P. 1
Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak Di Sekolah Dasar

Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak Di Sekolah Dasar

|Views: 2,048|Likes:
Published by Azemir Persie
SENI
SENI

More info:

Categories:Topics, Art & Design
Published by: Azemir Persie on Feb 23, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/16/2014

pdf

text

original

Lampiran 9

Gambar 1. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 1

Gambar 2. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 1

358

Lampiran 9

Gambar 3. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 2

Gambar 4. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 2

359

Lampiran 9

Gambar 5. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 3

Gambar 6. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 3

360

ABSTRACT Tri Hartiti Retnowati. Developing of Assessment Instrument for Children’s Painting in Elementary School. Dissertation. Yogyakarta: Graduate School, Yogyakarta State University, 2009. This study aim at developing an assessment specification for children’s painting in elementary schools by developing a valid and reliable assessment instrument to measure the performance of children’s painting. The development of this assessment instrument was intended to guide the painting teachers in elementary schools in carrying out assessment objectively. This study is a development research which uses quantitative and qualitative approaches. The development process was carried out in five phases, covering initial study, defining, designing, developing, and dissemination phases. The subjects of this study were elementary schools’ teachers and pupils in the first grade to third grades and painting teachers in Muhammadiyah Sapen Yogyakarta elementary school, MIN (Islamic State Elementary School) Tempel, and Langen Sari Yogyakarta elementary school. The construct of the instrument consisting of instrument for process, product, self, and group assessment was developed based on the suggestion of art education, children’s art painting, evaluation, and painting experts. The reliability coefficient of the assessment instrument was computed based on generalizeability theory developed by Crick and Brennan consisting of G (generalized study) and D (decision study) theories with the variance of person, rater, item, person rater interaction, and error components using Genova computer package program, and interrater Cohen’s Kappa fomula. The findings of this study suggest that first, the specification of the assessment instrument for performance of children’s painting in elementary school is in the form of observation sheet consisting of indicators, descriptions, and rubrics (criteria). The components of assessment object are process, product, self assessment, and group assessment. Second, the characteristics of the performance assessment instrument of children’s painting in elementary school consisting of validity, reliability coefficient, and its implementation have been verified. The validity evidence is obtained through three focus group discussions and one seminar. The average of Cohen’s Kappa tend to be higher than genova coefficient and the estimation of Genova coefficient using a nonlinear equation tends to be more accurate than one using a linear equation. The highest coefficent of Genova for process assessment is in grade 1 with 7 items rated, that is 0.91, for product assessment in grade 1 with 3 items rated, that is 0.76, for self assessment, that is 0.68, and for group assessment in grades 1, that is 0.86. The average of cofficients genova is 0.71 and the average of Cohen’s Cappa is 0.73. Both of this value are higher than the minimum criteria, 0.70. Third, the guideline of using performance assessment instrument of children’s painting in elementary school is in the form of a booklet. It consists of background, rationale, components of assessment, guideline, and application sample. Forth, the requirements for elementary school teachers for using this instrument cover the relevant educational background, having experiences in art of paintings, good comprehension toward the guideline of performance assessment for children’s painting, and being responsive toward reformation and changes.

iii

ABSTRAK
Tri Hartiti Retnowati. Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak di Sekolah Dasar. Disertasi. Yogyakarta: Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta, 2009. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan spesifikasi penilaian karya seni lukis anak di sekolah dasar dengan mengembangkan instrumen penilaian yang sahih dan andal untuk mengukur hasil belajar seni lukis anak. Pengembangan instrumen penilaian hasil belajar seni lukis anak sekolah dasar ini dimaksudkan agar para guru seni lukis pada jenjang pendidikan dasar dapat melakukan penilaian secara objektif. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan yang menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Proses pengembangan dilakukan melalui lima tahap yaitu tahap studi awal, tahap pendefinisian, tahap perancangan, tahap pengembangan, dan tahap diseminasi. Penetapan konstruk instrumen yang terdiri atas instrumen penilaian proses, penilaian produk, penilaian diri, dan penilaian kelompok dilakukan melalui pendapat pakar pendidikan seni, pakar seni lukis anak, pakar pengukuran, dan praktisi lapangan. Subjek penelitian ini terdiri atas dua elemen yaitu pendidik dan peserta didik sekolah dasar kelas satu sampai dengan kelas tiga dan pendidik seni lukis anak di SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta, MIN Tempel, dan SDN Langen Sari Yogyakarta. Penentuan koefisien reliabilitas instrumen penilaian dilakukan dengan menggunakan paket program genova berdasarkan teori Generalizability yang dikembangkan oleh Cric dan Brennan yang terdiri atas teori G (Generalized study) dan D (Decision study) yang komponen variansinya adalah person, rater, item, interaksi person dan rater, dan kesalahan, serta dengan koefisien interrater Cohen’s Kappa. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah: 1). Spesifikasi instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD berbentuk lembar pengamatan yang terdiri atas indikator, deskripsi, dan rubrik (kriteria), serta komponen yang menjadi objek penilaian meliputi proses, produk, penilaian diri, dan penilaian kelompok, 2). Karakteristik instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak yang mencakup validitas, reliabilitas, dan keterpakaian di SD telah teruji. Validitas telah teruji melalui focus group discussion sebanyak 3 kali dan sekali seminar. Rata-rata koefisien Cohen’s Kappa cenderung lebih tinggi dibanding rata-rata koefisien genova dan koefisien genova dengan persamaan nonlinear cenderung lebih teliti dibanding dengan persamaan linear. Besar koefisien genova paling tinggi untuk penilaian proses di kelas 1 dengan 7 item yang dirating yaitu 0,91, penilaian produk di kelas 1 dengan 3 item yang dirating yaitu 0,76, penilaian diri di kelas 1 yaitu 0,68, sedang penilaian kelompok di kelas 1 yaitu 0,86. Ratarata koefisien Genova secara keseluruhan adalah 0,71. Adapun rata-rata koefisien Cohen’s Kappa yaitu 0,73. Kedua nilai rata-rata ini telah memenuhi kriteria minimum yang disyaratkan yaitu 0,70, 3). Pedoman penggunaan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak dalam bentuk booklet. Booklet terdiri atas latar belakang, rasional, komponen yang dinilai, petunjuk penggunaan, dan contoh aplikasi, 4). Persyaratan yang harus dipenuhi pendidik SD agar kompeten menggunakan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD meliputi latar belakang pendidikan yang relevan, memiliki pengalaman dalam bidang seni lukis, memahami pedoman penilaian hasil belajar karya seni lukis anak, dan responsip terhadap pembaharuan dan perubahan.

ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang dan Identifikasi Masalah Pada dasarnya manusia memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai estetika agar dapat hidup dengan baik di masyarakat dan memiliki rasa keindahan. Pengetahuan berkaitan dengan penalaran yang diperlukan dalam memecahkan masalah. Keterampilan berhubungan dengan gerak anggota badan dalam mengerjakan pekerjaan. Rasa keindahan atau kepekaan estetik berkaitan dengan seni, sehingga orang yang memiliki apresiasi terhadap seni merasakan indah dalam hidupnya. Oleh karena itu setiap orang harus memiliki kepekaan estetik agar dapat merasakan keindahan dalam hidupnya. Dalam perspektif pendidikan, seni dipandang sebagai salah satu alat atau media untuk memberikan keseimbangan antara intelektualitas dengan sensibilitas, rasionalitas dengan irrasionalitas, dan akal pikiran dengan kepekaan emosi. Bahkan dalam batas-batas tertentu, seni menjadi sarana untuk mempertajam

moral dan watak seseorang (Rohidi, 2000: 55). Pendidikan seni bertujuan mengembangkan kedewasaan diri anak didik yang utuh dan seimbang dengan cara memberikan perlakuan yang dapat merangsang kepekaan estetik dan kreativitas peserta didik. Dengan demikian untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan pengembangan estetik melalui pendidikan seni. Pengembangan kepekaan estetik merupakan bagian dari pengembangan kepribadian seseorang, yang dilakukan melalui pendidikan seni. Dalam Peraturan Pemerintah No 19 tahun 2005 (PP Nomor 19, 2005) tentang standar nasional

1

pendidikan,

masalah

kepekaan

estetik

memperoleh

penekanan

dalam

pengembangan kemampuan peserta didik melalui kelompok mata pelajaran estetika. Pada peraturan ini, kelompok mata pelajaran estetika yang harus dipelajari peserta didik mempunyai arah pengembangan untuk meningkatkan: (1) sensitivitas, (2) kemampuan mengekspresikan, dan (3) kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni. Kemampuan mengapresiasi dan mengekspresikan keindahan serta harmoni mencakup apresiasi dan ekspresi, baik dalam kehidupan individual sehingga mampu menikmati dan mensyukuri hidup, maupun dalam kehidupan kemasyarakatan sehingga mampu menciptakan kebersamaan yang harmonis (BSNP, 2006: 78-79). Kelompok mata pelajaran estetika merupakan pelaksanaan dari pendidikan seni yang tergolong unik karena melekatnya "pengalaman estetik" pada diri seseorang. Dalam pendidikan seni, pengalaman estetik merupakan

sesuatu yang esensial. Menurut Linderman (1984: 54), pengalaman estetik mencakup pengalaman-pengalaman perseptual, kultural, dan artistik. Pengalaman perseptual dikembangkan melalui kegiatan kreatif, imajinatif, dan intelektual. Pengalaman kultural melalui kegiatan pemahaman terhadap hasil warisan budaya lama dan baru, sedangkan pengalaman artistik melalui kegiatan kreatif dan

apresiatif. Dengan demikian pengalaman estetik memberi peluang bagi seseorang untuk memahami dunia dari sudut pandangan yang berbeda dengan aspek pengetahuan. Cara memahami dunia yang ditawarkan oleh seni bersifat intuitif, tak terduga, dan kreatif, serta dikomunikasikan dalam bahasa warna, bunyi, gerak, atau isyarat yang bersifat simbolis.

2

Kelompok mata pelajaran estetika dilaksanakan pada semua jenjang pendidikan dari sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah atas atau yang sederajat dengan standar kompetensinya disebutkan dalam PP 19 tahun 2005 yaitu: ”membentuk karakter peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa seni dan pemahaman budaya.”.Pada seni melekat kesediaan untuk mengimajinasikan segala kemungkinan. imajinasi. dan menerima keragaman pandangan. dan kreatif pada diri peserta didik secara komprehensif. Hal ini sesuai dengan pendapat Anugrah (2006) sebagai berikut. Anak 3 . perasaaan. seni dan budaya. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. intelektual. dan muatan lokal yang relevan. spiritual.” (BSNP. mengeksplorasi ambiguitas. pendidikan seni amat menghargai pengalaman pribadi yang menantang anak untuk bertindak kreatif melalui pemecahan masalah artistik. Standar kompetensi kelompok mata pelajaran estetika pada jenjang sekolah dasar adalah: ”menunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni dan budaya lokal. Melukis bagi anak-anak merupakan aktivitas psikologis dalam rangka mengekspresikan gagasan. keterampilan. Karena itulah. emosi. Kegiatan melukis bagi anak-anak seusia anak sekolah dasar merupakan kegiatan naluriah dan menjadi kesenangan anak karena muncul atas desakan perkembangan emosi artistik yang bersifat kodrati. Pendidikan Seni Budaya di sekolah memiliki dua fungsi yaitu: (1) untuk menumbuhkan kepekaan rasa estetik dan artistik sehingga terbentuk sikap kritis. (2) untuk membentuk pribadi yang harmonis dalam berlogika dan beretika bagi elaborasi peserta didik untuk mencapai kecerdasan emosional. dan /atau pandangan anak terhadap sesuatu. Salah satu kegiatan seni yang dilaksanakan di sekolah dasar adalah seni lukis yang merupakan bagian dari seni rupa. 2006: 140). serta mentalitasnya. apresiatif.

Mereka melukis sebagai wujud pengungkapan pikiran dan perasaan tanpa terbatas pada apa yang dilihat oleh mata kepala saja. bidang. intuitif dan lebih dekat dengan sifat bermain pada anak. gembira. maka sifat-sifat yang demikian juga hadir dalam karya lukis anak. dan eksperimental. 1994a: 31). Penilaian proses antara lain melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan kompetensi peserta didik (PP Nomor 19. mengekspresikan perasaannya melalui garis. Dalam konteks pendidikan. 2005). Pengetahuan dan pemahaman ini diperlukan agar pendidik mampu memberikan bimbingan dan menilai hasil belajar karya peserta didik . Didukung oleh penalaran anak yang wajar.melukis adalah menceritakan atau mengungkapkan (mengekspresikan) sesuatu yang ada pada dirinya secara intuitif dan spontan lewat media seni lukis (Soesatyo. Lebih banyak yang akan mereka ceritakan maka lebih banyak pula bentuk yang dimunculkan (Soesatyo. Ungkapan pribadinya muncul melalui bentuk-bentuk dengan makna simbolik tertentu. maka hasil karya anak tampak sungguh naif. spontan. Hal ini sesuai dengan kompetensi yang dituntut sebagai seorang guru yaitu menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar. seorang pendidik harus mempunyai pengetahuan dan pemahaman tentang makna karya seni lukis bagi peserta didik. Sebagaimana kehidupan dan keadaan jiwa anak-anak yang pada umumnya bersifat bermain-main. pikirkan dan khayalkan. Mereka dengan asyik melakukan coret-mencoret. Penggunaan unsur-unsur pada lukisannya tergantung pada keasyikan pemikiran dan fantasinya. warna dan sebagainya sesuai dengan suara batin dan lingkungan anak. 1994b: 32). bebas. 4 . melainkan lebih pada apa yang mereka mengerti.

Penumping SD Muh. (lihat Tabel 1) Tabel 1 Daftar Peserta Studi Awal No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Nama Guru (Singkatan) SW PB SR NH AG PN EL RL RP SW SS WA TR RH ET MR SR RP SL LP Umur (Tahun) 49 36 39 47 54 45 55 50 35 38 32 39 31 33 27 35 29 34 44 28 Pengalaman Mengajar (Tahun) 24 11 14 22 29 20 30 25 10 13 7 14 6 8 4 10 5 9 19 4 Nama Sekolah SD Lempuyangan 2 SD Lempuyangan 1 SD Lempuyangan 3 SD Tegal Panggung SDN Widoro SD Suryodiningratan 4 SD Langensari SD Samirono SD Suryodiningratan 3 SD Pujokusumon 3 SD Muh. Papringan SD Muh. Danunegaran SD Muh. Sebagian besar guru sekolah dasar merupakan guru kelas. sehingga kemampuan dalam menilai karya anak belum seperti yang diharapkan. Hal ini diakui oleh dua puluh orang guru yang dapat ditemui dalam studi awal penelitian. Papringan SD Muh.Danunegaran SD Muh.Karangkajen SD Muh. Subjektivitas dalam penilaian karya seni lukis anak pada dasarnya disebabkan oleh kesulitan guru dalam menentukan kriteria penilaian. padahal pelajaran melukis bagi anak-anak adalah pelajaran yang menyenangkan. Nitikan SD Muh. Dengan demikian masalah subjektivitas menjadi masalah yang tidak dapat dihindari dalam penilaian karya lukis anak. Kauman 5 .Nitikan SD Muh. Gowongan SD Muh.Penelitian ini didasarkan pada asumsi bahwa pemahaman guru-guru terhadap hakekat pendidikan seni terutama pelaksanaan pembelajaran seni lukis sekolah dasar belum seperti yang diharapkan sehingga mereka cenderung membimbing secara kurang tepat antara lain menilai secara subjektif.

dapat dirinci permasalahan di lapangan dalam penilaian karya seni lukis anak sebagai berikut: (1) adanya faktor subjektivitas dalam menilai karya seni lukis anak. (2) guru merasa kesulitan untuk menentukan kriteria dalam penilaian karya seni lukis anak.Penilaian hasil karya lukis siswa perlu meninjau dua aspek yaitu proses pembuatan karya lukis dan hasil karya lukis itu sendiri. dari jawaban dan pendapat yang dikemukakan para guru. Dalam konteks pendidikan. permasalahan penilaian karya lukis anak merupakan permasalahan yang sangat penting untuk dipecahkan karena akan 6 . Kenyataan di lapangan menunjukkan penilaian proses dan produk dilakukan guru sebatas pengetahuan yang dimiliki guru tentang seni lukis. Hal ini lebih disebabkan karena tidak ada kriteria yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menilai proses dan produk karya seni lukis anak tersebut. karena latar belakang pendidikan bukan dari bidang seni rupa. baik penilaian proses maupun produk karya seni lukis anak. (3) belum adanya pedoman yang dapat dijadikan pegangan guru untuk melakukan penilaian seni lukis anak yang sesuai dengan perkembangan anak. Berdasarkan studi awal yang dilakukan. Sebagai guru kelas dan tidak pernah mendapat pelatihan tentang penilaian seni lukis sehingga guru mengalami kesulitan dalam menilai proses dan produk karya seni lukis. Pada penilaian produk seorang guru dapat melihat hasil karya siswa setelah mengalami serangkaian proses pembuatan karya. Kedua aspek penilaian ini akan memberikan gambaran tentang kemampuan melukis siswa yang sebenarnya. Pada penilaian proses seorang guru dapat mengamati bagaimana aktivitas siswa dalam membuat karya lukis.

Studi awal tersebut menggambarkan keadaan sesungguhnya di lapangan bagaimana guru-guru. B. Oleh karena itu masalah seni lukis anak tidak dapat dipisahkan dari tinjauan ilmu jiwa anak terutama dalam hal ini anak sekolah dasar. Akibatnya. Merupakan dampak selanjutnya adalah tidak berfungsinya tujuan pendidikan seni budaya dan keterampilan dalam mengembangkan sensitivitas. kreativitas. Tetapi.menjadi kendala dalam proses pembelajaran seni lukis anak. juga harus dilihat dari segi atau sisi anak-anak itu sendiri yang menghasilkan karya yaitu dengan menghayati kondisi kejiwaan anak. Hal inilah yang melandasi penelitian ini untuk mengembangkan instrumen penilaian karya seni lukis anak. kehidupan anak. ekspresi estetis. khususnya di Indonesia. 7 . Rasional yang Mendasari Pentingnya Masalah Memahami karya lukis anak. Hingga saat ini instrumen penilaian karya seni lukis anak yang telah teruji secara ilmiah yang dapat digunakan oleh guru sekolah dasar. khususnya pengajar seni lukis kesulitan menentukan kriteria penilaian seni lukis anak. tentunya tidak adil apabila hanya dilihat dari segi tampilan karya tersebut. dan dunia anak-anak itu sendiri. timbul perbedaan persepsi tentang instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar antara guru yang satu dengan lainnya. dan kreativitas peserta didik. dengan harapan agar penilaian mendekati objektivitas. terutama dari hakekat seni. guru seni lukis menggunakan instrumen penilaian yang disusun secara mandiri. belum tersedia. Selama ini.

PP 19 tahun 2005 disebutkan bahwa seorang pendidik harus mempunyai kompetensi pedagogik yakni kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik. menerima. Penilaian bertujuan untuk mengetahui proses dan hasil belajar mengajar seni luksi anak.Cara pandang atau apresiasi guru terhadap hasil karya lukis anak berbeda dengan karya lukis orang dewasa. Di samping hal tersebut. baik proses maupun hasilnya. dan menghargai yang didasari pengertian yang terkandung dalam karya. Apalagi sampai pada suatu kesimpulan berupa penilaian yang dapat dipertanggungjawabkan. seorang guru harus mempunyai pengetahuan dan kemampuan apresiasi yang tinggi terhadap karya tersebut sehingga dapat mengerti. Kegiatan seni lukis anak memiliki wilayah tersendiri dan karenanya harus dilihat serta dinilai tersendiri (Soesatyo. Untuk melakukan penilaian yang objektif diperlukan instrumen penilaian. Instrumen penilaian ini akan membantu guru dalam menilai karya lukis anak secara objektif. seorang guru harus pula mempunyai wawasan yang luas dan dapat mengerti kelemahan dan kekurangan hasil karya lukis anak. sehingga dapat memacu anak belajar seni lukis. perancangan dan pelaksanaan pembelajaran. Dalam pasal 28 ayat (3) butir a. 1994a: 33). evaluasi hasil belajar. Untuk sampai pada penilaian karya lukis anak. Agar penyelenggaraan proses belajar mengajar di sekolah memperoleh hasil yang penilaiannya dapat optimal hendaknya guru memiliki pengetahuan dalam menilai karya lukis anak. sehingga hasil dipertanggungjawabkan. dan 8 . Penilaian merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran.

Dalam penilaian karya seni lukis anak perlu ditegaskan tidak adanya hal yang salah. guru tidak mampu menjelaskan kriteria yang digunakannya dalam memberikan nilai enam. salah satu panduan penilaian yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan adalah panduan penilaian kelompok mata pelajaran estetika. Hal ini dipertegas pada pasal 64 ayat 5 Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 tahun 2005 9 . Keberhasilan pendidikan seni tidak lepas dari peranan guru dalam menilai karya lukis anak. Dengan demikian diperlukan suatu instrumen yang dapat diacu untuk menilai karya seni lukis anak. Kompetensi pedagogik mencakup kemampuan melaksanakan pembelajaran dan menilai proses dan hasil belajar peserta didik. sebab yang ada hanyalah tingkat kemampuan anak. kehidupan anak. Dalam berbagai kasus. keliru atau betul. Oleh karenanya faktor psikologis seperti dunia anak. sering terjadi penilaian karya seni khususnya karya seni lukis anak tidak berpijak pada argumen yang tepat. Berkaitan dengan hal tersebut di atas. Penilaian yang dilakukan guru di sekolah saat ini belum menggunakan instrumen yang dapat dipertanggungjawabkan dilihat dari kriteria yang digunakan. dan kejiwaan anak perlu dipertimbangkan dalam menilai karya seni lukis anak.pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. atau tujuh atau delapan dalam menilai hasil belajar praktek seni lukis anak. Akibatnya. Sistem penilaian kelompok mata pelajaran estetika harus memperhatikan esensi kelompok mata pelajaran itu sendiri. Kegiatan penilaian memerlukan instrumen penilaian. agar hasil penilaian lebih akuntabel.

sedang. Dengan demikian untuk memudahkan pendidik dalam menilai karya lukis anak. atau rendah. 10 . Hal ini akan memudahkan pendidik untuk menilai karya seni lukis anak dengan membandingkan hasil karya dengan kriteria yang telah ditetapkan. apakah tinggi. diperlukan instrumen yang didalamnya terdapat kriteria yang telah ditetapkan lebih dahulu. penilaian terhadap seni lukis anak harus merupakan upaya untuk menunjukkan nilai-nilai artistik lukisan tersebut.tentang Standar Nasional Pendidikan. maka di dalamnya terdapat dimensi keindahan. Kriteria tersebut akan memudahkan penikmat dalam mengevaluasi lukisan (Yahya. Hal inilah yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pendidikan seni (Yahya. Dengan cara demikian. Penilaiannya dapat diartikan sebagai upaya menentukan kadar keartistikan. penilaian tidak akan terjebak menjadi like and dislike karena menggunakan ukuran yang jelas. bahwa “Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran estetika dilakukan melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan ekspresi psikomotorik peserta didik”. sehingga hasil penilaian dapat objektif dan dapat dipertanggung jawabkan. 2001: 15). Penegasan ini mengisyaratkan diperlukan cara penilaian yang bersifat khusus. Untuk menentukan kadar keartistikan suatu lukisan diperlukan ukuran atau kriteria tertentu. Karena lukisan anak merupakan wujud ekspresi artistik. 2001: 14). Dengan demikian.

4. kompetensi apa yang perlu dikuasai guru? D. Bagaimana komponen instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di sekolah dasar? 2.C. Rumusan Masalah Masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. 2. reliabel. reliabilitas. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1. dan praktis untuk mengukur hasil belajar seni lukis anak. Bagaimana bentuk dan isi pedoman penggunaan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak? 4. dan keterpakaian di sekolah dasar? 3. Mengetahui persyaratan apa yang harus dipenuhi pendidik sekolah dasar. Mengembangkan instrumen penilaian yang valid. 11 . 3. Untuk menggunakan instrumen penilaian hasil belajar seni lukis anak sekolah dasar secara optimal. Mengembangkan komponen instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di sekolah dasar. Menentukan kriteria penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di sekolah dasar. untuk dapat menggunakan secara kompeten instrumen hasil belajar seni lukis anak. Bagaimana karakteristik instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak yang mencakup validitas.

Spesifikasi Produk Hasil penelitian dan pengembangan. Spesifikasi produk yang diharapkan adalah sebagai berikut: 1. maupun kondisi psikologis yang mempengaruhi kualitas karya yang dihasilkan seperti keberanian dan ketekunan. Secara praktis hasil penelitian diharapkan akan menjadi acuan guru pengajar seni dalam melakukan penilaian hasil karya seni lukis anak. Manfaat Penelitian Hasil penelitian akan memberi sumbangan teori pada kriteria instrumen penilaian seni lukis anak yang teruji secara empirik. Penilaian yang objektif akan membantu seorang guru mengidentifikasi kemampuan siswa dalam melukis. Tahap awal mencakup indikator-indikator yang berhubungan dengan pengkondisian awal siswa sebelum melukis seperti kesiapan alat dan bahan yang diperlukan untuk melukis. waktu. diharapkan mendapatkan produk berupa instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar yang valid dan reliabel. Tahap inti mencakup indikator yang berhubungan dengan aktivitas siswa dalam melukis baik dari segi kemampuan intelektual. 12 . F. Penilaian proses Penilaian proses terdiri dari tahap awal dan tahap inti. Instumen penilaian tersebut diperlukan untuk membantu guru dalam memberikan penilaian yang objektif terhadap kemampuan seni lukis anak.E.

dalam penilaian kelompok peserta didik diharapkan dapat menangani problem. kemudian peserta didik yang lain memberikan respons dalam bentuk bahasan kritis. 13 . Penilaian kelompok Penilaian kelompok memberikan kesempatan peserta didik menunjukkan satu atau dua karya mereka secara bergiliran. ekspresi. 4. Disamping itu.2. bermanfaat atau tidak. apakah mengerjakannya mudah atau sulit. 3. apakah suatu kegiatan melukis bagi dirinya menarik atau membosankan. kegagalan. Penilaian diri Penilaian diri mengungkap informasi dari tiap peserta didik. sehingga terkembangkan sikap oto kritis dalam memberikan penilaian terhadap hasil karya temannya. dan keberhasilan karya temannya. dan hasilnya memuaskan atau tidak. serta teknik melukis. Penilaian produk Penilaian produk mengungkap adanya unsur kreativitas. sebagaimana tercantum dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk bidang seni yang terdiri dari gambar ekspresif dan imajinatif. serta pengalaman-pengalaman berharga mana yang berhasil dipelajari dalam kegiatan tersebut.

melalui berbagai penelusuran dan diskusi pakar seni lukis dan pendidikan seni lukis. Pendekatan ini digunakan.BAB III METODE PENELITIAN A. instrumen. Bukti validitas interpretasi hasil pengukuran instrumen penilaian karya seni lukis anak memerlukan data kualitatif dan kuantitatif. Penelitian pengembangan digunakan untuk menghasilkan instrumen yang baku dalam menilai karya lukis anak. dan bukti empirik. Konsep validitas bersifat “unity concept” yang dibangun dari teori yang melandasi konsep pengembangan. Data kualitatif yang diperlukan merupakan landasan teoritis bangunan konstruk instrumen. Bukti validitas suatu instrumen harus memiliki validitas interpretasi hasil pengukurannya. Instrumen penilaian seni lukis anak. Konstruk instrumen penilaian ini merupakan “tingkat ukuran” (yard stick) karya seni lukis anak. Model Pengembangan Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. sesuai dengan Standard for educational and psychological testing (1999) harus memiliki bukti validitas interpretasi hasil pengukuran. karena pengembangan instrumen penilaian seni lukis anak harus dimulai dengan membangun konstruk yang diukur. termasuk praktisi seni lukis dan guru seni lukis di sekolah dasar. Data kuantitatif yang berupa hasil penilaian pendidik terhadap karya lukis anak 152 . yang pengumpulannya dimulai sejak awal pengembangan konstruk. Instrumen yang dikembangkan disertai dengan pedoman penggunaan instrumen.

6) Main field testing. 153 . Model Thiagarajan. Semmel & Semmel dikenal dengan Four-D Model. design. 275-276) ada sepuluh langkah dalam melakukan R & D. Plomp. 1) Research and information collecting 2) Planning. Pengembangan instrumen ini dilakukan dengan mengadopsi model penelitian dan pengembangan pendidikan secara umum. 7) Operational product revision. 9) Final product revision. 10) Dissemination and implementation. Instrumen diujicobakan kepada sejumlah pendidik agar dapat diketahui keterpakaiannya dan diestimasi koefisien reliabilitas hasil ukurnya. yaitu dimulainya dengan tahap preliminary investigation yang dikemukakan oleh Plomp dan research & development menurut Semmel (1974:5). yaitu Define. Menurut Borg & Gall ( 1983. (5) evaluation and revision. dan model Borg & Gall. 3) Develop preliminary form of product. (4) test. Develop and Disseminate. dan dissemination atau yang dikenal dengan 4D. seperti berikut ini. 3) Preliminary field testing. Setiap aspek diurai menjadi sejumlah indikator. Tahapan pengembangannya meliputi: define.diperlukan untuk memperoleh informasi tentang besarnya koefisien keandalan hasil ukur instrumen. develop. Kriteria pengembangan konstruk instrumen mencakup aspek proses dan hasil karya lukis anak. and (6) implemention. Sesuai dengan tujuannya. Design. Menurut Plomp (1997: 78) langkah-langkah R & D adalah sebagai berikut: (1) preliminary investigation. (3) realization construction. (2) design.8) Operstionsl field testing. Beberapa model penelitian dan pengembangan yang dipakai dalam penelitian dan pengembangan (R & D) antara lain: model Semmel & Semmel. Thiagarajan. penelitian ini menggunakan modifikasi model Semmel & Semmel dengan model Plomp. 5) Main product revision. Setelah indikator disusun menjadi item yang dirakit menjadi instrumen utuh.

Pada tahap define. Research & Develepment Model PRELIMINARY INVESTIGATION Identifikasi kebutuhan alat penilaian seni lukis Elaborasi kebutuhan alat penilaian seni lukis yang relevan DEFINE Merumuskan definisi konstruk instrumen Mengkaji konsep instrumen karya lukis anak berdasarkan teori Penentuan konstruk instrumen Telaah konstruk oleh pakar Mendesain konstruk instrumen Pengembangan indikator Penyusunan item instrumen Telaah item instrumen Perbaikan instrumen Uji coba instrumen Analisis instrumen Pembakuan instrumen FGD Sosialisasi instrumen karya lukis anak DESIGN DEVELOP DISSEMINATE Gambar 40. dan mengkaji konsep instrumen karya lukis anak berdasarkan teori dan hasil penelitian yang relevan. kegiatan yang dilakukan adalah merumuskan definisi konstruk. kegiatan yang dilakukan adalah mengembangkan indikator. tahap dissemination. kegiatan yang dilakukan adalah uji coba instrumen terhadap guru sekolah dasar. deskripsi. Kegiatan yang dilakukan tahap design adalah telaah konstruk instrumen oleh para pakar dan guru sekolah dasar seni budaya (seni lukis). Model Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak 154 . dalam hal ini adalah kriteria karya lukis anak. Terakhir. dan penyusunan item instrumen. Tahap develop. kriteria. Secara rinci model pengembangan instrumen disajikan pada Gambar 40.

tentang pentingnya profesionalisme guru pendidikan seni dan komitmen terhadap tugas merupakan faktor penting untuk kelangsungan pembelajaran dan pencapaian kualitas hasil belajar anak didik. Selain itu. antara lain penelitian Ismiyanto tahun 2002 yaitu penelitian tentang visualisasi lukisan karya anak-anak usia sekolah dasar ditinjau dari tema dan subjek mencerminkan kehidupannya dan menunjukkan adanya upaya anak mengidentifikasi diri dalam karyanya. sasaran penilaian karya seni lukis. Hasil penelitian membuahkan tujuh kriteria untuk melihat kemajuan anak dalam berkarya seni yaitu: (1) kemampuan untuk mengamati dan merekam 155 . tahapan atau prosedur pengembangan lebih lanjut dapat dijabarkan sebagai berikut. Demikian juga hasil penelitian Coney tahun 1999.B. Penelitian Syahrul yang dilakukan tahun 2001. penjelajahan juga dilakukan terhadap hasil-hasil penelitian yang relevan untuk mendukung gagasan instrumen penilaian seni lukis yang sesuai dengan kebutuhan guru di lapangan. Tahap Studi Awal Pada tahap awal (preliminary investigation) ini. yang dilatarbelakangi bagaimana membuat suatu penilaian menjadi sebuah elemen pembelajaran yang aktif dan positif dari pengajaran. 1. Penelitian yang relevan tersebut. Prosedur Pengembangan Berdasarkan model pengembangan pada Gambar 40. Substansi yang ditelaah pada tahap ini adalah mengkaji analisis kurikulum yang berlaku untuk matapelajaran seni budaya dan keterampilan. dilakukan pengkajian pustaka yang berkaitan dengan identifikasi jenis.

pengalaman visual anak. (3) minat dan motivasi anak. sehingga diperoleh indikator dan deskripsi. (5) pencapaian sasaran pembelajaran. Tahap pendefinisian merupakan tahap 156 . yaitu mengolah ketiga unsur tersebut. ekspresi dan teknik. (4) ekspresi dan kontrol atas ide-ide yang diungkapkan termasuk kreativitas. (2) pengembangan ketrampilan teknis. sasaran penilaian seni lukis diikuti penjabaran indikator. Tahap Pendefinisian Tahap pendefinisian (define) adalah tindakan untuk menyusun definisi tentang unsur. dan kriteria penilaian yang disajikan pada Gambar 41. Tahapan Studi Awal Pengembangan Instrumen Seni Lukis Anak 2. yaitu kajian pustaka. Dengan demikian hasil karya seni lukis pada dasarnya dapat dinilai dari sudut kreativitas. Setelah dilakukan identifikasi pada ketiga hal tersebut. (6) menekankan kembali batasan-batasan dari suatu tugas. deskripsi. dan studi lapangan. maka dilakukan wawancara terhadap guruguru yang mengajar seni lukis di SD. analisis kurikulum. level. dan kriteria penilaiannya. dan (7) komitmen anak dalam mengerjakan tugas rumah. Kajian Pustaka Analisis Kurikulum Masalah Riil Elaborasi Indikator Deskripsi Level Kriteria Gambar 41. selanjutnya dilakukan elaborasi terhadap ketiga unsur tersebut. Kemudian untuk mendapatkan kebutuhan realita di lapangan.

keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk. Setelah deskripsi dikembangkan secara operasional. kesiapan alat dan bahan untuk melukis. Kisi-kisi yang dimaksudkan sebagai upaya memaparkan pola hubungan antara konstruk (dimensi yang diukur) dengan indikator. yaitu: tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat. dan teknik. Visualisasi proses ini disajikan pada Gambar 43. kriteria. dan item. Dengan demikian kisi-kisi dapat dipakai sebagai bukti pada proses validasi. indikator yang terjaring ada 10 macam. Dalam kaitan dengan ini. Tahap Perancangan Tahap perancangan (design) adalah tindakan merancang kisi-kisi instrumen alat pengukur karya seni lukis sehingga bisa diketahui dimensi yang diukur atau konten dan jabaran dari tiap-tiap unsur sasaran penilaian seni lukis. dan rubrik penskoran. kriteria. kelancaran penuangan ide. deskripsi. deskripsi. ekspresi. kemudian ditetapkan kriteria disertai rubrik penskoran.lanjutan dari tahap awal. ketekunan. Indikator menjadi acuan dalam mengembangkan item. 157 . pemanfaatan waktu. Indikator Deskripsi Kriteria Rubrik Bagan 42. yaitu pendefinisian tentang indikator. keberanian menggunakan media. Selanjutnya masing-masing indikator dijabarkan menjadi deskripsi. kreativitas. Tahapan Pendefinisian Instrumen Seni Lukis Anak 3.

Tujuan diskusi adalah untuk menggunakan dinamika kelompok. berdasarkan kisi-kisi Item yang disusun menjadi perangkat instrumen penilaian seni lukis. R.Proses . Pentelaahan kisi-kisi dilakukan oleh pakar seni lukis anak. A. selanjutnya kisi-kisi diperbaiki dan dirakit sehingga menjadi acuan dalam penyusunan item. FGD putaran pertama dilakukan 158 . dan pertimbangan tentang topik yang didiskusikan. dengan bantuan seorang moderator/fasilitator untuk mendorong peserta mengungkapkan pendapat. Tahapan Perancanganan Instrumen Seni Lukis Anak 4.Produk Konten Sasaran Gambar 43. sikap. (2000). perbaikan. Tahap Pengembangan Pada tahap pengembangan (development) dilakukan penyusunan kisikisi penelaahan. FGD adalah suatu metode diskusi secara mendalam yang melibatkan kelompok kecil yang homogen (6-12 orang) untuk mendiskusikan topik tertentu. M. & Casey. Perangkat instrumen ini disebut prototipe awal instrumen penilaian seni lukis. Setelah prototipe awal diperoleh kemudian ditindaklanjuti dengan validasi ahli dengan teknik FGD sebanyak tiga putaran. dan perakitan kisi-kisi.Kajian Pustaka Kebutuhan Lapangan Dimensi (Kisi-kisi) . .Berdasarkan hasil FGD. pakar pendidikan seni. A. Menurut Krueger. dan guru seni lukis dalam forum Focus Group Discussion (FGD).

Setelah memperhatikan saran dan temuan hasil FGD putaran pertama. sehingga diperoleh prototipe 2 (dua). yaitu tahap awal dan tahap inti. Berdasarkan saran dan temuan pada FGD putaran 2 (dua). selanjutnya dilakukan revisi sehingga diperoleh prototipe 1. dan 4 (empat) orang pendidik seni lukis sekolah dasar. penilaian kelompok merupakan hasil dari FGD putaran 3 (tiga) yang diselenggarakan pada tanggal 10 April 2008. dilakukan revisi. dihadiri oleh 8 (delapan) orang terdiri dari 3 (tiga) orang pakar pengukuran. Komponen proses terdiri 2 (dua) tahap. penilaian diri. 159 . 2 (dua) orang pakar seni lukis anak. Pada tahap 2 (dua) berdasarkan kriteria hasil FGD putaran kedua. 1 (satu) orang pakar pendidikan seni. 1(satu) orang pakar seni lukis anak. dan 3 (tiga) pendidik seni lukis sekolah dasar. Setelah prototipe 1 direvisi selanjutnya dilakukan FGD putaran 2. Kesimpulan hasil FGD adalah bahwa penilaian dilakukan pada komponen proses dan komponen produk pembelajaran.pada tanggal 26 Februari tahun 2008 di Pascasarjana UNY yang dihadiri oleh 7 (tujuh) peserta FGD terdiri dari: 1 (satu) orang pakar pendidikan seni. Setelah direvisi kemudian digunakan untuk menyempurnakan prototipe 2 (dua) menjadi prototipe 3 (tiga) yaitu. kemudian diperoleh saran dan temuan berupa diskripsi dari masing-masing indikator. yang dilaksanakan pada tanggal 13 Maret 2008 dihadiri 7 (tujuh) orang terdiri dari: 2 (dua) orang pakar pendidikan seni. dan 4 (empat) orang pendidik seni lukis sekolah dasar. berupa kriteria seni lukis anak. dan kemudian diperoleh bobot prosentase penilaian proses 60% dan produk 40%.

tahap inti). Hasil dari seminar yang berupa instrumen penilaian seni lukis anak kemudian dipakai untuk pengambilan data uji coba penelitian. Indikator Deskripsi Level Kriteria Prototipe 1 FGD-1 Analisis Revisi Indikator Prototipe 2 FGD-2 Analisis Item Revisi Deskripsi Prototipe 3 FGD-3 Analisis Revisi Kriteria Prototipe Tentatif Gambar 44. penilaian produk. Skema Tahap Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak 160 . 3 (tiga) pakar pengukuran. sehingga diperoleh hasil instrumen penilaian seni lukis anak yang terdiri dari penilaian proses (tahap awal.Selanjutnya hasil dari FGD tahap 3 (tiga) berupa prototipe 3 (tiga) diseminarkan pada tanggal 16 April 2008 di Pascasarjana UNY yang dihadiri oleh 10 orang terdiri dari 1 (satu) orang pakar pendidikan seni/promotor. Untuk kejelasan tahap-tahap pengembangan instrumen dapat dilihat pada Gambar 44. 6 (enam) mahasiswa S3 PEP UNY.

keterbacaan. (2) ketersediaan pendidik dalam bidang seni lukis. kriteria penilaian. Kemudian diadakan sosialisasi pada pendidik dan praktisi. Draf Pedoman FGD Analisis Revisi Pedoman Baku Gambar 45. Tahapan diseminasi tersebut disajikan pada Gambar 45. Desain Uji coba Uji coba ini dilakukan di Kota Yogyakarta. yang ditandai banyaknya 161 . maka tahap selanjutnya adalah membuat pedoman instrumen penilaian seni lukis anak. Tempat ini dipilih karena berbagai pertimbangan Yogyakarta: (1) memiliki cukup banyak sekolah dasar yang melaksanakan program pembelajaran seni lukis anak. Skema Tahap Diseminasi Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak C. dan penampilan fisik. dan kelayakan penyajian yang meliputi sistematika. (3) daerah ini dipilih juga karena banyak karya seni lukis yang berkembang di daerah ini. Uji coba Produk 1. Tahap Diseminasi (Disseminate) Setelah uji coba sampai dengan analisis data uji coba instrumen dan menghasilkan instrumen prototipe tentatif. Pedoman penilaian seni lukis anak divalidasi oleh pendidik seni lukis melalui FGD yang meliputi petunjuk penggunaan.5.

daerah lain. 162 Selanjutnya .sanggar seni lukis anak. dan proses pengembangan instrumen. 2. Hasilnya kemudian dianalisis dan direvisi sehingga menjadi instrumen baku. dan 3 di tiga sekolah dengan melibatkan tiga orang guru seni lukis. Guru seni lukis yang terlibat diberi pelatihan sebelum melaksanakan uji coba. dan (4) frekuensi lomba seni lukis anak yang relatif cukup tinggi dibandingkan alur seperti Gambar 46. Uji coba ini bertujuan untuk memperoleh informasi dari lapangan tentang konstruk instrumen. keterpakaian pedoman penggunaan instrumen. pakar pengukuran dan pakar pendidikan seni. Hasil uji coba yang berupa prototipe instrumen penilaian karya lukis anak dan kemudian diseminarkan pada tanggal 16 April 2008 yang dihadiri 12 (dua belas) orang terdiri dari promotor. Desain Uji coba Intrumen Seni Lukis Desain uji coba seperti tampak pada Bagan 8 dilakukan di kelas 1. Disain uji coba produk mengikuti Prototipe Instrumen Seminar Analisis Revisi Instrumen Baku Draf Panduan FGD Revisi Panduan Baku Gambar 46. Konstruk instrumen penilaian karya lukis anak merupakan kriteria penilaian karya lukis anak.

Pendidik diperlukan sebagai subjek uji coba untuk memperoleh koefisien keandalan instrumen dan keterpakaian instrumen penilaian karya lukis anak. Ketiga sekolah tersebut tersebar pada kota Yogyakarta dan kabupaten Sleman. 2. Subjek Coba Subjek uji coba adalah pendidik yang mengajar seni lukis anak yang ada di tiga sekolah di Kota Yogyakarta. pemilihan subjek penelitian ditentukan berdasarkan koefisien G-study dalam wilayah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. kriteria penilaian. 163 dengan asumsi bahwa kedua .study dan tahap D-study. Subjek penelitian adalah peserta didik yang terdiri dari tiga sekolah. dua. Subjek penelitian peserta didik dipilih melalui dua tahap. dan tiga. keterbacaan. dan Sekolah Dasar MIN Tempel. masingmasing sekolah dipilih satu guru seni lukis. yaitu tahap G. Sekolah Dasar Muhammadiyah Sapen. Sekolah Dasar Negeri Langensari .disusun draft pedoman penggunaan instrumen seni lukis anak dan kemudian divalidasi oleh pendidik seni lukis anak melalui FGD yang meliputi petunjuk penggunaan. Sedangkan masing-masing sekolah terdiri dari siswa kelas satu. jumlahnya sebanyak 20 orang di ambil secara random. Pada tahap D-study. Pada tahap G-study dipilih tiga sekolah. Hasil FGD ini digunakan untuk memperbaiki pedoman penilaian sehingga menjadi pedoman guru dalam menilai seni lukis anak. dan kelayakan penyajian yang meliputi sistematika. dan penampilan fisik.

164 . dan praktisi lapangan. pakar pendidikan seni lukis. Data kuantitatif diperoleh melalui intrumen untuk menilai proses. Selain itu data kualitatif dan kuantitatif digunakan untuk menentukan keterpakaian instrumen. dan tiga sebagai subjek ujicoba karena pada KTSP untuk tingkat Sekolah Dasar dalam mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan seni lukis hanya dilaksanakan pada kelas satu. Data kualitatif diperoleh melalui instrumen penilaian diri dan penilaian kelompok dalam bentuk jawaban terbuka dari subjek penelitian. Jenis Instrumen Pengumpul Data Data penelitian ini terdiri atas data kuantitatif dan kualitatif. 3. dan penilaian kelompok. Data kualitatif digunakan untuk mengembangkan konstruk instrumen. Dari ketiga sekolah tersebut dipilih kelas satu. Penentuan tiga sekolah tersebut didasarkan pada pertimbangan sekolah yang melaksanakan pembelajaran seni sesuai dengan KTSP dengan didukung tenaga pendidik yang memiliki latar belakang pendidikan seni rupa. dua. Data kuantiatif digunakan untuk memperoleh koefisien keandalan instrumen. dua. produk. Data ini diperoleh melalui diskusi para pakar seni lukis. dan tiga. Instrumen ini dilengkapi dengan pedoman penilaiannya.kabupaten/kota tersebut dapat mewakili/representatif DIY. penilaian diri. Data ini berupa hasil penilaian karya lukis anak yang dilakukan oleh pendidik. Pedoman penilaian seni lukis anak merupakan acuan yang digunakan pendidik dalam menilai seni lukis anak.

Menurut Brennan (1983: 3).Pedoman ini berisi cara menggunakan instrumen. 4. dan menafsirkan hasilnya. Hal yang penting pada D-study adalah spesifikasi dari generalisasi universe. Banyaknya komponen ditentukan oleh model yang digunakan. pakar bidang penilaian pendidikan. penggunaan. Hasil dari G-study digunakan pada D-study. Pada teori ini ada G (generalized study) dan D (decision study). Pada G-study dilakukan estimasi sejumlah varians komponen. D-study menekankan estimasi. menskor. Pertemuan dengan kelompok yang berbeda dilakukan tiga kali untuk memperoleh masukan yang lebih banyak sehingga diperoleh hasil yang dapat diandalkan. dan interpretasi dari varians komponen untuk membuat keputusan. Beberapa keunggulan yang penting adalah: (1) memperhitungkan sumber 165 . dengan prosedur pengukuran yang baik. Menurut Thomson (2003: 43). teori generalizability adalah teori pengukuran modern yang memiliki keunggulan dibanding teori tes klasik. yaitu universe berlakunya generalisasi D-study dengan suatu prosedur pengukuran tertentu. dan para praktisi lapangan. Penentuan koefisien keandalan instrumen penilaian dilakukan dengan menggunakan paket program komputer Genova berdasarkan teori generalizability yang dikembangkan oleh Crick dan Brennan pada tahun 1983 yang disebut dengan A Generalized Analysis of Variance System. Teknik Analisis Data Pengujian konstruk instrumen dilakukan melalui pendapat para pakar bidang seni lukis.

Penelitian ini absolut. termasuk varians kesalahan. rater. G studynya menggunakan rancangan bersarang (nested design) dan D-study-nya juga menggunakan rancangan bersarang (nested design). Selanjutnya dapat diestimasi besarnya indek keandalan hasil pengukuran. interaksi person dan rater.e = σ p + σ r2:i . item. dan kesalahan. nested. yaitu rasio varians sebenarnya terhadap varians keseluruhan komponen. varians kesalahan.e) adalah jumlah varians komponen dalam Gstudy bersarang yang dapat ditulis sebagai berikut. Varians komponen yang berbaur pada rancangan bersarang (p. maka dapat diestimasi varians sebenarnya (true variance).e Keterangan: p = person r = guru/rater i = item r:i = rater bersarang pada item e = kesalahan Setelah varians komponen diperoleh. dan (3) mengestimasi koefisien keandalan baik yang relatif maupun yang merupakan varians total. (2) memperhatikan efek kesalahan pengukuran interaksi.r:i . generalizeability dan koefiesien phi untuk one-facet.kesalahan pengukuran yang jamak secara simultan. r:i. 2 2 σ p . i: r D-study. Estimasi varians setiap komponen 166 . Penelitian ini menggunakan GENOVA yang komponen variansnya adalah person. Besarnya koefisien keandalan sebenarnya dan rasio antara varians sistematik atau varians menggunakan satu facet p x(i: r) G-study yang bersarang untuk mengestimasi varians komponen.

167 . σ²(r : i) = σ²(r. Cara penilai (rater) dalam menilai karya lukis anak (p) tergantung pada pendapat penilai terhadap item yang dinilai. r. sedang untuk efek interaksinya adalah varians person item. sehingga dikatakan rater bersarang pada item. Besarnya varians r bersarang pada i dapat ditulis sebagai berikut. ri)= σ²(r) + σ²(ri). σ²(p) adalah varians person (peserta didik). varians rater. Jadi ada varians person. Rancangan yang digunakan untuk G-study adalah px(i:r). penilai dalam menilai hasil karya lukis anak berinteraksi dengan anak yang bersarang pada item. σ²(δ) adalah varians kesalahan. Besarnya koefisien keandalan instrumen penilaian adalah: σ²(p) Eρ² = —————— σ²(p) + σ²(δ) Eρ² adalah nilai harapan koefisien keandalan instrumen. pr bersarang pada i. varians rater yang bersarang pada item. r:i dan efek interaksinya adalah pi. yaitu item bersarang pada rater. dan varians penilai bersarang pada i untuk efek utama.dan besarnya indeks keandalan hasil pengukuran dengan instrumen yang dikembangkan peneliti menggunakan paket program GENOVA. Rancangan px(r:i) ini berdasarkan analisis varians efek random memiliki efek utama: p.

dan varians interaksi rater item. Besarnya varians ini diestimasi dengan menggunakan teknik analisis varians rancangan efek random. 1990: 143).70 (Linn. Untuk melihat reliabilitas dari kriteria instrumen penilaian seni lukis anak hasil uji coba. sedangkan penilaian diri dan penilaian kelompok masing-masing ada 5 (lima) item. Untuk keperluan ini.Varians kesalahan terdiri atas varians rater. Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian instrumen seni lukis anak untuk kelas 1. Selanjutnya nilai koefisien κ yang dihasilkan dibandingkan dengan kriteria minimal yang diperkenankan. digunakan analisis koefisien interrater. Koefisien interrater adalah salah satu sarana untuk melihat tingkat konsistensi atau keajegan antar rater dalam memberikan rating terhadap unjuk kerja karya seni lukis siswa. pada penilaian produk ada 3 (tiga) item. Pada penilaian proses. digunakan koefisien Cohen’s Kappa. 168 . ada 7 (tujuh) item yang menjadi objek penilaian. yaitu 0. dan kelas 3. varians item. kelas 2.

intarsia. Secara visual Soedarso (2006: 97) membagi seni rupa menjadi dua bagian besar. mosaik. teknik atau proses pembuatan. kesadaran sosial. dan kolase dan (2) seni rupa tiga dimensi seperti patung.BAB II KAJIAN PUSTAKA A. dan cita rasa estetik peserta didik. pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan untuk dapat hidup di tengahtengah masyarakat dan kemudian dapat memberikan manfaat bagi lingkungan. dan kesadaran kultural dalam kehidupan bermasyarakat (Rohidi. dan benda produknya. pendidikan adalah membentuk manusia yang memiliki kepribadian yang kuat dan beradab sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan zaman. mengembangkan etika. 2000: 55). pendidikan seni rupa selain melatih keterampilan peserta didik agar lancar berkarya seni rupa. lukisan. monumen. dengan segala watak. kreativitas. Keduanya bisa dipecah berdasar atas medium. seni grafis. bangunan. Pendidikan Seni Rupa 1. 14 . fotografi. Pengertian Pendidikan Seni Rupa Pada hakekatnya pendidikan merupakan suatu proses untuk mempersiapkan peserta didik menuju ke kedewasaan. juga dimaksudkan sebagai sarana atau alat pendidikan. tenun. Dengan demikian pendidikan seni rupa merupakan media untuk mencapai tujuan pendidikan secara umum. sulam. Ditinjau dari tujuannya. yaitu (1) seni rupa dua dimensi seperti gambar. Pendidikan seni rupa berfungsi mengembangkan kepekaan rasa. keramik dan sebagian besar seni kriya lainnya. Dalam proses pembelajarannya.

ditinjau dari proses pembuatan dan bentuk karya yang dihasilkan. Seni kria menekankan pada keterampilan teknik pembuatan karya dengan hasil karya yang bersifat fungsional dan non fungsional. fine art (seni indah). Desain merujuk pada proses pembuatan karya yang maksud dan tujuannya telah ditentukan lebih dahulu. Sedangkan pengertian seni rupa sendiri adalah suatu hasil interpretasi dan tanggapan pengalaman manusia dalam bentuk visual dan rabaan. dalam hal ini menyatukan proses penciptaan karya yaitu antara sistematis. dan inovatif. Namun istilah pure art di masa sekarang dipadankan dengan karya seni murni yang tidak memiliki kegunaan praktis. dan lain-lain. ada pula yang menyebut sebagai pure art (seni murni). seni patung. kreatif. yang mempunyai peranan memenuhi tujuan-tujuan tertentu dalam kehidupan manusia tidak hanya memenuhi kebutuhan estetik semata. atau lingkungan yang didasarkan pada persyaratan-persyaratan tertentu. Dalam hal ini penciptaan benda hias yang mengutamakan nilai artistik dikenal dengan sebutan craft (seni kria). Secara umum. Istilah seni rupa secara etimologi merupakan padanan kata dari visual art (seni rupa yang dapat dilihat/diraba). dan desain. Karya desain berupa rancangan gambar. seperti lukisan atau patung. meliputi seni lukis. dan seni grafis. benda. Keindahan adalah nilai-nilai estetik yang menyertai sebuah karya seni 15 . tanah liat. Seni rupa murni menekankan pada ungkapan pikiran dan perasaan. pembicaraan tentang seni rupa terkait dengan masalah keindahan.Sejalan dengan hal tersebut di atas. serta menggunakan media tertentu. logam. Rohidi dan Hartiti (2002: 8-9) mengemukakan: seni rupa dapat dibedakan menjadi seni rupa murni. seni kria. misalnya kayu. tekstil.

Sesungguhnyalah pengalaman estetik dapat menyebabkan timbulnya reaksi emosional atau respons estetik seseorang. untuk menentukan kualitas karya harus mempertimbangkan nilai-nilai keindahan yang disebut dengan prinsip-prinsip keindahan. pengalaman estetik adalah perasaan (positif atau negatif) yang merupakan reaksi seseorang. kinestetika. bahagia. dan kontras (contrast) sehingga menimbulkan perasaan nikmat. Hal ini tentunya didukung oleh kemampuan pengungkapan ekspresi intuitif dan perasaan estetis seseorang melalui teknik. Disamping itu. Pendidikan seni rupa berperan tidak hanya dalam pembentukan pribadi yang harmonis dalam logika. menarik. keseimbangan (balance). intelektual (IQ). Jalan yang ditempuh sesuai yang tercantum pada pedoman khusus mata 16 . unik. Prinsip-prinsip keindahan tersebut adalah unsur kesatuan (unity). keselarasan (harmony). tetapi juga berperan dalam perkembangan anak untuk mencapai kecerdaan emosional (EQ). dan rasa senang. moral (MQ). Keindahan juga dipahami sebagai pengalaman estetik yang diperoleh ketika seseorang mencerap objek seni atau dapat dipahami sebagai sebuah objek yang memiliki unsur keindahan.rupa. haru. Menurut Pappas (2006: 3). nyaman. rasa estetik dan artristiknya. dan sebagainya bagi apresian. dan konsep dalam penciptaan karya seni rupa. baik secara mental dan/atau pun fisik. adversitas (AQ) dan spiritual (SQ). Dalam dunia kesenirupaan. yang menyebabkan reaksi emosional atau respons estetik. bahan. serta etika. Reaksi ini mungkin sesuai atau tidak sesuai dengan pendapat orang tersebut. karya seni rupa dapat menimbulkan berbagai kesan misalnya indah. ketika mengamati karya seni rupa.

Kegiatan pembahasan untuk memperoleh kesadaran dan pemahaman tentang penciptaan karya seni rupa berdasarkan telaah tentang seniman dan zamannya. Kegiatan pengamatan dimaksudkan untuk memperoleh pengalaman estetik. secara individual maupun kelompok. peserta didik diberi peluang untuk mengekspresikan pengalaman estetiknya dalam wujud karya seni rupa. media (teknik). baik tradisi maupun modern. Pengalaman estetik dalam pendidikan seni rupa di sekolah. yang dilakukan melalui pengamatan dan pembahasan karya seni rupa. pemahaman. diimplementasikan dalam dua kegiatan yaitu apresiasi (appreciation) dan kreasi (creation). 2006: 186). tujuan penciptaan. prinsip. Sedangkan pada kegiatan kreasi (creation). dan penghargaan terhadap karya seni. bentuk. Pendidikan seni di sekolah diimplementasikan dalam bentuk mata pelajaran Seni Budaya untuk tingkat SMA dan SMP. menghargai. Aktivitas yang dilakukan melalui kegitan eksplorasi dan eksperimen dalam mengolah gagasan (konsep). bidang. garis. dan menghormati (BSNP. melalui pencerapan nilai intrinsik dari karya seni rupa tersebut. tekstur. pengaruh seniman besar terhadap karya tersebut. sedangkan untuk tingkat SD 17 . volume. warna. Kegiatan apresiasi bertujuan mengembangkan kesadaran. proses dan teknik berkarya sesuai dengan nilai budaya dan keindahan dengan tidak mengesampingkan aspek fungsi serta sesuai dengan konteks sosial budaya masyarakat sebagai sarana untuk menumbuhkan sikap saling memahami.pelajaran adalah dengan cara mempelajari elemen. dengan mengambil unsur-unsur titik. sehingga dapat memberikan penghargaan. dan ruang untuk mewujudkan karya seni rupa.

Lim Chin Choy (2005: 293) mengatakan bahwa ekspresi bertujuan untuk mempertunjukkan kepada orang lain (to exhibit). Sesuatu yang disampaikan berupa buah pemikiran dan perasaan yang diwujud inderakan dengan menggunakan sarana yang dapat diamati lewat panca indera. Ekspresi dalam pendidikan seni adalah curahan jiwa/isi hati yang menekankan pada proses pengungkapkan pengalaman estetik peserta didik yang berkaitan dengan emosi.adalah Seni Budaya dan Ketrampilan. Namun demikian. daya pikir. seni musik. Berekspresi dapat pula berfungsi sebagai katarsis. Mengembangkan Ekspresi Ekspresi pada dasarnya merupakan kebutuhan dalam hidup manusia untuk mencari kepuasan. imajinasi dan keinginan peserta didik. dan menjadi terapeutik atau menumbuhkan kreativitas. Mata pelajaran Seni Budaya tersebut mencakup seni rupa. tindakan atau lukisan adalah hal yang menyenangkan dan meringankan. Sejalan dengan hal tersebut. a. seni tari. dapat juga sebagai ekspresi diri yaitu ekspresi keindividuan seseorang. Dengan demikian kemampuan ekspresi perlu dikembangkan pada peserta didik sejak dini karena peserta didik dimungkinkan dapat mengungkapkan berbagai pengalaman atau berbagai hal yang menggejala dalam dirinya untuk dikomunikasikan kepada orang lain melalui senirupa khususnya sebagai sesuatu 18 . Mengungkapkan sesuatu dengan kata. dan seni drama. sehingga dapat dikatakan bahwa dengan berekspresi dapat meringankan ketegangan seseorang. Pembelajaran seni rupa di sekolah memiliki sasaran sebagai berikut. Menurut Soehardjo (2005: 120) ekspresi merupakan ungkapan penyampaian sesuatu dari seseorang kepada orang lain.

Dengan demikian pengalaman berekspresi menunjang dasar-dasar kebebasan. Padahal. kemampuan menanggapi suatu masalah. tanpa paksaan. ide dan gagasan-gagasannya. maka pengalaman estetik kehilangan sifatnya yang khas. juga melatih keberanian mengungkapkan pengalaman estetik. sehingga hasil karyanya terkesan jujur dan spontan.yang ada maknanya. baik dalam proses kreasi maupun dalam kegiatan persepsi (Salam. 2001: 1). daya menyesuaikan diri dalam segala situasi. sesungguhnya pengalaman estetik merupakan suatu pengalaman yang khas dan unik yang ditandai dengan terpuaskannya “hasrat akan sesuatu yang harmoni dan lengkap.” Kepuasan ini lahir dari proses keterlibatan batin. Di samping itu . Walaupun demikian. Ia memberi kesempatan kepada anak untuk melahirkan pengalaman batinnya dengan leluasa. Karena ketidaktahuan inilah anak cenderung lebih bebas dan merasa leluasa. tidak takut salah. kualifikasi perlu di buat hubungan antara pengalaman estetik dengan pengalaman merasakan. Karya seni yang 19 . membiasakan anak untuk mengeluarkan isi hatinya dengan bebas. Anak biasanya lebih bebas dalam berekspresi untuk mewujudkan suatu karya seni rupa. Jika semua pengalaman dirasakan sebagai pengalaman estetik. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik terlatih dan mampu mengemukakan isi hati. kemampuan membuat analisis yang tepat. seni lukis misalnya karena anak relatif belum banyak pengetahuan tentang aturan-aturan/norma-norma yang mengikatnya. Dampak selanjutnya diharapkan peserta didik memiliki daya cipta. melatih anak berpikir merdeka. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Soedarso (1973: 5) bahwa pendidikan seni rupa adalah pendidikan ekspresi.

20 . dan tekstur bukan lagi sebagai elemen fisik.dihasilkan menunjukkan kemurnian pengungkapan perasaan mereka. mudah menerima. Dengan demikian sebelum berkarya peserta didik dimotivasi mengamati objek dengan berbagai masalahnya sebelum dituangkan dalam karyanya. b. Terutama peka terhadap lingkungan yang banyak mengandung permasalahan. Melalui aktivitas seni rupa. warna. Demikian juga kepekaan sosial terhadap lingkungan sekitar serta kemampuan bekerjasama dalam membuat karya kelompok dapat mengolah sikap dan perasaan sosial anak. hidung. kepekaan menjadi terlatih sehingga apabila ada permasalahan peserta didik bisa merasakan dan diharapkan dapat mengatasi permasalahan tersebut. Mengembangkan Sensitivitas Sensitif artinya peka/perasa terhadap rangsangan. Peserta didik menjadi peka terhadap lingkungan. tetapi mencerminkan ekspresi kejiwaan yang kuat. Peserta didik diberi kesempatan untuk menggunakan panca indera seperti mata. dan cepat dapat menghayati sesuatu. menghargai dan dihargai dapat dipupuk. bekerjasama. kemampuan anak dalam mengolah kesadarannya terhadap orang lain di lingkungan sekitar dalam berkomunikasi. Garis. mudah mencerap suatu rangsangan. telinga. dan indera peraba menjadi dasar cerapan dalam berkarya. Dengan melatih kepekaan rasa diharapkan kelak anak dapat menjadi anggota masyarakat yang dapat menjaga lingkungannya dan ikut melestarikan peninggalan seni dan budaya. Peran pendidik diharapkan dapat mengembangkan kepekaan atau sensitivitas yang dimiliki peserta didik.

Adapun unsur pendorong dalam laku kreatif seperti yang diungkapkan Dix dan Ernst dalam Susanto (2003: 9) adalah adanya sarana. pengembangan dan pemantapan gagasan menjadi suatu gambaran pravisual untuk diwujudkan menjadi ujud yang konkrit. proses evolusi. Dengan demikian proses kreatif merupakan pengejawantahan emosi dan representasi posisi pemikiran pembuat karya terhadap berbagai masalah yang dihadapi. Kreativitas bukan hanya muncul dari suatu hasil pemikiran dan dorongan perasaan. apresiasi. Ada tiga tahap proses kreatif yang dikemukakan Chapman (1978: 45). orisinalitas karya. Berbicara mengenai sifat bawah sadar berarti memasuki wilayah proses kreatif yang menurut Susanto (2003: 8) yaitu wilayah proses perubahan. dan identitas. keterampilan. Mengembangkan Kreativitas Kreativitas adalah suatu kondisi. yaitu: (1) Inception of an idea. proses perenungan. (2) Elaboration and refinement. pertumbuhan. Padahal sesuatu yang intuitif itu bersifat bawah sadar. merupakan tahap awal yaitu usaha menemukan gagasan. keadaan mental yang sangat khusus sifatnya. sekaligus merupakan proses aktualisasi diri atau kapabilitas yang dihadirkan dalam karya seni.c. mencari sumber gagasan. (3) Execution in a medium. lingkungan. Unsur-unsur 21 . merupakan tahap terakhir yaitu proses visualisasi dengan medium yang merupakan sarana untuk memvisualisaikan gagasan menjadi suatu karya seni. yaitu proses penyempurnaan. maupun proses mencipta dalam organisasi dari kehidupan subjektif pikiran dan praktis manusia. namun juga melibatkan kepekaan intuitf. suatu sikap. inspirasi.

karena belum pernah ada sebelumnya. Dengan demikian melalui seni rupa kreativitas anak dapat berkembang. sikap untuk selalu mencari sesuatu yang orang lain belum mengetahuinya. karena melalui kegiatan seni rupa anak dapat mengungkapkan apa yang ada dalam dirinya yang berkaitan dengan emosi. karena dengan membuat karya seni rupa membentuk anak untuk berani mengambil resiko. daya pikir. dan ber-kebaruan (novelty). Hal ini sangat berguna dalam pembentukan pribadi anak. karena tidak terdapat kembarannya. memperkaya. asli (original). Manfaat Pendidikan Seni Rupa Kegiatan seni mempunyai manfaat langsung maupun tidak langsung yang dapat dirasakan oleh peserta didik. serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan. Tampilan karya yang kreatif selalu tampil tunggal (unicness). memperinci) suatu gagasan. media untuk berkomunikasi. Hal ini didukung oleh Munandar (1999: 50) yang mengatakan bahwa kreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran. keluwesan (fleksibilitas) dan orisinalitas dalam berpikir. Sebagai media ekspresi. Manfaat langsung yang dapat dirasakan adalah sebagai media untuk berekspresi. 2.tersebut saling berpadu dan saling mempengaruhi dan saling bergantung untuk menjalankan tahapan-tahapan dalam membentuk karya seni. media pengembangan bakat seni yang dimilikinya. 22 . karena dihasilkan oleh diri sendiri pelaku seni. sikap yang untuk tidak selalu puas dengan apa yang sudah ada dan sudah didapat. media bereksplorasi. imajinasi serta keinginan anak tanpa memperhatikan apakah ungkapan yang tervisualisasi dalam karya tersebut dapat dimengerti oleh orang lain atau tidak.

maka anak akan positif tindakannya sesuai dengan perkembangan usianya. Anak memiliki kebebasan dalam bereksperimen. Sebagai media komunikasi.Dalam hal ini anak merasakan adanya kepuasan karena ada kebebasan dalam mengungkap apa yang ada dalam dirinya melalui pembuatan karya seninya. dan penerima pesan. melakukan tindakan sesuai dengan kebutuhan dan dapat menilai kesesuaian tindakannya dengan norma yang berlaku di masyarakat serta dapat memprediksi akibat yang diambil dari tindakan tersebut. Dengan demikian apabila kematangan emosi anak terlatih. Bakat adalah kondisi atau rangkaian karakteristik yang 23 . kegiatan seni rupa memerlukan alat-alat atau bahan yang secara langsung maupun tidak langsung mengembangkan kemampuan bernalar bagi anak. dan mampu bertingkah laku dengan penuh tanggung jawab serta mampu mempertanggungjawabkan tingkah lakunya dalam berkomunikasi. melalui eksplorasi dengan bahan-bahan yang ada untuk membuat karya seni rupa. dalam aktivitas komunikasi terdapat unsur: pengirim pesan. Sebagai media pengembangan bakat. Sebagai media bereksplorasi. Pesan yang disampaikan dalam seni rupa adalah gagasan yang berupa simbol yang dituangkan dalam karya seni rupa. isi pesan. kegiatan seni rupa menawarkan beragam potensi. Dengan demikian seni rupa dapat dikatakan sebagai media komunikasi karena pengirim pesan dapat mengungkap isi pesan ke dalam simbol bermakna yang dapat diterima oleh orang lain sebagai penerima pesan. Kematangan emosi anak menurut Wedwick (2006) adalah kemampuan untuk mengekspresikan perasaannya.

Sedangkan dimensi intelektual meliputi ingatan dan berpikir. yaitu kegiatan yang bersifat ekspresif. dari pada seseorang yang mempunyai bakat kreatif namun tidak dipupuk. Ada tiga pendekatan dalam pendidikan seni rupa yang populer saat ini. Hal ini dapat dilihat pada dimensi bakat yang terkait dalam pembuatan karya seni rupa yaitu.dipandang sebagai gejala kemampuan individu untuk memperoleh pengetahuan. Pendekatan dalam Proses Pendidikan dan Pembelajaran Seni Rupa Pada hakekatnya pendidikan seni rupa bersifat unik. dan estetik. yaitu penglihatan. Pada waktu memberikan kesempatan berekspresi harus bertitik tolak dari anak. Herbert Read 24 . Dengan demikian. Dengan demikian bakat anak yang terpupuk sejak awal akan lebih baik perkembangannya. keterampilan atau serangkaian respon melalui latihan-latihan (Bennet. Pendekatan Berbasis Anak Pendekatan Berbasis Anak berpijak pada filosofi bahwa dalam mendidik anak melalui seni. dan kinestesi. Dimensi psikomotorik mencakup koordinasi dan fleksibilitas gerakan. 1952: 12). 3. maka bakat tersebut tidak akan berkembang bahkan menjadi bakat terpendam dan tidak dapat diwujudkan. pendengaran. psikomotorik dan intelektual. pendidik haruslah menjadikan anak sebagai pusat. kegiatan seni rupa melalui latihan-latihan membuat karya seni rupa memupuk bakat anak. yaitu: a. kreatif. Karena keunikannya ini dalam pendidikannya memerlukan pendekatan-pendekatan agar tujuan pendidikan seni rupa itu sendiri dapat tercapai. Adapun dimensi bakat meliputi persepsi. persepsi terkait dengan kepekaan dari masingmasing pancaindera yang berhubungan dengan perhatian.

Pada pendekatan berbasis anak ini tugas pendidik adalah memberikan pengalaman kepada anak yang dapat merangsang munculnya ekspresi pribadi anak. Peranan pendidik sebagai fasilitator. 1970: 10). Tokoh yang dikenal dalam pendekatan ekspresi bebas ini adalah Frank Cizek dari Austria. karya seni rupa anak adalah karya seni yang hanya mampu dihasilkan oleh anak (Efland. dengan peragaan.dalam Education through Art yang menyatakan bahwa naluri berolah seni rupa anak adalah suatu yang universal. 1990: 195). karena ekspresi diri anak sesungguhnyalah tidak bisa diajarkan oleh pendidik. sesuatu yang tumbuh secara alamiah pada diri anak dalam mengkomunikasikan dirinya (Read. yaitu dengan pemberian motivasi. dan pendampingan. Hal ini dimaksudkan untuk menyiapkan pengalaman belajar yang dapat merangsang ekspresi pribadi anak. 25 . Garha (1980: 60) mengatakan bahwa pendekatan ini sebagai ekspresi bebas yang memberikan keleluasaaan kepada anak-anak untuk dapat menyalurkan ungkapan perasaan tanpa dibatasi oleh aturan atau norma cipta konvensional dalam membuat gambar. Dengan demikian cara pembelajarannyapun pendidik memberikan kemudahan pada anak dalam melaksanakan kegiatan belajar yang diinginkannya. Dengan demikian anak diberi kebebasan dalam kegiatan penciptaan karya sehingga anak dapat mengaktualisasikan dirinya dengan bebas tanpa pengaruh orang dewasa dalam proses pembuatan karyanya. memberikan kemudahan kepada anak dalam mempelajari atau melakukan apa yang menjadi keinginan anak agar anak berkembang secara alamiah melalui pengalaman seni. Ia merupakan orang yang pertama kali mengakui secara terbuka nilai intrinsik karya seni rupa anak.

Menurut Viktor Lowenfeld. ekspresi dalam proses pembuatan karya seni rupa yang dilaksanakan secara alamiah berdampak positif bagi perkembangan intelektual. 2001: 13). Read (1970: 30) memberi penegasan bahwa dalam ekspresi bebas. Selanjutnya Lowenfeld mengatakan bahwa “…mental growth depends upon a rich and varied relationship between a child and his environment.Pendekatan ekspresi bebas ini kemudian didukung dan disebarluaskan oleh dua tokoh pendidik seni yaitu Viktor Lowenfeld dari Amerika Serikat dan Herbert Read dari Inggris. Dalam hal ini pendidik memenuhi apa 26 . kreativitas dan perkembangan sosial anak. Dengan demikian pendidikan seni rupa merupakan tempat pemberian pengalaman yang menarik yang menyadarkan anak akan lingkungannya. Dalam hal ini dihubungkan antara kegiatan seni rupa dengan kesehatan mental karena kegiatan seni rupa merupakan media untuk menyalurkan perasaan. baik merupakan perasaan sedih atau gembira. Dalam merancang pembelajaran pendekatan ekspresi bebas secara murni. emosional. Penekanan Read adalah bahwa ekspresi diri anak tidak dapat diajarkan dan peranan pendidik adalah sebagai fasilitator. such a relationship is a basic ingredient of a creative art experience” (Lowenfeld. pelaksanaan kegiatan pembelajarannya menggunakan model emerging curriculum yakni kegiatan pembelajaran yang tidak dirancang sebelumnya tetapi berkembang sesuai keinginan anak (Salam. 1982: 6-7). pendidik berperan sebagai pendamping dan memotivasi anak untuk menggali inspirasi anak. Hal ini memperjelas bahwa pengaruh lingkungan menyebabkan adanya berbagai corak berdasarkan perkembangan dan temperamen jiwa anak.

yang merangsang untuk mengekspresikan nya lewat karya yang dibuatnya. (2) adanya kontak langsung anak dengan keadaan sekelilingnya. dan 27 . bentuk bunga semakin ke ujung daun bunga semakin kecil permukaannya. Ada tumbuh-tumbuhan. Caranya adalah sebagai berikut: pelaksanaan pembelajaran seperti pada umunya pendidik melaksanakan pembelajaran sesuai dengan jadwal dan waktu yang ditetapkan. slide. penerapan pendekatan ekspresi bebas di sekolah maka dikembangkan pendekatan ekspresi bebas yang bersifat “terarah”. Anak diberi kesempatan memperhatikan keadaan sekitar kelas atau sekolah. film. Sesungguhnyalah pendekatan ekspresi bebas secara murni ini sangat sulit dilaksanakan pada sekolah formal karena terikat adanya jadwal. kendaraan. orang berlalu lalang. gambar-gambar.yang menjadi kemauan anak dan pendidik memfasilitasinya. pendidik pada awal pembelajaran memberikan motivasi dengan berbagai cara antara lain: (1) memberi kesempatan pada anak untuk bercerita tentang hal-hal yang menarik yang dialaminya. Didukung oleh media yang dipersiapkan pendidik bisa berupa photo. Pendidik kemudian memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk mengarahkan perhatian anak pada hal-hal yang dilihatnya tetapi diabaikan anak. kemudian ada dialog dengan pendidik. dan sebagainya. waktu yang ditentukan sehingga menjadi terbatas pelaksanaannya. misal: detail dari bentuk daun. tulang-tulang daun akan membentuk keartistikan tersendiri. dan sebagainya. Untuk membangkitkan dan memotivasi ekspresi anak. Lebih tepat bila dilaksanakan pada lembaga pendidikan yang bersifat non formal seperti sanggar. dan sebagainya. Dari cerita dan dialog dengan anak akan timbul tema-tema cerita yang menyentuh kehidupan anak. kursus-kurus. Untuk mengatasi hal tersebut di atas.

Teori ini disebut sebagai Discipline-Based Art Education (DBAE). builts on the premise that art can be 28 . Menurut Brent Wilson “DBAE. Setelah pemberian motivasi. b. pendidik menjadikan disiplin ilmu seni sebagai hal yang harus dikuasai oleh anak. Karena setiap subjek seni didekati dengan suatu premis bahwa setiap subjek seni memiliki kekhasan yang berbeda dengan subjek seni yang lain sehingga diperlukan suatu pendekatan sebagai suatu “discipline” ilmu yang mandiri. (3) pendidik mendemonstrasikan proses penciptaan karya pada anak. pendidik meminta anak untuk mengekspresikan dirinya secara bebas dalam pembuatan karya seni rupa. 2001: 14). Penilaian yang diberikan pendidik bersifat apresiatif yaitu bersifat menerima dan menghargai apa yang diungkapkan atau diciptakan oleh anak dengan menunjukkan kemungkinan peningkatan kualitas dari karya yang diciptakannya tersebut (Salam. Dengan demikian pendekatan dari berbagai aspek dipadukan dengan proses pengalaman belajar yang terkoordinasi secara menyeluruh menjadi sangat diperlukan. Pendekatan Berbasis Disiplin Pendekatan berbasis disiplin berpijak pada filosofi bahwa dalam mendidik anak melalui seni. Pendekatan berbasis disiplin ini berdasar pada teori pedagogi tentang pelaksanaan proses belajar mengajar yang dicetuskan pada tahun 1980 di Amerika .sebagainya. namun jangan sampai terjebak apa yang didemonstrasikan menjadi hal yang harus ditiru oleh anak. Dalam hal ini pendidik berperan sebagai pendamping untuk memberikan bantuan pada anak. Dengan demikian hasil penilaian tidak ada istilah salah atau benar karena ekspresi anak bersifat unik dan alamiah.

mengarahkan untuk mencipta. and cultural and/or historical realms as necessary for leading the child to aesthetic experiences. 29 . kritik seni. Hal ini menyiratkan bahwa seni dapat diajarkan secara efektif bila mengintegrasikan makna empat dasar disiplin tersebut. sejarah seni. art criticism. Identified the productive. para peserta didik harus berusaha melakukan dialog berkelanjutan tentang hakikat dan makna seni dalam kehidupan mereka. Pendidikan Seni Berbasis Disiplin. Tersurat pula dalam sebuah monograf dari The Getty Center for Education in the Arts. Aesthetic education therefore represented a balance among producing. critical. 2000: 19). Eisner (1997: 20) membahas komponen estetika sebagai “berguna bagi anak-anak untuk menjadi reflektif tentang basis penilaian mereka berkaitan dengan kualitas karya seni. sebagaimana tentang dunia visual di sekeliling mereka. art history. atau DBAE (Disciplin Based Art Education). produksi seni. sejarah seni (art history). memahami dan mengapresiasi seni. Dialog ini paling baik diungkapkan dalam bidang filosofis estetika. yaitu: penciptaan seni (artistic creation). appreciating. and understanding.” Karena itu. kritik seni (art criticism) dan estetika/filsafat seni (aesthetics) dalam suatu pengalaman belajar yang menyeluruh. Dengan demikian pelaksanaan pendidikan seni rupa sesuai yang tersirat dalam DBAE pelaksanaannya tidak memilah keempatnya tetapi berusaha untuk mengintegrasikannya. dan estetika. and aesthetics (the philosophy of art)-into a holistic learning experience” (Wailling. Hal ini diperkuat dengan gagasan Eisner (1997:16) bahwa.taught most effectively by integrating content from four basic disciplines-art making.

Pendekatan seni rupa berbasis multikutural merupakan salah satu bagian dari pendidikan multikultural yang bertujuan mengenalkan keragaman budaya melalui kegiatan penikmatan. konteks sosial masyarakat harus menjadi perhatian yang utama. karena sudah memenuhi tiga ciri disiplin ilmu yang dikemukakan oleh Dobbs (1992: 9) sebagai berikut: (1) a recognized body of knowledge or content. c. karena memiliki isi pengetahuan (body of knowledge). namun demikian seni rupa sebagai disiplin ilmu dalam pelaksanaannya tidak hanya memberikan kesempatan pada anak untuk mengekspresikan emosinya saja tetapi kegiatan mempelajari ilmu seni juga harus dilakukan.Pada hakekatnya seni adalah sebagai kegiatan artistik. agama. adanya komunitas pakar yang mempelajari ilmu tersebut. pendekatan Berbasis Konteks yang menonjol adalah pendidikan seni multikultural. Pengenalan keragaman budaya tersebut dengan cara membuka diri terhadap berbagai budaya lain yang lahir atas dasar ras. penciptaan dan pembahasan keindahan rupa (visual). Pada saat ini. kelas sosial. Dengan demikian seni rupa dapat dikatakan sebagai sebuah disiplin ilmu. Dipandangnya seni rupa sebagai disipiln ilmu merupakan asumsi pokok yang mendasari pendekatan pendidikan seni rupa berbasis disiplin. (2) a community of scholars who study the discipline. suku. 30 . adanya metode kerja yang memfasilitasi kegiatan eksplorasi dan penelitian. Pendekatan Berbasis Konteks Pendekatan berbasis konteks berpijak pada filosofis bahwa dalam mendidik anak melalui seni. (3) a set of characteristic procedures and ways of working that facilitate exploration and inquiry.

Sebagai konsep dasar. sehingga cakupan menjadi luas. Merupakan ciri yang mendasar model kurikulum pendekatan multikultural yang harus dipertimbangkan yaitu adanya pluralisme sosial. keragaman budaya/etnis dan kontekstualisme. Pendidikan berbasis multikultural dikelompokkan menjadi tiga. Dengan demikian menjadi fokus utama yang merupakan wacana pendidkan seni rupa multikultural adalah persoalan pluralisme sosial dan keragaman budaya. Metode pembelajarannya bersifat pengenalan berbagai bentuk seni 31 . dan keterampilan seni yang difokuskan pada pengenalan seni kelompok (ras. yaitu: 1) Model Pengenalan Model ini bertujuan memperkenalkan anak akan budaya lain. dan lain-lain. pendidikan seni rupa multikultural pada dasarnya merupakan sebuah filosofi. Anak menjadi luas wawasannya dan memahami karya seni rupa orang lain dan pencipta karya yang mungkin sangat berbeda karya tersebut dengan keyakinan dan tradisi yang ada pada anak lebih tepat diterapkan pada kelas yang tidak multikultur. Dengan demikian tidak identik dengan satu model program pembelajaran tertentu. Dengan cakupan yang luas itulah pendekatan ini menggunakan berbagai bentuk teori dan praktek yang sesuai dengan konteks sosial dan budayanya. Materi pembelajarannya meliputi pengetahuan sikap. Hal yang terpenting dalam hal ini adalah bahwa semangat untuk mempromosikan keragaman budaya dilakukan melalui kegiatan seni rupa.jenis kelamin. dan sebagainya) lain agar memiliki sikap apresiatif terhadap kelompok yang menjadi fokus pembicaraan. gagasan besar. agama. atau pendekatan. etnis. dimana beragam program pembelajaran dikembangkan.

dari kelompok lain melalui ceramah. maka perlu dukungan dari berbagai pihak antara lain: kebijakan sekolah (aturan. dan kriteria keindahannya masing-masing. karyawan menciptakan suasana yang kondusif merefleksi adanya keragaman budaya yang ada. apresiasi (kritik seni rupa) juga harus mengingat pada keragaman prinsip. diskusi dan praktek pembuatan karya. Apabila diterapkan dalam pembelajaran yang bersifat teoritis yaitu estetika. Evaluasi yang dilaksanakan dalam konteks untuk mengetahui sejauh mana anak dapat memahami dan mengapresiasi budaya/seni kelompok lain. kurikulum) tidak mencerminkan adanya diskriminasi. golongan tertentu. pendidik. agama. Model pengamalan ini lebih tepat diterapkan pada kelas yang bersifat multi kultur. 2) Model Pengamalan Tujuan model pengamalan adalah membangun kesadaran untuk hidup bersama dan tidak melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan konflik. Penerapan pembelajaran model pengamalan ini dalam praktek penciptaan karya seni rupa salah satu cara adalah dengan menggali tema dari peserta didik yang bervariasi sesuai dengan latar belakang peserta didik. makna. Kemudian diwujudkan secara visual dengan media yang sesuai dengan kemauan peserta didik. Dengan demikian kegiatan pembelajarannya anak yang terdiri dari berbagai suku. Pelaksananan model pengamalan ini agar berhasil dengan baik. Dalam hal ini tidak ada standar baku yang dapat diberlakukan untuk semua. sejarah seni rupa. 32 . ras. dan lain-lain mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar. Evaluasi yang dilakukan adalah untuk mengetahui sejauh mana anak dapat mengapresiasi budaya/seni kelompok lain yang ditunjukkan pada kemampuan untuk hidup bersama secara harmonis. peragaan.

dan kesukuan. agama. Menurut Salam (2001: 27) pendukung pendidikan seni rupa multikultural model perombakan ini tampaknya tergolong sebagai pengembang kurikulum yang dikelompokkan sebagai kaum rekonstruksionis sosial yang memandang pendidik sebagai politikus yang harus memilih dua pilihan: sebagai kelompok konservatif yang akan melayani sang penguasa atau sebagai kelompok perombak yang mencoba untuk mencari alternatif-alternatif. Langkah pertama pendidik 33 . maka pendidik sudah selayaknya mengadakan perombakan dalam kurikulum dan pembelajarannya.3) Model Perombakan Berdasarkan perlakuan yang tidak kondusif karena adanya ketidak adilan atas dasar ras. dan menumbuhkan kepekaan semua pihak pada asumsi yang dianggap benar yang ada pada ideologi yang dominan. politik. oleh karena itu perlu ada peninjauan. mereka memusatkan perhatian pada faktor-faktor yang dinamik dan kompleks yang mempengaruhi interaksi manusia yakni kemampuan fisik dan mental. kelas sosial. agama. jender. Selanjutnya terdapat lima langkah dalam mengembangkan kurikulum pendidikan seni rupa berbasis multikultural. suku. Mereka mencari pendekatan yang lebih demokratik yang memberikan peluang bagi kelompok yang terpinggirkan untuk menyuarakan dirinnya dalam proses pendidikan seni rupa. jenis kelamin. Wasson dkk. kondisi sosial yang ada di masyarakat. dalam Salam (2001: 29) menyatakan bahwa yang menjadi pendukung pendidikan seni rupa multikultural model perombakan ini menegaskan bahwa dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. usia. Pendukung kelompok model perombakan mengatakan bahwa budaya bukanlah suatu yang harus diterima dan tanpa perubahan.

pendidik dan peserta didik melakukan analisis situasi supaya akrab dengan masyarakat. dan lain-lain. pendidik dan peserta didik memilih bahan kurikulum relevan dan menarik. menanang nilai yang dianut peserta didik. membuat keputusan reflektif kemudian mengambil langkah nyata sesuai keputusan. maka pendidikan seni rupapun mengalami perkembangan terutama di Sekolah Dasar. Langkah keempat.menganalisis dan memperbaiki sikap negatif yang mungkin mereka miliki terhadap pluralisme social dan keragaman suku. Tinjauan Historis Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan dinamika masyarakat yang senantiasa berkembang. Langkah ketiga. Langkah kedua. 4. Ketiga pendekatan pendidikan seni rupa yang telah diuraikan di atas merupakan tiga pendekatan utama yang mempengaruhi pemikiran dan praktek pendidikan seni rupa dewasa ini. Tindakan yang ditempuh dengan mengidentifikasi masalah sosial yang berkaitan dengan agama. pendidik dan peserta didik berkolaborasi mengadakan penyelidikan masalah-masalah yang ada kaitannya dengan bahan kurikulum yang dipilih. tingkat kehidupan munusia. Merupakan langkah terakhir yaitu langkah kelima pendidik melaksanakan program evaluasi baik formatif maupun sumatif. Pestalozzi (1746-1827) 34 . Lima langkah yang dikemukakan oleh Wasson tersebut di atas merupakan salah satu cara penyusunan kurikulum pendidikan berbasis multikultural. mengklarifikasi. Pendidikan Seni Rupa di Sekolah Dasar di Indonesia a. jenis kelamin. Kemudian mengumpulkan data. Dimulai dengan kegiatan yang hanya mencakup menggambar di sekolah umum. suku.

Perkembangan selanjutnya pada akhir abad ke 19. Pada tahun-tahun tersebut. menggambar adalah sarana untuk mengembangkan pengamatan. dan berfungsi untuk melatih penguasaaan ketrampilan. Kemudian era studi anak pada akhir abad ini merupakan sebuah gerakan yang meluas dan berpusat pada pola-pola prilaku anak pada setiap perkembangannya. Riset pertama yang membahas seni anak tepatnya dilaksanakan pada musim dingin pada tahun 1882 oleh Corrado Ricci seorang penyair Italia yang hasilnya merupakan dukungan studi tentang ekspresi seni sebagai suatu alat untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam pada pengalaman total anak-anak. lahir teori-teori yang berpusat pada pola-pola perilaku anak pada setiap tahap perkembangannya.merupakan pakar yang berhasil memasukkan pelajaran menggambar di sekolah umum tersebut. sebagai hasil dari studi lahirlah pandangan baru tentang dunia anak yang amat besar pengaruhnya terhadap pendidikan seni rupa. Dengan demikian fungsi pelajaran menggambar adalah untuk mempersiapkan tenaga kerja pangsa pasar tertentu yang membutuhkan kemampuan seseorang menggambar bangun dan pengamatan yang tajam. Sebuah gagasan tentang tahap-tahap pertumbuhan dalam perkembangan artistik anak muncul dalam studi ini. Hal ini diperkuat pernyataan Uhlin (1975:18) yang menyatakan bahwa International congresses were formed in those years to pool data and structure theories which would communicate just what it as that the child was resolving at a particular chronological age. Menurut pandangannya. 35 .

Pandangan baru ini melihat anak sebagai pribadi yang unik yang berbeda dengan orang dewasa. didirikan sekolah khusus untuk anak-anak pribumi dengan tujuan menyiapkan tenaga siap pakai untuk dipekerjakan sebagai tenaga administrasi pada masa pemerintahan kolonial. Ia menegaskan bahwa seni rupa anak hanya mampu dihasilkan oleh anak dan anak menggambar harus diberi kesempatan untuk tumbuh bagaikan bunga yang berkembang dengan sendirinya secara alami. Pada masa sebelumnya. Selanjutnya studi awal tentang anak dilakukan para ahli. maka muncullah pandangan baru tentang pembelajaran seni rupa anak yang berfokus pada perkembangan alamiah anak dan pengalaman belajar anak. Frank Cizek. salah satu hasilnya adalah ditemukannya pola perkembangan menggambar anak berdasarkan usia anak Sejalan dengan penemuan adanya pola kemampuan menggambar anak. Memasuki abad ke 20 perkembangan seni rupa memasuki babak baru. 36 . Di Indonesia pada masa pemerintahan Belanda. Mulailah adanya pengakuan karya seni rupa anak sebagai karya seni rupa yang sesungguhnya. Pendidikan seni rupa yang sebelumnya hanya terbatas pada kegiatan menggambar menjadi lebih luas mencakup pembelajaran apresiasi seni rupa. disain. adalah orang pertama yang memberikan pengakuan adanya nilai yang terkandung pada karya seni rupa anak. dan kerajinan. 1970: 1). bebas dari pengaruh orang dewasa. menurut Read hanya orang dewasalah yang memilki kematangan perasaan dan intelektual yang dipandang layak untuk menghasilkan karya seni (Read. dengan terbitnya banyak jurnal pendidikan seni rupa sebagai hasil penelitian. seorang pendidik dan perupa dari Wina.

Pada prinsipnya Mohammad Syafei menentang pendidikan pemerintah kolonial yang hanya mengutamakan pendidikan intelektual dan kurang memperhatikan pengembangan kepribadian anak. menghargai budaya dan tradisinya sendiri. 1967: 195). dan kerajinan tangan adalah mata pelajaran yang 37 .Demikian juga pada pelajaran seni rupa. keaslian. Ekspresi diri. suasana peternakan dan bunga tulipnya. dan sadar budaya adalah dasar dari metode pendidikan seni rupa yang diterapkan di Taman Peserta didik (Holt. di Sumatra Barat tepatnya di Kayutanam berdiri pula Indonesische-Nederlandsche School (INS) oleh Mohammad Syafei. Buku-buku pelajaran yang dipakai adalah buku-buku yang merupakan gambar-gambar pemandangan di Belanda dengan kincir angin. Akibat yang diinginkan anakanak Indonesia tidak dapat mengenal. Namun yang terjadi selanjutnya timbul ketidakpuasan dari kaum pribumi terpelajar yang menginginkan perlunya anak-anak Indonesia mengenal. Hal ini mencerminkan sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia cenderung tidak menggambarkan keadaan atau suasana Indonesia. menghargai budaya dan tradisi bangsa sendiri. Bersamaan dengan didirikannya Taman Peserta didik.M Soewadi Soerjaningrat atau dikenal dengan Ki Hajar Dewantoro mendirikan sekolah swasta untuk kepentingan anak-anak pribumi dan menurut pandangannya pendidikan seni rupa merupakan alat untuk menanamkan kepribadian Indonesia. Pelajaran menggambar. mencetak. Kemudian oleh R. waktu itu bentuk pelajarannya adalah pelajaran menggambar dengan orientasi pemberian keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja secara mandiri pada pemerintah kolonial. tetapi menanamkan tradisi Barat sebagai suatu kemajuan.

38 . dan dijual untuk menambah beaya kegiatan sekolah. pelaksanaan pendidikan seni rupa tidak mengalami perubahan yang berarti. kerajinan. dan menggambar ekspresi. hanya objek gambar bukan lagi pemandangan di Belanda tetapi pemandangan alam Indonesia. Pembelajaran masih mengembangkan kemampuan anak melalui latihan koordinasi mata dan tangan. ilustrasi. Dalam rumusan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) merupakan bagian dari kelompok mata pelajaran Estetika dan nama mata pelajarannya adalah Seni Budaya dan Keterampilan. Pada menggambar ekspresi. seni teater. perspektif. Pada kelas-kelas untuk akhir.dianggap penting. seni musik. Pendidikan seni rupa tidak dikenal sebagai istilah yang mandiri di Sekolah Dasar. anak-anak diberi kebebasan untuk menyatakan ide dan perasaannya. Pendidik sebagai fasilitator memberikan kemudahan-kemudahan pada anak. Perkembangan selanjutnya pendidikan menggambar yang menekankan pada teknik menggambar tidak digunakan sejalan dengan diterapkannya pendidikan seni rupa pada kurikulum sekolah (kurikulum tahun 1975) dan kurikulum sesudahnya dan pada kurikulum yang berlaku sekarang ini (KTSP). anak-anak diajarkan keterampilan agar memiliki kemampuan membuat barang yang bersifat fungsional. yang kesemuanya bertujuan melatih pengamatan anak. Pada masa awal kemerdekaan. Pada mata pelajaran menggambar meliputi menggambar alam benda. Lingkup materi pembelajarannya meliputi seni rupa. Baru pada tahun 1964 istilah “menggambar” diganti dengan “seni rupa”. dan teknologi. seni tari.

Pada art production adalah suatu disiplin dalam hal penciptaan seni rupa. dan penilaian. sejalan dengan implementasi kurikulum tahun 1975.b. dialami. Keempat bidang tersebut tidak harus diajarkan secara terpisah tetapi diajarkan secara terpadu. dan penilaian merupakan gambaran untuk memperoleh kualitas karya seni rupa yang diamati. 1) Penerapan pendekatan disiplin Seperti telah dikemukakan dimuka bahwa pendekatan disiplin mempunyai ciri adanya program pembelajaran yang sistematik dan berkelanjutan dalam empat bidang yaitu: bidang penciptaan. dieksplorasi oleh anak. Art history adalah disiplin 39 . dan (2) penerapan “pendekatan sistem” dalam rancangan kegiatan pembelajaran seni rupa. Pendekatan Pendidikan Seni Rupa yang dianut di Indonesia Diterapkannya pendidikan sistem di sekolah. pemahaman. merupakan proses kreatif melalui pengolahan bermacam-macam materi untuk menciptakan efek visual yang diinginkan. penikmatan. sedangkan art criticism adalah disiplin yang memfokuskan perhatian pada persepsi dan deskripsi untuk menjawab pertanyaan tentang apa yang diamati pada suatu karya seni rupa. Keempat bidang tersebut dijabarkan dalam mata ajaran dan tercermin dalam kurikulum meliputi. art history. 1992: 9). and aesthetics (Dobbs. yang merupakan babakan baru dalam sejarah pendidikan seni rupa di Indonesia. art production. art criticism. Dalam hal ini banyak yang dapat dipelajari. Babakan baru tersebut menyangkut 2 hal pokok yakni: (1) penerapan “ pendekatan disiplin (DBAE)” dalam hal isi pembelajaran seni rupa. untuk menjelaskan makna dari apa yang diamati adalah melalui kegiatan analisis dan penafsiran.

tetapi juga mencakup sejarah senirupa. kritik seni rupa. kegiatan pembelajaran terdiri atas berbagai komponen yang satu sama lain terikat dalam satu sistem dengan tujuan sebagai komponen utama yang memberi arah pada komponen lainnya. pandangan ini diakomodasi yang ditandai dengan meluasnya cakupan mata pelajaran seni rupa. Pendekatan sistem menuntut kegiatan pembelajaran yang berorientasi pada tujuan yang telah dirumuskan terlebih dahulu. Pendekatan sistem dalam terminologi Kurikulum 1975 dikenal sebagai PPSI. termasuk kegiatan penilaian hasil belajar.. pengalaman keindahan dan sumbangannya terhadap kehidupan dan kebudayaan manusia. 2) Penerapan pendekatan sistem Dalam kurikulum 1975 dituntut diterapkannya pendekatan sistem dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Kurikulum selanjutnyapun yang muncul melanjutkan apa yang dimulai pada kurikulum tahun 1975 . Tujuan inilah yang menjadi acuan seluruh kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru. dan estetika. Dengan demikian pendekatan disiplin memandang kegiatan pembelajaran di sekolah seyogyanya tidak hanya menyangkut kegiatan berkarya seni rupa seperti melukis. Aesthetics adalah disiplin yang memfokuskan pada diskusi hakekat dan makna seni rupa. politik dan budaya. dsb. Menurut pendekatan sistem.yang memfokuskan perhatian pada peran seni rupa dan seniman dalam konteks social. Kegiatan pembelajaran yang 40 . mencetak. mematung. Dalam kurikulum tahun 1975. Demikian pula dengan KTSP yang berlaku saat ini mengacu pada Standar Isi yang kandungannya mencerminkan kekomprehensifan isi sebagaimana yang diamanatkan oleh pendekatan disiplin.

dan praktek membuat karya seni rupa. ketrampilan bidang seni rupa. sikap. sikap. Penerapan pendekatan disiplin dalam pendidikan seni rupa di sekolah di Indonesia. Dalam konteks KTSP. kritik seni. Tujuan pembelajaran menekankan kemampuan yang harus dikuasai oleh peserta didik yaitu: pengetahuan. agar anak memiliki pengetahuan. Misal komponen tujuan pembelajaran. dan keterampilan seni adalah ceramah. 41 . Sesuai tujuan pendekatan berbasis disiplin. peragaan. Evaluasinya dilihat dalam konteks sejauhmana anak memperoleh pengetahuan. sejarah seni. komponen evaluasi saling berkaitan. dan estetika. dan ketrampilan bidang seni rupa meliputi: produksi/karya seni.beroreintasi pada tujuan ini berlanjut pada kurikulum yang diperkenalkan kemudian. sangat mempertimbangkan aspek psikologis anak sejalan dengan tumbuhnya kesadaran akan pentingnya menjadikan anak sebagai pusat perhatian guru dalam kegiatan pembelajaran. dan keterampilan seni rupa. tujuan pembelajaran identik dengan kompetensi tertentu yang diharapkan untuk dicapai oleh anak dalam kegiatan pembelajaran. sikap dan keterampilan seni rupa seperti yang dirumuskan pada tujuan pembelajaran. diskusi. Sedangkan metode pembelajarannya yang memungkinkan anak memiliki pengetahuan. sikap. sikap. Peranan pendidik dalam pendekatan ini dituntut dapat memberikan kemudahan bagi anak untuk mendapatkan pengetahuan. komponen pelaksanaan pembelajaran. Dalam hal ini pendekatan sistem merupakan kerangka acuan yang rasional dalam memadu komponen-komponen pembelajaran yang saling berkaitan.

dan golongan sosial ekonomi di lingkungan sekitarnya. ras. dimana anak mengalami masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju awal remaja. tetapi juga memberikan pembelajaran cara mempelajari bagaimana menikmati suatu karya seni rupa. Menurut Piaget (1950: 45-49) ”pada masa itu adalah anak mengalami yang disebut dengan tahap operasi konkret (concrete operations)” dicirikan dengan perkembangan sistem pemikiran yang didasarkan pada aturanaturan tertentu yang logis. Hal ini diharapkan akan berdampak pada tumbuhnya rasa penghargaan terhadap keragaman karya-budaya yang dimulai dari lingkungannnya. B.Dengan demikian pada hakekatnya pendekatan berbasis disiplin pada pendidikan seni rupa membawa anak tidak hanya diberi kesempatan untuk berekspresi seni rupa. bahkan mereka diberikan pula cara memahami konteks dari sebuah karya seni rupa dari berbagai masa. Anak sudah dapat berpikir lebih menyeluruh dengan melihat banyak unsur dalam waktu yang bersamaan. Pemikiran anak dalam 42 . sesuai dengan yang ada dalam Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) Sekolah Dasar antara lain: Menghargai keberagaman agama. Ditinjau dari sudut pandang psikologis masuk dalam kategori childhood. budaya. suku. Karakteristik Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar Anak usia sekolah dasar pada umumnya ada pada usia 6 sampai dengan 12 tahun. Pada rentang usia tersebut anak mengalami fase tertentu. yaitu masa usia sekolah dasar sering disebut juga sebagai masa intelektual atau masa keserasian bersekolah.

(e) sudah mulai memisahkan antara fantasi dari realitas. hal ini juga didukung oleh Piaget yang mengemukakan. tahap ke II usia 8-9 tahun. klasifikasi dengan lebih baik. (k) mulai menumbuhkan rasa keadilan dan menginginkan perasaan yang bebas dari orang 43 . bahwa anak mulai berpikir tentang perbedaan bahkan menentang dan bersikap hati-hati.banyak hal sudah lebih teratur dan terarah karena sudah dapat berpikir seriasi. bahkan mengambil kesimpulan secara probabilitas. (b) anak mulai mempunyai pengalaman pada tahap kepandaian dan perasaan rendah diri. Berikut ini karakteristik anak usia sekolah dasar pada setiap tahapnya. mengemukakan ciri-ciri anak pada anak pada usia 6 dan 7 tahun sebagai berikut: (a) anak beralih dari daya pikir anak yang bersifat imajinatif. namun belajar lebih banyak terjadi berdasarkan pengalaman konkretnya. (g) mulai berpikir abstrak. ke cara berpikir tahap operasional konkret. dibagi menjadi tiga tahap. (h) lebih membutuhkan suatu pujian dan persetujuan dari orang dewasa. (d) melanjutkan perkembangan pemerolehan bahasa. Menurut Brady (1991: 35-37) yang didukung beberapa ahli yang lain. (c) menerima konsep secara benar (baik) berdasarkan hadiah dan persetujuan. namun demikian perlu diketahui adanya perbedaan tingkat kecepatan kematangan anak sangat dipengaruhi oleh kehidupan lingkungan sosial budaya masyarakatnya. yaitu tahap I pada usia 6-7 tahun. (i) menunjukkan sensitivitas rasa dan sikap terhadap anak disekitarnya dan orang dewasa. (j) belajar berpartisipasi dalam suatu kelompok sebagai anggota. (f) belajar berangkat dari persepsi dan pengalaman langsung. Secara umum pada usia sekolah dasar ini. dan tahap III pada usia 1012 tahun.

dan (k) sudah mulai membentuk persahabatan yang khusus dengan temannya. (e) mulai melihat sesuatu dengan sudut pandang orang lain bahkan sifat egosentris sudah semakin berkurang. (l) menunjukkan perilaku yang egosentris bahkan sering menuntut apa yang menjadi keinginannya. (d) memiliki perhatian dan penghormatan dari kelompok kini lebih penting. (f) mulai mengembangkan konsep dan hubungan spasial. (c) dapat menerima masalah yang benar berdasarkan ke-fairan. (d) sudah mempunyai ketertarikan yang kuat dalam sebuah aktivitas sosial. (b) Erickson berpendapat bahwa anak mempunyai pengalaman pada tahap kepandaian dan perasaan rendah diri. (g) menghargai petualangan imaginatif. (h) mulai menunjukkan minat dan keterampilan yang berbeda dengan kelompoknya. Perkembangan anak pada usia 10 sampai 12 tahun: (a) pemfungsian tahap operasional konkret menurut Piaget. (e) minat pada kelompok sudah lebih meningkat bahkan mencari kekariban dalam sebuah kelompok. (c) mulai menerima konsep yang benar berdasarkan aturan. (h) mulai mencari 44 .dewasa. (g) mulai menunjukkan minat pada aktivitas yang khusus. bahwa anak sudah mulai berpikir lebih fleksibel dan hati-hati. Selanjutnya dikemukakan lagi oleh Brady (1991: 35-7) bahwa anak usia 8 dan 9 tahun: (a) pemfungsian tahap berpikir operasional konkret menurut Piaget. bahwa anak sudah dapat melihat hubungan yang lebih abstrak. (j) adanya peningkatan kemampuan mengutarakan sebuah ide ke dalam kata-kata. (b) anak mulai berpengalaman pada tahap kepandaian dan perasaan rendah diri. (i) mempunyai ketertarikan pada hobi bahkan koleksi yang lebih bervariasi. (f) mengadopsi orang lain menjadi model daripada orang tua.

sehingga hampir tidak pernah terlihat kesan lelah pada fisik mereka. dan sosial. Karena itu menurut Hurlock (1991: 150) melalui latihan yang berat anak dapat melepaskan tenaga yang tertahan dan membebaskan tubuh dari ketegangan. dan (m) memahami dan menerima adanya aturan berdasarkan perbedaan jenis kelamin. Perkembangan anak meliputi perkembangan fisik intelektual. Pada usia awal sekolah dasar anak-anak yang normal berada dalam masa yang energetic. (k) menunjukkan adanya perbedaan di antara individu. Pertumbuhan dan perkembangan realitasnya tidak dapat dipisahkan. Berikut ini dibahas secara umum sisi perkembangan anak sekolah dasar secara singkat. Perkembangan fisik dan motorik Perkembangan fisik anak meliputi bertambah besar dan tingginya ukuran tubuh. kreativitas. (i) ingin menunjukkan kemampuan serta kemauan untuk melihat sudut pandang orang lain. 45 . Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yaitu peningkatan ukuran struktur yang mempengaruhi perkembangan intelektual dan mental anak. emosional. (j) mencari nilai-nilai. bertambahnya berat badan. Anak dalam usia 6 sampai 12 tahun memiliki karya seni rupa yang bersifat khas sebagai cerminan dari tingkat kemampuan dan kesenangannya. (l) mempunyai citarasa keadilan bahkan kepedulian terhadap orang lain. yaitu mereka memiliki banyak energi untuk memenuhi keinginan mereka terutama bermain yang mereka senangi. yang secara otomatis mempengaruhi perkembangan fungsi-fungsi organ tubuh.persetujuan dan ingin mengesankan. a.

berlawanan dari aktivitas fisik yang selama ini diterapkan untuk memecahkan masalah atau untuk berpikir. b. mengetahui perbedaan antara perasaan dan tindakan. menunda pemuasan. baik secara fisik maupun secara psikologis. seperti pemisahan. identitas. Perkembangan intelektual Perkembangan intelektual dikenal dengan perkembangan intelegensi. kemudian mereka mengendurkan diri. mengingat. mengelola perasaan. dan lain-lain. konversi. mengendalikan dorongan hati. karena proses kognitif mereka tidak terlalu egosentris lagi dan sudah lebih logis lagi. dan pengalaman hidup. Piaget merinci intelegensi dalam komponen isi (apa yang dipikirkan). Keterampilan emosional meliputi aktivitas: mengidentifikasi dan memberi nama perasaan-perasaan. struktur (konsep atau pola pikir) dan fungsi (organisasi dan adaptasi). seringkali 46 . Pada diri anak-anak ketika kontrol emosionalnya masih labil dalam intensitas emosi yang tinggi. Anak-anak sudah belajar mengembangkan konsep berpikir sederhana. dan keputusasaan. Piaget menamakan usia ini sebagai periode operasional konkret. mengurangi stress. dimana anak-anak telah mampu menggunakan simbol-simbol untuk melakukan suatu operasi atau aktivitas mental. kognisi. klasifikasi. menilai intensitas perasaan. Anak usia 7-11 tahun sudah lebih mampu berpikir. kompensasi. dan berkomunikasi. c. atau kecerdasan. belajar. reversibility (bolak-balik). mengungkapkan peraaan. angka. Perkembangan emosional Emosionalitas seseorang mengalami perkembangan seiring bertambahnya usia. pendidikan.kegelisahan.

kehidupan. Perkembangan kreativitas peserta didik dapat distimulasi dengan banyak cara. tetapi lingkungan yang tidak mendukung dapat menghambat bahkan merusak potensi kreatif peserta didik tersebut. Suatu rentang kehidupan dimana akan ditentukan apakah anak-anak menjadi konfomis atau mencipta karya yang baru dan orisinal. drama.mereka merasa tertekan secara emosional akibat perlakuan dan batasan-batasan dari lingkungan mereka. senirupa. d. Untuk itu aktivitas bermain yang menantang dan latihanlatihan yang berat dinilai dapat menjadi alat katarsis emosinya. Di sekolah diselenggarakan bermain yang mendidik yang mencakup kegiatan olah raga. kritik. masa berimajinasi tinggi dan masa bermain. Penelitian mengenai kreativitas menunjukkan bahwa bila anak-anak tidak dihalangi oleh rintangan-rintangan lingkungannya. atau cemoohan orang dewasa atau orang lain mereka akan mengarahkan tenaganya ke dalam kegiatan-kegiatan kreatif. dan cara pertumbuhannya yaitu: 1) Ada beberapa cara yang dilakukan anak-anak kecil untuk mengungkapkan pemikirannya yang beragam. Perkembangan kreativitas Anak usia sekolah dasar dinamai dengan “usia kreatif” (Hurlock. lingkungannya. Menurut Abdussalam (2005: 50-51) ada beberapa pilar kreativitas dan faktor yang mempengaruhi munculnya kepribadian seorang anak. 1999: 9). kreativitas itu muncul melalui 47 . 1991: 147) atau masa “keemasan berekspresi kreatif” (Herawati. musik yang teratur dalam kurikulum. Sebagai contoh. Perkembangan kreativitas peserta didik dapat diamati pada proses dan karya kreatif peserta didik.

berbohong. Imajinasi dituntun untuk berkembang melalui rangsang bentuk-bentuk dan struktur garis yang dikembangkan menjadi suatu bentuk yang dapat dikenali dan unik. baik yang berupa aktivitas melukis. melukis. menjelajahi tentang hal-hal yang unik dan belum pernah dibuat orang lain. mencontoh. bertanya. beberapa aspek dari kreativitas dirangsang seperti kemampuan untuk 48 . Pada masa anak-anak ini. permainan. atau melalui aktivitas seni. membentuk. pengembangan alternatif. musik. bermain. 2) Menikmati pengalaman-pengalaman. serta kemampuan untuk menyelesaikan sebagian permasalahan atau perlawanan ditengah-tengah beraktivitas. Sedangkan kegiatan figural adalah pengembangan visual “ visual thinking” yaitu melalui bentuk dan garis. bersukaria. bercanda. bernyanyi.beberapa perantara atau gambaran-gambaran akal. kita mendapati seorang anak itu dapat berbicara. dan produksi bentuk-bentuk yang baru. Kegiatan verbal adalah pengembangan kreativitas dengan menyatakan ide melalui kata-kata. berkhayal. dan aktivitas yang berbeda-beda itu merupakan sesuatu yang penting dan pilar yang besar dalam membentuk kreativitas pada diri anak 3) Permulaan kreativitas itu ditandai dengan perolehan beberapa hal. dan membaca. mengikuti. menemukan dan menghasikan sesuatu. Menurut Torrance (1981) mengembangkan kreativitas melalui dua kegiatan yaitu kegiatan verbal dan figural. Dalam kegiatan ini. penekanannya adalah pada rasa ingin tahu. mewarnai. 4) Permainan anak-anak merupakan pilar pemikiran kreatif yang paling penting. dan gerakan. menirukan.

kegiatan ini bertujuan mengembangkan fantasi yang tinggi dengan memberikan suatu gambaran atau ilustrasi yang mustahil dapat terjadi. Ask and Guess Activity. Pengembangan kreativitas melalui rangsangan verbal terdiri dari beberapa jenis yaitu: a. kegiatan yang bertujuan untuk membeberkan pikiran dari sesuatu yang telah mapan. misalnya kenapa Tuhan memilih buah apel untuk menggoda Siti Hawa. Usulan Uses Activity. kegiatan ini dimaksudkan untuk mendapatkan berbagai macam rspon dari suatu pertanyaan yang tidak biasa. pengembangan ide secara figural ada tiga macam yakni: 49 . kegiatan yang dilakukan adalah apa yang bisa dibuat atau dikembangkan berdasarkan rangsangan visual dari mainan tersebut.memecahkan ide sebanyak mungkin. Usulan Quesstion Activity. Product Improvement Activity. d. e. Just Suppose Activity. kegiatan yang memberi kesempatan untuk mengembangkan ide-ide dari sesuatu yang telah ada. Berbeda dengan pengembangan ide secara verbal. c. Misalnya dalam melihat sebuah gambar. melengkapi dan memperjelas sesuatu. kemampua untuk mengkombinasikan. misalnya sebuah mainan anak-anak. kegiatan ini bertujuan mengembangkan rasa keingintahuan tentang kemungkinan-kemungkinan serta kemampuan untuk memformulasikan hipotesa. misalnya berpikir tentang apa yang dapat digunakan terhadap sebuah kaleng susu selain untuk tempat susu. b. dicari sesuatu yang tidak terdapat dalam gambar.

Biasanya ada sepuluh bentuk yang tak lengkap untuk disempurnakan dalam waktu yang terbatas. menciptakan ketegangan mental untuk keluar dari permasalahan dengan melengkapi gambar melalui cara yang sederhana dan semudah mungkin.a. hanya saja kegiatan ini dikembangkan dari satu jenis unsur sebagai rangsang pengembang ide. garis sejajar dalam jumlah tertentu dan juga dalam gerakan terbatas. Picture Construction Activity. Hal ini dapat dilakukan dengan menambah elaborasi sehingga diketemukan cara pemecahan masalahnya. c. kemudian bentuk tersebut dikembangkan menjadi bentuk yang lengkap dan menceritakan sesuatu secara visual. Dalam hal ini yang dikembangkan adalah kemampuan membuat variasi dari sebuah jenis rangsang visual. e. b. Perkembangan sosial Perkembangan sosial adalah perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengaqn tuntutan sosial atau menjadi orang yang mampu bermasyarakat. misalnya bentuk lingkaran. Untuk mendapatkan respon yang orisinal ketegangan emosi harus terkontrol. Repeated Figure Activity. Incomplete Figure Activity. Misalnya diberikan rangsangan visual berbentuk buah. kegiatan ini dimaksudkan mengembangkan kemampuan dalam menemukan sesuatu yang belum memiliki maksud yang jelas dalam suatu rangsang visual. 50 . kegiatan ini mirip dengan Incomplete Figure Activity. kegaitan ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan untuk membuat struktur dan kesatuan.

bunyi dan gerak. Mereka tidak begitu bergairah lagi bepergian bersama orang tuanya.Walaupun pada dasarnya setiap manusia adalah makhluk sosial. memainkan peran sosial yang dapat diterima. Penekanan pengolahan seni di SD terletak pada kegiatan bermain. Keberhasilan sosial tidak ditentukan semata-mata karena keunggulan intelektual. dan perkembangan sikap sosial. Bentuk pengolahan kesadaran perseptual. tetapi untuk menjadi pribadi yang sosial mereka harus belajar dalam waktu yang tidak singkat. Penekanan kegiatan seni lebih pada ekspresi diri. di samping kriteria alam. pikir. maka pendidikan seni di SD lebih menekankan pada pengembangan kemampuan dasar anak dalam mengolah kemampuan mental dan kesiapan belajar. karsa dan karya dilakukan dalam permainan melalui medium rupa. anak semakin senang berada bersama-sama dengan kelompok-kelompok kecil anak-anak umur sebaya. 51 . Mereka harus melalui paling tidak tiga proses sosialisasi seperti yang diungkapkan Hurlock (1991: 250) antara lain: belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial. rasa dan cipta. anak menetapkan kriteria baru. banyak orang yang berhasil dalam perkembangan intelektual tetapi tidak berhasil lam perkembangan sosialnya. mulai tertarik pada permainan kelompok. pengolahan imajinasi dan kreasi. Berdasarkan karakteristik tingkat perkembangan tersebut di atas dan sesuai dengan tujuan pendidikan sekolah dasar. untuk memilih teman bermain. Pada anak usia sekolah dasar.

tetapi mengandung berbagai alternatif rupa yang baru. seperti pemandangan alam. binatang.C. Seni lukis adalah salah satu lingkup seni murni berwujud dua dimensi. bidang. ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. warna. Pengertian dan Jenis Seni Lukis Seni lukis merupakan bagian dari bidang seni rupa murni yang berwujud dua dimensi. sehingga seni lukis merupakan karya yang terlepas dari unsur-unsur kegunaan praktis. Karya seni lukis bergaya naturalis (potret) dibuat persis seperti objek aslinya. cat akrilik. Elemen-elemen seni lukis 1) Garis Pada dasarnya garis merupakan elemen utama dalam seni lukis. Karya lukis bergaya ekspresionis (penuh perasaan) memiliki objek benda atau figur yang dibuat dengan garis dan warna yang bernuansa emosi pelukisnya. atau benda lainnya. dan tekstur. Objek dan gaya lukisan sangatlah beragam. Dalam pembuatan sebuah karya seni lukis. yaitu elemen seni lukis dan kaidah-kaidah komposisi. Lebih jelas lagi seni lukis merupakan suatu pengucapan pengalaman artistik seseorang yang dicurahkan ke dalam bidang dua dimensi dengan menggunakan garis. a. umumnya dibuat di atas kain kanvas berpigura dengan bahan cat minyak. atau bahan lainnya. Lukisan bergaya abstrak berasal dari khayalan kreatif senimannya. karena garis yang pertama menentukan bentuk suatu karya lukis secara keseluruhannya. 52 . Pembelajaran Seni Lukis di Sekolah Dasar 1. bahkan kurang dimengerti oleh orang awam. Karya seni lukis yang juga sering disebut dengan lukisan. bentuknya tidak nyata. tersamar. figur manusia.

(b) garis semu. Djelantik (1999: 19) mengemukakan bahwa garis sebagai bentuk mengandung arti lebih daripada titik karena dengan bentuknya sendiri garis menimbulkan kesan tertentu pada pengamat. warna. tebal-tipisnya. warna. Yang satu memberi kesan yang kaku. garis ini dihasilkan dan terjadi karena suatu goresan. massa. keras. Garis yang kencang memberikan perasaan yang berbeda dari garis yang berbelok atau melengkung. suasana. garis merupakan sebuah goresan. gelap terang. dan dari letaknya terhadap garis-garis yang lain. gerak. kumpulan dari beberapa titik dan sebuah bentuk yang mengandung arti yang melebihi daripada titik. dan yang lain memberikan kesan luwes dan lemah lembut. Kesan yang diciptakan juga tergantung dari ukuran. Sesuai dengan pendapat di atas. sedang warnanya berfungsi sebagai penunjang dan menambahkan kualitas tersendiri. 53 . Apabila dilihat dari bentuk garis. Wujud garis dapat dibedakan menjadi dua macam. ruang. dan susunan dari objek-objek. yaitu: (a) garis nyata. Selanjutnya Ruta (2005: 22) mengatakan bahwa garis dapat menyatakan bentuk. Garis adalah batas limit suatu benda. karena bentuknya yang menimbulkan perasaan tertentu kepada si pengamat.Garis merupakan hasil suatu goresan yang diakibatkan oleh sebuah titik bergerak lurus sehingga membentuk jejak. ruang. yaitu garis yang terjadi karena kesan yang dapat ditangkap oleh mata yang sesungguhnya merupakan batas limit suatu benda. tekstur. irama. dan kontur. sehingga meninggalkan bekas yang nyata. massa. dan susunan objek.

54 . dibatasi oleh beberapa garis lurus yang secara matematis tidak bertalian. Jenis bidang dapat dibagi menjadi empat bagian yaitu: (a) Bidang geometris. Demikian juga dengan garis. titik dapat berupa bidang. dibatasi oleh garis lengkung bebas yang mengesankan keceriaan dan pertumbuhan Gambar 2. baik garis nyata maupun garis semu.2) Bidang Bidang merupakan suatu area yang dibatasi oleh garis. namun bidang belum tentu berwujud garis. Bidang Geometris (b) Bidang organik. dibuat secara terukur Gambar 1. Dengan demikian. namun bidang belum tentu titik. Bidang Organik (c) Bidang bersudut. bahwa garis dapat berupa bidang.

Bidang Bersudut (d) Bidang tak beraturan. dibatasi oleh garis lurus dan lengkung yang secara matematis tidak bertalian. Komposisi Ruang Negartif dan Positif 55 . Gambar 5. Bidang Tak Beraturan 3) Ruang Ruang dapat diartikan sebagai keluasan yang dibatasi oleh limit baik keluasan positif maupun keluasan negatif. Keluasan positif yaitu ruang yang sering menggambarkan objek sedangkan keluasan negatif yaitu keluasan dalam bentuk dua dimensi ruang negatif ini sering menjadi background. Gambar 4.Gambar 3.

Ruang dengan Teknik Penumpangan (b) Pergantian warna.Beberapa teknik dalam pencapaian ruang dalam karya dua dimensi yaitu: (a) Penumpangan. Bentuk yang nampak berada di depan atau di atas bentuk lain. Gambar 8. Gambar 7. satu bentuk menumpang pada bentuk lain. yaitu semakin jauh suatu bentuk akan terlihat semakin kecil. 56 . Gambar 6. Ruang dengan Teknik Pergantian Bentuk dan Ukuran (d) Pergantian tekstur. Ruang dengan Teknik Pergantian Warna (c) Pergantian bentuk dan ukuran. tekstur yang kasar akan tampak lebih dekat dibandingkan dengan tekstur halus. sedangkan warna dingin berkesan menjauh. semakin jauh suatu benda warnanya semakin memudar atau warna panas akan berkesan mendekat.

Ruang dengan Teknik Gelap Terang 57 . Ruang dengan Teknik Pergantian Tekstur (e) Pelengkungan atau pelekukan. Ruang dengan Teknik Pelengkungan (f) Penambahan bayangan pada bentuk. Ruang dengan Teknik Bayangan (g) Manipulasi dengan teknik gelap terang atau dengan perbedaan/perubahan tekstur. hal in terjadi dengan menukarkan kedudukan bentuk untuk membangkitkan ruang maya. Gambar 10. Gambar 11. yaitu penambahan dapat dilakukan dibelakang atau di depan.Gambar 9. Gambar 12.

Sedangkan tekstur semu adalah nilai raba suatu permukaan benda hanya dapat dinilai secara visual. keras.4) Tekstur Tekstur merupakan nilai raba suatu permukaan benda. Terangnya seluruh warna adalah putih dan gelapnya seluruh warna adalah hitam. (c) Intensity. ada yang kasar. 5) Warna Warna yang sering kita lihat atau gunakan dalam kehidupan sehari-hari dapat dibedakan menjadi tiga dimensi. Jenis tekstur ada dua macam. Merubah value menjadi terang dapat dengan cara menambah warna putih secara bertingkat disebut tint. Nilai raba suatu permukaan benda tersebut dapat berbeda-beda. sebaliknya merubah value menjadi gelap dengan cara menambah warna hitam secara bertingkat disebut shade. yaitu kualitas dari suatu warna yang menunjukkan suatu hue. tetapi tidak dapat dinilai atau dirasakan oleh alat indera raba. lunak. misalnya tekstur batu. biru. kasap. berkaitan tentang cerah dan suramnya warna. dan licin. halus. Tekstur nyata yang dimaksud disini adalah nilai raba suatu permukaan benda secara fisik dapat dirasakan oleh indera raba. (b) Value. hijau. kuning. yaitu istilah yang digunakan untuk menunjukkan terang gelapnya warna. seperti merah. dan lain-lain. yaitu: tekstur nyata dan tekstur semu. Hue yang murni adalah 58 . yaitu istilah yang sering digunakan untuk menunjukkan nama dari suatu warna. Oleh karena itu putih dan hitam tidak termasuk dalam lingkaran warna. oranye. yaitu: (a) Hue.

Mengurangi intensutas suatu warna dapat dicapai dengan mencampur atau menambah hue yang murni dengan warna-warna netral seperti putih. dan violet. dan abu-abu atau mencampur dengan warna komplemennya atau dapat juga dengan warna-warna yang ada disebelahnya. oranye dengan merah. Semua warna memiliki temperatur. yaitu campuran warna-warna dari ketiga variabel dimensi warna yang berasal dari satu warna yang berlainan nilai dan intensitasnya. biru-violet. hitam. dan sebagainya. kuning-oranye. (c) Komplementer. Selain dimensi warna yang telah dijelaskan di atas. seperti hijau dengan kuning. yaitu hubungan warna yang saling bersebelahan pada lingkaran warna. oranye-merah. kuning dengan oranye. sehingga menimbulkan sensasi visual panas dan dingin. hijau. (b) Monocromatik. Sedangkan warna dingin terdiri atas: kuning-hijau. Klasifikasi temperatur warna tersebut dapat dilihat pada lingkaran warna: warna panas terdiri dari warna kuning. Untuk lebih jelasnya lingkaran warna dapat dilihat pada gambar berikut: 59 . yaitu sebagai berikut: (a) Analogus. dan ungu merah. oranye. hiaju-biru.cemerlang dan kuat. Hue dalam intensitasnya yang lebih rendah adalah lebih lembut. ada beberapa hubungan antar warna. yaitu susunan warna yang kontras atau bertentangan. biru. merah.

Gambar 13. bidang dengan tekstur. garis dengan tekstur. Kesatuan dapat dirinci menjadi kesatuan antar warna. walaupun mungkin wujud dan jumlahnya tidak sama atau bahkan 60 . yaitu sebagai berikut: 1. garis dengan bidang. Keseimbangan (Balance) Keseimbangan dalam karya seni rupa adalah keserasian bobot dari unsurunsur seni rupa itu sendiri. dan antar semua elemen. antar garis. Kaidah-kaidah Komposisi Ada beberapa kaidah komposisi yang perlu diperhatikan pembuatan sebuah karya lukis. artinya nilai dari sebuah karya seimbang. warna dengan tekstur. kesatuan antar garis dengan warna. antar bidang. 2. Lingkaran Warna b. Kesatuan (Unity) Nilai kesatuan dapat dicapai dengan mengkomposisikan elemen-elemen yang memiliki karakter yang sama. kesatuan antar tekstur.

Keseimbangan simetris merupakan keseimbangan antara dua sisi sama kuatnya. yaitu irama monotone dan irama dinamis. 3. irama dapat dibedakan menjadi dua. namun wujud dan jumlahnya tidak sama. Keseimbangan asimetris merupakan keseimbangan yang dicapai dengan menyerasikan bobot antar unsur yang bersebelahan. Perubahan tersebut dapat juga terjadi karena adanya pengulangan. Keseimbangan dalam karya seni rupa dapat dibedakan menjadi dua bagian. yaitu: keseimbangan simetris dan keseimbangan asimetris. Proporsi Proporsi merupakan hubungan-hubungan ukuran dari bagian-bagian dalam keseluruhan suatu bentuk atau objek. atau cepat-lambat. 4. bagian yang satu merupakan cerminan bagian yang lainnya. Dengan kata lain. Keseimbangan asimetris ini memberi kesan yang labil. Sedangkan irama yang dinamis dapat terjadi karena adanya pengulangan bentuk yang sangat variatif. sehingga dalam irama ini terjadi penekanan-penekanan. Menurut sifatnya. misalnya: proporsi manusia adalah 61 . Irama yang monotone terjadi karena adanya pengulangan wujud dan jumlah yang sama. dinamis.bertentangan. sehingga mempunyai kesan yang tidak membosankan. seperti keras-lunak. Irama (Rhythm) Irama merupakan perubahan-perubahan warna dan bentuk secara teratur yang membawa perasaan hanyut di dalam perubahan-perubahan yang terjadi. artinya antara sisi kanan dan sisi kiri dari sebuah karya seni rupa memiliki wujud dan jumlah yang sama kuatnya.

antara ukuran kepala dengan tinggi badan. Pusat Perhatian (Center of Interest) Dalam komposisi seni diperlukan adanya pusat perhatian yang dapat memberikan aksentuasi yang disebut dengan dominasi dalam sebuah karya seni rupa. cahaya atau gelap terang. Hubungan proporsi ini misalnya mengenai warna. merah-kuning. misalnya dalam warna terdapat keserasian yang bersifat karib (analog) dan keserasian kontras. Adapun tujuan keserasian adalah untuk menciptakan keselarasan dan keharmonisan dari unsur-unsur yang berbeda. oranye-kuning. atau panjang batang tubuh (torso). 5. kontras dan silang dalam lingkaran warna. Proporsi digunakan untuk menciptakan keteraturan yang dapat membentuk standar keindahan dan kesempurnaan. 6. lebar bahu. bentuk dan jumlah elemenelemen seni rupa lainnya. dan oranye. Dominasi dapat diciptakan melalui unsur utama yang didukung oleh dengan menampilkan unsur-unsur penunjang lainnya sehingga menghasilkan sesuatu yang kontras. Persoalan proporsi sangat berhubungan dengan ukuran atau dimensi anatar bagian yang satu dengan bagian yang lain dalam suatu karya seni. Sedangkan keserasian kontras yaitu pertentangan (komplementer) yang bersifat ganda. 62 . Keserasian Keserasian merupakan prinsip yang digunakan untuk menyatukan unsurunsur rupa walaupun berasal dari berbagai bentuk yang berbeda. Keserasian karib pada warna ditandai dengan mendampingkan warna merah.

warna dan tekstur bukan lagi sebagai elemen-elemen pisik tetapi mencerminkan ekspresi kejiwaan yang kuat bagi pembuat karya lukis tersebut. dan kreasi/rekreasi) yang mendukung pelaksanaan pembelajaran seni budaya (seni rupa. luar biasa atau langka. Kusnadi (1991: 18) menyebutkan: bahwa pengolahan elemen-elemen tersebut mencerminkan ekspresi kejiwaan yang kuat. yang menyebutkan bahwa pendidik mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan harus mempunyai kompetensi: menguasai materi. Kesan unik. konsep. apresiasi.Demikian elemen-elemen seni lukis dan kaidah-kaidah komposisi yang ada dalam karya seni lukis. Dengan demikian untuk menentukan hasil karya seni lukis yang baik dari peserta didiknya tentunya seorang pendidik dituntut memiliki kompetensi sebagai pendidik mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan pada Sekolah Dasar. sehingga diharapkan hasil penilaian yang dilakukan 63 . dalam membentuk imaji kreatif dari karya seni. dan pola pikir keilmuan (mencakup materi yang bersifat konsepsi. Berkenaan dengan pengolahan elemen-elemen dan kaidah komposisi sehingga merupakan tanda-tanda karya seni lukis yang bermutu. Hal ini sesuai dengan PP 19 tahun 2005 tentang Standar Penilaian Pendidikan. atau merupakan bahan-bahan kelahiran ekspresi kontrastik yang serba menyala. musik. jelas dan dinamis. namun dalam kenyataan apabila sudah menjadi suatu bentuk karya seni lukis: elemen garis. teater) dan keterampilan (PP 19 tahun 2005). merupakan tanda-tanda positif karya bermutu. Kadang-kadang lembut sampai immaterial. Konstruk yang tidak merusak harmoni dengan kemampuan membawakan kehidupan. struktur. tari.

Dengan kegiatan ini perlu diketahui apa yang dapat dikembangkan pada diri anak secara maksimal. social. hitam dan seterusnya. Seni Lukis sebagai Cerminan Isi Jiwa Mencermati lukisan anak dan cara mereka menggambarkan lingkungannya. Goresannya spontan dan bebas: miring kesana kemari. Penggunaan warna sesuai dengan suasana hatinya. Demikian juga pada multiple intelegences gardner yang membagi karakteristik kecerdasan menjadi sembilan jalur yaitu: verbal/linguistic. yang dapat diterapkan pada 64 . intelektual. Seni Lukis bagi Anak Usia Sekolah Dasar a. 2. visual/spasial. Dalam proses melukis. Kegiatan seni di samping penting bagi perkembangan kognitif juga memberikan rangsangan bagi pertumbuhan persepsi. Apa yang dituangkan dalam tema lukisannya adalah apa yang dilihatnya sesuai dengan lingkungan hidup yang nyata dan khayalnya. logical/mathematical. perceptual. 1982). interpersonal. sangat berani: merah kuning. emosional. anak tidak ada rasa takut. seprti fisik. social. dan estetik (Lowenfeld. Peran pendidikan seni yang multi dimensional pada dasarnya dapat mengembangkan kemampuan dasar manusia.pendidik memenuhi esensi yang dipersyaratkan pada penilaian karya seni anak. karena lukisan anak itu sendiri mencerminkan segi kejiwaan anak. kecerdasan spiritual. kreativitas. dam krativitas anak. sesuai dengan “kacamata” anak. Dengan lukisan anak dapat dibaca jiwa dan kehidupan anak-anak yang bersifat polos. naturalist. dapat memberikan suatu pandangan tingkah laku dan apresiasi pertumbuhan dan perkembangan bervariasi yang dialami anak. emosional. biru.

Semua ini merupakan indikator dari perkembangan intelektualnya. Intelektual. penanaman dan pertumbuhan indrawi merupakan bagian yang sangat penting dalam kegiatan seni. dan berimajinasi. Anak yang terlambat berkembang konsepsinya sesuai kemampuan usianya. perkembangan intelektual dapat dilihat pada gambar anak. bersikap. perlu diciptakan kondisi yang melatih anak mampu menyesuaikan dirinya. Dapat dilihat dari beberapa banyak pengetahuan tentang objek yang digambarkan dan hubungannya dengan lingkungannya. Dalam kegiatan melukis. Sejauh mana ia menyadari lingkungannya. dimungkinkan terlambat pula perkembangan intelektualnya. Kehidupan dan kemampuan untuk terus 65 . Apabila ia dekat dengan ibunya atau dengan temannya. dengan melukis anak mendapat kesempatan untuk menumbuhkan emosinya. akan senang menggambar apa yang telah dibuatnya sehingga terjadi pengulangan-pengulangan yang kurang melibatkan emosi.lukisan anak-anak. 2001). Persepsi. cirinya adalah anak dapat memvisualisasikan imajinasi ke dalam kenyataan yang dituangkan dalam bentuk tulisan (Jamaris. Hal ini dapat dilihat bagaimana anak menggambarkan sesuatu yang menurutnya penting dan melibatkan emosinya. sering ia tuangkan ke dalam gambarnya. Anak yang sulit menyesuaikan diri. Dalam membimbing anak. Seiring dengan kecerdasan visual/spasial yang merupakan salah satu karakteristik jalur kecerdasan. Perkembangan intelektual seiring dengan perkembangan usianya. akan terlihat keterlibatan segi kejiwaan anak sehingga mencerminkan kondisi kejiwaan anak. Setiap perubahan situasi membutuhkan fleksibilitas berpikir. Emosi.

Hal itu dapat dilihat dari sensitivitas anak dalam mengorganisasikan unsur-unsur rupa menjadi suatu susunan yang terpadu secara spontan dan intuitif. rasa estetik anak tumbuh secara alami. bentuk. bentuk. Kepekaan tersebut dapat tercermin dari bagaimana anak menggunakan. menikmati. pertumbuhan sosial anak dapat diketahui melalui gambar yang dibuatnya. warna. Mungkin orang tuanya. tekstur. ruang. Perkembangan persepsi dapat didentifikasi melalui gambar yang dibuat anak. Sosial. Tujuannya untuk mengasah kepekaan rasa terhadap warna. Anak memiliki pengalaman dengan dirinya dan orang lain. Hal ini menandakan usia dini telah memiliki kesadaran sosial. Dalam gambar atau 66 . pertumbuhan kreativitas segera terlihat begitu anak mulai dapat membuat goresan. Biasanya anak menggambarkan wujud yang paling dikenalnya yaitu bentuk orang. Estetik. adiknya. Kreatif. dan memberikan reaksi terhadap unsur visual tersebut. sebagai dasar kegiatan seni dapat diartikan sebagai cara mengorganisasikan pikiran dan perasaan yang dijadikan suatu ekpresi dan komunikasi dengan orang lain. dan ruang. Observasi secara visual adalah kegiatan utama dalam seni rupa. temannya. Dalam kegiatan seni. dan tekstur disebut seni rupa termasuk di dalamnya seni lukis.belajar tergantung dari kualitas indrawi manusia. Oleh sebab itu penting memberikan kesempatan pada anak untuk mengasah kepekaan persepsinya. Anak yang jarang mendapat pengalaman persepsi akan memperlihatkan kemampuan yang rendah dalam melakukan observasi dan kesadaran akan suatu perbedaan kualitas visual benda. Organisasi garis. dan menyusun sesuatu secara personal. atau situasi sosial lainnya. kakaknya.

lebih banyak yang akan mereka ceritakan maka lebih banyak pula bentuk yang akan dimunculkannya. jika dipaksa untuk membuat sesuatu yang tidak berhubungan dengan dirinya. Banyak sedikitnya unsur pada lukisan sangat tergantung pada keasyikan pemikiran dan fantasinya.lukisan anak. pertumbuhan kreatif dapat diidentifikasi melalui bagaimana karya itu dibuat secara imajinatif dan mandiri. Ciri Seni Lukis Anak Anak berbuat dan berkarya atas dasar daya nalar anak. anak akan mengalami kemandegan kebebasan kreatifnya. Mereka akan cenderung tergantung dan meniru pekerjaan orang lain. Mereka mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam ujud karya seni rupa atau lukisan tanpa terbatas pada apa yang terlihat dengan mata kepala saja. Dengan demikian anak menggambar mulai yang paling sederhana yaitu dengan garis-garis dan berkembang menjadi bentuk-bentuk yang representasional dan detail sesuai dengan perkembangan usia sesuai dengan pengetahuannya sendiri bukan menurut penampakan visual. pikirkan atau khayalkan. Untuk menjadi kreatif. tetapi memiliki suatu kebebasan dalam ekplorasi dan ekperimen bahan. b. Perkembangan menggambar anak menurut Ricci (1960: 302-307): The child starts drawing with an “interlacing network of lines” and then moves on to simple representational foms which become more detailed with age. He recognized in these simple forms that the child draws a description of the subject according to his knowledge of that subject and not according to its visual appearance. Dalam berkarya. melainkan lebih pada apa yang mereka mengerti. serta menentukan tema. Dengan penalaran anak wajar 67 . anak tidak harus terampil.

68 . Ungkapan pribadinya muncul melalui bentuk-bentuk dengan makna simbolik tertentu. Pada masa itu anak telah mampu meniru benda-benda di alam dan menghasilkan gambar yang mencerminkan analisis terhadap benda-benda yang dilihatnya. Cooke menyatakan bahwa pada tahap ketiga gambar anak telah menunjukkan adanya hubungan yang alami antarbagian tersebut. dan lebih dekat pada sifat bermain. Gambar anak bukan merupakan tiruan objek-objek di alam. tetapi menurut Cooke. tetapi ia menetapkannya antara umur empat sampai sembilan tahun. Ia menemukan empat tahap perkembangan simbolik pada anak-anak. Hasil gambarnya baru merupakan coreng-moreng yang menunjukkan akibat gerakan otot. Mata. Perkembangan Gambar Anak Perhatian terhadap perkembangan gambar anak-anak merupakan hal yang baru. anak belum memperhatikan ketepatan penggambarannya. Pada periode selanjutnya gambar anak menunjukkan bukti adanya unsur imajinasi dan kesadaran yang lebih tinggi terhadap gerakan linier. Cooke tidak memberikan gambaran yang menyeluruh tentang tahap keempat pada gambar anak-anak. melainkan didasarkan pada ingatan atau imajinasi. Gambar anak di sini meniru objek (representasional). kaki. intuitif. bulu. c. dan ekor digambarkan tanpa pemahaman tentang jumlah dan hubungan antara bagian-bagian objek itu. Perkembangan pertama berkisar antara umur dua sampai lima tahun. ketika anak sangat aktif mempelajari bendabenda di sekelilingnya.dan spontan maka hasilnya tampak sungguh naif. Pada tahun 1885-1886 Ebenezer Cooke melakukan penelitian tentang perkembangan gambar anak-anak yang pertama kalinya.

Luquet (1913). salah satu di antaranya tahap 69 . Lukens (1896). tetapi tidak terdapat kesesuaian mengenai jumlah tahap perkembangan dan penyebab-penyebabnya. Sir Cyril Burt menyimpulkan adanya tujuh tahap perkembangan. Lark-Horovitz (1959). hasil-hasil penelitian terhadap gambar anak-anak menunjukkan adanya kesesuaian umum mengenai urutan dan wujud simbol visual perkembangan gambar anak. Brown (1897). Kebanyakan perhatian itu berasal dari tumbuhnya minat terhadap psikologi dan penelitian yang sistematik terhadap anak. Kellogg (1955). Namun.Ebenezer Cooke adalah guru Bahasa Inggris dan observasinya tidak begitu akurat. ia selayaknya mendapat penghargaan sebagai orang yang pertama kali menulis tentang gambar anak-anak. Lowenfeld (1947). Eng (1931). Baldwin (1894). Perez (1888). Shinn (1897). Sebagai contoh. Herrick (1893). Pada tahun-tahun berikutnya. Maitland (1895). Burt (1921). Wuiff (1927). Barnes (1893). Menurut Lansing (1976: 138139). namun daftar ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap karya gambar anak-anak telah muncul sejak tahun 1885. Stern (1910). O’Shea (1894). Sully (1896). dan Eisner (1967). 1) Gambar Anak pada Tahap Figuratif (3-12 Tahun) Pada dasarnya gambar anak mengalami tahap-tahap perkembangan tertentu sesuai dengan perkembangan umurnya. Levenstein (1905). ditemukan tambahan informasi dari hasil observasi dan penelitian oleh Ricci (1887). Götze (1898). Kerschenstein (1905). Rouma (1913). Krötzsch (1917). Daftar ini bukan merupakan daftar lengkap para ahli yang telah memberikan sumbangan pengetahuan tentang urutan tahap-tahap dalam simbolisasi visual. Clark (1902). Griffiths (1935).

Peneliti tertentu menganggap suatu susunan pada gambar anak sebagai karakteristik tahap perkembangan tertentu. Pada tahap keputusan artistik anak membuat simbol-simbol visual sebagai cara untuk memahami konsep-konsep nyata maupun abstrak dan. dan (3) tahap keputusan artistic (umur dua belas tahuh ke atas). yang lebih penting. dan kontinyu. (2) subtahap figuratif 70 . sebagai cara untuk mengubah atau mempengaruhi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan budaya. Ketidaksesuaian mengenai jumlah tahapan tersebut pada dasarnya terjadi karena perkembangan gambar anak bersifat gradual. sesuai pendapat para ahli (Lansing. karena tahap represi sulit diprediksi. halus. tetapi peneliti yang lain hanya menganggapnya sebagai fase transisi. Pada tahap figuratif anak membuat simbol-simbol visual sebagai cara untuk memahami benda-benda dan kejadian-kejadian dalam kehidupan nyata dan menggunakannya untuk memberikan informasi kepada orang lain.represi. dan akhirnya mengaturnya sehingga mengesankan “sesuatu hal”. perkembangan gambar anak pada dasarnya dapat disederhanakan menjadi tiga tahap pokok: (1) tahap coreng-moreng (umur dua sampai empat tahun). Lansing (1976: 147-178) membagi tahap figuratif menjadi tiga subtahap: (1) subtahap figuratif awal (umur tiga sampai empat tahun). Pada tahap coreng-moreng anak membuat simbolsimbol visual karena rangsangan gerakan otot. Selanjutnya. (2) tahap figurative (umur empat sampai dua belas tahun). sedangkan menurut Viktor Lowenfeld. hanya terdapat enam tahap perkembangan. 1976: 138-139). kemudian mengontrol gerakangerakan otot itu.

tetapi ia mampu atau tidak mengetahui cara menggambarkannya. yaitu anak di kelompok bermain. Gambar Manusia oleh Anak Umur Empat Tahun (Sumber: Lansing. kelas satu sekolah dasar. Secara keseluruhan unsurunsur tersebut menggambarkan manusia secara umum. Art. dan (3) subtahap figuratif akhir (umur tujuh sampai dua belas tahun) yang dapat diuraikan sebagai berikut. dan kadang-kadang juga di kelas dua sekolah dasar. Lingkaran menggambarkan kepala atau badan dan garis-garis lengkung menggambarkan kaki dan rambut. Subtahap figuratif awal ini berkembang dari tahap coreng-moreng secara hampir tidak tampak. Dalam tahap perkembangan simbolik ini gambar anak menunjukkan hubungan dengan kenyataan visual. Gambar 14. 1976. Oleh karena itu.tengah (umur empat sampai tujuh tahun). Pada umumnya anak pertama kali menggambarkan figur manusia. Artist. gambar anak menyerupai benda-benda di lingkungan nyata. taman kanak-kanak. gambar anak merupakan petunjuk kematangan intelektual yang bagus sampai umur sepuluh tahun. Pada gambar 14 tampak usaha pertama anak untuk menggambarkan manusia. karena figur manusia itu digambarkan berdasarkan kombinasi dari coreng-moreng. (a) Subtahap Figuratif Awal Subtahap figuratif awal terjadi pada anak umur tiga sampai enam tahun. Dengan kata lain. and Art Education) 71 . Anak mungkin mengetahui bagian-bagian tubuh manusia yang lain.

pada masa perkembangan ini juga anak memasukkan unsur benda-benda yang lain untuk memenuhi bidang gambar. dan rumah penyihir. Sebagai contoh. meskipun mungkin memiliki kaitan antara objek yang satu dengan yang lain. dalam menggambar suatu objek anak mulai menggunakan cara tertentu. Bilamana perlu. ia menggeser-geser atau mengubah-ubah posisi kertas untuk menjangkau bagian-bagian bidang gambar yang belum terisi. Dalam hal ini. Dengan demikian. benang. susunan objek-objek itu tidak memberikan hubungan makna. Perubahan atau perkembangan gambar anak pada tahap ini berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan tahap-tahap perkembangan sebelum maupun sesudahnya. Selain objek manusia. sedangkan objek-objek lainnya digambarkan terbalik. Kecepatan perubahan gambar anak ini mengalami penurunan setelah anak mencapai umur lebih dari tujuh tahun. 72 . tetapi pada kesempatan lain menggunakan cara yang lain. kemudian melupakannya dan berganti memusatkan perhatiannya pada objek yang lain sampai selesai dan demikian seterusnya. Konsep anak tentang benda-benda di lingkungannya berubah atau berkembang dan berangsur-angsur menjadi rinci. Hal ini menjadikan objek-objek tertentu digambarkan tegak. Pada gambar 15 figur-figur manusia digambarkan menggantung di langit bersama-sama dengan piring.Pada subtahap figuratif awal kemampuan motorik anak terus berkembang dan aktivitas perseptualnya meningkat. demikian juga hasil gambarnya. mula-mula anak memusatkan perhatiannya pada suatu objek sampai selesai.

gambar anak pada subtahap ini tidak begitu naturalistik. Kemiripan gambar anak dengan kenyataan baru menandakan objek-objek secara umum.Gambar 15. sedangkan anjingnya digambarkan dengan warna hijau. warna. Pada masa perkembangan ini. misanya wanita digambarkan dengan warna ungu. 1976. gambar kepala orang lebih besar dari pada pohon atau gambar anak lebih besar dari rumah. Kaki dan tangan manusia hanya digambarkan dengan garis lurus. Art. Dengan kata lain. Penggunaan unsur garis. anak baru sedikit atau belum memiliki kesadaran untuk berpikir tentang keindahan. dan tekstur sedikit atau tidak memiliki hubungan dengan kenyataan. Artist. Objek-objek digambarkan dan disusun dengan cara tertentu sesuai dengan perasaan atau intuisi anak. 73 . Gambar Anak Pada Awal Munculnya Tahap Figuratif dengan Objek-objek yang Menggantung di Langit (Sumber: Lansing. and Art Education) Ciri lain gambar anak pada subtahap figuratif awal adalah penggambaran objek-objek dengan ukuran yang berlebihan. Pada umumnya anak begitu senang menggambar dan bertahan pada masa perkembangan ini hingga waktu yang lama. Sebagai contoh.

Penempatan satu objek berkaitan dengan objek lain sekarang tampak jelas disengaja dan bermakna. Garis dasar ini dapat berupa garis yang dibuat oleh anak atau garis tepi kertas. Hal ini berarti bahwa objek yang berada di bagian atas mengarah ke langit. 74 . Dengan demikian. perlu diketahui guru bahwa gambar seperti ini mungkin muncul di berbagai jenjang sekolah dari playgroup sampai sekolah menengah pertama. sedangkan objek yang berada di bagian bawah bidang gambar mengarah ke tanah. Susunan ini dapat dilihat pada gambar 16. Namun demikian. Gambar seperti ini merupakan satu-satunya tahap simbolisasi yang dapat dijumpai pada berbagai jenjang umur.(b) Subtahap Figuratif Tengah Gambar anak pada subtahap ini terutama dapat dijumpai di taman kanak- kanak dan di kelas satu. jelas bahwa gambar anak sekarang telah memiliki orientasi bawah dan atas. Benda-benda yang terletak di tanah dalam kenyataan sekarang dibuat berdiri pada garis yang menggambarkan tanah. tiga. Dalam masa perkembangan ini simbol visual anak bertambah rumit dan terus cenderung mengarah pada ketelitian. dan empat sekolah dasar. Perubahan yang paling penting dari subtahap sebelumnya dapat dilihat pada susunan simbol-simbol dalam gambar anak. Garis ini disebut garis dasar (base line) dan merupakan ciri pokok tahap figuratif tengah.

Artist. Karena gambar tanah dan kotak itu tampak menggantung. Yang Menunjukkan Masa Peralihan dari Subtahap Figuratif Awal ke Subtahap Figuratif Tengah (Sumber: Lansing. Art. dan beberapa kotak berada di tengah bidang gambar. Di atas anak terdapat corengan yang menggambarkan langit. garis dasar terletak agak ke tengah bidang gambar dan anak serta bunga-bunga berdiri di atasnya. Artist. Tampak di sini simbol figur yang 75 . Gambar 17. maka lebih tepat dikatakan bahwa gambar ini menunjukkan peralihan dari subtahap ini dan subtahap sebelumnya. and Art Education) Gambar anak pada subtahap figuratif tengah dapat dilihat dengan jelas pada gambar 17. 1976. Gambar Anak Pada Subtahap Figuratif Tengah (Sumber: Lansing. Art. Hasil Gambar Anak Umur Lima Tahun. Simbol anak kecil itu tampak berdiri kokoh di atas tanah (garis dasar) yang tidak lagi menggantung di udara. and Art Education) Pada gambar 16.Gambar 16. 1976.

lebih kompleks dibandingkan dengan simbol figur pada gambar-gambar sebelumnya. karena anak tidak mungkin melihatnya dari dekat. Harimau dalam Kandang (Sumber: Lansing. pada Gambar 18 kepala harimau digambarkan mirip wajah manusia. Asap muncul di atas mesin dan matahari (objek yang banyak terdapat di dalam gambar anak) bersinar dengan terang. Artist. Kecenderungan kompleksitas ini dapat dilihat pada simbol-simbol yang paling sering ditemukan anak di lingkungannya. Sebagai contoh. Objek yang tidak sering ditemukan anak disimbolkan secara sederhana. and Art Education) Gambar 19 menunjukkan gambar kereta dengan gerbong awak kereta (caboose) dan mesin di sebelah kiri serta orang di sebelah kanan. Art. 1976. Pada masa perkembangan ini binatang semacam itu digambarkan anak dengan kepala seperti wajah manusia. Anak tidak memiliki imajinasi yang kompleks tentang kepala binatang itu. 76 . Gambar 18.

Art. dalam periode perkembangan ini masih begitu naturalistik. Perbandingan ini merupakan contoh perkembangan yang terjadi dalam suatu 77 . Di sini anak masih menggunakan garis dasar. 1976. karena anak telah menciptakan ilusi kedalaman dengan bentukbentuk yang tumpang tindih. Art. Gambar Anak Umur Lima Tahun Menunjukkan Objek-objek Yang Ada di dalam Maupun di luar Rumah (Sumber: Lansing. and Art Education) Meskipun gambar (simbol grafis) anak semakin kompleks atau rinci (detail). Gambar 20 menunjukkan gambar anak yang hampir mencapai tahap selanjutnya (subtahap figuratif akhir). Artist. 1976. Artist. Gambar Kereta oleh Anak Umur Lima Tahun (Sumber: Lansing.Gambar 19. and Art Education) Gambar 20.

Gambar 22 menunjukkan bus penuh dengan para penumpangnya. tetapi dapat ditemukan juga pada semua tahap perkembangan.subtahap. tetapi pada akhir subtahap figuratif tengah gambar anak belum begitu mirip dengan kenyataan. sedangkan gambar anak pada gambar 21 merupakan karya anak umur sepuluh tahun. 1976. Jelas bahwa dengan kematangan perkembangan anak. kecuali tahap coreng-moreng. gambar figur yang dibuat anak semakin realistik. Art. sedangkan gambar 22 dibuat oleh anak umur sepuluh tahun. seperti ditunjukkan pada Gambar 22 dan 23. and Art Education) Ciri yang lain gambar anak pada tahap perkembangan ini adalah gambar sinar-x (x-ray drawing). Gambar itu masih datar dan kaku. Gambar 20 merupakan karya anak umur lima tahun. sedangkan gambar 23 ibu dan dua anak di dalam badannya. Gambar 21. Gambar Anak Umur Sepuluh Tahun (Sumber: Lansing. Artist. Gambar ini merupakan penggabungan penampakan dari dalam dan sekaligus dari luar suatu objek. Cara penggambaran ini biasanya ditemukan pada subtahap figuratif tengah. 78 . Gambar 23 dibuat oleh anak umur lima tahun.

Ciri gambar semacam ini juga tampak pada Gambar 24. seperti tampak pada gambar 22. Art. pada subtahap perkembangan ini juga ditemukan adanya kombinasi gambar tampak atas (plan) dan tampak sisi (elevation) dalam satu gambar. Artist. Dalam gambar ini tampak gambar sebuah mobil terletak pada satu garis dasar. and Art Education) Selain penggambaran secara sinar-x. sedangkan rumah terletak pada garis dasar yang lain. Artist. Sementara itu. Gambar rebahan 79 . Lowenfeld menyebut cara menggambar ini gambar rebahan (folding over) yang juga merupakan ciri pokok subtahap figuratif tengah. 1976. digunakan dua garis dasar. untuk menggambarkan ruang. Jadi. jalan dan kendaraan-kendaraan lainnya digambarkan secara tampak atas. Gambar X-ray oleh Anak Umur Lima Tahun yang Menunjukkan Ibu Dengan Dua Anak di Dalamnya (Sumber: Lansing. Art. Gambar Bus Penuh Dengan Penumpang (Sumber: Lansing.Gambar 22. and Art Education) Gambar 23. 1976.

Gambar subtahap ini tidak terdapat lagi pada anak di atas kelas tujuh. Namun. mengesankan ruang. 1976. Art. and Art Education) (c) Subtahap Figuratif Akhir Gambar pada subtahap figuratif akhir mungkin dimulai pada anak kelas tiga.misalnya digunakan anak untuk menggambarkan sisi jalan. meja. Selain itu. enam. Perbedaan yang paling penting antara subtahap figuratif tengah dan subtahap figuratif akhir adalah munculnya penggunaan perspektif sebagai pengganti garis dasar. karyanya akan terus berkembang. Gambar 24. tetapi kebanyakan ditemukan pada anak kelas lima. dan tujuh. Artist. sehingga lebih dekat dengan kenyataan. Gambar Anak yang Menunjukkan Penggabungan Antara Tampak Depan dan Tampak Atas (Sumber: Lansing. Anak juga membuat objek di tempat yang dekat dengan ukuran yang lebih besar dari pada objek di tempat yang jauh. dan lapangan sepak bola. pada umumnya gambar anak berhenti pada subtahap figuratif akhir. Setelah umur sebelas atau dua belas tahun anak biasanya tidak aktif menggambar lagi dan jika anak terus aktif menggambar. 80 . Objek tidak lagi terletak pada garis dasar tetapi terletak di atas bidang yang tampak membentang ke belakang.

1976. Gambar 25. Seperti tampak pada jalan yang menuju ke tempat yang jauh. Art. Gambar Bus Yang Penuh Sesak oleh Penumpang Yang Digambarkan Dengan Perspektif Linier (Sumber: Lansing. Kadang-kadang anak pada subtahap ini telah menggunakan perspektif linier. Gambar yang Menunjukkan Penggunakan Perspektif Linier oleh Anak Kelas Lima (Sumber: Lansing. Art. Pada gambar 25 anak menggambarkan setiap kendaraan dengan menggunakan perspektif linier.anak tidak lagi menggambarkan objek-objek secara tembus pandang (gambar sinar-x). Artist. kedua garis tepinya seolah-olah terus saling mendekat. 1976. Artist. Pada gambar 26 tampak juga bahwa anak menggunakan perspektif linier untuk menggambarkan tempat duduk. Perspektif linier adalah cara menggambarkan garis-garis sejajar secara khusus untuk mengesankan kedalaman. and Art Education) 81 . and Art Education) Gambar 26. Penggunaan perspektif linier ini ditunjukaan pada gambar 25 dan gambar 26.

siku-siku. Pada Gambar 27 dua anak perempuan digambarkan sebagai pemain drumband. Anak perempuan misalnya mengidentifikasikan dirinya dengan perawat. Gambar 28 menunjukkan gambar pemain tenis laki-laki dan perempuan yang dapat dibedakan dengan ciri-ciri yang jelas pada pakaiannya. dan guru. Anak laki-laki misalnya mengidentifikasikan dirinya sebagai pemain sepak bola. rambut. Pada umumnya anak belum merasa puas jika belum dapat menggambarkan dirinya sesuai dengan peran-peran itu secara cukup realistik. dan jari-jari. badan. kuping. Rambut yang panjang. gambar anak pada subtahap figuratif akhir menunjukkan tingkat realisme yang lebih tinggi pada setiap objek. Pada tahap sebelumnya mungkin anak sudah menggambarkan orang perempuan dengan rok dan orang laki-laki dengan celana panjang. pundak yang lebar. Bagi anak-anak tertentu penggambaran secara realistik ini akan 82 . dada. Anak pada subtahap ini juga mengidentikasikan dirinya dengan peran dalam bidang pekerjaan sesuai dengan jenis kelaminnya. kontur tubuh. polisi. anak telah menggambar seluruh unsur tubuh: kepala. pada tahap perkembangan ini anak menggambarkan orang perempuan dengan rambut panjang yang berombak. lengan.Selain perspektif linier. Untuk figur manusia. dan lutut menunjukkan anak ciri-ciri perempuan. dan pilot. dan otot-otot yang menonjol. sedangkan orang laki-laki dengan rambut pendek. hidung. mata. Pada subtahap figuratif akhir ini dalam menggambar orang anak telah membedakan ciri-ciri orang menurut jenis kelaminnya dengan lebih jelas. ibu. leher. bibir. dan bibir yang mencolok. Bahkan kebanyakan bagian-bagian itu digambarkan dengan rinci. Namun. tentara. telapak tangan. bintang film. kaki.

Gambar 27. 1976. Art. 1976. sebagian anak lainnya akan berganti dengan penggunaan simbol-simbol abstrak. Gambar Yang Menunjukkan Perbedaan Anak Laki-laki dan Perempuan Dengan Ciri-Ciri Pakaian yang Rinci (Sumber: Lansing. Art. Artist. and Art Education) Gambar 28. Gambar Anak Perempuan Yang Mengidentifikasi Dirinya dengan Pemain Drumband (Sumber: Lansing. dan sebagian lagi akan berhenti membuat simbol-simbol visual. Artist. and Art Education) 83 .terus berkembang.

anak bersemangat dalam membuat coretan. Art Activities for Children) (b) Corengan terkendali: anak mulai menemukan kendali visual terhadap coretan yang dibuatnya denagn kata lain sudah ada koordinasi antara perkembangan visual dan perkembangn motorik. belum dapat coretan berupa lingkaran. 1981: 2. Periode ini terbagi dalam 3 tahap. Pada masa ini merupakan pengalaman dari aktivitas motorik anak. wujud gambarnya berupa goresan tebal tipis dengan arah yang belum terkendali. Pada tahap ini unsur warna belum penting.Sedangkan menurut Lowenfeld & Britain dalam buku Creative Mental Growth (1982) membuat periodisasi lukisan anak sebagai berikut: 1) Periode Coreng Moreng (Scribbling Period) Periode ini berlaku bagi anak berusia 2 sampai 4 tahun (masa pra sekolah). mencoreng tanpa melihat kertas. yaitu: (a) Corengan tak beraturan: bentuk sembarangan. Corengan Tak Beraturan (Sumber: Hardiman. adalah ciri tahapan mencoreng paling awal. Di bawah ini adalah contoh gambar anak pada tahap corengan tidak beraturan: Gambar 29. Goresan dibuat dengan 84 .

Art Activities for Children) (c) Corengan bernama: merupakan tahap terakhir masa mencoreng. baik horixontal. Terdapat pengulangan pencoretan garis. 1981: 2. Corengan Terkendali (Sumber: Hardiman. lengkung . vertical. 1981: 2. Cirinya: bentuk semakin bervariasi.penuh semangat. Gambar 30. Warna mulai menyita perhatian anak. 85 . anak mulai memberi nama pada hasil coretannya. bahkan lingkaran. Corengan Bernama (Sumber: Hardiman. menggunakan waktu yang semakin banyak. Art Activities for Children) Gambar di bawah ini merupakan salah satu karya anak periode coreng moreng pada usia 3 tahun. Gambar 31.

1978: 39. alat peraga. Coreng Moreng Anak Usia 3 Tahun (Sumber: Rubin. rasa. Pada periode ini anak mendapat kesempatan mencipta. Pada usia 5 tahun. bereksperimen. dan sebagainya. Dengan demikian anak mulai menggambar bentukbentuk yang ada hubunganya dengan dunia sekitar dan membangun ikatan emosional dengan apa yang digambar. dan berbagai hal baru kaitannya dengan perkembangan jiwa. pelajaran. Gambar di bawah ini merupakan contoh periode pra bagan karya anak usia 7 tahun (Horovitz. dkk. menjelajah. maupun emosi mereka. rumah. 86 . 1973: 83). pendidik. gambar manusia. mulai menggambar manusia walau masih sangat sederhana.Gambar 32. teman sekolah. Child Art Therapy) 2) Periode Pra Bagan (Pre Schematic Periode) Berlaku bagi anak berusia 4 sampai 7 tahun (taman kanak-kanak). Berbagai pengalaman berarti mereka temukan dengan adanya interaksi dengan dunia baru. Usia 6 tahun. pohon. gambar bersifat bagan makin dapat dikenali. ataupun disiplin.

dkk. 1982: 430. Pra Bagan Anak Usia 4-7 Tahun (Sumber: Lowenfeld. Creative and Mental Growth) 3) Periode Bagan (Schematic Period) Berlaku pada anak usia 7 sampai 9 tahun. Muncul gejala yang disebut “sinar X” (Xray). Anak mulai menggambar obyek dalam suatu hubungan yang logis dengan obyek lain. 1973: 83. Understanding Children’s Art for Better Teaching) Gambar 34. Konsep ruang mulai nampak dengan adanya pengaturan atau hubungan antara obyek dengan ruang. Pra Bagan Anak Usia 7 Tahun (Sumber: Horovitz. 87 .Gambar 33. yaitu: gambar yang menyertakan pula benda atau obyek di dalam ruang yang sebenarnya tidak kelihatan.

Bagan Anak Usia 10 Tahun (Sumber: Horovitz. dkk. 1973: 182 (Part 3). tetapi spontanitas menjadi hilang. 1982: 431. Gambar 36. anak mulai mengekspresikan karakter sex. gambar jadi kelihatan kaku. Understanding Children’s Art for Better Teaching) 88 .Gambar 35. Kesadaran visual anak mulai berkembang. Bagan Anak Usia 7-9 Tahun (Sumber: Lowenfeld. lalaki dan wanita secara jelas. mulai memeperhatikan detail. Karakteristik warna mulai mendapat perhatian anak. Creative and Mental Growth) 4) Periode Awal Realisme (Early Realism) Berlaku bagi anak berusia 9 sampai 12 tahun. tetapi belum dapat menampilkan perubahan efek warna dan baying-bayang.

Anak tidak lagi menggambar apa yang diketahuinya tetapi apa yang dilihatnya.5) Periode Naturalistik Semu (Pseudo Naturalistic) Berlaku pada anak usia 12 sampai 14 tahun (masa pra puber) Merupakan akhir dari aktivitas spontan. Gambar 37. 89 . Bagan Anak Usia 13 Tahun (Sumber: Horovitz. dkk. anak menjadi kritis terhadap karyanya sendiri. introspektif. Seni rupa menjadi produk dari suatu usaha yang serius. Understanding Children’s Art for Better Teaching) 6) Periode pengambilan keputusan Berlaku pada anak remaja usia 14 sampai 17 tahun Anak bersikap kritis terhadap diri sendiri. idealistic dan mulai memikirkan hubungan dirinya dengan masyarakat. 1973: 182 (Part 3).

serta tinjauan secara psikoanalisis yang dikemukakan oleh Edmund Burke Feldman (1970). 1973: 182 (Part 3). Bagan Anak Usia 14 Tahun (Sumber: Horovitz. dkk. Pengertian tipe visual adalah bahwa titik tolak penghayatan anak lebih banyak berdasar pengamatan atau konsepsi visual atas 90 .Gambar 38. Menurut Victor Lowenfeld ada dua tipe lukisan anak-anak. Understanding Children’s Art for Better Teaching) d. Beberapa penelitian tentang adanya bermacam tipe lukisan anak-anak ditinjau dari segi-segi tertentu dapat disebutkan antara lain: klasifikasi empirik atas perbedaan pure-style lukisan anak-anak oleh Herbert Read (1945). yaitu: “the visual type” dan “the haptic type”. Tipe karya lukis anak dapat diidentifikasi berkat adanya berbagai studi yang dilakukan oleh para ilmuwan khususnya dalam bidang pendidikan dan psikologi. Tipologi Seni Lukis Anak Tipologi dalam seni lukis anak diartikan sebagai pembahasan tentang tipe atau gaya atau corak yang dapat diamati pada hasil karya lukis anak. tipologi oleh Victor Lowenfeld (1952).

ciri-ciri lukisannya lebih menonjol sebagai ungkapan perasaan subjektif yang mengarah kepada corak non realistik. menggunakan warna sebagai terjemahan objek secara material. 2) Lyrical: pernyataan bentuk objeknya sama atau serupa dengan yang organic. tetapi lebih menyukai objek-objek yang statis. Dalam hal ini faktor internal lebih nampak berperan. Pada tipe haptic atau non visual titik tolak penghayatan anak lebih banyak berdasar “ideal concept”nya. tidak mengupayakan ilusi keruangan secara optis. bergerak dari pada objek yang terpisah dan diam. memperlihatkan plastisitas gerak objek dan proporsi visual. sedang penggunaan warna tidak sebagai terjemahan bahan objek melainkan lebih nyata sebagai simbol yang sesuai dengan perasaan subjektifnya. Secara lebih terperinci Herbert Read mendasarkan klasifikasi empiriknya atas perbedaan “pure style” lukisan anak-anak menjadi dua belas kategori lukisan sebagai hasil penelitian dari beribu-ribu gambar anak-anak dari berbagai tipe sekolah. diam seperti halnya objek alam 91 . dan ternyata ciri-ciri lukisannya mengarah pada realisme naturalistik.bentuk alam sekitar atau objek lukisannya. kemudian diklasifikasikan. menunjukkan gerak dan proposi figur ekspresif. Dalam hal ini faktor eksternal relatif lebih berperan. tidak perspektivis. sebagai hubungan kesatuannya yang organis. Ke dua belas kategori tersebut sebagai berikut: 1) Organic: pelukisannya berdasarkan pengamatan visual dan menunjukkan hubungan yang akrab dengan objek-objek eksternal. Lebih menyukai objek yang mengelompok.

7) Haptic: menunjukkan pelukisan yang tidak berdasar pada konsep pengamatan visual terhadap objek. lembut. tetapi merupakan representasi dunia internal anak sendiri. 3) Impresionist: lebih banyak sekedar melukiskan hasil penangkapan kesan sesaat terhadap situasi atau suasana objek secara cepat. Aktivitas citra nonvisual dari 92 . lebih menonjol sebagai disain yang simbolik daripada penggambaran bagan secara realistik.benda (still-life) dengan pengerjaan yang halus. 5) Structural form: Kecenderungan anak untuk mendeformasi objek menjadi bentu-bentuk geometrik yang merupakan esensi bentuk-bentuk eksternal. kurang menunjukkan perhatian terhadap bagian-bagian kecil (detail) yang terdapat pada objek. merekam setiap detailnya sebanyak mungkin yang dapat dilihat dan diingat dan menggambarkannya dalam struktur yang kurang organis. 4) Rythmical pattern: berdasarkan hasil pengamatan terhadap bentuk-bentuk objek tersebut dibuat pola-pola bentuk objek tertentu yang diulang-ulang secara ritmis dengan berbagai variasi sehingga memenuhi bidang lukisan. 6) Schematic: menggunakan bentuk-bentuk geometrik tetapi melepaskan diri dari ikatan struktur objek alam. Lebih menunjukkan karakteristik sebagai lukisan anak perempuan. 8) Expressionist: terdapat kecenderungan yang menonjol untuk mendistorsi bentuk dan warna objek untuk mengungkapkan sensasi internal/subjektif anak secara spontan. Bentuk-bentuk bagan seperti pada periode awal anak melukis tetap digunakan. 9) Enumerative: anak dengan penglihatannya secara cermat mengontrol objeknya.

10) Decorative: anak memanfaatkan sifat-sifat dua dimensional. meskipun dalam kadar dan kecenderungan yang berbeda-beda. 12) Literary: Anak menggunakan tema-tema dari cerita atau dongeng yang didapat sendiri dari bacaan atau dongeng dari guru. pewarnaan yang bersifat datar. 11) Romantic: Anak mengambil tema-tema kehidupan tetapi diintensifkan dengan fantasinya sendiri. haptic. lirycal dan impressionist yang sama-sama menggunakan wujud atau bentuk alam sesuai dengan pegamatan visualnya. tidak menampilkan ilusi keruangan/kedalaman guna menciptakan pola-pola manarik. dipadukan dengan rekonstruksi ingatan dan kenangannya terhadap sesuatu yang berhubngan dengan tema tersebut. meriah. bentuk. structural form.mata lebih banyak sebagai alat perekam tanpa benyak melibatkan sensasi untuk menciptakan keutuhan suasana. Oleh karena itu Herbert Read mereduksi ke-12 kategori lukisan anak-anak 93 . schematic. baik dalam penampilan organisasi tema. yaitu: organic. Sesungguhnya klasifikasi tersebut diakui sendiri oleh Herbert Read kurang bersifat definitif dalam arti sebenarnya masih sangat mungkin terjadi reduksi atau perluasan kategori-kategori dalam kenyataan yang lebih luas maupun lebih khusus. Berdasarkan klasifikasi di atas dapat dikatakan bahwa cara pelukisan anakanak yang sepenuhnya berdasarkan basis realistik-naturalistik adalah tiga kategori yang pertama. Sedangkan rythmical patern. yang diungkap kembali lewat narasi bentuk dan warna. expressionist dan decorative dapat dimasukkan ke dalam golongan non realistik.

Tipe fungsi mental yang demikian relevan dengan kecenderungan imitatif dalam penggambaran bentuk-bentuk obyek eksternal pada beberapa katagori lukisan anak-anak. intuition) beserta kecenderungan kerakterologis (extrovert. (7) decorative. character). yang obyektif/naturalistik tetapi vital dan organik. Kedua. Reduksi di atas tetap mempertimbangkan relevansinya yaitu: Pertama. (4) structural form. dengan demikian bersifat introversif. 94 . (8) imaginative. sensation. Dalam katagori enumeratif tidak terdapat proyeksi semacam itu. Indera mata sekedar berfungsi sebagai alat perekam fakta fisik (obyek yang dilukis). Hasilnya masih berupa lukisan. introvert) dari fungsi-fungsi mental tersebut. cenderung lebih banyak mengandalkan aktivitas intelektual yang berdasar kepada gejala faktual obyektif. (3) rhythmical pattern.di atas menjadi 8 kategori yaitu: (1) organic. 4 tipe apresiasi estetik Bullough (objective. (2) empathetic. Di sini tidak terdapat unsur diri (pribadi) si pelukis. Pada tipe fungsi mental: thinking. feeling. dengan demikian bersifat ekstroversif. physiological/intrasubjective. Di sini si pelukis memproyeksikan dan meleburkan dirinya ke dalam obyek lukisannya. Pada katagori organic anak tidak hanya merperhitungkan obyek yang dilukis seadanya tetapi juga memperhitungkan hubungan organisnya. (5) haptic. (6) enumerative. 4 tipe fungsi mental Jung (thinking. Pada kategori organic indra mata lebih berfungsi sebagai saluran kamunikasi (penghubung) antar jiwa si pelukis dengan obyek yang diamati untuk ditulis. associative.

Bentuk-bentuk alami (natural) diubah (guna mengekspresikan perasaan riang. melankolik dan lain-lain) dalam bentuk-bentuk motif yang merupakan simbolisasi perasaan anak. tidak harus sama dengan sifat-sifat fisik bentuk dan warna obyek secara "kasat mata". Perasaan dapat diekspresikan secara lebih subjektif. di mana titik tolak ubahan bentuk obyek lukisannya diambil dari pola-pola bentuk yang abstrak geometrik. Misalnya bunga yang diberi warna cerah untuk mengekspresikan keriaan. maka menunjukkan ciri intuisi yang bersifat extrovert. namun dari imajinasi anak sendiri seperti pada kategori imaginative.ukisan anak-anak dengan ekspresi extroverted feeling terdapat pada kategori decorative. Dalam hal anak menciptakan motif-motif yang didasarkan pada bentuk-bentuk eksternal/alam dan mengkonstruirnya dalam pola-pola yang ritmis. Kecenderungan introvert dapat dilihat pada katagori structural form. namun lebih banyak menurut suasana hati anak. Intuisi adalah fungsi mental yang banyak tampil pada ekspresi musikal. dalam lukisannya diolah menurut perasaannya. Apabila menanggapi bentuk dan warna obyek. anak lebih banyak menggunakan perasaannya dalam menanggapi sesuatu hal. I. 95 . Ekspresi haptic adalah aspek introvert dari tipe fungsi mental: sensation.Tipe fungsi mental: feeling. Anak yang bertipe fungsi mental: intuition nampak dalam kecenderungan mengembangkan aksen-aksen ritme spontan dalam lukisannya dengan motif-motif bentuk yang relevan. dan "empathy" adalah aspek ekstrovert dari tipe fungsi mental yang sama. tidak bertolak dari sifat-extroversif seperti pada kategori decorative.

berekspresi. Sesuai dengan karakteristik mata pelajaran seni rupa seni lukis khususnya. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan tentunya digunakan strategi atau teknik yang disebut dengan metode. ada dua tipe yang membedakannya yaitu tipe visual dan non visual. yang pada prinsipnya disenangi anak karena ada muatan nilai bermain. Tipe-Tipe Psikologis Anak & kategori lukisan anak Thinking Feeling Sensation Intuition : extrovert introvert : extrovert introvert : extrovert introvert : extrovert introvert = enumerative = organic = decorative = imaginative = empathetic = expressionist (haptic) = rhytmical pattern = structural form Anak dalam menuang ekspresi artistik senantiasa berbeda. Dengan demikian tujuan metode pembelajaran adalah merencanakan dan melaksanakan cara-cara yang efektif untuk mencapai tujuan. Maka dibutuhkan kejelian pendidik dalam memilih 96 . Metode Pembelajaran Seni Lukis Anak Sekolah Dasar Dalam suatu pembelajaran tentunya ditetapkan terlebih dahulu tujuan pembelajaran. Kedua tipe ini menurut Lowenfeld dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam menilai karya lukis anak.Dengan demikian hubungan antara 8 kategori lukisan anak-anak di atas dengan tipe-tipe psikologis dapat digambarkan sebagai berikut: Tabel 2. Namun masing-masing secara khusus memiliki ciri tersendiri bila dilihat dari karya lukis yang dihasilkan. 3. dan nilai rekreasi.

perlu diketahui bahwa pada dasarnya setiap anak mempunyai potensi berkarya seni rupa yang berbeda-beda. sentuhan suasana yang aktual. dan menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan (Enjoyfull learning). yaitu metode pendidikan yang dapat mendukung pengembangan creative thingking peserta didik. keadaan lingkungan atau suasana. dan arah tujuan dari pembelajaran. kreatif. 97 . dan teknik sehingga mereka dapat membuat berbagai karya lukis. anak akan dapat mengenal berbagai bahan. a. salah satunya adalah dengan berkarya seni lukis. dan ekspresif adalah melalui kegiatan berkarya seni rupa. Langkah-langkah Pembelajaran Seni Lukis Salah satu jalan untuk membentuk pribadi anak yang sensitif. Model-model motivasi sangat banyak tergantung pada tingkat usia anak. Motivasi yang dapat diberikan untuk anak usia sekolah dasar misalnya: berupa cerita baik cerita dongeng maupun cerita yang sesuai dengan keadaan lingkungan mereka.metode yang tepat agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Untuk melaksanakan pembelajaran seni lukis pada peserta didik. nyanyian. perhatian. memberi bekal life skill kepada peserta didik. alat. dan gairah anak untuk berkarya. ataupun sebuah rekaman yang dapat mereka ungkapkan kembali. Dalam proses membuat karya seni lukis. Berikut ini langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran seni lukis anak di sekolah dasar agar dapat berkarya sesuai dengan minat. 1) Pemberian Motivasi Pemberian motivasi merupakan upaya yang dilakukan untuk membangkitkan semangat dan minat anak terhadap tugas-tugas yang akan diberikan untuk dikerjakan.

Proses interaksi antara pendidik dan peserta didik harus selalu dikondisikan dalam suasana segar. Dalam proses pelatihan ini terjadi alur penciptaan yang meliputi penyusunan konsep dan penuangan ide. 98 . Hal ini dilakukan agar anak selalu termotivasi untuk mempersiapkan diri dalam mengerjakan tugas yang diberikan. dan diakhiri dengan tahap penyelesaian. baik karya orang dewasa maupun karya anak-anak. 3) Pemberian Pelatihan Pelatihan diberikan agar anak mempunyai pengalaman langsung dan diberi kebebasan berekspresi menggunakan media yang telah tersedia. Dalam kegiatan ini anak juga dapat langsung diajak mengamati dan menghayati karya-karya atau benda-benda yang ada disekitar mereka. pengenalan dan percobaan penggunaan media. Objek yang dapat dipertunjukkan dapat berupa contoh-contoh karya lukisan.2) Pemberian Peragaan Peragaan merupakan mempertunjukkan atau menampilkan sebuah objek yang dapat diamati dan diperbincangkan sesuai dengan tugas yang akan dikerjakan oleh anak. Contoh karya tersebut bukan semata-mata untuk dicontoh. pengorganisasian unsur-unsur visual seperti pemilihan objek dan penyusunan komposisi. bebas. Pelatihan dapat diberikan setelah anak memahami apa yang diperagakan dan memahami tugas yang disampaikan oleh pendidik. Dalam hal ini anak diberi kebebasan menerima makna tugas dan mencoba menggunakan media yang ada. melainkan untuk memperjelas keterangan dan sekaligus memberikan daya tarik bagi anak. dan gembira.

bertindak sebagai “Tut Wuri Handayani”. Dapat juga anak diberi kesempatan untuk menceritakan hasil lukisannya sendiri. Pendidik pada mulanya melakukan bimbingan secara klasikal atau kelompok. Melalui tahap ini. pendidik dapat memberikan pujian untuk hasil karya yang dikerjakan dengan baik. Tahap ini dapat dikatakan sebagai tahap evaluasi karya. namun lebih mengarah pada bimbingan individual. pendidik dapat berdiskusi langsung dengan setiap anak sesuai dengan tingkat permasalahan atau kesulitan yang dihadapinya. dikaji. kelima langkah pembelajaran seni lukis di atas yang dapat diterapkan di sekolah dasar dapat digambarkan sebagai berikut: 99 . Untuk lebih jelasnya. dan didiskusikan oleh anak. Pada tahap ini pendidik sangat berperan penuh. apabila memungkinkan karya-karya tersebut dapat dibahas. 5) Pemaparan Karya Seni Lukis Anak Akhir dari proses pembelajaran seni lukis adalah megumpulkan karya anak kemudian memilih karya yang dapat dipamerkan atau dipertunjukkan untuk dapat diamati secara bersama-sama. Dalam pemantauan. Diskusi lebih mengerah pada pemberian stimulasi untuk menemukan pemecahan permasalahan yang terdapat pada anak.4) Pemantauan Pemantauan dilakukan untuk mengetahui sejauh mana anak-anak dapat berekspresi menggunakan media yang ada.

Motivasi Peragaan yaitu mengamati dan menghayati objek disertai dengan pengenalan bahan. dimaksudkan melatih perkembangan kepekaan rasa estetik peserta didik. Pada kegiatan ini peserta 100 . evaluasi dan pemberian pujian bagi hasil karya yang baik Pemantauan dan pembimbingan Gambar 39. Dalam hal ini tentunya keterlibatan intelektual dan pengalaman estetik peserta didik sangat berperan. Kegiatan kreasi mempunyai makna menciptakan karya seni yang baru. Pelatihan yaitu kebebasan berekspresi dengan media yang ada Pemaparan karya. dua kegiatan yang saling terkait satu sama lain yaitu apresiasi dan kreasi. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 (Peraturan Pemerintah. Seni Lukis sebagai indikator gambar ekspresi dalam KTSP Dalam kurikulum KTSP. kemampuan mengekspresikan dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni. Langkah-langkah Pembelajaran Seni Lukis 4. Peserta didik berperan sebagai pengamat yang menghayati gejala keindahan yang ada dalam karya seni kemudian menanggapinya. mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan adalah nama dari kelompok mata pelajaran estetika yang dilaksanakan pada tingkat sekolah dasar. Dalam mata pelajaran tersebut. alat. Kegiatan apresiasi. termasuk di dalamnya yang bersifat rekreatif (performance). disertai dengan tanya jawab. dan penjelasan teknik secukupnya. 2005) disebutkan tujuan mata pelajaran Seni Budaya dan Ketrampilan adalah untuk meningkatkan sensitifitas. sedangkan rekreasi menampilkan/menggelar karya seni.

terlihat dalam katakata yang diucapkan dan ungkapan jiwa melalui gambar. Dalam hal ini keterlibatan intelektual peserta didik sangat dominan. menjadikan semua tanggapan yang diterima oleh anak akan menimbulkan reaksi pada diri anak.didik secara aktif menghasilkan suatu karya seni (lukisan. Merupakan titik tolak dari menggambar ekspresi adalah kondisi kejiwaan anak. Hal ini memerlukan kerja intelektual. juga kelas tiga semester dua. Secara rinci khusus pelaksanaan seni lukis di sekolah dasar ada dalam penjabaran kompetensi Kreasi Seni Budaya dan Keterampilan dapat dilihat pada lampiran 2 halaman 275. kelas dua semester satu dan semester dua. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran Seni Budaya dan Kerajinan Sekolah Dasar berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 yang meliputi kegiatan apresiasi dan kreasi secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 1 halaman 270. 2006: 4). Pada kompetensi dasar di atas. relief. dan sebagainya) (BSNP. Kamaril (2005: 7) mengungkapkan bahwa menggambar ekspresi adalah: usaha mengungkapkan dan mengkomunikasikan pikiran. Reaksi yang bersifat subjektif dapat dilihat dari perbuatan anak yang serba spontan. Jacques Maritain dalam Sumardjo (2000: 51) menyebutkan adanya ekspresi intelektual yang diperlukan untuk mengubah bentuk menjadi struktur. dilaksanakan pada kelas satu semester dua. Dengan sifat anak-anak yang subjektif. disebutkan bahwa mengekspresikan diri melalui karya gambar ekspresif dan mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif. Misalnya dalam pembuatan karya seni lukis dikenal adanya aspek bentuk yang diubah menjadi struktur. ide 101 . Menggambar ekspresi menurut tujuannya. ilustrasi.

kanvas. 102 . Merupakan hal yang terpenting dalam melukis untuk anak sekolah dasar adalah keberanian. produk dari menggambar ekspresi disebut dengan karya seni lukis. kemauan. manusia berkepala kuda .gagasan. dan sebagainya. tinta. dan imajinasi yang diperoleh dari apa yang dilihat. Selanjutnya sesuai dengan tujuan dan kompetensi dasar yang ada dalam kurikulum. Dalam hal ini guru seyogyanya tidak ikut campur dalam menentukan apa yang harus diungkapkan oleh peserta didik. gejolak perasaan/emosi serta imajinasi dalam wujud dwimatra yang bernilai artistik dengan menggunakan garis dan warna. cat air. Menggambar imajinatif adalah salah satu kegiatan menggambar/melukis yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menyatakan daya khayalnya. dan ketrampilan peserta didik dalam menggunakan bahan dan alat. piring yang bisa terbang. Sebagai contoh. peserta didik menggambar laba-laba raksasa yang besarnya melebihi ukuran pesawat terbang. Bahan dan alat yang dimaksud disini adalah bahan dan alat yang digunakan untuk mencetuskan ide. Dengan demikian gambar/lukisan yang dihasilkan peserta didik bersifat sangat pribadi. gagasan gejolak perasaan/emosi. kuas. Bahan dan alat tersebut adalah kertas. Salam (2001: 50) mengatakan bahwa kegiatan menggambar/melukis ekspresi di sekolah dipengaruhi oleh paham ekspresionisme yakni suatu paham yang meyakini bahwa dalam menggambar/melukis seseorang seyogyanya menggores secara berani dan spontan agar perasaannya dapat tersalur secara apa adanya tanpa dipengaruhi oleh kemampuan intelektualnya. diraba secara langsung maupun tidak langsung. Hal-hal yang tidak ditemukan secara nyata di dunia ini ditampilkan oleh peserta didik melalui gambar imajinasi. didengar.

Pada kelas satu sampai dengan kelas tiga sekolah dasar periodisasi mengggambar anak. 103 . yaitu: gambar yang menyertakan pula benda atau obyek di dalam ruang yang sebenarnya tidak kelihatan. Hasil gambar peserta didik merupakan wujud dari kreativitas dan ketrampilannya. secara umum hasil karya lukis anak merupakan cerita yang luas dengan penampilan gambar yang lengkap dan dibuat dengan teknik yang mantap. Dengan demikian anak mulai menggambar obyek dalam suatu hubungan yang logis dengan obyek lain. Mencermati ciri-ciri perkembangan anak pada usia masa ini. Menurut Susanto (2003: 294): pada masa ini merupakan konsep tentang bentuk dasar dari pengalaman kreatif anak. pewarna alami misal daun. kedudukan anak ada pada menurut periode bagan (schematic period) yaitu pada anak usia 7 sampai 9 tahun. dan sebagainya. Anak sudah dapat berpikir lebih menyeluruh dengan melihat banyak unsur dalam waktu yang sama (decentering). Dalam hal penggunaan warna disikapi sebagai bentuk yang mendekati pada warna yang sebenarnya. pengamatan semakin teliti dan semakin tahu siapa dirinya dalam hubungan dengan lingkungannya. cat minyak. Sedangkan menurut Piaget. Konsep ruang mulai nampak dengan adanya pengaturan atau hubungan antara obyek dengan ruang walaupun masih sederhana dengan meletakkan dalam satu garis vertical sebagai garis dasar.cat akrilik. Muncul gejala yang disebut “sinar X” (X-ray) atau tembus pandang. Mereka telah memiliki konsep cerita yang sudah banyak. buah. anak pada masa ini menyebutnya sebagai tahap operasi konkret yang bercirikan bahwa perkembangan system pemikirannya didasarkan pada aturan-aturan tertentu yang logis.

Dimulai pada usia enam tahun anak mulai mapan di dalam dunia nyata dan menjadi bagian sosial dari interrelationship (hubungan di dalam struktur). Tipe-tipe perseptual menjadi nyata dalam seni pada anak usia sembilan tahun ketika ia matang secara sosial. Anak juga mempunyai tujuan memperoleh pengalaman dan pengetahuan memperbesar tendensi alaminya guna diwujudkan dalam ekspresi gambarnya. pada tahapan simbolik anak pada usia 7-9 tahun membutuhkan koordinasi fisik yang cukup untuk memberikan pembelajaran cara pemakaian peralatan seni dan materi yang digunakan dalam membuat karya seninya. Dia mempunyai sebuah konsep jelas dari bentuk orang dan mulai lebih spesifik menggunakan kecenderungan untuk menunjukkan simbol misal. Sebelumnya ia telah mengumpulkan detil-detil dalam gambranya ketika ia tumbuh. Seiring dengan berjalannya waktu. menguranginya. Dia masih menggunakan bentuk geometrik untuk menggambarkan idenya. tapi menambahnya. dan detil-detil tersebut mencerminkan pertumbuhan inteletualnya. tetapi ia sampai pada referensi rasional yang utuh dari bentuk dan ruang skematik pada usia tujuh tahun. 104 . dia menggunakan garis pergerakan dari tubuh dan bibir dari gambarnya. atau memvariasi elemen-elemen tertentu menurut pada subjek yang sedang digambarkan. Anak bekerja dengan tujuan sesuai apa yang ada dalam pikirannya bahwa apa yang dihasilkan sangat berarti bagi dia. Kualitas estetik yang tinggi dari referensi fisik-emosionalnya pada tahun-tahun awal sekarang disubordinasikan pada pengisahan yang ideologis.

anak belum menyadari bahwa ketika beberapa objek dipandang dari satu sudut. anak mengatur objek-objek dikedua tepi dari gambar dan langit dipandang sebagai pusat. Pada penggunaan warna. anak menggunakan secara emosional. Selanjutnya menurut Kellogg ( 1967: 181-215) secara lebih jelas lagi menyatakan bahwa pada usia 7-9 tahun anak tersebut mengalami tahapan sebagai berikut: 1) 2) Periodisasi pada periode bagan ( Schematic period). Mempunyai konsep cerita yang banyak. satu objek mungkin sebagian tidak akan terlihat. secara sebenarnya menurut pandangan visual mereka. Pada waktu dia menimbun garis dasar untuk memberitahukan keseluruhan cerita atau menggambar garis dasar sekeliling tepi dari kertasnya untuk menunjukkan seluruh pemandangan. Pada visualisasi kedalaman ekspresi. Pada karya anak terlihat bahwa semuanya penting dan harus terlihat serentak. Selanjutnya anak merasakan bahwa macam-macam objek dalam lingkungannya mempunyai warna berbeda-beda. dimana keduanya sesuatu yang abstrak dari ruangan dan sebuah rasa dari posisi dan direksi dari sesuatu dalam ruangan. objek terlihat secara fisik. kemudian secara bertahap merasakan pentingnya hubungannya dengan objek. Pada tipe sinar X dari ekspresi. Anak pada tahapan ini juga kekurangan sebuah realisasi dari hubungan ruang dan waktu dan biasanya beberapa kejadian dalam satu gambar. Dia biasanya menggunakan sebuah garis dasar dalam gambarnya. menggambar 105 .Pada tahap ini juga anak menunjukkan sebuah rasa dari hubungan spatial.

Adanya gejala tembus pandang (X-ray). Identifikasi semacam itu akan mengarahkan anak laki-laki untuk melebih-lebihkan proyeksi diri menjadi berupa citra-citra yang mengerikan. sementara anak gadis akan cenderung mengidealisasi dirinya sendiri dalam citra wanita yang glamor dan matang. dan pada kadar tertentu. Perkembangan selanjutnya anak akan menjadi ekstrovert perseptual-sosial apabila tergantung pada aspek visual daslam bidang seninya. Dengan demikian perlakuan. akan menjadi berorientasi pada gang karena adanya kebutuhan untuk mengidentifikasi dengan lebih mendalam peran seksual-diri. Semakin tahu siapa dirinya dalam hubungan dengan lingkungannya. pembelajaran dan penilaian hasil karya seni lukis anak pada periode tersebut hendaknya mengacu pada perkembangan periode yang sedang dialami oleh anak. Ia akan masuk dalam kedua tipe tersebut. atau ia akan menjadi introvert perseptual-sosial dan haptik dan tidak tergantung pada bidang dalam seninya.3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Pengamatan semakin teliti. Penggunaan warna mendekati warna yang sebenarnya. Konsep ruang mulai nampak adanya pengaturan walaupun masih sederhana. 106 . Secara umum hasil karya merupakan cerita yang luas dengan penampilan gambar yang lengkap dan teknik yang mantap. Adanya garis vertikal sebagai garis dasar tempat objek.

and psychomotor (ability to handle specific processes involving physical coordination) skills. Dalam proses pembelajaran seni lukis ada pengalaman tertentu yang lebih 107 . mencakup aspek kognitif. Penilaian dalam Pembelajaran Seni Lukis di Sekolah Dasar 1. implementasi pelaksanaan terlihat dalam Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Estetika disebutkan bahwa: standar kompetensi kreasi/rekreasi berkaitan dengan kemampuan peserta didik dalam menciptakan atau mengekspresikan diri melalui karya seni rupa. Sehubungan dengan hal tersebut di atas.D. kepekaan rasa estetik. 2006: 14). Dalam PP No 19 tahun 2005 disebutkan bahwa: penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik (BSNP. 2006: 7) Hal ini sesuai dengan pernyataan Gaitskell (1975: 62) sebagai berikut: Behaviorists in art education also recommend that the three major domains of learning be maintained. dan psikomotorik (BSNP DIKNAS. Penilaian pendidikan seni rupa ditujukan untuk menilai hasil belajar peserta didik secara menyeluruh. Pada karya seni rupa penuangan gambar ekspresi adalah karya seni lukis. tari. or classifications of learning… cognititive (knowledge. affective (feelings and attitudes). These domains. 2006: 5). musik. intellectual abilities). Fungsi Penilaian dalam Pendidikan Seni Pada umumnya penilaian dapat diartikan sebagai aktivitas pembandingan suatu hasil pengukuran terhadap acuan tertentu. atau teater. fact. afektif. Kemampuan ini terbentuk dari kombinasi pengetahuan. dan ketrampilan motorik yang tercermin pada karya seni yang dihasilkan atau dipertunjukkan (BSNP.

sedangkan penampilan peserta didik dalam aspek afektif dan psikomotor sangat sulit datanya diukur melalui tes. tes praktek.self expression secara kreatif-estetik lewat penggunaan media seni rupa. Dengan demikian untuk menilai karya seni lukis peserta didik diperlukan tidak hanya dari segi hasil saja tetapi juga proses pembuatan karya tersebut. (3) untuk mata pelajaran selain kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. 108 . Hal ini sesuai dengan PP 19 tahun 2005. Tingkah laku peserta didik di luar situasi tes lebih menunjukkan penampilan yang wajar dan non artificial dalam mengaplikasikan kemampuan kognitif. dan teknik untuk berkomunikasi secara visual (Salam. Karya seni lukis tentunya tidak relevan diukur dengan alat tes yang hanya mengukur aspek kognitif. bahan. tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 64 ayat 5 menyatakan: “Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran estetika dilakukan melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan ekspresi psikomotor peserta didik”. (2) teknik penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat berupa tes tertulis. teknik penilaian observasi secara individual sekurang-kurangnya dilaksanakan satu kali dalam satu semester. observasi. afektif dan psikomotor yang banyak diantaranya tidak dapat terjaring oleh tes.ditekankan antara lain: pengalaman penghayatan dan penilaian terhadap nilai keindahan. Apalagi bila dikaitkan tujuan pendidikan seni rupa adalah membina kemampuan peserta didik ber. Selanjutnya pada Bab IV: Standar Proses Pasal 22 dijelaskan sebagai berikut: (1) penilaian hasil pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat 3 pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai. pengalaman memahami dan mengaplikasikan alat. 2001: 8). dan penugasan perseorangan atau kelompok.

berarti penilaian oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai. i. atau administrator. kriteria penilaian. berarti prosedur penilaian. h. dan gender. berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan. grup. Sahih. berarti penilaian seni rupa oleh pendidik seni rupa merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran. antara lain peserta didik. 2. Terbuka. budaya. Untuk mengetahui keberhasilan program pembelajaran selalu dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik. Adil.Berikut ini prinsip penilaian karya senirupa pada jenjang pendidikan dasar. berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku. Dengan demikian untuk memecahkan permasalahan penilaian proses dan hasil karya peserta didik tersebut perlu digunakan pendekatan penilaian yaitu performance assessment. Karakteristik Penilaian dalam Pendidikan Seni Pada uraian terdahulu telah disebutkan bahwa penilaian seni lukis anak meliputi penilaian proses dan penilaian hasil atau produk. berarti penilaian seni rupa didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur. maupun hasil. suku. Akuntabel. Pada dasarnya assessmen adalah kegiatan mengumpulkan informasi tentang kualitas dan kuantitas perubahan pada anak didik. baik dari teknik. berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapain kompetensi yang ditetapkan. e. Beracuan kriteria. yang mengacu pada Peraturan Menteri No 20 tahun 2007: a. status sosial ekonomi. berarti penilaian seni rupa didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas. Menyeluruh dan berkesinambungan. prosedur. adat istiadat. Dengan melakukan kegiatan asesmen dapat diketahui perubahan yang terjadi pada anak didik. Sistematis. tenaga pendidik. d. b. f. 109 . untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik. g. Objektif. c. tidak dipengaruhi subjektivitas penilai. Terpadu. berarti penilaian seni rupa tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama. dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan.

Selanjutnya Berk mengatakan bahwa dalam Performance assessment selalu terkait dengan adanya rubrik penilaian yang merupakan bagian dari Performance assessment: Subsumed under the rubric Performance assessment are a host of other related terms that are often used synonymously with it. penerapan. 1986: ix). The subject of the decision making is the individual. pengetahuan dan ketrampilan.Sedangkan penilaian kinerja (performance assessment) menurut Berk sebagai berikut: performance assessment is the process of gathering data by systematic observation for making decisions about an individual (Berk. 3. melalui proses pembelajaran yang menunjukkan kemampuan peserta didik dalam proses dan produk. Dimulai pada proses pembuatan karya seni lukis. Melengkapi pendapat tersebut. 2. 5. 110 . Ada lima unsur-unsur kunci dalam definisi yang dikemukakan oleh Berk. bila dihubungan dengan karakter mata pelajaran seni rupa khususnya seni lukis performance assessment sesuai untuk menilai karya seni lukis peserta didik. (Berk. not a test or any single measurement device. 1986: ix). Zainul (2005: 4) menyatakan bahwa asesmen kinerja secara sederhana didefinisikan sebagai penilaian terhadap proses perolehan. 4. usually an employee or a student. Performance assessment is a process. not a program or product reflecting a group’s activity. sampai dengan hasil akhir atau produk seni lukis peserta didik. Berdasarkan pendapat Berk di atas. The data are collected by means of systematic observation. using a variety of instruments and strategies. The focus of this process is data gathering. The data are integrated for the purpose of making specific decisions. yaitu: 1.

Melengkapi pendapat tersebut. asesmen juga untuk memperbaiki proses pembelajaran.a. 111 . tetapi lebih dari itu. Menurut Maertel yang dikutip oleh Zainul (2005: 3) bahwa pada prinsipnya performance assessment mempunyai dua karakteristik dasar yaitu: (a) peserta didik diminta mendemonstrasikan kemampuannya dalam membuat kreasi suatu produk atau terlibat dalam aktivitas perbuatan. namun pengertian yang dapat disampaikan antara lain dari Berk (1986: ix) yang mengatakan bahwa “Performance assessment is the process of gathering data by systematic observation for making decisions about an individual”. Pengertian Performance Assessment Berbagai pengertian yang disampaikan para ahli evaluasi tentang Performance assessment. peserta didik akan secara terbuka dan aktif berupaya untuk mencapai tujuan pembelajaran. penerapan. (4) dengan mengetahui kriteria yang digunakan untuk mengukur dan menilai keberhasilan proses pembelajarannya. melalui proses pembelajaran yang menunjukkan kemampuan peserta didik dalam proses dan produk. (2) tugasugas yang diberikan atau dikerjakan oleh peserta didik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan proses pembelajaran. yaitu: (1) asesmen kinerja yang didasarkan pada partisipasi aktif peserta didik. pengetahuan dan ketrampilan. (b) hasil karya atau produk lebih penting dari pada perbuatan (performance)nya. (3) asesmen tidak hanya untuk mengetahui posisi peserta didik pada suatu saat dalam proses pembelajaran. Selanjutnya dinyatakan pula bahwa asesmen kinerja diwujudkan berdasarkan empat asumsi pokok. Zainul (2005: 4) menyatakan bahwa asesmen kinerja secara sederhana didefinisikan sebagai penilaian terhadap proses perolehan.

tempat. 5) Fairness. artinya apakah tugas-tugas yang diberikan pada anak didik telah memadai untuk digeneralisasikan pada tugas-tugas lain yang sejenis. Untuk melihat apakah Performance assessment yang dilakukan telah memenuhi standar kualitas. 6) Feasibility. Dalam menentukan domain ini perlu ada judgment dari pendidik. waktu . 7) Scorability. artinya apakah tugas yang diberikan peserta didik sepadan dengan apa yang sering dialami dalam kehidupan sehari-hari. 112 . artinya apakah tugas yang diberikan kepada peserta didik telah mengukur lebih dari satu kemampuan-kemampuan yang diinginkan. atau social ekonomi. 2) Authenticity.kriteria tersebut sebagai berikut: 1) Generalizability. artinya tugas yang diberikan sudah relevan dengan yang diajarkan pendidik di kelas. artinya apakah tugas yang diberikan dapat diskor dengan akurat dan reliabel. dan peralatan yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas tersebut. Popham (1995: 147) mengemukakan kriteria. 3) Multiple foci. agama.Selanjutnya Messick (1995: 33) mengatakan bahwa dalam hal memilih. suku bangsa. apakah yang akan dinilai itu produk atau perbuatan (performance) tergantung pada karakteristik domain yang diukur. artinya tugas yang diberikan sudah adil untuk peserta didik tidak bias gender. artinya apakah tugas-tugas yang diberikan relevan untuk dapat dilaksanakan mengingat faktor beaya. 4) Teachability. apakah perbuatan dan produk sama penting atau dominan yang mana tergantung juga pada karakteristik bidang yang dinilai.

2004: 144-145).b. Relevans menunjuk pada kemampuan instrumen untuk memerankan fungsi untuk apa instrumen dimaksudkan. Sesungguhnyalah persoalan validitas instrumen berhubungan dengan pertanyaan. Sedangkan accuracy menunjuk pada ketepatan instrumen mengidentifikasi aspek-aspek yang akan diukur secara tepat. yaitu validitas konstruk (construct validity). apakah suatu instrumen mampu menggambarkan ciri-ciri. 2000: 686. Suatu instrumen dikatakan valid untuk tujuan tertentu. adalah dua makna yang terkandung dalam konsep validitas. dan validitas criteria (criterion-related validity). 1) Validitas Validitas instrumen dapat dimaknai sebagai ketepatan dalam memberikan interpretasi terhadap hasil pengukurannya. Secara umum terdapat tiga macam validitas. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Pengukuran Validitas dan reliabilitas merupakan hal utama yang harus dipenuhi untuk menentukan kualitas suatu instrumen penilaian. sifat-sifat. validitas isi (content validity). Dengan demikian menjadi masalah pokok yang berkaitan dengan validitas instrumen adalah apakah instrumen tersebut menghasilkan informasi yang diinginkan secara tepat sesuai tujuan yang diperlukan. tidak berlaku untuk tujuan yang lain juga untuk kondisi yang berbeda. atau aspek apa saja yang akan diukur. Babbie. Validitas konstruk menunjuk pada sejauh mana instrumen yang disusun 113 . (Kerlinger. menggambarkan keadaan yang sebenarnya. sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Relevans dan accuracy.

Validitas isi berhubungan dengan pertanyaan seberapa jauh butir-butir instrumen mencerminkan keseluruhan isi dari aspek yang hendak diukur. Validitas isi berhubungan dengan kemampuan instrumen untuk menggambarkan secara tepat domain prilaku yang diukur. Validitas sampling berhubungan dengan pertanyaan seberapa jauh butir-butir instrumen merupakan sampel yang representatif dari keseluruhan aspek yang diukur. Untuk memantapkan validitas konstruk dibutuhkan expert judgment yaitu masukan. Validitas konstruk sendiri digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menjelaskan varians pada hasil pengukuran.mampu menghasilkan butir-butir pertanyaan yang dilandasi oleh konsep teoritik tertentu. untuk 114 . Ada dua makna dalam validitas isi yaitu. Menurut Kerlinger (2000: 687) analisis faktor merupakan metode yang tidak terelakkan untuk meneliti validitas konstruk. validitas butir dan validitas sampling. pertimbangan. Validitas konstruk disusun berdasarkan pada konsep teori yang sudah mapan dan pertimbangan-pertimbangan yang rasional. Dimulai dengan dengan menyusun daftar keseluruhan isi materi atau domain yang dimaksud. Langkah selanjutnya pada validitas isi adalah menjabarkan dalam aspek yang terperinci selanjutnya didiskripsikan indikator- indilkatornya. Selanjutnya dimintakan pertimbangan kolega atau ahli yang berkompeten melalui forum diskusi antar ahli (focus group discussion). Dengan demikian analisis faktor digunakan untuk mencari bentuk validitas konstruk. Prosedur yang ditempuh untuk memperoleh validitas konstruk yang diharapkan. diperlukan pendekatan logis dan empirik. dan kritik dari para ahli terkait.

Salah satu pendekatan dasar untuk mengukur reliabilitas adalah stabilitas. Pada penelitian ini digunakan validitas isi dan validitaas konstruk. keajegan. Dua kriteria yang digunakan pada validitas kriteria adalah kriteria konkuren dan kriteria prediktif. Stabilitas diperoleh dengan mengkorelasikan skor siswa dari dua kali pelaksanaan tes. Validitas kriteria menjawab pertanyaan sejauh mana suatu tes dapat memprediksi penampilan kemampuan pada waktu yang akan datang (validitas prediktif) dan mengestimasi kemampuan saat sekarang berdasarkan suatu pengukuran selain tes itu sendiri (Fernandes. Pada validitas kriteria diteliti dengan membandingkan suatu kriterium eksternal.memperoleh masukan. kritik. saran. menggunakan korelasi intraklas (interclass correlation). Berdasarkan uraian di atas. 1984: 44). 115 . 2) Reliabilitas Reliabilitas instrumen menunjukkan tingkat kestabilan. dimana kriterium yang ditetapkan harus sudah teruji secara empiris di lapangan dan mempunyai konsistensi yang cukup tinggi. dan atau kehandalan instrumen untuk menggambarkan gejala seperti apa adanya. konsestensi. dapat ditarik suatu pengertian bahwa untuk pengembangan afektif dapat digunakan semua jenis validitas atau salah satu jenis validitas. walaupun dalam waktu dan kondisi yang berbeda. dan evaluasi guna menyempurnakan instrumen yang disusun. Secara konsep instrumen yang reliabel adalah apabila digunakan terhadap subjek yang sama akan menunjukkan hasil yang sama.

Penggunaan korelasi intraklas dimaksudkan untuk memberikan indeks mengukur kesamaan pasangan skor dalam hubungannya dengan variabilitas total dari seluruh skor (Fernandes. subjek akan memberikan jawaban yang lain karena hasil belajar selama waktu selang tersebut. Penilaian “Performance Assessment” Karya Seni Lukis Anak Pendekatan yang digunakan dalam performance assessment adalah metode holistic dan metode analytic . Sebaliknya jika selang waktu terlalu lama. Cara lain untuk menilai reliabilitas adalah dengan menggunakan teknik intereter yaitu. dua peneliti menggunakan alat ukur yang sama untuk mengukur kemampuan seseorang kemudian hasil pengukuran tersebut dikorelasikan. 2003: 66). Sedangkan metode analytic adalah apabila para penskor memberikan penilaian dari setiap aspek yang berhubungan dengan hasil kinerja yang dinilai. hal ini mengakibatkan meningkatnya koefisien reliabilitasnya. Apabila selang waktu terlalu pendek subjek akan mengingat jawaban yang diberikan pada waktu pengkuran pertama. Metode holistic adalah cara penilaian apabila para penskor (rater) memberikan penilaian secara keseluruhan dari hasil kinerja tes. dan rating scales (Depdiknas. 116 . Pada cara penilaian metode analytic apabila digunakan untuk menilai kemampuan ketrampilan yaitu dengan menggunakan checklist. Penggunaan bentuk reliabilitas tes-retes yang menjadi masalah adalah selang waktu pelaksanaan pengukuran. c. 1984:35).

totalitet). Tidak dari unsur-unsurnya yang dipandang tersendiri. Sudarmaji (1979: 23) mengemukakan bahwa Gestalt bersumber pada ilmu jiwa global (gestalt. lepas dari perwutuhan 117 . Dengan demikian kesan keseluruhan dari karya tersebut menjadi salah satu pertimbangan memberikan penilaian suatu karya. Suatu hasil karya seni rupa keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh bentuk yang dicapai saja tetapi oleh keberhasilan penyusunan unsur-unsur pembentukannya menjadi suatu kesatuan ungkapan. Metode ini menganjurkan untuk menilai karya seni dari perwujudannya secara utuh. pola. 1982: 8).Pelaksanaan kedua metode pendekatan tersebut dalam performance assessment karya seni lukis sebagai berikut: 1) Metode holistic Metode holistic dikenal juga dengan metode global yang bersumber dari ilmu jiwa global (Gestalt. totalitet) yang memandang bahwa suatu karya seni secara utuh yaitu keseluruhan bentuk. disebut metode ganzheit. Gestalt merupakan suatu aliran dalam psikologi dengan pokok pikiran utamanya bahwa suatu keseluruhan adalah lebih besar dari pada penjumlahan bagiannya (Dali. struktur atau suatu konvigurasi terpadu yang memiliki sifat-sifat khusus tidak dapat diperoleh dari penjumlahan bagian-bagiannya secara terpisah. Menurut Garha (1980: 115) karya seni sendiri merupakan suatu Gestalt. Gestalt mempunyai sesuatu yang melebihi jumlah unsur-unsurnya. seluruh unsur-unsur pembentukannya harus mendukung ide atau ungkapan perasaan yang akan disampaikan penciptanya. dan Gestalt timbul terlebih dahulu dari bagian-bagiannya.

dan sebagainya. kualitas karya secara keseluruhan tidak akan sama dengan kualitas unsurunsur yang membentuk karya tersebut. memandang bahwa karya seni lukis anak dilihat sebagai suatu komposisi bentuk yang dapat dipahami melalui peranan elemenelemen bentuk seperti garis. Kemudian wujud dipisah-pisahkan lagi atas komposisi. hubungan antar unsur. Pendekatan ini. pewarnaan. proporsi. Dengan demikian dalam proses penilaian untuk mendekati objektivitas. Hal ini berdasarkan pendapat Sudarmaji (1979: 23) yang mengatakan bahwa: pendekatan analitik menilai dengan secara terpisah bagian-bagiannya misal dilihat dari isi atau tema. perspekif. warna.Dengan demikian apabila dihubungkan dengan kualitas karya seni lukis. Untuk menilai suatu karya seni berpendapat bahwa secara objektif. garis. Soedarso (1987: 85) pada saat seseorang ingin mengadakan penilaian. menilai karya seni lukis anak dengan memerinci unsur-unsurnya. dan organisasi unsur. kedua metode tersebut sebaiknya digunakan secara bersamaan. Masih diperlukan suatu analisa yang mendalam berdasar suatu prinsipPrinsip yang dimaksud dalam karya disini adalah penerapan prinsip seni. Sesungguhnyalah 118 . Gelap terang. Hal ini mendukung yang dikemukakan oleh Duane dan Prebel (1967: 115) bahwa untuk mengukur kualitas artistik suatu karya seni dapat dilakukan dengan mengunakan prinsip seni. bentuk/shape. gelap terang. anatomi. 2) Metode analytic Penilaian dengan pendekatan penilaian analisis yaitu. dan volume. Ganzheit tidak mencukupi.

Berikut ini penilaian proses dan penilaian produk karya lukis peserta didik. a. Agar pengamatan pendidik lebih 119 . Dengan demikian penilaian karya seni lukis peserta didik meliputi dua aspek yaitu aspek proses pembuatan karya dan aspek hasil karya seni lukis peserta didik.In art education. namun perlu pula dilihat bagian-perbagian. maka penilain proses sangat diperlukan apalagi proses penilaian merupakan bagian yang alami dari aktivitas seni. performance assessment mempunyai dua karakteristik dasar yaitu: (a) peserta didik diminta mendemonstrasikan kemampuannya dalam membuat kreasi suatu produk atau terlibat dalam aktivitas perbuatan.penilaian karya seni lukis anak yang didasarkan pada objek secara keseluruhan (global). Menurut Conrad (1964: 271) the processes of evaluation help to build guides and to define and clarity the purposes and accomplishments of the educational processes. 3. Pelaksanaan penilaian dilakukan dengan mengamati peserta didik dalam melaksanakan tugas yang diberikan dalam proses pembelajaran dengan tidak mengganggu aktivitas belajar peserta didik. Penilaian Proses Karya Seni Lukis Tujuan penilaian proses karya adalah untuk mengamati kompetensi peserta didik dalam berkreasi membuat karya seni lukis. the evaluation prosesses are natural parts of art activity.Karena proses penilaian membangun bimbingan terhadap peserta didik dan memperjelas tujuan dan pemenuhan dalam proses pembelajaran. Aspek yang Dinilai dalam Karya Seni Lukis Sesuai dengan prinsip performance assessment yang telah diuraikan di atas. (b) hasil karya atau produknya.

dan lain sebagainya. bagaimana kelancaran ekspresi mareka. pendidik melakukan penilaian dengan secara langsung mengamati bagaimana peserta didik membuat karya lukis. yaitu terutama penampilan-penampilan peserta didik dalam aspek afektif dan psikomotorik. tetapi apabila dikembangkan secara kreatif dan diinterpretasi secara bijaksana dapat memberikan informasi evaluatif yang memiliki tingkat kesahihan (valid) tinggi. cara maupun metode yang lain. 120 . Selama kegiatan proses belajar mengajar berlangsung dalam pembelajaran seni lukis. Sesungguhnya kemampuan-kemampuan peserta didik yang dikembangkan dalam pendidikan seni rupa lebih banyak dalam bentuk penampilan yang sulit diukur dengan tes.terarah. bagaimana mereka membangun dan mengorganisasikan kesatuan-kesatuan estetis. bagaimana penanganan alat dan bahan yang digunakan. Non tes digunakan tatkala pengertian evaluasi tidak sekedar identik dengan testing tetapi mempunyai pengertian yang lebih luas yaitu suatu proses penentuan nilai-nilai fenomena-fenomena yang secara edukasional relevan (Eisner. bagaimana peserta didik memanfaatkan waktu. sistematis. Teknik non tes bukannya tidak mengandung kelemahan seperti halnya teknik. dan komprehensif untuk memperoleh data yang akurat dengan tidak kehilangan aktivitas yang dilakukan peserta didik. bagaimana cara memecahkan masalah penciptaan yang mungkin mereka jumpai. 1997: 204). perlu dilengkapi dilengkapi dengan instrumen non tes yaitu check list atau skala rentang. Dengan instrumen teknik non tes akan diperoleh data akurat dengan tidak kehilangan aktivitas yang dilakukan oleh peserta didik.

Tetapi kegiatan-kegiatan seni rupa yang bersifat ekspresif-kreatif-estetis sulit untuk terlebih dahulu ditetapkan kriteria keberhasilan objektif yang dapat diberlakukan secara klasikal. penemuan-penemuan ide. seperti dikatakan oleh Eisner (1997: 211) sebagai berikut: “Many of the most highly prized outcomes of art education are not capable of being stated in advance in the form of instruction objectives”. kemungkinan-kemungkinan penciptaan yang tidak terduga sebelumnya yang muncul dalam proses berekspresi dan berkreasi dengan media seni rupa merupakan hasil pendidikan seni rupa yang sulit diterapkan kriteria ekstrinsik dalam tujuan pendidikan. Inspirasi-inspirasi. dan sebagainya. patung. dan lain sebagainya. melainkan dengan usaha menemukan kualita-kualita berharga dalam proses dan hasil kerja peserta didik. misalnya apresiasi. penguasaan teoritis kesenirupaan dan keterampilan-keterampilan bersifat non ekspresif.Dalam pendidikan seni rupa. Relatif tidak sulit untuk ditetapkan kriteria keberhasilan peserta didik yang dapat dikenakan pada hasil belajar yang dapat diukur secara objektif melalui tes. seni garfik. bagaimana menyiapkan alat-alat dan bahan untuk melukis. Usaha menemukan kualitakualita berharga dari proses dan hasil kerja peserta didik dalam hal ini lebih banyak dapat ditempuh lewat non tes. seperti kemungkinan-kemungkinan ekspresif-kreatifestetis dari lukisan. Tidak mudah orang meramalkan secara pasti yang akan terjadi sebagai hasil aktivitas tersebut. menyiapkan bahan dan alat untuk membuat patung. simbol-simbol personal. Penilaian di bidang ini lebih tepat tidak dengan penggunaan kriteria yang ditentukan terlebih dahulu untuk standar pencocokkan tingkah laku atau hasil kerja peserta didik. 121 .

dan catatan anecdotal. dan alasan-alasan kondisional lainnya.Di depan telah disebutkan bahwa instrumen non tes antara lain chek-list. rating scale. Hal-hal yang bersifat personal dalam aktivitas penciptaan tersebut merupakan data pelengkap yang sangat diperlukan dalam rangka usaha penilaian untuk melihat peserta didik secara objektif. Karya seni rupa peserta didik sebagai visualisasi visi dan idea peserta didik tidak selalu dengan mudah dapat dibaca. terutama hal-hal yang sangat bersifat personal seperti: kelancaran dan kepuasan ekspresinya. Data yang terkumpul adalah data yang tertangkap oleh kacamata pendidik. dapat dipastikan bahwa selalu ada data evaluatif yang sebenarnya relevan tetapi tidak sempat tertangkap oleh kacamata tersebut. Untuk keperluan tersebut De Francisco-Italio (1958: 224-227) mengembangkan apa yang disebut: Pupil’s Self-Evalution Form. Melalui pengisian format seperti pada Tabel 3 oleh peserta didik. Mekanisme penggunaan instrumen-instrumen tersebut pada dasarnya adalah sepenuhnya di tangan pendidik. tentang nilai-nilai baru yang dapat dipetik dari pengalaman mencipta. pendidik seni rupa dapat mengumpulkan data yang mungkin tidak terjaring oleh 122 . Disini dapat dituliskan juga tentang alasan-alasan dari pendapat dan keterangan yang diberikan tentang karyanya seperti pada contoh format Tabel 3. yaitu suatu format yang dapat digunakan peserta didik untuk menerangkan hasil kegiatannya dalam bidang seni rupa sesuai dengan pendapat dan perasaannya. Mengingat kepekaan kacamata pendidik yang relatif terbatas dan bahwa proses dan hasil penciptaan karya seni rupa menyangkut segi jiwani yang kompleks.

Pendidik harus mempertimbangkan baik perkembangan personal maupun perkembangan akademik. untuk mendapatkan masukkan data evaluatif dari pihak peserta didik De Francisco-Italio menggunakan yang disebut The Jury System yaitu. Peserta didik perlu memahami proses pembelajaran. Selain dengan menggunakan format seperti di atas. Pupil’s Self Evaluation Form (Sumber: Francisco. Tentunya semua ini sesuai dengan tingkat 123 . 1958: 227) PUPIL’S SELF EVALUATION FORM Pupil ‘s Name __________________ Date ____________ Grade _________________________ Very Good I think my picture is I think my linoleum cut is I think my illustration is I think my modeling is I think my weaving is Good Fair Poor Reasons I Think So Sesungguhnya penilaian atas karyanya sendiri merupakan hal yang penting dalam bidang seni. tetapi merupakan sesuatu yang dihayati dan dirasakan oleh peserta didik yang bersangkutan.kacamatanya. Tabel 3. penjurian oleh sekelompok peserta didik bergantian menilai karya-karya seni rupa di kelasnya dan dapat pula dilengkapi dengan class discussion system yaitu diskusi kelas untuk membahas karya-karya tersebut. dan pendidik memahami apa yang dianggap peserta didik menarik atau penting dalam sebuah tugas yang diberikan Dalam hal ini perlu peserta didik menjadi mengetahui tentang dirinya sendiri.

1997: 203) Student Self-Evaluation Form Name _________________________________ Date __________________________________ Name of Project ________________________________ Date Completed ________________________________ 1. The most important things I got out of this project were: __________ __________________________________________________________ __________________________________________________________ Dengan pengisian dan pengumpulan format di atas. Untuk melengkapi objektivitas penilaian Eisner (1997: 223-204) menyarankan penggunaan format penilaian oleh peserta didik sendiri yang disebut: Student Self-evaluation form yang dapat memberikan informasi dari tiap peserta didik. I found the work on it: 3. tetapi juga diperlukan dalam rangka peningkatan bimbingan peserta didik selanjutnya. This project was my: Worst piece Best piece of work ___ ___ ___ ___ ___ of work 5. Tabel 4.perkembangan paserta didik tersebut. hasilnya baik atau buruk. I think I learned: From this project Easy A lot ___ ___ ___ ___ ___ Difficult ___ ___ ___ ___ ___ A little 4. serta pengalaman-pengalaman berharga mana yang berhasil dipelajari dalam kegiatan tersebut dan seterusnya seperti dapat dilihat pada Tabel 4. mudah atau sulit. pendidik dapat memperoleh informasi tentang pengaruh suatu kegiatan seni rupa bagi para 124 . Data yang terkumpul di atas tidak saja bermanfaat untuk melengkapi pertimbangan penentuan hasil penilaian. apakah suatu kegiatan seni rupa itu menarik atau membosankan. bermanfaat atau tidak. I thought this project was: Boring ___ ___ ___ ___ ___ Exciting 2. Student Self Evaluation Form (Sumber: Eisner.

apa yang telah berhasil mereka pelajari dari kegiatan tersebut. para peserta didik mendapatkan kesempatan untuk mengungkapkan apa yang telah dilakukan atau dihasilkan dari suatu kegiatan berkarya. Kedua. kemudian yang bersangkutan diminta menjelaskan karyanya dan selanjutnya kelompok peserta didik yang lain memberikan respons dalam bentuk bahasan kritis. kadar keterlibatan mereka dalam kegiatan. Berdasarkan pengisian format di atas. melainkan juga apa yang perlu peserta didik ketahui tentang dirinya sendiri. Beberapa keuntungan dengan cara demikian adalah: pertama. Selanjutnya Eisner sebagaimana menurut De Francesco-Italio. tingkat kepuasan mereka dan lain sebagainya. Kumpulan format-format yang masuk ketangan pendidik setiap kali selesai kegiatan akan merupakan rekaman data penilaian peserta didik sendiri terhadap perkembangannya secara kontinyu dalam olah seni rupa selama satu satu tahun akademik berlangsung. Dengan demikian proses pembelajaran merupakan titik tolak untuk pengajaran dan sebagai pendidik harus menanyakan tidak hanya apa yang perlu diketahui oleh pendidik. prosedur demikian memungkinkan peserta 125 . Menurut Barrett: “ In art the pupils perception of the learning process is the starting point for teaching” and “we must ask not only what we need to know as teachers but what the pupils need to know about themselves”.peserta didik. dengan demikian terkembangkan sikap oto kritis peserta didik. menyarankan penggunaan teknik lain yang juga berguna untuk evaluasi dalam pendidikan seni rupa adalah apa yang disebutnya The Group Critique. yaitu peserta didik diminta menunjukkan satu atau dua karya mereka secara bergiliran.

dan keberhasilan-keberhasilan dalam berkarya. Conrad (1964: 271) menjelaskan bahwa: Evaluation criteria are not rigid. Salah satunya pendapat Aspin dalam Ross (1982: 66) yang menyatakan bahwa: Work of art is correctly described as “unique particulars”.didik secara sistematis mengetahui bagaimana perkembangan peserta didik yang lain. and their knowledges. Oleh karena itu kegiatan penilaian memerlukan kriteria. prosedur demikian memberikan kesempatan dan bahan bagi pendidik untuk menggunakan komentar-komentar peserta didik sebagai masukkan diagnostik dan remedial. but the description prompts the question: how can something which is unique generate criteria for evaluating other unique objects? Sifat unik ini mempunyai sifat satu-satunya dan hanya 126 . kegagalan-kegagalan. Kriteria untuk melakukan penilaian produk karya seni lukis cukup sulit karena adanya keragaman cara pandang terhadap karya seni. Ketiga. their abilities. The processes of evaluation help to build guides and to define and clarity the purposes and accomplishments of educational processes. Dalam hal ini pendidik memfokuskan perhatiannya pada hasil karya lukis yang diciptakan oleh peserta didik yang tentunya tidak terlepas dari proses penciptaannya. New criteria must be formulated for each group of children because children are constantly growing and changing in their thinking. Dengan demikian penetapan kriteria harus disesuaikan dengan perkembangan usia anak dan kriteria tidak bersifat kaku. Dengan demikian terkembangkan sikap apresiatif peserta didik. Bagaimana mereka menangani problem-problem. Penilaian Produk Karya Seni Lukis Pada prinsipnya tujuan penilaian produk seni lukis adalah untuk melihat kompetensi peserta didik dalam membuat karya cipta seni lukis. b.

meminjam dari penilaian kritik. dan setiap proses intersubjektif selalu mendatangkan konflik. Baik buruknya pekerjaan seni dibenarkan dengan adanya referensi dari kriteria-kriteria yang disetujui oleh khalayak umum.berlaku untuk karya tersebut sehingga untuk menilai karya yang lain. Heyfron (1986: 56) berpendapat bahwa: … that the arts are not fundamentally different from other subjects in the curriculum (e. It contends that judgements about the merits of art work can be justified with reference to publicly agreed criteria. Sumardjo (2000: 48) mengatakan bahwa meskipun seni itu kontekstual secara 127 . science) and that a high degree of consensus about criteria appropriate for judging art work is not only conceptually consistent with the notion of art. Disini penilaian dapat dilihat sebagai suatu proses intersubjektif. Pepper (1973: 451) berpendapat bahwa bisa saja perbedaan yang terjadi disebabkan oleh pandangan kontekstual yang tidak sama. Sehubungan dengan kriteria pada penilaian karya seni tersebut di atas. sulit menerapkan kriteria yang sama Perdebatan-perdebatan yang sering terjadi karena perbedaan pemahaman. 1983: 5) menyebutkan bahwa: What matters most in the arts as in science. but also practicably desirable. is that judgements and interpretations should be informed with considerable consensus about the criteria to be applied when determining quality. Dengan demikian pada waktu menentukan kualitas karya diperlukan kriteria-kriteria yang merupakan konsensus dan sudah dipertimbangkan terlebih dahulu. Namun demikian. karena masing-masing kepentingan tidak ada titik temu.g. Lebih jauh lagi dalam dokumen APU (“Aesthetic Development”. Hal ini menunjukkan bahwa penilaian dari suatu pekerjaan seni tidak hanya konsisten secara konseptual tetapi diperlukan juga praktisnya.

Kriteria tersebut dapat membantu untuk memahami seni sebagai perwujudan suatu pengalaman. Mamannoor (2002: 49) mengatakan bahwa berdasarkan banyak referensi. They are complete exploitation of media. Berdasarkan sifat universal dari seni itu sendiri.These criteria. Coney (1999: 2). etc.. Dengan demikian ada sejumlah kriteria untuk penilaian yang dapat diterapkan pada seni dan kriteria adalah eksplorasi total atas media dan penggunaan media yang unik. however. subordination of ornamention to form. relation of form to matter. dan seni merupakan bentuk ungkapan manusia. ekspresivisme. help us to understand art as a manifestation of experience. 128 . It is essential that students see assessment criteria as a tool to help them progress in their work. It is fundamental that teachers see assessment criteria as a means to support and sustain students' work. which is just as important. are not “sure alls” or “cure alls” for the making of the perfect art product. They can. maka dapatlah dibuat suatu pendekatan untuk membuat kriteria dari suatu penilaian hasil karya seni dalam hal ini karya seni lukis anak. Untuk memberikan dasar pertimbangan penilaian. namun ada pula nilai-nilai yang sifatnya universal karena struktur jiwa manusia itu sepanjang sejarahnya sama. which apply to the arts. implicitly or explicitly recognized in analytical criticism and capable of formulation. disodorkan dasar pemahaman yang sama dalam metode pertimbangan penilaian suatu yakni formalisme. Menurut Waterman (1959: 382-383) …there are a few criteria for judgment. dan instrumentalisme. the unique use of the media…. Ditinjau dari kebermaknaan keberadaan kriteria penilaian bagi pendidik dan peserta didik salah satu pendapat sebagai berikut.bentuk dan isi. Assessment will go wrong from the outset if students or teachers see it as a way of controlling work and imposing ideas.

bentuk-bentuk signifikan suatu karya seni rupa merupakan kualitas umum sebuah karya seni rupa. Sehubungan dengan hal tersebut Feldman (1967: 446) menjelaskan. pelaksanaannya menempatkan unsurunsur estetika sebagai tinjauan utamanya bersifat representatif dari bentuk-bentuk signifikan yang dikandung dalam karya seni tersebut. 1979: 33). Ekspresivisme adalah sebutan untuk apresian yang cenderung menilai karya seni dari segi ekspresi (Sudarmaji. komposisi. Sudarmaji (1979: 33) menyatakan ukuran seni yang menitik beratkan pada factor wujud (form) disebut formalisme: yaitu bentuk.Pertimbangan penilaian formalisme. atau hasil 129 . dorongan untuk berkomunikasi menunjukkan kebutuhan dirinya sendiri yang lebih kuat dari pada keinginan untuk menghiasi. texture dan sebagainya. harmoni. Dengan demikian penilaian formalisme lebih mengutamakan pembahasan karya tanpa harus mendalami atau menelursuri apa yang ada didalamnya. Bell (1968: 26) mengatakan bahwa. termasuk unsurunsur yang dialami oleh pembuat karya. suatu pertimbangan penilaian yang cenderung melihat faktor pencipta karya sebagai orang yang melibatkan unsur-unsur pribadinya kedalam proses penciptaan karyanya. bahwa pertimbangan penilaian formalisme menempatkan mutu artistik pada suatu kualitas yang terintegrasi dalam pengorganisasian secara formal dari suatu karya seni rupa. Pertimbangan penilaian ekspresivisme. Selanjutnya Feldman (1967: 459) memberikan contoh sederhana pada dunia ekspresi anak-anak sebagai berikut: bagi anak-anak. memodivikasi. Dengan demikian pertimbangan penilaian formalisme menekankan pada tinjauan terhadap unsur-unsur visual yang terorganisasikan dalam komposisi sebuah karya seni rupa.

Berdasarkan ketiga pertimbangan penilaian di atas. dan sebagainya. komposisi. perspekif. Feldman (1967: 463) mengatakan bahwa penilaian instrumentalisme tidak hanya mengutamakan penyampaian gagasan dan pengejawantahan kehendak (seperti pada penilaian ekpresivisme).akhirnya sampai mencapai arti ‘keindahan’ yang dapat dimengerti oleh orang dewasa. melainkan suatu kajian yang berkaitan dengan hal-hal yang melatarbelakanginya. Seni rupa buatan anak-anak sering dinikmati melalui khayalan dan dirancang dengan warna bebas yang tak bisa dirintangi. politik. sosial. Mamannoor (2002: 52) mengatakan bahwa gagasan-gagasan orisinal seorang seniman (pencipta karya) yang ditampilkan melalui suatu karya seni rupa sangat penting untuk dijadikan sebagai kriteria penilaian. Dengan demikian pengungkapan perasaan dan gagasan-gagasan menjadi pertimbangan yang utama dalam penilaian ekspresivisme. Pertimbangan penilaian instrumentalisme. Dengan demikian penilaian secara instrumental sering digunakan dalam penilaian karyakarya seni rupa kontemporer. gelap terang. mengandung makna kontekstual. Konsekuensinya dari hal tersebut di atas. dapatlah dirumuskan suatu pengertian bahwa untuk memberikan suatu penilaian pada karya seni dan sampai pada suatu keputusan diperlukan kriteria yang menjangkau tiga hal yaitu. proporsi. moral. yaitu ketika proses penggubahan seni rupa mengacu pada unsurunsur yang melatarbelakangi pencipta seni misal budaya. religi. anatomi. 130 . karena karya-karya seni rupa kontemporer biasanya dilatarbelakangi motivasi tertentu. pertama hal yang meliputi unsur-unsur visual yang terdapat pada karya tersebut antara lain: bentuk.

Aspek sensitif menggunakan material berkaitan dengan penguasaan media yang digunakan untuk mewujudkan karya seni. keterlibatan unsur-unsur pribadi melalui proses pengungkapan perasaan dan gagasan-gagasan dari pembuat karya. Aspek tingkat original pada suatu hasil karya seni adalah terkait dengan sikap dari pembuat karya yang mengutamakan keaslian karya. Duane dan Prebel (1967: 127) mengemukakan bahwa: “…Criteria upon which many art professionals agree include degree of originality. and execution”. ide. Kedua. Untuk menentukan tingkat originalitas suatu karya lebih dititikberatkan pada ide. anak bekerja dengan kebebasan emosi dalam mengungkapkan isi hatinya.pewarnaan. Selanjutnya berkaitan dengan penentuan kriteria. sehingga karyakarya mereka benar-benar murni. secara umum pada aspek original dituntut kreativitas dalam menciptakan karya seni. atau pengalamannya sendiri. tidak meniru karya yang sudah ada atau karya orang lain. and consistency of concept. Ketiga. dan sebagainya. makna konstektual yaitu suatu kajian yang berkaitan dengan hal-hal yang melatar belakangi proses penggubahan karya. design. Pada lukisan anak-anak dimana melukis merupakan suatu pengalaman berkarya. sensitivity to the appropriate use materials. bentuk visual. menggunakan konsep. misal cat air mempunyai karakter lembut. Cat minyak 131 . memiliki pengetahuan tentang karakter masing-masing media. tidak ada kecenderungan untuk meniru karya orang lain. kreativitas. cocok untuk digunakan dengan teknik transparan. dan kepribadian. Suatu hasil karya seni akan berhasil apabila pembuat karya sensitif terhadap media yang digunakan. teknik. Dengan demikian.

Aspek pelaksanaan. misal bagaimana penggunaan bahan dan alat dimulai dari persiapan sampai dengan sentuhan akhir dalam pembuatan karya.yang mempunyai sifat menutup. bagaimana anak dalam mengerjakan tugas apakah merasa senang. irama. Mereka akan semakin baik dalam penguasaan media. anak sering menggunakan lebih dari satu macam. proporsi. dan alat. sehingga akan memberikan efek pengamatan yang berbeda dari masing-masing karya. Bahkan ada yang mengkombinasikan teknik goresan dengan teknik tempel dari elemen lain. bahan . Dewobroto (2002: 9) berpendapat bahwa semakin bertambah umur si anak. asyik. Dikatakan tidak konsisten dengan konsep dalam membuat karya apabila karya yang dibuat bentuknya tidak menunjang tema. keseimbangan. Konsisten tidaknya pembuat karya terhadap suatu konsep tampak pada tema dan bentuk visual pada karyanya. Aspek konsistensi dengan konsep merupakan suatu karya seni yang mengandung suatu konsep dari pembuat karya yang disampaikan lewat hasil karya seninya. yaitu antara lain nilai kesatuan. kontras. dan sebagainya. semakin bertambah pula pengalaman dan tingkat penalarannya. atau bahkan merasa 132 . dan sebagainya. dapat dilihat dari keseluruhan aktivitas peserta didik yang meliputi langkah-langkah dan prosedur dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh pendidik. Aspek kriteria desain menitik beratkan pada unsur desain yaitu kaidahkaidah komposisi. dengan demikian masalah teknis pemakaian bahan dan alat serta umur anak merupakan sesuatu hal yang perlu diperhatikan dalam menilai lukisan anak. Pada anak-anak dalam berkarya.

Kemungkinan akan kerjasama d. a. Kemampuan dalam menggunakan alat dan media e. Kerjasama dalam “cleaning up” setiap akhir periode 133 . dan growth in art skills. Evaluasi atas usaha sendiri Social growth a. Lain lagi yang dikemukakan Conrad (1964: 274) membuat kriteria dengan variasi yang meliputi: personal growth. Kerapian dan rupa secara umum dari sebuah karya seni f. dan growth in art skills.tertekan sehingga tidak lancar dalam penuangan idenya. Ada dua variasiyang dikemukakan. Keaslian ide-ide c. Variasi yang pertama dan indikator yang dikemukakan sebagai berikut: Personal growth. social growth. pertama meliputi: personal growth. Kemampuan untuk mengikuti petunjuk umum b. Sampai dengan penerapan kaidah etis dan etika. Tanggung jawab terhadap penyelesaian sebuah karya seni g. Tertarik pada seni ekspresionis b. Apresiasi terhadap karya anak-anak lain h. social growth. Pemakaian dan pemilihan warna d. dan yang kedua: personal growth. Kontribusi terhadap proyek kelompok c. Tanggung jawab dalam perawatan bahan e. misal kebersihan karya tidak terkesan kotor merupakan sesuatu yang termasuk dalam aspek pelaksanaan. social growth.

Ketertarikan akan seni b. c. Kerapian dan rupa secara umum dari sebuah karya seni e. Heyfron (1986: 69) menyarankan sebagai berikut: 1) the possibility of intersubjective agreement 134 . d. Kemampuan dalam menggunakan alat dan media. kapur. Berkenaan dengan penentuan kriteria yang ditetapkan untuk tujuan objektivitas penilaian. dan growth in art skills. Menghormati karya orang lain Growth in art skills a. Ketrampilan dalam bahan tiga dimensi d. Keaslian c. Ketrampilan mendesain kemampuan untuk mengorganisasi ide b. Tanggung jawab terhadap penyelesaian sebuah karya seni Social growth a. Ketrampilan menggunakan cat. Kontribusi terhadap kelompok b.Variasi yang kedua meliputi: personal growth. Pengalaman teknis Pengunaan dari masing-masing variasi dan indikatornya tergantung dari hasil diskusi yang disepakati bersama. Penemuan e. Kerjasama dengan yang lain c. krayon. tinta. social growth. masing-masing indikator sebagai berikut: Personal growth a. dll.

sedangkan karya seni rupa lebih dominan pada komponen emosi. Hoepfner dkk. konsistensi konsep. kemudian mengevaluasi setiap tes dengan kriteria tertentu. dalam penilaian karya seni rupa untuk melihat kualitas dan sampai pada baik dan tidak baik diperlukan suatu kriteria yang meliputi dua unsur yaitu fisiko plastik dan ideo plastik dan ada persetujuan antar subjek. Dengan demikian kepekaan pengalaman estetik seseorang untuk melihat tingkat original. Bahkan. Hasil Penelitian Yang Relevan 1. Hasilnya kurang dari setengah dari tujuan-tujuan yang ada dalam kesenian memiliki tes-tes yang terstandarisasi. E. Dalam hal ini seorang pendidik seni rupa dituntut untuk mempunyai kepekaan pengalaman estetik yang tinggi dan wawasan yang luas tentang perkembangan karya seni rupa. dimana tes tersebut disesuaikan dengan sebuah tujuan kurikuler dan menunjukkan validitas isi yang paling besar. sedangkan kekayaan konsep yang ada pada anak diketahui melalui inklusi dan definisi 135 . dalam penelitiannya dengan mengadakan survei pada semua tes yang dipublikasikan bagi anak sekolah tingkat dasar. dan pelaksanaannya sangat diperlukan. sebagain besar testes yang diberikan pada tujuan-tujuan seni tidak dirancang sebagai tes-tes kesenian melainkan sebagai tes-tes untuk perkembangan kognitif. desain. Seperti diketahui bahwa untuk menelaah suatu hasil karya seni rupa tentunya harus dapat dijelaskan secara rasio. kesesuaian penggunaan media atau material.2) truth to the nature of the phenomenan under investigation 3) the identification of “reasonable” grounds for supporting judgements Mengacu pada pendapat para ahli di atas.

simetri setangkup dan radial.anak-anak dalam upaya mereka menggambar orang dan benda-benda. dan angular. kendati validitas isinya diperingkatkan paling tinggi atau bahkan paling rendah (Ralph Hoepfner. 1983: 251-256). dan teknik yang digunakan anak-anak dalam berkarya. (b) komposisi yang ditampilkan yaitu komposisi vertikal. wawancara. dan menjelaskan mengenai: (a) visualisasi lukisan karya anak-anak usia SD ditinjau dari tema dan objeknya. (d) fenomena lukisan anak-anak usia SD dilihat dari aspek usia dan jenis kelamin. Sedangkan analisis data yang digunakan adalah analisis isi dengan fokus pada telaah kritis visualisasi lukisan anak-anak. mengetahui. Pengumpulan data yang digunakan adalah observasi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi. Temuan penelitian ini adalah sebagai berikut: lukisan anak usia SD dilihat dari: (a) objek dan temanya mencerminkan kehidupannya dan menunjukkan adanya upaya anak untuk mengidentifikasikan diri dalam karyanya. Sedangkan perspektif yang digunakan adalah perspektif tutup menutup (realistis). Hal ini menunjukkan bahwa sangat masuk akal untuk berpendapat bahwa sebagian besar dari tes-tes yang dievaluasi dalam bidang seni tidak terdapat di sini. 2. (c) alat . burung. (b) komposisi dan perspektif lukisan anak. 136 . horizontal “segitiga”. bahan. tujuannya untuk mencerminkan keadaan-keadaan afeksional pada penyesuaian psikologis. dan dokumentasi. tumpukan. Sedangkan tes yang mengungkap kesukaan anak. Penelitian Ismiyanto (2002) pada sanggar seni lukis “Pangudi Luhur” Semarang dan sanggar seni Lukis “Gramedia” Jakarta. memahami. diagonal.

diperoleh informasi bahwa dalam melukis. Hal ini berarti bahwa respon estetik siswa dapat digunakan untuk menilai kualitas lukisan serta bentuk dan kesan gerak pada lukisan. Penggunaan semantik differential dapat aplikasikan untuk mengukur respon siswa tingkat SD terhadap hasil karya lukis yang dilihatnya.dan perpaduan perspektif burung dan tumpukan. anak laki-laki lebih spontan dan dinamis. komposisi. dalam melukis seorang anak berusaha untuk memvisualisasikan kehidupannya. formal (potensi). spontanitasnya. Perbedaan ini tampak tertutama pada pewarnaan dan goresan. sifat alamiah seorang anak sering muncul dalam hasil lukisaanya. tetapi perbedaan tersebut tidak terdapat pada anak-anak kelompok kelas rendah pada usia SD. 3. perspektif. Hal ini dikarenakan. Analisis varians hasil pengukuran menunjukkan ada perbedaan respon estetik siswa 137 . Adapun hasil lukisan anak ditempat tersebut dapat dibedakan antara lukisan hasil anak laki-laki dan hasil anak perempuan. (c) media yang digunakan adalah krayon dan/atau mixed media dan teknik yang digunakan dussel dan out-line (garis-garis kontur). Ditinjau dari jenis kelamin terdapat perbedaan dalam pewarnaan dan goresan. Berdasarkan hasil penelitian ini. Penelitian tentang instrumen pengukuran untuk mengukur respon estetik berdasarkan hasil penelitian Prihadi (2007) menyimpulkan bahwa penggunaan semantic differential ternyata mampu mengukur respon estetik peserta didik menurut faktor evaluatif. (d) berdasarkan kelompok usia tidak terdapat perbedaan dalam memvisualisasikan objek. baik dalam pewarnaan. dan simulatif (aktivitas).

berdasarkan gaya lukisan (naturalistic. Metode pemberian contoh dengan sket di kertas kerja peserta didik dimaksudkan untuk memotivasi peserta didik melukis bukan untuk dicontoh atau untuk ditiru. potret pria. dan potret wanita). Sedangkan indikator penilaian produk sebagai berikut: (1) kesesuaian tema. Kombinasi media pastel dan cat air memberikan kesan mantap dan kuat dalam penggunaan warna. (4) pemahaman tema. 4. (6) keseriusan. (4) pewarnaan. semideformatif. (7) percaya diri. yaitu anak-anak usia dini yang berjumlah 25 anak dengan usia antara 3 sampai dengan 7 tahun. Hasil penelitian ini juga menunjukkan adanya interaksi pengaruh gaya dan tema lukisan terhadap respon estetik peserta didik. Penilaian yang dilakukan meliputi penilaian proses dan penilaian produk atau hasil karya. Untuk penilaian proses indikator yang digunakan adalah: (1) kelancaran membuat sket (2) penuangan ide. (3) originalitas. dan dokumentasi. Secara umum hasil melukis peserta didik di sanggar pratista menunjukkan adanya kedinamisan garis yaitu antara lain garis tebal dan kuat. pemandangan alam. Karya 138 . (3) kesiapan bahan dan alat. wawancara. (5) harmoni keseluruhan. Penelitian lain dilakukan Martono dan Retnowati (2007) tentang strategi pembelajaran seni lukis anak di sanggar Pratista Yogyakarta dengan subjek penelitian adalah anak-anak yang belajar melukis di sanggar tersebut. dan deformatif) dan tema lukisan (alam benda. (2) kreativitas. Pangumpulan data menggunakan metode observasi. (5) ketekunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang digunakan adalah menggunakan pendekatan individual dengan metode pemberian contoh.

dan masingmasing dari 150 subjek diuji secara perorangan. delapan. Tingkatan kelas subjek adalah kelas lima. (2) untuk memeriksa baik peringkat verbal (pada diferensial semantik) maupun tanggapan-tanggapan non-verbal (looking time [LT] dan rating time [RT]). Hasil penelitan menunjukkan bahwa anak-anak kelas lima memiliki evaluasi yang 139 . dan the Fisher Least Significant Differenc. delapan. 5. Penelitian yang dilakukan Newton (1989) dari University of Missouri bertujuan untuk mengetahui/memeriksa tentang perubahan-perubahan perkembangan tanggapan estetis pada dimensi-dimensi stilistik dan isi rangsangan seni dengan menggunakan tanggapan verbal dan non-verbal. dan sebelas. Masalah yang diperiksa dipilah ke dalam tujuantujuan sebagai berikut: (1) untuk memeriksa efek-efek perkembangan usia (kelas lima. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan slide-slide lukisan secara bertahap pada subjek- subjek sekolah dasar dan menengah. dan pengukuran non-verbal memandang waktu dan rata-rata waktu (LT/RT). dengan menggunakan pengukuran verbal dan non-verbal. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis faktor. Tanggapan-tanggapan verbal diukur dengan instrumen diferensial semantik. dan sebelas) pada tanggapan subjek atas rangsangan seni.lukis peserta didik menggambarkan dunia anak dengan tema pilihannya sendiri sesuai dengan pengalaman dalam kehidupannya. (3) untuk menyelidiki efek-efek jenis-jenis rangsangan (dimensidimensi gaya dan isi slide-slide lukisan. dan (4) untuk meletakkan dimensidimensi penting di dalam beragam skala diferensial semantik. analisis variasi dengan pengukuran berulang.

dan letak keunggulan dan kelemahan mereka. Penilaian dengan mudah disertakan dalam setiap tahapan suatu proyek. Kriteria inipun bertujuan untuk membiarkan peserta didik membuat evaluasi sendiri mengenai kemajuan mereka. untuk bicara 140 . baik kepada guru maupun siswa. Pendidik hendaknya memberikan penilaian menyeluruh atas karya siswa dengan menyertakan alasan-alasan. dengan cara membangun kepercayaan diri. Penelitian yang dilaksanakan oleh Coney (1999) tentang pentingnya kriteria untuk menilai hasil karya seni lukis anak. dan LT/RT yang lebih panjang ketimbang anak-anak kelas delapan maupun sebelas. untuk membantu pendidik memahami bagaimana peserta didik beajar dari suatu proyek. arti dari bertambahnya pengetahuan yang sudah mereka kuasai.lebih tinggi. 6. dan ketidakpastian/kemunculan yang lebih rendah (lebih familiar dan kurang kompleks). Sehingga siswa merasakan makna dari peningkatan. Suatu kriteria telah dikembangkan untuk mencapai tujuan ini. Kriteria penilaian memberi suatu kerangka bagi pendidik dan peserta didik untuk menentukan teknik-teknik dan aspek-aspek dari karya mereka yang mereka kerjakann dengan benar. Hal ini menunjukkan bawah anakanak kelas lima menunjukkan kesiapan dan keterbukaan yang nampaknya berkurang ketika anak-anak menjadi dewasa. dilatarbelakangi bagaimana membuat suatu penilaian menjadi sebuah elemen pembelajaran yang aktif dan bagian positif dari pengajaran. dan menggugah semangat siswa untuk mengekspresikan ide-ide mereka kapada guru dan kelompoknya. Kriteria penilaian yang bagus memberikan suatu bahasan.

Sikap atas penilaian dalam bidang seni dan desain bisa bermacam-macam. Sebuah pandangan kompromis yang tercantum dalam tugas ini menerima prinsip penilaian. yaitu: melukis. Penilaian atas dasar kriteria yang dikembangkan dalam laporan ini. mulai dari sikap menerima hingga menolak secara total. perlulah kiranya menyeimbangkan kebebasan siswa untuk mengeksplorasi dan merespon pengalaman-pengalaman dengan kebutuhan untuk berkembang dan mempelajari ketrampilan-ketrampilan yang tepat. dan penilaian riil.mengenai kemajuan dan pembelajaran dalan suatu cara yang penuh makna. tetapi menemukakan pentingnya kreativitas. digunakan untuk merekam 141 . penilaian diripun dibangkitkan demi membantu siswa memahami kemajuaanya sendiri. Selanjutnya atas dasar hal tersebut di atas. kolase. padahal pendidikan seni penting sekali untuk memupuk spontanitas dan eksperimentasi. dan memepermudah guru memahami pendekatan yang diambil siswa secara individual. Dalam menentukan serangkaian kriteria untuk mengevaluasi karya seni dan desain. Dengan sebuah kerangka yang didesain untuk digunakan dalam setiap mata pelajaran selama berlangsungnya suatu proyek. tugas rumah. Proyek terdiri dari empat aspek. Pada proyek dilengkapi dengan judul. tujuan. dilakukan studi kasus yang dilakukan terhadap enam peserta didik dalam suatu proyek nyata. Banyak hasil pendidikan seni yang paling berharga tidak kapabel bila dibilang maju dalam bentuk tujuan-tujuan pengajarannya. sasaran. Sudah diterima secara luas bahwa penilaian harus mengevaluasi perkembangan siswa.

yang diharapkan terbukti cukup flesibel untuk tugas-tugas yang berbeda. (4) ekspresi dan kontrol atas ide-ide. (2) pengembangan ketrampilan teknis dan penggunaan bahan. seperti pengamatan penuh selidik atas wajah manusia atau atas bunyi ucapan manusia. Dengan menggunakan model Karmiloff-Smith dikenal sebagai Representational Redescription Model (RRM). Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan kemampuan- kemampuan awal dari anak-anak. Penelitian Freeman (1997) bertujuan ingin menjelaskan bagaimana seorang anak didorong untuk mengerahkan segala kemampuan internalnya dalam berbagai wilayah yang berbeda. (7) komitmen untuk menunaikan tugas rumah sebagai bagian dari riset untuk suatu proyek. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: kriteria-kriteria yang dikembangkan dapat mengekspresikan elemen-elemen krusial dari kemajuan dalam seni dan desain.kemampuan masing-masing dengan tujuh kriteria sebagai berikut: (1) kemampuan untuk mengamati dan merekam suatu pengalaman visual. (5) pencapaian sasaran pembelajaran. 142 . (3) minat dan motivasi serta penggunaan bahasa seni dan desain. serta peralatan. disalurkan dalam ranah perkembangan dengan pengaruh-pengaruh dari luar si anak maupun dari dalam anak. (6) menekankan kembali batasan-batasan dari suatu proyek. Model ini sudah umum dan telah diterapkan pada studi tentang bagaimana anak-anak menjadi kreatif dalam menggambar sesuatu yang belum pernah mereka coba sebelumnya. teknik. dan memberi keuntungan baik pada pendidik maupun peserta didik. 7.

Ini akan memudahkan untuk membedakan anak yang bertumpu pada kemampuan eksternal semisal “hantu” atau “raksasa” dari anak lain yang bertumpu pada sebuah kemampuan internal dan menciptakan sebuah lukisan yang sepenuhnya “keluar dari kepalanya sendiri. tetapi dari mereka yang 143 .Cara terbaik untuk melihat apakah seorang anak memiliki kemampuan internal ataukah tidak adalah dengan menugasinya menggambar sesuatu yang diperkirakan belum pernah ia lihat dan ia gambar sebelumnya.’. (c) dan berkaitan dengan penataan tindakan-tindakan praktis dan dengan demikian tidak mudah diuraikan untuk kepentingan pengaturan tindakantindakan inovatif. Hal itu terjadi. Suatu imajinasi yang aktif atau fantasi kehidupan yang hidup tidak dengan sendirinya menjamin sebuah inovasi dalam ekspresi atau tindakan. oleh karena representasi-representasi mental tahap awal (a) tidak sepenuhnya eksplisit dan dengan demikian tidak mudah diakses semau-maunya oleh anak. Tantangan tersebut biasanya dilontarkan dengan menyuruh si anak menggambar berdasarkan imajinasinya atau meminta si anak mengekspresikan fantasinya. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen. seturut model RRM. tidak semua anak cukup eksplisit mengungkapkan penilaiannya. pertama melibatkan 62 anak usia lima tahunan dan 62 anak usia sembilan tahunan. (b) kemungkinan besar tersimpan dalam otak secara terpisah-pisah sehingga keterhubungannya tidak diketahui oleh anak. Sayangnya.”. Modifikasi yang dibuat hanyalah meminta anak menjelaskan bagaimana mereka berhasil menggambarkan “sosok manusia yang belum pernah ada.

ternyata cukup eksplisit 36 anak usia lima tahunan dan 52 anak usia sembilan tahunan. dari lukisan normalnya mengenai sosok manusia apa adanya yang sudah dikumpulkan sebelum eksperimen dimulai. Eksperimen ini membuahkan hasil yang selaras dengan eksperimennya Karmiloff-Smith: hanya 8 % dari anak yang lebih muda usia berani membuat lukisan yang silang kategori bila dibandingkan dengan 39 % dari anak-anak yang lebih tua. Perbedaan ini secara statistik bersifat signifikan. 144 . di kalangan anak-anak yang bertumpu pada sebuah model yang disebutkan sebagai eksternal tidak ada hubungan terjadi antara seberapa terkait ungkapan verbal mereka dan seberapa kreatif hasil karya mereka itu dinilai. Ini masuk akal mengingat kepercayaan atas suatu model eksternal tidak otomatis membuat anak akan lebih berhasil dalam membedakan lukisan. bertambah pulalah meteri verbal yang diperoleh begitu saja (tanpa usaha keras) dari anak untuk tujuan pembahasan karya. dan barangkali bisa memantik ide-ide yang bermanfaat. Hal ini dapat dilihat pada: pertama. dan mayoritas anak yang lebih tua (67 %) menerangkan bagaimana mereka membuat inovasi dari kemampuan-kemampuan internal mereka. Hal itu menegaskan bahwa ketika kemampuan-kemampuan internal untuk inovasi grafis meningkat. mayoritas anak yang lebih muda usia (61 %) menyebut suatu karakter fiksional eksternal sebagai model mereka.

Karena ketidaktahuan inilah anak cenderung lebih bebas dan merasa leluasa. Kriteria tidak mengakhiri suatu proses kreatif karena kriteria bukanlah suatu batasan-batasan. seni lukis misalnya karena anak relatif belum banyak pengetahuan tentang aturan-aturan/norma-norma yang mengikatnya. namun analisis histori membuktikan bahwa seni lazim merupakan alat untuk sesuatu yang lain. Pada karya sendiri terdapat elemen-elemen desain atau prinsip-prinsip seni yang tidak akan berubah. Tetapi penggunaan elemen-elemen desain atau prinsip-prinsip seni. Karya seni yang dihasilkan menunjukkan kemurnian pengungkapan perasaan mereka. Karya seni dilihat dari produknya mengandung nilai intrinsik dan nilai ekstrinsik. Garis. Sesungguhnyalah produk seni harus membenarkan keberadaannya. karena pada umumnya orang memiliki tujuan ketika melakukan penilaian. Kerangka Pikir Pada prinsipnya menilai karya seni harus menentukan dulu dasar yang digunakan untuk melakukan penilaian.F. bahan akan berubah seiring dengan budaya dan filosofis sosial yang diungkapkannya. tidak takut salah. Dengan demikian untuk menilai suatu karya seni perlu pemahaman apa yang harus dilakukan bukan apa yang tidak bisa dilakukan. 145 . sehingga hasil karyanya terkesan jujur dan spontan. Tidak mudah untuk menyerap hal-hal yang tidak memiliki nilai apapun. Nilai ekstrinsik satu produk tertentu hanya bisa dievaluasi oleh keberhasilan empiris. Nilai intrinsik suatu karya seni yang sempurna sekalipun tidak akan lepas dari kualitas bahan yang dipakainya. Pada anak-anak biasanya lebih bebas dalam berekspresi dalam mewujudkan suatu karya seni rupa.

sesuai dengan bertambahnya usia anak. Kegiatan anak-anak melukis adalah suatu cara untuk mengkomunikasikan perasaan dan gagasannya. dimana mereka mengembangkan daya ciptanya. Pengalaman-pengalaman paling awal atas bahan merupakan sebuah karakter sensori-motor. Lingkaran mengindikasikan secara simbolis anak yang sedang mengidentifikasi diri sebagai suatu entitas fisik yang terpisah dari ibu dan sekaligus terikat dalam ketergantungan personal dengan ibu tersebut. dalam pengertian gestalt visual-motor. perkembangan seni lukis anak ada tahapannya. Melukis bagi anak-anak sebentuk permainan. bentuk-bentuk tersebut juga merepresentasikan secara simbolis tugas-tugas kehidupan anak-anak yang masih kecil. dan melalui manipulasi dan percobaan visual pada periode ini. dan tekstur bukan lagi sebagai elemen-elemen fisik. dan sesungguhnyalah lukisan anak-anak mempunyai makna yang profan yaitu mengandung makna lebih dalam dari pada permukaannya.warna. Sementara bentukbentuk ini mungkin dengan mudah dapat dikenali dalam artian muncul dari karakter yang sederhana sampai ke karakter yang kompleks. tetapi mencerminkan ekspresi kejiwaan yang kuat. Mulai masa bayi sampai masa dewasa awal anak melalui beberapa fase dasar perkembangan sebagaimana tercermin dalam seni. pengertian Lukisan tersebut dapat ditafsirkan dalam perkembangan dan dapat mengungkapkan informasi tentang kepribadian anak. Secara universal. sebuah kemampuan untuk memproduksi bentuk pun tercapai. Segi empat menyarankan 146 . Bahkan hasil karya lukis anak dapat menunjukkan bagaimana seseorang anak berpikir dan menangani masalah.

dan pada kadar tertentu. dan detil-detil tersebut mencerminkan pertumbuhan inteletualnya. Seorang anak akan menjadi introvert perseptual-sosial dan haptik dan tidak tergantung pada bidang dalam seninya. sedangkan anak perempuan akan cenderung mengidealisasi dirinya sendiri dalam citra wanita yang glamor dan matang. Tipe-tipe perseptual menjadi nyata dalam seni pada anak usia sembilan tahun ketika ia matang secara sosial. Pada usia enam tahun anak mulai mapan di dalam dunia nyata dan menjadi bagian sosial dari interrelationship (hubungan di dalam struktur). tetapi ia sampai pada referensi rasional yang utuh dari bentuk dan ruang skematik pada usia tujuh tahun. Kualitas estetik yang tinggi dari referensi fisik-emosionalnya pada tahun-tahun awal sekarang disubordinasikan pada pengisahan yang ideologis. Sebelumnya ia telah mengumpulkan detil-detil dalam gambranya ketika ia tumbuh. Identifikasi semacam itu membuat kecendrungan anak laki-laki untuk melebih-lebihkan proyeksi diri menjadi berupa citra yang mengerikan.penutupan-ego anak ketika ia mencoba mengklarifikasi diri dalam konteks lingkungannya. atau anak akan menjadi ekstrovert perseptual-sosial dan tergantung pada visual dalam seninya. Namun 147 . Demikianlah perkembangan kepekaan artistik anak-anak yang terlihat dalam goresan-goresan karyanya pada usia 2 sampai dengan 6 tahun. akan menjadi berorientasi pada kelompok karena adanya kebutuhan untuk mengidentifikasi dengan lebih mendalam peran seksual-diri. Kemungkinan akan terjadi anak masuk dalam kedua tipe tersebut.

Selanjutnya pada waktu proses pembuatan karya lukis. dan juga lingkungan. demikian juga untuk penilai/ penafsir dari karya lukis tersebut berdasar kriteria yang ada. bagaimana sikap. pendidik dapat menilai tingkah laku peserta didik. kelancaran dalam menggunakan media. dan keberhasilannya. baik karena perkembangan anak sendiri. Kepekaan artistik anak akhirnya terdesak oleh kemampuan logika yang melihat seluruh isi alam tidak lagi dari penghayatan seni dan imajinasi anak. kegagalankegagalan. maupun proses pendidikan.kepekaan artistik ini akhirnya akan lenyap disadari atau tidak disadari. penentuan kriteria pengukuran hasil karya lukis anak pada anak kelas 1 sampai dengan kelas 3 sekolah dasar sesuai yang tercantum dalam KTSP yaitu pada usia tujuh sampai dengan sembilan tahun kiranya harus melihat perkembangan usia dan tahapan perkembangan seni anak Dalam hal ini performance assessment yang digunakan untuk menilai kaya lukis anak. dan kepuasan anak. Berdasarkan hal tersebut di atas. mengetahui masalah-masalah. Mengingat seni sendiri sifatnya subjektif sehingga perlu suatu kesepakatan objektif dalam prosedur-prosedur yang diperlukan. Untuk penilaian produk karya seni lukis peserta didik diperlukan kriteria. the group critique untuk mengembangkan sikap oto kritis peserta didik dan mengetahui perkembangan peserta didik yang lain. Karena di lapangan masih banyak kendala khususnya pendidik yang tidak memiliki pengalaman dan 148 . pemanfaatan waktu. meliputi penilaian proses dan produk. Pendidikpun dapat menggunakan komentar peserta didik untuk masukkan diagnostik dan remedial. Penilaian proses meliputi student self evaluation yang menghasilkan data pengukuran diri sendiri.

pendidikan khusus dalam bidang seni lukis,

maka perlu ada tindakan untuk

melatih pendidik menafsirkan karya lukis peserta didik dengan menggunakan kriteria yang sudah disepakati dan diujicoba. Penentuan kriteria instrumen seni lukis peserta didik yang dikembangkan tentunya harus memenuhi persayaratan instrumen yang baik yaitu persyaratan validitas dan reliabilitas. Validitas isi dan validitas konstruk yang digunakan untuk menguji kriteria instrumen ini. Untuk mencapai validitas isi, disusun kisikisi berdasar teori-teori yang melandasinya kemudian dibahas dalam suatu focus group discussion oleh para ahli di bidang seni rupa (expert judgment) khususnya seni rupa anak. Sedangkan untuk mengistimasi reliabilitas instrumen

menggunakan intereter dengan membandingkan antar penilai. Kriteria instrumen untuk menilai karya seni lukis peserta didik tentunya harus memenuhi komponen rasio dan emosi. Karena untuk menelaah suatu karya seni cenderung penjelasan secara rasio, sedangkan karya seni dominan dengan emosi yang pengungkapannya memerlukan kepekaan intuitif. Dengan demikian diperlukan kepekaan intuitif untuk menjelaskan secara rasional. Pendidik sebagai orang yang melakukan penilaian mestinya dituntut dengan kepekaan intuitif

tersebut, sehingga subjektivitas dalam penilaian dapat diminalisir. Kriteria instrumen digunakan untuk mengembangkan instrumen karya lukis anak yang mencakup proses dan hasilnya. Instrumen karya lukis anak yang dikembangkan harus diketahui karakteristiknya. Karakteristik instrumen penilaian meliputi kesahihan (validity), keandalan (reliability), dan rubrik, yaitu cara

149

pemberian skor. Selain itu hal yang penting adalah keterpakaian instrumen ini oleh guru di sekolah dasar.

G. Pertanyaan Penelitian Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka pikir di atas, maka pertanyaan penelitiannya adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. Bagaimana kriteria instrumen penilaian karya seni lukis anak? Bagaimana validitas konstruk instrumen penilaian karya seni lukis anak? Bagaimana reliabilitas kriteria instrumen yang dikembangkan? Bagaimana rubrik penilaian karya seni lukis anak? Sejauhmana instrumen penilaian karya lukis anak ini dapat digunakan oleh guru?

H. Hipotesis Uji Model Dalam rangka untuk melihat efektifitas model yang dibuat di lapangan, perlu dilakukan uji model. Untuk menguji model tersebut, digunakan hipotesis sebagai panduan untuk melakukan justifikasi apakah efektif atau tidak menurut pengguna. Uji model ini mencakup kriteria atau konstruk instrumen. Berdasarkan permasalahan penelitian dan kajian pustaka yang melandasi dan didukung oleh kerangka pikir, maka hipotesis penelitiannya sebagai berikut: 1. Konstruk instrumen penilaian proses seni lukis anak terdiri dari sikap,

pemanfatan waktu, cara menggunakan alat, kepuasan. 2. Konstruk instrumen penilaian hasil karya lukis anak terdiri atas kreativitas, ekspresi, ketrampilan penggunaan bahan dan alat (teknik). 150

3.

Instrumen yang dikembangkan berdasarkan konstruk instrumen penilaian proses dan produk akan menghasilkan penilaian yang andal (reliable).

4. Instrumen penilaian seni lukis anak yang dikembangkan dapat digunakan guru dalam menilai proses dan hasil karya lukis anak.

151

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Data Uji Coba Berdasarkan langkah-langkah tahapan pengembangan, data hasil uji coba disajikan secara berturut-turut berikut ini. 1. Data Studi Awal a. Hasil Analisis Kurikulum Analisis kurikulum dimaksudkan untuk mengetahui keterkaitan antara tujuan pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan (seni lukis) dengan standar kompetensi lulusan (SKL) tingkat satuan pendidikan sekolah dasar. Tujuan mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan di sekolah dasar dalam standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah adalah sebagai berikut. Mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan: (1) memahami konsep dan pentingnya seni budaya dan keterampilan; (2) menampilkan sikap apresiasi terhadap seni budaya dan keterampilan; (3) menampilkan kreativitas melalui seni budaya dan ketrampilan; (4) menampilkan peran serta dalam seni budaya dan keterampilan dalam tingkat lokal, regional, maupun global (BSNP, 2006:192). Dalam Permen 22 tahun 2006 dinyatakan bahwa Standar Kompetensi Lulusan (SKL) SD/MI secara umum adalah sebagai berikut. 1) Menjalankan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan anak 2) Mengenal kekurangan dan kelebihan diri sendiri 3) Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungannya 4) Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi di lingkungan sekitarnya 5) Menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kreatif

169

6) Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif, dengan bimbingan guru/pendidik 7) Menunjukkan rasa keingintahuan yang tinggi dan menyadari potensinya 8) Menunjukkan kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari 9) Menunjukkan kemampuan mengenali gejala alam dan sosial di lingkungan sekitar 10) Menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan 11) Menunjukkan kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa, negara, dan tanah air Indonesia 12) Menunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni dan budaya lokal 13) Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang 14) Berkomunikasi secara jelas dan santun 15) Bekerja sama dalam kelompok, tolong-menolong, dan menjaga diri sendiri dalam lingkungan keluarga dan teman sebaya 16) Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis 17) Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung Hasil analisis kurikulum menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan yang sangat erat antara tujuan pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan dengan

Standar Kompetensi Lulusan (SKL) tingkat satuan pendidikan sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah (SD/MI). Keterkaitan tersebut disajikan pada Tabel 5. Tabel 5 menunjukkan bahwa mata pelajaran Seni Budaya dan Ketrampilan mempunyai sumbangan yang cukup strategis terhadap pencapaian SKL SD. Hal ini berarti keberhasilan pembelajaran Seni Budaya akan mendukung keberhasilan pencapaian SKL SD, khususnya SKL No 5 sampai dengan 13, kemudian SKL No. 14 dan 15.

170

Tabel 5 Hubungan antara Tujuan Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan (PSB) dengan SKL Satuan Pendidikan SD No. Tjn. PSB 1 2 3 4 Nomor Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan SD 1 2 3 4 5 6 X X X X 7 X X X 8 X X X 9 10 11 12 13 14 15 16 X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X 17

X X X X X

b. Hasil Analisis Kebutuhan Lapangan Analisis kebutuhan lapangan melibatkan 20 orang guru yang mengajar mata pelajaran seni lukis. Ada 14 item yang diidentifikasi dalam studi awal ini, yaitu kurikulum, buku acuan, bahan dan alat, penentuan tema lukisan, minat anak, metode penilaian, prosedur penilaian, komponen yang dinilai, kriteria penilaian, penentuan skor, unsur kreativitas, kesulitan yang dihadapi, pandangan guru, dan partisipasi sekolah/anak dalam lomba lukis. Hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti berkaitan dengan masing-masing item tersebut dapat dielaborasi berikut. Pembelajaran seni lukis anak, 75% menggunakan kurikulum tingkat

satuan pendidikan (KTSP) dan sisanya 25% menggunakan gabungan KTSP dengan kurikulum sebelumnya. Informasi tersebut disajikan pada Gambar 47. KTSP yang dikembangkan berdasarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Permen No 22 tahun 2006 tentang standar isi pendidikan merupakan

kurikulum terbaru yang digunakan pada jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah. Kurikulum yang digunakan sebelumnya adalah kurikulum 2004, yaitu kurikulum berbasis kompetensi (KBK). KTSP pada dasarnya sama dengan

171

kurikulum 2004, perbedaannya hanya level standar kompetensi yang ingin dicapai dan cakupannya.

Gambar 47. Jenis Kurikulum Yang Digunakan Hasil Studi Awal Hasil wawancara menunjukkan bahwa hanya 5% guru menggunakan 85% guru,

buku acuan yang sesuai dengan KTSP. Sebagian besar guru, menggunakan

buku yang sesuai KTSP dan sumber lain, dan 10 % guru

menggunakan buku yang tidak sesuai KTSP. Infomasi kesesuaian buku yang digunakan dengan KTSP disajikan pada Gambar 48. Dalam kaitan dengan penyiapan alat dan bahan pembelajaran seni lukis, teridentifikasi ada 5 (lima) komponen yang menyiapkannya, yaitu

Gambar 48. Kesesuaian Buku Yang Digunakan Hasil Studi Awal

172

Subjek Yang Menyiapkan Alat dan Bahan Hasil Studi Awal pembelajaran. guru dan siswa. komponen keempat. dan sekolah yang menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam pembelajaran. guru. Pembelajaran seni lukis diawali dengan penentuan tema yang akan dilukis oleh siswa. sekolah dan siswa. Dalam kaitan dengan penentuan tema lukisan tersebut. 5% guru yang menyiapkan alat dan bahan Gambar 49. 20% guru dan siswa yang menyiapkan alat dan bahan. dan komponen kelima. siswa. dan 60% tema ditentukan bersama antara guru dan siswa. 40% sekolah dan siswa yang menyiapkan alat dan bahan. Data tersebut menunjukkan bahwa sekolah secara mandiri belum mampu menyediakan alat dan bahan yang diperlukan untuk pembelajaran Informasi tentang penyiapan alat dan bahan disajikan pada Gambar 49. serta gabungan siswa. guru. 10% guru. Informasi ini disajikan pada Gambar 50.siswa. ada 30% tema ditentukan oleh guru sesuai dengan kurikulum. komponen ketiga. 25% siswa yang menyiapkan alat dan bahan pembelajaran. 173 . dan sekolah. Komponen pertama. 10% tema ditentukan oleh siswa. komponen kedua.

Minat Siswa dalam Belajar Hasil Studi Awal minat yang sangat tinggi.Gambar 50. dan 10% siswa tidak berminat dalam melukis. Hasil Studi Awal Subjek Yang Menentukan Tema Lukisan Penentuan tema merupakan tahap yang sangat krusial dalam pembelajaran seni lukis karena berkaitan dengan minat siswa. Hasil identifikasi melalui wawancara diperoleh bahwa menurut persepsi guru ada 75% siswa memiliki Gambar 51. 174 . 15% anak kurang berminat. Distribusi minat siswa terhadap pelajaran seni lukis hasil studi awal disajikan pada Gambar 51.

termasuk uraian dan prosedur dalam memberikan penilaian. 5% guru menggunakan portofolio. 15% guru menggabungkan metode pengamatan. Informasi tentang uraian dan prosedur dalam melakukan penilaian disajikan pada Gambar 53. 20% guru guru menggunakan pengamatan dan tes menggunakan portofolio dan tes perbuatan. metode penilaian yang digunakan memiliki karakteristik yang berbeda. Informasi tersebut dapat disajikan pada Gambar 52. Kesesuaian prosedur dalam melakukan penilaian setidaknya dapat memberikan patokan bagi guru dalam upaya menghindari subjektifitas penilai. portofolio dan tes perbuatan dalam memberikan penilaian terhadap siswa. Gambar 52. dan 5% guru tidak memahami metode penilaian. pengamatan perbuatan. 30% guru menggunakan portofolio.Metode yang digunakan guru dalam melakukan penilaian seni lukis siswa adalah 15% guru menggunakan metode pengamatan. Hasil Studi Awal Jenis Penilaian Yang Digunakan Guru Selanjutnya. Dalam melakukan penilaian 60% guru memberikan uraian prosedur yang sesuai dengan langkah-langkah penilaian dan 40% tidak memberikan uraian prosedur. 5% 5% guru menggunakan tes perbuatan. 175 .

Gambar 53. Gambar 54 memberikan gambaran bahwa secara umum gabungan komponen proses dan produk merupakan objek penilaian yang dilakukan oleh guru. Hasil Studi Awal Kesesuaian Prosedur Yang Digunakan dalam Penilaian Dalam kaitan dengan komponen-komponen yang dinilai dalam pembelajaran seni lukis selama ini menunjukkan bahwa 40% hanya komponen produk. Hasil Studi Awal Komponen Penilaian Guru komponen proses. 176 . 5% Gambar 54. dan 55% komponen proses dan produk. Informasi hasil studi awal ini disajikan dalam bentuk grafik seperti Gambar 54.

informasi ini disajikan pada Gambar 55. Setelah menetapkan kriteria untuk setiap komponen penilaian. dan komposisi bidang. semangat. Hasil Studi Awal Kriteria Penilaian Guru Komponen proses dan produk yang dinilai terdiri atas beberapa kriteria. Gambar 56 menunjukkan bahwa penentuan skor dalam penilaian seni lukis anak yang dilakukan oleh guru pada umumnya melalui pemberian angka. kombinasi angka dan huruf (5%). Hasil studi awal menunjukkan bahwa ada dua macam penentuan skor dalam menilai karya lukis siswa yang dilakukan. pemberian huruf misalnya sangat baik. yaitu melalui pemberian angka (80%). kesesuaian warna. komposisi bidang. langkah selanjutnya adalah penentuan skor. Kriteria proses meliputi sikap. kesesuaian lukisan dengan tema sebesar 25% . cara mewarnai produknya. Secara grafik. keberanian sebesar 70%. dan yang menjawab tidak tahu (5%). ada 5% guru memberikan kriteria proses yang meliputi cara melukis. baik. kurang baik (10%).Gambar 55. Kriteria produk meliputi komposisi warna. Informasi tentang penentuan skor dalam penilaian seni lukis anak hasil studi awal ini disajikan pada Gambar 56. Di samping itu. Hasil wawancara peneliti dengan guru 177 .

Hasil Studi Awal Unsur Kreativitas dalam Penilaian oleh Guru 178 .Gambar 56. semuanya serba kemungkinan. Hasil Studi Awal Jenis Penentuan Skor Penilaian oleh Guru tentang apa makna angka yang diberikan misalnya 60. Skor angka yang diberikan pada hasil karya seni lukis anak belum dapat dijadikan sebagai dasar bagi guru untuk melihat kreativitas dari anak. Hasil studi awal menunjukkan bahwa untuk melihat unsur kreativitas dalam sebuah produk hasil karya seni siswa. 70% guru mengungkapkan dengan memperhatikan Gambar 57. guru tersebut tidak memberikan jawaban yang pasti.

misalnya faktor-faktor yang dinilai kelengkapan peralatan dan bahan yang dibawa tidak memahami seni. Secara grafik. informasi ini dapat disajikan pada Gambar 57. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa 40% guru mengungkapkan karena tidak ada pedoman yang Gambar 58. Untuk mengatasi kesulitan tersebut.kesesuaian unsur-unsur rupa serta kemampuan anak dalam mengembangkan ide. dan keseriusan siswa. siswa. 20% guru mengungkapkan dan 5% guru mengungkapkan tidak ada kesulitan. Kemudian peneliti menanyakan kepada guru tentang kesulitan yang dialami dalam melakukan penilaian seni lukis anak. 35% guru mengungkapkan berasal dari siswa. Kesulitan Guru dalam Penilaian Hasil Studi Awal praktis untuk menilai. Informasi ini disajikan pada Gambar 58. dan 30% guru belum mengungkapkan kriteria kreativitas anak. semua guru menyarankan perlunya instrumen penilaian yang praktis untuk mempermudah dan menyeragamkan 179 . Kesulitan-kesulitan yang dihadapi guru dalam melakukan penilaian seni lukis anak ternyata cukup banyak.

informasi tentang perlu tidaknya instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak disajikan pada Gambar 59. Gambar 60. Gambar 59. Sajian informasi tersebut dalam bentuk grafik dapat dilihat pada Gambar 60. Hasil Studi Awal Tanggapan Guru Perlunya Instrumen Penilaian Partisipasi sekolah atau siswa dalam mengikuti kegiatan lomba seni lukis berdasarkan wawancara yang peneliti lakukan menunjukkan bahwa 25% siswa sering mengikuti lomba lukis. dan 5% siswa tidak pernah mengikuti lomba. 20% siswa jarang mengikuti lomba lukis.penilaian yang dilakukan guru. Secara grafik. Hasil Studi Awal Partisipasi Siswa atau Sekolah dalam Kegiatan Lomba 180 . 50% siswa cukup mengikuti lomba lukis.

terutama jika dilihat dari guru yang melaksanakan penilaian.Nitikan SD Muh.Indonesia B. Papringan SD Muh. Nitikan SD Muh. Pada umumnya (95%) guru yang mengajarkan dan melaksanakan penilaian seni lukis anak tidak memiliki latar belakang pendidikan atau pengalaman seni. tampak bahwa pembelajaran dan penilaian pendidikan seni lukis sungguh memprihatinkan.Indonesia Psikologi Tek.Berdasarkan temuan studi awal tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan penilaian seni lukis anak selama ini masih perlu perbaikkan dan peningkatan.Danunegaran SD Muh. Tabel 6 Daftar Peserta Studi Awal Inisial resp SW PB SR NH AG PN EL RL RP SW SS WA TR RH ET MR SR RP SL LP Usia (Tahun) 49 36 39 47 54 45 55 50 35 38 32 39 31 33 27 35 29 34 44 28 Asal Sekolah SD Lempuyangan 2 SD Lempuyangan 1 SD Lempuyangan 3 SD Tegal Panggung SDN Widoro SD Suryodiningratan 4 SD Langensari SD Samirono SD Suryodiningratan 3 SD Pujokusumon 3 SD Muh.Penumping SD Muh. Sebaran guru dan latar belakang guru disajikan pada Tabel 6. 181 . Pendidikan Lukis & Tari Mencermati informasi yang disajikan pada Tabel 6.Karangkajen SD Muh. Gowongan SD Muh.Perancis B.Indonesia &IPS √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Agama & Sains B. Danunegaran SD Muh. Papringan SD Muh. Kauman Jenis Guru Guru kelas Guru bidang studi Bidang Keahlian Seni lukis IPS Olah raga B.

182 . 2. sehingga memerlukan perhatian yang serius dari semua pihak yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan seni lukis. perlunya pengembangan instrumen seni lukis didasarkan juga pada fakta yang disajikan pada gambar 59. Penyimpulan ini didasarkan pada perbedaan karakteristik pembelajaran seni yang dilakukan oleh setiap guru. dapat ditarik kesimpulan bahwa instrumen penilaian seni lukis anak perlu dikembangkan untuk mempermudah guru dalam melakukan penilaian yang lebih objektif. Adanya perbedaan ini. Berdasarkan uraian hasil studi awal di atas. Kenyataan ini merupakan suatu gambaran tentang pembelajaran dan penilaian seni lukis yang terjadi selama ini. Definisi konstruk instrumen karya seni lukis anak dijabarkan menurut indikator. dikhawatirkan akan memicu terjadinya penilaian yang cenderung subjektif. Perbedaan ini tampak pada Gambar 47-58 serta Tabel 6. Gambar tersebut mengungkapkan secara eksplisit bahwa 100% guru yang diteliti menyatakan sangat perlu instrumen penilaian yang praktis sehingga untuk mempermudah dan menyeragamkan penilaian guru.Pendidik yang memiliki pemahaman dan pengetahuan tentang seni lukis sangat sedikit (hanya 5%) yaitu mereka yang berlatar belakang pendidikan seni. deskripsi. Pendefisian ini pada dasarnya dihasilkan dari pendalaman literatur tentang seni dan strategi pendidikannya. kriteria dan rubrik penentuan skor. Data Pendefinisian Pada langkah ini didapatkan definisi konstruk instrumen dan kajian atas konsep instrumen karya lukis anak yang dijabarkan dari kajian teori. Selain fakta yang ditunjukkan pada gambar dan tabel tersebut. sehingga kualitas pembelajaran dan penilaian seni lukis masih sangat rendah.

Indikator merupakan tolok ukur (Rohandi. (Novianto. Dalam penelitian ini rubrik merupakan daftar kriteria yang diwujudkan dengan dimensi-dimensi kinerja. Dalam penelitian ini deskripsi didefinisikan sebagai paparan kata-kata yang secara terperinci dari indikator yang diturunkan yang digunakan sebagai dasar untuk mengamati objek penilaian. Kemudian. Indikator Indikator adalah suatu karakteristik. mulai dari tingkat yang paling sempurna sampai dengan tingkat yang paling rendah. patokan untuk mempertimbangkan atau menentukan sesuatu. Deskripsi Deskripsi adalah suatu paparan dengan kata-kata yang terperinci (Novianto. Kriteria adalah kadar ukuran.a. 183 . ciri-ciri. dan disepakati penilai dan siswa. Novianto (2005: 230) mengemukakan bahwa indikator adalah alat untuk mengukur dan sebagai petunjuk. aspek-aspek atau konsep-konsep yang akan dinilai dan gradasi mutu. perbuatan. 2002: 20). Dengan demikian kriteria atau rubrik merupakan panduan memberi skor. Kriteria atau Rubrik Kriteria atau rubrik adalah pedoman menilai kinerja atau hasil kerja. Rubrik dapat membantu seseorang untuk menentukan tingkat ketercapaian kinerja. jelas. Indikator keberhasilan karya seni lukis anak dapat dilihat pada lampiran 1 halaman 271. 2005: 306). c. 2005:141). Dengan demikian indikator merupakan suatu petunjuk atau acuan sehingga memudahkan guru dalam melakukan penilaian. b.

sedangkan dimensi penilaian 184 . Setelah itu dilakukan proses telaah dengan memanfaatkan validasi ahli untuk menperoleh kesepakatan dalam menentukan validasi ahli konstruk penilaian. Instrumen Penilaian Seni Lukis Hasil Tahap Rancangan tahap sebelumnya ditetapkan menjadi konstruk instrumen pendidikan seni lukis anak. Dimensi penilaian proses adalah penilaian yang ditunjukkan untuk mengamati kompetensi peserta didik dalam berkreasi membuat karya seni lukis. unsur Ketekunan Waktu Kretivitas Ekspresi Teknik • • Penilaian diri Penilaian kelompok Gambar 61. Masing-masing dapat disimak pada Gambar 61. konstruk instrumen yang telah didefinisikan pada Awal • • Tanggapan siswa Kesiapan alat Proses Guru Inti Karya Seni Guru Produk Siswa • • • • • • • • Penuangan ide Pengg. dimensi produk. Hasil digunakan sebagai dasar untuk merancang konstruk instrumen secara utuh. dan konten serta sasaran penilaian. Data Perancangan Pada tahap perancangan. media Pengg. Konfigurasi dari konstruk instrumen yang komprehensif dan utuh mengandung prototipe dimensi proses.3.

Kegiatannya meliputi pengembangan indikator. ekspresi. 4) ketekunan. Komponen proses terdiri atas 5 (lima) indikator dan komponen produk 3 (tiga) indikator. Rangkuman hasil FGD kedua disajikan pada Tabel 7. Indikator proses teridiri atas tahap awal dan tahap inti. Tahap awal meliputi: 1) tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat. 2) kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis. Indikator produk terdiri atas kreativitas. Hasil FGD ketiga adalah kesepakatan tentang kriteria masing-masing indikator dan deskripsi yang diperoleh pada dua FGD sebelumnya. Seminar dilaksanakan untuk mendapat masukan dan saran berkaitan dengan indikator. analisis dan pembakuan. Hasil FGD pertama adalah kesepakatan bahwa penilaian seni lukis anak terdiri atas komponen proses dan produk dengan perbandingan 60% untuk proses dan 40% untuk produk. perbaikan item. Langkah pengembangan berikutnya adalah seminar.produk adalah penilaian yang ditunjukkan untuk melihat kompetensi peserta didik dalam membuat karya cipta seni lukis. dan teknik. 2) keberanian menggunakan media. 4. Data Pengembangan Tahapan ini merupakan tahap elaborasi lanjut setelah prototipe hasil perancangan diperoleh pada tahap sebelumnya. deskripsi dan 185 . telaah item. 3) keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk. Hasil FGD kedua adalah kesepakatan tentang deskripsi masing-masing indikator yang ditemukan pada FGD pertama. 5) pemanfaatan waktu. penyusunan item instrumen. uji coba instrumen. Indikator tahap inti meliputi: 1) kelancaran penuangan ide.

serta kebersihan karya yang dihasilkan 3 4 5 B 1 2. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik 2 Kesiapan alat dan bahan Suatu kondisi peserta didik yang sudah yang akan digunakan siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk untuk melukis pembuatan karya lukisnya A.Tabel 7. Hasil FGD Pertama dan Kedua No A. Ketekunan Kondisi peserta didik untuk mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh-sungguh Pemanfaatan waktu Penggunaan waktu sebaik-baiknya untuk membuat karya lukis Komponen Produk Kreativitas Keaslian bentuk (kemampuan menciptakan bentuk yang khas).1 1 Indikator Komponen Proses Tahap Awal Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Deskripsi Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi. A. 3 186 . kebaruan teknik dan konsep cerita Ekspresi Kejelasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema Teknik Kemampuan menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya.2 Tahap Inti 1 Kelancaran penuangan ide Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara kualitas ide yang dikembangkan dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut 2 Keberanian menggunakan Keberanian menggunakan media (alat dan media bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik inkonvensional dalam melukis Keberanian menggunakan Keberanian menggunakan titik. garis. unsur-unsur bentuk bidang. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik. kualitas cara penggambaran.

Akhir dari tahap pengembangan adalah kegiatan melakukan uji empiris instrumen. Adapun pada Gambar 63. Diseminasi Tahap diseminasi merupakan tahap sosialisasi instrumen dan pedoman penggunaan instrumen penilaian seni lukis anak pada pendidik seni lukis sekolah dasar. penskorannya.kriteria yang telah disepakari pada tahap FGD. Perubahan ini dimaksudkan untuk lebih menyederhanakan rubrik penskoran tanpa mengurangi maksud yang ingin dicapai yaitu menciptakan instrumen penilaian seni lukis yang valid dan andal. sedangkan hasil seminar disajikan pada Gambar 63. Hasil kesepakatan dalam FGD adalah pedoman dapat digunakan di sekolah. 5. dan kelayakan penyajian yang meliputi sistimatika. Hasil FGD Ketiga disajikan dalam Gambar 62. 2) cukup. Data lengkap hasil FGD ini dapat dilihat pada Lampiran 3 halaman 276. keterbacaan dan penampilan fisik. tampak sejumlah perubahan yang mendasar pada kriteria untuk setiap level penilaian. kriteria penilaian. khususnya berkaitan dengan kriteria dan rubrik penskoran. Gambar 62 merupakan rubrik skor yang disusun untuk setiap indikator dengan masing-masing indikator terdiri dari 4 level/tingkatan penilaian yaitu: 4) sangat baik. dan 1) kurang. Proses kesepakatan terkait dengan perubahan-perubahan pada instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar melalui FGD dan seminar dilakukan melalui pengkajian bersama yang dilandasi oleh kajian teori yang ada. 187 . Pedoman penggunaan intrumen meliputi petunjuk penggunaan. 3) baik. Ada beberapa perubahan mendasar yang diperoleh dari peserta seminar.

Indikator Kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis • • • • Sangat baik Bertanya seperlunya seputar tema lukisan kepada guru Tidak pernah mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan sangat cepat Memperlihatkan kegairahan yang sangat tinggi untuk memulai melukis Deskripsi Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi.1. Rangkuman Hasil FGD Ketiga 188 . ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik Level Kurang • Sangat sering bertanya seputar tema lukisan kepada guru • Sering mengeluh dengan tema yang diberikan • Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan lambat • Memperlihatkan kegairahan yang kurang untuk memulai melukis Sangat baik • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan sangat lengkap • Alat dan bahan sangat siap untuk digunakan • Alat dan bahan sangat mendukung kegiatan melukis Deskripsi Suatu kondisi peserta didik yang sudah siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya Kurang • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan kurang lengkap • Alat dan bahan kurang siap untuk digunakan • Alat dan bahan kurang mendukung kegiatan melukis Level Baik • Jarang bertanya seputar tema lukisan kepada guru • Jarang mengeluh dengan tema yang diberikan • Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan cepat • Memperlihatkan kegairahan yang tinggi untuk memulai melukis Cukup • Sering bertanya seputar tema lukisan kepada guru • Cukup sering mengeluh dengan tema yang diberikan • Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan cukup cepat • Memperlihatkan kegairahan yang cukup tinggi untuk memulai melukis Baik • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan lengkap • Alat dan bahan siap untuk digunakan • Alat dan bahan mendukung kegiatan melukis Cukup • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan cukup lengkap • Alat dan bahan cukup siap untuk digunakan • Alat dan bahan sangat mendukung kegiatan melukis Gambar 62. Indikator Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Tahap Awal 2.

bidang) cukup mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna cukup mendekati warna sebenarnya Cukup berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis • • Kurang • Lambat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Kurang tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media kurang sesuai dengan karakteristiknya • 1. garis.Lanjutan Gambar 62 Baik • Cepat dalam menemukan ide • Tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide • Cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Cukup • Cukup cepat dalam menemukan ide • Cukup tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide • Cukup cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media • Baik • Cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media sesuai dengan karakteristiknya Sangat baik • Sangat cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Sangat tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media sangat sesuai dengan karakteristiknya Sangat baik • Sangat cepat dalam menemukan ide • Sangat tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide • Sangat cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Kurang • Lambat dalam menemukan ide • Kurang tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide • Lambat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media • • Sangat baik Sangat baik Variasi unsur-unsur bentuk (garis. Indikator Keberanian menggunakan media Level Deskripsi Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara ide yang ada dalam diri siswa dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut 3. bidang. Indikator Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk Deskripsi Kemampuan menggunakan titik. dan warna untuk menghasilkan bentuk yang orisional/khas Baik Variasi unsur-unsur bentuk(garis. Indikator Kelancaran penuangan ide • Kurang Variasi unsurunsur bentuk sedikit (garis. bidang) sangat mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna sangat mendekati warna sebenarnya Sangat berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis • • • • Level Cukup • Cukup cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Cukup tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media cukup sesuai dengan karakteristiknya Deskripsi Kemampuan menggunakan media (alat dan bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik bebas dalam melukis 2. bidang) mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna mendekati warna sebenarnya Berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis Level Cukup Variasi unsurunsur bentuk (garis. bidang) mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna tidak mendekati warna sebenarnya Kurang berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis • • • Tahap Inti 189 .

Lanjutan Gambar 62 4. Indikator Pemanfaatan waktu 5. Indikator Tahap Inti Ketekunan Deskripsi Penggunaan waktu sebaik-baiknya dilakukan untuk membuat karya lukis Sangat baik • Menyelesaikan karya lukis dengan sangat tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang sangat tuntas Kurang • Menyelesaikan karya lukis dengan kurang tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang kurang tuntas Cukup • Menyelesaikan karya lukis dengan cukup tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang cukup tuntas Sangat baik • Sangat serius dalam membuat karya lukis • Perhatian terhadap karya lukis sangat terfokus Deskripsi Kondisi peserta didik untuk mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh-sungguh Level Level Kurang • Tidak serius dalam membuat karya lukis • Perhatian terhadap karya lukis kurang terfokus Baik • Menyelesaikan karya lukis dengan tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang tuntas Baik • Serius dalam membuat karya lukis • Perhatian terhadap karya lukis terfokus Cukup • Cukup serius dalam membuat karya lukis • Perhatian terhadap karya lukis cukup terfokus 190 .

Indikator Ekspresi 3. Indikator Kreativitas 2. Indikator Teknik Produk Deskripsi Sangat baik • Sangat jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Sangat tegas/ spontan dalam mengungkapkan garis Sangat berani dalam mengorganisasikan unsurunsur karya lukis Kejelasan dalam mengungkapkan isi/tema/konsep lukisan • Kurang Kurang jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Kurang tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Kurang berani dalam mengorganisasikan unsurunsur karya lukis • • • • Level Sangat baik • Alat dan bahan yang digunakan sangat sesuai karakteristiknya • Sangat teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan sangat bersih Deskripsi Kemampuan menggunakan alat dan bahan sesuai dengan karakteristiknya serta kebersihan karya yang dihasilkan Level Kurang • Alat dan bahan yang digunakan kurang sesuai karakteristiknya • Kurang teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan kurang bersih • Baik Jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Berani dalam mengorganisasikan unsurunsur karya lukis Cukup • Cukup jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Cukup tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Cukup berani dalam mengorganisasikan unsurunsur karya lukis • • • • Baik • Alat dan bahan yang digunakan sesuai karakteristiknya • Teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan bersih Cukup • Alat dan bahan yang digunakan cukup sesuai karakteristiknya • Cukup teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan cukup bersih 191 .Lanjutan Gambar 62 • • • • • Baik Jarang melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang tinggi memodifikasi objek Warna yang digunakan bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang tinggi menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang banyak dalam dalam Cukup • • • • • Cukup sering melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan cukup bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang cukup banyak Sangat baik • • • • • Tidak pernah melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang sangat tinggi dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan sangat bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang sangat tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang sangat banyak Kurang • • Level • • • Sering melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang kurang memodifikasi objek Warna yang digunakan kurang bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang kurang menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang kurang banyak dalam dalam Deskripsi Keaslian bentuk (kemampuan menciptakan bentuk-bentuk baru) 1.

ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik Deskripsi Suatu kondisi peserta didik yang sudah siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek Menerima Memahami Melaksanakan Sangat baik Terpenuhi 3 aspek Lengkap Relevan Siap digunakan Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek Lengkap Relevan Siap digunakan • • • Sangat baik Terpenuhi 3 aspek Menerima Memahami Melaksanakan Level • • • • • • Level • • • • • • Baik Terpenuhi 2 aspek Menerima Memahami Melaksanakan • • • Kurang Terpenuhi aspek Menerima Memahami Melaksanakan 1 • • • Baik Terpenuhi 2 aspek Lengkap Relevan Siap digunakan • • • Kurang Terpenuhi aspek Lengkap Relevan Siap digunakan 1 Gambar 63. Rangkuman Hasil Seminar Instrumen Penilaian Seni Lukis 192 . Indikator Kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis Deskripsi Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi. Indikator Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Tahap Awal 2.1.

garis.Lanjutan Gambar 63 Baik Terpenuhi 2 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Kurang Terpenuhi 1 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Baik Terpenuhi 2 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Lambat • Tepat • Sesuai dengan media Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Berani • Tepat • Artistik Baik Terpenuhi aspek • Berani • Tepat • Artistik 2 Level Deskripsi Kemampuan menggunakan media (alat dan bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik bebas dalam melukis 2. bidang. Indikator Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk Deskripsi Keberanian menggunakan titik. Level Kurang Terpenuhi 1 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Berani • Tepat • Artistik Kurang Terpenuhi aspek • Berani • Tepat • Artistik 1 1. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik. Indikator Kelancaran penuangan ide Tahap Inti 193 . Indikator Keberanian menggunakan media Level Deskripsi Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara ide yang ada dalam diri siswa dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut 3.

Indikator Pemanfaatan waktu Tahap Inti Sangat baik • Menyelesaikan karya lukis dengan sangat tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang sangat tuntas Deskripsi Penggunaan waktu sebaik-baiknya dilakukan untuk membuat karya lukis Level Kurang • Menyelesaikan karya lukis dengan kurang tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang kurang tuntas Sangat baik Karya sebelum berakhir selesai waktu Deskripsi Penggunaan waktu sebaik-baiknya dilakukan untuk membuat karya lukis Sangat kurang Karya tidak selesai saat waktu berakhir Level Baik • Menyelesaikan karya lukis dengan tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang tuntas Cukup • Menyelesaikan karya lukis dengan cukup tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang cukup tuntas Baik Karya selesai tepat waktu Kurang Karya hampir selesai saat waktu berakhir 194 .Lanjutan Gambar 63 4. Indikator Pemanfaatan waktu 5.

Lanjutan Gambar 63 Baik Terpenuhi 2 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Kurang Terpenuhi 1 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Level Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Deskripsi Keaslian bentuk (kemampuan menciptakan bentuk yang khas). Indikator Kreativitas 3. serta kebersihan karya yang dihasilkan Level Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Level Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Baik Terpenuhi 2 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Kurang Terpenuhi 1 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Baik Terpenuhi 2 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Kurang Terpenuhi 1 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih 195 . Indikator Ekspresi 1. kebaruan teknik dan konsep cerita 2. kualitas cara penggambaran. Indikator Teknik Deskripsi Kejelasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Produk Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Deskripsi Kemampuan menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya.

maka pada tahapan analisis lanjut (analisis D study) akan didapatkan informasi tentang keputusan seberapa jauh penggunaan 196 . penilaian produk. (2) data uji coba komponen penilaian produk. Komponen-komponen yang digunakan sebagai acuan untuk melakukan rating oleh para rater telah diperoleh dari hasil pengembangan pada tahap sebelumnya dan dikenal dengan produk tentatif instrumen penilaian karya seni lukis. Analisis Data 1. dan (4) data uji coba komponen penilaian kelompok.358). penilaian diri dan penilaian kelompok pada pengguna di lapangan. dalam pengembangan ini yakni sumber variansi murid (P). penilai (R) dan item kriteria penilaian (I). dan (3) data uji coba komponen penilaian diri. Data Uji Coba Bagian ini mendeskripsikan tentang hasil uji coba penggunaan instrumen penilaian yang diujicobakan kepada tiga orang guru sebagai rater atau penilai terhadap penilaian karya seni lukis (beberapa hasil karya lukis anak dapat dilihat pada lampiran 9 hal. Kegiatan uji coba ini dipaparkan data hasil uji coba pada keempat kawasan tersebut. Data uji coba terdiri dari 4 (empat) komponen yaitu (1) data uji coba komponen penilaian proses.B. Hasil ujicoba instrumen ini disajikan pada bagian analisis data. Instrumen penilaian ini terdiri atas empat komponen utama yakni penilaian proses. Setelah koefisien G dapat diketahui. Hasil analisis G study digunakan untuk mengetahui koefisien reliabilitas alat penilaian yang dikembangkan serta estimasi komponen variansi kesalahan yang diakibatkan oleh berbagai sumber variansi.

00 426924.00 18127.71 118 43.15 3.69 0.00 100.42 % Total Varian 4.60 381079.instrumen yang telah diuji memiliki keberlakuan pada faset yang lebih luas terutama menyangkut kesamaan kondisi pengukuran.94 118 0. Hal yang sama Tabel 8 Estimasi Komponen Variansi Siswa.84 0.73 3.14 7701. a.98 0.68 18 10555.28 413296.00 581347.18 35943.00 3.93 0.64 189.07 Nested pada Penilai) 800302.29 24. Penilai.60 1062 15.07 421.38 2.58 0.62 Total 3395152.14 118 43.85 771345.07 15. JK2 = sums of squares for score effects.04 52.63 59 132.29 59 130.00 16124.40 31282540.15 0.00 53.53 5874.28 1062 17.55 1259 193.14 4.76 193.23 4.43 222.85 594179. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Proses Sumber Variansi Murid (P) Kelas 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 JK1 JK2 db KR Varian 0.95 2 113235.3 59 3.40 189997.00 100.83 4.67 0.14 1259 114729.28 Murid dan Item 868049.28 17.71 5130. dan dapat diterimanya kondisi faset tersebut bagi rater atau penilai yang lain.56 1062 0. Hasil Analisis Genova Untuk Estimasi Komponen Variansi 1) Analisis Estimasi Komponen Varians Komponen Penilaian Proses Rangkuman analisis G study dari data uji coba komponen penilaian proses dapat disajikan sebagaimana pada Tabel 8.16 18 158.06 457.27% dari seluruh komponen varian harapan.95 204981.29 3432.18 3.60 100.72 207969.96 9.33 7823.56 I:R 836923.00 6004.04 62.48 PI:R ( Interaksi 9244. kelas 2 dan di kelas 3 menunjukkan bahwa estimasi variance true skor yang terbesar dari faset yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) di kelas 1 adalah sumber variansi kesalahan pengukuran komponen item yang nested pada penilai (I:R) dengan proporsi 86.15 1259 124816.59 2 31.77 86.46 41.29 18 11387.51 175.66 226469. 197 .04 0.90 8728.27 41.29 Penilai (R) 631942.20 2854. Hasil rangkuman analisis G study untuk penilaian proses di kelas 1.00 297.86 2 103984.43 PR (Interaksi Murid 6092.21 dan Penilai) 644940.00 0.40 457402.43 5174.60 Catatan: JK1 = sums of squares for mean scores.00 242.

04% dan 52. interaksi murid dan item nested pada penilai (PI:R) proporsinya tampak lebih kecil terhadap seluruh komponen variansi hasil penilaian proses kualitas karya seni lukis dibanding proporsi komponen varians penilai (R) dan kriteria penilaian yang nested pada penilai (I:R).77%. interaksi murid dengan penilai (PR). 198 . hal ini diduga karena guru yang menjadi rater atau penilai baru mengenal model dan konstruk alat penilaian yang dikembangkan. Sumber variansi item yang bersarang pada penilai (I:R) merupakan komponen varian yang paling dominan.untuk di kelas 2 dan kelas 3 . Pada uji coba di kelas 2 dan di kelas 3. Sumber variansi komponen yang lain yakni murid (P). Hal ini dapat dipahami karena faktor pemahaman dan latihan atau pengalaman guru sangat dituntut untuk bisa melakukan penilaian yang benar sesuai konstruk yang dikandung oleh alat penilaian yang dikembangkan. dan yang terbesar adalah sumber variansi penilai (R) dengan proporsi masing-masing 53. kondisi semacam itu telah bergeser yakni bukan lagi komponen varians item yang bersarang pada penilai (I:R) yang dominan sebagai penentu varians kesalahan pengukuran melainkan penilai atau rater. Selain itu penggunaan alat penilaian yang dikembangkan ini merupakan cara baru yang berbeda dengan caracara konvensional sebagaimana yang lazim digunakan oleh para guru sebelum cara penilaian ini dikenalkan. yang dominan mempengaruhi variansi kesalahan pengukuran adalah item yang bersarang pada penilai (I:R) dan untuk uji coba di kelas 2 dan di kelas 3 adalah penilai (R). Kondisi yang demikian berarti bahwa faset yang berkaitan dengan objek pengukuran untuk penilaian proses.

00 121393.90 14230.73 5734.95 1.16 1.98 db 59 59 59 2 2 2 6 6 6 118 118 118 354 354 354 539 539 539 KR 108.07 25.45 5.65 234248.09 95. peranan penilai (R) merupakan sumber variansi kesalahan pengukuran terbesar.65 53598.00 275197.05 25.42 Varian 7.05 10. Penilai.70 51427.50 96419.98 382.77 219396.00 1050134.00 113876.48 40.90 JK2 6421.49 150357.17 100.16 % Total Varian 1.08 94.27 199841.25 48209.60 4607.52 47746.02 251512. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Produk Sumber Variansi Murid (P) Penilai (R) I:R PR (Interaksi Murid dan Penilai) PI:R ( Interaksi Murid dan Item Nested pada Penilai) Total Kelas 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 JK1 118655.86 40.89 207726.81 146747.50 9.98 356.60 7.69 0.00 100.51 5248.13 25.25 213078.25 4733.12 106.00 39.54 45534.83 80.07 91069.38 34407.83 4719. 199 .86 40.80 5104.00 0.03 6.33 222531.21 0. Latihan dan pengalaman bagi penilai dalam menggunakan alat penilaian untuk menilai kualitas karya seni lukis merupakan cara untuk mengurangi kesalahan pengukuran dan untuk meningkatkan tingkat konsistensi dan keajegan hasil penilaian.23 86.60 1083712.26 241766.71 54775.25 158537.68 1.64 62.20 32.89 9154. Hasil rangkuman analisis Tabel 9 Estimasi Komponen Variansi Siswa.77 38434.00 262591.70 26.15 4.00 2. 2) Analisis Estimasi Komponen Varian Komponen Penilaian Produk Rangkuman analisis G study dari data uji coba komponen penilaian produk dapat disajikan sebagaimana pada Tabel 9.65 27. JK2 = sums of squares for score effects.61 5673.64 232.67 60.27 233.Hasil uji coba ini menunjukkan bahwa pada penerapan alat penilaian karya seni lukis untuk komponen proses.60 1013040.86 95492.23 34039.24 221.48 63.00 Catatan: JK1 = sums of squares for mean scores.59 44.00 255520.96 11558.00 100.20 32.65 366.29 6405.67 209554.

64%.07%.68%.G study untuk penilaian produk di kelas 1. Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa faset yang berkaitan dengan objek pengukuran untuk penilaian produk. Berdasarkan analisis ini penerapan alat penilaian karya seni lukis untuk komponen produk. dan di kelas 3 sebesar 26. interaksi murid dengan penilai (PR). di kelas 2 sebesar 27. Sumber variansi yang lain tidak begitu besar proporsinya sebagai komponen varians untuk penilaian produk. kelas 2 dan di kelas 3 menunjukkan bahwa estimasi varian true skor yang terbesar dari faset yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) adalah sumber variansi kesalahan pengukuran komponen penilai (R) dengan proporsi komponen varians di kelas 1 sebesar 63. Sumber variansi komponen yang lain yakni murid (P).65%. interaksi murid dan item bersarang pada penilai (PI:R) proporsinya tampak lebih kecil terhadap variansi hasil penilaian proses kualitas karya seni lukis dibanding pengaruh kedua sumber variansi penilai (R) dan kriteria penilaian yang bersarang pada penilai (I:R). Untuk itu masih dibutuhkan juga latihan dan pengalaman bagi penilai dalam menggunakan instrumen penilaian produk untuk menilai kualitas karya seni lukis siswa agar 200 . faset yang dominan sebagai variansi kesalahan pengukuran adalah penilai (R) dan item yang bersarang pada penilai (I:R).67%. dan di kelas 3 sebesar 62. di kelas 2 sebesar 60.70%. Kemudian berikutnya adalah sumber varians kesalahan untuk komponen item yang bersarang pada penilai (I:R) dengan proporsi komponen varians di kelas 1 sebesar 25. peranan penilai (R) tetap merupakan sumber varians kesalahan pengukuran yang terbesar seperti halnya pada penilaian proses.

92 93302.66 89356.90 263.56 100.03 2.56 3.44 59 70.48 122.67 3 45.26 12 7775. Penilai.08 97430.30 193926.91 1.15 1 245471.96 2 47344.00 9119. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Diri Sumber Variansi Murid (P) Kelas JK1 JK2 db KR Varian % Total Varian 1 166008.88 12.12 100.24 3 47.93 2885.23 270.23 PI:R ( Interaksi 1 353340.37 PR (Interaksi Murid 1 256241. 201 .10 198782.50 204742.42 1.00 708 10.48 130.13 899 50496.15 1.61 59 48.00 Catatan: JK1 = sums of squares for mean scores.28 13.36 100.20 2259.38 4.23 135.65 3.97 1 333164.88 1 1354225. kelas 2 dan di kelas 3 menunjukkan bahwa estimasi skor true variance dari faset yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) komponennya lebih banyak pada sumber variansi kesalahan pengukuran komponen penilai (R) dan proporsi komponen memiliki item yang nested pada penilai (I:R).56 10.67 899 55542.04 Murid dan Item 2 380667.36 118 35.00 7478.14 48.09 1.00 3 1407051. 3) Analisis Estimasi Komponen Varians Penilaian Diri Rangkuman analisis G study dari data uji coba komponen penilaian diri dapat disajikan sebagaimana pada Tabel 10.68 dan Penilai) 2 275758.34 708 12.75 708 13.00 45.00 9405.77 5.71 3 171313. JK2 = sums of squares for score effects.20 4175.19 129.30 899 52561.93 2 178809.82 263505.76 365927.72 46.16 I:R 2 368044.19 Penilai (R) 2 270613.98 0.00 Total 2 1473892.33 280.75 121.05 12 7307.28 5.82 349803. Sumber varians penilai (R) Tabel 10 Estimasi Komponen Variansi Siswa.72 0.11 1.31 86057.dapat meningkatkan tingkat konsistensi dan keajegan hasil penilaian serta tingkat kesepakatan pemahaman terhadap konstruk sasaran penilaian karya seni lukis untuk komponen produk di antara para penilai.72 119. Hasil rangkuman analisis G study untuk penilaian diri di kelas 1.45 256501.28 94688.30 118 19.61 3 0.57 46.40 6594.96 2 44678.40 2835.13 4168.80 12 8119.77 Nested pada Penilai) 3 4.37 87693.30 118 24.53 59 111.44 2 43028.

82%.16%. ternyata peranan penilai (R) dan item yang nested pada penilai (I:R) tetap merupakan sumber variansi kesalahan pengukuran yang dominan seperti halnya pada penilaian proses maupun produk.19%. Kondisi yang demikian dapat dimaknai bahwa faset yang berkaitan dengan objek pengukuran untuk penilaian diri. yang dominan sebagai komponen variansi kesalahan pengukuran adalah penilai atau rater (R) dan item yang nested pada penilai (I:R). Penerapan alat penilaian karya seni lukis untuk komponen penilaian diri. interaksi murid dan item nested pada penilai (PI:R) proporsi komponen variannya tampak lebih kecil terhadap variansi hasil penilaian proses kualitas karya seni lukis dibanding pengaruh kedua sumber variansi penilai (R) dan kriteria penilaian yang bersarang pada penilai (I:R). Sumber variansi komponen variansi kesalahan pengukuran yang lain yakni murid (P). di kelas 2 sebesar 48.45%.67%. 202 . dan di kelas 3 sebesar 45.24%. di kelas 2 sebesar 46. Sumber variansi komponen item yang bersarang pada penilai (I:R) mempunyai proporsi komponen varians di kelas 1 sebesar 46. dan di kelas 3 sebesar 47. Untuk itu masih dibutuhkan juga latihan dan pengalaman bagi penilai dalam menggunakan alat penilaian produk untuk menilai kualitas karya seni lukis siswa untuk dapat meningkatkan tingkat konsistensi dan keajegan hasil penilaian serta tingkat kesepakatan pemahaman terhadap konstruk sasaran penilaian karya seni lukis untuk komponen penilaian diri di antara para penilai. interaksi murid dengan penilai (PR).proporsi komponen varians di kelas 1 sebesar 45.

99 62.84 20.68 4030.92 162.67 177281.60 4558.84 20. kelas 2 dan di kelas 3 menunjukkan bahwa estimasi varian true skor yang terbesar dari faset yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) adalah sumber varians kesalahan pengukuran komponen penilai (R) dengan proporsi komponen varian di kelas 1 sebesar 61.60 151769.20 65190.75 35.31 73.56 1.80 331756. Kemudian berikutnya adalah sumber varians kesalahan pengukuran untuk komponen item yang nested pada penilai (I:R) dengan proporsi komponen Tabel 11 Estimasi Komponen Variansi Siswa.77 300.60 306093.13 106476.74 17. Penilai.60 JK2 7461.67 6106.4) Analisis Estimasi Komponen Varian Komponen Penilaian Kelompok Rangkuman analisis G study dari data uji coba komponen penilaian kelompok dapat disajikan sebagaimana pada Tabel 11.68 53272.95 53276.86 124569.00 Catatan: JK1 = sums of squares for mean scores.65 6.45 12566.88 53238.00 381082.22 % Total Varian 1. Hasil rangkuman analisis G study untuk penilaian kelompok di kelas 1.68 4.03 Varian 4.67 252349.30 1524234.59 58671.73 30.30 1311529.03 27.00 1308980.10 61.00 100.99%.16 17.75 67844.42 2.64 184566.167%.20 263997.85 14466.39%.80 4.75 13.00 100.70 100.47 77.75 13.00 331741.24 4595.26 77.07 4241.75 2.23 308648. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Kelompok Sumber Variansi Murid (P) Penilai (R) I:R PR (Interaksi Murid dan Penilai) PI:R ( Interaksi Murid dan Item Nested pada Penilai) Total Kelas 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 JK1 153334.95 34.87 0.96 54098.43 165.84 4439.72 51. di kelas 2 sebesar 62.58 4439.47 1.93 208358.20 9797.55 189. 203 .35 5432.39 27.88 265917.43 57873.03 6.92 108197.46 db 59 59 59 2 2 2 12 12 12 118 118 118 708 708 708 899 899 899 KR 126. dan di kelas 3 sebesar 62.21 305622.43 265.91 1.93 297293.75 265.69 90.98 2. JK2 = sums of squares for score effects.43 62284.48 73.77 2.53 185882.16 62.28 255372.60 7.13 362484.

Kondisi yang demikian berarti faset yang berkaitan dengan objek pengukuran untuk penilaian kelompok.varians di kelas 1 sebesar 27. penilaian diri dan penilaian kelompok). produk. peranan penilai (R) tetap merupakan sumber variansi kesalahan pengukuran yang terbesar seperti halnya pada komponen penilaian lainnya.73%. Berdasarkan analisis komponen varians untuk dapat terbentuknya faset pengukuran yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admisible observations) kualitas karya seni lukis di kelas 1. interaksi murid dengan penilai (PR). Untuk itu masih dibutuhkan juga latihan dan pengalaman bagi penilai dalam menggunakan alat penilaian kelompok untuk menilai kualitas karya seni lukis siswa untuk dapat meningkatkan tingkat konsistensi dan keajegan hasil penilaian serta tingkat kesepakatan pemahaman terhadap konstruk sasaran penilaian karya seni lukis untuk komponen penilaian kelompok di antara para penilai. di kelas 2 sebesar 30.03%. varians kesalahan pengukuran yang dominan adalah penilai atau rater (R) dan item yang bersarang pada penilai (I:R). interaksi murid dan item bersarang pada penilai (PI:R) proporsinya tampak lebih kecil terhadap varians hasil penilaian kelompok kualitas karya seni lukis dibanding pengaruh kedua sumber varians penilai (R) dan kriteria penilaian yang bersarang pada penilai (I:R).77%. dapat disimpulkan bahwa komponen penilai (R) atau guru dan kriteria 204 . kelas 2 dan di kelas 3 pada semua komponen penilaian (proses. Dengan demikian penerapan alat penilaian karya seni lukis untuk komponen penilaian kelompok. Sumber varians komponen yang lain yakni murid (P). dan di kelas 3 sebesar 27.

Untuk mengetahui apakah hasil pengembangan tersebut telah memenuhi standar minimal. dipakai persyaratan minimal koefisien G Sebesar 0. b.70 (Nunnaly. 1978: 245. Analisis Data Hasil G Study (Koefisien G) Hasil G study untuk mengetahui tingkat kebermaknaan penggunaan alat penilaian kualitas karya seni lukis dari uji coba di lapangan dapat dirangkum pada Tabel 12. kedua sumber variansi ini harus diperhatikan secara seksama dalam usaha menyempurnakan alat penilaian kualitas karya seni lukis. Oleh sebab itu dalam pengembangan ini. penilaian diri dan penilaian kelompok. Hasil Analisis dipaparkan pada uraian berikut. Untuk maksud tersebut dilakukan analisis lanjut terhadap hasil Genova (koefisien G) dan analisis tingkat perubahan koefisien G pada level analisis hasil D study. produk. di atas memberi petunjuk bahwa pengembangan alat penilaian kualitas karya seni lukis sudah menunjukkan indikasi kebermaknaan untuk digunakan sebagai sarana melakukan observasi.penilaian yang nested pada penilai (I:R) merupakan sumber varians komponen varians kesalahan pengukuran yang utama. Hasil analisis komponen varians untuk penilaian proses.1989:106) agar memenuhi syarat bagi penggunaan pada faset yang lebih luas. Linn. Koefisien G dari komponen-komponen penilaian kualitas karya seni lukis hasil uji coba menunjukkan bahwa secara keseluruhan pengembangan model instrumen penilaian kualitas karya seni lukis dapat diterima untuk digunakan melakukan penilaian pada faset yang lebih luas atau dengan kata lain telah memenuhi untuk kepentingan faset pengukuran yang berkaitan dengan objek 205 .

67* 0.80* 0.75* 0. Jika dilihat dari karakteristik faset uji coba untuk semua komponen. Penilaian Diri 4.76* 0. 0. keterampilan dan pengalaman agar diperoleh hasil pengukuran yang konsisten.61 0.62 0.67* 0. 206 .50 0. Semua komponen Sasaran Uji (Faset) Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Jumlah Item 7 7 7 3 3 3 5 5 5 5 5 5 15 15 15 Koefisien G 0.91* 0.70) >persyaratan <persyaratan <persyaratan >persyaratan <persyaratan <persyaratan <persyaratan <persyaratan <persyaratan >persyaratan >persyaratan >persyaratan >persyaratan <persyaratan <persyaratan Rerata Koefisien G 0. maka terapan model penilaian pada faset di kelas 1 sudah memberikan bukti bahwa model yang dikembangkan dapat digunakan untuk penilaian pada faset yang lebih luas. Penilaian Kelompok 5.70. tetapi jika memperhatikan koefisien G pada terapan faset di kelas 2 dan di kelas 3.63 0.82* 0.86* 0. Produk 3.71* *) memenuhi syarat menurut kriteria standard minimal Linn.68* 0.pengukuran (universe of admissible observations) pada kualitas karya seni lukis anak yakni ditunjukkan oleh indeks koefisien G sebesar 0.81* 0.65* 0.66* 0. Proses 2. Tabel 12 Rangkuman Hasil G Study dan Koefisien G Pada Berbagai Komponen dan Berbagai Faset Terapan Uji Coba Komponen 1.67* Keterangan (Linn ≥ 0.65 0.74* 0. maka model yang dikembangkan masih memerlukan penyempurnaan dalam hal administrasi penyelenggaraan yakni harus meningkatkan keterampilan guru sebagai penilai atau rater agar ada peningkatan pemahaman.71.

Uraian berikut memaparkan hasil-hasil analisis D study ini. Dengan mencermati setiap tahap rancangan D study pada komposisi besar sampel tertentu maka akan dapat diperoleh informasi koefisien G dan juga diperoleh informasi berapa kenaikan indeks kebermaknaan pada koefisien G setelah satu butir komponen penilaian dilibatkan untuk mengukur atau menilai. maka tindakan untuk melatih guru agar berpengalaman dalam menggunakan alat penilaian ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kebermaknaan penggunaan model ini pada faset yang lebih luas. Berdasarkan elaborasi sumber variansi komponen variansi kesalahan pengukuran sebagaimana telah dibahas di atas. c.Jika ditilik pada rerata komponen penilaian pada masing-masing kelompok ternyata untuk komponen penilaian proses dan penilaian kelompok telah memenuhi syarat untuk digunakan pada faset yang lebih luas. 207 . Analisis Data Hasil D Study Tujuan analisis D study adalah untuk menjawab pertanyaan rancangan D study yang mana harus dipilih dan seberapa banyak butir komponen penilaian harus dicakup sebagai sarana mengukur dan menilai kualitas karya lukis sehingga dapat menunjukkan kebermaknaan untuk faset yang lebih luas. 1) D Study untuk Penilaian Proses Rangkuman hasil analisis D-Study Genova untuk uji coba penilaian proses berturut-turut dapat disajikan pada Tabel 13 sampai dengan Tabel 15. Untuk menjawab pertanyaan ini dan tujuan tersirat didalamnya analisis pada setiap hasil D study dapat digunakan. sedangkan untuk komponen penilaian produk dan penilaian diri masih memerlukan upaya penyempurnaan.

70. demikian seterusnya untuk rancangan 001-003 diperoleh koefisien sebesar 0. Artinya penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai sebesar 60%. GENERALIZABILITY COEF. Untuk komponen penilaian proses di kelas 1 jika komposisinya hanya menggunakan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60.Tabel 13 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Proses dan Tingkat Perubahan pada Kelas 1 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.75.82. R = 3 dan I = 1) maka tingkat atau koefisien kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. R. dengan P = 60. dan I. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.36976 0.01 Tabel 13 berturut-turut memberi gambaran tentang perubahan koefisien Generalizability untuk berbagai komposisi ukuran sampel P. R INF I INF. PHI Selisih Koefisien Genova 0.60437 0.60.15 0.02 0.85936 0.90163 0.42308 0.50659 0. yaitu 0.88424 0.75341 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2 (dapat dilihat pada Tabel 6).30556 0.22681 0.12791 0.07 0.82088 0.04 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 001-006 001-007 60 60 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 6 7 0. maka tingkat atau koefisien kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.46809 0. Berdasarkan kenyataan ini maka dapat dikatakan bahwa untuk mencapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas.91448 0.02 0. penilai cukup menggunakan indikator 1 dan 2 saja Jika ingin meningkatkan tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi maka jumlah indikator penilaian 208 .

03 0. minimal 0.harus ditambah.04082 0.63655 0.04223 0. 2.04396 dalam konteks ini jika 7 (tujuh) indikator digunakan maka akan dicapai koefisien kesepahaman dan kesepakatan sebesar 91. 3. GENERALIZABILITY COEF. penilai harus menggunakan indikator 1. jumlahnya tergantung pada kondisi faset yang bersangkutan Tabel 14 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Proses dan Tingkat Perubahan pada Kelas 2 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. Artinya penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai sebesar 38%. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2 memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. Jika ingin meningkatkan tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi maka 209 .65527 0.13 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (D study design nomor 001-002. Tabel 14 memberi gambaran bahwa penilai dalam menggunakan komponen penilaian proses hanya dengan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60. 4 dan 5 sekaligus.06 0.57128 0.03868 0. R INF I INF.38.51.37765 0.50637 0.03500 0.02 0.02724 0.01 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 001-006 001-007 60 60 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 6 7 0.66933 0.70.45%.04322 0.61040 0. Berdasarkan kenyataan ini maka dapat dikatakan bahwa untuk mencapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas.04 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. dengan P = 60. PHI Selisih Koefisien Genova 0.

06 0.39.63724 0. jumlahnya tergantung pada kondisi faset yang bersangkutan.12 0.61338 0.04 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.58.02894 0.65421 0. jumlahnya tergantung pada kondisi faset yang bersangkutan Pada Tabel 15 memberi gambaran bahwa penilai dalam menggunakan komponen penilaian proses di kelas 3 jika hanya dengan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60.66689 0. R INF I INF. Berdasarkan kenyataan ini maka dapat dikatakan bahwa untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas. Jika ingin meningkatkan tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi maka penggunaan indikator penilaian harus ditambah.01 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 001-006 001-007 60 60 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 6 7 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.04673 jumlah indikator penilaian harus ditambah. dengan P = 60.52.02 0.39277 0.04111 0.02 0. begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan kaoefisien sebesar 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0.04489 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.57735 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.04594 0.Tabel 15 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Proses dan Tingkat Perubahan pada Kelas 3 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.04339 0. dalam konteks ini jika 7 (tujuh) 210 . GENERALIZABILITY COEF. penilai harus menggunakan indikator 1 sampai dengan 6 secara simultan.03720 0.51665 0.

31555 0. R INF I INF. Menurut kenyataan ini maka dapat dikatakan bahwa untuk penggunaan komponen penilaian produk agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas.76. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai sebesar 52%. 2) D Study untuk Penilaian Produk Rangkuman hasil analisis D-Study Genova untuk uji coba penilaian produk berturut-turut dapat disajikan pada Tabel 16 sampai dengan Tabel 18. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.68. penilai cukup menggunakan indikator 1 dan 2 saja. dengan P = 60. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.51678 0.18733 0.indikator digunakan semua dicapai koefisien kesepahaman dan kesepakatan mencapai 66. PHI Selisih Koefisien Genova 0.68142 0.40882 Tabel 16 memberi gambaran bahwa penilai dalam menggunakan komponen penilaian produk di kelas 1 jika hanya menggunakan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60. Tabel 16 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Produk dan Tingkat Perubahannya pada Kelas 1 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.76238 0. Tetapi jika 211 .69%. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.08 001-001 001-002 001-003 60 60 60 3 3 3 1 2 3 0.16 0. GENERALIZABILITY COEF.52. begitu seterusnya untuk rancangan 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.

39900 0. Tabel 17 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Produk dan Tingkat Perubahan pada Kelas 2 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. R INF I INF. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.15429 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.50.49896 0. Kenyataan ini menunjukkan bahwa untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas.08359 0.15 0. penilai harus menggunakan semua indikator yang ada dan dianjurkan untuk menambah indikator lain yang sejenis untuk melengkapi jabaran konstruk yang ada sehingga 212 . Tabel 17 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian produk di kelas 2 hanya dengan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60. dengan P = 60.10 001-001 001-002 001-003 60 60 60 3 3 3 1 2 3 0.ingin diperoleh tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi maka penggunaan indikator 1 dan 2 bersama sekaligus dengan indikator nomor 3 sangat dianjurkan. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.24922 0.40 begitu seterusnya untuk rancangan 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.25. PHI Selisih Koefisien Genova 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2. GENERALIZABILITY COEF.21486 Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai sebesar 25%.

Penambahan indikator sejenis yang relevan untuk meningkatkan kebermaknaan penilaian produk di kelas 2 memerlukan telaah lanjut tersendiri. R INF I INF. 213 . Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas. Artinya 35% penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.62263 0.35. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.52380 0.Tabel 18 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Produk dan Tingkat Perubahan pada Kelas 3 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. PHI Selisih Koefisien Genova 0.29672 dapat dicapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi.12330 0. GENERALIZABILITY COEF. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.62. penilai harus menggunakan indikator yang ada dan ditambah lagi indikator lain untuk melengkapi jabaran konstruk yang ada sehingga dapat dicapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi.21953 0.10 001-001 001-002 001-003 60 60 60 3 3 3 1 2 3 0. dengan P = 60.52 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.Tabel 18 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian produk di kelas 3 hanya dengan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60.35483 0.17 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (D study design nomor 001-002.

dengan P = 60. GENERALIZABILITY COEF.12 0.08861 0. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0.07412 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0. 214 . R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. Artinya 46% penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian diri.05585 0.02 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0.58 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.70).46320 0.58001 0.03 0.63325 0. Tabel 19 Tabel 19 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Diri dan Tingkat Perubahan pada Kelas 1 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.46.05 0. R INF I INF. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.68342 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.63. 3 dan 4. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.08319 0.66370 0. Untuk mencapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi seyogianya semua indikator yang ada digunakan secara simultan. penilai paling tidak harus menggunakan indikator 1. 2.3) D Study untuk Penilaian Diri Rangkuman hasil analisis D-Study Genova untuk uji coba penilaian diri berberturut-turut dapat disajikan pada Tabel 19 sampai dengan Tabel 21.09222 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian diri di kelas 1 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60.

03495 0.03 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangn D study nomor 001-002.70).53194 0.45963 0. GENERALIZABILITY COEF.46 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.05 0. Artinya penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian diri sebesar 33%. Untuk mencapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi semua indikator yang ada dipakai dan jika memngkinkan ditambah lagi indikator lain dan digunakan secara simultan.02095 0. penilai paling tidak harus menggunakan semua indikator yang ada. R = 3 dan I = 1) Tabel 20.02818 0. R INF I INF.57735 0.03184 0.60852 0. dengan P = 60. 215 .03553 memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.33.13 0. Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Diri dan Tingkat Perubahan pada Kelas 2 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.53.07 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.Tabel 20 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian diri di kelas 2 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60.32649 0. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.

Artinya 38% penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian diri yang dipakai.07 0. dengan P = 60.65991 0.38162 0.70). penilai paling tidak harus menggunakan semua indikator yang ada.59. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0.63114 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0.14 0.05125 0. R INF I INF. Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Diri dan Tingkat Perubahan pada Kelas 3 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. 216 .Tabel 21. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.38. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.05482 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancngan D study nomor 001-002.51820 0. GENERALIZABILITY COEF.05721 Tabel 21 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian diri di kelas 3 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60.04 0.58839 0.03 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0.03369 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.04534 0. 4) D Study untuk Penilaian Kelompok Rangkuman hasil analisis D-Study Genova untuk uji coba penilaian kelompok berturut-turut dapat disajikan pada Tabel 22 sampai dengan Tabel 24.52 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.

217 . dengan P = 60.79.16 0.71 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.83052 0.55058 0. Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian kelompok yang dipakai sebesar 55%.85966 0.03 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0. R INF I INF.48748 0.54316 Tabel 22 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian kelompok di kelas 1 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60.04 0. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0.08 0.41635 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.71016 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0. penilai sudah cukup hanya menggnakan butir indikator 1 dan 2 saja. GENERALIZABILITY COEF.19211 0.Tabel 22 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Kelompok dan Tingkat Perubahan pada Kelas 1 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.32230 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. tetapi jika ingin mendapatkan tingkat kebermaknaan yang lebih tinggi penggunaan semua butir indikator yang ada lebih dianjurkan.70). R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.78611 0.55.

R INF I INF. Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian kelompok yang dipakai sebesar 48%.82088 0.47823 0.17 0.65 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0. R = 3 dan I = 1). Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0.70). R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.48.05 0.09 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002. maka besarnya koefisien reliabilitas dalam koefisien G adalah sebesar 0. tetapi jika ingin mendapatkan tingkat kebermaknaan yang lebih tinggi dianjurkan menggunakan semua butir indikator yang ada. penilai sudah cukup hanya menggnakan butir indikator 1 dan 2 saja. GENERALIZABILITY COEF.19586 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0.Tabel 23 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Kelompok dan Tingkat Perubahan pada Kelas 2 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.32757 0.04 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0. dengan P = 60.26759 0.37840 Tabel 23 memberi gambaran bahwa jika penilai menggunakan komponen penilaian kelompok di kelas 2 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60. 218 .78569 0. Tabel 24 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian kelompok di kelas 3 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60.36.73.64703 0.10856 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.73331 0.

73765 0.10 0.63. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0. 3 dan 4 saja.35993 0. 2.05 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa ada beberapa rancangan dari hasil D study yang 219 .69224 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2. tetapi jika ingin mendapatkan tingkat kebermaknaan yang lebih tinggi dianjurkan menggunakan semua butir indikator yang ada. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. R INF I INF.37912 Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian kelompok yang dipakai sebesar 36% Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.19630 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0.26813 0.17 0.62784 0.70).Tabel 24 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Kelompok dan Tingkat Perubahan pada Kelas 3 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. GENERALIZABILITY COEF.06 0.10883 0.53 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0. dengan P = 60.32818 0. Secara umum hasil analisis D study telah memberi petunjuk dan alternatif penggunaan alat penilaian kepada pengguna instrumen penilaian kualitas karya seni lukis untuk mempertimbangkan penggunaan indikator-indikator penilaian yang relevan dengan sasaran yang dinilai dan mempertimbangkan tingkat reliabilitas kebermaknaan hasil penilaian. penilai sudah cukup hanya menggunakan butir indikator 1.52934 0.

220 . 2. Tabel 26 untuk kelas 2. Rangkuman hasil perhitungan konsistensi dan kesepakatan tiga rater tersebut disajikan pada Tabel 25 untuk kelas 1.73. yaitu 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. ada 7 (tujuh) item yang menjadi objek penilaian. berikut ini disajikan hasil analisis koefisien interrater. Data Uji Coba Koefisien Interrater Konfirmasi data hasil uji coba dari hasil Anava. Untuk keperluan ini. peneliti menggunakan koefisien Cohen’s Kappa. dan kelas 3.71 . yaitu sebesar 0.mereferensikan perlunya penambahan indikator untuk komponen penilaian tertentu yaitu untuk komponen-komponen penilaian produk dan penilaian diri untuk sasaran penilaian kelompok tertentu. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai proses kelas 1 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. Tabel 25 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketujuh item yang dirating tersebut. kelas 2.75. dan Tabel 27 untuk kelas 3. Koefisien Interrater pada Penilaian Proses Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian proses instrumen pendidikan seni lukis anak untuk kelas 1.73. Koefisien interrater merupakan salah satu sarana untuk melihat tingkat konsistensi atau keajegan antar penilai dalam memberikan rating terhadap unjuk kerja karya seni lukis siswa. a. Pada penilaian proses ini. dan antara UD dengan DI sebesar 0.

Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. yaitu 0.68 0. yaitu sebesar 0.82 3 ST 4 5 6 7 1 2 3 UD 4 5 6 7 UD DI 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 73% .63 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai proses kelas 2 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.72 2 0.78 0.67.67.79 0.71 0.70.68 0.75 0.65 0.84 0.67 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0. yaitu 0.77 0.64.70.78 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 67%.74 0. Tabel 26 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketujuh item yang dirating tersebut. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas.68 0.72 0.Tabel 25 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Proses Kelas 1 Penilai 1 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.70 0. Nilai koefisien κ 221 .81 0.70 0.81 0.

67 0.63 2 0.56 0.69 0.66 0. Tabel 27 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Proses Kelas 3 Penilai ST 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 1 0.64 0.55 0.61 2 0. 1989:106).81 0.69 0. yaitu 0.75 0.73 0.67 0.63 0.9 0.64 0.70 (Nunally.7 0.46 0.71 222 .59 0.73 0.57 0.Tabel 26 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Proses Kelas 2 Penilai ST 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 1 0.65 0. syarat 1978:245 Linn.75 0.76 0.68 0.56 0.85 0.81 0.68 0.70 0.71 3 4 5 6 7 1 2 3 UD 4 5 6 7 UD DI 0.74 0.66 0.76 0. sehingga instrumen tersebut mendekati koefisien reliabilitas.6 0.62 0.65 3 4 5 6 7 1 2 3 UD 4 5 6 7 UD DI tersebut mendekati kriteria minimal yang digunakan.77 0.62 0.61 0.57 0.

Rangkuman hasil perhitungan konsistensi dan kesepakatan tiga rater tersebut disajikan pada Tabel 28 untuk kelas 1. kelas 2. yaitu sebesar 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.70. dan antara UD dengan DI sebesar 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.74. Koefisien Interrater pada Penilaian Produk Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian proses instrumen pendidikan seni lukis anak untuk kelas 1.88.63.88. dan antara UD dengan DI sebesar 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai produk kelas 1 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. b. dan kelas 3. Tabel 29 untuk kelas 2. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 73%.73. ada 3 (tiga) item yang menjadi objek penilaian. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas.88.88. yaitu sebesar 0. yaitu 0. 223 .Tabel 27 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketujuh item yang dirating tersebut. yaitu 0. dan Tabel 30 untuk kelas 3. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menila proses kelas 3 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. Tabel 28 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga item yang dirating tersebut. Pada penilaian produk ini.68. yaitu 0.

85 0. yaitu 0.Tabel 28 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Produk Kelas 1 Penilai ST 1 1 UD 2 3 1 DI 2 3 0.97.97.70.88 2 3 1 UD 2 3 Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 88%.88 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 97%. yaitu 0.92 0.97.88 0. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas.85 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. yaitu 0. yaitu sebesar 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai produk kelas 2 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.92 0. Pada Tabel 29 menunjukkan koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga item yang dirating tersebut.96. 224 .85 0.92 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas.70.

98 0. yaitu 0.98 0.93 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.89.98 0.93 0. 225 . Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai Tabel 30 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Produk Kelas 3 Penilai ST 1 1 UD 2 3 1 DI 2 3 0.94.95 0.82 2 3 1 UD 2 3 secara keseluruhan dalam menilai produk kelas 3 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. dan antara UD dengan DI sebesar 0.93 0.92.93. yaitu sebesar 0.98 0.90 0.95 0.Tabel 29 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Produk Kelas 2 Penilai ST 1 1 UD 2 3 1 DI 2 3 0.95 0.95 0.93 0.98 0.98 2 3 1 UD 2 3 Tabel 30 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga item yang dirating tersebut.98 0.93 0.

Rangkuman hasil perhitungan konsistensi dan kesepakatan tiga rater tersebut disajikan pada Tabel 31 untuk kelas 1. Koefisien Interrater pada Penilaian Diri Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian diri instrumen pendidikan seni lukis anak untuk kelas 1. yaitu 0. Tabel 31 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut.82. yaitu 0.70. yaitu 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman yang sama terhadap konstruk penilaian sebesar 82%. ada 5 (lima) item yang menjadi objek penilaian. kelas 2. 226 . yaitu sebesar 0. dan Tabel 33 untuk kelas 3. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas.70. dan kelas 3.82.84. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. c.82. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. Tabel 32 untuk kelas 2.Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman yang sama terhadap kostruk penilaian sebesar 92%. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai penilaian diri kelas 1 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. dan antara UD dengan DI sebesar 0. Pada penilaian diri ini. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas.

yaitu 0.88 0.67.85 0.85 0.88 0.89 0.77 0.66 0.88 0.Tabel 31 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Diri Kelas 1 Penilai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 0.76 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0.65.53 0.00 0.55 0.73 227 .77 1. Tingkat konsistensi dan kesepakatan Tabel 32 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Diri Kelas 2 Penilai ST UD 1 2 3 4 5 1 2 3 4 1.92 0.74 0.86 0.81 0.84 0.56 0.96 0.89 2 0.87 0.54 0.63 ST 3 4 5 1 2 UD 3 4 5 U D D I Tabel 32 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut.50 0.73 0.57 0.84.74 5 U D D I 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 0.00 0.

Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam peilaian diri kelas 3 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga pasangan tersebut. yaitu 0.79 0.76 0.70.85 0.50 0.91 0.76 0.76 0. yaitu sebesar 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan.62 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.40 0.80 0.82 2 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman yang sama terhadap konstruk penilaian sebesar 72%.91 0.68. yaitu sebesar 0. yaitu 0.82 ST 3 4 5 1 2 UD 3 4 5 U D D I Tabel 33 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat reliabilitas.84.82 0.0% ketiga penilai tersebut memiliki 228 . dan antara UD dengan DI sebesar 0.penilai secara keseluruhan dalam menilai penilaian diri kelas 2 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.75.75. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa 75.72. Tabel 33 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Diri Kelas 3 Penilai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 0.82 0.

Tabel 35 untuk kelas 2. kelas 2. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. Tabel 34 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut. Nilai koefisien κ tersebut lebih kecil dari kriteria minimal yang digunakan.48. d. dan kelas 3. 2005: 143). yaitu sebesar 0. Koefisien Interrater pada Penilaian Kelompok Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian kelompok instrumen pendidikan seni lukis anak untuk kelas 1.44.59. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. yaitu 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat reliabel. ada 5 (lima) item yang menjadi objek penilaian. 229 .51. yaitu 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam penilaian kelompok kelas 1 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga pasangan tersebut. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 51%. yaitu 0. Pada penilaian kelompok ini. dan Tabel 36 untuk kelas 3.persepsi dan pemahaman yang sama terhadap kostruk penilaian.64 (Cohen & Swerdlik. sehingga instrumen tersebut belum memenuhi syarat koefisien reliabilitas. Rangkuman hasil perhitungan konsistensi dan kesepakatan tiga rater tersebut disajikan pada Tabel 34 untuk kelas 1.70.

Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.33.69 0. sehingga instrumen tersebut belum memenuhi syarat koefisien reliabilitas. yaitu 0.67 0. yaitu 0.34.29 0.46 Tabel 35 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut.49 0.61 5 0. yaitu sebesar 0.48 0.53 0.52 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih kecil dari kriteria minimal yang digunakan.37 0.37.70. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam penilaian kelompok kelas 2 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.54 0.29.56 0.U D D I 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Tabel 34 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Kelompok Kelas 1 Penilai ST UD 1 2 3 4 5 1 2 3 4 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 33%.55 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0. 230 .49 0.38 0.

57 ST 3 4 5 1 2 UD 3 4 5 U D D I 231 .76 0.14 0.39 ST 3 4 5 1 2 UD 3 4 5 U D D I Tabel 36 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut.72 0.62 0.21 0.55 0.20 0.26 0.68 0.75. yaitu 0.42 0.71 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.79 2 0.83 0.32 0.48 2 0.27 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam penilaian kelompok kelas 3 dapat diketahui dengan Tabel 36 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Kelompok Kelas 3 Penilai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 0.76 0.76 0.78 0.65 0.11 0.82 0.74.86 0.45 0.77 0.69.20 0.41 0.46 0.Tabel 35 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Kelompok Kelas 2 Penilai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0.

perbandingan kedua pendekatan tersebut disajikan berikut. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 73%. kriteria dan rubrik.73. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya. D. Penilaian Proses Penilaian proses instrumen penilaian seni lukis dilakukan oleh 3 (tiga) orang rater terhadap 60 orang siswa dengan 7 (tujuh) indikator instrumen. Revisi Produk Bagian revisi produk dalam pengembangan instrumen penilaian seni lukis dalam disertasi ini mengikuti revisi produk dalam setiap tahap pengembangan.70. instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas. 1. Kajian Produk Hasil analisis tingkat kesepahaman dan kesepakatan rater (reliabilitas interrater) dengan menggunakan koefisien Genova dan koefisien Cohen Kappa menunjukkan bahwa instrumen penilaian seni lukis telah memenuhi syarat/kriteria minimal reliabilitas yang digunakan. yaitu 0. Tahap revisi dalam setiap tahap pengembangan berkaitan dengan revisi indikator. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. deskripsi. yaitu sebesar 0. analisis kesepakatan dan kesepahaman rater terhadap konstruk instrumen digunakan dua 232 . Namun demikian. sehingga C.mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. dan pedoman penggunaan instrumen penilaian seni lukis pada tahap focus group discussion (FGD) dan seminar.

sementara metode Cohen kappa tidak diperhatikan. Koefisien Genova untuk Kelas 2 sama dengan koefisien kappa. Walaupun demikian. peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan/menetapkan relibilitas antar penilai. Oleh karena itu.73 0. Rangkuman perbandingan koefisien kedua pendekatan tersebut disajikan pada Tabel 37 Tabel 37 Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Proses Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Koefisien Genova 0. pendekatan Genova lebih lengkap karena melibatkan tiga dimensi sementara pendekatan kappa hanya dua dimensi. peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan relibilitas antar rater.67 Koefisien Kappa 0. 233 .91 0.67 0.18 0. Jadi varians kesalahan dengan metode Genova lebih diperhitungkan dalam analisis.pendekatan yaitu pendekatan Genova dan pendekatan Cohen Kappa.04 Tabel 37 memberi gambaran bahwa koefesien Genova untuk kelas 1 pada penilaian proses lebih tinggi dibandingkan dengan koefisien kappa.73 Selisih 0. estimasi dengan Genova lebih memberikan hasil kesepakatan dan kesepahaman rater yang lebih kuat dibandingkan dengan koefisien kappa. Dalam kaitan dengan ini.67 0. Dengan demikian.00 0. Hal ini memberi gambaran bahwa kedua pendekatan yang digunakan memberikan hasil yang sama.

Sama dengan kasus kelas 2, koefisien Genova untuk kelas 3 lebih rendah dibandingkan dengan koefisien kappa. Dalam kasus ini, peneliti masih menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova dibandingkan dengan koefisien kappa. Hal tersebut disebabkan karena sumber varians kesalahan pada analisis koefisien kappa belum diperhatikan sehingga memberikan hasil yang lebih tinggi. Jika varians kesalahan diperhatikan maka kemungkinan akan memberikan hasil yang kurang lebih sama dengan yang diperoleh melalui koefisien Genova.
2. Penilaian Produk

Penilaian produk instrumen penilaian seni lukis dilakukan oleh 3 (tiga) orang rater terhadap 60 orang siswa dengan 3 (tiga) indikator instrumen. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, analisis kesepakatan dan kesepahaman rater terhadap konstruk instrumen digunakan dua pendekatan yaitu pendekatan Genova dan pendekatan Cohen Kappa. Rangkuman perbandingan koefisien kedua pendekatan tersebut disajikan pada Tabel 38. Tabel 38 Perbadingan koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Produk Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Koefisien Genova
0,76 0,49 0,62

Koefisien Kappa
0,88 0,97 0,92

Selisih 0,12 0,48 0,30

Tabel 38 memberi gambaran bahwa koefesien Genova untuk kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 pada penilaian produk lebih rendah dibandingkan dengan koefisien 234

kappa. Dalam kaitan dengan ini, estimasi dengan Genova lebih memberikan hasil kesepakatan dan kesepahaman rater yang lebih kuat dibandingkan dengan koefisien kappa. Oleh karena itu, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan relibilitas antar rater. Pendekatan Genova lebih lengkap karena melibatkan tiga dimensi, sementara pendekatan kappa hanya dua dimensi. Jadi varians kesalahan dengan metode Genova lebih diperhitungkan dalam analisis, sementara metode Cohen kappa tidak diperhatikan, Sumber varians kesalahan pada analisis koefisien kappa

belum diperhatikan sehingga memberikan hasil yang lebih tinggi. Jika varians kesalahan diperhatikan maka kemungkinan akan memberikan hasil yang kurang lebih sama dengan yang diperoleh melalui koefisien Genova. Dengan demikian, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan/menetapkan relibilitas antar penilai.
3. Penilaian Diri

Penilaian diri pada instrumen penilaian seni lukis dilakukan oleh 3 (tiga) orang rater terhadap 60 orang siswa dengan 5 (lima) indikator instrumen. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, analisis kesepakatan dan kesepahaman rater terhadap konstruk instrumen digunakan dua pendekatan yaitu pendekatan Genova dan pendekatan Cohen Kappa. Rangkuman perbandingan koefisien kedua pendekatan tersebut disajikan pada Tabel 39.

235

Tabel 39 Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Diri Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Koefisien Genova
0,68 0,61 0,66

Koefisien Kappa 0,82 0,72 0,75

Selisih 0,14 0,11 0,09

Tabel 39 memberi gambaran bahwa koefesien Genova untuk kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 pada penilaian diri lebih rendah dibandingkan dengan koefisien kappa. Dalam kaitan dengan ini, estimasi dengan Genova lebih memberikan hasil kesepakatan dan kesepahaman rater yang lebih kuat dibandingkan dengan koefisien kappa. Oleh karena itu, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan relibilitas antar rater, Pendekatan Genova lebih lengkap karena melibatkan tiga dimensi sementara pendekatan kappa hanya dua dimensi. Jadi varians kesalahan dengan metode Genova lebih diperhitungkan dalam analisis sementara metode Cohen kappa kesalahan pada analisis koefisien kappa

tidak diperhatikan, Sumber varians

belum diperhatikan sehingga memberikan hasil yang lebih tinggi. Jika varians kesalahan diperhatikan maka kemungkinan akan memberikan hasil yang kurang lebih sama dengan yang diperoleh melalui koefisien Genova. Dengan demikian, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan/menetapkan relibilitas antar penilai.

236

4. Penilaian Kelompok

Penilaian kelompok pada instrumen penilaian seni lukis dilakukan oleh 3 (tiga) orang rater terhadap 60 orang siswa dengan 5 (lima) indikator instrumen. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, analisis kesepakatan dan kesepahaman rater terhadap konstruk instrumen digunakan dua Tabel 40 Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Kelompok Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Koefisien Genova
0,86 0,82 0,74

Koefisien Kappa 0,51 0,33 0,73

Selisih 0,35 0,49 0,01

pendekatan yaitu pendekatan Genova dan pendekatan Cohen Kappa. Rangkuman perbandingan koefisien kedua pendekatan tersebut disajikan pada Tabel 40. Tabel 40 memberi gambaran bahwa koefesien Genova untuk kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 pada penilaian kelompok lebih tinggi dibandingkan dengan koefisien kappa. Dalam kaitan dengan ini, estimasi dengan Genova lebih memberikan hasil kesepakatan dan kesepahaman rater yang lebih kuat dibandingkan dengan koefisien kappa. Oleh karena itu, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan relibilitas antar rater.
5. Tren Perkembangan Koefisien Genova

Tren perkembangan koefisien Genova hasil penilaian 3 (tiga) orang rater pada penilaian instrumen seni lukis baik untuk penilaian proses, produk, penilaian 237

diri, dan penilaian kelompok disajikan pada gambar berikut.
a. Penilaian Proses Kelas 1

Koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 1 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater, Gambar 64 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 1 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Sebagai bahan perbandingan, kedua persamaan disajikan sebagai berikut. Tabel 41 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 1 Persamaan Linear
y = 0,0461x + 0,6355

Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik)
y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985

dengan: y = estimasi koefisien Genova,
x = banyak item yang dirating oleh rater,

Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 82,34%, sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam

memprediksi sebesar 97,5% sebagaimana yang tampak pada Gambar 64. Berdasarkan tingkat determinasi ini, tampak bahwa persamaan non-linear memberikan besarnya koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 4 ditulis

238

x =4, maka koefisien Genova untuk masing-masing persamaan diperoleh dengan

mensubstitusikan x =4 pada kedua persamaan seperti ditunjukan berikut: Tabel 42 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =4 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0,0461x + 0,6355 = 0,0461(4) + 0,6355 = 0,8199 Persamaan non-linear y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985 = −0,0114(4) 2 + 0,1374(4) + 0,4985 = 0,8657

Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 4 menggunakan persamaan linear adalah 0,8199, sedangkan bila menggunakan persamaan non-linear adalah 0,8657. Adapun koefisien Genova yang

sesungguhnya untuk x =4 adalah 0,85936. Hasil ini menunjukkan bahwa persamaan non-linear memberikan hasil yang lebih akurat, namun penafsirannya
Y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985

R2 = 0,975

Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear

,

,

,

Gambar 64. Tren perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 1 adalah banyak item yang dirating maksimum 6, karena lebih dari itu ditafsirkan tidak banyak berubah, walau pada grafik menunjukkan penurunan. Karakteristik

ini muncul sebagai akibat sifat-sifat yang berlaku pada persamaan non-linear 239

(kuadratik). Pada jumlah item < 6, kurva cenderung naik itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. Namun kurva akan cenderung turun setelah mencapai titik kulminasi yaitu untuk x =6. Akibatnya untuk jumlah item>6 kecenderungan estimasi koefisien Genova akan mengalami penurunan. Secara matematik penentuan titik kulminasi atau titik maksimum dilakukan dengan menggunakan konsep turunan pertama fungsi sebagai berikut:

y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985 y 1 = 2.(−0,0114) x + 0,1374
Nilai x yang menyebabkan y bernilai maksimum diperoleh dengan mmbuat dengan nol ditulis y 1 = 0

y1

y 1 = 2.(−0,0114) x + 0,1374 0 = 2.(−0,0114) x + 0,1374 x= 0,1374 = 6,026 ≈ 6 2.0,0114

Jadi estimasi nilai koefisien Genova maksimum terjadi pada saat item yang dirating sebanyak 6 buah. Adapun nilai koefisien Genovanya dientukan sebagai berikut. y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985

= −0,0114(6) 2 + 0,1374(6) + 0,4985 = 0,9125
b. Penilaian Proses Kelas 2

Koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 2 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang

240

maka koefisien Genova untuk masingmasing persamaan diperoleh dengan mensubstitusikan persamaan seperti ditunjukan berikut: x =6 pada kedua 241 .0099 x 2 + 0.0442 x + 0. Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 85.3984 Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0.1233 x + 0.30%. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 6 ditulis x =6. x = banyak item yang dirating oleh rater. sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam memprediksi sebesar 98. Tabel 43 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 2 Persamaan Linear y = 0. Sebagai bahan perbandingan.2798 dengan: y = estimasi koefisien Genova. tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik. Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. kedua persamaan disajikan sebagai berikut. Berdasarkan tingkat determinasi ini.dirating oleh rater.47%. Gambar 65 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 2 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik).

0442 x + 0. Namun demikian. adanya pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti.1233(6) + 0. pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan karakteristik yang unik.2798 = 0. Hasil ini menunjukkan bahwa persamaan non-linear memberikan hasil yang lebih akurat.0099 x 2 + 0.2798 = −0.0099(6) 2 + 0.0442(6) + 0.3984 = 0. terutama untuk jumlah item yang banyak.1233 x + 0.6636.6632 Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 6 menggunakan persamaan linear adalah 0. Karakteristik ini muncul sebagai akibat sifatsifat yang berlaku pada persamaan non-linear (kuadratik).6636 Persamaan non-linear y = −0. sedangkan menggunakan persamaan non-linear 0. Namun kurva akan cenderung turun setelah mencapai titik kulminasi yaitu u ntuk x = 6. Adapun koefisien Genova yang sesungguhnya untuk x =6 adalah 0.6632.65527.Tabel 44 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =6 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0.3984 = 0. Akibatnya untuk jumlah item >6 kecenderungan estimasi koefisien Genova akan mengalami penurunan. Pada jumlah item < 6. Secara matematis penentuan titik kulminasi atau titik maksimum dilakukan dengan 242 . kurva cenderung naik itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. Berdasarkan Gambar 65.

y = − 0 ,0099 x 2 + 0 ,1233 x + 0 , 279

R2 = 0,983

Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear

,

,

,

Gambar 65. Tren perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 2 menggunakan konsep turunan pertama fungsi sebagai berikut:
y = −0,0099 x 2 + 0,1233x + 0,2798 y 1 = 2.(−0,0099) x + 0,1233

Nilai

x

yang menyebabkan

y

bernilai maksimum diperoleh dengan

menyamadengankan y 1 dengan nol ditulis y 1 = 0
y 1 = 2.(−0,0099) x + 0,1233 0 = 2.(−0,0099) x + 0,1233 x=

0,1233 = 6.227 ≈ 6 2.0,0099

Jadi estimasi nilai koefisien Genova maksimum terjadi pada saat item yang dirating sebanyak 6 buah. Adapun nilai koefisien Genovanya dientukan sebagai berikut.
y = −0,0099 x 2 + 0,1233 x + 0,2798

243

= −0,0099(6) 2 + 0,1233(6) + 0,2798 = 0,6632
c. Penilaian Proses Kelas 3

Koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 3 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater, Gambar 66 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 3 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Sebagai bahan perbandingan, kedua persamaan disajikan sebagai berikut. Tabel 45 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 3 Persamaan Linear
y = 0,0413x + 0,4144

Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0,0095 x 2 + 0,1174 x + 0,3003

dengan:

y = estimasi koefisien Genova,
x = banyak item yang dirating oleh rater,

Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 84,64%, sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam

memprediksi sebesar 98,10% sebagaimana tampak pada Gambar 66. Berdasarkan tingkat determinasi ini, tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan 244

memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 3 ditulis
x =3, maka koefisien Genova untuk masing-masing persamaan diperoleh dengan

mensubstitusikan x =3 pada kedua persamaan seperti ditunjukan berikut: Tabel 46 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =3 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0,0413x + 0,4144 = 0,0413(3) + 0,4144 = 0,5383 Persamaan non-linear y = −0,0095 x 2 + 0,1174 x + 0,3003 = −0,0095(3) 2 + 0,1174(3) + 0,3003 = 0,567

Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 3 menggunakan persamaan linear adalah 0,5383, sedangkan bila menggunakan

y = − 0 , 0095 x 2 + 0 ,1174 x + 0 , 3003

R2 = 0,981

Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear

,

,

,

Gambar 66. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 3

245

persamaan non-linear sebesar 0,567.

Adapun koefisien Genova yang

sesungguhnya untuk x =3 adalah 0,57735. Dari hasil ini tampak persamaan nonlinear memberikan pendekatan yang lebih akurat. Namun demikian, adanya pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti, terutama untuk jumlah item yang banyak. Berdasarkan Gambar 66, pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan karakteristik yang unik. Karakteristik ini muncul sebagai akibat sifat-sifat yang berlaku pada persamaan non-linear (kuadratik). Pada jumlah item < 6, kurva cenderung naik itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. Namun kurva akan cenderung turun setelah mencapai titik kulminasi yaitu untuk x =6. Akibatnya untuk jumlah item>6 kecenderungan estimasi koefisien Genova akan mengalami penurunan. Secara matematis penentuan titik kulminasi atau titik maksimum dilakukan dengan menggunakan konsep turunan pertama fungsi sebagai berikut: y = −0,0095 x 2 + 0,1174 x + 0,3003 y 1 = 2.(−0,0095) x + 0,1174 Nilai
x

yang menyebabkan

y

bernilai maksimum diperoleh dengan

menyamadengankan y 1 dengan nol ditulis y 1 = 0
y 1 = 2.(−0,0099) x + 0,1174 0 = 2.(−0,0095) x + 0,1174 0,1174 x= = 6,179 ≈ 6 2.0,0095 Jadi estimasi nilai koefisien Genova maksimum terjadi pada saat item yang dirating sebanyak 6 buah. Adapun nilai koefisien Genovanya sebagai berikut.

246

y = −0,0095 x 2 + 0,1174 x + 0,3003 = −0,0095(6) 2 + 0,1174(6) + 0,3003 = 0,6627
d. Penilaian Produk Kelas 1

Koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 1 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater, Gambar 67 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 1 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Sebagai bahan perbandingan, kedua persamaan disajikan sebagai berikut. Tabel 47 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 1 Persamaan Linear y = 0,1228 x + 0,4079 Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0,0418 x 2 + 0,2902 x + 0,2685

dengan:

y = estimasi koefisien Genova,
x = banyak item yang dirating oleh rater,

Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 96,2%, sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam

memprediksi sebesar 100% sebagaimana tampak pada Gambar 67. Berdasarkan tingkat determinasi ini, tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan 247

memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 3 ditulis
x =3, maka koefisien Genova untuk masing-masing persamaan diperoleh dengan

mensubstitusikan x =3 pada kedua persamaan seperti ditunjukan berikut: Tabel 48 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =3 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0,1228 x + 0,4079 = 0,1228(3) + 0,4079 = 0,7763 Persamaan non-linear y = −0,0418 x 2 + 0,2902 x + 0,2685 = −0,0418(3) 2 + 0,2902(3) + 0,2685 = 0,7629

Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 3 menggunakan persamaan linear adalah 0,7763, sedangkan menggunakan persamaan non-linear 0,7629. Adapun koefisien Genova yang sesungguhnya

y = − 0 , 0418 x 2 + 0 , 2902 x + 0 , 268

R 2 = 1,000

Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear

,

,

,

Gambar 67. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 1

248

untuk x =3 adalah 0,76238. Hasil ini menunjukkan bahwa persamaan non-linear memberikan pendekatan yang lebih akurat. Namun demikian, adanya

pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti, terutama untuk jumlah item yang banyak. Berdasarkan Gambar 67, pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan kurva cenderung monoton naik untuk setiap jumlah item yang dirating, itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. Karena kecenderungan kurva yang monoton naik, maka nilai maksimum koefisien genova terjadi untuk banyaknya item yang dirating 3 atau x = 3 , adapun nilai koefisien Genovanya sebagai berikut: y = −0,0418 x 2 + 0,2902 x + 0,2685 = −0,0418(3) 2 + 0,2902(3) + 0,2685 = 0,7629
e. Penilaian Produk Kelas 2

Koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 2 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater, Gambar 68 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 2 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Sebagai bahan perbandingan, kedua persamaan disajikan sebagai berikut.

249

0496 = −0. Berdasarkan tingkat determinasi ini.1249 x + 0.1327 Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0.0249 x 2 + 0. maka koefisien Genova untuk masingmasing persamaan diperoleh dengan mensubstitusikan persamaan seperti ditunjukan berikut: Tabel 50 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =2 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0.1327 = 0.2245 x + 0.2245 x + 0.0249 x 2 + 0.1249(2) + 0.1327 = 0. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 2 ditulis x =2.69%.3825 Persamaan non-linear y = −0.0249(2) 2 + 0. sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam memprediksi sebesar 100%.0496 dengan: y = estimasi koefisien Genova. tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik. x = banyak item yang dirating oleh rater.2245(2) + 0.Tabel 49 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 2 Persamaan Linear y = 0.3990 x =2 pada kedua 250 .0496 = 0.1249 x + 0. Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 98.

sedangkan menggunakan persamaan non-linear 0. adapun nilai koefisien Genovanya sebagai berikut: 251 . terutama untuk jumlah item yang banyak. 0496 R 2 = 1. . Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 2 Gambar 68 menunjukkan bahwa pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan kurva cenderung monoton naik untuk setiap jumlah item yang dirating.000 Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear . maka nilai maksimum koefisien Genova terjadi untuk banyaknya item yang dirating 3 atau x = 3 . Karena kecenderungan kurva yang monoton naik. Dari hasil ini tampak persamaan non-linear memberikan pendekatan yang lebih akurat.3825. itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. . 2245 x + 0 . y = − 0 . Gambar 68.3990. Namun demikian. 0249 x 2 + 0 .Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 2 menggunakan persamaan linear adalah 0. adanya pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti. untuk Adapun koefisien Genova yang sesungguhnya x =2 adalah 0.3990.

kedua persamaan disajikan sebagai berikut. tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik.76%.2245 x + 0. Gambar 69 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 3 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik).1020 dengan: y = estimasi koefisien Genova. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 1 ditulis x =1.2245(3) + 0.2416 x + 0. sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam memprediksi sebesar 100%.1339 x + 0.0496 = −0. maka koefisien Genova untuk masing- 252 .0249(3) 2 + 0. Penilaian Produk Kelas 3 Koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 3 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater.4989 f.0309 x 2 + 0.0249 x 2 + 0. Sebagai bahan perbandingan. Berdasarkan tingkat determinasi ini. Tabel 51 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 3 Persamaan Linear y = 0.0496 = 0.y = −0. x = banyak item yang dirating oleh rater Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 97.2326 Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0. Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating.

2416(1) + 0.0309(1) 2 + 0. Hasil ini menunjukkana bahwa persamaan non-linear memberikan pendekatan yang lebih akurat. Adapun koefisien Genova yang sesungguhnya untuk x =2 adalah 0.1020 = −0.2416 x + 0. .3990. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 3 253 .masing persamaan diperoleh dengan mensubstitusikan persamaan seperti ditunjukan berikut: x =1 pada kedua Tabel 52 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =1 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0. 000 Gambar 69.3665 Persamaan non-linear y = −0.2326 = 0.1339(1) + 0.1339 x + 0. 0309 x 2 + 0 .3825. . adanya pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti. Namun demikian.3127 Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 2 menggunakan persamaan linear adalah 0.0309 x 2 + 0. 2416 x + 0 . sedangkan menggunakan persamaan non-linear 0.1020 = 0. .2326 = 0. Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear y = − 0 .3990.1 R 2 = 1 .

Berdasarkan gambar di atas. dan kelas 3 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh penilai. kelas 2.4989 g. maka nilai maksimum koefisien genova terjadi untuk banyaknya item yang dirating 3 atau x = 3 .0165 x 2 + 0.2245(3) + 0.0524 x + 0.2963 y = 0.1808 y = −0.0496 = −0.1454 x + 0.067 x + 0.0249 x 2 + 0.0249(3) 2 + 0.418 x 2 + 0. pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan kurva cenderung monoton naik untuk setiap jumlah item yang dirating.1671x + 0.terutama untuk jumlah item yang banyak. Tabel 53 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Diri Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Linear y = 0.355 y = −0. Karena kecenderungan kurva yang monoton naik.0682 x + 0. Penilaian Diri Kecenderungan koefisien Genova pada penilaian diri di kelas 1. itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating.4475 non-linear y = −0.2685 254 . adapun nilai koefisien genovanya sebagai berikut: y = −0.2245 x + 0.3390 y = 0.2902 x + 0. Gambar 70 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian diri ketiga kelas dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non linear dengan rumusan sebagai berikut.015 x 2 + 0.0496 = 0.

87% (untuk kelas 3). sedangkan koefisien determinasi model non-linear persamaan tersebut dalam memprediksi sebesar 99.1808 x R 2 = 0.3390 . . .10% (untuk kelas 1 ).26% (untuk kelas 1 ).0418 x 2 + 0.0165x2 + 0. Adapun nilai estimasi maksimum 255 .000 Gambar 70. R 2 = 0 .2902 x + 0. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Diri Gambar 70 menunjukkan bahwa estimasi besarnya nilai koefisien Genova baik dengan persamaan non-linear maupun persamaan linear memberi gambaran bahwa konsistensi dan kestabilan rater dalam merating di kelas 2 dan kelas 3 lebih baik dibandingkan dengan di kelas 1. 92. Hal ini dibuktikan oleh tren koefisien Genova yang lebih tinggi untuk setiap peningkatan jumlah item yang dirating dibandingkan dengan koefisien Genova di kelas 1.0155x2 + 0. . . .2685 R2 = 1. y = −0.1671 + 0.1454x + 0. .02% (untuk kelas 2 ) dan 90. 991 Keterangan Kurva Linear Kurva Non-Linear Kurva Data Asli Kelas 1 Kurva Data Asli Kelas 2 Kurva Data Asli Kelas 3 .996 . y = −0.60% (untuk kelas 2 ) dan 100% (untuk kelas 3). Begitu juga konsistensi rater dalam merating kelas 3 lebih baik dari kelas 2. 99. y = −0.dengan tingkat determinasi model linear persamaan tersebut dalam memprediksi sebesar 88. Berdasarkan koefisien determinasi tampak dengan jelas bahwa pendekatan dengan persamaan non-linear memberikan estimasi nilai koefisien Genova yang lebih baik.

2902(5) + 0.1671x + 0.1808 = −0.2685 =0.3390 = 0.2902 x + 0. 256 .0155 x 2 + 0.418(5) 2 + 0.1671(5) + 0.6038 Penilaian kelas 3: y = −0. 2 dan 3 berturut-turut terjadi pada saat jumlah item 4 buah.6745 h.0165(5) 2 + 0.1808 = 0.6726 Penilaian kelas 2: y = −0.2685 = −0. kelas 2. Gambar 71 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian diri ketiga kelas dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non linear dengan rumusan sebagai berikut.0155(4) 2 + 0. 5 buah. dan kelas 3 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh penilai.koefisien Genova dengan pendekatan persamaan non-linear pada penilaian diri kelas 1.3390 = −0.418 x 2 + 0. dan 5 buah. Besarnya nilai koefisien genova tersebut dihitung sebagai berikut: Penilaian kelas 1: y = −0. Penilaian Kelompok Kecenderungan koefisien Genova pada penilaian kelompok di kelas 1.0165 x 2 + 0.1454 x + 0.1454(4) + 0.

1992 x + 0.2127 x + 0.4458 y = 0. 99. .0739x + 0. Dari koefisien determinasi tampak dengan jelas bahwa pendekatan dengan persamaan non-linear memberikan estimasi nilai koefisien Genova yang lebih baik. .0201 2 + 0.997 Gambar 71.70 % (untuk kelas 3). R = 0. .992 2 Keterangan Kurva Linear Kurva Non-Linear Kurva Data Asli Kelas 1 Kurva Data Asli Kelas 2 Kurva Data Asli Kelas 3 . y = −0.3796 .21% (untuk kelas 1). .40% (untuk kelas 2 ) dan 99.0918x + 0.0209 x 2 + 0.0209 x 2 + 0.2114 x + 0. .994 .2953 .2127x + 0.0215 x 2 + 0.40% (untuk kelas 3).3796 y = −0.2114 x + 0.3139 Non-linear y = −0.75% (untuk kelas 2) dan 93.1992 x + 0. y = −0.20% (untuk kelas 1 ).0824x + 0. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Kelompok 257 . R2 = 0. y = − 0.5259 y = 0.0215 x 2 + 0. sedangkan koefisien determinasi model non-linear persamaan tersebut dalam memprediksi sebesar 99. 90.Tabel 54 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Kelompok Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Linear y = 0.1728 x R2 = 0.1728 dengan tingkat determinasi model linear persamaan tersebut dalam memprediksi sebesar 89.2953 y = −0.020 x 2 + 0.

2 dan 3 berturut-turut terjadi pada saat jumlah item 5 buah.2953 = 0.Pada Gambar 71 tampak bahwa pendekatan nilai koefisien Genova baik dengan persamaan non-linear maupun persamaan linear memberi gambaran bahwa konsistensi dan kestabilan rater dalam merating di kelas 2 dan kelas 3 lebih baik dibandingkan dengan di kelas 1.8523 Penilaian kelas 2: y = −0.1728 =0.0209 x 2 + 0.1992 x + 0. Hal ini ditunjukkan oleh varians skor yang 258 .2114 x + 0.2953 = −0.2127(5) + 0.3796 = −0.0215(5) 2 + 0. Adapun nilai hampiran maksimum koefisien Genova dengan pendekatan persamaan non-linear pada penilaian kelompok kelas 1.0215 x 2 + 0.2114(5) + 0. Besarnya nilai koefisien genova tersebut dihitung sebagai berikut: Penilaian kelas 1: y = −0.1992(5) + 0.1728 = −0.7365 Secara keseluruhan pendekatan persamaan nonlinear lebih akurat dibanding dengan persamaan linear.0209(5) 2 + 0.020 x 2 + 0.8153 Penilaian kelas 3: y = −0. Setidaknya hal itu dibuktikan oleh tren koefisien Genova yang lebih tinggi untuk setiap peningkatan jumlah item yang dirating dibandingkan dengan koefisien Genova di kelas 1.2127 x + 0.3796 = 0. Begitu juga konsistensi rater dalam merating kelas 2 lebih baik dari kelas 3 .020(5) 2 + 0.

Setiap persamaan nonlinear menunjukkan ada penurunan keoefisein Genova bila jumlah item atau indikator ditambah. instrumen penilaian produk. instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar telah memenuhi syarat validitas dan reliabilitas untuk digunakan dalam proses penilaian secara luas. Harga maksimum koefisien Genova adalah harga maksimum kurve persamaan nonlinear. instrumen penilaian diri. 259 . walau pendekatan yang lebih akurat dibanding persamaan linear.dapat dijelaskan oleh persamaan nonlinear. Koefisien G dari komponenkomponen penilaian kualitas karya seni lukis hasil uji coba menunjukkan. Namun hal yang perlu diperhatikan bahwa jumlah item paling banyak yang dinilai adalah pada nilai maksimum koefisien reliabilitas. Dengan demikian.71. Oleh karena pembaca harus hati-hati dalam menafsirkan persamaan nonlinear. dapat diketahui instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar yang terdiri dari instrumen penilaian proses. Data-data yang diperoleh melalui ujicoba dianalisis untuk membuktikan validitas dan reliabilitas menggunakan program Genova. Berdasarkan uraian tentang hasil dan pembahasan. dan instrumen penilaian kelompok telah mengalami serangkaian ujicoba. secara keseluruhan pengembangan model instrumen penilaian karya seni lukis dapat diterima untuk digunakan melakukan penilaian pada faset yang lebih luas atau telah memenuhi untuk kepentingan faset pengukuran yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) pada kualitas karya seni lukis anak yakni ditunjukkan oleh indeks koefisien G sebesar 0.

Reliabilitas telah teruji melalui teknik generalizeability theory (Teori G) dan interrater Cohen’s Kappa. 318) 260 . 3. reliabilitas. komponen penilaian diri 5 (lima) item. dan komponen penilaian kelompok 5 (lima) item. produk. Buklet terdiri atas latar belakang. rasional. dan contoh aplikasi. dapat disusun kesimpulan sebagai berikut. dan penilaian kelompok.71 dan koefisien interrater 0. Pedoman penilaian sudah divalidasi oleh guru pengguna yang meliputi keterpakaian. Pedoman penggunaan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak dalam bentuk buklet. Validitas telah teruji melalui proses focus group discussion sebanyak 3 kali dan seminar sekali.73 telah memenuhi kriteria minimal yang dipersyaratkan yaitu 0. komponen yang dinilai. dan rubrik (kriteria). Komponen proses terdiri atas 7 (tujuh) item. Spesifikasi instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD berbentuk lembar pengamatan yang di dalamnya terdiri atas indikator. Komponen yang menjadi objek penilaian meliputi proses. Karakteristik instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak yang mencakup validitas. dan efisiensi (hasil validasi dapat dilihat pada Tabel 7 hal.BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Koefisien Genova untuk instrumen ini sebesar 0. dan keterpakaian di SD telah teruji. Pengguna instrumen ini adalah pendidik sebagai rater.70. Simpulan Tentang Produk Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dijelaskan pada BAB IV. petunjuk penggunaan. penggunaan bahasa. penilaian diri. 2. 1. deskripsi. komponen produk 3 (tiga) item.

2. memiliki pengalaman dalam bidang seni lukis. 1. penelitian ini tidak menjangkau pembuktian asumsi tersebut. Penelitian ini didasarkan pada asumsi bahwa guru-guru seni lukis sekolah dasar cerendung memberikan penilaian secara subjektif. C. sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut. Pengembangan instrumen hanya sampai pada tahap pengembangan dan belum sampai pada tahap diseminasi agar instrumen hasil pengembangan dapat digunakan secara lebih luas. B. Tetapi. Saran Pemanfaatan Saran yng diajukan berdasarkan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. dan responsif terhadap pembaharuan dan perubahan agar kegiatan pembelajaran seni dapat menyesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan jaman. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan baik dari segi metode maupun aplikasi.4. Untuk sekolah hendaknya mengadakan pelatihan penggunaan instrumen penilaian seni lukis anak bagi guru mata pelajaran seni budaya dan 261 . memahami pedoman penilaian hasil belajar karya seni lukis anak. Persyaratan yang harus dipenuhi pendidik SD agar kompeten menggunakan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD meliputi latar belakang pendidikan yang relevan.

Sekolah-Sekolah Dasar yang tidak memiliki guru khusus seni budaya dapat memberdayakan dosen pendidikan seni rupa di LPTK sebagai pendamping. Bagi guru SD yang akan menggunakan instrumen penilaian ini hendaknya memahami dengan baik setiap item yang tercantum dalam instrumen penilaian seni lukis anak agar tercapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang tinggi antar sesama pengguna. Diseminasi. 262 . dan Pengembangan Produk Lebih Lanjut 1. 5. Desiminasi pedoman penilaian karya lukis anak dapat dilakukan melalui musyawarah guru mata pelajaran seni budaya di sekolah dasar. Instrumen yang telah dikembangkan ini divalidasi kembali dengan menggunakan sekolah yang berbeda agar diperoleh produk yang lebih baik. 3. Untuk menguji keefektifan instrumen hasil pengembangan secara empirik masih diperlukan penelitian diseminasi pada daerah yang lebih luas. sehingga diperoleh manfaat yang lebih besar. 3. 2. D. maka PGSD hendaknya mengadakan studi pilihan/paket bidang seni sehingga kelak tenaga guru yang dihasilkan bisa sebagai konsultan bagi guru yang lain. agar guru dapat memberikan penilaian secara objektif hasil seni lukis anak. 4. Mengingat pentingnya bidang seni di sekolah dasar. Untuk mengetahui lebih dalam tentang latar belakang penciptaan karya seni lukis anak agar penilaian lebih objektif maka guru hendaknya membiasakan anak untuk menilai karya lukis sendiri dan karya temannya. 2.keterampilan di sekolah dasar.

........................................ Gambar 19............... Gambar 10....... Gambar 5.......................................... Gambar 3....... Gambar 15..................... Gambar 22...... Harimau Dalam Kandang........................ Gambar 6......... Hasil Gambar Anak Umur Lima Tahun........... Gambar Bus Penuh Dengan Penumpang........... Gambar 23............ Gambar Anak Pada Subtahap Figuratif Tengah…………………........................................ Gambar 14.............................. Gambar Anak yang Menunjukkan Penggabungan xv 79 77 78 79 75 75 76 77 73 54 54 55 55 55 56 56 56 57 57 57 57 60 71 ............................. Gambar 4..... Ruang dengan Teknik Gelap Terang............ Gambar 16........... yang Menunjukkan Masa Peralihan dari Subtahap Figuratif Awal ke Subtahap Figuratif Tengah…………………………………………………… Gambar 17.................... Gambar 20. Gambar 24....................................................................................... Bidang Bersudut............................. Gambar Anak Umur Lima Tahun Menunjukkan Objek-Objek yang Ada di Dalam Maupun di Luar Rumah...... Gambar 18................................................................................... Gambar Anak Umur Empat Sepuluh Tahun.. Gambar 13........................ Gambar 21............ Gambar Kereta oleh Anak Umur Lima Tahun. Gambar 2............ Komposisi Ruang Negartif dan Positif.DAFTAR GAMBAR Gambar 1........... Gambar 11........... Gambar 9.. Ruang dengan Teknik Pergantian Warna....................................................... Bidang Geometris..... Gambar 8......................... Ruang dengan Teknik Pelengkungan....... Gambar Anak Pada Awal Munculnya Tahap Figuratif dengan Objek-Objek yang Menggantung di Langit............................. Bidang Organik…………………………………………………….............. Ruang dengan Teknik Penumpangan.................... Gambar 12...... Ruang dengan Teknik Pergantian Tekstur. Gambar Manusia oleh Anak Umur Empat Tahun................................. Ruang dengan Teknik Pergantian Bentuk dan Ukuran...................................... Lingkaran Warna................................. Gambar X-ray Oleh Anak Umur Lima Tahun yang Menunjukkan Ibu Dengan Dua Anak di Dalamnya............ Bidang Tak Beraturan................ Ruang dengan Teknik Bayangan.................. Gambar 7.

... Gambar 46........... Gambar 39................................................. Coreng Moreng Anak Usia 3 Tahun........................... Corengan Bernama..... Gambar 48................... Gambar 35....................................................... Gambar 38...................... Gambar yang Menunjukkan Perbedaan Anak Laki-laki dan Perempuan Dengan Ciri-Ciri Pakaian yang Rinci... Gambar 25... Subjek yang Menyiapkan Alat dan Bahan Hasil Studi Awal...................................... Tahapan Pendefinisian Instrumen Seni Lukis Anak................. Tahapan Studi Awal Pengembangan Instrumen Seni Lukis Anak.... Gambar 34................................. Skema Tahap Diseminasi Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak.... Gambar 49........................ Gambar 30..................... Tahapan Perancanganan Instrumen Seni Lukis Anak..... Gambar 37........................................................................ Kesesuaian Buku yang Digunakan Hasil Studi Awal……….. Model Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak..... Gambar Anak Perempuan yang Mengidentifikasi Dirinya Dengan Pemain Drumband........ Bagan Anak Usia 14 Tahun. Gambar yang Menunjukkan Penggunakan Perspektif Linier Oleh Anak Kelas Lima.............................. Skema Tahap Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak 160 Gambar 45........................... Pra Bagan Anak Usia 7 Tahun................... Gambar 40................. Jenis Kurikulum yang Digunakan Hasil Studi Awal..................... Gambar 47............ Gambar 26................ Gambar 32........... 161 162 172 172 173 xvi ... Desain Ujicoba Intrumen Seni Lukis....... Bagan Anak Usia 10 Tahun..... Gambar 41... Gambar 28............................. Corengan Tak Beraturan.................................................................................... Pra Bagan Anak Usia 4-7 Tahun..................... Gambar 42........................ Gambar 36................. 80 81 81 83 83 84 85 85 86 87 87 88 88 89 90 100 154 156 157 158 Gambar 44............................... Gambar 43................ Gambar 31................. Gambar 29.. Gambar 27.......Antara Tampak Depan dan Tampak Atas......................... Gambar 33................... Corengan Terkendali......................... Langkah-Langkah Pembelajaran Seni Lukis........... Bagan Anak Usia 7-9 Tahun................................. Gambar Bus yang Penuh Sesak Oleh Penumpang yang Digambarkan Dengan Perspektif Linier................ Bagan Anak Usia 13 Tahun....

........................... Gambar 57......... Gambar 65. Rangkuman Hasil Seminar Instrumen Penilaian Seni Lukis ...................................................... Gambar 58.... Hasil Studi Awal Jenis Penilaian yang Digunakan Guru .......... Gambar 53.. Gambar 54......................... Gambar 64........................................ Gambar 56............... Minat siswa dalam belajar Hasil Studi Awal.. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 3. Gambar 52.................................... Hasil Studi Awal Jenis Penentuan Skor Penilaian oleh Guru .................................... Gambar 59.......Gambar 50.......... Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 2.................................. Gambar 69..................................................................... Instrumen Penilaian Seni Lukis Hasil Tahap Rancangan...................... Gambar 68......... Gambar 55............... Hasil Studi Awal Subjek yang Menentukan Tema Lukisan ....................... Hasil Studi Awal Unsur Kreativitas dalam Penilaian oleh Guru……………………………………………………..... Gambar 67............... Gambar 63........ Kesulitan Guru dalam Penilaian Hasil Studi Awal............. Tren perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 1....………………….................................... Rangkuman Hasil FGD Ketiga...................................................... Hasil Studi Awal Tanggapan Guru Perlunya Instrumen Penilaian .. Hasil Studi Awal Kesesuaian Prosedur yang Digunakan dalam Penilaian .......... Hasil Studi Awal Kriteria Penilaian Guru ............... Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 3...... Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 1................................ 174 174 175 176 176 177 178 178 179 180 180 184 188 192 239 243 245 248 251 253 xvii ............. Gambar 51........ Hasil Studi Awal Komponen Penilaian Guru....... Tren perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 2…………………………………………………… Gambar 66................ Gambar 62...................... Gambar 61............................. Hasil Studi Awal Partisipasi Siswa atau Sekolah dalam Kegiatan Lomba............... Gambar 60...............

...................Gambar 70.................. 257 255 xviii ............... Gambar 71............................ Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Diri..................... Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Kelompok.................................................

1.. Pendidikan Seni Rupa ……….. DAFTAR GAMBAR ....... Spesifikasi Produk ………............................................................ Tujuan Penelitian ... 2...........................…... PENDAHULUAN……………………………………………………… A..…... 3...........…………………………………………….…........................ 1.. ABSTRACT..................…………………………………………………….....…… BAB II..................………………………………………………………………............. C......................... Seni Lukis bagi Anak Usia Sekolah Dasar ...........………..................………………....………………………………………………............... DAFTAR TABEL ..... ….............……………….................................... Pengertian dan Jenis Seni Lukis . Manfaat Penelitian ………....… D..............………………………………………………………...................... Rasional yang Melandasi Pentingnya Masalah ……………................... Manfaat Pendidikan Seni Rupa ....... BAB I........…..........................…………..…………………………………………………………..... KATA PENGANTAR ....... PERNYATAAN KEASLIAN .....................…… E.........................................................……......................... Latar Belakang dan Identifikasi Masalah .......……...............……..... 4........ 2.................... LEMBAR PENGESAHAN ...............………………….................. DAFTAR ISI .............. Rumusan Masalah…............... Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini ...........… E.. Pengertian Pendidikan Seni Rupa . Pendidikan Seni Rupa di Sekolah Dasar Di Indonesia ........…… B...................DAFTAR ISI ABSTRAK.... Pendekatan dalam Pendidikan Seni Rupa ..........................………………………………………………………………......................... KAJIAN PUSTAKA ………….............….......... Pembelajaran Seni Lukis di Sekolah Dasar ………………………..... A............. ii iii iv v vii viii xi xv xix 1 1 7 11 11 12 12 14 14 14 22 24 34 42 52 52 64 viii .……… C........... DAFTAR LAMPIRAN .........………....... B.…….

.. Uji Coba Produk ……………………........... Tahap Perancangan ....…….........................................………………..... 5.............. ……………………………………..…….......................………...............................…...... Fungsi Penilaian dalam Pendidikan Seni .............. 4..... 2...... Model Pengembangan .. 2....................... Tahap Diseminasi ................................ Karakteristik Penilaian dalam Pendidikan Seni .... ix ...........…… A.............................. D........ Teknik Analisis Data ....……........ 4............ Aspek yang Dinilai dalam Karya Seni Lukis........………….........................................………..................... H........... Data Studi Awal ............... BAB IV.................................................................................................................................................... Prosedur Pengembangan ………………………………………… 1..... 2.................................................... Data Perancangan.................................... Hipotesis Uji Model ………..... Tahap Studi Awal ... Hasil Penelitian yang Relevan ………..... Tahap Pendefinisian .... 96 100 107 107 109 119 135 145 150 150 152 152 155 155 156 157 158 161 161 161 163 164 165 169 169 169 182 184 185 ............……….......... 2...... Subjek Coba .. Data Pengembangan ................................. 4. 3.......................................... 3.......... Seni Lukis sebagai Indikator Gambar Ekspresi dalam KTSP .....……............................ Pertanyaan Penelitian ……….............…….. 4.......... D.. G..................….......................... Metode Pembelajaran Seni Lukis Anak Sekolah Dasar .............…................................... Jenis Instrumen Pengumpulan Data ................... 3.....……………… B.............................. METODE PENELITIAN ............ Data Pendefinisian ................…….... Kerangka Pikir …................ Penilaian dalam Pembelajaran Seni Lukis di Sekolah Dasar ............3..... BAB III. 3.........................................…… A........... 1......................…................. F......… 1........ HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN....... Tahap Pengembangan ........................ Data Uji Coba ……….......…… 1................ Desain Uji Coba . E........................................…….....

.......................................………… C........ C................................................... B.........................… …………………………………….......……... 5.......... 187 196 196 220 232 232 232 234 ............. Revisi Produk………………….... Penilaian Diri......................... Penilaian Produk ........ KESIMPULAN DAN SARAN ............................... Saran Pemanfaatan ……………………...... Diseminasi .... 2...... Tren Perkembanagan Koefisien Genova ... 4...………...............................................…….. Penilaian Proses ..………….......................... D.......................……………………………..................................................................................................... Simpulan . Data Uji Coba Koefisien Interrater ......... x ......................... Keterbatasan Penelitian………………………………..................... 3..5..............…..… 1.................................. Diseminasi dan Pengembangan Produk Lebih Lajut ………....... Analisis Data ....................... 1............... Data Uji Coba........................................ Kajian Produk ..………........... 235 237 237 260 260 261 261 262 263 BAB V.…………………............................……………… B............... 2.......................... Penilaian Kelompok .… DAFTAR PUSTAKA .......…… A.....................… D.....................

......................................................... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Proses Kelas 1 dan Tingkat Perubahannya ................ Penilai........................... Tabel 13.............. Estimasi Komponen Variansi Siswa........................................... Tabel 5........ Estimasi Komponen Variansi Siswa............... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Produk Kelas 2 dan Tingkat Perubahannya................................... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Proses Kelas 3 dan Tingkat Perubahannya............... Tipe-Tipe Psikologis Anak dan Katagori Lukisan Anak........ Tabel 11.. Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Produk Kelas 1 dan Tingkat Perubahannya...... Tabel 16.......................................................... Tabel 14.... Hubungan antara Tujuan Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan (PSB) dengan SKL Satuan Pendidikan SD... Tabel 15.. Tabel 9....................................................................... Pupil’s Self Evaluation Form.. Daftar Peserta Studi Awal.................................... Tabel 12.............................................. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Produk... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Produk Kelas 3 xi 212 211 210 209 208 206 203 201 199 197 171 181 186 5 96 123 124 ................ Penilai........... Tabel 6............................................... Tabel 17...................................... Tabel 3.... Tabel 2.................... Daftar Peserta Studi Awal......... Tabel 18.... Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Proses.......................................... Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Diri........................ Penilai.. Rangkuman Hasil G Study dan Koefisien G Pada Berbagai Komponen dan Berbagai Faset Terapan Uji Coba... Tabel 4...........................DAFTAR TABEL Tabel 1. Penilai....................................... Tabel 8.................................... Tabel 7.. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Kelompok..... Hasil FGD Pertama dan Kedua........ Estimasi Komponen Variansi Siswa............... Estimasi Komponen Variansi Siswa............... Student Self Evaluation Form...................... Tabel 10.............. Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Proses Kelas 2 dan Tingkat Perubahannya................................................

....................................................... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Diri Kelas 1 dan Tingkat Perubahannya ................................................................................ Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Proses Kelas 1............................................ Tabel 22................ Tabel 27.................................................. Tabel 21............................. Tabel 29.................. Tabel 26............... 225 Tabel 30........................................................................ 227 Tabel 33............................................. Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai 213 214 215 216 217 218 219 221 222 222 224 Pada Penilaian Produk Kelas 2. Tabel 32.................. Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Kelompok Kelas 3 dan Tingkat Perubahannya.................................................... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Proses Kelas.... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Diri Kelas 1....................................... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai 227 225 xii ........................ Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Kelompok Kelas 1 dan Tingkat Perubahannya....................................................................... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Diri Kelas 3 dan Tingkat Perubahannya........................................................... Tabel 25.......... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Kelompok Kelas 2 dan Tingkat Perubahannya ......... Tabel 20.........dan Tingkat Perubahannya........................ Tabel 28... Tabel 24..................... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Diri Kelas 2 dan Tingkat Perubahannya.................................................................. Tabel 31....... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Produk Kelas 3....................... Tabel 23......... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Produk Kelas 1............................................................................... Tabel 19........................................................... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Diri Kelas 2............... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Proses Kelas 2.............

.................. Tabel 45............ Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Kelompok Kelas 2................ Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =4 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear..................... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 3............... Perbadingan koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Produk ............................... Tabel 39.................. Tabel 49... Tabel 43.... Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =2 228 230 231 231 233 234 236 237 238 239 241 242 244 245 247 248 250 xiii .................. Perbadingan koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Proses ... Tabel 44................................................. Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 1.......................... Tabel 40........... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Kelompok Kelas 1.... Tabel 50... Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =3 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear .......................Pada Penilaian Diri Kelas 3...............................................Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 1...... Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =6 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear ......... Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =3 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear ......................... Tabel 46....................................................... Tabel 48................................................. Tabel 37......... Tabel 34... Tabel 38............... Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Diri....................... Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Kelompok.................. Tabel 47............................... Tabel 36...................... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 2.... Tabel 42....................................................... Tabel 35........................ Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Kelompok Kelas 3.......... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 2................. Tabel 41............................................................

Tabel 52....................................... Tabel 54.............. Tabel 53............Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Kelompok.......... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Diri..........................Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear ...................................................................... Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =1 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear .................................................... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 3..... 250 252 253 254 257 xiv .. Tabel 51............................................

....................DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1............................................. Lampiran 3......................................................................... Hasil Analisis Genova...... Hasil FGD........... Lampiran 5......................................................... Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak................ Lampiran 6................ 270 275 276 293 296 306 318 321 358 361 365 xix .. Data Hasil Penilaian Seni Lukis Anak............ Lampiran 10................... Contoh Hasil Karya Seni Lukis Anak........ Hasil Wawancara Keterpakaian Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak Lampiran 8...................................................................................... Lampiran 9...... Lampiran 4..................................... Surat Ijin Penelitian........................... Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Seni Budaya dalam KTSP Lampiran 2....................................................... Lampiran 11................ Daftar Hadir FGD dan Seminar.................................... Lampiran 7................................................. Kompetensi Kreasi Seni Budaya dan Keterampilan........ Hasil Seminar......

PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ANAK DI SEKOLAH DASAR Oleh: Tri Hartiti Retnowati NIM. 04701261001 Disertasi ini ditulis untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk mendapatkan gelar Doktor Pendidikan Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA YOGYAKARTA 2009 i .

taufiq. dan Bapak Dodi Suyanto.D selaku promotor disertasi ini.D selaku reviewer disertasi ini yang telah memberi masukan kepada penulis. perhatian.D dan Prof. Rektor Universitas Negeri Yogyakarta. serta dorongan semangat kepada penulis sehingga disertasi ini dapat terwujud.. Dekan FBS Univesitas Negeri Yogyakarta beserta staf. kepala MIN Tempel Sleman yang telah memberikan ijin dan segenap bantuannya pada pelaksanaan ujicoba instrumen penilaian seni lukis anak. atas perhatian dan dukungan sehingga disertasi ini selesai. Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta beserta segenap staf administrasi. 3. reliabel. v .Pd. Dalam kesempatan ini. Kepala SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta. sehingga disertasi ini menjadi lebih baik. 5. dan praktis untuk digunakan guru di sekolah dasar. sehingga disertasi ini dapat diselesaikan. kemudahan. Prof. kepala SDN Langensari Yogyakarta. Prof. 7. Kumaidi. Ph. hidayah. bantuan. yang telah memberikan arahan. yang telah memberikan kesempatan untuk melanjutkan studi S-3 pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta. 6.Pd. dan bimbingan yang sangat berharga. Penyelesaian disertasi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak.KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas berkat limpahan rahmat. atas segala kebijaksanaan. yang diberikan sehingga disertasi ini dapat selesai. Ph. 4. penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada: 1. Sofyan Salam. dan inayahNya. 2. Disertasi ini bertujuan mengembangkan instrumen penilaian karya seni lukis anak yang valid. Suyata. Para guru yang telah membantu pelaksanaan ujicoba instrumen penilaian seni lukis anak yaitu Ibu Udawati S. Bapak Sutarno S. Ph.

8. Para pakar pendidik seni dan seni lukis anak-anak serta guru seni lukis di sekolah dasar yang telah berpartisipasi dalam FGD sehingga instrumen ini dapat terwujud. 9. Segenap teman-teman Jurusan Pendidikan Seni Rupa FBS UNY dan mahasiswa angkatan tahun 2004 Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan S3 Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta yang dengan penuh keakraban memberikan dorongan moral dan segenap bantuan yang diberikan sehingga disertasi ini dapat selesai. Akhirnya rasa terimakasih yang sangat pribadi disampaikan kepada suami tercinta Prof. Djemari Mardapi Ph.D., dan anak-anak: Dian Puspita Sari dan suami, Febriaditya Agung Nugroho, dan Muhammad Harfiansyah Makarim yang dengan penuh pengertian dan pengorbanan selama penulis menyelesaikan studi. Semoga amal kebaikan bapak/ibu dan teman-teman semua

mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Amin.

Yogyakarta,

Mei 2009

Tri Hartiti Retnowati NIM. 04701261001

vi

PERNYATAAN KEASLIAN Yang bertandatangan di bawah ini Nama Mahasiswa Nomor Mahasiswa Program Studi Lembaga Asal : Tri Hartiti Retnowati : 04701261001 : Penelitian dan Evaluasi Pendidikan : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi ini merupakan hasil karya saya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya dalam disertasi ini tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Yogyakarta, April 2009 Yang membuat pernyataan

Tri Hartiti Retnowati

vii

Lampiran 1 Tabel 1. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Seni Budaya dan Kerajinan Sekolah Dasar Berdasarkan KTSP 2006 Kelas I, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengidentifikasi unsur rupa pada benda di alam sekitar 1.2 Menyatakan sikap apresiatif terhadap unsur rupa pada benda di alam sekitar 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresif 2.2 Mengekspresikan diri melalui teknik menggunting menempel KOMPETENSI DASAR

Kelas I, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya sent rupa 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengidentifikasi unsur rupa pada benda di alam sekitar 1.2 Menyatakan sikap apresiatif terhadap unsur rupa pada benda di alam sekitar 2.1 Mengekspresikan diri melalui karya seni gambar Ekspresif 2.2 Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa dua dimensi dengan teknik menempel KOMPETENSI DASAR

Kelas II, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya sent rupa 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengenal unsur rupa pada karya seni rupa 1.2 Menunjukkan sikap apresiatif terhadap unsur rupa pada Karya seni rupa 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar Ekspresif 2.2 Mengekspresikan diri melalui teknik cetak tunggal KOMPETENSI DASAR

270

Kelas II, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 2. Mengekspresikan diri melalui seni rupa. 1.1 Mengidentifikasi unsur rupa pada karya seni rupa 1.2 Menunjukkan sikap apresiatifterhadap unsur rupa pada karya seni rupa tiga dimensi 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresi 2.2 Menggunakan klise cetak timbul 2.3 Mengekspresikan diri melalui teknik cetak timbul KOMPETENSI DASAR

Kelas III, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 2. Mengekspresikan diri melalui seni rupa. 1.1 Menjelaskan symbol dalam karya seni rupa dua dimensi 1.2 Menunjukkan sikap apresiatif terhadap symbol dalam karya seni rupa dua dimensi 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif Mengenai diri sendiri 2.2 Mengekspresikan diri melalui gambar dekoratif dari motif Hias daerah setempat KOMPETENSI DASAR

Kelas III, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa KOMPETENSI DASAR

1.

Mengapresiasi karya seni rupa Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

1.1 Menjelaskan simbol dalam karya seni rupa tiga dimensi 1.2 Menunjukkan sikap apresiatifterhadap simbol dalam karya seni rupa tiga dimensi 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif mengenai alam sekitar 2.2 Memberi hiasan/warna pada benda tiga dimensi

2.

271

Kelas IV, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.1 Menjelaskan makna karya seni rupa terapan 1.2 Mengidentifikasi jenis karya seni rupa terapan yang ada di daerah setempat 1.3 Menunjukkan sikap apresiatif terhadap kesesuaian karya seni rupa terapan 1.4 Menunjukkan sikap apresiatif terhadap keartistikan karya seni rupa terapan 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi dengan tema benda alam: buah-buahan, tangkai, kerang, dsb 2.2 Memamerkan hasil gambar ilustrasi dengan tema benda alam: buah-buahan, tangkai, kerang, dsb di depan kelas KOMPETENSI DASAR

Kelas IV, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.1 1.2 1.3 Menjelaskan makna seni rupa murni Mengidentifikasi jenis karya seni rupa murni yang ada di daerah setempat Menampilkan sikap apresiatif terhadap karya seni rupa murni Membuat relief dari bahan plastis dengan pola motif hias Menyiapkan karya seni rupa yang dibuat untuk pameran kelas KOMPETENSI DASAR

2.

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

2.1 2.2

2.3

Menata karya seni rupa yang dibuat dalam bentuk pameran kelas

272

Kelas V, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.1 1.2 1.3 Menjelaskan makna motif hias Mengidentifikasi jenis motif hias pada karya seni rupa Nusantara daerah setempat Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan motif hias karya seni rupa Nusantara daerah setempat Mengekspresikan diri melalui gambar dekoratif dengan motif hias Nusantara 2.2 Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi dengan tema hewan dan kehidupannya 2.3 Membuat motif hias dasar jumputan pada kain KOMPETENSI DASAR

2.

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

2.1

Kelas V, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.2 1.3 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengekspresikan diri melalui gambar dekoratif dengan motif hias Nusantara Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi dengan tema hewan dan kehidupannya Membuat motif hias dasar jumputan pada kain Membuat topeng secara kreatif dalam hal teknik dan bahan Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi manusia dan kehidupannya KOMPETENSI DASAR

2.1 2.2

2.3

Menyiapkan karya seni rupa yang diciptakan untuk pameran kelas

2.4

Menata karya seni rupa yang diciptakan dalam bentuk pameran kelas/sekolah

273

Kelas VI, Semester 1

STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.1 1.2 1.3

KOMPETENSI DASAR Mengidentifikasi jenis motif hias pada karya seni rupa Nusantara daerah lain Menjelaskan cara membatik Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan motif hias karya seni rupa Nusantara daerah lain Membatik dengan teknik sederhana Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi dengan tema suasana di sekitar sekolah 2.3 2.4 Merancang boneka Membuat boneka berdasarkan rancangan

2.

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

2.1 2.2

Kelas VI, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.2 1.1 Mengidentifikasi jenis motif hias pada karya seni rupa Nusantara daerah lain Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan motif hias karya seni rupa Nusantara daerah lain Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi suasana alam sekitar KOMPETENSI DASAR

2.

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

2.1

2.2

Menyiapkan karya seni rupa yang dibuat untuk pameran kelas

2.3

Menata karya seni rupa yang dibuat untuk pameran kelas

274

2 Menggunakan klise cetak timbul 1.2 Menyatakan sikap apresiatif terhadap unsur rupa pada benda di alam sekitar 2. 1.1 Mengekspresikan diri melalui gambar Ekspresif 1.2 Mengekspresikan diri melalui teknik menggunting menempel KOMPETENSI DASAR Kelas I.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresi 1. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1. Semester 2 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa.1 Mengekspresikan diri melalui karya seni gambar Ekspresif 1.2 Mengekspresikan diri melalui teknik cetak tunggal KOMPETENSI DASAR Kelas II. Semester 1 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresif 2. Semester 1 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1.1 Mengidentifikasi unsur rupa pada benda di alam sekitar 1.1 Mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif mengenai alam sekitar 12 Memberi hiasan/warna pada benda tiga dimensi 275 . Semester 2 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa KOMPETENSI DASAR 1.2 Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa dua dimensi dengan teknik menempel KOMPETENSI DASAR Kelas II.3 Mengekspresikan diri melalui teknik cetak timbul KOMPETENSI DASAR Kelas III. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 2. Semester 2 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Kompetensi Kreasi Seni Budaya dan Keterampilan Kelas I.Lampiran 2 Tabel 2.

276 .

Namun demikian. mulai dari para pakar sebagai perumus materi sampai dengan guru mata pelajaran sebagai pelaksana sekaligus evaluator kegiatan pembelajaran.Lampiran 3 FOCUS GROUP DISCUSSION TAHAP 1 “ PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. persentase penilaian kedua unsur tersebut masih menjadi dilema yang perlu diputuskan dengan pertimbangan yang matang. Berdasarkan alasan inilah. Dalam pelaksanaannya. Oleh karenannya. Mengingat instrumen merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran seni lukis. Disamping itu. Disertasi yang berjudul ” Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak” merupakan representasi kebutuhan lapangan khususnya guru-guru pada jenjang pendidikan dasar yang mengkehendaki adanya suatu instrumen penilaian seni lukis yang valid dan reliabel sehingga dapat mengurangi subjektivitas guru dalam menilai karya siswa. 276 . dalam setiap pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kegiatan belajar seni lukis keikutsertaan para pakar seni lukis serta guru-guru pengampu di sekolah merupakan suatu kebutuhan yang mutlak. keterlibatan berbagai pihak sangat diperlukan. Latar belakang Pembelajaran seni lukis merupakan bagian penting dari aktivitas belajar di sekolah. indikator-indikator dari setiap penilaian baik proses maupun produk perlu ditetapkan dengan memperhatikan berbagai pemikiran yang disesuaikan dengan perkembangan jiwa dan perkembangan gambar anak untuk manentukan hasil penilaian seni lukis anak. maka dalam proses penyusunannya perlu mempertimbangan pemikiran para pakar serta guru yang terlibat langsung dalam pembelajaran. Berdasarkan Performance Assesment dalam penilaian seni lukis anak terdapat dua unsur penting yaitu penilaian proses dan produk. dilaksanakan FGD tahap 1 yang difokuskan untuk menjaring aspirasi yang berhubungan dengan tahap awal penyusunan instrumen penilaian seni lukis anak. Kedua permasalahan tersebut merupakan topik yang akan dibahas dalam FGD tahap 1 sebagai langkah awal dalam penyusunan instrumen penilaian seni lukis anak.

30-15.Sn Bambang Prihadi. M. S.30 18.45 Aktivitas Pembukaan mengutarakan maksud dan tujuan FGD diikuti dengan perkenalan peserta yang hadir Presentasi pengenalan topik yang akan dibahas yaitu menentukan bobot persentase dari penilaian karya seni lukis anak yang terdiri dari proses dan produk dan menentukan indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak. Peserta yang hadir Drs. Menentukan bobot persentase dari penilaian karya seni lukis anak yang terdiri dari proses dan produk.Pd Dody S Dwi Susanto (Pakar pendidikan seni) ( Pakar seni lukis anak) (Pakar seni lukis anak UNY) (Guru pendidikan seni anak SD Sapen I) (Guru pendidikan seni anak SD Sapen II) (Guru pendidikan seni anak MIN Tempel) (Guru pendidikan seni anak Sekolah Dasar) D. Deskripsi pelaksanaan FGD tahap I dilaksanakan pada tanggal 26 Februari 2008 bertempat di Ruang Sidang Program Pascasarjana UNY.Affandi Dewobroto. 2. S. C.15-18.30-18. Penyimpulan dan penyampaian hasil diskusi Penutupan dengan doa bersama 15.Pd Udawati.Pd Enrizal. M.00-15. Adapun jalannya pelaksanaan FGD tersebut disajikan pada tabel berkut: Waktu 15.15 18.30 15. Target yang ingin dicapai Berdasarkan latar belakang.Lampiran 3 B. target dari FGD tahap 1 ini adalah: 1.40 277 . Diskusi sesi 1 untuk memutuskan bobot persentase dari penilaian karya seni lukis anak yang terdiri dari proses dan produk Diskusi sesi 2 untuk menentukan indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak.45-16.15 16. M. Menentukan indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak.15-18.

M. M. tahap inti.Pd Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% karena proses lebih memperlihatkan kesungguhan siswa dalam melukis Udawati. M. Dewobroto.Pd Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% karena proses seseorang dalam berkarya lebih penting dari hasil yang diperoleh Enrizal. sedangkan tahap akhir terdiri dari penilian diri.Lampiran 3 E.Affandi Penilaian proses dibagi menjadi tahap awal. pemanfaatan waktu. S.Pd Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% Dody S Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% karena proses cenderung memperlihatkan potensi seorang anak dalam berkarya seni Dwi Susanto Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% Apakah indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak Drs. S. keterampuilan mengorganisasikan keterampilan estetis.Sn Dalam penilaian proses pada tahap inti perlu adanya tambahan kriteria yaitu pemahaman tema karena tanpa adanya pemahaman tema akan sulit bagi siswa untuk dapat melukis dengan baik Bambang P.Pd Penilaian proses dibagi menjadi dua tahap yaitu tahap awal dan tahap inti karena tahap akhir berupa penilaian diri dan kelompok bukan merupakan bagian dari proses seorang anak dalam berkarya Udawati. Masukan peserta yang hadir Sesi 1 Pertanyaan Berapa persenkah bobot untuk penilaian proses dan produk Drs.Sn Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 50% sedangkan produk 50% hal ini dikarenakan antara proses dan produk terdapat keseimbangan . Adapun penilain proses terdiri dari kreativitas dan ekspresi.Pd Dalam penilaian proses untuk kegiatan inti perlu 278 Masukan peserta Sesi 2 Pertanyaan Masukan peserta .Pd Dalam penilaian produk perlu adanya tambahan indikator yaitu teknik Enrizal. M. dan tahap akhir. M. M. Tahap awal terdiri dari tanggapan anak terhadap tema dan kesiapan alat dan bahan. S. tahap inti terdiri dari kelancaran penuangan ide. dengan kata lain apabila proses baik maka produk pun akan baik begitu juga jika produk baik maka proses pun baik Bambang P.Affandi Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% mengingat proses lebih menentukan hasil karya yang diperoleh siswa Dewobroto. S.

Indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak 1.Lampiran 3 adanya indikator ketekunan serta keberanian dalam menggunakan unsur-unsur bentuk Dalam penilaian proses untuk kegiatan inti perlu adanya indikator keberanian menggunakan media Penilaian diri dan penilaian kelompok bukan merupakan bagian dari proses seseorang dalam berkarya. Pemanfaatan waktu Tahap inti Kreativitas Produk Ekspresi Teknik Penilaian Diri Penilaian Kelompok 279 . Keberanian menggunakan media 3. Kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis Tahap awal Proses 1. Ketekunan 5. Bobot persentase minimal untuk penilaian proses 60% dan produk 40% 2. Kelancaran penuangan ide 2. Kesimpulan 1. jadi untuk penilaian proses dan penilaian kelompok lebih baik terpisah tetapi tetap merupakan bagian dari penialian karya seni lukis anak Dody S Dwi Susanto F. Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat 2. Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk 4.

Adapun jalannya pelaksanaan FGD tersebut disajikan pada tabel berkut: 280 . Susapto Murdowo. B. Latar belakang Menindaklanjuti hasil yang diperoleh dari FGD tahap I. Peserta yang hadir Drs. selanjutnya perlu adanya deskripsi dari masing-masing indikator pada penilaian proses dan produk.Pd Sutarno. Deskripsi pelaksanaan FGD tahap II dilaksanakan pada tanggal 13 Maret 2007 bertempat di Ruang Sidang Program Pascasarjana UNY. target dari FGD tahap II ini adalah menentukan deskripsi dari setiap indikator pada penilaian proses dan produk. diperlukan berbagai pemikiran yang didasari pemahaman konsep yang mendalam tentang karya seni lukis anak. Deskripsi indikator ini mencakup gambaran secara terperinci dari setiap indikator yang diperoleh dari FGD tahap I. Untuk mendeskripsiakan indikator ini.Pd Enrizal. M. M. Oleh karena itu keterlibatan para pakar seni lukis anak dan guru sangat diperlukan.Pd Udawati.Pd Dody S Drs. C.Lampiran 3 FOCUS GROUP DISCUSSION TAHAP II “ PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. S. S. Suwarno Bambang P. S. Proses olah pikir dari para pakar dan guru untuk menentukan deskripsi dari setiap indikator dilaksanakan pada FGD tahap II.Sn (Pakar pendidikan seni) (Pakar seni lukis anak UNY) (Guru pendidikan seni anak SD Sapen I) (Guru pendidikan seni anak SD) (Guru pendidikan seni anak SD Sapen II) (Guru pendidikan seni anak Sekolah Dasar) (Praktisi dan pakar seni lukis ) D. Target yang ingin dicapai Berdasarkan latar belakang.

50 18.Pd • Untuk tahap inti indikator 3 deskripsinya adalah: 281 Masukan peserta .45-17. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik Drs.Pd • Untuk tahap inti indikator 2 deskripsinya adalah: Keberanian menggunakan media dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik inkonvensional dalam melukis • Kemudian diperlengkap menjadi: Keberanian menggunakan media (alat dan bahan)dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik inkonvensional dalam melukis Udawati. Diskusi sesi 1 untuk menentukan deskripsi dari setiap indikator pada penilaian proses Diskusi sesi 2 untuk menentukan deskripsi dari setiap indikator pada penilaian produk.30 17.Pd • Untuk tahap inti indikator 1 deskripsinya adalah: Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara ide yang ada dalam diri siswa dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut • Kemudian diperlengkap menjadi: Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara kualitas ide yang dikembangkan dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut Enrizal.45 Aktivitas Pembukaan mengutarakan maksud dan tujuan FGD diikuti dengan perkenalan peserta yang hadir Presentasi pengenalan topik yang akan dibahas yaitu menentukan deskripsi dari setiap indikator pada penilaian proses dan produk. Suwarno • Untuk tahap awal indikator 1 deskripsinya adalah: Reaksi peserta didik berupa perilaku yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik • Kemudian diperlengkap menjadi: Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi.30-18. Masukan peserta yang hadir Sesi 1 Pertanyaan Bagaimanakah deskripsi untuk indikator penilaian proses Drs. Penyimpulan dan penyampaian hasil diskusi Penutupan dengan doa bersama 15. S. M.Lampiran 3 Waktu 15. Susapto M.30 15.50-19.Sn Suatu kondisi peserta didik yang sudah siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya Bambang P.00 E.30-18. S.30-15. Untuk tahap awal indikator 2 deskripsinya adalah: M.00-15.30 18.

dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik Untuk tahap inti indikator 4 deskripsinya adalah: Kondisi peserta didik untuk mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh-sungguh Untuk tahap inti indikator 5 deskripsinya adalah: Penggunaan waktu sebaik-baiknya untuk membuat karya lukis Dody S Sutarno. kemampuan abstraksinya. dan kebersihan karya 282 . S. ketelitian dalam penyelesaian. dan keberanian dalam mengorganisasikan unsur-unsur rupa tersebut Enrizal. garis. kebaruan teknik dan konsep cerita Bambang P. keberhasilan karya. bentuk karya lukis peserta didik.Pd Sesi 2 Pertanyaan Masukan peserta Bagaimanakah deskripsi untuk indikator penilaian hasil Drs. dan keberhasilan karya Dody S Deskripsi indikator 3 disederhanakan menjadi: Kemampuan menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya. S. garis. serta kebersihan karya yang dihasilkan Sutarno.Pd Untuk indikator 3 deskripsinya adalah: Kemampuan peserta didik dalam menyesuaikan antara media/alat yang digunakan dengan bentuk-bentuk yang dibuat dalam karya lukisnya.Pd Deskripsi indikator 2 disederhanakan menjadi: Kejelasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema Udawati. Suwarno Untuk penilaian produk indikator 1 deskripsinya adalah: Suatu produk dari hasil pemikiran atau perilaku peserta didik yang merupakan kekuatan konseptual melalui karya lukisnya yaitu meliputi kepekaan pada suatu masalah.Sn bentuk (kemampuan menciptakan bentuk yang khas). warna.Pd Untuk indikator no 2 deskripsinya adalah: Suatu kelancaran dalam penuangan ide yang dilihat dari ketegasan pada goresan. S. kualitas cara penggambaran.Lampiran 3 Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik • Kemudian diperlengkap menjadi: Keberanian menggunakan titik. S. M. Susapto M. bidang. ketelitian dalam penyelesaian. dan kemampuan untuk menyesuaikan dengan perkembangan terkini serta kesesuaian dengan karakteristik bahan/material yang digunakan Drs.Pd Untuk indikator 3 deskripsinya adalah: Kemampuan peserta didik dalam menyesuaikan antara media/alat yang digunakan dengan bentuk-bentuk yang dibuat dalam karya lukisnya. Deskripsi indikator 1 disederhanakan menjadi Keaslian M. ide-ide. keaslian.

serta kebersihan karya yang dihasilkan 3 4 5 B 1 2.Lampiran 3 F.2 Tahap Inti 1 Kelancaran penuangan ide Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara kualitas ide yang dikembangkan dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut 2 Keberanian menggunakan Keberanian menggunakan media (alat dan media bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik inkonvensional dalam melukis Keberanian menggunakan Keberanian menggunakan titik. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik 2 Kesiapan alat dan bahan Suatu kondisi peserta didik yang sudah yang akan digunakan siap melakukan tugas dengan perlengkapan untuk melukis bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya A. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik. Ketekunan Kondisi peserta didik untuk mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh-sungguh Pemanfaatan waktu Penggunaan waktu sebaik-baiknya untuk membuat karya lukis Komponen Produk Kreativitas Keaslian bentuk (kemampuan menciptakan bentuk yang khas). kebaruan teknik dan konsep cerita Ekspresi Kejelasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema Teknik Kemampuan menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya. kualitas cara penggambaran.1 1 Indikator Komponen Proses Tahap Awal Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Deskripsi Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi. unsur-unsur bentuk bidang. 3 283 . Kesimpulan Hasil dari FGD 2 ini adalah sebagai berikut: No A. garis. A.

Latar belakang Sebuah penilaian yang baik mengandung kriteria yang berlaku secara umum.Pd Sutarno. M. Dalam proses penyusunan rubrik skor ini. target dari FGD tahap III ini adalah menentukan rubrik penskoran untuk masing-masing indikator dalam penilaian proses dan produk serta membahas instrumen penilaian diri dan kelompok. Target yang ingin dicapai Berdasarkan latar belakang.Pd Dodi sudaryanto Dwi Udawati F (Ahli pengukuran ) (Ahli pengukuran) (Ahli pengukuran) ( Pakar seni lukis anak UNY) ( Guru seni lukis SD) ( Guru seni lukis MIN Tempel) ( Guru seni lukis SD Sapen II) 284 . S. dan kereliabelan instrumen yang akan dibuat. kevalidan. Kriteria ini merupakan penjabaran dari deskripsi setiap indikator yang terdapat dalam penilaian. Heri Retnowati Suratno Mansyur. B. M. Berdasarkan alasan inilah. setelah menkentukan deskripsi indikator baik untuk penilian proses maupun penilaian produk langkah selanjutnya adalah pembuatan rubrik skor untuk menentukan kriteria dari setiap level penilaian yang diberikan. Peserta yang hadir Dr. perlu juga adanya ahli pengukuran untuk memberikan masukan terkait dengan segi kepraktisan. Oleh karena itu. maka dilaksanakan FGD tahap III untuk membahas rubrik skor penilaian proses dan produk serta instrumen awal penilaian diri dan kelompok.Lampiran 3 FOCUS GROUP DISCUSSION TAHAP III “ PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. C.Si Bambang P. selain diperlukan adanya pakar serta guru seni lukis.

Masukan peserta yang hadir Sesi 1 Pertanyaan Masukan peserta Bagaimanakah kriteria rubrik skor untuk penilaian proses Dr. cukup lengkap. sangat kurang Untuk tahap inti indikator 1 level sangat baik kriteriannya adalah: sangat cepat. Mansyur.00-15.30 17.Pd Sutarno.Pd 285 .30-15.00 E. kurang. Deskripsi pelaksanaan FGD tahap III dilaksanakan pada tanggal 10 April 2007 bertempat di Ruang Sidang Program Pascasarjana UNY.45-19. baik. tidak siap digunakan Sangat kurang kriterianya: kurang lengkap . Diskusi sesi 2 untuk menentukan rubrik penskoran penilaian produk. pembahasan instrumen penilaian diri dan kelompok Penyimpulan dan penyampaian hasil diskusi Penutupan dengan doa bersama 15. dan sering atau sangat lengkap. Untuk tahap inti indikator 2 level sangat baik kriterianya adalah: sangat cepat. Heri Retnowati Level penilaian bisa berupa: tidak pernah.30-18. dan kurang lengkap Suratno Kriteria untuk setiap level dibuat dengan sederhana. tidak relevan. sangat siap digunakan Baik kriterianya: lengkap. sangat relevan. lengkap. sangat tepat. tidak siap digunakan Sebaiknya kriteria diganti menjadi sangat baik.30 18. sangat sesuai dengan media sedangkan untuk level lainnya menyesuaikan.45 18. cukup. kurang relevan.Lampiran 3 D. jarang.45 Aktivitas Pembukaan mengutarakan maksud dan tujuan FGD diikuti dengan perkenalan peserta yang hadir Presentasi pengenalan topik yang akan dibahas yaitu menentukan rubrik penskoran untuk setiap indikator pada penilaian proses dan produk. misalnya untuk tahap awal indikator 2 Sangat baik kriterianya: sangat lengkap. siap digunakan Kurang kriteriannya: kurang lengkap. Adapun jalannya pelaksanaan FGD tersebut disajikan pada tabel berkut: Waktu 15.Si Bambang P. relevan. M.45-17. pembahasan awal instrumen penilaian diri dan kelompok Diskusi sesi 1 untuk menentukan rubrik penskoran penilaian proses. S. M.30-18.30 15. sangat tepat.

M.Pd Untuk penilaian produk indikator 2 level sangat baik kriteriannya: sangat jelas. Heri Retnowati Untuk penilaian produk indikator 1 level sangat baik kriteriannya: bentuk yang diciptakan sangat khas. biasa-biasa. konsep cerita sangat kaya Mansyur. M. sangat tegas Untuk penilaian produk indikator 2 level sangat baik kriteriannya: sangat jelas. sangat artistik Untuk tahap inti indikator 4 level sangat baik kriterianya adalah:Sangat bersungguh-sungguh Untuk tahap inti indikator 5 level sangat baik kriterianya adalah:Karya selesai sebelum waktu berakhir Dodi sudaryanto Dwi Udawati F Sesi 2 Pertanyaan Bagaimanakah kriteria rubrik skor untuk penilaian produk Dr. sangat cermat.Lampiran 3 sangat sesuai dengan karakteristik media sedangkan untuk level lainnya menyesuaikan Untuk tahap inti indikator 3 level sangat baik kriterianya adalah:sangat berani. sangat tepat . teknik sangat inovatif. teknik sangat inovatif Suratno Untuk penilaian produk indikator 1 level sangat baik kriteriannya: bentuk yang diciptakan sangat khas. S. atau senang Masukan peserta Sutarno.Pd Dodi sudaryanto Dwi Udawati F F. sangat tegas. sangat bersih Untuk penilaian diri dan penilaian kelompok katagori jawaban dapat dibuat dengan menggambar ekspresi muka baik itu marah. sangat berani dalam karya Untuk penilaian produk indikator 3 level sangat baik kriteriannya:sangat sesuai karakteristik media. Kesimpulan Kesimpulan FGD tahap III ini dapat dilihat pada tabel 286 .Si Untuk penilaian produk indikator 2 level sangat baik kriteriannya: Sangat jelas Bambang P.

Sangat baik perilaku (ekspresi. Kurang • • • • 287 . Cukup • • • • 1.Lampiran 3 Tabel 3 Rangkuman Hasil FGD Ketiga No 1 Indiaktor Komponen Proses tahap Awal Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Deskripsi Level Kriteria • • • • • • • • Bertanya seperlunya seputar tema lukisan kepada guru Tidak pernah mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan sangat cepat Memperlihatkan kegairahan yang sangat tinggi untuk memulai melukis Jarang bertanya seputar tema lukisan kepada guru Jarang mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan cepat Memperlihatkan kegairahan yang tinggi untuk memulai melukis Sering bertanya seputar tema lukisan kepada guru Cukup sering mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan cukup cepat Memperlihatkan kegairahan yang cukup tinggi untuk memulai melukis Sangat sering bertanya seputar tema lukisan kepada guru Sering mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan lambat Memperlihatkan kegairahan yang kurang untuk memulai melukis Reaksi peserta didik berupa 4. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik 3. Baik 2.

Lampiran 3 No 2 Indiaktor Kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis Deskripsi Level Suatu kondisi peserta didik 4. Baik untuk memvisualisasikan ide tersebut 2. Cukup 1. Cukup Kriteria • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan sangat lengkap • Alat dan bahan sangat siap untuk digunakan • Alat dan bahan sangat mendukung kegiatan melukis • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan lengkap • Alat dan bahan siap untuk digunakan • Alat dan bahan mendukung kegiatan melukis • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan cukup lengkap • Alat dan bahan cukup siap untuk digunakan • Alat dan bahan sangat mendukung kegiatan melukis • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan kurang lengkap • Alat dan bahan kurang siap untuk digunakan • Alat dan bahan kurang mendukung kegiatan melukis Kriteria • • • • • • • • • • • Sangat cepat dalam menemukan ide Sangat tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide Sangat cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Cepat dalam menemukan ide Tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide Cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Cukup cepat dalam menemukan ide Cukup tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide Cukup cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Lambat dalam menemukan ide Kurang tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide 1. Kurang No 3 Indiaktor Komopnen Deskripsi Level Proses tahap Inti Kelancaran penuangan Kondisi peserta didik pada 4. Baik lukisnya 2. Sangat baik yang sudah siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya 3. Sangat baik waktu membuat karya lukis ide yaitu adanya keseimbangan antara ide yang ada dalam diri siswa dengan keterampilan 3. Kurang 288 .

Sangat baik unsur.titik.Lampiran 3 • Lambat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media No 4 Indiaktor Keberanian menggunakan media Deskripsi Level Kemampuan menggunakan 4. bidang. garis. Sangat baik media (alat dan bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik bebas dalam melukis 3. Cukup 1. Baik 2. Baik Kriteria • Variasi unsur-unsur bentuk (garis. dan warna untuk menghasilkan bentuk yang orisional/khas 3. bidang) mendukung pertimbangan estetik • Penggunaan warna mendekati warna sebenarnya 289 . Kurang Kriteria • Sangat cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Sangat tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media sangat sesuai dengan karakteristiknya • Cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media sesuai dengan karakteristiknya • Cukup cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Cukup tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media cukup sesuai dengan karakteristiknya • Lambat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Kurang tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media kurang sesuai dengan karakteristiknya No 5 Indiaktor Keberanian menggunakan unsur bentuk Deskripsi Level Kemampuan menggunakan 4. bidang) sangat mendukung pertimbangan estetik • Penggunaan warna sangat mendekati warna sebenarnya • Sangat berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis • Variasi unsur-unsur bentuk(garis.

4. Kurang 7 Ketekunan Kondisi peserta didik untuk 4. bidang) cukup mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna cukup mendekati warna sebenarnya Cukup berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis Variasi unsur-unsur bentuk sedikit (garis. Kurang No 8 Indiaktor Komponen Produk Kreativitas Deskripsi Level • • • • • • • • • • • • • • • • Kriteria • • Berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis Variasi unsur-unsur bentuk (garis. Sangat baik untuk 3.3. Kurang • • • 6 Pemanfaatan waktu Penggunaan waktu baiknya dilakukan membuat karya lukis sebaik.Lampiran 3 • 2. Cukup 1. bidang) mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna tidak mendekati warna sebenarnya Kurang berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis Menyelesaikan karya lukis dengan sangat tepat waktu Memperlihatkan hasil karya lukis yang sangat tuntas Menyelesaikan karya lukis dengan tepat waktu Memperlihatkan hasil karya lukis yang tuntas Menyelesaikan karya lukis dengan cukup tepat waktu Memperlihatkan hasil karya lukis yang cukup tuntas Menyelesaikan karya lukis dengan kurang tepat waktu Memperlihatkan hasil karya lukis yang kurang tuntas Sangat serius dalam membuat karya lukis Perhatian terhadap karya lukis sangat terfokus Serius dalam membuat karya lukis Perhatian terhadap karya lukis terfokus Cukup serius dalam membuat karya lukis Perhatian terhadap karya lukis cukup terfokus Tidak serius dalam membuat karya lukis Perhatian terhadap karya lukis kurang terfokus Keaslian bentuk (kemampuan 4. Baik 2. Cukup 1. Sangat baik menciptakan bentuk-bentuk baru) Tidak pernah melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang sangat tinggi dalam memodifikasi objek 290 . Sangat baik mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh. Cukup • • • 1. Baik sungguh 2.

Sangat baik mengungkapkan isi/tema/konsep lukisan 3. Kurang No 9 Indiaktor Ekspresi Deskripsi Level Kejelasan dalam 4. Baik • Kriteria • Sangat jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan • Sangat tegas/ spontan dalam mengungkapkan garis • Sangat berani dalam mengorganisasikan unsur-unsur karya lukis • Jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan • Tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna 291 . Cukup 1. Baik 2.Lampiran 3 • • • • • • • • • • • • • • • • • Warna yang digunakan sangat bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang sangat tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang sangat banyak Jarang melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang tinggi dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang banyak Cukup sering melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan cukup bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang cukup banyak Sering melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang kurang dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan kurang bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang kurang dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang kurang banyak 3.

Kurang • • • Berani dalam mengorganisasikan unsur-unsur karya lukis Cukup jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Cukup tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Cukup berani dalam mengorganisasikan unsur-unsur karya lukis Kurang jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Kurang tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Kurang berani dalam mengorganisasikan unsur-unsur karya lukis 2. Baik 2. Cukup No 10 Indiaktor Teknik Deskripsi Level Kemampuan menggunakan alat 4. Cukup 1. Kurang Kriteria • Alat dan bahan yang digunakan sangat sesuai karakteristiknya • Sangat teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan sangat bersih • Alat dan bahan yang digunakan sesuai karakteristiknya • Teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan bersih • Alat dan bahan yang digunakan cukup sesuai karakteristiknya • Cukup teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan cukup bersih • Alat dan bahan yang digunakan kurang sesuai karakteristiknya • Kurang teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan kurang bersih 292 .Lampiran 3 • • • • 1. Sangat baik dan bahan sesuai dengan karakteristiknya serta kebersihan karya yang dihasilkan 3.

Pd Endang Sulistyowati. instrumen penilaian diri. Namun demikian. Target yang ingin dicapai Berdasarkan latar belakang. B.Pd Harun. maka disusunlah instrumen penilaian seni lukis anak yang terdiri dari instrumen penilaian proses dan produk. M. Ph. dilaksanakanlah seminar instrumen dengan melibatkan pakar seni lukis anak . M.Lampiran 4 SEMINAR “ PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. instrumen penilain diri.D Dr. Sofyan Salam. M. instrumen yang telah disusun tersebut masih memerlukan fiksasi dari ahli-ahli pengukuran. ahli pengukuran. Oleh karena itu. Heri Retnowati Suratno. dan III. Latar belakang Berdasarkan hasil yang diperoleh dari FGD tahap I.Pd Sujiatno. M. dan instrumen penilaian kelompok. serta mahasiswa S3 program studi PEP. II. M.Pd Kulsum. Peserta yang hadir Prof. dan instrumen penilaian kelompok. M. M.Pd Sudiyatno. target dari seminar ini adalah untuk melakukan fiksasi terhadap instrumen penilaian seni lukis anak yang terdiri dari instrumen penilaian proses dan produk. M.Pd (Pakar seni lukis anak/promotor) (Ahli pengukuran) (Ahli pengukuran) (Ahli pengukuran) ( Dosen dan Mahasiswa PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) 293 . C.Pd Wasis.Pd Mansur.

dan instrumen penilaian kelompok Diskusi sesi 1 untuk fiksasi instrumen penilaian proses dan produk Diskusi sesi 2 untuk fiksasi instrumen penilaian diri dan kelompok Penyimpulan dan penyampaian hasil diskusi Penutupan dengan doa bersama 08.00-08.Pd Suatu instrumen harus disusun sesederhana mungkin tetapi mewakili apa yang ingin kita ketahui dengan instrumen itu. Deskripsi pelaksanaan Seminar dilaksanakan pada tanggal 16 April 2008 bertempat di Ruang Diskusi Mahasiswa Program Pascasarjana UNY.15-09.15 Aktivitas Pembukaan mengutarakan maksud dan tujuan seminar diikuti dengan perkenalan peserta yang hadir Presentasi pengenalan topik yang akan dibahas yaitu instrumen penilaian proses dan produk.30 08.15-10. Ph. Oleh karena itu.15-10. M.30 10. misalnya sebagai berikut: • Sangat baik jika ketiga kriteria terpenuhi • Baik jika hanya dua kriteria yang terpenuhi • Kurang jika hanya satu yang terpenuhi • Sangat kurang jika tidak ada satu pun kriteria yang terpenuhi Suratno.15 09. Masukan peserta yang hadir Sesi 1 Pertanyaan Masukan peserta Berapa persenkah bobot untuk penilaian proses dan produk Prof. kita tidak harus menggunakan sistem hierarkis artinya dari atas kebawahtetapi bebas kriteria yang terpenuhi Harun.15 10.40 E. instrumen penilaian diri.Sofyan Salam.Pd Penentuan level dilakukan berdasarkan banyaknya keterpenuhan kriteria. Heri Retnowati Penentuan level dilakukan dengan menentukan banyaknya kriteria yang dipenuhi. M.D Kata-kata sangat atau segera dihilangkan karena indikator yang menyatakan sangat atau segera sangat sulit ditentukan Dr. Adapun kronologis pelaksanaan seminar tersebut disajikan pada tabel berkut: Waktu 08.30-10. M.Pd Dalam menentukan level dengan cara menentukan banyaknya kriteria yang dipenuhi. 294 .Lampiran 4 D.30-08. dengan demikian setiap level mengandung kriteria yang sama hanya tingkat keterpenuhannya yang berbeda Mansur.

Pd Sudiyatno.Lampiran 4 kriteri ada baiknya dibatasi maksimal terdiri dari tiga buah kata Perlu dilakukan penyederhanaan kata-kata agar lebih mudah untuk digunakan Setiap kriteria tidak menunjukan tingkatan. sebuah angket perlu juga memperhatikan desainnya seperti identitas siswa hal ini dimaksudkan agar pengisian angket tidak dilakukan serta merta. Harun. Instrumen tersebut akan berdampak pada tingkat keakuratan siswa dalam mengungkapkan perasaanya terkait dengan aktivitas seni rupa yang dilakukan F. tetapi dapat diacak Dengan tidak memberlakukannya sistem hierarkis.Sofyan Salam.Pd Wasis. M.Pd Selain dari segi konten. praktisi yaitu guru seni akan lebih mudah dalam menggunakan instrumen ini Penentuan level penilaian dengan metode tingkat keterpenuhan kriteria akan mempermudah guru dan menghemat waktu penggunaanya Endang Sulistyowati. sebaiknya gambar yang dimunculkan diberi aksen warna yang disesuaikan dengan gambar tersebut. Kulsum. M.Pd Agar lebih menarik. M.Pd Sesi 2 Pertanyaan Masukan peserta Apakah indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak Prof.Pd Instrumen penilaian yang dikombinasikan dengan gambar merupakan sesuatu yang baru dan menarik. M. 295 .Pd Sujiatno. M.Pd Soal berbentuk uraian cukup diberikan satu soal karena untuk menghindari kejenuhan siswa dalam menuliskan ungkapan ekspresinya Mansur. Misal marah berwarna merah.D Penggunaan gambar pada sebuah angket merupakan sesuatu yang baru dan menarik serta mudah digunakan siswa Dr. Heri Retnowati Disamping adanya soal pilihan ganda. netral berwarna kuning. M. senang berwarna hijau. M. Ph. perlu juga ditambahkan adanya soal yang berbentuk uraian agar siswa dapat lebih mengekspresikan perasaanya Suratno. Kesimpulan Kesimpulan dari seminar ini berupa draft instrumen penilaian seni lukis anak yang siap digunakan. M. jadi keterpenuhan kriteria tidak harus dari atas ke bawah atau sebaliknya.

Kelancaran penuangan ide 2. Kesiapan bahan dan alat yang akan digunakan untuk melukis Tahap inti 1. Pemanfaatan waktu 5. Indikator Tahap awal 1. Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk 4. Tanggapan anak tentang tema lukisan yang akan dibuat 2. Ketekunan dalam membuat karya Tahap akhir 1.Lampiran 5 KISI-KISI INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” KISI-KISI LEMBAR EVALUASI DIRI No 1 2 3 Indikator Perasaan siswa terhadap tugas yang diberikan Kemampuan siswa dalam mengerjakan tugas Perasaan siswa terhadap karya yang dihasilkan KISI-KISI LEMBAR EVALUASI KELOMPOK No 1 2 3 4 Indikator Kemampuan siswa dalam menggambar objek Kemampuan siswa dalam memilih warna Kebersihan karya Penilaian terhadap lukisan secara keseluruhan Butir 1 2 3 4 Butir 1 2. Ekspresi dari karya yang dihasilkan 3. Teknik dari karya yang dihasilkan Butir 1 2 B. Keberanian menggunakan media 3. Kreativitas dari karya yang dihasilkan 2.3 4 KISI-KISI ANGKET PENILAIAN PROSES DAN PRODUK No A. 1 2 3 4 5 1 2 3 C. 296 .

Tahap Awal No 1 Indikator Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Deskripsi Level Reaksi peserta didik berupa 4.Lampiran 5 RUBRIK SKOR RUBRIK SKOR PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. Kurang 1.Sangat kurang 2 Kesiapan alat dan bahan Suatu kondisi peserta didik yang 4. PROSES PEMBELAJARAN 1. Sangat baik yang akan digunakan sudah siap melakukan tugas untuk melukis dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya 3. Sangat baik perilaku (ekspresi. Baik Kriteria Terpenuhi 3 aspek • Menerima • Memahami • Melaksanakan Terpenuhi 2 aspek • Menerima • Memahami • Melaksanakan Terpenuhi 1 aspek • Menerima • Memahami • Melaksanakan Tidak terpenuhi 3 aspek • Menerima • Memahami • Melaksanakan Terpenuhi 3 aspek • Lengkap • Relevan • Siap digunakan Terpenuhi 2 aspek • Lengkap • Relevan • Siap digunakan 2. Baik 297 . ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik 3.

Lampiran 5 2.Sangat kurang 2 Keberanian menggunakan media Keberanian menggunakan media 4. Baik memvisualisasikan ide tersebut Kriteria Terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Terpenuhi 2 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Terpenuhi 1 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Tidak terpenuhi 3 aspek • Lambat • Tepat • Sesuai dengan media Terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media 2. Sangat baik waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara kualitas ide yang dikembangkan dengan keterampilan untuk 3.Sangat kurang 2. Kurang 1. Tahap Inti No 1 Indikator Kelancaran ide Level penuangan Kondisi peserta didik pada 4. Kurang Terpenuhi 1 aspek • Lengkap • Relevan • Siap digunakan Tidak terpenuhi 3 aspek • Lengkap • Relevan • Siap digunakan 1. Sangat baik (alat dan bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik 298 .

Sangat baik mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguhsungguh 3.Lampiran 5 inkonvensional dalam melukis 3. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik. 4. bidang.Sangat kurang 4 Ketekunan Kondisi peserta didik untuk 4. Baik 2. Sangat baik unsur.garis. Baik Bersungguh-sungguh . Kurang 1. 3. Baik Terpenuhi 2 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Terpenuhi 1 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Tidak terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Terpenuhi 3 aspek • Berani • Tepat • Artistik Terpenuhi 2 aspek • Berani • Tepat • Artistik Terpenuhi 1 aspek • Berani • Tepat • Artistik Tidak terpenuhi 3 aspek • Berani • Tepat • Artistik • • 299 Sangat bersungguh-sungguh 2.Sangat kurang 3 Keberanian menggunakan unsur bentuk Keberanian menggunakan titik. Kurang 1.

Sangat baik menciptakan bentuk yang khas).Sangat kurang • 5 Pemanfaatan waktu Penggunaan waktu baiknya dilakukan membuat karya lukis sebaik. Kurang 300 . Sangat baik untuk 3.4. Baik Kriteria Terpenuhi 3 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Terpenuhi 2 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Terpenuhi 1 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya 2. Kurang 1. Baik • 2. kebaruan teknik dan konsep cerita 3.Sangat kurang B.Lampiran 5 2. PRODUK No Indikator 1 Kreativitas • • Karya selesai tepat waktu Karya hampir selesai saat waktu berakhir Karya tidak selesai saat waktu berakhir • Tidak bersungguh-sungguh Kurang bersungguh-sungguh Karya selesai sebelum waktu berakhir Level Keaslian bentuk (kemampuan 4. Kurang • 1.

serta kebersihan karya yang dihasilkan 3. kualitas cara penggambaran. Baik 301 . Kurang 1.Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Terpenuhi 3 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Terpenuhi 2 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Terpenuhi 1 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Tidak terpenuhi 3 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Terpenuhi 3 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Terpenuhi 2 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih 2. Sangat baik dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya. Ekspresi Kejelasan dalam 4.Sangat kurang 3 Teknik Kemampuan menggunakan alat 4. Baik 2.Lampiran 5 1. Sangat baik mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema 3.

Lampiran 5 2. Kurang Terpenuhi 1 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Tidak terpenuhi 3 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih 1.Sangat kurang 302 .

.......................... 303 ............. Kesiapan bahan dan alat yang akan digunakan untuk melukis A................................ Kreativitas dari karya yang dihasilkan 2........Lampiran 5 ANGKET PENILAIAN PROSES DAN PRODUK ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ANAK” Nama siswa : KODE G02 Kelas/semester : Nama tugas Tanggal Nama penilai : : : Berilah tanda v pada kolom yang sesuai dengan pilihan anda! No Indikator Sangat baik (4) A A.................. Keberanian menggunakan unsurunsur bentuk 4..1 Proses Tahap awal Baik (3) Kurang (2) Sangat kurang (1) 1..................... Kelancaran penuangan ide 2....................................... Ketekunan dalam membuat karya B Produk 1......2 Tahap inti 1........... Keberanian menggunakan media 3. Pemanfaatan waktu 5....................................... ................. Tanggapan anak tentang tema lukisan yang akan dibuat 2.......... Ekspresi dari karya yang dihasilkan 3.................. Teknik dari karya yang dihasilkan Catatan: ...................................

......................... ................................................ KODE S01 2................................terhadap hasil pekerjaan saya................................... ..... Ceritakanlah pengalaman menarikmu serta kendala-kendala yang dihadapi selama pembuatan karya lukis serta usaha-usaha untuk mengatasi kendala-kendala tersebut ! .......... 304 .... 3........................................ dalam mengerjakan tugas................................................................... Saya .............................................. Saya....................................................................terhadap tugas yang diberikan.................... dalam proses penciptaan karya saya 4............. Saya ...............Lampiran 5 LEMBAR PENILAIAN DIRI ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ANAK” Nama : Tanggal : Nama tugas : Tanggal pengumpulan : Berilah tanda v pada kotak yang dipilih! 1............................................ Saya....

............................... Saya …………………terhadap komposisi warna yang digunakan.................... KODE S02 2.............................Lampiran 5 LEMBAR PENILAIAN KELOMPOK (Peer Assessment) ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ANAK” Nama pemilik : Tanggal : Nama tugas : Tanggal pengumpulan : Berilah tanda v pada kotak yang dipilih! 1....................... Saya…………………................... Berilah saran dan pendapatmu terhadap karya lukis yang dibuat! ............. ................................................................... Nama penilai: 305 ........................... 3.....................terhadap bentuk objek lukisan............................. .......................................... Saya…………………terhadap lukisan secara keseluruhan........................................terhadap kebersihan lukisan 4... Saya ........................

B. Farid Abdurrahman        Sutarno  1  3  3  4  4  3  4  3  3  2  4  3  4  4  4  4  3  3  3  4  3  4  1  4  3  3  4  4  3  4  4  2  2  4  4  3  3  4  4  2  4  4  4  2  4  4  4  4  4  4  4  4  2  4  4  4  4  4  4  4  4  2  2  4  4  3  4  2  3  2  4  4  4  4  3  4  4  3  1  4  3  4  4  2  3  3  3  4  3  4  4  2  2  4  4  4  3  4  4  3  3  4  4  2  2  4  4  4  4  4  4  4  2  4  4  3  3  3  3  2  4  2  3  4  4  2  4  2  2  2  3  3  3  4  3  4  3  2  3  3  2  3  3  3  3  3  4  4  3  3  4  2  2  4  4  3  3  3  4  3  4  4  3  3  3  4  4  3  4  4  4  4  4  4  3  3  4  3  4  3  4  1  3  4  4  3  4  2  3  2  3  3  4  4  3  3  3  2  3  3  3  3  3  3  2  3  4  4  4  4  4  2  2  4  4  3  2  4  3  3  4  4  3  3  4  4  4  3  4  4  3  4  3  4  3  3  4  3  4  2  4  1  2  4  4  2  4  2  3  1  2  3  3  4  3  3  2  2  3  4  1  3  2  2  2  3  4  4  4  3  4  2  2  4  4  3  2  4  3  4  4  4  3  3  3  3  4  3  4  4  3  4  2  4  3  3  4  3  4  4  4                  Udawati  2  3  4  4  2  4  2  2  2  3  3  3  4  3  4  2  2  3  3  3  3  3  3  3  3  4  4  3  3  4  2  2  4  3  3  3  3  3  3  4  4  3  3  3  4  4  4  4  4  4  4  4  4  3  3  3  3  4  3  4  1  3  4  4  3  4  2  3  2  3  4  3  4  3  3  3  2  3  3  3  3  3  3  2  3  4  4  4  4  4  2  3  4  3  3  3  4  3  3  4  4  3  3  4  4  4  3  4  4  3  4  3  4  3  3  3  3  3  2  4  1  2  4  4  2  4  2  3  1  3  3  3  4  3  3  3  2  3  3  1  3  2  2  2  3  3  4  4  3  4  2  2  4  2  3  3  4  3  4  4  4  3  3  3  3  4  4  4  4  3  4  2  4  3  3  3  3  4  3  4  2  3  2  4  3  2  3  3  3  4  2  3  4  3  3  2  3  4  2  3  2  2  4  3  3  3  4  3  3  4  2  3  3  3  3  3  4  3  4  4  4  3  3  3  4  4  3  4  3  3  4  2  4  4  3  4  4  4  2  4              Dodi  1  3  3  4  3  4  2  3  2  2  3  3  4  4  4  3  2  3  3  3  3  3  3  2  3  4  4  4  4  4  2  2  4  4  3  3  3  4  3  4  4  3  3  4  4  4  3  4  4  3  4  3  4  3  3  3  4  4  3  4  1  2  3  4  2  4  2  3  1  2  3  3  4  4  4  3  2  3  2  3  3  2  2  2  3  4  4  4  3  4  2  2  4  4  3  4  3  4  4  3  4  3  3  3  3  4  3  4  4  3  4  2  4  3  3  3  3  3  3  4      2  3  4  5  6  7  1  2  3  4  5  6  7  1  2  3  4  5  6  7  2  3  4  4  3  4  3  3  3  3  3  3  4  3  3  3  3  4  4  3  2  2  4  3  3  3  4  3  3  4  2  3  3  3  3  3  4  4  4  4  4  3  3  3  4  4  3  4  4  3  4  2  4  4  3  4  4  4  2  4  1  2  2  2  1  2  1  1  2  2  2  2  4  2  2  2  3  3  3  3  3  3  3  3  4  4  3  4  4  4  2  3  3  3  4  3  3  4  4  4  4  4  4  4  4  4  4  4  4  3  4  2  4  4  4  3  3  4  3  4  3  3  4  4  3  4  3  3  2  2  3  3  4  2  4  2  3  3  3  3  4  1  4  3  3  4  4  3  4  4  2  2  4  3  3  3  4  3  2  4  4  4  2  4  4  4  3  4  4  4  4  2  4  4  4  3  4  4  3  4  2  2  4  4  3  4  2  3  2  3  3  3  4  3  3  3  3  1  3  3  4  4  2  3  3  3  4  3  4  4  2  2  4  3  4  3  4  3  3  3  4  4  2  2  4  4  3  4  4  4  4  2  4  4  3  3  4  2  2  4  1  2  3  2  1  4  1  1  2  3  3  3  4  3  4  3  3  3  3  2  3  3  3  3  4  4  3  3  4  4  2  3  3  3  4  3  3  3  4  4  4  4  4  4  4  4  3  4  4  3  4  2  4  4  4  4  4  4  2  4  3  3  3  4  3  4  3  3  2  1  1  2  4  4  4  3  3  3  1  1  4  1  4  3  3  4  4  3  4  4  2  2  4  4  3  3  4  3  2  4  4  4  2  4  4  4  3  4  4  4  4  2  4  4  4  4  4  4  3  4  2  2  3  4  3  4  2  3  2  3  3  3  4  4  4  3  3  1  3  3  4  4  2  3  3  3  4  3  4  4  2  2  4  4  4  4  4  4  3  4  4  4  2  2  4  4  4  4  4  4  4  2  4  4  3  4  4  2  2  4  2  3  4  4  2  4  2  2  2  2  3  3  4  4  4  3  2  3  3  3  3  3  3  3  3  4  4  3  3  4  2  2  4  4  3  4  4  4  3  4  4  3  3  3  4  4  3  4  4  4  4  4  4  3  3  4  4  4  4  4  2  3  3  4  3  4  3  3  3  4  2  2  4  3  3  2  3  4  2  3  2  2  4  3  3  4  4  4  3  4  2  3  3  4  3  3  4  3  4  4  4  3  3  3  4  4  2  4  4  3  4  2  4  4  3  4  4  4  1  4  1  2  3  2  1  2  1  1  2  2  3  2  4  4  4  3  3  3  3  3  3  3  3  3  4  4  3  3  4  4  2  3  3  4  4  3  4  3  4  4  4  4  4  4  4  4  3  4  4  3  4  2  4  4  4  4  4  4  2  4  Muhammad Roofi'l A  Nida Salma Hajaroh  Nurfitri Andani  Ragil Saputro Mujiono  Rif'atul Widaan Khotibin Tamhid  Royhan Ikbar  Sekar Cendana Arum  Nadila Fatimatuzzahra A.N  Siska Tri W  Yacinta Nararia S  Karizma Putri R  Salwa Sauzan R  Alfia Rahma De  Anissa N.Naufal Rizqita  Rayhan Adikusuma  Rizky Dafa P  Aqlia Tsalisa Azmani  Ashylla Paramadanti  Cahyaningtyas Iftitah  Chairunnisa Yulia W  Dyah Pradina P  Dyah Sekar Ayu K  Fahra Prahastanti P  Hana Fazah Nur S  Keisha Amadea  Nabila Permata Sari  Nur Azizah  Ranita Salsabila  Ria Rahma Sukma W  Septiana Tidar  Andika Bagas  Andi Maulana  Ade Itko M  Anindita Dara L  David Revaru  Vebrian Agung W  Kurniawan Dwi Y  M.Lampiran 6 Data Penilaian Proses Kelas I  Nama  Ade Firmansyah  Daffa Malik Falaq  Deandra Visto D  M.  Amelia Noor Putri M  Artantri Widasari  Chatarine Dyela Eillen R  Dicky Armayuda  Eridani Kartiko Adi  Gatot Ismail  Gufron Gilang Zahru Saputra  Indah Budi Kartikarini  Insan Fadilah Harvianto  Ismalia Ramadhani Putri  M. Dava Surya Abi Y.  Malaghina Kusuma H  Rio Satya Fauzi  Freddy PP  Siti Aziroh Rahmatika  Shella Kumalasari  Shelli Puspitasari  Sugiharto.M  306 .A.Lutfi Mahendra  M.

Aqib Husni Fadhli Muh. Abdul Gani Sarining Hanggani Kasih Teddy Arfansyah N Yuliana Larasari Dikta Wahyu Pratama Awang Pramono Isla Magda S Joko Bagus B Novia Permatasari Kusuma Nuraini Yulia Catur Wulandari Ikhsan Panji Irawan A'Issyatun Wahyu Ningsih Ainun Amaliya Paramita Arini Dewi Nuraini Chusnunnisa Suryanudin Ummu Habibah Halida Salsabila Hasna Maretta Sausana Hasna Ulfiaa Humairoh Rosida Akhir Khilmi Khayatun Nisha Kiki Dwi Widyasari Lutfina Aribah Miftakhurrohmah Nafisa Ainurrahmah Novryan Armawida Rizki Putri Utami Salman Kurnia Haq Sinta Primadita Siti Maryam S Wakhid Hasyim Sutarno 1 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 4 3 3 3 4 4 3 4 4 3 2 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 Udawati 6 4 4 2 4 2 2 3 3 4 4 3 3 4 3 4 4 4 4 4 3 2 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 3 4 2 3 4 4 4 3 3 4 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 2 4 4 Dodi 6 4 4 3 4 4 2 3 2 2 3 2 3 4 3 4 4 4 3 2 2 2 3 4 4 3 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 2 4 3 3 2 3 4 4 3 3 3 4 2 3 3 3 4 4 4 4 3 3 2 4 4 2 3 4 3 1 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 2 3 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 3 4 4 3 4 4 4 2 3 4 4 4 3 4 4 2 2 2 2 4 2 4 4 3 3 4 3 3 4 4 2 3 4 3 4 3 3 3 4 4 4 4 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 3 4 3 2 3 3 4 3 4 3 3 4 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 4 4 4 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 4 3 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 4 4 2 3 3 5 3 4 3 4 4 4 2 2 3 4 4 3 2 4 4 4 4 4 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 4 3 3 4 4 4 3 3 3 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 2 3 4 7 3 3 3 3 4 4 1 2 2 2 3 2 2 2 2 4 4 4 3 2 4 4 4 4 3 4 2 3 3 3 4 4 4 4 4 2 4 3 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 2 4 4 1 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 2 3 3 4 4 3 3 3 3 4 3 4 3 4 3 3 4 3 3 4 3 4 4 4 4 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 3 3 2 4 4 2 3 4 3 1 4 4 3 3 3 4 4 3 4 3 2 4 3 4 2 3 2 3 3 4 4 4 3 4 3 4 3 4 3 4 3 2 4 3 3 4 3 4 4 3 2 3 4 3 4 3 3 4 2 2 2 2 3 2 4 4 3 3 4 3 3 2 4 2 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 2 3 3 4 4 3 4 3 4 4 3 4 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 4 2 3 2 3 4 4 4 3 4 3 2 3 3 4 3 4 2 3 4 4 3 3 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 4 4 4 3 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 3 2 3 3 5 3 4 3 4 4 4 2 2 3 4 3 3 2 3 4 4 4 3 2 3 2 3 4 3 4 3 2 4 3 4 3 3 3 4 3 2 4 2 2 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 2 3 4 4 3 3 3 3 2 4 4 7 3 3 3 3 4 4 1 3 4 3 3 3 2 4 4 4 4 3 2 3 4 4 4 4 3 2 4 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 3 3 3 3 4 4 3 3 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 2 3 4 1 3 4 3 3 2 4 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 3 3 4 3 3 4 3 4 4 4 4 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 3 4 2 4 4 2 3 4 3 1 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 3 4 4 3 4 4 4 2 3 4 4 4 4 4 4 2 2 2 2 4 2 4 4 3 3 4 2 3 4 2 2 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 4 2 3 2 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 3 2 3 3 5 3 3 3 4 4 4 2 2 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 4 4 2 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 4 4 3 2 4 4 6 4 4 3 4 4 4 3 2 3 3 4 3 4 3 4 4 3 4 4 3 2 3 4 4 3 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 2 4 3 3 2 3 4 4 4 3 3 4 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 2 4 4 7 3 4 3 3 4 4 1 3 4 4 4 4 2 4 2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 2 4 3 4 3 3 4 4 4 3 3 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 2 3 4 307 .Lampiran 6 Data Penilaian Proses Kelas II Nama Afkar Zaka Y Alif Fahmi Mahendra Azka Hikam Z M. Tsani Ihsani Y Muh.Zauhar Nanda Naya P.W Pradipta Wisnu Timur Dwi Indraja Agni Vasha Salsabila Alvira Niryana Aulia Astagina Dhiyaurrohmah Kamila Muyasaroh Melinia Debbytasari Noor Diana Arrasyid Oktaviana Rahindra Shafa Nabilla Haya Sheila Alfauziya P Yuliana Zahrajuncta Lusiana Martini Amelia Prisca Brigita Anggun Pratiwi Anisa Nur Rahmah Arviananda Ade H Bintang Nugrahani Galang Permataputra Galuh Intisari Muh.

Ibrahim  M.Afdan Nurul Hilman  M.Lampiran 6 Data Penilaian Proses Kelas III  Nama  Alwi Izha Farandi  David Aldi Saputra  Laode Aldifan  M.Zulfikar  Muqni Aqsoinna  Suryatama Gallang  Aulia Rizki  Dini Puspo  Elfira Ciptaningtyas  Elma Damarista  Fadhila Khoirunisa  Inna Salma Fahman  Khanifah Noor  Nur Amalia Andini  Ratu Yeremenia S  Syifa Azizah  Ade Yoga Endy S  Bekti Rachmawati  Maria Sri Adiningsih  Novianto Adi Saputra  Wahyu Praktika D  Yunina Dea J  Bilqies Amalia A  Nova Puspitasari  Anggita Wulandari  Anjas Deva Felano  Eria Putri Pratiwi  Fitriyani  Ika Purwaningsih  Ilham Yusril Munawar  Massayu Seilla Annisa  Musriati  Rivan Pandu Adi Winata  Muh.Farizi Gustaf  M. Miftahul Firdaus  Anggi Dwina Siregar  Rusmini  Afiana Nurkholishotus Shohibah  Andi Rahmat Wulansyah  Eka Yuliani  Fegi Tri Damayanti  Fitri Nurul Hanifah  Imam Zuhdi  Inna Rahmatul Ulya  Jalu Ukir Damatama  Hilda Ayu Wibisana  Ninggih Annisa Daniswara  Pilar Paksi Pratama  Rafli Khooinurizal  Rapsanjani  Riswa Rahman Fahmi  Rivani Rahmania Afifah  Rizki Nur Chaerani  Rizqi Haritz Pebiantara  Zanityara Syah Syadila  Zetta Nillawati Reyka Putri  Nurul Arifah        Sutarno  2  3  3  4  4  3  3  3  4  4  3  4  4  4  4  3  3  3  3  3  2  3  3  3  3  4  3  4  4  3  4  2  4  3  4  4  4  4  3  3  4  3  2  3  4  4  4  4  3  3  4  4  3  2  4  3  4  4  4  4  2  4  3  4  4  3  3  3  3  4  3  4  4  4  4  4  4  2  4  4  2  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  2  4  3  4  4  3  3  4  3  4  4  4  4  4  4  3  3  3  3  4  3  2  2  3  4  4  4  4  4  3  3  3  4  4  1  3  3  4  4  3  3  4  4  4  3  3  3  3  3  2  2  2  3  3  4  3  3  3  3  3  2  4  3  3  3  4  4  3  3  4  3  3  3  4  3  3  4  3  4  3  3  3  2  4  3  4  3  3  3  2  3  3  4  4  2  3  3  4  3  4  4  4  4  4  3  3  3  4  3  2  2  3  3  3  4  3  3  3  4  4  2  3  3  3  3  4  4  3  4  3  3  3  3  4  3  3  4  2  4  3  3  3  2  3  2  4  3  3  2  1  3  3  4  4  2  2  2  4  3  3  4  4  3  4  3  3  3  3  3  2  2  3  3  3  4  3  3  3  4  4  2  4  3  4  3  4  4  3  4  4  3  3  3  4  3  3  4  2  4  3  4  3  2  3  2  4  3  3  2  3  3  3  4  4  4  3  3  3  3  3  3  4  3  3  3  3  3  4  3  4  2  3  2  3  4  3  4  4  4  4  2  4  2  3  3  4  3  3  3  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  3  4  3  2  3  4  4  2  3  3                Udawati  3  3  3  4  4  3  3  3  3  4  3  3  4  4  4  3  3  3  3  3  2  2  2  3  3  4  3  3  3  2  4  2  3  3  3  3  4  4  3  3  4  4  3  3  4  3  3  4  3  4  3  3  3  2  3  3  4  3  3  3  2  3  3  4  4  3  3  3  3  3  3  4  4  4  4  3  3  3  4  3  2  2  3  3  3  4  3  3  3  3  4  2  3  3  3  3  3  4  3  4  4  3  3  3  4  3  3  4  2  4  3  3  3  2  3  3  3  3  3  2  1  3  3  4  4  3  3  3  3  4  3  4  4  3  4  3  3  3  3  3  2  2  3  3  3  4  3  4  3  2  4  2  3  3  4  2  4  4  3  4  4  3  3  3  4  3  3  4  2  4  3  4  2  2  3  3  3  3  3  2  3  3  3  4  4  4  3  3  3  3  3  3  4  3  3  3  3  3  4  3  4  2  3  2  3  4  4  4  4  3  4  2  3  2  3  4  4  3  3  3  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  3  4  3  2  3  3  4  2  3  3              Dodi  2  3  3  4  4  3  3  3  3  4  2  2  4  4  4  4  3  3  4  3  2  2  3  3  3  4  3  4  3  3  4  2  3  3  3  3  3  4  3  4  4  3  3  3  4  4  3  4  2  4  3  3  2  2  2  3  4  3  3  2  1  3  3  4  4  3  3  3  3  4  2  2  4  3  4  4  3  3  3  3  2  2  3  3  3  4  3  4  3  2  4  2  3  3  4  3  3  4  3  4  4  4  3  3  4  4  3  4  2  4  3  4  2  2  2  2  4  3  2  2      1  2  3  4  5  6  7  1  2  3  4  5  6  7  1  2  3  4  5  6  7  3  3  4  4  4  1  3  3  4  4  4  4  4  4  4  4  3  2  3  3  3  3  3  3  3  4  4  4  3  3  4  2  4  3  4  4  4  4  4  4  4  4  4  3  4  3  4  4  3  4  3  4  3  2  4  3  4  3  4  4  2  4  3  4  4  4  3  3  4  4  3  4  4  4  4  3  3  2  3  3  2  3  3  3  3  4  3  3  3  3  3  2  3  3  4  3  2  4  3  3  3  3  2  3  4  3  4  4  3  3  4  4  3  2  3  3  4  4  3  4  2  3  3  4  4  4  3  4  3  4  3  4  4  4  4  4  4  2  4  4  2  3  3  3  3  4  3  3  3  3  3  2  3  3  4  3  3  3  4  3  3  4  4  4  4  4  3  3  3  3  4  3  2  2  3  3  3  4  3  4  3  3  4  4  4  4  3  3  4  3  3  4  4  4  4  4  3  3  3  3  3  3  3  3  3  4  3  3  3  3  4  2  3  3  4  3  4  4  4  4  4  3  4  3  4  4  4  4  3  4  3  4  3  2  4  3  4  3  4  4  2  3  3  4  4  4  3  3  4  4  1  1  4  4  4  4  3  2  3  3  2  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  2  3  3  4  3  3  4  3  3  4  3  3  3  4  4  4  4  3  3  4  4  3  2  3  3  3  4  3  4  2  4  4  4  4  4  4  3  4  4  1  3  4  4  4  4  4  2  4  4  2  3  3  3  3  4  4  4  4  4  4  2  4  4  4  4  4  3  4  3  4  4  4  4  4  4  3  3  3  3  4  3  2  2  4  4  4  4  4  4  3  3  3  4  4  4  3  3  4  4  2  2  4  4  3  4  3  3  3  3  2  2  2  3  3  4  3  4  3  3  4  2  3  3  3  3  4  4  3  3  4  4  3  3  4  4  3  4  3  4  3  3  3  2  3  3  4  3  3  3  3  3  3  4  4  3  4  3  3  4  3  3  4  3  4  3  3  3  4  3  4  2  3  2  3  4  3  4  3  3  4  2  3  2  3  3  4  3  3  3  4  2  3  3  4  4  4  3  3  4  3  4  2  2  2  3  3  2  3  3  3  3  3  4  4  3  4  3  4  2  2  2  4  4  4  4  3  3  3  3  3  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  2  3  2  4  3  4  4  4  4  4  3  3  3  4  4  4  4  3  4  3  4  3  2  3  3  4  3  3  4  308 .Fauzan  M.

Lampiran 6 Data Penilain Produk Kelas I Nama Ade Firmansyah Daffa Malik Falaq Deandra Visto D M.Lutfi Mahendra M. Dava Surya Abi Y.B.A. Malaghina Kusuma H Rio Satya Fauzi Freddy PP Siti Aziroh Rahmatika Shella Kumalasari Shelli Puspitasari Sugiharto. Amelia Noor Putri M Artantri Widasari Chatarine Dyela Eillen R Dicky Armayuda Eridani Kartiko Adi Gatot Ismail Gufron Gilang Zahru Saputra Indah Budi Kartikarini Insan Fadilah Harvianto Ismalia Ramadhani Putri Muhammad Farid Abdurrahman Muhammad Roofi'l Adiyatma Nida Salma Hajaroh Nurfitri Andani Ragil Saputro Mujiono Rif'atul Widaan Khotibin Tamhid Royhan Ikbar Sekar Cendana Arum Nadila Fatimatuzzahra A.N Siska Tri W Yacinta Nararia S Karizma Putri R Salwa Sauzan R Alfia Rahma De Anissa N.Naufal Rizqita Rayhan Adikusuma Rizky Dafa P Aqlia Tsalisa Azmani Ashylla Paramadanti Cahyaningtyas Iftitah Chairunnisa Yulia W Dyah Pradina P Dyah Sekar Ayu K Fahra Prahastanti P Hana Fazah Nur S Keisha Amadea Nabila Permata Sari Nur Azizah Ranita Salsabila Ria Rahma Sukma W Septiana Tidar Andika Bagas Andi Maulana Ade Itko M Anindita Dara L David Revaru Vebrian Agung W Kurniawan Dwi Y M.M Sutarno 1 4 1 2 4 4 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 2 3 3 3 4 3 1 2 4 2 4 3 4 4 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 4 4 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 2 2 3 2 3 2 3 2 4 3 2 2 3 1 3 4 2 2 3 2 1 3 4 3 3 2 4 4 3 4 2 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 3 3 2 4 3 4 4 Udawaty 1 4 1 2 4 4 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 2 3 3 3 4 3 1 2 4 2 4 3 4 4 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 4 4 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 2 2 3 2 3 2 3 2 4 3 2 2 3 1 3 4 2 2 3 2 1 3 4 3 3 2 4 4 3 4 2 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 3 3 2 4 3 4 4 1 Dodi 2 4 1 2 4 4 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 2 3 3 3 4 3 1 4 2 4 3 4 4 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 4 4 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 2 2 3 2 3 2 3 2 4 3 2 2 3 1 3 4 2 2 3 2 1 3 4 3 3 2 4 4 3 4 2 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 3 3 2 4 3 4 4 309 .

Aqib Husni Fadhli Muh.W Pradipta Wisnu Timur Dwi Indraja Agni Vasha Salsabila Alvira Niryana Aulia Astagina Dhiyaurrohmah Kamila Muyasaroh Melinia Debbytasari Noor Diana Arrasyid Oktaviana Rahindra Shafa Nabilla Haya Sheila Alfauziya P Yuliana Zahrajuncta Lusiana Martini Amelia Prisca Brigita Anggun Pratiwi Anisa Nur Rahmah Arviananda Ade H Bintang Nugrahani Galang Permataputra Galuh Intisari Muh. Abdul Gani Sarining Hanggani Kasih Teddy Arfansyah N Yuliana Larasari Dikta Wahyu Pratama Awang Pramono Isla Magda S Joko Bagus B Novia Permatasari Kusuma Nuraini Yulia Catur Wulandari Ikhsan Panji Irawan A'Issyatun Wahyu Ningsih Ainun Amaliya Paramita Arini Dewi Nuraini Chusnunnisa Suryanudin Ummu Habibah Halida Salsabila Hasna Maretta Sausana Hasna Ulfiaa Humairoh Rosida Akhir Khilmi Khayatun Nisha Kiki Dwi Widyasari Lutfina Aribah Miftakhurrohmah Nafisa Ainurrahmah Novryan Armawida Rizki Putri Utami Salman Kurnia Haq Sinta Primadita Siti Maryam S Wakhid Hasyim 1 4 2 1 3 4 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 3 2 4 4 4 2 4 4 3 4 2 3 4 2 3 2 3 3 3 2 3 3 4 4 1 4 4 2 3 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 2 3 1 Sutarno 2 3 3 3 3 3 2 2 4 2 3 2 2 3 2 1 4 4 2 2 3 4 3 3 4 1 4 4 2 4 1 3 3 1 3 4 3 3 1 2 2 2 3 4 3 3 3 4 4 2 4 4 3 3 4 4 2 4 4 4 2 3 3 4 3 4 1 3 3 3 4 1 2 3 1 4 2 2 4 4 3 4 3 3 3 4 3 2 2 2 1 3 2 2 3 4 3 2 1 2 4 3 3 4 4 4 2 4 2 4 4 3 4 2 4 3 2 4 2 4 4 4 Udawaty 1 4 2 1 3 4 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 3 2 4 4 4 2 4 4 3 4 2 3 4 4 3 2 3 3 3 2 3 3 4 4 1 4 4 2 3 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 2 3 1 2 3 3 3 3 3 2 2 4 2 3 2 2 3 2 1 4 4 2 2 3 4 3 3 4 1 4 4 2 4 1 3 2 1 3 4 3 3 1 2 2 2 3 4 3 3 3 4 4 2 4 4 3 3 4 4 2 4 4 4 2 3 3 4 3 4 1 4 3 3 4 1 2 3 1 4 2 2 4 4 3 4 3 3 3 4 3 4 2 2 1 3 2 3 3 4 3 2 1 2 4 3 3 4 4 4 2 4 2 4 4 3 4 2 4 3 2 4 2 4 4 4 1 Dodi 2 4 2 1 3 4 3 3 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 3 2 4 4 4 2 4 4 3 4 2 3 4 2 3 2 3 3 3 2 3 3 4 4 1 4 4 2 3 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 2 3 1 3 3 3 3 3 2 2 4 2 3 2 2 3 2 1 4 4 2 2 3 4 3 3 4 1 4 4 2 4 1 3 4 1 3 4 3 3 1 2 2 2 3 4 3 3 3 4 4 2 4 4 3 3 4 4 2 4 4 4 2 3 3 4 3 4 1 4 3 3 4 1 2 3 1 4 2 2 4 4 3 4 3 3 3 4 3 2 2 2 1 3 2 3 3 4 3 2 1 2 4 3 3 4 4 4 2 4 2 4 4 3 4 2 4 3 2 4 2 4 4 4 310 .Zauhar Nanda Naya P. Tsani Ihsani Y Muh.Lampiran 6 Data Penilain Produk Kelas II Nama Afkar Zaka Y Alif Fahmi Mahendra Azka Hikam Z M.

Fauzan M.Ibrahim M.Afdan Nurul Hilman M. Miftahul Firdaus Anggi Dwina Siregar Rusmini Afiana Nurkholishotus Shohibah Andi Rahmat Wulansyah Eka Yuliani Fegi Tri Damayanti Fitri Nurul Hanifah Imam Zuhdi Inna Rahmatul Ulya Jalu Ukir Damatama Hilda Ayu Wibisana Ninggih Annisa Daniswara Pilar Paksi Pratama Rafli Khooinurizal Rapsanjani Riswa Rahman Fahmi Rivani Rahmania Afifah Rizki Nur Chaerani Rizqi Haritz Pebiantara Zanityara Syah Syadila Zetta Nillawati Reyka Putri Nurul Arifah 1 3 3 1 2 4 2 3 4 2 4 4 3 3 4 1 2 2 3 4 3 2 3 3 3 2 2 4 3 2 3 3 4 1 4 3 2 4 2 3 3 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 4 2 2 1 3 2 2 Sutarno 2 2 3 3 4 3 3 2 3 4 1 3 4 4 3 4 3 1 3 2 2 3 2 3 3 2 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 2 1 4 4 4 4 4 3 2 2 3 3 2 1 2 2 2 4 3 4 3 2 2 3 2 3 1 2 3 3 4 2 2 3 3 2 3 3 3 4 2 4 3 4 4 3 4 1 4 4 4 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 4 4 2 2 2 4 3 2 3 4 4 3 3 2 4 2 3 2 3 3 3 4 3 3 4 Udawaty 1 3 3 1 2 4 2 3 4 2 4 4 3 3 4 1 3 2 3 2 3 2 3 3 3 2 2 4 3 2 3 3 4 1 4 3 2 4 2 3 3 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 4 2 2 1 3 2 2 2 2 3 3 4 3 3 2 3 4 1 3 4 4 3 4 3 1 3 4 2 3 2 3 3 2 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 2 2 4 4 4 4 4 3 2 2 3 3 2 1 2 2 2 4 3 4 3 2 2 3 2 3 1 2 3 3 4 2 2 3 3 2 3 3 3 4 2 4 3 3 2 3 4 1 4 4 4 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 4 1 2 2 2 4 3 2 3 4 4 3 3 2 4 2 3 2 3 3 3 4 3 3 4 1 Dodi 2 3 3 1 2 4 2 3 4 2 4 4 3 3 4 1 2 2 3 4 3 2 3 3 3 2 2 4 3 2 3 3 4 1 4 3 2 4 2 3 3 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 4 2 2 1 2 2 2 2 3 3 4 3 3 2 3 4 1 3 4 4 3 4 3 1 3 2 2 3 2 3 3 2 3 1 3 3 4 4 4 4 4 3 2 2 4 4 4 4 4 3 2 2 3 3 2 1 2 2 2 4 3 4 3 2 3 3 2 3 1 2 3 3 4 2 2 3 3 2 3 3 3 4 3 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 4 4 2 2 2 4 3 2 3 3 4 3 3 2 4 2 3 2 3 3 3 4 3 3 4 311 .Zulfikar Muqni Aqsoinna Suryatama Gallang Aulia Rizki Dini Puspo Elfira Ciptaningtyas Elma Damarista Fadhila Khoirunisa Inna Salma Fahman Khanifah Noor Nur Amalia Andini Ratu Yeremenia S Syifa Azizah Ade Yoga Endy S Bekti Rachmawati Maria Sri Adiningsih Wahyu Praktika D Yunina Dea J Bilqies Amalia A Nova Puspitasari Anggita Wulandari Anjas Deva Felano Eria Putri Pratiwi Fitriyani Ika Purwaningsih Ilham Yusril Munawar Massayu Seilla Annisa Musriati Novianto Adi Saputra Rivan Pandu Adi Winata Muh.Farizi Gustaf M.Lampiran 6 Data Penilain Produk Kelas III Nama Alwi Izha Farandi David Aldi Saputra Laode Aldifan M.

Amelia Noor Putri M Artantri Widasari Chatarine Dyela Eillen R Dicky Armayuda Eridani Kartiko Adi Gatot Ismail Gufron Gilang Zahru Saputra Indah Budi Kartikarini Insan Fadilah Harvianto Ismalia Ramadhani Putri Muhammad Farid Abdurrahman Muhammad Roofi'l Adiyatma Nida Salma Hajaroh Nurfitri Andani Ragil Saputro Mujiono Rif'atul Widaan Khotibin Tamhid Royhan Ikbar Sekar Cendana Arum Nadila Fatimatuzzahra A.A.B. Malaghina Kusuma H Rio Satya Fauzi Freddy PP Siti Aziroh Rahmatika Shella Kumalasari Shelli Puspitasari Sugiharto.N Siska Tri W Yacinta Nararia S Karizma Putri R Salwa Sauzan R Alfia Rahma De Anissa N.Lutfi Mahendra M. Dava Surya Abi Y.M 3 3 2 3 2 3 1 2 2 2 3 3 3 3 1 3 2 2 2 3 3 3 2 3 2 3 2 2 2 3 2 2 2 3 2 2 2 2 1 2 3 3 2 3 2 2 1 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 2 1 1 3 3 2 3 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 1 1 1 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 2 2 3 3 2 3 3 2 3 1 2 3 2 2 2 3 3 1 1 3 3 2 3 2 2 3 3 2 3 2 1 3 3 3 2 3 2 2 1 3 3 1 2 3 1 3 3 2 2 1 1 3 2 3 2 2 3 2 2 3 2 1 1 3 2 3 3 2 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 2 3 2 2 3 3 3 1 3 3 2 1 1 2 2 2 3 3 3 1 2 2 3 2 3 2 2 2 3 2 3 2 2 3 2 3 3 2 2 2 2 2 3 1 2 3 3 2 3 2 2 1 2 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 1 1 2 2 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 2 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 2 1 2 3 3 3 2 1 1 3 3 3 1 3 3 3 2 3 1 2 1 3 2 3 3 3 2 1 1 1 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 2 1 3 3 3 1 2 2 3 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 2 2 3 1 3 3 2 3 2 1 3 2 1 2 2 3 3 2 1 1 1 3 1 1 3 3 3 2 1 3 3 1 3 2 2 3 3 2 1 1 3 3 2 3 3 3 1 3 2 3 3 1 1 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 1 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 2 1 1 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 1 3 3 3 3 3 2 1 1 1 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 1 1 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 312 .Naufal Rizqita Rayhan Adikusuma Rizky Dafa P Aqlia Tsalisa Azmani Ashylla Paramadanti Cahyaningtyas Iftitah Chairunnisa Yulia W Dyah Pradina P Dyah Sekar Ayu K Fahra Prahastanti P Hana Fazah Nur S Keisha Amadea Nabila Permata Sari Nur Azizah Ranita Salsabila Ria Rahma Sukma W Septiana Tidar Andika Bagas Andi Maulana Ade Itko M Anindita Dara L David Revaru Vebrian Agung W Kurniawan Dwi Y M.Lampiran 6 Data Penilaian Kelompok Kelas I Nama Siswa 1 3 2 Sutarno 2 3 1 3 2 2 4 3 3 5 1 1 1 1 2 Udawati 2 3 2 2 1 2 4 2 3 5 1 1 3 3 2 3 1 1 1 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 2 1 2 3 1 2 2 2 1 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 3 3 1 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 1 3 2 2 3 1 Dody 3 4 3 3 2 3 5 1 1 3 3 2 3 1 1 1 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 2 1 1 1 1 3 3 3 1 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 Ade Firmansyah Daffa Malik Falaq Deandra Visto D M.

Tsani Ihsani Y Muh. Abdul Gani Sarining Hanggani Kasih Teddy Arfansyah N Yuliana Larasari Dikta Wahyu Pratama Awang Pramono Isla Magda S Joko Bagus B Novia Permatasari Kusuma Nuraini Yulia Catur Wulandari Ikhsan Panji Irawan A'Issyatun Wahyu Ningsih Ainun Amaliya Paramita Arini Dewi Nuraini Chusnunnisa Suryanudin Ummu Habibah Halida Salsabila Hasna Maretta Sausana Hasna Ulfiaa Humairoh Rosida Akhir Khilmi Khayatun Nisha Kiki Dwi Widyasari Lutfina Aribah Miftakhurrohmah Nafisa Ainurrahmah Novryan Armawida Rizki Putri Utami Salman Kurnia Haq Sinta Primadita Siti Maryam S Wakhid Hasyim 3 1 2 3 3 2 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 1 2 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 3 2 2 313 .Zauhar Nanda Naya P.W Pradipta Wisnu Timur Dwi Indraja Agni Vasha Salsabila Alvira Niryana Aulia Astagina Dhiyaurrohmah Kamila Muyasaroh Melinia Debbytasari Noor Diana Arrasyid Oktaviana Rahindra Shafa Nabilla Haya Sheila Alfauziya P Yuliana Zahrajuncta Lusiana Martini Amelia Prisca Brigita Anggun Pratiwi Anisa Nur Rahmah Arviananda Ade H Bintang Nugrahani Galang Permataputra Galuh Intisari Muh.Lampiran 6 Data Penilaian Kelompok Kelas II Nama Siswa 1 2 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 1 2 3 2 2 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 Sutarno 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 3 2 2 2 3 1 2 3 2 2 3 2 2 3 3 3 3 3 1 1 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 1 3 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 1 2 3 3 2 2 2 2 2 3 3 3 2 3 3 3 2 2 2 2 2 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 2 1 1 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Udawati 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 1 3 1 3 2 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 2 2 3 2 3 3 2 3 3 1 2 2 3 1 2 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 2 3 3 2 1 1 2 2 1 2 3 3 3 3 2 2 2 1 2 3 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 3 2 2 2 3 1 2 3 2 2 2 3 2 3 2 3 3 3 1 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 2 2 2 2 2 3 3 3 3 1 3 2 2 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 1 2 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Dody 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 3 2 2 3 3 1 2 3 2 2 3 2 2 3 3 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 1 3 3 2 2 3 1 3 1 3 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 Afkar Zaka Y Alif Fahmi Mahendra Azka Hikam Z M. Aqib Husni Fadhli Muh.

Farizi Gustaf M.Ibrahim M. Miftahul Firdaus Anggi Dwina Siregar Rusmini Afiana Nurkholishotus Shohibah Andi Rahmat Wulansyah Eka Yuliani Fegi Tri Damayanti Fitri Nurul Hanifah Imam Zuhdi Inna Rahmatul Ulya Jalu Ukir Damatama Hilda Ayu Wibisana Ninggih Annisa Daniswara Pilar Paksi Pratama Rafli Khooinurizal Rapsanjani Riswa Rahman Fahmi Rivani Rahmania Afifah Rizki Nur Chaerani Rizqi Haritz Pebiantara Zanityara Syah Syadila Zetta Nillawati Reyka Putri Nurul Arifah 1 3 2 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 2 2 1 2 3 3 3 3 3 2 1 2 3 3 3 2 3 2 1 2 3 3 3 3 3 2 3 2 2 2 3 2 2 2 Sutarno 3 4 2 2 3 2 2 3 3 3 2 1 1 2 2 3 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 1 3 1 3 3 1 2 2 3 3 2 2 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 1 2 3 3 1 3 2 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 1 1 2 2 2 3 2 2 3 1 2 2 3 3 2 5 2 1 3 1 2 3 2 3 2 2 3 1 3 2 2 2 2 2 2 3 2 2 3 1 1 3 3 2 3 3 3 2 3 1 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 1 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 1 3 2 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 3 2 3 1 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 1 3 3 3 3 2 1 2 3 3 3 2 3 2 1 2 3 3 3 3 3 2 3 2 2 2 3 2 2 2 Udawati 3 4 2 2 3 2 2 3 2 3 2 1 1 2 2 3 1 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 3 2 2 2 2 2 2 3 3 1 2 3 3 2 3 1 3 1 3 3 1 2 2 1 2 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 1 2 3 3 1 3 2 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 1 1 2 2 2 3 2 2 3 1 2 2 3 3 2 5 2 1 3 1 2 3 2 3 2 2 3 1 3 2 2 2 2 2 3 2 1 1 1 1 3 3 3 3 1 2 2 2 2 1 3 2 2 3 2 2 3 3 2 2 1 3 3 3 1 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 2 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 2 2 3 2 2 1 2 3 3 3 3 3 3 1 2 3 3 3 2 2 2 1 2 3 3 3 3 2 2 3 2 2 2 3 2 2 2 Dody 3 4 2 2 3 2 2 3 2 3 2 1 1 2 2 3 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 1 3 3 1 2 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 3 1 2 3 3 1 3 2 3 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 2 3 1 1 2 2 2 3 2 2 3 1 2 2 3 3 2 5 2 1 3 1 2 3 2 3 2 2 3 1 3 2 2 2 2 2 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 2 1 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 314 .Fauzan M.Afdan Nurul Hilman M.Lampiran 6 Data Penilaian Kelompok Kelas III Nama Siswa Alwi Izha Farandi David Aldi Saputra Laode Aldifan M.Zulfikar Muqni Aqsoinna Suryatama Gallang Aulia Rizki Dini Puspo Elfira Ciptaningtyas Elma Damarista Fadhila Khoirunisa Inna Salma Fahman Khanifah Noor Nur Amalia Andini Ratu Yeremenia S Syifa Azizah Ade Yoga Endy S Bekti Rachmawati Maria Sri Adiningsih Novianto Adi Saputra Wahyu Praktika D Yunina Dea J Bilqies Amalia A Nova Puspitasari Anggita Wulandari Anjas Deva Felano Eria Putri Pratiwi Fitriyani Ika Purwaningsih Ilham Yusril Munawar Massayu Seilla Annisa Musriati Rivan Pandu Adi Winata Muh.

Naufal Rizqita Rayhan Adikusuma Rizky Dafa P Aqlia Tsalisa Azmani Ashylla Paramadanti Cahyaningtyas Iftitah Chairunnisa Yulia W Dyah Pradina P Dyah Sekar Ayu K Fahra Prahastanti P Hana Fazah Nur S Keisha Amadea Nabila Permata Sari Nur Azizah Ranita Salsabila Ria Rahma Sukma W Septiana Tidar Andika Bagas Andi Maulana Ade Itko M Anindita Dara L David Revaru Vebrian Agung W Kurniawan Dwi Y M. Dava Surya Abi Y. Malaghina Kusuma H Rio Satya Fauzi Freddy PP Siti Aziroh Rahmatika Shella Kumalasari Shelli Puspitasari Sugiharto.N Siska Tri W Yacinta Nararia S Karizma Putri R Salwa Sauzan R Alfia Rahma De Anissa N.B.Lutfi Mahendra M. Amelia Noor Putri M Artantri Widasari Chatarine Dyela Eillen R Dicky Armayuda Eridani Kartiko Adi Gatot Ismail Gufron Gilang Zahru Saputra Indah Budi Kartikarini Insan Fadilah Harvianto Ismalia Ramadhani Putri Muhammad Farid Abdurrahman Muhammad Roofi'l Adiyatma Nida Salma Hajaroh Nurfitri Andani Ragil Saputro Mujiono Rif'atul Widaan Khotibin Tamhid Royhan Ikbar Sekar Cendana Arum Nadila Fatimatuzzahra A.M 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 Sutarno 2 3 4 2 2 3 2 1 3 2 3 2 3 2 3 3 2 3 2 3 3 2 2 3 3 1 2 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 2 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 2 1 2 3 2 1 3 2 2 2 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 1 3 3 1 2 2 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 1 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 2 3 1 1 2 2 3 3 1 3 2 2 1 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 5 2 2 3 3 1 2 1 3 1 2 3 3 3 3 2 2 1 1 3 3 3 2 2 3 1 2 3 3 3 2 2 2 3 2 3 2 1 2 3 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 Udawati 2 3 4 2 2 3 2 1 3 2 3 2 3 3 2 2 2 3 2 3 3 2 2 3 3 1 2 2 3 2 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 2 1 2 3 2 1 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 2 2 2 2 1 3 3 1 2 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 3 2 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 2 3 1 1 2 2 3 3 1 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 5 2 2 3 3 2 2 1 3 1 2 3 3 3 3 3 3 1 1 3 2 3 2 2 3 2 1 3 3 3 2 2 2 3 2 2 1 2 2 2 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 2 2 2 3 2 1 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 1 2 2 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 Dodi 3 4 1 2 3 2 1 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 2 2 1 3 3 1 2 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 1 1 2 2 3 3 1 3 1 3 1 3 3 3 3 1 3 3 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 5 2 2 3 3 2 2 1 3 1 2 3 3 3 3 3 1 1 1 3 3 3 2 2 3 1 2 3 3 3 2 2 2 3 2 3 1 1 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 315 .A.Lampiran 6 Data Penilaian Diri Kelas I Nama Ade Firmansyah Daffa Malik Falaq Deandra Visto D M.

Zauhar Nanda Naya P.W Pradipta Wisnu Timur Dwi Indraja Agni Vasha Salsabila Alvira Niryana Aulia Astagina Dhiyaurrohmah Kamila Muyasaroh Melinia Debbytasari Noor Diana Arrasyid Oktaviana Rahindra Shafa Nabilla Haya Sheila Alfauziya P Yuliana Zahrajuncta Lusiana Martini Amelia Prisca Brigita Anggun Pratiwi Anisa Nur Rahmah Arviananda Ade H Bintang Nugrahani Galang Permataputra Galuh Intisari Muh. Abdul Gani Sarining Hanggani Kasih Teddy Arfansyah N Yuliana Larasari Dikta Wahyu Pratama Awang Pramono Isla Magda S Joko Bagus B Novia Permatasari Kusuma Nuraini Yulia Catur Wulandari Ikhsan Panji Irawan A'Issyatun Wahyu Ningsih Ainun Amaliya Paramita Arini Dewi Nuraini Chusnunnisa Suryanudin Ummu Habibah Halida Salsabila Hasna Maretta Sausana Hasna Ulfiaa Humairoh Rosida Akhir Khilmi Khayatun Nisha Kiki Dwi Widyasari Lutfina Aribah Miftakhurrohmah Nafisa Ainurrahmah Novryan Armawida Rizki Putri Utami Salman Kurnia Haq Sinta Primadita Siti Maryam S Wakhid Hasyim 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Sutarno 2 3 4 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 1 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 1 1 3 3 2 3 2 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 3 1 1 3 3 2 3 2 3 1 3 1 3 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 2 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Udawati 2 3 4 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 1 3 2 3 3 3 3 2 2 2 3 2 1 2 1 3 1 2 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 3 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 2 2 1 3 3 3 3 2 3 1 3 2 2 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 Dodi 3 4 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 1 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 2 3 3 3 2 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 1 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 2 3 1 3 1 3 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 316 . Aqib Husni Fadhli Muh. Tsani Ihsani Y Muh.Lampiran 6 Data Penilaian Diri Kelas II Nama 1 Afkar Zaka Y Alif Fahmi Mahendra Azka Hikam Z M.

Zulfikar Muqni Aqsoinna Suryatama Gallang Aulia Rizki Dini Puspo Elfira Ciptaningtyas Elma Damarista Fadhila Khoirunisa Inna Salma Fahman Khanifah Noor Nur Amalia Andini Ratu Yeremenia S Syifa Azizah Ade Yoga Endy S Bekti Rachmawati Maria Sri Adiningsih Novianto Adi Saputra Wahyu Praktika D Yunina Dea J Bilqies Amalia A Nova Puspitasari Anggita Wulandari Anjas Deva Felano Eria Putri Pratiwi Fitriyani Ika Purwaningsih Ilham Yusril Munawar Massayu Seilla Annisa Musriati Rivan Pandu Adi Winata Muh. Miftahul Firdaus Anggi Dwina Siregar Rusmini Afiana Nurkholishotus Shohibah Andi Rahmat Wulansyah Eka Yuliani Fegi Tri Damayanti Fitri Nurul Hanifah Imam Zuhdi Inna Rahmatul Ulya Jalu Ukir Damatama Hilda Ayu Wibisana Ninggih Annisa Daniswara Pilar Paksi Pratama Rafli Khooinurizal Rapsanjani Riswa Rahman Fahmi Rivani Rahmania Afifah Rizki Nur Chaerani Rizqi Haritz Pebiantara Zanityara Syah Syadila Zetta Nillawati Reyka Putri Nurul Arifah 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 Sutarno 2 3 4 2 3 3 3 3 2 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 2 2 2 2 3 3 3 2 3 2 2 3 3 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 2 3 3 2 2 2 2 2 1 3 3 2 2 2 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 5 2 3 3 3 3 1 2 3 3 3 1 1 2 3 3 3 3 2 3 2 2 2 2 2 3 1 1 3 2 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 1 3 3 2 2 1 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 1 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 1 1 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 Udawati 2 3 4 2 3 2 3 3 3 2 3 3 2 1 2 1 3 3 2 1 3 3 3 3 3 2 2 1 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 1 2 3 3 3 2 3 1 3 3 2 2 2 3 2 1 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 2 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 3 3 3 5 2 3 3 3 3 1 2 3 3 3 1 1 2 3 3 3 3 2 2 3 3 2 2 2 2 1 1 3 2 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 1 3 3 2 2 1 3 3 3 1 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 Dodi 2 3 4 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 2 2 1 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 2 3 3 2 2 2 2 2 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 5 2 3 3 3 3 1 2 3 3 3 1 1 2 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 2 3 1 1 3 2 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 1 3 3 2 2 1 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 317 .Fauzan M.Farizi Gustaf M.Lampiran 6 Data Penilaian Diri Kelas III Nama 1 Alwi Izha Farandi David Aldi Saputra Laode Aldifan M.Ibrahim M.Afdan Nurul Hilman M.

Lampiran 7 Tabel 3 Hasil Wawancara Keterpakaian Instrumen Penilaian Hasil Belajar Karya Seni Lukis Anak Komponen Guru A Guru B Guru C Keseluruhan Kepraktisan . sederhana dan komunakatif yang digunakan? Bagaimana dengan alokasi Sesuai dengan yang disiapkan. waktu yang digunakan untuk untuk memahami dan mempelajari aplikasi melakukan penilaian? penilaian ini membutuhkan waktu tersendiri Apakah Bapak membutuhkan Tidak. Hasil wawancara dengan guru A (20 Desember 2008) No 1 2 Pertanyaan Jawaban Bagaimana tanggapan bapak Menurut saya instrumen ini baik. Hanya saja.Sederhana Bahasa ‐ Baku ‐ Komunikatif ‐ Mudah dipahami Efisiensi ‐ Waktu ‐ Tenaga ‐ Biaya Mudah Cukup Ya Ya Ya Mudah Sederhana Ya Ya Ya Mudah Sederhana Ya Ya Ya Mudah Sederhana Ya Ya Ya Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Hasil wawancara dengan 3 orang guru sebagai rater sebagai berikut: 1. tentang IPSLA? Baik dalam hal apa? Baik dalam kaitan dengan: • Objektif • Dapat memberikan kemudahan dalam melakukan penilaian • Dapat dipertanggungjawabkan 3 4 Bagaimana dengan bahasa Mudah dipahami.Mudah . saya dapat melakukannya sendiri bantuan tenaga lain dalam melakukan penilaian? Bagaimana dengan biaya Tidak ada masalah pelaksanaan penilaian? 5 6   319 .

sudah dapat tentang IPSLA? menampung aspirasi saya sebagai guru untuk menilai karya lukisan anak didik. tidak ada pelaksanaan penilaian? masalah. Selain itu mudah diterapkan dan hasil penilaian didukung oleh bukti otentik penilaian. waktu yang digunakan untuk akan lebih baik lagi jika ada waktu tersendiri melakukan penilaian? untuk memahmi cara penggunaan instrumen tersebut. alokasinya sudah cukup Tetapi. bantuan tenaga lain dalam melakukan penilaian? Bagaimana dengan biaya Biaya pelaksanaan menurut saya. 6   320 .Lampiran 7 2. 3 Bagaimana dengan bahasa Bahasanya jelas. 4 5 Apakah Bapak membutuhkan Saya cukup dapat melakukannya sendiri. Bagaimana dengan alokasi Menurut saya. karena menurut saya pola penilaian ini berbeda dengan yang sering saya lakukan selama ini. Hasil wawancara dengan guru B (27 Desember 2008) No 1 Pertanyaan Jawaban Bagaimana tanggapan bapak Instrumen ini sudah baik. Secara pribadi. saya menjadi lebih mudah melakukan penilaian karena kriterianya lebih jelas. 2 Baik dalam hal apa? Instrumen ini lebih menunjukkan kondisi yang sudah mengurangi tingkat subyektivitas guru dalam menilai. mudah dimengerti dan yang digunakan? sederhana serta menampung karakteristik seni sebagai ekspresi maupun imajinasi anak.

untuk memahami lebih lanjut tentang untuk melakukan penilaian? penerapan dari penilaian ini butuh waktu yang cukup.Lampiran 7 3. efisiensi dan kejelasan bahasa yang digunakan pada butir-butir indikator dan deskriptor beserta kriteria yang dipakai dalam instrumen ini sudah dipandang layak untuk diterapkan sebagai sarana penilaian. Hal ini dikarenakan. dari sudut efektivitas. Panduannya jelas sehingga mudah untuk diterapkan. 5 Apakah bapak Tanpa bantuan orang lainpun. 3 Bagaimana dengan bahasa Bahasa dari instrumen ini cukup mudah dicerna yang digunakan? dan dimengerti. saya dapat membutuhkan bantuan melakukannya sendiri tenaga lain dalam melakukan penilaian? Bagaimana dengan biaya Saya pikir tidak ada persoalan dengan biaya pelaksanaan penilaian? pelaksanaan 6 Dari ketiga hasil wawancara dengan para guru yang menjadi rater dalam uji coba instrumen penilaian karya seni lukis anak dapat disimpulkan bahwa semua rater menyatakan instrumen sudah memadai. 2 Baik dalam hal apa? Instrumen ini memudahkan dalam menentukan kriteria nilai. Hasil wawancara dengan guru C (3 Januari 2009) No 1 Pertanyaan Jawaban Bagaimana tanggapan Instrumen penilaian ini sangat membantu diri bapak tentang IPSLA? saya dalam melakukan penilaian karya seni lukis anak. Pengalaman saya hanya menggunakan intuisi untuk memberikan nilai siswa.   321 . Mereka mengatakan bahwa dengan hadirnya instrumen ini menjadikan pekerjaan penilaian karya seni lukis anak menjadi mudah karena ada dasar rujukannya dan obyektif. 4 Bagaimana dengan alokasi Waktunya saya anggap sudah cukup memadai. waktu yang digunakan Namun. karena pada waktu sebelumnya tidak pernah saya menilai dengan instrumen yang baku.

Crick. Ed. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. and no official endorsement should be inferred 322 . Ed. Director.1 January.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). PA 19104 Robert L. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Robert L.D. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Brennan Principal Investigator. GENOVA was developed in part under contract No. Brennan.D. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Iowa 52242 VERSION 3.

.92582 18 1062 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 6092.00000 297..30476 3.2801856 0.28019 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 5811..58571 31.76190 193.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES ...29286 0..50277 59 118 R 2 5874..27635 15.19744 QF 2 QF 18 QF I:R 18 8728.0282800 R 2 (0.0) (0.0) 0.M X (I:R) DESIGN .28571 24.0) (0.15714 158.1459530 0.20000 2854..04286 62..M X (I:R) DESIGN ..45714 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 1259 3432.6380683 2.RANDOM MODEL .1304946 I:R 18 2...55714 0..21134 0.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 6004.0042666 MI:R 1062 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ...6380683 0.56429 565..93810 0.75428 118 1062 MI:R 1062 9244.8357072 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 (0..54286 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ G STUDY DATA SET 1 .RANDOM MODEL ..1426746 0.2801856 0..OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 0.0) 0.0121476 ----------------------------------------------------------------------------- 323 .

Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.13896 0.88329 0.22261 0.14267 0.42308 001-006 60 3 6 0.90163 0.17856 0.16135 0. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.17381 0.75341 0.01334 0. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 0.15824 0.02335 0.19455 0.24319 0.88424 0. NO UNIV.60437 0.14267 0.12791 001-002 60 3 2 0.29602 0.23607 0.01557 0. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.50659 324 .36976 001-005 60 3 5 0.16213 0.91448 0.22681 001-003 60 3 3 0. INF.85936 0.18937 0.30556 001-004 60 3 4 0.97275 0.44283 0.32425 0.14920 0.48638 0.09340 0.14267 0. INF.12822 0.14267 0.46809 001-007 60 3 7 0.04670 0.03113 0.15602 0.82088 0.= INF.14267 0.01868 0.14267 0.16602 0.14267 0.

D. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Brennan Principal Investigator.D. Ed. and no official endorsement should be inferred 325 . Brennan. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia.1 January. GENOVA was developed in part under contract No. Crick. Director.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. PA 19104 Robert L. Iowa 52242 VERSION 3. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Ed. Robert L.

...8337173 I:R 18 189...29444 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ G STUDY DATA SET 1 .16548 18 1062 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 644940..06900 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 405472.0690028 0...0192379 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 3.42857 5174..97698 9..2264384 4.4293997 242.95397 113234.5130078 189.84947 667..RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES ...RANDOM MODEL .70556 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 1259 462576.95000 204981.8256646 3.65952 226469.0690028 17.M X (I:R) DESIGN .84865 2.00000 18127...56891 118 1062 MI:R 1062 868049..8256646 0.28095 17.62778 132.RANDOM MODEL ..14127 43.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .4293997 190.M X (I:R) DESIGN .1747172 R 2 242.33333 7823.7400351 ----------------------------------------------------------------------------- 326 ..RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 413296.02413 59 118 R 2 631942.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 4..8155720 MI:R 1062 17.60386 3.5130078 60.29048 11387.2264384 1.92016 QF 2 QF 18 QF I:R 18 836923.

12006 116. NO UNIV.63959 2.96489 150.34649 4.22350 93.65527 0. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.04082 001-005 60 3 5 4.03858 101.99010 0.22644 6.22644 11.22644 6.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.92226 89.44994 2.30019 96.50637 0.19133 6.04223 001-006 60 3 6 4. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.93947 0. INF.61040 0.57128 0.85716 93.16732 0.39822 3.31447 2.22644 6.92408 2.17178 105.04322 001-007 60 3 7 4.08803 91.03868 001-004 60 3 4 4.44580 0.22644 7.51536 112.94569 144.22644 8.04396 327 .22644 6.53441 0.37765 0.= INF.02724 001-002 60 3 2 4.03500 001-003 60 3 3 4.66933 0.71795 0. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 4.55466 0. INF.63655 0.56180 91.41316 95.69764 99.

2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). PA 19104 Robert L. Brennan Principal Investigator.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Robert L. and no official endorsement should be inferred 328 . however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Ed. Brennan. Iowa 52242 VERSION 3. Ed.1 January. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City.D.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --.D. Crick. GENOVA was developed in part under contract No. Director. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy.

48059 2.18324 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 373377.6582771 ----------------------------------------------------------------------------- 329 .3838259 175..RANDOM MODEL .86372 118 1062 MI:R 1062 800302.60476 15..14286 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------G STUDY DATA SET 1 ..00000 16124.00204 59 118 R 2 581347.70952 43.42672 695.93095 9.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .6707246 175.1832437 15..71429 5130.1452227 1..1452227 4.2480372 I:R 18 175....RANDOM MODEL .0424779 4.68095 10555.8073981 MI:R 1062 15.53027 3.M X (I:R) DESIGN ..3838259 222..RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 381079.6707246 55.M X (I:R) DESIGN .6319846 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 4..1567972 R 2 222..14286 7701..0424779 0.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 4...1832437 0.28571 130.85714 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 1259 426924..82499 QF 2 QF 18 QF I:R 18 771345..Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ..20235 18 1062 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 594179.86190 103984..40000 189997.71905 207969.

35971 88.07050 84.19903 85.76657 0.04339 001-005 60 3 5 4.04111 001-004 60 3 4 4.04594 001-007 60 3 7 4.61338 0.33623 2.65421 0.66689 0.19101 86.51665 0.63724 0.28443 103.54012 0.87980 0.55380 6.14522 6.39277 0.04673 330 .14522 6.02894 001-002 60 3 2 4.14522 10.14522 7.= INF.04489 001-006 60 3 6 4.09342 132.37993 88.40857 139. INF. INF.14522 8.50493 2.56372 82.61276 91.87803 107.07843 83. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.14522 6.02326 3.99303 0.03452 96.57735 0.03720 001-003 60 3 3 4.14522 6. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 4.21573 2.86075 0. NO UNIV.17974 3.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.59681 0.75799 2.94774 0.68143 93.

Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Brennan Principal Investigator.1 January. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Director. Robert L. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Ed. Ed. and no official endorsement should be inferred 331 . PA 19104 Robert L. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy.D. Crick.D. Brennan. GENOVA was developed in part under contract No. Iowa 52242 VERSION 3.

6351956 188.8612994 25.83475 2.33333 5248.8612994 1.72001 118 354 MK:P 354 262591.9383863 ----------------------------------------------------------------------------- 332 .RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES ..50000 47746....44673 59 118 P 2 207726.00000 6421.37391 6 354 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 219396.38843 QF 2 QF 6 QF K:P 6 241766.2807234 P 2 233..48164 1.00000 9154.01667 34039..1238858 94. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .0202936 MK:P 354 25..OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 7.76667 5673..RANDOM MODEL ..83333 44.25000 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.2067797 2..Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .29444 219.2774647 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 6.1238858 47..6351956 233.75000 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 539 150357..M X (K:P) DESIGN .1503453 2.25000 8..RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 118655.90000 25.RANDOM MODEL .86130 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 112233....M X (K:P) DESIGN .2067797 6.2258624 K:P 6 94....1503453 7.25000 108.25000 95492.

51678 0.65627 0.89535 0.68142 0.53543 003-006 60 3 6 9.94336 1.21927 10.81053 0.45076 1.= INF.99753 15. NO UNIV.99901 6.99877 8.31555 003-003 60 3 3 9.21927 17.15511 9.21927 10.64839 003-009 60 3 9 9.21927 10. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.66584 5.87348 13.09344 0.72409 7.40882 003-004 60 3 4 9.90588 0.40670 0.31022 19.45732 0.21927 13. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 9.84245 0.18733 003-002 60 3 2 9.17710 0.07755 4.33169 10.65976 0.37438 2.44390 3.29683 1.21927 12.61738 003-008 60 3 8 9.65601 1.88216 0.21927 10.91281 0.47972 003-005 60 3 5 9.71358 4.65569 0.95783 4.03323 0.99938 4.99506 31.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.62043 39.52949 4.76238 0.86517 0.67196 0. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.67475 333 . 3 INF.58037 003-007 60 3 7 9.09275 2.23149 5.21927 11.21927 10.43674 6.83970 8.

Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City.D. Ed. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Robert L. Director.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. GENOVA was developed in part under contract No. Brennan. Brennan Principal Investigator. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy.1 January. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Iowa 52242 VERSION 3.D. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Ed. PA 19104 Robert L.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Crick. and no official endorsement should be inferred 334 .

23387 2.20044 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 116659.9927976 MK:P 354 40..2004394 40.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .M X (K:P) DESIGN .00602 59 118 P 2 213078.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 4.7131546 P 2 232. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 ..34477 6 354 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 222531..53519 7.66667 4719..20185 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 539 158537.2444968 232.0921532 53.3811039 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 (0.37778 6405.RANDOM MODEL .79815 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.0921532 106.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 121393..79815 80.2004394 3.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES ...4481586 1.59630 39....M X (K:P) DESIGN .2433642 190.0) 1..RANDOM MODEL .72963 159.27222 96419..99493 118 354 MK:P 354 275197..65000 38434.4708098 4..00000 4733.0131503 ----------------------------------------------------------------------------- 335 ...95556 40.99658 0.2190112 K:P 6 106..0) (0..52624 QF 2 QF 6 QF K:P 6 251512.00000 14230.07037 48209..

70007 24.91431 6.44816 7.08359 003-002 60 3 2 4.75284 7.35372 003-007 60 3 7 4.31323 003-006 60 3 6 4.02829 0.45084 336 .97098 0.68152 2.39900 0.48891 5.40015 48.44816 17.69913 0.44816 6.09552 4.36247 1.19161 0.79820 3.66152 0.44816 5.52256 0.14823 6.12819 2.24922 0.44816 11.72645 0.66574 0.42188 003-009 60 3 9 4.21486 003-004 60 3 4 4.15429 003-003 60 3 3 4.15805 0.00537 0. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.38969 003-008 60 3 8 4.67502 6.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.86783 0.25473 11.93706 1.57041 0.38210 17. NO UNIV. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 4.49896 0.= INF.35004 12.96631 5.44816 8.44816 6.74922 0.12318 1.12737 6.93660 0.23336 8.44816 6.46672 16.84831 13. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.91487 4.41824 4.68003 9.44816 7. 3 INF.62402 0.76420 35.26733 003-005 60 3 5 4.19105 8.

Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Crick.D. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Brennan. GENOVA was developed in part under contract No. Ed. PA 19104 Robert L. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). and no official endorsement should be inferred 337 . Director. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Ed. Robert L.1 January. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Iowa 52242 VERSION 3. Brennan Principal Investigator.D. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. however the authors can make no assurances that the program is totally without error.

RANDOM MODEL .6510986 2.5847308 K:P 6 95.0757167 221.. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .00000 11558.85926 86.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .00000 4607.04987 1.58519 175..M X (K:P) DESIGN .22593 45534.19597 118 354 MK:P 354 255520..97037 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 5..RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 113876.0322348 47.52304 2..4473033 ----------------------------------------------------------------------------- 338 .M X (K:P) DESIGN .88889 5104.93150 QF 2 QF 6 QF K:P 6 234248..0757167 179..02963 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 539 146747..7882273 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 2.2747960 5..51111 5734.8286649 P 2 221....6510986 32.48889 32.1329253 2..25556 91069.1329253 1.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ..0322348 95.21571 59 118 P 2 199841.65110 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 108772.8679808 MK:P 354 32.63223 6 354 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 209554..76667 34407...2747960 1.88519 39.61296 7..RANDOM MODEL ..

SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.98577 7.98577 7.34623 1.72092 10.68749 0.55481 6.21953 003-003 60 3 3 5.41287 003-006 60 3 6 5.36046 5.62263 0.28056 16.61367 3.51222 6.64028 8.12330 003-002 60 3 2 5.63963 0.71937 0.83193 0.65102 0. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.98577 7.98577 8. NO UNIV.40956 0.17674 8.44185 21.55865 339 .76743 0.20930 4.47152 0.70670 2. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 5.79972 1.49609 003-008 60 3 8 5.45765 003-007 60 3 7 5.08211 0.86947 10.52944 003-009 60 3 9 5.98577 8.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.81481 0.06446 0.98577 16.09352 5.42762 5.29672 003-004 60 3 4 5.52380 0.98577 7. 3 INF.35483 0.16251 2.98577 11.32014 4.62790 14.88370 42.02917 0.79381 0.72901 3.18704 10.08016 4.56111 31.81395 7.= INF.36002 003-005 60 3 5 5.73332 0.95857 0.54059 1.98577 9.19507 1.

Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC).D. PA 19104 Robert L. Ed.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. and no official endorsement should be inferred 340 . however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Ed. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. GENOVA was developed in part under contract No. Iowa 52242 VERSION 3. Director. Robert L.1 January. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Crick. Brennan.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Brennan Principal Investigator.D.

4198870 0.28495 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 159413.0924859 5...40000 6594.7050921 ----------------------------------------------------------------------------- 341 ....3831865 R 2 118.9962241 118.4198870 4.35778 35.20000 4175.M X (I:R) DESIGN .9244401 MI:R 708 13.52889 111.2849529 0.87034 QF 2 QF 12 QF I:R 12 333164..Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .M X (I:R) DESIGN .RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 166008.05333 7307.36667 87693...87111 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 193926..9962241 101.15879 59 118 R 2 245471.RANDOM MODEL .38439 2..0924859 1.31333 86057.74667 13..77168 3.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 5.2849529 13.8367147 I:R 12 121.72111 5.44222 43028.12889 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.66349 118 708 MI:R 708 353340....07756 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 256241.RANDOM MODEL .0345275 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 4.5744915 46.75444 550...00000 9405.5744915 121... F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 ..

09185 80.66370 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.99410 5.12933 47.61528 60.68342 0.58038 52.12309 53. INF.09249 8.67286 2.09249 10.89456 0.05585 001-002 60 3 2 5.45145 2.07416 0.37699 49.92450 0.58001 0.09249 8. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF. NO UNIV.= INF.35896 50.09249 7.04189 2.94940 56.77994 3.07412 001-003 60 3 3 5.37347 0.46320 0.90161 86. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.63325 0.08319 001-004 60 3 4 5. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 5.68745 63.08861 001-005 60 3 5 5. INF.09222 342 .09249 7.30772 0.

Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. and no official endorsement should be inferred 343 . Crick.D.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Ed. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy.1 January.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Ed.D. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. GENOVA was developed in part under contract No. Director. Iowa 52242 VERSION 3. Brennan. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Brennan Principal Investigator. PA 19104 Robert L. Robert L.

5621469 10.5069182 MI:R 708 10..5621469 0.1463633 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 1.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 178809.55443 59 118 R 2 270613.0598736 I:R 12 135.81276 118 708 MI:R 708 380667..90868 2.48111 5.93333 2885.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .00000 10...RANDOM MODEL .08333 97430.5605806 ----------------------------------------------------------------------------- 344 ..M X (I:R) DESIGN ...7169002 1...28333 94688..7222109 112.9841356 0..96222 47344...00000 7478.71051 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 275758..1445198 135.7169002 0.23333 768.82499 QF 2 QF 12 QF I:R 12 368044.RANDOM MODEL .6129639 R 2 130.30444 19.32111 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 204742.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 1.20000 2259.56215 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 175924.1445198 51.80000 8119.7222109 130..M X (I:R) DESIGN .14665 1... F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 ...RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .61222 48.67889 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.9841356 1.

09302 92. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.33266 68.57735 0.98414 4.73001 1.03184 001-004 60 3 4 1.31679 2.02095 001-002 60 3 2 1.72353 0.03553 345 .74587 60.63805 0.60852 0.98414 3.43661 1.27644 53.45963 0.89339 0.65229 0.32649 0.02818 001-003 60 3 3 1. INF. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 1.03405 001-005 60 3 5 1.28859 54.26058 1.86015 52.71526 88.07715 4. NO UNIV.= INF. INF.45248 56.98414 3.53194 0.33600 58.98414 6.43081 66.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.98414 3.17010 0.

Iowa 52242 VERSION 3. Robert L. PA 19104 Robert L. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City.D. and no official endorsement should be inferred 346 . Crick. GENOVA was developed in part under contract No. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Director.1 January.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Ed. Ed.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Brennan Principal Investigator.D. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Brennan.

RANDOM MODEL .94038 59 118 R 2 256501..RANDOM MODEL ..1082335 3.86547 118 708 MI:R 708 365927.3717985 129.40000 2835..2295160 2...02800 1.65667 89356.....34000 12.1082335 0.65151 2.30444 24. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .M X (I:R) DESIGN .9738173 105.26000 7775.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 3.2295160 0.9790840 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 2.7628148 I:R 12 129.91667 93302.8775790 R 2 122.43889 70.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .30556 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.64383 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 263505..18833 603..00000 9119.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 171313..69444 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 198782.6836219 ----------------------------------------------------------------------------- 347 .8804237 0..3717985 48...96222 44678.8804237 12.M X (I:R) DESIGN ...6352875 MI:R 708 12..88042 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 167144.48111 5.9738173 122.73806 QF 2 QF 12 QF I:R 12 349803..13333 4168.

INF.69456 0.92477 1.81654 53.10823 5.38162 0.14488 5.85434 0.60187 51.65321 0.10823 5.17433 57. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 3.10823 4.45396 0. INF. NO UNIV. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.05125 001-004 60 3 4 3.99814 2.51820 0.10823 4.54025 55.25095 0.58880 51.21793 49.03665 89.03369 001-002 60 3 2 3.44315 62.05721 348 .05482 001-005 60 3 5 3.71010 1.88991 65.15185 84.63114 0.65991 0.= INF.58839 0.28256 2.10823 8. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.04534 001-003 60 3 3 3.

Ed.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Robert L. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. PA 19104 Robert L. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Iowa 52242 VERSION 3. GENOVA was developed in part under contract No.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Ed. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Crick.1 January.D. and no official endorsement should be inferred 349 . Director. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy.D. Brennan. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Brennan Principal Investigator.

5502787 125.7994991 6..3493034 MK:P 708 17.9814237 1.5502787 162.00000 12566.86222 53238.12015 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 265917.92889 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.6933522 27.RANDOM MODEL .43111 11.91547 118 708 MK:P 708 331756..RANDOM MODEL ..93333 106476.7994991 1.6933522 73.46772 2.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ....60000 6106..90125 QF 2 QF 12 QF K:P 12 305622.44399 59 118 P 2 252349.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 4.. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 ..66667 7461.20000 17.9652808 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 6..07111 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 185882.74887 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 145873.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 153334.7488701 0...13333 53272...RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .M X (K:P) DESIGN ..59556 126..6087719 K:P 12 73.9814237 4.M X (K:P) DESIGN .5902820 P 2 162.35000 250...07111 51.7488701 17..74637 2.9420122 ----------------------------------------------------------------------------- 350 .20000 4439.

18326 6.34182 0.78611 0.20607 2.62019 6.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO. 3 INF.22002 1.95815 15.24792 10.24792 13.47907 7. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.24792 9.55058 0.41635 003-004 60 3 4 7.28656 0.24792 8.45233 0.97210 10.71016 0.43118 1.91629 30.16025 8.83052 0.85966 0.16421 5.32230 003-003 60 3 3 7.05341 0.48748 003-005 60 3 5 7.= INF. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 7. NO UNIV.72700 1.24037 12.09615 5.19211 003-002 60 3 2 7.24792 8.54316 351 . 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.48074 24.78385 0.

D. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Director. Crick. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Iowa 52242 VERSION 3. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Brennan. Ed. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia.1 January.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. PA 19104 Robert L. Brennan Principal Investigator. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Robert L.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. and no official endorsement should be inferred 352 . GENOVA was developed in part under contract No. Ed.D.

3123446 34.3123446 90.9396860 MK:P 708 13.24000 77..4215348 0..4215348 4.8387665 13..41861 QF 2 QF 12 QF K:P 12 362484.7344855 ----------------------------------------------------------------------------- 353 .9665221 K:P 12 90.7541243 2..68000 35.59752 118 708 MK:P 708 381082...8387665 0..4342429 146.RANDOM MODEL .57944 392.25831 2.9825944 P 2 189.60000 4558.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .36000 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 208358......RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 177281...20000 4241.4342429 189.00000 9797.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 2.M X (K:P) DESIGN .95333 5432..28000 124569.14926 59 118 P 2 297293.84667 13.56240 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 306093.23333 65190..RANDOM MODEL .M X (K:P) DESIGN ..7541243 0.94644 2. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .2220360 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 4..64000 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES..92000 62284.96000 11.83877 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 172723.

32757 003-005 60 3 5 4.47823 0.53443 2.22797 5.92258 6.67926 7.15055 0.= INF.61292 34.35852 15.84089 4. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.22797 6.26759 003-004 60 3 4 4. NO UNIV.53764 11.16096 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF. 3 INF.22797 5.38120 1. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 4.19586 003-003 60 3 3 4.57235 10.13080 0.76561 1.30646 17.82088 0.64703 0.71704 30.94341 6.22797 5.15323 8.10856 003-002 60 3 2 4.22797 8.73331 0.37846 354 .78569 0.10667 0.61572 0.25146 0.

GENOVA was developed in part under contract No. Brennan. PA 19104 Robert L. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy.1 January. Crick. Ed. Brennan Principal Investigator.D. Ed.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Robert L.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. and no official endorsement should be inferred 355 . Iowa 52242 VERSION 3. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Director.D.

...4846516 165.14764 QF 2 QF 12 QF K:P 12 308648..66667 4439.67163 118 708 MK:P 708 331741..66667 4595.0844687 ----------------------------------------------------------------------------- 356 .4329567 1.M X (K:P) DESIGN .7446817 2.88333 53276.43296 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 147174.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 151769..6548211 73..9081929 MK:P 708 20.46556 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.28242 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 263997..84111 12.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .RANDOM MODEL .53444 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 184566.88360 2.68222 54098.21667 108197.53333 20...80000 4030.13222 77... F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 ..RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .4846516 127...45111 34..7446817 0.9676270 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 2.RANDOM MODEL .72222 217.M X (K:P) DESIGN .15637 1.9151488 2.6548211 27.9151488 0.00000 14466.6348177 K:P 12 73.28021 59 118 P 2 255372.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 2.9850545 P 2 165.4329567 20....

32818 003-005 60 3 5 3.45420 8.62784 0.53279 1.73765 0.99686 0.23011 0.83004 7.28554 0.26813 003-004 60 3 4 3.19224 1.10037 2.23554 3.40549 15.64103 6. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.35993 0.84065 6.70275 7.69224 0.= INF.52934 0.27252 4.83004 5. NO UNIV.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 3.27033 10.83004 6.83004 10.10883 003-002 60 3 2 3.39640 0.68130 12.36220 6.37912 357 .81099 31. 3 INF.36259 24.83004 5. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.19630 003-003 60 3 3 3.72896 0.

LEMBAR PENGESAHAN .

D. dalam Maurice Saxby & Gordon Winch (EDS).R. Hal D. the experience of children’s literature. “ Children and their books: The right book for the right child I”. D. Ch. (1991). Iowa City: ACT Publication. (1993). Pergamon. Borg. W. Dwi. New York: The Psychological Corporation. Yogyakarta. A. California: Brooks Cole Publihsing Company. New York: Longman. E. Educational research: An introduction. Mengembangkan kreativitas anak. Mengenal seni rupa anak. & Yen Wendy. (2007). (2005). Assessment for excellence. Fungsi pendidikan seni budaya di sekolah. (1983). Second edition. Kompas. Ronald. Dalam Malcom Ross The Aesthetic Imperative. Astin. (1979). A. W. Fourth edition. Belmont CA: Wadworth Thomson Learning Inc. Pengembangan instrumen pengukuran respons estetik siswa sekolah pertama menggunakan semantic diferential. (1982). tidak diterbutkan. Anugrah.DAFTAR PUSTAKA Abdussalam Al-Khalili. Tesis Magister. K. (2004). Performance assessment. Dewobroto. A. J. Brennan. 263 . Zainul. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.G. Introduction to measurement theory. (1986). Phoenix AZ: The Oryx Press. (2004). Element of generalizability theory. Melbourne: The Macmillan Company.. Seashore. Alternative assessment. The practice of social research. Give them wings. London: The John Hopkins Press Ltd. G. (1952). Jakarta: Universitas Terbuka. Allen Mary. Differential aptitude test manual. & Gall. Asmawi. (1983). M.. Affandi. Laure. Brandy. Berk. Bambang Prihadi. J. Bennet. Aspin. & Wesman. (10 Agustus 2006). (2005). H. Universitas Negeri Yogyakara. Robert L. Babbie. Assessment and education in the arts. G. Yogyakarta: Gama Media.

Djelantik. California: Dickenson Publishing Inc. Children and their art methods for the elementry Atlanta school.M. (2000).BSNP. dkk. Isobel J. George. CA. Jakarta: BSNP. Dobbs. De Francesco-Italio. Steven Marks. htm. Depok: Inisisasi Press. Cut Kamaril. Coney. Charles D. The aesthetic hypothesis. M. (1968). A. (1975). Sistem penilaian kelas SD. A. Kamus psikologi. (1999). Harcourt Brace Jovanovich. (2003). The process of art education in the elementary school. Penelitian kerja sama antara Lemlit IKIP Yogyakarta dan Balitbang Depdikas. Dali Gulo. dan SMK. Linda. SMP. SMA. Inc. Rethinking how art is taught: A critical convergence. Dirjen Dikdasmen. Inc. Uhlin. Donald. New York: Harper & Brother Publisher. Estetika sebuah pengantar. Diambil pada tanggal 8 Nopember 2005. Jakarta. (2006). Multiple intelligences: Metode terbaru melesatkan kecerdasan. 264 . dari. Duane & Prebel. assessment criteria. dkk. California: Chandler Publishing Company.. Santa Monica CA: The Gety Center. Depdiknas. Standar nasional pendidikan. (1982). (1964). (1999). The DBAE handbook: An overview of disciplinebased art education. (1998). Jakarta: Universitas Terbuka. Survei kegiatan guru dalam melakukan penilaian di kelas. Bandung: Tonis.M. file: // J: Assessment Criteria. (Terjemahan Tim Inisiasi). Amerika: Prentice Hall Inc. Art for exceptional children. (2005). Djemari Mardapi. Art form: An introduction to the visual arts. Brown Company. Dubuque. Gaitskell. Wailling. (1992). Campbell. Bandung: MSPI. R. Pendidikan seni rupa/ kerajinan tangan. Corwin Press. (1967). Thousand Oaks. Iowa: W. Art education its means and ends. Conrad. (1958). (2002). Clive Bell. (1975). Assessment criteria for art and design teaching. Donovan.

Studies in Art Education. N. (1984). Merrill Publishing Company. W. P. Eisner. H. E. New Jersey: PrenticeHall. Champion. Inc. development and evaluation.X.Edmund. Art as image and idea. Megawati. IL: Stipes. Burke Feldman.4 . Understanding children’s art for better teaching.28 :227-233 Griffin. (1967). & Nix. Departemen Pendidikan dan kebudayaan. Hoepfner. (1997). Identifying resources from which children advance into pictorial innovation. (1997). 251-258. and Curiculum Development. Elliot W. Yogyakarta: Galangpress Fernandes.J. Greer. Ralph. Winter Vol. P 23-34 Gaitskell. Freeman.N. 31 No. Estetika sebagai kritik dan apresiasi seni. London: Harcout Brace Javanovich. Dwarne. dkk. Children and their art. Educating artistic vision.Hall. Conrad. A. Charles. Pendidikan seni rupa. Claire. (1967). Dalam Teks-teks kunci estetika flsafat seni. 265 . (1983). (1990). The Board of Trutes: The Journal Aestetic Education. H. Jakarta: National Education Planning. the journal of issues and research: 25 (4). (1973). New York and London: Teachers College. (1991). George.). D. Horovitz. Educational assessment and reporting. Englewood Cliffs. Inc. Ohio: Charles E. Publisher. I thaca. Iriaji. Studies in art education. (Eds. (1975). (1999). Eymeren. Reston. The process of art education in the elementary school. George W. Holt. (1987). (1985). Hardiman . Atlanta: Harcourt Brage Jovanovich. Arthur D. National Art Education Association. “Human behavior: Its implications for curriculum development in art. Art in Indonesia. Efland. Theodore Zernich. N. Peter. Testing and measurement. J: Prentice. Inc. History of art education.. Evaluation. Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar. NY: Cornell UP. (1974). Measurement and evaluation in teaching. New York: Macmillan Publishing Company. Herawati. VA:NAEA. Gronlund.” curricular considerations for visual arts education: rationale. (2005). “A structure of dicipline concepts for DBAE”. (1964).

(2000). Rhoda and Scott O’Dell. 266 . Growth of art in American schools. (2000).Hurlock. 18. H. I/03. (Eds. Kerlinger F. (Terjemahan dr. (2000). Model pembelajaran terpadu berbasis kecerdasan jamak. Chapman (1978). Lansing.M. Jakarta: Erlangga Ismiyanto. (1977). California: CRM INC. (1967). Yogyakarta: Galangpress. Classroom assessment what teacher need to know. Lim Chin Choy.. C. Frederick M. Bandung: Penerbit ITB. (1990). S. Meitasari Tjandrasa dan Dra.). Kellogg. USA: Macmillan Publishing Company. Jurnal Seni. (1995). (1991). Earl. Elizabeth B. 3. and Lee H. Laura. Sumardjo. Dalam teks-teks kunci estetika flsafat seni. Toronto: Nelson Thomson Learning. James. (2001). New York: McGraw-Hill. artists and art education. Filsafat seni. Linderman. M. Foundations of behavioral research. Linn. Jilid 1 Edisi Ke enam. Art. Kane. R. Analisis lukisan karya anak-anak usia sekolah dasar : studi dokumenter hasil karya anak-anak sanggar lukis di kota Jakarta dan Semarang. New York: Harcour Brace Jovanovich. (1976). Krueger. Perkembangan anak. & Casey. Approach to art in education. MA: A Simon & Schuster Company. N. Muchlichah Zarkasih). Logan. (2006). Robert L. Validation. Jamaris. Art & crafts for the classroom. A. New York: Macmillan Publising Company. New York: Harper & Brother. P. A. Measurement and evaluation in teaching. Jakarta: UNJ. (2002). 86-97. K. Popham. (1955). (1991). Jurnal Bahasa dan Seni. Martini. Michael T. Sage Publications Kusnadi. Focus groups: A practical guide for applied research. Jakob. The psychology of chidren’s art. Kritik seni dan penciptaan seni rupa. Keindahan yang digemari dan pengejawantahannya. American Council on Education and Praeger Publishers. B. ( 2005).

Jakarta: Rora Karya. Mamannoor. Online. Mikke Susanto. Nomor 19. tahun 2006. New York: Harcourt. Myers.. (2006).1. Newton. David.3. Peraturan pemerintah . Validity of psychological assessment. The history and philosophy of art education. P. W. Piaget.Lowenfeld. (1980). Concepts in art and education. (1995). Soekidjo. New York: Analytic. Inc.Visual Arts Research. (2005). (1970). New York: Macmillan Publishing Co. London: The Macmillan Company. & Britain. (2003).No. Jakarta: PT Rineka Cipta. Connie. Tri Hartiti. J. (1989). New York: American Elsevier.Vol 15. Viktor. Pappas. Yogyakata: Jendela. Stuart. Surakarta: Bringin 55. Journal of Art and Design Education. S. (1950). Assessment in art education a necessary discipline or a loss of happiness?. Notoatmojo. No. tentang standar nasional pendidikan. The psychology of intelligence. ( 2002). “Guidelines for evaluation and assessment in art and design education 5-18 Years”. (2005). (1982). Peraturan menteri. Yogyakarta: FBS UNY. (1986). Kamus lengkap Bahasa Indonesia. Barrett. (1970). Macdonald. Wacana kritik seni rupa di Indonesia. 267 . Lambert. The board of trustees of the university of illinois. Spring 1989. Brace & World. Membongkar seni rupa. Messick. Martono & Retnowati. (2007). Strategi pembelajaran seni lukis anak usia dini di Sanggar Pratista Yogyakarta. Oho. Seni rupa. 1990. Permendiknas RI. tahun 2005. nomor 22. (2003). Pengembangan sumber daya manusia. Volume 9. New York: Pergamon Press. Novianto. Creative and mental growth. tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. University of Maryland Libraries. “Excellence in arts teaching and learning: A collaborative responsibility of maturing partnership. Maurice. George. Bandung: Nuansa.21 Maret 2005. Peraturan Pemerintah RI. Garha. Malcom Ross.”.76-85.

268 . (2006).302-307. Corrado.A: Simon & Schuster Custom Publishing. Apresiasi seni lukis anak-anak. Herbert.3 (1906). Survai terhadap kondisi guru-guru pendidikan kesenian di SLTP/SMU sumatera barat. Tjetjep Rohandi & Retnowati. Tri Hartiti. (2005). & Thomas. (1994b). Rohidi. di Jakarta. Sanggar melati suci (1979-1994).Yogyakarta:Aquarius Offset. Tjetjep Rohendi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah. Salam. John. Sofyan. M. Contextualistic criticism. I Made. Assessment program evaluation. Jakarta: Depdikbud. Pendidikan seni. (1994a). Implikasi garis dalam seni rupa. L’art de bambini. (1973). Rohidi. Trilogi seni penciptaan eksistensi dan kegunaan seni. Read. disiplin dan multikultural dalam pendidikan seni rupa. Sawyer. Jurnal Rupa volume 4 no 1 September 2005. (1983). vol 2 No 2. (2001). London: The Shenval Press. S. “Komposisi” Jurnal Pendidikan Bahasa Sastra dan Seni. (2002). Soedarso. Yogyakarta: Badan Penerbit ISI Yogyakarta. (2000). (1997). Penilaian dengan non tes dalam proses belajar mengajar. London: Harper & Row Publishers. (1994). Pendekatan ekspresi diri.. J. A. Stark. Pepper. Malang: Balai Kajian Seni dan Desain. Education through art. Elementary school art for classroom teachers. (2001). Pendidikan seni dari konsep sampai program. 183-192. New York: Reinhart and Winston Inc. Pratiknyo Prawironegoero. Stephen. Kesenian dalam pendekatan budaya. C. Pedagogical Sem. Soeharjo. Soesatyo.(1970). Needham Heights. PL2LPTK.Plomp. Bandung: STISI Press. R. Ricci. Development research on/in educational development. Syahrul. Leipzig. T. R.A. Ruta. (2005). (1971). Dirjen Dikti. Yogyakarta: Sanggar Melati Suci. Makalah disajikan dalam Seminar & Lokakarya Nasional Pendidikan Seni. (1960). J. Soesatyo. Netherlands: Twente University.

W. & Hagen. Kreativitas dan keberbakatan strategi mewujudkan potensi kreatif dan bakat. Minneapolis Indiana University. (1974). P.10. Il: F.. Paris: Harrap London. Evalution of the art product. Guba. Robert. A. D. Hammond. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. M.Stufflebeam. S & Semmel. L. (1991). Yogyakarta: Unit Litbang P3G Thiagarajan.C. Peacock. (1971). Educational evaluation amd decision making. Itasca. New York : John Wiley & Sons. Constructive education for children. J. “Objectivity and assessment in art” in assessment in arts education. Semmel. Jakarta: Balai Seni Rupa Jakarta. UNY. Waterman. Section 01 and 02. (2001). Elizabeth.. W. (1986). Wall.edu/ivc pada tanggal 1 Juli 2007. Thorndike. L. (2005). (1975). Marriman. I. & Provus. S. (1959). Yahya. J. 2001) 269 . Torrance. Toronto: Pergamon Press.. R.. pp. Foley. D. Lexington: Personal Press. Heyfron . H. L. Wedwick. G. Bunga rampai pendidikan seni. Agung. M.coe. Suryahadi. Utami Munandar. Gepard. W. O. Amri. Linda. Instructional development for training teachers of exceptional children: A sourcebook.D... Paul. art education. M. Diakses dari http://www. Sudarmaji. Edward. Dasar-dasar kritik seni rupa.57.ilstu. Evaluasi dalam perspektif pendidikan seni (Pidato Ilmiah.. Early adolescent literacy learning fall 2006. (1981). Paul Torrance test of creative thinking. Measurement and evaluation in psychology and education . E. (1979).. E. (2006). (1999). Victor.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->