Lampiran 9

Gambar 1. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 1

Gambar 2. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 1

358

Lampiran 9

Gambar 3. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 2

Gambar 4. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 2

359

Lampiran 9

Gambar 5. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 3

Gambar 6. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 3

360

ABSTRACT Tri Hartiti Retnowati. Developing of Assessment Instrument for Children’s Painting in Elementary School. Dissertation. Yogyakarta: Graduate School, Yogyakarta State University, 2009. This study aim at developing an assessment specification for children’s painting in elementary schools by developing a valid and reliable assessment instrument to measure the performance of children’s painting. The development of this assessment instrument was intended to guide the painting teachers in elementary schools in carrying out assessment objectively. This study is a development research which uses quantitative and qualitative approaches. The development process was carried out in five phases, covering initial study, defining, designing, developing, and dissemination phases. The subjects of this study were elementary schools’ teachers and pupils in the first grade to third grades and painting teachers in Muhammadiyah Sapen Yogyakarta elementary school, MIN (Islamic State Elementary School) Tempel, and Langen Sari Yogyakarta elementary school. The construct of the instrument consisting of instrument for process, product, self, and group assessment was developed based on the suggestion of art education, children’s art painting, evaluation, and painting experts. The reliability coefficient of the assessment instrument was computed based on generalizeability theory developed by Crick and Brennan consisting of G (generalized study) and D (decision study) theories with the variance of person, rater, item, person rater interaction, and error components using Genova computer package program, and interrater Cohen’s Kappa fomula. The findings of this study suggest that first, the specification of the assessment instrument for performance of children’s painting in elementary school is in the form of observation sheet consisting of indicators, descriptions, and rubrics (criteria). The components of assessment object are process, product, self assessment, and group assessment. Second, the characteristics of the performance assessment instrument of children’s painting in elementary school consisting of validity, reliability coefficient, and its implementation have been verified. The validity evidence is obtained through three focus group discussions and one seminar. The average of Cohen’s Kappa tend to be higher than genova coefficient and the estimation of Genova coefficient using a nonlinear equation tends to be more accurate than one using a linear equation. The highest coefficent of Genova for process assessment is in grade 1 with 7 items rated, that is 0.91, for product assessment in grade 1 with 3 items rated, that is 0.76, for self assessment, that is 0.68, and for group assessment in grades 1, that is 0.86. The average of cofficients genova is 0.71 and the average of Cohen’s Cappa is 0.73. Both of this value are higher than the minimum criteria, 0.70. Third, the guideline of using performance assessment instrument of children’s painting in elementary school is in the form of a booklet. It consists of background, rationale, components of assessment, guideline, and application sample. Forth, the requirements for elementary school teachers for using this instrument cover the relevant educational background, having experiences in art of paintings, good comprehension toward the guideline of performance assessment for children’s painting, and being responsive toward reformation and changes.

iii

ABSTRAK
Tri Hartiti Retnowati. Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak di Sekolah Dasar. Disertasi. Yogyakarta: Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta, 2009. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan spesifikasi penilaian karya seni lukis anak di sekolah dasar dengan mengembangkan instrumen penilaian yang sahih dan andal untuk mengukur hasil belajar seni lukis anak. Pengembangan instrumen penilaian hasil belajar seni lukis anak sekolah dasar ini dimaksudkan agar para guru seni lukis pada jenjang pendidikan dasar dapat melakukan penilaian secara objektif. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan yang menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Proses pengembangan dilakukan melalui lima tahap yaitu tahap studi awal, tahap pendefinisian, tahap perancangan, tahap pengembangan, dan tahap diseminasi. Penetapan konstruk instrumen yang terdiri atas instrumen penilaian proses, penilaian produk, penilaian diri, dan penilaian kelompok dilakukan melalui pendapat pakar pendidikan seni, pakar seni lukis anak, pakar pengukuran, dan praktisi lapangan. Subjek penelitian ini terdiri atas dua elemen yaitu pendidik dan peserta didik sekolah dasar kelas satu sampai dengan kelas tiga dan pendidik seni lukis anak di SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta, MIN Tempel, dan SDN Langen Sari Yogyakarta. Penentuan koefisien reliabilitas instrumen penilaian dilakukan dengan menggunakan paket program genova berdasarkan teori Generalizability yang dikembangkan oleh Cric dan Brennan yang terdiri atas teori G (Generalized study) dan D (Decision study) yang komponen variansinya adalah person, rater, item, interaksi person dan rater, dan kesalahan, serta dengan koefisien interrater Cohen’s Kappa. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah: 1). Spesifikasi instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD berbentuk lembar pengamatan yang terdiri atas indikator, deskripsi, dan rubrik (kriteria), serta komponen yang menjadi objek penilaian meliputi proses, produk, penilaian diri, dan penilaian kelompok, 2). Karakteristik instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak yang mencakup validitas, reliabilitas, dan keterpakaian di SD telah teruji. Validitas telah teruji melalui focus group discussion sebanyak 3 kali dan sekali seminar. Rata-rata koefisien Cohen’s Kappa cenderung lebih tinggi dibanding rata-rata koefisien genova dan koefisien genova dengan persamaan nonlinear cenderung lebih teliti dibanding dengan persamaan linear. Besar koefisien genova paling tinggi untuk penilaian proses di kelas 1 dengan 7 item yang dirating yaitu 0,91, penilaian produk di kelas 1 dengan 3 item yang dirating yaitu 0,76, penilaian diri di kelas 1 yaitu 0,68, sedang penilaian kelompok di kelas 1 yaitu 0,86. Ratarata koefisien Genova secara keseluruhan adalah 0,71. Adapun rata-rata koefisien Cohen’s Kappa yaitu 0,73. Kedua nilai rata-rata ini telah memenuhi kriteria minimum yang disyaratkan yaitu 0,70, 3). Pedoman penggunaan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak dalam bentuk booklet. Booklet terdiri atas latar belakang, rasional, komponen yang dinilai, petunjuk penggunaan, dan contoh aplikasi, 4). Persyaratan yang harus dipenuhi pendidik SD agar kompeten menggunakan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD meliputi latar belakang pendidikan yang relevan, memiliki pengalaman dalam bidang seni lukis, memahami pedoman penilaian hasil belajar karya seni lukis anak, dan responsip terhadap pembaharuan dan perubahan.

ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang dan Identifikasi Masalah Pada dasarnya manusia memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai estetika agar dapat hidup dengan baik di masyarakat dan memiliki rasa keindahan. Pengetahuan berkaitan dengan penalaran yang diperlukan dalam memecahkan masalah. Keterampilan berhubungan dengan gerak anggota badan dalam mengerjakan pekerjaan. Rasa keindahan atau kepekaan estetik berkaitan dengan seni, sehingga orang yang memiliki apresiasi terhadap seni merasakan indah dalam hidupnya. Oleh karena itu setiap orang harus memiliki kepekaan estetik agar dapat merasakan keindahan dalam hidupnya. Dalam perspektif pendidikan, seni dipandang sebagai salah satu alat atau media untuk memberikan keseimbangan antara intelektualitas dengan sensibilitas, rasionalitas dengan irrasionalitas, dan akal pikiran dengan kepekaan emosi. Bahkan dalam batas-batas tertentu, seni menjadi sarana untuk mempertajam

moral dan watak seseorang (Rohidi, 2000: 55). Pendidikan seni bertujuan mengembangkan kedewasaan diri anak didik yang utuh dan seimbang dengan cara memberikan perlakuan yang dapat merangsang kepekaan estetik dan kreativitas peserta didik. Dengan demikian untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan pengembangan estetik melalui pendidikan seni. Pengembangan kepekaan estetik merupakan bagian dari pengembangan kepribadian seseorang, yang dilakukan melalui pendidikan seni. Dalam Peraturan Pemerintah No 19 tahun 2005 (PP Nomor 19, 2005) tentang standar nasional

1

pendidikan,

masalah

kepekaan

estetik

memperoleh

penekanan

dalam

pengembangan kemampuan peserta didik melalui kelompok mata pelajaran estetika. Pada peraturan ini, kelompok mata pelajaran estetika yang harus dipelajari peserta didik mempunyai arah pengembangan untuk meningkatkan: (1) sensitivitas, (2) kemampuan mengekspresikan, dan (3) kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni. Kemampuan mengapresiasi dan mengekspresikan keindahan serta harmoni mencakup apresiasi dan ekspresi, baik dalam kehidupan individual sehingga mampu menikmati dan mensyukuri hidup, maupun dalam kehidupan kemasyarakatan sehingga mampu menciptakan kebersamaan yang harmonis (BSNP, 2006: 78-79). Kelompok mata pelajaran estetika merupakan pelaksanaan dari pendidikan seni yang tergolong unik karena melekatnya "pengalaman estetik" pada diri seseorang. Dalam pendidikan seni, pengalaman estetik merupakan

sesuatu yang esensial. Menurut Linderman (1984: 54), pengalaman estetik mencakup pengalaman-pengalaman perseptual, kultural, dan artistik. Pengalaman perseptual dikembangkan melalui kegiatan kreatif, imajinatif, dan intelektual. Pengalaman kultural melalui kegiatan pemahaman terhadap hasil warisan budaya lama dan baru, sedangkan pengalaman artistik melalui kegiatan kreatif dan

apresiatif. Dengan demikian pengalaman estetik memberi peluang bagi seseorang untuk memahami dunia dari sudut pandangan yang berbeda dengan aspek pengetahuan. Cara memahami dunia yang ditawarkan oleh seni bersifat intuitif, tak terduga, dan kreatif, serta dikomunikasikan dalam bahasa warna, bunyi, gerak, atau isyarat yang bersifat simbolis.

2

Kelompok mata pelajaran estetika dilaksanakan pada semua jenjang pendidikan dari sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah atas atau yang sederajat dengan standar kompetensinya disebutkan dalam PP 19 tahun 2005 yaitu: ”membentuk karakter peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa seni dan pemahaman budaya. emosi. pendidikan seni amat menghargai pengalaman pribadi yang menantang anak untuk bertindak kreatif melalui pemecahan masalah artistik. Anak 3 . Standar kompetensi kelompok mata pelajaran estetika pada jenjang sekolah dasar adalah: ”menunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni dan budaya lokal. dan muatan lokal yang relevan. Pendidikan Seni Budaya di sekolah memiliki dua fungsi yaitu: (1) untuk menumbuhkan kepekaan rasa estetik dan artistik sehingga terbentuk sikap kritis. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. Salah satu kegiatan seni yang dilaksanakan di sekolah dasar adalah seni lukis yang merupakan bagian dari seni rupa. intelektual.” (BSNP. 2006: 140). keterampilan. Hal ini sesuai dengan pendapat Anugrah (2006) sebagai berikut. mengeksplorasi ambiguitas. dan kreatif pada diri peserta didik secara komprehensif. dan menerima keragaman pandangan. (2) untuk membentuk pribadi yang harmonis dalam berlogika dan beretika bagi elaborasi peserta didik untuk mencapai kecerdasan emosional. perasaaan. dan /atau pandangan anak terhadap sesuatu. seni dan budaya.Pada seni melekat kesediaan untuk mengimajinasikan segala kemungkinan. Karena itulah. apresiatif. spiritual.”. Kegiatan melukis bagi anak-anak seusia anak sekolah dasar merupakan kegiatan naluriah dan menjadi kesenangan anak karena muncul atas desakan perkembangan emosi artistik yang bersifat kodrati. serta mentalitasnya. imajinasi. Melukis bagi anak-anak merupakan aktivitas psikologis dalam rangka mengekspresikan gagasan.

Dalam konteks pendidikan. seorang pendidik harus mempunyai pengetahuan dan pemahaman tentang makna karya seni lukis bagi peserta didik. maka sifat-sifat yang demikian juga hadir dalam karya lukis anak. Penggunaan unsur-unsur pada lukisannya tergantung pada keasyikan pemikiran dan fantasinya. gembira. Pengetahuan dan pemahaman ini diperlukan agar pendidik mampu memberikan bimbingan dan menilai hasil belajar karya peserta didik . Didukung oleh penalaran anak yang wajar. intuitif dan lebih dekat dengan sifat bermain pada anak. Hal ini sesuai dengan kompetensi yang dituntut sebagai seorang guru yaitu menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar. Ungkapan pribadinya muncul melalui bentuk-bentuk dengan makna simbolik tertentu. dan eksperimental. maka hasil karya anak tampak sungguh naif. 4 . Mereka dengan asyik melakukan coret-mencoret. Sebagaimana kehidupan dan keadaan jiwa anak-anak yang pada umumnya bersifat bermain-main. 2005). Lebih banyak yang akan mereka ceritakan maka lebih banyak pula bentuk yang dimunculkan (Soesatyo. pikirkan dan khayalkan. melainkan lebih pada apa yang mereka mengerti.melukis adalah menceritakan atau mengungkapkan (mengekspresikan) sesuatu yang ada pada dirinya secara intuitif dan spontan lewat media seni lukis (Soesatyo. Penilaian proses antara lain melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan kompetensi peserta didik (PP Nomor 19. Mereka melukis sebagai wujud pengungkapan pikiran dan perasaan tanpa terbatas pada apa yang dilihat oleh mata kepala saja. 1994b: 32). mengekspresikan perasaannya melalui garis. bidang. spontan. bebas. 1994a: 31). warna dan sebagainya sesuai dengan suara batin dan lingkungan anak.

Nitikan SD Muh. Sebagian besar guru sekolah dasar merupakan guru kelas. Danunegaran SD Muh. Papringan SD Muh.Danunegaran SD Muh. padahal pelajaran melukis bagi anak-anak adalah pelajaran yang menyenangkan. Hal ini diakui oleh dua puluh orang guru yang dapat ditemui dalam studi awal penelitian. (lihat Tabel 1) Tabel 1 Daftar Peserta Studi Awal No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Nama Guru (Singkatan) SW PB SR NH AG PN EL RL RP SW SS WA TR RH ET MR SR RP SL LP Umur (Tahun) 49 36 39 47 54 45 55 50 35 38 32 39 31 33 27 35 29 34 44 28 Pengalaman Mengajar (Tahun) 24 11 14 22 29 20 30 25 10 13 7 14 6 8 4 10 5 9 19 4 Nama Sekolah SD Lempuyangan 2 SD Lempuyangan 1 SD Lempuyangan 3 SD Tegal Panggung SDN Widoro SD Suryodiningratan 4 SD Langensari SD Samirono SD Suryodiningratan 3 SD Pujokusumon 3 SD Muh. sehingga kemampuan dalam menilai karya anak belum seperti yang diharapkan. Gowongan SD Muh.Nitikan SD Muh. Kauman 5 .Karangkajen SD Muh.Penumping SD Muh. Subjektivitas dalam penilaian karya seni lukis anak pada dasarnya disebabkan oleh kesulitan guru dalam menentukan kriteria penilaian. Papringan SD Muh.Penelitian ini didasarkan pada asumsi bahwa pemahaman guru-guru terhadap hakekat pendidikan seni terutama pelaksanaan pembelajaran seni lukis sekolah dasar belum seperti yang diharapkan sehingga mereka cenderung membimbing secara kurang tepat antara lain menilai secara subjektif. Dengan demikian masalah subjektivitas menjadi masalah yang tidak dapat dihindari dalam penilaian karya lukis anak.

dari jawaban dan pendapat yang dikemukakan para guru. Sebagai guru kelas dan tidak pernah mendapat pelatihan tentang penilaian seni lukis sehingga guru mengalami kesulitan dalam menilai proses dan produk karya seni lukis. karena latar belakang pendidikan bukan dari bidang seni rupa. Pada penilaian proses seorang guru dapat mengamati bagaimana aktivitas siswa dalam membuat karya lukis. Berdasarkan studi awal yang dilakukan. permasalahan penilaian karya lukis anak merupakan permasalahan yang sangat penting untuk dipecahkan karena akan 6 . Kedua aspek penilaian ini akan memberikan gambaran tentang kemampuan melukis siswa yang sebenarnya. Pada penilaian produk seorang guru dapat melihat hasil karya siswa setelah mengalami serangkaian proses pembuatan karya. Hal ini lebih disebabkan karena tidak ada kriteria yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menilai proses dan produk karya seni lukis anak tersebut. baik penilaian proses maupun produk karya seni lukis anak.Penilaian hasil karya lukis siswa perlu meninjau dua aspek yaitu proses pembuatan karya lukis dan hasil karya lukis itu sendiri. dapat dirinci permasalahan di lapangan dalam penilaian karya seni lukis anak sebagai berikut: (1) adanya faktor subjektivitas dalam menilai karya seni lukis anak. (2) guru merasa kesulitan untuk menentukan kriteria dalam penilaian karya seni lukis anak. Dalam konteks pendidikan. Kenyataan di lapangan menunjukkan penilaian proses dan produk dilakukan guru sebatas pengetahuan yang dimiliki guru tentang seni lukis. (3) belum adanya pedoman yang dapat dijadikan pegangan guru untuk melakukan penilaian seni lukis anak yang sesuai dengan perkembangan anak.

juga harus dilihat dari segi atau sisi anak-anak itu sendiri yang menghasilkan karya yaitu dengan menghayati kondisi kejiwaan anak. guru seni lukis menggunakan instrumen penilaian yang disusun secara mandiri. dengan harapan agar penilaian mendekati objektivitas. Merupakan dampak selanjutnya adalah tidak berfungsinya tujuan pendidikan seni budaya dan keterampilan dalam mengembangkan sensitivitas. belum tersedia. terutama dari hakekat seni. tentunya tidak adil apabila hanya dilihat dari segi tampilan karya tersebut. Tetapi. ekspresi estetis. kehidupan anak. timbul perbedaan persepsi tentang instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar antara guru yang satu dengan lainnya. khususnya pengajar seni lukis kesulitan menentukan kriteria penilaian seni lukis anak. Hingga saat ini instrumen penilaian karya seni lukis anak yang telah teruji secara ilmiah yang dapat digunakan oleh guru sekolah dasar. Hal inilah yang melandasi penelitian ini untuk mengembangkan instrumen penilaian karya seni lukis anak. Selama ini. dan dunia anak-anak itu sendiri. Studi awal tersebut menggambarkan keadaan sesungguhnya di lapangan bagaimana guru-guru. kreativitas.menjadi kendala dalam proses pembelajaran seni lukis anak. 7 . khususnya di Indonesia. Oleh karena itu masalah seni lukis anak tidak dapat dipisahkan dari tinjauan ilmu jiwa anak terutama dalam hal ini anak sekolah dasar. B. dan kreativitas peserta didik. Akibatnya. Rasional yang Mendasari Pentingnya Masalah Memahami karya lukis anak.

Agar penyelenggaraan proses belajar mengajar di sekolah memperoleh hasil yang penilaiannya dapat optimal hendaknya guru memiliki pengetahuan dalam menilai karya lukis anak. Untuk sampai pada penilaian karya lukis anak. seorang guru harus pula mempunyai wawasan yang luas dan dapat mengerti kelemahan dan kekurangan hasil karya lukis anak. perancangan dan pelaksanaan pembelajaran. Untuk melakukan penilaian yang objektif diperlukan instrumen penilaian. Penilaian bertujuan untuk mengetahui proses dan hasil belajar mengajar seni luksi anak. sehingga hasil dipertanggungjawabkan. dan menghargai yang didasari pengertian yang terkandung dalam karya.Cara pandang atau apresiasi guru terhadap hasil karya lukis anak berbeda dengan karya lukis orang dewasa. Kegiatan seni lukis anak memiliki wilayah tersendiri dan karenanya harus dilihat serta dinilai tersendiri (Soesatyo. Instrumen penilaian ini akan membantu guru dalam menilai karya lukis anak secara objektif. seorang guru harus mempunyai pengetahuan dan kemampuan apresiasi yang tinggi terhadap karya tersebut sehingga dapat mengerti. baik proses maupun hasilnya. sehingga dapat memacu anak belajar seni lukis. dan 8 . Dalam pasal 28 ayat (3) butir a. 1994a: 33). Di samping hal tersebut. menerima. Penilaian merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran. evaluasi hasil belajar. Apalagi sampai pada suatu kesimpulan berupa penilaian yang dapat dipertanggungjawabkan. PP 19 tahun 2005 disebutkan bahwa seorang pendidik harus mempunyai kompetensi pedagogik yakni kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik.

agar hasil penilaian lebih akuntabel. Kompetensi pedagogik mencakup kemampuan melaksanakan pembelajaran dan menilai proses dan hasil belajar peserta didik. kehidupan anak. Sistem penilaian kelompok mata pelajaran estetika harus memperhatikan esensi kelompok mata pelajaran itu sendiri. Penilaian yang dilakukan guru di sekolah saat ini belum menggunakan instrumen yang dapat dipertanggungjawabkan dilihat dari kriteria yang digunakan. sering terjadi penilaian karya seni khususnya karya seni lukis anak tidak berpijak pada argumen yang tepat. Berkaitan dengan hal tersebut di atas. Oleh karenanya faktor psikologis seperti dunia anak. Hal ini dipertegas pada pasal 64 ayat 5 Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 tahun 2005 9 . Kegiatan penilaian memerlukan instrumen penilaian. guru tidak mampu menjelaskan kriteria yang digunakannya dalam memberikan nilai enam. Keberhasilan pendidikan seni tidak lepas dari peranan guru dalam menilai karya lukis anak. dan kejiwaan anak perlu dipertimbangkan dalam menilai karya seni lukis anak. sebab yang ada hanyalah tingkat kemampuan anak. atau tujuh atau delapan dalam menilai hasil belajar praktek seni lukis anak. Dengan demikian diperlukan suatu instrumen yang dapat diacu untuk menilai karya seni lukis anak. Akibatnya.pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. salah satu panduan penilaian yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan adalah panduan penilaian kelompok mata pelajaran estetika. Dalam penilaian karya seni lukis anak perlu ditegaskan tidak adanya hal yang salah. keliru atau betul. Dalam berbagai kasus.

Hal ini akan memudahkan pendidik untuk menilai karya seni lukis anak dengan membandingkan hasil karya dengan kriteria yang telah ditetapkan. penilaian tidak akan terjebak menjadi like and dislike karena menggunakan ukuran yang jelas. 2001: 14). Untuk menentukan kadar keartistikan suatu lukisan diperlukan ukuran atau kriteria tertentu. Dengan cara demikian. atau rendah. 2001: 15). maka di dalamnya terdapat dimensi keindahan. apakah tinggi. Karena lukisan anak merupakan wujud ekspresi artistik. Penegasan ini mengisyaratkan diperlukan cara penilaian yang bersifat khusus. Dengan demikian untuk memudahkan pendidik dalam menilai karya lukis anak. sedang. Kriteria tersebut akan memudahkan penikmat dalam mengevaluasi lukisan (Yahya. Dengan demikian. Penilaiannya dapat diartikan sebagai upaya menentukan kadar keartistikan. Hal inilah yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pendidikan seni (Yahya. bahwa “Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran estetika dilakukan melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan ekspresi psikomotorik peserta didik”. sehingga hasil penilaian dapat objektif dan dapat dipertanggung jawabkan. 10 . diperlukan instrumen yang didalamnya terdapat kriteria yang telah ditetapkan lebih dahulu. penilaian terhadap seni lukis anak harus merupakan upaya untuk menunjukkan nilai-nilai artistik lukisan tersebut.tentang Standar Nasional Pendidikan.

11 . Bagaimana bentuk dan isi pedoman penggunaan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak? 4. Bagaimana karakteristik instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak yang mencakup validitas. 3. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1. Mengetahui persyaratan apa yang harus dipenuhi pendidik sekolah dasar. reliabilitas. Bagaimana komponen instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di sekolah dasar? 2. dan keterpakaian di sekolah dasar? 3. untuk dapat menggunakan secara kompeten instrumen hasil belajar seni lukis anak. kompetensi apa yang perlu dikuasai guru? D. Mengembangkan komponen instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di sekolah dasar. dan praktis untuk mengukur hasil belajar seni lukis anak. Untuk menggunakan instrumen penilaian hasil belajar seni lukis anak sekolah dasar secara optimal. Menentukan kriteria penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di sekolah dasar. reliabel. 2. Rumusan Masalah Masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Mengembangkan instrumen penilaian yang valid. 4.C.

Penilaian proses Penilaian proses terdiri dari tahap awal dan tahap inti. Penilaian yang objektif akan membantu seorang guru mengidentifikasi kemampuan siswa dalam melukis. waktu.E. F. Tahap inti mencakup indikator yang berhubungan dengan aktivitas siswa dalam melukis baik dari segi kemampuan intelektual. Instumen penilaian tersebut diperlukan untuk membantu guru dalam memberikan penilaian yang objektif terhadap kemampuan seni lukis anak. Spesifikasi produk yang diharapkan adalah sebagai berikut: 1. 12 . Spesifikasi Produk Hasil penelitian dan pengembangan. maupun kondisi psikologis yang mempengaruhi kualitas karya yang dihasilkan seperti keberanian dan ketekunan. diharapkan mendapatkan produk berupa instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar yang valid dan reliabel. Tahap awal mencakup indikator-indikator yang berhubungan dengan pengkondisian awal siswa sebelum melukis seperti kesiapan alat dan bahan yang diperlukan untuk melukis. Manfaat Penelitian Hasil penelitian akan memberi sumbangan teori pada kriteria instrumen penilaian seni lukis anak yang teruji secara empirik. Secara praktis hasil penelitian diharapkan akan menjadi acuan guru pengajar seni dalam melakukan penilaian hasil karya seni lukis anak.

2. Disamping itu. dalam penilaian kelompok peserta didik diharapkan dapat menangani problem. sebagaimana tercantum dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk bidang seni yang terdiri dari gambar ekspresif dan imajinatif. serta pengalaman-pengalaman berharga mana yang berhasil dipelajari dalam kegiatan tersebut. 3. dan hasilnya memuaskan atau tidak. 13 . Penilaian produk Penilaian produk mengungkap adanya unsur kreativitas. apakah suatu kegiatan melukis bagi dirinya menarik atau membosankan. Penilaian diri Penilaian diri mengungkap informasi dari tiap peserta didik. kegagalan. bermanfaat atau tidak. sehingga terkembangkan sikap oto kritis dalam memberikan penilaian terhadap hasil karya temannya. Penilaian kelompok Penilaian kelompok memberikan kesempatan peserta didik menunjukkan satu atau dua karya mereka secara bergiliran. serta teknik melukis. apakah mengerjakannya mudah atau sulit. 4. ekspresi. dan keberhasilan karya temannya. kemudian peserta didik yang lain memberikan respons dalam bentuk bahasan kritis.

BAB III METODE PENELITIAN A. Data kuantitatif yang berupa hasil penilaian pendidik terhadap karya lukis anak 152 . Data kualitatif yang diperlukan merupakan landasan teoritis bangunan konstruk instrumen. instrumen. karena pengembangan instrumen penilaian seni lukis anak harus dimulai dengan membangun konstruk yang diukur. Model Pengembangan Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan ini digunakan. Bukti validitas interpretasi hasil pengukuran instrumen penilaian karya seni lukis anak memerlukan data kualitatif dan kuantitatif. sesuai dengan Standard for educational and psychological testing (1999) harus memiliki bukti validitas interpretasi hasil pengukuran. Konsep validitas bersifat “unity concept” yang dibangun dari teori yang melandasi konsep pengembangan. Penelitian pengembangan digunakan untuk menghasilkan instrumen yang baku dalam menilai karya lukis anak. termasuk praktisi seni lukis dan guru seni lukis di sekolah dasar. melalui berbagai penelusuran dan diskusi pakar seni lukis dan pendidikan seni lukis. Instrumen yang dikembangkan disertai dengan pedoman penggunaan instrumen. dan bukti empirik. yang pengumpulannya dimulai sejak awal pengembangan konstruk. Konstruk instrumen penilaian ini merupakan “tingkat ukuran” (yard stick) karya seni lukis anak. Bukti validitas suatu instrumen harus memiliki validitas interpretasi hasil pengukurannya. Instrumen penilaian seni lukis anak.

Model Thiagarajan. design. 7) Operational product revision. yaitu dimulainya dengan tahap preliminary investigation yang dikemukakan oleh Plomp dan research & development menurut Semmel (1974:5). (4) test. Menurut Borg & Gall ( 1983. Sesuai dengan tujuannya. dan dissemination atau yang dikenal dengan 4D.8) Operstionsl field testing. yaitu Define. (5) evaluation and revision. Semmel & Semmel dikenal dengan Four-D Model. Design. penelitian ini menggunakan modifikasi model Semmel & Semmel dengan model Plomp. Thiagarajan. develop. (3) realization construction. Menurut Plomp (1997: 78) langkah-langkah R & D adalah sebagai berikut: (1) preliminary investigation. and (6) implemention. seperti berikut ini. 6) Main field testing.diperlukan untuk memperoleh informasi tentang besarnya koefisien keandalan hasil ukur instrumen. 1) Research and information collecting 2) Planning. 5) Main product revision. 153 . Setiap aspek diurai menjadi sejumlah indikator. Plomp. 3) Develop preliminary form of product. Kriteria pengembangan konstruk instrumen mencakup aspek proses dan hasil karya lukis anak. 3) Preliminary field testing. Pengembangan instrumen ini dilakukan dengan mengadopsi model penelitian dan pengembangan pendidikan secara umum. Setelah indikator disusun menjadi item yang dirakit menjadi instrumen utuh. Develop and Disseminate. 10) Dissemination and implementation. dan model Borg & Gall. 9) Final product revision. (2) design. 275-276) ada sepuluh langkah dalam melakukan R & D. Instrumen diujicobakan kepada sejumlah pendidik agar dapat diketahui keterpakaiannya dan diestimasi koefisien reliabilitas hasil ukurnya. Beberapa model penelitian dan pengembangan yang dipakai dalam penelitian dan pengembangan (R & D) antara lain: model Semmel & Semmel. Tahapan pengembangannya meliputi: define.

Research & Develepment Model PRELIMINARY INVESTIGATION Identifikasi kebutuhan alat penilaian seni lukis Elaborasi kebutuhan alat penilaian seni lukis yang relevan DEFINE Merumuskan definisi konstruk instrumen Mengkaji konsep instrumen karya lukis anak berdasarkan teori Penentuan konstruk instrumen Telaah konstruk oleh pakar Mendesain konstruk instrumen Pengembangan indikator Penyusunan item instrumen Telaah item instrumen Perbaikan instrumen Uji coba instrumen Analisis instrumen Pembakuan instrumen FGD Sosialisasi instrumen karya lukis anak DESIGN DEVELOP DISSEMINATE Gambar 40. kegiatan yang dilakukan adalah uji coba instrumen terhadap guru sekolah dasar. Secara rinci model pengembangan instrumen disajikan pada Gambar 40. Kegiatan yang dilakukan tahap design adalah telaah konstruk instrumen oleh para pakar dan guru sekolah dasar seni budaya (seni lukis). dan mengkaji konsep instrumen karya lukis anak berdasarkan teori dan hasil penelitian yang relevan. deskripsi. kegiatan yang dilakukan adalah mengembangkan indikator. Tahap develop. Terakhir. kegiatan yang dilakukan adalah merumuskan definisi konstruk. dan penyusunan item instrumen. kriteria.Pada tahap define. Model Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak 154 . dalam hal ini adalah kriteria karya lukis anak. tahap dissemination.

antara lain penelitian Ismiyanto tahun 2002 yaitu penelitian tentang visualisasi lukisan karya anak-anak usia sekolah dasar ditinjau dari tema dan subjek mencerminkan kehidupannya dan menunjukkan adanya upaya anak mengidentifikasi diri dalam karyanya. dilakukan pengkajian pustaka yang berkaitan dengan identifikasi jenis. Penelitian Syahrul yang dilakukan tahun 2001. sasaran penilaian karya seni lukis. Prosedur Pengembangan Berdasarkan model pengembangan pada Gambar 40. tahapan atau prosedur pengembangan lebih lanjut dapat dijabarkan sebagai berikut. 1. Tahap Studi Awal Pada tahap awal (preliminary investigation) ini. Demikian juga hasil penelitian Coney tahun 1999. penjelajahan juga dilakukan terhadap hasil-hasil penelitian yang relevan untuk mendukung gagasan instrumen penilaian seni lukis yang sesuai dengan kebutuhan guru di lapangan. tentang pentingnya profesionalisme guru pendidikan seni dan komitmen terhadap tugas merupakan faktor penting untuk kelangsungan pembelajaran dan pencapaian kualitas hasil belajar anak didik. Hasil penelitian membuahkan tujuh kriteria untuk melihat kemajuan anak dalam berkarya seni yaitu: (1) kemampuan untuk mengamati dan merekam 155 . Substansi yang ditelaah pada tahap ini adalah mengkaji analisis kurikulum yang berlaku untuk matapelajaran seni budaya dan keterampilan.B. Penelitian yang relevan tersebut. yang dilatarbelakangi bagaimana membuat suatu penilaian menjadi sebuah elemen pembelajaran yang aktif dan positif dari pengajaran. Selain itu.

yaitu mengolah ketiga unsur tersebut. dan kriteria penilaiannya. (5) pencapaian sasaran pembelajaran. deskripsi. Tahap pendefinisian merupakan tahap 156 . Kemudian untuk mendapatkan kebutuhan realita di lapangan. sasaran penilaian seni lukis diikuti penjabaran indikator. Tahapan Studi Awal Pengembangan Instrumen Seni Lukis Anak 2. level. Kajian Pustaka Analisis Kurikulum Masalah Riil Elaborasi Indikator Deskripsi Level Kriteria Gambar 41. (4) ekspresi dan kontrol atas ide-ide yang diungkapkan termasuk kreativitas. ekspresi dan teknik. sehingga diperoleh indikator dan deskripsi. maka dilakukan wawancara terhadap guruguru yang mengajar seni lukis di SD. dan (7) komitmen anak dalam mengerjakan tugas rumah.pengalaman visual anak. Dengan demikian hasil karya seni lukis pada dasarnya dapat dinilai dari sudut kreativitas. dan kriteria penilaian yang disajikan pada Gambar 41. yaitu kajian pustaka. selanjutnya dilakukan elaborasi terhadap ketiga unsur tersebut. dan studi lapangan. (2) pengembangan ketrampilan teknis. analisis kurikulum. Tahap Pendefinisian Tahap pendefinisian (define) adalah tindakan untuk menyusun definisi tentang unsur. (6) menekankan kembali batasan-batasan dari suatu tugas. (3) minat dan motivasi anak. Setelah dilakukan identifikasi pada ketiga hal tersebut.

kreativitas. Visualisasi proses ini disajikan pada Gambar 43. deskripsi. ekspresi. deskripsi. dan rubrik penskoran. Indikator menjadi acuan dalam mengembangkan item. Indikator Deskripsi Kriteria Rubrik Bagan 42. kemudian ditetapkan kriteria disertai rubrik penskoran. Dengan demikian kisi-kisi dapat dipakai sebagai bukti pada proses validasi. yaitu: tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat. Tahap Perancangan Tahap perancangan (design) adalah tindakan merancang kisi-kisi instrumen alat pengukur karya seni lukis sehingga bisa diketahui dimensi yang diukur atau konten dan jabaran dari tiap-tiap unsur sasaran penilaian seni lukis.lanjutan dari tahap awal. kesiapan alat dan bahan untuk melukis. keberanian menggunakan media. 157 . pemanfaatan waktu. Setelah deskripsi dikembangkan secara operasional. dan item. dan teknik. kriteria. kelancaran penuangan ide. Selanjutnya masing-masing indikator dijabarkan menjadi deskripsi. indikator yang terjaring ada 10 macam. keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk. Kisi-kisi yang dimaksudkan sebagai upaya memaparkan pola hubungan antara konstruk (dimensi yang diukur) dengan indikator. ketekunan. yaitu pendefinisian tentang indikator. Tahapan Pendefinisian Instrumen Seni Lukis Anak 3. kriteria. Dalam kaitan dengan ini.

dengan bantuan seorang moderator/fasilitator untuk mendorong peserta mengungkapkan pendapat. dan perakitan kisi-kisi. A. dan guru seni lukis dalam forum Focus Group Discussion (FGD).Kajian Pustaka Kebutuhan Lapangan Dimensi (Kisi-kisi) .Berdasarkan hasil FGD. (2000). perbaikan. & Casey. selanjutnya kisi-kisi diperbaiki dan dirakit sehingga menjadi acuan dalam penyusunan item. R. Setelah prototipe awal diperoleh kemudian ditindaklanjuti dengan validasi ahli dengan teknik FGD sebanyak tiga putaran. Tujuan diskusi adalah untuk menggunakan dinamika kelompok. FGD putaran pertama dilakukan 158 . . A. FGD adalah suatu metode diskusi secara mendalam yang melibatkan kelompok kecil yang homogen (6-12 orang) untuk mendiskusikan topik tertentu. pakar pendidikan seni.Proses .Produk Konten Sasaran Gambar 43. sikap. M. dan pertimbangan tentang topik yang didiskusikan. Tahap Pengembangan Pada tahap pengembangan (development) dilakukan penyusunan kisikisi penelaahan. Menurut Krueger. Pentelaahan kisi-kisi dilakukan oleh pakar seni lukis anak. Perangkat instrumen ini disebut prototipe awal instrumen penilaian seni lukis. Tahapan Perancanganan Instrumen Seni Lukis Anak 4. berdasarkan kisi-kisi Item yang disusun menjadi perangkat instrumen penilaian seni lukis.

Setelah direvisi kemudian digunakan untuk menyempurnakan prototipe 2 (dua) menjadi prototipe 3 (tiga) yaitu. Berdasarkan saran dan temuan pada FGD putaran 2 (dua). 159 . 1(satu) orang pakar seni lukis anak. Setelah prototipe 1 direvisi selanjutnya dilakukan FGD putaran 2. penilaian diri. 1 (satu) orang pakar pendidikan seni. dihadiri oleh 8 (delapan) orang terdiri dari 3 (tiga) orang pakar pengukuran. berupa kriteria seni lukis anak. kemudian diperoleh saran dan temuan berupa diskripsi dari masing-masing indikator. Pada tahap 2 (dua) berdasarkan kriteria hasil FGD putaran kedua. Komponen proses terdiri 2 (dua) tahap. penilaian kelompok merupakan hasil dari FGD putaran 3 (tiga) yang diselenggarakan pada tanggal 10 April 2008. 2 (dua) orang pakar seni lukis anak. dan 4 (empat) orang pendidik seni lukis sekolah dasar. dilakukan revisi. dan kemudian diperoleh bobot prosentase penilaian proses 60% dan produk 40%. Setelah memperhatikan saran dan temuan hasil FGD putaran pertama. sehingga diperoleh prototipe 2 (dua).pada tanggal 26 Februari tahun 2008 di Pascasarjana UNY yang dihadiri oleh 7 (tujuh) peserta FGD terdiri dari: 1 (satu) orang pakar pendidikan seni. yaitu tahap awal dan tahap inti. Kesimpulan hasil FGD adalah bahwa penilaian dilakukan pada komponen proses dan komponen produk pembelajaran. dan 3 (tiga) pendidik seni lukis sekolah dasar. selanjutnya dilakukan revisi sehingga diperoleh prototipe 1. dan 4 (empat) orang pendidik seni lukis sekolah dasar. yang dilaksanakan pada tanggal 13 Maret 2008 dihadiri 7 (tujuh) orang terdiri dari: 2 (dua) orang pakar pendidikan seni.

Untuk kejelasan tahap-tahap pengembangan instrumen dapat dilihat pada Gambar 44. Indikator Deskripsi Level Kriteria Prototipe 1 FGD-1 Analisis Revisi Indikator Prototipe 2 FGD-2 Analisis Item Revisi Deskripsi Prototipe 3 FGD-3 Analisis Revisi Kriteria Prototipe Tentatif Gambar 44. Hasil dari seminar yang berupa instrumen penilaian seni lukis anak kemudian dipakai untuk pengambilan data uji coba penelitian. penilaian produk. Skema Tahap Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak 160 . tahap inti). sehingga diperoleh hasil instrumen penilaian seni lukis anak yang terdiri dari penilaian proses (tahap awal. 3 (tiga) pakar pengukuran.Selanjutnya hasil dari FGD tahap 3 (tiga) berupa prototipe 3 (tiga) diseminarkan pada tanggal 16 April 2008 di Pascasarjana UNY yang dihadiri oleh 10 orang terdiri dari 1 (satu) orang pakar pendidikan seni/promotor. 6 (enam) mahasiswa S3 PEP UNY.

Kemudian diadakan sosialisasi pada pendidik dan praktisi. (2) ketersediaan pendidik dalam bidang seni lukis. yang ditandai banyaknya 161 . dan kelayakan penyajian yang meliputi sistematika. Pedoman penilaian seni lukis anak divalidasi oleh pendidik seni lukis melalui FGD yang meliputi petunjuk penggunaan. kriteria penilaian.5. (3) daerah ini dipilih juga karena banyak karya seni lukis yang berkembang di daerah ini. Tempat ini dipilih karena berbagai pertimbangan Yogyakarta: (1) memiliki cukup banyak sekolah dasar yang melaksanakan program pembelajaran seni lukis anak. Desain Uji coba Uji coba ini dilakukan di Kota Yogyakarta. maka tahap selanjutnya adalah membuat pedoman instrumen penilaian seni lukis anak. Skema Tahap Diseminasi Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak C. Uji coba Produk 1. Tahap Diseminasi (Disseminate) Setelah uji coba sampai dengan analisis data uji coba instrumen dan menghasilkan instrumen prototipe tentatif. keterbacaan. dan penampilan fisik. Tahapan diseminasi tersebut disajikan pada Gambar 45. Draf Pedoman FGD Analisis Revisi Pedoman Baku Gambar 45.

Desain Uji coba Intrumen Seni Lukis Desain uji coba seperti tampak pada Bagan 8 dilakukan di kelas 1. dan proses pengembangan instrumen. dan 3 di tiga sekolah dengan melibatkan tiga orang guru seni lukis. pakar pengukuran dan pakar pendidikan seni. 162 Selanjutnya . Guru seni lukis yang terlibat diberi pelatihan sebelum melaksanakan uji coba. Disain uji coba produk mengikuti Prototipe Instrumen Seminar Analisis Revisi Instrumen Baku Draf Panduan FGD Revisi Panduan Baku Gambar 46.sanggar seni lukis anak. daerah lain. keterpakaian pedoman penggunaan instrumen. dan (4) frekuensi lomba seni lukis anak yang relatif cukup tinggi dibandingkan alur seperti Gambar 46. Hasilnya kemudian dianalisis dan direvisi sehingga menjadi instrumen baku. Uji coba ini bertujuan untuk memperoleh informasi dari lapangan tentang konstruk instrumen. 2. Hasil uji coba yang berupa prototipe instrumen penilaian karya lukis anak dan kemudian diseminarkan pada tanggal 16 April 2008 yang dihadiri 12 (dua belas) orang terdiri dari promotor. Konstruk instrumen penilaian karya lukis anak merupakan kriteria penilaian karya lukis anak.

Subjek penelitian adalah peserta didik yang terdiri dari tiga sekolah. Sedangkan masing-masing sekolah terdiri dari siswa kelas satu. masingmasing sekolah dipilih satu guru seni lukis. 2. Pendidik diperlukan sebagai subjek uji coba untuk memperoleh koefisien keandalan instrumen dan keterpakaian instrumen penilaian karya lukis anak. Sekolah Dasar Muhammadiyah Sapen. kriteria penilaian. dan penampilan fisik. Sekolah Dasar Negeri Langensari . pemilihan subjek penelitian ditentukan berdasarkan koefisien G-study dalam wilayah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Subjek penelitian peserta didik dipilih melalui dua tahap. Hasil FGD ini digunakan untuk memperbaiki pedoman penilaian sehingga menjadi pedoman guru dalam menilai seni lukis anak. dan Sekolah Dasar MIN Tempel. yaitu tahap G. dua. Subjek Coba Subjek uji coba adalah pendidik yang mengajar seni lukis anak yang ada di tiga sekolah di Kota Yogyakarta. Pada tahap G-study dipilih tiga sekolah. Ketiga sekolah tersebut tersebar pada kota Yogyakarta dan kabupaten Sleman. keterbacaan.disusun draft pedoman penggunaan instrumen seni lukis anak dan kemudian divalidasi oleh pendidik seni lukis anak melalui FGD yang meliputi petunjuk penggunaan.study dan tahap D-study. dan tiga. jumlahnya sebanyak 20 orang di ambil secara random. Pada tahap D-study. 163 dengan asumsi bahwa kedua . dan kelayakan penyajian yang meliputi sistematika.

Jenis Instrumen Pengumpul Data Data penelitian ini terdiri atas data kuantitatif dan kualitatif. 164 .kabupaten/kota tersebut dapat mewakili/representatif DIY. 3. Penentuan tiga sekolah tersebut didasarkan pada pertimbangan sekolah yang melaksanakan pembelajaran seni sesuai dengan KTSP dengan didukung tenaga pendidik yang memiliki latar belakang pendidikan seni rupa. dan tiga sebagai subjek ujicoba karena pada KTSP untuk tingkat Sekolah Dasar dalam mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan seni lukis hanya dilaksanakan pada kelas satu. Data ini diperoleh melalui diskusi para pakar seni lukis. dan penilaian kelompok. Data kuantiatif digunakan untuk memperoleh koefisien keandalan instrumen. dua. Selain itu data kualitatif dan kuantitatif digunakan untuk menentukan keterpakaian instrumen. Data kualitatif diperoleh melalui instrumen penilaian diri dan penilaian kelompok dalam bentuk jawaban terbuka dari subjek penelitian. Data ini berupa hasil penilaian karya lukis anak yang dilakukan oleh pendidik. pakar pendidikan seni lukis. Data kuantitatif diperoleh melalui intrumen untuk menilai proses. Pedoman penilaian seni lukis anak merupakan acuan yang digunakan pendidik dalam menilai seni lukis anak. Dari ketiga sekolah tersebut dipilih kelas satu. Instrumen ini dilengkapi dengan pedoman penilaiannya. dan praktisi lapangan. dan tiga. dua. penilaian diri. Data kualitatif digunakan untuk mengembangkan konstruk instrumen. produk.

Pada G-study dilakukan estimasi sejumlah varians komponen. Teknik Analisis Data Pengujian konstruk instrumen dilakukan melalui pendapat para pakar bidang seni lukis. pakar bidang penilaian pendidikan. 4. Menurut Brennan (1983: 3). dan menafsirkan hasilnya. dan para praktisi lapangan. Menurut Thomson (2003: 43). penggunaan. menskor. dengan prosedur pengukuran yang baik. Pertemuan dengan kelompok yang berbeda dilakukan tiga kali untuk memperoleh masukan yang lebih banyak sehingga diperoleh hasil yang dapat diandalkan. Penentuan koefisien keandalan instrumen penilaian dilakukan dengan menggunakan paket program komputer Genova berdasarkan teori generalizability yang dikembangkan oleh Crick dan Brennan pada tahun 1983 yang disebut dengan A Generalized Analysis of Variance System. Beberapa keunggulan yang penting adalah: (1) memperhitungkan sumber 165 .Pedoman ini berisi cara menggunakan instrumen. Pada teori ini ada G (generalized study) dan D (decision study). dan interpretasi dari varians komponen untuk membuat keputusan. Hasil dari G-study digunakan pada D-study. teori generalizability adalah teori pengukuran modern yang memiliki keunggulan dibanding teori tes klasik. yaitu universe berlakunya generalisasi D-study dengan suatu prosedur pengukuran tertentu. D-study menekankan estimasi. Hal yang penting pada D-study adalah spesifikasi dari generalisasi universe. Banyaknya komponen ditentukan oleh model yang digunakan.

dan (3) mengestimasi koefisien keandalan baik yang relatif maupun yang merupakan varians total. generalizeability dan koefiesien phi untuk one-facet. G studynya menggunakan rancangan bersarang (nested design) dan D-study-nya juga menggunakan rancangan bersarang (nested design). 2 2 σ p . i: r D-study. Penelitian ini absolut.e) adalah jumlah varians komponen dalam Gstudy bersarang yang dapat ditulis sebagai berikut. Besarnya koefisien keandalan sebenarnya dan rasio antara varians sistematik atau varians menggunakan satu facet p x(i: r) G-study yang bersarang untuk mengestimasi varians komponen. yaitu rasio varians sebenarnya terhadap varians keseluruhan komponen.kesalahan pengukuran yang jamak secara simultan. interaksi person dan rater. varians kesalahan.e Keterangan: p = person r = guru/rater i = item r:i = rater bersarang pada item e = kesalahan Setelah varians komponen diperoleh. Estimasi varians setiap komponen 166 . (2) memperhatikan efek kesalahan pengukuran interaksi. Varians komponen yang berbaur pada rancangan bersarang (p.r:i . dan kesalahan. rater. nested.e = σ p + σ r2:i . termasuk varians kesalahan. Selanjutnya dapat diestimasi besarnya indek keandalan hasil pengukuran. r:i. item. maka dapat diestimasi varians sebenarnya (true variance). Penelitian ini menggunakan GENOVA yang komponen variansnya adalah person.

dan besarnya indeks keandalan hasil pengukuran dengan instrumen yang dikembangkan peneliti menggunakan paket program GENOVA. r. Cara penilai (rater) dalam menilai karya lukis anak (p) tergantung pada pendapat penilai terhadap item yang dinilai. Jadi ada varians person. pr bersarang pada i. dan varians penilai bersarang pada i untuk efek utama. Besarnya koefisien keandalan instrumen penilaian adalah: σ²(p) Eρ² = —————— σ²(p) + σ²(δ) Eρ² adalah nilai harapan koefisien keandalan instrumen. sehingga dikatakan rater bersarang pada item. sedang untuk efek interaksinya adalah varians person item. Besarnya varians r bersarang pada i dapat ditulis sebagai berikut. penilai dalam menilai hasil karya lukis anak berinteraksi dengan anak yang bersarang pada item. σ²(r : i) = σ²(r. ri)= σ²(r) + σ²(ri). Rancangan yang digunakan untuk G-study adalah px(i:r). σ²(δ) adalah varians kesalahan. yaitu item bersarang pada rater. σ²(p) adalah varians person (peserta didik). 167 . varians rater. r:i dan efek interaksinya adalah pi. varians rater yang bersarang pada item. Rancangan px(r:i) ini berdasarkan analisis varians efek random memiliki efek utama: p.

1990: 143). Untuk melihat reliabilitas dari kriteria instrumen penilaian seni lukis anak hasil uji coba. 168 . digunakan koefisien Cohen’s Kappa. Besarnya varians ini diestimasi dengan menggunakan teknik analisis varians rancangan efek random. dan kelas 3. dan varians interaksi rater item.Varians kesalahan terdiri atas varians rater. Untuk keperluan ini. yaitu 0. Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian instrumen seni lukis anak untuk kelas 1. digunakan analisis koefisien interrater. Pada penilaian proses. Koefisien interrater adalah salah satu sarana untuk melihat tingkat konsistensi atau keajegan antar rater dalam memberikan rating terhadap unjuk kerja karya seni lukis siswa. sedangkan penilaian diri dan penilaian kelompok masing-masing ada 5 (lima) item. pada penilaian produk ada 3 (tiga) item.70 (Linn. varians item. kelas 2. Selanjutnya nilai koefisien κ yang dihasilkan dibandingkan dengan kriteria minimal yang diperkenankan. ada 7 (tujuh) item yang menjadi objek penilaian.

yaitu (1) seni rupa dua dimensi seperti gambar. dan benda produknya. kreativitas. Dengan demikian pendidikan seni rupa merupakan media untuk mencapai tujuan pendidikan secara umum. dan cita rasa estetik peserta didik. teknik atau proses pembuatan. dengan segala watak. monumen. intarsia. mosaik. juga dimaksudkan sebagai sarana atau alat pendidikan. lukisan. Ditinjau dari tujuannya. seni grafis. keramik dan sebagian besar seni kriya lainnya. Secara visual Soedarso (2006: 97) membagi seni rupa menjadi dua bagian besar. Pendidikan seni rupa berfungsi mengembangkan kepekaan rasa. pendidikan seni rupa selain melatih keterampilan peserta didik agar lancar berkarya seni rupa.BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pendidikan Seni Rupa 1. 14 . pendidikan adalah membentuk manusia yang memiliki kepribadian yang kuat dan beradab sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan zaman. Pengertian Pendidikan Seni Rupa Pada hakekatnya pendidikan merupakan suatu proses untuk mempersiapkan peserta didik menuju ke kedewasaan. Keduanya bisa dipecah berdasar atas medium. dan kesadaran kultural dalam kehidupan bermasyarakat (Rohidi. tenun. bangunan. 2000: 55). dan kolase dan (2) seni rupa tiga dimensi seperti patung. fotografi. sulam. Dalam proses pembelajarannya. kesadaran sosial. mengembangkan etika. pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan untuk dapat hidup di tengahtengah masyarakat dan kemudian dapat memberikan manfaat bagi lingkungan.

meliputi seni lukis. dan desain. Seni kria menekankan pada keterampilan teknik pembuatan karya dengan hasil karya yang bersifat fungsional dan non fungsional. dan inovatif. dan seni grafis. dalam hal ini menyatukan proses penciptaan karya yaitu antara sistematis. tanah liat. kreatif. Sedangkan pengertian seni rupa sendiri adalah suatu hasil interpretasi dan tanggapan pengalaman manusia dalam bentuk visual dan rabaan. seni patung. Seni rupa murni menekankan pada ungkapan pikiran dan perasaan. yang mempunyai peranan memenuhi tujuan-tujuan tertentu dalam kehidupan manusia tidak hanya memenuhi kebutuhan estetik semata.Sejalan dengan hal tersebut di atas. ada pula yang menyebut sebagai pure art (seni murni). fine art (seni indah). atau lingkungan yang didasarkan pada persyaratan-persyaratan tertentu. Namun istilah pure art di masa sekarang dipadankan dengan karya seni murni yang tidak memiliki kegunaan praktis. ditinjau dari proses pembuatan dan bentuk karya yang dihasilkan. Secara umum. benda. tekstil. Karya desain berupa rancangan gambar. seni kria. pembicaraan tentang seni rupa terkait dengan masalah keindahan. misalnya kayu. seperti lukisan atau patung. Dalam hal ini penciptaan benda hias yang mengutamakan nilai artistik dikenal dengan sebutan craft (seni kria). dan lain-lain. Istilah seni rupa secara etimologi merupakan padanan kata dari visual art (seni rupa yang dapat dilihat/diraba). logam. Keindahan adalah nilai-nilai estetik yang menyertai sebuah karya seni 15 . Rohidi dan Hartiti (2002: 8-9) mengemukakan: seni rupa dapat dibedakan menjadi seni rupa murni. serta menggunakan media tertentu. Desain merujuk pada proses pembuatan karya yang maksud dan tujuannya telah ditentukan lebih dahulu.

karya seni rupa dapat menimbulkan berbagai kesan misalnya indah. Dalam dunia kesenirupaan. dan sebagainya bagi apresian. bahagia. keseimbangan (balance). bahan. keselarasan (harmony). Sesungguhnyalah pengalaman estetik dapat menyebabkan timbulnya reaksi emosional atau respons estetik seseorang. dan konsep dalam penciptaan karya seni rupa. yang menyebabkan reaksi emosional atau respons estetik. serta etika. untuk menentukan kualitas karya harus mempertimbangkan nilai-nilai keindahan yang disebut dengan prinsip-prinsip keindahan. unik. Pendidikan seni rupa berperan tidak hanya dalam pembentukan pribadi yang harmonis dalam logika. Disamping itu. pengalaman estetik adalah perasaan (positif atau negatif) yang merupakan reaksi seseorang. moral (MQ). Jalan yang ditempuh sesuai yang tercantum pada pedoman khusus mata 16 . kinestetika. ketika mengamati karya seni rupa. rasa estetik dan artristiknya. Prinsip-prinsip keindahan tersebut adalah unsur kesatuan (unity). adversitas (AQ) dan spiritual (SQ). dan rasa senang. nyaman. Menurut Pappas (2006: 3).rupa. Hal ini tentunya didukung oleh kemampuan pengungkapan ekspresi intuitif dan perasaan estetis seseorang melalui teknik. menarik. Reaksi ini mungkin sesuai atau tidak sesuai dengan pendapat orang tersebut. Keindahan juga dipahami sebagai pengalaman estetik yang diperoleh ketika seseorang mencerap objek seni atau dapat dipahami sebagai sebuah objek yang memiliki unsur keindahan. dan kontras (contrast) sehingga menimbulkan perasaan nikmat. baik secara mental dan/atau pun fisik. haru. intelektual (IQ). tetapi juga berperan dalam perkembangan anak untuk mencapai kecerdaan emosional (EQ).

volume. Aktivitas yang dilakukan melalui kegitan eksplorasi dan eksperimen dalam mengolah gagasan (konsep). dan penghargaan terhadap karya seni. diimplementasikan dalam dua kegiatan yaitu apresiasi (appreciation) dan kreasi (creation). Pendidikan seni di sekolah diimplementasikan dalam bentuk mata pelajaran Seni Budaya untuk tingkat SMA dan SMP. prinsip. 2006: 186). bentuk. sehingga dapat memberikan penghargaan. Kegiatan pembahasan untuk memperoleh kesadaran dan pemahaman tentang penciptaan karya seni rupa berdasarkan telaah tentang seniman dan zamannya. pemahaman. Pengalaman estetik dalam pendidikan seni rupa di sekolah. garis. secara individual maupun kelompok. warna. pengaruh seniman besar terhadap karya tersebut. baik tradisi maupun modern. proses dan teknik berkarya sesuai dengan nilai budaya dan keindahan dengan tidak mengesampingkan aspek fungsi serta sesuai dengan konteks sosial budaya masyarakat sebagai sarana untuk menumbuhkan sikap saling memahami. bidang. melalui pencerapan nilai intrinsik dari karya seni rupa tersebut. peserta didik diberi peluang untuk mengekspresikan pengalaman estetiknya dalam wujud karya seni rupa. dan ruang untuk mewujudkan karya seni rupa. Kegiatan apresiasi bertujuan mengembangkan kesadaran. menghargai. Kegiatan pengamatan dimaksudkan untuk memperoleh pengalaman estetik. tujuan penciptaan.pelajaran adalah dengan cara mempelajari elemen. sedangkan untuk tingkat SD 17 . Sedangkan pada kegiatan kreasi (creation). dan menghormati (BSNP. yang dilakukan melalui pengamatan dan pembahasan karya seni rupa. dengan mengambil unsur-unsur titik. tekstur. media (teknik).

Sejalan dengan hal tersebut. Sesuatu yang disampaikan berupa buah pemikiran dan perasaan yang diwujud inderakan dengan menggunakan sarana yang dapat diamati lewat panca indera. Mata pelajaran Seni Budaya tersebut mencakup seni rupa. dapat juga sebagai ekspresi diri yaitu ekspresi keindividuan seseorang. Menurut Soehardjo (2005: 120) ekspresi merupakan ungkapan penyampaian sesuatu dari seseorang kepada orang lain. Namun demikian. Pembelajaran seni rupa di sekolah memiliki sasaran sebagai berikut. Ekspresi dalam pendidikan seni adalah curahan jiwa/isi hati yang menekankan pada proses pengungkapkan pengalaman estetik peserta didik yang berkaitan dengan emosi. dan seni drama. seni musik. tindakan atau lukisan adalah hal yang menyenangkan dan meringankan. seni tari. daya pikir. Mengungkapkan sesuatu dengan kata. sehingga dapat dikatakan bahwa dengan berekspresi dapat meringankan ketegangan seseorang. Berekspresi dapat pula berfungsi sebagai katarsis. Mengembangkan Ekspresi Ekspresi pada dasarnya merupakan kebutuhan dalam hidup manusia untuk mencari kepuasan. Lim Chin Choy (2005: 293) mengatakan bahwa ekspresi bertujuan untuk mempertunjukkan kepada orang lain (to exhibit). imajinasi dan keinginan peserta didik. Dengan demikian kemampuan ekspresi perlu dikembangkan pada peserta didik sejak dini karena peserta didik dimungkinkan dapat mengungkapkan berbagai pengalaman atau berbagai hal yang menggejala dalam dirinya untuk dikomunikasikan kepada orang lain melalui senirupa khususnya sebagai sesuatu 18 .adalah Seni Budaya dan Ketrampilan. a. dan menjadi terapeutik atau menumbuhkan kreativitas.

Padahal. membiasakan anak untuk mengeluarkan isi hatinya dengan bebas.” Kepuasan ini lahir dari proses keterlibatan batin. Ia memberi kesempatan kepada anak untuk melahirkan pengalaman batinnya dengan leluasa. ide dan gagasan-gagasannya. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Soedarso (1973: 5) bahwa pendidikan seni rupa adalah pendidikan ekspresi. sehingga hasil karyanya terkesan jujur dan spontan. kualifikasi perlu di buat hubungan antara pengalaman estetik dengan pengalaman merasakan. kemampuan menanggapi suatu masalah. 2001: 1). Jika semua pengalaman dirasakan sebagai pengalaman estetik. Karya seni yang 19 . baik dalam proses kreasi maupun dalam kegiatan persepsi (Salam. melatih anak berpikir merdeka. daya menyesuaikan diri dalam segala situasi.yang ada maknanya. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik terlatih dan mampu mengemukakan isi hati. Walaupun demikian. maka pengalaman estetik kehilangan sifatnya yang khas. Karena ketidaktahuan inilah anak cenderung lebih bebas dan merasa leluasa. sesungguhnya pengalaman estetik merupakan suatu pengalaman yang khas dan unik yang ditandai dengan terpuaskannya “hasrat akan sesuatu yang harmoni dan lengkap. Anak biasanya lebih bebas dalam berekspresi untuk mewujudkan suatu karya seni rupa. Dampak selanjutnya diharapkan peserta didik memiliki daya cipta. tanpa paksaan. tidak takut salah. Dengan demikian pengalaman berekspresi menunjang dasar-dasar kebebasan. kemampuan membuat analisis yang tepat. Di samping itu . seni lukis misalnya karena anak relatif belum banyak pengetahuan tentang aturan-aturan/norma-norma yang mengikatnya. juga melatih keberanian mengungkapkan pengalaman estetik.

Melalui aktivitas seni rupa. Dengan demikian sebelum berkarya peserta didik dimotivasi mengamati objek dengan berbagai masalahnya sebelum dituangkan dalam karyanya. Mengembangkan Sensitivitas Sensitif artinya peka/perasa terhadap rangsangan. mudah mencerap suatu rangsangan. telinga. kemampuan anak dalam mengolah kesadarannya terhadap orang lain di lingkungan sekitar dalam berkomunikasi. Peserta didik diberi kesempatan untuk menggunakan panca indera seperti mata.dihasilkan menunjukkan kemurnian pengungkapan perasaan mereka. bekerjasama. warna. mudah menerima. Terutama peka terhadap lingkungan yang banyak mengandung permasalahan. Peserta didik menjadi peka terhadap lingkungan. 20 . Garis. b. Peran pendidik diharapkan dapat mengembangkan kepekaan atau sensitivitas yang dimiliki peserta didik. Demikian juga kepekaan sosial terhadap lingkungan sekitar serta kemampuan bekerjasama dalam membuat karya kelompok dapat mengolah sikap dan perasaan sosial anak. menghargai dan dihargai dapat dipupuk. dan cepat dapat menghayati sesuatu. kepekaan menjadi terlatih sehingga apabila ada permasalahan peserta didik bisa merasakan dan diharapkan dapat mengatasi permasalahan tersebut. Dengan melatih kepekaan rasa diharapkan kelak anak dapat menjadi anggota masyarakat yang dapat menjaga lingkungannya dan ikut melestarikan peninggalan seni dan budaya. dan tekstur bukan lagi sebagai elemen fisik. tetapi mencerminkan ekspresi kejiwaan yang kuat. hidung. dan indera peraba menjadi dasar cerapan dalam berkarya.

lingkungan. Mengembangkan Kreativitas Kreativitas adalah suatu kondisi. keterampilan. Ada tiga tahap proses kreatif yang dikemukakan Chapman (1978: 45). inspirasi. proses evolusi. orisinalitas karya. pertumbuhan. proses perenungan. yaitu proses penyempurnaan. Berbicara mengenai sifat bawah sadar berarti memasuki wilayah proses kreatif yang menurut Susanto (2003: 8) yaitu wilayah proses perubahan. (3) Execution in a medium. apresiasi. namun juga melibatkan kepekaan intuitf. pengembangan dan pemantapan gagasan menjadi suatu gambaran pravisual untuk diwujudkan menjadi ujud yang konkrit. mencari sumber gagasan. sekaligus merupakan proses aktualisasi diri atau kapabilitas yang dihadirkan dalam karya seni. merupakan tahap awal yaitu usaha menemukan gagasan. Unsur-unsur 21 .c. suatu sikap. Kreativitas bukan hanya muncul dari suatu hasil pemikiran dan dorongan perasaan. (2) Elaboration and refinement. Adapun unsur pendorong dalam laku kreatif seperti yang diungkapkan Dix dan Ernst dalam Susanto (2003: 9) adalah adanya sarana. maupun proses mencipta dalam organisasi dari kehidupan subjektif pikiran dan praktis manusia. yaitu: (1) Inception of an idea. keadaan mental yang sangat khusus sifatnya. dan identitas. Dengan demikian proses kreatif merupakan pengejawantahan emosi dan representasi posisi pemikiran pembuat karya terhadap berbagai masalah yang dihadapi. merupakan tahap terakhir yaitu proses visualisasi dengan medium yang merupakan sarana untuk memvisualisaikan gagasan menjadi suatu karya seni. Padahal sesuatu yang intuitif itu bersifat bawah sadar.

Dengan demikian melalui seni rupa kreativitas anak dapat berkembang. daya pikir. asli (original). Tampilan karya yang kreatif selalu tampil tunggal (unicness). imajinasi serta keinginan anak tanpa memperhatikan apakah ungkapan yang tervisualisasi dalam karya tersebut dapat dimengerti oleh orang lain atau tidak. karena dengan membuat karya seni rupa membentuk anak untuk berani mengambil resiko. memperinci) suatu gagasan. Sebagai media ekspresi. Hal ini didukung oleh Munandar (1999: 50) yang mengatakan bahwa kreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran. Manfaat langsung yang dapat dirasakan adalah sebagai media untuk berekspresi. memperkaya. Hal ini sangat berguna dalam pembentukan pribadi anak. karena belum pernah ada sebelumnya.tersebut saling berpadu dan saling mempengaruhi dan saling bergantung untuk menjalankan tahapan-tahapan dalam membentuk karya seni. karena melalui kegiatan seni rupa anak dapat mengungkapkan apa yang ada dalam dirinya yang berkaitan dengan emosi. 22 . karena tidak terdapat kembarannya. dan ber-kebaruan (novelty). karena dihasilkan oleh diri sendiri pelaku seni. media pengembangan bakat seni yang dimilikinya. Manfaat Pendidikan Seni Rupa Kegiatan seni mempunyai manfaat langsung maupun tidak langsung yang dapat dirasakan oleh peserta didik. serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan. 2. keluwesan (fleksibilitas) dan orisinalitas dalam berpikir. media untuk berkomunikasi. sikap yang untuk tidak selalu puas dengan apa yang sudah ada dan sudah didapat. media bereksplorasi. sikap untuk selalu mencari sesuatu yang orang lain belum mengetahuinya.

dan mampu bertingkah laku dengan penuh tanggung jawab serta mampu mempertanggungjawabkan tingkah lakunya dalam berkomunikasi. Dengan demikian seni rupa dapat dikatakan sebagai media komunikasi karena pengirim pesan dapat mengungkap isi pesan ke dalam simbol bermakna yang dapat diterima oleh orang lain sebagai penerima pesan. Pesan yang disampaikan dalam seni rupa adalah gagasan yang berupa simbol yang dituangkan dalam karya seni rupa. maka anak akan positif tindakannya sesuai dengan perkembangan usianya. melalui eksplorasi dengan bahan-bahan yang ada untuk membuat karya seni rupa. Dengan demikian apabila kematangan emosi anak terlatih. kegiatan seni rupa menawarkan beragam potensi. kegiatan seni rupa memerlukan alat-alat atau bahan yang secara langsung maupun tidak langsung mengembangkan kemampuan bernalar bagi anak. Sebagai media pengembangan bakat. Sebagai media komunikasi. Bakat adalah kondisi atau rangkaian karakteristik yang 23 . dalam aktivitas komunikasi terdapat unsur: pengirim pesan. Anak memiliki kebebasan dalam bereksperimen. Kematangan emosi anak menurut Wedwick (2006) adalah kemampuan untuk mengekspresikan perasaannya. dan penerima pesan. melakukan tindakan sesuai dengan kebutuhan dan dapat menilai kesesuaian tindakannya dengan norma yang berlaku di masyarakat serta dapat memprediksi akibat yang diambil dari tindakan tersebut. Sebagai media bereksplorasi. isi pesan.Dalam hal ini anak merasakan adanya kepuasan karena ada kebebasan dalam mengungkap apa yang ada dalam dirinya melalui pembuatan karya seninya.

Dengan demikian.dipandang sebagai gejala kemampuan individu untuk memperoleh pengetahuan. Dimensi psikomotorik mencakup koordinasi dan fleksibilitas gerakan. psikomotorik dan intelektual. kegiatan seni rupa melalui latihan-latihan membuat karya seni rupa memupuk bakat anak. pendidik haruslah menjadikan anak sebagai pusat. kreatif. Pendekatan dalam Proses Pendidikan dan Pembelajaran Seni Rupa Pada hakekatnya pendidikan seni rupa bersifat unik. Pendekatan Berbasis Anak Pendekatan Berbasis Anak berpijak pada filosofi bahwa dalam mendidik anak melalui seni. yaitu penglihatan. keterampilan atau serangkaian respon melalui latihan-latihan (Bennet. Sedangkan dimensi intelektual meliputi ingatan dan berpikir. maka bakat tersebut tidak akan berkembang bahkan menjadi bakat terpendam dan tidak dapat diwujudkan. dan estetik. Karena keunikannya ini dalam pendidikannya memerlukan pendekatan-pendekatan agar tujuan pendidikan seni rupa itu sendiri dapat tercapai. dari pada seseorang yang mempunyai bakat kreatif namun tidak dipupuk. Ada tiga pendekatan dalam pendidikan seni rupa yang populer saat ini. 3. Herbert Read 24 . 1952: 12). Hal ini dapat dilihat pada dimensi bakat yang terkait dalam pembuatan karya seni rupa yaitu. Dengan demikian bakat anak yang terpupuk sejak awal akan lebih baik perkembangannya. Adapun dimensi bakat meliputi persepsi. pendengaran. dan kinestesi. Pada waktu memberikan kesempatan berekspresi harus bertitik tolak dari anak. yaitu: a. yaitu kegiatan yang bersifat ekspresif. persepsi terkait dengan kepekaan dari masingmasing pancaindera yang berhubungan dengan perhatian.

karya seni rupa anak adalah karya seni yang hanya mampu dihasilkan oleh anak (Efland. sesuatu yang tumbuh secara alamiah pada diri anak dalam mengkomunikasikan dirinya (Read. Peranan pendidik sebagai fasilitator. 1970: 10). Hal ini dimaksudkan untuk menyiapkan pengalaman belajar yang dapat merangsang ekspresi pribadi anak. 25 . memberikan kemudahan kepada anak dalam mempelajari atau melakukan apa yang menjadi keinginan anak agar anak berkembang secara alamiah melalui pengalaman seni. yaitu dengan pemberian motivasi. 1990: 195). Pada pendekatan berbasis anak ini tugas pendidik adalah memberikan pengalaman kepada anak yang dapat merangsang munculnya ekspresi pribadi anak. Dengan demikian cara pembelajarannyapun pendidik memberikan kemudahan pada anak dalam melaksanakan kegiatan belajar yang diinginkannya. karena ekspresi diri anak sesungguhnyalah tidak bisa diajarkan oleh pendidik. Garha (1980: 60) mengatakan bahwa pendekatan ini sebagai ekspresi bebas yang memberikan keleluasaaan kepada anak-anak untuk dapat menyalurkan ungkapan perasaan tanpa dibatasi oleh aturan atau norma cipta konvensional dalam membuat gambar.dalam Education through Art yang menyatakan bahwa naluri berolah seni rupa anak adalah suatu yang universal. dengan peragaan. dan pendampingan. Dengan demikian anak diberi kebebasan dalam kegiatan penciptaan karya sehingga anak dapat mengaktualisasikan dirinya dengan bebas tanpa pengaruh orang dewasa dalam proses pembuatan karyanya. Ia merupakan orang yang pertama kali mengakui secara terbuka nilai intrinsik karya seni rupa anak. Tokoh yang dikenal dalam pendekatan ekspresi bebas ini adalah Frank Cizek dari Austria.

1982: 6-7). Hal ini memperjelas bahwa pengaruh lingkungan menyebabkan adanya berbagai corak berdasarkan perkembangan dan temperamen jiwa anak. baik merupakan perasaan sedih atau gembira. Dalam hal ini pendidik memenuhi apa 26 . pendidik berperan sebagai pendamping dan memotivasi anak untuk menggali inspirasi anak. pelaksanaan kegiatan pembelajarannya menggunakan model emerging curriculum yakni kegiatan pembelajaran yang tidak dirancang sebelumnya tetapi berkembang sesuai keinginan anak (Salam. Menurut Viktor Lowenfeld.Pendekatan ekspresi bebas ini kemudian didukung dan disebarluaskan oleh dua tokoh pendidik seni yaitu Viktor Lowenfeld dari Amerika Serikat dan Herbert Read dari Inggris. such a relationship is a basic ingredient of a creative art experience” (Lowenfeld. Dalam hal ini dihubungkan antara kegiatan seni rupa dengan kesehatan mental karena kegiatan seni rupa merupakan media untuk menyalurkan perasaan. Read (1970: 30) memberi penegasan bahwa dalam ekspresi bebas. emosional. Selanjutnya Lowenfeld mengatakan bahwa “…mental growth depends upon a rich and varied relationship between a child and his environment. 2001: 13). Dengan demikian pendidikan seni rupa merupakan tempat pemberian pengalaman yang menarik yang menyadarkan anak akan lingkungannya. kreativitas dan perkembangan sosial anak. ekspresi dalam proses pembuatan karya seni rupa yang dilaksanakan secara alamiah berdampak positif bagi perkembangan intelektual. Penekanan Read adalah bahwa ekspresi diri anak tidak dapat diajarkan dan peranan pendidik adalah sebagai fasilitator. Dalam merancang pembelajaran pendekatan ekspresi bebas secara murni.

dan 27 . Lebih tepat bila dilaksanakan pada lembaga pendidikan yang bersifat non formal seperti sanggar. Didukung oleh media yang dipersiapkan pendidik bisa berupa photo. Sesungguhnyalah pendekatan ekspresi bebas secara murni ini sangat sulit dilaksanakan pada sekolah formal karena terikat adanya jadwal. tulang-tulang daun akan membentuk keartistikan tersendiri.yang menjadi kemauan anak dan pendidik memfasilitasinya. Anak diberi kesempatan memperhatikan keadaan sekitar kelas atau sekolah. Caranya adalah sebagai berikut: pelaksanaan pembelajaran seperti pada umunya pendidik melaksanakan pembelajaran sesuai dengan jadwal dan waktu yang ditetapkan. Untuk mengatasi hal tersebut di atas. pendidik pada awal pembelajaran memberikan motivasi dengan berbagai cara antara lain: (1) memberi kesempatan pada anak untuk bercerita tentang hal-hal yang menarik yang dialaminya. Pendidik kemudian memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk mengarahkan perhatian anak pada hal-hal yang dilihatnya tetapi diabaikan anak. bentuk bunga semakin ke ujung daun bunga semakin kecil permukaannya. kendaraan. misal: detail dari bentuk daun. yang merangsang untuk mengekspresikan nya lewat karya yang dibuatnya. film. gambar-gambar. dan sebagainya. waktu yang ditentukan sehingga menjadi terbatas pelaksanaannya. Ada tumbuh-tumbuhan. (2) adanya kontak langsung anak dengan keadaan sekelilingnya. Dari cerita dan dialog dengan anak akan timbul tema-tema cerita yang menyentuh kehidupan anak. kursus-kurus. orang berlalu lalang. penerapan pendekatan ekspresi bebas di sekolah maka dikembangkan pendekatan ekspresi bebas yang bersifat “terarah”. kemudian ada dialog dengan pendidik. dan sebagainya. slide. dan sebagainya. Untuk membangkitkan dan memotivasi ekspresi anak.

Teori ini disebut sebagai Discipline-Based Art Education (DBAE). Menurut Brent Wilson “DBAE.sebagainya. Penilaian yang diberikan pendidik bersifat apresiatif yaitu bersifat menerima dan menghargai apa yang diungkapkan atau diciptakan oleh anak dengan menunjukkan kemungkinan peningkatan kualitas dari karya yang diciptakannya tersebut (Salam. builts on the premise that art can be 28 . Karena setiap subjek seni didekati dengan suatu premis bahwa setiap subjek seni memiliki kekhasan yang berbeda dengan subjek seni yang lain sehingga diperlukan suatu pendekatan sebagai suatu “discipline” ilmu yang mandiri. Pendekatan berbasis disiplin ini berdasar pada teori pedagogi tentang pelaksanaan proses belajar mengajar yang dicetuskan pada tahun 1980 di Amerika . Dengan demikian pendekatan dari berbagai aspek dipadukan dengan proses pengalaman belajar yang terkoordinasi secara menyeluruh menjadi sangat diperlukan. Dalam hal ini pendidik berperan sebagai pendamping untuk memberikan bantuan pada anak. 2001: 14). pendidik menjadikan disiplin ilmu seni sebagai hal yang harus dikuasai oleh anak. Dengan demikian hasil penilaian tidak ada istilah salah atau benar karena ekspresi anak bersifat unik dan alamiah. b. (3) pendidik mendemonstrasikan proses penciptaan karya pada anak. Pendekatan Berbasis Disiplin Pendekatan berbasis disiplin berpijak pada filosofi bahwa dalam mendidik anak melalui seni. pendidik meminta anak untuk mengekspresikan dirinya secara bebas dalam pembuatan karya seni rupa. Setelah pemberian motivasi. namun jangan sampai terjebak apa yang didemonstrasikan menjadi hal yang harus ditiru oleh anak.

produksi seni. 2000: 19). sejarah seni (art history). Hal ini menyiratkan bahwa seni dapat diajarkan secara efektif bila mengintegrasikan makna empat dasar disiplin tersebut. dan estetika. para peserta didik harus berusaha melakukan dialog berkelanjutan tentang hakikat dan makna seni dalam kehidupan mereka. Pendidikan Seni Berbasis Disiplin.taught most effectively by integrating content from four basic disciplines-art making. yaitu: penciptaan seni (artistic creation). Identified the productive. Dengan demikian pelaksanaan pendidikan seni rupa sesuai yang tersirat dalam DBAE pelaksanaannya tidak memilah keempatnya tetapi berusaha untuk mengintegrasikannya. 29 .” Karena itu. art criticism. sejarah seni. kritik seni (art criticism) dan estetika/filsafat seni (aesthetics) dalam suatu pengalaman belajar yang menyeluruh. Aesthetic education therefore represented a balance among producing. Hal ini diperkuat dengan gagasan Eisner (1997:16) bahwa. and aesthetics (the philosophy of art)-into a holistic learning experience” (Wailling. Dialog ini paling baik diungkapkan dalam bidang filosofis estetika. sebagaimana tentang dunia visual di sekeliling mereka. appreciating. memahami dan mengapresiasi seni. critical. atau DBAE (Disciplin Based Art Education). Tersurat pula dalam sebuah monograf dari The Getty Center for Education in the Arts. art history. Eisner (1997: 20) membahas komponen estetika sebagai “berguna bagi anak-anak untuk menjadi reflektif tentang basis penilaian mereka berkaitan dengan kualitas karya seni. kritik seni. mengarahkan untuk mencipta. and understanding. and cultural and/or historical realms as necessary for leading the child to aesthetic experiences.

Dipandangnya seni rupa sebagai disipiln ilmu merupakan asumsi pokok yang mendasari pendekatan pendidikan seni rupa berbasis disiplin. pendekatan Berbasis Konteks yang menonjol adalah pendidikan seni multikultural. c. (2) a community of scholars who study the discipline. karena sudah memenuhi tiga ciri disiplin ilmu yang dikemukakan oleh Dobbs (1992: 9) sebagai berikut: (1) a recognized body of knowledge or content. penciptaan dan pembahasan keindahan rupa (visual). adanya komunitas pakar yang mempelajari ilmu tersebut. Pengenalan keragaman budaya tersebut dengan cara membuka diri terhadap berbagai budaya lain yang lahir atas dasar ras. Dengan demikian seni rupa dapat dikatakan sebagai sebuah disiplin ilmu. konteks sosial masyarakat harus menjadi perhatian yang utama. suku. agama. Pendekatan Berbasis Konteks Pendekatan berbasis konteks berpijak pada filosofis bahwa dalam mendidik anak melalui seni. 30 . (3) a set of characteristic procedures and ways of working that facilitate exploration and inquiry. Pada saat ini. Pendekatan seni rupa berbasis multikutural merupakan salah satu bagian dari pendidikan multikultural yang bertujuan mengenalkan keragaman budaya melalui kegiatan penikmatan. kelas sosial.Pada hakekatnya seni adalah sebagai kegiatan artistik. adanya metode kerja yang memfasilitasi kegiatan eksplorasi dan penelitian. namun demikian seni rupa sebagai disiplin ilmu dalam pelaksanaannya tidak hanya memberikan kesempatan pada anak untuk mengekspresikan emosinya saja tetapi kegiatan mempelajari ilmu seni juga harus dilakukan. karena memiliki isi pengetahuan (body of knowledge).

keragaman budaya/etnis dan kontekstualisme. Sebagai konsep dasar. dan keterampilan seni yang difokuskan pada pengenalan seni kelompok (ras. sehingga cakupan menjadi luas. pendidikan seni rupa multikultural pada dasarnya merupakan sebuah filosofi. yaitu: 1) Model Pengenalan Model ini bertujuan memperkenalkan anak akan budaya lain. Pendidikan berbasis multikultural dikelompokkan menjadi tiga. dan lain-lain. atau pendekatan. Metode pembelajarannya bersifat pengenalan berbagai bentuk seni 31 . Hal yang terpenting dalam hal ini adalah bahwa semangat untuk mempromosikan keragaman budaya dilakukan melalui kegiatan seni rupa. agama. Dengan demikian menjadi fokus utama yang merupakan wacana pendidkan seni rupa multikultural adalah persoalan pluralisme sosial dan keragaman budaya. gagasan besar. etnis. Merupakan ciri yang mendasar model kurikulum pendekatan multikultural yang harus dipertimbangkan yaitu adanya pluralisme sosial. Dengan cakupan yang luas itulah pendekatan ini menggunakan berbagai bentuk teori dan praktek yang sesuai dengan konteks sosial dan budayanya. Materi pembelajarannya meliputi pengetahuan sikap. Dengan demikian tidak identik dengan satu model program pembelajaran tertentu. Anak menjadi luas wawasannya dan memahami karya seni rupa orang lain dan pencipta karya yang mungkin sangat berbeda karya tersebut dengan keyakinan dan tradisi yang ada pada anak lebih tepat diterapkan pada kelas yang tidak multikultur. dimana beragam program pembelajaran dikembangkan.jenis kelamin. dan sebagainya) lain agar memiliki sikap apresiatif terhadap kelompok yang menjadi fokus pembicaraan.

kurikulum) tidak mencerminkan adanya diskriminasi. sejarah seni rupa. makna. dan kriteria keindahannya masing-masing.dari kelompok lain melalui ceramah. apresiasi (kritik seni rupa) juga harus mengingat pada keragaman prinsip. 32 . Evaluasi yang dilakukan adalah untuk mengetahui sejauh mana anak dapat mengapresiasi budaya/seni kelompok lain yang ditunjukkan pada kemampuan untuk hidup bersama secara harmonis. Pelaksananan model pengamalan ini agar berhasil dengan baik. maka perlu dukungan dari berbagai pihak antara lain: kebijakan sekolah (aturan. karyawan menciptakan suasana yang kondusif merefleksi adanya keragaman budaya yang ada. diskusi dan praktek pembuatan karya. Penerapan pembelajaran model pengamalan ini dalam praktek penciptaan karya seni rupa salah satu cara adalah dengan menggali tema dari peserta didik yang bervariasi sesuai dengan latar belakang peserta didik. peragaan. ras. Dengan demikian kegiatan pembelajarannya anak yang terdiri dari berbagai suku. 2) Model Pengamalan Tujuan model pengamalan adalah membangun kesadaran untuk hidup bersama dan tidak melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan konflik. dan lain-lain mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar. golongan tertentu. Model pengamalan ini lebih tepat diterapkan pada kelas yang bersifat multi kultur. Dalam hal ini tidak ada standar baku yang dapat diberlakukan untuk semua. agama. Evaluasi yang dilaksanakan dalam konteks untuk mengetahui sejauh mana anak dapat memahami dan mengapresiasi budaya/seni kelompok lain. Kemudian diwujudkan secara visual dengan media yang sesuai dengan kemauan peserta didik. Apabila diterapkan dalam pembelajaran yang bersifat teoritis yaitu estetika. pendidik.

dan kesukuan. kelas sosial. Pendukung kelompok model perombakan mengatakan bahwa budaya bukanlah suatu yang harus diterima dan tanpa perubahan. jender. Langkah pertama pendidik 33 . Mereka mencari pendekatan yang lebih demokratik yang memberikan peluang bagi kelompok yang terpinggirkan untuk menyuarakan dirinnya dalam proses pendidikan seni rupa. mereka memusatkan perhatian pada faktor-faktor yang dinamik dan kompleks yang mempengaruhi interaksi manusia yakni kemampuan fisik dan mental. maka pendidik sudah selayaknya mengadakan perombakan dalam kurikulum dan pembelajarannya. Selanjutnya terdapat lima langkah dalam mengembangkan kurikulum pendidikan seni rupa berbasis multikultural. dalam Salam (2001: 29) menyatakan bahwa yang menjadi pendukung pendidikan seni rupa multikultural model perombakan ini menegaskan bahwa dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. agama. Wasson dkk. suku. agama. oleh karena itu perlu ada peninjauan. politik. kondisi sosial yang ada di masyarakat. Menurut Salam (2001: 27) pendukung pendidikan seni rupa multikultural model perombakan ini tampaknya tergolong sebagai pengembang kurikulum yang dikelompokkan sebagai kaum rekonstruksionis sosial yang memandang pendidik sebagai politikus yang harus memilih dua pilihan: sebagai kelompok konservatif yang akan melayani sang penguasa atau sebagai kelompok perombak yang mencoba untuk mencari alternatif-alternatif. usia. jenis kelamin.3) Model Perombakan Berdasarkan perlakuan yang tidak kondusif karena adanya ketidak adilan atas dasar ras. dan menumbuhkan kepekaan semua pihak pada asumsi yang dianggap benar yang ada pada ideologi yang dominan.

tingkat kehidupan munusia. maka pendidikan seni rupapun mengalami perkembangan terutama di Sekolah Dasar. Dimulai dengan kegiatan yang hanya mencakup menggambar di sekolah umum. Tinjauan Historis Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan dinamika masyarakat yang senantiasa berkembang. Pestalozzi (1746-1827) 34 .menganalisis dan memperbaiki sikap negatif yang mungkin mereka miliki terhadap pluralisme social dan keragaman suku. Ketiga pendekatan pendidikan seni rupa yang telah diuraikan di atas merupakan tiga pendekatan utama yang mempengaruhi pemikiran dan praktek pendidikan seni rupa dewasa ini. Langkah ketiga. Kemudian mengumpulkan data. suku. pendidik dan peserta didik berkolaborasi mengadakan penyelidikan masalah-masalah yang ada kaitannya dengan bahan kurikulum yang dipilih. jenis kelamin. membuat keputusan reflektif kemudian mengambil langkah nyata sesuai keputusan. mengklarifikasi. pendidik dan peserta didik memilih bahan kurikulum relevan dan menarik. 4. Lima langkah yang dikemukakan oleh Wasson tersebut di atas merupakan salah satu cara penyusunan kurikulum pendidikan berbasis multikultural. Pendidikan Seni Rupa di Sekolah Dasar di Indonesia a. Merupakan langkah terakhir yaitu langkah kelima pendidik melaksanakan program evaluasi baik formatif maupun sumatif. Tindakan yang ditempuh dengan mengidentifikasi masalah sosial yang berkaitan dengan agama. pendidik dan peserta didik melakukan analisis situasi supaya akrab dengan masyarakat. dan lain-lain. menanang nilai yang dianut peserta didik. Langkah keempat. Langkah kedua.

lahir teori-teori yang berpusat pada pola-pola perilaku anak pada setiap tahap perkembangannya. Riset pertama yang membahas seni anak tepatnya dilaksanakan pada musim dingin pada tahun 1882 oleh Corrado Ricci seorang penyair Italia yang hasilnya merupakan dukungan studi tentang ekspresi seni sebagai suatu alat untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam pada pengalaman total anak-anak. menggambar adalah sarana untuk mengembangkan pengamatan. dan berfungsi untuk melatih penguasaaan ketrampilan. Pada tahun-tahun tersebut. Perkembangan selanjutnya pada akhir abad ke 19. Hal ini diperkuat pernyataan Uhlin (1975:18) yang menyatakan bahwa International congresses were formed in those years to pool data and structure theories which would communicate just what it as that the child was resolving at a particular chronological age. Sebuah gagasan tentang tahap-tahap pertumbuhan dalam perkembangan artistik anak muncul dalam studi ini.merupakan pakar yang berhasil memasukkan pelajaran menggambar di sekolah umum tersebut. sebagai hasil dari studi lahirlah pandangan baru tentang dunia anak yang amat besar pengaruhnya terhadap pendidikan seni rupa. Kemudian era studi anak pada akhir abad ini merupakan sebuah gerakan yang meluas dan berpusat pada pola-pola prilaku anak pada setiap perkembangannya. 35 . Menurut pandangannya. Dengan demikian fungsi pelajaran menggambar adalah untuk mempersiapkan tenaga kerja pangsa pasar tertentu yang membutuhkan kemampuan seseorang menggambar bangun dan pengamatan yang tajam.

dan kerajinan. didirikan sekolah khusus untuk anak-anak pribumi dengan tujuan menyiapkan tenaga siap pakai untuk dipekerjakan sebagai tenaga administrasi pada masa pemerintahan kolonial. menurut Read hanya orang dewasalah yang memilki kematangan perasaan dan intelektual yang dipandang layak untuk menghasilkan karya seni (Read. disain. Ia menegaskan bahwa seni rupa anak hanya mampu dihasilkan oleh anak dan anak menggambar harus diberi kesempatan untuk tumbuh bagaikan bunga yang berkembang dengan sendirinya secara alami. Frank Cizek. Mulailah adanya pengakuan karya seni rupa anak sebagai karya seni rupa yang sesungguhnya. Di Indonesia pada masa pemerintahan Belanda. 36 . Pendidikan seni rupa yang sebelumnya hanya terbatas pada kegiatan menggambar menjadi lebih luas mencakup pembelajaran apresiasi seni rupa. salah satu hasilnya adalah ditemukannya pola perkembangan menggambar anak berdasarkan usia anak Sejalan dengan penemuan adanya pola kemampuan menggambar anak. Memasuki abad ke 20 perkembangan seni rupa memasuki babak baru. maka muncullah pandangan baru tentang pembelajaran seni rupa anak yang berfokus pada perkembangan alamiah anak dan pengalaman belajar anak.Pandangan baru ini melihat anak sebagai pribadi yang unik yang berbeda dengan orang dewasa. seorang pendidik dan perupa dari Wina. adalah orang pertama yang memberikan pengakuan adanya nilai yang terkandung pada karya seni rupa anak. Selanjutnya studi awal tentang anak dilakukan para ahli. bebas dari pengaruh orang dewasa. dengan terbitnya banyak jurnal pendidikan seni rupa sebagai hasil penelitian. Pada masa sebelumnya. 1970: 1).

Hal ini mencerminkan sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia cenderung tidak menggambarkan keadaan atau suasana Indonesia. menghargai budaya dan tradisi bangsa sendiri. Akibat yang diinginkan anakanak Indonesia tidak dapat mengenal. Ekspresi diri. suasana peternakan dan bunga tulipnya. Pada prinsipnya Mohammad Syafei menentang pendidikan pemerintah kolonial yang hanya mengutamakan pendidikan intelektual dan kurang memperhatikan pengembangan kepribadian anak. waktu itu bentuk pelajarannya adalah pelajaran menggambar dengan orientasi pemberian keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja secara mandiri pada pemerintah kolonial. Bersamaan dengan didirikannya Taman Peserta didik. Namun yang terjadi selanjutnya timbul ketidakpuasan dari kaum pribumi terpelajar yang menginginkan perlunya anak-anak Indonesia mengenal. Pelajaran menggambar. di Sumatra Barat tepatnya di Kayutanam berdiri pula Indonesische-Nederlandsche School (INS) oleh Mohammad Syafei. Buku-buku pelajaran yang dipakai adalah buku-buku yang merupakan gambar-gambar pemandangan di Belanda dengan kincir angin. menghargai budaya dan tradisinya sendiri. 1967: 195).M Soewadi Soerjaningrat atau dikenal dengan Ki Hajar Dewantoro mendirikan sekolah swasta untuk kepentingan anak-anak pribumi dan menurut pandangannya pendidikan seni rupa merupakan alat untuk menanamkan kepribadian Indonesia. dan kerajinan tangan adalah mata pelajaran yang 37 . tetapi menanamkan tradisi Barat sebagai suatu kemajuan. keaslian. dan sadar budaya adalah dasar dari metode pendidikan seni rupa yang diterapkan di Taman Peserta didik (Holt. mencetak. Kemudian oleh R.Demikian juga pada pelajaran seni rupa.

Lingkup materi pembelajarannya meliputi seni rupa. seni musik. Perkembangan selanjutnya pendidikan menggambar yang menekankan pada teknik menggambar tidak digunakan sejalan dengan diterapkannya pendidikan seni rupa pada kurikulum sekolah (kurikulum tahun 1975) dan kurikulum sesudahnya dan pada kurikulum yang berlaku sekarang ini (KTSP). ilustrasi. hanya objek gambar bukan lagi pemandangan di Belanda tetapi pemandangan alam Indonesia. anak-anak diberi kebebasan untuk menyatakan ide dan perasaannya. Pendidikan seni rupa tidak dikenal sebagai istilah yang mandiri di Sekolah Dasar. Pembelajaran masih mengembangkan kemampuan anak melalui latihan koordinasi mata dan tangan. Pada masa awal kemerdekaan. anak-anak diajarkan keterampilan agar memiliki kemampuan membuat barang yang bersifat fungsional. Pada kelas-kelas untuk akhir. Pada mata pelajaran menggambar meliputi menggambar alam benda. dan menggambar ekspresi. Pendidik sebagai fasilitator memberikan kemudahan-kemudahan pada anak. seni teater. kerajinan. dan dijual untuk menambah beaya kegiatan sekolah. perspektif. yang kesemuanya bertujuan melatih pengamatan anak. seni tari. Baru pada tahun 1964 istilah “menggambar” diganti dengan “seni rupa”. pelaksanaan pendidikan seni rupa tidak mengalami perubahan yang berarti. dan teknologi. Dalam rumusan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) merupakan bagian dari kelompok mata pelajaran Estetika dan nama mata pelajarannya adalah Seni Budaya dan Keterampilan. Pada menggambar ekspresi.dianggap penting. 38 .

sejalan dengan implementasi kurikulum tahun 1975. Pendekatan Pendidikan Seni Rupa yang dianut di Indonesia Diterapkannya pendidikan sistem di sekolah. pemahaman.b. dan penilaian merupakan gambaran untuk memperoleh kualitas karya seni rupa yang diamati. Keempat bidang tersebut tidak harus diajarkan secara terpisah tetapi diajarkan secara terpadu. merupakan proses kreatif melalui pengolahan bermacam-macam materi untuk menciptakan efek visual yang diinginkan. 1992: 9). dan (2) penerapan “pendekatan sistem” dalam rancangan kegiatan pembelajaran seni rupa. 1) Penerapan pendekatan disiplin Seperti telah dikemukakan dimuka bahwa pendekatan disiplin mempunyai ciri adanya program pembelajaran yang sistematik dan berkelanjutan dalam empat bidang yaitu: bidang penciptaan. dieksplorasi oleh anak. untuk menjelaskan makna dari apa yang diamati adalah melalui kegiatan analisis dan penafsiran. art criticism. Dalam hal ini banyak yang dapat dipelajari. Babakan baru tersebut menyangkut 2 hal pokok yakni: (1) penerapan “ pendekatan disiplin (DBAE)” dalam hal isi pembelajaran seni rupa. Pada art production adalah suatu disiplin dalam hal penciptaan seni rupa. yang merupakan babakan baru dalam sejarah pendidikan seni rupa di Indonesia. art history. Keempat bidang tersebut dijabarkan dalam mata ajaran dan tercermin dalam kurikulum meliputi. and aesthetics (Dobbs. penikmatan. dan penilaian. sedangkan art criticism adalah disiplin yang memfokuskan perhatian pada persepsi dan deskripsi untuk menjawab pertanyaan tentang apa yang diamati pada suatu karya seni rupa. Art history adalah disiplin 39 . art production. dialami.

kegiatan pembelajaran terdiri atas berbagai komponen yang satu sama lain terikat dalam satu sistem dengan tujuan sebagai komponen utama yang memberi arah pada komponen lainnya. Pendekatan sistem menuntut kegiatan pembelajaran yang berorientasi pada tujuan yang telah dirumuskan terlebih dahulu. pengalaman keindahan dan sumbangannya terhadap kehidupan dan kebudayaan manusia.. tetapi juga mencakup sejarah senirupa. Tujuan inilah yang menjadi acuan seluruh kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru. termasuk kegiatan penilaian hasil belajar. pandangan ini diakomodasi yang ditandai dengan meluasnya cakupan mata pelajaran seni rupa. politik dan budaya. mematung.yang memfokuskan perhatian pada peran seni rupa dan seniman dalam konteks social. Demikian pula dengan KTSP yang berlaku saat ini mengacu pada Standar Isi yang kandungannya mencerminkan kekomprehensifan isi sebagaimana yang diamanatkan oleh pendekatan disiplin. Menurut pendekatan sistem. Pendekatan sistem dalam terminologi Kurikulum 1975 dikenal sebagai PPSI. 2) Penerapan pendekatan sistem Dalam kurikulum 1975 dituntut diterapkannya pendekatan sistem dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Kegiatan pembelajaran yang 40 . Aesthetics adalah disiplin yang memfokuskan pada diskusi hakekat dan makna seni rupa. dsb. dan estetika. Dengan demikian pendekatan disiplin memandang kegiatan pembelajaran di sekolah seyogyanya tidak hanya menyangkut kegiatan berkarya seni rupa seperti melukis. Dalam kurikulum tahun 1975. kritik seni rupa. Kurikulum selanjutnyapun yang muncul melanjutkan apa yang dimulai pada kurikulum tahun 1975 . mencetak.

ketrampilan bidang seni rupa. dan keterampilan seni adalah ceramah. Sesuai tujuan pendekatan berbasis disiplin. diskusi. komponen pelaksanaan pembelajaran. sejarah seni. komponen evaluasi saling berkaitan. sikap. dan estetika. Dalam hal ini pendekatan sistem merupakan kerangka acuan yang rasional dalam memadu komponen-komponen pembelajaran yang saling berkaitan. agar anak memiliki pengetahuan. sikap. Dalam konteks KTSP. 41 . dan keterampilan seni rupa. sikap. sikap dan keterampilan seni rupa seperti yang dirumuskan pada tujuan pembelajaran. dan ketrampilan bidang seni rupa meliputi: produksi/karya seni. tujuan pembelajaran identik dengan kompetensi tertentu yang diharapkan untuk dicapai oleh anak dalam kegiatan pembelajaran. Peranan pendidik dalam pendekatan ini dituntut dapat memberikan kemudahan bagi anak untuk mendapatkan pengetahuan. dan praktek membuat karya seni rupa. sikap. Tujuan pembelajaran menekankan kemampuan yang harus dikuasai oleh peserta didik yaitu: pengetahuan.beroreintasi pada tujuan ini berlanjut pada kurikulum yang diperkenalkan kemudian. sangat mempertimbangkan aspek psikologis anak sejalan dengan tumbuhnya kesadaran akan pentingnya menjadikan anak sebagai pusat perhatian guru dalam kegiatan pembelajaran. kritik seni. peragaan. Evaluasinya dilihat dalam konteks sejauhmana anak memperoleh pengetahuan. Sedangkan metode pembelajarannya yang memungkinkan anak memiliki pengetahuan. Penerapan pendekatan disiplin dalam pendidikan seni rupa di sekolah di Indonesia. Misal komponen tujuan pembelajaran.

Pada rentang usia tersebut anak mengalami fase tertentu. yaitu masa usia sekolah dasar sering disebut juga sebagai masa intelektual atau masa keserasian bersekolah. Pemikiran anak dalam 42 . Karakteristik Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar Anak usia sekolah dasar pada umumnya ada pada usia 6 sampai dengan 12 tahun. dimana anak mengalami masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju awal remaja. bahkan mereka diberikan pula cara memahami konteks dari sebuah karya seni rupa dari berbagai masa. tetapi juga memberikan pembelajaran cara mempelajari bagaimana menikmati suatu karya seni rupa. suku. ras. Anak sudah dapat berpikir lebih menyeluruh dengan melihat banyak unsur dalam waktu yang bersamaan. Ditinjau dari sudut pandang psikologis masuk dalam kategori childhood. Menurut Piaget (1950: 45-49) ”pada masa itu adalah anak mengalami yang disebut dengan tahap operasi konkret (concrete operations)” dicirikan dengan perkembangan sistem pemikiran yang didasarkan pada aturanaturan tertentu yang logis. dan golongan sosial ekonomi di lingkungan sekitarnya. B. Hal ini diharapkan akan berdampak pada tumbuhnya rasa penghargaan terhadap keragaman karya-budaya yang dimulai dari lingkungannnya. budaya.Dengan demikian pada hakekatnya pendekatan berbasis disiplin pada pendidikan seni rupa membawa anak tidak hanya diberi kesempatan untuk berekspresi seni rupa. sesuai dengan yang ada dalam Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) Sekolah Dasar antara lain: Menghargai keberagaman agama.

bahwa anak mulai berpikir tentang perbedaan bahkan menentang dan bersikap hati-hati. (j) belajar berpartisipasi dalam suatu kelompok sebagai anggota. (g) mulai berpikir abstrak. namun demikian perlu diketahui adanya perbedaan tingkat kecepatan kematangan anak sangat dipengaruhi oleh kehidupan lingkungan sosial budaya masyarakatnya. Berikut ini karakteristik anak usia sekolah dasar pada setiap tahapnya. (k) mulai menumbuhkan rasa keadilan dan menginginkan perasaan yang bebas dari orang 43 . Secara umum pada usia sekolah dasar ini. (h) lebih membutuhkan suatu pujian dan persetujuan dari orang dewasa. bahkan mengambil kesimpulan secara probabilitas. tahap ke II usia 8-9 tahun. mengemukakan ciri-ciri anak pada anak pada usia 6 dan 7 tahun sebagai berikut: (a) anak beralih dari daya pikir anak yang bersifat imajinatif. klasifikasi dengan lebih baik. (e) sudah mulai memisahkan antara fantasi dari realitas. (f) belajar berangkat dari persepsi dan pengalaman langsung. (b) anak mulai mempunyai pengalaman pada tahap kepandaian dan perasaan rendah diri. dibagi menjadi tiga tahap. yaitu tahap I pada usia 6-7 tahun. (c) menerima konsep secara benar (baik) berdasarkan hadiah dan persetujuan.banyak hal sudah lebih teratur dan terarah karena sudah dapat berpikir seriasi. (d) melanjutkan perkembangan pemerolehan bahasa. ke cara berpikir tahap operasional konkret. (i) menunjukkan sensitivitas rasa dan sikap terhadap anak disekitarnya dan orang dewasa. dan tahap III pada usia 1012 tahun. namun belajar lebih banyak terjadi berdasarkan pengalaman konkretnya. hal ini juga didukung oleh Piaget yang mengemukakan. Menurut Brady (1991: 35-37) yang didukung beberapa ahli yang lain.

(c) dapat menerima masalah yang benar berdasarkan ke-fairan. (f) mulai mengembangkan konsep dan hubungan spasial. (e) minat pada kelompok sudah lebih meningkat bahkan mencari kekariban dalam sebuah kelompok. bahwa anak sudah mulai berpikir lebih fleksibel dan hati-hati. (i) mempunyai ketertarikan pada hobi bahkan koleksi yang lebih bervariasi. (b) Erickson berpendapat bahwa anak mempunyai pengalaman pada tahap kepandaian dan perasaan rendah diri. (h) mulai mencari 44 . (f) mengadopsi orang lain menjadi model daripada orang tua. (g) mulai menunjukkan minat pada aktivitas yang khusus. (b) anak mulai berpengalaman pada tahap kepandaian dan perasaan rendah diri. (e) mulai melihat sesuatu dengan sudut pandang orang lain bahkan sifat egosentris sudah semakin berkurang. (h) mulai menunjukkan minat dan keterampilan yang berbeda dengan kelompoknya. (d) memiliki perhatian dan penghormatan dari kelompok kini lebih penting. Perkembangan anak pada usia 10 sampai 12 tahun: (a) pemfungsian tahap operasional konkret menurut Piaget. (j) adanya peningkatan kemampuan mengutarakan sebuah ide ke dalam kata-kata. (c) mulai menerima konsep yang benar berdasarkan aturan. bahwa anak sudah dapat melihat hubungan yang lebih abstrak. (l) menunjukkan perilaku yang egosentris bahkan sering menuntut apa yang menjadi keinginannya. (d) sudah mempunyai ketertarikan yang kuat dalam sebuah aktivitas sosial.dewasa. (g) menghargai petualangan imaginatif. Selanjutnya dikemukakan lagi oleh Brady (1991: 35-7) bahwa anak usia 8 dan 9 tahun: (a) pemfungsian tahap berpikir operasional konkret menurut Piaget. dan (k) sudah mulai membentuk persahabatan yang khusus dengan temannya.

emosional. sehingga hampir tidak pernah terlihat kesan lelah pada fisik mereka. Perkembangan anak meliputi perkembangan fisik intelektual. (j) mencari nilai-nilai. yaitu mereka memiliki banyak energi untuk memenuhi keinginan mereka terutama bermain yang mereka senangi.persetujuan dan ingin mengesankan. Karena itu menurut Hurlock (1991: 150) melalui latihan yang berat anak dapat melepaskan tenaga yang tertahan dan membebaskan tubuh dari ketegangan. dan (m) memahami dan menerima adanya aturan berdasarkan perbedaan jenis kelamin. (i) ingin menunjukkan kemampuan serta kemauan untuk melihat sudut pandang orang lain. Perkembangan fisik dan motorik Perkembangan fisik anak meliputi bertambah besar dan tingginya ukuran tubuh. yang secara otomatis mempengaruhi perkembangan fungsi-fungsi organ tubuh. bertambahnya berat badan. a. Berikut ini dibahas secara umum sisi perkembangan anak sekolah dasar secara singkat. 45 . kreativitas. dan sosial. (l) mempunyai citarasa keadilan bahkan kepedulian terhadap orang lain. (k) menunjukkan adanya perbedaan di antara individu. Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yaitu peningkatan ukuran struktur yang mempengaruhi perkembangan intelektual dan mental anak. Anak dalam usia 6 sampai 12 tahun memiliki karya seni rupa yang bersifat khas sebagai cerminan dari tingkat kemampuan dan kesenangannya. Pada usia awal sekolah dasar anak-anak yang normal berada dalam masa yang energetic. Pertumbuhan dan perkembangan realitasnya tidak dapat dipisahkan.

dan pengalaman hidup. seperti pemisahan. Perkembangan emosional Emosionalitas seseorang mengalami perkembangan seiring bertambahnya usia. kompensasi. belajar. mengendalikan dorongan hati. karena proses kognitif mereka tidak terlalu egosentris lagi dan sudah lebih logis lagi. konversi. baik secara fisik maupun secara psikologis. Keterampilan emosional meliputi aktivitas: mengidentifikasi dan memberi nama perasaan-perasaan. dan keputusasaan. menilai intensitas perasaan. identitas. Pada diri anak-anak ketika kontrol emosionalnya masih labil dalam intensitas emosi yang tinggi. mengingat. dan berkomunikasi. dimana anak-anak telah mampu menggunakan simbol-simbol untuk melakukan suatu operasi atau aktivitas mental. b. struktur (konsep atau pola pikir) dan fungsi (organisasi dan adaptasi). reversibility (bolak-balik). Perkembangan intelektual Perkembangan intelektual dikenal dengan perkembangan intelegensi. Anak-anak sudah belajar mengembangkan konsep berpikir sederhana. mengungkapkan peraaan. menunda pemuasan. klasifikasi. Anak usia 7-11 tahun sudah lebih mampu berpikir. pendidikan. Piaget merinci intelegensi dalam komponen isi (apa yang dipikirkan). seringkali 46 . berlawanan dari aktivitas fisik yang selama ini diterapkan untuk memecahkan masalah atau untuk berpikir. atau kecerdasan. Piaget menamakan usia ini sebagai periode operasional konkret. kognisi. mengetahui perbedaan antara perasaan dan tindakan. mengelola perasaan. angka. c. dan lain-lain. mengurangi stress. kemudian mereka mengendurkan diri.kegelisahan.

Perkembangan kreativitas Anak usia sekolah dasar dinamai dengan “usia kreatif” (Hurlock. musik yang teratur dalam kurikulum. Di sekolah diselenggarakan bermain yang mendidik yang mencakup kegiatan olah raga. atau cemoohan orang dewasa atau orang lain mereka akan mengarahkan tenaganya ke dalam kegiatan-kegiatan kreatif.mereka merasa tertekan secara emosional akibat perlakuan dan batasan-batasan dari lingkungan mereka. kritik. d. Perkembangan kreativitas peserta didik dapat distimulasi dengan banyak cara. Untuk itu aktivitas bermain yang menantang dan latihanlatihan yang berat dinilai dapat menjadi alat katarsis emosinya. lingkungannya. masa berimajinasi tinggi dan masa bermain. Penelitian mengenai kreativitas menunjukkan bahwa bila anak-anak tidak dihalangi oleh rintangan-rintangan lingkungannya. Suatu rentang kehidupan dimana akan ditentukan apakah anak-anak menjadi konfomis atau mencipta karya yang baru dan orisinal. drama. Sebagai contoh. dan cara pertumbuhannya yaitu: 1) Ada beberapa cara yang dilakukan anak-anak kecil untuk mengungkapkan pemikirannya yang beragam. 1999: 9). kreativitas itu muncul melalui 47 . kehidupan. Menurut Abdussalam (2005: 50-51) ada beberapa pilar kreativitas dan faktor yang mempengaruhi munculnya kepribadian seorang anak. Perkembangan kreativitas peserta didik dapat diamati pada proses dan karya kreatif peserta didik. 1991: 147) atau masa “keemasan berekspresi kreatif” (Herawati. senirupa. tetapi lingkungan yang tidak mendukung dapat menghambat bahkan merusak potensi kreatif peserta didik tersebut.

mengikuti. pengembangan alternatif. melukis. dan membaca. mewarnai. mencontoh. Kegiatan verbal adalah pengembangan kreativitas dengan menyatakan ide melalui kata-kata. serta kemampuan untuk menyelesaikan sebagian permasalahan atau perlawanan ditengah-tengah beraktivitas. bertanya. Dalam kegiatan ini. Imajinasi dituntun untuk berkembang melalui rangsang bentuk-bentuk dan struktur garis yang dikembangkan menjadi suatu bentuk yang dapat dikenali dan unik. permainan. Menurut Torrance (1981) mengembangkan kreativitas melalui dua kegiatan yaitu kegiatan verbal dan figural. baik yang berupa aktivitas melukis. kita mendapati seorang anak itu dapat berbicara. bernyanyi. atau melalui aktivitas seni. menjelajahi tentang hal-hal yang unik dan belum pernah dibuat orang lain. menemukan dan menghasikan sesuatu. bersukaria. beberapa aspek dari kreativitas dirangsang seperti kemampuan untuk 48 . Pada masa anak-anak ini. dan produksi bentuk-bentuk yang baru. menirukan. dan aktivitas yang berbeda-beda itu merupakan sesuatu yang penting dan pilar yang besar dalam membentuk kreativitas pada diri anak 3) Permulaan kreativitas itu ditandai dengan perolehan beberapa hal. 4) Permainan anak-anak merupakan pilar pemikiran kreatif yang paling penting. bercanda. dan gerakan. bermain. musik. Sedangkan kegiatan figural adalah pengembangan visual “ visual thinking” yaitu melalui bentuk dan garis. membentuk. berbohong. 2) Menikmati pengalaman-pengalaman.beberapa perantara atau gambaran-gambaran akal. penekanannya adalah pada rasa ingin tahu. berkhayal.

c. kegiatan ini bertujuan mengembangkan rasa keingintahuan tentang kemungkinan-kemungkinan serta kemampuan untuk memformulasikan hipotesa. pengembangan ide secara figural ada tiga macam yakni: 49 . Ask and Guess Activity. Product Improvement Activity. misalnya sebuah mainan anak-anak.memecahkan ide sebanyak mungkin. e. Misalnya dalam melihat sebuah gambar. misalnya kenapa Tuhan memilih buah apel untuk menggoda Siti Hawa. kegiatan yang bertujuan untuk membeberkan pikiran dari sesuatu yang telah mapan. kegiatan ini bertujuan mengembangkan fantasi yang tinggi dengan memberikan suatu gambaran atau ilustrasi yang mustahil dapat terjadi. Pengembangan kreativitas melalui rangsangan verbal terdiri dari beberapa jenis yaitu: a. Usulan Uses Activity. Just Suppose Activity. melengkapi dan memperjelas sesuatu. d. kegiatan ini dimaksudkan untuk mendapatkan berbagai macam rspon dari suatu pertanyaan yang tidak biasa. dicari sesuatu yang tidak terdapat dalam gambar. kegiatan yang memberi kesempatan untuk mengembangkan ide-ide dari sesuatu yang telah ada. misalnya berpikir tentang apa yang dapat digunakan terhadap sebuah kaleng susu selain untuk tempat susu. Berbeda dengan pengembangan ide secara verbal. kegiatan yang dilakukan adalah apa yang bisa dibuat atau dikembangkan berdasarkan rangsangan visual dari mainan tersebut. b. kemampua untuk mengkombinasikan. Usulan Quesstion Activity.

Misalnya diberikan rangsangan visual berbentuk buah. Hal ini dapat dilakukan dengan menambah elaborasi sehingga diketemukan cara pemecahan masalahnya. Biasanya ada sepuluh bentuk yang tak lengkap untuk disempurnakan dalam waktu yang terbatas. Perkembangan sosial Perkembangan sosial adalah perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengaqn tuntutan sosial atau menjadi orang yang mampu bermasyarakat. kegaitan ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan untuk membuat struktur dan kesatuan. c. e. 50 .a. misalnya bentuk lingkaran. kegiatan ini dimaksudkan mengembangkan kemampuan dalam menemukan sesuatu yang belum memiliki maksud yang jelas dalam suatu rangsang visual. menciptakan ketegangan mental untuk keluar dari permasalahan dengan melengkapi gambar melalui cara yang sederhana dan semudah mungkin. Picture Construction Activity. kemudian bentuk tersebut dikembangkan menjadi bentuk yang lengkap dan menceritakan sesuatu secara visual. garis sejajar dalam jumlah tertentu dan juga dalam gerakan terbatas. b. Incomplete Figure Activity. Repeated Figure Activity. Dalam hal ini yang dikembangkan adalah kemampuan membuat variasi dari sebuah jenis rangsang visual. Untuk mendapatkan respon yang orisinal ketegangan emosi harus terkontrol. hanya saja kegiatan ini dikembangkan dari satu jenis unsur sebagai rangsang pengembang ide. kegiatan ini mirip dengan Incomplete Figure Activity.

Pada anak usia sekolah dasar. pikir. untuk memilih teman bermain. 51 . Penekanan pengolahan seni di SD terletak pada kegiatan bermain. memainkan peran sosial yang dapat diterima. Bentuk pengolahan kesadaran perseptual. bunyi dan gerak. Berdasarkan karakteristik tingkat perkembangan tersebut di atas dan sesuai dengan tujuan pendidikan sekolah dasar. Mereka tidak begitu bergairah lagi bepergian bersama orang tuanya. pengolahan imajinasi dan kreasi.Walaupun pada dasarnya setiap manusia adalah makhluk sosial. anak menetapkan kriteria baru. di samping kriteria alam. rasa dan cipta. Penekanan kegiatan seni lebih pada ekspresi diri. tetapi untuk menjadi pribadi yang sosial mereka harus belajar dalam waktu yang tidak singkat. Keberhasilan sosial tidak ditentukan semata-mata karena keunggulan intelektual. banyak orang yang berhasil dalam perkembangan intelektual tetapi tidak berhasil lam perkembangan sosialnya. anak semakin senang berada bersama-sama dengan kelompok-kelompok kecil anak-anak umur sebaya. mulai tertarik pada permainan kelompok. karsa dan karya dilakukan dalam permainan melalui medium rupa. maka pendidikan seni di SD lebih menekankan pada pengembangan kemampuan dasar anak dalam mengolah kemampuan mental dan kesiapan belajar. dan perkembangan sikap sosial. Mereka harus melalui paling tidak tiga proses sosialisasi seperti yang diungkapkan Hurlock (1991: 250) antara lain: belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial.

a. yaitu elemen seni lukis dan kaidah-kaidah komposisi. ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Dalam pembuatan sebuah karya seni lukis. Karya lukis bergaya ekspresionis (penuh perasaan) memiliki objek benda atau figur yang dibuat dengan garis dan warna yang bernuansa emosi pelukisnya. figur manusia. cat akrilik. tersamar. Lebih jelas lagi seni lukis merupakan suatu pengucapan pengalaman artistik seseorang yang dicurahkan ke dalam bidang dua dimensi dengan menggunakan garis. bidang. Seni lukis adalah salah satu lingkup seni murni berwujud dua dimensi. Elemen-elemen seni lukis 1) Garis Pada dasarnya garis merupakan elemen utama dalam seni lukis. karena garis yang pertama menentukan bentuk suatu karya lukis secara keseluruhannya. atau bahan lainnya. 52 . Lukisan bergaya abstrak berasal dari khayalan kreatif senimannya. umumnya dibuat di atas kain kanvas berpigura dengan bahan cat minyak. dan tekstur. seperti pemandangan alam. atau benda lainnya. Karya seni lukis yang juga sering disebut dengan lukisan. binatang. Pengertian dan Jenis Seni Lukis Seni lukis merupakan bagian dari bidang seni rupa murni yang berwujud dua dimensi. bahkan kurang dimengerti oleh orang awam. Karya seni lukis bergaya naturalis (potret) dibuat persis seperti objek aslinya. bentuknya tidak nyata. tetapi mengandung berbagai alternatif rupa yang baru.C. Objek dan gaya lukisan sangatlah beragam. sehingga seni lukis merupakan karya yang terlepas dari unsur-unsur kegunaan praktis. warna. Pembelajaran Seni Lukis di Sekolah Dasar 1.

massa. dan dari letaknya terhadap garis-garis yang lain. Wujud garis dapat dibedakan menjadi dua macam. yaitu: (a) garis nyata. irama.Garis merupakan hasil suatu goresan yang diakibatkan oleh sebuah titik bergerak lurus sehingga membentuk jejak. (b) garis semu. massa. dan susunan objek. Garis yang kencang memberikan perasaan yang berbeda dari garis yang berbelok atau melengkung. gelap terang. warna. Selanjutnya Ruta (2005: 22) mengatakan bahwa garis dapat menyatakan bentuk. Apabila dilihat dari bentuk garis. dan yang lain memberikan kesan luwes dan lemah lembut. Yang satu memberi kesan yang kaku. karena bentuknya yang menimbulkan perasaan tertentu kepada si pengamat. warna. Kesan yang diciptakan juga tergantung dari ukuran. sehingga meninggalkan bekas yang nyata. sedang warnanya berfungsi sebagai penunjang dan menambahkan kualitas tersendiri. garis merupakan sebuah goresan. keras. yaitu garis yang terjadi karena kesan yang dapat ditangkap oleh mata yang sesungguhnya merupakan batas limit suatu benda. Sesuai dengan pendapat di atas. suasana. kumpulan dari beberapa titik dan sebuah bentuk yang mengandung arti yang melebihi daripada titik. Djelantik (1999: 19) mengemukakan bahwa garis sebagai bentuk mengandung arti lebih daripada titik karena dengan bentuknya sendiri garis menimbulkan kesan tertentu pada pengamat. tebal-tipisnya. gerak. 53 . tekstur. dan susunan dari objek-objek. ruang. garis ini dihasilkan dan terjadi karena suatu goresan. ruang. dan kontur. Garis adalah batas limit suatu benda.

dibatasi oleh beberapa garis lurus yang secara matematis tidak bertalian.2) Bidang Bidang merupakan suatu area yang dibatasi oleh garis. Dengan demikian. namun bidang belum tentu berwujud garis. Bidang Organik (c) Bidang bersudut. bahwa garis dapat berupa bidang. titik dapat berupa bidang. namun bidang belum tentu titik. Bidang Geometris (b) Bidang organik. Jenis bidang dapat dibagi menjadi empat bagian yaitu: (a) Bidang geometris. baik garis nyata maupun garis semu. dibuat secara terukur Gambar 1. 54 . dibatasi oleh garis lengkung bebas yang mengesankan keceriaan dan pertumbuhan Gambar 2. Demikian juga dengan garis.

Keluasan positif yaitu ruang yang sering menggambarkan objek sedangkan keluasan negatif yaitu keluasan dalam bentuk dua dimensi ruang negatif ini sering menjadi background.Gambar 3. dibatasi oleh garis lurus dan lengkung yang secara matematis tidak bertalian. Bidang Tak Beraturan 3) Ruang Ruang dapat diartikan sebagai keluasan yang dibatasi oleh limit baik keluasan positif maupun keluasan negatif. Gambar 4. Gambar 5. Komposisi Ruang Negartif dan Positif 55 . Bidang Bersudut (d) Bidang tak beraturan.

yaitu semakin jauh suatu bentuk akan terlihat semakin kecil. satu bentuk menumpang pada bentuk lain. semakin jauh suatu benda warnanya semakin memudar atau warna panas akan berkesan mendekat. sedangkan warna dingin berkesan menjauh. tekstur yang kasar akan tampak lebih dekat dibandingkan dengan tekstur halus. Gambar 7.Beberapa teknik dalam pencapaian ruang dalam karya dua dimensi yaitu: (a) Penumpangan. Ruang dengan Teknik Pergantian Bentuk dan Ukuran (d) Pergantian tekstur. Ruang dengan Teknik Penumpangan (b) Pergantian warna. Gambar 8. Ruang dengan Teknik Pergantian Warna (c) Pergantian bentuk dan ukuran. Bentuk yang nampak berada di depan atau di atas bentuk lain. 56 . Gambar 6.

hal in terjadi dengan menukarkan kedudukan bentuk untuk membangkitkan ruang maya. yaitu penambahan dapat dilakukan dibelakang atau di depan. Ruang dengan Teknik Bayangan (g) Manipulasi dengan teknik gelap terang atau dengan perbedaan/perubahan tekstur. Gambar 11. Ruang dengan Teknik Pelengkungan (f) Penambahan bayangan pada bentuk. Ruang dengan Teknik Pergantian Tekstur (e) Pelengkungan atau pelekukan. Gambar 10.Gambar 9. Ruang dengan Teknik Gelap Terang 57 . Gambar 12.

biru.4) Tekstur Tekstur merupakan nilai raba suatu permukaan benda. Terangnya seluruh warna adalah putih dan gelapnya seluruh warna adalah hitam. oranye. kasap. yaitu: (a) Hue. yaitu: tekstur nyata dan tekstur semu. Jenis tekstur ada dua macam. tetapi tidak dapat dinilai atau dirasakan oleh alat indera raba. sebaliknya merubah value menjadi gelap dengan cara menambah warna hitam secara bertingkat disebut shade. Sedangkan tekstur semu adalah nilai raba suatu permukaan benda hanya dapat dinilai secara visual. keras. Oleh karena itu putih dan hitam tidak termasuk dalam lingkaran warna. yaitu istilah yang sering digunakan untuk menunjukkan nama dari suatu warna. Merubah value menjadi terang dapat dengan cara menambah warna putih secara bertingkat disebut tint. kuning. dan lain-lain. misalnya tekstur batu. halus. berkaitan tentang cerah dan suramnya warna. lunak. Nilai raba suatu permukaan benda tersebut dapat berbeda-beda. Tekstur nyata yang dimaksud disini adalah nilai raba suatu permukaan benda secara fisik dapat dirasakan oleh indera raba. ada yang kasar. (b) Value. 5) Warna Warna yang sering kita lihat atau gunakan dalam kehidupan sehari-hari dapat dibedakan menjadi tiga dimensi. seperti merah. yaitu kualitas dari suatu warna yang menunjukkan suatu hue. yaitu istilah yang digunakan untuk menunjukkan terang gelapnya warna. hijau. dan licin. Hue yang murni adalah 58 . (c) Intensity.

yaitu sebagai berikut: (a) Analogus. merah. Hue dalam intensitasnya yang lebih rendah adalah lebih lembut. biru-violet. kuning dengan oranye. yaitu susunan warna yang kontras atau bertentangan. hitam. yaitu campuran warna-warna dari ketiga variabel dimensi warna yang berasal dari satu warna yang berlainan nilai dan intensitasnya. sehingga menimbulkan sensasi visual panas dan dingin. dan sebagainya. dan abu-abu atau mencampur dengan warna komplemennya atau dapat juga dengan warna-warna yang ada disebelahnya. hijau. (b) Monocromatik. Sedangkan warna dingin terdiri atas: kuning-hijau. oranye-merah. kuning-oranye. biru. oranye. Mengurangi intensutas suatu warna dapat dicapai dengan mencampur atau menambah hue yang murni dengan warna-warna netral seperti putih. dan ungu merah. oranye dengan merah. ada beberapa hubungan antar warna. Selain dimensi warna yang telah dijelaskan di atas. (c) Komplementer.cemerlang dan kuat. yaitu hubungan warna yang saling bersebelahan pada lingkaran warna. Semua warna memiliki temperatur. Klasifikasi temperatur warna tersebut dapat dilihat pada lingkaran warna: warna panas terdiri dari warna kuning. Untuk lebih jelasnya lingkaran warna dapat dilihat pada gambar berikut: 59 . dan violet. hiaju-biru. seperti hijau dengan kuning.

dan antar semua elemen. yaitu sebagai berikut: 1. walaupun mungkin wujud dan jumlahnya tidak sama atau bahkan 60 . Kesatuan (Unity) Nilai kesatuan dapat dicapai dengan mengkomposisikan elemen-elemen yang memiliki karakter yang sama. antar garis. artinya nilai dari sebuah karya seimbang. kesatuan antar tekstur. kesatuan antar garis dengan warna. bidang dengan tekstur. Lingkaran Warna b. garis dengan tekstur. 2.Gambar 13. warna dengan tekstur. Kesatuan dapat dirinci menjadi kesatuan antar warna. garis dengan bidang. Keseimbangan (Balance) Keseimbangan dalam karya seni rupa adalah keserasian bobot dari unsurunsur seni rupa itu sendiri. Kaidah-kaidah Komposisi Ada beberapa kaidah komposisi yang perlu diperhatikan pembuatan sebuah karya lukis. antar bidang.

3. Perubahan tersebut dapat juga terjadi karena adanya pengulangan. dinamis. Irama (Rhythm) Irama merupakan perubahan-perubahan warna dan bentuk secara teratur yang membawa perasaan hanyut di dalam perubahan-perubahan yang terjadi. misalnya: proporsi manusia adalah 61 . yaitu: keseimbangan simetris dan keseimbangan asimetris.bertentangan. atau cepat-lambat. yaitu irama monotone dan irama dinamis. Sedangkan irama yang dinamis dapat terjadi karena adanya pengulangan bentuk yang sangat variatif. irama dapat dibedakan menjadi dua. artinya antara sisi kanan dan sisi kiri dari sebuah karya seni rupa memiliki wujud dan jumlah yang sama kuatnya. seperti keras-lunak. Menurut sifatnya. sehingga dalam irama ini terjadi penekanan-penekanan. Proporsi Proporsi merupakan hubungan-hubungan ukuran dari bagian-bagian dalam keseluruhan suatu bentuk atau objek. 4. Keseimbangan simetris merupakan keseimbangan antara dua sisi sama kuatnya. Irama yang monotone terjadi karena adanya pengulangan wujud dan jumlah yang sama. namun wujud dan jumlahnya tidak sama. Keseimbangan dalam karya seni rupa dapat dibedakan menjadi dua bagian. Dengan kata lain. bagian yang satu merupakan cerminan bagian yang lainnya. sehingga mempunyai kesan yang tidak membosankan. Keseimbangan asimetris merupakan keseimbangan yang dicapai dengan menyerasikan bobot antar unsur yang bersebelahan. Keseimbangan asimetris ini memberi kesan yang labil.

5. lebar bahu. 6. Hubungan proporsi ini misalnya mengenai warna. Keserasian Keserasian merupakan prinsip yang digunakan untuk menyatukan unsurunsur rupa walaupun berasal dari berbagai bentuk yang berbeda. misalnya dalam warna terdapat keserasian yang bersifat karib (analog) dan keserasian kontras. cahaya atau gelap terang. dan oranye. bentuk dan jumlah elemenelemen seni rupa lainnya. Persoalan proporsi sangat berhubungan dengan ukuran atau dimensi anatar bagian yang satu dengan bagian yang lain dalam suatu karya seni. merah-kuning. oranye-kuning. atau panjang batang tubuh (torso). Keserasian karib pada warna ditandai dengan mendampingkan warna merah.antara ukuran kepala dengan tinggi badan. kontras dan silang dalam lingkaran warna. Pusat Perhatian (Center of Interest) Dalam komposisi seni diperlukan adanya pusat perhatian yang dapat memberikan aksentuasi yang disebut dengan dominasi dalam sebuah karya seni rupa. 62 . Sedangkan keserasian kontras yaitu pertentangan (komplementer) yang bersifat ganda. Proporsi digunakan untuk menciptakan keteraturan yang dapat membentuk standar keindahan dan kesempurnaan. Adapun tujuan keserasian adalah untuk menciptakan keselarasan dan keharmonisan dari unsur-unsur yang berbeda. Dominasi dapat diciptakan melalui unsur utama yang didukung oleh dengan menampilkan unsur-unsur penunjang lainnya sehingga menghasilkan sesuatu yang kontras.

struktur. Kesan unik. Kadang-kadang lembut sampai immaterial. jelas dan dinamis. merupakan tanda-tanda positif karya bermutu. Konstruk yang tidak merusak harmoni dengan kemampuan membawakan kehidupan. Kusnadi (1991: 18) menyebutkan: bahwa pengolahan elemen-elemen tersebut mencerminkan ekspresi kejiwaan yang kuat. tari. yang menyebutkan bahwa pendidik mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan harus mempunyai kompetensi: menguasai materi. Dengan demikian untuk menentukan hasil karya seni lukis yang baik dari peserta didiknya tentunya seorang pendidik dituntut memiliki kompetensi sebagai pendidik mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan pada Sekolah Dasar. warna dan tekstur bukan lagi sebagai elemen-elemen pisik tetapi mencerminkan ekspresi kejiwaan yang kuat bagi pembuat karya lukis tersebut. musik. teater) dan keterampilan (PP 19 tahun 2005).Demikian elemen-elemen seni lukis dan kaidah-kaidah komposisi yang ada dalam karya seni lukis. dan kreasi/rekreasi) yang mendukung pelaksanaan pembelajaran seni budaya (seni rupa. Hal ini sesuai dengan PP 19 tahun 2005 tentang Standar Penilaian Pendidikan. luar biasa atau langka. namun dalam kenyataan apabila sudah menjadi suatu bentuk karya seni lukis: elemen garis. Berkenaan dengan pengolahan elemen-elemen dan kaidah komposisi sehingga merupakan tanda-tanda karya seni lukis yang bermutu. dalam membentuk imaji kreatif dari karya seni. dan pola pikir keilmuan (mencakup materi yang bersifat konsepsi. konsep. apresiasi. sehingga diharapkan hasil penilaian yang dilakukan 63 . atau merupakan bahan-bahan kelahiran ekspresi kontrastik yang serba menyala.

kreativitas. emosional. social. dan estetik (Lowenfeld. Penggunaan warna sesuai dengan suasana hatinya. perceptual. visual/spasial. sesuai dengan “kacamata” anak. anak tidak ada rasa takut. dapat memberikan suatu pandangan tingkah laku dan apresiasi pertumbuhan dan perkembangan bervariasi yang dialami anak. sangat berani: merah kuning. Demikian juga pada multiple intelegences gardner yang membagi karakteristik kecerdasan menjadi sembilan jalur yaitu: verbal/linguistic. logical/mathematical. dam krativitas anak. kecerdasan spiritual. naturalist. Peran pendidikan seni yang multi dimensional pada dasarnya dapat mengembangkan kemampuan dasar manusia. karena lukisan anak itu sendiri mencerminkan segi kejiwaan anak. seprti fisik. Kegiatan seni di samping penting bagi perkembangan kognitif juga memberikan rangsangan bagi pertumbuhan persepsi. social. Dengan lukisan anak dapat dibaca jiwa dan kehidupan anak-anak yang bersifat polos. interpersonal. Seni Lukis bagi Anak Usia Sekolah Dasar a. Dengan kegiatan ini perlu diketahui apa yang dapat dikembangkan pada diri anak secara maksimal. 1982). biru. yang dapat diterapkan pada 64 . intelektual. hitam dan seterusnya. Apa yang dituangkan dalam tema lukisannya adalah apa yang dilihatnya sesuai dengan lingkungan hidup yang nyata dan khayalnya.pendidik memenuhi esensi yang dipersyaratkan pada penilaian karya seni anak. 2. Dalam proses melukis. Goresannya spontan dan bebas: miring kesana kemari. Seni Lukis sebagai Cerminan Isi Jiwa Mencermati lukisan anak dan cara mereka menggambarkan lingkungannya. emosional.

perkembangan intelektual dapat dilihat pada gambar anak. akan senang menggambar apa yang telah dibuatnya sehingga terjadi pengulangan-pengulangan yang kurang melibatkan emosi. Kehidupan dan kemampuan untuk terus 65 . 2001). Intelektual. cirinya adalah anak dapat memvisualisasikan imajinasi ke dalam kenyataan yang dituangkan dalam bentuk tulisan (Jamaris. Setiap perubahan situasi membutuhkan fleksibilitas berpikir. Anak yang sulit menyesuaikan diri. Anak yang terlambat berkembang konsepsinya sesuai kemampuan usianya. penanaman dan pertumbuhan indrawi merupakan bagian yang sangat penting dalam kegiatan seni. akan terlihat keterlibatan segi kejiwaan anak sehingga mencerminkan kondisi kejiwaan anak. Hal ini dapat dilihat bagaimana anak menggambarkan sesuatu yang menurutnya penting dan melibatkan emosinya. Dalam kegiatan melukis. Semua ini merupakan indikator dari perkembangan intelektualnya. dan berimajinasi. sering ia tuangkan ke dalam gambarnya. Sejauh mana ia menyadari lingkungannya. dimungkinkan terlambat pula perkembangan intelektualnya. Dapat dilihat dari beberapa banyak pengetahuan tentang objek yang digambarkan dan hubungannya dengan lingkungannya. Dalam membimbing anak. Persepsi. bersikap. perlu diciptakan kondisi yang melatih anak mampu menyesuaikan dirinya. dengan melukis anak mendapat kesempatan untuk menumbuhkan emosinya. Emosi. Seiring dengan kecerdasan visual/spasial yang merupakan salah satu karakteristik jalur kecerdasan.lukisan anak-anak. Apabila ia dekat dengan ibunya atau dengan temannya. Perkembangan intelektual seiring dengan perkembangan usianya.

tekstur. atau situasi sosial lainnya. Perkembangan persepsi dapat didentifikasi melalui gambar yang dibuat anak. pertumbuhan sosial anak dapat diketahui melalui gambar yang dibuatnya. Kreatif. Anak yang jarang mendapat pengalaman persepsi akan memperlihatkan kemampuan yang rendah dalam melakukan observasi dan kesadaran akan suatu perbedaan kualitas visual benda. Estetik. dan menyusun sesuatu secara personal. Mungkin orang tuanya. bentuk. sebagai dasar kegiatan seni dapat diartikan sebagai cara mengorganisasikan pikiran dan perasaan yang dijadikan suatu ekpresi dan komunikasi dengan orang lain. kakaknya. menikmati. Hal itu dapat dilihat dari sensitivitas anak dalam mengorganisasikan unsur-unsur rupa menjadi suatu susunan yang terpadu secara spontan dan intuitif. Biasanya anak menggambarkan wujud yang paling dikenalnya yaitu bentuk orang. Hal ini menandakan usia dini telah memiliki kesadaran sosial. bentuk. Observasi secara visual adalah kegiatan utama dalam seni rupa. Oleh sebab itu penting memberikan kesempatan pada anak untuk mengasah kepekaan persepsinya. dan memberikan reaksi terhadap unsur visual tersebut. rasa estetik anak tumbuh secara alami. Dalam gambar atau 66 . Anak memiliki pengalaman dengan dirinya dan orang lain. Dalam kegiatan seni. pertumbuhan kreativitas segera terlihat begitu anak mulai dapat membuat goresan. adiknya. Tujuannya untuk mengasah kepekaan rasa terhadap warna. Sosial. Kepekaan tersebut dapat tercermin dari bagaimana anak menggunakan. dan ruang. temannya. warna. Organisasi garis.belajar tergantung dari kualitas indrawi manusia. dan tekstur disebut seni rupa termasuk di dalamnya seni lukis. ruang.

lukisan anak. Dalam berkarya. Dengan demikian anak menggambar mulai yang paling sederhana yaitu dengan garis-garis dan berkembang menjadi bentuk-bentuk yang representasional dan detail sesuai dengan perkembangan usia sesuai dengan pengetahuannya sendiri bukan menurut penampakan visual. anak tidak harus terampil. Untuk menjadi kreatif. anak akan mengalami kemandegan kebebasan kreatifnya. jika dipaksa untuk membuat sesuatu yang tidak berhubungan dengan dirinya. pertumbuhan kreatif dapat diidentifikasi melalui bagaimana karya itu dibuat secara imajinatif dan mandiri. tetapi memiliki suatu kebebasan dalam ekplorasi dan ekperimen bahan. melainkan lebih pada apa yang mereka mengerti. Banyak sedikitnya unsur pada lukisan sangat tergantung pada keasyikan pemikiran dan fantasinya. serta menentukan tema. lebih banyak yang akan mereka ceritakan maka lebih banyak pula bentuk yang akan dimunculkannya. Mereka akan cenderung tergantung dan meniru pekerjaan orang lain. b. Ciri Seni Lukis Anak Anak berbuat dan berkarya atas dasar daya nalar anak. Mereka mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam ujud karya seni rupa atau lukisan tanpa terbatas pada apa yang terlihat dengan mata kepala saja. pikirkan atau khayalkan. Perkembangan menggambar anak menurut Ricci (1960: 302-307): The child starts drawing with an “interlacing network of lines” and then moves on to simple representational foms which become more detailed with age. Dengan penalaran anak wajar 67 . He recognized in these simple forms that the child draws a description of the subject according to his knowledge of that subject and not according to its visual appearance.

bulu. Perkembangan pertama berkisar antara umur dua sampai lima tahun. Mata. dan lebih dekat pada sifat bermain. intuitif. Ungkapan pribadinya muncul melalui bentuk-bentuk dengan makna simbolik tertentu. Perkembangan Gambar Anak Perhatian terhadap perkembangan gambar anak-anak merupakan hal yang baru. Hasil gambarnya baru merupakan coreng-moreng yang menunjukkan akibat gerakan otot. ketika anak sangat aktif mempelajari bendabenda di sekelilingnya. anak belum memperhatikan ketepatan penggambarannya. tetapi menurut Cooke. Gambar anak bukan merupakan tiruan objek-objek di alam. Pada periode selanjutnya gambar anak menunjukkan bukti adanya unsur imajinasi dan kesadaran yang lebih tinggi terhadap gerakan linier. kaki. tetapi ia menetapkannya antara umur empat sampai sembilan tahun. c. Ia menemukan empat tahap perkembangan simbolik pada anak-anak. Pada masa itu anak telah mampu meniru benda-benda di alam dan menghasilkan gambar yang mencerminkan analisis terhadap benda-benda yang dilihatnya. Pada tahun 1885-1886 Ebenezer Cooke melakukan penelitian tentang perkembangan gambar anak-anak yang pertama kalinya.dan spontan maka hasilnya tampak sungguh naif. 68 . melainkan didasarkan pada ingatan atau imajinasi. Cooke menyatakan bahwa pada tahap ketiga gambar anak telah menunjukkan adanya hubungan yang alami antarbagian tersebut. Cooke tidak memberikan gambaran yang menyeluruh tentang tahap keempat pada gambar anak-anak. Gambar anak di sini meniru objek (representasional). dan ekor digambarkan tanpa pemahaman tentang jumlah dan hubungan antara bagian-bagian objek itu.

Daftar ini bukan merupakan daftar lengkap para ahli yang telah memberikan sumbangan pengetahuan tentang urutan tahap-tahap dalam simbolisasi visual. Griffiths (1935). Kerschenstein (1905). Namun. Kellogg (1955). Götze (1898). Levenstein (1905). Clark (1902).Ebenezer Cooke adalah guru Bahasa Inggris dan observasinya tidak begitu akurat. O’Shea (1894). Wuiff (1927). Lukens (1896). Sir Cyril Burt menyimpulkan adanya tujuh tahap perkembangan. Lowenfeld (1947). tetapi tidak terdapat kesesuaian mengenai jumlah tahap perkembangan dan penyebab-penyebabnya. ia selayaknya mendapat penghargaan sebagai orang yang pertama kali menulis tentang gambar anak-anak. Burt (1921). Rouma (1913). Kebanyakan perhatian itu berasal dari tumbuhnya minat terhadap psikologi dan penelitian yang sistematik terhadap anak. Perez (1888). salah satu di antaranya tahap 69 . Lark-Horovitz (1959). ditemukan tambahan informasi dari hasil observasi dan penelitian oleh Ricci (1887). Krötzsch (1917). Baldwin (1894). Stern (1910). Sebagai contoh. Sully (1896). Luquet (1913). Shinn (1897). hasil-hasil penelitian terhadap gambar anak-anak menunjukkan adanya kesesuaian umum mengenai urutan dan wujud simbol visual perkembangan gambar anak. Maitland (1895). Eng (1931). Brown (1897). namun daftar ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap karya gambar anak-anak telah muncul sejak tahun 1885. Herrick (1893). Pada tahun-tahun berikutnya. Barnes (1893). 1) Gambar Anak pada Tahap Figuratif (3-12 Tahun) Pada dasarnya gambar anak mengalami tahap-tahap perkembangan tertentu sesuai dengan perkembangan umurnya. Menurut Lansing (1976: 138139). dan Eisner (1967).

Peneliti tertentu menganggap suatu susunan pada gambar anak sebagai karakteristik tahap perkembangan tertentu. tetapi peneliti yang lain hanya menganggapnya sebagai fase transisi. Selanjutnya. Ketidaksesuaian mengenai jumlah tahapan tersebut pada dasarnya terjadi karena perkembangan gambar anak bersifat gradual. sedangkan menurut Viktor Lowenfeld. (2) subtahap figuratif 70 . hanya terdapat enam tahap perkembangan. Pada tahap figuratif anak membuat simbol-simbol visual sebagai cara untuk memahami benda-benda dan kejadian-kejadian dalam kehidupan nyata dan menggunakannya untuk memberikan informasi kepada orang lain. Pada tahap coreng-moreng anak membuat simbolsimbol visual karena rangsangan gerakan otot. dan akhirnya mengaturnya sehingga mengesankan “sesuatu hal”. kemudian mengontrol gerakangerakan otot itu. Lansing (1976: 147-178) membagi tahap figuratif menjadi tiga subtahap: (1) subtahap figuratif awal (umur tiga sampai empat tahun). sebagai cara untuk mengubah atau mempengaruhi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan budaya. perkembangan gambar anak pada dasarnya dapat disederhanakan menjadi tiga tahap pokok: (1) tahap coreng-moreng (umur dua sampai empat tahun). karena tahap represi sulit diprediksi. yang lebih penting.represi. Pada tahap keputusan artistik anak membuat simbol-simbol visual sebagai cara untuk memahami konsep-konsep nyata maupun abstrak dan. dan (3) tahap keputusan artistic (umur dua belas tahuh ke atas). 1976: 138-139). sesuai pendapat para ahli (Lansing. dan kontinyu. (2) tahap figurative (umur empat sampai dua belas tahun). halus.

gambar anak menyerupai benda-benda di lingkungan nyata. Gambar 14. and Art Education) 71 . gambar anak merupakan petunjuk kematangan intelektual yang bagus sampai umur sepuluh tahun. Lingkaran menggambarkan kepala atau badan dan garis-garis lengkung menggambarkan kaki dan rambut. Pada gambar 14 tampak usaha pertama anak untuk menggambarkan manusia. Dalam tahap perkembangan simbolik ini gambar anak menunjukkan hubungan dengan kenyataan visual. kelas satu sekolah dasar. Art. tetapi ia mampu atau tidak mengetahui cara menggambarkannya. 1976. Oleh karena itu.tengah (umur empat sampai tujuh tahun). dan kadang-kadang juga di kelas dua sekolah dasar. Gambar Manusia oleh Anak Umur Empat Tahun (Sumber: Lansing. Anak mungkin mengetahui bagian-bagian tubuh manusia yang lain. (a) Subtahap Figuratif Awal Subtahap figuratif awal terjadi pada anak umur tiga sampai enam tahun. yaitu anak di kelompok bermain. Pada umumnya anak pertama kali menggambarkan figur manusia. taman kanak-kanak. karena figur manusia itu digambarkan berdasarkan kombinasi dari coreng-moreng. Dengan kata lain. dan (3) subtahap figuratif akhir (umur tujuh sampai dua belas tahun) yang dapat diuraikan sebagai berikut. Secara keseluruhan unsurunsur tersebut menggambarkan manusia secara umum. Artist. Subtahap figuratif awal ini berkembang dari tahap coreng-moreng secara hampir tidak tampak.

benang. Selain objek manusia. Kecepatan perubahan gambar anak ini mengalami penurunan setelah anak mencapai umur lebih dari tujuh tahun. pada masa perkembangan ini juga anak memasukkan unsur benda-benda yang lain untuk memenuhi bidang gambar. Bilamana perlu.Pada subtahap figuratif awal kemampuan motorik anak terus berkembang dan aktivitas perseptualnya meningkat. Hal ini menjadikan objek-objek tertentu digambarkan tegak. mula-mula anak memusatkan perhatiannya pada suatu objek sampai selesai. Dalam hal ini. ia menggeser-geser atau mengubah-ubah posisi kertas untuk menjangkau bagian-bagian bidang gambar yang belum terisi. Perubahan atau perkembangan gambar anak pada tahap ini berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan tahap-tahap perkembangan sebelum maupun sesudahnya. tetapi pada kesempatan lain menggunakan cara yang lain. Dengan demikian. dalam menggambar suatu objek anak mulai menggunakan cara tertentu. 72 . meskipun mungkin memiliki kaitan antara objek yang satu dengan yang lain. Konsep anak tentang benda-benda di lingkungannya berubah atau berkembang dan berangsur-angsur menjadi rinci. dan rumah penyihir. kemudian melupakannya dan berganti memusatkan perhatiannya pada objek yang lain sampai selesai dan demikian seterusnya. Pada gambar 15 figur-figur manusia digambarkan menggantung di langit bersama-sama dengan piring. demikian juga hasil gambarnya. Sebagai contoh. susunan objek-objek itu tidak memberikan hubungan makna. sedangkan objek-objek lainnya digambarkan terbalik.

Kaki dan tangan manusia hanya digambarkan dengan garis lurus. Sebagai contoh. Pada umumnya anak begitu senang menggambar dan bertahan pada masa perkembangan ini hingga waktu yang lama. Penggunaan unsur garis. gambar anak pada subtahap ini tidak begitu naturalistik. Objek-objek digambarkan dan disusun dengan cara tertentu sesuai dengan perasaan atau intuisi anak. Dengan kata lain. dan tekstur sedikit atau tidak memiliki hubungan dengan kenyataan. misanya wanita digambarkan dengan warna ungu. Pada masa perkembangan ini. Artist.Gambar 15. and Art Education) Ciri lain gambar anak pada subtahap figuratif awal adalah penggambaran objek-objek dengan ukuran yang berlebihan. Kemiripan gambar anak dengan kenyataan baru menandakan objek-objek secara umum. warna. sedangkan anjingnya digambarkan dengan warna hijau. gambar kepala orang lebih besar dari pada pohon atau gambar anak lebih besar dari rumah. Gambar Anak Pada Awal Munculnya Tahap Figuratif dengan Objek-objek yang Menggantung di Langit (Sumber: Lansing. 1976. 73 . Art. anak baru sedikit atau belum memiliki kesadaran untuk berpikir tentang keindahan.

Garis ini disebut garis dasar (base line) dan merupakan ciri pokok tahap figuratif tengah. Benda-benda yang terletak di tanah dalam kenyataan sekarang dibuat berdiri pada garis yang menggambarkan tanah. sedangkan objek yang berada di bagian bawah bidang gambar mengarah ke tanah. Namun demikian. Dalam masa perkembangan ini simbol visual anak bertambah rumit dan terus cenderung mengarah pada ketelitian. tiga. Penempatan satu objek berkaitan dengan objek lain sekarang tampak jelas disengaja dan bermakna. Gambar seperti ini merupakan satu-satunya tahap simbolisasi yang dapat dijumpai pada berbagai jenjang umur. jelas bahwa gambar anak sekarang telah memiliki orientasi bawah dan atas.(b) Subtahap Figuratif Tengah Gambar anak pada subtahap ini terutama dapat dijumpai di taman kanak- kanak dan di kelas satu. Hal ini berarti bahwa objek yang berada di bagian atas mengarah ke langit. dan empat sekolah dasar. Garis dasar ini dapat berupa garis yang dibuat oleh anak atau garis tepi kertas. perlu diketahui guru bahwa gambar seperti ini mungkin muncul di berbagai jenjang sekolah dari playgroup sampai sekolah menengah pertama. Perubahan yang paling penting dari subtahap sebelumnya dapat dilihat pada susunan simbol-simbol dalam gambar anak. Susunan ini dapat dilihat pada gambar 16. Dengan demikian. 74 .

Artist. Tampak di sini simbol figur yang 75 . Artist. garis dasar terletak agak ke tengah bidang gambar dan anak serta bunga-bunga berdiri di atasnya. dan beberapa kotak berada di tengah bidang gambar. Art. maka lebih tepat dikatakan bahwa gambar ini menunjukkan peralihan dari subtahap ini dan subtahap sebelumnya. Simbol anak kecil itu tampak berdiri kokoh di atas tanah (garis dasar) yang tidak lagi menggantung di udara. Art. Hasil Gambar Anak Umur Lima Tahun. Karena gambar tanah dan kotak itu tampak menggantung.Gambar 16. Gambar 17. and Art Education) Pada gambar 16. and Art Education) Gambar anak pada subtahap figuratif tengah dapat dilihat dengan jelas pada gambar 17. 1976. Gambar Anak Pada Subtahap Figuratif Tengah (Sumber: Lansing. Yang Menunjukkan Masa Peralihan dari Subtahap Figuratif Awal ke Subtahap Figuratif Tengah (Sumber: Lansing. Di atas anak terdapat corengan yang menggambarkan langit. 1976.

pada Gambar 18 kepala harimau digambarkan mirip wajah manusia. Harimau dalam Kandang (Sumber: Lansing. Artist. karena anak tidak mungkin melihatnya dari dekat. and Art Education) Gambar 19 menunjukkan gambar kereta dengan gerbong awak kereta (caboose) dan mesin di sebelah kiri serta orang di sebelah kanan. Art. 76 . Pada masa perkembangan ini binatang semacam itu digambarkan anak dengan kepala seperti wajah manusia. 1976. Gambar 18. Objek yang tidak sering ditemukan anak disimbolkan secara sederhana.lebih kompleks dibandingkan dengan simbol figur pada gambar-gambar sebelumnya. Kecenderungan kompleksitas ini dapat dilihat pada simbol-simbol yang paling sering ditemukan anak di lingkungannya. Sebagai contoh. Anak tidak memiliki imajinasi yang kompleks tentang kepala binatang itu. Asap muncul di atas mesin dan matahari (objek yang banyak terdapat di dalam gambar anak) bersinar dengan terang.

and Art Education) Gambar 20. 1976. dalam periode perkembangan ini masih begitu naturalistik. Gambar 20 menunjukkan gambar anak yang hampir mencapai tahap selanjutnya (subtahap figuratif akhir). Art. Di sini anak masih menggunakan garis dasar. 1976.Gambar 19. Art. Artist. and Art Education) Meskipun gambar (simbol grafis) anak semakin kompleks atau rinci (detail). Gambar Anak Umur Lima Tahun Menunjukkan Objek-objek Yang Ada di dalam Maupun di luar Rumah (Sumber: Lansing. karena anak telah menciptakan ilusi kedalaman dengan bentukbentuk yang tumpang tindih. Gambar Kereta oleh Anak Umur Lima Tahun (Sumber: Lansing. Perbandingan ini merupakan contoh perkembangan yang terjadi dalam suatu 77 . Artist.

Gambar ini merupakan penggabungan penampakan dari dalam dan sekaligus dari luar suatu objek. tetapi pada akhir subtahap figuratif tengah gambar anak belum begitu mirip dengan kenyataan. Jelas bahwa dengan kematangan perkembangan anak. 78 . Gambar Anak Umur Sepuluh Tahun (Sumber: Lansing. Artist. and Art Education) Ciri yang lain gambar anak pada tahap perkembangan ini adalah gambar sinar-x (x-ray drawing). Gambar 21. Gambar 22 menunjukkan bus penuh dengan para penumpangnya. gambar figur yang dibuat anak semakin realistik. Gambar itu masih datar dan kaku. sedangkan gambar 23 ibu dan dua anak di dalam badannya. Gambar 20 merupakan karya anak umur lima tahun. sedangkan gambar anak pada gambar 21 merupakan karya anak umur sepuluh tahun. Gambar 23 dibuat oleh anak umur lima tahun. kecuali tahap coreng-moreng. seperti ditunjukkan pada Gambar 22 dan 23. tetapi dapat ditemukan juga pada semua tahap perkembangan.subtahap. Cara penggambaran ini biasanya ditemukan pada subtahap figuratif tengah. sedangkan gambar 22 dibuat oleh anak umur sepuluh tahun. 1976. Art.

untuk menggambarkan ruang. pada subtahap perkembangan ini juga ditemukan adanya kombinasi gambar tampak atas (plan) dan tampak sisi (elevation) dalam satu gambar. Sementara itu. 1976. and Art Education) Gambar 23. Jadi. Artist. Lowenfeld menyebut cara menggambar ini gambar rebahan (folding over) yang juga merupakan ciri pokok subtahap figuratif tengah. and Art Education) Selain penggambaran secara sinar-x. 1976. Art.Gambar 22. Dalam gambar ini tampak gambar sebuah mobil terletak pada satu garis dasar. Gambar Bus Penuh Dengan Penumpang (Sumber: Lansing. sedangkan rumah terletak pada garis dasar yang lain. digunakan dua garis dasar. Ciri gambar semacam ini juga tampak pada Gambar 24. jalan dan kendaraan-kendaraan lainnya digambarkan secara tampak atas. Gambar rebahan 79 . Gambar X-ray oleh Anak Umur Lima Tahun yang Menunjukkan Ibu Dengan Dua Anak di Dalamnya (Sumber: Lansing. Artist. seperti tampak pada gambar 22. Art.

sehingga lebih dekat dengan kenyataan. 1976. Namun. karyanya akan terus berkembang. meja. Gambar 24.misalnya digunakan anak untuk menggambarkan sisi jalan. mengesankan ruang. Art. tetapi kebanyakan ditemukan pada anak kelas lima. and Art Education) (c) Subtahap Figuratif Akhir Gambar pada subtahap figuratif akhir mungkin dimulai pada anak kelas tiga. Gambar Anak yang Menunjukkan Penggabungan Antara Tampak Depan dan Tampak Atas (Sumber: Lansing. Artist. Objek tidak lagi terletak pada garis dasar tetapi terletak di atas bidang yang tampak membentang ke belakang. pada umumnya gambar anak berhenti pada subtahap figuratif akhir. dan tujuh. dan lapangan sepak bola. 80 . Perbedaan yang paling penting antara subtahap figuratif tengah dan subtahap figuratif akhir adalah munculnya penggunaan perspektif sebagai pengganti garis dasar. enam. Selain itu. Anak juga membuat objek di tempat yang dekat dengan ukuran yang lebih besar dari pada objek di tempat yang jauh. Gambar subtahap ini tidak terdapat lagi pada anak di atas kelas tujuh. Setelah umur sebelas atau dua belas tahun anak biasanya tidak aktif menggambar lagi dan jika anak terus aktif menggambar.

Pada gambar 25 anak menggambarkan setiap kendaraan dengan menggunakan perspektif linier. Gambar yang Menunjukkan Penggunakan Perspektif Linier oleh Anak Kelas Lima (Sumber: Lansing. Artist.anak tidak lagi menggambarkan objek-objek secara tembus pandang (gambar sinar-x). 1976. and Art Education) Gambar 26. Pada gambar 26 tampak juga bahwa anak menggunakan perspektif linier untuk menggambarkan tempat duduk. Gambar 25. Seperti tampak pada jalan yang menuju ke tempat yang jauh. 1976. Perspektif linier adalah cara menggambarkan garis-garis sejajar secara khusus untuk mengesankan kedalaman. Artist. Art. Art. Penggunaan perspektif linier ini ditunjukaan pada gambar 25 dan gambar 26. Kadang-kadang anak pada subtahap ini telah menggunakan perspektif linier. kedua garis tepinya seolah-olah terus saling mendekat. and Art Education) 81 . Gambar Bus Yang Penuh Sesak oleh Penumpang Yang Digambarkan Dengan Perspektif Linier (Sumber: Lansing.

badan. dan bibir yang mencolok. kontur tubuh. dan lutut menunjukkan anak ciri-ciri perempuan. Pada subtahap figuratif akhir ini dalam menggambar orang anak telah membedakan ciri-ciri orang menurut jenis kelaminnya dengan lebih jelas. rambut. Rambut yang panjang. dada. Bahkan kebanyakan bagian-bagian itu digambarkan dengan rinci. Untuk figur manusia. pada tahap perkembangan ini anak menggambarkan orang perempuan dengan rambut panjang yang berombak. Namun. mata. bibir. kuping. dan otot-otot yang menonjol. Anak laki-laki misalnya mengidentifikasikan dirinya sebagai pemain sepak bola. dan guru. kaki. bintang film. ibu. Pada Gambar 27 dua anak perempuan digambarkan sebagai pemain drumband. Gambar 28 menunjukkan gambar pemain tenis laki-laki dan perempuan yang dapat dibedakan dengan ciri-ciri yang jelas pada pakaiannya. polisi. hidung. siku-siku. pundak yang lebar. Bagi anak-anak tertentu penggambaran secara realistik ini akan 82 .Selain perspektif linier. dan jari-jari. anak telah menggambar seluruh unsur tubuh: kepala. gambar anak pada subtahap figuratif akhir menunjukkan tingkat realisme yang lebih tinggi pada setiap objek. dan pilot. tentara. lengan. Pada tahap sebelumnya mungkin anak sudah menggambarkan orang perempuan dengan rok dan orang laki-laki dengan celana panjang. Pada umumnya anak belum merasa puas jika belum dapat menggambarkan dirinya sesuai dengan peran-peran itu secara cukup realistik. Anak perempuan misalnya mengidentifikasikan dirinya dengan perawat. leher. telapak tangan. Anak pada subtahap ini juga mengidentikasikan dirinya dengan peran dalam bidang pekerjaan sesuai dengan jenis kelaminnya. sedangkan orang laki-laki dengan rambut pendek.

Artist. Gambar Anak Perempuan Yang Mengidentifikasi Dirinya dengan Pemain Drumband (Sumber: Lansing. 1976. Gambar Yang Menunjukkan Perbedaan Anak Laki-laki dan Perempuan Dengan Ciri-Ciri Pakaian yang Rinci (Sumber: Lansing. and Art Education) 83 . Artist. sebagian anak lainnya akan berganti dengan penggunaan simbol-simbol abstrak. and Art Education) Gambar 28. dan sebagian lagi akan berhenti membuat simbol-simbol visual. Art.terus berkembang. Gambar 27. Art. 1976.

Art Activities for Children) (b) Corengan terkendali: anak mulai menemukan kendali visual terhadap coretan yang dibuatnya denagn kata lain sudah ada koordinasi antara perkembangan visual dan perkembangn motorik. belum dapat coretan berupa lingkaran. Di bawah ini adalah contoh gambar anak pada tahap corengan tidak beraturan: Gambar 29.Sedangkan menurut Lowenfeld & Britain dalam buku Creative Mental Growth (1982) membuat periodisasi lukisan anak sebagai berikut: 1) Periode Coreng Moreng (Scribbling Period) Periode ini berlaku bagi anak berusia 2 sampai 4 tahun (masa pra sekolah). anak bersemangat dalam membuat coretan. Periode ini terbagi dalam 3 tahap. mencoreng tanpa melihat kertas. Pada tahap ini unsur warna belum penting. wujud gambarnya berupa goresan tebal tipis dengan arah yang belum terkendali. Corengan Tak Beraturan (Sumber: Hardiman. 1981: 2. Pada masa ini merupakan pengalaman dari aktivitas motorik anak. adalah ciri tahapan mencoreng paling awal. Goresan dibuat dengan 84 . yaitu: (a) Corengan tak beraturan: bentuk sembarangan.

Terdapat pengulangan pencoretan garis. Art Activities for Children) Gambar di bawah ini merupakan salah satu karya anak periode coreng moreng pada usia 3 tahun. bahkan lingkaran. 85 . Cirinya: bentuk semakin bervariasi. 1981: 2. Gambar 30. Warna mulai menyita perhatian anak. vertical. Art Activities for Children) (c) Corengan bernama: merupakan tahap terakhir masa mencoreng. Corengan Bernama (Sumber: Hardiman. lengkung . anak mulai memberi nama pada hasil coretannya. menggunakan waktu yang semakin banyak. Gambar 31. 1981: 2.penuh semangat. Corengan Terkendali (Sumber: Hardiman. baik horixontal.

dan sebagainya. gambar manusia. gambar bersifat bagan makin dapat dikenali. rumah. dan berbagai hal baru kaitannya dengan perkembangan jiwa. Pada periode ini anak mendapat kesempatan mencipta. 86 . alat peraga. Coreng Moreng Anak Usia 3 Tahun (Sumber: Rubin. ataupun disiplin. Usia 6 tahun. Dengan demikian anak mulai menggambar bentukbentuk yang ada hubunganya dengan dunia sekitar dan membangun ikatan emosional dengan apa yang digambar. pohon. bereksperimen. Gambar di bawah ini merupakan contoh periode pra bagan karya anak usia 7 tahun (Horovitz. 1978: 39. Child Art Therapy) 2) Periode Pra Bagan (Pre Schematic Periode) Berlaku bagi anak berusia 4 sampai 7 tahun (taman kanak-kanak). teman sekolah. maupun emosi mereka. rasa. mulai menggambar manusia walau masih sangat sederhana.Gambar 32. dkk. Berbagai pengalaman berarti mereka temukan dengan adanya interaksi dengan dunia baru. menjelajah. Pada usia 5 tahun. pendidik. pelajaran. 1973: 83).

87 . yaitu: gambar yang menyertakan pula benda atau obyek di dalam ruang yang sebenarnya tidak kelihatan. 1982: 430. Konsep ruang mulai nampak dengan adanya pengaturan atau hubungan antara obyek dengan ruang.Gambar 33. 1973: 83. Understanding Children’s Art for Better Teaching) Gambar 34. Creative and Mental Growth) 3) Periode Bagan (Schematic Period) Berlaku pada anak usia 7 sampai 9 tahun. Pra Bagan Anak Usia 4-7 Tahun (Sumber: Lowenfeld. dkk. Anak mulai menggambar obyek dalam suatu hubungan yang logis dengan obyek lain. Pra Bagan Anak Usia 7 Tahun (Sumber: Horovitz. Muncul gejala yang disebut “sinar X” (Xray).

1973: 182 (Part 3). Gambar 36. 1982: 431. Understanding Children’s Art for Better Teaching) 88 . lalaki dan wanita secara jelas. Creative and Mental Growth) 4) Periode Awal Realisme (Early Realism) Berlaku bagi anak berusia 9 sampai 12 tahun. mulai memeperhatikan detail. Kesadaran visual anak mulai berkembang.Gambar 35. Bagan Anak Usia 7-9 Tahun (Sumber: Lowenfeld. tetapi spontanitas menjadi hilang. anak mulai mengekspresikan karakter sex. gambar jadi kelihatan kaku. Bagan Anak Usia 10 Tahun (Sumber: Horovitz. Karakteristik warna mulai mendapat perhatian anak. tetapi belum dapat menampilkan perubahan efek warna dan baying-bayang. dkk.

dkk. Understanding Children’s Art for Better Teaching) 6) Periode pengambilan keputusan Berlaku pada anak remaja usia 14 sampai 17 tahun Anak bersikap kritis terhadap diri sendiri. Anak tidak lagi menggambar apa yang diketahuinya tetapi apa yang dilihatnya.5) Periode Naturalistik Semu (Pseudo Naturalistic) Berlaku pada anak usia 12 sampai 14 tahun (masa pra puber) Merupakan akhir dari aktivitas spontan. 89 . Seni rupa menjadi produk dari suatu usaha yang serius. idealistic dan mulai memikirkan hubungan dirinya dengan masyarakat. Gambar 37. introspektif. anak menjadi kritis terhadap karyanya sendiri. 1973: 182 (Part 3). Bagan Anak Usia 13 Tahun (Sumber: Horovitz.

tipologi oleh Victor Lowenfeld (1952).Gambar 38. 1973: 182 (Part 3). Tipologi Seni Lukis Anak Tipologi dalam seni lukis anak diartikan sebagai pembahasan tentang tipe atau gaya atau corak yang dapat diamati pada hasil karya lukis anak. Tipe karya lukis anak dapat diidentifikasi berkat adanya berbagai studi yang dilakukan oleh para ilmuwan khususnya dalam bidang pendidikan dan psikologi. dkk. Bagan Anak Usia 14 Tahun (Sumber: Horovitz. Beberapa penelitian tentang adanya bermacam tipe lukisan anak-anak ditinjau dari segi-segi tertentu dapat disebutkan antara lain: klasifikasi empirik atas perbedaan pure-style lukisan anak-anak oleh Herbert Read (1945). Pengertian tipe visual adalah bahwa titik tolak penghayatan anak lebih banyak berdasar pengamatan atau konsepsi visual atas 90 . Understanding Children’s Art for Better Teaching) d. Menurut Victor Lowenfeld ada dua tipe lukisan anak-anak. yaitu: “the visual type” dan “the haptic type”. serta tinjauan secara psikoanalisis yang dikemukakan oleh Edmund Burke Feldman (1970).

menggunakan warna sebagai terjemahan objek secara material. tidak perspektivis. kemudian diklasifikasikan. Secara lebih terperinci Herbert Read mendasarkan klasifikasi empiriknya atas perbedaan “pure style” lukisan anak-anak menjadi dua belas kategori lukisan sebagai hasil penelitian dari beribu-ribu gambar anak-anak dari berbagai tipe sekolah. diam seperti halnya objek alam 91 . Ke dua belas kategori tersebut sebagai berikut: 1) Organic: pelukisannya berdasarkan pengamatan visual dan menunjukkan hubungan yang akrab dengan objek-objek eksternal. Lebih menyukai objek yang mengelompok. bergerak dari pada objek yang terpisah dan diam. ciri-ciri lukisannya lebih menonjol sebagai ungkapan perasaan subjektif yang mengarah kepada corak non realistik. memperlihatkan plastisitas gerak objek dan proporsi visual. dan ternyata ciri-ciri lukisannya mengarah pada realisme naturalistik.bentuk alam sekitar atau objek lukisannya. Dalam hal ini faktor internal lebih nampak berperan. menunjukkan gerak dan proposi figur ekspresif. Pada tipe haptic atau non visual titik tolak penghayatan anak lebih banyak berdasar “ideal concept”nya. 2) Lyrical: pernyataan bentuk objeknya sama atau serupa dengan yang organic. tidak mengupayakan ilusi keruangan secara optis. Dalam hal ini faktor eksternal relatif lebih berperan. tetapi lebih menyukai objek-objek yang statis. sedang penggunaan warna tidak sebagai terjemahan bahan objek melainkan lebih nyata sebagai simbol yang sesuai dengan perasaan subjektifnya. sebagai hubungan kesatuannya yang organis.

9) Enumerative: anak dengan penglihatannya secara cermat mengontrol objeknya. 8) Expressionist: terdapat kecenderungan yang menonjol untuk mendistorsi bentuk dan warna objek untuk mengungkapkan sensasi internal/subjektif anak secara spontan. lembut.benda (still-life) dengan pengerjaan yang halus. 7) Haptic: menunjukkan pelukisan yang tidak berdasar pada konsep pengamatan visual terhadap objek. 6) Schematic: menggunakan bentuk-bentuk geometrik tetapi melepaskan diri dari ikatan struktur objek alam. tetapi merupakan representasi dunia internal anak sendiri. 4) Rythmical pattern: berdasarkan hasil pengamatan terhadap bentuk-bentuk objek tersebut dibuat pola-pola bentuk objek tertentu yang diulang-ulang secara ritmis dengan berbagai variasi sehingga memenuhi bidang lukisan. Lebih menunjukkan karakteristik sebagai lukisan anak perempuan. merekam setiap detailnya sebanyak mungkin yang dapat dilihat dan diingat dan menggambarkannya dalam struktur yang kurang organis. kurang menunjukkan perhatian terhadap bagian-bagian kecil (detail) yang terdapat pada objek. Bentuk-bentuk bagan seperti pada periode awal anak melukis tetap digunakan. 5) Structural form: Kecenderungan anak untuk mendeformasi objek menjadi bentu-bentuk geometrik yang merupakan esensi bentuk-bentuk eksternal. 3) Impresionist: lebih banyak sekedar melukiskan hasil penangkapan kesan sesaat terhadap situasi atau suasana objek secara cepat. lebih menonjol sebagai disain yang simbolik daripada penggambaran bagan secara realistik. Aktivitas citra nonvisual dari 92 .

haptic. 11) Romantic: Anak mengambil tema-tema kehidupan tetapi diintensifkan dengan fantasinya sendiri. Sesungguhnya klasifikasi tersebut diakui sendiri oleh Herbert Read kurang bersifat definitif dalam arti sebenarnya masih sangat mungkin terjadi reduksi atau perluasan kategori-kategori dalam kenyataan yang lebih luas maupun lebih khusus. 12) Literary: Anak menggunakan tema-tema dari cerita atau dongeng yang didapat sendiri dari bacaan atau dongeng dari guru. baik dalam penampilan organisasi tema. schematic. pewarnaan yang bersifat datar. bentuk. tidak menampilkan ilusi keruangan/kedalaman guna menciptakan pola-pola manarik. yang diungkap kembali lewat narasi bentuk dan warna. lirycal dan impressionist yang sama-sama menggunakan wujud atau bentuk alam sesuai dengan pegamatan visualnya. Oleh karena itu Herbert Read mereduksi ke-12 kategori lukisan anak-anak 93 . 10) Decorative: anak memanfaatkan sifat-sifat dua dimensional. yaitu: organic. Berdasarkan klasifikasi di atas dapat dikatakan bahwa cara pelukisan anakanak yang sepenuhnya berdasarkan basis realistik-naturalistik adalah tiga kategori yang pertama. structural form.mata lebih banyak sebagai alat perekam tanpa benyak melibatkan sensasi untuk menciptakan keutuhan suasana. dipadukan dengan rekonstruksi ingatan dan kenangannya terhadap sesuatu yang berhubngan dengan tema tersebut. meskipun dalam kadar dan kecenderungan yang berbeda-beda. Sedangkan rythmical patern. expressionist dan decorative dapat dimasukkan ke dalam golongan non realistik. meriah.

cenderung lebih banyak mengandalkan aktivitas intelektual yang berdasar kepada gejala faktual obyektif. Pada tipe fungsi mental: thinking. dengan demikian bersifat introversif. Dalam katagori enumeratif tidak terdapat proyeksi semacam itu. yang obyektif/naturalistik tetapi vital dan organik. character). Di sini tidak terdapat unsur diri (pribadi) si pelukis. dengan demikian bersifat ekstroversif. (2) empathetic.di atas menjadi 8 kategori yaitu: (1) organic. Kedua. sensation. feeling. Reduksi di atas tetap mempertimbangkan relevansinya yaitu: Pertama. Tipe fungsi mental yang demikian relevan dengan kecenderungan imitatif dalam penggambaran bentuk-bentuk obyek eksternal pada beberapa katagori lukisan anak-anak. physiological/intrasubjective. associative. 4 tipe apresiasi estetik Bullough (objective. Di sini si pelukis memproyeksikan dan meleburkan dirinya ke dalam obyek lukisannya. 94 . (8) imaginative. Indera mata sekedar berfungsi sebagai alat perekam fakta fisik (obyek yang dilukis). Pada kategori organic indra mata lebih berfungsi sebagai saluran kamunikasi (penghubung) antar jiwa si pelukis dengan obyek yang diamati untuk ditulis. (5) haptic. Pada katagori organic anak tidak hanya merperhitungkan obyek yang dilukis seadanya tetapi juga memperhitungkan hubungan organisnya. (7) decorative. (3) rhythmical pattern. intuition) beserta kecenderungan kerakterologis (extrovert. 4 tipe fungsi mental Jung (thinking. introvert) dari fungsi-fungsi mental tersebut. (6) enumerative. Hasilnya masih berupa lukisan. (4) structural form.

Ekspresi haptic adalah aspek introvert dari tipe fungsi mental: sensation. tidak bertolak dari sifat-extroversif seperti pada kategori decorative. Perasaan dapat diekspresikan secara lebih subjektif. Apabila menanggapi bentuk dan warna obyek. anak lebih banyak menggunakan perasaannya dalam menanggapi sesuatu hal. Anak yang bertipe fungsi mental: intuition nampak dalam kecenderungan mengembangkan aksen-aksen ritme spontan dalam lukisannya dengan motif-motif bentuk yang relevan. Dalam hal anak menciptakan motif-motif yang didasarkan pada bentuk-bentuk eksternal/alam dan mengkonstruirnya dalam pola-pola yang ritmis. Bentuk-bentuk alami (natural) diubah (guna mengekspresikan perasaan riang.ukisan anak-anak dengan ekspresi extroverted feeling terdapat pada kategori decorative. maka menunjukkan ciri intuisi yang bersifat extrovert.Tipe fungsi mental: feeling. dalam lukisannya diolah menurut perasaannya. I. 95 . Intuisi adalah fungsi mental yang banyak tampil pada ekspresi musikal. di mana titik tolak ubahan bentuk obyek lukisannya diambil dari pola-pola bentuk yang abstrak geometrik. namun lebih banyak menurut suasana hati anak. Kecenderungan introvert dapat dilihat pada katagori structural form. dan "empathy" adalah aspek ekstrovert dari tipe fungsi mental yang sama. tidak harus sama dengan sifat-sifat fisik bentuk dan warna obyek secara "kasat mata". namun dari imajinasi anak sendiri seperti pada kategori imaginative. melankolik dan lain-lain) dalam bentuk-bentuk motif yang merupakan simbolisasi perasaan anak. Misalnya bunga yang diberi warna cerah untuk mengekspresikan keriaan.

Sesuai dengan karakteristik mata pelajaran seni rupa seni lukis khususnya. Maka dibutuhkan kejelian pendidik dalam memilih 96 . Tipe-Tipe Psikologis Anak & kategori lukisan anak Thinking Feeling Sensation Intuition : extrovert introvert : extrovert introvert : extrovert introvert : extrovert introvert = enumerative = organic = decorative = imaginative = empathetic = expressionist (haptic) = rhytmical pattern = structural form Anak dalam menuang ekspresi artistik senantiasa berbeda. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan tentunya digunakan strategi atau teknik yang disebut dengan metode. Metode Pembelajaran Seni Lukis Anak Sekolah Dasar Dalam suatu pembelajaran tentunya ditetapkan terlebih dahulu tujuan pembelajaran. ada dua tipe yang membedakannya yaitu tipe visual dan non visual. dan nilai rekreasi. Dengan demikian tujuan metode pembelajaran adalah merencanakan dan melaksanakan cara-cara yang efektif untuk mencapai tujuan. berekspresi. Namun masing-masing secara khusus memiliki ciri tersendiri bila dilihat dari karya lukis yang dihasilkan.Dengan demikian hubungan antara 8 kategori lukisan anak-anak di atas dengan tipe-tipe psikologis dapat digambarkan sebagai berikut: Tabel 2. Kedua tipe ini menurut Lowenfeld dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam menilai karya lukis anak. yang pada prinsipnya disenangi anak karena ada muatan nilai bermain. 3.

Dalam proses membuat karya seni lukis. dan ekspresif adalah melalui kegiatan berkarya seni rupa. memberi bekal life skill kepada peserta didik. Untuk melaksanakan pembelajaran seni lukis pada peserta didik. dan gairah anak untuk berkarya. dan arah tujuan dari pembelajaran. kreatif. alat. perhatian. Berikut ini langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran seni lukis anak di sekolah dasar agar dapat berkarya sesuai dengan minat. anak akan dapat mengenal berbagai bahan. Motivasi yang dapat diberikan untuk anak usia sekolah dasar misalnya: berupa cerita baik cerita dongeng maupun cerita yang sesuai dengan keadaan lingkungan mereka. salah satunya adalah dengan berkarya seni lukis. 97 . a. dan menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan (Enjoyfull learning). yaitu metode pendidikan yang dapat mendukung pengembangan creative thingking peserta didik. 1) Pemberian Motivasi Pemberian motivasi merupakan upaya yang dilakukan untuk membangkitkan semangat dan minat anak terhadap tugas-tugas yang akan diberikan untuk dikerjakan. Model-model motivasi sangat banyak tergantung pada tingkat usia anak. nyanyian. keadaan lingkungan atau suasana. ataupun sebuah rekaman yang dapat mereka ungkapkan kembali.metode yang tepat agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. perlu diketahui bahwa pada dasarnya setiap anak mempunyai potensi berkarya seni rupa yang berbeda-beda. sentuhan suasana yang aktual. dan teknik sehingga mereka dapat membuat berbagai karya lukis. Langkah-langkah Pembelajaran Seni Lukis Salah satu jalan untuk membentuk pribadi anak yang sensitif.

Objek yang dapat dipertunjukkan dapat berupa contoh-contoh karya lukisan. baik karya orang dewasa maupun karya anak-anak. bebas. Dalam kegiatan ini anak juga dapat langsung diajak mengamati dan menghayati karya-karya atau benda-benda yang ada disekitar mereka. 98 . 3) Pemberian Pelatihan Pelatihan diberikan agar anak mempunyai pengalaman langsung dan diberi kebebasan berekspresi menggunakan media yang telah tersedia. dan gembira. Contoh karya tersebut bukan semata-mata untuk dicontoh. Pelatihan dapat diberikan setelah anak memahami apa yang diperagakan dan memahami tugas yang disampaikan oleh pendidik. melainkan untuk memperjelas keterangan dan sekaligus memberikan daya tarik bagi anak. Dalam proses pelatihan ini terjadi alur penciptaan yang meliputi penyusunan konsep dan penuangan ide. pengenalan dan percobaan penggunaan media. dan diakhiri dengan tahap penyelesaian. Proses interaksi antara pendidik dan peserta didik harus selalu dikondisikan dalam suasana segar. pengorganisasian unsur-unsur visual seperti pemilihan objek dan penyusunan komposisi. Hal ini dilakukan agar anak selalu termotivasi untuk mempersiapkan diri dalam mengerjakan tugas yang diberikan.2) Pemberian Peragaan Peragaan merupakan mempertunjukkan atau menampilkan sebuah objek yang dapat diamati dan diperbincangkan sesuai dengan tugas yang akan dikerjakan oleh anak. Dalam hal ini anak diberi kebebasan menerima makna tugas dan mencoba menggunakan media yang ada.

Dalam pemantauan. kelima langkah pembelajaran seni lukis di atas yang dapat diterapkan di sekolah dasar dapat digambarkan sebagai berikut: 99 . dan didiskusikan oleh anak. Diskusi lebih mengerah pada pemberian stimulasi untuk menemukan pemecahan permasalahan yang terdapat pada anak. dikaji. Dapat juga anak diberi kesempatan untuk menceritakan hasil lukisannya sendiri. pendidik dapat berdiskusi langsung dengan setiap anak sesuai dengan tingkat permasalahan atau kesulitan yang dihadapinya. Untuk lebih jelasnya. Pendidik pada mulanya melakukan bimbingan secara klasikal atau kelompok. pendidik dapat memberikan pujian untuk hasil karya yang dikerjakan dengan baik. Pada tahap ini pendidik sangat berperan penuh. namun lebih mengarah pada bimbingan individual. 5) Pemaparan Karya Seni Lukis Anak Akhir dari proses pembelajaran seni lukis adalah megumpulkan karya anak kemudian memilih karya yang dapat dipamerkan atau dipertunjukkan untuk dapat diamati secara bersama-sama. Melalui tahap ini. apabila memungkinkan karya-karya tersebut dapat dibahas. bertindak sebagai “Tut Wuri Handayani”. Tahap ini dapat dikatakan sebagai tahap evaluasi karya.4) Pemantauan Pemantauan dilakukan untuk mengetahui sejauh mana anak-anak dapat berekspresi menggunakan media yang ada.

disertai dengan tanya jawab. Dalam hal ini tentunya keterlibatan intelektual dan pengalaman estetik peserta didik sangat berperan. mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan adalah nama dari kelompok mata pelajaran estetika yang dilaksanakan pada tingkat sekolah dasar. Peserta didik berperan sebagai pengamat yang menghayati gejala keindahan yang ada dalam karya seni kemudian menanggapinya. dua kegiatan yang saling terkait satu sama lain yaitu apresiasi dan kreasi. kemampuan mengekspresikan dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni. Pada kegiatan ini peserta 100 . Pelatihan yaitu kebebasan berekspresi dengan media yang ada Pemaparan karya. dan penjelasan teknik secukupnya. alat. Seni Lukis sebagai indikator gambar ekspresi dalam KTSP Dalam kurikulum KTSP. Kegiatan apresiasi. 2005) disebutkan tujuan mata pelajaran Seni Budaya dan Ketrampilan adalah untuk meningkatkan sensitifitas. Kegiatan kreasi mempunyai makna menciptakan karya seni yang baru. dimaksudkan melatih perkembangan kepekaan rasa estetik peserta didik. Dalam mata pelajaran tersebut. termasuk di dalamnya yang bersifat rekreatif (performance).Motivasi Peragaan yaitu mengamati dan menghayati objek disertai dengan pengenalan bahan. Langkah-langkah Pembelajaran Seni Lukis 4. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 (Peraturan Pemerintah. evaluasi dan pemberian pujian bagi hasil karya yang baik Pemantauan dan pembimbingan Gambar 39. sedangkan rekreasi menampilkan/menggelar karya seni.

dilaksanakan pada kelas satu semester dua. 2006: 4). Hal ini memerlukan kerja intelektual. terlihat dalam katakata yang diucapkan dan ungkapan jiwa melalui gambar. Kamaril (2005: 7) mengungkapkan bahwa menggambar ekspresi adalah: usaha mengungkapkan dan mengkomunikasikan pikiran. Dalam hal ini keterlibatan intelektual peserta didik sangat dominan. Dengan sifat anak-anak yang subjektif. Menggambar ekspresi menurut tujuannya. Misalnya dalam pembuatan karya seni lukis dikenal adanya aspek bentuk yang diubah menjadi struktur. kelas dua semester satu dan semester dua. juga kelas tiga semester dua. Pada kompetensi dasar di atas. Reaksi yang bersifat subjektif dapat dilihat dari perbuatan anak yang serba spontan. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran Seni Budaya dan Kerajinan Sekolah Dasar berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 yang meliputi kegiatan apresiasi dan kreasi secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 1 halaman 270. Jacques Maritain dalam Sumardjo (2000: 51) menyebutkan adanya ekspresi intelektual yang diperlukan untuk mengubah bentuk menjadi struktur. relief. menjadikan semua tanggapan yang diterima oleh anak akan menimbulkan reaksi pada diri anak. Secara rinci khusus pelaksanaan seni lukis di sekolah dasar ada dalam penjabaran kompetensi Kreasi Seni Budaya dan Keterampilan dapat dilihat pada lampiran 2 halaman 275. disebutkan bahwa mengekspresikan diri melalui karya gambar ekspresif dan mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif. dan sebagainya) (BSNP. ilustrasi.didik secara aktif menghasilkan suatu karya seni (lukisan. Merupakan titik tolak dari menggambar ekspresi adalah kondisi kejiwaan anak. ide 101 .

dan ketrampilan peserta didik dalam menggunakan bahan dan alat. Bahan dan alat tersebut adalah kertas. peserta didik menggambar laba-laba raksasa yang besarnya melebihi ukuran pesawat terbang. Merupakan hal yang terpenting dalam melukis untuk anak sekolah dasar adalah keberanian. Menggambar imajinatif adalah salah satu kegiatan menggambar/melukis yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menyatakan daya khayalnya. piring yang bisa terbang. Selanjutnya sesuai dengan tujuan dan kompetensi dasar yang ada dalam kurikulum. Dalam hal ini guru seyogyanya tidak ikut campur dalam menentukan apa yang harus diungkapkan oleh peserta didik. dan sebagainya. dan imajinasi yang diperoleh dari apa yang dilihat. cat air. produk dari menggambar ekspresi disebut dengan karya seni lukis.gagasan. 102 . Sebagai contoh. kemauan. Hal-hal yang tidak ditemukan secara nyata di dunia ini ditampilkan oleh peserta didik melalui gambar imajinasi. gagasan gejolak perasaan/emosi. diraba secara langsung maupun tidak langsung. manusia berkepala kuda . gejolak perasaan/emosi serta imajinasi dalam wujud dwimatra yang bernilai artistik dengan menggunakan garis dan warna. Bahan dan alat yang dimaksud disini adalah bahan dan alat yang digunakan untuk mencetuskan ide. didengar. kuas. kanvas. Dengan demikian gambar/lukisan yang dihasilkan peserta didik bersifat sangat pribadi. Salam (2001: 50) mengatakan bahwa kegiatan menggambar/melukis ekspresi di sekolah dipengaruhi oleh paham ekspresionisme yakni suatu paham yang meyakini bahwa dalam menggambar/melukis seseorang seyogyanya menggores secara berani dan spontan agar perasaannya dapat tersalur secara apa adanya tanpa dipengaruhi oleh kemampuan intelektualnya. tinta.

cat akrilik. Mencermati ciri-ciri perkembangan anak pada usia masa ini. Dalam hal penggunaan warna disikapi sebagai bentuk yang mendekati pada warna yang sebenarnya. secara umum hasil karya lukis anak merupakan cerita yang luas dengan penampilan gambar yang lengkap dan dibuat dengan teknik yang mantap. Konsep ruang mulai nampak dengan adanya pengaturan atau hubungan antara obyek dengan ruang walaupun masih sederhana dengan meletakkan dalam satu garis vertical sebagai garis dasar. Muncul gejala yang disebut “sinar X” (X-ray) atau tembus pandang. Anak sudah dapat berpikir lebih menyeluruh dengan melihat banyak unsur dalam waktu yang sama (decentering). anak pada masa ini menyebutnya sebagai tahap operasi konkret yang bercirikan bahwa perkembangan system pemikirannya didasarkan pada aturan-aturan tertentu yang logis. yaitu: gambar yang menyertakan pula benda atau obyek di dalam ruang yang sebenarnya tidak kelihatan. pewarna alami misal daun. buah. Sedangkan menurut Piaget. kedudukan anak ada pada menurut periode bagan (schematic period) yaitu pada anak usia 7 sampai 9 tahun. Menurut Susanto (2003: 294): pada masa ini merupakan konsep tentang bentuk dasar dari pengalaman kreatif anak. cat minyak. Dengan demikian anak mulai menggambar obyek dalam suatu hubungan yang logis dengan obyek lain. Mereka telah memiliki konsep cerita yang sudah banyak. dan sebagainya. Pada kelas satu sampai dengan kelas tiga sekolah dasar periodisasi mengggambar anak. 103 . pengamatan semakin teliti dan semakin tahu siapa dirinya dalam hubungan dengan lingkungannya. Hasil gambar peserta didik merupakan wujud dari kreativitas dan ketrampilannya.

Tipe-tipe perseptual menjadi nyata dalam seni pada anak usia sembilan tahun ketika ia matang secara sosial. 104 . Dia mempunyai sebuah konsep jelas dari bentuk orang dan mulai lebih spesifik menggunakan kecenderungan untuk menunjukkan simbol misal. Anak bekerja dengan tujuan sesuai apa yang ada dalam pikirannya bahwa apa yang dihasilkan sangat berarti bagi dia. menguranginya. tapi menambahnya. pada tahapan simbolik anak pada usia 7-9 tahun membutuhkan koordinasi fisik yang cukup untuk memberikan pembelajaran cara pemakaian peralatan seni dan materi yang digunakan dalam membuat karya seninya. tetapi ia sampai pada referensi rasional yang utuh dari bentuk dan ruang skematik pada usia tujuh tahun. Anak juga mempunyai tujuan memperoleh pengalaman dan pengetahuan memperbesar tendensi alaminya guna diwujudkan dalam ekspresi gambarnya. atau memvariasi elemen-elemen tertentu menurut pada subjek yang sedang digambarkan. Seiring dengan berjalannya waktu.Dimulai pada usia enam tahun anak mulai mapan di dalam dunia nyata dan menjadi bagian sosial dari interrelationship (hubungan di dalam struktur). dan detil-detil tersebut mencerminkan pertumbuhan inteletualnya. Sebelumnya ia telah mengumpulkan detil-detil dalam gambranya ketika ia tumbuh. Kualitas estetik yang tinggi dari referensi fisik-emosionalnya pada tahun-tahun awal sekarang disubordinasikan pada pengisahan yang ideologis. dia menggunakan garis pergerakan dari tubuh dan bibir dari gambarnya. Dia masih menggunakan bentuk geometrik untuk menggambarkan idenya.

Pada waktu dia menimbun garis dasar untuk memberitahukan keseluruhan cerita atau menggambar garis dasar sekeliling tepi dari kertasnya untuk menunjukkan seluruh pemandangan. satu objek mungkin sebagian tidak akan terlihat.Pada tahap ini juga anak menunjukkan sebuah rasa dari hubungan spatial. Pada tipe sinar X dari ekspresi. anak mengatur objek-objek dikedua tepi dari gambar dan langit dipandang sebagai pusat. Selanjutnya menurut Kellogg ( 1967: 181-215) secara lebih jelas lagi menyatakan bahwa pada usia 7-9 tahun anak tersebut mengalami tahapan sebagai berikut: 1) 2) Periodisasi pada periode bagan ( Schematic period). Dia biasanya menggunakan sebuah garis dasar dalam gambarnya. Pada visualisasi kedalaman ekspresi. objek terlihat secara fisik. menggambar 105 . Pada karya anak terlihat bahwa semuanya penting dan harus terlihat serentak. kemudian secara bertahap merasakan pentingnya hubungannya dengan objek. anak menggunakan secara emosional. Selanjutnya anak merasakan bahwa macam-macam objek dalam lingkungannya mempunyai warna berbeda-beda. Anak pada tahapan ini juga kekurangan sebuah realisasi dari hubungan ruang dan waktu dan biasanya beberapa kejadian dalam satu gambar. Pada penggunaan warna. dimana keduanya sesuatu yang abstrak dari ruangan dan sebuah rasa dari posisi dan direksi dari sesuatu dalam ruangan. secara sebenarnya menurut pandangan visual mereka. Mempunyai konsep cerita yang banyak. anak belum menyadari bahwa ketika beberapa objek dipandang dari satu sudut.

Dengan demikian perlakuan.3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Pengamatan semakin teliti. Konsep ruang mulai nampak adanya pengaturan walaupun masih sederhana. akan menjadi berorientasi pada gang karena adanya kebutuhan untuk mengidentifikasi dengan lebih mendalam peran seksual-diri. Penggunaan warna mendekati warna yang sebenarnya. dan pada kadar tertentu. Adanya garis vertikal sebagai garis dasar tempat objek. Ia akan masuk dalam kedua tipe tersebut. sementara anak gadis akan cenderung mengidealisasi dirinya sendiri dalam citra wanita yang glamor dan matang. Identifikasi semacam itu akan mengarahkan anak laki-laki untuk melebih-lebihkan proyeksi diri menjadi berupa citra-citra yang mengerikan. Adanya gejala tembus pandang (X-ray). 106 . atau ia akan menjadi introvert perseptual-sosial dan haptik dan tidak tergantung pada bidang dalam seninya. Perkembangan selanjutnya anak akan menjadi ekstrovert perseptual-sosial apabila tergantung pada aspek visual daslam bidang seninya. Secara umum hasil karya merupakan cerita yang luas dengan penampilan gambar yang lengkap dan teknik yang mantap. Semakin tahu siapa dirinya dalam hubungan dengan lingkungannya. pembelajaran dan penilaian hasil karya seni lukis anak pada periode tersebut hendaknya mengacu pada perkembangan periode yang sedang dialami oleh anak.

and psychomotor (ability to handle specific processes involving physical coordination) skills. mencakup aspek kognitif. musik. or classifications of learning… cognititive (knowledge.D. affective (feelings and attitudes). Penilaian pendidikan seni rupa ditujukan untuk menilai hasil belajar peserta didik secara menyeluruh. Fungsi Penilaian dalam Pendidikan Seni Pada umumnya penilaian dapat diartikan sebagai aktivitas pembandingan suatu hasil pengukuran terhadap acuan tertentu. Kemampuan ini terbentuk dari kombinasi pengetahuan. afektif. Dalam proses pembelajaran seni lukis ada pengalaman tertentu yang lebih 107 . kepekaan rasa estetik. 2006: 14). These domains. intellectual abilities). dan ketrampilan motorik yang tercermin pada karya seni yang dihasilkan atau dipertunjukkan (BSNP. Penilaian dalam Pembelajaran Seni Lukis di Sekolah Dasar 1. atau teater. 2006: 7) Hal ini sesuai dengan pernyataan Gaitskell (1975: 62) sebagai berikut: Behaviorists in art education also recommend that the three major domains of learning be maintained. Pada karya seni rupa penuangan gambar ekspresi adalah karya seni lukis. fact. tari. implementasi pelaksanaan terlihat dalam Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Estetika disebutkan bahwa: standar kompetensi kreasi/rekreasi berkaitan dengan kemampuan peserta didik dalam menciptakan atau mengekspresikan diri melalui karya seni rupa. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. dan psikomotorik (BSNP DIKNAS. 2006: 5). Dalam PP No 19 tahun 2005 disebutkan bahwa: penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik (BSNP.

2001: 8). pengalaman memahami dan mengaplikasikan alat. teknik penilaian observasi secara individual sekurang-kurangnya dilaksanakan satu kali dalam satu semester. dan penugasan perseorangan atau kelompok. tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 64 ayat 5 menyatakan: “Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran estetika dilakukan melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan ekspresi psikomotor peserta didik”. Hal ini sesuai dengan PP 19 tahun 2005. 108 . Tingkah laku peserta didik di luar situasi tes lebih menunjukkan penampilan yang wajar dan non artificial dalam mengaplikasikan kemampuan kognitif. (2) teknik penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat berupa tes tertulis. bahan. dan teknik untuk berkomunikasi secara visual (Salam. afektif dan psikomotor yang banyak diantaranya tidak dapat terjaring oleh tes. sedangkan penampilan peserta didik dalam aspek afektif dan psikomotor sangat sulit datanya diukur melalui tes. tes praktek. Karya seni lukis tentunya tidak relevan diukur dengan alat tes yang hanya mengukur aspek kognitif. Apalagi bila dikaitkan tujuan pendidikan seni rupa adalah membina kemampuan peserta didik ber. Selanjutnya pada Bab IV: Standar Proses Pasal 22 dijelaskan sebagai berikut: (1) penilaian hasil pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat 3 pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai.self expression secara kreatif-estetik lewat penggunaan media seni rupa. observasi.ditekankan antara lain: pengalaman penghayatan dan penilaian terhadap nilai keindahan. Dengan demikian untuk menilai karya seni lukis peserta didik diperlukan tidak hanya dari segi hasil saja tetapi juga proses pembuatan karya tersebut. (3) untuk mata pelajaran selain kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik. berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku. Objektif. berarti penilaian seni rupa oleh pendidik seni rupa merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran. e. baik dari teknik. status sosial ekonomi. d. adat istiadat. tidak dipengaruhi subjektivitas penilai. grup. berarti penilaian seni rupa didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur. dan gender. budaya. Beracuan kriteria. i. antara lain peserta didik. Adil. Akuntabel. tenaga pendidik. f. Menyeluruh dan berkesinambungan. suku. Terpadu. Dengan melakukan kegiatan asesmen dapat diketahui perubahan yang terjadi pada anak didik. b. prosedur. Karakteristik Penilaian dalam Pendidikan Seni Pada uraian terdahulu telah disebutkan bahwa penilaian seni lukis anak meliputi penilaian proses dan penilaian hasil atau produk. berarti penilaian oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai. berarti penilaian seni rupa tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama. Sahih. h. Terbuka. c. g. 109 . berarti prosedur penilaian. berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapain kompetensi yang ditetapkan. Dengan demikian untuk memecahkan permasalahan penilaian proses dan hasil karya peserta didik tersebut perlu digunakan pendekatan penilaian yaitu performance assessment. maupun hasil. Untuk mengetahui keberhasilan program pembelajaran selalu dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik. yang mengacu pada Peraturan Menteri No 20 tahun 2007: a. atau administrator. Sistematis. kriteria penilaian. Pada dasarnya assessmen adalah kegiatan mengumpulkan informasi tentang kualitas dan kuantitas perubahan pada anak didik. berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan.Berikut ini prinsip penilaian karya senirupa pada jenjang pendidikan dasar. dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan. berarti penilaian seni rupa didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas. 2.

2. 5. penerapan. usually an employee or a student. pengetahuan dan ketrampilan. The focus of this process is data gathering. Berdasarkan pendapat Berk di atas. bila dihubungan dengan karakter mata pelajaran seni rupa khususnya seni lukis performance assessment sesuai untuk menilai karya seni lukis peserta didik. 1986: ix). using a variety of instruments and strategies. 3. The data are collected by means of systematic observation. 4. Performance assessment is a process. 1986: ix). Dimulai pada proses pembuatan karya seni lukis. not a program or product reflecting a group’s activity. Melengkapi pendapat tersebut. The subject of the decision making is the individual. Ada lima unsur-unsur kunci dalam definisi yang dikemukakan oleh Berk. Zainul (2005: 4) menyatakan bahwa asesmen kinerja secara sederhana didefinisikan sebagai penilaian terhadap proses perolehan. Selanjutnya Berk mengatakan bahwa dalam Performance assessment selalu terkait dengan adanya rubrik penilaian yang merupakan bagian dari Performance assessment: Subsumed under the rubric Performance assessment are a host of other related terms that are often used synonymously with it.Sedangkan penilaian kinerja (performance assessment) menurut Berk sebagai berikut: performance assessment is the process of gathering data by systematic observation for making decisions about an individual (Berk. melalui proses pembelajaran yang menunjukkan kemampuan peserta didik dalam proses dan produk. 110 . The data are integrated for the purpose of making specific decisions. (Berk. sampai dengan hasil akhir atau produk seni lukis peserta didik. yaitu: 1. not a test or any single measurement device.

111 . (3) asesmen tidak hanya untuk mengetahui posisi peserta didik pada suatu saat dalam proses pembelajaran. Zainul (2005: 4) menyatakan bahwa asesmen kinerja secara sederhana didefinisikan sebagai penilaian terhadap proses perolehan. Menurut Maertel yang dikutip oleh Zainul (2005: 3) bahwa pada prinsipnya performance assessment mempunyai dua karakteristik dasar yaitu: (a) peserta didik diminta mendemonstrasikan kemampuannya dalam membuat kreasi suatu produk atau terlibat dalam aktivitas perbuatan. asesmen juga untuk memperbaiki proses pembelajaran. peserta didik akan secara terbuka dan aktif berupaya untuk mencapai tujuan pembelajaran. Selanjutnya dinyatakan pula bahwa asesmen kinerja diwujudkan berdasarkan empat asumsi pokok.a. yaitu: (1) asesmen kinerja yang didasarkan pada partisipasi aktif peserta didik. Pengertian Performance Assessment Berbagai pengertian yang disampaikan para ahli evaluasi tentang Performance assessment. melalui proses pembelajaran yang menunjukkan kemampuan peserta didik dalam proses dan produk. (b) hasil karya atau produk lebih penting dari pada perbuatan (performance)nya. pengetahuan dan ketrampilan. (4) dengan mengetahui kriteria yang digunakan untuk mengukur dan menilai keberhasilan proses pembelajarannya. (2) tugasugas yang diberikan atau dikerjakan oleh peserta didik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan proses pembelajaran. namun pengertian yang dapat disampaikan antara lain dari Berk (1986: ix) yang mengatakan bahwa “Performance assessment is the process of gathering data by systematic observation for making decisions about an individual”. penerapan. Melengkapi pendapat tersebut. tetapi lebih dari itu.

6) Feasibility. 5) Fairness.Selanjutnya Messick (1995: 33) mengatakan bahwa dalam hal memilih. apakah perbuatan dan produk sama penting atau dominan yang mana tergantung juga pada karakteristik bidang yang dinilai. Dalam menentukan domain ini perlu ada judgment dari pendidik. 3) Multiple foci. suku bangsa. waktu . apakah yang akan dinilai itu produk atau perbuatan (performance) tergantung pada karakteristik domain yang diukur. artinya apakah tugas yang diberikan dapat diskor dengan akurat dan reliabel. agama. 112 . 7) Scorability. artinya apakah tugas-tugas yang diberikan relevan untuk dapat dilaksanakan mengingat faktor beaya. Untuk melihat apakah Performance assessment yang dilakukan telah memenuhi standar kualitas. artinya tugas yang diberikan sudah relevan dengan yang diajarkan pendidik di kelas. artinya apakah tugas yang diberikan kepada peserta didik telah mengukur lebih dari satu kemampuan-kemampuan yang diinginkan. 4) Teachability. artinya apakah tugas-tugas yang diberikan pada anak didik telah memadai untuk digeneralisasikan pada tugas-tugas lain yang sejenis. atau social ekonomi. artinya tugas yang diberikan sudah adil untuk peserta didik tidak bias gender. 2) Authenticity. Popham (1995: 147) mengemukakan kriteria.kriteria tersebut sebagai berikut: 1) Generalizability. artinya apakah tugas yang diberikan peserta didik sepadan dengan apa yang sering dialami dalam kehidupan sehari-hari. tempat. dan peralatan yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas tersebut.

Secara umum terdapat tiga macam validitas. Babbie. 2000: 686. adalah dua makna yang terkandung dalam konsep validitas.b. Sesungguhnyalah persoalan validitas instrumen berhubungan dengan pertanyaan. 1) Validitas Validitas instrumen dapat dimaknai sebagai ketepatan dalam memberikan interpretasi terhadap hasil pengukurannya. Relevans dan accuracy. Dengan demikian menjadi masalah pokok yang berkaitan dengan validitas instrumen adalah apakah instrumen tersebut menghasilkan informasi yang diinginkan secara tepat sesuai tujuan yang diperlukan. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Pengukuran Validitas dan reliabilitas merupakan hal utama yang harus dipenuhi untuk menentukan kualitas suatu instrumen penilaian. 2004: 144-145). atau aspek apa saja yang akan diukur. Suatu instrumen dikatakan valid untuk tujuan tertentu. tidak berlaku untuk tujuan yang lain juga untuk kondisi yang berbeda. apakah suatu instrumen mampu menggambarkan ciri-ciri. menggambarkan keadaan yang sebenarnya. (Kerlinger. validitas isi (content validity). sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Sedangkan accuracy menunjuk pada ketepatan instrumen mengidentifikasi aspek-aspek yang akan diukur secara tepat. sifat-sifat. Validitas konstruk menunjuk pada sejauh mana instrumen yang disusun 113 . yaitu validitas konstruk (construct validity). Relevans menunjuk pada kemampuan instrumen untuk memerankan fungsi untuk apa instrumen dimaksudkan. dan validitas criteria (criterion-related validity).

mampu menghasilkan butir-butir pertanyaan yang dilandasi oleh konsep teoritik tertentu. Validitas sampling berhubungan dengan pertanyaan seberapa jauh butir-butir instrumen merupakan sampel yang representatif dari keseluruhan aspek yang diukur. Dengan demikian analisis faktor digunakan untuk mencari bentuk validitas konstruk. Menurut Kerlinger (2000: 687) analisis faktor merupakan metode yang tidak terelakkan untuk meneliti validitas konstruk. Validitas konstruk sendiri digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menjelaskan varians pada hasil pengukuran. Untuk memantapkan validitas konstruk dibutuhkan expert judgment yaitu masukan. Validitas isi berhubungan dengan kemampuan instrumen untuk menggambarkan secara tepat domain prilaku yang diukur. Validitas konstruk disusun berdasarkan pada konsep teori yang sudah mapan dan pertimbangan-pertimbangan yang rasional. dan kritik dari para ahli terkait. Langkah selanjutnya pada validitas isi adalah menjabarkan dalam aspek yang terperinci selanjutnya didiskripsikan indikator- indilkatornya. Ada dua makna dalam validitas isi yaitu. validitas butir dan validitas sampling. pertimbangan. diperlukan pendekatan logis dan empirik. untuk 114 . Prosedur yang ditempuh untuk memperoleh validitas konstruk yang diharapkan. Selanjutnya dimintakan pertimbangan kolega atau ahli yang berkompeten melalui forum diskusi antar ahli (focus group discussion). Dimulai dengan dengan menyusun daftar keseluruhan isi materi atau domain yang dimaksud. Validitas isi berhubungan dengan pertanyaan seberapa jauh butir-butir instrumen mencerminkan keseluruhan isi dari aspek yang hendak diukur.

dan atau kehandalan instrumen untuk menggambarkan gejala seperti apa adanya. walaupun dalam waktu dan kondisi yang berbeda. menggunakan korelasi intraklas (interclass correlation). dimana kriterium yang ditetapkan harus sudah teruji secara empiris di lapangan dan mempunyai konsistensi yang cukup tinggi. 1984: 44). Pada penelitian ini digunakan validitas isi dan validitaas konstruk. dapat ditarik suatu pengertian bahwa untuk pengembangan afektif dapat digunakan semua jenis validitas atau salah satu jenis validitas. Secara konsep instrumen yang reliabel adalah apabila digunakan terhadap subjek yang sama akan menunjukkan hasil yang sama. Stabilitas diperoleh dengan mengkorelasikan skor siswa dari dua kali pelaksanaan tes. Salah satu pendekatan dasar untuk mengukur reliabilitas adalah stabilitas. keajegan. konsestensi. Dua kriteria yang digunakan pada validitas kriteria adalah kriteria konkuren dan kriteria prediktif. Validitas kriteria menjawab pertanyaan sejauh mana suatu tes dapat memprediksi penampilan kemampuan pada waktu yang akan datang (validitas prediktif) dan mengestimasi kemampuan saat sekarang berdasarkan suatu pengukuran selain tes itu sendiri (Fernandes.memperoleh masukan. kritik. Berdasarkan uraian di atas. Pada validitas kriteria diteliti dengan membandingkan suatu kriterium eksternal. saran. 2) Reliabilitas Reliabilitas instrumen menunjukkan tingkat kestabilan. dan evaluasi guna menyempurnakan instrumen yang disusun. 115 .

dan rating scales (Depdiknas. 1984:35). Pada cara penilaian metode analytic apabila digunakan untuk menilai kemampuan ketrampilan yaitu dengan menggunakan checklist. Penggunaan bentuk reliabilitas tes-retes yang menjadi masalah adalah selang waktu pelaksanaan pengukuran. Penilaian “Performance Assessment” Karya Seni Lukis Anak Pendekatan yang digunakan dalam performance assessment adalah metode holistic dan metode analytic . hal ini mengakibatkan meningkatnya koefisien reliabilitasnya. 116 . Sebaliknya jika selang waktu terlalu lama. Apabila selang waktu terlalu pendek subjek akan mengingat jawaban yang diberikan pada waktu pengkuran pertama. subjek akan memberikan jawaban yang lain karena hasil belajar selama waktu selang tersebut. dua peneliti menggunakan alat ukur yang sama untuk mengukur kemampuan seseorang kemudian hasil pengukuran tersebut dikorelasikan. Metode holistic adalah cara penilaian apabila para penskor (rater) memberikan penilaian secara keseluruhan dari hasil kinerja tes. c.Penggunaan korelasi intraklas dimaksudkan untuk memberikan indeks mengukur kesamaan pasangan skor dalam hubungannya dengan variabilitas total dari seluruh skor (Fernandes. Sedangkan metode analytic adalah apabila para penskor memberikan penilaian dari setiap aspek yang berhubungan dengan hasil kinerja yang dinilai. Cara lain untuk menilai reliabilitas adalah dengan menggunakan teknik intereter yaitu. 2003: 66).

1982: 8).Pelaksanaan kedua metode pendekatan tersebut dalam performance assessment karya seni lukis sebagai berikut: 1) Metode holistic Metode holistic dikenal juga dengan metode global yang bersumber dari ilmu jiwa global (Gestalt. pola. disebut metode ganzheit. Metode ini menganjurkan untuk menilai karya seni dari perwujudannya secara utuh. struktur atau suatu konvigurasi terpadu yang memiliki sifat-sifat khusus tidak dapat diperoleh dari penjumlahan bagian-bagiannya secara terpisah. Gestalt mempunyai sesuatu yang melebihi jumlah unsur-unsurnya. Menurut Garha (1980: 115) karya seni sendiri merupakan suatu Gestalt. lepas dari perwutuhan 117 . seluruh unsur-unsur pembentukannya harus mendukung ide atau ungkapan perasaan yang akan disampaikan penciptanya. totalitet) yang memandang bahwa suatu karya seni secara utuh yaitu keseluruhan bentuk. Suatu hasil karya seni rupa keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh bentuk yang dicapai saja tetapi oleh keberhasilan penyusunan unsur-unsur pembentukannya menjadi suatu kesatuan ungkapan. Tidak dari unsur-unsurnya yang dipandang tersendiri. Gestalt merupakan suatu aliran dalam psikologi dengan pokok pikiran utamanya bahwa suatu keseluruhan adalah lebih besar dari pada penjumlahan bagiannya (Dali. totalitet). Sudarmaji (1979: 23) mengemukakan bahwa Gestalt bersumber pada ilmu jiwa global (gestalt. dan Gestalt timbul terlebih dahulu dari bagian-bagiannya. Dengan demikian kesan keseluruhan dari karya tersebut menjadi salah satu pertimbangan memberikan penilaian suatu karya.

perspekif. 2) Metode analytic Penilaian dengan pendekatan penilaian analisis yaitu. Untuk menilai suatu karya seni berpendapat bahwa secara objektif. Hal ini mendukung yang dikemukakan oleh Duane dan Prebel (1967: 115) bahwa untuk mengukur kualitas artistik suatu karya seni dapat dilakukan dengan mengunakan prinsip seni. gelap terang. pewarnaan. kualitas karya secara keseluruhan tidak akan sama dengan kualitas unsurunsur yang membentuk karya tersebut. Dengan demikian dalam proses penilaian untuk mendekati objektivitas. bentuk/shape. dan organisasi unsur. menilai karya seni lukis anak dengan memerinci unsur-unsurnya. dan volume. Kemudian wujud dipisah-pisahkan lagi atas komposisi. proporsi. anatomi. hubungan antar unsur. Masih diperlukan suatu analisa yang mendalam berdasar suatu prinsipPrinsip yang dimaksud dalam karya disini adalah penerapan prinsip seni. warna. Ganzheit tidak mencukupi. Hal ini berdasarkan pendapat Sudarmaji (1979: 23) yang mengatakan bahwa: pendekatan analitik menilai dengan secara terpisah bagian-bagiannya misal dilihat dari isi atau tema. dan sebagainya.Dengan demikian apabila dihubungkan dengan kualitas karya seni lukis. Sesungguhnyalah 118 . kedua metode tersebut sebaiknya digunakan secara bersamaan. Soedarso (1987: 85) pada saat seseorang ingin mengadakan penilaian. Pendekatan ini. garis. Gelap terang. memandang bahwa karya seni lukis anak dilihat sebagai suatu komposisi bentuk yang dapat dipahami melalui peranan elemenelemen bentuk seperti garis.

Pelaksanaan penilaian dilakukan dengan mengamati peserta didik dalam melaksanakan tugas yang diberikan dalam proses pembelajaran dengan tidak mengganggu aktivitas belajar peserta didik.In art education. Aspek yang Dinilai dalam Karya Seni Lukis Sesuai dengan prinsip performance assessment yang telah diuraikan di atas. a. 3.Karena proses penilaian membangun bimbingan terhadap peserta didik dan memperjelas tujuan dan pemenuhan dalam proses pembelajaran. Menurut Conrad (1964: 271) the processes of evaluation help to build guides and to define and clarity the purposes and accomplishments of the educational processes. (b) hasil karya atau produknya. the evaluation prosesses are natural parts of art activity. namun perlu pula dilihat bagian-perbagian.penilaian karya seni lukis anak yang didasarkan pada objek secara keseluruhan (global). Berikut ini penilaian proses dan penilaian produk karya lukis peserta didik. Penilaian Proses Karya Seni Lukis Tujuan penilaian proses karya adalah untuk mengamati kompetensi peserta didik dalam berkreasi membuat karya seni lukis. maka penilain proses sangat diperlukan apalagi proses penilaian merupakan bagian yang alami dari aktivitas seni. performance assessment mempunyai dua karakteristik dasar yaitu: (a) peserta didik diminta mendemonstrasikan kemampuannya dalam membuat kreasi suatu produk atau terlibat dalam aktivitas perbuatan. Agar pengamatan pendidik lebih 119 . Dengan demikian penilaian karya seni lukis peserta didik meliputi dua aspek yaitu aspek proses pembuatan karya dan aspek hasil karya seni lukis peserta didik.

perlu dilengkapi dilengkapi dengan instrumen non tes yaitu check list atau skala rentang. bagaimana penanganan alat dan bahan yang digunakan. bagaimana kelancaran ekspresi mareka. pendidik melakukan penilaian dengan secara langsung mengamati bagaimana peserta didik membuat karya lukis. 120 . Teknik non tes bukannya tidak mengandung kelemahan seperti halnya teknik. bagaimana cara memecahkan masalah penciptaan yang mungkin mereka jumpai. bagaimana peserta didik memanfaatkan waktu. yaitu terutama penampilan-penampilan peserta didik dalam aspek afektif dan psikomotorik. bagaimana mereka membangun dan mengorganisasikan kesatuan-kesatuan estetis. cara maupun metode yang lain. Selama kegiatan proses belajar mengajar berlangsung dalam pembelajaran seni lukis. Sesungguhnya kemampuan-kemampuan peserta didik yang dikembangkan dalam pendidikan seni rupa lebih banyak dalam bentuk penampilan yang sulit diukur dengan tes. Dengan instrumen teknik non tes akan diperoleh data akurat dengan tidak kehilangan aktivitas yang dilakukan oleh peserta didik. dan lain sebagainya. Non tes digunakan tatkala pengertian evaluasi tidak sekedar identik dengan testing tetapi mempunyai pengertian yang lebih luas yaitu suatu proses penentuan nilai-nilai fenomena-fenomena yang secara edukasional relevan (Eisner. dan komprehensif untuk memperoleh data yang akurat dengan tidak kehilangan aktivitas yang dilakukan peserta didik. sistematis. tetapi apabila dikembangkan secara kreatif dan diinterpretasi secara bijaksana dapat memberikan informasi evaluatif yang memiliki tingkat kesahihan (valid) tinggi.terarah. 1997: 204).

Relatif tidak sulit untuk ditetapkan kriteria keberhasilan peserta didik yang dapat dikenakan pada hasil belajar yang dapat diukur secara objektif melalui tes. simbol-simbol personal. bagaimana menyiapkan alat-alat dan bahan untuk melukis. seni garfik. misalnya apresiasi. Inspirasi-inspirasi. dan sebagainya.Dalam pendidikan seni rupa. penguasaan teoritis kesenirupaan dan keterampilan-keterampilan bersifat non ekspresif. seperti kemungkinan-kemungkinan ekspresif-kreatifestetis dari lukisan. seperti dikatakan oleh Eisner (1997: 211) sebagai berikut: “Many of the most highly prized outcomes of art education are not capable of being stated in advance in the form of instruction objectives”. Tidak mudah orang meramalkan secara pasti yang akan terjadi sebagai hasil aktivitas tersebut. 121 . penemuan-penemuan ide. Tetapi kegiatan-kegiatan seni rupa yang bersifat ekspresif-kreatif-estetis sulit untuk terlebih dahulu ditetapkan kriteria keberhasilan objektif yang dapat diberlakukan secara klasikal. melainkan dengan usaha menemukan kualita-kualita berharga dalam proses dan hasil kerja peserta didik. patung. Penilaian di bidang ini lebih tepat tidak dengan penggunaan kriteria yang ditentukan terlebih dahulu untuk standar pencocokkan tingkah laku atau hasil kerja peserta didik. dan lain sebagainya. menyiapkan bahan dan alat untuk membuat patung. kemungkinan-kemungkinan penciptaan yang tidak terduga sebelumnya yang muncul dalam proses berekspresi dan berkreasi dengan media seni rupa merupakan hasil pendidikan seni rupa yang sulit diterapkan kriteria ekstrinsik dalam tujuan pendidikan. Usaha menemukan kualitakualita berharga dari proses dan hasil kerja peserta didik dalam hal ini lebih banyak dapat ditempuh lewat non tes.

Mekanisme penggunaan instrumen-instrumen tersebut pada dasarnya adalah sepenuhnya di tangan pendidik. Hal-hal yang bersifat personal dalam aktivitas penciptaan tersebut merupakan data pelengkap yang sangat diperlukan dalam rangka usaha penilaian untuk melihat peserta didik secara objektif. terutama hal-hal yang sangat bersifat personal seperti: kelancaran dan kepuasan ekspresinya. rating scale. Disini dapat dituliskan juga tentang alasan-alasan dari pendapat dan keterangan yang diberikan tentang karyanya seperti pada contoh format Tabel 3. Untuk keperluan tersebut De Francisco-Italio (1958: 224-227) mengembangkan apa yang disebut: Pupil’s Self-Evalution Form. Data yang terkumpul adalah data yang tertangkap oleh kacamata pendidik. tentang nilai-nilai baru yang dapat dipetik dari pengalaman mencipta.Di depan telah disebutkan bahwa instrumen non tes antara lain chek-list. dan alasan-alasan kondisional lainnya. dapat dipastikan bahwa selalu ada data evaluatif yang sebenarnya relevan tetapi tidak sempat tertangkap oleh kacamata tersebut. dan catatan anecdotal. pendidik seni rupa dapat mengumpulkan data yang mungkin tidak terjaring oleh 122 . Karya seni rupa peserta didik sebagai visualisasi visi dan idea peserta didik tidak selalu dengan mudah dapat dibaca. Mengingat kepekaan kacamata pendidik yang relatif terbatas dan bahwa proses dan hasil penciptaan karya seni rupa menyangkut segi jiwani yang kompleks. Melalui pengisian format seperti pada Tabel 3 oleh peserta didik. yaitu suatu format yang dapat digunakan peserta didik untuk menerangkan hasil kegiatannya dalam bidang seni rupa sesuai dengan pendapat dan perasaannya.

Pupil’s Self Evaluation Form (Sumber: Francisco.kacamatanya. penjurian oleh sekelompok peserta didik bergantian menilai karya-karya seni rupa di kelasnya dan dapat pula dilengkapi dengan class discussion system yaitu diskusi kelas untuk membahas karya-karya tersebut. tetapi merupakan sesuatu yang dihayati dan dirasakan oleh peserta didik yang bersangkutan. Selain dengan menggunakan format seperti di atas. Tentunya semua ini sesuai dengan tingkat 123 . Peserta didik perlu memahami proses pembelajaran. untuk mendapatkan masukkan data evaluatif dari pihak peserta didik De Francisco-Italio menggunakan yang disebut The Jury System yaitu. Tabel 3. 1958: 227) PUPIL’S SELF EVALUATION FORM Pupil ‘s Name __________________ Date ____________ Grade _________________________ Very Good I think my picture is I think my linoleum cut is I think my illustration is I think my modeling is I think my weaving is Good Fair Poor Reasons I Think So Sesungguhnya penilaian atas karyanya sendiri merupakan hal yang penting dalam bidang seni. Pendidik harus mempertimbangkan baik perkembangan personal maupun perkembangan akademik. dan pendidik memahami apa yang dianggap peserta didik menarik atau penting dalam sebuah tugas yang diberikan Dalam hal ini perlu peserta didik menjadi mengetahui tentang dirinya sendiri.

Tabel 4. The most important things I got out of this project were: __________ __________________________________________________________ __________________________________________________________ Dengan pengisian dan pengumpulan format di atas. I thought this project was: Boring ___ ___ ___ ___ ___ Exciting 2. mudah atau sulit. This project was my: Worst piece Best piece of work ___ ___ ___ ___ ___ of work 5. serta pengalaman-pengalaman berharga mana yang berhasil dipelajari dalam kegiatan tersebut dan seterusnya seperti dapat dilihat pada Tabel 4. pendidik dapat memperoleh informasi tentang pengaruh suatu kegiatan seni rupa bagi para 124 . bermanfaat atau tidak. Untuk melengkapi objektivitas penilaian Eisner (1997: 223-204) menyarankan penggunaan format penilaian oleh peserta didik sendiri yang disebut: Student Self-evaluation form yang dapat memberikan informasi dari tiap peserta didik. I found the work on it: 3. Student Self Evaluation Form (Sumber: Eisner. I think I learned: From this project Easy A lot ___ ___ ___ ___ ___ Difficult ___ ___ ___ ___ ___ A little 4. apakah suatu kegiatan seni rupa itu menarik atau membosankan.perkembangan paserta didik tersebut. Data yang terkumpul di atas tidak saja bermanfaat untuk melengkapi pertimbangan penentuan hasil penilaian. hasilnya baik atau buruk. tetapi juga diperlukan dalam rangka peningkatan bimbingan peserta didik selanjutnya. 1997: 203) Student Self-Evaluation Form Name _________________________________ Date __________________________________ Name of Project ________________________________ Date Completed ________________________________ 1.

melainkan juga apa yang perlu peserta didik ketahui tentang dirinya sendiri. menyarankan penggunaan teknik lain yang juga berguna untuk evaluasi dalam pendidikan seni rupa adalah apa yang disebutnya The Group Critique. prosedur demikian memungkinkan peserta 125 . kemudian yang bersangkutan diminta menjelaskan karyanya dan selanjutnya kelompok peserta didik yang lain memberikan respons dalam bentuk bahasan kritis. dengan demikian terkembangkan sikap oto kritis peserta didik. kadar keterlibatan mereka dalam kegiatan. yaitu peserta didik diminta menunjukkan satu atau dua karya mereka secara bergiliran. Beberapa keuntungan dengan cara demikian adalah: pertama. Berdasarkan pengisian format di atas. para peserta didik mendapatkan kesempatan untuk mengungkapkan apa yang telah dilakukan atau dihasilkan dari suatu kegiatan berkarya.peserta didik. Selanjutnya Eisner sebagaimana menurut De Francesco-Italio. Kedua. Menurut Barrett: “ In art the pupils perception of the learning process is the starting point for teaching” and “we must ask not only what we need to know as teachers but what the pupils need to know about themselves”. tingkat kepuasan mereka dan lain sebagainya. Dengan demikian proses pembelajaran merupakan titik tolak untuk pengajaran dan sebagai pendidik harus menanyakan tidak hanya apa yang perlu diketahui oleh pendidik. apa yang telah berhasil mereka pelajari dari kegiatan tersebut. Kumpulan format-format yang masuk ketangan pendidik setiap kali selesai kegiatan akan merupakan rekaman data penilaian peserta didik sendiri terhadap perkembangannya secara kontinyu dalam olah seni rupa selama satu satu tahun akademik berlangsung.

Penilaian Produk Karya Seni Lukis Pada prinsipnya tujuan penilaian produk seni lukis adalah untuk melihat kompetensi peserta didik dalam membuat karya cipta seni lukis. but the description prompts the question: how can something which is unique generate criteria for evaluating other unique objects? Sifat unik ini mempunyai sifat satu-satunya dan hanya 126 .didik secara sistematis mengetahui bagaimana perkembangan peserta didik yang lain. Dengan demikian penetapan kriteria harus disesuaikan dengan perkembangan usia anak dan kriteria tidak bersifat kaku. New criteria must be formulated for each group of children because children are constantly growing and changing in their thinking. The processes of evaluation help to build guides and to define and clarity the purposes and accomplishments of educational processes. Salah satunya pendapat Aspin dalam Ross (1982: 66) yang menyatakan bahwa: Work of art is correctly described as “unique particulars”. Bagaimana mereka menangani problem-problem. dan keberhasilan-keberhasilan dalam berkarya. Kriteria untuk melakukan penilaian produk karya seni lukis cukup sulit karena adanya keragaman cara pandang terhadap karya seni. b. Oleh karena itu kegiatan penilaian memerlukan kriteria. Dalam hal ini pendidik memfokuskan perhatiannya pada hasil karya lukis yang diciptakan oleh peserta didik yang tentunya tidak terlepas dari proses penciptaannya. Conrad (1964: 271) menjelaskan bahwa: Evaluation criteria are not rigid. Dengan demikian terkembangkan sikap apresiatif peserta didik. their abilities. prosedur demikian memberikan kesempatan dan bahan bagi pendidik untuk menggunakan komentar-komentar peserta didik sebagai masukkan diagnostik dan remedial. and their knowledges. Ketiga. kegagalan-kegagalan.

karena masing-masing kepentingan tidak ada titik temu. It contends that judgements about the merits of art work can be justified with reference to publicly agreed criteria. Lebih jauh lagi dalam dokumen APU (“Aesthetic Development”. Sehubungan dengan kriteria pada penilaian karya seni tersebut di atas.g. is that judgements and interpretations should be informed with considerable consensus about the criteria to be applied when determining quality.berlaku untuk karya tersebut sehingga untuk menilai karya yang lain. dan setiap proses intersubjektif selalu mendatangkan konflik. Hal ini menunjukkan bahwa penilaian dari suatu pekerjaan seni tidak hanya konsisten secara konseptual tetapi diperlukan juga praktisnya. meminjam dari penilaian kritik. Sumardjo (2000: 48) mengatakan bahwa meskipun seni itu kontekstual secara 127 . Baik buruknya pekerjaan seni dibenarkan dengan adanya referensi dari kriteria-kriteria yang disetujui oleh khalayak umum. 1983: 5) menyebutkan bahwa: What matters most in the arts as in science. Dengan demikian pada waktu menentukan kualitas karya diperlukan kriteria-kriteria yang merupakan konsensus dan sudah dipertimbangkan terlebih dahulu. Pepper (1973: 451) berpendapat bahwa bisa saja perbedaan yang terjadi disebabkan oleh pandangan kontekstual yang tidak sama. but also practicably desirable. Heyfron (1986: 56) berpendapat bahwa: … that the arts are not fundamentally different from other subjects in the curriculum (e. Namun demikian. sulit menerapkan kriteria yang sama Perdebatan-perdebatan yang sering terjadi karena perbedaan pemahaman. science) and that a high degree of consensus about criteria appropriate for judging art work is not only conceptually consistent with the notion of art. Disini penilaian dapat dilihat sebagai suatu proses intersubjektif.

Dengan demikian ada sejumlah kriteria untuk penilaian yang dapat diterapkan pada seni dan kriteria adalah eksplorasi total atas media dan penggunaan media yang unik. subordination of ornamention to form. Menurut Waterman (1959: 382-383) …there are a few criteria for judgment. They are complete exploitation of media. dan seni merupakan bentuk ungkapan manusia. ekspresivisme. Untuk memberikan dasar pertimbangan penilaian. however. relation of form to matter. which is just as important. Ditinjau dari kebermaknaan keberadaan kriteria penilaian bagi pendidik dan peserta didik salah satu pendapat sebagai berikut.bentuk dan isi. It is fundamental that teachers see assessment criteria as a means to support and sustain students' work. are not “sure alls” or “cure alls” for the making of the perfect art product. disodorkan dasar pemahaman yang sama dalam metode pertimbangan penilaian suatu yakni formalisme. maka dapatlah dibuat suatu pendekatan untuk membuat kriteria dari suatu penilaian hasil karya seni dalam hal ini karya seni lukis anak. It is essential that students see assessment criteria as a tool to help them progress in their work. namun ada pula nilai-nilai yang sifatnya universal karena struktur jiwa manusia itu sepanjang sejarahnya sama. which apply to the arts. Mamannoor (2002: 49) mengatakan bahwa berdasarkan banyak referensi. Kriteria tersebut dapat membantu untuk memahami seni sebagai perwujudan suatu pengalaman. etc. Assessment will go wrong from the outset if students or teachers see it as a way of controlling work and imposing ideas.These criteria. 128 . help us to understand art as a manifestation of experience. They can. implicitly or explicitly recognized in analytical criticism and capable of formulation. the unique use of the media….. dan instrumentalisme. Coney (1999: 2). Berdasarkan sifat universal dari seni itu sendiri.

texture dan sebagainya. Sudarmaji (1979: 33) menyatakan ukuran seni yang menitik beratkan pada factor wujud (form) disebut formalisme: yaitu bentuk. bahwa pertimbangan penilaian formalisme menempatkan mutu artistik pada suatu kualitas yang terintegrasi dalam pengorganisasian secara formal dari suatu karya seni rupa. pelaksanaannya menempatkan unsurunsur estetika sebagai tinjauan utamanya bersifat representatif dari bentuk-bentuk signifikan yang dikandung dalam karya seni tersebut. termasuk unsurunsur yang dialami oleh pembuat karya. atau hasil 129 . komposisi. Bell (1968: 26) mengatakan bahwa. Dengan demikian pertimbangan penilaian formalisme menekankan pada tinjauan terhadap unsur-unsur visual yang terorganisasikan dalam komposisi sebuah karya seni rupa.Pertimbangan penilaian formalisme. memodivikasi. dorongan untuk berkomunikasi menunjukkan kebutuhan dirinya sendiri yang lebih kuat dari pada keinginan untuk menghiasi. Selanjutnya Feldman (1967: 459) memberikan contoh sederhana pada dunia ekspresi anak-anak sebagai berikut: bagi anak-anak. suatu pertimbangan penilaian yang cenderung melihat faktor pencipta karya sebagai orang yang melibatkan unsur-unsur pribadinya kedalam proses penciptaan karyanya. harmoni. Sehubungan dengan hal tersebut Feldman (1967: 446) menjelaskan. Pertimbangan penilaian ekspresivisme. 1979: 33). Ekspresivisme adalah sebutan untuk apresian yang cenderung menilai karya seni dari segi ekspresi (Sudarmaji. bentuk-bentuk signifikan suatu karya seni rupa merupakan kualitas umum sebuah karya seni rupa. Dengan demikian penilaian formalisme lebih mengutamakan pembahasan karya tanpa harus mendalami atau menelursuri apa yang ada didalamnya.

moral. sosial. karena karya-karya seni rupa kontemporer biasanya dilatarbelakangi motivasi tertentu. politik. melainkan suatu kajian yang berkaitan dengan hal-hal yang melatarbelakanginya. dan sebagainya. mengandung makna kontekstual. Feldman (1967: 463) mengatakan bahwa penilaian instrumentalisme tidak hanya mengutamakan penyampaian gagasan dan pengejawantahan kehendak (seperti pada penilaian ekpresivisme). perspekif. dapatlah dirumuskan suatu pengertian bahwa untuk memberikan suatu penilaian pada karya seni dan sampai pada suatu keputusan diperlukan kriteria yang menjangkau tiga hal yaitu. proporsi. Dengan demikian pengungkapan perasaan dan gagasan-gagasan menjadi pertimbangan yang utama dalam penilaian ekspresivisme. pertama hal yang meliputi unsur-unsur visual yang terdapat pada karya tersebut antara lain: bentuk.akhirnya sampai mencapai arti ‘keindahan’ yang dapat dimengerti oleh orang dewasa. Pertimbangan penilaian instrumentalisme. 130 . komposisi. anatomi. Seni rupa buatan anak-anak sering dinikmati melalui khayalan dan dirancang dengan warna bebas yang tak bisa dirintangi. Mamannoor (2002: 52) mengatakan bahwa gagasan-gagasan orisinal seorang seniman (pencipta karya) yang ditampilkan melalui suatu karya seni rupa sangat penting untuk dijadikan sebagai kriteria penilaian. gelap terang. religi. Berdasarkan ketiga pertimbangan penilaian di atas. Dengan demikian penilaian secara instrumental sering digunakan dalam penilaian karyakarya seni rupa kontemporer. yaitu ketika proses penggubahan seni rupa mengacu pada unsurunsur yang melatarbelakangi pencipta seni misal budaya. Konsekuensinya dari hal tersebut di atas.

Dengan demikian. Suatu hasil karya seni akan berhasil apabila pembuat karya sensitif terhadap media yang digunakan. ide. makna konstektual yaitu suatu kajian yang berkaitan dengan hal-hal yang melatar belakangi proses penggubahan karya. Duane dan Prebel (1967: 127) mengemukakan bahwa: “…Criteria upon which many art professionals agree include degree of originality. design. Pada lukisan anak-anak dimana melukis merupakan suatu pengalaman berkarya. teknik. and consistency of concept.pewarnaan. tidak meniru karya yang sudah ada atau karya orang lain. menggunakan konsep. Ketiga. Untuk menentukan tingkat originalitas suatu karya lebih dititikberatkan pada ide. Aspek tingkat original pada suatu hasil karya seni adalah terkait dengan sikap dari pembuat karya yang mengutamakan keaslian karya. cocok untuk digunakan dengan teknik transparan. dan sebagainya. misal cat air mempunyai karakter lembut. keterlibatan unsur-unsur pribadi melalui proses pengungkapan perasaan dan gagasan-gagasan dari pembuat karya. secara umum pada aspek original dituntut kreativitas dalam menciptakan karya seni. dan kepribadian. tidak ada kecenderungan untuk meniru karya orang lain. bentuk visual. Aspek sensitif menggunakan material berkaitan dengan penguasaan media yang digunakan untuk mewujudkan karya seni. kreativitas. Kedua. anak bekerja dengan kebebasan emosi dalam mengungkapkan isi hatinya. sehingga karyakarya mereka benar-benar murni. memiliki pengetahuan tentang karakter masing-masing media. Cat minyak 131 . sensitivity to the appropriate use materials. and execution”. atau pengalamannya sendiri. Selanjutnya berkaitan dengan penentuan kriteria.

irama. Aspek pelaksanaan. sehingga akan memberikan efek pengamatan yang berbeda dari masing-masing karya. anak sering menggunakan lebih dari satu macam. misal bagaimana penggunaan bahan dan alat dimulai dari persiapan sampai dengan sentuhan akhir dalam pembuatan karya. dan sebagainya. keseimbangan. dengan demikian masalah teknis pemakaian bahan dan alat serta umur anak merupakan sesuatu hal yang perlu diperhatikan dalam menilai lukisan anak. Mereka akan semakin baik dalam penguasaan media. asyik. yaitu antara lain nilai kesatuan. Aspek kriteria desain menitik beratkan pada unsur desain yaitu kaidahkaidah komposisi. proporsi. kontras.yang mempunyai sifat menutup. semakin bertambah pula pengalaman dan tingkat penalarannya. bahan . bagaimana anak dalam mengerjakan tugas apakah merasa senang. atau bahkan merasa 132 . dapat dilihat dari keseluruhan aktivitas peserta didik yang meliputi langkah-langkah dan prosedur dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh pendidik. Pada anak-anak dalam berkarya. dan sebagainya. Dewobroto (2002: 9) berpendapat bahwa semakin bertambah umur si anak. Bahkan ada yang mengkombinasikan teknik goresan dengan teknik tempel dari elemen lain. Dikatakan tidak konsisten dengan konsep dalam membuat karya apabila karya yang dibuat bentuknya tidak menunjang tema. Aspek konsistensi dengan konsep merupakan suatu karya seni yang mengandung suatu konsep dari pembuat karya yang disampaikan lewat hasil karya seninya. Konsisten tidaknya pembuat karya terhadap suatu konsep tampak pada tema dan bentuk visual pada karyanya. dan alat.

Kemampuan dalam menggunakan alat dan media e. dan growth in art skills. Kerjasama dalam “cleaning up” setiap akhir periode 133 . Kerapian dan rupa secara umum dari sebuah karya seni f. Sampai dengan penerapan kaidah etis dan etika. Keaslian ide-ide c. Ada dua variasiyang dikemukakan. Apresiasi terhadap karya anak-anak lain h. social growth. pertama meliputi: personal growth. Variasi yang pertama dan indikator yang dikemukakan sebagai berikut: Personal growth. dan growth in art skills. Tanggung jawab terhadap penyelesaian sebuah karya seni g. Pemakaian dan pemilihan warna d. Lain lagi yang dikemukakan Conrad (1964: 274) membuat kriteria dengan variasi yang meliputi: personal growth. Kontribusi terhadap proyek kelompok c. a. social growth. dan yang kedua: personal growth. misal kebersihan karya tidak terkesan kotor merupakan sesuatu yang termasuk dalam aspek pelaksanaan. Evaluasi atas usaha sendiri Social growth a. Kemampuan untuk mengikuti petunjuk umum b.tertekan sehingga tidak lancar dalam penuangan idenya. Kemungkinan akan kerjasama d. social growth. Tertarik pada seni ekspresionis b. Tanggung jawab dalam perawatan bahan e.

Ketertarikan akan seni b. Ketrampilan menggunakan cat. dll. Ketrampilan dalam bahan tiga dimensi d. Menghormati karya orang lain Growth in art skills a. tinta. social growth. Heyfron (1986: 69) menyarankan sebagai berikut: 1) the possibility of intersubjective agreement 134 . Kerapian dan rupa secara umum dari sebuah karya seni e. Keaslian c. Ketrampilan mendesain kemampuan untuk mengorganisasi ide b. masing-masing indikator sebagai berikut: Personal growth a. Kerjasama dengan yang lain c. Kemampuan dalam menggunakan alat dan media. Pengalaman teknis Pengunaan dari masing-masing variasi dan indikatornya tergantung dari hasil diskusi yang disepakati bersama. Berkenaan dengan penentuan kriteria yang ditetapkan untuk tujuan objektivitas penilaian. Kontribusi terhadap kelompok b. krayon. dan growth in art skills. d. Tanggung jawab terhadap penyelesaian sebuah karya seni Social growth a. Penemuan e. c.Variasi yang kedua meliputi: personal growth. kapur.

dalam penelitiannya dengan mengadakan survei pada semua tes yang dipublikasikan bagi anak sekolah tingkat dasar.2) truth to the nature of the phenomenan under investigation 3) the identification of “reasonable” grounds for supporting judgements Mengacu pada pendapat para ahli di atas. sedangkan karya seni rupa lebih dominan pada komponen emosi. sebagain besar testes yang diberikan pada tujuan-tujuan seni tidak dirancang sebagai tes-tes kesenian melainkan sebagai tes-tes untuk perkembangan kognitif. dan pelaksanaannya sangat diperlukan. kesesuaian penggunaan media atau material. Dalam hal ini seorang pendidik seni rupa dituntut untuk mempunyai kepekaan pengalaman estetik yang tinggi dan wawasan yang luas tentang perkembangan karya seni rupa. E. desain. Dengan demikian kepekaan pengalaman estetik seseorang untuk melihat tingkat original. Seperti diketahui bahwa untuk menelaah suatu hasil karya seni rupa tentunya harus dapat dijelaskan secara rasio. Hasil Penelitian Yang Relevan 1. Hasilnya kurang dari setengah dari tujuan-tujuan yang ada dalam kesenian memiliki tes-tes yang terstandarisasi. Bahkan. dalam penilaian karya seni rupa untuk melihat kualitas dan sampai pada baik dan tidak baik diperlukan suatu kriteria yang meliputi dua unsur yaitu fisiko plastik dan ideo plastik dan ada persetujuan antar subjek. sedangkan kekayaan konsep yang ada pada anak diketahui melalui inklusi dan definisi 135 . konsistensi konsep. kemudian mengevaluasi setiap tes dengan kriteria tertentu. dimana tes tersebut disesuaikan dengan sebuah tujuan kurikuler dan menunjukkan validitas isi yang paling besar. Hoepfner dkk.

simetri setangkup dan radial. Sedangkan perspektif yang digunakan adalah perspektif tutup menutup (realistis). Hal ini menunjukkan bahwa sangat masuk akal untuk berpendapat bahwa sebagian besar dari tes-tes yang dievaluasi dalam bidang seni tidak terdapat di sini. horizontal “segitiga”. tumpukan. Temuan penelitian ini adalah sebagai berikut: lukisan anak usia SD dilihat dari: (a) objek dan temanya mencerminkan kehidupannya dan menunjukkan adanya upaya anak untuk mengidentifikasikan diri dalam karyanya. 1983: 251-256). bahan. kendati validitas isinya diperingkatkan paling tinggi atau bahkan paling rendah (Ralph Hoepfner. dan menjelaskan mengenai: (a) visualisasi lukisan karya anak-anak usia SD ditinjau dari tema dan objeknya. (d) fenomena lukisan anak-anak usia SD dilihat dari aspek usia dan jenis kelamin. tujuannya untuk mencerminkan keadaan-keadaan afeksional pada penyesuaian psikologis. 136 . dan dokumentasi. memahami. burung. Pengumpulan data yang digunakan adalah observasi. Sedangkan tes yang mengungkap kesukaan anak. (b) komposisi dan perspektif lukisan anak. Sedangkan analisis data yang digunakan adalah analisis isi dengan fokus pada telaah kritis visualisasi lukisan anak-anak. diagonal. 2.anak-anak dalam upaya mereka menggambar orang dan benda-benda. Penelitian Ismiyanto (2002) pada sanggar seni lukis “Pangudi Luhur” Semarang dan sanggar seni Lukis “Gramedia” Jakarta. wawancara. (c) alat . dan teknik yang digunakan anak-anak dalam berkarya. mengetahui. dan angular. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi. (b) komposisi yang ditampilkan yaitu komposisi vertikal.

3. Perbedaan ini tampak tertutama pada pewarnaan dan goresan. Adapun hasil lukisan anak ditempat tersebut dapat dibedakan antara lukisan hasil anak laki-laki dan hasil anak perempuan. Hal ini berarti bahwa respon estetik siswa dapat digunakan untuk menilai kualitas lukisan serta bentuk dan kesan gerak pada lukisan. Analisis varians hasil pengukuran menunjukkan ada perbedaan respon estetik siswa 137 . Berdasarkan hasil penelitian ini. (d) berdasarkan kelompok usia tidak terdapat perbedaan dalam memvisualisasikan objek. perspektif. formal (potensi). dan simulatif (aktivitas). spontanitasnya. diperoleh informasi bahwa dalam melukis. anak laki-laki lebih spontan dan dinamis. baik dalam pewarnaan. (c) media yang digunakan adalah krayon dan/atau mixed media dan teknik yang digunakan dussel dan out-line (garis-garis kontur). Penggunaan semantik differential dapat aplikasikan untuk mengukur respon siswa tingkat SD terhadap hasil karya lukis yang dilihatnya. Ditinjau dari jenis kelamin terdapat perbedaan dalam pewarnaan dan goresan. komposisi. sifat alamiah seorang anak sering muncul dalam hasil lukisaanya. dalam melukis seorang anak berusaha untuk memvisualisasikan kehidupannya. Penelitian tentang instrumen pengukuran untuk mengukur respon estetik berdasarkan hasil penelitian Prihadi (2007) menyimpulkan bahwa penggunaan semantic differential ternyata mampu mengukur respon estetik peserta didik menurut faktor evaluatif. Hal ini dikarenakan. tetapi perbedaan tersebut tidak terdapat pada anak-anak kelompok kelas rendah pada usia SD.dan perpaduan perspektif burung dan tumpukan.

dan deformatif) dan tema lukisan (alam benda. potret pria. (3) originalitas. Sedangkan indikator penilaian produk sebagai berikut: (1) kesesuaian tema. dan potret wanita). (2) kreativitas. Penilaian yang dilakukan meliputi penilaian proses dan penilaian produk atau hasil karya. Karya 138 . (7) percaya diri. dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang digunakan adalah menggunakan pendekatan individual dengan metode pemberian contoh. (3) kesiapan bahan dan alat. yaitu anak-anak usia dini yang berjumlah 25 anak dengan usia antara 3 sampai dengan 7 tahun. (5) ketekunan. Pangumpulan data menggunakan metode observasi. semideformatif. Kombinasi media pastel dan cat air memberikan kesan mantap dan kuat dalam penggunaan warna. (6) keseriusan. wawancara. 4. (5) harmoni keseluruhan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan adanya interaksi pengaruh gaya dan tema lukisan terhadap respon estetik peserta didik. Untuk penilaian proses indikator yang digunakan adalah: (1) kelancaran membuat sket (2) penuangan ide. (4) pemahaman tema. Penelitian lain dilakukan Martono dan Retnowati (2007) tentang strategi pembelajaran seni lukis anak di sanggar Pratista Yogyakarta dengan subjek penelitian adalah anak-anak yang belajar melukis di sanggar tersebut. (4) pewarnaan. pemandangan alam.berdasarkan gaya lukisan (naturalistic. Metode pemberian contoh dengan sket di kertas kerja peserta didik dimaksudkan untuk memotivasi peserta didik melukis bukan untuk dicontoh atau untuk ditiru. Secara umum hasil melukis peserta didik di sanggar pratista menunjukkan adanya kedinamisan garis yaitu antara lain garis tebal dan kuat.

dan masingmasing dari 150 subjek diuji secara perorangan. Hasil penelitan menunjukkan bahwa anak-anak kelas lima memiliki evaluasi yang 139 . Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis faktor. analisis variasi dengan pengukuran berulang. dengan menggunakan pengukuran verbal dan non-verbal. dan sebelas. Tanggapan-tanggapan verbal diukur dengan instrumen diferensial semantik. delapan. dan pengukuran non-verbal memandang waktu dan rata-rata waktu (LT/RT). delapan. (2) untuk memeriksa baik peringkat verbal (pada diferensial semantik) maupun tanggapan-tanggapan non-verbal (looking time [LT] dan rating time [RT]). 5. Penelitian yang dilakukan Newton (1989) dari University of Missouri bertujuan untuk mengetahui/memeriksa tentang perubahan-perubahan perkembangan tanggapan estetis pada dimensi-dimensi stilistik dan isi rangsangan seni dengan menggunakan tanggapan verbal dan non-verbal. dan sebelas) pada tanggapan subjek atas rangsangan seni. Masalah yang diperiksa dipilah ke dalam tujuantujuan sebagai berikut: (1) untuk memeriksa efek-efek perkembangan usia (kelas lima. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan slide-slide lukisan secara bertahap pada subjek- subjek sekolah dasar dan menengah. dan (4) untuk meletakkan dimensidimensi penting di dalam beragam skala diferensial semantik. dan the Fisher Least Significant Differenc. Tingkatan kelas subjek adalah kelas lima.lukis peserta didik menggambarkan dunia anak dengan tema pilihannya sendiri sesuai dengan pengalaman dalam kehidupannya. (3) untuk menyelidiki efek-efek jenis-jenis rangsangan (dimensidimensi gaya dan isi slide-slide lukisan.

Kriteria penilaian yang bagus memberikan suatu bahasan. 6. Kriteria inipun bertujuan untuk membiarkan peserta didik membuat evaluasi sendiri mengenai kemajuan mereka. untuk bicara 140 . Pendidik hendaknya memberikan penilaian menyeluruh atas karya siswa dengan menyertakan alasan-alasan. Penelitian yang dilaksanakan oleh Coney (1999) tentang pentingnya kriteria untuk menilai hasil karya seni lukis anak. Sehingga siswa merasakan makna dari peningkatan. arti dari bertambahnya pengetahuan yang sudah mereka kuasai. Suatu kriteria telah dikembangkan untuk mencapai tujuan ini. baik kepada guru maupun siswa. dilatarbelakangi bagaimana membuat suatu penilaian menjadi sebuah elemen pembelajaran yang aktif dan bagian positif dari pengajaran. dan ketidakpastian/kemunculan yang lebih rendah (lebih familiar dan kurang kompleks). Penilaian dengan mudah disertakan dalam setiap tahapan suatu proyek.lebih tinggi. untuk membantu pendidik memahami bagaimana peserta didik beajar dari suatu proyek. Hal ini menunjukkan bawah anakanak kelas lima menunjukkan kesiapan dan keterbukaan yang nampaknya berkurang ketika anak-anak menjadi dewasa. dan menggugah semangat siswa untuk mengekspresikan ide-ide mereka kapada guru dan kelompoknya. dengan cara membangun kepercayaan diri. dan letak keunggulan dan kelemahan mereka. Kriteria penilaian memberi suatu kerangka bagi pendidik dan peserta didik untuk menentukan teknik-teknik dan aspek-aspek dari karya mereka yang mereka kerjakann dengan benar. dan LT/RT yang lebih panjang ketimbang anak-anak kelas delapan maupun sebelas.

mulai dari sikap menerima hingga menolak secara total. perlulah kiranya menyeimbangkan kebebasan siswa untuk mengeksplorasi dan merespon pengalaman-pengalaman dengan kebutuhan untuk berkembang dan mempelajari ketrampilan-ketrampilan yang tepat. Sudah diterima secara luas bahwa penilaian harus mengevaluasi perkembangan siswa. dan penilaian riil.mengenai kemajuan dan pembelajaran dalan suatu cara yang penuh makna. Banyak hasil pendidikan seni yang paling berharga tidak kapabel bila dibilang maju dalam bentuk tujuan-tujuan pengajarannya. Pada proyek dilengkapi dengan judul. Proyek terdiri dari empat aspek. Sebuah pandangan kompromis yang tercantum dalam tugas ini menerima prinsip penilaian. yaitu: melukis. dilakukan studi kasus yang dilakukan terhadap enam peserta didik dalam suatu proyek nyata. Sikap atas penilaian dalam bidang seni dan desain bisa bermacam-macam. penilaian diripun dibangkitkan demi membantu siswa memahami kemajuaanya sendiri. Selanjutnya atas dasar hal tersebut di atas. padahal pendidikan seni penting sekali untuk memupuk spontanitas dan eksperimentasi. tugas rumah. Dalam menentukan serangkaian kriteria untuk mengevaluasi karya seni dan desain. Dengan sebuah kerangka yang didesain untuk digunakan dalam setiap mata pelajaran selama berlangsungnya suatu proyek. dan memepermudah guru memahami pendekatan yang diambil siswa secara individual. Penilaian atas dasar kriteria yang dikembangkan dalam laporan ini. tujuan. kolase. sasaran. digunakan untuk merekam 141 . tetapi menemukakan pentingnya kreativitas.

(2) pengembangan ketrampilan teknis dan penggunaan bahan. 142 . seperti pengamatan penuh selidik atas wajah manusia atau atas bunyi ucapan manusia. serta peralatan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: kriteria-kriteria yang dikembangkan dapat mengekspresikan elemen-elemen krusial dari kemajuan dalam seni dan desain. Penelitian Freeman (1997) bertujuan ingin menjelaskan bagaimana seorang anak didorong untuk mengerahkan segala kemampuan internalnya dalam berbagai wilayah yang berbeda. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan kemampuan- kemampuan awal dari anak-anak. Dengan menggunakan model Karmiloff-Smith dikenal sebagai Representational Redescription Model (RRM). (5) pencapaian sasaran pembelajaran. teknik. (7) komitmen untuk menunaikan tugas rumah sebagai bagian dari riset untuk suatu proyek.kemampuan masing-masing dengan tujuh kriteria sebagai berikut: (1) kemampuan untuk mengamati dan merekam suatu pengalaman visual. 7. dan memberi keuntungan baik pada pendidik maupun peserta didik. (4) ekspresi dan kontrol atas ide-ide. yang diharapkan terbukti cukup flesibel untuk tugas-tugas yang berbeda. disalurkan dalam ranah perkembangan dengan pengaruh-pengaruh dari luar si anak maupun dari dalam anak. Model ini sudah umum dan telah diterapkan pada studi tentang bagaimana anak-anak menjadi kreatif dalam menggambar sesuatu yang belum pernah mereka coba sebelumnya. (3) minat dan motivasi serta penggunaan bahasa seni dan desain. (6) menekankan kembali batasan-batasan dari suatu proyek.

tetapi dari mereka yang 143 . Hal itu terjadi. Suatu imajinasi yang aktif atau fantasi kehidupan yang hidup tidak dengan sendirinya menjamin sebuah inovasi dalam ekspresi atau tindakan. Sayangnya. Tantangan tersebut biasanya dilontarkan dengan menyuruh si anak menggambar berdasarkan imajinasinya atau meminta si anak mengekspresikan fantasinya. Ini akan memudahkan untuk membedakan anak yang bertumpu pada kemampuan eksternal semisal “hantu” atau “raksasa” dari anak lain yang bertumpu pada sebuah kemampuan internal dan menciptakan sebuah lukisan yang sepenuhnya “keluar dari kepalanya sendiri. (c) dan berkaitan dengan penataan tindakan-tindakan praktis dan dengan demikian tidak mudah diuraikan untuk kepentingan pengaturan tindakantindakan inovatif. seturut model RRM. Modifikasi yang dibuat hanyalah meminta anak menjelaskan bagaimana mereka berhasil menggambarkan “sosok manusia yang belum pernah ada. pertama melibatkan 62 anak usia lima tahunan dan 62 anak usia sembilan tahunan. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen. tidak semua anak cukup eksplisit mengungkapkan penilaiannya.”. (b) kemungkinan besar tersimpan dalam otak secara terpisah-pisah sehingga keterhubungannya tidak diketahui oleh anak.Cara terbaik untuk melihat apakah seorang anak memiliki kemampuan internal ataukah tidak adalah dengan menugasinya menggambar sesuatu yang diperkirakan belum pernah ia lihat dan ia gambar sebelumnya.’. oleh karena representasi-representasi mental tahap awal (a) tidak sepenuhnya eksplisit dan dengan demikian tidak mudah diakses semau-maunya oleh anak.

Hal itu menegaskan bahwa ketika kemampuan-kemampuan internal untuk inovasi grafis meningkat. di kalangan anak-anak yang bertumpu pada sebuah model yang disebutkan sebagai eksternal tidak ada hubungan terjadi antara seberapa terkait ungkapan verbal mereka dan seberapa kreatif hasil karya mereka itu dinilai. mayoritas anak yang lebih muda usia (61 %) menyebut suatu karakter fiksional eksternal sebagai model mereka. 144 . Perbedaan ini secara statistik bersifat signifikan. Ini masuk akal mengingat kepercayaan atas suatu model eksternal tidak otomatis membuat anak akan lebih berhasil dalam membedakan lukisan.ternyata cukup eksplisit 36 anak usia lima tahunan dan 52 anak usia sembilan tahunan. dan mayoritas anak yang lebih tua (67 %) menerangkan bagaimana mereka membuat inovasi dari kemampuan-kemampuan internal mereka. dan barangkali bisa memantik ide-ide yang bermanfaat. Hal ini dapat dilihat pada: pertama. bertambah pulalah meteri verbal yang diperoleh begitu saja (tanpa usaha keras) dari anak untuk tujuan pembahasan karya. dari lukisan normalnya mengenai sosok manusia apa adanya yang sudah dikumpulkan sebelum eksperimen dimulai. Eksperimen ini membuahkan hasil yang selaras dengan eksperimennya Karmiloff-Smith: hanya 8 % dari anak yang lebih muda usia berani membuat lukisan yang silang kategori bila dibandingkan dengan 39 % dari anak-anak yang lebih tua.

Karya seni dilihat dari produknya mengandung nilai intrinsik dan nilai ekstrinsik.F. Pada anak-anak biasanya lebih bebas dalam berekspresi dalam mewujudkan suatu karya seni rupa. Pada karya sendiri terdapat elemen-elemen desain atau prinsip-prinsip seni yang tidak akan berubah. namun analisis histori membuktikan bahwa seni lazim merupakan alat untuk sesuatu yang lain. Tidak mudah untuk menyerap hal-hal yang tidak memiliki nilai apapun. Tetapi penggunaan elemen-elemen desain atau prinsip-prinsip seni. Kerangka Pikir Pada prinsipnya menilai karya seni harus menentukan dulu dasar yang digunakan untuk melakukan penilaian. Nilai intrinsik suatu karya seni yang sempurna sekalipun tidak akan lepas dari kualitas bahan yang dipakainya. bahan akan berubah seiring dengan budaya dan filosofis sosial yang diungkapkannya. karena pada umumnya orang memiliki tujuan ketika melakukan penilaian. Nilai ekstrinsik satu produk tertentu hanya bisa dievaluasi oleh keberhasilan empiris. Kriteria tidak mengakhiri suatu proses kreatif karena kriteria bukanlah suatu batasan-batasan. 145 . Sesungguhnyalah produk seni harus membenarkan keberadaannya. tidak takut salah. Dengan demikian untuk menilai suatu karya seni perlu pemahaman apa yang harus dilakukan bukan apa yang tidak bisa dilakukan. Karena ketidaktahuan inilah anak cenderung lebih bebas dan merasa leluasa. Garis. sehingga hasil karyanya terkesan jujur dan spontan. seni lukis misalnya karena anak relatif belum banyak pengetahuan tentang aturan-aturan/norma-norma yang mengikatnya. Karya seni yang dihasilkan menunjukkan kemurnian pengungkapan perasaan mereka.

Lingkaran mengindikasikan secara simbolis anak yang sedang mengidentifikasi diri sebagai suatu entitas fisik yang terpisah dari ibu dan sekaligus terikat dalam ketergantungan personal dengan ibu tersebut. sebuah kemampuan untuk memproduksi bentuk pun tercapai. Kegiatan anak-anak melukis adalah suatu cara untuk mengkomunikasikan perasaan dan gagasannya. dimana mereka mengembangkan daya ciptanya. dan tekstur bukan lagi sebagai elemen-elemen fisik. bentuk-bentuk tersebut juga merepresentasikan secara simbolis tugas-tugas kehidupan anak-anak yang masih kecil. tetapi mencerminkan ekspresi kejiwaan yang kuat. pengertian Lukisan tersebut dapat ditafsirkan dalam perkembangan dan dapat mengungkapkan informasi tentang kepribadian anak. perkembangan seni lukis anak ada tahapannya. Melukis bagi anak-anak sebentuk permainan.warna. Mulai masa bayi sampai masa dewasa awal anak melalui beberapa fase dasar perkembangan sebagaimana tercermin dalam seni. dan melalui manipulasi dan percobaan visual pada periode ini. Segi empat menyarankan 146 . dalam pengertian gestalt visual-motor. sesuai dengan bertambahnya usia anak. Bahkan hasil karya lukis anak dapat menunjukkan bagaimana seseorang anak berpikir dan menangani masalah. Pengalaman-pengalaman paling awal atas bahan merupakan sebuah karakter sensori-motor. Secara universal. Sementara bentukbentuk ini mungkin dengan mudah dapat dikenali dalam artian muncul dari karakter yang sederhana sampai ke karakter yang kompleks. dan sesungguhnyalah lukisan anak-anak mempunyai makna yang profan yaitu mengandung makna lebih dalam dari pada permukaannya.

tetapi ia sampai pada referensi rasional yang utuh dari bentuk dan ruang skematik pada usia tujuh tahun. atau anak akan menjadi ekstrovert perseptual-sosial dan tergantung pada visual dalam seninya. sedangkan anak perempuan akan cenderung mengidealisasi dirinya sendiri dalam citra wanita yang glamor dan matang. akan menjadi berorientasi pada kelompok karena adanya kebutuhan untuk mengidentifikasi dengan lebih mendalam peran seksual-diri. Identifikasi semacam itu membuat kecendrungan anak laki-laki untuk melebih-lebihkan proyeksi diri menjadi berupa citra yang mengerikan. Pada usia enam tahun anak mulai mapan di dalam dunia nyata dan menjadi bagian sosial dari interrelationship (hubungan di dalam struktur). Demikianlah perkembangan kepekaan artistik anak-anak yang terlihat dalam goresan-goresan karyanya pada usia 2 sampai dengan 6 tahun. Kualitas estetik yang tinggi dari referensi fisik-emosionalnya pada tahun-tahun awal sekarang disubordinasikan pada pengisahan yang ideologis. Sebelumnya ia telah mengumpulkan detil-detil dalam gambranya ketika ia tumbuh.penutupan-ego anak ketika ia mencoba mengklarifikasi diri dalam konteks lingkungannya. Tipe-tipe perseptual menjadi nyata dalam seni pada anak usia sembilan tahun ketika ia matang secara sosial. Seorang anak akan menjadi introvert perseptual-sosial dan haptik dan tidak tergantung pada bidang dalam seninya. Kemungkinan akan terjadi anak masuk dalam kedua tipe tersebut. dan pada kadar tertentu. Namun 147 . dan detil-detil tersebut mencerminkan pertumbuhan inteletualnya.

dan keberhasilannya. pendidik dapat menilai tingkah laku peserta didik. demikian juga untuk penilai/ penafsir dari karya lukis tersebut berdasar kriteria yang ada. Kepekaan artistik anak akhirnya terdesak oleh kemampuan logika yang melihat seluruh isi alam tidak lagi dari penghayatan seni dan imajinasi anak. the group critique untuk mengembangkan sikap oto kritis peserta didik dan mengetahui perkembangan peserta didik yang lain.kepekaan artistik ini akhirnya akan lenyap disadari atau tidak disadari. Karena di lapangan masih banyak kendala khususnya pendidik yang tidak memiliki pengalaman dan 148 . meliputi penilaian proses dan produk. penentuan kriteria pengukuran hasil karya lukis anak pada anak kelas 1 sampai dengan kelas 3 sekolah dasar sesuai yang tercantum dalam KTSP yaitu pada usia tujuh sampai dengan sembilan tahun kiranya harus melihat perkembangan usia dan tahapan perkembangan seni anak Dalam hal ini performance assessment yang digunakan untuk menilai kaya lukis anak. dan kepuasan anak. Mengingat seni sendiri sifatnya subjektif sehingga perlu suatu kesepakatan objektif dalam prosedur-prosedur yang diperlukan. bagaimana sikap. kegagalankegagalan. Untuk penilaian produk karya seni lukis peserta didik diperlukan kriteria. mengetahui masalah-masalah. Pendidikpun dapat menggunakan komentar peserta didik untuk masukkan diagnostik dan remedial. pemanfaatan waktu. Selanjutnya pada waktu proses pembuatan karya lukis. kelancaran dalam menggunakan media. baik karena perkembangan anak sendiri. dan juga lingkungan. Penilaian proses meliputi student self evaluation yang menghasilkan data pengukuran diri sendiri. Berdasarkan hal tersebut di atas. maupun proses pendidikan.

pendidikan khusus dalam bidang seni lukis,

maka perlu ada tindakan untuk

melatih pendidik menafsirkan karya lukis peserta didik dengan menggunakan kriteria yang sudah disepakati dan diujicoba. Penentuan kriteria instrumen seni lukis peserta didik yang dikembangkan tentunya harus memenuhi persayaratan instrumen yang baik yaitu persyaratan validitas dan reliabilitas. Validitas isi dan validitas konstruk yang digunakan untuk menguji kriteria instrumen ini. Untuk mencapai validitas isi, disusun kisikisi berdasar teori-teori yang melandasinya kemudian dibahas dalam suatu focus group discussion oleh para ahli di bidang seni rupa (expert judgment) khususnya seni rupa anak. Sedangkan untuk mengistimasi reliabilitas instrumen

menggunakan intereter dengan membandingkan antar penilai. Kriteria instrumen untuk menilai karya seni lukis peserta didik tentunya harus memenuhi komponen rasio dan emosi. Karena untuk menelaah suatu karya seni cenderung penjelasan secara rasio, sedangkan karya seni dominan dengan emosi yang pengungkapannya memerlukan kepekaan intuitif. Dengan demikian diperlukan kepekaan intuitif untuk menjelaskan secara rasional. Pendidik sebagai orang yang melakukan penilaian mestinya dituntut dengan kepekaan intuitif

tersebut, sehingga subjektivitas dalam penilaian dapat diminalisir. Kriteria instrumen digunakan untuk mengembangkan instrumen karya lukis anak yang mencakup proses dan hasilnya. Instrumen karya lukis anak yang dikembangkan harus diketahui karakteristiknya. Karakteristik instrumen penilaian meliputi kesahihan (validity), keandalan (reliability), dan rubrik, yaitu cara

149

pemberian skor. Selain itu hal yang penting adalah keterpakaian instrumen ini oleh guru di sekolah dasar.

G. Pertanyaan Penelitian Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka pikir di atas, maka pertanyaan penelitiannya adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. Bagaimana kriteria instrumen penilaian karya seni lukis anak? Bagaimana validitas konstruk instrumen penilaian karya seni lukis anak? Bagaimana reliabilitas kriteria instrumen yang dikembangkan? Bagaimana rubrik penilaian karya seni lukis anak? Sejauhmana instrumen penilaian karya lukis anak ini dapat digunakan oleh guru?

H. Hipotesis Uji Model Dalam rangka untuk melihat efektifitas model yang dibuat di lapangan, perlu dilakukan uji model. Untuk menguji model tersebut, digunakan hipotesis sebagai panduan untuk melakukan justifikasi apakah efektif atau tidak menurut pengguna. Uji model ini mencakup kriteria atau konstruk instrumen. Berdasarkan permasalahan penelitian dan kajian pustaka yang melandasi dan didukung oleh kerangka pikir, maka hipotesis penelitiannya sebagai berikut: 1. Konstruk instrumen penilaian proses seni lukis anak terdiri dari sikap,

pemanfatan waktu, cara menggunakan alat, kepuasan. 2. Konstruk instrumen penilaian hasil karya lukis anak terdiri atas kreativitas, ekspresi, ketrampilan penggunaan bahan dan alat (teknik). 150

3.

Instrumen yang dikembangkan berdasarkan konstruk instrumen penilaian proses dan produk akan menghasilkan penilaian yang andal (reliable).

4. Instrumen penilaian seni lukis anak yang dikembangkan dapat digunakan guru dalam menilai proses dan hasil karya lukis anak.

151

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Data Uji Coba Berdasarkan langkah-langkah tahapan pengembangan, data hasil uji coba disajikan secara berturut-turut berikut ini. 1. Data Studi Awal a. Hasil Analisis Kurikulum Analisis kurikulum dimaksudkan untuk mengetahui keterkaitan antara tujuan pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan (seni lukis) dengan standar kompetensi lulusan (SKL) tingkat satuan pendidikan sekolah dasar. Tujuan mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan di sekolah dasar dalam standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah adalah sebagai berikut. Mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan: (1) memahami konsep dan pentingnya seni budaya dan keterampilan; (2) menampilkan sikap apresiasi terhadap seni budaya dan keterampilan; (3) menampilkan kreativitas melalui seni budaya dan ketrampilan; (4) menampilkan peran serta dalam seni budaya dan keterampilan dalam tingkat lokal, regional, maupun global (BSNP, 2006:192). Dalam Permen 22 tahun 2006 dinyatakan bahwa Standar Kompetensi Lulusan (SKL) SD/MI secara umum adalah sebagai berikut. 1) Menjalankan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan anak 2) Mengenal kekurangan dan kelebihan diri sendiri 3) Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungannya 4) Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi di lingkungan sekitarnya 5) Menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kreatif

169

6) Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif, dengan bimbingan guru/pendidik 7) Menunjukkan rasa keingintahuan yang tinggi dan menyadari potensinya 8) Menunjukkan kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari 9) Menunjukkan kemampuan mengenali gejala alam dan sosial di lingkungan sekitar 10) Menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan 11) Menunjukkan kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa, negara, dan tanah air Indonesia 12) Menunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni dan budaya lokal 13) Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang 14) Berkomunikasi secara jelas dan santun 15) Bekerja sama dalam kelompok, tolong-menolong, dan menjaga diri sendiri dalam lingkungan keluarga dan teman sebaya 16) Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis 17) Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung Hasil analisis kurikulum menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan yang sangat erat antara tujuan pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan dengan

Standar Kompetensi Lulusan (SKL) tingkat satuan pendidikan sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah (SD/MI). Keterkaitan tersebut disajikan pada Tabel 5. Tabel 5 menunjukkan bahwa mata pelajaran Seni Budaya dan Ketrampilan mempunyai sumbangan yang cukup strategis terhadap pencapaian SKL SD. Hal ini berarti keberhasilan pembelajaran Seni Budaya akan mendukung keberhasilan pencapaian SKL SD, khususnya SKL No 5 sampai dengan 13, kemudian SKL No. 14 dan 15.

170

Tabel 5 Hubungan antara Tujuan Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan (PSB) dengan SKL Satuan Pendidikan SD No. Tjn. PSB 1 2 3 4 Nomor Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan SD 1 2 3 4 5 6 X X X X 7 X X X 8 X X X 9 10 11 12 13 14 15 16 X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X 17

X X X X X

b. Hasil Analisis Kebutuhan Lapangan Analisis kebutuhan lapangan melibatkan 20 orang guru yang mengajar mata pelajaran seni lukis. Ada 14 item yang diidentifikasi dalam studi awal ini, yaitu kurikulum, buku acuan, bahan dan alat, penentuan tema lukisan, minat anak, metode penilaian, prosedur penilaian, komponen yang dinilai, kriteria penilaian, penentuan skor, unsur kreativitas, kesulitan yang dihadapi, pandangan guru, dan partisipasi sekolah/anak dalam lomba lukis. Hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti berkaitan dengan masing-masing item tersebut dapat dielaborasi berikut. Pembelajaran seni lukis anak, 75% menggunakan kurikulum tingkat

satuan pendidikan (KTSP) dan sisanya 25% menggunakan gabungan KTSP dengan kurikulum sebelumnya. Informasi tersebut disajikan pada Gambar 47. KTSP yang dikembangkan berdasarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Permen No 22 tahun 2006 tentang standar isi pendidikan merupakan

kurikulum terbaru yang digunakan pada jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah. Kurikulum yang digunakan sebelumnya adalah kurikulum 2004, yaitu kurikulum berbasis kompetensi (KBK). KTSP pada dasarnya sama dengan

171

kurikulum 2004, perbedaannya hanya level standar kompetensi yang ingin dicapai dan cakupannya.

Gambar 47. Jenis Kurikulum Yang Digunakan Hasil Studi Awal Hasil wawancara menunjukkan bahwa hanya 5% guru menggunakan 85% guru,

buku acuan yang sesuai dengan KTSP. Sebagian besar guru, menggunakan

buku yang sesuai KTSP dan sumber lain, dan 10 % guru

menggunakan buku yang tidak sesuai KTSP. Infomasi kesesuaian buku yang digunakan dengan KTSP disajikan pada Gambar 48. Dalam kaitan dengan penyiapan alat dan bahan pembelajaran seni lukis, teridentifikasi ada 5 (lima) komponen yang menyiapkannya, yaitu

Gambar 48. Kesesuaian Buku Yang Digunakan Hasil Studi Awal

172

dan komponen kelima. 5% guru yang menyiapkan alat dan bahan Gambar 49. komponen ketiga. Data tersebut menunjukkan bahwa sekolah secara mandiri belum mampu menyediakan alat dan bahan yang diperlukan untuk pembelajaran Informasi tentang penyiapan alat dan bahan disajikan pada Gambar 49. Subjek Yang Menyiapkan Alat dan Bahan Hasil Studi Awal pembelajaran. serta gabungan siswa. guru. guru dan siswa. 173 .siswa. 25% siswa yang menyiapkan alat dan bahan pembelajaran. ada 30% tema ditentukan oleh guru sesuai dengan kurikulum. 10% guru. Dalam kaitan dengan penentuan tema lukisan tersebut. Komponen pertama. guru. dan sekolah yang menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam pembelajaran. dan sekolah. 40% sekolah dan siswa yang menyiapkan alat dan bahan. 10% tema ditentukan oleh siswa. Informasi ini disajikan pada Gambar 50. dan 60% tema ditentukan bersama antara guru dan siswa. 20% guru dan siswa yang menyiapkan alat dan bahan. siswa. komponen kedua. sekolah dan siswa. komponen keempat. Pembelajaran seni lukis diawali dengan penentuan tema yang akan dilukis oleh siswa.

174 . dan 10% siswa tidak berminat dalam melukis. Hasil identifikasi melalui wawancara diperoleh bahwa menurut persepsi guru ada 75% siswa memiliki Gambar 51. Hasil Studi Awal Subjek Yang Menentukan Tema Lukisan Penentuan tema merupakan tahap yang sangat krusial dalam pembelajaran seni lukis karena berkaitan dengan minat siswa. Distribusi minat siswa terhadap pelajaran seni lukis hasil studi awal disajikan pada Gambar 51. 15% anak kurang berminat. Minat Siswa dalam Belajar Hasil Studi Awal minat yang sangat tinggi.Gambar 50.

Informasi tersebut dapat disajikan pada Gambar 52. 30% guru menggunakan portofolio. Informasi tentang uraian dan prosedur dalam melakukan penilaian disajikan pada Gambar 53. Hasil Studi Awal Jenis Penilaian Yang Digunakan Guru Selanjutnya. 175 . metode penilaian yang digunakan memiliki karakteristik yang berbeda. Gambar 52. Dalam melakukan penilaian 60% guru memberikan uraian prosedur yang sesuai dengan langkah-langkah penilaian dan 40% tidak memberikan uraian prosedur. pengamatan perbuatan. termasuk uraian dan prosedur dalam memberikan penilaian. 20% guru guru menggunakan pengamatan dan tes menggunakan portofolio dan tes perbuatan. dan 5% guru tidak memahami metode penilaian.Metode yang digunakan guru dalam melakukan penilaian seni lukis siswa adalah 15% guru menggunakan metode pengamatan. portofolio dan tes perbuatan dalam memberikan penilaian terhadap siswa. 5% guru menggunakan portofolio. Kesesuaian prosedur dalam melakukan penilaian setidaknya dapat memberikan patokan bagi guru dalam upaya menghindari subjektifitas penilai. 15% guru menggabungkan metode pengamatan. 5% 5% guru menggunakan tes perbuatan.

Gambar 53. Informasi hasil studi awal ini disajikan dalam bentuk grafik seperti Gambar 54. 5% Gambar 54. Gambar 54 memberikan gambaran bahwa secara umum gabungan komponen proses dan produk merupakan objek penilaian yang dilakukan oleh guru. Hasil Studi Awal Kesesuaian Prosedur Yang Digunakan dalam Penilaian Dalam kaitan dengan komponen-komponen yang dinilai dalam pembelajaran seni lukis selama ini menunjukkan bahwa 40% hanya komponen produk. 176 . dan 55% komponen proses dan produk. Hasil Studi Awal Komponen Penilaian Guru komponen proses.

informasi ini disajikan pada Gambar 55. langkah selanjutnya adalah penentuan skor. ada 5% guru memberikan kriteria proses yang meliputi cara melukis. Kriteria proses meliputi sikap. Hasil Studi Awal Kriteria Penilaian Guru Komponen proses dan produk yang dinilai terdiri atas beberapa kriteria. dan komposisi bidang. Hasil wawancara peneliti dengan guru 177 . cara mewarnai produknya. Hasil studi awal menunjukkan bahwa ada dua macam penentuan skor dalam menilai karya lukis siswa yang dilakukan. pemberian huruf misalnya sangat baik. kurang baik (10%). Gambar 56 menunjukkan bahwa penentuan skor dalam penilaian seni lukis anak yang dilakukan oleh guru pada umumnya melalui pemberian angka. kesesuaian lukisan dengan tema sebesar 25% . Informasi tentang penentuan skor dalam penilaian seni lukis anak hasil studi awal ini disajikan pada Gambar 56. baik. Kriteria produk meliputi komposisi warna.Gambar 55. keberanian sebesar 70%. komposisi bidang. Setelah menetapkan kriteria untuk setiap komponen penilaian. yaitu melalui pemberian angka (80%). Di samping itu. kombinasi angka dan huruf (5%). semangat. Secara grafik. kesesuaian warna. dan yang menjawab tidak tahu (5%).

Hasil Studi Awal Jenis Penentuan Skor Penilaian oleh Guru tentang apa makna angka yang diberikan misalnya 60. 70% guru mengungkapkan dengan memperhatikan Gambar 57. guru tersebut tidak memberikan jawaban yang pasti. Hasil Studi Awal Unsur Kreativitas dalam Penilaian oleh Guru 178 . Skor angka yang diberikan pada hasil karya seni lukis anak belum dapat dijadikan sebagai dasar bagi guru untuk melihat kreativitas dari anak. semuanya serba kemungkinan. Hasil studi awal menunjukkan bahwa untuk melihat unsur kreativitas dalam sebuah produk hasil karya seni siswa.Gambar 56.

Kemudian peneliti menanyakan kepada guru tentang kesulitan yang dialami dalam melakukan penilaian seni lukis anak. Untuk mengatasi kesulitan tersebut. dan 30% guru belum mengungkapkan kriteria kreativitas anak. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi guru dalam melakukan penilaian seni lukis anak ternyata cukup banyak. informasi ini dapat disajikan pada Gambar 57. semua guru menyarankan perlunya instrumen penilaian yang praktis untuk mempermudah dan menyeragamkan 179 . Hasil identifikasi menunjukkan bahwa 40% guru mengungkapkan karena tidak ada pedoman yang Gambar 58. misalnya faktor-faktor yang dinilai kelengkapan peralatan dan bahan yang dibawa tidak memahami seni. Informasi ini disajikan pada Gambar 58. dan keseriusan siswa. siswa.kesesuaian unsur-unsur rupa serta kemampuan anak dalam mengembangkan ide. 35% guru mengungkapkan berasal dari siswa. 20% guru mengungkapkan dan 5% guru mengungkapkan tidak ada kesulitan. Secara grafik. Kesulitan Guru dalam Penilaian Hasil Studi Awal praktis untuk menilai.

dan 5% siswa tidak pernah mengikuti lomba. Sajian informasi tersebut dalam bentuk grafik dapat dilihat pada Gambar 60.penilaian yang dilakukan guru. Hasil Studi Awal Partisipasi Siswa atau Sekolah dalam Kegiatan Lomba 180 . 50% siswa cukup mengikuti lomba lukis. Gambar 60. Gambar 59. Secara grafik. informasi tentang perlu tidaknya instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak disajikan pada Gambar 59. 20% siswa jarang mengikuti lomba lukis. Hasil Studi Awal Tanggapan Guru Perlunya Instrumen Penilaian Partisipasi sekolah atau siswa dalam mengikuti kegiatan lomba seni lukis berdasarkan wawancara yang peneliti lakukan menunjukkan bahwa 25% siswa sering mengikuti lomba lukis.

Karangkajen SD Muh. Papringan SD Muh. 181 . Nitikan SD Muh. Papringan SD Muh.Indonesia Psikologi Tek. Kauman Jenis Guru Guru kelas Guru bidang studi Bidang Keahlian Seni lukis IPS Olah raga B. Sebaran guru dan latar belakang guru disajikan pada Tabel 6. Tabel 6 Daftar Peserta Studi Awal Inisial resp SW PB SR NH AG PN EL RL RP SW SS WA TR RH ET MR SR RP SL LP Usia (Tahun) 49 36 39 47 54 45 55 50 35 38 32 39 31 33 27 35 29 34 44 28 Asal Sekolah SD Lempuyangan 2 SD Lempuyangan 1 SD Lempuyangan 3 SD Tegal Panggung SDN Widoro SD Suryodiningratan 4 SD Langensari SD Samirono SD Suryodiningratan 3 SD Pujokusumon 3 SD Muh. Danunegaran SD Muh.Indonesia &IPS √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Agama & Sains B. tampak bahwa pembelajaran dan penilaian pendidikan seni lukis sungguh memprihatinkan.Nitikan SD Muh.Perancis B. Pendidikan Lukis & Tari Mencermati informasi yang disajikan pada Tabel 6.Berdasarkan temuan studi awal tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan penilaian seni lukis anak selama ini masih perlu perbaikkan dan peningkatan.Danunegaran SD Muh. terutama jika dilihat dari guru yang melaksanakan penilaian.Indonesia B. Gowongan SD Muh.Penumping SD Muh. Pada umumnya (95%) guru yang mengajarkan dan melaksanakan penilaian seni lukis anak tidak memiliki latar belakang pendidikan atau pengalaman seni.

sehingga memerlukan perhatian yang serius dari semua pihak yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan seni lukis. Penyimpulan ini didasarkan pada perbedaan karakteristik pembelajaran seni yang dilakukan oleh setiap guru. dikhawatirkan akan memicu terjadinya penilaian yang cenderung subjektif. Adanya perbedaan ini. Kenyataan ini merupakan suatu gambaran tentang pembelajaran dan penilaian seni lukis yang terjadi selama ini. 182 . kriteria dan rubrik penentuan skor. Berdasarkan uraian hasil studi awal di atas. Data Pendefinisian Pada langkah ini didapatkan definisi konstruk instrumen dan kajian atas konsep instrumen karya lukis anak yang dijabarkan dari kajian teori. sehingga kualitas pembelajaran dan penilaian seni lukis masih sangat rendah. Definisi konstruk instrumen karya seni lukis anak dijabarkan menurut indikator.Pendidik yang memiliki pemahaman dan pengetahuan tentang seni lukis sangat sedikit (hanya 5%) yaitu mereka yang berlatar belakang pendidikan seni. Selain fakta yang ditunjukkan pada gambar dan tabel tersebut. 2. dapat ditarik kesimpulan bahwa instrumen penilaian seni lukis anak perlu dikembangkan untuk mempermudah guru dalam melakukan penilaian yang lebih objektif. deskripsi. Gambar tersebut mengungkapkan secara eksplisit bahwa 100% guru yang diteliti menyatakan sangat perlu instrumen penilaian yang praktis sehingga untuk mempermudah dan menyeragamkan penilaian guru. Pendefisian ini pada dasarnya dihasilkan dari pendalaman literatur tentang seni dan strategi pendidikannya. Perbedaan ini tampak pada Gambar 47-58 serta Tabel 6. perlunya pengembangan instrumen seni lukis didasarkan juga pada fakta yang disajikan pada gambar 59.

Dalam penelitian ini deskripsi didefinisikan sebagai paparan kata-kata yang secara terperinci dari indikator yang diturunkan yang digunakan sebagai dasar untuk mengamati objek penilaian. Dalam penelitian ini rubrik merupakan daftar kriteria yang diwujudkan dengan dimensi-dimensi kinerja. Indikator keberhasilan karya seni lukis anak dapat dilihat pada lampiran 1 halaman 271. Dengan demikian kriteria atau rubrik merupakan panduan memberi skor. mulai dari tingkat yang paling sempurna sampai dengan tingkat yang paling rendah. Indikator Indikator adalah suatu karakteristik. Kriteria atau Rubrik Kriteria atau rubrik adalah pedoman menilai kinerja atau hasil kerja. Dengan demikian indikator merupakan suatu petunjuk atau acuan sehingga memudahkan guru dalam melakukan penilaian. perbuatan. 2005: 306). 183 . jelas. Rubrik dapat membantu seseorang untuk menentukan tingkat ketercapaian kinerja. aspek-aspek atau konsep-konsep yang akan dinilai dan gradasi mutu. 2002: 20). Kemudian. c. Kriteria adalah kadar ukuran. dan disepakati penilai dan siswa. Indikator merupakan tolok ukur (Rohandi.a. (Novianto. Deskripsi Deskripsi adalah suatu paparan dengan kata-kata yang terperinci (Novianto. ciri-ciri. patokan untuk mempertimbangkan atau menentukan sesuatu. Novianto (2005: 230) mengemukakan bahwa indikator adalah alat untuk mengukur dan sebagai petunjuk. b. 2005:141).

3. Hasil digunakan sebagai dasar untuk merancang konstruk instrumen secara utuh. unsur Ketekunan Waktu Kretivitas Ekspresi Teknik • • Penilaian diri Penilaian kelompok Gambar 61. media Pengg. Masing-masing dapat disimak pada Gambar 61. Setelah itu dilakukan proses telaah dengan memanfaatkan validasi ahli untuk menperoleh kesepakatan dalam menentukan validasi ahli konstruk penilaian. dimensi produk. Konfigurasi dari konstruk instrumen yang komprehensif dan utuh mengandung prototipe dimensi proses. Instrumen Penilaian Seni Lukis Hasil Tahap Rancangan tahap sebelumnya ditetapkan menjadi konstruk instrumen pendidikan seni lukis anak. dan konten serta sasaran penilaian. konstruk instrumen yang telah didefinisikan pada Awal • • Tanggapan siswa Kesiapan alat Proses Guru Inti Karya Seni Guru Produk Siswa • • • • • • • • Penuangan ide Pengg. Dimensi penilaian proses adalah penilaian yang ditunjukkan untuk mengamati kompetensi peserta didik dalam berkreasi membuat karya seni lukis. sedangkan dimensi penilaian 184 . Data Perancangan Pada tahap perancangan.

penyusunan item instrumen. 5) pemanfaatan waktu.produk adalah penilaian yang ditunjukkan untuk melihat kompetensi peserta didik dalam membuat karya cipta seni lukis. dan teknik. Langkah pengembangan berikutnya adalah seminar. Komponen proses terdiri atas 5 (lima) indikator dan komponen produk 3 (tiga) indikator. uji coba instrumen. Hasil FGD kedua adalah kesepakatan tentang deskripsi masing-masing indikator yang ditemukan pada FGD pertama. analisis dan pembakuan. 4) ketekunan. perbaikan item. 2) keberanian menggunakan media. telaah item. Seminar dilaksanakan untuk mendapat masukan dan saran berkaitan dengan indikator. Indikator tahap inti meliputi: 1) kelancaran penuangan ide. 3) keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk. Kegiatannya meliputi pengembangan indikator. Tahap awal meliputi: 1) tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat. deskripsi dan 185 . Rangkuman hasil FGD kedua disajikan pada Tabel 7. 4. Hasil FGD pertama adalah kesepakatan bahwa penilaian seni lukis anak terdiri atas komponen proses dan produk dengan perbandingan 60% untuk proses dan 40% untuk produk. Indikator proses teridiri atas tahap awal dan tahap inti. Hasil FGD ketiga adalah kesepakatan tentang kriteria masing-masing indikator dan deskripsi yang diperoleh pada dua FGD sebelumnya. ekspresi. Indikator produk terdiri atas kreativitas. Data Pengembangan Tahapan ini merupakan tahap elaborasi lanjut setelah prototipe hasil perancangan diperoleh pada tahap sebelumnya. 2) kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis.

Ketekunan Kondisi peserta didik untuk mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh-sungguh Pemanfaatan waktu Penggunaan waktu sebaik-baiknya untuk membuat karya lukis Komponen Produk Kreativitas Keaslian bentuk (kemampuan menciptakan bentuk yang khas). kualitas cara penggambaran. Hasil FGD Pertama dan Kedua No A. A.Tabel 7. garis. kebaruan teknik dan konsep cerita Ekspresi Kejelasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema Teknik Kemampuan menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya.2 Tahap Inti 1 Kelancaran penuangan ide Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara kualitas ide yang dikembangkan dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut 2 Keberanian menggunakan Keberanian menggunakan media (alat dan media bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik inkonvensional dalam melukis Keberanian menggunakan Keberanian menggunakan titik. serta kebersihan karya yang dihasilkan 3 4 5 B 1 2. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik 2 Kesiapan alat dan bahan Suatu kondisi peserta didik yang sudah yang akan digunakan siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk untuk melukis pembuatan karya lukisnya A. 3 186 . unsur-unsur bentuk bidang.1 1 Indikator Komponen Proses Tahap Awal Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Deskripsi Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi.

Hasil kesepakatan dalam FGD adalah pedoman dapat digunakan di sekolah. Ada beberapa perubahan mendasar yang diperoleh dari peserta seminar. kriteria penilaian. 2) cukup. Data lengkap hasil FGD ini dapat dilihat pada Lampiran 3 halaman 276. 187 . Hasil FGD Ketiga disajikan dalam Gambar 62. Pedoman penggunaan intrumen meliputi petunjuk penggunaan. Adapun pada Gambar 63. Perubahan ini dimaksudkan untuk lebih menyederhanakan rubrik penskoran tanpa mengurangi maksud yang ingin dicapai yaitu menciptakan instrumen penilaian seni lukis yang valid dan andal. 3) baik. sedangkan hasil seminar disajikan pada Gambar 63. tampak sejumlah perubahan yang mendasar pada kriteria untuk setiap level penilaian. Proses kesepakatan terkait dengan perubahan-perubahan pada instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar melalui FGD dan seminar dilakukan melalui pengkajian bersama yang dilandasi oleh kajian teori yang ada. Diseminasi Tahap diseminasi merupakan tahap sosialisasi instrumen dan pedoman penggunaan instrumen penilaian seni lukis anak pada pendidik seni lukis sekolah dasar. dan kelayakan penyajian yang meliputi sistimatika.kriteria yang telah disepakari pada tahap FGD. Gambar 62 merupakan rubrik skor yang disusun untuk setiap indikator dengan masing-masing indikator terdiri dari 4 level/tingkatan penilaian yaitu: 4) sangat baik. keterbacaan dan penampilan fisik. penskorannya. 5. dan 1) kurang. Akhir dari tahap pengembangan adalah kegiatan melakukan uji empiris instrumen. khususnya berkaitan dengan kriteria dan rubrik penskoran.

ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik Level Kurang • Sangat sering bertanya seputar tema lukisan kepada guru • Sering mengeluh dengan tema yang diberikan • Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan lambat • Memperlihatkan kegairahan yang kurang untuk memulai melukis Sangat baik • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan sangat lengkap • Alat dan bahan sangat siap untuk digunakan • Alat dan bahan sangat mendukung kegiatan melukis Deskripsi Suatu kondisi peserta didik yang sudah siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya Kurang • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan kurang lengkap • Alat dan bahan kurang siap untuk digunakan • Alat dan bahan kurang mendukung kegiatan melukis Level Baik • Jarang bertanya seputar tema lukisan kepada guru • Jarang mengeluh dengan tema yang diberikan • Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan cepat • Memperlihatkan kegairahan yang tinggi untuk memulai melukis Cukup • Sering bertanya seputar tema lukisan kepada guru • Cukup sering mengeluh dengan tema yang diberikan • Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan cukup cepat • Memperlihatkan kegairahan yang cukup tinggi untuk memulai melukis Baik • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan lengkap • Alat dan bahan siap untuk digunakan • Alat dan bahan mendukung kegiatan melukis Cukup • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan cukup lengkap • Alat dan bahan cukup siap untuk digunakan • Alat dan bahan sangat mendukung kegiatan melukis Gambar 62. Rangkuman Hasil FGD Ketiga 188 . Indikator Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Tahap Awal 2.1. Indikator Kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis • • • • Sangat baik Bertanya seperlunya seputar tema lukisan kepada guru Tidak pernah mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan sangat cepat Memperlihatkan kegairahan yang sangat tinggi untuk memulai melukis Deskripsi Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi.

Indikator Kelancaran penuangan ide • Kurang Variasi unsurunsur bentuk sedikit (garis. Indikator Keberanian menggunakan media Level Deskripsi Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara ide yang ada dalam diri siswa dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut 3. dan warna untuk menghasilkan bentuk yang orisional/khas Baik Variasi unsur-unsur bentuk(garis. bidang) cukup mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna cukup mendekati warna sebenarnya Cukup berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis • • Kurang • Lambat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Kurang tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media kurang sesuai dengan karakteristiknya • 1. Indikator Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk Deskripsi Kemampuan menggunakan titik. garis. bidang) sangat mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna sangat mendekati warna sebenarnya Sangat berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis • • • • Level Cukup • Cukup cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Cukup tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media cukup sesuai dengan karakteristiknya Deskripsi Kemampuan menggunakan media (alat dan bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik bebas dalam melukis 2. bidang. bidang) mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna mendekati warna sebenarnya Berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis Level Cukup Variasi unsurunsur bentuk (garis. bidang) mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna tidak mendekati warna sebenarnya Kurang berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis • • • Tahap Inti 189 .Lanjutan Gambar 62 Baik • Cepat dalam menemukan ide • Tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide • Cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Cukup • Cukup cepat dalam menemukan ide • Cukup tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide • Cukup cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media • Baik • Cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media sesuai dengan karakteristiknya Sangat baik • Sangat cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Sangat tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media sangat sesuai dengan karakteristiknya Sangat baik • Sangat cepat dalam menemukan ide • Sangat tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide • Sangat cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Kurang • Lambat dalam menemukan ide • Kurang tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide • Lambat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media • • Sangat baik Sangat baik Variasi unsur-unsur bentuk (garis.

Lanjutan Gambar 62 4. Indikator Tahap Inti Ketekunan Deskripsi Penggunaan waktu sebaik-baiknya dilakukan untuk membuat karya lukis Sangat baik • Menyelesaikan karya lukis dengan sangat tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang sangat tuntas Kurang • Menyelesaikan karya lukis dengan kurang tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang kurang tuntas Cukup • Menyelesaikan karya lukis dengan cukup tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang cukup tuntas Sangat baik • Sangat serius dalam membuat karya lukis • Perhatian terhadap karya lukis sangat terfokus Deskripsi Kondisi peserta didik untuk mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh-sungguh Level Level Kurang • Tidak serius dalam membuat karya lukis • Perhatian terhadap karya lukis kurang terfokus Baik • Menyelesaikan karya lukis dengan tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang tuntas Baik • Serius dalam membuat karya lukis • Perhatian terhadap karya lukis terfokus Cukup • Cukup serius dalam membuat karya lukis • Perhatian terhadap karya lukis cukup terfokus 190 . Indikator Pemanfaatan waktu 5.

Indikator Ekspresi 3. Indikator Teknik Produk Deskripsi Sangat baik • Sangat jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Sangat tegas/ spontan dalam mengungkapkan garis Sangat berani dalam mengorganisasikan unsurunsur karya lukis Kejelasan dalam mengungkapkan isi/tema/konsep lukisan • Kurang Kurang jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Kurang tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Kurang berani dalam mengorganisasikan unsurunsur karya lukis • • • • Level Sangat baik • Alat dan bahan yang digunakan sangat sesuai karakteristiknya • Sangat teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan sangat bersih Deskripsi Kemampuan menggunakan alat dan bahan sesuai dengan karakteristiknya serta kebersihan karya yang dihasilkan Level Kurang • Alat dan bahan yang digunakan kurang sesuai karakteristiknya • Kurang teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan kurang bersih • Baik Jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Berani dalam mengorganisasikan unsurunsur karya lukis Cukup • Cukup jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Cukup tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Cukup berani dalam mengorganisasikan unsurunsur karya lukis • • • • Baik • Alat dan bahan yang digunakan sesuai karakteristiknya • Teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan bersih Cukup • Alat dan bahan yang digunakan cukup sesuai karakteristiknya • Cukup teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan cukup bersih 191 . Indikator Kreativitas 2.Lanjutan Gambar 62 • • • • • Baik Jarang melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang tinggi memodifikasi objek Warna yang digunakan bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang tinggi menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang banyak dalam dalam Cukup • • • • • Cukup sering melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan cukup bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang cukup banyak Sangat baik • • • • • Tidak pernah melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang sangat tinggi dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan sangat bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang sangat tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang sangat banyak Kurang • • Level • • • Sering melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang kurang memodifikasi objek Warna yang digunakan kurang bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang kurang menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang kurang banyak dalam dalam Deskripsi Keaslian bentuk (kemampuan menciptakan bentuk-bentuk baru) 1.

1. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik Deskripsi Suatu kondisi peserta didik yang sudah siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek Menerima Memahami Melaksanakan Sangat baik Terpenuhi 3 aspek Lengkap Relevan Siap digunakan Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek Lengkap Relevan Siap digunakan • • • Sangat baik Terpenuhi 3 aspek Menerima Memahami Melaksanakan Level • • • • • • Level • • • • • • Baik Terpenuhi 2 aspek Menerima Memahami Melaksanakan • • • Kurang Terpenuhi aspek Menerima Memahami Melaksanakan 1 • • • Baik Terpenuhi 2 aspek Lengkap Relevan Siap digunakan • • • Kurang Terpenuhi aspek Lengkap Relevan Siap digunakan 1 Gambar 63. Indikator Kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis Deskripsi Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi. Rangkuman Hasil Seminar Instrumen Penilaian Seni Lukis 192 . Indikator Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Tahap Awal 2.

Indikator Keberanian menggunakan media Level Deskripsi Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara ide yang ada dalam diri siswa dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut 3.Lanjutan Gambar 63 Baik Terpenuhi 2 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Kurang Terpenuhi 1 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Baik Terpenuhi 2 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Lambat • Tepat • Sesuai dengan media Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Berani • Tepat • Artistik Baik Terpenuhi aspek • Berani • Tepat • Artistik 2 Level Deskripsi Kemampuan menggunakan media (alat dan bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik bebas dalam melukis 2. bidang. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik. Level Kurang Terpenuhi 1 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Berani • Tepat • Artistik Kurang Terpenuhi aspek • Berani • Tepat • Artistik 1 1. Indikator Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk Deskripsi Keberanian menggunakan titik. garis. Indikator Kelancaran penuangan ide Tahap Inti 193 .

Indikator Pemanfaatan waktu Tahap Inti Sangat baik • Menyelesaikan karya lukis dengan sangat tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang sangat tuntas Deskripsi Penggunaan waktu sebaik-baiknya dilakukan untuk membuat karya lukis Level Kurang • Menyelesaikan karya lukis dengan kurang tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang kurang tuntas Sangat baik Karya sebelum berakhir selesai waktu Deskripsi Penggunaan waktu sebaik-baiknya dilakukan untuk membuat karya lukis Sangat kurang Karya tidak selesai saat waktu berakhir Level Baik • Menyelesaikan karya lukis dengan tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang tuntas Cukup • Menyelesaikan karya lukis dengan cukup tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang cukup tuntas Baik Karya selesai tepat waktu Kurang Karya hampir selesai saat waktu berakhir 194 . Indikator Pemanfaatan waktu 5.Lanjutan Gambar 63 4.

Indikator Teknik Deskripsi Kejelasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Produk Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Deskripsi Kemampuan menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya. serta kebersihan karya yang dihasilkan Level Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Level Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Baik Terpenuhi 2 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Kurang Terpenuhi 1 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Baik Terpenuhi 2 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Kurang Terpenuhi 1 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih 195 . Indikator Ekspresi 1. kebaruan teknik dan konsep cerita 2.Lanjutan Gambar 63 Baik Terpenuhi 2 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Kurang Terpenuhi 1 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Level Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Deskripsi Keaslian bentuk (kemampuan menciptakan bentuk yang khas). kualitas cara penggambaran. Indikator Kreativitas 3.

Hasil ujicoba instrumen ini disajikan pada bagian analisis data. Kegiatan uji coba ini dipaparkan data hasil uji coba pada keempat kawasan tersebut. (2) data uji coba komponen penilaian produk. Instrumen penilaian ini terdiri atas empat komponen utama yakni penilaian proses. Data Uji Coba Bagian ini mendeskripsikan tentang hasil uji coba penggunaan instrumen penilaian yang diujicobakan kepada tiga orang guru sebagai rater atau penilai terhadap penilaian karya seni lukis (beberapa hasil karya lukis anak dapat dilihat pada lampiran 9 hal. Data uji coba terdiri dari 4 (empat) komponen yaitu (1) data uji coba komponen penilaian proses. Hasil analisis G study digunakan untuk mengetahui koefisien reliabilitas alat penilaian yang dikembangkan serta estimasi komponen variansi kesalahan yang diakibatkan oleh berbagai sumber variansi. penilaian produk. penilai (R) dan item kriteria penilaian (I).358). penilaian diri dan penilaian kelompok pada pengguna di lapangan. maka pada tahapan analisis lanjut (analisis D study) akan didapatkan informasi tentang keputusan seberapa jauh penggunaan 196 .B. Komponen-komponen yang digunakan sebagai acuan untuk melakukan rating oleh para rater telah diperoleh dari hasil pengembangan pada tahap sebelumnya dan dikenal dengan produk tentatif instrumen penilaian karya seni lukis. dalam pengembangan ini yakni sumber variansi murid (P). dan (4) data uji coba komponen penilaian kelompok. Setelah koefisien G dapat diketahui. Analisis Data 1. dan (3) data uji coba komponen penilaian diri.

21 dan Penilai) 644940.28 413296.85 771345.85 594179.84 0.77 86. Hasil Analisis Genova Untuk Estimasi Komponen Variansi 1) Analisis Estimasi Komponen Varians Komponen Penilaian Proses Rangkuman analisis G study dari data uji coba komponen penilaian proses dapat disajikan sebagaimana pada Tabel 8.56 I:R 836923.14 7701.86 2 103984. 197 .96 9.15 1259 124816.00 0.14 1259 114729.00 18127.00 297.27 41.94 118 0.14 118 43.67 0.43 5174.95 204981.00 6004.90 8728. Hasil rangkuman analisis G study untuk penilaian proses di kelas 1.38 2.15 0.60 Catatan: JK1 = sums of squares for mean scores.00 16124.71 5130.28 Murid dan Item 868049.00 242.95 2 113235.29 59 130.71 118 43.69 0.instrumen yang telah diuji memiliki keberlakuan pada faset yang lebih luas terutama menyangkut kesamaan kondisi pengukuran.48 PI:R ( Interaksi 9244.56 1062 0.68 18 10555.23 4.43 PR (Interaksi Murid 6092.40 457402.83 4. dan dapat diterimanya kondisi faset tersebut bagi rater atau penilai yang lain. Penilai.27% dari seluruh komponen varian harapan.28 17.18 35943.66 226469.16 18 158.46 41.51 175.00 426924.29 3432.58 0.00 581347.60 381079.07 421.14 4.29 Penilai (R) 631942.60 100.98 0.76 193.20 2854.42 % Total Varian 4.04 52.64 189.07 Nested pada Penilai) 800302.33 7823.04 0.40 31282540.53 5874.43 222.29 24.07 15.18 3.06 457.29 18 11387.72 207969. Hal yang sama Tabel 8 Estimasi Komponen Variansi Siswa.59 2 31.00 53.00 3.73 3.00 100.55 1259 193.60 1062 15.04 62.3 59 3.93 0.28 1062 17.00 100.63 59 132.62 Total 3395152. a. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Proses Sumber Variansi Murid (P) Kelas 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 JK1 JK2 db KR Varian 0. JK2 = sums of squares for score effects. kelas 2 dan di kelas 3 menunjukkan bahwa estimasi variance true skor yang terbesar dari faset yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) di kelas 1 adalah sumber variansi kesalahan pengukuran komponen item yang nested pada penilai (I:R) dengan proporsi 86.40 189997.15 3.

interaksi murid dan item nested pada penilai (PI:R) proporsinya tampak lebih kecil terhadap seluruh komponen variansi hasil penilaian proses kualitas karya seni lukis dibanding proporsi komponen varians penilai (R) dan kriteria penilaian yang nested pada penilai (I:R). Hal ini dapat dipahami karena faktor pemahaman dan latihan atau pengalaman guru sangat dituntut untuk bisa melakukan penilaian yang benar sesuai konstruk yang dikandung oleh alat penilaian yang dikembangkan. Pada uji coba di kelas 2 dan di kelas 3.04% dan 52. Sumber variansi item yang bersarang pada penilai (I:R) merupakan komponen varian yang paling dominan. yang dominan mempengaruhi variansi kesalahan pengukuran adalah item yang bersarang pada penilai (I:R) dan untuk uji coba di kelas 2 dan di kelas 3 adalah penilai (R).untuk di kelas 2 dan kelas 3 .77%. Kondisi yang demikian berarti bahwa faset yang berkaitan dengan objek pengukuran untuk penilaian proses. dan yang terbesar adalah sumber variansi penilai (R) dengan proporsi masing-masing 53. interaksi murid dengan penilai (PR). 198 . Sumber variansi komponen yang lain yakni murid (P). hal ini diduga karena guru yang menjadi rater atau penilai baru mengenal model dan konstruk alat penilaian yang dikembangkan. kondisi semacam itu telah bergeser yakni bukan lagi komponen varians item yang bersarang pada penilai (I:R) yang dominan sebagai penentu varians kesalahan pengukuran melainkan penilai atau rater. Selain itu penggunaan alat penilaian yang dikembangkan ini merupakan cara baru yang berbeda dengan caracara konvensional sebagaimana yang lazim digunakan oleh para guru sebelum cara penilaian ini dikenalkan.

48 63.81 146747.68 1.65 53598.38 34407.25 4733.73 5734.67 60.65 366.12 106.60 7.00 262591.64 232.50 96419.59 44.29 6405.05 10.98 db 59 59 59 2 2 2 6 6 6 118 118 118 354 354 354 539 539 539 KR 108.25 158537.65 234248.00 275197.20 32.70 26.27 199841. 199 .00 Catatan: JK1 = sums of squares for mean scores.08 94.00 121393.33 222531.90 14230.48 40.65 27.77 38434.00 1050134.54 45534.49 150357.64 62.05 25.13 25.70 51427. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Produk Sumber Variansi Murid (P) Penilai (R) I:R PR (Interaksi Murid dan Penilai) PI:R ( Interaksi Murid dan Item Nested pada Penilai) Total Kelas 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 JK1 118655. Penilai.69 0.00 0.96 11558.25 48209.89 9154.02 251512.83 4719.23 86.21 0.45 5.42 Varian 7.00 100. Hasil rangkuman analisis Tabel 9 Estimasi Komponen Variansi Siswa.60 1083712.26 241766.09 95.98 356.86 40.16 % Total Varian 1.07 91069.16 1.52 47746.67 209554. JK2 = sums of squares for score effects.07 25.95 1.80 5104.61 5673.00 39.00 100.83 80.60 1013040.51 5248.24 221.50 9.86 40.86 95492.60 4607.17 100.89 207726. 2) Analisis Estimasi Komponen Varian Komponen Penilaian Produk Rangkuman analisis G study dari data uji coba komponen penilaian produk dapat disajikan sebagaimana pada Tabel 9.90 JK2 6421.15 4.98 382.71 54775.20 32.Hasil uji coba ini menunjukkan bahwa pada penerapan alat penilaian karya seni lukis untuk komponen proses.23 34039.00 2. Latihan dan pengalaman bagi penilai dalam menggunakan alat penilaian untuk menilai kualitas karya seni lukis merupakan cara untuk mengurangi kesalahan pengukuran dan untuk meningkatkan tingkat konsistensi dan keajegan hasil penilaian.00 113876.77 219396.25 213078.00 255520. peranan penilai (R) merupakan sumber variansi kesalahan pengukuran terbesar.27 233.03 6.

Kemudian berikutnya adalah sumber varians kesalahan untuk komponen item yang bersarang pada penilai (I:R) dengan proporsi komponen varians di kelas 1 sebesar 25. dan di kelas 3 sebesar 26. faset yang dominan sebagai variansi kesalahan pengukuran adalah penilai (R) dan item yang bersarang pada penilai (I:R). di kelas 2 sebesar 60.67%. Sumber variansi komponen yang lain yakni murid (P). dan di kelas 3 sebesar 62.65%.G study untuk penilaian produk di kelas 1. interaksi murid dengan penilai (PR).64%.07%.70%. di kelas 2 sebesar 27. Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa faset yang berkaitan dengan objek pengukuran untuk penilaian produk. interaksi murid dan item bersarang pada penilai (PI:R) proporsinya tampak lebih kecil terhadap variansi hasil penilaian proses kualitas karya seni lukis dibanding pengaruh kedua sumber variansi penilai (R) dan kriteria penilaian yang bersarang pada penilai (I:R).68%. Berdasarkan analisis ini penerapan alat penilaian karya seni lukis untuk komponen produk. Untuk itu masih dibutuhkan juga latihan dan pengalaman bagi penilai dalam menggunakan instrumen penilaian produk untuk menilai kualitas karya seni lukis siswa agar 200 . kelas 2 dan di kelas 3 menunjukkan bahwa estimasi varian true skor yang terbesar dari faset yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) adalah sumber variansi kesalahan pengukuran komponen penilai (R) dengan proporsi komponen varians di kelas 1 sebesar 63. Sumber variansi yang lain tidak begitu besar proporsinya sebagai komponen varians untuk penilaian produk. peranan penilai (R) tetap merupakan sumber varians kesalahan pengukuran yang terbesar seperti halnya pada penilaian proses.

61 3 0.14 48.19 Penilai (R) 2 270613.53 59 111.75 708 13.97 1 333164.80 12 8119.72 119.77 5.42 1.68 dan Penilai) 2 275758.10 198782.48 130.36 118 35.66 89356.92 93302.31 86057. Penilai.30 899 52561.00 9405.56 3.13 4168.82 349803.45 256501.44 59 70.57 46.24 3 47.88 12. Hasil rangkuman analisis G study untuk penilaian diri di kelas 1.34 708 12.12 100.65 3.26 12 7775.00 Catatan: JK1 = sums of squares for mean scores.56 10.67 3 45.28 94688.00 7478.37 87693.13 899 50496.56 100.00 Total 2 1473892.75 121.77 Nested pada Penilai) 3 4.38 4.72 0.23 270.33 280.40 6594.dapat meningkatkan tingkat konsistensi dan keajegan hasil penilaian serta tingkat kesepakatan pemahaman terhadap konstruk sasaran penilaian karya seni lukis untuk komponen produk di antara para penilai.05 12 7307.82 263505.76 365927.96 2 47344.72 46.40 2835.28 5.00 9119.08 97430.20 4175.50 204742.16 I:R 2 368044.19 129. 3) Analisis Estimasi Komponen Varians Penilaian Diri Rangkuman analisis G study dari data uji coba komponen penilaian diri dapat disajikan sebagaimana pada Tabel 10.36 100. 201 .15 1 245471.90 263.04 Murid dan Item 2 380667.96 2 44678.93 2885.23 PI:R ( Interaksi 1 353340.88 1 1354225.30 118 24.67 899 55542.30 118 19.09 1.15 1.00 708 10. JK2 = sums of squares for score effects.28 13.00 3 1407051.71 3 171313.48 122.37 PR (Interaksi Murid 1 256241. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Diri Sumber Variansi Murid (P) Kelas JK1 JK2 db KR Varian % Total Varian 1 166008.98 0.23 135.30 193926.61 59 48.03 2.44 2 43028. Sumber varians penilai (R) Tabel 10 Estimasi Komponen Variansi Siswa.93 2 178809.00 45.20 2259.91 1. kelas 2 dan di kelas 3 menunjukkan bahwa estimasi skor true variance dari faset yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) komponennya lebih banyak pada sumber variansi kesalahan pengukuran komponen penilai (R) dan proporsi komponen memiliki item yang nested pada penilai (I:R).11 1.

24%. interaksi murid dengan penilai (PR). Kondisi yang demikian dapat dimaknai bahwa faset yang berkaitan dengan objek pengukuran untuk penilaian diri. Sumber variansi komponen variansi kesalahan pengukuran yang lain yakni murid (P).45%. 202 . dan di kelas 3 sebesar 47. di kelas 2 sebesar 48.82%. ternyata peranan penilai (R) dan item yang nested pada penilai (I:R) tetap merupakan sumber variansi kesalahan pengukuran yang dominan seperti halnya pada penilaian proses maupun produk.16%.67%. yang dominan sebagai komponen variansi kesalahan pengukuran adalah penilai atau rater (R) dan item yang nested pada penilai (I:R). dan di kelas 3 sebesar 45. interaksi murid dan item nested pada penilai (PI:R) proporsi komponen variannya tampak lebih kecil terhadap variansi hasil penilaian proses kualitas karya seni lukis dibanding pengaruh kedua sumber variansi penilai (R) dan kriteria penilaian yang bersarang pada penilai (I:R).19%.proporsi komponen varians di kelas 1 sebesar 45. di kelas 2 sebesar 46. Sumber variansi komponen item yang bersarang pada penilai (I:R) mempunyai proporsi komponen varians di kelas 1 sebesar 46. Untuk itu masih dibutuhkan juga latihan dan pengalaman bagi penilai dalam menggunakan alat penilaian produk untuk menilai kualitas karya seni lukis siswa untuk dapat meningkatkan tingkat konsistensi dan keajegan hasil penilaian serta tingkat kesepakatan pemahaman terhadap konstruk sasaran penilaian karya seni lukis untuk komponen penilaian diri di antara para penilai. Penerapan alat penilaian karya seni lukis untuk komponen penilaian diri.

98 2.20 9797.00 381082.59 58671.13 106476.67 177281.64 184566.46 db 59 59 59 2 2 2 12 12 12 118 118 118 708 708 708 899 899 899 KR 126.28 255372.43 165.74 17.73 30.56 1.35 5432. dan di kelas 3 sebesar 62.20 263997.75 13.75 67844.22 % Total Varian 1. Penilai.67 252349.75 265.84 20.95 53276.10 61. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Kelompok Sumber Variansi Murid (P) Penilai (R) I:R PR (Interaksi Murid dan Penilai) PI:R ( Interaksi Murid dan Item Nested pada Penilai) Total Kelas 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 JK1 153334.03 6.45 12566.80 4. Hasil rangkuman analisis G study untuk penilaian kelompok di kelas 1.00 Catatan: JK1 = sums of squares for mean scores.21 305622.70 100.88 265917. di kelas 2 sebesar 62.96 54098. kelas 2 dan di kelas 3 menunjukkan bahwa estimasi varian true skor yang terbesar dari faset yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) adalah sumber varians kesalahan pengukuran komponen penilai (R) dengan proporsi komponen varian di kelas 1 sebesar 61.75 2.68 4030.13 362484.07 4241.75 13.16 17.60 7.30 1311529.60 JK2 7461.99%.47 77.77 300.42 2.87 0.91 1.95 34.65 6. Kemudian berikutnya adalah sumber varians kesalahan pengukuran untuk komponen item yang nested pada penilai (I:R) dengan proporsi komponen Tabel 11 Estimasi Komponen Variansi Siswa.58 4439.88 53238.84 20.60 151769.26 77.47 1.43 265.80 331756.23 308648.60 306093.67 6106.4) Analisis Estimasi Komponen Varian Komponen Penilaian Kelompok Rangkuman analisis G study dari data uji coba komponen penilaian kelompok dapat disajikan sebagaimana pada Tabel 11.00 100.84 4439. 203 .55 189.03 27.39 27.43 57873.85 14466.20 65190.30 1524234.24 4595.92 108197.68 4.72 51.60 4558.93 297293. JK2 = sums of squares for score effects.93 208358.99 62.68 53272.00 1308980.00 331741.00 100.167%.69 90.77 2.31 73.48 73.86 124569.75 35.03 Varian 4.39%.16 62.43 62284.92 162.53 185882.

dapat disimpulkan bahwa komponen penilai (R) atau guru dan kriteria 204 . interaksi murid dan item bersarang pada penilai (PI:R) proporsinya tampak lebih kecil terhadap varians hasil penilaian kelompok kualitas karya seni lukis dibanding pengaruh kedua sumber varians penilai (R) dan kriteria penilaian yang bersarang pada penilai (I:R). penilaian diri dan penilaian kelompok).varians di kelas 1 sebesar 27. Kondisi yang demikian berarti faset yang berkaitan dengan objek pengukuran untuk penilaian kelompok. di kelas 2 sebesar 30.77%.03%. Dengan demikian penerapan alat penilaian karya seni lukis untuk komponen penilaian kelompok. interaksi murid dengan penilai (PR). peranan penilai (R) tetap merupakan sumber variansi kesalahan pengukuran yang terbesar seperti halnya pada komponen penilaian lainnya. Sumber varians komponen yang lain yakni murid (P). Untuk itu masih dibutuhkan juga latihan dan pengalaman bagi penilai dalam menggunakan alat penilaian kelompok untuk menilai kualitas karya seni lukis siswa untuk dapat meningkatkan tingkat konsistensi dan keajegan hasil penilaian serta tingkat kesepakatan pemahaman terhadap konstruk sasaran penilaian karya seni lukis untuk komponen penilaian kelompok di antara para penilai. dan di kelas 3 sebesar 27. produk. kelas 2 dan di kelas 3 pada semua komponen penilaian (proses. varians kesalahan pengukuran yang dominan adalah penilai atau rater (R) dan item yang bersarang pada penilai (I:R).73%. Berdasarkan analisis komponen varians untuk dapat terbentuknya faset pengukuran yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admisible observations) kualitas karya seni lukis di kelas 1.

Linn. b. produk. Hasil analisis komponen varians untuk penilaian proses. di atas memberi petunjuk bahwa pengembangan alat penilaian kualitas karya seni lukis sudah menunjukkan indikasi kebermaknaan untuk digunakan sebagai sarana melakukan observasi.penilaian yang nested pada penilai (I:R) merupakan sumber varians komponen varians kesalahan pengukuran yang utama. 1978: 245. Analisis Data Hasil G Study (Koefisien G) Hasil G study untuk mengetahui tingkat kebermaknaan penggunaan alat penilaian kualitas karya seni lukis dari uji coba di lapangan dapat dirangkum pada Tabel 12. Oleh sebab itu dalam pengembangan ini. Untuk mengetahui apakah hasil pengembangan tersebut telah memenuhi standar minimal. Koefisien G dari komponen-komponen penilaian kualitas karya seni lukis hasil uji coba menunjukkan bahwa secara keseluruhan pengembangan model instrumen penilaian kualitas karya seni lukis dapat diterima untuk digunakan melakukan penilaian pada faset yang lebih luas atau dengan kata lain telah memenuhi untuk kepentingan faset pengukuran yang berkaitan dengan objek 205 . Hasil Analisis dipaparkan pada uraian berikut.70 (Nunnaly. kedua sumber variansi ini harus diperhatikan secara seksama dalam usaha menyempurnakan alat penilaian kualitas karya seni lukis. penilaian diri dan penilaian kelompok.1989:106) agar memenuhi syarat bagi penggunaan pada faset yang lebih luas. Untuk maksud tersebut dilakukan analisis lanjut terhadap hasil Genova (koefisien G) dan analisis tingkat perubahan koefisien G pada level analisis hasil D study. dipakai persyaratan minimal koefisien G Sebesar 0.

81* 0.67* Keterangan (Linn ≥ 0.61 0.75* 0.50 0. Penilaian Diri 4. Jika dilihat dari karakteristik faset uji coba untuk semua komponen.67* 0.76* 0. Semua komponen Sasaran Uji (Faset) Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Jumlah Item 7 7 7 3 3 3 5 5 5 5 5 5 15 15 15 Koefisien G 0.62 0. maka terapan model penilaian pada faset di kelas 1 sudah memberikan bukti bahwa model yang dikembangkan dapat digunakan untuk penilaian pada faset yang lebih luas. Produk 3.66* 0.71* *) memenuhi syarat menurut kriteria standard minimal Linn. Proses 2.91* 0.67* 0.80* 0.pengukuran (universe of admissible observations) pada kualitas karya seni lukis anak yakni ditunjukkan oleh indeks koefisien G sebesar 0.70.82* 0. keterampilan dan pengalaman agar diperoleh hasil pengukuran yang konsisten.70) >persyaratan <persyaratan <persyaratan >persyaratan <persyaratan <persyaratan <persyaratan <persyaratan <persyaratan >persyaratan >persyaratan >persyaratan >persyaratan <persyaratan <persyaratan Rerata Koefisien G 0. Tabel 12 Rangkuman Hasil G Study dan Koefisien G Pada Berbagai Komponen dan Berbagai Faset Terapan Uji Coba Komponen 1.68* 0.74* 0. tetapi jika memperhatikan koefisien G pada terapan faset di kelas 2 dan di kelas 3. 0.86* 0. 206 .65* 0.63 0. Penilaian Kelompok 5. maka model yang dikembangkan masih memerlukan penyempurnaan dalam hal administrasi penyelenggaraan yakni harus meningkatkan keterampilan guru sebagai penilai atau rater agar ada peningkatan pemahaman.71.65 0.

207 . Dengan mencermati setiap tahap rancangan D study pada komposisi besar sampel tertentu maka akan dapat diperoleh informasi koefisien G dan juga diperoleh informasi berapa kenaikan indeks kebermaknaan pada koefisien G setelah satu butir komponen penilaian dilibatkan untuk mengukur atau menilai.Jika ditilik pada rerata komponen penilaian pada masing-masing kelompok ternyata untuk komponen penilaian proses dan penilaian kelompok telah memenuhi syarat untuk digunakan pada faset yang lebih luas. Uraian berikut memaparkan hasil-hasil analisis D study ini. c. Berdasarkan elaborasi sumber variansi komponen variansi kesalahan pengukuran sebagaimana telah dibahas di atas. Untuk menjawab pertanyaan ini dan tujuan tersirat didalamnya analisis pada setiap hasil D study dapat digunakan. 1) D Study untuk Penilaian Proses Rangkuman hasil analisis D-Study Genova untuk uji coba penilaian proses berturut-turut dapat disajikan pada Tabel 13 sampai dengan Tabel 15. Analisis Data Hasil D Study Tujuan analisis D study adalah untuk menjawab pertanyaan rancangan D study yang mana harus dipilih dan seberapa banyak butir komponen penilaian harus dicakup sebagai sarana mengukur dan menilai kualitas karya lukis sehingga dapat menunjukkan kebermaknaan untuk faset yang lebih luas. maka tindakan untuk melatih guru agar berpengalaman dalam menggunakan alat penilaian ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kebermaknaan penggunaan model ini pada faset yang lebih luas. sedangkan untuk komponen penilaian produk dan penilaian diri masih memerlukan upaya penyempurnaan.

04 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 001-006 001-007 60 60 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 6 7 0.82. penilai cukup menggunakan indikator 1 dan 2 saja Jika ingin meningkatkan tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi maka jumlah indikator penilaian 208 .82088 0.02 0.02 0. R = 3 dan I = 1) maka tingkat atau koefisien kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.91448 0. demikian seterusnya untuk rancangan 001-003 diperoleh koefisien sebesar 0. Berdasarkan kenyataan ini maka dapat dikatakan bahwa untuk mencapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas.36976 0. R.22681 0.88424 0.46809 0.70. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.60437 0.07 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2 (dapat dilihat pada Tabel 6). R INF I INF.90163 0. dengan P = 60.30556 0.Tabel 13 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Proses dan Tingkat Perubahan pada Kelas 1 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.50659 0.75. Untuk komponen penilaian proses di kelas 1 jika komposisinya hanya menggunakan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60. yaitu 0.42308 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0.12791 0. GENERALIZABILITY COEF.60. dan I.01 Tabel 13 berturut-turut memberi gambaran tentang perubahan koefisien Generalizability untuk berbagai komposisi ukuran sampel P.15 0.75341 0. Artinya penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai sebesar 60%.85936 0. maka tingkat atau koefisien kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.

02 0.harus ditambah.06 0.38. jumlahnya tergantung pada kondisi faset yang bersangkutan Tabel 14 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Proses dan Tingkat Perubahan pada Kelas 2 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.57128 0.03500 0. 2. Artinya penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai sebesar 38%. dengan P = 60. 3.13 0.66933 0.04322 0.04223 0.03 0.01 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 001-006 001-007 60 60 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 6 7 0. 4 dan 5 sekaligus.37765 0.04 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0.51.02724 0.63655 0. penilai harus menggunakan indikator 1. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (D study design nomor 001-002.03868 0. Tabel 14 memberi gambaran bahwa penilai dalam menggunakan komponen penilaian proses hanya dengan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60. Jika ingin meningkatkan tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi maka 209 .04082 0.61040 0.04396 dalam konteks ini jika 7 (tujuh) indikator digunakan maka akan dicapai koefisien kesepahaman dan kesepakatan sebesar 91. R INF I INF.50637 0. Berdasarkan kenyataan ini maka dapat dikatakan bahwa untuk mencapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas. GENERALIZABILITY COEF.45%. minimal 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2 memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.70.65527 0.

Tabel 15 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Proses dan Tingkat Perubahan pada Kelas 3 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. PHI Selisih Koefisien Genova 0.39.58.06 0.65421 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.04339 0.61338 0.57735 0.01 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 001-006 001-007 60 60 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 6 7 0.04594 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. Jika ingin meningkatkan tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi maka penggunaan indikator penilaian harus ditambah.52.66689 0.63724 0. R INF I INF. jumlahnya tergantung pada kondisi faset yang bersangkutan.04 0.02 0. jumlahnya tergantung pada kondisi faset yang bersangkutan Pada Tabel 15 memberi gambaran bahwa penilai dalam menggunakan komponen penilaian proses di kelas 3 jika hanya dengan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60.04111 0.02894 0. GENERALIZABILITY COEF. penilai harus menggunakan indikator 1 sampai dengan 6 secara simultan.02 0.12 0.03720 0. dalam konteks ini jika 7 (tujuh) 210 .51665 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. Berdasarkan kenyataan ini maka dapat dikatakan bahwa untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas.39277 0. dengan P = 60.04673 jumlah indikator penilaian harus ditambah.04489 0. begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan kaoefisien sebesar 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.

indikator digunakan semua dicapai koefisien kesepahaman dan kesepakatan mencapai 66. begitu seterusnya untuk rancangan 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.16 0. Tetapi jika 211 .68. R INF I INF. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002. Tabel 16 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Produk dan Tingkat Perubahannya pada Kelas 1 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai sebesar 52%. 2) D Study untuk Penilaian Produk Rangkuman hasil analisis D-Study Genova untuk uji coba penilaian produk berturut-turut dapat disajikan pada Tabel 16 sampai dengan Tabel 18.40882 Tabel 16 memberi gambaran bahwa penilai dalam menggunakan komponen penilaian produk di kelas 1 jika hanya menggunakan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60. penilai cukup menggunakan indikator 1 dan 2 saja. dengan P = 60.68142 0.76.51678 0.69%.31555 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.76238 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.08 001-001 001-002 001-003 60 60 60 3 3 3 1 2 3 0. GENERALIZABILITY COEF. Menurut kenyataan ini maka dapat dikatakan bahwa untuk penggunaan komponen penilaian produk agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas.52. PHI Selisih Koefisien Genova 0.18733 0.

Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.24922 0.39900 0.40 begitu seterusnya untuk rancangan 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.25.50.ingin diperoleh tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi maka penggunaan indikator 1 dan 2 bersama sekaligus dengan indikator nomor 3 sangat dianjurkan.49896 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.08359 0.21486 Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai sebesar 25%. R INF I INF.10 001-001 001-002 001-003 60 60 60 3 3 3 1 2 3 0. Kenyataan ini menunjukkan bahwa untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas.15429 0. GENERALIZABILITY COEF. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2. Tabel 17 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Produk dan Tingkat Perubahan pada Kelas 2 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. penilai harus menggunakan semua indikator yang ada dan dianjurkan untuk menambah indikator lain yang sejenis untuk melengkapi jabaran konstruk yang ada sehingga 212 . dengan P = 60. Tabel 17 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian produk di kelas 2 hanya dengan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60.15 0.

29672 dapat dicapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi. dengan P = 60.Tabel 18 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Produk dan Tingkat Perubahan pada Kelas 3 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. Jika penilai menggunakan dua indikator (D study design nomor 001-002. 213 .52380 0. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas.62263 0. penilai harus menggunakan indikator yang ada dan ditambah lagi indikator lain untuk melengkapi jabaran konstruk yang ada sehingga dapat dicapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi. PHI Selisih Koefisien Genova 0.10 001-001 001-002 001-003 60 60 60 3 3 3 1 2 3 0.52 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.35483 0.62.35.Tabel 18 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian produk di kelas 3 hanya dengan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60.12330 0. Penambahan indikator sejenis yang relevan untuk meningkatkan kebermaknaan penilaian produk di kelas 2 memerlukan telaah lanjut tersendiri. R INF I INF.21953 0. GENERALIZABILITY COEF. Artinya 35% penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.17 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.

Tabel 19 Tabel 19 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Diri dan Tingkat Perubahan pada Kelas 1 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. R INF I INF.46.70).66370 0.68342 0.63325 0. dengan P = 60. Artinya 46% penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian diri. Untuk mencapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi seyogianya semua indikator yang ada digunakan secara simultan.08319 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002. 214 . R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.09222 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian diri di kelas 1 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0.46320 0.58001 0. GENERALIZABILITY COEF.03 0.12 0.08861 0. 2. penilai paling tidak harus menggunakan indikator 1. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.02 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0.05585 0. 3 dan 4.58 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.05 0.63.07412 0.3) D Study untuk Penilaian Diri Rangkuman hasil analisis D-Study Genova untuk uji coba penilaian diri berberturut-turut dapat disajikan pada Tabel 19 sampai dengan Tabel 21.

R = 3 dan I = 1) Tabel 20. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.53.03553 memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. GENERALIZABILITY COEF.53194 0. R INF I INF.02095 0.60852 0.70). PHI Selisih Koefisien Genova 0. dengan P = 60. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangn D study nomor 001-002. penilai paling tidak harus menggunakan semua indikator yang ada.Tabel 20 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian diri di kelas 2 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60.33. Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Diri dan Tingkat Perubahan pada Kelas 2 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.03 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0.02818 0.07 0.45963 0.03184 0.46 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.13 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2. 215 . Untuk mencapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi semua indikator yang ada dipakai dan jika memngkinkan ditambah lagi indikator lain dan digunakan secara simultan. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0.32649 0.05 0.03495 0. Artinya penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian diri sebesar 33%.57735 0.

penilai paling tidak harus menggunakan semua indikator yang ada. 216 . dengan P = 60.05721 Tabel 21 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian diri di kelas 3 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60. R INF I INF.70). 4) D Study untuk Penilaian Kelompok Rangkuman hasil analisis D-Study Genova untuk uji coba penilaian kelompok berturut-turut dapat disajikan pada Tabel 22 sampai dengan Tabel 24. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.38.38162 0.04534 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.07 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.04 0. GENERALIZABILITY COEF. PHI Selisih Koefisien Genova 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancngan D study nomor 001-002.14 0.59.05482 0.63114 0.52 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.05125 0.51820 0.03369 0. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0.Tabel 21.65991 0.58839 0.03 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0. Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Diri dan Tingkat Perubahan pada Kelas 3 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. Artinya 38% penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian diri yang dipakai.

83052 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. penilai sudah cukup hanya menggnakan butir indikator 1 dan 2 saja.32230 0.41635 0.55. PHI Selisih Koefisien Genova 0.85966 0. tetapi jika ingin mendapatkan tingkat kebermaknaan yang lebih tinggi penggunaan semua butir indikator yang ada lebih dianjurkan.16 0.70).78611 0. 217 . Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0.71 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.19211 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.08 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.71016 0.48748 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.03 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0.Tabel 22 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Kelompok dan Tingkat Perubahan pada Kelas 1 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.79.55058 0. Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian kelompok yang dipakai sebesar 55%. GENERALIZABILITY COEF.54316 Tabel 22 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian kelompok di kelas 1 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60.04 0. dengan P = 60. R INF I INF.

GENERALIZABILITY COEF.70).37840 Tabel 23 memberi gambaran bahwa jika penilai menggunakan komponen penilaian kelompok di kelas 2 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60. Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian kelompok yang dipakai sebesar 48%.73331 0.10856 0.47823 0.26759 0. R = 3 dan I = 1). Tabel 24 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian kelompok di kelas 3 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60.78569 0.17 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.09 0. penilai sudah cukup hanya menggnakan butir indikator 1 dan 2 saja.05 0.82088 0.19586 0.73. tetapi jika ingin mendapatkan tingkat kebermaknaan yang lebih tinggi dianjurkan menggunakan semua butir indikator yang ada. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.32757 0. dengan P = 60. maka besarnya koefisien reliabilitas dalam koefisien G adalah sebesar 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002. R INF I INF.36.48.04 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.Tabel 23 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Kelompok dan Tingkat Perubahan pada Kelas 2 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. 218 . PHI Selisih Koefisien Genova 0.65 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0.64703 0.

R INF I INF. Secara umum hasil analisis D study telah memberi petunjuk dan alternatif penggunaan alat penilaian kepada pengguna instrumen penilaian kualitas karya seni lukis untuk mempertimbangkan penggunaan indikator-indikator penilaian yang relevan dengan sasaran yang dinilai dan mempertimbangkan tingkat reliabilitas kebermaknaan hasil penilaian.10883 0. penilai sudah cukup hanya menggunakan butir indikator 1.10 0. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa ada beberapa rancangan dari hasil D study yang 219 .Tabel 24 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Kelompok dan Tingkat Perubahan pada Kelas 3 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.17 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.73765 0.53 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.52934 0.69224 0. 3 dan 4 saja.19630 0. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0.06 0.37912 Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian kelompok yang dipakai sebesar 36% Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.70). tetapi jika ingin mendapatkan tingkat kebermaknaan yang lebih tinggi dianjurkan menggunakan semua butir indikator yang ada.26813 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.63. GENERALIZABILITY COEF. 2. PHI Selisih Koefisien Genova 0.32818 0.35993 0. dengan P = 60.05 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0.62784 0.

Rangkuman hasil perhitungan konsistensi dan kesepakatan tiga rater tersebut disajikan pada Tabel 25 untuk kelas 1.73. Koefisien Interrater pada Penilaian Proses Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian proses instrumen pendidikan seni lukis anak untuk kelas 1. Untuk keperluan ini.73.71 . peneliti menggunakan koefisien Cohen’s Kappa. Koefisien interrater merupakan salah satu sarana untuk melihat tingkat konsistensi atau keajegan antar penilai dalam memberikan rating terhadap unjuk kerja karya seni lukis siswa. berikut ini disajikan hasil analisis koefisien interrater. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai proses kelas 1 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. Tabel 26 untuk kelas 2. Tabel 25 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketujuh item yang dirating tersebut. 220 . Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. ada 7 (tujuh) item yang menjadi objek penilaian. dan kelas 3. yaitu 0. dan Tabel 27 untuk kelas 3. kelas 2. a. yaitu sebesar 0. 2. Data Uji Coba Koefisien Interrater Konfirmasi data hasil uji coba dari hasil Anava.mereferensikan perlunya penambahan indikator untuk komponen penilaian tertentu yaitu untuk komponen-komponen penilaian produk dan penilaian diri untuk sasaran penilaian kelompok tertentu.75. Pada penilaian proses ini. dan antara UD dengan DI sebesar 0.

72 2 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0.81 0. yaitu 0.75 0.71 0.78 0.70 0.72 0. yaitu sebesar 0.79 0. yaitu 0. Nilai koefisien κ 221 .67.77 0.Tabel 25 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Proses Kelas 1 Penilai 1 0. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas.70.68 0.65 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan.64.63 0.70 0.78 0.68 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 67%.74 0.82 3 ST 4 5 6 7 1 2 3 UD 4 5 6 7 UD DI 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 73% .84 0. Tabel 26 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketujuh item yang dirating tersebut.70. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.67 0.68 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai proses kelas 2 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.67.81 0.

76 0.56 0.70 (Nunally.71 222 .61 0.64 0.69 0.66 0.7 0.55 0.67 0.73 0.9 0.81 0.6 0.69 0.59 0.85 0.62 0.Tabel 26 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Proses Kelas 2 Penilai ST 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 1 0. Tabel 27 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Proses Kelas 3 Penilai ST 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 1 0.76 0.57 0.67 0.46 0.71 3 4 5 6 7 1 2 3 UD 4 5 6 7 UD DI 0.63 2 0.75 0. yaitu 0.73 0.81 0.66 0.65 0.56 0.57 0.68 0. syarat 1978:245 Linn.70 0.63 0.75 0. sehingga instrumen tersebut mendekati koefisien reliabilitas.65 3 4 5 6 7 1 2 3 UD 4 5 6 7 UD DI tersebut mendekati kriteria minimal yang digunakan.64 0.61 2 0.68 0. 1989:106).62 0.77 0.74 0.

70.88. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menila proses kelas 3 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. ada 3 (tiga) item yang menjadi objek penilaian. b. Tabel 28 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga item yang dirating tersebut.68.Tabel 27 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketujuh item yang dirating tersebut. yaitu 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0. Tabel 29 untuk kelas 2. Pada penilaian produk ini.73. yaitu 0.74. dan antara UD dengan DI sebesar 0. Koefisien Interrater pada Penilaian Produk Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian proses instrumen pendidikan seni lukis anak untuk kelas 1.88.63. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai produk kelas 1 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. dan Tabel 30 untuk kelas 3. yaitu 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. yaitu sebesar 0. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas.88. kelas 2.88. yaitu sebesar 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 73%. 223 . Rangkuman hasil perhitungan konsistensi dan kesepakatan tiga rater tersebut disajikan pada Tabel 28 untuk kelas 1. dan kelas 3. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.

88 0.85 0.70. yaitu 0.88 0. yaitu 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai produk kelas 2 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. Pada Tabel 29 menunjukkan koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga item yang dirating tersebut. yaitu sebesar 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan.88 2 3 1 UD 2 3 Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 88%.97. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. yaitu 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.92 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 97%.Tabel 28 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Produk Kelas 1 Penilai ST 1 1 UD 2 3 1 DI 2 3 0.97. dan antara UD dengan DI sebesar 0.85 0.96.85 0.70.92 0.97. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas.92 0. 224 . sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas.

Tabel 29 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Produk Kelas 2 Penilai ST 1 1 UD 2 3 1 DI 2 3 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0.92.89.82 2 3 1 UD 2 3 secara keseluruhan dalam menilai produk kelas 3 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.93 0.93 0.93 0.98 0.95 0.90 0.95 0.98 0. 225 .98 0.98 2 3 1 UD 2 3 Tabel 30 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga item yang dirating tersebut.95 0.98 0.95 0.93 0.98 0. yaitu sebesar 0.93.94. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai Tabel 30 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Produk Kelas 3 Penilai ST 1 1 UD 2 3 1 DI 2 3 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.98 0. yaitu 0.93 0.

sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas.82. dan kelas 3. kelas 2. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. Koefisien Interrater pada Penilaian Diri Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian diri instrumen pendidikan seni lukis anak untuk kelas 1. c. Tabel 32 untuk kelas 2. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas. Pada penilaian diri ini. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman yang sama terhadap konstruk penilaian sebesar 82%. yaitu 0.84. dan antara UD dengan DI sebesar 0. ada 5 (lima) item yang menjadi objek penilaian. Tabel 31 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut. 226 .70. Rangkuman hasil perhitungan konsistensi dan kesepakatan tiga rater tersebut disajikan pada Tabel 31 untuk kelas 1. yaitu sebesar 0.82. yaitu 0.82. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai penilaian diri kelas 1 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.70. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan.Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman yang sama terhadap kostruk penilaian sebesar 92%. yaitu 0. dan Tabel 33 untuk kelas 3.

84 0.66 0.56 0.73 227 . Tingkat konsistensi dan kesepakatan Tabel 32 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Diri Kelas 2 Penilai ST UD 1 2 3 4 5 1 2 3 4 1. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.84.74 5 U D D I 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 0.54 0.89 2 0.76 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0.53 0. yaitu 0.00 0.87 0.00 0.85 0.73 0.89 0.77 0.55 0.88 0.85 0.74 0.77 1.81 0.65.86 0.88 0.57 0.Tabel 31 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Diri Kelas 1 Penilai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 0.50 0.92 0.96 0.67.88 0.63 ST 3 4 5 1 2 UD 3 4 5 U D D I Tabel 32 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut.

penilai secara keseluruhan dalam menilai penilaian diri kelas 2 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.79 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. yaitu sebesar 0.91 0.82 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam peilaian diri kelas 3 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga pasangan tersebut.91 0. yaitu sebesar 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.84.70.75. Tabel 33 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Diri Kelas 3 Penilai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman yang sama terhadap konstruk penilaian sebesar 72%. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa 75.82 0.80 0. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat reliabilitas.62 0.72.50 0.82 2 0.40 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0.75.68. yaitu 0.85 0.76 0.82 ST 3 4 5 1 2 UD 3 4 5 U D D I Tabel 33 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut. yaitu 0.76 0.76 0.0% ketiga penilai tersebut memiliki 228 .

Tabel 34 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut. Pada penilaian kelompok ini. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 51%. Nilai koefisien κ tersebut lebih kecil dari kriteria minimal yang digunakan. dan kelas 3. yaitu 0. Koefisien Interrater pada Penilaian Kelompok Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian kelompok instrumen pendidikan seni lukis anak untuk kelas 1. sehingga instrumen tersebut belum memenuhi syarat koefisien reliabilitas. yaitu 0. kelas 2. 2005: 143). Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam penilaian kelompok kelas 1 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga pasangan tersebut. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat reliabel. 229 .persepsi dan pemahaman yang sama terhadap kostruk penilaian. yaitu sebesar 0. ada 5 (lima) item yang menjadi objek penilaian. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. Tabel 35 untuk kelas 2.51. dan Tabel 36 untuk kelas 3.48. d.70. dan antara UD dengan DI sebesar 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan.64 (Cohen & Swerdlik.44.59. Rangkuman hasil perhitungan konsistensi dan kesepakatan tiga rater tersebut disajikan pada Tabel 34 untuk kelas 1. yaitu 0.

69 0.33.34.46 Tabel 35 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut. yaitu 0. sehingga instrumen tersebut belum memenuhi syarat koefisien reliabilitas. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.49 0.37.49 0.38 0. 230 .29 0.56 0.37 0.70. yaitu sebesar 0.52 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 33%.48 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam penilaian kelompok kelas 2 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. Nilai koefisien κ tersebut lebih kecil dari kriteria minimal yang digunakan.67 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0.29.54 0.55 0.U D D I 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Tabel 34 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Kelompok Kelas 1 Penilai ST UD 1 2 3 4 5 1 2 3 4 0. yaitu 0.53 0.61 5 0.

48 2 0.76 0.57 ST 3 4 5 1 2 UD 3 4 5 U D D I 231 .20 0.82 0.68 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. yaitu 0.55 0.26 0.20 0.78 0.76 0.75.69.45 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0.65 0.72 0.46 0.27 0.39 ST 3 4 5 1 2 UD 3 4 5 U D D I Tabel 36 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut.77 0.83 0.21 0.11 0.62 0.71 0.79 2 0.41 0.76 0.74.Tabel 35 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Kelompok Kelas 2 Penilai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam penilaian kelompok kelas 3 dapat diketahui dengan Tabel 36 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Kelompok Kelas 3 Penilai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 0.32 0.42 0.14 0.86 0.

sehingga C. Namun demikian. perbandingan kedua pendekatan tersebut disajikan berikut.mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.70. analisis kesepakatan dan kesepahaman rater terhadap konstruk instrumen digunakan dua 232 . instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas. yaitu 0. D. deskripsi. dan pedoman penggunaan instrumen penilaian seni lukis pada tahap focus group discussion (FGD) dan seminar. yaitu sebesar 0. kriteria dan rubrik. Penilaian Proses Penilaian proses instrumen penilaian seni lukis dilakukan oleh 3 (tiga) orang rater terhadap 60 orang siswa dengan 7 (tujuh) indikator instrumen. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 73%. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya.73. 1. Kajian Produk Hasil analisis tingkat kesepahaman dan kesepakatan rater (reliabilitas interrater) dengan menggunakan koefisien Genova dan koefisien Cohen Kappa menunjukkan bahwa instrumen penilaian seni lukis telah memenuhi syarat/kriteria minimal reliabilitas yang digunakan. Tahap revisi dalam setiap tahap pengembangan berkaitan dengan revisi indikator. Revisi Produk Bagian revisi produk dalam pengembangan instrumen penilaian seni lukis dalam disertasi ini mengikuti revisi produk dalam setiap tahap pengembangan.

67 Koefisien Kappa 0. sementara metode Cohen kappa tidak diperhatikan. pendekatan Genova lebih lengkap karena melibatkan tiga dimensi sementara pendekatan kappa hanya dua dimensi.73 0.00 0. Dalam kaitan dengan ini.18 0. peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan/menetapkan relibilitas antar penilai.pendekatan yaitu pendekatan Genova dan pendekatan Cohen Kappa. Koefisien Genova untuk Kelas 2 sama dengan koefisien kappa.73 Selisih 0. peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan relibilitas antar rater.67 0. Rangkuman perbandingan koefisien kedua pendekatan tersebut disajikan pada Tabel 37 Tabel 37 Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Proses Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Koefisien Genova 0. Walaupun demikian. estimasi dengan Genova lebih memberikan hasil kesepakatan dan kesepahaman rater yang lebih kuat dibandingkan dengan koefisien kappa.91 0. Dengan demikian. Jadi varians kesalahan dengan metode Genova lebih diperhitungkan dalam analisis.04 Tabel 37 memberi gambaran bahwa koefesien Genova untuk kelas 1 pada penilaian proses lebih tinggi dibandingkan dengan koefisien kappa. Hal ini memberi gambaran bahwa kedua pendekatan yang digunakan memberikan hasil yang sama. Oleh karena itu. 233 .67 0.

Sama dengan kasus kelas 2, koefisien Genova untuk kelas 3 lebih rendah dibandingkan dengan koefisien kappa. Dalam kasus ini, peneliti masih menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova dibandingkan dengan koefisien kappa. Hal tersebut disebabkan karena sumber varians kesalahan pada analisis koefisien kappa belum diperhatikan sehingga memberikan hasil yang lebih tinggi. Jika varians kesalahan diperhatikan maka kemungkinan akan memberikan hasil yang kurang lebih sama dengan yang diperoleh melalui koefisien Genova.
2. Penilaian Produk

Penilaian produk instrumen penilaian seni lukis dilakukan oleh 3 (tiga) orang rater terhadap 60 orang siswa dengan 3 (tiga) indikator instrumen. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, analisis kesepakatan dan kesepahaman rater terhadap konstruk instrumen digunakan dua pendekatan yaitu pendekatan Genova dan pendekatan Cohen Kappa. Rangkuman perbandingan koefisien kedua pendekatan tersebut disajikan pada Tabel 38. Tabel 38 Perbadingan koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Produk Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Koefisien Genova
0,76 0,49 0,62

Koefisien Kappa
0,88 0,97 0,92

Selisih 0,12 0,48 0,30

Tabel 38 memberi gambaran bahwa koefesien Genova untuk kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 pada penilaian produk lebih rendah dibandingkan dengan koefisien 234

kappa. Dalam kaitan dengan ini, estimasi dengan Genova lebih memberikan hasil kesepakatan dan kesepahaman rater yang lebih kuat dibandingkan dengan koefisien kappa. Oleh karena itu, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan relibilitas antar rater. Pendekatan Genova lebih lengkap karena melibatkan tiga dimensi, sementara pendekatan kappa hanya dua dimensi. Jadi varians kesalahan dengan metode Genova lebih diperhitungkan dalam analisis, sementara metode Cohen kappa tidak diperhatikan, Sumber varians kesalahan pada analisis koefisien kappa

belum diperhatikan sehingga memberikan hasil yang lebih tinggi. Jika varians kesalahan diperhatikan maka kemungkinan akan memberikan hasil yang kurang lebih sama dengan yang diperoleh melalui koefisien Genova. Dengan demikian, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan/menetapkan relibilitas antar penilai.
3. Penilaian Diri

Penilaian diri pada instrumen penilaian seni lukis dilakukan oleh 3 (tiga) orang rater terhadap 60 orang siswa dengan 5 (lima) indikator instrumen. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, analisis kesepakatan dan kesepahaman rater terhadap konstruk instrumen digunakan dua pendekatan yaitu pendekatan Genova dan pendekatan Cohen Kappa. Rangkuman perbandingan koefisien kedua pendekatan tersebut disajikan pada Tabel 39.

235

Tabel 39 Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Diri Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Koefisien Genova
0,68 0,61 0,66

Koefisien Kappa 0,82 0,72 0,75

Selisih 0,14 0,11 0,09

Tabel 39 memberi gambaran bahwa koefesien Genova untuk kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 pada penilaian diri lebih rendah dibandingkan dengan koefisien kappa. Dalam kaitan dengan ini, estimasi dengan Genova lebih memberikan hasil kesepakatan dan kesepahaman rater yang lebih kuat dibandingkan dengan koefisien kappa. Oleh karena itu, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan relibilitas antar rater, Pendekatan Genova lebih lengkap karena melibatkan tiga dimensi sementara pendekatan kappa hanya dua dimensi. Jadi varians kesalahan dengan metode Genova lebih diperhitungkan dalam analisis sementara metode Cohen kappa kesalahan pada analisis koefisien kappa

tidak diperhatikan, Sumber varians

belum diperhatikan sehingga memberikan hasil yang lebih tinggi. Jika varians kesalahan diperhatikan maka kemungkinan akan memberikan hasil yang kurang lebih sama dengan yang diperoleh melalui koefisien Genova. Dengan demikian, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan/menetapkan relibilitas antar penilai.

236

4. Penilaian Kelompok

Penilaian kelompok pada instrumen penilaian seni lukis dilakukan oleh 3 (tiga) orang rater terhadap 60 orang siswa dengan 5 (lima) indikator instrumen. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, analisis kesepakatan dan kesepahaman rater terhadap konstruk instrumen digunakan dua Tabel 40 Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Kelompok Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Koefisien Genova
0,86 0,82 0,74

Koefisien Kappa 0,51 0,33 0,73

Selisih 0,35 0,49 0,01

pendekatan yaitu pendekatan Genova dan pendekatan Cohen Kappa. Rangkuman perbandingan koefisien kedua pendekatan tersebut disajikan pada Tabel 40. Tabel 40 memberi gambaran bahwa koefesien Genova untuk kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 pada penilaian kelompok lebih tinggi dibandingkan dengan koefisien kappa. Dalam kaitan dengan ini, estimasi dengan Genova lebih memberikan hasil kesepakatan dan kesepahaman rater yang lebih kuat dibandingkan dengan koefisien kappa. Oleh karena itu, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan relibilitas antar rater.
5. Tren Perkembangan Koefisien Genova

Tren perkembangan koefisien Genova hasil penilaian 3 (tiga) orang rater pada penilaian instrumen seni lukis baik untuk penilaian proses, produk, penilaian 237

diri, dan penilaian kelompok disajikan pada gambar berikut.
a. Penilaian Proses Kelas 1

Koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 1 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater, Gambar 64 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 1 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Sebagai bahan perbandingan, kedua persamaan disajikan sebagai berikut. Tabel 41 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 1 Persamaan Linear
y = 0,0461x + 0,6355

Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik)
y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985

dengan: y = estimasi koefisien Genova,
x = banyak item yang dirating oleh rater,

Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 82,34%, sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam

memprediksi sebesar 97,5% sebagaimana yang tampak pada Gambar 64. Berdasarkan tingkat determinasi ini, tampak bahwa persamaan non-linear memberikan besarnya koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 4 ditulis

238

x =4, maka koefisien Genova untuk masing-masing persamaan diperoleh dengan

mensubstitusikan x =4 pada kedua persamaan seperti ditunjukan berikut: Tabel 42 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =4 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0,0461x + 0,6355 = 0,0461(4) + 0,6355 = 0,8199 Persamaan non-linear y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985 = −0,0114(4) 2 + 0,1374(4) + 0,4985 = 0,8657

Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 4 menggunakan persamaan linear adalah 0,8199, sedangkan bila menggunakan persamaan non-linear adalah 0,8657. Adapun koefisien Genova yang

sesungguhnya untuk x =4 adalah 0,85936. Hasil ini menunjukkan bahwa persamaan non-linear memberikan hasil yang lebih akurat, namun penafsirannya
Y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985

R2 = 0,975

Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear

,

,

,

Gambar 64. Tren perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 1 adalah banyak item yang dirating maksimum 6, karena lebih dari itu ditafsirkan tidak banyak berubah, walau pada grafik menunjukkan penurunan. Karakteristik

ini muncul sebagai akibat sifat-sifat yang berlaku pada persamaan non-linear 239

(kuadratik). Pada jumlah item < 6, kurva cenderung naik itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. Namun kurva akan cenderung turun setelah mencapai titik kulminasi yaitu untuk x =6. Akibatnya untuk jumlah item>6 kecenderungan estimasi koefisien Genova akan mengalami penurunan. Secara matematik penentuan titik kulminasi atau titik maksimum dilakukan dengan menggunakan konsep turunan pertama fungsi sebagai berikut:

y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985 y 1 = 2.(−0,0114) x + 0,1374
Nilai x yang menyebabkan y bernilai maksimum diperoleh dengan mmbuat dengan nol ditulis y 1 = 0

y1

y 1 = 2.(−0,0114) x + 0,1374 0 = 2.(−0,0114) x + 0,1374 x= 0,1374 = 6,026 ≈ 6 2.0,0114

Jadi estimasi nilai koefisien Genova maksimum terjadi pada saat item yang dirating sebanyak 6 buah. Adapun nilai koefisien Genovanya dientukan sebagai berikut. y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985

= −0,0114(6) 2 + 0,1374(6) + 0,4985 = 0,9125
b. Penilaian Proses Kelas 2

Koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 2 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang

240

Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 85. x = banyak item yang dirating oleh rater. Gambar 65 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 2 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Sebagai bahan perbandingan. sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam memprediksi sebesar 98.dirating oleh rater.0099 x 2 + 0. Berdasarkan tingkat determinasi ini.30%.2798 dengan: y = estimasi koefisien Genova.3984 Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0.0442 x + 0. tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik.1233 x + 0. Tabel 43 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 2 Persamaan Linear y = 0. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 6 ditulis x =6.47%. kedua persamaan disajikan sebagai berikut. Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. maka koefisien Genova untuk masingmasing persamaan diperoleh dengan mensubstitusikan persamaan seperti ditunjukan berikut: x =6 pada kedua 241 .

adanya pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti.1233 x + 0. Adapun koefisien Genova yang sesungguhnya untuk x =6 adalah 0. Hasil ini menunjukkan bahwa persamaan non-linear memberikan hasil yang lebih akurat.0099 x 2 + 0.0442(6) + 0.Tabel 44 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =6 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0. sedangkan menggunakan persamaan non-linear 0.6632 Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 6 menggunakan persamaan linear adalah 0.3984 = 0. terutama untuk jumlah item yang banyak. Akibatnya untuk jumlah item >6 kecenderungan estimasi koefisien Genova akan mengalami penurunan. Namun kurva akan cenderung turun setelah mencapai titik kulminasi yaitu u ntuk x = 6.3984 = 0. Berdasarkan Gambar 65. kurva cenderung naik itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating.2798 = −0. Namun demikian. Karakteristik ini muncul sebagai akibat sifatsifat yang berlaku pada persamaan non-linear (kuadratik).6632.1233(6) + 0.2798 = 0. Pada jumlah item < 6.0442 x + 0. Secara matematis penentuan titik kulminasi atau titik maksimum dilakukan dengan 242 .6636 Persamaan non-linear y = −0.0099(6) 2 + 0.65527. pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan karakteristik yang unik.6636.

y = − 0 ,0099 x 2 + 0 ,1233 x + 0 , 279

R2 = 0,983

Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear

,

,

,

Gambar 65. Tren perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 2 menggunakan konsep turunan pertama fungsi sebagai berikut:
y = −0,0099 x 2 + 0,1233x + 0,2798 y 1 = 2.(−0,0099) x + 0,1233

Nilai

x

yang menyebabkan

y

bernilai maksimum diperoleh dengan

menyamadengankan y 1 dengan nol ditulis y 1 = 0
y 1 = 2.(−0,0099) x + 0,1233 0 = 2.(−0,0099) x + 0,1233 x=

0,1233 = 6.227 ≈ 6 2.0,0099

Jadi estimasi nilai koefisien Genova maksimum terjadi pada saat item yang dirating sebanyak 6 buah. Adapun nilai koefisien Genovanya dientukan sebagai berikut.
y = −0,0099 x 2 + 0,1233 x + 0,2798

243

= −0,0099(6) 2 + 0,1233(6) + 0,2798 = 0,6632
c. Penilaian Proses Kelas 3

Koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 3 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater, Gambar 66 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 3 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Sebagai bahan perbandingan, kedua persamaan disajikan sebagai berikut. Tabel 45 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 3 Persamaan Linear
y = 0,0413x + 0,4144

Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0,0095 x 2 + 0,1174 x + 0,3003

dengan:

y = estimasi koefisien Genova,
x = banyak item yang dirating oleh rater,

Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 84,64%, sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam

memprediksi sebesar 98,10% sebagaimana tampak pada Gambar 66. Berdasarkan tingkat determinasi ini, tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan 244

memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 3 ditulis
x =3, maka koefisien Genova untuk masing-masing persamaan diperoleh dengan

mensubstitusikan x =3 pada kedua persamaan seperti ditunjukan berikut: Tabel 46 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =3 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0,0413x + 0,4144 = 0,0413(3) + 0,4144 = 0,5383 Persamaan non-linear y = −0,0095 x 2 + 0,1174 x + 0,3003 = −0,0095(3) 2 + 0,1174(3) + 0,3003 = 0,567

Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 3 menggunakan persamaan linear adalah 0,5383, sedangkan bila menggunakan

y = − 0 , 0095 x 2 + 0 ,1174 x + 0 , 3003

R2 = 0,981

Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear

,

,

,

Gambar 66. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 3

245

persamaan non-linear sebesar 0,567.

Adapun koefisien Genova yang

sesungguhnya untuk x =3 adalah 0,57735. Dari hasil ini tampak persamaan nonlinear memberikan pendekatan yang lebih akurat. Namun demikian, adanya pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti, terutama untuk jumlah item yang banyak. Berdasarkan Gambar 66, pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan karakteristik yang unik. Karakteristik ini muncul sebagai akibat sifat-sifat yang berlaku pada persamaan non-linear (kuadratik). Pada jumlah item < 6, kurva cenderung naik itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. Namun kurva akan cenderung turun setelah mencapai titik kulminasi yaitu untuk x =6. Akibatnya untuk jumlah item>6 kecenderungan estimasi koefisien Genova akan mengalami penurunan. Secara matematis penentuan titik kulminasi atau titik maksimum dilakukan dengan menggunakan konsep turunan pertama fungsi sebagai berikut: y = −0,0095 x 2 + 0,1174 x + 0,3003 y 1 = 2.(−0,0095) x + 0,1174 Nilai
x

yang menyebabkan

y

bernilai maksimum diperoleh dengan

menyamadengankan y 1 dengan nol ditulis y 1 = 0
y 1 = 2.(−0,0099) x + 0,1174 0 = 2.(−0,0095) x + 0,1174 0,1174 x= = 6,179 ≈ 6 2.0,0095 Jadi estimasi nilai koefisien Genova maksimum terjadi pada saat item yang dirating sebanyak 6 buah. Adapun nilai koefisien Genovanya sebagai berikut.

246

y = −0,0095 x 2 + 0,1174 x + 0,3003 = −0,0095(6) 2 + 0,1174(6) + 0,3003 = 0,6627
d. Penilaian Produk Kelas 1

Koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 1 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater, Gambar 67 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 1 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Sebagai bahan perbandingan, kedua persamaan disajikan sebagai berikut. Tabel 47 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 1 Persamaan Linear y = 0,1228 x + 0,4079 Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0,0418 x 2 + 0,2902 x + 0,2685

dengan:

y = estimasi koefisien Genova,
x = banyak item yang dirating oleh rater,

Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 96,2%, sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam

memprediksi sebesar 100% sebagaimana tampak pada Gambar 67. Berdasarkan tingkat determinasi ini, tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan 247

memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 3 ditulis
x =3, maka koefisien Genova untuk masing-masing persamaan diperoleh dengan

mensubstitusikan x =3 pada kedua persamaan seperti ditunjukan berikut: Tabel 48 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =3 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0,1228 x + 0,4079 = 0,1228(3) + 0,4079 = 0,7763 Persamaan non-linear y = −0,0418 x 2 + 0,2902 x + 0,2685 = −0,0418(3) 2 + 0,2902(3) + 0,2685 = 0,7629

Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 3 menggunakan persamaan linear adalah 0,7763, sedangkan menggunakan persamaan non-linear 0,7629. Adapun koefisien Genova yang sesungguhnya

y = − 0 , 0418 x 2 + 0 , 2902 x + 0 , 268

R 2 = 1,000

Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear

,

,

,

Gambar 67. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 1

248

untuk x =3 adalah 0,76238. Hasil ini menunjukkan bahwa persamaan non-linear memberikan pendekatan yang lebih akurat. Namun demikian, adanya

pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti, terutama untuk jumlah item yang banyak. Berdasarkan Gambar 67, pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan kurva cenderung monoton naik untuk setiap jumlah item yang dirating, itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. Karena kecenderungan kurva yang monoton naik, maka nilai maksimum koefisien genova terjadi untuk banyaknya item yang dirating 3 atau x = 3 , adapun nilai koefisien Genovanya sebagai berikut: y = −0,0418 x 2 + 0,2902 x + 0,2685 = −0,0418(3) 2 + 0,2902(3) + 0,2685 = 0,7629
e. Penilaian Produk Kelas 2

Koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 2 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater, Gambar 68 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 2 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Sebagai bahan perbandingan, kedua persamaan disajikan sebagai berikut.

249

1327 = 0.0249 x 2 + 0. Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 98. sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam memprediksi sebesar 100%.1249(2) + 0.3990 x =2 pada kedua 250 .1327 = 0.69%.2245(2) + 0. Berdasarkan tingkat determinasi ini. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 2 ditulis x =2.1249 x + 0.0496 = 0.0496 = −0.Tabel 49 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 2 Persamaan Linear y = 0.2245 x + 0.1327 Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0.3825 Persamaan non-linear y = −0.2245 x + 0. x = banyak item yang dirating oleh rater.0249(2) 2 + 0.1249 x + 0.0496 dengan: y = estimasi koefisien Genova. maka koefisien Genova untuk masingmasing persamaan diperoleh dengan mensubstitusikan persamaan seperti ditunjukan berikut: Tabel 50 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =2 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0. tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik.0249 x 2 + 0.

Gambar 68. Dari hasil ini tampak persamaan non-linear memberikan pendekatan yang lebih akurat.000 Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear . Karena kecenderungan kurva yang monoton naik.3990. Namun demikian. y = − 0 .3825. 2245 x + 0 . Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 2 Gambar 68 menunjukkan bahwa pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan kurva cenderung monoton naik untuk setiap jumlah item yang dirating. . 0249 x 2 + 0 . untuk Adapun koefisien Genova yang sesungguhnya x =2 adalah 0.Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 2 menggunakan persamaan linear adalah 0. terutama untuk jumlah item yang banyak. adanya pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti. 0496 R 2 = 1. . itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. maka nilai maksimum koefisien Genova terjadi untuk banyaknya item yang dirating 3 atau x = 3 . adapun nilai koefisien Genovanya sebagai berikut: 251 . sedangkan menggunakan persamaan non-linear 0.3990.

0309 x 2 + 0. Penilaian Produk Kelas 3 Koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 3 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater.0249 x 2 + 0.1339 x + 0.76%. Sebagai bahan perbandingan.y = −0.0496 = 0. kedua persamaan disajikan sebagai berikut.0249(3) 2 + 0.0496 = −0.2416 x + 0.4989 f. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 1 ditulis x =1. x = banyak item yang dirating oleh rater Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 97.2326 Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0. Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. maka koefisien Genova untuk masing- 252 . tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik.1020 dengan: y = estimasi koefisien Genova. Gambar 69 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 3 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam memprediksi sebesar 100%. Tabel 51 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 3 Persamaan Linear y = 0. Berdasarkan tingkat determinasi ini.2245 x + 0.2245(3) + 0.

0309 x 2 + 0 . 2416 x + 0 . 000 Gambar 69.0309(1) 2 + 0.2416(1) + 0.2326 = 0.3665 Persamaan non-linear y = −0.1020 = −0.1 R 2 = 1 .3825.masing persamaan diperoleh dengan mensubstitusikan persamaan seperti ditunjukan berikut: x =1 pada kedua Tabel 52 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =1 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0.0309 x 2 + 0.1020 = 0. Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear y = − 0 .3990. Adapun koefisien Genova yang sesungguhnya untuk x =2 adalah 0.2416 x + 0.1339 x + 0.1339(1) + 0. . Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 3 253 . . Namun demikian.3127 Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 2 menggunakan persamaan linear adalah 0. adanya pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti. sedangkan menggunakan persamaan non-linear 0. .2326 = 0.3990. Hasil ini menunjukkana bahwa persamaan non-linear memberikan pendekatan yang lebih akurat.

2902 x + 0.3390 y = 0. Karena kecenderungan kurva yang monoton naik.0524 x + 0.terutama untuk jumlah item yang banyak. adapun nilai koefisien genovanya sebagai berikut: y = −0. Tabel 53 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Diri Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Linear y = 0.2685 254 . kelas 2.418 x 2 + 0. pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan kurva cenderung monoton naik untuk setiap jumlah item yang dirating.015 x 2 + 0.0496 = 0.2245(3) + 0.0496 = −0.1454 x + 0.1671x + 0. itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating.4989 g. Berdasarkan gambar di atas.2245 x + 0.0165 x 2 + 0.355 y = −0.0249(3) 2 + 0. Penilaian Diri Kecenderungan koefisien Genova pada penilaian diri di kelas 1. Gambar 70 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian diri ketiga kelas dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non linear dengan rumusan sebagai berikut.067 x + 0. dan kelas 3 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh penilai. maka nilai maksimum koefisien genova terjadi untuk banyaknya item yang dirating 3 atau x = 3 .4475 non-linear y = −0.0682 x + 0.0249 x 2 + 0.2963 y = 0.1808 y = −0.

0165x2 + 0.10% (untuk kelas 1 ). 99. Adapun nilai estimasi maksimum 255 .26% (untuk kelas 1 ). 991 Keterangan Kurva Linear Kurva Non-Linear Kurva Data Asli Kelas 1 Kurva Data Asli Kelas 2 Kurva Data Asli Kelas 3 . Hal ini dibuktikan oleh tren koefisien Genova yang lebih tinggi untuk setiap peningkatan jumlah item yang dirating dibandingkan dengan koefisien Genova di kelas 1. y = −0. .0155x2 + 0. Berdasarkan koefisien determinasi tampak dengan jelas bahwa pendekatan dengan persamaan non-linear memberikan estimasi nilai koefisien Genova yang lebih baik. . .87% (untuk kelas 3).1454x + 0. R 2 = 0 . 92.1671 + 0.000 Gambar 70.996 . y = −0. y = −0.60% (untuk kelas 2 ) dan 100% (untuk kelas 3).02% (untuk kelas 2 ) dan 90. . Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Diri Gambar 70 menunjukkan bahwa estimasi besarnya nilai koefisien Genova baik dengan persamaan non-linear maupun persamaan linear memberi gambaran bahwa konsistensi dan kestabilan rater dalam merating di kelas 2 dan kelas 3 lebih baik dibandingkan dengan di kelas 1.0418 x 2 + 0. . Begitu juga konsistensi rater dalam merating kelas 3 lebih baik dari kelas 2.2902 x + 0.2685 R2 = 1. . sedangkan koefisien determinasi model non-linear persamaan tersebut dalam memprediksi sebesar 99.dengan tingkat determinasi model linear persamaan tersebut dalam memprediksi sebesar 88.1808 x R 2 = 0.3390 .

Besarnya nilai koefisien genova tersebut dihitung sebagai berikut: Penilaian kelas 1: y = −0.6038 Penilaian kelas 3: y = −0.0155 x 2 + 0.0165 x 2 + 0.2902 x + 0.0165(5) 2 + 0. Gambar 71 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian diri ketiga kelas dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non linear dengan rumusan sebagai berikut. 5 buah.418(5) 2 + 0.6726 Penilaian kelas 2: y = −0.koefisien Genova dengan pendekatan persamaan non-linear pada penilaian diri kelas 1.1671x + 0. dan 5 buah.1454 x + 0. Penilaian Kelompok Kecenderungan koefisien Genova pada penilaian kelompok di kelas 1. dan kelas 3 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh penilai.1454(4) + 0.0155(4) 2 + 0.418 x 2 + 0.6745 h. 2 dan 3 berturut-turut terjadi pada saat jumlah item 4 buah. 256 .3390 = −0.3390 = 0.1808 = 0.2902(5) + 0.1808 = −0.2685 =0.1671(5) + 0.2685 = −0. kelas 2.

. y = − 0.70 % (untuk kelas 3).3796 y = −0. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Kelompok 257 .997 Gambar 71.0209 x 2 + 0. sedangkan koefisien determinasi model non-linear persamaan tersebut dalam memprediksi sebesar 99. 90. .2127 x + 0.0209 x 2 + 0.020 x 2 + 0. R = 0.1992 x + 0. .2114 x + 0. y = −0.3139 Non-linear y = −0.0918x + 0. y = −0. .2953 .2953 y = −0.2114 x + 0. .994 .1992 x + 0.1728 dengan tingkat determinasi model linear persamaan tersebut dalam memprediksi sebesar 89.2127x + 0.20% (untuk kelas 1 ).Tabel 54 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Kelompok Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Linear y = 0. Dari koefisien determinasi tampak dengan jelas bahwa pendekatan dengan persamaan non-linear memberikan estimasi nilai koefisien Genova yang lebih baik.75% (untuk kelas 2) dan 93.4458 y = 0. R2 = 0.40% (untuk kelas 2 ) dan 99.40% (untuk kelas 3).1728 x R2 = 0. 99.5259 y = 0.0215 x 2 + 0.21% (untuk kelas 1).992 2 Keterangan Kurva Linear Kurva Non-Linear Kurva Data Asli Kelas 1 Kurva Data Asli Kelas 2 Kurva Data Asli Kelas 3 .0824x + 0.0201 2 + 0.0739x + 0.0215 x 2 + 0.3796 .

3796 = −0.3796 = 0.7365 Secara keseluruhan pendekatan persamaan nonlinear lebih akurat dibanding dengan persamaan linear. Adapun nilai hampiran maksimum koefisien Genova dengan pendekatan persamaan non-linear pada penilaian kelompok kelas 1.2114 x + 0. Hal ini ditunjukkan oleh varians skor yang 258 . Setidaknya hal itu dibuktikan oleh tren koefisien Genova yang lebih tinggi untuk setiap peningkatan jumlah item yang dirating dibandingkan dengan koefisien Genova di kelas 1.1992(5) + 0.020(5) 2 + 0.2953 = −0. Besarnya nilai koefisien genova tersebut dihitung sebagai berikut: Penilaian kelas 1: y = −0.020 x 2 + 0.0209(5) 2 + 0.1992 x + 0.1728 = −0. 2 dan 3 berturut-turut terjadi pada saat jumlah item 5 buah.0215 x 2 + 0.8523 Penilaian kelas 2: y = −0.1728 =0.2114(5) + 0.8153 Penilaian kelas 3: y = −0.2127(5) + 0.2953 = 0.0215(5) 2 + 0.0209 x 2 + 0. Begitu juga konsistensi rater dalam merating kelas 2 lebih baik dari kelas 3 .Pada Gambar 71 tampak bahwa pendekatan nilai koefisien Genova baik dengan persamaan non-linear maupun persamaan linear memberi gambaran bahwa konsistensi dan kestabilan rater dalam merating di kelas 2 dan kelas 3 lebih baik dibandingkan dengan di kelas 1.2127 x + 0.

Berdasarkan uraian tentang hasil dan pembahasan. instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar telah memenuhi syarat validitas dan reliabilitas untuk digunakan dalam proses penilaian secara luas. dan instrumen penilaian kelompok telah mengalami serangkaian ujicoba. Setiap persamaan nonlinear menunjukkan ada penurunan keoefisein Genova bila jumlah item atau indikator ditambah. secara keseluruhan pengembangan model instrumen penilaian karya seni lukis dapat diterima untuk digunakan melakukan penilaian pada faset yang lebih luas atau telah memenuhi untuk kepentingan faset pengukuran yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) pada kualitas karya seni lukis anak yakni ditunjukkan oleh indeks koefisien G sebesar 0. Data-data yang diperoleh melalui ujicoba dianalisis untuk membuktikan validitas dan reliabilitas menggunakan program Genova. walau pendekatan yang lebih akurat dibanding persamaan linear. Oleh karena pembaca harus hati-hati dalam menafsirkan persamaan nonlinear. Namun hal yang perlu diperhatikan bahwa jumlah item paling banyak yang dinilai adalah pada nilai maksimum koefisien reliabilitas. instrumen penilaian diri. instrumen penilaian produk. Harga maksimum koefisien Genova adalah harga maksimum kurve persamaan nonlinear. 259 . dapat diketahui instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar yang terdiri dari instrumen penilaian proses.71. Koefisien G dari komponenkomponen penilaian kualitas karya seni lukis hasil uji coba menunjukkan.dapat dijelaskan oleh persamaan nonlinear. Dengan demikian.

71 dan koefisien interrater 0. reliabilitas. Komponen proses terdiri atas 7 (tujuh) item. dan rubrik (kriteria).73 telah memenuhi kriteria minimal yang dipersyaratkan yaitu 0. Pedoman penilaian sudah divalidasi oleh guru pengguna yang meliputi keterpakaian. Pengguna instrumen ini adalah pendidik sebagai rater. dan komponen penilaian kelompok 5 (lima) item. rasional. komponen yang dinilai. 3. komponen penilaian diri 5 (lima) item. 1. dapat disusun kesimpulan sebagai berikut. Simpulan Tentang Produk Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dijelaskan pada BAB IV. Buklet terdiri atas latar belakang. 318) 260 . komponen produk 3 (tiga) item. Validitas telah teruji melalui proses focus group discussion sebanyak 3 kali dan seminar sekali.70. petunjuk penggunaan.BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. penggunaan bahasa. produk. dan keterpakaian di SD telah teruji. penilaian diri. 2. Komponen yang menjadi objek penilaian meliputi proses. Spesifikasi instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD berbentuk lembar pengamatan yang di dalamnya terdiri atas indikator. dan penilaian kelompok. dan efisiensi (hasil validasi dapat dilihat pada Tabel 7 hal. Koefisien Genova untuk instrumen ini sebesar 0. deskripsi. dan contoh aplikasi. Reliabilitas telah teruji melalui teknik generalizeability theory (Teori G) dan interrater Cohen’s Kappa. Karakteristik instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak yang mencakup validitas. Pedoman penggunaan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak dalam bentuk buklet.

Tetapi. dan responsif terhadap pembaharuan dan perubahan agar kegiatan pembelajaran seni dapat menyesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan jaman. Pengembangan instrumen hanya sampai pada tahap pengembangan dan belum sampai pada tahap diseminasi agar instrumen hasil pengembangan dapat digunakan secara lebih luas. B. Saran Pemanfaatan Saran yng diajukan berdasarkan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Penelitian ini didasarkan pada asumsi bahwa guru-guru seni lukis sekolah dasar cerendung memberikan penilaian secara subjektif. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan baik dari segi metode maupun aplikasi. Persyaratan yang harus dipenuhi pendidik SD agar kompeten menggunakan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD meliputi latar belakang pendidikan yang relevan. C. sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut. memiliki pengalaman dalam bidang seni lukis. penelitian ini tidak menjangkau pembuktian asumsi tersebut. Untuk sekolah hendaknya mengadakan pelatihan penggunaan instrumen penilaian seni lukis anak bagi guru mata pelajaran seni budaya dan 261 .4. 2. 1. memahami pedoman penilaian hasil belajar karya seni lukis anak. 1.

3. maka PGSD hendaknya mengadakan studi pilihan/paket bidang seni sehingga kelak tenaga guru yang dihasilkan bisa sebagai konsultan bagi guru yang lain. Sekolah-Sekolah Dasar yang tidak memiliki guru khusus seni budaya dapat memberdayakan dosen pendidikan seni rupa di LPTK sebagai pendamping.keterampilan di sekolah dasar. Instrumen yang telah dikembangkan ini divalidasi kembali dengan menggunakan sekolah yang berbeda agar diperoleh produk yang lebih baik. 2. Untuk mengetahui lebih dalam tentang latar belakang penciptaan karya seni lukis anak agar penilaian lebih objektif maka guru hendaknya membiasakan anak untuk menilai karya lukis sendiri dan karya temannya. agar guru dapat memberikan penilaian secara objektif hasil seni lukis anak. D. 3. 2. 262 . 4. Desiminasi pedoman penilaian karya lukis anak dapat dilakukan melalui musyawarah guru mata pelajaran seni budaya di sekolah dasar. 5. Untuk menguji keefektifan instrumen hasil pengembangan secara empirik masih diperlukan penelitian diseminasi pada daerah yang lebih luas. sehingga diperoleh manfaat yang lebih besar. dan Pengembangan Produk Lebih Lanjut 1. Bagi guru SD yang akan menggunakan instrumen penilaian ini hendaknya memahami dengan baik setiap item yang tercantum dalam instrumen penilaian seni lukis anak agar tercapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang tinggi antar sesama pengguna. Mengingat pentingnya bidang seni di sekolah dasar. Diseminasi.

..... Bidang Bersudut. Bidang Tak Beraturan........... Gambar 18......... Harimau Dalam Kandang.............. Gambar Manusia oleh Anak Umur Empat Tahun. Gambar Anak Umur Empat Sepuluh Tahun....... Gambar 4..... Gambar 13...................................... Gambar Anak yang Menunjukkan Penggabungan xv 79 77 78 79 75 75 76 77 73 54 54 55 55 55 56 56 56 57 57 57 57 60 71 ............ Gambar Bus Penuh Dengan Penumpang................... Bidang Geometris.................................. Gambar 7... Gambar Anak Umur Lima Tahun Menunjukkan Objek-Objek yang Ada di Dalam Maupun di Luar Rumah.................... Ruang dengan Teknik Bayangan....................... Gambar 15......................... Bidang Organik…………………………………………………….................. Gambar 6........ Ruang dengan Teknik Pelengkungan...................... Gambar 2..................... Gambar 23........... Ruang dengan Teknik Pergantian Bentuk dan Ukuran.................. Gambar 16... Gambar 12......... Gambar 21....................DAFTAR GAMBAR Gambar 1..................... Gambar 11...... Gambar X-ray Oleh Anak Umur Lima Tahun yang Menunjukkan Ibu Dengan Dua Anak di Dalamnya.... Gambar 10................. Gambar 19... Gambar Anak Pada Subtahap Figuratif Tengah…………………..................................................................... yang Menunjukkan Masa Peralihan dari Subtahap Figuratif Awal ke Subtahap Figuratif Tengah…………………………………………………… Gambar 17.............. Gambar Anak Pada Awal Munculnya Tahap Figuratif dengan Objek-Objek yang Menggantung di Langit........ Gambar 14.................... Gambar 22.................................. Gambar 24............................... Gambar 3.......................... Gambar 9.... Gambar 20.......... Hasil Gambar Anak Umur Lima Tahun.......................................... Ruang dengan Teknik Pergantian Tekstur............................... Gambar 8................. Gambar 5.................. Ruang dengan Teknik Pergantian Warna............................................... Lingkaran Warna............................................. Komposisi Ruang Negartif dan Positif....... Ruang dengan Teknik Gelap Terang.............................................................................................. Ruang dengan Teknik Penumpangan...... Gambar Kereta oleh Anak Umur Lima Tahun................

.............. Corengan Terkendali. Gambar 25.................................. Bagan Anak Usia 10 Tahun................................................... Gambar 35.................... Gambar 26... Gambar yang Menunjukkan Penggunakan Perspektif Linier Oleh Anak Kelas Lima.... Gambar 33........ Gambar 29......... Pra Bagan Anak Usia 4-7 Tahun............................................... Pra Bagan Anak Usia 7 Tahun. Model Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak.......... Gambar 40...................... Gambar 28....................Antara Tampak Depan dan Tampak Atas... Tahapan Pendefinisian Instrumen Seni Lukis Anak.............................................. Kesesuaian Buku yang Digunakan Hasil Studi Awal………........................................................................................................ Coreng Moreng Anak Usia 3 Tahun..... Corengan Tak Beraturan................ Gambar 31. Gambar 43...................... Gambar 47............ Gambar 30....... Gambar 41............................................................. Gambar yang Menunjukkan Perbedaan Anak Laki-laki dan Perempuan Dengan Ciri-Ciri Pakaian yang Rinci...................... Desain Ujicoba Intrumen Seni Lukis.... Subjek yang Menyiapkan Alat dan Bahan Hasil Studi Awal.............. 80 81 81 83 83 84 85 85 86 87 87 88 88 89 90 100 154 156 157 158 Gambar 44........................ Skema Tahap Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak 160 Gambar 45................... Gambar 34................................................................... Tahapan Studi Awal Pengembangan Instrumen Seni Lukis Anak....... Corengan Bernama............................ 161 162 172 172 173 xvi .......... Gambar 27................................................ Bagan Anak Usia 7-9 Tahun...... Gambar 37.............. Gambar 48............................... Tahapan Perancanganan Instrumen Seni Lukis Anak............ Gambar 49........... Gambar 42... Gambar 32......... Bagan Anak Usia 14 Tahun... Jenis Kurikulum yang Digunakan Hasil Studi Awal........................... Gambar 46........... Skema Tahap Diseminasi Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak..................... Gambar 39.... Langkah-Langkah Pembelajaran Seni Lukis....... Gambar 36.......... Bagan Anak Usia 13 Tahun.............. Gambar Bus yang Penuh Sesak Oleh Penumpang yang Digambarkan Dengan Perspektif Linier......... Gambar Anak Perempuan yang Mengidentifikasi Dirinya Dengan Pemain Drumband........... Gambar 38................

..... Kesulitan Guru dalam Penilaian Hasil Studi Awal.............. Gambar 57..................…………………..... Gambar 68. Hasil Studi Awal Unsur Kreativitas dalam Penilaian oleh Guru……………………………………………………............ Gambar 63...................... Gambar 69................... Hasil Studi Awal Partisipasi Siswa atau Sekolah dalam Kegiatan Lomba...................Gambar 50............. Gambar 54............ Gambar 67................................. Rangkuman Hasil Seminar Instrumen Penilaian Seni Lukis ..... Hasil Studi Awal Tanggapan Guru Perlunya Instrumen Penilaian ...................... Hasil Studi Awal Subjek yang Menentukan Tema Lukisan .. Gambar 64..... Gambar 55.................................. Tren perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 1.................................. Gambar 59............................................................................................. Hasil Studi Awal Kesesuaian Prosedur yang Digunakan dalam Penilaian ....................................................... Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 3. Gambar 51..... Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 2.................... Instrumen Penilaian Seni Lukis Hasil Tahap Rancangan....................... Rangkuman Hasil FGD Ketiga.............................................................. Gambar 62.................................... Gambar 58...... Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 1............... Gambar 53........ Hasil Studi Awal Kriteria Penilaian Guru ................ Tren perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 2…………………………………………………… Gambar 66........................................ Gambar 56............. Minat siswa dalam belajar Hasil Studi Awal......... Hasil Studi Awal Komponen Penilaian Guru..... 174 174 175 176 176 177 178 178 179 180 180 184 188 192 239 243 245 248 251 253 xvii . Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 3.......... Gambar 65. Gambar 52....................... Gambar 61................... Gambar 60.. Hasil Studi Awal Jenis Penentuan Skor Penilaian oleh Guru ......... Hasil Studi Awal Jenis Penilaian yang Digunakan Guru .............................

............................. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Diri........ 257 255 xviii ......................... Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Kelompok.................................................................. Gambar 71.....................Gambar 70.

........….......………………...........................................….............. Pengertian dan Jenis Seni Lukis ............………………………………………………………………...…….… E........................... Tujuan Penelitian ....... Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini ........ Seni Lukis bagi Anak Usia Sekolah Dasar .……………………………………………............................................ Pengertian Pendidikan Seni Rupa .........… D..... 1.......... DAFTAR ISI .. LEMBAR PENGESAHAN .......... Pendidikan Seni Rupa di Sekolah Dasar Di Indonesia ..............………………........................................... Pendekatan dalam Pendidikan Seni Rupa .......... ….....…………………………………………………….............……............DAFTAR ISI ABSTRAK....…..... Manfaat Penelitian ……….... Rumusan Masalah….....……………………………………………………….... 4... Rasional yang Melandasi Pentingnya Masalah ……………...... DAFTAR TABEL ....………............. 2....... DAFTAR LAMPIRAN . Manfaat Pendidikan Seni Rupa ....…... KAJIAN PUSTAKA …………..…...………………………………………………....…………. ABSTRACT........... PERNYATAAN KEASLIAN ..............................…… B...……………………………………………………………….........................................................................................…….......... Latar Belakang dan Identifikasi Masalah .................................. 1........................... A...... KATA PENGANTAR .......... PENDAHULUAN……………………………………………………… A..... ii iii iv v vii viii xi xv xix 1 1 7 11 11 12 12 14 14 14 22 24 34 42 52 52 64 viii ........ 3.............…………………………………………………………............. 2........... B..………..................................... Pembelajaran Seni Lukis di Sekolah Dasar ………………………............... BAB I.............…….........................................…… E.....................…………………...............…… BAB II...... Spesifikasi Produk ……….... Pendidikan Seni Rupa ………...……… C. DAFTAR GAMBAR .................... C.

.....................…… A........................................ 3....... Seni Lukis sebagai Indikator Gambar Ekspresi dalam KTSP ...... Pertanyaan Penelitian ……….............. Tahap Pengembangan .. Data Pengembangan ...... 4........…….... Data Pendefinisian ...................................... Data Perancangan......... Uji Coba Produk ……………………...….. D....………... G............................................ 3.…...................................................................... Tahap Diseminasi ........... 4.................................................. F.......... 96 100 107 107 109 119 135 145 150 150 152 152 155 155 156 157 158 161 161 161 163 164 165 169 169 169 182 184 185 ..... Karakteristik Penilaian dalam Pendidikan Seni .......……........................…… 1........ Subjek Coba .................. Teknik Analisis Data .....………...................... Metode Pembelajaran Seni Lukis Anak Sekolah Dasar ........ BAB IV............. Prosedur Pengembangan ………………………………………… 1. 2.. Penilaian dalam Pembelajaran Seni Lukis di Sekolah Dasar .............................………………...................… 1......................................... 2..........…….......................... 4.................... ……………………………………........... D.........……....... Kerangka Pikir …............................................. 2...... 2..... Data Uji Coba ………. Hasil Penelitian yang Relevan ………........ BAB III........... HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN........................................ Tahap Pendefinisian ........……..................... 4............................................…….…… A............... 5................... Hipotesis Uji Model ………......................................……................ Model Pengembangan ................... H................... ix ................................... 3............... 1...................…........... Fungsi Penilaian dalam Pendidikan Seni ...... Data Studi Awal ...................... METODE PENELITIAN .................................................. Aspek yang Dinilai dalam Karya Seni Lukis................... E..... 3.................. Jenis Instrumen Pengumpulan Data ..……….......……………… B...... Desain Uji Coba ........... Tahap Perancangan . Tahap Studi Awal ...........…………..............................................3......….

. Data Uji Coba Koefisien Interrater ................... 235 237 237 260 260 261 261 262 263 BAB V.................................…… A....................... 2....... Saran Pemanfaatan …………………….............................. 187 196 196 220 232 232 232 234 .....……….................. KESIMPULAN DAN SARAN ...............…........................................... C...... B...............…………............. 2...........…………………...................…….......... Kajian Produk .......................................5.......................... Simpulan ............. D............... Penilaian Proses ......……............. 1................. 4.........………............… D.......................... Penilaian Kelompok . 5..... Diseminasi dan Pengembangan Produk Lebih Lajut ………...............… 1..........… DAFTAR PUSTAKA ..................... Diseminasi ... Revisi Produk………………….........................................……………………………............................................ 3..................................................… …………………………………….... Penilaian Produk ................................. Keterbatasan Penelitian………………………………. Tren Perkembanagan Koefisien Genova .......... Analisis Data . Penilaian Diri..................... x ...................………… C............................ Data Uji Coba....……………… B..................

........................................ Tabel 18........... Penilai................................... Tabel 2.............................. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Proses.... Tabel 7... Tabel 8..........................DAFTAR TABEL Tabel 1.................. Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Produk Kelas 2 dan Tingkat Perubahannya............................... Penilai........................ Penilai................ Tabel 10.. Estimasi Komponen Variansi Siswa.................................................... Tabel 4.......... Rangkuman Hasil G Study dan Koefisien G Pada Berbagai Komponen dan Berbagai Faset Terapan Uji Coba. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Kelompok................................ Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Proses Kelas 3 dan Tingkat Perubahannya.............................. Estimasi Komponen Variansi Siswa........... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Produk Kelas 3 xi 212 211 210 209 208 206 203 201 199 197 171 181 186 5 96 123 124 ........ Tabel 11........................................ Tabel 13.... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Produk Kelas 1 dan Tingkat Perubahannya........ Daftar Peserta Studi Awal................. Tipe-Tipe Psikologis Anak dan Katagori Lukisan Anak... Tabel 17........ Tabel 3... Hubungan antara Tujuan Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan (PSB) dengan SKL Satuan Pendidikan SD.............................................. Tabel 5...... Student Self Evaluation Form.......................................................... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Proses Kelas 1 dan Tingkat Perubahannya ........... Tabel 6... Daftar Peserta Studi Awal. Tabel 14... Tabel 9.................. Tabel 15................................................................................. Estimasi Komponen Variansi Siswa.................................................... Tabel 12........ Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Produk................... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Proses Kelas 2 dan Tingkat Perubahannya...... Hasil FGD Pertama dan Kedua......................................................................... Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Diri.......... Tabel 16.................. Estimasi Komponen Variansi Siswa... Pupil’s Self Evaluation Form...................................... Penilai..

................................................... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai 227 225 xii ...... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Diri Kelas 2 dan Tingkat Perubahannya.................. Tabel 24................................ Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Diri Kelas 2.......... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Produk Kelas 3............................................................................................................. Tabel 22............................ Tabel 28.. Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Diri Kelas 1........... Tabel 32............................ Tabel 27.............. Tabel 31.............. Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai 213 214 215 216 217 218 219 221 222 222 224 Pada Penilaian Produk Kelas 2.........................dan Tingkat Perubahannya................................................................................................................................................................................. Tabel 19........ Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Proses Kelas......... Tabel 20........................... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Proses Kelas 2................................................................................................................... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Kelompok Kelas 3 dan Tingkat Perubahannya. Tabel 26. Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Produk Kelas 1............................... Tabel 25............ Tabel 21..................... Tabel 23.... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Diri Kelas 1 dan Tingkat Perubahannya ............................................ Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Diri Kelas 3 dan Tingkat Perubahannya.......... Tabel 29...................................................................................................................... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Proses Kelas 1.................. Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Kelompok Kelas 2 dan Tingkat Perubahannya ................ 225 Tabel 30................................................. Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Kelompok Kelas 1 dan Tingkat Perubahannya..... 227 Tabel 33.........................

.................... Tabel 47............................... Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Diri........................................ Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Kelompok Kelas 3................................................. Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 1................ Tabel 44......................................... Tabel 49...................Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 1........ Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =2 228 230 231 231 233 234 236 237 238 239 241 242 244 245 247 248 250 xiii ................................... Tabel 42.............. Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =3 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear ........ Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =6 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear .............. Tabel 43....................................................................... Tabel 34... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 2... Tabel 36.. Tabel 37...................................................................... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 2.......... Tabel 41...... Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =4 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear.. Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Kelompok Kelas 1...................... Tabel 45............Pada Penilaian Diri Kelas 3............................................ Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 3.... Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Kelompok......... Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =3 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear ............. Tabel 35........... Tabel 39.. Tabel 46....................................... Tabel 38................. Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Kelompok Kelas 2... Perbadingan koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Proses ... Perbadingan koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Produk .............................................. Tabel 40....... Tabel 48.......... Tabel 50.....................................................

........................... Tabel 52.................Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear .................................. 250 252 253 254 257 xiv ............................................................. Tabel 54.............................. Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Diri......................... Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =1 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear ............................... Tabel 53..........Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Kelompok.... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 3.................. Tabel 51.................

........................................................... Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Seni Budaya dalam KTSP Lampiran 2........................................ Data Hasil Penilaian Seni Lukis Anak.................................... Hasil Wawancara Keterpakaian Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak Lampiran 8.............. Lampiran 7........ Lampiran 6........... Hasil Seminar................................. Lampiran 9.......................................... Kompetensi Kreasi Seni Budaya dan Keterampilan.............................................................................................. Hasil FGD............... Surat Ijin Penelitian.. Lampiran 11........... Lampiran 4... Daftar Hadir FGD dan Seminar...................DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1.................................. Contoh Hasil Karya Seni Lukis Anak... 270 275 276 293 296 306 318 321 358 361 365 xix ........................... Lampiran 3.............................. Lampiran 10........................................ Lampiran 5...................... Hasil Analisis Genova..................................................... Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak...............

04701261001 Disertasi ini ditulis untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk mendapatkan gelar Doktor Pendidikan Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA YOGYAKARTA 2009 i .PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ANAK DI SEKOLAH DASAR Oleh: Tri Hartiti Retnowati NIM.

5. sehingga disertasi ini menjadi lebih baik.D selaku promotor disertasi ini. kepala MIN Tempel Sleman yang telah memberikan ijin dan segenap bantuannya pada pelaksanaan ujicoba instrumen penilaian seni lukis anak.D dan Prof. Disertasi ini bertujuan mengembangkan instrumen penilaian karya seni lukis anak yang valid. dan bimbingan yang sangat berharga. yang diberikan sehingga disertasi ini dapat selesai. dan praktis untuk digunakan guru di sekolah dasar. Ph. reliabel. dan inayahNya. Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta beserta segenap staf administrasi. taufiq. Sofyan Salam. Ph. Kepala SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta. atas perhatian dan dukungan sehingga disertasi ini selesai.. Prof. yang telah memberikan arahan. penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada: 1. perhatian. Suyata. Dalam kesempatan ini. bantuan. Para guru yang telah membantu pelaksanaan ujicoba instrumen penilaian seni lukis anak yaitu Ibu Udawati S. v . 2. sehingga disertasi ini dapat diselesaikan. Prof. 7. Bapak Sutarno S. yang telah memberikan kesempatan untuk melanjutkan studi S-3 pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas berkat limpahan rahmat. Penyelesaian disertasi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Ph. kemudahan. atas segala kebijaksanaan. 4. Kumaidi. 3. 6. Rektor Universitas Negeri Yogyakarta.Pd.D selaku reviewer disertasi ini yang telah memberi masukan kepada penulis. hidayah. kepala SDN Langensari Yogyakarta. dan Bapak Dodi Suyanto.Pd. Dekan FBS Univesitas Negeri Yogyakarta beserta staf. serta dorongan semangat kepada penulis sehingga disertasi ini dapat terwujud.

8. Para pakar pendidik seni dan seni lukis anak-anak serta guru seni lukis di sekolah dasar yang telah berpartisipasi dalam FGD sehingga instrumen ini dapat terwujud. 9. Segenap teman-teman Jurusan Pendidikan Seni Rupa FBS UNY dan mahasiswa angkatan tahun 2004 Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan S3 Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta yang dengan penuh keakraban memberikan dorongan moral dan segenap bantuan yang diberikan sehingga disertasi ini dapat selesai. Akhirnya rasa terimakasih yang sangat pribadi disampaikan kepada suami tercinta Prof. Djemari Mardapi Ph.D., dan anak-anak: Dian Puspita Sari dan suami, Febriaditya Agung Nugroho, dan Muhammad Harfiansyah Makarim yang dengan penuh pengertian dan pengorbanan selama penulis menyelesaikan studi. Semoga amal kebaikan bapak/ibu dan teman-teman semua

mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Amin.

Yogyakarta,

Mei 2009

Tri Hartiti Retnowati NIM. 04701261001

vi

PERNYATAAN KEASLIAN Yang bertandatangan di bawah ini Nama Mahasiswa Nomor Mahasiswa Program Studi Lembaga Asal : Tri Hartiti Retnowati : 04701261001 : Penelitian dan Evaluasi Pendidikan : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi ini merupakan hasil karya saya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya dalam disertasi ini tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Yogyakarta, April 2009 Yang membuat pernyataan

Tri Hartiti Retnowati

vii

Lampiran 1 Tabel 1. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Seni Budaya dan Kerajinan Sekolah Dasar Berdasarkan KTSP 2006 Kelas I, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengidentifikasi unsur rupa pada benda di alam sekitar 1.2 Menyatakan sikap apresiatif terhadap unsur rupa pada benda di alam sekitar 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresif 2.2 Mengekspresikan diri melalui teknik menggunting menempel KOMPETENSI DASAR

Kelas I, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya sent rupa 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengidentifikasi unsur rupa pada benda di alam sekitar 1.2 Menyatakan sikap apresiatif terhadap unsur rupa pada benda di alam sekitar 2.1 Mengekspresikan diri melalui karya seni gambar Ekspresif 2.2 Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa dua dimensi dengan teknik menempel KOMPETENSI DASAR

Kelas II, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya sent rupa 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengenal unsur rupa pada karya seni rupa 1.2 Menunjukkan sikap apresiatif terhadap unsur rupa pada Karya seni rupa 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar Ekspresif 2.2 Mengekspresikan diri melalui teknik cetak tunggal KOMPETENSI DASAR

270

Kelas II, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 2. Mengekspresikan diri melalui seni rupa. 1.1 Mengidentifikasi unsur rupa pada karya seni rupa 1.2 Menunjukkan sikap apresiatifterhadap unsur rupa pada karya seni rupa tiga dimensi 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresi 2.2 Menggunakan klise cetak timbul 2.3 Mengekspresikan diri melalui teknik cetak timbul KOMPETENSI DASAR

Kelas III, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 2. Mengekspresikan diri melalui seni rupa. 1.1 Menjelaskan symbol dalam karya seni rupa dua dimensi 1.2 Menunjukkan sikap apresiatif terhadap symbol dalam karya seni rupa dua dimensi 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif Mengenai diri sendiri 2.2 Mengekspresikan diri melalui gambar dekoratif dari motif Hias daerah setempat KOMPETENSI DASAR

Kelas III, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa KOMPETENSI DASAR

1.

Mengapresiasi karya seni rupa Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

1.1 Menjelaskan simbol dalam karya seni rupa tiga dimensi 1.2 Menunjukkan sikap apresiatifterhadap simbol dalam karya seni rupa tiga dimensi 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif mengenai alam sekitar 2.2 Memberi hiasan/warna pada benda tiga dimensi

2.

271

Kelas IV, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.1 Menjelaskan makna karya seni rupa terapan 1.2 Mengidentifikasi jenis karya seni rupa terapan yang ada di daerah setempat 1.3 Menunjukkan sikap apresiatif terhadap kesesuaian karya seni rupa terapan 1.4 Menunjukkan sikap apresiatif terhadap keartistikan karya seni rupa terapan 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi dengan tema benda alam: buah-buahan, tangkai, kerang, dsb 2.2 Memamerkan hasil gambar ilustrasi dengan tema benda alam: buah-buahan, tangkai, kerang, dsb di depan kelas KOMPETENSI DASAR

Kelas IV, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.1 1.2 1.3 Menjelaskan makna seni rupa murni Mengidentifikasi jenis karya seni rupa murni yang ada di daerah setempat Menampilkan sikap apresiatif terhadap karya seni rupa murni Membuat relief dari bahan plastis dengan pola motif hias Menyiapkan karya seni rupa yang dibuat untuk pameran kelas KOMPETENSI DASAR

2.

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

2.1 2.2

2.3

Menata karya seni rupa yang dibuat dalam bentuk pameran kelas

272

Kelas V, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.1 1.2 1.3 Menjelaskan makna motif hias Mengidentifikasi jenis motif hias pada karya seni rupa Nusantara daerah setempat Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan motif hias karya seni rupa Nusantara daerah setempat Mengekspresikan diri melalui gambar dekoratif dengan motif hias Nusantara 2.2 Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi dengan tema hewan dan kehidupannya 2.3 Membuat motif hias dasar jumputan pada kain KOMPETENSI DASAR

2.

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

2.1

Kelas V, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.2 1.3 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengekspresikan diri melalui gambar dekoratif dengan motif hias Nusantara Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi dengan tema hewan dan kehidupannya Membuat motif hias dasar jumputan pada kain Membuat topeng secara kreatif dalam hal teknik dan bahan Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi manusia dan kehidupannya KOMPETENSI DASAR

2.1 2.2

2.3

Menyiapkan karya seni rupa yang diciptakan untuk pameran kelas

2.4

Menata karya seni rupa yang diciptakan dalam bentuk pameran kelas/sekolah

273

Kelas VI, Semester 1

STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.1 1.2 1.3

KOMPETENSI DASAR Mengidentifikasi jenis motif hias pada karya seni rupa Nusantara daerah lain Menjelaskan cara membatik Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan motif hias karya seni rupa Nusantara daerah lain Membatik dengan teknik sederhana Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi dengan tema suasana di sekitar sekolah 2.3 2.4 Merancang boneka Membuat boneka berdasarkan rancangan

2.

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

2.1 2.2

Kelas VI, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.2 1.1 Mengidentifikasi jenis motif hias pada karya seni rupa Nusantara daerah lain Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan motif hias karya seni rupa Nusantara daerah lain Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi suasana alam sekitar KOMPETENSI DASAR

2.

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

2.1

2.2

Menyiapkan karya seni rupa yang dibuat untuk pameran kelas

2.3

Menata karya seni rupa yang dibuat untuk pameran kelas

274

2 Menggunakan klise cetak timbul 1.2 Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa dua dimensi dengan teknik menempel KOMPETENSI DASAR Kelas II. 1.1 Mengidentifikasi unsur rupa pada benda di alam sekitar 1.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresif 2. Semester 1 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1.1 Mengekspresikan diri melalui gambar Ekspresif 1. Semester 2 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Semester 1 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1.Lampiran 2 Tabel 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.2 Menyatakan sikap apresiatif terhadap unsur rupa pada benda di alam sekitar 2.1 Mengekspresikan diri melalui karya seni gambar Ekspresif 1.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresi 1. Mengapresiasi karya seni rupa 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif mengenai alam sekitar 12 Memberi hiasan/warna pada benda tiga dimensi 275 . Semester 2 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa KOMPETENSI DASAR 1. Semester 2 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1.2 Mengekspresikan diri melalui teknik cetak tunggal KOMPETENSI DASAR Kelas II.2 Mengekspresikan diri melalui teknik menggunting menempel KOMPETENSI DASAR Kelas I.3 Mengekspresikan diri melalui teknik cetak timbul KOMPETENSI DASAR Kelas III. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1. Kompetensi Kreasi Seni Budaya dan Keterampilan Kelas I. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.

276 .

Latar belakang Pembelajaran seni lukis merupakan bagian penting dari aktivitas belajar di sekolah. keterlibatan berbagai pihak sangat diperlukan. 276 . persentase penilaian kedua unsur tersebut masih menjadi dilema yang perlu diputuskan dengan pertimbangan yang matang.Lampiran 3 FOCUS GROUP DISCUSSION TAHAP 1 “ PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. Disamping itu. Berdasarkan alasan inilah. mulai dari para pakar sebagai perumus materi sampai dengan guru mata pelajaran sebagai pelaksana sekaligus evaluator kegiatan pembelajaran. dalam setiap pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kegiatan belajar seni lukis keikutsertaan para pakar seni lukis serta guru-guru pengampu di sekolah merupakan suatu kebutuhan yang mutlak. Dalam pelaksanaannya. Namun demikian. maka dalam proses penyusunannya perlu mempertimbangan pemikiran para pakar serta guru yang terlibat langsung dalam pembelajaran. dilaksanakan FGD tahap 1 yang difokuskan untuk menjaring aspirasi yang berhubungan dengan tahap awal penyusunan instrumen penilaian seni lukis anak. Kedua permasalahan tersebut merupakan topik yang akan dibahas dalam FGD tahap 1 sebagai langkah awal dalam penyusunan instrumen penilaian seni lukis anak. Disertasi yang berjudul ” Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak” merupakan representasi kebutuhan lapangan khususnya guru-guru pada jenjang pendidikan dasar yang mengkehendaki adanya suatu instrumen penilaian seni lukis yang valid dan reliabel sehingga dapat mengurangi subjektivitas guru dalam menilai karya siswa. Mengingat instrumen merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran seni lukis. Berdasarkan Performance Assesment dalam penilaian seni lukis anak terdapat dua unsur penting yaitu penilaian proses dan produk. indikator-indikator dari setiap penilaian baik proses maupun produk perlu ditetapkan dengan memperhatikan berbagai pemikiran yang disesuaikan dengan perkembangan jiwa dan perkembangan gambar anak untuk manentukan hasil penilaian seni lukis anak. Oleh karenannya.

Menentukan bobot persentase dari penilaian karya seni lukis anak yang terdiri dari proses dan produk. target dari FGD tahap 1 ini adalah: 1. C.Affandi Dewobroto. M.15 18. S. Target yang ingin dicapai Berdasarkan latar belakang.45 Aktivitas Pembukaan mengutarakan maksud dan tujuan FGD diikuti dengan perkenalan peserta yang hadir Presentasi pengenalan topik yang akan dibahas yaitu menentukan bobot persentase dari penilaian karya seni lukis anak yang terdiri dari proses dan produk dan menentukan indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak.15-18. Penyimpulan dan penyampaian hasil diskusi Penutupan dengan doa bersama 15. M.30-18.30-15.30 15. Diskusi sesi 1 untuk memutuskan bobot persentase dari penilaian karya seni lukis anak yang terdiri dari proses dan produk Diskusi sesi 2 untuk menentukan indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak.30 18. Adapun jalannya pelaksanaan FGD tersebut disajikan pada tabel berkut: Waktu 15.15-18.Sn Bambang Prihadi.Pd Dody S Dwi Susanto (Pakar pendidikan seni) ( Pakar seni lukis anak) (Pakar seni lukis anak UNY) (Guru pendidikan seni anak SD Sapen I) (Guru pendidikan seni anak SD Sapen II) (Guru pendidikan seni anak MIN Tempel) (Guru pendidikan seni anak Sekolah Dasar) D.40 277 .Lampiran 3 B.Pd Udawati. Menentukan indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak. Deskripsi pelaksanaan FGD tahap I dilaksanakan pada tanggal 26 Februari 2008 bertempat di Ruang Sidang Program Pascasarjana UNY. M.45-16.00-15. S.Pd Enrizal.15 16. Peserta yang hadir Drs. 2.

Dewobroto.Pd Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% karena proses seseorang dalam berkarya lebih penting dari hasil yang diperoleh Enrizal. dengan kata lain apabila proses baik maka produk pun akan baik begitu juga jika produk baik maka proses pun baik Bambang P.Pd Dalam penilaian produk perlu adanya tambahan indikator yaitu teknik Enrizal. S. M.Pd Penilaian proses dibagi menjadi dua tahap yaitu tahap awal dan tahap inti karena tahap akhir berupa penilaian diri dan kelompok bukan merupakan bagian dari proses seorang anak dalam berkarya Udawati.Affandi Penilaian proses dibagi menjadi tahap awal. M.Pd Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% karena proses lebih memperlihatkan kesungguhan siswa dalam melukis Udawati. Adapun penilain proses terdiri dari kreativitas dan ekspresi. dan tahap akhir. M. keterampuilan mengorganisasikan keterampilan estetis. S. tahap inti terdiri dari kelancaran penuangan ide.Lampiran 3 E. M. S.Affandi Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% mengingat proses lebih menentukan hasil karya yang diperoleh siswa Dewobroto.Sn Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 50% sedangkan produk 50% hal ini dikarenakan antara proses dan produk terdapat keseimbangan . sedangkan tahap akhir terdiri dari penilian diri. M. pemanfaatan waktu. Masukan peserta yang hadir Sesi 1 Pertanyaan Berapa persenkah bobot untuk penilaian proses dan produk Drs. M.Sn Dalam penilaian proses pada tahap inti perlu adanya tambahan kriteria yaitu pemahaman tema karena tanpa adanya pemahaman tema akan sulit bagi siswa untuk dapat melukis dengan baik Bambang P.Pd Dalam penilaian proses untuk kegiatan inti perlu 278 Masukan peserta Sesi 2 Pertanyaan Masukan peserta .Pd Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% Dody S Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% karena proses cenderung memperlihatkan potensi seorang anak dalam berkarya seni Dwi Susanto Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% Apakah indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak Drs. tahap inti. S. Tahap awal terdiri dari tanggapan anak terhadap tema dan kesiapan alat dan bahan.

Kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis Tahap awal Proses 1. Pemanfaatan waktu Tahap inti Kreativitas Produk Ekspresi Teknik Penilaian Diri Penilaian Kelompok 279 . Bobot persentase minimal untuk penilaian proses 60% dan produk 40% 2. Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk 4. Indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak 1. Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat 2.Lampiran 3 adanya indikator ketekunan serta keberanian dalam menggunakan unsur-unsur bentuk Dalam penilaian proses untuk kegiatan inti perlu adanya indikator keberanian menggunakan media Penilaian diri dan penilaian kelompok bukan merupakan bagian dari proses seseorang dalam berkarya. jadi untuk penilaian proses dan penilaian kelompok lebih baik terpisah tetapi tetap merupakan bagian dari penialian karya seni lukis anak Dody S Dwi Susanto F. Kelancaran penuangan ide 2. Keberanian menggunakan media 3. Kesimpulan 1. Ketekunan 5.

Latar belakang Menindaklanjuti hasil yang diperoleh dari FGD tahap I. target dari FGD tahap II ini adalah menentukan deskripsi dari setiap indikator pada penilaian proses dan produk. selanjutnya perlu adanya deskripsi dari masing-masing indikator pada penilaian proses dan produk. S.Pd Enrizal.Sn (Pakar pendidikan seni) (Pakar seni lukis anak UNY) (Guru pendidikan seni anak SD Sapen I) (Guru pendidikan seni anak SD) (Guru pendidikan seni anak SD Sapen II) (Guru pendidikan seni anak Sekolah Dasar) (Praktisi dan pakar seni lukis ) D. S. Oleh karena itu keterlibatan para pakar seni lukis anak dan guru sangat diperlukan.Lampiran 3 FOCUS GROUP DISCUSSION TAHAP II “ PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. Suwarno Bambang P. B. Peserta yang hadir Drs. Untuk mendeskripsiakan indikator ini. Proses olah pikir dari para pakar dan guru untuk menentukan deskripsi dari setiap indikator dilaksanakan pada FGD tahap II.Pd Udawati. M.Pd Sutarno. Susapto Murdowo. Target yang ingin dicapai Berdasarkan latar belakang. Deskripsi pelaksanaan FGD tahap II dilaksanakan pada tanggal 13 Maret 2007 bertempat di Ruang Sidang Program Pascasarjana UNY. C.Pd Dody S Drs. Deskripsi indikator ini mencakup gambaran secara terperinci dari setiap indikator yang diperoleh dari FGD tahap I. Adapun jalannya pelaksanaan FGD tersebut disajikan pada tabel berkut: 280 . diperlukan berbagai pemikiran yang didasari pemahaman konsep yang mendalam tentang karya seni lukis anak. S. M.

30 17. Susapto M.30-18.30 15.00-15.50-19.30-15.00 E. S. Untuk tahap awal indikator 2 deskripsinya adalah: M. Masukan peserta yang hadir Sesi 1 Pertanyaan Bagaimanakah deskripsi untuk indikator penilaian proses Drs.30 18. Diskusi sesi 1 untuk menentukan deskripsi dari setiap indikator pada penilaian proses Diskusi sesi 2 untuk menentukan deskripsi dari setiap indikator pada penilaian produk.45-17. Suwarno • Untuk tahap awal indikator 1 deskripsinya adalah: Reaksi peserta didik berupa perilaku yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik • Kemudian diperlengkap menjadi: Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi.45 Aktivitas Pembukaan mengutarakan maksud dan tujuan FGD diikuti dengan perkenalan peserta yang hadir Presentasi pengenalan topik yang akan dibahas yaitu menentukan deskripsi dari setiap indikator pada penilaian proses dan produk.50 18. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik Drs.Pd • Untuk tahap inti indikator 3 deskripsinya adalah: 281 Masukan peserta .30-18.Pd • Untuk tahap inti indikator 2 deskripsinya adalah: Keberanian menggunakan media dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik inkonvensional dalam melukis • Kemudian diperlengkap menjadi: Keberanian menggunakan media (alat dan bahan)dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik inkonvensional dalam melukis Udawati.Pd • Untuk tahap inti indikator 1 deskripsinya adalah: Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara ide yang ada dalam diri siswa dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut • Kemudian diperlengkap menjadi: Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara kualitas ide yang dikembangkan dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut Enrizal.Sn Suatu kondisi peserta didik yang sudah siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya Bambang P. S.Lampiran 3 Waktu 15. Penyimpulan dan penyampaian hasil diskusi Penutupan dengan doa bersama 15. M.

S. serta kebersihan karya yang dihasilkan Sutarno.Pd Untuk indikator no 2 deskripsinya adalah: Suatu kelancaran dalam penuangan ide yang dilihat dari ketegasan pada goresan. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik Untuk tahap inti indikator 4 deskripsinya adalah: Kondisi peserta didik untuk mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh-sungguh Untuk tahap inti indikator 5 deskripsinya adalah: Penggunaan waktu sebaik-baiknya untuk membuat karya lukis Dody S Sutarno. keaslian. bidang. keberhasilan karya. dan kebersihan karya 282 .Pd Deskripsi indikator 2 disederhanakan menjadi: Kejelasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema Udawati.Sn bentuk (kemampuan menciptakan bentuk yang khas). dan keberanian dalam mengorganisasikan unsur-unsur rupa tersebut Enrizal. kemampuan abstraksinya. bentuk karya lukis peserta didik. S. garis. kualitas cara penggambaran. kebaruan teknik dan konsep cerita Bambang P. garis.Pd Untuk indikator 3 deskripsinya adalah: Kemampuan peserta didik dalam menyesuaikan antara media/alat yang digunakan dengan bentuk-bentuk yang dibuat dalam karya lukisnya. Deskripsi indikator 1 disederhanakan menjadi Keaslian M. S.Pd Untuk indikator 3 deskripsinya adalah: Kemampuan peserta didik dalam menyesuaikan antara media/alat yang digunakan dengan bentuk-bentuk yang dibuat dalam karya lukisnya. ketelitian dalam penyelesaian. dan keberhasilan karya Dody S Deskripsi indikator 3 disederhanakan menjadi: Kemampuan menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya. ide-ide.Lampiran 3 Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik • Kemudian diperlengkap menjadi: Keberanian menggunakan titik. warna. ketelitian dalam penyelesaian. S.Pd Sesi 2 Pertanyaan Masukan peserta Bagaimanakah deskripsi untuk indikator penilaian hasil Drs. M. dan kemampuan untuk menyesuaikan dengan perkembangan terkini serta kesesuaian dengan karakteristik bahan/material yang digunakan Drs. Susapto M. Suwarno Untuk penilaian produk indikator 1 deskripsinya adalah: Suatu produk dari hasil pemikiran atau perilaku peserta didik yang merupakan kekuatan konseptual melalui karya lukisnya yaitu meliputi kepekaan pada suatu masalah.

kebaruan teknik dan konsep cerita Ekspresi Kejelasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema Teknik Kemampuan menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya. Ketekunan Kondisi peserta didik untuk mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh-sungguh Pemanfaatan waktu Penggunaan waktu sebaik-baiknya untuk membuat karya lukis Komponen Produk Kreativitas Keaslian bentuk (kemampuan menciptakan bentuk yang khas).1 1 Indikator Komponen Proses Tahap Awal Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Deskripsi Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi. serta kebersihan karya yang dihasilkan 3 4 5 B 1 2. kualitas cara penggambaran.2 Tahap Inti 1 Kelancaran penuangan ide Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara kualitas ide yang dikembangkan dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut 2 Keberanian menggunakan Keberanian menggunakan media (alat dan media bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik inkonvensional dalam melukis Keberanian menggunakan Keberanian menggunakan titik. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik 2 Kesiapan alat dan bahan Suatu kondisi peserta didik yang sudah yang akan digunakan siap melakukan tugas dengan perlengkapan untuk melukis bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya A. Kesimpulan Hasil dari FGD 2 ini adalah sebagai berikut: No A. garis. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik. unsur-unsur bentuk bidang. 3 283 . A.Lampiran 3 F.

perlu juga adanya ahli pengukuran untuk memberikan masukan terkait dengan segi kepraktisan.Si Bambang P. Dalam proses penyusunan rubrik skor ini. M.Pd Dodi sudaryanto Dwi Udawati F (Ahli pengukuran ) (Ahli pengukuran) (Ahli pengukuran) ( Pakar seni lukis anak UNY) ( Guru seni lukis SD) ( Guru seni lukis MIN Tempel) ( Guru seni lukis SD Sapen II) 284 . Berdasarkan alasan inilah. dan kereliabelan instrumen yang akan dibuat. S. maka dilaksanakan FGD tahap III untuk membahas rubrik skor penilaian proses dan produk serta instrumen awal penilaian diri dan kelompok. setelah menkentukan deskripsi indikator baik untuk penilian proses maupun penilaian produk langkah selanjutnya adalah pembuatan rubrik skor untuk menentukan kriteria dari setiap level penilaian yang diberikan. Peserta yang hadir Dr. target dari FGD tahap III ini adalah menentukan rubrik penskoran untuk masing-masing indikator dalam penilaian proses dan produk serta membahas instrumen penilaian diri dan kelompok. selain diperlukan adanya pakar serta guru seni lukis. Oleh karena itu. C. Latar belakang Sebuah penilaian yang baik mengandung kriteria yang berlaku secara umum. M. Target yang ingin dicapai Berdasarkan latar belakang. Kriteria ini merupakan penjabaran dari deskripsi setiap indikator yang terdapat dalam penilaian. B.Lampiran 3 FOCUS GROUP DISCUSSION TAHAP III “ PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. kevalidan. Heri Retnowati Suratno Mansyur.Pd Sutarno.

Pd 285 . pembahasan instrumen penilaian diri dan kelompok Penyimpulan dan penyampaian hasil diskusi Penutupan dengan doa bersama 15. Masukan peserta yang hadir Sesi 1 Pertanyaan Masukan peserta Bagaimanakah kriteria rubrik skor untuk penilaian proses Dr.Pd Sutarno. Adapun jalannya pelaksanaan FGD tersebut disajikan pada tabel berkut: Waktu 15. sangat kurang Untuk tahap inti indikator 1 level sangat baik kriteriannya adalah: sangat cepat.30 18. M. siap digunakan Kurang kriteriannya: kurang lengkap. cukup. Heri Retnowati Level penilaian bisa berupa: tidak pernah.30-18. S. relevan. jarang.00-15.30 17. Diskusi sesi 2 untuk menentukan rubrik penskoran penilaian produk.Lampiran 3 D.30 15. dan kurang lengkap Suratno Kriteria untuk setiap level dibuat dengan sederhana. M.45-19. baik.45 18. sangat siap digunakan Baik kriterianya: lengkap. sangat tepat. Mansyur. tidak siap digunakan Sebaiknya kriteria diganti menjadi sangat baik.Si Bambang P. cukup lengkap. kurang relevan. lengkap. dan sering atau sangat lengkap. kurang. Untuk tahap inti indikator 2 level sangat baik kriterianya adalah: sangat cepat. sangat relevan.30-18. sangat tepat. sangat sesuai dengan media sedangkan untuk level lainnya menyesuaikan.30-15. pembahasan awal instrumen penilaian diri dan kelompok Diskusi sesi 1 untuk menentukan rubrik penskoran penilaian proses. misalnya untuk tahap awal indikator 2 Sangat baik kriterianya: sangat lengkap.45 Aktivitas Pembukaan mengutarakan maksud dan tujuan FGD diikuti dengan perkenalan peserta yang hadir Presentasi pengenalan topik yang akan dibahas yaitu menentukan rubrik penskoran untuk setiap indikator pada penilaian proses dan produk.45-17. tidak relevan. tidak siap digunakan Sangat kurang kriterianya: kurang lengkap . Deskripsi pelaksanaan FGD tahap III dilaksanakan pada tanggal 10 April 2007 bertempat di Ruang Sidang Program Pascasarjana UNY.00 E.

Si Untuk penilaian produk indikator 2 level sangat baik kriteriannya: Sangat jelas Bambang P. sangat berani dalam karya Untuk penilaian produk indikator 3 level sangat baik kriteriannya:sangat sesuai karakteristik media. teknik sangat inovatif Suratno Untuk penilaian produk indikator 1 level sangat baik kriteriannya: bentuk yang diciptakan sangat khas.Pd Untuk penilaian produk indikator 2 level sangat baik kriteriannya: sangat jelas. sangat artistik Untuk tahap inti indikator 4 level sangat baik kriterianya adalah:Sangat bersungguh-sungguh Untuk tahap inti indikator 5 level sangat baik kriterianya adalah:Karya selesai sebelum waktu berakhir Dodi sudaryanto Dwi Udawati F Sesi 2 Pertanyaan Bagaimanakah kriteria rubrik skor untuk penilaian produk Dr. biasa-biasa. konsep cerita sangat kaya Mansyur. sangat tegas Untuk penilaian produk indikator 2 level sangat baik kriteriannya: sangat jelas. Kesimpulan Kesimpulan FGD tahap III ini dapat dilihat pada tabel 286 .Lampiran 3 sangat sesuai dengan karakteristik media sedangkan untuk level lainnya menyesuaikan Untuk tahap inti indikator 3 level sangat baik kriterianya adalah:sangat berani. sangat tegas. sangat bersih Untuk penilaian diri dan penilaian kelompok katagori jawaban dapat dibuat dengan menggambar ekspresi muka baik itu marah. Heri Retnowati Untuk penilaian produk indikator 1 level sangat baik kriteriannya: bentuk yang diciptakan sangat khas.Pd Dodi sudaryanto Dwi Udawati F F. sangat tepat . M. S. teknik sangat inovatif. sangat cermat. M. atau senang Masukan peserta Sutarno.

Lampiran 3 Tabel 3 Rangkuman Hasil FGD Ketiga No 1 Indiaktor Komponen Proses tahap Awal Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Deskripsi Level Kriteria • • • • • • • • Bertanya seperlunya seputar tema lukisan kepada guru Tidak pernah mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan sangat cepat Memperlihatkan kegairahan yang sangat tinggi untuk memulai melukis Jarang bertanya seputar tema lukisan kepada guru Jarang mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan cepat Memperlihatkan kegairahan yang tinggi untuk memulai melukis Sering bertanya seputar tema lukisan kepada guru Cukup sering mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan cukup cepat Memperlihatkan kegairahan yang cukup tinggi untuk memulai melukis Sangat sering bertanya seputar tema lukisan kepada guru Sering mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan lambat Memperlihatkan kegairahan yang kurang untuk memulai melukis Reaksi peserta didik berupa 4. Cukup • • • • 1. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik 3. Kurang • • • • 287 . Baik 2. Sangat baik perilaku (ekspresi.

Cukup Kriteria • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan sangat lengkap • Alat dan bahan sangat siap untuk digunakan • Alat dan bahan sangat mendukung kegiatan melukis • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan lengkap • Alat dan bahan siap untuk digunakan • Alat dan bahan mendukung kegiatan melukis • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan cukup lengkap • Alat dan bahan cukup siap untuk digunakan • Alat dan bahan sangat mendukung kegiatan melukis • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan kurang lengkap • Alat dan bahan kurang siap untuk digunakan • Alat dan bahan kurang mendukung kegiatan melukis Kriteria • • • • • • • • • • • Sangat cepat dalam menemukan ide Sangat tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide Sangat cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Cepat dalam menemukan ide Tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide Cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Cukup cepat dalam menemukan ide Cukup tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide Cukup cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Lambat dalam menemukan ide Kurang tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide 1. Kurang No 3 Indiaktor Komopnen Deskripsi Level Proses tahap Inti Kelancaran penuangan Kondisi peserta didik pada 4.Lampiran 3 No 2 Indiaktor Kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis Deskripsi Level Suatu kondisi peserta didik 4. Baik untuk memvisualisasikan ide tersebut 2. Sangat baik yang sudah siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya 3. Cukup 1. Baik lukisnya 2. Sangat baik waktu membuat karya lukis ide yaitu adanya keseimbangan antara ide yang ada dalam diri siswa dengan keterampilan 3. Kurang 288 .

Cukup 1.Lampiran 3 • Lambat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media No 4 Indiaktor Keberanian menggunakan media Deskripsi Level Kemampuan menggunakan 4. Kurang Kriteria • Sangat cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Sangat tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media sangat sesuai dengan karakteristiknya • Cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media sesuai dengan karakteristiknya • Cukup cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Cukup tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media cukup sesuai dengan karakteristiknya • Lambat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Kurang tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media kurang sesuai dengan karakteristiknya No 5 Indiaktor Keberanian menggunakan unsur bentuk Deskripsi Level Kemampuan menggunakan 4. garis. bidang) mendukung pertimbangan estetik • Penggunaan warna mendekati warna sebenarnya 289 . Sangat baik media (alat dan bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik bebas dalam melukis 3. bidang. Baik Kriteria • Variasi unsur-unsur bentuk (garis. Sangat baik unsur. dan warna untuk menghasilkan bentuk yang orisional/khas 3.titik. Baik 2. bidang) sangat mendukung pertimbangan estetik • Penggunaan warna sangat mendekati warna sebenarnya • Sangat berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis • Variasi unsur-unsur bentuk(garis.

Baik sungguh 2. Sangat baik mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh. Kurang No 8 Indiaktor Komponen Produk Kreativitas Deskripsi Level • • • • • • • • • • • • • • • • Kriteria • • Berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis Variasi unsur-unsur bentuk (garis. Sangat baik untuk 3. Cukup 1. bidang) mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna tidak mendekati warna sebenarnya Kurang berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis Menyelesaikan karya lukis dengan sangat tepat waktu Memperlihatkan hasil karya lukis yang sangat tuntas Menyelesaikan karya lukis dengan tepat waktu Memperlihatkan hasil karya lukis yang tuntas Menyelesaikan karya lukis dengan cukup tepat waktu Memperlihatkan hasil karya lukis yang cukup tuntas Menyelesaikan karya lukis dengan kurang tepat waktu Memperlihatkan hasil karya lukis yang kurang tuntas Sangat serius dalam membuat karya lukis Perhatian terhadap karya lukis sangat terfokus Serius dalam membuat karya lukis Perhatian terhadap karya lukis terfokus Cukup serius dalam membuat karya lukis Perhatian terhadap karya lukis cukup terfokus Tidak serius dalam membuat karya lukis Perhatian terhadap karya lukis kurang terfokus Keaslian bentuk (kemampuan 4.3. bidang) cukup mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna cukup mendekati warna sebenarnya Cukup berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis Variasi unsur-unsur bentuk sedikit (garis. Cukup • • • 1. Sangat baik menciptakan bentuk-bentuk baru) Tidak pernah melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang sangat tinggi dalam memodifikasi objek 290 .Lampiran 3 • 2. Baik 2. Kurang • • • 6 Pemanfaatan waktu Penggunaan waktu baiknya dilakukan membuat karya lukis sebaik. Cukup 1. Kurang 7 Ketekunan Kondisi peserta didik untuk 4.4.

Lampiran 3 • • • • • • • • • • • • • • • • • Warna yang digunakan sangat bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang sangat tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang sangat banyak Jarang melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang tinggi dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang banyak Cukup sering melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan cukup bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang cukup banyak Sering melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang kurang dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan kurang bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang kurang dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang kurang banyak 3. Baik 2. Baik • Kriteria • Sangat jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan • Sangat tegas/ spontan dalam mengungkapkan garis • Sangat berani dalam mengorganisasikan unsur-unsur karya lukis • Jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan • Tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna 291 . Sangat baik mengungkapkan isi/tema/konsep lukisan 3. Cukup 1. Kurang No 9 Indiaktor Ekspresi Deskripsi Level Kejelasan dalam 4.

Kurang • • • Berani dalam mengorganisasikan unsur-unsur karya lukis Cukup jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Cukup tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Cukup berani dalam mengorganisasikan unsur-unsur karya lukis Kurang jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Kurang tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Kurang berani dalam mengorganisasikan unsur-unsur karya lukis 2. Kurang Kriteria • Alat dan bahan yang digunakan sangat sesuai karakteristiknya • Sangat teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan sangat bersih • Alat dan bahan yang digunakan sesuai karakteristiknya • Teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan bersih • Alat dan bahan yang digunakan cukup sesuai karakteristiknya • Cukup teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan cukup bersih • Alat dan bahan yang digunakan kurang sesuai karakteristiknya • Kurang teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan kurang bersih 292 . Sangat baik dan bahan sesuai dengan karakteristiknya serta kebersihan karya yang dihasilkan 3. Baik 2. Cukup 1.Lampiran 3 • • • • 1. Cukup No 10 Indiaktor Teknik Deskripsi Level Kemampuan menggunakan alat 4.

maka disusunlah instrumen penilaian seni lukis anak yang terdiri dari instrumen penilaian proses dan produk.Pd (Pakar seni lukis anak/promotor) (Ahli pengukuran) (Ahli pengukuran) (Ahli pengukuran) ( Dosen dan Mahasiswa PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) 293 . Peserta yang hadir Prof. M. Namun demikian. Target yang ingin dicapai Berdasarkan latar belakang. M. dan instrumen penilaian kelompok. M. ahli pengukuran. dan III. dilaksanakanlah seminar instrumen dengan melibatkan pakar seni lukis anak . M.Pd Sudiyatno.Pd Wasis.Pd Endang Sulistyowati.Pd Sujiatno.D Dr. instrumen penilaian diri. dan instrumen penilaian kelompok. C. M. serta mahasiswa S3 program studi PEP. instrumen penilain diri.Pd Kulsum. Heri Retnowati Suratno. Ph. II. M. Sofyan Salam. Oleh karena itu.Pd Mansur. instrumen yang telah disusun tersebut masih memerlukan fiksasi dari ahli-ahli pengukuran. target dari seminar ini adalah untuk melakukan fiksasi terhadap instrumen penilaian seni lukis anak yang terdiri dari instrumen penilaian proses dan produk. M.Pd Harun. M. B.Lampiran 4 SEMINAR “ PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. Latar belakang Berdasarkan hasil yang diperoleh dari FGD tahap I.

Oleh karena itu. M.15-10.Pd Dalam menentukan level dengan cara menentukan banyaknya kriteria yang dipenuhi.Sofyan Salam.30-10. 294 .15 10.D Kata-kata sangat atau segera dihilangkan karena indikator yang menyatakan sangat atau segera sangat sulit ditentukan Dr.00-08.Pd Penentuan level dilakukan berdasarkan banyaknya keterpenuhan kriteria. dan instrumen penilaian kelompok Diskusi sesi 1 untuk fiksasi instrumen penilaian proses dan produk Diskusi sesi 2 untuk fiksasi instrumen penilaian diri dan kelompok Penyimpulan dan penyampaian hasil diskusi Penutupan dengan doa bersama 08.Pd Suatu instrumen harus disusun sesederhana mungkin tetapi mewakili apa yang ingin kita ketahui dengan instrumen itu.30-08.15 Aktivitas Pembukaan mengutarakan maksud dan tujuan seminar diikuti dengan perkenalan peserta yang hadir Presentasi pengenalan topik yang akan dibahas yaitu instrumen penilaian proses dan produk. Ph.30 10. Deskripsi pelaksanaan Seminar dilaksanakan pada tanggal 16 April 2008 bertempat di Ruang Diskusi Mahasiswa Program Pascasarjana UNY. M.15-10. misalnya sebagai berikut: • Sangat baik jika ketiga kriteria terpenuhi • Baik jika hanya dua kriteria yang terpenuhi • Kurang jika hanya satu yang terpenuhi • Sangat kurang jika tidak ada satu pun kriteria yang terpenuhi Suratno.30 08. Adapun kronologis pelaksanaan seminar tersebut disajikan pada tabel berkut: Waktu 08. Heri Retnowati Penentuan level dilakukan dengan menentukan banyaknya kriteria yang dipenuhi.15 09. dengan demikian setiap level mengandung kriteria yang sama hanya tingkat keterpenuhannya yang berbeda Mansur.40 E. instrumen penilaian diri. M. kita tidak harus menggunakan sistem hierarkis artinya dari atas kebawahtetapi bebas kriteria yang terpenuhi Harun.15-09. Masukan peserta yang hadir Sesi 1 Pertanyaan Masukan peserta Berapa persenkah bobot untuk penilaian proses dan produk Prof.Lampiran 4 D.

Pd Selain dari segi konten. sebaiknya gambar yang dimunculkan diberi aksen warna yang disesuaikan dengan gambar tersebut. M. M.Pd Sesi 2 Pertanyaan Masukan peserta Apakah indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak Prof.Pd Soal berbentuk uraian cukup diberikan satu soal karena untuk menghindari kejenuhan siswa dalam menuliskan ungkapan ekspresinya Mansur. Ph. sebuah angket perlu juga memperhatikan desainnya seperti identitas siswa hal ini dimaksudkan agar pengisian angket tidak dilakukan serta merta. M. netral berwarna kuning. M. 295 . M. M.Pd Instrumen penilaian yang dikombinasikan dengan gambar merupakan sesuatu yang baru dan menarik.Sofyan Salam. Kulsum. Kesimpulan Kesimpulan dari seminar ini berupa draft instrumen penilaian seni lukis anak yang siap digunakan. senang berwarna hijau. tetapi dapat diacak Dengan tidak memberlakukannya sistem hierarkis. perlu juga ditambahkan adanya soal yang berbentuk uraian agar siswa dapat lebih mengekspresikan perasaanya Suratno.Lampiran 4 kriteri ada baiknya dibatasi maksimal terdiri dari tiga buah kata Perlu dilakukan penyederhanaan kata-kata agar lebih mudah untuk digunakan Setiap kriteria tidak menunjukan tingkatan. Harun.Pd Agar lebih menarik. Misal marah berwarna merah.Pd Sudiyatno.D Penggunaan gambar pada sebuah angket merupakan sesuatu yang baru dan menarik serta mudah digunakan siswa Dr. praktisi yaitu guru seni akan lebih mudah dalam menggunakan instrumen ini Penentuan level penilaian dengan metode tingkat keterpenuhan kriteria akan mempermudah guru dan menghemat waktu penggunaanya Endang Sulistyowati. M. Instrumen tersebut akan berdampak pada tingkat keakuratan siswa dalam mengungkapkan perasaanya terkait dengan aktivitas seni rupa yang dilakukan F. M.Pd Wasis. Heri Retnowati Disamping adanya soal pilihan ganda.Pd Sujiatno. jadi keterpenuhan kriteria tidak harus dari atas ke bawah atau sebaliknya.

1 2 3 4 5 1 2 3 C. Indikator Tahap awal 1.3 4 KISI-KISI ANGKET PENILAIAN PROSES DAN PRODUK No A. Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk 4. Teknik dari karya yang dihasilkan Butir 1 2 B. Tanggapan anak tentang tema lukisan yang akan dibuat 2. Kesiapan bahan dan alat yang akan digunakan untuk melukis Tahap inti 1. Pemanfaatan waktu 5. Ketekunan dalam membuat karya Tahap akhir 1. Keberanian menggunakan media 3. 296 . Ekspresi dari karya yang dihasilkan 3. Kelancaran penuangan ide 2.Lampiran 5 KISI-KISI INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” KISI-KISI LEMBAR EVALUASI DIRI No 1 2 3 Indikator Perasaan siswa terhadap tugas yang diberikan Kemampuan siswa dalam mengerjakan tugas Perasaan siswa terhadap karya yang dihasilkan KISI-KISI LEMBAR EVALUASI KELOMPOK No 1 2 3 4 Indikator Kemampuan siswa dalam menggambar objek Kemampuan siswa dalam memilih warna Kebersihan karya Penilaian terhadap lukisan secara keseluruhan Butir 1 2 3 4 Butir 1 2. Kreativitas dari karya yang dihasilkan 2.

PROSES PEMBELAJARAN 1. Tahap Awal No 1 Indikator Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Deskripsi Level Reaksi peserta didik berupa 4.Sangat kurang 2 Kesiapan alat dan bahan Suatu kondisi peserta didik yang 4. Baik Kriteria Terpenuhi 3 aspek • Menerima • Memahami • Melaksanakan Terpenuhi 2 aspek • Menerima • Memahami • Melaksanakan Terpenuhi 1 aspek • Menerima • Memahami • Melaksanakan Tidak terpenuhi 3 aspek • Menerima • Memahami • Melaksanakan Terpenuhi 3 aspek • Lengkap • Relevan • Siap digunakan Terpenuhi 2 aspek • Lengkap • Relevan • Siap digunakan 2. Sangat baik yang akan digunakan sudah siap melakukan tugas untuk melukis dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya 3.Lampiran 5 RUBRIK SKOR RUBRIK SKOR PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. Kurang 1. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik 3. Sangat baik perilaku (ekspresi. Baik 297 .

Kurang 1.Sangat kurang 2 Keberanian menggunakan media Keberanian menggunakan media 4.Sangat kurang 2. Sangat baik (alat dan bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik 298 . Kurang Terpenuhi 1 aspek • Lengkap • Relevan • Siap digunakan Tidak terpenuhi 3 aspek • Lengkap • Relevan • Siap digunakan 1.Lampiran 5 2. Tahap Inti No 1 Indikator Kelancaran ide Level penuangan Kondisi peserta didik pada 4. Sangat baik waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara kualitas ide yang dikembangkan dengan keterampilan untuk 3. Baik memvisualisasikan ide tersebut Kriteria Terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Terpenuhi 2 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Terpenuhi 1 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Tidak terpenuhi 3 aspek • Lambat • Tepat • Sesuai dengan media Terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media 2.

Sangat kurang 3 Keberanian menggunakan unsur bentuk Keberanian menggunakan titik.Lampiran 5 inkonvensional dalam melukis 3. 4. Baik Bersungguh-sungguh . 3. Baik 2. Kurang 1. Kurang 1.garis.Sangat kurang 4 Ketekunan Kondisi peserta didik untuk 4. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik. Baik Terpenuhi 2 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Terpenuhi 1 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Tidak terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Terpenuhi 3 aspek • Berani • Tepat • Artistik Terpenuhi 2 aspek • Berani • Tepat • Artistik Terpenuhi 1 aspek • Berani • Tepat • Artistik Tidak terpenuhi 3 aspek • Berani • Tepat • Artistik • • 299 Sangat bersungguh-sungguh 2. Sangat baik unsur. Sangat baik mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguhsungguh 3. bidang.

Baik • 2.Sangat kurang • 5 Pemanfaatan waktu Penggunaan waktu baiknya dilakukan membuat karya lukis sebaik. Sangat baik menciptakan bentuk yang khas). Sangat baik untuk 3. Kurang 1. Kurang • 1.4.Lampiran 5 2. kebaruan teknik dan konsep cerita 3. PRODUK No Indikator 1 Kreativitas • • Karya selesai tepat waktu Karya hampir selesai saat waktu berakhir Karya tidak selesai saat waktu berakhir • Tidak bersungguh-sungguh Kurang bersungguh-sungguh Karya selesai sebelum waktu berakhir Level Keaslian bentuk (kemampuan 4. Kurang 300 .Sangat kurang B. Baik Kriteria Terpenuhi 3 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Terpenuhi 2 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Terpenuhi 1 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya 2.

serta kebersihan karya yang dihasilkan 3. Baik 301 . Kurang 1. kualitas cara penggambaran. Baik 2. Sangat baik dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya. Sangat baik mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema 3.Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Terpenuhi 3 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Terpenuhi 2 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Terpenuhi 1 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Tidak terpenuhi 3 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Terpenuhi 3 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Terpenuhi 2 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih 2.Sangat kurang 3 Teknik Kemampuan menggunakan alat 4. Ekspresi Kejelasan dalam 4.Lampiran 5 1.

Sangat kurang 302 .Lampiran 5 2. Kurang Terpenuhi 1 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Tidak terpenuhi 3 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih 1.

.................. Kelancaran penuangan ide 2.. 303 .........Lampiran 5 ANGKET PENILAIAN PROSES DAN PRODUK ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ANAK” Nama siswa : KODE G02 Kelas/semester : Nama tugas Tanggal Nama penilai : : : Berilah tanda v pada kolom yang sesuai dengan pilihan anda! No Indikator Sangat baik (4) A A.................. Pemanfaatan waktu 5.......................... Ketekunan dalam membuat karya B Produk 1.............. ..................... Kesiapan bahan dan alat yang akan digunakan untuk melukis A...... Teknik dari karya yang dihasilkan Catatan: ...........1 Proses Tahap awal Baik (3) Kurang (2) Sangat kurang (1) 1..................2 Tahap inti 1...................................... Keberanian menggunakan media 3......................................... Kreativitas dari karya yang dihasilkan 2................................ Tanggapan anak tentang tema lukisan yang akan dibuat 2......... Ekspresi dari karya yang dihasilkan 3........................ Keberanian menggunakan unsurunsur bentuk 4.........

Saya ............Lampiran 5 LEMBAR PENILAIAN DIRI ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ANAK” Nama : Tanggal : Nama tugas : Tanggal pengumpulan : Berilah tanda v pada kotak yang dipilih! 1.......................................................................................................... ....................................................................... Saya....terhadap tugas yang diberikan................. ..... 3............................................... KODE S01 2..................... Saya ................................................ Saya............. dalam mengerjakan tugas........................................terhadap hasil pekerjaan saya.................................... 304 .... Ceritakanlah pengalaman menarikmu serta kendala-kendala yang dihadapi selama pembuatan karya lukis serta usaha-usaha untuk mengatasi kendala-kendala tersebut ! ... dalam proses penciptaan karya saya 4.................................................

...................Lampiran 5 LEMBAR PENILAIAN KELOMPOK (Peer Assessment) ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ANAK” Nama pemilik : Tanggal : Nama tugas : Tanggal pengumpulan : Berilah tanda v pada kotak yang dipilih! 1................... 3...... ..........................terhadap bentuk objek lukisan....................................... Nama penilai: 305 ................................................ Saya…………………terhadap lukisan secara keseluruhan........................................... Saya………………….............terhadap kebersihan lukisan 4... Berilah saran dan pendapatmu terhadap karya lukis yang dibuat! ...... Saya ...................................................................... Saya …………………terhadap komposisi warna yang digunakan................. KODE S02 2............................................ ...................................

B. Farid Abdurrahman        Sutarno  1  3  3  4  4  3  4  3  3  2  4  3  4  4  4  4  3  3  3  4  3  4  1  4  3  3  4  4  3  4  4  2  2  4  4  3  3  4  4  2  4  4  4  2  4  4  4  4  4  4  4  4  2  4  4  4  4  4  4  4  4  2  2  4  4  3  4  2  3  2  4  4  4  4  3  4  4  3  1  4  3  4  4  2  3  3  3  4  3  4  4  2  2  4  4  4  3  4  4  3  3  4  4  2  2  4  4  4  4  4  4  4  2  4  4  3  3  3  3  2  4  2  3  4  4  2  4  2  2  2  3  3  3  4  3  4  3  2  3  3  2  3  3  3  3  3  4  4  3  3  4  2  2  4  4  3  3  3  4  3  4  4  3  3  3  4  4  3  4  4  4  4  4  4  3  3  4  3  4  3  4  1  3  4  4  3  4  2  3  2  3  3  4  4  3  3  3  2  3  3  3  3  3  3  2  3  4  4  4  4  4  2  2  4  4  3  2  4  3  3  4  4  3  3  4  4  4  3  4  4  3  4  3  4  3  3  4  3  4  2  4  1  2  4  4  2  4  2  3  1  2  3  3  4  3  3  2  2  3  4  1  3  2  2  2  3  4  4  4  3  4  2  2  4  4  3  2  4  3  4  4  4  3  3  3  3  4  3  4  4  3  4  2  4  3  3  4  3  4  4  4                  Udawati  2  3  4  4  2  4  2  2  2  3  3  3  4  3  4  2  2  3  3  3  3  3  3  3  3  4  4  3  3  4  2  2  4  3  3  3  3  3  3  4  4  3  3  3  4  4  4  4  4  4  4  4  4  3  3  3  3  4  3  4  1  3  4  4  3  4  2  3  2  3  4  3  4  3  3  3  2  3  3  3  3  3  3  2  3  4  4  4  4  4  2  3  4  3  3  3  4  3  3  4  4  3  3  4  4  4  3  4  4  3  4  3  4  3  3  3  3  3  2  4  1  2  4  4  2  4  2  3  1  3  3  3  4  3  3  3  2  3  3  1  3  2  2  2  3  3  4  4  3  4  2  2  4  2  3  3  4  3  4  4  4  3  3  3  3  4  4  4  4  3  4  2  4  3  3  3  3  4  3  4  2  3  2  4  3  2  3  3  3  4  2  3  4  3  3  2  3  4  2  3  2  2  4  3  3  3  4  3  3  4  2  3  3  3  3  3  4  3  4  4  4  3  3  3  4  4  3  4  3  3  4  2  4  4  3  4  4  4  2  4              Dodi  1  3  3  4  3  4  2  3  2  2  3  3  4  4  4  3  2  3  3  3  3  3  3  2  3  4  4  4  4  4  2  2  4  4  3  3  3  4  3  4  4  3  3  4  4  4  3  4  4  3  4  3  4  3  3  3  4  4  3  4  1  2  3  4  2  4  2  3  1  2  3  3  4  4  4  3  2  3  2  3  3  2  2  2  3  4  4  4  3  4  2  2  4  4  3  4  3  4  4  3  4  3  3  3  3  4  3  4  4  3  4  2  4  3  3  3  3  3  3  4      2  3  4  5  6  7  1  2  3  4  5  6  7  1  2  3  4  5  6  7  2  3  4  4  3  4  3  3  3  3  3  3  4  3  3  3  3  4  4  3  2  2  4  3  3  3  4  3  3  4  2  3  3  3  3  3  4  4  4  4  4  3  3  3  4  4  3  4  4  3  4  2  4  4  3  4  4  4  2  4  1  2  2  2  1  2  1  1  2  2  2  2  4  2  2  2  3  3  3  3  3  3  3  3  4  4  3  4  4  4  2  3  3  3  4  3  3  4  4  4  4  4  4  4  4  4  4  4  4  3  4  2  4  4  4  3  3  4  3  4  3  3  4  4  3  4  3  3  2  2  3  3  4  2  4  2  3  3  3  3  4  1  4  3  3  4  4  3  4  4  2  2  4  3  3  3  4  3  2  4  4  4  2  4  4  4  3  4  4  4  4  2  4  4  4  3  4  4  3  4  2  2  4  4  3  4  2  3  2  3  3  3  4  3  3  3  3  1  3  3  4  4  2  3  3  3  4  3  4  4  2  2  4  3  4  3  4  3  3  3  4  4  2  2  4  4  3  4  4  4  4  2  4  4  3  3  4  2  2  4  1  2  3  2  1  4  1  1  2  3  3  3  4  3  4  3  3  3  3  2  3  3  3  3  4  4  3  3  4  4  2  3  3  3  4  3  3  3  4  4  4  4  4  4  4  4  3  4  4  3  4  2  4  4  4  4  4  4  2  4  3  3  3  4  3  4  3  3  2  1  1  2  4  4  4  3  3  3  1  1  4  1  4  3  3  4  4  3  4  4  2  2  4  4  3  3  4  3  2  4  4  4  2  4  4  4  3  4  4  4  4  2  4  4  4  4  4  4  3  4  2  2  3  4  3  4  2  3  2  3  3  3  4  4  4  3  3  1  3  3  4  4  2  3  3  3  4  3  4  4  2  2  4  4  4  4  4  4  3  4  4  4  2  2  4  4  4  4  4  4  4  2  4  4  3  4  4  2  2  4  2  3  4  4  2  4  2  2  2  2  3  3  4  4  4  3  2  3  3  3  3  3  3  3  3  4  4  3  3  4  2  2  4  4  3  4  4  4  3  4  4  3  3  3  4  4  3  4  4  4  4  4  4  3  3  4  4  4  4  4  2  3  3  4  3  4  3  3  3  4  2  2  4  3  3  2  3  4  2  3  2  2  4  3  3  4  4  4  3  4  2  3  3  4  3  3  4  3  4  4  4  3  3  3  4  4  2  4  4  3  4  2  4  4  3  4  4  4  1  4  1  2  3  2  1  2  1  1  2  2  3  2  4  4  4  3  3  3  3  3  3  3  3  3  4  4  3  3  4  4  2  3  3  4  4  3  4  3  4  4  4  4  4  4  4  4  3  4  4  3  4  2  4  4  4  4  4  4  2  4  Muhammad Roofi'l A  Nida Salma Hajaroh  Nurfitri Andani  Ragil Saputro Mujiono  Rif'atul Widaan Khotibin Tamhid  Royhan Ikbar  Sekar Cendana Arum  Nadila Fatimatuzzahra A. Dava Surya Abi Y.  Malaghina Kusuma H  Rio Satya Fauzi  Freddy PP  Siti Aziroh Rahmatika  Shella Kumalasari  Shelli Puspitasari  Sugiharto.M  306 .Naufal Rizqita  Rayhan Adikusuma  Rizky Dafa P  Aqlia Tsalisa Azmani  Ashylla Paramadanti  Cahyaningtyas Iftitah  Chairunnisa Yulia W  Dyah Pradina P  Dyah Sekar Ayu K  Fahra Prahastanti P  Hana Fazah Nur S  Keisha Amadea  Nabila Permata Sari  Nur Azizah  Ranita Salsabila  Ria Rahma Sukma W  Septiana Tidar  Andika Bagas  Andi Maulana  Ade Itko M  Anindita Dara L  David Revaru  Vebrian Agung W  Kurniawan Dwi Y  M.  Amelia Noor Putri M  Artantri Widasari  Chatarine Dyela Eillen R  Dicky Armayuda  Eridani Kartiko Adi  Gatot Ismail  Gufron Gilang Zahru Saputra  Indah Budi Kartikarini  Insan Fadilah Harvianto  Ismalia Ramadhani Putri  M.N  Siska Tri W  Yacinta Nararia S  Karizma Putri R  Salwa Sauzan R  Alfia Rahma De  Anissa N.Lampiran 6 Data Penilaian Proses Kelas I  Nama  Ade Firmansyah  Daffa Malik Falaq  Deandra Visto D  M.A.Lutfi Mahendra  M.

Lampiran 6 Data Penilaian Proses Kelas II Nama Afkar Zaka Y Alif Fahmi Mahendra Azka Hikam Z M. Tsani Ihsani Y Muh.Zauhar Nanda Naya P.W Pradipta Wisnu Timur Dwi Indraja Agni Vasha Salsabila Alvira Niryana Aulia Astagina Dhiyaurrohmah Kamila Muyasaroh Melinia Debbytasari Noor Diana Arrasyid Oktaviana Rahindra Shafa Nabilla Haya Sheila Alfauziya P Yuliana Zahrajuncta Lusiana Martini Amelia Prisca Brigita Anggun Pratiwi Anisa Nur Rahmah Arviananda Ade H Bintang Nugrahani Galang Permataputra Galuh Intisari Muh. Aqib Husni Fadhli Muh. Abdul Gani Sarining Hanggani Kasih Teddy Arfansyah N Yuliana Larasari Dikta Wahyu Pratama Awang Pramono Isla Magda S Joko Bagus B Novia Permatasari Kusuma Nuraini Yulia Catur Wulandari Ikhsan Panji Irawan A'Issyatun Wahyu Ningsih Ainun Amaliya Paramita Arini Dewi Nuraini Chusnunnisa Suryanudin Ummu Habibah Halida Salsabila Hasna Maretta Sausana Hasna Ulfiaa Humairoh Rosida Akhir Khilmi Khayatun Nisha Kiki Dwi Widyasari Lutfina Aribah Miftakhurrohmah Nafisa Ainurrahmah Novryan Armawida Rizki Putri Utami Salman Kurnia Haq Sinta Primadita Siti Maryam S Wakhid Hasyim Sutarno 1 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 4 3 3 3 4 4 3 4 4 3 2 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 Udawati 6 4 4 2 4 2 2 3 3 4 4 3 3 4 3 4 4 4 4 4 3 2 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 3 4 2 3 4 4 4 3 3 4 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 2 4 4 Dodi 6 4 4 3 4 4 2 3 2 2 3 2 3 4 3 4 4 4 3 2 2 2 3 4 4 3 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 2 4 3 3 2 3 4 4 3 3 3 4 2 3 3 3 4 4 4 4 3 3 2 4 4 2 3 4 3 1 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 2 3 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 3 4 4 3 4 4 4 2 3 4 4 4 3 4 4 2 2 2 2 4 2 4 4 3 3 4 3 3 4 4 2 3 4 3 4 3 3 3 4 4 4 4 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 3 4 3 2 3 3 4 3 4 3 3 4 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 4 4 4 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 4 3 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 4 4 2 3 3 5 3 4 3 4 4 4 2 2 3 4 4 3 2 4 4 4 4 4 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 4 3 3 4 4 4 3 3 3 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 2 3 4 7 3 3 3 3 4 4 1 2 2 2 3 2 2 2 2 4 4 4 3 2 4 4 4 4 3 4 2 3 3 3 4 4 4 4 4 2 4 3 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 2 4 4 1 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 2 3 3 4 4 3 3 3 3 4 3 4 3 4 3 3 4 3 3 4 3 4 4 4 4 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 3 3 2 4 4 2 3 4 3 1 4 4 3 3 3 4 4 3 4 3 2 4 3 4 2 3 2 3 3 4 4 4 3 4 3 4 3 4 3 4 3 2 4 3 3 4 3 4 4 3 2 3 4 3 4 3 3 4 2 2 2 2 3 2 4 4 3 3 4 3 3 2 4 2 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 2 3 3 4 4 3 4 3 4 4 3 4 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 4 2 3 2 3 4 4 4 3 4 3 2 3 3 4 3 4 2 3 4 4 3 3 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 4 4 4 3 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 3 2 3 3 5 3 4 3 4 4 4 2 2 3 4 3 3 2 3 4 4 4 3 2 3 2 3 4 3 4 3 2 4 3 4 3 3 3 4 3 2 4 2 2 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 2 3 4 4 3 3 3 3 2 4 4 7 3 3 3 3 4 4 1 3 4 3 3 3 2 4 4 4 4 3 2 3 4 4 4 4 3 2 4 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 3 3 3 3 4 4 3 3 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 2 3 4 1 3 4 3 3 2 4 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 3 3 4 3 3 4 3 4 4 4 4 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 3 4 2 4 4 2 3 4 3 1 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 3 4 4 3 4 4 4 2 3 4 4 4 4 4 4 2 2 2 2 4 2 4 4 3 3 4 2 3 4 2 2 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 4 2 3 2 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 3 2 3 3 5 3 3 3 4 4 4 2 2 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 4 4 2 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 4 4 3 2 4 4 6 4 4 3 4 4 4 3 2 3 3 4 3 4 3 4 4 3 4 4 3 2 3 4 4 3 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 2 4 3 3 2 3 4 4 4 3 3 4 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 2 4 4 7 3 4 3 3 4 4 1 3 4 4 4 4 2 4 2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 2 4 3 4 3 3 4 4 4 3 3 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 2 3 4 307 .

 Miftahul Firdaus  Anggi Dwina Siregar  Rusmini  Afiana Nurkholishotus Shohibah  Andi Rahmat Wulansyah  Eka Yuliani  Fegi Tri Damayanti  Fitri Nurul Hanifah  Imam Zuhdi  Inna Rahmatul Ulya  Jalu Ukir Damatama  Hilda Ayu Wibisana  Ninggih Annisa Daniswara  Pilar Paksi Pratama  Rafli Khooinurizal  Rapsanjani  Riswa Rahman Fahmi  Rivani Rahmania Afifah  Rizki Nur Chaerani  Rizqi Haritz Pebiantara  Zanityara Syah Syadila  Zetta Nillawati Reyka Putri  Nurul Arifah        Sutarno  2  3  3  4  4  3  3  3  4  4  3  4  4  4  4  3  3  3  3  3  2  3  3  3  3  4  3  4  4  3  4  2  4  3  4  4  4  4  3  3  4  3  2  3  4  4  4  4  3  3  4  4  3  2  4  3  4  4  4  4  2  4  3  4  4  3  3  3  3  4  3  4  4  4  4  4  4  2  4  4  2  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  2  4  3  4  4  3  3  4  3  4  4  4  4  4  4  3  3  3  3  4  3  2  2  3  4  4  4  4  4  3  3  3  4  4  1  3  3  4  4  3  3  4  4  4  3  3  3  3  3  2  2  2  3  3  4  3  3  3  3  3  2  4  3  3  3  4  4  3  3  4  3  3  3  4  3  3  4  3  4  3  3  3  2  4  3  4  3  3  3  2  3  3  4  4  2  3  3  4  3  4  4  4  4  4  3  3  3  4  3  2  2  3  3  3  4  3  3  3  4  4  2  3  3  3  3  4  4  3  4  3  3  3  3  4  3  3  4  2  4  3  3  3  2  3  2  4  3  3  2  1  3  3  4  4  2  2  2  4  3  3  4  4  3  4  3  3  3  3  3  2  2  3  3  3  4  3  3  3  4  4  2  4  3  4  3  4  4  3  4  4  3  3  3  4  3  3  4  2  4  3  4  3  2  3  2  4  3  3  2  3  3  3  4  4  4  3  3  3  3  3  3  4  3  3  3  3  3  4  3  4  2  3  2  3  4  3  4  4  4  4  2  4  2  3  3  4  3  3  3  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  3  4  3  2  3  4  4  2  3  3                Udawati  3  3  3  4  4  3  3  3  3  4  3  3  4  4  4  3  3  3  3  3  2  2  2  3  3  4  3  3  3  2  4  2  3  3  3  3  4  4  3  3  4  4  3  3  4  3  3  4  3  4  3  3  3  2  3  3  4  3  3  3  2  3  3  4  4  3  3  3  3  3  3  4  4  4  4  3  3  3  4  3  2  2  3  3  3  4  3  3  3  3  4  2  3  3  3  3  3  4  3  4  4  3  3  3  4  3  3  4  2  4  3  3  3  2  3  3  3  3  3  2  1  3  3  4  4  3  3  3  3  4  3  4  4  3  4  3  3  3  3  3  2  2  3  3  3  4  3  4  3  2  4  2  3  3  4  2  4  4  3  4  4  3  3  3  4  3  3  4  2  4  3  4  2  2  3  3  3  3  3  2  3  3  3  4  4  4  3  3  3  3  3  3  4  3  3  3  3  3  4  3  4  2  3  2  3  4  4  4  4  3  4  2  3  2  3  4  4  3  3  3  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  3  4  3  2  3  3  4  2  3  3              Dodi  2  3  3  4  4  3  3  3  3  4  2  2  4  4  4  4  3  3  4  3  2  2  3  3  3  4  3  4  3  3  4  2  3  3  3  3  3  4  3  4  4  3  3  3  4  4  3  4  2  4  3  3  2  2  2  3  4  3  3  2  1  3  3  4  4  3  3  3  3  4  2  2  4  3  4  4  3  3  3  3  2  2  3  3  3  4  3  4  3  2  4  2  3  3  4  3  3  4  3  4  4  4  3  3  4  4  3  4  2  4  3  4  2  2  2  2  4  3  2  2      1  2  3  4  5  6  7  1  2  3  4  5  6  7  1  2  3  4  5  6  7  3  3  4  4  4  1  3  3  4  4  4  4  4  4  4  4  3  2  3  3  3  3  3  3  3  4  4  4  3  3  4  2  4  3  4  4  4  4  4  4  4  4  4  3  4  3  4  4  3  4  3  4  3  2  4  3  4  3  4  4  2  4  3  4  4  4  3  3  4  4  3  4  4  4  4  3  3  2  3  3  2  3  3  3  3  4  3  3  3  3  3  2  3  3  4  3  2  4  3  3  3  3  2  3  4  3  4  4  3  3  4  4  3  2  3  3  4  4  3  4  2  3  3  4  4  4  3  4  3  4  3  4  4  4  4  4  4  2  4  4  2  3  3  3  3  4  3  3  3  3  3  2  3  3  4  3  3  3  4  3  3  4  4  4  4  4  3  3  3  3  4  3  2  2  3  3  3  4  3  4  3  3  4  4  4  4  3  3  4  3  3  4  4  4  4  4  3  3  3  3  3  3  3  3  3  4  3  3  3  3  4  2  3  3  4  3  4  4  4  4  4  3  4  3  4  4  4  4  3  4  3  4  3  2  4  3  4  3  4  4  2  3  3  4  4  4  3  3  4  4  1  1  4  4  4  4  3  2  3  3  2  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  2  3  3  4  3  3  4  3  3  4  3  3  3  4  4  4  4  3  3  4  4  3  2  3  3  3  4  3  4  2  4  4  4  4  4  4  3  4  4  1  3  4  4  4  4  4  2  4  4  2  3  3  3  3  4  4  4  4  4  4  2  4  4  4  4  4  3  4  3  4  4  4  4  4  4  3  3  3  3  4  3  2  2  4  4  4  4  4  4  3  3  3  4  4  4  3  3  4  4  2  2  4  4  3  4  3  3  3  3  2  2  2  3  3  4  3  4  3  3  4  2  3  3  3  3  4  4  3  3  4  4  3  3  4  4  3  4  3  4  3  3  3  2  3  3  4  3  3  3  3  3  3  4  4  3  4  3  3  4  3  3  4  3  4  3  3  3  4  3  4  2  3  2  3  4  3  4  3  3  4  2  3  2  3  3  4  3  3  3  4  2  3  3  4  4  4  3  3  4  3  4  2  2  2  3  3  2  3  3  3  3  3  4  4  3  4  3  4  2  2  2  4  4  4  4  3  3  3  3  3  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  2  3  2  4  3  4  4  4  4  4  3  3  3  4  4  4  4  3  4  3  4  3  2  3  3  4  3  3  4  308 .Farizi Gustaf  M.Afdan Nurul Hilman  M.Lampiran 6 Data Penilaian Proses Kelas III  Nama  Alwi Izha Farandi  David Aldi Saputra  Laode Aldifan  M.Zulfikar  Muqni Aqsoinna  Suryatama Gallang  Aulia Rizki  Dini Puspo  Elfira Ciptaningtyas  Elma Damarista  Fadhila Khoirunisa  Inna Salma Fahman  Khanifah Noor  Nur Amalia Andini  Ratu Yeremenia S  Syifa Azizah  Ade Yoga Endy S  Bekti Rachmawati  Maria Sri Adiningsih  Novianto Adi Saputra  Wahyu Praktika D  Yunina Dea J  Bilqies Amalia A  Nova Puspitasari  Anggita Wulandari  Anjas Deva Felano  Eria Putri Pratiwi  Fitriyani  Ika Purwaningsih  Ilham Yusril Munawar  Massayu Seilla Annisa  Musriati  Rivan Pandu Adi Winata  Muh.Fauzan  M.Ibrahim  M.

Amelia Noor Putri M Artantri Widasari Chatarine Dyela Eillen R Dicky Armayuda Eridani Kartiko Adi Gatot Ismail Gufron Gilang Zahru Saputra Indah Budi Kartikarini Insan Fadilah Harvianto Ismalia Ramadhani Putri Muhammad Farid Abdurrahman Muhammad Roofi'l Adiyatma Nida Salma Hajaroh Nurfitri Andani Ragil Saputro Mujiono Rif'atul Widaan Khotibin Tamhid Royhan Ikbar Sekar Cendana Arum Nadila Fatimatuzzahra A.Lampiran 6 Data Penilain Produk Kelas I Nama Ade Firmansyah Daffa Malik Falaq Deandra Visto D M.N Siska Tri W Yacinta Nararia S Karizma Putri R Salwa Sauzan R Alfia Rahma De Anissa N.A. Dava Surya Abi Y.Lutfi Mahendra M.M Sutarno 1 4 1 2 4 4 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 2 3 3 3 4 3 1 2 4 2 4 3 4 4 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 4 4 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 2 2 3 2 3 2 3 2 4 3 2 2 3 1 3 4 2 2 3 2 1 3 4 3 3 2 4 4 3 4 2 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 3 3 2 4 3 4 4 Udawaty 1 4 1 2 4 4 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 2 3 3 3 4 3 1 2 4 2 4 3 4 4 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 4 4 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 2 2 3 2 3 2 3 2 4 3 2 2 3 1 3 4 2 2 3 2 1 3 4 3 3 2 4 4 3 4 2 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 3 3 2 4 3 4 4 1 Dodi 2 4 1 2 4 4 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 2 3 3 3 4 3 1 4 2 4 3 4 4 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 4 4 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 2 2 3 2 3 2 3 2 4 3 2 2 3 1 3 4 2 2 3 2 1 3 4 3 3 2 4 4 3 4 2 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 3 3 2 4 3 4 4 309 .Naufal Rizqita Rayhan Adikusuma Rizky Dafa P Aqlia Tsalisa Azmani Ashylla Paramadanti Cahyaningtyas Iftitah Chairunnisa Yulia W Dyah Pradina P Dyah Sekar Ayu K Fahra Prahastanti P Hana Fazah Nur S Keisha Amadea Nabila Permata Sari Nur Azizah Ranita Salsabila Ria Rahma Sukma W Septiana Tidar Andika Bagas Andi Maulana Ade Itko M Anindita Dara L David Revaru Vebrian Agung W Kurniawan Dwi Y M. Malaghina Kusuma H Rio Satya Fauzi Freddy PP Siti Aziroh Rahmatika Shella Kumalasari Shelli Puspitasari Sugiharto.B.

W Pradipta Wisnu Timur Dwi Indraja Agni Vasha Salsabila Alvira Niryana Aulia Astagina Dhiyaurrohmah Kamila Muyasaroh Melinia Debbytasari Noor Diana Arrasyid Oktaviana Rahindra Shafa Nabilla Haya Sheila Alfauziya P Yuliana Zahrajuncta Lusiana Martini Amelia Prisca Brigita Anggun Pratiwi Anisa Nur Rahmah Arviananda Ade H Bintang Nugrahani Galang Permataputra Galuh Intisari Muh. Tsani Ihsani Y Muh. Aqib Husni Fadhli Muh. Abdul Gani Sarining Hanggani Kasih Teddy Arfansyah N Yuliana Larasari Dikta Wahyu Pratama Awang Pramono Isla Magda S Joko Bagus B Novia Permatasari Kusuma Nuraini Yulia Catur Wulandari Ikhsan Panji Irawan A'Issyatun Wahyu Ningsih Ainun Amaliya Paramita Arini Dewi Nuraini Chusnunnisa Suryanudin Ummu Habibah Halida Salsabila Hasna Maretta Sausana Hasna Ulfiaa Humairoh Rosida Akhir Khilmi Khayatun Nisha Kiki Dwi Widyasari Lutfina Aribah Miftakhurrohmah Nafisa Ainurrahmah Novryan Armawida Rizki Putri Utami Salman Kurnia Haq Sinta Primadita Siti Maryam S Wakhid Hasyim 1 4 2 1 3 4 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 3 2 4 4 4 2 4 4 3 4 2 3 4 2 3 2 3 3 3 2 3 3 4 4 1 4 4 2 3 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 2 3 1 Sutarno 2 3 3 3 3 3 2 2 4 2 3 2 2 3 2 1 4 4 2 2 3 4 3 3 4 1 4 4 2 4 1 3 3 1 3 4 3 3 1 2 2 2 3 4 3 3 3 4 4 2 4 4 3 3 4 4 2 4 4 4 2 3 3 4 3 4 1 3 3 3 4 1 2 3 1 4 2 2 4 4 3 4 3 3 3 4 3 2 2 2 1 3 2 2 3 4 3 2 1 2 4 3 3 4 4 4 2 4 2 4 4 3 4 2 4 3 2 4 2 4 4 4 Udawaty 1 4 2 1 3 4 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 3 2 4 4 4 2 4 4 3 4 2 3 4 4 3 2 3 3 3 2 3 3 4 4 1 4 4 2 3 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 2 3 1 2 3 3 3 3 3 2 2 4 2 3 2 2 3 2 1 4 4 2 2 3 4 3 3 4 1 4 4 2 4 1 3 2 1 3 4 3 3 1 2 2 2 3 4 3 3 3 4 4 2 4 4 3 3 4 4 2 4 4 4 2 3 3 4 3 4 1 4 3 3 4 1 2 3 1 4 2 2 4 4 3 4 3 3 3 4 3 4 2 2 1 3 2 3 3 4 3 2 1 2 4 3 3 4 4 4 2 4 2 4 4 3 4 2 4 3 2 4 2 4 4 4 1 Dodi 2 4 2 1 3 4 3 3 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 3 2 4 4 4 2 4 4 3 4 2 3 4 2 3 2 3 3 3 2 3 3 4 4 1 4 4 2 3 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 2 3 1 3 3 3 3 3 2 2 4 2 3 2 2 3 2 1 4 4 2 2 3 4 3 3 4 1 4 4 2 4 1 3 4 1 3 4 3 3 1 2 2 2 3 4 3 3 3 4 4 2 4 4 3 3 4 4 2 4 4 4 2 3 3 4 3 4 1 4 3 3 4 1 2 3 1 4 2 2 4 4 3 4 3 3 3 4 3 2 2 2 1 3 2 3 3 4 3 2 1 2 4 3 3 4 4 4 2 4 2 4 4 3 4 2 4 3 2 4 2 4 4 4 310 .Zauhar Nanda Naya P.Lampiran 6 Data Penilain Produk Kelas II Nama Afkar Zaka Y Alif Fahmi Mahendra Azka Hikam Z M.

Fauzan M.Zulfikar Muqni Aqsoinna Suryatama Gallang Aulia Rizki Dini Puspo Elfira Ciptaningtyas Elma Damarista Fadhila Khoirunisa Inna Salma Fahman Khanifah Noor Nur Amalia Andini Ratu Yeremenia S Syifa Azizah Ade Yoga Endy S Bekti Rachmawati Maria Sri Adiningsih Wahyu Praktika D Yunina Dea J Bilqies Amalia A Nova Puspitasari Anggita Wulandari Anjas Deva Felano Eria Putri Pratiwi Fitriyani Ika Purwaningsih Ilham Yusril Munawar Massayu Seilla Annisa Musriati Novianto Adi Saputra Rivan Pandu Adi Winata Muh.Lampiran 6 Data Penilain Produk Kelas III Nama Alwi Izha Farandi David Aldi Saputra Laode Aldifan M.Afdan Nurul Hilman M.Ibrahim M.Farizi Gustaf M. Miftahul Firdaus Anggi Dwina Siregar Rusmini Afiana Nurkholishotus Shohibah Andi Rahmat Wulansyah Eka Yuliani Fegi Tri Damayanti Fitri Nurul Hanifah Imam Zuhdi Inna Rahmatul Ulya Jalu Ukir Damatama Hilda Ayu Wibisana Ninggih Annisa Daniswara Pilar Paksi Pratama Rafli Khooinurizal Rapsanjani Riswa Rahman Fahmi Rivani Rahmania Afifah Rizki Nur Chaerani Rizqi Haritz Pebiantara Zanityara Syah Syadila Zetta Nillawati Reyka Putri Nurul Arifah 1 3 3 1 2 4 2 3 4 2 4 4 3 3 4 1 2 2 3 4 3 2 3 3 3 2 2 4 3 2 3 3 4 1 4 3 2 4 2 3 3 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 4 2 2 1 3 2 2 Sutarno 2 2 3 3 4 3 3 2 3 4 1 3 4 4 3 4 3 1 3 2 2 3 2 3 3 2 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 2 1 4 4 4 4 4 3 2 2 3 3 2 1 2 2 2 4 3 4 3 2 2 3 2 3 1 2 3 3 4 2 2 3 3 2 3 3 3 4 2 4 3 4 4 3 4 1 4 4 4 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 4 4 2 2 2 4 3 2 3 4 4 3 3 2 4 2 3 2 3 3 3 4 3 3 4 Udawaty 1 3 3 1 2 4 2 3 4 2 4 4 3 3 4 1 3 2 3 2 3 2 3 3 3 2 2 4 3 2 3 3 4 1 4 3 2 4 2 3 3 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 4 2 2 1 3 2 2 2 2 3 3 4 3 3 2 3 4 1 3 4 4 3 4 3 1 3 4 2 3 2 3 3 2 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 2 2 4 4 4 4 4 3 2 2 3 3 2 1 2 2 2 4 3 4 3 2 2 3 2 3 1 2 3 3 4 2 2 3 3 2 3 3 3 4 2 4 3 3 2 3 4 1 4 4 4 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 4 1 2 2 2 4 3 2 3 4 4 3 3 2 4 2 3 2 3 3 3 4 3 3 4 1 Dodi 2 3 3 1 2 4 2 3 4 2 4 4 3 3 4 1 2 2 3 4 3 2 3 3 3 2 2 4 3 2 3 3 4 1 4 3 2 4 2 3 3 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 4 2 2 1 2 2 2 2 3 3 4 3 3 2 3 4 1 3 4 4 3 4 3 1 3 2 2 3 2 3 3 2 3 1 3 3 4 4 4 4 4 3 2 2 4 4 4 4 4 3 2 2 3 3 2 1 2 2 2 4 3 4 3 2 3 3 2 3 1 2 3 3 4 2 2 3 3 2 3 3 3 4 3 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 4 4 2 2 2 4 3 2 3 3 4 3 3 2 4 2 3 2 3 3 3 4 3 3 4 311 .

Amelia Noor Putri M Artantri Widasari Chatarine Dyela Eillen R Dicky Armayuda Eridani Kartiko Adi Gatot Ismail Gufron Gilang Zahru Saputra Indah Budi Kartikarini Insan Fadilah Harvianto Ismalia Ramadhani Putri Muhammad Farid Abdurrahman Muhammad Roofi'l Adiyatma Nida Salma Hajaroh Nurfitri Andani Ragil Saputro Mujiono Rif'atul Widaan Khotibin Tamhid Royhan Ikbar Sekar Cendana Arum Nadila Fatimatuzzahra A.Lampiran 6 Data Penilaian Kelompok Kelas I Nama Siswa 1 3 2 Sutarno 2 3 1 3 2 2 4 3 3 5 1 1 1 1 2 Udawati 2 3 2 2 1 2 4 2 3 5 1 1 3 3 2 3 1 1 1 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 2 1 2 3 1 2 2 2 1 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 3 3 1 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 1 3 2 2 3 1 Dody 3 4 3 3 2 3 5 1 1 3 3 2 3 1 1 1 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 2 1 1 1 1 3 3 3 1 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 Ade Firmansyah Daffa Malik Falaq Deandra Visto D M.Lutfi Mahendra M.N Siska Tri W Yacinta Nararia S Karizma Putri R Salwa Sauzan R Alfia Rahma De Anissa N.Naufal Rizqita Rayhan Adikusuma Rizky Dafa P Aqlia Tsalisa Azmani Ashylla Paramadanti Cahyaningtyas Iftitah Chairunnisa Yulia W Dyah Pradina P Dyah Sekar Ayu K Fahra Prahastanti P Hana Fazah Nur S Keisha Amadea Nabila Permata Sari Nur Azizah Ranita Salsabila Ria Rahma Sukma W Septiana Tidar Andika Bagas Andi Maulana Ade Itko M Anindita Dara L David Revaru Vebrian Agung W Kurniawan Dwi Y M. Malaghina Kusuma H Rio Satya Fauzi Freddy PP Siti Aziroh Rahmatika Shella Kumalasari Shelli Puspitasari Sugiharto.A.M 3 3 2 3 2 3 1 2 2 2 3 3 3 3 1 3 2 2 2 3 3 3 2 3 2 3 2 2 2 3 2 2 2 3 2 2 2 2 1 2 3 3 2 3 2 2 1 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 2 1 1 3 3 2 3 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 1 1 1 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 2 2 3 3 2 3 3 2 3 1 2 3 2 2 2 3 3 1 1 3 3 2 3 2 2 3 3 2 3 2 1 3 3 3 2 3 2 2 1 3 3 1 2 3 1 3 3 2 2 1 1 3 2 3 2 2 3 2 2 3 2 1 1 3 2 3 3 2 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 2 3 2 2 3 3 3 1 3 3 2 1 1 2 2 2 3 3 3 1 2 2 3 2 3 2 2 2 3 2 3 2 2 3 2 3 3 2 2 2 2 2 3 1 2 3 3 2 3 2 2 1 2 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 1 1 2 2 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 2 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 2 1 2 3 3 3 2 1 1 3 3 3 1 3 3 3 2 3 1 2 1 3 2 3 3 3 2 1 1 1 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 2 1 3 3 3 1 2 2 3 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 2 2 3 1 3 3 2 3 2 1 3 2 1 2 2 3 3 2 1 1 1 3 1 1 3 3 3 2 1 3 3 1 3 2 2 3 3 2 1 1 3 3 2 3 3 3 1 3 2 3 3 1 1 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 1 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 2 1 1 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 1 3 3 3 3 3 2 1 1 1 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 1 1 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 312 . Dava Surya Abi Y.B.

Abdul Gani Sarining Hanggani Kasih Teddy Arfansyah N Yuliana Larasari Dikta Wahyu Pratama Awang Pramono Isla Magda S Joko Bagus B Novia Permatasari Kusuma Nuraini Yulia Catur Wulandari Ikhsan Panji Irawan A'Issyatun Wahyu Ningsih Ainun Amaliya Paramita Arini Dewi Nuraini Chusnunnisa Suryanudin Ummu Habibah Halida Salsabila Hasna Maretta Sausana Hasna Ulfiaa Humairoh Rosida Akhir Khilmi Khayatun Nisha Kiki Dwi Widyasari Lutfina Aribah Miftakhurrohmah Nafisa Ainurrahmah Novryan Armawida Rizki Putri Utami Salman Kurnia Haq Sinta Primadita Siti Maryam S Wakhid Hasyim 3 1 2 3 3 2 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 1 2 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 3 2 2 313 . Aqib Husni Fadhli Muh.Zauhar Nanda Naya P.Lampiran 6 Data Penilaian Kelompok Kelas II Nama Siswa 1 2 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 1 2 3 2 2 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 Sutarno 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 3 2 2 2 3 1 2 3 2 2 3 2 2 3 3 3 3 3 1 1 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 1 3 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 1 2 3 3 2 2 2 2 2 3 3 3 2 3 3 3 2 2 2 2 2 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 2 1 1 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Udawati 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 1 3 1 3 2 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 2 2 3 2 3 3 2 3 3 1 2 2 3 1 2 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 2 3 3 2 1 1 2 2 1 2 3 3 3 3 2 2 2 1 2 3 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 3 2 2 2 3 1 2 3 2 2 2 3 2 3 2 3 3 3 1 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 2 2 2 2 2 3 3 3 3 1 3 2 2 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 1 2 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Dody 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 3 2 2 3 3 1 2 3 2 2 3 2 2 3 3 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 1 3 3 2 2 3 1 3 1 3 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 Afkar Zaka Y Alif Fahmi Mahendra Azka Hikam Z M.W Pradipta Wisnu Timur Dwi Indraja Agni Vasha Salsabila Alvira Niryana Aulia Astagina Dhiyaurrohmah Kamila Muyasaroh Melinia Debbytasari Noor Diana Arrasyid Oktaviana Rahindra Shafa Nabilla Haya Sheila Alfauziya P Yuliana Zahrajuncta Lusiana Martini Amelia Prisca Brigita Anggun Pratiwi Anisa Nur Rahmah Arviananda Ade H Bintang Nugrahani Galang Permataputra Galuh Intisari Muh. Tsani Ihsani Y Muh.

Zulfikar Muqni Aqsoinna Suryatama Gallang Aulia Rizki Dini Puspo Elfira Ciptaningtyas Elma Damarista Fadhila Khoirunisa Inna Salma Fahman Khanifah Noor Nur Amalia Andini Ratu Yeremenia S Syifa Azizah Ade Yoga Endy S Bekti Rachmawati Maria Sri Adiningsih Novianto Adi Saputra Wahyu Praktika D Yunina Dea J Bilqies Amalia A Nova Puspitasari Anggita Wulandari Anjas Deva Felano Eria Putri Pratiwi Fitriyani Ika Purwaningsih Ilham Yusril Munawar Massayu Seilla Annisa Musriati Rivan Pandu Adi Winata Muh.Lampiran 6 Data Penilaian Kelompok Kelas III Nama Siswa Alwi Izha Farandi David Aldi Saputra Laode Aldifan M. Miftahul Firdaus Anggi Dwina Siregar Rusmini Afiana Nurkholishotus Shohibah Andi Rahmat Wulansyah Eka Yuliani Fegi Tri Damayanti Fitri Nurul Hanifah Imam Zuhdi Inna Rahmatul Ulya Jalu Ukir Damatama Hilda Ayu Wibisana Ninggih Annisa Daniswara Pilar Paksi Pratama Rafli Khooinurizal Rapsanjani Riswa Rahman Fahmi Rivani Rahmania Afifah Rizki Nur Chaerani Rizqi Haritz Pebiantara Zanityara Syah Syadila Zetta Nillawati Reyka Putri Nurul Arifah 1 3 2 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 2 2 1 2 3 3 3 3 3 2 1 2 3 3 3 2 3 2 1 2 3 3 3 3 3 2 3 2 2 2 3 2 2 2 Sutarno 3 4 2 2 3 2 2 3 3 3 2 1 1 2 2 3 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 1 3 1 3 3 1 2 2 3 3 2 2 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 1 2 3 3 1 3 2 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 1 1 2 2 2 3 2 2 3 1 2 2 3 3 2 5 2 1 3 1 2 3 2 3 2 2 3 1 3 2 2 2 2 2 2 3 2 2 3 1 1 3 3 2 3 3 3 2 3 1 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 1 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 1 3 2 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 3 2 3 1 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 1 3 3 3 3 2 1 2 3 3 3 2 3 2 1 2 3 3 3 3 3 2 3 2 2 2 3 2 2 2 Udawati 3 4 2 2 3 2 2 3 2 3 2 1 1 2 2 3 1 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 3 2 2 2 2 2 2 3 3 1 2 3 3 2 3 1 3 1 3 3 1 2 2 1 2 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 1 2 3 3 1 3 2 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 1 1 2 2 2 3 2 2 3 1 2 2 3 3 2 5 2 1 3 1 2 3 2 3 2 2 3 1 3 2 2 2 2 2 3 2 1 1 1 1 3 3 3 3 1 2 2 2 2 1 3 2 2 3 2 2 3 3 2 2 1 3 3 3 1 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 2 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 2 2 3 2 2 1 2 3 3 3 3 3 3 1 2 3 3 3 2 2 2 1 2 3 3 3 3 2 2 3 2 2 2 3 2 2 2 Dody 3 4 2 2 3 2 2 3 2 3 2 1 1 2 2 3 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 1 3 3 1 2 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 3 1 2 3 3 1 3 2 3 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 2 3 1 1 2 2 2 3 2 2 3 1 2 2 3 3 2 5 2 1 3 1 2 3 2 3 2 2 3 1 3 2 2 2 2 2 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 2 1 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 314 .Ibrahim M.Fauzan M.Afdan Nurul Hilman M.Farizi Gustaf M.

A. Malaghina Kusuma H Rio Satya Fauzi Freddy PP Siti Aziroh Rahmatika Shella Kumalasari Shelli Puspitasari Sugiharto.Naufal Rizqita Rayhan Adikusuma Rizky Dafa P Aqlia Tsalisa Azmani Ashylla Paramadanti Cahyaningtyas Iftitah Chairunnisa Yulia W Dyah Pradina P Dyah Sekar Ayu K Fahra Prahastanti P Hana Fazah Nur S Keisha Amadea Nabila Permata Sari Nur Azizah Ranita Salsabila Ria Rahma Sukma W Septiana Tidar Andika Bagas Andi Maulana Ade Itko M Anindita Dara L David Revaru Vebrian Agung W Kurniawan Dwi Y M.M 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 Sutarno 2 3 4 2 2 3 2 1 3 2 3 2 3 2 3 3 2 3 2 3 3 2 2 3 3 1 2 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 2 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 2 1 2 3 2 1 3 2 2 2 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 1 3 3 1 2 2 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 1 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 2 3 1 1 2 2 3 3 1 3 2 2 1 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 5 2 2 3 3 1 2 1 3 1 2 3 3 3 3 2 2 1 1 3 3 3 2 2 3 1 2 3 3 3 2 2 2 3 2 3 2 1 2 3 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 Udawati 2 3 4 2 2 3 2 1 3 2 3 2 3 3 2 2 2 3 2 3 3 2 2 3 3 1 2 2 3 2 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 2 1 2 3 2 1 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 2 2 2 2 1 3 3 1 2 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 3 2 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 2 3 1 1 2 2 3 3 1 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 5 2 2 3 3 2 2 1 3 1 2 3 3 3 3 3 3 1 1 3 2 3 2 2 3 2 1 3 3 3 2 2 2 3 2 2 1 2 2 2 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 2 2 2 3 2 1 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 1 2 2 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 Dodi 3 4 1 2 3 2 1 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 2 2 1 3 3 1 2 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 1 1 2 2 3 3 1 3 1 3 1 3 3 3 3 1 3 3 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 5 2 2 3 3 2 2 1 3 1 2 3 3 3 3 3 1 1 1 3 3 3 2 2 3 1 2 3 3 3 2 2 2 3 2 3 1 1 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 315 .Lampiran 6 Data Penilaian Diri Kelas I Nama Ade Firmansyah Daffa Malik Falaq Deandra Visto D M.Lutfi Mahendra M. Dava Surya Abi Y.N Siska Tri W Yacinta Nararia S Karizma Putri R Salwa Sauzan R Alfia Rahma De Anissa N. Amelia Noor Putri M Artantri Widasari Chatarine Dyela Eillen R Dicky Armayuda Eridani Kartiko Adi Gatot Ismail Gufron Gilang Zahru Saputra Indah Budi Kartikarini Insan Fadilah Harvianto Ismalia Ramadhani Putri Muhammad Farid Abdurrahman Muhammad Roofi'l Adiyatma Nida Salma Hajaroh Nurfitri Andani Ragil Saputro Mujiono Rif'atul Widaan Khotibin Tamhid Royhan Ikbar Sekar Cendana Arum Nadila Fatimatuzzahra A.B.

Zauhar Nanda Naya P.W Pradipta Wisnu Timur Dwi Indraja Agni Vasha Salsabila Alvira Niryana Aulia Astagina Dhiyaurrohmah Kamila Muyasaroh Melinia Debbytasari Noor Diana Arrasyid Oktaviana Rahindra Shafa Nabilla Haya Sheila Alfauziya P Yuliana Zahrajuncta Lusiana Martini Amelia Prisca Brigita Anggun Pratiwi Anisa Nur Rahmah Arviananda Ade H Bintang Nugrahani Galang Permataputra Galuh Intisari Muh. Aqib Husni Fadhli Muh. Tsani Ihsani Y Muh.Lampiran 6 Data Penilaian Diri Kelas II Nama 1 Afkar Zaka Y Alif Fahmi Mahendra Azka Hikam Z M. Abdul Gani Sarining Hanggani Kasih Teddy Arfansyah N Yuliana Larasari Dikta Wahyu Pratama Awang Pramono Isla Magda S Joko Bagus B Novia Permatasari Kusuma Nuraini Yulia Catur Wulandari Ikhsan Panji Irawan A'Issyatun Wahyu Ningsih Ainun Amaliya Paramita Arini Dewi Nuraini Chusnunnisa Suryanudin Ummu Habibah Halida Salsabila Hasna Maretta Sausana Hasna Ulfiaa Humairoh Rosida Akhir Khilmi Khayatun Nisha Kiki Dwi Widyasari Lutfina Aribah Miftakhurrohmah Nafisa Ainurrahmah Novryan Armawida Rizki Putri Utami Salman Kurnia Haq Sinta Primadita Siti Maryam S Wakhid Hasyim 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Sutarno 2 3 4 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 1 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 1 1 3 3 2 3 2 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 3 1 1 3 3 2 3 2 3 1 3 1 3 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 2 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Udawati 2 3 4 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 1 3 2 3 3 3 3 2 2 2 3 2 1 2 1 3 1 2 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 3 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 2 2 1 3 3 3 3 2 3 1 3 2 2 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 Dodi 3 4 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 1 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 2 3 3 3 2 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 1 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 2 3 1 3 1 3 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 316 .

Lampiran 6 Data Penilaian Diri Kelas III Nama 1 Alwi Izha Farandi David Aldi Saputra Laode Aldifan M.Fauzan M.Zulfikar Muqni Aqsoinna Suryatama Gallang Aulia Rizki Dini Puspo Elfira Ciptaningtyas Elma Damarista Fadhila Khoirunisa Inna Salma Fahman Khanifah Noor Nur Amalia Andini Ratu Yeremenia S Syifa Azizah Ade Yoga Endy S Bekti Rachmawati Maria Sri Adiningsih Novianto Adi Saputra Wahyu Praktika D Yunina Dea J Bilqies Amalia A Nova Puspitasari Anggita Wulandari Anjas Deva Felano Eria Putri Pratiwi Fitriyani Ika Purwaningsih Ilham Yusril Munawar Massayu Seilla Annisa Musriati Rivan Pandu Adi Winata Muh.Afdan Nurul Hilman M.Farizi Gustaf M. Miftahul Firdaus Anggi Dwina Siregar Rusmini Afiana Nurkholishotus Shohibah Andi Rahmat Wulansyah Eka Yuliani Fegi Tri Damayanti Fitri Nurul Hanifah Imam Zuhdi Inna Rahmatul Ulya Jalu Ukir Damatama Hilda Ayu Wibisana Ninggih Annisa Daniswara Pilar Paksi Pratama Rafli Khooinurizal Rapsanjani Riswa Rahman Fahmi Rivani Rahmania Afifah Rizki Nur Chaerani Rizqi Haritz Pebiantara Zanityara Syah Syadila Zetta Nillawati Reyka Putri Nurul Arifah 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 Sutarno 2 3 4 2 3 3 3 3 2 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 2 2 2 2 3 3 3 2 3 2 2 3 3 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 2 3 3 2 2 2 2 2 1 3 3 2 2 2 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 5 2 3 3 3 3 1 2 3 3 3 1 1 2 3 3 3 3 2 3 2 2 2 2 2 3 1 1 3 2 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 1 3 3 2 2 1 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 1 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 1 1 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 Udawati 2 3 4 2 3 2 3 3 3 2 3 3 2 1 2 1 3 3 2 1 3 3 3 3 3 2 2 1 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 1 2 3 3 3 2 3 1 3 3 2 2 2 3 2 1 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 2 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 3 3 3 5 2 3 3 3 3 1 2 3 3 3 1 1 2 3 3 3 3 2 2 3 3 2 2 2 2 1 1 3 2 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 1 3 3 2 2 1 3 3 3 1 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 Dodi 2 3 4 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 2 2 1 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 2 3 3 2 2 2 2 2 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 5 2 3 3 3 3 1 2 3 3 3 1 1 2 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 2 3 1 1 3 2 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 1 3 3 2 2 1 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 317 .Ibrahim M.

Lampiran 7 Tabel 3 Hasil Wawancara Keterpakaian Instrumen Penilaian Hasil Belajar Karya Seni Lukis Anak Komponen Guru A Guru B Guru C Keseluruhan Kepraktisan . Hanya saja.Mudah . tentang IPSLA? Baik dalam hal apa? Baik dalam kaitan dengan: • Objektif • Dapat memberikan kemudahan dalam melakukan penilaian • Dapat dipertanggungjawabkan 3 4 Bagaimana dengan bahasa Mudah dipahami. sederhana dan komunakatif yang digunakan? Bagaimana dengan alokasi Sesuai dengan yang disiapkan. waktu yang digunakan untuk untuk memahami dan mempelajari aplikasi melakukan penilaian? penilaian ini membutuhkan waktu tersendiri Apakah Bapak membutuhkan Tidak. Hasil wawancara dengan guru A (20 Desember 2008) No 1 2 Pertanyaan Jawaban Bagaimana tanggapan bapak Menurut saya instrumen ini baik. saya dapat melakukannya sendiri bantuan tenaga lain dalam melakukan penilaian? Bagaimana dengan biaya Tidak ada masalah pelaksanaan penilaian? 5 6   319 .Sederhana Bahasa ‐ Baku ‐ Komunikatif ‐ Mudah dipahami Efisiensi ‐ Waktu ‐ Tenaga ‐ Biaya Mudah Cukup Ya Ya Ya Mudah Sederhana Ya Ya Ya Mudah Sederhana Ya Ya Ya Mudah Sederhana Ya Ya Ya Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Hasil wawancara dengan 3 orang guru sebagai rater sebagai berikut: 1.

Hasil wawancara dengan guru B (27 Desember 2008) No 1 Pertanyaan Jawaban Bagaimana tanggapan bapak Instrumen ini sudah baik. Selain itu mudah diterapkan dan hasil penilaian didukung oleh bukti otentik penilaian. 2 Baik dalam hal apa? Instrumen ini lebih menunjukkan kondisi yang sudah mengurangi tingkat subyektivitas guru dalam menilai. waktu yang digunakan untuk akan lebih baik lagi jika ada waktu tersendiri melakukan penilaian? untuk memahmi cara penggunaan instrumen tersebut. saya menjadi lebih mudah melakukan penilaian karena kriterianya lebih jelas. tidak ada pelaksanaan penilaian? masalah. bantuan tenaga lain dalam melakukan penilaian? Bagaimana dengan biaya Biaya pelaksanaan menurut saya. alokasinya sudah cukup Tetapi. 4 5 Apakah Bapak membutuhkan Saya cukup dapat melakukannya sendiri. sudah dapat tentang IPSLA? menampung aspirasi saya sebagai guru untuk menilai karya lukisan anak didik. 6   320 . 3 Bagaimana dengan bahasa Bahasanya jelas. Secara pribadi. mudah dimengerti dan yang digunakan? sederhana serta menampung karakteristik seni sebagai ekspresi maupun imajinasi anak.Lampiran 7 2. karena menurut saya pola penilaian ini berbeda dengan yang sering saya lakukan selama ini. Bagaimana dengan alokasi Menurut saya.

waktu yang digunakan Namun. 2 Baik dalam hal apa? Instrumen ini memudahkan dalam menentukan kriteria nilai. efisiensi dan kejelasan bahasa yang digunakan pada butir-butir indikator dan deskriptor beserta kriteria yang dipakai dalam instrumen ini sudah dipandang layak untuk diterapkan sebagai sarana penilaian. dari sudut efektivitas.   321 . saya dapat membutuhkan bantuan melakukannya sendiri tenaga lain dalam melakukan penilaian? Bagaimana dengan biaya Saya pikir tidak ada persoalan dengan biaya pelaksanaan penilaian? pelaksanaan 6 Dari ketiga hasil wawancara dengan para guru yang menjadi rater dalam uji coba instrumen penilaian karya seni lukis anak dapat disimpulkan bahwa semua rater menyatakan instrumen sudah memadai. untuk memahami lebih lanjut tentang untuk melakukan penilaian? penerapan dari penilaian ini butuh waktu yang cukup. 5 Apakah bapak Tanpa bantuan orang lainpun. Pengalaman saya hanya menggunakan intuisi untuk memberikan nilai siswa. Mereka mengatakan bahwa dengan hadirnya instrumen ini menjadikan pekerjaan penilaian karya seni lukis anak menjadi mudah karena ada dasar rujukannya dan obyektif. karena pada waktu sebelumnya tidak pernah saya menilai dengan instrumen yang baku. 4 Bagaimana dengan alokasi Waktunya saya anggap sudah cukup memadai. Panduannya jelas sehingga mudah untuk diterapkan. Hal ini dikarenakan. 3 Bagaimana dengan bahasa Bahasa dari instrumen ini cukup mudah dicerna yang digunakan? dan dimengerti.Lampiran 7 3. Hasil wawancara dengan guru C (3 Januari 2009) No 1 Pertanyaan Jawaban Bagaimana tanggapan Instrumen penilaian ini sangat membantu diri bapak tentang IPSLA? saya dalam melakukan penilaian karya seni lukis anak.

and no official endorsement should be inferred 322 . Robert L. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Crick.1 January.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Ed. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). PA 19104 Robert L. GENOVA was developed in part under contract No. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia.D. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Iowa 52242 VERSION 3. Ed.D. Director. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Brennan Principal Investigator. Brennan. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City.

RANDOM MODEL .15714 158.75428 118 1062 MI:R 1062 9244.1426746 0.0) 0...28571 24..2801856 0.19744 QF 2 QF 18 QF I:R 18 8728..0) (0.8357072 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 (0.92582 18 1062 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 6092.29286 0...93810 0.0042666 MI:R 1062 0.M X (I:R) DESIGN ..00000 297..54286 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ G STUDY DATA SET 1 ...76190 193.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 0.58571 31.45714 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 1259 3432...0282800 R 2 (0.RANDOM MODEL .50277 59 118 R 2 5874.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .0) (0.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 6004.30476 3.55714 0.04286 62..6380683 2....M X (I:R) DESIGN ...6380683 0.0121476 ----------------------------------------------------------------------------- 323 .28019 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 5811.1459530 0.2801856 0.21134 0.1304946 I:R 18 2..20000 2854.0) 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .27635 15.56429 565.

23607 0.14267 0.88424 0.91448 0.42308 001-006 60 3 6 0.29602 0.14267 0.16602 0.15824 0.22261 0.12791 001-002 60 3 2 0.24319 0. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 0.44283 0.01868 0.14267 0.16135 0. INF.14267 0.14267 0.14267 0.01557 0.13896 0.36976 001-005 60 3 5 0.04670 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.17856 0.32425 0.01334 0.75341 0.17381 0.82088 0.30556 001-004 60 3 4 0.14920 0.18937 0.88329 0.46809 001-007 60 3 7 0.= INF.15602 0.97275 0.09340 0.12822 0.48638 0.03113 0. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF. NO UNIV.50659 324 .90163 0.19455 0.60437 0.02335 0.22681 001-003 60 3 3 0. INF. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.14267 0.85936 0.16213 0.

PA 19104 Robert L. Brennan Principal Investigator.1 January.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E.D.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Ed. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. and no official endorsement should be inferred 325 . 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output.D. Brennan. GENOVA was developed in part under contract No. Iowa 52242 VERSION 3. Robert L. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Ed. Director. Crick. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia.

16548 18 1062 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 644940.95000 204981..5130078 60...M X (I:R) DESIGN .92016 QF 2 QF 18 QF I:R 18 836923.70556 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 1259 462576.28095 17.33333 7823.0690028 17.29444 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ G STUDY DATA SET 1 .4293997 242.0192379 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 3....06900 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 405472.62778 132.0690028 0.7400351 ----------------------------------------------------------------------------- 326 .97698 9..RANDOM MODEL .1747172 R 2 242.02413 59 118 R 2 631942.84947 667..8256646 3.8256646 0.65952 226469.00000 18127.5130078 189.56891 118 1062 MI:R 1062 868049.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ..4293997 190....95397 113234.8155720 MI:R 1062 17.42857 5174..84865 2.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 4..8337173 I:R 18 189.2264384 1..14127 43.RANDOM MODEL .29048 11387..RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES ..RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 413296.M X (I:R) DESIGN ..60386 3.2264384 4..

22644 6.92408 2.02724 001-002 60 3 2 4.= INF.92226 89.22644 6.41316 95.44580 0.61040 0.16732 0.96489 150.12006 116.55466 0.39822 3.03858 101. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.37765 0.66933 0.17178 105.63655 0.99010 0.03868 001-004 60 3 4 4. NO UNIV.19133 6.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.53441 0.31447 2.44994 2. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.22644 8.63959 2.22644 6. INF.22644 11.57128 0.69764 99.03500 001-003 60 3 3 4.04322 001-007 60 3 7 4.34649 4.08803 91.04082 001-005 60 3 5 4. INF.71795 0.22644 7.22644 6.22350 93. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 4.04223 001-006 60 3 6 4.56180 91.50637 0.65527 0.04396 327 .85716 93.94569 144.51536 112.30019 96.93947 0.

Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. PA 19104 Robert L.D. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City.1 January. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Ed. Director. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Brennan Principal Investigator. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC).D. GENOVA was developed in part under contract No. Brennan.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Crick. Ed. Iowa 52242 VERSION 3. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Robert L. and no official endorsement should be inferred 328 .

RANDOM MODEL .RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .82499 QF 2 QF 18 QF I:R 18 771345.28571 130.0424779 4.70952 43.1452227 1..3838259 175.0424779 0.86372 118 1062 MI:R 1062 800302.42672 695.60476 15..68095 10555.8073981 MI:R 1062 15...00000 16124...6707246 175..71905 207969..6707246 55.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ....RANDOM MODEL ..6582771 ----------------------------------------------------------------------------- 329 ..71429 5130..3838259 222.00204 59 118 R 2 581347.86190 103984..RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 381079.M X (I:R) DESIGN .1832437 0.1452227 4..53027 3.85714 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 1259 426924.M X (I:R) DESIGN .6319846 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 4..14286 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------G STUDY DATA SET 1 .OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 4.20235 18 1062 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 594179.18324 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 373377.93095 9.1832437 15.14286 7701.1567972 R 2 222.40000 189997.48059 2...2480372 I:R 18 175.

04111 001-004 60 3 4 4.04594 001-007 60 3 7 4.99303 0.03720 001-003 60 3 3 4.61276 91.61338 0.40857 139.04339 001-005 60 3 5 4.14522 10.50493 2.56372 82.87803 107.14522 6.57735 0.76657 0.94774 0.03452 96.75799 2.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.37993 88.14522 6.87980 0. INF.21573 2. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 4.14522 7.63724 0.14522 8.04673 330 .86075 0.14522 6.59681 0.09342 132.02894 001-002 60 3 2 4.17974 3.54012 0.04489 001-006 60 3 6 4.19903 85.19101 86.39277 0.51665 0. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.07843 83.66689 0.14522 6.55380 6.68143 93.07050 84.33623 2.02326 3. NO UNIV. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.35971 88.65421 0.= INF.28443 103. INF.

Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Ed. Crick.D. GENOVA was developed in part under contract No. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output.1 January. Robert L. Ed. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. and no official endorsement should be inferred 331 . Brennan. Iowa 52242 VERSION 3.D. Brennan Principal Investigator. Director. PA 19104 Robert L.

9383863 ----------------------------------------------------------------------------- 332 .2774647 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 6.1238858 47.1503453 7..2067797 2.. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .RANDOM MODEL ..00000 6421.25000 95492..1238858 94..2067797 6..25000 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES..M X (K:P) DESIGN .25000 8.01667 34039..76667 5673.0202936 MK:P 354 25......83333 44.29444 219.M X (K:P) DESIGN .00000 9154.48164 1.2258624 K:P 6 94..6351956 188.2807234 P 2 233.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ..OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 7.44673 59 118 P 2 207726.90000 25...RANDOM MODEL .83475 2.8612994 25.75000 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 539 150357.8612994 1.38843 QF 2 QF 6 QF K:P 6 241766.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 118655.33333 5248.86130 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 112233.37391 6 354 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 219396..50000 47746.25000 108..1503453 2.6351956 233.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .72001 118 354 MK:P 354 262591.

33169 10.44390 3.09344 0. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.52949 4.21927 13.65569 0.84245 0.07755 4. NO UNIV.72409 7.62043 39.21927 10.51678 0.= INF.61738 003-008 60 3 8 9.65976 0.99506 31.81053 0.65601 1. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.29683 1. 3 INF.21927 17.37438 2.86517 0.68142 0.58037 003-007 60 3 7 9.09275 2.45076 1.76238 0.88216 0.31022 19.40882 003-004 60 3 4 9.21927 10.99938 4.43674 6.83970 8.66584 5.21927 11.17710 0.65627 0.31555 003-003 60 3 3 9.87348 13.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.53543 003-006 60 3 6 9.03323 0. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 9.15511 9.21927 10.71358 4.21927 12.21927 10.91281 0.99901 6.21927 10.67196 0.89535 0.18733 003-002 60 3 2 9.47972 003-005 60 3 5 9.23149 5.64839 003-009 60 3 9 9.94336 1.90588 0.45732 0.40670 0.67475 333 .95783 4.99877 8.99753 15.

Iowa 52242 VERSION 3.D. PA 19104 Robert L. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Robert L. Ed. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Director. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Ed. Brennan. GENOVA was developed in part under contract No. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). and no official endorsement should be inferred 334 .D.1 January. Crick.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Brennan Principal Investigator. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --.

.79815 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .53519 7...RANDOM MODEL .RANDOM MODEL .RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .99658 0.23387 2.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 4.4708098 4..59630 39.0921532 53..9927976 MK:P 354 40.34477 6 354 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 222531.2190112 K:P 6 106....20044 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 116659.95556 40...3811039 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 (0.2433642 190..2004394 3.00000 14230.07037 48209.0921532 106.79815 80.7131546 P 2 232.37778 6405.65000 38434..2004394 40..0) 1.66667 4719...99493 118 354 MK:P 354 275197.0) (0..M X (K:P) DESIGN .20185 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 539 158537.27222 96419.00000 4733.4481586 1.M X (K:P) DESIGN ..72963 159.52624 QF 2 QF 6 QF K:P 6 251512.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 121393. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 ..00602 59 118 P 2 213078..2444968 232.0131503 ----------------------------------------------------------------------------- 335 .

46672 16. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 4.24922 0.44816 7.44816 6.= INF.62402 0. 3 INF.08359 003-002 60 3 2 4.39900 0.44816 6.15805 0.72645 0.57041 0.15429 003-003 60 3 3 4.86783 0.66152 0.96631 5.91431 6.38969 003-008 60 3 8 4.70007 24.45084 336 .19161 0.40015 48.12819 2.26733 003-005 60 3 5 4.09552 4.12318 1.31323 003-006 60 3 6 4.84831 13.76420 35.00537 0.93660 0.35372 003-007 60 3 7 4. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.79820 3.23336 8.93706 1. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.42188 003-009 60 3 9 4.66574 0.44816 8.68152 2.75284 7.36247 1.48891 5.49896 0.67502 6.69913 0.74922 0.52256 0.97098 0.12737 6.44816 17.25473 11.41824 4.21486 003-004 60 3 4 4.14823 6.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO. NO UNIV.44816 5.35004 12.38210 17.91487 4.02829 0.44816 11.68003 9.44816 6.19105 8.44816 7.

GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. and no official endorsement should be inferred 337 . Brennan. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Brennan Principal Investigator. PA 19104 Robert L. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Ed.D. Ed. Crick.D.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. GENOVA was developed in part under contract No.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --.1 January. Director. Robert L. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Iowa 52242 VERSION 3. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia.

0757167 221.76667 34407.88889 5104...19597 118 354 MK:P 354 255520....02963 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 539 146747.....0322348 95.8286649 P 2 221.4473033 ----------------------------------------------------------------------------- 338 .52304 2.00000 11558.97037 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.M X (K:P) DESIGN .0757167 179.RANDOM MODEL .RANDOM MODEL .93150 QF 2 QF 6 QF K:P 6 234248.85926 86..00000 4607.M X (K:P) DESIGN ..2747960 1.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .1329253 1..5847308 K:P 6 95.61296 7.2747960 5.04987 1.6510986 2...22593 45534.0322348 47...58519 175..7882273 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 2.8679808 MK:P 354 32.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 5.48889 32.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .63223 6 354 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 209554..88519 39.51111 5734. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .6510986 32..1329253 2.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 113876.65110 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 108772.25556 91069.21571 59 118 P 2 199841.

003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.98577 7.71937 0.98577 8.62263 0.08211 0.62790 14.72901 3.98577 8.73332 0.19507 1.51222 6.88370 42.61367 3.02917 0.40956 0.81395 7.68749 0.21953 003-003 60 3 3 5.44185 21.45765 003-007 60 3 7 5.16251 2.36046 5.20930 4.70670 2.35483 0.98577 9.52944 003-009 60 3 9 5.12330 003-002 60 3 2 5.56111 31. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.79972 1.49609 003-008 60 3 8 5.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.98577 16.08016 4.55865 339 .76743 0.98577 7. 3 INF.83193 0.47152 0.41287 003-006 60 3 6 5.54059 1. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 5.81481 0.06446 0.63963 0.42762 5.64028 8.98577 7.72092 10.17674 8.55481 6.98577 11.34623 1.86947 10. NO UNIV.28056 16.65102 0.79381 0.= INF.09352 5.32014 4.18704 10.95857 0.52380 0.29672 003-004 60 3 4 5.98577 7.36002 003-005 60 3 5 5.

however the authors can make no assurances that the program is totally without error. PA 19104 Robert L. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Ed. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Robert L. Brennan. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Ed. Brennan Principal Investigator. GENOVA was developed in part under contract No. and no official endorsement should be inferred 340 . Crick.D. Director. Iowa 52242 VERSION 3.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E.1 January. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia.D. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC).

0924859 5.3831865 R 2 118.2849529 0...05333 7307.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 5.74667 13.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .87111 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 193926.40000 6594.44222 43028....38439 2.9962241 101.12889 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.15879 59 118 R 2 245471..8367147 I:R 12 121.5744915 46.36667 87693..9244401 MI:R 708 13.52889 111.M X (I:R) DESIGN ..87034 QF 2 QF 12 QF I:R 12 333164..RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .7050921 ----------------------------------------------------------------------------- 341 .5744915 121.9962241 118.20000 4175.75444 550...RANDOM MODEL ..RANDOM MODEL .4198870 4..RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 166008.2849529 13..M X (I:R) DESIGN .0345275 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 4.28495 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 159413.07756 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 256241.4198870 0.0924859 1.72111 5.77168 3.. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .00000 9405...35778 35.31333 86057.66349 118 708 MI:R 708 353340...

77994 3.09249 7.12933 47.37699 49.04189 2.46320 0.09249 10.92450 0.90161 86.08861 001-005 60 3 5 5.09249 8.07412 001-003 60 3 3 5.37347 0. INF. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.12309 53.94940 56.45145 2.07416 0.09249 7.61528 60.35896 50.68342 0.63325 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.09222 342 .= INF.09185 80.09249 8. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.89456 0.30772 0.66370 0. NO UNIV.08319 001-004 60 3 4 5. INF.99410 5.68745 63.67286 2.58001 0.58038 52.05585 001-002 60 3 2 5. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 5.

Director.1 January. however the authors can make no assurances that the program is totally without error.D. Brennan. PA 19104 Robert L. Ed.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output.D. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Iowa 52242 VERSION 3.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Robert L. GENOVA was developed in part under contract No. Ed. and no official endorsement should be inferred 343 . Brennan Principal Investigator. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Crick.

.96222 47344.7169002 1.67889 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES...61222 48.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 178809.23333 768.6129639 R 2 130.93333 2885.08333 97430.RANDOM MODEL ..5605806 ----------------------------------------------------------------------------- 344 .7169002 0.80000 8119.48111 5.90868 2..1463633 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 1.5069182 MI:R 708 10..1445198 135..56215 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 175924..M X (I:R) DESIGN .9841356 1.. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .82499 QF 2 QF 12 QF I:R 12 368044..71051 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 275758.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES ...7222109 112.55443 59 118 R 2 270613.28333 94688..0598736 I:R 12 135.RANDOM MODEL .30444 19....00000 10.14665 1..M X (I:R) DESIGN .7222109 130..81276 118 708 MI:R 708 380667.32111 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 204742.1445198 51..5621469 0.5621469 10.20000 2259.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .00000 7478.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 1.9841356 0.

53194 0.98414 6.63805 0.98414 4.09302 92.45963 0.26058 1.31679 2. INF.60852 0.33266 68. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.03184 001-004 60 3 4 1.32649 0. NO UNIV.65229 0.02095 001-002 60 3 2 1.43661 1.72353 0.86015 52.27644 53.= INF.45248 56.57735 0.98414 3.43081 66.74587 60.28859 54.33600 58.71526 88.03405 001-005 60 3 5 1.73001 1.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.98414 3.02818 001-003 60 3 3 1. INF.17010 0.98414 3. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 1.03553 345 .89339 0.07715 4. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.

D.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --.D. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. GENOVA was developed in part under contract No. Ed. PA 19104 Robert L. Brennan. Iowa 52242 VERSION 3. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. and no official endorsement should be inferred 346 . Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Robert L. Ed.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Crick.1 January. Director. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Brennan Principal Investigator.

7628148 I:R 12 129.96222 44678.9790840 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 2. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .30556 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES...1082335 0..9738173 122.94038 59 118 R 2 256501.9738173 105....26000 7775.43889 70.91667 93302.3717985 48.M X (I:R) DESIGN .40000 2835.02800 1.13333 4168.6836219 ----------------------------------------------------------------------------- 347 .8775790 R 2 122.6352875 MI:R 708 12.65151 2.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ..69444 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 198782..RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .34000 12..48111 5.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 171313..18833 603.1082335 3.8804237 0.3717985 129..OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 3..2295160 0...M X (I:R) DESIGN .73806 QF 2 QF 12 QF I:R 12 349803.2295160 2.RANDOM MODEL .00000 9119....65667 89356.8804237 12.30444 24...64383 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 263505.86547 118 708 MI:R 708 365927.RANDOM MODEL .88042 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 167144.

INF.14488 5.99814 2.88991 65.71010 1. NO UNIV. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 3. INF.25095 0.44315 62.58839 0.81654 53.54025 55.10823 4.10823 8.03369 001-002 60 3 2 3. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.05721 348 .15185 84.21793 49. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.85434 0.63114 0.92477 1.03665 89.58880 51.51820 0.10823 5.69456 0.65991 0.05125 001-004 60 3 4 3.38162 0.10823 4.28256 2.17433 57.65321 0.10823 5.45396 0.05482 001-005 60 3 5 3.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.60187 51.04534 001-003 60 3 3 3.= INF.

D. Director. Crick. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E.1 January. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. and no official endorsement should be inferred 349 .Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. PA 19104 Robert L. Brennan Principal Investigator. Robert L. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Ed. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Brennan. Iowa 52242 VERSION 3.D. GENOVA was developed in part under contract No. Ed.

7488701 0..M X (K:P) DESIGN .5502787 125....Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .9814237 1.93333 106476.74637 2.6087719 K:P 12 73...RANDOM MODEL .00000 12566.9814237 4.44399 59 118 P 2 252349..46772 2..07111 51.59556 126.91547 118 708 MK:P 708 331756...3493034 MK:P 708 17.74887 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 145873.5902820 P 2 162.7488701 17.6933522 27..13333 53272.35000 250.12015 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 265917.7994991 1.92889 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .60000 6106.7994991 6..RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 4.9420122 ----------------------------------------------------------------------------- 350 .20000 4439..RANDOM MODEL .9652808 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 6.M X (K:P) DESIGN ..RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 153334.20000 17..86222 53238..6933522 73.07111 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 185882.90125 QF 2 QF 12 QF K:P 12 305622..66667 7461.43111 11.5502787 162..

47907 7.34182 0.24792 10.24792 13.48748 003-005 60 3 5 7. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.24792 9.72700 1.78385 0.62019 6.32230 003-003 60 3 3 7.18326 6.91629 30.05341 0.19211 003-002 60 3 2 7.71016 0.83052 0.22002 1.78611 0.95815 15. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 7.16025 8.24037 12.09615 5.54316 351 .45233 0.20607 2.24792 8.16421 5. NO UNIV.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.55058 0.97210 10.= INF.48074 24.24792 8.41635 003-004 60 3 4 7.28656 0. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.43118 1. 3 INF.85966 0.

D. GENOVA was developed in part under contract No. and no official endorsement should be inferred 352 . PA 19104 Robert L. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Crick.1 January.D. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Ed. Robert L. Ed. Iowa 52242 VERSION 3. Director. however the authors can make no assurances that the program is totally without error.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Brennan. Brennan Principal Investigator.

.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ..95333 5432.3123446 90.20000 4241.7344855 ----------------------------------------------------------------------------- 353 .4215348 0.7541243 2.RANDOM MODEL ..25831 2..4342429 189.2220360 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 4..3123446 34.92000 62284.4215348 4..57944 392..4342429 146.36000 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 208358.84667 13.94644 2...68000 35.41861 QF 2 QF 12 QF K:P 12 362484.7541243 0..RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 177281. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 ..8387665 13.9665221 K:P 12 90.56240 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 306093.9825944 P 2 189.M X (K:P) DESIGN .96000 11..8387665 0.14926 59 118 P 2 297293.64000 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES...28000 124569.00000 9797...59752 118 708 MK:P 708 381082..RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES ..9396860 MK:P 708 13.M X (K:P) DESIGN .OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 2.83877 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 172723..24000 77.RANDOM MODEL .60000 4558.23333 65190.

NO UNIV.53443 2. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.53764 11.78569 0.16096 0.15055 0.10667 0.64703 0.15323 8.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 4.22797 5.57235 10.30646 17.67926 7.37846 354 .92258 6.26759 003-004 60 3 4 4.76561 1.61292 34. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.22797 5.94341 6. 3 INF.82088 0.61572 0.19586 003-003 60 3 3 4.10856 003-002 60 3 2 4.= INF.71704 30.25146 0.32757 003-005 60 3 5 4.35852 15.13080 0.38120 1.84089 4.47823 0.22797 6.22797 5.22797 8.73331 0.

Robert L. Director. PA 19104 Robert L. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Ed.D. Brennan Principal Investigator. and no official endorsement should be inferred 355 . GENOVA was developed in part under contract No. Iowa 52242 VERSION 3. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. however the authors can make no assurances that the program is totally without error.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E.1 January. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Brennan.D. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Ed. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Crick.

4329567 1.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .28242 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 263997..67163 118 708 MK:P 708 331741..RANDOM MODEL .28021 59 118 P 2 255372.43296 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 147174.88360 2.M X (K:P) DESIGN .RANDOM MODEL .4846516 165.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 2.6348177 K:P 12 73..00000 14466.9850545 P 2 165..7446817 0...RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 151769.6548211 73...72222 217.4846516 127.68222 54098.80000 4030.46556 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.53333 20.7446817 2.9081929 MK:P 708 20..M X (K:P) DESIGN .88333 53276....14764 QF 2 QF 12 QF K:P 12 308648..45111 34.66667 4439.4329567 20.6548211 27.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .9151488 2..53444 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 184566.0844687 ----------------------------------------------------------------------------- 356 ..9151488 0.21667 108197...66667 4595.15637 1.13222 77.84111 12..9676270 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 2. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 ..

53279 1.32818 003-005 60 3 5 3.37912 357 .45420 8. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.83004 5.70275 7.69224 0.10037 2.68130 12.40549 15. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 3.28554 0.26813 003-004 60 3 4 3.27033 10.81099 31.83004 5. NO UNIV.64103 6.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.83004 6.19630 003-003 60 3 3 3.83004 10.84065 6.62784 0.19224 1.39640 0.73765 0.52934 0.35993 0.83004 7.23554 3.36220 6.10883 003-002 60 3 2 3. 3 INF.99686 0.= INF.23011 0.27252 4. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.36259 24.72896 0.

LEMBAR PENGESAHAN .

263 . W. Educational research: An introduction. Hal D. (2004). (1952). M. A. Borg. Asmawi. Mengenal seni rupa anak. Brandy. Second edition. Bambang Prihadi. Babbie. Bennet. Ch. G.R. Melbourne: The Macmillan Company. Element of generalizability theory. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Give them wings. Anugrah. (2004). Dwi. Kompas. New York: The Psychological Corporation. (1986). Performance assessment. Differential aptitude test manual. (2005). California: Brooks Cole Publihsing Company. A. A. (1982). Mengembangkan kreativitas anak. (1991). D.. Pengembangan instrumen pengukuran respons estetik siswa sekolah pertama menggunakan semantic diferential. (1979). (2005). The practice of social research. Tesis Magister. E. (1993).G. Jakarta: Universitas Terbuka. G. Yogyakarta. Introduction to measurement theory. Ronald. Iowa City: ACT Publication. the experience of children’s literature. (1983). (2007). Belmont CA: Wadworth Thomson Learning Inc. Laure. Allen Mary. Fourth edition. Dewobroto. K.. Brennan. Robert L. Dalam Malcom Ross The Aesthetic Imperative. J. Seashore. Alternative assessment. & Yen Wendy. (10 Agustus 2006). dalam Maurice Saxby & Gordon Winch (EDS). Berk. (1983). Phoenix AZ: The Oryx Press.DAFTAR PUSTAKA Abdussalam Al-Khalili. London: The John Hopkins Press Ltd. “ Children and their books: The right book for the right child I”. Pergamon. Yogyakarta: Gama Media. H.D. Aspin. J. tidak diterbutkan. New York: Longman. Astin. Fungsi pendidikan seni budaya di sekolah. & Gall. Assessment and education in the arts. W. Affandi. & Wesman. Assessment for excellence. Universitas Negeri Yogyakara. Zainul.

SMA. Dobbs.BSNP. The process of art education in the elementary school. dan SMK. (1958). (Terjemahan Tim Inisiasi). R. Survei kegiatan guru dalam melakukan penilaian di kelas. Iowa: W. Jakarta: BSNP. Coney. California: Chandler Publishing Company. Charles D. Kamus psikologi. Harcourt Brace Jovanovich. Inc. A. Thousand Oaks. Bandung: MSPI. (1975). Penelitian kerja sama antara Lemlit IKIP Yogyakarta dan Balitbang Depdikas. Bandung: Tonis. (1999). Donovan. dkk. (1967). Djemari Mardapi. Conrad. Jakarta. (1968). dari. Campbell. SMP. The DBAE handbook: An overview of disciplinebased art education. (2005). Corwin Press. Dubuque. Rethinking how art is taught: A critical convergence. 264 . htm. (1975). file: // J: Assessment Criteria. Amerika: Prentice Hall Inc. (1982). Diambil pada tanggal 8 Nopember 2005. Jakarta: Universitas Terbuka. Inc. Uhlin. Art form: An introduction to the visual arts. (1998). Wailling.. Dali Gulo. M. (1999). De Francesco-Italio. Isobel J. assessment criteria. (1992). Pendidikan seni rupa/ kerajinan tangan. California: Dickenson Publishing Inc. Cut Kamaril. Multiple intelligences: Metode terbaru melesatkan kecerdasan. (2002). The aesthetic hypothesis. Duane & Prebel. Santa Monica CA: The Gety Center. A. Estetika sebuah pengantar. Standar nasional pendidikan. Djelantik. Brown Company. (2000).M. Dirjen Dikdasmen. Children and their art methods for the elementry Atlanta school. Linda. (1964). (2003). New York: Harper & Brother Publisher. Donald. Assessment criteria for art and design teaching. Steven Marks. Sistem penilaian kelas SD. Art for exceptional children. George. dkk. Art education its means and ends. CA. Clive Bell. Depok: Inisisasi Press. (2006). Depdiknas.M. Gaitskell.

Burke Feldman. 251-258. George W. Iriaji. N. development and evaluation. (1985). Jakarta: National Education Planning. New York: Macmillan Publishing Company. (1991). (1987). A. George. Departemen Pendidikan dan kebudayaan. the journal of issues and research: 25 (4). (2005). (1967). Winter Vol.Edmund. The Board of Trutes: The Journal Aestetic Education. and Curiculum Development. Inc. (1997).X. Studies in Art Education. Dwarne. E. “A structure of dicipline concepts for DBAE”. Studies in art education. Evaluation. (Eds. Freeman. Art in Indonesia. Englewood Cliffs.4 .. Arthur D. NY: Cornell UP. Measurement and evaluation in teaching. I thaca.Hall. P 23-34 Gaitskell. H. Educational assessment and reporting. (1973). New Jersey: PrenticeHall. Pendidikan seni rupa. Herawati. Ralph. Eymeren. (1984). Inc. Theodore Zernich. Dalam Teks-teks kunci estetika flsafat seni. 31 No. D. Identifying resources from which children advance into pictorial innovation.J. IL: Stipes. & Nix. H. Peter. N. Hardiman . Inc. Conrad. (1967). Hoepfner. Ohio: Charles E. “Human behavior: Its implications for curriculum development in art. History of art education. (1975). W. Educating artistic vision.N. Understanding children’s art for better teaching. Eisner. (1990). Yogyakarta: Galangpress Fernandes.). Gronlund. Atlanta: Harcourt Brage Jovanovich.28 :227-233 Griffin. Greer. Children and their art. Holt. National Art Education Association. Champion. P. (1983). (1999). Megawati.” curricular considerations for visual arts education: rationale. Testing and measurement. Elliot W. New York and London: Teachers College. The process of art education in the elementary school. (1964). Efland. VA:NAEA. (1997). Publisher. London: Harcout Brace Javanovich. Claire. Estetika sebagai kritik dan apresiasi seni. Art as image and idea. Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Merrill Publishing Company. Charles. J: Prentice. Horovitz. (1974). dkk. Reston. 265 .

New York: Harcour Brace Jovanovich. R. 3. Perkembangan anak. Validation. MA: A Simon & Schuster Company. 86-97. I/03. Keindahan yang digemari dan pengejawantahannya. (1967). Robert L. & Casey.Hurlock. Jamaris. (1991). Dalam teks-teks kunci estetika flsafat seni. Art. (1976). Elizabeth B. (2002). Sumardjo. American Council on Education and Praeger Publishers. (Terjemahan dr. Jurnal Seni. M. Linn. Lim Chin Choy. Earl.. (1990). Approach to art in education. Frederick M. New York: McGraw-Hill. Martini. Toronto: Nelson Thomson Learning. (Eds. USA: Macmillan Publishing Company. (1955). The psychology of chidren’s art. Kane. P. Art & crafts for the classroom. Jakarta: UNJ. Jilid 1 Edisi Ke enam. B. Jurnal Bahasa dan Seni. artists and art education. (1995). Foundations of behavioral research. Linderman. (2000). Kellogg. (2001). Laura. (1991). A. Logan. 266 . Michael T. Focus groups: A practical guide for applied research. New York: Macmillan Publising Company.). Filsafat seni. A. ( 2005). K. Popham. Yogyakarta: Galangpress. Muchlichah Zarkasih). Jakarta: Erlangga Ismiyanto. Bandung: Penerbit ITB. James. (1977). Meitasari Tjandrasa dan Dra. Measurement and evaluation in teaching. (2000). Model pembelajaran terpadu berbasis kecerdasan jamak. Kritik seni dan penciptaan seni rupa. 18. Kerlinger F. N. (2000). Jakob. California: CRM INC.M. Krueger. Lansing. New York: Harper & Brother. H. C. Classroom assessment what teacher need to know. Sage Publications Kusnadi. Chapman (1978). S. Growth of art in American schools. Rhoda and Scott O’Dell. (2006). Analisis lukisan karya anak-anak usia sekolah dasar : studi dokumenter hasil karya anak-anak sanggar lukis di kota Jakarta dan Semarang. and Lee H.

Journal of Art and Design Education. Piaget. Kamus lengkap Bahasa Indonesia. London: The Macmillan Company. David. P. New York: Analytic. Concepts in art and education. (1970). (2003). New York: Macmillan Publishing Co. (2005). Tri Hartiti. Assessment in art education a necessary discipline or a loss of happiness?. Inc. Membongkar seni rupa. Surakarta: Bringin 55. (1986). Permendiknas RI. (1980). Strategi pembelajaran seni lukis anak usia dini di Sanggar Pratista Yogyakarta. Peraturan menteri. Newton. Viktor. nomor 22. Malcom Ross. (2003). Oho. Myers. George. The psychology of intelligence. Barrett. Messick. Mamannoor. Jakarta: PT Rineka Cipta. 267 . 1990. tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. Peraturan pemerintah . Novianto.Vol 15. tahun 2006. Garha. Validity of psychological assessment. Nomor 19. S.Visual Arts Research. (1982). Yogyakata: Jendela.No. Spring 1989. (1989). Seni rupa. New York: American Elsevier. Bandung: Nuansa. Lambert. “Excellence in arts teaching and learning: A collaborative responsibility of maturing partnership. Wacana kritik seni rupa di Indonesia. (1970). New York: Pergamon Press.3.76-85. University of Maryland Libraries. W. New York: Harcourt. (2007). Connie. Stuart. (1995).1. Jakarta: Rora Karya. No. Soekidjo. Mikke Susanto.”. Peraturan Pemerintah RI. Martono & Retnowati. (2005). “Guidelines for evaluation and assessment in art and design education 5-18 Years”. J. tahun 2005. Yogyakarta: FBS UNY..Lowenfeld. Macdonald. (1950). The board of trustees of the university of illinois. (2006). Maurice. Creative and mental growth. The history and philosophy of art education. ( 2002). Brace & World. tentang standar nasional pendidikan. & Britain. Notoatmojo. Volume 9. Pengembangan sumber daya manusia. Online.21 Maret 2005. Pappas.

PL2LPTK. Makalah disajikan dalam Seminar & Lokakarya Nasional Pendidikan Seni. J. Yogyakarta: Sanggar Melati Suci. Pepper. Development research on/in educational development. (1960). Syahrul. Rohidi. Herbert. (2000). vol 2 No 2. Tri Hartiti. Penilaian dengan non tes dalam proses belajar mengajar. Contextualistic criticism. (2005).302-307.A. Netherlands: Twente University. J..Plomp. Pedagogical Sem. Yogyakarta: Badan Penerbit ISI Yogyakarta. Leipzig. M. (1994). C. Elementary school art for classroom teachers. L’art de bambini. (1994b). Sofyan. Tjetjep Rohendi.(1970). Soeharjo. Pratiknyo Prawironegoero. Jurnal Rupa volume 4 no 1 September 2005. Assessment program evaluation. Kesenian dalam pendekatan budaya. 268 . (1971). Stephen. Bandung: STISI Press. & Thomas. John. Salam. Dirjen Dikti. Soesatyo. Education through art. (2005). Rohidi. I Made. di Jakarta. London: The Shenval Press. Pendidikan seni dari konsep sampai program. London: Harper & Row Publishers. Soesatyo. Survai terhadap kondisi guru-guru pendidikan kesenian di SLTP/SMU sumatera barat. (2001). (2001). (2002).3 (1906). S. Ruta. Sawyer. Corrado. R. Implikasi garis dalam seni rupa. Soedarso. 183-192.A: Simon & Schuster Custom Publishing. Pendekatan ekspresi diri. disiplin dan multikultural dalam pendidikan seni rupa. A. (1994a). Tjetjep Rohandi & Retnowati. “Komposisi” Jurnal Pendidikan Bahasa Sastra dan Seni. Apresiasi seni lukis anak-anak. R. Malang: Balai Kajian Seni dan Desain. Stark. T. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah. (1973). (1983). Needham Heights. Jakarta: Depdikbud. New York: Reinhart and Winston Inc. Sanggar melati suci (1979-1994).Yogyakarta:Aquarius Offset. (2006). Read. Trilogi seni penciptaan eksistensi dan kegunaan seni. Ricci. Pendidikan seni. (1997).

coe. D. Yahya. Edward. Victor.. (2005). Torrance. Diakses dari http://www.D. W. (1999). Minneapolis Indiana University. Hammond.edu/ivc pada tanggal 1 Juli 2007. (1991). Measurement and evaluation in psychology and education . Guba. Dasar-dasar kritik seni rupa.57. D. R.. Bunga rampai pendidikan seni.Stufflebeam. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Yogyakarta: Unit Litbang P3G Thiagarajan. Toronto: Pergamon Press. M. Kreativitas dan keberbakatan strategi mewujudkan potensi kreatif dan bakat. Paris: Harrap London. & Hagen. O. Robert. W.. G. Educational evaluation amd decision making. M. W. Evalution of the art product. Peacock. Suryahadi. Wall. A. J. Instructional development for training teachers of exceptional children: A sourcebook. Linda. M. & Provus. (1979). Lexington: Personal Press. Early adolescent literacy learning fall 2006. New York : John Wiley & Sons. Elizabeth. Marriman. (1974). I. H. Paul Torrance test of creative thinking.. Wedwick. “Objectivity and assessment in art” in assessment in arts education. pp. (1981).. S & Semmel. E. Evaluasi dalam perspektif pendidikan seni (Pidato Ilmiah. L. Heyfron . (1971). L. Constructive education for children.. UNY. Foley. Semmel.. P. (2001). Amri. (1959).. J.ilstu. Gepard. Paul. E. art education. L. Itasca. S. Utami Munandar.10. Section 01 and 02. 2001) 269 . Jakarta: Balai Seni Rupa Jakarta. (1986). Il: F. Thorndike. Sudarmaji. Waterman.C. Agung. (2006). (1975).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful