buah. Adapun nilai koefisien Genovanya dientukan sebagai berikut. y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985

= −0,0114(6) 2 + 0,1374(6) + 0,4985 = 0,9125
b. Penilaian Proses Kelas 2

Koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 2 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang

240

3984 Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0.0099 x 2 + 0. Berdasarkan tingkat determinasi ini.30%.47%. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 6 ditulis x =6. Gambar 65 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 2 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik).0442 x + 0. x = banyak item yang dirating oleh rater. kedua persamaan disajikan sebagai berikut.dirating oleh rater. sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam memprediksi sebesar 98. maka koefisien Genova untuk masingmasing persamaan diperoleh dengan mensubstitusikan persamaan seperti ditunjukan berikut: x =6 pada kedua 241 .1233 x + 0. Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 85. Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating.2798 dengan: y = estimasi koefisien Genova. Sebagai bahan perbandingan. Tabel 43 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 2 Persamaan Linear y = 0. tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik.

adanya pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti. Karakteristik ini muncul sebagai akibat sifatsifat yang berlaku pada persamaan non-linear (kuadratik). Pada jumlah item < 6. Hasil ini menunjukkan bahwa persamaan non-linear memberikan hasil yang lebih akurat. Berdasarkan Gambar 65.0442(6) + 0.0442 x + 0. pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan karakteristik yang unik.65527.6632 Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 6 menggunakan persamaan linear adalah 0.1233(6) + 0.6636.3984 = 0. Namun demikian. Namun kurva akan cenderung turun setelah mencapai titik kulminasi yaitu u ntuk x = 6.Tabel 44 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =6 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0.1233 x + 0. Adapun koefisien Genova yang sesungguhnya untuk x =6 adalah 0.3984 = 0. Akibatnya untuk jumlah item >6 kecenderungan estimasi koefisien Genova akan mengalami penurunan. terutama untuk jumlah item yang banyak.0099(6) 2 + 0.6636 Persamaan non-linear y = −0. kurva cenderung naik itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating.6632.2798 = 0. sedangkan menggunakan persamaan non-linear 0.0099 x 2 + 0. Secara matematis penentuan titik kulminasi atau titik maksimum dilakukan dengan 242 .2798 = −0.

y = − 0 ,0099 x 2 + 0 ,1233 x + 0 , 279

R2 = 0,983

Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear

,

,

,

Gambar 65. Tren perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 2 menggunakan konsep turunan pertama fungsi sebagai berikut:
y = −0,0099 x 2 + 0,1233x + 0,2798 y 1 = 2.(−0,0099) x + 0,1233

Nilai

x

yang menyebabkan

y

bernilai maksimum diperoleh dengan

menyamadengankan y 1 dengan nol ditulis y 1 = 0
y 1 = 2.(−0,0099) x + 0,1233 0 = 2.(−0,0099) x + 0,1233 x=

0,1233 = 6.227 ≈ 6 2.0,0099

Jadi estimasi nilai koefisien Genova maksimum terjadi pada saat item yang dirating sebanyak 6 buah. Adapun nilai koefisien Genovanya dientukan sebagai berikut.
y = −0,0099 x 2 + 0,1233 x + 0,2798

243

= −0,0099(6) 2 + 0,1233(6) + 0,2798 = 0,6632
c. Penilaian Proses Kelas 3

Koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 3 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater, Gambar 66 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 3 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Sebagai bahan perbandingan, kedua persamaan disajikan sebagai berikut. Tabel 45 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 3 Persamaan Linear
y = 0,0413x + 0,4144

Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0,0095 x 2 + 0,1174 x + 0,3003

dengan:

y = estimasi koefisien Genova,
x = banyak item yang dirating oleh rater,

Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 84,64%, sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam

memprediksi sebesar 98,10% sebagaimana tampak pada Gambar 66. Berdasarkan tingkat determinasi ini, tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan 244

memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 3 ditulis
x =3, maka koefisien Genova untuk masing-masing persamaan diperoleh dengan

mensubstitusikan x =3 pada kedua persamaan seperti ditunjukan berikut: Tabel 46 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =3 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0,0413x + 0,4144 = 0,0413(3) + 0,4144 = 0,5383 Persamaan non-linear y = −0,0095 x 2 + 0,1174 x + 0,3003 = −0,0095(3) 2 + 0,1174(3) + 0,3003 = 0,567

Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 3 menggunakan persamaan linear adalah 0,5383, sedangkan bila menggunakan

y = − 0 , 0095 x 2 + 0 ,1174 x + 0 , 3003

R2 = 0,981

Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear

,

,

,

Gambar 66. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 3

245

persamaan non-linear sebesar 0,567.

Adapun koefisien Genova yang

sesungguhnya untuk x =3 adalah 0,57735. Dari hasil ini tampak persamaan nonlinear memberikan pendekatan yang lebih akurat. Namun demikian, adanya pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti, terutama untuk jumlah item yang banyak. Berdasarkan Gambar 66, pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan karakteristik yang unik. Karakteristik ini muncul sebagai akibat sifat-sifat yang berlaku pada persamaan non-linear (kuadratik). Pada jumlah item < 6, kurva cenderung naik itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. Namun kurva akan cenderung turun setelah mencapai titik kulminasi yaitu untuk x =6. Akibatnya untuk jumlah item>6 kecenderungan estimasi koefisien Genova akan mengalami penurunan. Secara matematis penentuan titik kulminasi atau titik maksimum dilakukan dengan menggunakan konsep turunan pertama fungsi sebagai berikut: y = −0,0095 x 2 + 0,1174 x + 0,3003 y 1 = 2.(−0,0095) x + 0,1174 Nilai
x

yang menyebabkan

y

bernilai maksimum diperoleh dengan

menyamadengankan y 1 dengan nol ditulis y 1 = 0
y 1 = 2.(−0,0099) x + 0,1174 0 = 2.(−0,0095) x + 0,1174 0,1174 x= = 6,179 ≈ 6 2.0,0095 Jadi estimasi nilai koefisien Genova maksimum terjadi pada saat item yang dirating sebanyak 6 buah. Adapun nilai koefisien Genovanya sebagai berikut.

246

y = −0,0095 x 2 + 0,1174 x + 0,3003 = −0,0095(6) 2 + 0,1174(6) + 0,3003 = 0,6627
d. Penilaian Produk Kelas 1

Koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 1 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater, Gambar 67 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 1 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Sebagai bahan perbandingan, kedua persamaan disajikan sebagai berikut. Tabel 47 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 1 Persamaan Linear y = 0,1228 x + 0,4079 Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0,0418 x 2 + 0,2902 x + 0,2685

dengan:

y = estimasi koefisien Genova,
x = banyak item yang dirating oleh rater,

Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 96,2%, sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam

memprediksi sebesar 100% sebagaimana tampak pada Gambar 67. Berdasarkan tingkat determinasi ini, tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan 247

memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 3 ditulis
x =3, maka koefisien Genova untuk masing-masing persamaan diperoleh dengan

mensubstitusikan x =3 pada kedua persamaan seperti ditunjukan berikut: Tabel 48 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =3 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0,1228 x + 0,4079 = 0,1228(3) + 0,4079 = 0,7763 Persamaan non-linear y = −0,0418 x 2 + 0,2902 x + 0,2685 = −0,0418(3) 2 + 0,2902(3) + 0,2685 = 0,7629

Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 3 menggunakan persamaan linear adalah 0,7763, sedangkan menggunakan persamaan non-linear 0,7629. Adapun koefisien Genova yang sesungguhnya

y = − 0 , 0418 x 2 + 0 , 2902 x + 0 , 268

R 2 = 1,000

Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear

,

,

,

Gambar 67. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 1

248

untuk x =3 adalah 0,76238. Hasil ini menunjukkan bahwa persamaan non-linear memberikan pendekatan yang lebih akurat. Namun demikian, adanya

pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti, terutama untuk jumlah item yang banyak. Berdasarkan Gambar 67, pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan kurva cenderung monoton naik untuk setiap jumlah item yang dirating, itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. Karena kecenderungan kurva yang monoton naik, maka nilai maksimum koefisien genova terjadi untuk banyaknya item yang dirating 3 atau x = 3 , adapun nilai koefisien Genovanya sebagai berikut: y = −0,0418 x 2 + 0,2902 x + 0,2685 = −0,0418(3) 2 + 0,2902(3) + 0,2685 = 0,7629
e. Penilaian Produk Kelas 2

Koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 2 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater, Gambar 68 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 2 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Sebagai bahan perbandingan, kedua persamaan disajikan sebagai berikut.

249

Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 2 ditulis x =2. tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik. Berdasarkan tingkat determinasi ini.0249 x 2 + 0.0249 x 2 + 0.3825 Persamaan non-linear y = −0. sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam memprediksi sebesar 100%. x = banyak item yang dirating oleh rater.0496 = −0.69%.1249 x + 0.2245(2) + 0.1249(2) + 0.1249 x + 0.2245 x + 0.Tabel 49 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 2 Persamaan Linear y = 0.0496 = 0. Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 98.1327 Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0.2245 x + 0.1327 = 0. maka koefisien Genova untuk masingmasing persamaan diperoleh dengan mensubstitusikan persamaan seperti ditunjukan berikut: Tabel 50 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =2 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0.3990 x =2 pada kedua 250 .0496 dengan: y = estimasi koefisien Genova.1327 = 0.0249(2) 2 + 0.

untuk Adapun koefisien Genova yang sesungguhnya x =2 adalah 0.000 Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear . 2245 x + 0 . . terutama untuk jumlah item yang banyak. Karena kecenderungan kurva yang monoton naik. sedangkan menggunakan persamaan non-linear 0.3825. adapun nilai koefisien Genovanya sebagai berikut: 251 . 0249 x 2 + 0 . maka nilai maksimum koefisien Genova terjadi untuk banyaknya item yang dirating 3 atau x = 3 .3990. Gambar 68.3990. . itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. adanya pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti.Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 2 menggunakan persamaan linear adalah 0. y = − 0 . 0496 R 2 = 1. Namun demikian. Dari hasil ini tampak persamaan non-linear memberikan pendekatan yang lebih akurat. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 2 Gambar 68 menunjukkan bahwa pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan kurva cenderung monoton naik untuk setiap jumlah item yang dirating.

2326 Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0. Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating.0496 = 0.0496 = −0. Sebagai bahan perbandingan. Tabel 51 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 3 Persamaan Linear y = 0. x = banyak item yang dirating oleh rater Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 97.2416 x + 0. Penilaian Produk Kelas 3 Koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 3 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater.0249 x 2 + 0.y = −0.0309 x 2 + 0. Berdasarkan tingkat determinasi ini. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 1 ditulis x =1. tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik.1020 dengan: y = estimasi koefisien Genova.4989 f.1339 x + 0. maka koefisien Genova untuk masing- 252 .2245(3) + 0. sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam memprediksi sebesar 100%.2245 x + 0. Gambar 69 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 3 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik).76%.0249(3) 2 + 0. kedua persamaan disajikan sebagai berikut.

1 R 2 = 1 .3825.0309 x 2 + 0. 000 Gambar 69.2416(1) + 0. sedangkan menggunakan persamaan non-linear 0. Adapun koefisien Genova yang sesungguhnya untuk x =2 adalah 0.2326 = 0.2416 x + 0.1339(1) + 0.masing persamaan diperoleh dengan mensubstitusikan persamaan seperti ditunjukan berikut: x =1 pada kedua Tabel 52 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =1 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0.2326 = 0. 0309 x 2 + 0 .1020 = −0. adanya pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti. . .3665 Persamaan non-linear y = −0. Namun demikian.1020 = 0. . Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear y = − 0 . Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 3 253 .1339 x + 0. Hasil ini menunjukkana bahwa persamaan non-linear memberikan pendekatan yang lebih akurat.3990. 2416 x + 0 .3990.0309(1) 2 + 0.3127 Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 2 menggunakan persamaan linear adalah 0.

pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan kurva cenderung monoton naik untuk setiap jumlah item yang dirating.1671x + 0.1454 x + 0.0682 x + 0.4989 g.418 x 2 + 0.0165 x 2 + 0.067 x + 0.0496 = −0.terutama untuk jumlah item yang banyak.1808 y = −0. Penilaian Diri Kecenderungan koefisien Genova pada penilaian diri di kelas 1. itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. adapun nilai koefisien genovanya sebagai berikut: y = −0.0524 x + 0.015 x 2 + 0.4475 non-linear y = −0.2245(3) + 0.355 y = −0.2685 254 . maka nilai maksimum koefisien genova terjadi untuk banyaknya item yang dirating 3 atau x = 3 . kelas 2. Karena kecenderungan kurva yang monoton naik.3390 y = 0.0496 = 0. Gambar 70 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian diri ketiga kelas dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non linear dengan rumusan sebagai berikut. Tabel 53 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Diri Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Linear y = 0.2963 y = 0.0249 x 2 + 0.2245 x + 0.2902 x + 0. Berdasarkan gambar di atas.0249(3) 2 + 0. dan kelas 3 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh penilai.

y = −0.26% (untuk kelas 1 ). y = −0.60% (untuk kelas 2 ) dan 100% (untuk kelas 3). Hal ini dibuktikan oleh tren koefisien Genova yang lebih tinggi untuk setiap peningkatan jumlah item yang dirating dibandingkan dengan koefisien Genova di kelas 1.dengan tingkat determinasi model linear persamaan tersebut dalam memprediksi sebesar 88.0165x2 + 0. 99. .996 . .87% (untuk kelas 3).0155x2 + 0.0418 x 2 + 0.02% (untuk kelas 2 ) dan 90. y = −0.1671 + 0.1454x + 0. Begitu juga konsistensi rater dalam merating kelas 3 lebih baik dari kelas 2.10% (untuk kelas 1 ). 92. . Berdasarkan koefisien determinasi tampak dengan jelas bahwa pendekatan dengan persamaan non-linear memberikan estimasi nilai koefisien Genova yang lebih baik. 991 Keterangan Kurva Linear Kurva Non-Linear Kurva Data Asli Kelas 1 Kurva Data Asli Kelas 2 Kurva Data Asli Kelas 3 .000 Gambar 70.1808 x R 2 = 0. . sedangkan koefisien determinasi model non-linear persamaan tersebut dalam memprediksi sebesar 99. R 2 = 0 . . Adapun nilai estimasi maksimum 255 . . Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Diri Gambar 70 menunjukkan bahwa estimasi besarnya nilai koefisien Genova baik dengan persamaan non-linear maupun persamaan linear memberi gambaran bahwa konsistensi dan kestabilan rater dalam merating di kelas 2 dan kelas 3 lebih baik dibandingkan dengan di kelas 1.2685 R2 = 1.2902 x + 0.3390 .

0165 x 2 + 0.1454(4) + 0.0155 x 2 + 0. 256 . dan kelas 3 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh penilai.1808 = −0.2902(5) + 0.418 x 2 + 0.6038 Penilaian kelas 3: y = −0.3390 = 0.1454 x + 0.6745 h. Gambar 71 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian diri ketiga kelas dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non linear dengan rumusan sebagai berikut. Besarnya nilai koefisien genova tersebut dihitung sebagai berikut: Penilaian kelas 1: y = −0.6726 Penilaian kelas 2: y = −0. kelas 2.1808 = 0.2685 =0.0165(5) 2 + 0. 2 dan 3 berturut-turut terjadi pada saat jumlah item 4 buah. dan 5 buah.1671x + 0.koefisien Genova dengan pendekatan persamaan non-linear pada penilaian diri kelas 1.2685 = −0. 5 buah.2902 x + 0.3390 = −0.1671(5) + 0.418(5) 2 + 0. Penilaian Kelompok Kecenderungan koefisien Genova pada penilaian kelompok di kelas 1.0155(4) 2 + 0.

0209 x 2 + 0.5259 y = 0.2953 y = −0.0824x + 0.2127x + 0. y = −0.75% (untuk kelas 2) dan 93. .70 % (untuk kelas 3).20% (untuk kelas 1 ).994 .1728 dengan tingkat determinasi model linear persamaan tersebut dalam memprediksi sebesar 89. R = 0. .2114 x + 0.2114 x + 0.4458 y = 0. .997 Gambar 71.1728 x R2 = 0.3139 Non-linear y = −0. y = −0.0739x + 0.0918x + 0. 90. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Kelompok 257 .40% (untuk kelas 3).992 2 Keterangan Kurva Linear Kurva Non-Linear Kurva Data Asli Kelas 1 Kurva Data Asli Kelas 2 Kurva Data Asli Kelas 3 .3796 y = −0. sedangkan koefisien determinasi model non-linear persamaan tersebut dalam memprediksi sebesar 99.21% (untuk kelas 1). R2 = 0.0201 2 + 0.0215 x 2 + 0.3796 .2127 x + 0. . Dari koefisien determinasi tampak dengan jelas bahwa pendekatan dengan persamaan non-linear memberikan estimasi nilai koefisien Genova yang lebih baik.020 x 2 + 0.0209 x 2 + 0.40% (untuk kelas 2 ) dan 99.0215 x 2 + 0. .1992 x + 0.Tabel 54 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Kelompok Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Linear y = 0. y = − 0.1992 x + 0. 99.2953 .

0215(5) 2 + 0.2953 = −0. Besarnya nilai koefisien genova tersebut dihitung sebagai berikut: Penilaian kelas 1: y = −0.3796 = −0. Setidaknya hal itu dibuktikan oleh tren koefisien Genova yang lebih tinggi untuk setiap peningkatan jumlah item yang dirating dibandingkan dengan koefisien Genova di kelas 1.1992 x + 0.3796 = 0.2114 x + 0.0215 x 2 + 0.1728 = −0.1728 =0. Adapun nilai hampiran maksimum koefisien Genova dengan pendekatan persamaan non-linear pada penilaian kelompok kelas 1.0209(5) 2 + 0.0209 x 2 + 0.7365 Secara keseluruhan pendekatan persamaan nonlinear lebih akurat dibanding dengan persamaan linear.2114(5) + 0.1992(5) + 0.2953 = 0. 2 dan 3 berturut-turut terjadi pada saat jumlah item 5 buah.020 x 2 + 0.2127 x + 0. Begitu juga konsistensi rater dalam merating kelas 2 lebih baik dari kelas 3 .Pada Gambar 71 tampak bahwa pendekatan nilai koefisien Genova baik dengan persamaan non-linear maupun persamaan linear memberi gambaran bahwa konsistensi dan kestabilan rater dalam merating di kelas 2 dan kelas 3 lebih baik dibandingkan dengan di kelas 1. Hal ini ditunjukkan oleh varians skor yang 258 .2127(5) + 0.8523 Penilaian kelas 2: y = −0.020(5) 2 + 0.8153 Penilaian kelas 3: y = −0.

Oleh karena pembaca harus hati-hati dalam menafsirkan persamaan nonlinear.71. dan instrumen penilaian kelompok telah mengalami serangkaian ujicoba. Namun hal yang perlu diperhatikan bahwa jumlah item paling banyak yang dinilai adalah pada nilai maksimum koefisien reliabilitas. instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar telah memenuhi syarat validitas dan reliabilitas untuk digunakan dalam proses penilaian secara luas. Harga maksimum koefisien Genova adalah harga maksimum kurve persamaan nonlinear. instrumen penilaian produk. Setiap persamaan nonlinear menunjukkan ada penurunan keoefisein Genova bila jumlah item atau indikator ditambah. dapat diketahui instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar yang terdiri dari instrumen penilaian proses. instrumen penilaian diri. Koefisien G dari komponenkomponen penilaian kualitas karya seni lukis hasil uji coba menunjukkan. walau pendekatan yang lebih akurat dibanding persamaan linear. Berdasarkan uraian tentang hasil dan pembahasan. Data-data yang diperoleh melalui ujicoba dianalisis untuk membuktikan validitas dan reliabilitas menggunakan program Genova. secara keseluruhan pengembangan model instrumen penilaian karya seni lukis dapat diterima untuk digunakan melakukan penilaian pada faset yang lebih luas atau telah memenuhi untuk kepentingan faset pengukuran yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) pada kualitas karya seni lukis anak yakni ditunjukkan oleh indeks koefisien G sebesar 0.dapat dijelaskan oleh persamaan nonlinear. Dengan demikian. 259 .

rasional.BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Pedoman penilaian sudah divalidasi oleh guru pengguna yang meliputi keterpakaian. dan komponen penilaian kelompok 5 (lima) item. dan rubrik (kriteria). dan contoh aplikasi. 1. komponen produk 3 (tiga) item. komponen yang dinilai. Pedoman penggunaan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak dalam bentuk buklet. Simpulan Tentang Produk Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dijelaskan pada BAB IV. dan penilaian kelompok. petunjuk penggunaan. Komponen yang menjadi objek penilaian meliputi proses. deskripsi. 318) 260 . 3. dan efisiensi (hasil validasi dapat dilihat pada Tabel 7 hal. 2.70. Reliabilitas telah teruji melalui teknik generalizeability theory (Teori G) dan interrater Cohen’s Kappa. penilaian diri. dapat disusun kesimpulan sebagai berikut. produk. Validitas telah teruji melalui proses focus group discussion sebanyak 3 kali dan seminar sekali. Spesifikasi instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD berbentuk lembar pengamatan yang di dalamnya terdiri atas indikator. dan keterpakaian di SD telah teruji.71 dan koefisien interrater 0.73 telah memenuhi kriteria minimal yang dipersyaratkan yaitu 0. Pengguna instrumen ini adalah pendidik sebagai rater. Buklet terdiri atas latar belakang. Karakteristik instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak yang mencakup validitas. komponen penilaian diri 5 (lima) item. penggunaan bahasa. reliabilitas. Komponen proses terdiri atas 7 (tujuh) item. Koefisien Genova untuk instrumen ini sebesar 0.

4. 2. 1. dan responsif terhadap pembaharuan dan perubahan agar kegiatan pembelajaran seni dapat menyesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan jaman. Penelitian ini didasarkan pada asumsi bahwa guru-guru seni lukis sekolah dasar cerendung memberikan penilaian secara subjektif. memahami pedoman penilaian hasil belajar karya seni lukis anak. Saran Pemanfaatan Saran yng diajukan berdasarkan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. memiliki pengalaman dalam bidang seni lukis. B. sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan baik dari segi metode maupun aplikasi. C. Pengembangan instrumen hanya sampai pada tahap pengembangan dan belum sampai pada tahap diseminasi agar instrumen hasil pengembangan dapat digunakan secara lebih luas. Untuk sekolah hendaknya mengadakan pelatihan penggunaan instrumen penilaian seni lukis anak bagi guru mata pelajaran seni budaya dan 261 . Tetapi. penelitian ini tidak menjangkau pembuktian asumsi tersebut. Persyaratan yang harus dipenuhi pendidik SD agar kompeten menggunakan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD meliputi latar belakang pendidikan yang relevan.

maka PGSD hendaknya mengadakan studi pilihan/paket bidang seni sehingga kelak tenaga guru yang dihasilkan bisa sebagai konsultan bagi guru yang lain. D. 3. 5. 2. 4. Diseminasi. agar guru dapat memberikan penilaian secara objektif hasil seni lukis anak. Instrumen yang telah dikembangkan ini divalidasi kembali dengan menggunakan sekolah yang berbeda agar diperoleh produk yang lebih baik. 3. Sekolah-Sekolah Dasar yang tidak memiliki guru khusus seni budaya dapat memberdayakan dosen pendidikan seni rupa di LPTK sebagai pendamping. 2. Bagi guru SD yang akan menggunakan instrumen penilaian ini hendaknya memahami dengan baik setiap item yang tercantum dalam instrumen penilaian seni lukis anak agar tercapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang tinggi antar sesama pengguna.keterampilan di sekolah dasar. Desiminasi pedoman penilaian karya lukis anak dapat dilakukan melalui musyawarah guru mata pelajaran seni budaya di sekolah dasar. sehingga diperoleh manfaat yang lebih besar. Mengingat pentingnya bidang seni di sekolah dasar. 262 . Untuk mengetahui lebih dalam tentang latar belakang penciptaan karya seni lukis anak agar penilaian lebih objektif maka guru hendaknya membiasakan anak untuk menilai karya lukis sendiri dan karya temannya. dan Pengembangan Produk Lebih Lanjut 1. Untuk menguji keefektifan instrumen hasil pengembangan secara empirik masih diperlukan penelitian diseminasi pada daerah yang lebih luas.

..................................... Gambar 23. Gambar 3....................... Gambar 20................................ Ruang dengan Teknik Pergantian Bentuk dan Ukuran...... Harimau Dalam Kandang........................ Gambar 24................................................................................ Ruang dengan Teknik Pergantian Warna.. Gambar Anak Pada Subtahap Figuratif Tengah…………………........................... Gambar 13... Bidang Tak Beraturan........... Ruang dengan Teknik Pelengkungan.........DAFTAR GAMBAR Gambar 1...................................... Gambar X-ray Oleh Anak Umur Lima Tahun yang Menunjukkan Ibu Dengan Dua Anak di Dalamnya.............................................................. Bidang Bersudut............... Bidang Geometris............ Gambar 12....... Ruang dengan Teknik Gelap Terang................. Ruang dengan Teknik Bayangan............................. Gambar 8...... Lingkaran Warna.................... Gambar 10........... Gambar 11..... Gambar 4................... Komposisi Ruang Negartif dan Positif.. Gambar Anak Umur Empat Sepuluh Tahun... Gambar 15............................................................................. Bidang Organik……………………………………………………................................................................................................................................ Gambar 14............... Gambar Kereta oleh Anak Umur Lima Tahun............. Gambar 21........ yang Menunjukkan Masa Peralihan dari Subtahap Figuratif Awal ke Subtahap Figuratif Tengah…………………………………………………… Gambar 17... Gambar Anak Pada Awal Munculnya Tahap Figuratif dengan Objek-Objek yang Menggantung di Langit. Gambar Manusia oleh Anak Umur Empat Tahun..................... Gambar 5... Gambar 9.... Gambar Bus Penuh Dengan Penumpang...... Gambar 6........................................ Gambar 7...... Gambar 18............ Gambar 16.......... Hasil Gambar Anak Umur Lima Tahun...... Gambar Anak yang Menunjukkan Penggabungan xv 79 77 78 79 75 75 76 77 73 54 54 55 55 55 56 56 56 57 57 57 57 60 71 ...... Gambar Anak Umur Lima Tahun Menunjukkan Objek-Objek yang Ada di Dalam Maupun di Luar Rumah. Gambar 19..... Gambar 2.. Ruang dengan Teknik Pergantian Tekstur.............................. Ruang dengan Teknik Penumpangan.... Gambar 22.............................................

........ Bagan Anak Usia 7-9 Tahun............ Skema Tahap Diseminasi Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak................................ Gambar 27.... Gambar 40....... Gambar yang Menunjukkan Penggunakan Perspektif Linier Oleh Anak Kelas Lima.... Tahapan Studi Awal Pengembangan Instrumen Seni Lukis Anak...... Gambar 25..................... Gambar 41....... 161 162 172 172 173 xvi .. Corengan Tak Beraturan. Jenis Kurikulum yang Digunakan Hasil Studi Awal.................................................................... Gambar Bus yang Penuh Sesak Oleh Penumpang yang Digambarkan Dengan Perspektif Linier...................................... Gambar 43........... Tahapan Pendefinisian Instrumen Seni Lukis Anak.... Gambar 29. Gambar 33.......................... Gambar 36............. Gambar 26............................................. Corengan Bernama.......... Pra Bagan Anak Usia 4-7 Tahun...... Desain Ujicoba Intrumen Seni Lukis............................................. Bagan Anak Usia 13 Tahun..... Skema Tahap Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak 160 Gambar 45.................................................... Corengan Terkendali.... Gambar 37.. Tahapan Perancanganan Instrumen Seni Lukis Anak........... Gambar 39.... Kesesuaian Buku yang Digunakan Hasil Studi Awal………..................................... Gambar 32.... Gambar 30.. Subjek yang Menyiapkan Alat dan Bahan Hasil Studi Awal... Gambar 35..........................Antara Tampak Depan dan Tampak Atas..... Gambar Anak Perempuan yang Mengidentifikasi Dirinya Dengan Pemain Drumband. Bagan Anak Usia 10 Tahun........... Bagan Anak Usia 14 Tahun........ Gambar 31......................... Gambar 47.................... 80 81 81 83 83 84 85 85 86 87 87 88 88 89 90 100 154 156 157 158 Gambar 44.......................... Gambar 38............................ Model Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak......... Gambar 46........................................... Coreng Moreng Anak Usia 3 Tahun..................................... Gambar 48........................ Gambar 34............... Gambar 49....................................... Gambar yang Menunjukkan Perbedaan Anak Laki-laki dan Perempuan Dengan Ciri-Ciri Pakaian yang Rinci....................... Langkah-Langkah Pembelajaran Seni Lukis............................................................................................................. Gambar 28........... Gambar 42... Pra Bagan Anak Usia 7 Tahun.........................

.......................... Gambar 53. Gambar 58..................... Gambar 52. Hasil Studi Awal Komponen Penilaian Guru.................................................. Gambar 65.................................... Gambar 67..................... Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 3.... Gambar 69....…………………............................... Kesulitan Guru dalam Penilaian Hasil Studi Awal........... Gambar 68..................... Hasil Studi Awal Kriteria Penilaian Guru .................................... Rangkuman Hasil FGD Ketiga................... Gambar 56.............. Gambar 60................................. Hasil Studi Awal Tanggapan Guru Perlunya Instrumen Penilaian ........... Tren perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 1... Gambar 55........ Gambar 57.. Instrumen Penilaian Seni Lukis Hasil Tahap Rancangan...........................Gambar 50........ Hasil Studi Awal Jenis Penilaian yang Digunakan Guru ..... Gambar 62.......................................... Gambar 59......................................................... Rangkuman Hasil Seminar Instrumen Penilaian Seni Lukis ................... Gambar 63................................ Minat siswa dalam belajar Hasil Studi Awal............ Tren perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 2…………………………………………………… Gambar 66........................................... Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 3..... Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 2............... Gambar 61....................................... Gambar 64............ Hasil Studi Awal Unsur Kreativitas dalam Penilaian oleh Guru……………………………………………………......... Hasil Studi Awal Jenis Penentuan Skor Penilaian oleh Guru ............ Gambar 51............ 174 174 175 176 176 177 178 178 179 180 180 184 188 192 239 243 245 248 251 253 xvii .............. Gambar 54..... Hasil Studi Awal Partisipasi Siswa atau Sekolah dalam Kegiatan Lomba................................ Hasil Studi Awal Kesesuaian Prosedur yang Digunakan dalam Penilaian ............... Hasil Studi Awal Subjek yang Menentukan Tema Lukisan . Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 1.......

..... 257 255 xviii ...Gambar 70.................................... Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Kelompok................. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Diri..................................................................................... Gambar 71....

.. 1... Pengertian Pendidikan Seni Rupa .......................................…………………………………………………………..........… E....... Manfaat Penelitian ………......... Seni Lukis bagi Anak Usia Sekolah Dasar .............. Rasional yang Melandasi Pentingnya Masalah …………….......... 4.......………………………………………………............................... BAB I............ Manfaat Pendidikan Seni Rupa ................ LEMBAR PENGESAHAN ............…… B.......………………………………………………………....…… E...... Pengertian dan Jenis Seni Lukis .....DAFTAR ISI ABSTRAK................. DAFTAR ISI ......……...……............... Pembelajaran Seni Lukis di Sekolah Dasar ………………………............ …...……………………………………………. Spesifikasi Produk ……….................................… D..............………..............................……..... A..................................…...………………..…….............. ABSTRACT....………………………………………………………………....... Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini ......... Rumusan Masalah…. 3.......................………..................................... DAFTAR TABEL .........................................…… BAB II..........…………............ 2............………………........ Tujuan Penelitian ....…………………..…............................................................................ C....... Pendekatan dalam Pendidikan Seni Rupa . 1.………………………………………………………………................ Pendidikan Seni Rupa ………............... ii iii iv v vii viii xi xv xix 1 1 7 11 11 12 12 14 14 14 22 24 34 42 52 52 64 viii ..... DAFTAR GAMBAR ...…..…...... PENDAHULUAN……………………………………………………… A........ PERNYATAAN KEASLIAN ............................................. 2................................. Pendidikan Seni Rupa di Sekolah Dasar Di Indonesia ................. Latar Belakang dan Identifikasi Masalah ..... KATA PENGANTAR ............... B.……………………………………………………. DAFTAR LAMPIRAN .....……… C.......…... KAJIAN PUSTAKA …………..

Jenis Instrumen Pengumpulan Data ........................................................……...............................……………….......... Prosedur Pengembangan ………………………………………… 1.......................................... HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... Metode Pembelajaran Seni Lukis Anak Sekolah Dasar ...................................... Hipotesis Uji Model ………..........…….................... 3.... Teknik Analisis Data ............................. Tahap Studi Awal ......... BAB IV...... Model Pengembangan .......................…… A...........3....…….....…… A......…..……........... 2... D......................... 3... 2................................………... Aspek yang Dinilai dalam Karya Seni Lukis......................................................……........... Data Pengembangan ... Tahap Pengembangan .. Kerangka Pikir ….......................................... Data Pendefinisian ........... Data Studi Awal ...... ……………………………………... 2...............… 1.. Uji Coba Produk ……………………...... F...............……..... 4. G.... Hasil Penelitian yang Relevan ………............... D.............……….....................…..... Fungsi Penilaian dalam Pendidikan Seni .... H......... E.......................................................................................... BAB III............. Data Perancangan....…………................... Tahap Perancangan ...... METODE PENELITIAN .. 1................ Pertanyaan Penelitian ……….......................................……….............. 96 100 107 107 109 119 135 145 150 150 152 152 155 155 156 157 158 161 161 161 163 164 165 169 169 169 182 184 185 .... 3................ 4.. 2......... ix ............................ Data Uji Coba ………............................................... 4................... 4........................ Desain Uji Coba ... 5..........…… 1................ Tahap Pendefinisian ......... Karakteristik Penilaian dalam Pendidikan Seni ............................ 3.............…......................................................……......................................................... Seni Lukis sebagai Indikator Gambar Ekspresi dalam KTSP ..........…......... Subjek Coba ... Tahap Diseminasi ...........................................……………… B... Penilaian dalam Pembelajaran Seni Lukis di Sekolah Dasar ..

.......……........…… A..…………..................………................ Penilaian Diri.....… D................................... 235 237 237 260 260 261 261 262 263 BAB V..............................… ……………………………………...................... Saran Pemanfaatan ……………………......... 1..... Tren Perkembanagan Koefisien Genova ....5.................................... Simpulan . 3................... 4................................. Penilaian Proses ..………....…………………............................ 2..........……………… B.. Diseminasi dan Pengembangan Produk Lebih Lajut ……….. B............................................. 187 196 196 220 232 232 232 234 ..…….......................………… C... Data Uji Coba.. Revisi Produk………………….............................… 1.......... x . Keterbatasan Penelitian……………………………….................. KESIMPULAN DAN SARAN ......... Data Uji Coba Koefisien Interrater ...... 5......... D................…....................................……………………………....................................... Kajian Produk .....................… DAFTAR PUSTAKA .................................................. Analisis Data .............................. 2...................................... Penilaian Produk .............. C..................... Penilaian Kelompok ............................................... Diseminasi ......

............. Penilai.......................................... Tabel 18.......... Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Kelompok........DAFTAR TABEL Tabel 1................. Tabel 6........ Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Proses.......... Tabel 2.................... Penilai....... Hasil FGD Pertama dan Kedua. Tabel 14..... Tabel 13..... Tabel 4....................... Tabel 9............................. Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Produk Kelas 3 xi 212 211 210 209 208 206 203 201 199 197 171 181 186 5 96 123 124 ................. Tabel 16.......................................... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Proses Kelas 2 dan Tingkat Perubahannya........................................ Estimasi Komponen Variansi Siswa.............. Daftar Peserta Studi Awal... Tabel 10................................................ Estimasi Komponen Variansi Siswa........ Pupil’s Self Evaluation Form.... Tabel 8..................... Tabel 17. Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Proses Kelas 3 dan Tingkat Perubahannya.......................... Tabel 11................................................................ Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Produk................................................................................................................................... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Produk Kelas 1 dan Tingkat Perubahannya................ Hubungan antara Tujuan Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan (PSB) dengan SKL Satuan Pendidikan SD.............................................. Tipe-Tipe Psikologis Anak dan Katagori Lukisan Anak. Estimasi Komponen Variansi Siswa....................................... Tabel 7....... Tabel 3................. Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Proses Kelas 1 dan Tingkat Perubahannya .................................................. Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Produk Kelas 2 dan Tingkat Perubahannya. Tabel 5.................... Rangkuman Hasil G Study dan Koefisien G Pada Berbagai Komponen dan Berbagai Faset Terapan Uji Coba....... Tabel 15... Tabel 12........................................ Penilai. Penilai..... Estimasi Komponen Variansi Siswa................. Daftar Peserta Studi Awal............. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Diri.................... Student Self Evaluation Form...

................................................. Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Diri Kelas 1 dan Tingkat Perubahannya ........ Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Diri Kelas 2 dan Tingkat Perubahannya.............. Tabel 21..................................................................................... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Proses Kelas 2................. 227 Tabel 33..................................................... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai 227 225 xii .......................... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Kelompok Kelas 1 dan Tingkat Perubahannya............ Tabel 27.............. Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Diri Kelas 2.................. Tabel 23.......................... Tabel 22............ Tabel 19................ Tabel 29................. Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Kelompok Kelas 2 dan Tingkat Perubahannya ............................... Tabel 28............................................................... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Produk Kelas 3.......... Tabel 31............................................. Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Kelompok Kelas 3 dan Tingkat Perubahannya........................................................................................... Tabel 32........................................................................... 225 Tabel 30.............. Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai 213 214 215 216 217 218 219 221 222 222 224 Pada Penilaian Produk Kelas 2........... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Proses Kelas........................................ Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Proses Kelas 1....... Tabel 20..dan Tingkat Perubahannya................................. Tabel 26........ Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Diri Kelas 3 dan Tingkat Perubahannya.............................................. Tabel 25.......................... Tabel 24..................................... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Diri Kelas 1............................................. Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Produk Kelas 1........................................................................................

...........................Pada Penilaian Diri Kelas 3....................................................................... Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =6 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear . Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Kelompok Kelas 1....Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 1......... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 1..... Tabel 39.............................................. Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Diri..... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Kelompok Kelas 3.......... Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Kelompok...... Tabel 48...................... Tabel 42........... Tabel 34. Perbadingan koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Produk .............. Tabel 46......................................................... Tabel 41.............. Tabel 35........ Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =3 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear ....... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 2............................. Tabel 43.......................................................................................................................................... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 3..................... Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =3 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear ....................................... Tabel 36......... Tabel 49..... Tabel 40......... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 2. Tabel 44.. Tabel 45................. Tabel 37............. Tabel 47.. Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =4 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear.................. Tabel 50.. Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =2 228 230 231 231 233 234 236 237 238 239 241 242 244 245 247 248 250 xiii ............................ Tabel 38........ Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Kelompok Kelas 2............................................................................ Perbadingan koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Proses ......................

.................. Tabel 51................................................... Tabel 53.................................Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Kelompok......................................... Tabel 52............ 250 252 253 254 257 xiv ........... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 3........................................................ Tabel 54.......... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Diri... Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =1 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear ................Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear .......................

.............. Lampiran 7............................. Contoh Hasil Karya Seni Lukis Anak.. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Seni Budaya dalam KTSP Lampiran 2... Lampiran 10...................................................................................... Lampiran 4................................. Hasil FGD......... Hasil Analisis Genova.. Hasil Wawancara Keterpakaian Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak Lampiran 8................ 270 275 276 293 296 306 318 321 358 361 365 xix ...................... Daftar Hadir FGD dan Seminar.... Data Hasil Penilaian Seni Lukis Anak...................................................................... Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak................................... Lampiran 9.................................................................................................... Hasil Seminar............ Surat Ijin Penelitian.................................. Lampiran 6.. Lampiran 11... Kompetensi Kreasi Seni Budaya dan Keterampilan........................................ Lampiran 3................................... Lampiran 5...............DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1.............................................

04701261001 Disertasi ini ditulis untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk mendapatkan gelar Doktor Pendidikan Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA YOGYAKARTA 2009 i .PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ANAK DI SEKOLAH DASAR Oleh: Tri Hartiti Retnowati NIM.

reliabel. v . Kumaidi. kemudahan.D selaku promotor disertasi ini.KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas berkat limpahan rahmat. Sofyan Salam. perhatian. bantuan. Suyata.D dan Prof. hidayah. sehingga disertasi ini dapat diselesaikan. dan inayahNya. atas perhatian dan dukungan sehingga disertasi ini selesai. sehingga disertasi ini menjadi lebih baik. Ph. taufiq..Pd. 4. 3. Bapak Sutarno S.D selaku reviewer disertasi ini yang telah memberi masukan kepada penulis. Dalam kesempatan ini. Ph. dan Bapak Dodi Suyanto. yang diberikan sehingga disertasi ini dapat selesai. Para guru yang telah membantu pelaksanaan ujicoba instrumen penilaian seni lukis anak yaitu Ibu Udawati S. Ph. 5. 6. Prof. Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta beserta segenap staf administrasi. Disertasi ini bertujuan mengembangkan instrumen penilaian karya seni lukis anak yang valid. Rektor Universitas Negeri Yogyakarta. Penyelesaian disertasi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. dan bimbingan yang sangat berharga. Prof. Kepala SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta. kepala SDN Langensari Yogyakarta. atas segala kebijaksanaan. penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada: 1. dan praktis untuk digunakan guru di sekolah dasar. 2. 7. yang telah memberikan kesempatan untuk melanjutkan studi S-3 pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta. yang telah memberikan arahan. serta dorongan semangat kepada penulis sehingga disertasi ini dapat terwujud.Pd. kepala MIN Tempel Sleman yang telah memberikan ijin dan segenap bantuannya pada pelaksanaan ujicoba instrumen penilaian seni lukis anak. Dekan FBS Univesitas Negeri Yogyakarta beserta staf.

8. Para pakar pendidik seni dan seni lukis anak-anak serta guru seni lukis di sekolah dasar yang telah berpartisipasi dalam FGD sehingga instrumen ini dapat terwujud. 9. Segenap teman-teman Jurusan Pendidikan Seni Rupa FBS UNY dan mahasiswa angkatan tahun 2004 Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan S3 Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta yang dengan penuh keakraban memberikan dorongan moral dan segenap bantuan yang diberikan sehingga disertasi ini dapat selesai. Akhirnya rasa terimakasih yang sangat pribadi disampaikan kepada suami tercinta Prof. Djemari Mardapi Ph.D., dan anak-anak: Dian Puspita Sari dan suami, Febriaditya Agung Nugroho, dan Muhammad Harfiansyah Makarim yang dengan penuh pengertian dan pengorbanan selama penulis menyelesaikan studi. Semoga amal kebaikan bapak/ibu dan teman-teman semua

mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Amin.

Yogyakarta,

Mei 2009

Tri Hartiti Retnowati NIM. 04701261001

vi

PERNYATAAN KEASLIAN Yang bertandatangan di bawah ini Nama Mahasiswa Nomor Mahasiswa Program Studi Lembaga Asal : Tri Hartiti Retnowati : 04701261001 : Penelitian dan Evaluasi Pendidikan : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi ini merupakan hasil karya saya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya dalam disertasi ini tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Yogyakarta, April 2009 Yang membuat pernyataan

Tri Hartiti Retnowati

vii

Lampiran 1 Tabel 1. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Seni Budaya dan Kerajinan Sekolah Dasar Berdasarkan KTSP 2006 Kelas I, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengidentifikasi unsur rupa pada benda di alam sekitar 1.2 Menyatakan sikap apresiatif terhadap unsur rupa pada benda di alam sekitar 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresif 2.2 Mengekspresikan diri melalui teknik menggunting menempel KOMPETENSI DASAR

Kelas I, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya sent rupa 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengidentifikasi unsur rupa pada benda di alam sekitar 1.2 Menyatakan sikap apresiatif terhadap unsur rupa pada benda di alam sekitar 2.1 Mengekspresikan diri melalui karya seni gambar Ekspresif 2.2 Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa dua dimensi dengan teknik menempel KOMPETENSI DASAR

Kelas II, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya sent rupa 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengenal unsur rupa pada karya seni rupa 1.2 Menunjukkan sikap apresiatif terhadap unsur rupa pada Karya seni rupa 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar Ekspresif 2.2 Mengekspresikan diri melalui teknik cetak tunggal KOMPETENSI DASAR

270

Kelas II, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 2. Mengekspresikan diri melalui seni rupa. 1.1 Mengidentifikasi unsur rupa pada karya seni rupa 1.2 Menunjukkan sikap apresiatifterhadap unsur rupa pada karya seni rupa tiga dimensi 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresi 2.2 Menggunakan klise cetak timbul 2.3 Mengekspresikan diri melalui teknik cetak timbul KOMPETENSI DASAR

Kelas III, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 2. Mengekspresikan diri melalui seni rupa. 1.1 Menjelaskan symbol dalam karya seni rupa dua dimensi 1.2 Menunjukkan sikap apresiatif terhadap symbol dalam karya seni rupa dua dimensi 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif Mengenai diri sendiri 2.2 Mengekspresikan diri melalui gambar dekoratif dari motif Hias daerah setempat KOMPETENSI DASAR

Kelas III, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa KOMPETENSI DASAR

1.

Mengapresiasi karya seni rupa Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

1.1 Menjelaskan simbol dalam karya seni rupa tiga dimensi 1.2 Menunjukkan sikap apresiatifterhadap simbol dalam karya seni rupa tiga dimensi 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif mengenai alam sekitar 2.2 Memberi hiasan/warna pada benda tiga dimensi

2.

271

Kelas IV, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.1 Menjelaskan makna karya seni rupa terapan 1.2 Mengidentifikasi jenis karya seni rupa terapan yang ada di daerah setempat 1.3 Menunjukkan sikap apresiatif terhadap kesesuaian karya seni rupa terapan 1.4 Menunjukkan sikap apresiatif terhadap keartistikan karya seni rupa terapan 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi dengan tema benda alam: buah-buahan, tangkai, kerang, dsb 2.2 Memamerkan hasil gambar ilustrasi dengan tema benda alam: buah-buahan, tangkai, kerang, dsb di depan kelas KOMPETENSI DASAR

Kelas IV, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.1 1.2 1.3 Menjelaskan makna seni rupa murni Mengidentifikasi jenis karya seni rupa murni yang ada di daerah setempat Menampilkan sikap apresiatif terhadap karya seni rupa murni Membuat relief dari bahan plastis dengan pola motif hias Menyiapkan karya seni rupa yang dibuat untuk pameran kelas KOMPETENSI DASAR

2.

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

2.1 2.2

2.3

Menata karya seni rupa yang dibuat dalam bentuk pameran kelas

272

Kelas V, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.1 1.2 1.3 Menjelaskan makna motif hias Mengidentifikasi jenis motif hias pada karya seni rupa Nusantara daerah setempat Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan motif hias karya seni rupa Nusantara daerah setempat Mengekspresikan diri melalui gambar dekoratif dengan motif hias Nusantara 2.2 Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi dengan tema hewan dan kehidupannya 2.3 Membuat motif hias dasar jumputan pada kain KOMPETENSI DASAR

2.

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

2.1

Kelas V, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.2 1.3 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengekspresikan diri melalui gambar dekoratif dengan motif hias Nusantara Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi dengan tema hewan dan kehidupannya Membuat motif hias dasar jumputan pada kain Membuat topeng secara kreatif dalam hal teknik dan bahan Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi manusia dan kehidupannya KOMPETENSI DASAR

2.1 2.2

2.3

Menyiapkan karya seni rupa yang diciptakan untuk pameran kelas

2.4

Menata karya seni rupa yang diciptakan dalam bentuk pameran kelas/sekolah

273

Kelas VI, Semester 1

STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.1 1.2 1.3

KOMPETENSI DASAR Mengidentifikasi jenis motif hias pada karya seni rupa Nusantara daerah lain Menjelaskan cara membatik Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan motif hias karya seni rupa Nusantara daerah lain Membatik dengan teknik sederhana Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi dengan tema suasana di sekitar sekolah 2.3 2.4 Merancang boneka Membuat boneka berdasarkan rancangan

2.

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

2.1 2.2

Kelas VI, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.2 1.1 Mengidentifikasi jenis motif hias pada karya seni rupa Nusantara daerah lain Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan motif hias karya seni rupa Nusantara daerah lain Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi suasana alam sekitar KOMPETENSI DASAR

2.

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

2.1

2.2

Menyiapkan karya seni rupa yang dibuat untuk pameran kelas

2.3

Menata karya seni rupa yang dibuat untuk pameran kelas

274

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa. Semester 2 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresi 1.3 Mengekspresikan diri melalui teknik cetak timbul KOMPETENSI DASAR Kelas III.Lampiran 2 Tabel 2.1 Mengekspresikan diri melalui karya seni gambar Ekspresif 1.2 Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa dua dimensi dengan teknik menempel KOMPETENSI DASAR Kelas II. Semester 1 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1.1 Mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif mengenai alam sekitar 12 Memberi hiasan/warna pada benda tiga dimensi 275 .2 Menyatakan sikap apresiatif terhadap unsur rupa pada benda di alam sekitar 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar Ekspresif 1.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresif 2.2 Menggunakan klise cetak timbul 1. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1. Semester 1 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1.2 Mengekspresikan diri melalui teknik cetak tunggal KOMPETENSI DASAR Kelas II.2 Mengekspresikan diri melalui teknik menggunting menempel KOMPETENSI DASAR Kelas I. Semester 2 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa KOMPETENSI DASAR 1. Kompetensi Kreasi Seni Budaya dan Keterampilan Kelas I. Semester 2 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 2. 1.1 Mengidentifikasi unsur rupa pada benda di alam sekitar 1. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.

276 .

indikator-indikator dari setiap penilaian baik proses maupun produk perlu ditetapkan dengan memperhatikan berbagai pemikiran yang disesuaikan dengan perkembangan jiwa dan perkembangan gambar anak untuk manentukan hasil penilaian seni lukis anak. Berdasarkan alasan inilah. Berdasarkan Performance Assesment dalam penilaian seni lukis anak terdapat dua unsur penting yaitu penilaian proses dan produk. Namun demikian.Lampiran 3 FOCUS GROUP DISCUSSION TAHAP 1 “ PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. maka dalam proses penyusunannya perlu mempertimbangan pemikiran para pakar serta guru yang terlibat langsung dalam pembelajaran. Dalam pelaksanaannya. persentase penilaian kedua unsur tersebut masih menjadi dilema yang perlu diputuskan dengan pertimbangan yang matang. Disamping itu. mulai dari para pakar sebagai perumus materi sampai dengan guru mata pelajaran sebagai pelaksana sekaligus evaluator kegiatan pembelajaran. Latar belakang Pembelajaran seni lukis merupakan bagian penting dari aktivitas belajar di sekolah. Disertasi yang berjudul ” Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak” merupakan representasi kebutuhan lapangan khususnya guru-guru pada jenjang pendidikan dasar yang mengkehendaki adanya suatu instrumen penilaian seni lukis yang valid dan reliabel sehingga dapat mengurangi subjektivitas guru dalam menilai karya siswa. dilaksanakan FGD tahap 1 yang difokuskan untuk menjaring aspirasi yang berhubungan dengan tahap awal penyusunan instrumen penilaian seni lukis anak. dalam setiap pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kegiatan belajar seni lukis keikutsertaan para pakar seni lukis serta guru-guru pengampu di sekolah merupakan suatu kebutuhan yang mutlak. Mengingat instrumen merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran seni lukis. keterlibatan berbagai pihak sangat diperlukan. Oleh karenannya. Kedua permasalahan tersebut merupakan topik yang akan dibahas dalam FGD tahap 1 sebagai langkah awal dalam penyusunan instrumen penilaian seni lukis anak. 276 .

C. M. 2.30-15.00-15.45 Aktivitas Pembukaan mengutarakan maksud dan tujuan FGD diikuti dengan perkenalan peserta yang hadir Presentasi pengenalan topik yang akan dibahas yaitu menentukan bobot persentase dari penilaian karya seni lukis anak yang terdiri dari proses dan produk dan menentukan indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak.Affandi Dewobroto. Target yang ingin dicapai Berdasarkan latar belakang.15 16. Deskripsi pelaksanaan FGD tahap I dilaksanakan pada tanggal 26 Februari 2008 bertempat di Ruang Sidang Program Pascasarjana UNY.Lampiran 3 B.30 18.30-18.15-18. S. Peserta yang hadir Drs. Menentukan indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak. S.Pd Dody S Dwi Susanto (Pakar pendidikan seni) ( Pakar seni lukis anak) (Pakar seni lukis anak UNY) (Guru pendidikan seni anak SD Sapen I) (Guru pendidikan seni anak SD Sapen II) (Guru pendidikan seni anak MIN Tempel) (Guru pendidikan seni anak Sekolah Dasar) D.Pd Udawati. Diskusi sesi 1 untuk memutuskan bobot persentase dari penilaian karya seni lukis anak yang terdiri dari proses dan produk Diskusi sesi 2 untuk menentukan indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak.15-18. Menentukan bobot persentase dari penilaian karya seni lukis anak yang terdiri dari proses dan produk.40 277 . Adapun jalannya pelaksanaan FGD tersebut disajikan pada tabel berkut: Waktu 15. target dari FGD tahap 1 ini adalah: 1. Penyimpulan dan penyampaian hasil diskusi Penutupan dengan doa bersama 15.Pd Enrizal.30 15.45-16.15 18. M.Sn Bambang Prihadi. M.

Pd Penilaian proses dibagi menjadi dua tahap yaitu tahap awal dan tahap inti karena tahap akhir berupa penilaian diri dan kelompok bukan merupakan bagian dari proses seorang anak dalam berkarya Udawati. M. Masukan peserta yang hadir Sesi 1 Pertanyaan Berapa persenkah bobot untuk penilaian proses dan produk Drs.Pd Dalam penilaian proses untuk kegiatan inti perlu 278 Masukan peserta Sesi 2 Pertanyaan Masukan peserta .Lampiran 3 E. M. M. dan tahap akhir.Affandi Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% mengingat proses lebih menentukan hasil karya yang diperoleh siswa Dewobroto.Pd Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% karena proses seseorang dalam berkarya lebih penting dari hasil yang diperoleh Enrizal.Sn Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 50% sedangkan produk 50% hal ini dikarenakan antara proses dan produk terdapat keseimbangan . S. keterampuilan mengorganisasikan keterampilan estetis. S. Dewobroto.Sn Dalam penilaian proses pada tahap inti perlu adanya tambahan kriteria yaitu pemahaman tema karena tanpa adanya pemahaman tema akan sulit bagi siswa untuk dapat melukis dengan baik Bambang P.Pd Dalam penilaian produk perlu adanya tambahan indikator yaitu teknik Enrizal.Pd Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% Dody S Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% karena proses cenderung memperlihatkan potensi seorang anak dalam berkarya seni Dwi Susanto Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% Apakah indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak Drs. sedangkan tahap akhir terdiri dari penilian diri.Affandi Penilaian proses dibagi menjadi tahap awal. dengan kata lain apabila proses baik maka produk pun akan baik begitu juga jika produk baik maka proses pun baik Bambang P. tahap inti. S.Pd Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% karena proses lebih memperlihatkan kesungguhan siswa dalam melukis Udawati. Tahap awal terdiri dari tanggapan anak terhadap tema dan kesiapan alat dan bahan. Adapun penilain proses terdiri dari kreativitas dan ekspresi. S. M. tahap inti terdiri dari kelancaran penuangan ide. M. M. pemanfaatan waktu.

Lampiran 3 adanya indikator ketekunan serta keberanian dalam menggunakan unsur-unsur bentuk Dalam penilaian proses untuk kegiatan inti perlu adanya indikator keberanian menggunakan media Penilaian diri dan penilaian kelompok bukan merupakan bagian dari proses seseorang dalam berkarya. Kelancaran penuangan ide 2. jadi untuk penilaian proses dan penilaian kelompok lebih baik terpisah tetapi tetap merupakan bagian dari penialian karya seni lukis anak Dody S Dwi Susanto F. Ketekunan 5. Keberanian menggunakan media 3. Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat 2. Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk 4. Indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak 1. Bobot persentase minimal untuk penilaian proses 60% dan produk 40% 2. Pemanfaatan waktu Tahap inti Kreativitas Produk Ekspresi Teknik Penilaian Diri Penilaian Kelompok 279 . Kesimpulan 1. Kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis Tahap awal Proses 1.

Oleh karena itu keterlibatan para pakar seni lukis anak dan guru sangat diperlukan.Pd Enrizal. selanjutnya perlu adanya deskripsi dari masing-masing indikator pada penilaian proses dan produk.Pd Udawati.Pd Sutarno. Suwarno Bambang P. C. Deskripsi indikator ini mencakup gambaran secara terperinci dari setiap indikator yang diperoleh dari FGD tahap I. target dari FGD tahap II ini adalah menentukan deskripsi dari setiap indikator pada penilaian proses dan produk.Pd Dody S Drs. Deskripsi pelaksanaan FGD tahap II dilaksanakan pada tanggal 13 Maret 2007 bertempat di Ruang Sidang Program Pascasarjana UNY. Latar belakang Menindaklanjuti hasil yang diperoleh dari FGD tahap I. M. Adapun jalannya pelaksanaan FGD tersebut disajikan pada tabel berkut: 280 . diperlukan berbagai pemikiran yang didasari pemahaman konsep yang mendalam tentang karya seni lukis anak. Target yang ingin dicapai Berdasarkan latar belakang. Untuk mendeskripsiakan indikator ini. Susapto Murdowo. B. M. Peserta yang hadir Drs.Sn (Pakar pendidikan seni) (Pakar seni lukis anak UNY) (Guru pendidikan seni anak SD Sapen I) (Guru pendidikan seni anak SD) (Guru pendidikan seni anak SD Sapen II) (Guru pendidikan seni anak Sekolah Dasar) (Praktisi dan pakar seni lukis ) D. S. S. Proses olah pikir dari para pakar dan guru untuk menentukan deskripsi dari setiap indikator dilaksanakan pada FGD tahap II.Lampiran 3 FOCUS GROUP DISCUSSION TAHAP II “ PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. S.

Untuk tahap awal indikator 2 deskripsinya adalah: M.Pd • Untuk tahap inti indikator 1 deskripsinya adalah: Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara ide yang ada dalam diri siswa dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut • Kemudian diperlengkap menjadi: Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara kualitas ide yang dikembangkan dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut Enrizal.Lampiran 3 Waktu 15. Suwarno • Untuk tahap awal indikator 1 deskripsinya adalah: Reaksi peserta didik berupa perilaku yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik • Kemudian diperlengkap menjadi: Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi.30-15.50-19. M. Penyimpulan dan penyampaian hasil diskusi Penutupan dengan doa bersama 15. Masukan peserta yang hadir Sesi 1 Pertanyaan Bagaimanakah deskripsi untuk indikator penilaian proses Drs.Pd • Untuk tahap inti indikator 2 deskripsinya adalah: Keberanian menggunakan media dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik inkonvensional dalam melukis • Kemudian diperlengkap menjadi: Keberanian menggunakan media (alat dan bahan)dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik inkonvensional dalam melukis Udawati.00-15.45-17.45 Aktivitas Pembukaan mengutarakan maksud dan tujuan FGD diikuti dengan perkenalan peserta yang hadir Presentasi pengenalan topik yang akan dibahas yaitu menentukan deskripsi dari setiap indikator pada penilaian proses dan produk.00 E.Pd • Untuk tahap inti indikator 3 deskripsinya adalah: 281 Masukan peserta .30 18.30 15. Diskusi sesi 1 untuk menentukan deskripsi dari setiap indikator pada penilaian proses Diskusi sesi 2 untuk menentukan deskripsi dari setiap indikator pada penilaian produk.30 17.30-18. Susapto M.Sn Suatu kondisi peserta didik yang sudah siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya Bambang P.50 18. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik Drs. S.30-18. S.

bentuk karya lukis peserta didik.Pd Sesi 2 Pertanyaan Masukan peserta Bagaimanakah deskripsi untuk indikator penilaian hasil Drs. dan kemampuan untuk menyesuaikan dengan perkembangan terkini serta kesesuaian dengan karakteristik bahan/material yang digunakan Drs. dan kebersihan karya 282 . Suwarno Untuk penilaian produk indikator 1 deskripsinya adalah: Suatu produk dari hasil pemikiran atau perilaku peserta didik yang merupakan kekuatan konseptual melalui karya lukisnya yaitu meliputi kepekaan pada suatu masalah. S.Pd Untuk indikator no 2 deskripsinya adalah: Suatu kelancaran dalam penuangan ide yang dilihat dari ketegasan pada goresan.Pd Untuk indikator 3 deskripsinya adalah: Kemampuan peserta didik dalam menyesuaikan antara media/alat yang digunakan dengan bentuk-bentuk yang dibuat dalam karya lukisnya. kebaruan teknik dan konsep cerita Bambang P. keberhasilan karya.Pd Untuk indikator 3 deskripsinya adalah: Kemampuan peserta didik dalam menyesuaikan antara media/alat yang digunakan dengan bentuk-bentuk yang dibuat dalam karya lukisnya. Susapto M. garis.Lampiran 3 Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik • Kemudian diperlengkap menjadi: Keberanian menggunakan titik. dan keberhasilan karya Dody S Deskripsi indikator 3 disederhanakan menjadi: Kemampuan menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya. Deskripsi indikator 1 disederhanakan menjadi Keaslian M. warna. bidang. ketelitian dalam penyelesaian. kualitas cara penggambaran.Sn bentuk (kemampuan menciptakan bentuk yang khas). S. S.Pd Deskripsi indikator 2 disederhanakan menjadi: Kejelasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema Udawati. dan keberanian dalam mengorganisasikan unsur-unsur rupa tersebut Enrizal. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik Untuk tahap inti indikator 4 deskripsinya adalah: Kondisi peserta didik untuk mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh-sungguh Untuk tahap inti indikator 5 deskripsinya adalah: Penggunaan waktu sebaik-baiknya untuk membuat karya lukis Dody S Sutarno. keaslian. serta kebersihan karya yang dihasilkan Sutarno. M. ide-ide. S. kemampuan abstraksinya. ketelitian dalam penyelesaian. garis.

serta kebersihan karya yang dihasilkan 3 4 5 B 1 2. Ketekunan Kondisi peserta didik untuk mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh-sungguh Pemanfaatan waktu Penggunaan waktu sebaik-baiknya untuk membuat karya lukis Komponen Produk Kreativitas Keaslian bentuk (kemampuan menciptakan bentuk yang khas). kebaruan teknik dan konsep cerita Ekspresi Kejelasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema Teknik Kemampuan menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik 2 Kesiapan alat dan bahan Suatu kondisi peserta didik yang sudah yang akan digunakan siap melakukan tugas dengan perlengkapan untuk melukis bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya A. 3 283 .Lampiran 3 F. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik. Kesimpulan Hasil dari FGD 2 ini adalah sebagai berikut: No A. unsur-unsur bentuk bidang. kualitas cara penggambaran.2 Tahap Inti 1 Kelancaran penuangan ide Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara kualitas ide yang dikembangkan dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut 2 Keberanian menggunakan Keberanian menggunakan media (alat dan media bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik inkonvensional dalam melukis Keberanian menggunakan Keberanian menggunakan titik. garis.1 1 Indikator Komponen Proses Tahap Awal Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Deskripsi Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi. A.

S. Berdasarkan alasan inilah. target dari FGD tahap III ini adalah menentukan rubrik penskoran untuk masing-masing indikator dalam penilaian proses dan produk serta membahas instrumen penilaian diri dan kelompok.Pd Dodi sudaryanto Dwi Udawati F (Ahli pengukuran ) (Ahli pengukuran) (Ahli pengukuran) ( Pakar seni lukis anak UNY) ( Guru seni lukis SD) ( Guru seni lukis MIN Tempel) ( Guru seni lukis SD Sapen II) 284 . Kriteria ini merupakan penjabaran dari deskripsi setiap indikator yang terdapat dalam penilaian. C. Latar belakang Sebuah penilaian yang baik mengandung kriteria yang berlaku secara umum.Si Bambang P. kevalidan. Target yang ingin dicapai Berdasarkan latar belakang. dan kereliabelan instrumen yang akan dibuat. selain diperlukan adanya pakar serta guru seni lukis.Pd Sutarno.Lampiran 3 FOCUS GROUP DISCUSSION TAHAP III “ PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. M. M. Oleh karena itu. Heri Retnowati Suratno Mansyur. B. perlu juga adanya ahli pengukuran untuk memberikan masukan terkait dengan segi kepraktisan. Dalam proses penyusunan rubrik skor ini. Peserta yang hadir Dr. setelah menkentukan deskripsi indikator baik untuk penilian proses maupun penilaian produk langkah selanjutnya adalah pembuatan rubrik skor untuk menentukan kriteria dari setiap level penilaian yang diberikan. maka dilaksanakan FGD tahap III untuk membahas rubrik skor penilaian proses dan produk serta instrumen awal penilaian diri dan kelompok.

Si Bambang P. sangat siap digunakan Baik kriterianya: lengkap. dan kurang lengkap Suratno Kriteria untuk setiap level dibuat dengan sederhana. Untuk tahap inti indikator 2 level sangat baik kriterianya adalah: sangat cepat. sangat kurang Untuk tahap inti indikator 1 level sangat baik kriteriannya adalah: sangat cepat. sangat relevan.Pd Sutarno. Masukan peserta yang hadir Sesi 1 Pertanyaan Masukan peserta Bagaimanakah kriteria rubrik skor untuk penilaian proses Dr. sangat tepat. M. kurang relevan. sangat tepat. S.45-19. M. Deskripsi pelaksanaan FGD tahap III dilaksanakan pada tanggal 10 April 2007 bertempat di Ruang Sidang Program Pascasarjana UNY.30-18.Pd 285 . pembahasan instrumen penilaian diri dan kelompok Penyimpulan dan penyampaian hasil diskusi Penutupan dengan doa bersama 15.30 18. pembahasan awal instrumen penilaian diri dan kelompok Diskusi sesi 1 untuk menentukan rubrik penskoran penilaian proses. tidak siap digunakan Sebaiknya kriteria diganti menjadi sangat baik.45 18.30-18. tidak siap digunakan Sangat kurang kriterianya: kurang lengkap .30 17. Adapun jalannya pelaksanaan FGD tersebut disajikan pada tabel berkut: Waktu 15. misalnya untuk tahap awal indikator 2 Sangat baik kriterianya: sangat lengkap. cukup lengkap.00 E. jarang. cukup.45 Aktivitas Pembukaan mengutarakan maksud dan tujuan FGD diikuti dengan perkenalan peserta yang hadir Presentasi pengenalan topik yang akan dibahas yaitu menentukan rubrik penskoran untuk setiap indikator pada penilaian proses dan produk. Diskusi sesi 2 untuk menentukan rubrik penskoran penilaian produk.00-15. siap digunakan Kurang kriteriannya: kurang lengkap. relevan.30 15. baik. sangat sesuai dengan media sedangkan untuk level lainnya menyesuaikan.Lampiran 3 D. Heri Retnowati Level penilaian bisa berupa: tidak pernah. dan sering atau sangat lengkap. lengkap. tidak relevan. Mansyur. kurang.30-15.45-17.

Heri Retnowati Untuk penilaian produk indikator 1 level sangat baik kriteriannya: bentuk yang diciptakan sangat khas. sangat bersih Untuk penilaian diri dan penilaian kelompok katagori jawaban dapat dibuat dengan menggambar ekspresi muka baik itu marah. Kesimpulan Kesimpulan FGD tahap III ini dapat dilihat pada tabel 286 . teknik sangat inovatif Suratno Untuk penilaian produk indikator 1 level sangat baik kriteriannya: bentuk yang diciptakan sangat khas.Lampiran 3 sangat sesuai dengan karakteristik media sedangkan untuk level lainnya menyesuaikan Untuk tahap inti indikator 3 level sangat baik kriterianya adalah:sangat berani. konsep cerita sangat kaya Mansyur. M. sangat berani dalam karya Untuk penilaian produk indikator 3 level sangat baik kriteriannya:sangat sesuai karakteristik media. sangat cermat. sangat artistik Untuk tahap inti indikator 4 level sangat baik kriterianya adalah:Sangat bersungguh-sungguh Untuk tahap inti indikator 5 level sangat baik kriterianya adalah:Karya selesai sebelum waktu berakhir Dodi sudaryanto Dwi Udawati F Sesi 2 Pertanyaan Bagaimanakah kriteria rubrik skor untuk penilaian produk Dr. teknik sangat inovatif. sangat tegas Untuk penilaian produk indikator 2 level sangat baik kriteriannya: sangat jelas.Pd Untuk penilaian produk indikator 2 level sangat baik kriteriannya: sangat jelas. sangat tegas. S.Pd Dodi sudaryanto Dwi Udawati F F.Si Untuk penilaian produk indikator 2 level sangat baik kriteriannya: Sangat jelas Bambang P. sangat tepat . M. biasa-biasa. atau senang Masukan peserta Sutarno.

Sangat baik perilaku (ekspresi. Kurang • • • • 287 .Lampiran 3 Tabel 3 Rangkuman Hasil FGD Ketiga No 1 Indiaktor Komponen Proses tahap Awal Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Deskripsi Level Kriteria • • • • • • • • Bertanya seperlunya seputar tema lukisan kepada guru Tidak pernah mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan sangat cepat Memperlihatkan kegairahan yang sangat tinggi untuk memulai melukis Jarang bertanya seputar tema lukisan kepada guru Jarang mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan cepat Memperlihatkan kegairahan yang tinggi untuk memulai melukis Sering bertanya seputar tema lukisan kepada guru Cukup sering mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan cukup cepat Memperlihatkan kegairahan yang cukup tinggi untuk memulai melukis Sangat sering bertanya seputar tema lukisan kepada guru Sering mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan lambat Memperlihatkan kegairahan yang kurang untuk memulai melukis Reaksi peserta didik berupa 4. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik 3. Cukup • • • • 1. Baik 2.

Kurang 288 . Kurang No 3 Indiaktor Komopnen Deskripsi Level Proses tahap Inti Kelancaran penuangan Kondisi peserta didik pada 4. Baik untuk memvisualisasikan ide tersebut 2. Sangat baik waktu membuat karya lukis ide yaitu adanya keseimbangan antara ide yang ada dalam diri siswa dengan keterampilan 3. Sangat baik yang sudah siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya 3. Cukup Kriteria • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan sangat lengkap • Alat dan bahan sangat siap untuk digunakan • Alat dan bahan sangat mendukung kegiatan melukis • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan lengkap • Alat dan bahan siap untuk digunakan • Alat dan bahan mendukung kegiatan melukis • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan cukup lengkap • Alat dan bahan cukup siap untuk digunakan • Alat dan bahan sangat mendukung kegiatan melukis • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan kurang lengkap • Alat dan bahan kurang siap untuk digunakan • Alat dan bahan kurang mendukung kegiatan melukis Kriteria • • • • • • • • • • • Sangat cepat dalam menemukan ide Sangat tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide Sangat cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Cepat dalam menemukan ide Tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide Cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Cukup cepat dalam menemukan ide Cukup tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide Cukup cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Lambat dalam menemukan ide Kurang tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide 1. Cukup 1.Lampiran 3 No 2 Indiaktor Kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis Deskripsi Level Suatu kondisi peserta didik 4. Baik lukisnya 2.

Cukup 1. dan warna untuk menghasilkan bentuk yang orisional/khas 3. Baik 2. Kurang Kriteria • Sangat cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Sangat tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media sangat sesuai dengan karakteristiknya • Cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media sesuai dengan karakteristiknya • Cukup cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Cukup tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media cukup sesuai dengan karakteristiknya • Lambat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Kurang tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media kurang sesuai dengan karakteristiknya No 5 Indiaktor Keberanian menggunakan unsur bentuk Deskripsi Level Kemampuan menggunakan 4. Sangat baik unsur. bidang) mendukung pertimbangan estetik • Penggunaan warna mendekati warna sebenarnya 289 .titik. bidang. bidang) sangat mendukung pertimbangan estetik • Penggunaan warna sangat mendekati warna sebenarnya • Sangat berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis • Variasi unsur-unsur bentuk(garis. Baik Kriteria • Variasi unsur-unsur bentuk (garis. garis. Sangat baik media (alat dan bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik bebas dalam melukis 3.Lampiran 3 • Lambat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media No 4 Indiaktor Keberanian menggunakan media Deskripsi Level Kemampuan menggunakan 4.

4. Kurang • • • 6 Pemanfaatan waktu Penggunaan waktu baiknya dilakukan membuat karya lukis sebaik. Sangat baik mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh. bidang) cukup mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna cukup mendekati warna sebenarnya Cukup berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis Variasi unsur-unsur bentuk sedikit (garis. Cukup • • • 1. Kurang No 8 Indiaktor Komponen Produk Kreativitas Deskripsi Level • • • • • • • • • • • • • • • • Kriteria • • Berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis Variasi unsur-unsur bentuk (garis. bidang) mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna tidak mendekati warna sebenarnya Kurang berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis Menyelesaikan karya lukis dengan sangat tepat waktu Memperlihatkan hasil karya lukis yang sangat tuntas Menyelesaikan karya lukis dengan tepat waktu Memperlihatkan hasil karya lukis yang tuntas Menyelesaikan karya lukis dengan cukup tepat waktu Memperlihatkan hasil karya lukis yang cukup tuntas Menyelesaikan karya lukis dengan kurang tepat waktu Memperlihatkan hasil karya lukis yang kurang tuntas Sangat serius dalam membuat karya lukis Perhatian terhadap karya lukis sangat terfokus Serius dalam membuat karya lukis Perhatian terhadap karya lukis terfokus Cukup serius dalam membuat karya lukis Perhatian terhadap karya lukis cukup terfokus Tidak serius dalam membuat karya lukis Perhatian terhadap karya lukis kurang terfokus Keaslian bentuk (kemampuan 4. Kurang 7 Ketekunan Kondisi peserta didik untuk 4. Baik sungguh 2. Baik 2.3. Cukup 1. Sangat baik untuk 3.Lampiran 3 • 2. Sangat baik menciptakan bentuk-bentuk baru) Tidak pernah melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang sangat tinggi dalam memodifikasi objek 290 . Cukup 1.

Kurang No 9 Indiaktor Ekspresi Deskripsi Level Kejelasan dalam 4.Lampiran 3 • • • • • • • • • • • • • • • • • Warna yang digunakan sangat bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang sangat tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang sangat banyak Jarang melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang tinggi dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang banyak Cukup sering melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan cukup bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang cukup banyak Sering melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang kurang dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan kurang bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang kurang dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang kurang banyak 3. Cukup 1. Baik • Kriteria • Sangat jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan • Sangat tegas/ spontan dalam mengungkapkan garis • Sangat berani dalam mengorganisasikan unsur-unsur karya lukis • Jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan • Tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna 291 . Baik 2. Sangat baik mengungkapkan isi/tema/konsep lukisan 3.

Baik 2. Sangat baik dan bahan sesuai dengan karakteristiknya serta kebersihan karya yang dihasilkan 3.Lampiran 3 • • • • 1. Cukup 1. Cukup No 10 Indiaktor Teknik Deskripsi Level Kemampuan menggunakan alat 4. Kurang • • • Berani dalam mengorganisasikan unsur-unsur karya lukis Cukup jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Cukup tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Cukup berani dalam mengorganisasikan unsur-unsur karya lukis Kurang jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Kurang tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Kurang berani dalam mengorganisasikan unsur-unsur karya lukis 2. Kurang Kriteria • Alat dan bahan yang digunakan sangat sesuai karakteristiknya • Sangat teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan sangat bersih • Alat dan bahan yang digunakan sesuai karakteristiknya • Teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan bersih • Alat dan bahan yang digunakan cukup sesuai karakteristiknya • Cukup teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan cukup bersih • Alat dan bahan yang digunakan kurang sesuai karakteristiknya • Kurang teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan kurang bersih 292 .

Pd Wasis. dan instrumen penilaian kelompok. M. II. M. dan III. serta mahasiswa S3 program studi PEP. Heri Retnowati Suratno. instrumen penilain diri.Pd Sujiatno. instrumen yang telah disusun tersebut masih memerlukan fiksasi dari ahli-ahli pengukuran.Pd (Pakar seni lukis anak/promotor) (Ahli pengukuran) (Ahli pengukuran) (Ahli pengukuran) ( Dosen dan Mahasiswa PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) 293 .Pd Kulsum.Lampiran 4 SEMINAR “ PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. Oleh karena itu.Pd Sudiyatno. M. dilaksanakanlah seminar instrumen dengan melibatkan pakar seni lukis anak . M. Namun demikian. M.D Dr. Latar belakang Berdasarkan hasil yang diperoleh dari FGD tahap I. target dari seminar ini adalah untuk melakukan fiksasi terhadap instrumen penilaian seni lukis anak yang terdiri dari instrumen penilaian proses dan produk. Ph. instrumen penilaian diri. M.Pd Mansur.Pd Harun. B. M. Peserta yang hadir Prof. Target yang ingin dicapai Berdasarkan latar belakang. ahli pengukuran. dan instrumen penilaian kelompok.Pd Endang Sulistyowati. Sofyan Salam. M. C. maka disusunlah instrumen penilaian seni lukis anak yang terdiri dari instrumen penilaian proses dan produk.

Adapun kronologis pelaksanaan seminar tersebut disajikan pada tabel berkut: Waktu 08.15-10.30 10.Sofyan Salam.40 E. M. dengan demikian setiap level mengandung kriteria yang sama hanya tingkat keterpenuhannya yang berbeda Mansur.Pd Penentuan level dilakukan berdasarkan banyaknya keterpenuhan kriteria. M.D Kata-kata sangat atau segera dihilangkan karena indikator yang menyatakan sangat atau segera sangat sulit ditentukan Dr.15 09. 294 .Pd Suatu instrumen harus disusun sesederhana mungkin tetapi mewakili apa yang ingin kita ketahui dengan instrumen itu.Lampiran 4 D. Masukan peserta yang hadir Sesi 1 Pertanyaan Masukan peserta Berapa persenkah bobot untuk penilaian proses dan produk Prof. misalnya sebagai berikut: • Sangat baik jika ketiga kriteria terpenuhi • Baik jika hanya dua kriteria yang terpenuhi • Kurang jika hanya satu yang terpenuhi • Sangat kurang jika tidak ada satu pun kriteria yang terpenuhi Suratno. Oleh karena itu.15-09.15 Aktivitas Pembukaan mengutarakan maksud dan tujuan seminar diikuti dengan perkenalan peserta yang hadir Presentasi pengenalan topik yang akan dibahas yaitu instrumen penilaian proses dan produk.Pd Dalam menentukan level dengan cara menentukan banyaknya kriteria yang dipenuhi.30-08. Heri Retnowati Penentuan level dilakukan dengan menentukan banyaknya kriteria yang dipenuhi. Ph.00-08. Deskripsi pelaksanaan Seminar dilaksanakan pada tanggal 16 April 2008 bertempat di Ruang Diskusi Mahasiswa Program Pascasarjana UNY. dan instrumen penilaian kelompok Diskusi sesi 1 untuk fiksasi instrumen penilaian proses dan produk Diskusi sesi 2 untuk fiksasi instrumen penilaian diri dan kelompok Penyimpulan dan penyampaian hasil diskusi Penutupan dengan doa bersama 08. M. kita tidak harus menggunakan sistem hierarkis artinya dari atas kebawahtetapi bebas kriteria yang terpenuhi Harun.15 10.30 08.30-10.15-10. instrumen penilaian diri.

M. 295 . Kesimpulan Kesimpulan dari seminar ini berupa draft instrumen penilaian seni lukis anak yang siap digunakan.Pd Wasis. sebaiknya gambar yang dimunculkan diberi aksen warna yang disesuaikan dengan gambar tersebut.Pd Soal berbentuk uraian cukup diberikan satu soal karena untuk menghindari kejenuhan siswa dalam menuliskan ungkapan ekspresinya Mansur.Lampiran 4 kriteri ada baiknya dibatasi maksimal terdiri dari tiga buah kata Perlu dilakukan penyederhanaan kata-kata agar lebih mudah untuk digunakan Setiap kriteria tidak menunjukan tingkatan. M.Pd Sudiyatno. Ph. tetapi dapat diacak Dengan tidak memberlakukannya sistem hierarkis. jadi keterpenuhan kriteria tidak harus dari atas ke bawah atau sebaliknya. Instrumen tersebut akan berdampak pada tingkat keakuratan siswa dalam mengungkapkan perasaanya terkait dengan aktivitas seni rupa yang dilakukan F.Pd Selain dari segi konten. Misal marah berwarna merah. M. praktisi yaitu guru seni akan lebih mudah dalam menggunakan instrumen ini Penentuan level penilaian dengan metode tingkat keterpenuhan kriteria akan mempermudah guru dan menghemat waktu penggunaanya Endang Sulistyowati. M. sebuah angket perlu juga memperhatikan desainnya seperti identitas siswa hal ini dimaksudkan agar pengisian angket tidak dilakukan serta merta. perlu juga ditambahkan adanya soal yang berbentuk uraian agar siswa dapat lebih mengekspresikan perasaanya Suratno.Pd Sujiatno.Pd Sesi 2 Pertanyaan Masukan peserta Apakah indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak Prof.Pd Agar lebih menarik.D Penggunaan gambar pada sebuah angket merupakan sesuatu yang baru dan menarik serta mudah digunakan siswa Dr. M. Kulsum.Sofyan Salam. Heri Retnowati Disamping adanya soal pilihan ganda. M.Pd Instrumen penilaian yang dikombinasikan dengan gambar merupakan sesuatu yang baru dan menarik. Harun. netral berwarna kuning. M. senang berwarna hijau. M.

Ekspresi dari karya yang dihasilkan 3. Indikator Tahap awal 1. Kelancaran penuangan ide 2. 296 .Lampiran 5 KISI-KISI INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” KISI-KISI LEMBAR EVALUASI DIRI No 1 2 3 Indikator Perasaan siswa terhadap tugas yang diberikan Kemampuan siswa dalam mengerjakan tugas Perasaan siswa terhadap karya yang dihasilkan KISI-KISI LEMBAR EVALUASI KELOMPOK No 1 2 3 4 Indikator Kemampuan siswa dalam menggambar objek Kemampuan siswa dalam memilih warna Kebersihan karya Penilaian terhadap lukisan secara keseluruhan Butir 1 2 3 4 Butir 1 2. Tanggapan anak tentang tema lukisan yang akan dibuat 2. Kreativitas dari karya yang dihasilkan 2. Keberanian menggunakan media 3. Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk 4.3 4 KISI-KISI ANGKET PENILAIAN PROSES DAN PRODUK No A. Kesiapan bahan dan alat yang akan digunakan untuk melukis Tahap inti 1. Pemanfaatan waktu 5. Teknik dari karya yang dihasilkan Butir 1 2 B. 1 2 3 4 5 1 2 3 C. Ketekunan dalam membuat karya Tahap akhir 1.

Kurang 1. Baik 297 . ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik 3. Sangat baik perilaku (ekspresi. Tahap Awal No 1 Indikator Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Deskripsi Level Reaksi peserta didik berupa 4.Sangat kurang 2 Kesiapan alat dan bahan Suatu kondisi peserta didik yang 4.Lampiran 5 RUBRIK SKOR RUBRIK SKOR PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. Baik Kriteria Terpenuhi 3 aspek • Menerima • Memahami • Melaksanakan Terpenuhi 2 aspek • Menerima • Memahami • Melaksanakan Terpenuhi 1 aspek • Menerima • Memahami • Melaksanakan Tidak terpenuhi 3 aspek • Menerima • Memahami • Melaksanakan Terpenuhi 3 aspek • Lengkap • Relevan • Siap digunakan Terpenuhi 2 aspek • Lengkap • Relevan • Siap digunakan 2. PROSES PEMBELAJARAN 1. Sangat baik yang akan digunakan sudah siap melakukan tugas untuk melukis dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya 3.

Sangat baik (alat dan bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik 298 .Lampiran 5 2. Baik memvisualisasikan ide tersebut Kriteria Terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Terpenuhi 2 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Terpenuhi 1 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Tidak terpenuhi 3 aspek • Lambat • Tepat • Sesuai dengan media Terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media 2.Sangat kurang 2 Keberanian menggunakan media Keberanian menggunakan media 4. Tahap Inti No 1 Indikator Kelancaran ide Level penuangan Kondisi peserta didik pada 4. Kurang 1. Sangat baik waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara kualitas ide yang dikembangkan dengan keterampilan untuk 3. Kurang Terpenuhi 1 aspek • Lengkap • Relevan • Siap digunakan Tidak terpenuhi 3 aspek • Lengkap • Relevan • Siap digunakan 1.Sangat kurang 2.

Baik Terpenuhi 2 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Terpenuhi 1 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Tidak terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Terpenuhi 3 aspek • Berani • Tepat • Artistik Terpenuhi 2 aspek • Berani • Tepat • Artistik Terpenuhi 1 aspek • Berani • Tepat • Artistik Tidak terpenuhi 3 aspek • Berani • Tepat • Artistik • • 299 Sangat bersungguh-sungguh 2.Sangat kurang 3 Keberanian menggunakan unsur bentuk Keberanian menggunakan titik. 3. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik.garis. Baik 2. Baik Bersungguh-sungguh . 4. Sangat baik unsur. bidang. Sangat baik mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguhsungguh 3. Kurang 1.Lampiran 5 inkonvensional dalam melukis 3. Kurang 1.Sangat kurang 4 Ketekunan Kondisi peserta didik untuk 4.

Sangat kurang B. Kurang 1. Baik • 2.Lampiran 5 2. kebaruan teknik dan konsep cerita 3. Baik Kriteria Terpenuhi 3 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Terpenuhi 2 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Terpenuhi 1 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya 2.Sangat kurang • 5 Pemanfaatan waktu Penggunaan waktu baiknya dilakukan membuat karya lukis sebaik. Kurang 300 .4. Kurang • 1. Sangat baik menciptakan bentuk yang khas). PRODUK No Indikator 1 Kreativitas • • Karya selesai tepat waktu Karya hampir selesai saat waktu berakhir Karya tidak selesai saat waktu berakhir • Tidak bersungguh-sungguh Kurang bersungguh-sungguh Karya selesai sebelum waktu berakhir Level Keaslian bentuk (kemampuan 4. Sangat baik untuk 3.

Sangat baik dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya. Kurang 1.Sangat kurang 3 Teknik Kemampuan menggunakan alat 4. serta kebersihan karya yang dihasilkan 3. Baik 2.Lampiran 5 1. Baik 301 . Sangat baik mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema 3.Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Terpenuhi 3 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Terpenuhi 2 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Terpenuhi 1 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Tidak terpenuhi 3 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Terpenuhi 3 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Terpenuhi 2 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih 2. Ekspresi Kejelasan dalam 4. kualitas cara penggambaran.

Kurang Terpenuhi 1 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Tidak terpenuhi 3 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih 1.Lampiran 5 2.Sangat kurang 302 .

.................. Ketekunan dalam membuat karya B Produk 1........................ Kelancaran penuangan ide 2............1 Proses Tahap awal Baik (3) Kurang (2) Sangat kurang (1) 1........ Keberanian menggunakan media 3.... Teknik dari karya yang dihasilkan Catatan: ...... Tanggapan anak tentang tema lukisan yang akan dibuat 2........... ............................................................2 Tahap inti 1............................ Kreativitas dari karya yang dihasilkan 2.............................. Pemanfaatan waktu 5........ 303 ..................... Kesiapan bahan dan alat yang akan digunakan untuk melukis A..... Ekspresi dari karya yang dihasilkan 3.Lampiran 5 ANGKET PENILAIAN PROSES DAN PRODUK ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ANAK” Nama siswa : KODE G02 Kelas/semester : Nama tugas Tanggal Nama penilai : : : Berilah tanda v pada kolom yang sesuai dengan pilihan anda! No Indikator Sangat baik (4) A A............................................ Keberanian menggunakan unsurunsur bentuk 4................

......... Saya ........................................................................ 304 ........................................................terhadap hasil pekerjaan saya.............................................................................Lampiran 5 LEMBAR PENILAIAN DIRI ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ANAK” Nama : Tanggal : Nama tugas : Tanggal pengumpulan : Berilah tanda v pada kotak yang dipilih! 1..terhadap tugas yang diberikan................................................. dalam mengerjakan tugas.................................................................... KODE S01 2....... Ceritakanlah pengalaman menarikmu serta kendala-kendala yang dihadapi selama pembuatan karya lukis serta usaha-usaha untuk mengatasi kendala-kendala tersebut ! ............ Saya.......... Saya. 3........ Saya . dalam proses penciptaan karya saya 4............................................... ............................................. ............

.................... .................................................................. ............................................................. Saya .......... Saya…………………........................................ 3........................ Berilah saran dan pendapatmu terhadap karya lukis yang dibuat! ..............terhadap bentuk objek lukisan............................ Saya …………………terhadap komposisi warna yang digunakan..........Lampiran 5 LEMBAR PENILAIAN KELOMPOK (Peer Assessment) ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ANAK” Nama pemilik : Tanggal : Nama tugas : Tanggal pengumpulan : Berilah tanda v pada kotak yang dipilih! 1.........terhadap kebersihan lukisan 4............ KODE S02 2...................... Saya…………………terhadap lukisan secara keseluruhan.................................................................... Nama penilai: 305 ....

 Dava Surya Abi Y.M  306 .Naufal Rizqita  Rayhan Adikusuma  Rizky Dafa P  Aqlia Tsalisa Azmani  Ashylla Paramadanti  Cahyaningtyas Iftitah  Chairunnisa Yulia W  Dyah Pradina P  Dyah Sekar Ayu K  Fahra Prahastanti P  Hana Fazah Nur S  Keisha Amadea  Nabila Permata Sari  Nur Azizah  Ranita Salsabila  Ria Rahma Sukma W  Septiana Tidar  Andika Bagas  Andi Maulana  Ade Itko M  Anindita Dara L  David Revaru  Vebrian Agung W  Kurniawan Dwi Y  M.  Amelia Noor Putri M  Artantri Widasari  Chatarine Dyela Eillen R  Dicky Armayuda  Eridani Kartiko Adi  Gatot Ismail  Gufron Gilang Zahru Saputra  Indah Budi Kartikarini  Insan Fadilah Harvianto  Ismalia Ramadhani Putri  M.N  Siska Tri W  Yacinta Nararia S  Karizma Putri R  Salwa Sauzan R  Alfia Rahma De  Anissa N.Lutfi Mahendra  M.B.  Malaghina Kusuma H  Rio Satya Fauzi  Freddy PP  Siti Aziroh Rahmatika  Shella Kumalasari  Shelli Puspitasari  Sugiharto.A. Farid Abdurrahman        Sutarno  1  3  3  4  4  3  4  3  3  2  4  3  4  4  4  4  3  3  3  4  3  4  1  4  3  3  4  4  3  4  4  2  2  4  4  3  3  4  4  2  4  4  4  2  4  4  4  4  4  4  4  4  2  4  4  4  4  4  4  4  4  2  2  4  4  3  4  2  3  2  4  4  4  4  3  4  4  3  1  4  3  4  4  2  3  3  3  4  3  4  4  2  2  4  4  4  3  4  4  3  3  4  4  2  2  4  4  4  4  4  4  4  2  4  4  3  3  3  3  2  4  2  3  4  4  2  4  2  2  2  3  3  3  4  3  4  3  2  3  3  2  3  3  3  3  3  4  4  3  3  4  2  2  4  4  3  3  3  4  3  4  4  3  3  3  4  4  3  4  4  4  4  4  4  3  3  4  3  4  3  4  1  3  4  4  3  4  2  3  2  3  3  4  4  3  3  3  2  3  3  3  3  3  3  2  3  4  4  4  4  4  2  2  4  4  3  2  4  3  3  4  4  3  3  4  4  4  3  4  4  3  4  3  4  3  3  4  3  4  2  4  1  2  4  4  2  4  2  3  1  2  3  3  4  3  3  2  2  3  4  1  3  2  2  2  3  4  4  4  3  4  2  2  4  4  3  2  4  3  4  4  4  3  3  3  3  4  3  4  4  3  4  2  4  3  3  4  3  4  4  4                  Udawati  2  3  4  4  2  4  2  2  2  3  3  3  4  3  4  2  2  3  3  3  3  3  3  3  3  4  4  3  3  4  2  2  4  3  3  3  3  3  3  4  4  3  3  3  4  4  4  4  4  4  4  4  4  3  3  3  3  4  3  4  1  3  4  4  3  4  2  3  2  3  4  3  4  3  3  3  2  3  3  3  3  3  3  2  3  4  4  4  4  4  2  3  4  3  3  3  4  3  3  4  4  3  3  4  4  4  3  4  4  3  4  3  4  3  3  3  3  3  2  4  1  2  4  4  2  4  2  3  1  3  3  3  4  3  3  3  2  3  3  1  3  2  2  2  3  3  4  4  3  4  2  2  4  2  3  3  4  3  4  4  4  3  3  3  3  4  4  4  4  3  4  2  4  3  3  3  3  4  3  4  2  3  2  4  3  2  3  3  3  4  2  3  4  3  3  2  3  4  2  3  2  2  4  3  3  3  4  3  3  4  2  3  3  3  3  3  4  3  4  4  4  3  3  3  4  4  3  4  3  3  4  2  4  4  3  4  4  4  2  4              Dodi  1  3  3  4  3  4  2  3  2  2  3  3  4  4  4  3  2  3  3  3  3  3  3  2  3  4  4  4  4  4  2  2  4  4  3  3  3  4  3  4  4  3  3  4  4  4  3  4  4  3  4  3  4  3  3  3  4  4  3  4  1  2  3  4  2  4  2  3  1  2  3  3  4  4  4  3  2  3  2  3  3  2  2  2  3  4  4  4  3  4  2  2  4  4  3  4  3  4  4  3  4  3  3  3  3  4  3  4  4  3  4  2  4  3  3  3  3  3  3  4      2  3  4  5  6  7  1  2  3  4  5  6  7  1  2  3  4  5  6  7  2  3  4  4  3  4  3  3  3  3  3  3  4  3  3  3  3  4  4  3  2  2  4  3  3  3  4  3  3  4  2  3  3  3  3  3  4  4  4  4  4  3  3  3  4  4  3  4  4  3  4  2  4  4  3  4  4  4  2  4  1  2  2  2  1  2  1  1  2  2  2  2  4  2  2  2  3  3  3  3  3  3  3  3  4  4  3  4  4  4  2  3  3  3  4  3  3  4  4  4  4  4  4  4  4  4  4  4  4  3  4  2  4  4  4  3  3  4  3  4  3  3  4  4  3  4  3  3  2  2  3  3  4  2  4  2  3  3  3  3  4  1  4  3  3  4  4  3  4  4  2  2  4  3  3  3  4  3  2  4  4  4  2  4  4  4  3  4  4  4  4  2  4  4  4  3  4  4  3  4  2  2  4  4  3  4  2  3  2  3  3  3  4  3  3  3  3  1  3  3  4  4  2  3  3  3  4  3  4  4  2  2  4  3  4  3  4  3  3  3  4  4  2  2  4  4  3  4  4  4  4  2  4  4  3  3  4  2  2  4  1  2  3  2  1  4  1  1  2  3  3  3  4  3  4  3  3  3  3  2  3  3  3  3  4  4  3  3  4  4  2  3  3  3  4  3  3  3  4  4  4  4  4  4  4  4  3  4  4  3  4  2  4  4  4  4  4  4  2  4  3  3  3  4  3  4  3  3  2  1  1  2  4  4  4  3  3  3  1  1  4  1  4  3  3  4  4  3  4  4  2  2  4  4  3  3  4  3  2  4  4  4  2  4  4  4  3  4  4  4  4  2  4  4  4  4  4  4  3  4  2  2  3  4  3  4  2  3  2  3  3  3  4  4  4  3  3  1  3  3  4  4  2  3  3  3  4  3  4  4  2  2  4  4  4  4  4  4  3  4  4  4  2  2  4  4  4  4  4  4  4  2  4  4  3  4  4  2  2  4  2  3  4  4  2  4  2  2  2  2  3  3  4  4  4  3  2  3  3  3  3  3  3  3  3  4  4  3  3  4  2  2  4  4  3  4  4  4  3  4  4  3  3  3  4  4  3  4  4  4  4  4  4  3  3  4  4  4  4  4  2  3  3  4  3  4  3  3  3  4  2  2  4  3  3  2  3  4  2  3  2  2  4  3  3  4  4  4  3  4  2  3  3  4  3  3  4  3  4  4  4  3  3  3  4  4  2  4  4  3  4  2  4  4  3  4  4  4  1  4  1  2  3  2  1  2  1  1  2  2  3  2  4  4  4  3  3  3  3  3  3  3  3  3  4  4  3  3  4  4  2  3  3  4  4  3  4  3  4  4  4  4  4  4  4  4  3  4  4  3  4  2  4  4  4  4  4  4  2  4  Muhammad Roofi'l A  Nida Salma Hajaroh  Nurfitri Andani  Ragil Saputro Mujiono  Rif'atul Widaan Khotibin Tamhid  Royhan Ikbar  Sekar Cendana Arum  Nadila Fatimatuzzahra A.Lampiran 6 Data Penilaian Proses Kelas I  Nama  Ade Firmansyah  Daffa Malik Falaq  Deandra Visto D  M.

Aqib Husni Fadhli Muh.Lampiran 6 Data Penilaian Proses Kelas II Nama Afkar Zaka Y Alif Fahmi Mahendra Azka Hikam Z M. Tsani Ihsani Y Muh.W Pradipta Wisnu Timur Dwi Indraja Agni Vasha Salsabila Alvira Niryana Aulia Astagina Dhiyaurrohmah Kamila Muyasaroh Melinia Debbytasari Noor Diana Arrasyid Oktaviana Rahindra Shafa Nabilla Haya Sheila Alfauziya P Yuliana Zahrajuncta Lusiana Martini Amelia Prisca Brigita Anggun Pratiwi Anisa Nur Rahmah Arviananda Ade H Bintang Nugrahani Galang Permataputra Galuh Intisari Muh.Zauhar Nanda Naya P. Abdul Gani Sarining Hanggani Kasih Teddy Arfansyah N Yuliana Larasari Dikta Wahyu Pratama Awang Pramono Isla Magda S Joko Bagus B Novia Permatasari Kusuma Nuraini Yulia Catur Wulandari Ikhsan Panji Irawan A'Issyatun Wahyu Ningsih Ainun Amaliya Paramita Arini Dewi Nuraini Chusnunnisa Suryanudin Ummu Habibah Halida Salsabila Hasna Maretta Sausana Hasna Ulfiaa Humairoh Rosida Akhir Khilmi Khayatun Nisha Kiki Dwi Widyasari Lutfina Aribah Miftakhurrohmah Nafisa Ainurrahmah Novryan Armawida Rizki Putri Utami Salman Kurnia Haq Sinta Primadita Siti Maryam S Wakhid Hasyim Sutarno 1 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 4 3 3 3 4 4 3 4 4 3 2 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 Udawati 6 4 4 2 4 2 2 3 3 4 4 3 3 4 3 4 4 4 4 4 3 2 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 3 4 2 3 4 4 4 3 3 4 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 2 4 4 Dodi 6 4 4 3 4 4 2 3 2 2 3 2 3 4 3 4 4 4 3 2 2 2 3 4 4 3 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 2 4 3 3 2 3 4 4 3 3 3 4 2 3 3 3 4 4 4 4 3 3 2 4 4 2 3 4 3 1 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 2 3 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 3 4 4 3 4 4 4 2 3 4 4 4 3 4 4 2 2 2 2 4 2 4 4 3 3 4 3 3 4 4 2 3 4 3 4 3 3 3 4 4 4 4 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 3 4 3 2 3 3 4 3 4 3 3 4 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 4 4 4 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 4 3 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 4 4 2 3 3 5 3 4 3 4 4 4 2 2 3 4 4 3 2 4 4 4 4 4 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 4 3 3 4 4 4 3 3 3 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 2 3 4 7 3 3 3 3 4 4 1 2 2 2 3 2 2 2 2 4 4 4 3 2 4 4 4 4 3 4 2 3 3 3 4 4 4 4 4 2 4 3 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 2 4 4 1 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 2 3 3 4 4 3 3 3 3 4 3 4 3 4 3 3 4 3 3 4 3 4 4 4 4 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 3 3 2 4 4 2 3 4 3 1 4 4 3 3 3 4 4 3 4 3 2 4 3 4 2 3 2 3 3 4 4 4 3 4 3 4 3 4 3 4 3 2 4 3 3 4 3 4 4 3 2 3 4 3 4 3 3 4 2 2 2 2 3 2 4 4 3 3 4 3 3 2 4 2 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 2 3 3 4 4 3 4 3 4 4 3 4 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 4 2 3 2 3 4 4 4 3 4 3 2 3 3 4 3 4 2 3 4 4 3 3 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 4 4 4 3 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 3 2 3 3 5 3 4 3 4 4 4 2 2 3 4 3 3 2 3 4 4 4 3 2 3 2 3 4 3 4 3 2 4 3 4 3 3 3 4 3 2 4 2 2 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 2 3 4 4 3 3 3 3 2 4 4 7 3 3 3 3 4 4 1 3 4 3 3 3 2 4 4 4 4 3 2 3 4 4 4 4 3 2 4 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 3 3 3 3 4 4 3 3 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 2 3 4 1 3 4 3 3 2 4 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 3 3 4 3 3 4 3 4 4 4 4 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 3 4 2 4 4 2 3 4 3 1 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 3 4 4 3 4 4 4 2 3 4 4 4 4 4 4 2 2 2 2 4 2 4 4 3 3 4 2 3 4 2 2 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 4 2 3 2 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 3 2 3 3 5 3 3 3 4 4 4 2 2 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 4 4 2 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 4 4 3 2 4 4 6 4 4 3 4 4 4 3 2 3 3 4 3 4 3 4 4 3 4 4 3 2 3 4 4 3 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 2 4 3 3 2 3 4 4 4 3 3 4 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 2 4 4 7 3 4 3 3 4 4 1 3 4 4 4 4 2 4 2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 2 4 3 4 3 3 4 4 4 3 3 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 2 3 4 307 .

Farizi Gustaf  M.Ibrahim  M.Afdan Nurul Hilman  M.Lampiran 6 Data Penilaian Proses Kelas III  Nama  Alwi Izha Farandi  David Aldi Saputra  Laode Aldifan  M.Fauzan  M.Zulfikar  Muqni Aqsoinna  Suryatama Gallang  Aulia Rizki  Dini Puspo  Elfira Ciptaningtyas  Elma Damarista  Fadhila Khoirunisa  Inna Salma Fahman  Khanifah Noor  Nur Amalia Andini  Ratu Yeremenia S  Syifa Azizah  Ade Yoga Endy S  Bekti Rachmawati  Maria Sri Adiningsih  Novianto Adi Saputra  Wahyu Praktika D  Yunina Dea J  Bilqies Amalia A  Nova Puspitasari  Anggita Wulandari  Anjas Deva Felano  Eria Putri Pratiwi  Fitriyani  Ika Purwaningsih  Ilham Yusril Munawar  Massayu Seilla Annisa  Musriati  Rivan Pandu Adi Winata  Muh. Miftahul Firdaus  Anggi Dwina Siregar  Rusmini  Afiana Nurkholishotus Shohibah  Andi Rahmat Wulansyah  Eka Yuliani  Fegi Tri Damayanti  Fitri Nurul Hanifah  Imam Zuhdi  Inna Rahmatul Ulya  Jalu Ukir Damatama  Hilda Ayu Wibisana  Ninggih Annisa Daniswara  Pilar Paksi Pratama  Rafli Khooinurizal  Rapsanjani  Riswa Rahman Fahmi  Rivani Rahmania Afifah  Rizki Nur Chaerani  Rizqi Haritz Pebiantara  Zanityara Syah Syadila  Zetta Nillawati Reyka Putri  Nurul Arifah        Sutarno  2  3  3  4  4  3  3  3  4  4  3  4  4  4  4  3  3  3  3  3  2  3  3  3  3  4  3  4  4  3  4  2  4  3  4  4  4  4  3  3  4  3  2  3  4  4  4  4  3  3  4  4  3  2  4  3  4  4  4  4  2  4  3  4  4  3  3  3  3  4  3  4  4  4  4  4  4  2  4  4  2  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  2  4  3  4  4  3  3  4  3  4  4  4  4  4  4  3  3  3  3  4  3  2  2  3  4  4  4  4  4  3  3  3  4  4  1  3  3  4  4  3  3  4  4  4  3  3  3  3  3  2  2  2  3  3  4  3  3  3  3  3  2  4  3  3  3  4  4  3  3  4  3  3  3  4  3  3  4  3  4  3  3  3  2  4  3  4  3  3  3  2  3  3  4  4  2  3  3  4  3  4  4  4  4  4  3  3  3  4  3  2  2  3  3  3  4  3  3  3  4  4  2  3  3  3  3  4  4  3  4  3  3  3  3  4  3  3  4  2  4  3  3  3  2  3  2  4  3  3  2  1  3  3  4  4  2  2  2  4  3  3  4  4  3  4  3  3  3  3  3  2  2  3  3  3  4  3  3  3  4  4  2  4  3  4  3  4  4  3  4  4  3  3  3  4  3  3  4  2  4  3  4  3  2  3  2  4  3  3  2  3  3  3  4  4  4  3  3  3  3  3  3  4  3  3  3  3  3  4  3  4  2  3  2  3  4  3  4  4  4  4  2  4  2  3  3  4  3  3  3  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  3  4  3  2  3  4  4  2  3  3                Udawati  3  3  3  4  4  3  3  3  3  4  3  3  4  4  4  3  3  3  3  3  2  2  2  3  3  4  3  3  3  2  4  2  3  3  3  3  4  4  3  3  4  4  3  3  4  3  3  4  3  4  3  3  3  2  3  3  4  3  3  3  2  3  3  4  4  3  3  3  3  3  3  4  4  4  4  3  3  3  4  3  2  2  3  3  3  4  3  3  3  3  4  2  3  3  3  3  3  4  3  4  4  3  3  3  4  3  3  4  2  4  3  3  3  2  3  3  3  3  3  2  1  3  3  4  4  3  3  3  3  4  3  4  4  3  4  3  3  3  3  3  2  2  3  3  3  4  3  4  3  2  4  2  3  3  4  2  4  4  3  4  4  3  3  3  4  3  3  4  2  4  3  4  2  2  3  3  3  3  3  2  3  3  3  4  4  4  3  3  3  3  3  3  4  3  3  3  3  3  4  3  4  2  3  2  3  4  4  4  4  3  4  2  3  2  3  4  4  3  3  3  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  3  4  3  2  3  3  4  2  3  3              Dodi  2  3  3  4  4  3  3  3  3  4  2  2  4  4  4  4  3  3  4  3  2  2  3  3  3  4  3  4  3  3  4  2  3  3  3  3  3  4  3  4  4  3  3  3  4  4  3  4  2  4  3  3  2  2  2  3  4  3  3  2  1  3  3  4  4  3  3  3  3  4  2  2  4  3  4  4  3  3  3  3  2  2  3  3  3  4  3  4  3  2  4  2  3  3  4  3  3  4  3  4  4  4  3  3  4  4  3  4  2  4  3  4  2  2  2  2  4  3  2  2      1  2  3  4  5  6  7  1  2  3  4  5  6  7  1  2  3  4  5  6  7  3  3  4  4  4  1  3  3  4  4  4  4  4  4  4  4  3  2  3  3  3  3  3  3  3  4  4  4  3  3  4  2  4  3  4  4  4  4  4  4  4  4  4  3  4  3  4  4  3  4  3  4  3  2  4  3  4  3  4  4  2  4  3  4  4  4  3  3  4  4  3  4  4  4  4  3  3  2  3  3  2  3  3  3  3  4  3  3  3  3  3  2  3  3  4  3  2  4  3  3  3  3  2  3  4  3  4  4  3  3  4  4  3  2  3  3  4  4  3  4  2  3  3  4  4  4  3  4  3  4  3  4  4  4  4  4  4  2  4  4  2  3  3  3  3  4  3  3  3  3  3  2  3  3  4  3  3  3  4  3  3  4  4  4  4  4  3  3  3  3  4  3  2  2  3  3  3  4  3  4  3  3  4  4  4  4  3  3  4  3  3  4  4  4  4  4  3  3  3  3  3  3  3  3  3  4  3  3  3  3  4  2  3  3  4  3  4  4  4  4  4  3  4  3  4  4  4  4  3  4  3  4  3  2  4  3  4  3  4  4  2  3  3  4  4  4  3  3  4  4  1  1  4  4  4  4  3  2  3  3  2  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  2  3  3  4  3  3  4  3  3  4  3  3  3  4  4  4  4  3  3  4  4  3  2  3  3  3  4  3  4  2  4  4  4  4  4  4  3  4  4  1  3  4  4  4  4  4  2  4  4  2  3  3  3  3  4  4  4  4  4  4  2  4  4  4  4  4  3  4  3  4  4  4  4  4  4  3  3  3  3  4  3  2  2  4  4  4  4  4  4  3  3  3  4  4  4  3  3  4  4  2  2  4  4  3  4  3  3  3  3  2  2  2  3  3  4  3  4  3  3  4  2  3  3  3  3  4  4  3  3  4  4  3  3  4  4  3  4  3  4  3  3  3  2  3  3  4  3  3  3  3  3  3  4  4  3  4  3  3  4  3  3  4  3  4  3  3  3  4  3  4  2  3  2  3  4  3  4  3  3  4  2  3  2  3  3  4  3  3  3  4  2  3  3  4  4  4  3  3  4  3  4  2  2  2  3  3  2  3  3  3  3  3  4  4  3  4  3  4  2  2  2  4  4  4  4  3  3  3  3  3  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  2  3  2  4  3  4  4  4  4  4  3  3  3  4  4  4  4  3  4  3  4  3  2  3  3  4  3  3  4  308 .

Amelia Noor Putri M Artantri Widasari Chatarine Dyela Eillen R Dicky Armayuda Eridani Kartiko Adi Gatot Ismail Gufron Gilang Zahru Saputra Indah Budi Kartikarini Insan Fadilah Harvianto Ismalia Ramadhani Putri Muhammad Farid Abdurrahman Muhammad Roofi'l Adiyatma Nida Salma Hajaroh Nurfitri Andani Ragil Saputro Mujiono Rif'atul Widaan Khotibin Tamhid Royhan Ikbar Sekar Cendana Arum Nadila Fatimatuzzahra A.M Sutarno 1 4 1 2 4 4 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 2 3 3 3 4 3 1 2 4 2 4 3 4 4 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 4 4 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 2 2 3 2 3 2 3 2 4 3 2 2 3 1 3 4 2 2 3 2 1 3 4 3 3 2 4 4 3 4 2 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 3 3 2 4 3 4 4 Udawaty 1 4 1 2 4 4 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 2 3 3 3 4 3 1 2 4 2 4 3 4 4 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 4 4 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 2 2 3 2 3 2 3 2 4 3 2 2 3 1 3 4 2 2 3 2 1 3 4 3 3 2 4 4 3 4 2 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 3 3 2 4 3 4 4 1 Dodi 2 4 1 2 4 4 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 2 3 3 3 4 3 1 4 2 4 3 4 4 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 4 4 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 2 2 3 2 3 2 3 2 4 3 2 2 3 1 3 4 2 2 3 2 1 3 4 3 3 2 4 4 3 4 2 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 3 3 2 4 3 4 4 309 .B.N Siska Tri W Yacinta Nararia S Karizma Putri R Salwa Sauzan R Alfia Rahma De Anissa N.Naufal Rizqita Rayhan Adikusuma Rizky Dafa P Aqlia Tsalisa Azmani Ashylla Paramadanti Cahyaningtyas Iftitah Chairunnisa Yulia W Dyah Pradina P Dyah Sekar Ayu K Fahra Prahastanti P Hana Fazah Nur S Keisha Amadea Nabila Permata Sari Nur Azizah Ranita Salsabila Ria Rahma Sukma W Septiana Tidar Andika Bagas Andi Maulana Ade Itko M Anindita Dara L David Revaru Vebrian Agung W Kurniawan Dwi Y M.Lutfi Mahendra M.A.Lampiran 6 Data Penilain Produk Kelas I Nama Ade Firmansyah Daffa Malik Falaq Deandra Visto D M. Malaghina Kusuma H Rio Satya Fauzi Freddy PP Siti Aziroh Rahmatika Shella Kumalasari Shelli Puspitasari Sugiharto. Dava Surya Abi Y.

Aqib Husni Fadhli Muh. Tsani Ihsani Y Muh.Zauhar Nanda Naya P. Abdul Gani Sarining Hanggani Kasih Teddy Arfansyah N Yuliana Larasari Dikta Wahyu Pratama Awang Pramono Isla Magda S Joko Bagus B Novia Permatasari Kusuma Nuraini Yulia Catur Wulandari Ikhsan Panji Irawan A'Issyatun Wahyu Ningsih Ainun Amaliya Paramita Arini Dewi Nuraini Chusnunnisa Suryanudin Ummu Habibah Halida Salsabila Hasna Maretta Sausana Hasna Ulfiaa Humairoh Rosida Akhir Khilmi Khayatun Nisha Kiki Dwi Widyasari Lutfina Aribah Miftakhurrohmah Nafisa Ainurrahmah Novryan Armawida Rizki Putri Utami Salman Kurnia Haq Sinta Primadita Siti Maryam S Wakhid Hasyim 1 4 2 1 3 4 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 3 2 4 4 4 2 4 4 3 4 2 3 4 2 3 2 3 3 3 2 3 3 4 4 1 4 4 2 3 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 2 3 1 Sutarno 2 3 3 3 3 3 2 2 4 2 3 2 2 3 2 1 4 4 2 2 3 4 3 3 4 1 4 4 2 4 1 3 3 1 3 4 3 3 1 2 2 2 3 4 3 3 3 4 4 2 4 4 3 3 4 4 2 4 4 4 2 3 3 4 3 4 1 3 3 3 4 1 2 3 1 4 2 2 4 4 3 4 3 3 3 4 3 2 2 2 1 3 2 2 3 4 3 2 1 2 4 3 3 4 4 4 2 4 2 4 4 3 4 2 4 3 2 4 2 4 4 4 Udawaty 1 4 2 1 3 4 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 3 2 4 4 4 2 4 4 3 4 2 3 4 4 3 2 3 3 3 2 3 3 4 4 1 4 4 2 3 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 2 3 1 2 3 3 3 3 3 2 2 4 2 3 2 2 3 2 1 4 4 2 2 3 4 3 3 4 1 4 4 2 4 1 3 2 1 3 4 3 3 1 2 2 2 3 4 3 3 3 4 4 2 4 4 3 3 4 4 2 4 4 4 2 3 3 4 3 4 1 4 3 3 4 1 2 3 1 4 2 2 4 4 3 4 3 3 3 4 3 4 2 2 1 3 2 3 3 4 3 2 1 2 4 3 3 4 4 4 2 4 2 4 4 3 4 2 4 3 2 4 2 4 4 4 1 Dodi 2 4 2 1 3 4 3 3 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 3 2 4 4 4 2 4 4 3 4 2 3 4 2 3 2 3 3 3 2 3 3 4 4 1 4 4 2 3 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 2 3 1 3 3 3 3 3 2 2 4 2 3 2 2 3 2 1 4 4 2 2 3 4 3 3 4 1 4 4 2 4 1 3 4 1 3 4 3 3 1 2 2 2 3 4 3 3 3 4 4 2 4 4 3 3 4 4 2 4 4 4 2 3 3 4 3 4 1 4 3 3 4 1 2 3 1 4 2 2 4 4 3 4 3 3 3 4 3 2 2 2 1 3 2 3 3 4 3 2 1 2 4 3 3 4 4 4 2 4 2 4 4 3 4 2 4 3 2 4 2 4 4 4 310 .W Pradipta Wisnu Timur Dwi Indraja Agni Vasha Salsabila Alvira Niryana Aulia Astagina Dhiyaurrohmah Kamila Muyasaroh Melinia Debbytasari Noor Diana Arrasyid Oktaviana Rahindra Shafa Nabilla Haya Sheila Alfauziya P Yuliana Zahrajuncta Lusiana Martini Amelia Prisca Brigita Anggun Pratiwi Anisa Nur Rahmah Arviananda Ade H Bintang Nugrahani Galang Permataputra Galuh Intisari Muh.Lampiran 6 Data Penilain Produk Kelas II Nama Afkar Zaka Y Alif Fahmi Mahendra Azka Hikam Z M.

Ibrahim M. Miftahul Firdaus Anggi Dwina Siregar Rusmini Afiana Nurkholishotus Shohibah Andi Rahmat Wulansyah Eka Yuliani Fegi Tri Damayanti Fitri Nurul Hanifah Imam Zuhdi Inna Rahmatul Ulya Jalu Ukir Damatama Hilda Ayu Wibisana Ninggih Annisa Daniswara Pilar Paksi Pratama Rafli Khooinurizal Rapsanjani Riswa Rahman Fahmi Rivani Rahmania Afifah Rizki Nur Chaerani Rizqi Haritz Pebiantara Zanityara Syah Syadila Zetta Nillawati Reyka Putri Nurul Arifah 1 3 3 1 2 4 2 3 4 2 4 4 3 3 4 1 2 2 3 4 3 2 3 3 3 2 2 4 3 2 3 3 4 1 4 3 2 4 2 3 3 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 4 2 2 1 3 2 2 Sutarno 2 2 3 3 4 3 3 2 3 4 1 3 4 4 3 4 3 1 3 2 2 3 2 3 3 2 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 2 1 4 4 4 4 4 3 2 2 3 3 2 1 2 2 2 4 3 4 3 2 2 3 2 3 1 2 3 3 4 2 2 3 3 2 3 3 3 4 2 4 3 4 4 3 4 1 4 4 4 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 4 4 2 2 2 4 3 2 3 4 4 3 3 2 4 2 3 2 3 3 3 4 3 3 4 Udawaty 1 3 3 1 2 4 2 3 4 2 4 4 3 3 4 1 3 2 3 2 3 2 3 3 3 2 2 4 3 2 3 3 4 1 4 3 2 4 2 3 3 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 4 2 2 1 3 2 2 2 2 3 3 4 3 3 2 3 4 1 3 4 4 3 4 3 1 3 4 2 3 2 3 3 2 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 2 2 4 4 4 4 4 3 2 2 3 3 2 1 2 2 2 4 3 4 3 2 2 3 2 3 1 2 3 3 4 2 2 3 3 2 3 3 3 4 2 4 3 3 2 3 4 1 4 4 4 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 4 1 2 2 2 4 3 2 3 4 4 3 3 2 4 2 3 2 3 3 3 4 3 3 4 1 Dodi 2 3 3 1 2 4 2 3 4 2 4 4 3 3 4 1 2 2 3 4 3 2 3 3 3 2 2 4 3 2 3 3 4 1 4 3 2 4 2 3 3 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 4 2 2 1 2 2 2 2 3 3 4 3 3 2 3 4 1 3 4 4 3 4 3 1 3 2 2 3 2 3 3 2 3 1 3 3 4 4 4 4 4 3 2 2 4 4 4 4 4 3 2 2 3 3 2 1 2 2 2 4 3 4 3 2 3 3 2 3 1 2 3 3 4 2 2 3 3 2 3 3 3 4 3 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 4 4 2 2 2 4 3 2 3 3 4 3 3 2 4 2 3 2 3 3 3 4 3 3 4 311 .Lampiran 6 Data Penilain Produk Kelas III Nama Alwi Izha Farandi David Aldi Saputra Laode Aldifan M.Fauzan M.Zulfikar Muqni Aqsoinna Suryatama Gallang Aulia Rizki Dini Puspo Elfira Ciptaningtyas Elma Damarista Fadhila Khoirunisa Inna Salma Fahman Khanifah Noor Nur Amalia Andini Ratu Yeremenia S Syifa Azizah Ade Yoga Endy S Bekti Rachmawati Maria Sri Adiningsih Wahyu Praktika D Yunina Dea J Bilqies Amalia A Nova Puspitasari Anggita Wulandari Anjas Deva Felano Eria Putri Pratiwi Fitriyani Ika Purwaningsih Ilham Yusril Munawar Massayu Seilla Annisa Musriati Novianto Adi Saputra Rivan Pandu Adi Winata Muh.Afdan Nurul Hilman M.Farizi Gustaf M.

Lampiran 6 Data Penilaian Kelompok Kelas I Nama Siswa 1 3 2 Sutarno 2 3 1 3 2 2 4 3 3 5 1 1 1 1 2 Udawati 2 3 2 2 1 2 4 2 3 5 1 1 3 3 2 3 1 1 1 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 2 1 2 3 1 2 2 2 1 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 3 3 1 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 1 3 2 2 3 1 Dody 3 4 3 3 2 3 5 1 1 3 3 2 3 1 1 1 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 2 1 1 1 1 3 3 3 1 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 Ade Firmansyah Daffa Malik Falaq Deandra Visto D M.N Siska Tri W Yacinta Nararia S Karizma Putri R Salwa Sauzan R Alfia Rahma De Anissa N. Dava Surya Abi Y.M 3 3 2 3 2 3 1 2 2 2 3 3 3 3 1 3 2 2 2 3 3 3 2 3 2 3 2 2 2 3 2 2 2 3 2 2 2 2 1 2 3 3 2 3 2 2 1 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 2 1 1 3 3 2 3 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 1 1 1 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 2 2 3 3 2 3 3 2 3 1 2 3 2 2 2 3 3 1 1 3 3 2 3 2 2 3 3 2 3 2 1 3 3 3 2 3 2 2 1 3 3 1 2 3 1 3 3 2 2 1 1 3 2 3 2 2 3 2 2 3 2 1 1 3 2 3 3 2 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 2 3 2 2 3 3 3 1 3 3 2 1 1 2 2 2 3 3 3 1 2 2 3 2 3 2 2 2 3 2 3 2 2 3 2 3 3 2 2 2 2 2 3 1 2 3 3 2 3 2 2 1 2 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 1 1 2 2 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 2 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 2 1 2 3 3 3 2 1 1 3 3 3 1 3 3 3 2 3 1 2 1 3 2 3 3 3 2 1 1 1 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 2 1 3 3 3 1 2 2 3 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 2 2 3 1 3 3 2 3 2 1 3 2 1 2 2 3 3 2 1 1 1 3 1 1 3 3 3 2 1 3 3 1 3 2 2 3 3 2 1 1 3 3 2 3 3 3 1 3 2 3 3 1 1 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 1 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 2 1 1 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 1 3 3 3 3 3 2 1 1 1 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 1 1 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 312 . Malaghina Kusuma H Rio Satya Fauzi Freddy PP Siti Aziroh Rahmatika Shella Kumalasari Shelli Puspitasari Sugiharto.Lutfi Mahendra M.B.A. Amelia Noor Putri M Artantri Widasari Chatarine Dyela Eillen R Dicky Armayuda Eridani Kartiko Adi Gatot Ismail Gufron Gilang Zahru Saputra Indah Budi Kartikarini Insan Fadilah Harvianto Ismalia Ramadhani Putri Muhammad Farid Abdurrahman Muhammad Roofi'l Adiyatma Nida Salma Hajaroh Nurfitri Andani Ragil Saputro Mujiono Rif'atul Widaan Khotibin Tamhid Royhan Ikbar Sekar Cendana Arum Nadila Fatimatuzzahra A.Naufal Rizqita Rayhan Adikusuma Rizky Dafa P Aqlia Tsalisa Azmani Ashylla Paramadanti Cahyaningtyas Iftitah Chairunnisa Yulia W Dyah Pradina P Dyah Sekar Ayu K Fahra Prahastanti P Hana Fazah Nur S Keisha Amadea Nabila Permata Sari Nur Azizah Ranita Salsabila Ria Rahma Sukma W Septiana Tidar Andika Bagas Andi Maulana Ade Itko M Anindita Dara L David Revaru Vebrian Agung W Kurniawan Dwi Y M.

Aqib Husni Fadhli Muh.Lampiran 6 Data Penilaian Kelompok Kelas II Nama Siswa 1 2 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 1 2 3 2 2 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 Sutarno 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 3 2 2 2 3 1 2 3 2 2 3 2 2 3 3 3 3 3 1 1 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 1 3 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 1 2 3 3 2 2 2 2 2 3 3 3 2 3 3 3 2 2 2 2 2 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 2 1 1 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Udawati 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 1 3 1 3 2 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 2 2 3 2 3 3 2 3 3 1 2 2 3 1 2 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 2 3 3 2 1 1 2 2 1 2 3 3 3 3 2 2 2 1 2 3 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 3 2 2 2 3 1 2 3 2 2 2 3 2 3 2 3 3 3 1 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 2 2 2 2 2 3 3 3 3 1 3 2 2 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 1 2 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Dody 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 3 2 2 3 3 1 2 3 2 2 3 2 2 3 3 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 1 3 3 2 2 3 1 3 1 3 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 Afkar Zaka Y Alif Fahmi Mahendra Azka Hikam Z M. Abdul Gani Sarining Hanggani Kasih Teddy Arfansyah N Yuliana Larasari Dikta Wahyu Pratama Awang Pramono Isla Magda S Joko Bagus B Novia Permatasari Kusuma Nuraini Yulia Catur Wulandari Ikhsan Panji Irawan A'Issyatun Wahyu Ningsih Ainun Amaliya Paramita Arini Dewi Nuraini Chusnunnisa Suryanudin Ummu Habibah Halida Salsabila Hasna Maretta Sausana Hasna Ulfiaa Humairoh Rosida Akhir Khilmi Khayatun Nisha Kiki Dwi Widyasari Lutfina Aribah Miftakhurrohmah Nafisa Ainurrahmah Novryan Armawida Rizki Putri Utami Salman Kurnia Haq Sinta Primadita Siti Maryam S Wakhid Hasyim 3 1 2 3 3 2 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 1 2 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 3 2 2 313 . Tsani Ihsani Y Muh.W Pradipta Wisnu Timur Dwi Indraja Agni Vasha Salsabila Alvira Niryana Aulia Astagina Dhiyaurrohmah Kamila Muyasaroh Melinia Debbytasari Noor Diana Arrasyid Oktaviana Rahindra Shafa Nabilla Haya Sheila Alfauziya P Yuliana Zahrajuncta Lusiana Martini Amelia Prisca Brigita Anggun Pratiwi Anisa Nur Rahmah Arviananda Ade H Bintang Nugrahani Galang Permataputra Galuh Intisari Muh.Zauhar Nanda Naya P.

Afdan Nurul Hilman M.Farizi Gustaf M.Lampiran 6 Data Penilaian Kelompok Kelas III Nama Siswa Alwi Izha Farandi David Aldi Saputra Laode Aldifan M.Ibrahim M.Fauzan M.Zulfikar Muqni Aqsoinna Suryatama Gallang Aulia Rizki Dini Puspo Elfira Ciptaningtyas Elma Damarista Fadhila Khoirunisa Inna Salma Fahman Khanifah Noor Nur Amalia Andini Ratu Yeremenia S Syifa Azizah Ade Yoga Endy S Bekti Rachmawati Maria Sri Adiningsih Novianto Adi Saputra Wahyu Praktika D Yunina Dea J Bilqies Amalia A Nova Puspitasari Anggita Wulandari Anjas Deva Felano Eria Putri Pratiwi Fitriyani Ika Purwaningsih Ilham Yusril Munawar Massayu Seilla Annisa Musriati Rivan Pandu Adi Winata Muh. Miftahul Firdaus Anggi Dwina Siregar Rusmini Afiana Nurkholishotus Shohibah Andi Rahmat Wulansyah Eka Yuliani Fegi Tri Damayanti Fitri Nurul Hanifah Imam Zuhdi Inna Rahmatul Ulya Jalu Ukir Damatama Hilda Ayu Wibisana Ninggih Annisa Daniswara Pilar Paksi Pratama Rafli Khooinurizal Rapsanjani Riswa Rahman Fahmi Rivani Rahmania Afifah Rizki Nur Chaerani Rizqi Haritz Pebiantara Zanityara Syah Syadila Zetta Nillawati Reyka Putri Nurul Arifah 1 3 2 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 2 2 1 2 3 3 3 3 3 2 1 2 3 3 3 2 3 2 1 2 3 3 3 3 3 2 3 2 2 2 3 2 2 2 Sutarno 3 4 2 2 3 2 2 3 3 3 2 1 1 2 2 3 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 1 3 1 3 3 1 2 2 3 3 2 2 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 1 2 3 3 1 3 2 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 1 1 2 2 2 3 2 2 3 1 2 2 3 3 2 5 2 1 3 1 2 3 2 3 2 2 3 1 3 2 2 2 2 2 2 3 2 2 3 1 1 3 3 2 3 3 3 2 3 1 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 1 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 1 3 2 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 3 2 3 1 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 1 3 3 3 3 2 1 2 3 3 3 2 3 2 1 2 3 3 3 3 3 2 3 2 2 2 3 2 2 2 Udawati 3 4 2 2 3 2 2 3 2 3 2 1 1 2 2 3 1 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 3 2 2 2 2 2 2 3 3 1 2 3 3 2 3 1 3 1 3 3 1 2 2 1 2 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 1 2 3 3 1 3 2 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 1 1 2 2 2 3 2 2 3 1 2 2 3 3 2 5 2 1 3 1 2 3 2 3 2 2 3 1 3 2 2 2 2 2 3 2 1 1 1 1 3 3 3 3 1 2 2 2 2 1 3 2 2 3 2 2 3 3 2 2 1 3 3 3 1 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 2 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 2 2 3 2 2 1 2 3 3 3 3 3 3 1 2 3 3 3 2 2 2 1 2 3 3 3 3 2 2 3 2 2 2 3 2 2 2 Dody 3 4 2 2 3 2 2 3 2 3 2 1 1 2 2 3 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 1 3 3 1 2 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 3 1 2 3 3 1 3 2 3 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 2 3 1 1 2 2 2 3 2 2 3 1 2 2 3 3 2 5 2 1 3 1 2 3 2 3 2 2 3 1 3 2 2 2 2 2 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 2 1 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 314 .

A.Lampiran 6 Data Penilaian Diri Kelas I Nama Ade Firmansyah Daffa Malik Falaq Deandra Visto D M.B.Lutfi Mahendra M.N Siska Tri W Yacinta Nararia S Karizma Putri R Salwa Sauzan R Alfia Rahma De Anissa N. Amelia Noor Putri M Artantri Widasari Chatarine Dyela Eillen R Dicky Armayuda Eridani Kartiko Adi Gatot Ismail Gufron Gilang Zahru Saputra Indah Budi Kartikarini Insan Fadilah Harvianto Ismalia Ramadhani Putri Muhammad Farid Abdurrahman Muhammad Roofi'l Adiyatma Nida Salma Hajaroh Nurfitri Andani Ragil Saputro Mujiono Rif'atul Widaan Khotibin Tamhid Royhan Ikbar Sekar Cendana Arum Nadila Fatimatuzzahra A. Malaghina Kusuma H Rio Satya Fauzi Freddy PP Siti Aziroh Rahmatika Shella Kumalasari Shelli Puspitasari Sugiharto. Dava Surya Abi Y.M 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 Sutarno 2 3 4 2 2 3 2 1 3 2 3 2 3 2 3 3 2 3 2 3 3 2 2 3 3 1 2 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 2 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 2 1 2 3 2 1 3 2 2 2 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 1 3 3 1 2 2 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 1 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 2 3 1 1 2 2 3 3 1 3 2 2 1 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 5 2 2 3 3 1 2 1 3 1 2 3 3 3 3 2 2 1 1 3 3 3 2 2 3 1 2 3 3 3 2 2 2 3 2 3 2 1 2 3 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 Udawati 2 3 4 2 2 3 2 1 3 2 3 2 3 3 2 2 2 3 2 3 3 2 2 3 3 1 2 2 3 2 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 2 1 2 3 2 1 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 2 2 2 2 1 3 3 1 2 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 3 2 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 2 3 1 1 2 2 3 3 1 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 5 2 2 3 3 2 2 1 3 1 2 3 3 3 3 3 3 1 1 3 2 3 2 2 3 2 1 3 3 3 2 2 2 3 2 2 1 2 2 2 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 2 2 2 3 2 1 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 1 2 2 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 Dodi 3 4 1 2 3 2 1 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 2 2 1 3 3 1 2 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 1 1 2 2 3 3 1 3 1 3 1 3 3 3 3 1 3 3 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 5 2 2 3 3 2 2 1 3 1 2 3 3 3 3 3 1 1 1 3 3 3 2 2 3 1 2 3 3 3 2 2 2 3 2 3 1 1 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 315 .Naufal Rizqita Rayhan Adikusuma Rizky Dafa P Aqlia Tsalisa Azmani Ashylla Paramadanti Cahyaningtyas Iftitah Chairunnisa Yulia W Dyah Pradina P Dyah Sekar Ayu K Fahra Prahastanti P Hana Fazah Nur S Keisha Amadea Nabila Permata Sari Nur Azizah Ranita Salsabila Ria Rahma Sukma W Septiana Tidar Andika Bagas Andi Maulana Ade Itko M Anindita Dara L David Revaru Vebrian Agung W Kurniawan Dwi Y M.

Tsani Ihsani Y Muh.Lampiran 6 Data Penilaian Diri Kelas II Nama 1 Afkar Zaka Y Alif Fahmi Mahendra Azka Hikam Z M.W Pradipta Wisnu Timur Dwi Indraja Agni Vasha Salsabila Alvira Niryana Aulia Astagina Dhiyaurrohmah Kamila Muyasaroh Melinia Debbytasari Noor Diana Arrasyid Oktaviana Rahindra Shafa Nabilla Haya Sheila Alfauziya P Yuliana Zahrajuncta Lusiana Martini Amelia Prisca Brigita Anggun Pratiwi Anisa Nur Rahmah Arviananda Ade H Bintang Nugrahani Galang Permataputra Galuh Intisari Muh. Aqib Husni Fadhli Muh. Abdul Gani Sarining Hanggani Kasih Teddy Arfansyah N Yuliana Larasari Dikta Wahyu Pratama Awang Pramono Isla Magda S Joko Bagus B Novia Permatasari Kusuma Nuraini Yulia Catur Wulandari Ikhsan Panji Irawan A'Issyatun Wahyu Ningsih Ainun Amaliya Paramita Arini Dewi Nuraini Chusnunnisa Suryanudin Ummu Habibah Halida Salsabila Hasna Maretta Sausana Hasna Ulfiaa Humairoh Rosida Akhir Khilmi Khayatun Nisha Kiki Dwi Widyasari Lutfina Aribah Miftakhurrohmah Nafisa Ainurrahmah Novryan Armawida Rizki Putri Utami Salman Kurnia Haq Sinta Primadita Siti Maryam S Wakhid Hasyim 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Sutarno 2 3 4 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 1 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 1 1 3 3 2 3 2 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 3 1 1 3 3 2 3 2 3 1 3 1 3 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 2 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Udawati 2 3 4 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 1 3 2 3 3 3 3 2 2 2 3 2 1 2 1 3 1 2 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 3 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 2 2 1 3 3 3 3 2 3 1 3 2 2 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 Dodi 3 4 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 1 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 2 3 3 3 2 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 1 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 2 3 1 3 1 3 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 316 .Zauhar Nanda Naya P.

Afdan Nurul Hilman M. Miftahul Firdaus Anggi Dwina Siregar Rusmini Afiana Nurkholishotus Shohibah Andi Rahmat Wulansyah Eka Yuliani Fegi Tri Damayanti Fitri Nurul Hanifah Imam Zuhdi Inna Rahmatul Ulya Jalu Ukir Damatama Hilda Ayu Wibisana Ninggih Annisa Daniswara Pilar Paksi Pratama Rafli Khooinurizal Rapsanjani Riswa Rahman Fahmi Rivani Rahmania Afifah Rizki Nur Chaerani Rizqi Haritz Pebiantara Zanityara Syah Syadila Zetta Nillawati Reyka Putri Nurul Arifah 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 Sutarno 2 3 4 2 3 3 3 3 2 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 2 2 2 2 3 3 3 2 3 2 2 3 3 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 2 3 3 2 2 2 2 2 1 3 3 2 2 2 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 5 2 3 3 3 3 1 2 3 3 3 1 1 2 3 3 3 3 2 3 2 2 2 2 2 3 1 1 3 2 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 1 3 3 2 2 1 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 1 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 1 1 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 Udawati 2 3 4 2 3 2 3 3 3 2 3 3 2 1 2 1 3 3 2 1 3 3 3 3 3 2 2 1 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 1 2 3 3 3 2 3 1 3 3 2 2 2 3 2 1 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 2 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 3 3 3 5 2 3 3 3 3 1 2 3 3 3 1 1 2 3 3 3 3 2 2 3 3 2 2 2 2 1 1 3 2 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 1 3 3 2 2 1 3 3 3 1 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 Dodi 2 3 4 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 2 2 1 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 2 3 3 2 2 2 2 2 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 5 2 3 3 3 3 1 2 3 3 3 1 1 2 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 2 3 1 1 3 2 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 1 3 3 2 2 1 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 317 .Fauzan M.Zulfikar Muqni Aqsoinna Suryatama Gallang Aulia Rizki Dini Puspo Elfira Ciptaningtyas Elma Damarista Fadhila Khoirunisa Inna Salma Fahman Khanifah Noor Nur Amalia Andini Ratu Yeremenia S Syifa Azizah Ade Yoga Endy S Bekti Rachmawati Maria Sri Adiningsih Novianto Adi Saputra Wahyu Praktika D Yunina Dea J Bilqies Amalia A Nova Puspitasari Anggita Wulandari Anjas Deva Felano Eria Putri Pratiwi Fitriyani Ika Purwaningsih Ilham Yusril Munawar Massayu Seilla Annisa Musriati Rivan Pandu Adi Winata Muh.Farizi Gustaf M.Lampiran 6 Data Penilaian Diri Kelas III Nama 1 Alwi Izha Farandi David Aldi Saputra Laode Aldifan M.Ibrahim M.

sederhana dan komunakatif yang digunakan? Bagaimana dengan alokasi Sesuai dengan yang disiapkan. waktu yang digunakan untuk untuk memahami dan mempelajari aplikasi melakukan penilaian? penilaian ini membutuhkan waktu tersendiri Apakah Bapak membutuhkan Tidak.Mudah . Hasil wawancara dengan guru A (20 Desember 2008) No 1 2 Pertanyaan Jawaban Bagaimana tanggapan bapak Menurut saya instrumen ini baik.Lampiran 7 Tabel 3 Hasil Wawancara Keterpakaian Instrumen Penilaian Hasil Belajar Karya Seni Lukis Anak Komponen Guru A Guru B Guru C Keseluruhan Kepraktisan . Hanya saja.Sederhana Bahasa ‐ Baku ‐ Komunikatif ‐ Mudah dipahami Efisiensi ‐ Waktu ‐ Tenaga ‐ Biaya Mudah Cukup Ya Ya Ya Mudah Sederhana Ya Ya Ya Mudah Sederhana Ya Ya Ya Mudah Sederhana Ya Ya Ya Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Hasil wawancara dengan 3 orang guru sebagai rater sebagai berikut: 1. tentang IPSLA? Baik dalam hal apa? Baik dalam kaitan dengan: • Objektif • Dapat memberikan kemudahan dalam melakukan penilaian • Dapat dipertanggungjawabkan 3 4 Bagaimana dengan bahasa Mudah dipahami. saya dapat melakukannya sendiri bantuan tenaga lain dalam melakukan penilaian? Bagaimana dengan biaya Tidak ada masalah pelaksanaan penilaian? 5 6   319 .

4 5 Apakah Bapak membutuhkan Saya cukup dapat melakukannya sendiri. bantuan tenaga lain dalam melakukan penilaian? Bagaimana dengan biaya Biaya pelaksanaan menurut saya. Secara pribadi. 2 Baik dalam hal apa? Instrumen ini lebih menunjukkan kondisi yang sudah mengurangi tingkat subyektivitas guru dalam menilai. 3 Bagaimana dengan bahasa Bahasanya jelas.Lampiran 7 2. Selain itu mudah diterapkan dan hasil penilaian didukung oleh bukti otentik penilaian. 6   320 . sudah dapat tentang IPSLA? menampung aspirasi saya sebagai guru untuk menilai karya lukisan anak didik. alokasinya sudah cukup Tetapi. tidak ada pelaksanaan penilaian? masalah. karena menurut saya pola penilaian ini berbeda dengan yang sering saya lakukan selama ini. mudah dimengerti dan yang digunakan? sederhana serta menampung karakteristik seni sebagai ekspresi maupun imajinasi anak. saya menjadi lebih mudah melakukan penilaian karena kriterianya lebih jelas. Bagaimana dengan alokasi Menurut saya. Hasil wawancara dengan guru B (27 Desember 2008) No 1 Pertanyaan Jawaban Bagaimana tanggapan bapak Instrumen ini sudah baik. waktu yang digunakan untuk akan lebih baik lagi jika ada waktu tersendiri melakukan penilaian? untuk memahmi cara penggunaan instrumen tersebut.

4 Bagaimana dengan alokasi Waktunya saya anggap sudah cukup memadai. 5 Apakah bapak Tanpa bantuan orang lainpun. untuk memahami lebih lanjut tentang untuk melakukan penilaian? penerapan dari penilaian ini butuh waktu yang cukup. Hal ini dikarenakan. dari sudut efektivitas. 2 Baik dalam hal apa? Instrumen ini memudahkan dalam menentukan kriteria nilai.   321 . Mereka mengatakan bahwa dengan hadirnya instrumen ini menjadikan pekerjaan penilaian karya seni lukis anak menjadi mudah karena ada dasar rujukannya dan obyektif. efisiensi dan kejelasan bahasa yang digunakan pada butir-butir indikator dan deskriptor beserta kriteria yang dipakai dalam instrumen ini sudah dipandang layak untuk diterapkan sebagai sarana penilaian. waktu yang digunakan Namun. Panduannya jelas sehingga mudah untuk diterapkan.Lampiran 7 3. 3 Bagaimana dengan bahasa Bahasa dari instrumen ini cukup mudah dicerna yang digunakan? dan dimengerti. Hasil wawancara dengan guru C (3 Januari 2009) No 1 Pertanyaan Jawaban Bagaimana tanggapan Instrumen penilaian ini sangat membantu diri bapak tentang IPSLA? saya dalam melakukan penilaian karya seni lukis anak. saya dapat membutuhkan bantuan melakukannya sendiri tenaga lain dalam melakukan penilaian? Bagaimana dengan biaya Saya pikir tidak ada persoalan dengan biaya pelaksanaan penilaian? pelaksanaan 6 Dari ketiga hasil wawancara dengan para guru yang menjadi rater dalam uji coba instrumen penilaian karya seni lukis anak dapat disimpulkan bahwa semua rater menyatakan instrumen sudah memadai. karena pada waktu sebelumnya tidak pernah saya menilai dengan instrumen yang baku. Pengalaman saya hanya menggunakan intuisi untuk memberikan nilai siswa.

PA 19104 Robert L. Brennan Principal Investigator. Crick. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Brennan. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Director. Ed.1 January. and no official endorsement should be inferred 322 .-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Iowa 52242 VERSION 3. however the authors can make no assurances that the program is totally without error.D. GENOVA was developed in part under contract No.D. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Robert L. Ed.

.19744 QF 2 QF 18 QF I:R 18 8728.21134 0.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 0.0) (0.76190 193.2801856 0.0) 0..20000 2854.28571 24.27635 15...RANDOM MODEL .M X (I:R) DESIGN .28019 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 5811.2801856 0.....0) (0.0121476 ----------------------------------------------------------------------------- 323 .93810 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ...RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 6004..29286 0.1459530 0.1426746 0..15714 158...54286 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ G STUDY DATA SET 1 .0) 0..0282800 R 2 (0..58571 31.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .0042666 MI:R 1062 0.45714 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 1259 3432.30476 3.M X (I:R) DESIGN .56429 565.8357072 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 (0.55714 0.04286 62.75428 118 1062 MI:R 1062 9244.92582 18 1062 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 6092.6380683 0.6380683 2.RANDOM MODEL .50277 59 118 R 2 5874.1304946 I:R 18 2..00000 297...

46809 001-007 60 3 7 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.23607 0. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.14267 0.09340 0.16135 0.17381 0.03113 0.88329 0.22261 0.42308 001-006 60 3 6 0.14267 0.12791 001-002 60 3 2 0. INF.22681 001-003 60 3 3 0.24319 0.36976 001-005 60 3 5 0.16213 0.14920 0.48638 0.75341 0.17856 0.97275 0.85936 0.18937 0.32425 0. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 0.16602 0. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.30556 001-004 60 3 4 0.82088 0.15602 0.29602 0.88424 0.44283 0.01334 0.91448 0.12822 0.14267 0.= INF. NO UNIV.14267 0.50659 324 .04670 0.15824 0.90163 0.19455 0.14267 0.01868 0.14267 0.13896 0.01557 0.02335 0.60437 0. INF.14267 0.

1 January. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Iowa 52242 VERSION 3. Crick. Robert L. PA 19104 Robert L.D. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. and no official endorsement should be inferred 325 .Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. GENOVA was developed in part under contract No. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Ed.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Brennan. Brennan Principal Investigator. Director. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City.D. Ed.

02413 59 118 R 2 631942..16548 18 1062 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 644940..RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .0192379 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 3.97698 9.62778 132.8155720 MI:R 1062 17.00000 18127.7400351 ----------------------------------------------------------------------------- 326 .0690028 17..0690028 0.8256646 3.84947 667.29048 11387..1747172 R 2 242.2264384 4...95397 113234.5130078 60..8337173 I:R 18 189..70556 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 1259 462576.28095 17.5130078 189.M X (I:R) DESIGN .RANDOM MODEL .29444 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ G STUDY DATA SET 1 ..42857 5174.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ...95000 204981.92016 QF 2 QF 18 QF I:R 18 836923.4293997 190.2264384 1.60386 3.06900 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 405472.8256646 0..84865 2.56891 118 1062 MI:R 1062 868049..33333 7823..RANDOM MODEL ...M X (I:R) DESIGN .65952 226469..OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 4..4293997 242.14127 43..RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 413296.

Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.22350 93.37765 0.63959 2.51536 112.55466 0.04322 001-007 60 3 7 4.61040 0.71795 0.56180 91.22644 6.92226 89.30019 96.50637 0. NO UNIV.69764 99.22644 6.12006 116.16732 0. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.17178 105.22644 6.44580 0.99010 0.08803 91.94569 144.04396 327 .03858 101. INF.63655 0.22644 11.44994 2.66933 0.04223 001-006 60 3 6 4. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.57128 0. INF.= INF.39822 3.22644 8.96489 150.92408 2.34649 4.22644 7. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 4.03868 001-004 60 3 4 4.53441 0.22644 6.65527 0.02724 001-002 60 3 2 4.41316 95.31447 2.03500 001-003 60 3 3 4.93947 0.19133 6.04082 001-005 60 3 5 4.85716 93.

however the authors can make no assurances that the program is totally without error. GENOVA was developed in part under contract No. Brennan. Iowa 52242 VERSION 3. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Crick.D.1 January. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. PA 19104 Robert L.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Ed. and no official endorsement should be inferred 328 . Ed. Robert L. Director.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC).D. Brennan Principal Investigator. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia.

.40000 189997...3838259 175.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .0424779 0.60476 15..1567972 R 2 222.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 4.6707246 175.70952 43..1832437 15..6707246 55.86190 103984.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 381079..00204 59 118 R 2 581347.71905 207969.0424779 4.M X (I:R) DESIGN .8073981 MI:R 1062 15...71429 5130..1452227 1..53027 3.28571 130..85714 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 1259 426924.2480372 I:R 18 175.82499 QF 2 QF 18 QF I:R 18 771345.6582771 ----------------------------------------------------------------------------- 329 .86372 118 1062 MI:R 1062 800302..M X (I:R) DESIGN .00000 16124.RANDOM MODEL ...42672 695..48059 2.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .93095 9.14286 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------G STUDY DATA SET 1 ..RANDOM MODEL .3838259 222.14286 7701.20235 18 1062 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 594179.6319846 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 4.1832437 0.68095 10555.18324 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 373377...1452227 4.

57735 0.02326 3.33623 2.19101 86. INF.87803 107.07050 84.14522 6.51665 0.14522 10.66689 0. NO UNIV.= INF.28443 103.04111 001-004 60 3 4 4.07843 83.39277 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.14522 8. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.61276 91.50493 2.14522 6. INF. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 4.04594 001-007 60 3 7 4.04489 001-006 60 3 6 4. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.17974 3.65421 0.76657 0.14522 6.02894 001-002 60 3 2 4.86075 0.59681 0.19903 85.03452 96.09342 132.63724 0.14522 6.94774 0.55380 6.37993 88.21573 2.56372 82.04673 330 .54012 0.68143 93.99303 0.14522 7.04339 001-005 60 3 5 4.75799 2.87980 0.40857 139.03720 001-003 60 3 3 4.35971 88.61338 0.

D. Crick. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Iowa 52242 VERSION 3. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Brennan. Ed. PA 19104 Robert L. Director.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --.D.1 January.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. GENOVA was developed in part under contract No. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Robert L. Brennan Principal Investigator. and no official endorsement should be inferred 331 . Ed.

76667 5673.RANDOM MODEL .M X (K:P) DESIGN . F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .8612994 1.72001 118 354 MK:P 354 262591..M X (K:P) DESIGN ..2774647 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 6.6351956 233...Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .8612994 25...OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 7.75000 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 539 150357.48164 1.6351956 188..2258624 K:P 6 94.00000 6421.0202936 MK:P 354 25..00000 9154.83475 2.38843 QF 2 QF 6 QF K:P 6 241766.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 118655.1238858 47.25000 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.9383863 ----------------------------------------------------------------------------- 332 .25000 95492.2067797 6.50000 47746.33333 5248.1503453 7.2807234 P 2 233..1238858 94..44673 59 118 P 2 207726.29444 219.86130 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 112233.83333 44.RANDOM MODEL .....25000 108...90000 25.01667 34039.25000 8..2067797 2.1503453 2...37391 6 354 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 219396.

94336 1.67475 333 .21927 10.03323 0.21927 10. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.29683 1.65569 0.99938 4.87348 13.40670 0.67196 0.47972 003-005 60 3 5 9.07755 4.65627 0.43674 6.44390 3.53543 003-006 60 3 6 9.45732 0.21927 12.21927 13.86517 0.91281 0.17710 0.21927 10. NO UNIV.37438 2.66584 5.= INF.61738 003-008 60 3 8 9.71358 4.40882 003-004 60 3 4 9.18733 003-002 60 3 2 9.84245 0.15511 9.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.89535 0.33169 10.64839 003-009 60 3 9 9.21927 11.99877 8.45076 1.95783 4.21927 10. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 9.83970 8.81053 0.76238 0.99901 6.23149 5.62043 39.09275 2.51678 0. 3 INF.09344 0.99506 31. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.65601 1.58037 003-007 60 3 7 9.90588 0.21927 10.99753 15.72409 7.21927 17.52949 4.31555 003-003 60 3 3 9.88216 0.65976 0.68142 0.31022 19.

GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Ed.D. PA 19104 Robert L. Brennan. and no official endorsement should be inferred 334 . Ed. Director. Iowa 52242 VERSION 3. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Brennan Principal Investigator.D.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Crick. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Robert L.1 January. GENOVA was developed in part under contract No. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC).

66667 4719.0921532 106.99658 0.52624 QF 2 QF 6 QF K:P 6 251512.65000 38434.07037 48209...RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES ..M X (K:P) DESIGN ..99493 118 354 MK:P 354 275197...4708098 4.34477 6 354 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 222531..0131503 ----------------------------------------------------------------------------- 335 ..2190112 K:P 6 106.2004394 3.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .59630 39.23387 2.27222 96419...00602 59 118 P 2 213078.79815 80.2433642 190.9927976 MK:P 354 40..OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 4.72963 159.0) (0.. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 ..0921532 53.53519 7.00000 4733.20185 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 539 158537.2004394 40.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 121393.7131546 P 2 232..95556 40...0) 1..2444968 232.37778 6405.3811039 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 (0..M X (K:P) DESIGN .4481586 1.20044 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 116659.79815 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.00000 14230.RANDOM MODEL .RANDOM MODEL ..

93706 1.38210 17.74922 0.38969 003-008 60 3 8 4.44816 5.35004 12.96631 5.00537 0.02829 0.15805 0.15429 003-003 60 3 3 4.44816 11.48891 5.44816 7.21486 003-004 60 3 4 4.91487 4.44816 6.45084 336 .12318 1.44816 6.79820 3.31323 003-006 60 3 6 4.66152 0.76420 35.68152 2.40015 48.12737 6.84831 13.24922 0.25473 11. 3 INF. NO UNIV.36247 1.23336 8.57041 0.44816 6.26733 003-005 60 3 5 4.12819 2.44816 8.44816 17.46672 16.= INF.09552 4.41824 4.14823 6.75284 7.69913 0.42188 003-009 60 3 9 4. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.39900 0.72645 0.35372 003-007 60 3 7 4. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 4.97098 0. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.62402 0.49896 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.86783 0.67502 6.44816 7.52256 0.19105 8.66574 0.70007 24.08359 003-002 60 3 2 4.91431 6.19161 0.93660 0.68003 9.

Director. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City.D. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Ed. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy.1 January.D. Ed.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Iowa 52242 VERSION 3. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Crick. and no official endorsement should be inferred 337 . Brennan.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. PA 19104 Robert L. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. GENOVA was developed in part under contract No. Brennan Principal Investigator. Robert L.

1329253 2.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 113876...88889 5104..02963 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 539 146747.19597 118 354 MK:P 354 255520.58519 175.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .6510986 2..48889 32. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 ..0757167 221.M X (K:P) DESIGN ..8286649 P 2 221...85926 86.04987 1.88519 39.52304 2.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 5.0757167 179.0322348 47.2747960 1.4473033 ----------------------------------------------------------------------------- 338 .65110 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 108772..0322348 95.5847308 K:P 6 95.51111 5734.00000 4607...RANDOM MODEL .61296 7.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .2747960 5.63223 6 354 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 209554.76667 34407..22593 45534..00000 11558..21571 59 118 P 2 199841.8679808 MK:P 354 32.RANDOM MODEL .25556 91069.....7882273 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 2.1329253 1..M X (K:P) DESIGN .93150 QF 2 QF 6 QF K:P 6 234248.97037 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.6510986 32.

09352 5.52380 0.55865 339 .98577 7.76743 0.21953 003-003 60 3 3 5.79381 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.98577 8.62790 14.08016 4.16251 2.98577 9.40956 0.70670 2.20930 4.86947 10. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.73332 0.54059 1.18704 10.32014 4.36002 003-005 60 3 5 5.12330 003-002 60 3 2 5.36046 5.88370 42.06446 0. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 5.65102 0.81395 7.34623 1.56111 31.02917 0.41287 003-006 60 3 6 5.95857 0.72092 10.83193 0.98577 11.98577 7.08211 0. 3 INF.35483 0.72901 3.47152 0.61367 3.64028 8.51222 6.79972 1.62263 0.28056 16.52944 003-009 60 3 9 5.63963 0. NO UNIV.29672 003-004 60 3 4 5.98577 7.81481 0.98577 8.98577 7. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.45765 003-007 60 3 7 5.19507 1.17674 8.49609 003-008 60 3 8 5.44185 21.71937 0.= INF.55481 6.98577 16.42762 5.68749 0.

-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Ed. GENOVA was developed in part under contract No. Robert L. Brennan. Brennan Principal Investigator. Director. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. and no official endorsement should be inferred 340 .1 January. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output.D. Crick. Iowa 52242 VERSION 3. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. PA 19104 Robert L.D. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC).Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Ed.

40000 6594.0345275 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 4.0924859 5.00000 9405..M X (I:R) DESIGN .7050921 ----------------------------------------------------------------------------- 341 .05333 7307..8367147 I:R 12 121.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .07756 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 256241.5744915 121.9962241 118..2849529 13.38439 2.M X (I:R) DESIGN .72111 5..9962241 101.87034 QF 2 QF 12 QF I:R 12 333164..RANDOM MODEL . F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .3831865 R 2 118.0924859 1.5744915 46.4198870 0.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 5.35778 35..74667 13.36667 87693...75444 550.RANDOM MODEL .66349 118 708 MI:R 708 353340.20000 4175.2849529 0......12889 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES..28495 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 159413..Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 166008.4198870 4.15879 59 118 R 2 245471.87111 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 193926.77168 3..44222 43028....9244401 MI:R 708 13.52889 111.31333 86057.

09185 80.90161 86.46320 0.09249 7.37699 49.09249 8.35896 50.92450 0.99410 5.77994 3. INF.07416 0.61528 60. INF.37347 0. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.66370 0.68342 0.05585 001-002 60 3 2 5. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 5.94940 56.= INF.08319 001-004 60 3 4 5.09222 342 .07412 001-003 60 3 3 5.45145 2.67286 2.08861 001-005 60 3 5 5.30772 0.04189 2.09249 10.09249 7. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.89456 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.58038 52.58001 0.09249 8.12309 53.68745 63.12933 47.63325 0. NO UNIV.

D.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Ed. PA 19104 Robert L. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Iowa 52242 VERSION 3. Ed. Brennan. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output.D. Robert L. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Director.1 January. GENOVA was developed in part under contract No. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Brennan Principal Investigator. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). and no official endorsement should be inferred 343 .-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Crick.

61222 48..00000 7478.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 178809.7222109 130.90868 2..OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 1.5069182 MI:R 708 10..5605806 ----------------------------------------------------------------------------- 344 ..0598736 I:R 12 135..93333 2885...48111 5..00000 10.80000 8119.5621469 0.1463633 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 1.7222109 112.14665 1.M X (I:R) DESIGN .1445198 135.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .81276 118 708 MI:R 708 380667.5621469 10.20000 2259...RANDOM MODEL .7169002 0.9841356 0..RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .56215 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 175924.08333 97430.7169002 1..55443 59 118 R 2 270613.6129639 R 2 130.23333 768.71051 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 275758.96222 47344.RANDOM MODEL .30444 19.82499 QF 2 QF 12 QF I:R 12 368044....32111 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 204742.67889 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES..9841356 1.28333 94688...M X (I:R) DESIGN .1445198 51.

98414 3.43081 66.71526 88. NO UNIV.86015 52.45963 0.98414 4.89339 0.17010 0.= INF.72353 0.65229 0.63805 0.09302 92.27644 53.03553 345 .31679 2. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.60852 0.57735 0.98414 3.98414 3.74587 60.43661 1. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 1.02095 001-002 60 3 2 1.98414 6.03184 001-004 60 3 4 1.33266 68.03405 001-005 60 3 5 1.53194 0.28859 54.07715 4.73001 1. INF.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.32649 0. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.33600 58.45248 56. INF.02818 001-003 60 3 3 1.26058 1.

Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Director. PA 19104 Robert L. Brennan Principal Investigator.1 January. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. GENOVA was developed in part under contract No.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Iowa 52242 VERSION 3. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Brennan. Robert L.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --.D. Crick. Ed. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Ed. and no official endorsement should be inferred 346 . GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy.D. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC).

.69444 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 198782.34000 12..94038 59 118 R 2 256501.96222 44678.RANDOM MODEL .30556 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.6836219 ----------------------------------------------------------------------------- 347 ....9790840 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 2..43889 70.3717985 129.91667 93302.02800 1.30444 24.18833 603.M X (I:R) DESIGN .9738173 105.M X (I:R) DESIGN .OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 3.6352875 MI:R 708 12.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ..26000 7775..1082335 3.9738173 122.2295160 0.65151 2..8804237 12.RANDOM MODEL . F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .3717985 48....00000 9119..64383 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 263505.40000 2835.65667 89356..RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 171313.8804237 0.7628148 I:R 12 129.1082335 0.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES ..86547 118 708 MI:R 708 365927...73806 QF 2 QF 12 QF I:R 12 349803..2295160 2.88042 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 167144..8775790 R 2 122.13333 4168.48111 5.

15185 84.88991 65.44315 62. NO UNIV.04534 001-003 60 3 3 3.85434 0.81654 53.71010 1.03369 001-002 60 3 2 3.99814 2.10823 4.05721 348 .65991 0.03665 89.54025 55.21793 49.60187 51.51820 0.10823 8. INF.58880 51.58839 0.45396 0.28256 2.38162 0.14488 5.10823 4.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.92477 1. INF. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 3.63114 0.= INF.69456 0.05125 001-004 60 3 4 3.10823 5.17433 57.25095 0.65321 0.10823 5. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.05482 001-005 60 3 5 3. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.

2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. PA 19104 Robert L. and no official endorsement should be inferred 349 .D. Ed.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Crick. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Brennan Principal Investigator. Robert L. Brennan.1 January. GENOVA was developed in part under contract No.D. Iowa 52242 VERSION 3. Ed. Director. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC).

00000 12566.59556 126.20000 17.35000 250.43111 11...91547 118 708 MK:P 708 331756.20000 4439.5502787 125.90125 QF 2 QF 12 QF K:P 12 305622..86222 53238..OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 4.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .9814237 4..07111 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 185882.44399 59 118 P 2 252349..3493034 MK:P 708 17..5902820 P 2 162..M X (K:P) DESIGN .46772 2.M X (K:P) DESIGN ..7488701 17.6933522 27...13333 53272..RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 153334...RANDOM MODEL .12015 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 265917.66667 7461.74887 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 145873.60000 6106.92889 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.7488701 0.5502787 162.9814237 1.07111 51.93333 106476..6933522 73.6087719 K:P 12 73.RANDOM MODEL .9420122 ----------------------------------------------------------------------------- 350 ...74637 2..7994991 6.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .9652808 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 6.7994991 1.. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .

05341 0.78611 0.72700 1.22002 1.24792 10.47907 7.24792 9.62019 6. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.83052 0. NO UNIV.= INF.45233 0.19211 003-002 60 3 2 7.48748 003-005 60 3 5 7.48074 24.24792 13.18326 6.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.32230 003-003 60 3 3 7.24792 8.85966 0. 3 INF.16421 5.20607 2.78385 0. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 7.34182 0.43118 1.41635 003-004 60 3 4 7.91629 30.09615 5.71016 0.24037 12.95815 15.97210 10.16025 8.54316 351 .28656 0.55058 0.24792 8.

N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Brennan Principal Investigator.D. GENOVA was developed in part under contract No. Iowa 52242 VERSION 3.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Robert L.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. PA 19104 Robert L.1 January. and no official endorsement should be inferred 352 . 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Ed. Brennan. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City.D. Ed. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Director. Crick.

7541243 2.92000 62284.94644 2.00000 9797..68000 35.20000 4241.96000 11..57944 392..Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .2220360 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 4..64000 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 177281.8387665 13.9396860 MK:P 708 13.4215348 0.41861 QF 2 QF 12 QF K:P 12 362484.59752 118 708 MK:P 708 381082.3123446 90.. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .9825944 P 2 189.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .RANDOM MODEL ..M X (K:P) DESIGN ...36000 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 208358.RANDOM MODEL .4342429 146.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 2..9665221 K:P 12 90..8387665 0..7541243 0.14926 59 118 P 2 297293.95333 5432.24000 77..60000 4558..25831 2.83877 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 172723.84667 13...3123446 34.28000 124569.4215348 4..7344855 ----------------------------------------------------------------------------- 353 .23333 65190.4342429 189..M X (K:P) DESIGN ..56240 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 306093..

19586 003-003 60 3 3 4.32757 003-005 60 3 5 4. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.37846 354 . NO UNIV.38120 1.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.22797 6. 3 INF.92258 6.84089 4.64703 0.53443 2.26759 003-004 60 3 4 4.94341 6.15323 8.30646 17.73331 0.71704 30.82088 0.10856 003-002 60 3 2 4.35852 15.22797 5.22797 5.15055 0.= INF.10667 0.22797 8.76561 1.57235 10.78569 0.67926 7.22797 5.47823 0. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 4.16096 0.53764 11.25146 0.13080 0.61572 0.61292 34.

D. Ed. PA 19104 Robert L. Robert L. GENOVA was developed in part under contract No.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output.1 January.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Ed. however the authors can make no assurances that the program is totally without error.D. Crick. Director. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). and no official endorsement should be inferred 355 . Brennan. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Brennan Principal Investigator. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Iowa 52242 VERSION 3. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia.

.7446817 0. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .4329567 1..53333 20.45111 34.14764 QF 2 QF 12 QF K:P 12 308648.9151488 2.43296 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 147174.4846516 165..Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ..6348177 K:P 12 73.00000 14466.M X (K:P) DESIGN ..RANDOM MODEL .M X (K:P) DESIGN .4329567 20.67163 118 708 MK:P 708 331741.RANDOM MODEL .88360 2.84111 12.4846516 127..6548211 27.66667 4595.66667 4439..88333 53276..21667 108197.15637 1..RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 2...6548211 73.13222 77.72222 217.0844687 ----------------------------------------------------------------------------- 356 .9850545 P 2 165.46556 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.7446817 2..28242 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 263997.9676270 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 2....9151488 0.80000 4030.53444 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 184566.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 151769..68222 54098..28021 59 118 P 2 255372...9081929 MK:P 708 20.

10037 2.68130 12.83004 6.26813 003-004 60 3 4 3.23554 3.64103 6.83004 10. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 3.84065 6.70275 7.32818 003-005 60 3 5 3.83004 5.73765 0.19224 1.83004 7.27252 4.28554 0.52934 0. NO UNIV.72896 0.39640 0.= INF.45420 8.69224 0.10883 003-002 60 3 2 3.36259 24.53279 1.37912 357 .40549 15.62784 0.35993 0. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN. 3 INF.19630 003-003 60 3 3 3.81099 31.36220 6.23011 0.83004 5.27033 10.99686 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.

LEMBAR PENGESAHAN .

Element of generalizability theory. tidak diterbutkan. (1983). Iowa City: ACT Publication. (1983). New York: Longman. & Wesman. Fungsi pendidikan seni budaya di sekolah. Bambang Prihadi. The practice of social research. Robert L. Differential aptitude test manual. D. & Gall. Dewobroto. New York: The Psychological Corporation. Mengembangkan kreativitas anak. Zainul. Belmont CA: Wadworth Thomson Learning Inc. Fourth edition. Pergamon. Alternative assessment. Melbourne: The Macmillan Company. Aspin. (2005). Dwi. Seashore. dalam Maurice Saxby & Gordon Winch (EDS). Hal D.. Universitas Negeri Yogyakara. (1979). Borg. Brandy. (1982). (1991). (2004). E. London: The John Hopkins Press Ltd. Astin. G. Yogyakarta: Gama Media. W.R. Anugrah. Yogyakarta. Assessment for excellence. Jakarta: Universitas Terbuka. Affandi.D. K. Introduction to measurement theory. Ronald. (1993). A. Educational research: An introduction. (1952). Ch.DAFTAR PUSTAKA Abdussalam Al-Khalili. California: Brooks Cole Publihsing Company. J. (10 Agustus 2006). Bennet. Brennan. Asmawi. (1986). Assessment and education in the arts. “ Children and their books: The right book for the right child I”. Second edition. the experience of children’s literature. Tesis Magister. (2004). (2005). J. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. A. Berk. 263 . Kompas. Babbie. Phoenix AZ: The Oryx Press. Performance assessment. A. Dalam Malcom Ross The Aesthetic Imperative. (2007). Give them wings. Allen Mary. & Yen Wendy. G. Pengembangan instrumen pengukuran respons estetik siswa sekolah pertama menggunakan semantic diferential. Laure. M.G.. W. H. Mengenal seni rupa anak.

Diambil pada tanggal 8 Nopember 2005. Art education its means and ends. (1958). Brown Company.BSNP. (1992). (1999). (1964). The process of art education in the elementary school. Jakarta: Universitas Terbuka. Djemari Mardapi. Sistem penilaian kelas SD. (2002). Donovan. dari. 264 . Harcourt Brace Jovanovich. Art for exceptional children. Penelitian kerja sama antara Lemlit IKIP Yogyakarta dan Balitbang Depdikas. Isobel J. Dirjen Dikdasmen. Santa Monica CA: The Gety Center. De Francesco-Italio. California: Dickenson Publishing Inc. htm. Steven Marks. Donald. (2000). Jakarta: BSNP. Wailling. CA. Rethinking how art is taught: A critical convergence. Assessment criteria for art and design teaching. California: Chandler Publishing Company.. dkk. (Terjemahan Tim Inisiasi). Duane & Prebel.M.M. A. Corwin Press. Inc. (2005). R. (1975). Art form: An introduction to the visual arts. SMA. (1968). Inc. Gaitskell. Cut Kamaril. Depok: Inisisasi Press. (1975). (1982). The DBAE handbook: An overview of disciplinebased art education. Conrad. Estetika sebuah pengantar. The aesthetic hypothesis. Kamus psikologi. New York: Harper & Brother Publisher. Uhlin. dkk. (2003). Bandung: MSPI. (2006). dan SMK. A. Campbell. Depdiknas. Dubuque. SMP. (1999). Clive Bell. Amerika: Prentice Hall Inc. George. Pendidikan seni rupa/ kerajinan tangan. Djelantik. Thousand Oaks. Dobbs. (1967). Charles D. Coney. Linda. Jakarta. Survei kegiatan guru dalam melakukan penilaian di kelas. assessment criteria. file: // J: Assessment Criteria. Bandung: Tonis. M. Standar nasional pendidikan. Children and their art methods for the elementry Atlanta school. (1998). Multiple intelligences: Metode terbaru melesatkan kecerdasan. Iowa: W. Dali Gulo.

(1997). P. Arthur D. Conrad. Peter.28 :227-233 Griffin. Horovitz. Claire. Evaluation. (1967). W. N. (1967). IL: Stipes. (1990). Inc. Studies in art education. development and evaluation. Departemen Pendidikan dan kebudayaan. (1991). New Jersey: PrenticeHall. H. I thaca. Reston.Hall. Eymeren. Understanding children’s art for better teaching. Hardiman . (1983).” curricular considerations for visual arts education: rationale. Studies in Art Education. History of art education. (1975). E. Greer. The Board of Trutes: The Journal Aestetic Education. Jakarta: National Education Planning. Art as image and idea. Gronlund.4 . Testing and measurement. Educational assessment and reporting.). Freeman. “Human behavior: Its implications for curriculum development in art. H. George. (1974). Estetika sebagai kritik dan apresiasi seni. (1964). Dwarne. Atlanta: Harcourt Brage Jovanovich. (1999). A. Burke Feldman. Eisner. (1987).Edmund. Hoepfner. VA:NAEA. Yogyakarta: Galangpress Fernandes. (1984).J. Holt. & Nix. Ohio: Charles E. Ralph. Art in Indonesia. Efland. Winter Vol. J: Prentice. Children and their art. Identifying resources from which children advance into pictorial innovation. Englewood Cliffs. Dalam Teks-teks kunci estetika flsafat seni. the journal of issues and research: 25 (4). (2005). Megawati. and Curiculum Development. Measurement and evaluation in teaching. N. Herawati.N. Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar. New York: Macmillan Publishing Company. Iriaji. Inc. 265 . New York and London: Teachers College. 31 No. D. Charles. Educating artistic vision. (1985). George W. P 23-34 Gaitskell. (Eds. Theodore Zernich. (1997). Merrill Publishing Company. “A structure of dicipline concepts for DBAE”. National Art Education Association. Champion. dkk. Publisher. The process of art education in the elementary school. London: Harcout Brace Javanovich. Pendidikan seni rupa. 251-258. Inc.. NY: Cornell UP.X. Elliot W. (1973).

Jakob. Sage Publications Kusnadi. Logan. New York: Harcour Brace Jovanovich. Kellogg. M. Validation. P. Growth of art in American schools. Kritik seni dan penciptaan seni rupa. B. Keindahan yang digemari dan pengejawantahannya. Bandung: Penerbit ITB. Toronto: Nelson Thomson Learning. Muchlichah Zarkasih). Robert L. Sumardjo.). 18. Krueger. Dalam teks-teks kunci estetika flsafat seni. USA: Macmillan Publishing Company. Lansing. Kerlinger F. (1967). H. (2001). Martini. Classroom assessment what teacher need to know. ( 2005). (1991). Measurement and evaluation in teaching. Linn. Art & crafts for the classroom. Jakarta: Erlangga Ismiyanto. James. (1976). American Council on Education and Praeger Publishers. Earl. S. New York: Harper & Brother. 266 . The psychology of chidren’s art. Lim Chin Choy. (1995). (1955). Michael T. New York: McGraw-Hill. Jilid 1 Edisi Ke enam. (1977). Chapman (1978). Focus groups: A practical guide for applied research. Model pembelajaran terpadu berbasis kecerdasan jamak. A. K. (2002). (1990). Approach to art in education. Kane. Perkembangan anak. and Lee H. Linderman. 3. Frederick M. Laura. I/03. Jakarta: UNJ. Jurnal Bahasa dan Seni.Hurlock. Jamaris. A. (2000). Popham. Filsafat seni. (Eds. R. Meitasari Tjandrasa dan Dra. (Terjemahan dr.M. Analisis lukisan karya anak-anak usia sekolah dasar : studi dokumenter hasil karya anak-anak sanggar lukis di kota Jakarta dan Semarang. (2000). Elizabeth B. New York: Macmillan Publising Company. & Casey. (2000). Yogyakarta: Galangpress. California: CRM INC. artists and art education. MA: A Simon & Schuster Company. Foundations of behavioral research. C. 86-97. (2006). (1991). Art. Rhoda and Scott O’Dell. N.. Jurnal Seni.

(2003). Garha. (2005). (1986).”. Peraturan menteri..Visual Arts Research.Lowenfeld. Assessment in art education a necessary discipline or a loss of happiness?. Maurice. Seni rupa. New York: American Elsevier. Online. Novianto. Pappas. 1990. New York: Macmillan Publishing Co. (1995). (2005). Macdonald.21 Maret 2005. Permendiknas RI. Lambert. (2006). Soekidjo. Piaget. Spring 1989.No. tahun 2006. The psychology of intelligence. (1970).76-85. J. tentang standar nasional pendidikan. (2003). Wacana kritik seni rupa di Indonesia. S. Creative and mental growth. & Britain. (2007). Myers. ( 2002). Kamus lengkap Bahasa Indonesia. Mamannoor. The board of trustees of the university of illinois. New York: Pergamon Press. tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. P. Notoatmojo. Malcom Ross. Bandung: Nuansa. nomor 22. Strategi pembelajaran seni lukis anak usia dini di Sanggar Pratista Yogyakarta. Newton. London: The Macmillan Company. “Excellence in arts teaching and learning: A collaborative responsibility of maturing partnership. Pengembangan sumber daya manusia. Inc. (1950). (1989). Connie. (1970). Tri Hartiti.3. 267 . Volume 9. (1982). Jakarta: Rora Karya. The history and philosophy of art education. Surakarta: Bringin 55. Membongkar seni rupa. “Guidelines for evaluation and assessment in art and design education 5-18 Years”. No. David. Barrett. George. (1980).1. Nomor 19. Messick. Yogyakarta: FBS UNY. New York: Analytic. tahun 2005. Journal of Art and Design Education. New York: Harcourt. Viktor. Concepts in art and education. Brace & World. Oho. Stuart. University of Maryland Libraries. Jakarta: PT Rineka Cipta. Peraturan pemerintah . Validity of psychological assessment. Yogyakata: Jendela. W.Vol 15. Martono & Retnowati. Mikke Susanto. Peraturan Pemerintah RI.

Pratiknyo Prawironegoero.302-307. Kesenian dalam pendekatan budaya. R. S. Pendidikan seni. London: The Shenval Press. Yogyakarta: Badan Penerbit ISI Yogyakarta. J.Plomp.3 (1906). Contextualistic criticism. Makalah disajikan dalam Seminar & Lokakarya Nasional Pendidikan Seni. Tri Hartiti. Stephen. (2000). A. (2005).A. & Thomas. Dirjen Dikti. Syahrul. Pepper. Jakarta: Depdikbud. (1994b). Jurnal Rupa volume 4 no 1 September 2005. 268 . Salam. T. Soedarso. I Made. (2005). vol 2 No 2. Development research on/in educational development. M. (1994). “Komposisi” Jurnal Pendidikan Bahasa Sastra dan Seni. (2002). PL2LPTK. Soesatyo. (1983). Sanggar melati suci (1979-1994). Yogyakarta: Sanggar Melati Suci. (2006). Elementary school art for classroom teachers. disiplin dan multikultural dalam pendidikan seni rupa. Malang: Balai Kajian Seni dan Desain. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah. (1971). Soeharjo.. Assessment program evaluation. Bandung: STISI Press. Penilaian dengan non tes dalam proses belajar mengajar. Pendekatan ekspresi diri. London: Harper & Row Publishers. Corrado. Soesatyo. Apresiasi seni lukis anak-anak. (1960). Needham Heights. J. Implikasi garis dalam seni rupa.(1970). C. Stark. Tjetjep Rohandi & Retnowati.Yogyakarta:Aquarius Offset. Read. New York: Reinhart and Winston Inc. Pedagogical Sem. Sofyan.A: Simon & Schuster Custom Publishing. Education through art. 183-192. Leipzig. Rohidi. Rohidi. Survai terhadap kondisi guru-guru pendidikan kesenian di SLTP/SMU sumatera barat. Sawyer. Ruta. Tjetjep Rohendi. (2001). Trilogi seni penciptaan eksistensi dan kegunaan seni. Netherlands: Twente University. R. John. Ricci. (1994a). L’art de bambini. (1973). Herbert. (2001). Pendidikan seni dari konsep sampai program. di Jakarta. (1997).

edu/ivc pada tanggal 1 Juli 2007. Linda.coe. M. Yahya. Paul Torrance test of creative thinking. Early adolescent literacy learning fall 2006.57. Sudarmaji.Stufflebeam. Hammond. Lexington: Personal Press. (2001). (1991). Instructional development for training teachers of exceptional children: A sourcebook. E. pp. H.D.ilstu. Toronto: Pergamon Press. R. (1999). Edward. W. Utami Munandar. & Provus. A. (1971). W. “Objectivity and assessment in art” in assessment in arts education. (1959). L. Measurement and evaluation in psychology and education . (1981). M. Agung. Suryahadi. Jakarta: Balai Seni Rupa Jakarta. art education. Thorndike. Kreativitas dan keberbakatan strategi mewujudkan potensi kreatif dan bakat. L. (2005). Evalution of the art product. M. Guba. Wall. Elizabeth.C. Amri. (1975).. Heyfron . (1974). Torrance. D. J. S & Semmel. P. Diakses dari http://www. Section 01 and 02. D. J.. Semmel. Evaluasi dalam perspektif pendidikan seni (Pidato Ilmiah.. Robert. Yogyakarta: Unit Litbang P3G Thiagarajan. (1979). & Hagen. I. Marriman... Minneapolis Indiana University. Itasca. W. New York : John Wiley & Sons. (2006). 2001) 269 . E.10.. Dasar-dasar kritik seni rupa. Waterman. Bunga rampai pendidikan seni. Constructive education for children. Paris: Harrap London. Educational evaluation amd decision making. S. UNY. L. Victor. Paul. G. Gepard. Foley. Il: F. Wedwick. Peacock. (1986). O. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama...

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful