Lampiran 9

Gambar 1. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 1

Gambar 2. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 1

358

Lampiran 9

Gambar 3. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 2

Gambar 4. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 2

359

Lampiran 9

Gambar 5. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 3

Gambar 6. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 3

360

ABSTRACT Tri Hartiti Retnowati. Developing of Assessment Instrument for Children’s Painting in Elementary School. Dissertation. Yogyakarta: Graduate School, Yogyakarta State University, 2009. This study aim at developing an assessment specification for children’s painting in elementary schools by developing a valid and reliable assessment instrument to measure the performance of children’s painting. The development of this assessment instrument was intended to guide the painting teachers in elementary schools in carrying out assessment objectively. This study is a development research which uses quantitative and qualitative approaches. The development process was carried out in five phases, covering initial study, defining, designing, developing, and dissemination phases. The subjects of this study were elementary schools’ teachers and pupils in the first grade to third grades and painting teachers in Muhammadiyah Sapen Yogyakarta elementary school, MIN (Islamic State Elementary School) Tempel, and Langen Sari Yogyakarta elementary school. The construct of the instrument consisting of instrument for process, product, self, and group assessment was developed based on the suggestion of art education, children’s art painting, evaluation, and painting experts. The reliability coefficient of the assessment instrument was computed based on generalizeability theory developed by Crick and Brennan consisting of G (generalized study) and D (decision study) theories with the variance of person, rater, item, person rater interaction, and error components using Genova computer package program, and interrater Cohen’s Kappa fomula. The findings of this study suggest that first, the specification of the assessment instrument for performance of children’s painting in elementary school is in the form of observation sheet consisting of indicators, descriptions, and rubrics (criteria). The components of assessment object are process, product, self assessment, and group assessment. Second, the characteristics of the performance assessment instrument of children’s painting in elementary school consisting of validity, reliability coefficient, and its implementation have been verified. The validity evidence is obtained through three focus group discussions and one seminar. The average of Cohen’s Kappa tend to be higher than genova coefficient and the estimation of Genova coefficient using a nonlinear equation tends to be more accurate than one using a linear equation. The highest coefficent of Genova for process assessment is in grade 1 with 7 items rated, that is 0.91, for product assessment in grade 1 with 3 items rated, that is 0.76, for self assessment, that is 0.68, and for group assessment in grades 1, that is 0.86. The average of cofficients genova is 0.71 and the average of Cohen’s Cappa is 0.73. Both of this value are higher than the minimum criteria, 0.70. Third, the guideline of using performance assessment instrument of children’s painting in elementary school is in the form of a booklet. It consists of background, rationale, components of assessment, guideline, and application sample. Forth, the requirements for elementary school teachers for using this instrument cover the relevant educational background, having experiences in art of paintings, good comprehension toward the guideline of performance assessment for children’s painting, and being responsive toward reformation and changes.

iii

ABSTRAK
Tri Hartiti Retnowati. Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak di Sekolah Dasar. Disertasi. Yogyakarta: Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta, 2009. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan spesifikasi penilaian karya seni lukis anak di sekolah dasar dengan mengembangkan instrumen penilaian yang sahih dan andal untuk mengukur hasil belajar seni lukis anak. Pengembangan instrumen penilaian hasil belajar seni lukis anak sekolah dasar ini dimaksudkan agar para guru seni lukis pada jenjang pendidikan dasar dapat melakukan penilaian secara objektif. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan yang menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Proses pengembangan dilakukan melalui lima tahap yaitu tahap studi awal, tahap pendefinisian, tahap perancangan, tahap pengembangan, dan tahap diseminasi. Penetapan konstruk instrumen yang terdiri atas instrumen penilaian proses, penilaian produk, penilaian diri, dan penilaian kelompok dilakukan melalui pendapat pakar pendidikan seni, pakar seni lukis anak, pakar pengukuran, dan praktisi lapangan. Subjek penelitian ini terdiri atas dua elemen yaitu pendidik dan peserta didik sekolah dasar kelas satu sampai dengan kelas tiga dan pendidik seni lukis anak di SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta, MIN Tempel, dan SDN Langen Sari Yogyakarta. Penentuan koefisien reliabilitas instrumen penilaian dilakukan dengan menggunakan paket program genova berdasarkan teori Generalizability yang dikembangkan oleh Cric dan Brennan yang terdiri atas teori G (Generalized study) dan D (Decision study) yang komponen variansinya adalah person, rater, item, interaksi person dan rater, dan kesalahan, serta dengan koefisien interrater Cohen’s Kappa. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah: 1). Spesifikasi instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD berbentuk lembar pengamatan yang terdiri atas indikator, deskripsi, dan rubrik (kriteria), serta komponen yang menjadi objek penilaian meliputi proses, produk, penilaian diri, dan penilaian kelompok, 2). Karakteristik instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak yang mencakup validitas, reliabilitas, dan keterpakaian di SD telah teruji. Validitas telah teruji melalui focus group discussion sebanyak 3 kali dan sekali seminar. Rata-rata koefisien Cohen’s Kappa cenderung lebih tinggi dibanding rata-rata koefisien genova dan koefisien genova dengan persamaan nonlinear cenderung lebih teliti dibanding dengan persamaan linear. Besar koefisien genova paling tinggi untuk penilaian proses di kelas 1 dengan 7 item yang dirating yaitu 0,91, penilaian produk di kelas 1 dengan 3 item yang dirating yaitu 0,76, penilaian diri di kelas 1 yaitu 0,68, sedang penilaian kelompok di kelas 1 yaitu 0,86. Ratarata koefisien Genova secara keseluruhan adalah 0,71. Adapun rata-rata koefisien Cohen’s Kappa yaitu 0,73. Kedua nilai rata-rata ini telah memenuhi kriteria minimum yang disyaratkan yaitu 0,70, 3). Pedoman penggunaan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak dalam bentuk booklet. Booklet terdiri atas latar belakang, rasional, komponen yang dinilai, petunjuk penggunaan, dan contoh aplikasi, 4). Persyaratan yang harus dipenuhi pendidik SD agar kompeten menggunakan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD meliputi latar belakang pendidikan yang relevan, memiliki pengalaman dalam bidang seni lukis, memahami pedoman penilaian hasil belajar karya seni lukis anak, dan responsip terhadap pembaharuan dan perubahan.

ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang dan Identifikasi Masalah Pada dasarnya manusia memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai estetika agar dapat hidup dengan baik di masyarakat dan memiliki rasa keindahan. Pengetahuan berkaitan dengan penalaran yang diperlukan dalam memecahkan masalah. Keterampilan berhubungan dengan gerak anggota badan dalam mengerjakan pekerjaan. Rasa keindahan atau kepekaan estetik berkaitan dengan seni, sehingga orang yang memiliki apresiasi terhadap seni merasakan indah dalam hidupnya. Oleh karena itu setiap orang harus memiliki kepekaan estetik agar dapat merasakan keindahan dalam hidupnya. Dalam perspektif pendidikan, seni dipandang sebagai salah satu alat atau media untuk memberikan keseimbangan antara intelektualitas dengan sensibilitas, rasionalitas dengan irrasionalitas, dan akal pikiran dengan kepekaan emosi. Bahkan dalam batas-batas tertentu, seni menjadi sarana untuk mempertajam

moral dan watak seseorang (Rohidi, 2000: 55). Pendidikan seni bertujuan mengembangkan kedewasaan diri anak didik yang utuh dan seimbang dengan cara memberikan perlakuan yang dapat merangsang kepekaan estetik dan kreativitas peserta didik. Dengan demikian untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan pengembangan estetik melalui pendidikan seni. Pengembangan kepekaan estetik merupakan bagian dari pengembangan kepribadian seseorang, yang dilakukan melalui pendidikan seni. Dalam Peraturan Pemerintah No 19 tahun 2005 (PP Nomor 19, 2005) tentang standar nasional

1

pendidikan,

masalah

kepekaan

estetik

memperoleh

penekanan

dalam

pengembangan kemampuan peserta didik melalui kelompok mata pelajaran estetika. Pada peraturan ini, kelompok mata pelajaran estetika yang harus dipelajari peserta didik mempunyai arah pengembangan untuk meningkatkan: (1) sensitivitas, (2) kemampuan mengekspresikan, dan (3) kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni. Kemampuan mengapresiasi dan mengekspresikan keindahan serta harmoni mencakup apresiasi dan ekspresi, baik dalam kehidupan individual sehingga mampu menikmati dan mensyukuri hidup, maupun dalam kehidupan kemasyarakatan sehingga mampu menciptakan kebersamaan yang harmonis (BSNP, 2006: 78-79). Kelompok mata pelajaran estetika merupakan pelaksanaan dari pendidikan seni yang tergolong unik karena melekatnya "pengalaman estetik" pada diri seseorang. Dalam pendidikan seni, pengalaman estetik merupakan

sesuatu yang esensial. Menurut Linderman (1984: 54), pengalaman estetik mencakup pengalaman-pengalaman perseptual, kultural, dan artistik. Pengalaman perseptual dikembangkan melalui kegiatan kreatif, imajinatif, dan intelektual. Pengalaman kultural melalui kegiatan pemahaman terhadap hasil warisan budaya lama dan baru, sedangkan pengalaman artistik melalui kegiatan kreatif dan

apresiatif. Dengan demikian pengalaman estetik memberi peluang bagi seseorang untuk memahami dunia dari sudut pandangan yang berbeda dengan aspek pengetahuan. Cara memahami dunia yang ditawarkan oleh seni bersifat intuitif, tak terduga, dan kreatif, serta dikomunikasikan dalam bahasa warna, bunyi, gerak, atau isyarat yang bersifat simbolis.

2

spiritual.Pada seni melekat kesediaan untuk mengimajinasikan segala kemungkinan. Pendidikan Seni Budaya di sekolah memiliki dua fungsi yaitu: (1) untuk menumbuhkan kepekaan rasa estetik dan artistik sehingga terbentuk sikap kritis. Hal ini sesuai dengan pendapat Anugrah (2006) sebagai berikut. perasaaan. Salah satu kegiatan seni yang dilaksanakan di sekolah dasar adalah seni lukis yang merupakan bagian dari seni rupa. Kelompok mata pelajaran estetika dilaksanakan pada semua jenjang pendidikan dari sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah atas atau yang sederajat dengan standar kompetensinya disebutkan dalam PP 19 tahun 2005 yaitu: ”membentuk karakter peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa seni dan pemahaman budaya. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. apresiatif. (2) untuk membentuk pribadi yang harmonis dalam berlogika dan beretika bagi elaborasi peserta didik untuk mencapai kecerdasan emosional. keterampilan. emosi. mengeksplorasi ambiguitas. imajinasi. Kegiatan melukis bagi anak-anak seusia anak sekolah dasar merupakan kegiatan naluriah dan menjadi kesenangan anak karena muncul atas desakan perkembangan emosi artistik yang bersifat kodrati. 2006: 140). intelektual. dan menerima keragaman pandangan. dan muatan lokal yang relevan. seni dan budaya. Karena itulah. pendidikan seni amat menghargai pengalaman pribadi yang menantang anak untuk bertindak kreatif melalui pemecahan masalah artistik.”. Melukis bagi anak-anak merupakan aktivitas psikologis dalam rangka mengekspresikan gagasan. Standar kompetensi kelompok mata pelajaran estetika pada jenjang sekolah dasar adalah: ”menunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni dan budaya lokal.” (BSNP. serta mentalitasnya. dan /atau pandangan anak terhadap sesuatu. Anak 3 . dan kreatif pada diri peserta didik secara komprehensif.

spontan. Ungkapan pribadinya muncul melalui bentuk-bentuk dengan makna simbolik tertentu. Sebagaimana kehidupan dan keadaan jiwa anak-anak yang pada umumnya bersifat bermain-main. 2005). gembira. bidang. seorang pendidik harus mempunyai pengetahuan dan pemahaman tentang makna karya seni lukis bagi peserta didik. Penilaian proses antara lain melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan kompetensi peserta didik (PP Nomor 19. Mereka dengan asyik melakukan coret-mencoret. Lebih banyak yang akan mereka ceritakan maka lebih banyak pula bentuk yang dimunculkan (Soesatyo. maka hasil karya anak tampak sungguh naif. maka sifat-sifat yang demikian juga hadir dalam karya lukis anak. Hal ini sesuai dengan kompetensi yang dituntut sebagai seorang guru yaitu menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar. Pengetahuan dan pemahaman ini diperlukan agar pendidik mampu memberikan bimbingan dan menilai hasil belajar karya peserta didik . mengekspresikan perasaannya melalui garis. Penggunaan unsur-unsur pada lukisannya tergantung pada keasyikan pemikiran dan fantasinya. melainkan lebih pada apa yang mereka mengerti. 4 . Mereka melukis sebagai wujud pengungkapan pikiran dan perasaan tanpa terbatas pada apa yang dilihat oleh mata kepala saja. dan eksperimental. intuitif dan lebih dekat dengan sifat bermain pada anak. 1994a: 31). Dalam konteks pendidikan.melukis adalah menceritakan atau mengungkapkan (mengekspresikan) sesuatu yang ada pada dirinya secara intuitif dan spontan lewat media seni lukis (Soesatyo. pikirkan dan khayalkan. bebas. Didukung oleh penalaran anak yang wajar. warna dan sebagainya sesuai dengan suara batin dan lingkungan anak. 1994b: 32).

Penumping SD Muh. Papringan SD Muh. Papringan SD Muh. Dengan demikian masalah subjektivitas menjadi masalah yang tidak dapat dihindari dalam penilaian karya lukis anak. padahal pelajaran melukis bagi anak-anak adalah pelajaran yang menyenangkan. Hal ini diakui oleh dua puluh orang guru yang dapat ditemui dalam studi awal penelitian. Danunegaran SD Muh. Gowongan SD Muh. Kauman 5 . Subjektivitas dalam penilaian karya seni lukis anak pada dasarnya disebabkan oleh kesulitan guru dalam menentukan kriteria penilaian.Nitikan SD Muh. (lihat Tabel 1) Tabel 1 Daftar Peserta Studi Awal No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Nama Guru (Singkatan) SW PB SR NH AG PN EL RL RP SW SS WA TR RH ET MR SR RP SL LP Umur (Tahun) 49 36 39 47 54 45 55 50 35 38 32 39 31 33 27 35 29 34 44 28 Pengalaman Mengajar (Tahun) 24 11 14 22 29 20 30 25 10 13 7 14 6 8 4 10 5 9 19 4 Nama Sekolah SD Lempuyangan 2 SD Lempuyangan 1 SD Lempuyangan 3 SD Tegal Panggung SDN Widoro SD Suryodiningratan 4 SD Langensari SD Samirono SD Suryodiningratan 3 SD Pujokusumon 3 SD Muh. Nitikan SD Muh. Sebagian besar guru sekolah dasar merupakan guru kelas. sehingga kemampuan dalam menilai karya anak belum seperti yang diharapkan.Karangkajen SD Muh.Danunegaran SD Muh.Penelitian ini didasarkan pada asumsi bahwa pemahaman guru-guru terhadap hakekat pendidikan seni terutama pelaksanaan pembelajaran seni lukis sekolah dasar belum seperti yang diharapkan sehingga mereka cenderung membimbing secara kurang tepat antara lain menilai secara subjektif.

baik penilaian proses maupun produk karya seni lukis anak. Dalam konteks pendidikan. Kedua aspek penilaian ini akan memberikan gambaran tentang kemampuan melukis siswa yang sebenarnya. Sebagai guru kelas dan tidak pernah mendapat pelatihan tentang penilaian seni lukis sehingga guru mengalami kesulitan dalam menilai proses dan produk karya seni lukis. Pada penilaian proses seorang guru dapat mengamati bagaimana aktivitas siswa dalam membuat karya lukis. Kenyataan di lapangan menunjukkan penilaian proses dan produk dilakukan guru sebatas pengetahuan yang dimiliki guru tentang seni lukis. dari jawaban dan pendapat yang dikemukakan para guru. Pada penilaian produk seorang guru dapat melihat hasil karya siswa setelah mengalami serangkaian proses pembuatan karya. dapat dirinci permasalahan di lapangan dalam penilaian karya seni lukis anak sebagai berikut: (1) adanya faktor subjektivitas dalam menilai karya seni lukis anak. (3) belum adanya pedoman yang dapat dijadikan pegangan guru untuk melakukan penilaian seni lukis anak yang sesuai dengan perkembangan anak. permasalahan penilaian karya lukis anak merupakan permasalahan yang sangat penting untuk dipecahkan karena akan 6 . (2) guru merasa kesulitan untuk menentukan kriteria dalam penilaian karya seni lukis anak. Hal ini lebih disebabkan karena tidak ada kriteria yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menilai proses dan produk karya seni lukis anak tersebut. Berdasarkan studi awal yang dilakukan.Penilaian hasil karya lukis siswa perlu meninjau dua aspek yaitu proses pembuatan karya lukis dan hasil karya lukis itu sendiri. karena latar belakang pendidikan bukan dari bidang seni rupa.

terutama dari hakekat seni. Oleh karena itu masalah seni lukis anak tidak dapat dipisahkan dari tinjauan ilmu jiwa anak terutama dalam hal ini anak sekolah dasar. dan dunia anak-anak itu sendiri. timbul perbedaan persepsi tentang instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar antara guru yang satu dengan lainnya. ekspresi estetis. Akibatnya. dengan harapan agar penilaian mendekati objektivitas. dan kreativitas peserta didik. B. Rasional yang Mendasari Pentingnya Masalah Memahami karya lukis anak. belum tersedia. juga harus dilihat dari segi atau sisi anak-anak itu sendiri yang menghasilkan karya yaitu dengan menghayati kondisi kejiwaan anak. tentunya tidak adil apabila hanya dilihat dari segi tampilan karya tersebut. kreativitas. Hal inilah yang melandasi penelitian ini untuk mengembangkan instrumen penilaian karya seni lukis anak. Merupakan dampak selanjutnya adalah tidak berfungsinya tujuan pendidikan seni budaya dan keterampilan dalam mengembangkan sensitivitas. Selama ini. Hingga saat ini instrumen penilaian karya seni lukis anak yang telah teruji secara ilmiah yang dapat digunakan oleh guru sekolah dasar. 7 . khususnya di Indonesia. khususnya pengajar seni lukis kesulitan menentukan kriteria penilaian seni lukis anak.menjadi kendala dalam proses pembelajaran seni lukis anak. kehidupan anak. Tetapi. guru seni lukis menggunakan instrumen penilaian yang disusun secara mandiri. Studi awal tersebut menggambarkan keadaan sesungguhnya di lapangan bagaimana guru-guru.

dan 8 . sehingga hasil dipertanggungjawabkan. menerima. Instrumen penilaian ini akan membantu guru dalam menilai karya lukis anak secara objektif. Untuk melakukan penilaian yang objektif diperlukan instrumen penilaian. PP 19 tahun 2005 disebutkan bahwa seorang pendidik harus mempunyai kompetensi pedagogik yakni kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik. perancangan dan pelaksanaan pembelajaran. Apalagi sampai pada suatu kesimpulan berupa penilaian yang dapat dipertanggungjawabkan. Untuk sampai pada penilaian karya lukis anak. 1994a: 33). baik proses maupun hasilnya. Dalam pasal 28 ayat (3) butir a. evaluasi hasil belajar.Cara pandang atau apresiasi guru terhadap hasil karya lukis anak berbeda dengan karya lukis orang dewasa. Penilaian bertujuan untuk mengetahui proses dan hasil belajar mengajar seni luksi anak. seorang guru harus mempunyai pengetahuan dan kemampuan apresiasi yang tinggi terhadap karya tersebut sehingga dapat mengerti. dan menghargai yang didasari pengertian yang terkandung dalam karya. Agar penyelenggaraan proses belajar mengajar di sekolah memperoleh hasil yang penilaiannya dapat optimal hendaknya guru memiliki pengetahuan dalam menilai karya lukis anak. Penilaian merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran. sehingga dapat memacu anak belajar seni lukis. Kegiatan seni lukis anak memiliki wilayah tersendiri dan karenanya harus dilihat serta dinilai tersendiri (Soesatyo. seorang guru harus pula mempunyai wawasan yang luas dan dapat mengerti kelemahan dan kekurangan hasil karya lukis anak. Di samping hal tersebut.

Hal ini dipertegas pada pasal 64 ayat 5 Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 tahun 2005 9 . Berkaitan dengan hal tersebut di atas. kehidupan anak. agar hasil penilaian lebih akuntabel. salah satu panduan penilaian yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan adalah panduan penilaian kelompok mata pelajaran estetika. Dengan demikian diperlukan suatu instrumen yang dapat diacu untuk menilai karya seni lukis anak. Akibatnya. Kegiatan penilaian memerlukan instrumen penilaian. Dalam berbagai kasus. atau tujuh atau delapan dalam menilai hasil belajar praktek seni lukis anak. Sistem penilaian kelompok mata pelajaran estetika harus memperhatikan esensi kelompok mata pelajaran itu sendiri. Keberhasilan pendidikan seni tidak lepas dari peranan guru dalam menilai karya lukis anak. Dalam penilaian karya seni lukis anak perlu ditegaskan tidak adanya hal yang salah. sering terjadi penilaian karya seni khususnya karya seni lukis anak tidak berpijak pada argumen yang tepat. keliru atau betul. sebab yang ada hanyalah tingkat kemampuan anak. Penilaian yang dilakukan guru di sekolah saat ini belum menggunakan instrumen yang dapat dipertanggungjawabkan dilihat dari kriteria yang digunakan. Kompetensi pedagogik mencakup kemampuan melaksanakan pembelajaran dan menilai proses dan hasil belajar peserta didik. Oleh karenanya faktor psikologis seperti dunia anak. guru tidak mampu menjelaskan kriteria yang digunakannya dalam memberikan nilai enam.pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. dan kejiwaan anak perlu dipertimbangkan dalam menilai karya seni lukis anak.

Dengan demikian. sedang. penilaian terhadap seni lukis anak harus merupakan upaya untuk menunjukkan nilai-nilai artistik lukisan tersebut. maka di dalamnya terdapat dimensi keindahan. Hal ini akan memudahkan pendidik untuk menilai karya seni lukis anak dengan membandingkan hasil karya dengan kriteria yang telah ditetapkan. Untuk menentukan kadar keartistikan suatu lukisan diperlukan ukuran atau kriteria tertentu. Kriteria tersebut akan memudahkan penikmat dalam mengevaluasi lukisan (Yahya. Penegasan ini mengisyaratkan diperlukan cara penilaian yang bersifat khusus. penilaian tidak akan terjebak menjadi like and dislike karena menggunakan ukuran yang jelas. 10 .tentang Standar Nasional Pendidikan. sehingga hasil penilaian dapat objektif dan dapat dipertanggung jawabkan. Dengan demikian untuk memudahkan pendidik dalam menilai karya lukis anak. bahwa “Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran estetika dilakukan melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan ekspresi psikomotorik peserta didik”. 2001: 14). Penilaiannya dapat diartikan sebagai upaya menentukan kadar keartistikan. Dengan cara demikian. 2001: 15). atau rendah. Hal inilah yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pendidikan seni (Yahya. Karena lukisan anak merupakan wujud ekspresi artistik. apakah tinggi. diperlukan instrumen yang didalamnya terdapat kriteria yang telah ditetapkan lebih dahulu.

Untuk menggunakan instrumen penilaian hasil belajar seni lukis anak sekolah dasar secara optimal. Mengembangkan instrumen penilaian yang valid. Rumusan Masalah Masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Mengembangkan komponen instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di sekolah dasar. Bagaimana komponen instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di sekolah dasar? 2. kompetensi apa yang perlu dikuasai guru? D. Bagaimana bentuk dan isi pedoman penggunaan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak? 4. Mengetahui persyaratan apa yang harus dipenuhi pendidik sekolah dasar. Menentukan kriteria penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di sekolah dasar. dan praktis untuk mengukur hasil belajar seni lukis anak. 11 . reliabel. Bagaimana karakteristik instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak yang mencakup validitas. untuk dapat menggunakan secara kompeten instrumen hasil belajar seni lukis anak. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1. reliabilitas. 4.C. 2. dan keterpakaian di sekolah dasar? 3. 3.

maupun kondisi psikologis yang mempengaruhi kualitas karya yang dihasilkan seperti keberanian dan ketekunan. Penilaian yang objektif akan membantu seorang guru mengidentifikasi kemampuan siswa dalam melukis. diharapkan mendapatkan produk berupa instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar yang valid dan reliabel. Spesifikasi Produk Hasil penelitian dan pengembangan. waktu.E. Penilaian proses Penilaian proses terdiri dari tahap awal dan tahap inti. 12 . Tahap awal mencakup indikator-indikator yang berhubungan dengan pengkondisian awal siswa sebelum melukis seperti kesiapan alat dan bahan yang diperlukan untuk melukis. Secara praktis hasil penelitian diharapkan akan menjadi acuan guru pengajar seni dalam melakukan penilaian hasil karya seni lukis anak. Instumen penilaian tersebut diperlukan untuk membantu guru dalam memberikan penilaian yang objektif terhadap kemampuan seni lukis anak. F. Spesifikasi produk yang diharapkan adalah sebagai berikut: 1. Tahap inti mencakup indikator yang berhubungan dengan aktivitas siswa dalam melukis baik dari segi kemampuan intelektual. Manfaat Penelitian Hasil penelitian akan memberi sumbangan teori pada kriteria instrumen penilaian seni lukis anak yang teruji secara empirik.

sebagaimana tercantum dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk bidang seni yang terdiri dari gambar ekspresif dan imajinatif. apakah suatu kegiatan melukis bagi dirinya menarik atau membosankan. Disamping itu. 3. ekspresi. dan keberhasilan karya temannya. kegagalan. serta pengalaman-pengalaman berharga mana yang berhasil dipelajari dalam kegiatan tersebut. apakah mengerjakannya mudah atau sulit. Penilaian kelompok Penilaian kelompok memberikan kesempatan peserta didik menunjukkan satu atau dua karya mereka secara bergiliran. serta teknik melukis. 4.2. 13 . Penilaian produk Penilaian produk mengungkap adanya unsur kreativitas. dalam penilaian kelompok peserta didik diharapkan dapat menangani problem. kemudian peserta didik yang lain memberikan respons dalam bentuk bahasan kritis. Penilaian diri Penilaian diri mengungkap informasi dari tiap peserta didik. dan hasilnya memuaskan atau tidak. bermanfaat atau tidak. sehingga terkembangkan sikap oto kritis dalam memberikan penilaian terhadap hasil karya temannya.

yang pengumpulannya dimulai sejak awal pengembangan konstruk. sesuai dengan Standard for educational and psychological testing (1999) harus memiliki bukti validitas interpretasi hasil pengukuran. Data kualitatif yang diperlukan merupakan landasan teoritis bangunan konstruk instrumen. Pendekatan ini digunakan. termasuk praktisi seni lukis dan guru seni lukis di sekolah dasar. Instrumen yang dikembangkan disertai dengan pedoman penggunaan instrumen. Data kuantitatif yang berupa hasil penilaian pendidik terhadap karya lukis anak 152 . karena pengembangan instrumen penilaian seni lukis anak harus dimulai dengan membangun konstruk yang diukur. Penelitian pengembangan digunakan untuk menghasilkan instrumen yang baku dalam menilai karya lukis anak. instrumen. Konsep validitas bersifat “unity concept” yang dibangun dari teori yang melandasi konsep pengembangan. Instrumen penilaian seni lukis anak.BAB III METODE PENELITIAN A. Model Pengembangan Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Bukti validitas suatu instrumen harus memiliki validitas interpretasi hasil pengukurannya. Konstruk instrumen penilaian ini merupakan “tingkat ukuran” (yard stick) karya seni lukis anak. melalui berbagai penelusuran dan diskusi pakar seni lukis dan pendidikan seni lukis. Bukti validitas interpretasi hasil pengukuran instrumen penilaian karya seni lukis anak memerlukan data kualitatif dan kuantitatif. dan bukti empirik.

Instrumen diujicobakan kepada sejumlah pendidik agar dapat diketahui keterpakaiannya dan diestimasi koefisien reliabilitas hasil ukurnya. dan model Borg & Gall. Develop and Disseminate. Pengembangan instrumen ini dilakukan dengan mengadopsi model penelitian dan pengembangan pendidikan secara umum. 6) Main field testing. 1) Research and information collecting 2) Planning.diperlukan untuk memperoleh informasi tentang besarnya koefisien keandalan hasil ukur instrumen. Semmel & Semmel dikenal dengan Four-D Model. dan dissemination atau yang dikenal dengan 4D. (5) evaluation and revision. 3) Develop preliminary form of product. Thiagarajan. 5) Main product revision.8) Operstionsl field testing. Menurut Borg & Gall ( 1983. Sesuai dengan tujuannya. 3) Preliminary field testing. penelitian ini menggunakan modifikasi model Semmel & Semmel dengan model Plomp. Model Thiagarajan. Kriteria pengembangan konstruk instrumen mencakup aspek proses dan hasil karya lukis anak. (3) realization construction. Tahapan pengembangannya meliputi: define. yaitu dimulainya dengan tahap preliminary investigation yang dikemukakan oleh Plomp dan research & development menurut Semmel (1974:5). Setiap aspek diurai menjadi sejumlah indikator. 7) Operational product revision. design. develop. 10) Dissemination and implementation. Plomp. Beberapa model penelitian dan pengembangan yang dipakai dalam penelitian dan pengembangan (R & D) antara lain: model Semmel & Semmel. 9) Final product revision. 275-276) ada sepuluh langkah dalam melakukan R & D. yaitu Define. Design. seperti berikut ini. Setelah indikator disusun menjadi item yang dirakit menjadi instrumen utuh. 153 . Menurut Plomp (1997: 78) langkah-langkah R & D adalah sebagai berikut: (1) preliminary investigation. and (6) implemention. (4) test. (2) design.

Research & Develepment Model PRELIMINARY INVESTIGATION Identifikasi kebutuhan alat penilaian seni lukis Elaborasi kebutuhan alat penilaian seni lukis yang relevan DEFINE Merumuskan definisi konstruk instrumen Mengkaji konsep instrumen karya lukis anak berdasarkan teori Penentuan konstruk instrumen Telaah konstruk oleh pakar Mendesain konstruk instrumen Pengembangan indikator Penyusunan item instrumen Telaah item instrumen Perbaikan instrumen Uji coba instrumen Analisis instrumen Pembakuan instrumen FGD Sosialisasi instrumen karya lukis anak DESIGN DEVELOP DISSEMINATE Gambar 40. Model Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak 154 . kriteria. Secara rinci model pengembangan instrumen disajikan pada Gambar 40. dan mengkaji konsep instrumen karya lukis anak berdasarkan teori dan hasil penelitian yang relevan. Tahap develop.Pada tahap define. deskripsi. tahap dissemination. dan penyusunan item instrumen. dalam hal ini adalah kriteria karya lukis anak. kegiatan yang dilakukan adalah mengembangkan indikator. kegiatan yang dilakukan adalah merumuskan definisi konstruk. kegiatan yang dilakukan adalah uji coba instrumen terhadap guru sekolah dasar. Kegiatan yang dilakukan tahap design adalah telaah konstruk instrumen oleh para pakar dan guru sekolah dasar seni budaya (seni lukis). Terakhir.

Demikian juga hasil penelitian Coney tahun 1999. tahapan atau prosedur pengembangan lebih lanjut dapat dijabarkan sebagai berikut. antara lain penelitian Ismiyanto tahun 2002 yaitu penelitian tentang visualisasi lukisan karya anak-anak usia sekolah dasar ditinjau dari tema dan subjek mencerminkan kehidupannya dan menunjukkan adanya upaya anak mengidentifikasi diri dalam karyanya. dilakukan pengkajian pustaka yang berkaitan dengan identifikasi jenis. sasaran penilaian karya seni lukis. 1. yang dilatarbelakangi bagaimana membuat suatu penilaian menjadi sebuah elemen pembelajaran yang aktif dan positif dari pengajaran. Prosedur Pengembangan Berdasarkan model pengembangan pada Gambar 40.B. Penelitian Syahrul yang dilakukan tahun 2001. penjelajahan juga dilakukan terhadap hasil-hasil penelitian yang relevan untuk mendukung gagasan instrumen penilaian seni lukis yang sesuai dengan kebutuhan guru di lapangan. Tahap Studi Awal Pada tahap awal (preliminary investigation) ini. Substansi yang ditelaah pada tahap ini adalah mengkaji analisis kurikulum yang berlaku untuk matapelajaran seni budaya dan keterampilan. tentang pentingnya profesionalisme guru pendidikan seni dan komitmen terhadap tugas merupakan faktor penting untuk kelangsungan pembelajaran dan pencapaian kualitas hasil belajar anak didik. Penelitian yang relevan tersebut. Hasil penelitian membuahkan tujuh kriteria untuk melihat kemajuan anak dalam berkarya seni yaitu: (1) kemampuan untuk mengamati dan merekam 155 . Selain itu.

deskripsi.pengalaman visual anak. dan studi lapangan. dan kriteria penilaian yang disajikan pada Gambar 41. (2) pengembangan ketrampilan teknis. Dengan demikian hasil karya seni lukis pada dasarnya dapat dinilai dari sudut kreativitas. Kemudian untuk mendapatkan kebutuhan realita di lapangan. yaitu mengolah ketiga unsur tersebut. (5) pencapaian sasaran pembelajaran. level. Setelah dilakukan identifikasi pada ketiga hal tersebut. yaitu kajian pustaka. sehingga diperoleh indikator dan deskripsi. Kajian Pustaka Analisis Kurikulum Masalah Riil Elaborasi Indikator Deskripsi Level Kriteria Gambar 41. Tahapan Studi Awal Pengembangan Instrumen Seni Lukis Anak 2. (3) minat dan motivasi anak. (6) menekankan kembali batasan-batasan dari suatu tugas. dan (7) komitmen anak dalam mengerjakan tugas rumah. dan kriteria penilaiannya. analisis kurikulum. ekspresi dan teknik. maka dilakukan wawancara terhadap guruguru yang mengajar seni lukis di SD. (4) ekspresi dan kontrol atas ide-ide yang diungkapkan termasuk kreativitas. selanjutnya dilakukan elaborasi terhadap ketiga unsur tersebut. sasaran penilaian seni lukis diikuti penjabaran indikator. Tahap pendefinisian merupakan tahap 156 . Tahap Pendefinisian Tahap pendefinisian (define) adalah tindakan untuk menyusun definisi tentang unsur.

deskripsi. pemanfaatan waktu. keberanian menggunakan media. deskripsi. dan rubrik penskoran. Tahapan Pendefinisian Instrumen Seni Lukis Anak 3. indikator yang terjaring ada 10 macam. Indikator menjadi acuan dalam mengembangkan item. kemudian ditetapkan kriteria disertai rubrik penskoran. Indikator Deskripsi Kriteria Rubrik Bagan 42. Setelah deskripsi dikembangkan secara operasional. Dalam kaitan dengan ini. kriteria. Tahap Perancangan Tahap perancangan (design) adalah tindakan merancang kisi-kisi instrumen alat pengukur karya seni lukis sehingga bisa diketahui dimensi yang diukur atau konten dan jabaran dari tiap-tiap unsur sasaran penilaian seni lukis. ekspresi. Selanjutnya masing-masing indikator dijabarkan menjadi deskripsi. ketekunan. Kisi-kisi yang dimaksudkan sebagai upaya memaparkan pola hubungan antara konstruk (dimensi yang diukur) dengan indikator. dan item. Visualisasi proses ini disajikan pada Gambar 43. 157 . kesiapan alat dan bahan untuk melukis. Dengan demikian kisi-kisi dapat dipakai sebagai bukti pada proses validasi. kreativitas. kriteria. keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk. yaitu: tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat. kelancaran penuangan ide. dan teknik.lanjutan dari tahap awal. yaitu pendefinisian tentang indikator.

Tujuan diskusi adalah untuk menggunakan dinamika kelompok.Produk Konten Sasaran Gambar 43. Menurut Krueger. dan perakitan kisi-kisi. dan pertimbangan tentang topik yang didiskusikan. sikap. Tahapan Perancanganan Instrumen Seni Lukis Anak 4. Tahap Pengembangan Pada tahap pengembangan (development) dilakukan penyusunan kisikisi penelaahan.Proses . A. dengan bantuan seorang moderator/fasilitator untuk mendorong peserta mengungkapkan pendapat. R. pakar pendidikan seni. FGD putaran pertama dilakukan 158 . (2000). .Berdasarkan hasil FGD. Setelah prototipe awal diperoleh kemudian ditindaklanjuti dengan validasi ahli dengan teknik FGD sebanyak tiga putaran. perbaikan. Perangkat instrumen ini disebut prototipe awal instrumen penilaian seni lukis. Pentelaahan kisi-kisi dilakukan oleh pakar seni lukis anak. FGD adalah suatu metode diskusi secara mendalam yang melibatkan kelompok kecil yang homogen (6-12 orang) untuk mendiskusikan topik tertentu.Kajian Pustaka Kebutuhan Lapangan Dimensi (Kisi-kisi) . A. berdasarkan kisi-kisi Item yang disusun menjadi perangkat instrumen penilaian seni lukis. dan guru seni lukis dalam forum Focus Group Discussion (FGD). M. selanjutnya kisi-kisi diperbaiki dan dirakit sehingga menjadi acuan dalam penyusunan item. & Casey.

Setelah prototipe 1 direvisi selanjutnya dilakukan FGD putaran 2. dan 3 (tiga) pendidik seni lukis sekolah dasar. dan 4 (empat) orang pendidik seni lukis sekolah dasar. Kesimpulan hasil FGD adalah bahwa penilaian dilakukan pada komponen proses dan komponen produk pembelajaran. Komponen proses terdiri 2 (dua) tahap. dihadiri oleh 8 (delapan) orang terdiri dari 3 (tiga) orang pakar pengukuran. berupa kriteria seni lukis anak. dan kemudian diperoleh bobot prosentase penilaian proses 60% dan produk 40%. 1 (satu) orang pakar pendidikan seni. dilakukan revisi. yang dilaksanakan pada tanggal 13 Maret 2008 dihadiri 7 (tujuh) orang terdiri dari: 2 (dua) orang pakar pendidikan seni. penilaian kelompok merupakan hasil dari FGD putaran 3 (tiga) yang diselenggarakan pada tanggal 10 April 2008. 159 . 1(satu) orang pakar seni lukis anak. Pada tahap 2 (dua) berdasarkan kriteria hasil FGD putaran kedua. sehingga diperoleh prototipe 2 (dua). Setelah memperhatikan saran dan temuan hasil FGD putaran pertama.pada tanggal 26 Februari tahun 2008 di Pascasarjana UNY yang dihadiri oleh 7 (tujuh) peserta FGD terdiri dari: 1 (satu) orang pakar pendidikan seni. 2 (dua) orang pakar seni lukis anak. penilaian diri. yaitu tahap awal dan tahap inti. Berdasarkan saran dan temuan pada FGD putaran 2 (dua). Setelah direvisi kemudian digunakan untuk menyempurnakan prototipe 2 (dua) menjadi prototipe 3 (tiga) yaitu. dan 4 (empat) orang pendidik seni lukis sekolah dasar. selanjutnya dilakukan revisi sehingga diperoleh prototipe 1. kemudian diperoleh saran dan temuan berupa diskripsi dari masing-masing indikator.

Selanjutnya hasil dari FGD tahap 3 (tiga) berupa prototipe 3 (tiga) diseminarkan pada tanggal 16 April 2008 di Pascasarjana UNY yang dihadiri oleh 10 orang terdiri dari 1 (satu) orang pakar pendidikan seni/promotor. Skema Tahap Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak 160 . tahap inti). Indikator Deskripsi Level Kriteria Prototipe 1 FGD-1 Analisis Revisi Indikator Prototipe 2 FGD-2 Analisis Item Revisi Deskripsi Prototipe 3 FGD-3 Analisis Revisi Kriteria Prototipe Tentatif Gambar 44. penilaian produk. 3 (tiga) pakar pengukuran. Untuk kejelasan tahap-tahap pengembangan instrumen dapat dilihat pada Gambar 44. Hasil dari seminar yang berupa instrumen penilaian seni lukis anak kemudian dipakai untuk pengambilan data uji coba penelitian. sehingga diperoleh hasil instrumen penilaian seni lukis anak yang terdiri dari penilaian proses (tahap awal. 6 (enam) mahasiswa S3 PEP UNY.

Kemudian diadakan sosialisasi pada pendidik dan praktisi. Tahap Diseminasi (Disseminate) Setelah uji coba sampai dengan analisis data uji coba instrumen dan menghasilkan instrumen prototipe tentatif. kriteria penilaian. keterbacaan. yang ditandai banyaknya 161 . (3) daerah ini dipilih juga karena banyak karya seni lukis yang berkembang di daerah ini. Tempat ini dipilih karena berbagai pertimbangan Yogyakarta: (1) memiliki cukup banyak sekolah dasar yang melaksanakan program pembelajaran seni lukis anak.5. dan kelayakan penyajian yang meliputi sistematika. Draf Pedoman FGD Analisis Revisi Pedoman Baku Gambar 45. dan penampilan fisik. (2) ketersediaan pendidik dalam bidang seni lukis. Uji coba Produk 1. maka tahap selanjutnya adalah membuat pedoman instrumen penilaian seni lukis anak. Desain Uji coba Uji coba ini dilakukan di Kota Yogyakarta. Pedoman penilaian seni lukis anak divalidasi oleh pendidik seni lukis melalui FGD yang meliputi petunjuk penggunaan. Tahapan diseminasi tersebut disajikan pada Gambar 45. Skema Tahap Diseminasi Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak C.

daerah lain. 162 Selanjutnya . dan proses pengembangan instrumen. 2.sanggar seni lukis anak. Hasilnya kemudian dianalisis dan direvisi sehingga menjadi instrumen baku. dan (4) frekuensi lomba seni lukis anak yang relatif cukup tinggi dibandingkan alur seperti Gambar 46. Konstruk instrumen penilaian karya lukis anak merupakan kriteria penilaian karya lukis anak. Hasil uji coba yang berupa prototipe instrumen penilaian karya lukis anak dan kemudian diseminarkan pada tanggal 16 April 2008 yang dihadiri 12 (dua belas) orang terdiri dari promotor. pakar pengukuran dan pakar pendidikan seni. Disain uji coba produk mengikuti Prototipe Instrumen Seminar Analisis Revisi Instrumen Baku Draf Panduan FGD Revisi Panduan Baku Gambar 46. keterpakaian pedoman penggunaan instrumen. Uji coba ini bertujuan untuk memperoleh informasi dari lapangan tentang konstruk instrumen. Guru seni lukis yang terlibat diberi pelatihan sebelum melaksanakan uji coba. Desain Uji coba Intrumen Seni Lukis Desain uji coba seperti tampak pada Bagan 8 dilakukan di kelas 1. dan 3 di tiga sekolah dengan melibatkan tiga orang guru seni lukis.

dan kelayakan penyajian yang meliputi sistematika. Hasil FGD ini digunakan untuk memperbaiki pedoman penilaian sehingga menjadi pedoman guru dalam menilai seni lukis anak. Subjek Coba Subjek uji coba adalah pendidik yang mengajar seni lukis anak yang ada di tiga sekolah di Kota Yogyakarta. yaitu tahap G. Sekolah Dasar Negeri Langensari .study dan tahap D-study. masingmasing sekolah dipilih satu guru seni lukis. dua. 2. Pendidik diperlukan sebagai subjek uji coba untuk memperoleh koefisien keandalan instrumen dan keterpakaian instrumen penilaian karya lukis anak. Pada tahap D-study. kriteria penilaian. pemilihan subjek penelitian ditentukan berdasarkan koefisien G-study dalam wilayah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Subjek penelitian peserta didik dipilih melalui dua tahap. keterbacaan. Subjek penelitian adalah peserta didik yang terdiri dari tiga sekolah. Ketiga sekolah tersebut tersebar pada kota Yogyakarta dan kabupaten Sleman. 163 dengan asumsi bahwa kedua .disusun draft pedoman penggunaan instrumen seni lukis anak dan kemudian divalidasi oleh pendidik seni lukis anak melalui FGD yang meliputi petunjuk penggunaan. Sedangkan masing-masing sekolah terdiri dari siswa kelas satu. dan penampilan fisik. Pada tahap G-study dipilih tiga sekolah. dan tiga. Sekolah Dasar Muhammadiyah Sapen. jumlahnya sebanyak 20 orang di ambil secara random. dan Sekolah Dasar MIN Tempel.

dan tiga. 164 . Data kuantiatif digunakan untuk memperoleh koefisien keandalan instrumen. produk. 3. dua. dan tiga sebagai subjek ujicoba karena pada KTSP untuk tingkat Sekolah Dasar dalam mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan seni lukis hanya dilaksanakan pada kelas satu. dan praktisi lapangan. Dari ketiga sekolah tersebut dipilih kelas satu. Data kuantitatif diperoleh melalui intrumen untuk menilai proses. penilaian diri. Selain itu data kualitatif dan kuantitatif digunakan untuk menentukan keterpakaian instrumen. Data ini diperoleh melalui diskusi para pakar seni lukis. Instrumen ini dilengkapi dengan pedoman penilaiannya.kabupaten/kota tersebut dapat mewakili/representatif DIY. pakar pendidikan seni lukis. dua. Pedoman penilaian seni lukis anak merupakan acuan yang digunakan pendidik dalam menilai seni lukis anak. Penentuan tiga sekolah tersebut didasarkan pada pertimbangan sekolah yang melaksanakan pembelajaran seni sesuai dengan KTSP dengan didukung tenaga pendidik yang memiliki latar belakang pendidikan seni rupa. Data kualitatif diperoleh melalui instrumen penilaian diri dan penilaian kelompok dalam bentuk jawaban terbuka dari subjek penelitian. Data kualitatif digunakan untuk mengembangkan konstruk instrumen. dan penilaian kelompok. Jenis Instrumen Pengumpul Data Data penelitian ini terdiri atas data kuantitatif dan kualitatif. Data ini berupa hasil penilaian karya lukis anak yang dilakukan oleh pendidik.

teori generalizability adalah teori pengukuran modern yang memiliki keunggulan dibanding teori tes klasik. Menurut Thomson (2003: 43). penggunaan. dan interpretasi dari varians komponen untuk membuat keputusan. yaitu universe berlakunya generalisasi D-study dengan suatu prosedur pengukuran tertentu. D-study menekankan estimasi. dan menafsirkan hasilnya. Menurut Brennan (1983: 3). dengan prosedur pengukuran yang baik. Penentuan koefisien keandalan instrumen penilaian dilakukan dengan menggunakan paket program komputer Genova berdasarkan teori generalizability yang dikembangkan oleh Crick dan Brennan pada tahun 1983 yang disebut dengan A Generalized Analysis of Variance System. Pada teori ini ada G (generalized study) dan D (decision study). Hal yang penting pada D-study adalah spesifikasi dari generalisasi universe. 4. Hasil dari G-study digunakan pada D-study. Banyaknya komponen ditentukan oleh model yang digunakan. pakar bidang penilaian pendidikan. Pertemuan dengan kelompok yang berbeda dilakukan tiga kali untuk memperoleh masukan yang lebih banyak sehingga diperoleh hasil yang dapat diandalkan.Pedoman ini berisi cara menggunakan instrumen. Beberapa keunggulan yang penting adalah: (1) memperhitungkan sumber 165 . Pada G-study dilakukan estimasi sejumlah varians komponen. dan para praktisi lapangan. Teknik Analisis Data Pengujian konstruk instrumen dilakukan melalui pendapat para pakar bidang seni lukis. menskor.

i: r D-study. maka dapat diestimasi varians sebenarnya (true variance). nested. termasuk varians kesalahan. Varians komponen yang berbaur pada rancangan bersarang (p. interaksi person dan rater. Estimasi varians setiap komponen 166 . (2) memperhatikan efek kesalahan pengukuran interaksi. r:i. dan (3) mengestimasi koefisien keandalan baik yang relatif maupun yang merupakan varians total.e) adalah jumlah varians komponen dalam Gstudy bersarang yang dapat ditulis sebagai berikut.e Keterangan: p = person r = guru/rater i = item r:i = rater bersarang pada item e = kesalahan Setelah varians komponen diperoleh.kesalahan pengukuran yang jamak secara simultan. rater. Penelitian ini absolut. yaitu rasio varians sebenarnya terhadap varians keseluruhan komponen. generalizeability dan koefiesien phi untuk one-facet. Penelitian ini menggunakan GENOVA yang komponen variansnya adalah person. dan kesalahan. Besarnya koefisien keandalan sebenarnya dan rasio antara varians sistematik atau varians menggunakan satu facet p x(i: r) G-study yang bersarang untuk mengestimasi varians komponen.e = σ p + σ r2:i . 2 2 σ p .r:i . item. G studynya menggunakan rancangan bersarang (nested design) dan D-study-nya juga menggunakan rancangan bersarang (nested design). varians kesalahan. Selanjutnya dapat diestimasi besarnya indek keandalan hasil pengukuran.

167 . varians rater yang bersarang pada item. Besarnya varians r bersarang pada i dapat ditulis sebagai berikut. σ²(δ) adalah varians kesalahan. Besarnya koefisien keandalan instrumen penilaian adalah: σ²(p) Eρ² = —————— σ²(p) + σ²(δ) Eρ² adalah nilai harapan koefisien keandalan instrumen. σ²(p) adalah varians person (peserta didik). r. penilai dalam menilai hasil karya lukis anak berinteraksi dengan anak yang bersarang pada item. varians rater. r:i dan efek interaksinya adalah pi. sedang untuk efek interaksinya adalah varians person item. ri)= σ²(r) + σ²(ri). Cara penilai (rater) dalam menilai karya lukis anak (p) tergantung pada pendapat penilai terhadap item yang dinilai. Rancangan yang digunakan untuk G-study adalah px(i:r).dan besarnya indeks keandalan hasil pengukuran dengan instrumen yang dikembangkan peneliti menggunakan paket program GENOVA. dan varians penilai bersarang pada i untuk efek utama. σ²(r : i) = σ²(r. Rancangan px(r:i) ini berdasarkan analisis varians efek random memiliki efek utama: p. yaitu item bersarang pada rater. sehingga dikatakan rater bersarang pada item. Jadi ada varians person. pr bersarang pada i.

1990: 143). Untuk keperluan ini. ada 7 (tujuh) item yang menjadi objek penilaian. Untuk melihat reliabilitas dari kriteria instrumen penilaian seni lukis anak hasil uji coba. Besarnya varians ini diestimasi dengan menggunakan teknik analisis varians rancangan efek random. Pada penilaian proses. dan kelas 3.70 (Linn. pada penilaian produk ada 3 (tiga) item. 168 .Varians kesalahan terdiri atas varians rater. sedangkan penilaian diri dan penilaian kelompok masing-masing ada 5 (lima) item. digunakan analisis koefisien interrater. Koefisien interrater adalah salah satu sarana untuk melihat tingkat konsistensi atau keajegan antar rater dalam memberikan rating terhadap unjuk kerja karya seni lukis siswa. dan varians interaksi rater item. yaitu 0. Selanjutnya nilai koefisien κ yang dihasilkan dibandingkan dengan kriteria minimal yang diperkenankan. digunakan koefisien Cohen’s Kappa. kelas 2. varians item. Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian instrumen seni lukis anak untuk kelas 1.

Dengan demikian pendidikan seni rupa merupakan media untuk mencapai tujuan pendidikan secara umum. yaitu (1) seni rupa dua dimensi seperti gambar. Pendidikan Seni Rupa 1. sulam. pendidikan seni rupa selain melatih keterampilan peserta didik agar lancar berkarya seni rupa. mengembangkan etika. kesadaran sosial. Secara visual Soedarso (2006: 97) membagi seni rupa menjadi dua bagian besar. fotografi. dan benda produknya. Pengertian Pendidikan Seni Rupa Pada hakekatnya pendidikan merupakan suatu proses untuk mempersiapkan peserta didik menuju ke kedewasaan.BAB II KAJIAN PUSTAKA A. keramik dan sebagian besar seni kriya lainnya. intarsia. dan kesadaran kultural dalam kehidupan bermasyarakat (Rohidi. pendidikan adalah membentuk manusia yang memiliki kepribadian yang kuat dan beradab sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan zaman. dan kolase dan (2) seni rupa tiga dimensi seperti patung. seni grafis. dan cita rasa estetik peserta didik. monumen. 2000: 55). Keduanya bisa dipecah berdasar atas medium. kreativitas. 14 . mosaik. Pendidikan seni rupa berfungsi mengembangkan kepekaan rasa. lukisan. tenun. Ditinjau dari tujuannya. juga dimaksudkan sebagai sarana atau alat pendidikan. pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan untuk dapat hidup di tengahtengah masyarakat dan kemudian dapat memberikan manfaat bagi lingkungan. teknik atau proses pembuatan. bangunan. dengan segala watak. Dalam proses pembelajarannya.

meliputi seni lukis. dan inovatif. misalnya kayu. serta menggunakan media tertentu. benda. seni patung. Sedangkan pengertian seni rupa sendiri adalah suatu hasil interpretasi dan tanggapan pengalaman manusia dalam bentuk visual dan rabaan. fine art (seni indah). tanah liat. Dalam hal ini penciptaan benda hias yang mengutamakan nilai artistik dikenal dengan sebutan craft (seni kria). tekstil. Keindahan adalah nilai-nilai estetik yang menyertai sebuah karya seni 15 . yang mempunyai peranan memenuhi tujuan-tujuan tertentu dalam kehidupan manusia tidak hanya memenuhi kebutuhan estetik semata. dalam hal ini menyatukan proses penciptaan karya yaitu antara sistematis. Istilah seni rupa secara etimologi merupakan padanan kata dari visual art (seni rupa yang dapat dilihat/diraba). seperti lukisan atau patung. logam. Seni kria menekankan pada keterampilan teknik pembuatan karya dengan hasil karya yang bersifat fungsional dan non fungsional. dan desain. Rohidi dan Hartiti (2002: 8-9) mengemukakan: seni rupa dapat dibedakan menjadi seni rupa murni. Secara umum. pembicaraan tentang seni rupa terkait dengan masalah keindahan. atau lingkungan yang didasarkan pada persyaratan-persyaratan tertentu. dan seni grafis. Seni rupa murni menekankan pada ungkapan pikiran dan perasaan. Desain merujuk pada proses pembuatan karya yang maksud dan tujuannya telah ditentukan lebih dahulu.Sejalan dengan hal tersebut di atas. dan lain-lain. Namun istilah pure art di masa sekarang dipadankan dengan karya seni murni yang tidak memiliki kegunaan praktis. ditinjau dari proses pembuatan dan bentuk karya yang dihasilkan. kreatif. Karya desain berupa rancangan gambar. ada pula yang menyebut sebagai pure art (seni murni). seni kria.

Prinsip-prinsip keindahan tersebut adalah unsur kesatuan (unity). rasa estetik dan artristiknya. keseimbangan (balance). Reaksi ini mungkin sesuai atau tidak sesuai dengan pendapat orang tersebut. tetapi juga berperan dalam perkembangan anak untuk mencapai kecerdaan emosional (EQ). dan rasa senang. yang menyebabkan reaksi emosional atau respons estetik. Dalam dunia kesenirupaan.rupa. Jalan yang ditempuh sesuai yang tercantum pada pedoman khusus mata 16 . Pendidikan seni rupa berperan tidak hanya dalam pembentukan pribadi yang harmonis dalam logika. unik. Hal ini tentunya didukung oleh kemampuan pengungkapan ekspresi intuitif dan perasaan estetis seseorang melalui teknik. nyaman. keselarasan (harmony). adversitas (AQ) dan spiritual (SQ). Sesungguhnyalah pengalaman estetik dapat menyebabkan timbulnya reaksi emosional atau respons estetik seseorang. menarik. Disamping itu. haru. pengalaman estetik adalah perasaan (positif atau negatif) yang merupakan reaksi seseorang. Keindahan juga dipahami sebagai pengalaman estetik yang diperoleh ketika seseorang mencerap objek seni atau dapat dipahami sebagai sebuah objek yang memiliki unsur keindahan. dan konsep dalam penciptaan karya seni rupa. karya seni rupa dapat menimbulkan berbagai kesan misalnya indah. bahan. bahagia. dan kontras (contrast) sehingga menimbulkan perasaan nikmat. kinestetika. moral (MQ). serta etika. baik secara mental dan/atau pun fisik. intelektual (IQ). Menurut Pappas (2006: 3). dan sebagainya bagi apresian. untuk menentukan kualitas karya harus mempertimbangkan nilai-nilai keindahan yang disebut dengan prinsip-prinsip keindahan. ketika mengamati karya seni rupa.

diimplementasikan dalam dua kegiatan yaitu apresiasi (appreciation) dan kreasi (creation). tujuan penciptaan. Kegiatan pembahasan untuk memperoleh kesadaran dan pemahaman tentang penciptaan karya seni rupa berdasarkan telaah tentang seniman dan zamannya. media (teknik). tekstur. melalui pencerapan nilai intrinsik dari karya seni rupa tersebut. menghargai. sehingga dapat memberikan penghargaan. dan menghormati (BSNP. Pengalaman estetik dalam pendidikan seni rupa di sekolah. Sedangkan pada kegiatan kreasi (creation). Pendidikan seni di sekolah diimplementasikan dalam bentuk mata pelajaran Seni Budaya untuk tingkat SMA dan SMP. dengan mengambil unsur-unsur titik. 2006: 186). proses dan teknik berkarya sesuai dengan nilai budaya dan keindahan dengan tidak mengesampingkan aspek fungsi serta sesuai dengan konteks sosial budaya masyarakat sebagai sarana untuk menumbuhkan sikap saling memahami. prinsip. sedangkan untuk tingkat SD 17 . pemahaman. garis. dan penghargaan terhadap karya seni. secara individual maupun kelompok. bidang. Aktivitas yang dilakukan melalui kegitan eksplorasi dan eksperimen dalam mengolah gagasan (konsep). Kegiatan pengamatan dimaksudkan untuk memperoleh pengalaman estetik. Kegiatan apresiasi bertujuan mengembangkan kesadaran. pengaruh seniman besar terhadap karya tersebut. bentuk. peserta didik diberi peluang untuk mengekspresikan pengalaman estetiknya dalam wujud karya seni rupa.pelajaran adalah dengan cara mempelajari elemen. yang dilakukan melalui pengamatan dan pembahasan karya seni rupa. warna. volume. baik tradisi maupun modern. dan ruang untuk mewujudkan karya seni rupa.

Mengembangkan Ekspresi Ekspresi pada dasarnya merupakan kebutuhan dalam hidup manusia untuk mencari kepuasan. sehingga dapat dikatakan bahwa dengan berekspresi dapat meringankan ketegangan seseorang. dan menjadi terapeutik atau menumbuhkan kreativitas. Mata pelajaran Seni Budaya tersebut mencakup seni rupa. dan seni drama. Sejalan dengan hal tersebut. dapat juga sebagai ekspresi diri yaitu ekspresi keindividuan seseorang. seni tari. tindakan atau lukisan adalah hal yang menyenangkan dan meringankan. Berekspresi dapat pula berfungsi sebagai katarsis. a. Mengungkapkan sesuatu dengan kata.adalah Seni Budaya dan Ketrampilan. Sesuatu yang disampaikan berupa buah pemikiran dan perasaan yang diwujud inderakan dengan menggunakan sarana yang dapat diamati lewat panca indera. seni musik. Menurut Soehardjo (2005: 120) ekspresi merupakan ungkapan penyampaian sesuatu dari seseorang kepada orang lain. Namun demikian. Ekspresi dalam pendidikan seni adalah curahan jiwa/isi hati yang menekankan pada proses pengungkapkan pengalaman estetik peserta didik yang berkaitan dengan emosi. daya pikir. Dengan demikian kemampuan ekspresi perlu dikembangkan pada peserta didik sejak dini karena peserta didik dimungkinkan dapat mengungkapkan berbagai pengalaman atau berbagai hal yang menggejala dalam dirinya untuk dikomunikasikan kepada orang lain melalui senirupa khususnya sebagai sesuatu 18 . Lim Chin Choy (2005: 293) mengatakan bahwa ekspresi bertujuan untuk mempertunjukkan kepada orang lain (to exhibit). Pembelajaran seni rupa di sekolah memiliki sasaran sebagai berikut. imajinasi dan keinginan peserta didik.

yang ada maknanya. Dengan demikian pengalaman berekspresi menunjang dasar-dasar kebebasan. Karena ketidaktahuan inilah anak cenderung lebih bebas dan merasa leluasa. membiasakan anak untuk mengeluarkan isi hatinya dengan bebas. Padahal. kemampuan membuat analisis yang tepat. seni lukis misalnya karena anak relatif belum banyak pengetahuan tentang aturan-aturan/norma-norma yang mengikatnya. kemampuan menanggapi suatu masalah. melatih anak berpikir merdeka. Walaupun demikian. 2001: 1). kualifikasi perlu di buat hubungan antara pengalaman estetik dengan pengalaman merasakan. Anak biasanya lebih bebas dalam berekspresi untuk mewujudkan suatu karya seni rupa. sehingga hasil karyanya terkesan jujur dan spontan. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Soedarso (1973: 5) bahwa pendidikan seni rupa adalah pendidikan ekspresi. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik terlatih dan mampu mengemukakan isi hati. Jika semua pengalaman dirasakan sebagai pengalaman estetik. baik dalam proses kreasi maupun dalam kegiatan persepsi (Salam.” Kepuasan ini lahir dari proses keterlibatan batin. Dampak selanjutnya diharapkan peserta didik memiliki daya cipta. Di samping itu . juga melatih keberanian mengungkapkan pengalaman estetik. tanpa paksaan. daya menyesuaikan diri dalam segala situasi. Karya seni yang 19 . tidak takut salah. Ia memberi kesempatan kepada anak untuk melahirkan pengalaman batinnya dengan leluasa. sesungguhnya pengalaman estetik merupakan suatu pengalaman yang khas dan unik yang ditandai dengan terpuaskannya “hasrat akan sesuatu yang harmoni dan lengkap. ide dan gagasan-gagasannya. maka pengalaman estetik kehilangan sifatnya yang khas.

Dengan melatih kepekaan rasa diharapkan kelak anak dapat menjadi anggota masyarakat yang dapat menjaga lingkungannya dan ikut melestarikan peninggalan seni dan budaya. Peserta didik diberi kesempatan untuk menggunakan panca indera seperti mata. Peserta didik menjadi peka terhadap lingkungan. Peran pendidik diharapkan dapat mengembangkan kepekaan atau sensitivitas yang dimiliki peserta didik. tetapi mencerminkan ekspresi kejiwaan yang kuat. Melalui aktivitas seni rupa. kemampuan anak dalam mengolah kesadarannya terhadap orang lain di lingkungan sekitar dalam berkomunikasi. telinga. Demikian juga kepekaan sosial terhadap lingkungan sekitar serta kemampuan bekerjasama dalam membuat karya kelompok dapat mengolah sikap dan perasaan sosial anak. kepekaan menjadi terlatih sehingga apabila ada permasalahan peserta didik bisa merasakan dan diharapkan dapat mengatasi permasalahan tersebut. dan cepat dapat menghayati sesuatu. hidung. Terutama peka terhadap lingkungan yang banyak mengandung permasalahan. 20 . dan indera peraba menjadi dasar cerapan dalam berkarya. Garis. menghargai dan dihargai dapat dipupuk. mudah mencerap suatu rangsangan. Mengembangkan Sensitivitas Sensitif artinya peka/perasa terhadap rangsangan.dihasilkan menunjukkan kemurnian pengungkapan perasaan mereka. bekerjasama. b. Dengan demikian sebelum berkarya peserta didik dimotivasi mengamati objek dengan berbagai masalahnya sebelum dituangkan dalam karyanya. dan tekstur bukan lagi sebagai elemen fisik. warna. mudah menerima.

yaitu proses penyempurnaan. Adapun unsur pendorong dalam laku kreatif seperti yang diungkapkan Dix dan Ernst dalam Susanto (2003: 9) adalah adanya sarana. keterampilan. Berbicara mengenai sifat bawah sadar berarti memasuki wilayah proses kreatif yang menurut Susanto (2003: 8) yaitu wilayah proses perubahan. mencari sumber gagasan. Kreativitas bukan hanya muncul dari suatu hasil pemikiran dan dorongan perasaan. namun juga melibatkan kepekaan intuitf. yaitu: (1) Inception of an idea. lingkungan. proses evolusi. (2) Elaboration and refinement. sekaligus merupakan proses aktualisasi diri atau kapabilitas yang dihadirkan dalam karya seni. merupakan tahap awal yaitu usaha menemukan gagasan. Padahal sesuatu yang intuitif itu bersifat bawah sadar. proses perenungan. Unsur-unsur 21 . orisinalitas karya. pengembangan dan pemantapan gagasan menjadi suatu gambaran pravisual untuk diwujudkan menjadi ujud yang konkrit. Mengembangkan Kreativitas Kreativitas adalah suatu kondisi. suatu sikap. merupakan tahap terakhir yaitu proses visualisasi dengan medium yang merupakan sarana untuk memvisualisaikan gagasan menjadi suatu karya seni.c. (3) Execution in a medium. Dengan demikian proses kreatif merupakan pengejawantahan emosi dan representasi posisi pemikiran pembuat karya terhadap berbagai masalah yang dihadapi. inspirasi. Ada tiga tahap proses kreatif yang dikemukakan Chapman (1978: 45). dan identitas. maupun proses mencipta dalam organisasi dari kehidupan subjektif pikiran dan praktis manusia. pertumbuhan. apresiasi. keadaan mental yang sangat khusus sifatnya.

memperkaya. karena dihasilkan oleh diri sendiri pelaku seni. sikap yang untuk tidak selalu puas dengan apa yang sudah ada dan sudah didapat. Dengan demikian melalui seni rupa kreativitas anak dapat berkembang.tersebut saling berpadu dan saling mempengaruhi dan saling bergantung untuk menjalankan tahapan-tahapan dalam membentuk karya seni. karena belum pernah ada sebelumnya. media pengembangan bakat seni yang dimilikinya. keluwesan (fleksibilitas) dan orisinalitas dalam berpikir. sikap untuk selalu mencari sesuatu yang orang lain belum mengetahuinya. Sebagai media ekspresi. 22 . Tampilan karya yang kreatif selalu tampil tunggal (unicness). karena melalui kegiatan seni rupa anak dapat mengungkapkan apa yang ada dalam dirinya yang berkaitan dengan emosi. Hal ini sangat berguna dalam pembentukan pribadi anak. Hal ini didukung oleh Munandar (1999: 50) yang mengatakan bahwa kreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran. Manfaat Pendidikan Seni Rupa Kegiatan seni mempunyai manfaat langsung maupun tidak langsung yang dapat dirasakan oleh peserta didik. media untuk berkomunikasi. imajinasi serta keinginan anak tanpa memperhatikan apakah ungkapan yang tervisualisasi dalam karya tersebut dapat dimengerti oleh orang lain atau tidak. memperinci) suatu gagasan. daya pikir. serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan. 2. Manfaat langsung yang dapat dirasakan adalah sebagai media untuk berekspresi. karena dengan membuat karya seni rupa membentuk anak untuk berani mengambil resiko. asli (original). media bereksplorasi. dan ber-kebaruan (novelty). karena tidak terdapat kembarannya.

Sebagai media bereksplorasi. Sebagai media komunikasi. dan mampu bertingkah laku dengan penuh tanggung jawab serta mampu mempertanggungjawabkan tingkah lakunya dalam berkomunikasi. melalui eksplorasi dengan bahan-bahan yang ada untuk membuat karya seni rupa. Dengan demikian seni rupa dapat dikatakan sebagai media komunikasi karena pengirim pesan dapat mengungkap isi pesan ke dalam simbol bermakna yang dapat diterima oleh orang lain sebagai penerima pesan. dalam aktivitas komunikasi terdapat unsur: pengirim pesan. Sebagai media pengembangan bakat. isi pesan.Dalam hal ini anak merasakan adanya kepuasan karena ada kebebasan dalam mengungkap apa yang ada dalam dirinya melalui pembuatan karya seninya. Kematangan emosi anak menurut Wedwick (2006) adalah kemampuan untuk mengekspresikan perasaannya. maka anak akan positif tindakannya sesuai dengan perkembangan usianya. Bakat adalah kondisi atau rangkaian karakteristik yang 23 . Pesan yang disampaikan dalam seni rupa adalah gagasan yang berupa simbol yang dituangkan dalam karya seni rupa. kegiatan seni rupa menawarkan beragam potensi. dan penerima pesan. melakukan tindakan sesuai dengan kebutuhan dan dapat menilai kesesuaian tindakannya dengan norma yang berlaku di masyarakat serta dapat memprediksi akibat yang diambil dari tindakan tersebut. kegiatan seni rupa memerlukan alat-alat atau bahan yang secara langsung maupun tidak langsung mengembangkan kemampuan bernalar bagi anak. Anak memiliki kebebasan dalam bereksperimen. Dengan demikian apabila kematangan emosi anak terlatih.

Adapun dimensi bakat meliputi persepsi. maka bakat tersebut tidak akan berkembang bahkan menjadi bakat terpendam dan tidak dapat diwujudkan. yaitu penglihatan. Pendekatan Berbasis Anak Pendekatan Berbasis Anak berpijak pada filosofi bahwa dalam mendidik anak melalui seni. kegiatan seni rupa melalui latihan-latihan membuat karya seni rupa memupuk bakat anak. Dengan demikian. Dimensi psikomotorik mencakup koordinasi dan fleksibilitas gerakan. psikomotorik dan intelektual. keterampilan atau serangkaian respon melalui latihan-latihan (Bennet. Pendekatan dalam Proses Pendidikan dan Pembelajaran Seni Rupa Pada hakekatnya pendidikan seni rupa bersifat unik. dari pada seseorang yang mempunyai bakat kreatif namun tidak dipupuk. pendengaran. yaitu kegiatan yang bersifat ekspresif. kreatif. Dengan demikian bakat anak yang terpupuk sejak awal akan lebih baik perkembangannya. Ada tiga pendekatan dalam pendidikan seni rupa yang populer saat ini. dan kinestesi. yaitu: a. Sedangkan dimensi intelektual meliputi ingatan dan berpikir. persepsi terkait dengan kepekaan dari masingmasing pancaindera yang berhubungan dengan perhatian. Hal ini dapat dilihat pada dimensi bakat yang terkait dalam pembuatan karya seni rupa yaitu.dipandang sebagai gejala kemampuan individu untuk memperoleh pengetahuan. dan estetik. 3. 1952: 12). Pada waktu memberikan kesempatan berekspresi harus bertitik tolak dari anak. Karena keunikannya ini dalam pendidikannya memerlukan pendekatan-pendekatan agar tujuan pendidikan seni rupa itu sendiri dapat tercapai. Herbert Read 24 . pendidik haruslah menjadikan anak sebagai pusat.

dan pendampingan. Peranan pendidik sebagai fasilitator. Pada pendekatan berbasis anak ini tugas pendidik adalah memberikan pengalaman kepada anak yang dapat merangsang munculnya ekspresi pribadi anak. Tokoh yang dikenal dalam pendekatan ekspresi bebas ini adalah Frank Cizek dari Austria. Dengan demikian anak diberi kebebasan dalam kegiatan penciptaan karya sehingga anak dapat mengaktualisasikan dirinya dengan bebas tanpa pengaruh orang dewasa dalam proses pembuatan karyanya. sesuatu yang tumbuh secara alamiah pada diri anak dalam mengkomunikasikan dirinya (Read. dengan peragaan. Ia merupakan orang yang pertama kali mengakui secara terbuka nilai intrinsik karya seni rupa anak. yaitu dengan pemberian motivasi. 25 . Dengan demikian cara pembelajarannyapun pendidik memberikan kemudahan pada anak dalam melaksanakan kegiatan belajar yang diinginkannya. karya seni rupa anak adalah karya seni yang hanya mampu dihasilkan oleh anak (Efland. karena ekspresi diri anak sesungguhnyalah tidak bisa diajarkan oleh pendidik. Hal ini dimaksudkan untuk menyiapkan pengalaman belajar yang dapat merangsang ekspresi pribadi anak. Garha (1980: 60) mengatakan bahwa pendekatan ini sebagai ekspresi bebas yang memberikan keleluasaaan kepada anak-anak untuk dapat menyalurkan ungkapan perasaan tanpa dibatasi oleh aturan atau norma cipta konvensional dalam membuat gambar. memberikan kemudahan kepada anak dalam mempelajari atau melakukan apa yang menjadi keinginan anak agar anak berkembang secara alamiah melalui pengalaman seni.dalam Education through Art yang menyatakan bahwa naluri berolah seni rupa anak adalah suatu yang universal. 1970: 10). 1990: 195).

Read (1970: 30) memberi penegasan bahwa dalam ekspresi bebas. Menurut Viktor Lowenfeld. pendidik berperan sebagai pendamping dan memotivasi anak untuk menggali inspirasi anak. ekspresi dalam proses pembuatan karya seni rupa yang dilaksanakan secara alamiah berdampak positif bagi perkembangan intelektual. Hal ini memperjelas bahwa pengaruh lingkungan menyebabkan adanya berbagai corak berdasarkan perkembangan dan temperamen jiwa anak. Dengan demikian pendidikan seni rupa merupakan tempat pemberian pengalaman yang menarik yang menyadarkan anak akan lingkungannya. 1982: 6-7). Dalam hal ini dihubungkan antara kegiatan seni rupa dengan kesehatan mental karena kegiatan seni rupa merupakan media untuk menyalurkan perasaan. such a relationship is a basic ingredient of a creative art experience” (Lowenfeld. Selanjutnya Lowenfeld mengatakan bahwa “…mental growth depends upon a rich and varied relationship between a child and his environment.Pendekatan ekspresi bebas ini kemudian didukung dan disebarluaskan oleh dua tokoh pendidik seni yaitu Viktor Lowenfeld dari Amerika Serikat dan Herbert Read dari Inggris. Penekanan Read adalah bahwa ekspresi diri anak tidak dapat diajarkan dan peranan pendidik adalah sebagai fasilitator. kreativitas dan perkembangan sosial anak. 2001: 13). Dalam hal ini pendidik memenuhi apa 26 . Dalam merancang pembelajaran pendekatan ekspresi bebas secara murni. pelaksanaan kegiatan pembelajarannya menggunakan model emerging curriculum yakni kegiatan pembelajaran yang tidak dirancang sebelumnya tetapi berkembang sesuai keinginan anak (Salam. emosional. baik merupakan perasaan sedih atau gembira.

Pendidik kemudian memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk mengarahkan perhatian anak pada hal-hal yang dilihatnya tetapi diabaikan anak. Ada tumbuh-tumbuhan. Didukung oleh media yang dipersiapkan pendidik bisa berupa photo. gambar-gambar. Anak diberi kesempatan memperhatikan keadaan sekitar kelas atau sekolah. kemudian ada dialog dengan pendidik. dan sebagainya. Dari cerita dan dialog dengan anak akan timbul tema-tema cerita yang menyentuh kehidupan anak. Caranya adalah sebagai berikut: pelaksanaan pembelajaran seperti pada umunya pendidik melaksanakan pembelajaran sesuai dengan jadwal dan waktu yang ditetapkan. kursus-kurus. penerapan pendekatan ekspresi bebas di sekolah maka dikembangkan pendekatan ekspresi bebas yang bersifat “terarah”. Lebih tepat bila dilaksanakan pada lembaga pendidikan yang bersifat non formal seperti sanggar. dan sebagainya. orang berlalu lalang. Sesungguhnyalah pendekatan ekspresi bebas secara murni ini sangat sulit dilaksanakan pada sekolah formal karena terikat adanya jadwal. kendaraan. dan 27 . bentuk bunga semakin ke ujung daun bunga semakin kecil permukaannya. (2) adanya kontak langsung anak dengan keadaan sekelilingnya. tulang-tulang daun akan membentuk keartistikan tersendiri. slide. dan sebagainya. pendidik pada awal pembelajaran memberikan motivasi dengan berbagai cara antara lain: (1) memberi kesempatan pada anak untuk bercerita tentang hal-hal yang menarik yang dialaminya. yang merangsang untuk mengekspresikan nya lewat karya yang dibuatnya. Untuk membangkitkan dan memotivasi ekspresi anak. misal: detail dari bentuk daun. film. waktu yang ditentukan sehingga menjadi terbatas pelaksanaannya. Untuk mengatasi hal tersebut di atas.yang menjadi kemauan anak dan pendidik memfasilitasinya.

namun jangan sampai terjebak apa yang didemonstrasikan menjadi hal yang harus ditiru oleh anak. Setelah pemberian motivasi. b. Dengan demikian hasil penilaian tidak ada istilah salah atau benar karena ekspresi anak bersifat unik dan alamiah. Teori ini disebut sebagai Discipline-Based Art Education (DBAE). pendidik menjadikan disiplin ilmu seni sebagai hal yang harus dikuasai oleh anak. Pendekatan berbasis disiplin ini berdasar pada teori pedagogi tentang pelaksanaan proses belajar mengajar yang dicetuskan pada tahun 1980 di Amerika . Dalam hal ini pendidik berperan sebagai pendamping untuk memberikan bantuan pada anak.sebagainya. Pendekatan Berbasis Disiplin Pendekatan berbasis disiplin berpijak pada filosofi bahwa dalam mendidik anak melalui seni. Dengan demikian pendekatan dari berbagai aspek dipadukan dengan proses pengalaman belajar yang terkoordinasi secara menyeluruh menjadi sangat diperlukan. 2001: 14). Karena setiap subjek seni didekati dengan suatu premis bahwa setiap subjek seni memiliki kekhasan yang berbeda dengan subjek seni yang lain sehingga diperlukan suatu pendekatan sebagai suatu “discipline” ilmu yang mandiri. Menurut Brent Wilson “DBAE. Penilaian yang diberikan pendidik bersifat apresiatif yaitu bersifat menerima dan menghargai apa yang diungkapkan atau diciptakan oleh anak dengan menunjukkan kemungkinan peningkatan kualitas dari karya yang diciptakannya tersebut (Salam. pendidik meminta anak untuk mengekspresikan dirinya secara bebas dalam pembuatan karya seni rupa. builts on the premise that art can be 28 . (3) pendidik mendemonstrasikan proses penciptaan karya pada anak.

sejarah seni. 2000: 19). Identified the productive. art criticism. atau DBAE (Disciplin Based Art Education). sejarah seni (art history). Eisner (1997: 20) membahas komponen estetika sebagai “berguna bagi anak-anak untuk menjadi reflektif tentang basis penilaian mereka berkaitan dengan kualitas karya seni. para peserta didik harus berusaha melakukan dialog berkelanjutan tentang hakikat dan makna seni dalam kehidupan mereka. Dengan demikian pelaksanaan pendidikan seni rupa sesuai yang tersirat dalam DBAE pelaksanaannya tidak memilah keempatnya tetapi berusaha untuk mengintegrasikannya. and cultural and/or historical realms as necessary for leading the child to aesthetic experiences. sebagaimana tentang dunia visual di sekeliling mereka. appreciating. Dialog ini paling baik diungkapkan dalam bidang filosofis estetika. kritik seni. dan estetika. memahami dan mengapresiasi seni. Pendidikan Seni Berbasis Disiplin. produksi seni. Aesthetic education therefore represented a balance among producing. Hal ini diperkuat dengan gagasan Eisner (1997:16) bahwa. kritik seni (art criticism) dan estetika/filsafat seni (aesthetics) dalam suatu pengalaman belajar yang menyeluruh. and aesthetics (the philosophy of art)-into a holistic learning experience” (Wailling. 29 . yaitu: penciptaan seni (artistic creation). critical. art history. Hal ini menyiratkan bahwa seni dapat diajarkan secara efektif bila mengintegrasikan makna empat dasar disiplin tersebut. and understanding. Tersurat pula dalam sebuah monograf dari The Getty Center for Education in the Arts.taught most effectively by integrating content from four basic disciplines-art making.” Karena itu. mengarahkan untuk mencipta.

Pada saat ini. karena sudah memenuhi tiga ciri disiplin ilmu yang dikemukakan oleh Dobbs (1992: 9) sebagai berikut: (1) a recognized body of knowledge or content. Dipandangnya seni rupa sebagai disipiln ilmu merupakan asumsi pokok yang mendasari pendekatan pendidikan seni rupa berbasis disiplin.Pada hakekatnya seni adalah sebagai kegiatan artistik. konteks sosial masyarakat harus menjadi perhatian yang utama. Pendekatan Berbasis Konteks Pendekatan berbasis konteks berpijak pada filosofis bahwa dalam mendidik anak melalui seni. Dengan demikian seni rupa dapat dikatakan sebagai sebuah disiplin ilmu. agama. penciptaan dan pembahasan keindahan rupa (visual). suku. kelas sosial. c. karena memiliki isi pengetahuan (body of knowledge). adanya komunitas pakar yang mempelajari ilmu tersebut. adanya metode kerja yang memfasilitasi kegiatan eksplorasi dan penelitian. Pengenalan keragaman budaya tersebut dengan cara membuka diri terhadap berbagai budaya lain yang lahir atas dasar ras. namun demikian seni rupa sebagai disiplin ilmu dalam pelaksanaannya tidak hanya memberikan kesempatan pada anak untuk mengekspresikan emosinya saja tetapi kegiatan mempelajari ilmu seni juga harus dilakukan. (2) a community of scholars who study the discipline. pendekatan Berbasis Konteks yang menonjol adalah pendidikan seni multikultural. Pendekatan seni rupa berbasis multikutural merupakan salah satu bagian dari pendidikan multikultural yang bertujuan mengenalkan keragaman budaya melalui kegiatan penikmatan. (3) a set of characteristic procedures and ways of working that facilitate exploration and inquiry. 30 .

yaitu: 1) Model Pengenalan Model ini bertujuan memperkenalkan anak akan budaya lain. dimana beragam program pembelajaran dikembangkan.jenis kelamin. dan lain-lain. Merupakan ciri yang mendasar model kurikulum pendekatan multikultural yang harus dipertimbangkan yaitu adanya pluralisme sosial. etnis. Materi pembelajarannya meliputi pengetahuan sikap. Hal yang terpenting dalam hal ini adalah bahwa semangat untuk mempromosikan keragaman budaya dilakukan melalui kegiatan seni rupa. atau pendekatan. keragaman budaya/etnis dan kontekstualisme. Dengan cakupan yang luas itulah pendekatan ini menggunakan berbagai bentuk teori dan praktek yang sesuai dengan konteks sosial dan budayanya. gagasan besar. Sebagai konsep dasar. Pendidikan berbasis multikultural dikelompokkan menjadi tiga. agama. Anak menjadi luas wawasannya dan memahami karya seni rupa orang lain dan pencipta karya yang mungkin sangat berbeda karya tersebut dengan keyakinan dan tradisi yang ada pada anak lebih tepat diterapkan pada kelas yang tidak multikultur. pendidikan seni rupa multikultural pada dasarnya merupakan sebuah filosofi. Dengan demikian menjadi fokus utama yang merupakan wacana pendidkan seni rupa multikultural adalah persoalan pluralisme sosial dan keragaman budaya. dan sebagainya) lain agar memiliki sikap apresiatif terhadap kelompok yang menjadi fokus pembicaraan. Metode pembelajarannya bersifat pengenalan berbagai bentuk seni 31 . Dengan demikian tidak identik dengan satu model program pembelajaran tertentu. sehingga cakupan menjadi luas. dan keterampilan seni yang difokuskan pada pengenalan seni kelompok (ras.

apresiasi (kritik seni rupa) juga harus mengingat pada keragaman prinsip. dan kriteria keindahannya masing-masing. Evaluasi yang dilaksanakan dalam konteks untuk mengetahui sejauh mana anak dapat memahami dan mengapresiasi budaya/seni kelompok lain. Dengan demikian kegiatan pembelajarannya anak yang terdiri dari berbagai suku. ras. agama. pendidik. 32 . kurikulum) tidak mencerminkan adanya diskriminasi. Evaluasi yang dilakukan adalah untuk mengetahui sejauh mana anak dapat mengapresiasi budaya/seni kelompok lain yang ditunjukkan pada kemampuan untuk hidup bersama secara harmonis. golongan tertentu. Kemudian diwujudkan secara visual dengan media yang sesuai dengan kemauan peserta didik. Penerapan pembelajaran model pengamalan ini dalam praktek penciptaan karya seni rupa salah satu cara adalah dengan menggali tema dari peserta didik yang bervariasi sesuai dengan latar belakang peserta didik. Dalam hal ini tidak ada standar baku yang dapat diberlakukan untuk semua. peragaan. karyawan menciptakan suasana yang kondusif merefleksi adanya keragaman budaya yang ada. Model pengamalan ini lebih tepat diterapkan pada kelas yang bersifat multi kultur.dari kelompok lain melalui ceramah. sejarah seni rupa. Pelaksananan model pengamalan ini agar berhasil dengan baik. 2) Model Pengamalan Tujuan model pengamalan adalah membangun kesadaran untuk hidup bersama dan tidak melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan konflik. dan lain-lain mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar. maka perlu dukungan dari berbagai pihak antara lain: kebijakan sekolah (aturan. diskusi dan praktek pembuatan karya. makna. Apabila diterapkan dalam pembelajaran yang bersifat teoritis yaitu estetika.

agama. suku. kelas sosial. mereka memusatkan perhatian pada faktor-faktor yang dinamik dan kompleks yang mempengaruhi interaksi manusia yakni kemampuan fisik dan mental. oleh karena itu perlu ada peninjauan. Langkah pertama pendidik 33 . kondisi sosial yang ada di masyarakat. Pendukung kelompok model perombakan mengatakan bahwa budaya bukanlah suatu yang harus diterima dan tanpa perubahan. dalam Salam (2001: 29) menyatakan bahwa yang menjadi pendukung pendidikan seni rupa multikultural model perombakan ini menegaskan bahwa dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Wasson dkk. politik.3) Model Perombakan Berdasarkan perlakuan yang tidak kondusif karena adanya ketidak adilan atas dasar ras. dan kesukuan. agama. Mereka mencari pendekatan yang lebih demokratik yang memberikan peluang bagi kelompok yang terpinggirkan untuk menyuarakan dirinnya dalam proses pendidikan seni rupa. maka pendidik sudah selayaknya mengadakan perombakan dalam kurikulum dan pembelajarannya. jender. dan menumbuhkan kepekaan semua pihak pada asumsi yang dianggap benar yang ada pada ideologi yang dominan. Menurut Salam (2001: 27) pendukung pendidikan seni rupa multikultural model perombakan ini tampaknya tergolong sebagai pengembang kurikulum yang dikelompokkan sebagai kaum rekonstruksionis sosial yang memandang pendidik sebagai politikus yang harus memilih dua pilihan: sebagai kelompok konservatif yang akan melayani sang penguasa atau sebagai kelompok perombak yang mencoba untuk mencari alternatif-alternatif. Selanjutnya terdapat lima langkah dalam mengembangkan kurikulum pendidikan seni rupa berbasis multikultural. usia. jenis kelamin.

membuat keputusan reflektif kemudian mengambil langkah nyata sesuai keputusan. Merupakan langkah terakhir yaitu langkah kelima pendidik melaksanakan program evaluasi baik formatif maupun sumatif. Tindakan yang ditempuh dengan mengidentifikasi masalah sosial yang berkaitan dengan agama. dan lain-lain. pendidik dan peserta didik melakukan analisis situasi supaya akrab dengan masyarakat. suku. Dimulai dengan kegiatan yang hanya mencakup menggambar di sekolah umum. Ketiga pendekatan pendidikan seni rupa yang telah diuraikan di atas merupakan tiga pendekatan utama yang mempengaruhi pemikiran dan praktek pendidikan seni rupa dewasa ini. Langkah kedua. Tinjauan Historis Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan dinamika masyarakat yang senantiasa berkembang. Lima langkah yang dikemukakan oleh Wasson tersebut di atas merupakan salah satu cara penyusunan kurikulum pendidikan berbasis multikultural. mengklarifikasi. jenis kelamin. tingkat kehidupan munusia. Langkah ketiga. Pendidikan Seni Rupa di Sekolah Dasar di Indonesia a. Pestalozzi (1746-1827) 34 . 4. Langkah keempat. maka pendidikan seni rupapun mengalami perkembangan terutama di Sekolah Dasar. Kemudian mengumpulkan data. menanang nilai yang dianut peserta didik. pendidik dan peserta didik berkolaborasi mengadakan penyelidikan masalah-masalah yang ada kaitannya dengan bahan kurikulum yang dipilih. pendidik dan peserta didik memilih bahan kurikulum relevan dan menarik.menganalisis dan memperbaiki sikap negatif yang mungkin mereka miliki terhadap pluralisme social dan keragaman suku.

Sebuah gagasan tentang tahap-tahap pertumbuhan dalam perkembangan artistik anak muncul dalam studi ini. Riset pertama yang membahas seni anak tepatnya dilaksanakan pada musim dingin pada tahun 1882 oleh Corrado Ricci seorang penyair Italia yang hasilnya merupakan dukungan studi tentang ekspresi seni sebagai suatu alat untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam pada pengalaman total anak-anak. Hal ini diperkuat pernyataan Uhlin (1975:18) yang menyatakan bahwa International congresses were formed in those years to pool data and structure theories which would communicate just what it as that the child was resolving at a particular chronological age. Pada tahun-tahun tersebut. Perkembangan selanjutnya pada akhir abad ke 19. Menurut pandangannya.merupakan pakar yang berhasil memasukkan pelajaran menggambar di sekolah umum tersebut. 35 . sebagai hasil dari studi lahirlah pandangan baru tentang dunia anak yang amat besar pengaruhnya terhadap pendidikan seni rupa. menggambar adalah sarana untuk mengembangkan pengamatan. Kemudian era studi anak pada akhir abad ini merupakan sebuah gerakan yang meluas dan berpusat pada pola-pola prilaku anak pada setiap perkembangannya. dan berfungsi untuk melatih penguasaaan ketrampilan. lahir teori-teori yang berpusat pada pola-pola perilaku anak pada setiap tahap perkembangannya. Dengan demikian fungsi pelajaran menggambar adalah untuk mempersiapkan tenaga kerja pangsa pasar tertentu yang membutuhkan kemampuan seseorang menggambar bangun dan pengamatan yang tajam.

Pendidikan seni rupa yang sebelumnya hanya terbatas pada kegiatan menggambar menjadi lebih luas mencakup pembelajaran apresiasi seni rupa. Pada masa sebelumnya. adalah orang pertama yang memberikan pengakuan adanya nilai yang terkandung pada karya seni rupa anak. 1970: 1). Frank Cizek. disain. salah satu hasilnya adalah ditemukannya pola perkembangan menggambar anak berdasarkan usia anak Sejalan dengan penemuan adanya pola kemampuan menggambar anak. dengan terbitnya banyak jurnal pendidikan seni rupa sebagai hasil penelitian. seorang pendidik dan perupa dari Wina. bebas dari pengaruh orang dewasa. menurut Read hanya orang dewasalah yang memilki kematangan perasaan dan intelektual yang dipandang layak untuk menghasilkan karya seni (Read. Selanjutnya studi awal tentang anak dilakukan para ahli. 36 .Pandangan baru ini melihat anak sebagai pribadi yang unik yang berbeda dengan orang dewasa. maka muncullah pandangan baru tentang pembelajaran seni rupa anak yang berfokus pada perkembangan alamiah anak dan pengalaman belajar anak. Di Indonesia pada masa pemerintahan Belanda. Ia menegaskan bahwa seni rupa anak hanya mampu dihasilkan oleh anak dan anak menggambar harus diberi kesempatan untuk tumbuh bagaikan bunga yang berkembang dengan sendirinya secara alami. didirikan sekolah khusus untuk anak-anak pribumi dengan tujuan menyiapkan tenaga siap pakai untuk dipekerjakan sebagai tenaga administrasi pada masa pemerintahan kolonial. dan kerajinan. Memasuki abad ke 20 perkembangan seni rupa memasuki babak baru. Mulailah adanya pengakuan karya seni rupa anak sebagai karya seni rupa yang sesungguhnya.

Hal ini mencerminkan sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia cenderung tidak menggambarkan keadaan atau suasana Indonesia. keaslian. waktu itu bentuk pelajarannya adalah pelajaran menggambar dengan orientasi pemberian keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja secara mandiri pada pemerintah kolonial. Pelajaran menggambar. Pada prinsipnya Mohammad Syafei menentang pendidikan pemerintah kolonial yang hanya mengutamakan pendidikan intelektual dan kurang memperhatikan pengembangan kepribadian anak. suasana peternakan dan bunga tulipnya.M Soewadi Soerjaningrat atau dikenal dengan Ki Hajar Dewantoro mendirikan sekolah swasta untuk kepentingan anak-anak pribumi dan menurut pandangannya pendidikan seni rupa merupakan alat untuk menanamkan kepribadian Indonesia. 1967: 195). Namun yang terjadi selanjutnya timbul ketidakpuasan dari kaum pribumi terpelajar yang menginginkan perlunya anak-anak Indonesia mengenal. Buku-buku pelajaran yang dipakai adalah buku-buku yang merupakan gambar-gambar pemandangan di Belanda dengan kincir angin. di Sumatra Barat tepatnya di Kayutanam berdiri pula Indonesische-Nederlandsche School (INS) oleh Mohammad Syafei. menghargai budaya dan tradisi bangsa sendiri. mencetak.Demikian juga pada pelajaran seni rupa. dan sadar budaya adalah dasar dari metode pendidikan seni rupa yang diterapkan di Taman Peserta didik (Holt. Ekspresi diri. tetapi menanamkan tradisi Barat sebagai suatu kemajuan. Bersamaan dengan didirikannya Taman Peserta didik. dan kerajinan tangan adalah mata pelajaran yang 37 . Akibat yang diinginkan anakanak Indonesia tidak dapat mengenal. Kemudian oleh R. menghargai budaya dan tradisinya sendiri.

dianggap penting. Dalam rumusan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) merupakan bagian dari kelompok mata pelajaran Estetika dan nama mata pelajarannya adalah Seni Budaya dan Keterampilan. seni tari. Pada menggambar ekspresi. Pembelajaran masih mengembangkan kemampuan anak melalui latihan koordinasi mata dan tangan. anak-anak diajarkan keterampilan agar memiliki kemampuan membuat barang yang bersifat fungsional. hanya objek gambar bukan lagi pemandangan di Belanda tetapi pemandangan alam Indonesia. 38 . Perkembangan selanjutnya pendidikan menggambar yang menekankan pada teknik menggambar tidak digunakan sejalan dengan diterapkannya pendidikan seni rupa pada kurikulum sekolah (kurikulum tahun 1975) dan kurikulum sesudahnya dan pada kurikulum yang berlaku sekarang ini (KTSP). seni musik. Baru pada tahun 1964 istilah “menggambar” diganti dengan “seni rupa”. Pada kelas-kelas untuk akhir. Lingkup materi pembelajarannya meliputi seni rupa. Pada masa awal kemerdekaan. Pendidikan seni rupa tidak dikenal sebagai istilah yang mandiri di Sekolah Dasar. Pada mata pelajaran menggambar meliputi menggambar alam benda. seni teater. kerajinan. ilustrasi. perspektif. pelaksanaan pendidikan seni rupa tidak mengalami perubahan yang berarti. dan menggambar ekspresi. anak-anak diberi kebebasan untuk menyatakan ide dan perasaannya. Pendidik sebagai fasilitator memberikan kemudahan-kemudahan pada anak. dan dijual untuk menambah beaya kegiatan sekolah. dan teknologi. yang kesemuanya bertujuan melatih pengamatan anak.

dieksplorasi oleh anak. Babakan baru tersebut menyangkut 2 hal pokok yakni: (1) penerapan “ pendekatan disiplin (DBAE)” dalam hal isi pembelajaran seni rupa. Keempat bidang tersebut dijabarkan dalam mata ajaran dan tercermin dalam kurikulum meliputi. merupakan proses kreatif melalui pengolahan bermacam-macam materi untuk menciptakan efek visual yang diinginkan. sedangkan art criticism adalah disiplin yang memfokuskan perhatian pada persepsi dan deskripsi untuk menjawab pertanyaan tentang apa yang diamati pada suatu karya seni rupa. untuk menjelaskan makna dari apa yang diamati adalah melalui kegiatan analisis dan penafsiran. dan (2) penerapan “pendekatan sistem” dalam rancangan kegiatan pembelajaran seni rupa. Art history adalah disiplin 39 . and aesthetics (Dobbs. yang merupakan babakan baru dalam sejarah pendidikan seni rupa di Indonesia. 1) Penerapan pendekatan disiplin Seperti telah dikemukakan dimuka bahwa pendekatan disiplin mempunyai ciri adanya program pembelajaran yang sistematik dan berkelanjutan dalam empat bidang yaitu: bidang penciptaan. Pada art production adalah suatu disiplin dalam hal penciptaan seni rupa. art criticism. Keempat bidang tersebut tidak harus diajarkan secara terpisah tetapi diajarkan secara terpadu. Pendekatan Pendidikan Seni Rupa yang dianut di Indonesia Diterapkannya pendidikan sistem di sekolah. 1992: 9). Dalam hal ini banyak yang dapat dipelajari. sejalan dengan implementasi kurikulum tahun 1975. dialami. penikmatan.b. dan penilaian. pemahaman. art production. dan penilaian merupakan gambaran untuk memperoleh kualitas karya seni rupa yang diamati. art history.

mencetak.yang memfokuskan perhatian pada peran seni rupa dan seniman dalam konteks social. Kurikulum selanjutnyapun yang muncul melanjutkan apa yang dimulai pada kurikulum tahun 1975 . pandangan ini diakomodasi yang ditandai dengan meluasnya cakupan mata pelajaran seni rupa. kritik seni rupa. tetapi juga mencakup sejarah senirupa. Demikian pula dengan KTSP yang berlaku saat ini mengacu pada Standar Isi yang kandungannya mencerminkan kekomprehensifan isi sebagaimana yang diamanatkan oleh pendekatan disiplin. Dalam kurikulum tahun 1975. 2) Penerapan pendekatan sistem Dalam kurikulum 1975 dituntut diterapkannya pendekatan sistem dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. kegiatan pembelajaran terdiri atas berbagai komponen yang satu sama lain terikat dalam satu sistem dengan tujuan sebagai komponen utama yang memberi arah pada komponen lainnya. termasuk kegiatan penilaian hasil belajar. Aesthetics adalah disiplin yang memfokuskan pada diskusi hakekat dan makna seni rupa.. Pendekatan sistem dalam terminologi Kurikulum 1975 dikenal sebagai PPSI. pengalaman keindahan dan sumbangannya terhadap kehidupan dan kebudayaan manusia. Tujuan inilah yang menjadi acuan seluruh kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru. Dengan demikian pendekatan disiplin memandang kegiatan pembelajaran di sekolah seyogyanya tidak hanya menyangkut kegiatan berkarya seni rupa seperti melukis. dsb. mematung. dan estetika. Kegiatan pembelajaran yang 40 . politik dan budaya. Pendekatan sistem menuntut kegiatan pembelajaran yang berorientasi pada tujuan yang telah dirumuskan terlebih dahulu. Menurut pendekatan sistem.

dan keterampilan seni rupa. Dalam konteks KTSP. Sedangkan metode pembelajarannya yang memungkinkan anak memiliki pengetahuan. 41 . kritik seni. dan keterampilan seni adalah ceramah.beroreintasi pada tujuan ini berlanjut pada kurikulum yang diperkenalkan kemudian. sangat mempertimbangkan aspek psikologis anak sejalan dengan tumbuhnya kesadaran akan pentingnya menjadikan anak sebagai pusat perhatian guru dalam kegiatan pembelajaran. ketrampilan bidang seni rupa. sikap. sikap dan keterampilan seni rupa seperti yang dirumuskan pada tujuan pembelajaran. sikap. dan praktek membuat karya seni rupa. komponen pelaksanaan pembelajaran. tujuan pembelajaran identik dengan kompetensi tertentu yang diharapkan untuk dicapai oleh anak dalam kegiatan pembelajaran. Evaluasinya dilihat dalam konteks sejauhmana anak memperoleh pengetahuan. komponen evaluasi saling berkaitan. sejarah seni. peragaan. diskusi. dan estetika. agar anak memiliki pengetahuan. Peranan pendidik dalam pendekatan ini dituntut dapat memberikan kemudahan bagi anak untuk mendapatkan pengetahuan. sikap. sikap. Tujuan pembelajaran menekankan kemampuan yang harus dikuasai oleh peserta didik yaitu: pengetahuan. Penerapan pendekatan disiplin dalam pendidikan seni rupa di sekolah di Indonesia. Misal komponen tujuan pembelajaran. Sesuai tujuan pendekatan berbasis disiplin. Dalam hal ini pendekatan sistem merupakan kerangka acuan yang rasional dalam memadu komponen-komponen pembelajaran yang saling berkaitan. dan ketrampilan bidang seni rupa meliputi: produksi/karya seni.

B. dan golongan sosial ekonomi di lingkungan sekitarnya. ras.Dengan demikian pada hakekatnya pendekatan berbasis disiplin pada pendidikan seni rupa membawa anak tidak hanya diberi kesempatan untuk berekspresi seni rupa. yaitu masa usia sekolah dasar sering disebut juga sebagai masa intelektual atau masa keserasian bersekolah. Hal ini diharapkan akan berdampak pada tumbuhnya rasa penghargaan terhadap keragaman karya-budaya yang dimulai dari lingkungannnya. budaya. Pada rentang usia tersebut anak mengalami fase tertentu. Pemikiran anak dalam 42 . tetapi juga memberikan pembelajaran cara mempelajari bagaimana menikmati suatu karya seni rupa. dimana anak mengalami masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju awal remaja. suku. Karakteristik Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar Anak usia sekolah dasar pada umumnya ada pada usia 6 sampai dengan 12 tahun. Ditinjau dari sudut pandang psikologis masuk dalam kategori childhood. bahkan mereka diberikan pula cara memahami konteks dari sebuah karya seni rupa dari berbagai masa. Menurut Piaget (1950: 45-49) ”pada masa itu adalah anak mengalami yang disebut dengan tahap operasi konkret (concrete operations)” dicirikan dengan perkembangan sistem pemikiran yang didasarkan pada aturanaturan tertentu yang logis. sesuai dengan yang ada dalam Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) Sekolah Dasar antara lain: Menghargai keberagaman agama. Anak sudah dapat berpikir lebih menyeluruh dengan melihat banyak unsur dalam waktu yang bersamaan.

bahwa anak mulai berpikir tentang perbedaan bahkan menentang dan bersikap hati-hati. hal ini juga didukung oleh Piaget yang mengemukakan.banyak hal sudah lebih teratur dan terarah karena sudah dapat berpikir seriasi. mengemukakan ciri-ciri anak pada anak pada usia 6 dan 7 tahun sebagai berikut: (a) anak beralih dari daya pikir anak yang bersifat imajinatif. (d) melanjutkan perkembangan pemerolehan bahasa. klasifikasi dengan lebih baik. (c) menerima konsep secara benar (baik) berdasarkan hadiah dan persetujuan. (e) sudah mulai memisahkan antara fantasi dari realitas. (j) belajar berpartisipasi dalam suatu kelompok sebagai anggota. bahkan mengambil kesimpulan secara probabilitas. (h) lebih membutuhkan suatu pujian dan persetujuan dari orang dewasa. yaitu tahap I pada usia 6-7 tahun. (b) anak mulai mempunyai pengalaman pada tahap kepandaian dan perasaan rendah diri. namun demikian perlu diketahui adanya perbedaan tingkat kecepatan kematangan anak sangat dipengaruhi oleh kehidupan lingkungan sosial budaya masyarakatnya. dan tahap III pada usia 1012 tahun. Secara umum pada usia sekolah dasar ini. dibagi menjadi tiga tahap. (k) mulai menumbuhkan rasa keadilan dan menginginkan perasaan yang bebas dari orang 43 . (g) mulai berpikir abstrak. Berikut ini karakteristik anak usia sekolah dasar pada setiap tahapnya. (i) menunjukkan sensitivitas rasa dan sikap terhadap anak disekitarnya dan orang dewasa. (f) belajar berangkat dari persepsi dan pengalaman langsung. tahap ke II usia 8-9 tahun. namun belajar lebih banyak terjadi berdasarkan pengalaman konkretnya. Menurut Brady (1991: 35-37) yang didukung beberapa ahli yang lain. ke cara berpikir tahap operasional konkret.

(h) mulai mencari 44 . bahwa anak sudah mulai berpikir lebih fleksibel dan hati-hati. dan (k) sudah mulai membentuk persahabatan yang khusus dengan temannya. Perkembangan anak pada usia 10 sampai 12 tahun: (a) pemfungsian tahap operasional konkret menurut Piaget. (j) adanya peningkatan kemampuan mengutarakan sebuah ide ke dalam kata-kata. (d) sudah mempunyai ketertarikan yang kuat dalam sebuah aktivitas sosial. (b) Erickson berpendapat bahwa anak mempunyai pengalaman pada tahap kepandaian dan perasaan rendah diri. (c) dapat menerima masalah yang benar berdasarkan ke-fairan. (f) mulai mengembangkan konsep dan hubungan spasial. (e) mulai melihat sesuatu dengan sudut pandang orang lain bahkan sifat egosentris sudah semakin berkurang. (i) mempunyai ketertarikan pada hobi bahkan koleksi yang lebih bervariasi.dewasa. Selanjutnya dikemukakan lagi oleh Brady (1991: 35-7) bahwa anak usia 8 dan 9 tahun: (a) pemfungsian tahap berpikir operasional konkret menurut Piaget. (f) mengadopsi orang lain menjadi model daripada orang tua. (h) mulai menunjukkan minat dan keterampilan yang berbeda dengan kelompoknya. bahwa anak sudah dapat melihat hubungan yang lebih abstrak. (g) mulai menunjukkan minat pada aktivitas yang khusus. (b) anak mulai berpengalaman pada tahap kepandaian dan perasaan rendah diri. (l) menunjukkan perilaku yang egosentris bahkan sering menuntut apa yang menjadi keinginannya. (c) mulai menerima konsep yang benar berdasarkan aturan. (d) memiliki perhatian dan penghormatan dari kelompok kini lebih penting. (g) menghargai petualangan imaginatif. (e) minat pada kelompok sudah lebih meningkat bahkan mencari kekariban dalam sebuah kelompok.

Pertumbuhan dan perkembangan realitasnya tidak dapat dipisahkan. kreativitas. dan sosial.persetujuan dan ingin mengesankan. Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yaitu peningkatan ukuran struktur yang mempengaruhi perkembangan intelektual dan mental anak. dan (m) memahami dan menerima adanya aturan berdasarkan perbedaan jenis kelamin. Anak dalam usia 6 sampai 12 tahun memiliki karya seni rupa yang bersifat khas sebagai cerminan dari tingkat kemampuan dan kesenangannya. bertambahnya berat badan. sehingga hampir tidak pernah terlihat kesan lelah pada fisik mereka. 45 . Karena itu menurut Hurlock (1991: 150) melalui latihan yang berat anak dapat melepaskan tenaga yang tertahan dan membebaskan tubuh dari ketegangan. (l) mempunyai citarasa keadilan bahkan kepedulian terhadap orang lain. a. (j) mencari nilai-nilai. Perkembangan fisik dan motorik Perkembangan fisik anak meliputi bertambah besar dan tingginya ukuran tubuh. (i) ingin menunjukkan kemampuan serta kemauan untuk melihat sudut pandang orang lain. (k) menunjukkan adanya perbedaan di antara individu. yaitu mereka memiliki banyak energi untuk memenuhi keinginan mereka terutama bermain yang mereka senangi. yang secara otomatis mempengaruhi perkembangan fungsi-fungsi organ tubuh. Pada usia awal sekolah dasar anak-anak yang normal berada dalam masa yang energetic. Perkembangan anak meliputi perkembangan fisik intelektual. emosional. Berikut ini dibahas secara umum sisi perkembangan anak sekolah dasar secara singkat.

konversi. pendidikan. Anak-anak sudah belajar mengembangkan konsep berpikir sederhana. menilai intensitas perasaan. kemudian mereka mengendurkan diri. kompensasi. belajar. mengurangi stress. karena proses kognitif mereka tidak terlalu egosentris lagi dan sudah lebih logis lagi. Piaget merinci intelegensi dalam komponen isi (apa yang dipikirkan). mengingat. berlawanan dari aktivitas fisik yang selama ini diterapkan untuk memecahkan masalah atau untuk berpikir.kegelisahan. mengetahui perbedaan antara perasaan dan tindakan. identitas. seringkali 46 . Keterampilan emosional meliputi aktivitas: mengidentifikasi dan memberi nama perasaan-perasaan. atau kecerdasan. dan lain-lain. dan pengalaman hidup. mengungkapkan peraaan. Anak usia 7-11 tahun sudah lebih mampu berpikir. menunda pemuasan. dan berkomunikasi. c. Pada diri anak-anak ketika kontrol emosionalnya masih labil dalam intensitas emosi yang tinggi. mengendalikan dorongan hati. Perkembangan intelektual Perkembangan intelektual dikenal dengan perkembangan intelegensi. struktur (konsep atau pola pikir) dan fungsi (organisasi dan adaptasi). reversibility (bolak-balik). klasifikasi. Piaget menamakan usia ini sebagai periode operasional konkret. b. kognisi. mengelola perasaan. Perkembangan emosional Emosionalitas seseorang mengalami perkembangan seiring bertambahnya usia. dan keputusasaan. angka. baik secara fisik maupun secara psikologis. dimana anak-anak telah mampu menggunakan simbol-simbol untuk melakukan suatu operasi atau aktivitas mental. seperti pemisahan.

1999: 9). atau cemoohan orang dewasa atau orang lain mereka akan mengarahkan tenaganya ke dalam kegiatan-kegiatan kreatif. senirupa. Suatu rentang kehidupan dimana akan ditentukan apakah anak-anak menjadi konfomis atau mencipta karya yang baru dan orisinal. Sebagai contoh. d. tetapi lingkungan yang tidak mendukung dapat menghambat bahkan merusak potensi kreatif peserta didik tersebut. masa berimajinasi tinggi dan masa bermain. musik yang teratur dalam kurikulum. lingkungannya. drama. Perkembangan kreativitas Anak usia sekolah dasar dinamai dengan “usia kreatif” (Hurlock. Menurut Abdussalam (2005: 50-51) ada beberapa pilar kreativitas dan faktor yang mempengaruhi munculnya kepribadian seorang anak. kritik. Penelitian mengenai kreativitas menunjukkan bahwa bila anak-anak tidak dihalangi oleh rintangan-rintangan lingkungannya. Perkembangan kreativitas peserta didik dapat diamati pada proses dan karya kreatif peserta didik. 1991: 147) atau masa “keemasan berekspresi kreatif” (Herawati.mereka merasa tertekan secara emosional akibat perlakuan dan batasan-batasan dari lingkungan mereka. Untuk itu aktivitas bermain yang menantang dan latihanlatihan yang berat dinilai dapat menjadi alat katarsis emosinya. kreativitas itu muncul melalui 47 . dan cara pertumbuhannya yaitu: 1) Ada beberapa cara yang dilakukan anak-anak kecil untuk mengungkapkan pemikirannya yang beragam. kehidupan. Di sekolah diselenggarakan bermain yang mendidik yang mencakup kegiatan olah raga. Perkembangan kreativitas peserta didik dapat distimulasi dengan banyak cara.

Dalam kegiatan ini. bercanda. bersukaria. mengikuti. kita mendapati seorang anak itu dapat berbicara. atau melalui aktivitas seni. Menurut Torrance (1981) mengembangkan kreativitas melalui dua kegiatan yaitu kegiatan verbal dan figural. serta kemampuan untuk menyelesaikan sebagian permasalahan atau perlawanan ditengah-tengah beraktivitas. bernyanyi. 2) Menikmati pengalaman-pengalaman. melukis. Kegiatan verbal adalah pengembangan kreativitas dengan menyatakan ide melalui kata-kata. 4) Permainan anak-anak merupakan pilar pemikiran kreatif yang paling penting. bertanya. beberapa aspek dari kreativitas dirangsang seperti kemampuan untuk 48 . bermain.beberapa perantara atau gambaran-gambaran akal. membentuk. berbohong. permainan. dan gerakan. dan membaca. pengembangan alternatif. menjelajahi tentang hal-hal yang unik dan belum pernah dibuat orang lain. mencontoh. musik. Sedangkan kegiatan figural adalah pengembangan visual “ visual thinking” yaitu melalui bentuk dan garis. mewarnai. dan aktivitas yang berbeda-beda itu merupakan sesuatu yang penting dan pilar yang besar dalam membentuk kreativitas pada diri anak 3) Permulaan kreativitas itu ditandai dengan perolehan beberapa hal. berkhayal. menirukan. Pada masa anak-anak ini. baik yang berupa aktivitas melukis. dan produksi bentuk-bentuk yang baru. Imajinasi dituntun untuk berkembang melalui rangsang bentuk-bentuk dan struktur garis yang dikembangkan menjadi suatu bentuk yang dapat dikenali dan unik. penekanannya adalah pada rasa ingin tahu. menemukan dan menghasikan sesuatu.

d. Berbeda dengan pengembangan ide secara verbal. Ask and Guess Activity. kegiatan ini bertujuan mengembangkan rasa keingintahuan tentang kemungkinan-kemungkinan serta kemampuan untuk memformulasikan hipotesa. kegiatan yang memberi kesempatan untuk mengembangkan ide-ide dari sesuatu yang telah ada. misalnya berpikir tentang apa yang dapat digunakan terhadap sebuah kaleng susu selain untuk tempat susu. kegiatan ini dimaksudkan untuk mendapatkan berbagai macam rspon dari suatu pertanyaan yang tidak biasa. c. pengembangan ide secara figural ada tiga macam yakni: 49 . kegiatan ini bertujuan mengembangkan fantasi yang tinggi dengan memberikan suatu gambaran atau ilustrasi yang mustahil dapat terjadi. kemampua untuk mengkombinasikan. Usulan Quesstion Activity. Misalnya dalam melihat sebuah gambar. kegiatan yang bertujuan untuk membeberkan pikiran dari sesuatu yang telah mapan. melengkapi dan memperjelas sesuatu. kegiatan yang dilakukan adalah apa yang bisa dibuat atau dikembangkan berdasarkan rangsangan visual dari mainan tersebut. Pengembangan kreativitas melalui rangsangan verbal terdiri dari beberapa jenis yaitu: a. dicari sesuatu yang tidak terdapat dalam gambar. Usulan Uses Activity.memecahkan ide sebanyak mungkin. misalnya sebuah mainan anak-anak. Just Suppose Activity. Product Improvement Activity. b. e. misalnya kenapa Tuhan memilih buah apel untuk menggoda Siti Hawa.

Incomplete Figure Activity. Dalam hal ini yang dikembangkan adalah kemampuan membuat variasi dari sebuah jenis rangsang visual. Perkembangan sosial Perkembangan sosial adalah perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengaqn tuntutan sosial atau menjadi orang yang mampu bermasyarakat. Picture Construction Activity. Misalnya diberikan rangsangan visual berbentuk buah. e. c. Hal ini dapat dilakukan dengan menambah elaborasi sehingga diketemukan cara pemecahan masalahnya. b. Untuk mendapatkan respon yang orisinal ketegangan emosi harus terkontrol. kegiatan ini dimaksudkan mengembangkan kemampuan dalam menemukan sesuatu yang belum memiliki maksud yang jelas dalam suatu rangsang visual. Biasanya ada sepuluh bentuk yang tak lengkap untuk disempurnakan dalam waktu yang terbatas. hanya saja kegiatan ini dikembangkan dari satu jenis unsur sebagai rangsang pengembang ide. menciptakan ketegangan mental untuk keluar dari permasalahan dengan melengkapi gambar melalui cara yang sederhana dan semudah mungkin. garis sejajar dalam jumlah tertentu dan juga dalam gerakan terbatas. misalnya bentuk lingkaran. 50 . kemudian bentuk tersebut dikembangkan menjadi bentuk yang lengkap dan menceritakan sesuatu secara visual.a. kegaitan ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan untuk membuat struktur dan kesatuan. Repeated Figure Activity. kegiatan ini mirip dengan Incomplete Figure Activity.

mulai tertarik pada permainan kelompok. banyak orang yang berhasil dalam perkembangan intelektual tetapi tidak berhasil lam perkembangan sosialnya. untuk memilih teman bermain. Penekanan kegiatan seni lebih pada ekspresi diri. anak menetapkan kriteria baru. tetapi untuk menjadi pribadi yang sosial mereka harus belajar dalam waktu yang tidak singkat. maka pendidikan seni di SD lebih menekankan pada pengembangan kemampuan dasar anak dalam mengolah kemampuan mental dan kesiapan belajar. dan perkembangan sikap sosial. Pada anak usia sekolah dasar. pengolahan imajinasi dan kreasi. Penekanan pengolahan seni di SD terletak pada kegiatan bermain.Walaupun pada dasarnya setiap manusia adalah makhluk sosial. 51 . rasa dan cipta. di samping kriteria alam. Bentuk pengolahan kesadaran perseptual. Mereka harus melalui paling tidak tiga proses sosialisasi seperti yang diungkapkan Hurlock (1991: 250) antara lain: belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial. memainkan peran sosial yang dapat diterima. Mereka tidak begitu bergairah lagi bepergian bersama orang tuanya. bunyi dan gerak. karsa dan karya dilakukan dalam permainan melalui medium rupa. anak semakin senang berada bersama-sama dengan kelompok-kelompok kecil anak-anak umur sebaya. pikir. Keberhasilan sosial tidak ditentukan semata-mata karena keunggulan intelektual. Berdasarkan karakteristik tingkat perkembangan tersebut di atas dan sesuai dengan tujuan pendidikan sekolah dasar.

binatang. seperti pemandangan alam. sehingga seni lukis merupakan karya yang terlepas dari unsur-unsur kegunaan praktis. atau bahan lainnya. Pengertian dan Jenis Seni Lukis Seni lukis merupakan bagian dari bidang seni rupa murni yang berwujud dua dimensi. Karya seni lukis yang juga sering disebut dengan lukisan. bentuknya tidak nyata. 52 . bahkan kurang dimengerti oleh orang awam. Elemen-elemen seni lukis 1) Garis Pada dasarnya garis merupakan elemen utama dalam seni lukis. Lukisan bergaya abstrak berasal dari khayalan kreatif senimannya. Lebih jelas lagi seni lukis merupakan suatu pengucapan pengalaman artistik seseorang yang dicurahkan ke dalam bidang dua dimensi dengan menggunakan garis. bidang. a. tersamar. figur manusia. Karya lukis bergaya ekspresionis (penuh perasaan) memiliki objek benda atau figur yang dibuat dengan garis dan warna yang bernuansa emosi pelukisnya. warna. Pembelajaran Seni Lukis di Sekolah Dasar 1. Seni lukis adalah salah satu lingkup seni murni berwujud dua dimensi. karena garis yang pertama menentukan bentuk suatu karya lukis secara keseluruhannya. umumnya dibuat di atas kain kanvas berpigura dengan bahan cat minyak. tetapi mengandung berbagai alternatif rupa yang baru. cat akrilik. yaitu elemen seni lukis dan kaidah-kaidah komposisi. ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. dan tekstur.C. atau benda lainnya. Objek dan gaya lukisan sangatlah beragam. Karya seni lukis bergaya naturalis (potret) dibuat persis seperti objek aslinya. Dalam pembuatan sebuah karya seni lukis.

massa. Garis yang kencang memberikan perasaan yang berbeda dari garis yang berbelok atau melengkung. dan kontur. sehingga meninggalkan bekas yang nyata. irama. tekstur. garis ini dihasilkan dan terjadi karena suatu goresan. kumpulan dari beberapa titik dan sebuah bentuk yang mengandung arti yang melebihi daripada titik. dan dari letaknya terhadap garis-garis yang lain. Wujud garis dapat dibedakan menjadi dua macam. (b) garis semu. Garis adalah batas limit suatu benda. karena bentuknya yang menimbulkan perasaan tertentu kepada si pengamat. ruang. 53 . ruang. dan susunan objek. yaitu: (a) garis nyata. sedang warnanya berfungsi sebagai penunjang dan menambahkan kualitas tersendiri. garis merupakan sebuah goresan. yaitu garis yang terjadi karena kesan yang dapat ditangkap oleh mata yang sesungguhnya merupakan batas limit suatu benda. Selanjutnya Ruta (2005: 22) mengatakan bahwa garis dapat menyatakan bentuk. Sesuai dengan pendapat di atas. tebal-tipisnya. Apabila dilihat dari bentuk garis. Kesan yang diciptakan juga tergantung dari ukuran. gerak.Garis merupakan hasil suatu goresan yang diakibatkan oleh sebuah titik bergerak lurus sehingga membentuk jejak. gelap terang. warna. warna. Djelantik (1999: 19) mengemukakan bahwa garis sebagai bentuk mengandung arti lebih daripada titik karena dengan bentuknya sendiri garis menimbulkan kesan tertentu pada pengamat. Yang satu memberi kesan yang kaku. keras. dan yang lain memberikan kesan luwes dan lemah lembut. dan susunan dari objek-objek. massa. suasana.

Bidang Organik (c) Bidang bersudut. dibatasi oleh garis lengkung bebas yang mengesankan keceriaan dan pertumbuhan Gambar 2. dibatasi oleh beberapa garis lurus yang secara matematis tidak bertalian. Demikian juga dengan garis. Jenis bidang dapat dibagi menjadi empat bagian yaitu: (a) Bidang geometris. dibuat secara terukur Gambar 1.2) Bidang Bidang merupakan suatu area yang dibatasi oleh garis. namun bidang belum tentu titik. 54 . baik garis nyata maupun garis semu. namun bidang belum tentu berwujud garis. titik dapat berupa bidang. Bidang Geometris (b) Bidang organik. Dengan demikian. bahwa garis dapat berupa bidang.

Gambar 4. Komposisi Ruang Negartif dan Positif 55 . Gambar 5.Gambar 3. Bidang Tak Beraturan 3) Ruang Ruang dapat diartikan sebagai keluasan yang dibatasi oleh limit baik keluasan positif maupun keluasan negatif. dibatasi oleh garis lurus dan lengkung yang secara matematis tidak bertalian. Keluasan positif yaitu ruang yang sering menggambarkan objek sedangkan keluasan negatif yaitu keluasan dalam bentuk dua dimensi ruang negatif ini sering menjadi background. Bidang Bersudut (d) Bidang tak beraturan.

Ruang dengan Teknik Pergantian Bentuk dan Ukuran (d) Pergantian tekstur. semakin jauh suatu benda warnanya semakin memudar atau warna panas akan berkesan mendekat. Gambar 8. tekstur yang kasar akan tampak lebih dekat dibandingkan dengan tekstur halus. satu bentuk menumpang pada bentuk lain. sedangkan warna dingin berkesan menjauh. Gambar 7. yaitu semakin jauh suatu bentuk akan terlihat semakin kecil. 56 . Ruang dengan Teknik Penumpangan (b) Pergantian warna. Ruang dengan Teknik Pergantian Warna (c) Pergantian bentuk dan ukuran.Beberapa teknik dalam pencapaian ruang dalam karya dua dimensi yaitu: (a) Penumpangan. Gambar 6. Bentuk yang nampak berada di depan atau di atas bentuk lain.

Gambar 9. Ruang dengan Teknik Pelengkungan (f) Penambahan bayangan pada bentuk. hal in terjadi dengan menukarkan kedudukan bentuk untuk membangkitkan ruang maya. Gambar 10. yaitu penambahan dapat dilakukan dibelakang atau di depan. Ruang dengan Teknik Pergantian Tekstur (e) Pelengkungan atau pelekukan. Gambar 11. Ruang dengan Teknik Gelap Terang 57 . Gambar 12. Ruang dengan Teknik Bayangan (g) Manipulasi dengan teknik gelap terang atau dengan perbedaan/perubahan tekstur.

yaitu istilah yang sering digunakan untuk menunjukkan nama dari suatu warna. (b) Value. biru. yaitu kualitas dari suatu warna yang menunjukkan suatu hue. seperti merah. Sedangkan tekstur semu adalah nilai raba suatu permukaan benda hanya dapat dinilai secara visual. berkaitan tentang cerah dan suramnya warna. Jenis tekstur ada dua macam. lunak. 5) Warna Warna yang sering kita lihat atau gunakan dalam kehidupan sehari-hari dapat dibedakan menjadi tiga dimensi. oranye. Tekstur nyata yang dimaksud disini adalah nilai raba suatu permukaan benda secara fisik dapat dirasakan oleh indera raba. kuning. Hue yang murni adalah 58 . hijau. keras. halus. yaitu istilah yang digunakan untuk menunjukkan terang gelapnya warna. yaitu: tekstur nyata dan tekstur semu. tetapi tidak dapat dinilai atau dirasakan oleh alat indera raba. (c) Intensity. dan licin. yaitu: (a) Hue.4) Tekstur Tekstur merupakan nilai raba suatu permukaan benda. Oleh karena itu putih dan hitam tidak termasuk dalam lingkaran warna. misalnya tekstur batu. Nilai raba suatu permukaan benda tersebut dapat berbeda-beda. Merubah value menjadi terang dapat dengan cara menambah warna putih secara bertingkat disebut tint. sebaliknya merubah value menjadi gelap dengan cara menambah warna hitam secara bertingkat disebut shade. ada yang kasar. kasap. dan lain-lain. Terangnya seluruh warna adalah putih dan gelapnya seluruh warna adalah hitam.

yaitu campuran warna-warna dari ketiga variabel dimensi warna yang berasal dari satu warna yang berlainan nilai dan intensitasnya. yaitu hubungan warna yang saling bersebelahan pada lingkaran warna. sehingga menimbulkan sensasi visual panas dan dingin.cemerlang dan kuat. seperti hijau dengan kuning. hitam. dan violet. ada beberapa hubungan antar warna. dan abu-abu atau mencampur dengan warna komplemennya atau dapat juga dengan warna-warna yang ada disebelahnya. Semua warna memiliki temperatur. Selain dimensi warna yang telah dijelaskan di atas. yaitu susunan warna yang kontras atau bertentangan. (c) Komplementer. (b) Monocromatik. hijau. dan sebagainya. Klasifikasi temperatur warna tersebut dapat dilihat pada lingkaran warna: warna panas terdiri dari warna kuning. oranye. merah. kuning-oranye. Hue dalam intensitasnya yang lebih rendah adalah lebih lembut. biru. oranye dengan merah. kuning dengan oranye. Sedangkan warna dingin terdiri atas: kuning-hijau. yaitu sebagai berikut: (a) Analogus. oranye-merah. Untuk lebih jelasnya lingkaran warna dapat dilihat pada gambar berikut: 59 . hiaju-biru. dan ungu merah. Mengurangi intensutas suatu warna dapat dicapai dengan mencampur atau menambah hue yang murni dengan warna-warna netral seperti putih. biru-violet.

Lingkaran Warna b. antar bidang. 2. Kesatuan (Unity) Nilai kesatuan dapat dicapai dengan mengkomposisikan elemen-elemen yang memiliki karakter yang sama. Keseimbangan (Balance) Keseimbangan dalam karya seni rupa adalah keserasian bobot dari unsurunsur seni rupa itu sendiri. garis dengan bidang. Kesatuan dapat dirinci menjadi kesatuan antar warna. Kaidah-kaidah Komposisi Ada beberapa kaidah komposisi yang perlu diperhatikan pembuatan sebuah karya lukis. warna dengan tekstur. bidang dengan tekstur. artinya nilai dari sebuah karya seimbang. walaupun mungkin wujud dan jumlahnya tidak sama atau bahkan 60 . kesatuan antar garis dengan warna. dan antar semua elemen. antar garis.Gambar 13. garis dengan tekstur. kesatuan antar tekstur. yaitu sebagai berikut: 1.

4. bagian yang satu merupakan cerminan bagian yang lainnya. Dengan kata lain. 3. Keseimbangan asimetris ini memberi kesan yang labil. yaitu irama monotone dan irama dinamis. seperti keras-lunak. Irama yang monotone terjadi karena adanya pengulangan wujud dan jumlah yang sama. Perubahan tersebut dapat juga terjadi karena adanya pengulangan. Menurut sifatnya. Keseimbangan dalam karya seni rupa dapat dibedakan menjadi dua bagian. Keseimbangan simetris merupakan keseimbangan antara dua sisi sama kuatnya. Keseimbangan asimetris merupakan keseimbangan yang dicapai dengan menyerasikan bobot antar unsur yang bersebelahan. sehingga mempunyai kesan yang tidak membosankan. Proporsi Proporsi merupakan hubungan-hubungan ukuran dari bagian-bagian dalam keseluruhan suatu bentuk atau objek. atau cepat-lambat. yaitu: keseimbangan simetris dan keseimbangan asimetris. artinya antara sisi kanan dan sisi kiri dari sebuah karya seni rupa memiliki wujud dan jumlah yang sama kuatnya. sehingga dalam irama ini terjadi penekanan-penekanan.bertentangan. dinamis. irama dapat dibedakan menjadi dua. Irama (Rhythm) Irama merupakan perubahan-perubahan warna dan bentuk secara teratur yang membawa perasaan hanyut di dalam perubahan-perubahan yang terjadi. misalnya: proporsi manusia adalah 61 . namun wujud dan jumlahnya tidak sama. Sedangkan irama yang dinamis dapat terjadi karena adanya pengulangan bentuk yang sangat variatif.

62 . cahaya atau gelap terang. atau panjang batang tubuh (torso). bentuk dan jumlah elemenelemen seni rupa lainnya. misalnya dalam warna terdapat keserasian yang bersifat karib (analog) dan keserasian kontras. kontras dan silang dalam lingkaran warna. 6. Hubungan proporsi ini misalnya mengenai warna. Keserasian karib pada warna ditandai dengan mendampingkan warna merah. Pusat Perhatian (Center of Interest) Dalam komposisi seni diperlukan adanya pusat perhatian yang dapat memberikan aksentuasi yang disebut dengan dominasi dalam sebuah karya seni rupa. dan oranye. lebar bahu. Persoalan proporsi sangat berhubungan dengan ukuran atau dimensi anatar bagian yang satu dengan bagian yang lain dalam suatu karya seni. Proporsi digunakan untuk menciptakan keteraturan yang dapat membentuk standar keindahan dan kesempurnaan. merah-kuning. Sedangkan keserasian kontras yaitu pertentangan (komplementer) yang bersifat ganda.antara ukuran kepala dengan tinggi badan. Keserasian Keserasian merupakan prinsip yang digunakan untuk menyatukan unsurunsur rupa walaupun berasal dari berbagai bentuk yang berbeda. oranye-kuning. 5. Dominasi dapat diciptakan melalui unsur utama yang didukung oleh dengan menampilkan unsur-unsur penunjang lainnya sehingga menghasilkan sesuatu yang kontras. Adapun tujuan keserasian adalah untuk menciptakan keselarasan dan keharmonisan dari unsur-unsur yang berbeda.

sehingga diharapkan hasil penilaian yang dilakukan 63 . Kadang-kadang lembut sampai immaterial. atau merupakan bahan-bahan kelahiran ekspresi kontrastik yang serba menyala. dan kreasi/rekreasi) yang mendukung pelaksanaan pembelajaran seni budaya (seni rupa. Konstruk yang tidak merusak harmoni dengan kemampuan membawakan kehidupan.Demikian elemen-elemen seni lukis dan kaidah-kaidah komposisi yang ada dalam karya seni lukis. luar biasa atau langka. Kusnadi (1991: 18) menyebutkan: bahwa pengolahan elemen-elemen tersebut mencerminkan ekspresi kejiwaan yang kuat. tari. struktur. yang menyebutkan bahwa pendidik mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan harus mempunyai kompetensi: menguasai materi. apresiasi. teater) dan keterampilan (PP 19 tahun 2005). dan pola pikir keilmuan (mencakup materi yang bersifat konsepsi. jelas dan dinamis. warna dan tekstur bukan lagi sebagai elemen-elemen pisik tetapi mencerminkan ekspresi kejiwaan yang kuat bagi pembuat karya lukis tersebut. konsep. namun dalam kenyataan apabila sudah menjadi suatu bentuk karya seni lukis: elemen garis. Dengan demikian untuk menentukan hasil karya seni lukis yang baik dari peserta didiknya tentunya seorang pendidik dituntut memiliki kompetensi sebagai pendidik mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan pada Sekolah Dasar. dalam membentuk imaji kreatif dari karya seni. merupakan tanda-tanda positif karya bermutu. Berkenaan dengan pengolahan elemen-elemen dan kaidah komposisi sehingga merupakan tanda-tanda karya seni lukis yang bermutu. musik. Hal ini sesuai dengan PP 19 tahun 2005 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Kesan unik.

biru. dan estetik (Lowenfeld. Kegiatan seni di samping penting bagi perkembangan kognitif juga memberikan rangsangan bagi pertumbuhan persepsi. 1982). social. yang dapat diterapkan pada 64 . kecerdasan spiritual. Dalam proses melukis. Seni Lukis sebagai Cerminan Isi Jiwa Mencermati lukisan anak dan cara mereka menggambarkan lingkungannya. social. visual/spasial. Dengan kegiatan ini perlu diketahui apa yang dapat dikembangkan pada diri anak secara maksimal. sesuai dengan “kacamata” anak. naturalist. karena lukisan anak itu sendiri mencerminkan segi kejiwaan anak. 2. interpersonal. seprti fisik. logical/mathematical. Dengan lukisan anak dapat dibaca jiwa dan kehidupan anak-anak yang bersifat polos. dam krativitas anak. sangat berani: merah kuning. anak tidak ada rasa takut. intelektual. emosional. Goresannya spontan dan bebas: miring kesana kemari. Seni Lukis bagi Anak Usia Sekolah Dasar a. Demikian juga pada multiple intelegences gardner yang membagi karakteristik kecerdasan menjadi sembilan jalur yaitu: verbal/linguistic. perceptual. hitam dan seterusnya.pendidik memenuhi esensi yang dipersyaratkan pada penilaian karya seni anak. Apa yang dituangkan dalam tema lukisannya adalah apa yang dilihatnya sesuai dengan lingkungan hidup yang nyata dan khayalnya. Peran pendidikan seni yang multi dimensional pada dasarnya dapat mengembangkan kemampuan dasar manusia. dapat memberikan suatu pandangan tingkah laku dan apresiasi pertumbuhan dan perkembangan bervariasi yang dialami anak. kreativitas. Penggunaan warna sesuai dengan suasana hatinya. emosional.

dengan melukis anak mendapat kesempatan untuk menumbuhkan emosinya. cirinya adalah anak dapat memvisualisasikan imajinasi ke dalam kenyataan yang dituangkan dalam bentuk tulisan (Jamaris. Anak yang sulit menyesuaikan diri. sering ia tuangkan ke dalam gambarnya. Hal ini dapat dilihat bagaimana anak menggambarkan sesuatu yang menurutnya penting dan melibatkan emosinya. Persepsi. dimungkinkan terlambat pula perkembangan intelektualnya. Anak yang terlambat berkembang konsepsinya sesuai kemampuan usianya. perlu diciptakan kondisi yang melatih anak mampu menyesuaikan dirinya. Emosi. perkembangan intelektual dapat dilihat pada gambar anak. Kehidupan dan kemampuan untuk terus 65 . Setiap perubahan situasi membutuhkan fleksibilitas berpikir. akan terlihat keterlibatan segi kejiwaan anak sehingga mencerminkan kondisi kejiwaan anak. penanaman dan pertumbuhan indrawi merupakan bagian yang sangat penting dalam kegiatan seni. Dalam kegiatan melukis.lukisan anak-anak. Semua ini merupakan indikator dari perkembangan intelektualnya. Intelektual. Dalam membimbing anak. Perkembangan intelektual seiring dengan perkembangan usianya. Seiring dengan kecerdasan visual/spasial yang merupakan salah satu karakteristik jalur kecerdasan. Dapat dilihat dari beberapa banyak pengetahuan tentang objek yang digambarkan dan hubungannya dengan lingkungannya. bersikap. 2001). Apabila ia dekat dengan ibunya atau dengan temannya. Sejauh mana ia menyadari lingkungannya. akan senang menggambar apa yang telah dibuatnya sehingga terjadi pengulangan-pengulangan yang kurang melibatkan emosi. dan berimajinasi.

Oleh sebab itu penting memberikan kesempatan pada anak untuk mengasah kepekaan persepsinya. kakaknya. Hal ini menandakan usia dini telah memiliki kesadaran sosial. dan ruang. atau situasi sosial lainnya. Hal itu dapat dilihat dari sensitivitas anak dalam mengorganisasikan unsur-unsur rupa menjadi suatu susunan yang terpadu secara spontan dan intuitif. Dalam kegiatan seni. Organisasi garis. dan menyusun sesuatu secara personal. tekstur. pertumbuhan sosial anak dapat diketahui melalui gambar yang dibuatnya. bentuk. Kepekaan tersebut dapat tercermin dari bagaimana anak menggunakan. warna. sebagai dasar kegiatan seni dapat diartikan sebagai cara mengorganisasikan pikiran dan perasaan yang dijadikan suatu ekpresi dan komunikasi dengan orang lain. rasa estetik anak tumbuh secara alami. Perkembangan persepsi dapat didentifikasi melalui gambar yang dibuat anak. temannya. Tujuannya untuk mengasah kepekaan rasa terhadap warna. pertumbuhan kreativitas segera terlihat begitu anak mulai dapat membuat goresan. Sosial. Kreatif. Observasi secara visual adalah kegiatan utama dalam seni rupa. menikmati. dan memberikan reaksi terhadap unsur visual tersebut. ruang. Anak memiliki pengalaman dengan dirinya dan orang lain. Biasanya anak menggambarkan wujud yang paling dikenalnya yaitu bentuk orang.belajar tergantung dari kualitas indrawi manusia. Anak yang jarang mendapat pengalaman persepsi akan memperlihatkan kemampuan yang rendah dalam melakukan observasi dan kesadaran akan suatu perbedaan kualitas visual benda. Dalam gambar atau 66 . Mungkin orang tuanya. dan tekstur disebut seni rupa termasuk di dalamnya seni lukis. bentuk. Estetik. adiknya.

Banyak sedikitnya unsur pada lukisan sangat tergantung pada keasyikan pemikiran dan fantasinya. lebih banyak yang akan mereka ceritakan maka lebih banyak pula bentuk yang akan dimunculkannya. Mereka akan cenderung tergantung dan meniru pekerjaan orang lain. anak akan mengalami kemandegan kebebasan kreatifnya. serta menentukan tema. anak tidak harus terampil. Perkembangan menggambar anak menurut Ricci (1960: 302-307): The child starts drawing with an “interlacing network of lines” and then moves on to simple representational foms which become more detailed with age. Ciri Seni Lukis Anak Anak berbuat dan berkarya atas dasar daya nalar anak. Dengan demikian anak menggambar mulai yang paling sederhana yaitu dengan garis-garis dan berkembang menjadi bentuk-bentuk yang representasional dan detail sesuai dengan perkembangan usia sesuai dengan pengetahuannya sendiri bukan menurut penampakan visual. b. melainkan lebih pada apa yang mereka mengerti. Dalam berkarya.lukisan anak. pertumbuhan kreatif dapat diidentifikasi melalui bagaimana karya itu dibuat secara imajinatif dan mandiri. pikirkan atau khayalkan. tetapi memiliki suatu kebebasan dalam ekplorasi dan ekperimen bahan. Dengan penalaran anak wajar 67 . He recognized in these simple forms that the child draws a description of the subject according to his knowledge of that subject and not according to its visual appearance. jika dipaksa untuk membuat sesuatu yang tidak berhubungan dengan dirinya. Mereka mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam ujud karya seni rupa atau lukisan tanpa terbatas pada apa yang terlihat dengan mata kepala saja. Untuk menjadi kreatif.

melainkan didasarkan pada ingatan atau imajinasi. Pada periode selanjutnya gambar anak menunjukkan bukti adanya unsur imajinasi dan kesadaran yang lebih tinggi terhadap gerakan linier. kaki. dan lebih dekat pada sifat bermain. c. anak belum memperhatikan ketepatan penggambarannya. Gambar anak bukan merupakan tiruan objek-objek di alam. Cooke menyatakan bahwa pada tahap ketiga gambar anak telah menunjukkan adanya hubungan yang alami antarbagian tersebut. 68 . ketika anak sangat aktif mempelajari bendabenda di sekelilingnya. Ia menemukan empat tahap perkembangan simbolik pada anak-anak. Pada tahun 1885-1886 Ebenezer Cooke melakukan penelitian tentang perkembangan gambar anak-anak yang pertama kalinya. Mata. tetapi menurut Cooke. Gambar anak di sini meniru objek (representasional). tetapi ia menetapkannya antara umur empat sampai sembilan tahun. intuitif. Perkembangan pertama berkisar antara umur dua sampai lima tahun. dan ekor digambarkan tanpa pemahaman tentang jumlah dan hubungan antara bagian-bagian objek itu. Perkembangan Gambar Anak Perhatian terhadap perkembangan gambar anak-anak merupakan hal yang baru.dan spontan maka hasilnya tampak sungguh naif. Ungkapan pribadinya muncul melalui bentuk-bentuk dengan makna simbolik tertentu. Pada masa itu anak telah mampu meniru benda-benda di alam dan menghasilkan gambar yang mencerminkan analisis terhadap benda-benda yang dilihatnya. Hasil gambarnya baru merupakan coreng-moreng yang menunjukkan akibat gerakan otot. bulu. Cooke tidak memberikan gambaran yang menyeluruh tentang tahap keempat pada gambar anak-anak.

Brown (1897). Perez (1888). Menurut Lansing (1976: 138139). Shinn (1897). Herrick (1893). O’Shea (1894). hasil-hasil penelitian terhadap gambar anak-anak menunjukkan adanya kesesuaian umum mengenai urutan dan wujud simbol visual perkembangan gambar anak. Clark (1902). Kerschenstein (1905). dan Eisner (1967). Pada tahun-tahun berikutnya. Sebagai contoh. Burt (1921). Wuiff (1927). Krötzsch (1917). Levenstein (1905). Lowenfeld (1947). Eng (1931). ia selayaknya mendapat penghargaan sebagai orang yang pertama kali menulis tentang gambar anak-anak. Lukens (1896). Baldwin (1894). namun daftar ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap karya gambar anak-anak telah muncul sejak tahun 1885. Sir Cyril Burt menyimpulkan adanya tujuh tahap perkembangan. Luquet (1913). Namun. Maitland (1895). salah satu di antaranya tahap 69 . Lark-Horovitz (1959). Daftar ini bukan merupakan daftar lengkap para ahli yang telah memberikan sumbangan pengetahuan tentang urutan tahap-tahap dalam simbolisasi visual. 1) Gambar Anak pada Tahap Figuratif (3-12 Tahun) Pada dasarnya gambar anak mengalami tahap-tahap perkembangan tertentu sesuai dengan perkembangan umurnya.Ebenezer Cooke adalah guru Bahasa Inggris dan observasinya tidak begitu akurat. ditemukan tambahan informasi dari hasil observasi dan penelitian oleh Ricci (1887). tetapi tidak terdapat kesesuaian mengenai jumlah tahap perkembangan dan penyebab-penyebabnya. Stern (1910). Rouma (1913). Barnes (1893). Griffiths (1935). Kebanyakan perhatian itu berasal dari tumbuhnya minat terhadap psikologi dan penelitian yang sistematik terhadap anak. Götze (1898). Kellogg (1955). Sully (1896).

halus. Lansing (1976: 147-178) membagi tahap figuratif menjadi tiga subtahap: (1) subtahap figuratif awal (umur tiga sampai empat tahun). (2) tahap figurative (umur empat sampai dua belas tahun). Selanjutnya. Pada tahap coreng-moreng anak membuat simbolsimbol visual karena rangsangan gerakan otot. hanya terdapat enam tahap perkembangan. perkembangan gambar anak pada dasarnya dapat disederhanakan menjadi tiga tahap pokok: (1) tahap coreng-moreng (umur dua sampai empat tahun). kemudian mengontrol gerakangerakan otot itu. Ketidaksesuaian mengenai jumlah tahapan tersebut pada dasarnya terjadi karena perkembangan gambar anak bersifat gradual. Pada tahap figuratif anak membuat simbol-simbol visual sebagai cara untuk memahami benda-benda dan kejadian-kejadian dalam kehidupan nyata dan menggunakannya untuk memberikan informasi kepada orang lain. sesuai pendapat para ahli (Lansing. dan kontinyu. dan akhirnya mengaturnya sehingga mengesankan “sesuatu hal”. yang lebih penting. (2) subtahap figuratif 70 . tetapi peneliti yang lain hanya menganggapnya sebagai fase transisi. sedangkan menurut Viktor Lowenfeld.represi. sebagai cara untuk mengubah atau mempengaruhi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan budaya. 1976: 138-139). Pada tahap keputusan artistik anak membuat simbol-simbol visual sebagai cara untuk memahami konsep-konsep nyata maupun abstrak dan. Peneliti tertentu menganggap suatu susunan pada gambar anak sebagai karakteristik tahap perkembangan tertentu. karena tahap represi sulit diprediksi. dan (3) tahap keputusan artistic (umur dua belas tahuh ke atas).

Dalam tahap perkembangan simbolik ini gambar anak menunjukkan hubungan dengan kenyataan visual. taman kanak-kanak. and Art Education) 71 . Gambar Manusia oleh Anak Umur Empat Tahun (Sumber: Lansing. dan kadang-kadang juga di kelas dua sekolah dasar. tetapi ia mampu atau tidak mengetahui cara menggambarkannya. Pada gambar 14 tampak usaha pertama anak untuk menggambarkan manusia. Pada umumnya anak pertama kali menggambarkan figur manusia. Dengan kata lain. gambar anak menyerupai benda-benda di lingkungan nyata. Oleh karena itu. dan (3) subtahap figuratif akhir (umur tujuh sampai dua belas tahun) yang dapat diuraikan sebagai berikut. Artist. Subtahap figuratif awal ini berkembang dari tahap coreng-moreng secara hampir tidak tampak. (a) Subtahap Figuratif Awal Subtahap figuratif awal terjadi pada anak umur tiga sampai enam tahun. Secara keseluruhan unsurunsur tersebut menggambarkan manusia secara umum. 1976. Art. kelas satu sekolah dasar.tengah (umur empat sampai tujuh tahun). Lingkaran menggambarkan kepala atau badan dan garis-garis lengkung menggambarkan kaki dan rambut. karena figur manusia itu digambarkan berdasarkan kombinasi dari coreng-moreng. yaitu anak di kelompok bermain. gambar anak merupakan petunjuk kematangan intelektual yang bagus sampai umur sepuluh tahun. Anak mungkin mengetahui bagian-bagian tubuh manusia yang lain. Gambar 14.

sedangkan objek-objek lainnya digambarkan terbalik. dan rumah penyihir. benang. Bilamana perlu.Pada subtahap figuratif awal kemampuan motorik anak terus berkembang dan aktivitas perseptualnya meningkat. Kecepatan perubahan gambar anak ini mengalami penurunan setelah anak mencapai umur lebih dari tujuh tahun. susunan objek-objek itu tidak memberikan hubungan makna. 72 . Dalam hal ini. dalam menggambar suatu objek anak mulai menggunakan cara tertentu. demikian juga hasil gambarnya. Perubahan atau perkembangan gambar anak pada tahap ini berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan tahap-tahap perkembangan sebelum maupun sesudahnya. meskipun mungkin memiliki kaitan antara objek yang satu dengan yang lain. Hal ini menjadikan objek-objek tertentu digambarkan tegak. Dengan demikian. mula-mula anak memusatkan perhatiannya pada suatu objek sampai selesai. tetapi pada kesempatan lain menggunakan cara yang lain. Pada gambar 15 figur-figur manusia digambarkan menggantung di langit bersama-sama dengan piring. Sebagai contoh. ia menggeser-geser atau mengubah-ubah posisi kertas untuk menjangkau bagian-bagian bidang gambar yang belum terisi. kemudian melupakannya dan berganti memusatkan perhatiannya pada objek yang lain sampai selesai dan demikian seterusnya. Konsep anak tentang benda-benda di lingkungannya berubah atau berkembang dan berangsur-angsur menjadi rinci. pada masa perkembangan ini juga anak memasukkan unsur benda-benda yang lain untuk memenuhi bidang gambar. Selain objek manusia.

Sebagai contoh. dan tekstur sedikit atau tidak memiliki hubungan dengan kenyataan. 73 . Penggunaan unsur garis.Gambar 15. Objek-objek digambarkan dan disusun dengan cara tertentu sesuai dengan perasaan atau intuisi anak. and Art Education) Ciri lain gambar anak pada subtahap figuratif awal adalah penggambaran objek-objek dengan ukuran yang berlebihan. Dengan kata lain. Gambar Anak Pada Awal Munculnya Tahap Figuratif dengan Objek-objek yang Menggantung di Langit (Sumber: Lansing. sedangkan anjingnya digambarkan dengan warna hijau. warna. 1976. Artist. Pada umumnya anak begitu senang menggambar dan bertahan pada masa perkembangan ini hingga waktu yang lama. misanya wanita digambarkan dengan warna ungu. Kemiripan gambar anak dengan kenyataan baru menandakan objek-objek secara umum. Kaki dan tangan manusia hanya digambarkan dengan garis lurus. Pada masa perkembangan ini. Art. anak baru sedikit atau belum memiliki kesadaran untuk berpikir tentang keindahan. gambar kepala orang lebih besar dari pada pohon atau gambar anak lebih besar dari rumah. gambar anak pada subtahap ini tidak begitu naturalistik.

(b) Subtahap Figuratif Tengah Gambar anak pada subtahap ini terutama dapat dijumpai di taman kanak- kanak dan di kelas satu. jelas bahwa gambar anak sekarang telah memiliki orientasi bawah dan atas. Gambar seperti ini merupakan satu-satunya tahap simbolisasi yang dapat dijumpai pada berbagai jenjang umur. sedangkan objek yang berada di bagian bawah bidang gambar mengarah ke tanah. Garis dasar ini dapat berupa garis yang dibuat oleh anak atau garis tepi kertas. 74 . Dengan demikian. perlu diketahui guru bahwa gambar seperti ini mungkin muncul di berbagai jenjang sekolah dari playgroup sampai sekolah menengah pertama. Perubahan yang paling penting dari subtahap sebelumnya dapat dilihat pada susunan simbol-simbol dalam gambar anak. Dalam masa perkembangan ini simbol visual anak bertambah rumit dan terus cenderung mengarah pada ketelitian. Benda-benda yang terletak di tanah dalam kenyataan sekarang dibuat berdiri pada garis yang menggambarkan tanah. dan empat sekolah dasar. Namun demikian. Penempatan satu objek berkaitan dengan objek lain sekarang tampak jelas disengaja dan bermakna. Garis ini disebut garis dasar (base line) dan merupakan ciri pokok tahap figuratif tengah. Susunan ini dapat dilihat pada gambar 16. tiga. Hal ini berarti bahwa objek yang berada di bagian atas mengarah ke langit.

Hasil Gambar Anak Umur Lima Tahun. Karena gambar tanah dan kotak itu tampak menggantung. Gambar Anak Pada Subtahap Figuratif Tengah (Sumber: Lansing.Gambar 16. and Art Education) Pada gambar 16. Simbol anak kecil itu tampak berdiri kokoh di atas tanah (garis dasar) yang tidak lagi menggantung di udara. garis dasar terletak agak ke tengah bidang gambar dan anak serta bunga-bunga berdiri di atasnya. Tampak di sini simbol figur yang 75 . Yang Menunjukkan Masa Peralihan dari Subtahap Figuratif Awal ke Subtahap Figuratif Tengah (Sumber: Lansing. 1976. dan beberapa kotak berada di tengah bidang gambar. 1976. Di atas anak terdapat corengan yang menggambarkan langit. maka lebih tepat dikatakan bahwa gambar ini menunjukkan peralihan dari subtahap ini dan subtahap sebelumnya. and Art Education) Gambar anak pada subtahap figuratif tengah dapat dilihat dengan jelas pada gambar 17. Artist. Art. Artist. Art. Gambar 17.

Anak tidak memiliki imajinasi yang kompleks tentang kepala binatang itu.lebih kompleks dibandingkan dengan simbol figur pada gambar-gambar sebelumnya. and Art Education) Gambar 19 menunjukkan gambar kereta dengan gerbong awak kereta (caboose) dan mesin di sebelah kiri serta orang di sebelah kanan. Pada masa perkembangan ini binatang semacam itu digambarkan anak dengan kepala seperti wajah manusia. Kecenderungan kompleksitas ini dapat dilihat pada simbol-simbol yang paling sering ditemukan anak di lingkungannya. pada Gambar 18 kepala harimau digambarkan mirip wajah manusia. Sebagai contoh. Asap muncul di atas mesin dan matahari (objek yang banyak terdapat di dalam gambar anak) bersinar dengan terang. Art. Harimau dalam Kandang (Sumber: Lansing. Artist. 76 . 1976. Objek yang tidak sering ditemukan anak disimbolkan secara sederhana. karena anak tidak mungkin melihatnya dari dekat. Gambar 18.

Artist. Gambar Kereta oleh Anak Umur Lima Tahun (Sumber: Lansing. karena anak telah menciptakan ilusi kedalaman dengan bentukbentuk yang tumpang tindih. Di sini anak masih menggunakan garis dasar. Gambar 20 menunjukkan gambar anak yang hampir mencapai tahap selanjutnya (subtahap figuratif akhir). Perbandingan ini merupakan contoh perkembangan yang terjadi dalam suatu 77 .Gambar 19. Artist. 1976. dalam periode perkembangan ini masih begitu naturalistik. Art. and Art Education) Meskipun gambar (simbol grafis) anak semakin kompleks atau rinci (detail). and Art Education) Gambar 20. Gambar Anak Umur Lima Tahun Menunjukkan Objek-objek Yang Ada di dalam Maupun di luar Rumah (Sumber: Lansing. Art. 1976.

Gambar 22 menunjukkan bus penuh dengan para penumpangnya. Gambar itu masih datar dan kaku. sedangkan gambar anak pada gambar 21 merupakan karya anak umur sepuluh tahun. 78 . Artist. Gambar ini merupakan penggabungan penampakan dari dalam dan sekaligus dari luar suatu objek. tetapi dapat ditemukan juga pada semua tahap perkembangan.subtahap. kecuali tahap coreng-moreng. gambar figur yang dibuat anak semakin realistik. Cara penggambaran ini biasanya ditemukan pada subtahap figuratif tengah. Gambar 21. tetapi pada akhir subtahap figuratif tengah gambar anak belum begitu mirip dengan kenyataan. 1976. Gambar Anak Umur Sepuluh Tahun (Sumber: Lansing. seperti ditunjukkan pada Gambar 22 dan 23. and Art Education) Ciri yang lain gambar anak pada tahap perkembangan ini adalah gambar sinar-x (x-ray drawing). sedangkan gambar 23 ibu dan dua anak di dalam badannya. Art. Gambar 20 merupakan karya anak umur lima tahun. Jelas bahwa dengan kematangan perkembangan anak. Gambar 23 dibuat oleh anak umur lima tahun. sedangkan gambar 22 dibuat oleh anak umur sepuluh tahun.

sedangkan rumah terletak pada garis dasar yang lain. Gambar X-ray oleh Anak Umur Lima Tahun yang Menunjukkan Ibu Dengan Dua Anak di Dalamnya (Sumber: Lansing. seperti tampak pada gambar 22. jalan dan kendaraan-kendaraan lainnya digambarkan secara tampak atas. Jadi. pada subtahap perkembangan ini juga ditemukan adanya kombinasi gambar tampak atas (plan) dan tampak sisi (elevation) dalam satu gambar. Gambar rebahan 79 . untuk menggambarkan ruang. 1976. Sementara itu. Art. Ciri gambar semacam ini juga tampak pada Gambar 24. digunakan dua garis dasar. Artist. Art. and Art Education) Gambar 23.Gambar 22. Gambar Bus Penuh Dengan Penumpang (Sumber: Lansing. Lowenfeld menyebut cara menggambar ini gambar rebahan (folding over) yang juga merupakan ciri pokok subtahap figuratif tengah. and Art Education) Selain penggambaran secara sinar-x. 1976. Artist. Dalam gambar ini tampak gambar sebuah mobil terletak pada satu garis dasar.

1976. Selain itu. Perbedaan yang paling penting antara subtahap figuratif tengah dan subtahap figuratif akhir adalah munculnya penggunaan perspektif sebagai pengganti garis dasar. dan tujuh.misalnya digunakan anak untuk menggambarkan sisi jalan. Gambar subtahap ini tidak terdapat lagi pada anak di atas kelas tujuh. tetapi kebanyakan ditemukan pada anak kelas lima. pada umumnya gambar anak berhenti pada subtahap figuratif akhir. Objek tidak lagi terletak pada garis dasar tetapi terletak di atas bidang yang tampak membentang ke belakang. enam. Setelah umur sebelas atau dua belas tahun anak biasanya tidak aktif menggambar lagi dan jika anak terus aktif menggambar. and Art Education) (c) Subtahap Figuratif Akhir Gambar pada subtahap figuratif akhir mungkin dimulai pada anak kelas tiga. karyanya akan terus berkembang. dan lapangan sepak bola. meja. mengesankan ruang. 80 . sehingga lebih dekat dengan kenyataan. Artist. Namun. Gambar Anak yang Menunjukkan Penggabungan Antara Tampak Depan dan Tampak Atas (Sumber: Lansing. Art. Anak juga membuat objek di tempat yang dekat dengan ukuran yang lebih besar dari pada objek di tempat yang jauh. Gambar 24.

Seperti tampak pada jalan yang menuju ke tempat yang jauh.anak tidak lagi menggambarkan objek-objek secara tembus pandang (gambar sinar-x). Art. Kadang-kadang anak pada subtahap ini telah menggunakan perspektif linier. Gambar Bus Yang Penuh Sesak oleh Penumpang Yang Digambarkan Dengan Perspektif Linier (Sumber: Lansing. Gambar yang Menunjukkan Penggunakan Perspektif Linier oleh Anak Kelas Lima (Sumber: Lansing. Perspektif linier adalah cara menggambarkan garis-garis sejajar secara khusus untuk mengesankan kedalaman. Artist. 1976. Artist. Pada gambar 26 tampak juga bahwa anak menggunakan perspektif linier untuk menggambarkan tempat duduk. Penggunaan perspektif linier ini ditunjukaan pada gambar 25 dan gambar 26. and Art Education) Gambar 26. Art. kedua garis tepinya seolah-olah terus saling mendekat. 1976. Gambar 25. and Art Education) 81 . Pada gambar 25 anak menggambarkan setiap kendaraan dengan menggunakan perspektif linier.

Untuk figur manusia. Bahkan kebanyakan bagian-bagian itu digambarkan dengan rinci. Pada tahap sebelumnya mungkin anak sudah menggambarkan orang perempuan dengan rok dan orang laki-laki dengan celana panjang. bintang film. bibir. pundak yang lebar. telapak tangan. sedangkan orang laki-laki dengan rambut pendek. gambar anak pada subtahap figuratif akhir menunjukkan tingkat realisme yang lebih tinggi pada setiap objek.Selain perspektif linier. dan otot-otot yang menonjol. badan. lengan. Namun. dan guru. tentara. Gambar 28 menunjukkan gambar pemain tenis laki-laki dan perempuan yang dapat dibedakan dengan ciri-ciri yang jelas pada pakaiannya. dan pilot. Pada subtahap figuratif akhir ini dalam menggambar orang anak telah membedakan ciri-ciri orang menurut jenis kelaminnya dengan lebih jelas. rambut. mata. Anak perempuan misalnya mengidentifikasikan dirinya dengan perawat. hidung. ibu. dan lutut menunjukkan anak ciri-ciri perempuan. Anak laki-laki misalnya mengidentifikasikan dirinya sebagai pemain sepak bola. Pada Gambar 27 dua anak perempuan digambarkan sebagai pemain drumband. dan jari-jari. leher. Pada umumnya anak belum merasa puas jika belum dapat menggambarkan dirinya sesuai dengan peran-peran itu secara cukup realistik. Bagi anak-anak tertentu penggambaran secara realistik ini akan 82 . Anak pada subtahap ini juga mengidentikasikan dirinya dengan peran dalam bidang pekerjaan sesuai dengan jenis kelaminnya. kuping. kontur tubuh. Rambut yang panjang. polisi. siku-siku. anak telah menggambar seluruh unsur tubuh: kepala. dan bibir yang mencolok. dada. kaki. pada tahap perkembangan ini anak menggambarkan orang perempuan dengan rambut panjang yang berombak.

and Art Education) 83 . Artist. Gambar Anak Perempuan Yang Mengidentifikasi Dirinya dengan Pemain Drumband (Sumber: Lansing. 1976.terus berkembang. Gambar 27. dan sebagian lagi akan berhenti membuat simbol-simbol visual. and Art Education) Gambar 28. 1976. Art. Art. Artist. Gambar Yang Menunjukkan Perbedaan Anak Laki-laki dan Perempuan Dengan Ciri-Ciri Pakaian yang Rinci (Sumber: Lansing. sebagian anak lainnya akan berganti dengan penggunaan simbol-simbol abstrak.

wujud gambarnya berupa goresan tebal tipis dengan arah yang belum terkendali. Goresan dibuat dengan 84 . Pada masa ini merupakan pengalaman dari aktivitas motorik anak. yaitu: (a) Corengan tak beraturan: bentuk sembarangan.Sedangkan menurut Lowenfeld & Britain dalam buku Creative Mental Growth (1982) membuat periodisasi lukisan anak sebagai berikut: 1) Periode Coreng Moreng (Scribbling Period) Periode ini berlaku bagi anak berusia 2 sampai 4 tahun (masa pra sekolah). Corengan Tak Beraturan (Sumber: Hardiman. 1981: 2. Periode ini terbagi dalam 3 tahap. Pada tahap ini unsur warna belum penting. mencoreng tanpa melihat kertas. Art Activities for Children) (b) Corengan terkendali: anak mulai menemukan kendali visual terhadap coretan yang dibuatnya denagn kata lain sudah ada koordinasi antara perkembangan visual dan perkembangn motorik. Di bawah ini adalah contoh gambar anak pada tahap corengan tidak beraturan: Gambar 29. belum dapat coretan berupa lingkaran. adalah ciri tahapan mencoreng paling awal. anak bersemangat dalam membuat coretan.

penuh semangat. Gambar 30. bahkan lingkaran. Terdapat pengulangan pencoretan garis. anak mulai memberi nama pada hasil coretannya. vertical. Corengan Bernama (Sumber: Hardiman. Corengan Terkendali (Sumber: Hardiman. Art Activities for Children) (c) Corengan bernama: merupakan tahap terakhir masa mencoreng. Art Activities for Children) Gambar di bawah ini merupakan salah satu karya anak periode coreng moreng pada usia 3 tahun. menggunakan waktu yang semakin banyak. lengkung . Warna mulai menyita perhatian anak. baik horixontal. Gambar 31. 1981: 2. Cirinya: bentuk semakin bervariasi. 1981: 2. 85 .

dkk. ataupun disiplin. 1973: 83). pendidik. Dengan demikian anak mulai menggambar bentukbentuk yang ada hubunganya dengan dunia sekitar dan membangun ikatan emosional dengan apa yang digambar. Child Art Therapy) 2) Periode Pra Bagan (Pre Schematic Periode) Berlaku bagi anak berusia 4 sampai 7 tahun (taman kanak-kanak). Gambar di bawah ini merupakan contoh periode pra bagan karya anak usia 7 tahun (Horovitz. dan berbagai hal baru kaitannya dengan perkembangan jiwa. mulai menggambar manusia walau masih sangat sederhana. bereksperimen. pohon. Coreng Moreng Anak Usia 3 Tahun (Sumber: Rubin. 1978: 39. gambar bersifat bagan makin dapat dikenali. teman sekolah.Gambar 32. Pada periode ini anak mendapat kesempatan mencipta. 86 . pelajaran. rumah. maupun emosi mereka. menjelajah. Usia 6 tahun. alat peraga. Pada usia 5 tahun. rasa. dan sebagainya. Berbagai pengalaman berarti mereka temukan dengan adanya interaksi dengan dunia baru. gambar manusia.

Pra Bagan Anak Usia 7 Tahun (Sumber: Horovitz. Pra Bagan Anak Usia 4-7 Tahun (Sumber: Lowenfeld. 87 . yaitu: gambar yang menyertakan pula benda atau obyek di dalam ruang yang sebenarnya tidak kelihatan.Gambar 33. dkk. Understanding Children’s Art for Better Teaching) Gambar 34. 1982: 430. Konsep ruang mulai nampak dengan adanya pengaturan atau hubungan antara obyek dengan ruang. Muncul gejala yang disebut “sinar X” (Xray). Anak mulai menggambar obyek dalam suatu hubungan yang logis dengan obyek lain. Creative and Mental Growth) 3) Periode Bagan (Schematic Period) Berlaku pada anak usia 7 sampai 9 tahun. 1973: 83.

tetapi spontanitas menjadi hilang. 1982: 431. Bagan Anak Usia 10 Tahun (Sumber: Horovitz. gambar jadi kelihatan kaku. dkk. Understanding Children’s Art for Better Teaching) 88 . lalaki dan wanita secara jelas. Karakteristik warna mulai mendapat perhatian anak. mulai memeperhatikan detail. anak mulai mengekspresikan karakter sex. tetapi belum dapat menampilkan perubahan efek warna dan baying-bayang. Kesadaran visual anak mulai berkembang. Gambar 36. 1973: 182 (Part 3).Gambar 35. Bagan Anak Usia 7-9 Tahun (Sumber: Lowenfeld. Creative and Mental Growth) 4) Periode Awal Realisme (Early Realism) Berlaku bagi anak berusia 9 sampai 12 tahun.

dkk. Gambar 37. 1973: 182 (Part 3). idealistic dan mulai memikirkan hubungan dirinya dengan masyarakat. Bagan Anak Usia 13 Tahun (Sumber: Horovitz. anak menjadi kritis terhadap karyanya sendiri. 89 . Understanding Children’s Art for Better Teaching) 6) Periode pengambilan keputusan Berlaku pada anak remaja usia 14 sampai 17 tahun Anak bersikap kritis terhadap diri sendiri. introspektif.5) Periode Naturalistik Semu (Pseudo Naturalistic) Berlaku pada anak usia 12 sampai 14 tahun (masa pra puber) Merupakan akhir dari aktivitas spontan. Seni rupa menjadi produk dari suatu usaha yang serius. Anak tidak lagi menggambar apa yang diketahuinya tetapi apa yang dilihatnya.

dkk. Understanding Children’s Art for Better Teaching) d. serta tinjauan secara psikoanalisis yang dikemukakan oleh Edmund Burke Feldman (1970). Bagan Anak Usia 14 Tahun (Sumber: Horovitz. Pengertian tipe visual adalah bahwa titik tolak penghayatan anak lebih banyak berdasar pengamatan atau konsepsi visual atas 90 . 1973: 182 (Part 3). Menurut Victor Lowenfeld ada dua tipe lukisan anak-anak. yaitu: “the visual type” dan “the haptic type”. Beberapa penelitian tentang adanya bermacam tipe lukisan anak-anak ditinjau dari segi-segi tertentu dapat disebutkan antara lain: klasifikasi empirik atas perbedaan pure-style lukisan anak-anak oleh Herbert Read (1945).Gambar 38. Tipe karya lukis anak dapat diidentifikasi berkat adanya berbagai studi yang dilakukan oleh para ilmuwan khususnya dalam bidang pendidikan dan psikologi. tipologi oleh Victor Lowenfeld (1952). Tipologi Seni Lukis Anak Tipologi dalam seni lukis anak diartikan sebagai pembahasan tentang tipe atau gaya atau corak yang dapat diamati pada hasil karya lukis anak.

sebagai hubungan kesatuannya yang organis. dan ternyata ciri-ciri lukisannya mengarah pada realisme naturalistik. Secara lebih terperinci Herbert Read mendasarkan klasifikasi empiriknya atas perbedaan “pure style” lukisan anak-anak menjadi dua belas kategori lukisan sebagai hasil penelitian dari beribu-ribu gambar anak-anak dari berbagai tipe sekolah. diam seperti halnya objek alam 91 . menggunakan warna sebagai terjemahan objek secara material. sedang penggunaan warna tidak sebagai terjemahan bahan objek melainkan lebih nyata sebagai simbol yang sesuai dengan perasaan subjektifnya. Dalam hal ini faktor eksternal relatif lebih berperan. 2) Lyrical: pernyataan bentuk objeknya sama atau serupa dengan yang organic. Lebih menyukai objek yang mengelompok. tidak perspektivis. tetapi lebih menyukai objek-objek yang statis. memperlihatkan plastisitas gerak objek dan proporsi visual. Pada tipe haptic atau non visual titik tolak penghayatan anak lebih banyak berdasar “ideal concept”nya.bentuk alam sekitar atau objek lukisannya. Dalam hal ini faktor internal lebih nampak berperan. ciri-ciri lukisannya lebih menonjol sebagai ungkapan perasaan subjektif yang mengarah kepada corak non realistik. Ke dua belas kategori tersebut sebagai berikut: 1) Organic: pelukisannya berdasarkan pengamatan visual dan menunjukkan hubungan yang akrab dengan objek-objek eksternal. kemudian diklasifikasikan. tidak mengupayakan ilusi keruangan secara optis. menunjukkan gerak dan proposi figur ekspresif. bergerak dari pada objek yang terpisah dan diam.

3) Impresionist: lebih banyak sekedar melukiskan hasil penangkapan kesan sesaat terhadap situasi atau suasana objek secara cepat. Bentuk-bentuk bagan seperti pada periode awal anak melukis tetap digunakan.benda (still-life) dengan pengerjaan yang halus. 7) Haptic: menunjukkan pelukisan yang tidak berdasar pada konsep pengamatan visual terhadap objek. 8) Expressionist: terdapat kecenderungan yang menonjol untuk mendistorsi bentuk dan warna objek untuk mengungkapkan sensasi internal/subjektif anak secara spontan. Lebih menunjukkan karakteristik sebagai lukisan anak perempuan. Aktivitas citra nonvisual dari 92 . tetapi merupakan representasi dunia internal anak sendiri. 9) Enumerative: anak dengan penglihatannya secara cermat mengontrol objeknya. lebih menonjol sebagai disain yang simbolik daripada penggambaran bagan secara realistik. kurang menunjukkan perhatian terhadap bagian-bagian kecil (detail) yang terdapat pada objek. 6) Schematic: menggunakan bentuk-bentuk geometrik tetapi melepaskan diri dari ikatan struktur objek alam. merekam setiap detailnya sebanyak mungkin yang dapat dilihat dan diingat dan menggambarkannya dalam struktur yang kurang organis. lembut. 5) Structural form: Kecenderungan anak untuk mendeformasi objek menjadi bentu-bentuk geometrik yang merupakan esensi bentuk-bentuk eksternal. 4) Rythmical pattern: berdasarkan hasil pengamatan terhadap bentuk-bentuk objek tersebut dibuat pola-pola bentuk objek tertentu yang diulang-ulang secara ritmis dengan berbagai variasi sehingga memenuhi bidang lukisan.

mata lebih banyak sebagai alat perekam tanpa benyak melibatkan sensasi untuk menciptakan keutuhan suasana. expressionist dan decorative dapat dimasukkan ke dalam golongan non realistik. lirycal dan impressionist yang sama-sama menggunakan wujud atau bentuk alam sesuai dengan pegamatan visualnya. yaitu: organic. schematic. pewarnaan yang bersifat datar. Oleh karena itu Herbert Read mereduksi ke-12 kategori lukisan anak-anak 93 . yang diungkap kembali lewat narasi bentuk dan warna. bentuk. Sesungguhnya klasifikasi tersebut diakui sendiri oleh Herbert Read kurang bersifat definitif dalam arti sebenarnya masih sangat mungkin terjadi reduksi atau perluasan kategori-kategori dalam kenyataan yang lebih luas maupun lebih khusus. baik dalam penampilan organisasi tema. meriah. dipadukan dengan rekonstruksi ingatan dan kenangannya terhadap sesuatu yang berhubngan dengan tema tersebut. meskipun dalam kadar dan kecenderungan yang berbeda-beda. structural form. 12) Literary: Anak menggunakan tema-tema dari cerita atau dongeng yang didapat sendiri dari bacaan atau dongeng dari guru. Berdasarkan klasifikasi di atas dapat dikatakan bahwa cara pelukisan anakanak yang sepenuhnya berdasarkan basis realistik-naturalistik adalah tiga kategori yang pertama. 11) Romantic: Anak mengambil tema-tema kehidupan tetapi diintensifkan dengan fantasinya sendiri. haptic. 10) Decorative: anak memanfaatkan sifat-sifat dua dimensional. Sedangkan rythmical patern. tidak menampilkan ilusi keruangan/kedalaman guna menciptakan pola-pola manarik.

Tipe fungsi mental yang demikian relevan dengan kecenderungan imitatif dalam penggambaran bentuk-bentuk obyek eksternal pada beberapa katagori lukisan anak-anak. (2) empathetic. yang obyektif/naturalistik tetapi vital dan organik. (8) imaginative. cenderung lebih banyak mengandalkan aktivitas intelektual yang berdasar kepada gejala faktual obyektif. sensation. introvert) dari fungsi-fungsi mental tersebut. dengan demikian bersifat introversif. (5) haptic. 94 . associative. Hasilnya masih berupa lukisan. 4 tipe apresiasi estetik Bullough (objective. intuition) beserta kecenderungan kerakterologis (extrovert. Pada katagori organic anak tidak hanya merperhitungkan obyek yang dilukis seadanya tetapi juga memperhitungkan hubungan organisnya. Kedua.di atas menjadi 8 kategori yaitu: (1) organic. Di sini tidak terdapat unsur diri (pribadi) si pelukis. 4 tipe fungsi mental Jung (thinking. Reduksi di atas tetap mempertimbangkan relevansinya yaitu: Pertama. Di sini si pelukis memproyeksikan dan meleburkan dirinya ke dalam obyek lukisannya. (6) enumerative. (3) rhythmical pattern. character). dengan demikian bersifat ekstroversif. Pada kategori organic indra mata lebih berfungsi sebagai saluran kamunikasi (penghubung) antar jiwa si pelukis dengan obyek yang diamati untuk ditulis. Dalam katagori enumeratif tidak terdapat proyeksi semacam itu. Pada tipe fungsi mental: thinking. (4) structural form. (7) decorative. feeling. Indera mata sekedar berfungsi sebagai alat perekam fakta fisik (obyek yang dilukis). physiological/intrasubjective.

Perasaan dapat diekspresikan secara lebih subjektif. Apabila menanggapi bentuk dan warna obyek. anak lebih banyak menggunakan perasaannya dalam menanggapi sesuatu hal.ukisan anak-anak dengan ekspresi extroverted feeling terdapat pada kategori decorative. Dalam hal anak menciptakan motif-motif yang didasarkan pada bentuk-bentuk eksternal/alam dan mengkonstruirnya dalam pola-pola yang ritmis. Bentuk-bentuk alami (natural) diubah (guna mengekspresikan perasaan riang. namun dari imajinasi anak sendiri seperti pada kategori imaginative.Tipe fungsi mental: feeling. namun lebih banyak menurut suasana hati anak. tidak bertolak dari sifat-extroversif seperti pada kategori decorative. Intuisi adalah fungsi mental yang banyak tampil pada ekspresi musikal. dalam lukisannya diolah menurut perasaannya. Ekspresi haptic adalah aspek introvert dari tipe fungsi mental: sensation. 95 . I. di mana titik tolak ubahan bentuk obyek lukisannya diambil dari pola-pola bentuk yang abstrak geometrik. dan "empathy" adalah aspek ekstrovert dari tipe fungsi mental yang sama. melankolik dan lain-lain) dalam bentuk-bentuk motif yang merupakan simbolisasi perasaan anak. Kecenderungan introvert dapat dilihat pada katagori structural form. maka menunjukkan ciri intuisi yang bersifat extrovert. Anak yang bertipe fungsi mental: intuition nampak dalam kecenderungan mengembangkan aksen-aksen ritme spontan dalam lukisannya dengan motif-motif bentuk yang relevan. tidak harus sama dengan sifat-sifat fisik bentuk dan warna obyek secara "kasat mata". Misalnya bunga yang diberi warna cerah untuk mengekspresikan keriaan.

berekspresi. ada dua tipe yang membedakannya yaitu tipe visual dan non visual. 3. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan tentunya digunakan strategi atau teknik yang disebut dengan metode. Tipe-Tipe Psikologis Anak & kategori lukisan anak Thinking Feeling Sensation Intuition : extrovert introvert : extrovert introvert : extrovert introvert : extrovert introvert = enumerative = organic = decorative = imaginative = empathetic = expressionist (haptic) = rhytmical pattern = structural form Anak dalam menuang ekspresi artistik senantiasa berbeda. Dengan demikian tujuan metode pembelajaran adalah merencanakan dan melaksanakan cara-cara yang efektif untuk mencapai tujuan. Sesuai dengan karakteristik mata pelajaran seni rupa seni lukis khususnya. dan nilai rekreasi. Maka dibutuhkan kejelian pendidik dalam memilih 96 . Kedua tipe ini menurut Lowenfeld dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam menilai karya lukis anak. yang pada prinsipnya disenangi anak karena ada muatan nilai bermain.Dengan demikian hubungan antara 8 kategori lukisan anak-anak di atas dengan tipe-tipe psikologis dapat digambarkan sebagai berikut: Tabel 2. Metode Pembelajaran Seni Lukis Anak Sekolah Dasar Dalam suatu pembelajaran tentunya ditetapkan terlebih dahulu tujuan pembelajaran. Namun masing-masing secara khusus memiliki ciri tersendiri bila dilihat dari karya lukis yang dihasilkan.

salah satunya adalah dengan berkarya seni lukis. dan teknik sehingga mereka dapat membuat berbagai karya lukis. dan ekspresif adalah melalui kegiatan berkarya seni rupa. dan menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan (Enjoyfull learning). perhatian. nyanyian. yaitu metode pendidikan yang dapat mendukung pengembangan creative thingking peserta didik. 97 . Motivasi yang dapat diberikan untuk anak usia sekolah dasar misalnya: berupa cerita baik cerita dongeng maupun cerita yang sesuai dengan keadaan lingkungan mereka. Berikut ini langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran seni lukis anak di sekolah dasar agar dapat berkarya sesuai dengan minat. Untuk melaksanakan pembelajaran seni lukis pada peserta didik. Dalam proses membuat karya seni lukis. Langkah-langkah Pembelajaran Seni Lukis Salah satu jalan untuk membentuk pribadi anak yang sensitif. alat. dan arah tujuan dari pembelajaran. keadaan lingkungan atau suasana. anak akan dapat mengenal berbagai bahan. perlu diketahui bahwa pada dasarnya setiap anak mempunyai potensi berkarya seni rupa yang berbeda-beda.metode yang tepat agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. kreatif. sentuhan suasana yang aktual. ataupun sebuah rekaman yang dapat mereka ungkapkan kembali. 1) Pemberian Motivasi Pemberian motivasi merupakan upaya yang dilakukan untuk membangkitkan semangat dan minat anak terhadap tugas-tugas yang akan diberikan untuk dikerjakan. Model-model motivasi sangat banyak tergantung pada tingkat usia anak. a. dan gairah anak untuk berkarya. memberi bekal life skill kepada peserta didik.

3) Pemberian Pelatihan Pelatihan diberikan agar anak mempunyai pengalaman langsung dan diberi kebebasan berekspresi menggunakan media yang telah tersedia. Dalam hal ini anak diberi kebebasan menerima makna tugas dan mencoba menggunakan media yang ada. Dalam kegiatan ini anak juga dapat langsung diajak mengamati dan menghayati karya-karya atau benda-benda yang ada disekitar mereka. dan gembira. Pelatihan dapat diberikan setelah anak memahami apa yang diperagakan dan memahami tugas yang disampaikan oleh pendidik. bebas. melainkan untuk memperjelas keterangan dan sekaligus memberikan daya tarik bagi anak. baik karya orang dewasa maupun karya anak-anak. Contoh karya tersebut bukan semata-mata untuk dicontoh. Proses interaksi antara pendidik dan peserta didik harus selalu dikondisikan dalam suasana segar. dan diakhiri dengan tahap penyelesaian. pengorganisasian unsur-unsur visual seperti pemilihan objek dan penyusunan komposisi. Dalam proses pelatihan ini terjadi alur penciptaan yang meliputi penyusunan konsep dan penuangan ide. pengenalan dan percobaan penggunaan media.2) Pemberian Peragaan Peragaan merupakan mempertunjukkan atau menampilkan sebuah objek yang dapat diamati dan diperbincangkan sesuai dengan tugas yang akan dikerjakan oleh anak. Objek yang dapat dipertunjukkan dapat berupa contoh-contoh karya lukisan. 98 . Hal ini dilakukan agar anak selalu termotivasi untuk mempersiapkan diri dalam mengerjakan tugas yang diberikan.

bertindak sebagai “Tut Wuri Handayani”. kelima langkah pembelajaran seni lukis di atas yang dapat diterapkan di sekolah dasar dapat digambarkan sebagai berikut: 99 . Diskusi lebih mengerah pada pemberian stimulasi untuk menemukan pemecahan permasalahan yang terdapat pada anak. Melalui tahap ini. pendidik dapat berdiskusi langsung dengan setiap anak sesuai dengan tingkat permasalahan atau kesulitan yang dihadapinya. apabila memungkinkan karya-karya tersebut dapat dibahas. 5) Pemaparan Karya Seni Lukis Anak Akhir dari proses pembelajaran seni lukis adalah megumpulkan karya anak kemudian memilih karya yang dapat dipamerkan atau dipertunjukkan untuk dapat diamati secara bersama-sama. Untuk lebih jelasnya. dan didiskusikan oleh anak. Tahap ini dapat dikatakan sebagai tahap evaluasi karya. namun lebih mengarah pada bimbingan individual. Dalam pemantauan. Pendidik pada mulanya melakukan bimbingan secara klasikal atau kelompok. dikaji. pendidik dapat memberikan pujian untuk hasil karya yang dikerjakan dengan baik. Pada tahap ini pendidik sangat berperan penuh.4) Pemantauan Pemantauan dilakukan untuk mengetahui sejauh mana anak-anak dapat berekspresi menggunakan media yang ada. Dapat juga anak diberi kesempatan untuk menceritakan hasil lukisannya sendiri.

Dalam mata pelajaran tersebut. dua kegiatan yang saling terkait satu sama lain yaitu apresiasi dan kreasi. Pada kegiatan ini peserta 100 . Pelatihan yaitu kebebasan berekspresi dengan media yang ada Pemaparan karya. termasuk di dalamnya yang bersifat rekreatif (performance). Peserta didik berperan sebagai pengamat yang menghayati gejala keindahan yang ada dalam karya seni kemudian menanggapinya. 2005) disebutkan tujuan mata pelajaran Seni Budaya dan Ketrampilan adalah untuk meningkatkan sensitifitas. evaluasi dan pemberian pujian bagi hasil karya yang baik Pemantauan dan pembimbingan Gambar 39. mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan adalah nama dari kelompok mata pelajaran estetika yang dilaksanakan pada tingkat sekolah dasar. sedangkan rekreasi menampilkan/menggelar karya seni. Langkah-langkah Pembelajaran Seni Lukis 4. kemampuan mengekspresikan dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni. alat. dan penjelasan teknik secukupnya. Kegiatan kreasi mempunyai makna menciptakan karya seni yang baru.Motivasi Peragaan yaitu mengamati dan menghayati objek disertai dengan pengenalan bahan. disertai dengan tanya jawab. dimaksudkan melatih perkembangan kepekaan rasa estetik peserta didik. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 (Peraturan Pemerintah. Seni Lukis sebagai indikator gambar ekspresi dalam KTSP Dalam kurikulum KTSP. Dalam hal ini tentunya keterlibatan intelektual dan pengalaman estetik peserta didik sangat berperan. Kegiatan apresiasi.

Hal ini memerlukan kerja intelektual. juga kelas tiga semester dua. Misalnya dalam pembuatan karya seni lukis dikenal adanya aspek bentuk yang diubah menjadi struktur. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran Seni Budaya dan Kerajinan Sekolah Dasar berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 yang meliputi kegiatan apresiasi dan kreasi secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 1 halaman 270. Jacques Maritain dalam Sumardjo (2000: 51) menyebutkan adanya ekspresi intelektual yang diperlukan untuk mengubah bentuk menjadi struktur. Dengan sifat anak-anak yang subjektif. ide 101 . disebutkan bahwa mengekspresikan diri melalui karya gambar ekspresif dan mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif. dilaksanakan pada kelas satu semester dua. Menggambar ekspresi menurut tujuannya. Dalam hal ini keterlibatan intelektual peserta didik sangat dominan. relief. Kamaril (2005: 7) mengungkapkan bahwa menggambar ekspresi adalah: usaha mengungkapkan dan mengkomunikasikan pikiran. dan sebagainya) (BSNP. ilustrasi. menjadikan semua tanggapan yang diterima oleh anak akan menimbulkan reaksi pada diri anak. Merupakan titik tolak dari menggambar ekspresi adalah kondisi kejiwaan anak. kelas dua semester satu dan semester dua. Pada kompetensi dasar di atas. 2006: 4). Reaksi yang bersifat subjektif dapat dilihat dari perbuatan anak yang serba spontan.didik secara aktif menghasilkan suatu karya seni (lukisan. terlihat dalam katakata yang diucapkan dan ungkapan jiwa melalui gambar. Secara rinci khusus pelaksanaan seni lukis di sekolah dasar ada dalam penjabaran kompetensi Kreasi Seni Budaya dan Keterampilan dapat dilihat pada lampiran 2 halaman 275.

Bahan dan alat yang dimaksud disini adalah bahan dan alat yang digunakan untuk mencetuskan ide. Selanjutnya sesuai dengan tujuan dan kompetensi dasar yang ada dalam kurikulum. dan ketrampilan peserta didik dalam menggunakan bahan dan alat. cat air. Dengan demikian gambar/lukisan yang dihasilkan peserta didik bersifat sangat pribadi. diraba secara langsung maupun tidak langsung. Bahan dan alat tersebut adalah kertas. tinta. gagasan gejolak perasaan/emosi. kemauan. 102 . produk dari menggambar ekspresi disebut dengan karya seni lukis. manusia berkepala kuda . Salam (2001: 50) mengatakan bahwa kegiatan menggambar/melukis ekspresi di sekolah dipengaruhi oleh paham ekspresionisme yakni suatu paham yang meyakini bahwa dalam menggambar/melukis seseorang seyogyanya menggores secara berani dan spontan agar perasaannya dapat tersalur secara apa adanya tanpa dipengaruhi oleh kemampuan intelektualnya. Menggambar imajinatif adalah salah satu kegiatan menggambar/melukis yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menyatakan daya khayalnya. dan sebagainya. Sebagai contoh. peserta didik menggambar laba-laba raksasa yang besarnya melebihi ukuran pesawat terbang. Hal-hal yang tidak ditemukan secara nyata di dunia ini ditampilkan oleh peserta didik melalui gambar imajinasi. kanvas. Merupakan hal yang terpenting dalam melukis untuk anak sekolah dasar adalah keberanian. gejolak perasaan/emosi serta imajinasi dalam wujud dwimatra yang bernilai artistik dengan menggunakan garis dan warna. didengar.gagasan. kuas. Dalam hal ini guru seyogyanya tidak ikut campur dalam menentukan apa yang harus diungkapkan oleh peserta didik. piring yang bisa terbang. dan imajinasi yang diperoleh dari apa yang dilihat.

Anak sudah dapat berpikir lebih menyeluruh dengan melihat banyak unsur dalam waktu yang sama (decentering). 103 . anak pada masa ini menyebutnya sebagai tahap operasi konkret yang bercirikan bahwa perkembangan system pemikirannya didasarkan pada aturan-aturan tertentu yang logis. Mencermati ciri-ciri perkembangan anak pada usia masa ini. Mereka telah memiliki konsep cerita yang sudah banyak. pewarna alami misal daun. kedudukan anak ada pada menurut periode bagan (schematic period) yaitu pada anak usia 7 sampai 9 tahun. dan sebagainya. cat minyak. Pada kelas satu sampai dengan kelas tiga sekolah dasar periodisasi mengggambar anak. secara umum hasil karya lukis anak merupakan cerita yang luas dengan penampilan gambar yang lengkap dan dibuat dengan teknik yang mantap. Hasil gambar peserta didik merupakan wujud dari kreativitas dan ketrampilannya. Konsep ruang mulai nampak dengan adanya pengaturan atau hubungan antara obyek dengan ruang walaupun masih sederhana dengan meletakkan dalam satu garis vertical sebagai garis dasar. yaitu: gambar yang menyertakan pula benda atau obyek di dalam ruang yang sebenarnya tidak kelihatan. pengamatan semakin teliti dan semakin tahu siapa dirinya dalam hubungan dengan lingkungannya.cat akrilik. buah. Muncul gejala yang disebut “sinar X” (X-ray) atau tembus pandang. Sedangkan menurut Piaget. Dengan demikian anak mulai menggambar obyek dalam suatu hubungan yang logis dengan obyek lain. Dalam hal penggunaan warna disikapi sebagai bentuk yang mendekati pada warna yang sebenarnya. Menurut Susanto (2003: 294): pada masa ini merupakan konsep tentang bentuk dasar dari pengalaman kreatif anak.

Seiring dengan berjalannya waktu. 104 . atau memvariasi elemen-elemen tertentu menurut pada subjek yang sedang digambarkan. Tipe-tipe perseptual menjadi nyata dalam seni pada anak usia sembilan tahun ketika ia matang secara sosial.Dimulai pada usia enam tahun anak mulai mapan di dalam dunia nyata dan menjadi bagian sosial dari interrelationship (hubungan di dalam struktur). dia menggunakan garis pergerakan dari tubuh dan bibir dari gambarnya. Sebelumnya ia telah mengumpulkan detil-detil dalam gambranya ketika ia tumbuh. tapi menambahnya. dan detil-detil tersebut mencerminkan pertumbuhan inteletualnya. Anak bekerja dengan tujuan sesuai apa yang ada dalam pikirannya bahwa apa yang dihasilkan sangat berarti bagi dia. Dia masih menggunakan bentuk geometrik untuk menggambarkan idenya. tetapi ia sampai pada referensi rasional yang utuh dari bentuk dan ruang skematik pada usia tujuh tahun. pada tahapan simbolik anak pada usia 7-9 tahun membutuhkan koordinasi fisik yang cukup untuk memberikan pembelajaran cara pemakaian peralatan seni dan materi yang digunakan dalam membuat karya seninya. menguranginya. Dia mempunyai sebuah konsep jelas dari bentuk orang dan mulai lebih spesifik menggunakan kecenderungan untuk menunjukkan simbol misal. Anak juga mempunyai tujuan memperoleh pengalaman dan pengetahuan memperbesar tendensi alaminya guna diwujudkan dalam ekspresi gambarnya. Kualitas estetik yang tinggi dari referensi fisik-emosionalnya pada tahun-tahun awal sekarang disubordinasikan pada pengisahan yang ideologis.

Pada penggunaan warna. Selanjutnya menurut Kellogg ( 1967: 181-215) secara lebih jelas lagi menyatakan bahwa pada usia 7-9 tahun anak tersebut mengalami tahapan sebagai berikut: 1) 2) Periodisasi pada periode bagan ( Schematic period). Pada waktu dia menimbun garis dasar untuk memberitahukan keseluruhan cerita atau menggambar garis dasar sekeliling tepi dari kertasnya untuk menunjukkan seluruh pemandangan. Pada tipe sinar X dari ekspresi. dimana keduanya sesuatu yang abstrak dari ruangan dan sebuah rasa dari posisi dan direksi dari sesuatu dalam ruangan. anak belum menyadari bahwa ketika beberapa objek dipandang dari satu sudut. secara sebenarnya menurut pandangan visual mereka. menggambar 105 . objek terlihat secara fisik. anak mengatur objek-objek dikedua tepi dari gambar dan langit dipandang sebagai pusat. Selanjutnya anak merasakan bahwa macam-macam objek dalam lingkungannya mempunyai warna berbeda-beda. Mempunyai konsep cerita yang banyak. Anak pada tahapan ini juga kekurangan sebuah realisasi dari hubungan ruang dan waktu dan biasanya beberapa kejadian dalam satu gambar. kemudian secara bertahap merasakan pentingnya hubungannya dengan objek. Pada karya anak terlihat bahwa semuanya penting dan harus terlihat serentak. Dia biasanya menggunakan sebuah garis dasar dalam gambarnya. anak menggunakan secara emosional. Pada visualisasi kedalaman ekspresi. satu objek mungkin sebagian tidak akan terlihat.Pada tahap ini juga anak menunjukkan sebuah rasa dari hubungan spatial.

Ia akan masuk dalam kedua tipe tersebut.3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Pengamatan semakin teliti. Adanya gejala tembus pandang (X-ray). Dengan demikian perlakuan. Adanya garis vertikal sebagai garis dasar tempat objek. dan pada kadar tertentu. 106 . atau ia akan menjadi introvert perseptual-sosial dan haptik dan tidak tergantung pada bidang dalam seninya. pembelajaran dan penilaian hasil karya seni lukis anak pada periode tersebut hendaknya mengacu pada perkembangan periode yang sedang dialami oleh anak. Konsep ruang mulai nampak adanya pengaturan walaupun masih sederhana. Identifikasi semacam itu akan mengarahkan anak laki-laki untuk melebih-lebihkan proyeksi diri menjadi berupa citra-citra yang mengerikan. Penggunaan warna mendekati warna yang sebenarnya. Perkembangan selanjutnya anak akan menjadi ekstrovert perseptual-sosial apabila tergantung pada aspek visual daslam bidang seninya. akan menjadi berorientasi pada gang karena adanya kebutuhan untuk mengidentifikasi dengan lebih mendalam peran seksual-diri. Semakin tahu siapa dirinya dalam hubungan dengan lingkungannya. sementara anak gadis akan cenderung mengidealisasi dirinya sendiri dalam citra wanita yang glamor dan matang. Secara umum hasil karya merupakan cerita yang luas dengan penampilan gambar yang lengkap dan teknik yang mantap.

mencakup aspek kognitif. musik. and psychomotor (ability to handle specific processes involving physical coordination) skills. Kemampuan ini terbentuk dari kombinasi pengetahuan. dan psikomotorik (BSNP DIKNAS. Dalam proses pembelajaran seni lukis ada pengalaman tertentu yang lebih 107 . Fungsi Penilaian dalam Pendidikan Seni Pada umumnya penilaian dapat diartikan sebagai aktivitas pembandingan suatu hasil pengukuran terhadap acuan tertentu. fact.D. intellectual abilities). 2006: 5). Penilaian pendidikan seni rupa ditujukan untuk menilai hasil belajar peserta didik secara menyeluruh. Penilaian dalam Pembelajaran Seni Lukis di Sekolah Dasar 1. affective (feelings and attitudes). Pada karya seni rupa penuangan gambar ekspresi adalah karya seni lukis. implementasi pelaksanaan terlihat dalam Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Estetika disebutkan bahwa: standar kompetensi kreasi/rekreasi berkaitan dengan kemampuan peserta didik dalam menciptakan atau mengekspresikan diri melalui karya seni rupa. afektif. atau teater. or classifications of learning… cognititive (knowledge. 2006: 7) Hal ini sesuai dengan pernyataan Gaitskell (1975: 62) sebagai berikut: Behaviorists in art education also recommend that the three major domains of learning be maintained. These domains. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. kepekaan rasa estetik. Dalam PP No 19 tahun 2005 disebutkan bahwa: penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik (BSNP. 2006: 14). dan ketrampilan motorik yang tercermin pada karya seni yang dihasilkan atau dipertunjukkan (BSNP. tari.

afektif dan psikomotor yang banyak diantaranya tidak dapat terjaring oleh tes. Karya seni lukis tentunya tidak relevan diukur dengan alat tes yang hanya mengukur aspek kognitif. Hal ini sesuai dengan PP 19 tahun 2005. tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 64 ayat 5 menyatakan: “Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran estetika dilakukan melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan ekspresi psikomotor peserta didik”. sedangkan penampilan peserta didik dalam aspek afektif dan psikomotor sangat sulit datanya diukur melalui tes. tes praktek.ditekankan antara lain: pengalaman penghayatan dan penilaian terhadap nilai keindahan. observasi. (2) teknik penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat berupa tes tertulis. pengalaman memahami dan mengaplikasikan alat. Apalagi bila dikaitkan tujuan pendidikan seni rupa adalah membina kemampuan peserta didik ber. Dengan demikian untuk menilai karya seni lukis peserta didik diperlukan tidak hanya dari segi hasil saja tetapi juga proses pembuatan karya tersebut. Tingkah laku peserta didik di luar situasi tes lebih menunjukkan penampilan yang wajar dan non artificial dalam mengaplikasikan kemampuan kognitif. dan penugasan perseorangan atau kelompok.self expression secara kreatif-estetik lewat penggunaan media seni rupa. Selanjutnya pada Bab IV: Standar Proses Pasal 22 dijelaskan sebagai berikut: (1) penilaian hasil pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat 3 pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai. dan teknik untuk berkomunikasi secara visual (Salam. 108 . bahan. 2001: 8). teknik penilaian observasi secara individual sekurang-kurangnya dilaksanakan satu kali dalam satu semester. (3) untuk mata pelajaran selain kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

b. antara lain peserta didik. Adil. Terbuka. Dengan demikian untuk memecahkan permasalahan penilaian proses dan hasil karya peserta didik tersebut perlu digunakan pendekatan penilaian yaitu performance assessment. berarti penilaian seni rupa oleh pendidik seni rupa merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran. tenaga pendidik. d. 2. Akuntabel. Dengan melakukan kegiatan asesmen dapat diketahui perubahan yang terjadi pada anak didik. baik dari teknik. i. atau administrator. Untuk mengetahui keberhasilan program pembelajaran selalu dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik. berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapain kompetensi yang ditetapkan. berarti penilaian seni rupa tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama. Menyeluruh dan berkesinambungan. dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan. untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik. suku. Terpadu. e. Pada dasarnya assessmen adalah kegiatan mengumpulkan informasi tentang kualitas dan kuantitas perubahan pada anak didik. kriteria penilaian. berarti penilaian seni rupa didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur. h. budaya. Objektif. adat istiadat. Sahih. Beracuan kriteria. status sosial ekonomi. dan gender. Karakteristik Penilaian dalam Pendidikan Seni Pada uraian terdahulu telah disebutkan bahwa penilaian seni lukis anak meliputi penilaian proses dan penilaian hasil atau produk. Sistematis. berarti penilaian oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai. tidak dipengaruhi subjektivitas penilai. berarti penilaian seni rupa didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas. berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku. berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan. f. 109 . prosedur. grup. g. maupun hasil.Berikut ini prinsip penilaian karya senirupa pada jenjang pendidikan dasar. c. berarti prosedur penilaian. yang mengacu pada Peraturan Menteri No 20 tahun 2007: a.

sampai dengan hasil akhir atau produk seni lukis peserta didik. The data are integrated for the purpose of making specific decisions. Zainul (2005: 4) menyatakan bahwa asesmen kinerja secara sederhana didefinisikan sebagai penilaian terhadap proses perolehan. 5. Performance assessment is a process. The focus of this process is data gathering. 4. using a variety of instruments and strategies. melalui proses pembelajaran yang menunjukkan kemampuan peserta didik dalam proses dan produk. yaitu: 1. not a program or product reflecting a group’s activity. pengetahuan dan ketrampilan. bila dihubungan dengan karakter mata pelajaran seni rupa khususnya seni lukis performance assessment sesuai untuk menilai karya seni lukis peserta didik. The subject of the decision making is the individual. 110 . 1986: ix). Melengkapi pendapat tersebut. Selanjutnya Berk mengatakan bahwa dalam Performance assessment selalu terkait dengan adanya rubrik penilaian yang merupakan bagian dari Performance assessment: Subsumed under the rubric Performance assessment are a host of other related terms that are often used synonymously with it. 3. 2. (Berk. Berdasarkan pendapat Berk di atas. Dimulai pada proses pembuatan karya seni lukis. The data are collected by means of systematic observation. Ada lima unsur-unsur kunci dalam definisi yang dikemukakan oleh Berk. usually an employee or a student. not a test or any single measurement device.Sedangkan penilaian kinerja (performance assessment) menurut Berk sebagai berikut: performance assessment is the process of gathering data by systematic observation for making decisions about an individual (Berk. 1986: ix). penerapan.

pengetahuan dan ketrampilan. Pengertian Performance Assessment Berbagai pengertian yang disampaikan para ahli evaluasi tentang Performance assessment. Zainul (2005: 4) menyatakan bahwa asesmen kinerja secara sederhana didefinisikan sebagai penilaian terhadap proses perolehan.a. (4) dengan mengetahui kriteria yang digunakan untuk mengukur dan menilai keberhasilan proses pembelajarannya. Menurut Maertel yang dikutip oleh Zainul (2005: 3) bahwa pada prinsipnya performance assessment mempunyai dua karakteristik dasar yaitu: (a) peserta didik diminta mendemonstrasikan kemampuannya dalam membuat kreasi suatu produk atau terlibat dalam aktivitas perbuatan. peserta didik akan secara terbuka dan aktif berupaya untuk mencapai tujuan pembelajaran. melalui proses pembelajaran yang menunjukkan kemampuan peserta didik dalam proses dan produk. yaitu: (1) asesmen kinerja yang didasarkan pada partisipasi aktif peserta didik. tetapi lebih dari itu. Selanjutnya dinyatakan pula bahwa asesmen kinerja diwujudkan berdasarkan empat asumsi pokok. Melengkapi pendapat tersebut. (3) asesmen tidak hanya untuk mengetahui posisi peserta didik pada suatu saat dalam proses pembelajaran. penerapan. asesmen juga untuk memperbaiki proses pembelajaran. (b) hasil karya atau produk lebih penting dari pada perbuatan (performance)nya. (2) tugasugas yang diberikan atau dikerjakan oleh peserta didik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan proses pembelajaran. 111 . namun pengertian yang dapat disampaikan antara lain dari Berk (1986: ix) yang mengatakan bahwa “Performance assessment is the process of gathering data by systematic observation for making decisions about an individual”.

dan peralatan yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas tersebut. Popham (1995: 147) mengemukakan kriteria. Untuk melihat apakah Performance assessment yang dilakukan telah memenuhi standar kualitas. Dalam menentukan domain ini perlu ada judgment dari pendidik. tempat.kriteria tersebut sebagai berikut: 1) Generalizability. artinya tugas yang diberikan sudah relevan dengan yang diajarkan pendidik di kelas.Selanjutnya Messick (1995: 33) mengatakan bahwa dalam hal memilih. 6) Feasibility. 4) Teachability. 2) Authenticity. 3) Multiple foci. apakah yang akan dinilai itu produk atau perbuatan (performance) tergantung pada karakteristik domain yang diukur. artinya apakah tugas-tugas yang diberikan pada anak didik telah memadai untuk digeneralisasikan pada tugas-tugas lain yang sejenis. artinya apakah tugas-tugas yang diberikan relevan untuk dapat dilaksanakan mengingat faktor beaya. artinya apakah tugas yang diberikan kepada peserta didik telah mengukur lebih dari satu kemampuan-kemampuan yang diinginkan. waktu . atau social ekonomi. apakah perbuatan dan produk sama penting atau dominan yang mana tergantung juga pada karakteristik bidang yang dinilai. 5) Fairness. artinya apakah tugas yang diberikan dapat diskor dengan akurat dan reliabel. artinya apakah tugas yang diberikan peserta didik sepadan dengan apa yang sering dialami dalam kehidupan sehari-hari. agama. suku bangsa. 7) Scorability. 112 . artinya tugas yang diberikan sudah adil untuk peserta didik tidak bias gender.

1) Validitas Validitas instrumen dapat dimaknai sebagai ketepatan dalam memberikan interpretasi terhadap hasil pengukurannya. Relevans dan accuracy. Suatu instrumen dikatakan valid untuk tujuan tertentu. tidak berlaku untuk tujuan yang lain juga untuk kondisi yang berbeda.b. adalah dua makna yang terkandung dalam konsep validitas. dan validitas criteria (criterion-related validity). sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Relevans menunjuk pada kemampuan instrumen untuk memerankan fungsi untuk apa instrumen dimaksudkan. 2000: 686. menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Sedangkan accuracy menunjuk pada ketepatan instrumen mengidentifikasi aspek-aspek yang akan diukur secara tepat. atau aspek apa saja yang akan diukur. Babbie. apakah suatu instrumen mampu menggambarkan ciri-ciri. Secara umum terdapat tiga macam validitas. (Kerlinger. Sesungguhnyalah persoalan validitas instrumen berhubungan dengan pertanyaan. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Pengukuran Validitas dan reliabilitas merupakan hal utama yang harus dipenuhi untuk menentukan kualitas suatu instrumen penilaian. Dengan demikian menjadi masalah pokok yang berkaitan dengan validitas instrumen adalah apakah instrumen tersebut menghasilkan informasi yang diinginkan secara tepat sesuai tujuan yang diperlukan. 2004: 144-145). sifat-sifat. yaitu validitas konstruk (construct validity). validitas isi (content validity). Validitas konstruk menunjuk pada sejauh mana instrumen yang disusun 113 .

validitas butir dan validitas sampling. Validitas isi berhubungan dengan kemampuan instrumen untuk menggambarkan secara tepat domain prilaku yang diukur. dan kritik dari para ahli terkait. Langkah selanjutnya pada validitas isi adalah menjabarkan dalam aspek yang terperinci selanjutnya didiskripsikan indikator- indilkatornya. diperlukan pendekatan logis dan empirik. Validitas isi berhubungan dengan pertanyaan seberapa jauh butir-butir instrumen mencerminkan keseluruhan isi dari aspek yang hendak diukur. Dengan demikian analisis faktor digunakan untuk mencari bentuk validitas konstruk. Validitas konstruk sendiri digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menjelaskan varians pada hasil pengukuran. Prosedur yang ditempuh untuk memperoleh validitas konstruk yang diharapkan. Selanjutnya dimintakan pertimbangan kolega atau ahli yang berkompeten melalui forum diskusi antar ahli (focus group discussion). Validitas konstruk disusun berdasarkan pada konsep teori yang sudah mapan dan pertimbangan-pertimbangan yang rasional.mampu menghasilkan butir-butir pertanyaan yang dilandasi oleh konsep teoritik tertentu. untuk 114 . Untuk memantapkan validitas konstruk dibutuhkan expert judgment yaitu masukan. pertimbangan. Dimulai dengan dengan menyusun daftar keseluruhan isi materi atau domain yang dimaksud. Validitas sampling berhubungan dengan pertanyaan seberapa jauh butir-butir instrumen merupakan sampel yang representatif dari keseluruhan aspek yang diukur. Ada dua makna dalam validitas isi yaitu. Menurut Kerlinger (2000: 687) analisis faktor merupakan metode yang tidak terelakkan untuk meneliti validitas konstruk.

1984: 44). walaupun dalam waktu dan kondisi yang berbeda. 115 . Pada penelitian ini digunakan validitas isi dan validitaas konstruk. keajegan. Berdasarkan uraian di atas. kritik.memperoleh masukan. konsestensi. dan evaluasi guna menyempurnakan instrumen yang disusun. saran. Pada validitas kriteria diteliti dengan membandingkan suatu kriterium eksternal. Salah satu pendekatan dasar untuk mengukur reliabilitas adalah stabilitas. dimana kriterium yang ditetapkan harus sudah teruji secara empiris di lapangan dan mempunyai konsistensi yang cukup tinggi. Validitas kriteria menjawab pertanyaan sejauh mana suatu tes dapat memprediksi penampilan kemampuan pada waktu yang akan datang (validitas prediktif) dan mengestimasi kemampuan saat sekarang berdasarkan suatu pengukuran selain tes itu sendiri (Fernandes. menggunakan korelasi intraklas (interclass correlation). Stabilitas diperoleh dengan mengkorelasikan skor siswa dari dua kali pelaksanaan tes. Dua kriteria yang digunakan pada validitas kriteria adalah kriteria konkuren dan kriteria prediktif. Secara konsep instrumen yang reliabel adalah apabila digunakan terhadap subjek yang sama akan menunjukkan hasil yang sama. dapat ditarik suatu pengertian bahwa untuk pengembangan afektif dapat digunakan semua jenis validitas atau salah satu jenis validitas. 2) Reliabilitas Reliabilitas instrumen menunjukkan tingkat kestabilan. dan atau kehandalan instrumen untuk menggambarkan gejala seperti apa adanya.

Penggunaan korelasi intraklas dimaksudkan untuk memberikan indeks mengukur kesamaan pasangan skor dalam hubungannya dengan variabilitas total dari seluruh skor (Fernandes. 2003: 66). 1984:35). hal ini mengakibatkan meningkatnya koefisien reliabilitasnya. Penggunaan bentuk reliabilitas tes-retes yang menjadi masalah adalah selang waktu pelaksanaan pengukuran. dan rating scales (Depdiknas. Cara lain untuk menilai reliabilitas adalah dengan menggunakan teknik intereter yaitu. 116 . Pada cara penilaian metode analytic apabila digunakan untuk menilai kemampuan ketrampilan yaitu dengan menggunakan checklist. Penilaian “Performance Assessment” Karya Seni Lukis Anak Pendekatan yang digunakan dalam performance assessment adalah metode holistic dan metode analytic . Apabila selang waktu terlalu pendek subjek akan mengingat jawaban yang diberikan pada waktu pengkuran pertama. Sedangkan metode analytic adalah apabila para penskor memberikan penilaian dari setiap aspek yang berhubungan dengan hasil kinerja yang dinilai. Metode holistic adalah cara penilaian apabila para penskor (rater) memberikan penilaian secara keseluruhan dari hasil kinerja tes. Sebaliknya jika selang waktu terlalu lama. dua peneliti menggunakan alat ukur yang sama untuk mengukur kemampuan seseorang kemudian hasil pengukuran tersebut dikorelasikan. subjek akan memberikan jawaban yang lain karena hasil belajar selama waktu selang tersebut. c.

seluruh unsur-unsur pembentukannya harus mendukung ide atau ungkapan perasaan yang akan disampaikan penciptanya. totalitet). Tidak dari unsur-unsurnya yang dipandang tersendiri. lepas dari perwutuhan 117 . Menurut Garha (1980: 115) karya seni sendiri merupakan suatu Gestalt. Dengan demikian kesan keseluruhan dari karya tersebut menjadi salah satu pertimbangan memberikan penilaian suatu karya. dan Gestalt timbul terlebih dahulu dari bagian-bagiannya. 1982: 8). struktur atau suatu konvigurasi terpadu yang memiliki sifat-sifat khusus tidak dapat diperoleh dari penjumlahan bagian-bagiannya secara terpisah. Sudarmaji (1979: 23) mengemukakan bahwa Gestalt bersumber pada ilmu jiwa global (gestalt. pola. Metode ini menganjurkan untuk menilai karya seni dari perwujudannya secara utuh.Pelaksanaan kedua metode pendekatan tersebut dalam performance assessment karya seni lukis sebagai berikut: 1) Metode holistic Metode holistic dikenal juga dengan metode global yang bersumber dari ilmu jiwa global (Gestalt. Suatu hasil karya seni rupa keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh bentuk yang dicapai saja tetapi oleh keberhasilan penyusunan unsur-unsur pembentukannya menjadi suatu kesatuan ungkapan. Gestalt merupakan suatu aliran dalam psikologi dengan pokok pikiran utamanya bahwa suatu keseluruhan adalah lebih besar dari pada penjumlahan bagiannya (Dali. Gestalt mempunyai sesuatu yang melebihi jumlah unsur-unsurnya. totalitet) yang memandang bahwa suatu karya seni secara utuh yaitu keseluruhan bentuk. disebut metode ganzheit.

memandang bahwa karya seni lukis anak dilihat sebagai suatu komposisi bentuk yang dapat dipahami melalui peranan elemenelemen bentuk seperti garis. Sesungguhnyalah 118 . Ganzheit tidak mencukupi. Hal ini mendukung yang dikemukakan oleh Duane dan Prebel (1967: 115) bahwa untuk mengukur kualitas artistik suatu karya seni dapat dilakukan dengan mengunakan prinsip seni. pewarnaan. bentuk/shape. perspekif. Untuk menilai suatu karya seni berpendapat bahwa secara objektif. dan organisasi unsur. warna. Masih diperlukan suatu analisa yang mendalam berdasar suatu prinsipPrinsip yang dimaksud dalam karya disini adalah penerapan prinsip seni. dan sebagainya. garis. Dengan demikian dalam proses penilaian untuk mendekati objektivitas. dan volume. hubungan antar unsur. Pendekatan ini. kualitas karya secara keseluruhan tidak akan sama dengan kualitas unsurunsur yang membentuk karya tersebut. kedua metode tersebut sebaiknya digunakan secara bersamaan. Kemudian wujud dipisah-pisahkan lagi atas komposisi. Soedarso (1987: 85) pada saat seseorang ingin mengadakan penilaian. Gelap terang.Dengan demikian apabila dihubungkan dengan kualitas karya seni lukis. Hal ini berdasarkan pendapat Sudarmaji (1979: 23) yang mengatakan bahwa: pendekatan analitik menilai dengan secara terpisah bagian-bagiannya misal dilihat dari isi atau tema. anatomi. proporsi. menilai karya seni lukis anak dengan memerinci unsur-unsurnya. 2) Metode analytic Penilaian dengan pendekatan penilaian analisis yaitu. gelap terang.

Pelaksanaan penilaian dilakukan dengan mengamati peserta didik dalam melaksanakan tugas yang diberikan dalam proses pembelajaran dengan tidak mengganggu aktivitas belajar peserta didik. performance assessment mempunyai dua karakteristik dasar yaitu: (a) peserta didik diminta mendemonstrasikan kemampuannya dalam membuat kreasi suatu produk atau terlibat dalam aktivitas perbuatan. maka penilain proses sangat diperlukan apalagi proses penilaian merupakan bagian yang alami dari aktivitas seni. Agar pengamatan pendidik lebih 119 . namun perlu pula dilihat bagian-perbagian. a. Dengan demikian penilaian karya seni lukis peserta didik meliputi dua aspek yaitu aspek proses pembuatan karya dan aspek hasil karya seni lukis peserta didik. Berikut ini penilaian proses dan penilaian produk karya lukis peserta didik. (b) hasil karya atau produknya. Penilaian Proses Karya Seni Lukis Tujuan penilaian proses karya adalah untuk mengamati kompetensi peserta didik dalam berkreasi membuat karya seni lukis.penilaian karya seni lukis anak yang didasarkan pada objek secara keseluruhan (global).In art education. the evaluation prosesses are natural parts of art activity.Karena proses penilaian membangun bimbingan terhadap peserta didik dan memperjelas tujuan dan pemenuhan dalam proses pembelajaran. 3. Aspek yang Dinilai dalam Karya Seni Lukis Sesuai dengan prinsip performance assessment yang telah diuraikan di atas. Menurut Conrad (1964: 271) the processes of evaluation help to build guides and to define and clarity the purposes and accomplishments of the educational processes.

bagaimana mereka membangun dan mengorganisasikan kesatuan-kesatuan estetis. Sesungguhnya kemampuan-kemampuan peserta didik yang dikembangkan dalam pendidikan seni rupa lebih banyak dalam bentuk penampilan yang sulit diukur dengan tes. 120 . sistematis. Selama kegiatan proses belajar mengajar berlangsung dalam pembelajaran seni lukis. bagaimana kelancaran ekspresi mareka. cara maupun metode yang lain. bagaimana cara memecahkan masalah penciptaan yang mungkin mereka jumpai. Non tes digunakan tatkala pengertian evaluasi tidak sekedar identik dengan testing tetapi mempunyai pengertian yang lebih luas yaitu suatu proses penentuan nilai-nilai fenomena-fenomena yang secara edukasional relevan (Eisner. pendidik melakukan penilaian dengan secara langsung mengamati bagaimana peserta didik membuat karya lukis. Teknik non tes bukannya tidak mengandung kelemahan seperti halnya teknik. yaitu terutama penampilan-penampilan peserta didik dalam aspek afektif dan psikomotorik.terarah. Dengan instrumen teknik non tes akan diperoleh data akurat dengan tidak kehilangan aktivitas yang dilakukan oleh peserta didik. bagaimana peserta didik memanfaatkan waktu. dan komprehensif untuk memperoleh data yang akurat dengan tidak kehilangan aktivitas yang dilakukan peserta didik. bagaimana penanganan alat dan bahan yang digunakan. perlu dilengkapi dilengkapi dengan instrumen non tes yaitu check list atau skala rentang. tetapi apabila dikembangkan secara kreatif dan diinterpretasi secara bijaksana dapat memberikan informasi evaluatif yang memiliki tingkat kesahihan (valid) tinggi. dan lain sebagainya. 1997: 204).

seperti dikatakan oleh Eisner (1997: 211) sebagai berikut: “Many of the most highly prized outcomes of art education are not capable of being stated in advance in the form of instruction objectives”. Inspirasi-inspirasi. simbol-simbol personal. Usaha menemukan kualitakualita berharga dari proses dan hasil kerja peserta didik dalam hal ini lebih banyak dapat ditempuh lewat non tes. penemuan-penemuan ide. dan lain sebagainya. Tetapi kegiatan-kegiatan seni rupa yang bersifat ekspresif-kreatif-estetis sulit untuk terlebih dahulu ditetapkan kriteria keberhasilan objektif yang dapat diberlakukan secara klasikal. misalnya apresiasi. penguasaan teoritis kesenirupaan dan keterampilan-keterampilan bersifat non ekspresif. patung. seperti kemungkinan-kemungkinan ekspresif-kreatifestetis dari lukisan. dan sebagainya. Relatif tidak sulit untuk ditetapkan kriteria keberhasilan peserta didik yang dapat dikenakan pada hasil belajar yang dapat diukur secara objektif melalui tes. 121 . kemungkinan-kemungkinan penciptaan yang tidak terduga sebelumnya yang muncul dalam proses berekspresi dan berkreasi dengan media seni rupa merupakan hasil pendidikan seni rupa yang sulit diterapkan kriteria ekstrinsik dalam tujuan pendidikan. seni garfik. Tidak mudah orang meramalkan secara pasti yang akan terjadi sebagai hasil aktivitas tersebut. melainkan dengan usaha menemukan kualita-kualita berharga dalam proses dan hasil kerja peserta didik.Dalam pendidikan seni rupa. Penilaian di bidang ini lebih tepat tidak dengan penggunaan kriteria yang ditentukan terlebih dahulu untuk standar pencocokkan tingkah laku atau hasil kerja peserta didik. menyiapkan bahan dan alat untuk membuat patung. bagaimana menyiapkan alat-alat dan bahan untuk melukis.

dan catatan anecdotal. Disini dapat dituliskan juga tentang alasan-alasan dari pendapat dan keterangan yang diberikan tentang karyanya seperti pada contoh format Tabel 3. dapat dipastikan bahwa selalu ada data evaluatif yang sebenarnya relevan tetapi tidak sempat tertangkap oleh kacamata tersebut. tentang nilai-nilai baru yang dapat dipetik dari pengalaman mencipta. yaitu suatu format yang dapat digunakan peserta didik untuk menerangkan hasil kegiatannya dalam bidang seni rupa sesuai dengan pendapat dan perasaannya. Mengingat kepekaan kacamata pendidik yang relatif terbatas dan bahwa proses dan hasil penciptaan karya seni rupa menyangkut segi jiwani yang kompleks. Hal-hal yang bersifat personal dalam aktivitas penciptaan tersebut merupakan data pelengkap yang sangat diperlukan dalam rangka usaha penilaian untuk melihat peserta didik secara objektif. pendidik seni rupa dapat mengumpulkan data yang mungkin tidak terjaring oleh 122 . Data yang terkumpul adalah data yang tertangkap oleh kacamata pendidik. Karya seni rupa peserta didik sebagai visualisasi visi dan idea peserta didik tidak selalu dengan mudah dapat dibaca. rating scale. terutama hal-hal yang sangat bersifat personal seperti: kelancaran dan kepuasan ekspresinya. dan alasan-alasan kondisional lainnya. Untuk keperluan tersebut De Francisco-Italio (1958: 224-227) mengembangkan apa yang disebut: Pupil’s Self-Evalution Form. Melalui pengisian format seperti pada Tabel 3 oleh peserta didik. Mekanisme penggunaan instrumen-instrumen tersebut pada dasarnya adalah sepenuhnya di tangan pendidik.Di depan telah disebutkan bahwa instrumen non tes antara lain chek-list.

Peserta didik perlu memahami proses pembelajaran. tetapi merupakan sesuatu yang dihayati dan dirasakan oleh peserta didik yang bersangkutan. dan pendidik memahami apa yang dianggap peserta didik menarik atau penting dalam sebuah tugas yang diberikan Dalam hal ini perlu peserta didik menjadi mengetahui tentang dirinya sendiri. untuk mendapatkan masukkan data evaluatif dari pihak peserta didik De Francisco-Italio menggunakan yang disebut The Jury System yaitu. penjurian oleh sekelompok peserta didik bergantian menilai karya-karya seni rupa di kelasnya dan dapat pula dilengkapi dengan class discussion system yaitu diskusi kelas untuk membahas karya-karya tersebut. Selain dengan menggunakan format seperti di atas.kacamatanya. Tentunya semua ini sesuai dengan tingkat 123 . Pendidik harus mempertimbangkan baik perkembangan personal maupun perkembangan akademik. 1958: 227) PUPIL’S SELF EVALUATION FORM Pupil ‘s Name __________________ Date ____________ Grade _________________________ Very Good I think my picture is I think my linoleum cut is I think my illustration is I think my modeling is I think my weaving is Good Fair Poor Reasons I Think So Sesungguhnya penilaian atas karyanya sendiri merupakan hal yang penting dalam bidang seni. Pupil’s Self Evaluation Form (Sumber: Francisco. Tabel 3.

I found the work on it: 3. mudah atau sulit. hasilnya baik atau buruk. 1997: 203) Student Self-Evaluation Form Name _________________________________ Date __________________________________ Name of Project ________________________________ Date Completed ________________________________ 1. Data yang terkumpul di atas tidak saja bermanfaat untuk melengkapi pertimbangan penentuan hasil penilaian. I thought this project was: Boring ___ ___ ___ ___ ___ Exciting 2. bermanfaat atau tidak. Student Self Evaluation Form (Sumber: Eisner. pendidik dapat memperoleh informasi tentang pengaruh suatu kegiatan seni rupa bagi para 124 . serta pengalaman-pengalaman berharga mana yang berhasil dipelajari dalam kegiatan tersebut dan seterusnya seperti dapat dilihat pada Tabel 4. tetapi juga diperlukan dalam rangka peningkatan bimbingan peserta didik selanjutnya. I think I learned: From this project Easy A lot ___ ___ ___ ___ ___ Difficult ___ ___ ___ ___ ___ A little 4. The most important things I got out of this project were: __________ __________________________________________________________ __________________________________________________________ Dengan pengisian dan pengumpulan format di atas. apakah suatu kegiatan seni rupa itu menarik atau membosankan. Untuk melengkapi objektivitas penilaian Eisner (1997: 223-204) menyarankan penggunaan format penilaian oleh peserta didik sendiri yang disebut: Student Self-evaluation form yang dapat memberikan informasi dari tiap peserta didik. This project was my: Worst piece Best piece of work ___ ___ ___ ___ ___ of work 5.perkembangan paserta didik tersebut. Tabel 4.

yaitu peserta didik diminta menunjukkan satu atau dua karya mereka secara bergiliran. tingkat kepuasan mereka dan lain sebagainya. Berdasarkan pengisian format di atas. Beberapa keuntungan dengan cara demikian adalah: pertama. para peserta didik mendapatkan kesempatan untuk mengungkapkan apa yang telah dilakukan atau dihasilkan dari suatu kegiatan berkarya. menyarankan penggunaan teknik lain yang juga berguna untuk evaluasi dalam pendidikan seni rupa adalah apa yang disebutnya The Group Critique. melainkan juga apa yang perlu peserta didik ketahui tentang dirinya sendiri. kemudian yang bersangkutan diminta menjelaskan karyanya dan selanjutnya kelompok peserta didik yang lain memberikan respons dalam bentuk bahasan kritis. Dengan demikian proses pembelajaran merupakan titik tolak untuk pengajaran dan sebagai pendidik harus menanyakan tidak hanya apa yang perlu diketahui oleh pendidik. Kedua. kadar keterlibatan mereka dalam kegiatan. Menurut Barrett: “ In art the pupils perception of the learning process is the starting point for teaching” and “we must ask not only what we need to know as teachers but what the pupils need to know about themselves”. prosedur demikian memungkinkan peserta 125 . Selanjutnya Eisner sebagaimana menurut De Francesco-Italio. Kumpulan format-format yang masuk ketangan pendidik setiap kali selesai kegiatan akan merupakan rekaman data penilaian peserta didik sendiri terhadap perkembangannya secara kontinyu dalam olah seni rupa selama satu satu tahun akademik berlangsung. dengan demikian terkembangkan sikap oto kritis peserta didik.peserta didik. apa yang telah berhasil mereka pelajari dari kegiatan tersebut.

b. kegagalan-kegagalan. Bagaimana mereka menangani problem-problem. Kriteria untuk melakukan penilaian produk karya seni lukis cukup sulit karena adanya keragaman cara pandang terhadap karya seni. Oleh karena itu kegiatan penilaian memerlukan kriteria. Dengan demikian penetapan kriteria harus disesuaikan dengan perkembangan usia anak dan kriteria tidak bersifat kaku. their abilities. but the description prompts the question: how can something which is unique generate criteria for evaluating other unique objects? Sifat unik ini mempunyai sifat satu-satunya dan hanya 126 . and their knowledges. Ketiga. The processes of evaluation help to build guides and to define and clarity the purposes and accomplishments of educational processes. Dengan demikian terkembangkan sikap apresiatif peserta didik. Salah satunya pendapat Aspin dalam Ross (1982: 66) yang menyatakan bahwa: Work of art is correctly described as “unique particulars”. dan keberhasilan-keberhasilan dalam berkarya. New criteria must be formulated for each group of children because children are constantly growing and changing in their thinking. Conrad (1964: 271) menjelaskan bahwa: Evaluation criteria are not rigid. Penilaian Produk Karya Seni Lukis Pada prinsipnya tujuan penilaian produk seni lukis adalah untuk melihat kompetensi peserta didik dalam membuat karya cipta seni lukis. Dalam hal ini pendidik memfokuskan perhatiannya pada hasil karya lukis yang diciptakan oleh peserta didik yang tentunya tidak terlepas dari proses penciptaannya.didik secara sistematis mengetahui bagaimana perkembangan peserta didik yang lain. prosedur demikian memberikan kesempatan dan bahan bagi pendidik untuk menggunakan komentar-komentar peserta didik sebagai masukkan diagnostik dan remedial.

Hal ini menunjukkan bahwa penilaian dari suatu pekerjaan seni tidak hanya konsisten secara konseptual tetapi diperlukan juga praktisnya. but also practicably desirable. Disini penilaian dapat dilihat sebagai suatu proses intersubjektif. 1983: 5) menyebutkan bahwa: What matters most in the arts as in science. Heyfron (1986: 56) berpendapat bahwa: … that the arts are not fundamentally different from other subjects in the curriculum (e. meminjam dari penilaian kritik. is that judgements and interpretations should be informed with considerable consensus about the criteria to be applied when determining quality. Lebih jauh lagi dalam dokumen APU (“Aesthetic Development”.g. It contends that judgements about the merits of art work can be justified with reference to publicly agreed criteria. sulit menerapkan kriteria yang sama Perdebatan-perdebatan yang sering terjadi karena perbedaan pemahaman. karena masing-masing kepentingan tidak ada titik temu.berlaku untuk karya tersebut sehingga untuk menilai karya yang lain. Sumardjo (2000: 48) mengatakan bahwa meskipun seni itu kontekstual secara 127 . Dengan demikian pada waktu menentukan kualitas karya diperlukan kriteria-kriteria yang merupakan konsensus dan sudah dipertimbangkan terlebih dahulu. dan setiap proses intersubjektif selalu mendatangkan konflik. science) and that a high degree of consensus about criteria appropriate for judging art work is not only conceptually consistent with the notion of art. Baik buruknya pekerjaan seni dibenarkan dengan adanya referensi dari kriteria-kriteria yang disetujui oleh khalayak umum. Sehubungan dengan kriteria pada penilaian karya seni tersebut di atas. Pepper (1973: 451) berpendapat bahwa bisa saja perbedaan yang terjadi disebabkan oleh pandangan kontekstual yang tidak sama. Namun demikian.

namun ada pula nilai-nilai yang sifatnya universal karena struktur jiwa manusia itu sepanjang sejarahnya sama. 128 . Kriteria tersebut dapat membantu untuk memahami seni sebagai perwujudan suatu pengalaman. disodorkan dasar pemahaman yang sama dalam metode pertimbangan penilaian suatu yakni formalisme. maka dapatlah dibuat suatu pendekatan untuk membuat kriteria dari suatu penilaian hasil karya seni dalam hal ini karya seni lukis anak. It is essential that students see assessment criteria as a tool to help them progress in their work. relation of form to matter. They are complete exploitation of media. the unique use of the media…. help us to understand art as a manifestation of experience.. Assessment will go wrong from the outset if students or teachers see it as a way of controlling work and imposing ideas. are not “sure alls” or “cure alls” for the making of the perfect art product. It is fundamental that teachers see assessment criteria as a means to support and sustain students' work. They can. Menurut Waterman (1959: 382-383) …there are a few criteria for judgment. Dengan demikian ada sejumlah kriteria untuk penilaian yang dapat diterapkan pada seni dan kriteria adalah eksplorasi total atas media dan penggunaan media yang unik. Berdasarkan sifat universal dari seni itu sendiri. which is just as important. subordination of ornamention to form. implicitly or explicitly recognized in analytical criticism and capable of formulation. however. Mamannoor (2002: 49) mengatakan bahwa berdasarkan banyak referensi. etc. Coney (1999: 2).These criteria.bentuk dan isi. Ditinjau dari kebermaknaan keberadaan kriteria penilaian bagi pendidik dan peserta didik salah satu pendapat sebagai berikut. dan seni merupakan bentuk ungkapan manusia. dan instrumentalisme. ekspresivisme. which apply to the arts. Untuk memberikan dasar pertimbangan penilaian.

Selanjutnya Feldman (1967: 459) memberikan contoh sederhana pada dunia ekspresi anak-anak sebagai berikut: bagi anak-anak. termasuk unsurunsur yang dialami oleh pembuat karya. Bell (1968: 26) mengatakan bahwa. bahwa pertimbangan penilaian formalisme menempatkan mutu artistik pada suatu kualitas yang terintegrasi dalam pengorganisasian secara formal dari suatu karya seni rupa. texture dan sebagainya. Pertimbangan penilaian ekspresivisme. dorongan untuk berkomunikasi menunjukkan kebutuhan dirinya sendiri yang lebih kuat dari pada keinginan untuk menghiasi. Dengan demikian pertimbangan penilaian formalisme menekankan pada tinjauan terhadap unsur-unsur visual yang terorganisasikan dalam komposisi sebuah karya seni rupa. suatu pertimbangan penilaian yang cenderung melihat faktor pencipta karya sebagai orang yang melibatkan unsur-unsur pribadinya kedalam proses penciptaan karyanya. komposisi. pelaksanaannya menempatkan unsurunsur estetika sebagai tinjauan utamanya bersifat representatif dari bentuk-bentuk signifikan yang dikandung dalam karya seni tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut Feldman (1967: 446) menjelaskan. harmoni. Ekspresivisme adalah sebutan untuk apresian yang cenderung menilai karya seni dari segi ekspresi (Sudarmaji. atau hasil 129 . memodivikasi.Pertimbangan penilaian formalisme. 1979: 33). bentuk-bentuk signifikan suatu karya seni rupa merupakan kualitas umum sebuah karya seni rupa. Sudarmaji (1979: 33) menyatakan ukuran seni yang menitik beratkan pada factor wujud (form) disebut formalisme: yaitu bentuk. Dengan demikian penilaian formalisme lebih mengutamakan pembahasan karya tanpa harus mendalami atau menelursuri apa yang ada didalamnya.

pertama hal yang meliputi unsur-unsur visual yang terdapat pada karya tersebut antara lain: bentuk. yaitu ketika proses penggubahan seni rupa mengacu pada unsurunsur yang melatarbelakangi pencipta seni misal budaya. mengandung makna kontekstual. Dengan demikian pengungkapan perasaan dan gagasan-gagasan menjadi pertimbangan yang utama dalam penilaian ekspresivisme. proporsi. Konsekuensinya dari hal tersebut di atas. perspekif. Feldman (1967: 463) mengatakan bahwa penilaian instrumentalisme tidak hanya mengutamakan penyampaian gagasan dan pengejawantahan kehendak (seperti pada penilaian ekpresivisme). dapatlah dirumuskan suatu pengertian bahwa untuk memberikan suatu penilaian pada karya seni dan sampai pada suatu keputusan diperlukan kriteria yang menjangkau tiga hal yaitu. karena karya-karya seni rupa kontemporer biasanya dilatarbelakangi motivasi tertentu. Dengan demikian penilaian secara instrumental sering digunakan dalam penilaian karyakarya seni rupa kontemporer. komposisi. anatomi. religi. moral. sosial. Seni rupa buatan anak-anak sering dinikmati melalui khayalan dan dirancang dengan warna bebas yang tak bisa dirintangi. Pertimbangan penilaian instrumentalisme. dan sebagainya.akhirnya sampai mencapai arti ‘keindahan’ yang dapat dimengerti oleh orang dewasa. 130 . Berdasarkan ketiga pertimbangan penilaian di atas. melainkan suatu kajian yang berkaitan dengan hal-hal yang melatarbelakanginya. gelap terang. Mamannoor (2002: 52) mengatakan bahwa gagasan-gagasan orisinal seorang seniman (pencipta karya) yang ditampilkan melalui suatu karya seni rupa sangat penting untuk dijadikan sebagai kriteria penilaian. politik.

dan kepribadian.pewarnaan. Ketiga. Untuk menentukan tingkat originalitas suatu karya lebih dititikberatkan pada ide. cocok untuk digunakan dengan teknik transparan. and execution”. Selanjutnya berkaitan dengan penentuan kriteria. Aspek sensitif menggunakan material berkaitan dengan penguasaan media yang digunakan untuk mewujudkan karya seni. design. makna konstektual yaitu suatu kajian yang berkaitan dengan hal-hal yang melatar belakangi proses penggubahan karya. ide. tidak meniru karya yang sudah ada atau karya orang lain. Suatu hasil karya seni akan berhasil apabila pembuat karya sensitif terhadap media yang digunakan. and consistency of concept. atau pengalamannya sendiri. dan sebagainya. Cat minyak 131 . secara umum pada aspek original dituntut kreativitas dalam menciptakan karya seni. Dengan demikian. bentuk visual. sehingga karyakarya mereka benar-benar murni. memiliki pengetahuan tentang karakter masing-masing media. misal cat air mempunyai karakter lembut. Kedua. menggunakan konsep. teknik. kreativitas. anak bekerja dengan kebebasan emosi dalam mengungkapkan isi hatinya. tidak ada kecenderungan untuk meniru karya orang lain. Duane dan Prebel (1967: 127) mengemukakan bahwa: “…Criteria upon which many art professionals agree include degree of originality. sensitivity to the appropriate use materials. keterlibatan unsur-unsur pribadi melalui proses pengungkapan perasaan dan gagasan-gagasan dari pembuat karya. Pada lukisan anak-anak dimana melukis merupakan suatu pengalaman berkarya. Aspek tingkat original pada suatu hasil karya seni adalah terkait dengan sikap dari pembuat karya yang mengutamakan keaslian karya.

atau bahkan merasa 132 . dan alat. bahan . kontras. semakin bertambah pula pengalaman dan tingkat penalarannya. dapat dilihat dari keseluruhan aktivitas peserta didik yang meliputi langkah-langkah dan prosedur dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh pendidik. asyik. Konsisten tidaknya pembuat karya terhadap suatu konsep tampak pada tema dan bentuk visual pada karyanya. Aspek konsistensi dengan konsep merupakan suatu karya seni yang mengandung suatu konsep dari pembuat karya yang disampaikan lewat hasil karya seninya. keseimbangan. anak sering menggunakan lebih dari satu macam. bagaimana anak dalam mengerjakan tugas apakah merasa senang. irama. Mereka akan semakin baik dalam penguasaan media. dengan demikian masalah teknis pemakaian bahan dan alat serta umur anak merupakan sesuatu hal yang perlu diperhatikan dalam menilai lukisan anak. Aspek kriteria desain menitik beratkan pada unsur desain yaitu kaidahkaidah komposisi.yang mempunyai sifat menutup. Dikatakan tidak konsisten dengan konsep dalam membuat karya apabila karya yang dibuat bentuknya tidak menunjang tema. Dewobroto (2002: 9) berpendapat bahwa semakin bertambah umur si anak. dan sebagainya. Aspek pelaksanaan. dan sebagainya. sehingga akan memberikan efek pengamatan yang berbeda dari masing-masing karya. Pada anak-anak dalam berkarya. misal bagaimana penggunaan bahan dan alat dimulai dari persiapan sampai dengan sentuhan akhir dalam pembuatan karya. Bahkan ada yang mengkombinasikan teknik goresan dengan teknik tempel dari elemen lain. yaitu antara lain nilai kesatuan. proporsi.

Apresiasi terhadap karya anak-anak lain h. Pemakaian dan pemilihan warna d. dan growth in art skills. Kemampuan dalam menggunakan alat dan media e. pertama meliputi: personal growth. Kemungkinan akan kerjasama d.tertekan sehingga tidak lancar dalam penuangan idenya. a. Ada dua variasiyang dikemukakan. dan growth in art skills. Keaslian ide-ide c. Tertarik pada seni ekspresionis b. Tanggung jawab dalam perawatan bahan e. misal kebersihan karya tidak terkesan kotor merupakan sesuatu yang termasuk dalam aspek pelaksanaan. Lain lagi yang dikemukakan Conrad (1964: 274) membuat kriteria dengan variasi yang meliputi: personal growth. dan yang kedua: personal growth. Kerapian dan rupa secara umum dari sebuah karya seni f. Evaluasi atas usaha sendiri Social growth a. Sampai dengan penerapan kaidah etis dan etika. Kontribusi terhadap proyek kelompok c. Kerjasama dalam “cleaning up” setiap akhir periode 133 . social growth. social growth. Variasi yang pertama dan indikator yang dikemukakan sebagai berikut: Personal growth. Kemampuan untuk mengikuti petunjuk umum b. social growth. Tanggung jawab terhadap penyelesaian sebuah karya seni g.

Kerjasama dengan yang lain c. Kerapian dan rupa secara umum dari sebuah karya seni e. Tanggung jawab terhadap penyelesaian sebuah karya seni Social growth a. Kontribusi terhadap kelompok b. krayon. c. d. Ketertarikan akan seni b. Ketrampilan menggunakan cat. Ketrampilan dalam bahan tiga dimensi d. Kemampuan dalam menggunakan alat dan media. dan growth in art skills. Ketrampilan mendesain kemampuan untuk mengorganisasi ide b. Berkenaan dengan penentuan kriteria yang ditetapkan untuk tujuan objektivitas penilaian. Penemuan e. tinta. Pengalaman teknis Pengunaan dari masing-masing variasi dan indikatornya tergantung dari hasil diskusi yang disepakati bersama. Heyfron (1986: 69) menyarankan sebagai berikut: 1) the possibility of intersubjective agreement 134 .Variasi yang kedua meliputi: personal growth. Menghormati karya orang lain Growth in art skills a. dll. kapur. Keaslian c. social growth. masing-masing indikator sebagai berikut: Personal growth a.

2) truth to the nature of the phenomenan under investigation 3) the identification of “reasonable” grounds for supporting judgements Mengacu pada pendapat para ahli di atas. Hasil Penelitian Yang Relevan 1. sedangkan kekayaan konsep yang ada pada anak diketahui melalui inklusi dan definisi 135 . dalam penelitiannya dengan mengadakan survei pada semua tes yang dipublikasikan bagi anak sekolah tingkat dasar. Hasilnya kurang dari setengah dari tujuan-tujuan yang ada dalam kesenian memiliki tes-tes yang terstandarisasi. konsistensi konsep. E. kesesuaian penggunaan media atau material. desain. dimana tes tersebut disesuaikan dengan sebuah tujuan kurikuler dan menunjukkan validitas isi yang paling besar. dalam penilaian karya seni rupa untuk melihat kualitas dan sampai pada baik dan tidak baik diperlukan suatu kriteria yang meliputi dua unsur yaitu fisiko plastik dan ideo plastik dan ada persetujuan antar subjek. kemudian mengevaluasi setiap tes dengan kriteria tertentu. Dengan demikian kepekaan pengalaman estetik seseorang untuk melihat tingkat original. dan pelaksanaannya sangat diperlukan. Dalam hal ini seorang pendidik seni rupa dituntut untuk mempunyai kepekaan pengalaman estetik yang tinggi dan wawasan yang luas tentang perkembangan karya seni rupa. Bahkan. sedangkan karya seni rupa lebih dominan pada komponen emosi. Hoepfner dkk. Seperti diketahui bahwa untuk menelaah suatu hasil karya seni rupa tentunya harus dapat dijelaskan secara rasio. sebagain besar testes yang diberikan pada tujuan-tujuan seni tidak dirancang sebagai tes-tes kesenian melainkan sebagai tes-tes untuk perkembangan kognitif.

dan teknik yang digunakan anak-anak dalam berkarya. Penelitian Ismiyanto (2002) pada sanggar seni lukis “Pangudi Luhur” Semarang dan sanggar seni Lukis “Gramedia” Jakarta. Temuan penelitian ini adalah sebagai berikut: lukisan anak usia SD dilihat dari: (a) objek dan temanya mencerminkan kehidupannya dan menunjukkan adanya upaya anak untuk mengidentifikasikan diri dalam karyanya. kendati validitas isinya diperingkatkan paling tinggi atau bahkan paling rendah (Ralph Hoepfner. 136 . dan dokumentasi. mengetahui. 2. simetri setangkup dan radial. diagonal. dan angular. memahami. 1983: 251-256). burung. dan menjelaskan mengenai: (a) visualisasi lukisan karya anak-anak usia SD ditinjau dari tema dan objeknya. (b) komposisi dan perspektif lukisan anak. (d) fenomena lukisan anak-anak usia SD dilihat dari aspek usia dan jenis kelamin. Hal ini menunjukkan bahwa sangat masuk akal untuk berpendapat bahwa sebagian besar dari tes-tes yang dievaluasi dalam bidang seni tidak terdapat di sini. (c) alat . tujuannya untuk mencerminkan keadaan-keadaan afeksional pada penyesuaian psikologis. wawancara. bahan. horizontal “segitiga”. tumpukan. Sedangkan tes yang mengungkap kesukaan anak. Pengumpulan data yang digunakan adalah observasi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi.anak-anak dalam upaya mereka menggambar orang dan benda-benda. Sedangkan perspektif yang digunakan adalah perspektif tutup menutup (realistis). (b) komposisi yang ditampilkan yaitu komposisi vertikal. Sedangkan analisis data yang digunakan adalah analisis isi dengan fokus pada telaah kritis visualisasi lukisan anak-anak.

dan simulatif (aktivitas). 3. diperoleh informasi bahwa dalam melukis. Berdasarkan hasil penelitian ini. Penelitian tentang instrumen pengukuran untuk mengukur respon estetik berdasarkan hasil penelitian Prihadi (2007) menyimpulkan bahwa penggunaan semantic differential ternyata mampu mengukur respon estetik peserta didik menurut faktor evaluatif. sifat alamiah seorang anak sering muncul dalam hasil lukisaanya. (c) media yang digunakan adalah krayon dan/atau mixed media dan teknik yang digunakan dussel dan out-line (garis-garis kontur). tetapi perbedaan tersebut tidak terdapat pada anak-anak kelompok kelas rendah pada usia SD. Analisis varians hasil pengukuran menunjukkan ada perbedaan respon estetik siswa 137 . anak laki-laki lebih spontan dan dinamis. Perbedaan ini tampak tertutama pada pewarnaan dan goresan. Ditinjau dari jenis kelamin terdapat perbedaan dalam pewarnaan dan goresan. formal (potensi). dalam melukis seorang anak berusaha untuk memvisualisasikan kehidupannya. Hal ini dikarenakan. perspektif. baik dalam pewarnaan.dan perpaduan perspektif burung dan tumpukan. spontanitasnya. Hal ini berarti bahwa respon estetik siswa dapat digunakan untuk menilai kualitas lukisan serta bentuk dan kesan gerak pada lukisan. (d) berdasarkan kelompok usia tidak terdapat perbedaan dalam memvisualisasikan objek. Adapun hasil lukisan anak ditempat tersebut dapat dibedakan antara lukisan hasil anak laki-laki dan hasil anak perempuan. Penggunaan semantik differential dapat aplikasikan untuk mengukur respon siswa tingkat SD terhadap hasil karya lukis yang dilihatnya. komposisi.

(7) percaya diri. Sedangkan indikator penilaian produk sebagai berikut: (1) kesesuaian tema. (3) originalitas. (6) keseriusan. Karya 138 . (5) harmoni keseluruhan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan adanya interaksi pengaruh gaya dan tema lukisan terhadap respon estetik peserta didik. Penelitian lain dilakukan Martono dan Retnowati (2007) tentang strategi pembelajaran seni lukis anak di sanggar Pratista Yogyakarta dengan subjek penelitian adalah anak-anak yang belajar melukis di sanggar tersebut. yaitu anak-anak usia dini yang berjumlah 25 anak dengan usia antara 3 sampai dengan 7 tahun. Penilaian yang dilakukan meliputi penilaian proses dan penilaian produk atau hasil karya.berdasarkan gaya lukisan (naturalistic. Secara umum hasil melukis peserta didik di sanggar pratista menunjukkan adanya kedinamisan garis yaitu antara lain garis tebal dan kuat. (4) pewarnaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang digunakan adalah menggunakan pendekatan individual dengan metode pemberian contoh. (3) kesiapan bahan dan alat. Pangumpulan data menggunakan metode observasi. wawancara. pemandangan alam. (2) kreativitas. 4. (5) ketekunan. (4) pemahaman tema. semideformatif. dan potret wanita). dan dokumentasi. Metode pemberian contoh dengan sket di kertas kerja peserta didik dimaksudkan untuk memotivasi peserta didik melukis bukan untuk dicontoh atau untuk ditiru. potret pria. dan deformatif) dan tema lukisan (alam benda. Kombinasi media pastel dan cat air memberikan kesan mantap dan kuat dalam penggunaan warna. Untuk penilaian proses indikator yang digunakan adalah: (1) kelancaran membuat sket (2) penuangan ide.

Masalah yang diperiksa dipilah ke dalam tujuantujuan sebagai berikut: (1) untuk memeriksa efek-efek perkembangan usia (kelas lima. delapan. dan masingmasing dari 150 subjek diuji secara perorangan. analisis variasi dengan pengukuran berulang. Hasil penelitan menunjukkan bahwa anak-anak kelas lima memiliki evaluasi yang 139 . dengan menggunakan pengukuran verbal dan non-verbal. Tanggapan-tanggapan verbal diukur dengan instrumen diferensial semantik. (2) untuk memeriksa baik peringkat verbal (pada diferensial semantik) maupun tanggapan-tanggapan non-verbal (looking time [LT] dan rating time [RT]). delapan. Tingkatan kelas subjek adalah kelas lima. 5. dan (4) untuk meletakkan dimensidimensi penting di dalam beragam skala diferensial semantik.lukis peserta didik menggambarkan dunia anak dengan tema pilihannya sendiri sesuai dengan pengalaman dalam kehidupannya. dan sebelas. dan the Fisher Least Significant Differenc. Penelitian yang dilakukan Newton (1989) dari University of Missouri bertujuan untuk mengetahui/memeriksa tentang perubahan-perubahan perkembangan tanggapan estetis pada dimensi-dimensi stilistik dan isi rangsangan seni dengan menggunakan tanggapan verbal dan non-verbal. dan pengukuran non-verbal memandang waktu dan rata-rata waktu (LT/RT). dan sebelas) pada tanggapan subjek atas rangsangan seni. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis faktor. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan slide-slide lukisan secara bertahap pada subjek- subjek sekolah dasar dan menengah. (3) untuk menyelidiki efek-efek jenis-jenis rangsangan (dimensidimensi gaya dan isi slide-slide lukisan.

dan ketidakpastian/kemunculan yang lebih rendah (lebih familiar dan kurang kompleks). dan menggugah semangat siswa untuk mengekspresikan ide-ide mereka kapada guru dan kelompoknya. Penelitian yang dilaksanakan oleh Coney (1999) tentang pentingnya kriteria untuk menilai hasil karya seni lukis anak.lebih tinggi. Pendidik hendaknya memberikan penilaian menyeluruh atas karya siswa dengan menyertakan alasan-alasan. Kriteria inipun bertujuan untuk membiarkan peserta didik membuat evaluasi sendiri mengenai kemajuan mereka. Suatu kriteria telah dikembangkan untuk mencapai tujuan ini. arti dari bertambahnya pengetahuan yang sudah mereka kuasai. Kriteria penilaian memberi suatu kerangka bagi pendidik dan peserta didik untuk menentukan teknik-teknik dan aspek-aspek dari karya mereka yang mereka kerjakann dengan benar. untuk bicara 140 . baik kepada guru maupun siswa. untuk membantu pendidik memahami bagaimana peserta didik beajar dari suatu proyek. dengan cara membangun kepercayaan diri. Sehingga siswa merasakan makna dari peningkatan. Hal ini menunjukkan bawah anakanak kelas lima menunjukkan kesiapan dan keterbukaan yang nampaknya berkurang ketika anak-anak menjadi dewasa. 6. dan letak keunggulan dan kelemahan mereka. Penilaian dengan mudah disertakan dalam setiap tahapan suatu proyek. dan LT/RT yang lebih panjang ketimbang anak-anak kelas delapan maupun sebelas. dilatarbelakangi bagaimana membuat suatu penilaian menjadi sebuah elemen pembelajaran yang aktif dan bagian positif dari pengajaran. Kriteria penilaian yang bagus memberikan suatu bahasan.

penilaian diripun dibangkitkan demi membantu siswa memahami kemajuaanya sendiri. padahal pendidikan seni penting sekali untuk memupuk spontanitas dan eksperimentasi. mulai dari sikap menerima hingga menolak secara total. Sebuah pandangan kompromis yang tercantum dalam tugas ini menerima prinsip penilaian. Proyek terdiri dari empat aspek.mengenai kemajuan dan pembelajaran dalan suatu cara yang penuh makna. dilakukan studi kasus yang dilakukan terhadap enam peserta didik dalam suatu proyek nyata. yaitu: melukis. Banyak hasil pendidikan seni yang paling berharga tidak kapabel bila dibilang maju dalam bentuk tujuan-tujuan pengajarannya. dan penilaian riil. dan memepermudah guru memahami pendekatan yang diambil siswa secara individual. kolase. Dalam menentukan serangkaian kriteria untuk mengevaluasi karya seni dan desain. perlulah kiranya menyeimbangkan kebebasan siswa untuk mengeksplorasi dan merespon pengalaman-pengalaman dengan kebutuhan untuk berkembang dan mempelajari ketrampilan-ketrampilan yang tepat. tetapi menemukakan pentingnya kreativitas. Penilaian atas dasar kriteria yang dikembangkan dalam laporan ini. Sikap atas penilaian dalam bidang seni dan desain bisa bermacam-macam. Sudah diterima secara luas bahwa penilaian harus mengevaluasi perkembangan siswa. Dengan sebuah kerangka yang didesain untuk digunakan dalam setiap mata pelajaran selama berlangsungnya suatu proyek. digunakan untuk merekam 141 . tujuan. Selanjutnya atas dasar hal tersebut di atas. Pada proyek dilengkapi dengan judul. sasaran. tugas rumah.

kemampuan masing-masing dengan tujuh kriteria sebagai berikut: (1) kemampuan untuk mengamati dan merekam suatu pengalaman visual. 7. (3) minat dan motivasi serta penggunaan bahasa seni dan desain. seperti pengamatan penuh selidik atas wajah manusia atau atas bunyi ucapan manusia. (6) menekankan kembali batasan-batasan dari suatu proyek. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan kemampuan- kemampuan awal dari anak-anak. Model ini sudah umum dan telah diterapkan pada studi tentang bagaimana anak-anak menjadi kreatif dalam menggambar sesuatu yang belum pernah mereka coba sebelumnya. disalurkan dalam ranah perkembangan dengan pengaruh-pengaruh dari luar si anak maupun dari dalam anak. (4) ekspresi dan kontrol atas ide-ide. (2) pengembangan ketrampilan teknis dan penggunaan bahan. 142 . Dengan menggunakan model Karmiloff-Smith dikenal sebagai Representational Redescription Model (RRM). yang diharapkan terbukti cukup flesibel untuk tugas-tugas yang berbeda. Penelitian Freeman (1997) bertujuan ingin menjelaskan bagaimana seorang anak didorong untuk mengerahkan segala kemampuan internalnya dalam berbagai wilayah yang berbeda. dan memberi keuntungan baik pada pendidik maupun peserta didik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: kriteria-kriteria yang dikembangkan dapat mengekspresikan elemen-elemen krusial dari kemajuan dalam seni dan desain. serta peralatan. (7) komitmen untuk menunaikan tugas rumah sebagai bagian dari riset untuk suatu proyek. (5) pencapaian sasaran pembelajaran. teknik.

Sayangnya.’. Suatu imajinasi yang aktif atau fantasi kehidupan yang hidup tidak dengan sendirinya menjamin sebuah inovasi dalam ekspresi atau tindakan. tetapi dari mereka yang 143 . Tantangan tersebut biasanya dilontarkan dengan menyuruh si anak menggambar berdasarkan imajinasinya atau meminta si anak mengekspresikan fantasinya. seturut model RRM. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen. (b) kemungkinan besar tersimpan dalam otak secara terpisah-pisah sehingga keterhubungannya tidak diketahui oleh anak. (c) dan berkaitan dengan penataan tindakan-tindakan praktis dan dengan demikian tidak mudah diuraikan untuk kepentingan pengaturan tindakantindakan inovatif. Modifikasi yang dibuat hanyalah meminta anak menjelaskan bagaimana mereka berhasil menggambarkan “sosok manusia yang belum pernah ada.Cara terbaik untuk melihat apakah seorang anak memiliki kemampuan internal ataukah tidak adalah dengan menugasinya menggambar sesuatu yang diperkirakan belum pernah ia lihat dan ia gambar sebelumnya. pertama melibatkan 62 anak usia lima tahunan dan 62 anak usia sembilan tahunan. tidak semua anak cukup eksplisit mengungkapkan penilaiannya. Ini akan memudahkan untuk membedakan anak yang bertumpu pada kemampuan eksternal semisal “hantu” atau “raksasa” dari anak lain yang bertumpu pada sebuah kemampuan internal dan menciptakan sebuah lukisan yang sepenuhnya “keluar dari kepalanya sendiri. oleh karena representasi-representasi mental tahap awal (a) tidak sepenuhnya eksplisit dan dengan demikian tidak mudah diakses semau-maunya oleh anak.”. Hal itu terjadi.

bertambah pulalah meteri verbal yang diperoleh begitu saja (tanpa usaha keras) dari anak untuk tujuan pembahasan karya. di kalangan anak-anak yang bertumpu pada sebuah model yang disebutkan sebagai eksternal tidak ada hubungan terjadi antara seberapa terkait ungkapan verbal mereka dan seberapa kreatif hasil karya mereka itu dinilai. dan barangkali bisa memantik ide-ide yang bermanfaat. dari lukisan normalnya mengenai sosok manusia apa adanya yang sudah dikumpulkan sebelum eksperimen dimulai. dan mayoritas anak yang lebih tua (67 %) menerangkan bagaimana mereka membuat inovasi dari kemampuan-kemampuan internal mereka. Eksperimen ini membuahkan hasil yang selaras dengan eksperimennya Karmiloff-Smith: hanya 8 % dari anak yang lebih muda usia berani membuat lukisan yang silang kategori bila dibandingkan dengan 39 % dari anak-anak yang lebih tua. Perbedaan ini secara statistik bersifat signifikan. 144 . Hal ini dapat dilihat pada: pertama. Hal itu menegaskan bahwa ketika kemampuan-kemampuan internal untuk inovasi grafis meningkat. mayoritas anak yang lebih muda usia (61 %) menyebut suatu karakter fiksional eksternal sebagai model mereka.ternyata cukup eksplisit 36 anak usia lima tahunan dan 52 anak usia sembilan tahunan. Ini masuk akal mengingat kepercayaan atas suatu model eksternal tidak otomatis membuat anak akan lebih berhasil dalam membedakan lukisan.

bahan akan berubah seiring dengan budaya dan filosofis sosial yang diungkapkannya. Dengan demikian untuk menilai suatu karya seni perlu pemahaman apa yang harus dilakukan bukan apa yang tidak bisa dilakukan. namun analisis histori membuktikan bahwa seni lazim merupakan alat untuk sesuatu yang lain. Karya seni dilihat dari produknya mengandung nilai intrinsik dan nilai ekstrinsik. Tetapi penggunaan elemen-elemen desain atau prinsip-prinsip seni. Garis. Pada anak-anak biasanya lebih bebas dalam berekspresi dalam mewujudkan suatu karya seni rupa. Tidak mudah untuk menyerap hal-hal yang tidak memiliki nilai apapun. sehingga hasil karyanya terkesan jujur dan spontan. Karena ketidaktahuan inilah anak cenderung lebih bebas dan merasa leluasa. Nilai ekstrinsik satu produk tertentu hanya bisa dievaluasi oleh keberhasilan empiris. Kriteria tidak mengakhiri suatu proses kreatif karena kriteria bukanlah suatu batasan-batasan.F. 145 . karena pada umumnya orang memiliki tujuan ketika melakukan penilaian. Kerangka Pikir Pada prinsipnya menilai karya seni harus menentukan dulu dasar yang digunakan untuk melakukan penilaian. Pada karya sendiri terdapat elemen-elemen desain atau prinsip-prinsip seni yang tidak akan berubah. Karya seni yang dihasilkan menunjukkan kemurnian pengungkapan perasaan mereka. tidak takut salah. Nilai intrinsik suatu karya seni yang sempurna sekalipun tidak akan lepas dari kualitas bahan yang dipakainya. seni lukis misalnya karena anak relatif belum banyak pengetahuan tentang aturan-aturan/norma-norma yang mengikatnya. Sesungguhnyalah produk seni harus membenarkan keberadaannya.

Kegiatan anak-anak melukis adalah suatu cara untuk mengkomunikasikan perasaan dan gagasannya. sesuai dengan bertambahnya usia anak.warna. Pengalaman-pengalaman paling awal atas bahan merupakan sebuah karakter sensori-motor. Lingkaran mengindikasikan secara simbolis anak yang sedang mengidentifikasi diri sebagai suatu entitas fisik yang terpisah dari ibu dan sekaligus terikat dalam ketergantungan personal dengan ibu tersebut. Mulai masa bayi sampai masa dewasa awal anak melalui beberapa fase dasar perkembangan sebagaimana tercermin dalam seni. Secara universal. bentuk-bentuk tersebut juga merepresentasikan secara simbolis tugas-tugas kehidupan anak-anak yang masih kecil. Sementara bentukbentuk ini mungkin dengan mudah dapat dikenali dalam artian muncul dari karakter yang sederhana sampai ke karakter yang kompleks. dimana mereka mengembangkan daya ciptanya. dan melalui manipulasi dan percobaan visual pada periode ini. Melukis bagi anak-anak sebentuk permainan. sebuah kemampuan untuk memproduksi bentuk pun tercapai. dan tekstur bukan lagi sebagai elemen-elemen fisik. Bahkan hasil karya lukis anak dapat menunjukkan bagaimana seseorang anak berpikir dan menangani masalah. dalam pengertian gestalt visual-motor. dan sesungguhnyalah lukisan anak-anak mempunyai makna yang profan yaitu mengandung makna lebih dalam dari pada permukaannya. pengertian Lukisan tersebut dapat ditafsirkan dalam perkembangan dan dapat mengungkapkan informasi tentang kepribadian anak. perkembangan seni lukis anak ada tahapannya. Segi empat menyarankan 146 . tetapi mencerminkan ekspresi kejiwaan yang kuat.

Namun 147 . Sebelumnya ia telah mengumpulkan detil-detil dalam gambranya ketika ia tumbuh. akan menjadi berorientasi pada kelompok karena adanya kebutuhan untuk mengidentifikasi dengan lebih mendalam peran seksual-diri. Kualitas estetik yang tinggi dari referensi fisik-emosionalnya pada tahun-tahun awal sekarang disubordinasikan pada pengisahan yang ideologis. atau anak akan menjadi ekstrovert perseptual-sosial dan tergantung pada visual dalam seninya. Identifikasi semacam itu membuat kecendrungan anak laki-laki untuk melebih-lebihkan proyeksi diri menjadi berupa citra yang mengerikan. tetapi ia sampai pada referensi rasional yang utuh dari bentuk dan ruang skematik pada usia tujuh tahun. Pada usia enam tahun anak mulai mapan di dalam dunia nyata dan menjadi bagian sosial dari interrelationship (hubungan di dalam struktur).penutupan-ego anak ketika ia mencoba mengklarifikasi diri dalam konteks lingkungannya. dan pada kadar tertentu. Tipe-tipe perseptual menjadi nyata dalam seni pada anak usia sembilan tahun ketika ia matang secara sosial. dan detil-detil tersebut mencerminkan pertumbuhan inteletualnya. Kemungkinan akan terjadi anak masuk dalam kedua tipe tersebut. sedangkan anak perempuan akan cenderung mengidealisasi dirinya sendiri dalam citra wanita yang glamor dan matang. Demikianlah perkembangan kepekaan artistik anak-anak yang terlihat dalam goresan-goresan karyanya pada usia 2 sampai dengan 6 tahun. Seorang anak akan menjadi introvert perseptual-sosial dan haptik dan tidak tergantung pada bidang dalam seninya.

the group critique untuk mengembangkan sikap oto kritis peserta didik dan mengetahui perkembangan peserta didik yang lain. Berdasarkan hal tersebut di atas. Kepekaan artistik anak akhirnya terdesak oleh kemampuan logika yang melihat seluruh isi alam tidak lagi dari penghayatan seni dan imajinasi anak. dan kepuasan anak. pemanfaatan waktu. kegagalankegagalan. Selanjutnya pada waktu proses pembuatan karya lukis. bagaimana sikap. meliputi penilaian proses dan produk. mengetahui masalah-masalah. Penilaian proses meliputi student self evaluation yang menghasilkan data pengukuran diri sendiri. Mengingat seni sendiri sifatnya subjektif sehingga perlu suatu kesepakatan objektif dalam prosedur-prosedur yang diperlukan. Karena di lapangan masih banyak kendala khususnya pendidik yang tidak memiliki pengalaman dan 148 . baik karena perkembangan anak sendiri. Untuk penilaian produk karya seni lukis peserta didik diperlukan kriteria. pendidik dapat menilai tingkah laku peserta didik. kelancaran dalam menggunakan media. Pendidikpun dapat menggunakan komentar peserta didik untuk masukkan diagnostik dan remedial. maupun proses pendidikan. demikian juga untuk penilai/ penafsir dari karya lukis tersebut berdasar kriteria yang ada. penentuan kriteria pengukuran hasil karya lukis anak pada anak kelas 1 sampai dengan kelas 3 sekolah dasar sesuai yang tercantum dalam KTSP yaitu pada usia tujuh sampai dengan sembilan tahun kiranya harus melihat perkembangan usia dan tahapan perkembangan seni anak Dalam hal ini performance assessment yang digunakan untuk menilai kaya lukis anak.kepekaan artistik ini akhirnya akan lenyap disadari atau tidak disadari. dan keberhasilannya. dan juga lingkungan.

pendidikan khusus dalam bidang seni lukis,

maka perlu ada tindakan untuk

melatih pendidik menafsirkan karya lukis peserta didik dengan menggunakan kriteria yang sudah disepakati dan diujicoba. Penentuan kriteria instrumen seni lukis peserta didik yang dikembangkan tentunya harus memenuhi persayaratan instrumen yang baik yaitu persyaratan validitas dan reliabilitas. Validitas isi dan validitas konstruk yang digunakan untuk menguji kriteria instrumen ini. Untuk mencapai validitas isi, disusun kisikisi berdasar teori-teori yang melandasinya kemudian dibahas dalam suatu focus group discussion oleh para ahli di bidang seni rupa (expert judgment) khususnya seni rupa anak. Sedangkan untuk mengistimasi reliabilitas instrumen

menggunakan intereter dengan membandingkan antar penilai. Kriteria instrumen untuk menilai karya seni lukis peserta didik tentunya harus memenuhi komponen rasio dan emosi. Karena untuk menelaah suatu karya seni cenderung penjelasan secara rasio, sedangkan karya seni dominan dengan emosi yang pengungkapannya memerlukan kepekaan intuitif. Dengan demikian diperlukan kepekaan intuitif untuk menjelaskan secara rasional. Pendidik sebagai orang yang melakukan penilaian mestinya dituntut dengan kepekaan intuitif

tersebut, sehingga subjektivitas dalam penilaian dapat diminalisir. Kriteria instrumen digunakan untuk mengembangkan instrumen karya lukis anak yang mencakup proses dan hasilnya. Instrumen karya lukis anak yang dikembangkan harus diketahui karakteristiknya. Karakteristik instrumen penilaian meliputi kesahihan (validity), keandalan (reliability), dan rubrik, yaitu cara

149

pemberian skor. Selain itu hal yang penting adalah keterpakaian instrumen ini oleh guru di sekolah dasar.

G. Pertanyaan Penelitian Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka pikir di atas, maka pertanyaan penelitiannya adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. Bagaimana kriteria instrumen penilaian karya seni lukis anak? Bagaimana validitas konstruk instrumen penilaian karya seni lukis anak? Bagaimana reliabilitas kriteria instrumen yang dikembangkan? Bagaimana rubrik penilaian karya seni lukis anak? Sejauhmana instrumen penilaian karya lukis anak ini dapat digunakan oleh guru?

H. Hipotesis Uji Model Dalam rangka untuk melihat efektifitas model yang dibuat di lapangan, perlu dilakukan uji model. Untuk menguji model tersebut, digunakan hipotesis sebagai panduan untuk melakukan justifikasi apakah efektif atau tidak menurut pengguna. Uji model ini mencakup kriteria atau konstruk instrumen. Berdasarkan permasalahan penelitian dan kajian pustaka yang melandasi dan didukung oleh kerangka pikir, maka hipotesis penelitiannya sebagai berikut: 1. Konstruk instrumen penilaian proses seni lukis anak terdiri dari sikap,

pemanfatan waktu, cara menggunakan alat, kepuasan. 2. Konstruk instrumen penilaian hasil karya lukis anak terdiri atas kreativitas, ekspresi, ketrampilan penggunaan bahan dan alat (teknik). 150

3.

Instrumen yang dikembangkan berdasarkan konstruk instrumen penilaian proses dan produk akan menghasilkan penilaian yang andal (reliable).

4. Instrumen penilaian seni lukis anak yang dikembangkan dapat digunakan guru dalam menilai proses dan hasil karya lukis anak.

151

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Data Uji Coba Berdasarkan langkah-langkah tahapan pengembangan, data hasil uji coba disajikan secara berturut-turut berikut ini. 1. Data Studi Awal a. Hasil Analisis Kurikulum Analisis kurikulum dimaksudkan untuk mengetahui keterkaitan antara tujuan pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan (seni lukis) dengan standar kompetensi lulusan (SKL) tingkat satuan pendidikan sekolah dasar. Tujuan mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan di sekolah dasar dalam standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah adalah sebagai berikut. Mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan: (1) memahami konsep dan pentingnya seni budaya dan keterampilan; (2) menampilkan sikap apresiasi terhadap seni budaya dan keterampilan; (3) menampilkan kreativitas melalui seni budaya dan ketrampilan; (4) menampilkan peran serta dalam seni budaya dan keterampilan dalam tingkat lokal, regional, maupun global (BSNP, 2006:192). Dalam Permen 22 tahun 2006 dinyatakan bahwa Standar Kompetensi Lulusan (SKL) SD/MI secara umum adalah sebagai berikut. 1) Menjalankan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan anak 2) Mengenal kekurangan dan kelebihan diri sendiri 3) Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungannya 4) Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi di lingkungan sekitarnya 5) Menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kreatif

169

6) Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif, dengan bimbingan guru/pendidik 7) Menunjukkan rasa keingintahuan yang tinggi dan menyadari potensinya 8) Menunjukkan kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari 9) Menunjukkan kemampuan mengenali gejala alam dan sosial di lingkungan sekitar 10) Menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan 11) Menunjukkan kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa, negara, dan tanah air Indonesia 12) Menunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni dan budaya lokal 13) Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang 14) Berkomunikasi secara jelas dan santun 15) Bekerja sama dalam kelompok, tolong-menolong, dan menjaga diri sendiri dalam lingkungan keluarga dan teman sebaya 16) Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis 17) Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung Hasil analisis kurikulum menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan yang sangat erat antara tujuan pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan dengan

Standar Kompetensi Lulusan (SKL) tingkat satuan pendidikan sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah (SD/MI). Keterkaitan tersebut disajikan pada Tabel 5. Tabel 5 menunjukkan bahwa mata pelajaran Seni Budaya dan Ketrampilan mempunyai sumbangan yang cukup strategis terhadap pencapaian SKL SD. Hal ini berarti keberhasilan pembelajaran Seni Budaya akan mendukung keberhasilan pencapaian SKL SD, khususnya SKL No 5 sampai dengan 13, kemudian SKL No. 14 dan 15.

170

Tabel 5 Hubungan antara Tujuan Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan (PSB) dengan SKL Satuan Pendidikan SD No. Tjn. PSB 1 2 3 4 Nomor Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan SD 1 2 3 4 5 6 X X X X 7 X X X 8 X X X 9 10 11 12 13 14 15 16 X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X 17

X X X X X

b. Hasil Analisis Kebutuhan Lapangan Analisis kebutuhan lapangan melibatkan 20 orang guru yang mengajar mata pelajaran seni lukis. Ada 14 item yang diidentifikasi dalam studi awal ini, yaitu kurikulum, buku acuan, bahan dan alat, penentuan tema lukisan, minat anak, metode penilaian, prosedur penilaian, komponen yang dinilai, kriteria penilaian, penentuan skor, unsur kreativitas, kesulitan yang dihadapi, pandangan guru, dan partisipasi sekolah/anak dalam lomba lukis. Hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti berkaitan dengan masing-masing item tersebut dapat dielaborasi berikut. Pembelajaran seni lukis anak, 75% menggunakan kurikulum tingkat

satuan pendidikan (KTSP) dan sisanya 25% menggunakan gabungan KTSP dengan kurikulum sebelumnya. Informasi tersebut disajikan pada Gambar 47. KTSP yang dikembangkan berdasarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Permen No 22 tahun 2006 tentang standar isi pendidikan merupakan

kurikulum terbaru yang digunakan pada jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah. Kurikulum yang digunakan sebelumnya adalah kurikulum 2004, yaitu kurikulum berbasis kompetensi (KBK). KTSP pada dasarnya sama dengan

171

kurikulum 2004, perbedaannya hanya level standar kompetensi yang ingin dicapai dan cakupannya.

Gambar 47. Jenis Kurikulum Yang Digunakan Hasil Studi Awal Hasil wawancara menunjukkan bahwa hanya 5% guru menggunakan 85% guru,

buku acuan yang sesuai dengan KTSP. Sebagian besar guru, menggunakan

buku yang sesuai KTSP dan sumber lain, dan 10 % guru

menggunakan buku yang tidak sesuai KTSP. Infomasi kesesuaian buku yang digunakan dengan KTSP disajikan pada Gambar 48. Dalam kaitan dengan penyiapan alat dan bahan pembelajaran seni lukis, teridentifikasi ada 5 (lima) komponen yang menyiapkannya, yaitu

Gambar 48. Kesesuaian Buku Yang Digunakan Hasil Studi Awal

172

komponen ketiga. dan komponen kelima.siswa. 20% guru dan siswa yang menyiapkan alat dan bahan. guru. dan sekolah yang menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam pembelajaran. Data tersebut menunjukkan bahwa sekolah secara mandiri belum mampu menyediakan alat dan bahan yang diperlukan untuk pembelajaran Informasi tentang penyiapan alat dan bahan disajikan pada Gambar 49. sekolah dan siswa. komponen kedua. 5% guru yang menyiapkan alat dan bahan Gambar 49. komponen keempat. dan sekolah. Pembelajaran seni lukis diawali dengan penentuan tema yang akan dilukis oleh siswa. 10% guru. Subjek Yang Menyiapkan Alat dan Bahan Hasil Studi Awal pembelajaran. Komponen pertama. guru dan siswa. 25% siswa yang menyiapkan alat dan bahan pembelajaran. guru. serta gabungan siswa. 10% tema ditentukan oleh siswa. ada 30% tema ditentukan oleh guru sesuai dengan kurikulum. siswa. 173 . dan 60% tema ditentukan bersama antara guru dan siswa. Dalam kaitan dengan penentuan tema lukisan tersebut. Informasi ini disajikan pada Gambar 50. 40% sekolah dan siswa yang menyiapkan alat dan bahan.

dan 10% siswa tidak berminat dalam melukis. Hasil identifikasi melalui wawancara diperoleh bahwa menurut persepsi guru ada 75% siswa memiliki Gambar 51. Minat Siswa dalam Belajar Hasil Studi Awal minat yang sangat tinggi. Hasil Studi Awal Subjek Yang Menentukan Tema Lukisan Penentuan tema merupakan tahap yang sangat krusial dalam pembelajaran seni lukis karena berkaitan dengan minat siswa. 15% anak kurang berminat.Gambar 50. Distribusi minat siswa terhadap pelajaran seni lukis hasil studi awal disajikan pada Gambar 51. 174 .

termasuk uraian dan prosedur dalam memberikan penilaian. pengamatan perbuatan. Gambar 52. 20% guru guru menggunakan pengamatan dan tes menggunakan portofolio dan tes perbuatan. Informasi tersebut dapat disajikan pada Gambar 52. 175 . 15% guru menggabungkan metode pengamatan. Hasil Studi Awal Jenis Penilaian Yang Digunakan Guru Selanjutnya. Dalam melakukan penilaian 60% guru memberikan uraian prosedur yang sesuai dengan langkah-langkah penilaian dan 40% tidak memberikan uraian prosedur. Informasi tentang uraian dan prosedur dalam melakukan penilaian disajikan pada Gambar 53. Kesesuaian prosedur dalam melakukan penilaian setidaknya dapat memberikan patokan bagi guru dalam upaya menghindari subjektifitas penilai. metode penilaian yang digunakan memiliki karakteristik yang berbeda. portofolio dan tes perbuatan dalam memberikan penilaian terhadap siswa.Metode yang digunakan guru dalam melakukan penilaian seni lukis siswa adalah 15% guru menggunakan metode pengamatan. 5% 5% guru menggunakan tes perbuatan. 5% guru menggunakan portofolio. 30% guru menggunakan portofolio. dan 5% guru tidak memahami metode penilaian.

176 . 5% Gambar 54. Informasi hasil studi awal ini disajikan dalam bentuk grafik seperti Gambar 54.Gambar 53. Hasil Studi Awal Kesesuaian Prosedur Yang Digunakan dalam Penilaian Dalam kaitan dengan komponen-komponen yang dinilai dalam pembelajaran seni lukis selama ini menunjukkan bahwa 40% hanya komponen produk. Gambar 54 memberikan gambaran bahwa secara umum gabungan komponen proses dan produk merupakan objek penilaian yang dilakukan oleh guru. dan 55% komponen proses dan produk. Hasil Studi Awal Komponen Penilaian Guru komponen proses.

ada 5% guru memberikan kriteria proses yang meliputi cara melukis. Kriteria produk meliputi komposisi warna. Hasil studi awal menunjukkan bahwa ada dua macam penentuan skor dalam menilai karya lukis siswa yang dilakukan. dan yang menjawab tidak tahu (5%). Hasil Studi Awal Kriteria Penilaian Guru Komponen proses dan produk yang dinilai terdiri atas beberapa kriteria.Gambar 55. Informasi tentang penentuan skor dalam penilaian seni lukis anak hasil studi awal ini disajikan pada Gambar 56. kesesuaian lukisan dengan tema sebesar 25% . keberanian sebesar 70%. Di samping itu. yaitu melalui pemberian angka (80%). komposisi bidang. Setelah menetapkan kriteria untuk setiap komponen penilaian. kurang baik (10%). pemberian huruf misalnya sangat baik. kesesuaian warna. dan komposisi bidang. langkah selanjutnya adalah penentuan skor. Secara grafik. cara mewarnai produknya. semangat. Kriteria proses meliputi sikap. kombinasi angka dan huruf (5%). Gambar 56 menunjukkan bahwa penentuan skor dalam penilaian seni lukis anak yang dilakukan oleh guru pada umumnya melalui pemberian angka. informasi ini disajikan pada Gambar 55. baik. Hasil wawancara peneliti dengan guru 177 .

guru tersebut tidak memberikan jawaban yang pasti. Hasil Studi Awal Jenis Penentuan Skor Penilaian oleh Guru tentang apa makna angka yang diberikan misalnya 60. Hasil studi awal menunjukkan bahwa untuk melihat unsur kreativitas dalam sebuah produk hasil karya seni siswa. semuanya serba kemungkinan.Gambar 56. Hasil Studi Awal Unsur Kreativitas dalam Penilaian oleh Guru 178 . Skor angka yang diberikan pada hasil karya seni lukis anak belum dapat dijadikan sebagai dasar bagi guru untuk melihat kreativitas dari anak. 70% guru mengungkapkan dengan memperhatikan Gambar 57.

Kesulitan Guru dalam Penilaian Hasil Studi Awal praktis untuk menilai. siswa. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa 40% guru mengungkapkan karena tidak ada pedoman yang Gambar 58. semua guru menyarankan perlunya instrumen penilaian yang praktis untuk mempermudah dan menyeragamkan 179 . Secara grafik.kesesuaian unsur-unsur rupa serta kemampuan anak dalam mengembangkan ide. dan 30% guru belum mengungkapkan kriteria kreativitas anak. dan keseriusan siswa. misalnya faktor-faktor yang dinilai kelengkapan peralatan dan bahan yang dibawa tidak memahami seni. Kemudian peneliti menanyakan kepada guru tentang kesulitan yang dialami dalam melakukan penilaian seni lukis anak. 35% guru mengungkapkan berasal dari siswa. informasi ini dapat disajikan pada Gambar 57. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi guru dalam melakukan penilaian seni lukis anak ternyata cukup banyak. 20% guru mengungkapkan dan 5% guru mengungkapkan tidak ada kesulitan. Untuk mengatasi kesulitan tersebut. Informasi ini disajikan pada Gambar 58.

Hasil Studi Awal Partisipasi Siswa atau Sekolah dalam Kegiatan Lomba 180 . Gambar 59. Sajian informasi tersebut dalam bentuk grafik dapat dilihat pada Gambar 60. informasi tentang perlu tidaknya instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak disajikan pada Gambar 59. 50% siswa cukup mengikuti lomba lukis. Gambar 60.penilaian yang dilakukan guru. 20% siswa jarang mengikuti lomba lukis. Hasil Studi Awal Tanggapan Guru Perlunya Instrumen Penilaian Partisipasi sekolah atau siswa dalam mengikuti kegiatan lomba seni lukis berdasarkan wawancara yang peneliti lakukan menunjukkan bahwa 25% siswa sering mengikuti lomba lukis. Secara grafik. dan 5% siswa tidak pernah mengikuti lomba.

Nitikan SD Muh. Danunegaran SD Muh.Indonesia &IPS √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Agama & Sains B. Tabel 6 Daftar Peserta Studi Awal Inisial resp SW PB SR NH AG PN EL RL RP SW SS WA TR RH ET MR SR RP SL LP Usia (Tahun) 49 36 39 47 54 45 55 50 35 38 32 39 31 33 27 35 29 34 44 28 Asal Sekolah SD Lempuyangan 2 SD Lempuyangan 1 SD Lempuyangan 3 SD Tegal Panggung SDN Widoro SD Suryodiningratan 4 SD Langensari SD Samirono SD Suryodiningratan 3 SD Pujokusumon 3 SD Muh.Indonesia B. terutama jika dilihat dari guru yang melaksanakan penilaian. Gowongan SD Muh.Danunegaran SD Muh.Perancis B.Indonesia Psikologi Tek. Kauman Jenis Guru Guru kelas Guru bidang studi Bidang Keahlian Seni lukis IPS Olah raga B. 181 .Berdasarkan temuan studi awal tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan penilaian seni lukis anak selama ini masih perlu perbaikkan dan peningkatan.Penumping SD Muh. Sebaran guru dan latar belakang guru disajikan pada Tabel 6. Papringan SD Muh. tampak bahwa pembelajaran dan penilaian pendidikan seni lukis sungguh memprihatinkan.Karangkajen SD Muh. Pada umumnya (95%) guru yang mengajarkan dan melaksanakan penilaian seni lukis anak tidak memiliki latar belakang pendidikan atau pengalaman seni. Papringan SD Muh.Nitikan SD Muh. Pendidikan Lukis & Tari Mencermati informasi yang disajikan pada Tabel 6.

Penyimpulan ini didasarkan pada perbedaan karakteristik pembelajaran seni yang dilakukan oleh setiap guru. Data Pendefinisian Pada langkah ini didapatkan definisi konstruk instrumen dan kajian atas konsep instrumen karya lukis anak yang dijabarkan dari kajian teori. Perbedaan ini tampak pada Gambar 47-58 serta Tabel 6. Kenyataan ini merupakan suatu gambaran tentang pembelajaran dan penilaian seni lukis yang terjadi selama ini. Pendefisian ini pada dasarnya dihasilkan dari pendalaman literatur tentang seni dan strategi pendidikannya.Pendidik yang memiliki pemahaman dan pengetahuan tentang seni lukis sangat sedikit (hanya 5%) yaitu mereka yang berlatar belakang pendidikan seni. perlunya pengembangan instrumen seni lukis didasarkan juga pada fakta yang disajikan pada gambar 59. Definisi konstruk instrumen karya seni lukis anak dijabarkan menurut indikator. sehingga memerlukan perhatian yang serius dari semua pihak yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan seni lukis. 2. Gambar tersebut mengungkapkan secara eksplisit bahwa 100% guru yang diteliti menyatakan sangat perlu instrumen penilaian yang praktis sehingga untuk mempermudah dan menyeragamkan penilaian guru. kriteria dan rubrik penentuan skor. Adanya perbedaan ini. deskripsi. dapat ditarik kesimpulan bahwa instrumen penilaian seni lukis anak perlu dikembangkan untuk mempermudah guru dalam melakukan penilaian yang lebih objektif. sehingga kualitas pembelajaran dan penilaian seni lukis masih sangat rendah. 182 . dikhawatirkan akan memicu terjadinya penilaian yang cenderung subjektif. Selain fakta yang ditunjukkan pada gambar dan tabel tersebut. Berdasarkan uraian hasil studi awal di atas.

Indikator Indikator adalah suatu karakteristik. Kemudian. Dalam penelitian ini rubrik merupakan daftar kriteria yang diwujudkan dengan dimensi-dimensi kinerja. Dengan demikian kriteria atau rubrik merupakan panduan memberi skor. jelas. (Novianto. 183 .a. aspek-aspek atau konsep-konsep yang akan dinilai dan gradasi mutu. Rubrik dapat membantu seseorang untuk menentukan tingkat ketercapaian kinerja. perbuatan. Indikator merupakan tolok ukur (Rohandi. Deskripsi Deskripsi adalah suatu paparan dengan kata-kata yang terperinci (Novianto. patokan untuk mempertimbangkan atau menentukan sesuatu. 2002: 20). mulai dari tingkat yang paling sempurna sampai dengan tingkat yang paling rendah. b. dan disepakati penilai dan siswa. 2005: 306). 2005:141). Kriteria atau Rubrik Kriteria atau rubrik adalah pedoman menilai kinerja atau hasil kerja. Novianto (2005: 230) mengemukakan bahwa indikator adalah alat untuk mengukur dan sebagai petunjuk. ciri-ciri. Kriteria adalah kadar ukuran. Indikator keberhasilan karya seni lukis anak dapat dilihat pada lampiran 1 halaman 271. c. Dengan demikian indikator merupakan suatu petunjuk atau acuan sehingga memudahkan guru dalam melakukan penilaian. Dalam penelitian ini deskripsi didefinisikan sebagai paparan kata-kata yang secara terperinci dari indikator yang diturunkan yang digunakan sebagai dasar untuk mengamati objek penilaian.

Instrumen Penilaian Seni Lukis Hasil Tahap Rancangan tahap sebelumnya ditetapkan menjadi konstruk instrumen pendidikan seni lukis anak. Dimensi penilaian proses adalah penilaian yang ditunjukkan untuk mengamati kompetensi peserta didik dalam berkreasi membuat karya seni lukis. sedangkan dimensi penilaian 184 . dimensi produk. unsur Ketekunan Waktu Kretivitas Ekspresi Teknik • • Penilaian diri Penilaian kelompok Gambar 61. media Pengg. dan konten serta sasaran penilaian. konstruk instrumen yang telah didefinisikan pada Awal • • Tanggapan siswa Kesiapan alat Proses Guru Inti Karya Seni Guru Produk Siswa • • • • • • • • Penuangan ide Pengg.3. Masing-masing dapat disimak pada Gambar 61. Hasil digunakan sebagai dasar untuk merancang konstruk instrumen secara utuh. Setelah itu dilakukan proses telaah dengan memanfaatkan validasi ahli untuk menperoleh kesepakatan dalam menentukan validasi ahli konstruk penilaian. Data Perancangan Pada tahap perancangan. Konfigurasi dari konstruk instrumen yang komprehensif dan utuh mengandung prototipe dimensi proses.

Seminar dilaksanakan untuk mendapat masukan dan saran berkaitan dengan indikator. Komponen proses terdiri atas 5 (lima) indikator dan komponen produk 3 (tiga) indikator. Kegiatannya meliputi pengembangan indikator. Rangkuman hasil FGD kedua disajikan pada Tabel 7. telaah item. Tahap awal meliputi: 1) tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat. uji coba instrumen. Langkah pengembangan berikutnya adalah seminar. analisis dan pembakuan. Indikator produk terdiri atas kreativitas. 4) ketekunan. deskripsi dan 185 . 3) keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk. Indikator proses teridiri atas tahap awal dan tahap inti. 2) kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis. penyusunan item instrumen. ekspresi. 5) pemanfaatan waktu. Indikator tahap inti meliputi: 1) kelancaran penuangan ide. Data Pengembangan Tahapan ini merupakan tahap elaborasi lanjut setelah prototipe hasil perancangan diperoleh pada tahap sebelumnya. dan teknik. Hasil FGD pertama adalah kesepakatan bahwa penilaian seni lukis anak terdiri atas komponen proses dan produk dengan perbandingan 60% untuk proses dan 40% untuk produk.produk adalah penilaian yang ditunjukkan untuk melihat kompetensi peserta didik dalam membuat karya cipta seni lukis. Hasil FGD kedua adalah kesepakatan tentang deskripsi masing-masing indikator yang ditemukan pada FGD pertama. perbaikan item. 4. 2) keberanian menggunakan media. Hasil FGD ketiga adalah kesepakatan tentang kriteria masing-masing indikator dan deskripsi yang diperoleh pada dua FGD sebelumnya.

A. Ketekunan Kondisi peserta didik untuk mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh-sungguh Pemanfaatan waktu Penggunaan waktu sebaik-baiknya untuk membuat karya lukis Komponen Produk Kreativitas Keaslian bentuk (kemampuan menciptakan bentuk yang khas). unsur-unsur bentuk bidang. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik. kebaruan teknik dan konsep cerita Ekspresi Kejelasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema Teknik Kemampuan menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya. serta kebersihan karya yang dihasilkan 3 4 5 B 1 2. kualitas cara penggambaran.2 Tahap Inti 1 Kelancaran penuangan ide Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara kualitas ide yang dikembangkan dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut 2 Keberanian menggunakan Keberanian menggunakan media (alat dan media bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik inkonvensional dalam melukis Keberanian menggunakan Keberanian menggunakan titik. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik 2 Kesiapan alat dan bahan Suatu kondisi peserta didik yang sudah yang akan digunakan siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk untuk melukis pembuatan karya lukisnya A.1 1 Indikator Komponen Proses Tahap Awal Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Deskripsi Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi. garis. Hasil FGD Pertama dan Kedua No A.Tabel 7. 3 186 .

Adapun pada Gambar 63. 3) baik. Proses kesepakatan terkait dengan perubahan-perubahan pada instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar melalui FGD dan seminar dilakukan melalui pengkajian bersama yang dilandasi oleh kajian teori yang ada. 2) cukup. Hasil kesepakatan dalam FGD adalah pedoman dapat digunakan di sekolah. Diseminasi Tahap diseminasi merupakan tahap sosialisasi instrumen dan pedoman penggunaan instrumen penilaian seni lukis anak pada pendidik seni lukis sekolah dasar. Akhir dari tahap pengembangan adalah kegiatan melakukan uji empiris instrumen. tampak sejumlah perubahan yang mendasar pada kriteria untuk setiap level penilaian.kriteria yang telah disepakari pada tahap FGD. 187 . Data lengkap hasil FGD ini dapat dilihat pada Lampiran 3 halaman 276. Pedoman penggunaan intrumen meliputi petunjuk penggunaan. Perubahan ini dimaksudkan untuk lebih menyederhanakan rubrik penskoran tanpa mengurangi maksud yang ingin dicapai yaitu menciptakan instrumen penilaian seni lukis yang valid dan andal. Hasil FGD Ketiga disajikan dalam Gambar 62. Ada beberapa perubahan mendasar yang diperoleh dari peserta seminar. sedangkan hasil seminar disajikan pada Gambar 63. khususnya berkaitan dengan kriteria dan rubrik penskoran. 5. Gambar 62 merupakan rubrik skor yang disusun untuk setiap indikator dengan masing-masing indikator terdiri dari 4 level/tingkatan penilaian yaitu: 4) sangat baik. kriteria penilaian. keterbacaan dan penampilan fisik. dan kelayakan penyajian yang meliputi sistimatika. penskorannya. dan 1) kurang.

1. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik Level Kurang • Sangat sering bertanya seputar tema lukisan kepada guru • Sering mengeluh dengan tema yang diberikan • Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan lambat • Memperlihatkan kegairahan yang kurang untuk memulai melukis Sangat baik • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan sangat lengkap • Alat dan bahan sangat siap untuk digunakan • Alat dan bahan sangat mendukung kegiatan melukis Deskripsi Suatu kondisi peserta didik yang sudah siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya Kurang • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan kurang lengkap • Alat dan bahan kurang siap untuk digunakan • Alat dan bahan kurang mendukung kegiatan melukis Level Baik • Jarang bertanya seputar tema lukisan kepada guru • Jarang mengeluh dengan tema yang diberikan • Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan cepat • Memperlihatkan kegairahan yang tinggi untuk memulai melukis Cukup • Sering bertanya seputar tema lukisan kepada guru • Cukup sering mengeluh dengan tema yang diberikan • Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan cukup cepat • Memperlihatkan kegairahan yang cukup tinggi untuk memulai melukis Baik • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan lengkap • Alat dan bahan siap untuk digunakan • Alat dan bahan mendukung kegiatan melukis Cukup • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan cukup lengkap • Alat dan bahan cukup siap untuk digunakan • Alat dan bahan sangat mendukung kegiatan melukis Gambar 62. Rangkuman Hasil FGD Ketiga 188 . Indikator Kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis • • • • Sangat baik Bertanya seperlunya seputar tema lukisan kepada guru Tidak pernah mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan sangat cepat Memperlihatkan kegairahan yang sangat tinggi untuk memulai melukis Deskripsi Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi. Indikator Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Tahap Awal 2.

bidang. Indikator Keberanian menggunakan media Level Deskripsi Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara ide yang ada dalam diri siswa dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut 3. bidang) cukup mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna cukup mendekati warna sebenarnya Cukup berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis • • Kurang • Lambat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Kurang tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media kurang sesuai dengan karakteristiknya • 1. bidang) mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna mendekati warna sebenarnya Berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis Level Cukup Variasi unsurunsur bentuk (garis. garis. Indikator Kelancaran penuangan ide • Kurang Variasi unsurunsur bentuk sedikit (garis. Indikator Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk Deskripsi Kemampuan menggunakan titik. bidang) sangat mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna sangat mendekati warna sebenarnya Sangat berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis • • • • Level Cukup • Cukup cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Cukup tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media cukup sesuai dengan karakteristiknya Deskripsi Kemampuan menggunakan media (alat dan bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik bebas dalam melukis 2.Lanjutan Gambar 62 Baik • Cepat dalam menemukan ide • Tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide • Cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Cukup • Cukup cepat dalam menemukan ide • Cukup tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide • Cukup cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media • Baik • Cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media sesuai dengan karakteristiknya Sangat baik • Sangat cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Sangat tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media sangat sesuai dengan karakteristiknya Sangat baik • Sangat cepat dalam menemukan ide • Sangat tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide • Sangat cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Kurang • Lambat dalam menemukan ide • Kurang tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide • Lambat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media • • Sangat baik Sangat baik Variasi unsur-unsur bentuk (garis. bidang) mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna tidak mendekati warna sebenarnya Kurang berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis • • • Tahap Inti 189 . dan warna untuk menghasilkan bentuk yang orisional/khas Baik Variasi unsur-unsur bentuk(garis.

Indikator Tahap Inti Ketekunan Deskripsi Penggunaan waktu sebaik-baiknya dilakukan untuk membuat karya lukis Sangat baik • Menyelesaikan karya lukis dengan sangat tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang sangat tuntas Kurang • Menyelesaikan karya lukis dengan kurang tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang kurang tuntas Cukup • Menyelesaikan karya lukis dengan cukup tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang cukup tuntas Sangat baik • Sangat serius dalam membuat karya lukis • Perhatian terhadap karya lukis sangat terfokus Deskripsi Kondisi peserta didik untuk mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh-sungguh Level Level Kurang • Tidak serius dalam membuat karya lukis • Perhatian terhadap karya lukis kurang terfokus Baik • Menyelesaikan karya lukis dengan tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang tuntas Baik • Serius dalam membuat karya lukis • Perhatian terhadap karya lukis terfokus Cukup • Cukup serius dalam membuat karya lukis • Perhatian terhadap karya lukis cukup terfokus 190 . Indikator Pemanfaatan waktu 5.Lanjutan Gambar 62 4.

Lanjutan Gambar 62 • • • • • Baik Jarang melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang tinggi memodifikasi objek Warna yang digunakan bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang tinggi menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang banyak dalam dalam Cukup • • • • • Cukup sering melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan cukup bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang cukup banyak Sangat baik • • • • • Tidak pernah melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang sangat tinggi dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan sangat bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang sangat tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang sangat banyak Kurang • • Level • • • Sering melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang kurang memodifikasi objek Warna yang digunakan kurang bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang kurang menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang kurang banyak dalam dalam Deskripsi Keaslian bentuk (kemampuan menciptakan bentuk-bentuk baru) 1. Indikator Ekspresi 3. Indikator Kreativitas 2. Indikator Teknik Produk Deskripsi Sangat baik • Sangat jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Sangat tegas/ spontan dalam mengungkapkan garis Sangat berani dalam mengorganisasikan unsurunsur karya lukis Kejelasan dalam mengungkapkan isi/tema/konsep lukisan • Kurang Kurang jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Kurang tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Kurang berani dalam mengorganisasikan unsurunsur karya lukis • • • • Level Sangat baik • Alat dan bahan yang digunakan sangat sesuai karakteristiknya • Sangat teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan sangat bersih Deskripsi Kemampuan menggunakan alat dan bahan sesuai dengan karakteristiknya serta kebersihan karya yang dihasilkan Level Kurang • Alat dan bahan yang digunakan kurang sesuai karakteristiknya • Kurang teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan kurang bersih • Baik Jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Berani dalam mengorganisasikan unsurunsur karya lukis Cukup • Cukup jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Cukup tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Cukup berani dalam mengorganisasikan unsurunsur karya lukis • • • • Baik • Alat dan bahan yang digunakan sesuai karakteristiknya • Teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan bersih Cukup • Alat dan bahan yang digunakan cukup sesuai karakteristiknya • Cukup teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan cukup bersih 191 .

Indikator Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Tahap Awal 2. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik Deskripsi Suatu kondisi peserta didik yang sudah siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek Menerima Memahami Melaksanakan Sangat baik Terpenuhi 3 aspek Lengkap Relevan Siap digunakan Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek Lengkap Relevan Siap digunakan • • • Sangat baik Terpenuhi 3 aspek Menerima Memahami Melaksanakan Level • • • • • • Level • • • • • • Baik Terpenuhi 2 aspek Menerima Memahami Melaksanakan • • • Kurang Terpenuhi aspek Menerima Memahami Melaksanakan 1 • • • Baik Terpenuhi 2 aspek Lengkap Relevan Siap digunakan • • • Kurang Terpenuhi aspek Lengkap Relevan Siap digunakan 1 Gambar 63.1. Rangkuman Hasil Seminar Instrumen Penilaian Seni Lukis 192 . Indikator Kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis Deskripsi Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi.

bidang. garis. Level Kurang Terpenuhi 1 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Berani • Tepat • Artistik Kurang Terpenuhi aspek • Berani • Tepat • Artistik 1 1. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik. Indikator Kelancaran penuangan ide Tahap Inti 193 .Lanjutan Gambar 63 Baik Terpenuhi 2 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Kurang Terpenuhi 1 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Baik Terpenuhi 2 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Lambat • Tepat • Sesuai dengan media Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Berani • Tepat • Artistik Baik Terpenuhi aspek • Berani • Tepat • Artistik 2 Level Deskripsi Kemampuan menggunakan media (alat dan bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik bebas dalam melukis 2. Indikator Keberanian menggunakan media Level Deskripsi Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara ide yang ada dalam diri siswa dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut 3. Indikator Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk Deskripsi Keberanian menggunakan titik.

Lanjutan Gambar 63 4. Indikator Pemanfaatan waktu 5. Indikator Pemanfaatan waktu Tahap Inti Sangat baik • Menyelesaikan karya lukis dengan sangat tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang sangat tuntas Deskripsi Penggunaan waktu sebaik-baiknya dilakukan untuk membuat karya lukis Level Kurang • Menyelesaikan karya lukis dengan kurang tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang kurang tuntas Sangat baik Karya sebelum berakhir selesai waktu Deskripsi Penggunaan waktu sebaik-baiknya dilakukan untuk membuat karya lukis Sangat kurang Karya tidak selesai saat waktu berakhir Level Baik • Menyelesaikan karya lukis dengan tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang tuntas Cukup • Menyelesaikan karya lukis dengan cukup tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang cukup tuntas Baik Karya selesai tepat waktu Kurang Karya hampir selesai saat waktu berakhir 194 .

Lanjutan Gambar 63 Baik Terpenuhi 2 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Kurang Terpenuhi 1 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Level Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Deskripsi Keaslian bentuk (kemampuan menciptakan bentuk yang khas). serta kebersihan karya yang dihasilkan Level Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Level Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Baik Terpenuhi 2 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Kurang Terpenuhi 1 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Baik Terpenuhi 2 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Kurang Terpenuhi 1 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih 195 . Indikator Kreativitas 3. kualitas cara penggambaran. Indikator Ekspresi 1. Indikator Teknik Deskripsi Kejelasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Produk Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Deskripsi Kemampuan menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya. kebaruan teknik dan konsep cerita 2.

Hasil ujicoba instrumen ini disajikan pada bagian analisis data. Komponen-komponen yang digunakan sebagai acuan untuk melakukan rating oleh para rater telah diperoleh dari hasil pengembangan pada tahap sebelumnya dan dikenal dengan produk tentatif instrumen penilaian karya seni lukis. Data uji coba terdiri dari 4 (empat) komponen yaitu (1) data uji coba komponen penilaian proses. dan (3) data uji coba komponen penilaian diri.B. (2) data uji coba komponen penilaian produk. dan (4) data uji coba komponen penilaian kelompok.358). Hasil analisis G study digunakan untuk mengetahui koefisien reliabilitas alat penilaian yang dikembangkan serta estimasi komponen variansi kesalahan yang diakibatkan oleh berbagai sumber variansi. Analisis Data 1. Kegiatan uji coba ini dipaparkan data hasil uji coba pada keempat kawasan tersebut. Data Uji Coba Bagian ini mendeskripsikan tentang hasil uji coba penggunaan instrumen penilaian yang diujicobakan kepada tiga orang guru sebagai rater atau penilai terhadap penilaian karya seni lukis (beberapa hasil karya lukis anak dapat dilihat pada lampiran 9 hal. penilai (R) dan item kriteria penilaian (I). penilaian diri dan penilaian kelompok pada pengguna di lapangan. maka pada tahapan analisis lanjut (analisis D study) akan didapatkan informasi tentang keputusan seberapa jauh penggunaan 196 . dalam pengembangan ini yakni sumber variansi murid (P). Instrumen penilaian ini terdiri atas empat komponen utama yakni penilaian proses. Setelah koefisien G dapat diketahui. penilaian produk.

95 204981.00 0. dan dapat diterimanya kondisi faset tersebut bagi rater atau penilai yang lain.71 5130.60 100.43 222.29 18 11387.00 100.07 15.55 1259 193.48 PI:R ( Interaksi 9244.60 381079.60 Catatan: JK1 = sums of squares for mean scores.63 59 132.90 8728.83 4.60 1062 15.51 175. Hasil Analisis Genova Untuk Estimasi Komponen Variansi 1) Analisis Estimasi Komponen Varians Komponen Penilaian Proses Rangkuman analisis G study dari data uji coba komponen penilaian proses dapat disajikan sebagaimana pada Tabel 8.23 4.94 118 0.58 0.29 24.69 0.66 226469.96 9. Hasil rangkuman analisis G study untuk penilaian proses di kelas 1.73 3.43 5174.43 PR (Interaksi Murid 6092.00 53.instrumen yang telah diuji memiliki keberlakuan pada faset yang lebih luas terutama menyangkut kesamaan kondisi pengukuran.18 3.07 421.76 193.14 118 43.06 457.15 1259 124816.00 581347.20 2854.46 41.04 62.29 Penilai (R) 631942.00 426924.71 118 43.14 1259 114729.33 7823.56 1062 0.04 0.00 297.56 I:R 836923.77 86.40 457402.67 0. kelas 2 dan di kelas 3 menunjukkan bahwa estimasi variance true skor yang terbesar dari faset yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) di kelas 1 adalah sumber variansi kesalahan pengukuran komponen item yang nested pada penilai (I:R) dengan proporsi 86.3 59 3.16 18 158. a.28 17. 197 .72 207969.18 35943.93 0.04 52.14 7701.28 Murid dan Item 868049.85 594179.42 % Total Varian 4.00 6004.27% dari seluruh komponen varian harapan.68 18 10555.00 100.62 Total 3395152.00 242.21 dan Penilai) 644940.64 189.53 5874.29 3432.28 1062 17.07 Nested pada Penilai) 800302.95 2 113235.86 2 103984. Penilai.85 771345.15 3. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Proses Sumber Variansi Murid (P) Kelas 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 JK1 JK2 db KR Varian 0. JK2 = sums of squares for score effects.40 31282540.14 4.15 0.59 2 31.38 2.00 3.28 413296.40 189997.00 16124.98 0. Hal yang sama Tabel 8 Estimasi Komponen Variansi Siswa.84 0.27 41.29 59 130.00 18127.

untuk di kelas 2 dan kelas 3 . kondisi semacam itu telah bergeser yakni bukan lagi komponen varians item yang bersarang pada penilai (I:R) yang dominan sebagai penentu varians kesalahan pengukuran melainkan penilai atau rater. Pada uji coba di kelas 2 dan di kelas 3. hal ini diduga karena guru yang menjadi rater atau penilai baru mengenal model dan konstruk alat penilaian yang dikembangkan.77%. Kondisi yang demikian berarti bahwa faset yang berkaitan dengan objek pengukuran untuk penilaian proses. Hal ini dapat dipahami karena faktor pemahaman dan latihan atau pengalaman guru sangat dituntut untuk bisa melakukan penilaian yang benar sesuai konstruk yang dikandung oleh alat penilaian yang dikembangkan. Selain itu penggunaan alat penilaian yang dikembangkan ini merupakan cara baru yang berbeda dengan caracara konvensional sebagaimana yang lazim digunakan oleh para guru sebelum cara penilaian ini dikenalkan. Sumber variansi item yang bersarang pada penilai (I:R) merupakan komponen varian yang paling dominan. interaksi murid dan item nested pada penilai (PI:R) proporsinya tampak lebih kecil terhadap seluruh komponen variansi hasil penilaian proses kualitas karya seni lukis dibanding proporsi komponen varians penilai (R) dan kriteria penilaian yang nested pada penilai (I:R). dan yang terbesar adalah sumber variansi penilai (R) dengan proporsi masing-masing 53. 198 . interaksi murid dengan penilai (PR). Sumber variansi komponen yang lain yakni murid (P).04% dan 52. yang dominan mempengaruhi variansi kesalahan pengukuran adalah item yang bersarang pada penilai (I:R) dan untuk uji coba di kelas 2 dan di kelas 3 adalah penilai (R).

69 0.24 221.60 7.07 91069.95 1.29 6405.07 25.25 4733.02 251512.00 255520.16 1. 2) Analisis Estimasi Komponen Varian Komponen Penilaian Produk Rangkuman analisis G study dari data uji coba komponen penilaian produk dapat disajikan sebagaimana pada Tabel 9.38 34407.00 39.12 106.17 100.00 0.86 40.80 5104.60 1083712.61 5673. JK2 = sums of squares for score effects.20 32.59 44.26 241766.90 14230. peranan penilai (R) merupakan sumber variansi kesalahan pengukuran terbesar.09 95. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Produk Sumber Variansi Murid (P) Penilai (R) I:R PR (Interaksi Murid dan Penilai) PI:R ( Interaksi Murid dan Item Nested pada Penilai) Total Kelas 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 JK1 118655.00 275197.70 26.00 Catatan: JK1 = sums of squares for mean scores.73 5734.64 232.52 47746.86 95492.42 Varian 7.33 222531.68 1.64 62.00 1050134.51 5248.00 2.54 45534.49 150357.27 199841.08 94.48 40.Hasil uji coba ini menunjukkan bahwa pada penerapan alat penilaian karya seni lukis untuk komponen proses.65 27.00 121393.83 80.00 100. Latihan dan pengalaman bagi penilai dalam menggunakan alat penilaian untuk menilai kualitas karya seni lukis merupakan cara untuk mengurangi kesalahan pengukuran dan untuk meningkatkan tingkat konsistensi dan keajegan hasil penilaian.25 213078.77 219396.89 9154.50 9.71 54775.98 356.03 6. Penilai.60 4607.23 86.65 53598.70 51427.81 146747. 199 .90 JK2 6421.65 366.25 48209.20 32.25 158537.60 1013040.16 % Total Varian 1.00 113876.83 4719.98 382.13 25.15 4.86 40.67 60.05 10.05 25.65 234248.98 db 59 59 59 2 2 2 6 6 6 118 118 118 354 354 354 539 539 539 KR 108.21 0.45 5.27 233.50 96419.77 38434.48 63. Hasil rangkuman analisis Tabel 9 Estimasi Komponen Variansi Siswa.00 100.89 207726.00 262591.23 34039.96 11558.67 209554.

70%. kelas 2 dan di kelas 3 menunjukkan bahwa estimasi varian true skor yang terbesar dari faset yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) adalah sumber variansi kesalahan pengukuran komponen penilai (R) dengan proporsi komponen varians di kelas 1 sebesar 63. Untuk itu masih dibutuhkan juga latihan dan pengalaman bagi penilai dalam menggunakan instrumen penilaian produk untuk menilai kualitas karya seni lukis siswa agar 200 . di kelas 2 sebesar 60. Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa faset yang berkaitan dengan objek pengukuran untuk penilaian produk.67%.07%. interaksi murid dengan penilai (PR). peranan penilai (R) tetap merupakan sumber varians kesalahan pengukuran yang terbesar seperti halnya pada penilaian proses. dan di kelas 3 sebesar 62. Sumber variansi yang lain tidak begitu besar proporsinya sebagai komponen varians untuk penilaian produk. dan di kelas 3 sebesar 26.65%. faset yang dominan sebagai variansi kesalahan pengukuran adalah penilai (R) dan item yang bersarang pada penilai (I:R). Kemudian berikutnya adalah sumber varians kesalahan untuk komponen item yang bersarang pada penilai (I:R) dengan proporsi komponen varians di kelas 1 sebesar 25.64%.68%. di kelas 2 sebesar 27.G study untuk penilaian produk di kelas 1. Berdasarkan analisis ini penerapan alat penilaian karya seni lukis untuk komponen produk. interaksi murid dan item bersarang pada penilai (PI:R) proporsinya tampak lebih kecil terhadap variansi hasil penilaian proses kualitas karya seni lukis dibanding pengaruh kedua sumber variansi penilai (R) dan kriteria penilaian yang bersarang pada penilai (I:R). Sumber variansi komponen yang lain yakni murid (P).

93 2 178809.19 129.42 1.23 135.53 59 111.56 3.24 3 47.20 4175.36 100.61 3 0.00 Catatan: JK1 = sums of squares for mean scores.93 2885.56 10.96 2 44678.20 2259.05 12 7307.67 3 45.28 94688.72 0.13 899 50496.80 12 8119.75 708 13.14 48.03 2.30 118 19.37 87693.00 3 1407051.40 6594.48 130.23 270.37 PR (Interaksi Murid 1 256241.36 118 35.65 3.67 899 55542.12 100. kelas 2 dan di kelas 3 menunjukkan bahwa estimasi skor true variance dari faset yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) komponennya lebih banyak pada sumber variansi kesalahan pengukuran komponen penilai (R) dan proporsi komponen memiliki item yang nested pada penilai (I:R).09 1.15 1. Penilai. Sumber varians penilai (R) Tabel 10 Estimasi Komponen Variansi Siswa.00 9405.82 349803.00 708 10.91 1.77 Nested pada Penilai) 3 4.61 59 48.08 97430.75 121.34 708 12.16 I:R 2 368044.48 122.00 Total 2 1473892.30 193926.44 2 43028. 3) Analisis Estimasi Komponen Varians Penilaian Diri Rangkuman analisis G study dari data uji coba komponen penilaian diri dapat disajikan sebagaimana pada Tabel 10.13 4168.26 12 7775.56 100.04 Murid dan Item 2 380667.30 118 24.44 59 70.57 46.00 7478.dapat meningkatkan tingkat konsistensi dan keajegan hasil penilaian serta tingkat kesepakatan pemahaman terhadap konstruk sasaran penilaian karya seni lukis untuk komponen produk di antara para penilai.00 9119.38 4. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Diri Sumber Variansi Murid (P) Kelas JK1 JK2 db KR Varian % Total Varian 1 166008.28 5.82 263505.40 2835.96 2 47344.98 0.77 5.45 256501.72 46.11 1. JK2 = sums of squares for score effects.71 3 171313.72 119.10 198782.28 13.23 PI:R ( Interaksi 1 353340. Hasil rangkuman analisis G study untuk penilaian diri di kelas 1.00 45.33 280.88 1 1354225.90 263.97 1 333164.31 86057.68 dan Penilai) 2 275758.30 899 52561.88 12.19 Penilai (R) 2 270613.66 89356.15 1 245471.50 204742.92 93302.76 365927. 201 .

dan di kelas 3 sebesar 47. Penerapan alat penilaian karya seni lukis untuk komponen penilaian diri.24%. di kelas 2 sebesar 46.45%. di kelas 2 sebesar 48.67%. dan di kelas 3 sebesar 45.82%. Kondisi yang demikian dapat dimaknai bahwa faset yang berkaitan dengan objek pengukuran untuk penilaian diri. 202 .19%. Untuk itu masih dibutuhkan juga latihan dan pengalaman bagi penilai dalam menggunakan alat penilaian produk untuk menilai kualitas karya seni lukis siswa untuk dapat meningkatkan tingkat konsistensi dan keajegan hasil penilaian serta tingkat kesepakatan pemahaman terhadap konstruk sasaran penilaian karya seni lukis untuk komponen penilaian diri di antara para penilai. ternyata peranan penilai (R) dan item yang nested pada penilai (I:R) tetap merupakan sumber variansi kesalahan pengukuran yang dominan seperti halnya pada penilaian proses maupun produk. yang dominan sebagai komponen variansi kesalahan pengukuran adalah penilai atau rater (R) dan item yang nested pada penilai (I:R).proporsi komponen varians di kelas 1 sebesar 45. interaksi murid dengan penilai (PR). interaksi murid dan item nested pada penilai (PI:R) proporsi komponen variannya tampak lebih kecil terhadap variansi hasil penilaian proses kualitas karya seni lukis dibanding pengaruh kedua sumber variansi penilai (R) dan kriteria penilaian yang bersarang pada penilai (I:R).16%. Sumber variansi komponen item yang bersarang pada penilai (I:R) mempunyai proporsi komponen varians di kelas 1 sebesar 46. Sumber variansi komponen variansi kesalahan pengukuran yang lain yakni murid (P).

80 4.23 308648.60 4558. 203 .22 % Total Varian 1.03 27.58 4439.28 255372.03 6.55 189.60 306093.67 252349.43 62284.95 53276.86 124569.47 77.84 20.39 27.84 4439.99%.65 6.30 1524234.68 4030.64 184566.77 300. kelas 2 dan di kelas 3 menunjukkan bahwa estimasi varian true skor yang terbesar dari faset yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) adalah sumber varians kesalahan pengukuran komponen penilai (R) dengan proporsi komponen varian di kelas 1 sebesar 61.03 Varian 4.46 db 59 59 59 2 2 2 12 12 12 118 118 118 708 708 708 899 899 899 KR 126.00 331741.16 62. Penilai.47 1.75 67844.16 17.00 1308980.68 4.68 53272.92 108197. Hasil rangkuman analisis G study untuk penilaian kelompok di kelas 1.98 2. dan di kelas 3 sebesar 62.4) Analisis Estimasi Komponen Varian Komponen Penilaian Kelompok Rangkuman analisis G study dari data uji coba komponen penilaian kelompok dapat disajikan sebagaimana pada Tabel 11.59 58671.20 9797.00 381082.13 106476.77 2.85 14466.48 73.43 57873.70 100.20 65190. JK2 = sums of squares for score effects.75 13.07 4241.56 1.67 6106.00 Catatan: JK1 = sums of squares for mean scores.31 73.43 165.80 331756.30 1311529.91 1.13 362484. Kemudian berikutnya adalah sumber varians kesalahan pengukuran untuk komponen item yang nested pada penilai (I:R) dengan proporsi komponen Tabel 11 Estimasi Komponen Variansi Siswa.75 35.10 61.24 4595.45 12566.26 77.88 53238.43 265.67 177281.69 90.84 20.75 2.74 17.75 13.96 54098.93 208358.20 263997. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Kelompok Sumber Variansi Murid (P) Penilai (R) I:R PR (Interaksi Murid dan Penilai) PI:R ( Interaksi Murid dan Item Nested pada Penilai) Total Kelas 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 JK1 153334.21 305622.167%.60 151769.60 7.92 162.93 297293.00 100.73 30.88 265917.39%.72 51.75 265.87 0.60 JK2 7461.00 100.42 2.95 34.53 185882. di kelas 2 sebesar 62.35 5432.99 62.

Dengan demikian penerapan alat penilaian karya seni lukis untuk komponen penilaian kelompok.03%.73%. Berdasarkan analisis komponen varians untuk dapat terbentuknya faset pengukuran yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admisible observations) kualitas karya seni lukis di kelas 1. dan di kelas 3 sebesar 27. peranan penilai (R) tetap merupakan sumber variansi kesalahan pengukuran yang terbesar seperti halnya pada komponen penilaian lainnya.varians di kelas 1 sebesar 27. Sumber varians komponen yang lain yakni murid (P). interaksi murid dengan penilai (PR). varians kesalahan pengukuran yang dominan adalah penilai atau rater (R) dan item yang bersarang pada penilai (I:R). Untuk itu masih dibutuhkan juga latihan dan pengalaman bagi penilai dalam menggunakan alat penilaian kelompok untuk menilai kualitas karya seni lukis siswa untuk dapat meningkatkan tingkat konsistensi dan keajegan hasil penilaian serta tingkat kesepakatan pemahaman terhadap konstruk sasaran penilaian karya seni lukis untuk komponen penilaian kelompok di antara para penilai. di kelas 2 sebesar 30. dapat disimpulkan bahwa komponen penilai (R) atau guru dan kriteria 204 . Kondisi yang demikian berarti faset yang berkaitan dengan objek pengukuran untuk penilaian kelompok. kelas 2 dan di kelas 3 pada semua komponen penilaian (proses. penilaian diri dan penilaian kelompok).77%. interaksi murid dan item bersarang pada penilai (PI:R) proporsinya tampak lebih kecil terhadap varians hasil penilaian kelompok kualitas karya seni lukis dibanding pengaruh kedua sumber varians penilai (R) dan kriteria penilaian yang bersarang pada penilai (I:R). produk.

dipakai persyaratan minimal koefisien G Sebesar 0. Hasil analisis komponen varians untuk penilaian proses. Linn. 1978: 245.1989:106) agar memenuhi syarat bagi penggunaan pada faset yang lebih luas. Koefisien G dari komponen-komponen penilaian kualitas karya seni lukis hasil uji coba menunjukkan bahwa secara keseluruhan pengembangan model instrumen penilaian kualitas karya seni lukis dapat diterima untuk digunakan melakukan penilaian pada faset yang lebih luas atau dengan kata lain telah memenuhi untuk kepentingan faset pengukuran yang berkaitan dengan objek 205 . di atas memberi petunjuk bahwa pengembangan alat penilaian kualitas karya seni lukis sudah menunjukkan indikasi kebermaknaan untuk digunakan sebagai sarana melakukan observasi. produk. Untuk maksud tersebut dilakukan analisis lanjut terhadap hasil Genova (koefisien G) dan analisis tingkat perubahan koefisien G pada level analisis hasil D study. b. kedua sumber variansi ini harus diperhatikan secara seksama dalam usaha menyempurnakan alat penilaian kualitas karya seni lukis. Untuk mengetahui apakah hasil pengembangan tersebut telah memenuhi standar minimal. Oleh sebab itu dalam pengembangan ini. penilaian diri dan penilaian kelompok. Hasil Analisis dipaparkan pada uraian berikut. Analisis Data Hasil G Study (Koefisien G) Hasil G study untuk mengetahui tingkat kebermaknaan penggunaan alat penilaian kualitas karya seni lukis dari uji coba di lapangan dapat dirangkum pada Tabel 12.70 (Nunnaly.penilaian yang nested pada penilai (I:R) merupakan sumber varians komponen varians kesalahan pengukuran yang utama.

Penilaian Kelompok 5. Penilaian Diri 4.91* 0.75* 0.66* 0.62 0. maka model yang dikembangkan masih memerlukan penyempurnaan dalam hal administrasi penyelenggaraan yakni harus meningkatkan keterampilan guru sebagai penilai atau rater agar ada peningkatan pemahaman.76* 0. Jika dilihat dari karakteristik faset uji coba untuk semua komponen.65 0.63 0. keterampilan dan pengalaman agar diperoleh hasil pengukuran yang konsisten. 0.70.65* 0. tetapi jika memperhatikan koefisien G pada terapan faset di kelas 2 dan di kelas 3. 206 .71* *) memenuhi syarat menurut kriteria standard minimal Linn.61 0.82* 0. maka terapan model penilaian pada faset di kelas 1 sudah memberikan bukti bahwa model yang dikembangkan dapat digunakan untuk penilaian pada faset yang lebih luas. Semua komponen Sasaran Uji (Faset) Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Jumlah Item 7 7 7 3 3 3 5 5 5 5 5 5 15 15 15 Koefisien G 0.74* 0.70) >persyaratan <persyaratan <persyaratan >persyaratan <persyaratan <persyaratan <persyaratan <persyaratan <persyaratan >persyaratan >persyaratan >persyaratan >persyaratan <persyaratan <persyaratan Rerata Koefisien G 0. Proses 2.67* 0.81* 0.71.68* 0.50 0.67* Keterangan (Linn ≥ 0. Produk 3. Tabel 12 Rangkuman Hasil G Study dan Koefisien G Pada Berbagai Komponen dan Berbagai Faset Terapan Uji Coba Komponen 1.67* 0.pengukuran (universe of admissible observations) pada kualitas karya seni lukis anak yakni ditunjukkan oleh indeks koefisien G sebesar 0.86* 0.80* 0.

sedangkan untuk komponen penilaian produk dan penilaian diri masih memerlukan upaya penyempurnaan. Analisis Data Hasil D Study Tujuan analisis D study adalah untuk menjawab pertanyaan rancangan D study yang mana harus dipilih dan seberapa banyak butir komponen penilaian harus dicakup sebagai sarana mengukur dan menilai kualitas karya lukis sehingga dapat menunjukkan kebermaknaan untuk faset yang lebih luas. maka tindakan untuk melatih guru agar berpengalaman dalam menggunakan alat penilaian ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kebermaknaan penggunaan model ini pada faset yang lebih luas. Dengan mencermati setiap tahap rancangan D study pada komposisi besar sampel tertentu maka akan dapat diperoleh informasi koefisien G dan juga diperoleh informasi berapa kenaikan indeks kebermaknaan pada koefisien G setelah satu butir komponen penilaian dilibatkan untuk mengukur atau menilai. Berdasarkan elaborasi sumber variansi komponen variansi kesalahan pengukuran sebagaimana telah dibahas di atas. c.Jika ditilik pada rerata komponen penilaian pada masing-masing kelompok ternyata untuk komponen penilaian proses dan penilaian kelompok telah memenuhi syarat untuk digunakan pada faset yang lebih luas. Uraian berikut memaparkan hasil-hasil analisis D study ini. 207 . 1) D Study untuk Penilaian Proses Rangkuman hasil analisis D-Study Genova untuk uji coba penilaian proses berturut-turut dapat disajikan pada Tabel 13 sampai dengan Tabel 15. Untuk menjawab pertanyaan ini dan tujuan tersirat didalamnya analisis pada setiap hasil D study dapat digunakan.

70. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2 (dapat dilihat pada Tabel 6). Untuk komponen penilaian proses di kelas 1 jika komposisinya hanya menggunakan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60. demikian seterusnya untuk rancangan 001-003 diperoleh koefisien sebesar 0.91448 0. penilai cukup menggunakan indikator 1 dan 2 saja Jika ingin meningkatkan tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi maka jumlah indikator penilaian 208 .Tabel 13 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Proses dan Tingkat Perubahan pada Kelas 1 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.88424 0.75.90163 0.36976 0. yaitu 0. R = 3 dan I = 1) maka tingkat atau koefisien kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. GENERALIZABILITY COEF. R. R INF I INF. dengan P = 60.15 0. Berdasarkan kenyataan ini maka dapat dikatakan bahwa untuk mencapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas. dan I.42308 0.75341 0.50659 0. maka tingkat atau koefisien kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.04 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 001-006 001-007 60 60 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 6 7 0.02 0.60437 0.01 Tabel 13 berturut-turut memberi gambaran tentang perubahan koefisien Generalizability untuk berbagai komposisi ukuran sampel P.82088 0.46809 0.85936 0.60.82.22681 0.12791 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.30556 0.07 0.02 0. Artinya penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai sebesar 60%.

01 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 001-006 001-007 60 60 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 6 7 0.66933 0. penilai harus menggunakan indikator 1. GENERALIZABILITY COEF. Jika penilai menggunakan dua indikator (D study design nomor 001-002.04396 dalam konteks ini jika 7 (tujuh) indikator digunakan maka akan dicapai koefisien kesepahaman dan kesepakatan sebesar 91.03500 0.38. minimal 0. Artinya penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai sebesar 38%.63655 0.37765 0.06 0. Jika ingin meningkatkan tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi maka 209 . 4 dan 5 sekaligus.45%. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2 memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.04082 0.65527 0.13 0.02 0.04322 0. Tabel 14 memberi gambaran bahwa penilai dalam menggunakan komponen penilaian proses hanya dengan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60.03868 0.03 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. R INF I INF. 2. dengan P = 60.51.57128 0.04223 0.02724 0.50637 0. Berdasarkan kenyataan ini maka dapat dikatakan bahwa untuk mencapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas. jumlahnya tergantung pada kondisi faset yang bersangkutan Tabel 14 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Proses dan Tingkat Perubahan pada Kelas 2 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. PHI Selisih Koefisien Genova 0.harus ditambah.61040 0.70.04 0. 3.

65421 0. dengan P = 60.66689 0.51665 0.39.12 0. begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan kaoefisien sebesar 0.02 0.58. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.01 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 001-006 001-007 60 60 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 6 7 0.39277 0.Tabel 15 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Proses dan Tingkat Perubahan pada Kelas 3 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. penilai harus menggunakan indikator 1 sampai dengan 6 secara simultan.04594 0.04111 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002. jumlahnya tergantung pada kondisi faset yang bersangkutan. Berdasarkan kenyataan ini maka dapat dikatakan bahwa untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas.04489 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.04339 0.04 0.06 0.02 0.02894 0.52. PHI Selisih Koefisien Genova 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. jumlahnya tergantung pada kondisi faset yang bersangkutan Pada Tabel 15 memberi gambaran bahwa penilai dalam menggunakan komponen penilaian proses di kelas 3 jika hanya dengan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60.03720 0.04673 jumlah indikator penilaian harus ditambah.63724 0. GENERALIZABILITY COEF. R INF I INF.61338 0. dalam konteks ini jika 7 (tujuh) 210 . Jika ingin meningkatkan tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi maka penggunaan indikator penilaian harus ditambah.57735 0.

begitu seterusnya untuk rancangan 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.18733 0. 2) D Study untuk Penilaian Produk Rangkuman hasil analisis D-Study Genova untuk uji coba penilaian produk berturut-turut dapat disajikan pada Tabel 16 sampai dengan Tabel 18. Tetapi jika 211 . R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.31555 0.08 001-001 001-002 001-003 60 60 60 3 3 3 1 2 3 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.76.68142 0.52. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.indikator digunakan semua dicapai koefisien kesepahaman dan kesepakatan mencapai 66. GENERALIZABILITY COEF.76238 0. penilai cukup menggunakan indikator 1 dan 2 saja.69%. PHI Selisih Koefisien Genova 0. Menurut kenyataan ini maka dapat dikatakan bahwa untuk penggunaan komponen penilaian produk agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas. Tabel 16 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Produk dan Tingkat Perubahannya pada Kelas 1 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002. Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai sebesar 52%.51678 0.40882 Tabel 16 memberi gambaran bahwa penilai dalam menggunakan komponen penilaian produk di kelas 1 jika hanya menggunakan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60.16 0. dengan P = 60.68. R INF I INF.

R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.49896 0.24922 0.ingin diperoleh tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi maka penggunaan indikator 1 dan 2 bersama sekaligus dengan indikator nomor 3 sangat dianjurkan. PHI Selisih Koefisien Genova 0.10 001-001 001-002 001-003 60 60 60 3 3 3 1 2 3 0. Tabel 17 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian produk di kelas 2 hanya dengan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60.50. Kenyataan ini menunjukkan bahwa untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas. Tabel 17 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Produk dan Tingkat Perubahan pada Kelas 2 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. GENERALIZABILITY COEF.08359 0.39900 0.25.15 0.40 begitu seterusnya untuk rancangan 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. dengan P = 60.21486 Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai sebesar 25%.15429 0. penilai harus menggunakan semua indikator yang ada dan dianjurkan untuk menambah indikator lain yang sejenis untuk melengkapi jabaran konstruk yang ada sehingga 212 . R INF I INF.

penilai harus menggunakan indikator yang ada dan ditambah lagi indikator lain untuk melengkapi jabaran konstruk yang ada sehingga dapat dicapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi.29672 dapat dicapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi.17 0. dengan P = 60. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.Tabel 18 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian produk di kelas 3 hanya dengan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.Tabel 18 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Produk dan Tingkat Perubahan pada Kelas 3 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.52 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.52380 0. R INF I INF. Penambahan indikator sejenis yang relevan untuk meningkatkan kebermaknaan penilaian produk di kelas 2 memerlukan telaah lanjut tersendiri.62.10 001-001 001-002 001-003 60 60 60 3 3 3 1 2 3 0.12330 0.62263 0. Artinya 35% penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai.35483 0.21953 0. GENERALIZABILITY COEF. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.35. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas. 213 . PHI Selisih Koefisien Genova 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (D study design nomor 001-002.

R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.05 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2. Untuk mencapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi seyogianya semua indikator yang ada digunakan secara simultan. Artinya 46% penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian diri.09222 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian diri di kelas 1 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60. 2. PHI Selisih Koefisien Genova 0.07412 0. penilai paling tidak harus menggunakan indikator 1.63.05585 0.63325 0.08861 0.46320 0.68342 0.58 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0. 214 .08319 0.58001 0.70).02 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0.66370 0. 3 dan 4. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0. GENERALIZABILITY COEF.12 0.46. Tabel 19 Tabel 19 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Diri dan Tingkat Perubahan pada Kelas 1 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.03 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002. R INF I INF. dengan P = 60.3) D Study untuk Penilaian Diri Rangkuman hasil analisis D-Study Genova untuk uji coba penilaian diri berberturut-turut dapat disajikan pada Tabel 19 sampai dengan Tabel 21.

02818 0.53194 0.02095 0. Artinya penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian diri sebesar 33%.03495 0.Tabel 20 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian diri di kelas 2 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60.03 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0. penilai paling tidak harus menggunakan semua indikator yang ada. GENERALIZABILITY COEF.53.45963 0. Untuk mencapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi semua indikator yang ada dipakai dan jika memngkinkan ditambah lagi indikator lain dan digunakan secara simultan.05 0.33. R INF I INF.46 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.60852 0. 215 . Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0.32649 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangn D study nomor 001-002.03553 memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Diri dan Tingkat Perubahan pada Kelas 2 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.13 0. dengan P = 60. PHI Selisih Koefisien Genova 0.07 0. R = 3 dan I = 1) Tabel 20.70).57735 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.03184 0.

03 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0.14 0. dengan P = 60. 216 . GENERALIZABILITY COEF.04534 0. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0. 4) D Study untuk Penilaian Kelompok Rangkuman hasil analisis D-Study Genova untuk uji coba penilaian kelompok berturut-turut dapat disajikan pada Tabel 22 sampai dengan Tabel 24.38162 0.05482 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.58839 0.59. PHI Selisih Koefisien Genova 0.38. R INF I INF. Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Diri dan Tingkat Perubahan pada Kelas 3 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.70). Jika penilai menggunakan dua indikator (rancngan D study nomor 001-002.04 0.Tabel 21. penilai paling tidak harus menggunakan semua indikator yang ada.07 0.03369 0.51820 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.63114 0.05125 0. Artinya 38% penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian diri yang dipakai.05721 Tabel 21 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian diri di kelas 3 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60.52 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.65991 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.

dengan P = 60. penilai sudah cukup hanya menggnakan butir indikator 1 dan 2 saja.04 0.71 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0.19211 0. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0.48748 0.85966 0.03 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0. tetapi jika ingin mendapatkan tingkat kebermaknaan yang lebih tinggi penggunaan semua butir indikator yang ada lebih dianjurkan.08 0.55058 0.55.16 0.83052 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.70). Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian kelompok yang dipakai sebesar 55%. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.79. 217 .32230 0.Tabel 22 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Kelompok dan Tingkat Perubahan pada Kelas 1 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.41635 0.54316 Tabel 22 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian kelompok di kelas 1 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60. GENERALIZABILITY COEF. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.71016 0. R INF I INF.78611 0.

R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.05 0.65 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0.32757 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.37840 Tabel 23 memberi gambaran bahwa jika penilai menggunakan komponen penilaian kelompok di kelas 2 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60. 218 .04 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0. penilai sudah cukup hanya menggnakan butir indikator 1 dan 2 saja.64703 0. dengan P = 60.47823 0. maka besarnya koefisien reliabilitas dalam koefisien G adalah sebesar 0.26759 0.82088 0.10856 0.09 0.48.17 0.19586 0. GENERALIZABILITY COEF.Tabel 23 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Kelompok dan Tingkat Perubahan pada Kelas 2 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.73.36. Tabel 24 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian kelompok di kelas 3 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60. R = 3 dan I = 1). memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.78569 0. tetapi jika ingin mendapatkan tingkat kebermaknaan yang lebih tinggi dianjurkan menggunakan semua butir indikator yang ada. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0. R INF I INF. Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian kelompok yang dipakai sebesar 48%.73331 0.70).

10 0. R INF I INF.05 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0.73765 0.63. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa ada beberapa rancangan dari hasil D study yang 219 .32818 0. 2.Tabel 24 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Kelompok dan Tingkat Perubahan pada Kelas 3 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.70). penilai sudah cukup hanya menggunakan butir indikator 1. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0.52934 0.17 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. dengan P = 60. GENERALIZABILITY COEF.62784 0. tetapi jika ingin mendapatkan tingkat kebermaknaan yang lebih tinggi dianjurkan menggunakan semua butir indikator yang ada.19630 0.06 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0.35993 0.37912 Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian kelompok yang dipakai sebesar 36% Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002. Secara umum hasil analisis D study telah memberi petunjuk dan alternatif penggunaan alat penilaian kepada pengguna instrumen penilaian kualitas karya seni lukis untuk mempertimbangkan penggunaan indikator-indikator penilaian yang relevan dengan sasaran yang dinilai dan mempertimbangkan tingkat reliabilitas kebermaknaan hasil penilaian.10883 0.26813 0.69224 0.53 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2. 3 dan 4 saja.

Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai proses kelas 1 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.mereferensikan perlunya penambahan indikator untuk komponen penilaian tertentu yaitu untuk komponen-komponen penilaian produk dan penilaian diri untuk sasaran penilaian kelompok tertentu. dan Tabel 27 untuk kelas 3. Koefisien Interrater pada Penilaian Proses Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian proses instrumen pendidikan seni lukis anak untuk kelas 1. 220 . berikut ini disajikan hasil analisis koefisien interrater. peneliti menggunakan koefisien Cohen’s Kappa. yaitu sebesar 0. Rangkuman hasil perhitungan konsistensi dan kesepakatan tiga rater tersebut disajikan pada Tabel 25 untuk kelas 1. kelas 2.71 .75. Koefisien interrater merupakan salah satu sarana untuk melihat tingkat konsistensi atau keajegan antar penilai dalam memberikan rating terhadap unjuk kerja karya seni lukis siswa. 2. Untuk keperluan ini.73. Pada penilaian proses ini.73. Data Uji Coba Koefisien Interrater Konfirmasi data hasil uji coba dari hasil Anava. yaitu 0. Tabel 26 untuk kelas 2. dan kelas 3. Tabel 25 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketujuh item yang dirating tersebut. ada 7 (tujuh) item yang menjadi objek penilaian. a.

67. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas.77 0.64. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai proses kelas 2 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.68 0.70 0.68 0.78 0.68 0. Tabel 26 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketujuh item yang dirating tersebut.84 0.81 0.82 3 ST 4 5 6 7 1 2 3 UD 4 5 6 7 UD DI 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 73% . yaitu 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.65 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 67%.72 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0.67 0.75 0.74 0.79 0.63 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan.67.70.70 0.81 0.78 0. Nilai koefisien κ 221 . yaitu sebesar 0.72 2 0.70. yaitu 0.Tabel 25 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Proses Kelas 1 Penilai 1 0.71 0.

sehingga instrumen tersebut mendekati koefisien reliabilitas.85 0. yaitu 0.66 0.63 2 0.76 0.67 0.71 222 .57 0.65 0. 1989:106).69 0.73 0.64 0.77 0.7 0.70 (Nunally.55 0.9 0.Tabel 26 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Proses Kelas 2 Penilai ST 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 1 0.66 0.81 0.81 0.57 0.65 3 4 5 6 7 1 2 3 UD 4 5 6 7 UD DI tersebut mendekati kriteria minimal yang digunakan.75 0.76 0. Tabel 27 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Proses Kelas 3 Penilai ST 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 1 0.62 0.59 0.68 0.56 0.73 0.68 0.63 0.61 0.67 0.6 0.64 0.74 0.71 3 4 5 6 7 1 2 3 UD 4 5 6 7 UD DI 0.56 0.46 0.69 0.70 0.61 2 0.62 0. syarat 1978:245 Linn.75 0.

88. dan kelas 3.88. Tabel 28 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga item yang dirating tersebut. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai produk kelas 1 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. ada 3 (tiga) item yang menjadi objek penilaian.74. b.63. Tabel 29 untuk kelas 2. Rangkuman hasil perhitungan konsistensi dan kesepakatan tiga rater tersebut disajikan pada Tabel 28 untuk kelas 1. yaitu 0.73. yaitu 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0. yaitu 0. kelas 2. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 73%. yaitu sebesar 0.70. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menila proses kelas 3 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. yaitu sebesar 0.Tabel 27 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketujuh item yang dirating tersebut. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.88. 223 . dan Tabel 30 untuk kelas 3. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas. Pada penilaian produk ini. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan.68. Koefisien Interrater pada Penilaian Produk Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian proses instrumen pendidikan seni lukis anak untuk kelas 1.88.

yaitu 0.88 2 3 1 UD 2 3 Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 88%.88 0.97.92 0.97.Tabel 28 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Produk Kelas 1 Penilai ST 1 1 UD 2 3 1 DI 2 3 0.96. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. yaitu 0. yaitu 0.70. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas.85 0. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas.92 0.70. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 97%. 224 .85 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan.85 0.97. Pada Tabel 29 menunjukkan koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga item yang dirating tersebut. dan antara UD dengan DI sebesar 0.88 0.92 0. yaitu sebesar 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai produk kelas 2 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.

93.95 0.95 0.93 0.92.94. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.90 0.98 0.98 0.89. yaitu 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai Tabel 30 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Produk Kelas 3 Penilai ST 1 1 UD 2 3 1 DI 2 3 0.98 2 3 1 UD 2 3 Tabel 30 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga item yang dirating tersebut.93 0.95 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0.98 0. 225 .82 2 3 1 UD 2 3 secara keseluruhan dalam menilai produk kelas 3 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.93 0.Tabel 29 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Produk Kelas 2 Penilai ST 1 1 UD 2 3 1 DI 2 3 0.93 0.98 0. yaitu sebesar 0.93 0.95 0.98 0.98 0.

yaitu sebesar 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman yang sama terhadap konstruk penilaian sebesar 82%. yaitu 0.Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman yang sama terhadap kostruk penilaian sebesar 92%. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan.82. Koefisien Interrater pada Penilaian Diri Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian diri instrumen pendidikan seni lukis anak untuk kelas 1. Pada penilaian diri ini. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai penilaian diri kelas 1 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. dan antara UD dengan DI sebesar 0. 226 . Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. yaitu 0. c.70.70. Tabel 31 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut. dan Tabel 33 untuk kelas 3. kelas 2. dan kelas 3. yaitu 0. Tabel 32 untuk kelas 2.82.82. ada 5 (lima) item yang menjadi objek penilaian. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas.84. Rangkuman hasil perhitungan konsistensi dan kesepakatan tiga rater tersebut disajikan pada Tabel 31 untuk kelas 1.

77 1.92 0.65.57 0.00 0.85 0.67.66 0.84 0.54 0.56 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0.74 5 U D D I 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 0.88 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan Tabel 32 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Diri Kelas 2 Penilai ST UD 1 2 3 4 5 1 2 3 4 1.53 0.63 ST 3 4 5 1 2 UD 3 4 5 U D D I Tabel 32 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut.73 227 .85 0.88 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.50 0.77 0.86 0.55 0. yaitu 0.89 0.Tabel 31 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Diri Kelas 1 Penilai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 0.76 0.00 0.74 0.73 0.88 0.81 0.96 0.84.87 0.89 2 0.

62 0.76 0.82 ST 3 4 5 1 2 UD 3 4 5 U D D I Tabel 33 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.82 2 0. yaitu 0.72.82 0.75. dan antara UD dengan DI sebesar 0.84. Tabel 33 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Diri Kelas 3 Penilai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 0. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat reliabilitas.91 0.70. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan.40 0.penilai secara keseluruhan dalam menilai penilaian diri kelas 2 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.76 0.85 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa 75.91 0.75.50 0. yaitu 0.68. yaitu sebesar 0.0% ketiga penilai tersebut memiliki 228 .80 0. yaitu sebesar 0.79 0.76 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman yang sama terhadap konstruk penilaian sebesar 72%.82 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam peilaian diri kelas 3 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga pasangan tersebut.

2005: 143).48. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. yaitu 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 51%.44.51. dan antara UD dengan DI sebesar 0. Tabel 35 untuk kelas 2. d. Nilai koefisien κ tersebut lebih kecil dari kriteria minimal yang digunakan. yaitu 0.59. dan kelas 3. sehingga instrumen tersebut belum memenuhi syarat koefisien reliabilitas. dan Tabel 36 untuk kelas 3. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat reliabel. Tabel 34 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut. yaitu 0. kelas 2. Pada penilaian kelompok ini. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam penilaian kelompok kelas 1 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga pasangan tersebut. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. 229 . Rangkuman hasil perhitungan konsistensi dan kesepakatan tiga rater tersebut disajikan pada Tabel 34 untuk kelas 1.persepsi dan pemahaman yang sama terhadap kostruk penilaian. Koefisien Interrater pada Penilaian Kelompok Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian kelompok instrumen pendidikan seni lukis anak untuk kelas 1. ada 5 (lima) item yang menjadi objek penilaian. yaitu sebesar 0.70.64 (Cohen & Swerdlik.

69 0.56 0.37. 230 .37 0.61 5 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam penilaian kelompok kelas 2 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. dan antara UD dengan DI sebesar 0. yaitu sebesar 0. yaitu 0.29 0.U D D I 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Tabel 34 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Kelompok Kelas 1 Penilai ST UD 1 2 3 4 5 1 2 3 4 0.49 0.54 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih kecil dari kriteria minimal yang digunakan.49 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 33%. yaitu 0.53 0.38 0.52 0.55 0.70.67 0.29. sehingga instrumen tersebut belum memenuhi syarat koefisien reliabilitas.33.46 Tabel 35 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut.34.48 0.

76 0.76 0.Tabel 35 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Kelompok Kelas 2 Penilai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 0.11 0.27 0.20 0.32 0.86 0.74.72 0.45 0.42 0.46 0.65 0.39 ST 3 4 5 1 2 UD 3 4 5 U D D I Tabel 36 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut.62 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0.78 0.48 2 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam penilaian kelompok kelas 3 dapat diketahui dengan Tabel 36 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Kelompok Kelas 3 Penilai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 0.77 0.68 0.82 0.55 0.21 0.57 ST 3 4 5 1 2 UD 3 4 5 U D D I 231 .69.26 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.76 0.79 2 0.75.83 0.20 0.14 0.41 0.71 0. yaitu 0.

70. dan pedoman penggunaan instrumen penilaian seni lukis pada tahap focus group discussion (FGD) dan seminar. yaitu 0. yaitu sebesar 0. Kajian Produk Hasil analisis tingkat kesepahaman dan kesepakatan rater (reliabilitas interrater) dengan menggunakan koefisien Genova dan koefisien Cohen Kappa menunjukkan bahwa instrumen penilaian seni lukis telah memenuhi syarat/kriteria minimal reliabilitas yang digunakan. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 73%. kriteria dan rubrik. Tahap revisi dalam setiap tahap pengembangan berkaitan dengan revisi indikator.mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. perbandingan kedua pendekatan tersebut disajikan berikut. Penilaian Proses Penilaian proses instrumen penilaian seni lukis dilakukan oleh 3 (tiga) orang rater terhadap 60 orang siswa dengan 7 (tujuh) indikator instrumen. D. Revisi Produk Bagian revisi produk dalam pengembangan instrumen penilaian seni lukis dalam disertasi ini mengikuti revisi produk dalam setiap tahap pengembangan. sehingga C. deskripsi. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya. instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas.73. Namun demikian. analisis kesepakatan dan kesepahaman rater terhadap konstruk instrumen digunakan dua 232 . Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. 1.

73 Selisih 0.73 0.67 0. pendekatan Genova lebih lengkap karena melibatkan tiga dimensi sementara pendekatan kappa hanya dua dimensi.00 0.pendekatan yaitu pendekatan Genova dan pendekatan Cohen Kappa. Hal ini memberi gambaran bahwa kedua pendekatan yang digunakan memberikan hasil yang sama.04 Tabel 37 memberi gambaran bahwa koefesien Genova untuk kelas 1 pada penilaian proses lebih tinggi dibandingkan dengan koefisien kappa.67 0. Dengan demikian. 233 . Koefisien Genova untuk Kelas 2 sama dengan koefisien kappa. Dalam kaitan dengan ini. estimasi dengan Genova lebih memberikan hasil kesepakatan dan kesepahaman rater yang lebih kuat dibandingkan dengan koefisien kappa. Oleh karena itu. Rangkuman perbandingan koefisien kedua pendekatan tersebut disajikan pada Tabel 37 Tabel 37 Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Proses Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Koefisien Genova 0. Jadi varians kesalahan dengan metode Genova lebih diperhitungkan dalam analisis. Walaupun demikian.91 0. peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan relibilitas antar rater. peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan/menetapkan relibilitas antar penilai. sementara metode Cohen kappa tidak diperhatikan.18 0.67 Koefisien Kappa 0.

Sama dengan kasus kelas 2, koefisien Genova untuk kelas 3 lebih rendah dibandingkan dengan koefisien kappa. Dalam kasus ini, peneliti masih menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova dibandingkan dengan koefisien kappa. Hal tersebut disebabkan karena sumber varians kesalahan pada analisis koefisien kappa belum diperhatikan sehingga memberikan hasil yang lebih tinggi. Jika varians kesalahan diperhatikan maka kemungkinan akan memberikan hasil yang kurang lebih sama dengan yang diperoleh melalui koefisien Genova.
2. Penilaian Produk

Penilaian produk instrumen penilaian seni lukis dilakukan oleh 3 (tiga) orang rater terhadap 60 orang siswa dengan 3 (tiga) indikator instrumen. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, analisis kesepakatan dan kesepahaman rater terhadap konstruk instrumen digunakan dua pendekatan yaitu pendekatan Genova dan pendekatan Cohen Kappa. Rangkuman perbandingan koefisien kedua pendekatan tersebut disajikan pada Tabel 38. Tabel 38 Perbadingan koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Produk Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Koefisien Genova
0,76 0,49 0,62

Koefisien Kappa
0,88 0,97 0,92

Selisih 0,12 0,48 0,30

Tabel 38 memberi gambaran bahwa koefesien Genova untuk kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 pada penilaian produk lebih rendah dibandingkan dengan koefisien 234

kappa. Dalam kaitan dengan ini, estimasi dengan Genova lebih memberikan hasil kesepakatan dan kesepahaman rater yang lebih kuat dibandingkan dengan koefisien kappa. Oleh karena itu, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan relibilitas antar rater. Pendekatan Genova lebih lengkap karena melibatkan tiga dimensi, sementara pendekatan kappa hanya dua dimensi. Jadi varians kesalahan dengan metode Genova lebih diperhitungkan dalam analisis, sementara metode Cohen kappa tidak diperhatikan, Sumber varians kesalahan pada analisis koefisien kappa

belum diperhatikan sehingga memberikan hasil yang lebih tinggi. Jika varians kesalahan diperhatikan maka kemungkinan akan memberikan hasil yang kurang lebih sama dengan yang diperoleh melalui koefisien Genova. Dengan demikian, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan/menetapkan relibilitas antar penilai.
3. Penilaian Diri

Penilaian diri pada instrumen penilaian seni lukis dilakukan oleh 3 (tiga) orang rater terhadap 60 orang siswa dengan 5 (lima) indikator instrumen. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, analisis kesepakatan dan kesepahaman rater terhadap konstruk instrumen digunakan dua pendekatan yaitu pendekatan Genova dan pendekatan Cohen Kappa. Rangkuman perbandingan koefisien kedua pendekatan tersebut disajikan pada Tabel 39.

235

Tabel 39 Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Diri Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Koefisien Genova
0,68 0,61 0,66

Koefisien Kappa 0,82 0,72 0,75

Selisih 0,14 0,11 0,09

Tabel 39 memberi gambaran bahwa koefesien Genova untuk kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 pada penilaian diri lebih rendah dibandingkan dengan koefisien kappa. Dalam kaitan dengan ini, estimasi dengan Genova lebih memberikan hasil kesepakatan dan kesepahaman rater yang lebih kuat dibandingkan dengan koefisien kappa. Oleh karena itu, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan relibilitas antar rater, Pendekatan Genova lebih lengkap karena melibatkan tiga dimensi sementara pendekatan kappa hanya dua dimensi. Jadi varians kesalahan dengan metode Genova lebih diperhitungkan dalam analisis sementara metode Cohen kappa kesalahan pada analisis koefisien kappa

tidak diperhatikan, Sumber varians

belum diperhatikan sehingga memberikan hasil yang lebih tinggi. Jika varians kesalahan diperhatikan maka kemungkinan akan memberikan hasil yang kurang lebih sama dengan yang diperoleh melalui koefisien Genova. Dengan demikian, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan/menetapkan relibilitas antar penilai.

236

4. Penilaian Kelompok

Penilaian kelompok pada instrumen penilaian seni lukis dilakukan oleh 3 (tiga) orang rater terhadap 60 orang siswa dengan 5 (lima) indikator instrumen. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, analisis kesepakatan dan kesepahaman rater terhadap konstruk instrumen digunakan dua Tabel 40 Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Kelompok Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Koefisien Genova
0,86 0,82 0,74

Koefisien Kappa 0,51 0,33 0,73

Selisih 0,35 0,49 0,01

pendekatan yaitu pendekatan Genova dan pendekatan Cohen Kappa. Rangkuman perbandingan koefisien kedua pendekatan tersebut disajikan pada Tabel 40. Tabel 40 memberi gambaran bahwa koefesien Genova untuk kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 pada penilaian kelompok lebih tinggi dibandingkan dengan koefisien kappa. Dalam kaitan dengan ini, estimasi dengan Genova lebih memberikan hasil kesepakatan dan kesepahaman rater yang lebih kuat dibandingkan dengan koefisien kappa. Oleh karena itu, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan relibilitas antar rater.
5. Tren Perkembangan Koefisien Genova

Tren perkembangan koefisien Genova hasil penilaian 3 (tiga) orang rater pada penilaian instrumen seni lukis baik untuk penilaian proses, produk, penilaian 237

diri, dan penilaian kelompok disajikan pada gambar berikut.
a. Penilaian Proses Kelas 1

Koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 1 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater, Gambar 64 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 1 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Sebagai bahan perbandingan, kedua persamaan disajikan sebagai berikut. Tabel 41 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 1 Persamaan Linear
y = 0,0461x + 0,6355

Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik)
y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985

dengan: y = estimasi koefisien Genova,
x = banyak item yang dirating oleh rater,

Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 82,34%, sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam

memprediksi sebesar 97,5% sebagaimana yang tampak pada Gambar 64. Berdasarkan tingkat determinasi ini, tampak bahwa persamaan non-linear memberikan besarnya koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 4 ditulis

238

x =4, maka koefisien Genova untuk masing-masing persamaan diperoleh dengan

mensubstitusikan x =4 pada kedua persamaan seperti ditunjukan berikut: Tabel 42 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =4 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0,0461x + 0,6355 = 0,0461(4) + 0,6355 = 0,8199 Persamaan non-linear y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985 = −0,0114(4) 2 + 0,1374(4) + 0,4985 = 0,8657

Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 4 menggunakan persamaan linear adalah 0,8199, sedangkan bila menggunakan persamaan non-linear adalah 0,8657. Adapun koefisien Genova yang

sesungguhnya untuk x =4 adalah 0,85936. Hasil ini menunjukkan bahwa persamaan non-linear memberikan hasil yang lebih akurat, namun penafsirannya
Y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985

R2 = 0,975

Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear

,

,

,

Gambar 64. Tren perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 1 adalah banyak item yang dirating maksimum 6, karena lebih dari itu ditafsirkan tidak banyak berubah, walau pada grafik menunjukkan penurunan. Karakteristik

ini muncul sebagai akibat sifat-sifat yang berlaku pada persamaan non-linear 239

(kuadratik). Pada jumlah item < 6, kurva cenderung naik itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. Namun kurva akan cenderung turun setelah mencapai titik kulminasi yaitu untuk x =6. Akibatnya untuk jumlah item>6 kecenderungan estimasi koefisien Genova akan mengalami penurunan. Secara matematik penentuan titik kulminasi atau titik maksimum dilakukan dengan menggunakan konsep turunan pertama fungsi sebagai berikut:

y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985 y 1 = 2.(−0,0114) x + 0,1374
Nilai x yang menyebabkan y bernilai maksimum diperoleh dengan mmbuat dengan nol ditulis y 1 = 0

y1

y 1 = 2.(−0,0114) x + 0,1374 0 = 2.(−0,0114) x + 0,1374 x= 0,1374 = 6,026 ≈ 6 2.0,0114

Jadi estimasi nilai koefisien Genova maksimum terjadi pada saat item yang dirating sebanyak 6 buah. Adapun nilai koefisien Genovanya dientukan sebagai berikut. y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985

= −0,0114(6) 2 + 0,1374(6) + 0,4985 = 0,9125
b. Penilaian Proses Kelas 2

Koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 2 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang

240

maka koefisien Genova untuk masingmasing persamaan diperoleh dengan mensubstitusikan persamaan seperti ditunjukan berikut: x =6 pada kedua 241 . tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik.47%. Sebagai bahan perbandingan. Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 85.0442 x + 0. Tabel 43 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 2 Persamaan Linear y = 0. kedua persamaan disajikan sebagai berikut.dirating oleh rater.30%.0099 x 2 + 0. sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam memprediksi sebesar 98.2798 dengan: y = estimasi koefisien Genova. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 6 ditulis x =6.1233 x + 0. x = banyak item yang dirating oleh rater. Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Gambar 65 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 2 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Berdasarkan tingkat determinasi ini.3984 Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0.

1233 x + 0.Tabel 44 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =6 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0.2798 = −0.0099(6) 2 + 0. Hasil ini menunjukkan bahwa persamaan non-linear memberikan hasil yang lebih akurat. Akibatnya untuk jumlah item >6 kecenderungan estimasi koefisien Genova akan mengalami penurunan.2798 = 0.6632 Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 6 menggunakan persamaan linear adalah 0.0099 x 2 + 0. Secara matematis penentuan titik kulminasi atau titik maksimum dilakukan dengan 242 . Namun demikian. pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan karakteristik yang unik. kurva cenderung naik itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating.6636. Berdasarkan Gambar 65.0442(6) + 0.1233(6) + 0.0442 x + 0.65527.6632. sedangkan menggunakan persamaan non-linear 0. adanya pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti. Pada jumlah item < 6. Adapun koefisien Genova yang sesungguhnya untuk x =6 adalah 0.6636 Persamaan non-linear y = −0. Namun kurva akan cenderung turun setelah mencapai titik kulminasi yaitu u ntuk x = 6.3984 = 0. terutama untuk jumlah item yang banyak. Karakteristik ini muncul sebagai akibat sifatsifat yang berlaku pada persamaan non-linear (kuadratik).3984 = 0.

y = − 0 ,0099 x 2 + 0 ,1233 x + 0 , 279

R2 = 0,983

Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear

,

,

,

Gambar 65. Tren perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 2 menggunakan konsep turunan pertama fungsi sebagai berikut:
y = −0,0099 x 2 + 0,1233x + 0,2798 y 1 = 2.(−0,0099) x + 0,1233

Nilai

x

yang menyebabkan

y

bernilai maksimum diperoleh dengan

menyamadengankan y 1 dengan nol ditulis y 1 = 0
y 1 = 2.(−0,0099) x + 0,1233 0 = 2.(−0,0099) x + 0,1233 x=

0,1233 = 6.227 ≈ 6 2.0,0099

Jadi estimasi nilai koefisien Genova maksimum terjadi pada saat item yang dirating sebanyak 6 buah. Adapun nilai koefisien Genovanya dientukan sebagai berikut.
y = −0,0099 x 2 + 0,1233 x + 0,2798

243

= −0,0099(6) 2 + 0,1233(6) + 0,2798 = 0,6632
c. Penilaian Proses Kelas 3

Koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 3 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater, Gambar 66 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 3 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Sebagai bahan perbandingan, kedua persamaan disajikan sebagai berikut. Tabel 45 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 3 Persamaan Linear
y = 0,0413x + 0,4144

Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0,0095 x 2 + 0,1174 x + 0,3003

dengan:

y = estimasi koefisien Genova,
x = banyak item yang dirating oleh rater,

Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 84,64%, sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam

memprediksi sebesar 98,10% sebagaimana tampak pada Gambar 66. Berdasarkan tingkat determinasi ini, tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan 244

memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 3 ditulis
x =3, maka koefisien Genova untuk masing-masing persamaan diperoleh dengan

mensubstitusikan x =3 pada kedua persamaan seperti ditunjukan berikut: Tabel 46 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =3 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0,0413x + 0,4144 = 0,0413(3) + 0,4144 = 0,5383 Persamaan non-linear y = −0,0095 x 2 + 0,1174 x + 0,3003 = −0,0095(3) 2 + 0,1174(3) + 0,3003 = 0,567

Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 3 menggunakan persamaan linear adalah 0,5383, sedangkan bila menggunakan

y = − 0 , 0095 x 2 + 0 ,1174 x + 0 , 3003

R2 = 0,981

Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear

,

,

,

Gambar 66. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 3

245

persamaan non-linear sebesar 0,567.

Adapun koefisien Genova yang

sesungguhnya untuk x =3 adalah 0,57735. Dari hasil ini tampak persamaan nonlinear memberikan pendekatan yang lebih akurat. Namun demikian, adanya pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti, terutama untuk jumlah item yang banyak. Berdasarkan Gambar 66, pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan karakteristik yang unik. Karakteristik ini muncul sebagai akibat sifat-sifat yang berlaku pada persamaan non-linear (kuadratik). Pada jumlah item < 6, kurva cenderung naik itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. Namun kurva akan cenderung turun setelah mencapai titik kulminasi yaitu untuk x =6. Akibatnya untuk jumlah item>6 kecenderungan estimasi koefisien Genova akan mengalami penurunan. Secara matematis penentuan titik kulminasi atau titik maksimum dilakukan dengan menggunakan konsep turunan pertama fungsi sebagai berikut: y = −0,0095 x 2 + 0,1174 x + 0,3003 y 1 = 2.(−0,0095) x + 0,1174 Nilai
x

yang menyebabkan

y

bernilai maksimum diperoleh dengan

menyamadengankan y 1 dengan nol ditulis y 1 = 0
y 1 = 2.(−0,0099) x + 0,1174 0 = 2.(−0,0095) x + 0,1174 0,1174 x= = 6,179 ≈ 6 2.0,0095 Jadi estimasi nilai koefisien Genova maksimum terjadi pada saat item yang dirating sebanyak 6 buah. Adapun nilai koefisien Genovanya sebagai berikut.

246

y = −0,0095 x 2 + 0,1174 x + 0,3003 = −0,0095(6) 2 + 0,1174(6) + 0,3003 = 0,6627
d. Penilaian Produk Kelas 1

Koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 1 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater, Gambar 67 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 1 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Sebagai bahan perbandingan, kedua persamaan disajikan sebagai berikut. Tabel 47 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 1 Persamaan Linear y = 0,1228 x + 0,4079 Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0,0418 x 2 + 0,2902 x + 0,2685

dengan:

y = estimasi koefisien Genova,
x = banyak item yang dirating oleh rater,

Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 96,2%, sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam

memprediksi sebesar 100% sebagaimana tampak pada Gambar 67. Berdasarkan tingkat determinasi ini, tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan 247

memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 3 ditulis
x =3, maka koefisien Genova untuk masing-masing persamaan diperoleh dengan

mensubstitusikan x =3 pada kedua persamaan seperti ditunjukan berikut: Tabel 48 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =3 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0,1228 x + 0,4079 = 0,1228(3) + 0,4079 = 0,7763 Persamaan non-linear y = −0,0418 x 2 + 0,2902 x + 0,2685 = −0,0418(3) 2 + 0,2902(3) + 0,2685 = 0,7629

Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 3 menggunakan persamaan linear adalah 0,7763, sedangkan menggunakan persamaan non-linear 0,7629. Adapun koefisien Genova yang sesungguhnya

y = − 0 , 0418 x 2 + 0 , 2902 x + 0 , 268

R 2 = 1,000

Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear

,

,

,

Gambar 67. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 1

248

untuk x =3 adalah 0,76238. Hasil ini menunjukkan bahwa persamaan non-linear memberikan pendekatan yang lebih akurat. Namun demikian, adanya

pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti, terutama untuk jumlah item yang banyak. Berdasarkan Gambar 67, pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan kurva cenderung monoton naik untuk setiap jumlah item yang dirating, itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. Karena kecenderungan kurva yang monoton naik, maka nilai maksimum koefisien genova terjadi untuk banyaknya item yang dirating 3 atau x = 3 , adapun nilai koefisien Genovanya sebagai berikut: y = −0,0418 x 2 + 0,2902 x + 0,2685 = −0,0418(3) 2 + 0,2902(3) + 0,2685 = 0,7629
e. Penilaian Produk Kelas 2

Koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 2 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater, Gambar 68 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 2 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Sebagai bahan perbandingan, kedua persamaan disajikan sebagai berikut.

249

1327 = 0.2245 x + 0.2245(2) + 0.0496 = −0. x = banyak item yang dirating oleh rater. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 2 ditulis x =2.0249 x 2 + 0.0496 = 0. Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 98.1327 Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0.Tabel 49 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 2 Persamaan Linear y = 0.1327 = 0.69%.0249(2) 2 + 0. Berdasarkan tingkat determinasi ini. sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam memprediksi sebesar 100%.1249 x + 0.3825 Persamaan non-linear y = −0. tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik.0249 x 2 + 0.1249(2) + 0.1249 x + 0.3990 x =2 pada kedua 250 .2245 x + 0. maka koefisien Genova untuk masingmasing persamaan diperoleh dengan mensubstitusikan persamaan seperti ditunjukan berikut: Tabel 50 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =2 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0.0496 dengan: y = estimasi koefisien Genova.

Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 2 menggunakan persamaan linear adalah 0. 0496 R 2 = 1. Gambar 68. itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. maka nilai maksimum koefisien Genova terjadi untuk banyaknya item yang dirating 3 atau x = 3 . adanya pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti.3825. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 2 Gambar 68 menunjukkan bahwa pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan kurva cenderung monoton naik untuk setiap jumlah item yang dirating. sedangkan menggunakan persamaan non-linear 0. Namun demikian. terutama untuk jumlah item yang banyak. Dari hasil ini tampak persamaan non-linear memberikan pendekatan yang lebih akurat. . 0249 x 2 + 0 . y = − 0 .000 Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear . 2245 x + 0 .3990.3990. Karena kecenderungan kurva yang monoton naik. adapun nilai koefisien Genovanya sebagai berikut: 251 . . untuk Adapun koefisien Genova yang sesungguhnya x =2 adalah 0.

1020 dengan: y = estimasi koefisien Genova.2245(3) + 0.0249(3) 2 + 0. tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik. maka koefisien Genova untuk masing- 252 . x = banyak item yang dirating oleh rater Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 97.4989 f.y = −0. Berdasarkan tingkat determinasi ini.1339 x + 0. Gambar 69 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 3 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik).2416 x + 0.0309 x 2 + 0.0496 = −0.0249 x 2 + 0.2326 Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0.0496 = 0. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 1 ditulis x =1. sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam memprediksi sebesar 100%. Penilaian Produk Kelas 3 Koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 3 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater. Sebagai bahan perbandingan.76%. Tabel 51 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 3 Persamaan Linear y = 0.2245 x + 0. Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. kedua persamaan disajikan sebagai berikut.

Namun demikian.2416(1) + 0.1339 x + 0. Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear y = − 0 .1020 = −0.2326 = 0.3825.2416 x + 0.2326 = 0.1 R 2 = 1 .3127 Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 2 menggunakan persamaan linear adalah 0.3665 Persamaan non-linear y = −0.3990.3990. .0309(1) 2 + 0. adanya pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti. 0309 x 2 + 0 . .masing persamaan diperoleh dengan mensubstitusikan persamaan seperti ditunjukan berikut: x =1 pada kedua Tabel 52 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =1 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0. Adapun koefisien Genova yang sesungguhnya untuk x =2 adalah 0. sedangkan menggunakan persamaan non-linear 0.0309 x 2 + 0.1339(1) + 0.1020 = 0. . 000 Gambar 69. Hasil ini menunjukkana bahwa persamaan non-linear memberikan pendekatan yang lebih akurat. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 3 253 . 2416 x + 0 .

maka nilai maksimum koefisien genova terjadi untuk banyaknya item yang dirating 3 atau x = 3 .0496 = −0.355 y = −0.0249 x 2 + 0.0682 x + 0.1454 x + 0. itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating.0249(3) 2 + 0. Tabel 53 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Diri Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Linear y = 0.015 x 2 + 0.0496 = 0.3390 y = 0. Berdasarkan gambar di atas.2963 y = 0. dan kelas 3 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh penilai.1671x + 0.0165 x 2 + 0. adapun nilai koefisien genovanya sebagai berikut: y = −0.2245 x + 0.4989 g.2902 x + 0.0524 x + 0.2245(3) + 0.terutama untuk jumlah item yang banyak.418 x 2 + 0. Karena kecenderungan kurva yang monoton naik.1808 y = −0. Penilaian Diri Kecenderungan koefisien Genova pada penilaian diri di kelas 1. kelas 2. pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan kurva cenderung monoton naik untuk setiap jumlah item yang dirating. Gambar 70 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian diri ketiga kelas dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non linear dengan rumusan sebagai berikut.2685 254 .4475 non-linear y = −0.067 x + 0.

3390 . Begitu juga konsistensi rater dalam merating kelas 3 lebih baik dari kelas 2.2685 R2 = 1. R 2 = 0 . 92.1671 + 0. Hal ini dibuktikan oleh tren koefisien Genova yang lebih tinggi untuk setiap peningkatan jumlah item yang dirating dibandingkan dengan koefisien Genova di kelas 1.60% (untuk kelas 2 ) dan 100% (untuk kelas 3). sedangkan koefisien determinasi model non-linear persamaan tersebut dalam memprediksi sebesar 99. .0418 x 2 + 0. Berdasarkan koefisien determinasi tampak dengan jelas bahwa pendekatan dengan persamaan non-linear memberikan estimasi nilai koefisien Genova yang lebih baik. .1454x + 0.0165x2 + 0. y = −0.0155x2 + 0. .dengan tingkat determinasi model linear persamaan tersebut dalam memprediksi sebesar 88. 991 Keterangan Kurva Linear Kurva Non-Linear Kurva Data Asli Kelas 1 Kurva Data Asli Kelas 2 Kurva Data Asli Kelas 3 . y = −0. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Diri Gambar 70 menunjukkan bahwa estimasi besarnya nilai koefisien Genova baik dengan persamaan non-linear maupun persamaan linear memberi gambaran bahwa konsistensi dan kestabilan rater dalam merating di kelas 2 dan kelas 3 lebih baik dibandingkan dengan di kelas 1.10% (untuk kelas 1 ).996 .1808 x R 2 = 0. . Adapun nilai estimasi maksimum 255 . 99. . y = −0.26% (untuk kelas 1 ).02% (untuk kelas 2 ) dan 90. .2902 x + 0.87% (untuk kelas 3).000 Gambar 70.

6038 Penilaian kelas 3: y = −0.0155(4) 2 + 0. Gambar 71 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian diri ketiga kelas dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non linear dengan rumusan sebagai berikut.418 x 2 + 0.3390 = 0. 2 dan 3 berturut-turut terjadi pada saat jumlah item 4 buah.0165 x 2 + 0.1671(5) + 0.2685 =0.0155 x 2 + 0.6745 h.418(5) 2 + 0.0165(5) 2 + 0.1454(4) + 0.1808 = −0.2685 = −0.3390 = −0.1671x + 0. 5 buah.2902 x + 0. Besarnya nilai koefisien genova tersebut dihitung sebagai berikut: Penilaian kelas 1: y = −0.6726 Penilaian kelas 2: y = −0. dan kelas 3 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh penilai. kelas 2. Penilaian Kelompok Kecenderungan koefisien Genova pada penilaian kelompok di kelas 1.1454 x + 0.1808 = 0.2902(5) + 0. 256 . dan 5 buah.koefisien Genova dengan pendekatan persamaan non-linear pada penilaian diri kelas 1.

1728 dengan tingkat determinasi model linear persamaan tersebut dalam memprediksi sebesar 89. y = − 0.75% (untuk kelas 2) dan 93.0215 x 2 + 0.4458 y = 0.70 % (untuk kelas 3).40% (untuk kelas 2 ) dan 99.3139 Non-linear y = −0.20% (untuk kelas 1 ). .5259 y = 0. . .020 x 2 + 0.3796 y = −0.40% (untuk kelas 3).1728 x R2 = 0. R = 0.0209 x 2 + 0.3796 . Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Kelompok 257 .2114 x + 0.0209 x 2 + 0.997 Gambar 71.2953 y = −0.0824x + 0.0918x + 0. R2 = 0. Dari koefisien determinasi tampak dengan jelas bahwa pendekatan dengan persamaan non-linear memberikan estimasi nilai koefisien Genova yang lebih baik.1992 x + 0. y = −0. sedangkan koefisien determinasi model non-linear persamaan tersebut dalam memprediksi sebesar 99.2127 x + 0.1992 x + 0.2953 .994 .21% (untuk kelas 1).2127x + 0. .2114 x + 0.Tabel 54 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Kelompok Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Linear y = 0.992 2 Keterangan Kurva Linear Kurva Non-Linear Kurva Data Asli Kelas 1 Kurva Data Asli Kelas 2 Kurva Data Asli Kelas 3 . 90. 99. .0739x + 0.0201 2 + 0.0215 x 2 + 0. y = −0.

7365 Secara keseluruhan pendekatan persamaan nonlinear lebih akurat dibanding dengan persamaan linear.2114 x + 0. Hal ini ditunjukkan oleh varians skor yang 258 .1728 =0. Adapun nilai hampiran maksimum koefisien Genova dengan pendekatan persamaan non-linear pada penilaian kelompok kelas 1.2127(5) + 0.3796 = 0.2114(5) + 0.2953 = −0.0215 x 2 + 0.020(5) 2 + 0. Besarnya nilai koefisien genova tersebut dihitung sebagai berikut: Penilaian kelas 1: y = −0. Setidaknya hal itu dibuktikan oleh tren koefisien Genova yang lebih tinggi untuk setiap peningkatan jumlah item yang dirating dibandingkan dengan koefisien Genova di kelas 1.0215(5) 2 + 0. 2 dan 3 berturut-turut terjadi pada saat jumlah item 5 buah.0209 x 2 + 0.Pada Gambar 71 tampak bahwa pendekatan nilai koefisien Genova baik dengan persamaan non-linear maupun persamaan linear memberi gambaran bahwa konsistensi dan kestabilan rater dalam merating di kelas 2 dan kelas 3 lebih baik dibandingkan dengan di kelas 1.1992 x + 0.8523 Penilaian kelas 2: y = −0.020 x 2 + 0. Begitu juga konsistensi rater dalam merating kelas 2 lebih baik dari kelas 3 .8153 Penilaian kelas 3: y = −0.0209(5) 2 + 0.3796 = −0.1728 = −0.2127 x + 0.1992(5) + 0.2953 = 0.

Dengan demikian. Koefisien G dari komponenkomponen penilaian kualitas karya seni lukis hasil uji coba menunjukkan. walau pendekatan yang lebih akurat dibanding persamaan linear. dapat diketahui instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar yang terdiri dari instrumen penilaian proses. secara keseluruhan pengembangan model instrumen penilaian karya seni lukis dapat diterima untuk digunakan melakukan penilaian pada faset yang lebih luas atau telah memenuhi untuk kepentingan faset pengukuran yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) pada kualitas karya seni lukis anak yakni ditunjukkan oleh indeks koefisien G sebesar 0. 259 . Namun hal yang perlu diperhatikan bahwa jumlah item paling banyak yang dinilai adalah pada nilai maksimum koefisien reliabilitas. Setiap persamaan nonlinear menunjukkan ada penurunan keoefisein Genova bila jumlah item atau indikator ditambah.71. instrumen penilaian diri. Oleh karena pembaca harus hati-hati dalam menafsirkan persamaan nonlinear. Berdasarkan uraian tentang hasil dan pembahasan. Data-data yang diperoleh melalui ujicoba dianalisis untuk membuktikan validitas dan reliabilitas menggunakan program Genova. dan instrumen penilaian kelompok telah mengalami serangkaian ujicoba. instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar telah memenuhi syarat validitas dan reliabilitas untuk digunakan dalam proses penilaian secara luas.dapat dijelaskan oleh persamaan nonlinear. instrumen penilaian produk. Harga maksimum koefisien Genova adalah harga maksimum kurve persamaan nonlinear.

dan penilaian kelompok. 3. Validitas telah teruji melalui proses focus group discussion sebanyak 3 kali dan seminar sekali. Pengguna instrumen ini adalah pendidik sebagai rater.BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Reliabilitas telah teruji melalui teknik generalizeability theory (Teori G) dan interrater Cohen’s Kappa. Pedoman penggunaan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak dalam bentuk buklet. penggunaan bahasa. 1. Spesifikasi instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD berbentuk lembar pengamatan yang di dalamnya terdiri atas indikator.71 dan koefisien interrater 0. reliabilitas. Simpulan Tentang Produk Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dijelaskan pada BAB IV. komponen yang dinilai. dan keterpakaian di SD telah teruji. produk. Koefisien Genova untuk instrumen ini sebesar 0. Pedoman penilaian sudah divalidasi oleh guru pengguna yang meliputi keterpakaian.70.73 telah memenuhi kriteria minimal yang dipersyaratkan yaitu 0. Karakteristik instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak yang mencakup validitas. dan komponen penilaian kelompok 5 (lima) item. Komponen proses terdiri atas 7 (tujuh) item. dan contoh aplikasi. 2. deskripsi. Komponen yang menjadi objek penilaian meliputi proses. Buklet terdiri atas latar belakang. komponen produk 3 (tiga) item. petunjuk penggunaan. dan rubrik (kriteria). dan efisiensi (hasil validasi dapat dilihat pada Tabel 7 hal. penilaian diri. komponen penilaian diri 5 (lima) item. dapat disusun kesimpulan sebagai berikut. 318) 260 . rasional.

Untuk sekolah hendaknya mengadakan pelatihan penggunaan instrumen penilaian seni lukis anak bagi guru mata pelajaran seni budaya dan 261 . Persyaratan yang harus dipenuhi pendidik SD agar kompeten menggunakan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD meliputi latar belakang pendidikan yang relevan. Penelitian ini didasarkan pada asumsi bahwa guru-guru seni lukis sekolah dasar cerendung memberikan penilaian secara subjektif. Saran Pemanfaatan Saran yng diajukan berdasarkan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut. Tetapi. B. 1. C.4. dan responsif terhadap pembaharuan dan perubahan agar kegiatan pembelajaran seni dapat menyesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan jaman. memiliki pengalaman dalam bidang seni lukis. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan baik dari segi metode maupun aplikasi. memahami pedoman penilaian hasil belajar karya seni lukis anak. 1. Pengembangan instrumen hanya sampai pada tahap pengembangan dan belum sampai pada tahap diseminasi agar instrumen hasil pengembangan dapat digunakan secara lebih luas. penelitian ini tidak menjangkau pembuktian asumsi tersebut. 2.

Bagi guru SD yang akan menggunakan instrumen penilaian ini hendaknya memahami dengan baik setiap item yang tercantum dalam instrumen penilaian seni lukis anak agar tercapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang tinggi antar sesama pengguna. Diseminasi. 3. Sekolah-Sekolah Dasar yang tidak memiliki guru khusus seni budaya dapat memberdayakan dosen pendidikan seni rupa di LPTK sebagai pendamping. Untuk menguji keefektifan instrumen hasil pengembangan secara empirik masih diperlukan penelitian diseminasi pada daerah yang lebih luas. Mengingat pentingnya bidang seni di sekolah dasar.keterampilan di sekolah dasar. dan Pengembangan Produk Lebih Lanjut 1. Untuk mengetahui lebih dalam tentang latar belakang penciptaan karya seni lukis anak agar penilaian lebih objektif maka guru hendaknya membiasakan anak untuk menilai karya lukis sendiri dan karya temannya. 4. maka PGSD hendaknya mengadakan studi pilihan/paket bidang seni sehingga kelak tenaga guru yang dihasilkan bisa sebagai konsultan bagi guru yang lain. Desiminasi pedoman penilaian karya lukis anak dapat dilakukan melalui musyawarah guru mata pelajaran seni budaya di sekolah dasar. D. agar guru dapat memberikan penilaian secara objektif hasil seni lukis anak. Instrumen yang telah dikembangkan ini divalidasi kembali dengan menggunakan sekolah yang berbeda agar diperoleh produk yang lebih baik. 3. 262 . 2. 5. 2. sehingga diperoleh manfaat yang lebih besar.

.. Gambar 24......DAFTAR GAMBAR Gambar 1............................. Lingkaran Warna............................... Hasil Gambar Anak Umur Lima Tahun................................. Gambar Anak Umur Lima Tahun Menunjukkan Objek-Objek yang Ada di Dalam Maupun di Luar Rumah........................... yang Menunjukkan Masa Peralihan dari Subtahap Figuratif Awal ke Subtahap Figuratif Tengah…………………………………………………… Gambar 17...................... Gambar Anak Pada Subtahap Figuratif Tengah…………………................ Gambar 7.................... Ruang dengan Teknik Pergantian Tekstur............................. Gambar 18............... Gambar 19.... Gambar 9................ Ruang dengan Teknik Pergantian Bentuk dan Ukuran.......................... Ruang dengan Teknik Penumpangan...................... Harimau Dalam Kandang. Ruang dengan Teknik Bayangan... Gambar Manusia oleh Anak Umur Empat Tahun... Gambar 20....................................................................... Gambar 3............................................................................. Gambar Bus Penuh Dengan Penumpang........................ Gambar 15...... Gambar 2. Gambar 11................. Gambar 23... Gambar 4... Gambar 10.. Ruang dengan Teknik Gelap Terang.................... Bidang Organik…………………………………………………….......... Gambar 8.......................... Komposisi Ruang Negartif dan Positif................... Gambar 14...................... Gambar 13............... Ruang dengan Teknik Pelengkungan............................................. Gambar 5.............. Gambar X-ray Oleh Anak Umur Lima Tahun yang Menunjukkan Ibu Dengan Dua Anak di Dalamnya...................... Bidang Tak Beraturan...... Gambar 22.......................... Bidang Geometris........ Gambar Anak yang Menunjukkan Penggabungan xv 79 77 78 79 75 75 76 77 73 54 54 55 55 55 56 56 56 57 57 57 57 60 71 ................................................ Gambar Anak Pada Awal Munculnya Tahap Figuratif dengan Objek-Objek yang Menggantung di Langit........... Gambar 21..... Ruang dengan Teknik Pergantian Warna............ Gambar 6.......... Gambar 16...................................... Bidang Bersudut......................................................... Gambar 12.............. Gambar Anak Umur Empat Sepuluh Tahun... Gambar Kereta oleh Anak Umur Lima Tahun.......

............... Gambar 42................ Bagan Anak Usia 13 Tahun....................... Gambar 40........................................... Desain Ujicoba Intrumen Seni Lukis.............. Gambar Bus yang Penuh Sesak Oleh Penumpang yang Digambarkan Dengan Perspektif Linier................................ Subjek yang Menyiapkan Alat dan Bahan Hasil Studi Awal............... Tahapan Studi Awal Pengembangan Instrumen Seni Lukis Anak........................ Gambar 41......................................... Gambar 32...... Gambar 29......... Corengan Tak Beraturan........ Gambar 48................... Gambar 28......... Bagan Anak Usia 10 Tahun................ Langkah-Langkah Pembelajaran Seni Lukis...................Antara Tampak Depan dan Tampak Atas............................. Coreng Moreng Anak Usia 3 Tahun.... Gambar yang Menunjukkan Penggunakan Perspektif Linier Oleh Anak Kelas Lima. Gambar 33...................... Gambar yang Menunjukkan Perbedaan Anak Laki-laki dan Perempuan Dengan Ciri-Ciri Pakaian yang Rinci....... Gambar 47......... Gambar 46...... Gambar 39. Skema Tahap Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak 160 Gambar 45........................ Tahapan Pendefinisian Instrumen Seni Lukis Anak.................. Pra Bagan Anak Usia 7 Tahun........ Gambar 30.......................................................... Jenis Kurikulum yang Digunakan Hasil Studi Awal.................. Model Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak............. Tahapan Perancanganan Instrumen Seni Lukis Anak. Gambar 34.. Gambar 43.................. 161 162 172 172 173 xvi .............................. Gambar 26..... Pra Bagan Anak Usia 4-7 Tahun.......................... Gambar 38......... Gambar 37............ Gambar 31...................... Skema Tahap Diseminasi Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak. Corengan Terkendali............ Kesesuaian Buku yang Digunakan Hasil Studi Awal………............... Gambar 49.......... Gambar Anak Perempuan yang Mengidentifikasi Dirinya Dengan Pemain Drumband...................... Bagan Anak Usia 7-9 Tahun....... Gambar 27............................................... Bagan Anak Usia 14 Tahun.................................. Gambar 35...................................... 80 81 81 83 83 84 85 85 86 87 87 88 88 89 90 100 154 156 157 158 Gambar 44.............................................................................. Corengan Bernama........................................ Gambar 25... Gambar 36........................

........... Hasil Studi Awal Jenis Penilaian yang Digunakan Guru ............. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 3............. Gambar 64.................................................................. Instrumen Penilaian Seni Lukis Hasil Tahap Rancangan............................ Gambar 69..... Gambar 60......................... Gambar 68.............................. Hasil Studi Awal Kriteria Penilaian Guru ........ Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 3........................................... Gambar 53............…………………............................................ Hasil Studi Awal Partisipasi Siswa atau Sekolah dalam Kegiatan Lomba.......... Gambar 59.. Hasil Studi Awal Kesesuaian Prosedur yang Digunakan dalam Penilaian ........... Hasil Studi Awal Komponen Penilaian Guru................................... Gambar 56.......... Minat siswa dalam belajar Hasil Studi Awal................................... Hasil Studi Awal Unsur Kreativitas dalam Penilaian oleh Guru……………………………………………………...... Gambar 51........................... Gambar 52.................. Gambar 63.............. Gambar 54................................................. Tren perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 1............. Kesulitan Guru dalam Penilaian Hasil Studi Awal......Gambar 50..... Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 1................... Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 2.................. Rangkuman Hasil Seminar Instrumen Penilaian Seni Lukis ............ Tren perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 2…………………………………………………… Gambar 66.. Gambar 65............................ Gambar 58......... Hasil Studi Awal Jenis Penentuan Skor Penilaian oleh Guru . Gambar 57.................... Rangkuman Hasil FGD Ketiga......... Hasil Studi Awal Subjek yang Menentukan Tema Lukisan ... Hasil Studi Awal Tanggapan Guru Perlunya Instrumen Penilaian ..... Gambar 67........................ 174 174 175 176 176 177 178 178 179 180 180 184 188 192 239 243 245 248 251 253 xvii .......................... Gambar 62............................ Gambar 61..................... Gambar 55............

................. 257 255 xviii .................... Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Diri........ Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Kelompok......................... Gambar 71...........................................................................Gambar 70.....

.. Pembelajaran Seni Lukis di Sekolah Dasar ……………………….………….......................... Rasional yang Melandasi Pentingnya Masalah …………….......………………………………………………..........………………....DAFTAR ISI ABSTRAK.........…… B.........….. KAJIAN PUSTAKA …………....……………………………………………………………….................. LEMBAR PENGESAHAN .................. 4...................... DAFTAR GAMBAR .......………. C...................... B......... 2............ 1.…........ 2............................….........……………………………………………………………….......................………………. Tujuan Penelitian ............... Pendekatan dalam Pendidikan Seni Rupa ....................……................................................... 1..........................… E......... Manfaat Penelitian ………............ A................ 3.................. ii iii iv v vii viii xi xv xix 1 1 7 11 11 12 12 14 14 14 22 24 34 42 52 52 64 viii ... BAB I.............. KATA PENGANTAR ................ Seni Lukis bagi Anak Usia Sekolah Dasar ............. ABSTRACT................ Pendidikan Seni Rupa di Sekolah Dasar Di Indonesia .. Spesifikasi Produk ………............ Manfaat Pendidikan Seni Rupa ..... Pengertian Pendidikan Seni Rupa .........….....…… E........................……………………………………………………....................... DAFTAR ISI ..... DAFTAR TABEL ..................………………….…… BAB II.....................…...... DAFTAR LAMPIRAN ............................ Latar Belakang dan Identifikasi Masalah ....................... Pengertian dan Jenis Seni Lukis ...……......... PERNYATAAN KEASLIAN .....… D.………………………………………………………..................................………...............…………………………………………………………..................…….. PENDAHULUAN……………………………………………………… A......……… C........... Pendidikan Seni Rupa ……….. Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini ..……............. Rumusan Masalah….......................…………………………………………….. …....................

.……………… B.............. 96 100 107 107 109 119 135 145 150 150 152 152 155 155 156 157 158 161 161 161 163 164 165 169 169 169 182 184 185 ............. Karakteristik Penilaian dalam Pendidikan Seni ......... Tahap Diseminasi .... 3............. Data Perancangan............................. Aspek yang Dinilai dalam Karya Seni Lukis.............................................................. Tahap Studi Awal ...........………………...................................... 5..….............................. Tahap Perancangan ............... H.................................. E.......................... 2............... Tahap Pendefinisian . 2........................................ Tahap Pengembangan .……..............................…..............……….....……................................ METODE PENELITIAN . Metode Pembelajaran Seni Lukis Anak Sekolah Dasar .................. D. 1....... Jenis Instrumen Pengumpulan Data ..............................................................……...................................................…… A.......... Subjek Coba .……........ 4...................………….....................................…… 1................... Kerangka Pikir …....................... Data Pendefinisian ............. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. ix .... ……………………………………... Hipotesis Uji Model ………....... Teknik Analisis Data ................... BAB IV....... Fungsi Penilaian dalam Pendidikan Seni .............................. 3.... 2...........3........…… A............................................……................................................. Data Pengembangan ....................................... Uji Coba Produk …………………….......................... 3. Data Studi Awal .......... Desain Uji Coba ........…. BAB III..................................... Seni Lukis sebagai Indikator Gambar Ekspresi dalam KTSP .. 4....................... Model Pengembangan ..... 4....…....................... D.. 3..........................................… 1............... 2.……….………............. Prosedur Pengembangan ………………………………………… 1........ 4. F.......... Hasil Penelitian yang Relevan ………............ Pertanyaan Penelitian ………..... G.......................…….................. Data Uji Coba ………....……....... Penilaian dalam Pembelajaran Seni Lukis di Sekolah Dasar ........

...... 235 237 237 260 260 261 261 262 263 BAB V. Tren Perkembanagan Koefisien Genova ..……………… B...................... Penilaian Kelompok .......... 4....................................……........ D.. Penilaian Proses ... Revisi Produk…………………...........................…… A.... 2....................................… D.. Saran Pemanfaatan …………………….............. 187 196 196 220 232 232 232 234 ......................... C..........………… C................................................. Penilaian Produk ..……………………………........................... Analisis Data .......................................... Data Uji Coba Koefisien Interrater ........................................ Diseminasi ..............................………....................... 1............… …………………………………….................. Kajian Produk ...........… DAFTAR PUSTAKA .........……................. x ........................................................ Data Uji Coba.........… 1.............. 3................. Keterbatasan Penelitian………………………………....................................... KESIMPULAN DAN SARAN .........................….............…………………..........…………..................... Diseminasi dan Pengembangan Produk Lebih Lajut ………........ B............……….5...... 2.................................. Simpulan . 5. Penilaian Diri..................

............... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Proses Kelas 1 dan Tingkat Perubahannya .................... Estimasi Komponen Variansi Siswa................... Tabel 8.. Tabel 4......... Penilai.................................... Tipe-Tipe Psikologis Anak dan Katagori Lukisan Anak...... Tabel 7....................................................... Penilai.............. Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Produk Kelas 3 xi 212 211 210 209 208 206 203 201 199 197 171 181 186 5 96 123 124 ..... Tabel 9...... Tabel 14..... Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Diri........................ Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Kelompok.... Estimasi Komponen Variansi Siswa.................................. Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Proses Kelas 2 dan Tingkat Perubahannya.............................................. Estimasi Komponen Variansi Siswa........ Penilai........... Hasil FGD Pertama dan Kedua........................................... Penilai........... Hubungan antara Tujuan Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan (PSB) dengan SKL Satuan Pendidikan SD.................................................. Rangkuman Hasil G Study dan Koefisien G Pada Berbagai Komponen dan Berbagai Faset Terapan Uji Coba. Tabel 16.. Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Produk Kelas 2 dan Tingkat Perubahannya..... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Proses Kelas 3 dan Tingkat Perubahannya.... Pupil’s Self Evaluation Form................................ Tabel 13............................................ Student Self Evaluation Form.............. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Produk............. Tabel 11.............. Tabel 3............ Estimasi Komponen Variansi Siswa.......................................DAFTAR TABEL Tabel 1... Daftar Peserta Studi Awal. Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Produk Kelas 1 dan Tingkat Perubahannya.......................... Tabel 18...................... Daftar Peserta Studi Awal................... Tabel 17..................... Tabel 12.................. Tabel 10............................. Tabel 15......................................... Tabel 6................................................................................................. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Proses....... Tabel 2.................. Tabel 5..................

.................................................................................... Tabel 29.............................................................................................................................. Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Produk Kelas 1.................................. Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Diri Kelas 1 dan Tingkat Perubahannya .... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Proses Kelas............................. Tabel 26.................. Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Proses Kelas 1........................ Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Kelompok Kelas 3 dan Tingkat Perubahannya.... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Diri Kelas 2 dan Tingkat Perubahannya.......................... Tabel 32................................................................................. Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Diri Kelas 3 dan Tingkat Perubahannya.................................. Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Proses Kelas 2................................................... Tabel 20..... Tabel 23....................................................... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Kelompok Kelas 1 dan Tingkat Perubahannya..................................................... Tabel 21........................ Tabel 19......................................... Tabel 24...................... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Diri Kelas 1..... Tabel 25..................... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Kelompok Kelas 2 dan Tingkat Perubahannya ... Tabel 31..................... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Diri Kelas 2.dan Tingkat Perubahannya....... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai 227 225 xii .......................................................... 225 Tabel 30..................... Tabel 22.................................................... 227 Tabel 33.......................................... Tabel 27......... Tabel 28.... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai 213 214 215 216 217 218 219 221 222 222 224 Pada Penilaian Produk Kelas 2................... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Produk Kelas 3.............................................................

Tabel 48.... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Kelompok Kelas 1......... Tabel 37............................ Tabel 50.............................................. Tabel 40........... Tabel 45....................... Tabel 49............ Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =3 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear .......................... Tabel 46................ Tabel 42........................ Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =2 228 230 231 231 233 234 236 237 238 239 241 242 244 245 247 248 250 xiii ................................ Tabel 36........... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 1....... Tabel 34....... Tabel 35................. Tabel 39........................................................... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 3............ Tabel 38................................................ Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Kelompok............ Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Diri........................... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Kelompok Kelas 3.................... Tabel 41......... Perbadingan koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Proses ............................ Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 2........................... Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =4 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear........................ Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =6 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear ...........................Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 1..... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 2......... Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =3 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear .................................................................. Tabel 44...... Perbadingan koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Produk .............................. Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Kelompok Kelas 2............................Pada Penilaian Diri Kelas 3............................. Tabel 47........... Tabel 43.......

.......... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 3... Tabel 52.......................... Tabel 54............... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Diri.......................................................................................................Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Kelompok........................................................ Tabel 53...............Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear .................. 250 252 253 254 257 xiv ..................... Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =1 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear ... Tabel 51....

........................... Contoh Hasil Karya Seni Lukis Anak.......................................... Daftar Hadir FGD dan Seminar........ Hasil FGD................................ Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Seni Budaya dalam KTSP Lampiran 2........... Lampiran 3.................................................... Surat Ijin Penelitian............................................................................................................ Lampiran 9. Lampiran 6............................................................... Data Hasil Penilaian Seni Lukis Anak............................ Lampiran 7...... 270 275 276 293 296 306 318 321 358 361 365 xix ..................... Hasil Analisis Genova.. Lampiran 11.................... Lampiran 4.................................................... Hasil Seminar.................................. Lampiran 10................... Hasil Wawancara Keterpakaian Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak Lampiran 8......... Kompetensi Kreasi Seni Budaya dan Keterampilan.. Lampiran 5.............................................DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1...................... Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak.......

04701261001 Disertasi ini ditulis untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk mendapatkan gelar Doktor Pendidikan Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA YOGYAKARTA 2009 i .PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ANAK DI SEKOLAH DASAR Oleh: Tri Hartiti Retnowati NIM.

Pd. dan Bapak Dodi Suyanto. Dalam kesempatan ini. Bapak Sutarno S. serta dorongan semangat kepada penulis sehingga disertasi ini dapat terwujud. kepala MIN Tempel Sleman yang telah memberikan ijin dan segenap bantuannya pada pelaksanaan ujicoba instrumen penilaian seni lukis anak. Kumaidi. atas perhatian dan dukungan sehingga disertasi ini selesai. Disertasi ini bertujuan mengembangkan instrumen penilaian karya seni lukis anak yang valid. Prof. yang telah memberikan kesempatan untuk melanjutkan studi S-3 pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.D dan Prof. v . Sofyan Salam. Ph. Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta beserta segenap staf administrasi. dan praktis untuk digunakan guru di sekolah dasar. taufiq. yang diberikan sehingga disertasi ini dapat selesai. Suyata. penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada: 1. hidayah. dan bimbingan yang sangat berharga. Ph.Pd.D selaku promotor disertasi ini. perhatian.KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas berkat limpahan rahmat. Penyelesaian disertasi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Dekan FBS Univesitas Negeri Yogyakarta beserta staf. dan inayahNya. 5. 2. Prof. atas segala kebijaksanaan. bantuan. 6. Para guru yang telah membantu pelaksanaan ujicoba instrumen penilaian seni lukis anak yaitu Ibu Udawati S. reliabel. Kepala SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta. 4. Ph. sehingga disertasi ini menjadi lebih baik. Rektor Universitas Negeri Yogyakarta. sehingga disertasi ini dapat diselesaikan. 7. kemudahan.. yang telah memberikan arahan.D selaku reviewer disertasi ini yang telah memberi masukan kepada penulis. 3. kepala SDN Langensari Yogyakarta.

8. Para pakar pendidik seni dan seni lukis anak-anak serta guru seni lukis di sekolah dasar yang telah berpartisipasi dalam FGD sehingga instrumen ini dapat terwujud. 9. Segenap teman-teman Jurusan Pendidikan Seni Rupa FBS UNY dan mahasiswa angkatan tahun 2004 Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan S3 Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta yang dengan penuh keakraban memberikan dorongan moral dan segenap bantuan yang diberikan sehingga disertasi ini dapat selesai. Akhirnya rasa terimakasih yang sangat pribadi disampaikan kepada suami tercinta Prof. Djemari Mardapi Ph.D., dan anak-anak: Dian Puspita Sari dan suami, Febriaditya Agung Nugroho, dan Muhammad Harfiansyah Makarim yang dengan penuh pengertian dan pengorbanan selama penulis menyelesaikan studi. Semoga amal kebaikan bapak/ibu dan teman-teman semua

mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Amin.

Yogyakarta,

Mei 2009

Tri Hartiti Retnowati NIM. 04701261001

vi

PERNYATAAN KEASLIAN Yang bertandatangan di bawah ini Nama Mahasiswa Nomor Mahasiswa Program Studi Lembaga Asal : Tri Hartiti Retnowati : 04701261001 : Penelitian dan Evaluasi Pendidikan : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi ini merupakan hasil karya saya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya dalam disertasi ini tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Yogyakarta, April 2009 Yang membuat pernyataan

Tri Hartiti Retnowati

vii

Lampiran 1 Tabel 1. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Seni Budaya dan Kerajinan Sekolah Dasar Berdasarkan KTSP 2006 Kelas I, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengidentifikasi unsur rupa pada benda di alam sekitar 1.2 Menyatakan sikap apresiatif terhadap unsur rupa pada benda di alam sekitar 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresif 2.2 Mengekspresikan diri melalui teknik menggunting menempel KOMPETENSI DASAR

Kelas I, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya sent rupa 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengidentifikasi unsur rupa pada benda di alam sekitar 1.2 Menyatakan sikap apresiatif terhadap unsur rupa pada benda di alam sekitar 2.1 Mengekspresikan diri melalui karya seni gambar Ekspresif 2.2 Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa dua dimensi dengan teknik menempel KOMPETENSI DASAR

Kelas II, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya sent rupa 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengenal unsur rupa pada karya seni rupa 1.2 Menunjukkan sikap apresiatif terhadap unsur rupa pada Karya seni rupa 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar Ekspresif 2.2 Mengekspresikan diri melalui teknik cetak tunggal KOMPETENSI DASAR

270

Kelas II, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 2. Mengekspresikan diri melalui seni rupa. 1.1 Mengidentifikasi unsur rupa pada karya seni rupa 1.2 Menunjukkan sikap apresiatifterhadap unsur rupa pada karya seni rupa tiga dimensi 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresi 2.2 Menggunakan klise cetak timbul 2.3 Mengekspresikan diri melalui teknik cetak timbul KOMPETENSI DASAR

Kelas III, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 2. Mengekspresikan diri melalui seni rupa. 1.1 Menjelaskan symbol dalam karya seni rupa dua dimensi 1.2 Menunjukkan sikap apresiatif terhadap symbol dalam karya seni rupa dua dimensi 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif Mengenai diri sendiri 2.2 Mengekspresikan diri melalui gambar dekoratif dari motif Hias daerah setempat KOMPETENSI DASAR

Kelas III, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa KOMPETENSI DASAR

1.

Mengapresiasi karya seni rupa Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

1.1 Menjelaskan simbol dalam karya seni rupa tiga dimensi 1.2 Menunjukkan sikap apresiatifterhadap simbol dalam karya seni rupa tiga dimensi 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif mengenai alam sekitar 2.2 Memberi hiasan/warna pada benda tiga dimensi

2.

271

Kelas IV, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.1 Menjelaskan makna karya seni rupa terapan 1.2 Mengidentifikasi jenis karya seni rupa terapan yang ada di daerah setempat 1.3 Menunjukkan sikap apresiatif terhadap kesesuaian karya seni rupa terapan 1.4 Menunjukkan sikap apresiatif terhadap keartistikan karya seni rupa terapan 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi dengan tema benda alam: buah-buahan, tangkai, kerang, dsb 2.2 Memamerkan hasil gambar ilustrasi dengan tema benda alam: buah-buahan, tangkai, kerang, dsb di depan kelas KOMPETENSI DASAR

Kelas IV, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.1 1.2 1.3 Menjelaskan makna seni rupa murni Mengidentifikasi jenis karya seni rupa murni yang ada di daerah setempat Menampilkan sikap apresiatif terhadap karya seni rupa murni Membuat relief dari bahan plastis dengan pola motif hias Menyiapkan karya seni rupa yang dibuat untuk pameran kelas KOMPETENSI DASAR

2.

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

2.1 2.2

2.3

Menata karya seni rupa yang dibuat dalam bentuk pameran kelas

272

Kelas V, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.1 1.2 1.3 Menjelaskan makna motif hias Mengidentifikasi jenis motif hias pada karya seni rupa Nusantara daerah setempat Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan motif hias karya seni rupa Nusantara daerah setempat Mengekspresikan diri melalui gambar dekoratif dengan motif hias Nusantara 2.2 Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi dengan tema hewan dan kehidupannya 2.3 Membuat motif hias dasar jumputan pada kain KOMPETENSI DASAR

2.

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

2.1

Kelas V, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.2 1.3 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengekspresikan diri melalui gambar dekoratif dengan motif hias Nusantara Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi dengan tema hewan dan kehidupannya Membuat motif hias dasar jumputan pada kain Membuat topeng secara kreatif dalam hal teknik dan bahan Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi manusia dan kehidupannya KOMPETENSI DASAR

2.1 2.2

2.3

Menyiapkan karya seni rupa yang diciptakan untuk pameran kelas

2.4

Menata karya seni rupa yang diciptakan dalam bentuk pameran kelas/sekolah

273

Kelas VI, Semester 1

STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.1 1.2 1.3

KOMPETENSI DASAR Mengidentifikasi jenis motif hias pada karya seni rupa Nusantara daerah lain Menjelaskan cara membatik Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan motif hias karya seni rupa Nusantara daerah lain Membatik dengan teknik sederhana Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi dengan tema suasana di sekitar sekolah 2.3 2.4 Merancang boneka Membuat boneka berdasarkan rancangan

2.

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

2.1 2.2

Kelas VI, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.2 1.1 Mengidentifikasi jenis motif hias pada karya seni rupa Nusantara daerah lain Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan motif hias karya seni rupa Nusantara daerah lain Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi suasana alam sekitar KOMPETENSI DASAR

2.

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

2.1

2.2

Menyiapkan karya seni rupa yang dibuat untuk pameran kelas

2.3

Menata karya seni rupa yang dibuat untuk pameran kelas

274

Semester 2 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.3 Mengekspresikan diri melalui teknik cetak timbul KOMPETENSI DASAR Kelas III. Kompetensi Kreasi Seni Budaya dan Keterampilan Kelas I.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresi 1.2 Mengekspresikan diri melalui teknik cetak tunggal KOMPETENSI DASAR Kelas II. Mengapresiasi karya seni rupa 2.Lampiran 2 Tabel 2.2 Mengekspresikan diri melalui teknik menggunting menempel KOMPETENSI DASAR Kelas I.1 Mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif mengenai alam sekitar 12 Memberi hiasan/warna pada benda tiga dimensi 275 .1 Mengekspresikan diri melalui karya seni gambar Ekspresif 1.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresif 2. Semester 2 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1.2 Menyatakan sikap apresiatif terhadap unsur rupa pada benda di alam sekitar 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1. Semester 1 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Semester 1 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1.2 Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa dua dimensi dengan teknik menempel KOMPETENSI DASAR Kelas II. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengekspresikan diri melalui gambar Ekspresif 1. Semester 2 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa KOMPETENSI DASAR 1.1 Mengidentifikasi unsur rupa pada benda di alam sekitar 1.2 Menggunakan klise cetak timbul 1. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa. 1.

276 .

maka dalam proses penyusunannya perlu mempertimbangan pemikiran para pakar serta guru yang terlibat langsung dalam pembelajaran. Mengingat instrumen merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran seni lukis. 276 . keterlibatan berbagai pihak sangat diperlukan. dalam setiap pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kegiatan belajar seni lukis keikutsertaan para pakar seni lukis serta guru-guru pengampu di sekolah merupakan suatu kebutuhan yang mutlak. Dalam pelaksanaannya. persentase penilaian kedua unsur tersebut masih menjadi dilema yang perlu diputuskan dengan pertimbangan yang matang. mulai dari para pakar sebagai perumus materi sampai dengan guru mata pelajaran sebagai pelaksana sekaligus evaluator kegiatan pembelajaran. indikator-indikator dari setiap penilaian baik proses maupun produk perlu ditetapkan dengan memperhatikan berbagai pemikiran yang disesuaikan dengan perkembangan jiwa dan perkembangan gambar anak untuk manentukan hasil penilaian seni lukis anak. Latar belakang Pembelajaran seni lukis merupakan bagian penting dari aktivitas belajar di sekolah. Namun demikian. Kedua permasalahan tersebut merupakan topik yang akan dibahas dalam FGD tahap 1 sebagai langkah awal dalam penyusunan instrumen penilaian seni lukis anak. Oleh karenannya. Disertasi yang berjudul ” Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak” merupakan representasi kebutuhan lapangan khususnya guru-guru pada jenjang pendidikan dasar yang mengkehendaki adanya suatu instrumen penilaian seni lukis yang valid dan reliabel sehingga dapat mengurangi subjektivitas guru dalam menilai karya siswa. Disamping itu. Berdasarkan alasan inilah.Lampiran 3 FOCUS GROUP DISCUSSION TAHAP 1 “ PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. dilaksanakan FGD tahap 1 yang difokuskan untuk menjaring aspirasi yang berhubungan dengan tahap awal penyusunan instrumen penilaian seni lukis anak. Berdasarkan Performance Assesment dalam penilaian seni lukis anak terdapat dua unsur penting yaitu penilaian proses dan produk.

Pd Udawati.15-18. M.00-15. Menentukan bobot persentase dari penilaian karya seni lukis anak yang terdiri dari proses dan produk. Menentukan indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak.Pd Enrizal. Adapun jalannya pelaksanaan FGD tersebut disajikan pada tabel berkut: Waktu 15.Pd Dody S Dwi Susanto (Pakar pendidikan seni) ( Pakar seni lukis anak) (Pakar seni lukis anak UNY) (Guru pendidikan seni anak SD Sapen I) (Guru pendidikan seni anak SD Sapen II) (Guru pendidikan seni anak MIN Tempel) (Guru pendidikan seni anak Sekolah Dasar) D. S.30 15. Deskripsi pelaksanaan FGD tahap I dilaksanakan pada tanggal 26 Februari 2008 bertempat di Ruang Sidang Program Pascasarjana UNY. Target yang ingin dicapai Berdasarkan latar belakang. Diskusi sesi 1 untuk memutuskan bobot persentase dari penilaian karya seni lukis anak yang terdiri dari proses dan produk Diskusi sesi 2 untuk menentukan indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak.15-18. S.30-15.Lampiran 3 B.Sn Bambang Prihadi. M.15 18.45-16. M.45 Aktivitas Pembukaan mengutarakan maksud dan tujuan FGD diikuti dengan perkenalan peserta yang hadir Presentasi pengenalan topik yang akan dibahas yaitu menentukan bobot persentase dari penilaian karya seni lukis anak yang terdiri dari proses dan produk dan menentukan indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak.15 16. C. Peserta yang hadir Drs.Affandi Dewobroto. Penyimpulan dan penyampaian hasil diskusi Penutupan dengan doa bersama 15. 2.30 18. target dari FGD tahap 1 ini adalah: 1.30-18.40 277 .

Pd Dalam penilaian proses untuk kegiatan inti perlu 278 Masukan peserta Sesi 2 Pertanyaan Masukan peserta . S. S.Pd Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% karena proses seseorang dalam berkarya lebih penting dari hasil yang diperoleh Enrizal.Sn Dalam penilaian proses pada tahap inti perlu adanya tambahan kriteria yaitu pemahaman tema karena tanpa adanya pemahaman tema akan sulit bagi siswa untuk dapat melukis dengan baik Bambang P. dengan kata lain apabila proses baik maka produk pun akan baik begitu juga jika produk baik maka proses pun baik Bambang P. sedangkan tahap akhir terdiri dari penilian diri. Dewobroto. M. Masukan peserta yang hadir Sesi 1 Pertanyaan Berapa persenkah bobot untuk penilaian proses dan produk Drs. M. Tahap awal terdiri dari tanggapan anak terhadap tema dan kesiapan alat dan bahan. M.Sn Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 50% sedangkan produk 50% hal ini dikarenakan antara proses dan produk terdapat keseimbangan .Affandi Penilaian proses dibagi menjadi tahap awal.Affandi Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% mengingat proses lebih menentukan hasil karya yang diperoleh siswa Dewobroto. tahap inti. M.Pd Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% Dody S Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% karena proses cenderung memperlihatkan potensi seorang anak dalam berkarya seni Dwi Susanto Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% Apakah indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak Drs. M. keterampuilan mengorganisasikan keterampilan estetis. M.Lampiran 3 E. S.Pd Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% karena proses lebih memperlihatkan kesungguhan siswa dalam melukis Udawati.Pd Dalam penilaian produk perlu adanya tambahan indikator yaitu teknik Enrizal. dan tahap akhir. S. tahap inti terdiri dari kelancaran penuangan ide. Adapun penilain proses terdiri dari kreativitas dan ekspresi.Pd Penilaian proses dibagi menjadi dua tahap yaitu tahap awal dan tahap inti karena tahap akhir berupa penilaian diri dan kelompok bukan merupakan bagian dari proses seorang anak dalam berkarya Udawati. pemanfaatan waktu.

Pemanfaatan waktu Tahap inti Kreativitas Produk Ekspresi Teknik Penilaian Diri Penilaian Kelompok 279 . Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat 2. Kelancaran penuangan ide 2. Bobot persentase minimal untuk penilaian proses 60% dan produk 40% 2. Ketekunan 5. Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk 4. Kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis Tahap awal Proses 1. Kesimpulan 1. Indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak 1.Lampiran 3 adanya indikator ketekunan serta keberanian dalam menggunakan unsur-unsur bentuk Dalam penilaian proses untuk kegiatan inti perlu adanya indikator keberanian menggunakan media Penilaian diri dan penilaian kelompok bukan merupakan bagian dari proses seseorang dalam berkarya. jadi untuk penilaian proses dan penilaian kelompok lebih baik terpisah tetapi tetap merupakan bagian dari penialian karya seni lukis anak Dody S Dwi Susanto F. Keberanian menggunakan media 3.

S. Suwarno Bambang P.Lampiran 3 FOCUS GROUP DISCUSSION TAHAP II “ PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. S. B.Pd Sutarno.Pd Enrizal. Adapun jalannya pelaksanaan FGD tersebut disajikan pada tabel berkut: 280 . M.Sn (Pakar pendidikan seni) (Pakar seni lukis anak UNY) (Guru pendidikan seni anak SD Sapen I) (Guru pendidikan seni anak SD) (Guru pendidikan seni anak SD Sapen II) (Guru pendidikan seni anak Sekolah Dasar) (Praktisi dan pakar seni lukis ) D. selanjutnya perlu adanya deskripsi dari masing-masing indikator pada penilaian proses dan produk. C. Oleh karena itu keterlibatan para pakar seni lukis anak dan guru sangat diperlukan.Pd Udawati. Latar belakang Menindaklanjuti hasil yang diperoleh dari FGD tahap I. S. Susapto Murdowo. target dari FGD tahap II ini adalah menentukan deskripsi dari setiap indikator pada penilaian proses dan produk. Peserta yang hadir Drs. Untuk mendeskripsiakan indikator ini. diperlukan berbagai pemikiran yang didasari pemahaman konsep yang mendalam tentang karya seni lukis anak.Pd Dody S Drs. Target yang ingin dicapai Berdasarkan latar belakang. Deskripsi indikator ini mencakup gambaran secara terperinci dari setiap indikator yang diperoleh dari FGD tahap I. Deskripsi pelaksanaan FGD tahap II dilaksanakan pada tanggal 13 Maret 2007 bertempat di Ruang Sidang Program Pascasarjana UNY. Proses olah pikir dari para pakar dan guru untuk menentukan deskripsi dari setiap indikator dilaksanakan pada FGD tahap II. M.

Masukan peserta yang hadir Sesi 1 Pertanyaan Bagaimanakah deskripsi untuk indikator penilaian proses Drs. M.45-17. Susapto M.00 E. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik Drs.30 18.30 17. S.Sn Suatu kondisi peserta didik yang sudah siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya Bambang P. Suwarno • Untuk tahap awal indikator 1 deskripsinya adalah: Reaksi peserta didik berupa perilaku yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik • Kemudian diperlengkap menjadi: Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi.Pd • Untuk tahap inti indikator 1 deskripsinya adalah: Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara ide yang ada dalam diri siswa dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut • Kemudian diperlengkap menjadi: Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara kualitas ide yang dikembangkan dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut Enrizal.Pd • Untuk tahap inti indikator 2 deskripsinya adalah: Keberanian menggunakan media dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik inkonvensional dalam melukis • Kemudian diperlengkap menjadi: Keberanian menggunakan media (alat dan bahan)dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik inkonvensional dalam melukis Udawati. Penyimpulan dan penyampaian hasil diskusi Penutupan dengan doa bersama 15.50 18.30-18.50-19.30 15. Diskusi sesi 1 untuk menentukan deskripsi dari setiap indikator pada penilaian proses Diskusi sesi 2 untuk menentukan deskripsi dari setiap indikator pada penilaian produk.30-18. Untuk tahap awal indikator 2 deskripsinya adalah: M.Pd • Untuk tahap inti indikator 3 deskripsinya adalah: 281 Masukan peserta .00-15.30-15.Lampiran 3 Waktu 15.45 Aktivitas Pembukaan mengutarakan maksud dan tujuan FGD diikuti dengan perkenalan peserta yang hadir Presentasi pengenalan topik yang akan dibahas yaitu menentukan deskripsi dari setiap indikator pada penilaian proses dan produk. S.

bidang. dan kemampuan untuk menyesuaikan dengan perkembangan terkini serta kesesuaian dengan karakteristik bahan/material yang digunakan Drs.Lampiran 3 Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik • Kemudian diperlengkap menjadi: Keberanian menggunakan titik.Pd Sesi 2 Pertanyaan Masukan peserta Bagaimanakah deskripsi untuk indikator penilaian hasil Drs. kualitas cara penggambaran. ketelitian dalam penyelesaian. ide-ide. Deskripsi indikator 1 disederhanakan menjadi Keaslian M.Pd Untuk indikator 3 deskripsinya adalah: Kemampuan peserta didik dalam menyesuaikan antara media/alat yang digunakan dengan bentuk-bentuk yang dibuat dalam karya lukisnya.Sn bentuk (kemampuan menciptakan bentuk yang khas). serta kebersihan karya yang dihasilkan Sutarno. S. dan keberhasilan karya Dody S Deskripsi indikator 3 disederhanakan menjadi: Kemampuan menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik Untuk tahap inti indikator 4 deskripsinya adalah: Kondisi peserta didik untuk mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh-sungguh Untuk tahap inti indikator 5 deskripsinya adalah: Penggunaan waktu sebaik-baiknya untuk membuat karya lukis Dody S Sutarno. ketelitian dalam penyelesaian. dan keberanian dalam mengorganisasikan unsur-unsur rupa tersebut Enrizal. garis. S. keaslian.Pd Untuk indikator 3 deskripsinya adalah: Kemampuan peserta didik dalam menyesuaikan antara media/alat yang digunakan dengan bentuk-bentuk yang dibuat dalam karya lukisnya. garis. S. keberhasilan karya. warna. bentuk karya lukis peserta didik. kebaruan teknik dan konsep cerita Bambang P. Susapto M. S. Suwarno Untuk penilaian produk indikator 1 deskripsinya adalah: Suatu produk dari hasil pemikiran atau perilaku peserta didik yang merupakan kekuatan konseptual melalui karya lukisnya yaitu meliputi kepekaan pada suatu masalah. dan kebersihan karya 282 . kemampuan abstraksinya. M.Pd Deskripsi indikator 2 disederhanakan menjadi: Kejelasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema Udawati.Pd Untuk indikator no 2 deskripsinya adalah: Suatu kelancaran dalam penuangan ide yang dilihat dari ketegasan pada goresan.

ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik 2 Kesiapan alat dan bahan Suatu kondisi peserta didik yang sudah yang akan digunakan siap melakukan tugas dengan perlengkapan untuk melukis bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya A.2 Tahap Inti 1 Kelancaran penuangan ide Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara kualitas ide yang dikembangkan dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut 2 Keberanian menggunakan Keberanian menggunakan media (alat dan media bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik inkonvensional dalam melukis Keberanian menggunakan Keberanian menggunakan titik. Kesimpulan Hasil dari FGD 2 ini adalah sebagai berikut: No A. 3 283 . Ketekunan Kondisi peserta didik untuk mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh-sungguh Pemanfaatan waktu Penggunaan waktu sebaik-baiknya untuk membuat karya lukis Komponen Produk Kreativitas Keaslian bentuk (kemampuan menciptakan bentuk yang khas). unsur-unsur bentuk bidang. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik.Lampiran 3 F. serta kebersihan karya yang dihasilkan 3 4 5 B 1 2. garis.1 1 Indikator Komponen Proses Tahap Awal Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Deskripsi Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi. A. kualitas cara penggambaran. kebaruan teknik dan konsep cerita Ekspresi Kejelasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema Teknik Kemampuan menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya.

Pd Dodi sudaryanto Dwi Udawati F (Ahli pengukuran ) (Ahli pengukuran) (Ahli pengukuran) ( Pakar seni lukis anak UNY) ( Guru seni lukis SD) ( Guru seni lukis MIN Tempel) ( Guru seni lukis SD Sapen II) 284 . S. maka dilaksanakan FGD tahap III untuk membahas rubrik skor penilaian proses dan produk serta instrumen awal penilaian diri dan kelompok. Target yang ingin dicapai Berdasarkan latar belakang. target dari FGD tahap III ini adalah menentukan rubrik penskoran untuk masing-masing indikator dalam penilaian proses dan produk serta membahas instrumen penilaian diri dan kelompok. Oleh karena itu. Latar belakang Sebuah penilaian yang baik mengandung kriteria yang berlaku secara umum. kevalidan. setelah menkentukan deskripsi indikator baik untuk penilian proses maupun penilaian produk langkah selanjutnya adalah pembuatan rubrik skor untuk menentukan kriteria dari setiap level penilaian yang diberikan.Pd Sutarno. Peserta yang hadir Dr.Si Bambang P. B. dan kereliabelan instrumen yang akan dibuat. selain diperlukan adanya pakar serta guru seni lukis. C. Dalam proses penyusunan rubrik skor ini. Berdasarkan alasan inilah. M. perlu juga adanya ahli pengukuran untuk memberikan masukan terkait dengan segi kepraktisan. Kriteria ini merupakan penjabaran dari deskripsi setiap indikator yang terdapat dalam penilaian. Heri Retnowati Suratno Mansyur. M.Lampiran 3 FOCUS GROUP DISCUSSION TAHAP III “ PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A.

M. Deskripsi pelaksanaan FGD tahap III dilaksanakan pada tanggal 10 April 2007 bertempat di Ruang Sidang Program Pascasarjana UNY. pembahasan awal instrumen penilaian diri dan kelompok Diskusi sesi 1 untuk menentukan rubrik penskoran penilaian proses. sangat relevan.30-18. baik.30-18.45 18. sangat kurang Untuk tahap inti indikator 1 level sangat baik kriteriannya adalah: sangat cepat.30 17. Mansyur. Diskusi sesi 2 untuk menentukan rubrik penskoran penilaian produk. sangat sesuai dengan media sedangkan untuk level lainnya menyesuaikan. pembahasan instrumen penilaian diri dan kelompok Penyimpulan dan penyampaian hasil diskusi Penutupan dengan doa bersama 15. S. dan sering atau sangat lengkap. relevan.45-19. kurang. misalnya untuk tahap awal indikator 2 Sangat baik kriterianya: sangat lengkap.Pd 285 .Lampiran 3 D. sangat siap digunakan Baik kriterianya: lengkap. siap digunakan Kurang kriteriannya: kurang lengkap. tidak relevan. lengkap. tidak siap digunakan Sangat kurang kriterianya: kurang lengkap . dan kurang lengkap Suratno Kriteria untuk setiap level dibuat dengan sederhana.Si Bambang P. kurang relevan.30-15. Heri Retnowati Level penilaian bisa berupa: tidak pernah. M.00-15. Untuk tahap inti indikator 2 level sangat baik kriterianya adalah: sangat cepat. Masukan peserta yang hadir Sesi 1 Pertanyaan Masukan peserta Bagaimanakah kriteria rubrik skor untuk penilaian proses Dr.Pd Sutarno. sangat tepat. cukup lengkap.45-17.30 15. sangat tepat.00 E.30 18. tidak siap digunakan Sebaiknya kriteria diganti menjadi sangat baik.45 Aktivitas Pembukaan mengutarakan maksud dan tujuan FGD diikuti dengan perkenalan peserta yang hadir Presentasi pengenalan topik yang akan dibahas yaitu menentukan rubrik penskoran untuk setiap indikator pada penilaian proses dan produk. Adapun jalannya pelaksanaan FGD tersebut disajikan pada tabel berkut: Waktu 15. cukup. jarang.

sangat artistik Untuk tahap inti indikator 4 level sangat baik kriterianya adalah:Sangat bersungguh-sungguh Untuk tahap inti indikator 5 level sangat baik kriterianya adalah:Karya selesai sebelum waktu berakhir Dodi sudaryanto Dwi Udawati F Sesi 2 Pertanyaan Bagaimanakah kriteria rubrik skor untuk penilaian produk Dr.Si Untuk penilaian produk indikator 2 level sangat baik kriteriannya: Sangat jelas Bambang P. S. Heri Retnowati Untuk penilaian produk indikator 1 level sangat baik kriteriannya: bentuk yang diciptakan sangat khas.Pd Dodi sudaryanto Dwi Udawati F F.Lampiran 3 sangat sesuai dengan karakteristik media sedangkan untuk level lainnya menyesuaikan Untuk tahap inti indikator 3 level sangat baik kriterianya adalah:sangat berani. biasa-biasa. M. konsep cerita sangat kaya Mansyur. sangat berani dalam karya Untuk penilaian produk indikator 3 level sangat baik kriteriannya:sangat sesuai karakteristik media. sangat tegas Untuk penilaian produk indikator 2 level sangat baik kriteriannya: sangat jelas. M. sangat tepat . teknik sangat inovatif. sangat bersih Untuk penilaian diri dan penilaian kelompok katagori jawaban dapat dibuat dengan menggambar ekspresi muka baik itu marah. sangat tegas.Pd Untuk penilaian produk indikator 2 level sangat baik kriteriannya: sangat jelas. sangat cermat. atau senang Masukan peserta Sutarno. teknik sangat inovatif Suratno Untuk penilaian produk indikator 1 level sangat baik kriteriannya: bentuk yang diciptakan sangat khas. Kesimpulan Kesimpulan FGD tahap III ini dapat dilihat pada tabel 286 .

Kurang • • • • 287 .Lampiran 3 Tabel 3 Rangkuman Hasil FGD Ketiga No 1 Indiaktor Komponen Proses tahap Awal Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Deskripsi Level Kriteria • • • • • • • • Bertanya seperlunya seputar tema lukisan kepada guru Tidak pernah mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan sangat cepat Memperlihatkan kegairahan yang sangat tinggi untuk memulai melukis Jarang bertanya seputar tema lukisan kepada guru Jarang mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan cepat Memperlihatkan kegairahan yang tinggi untuk memulai melukis Sering bertanya seputar tema lukisan kepada guru Cukup sering mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan cukup cepat Memperlihatkan kegairahan yang cukup tinggi untuk memulai melukis Sangat sering bertanya seputar tema lukisan kepada guru Sering mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan lambat Memperlihatkan kegairahan yang kurang untuk memulai melukis Reaksi peserta didik berupa 4. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik 3. Baik 2. Sangat baik perilaku (ekspresi. Cukup • • • • 1.

Lampiran 3 No 2 Indiaktor Kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis Deskripsi Level Suatu kondisi peserta didik 4. Kurang No 3 Indiaktor Komopnen Deskripsi Level Proses tahap Inti Kelancaran penuangan Kondisi peserta didik pada 4. Sangat baik yang sudah siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya 3. Cukup 1. Sangat baik waktu membuat karya lukis ide yaitu adanya keseimbangan antara ide yang ada dalam diri siswa dengan keterampilan 3. Baik untuk memvisualisasikan ide tersebut 2. Kurang 288 . Cukup Kriteria • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan sangat lengkap • Alat dan bahan sangat siap untuk digunakan • Alat dan bahan sangat mendukung kegiatan melukis • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan lengkap • Alat dan bahan siap untuk digunakan • Alat dan bahan mendukung kegiatan melukis • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan cukup lengkap • Alat dan bahan cukup siap untuk digunakan • Alat dan bahan sangat mendukung kegiatan melukis • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan kurang lengkap • Alat dan bahan kurang siap untuk digunakan • Alat dan bahan kurang mendukung kegiatan melukis Kriteria • • • • • • • • • • • Sangat cepat dalam menemukan ide Sangat tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide Sangat cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Cepat dalam menemukan ide Tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide Cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Cukup cepat dalam menemukan ide Cukup tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide Cukup cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Lambat dalam menemukan ide Kurang tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide 1. Baik lukisnya 2.

Sangat baik media (alat dan bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik bebas dalam melukis 3. Baik 2. Baik Kriteria • Variasi unsur-unsur bentuk (garis. Kurang Kriteria • Sangat cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Sangat tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media sangat sesuai dengan karakteristiknya • Cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media sesuai dengan karakteristiknya • Cukup cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Cukup tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media cukup sesuai dengan karakteristiknya • Lambat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Kurang tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media kurang sesuai dengan karakteristiknya No 5 Indiaktor Keberanian menggunakan unsur bentuk Deskripsi Level Kemampuan menggunakan 4.Lampiran 3 • Lambat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media No 4 Indiaktor Keberanian menggunakan media Deskripsi Level Kemampuan menggunakan 4. garis. Sangat baik unsur. dan warna untuk menghasilkan bentuk yang orisional/khas 3. Cukup 1. bidang) mendukung pertimbangan estetik • Penggunaan warna mendekati warna sebenarnya 289 . bidang. bidang) sangat mendukung pertimbangan estetik • Penggunaan warna sangat mendekati warna sebenarnya • Sangat berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis • Variasi unsur-unsur bentuk(garis.titik.

Baik sungguh 2. Cukup 1. Cukup 1.4. Kurang No 8 Indiaktor Komponen Produk Kreativitas Deskripsi Level • • • • • • • • • • • • • • • • Kriteria • • Berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis Variasi unsur-unsur bentuk (garis. Sangat baik menciptakan bentuk-bentuk baru) Tidak pernah melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang sangat tinggi dalam memodifikasi objek 290 . bidang) mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna tidak mendekati warna sebenarnya Kurang berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis Menyelesaikan karya lukis dengan sangat tepat waktu Memperlihatkan hasil karya lukis yang sangat tuntas Menyelesaikan karya lukis dengan tepat waktu Memperlihatkan hasil karya lukis yang tuntas Menyelesaikan karya lukis dengan cukup tepat waktu Memperlihatkan hasil karya lukis yang cukup tuntas Menyelesaikan karya lukis dengan kurang tepat waktu Memperlihatkan hasil karya lukis yang kurang tuntas Sangat serius dalam membuat karya lukis Perhatian terhadap karya lukis sangat terfokus Serius dalam membuat karya lukis Perhatian terhadap karya lukis terfokus Cukup serius dalam membuat karya lukis Perhatian terhadap karya lukis cukup terfokus Tidak serius dalam membuat karya lukis Perhatian terhadap karya lukis kurang terfokus Keaslian bentuk (kemampuan 4.3. Kurang 7 Ketekunan Kondisi peserta didik untuk 4.Lampiran 3 • 2. Cukup • • • 1. Sangat baik untuk 3. bidang) cukup mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna cukup mendekati warna sebenarnya Cukup berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis Variasi unsur-unsur bentuk sedikit (garis. Baik 2. Kurang • • • 6 Pemanfaatan waktu Penggunaan waktu baiknya dilakukan membuat karya lukis sebaik. Sangat baik mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh.

Cukup 1. Baik 2. Baik • Kriteria • Sangat jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan • Sangat tegas/ spontan dalam mengungkapkan garis • Sangat berani dalam mengorganisasikan unsur-unsur karya lukis • Jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan • Tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna 291 .Lampiran 3 • • • • • • • • • • • • • • • • • Warna yang digunakan sangat bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang sangat tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang sangat banyak Jarang melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang tinggi dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang banyak Cukup sering melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan cukup bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang cukup banyak Sering melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang kurang dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan kurang bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang kurang dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang kurang banyak 3. Sangat baik mengungkapkan isi/tema/konsep lukisan 3. Kurang No 9 Indiaktor Ekspresi Deskripsi Level Kejelasan dalam 4.

Kurang Kriteria • Alat dan bahan yang digunakan sangat sesuai karakteristiknya • Sangat teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan sangat bersih • Alat dan bahan yang digunakan sesuai karakteristiknya • Teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan bersih • Alat dan bahan yang digunakan cukup sesuai karakteristiknya • Cukup teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan cukup bersih • Alat dan bahan yang digunakan kurang sesuai karakteristiknya • Kurang teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan kurang bersih 292 . Cukup 1. Sangat baik dan bahan sesuai dengan karakteristiknya serta kebersihan karya yang dihasilkan 3.Lampiran 3 • • • • 1. Baik 2. Kurang • • • Berani dalam mengorganisasikan unsur-unsur karya lukis Cukup jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Cukup tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Cukup berani dalam mengorganisasikan unsur-unsur karya lukis Kurang jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Kurang tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Kurang berani dalam mengorganisasikan unsur-unsur karya lukis 2. Cukup No 10 Indiaktor Teknik Deskripsi Level Kemampuan menggunakan alat 4.

Pd Sudiyatno.Pd Sujiatno. instrumen penilaian diri. instrumen penilain diri.Pd Wasis. M. II. M. Latar belakang Berdasarkan hasil yang diperoleh dari FGD tahap I. target dari seminar ini adalah untuk melakukan fiksasi terhadap instrumen penilaian seni lukis anak yang terdiri dari instrumen penilaian proses dan produk. B. M. dilaksanakanlah seminar instrumen dengan melibatkan pakar seni lukis anak .Pd Endang Sulistyowati. M. Peserta yang hadir Prof. Target yang ingin dicapai Berdasarkan latar belakang. M.Pd Harun.Lampiran 4 SEMINAR “ PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. serta mahasiswa S3 program studi PEP. Ph. C. Namun demikian. instrumen yang telah disusun tersebut masih memerlukan fiksasi dari ahli-ahli pengukuran. M.D Dr. ahli pengukuran. maka disusunlah instrumen penilaian seni lukis anak yang terdiri dari instrumen penilaian proses dan produk.Pd Mansur. dan instrumen penilaian kelompok. Heri Retnowati Suratno. Oleh karena itu.Pd (Pakar seni lukis anak/promotor) (Ahli pengukuran) (Ahli pengukuran) (Ahli pengukuran) ( Dosen dan Mahasiswa PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) 293 . M. dan instrumen penilaian kelompok. Sofyan Salam. M. dan III.Pd Kulsum.

40 E.15 Aktivitas Pembukaan mengutarakan maksud dan tujuan seminar diikuti dengan perkenalan peserta yang hadir Presentasi pengenalan topik yang akan dibahas yaitu instrumen penilaian proses dan produk. Masukan peserta yang hadir Sesi 1 Pertanyaan Masukan peserta Berapa persenkah bobot untuk penilaian proses dan produk Prof. M.00-08.15-10.30-08.D Kata-kata sangat atau segera dihilangkan karena indikator yang menyatakan sangat atau segera sangat sulit ditentukan Dr.Sofyan Salam. kita tidak harus menggunakan sistem hierarkis artinya dari atas kebawahtetapi bebas kriteria yang terpenuhi Harun.Pd Penentuan level dilakukan berdasarkan banyaknya keterpenuhan kriteria.Pd Suatu instrumen harus disusun sesederhana mungkin tetapi mewakili apa yang ingin kita ketahui dengan instrumen itu.15 10.30 08. M. dengan demikian setiap level mengandung kriteria yang sama hanya tingkat keterpenuhannya yang berbeda Mansur. M.30-10. Oleh karena itu. dan instrumen penilaian kelompok Diskusi sesi 1 untuk fiksasi instrumen penilaian proses dan produk Diskusi sesi 2 untuk fiksasi instrumen penilaian diri dan kelompok Penyimpulan dan penyampaian hasil diskusi Penutupan dengan doa bersama 08.15-09. Deskripsi pelaksanaan Seminar dilaksanakan pada tanggal 16 April 2008 bertempat di Ruang Diskusi Mahasiswa Program Pascasarjana UNY.Lampiran 4 D. 294 .15-10. misalnya sebagai berikut: • Sangat baik jika ketiga kriteria terpenuhi • Baik jika hanya dua kriteria yang terpenuhi • Kurang jika hanya satu yang terpenuhi • Sangat kurang jika tidak ada satu pun kriteria yang terpenuhi Suratno. Adapun kronologis pelaksanaan seminar tersebut disajikan pada tabel berkut: Waktu 08.30 10. Heri Retnowati Penentuan level dilakukan dengan menentukan banyaknya kriteria yang dipenuhi. instrumen penilaian diri.Pd Dalam menentukan level dengan cara menentukan banyaknya kriteria yang dipenuhi.15 09. Ph.

M. M.Pd Selain dari segi konten. netral berwarna kuning. Kesimpulan Kesimpulan dari seminar ini berupa draft instrumen penilaian seni lukis anak yang siap digunakan. M. 295 .Pd Sesi 2 Pertanyaan Masukan peserta Apakah indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak Prof. sebuah angket perlu juga memperhatikan desainnya seperti identitas siswa hal ini dimaksudkan agar pengisian angket tidak dilakukan serta merta. Ph. senang berwarna hijau. M.D Penggunaan gambar pada sebuah angket merupakan sesuatu yang baru dan menarik serta mudah digunakan siswa Dr.Pd Agar lebih menarik. M. Instrumen tersebut akan berdampak pada tingkat keakuratan siswa dalam mengungkapkan perasaanya terkait dengan aktivitas seni rupa yang dilakukan F. praktisi yaitu guru seni akan lebih mudah dalam menggunakan instrumen ini Penentuan level penilaian dengan metode tingkat keterpenuhan kriteria akan mempermudah guru dan menghemat waktu penggunaanya Endang Sulistyowati.Pd Soal berbentuk uraian cukup diberikan satu soal karena untuk menghindari kejenuhan siswa dalam menuliskan ungkapan ekspresinya Mansur. jadi keterpenuhan kriteria tidak harus dari atas ke bawah atau sebaliknya. M. Kulsum. Harun. M.Sofyan Salam. M.Pd Sujiatno. Misal marah berwarna merah. sebaiknya gambar yang dimunculkan diberi aksen warna yang disesuaikan dengan gambar tersebut. tetapi dapat diacak Dengan tidak memberlakukannya sistem hierarkis.Lampiran 4 kriteri ada baiknya dibatasi maksimal terdiri dari tiga buah kata Perlu dilakukan penyederhanaan kata-kata agar lebih mudah untuk digunakan Setiap kriteria tidak menunjukan tingkatan. perlu juga ditambahkan adanya soal yang berbentuk uraian agar siswa dapat lebih mengekspresikan perasaanya Suratno. Heri Retnowati Disamping adanya soal pilihan ganda.Pd Sudiyatno.Pd Wasis.Pd Instrumen penilaian yang dikombinasikan dengan gambar merupakan sesuatu yang baru dan menarik.

Kelancaran penuangan ide 2. Tanggapan anak tentang tema lukisan yang akan dibuat 2. 1 2 3 4 5 1 2 3 C. Kreativitas dari karya yang dihasilkan 2. 296 . Indikator Tahap awal 1. Kesiapan bahan dan alat yang akan digunakan untuk melukis Tahap inti 1. Keberanian menggunakan media 3.Lampiran 5 KISI-KISI INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” KISI-KISI LEMBAR EVALUASI DIRI No 1 2 3 Indikator Perasaan siswa terhadap tugas yang diberikan Kemampuan siswa dalam mengerjakan tugas Perasaan siswa terhadap karya yang dihasilkan KISI-KISI LEMBAR EVALUASI KELOMPOK No 1 2 3 4 Indikator Kemampuan siswa dalam menggambar objek Kemampuan siswa dalam memilih warna Kebersihan karya Penilaian terhadap lukisan secara keseluruhan Butir 1 2 3 4 Butir 1 2. Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk 4.3 4 KISI-KISI ANGKET PENILAIAN PROSES DAN PRODUK No A. Teknik dari karya yang dihasilkan Butir 1 2 B. Pemanfaatan waktu 5. Ekspresi dari karya yang dihasilkan 3. Ketekunan dalam membuat karya Tahap akhir 1.

Baik Kriteria Terpenuhi 3 aspek • Menerima • Memahami • Melaksanakan Terpenuhi 2 aspek • Menerima • Memahami • Melaksanakan Terpenuhi 1 aspek • Menerima • Memahami • Melaksanakan Tidak terpenuhi 3 aspek • Menerima • Memahami • Melaksanakan Terpenuhi 3 aspek • Lengkap • Relevan • Siap digunakan Terpenuhi 2 aspek • Lengkap • Relevan • Siap digunakan 2.Sangat kurang 2 Kesiapan alat dan bahan Suatu kondisi peserta didik yang 4. Sangat baik yang akan digunakan sudah siap melakukan tugas untuk melukis dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya 3. Sangat baik perilaku (ekspresi. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik 3. Tahap Awal No 1 Indikator Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Deskripsi Level Reaksi peserta didik berupa 4. Baik 297 . Kurang 1. PROSES PEMBELAJARAN 1.Lampiran 5 RUBRIK SKOR RUBRIK SKOR PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A.

Tahap Inti No 1 Indikator Kelancaran ide Level penuangan Kondisi peserta didik pada 4.Sangat kurang 2 Keberanian menggunakan media Keberanian menggunakan media 4. Kurang Terpenuhi 1 aspek • Lengkap • Relevan • Siap digunakan Tidak terpenuhi 3 aspek • Lengkap • Relevan • Siap digunakan 1. Kurang 1. Sangat baik waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara kualitas ide yang dikembangkan dengan keterampilan untuk 3. Sangat baik (alat dan bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik 298 .Sangat kurang 2.Lampiran 5 2. Baik memvisualisasikan ide tersebut Kriteria Terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Terpenuhi 2 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Terpenuhi 1 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Tidak terpenuhi 3 aspek • Lambat • Tepat • Sesuai dengan media Terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media 2.

Sangat kurang 3 Keberanian menggunakan unsur bentuk Keberanian menggunakan titik.garis. Sangat baik mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguhsungguh 3. 4.Sangat kurang 4 Ketekunan Kondisi peserta didik untuk 4. Sangat baik unsur. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik. Kurang 1. Baik Bersungguh-sungguh . Baik Terpenuhi 2 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Terpenuhi 1 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Tidak terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Terpenuhi 3 aspek • Berani • Tepat • Artistik Terpenuhi 2 aspek • Berani • Tepat • Artistik Terpenuhi 1 aspek • Berani • Tepat • Artistik Tidak terpenuhi 3 aspek • Berani • Tepat • Artistik • • 299 Sangat bersungguh-sungguh 2. bidang. 3. Kurang 1. Baik 2.Lampiran 5 inkonvensional dalam melukis 3.

Sangat baik menciptakan bentuk yang khas). Kurang 300 .Sangat kurang B. Baik Kriteria Terpenuhi 3 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Terpenuhi 2 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Terpenuhi 1 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya 2. Kurang • 1. Baik • 2.Lampiran 5 2. Kurang 1.Sangat kurang • 5 Pemanfaatan waktu Penggunaan waktu baiknya dilakukan membuat karya lukis sebaik.4. Sangat baik untuk 3. PRODUK No Indikator 1 Kreativitas • • Karya selesai tepat waktu Karya hampir selesai saat waktu berakhir Karya tidak selesai saat waktu berakhir • Tidak bersungguh-sungguh Kurang bersungguh-sungguh Karya selesai sebelum waktu berakhir Level Keaslian bentuk (kemampuan 4. kebaruan teknik dan konsep cerita 3.

serta kebersihan karya yang dihasilkan 3.Sangat kurang 3 Teknik Kemampuan menggunakan alat 4. Sangat baik mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema 3.Lampiran 5 1. kualitas cara penggambaran.Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Terpenuhi 3 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Terpenuhi 2 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Terpenuhi 1 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Tidak terpenuhi 3 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Terpenuhi 3 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Terpenuhi 2 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih 2. Ekspresi Kejelasan dalam 4. Baik 2. Kurang 1. Baik 301 . Sangat baik dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya.

Sangat kurang 302 .Lampiran 5 2. Kurang Terpenuhi 1 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Tidak terpenuhi 3 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih 1.

...................... Keberanian menggunakan unsurunsur bentuk 4............... Pemanfaatan waktu 5...... Tanggapan anak tentang tema lukisan yang akan dibuat 2......... 303 ....... Kelancaran penuangan ide 2........................ Kesiapan bahan dan alat yang akan digunakan untuk melukis A....................................2 Tahap inti 1.................. Teknik dari karya yang dihasilkan Catatan: ............ Kreativitas dari karya yang dihasilkan 2..... Ekspresi dari karya yang dihasilkan 3.......... ....Lampiran 5 ANGKET PENILAIAN PROSES DAN PRODUK ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ANAK” Nama siswa : KODE G02 Kelas/semester : Nama tugas Tanggal Nama penilai : : : Berilah tanda v pada kolom yang sesuai dengan pilihan anda! No Indikator Sangat baik (4) A A..... Keberanian menggunakan media 3........................................................................................1 Proses Tahap awal Baik (3) Kurang (2) Sangat kurang (1) 1.................... Ketekunan dalam membuat karya B Produk 1...............

............... Saya .............. Ceritakanlah pengalaman menarikmu serta kendala-kendala yang dihadapi selama pembuatan karya lukis serta usaha-usaha untuk mengatasi kendala-kendala tersebut ! .............. 304 .............. ... dalam mengerjakan tugas.......................................................... dalam proses penciptaan karya saya 4......................................................... Saya..................terhadap hasil pekerjaan saya................................................................................. ......................................... 3...................................terhadap tugas yang diberikan.................................... Saya .......... KODE S01 2........................................ Saya..Lampiran 5 LEMBAR PENILAIAN DIRI ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ANAK” Nama : Tanggal : Nama tugas : Tanggal pengumpulan : Berilah tanda v pada kotak yang dipilih! 1......................................

Saya…………………terhadap lukisan secara keseluruhan........................................................................... KODE S02 2.....................Lampiran 5 LEMBAR PENILAIAN KELOMPOK (Peer Assessment) ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ANAK” Nama pemilik : Tanggal : Nama tugas : Tanggal pengumpulan : Berilah tanda v pada kotak yang dipilih! 1... Saya …………………terhadap komposisi warna yang digunakan.......................... ................ ......terhadap kebersihan lukisan 4........................................................................................................................................................................terhadap bentuk objek lukisan............ Saya ... Berilah saran dan pendapatmu terhadap karya lukis yang dibuat! .......... 3....................... Nama penilai: 305 ............... Saya…………………..........

  Malaghina Kusuma H  Rio Satya Fauzi  Freddy PP  Siti Aziroh Rahmatika  Shella Kumalasari  Shelli Puspitasari  Sugiharto.M  306 .Lampiran 6 Data Penilaian Proses Kelas I  Nama  Ade Firmansyah  Daffa Malik Falaq  Deandra Visto D  M.  Amelia Noor Putri M  Artantri Widasari  Chatarine Dyela Eillen R  Dicky Armayuda  Eridani Kartiko Adi  Gatot Ismail  Gufron Gilang Zahru Saputra  Indah Budi Kartikarini  Insan Fadilah Harvianto  Ismalia Ramadhani Putri  M.Lutfi Mahendra  M.N  Siska Tri W  Yacinta Nararia S  Karizma Putri R  Salwa Sauzan R  Alfia Rahma De  Anissa N.B. Dava Surya Abi Y. Farid Abdurrahman        Sutarno  1  3  3  4  4  3  4  3  3  2  4  3  4  4  4  4  3  3  3  4  3  4  1  4  3  3  4  4  3  4  4  2  2  4  4  3  3  4  4  2  4  4  4  2  4  4  4  4  4  4  4  4  2  4  4  4  4  4  4  4  4  2  2  4  4  3  4  2  3  2  4  4  4  4  3  4  4  3  1  4  3  4  4  2  3  3  3  4  3  4  4  2  2  4  4  4  3  4  4  3  3  4  4  2  2  4  4  4  4  4  4  4  2  4  4  3  3  3  3  2  4  2  3  4  4  2  4  2  2  2  3  3  3  4  3  4  3  2  3  3  2  3  3  3  3  3  4  4  3  3  4  2  2  4  4  3  3  3  4  3  4  4  3  3  3  4  4  3  4  4  4  4  4  4  3  3  4  3  4  3  4  1  3  4  4  3  4  2  3  2  3  3  4  4  3  3  3  2  3  3  3  3  3  3  2  3  4  4  4  4  4  2  2  4  4  3  2  4  3  3  4  4  3  3  4  4  4  3  4  4  3  4  3  4  3  3  4  3  4  2  4  1  2  4  4  2  4  2  3  1  2  3  3  4  3  3  2  2  3  4  1  3  2  2  2  3  4  4  4  3  4  2  2  4  4  3  2  4  3  4  4  4  3  3  3  3  4  3  4  4  3  4  2  4  3  3  4  3  4  4  4                  Udawati  2  3  4  4  2  4  2  2  2  3  3  3  4  3  4  2  2  3  3  3  3  3  3  3  3  4  4  3  3  4  2  2  4  3  3  3  3  3  3  4  4  3  3  3  4  4  4  4  4  4  4  4  4  3  3  3  3  4  3  4  1  3  4  4  3  4  2  3  2  3  4  3  4  3  3  3  2  3  3  3  3  3  3  2  3  4  4  4  4  4  2  3  4  3  3  3  4  3  3  4  4  3  3  4  4  4  3  4  4  3  4  3  4  3  3  3  3  3  2  4  1  2  4  4  2  4  2  3  1  3  3  3  4  3  3  3  2  3  3  1  3  2  2  2  3  3  4  4  3  4  2  2  4  2  3  3  4  3  4  4  4  3  3  3  3  4  4  4  4  3  4  2  4  3  3  3  3  4  3  4  2  3  2  4  3  2  3  3  3  4  2  3  4  3  3  2  3  4  2  3  2  2  4  3  3  3  4  3  3  4  2  3  3  3  3  3  4  3  4  4  4  3  3  3  4  4  3  4  3  3  4  2  4  4  3  4  4  4  2  4              Dodi  1  3  3  4  3  4  2  3  2  2  3  3  4  4  4  3  2  3  3  3  3  3  3  2  3  4  4  4  4  4  2  2  4  4  3  3  3  4  3  4  4  3  3  4  4  4  3  4  4  3  4  3  4  3  3  3  4  4  3  4  1  2  3  4  2  4  2  3  1  2  3  3  4  4  4  3  2  3  2  3  3  2  2  2  3  4  4  4  3  4  2  2  4  4  3  4  3  4  4  3  4  3  3  3  3  4  3  4  4  3  4  2  4  3  3  3  3  3  3  4      2  3  4  5  6  7  1  2  3  4  5  6  7  1  2  3  4  5  6  7  2  3  4  4  3  4  3  3  3  3  3  3  4  3  3  3  3  4  4  3  2  2  4  3  3  3  4  3  3  4  2  3  3  3  3  3  4  4  4  4  4  3  3  3  4  4  3  4  4  3  4  2  4  4  3  4  4  4  2  4  1  2  2  2  1  2  1  1  2  2  2  2  4  2  2  2  3  3  3  3  3  3  3  3  4  4  3  4  4  4  2  3  3  3  4  3  3  4  4  4  4  4  4  4  4  4  4  4  4  3  4  2  4  4  4  3  3  4  3  4  3  3  4  4  3  4  3  3  2  2  3  3  4  2  4  2  3  3  3  3  4  1  4  3  3  4  4  3  4  4  2  2  4  3  3  3  4  3  2  4  4  4  2  4  4  4  3  4  4  4  4  2  4  4  4  3  4  4  3  4  2  2  4  4  3  4  2  3  2  3  3  3  4  3  3  3  3  1  3  3  4  4  2  3  3  3  4  3  4  4  2  2  4  3  4  3  4  3  3  3  4  4  2  2  4  4  3  4  4  4  4  2  4  4  3  3  4  2  2  4  1  2  3  2  1  4  1  1  2  3  3  3  4  3  4  3  3  3  3  2  3  3  3  3  4  4  3  3  4  4  2  3  3  3  4  3  3  3  4  4  4  4  4  4  4  4  3  4  4  3  4  2  4  4  4  4  4  4  2  4  3  3  3  4  3  4  3  3  2  1  1  2  4  4  4  3  3  3  1  1  4  1  4  3  3  4  4  3  4  4  2  2  4  4  3  3  4  3  2  4  4  4  2  4  4  4  3  4  4  4  4  2  4  4  4  4  4  4  3  4  2  2  3  4  3  4  2  3  2  3  3  3  4  4  4  3  3  1  3  3  4  4  2  3  3  3  4  3  4  4  2  2  4  4  4  4  4  4  3  4  4  4  2  2  4  4  4  4  4  4  4  2  4  4  3  4  4  2  2  4  2  3  4  4  2  4  2  2  2  2  3  3  4  4  4  3  2  3  3  3  3  3  3  3  3  4  4  3  3  4  2  2  4  4  3  4  4  4  3  4  4  3  3  3  4  4  3  4  4  4  4  4  4  3  3  4  4  4  4  4  2  3  3  4  3  4  3  3  3  4  2  2  4  3  3  2  3  4  2  3  2  2  4  3  3  4  4  4  3  4  2  3  3  4  3  3  4  3  4  4  4  3  3  3  4  4  2  4  4  3  4  2  4  4  3  4  4  4  1  4  1  2  3  2  1  2  1  1  2  2  3  2  4  4  4  3  3  3  3  3  3  3  3  3  4  4  3  3  4  4  2  3  3  4  4  3  4  3  4  4  4  4  4  4  4  4  3  4  4  3  4  2  4  4  4  4  4  4  2  4  Muhammad Roofi'l A  Nida Salma Hajaroh  Nurfitri Andani  Ragil Saputro Mujiono  Rif'atul Widaan Khotibin Tamhid  Royhan Ikbar  Sekar Cendana Arum  Nadila Fatimatuzzahra A.A.Naufal Rizqita  Rayhan Adikusuma  Rizky Dafa P  Aqlia Tsalisa Azmani  Ashylla Paramadanti  Cahyaningtyas Iftitah  Chairunnisa Yulia W  Dyah Pradina P  Dyah Sekar Ayu K  Fahra Prahastanti P  Hana Fazah Nur S  Keisha Amadea  Nabila Permata Sari  Nur Azizah  Ranita Salsabila  Ria Rahma Sukma W  Septiana Tidar  Andika Bagas  Andi Maulana  Ade Itko M  Anindita Dara L  David Revaru  Vebrian Agung W  Kurniawan Dwi Y  M.

Abdul Gani Sarining Hanggani Kasih Teddy Arfansyah N Yuliana Larasari Dikta Wahyu Pratama Awang Pramono Isla Magda S Joko Bagus B Novia Permatasari Kusuma Nuraini Yulia Catur Wulandari Ikhsan Panji Irawan A'Issyatun Wahyu Ningsih Ainun Amaliya Paramita Arini Dewi Nuraini Chusnunnisa Suryanudin Ummu Habibah Halida Salsabila Hasna Maretta Sausana Hasna Ulfiaa Humairoh Rosida Akhir Khilmi Khayatun Nisha Kiki Dwi Widyasari Lutfina Aribah Miftakhurrohmah Nafisa Ainurrahmah Novryan Armawida Rizki Putri Utami Salman Kurnia Haq Sinta Primadita Siti Maryam S Wakhid Hasyim Sutarno 1 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 4 3 3 3 4 4 3 4 4 3 2 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 Udawati 6 4 4 2 4 2 2 3 3 4 4 3 3 4 3 4 4 4 4 4 3 2 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 3 4 2 3 4 4 4 3 3 4 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 2 4 4 Dodi 6 4 4 3 4 4 2 3 2 2 3 2 3 4 3 4 4 4 3 2 2 2 3 4 4 3 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 2 4 3 3 2 3 4 4 3 3 3 4 2 3 3 3 4 4 4 4 3 3 2 4 4 2 3 4 3 1 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 2 3 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 3 4 4 3 4 4 4 2 3 4 4 4 3 4 4 2 2 2 2 4 2 4 4 3 3 4 3 3 4 4 2 3 4 3 4 3 3 3 4 4 4 4 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 3 4 3 2 3 3 4 3 4 3 3 4 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 4 4 4 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 4 3 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 4 4 2 3 3 5 3 4 3 4 4 4 2 2 3 4 4 3 2 4 4 4 4 4 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 4 3 3 4 4 4 3 3 3 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 2 3 4 7 3 3 3 3 4 4 1 2 2 2 3 2 2 2 2 4 4 4 3 2 4 4 4 4 3 4 2 3 3 3 4 4 4 4 4 2 4 3 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 2 4 4 1 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 2 3 3 4 4 3 3 3 3 4 3 4 3 4 3 3 4 3 3 4 3 4 4 4 4 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 3 3 2 4 4 2 3 4 3 1 4 4 3 3 3 4 4 3 4 3 2 4 3 4 2 3 2 3 3 4 4 4 3 4 3 4 3 4 3 4 3 2 4 3 3 4 3 4 4 3 2 3 4 3 4 3 3 4 2 2 2 2 3 2 4 4 3 3 4 3 3 2 4 2 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 2 3 3 4 4 3 4 3 4 4 3 4 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 4 2 3 2 3 4 4 4 3 4 3 2 3 3 4 3 4 2 3 4 4 3 3 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 4 4 4 3 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 3 2 3 3 5 3 4 3 4 4 4 2 2 3 4 3 3 2 3 4 4 4 3 2 3 2 3 4 3 4 3 2 4 3 4 3 3 3 4 3 2 4 2 2 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 2 3 4 4 3 3 3 3 2 4 4 7 3 3 3 3 4 4 1 3 4 3 3 3 2 4 4 4 4 3 2 3 4 4 4 4 3 2 4 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 3 3 3 3 4 4 3 3 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 2 3 4 1 3 4 3 3 2 4 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 3 3 4 3 3 4 3 4 4 4 4 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 3 4 2 4 4 2 3 4 3 1 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 3 4 4 3 4 4 4 2 3 4 4 4 4 4 4 2 2 2 2 4 2 4 4 3 3 4 2 3 4 2 2 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 4 2 3 2 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 3 2 3 3 5 3 3 3 4 4 4 2 2 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 4 4 2 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 4 4 3 2 4 4 6 4 4 3 4 4 4 3 2 3 3 4 3 4 3 4 4 3 4 4 3 2 3 4 4 3 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 2 4 3 3 2 3 4 4 4 3 3 4 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 2 4 4 7 3 4 3 3 4 4 1 3 4 4 4 4 2 4 2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 2 4 3 4 3 3 4 4 4 3 3 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 2 3 4 307 .W Pradipta Wisnu Timur Dwi Indraja Agni Vasha Salsabila Alvira Niryana Aulia Astagina Dhiyaurrohmah Kamila Muyasaroh Melinia Debbytasari Noor Diana Arrasyid Oktaviana Rahindra Shafa Nabilla Haya Sheila Alfauziya P Yuliana Zahrajuncta Lusiana Martini Amelia Prisca Brigita Anggun Pratiwi Anisa Nur Rahmah Arviananda Ade H Bintang Nugrahani Galang Permataputra Galuh Intisari Muh. Aqib Husni Fadhli Muh. Tsani Ihsani Y Muh.Zauhar Nanda Naya P.Lampiran 6 Data Penilaian Proses Kelas II Nama Afkar Zaka Y Alif Fahmi Mahendra Azka Hikam Z M.

 Miftahul Firdaus  Anggi Dwina Siregar  Rusmini  Afiana Nurkholishotus Shohibah  Andi Rahmat Wulansyah  Eka Yuliani  Fegi Tri Damayanti  Fitri Nurul Hanifah  Imam Zuhdi  Inna Rahmatul Ulya  Jalu Ukir Damatama  Hilda Ayu Wibisana  Ninggih Annisa Daniswara  Pilar Paksi Pratama  Rafli Khooinurizal  Rapsanjani  Riswa Rahman Fahmi  Rivani Rahmania Afifah  Rizki Nur Chaerani  Rizqi Haritz Pebiantara  Zanityara Syah Syadila  Zetta Nillawati Reyka Putri  Nurul Arifah        Sutarno  2  3  3  4  4  3  3  3  4  4  3  4  4  4  4  3  3  3  3  3  2  3  3  3  3  4  3  4  4  3  4  2  4  3  4  4  4  4  3  3  4  3  2  3  4  4  4  4  3  3  4  4  3  2  4  3  4  4  4  4  2  4  3  4  4  3  3  3  3  4  3  4  4  4  4  4  4  2  4  4  2  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  2  4  3  4  4  3  3  4  3  4  4  4  4  4  4  3  3  3  3  4  3  2  2  3  4  4  4  4  4  3  3  3  4  4  1  3  3  4  4  3  3  4  4  4  3  3  3  3  3  2  2  2  3  3  4  3  3  3  3  3  2  4  3  3  3  4  4  3  3  4  3  3  3  4  3  3  4  3  4  3  3  3  2  4  3  4  3  3  3  2  3  3  4  4  2  3  3  4  3  4  4  4  4  4  3  3  3  4  3  2  2  3  3  3  4  3  3  3  4  4  2  3  3  3  3  4  4  3  4  3  3  3  3  4  3  3  4  2  4  3  3  3  2  3  2  4  3  3  2  1  3  3  4  4  2  2  2  4  3  3  4  4  3  4  3  3  3  3  3  2  2  3  3  3  4  3  3  3  4  4  2  4  3  4  3  4  4  3  4  4  3  3  3  4  3  3  4  2  4  3  4  3  2  3  2  4  3  3  2  3  3  3  4  4  4  3  3  3  3  3  3  4  3  3  3  3  3  4  3  4  2  3  2  3  4  3  4  4  4  4  2  4  2  3  3  4  3  3  3  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  3  4  3  2  3  4  4  2  3  3                Udawati  3  3  3  4  4  3  3  3  3  4  3  3  4  4  4  3  3  3  3  3  2  2  2  3  3  4  3  3  3  2  4  2  3  3  3  3  4  4  3  3  4  4  3  3  4  3  3  4  3  4  3  3  3  2  3  3  4  3  3  3  2  3  3  4  4  3  3  3  3  3  3  4  4  4  4  3  3  3  4  3  2  2  3  3  3  4  3  3  3  3  4  2  3  3  3  3  3  4  3  4  4  3  3  3  4  3  3  4  2  4  3  3  3  2  3  3  3  3  3  2  1  3  3  4  4  3  3  3  3  4  3  4  4  3  4  3  3  3  3  3  2  2  3  3  3  4  3  4  3  2  4  2  3  3  4  2  4  4  3  4  4  3  3  3  4  3  3  4  2  4  3  4  2  2  3  3  3  3  3  2  3  3  3  4  4  4  3  3  3  3  3  3  4  3  3  3  3  3  4  3  4  2  3  2  3  4  4  4  4  3  4  2  3  2  3  4  4  3  3  3  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  3  4  3  2  3  3  4  2  3  3              Dodi  2  3  3  4  4  3  3  3  3  4  2  2  4  4  4  4  3  3  4  3  2  2  3  3  3  4  3  4  3  3  4  2  3  3  3  3  3  4  3  4  4  3  3  3  4  4  3  4  2  4  3  3  2  2  2  3  4  3  3  2  1  3  3  4  4  3  3  3  3  4  2  2  4  3  4  4  3  3  3  3  2  2  3  3  3  4  3  4  3  2  4  2  3  3  4  3  3  4  3  4  4  4  3  3  4  4  3  4  2  4  3  4  2  2  2  2  4  3  2  2      1  2  3  4  5  6  7  1  2  3  4  5  6  7  1  2  3  4  5  6  7  3  3  4  4  4  1  3  3  4  4  4  4  4  4  4  4  3  2  3  3  3  3  3  3  3  4  4  4  3  3  4  2  4  3  4  4  4  4  4  4  4  4  4  3  4  3  4  4  3  4  3  4  3  2  4  3  4  3  4  4  2  4  3  4  4  4  3  3  4  4  3  4  4  4  4  3  3  2  3  3  2  3  3  3  3  4  3  3  3  3  3  2  3  3  4  3  2  4  3  3  3  3  2  3  4  3  4  4  3  3  4  4  3  2  3  3  4  4  3  4  2  3  3  4  4  4  3  4  3  4  3  4  4  4  4  4  4  2  4  4  2  3  3  3  3  4  3  3  3  3  3  2  3  3  4  3  3  3  4  3  3  4  4  4  4  4  3  3  3  3  4  3  2  2  3  3  3  4  3  4  3  3  4  4  4  4  3  3  4  3  3  4  4  4  4  4  3  3  3  3  3  3  3  3  3  4  3  3  3  3  4  2  3  3  4  3  4  4  4  4  4  3  4  3  4  4  4  4  3  4  3  4  3  2  4  3  4  3  4  4  2  3  3  4  4  4  3  3  4  4  1  1  4  4  4  4  3  2  3  3  2  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  2  3  3  4  3  3  4  3  3  4  3  3  3  4  4  4  4  3  3  4  4  3  2  3  3  3  4  3  4  2  4  4  4  4  4  4  3  4  4  1  3  4  4  4  4  4  2  4  4  2  3  3  3  3  4  4  4  4  4  4  2  4  4  4  4  4  3  4  3  4  4  4  4  4  4  3  3  3  3  4  3  2  2  4  4  4  4  4  4  3  3  3  4  4  4  3  3  4  4  2  2  4  4  3  4  3  3  3  3  2  2  2  3  3  4  3  4  3  3  4  2  3  3  3  3  4  4  3  3  4  4  3  3  4  4  3  4  3  4  3  3  3  2  3  3  4  3  3  3  3  3  3  4  4  3  4  3  3  4  3  3  4  3  4  3  3  3  4  3  4  2  3  2  3  4  3  4  3  3  4  2  3  2  3  3  4  3  3  3  4  2  3  3  4  4  4  3  3  4  3  4  2  2  2  3  3  2  3  3  3  3  3  4  4  3  4  3  4  2  2  2  4  4  4  4  3  3  3  3  3  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  2  3  2  4  3  4  4  4  4  4  3  3  3  4  4  4  4  3  4  3  4  3  2  3  3  4  3  3  4  308 .Afdan Nurul Hilman  M.Lampiran 6 Data Penilaian Proses Kelas III  Nama  Alwi Izha Farandi  David Aldi Saputra  Laode Aldifan  M.Ibrahim  M.Zulfikar  Muqni Aqsoinna  Suryatama Gallang  Aulia Rizki  Dini Puspo  Elfira Ciptaningtyas  Elma Damarista  Fadhila Khoirunisa  Inna Salma Fahman  Khanifah Noor  Nur Amalia Andini  Ratu Yeremenia S  Syifa Azizah  Ade Yoga Endy S  Bekti Rachmawati  Maria Sri Adiningsih  Novianto Adi Saputra  Wahyu Praktika D  Yunina Dea J  Bilqies Amalia A  Nova Puspitasari  Anggita Wulandari  Anjas Deva Felano  Eria Putri Pratiwi  Fitriyani  Ika Purwaningsih  Ilham Yusril Munawar  Massayu Seilla Annisa  Musriati  Rivan Pandu Adi Winata  Muh.Fauzan  M.Farizi Gustaf  M.

Lutfi Mahendra M. Dava Surya Abi Y. Malaghina Kusuma H Rio Satya Fauzi Freddy PP Siti Aziroh Rahmatika Shella Kumalasari Shelli Puspitasari Sugiharto.B.N Siska Tri W Yacinta Nararia S Karizma Putri R Salwa Sauzan R Alfia Rahma De Anissa N.M Sutarno 1 4 1 2 4 4 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 2 3 3 3 4 3 1 2 4 2 4 3 4 4 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 4 4 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 2 2 3 2 3 2 3 2 4 3 2 2 3 1 3 4 2 2 3 2 1 3 4 3 3 2 4 4 3 4 2 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 3 3 2 4 3 4 4 Udawaty 1 4 1 2 4 4 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 2 3 3 3 4 3 1 2 4 2 4 3 4 4 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 4 4 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 2 2 3 2 3 2 3 2 4 3 2 2 3 1 3 4 2 2 3 2 1 3 4 3 3 2 4 4 3 4 2 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 3 3 2 4 3 4 4 1 Dodi 2 4 1 2 4 4 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 2 3 3 3 4 3 1 4 2 4 3 4 4 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 4 4 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 2 2 3 2 3 2 3 2 4 3 2 2 3 1 3 4 2 2 3 2 1 3 4 3 3 2 4 4 3 4 2 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 3 3 2 4 3 4 4 309 . Amelia Noor Putri M Artantri Widasari Chatarine Dyela Eillen R Dicky Armayuda Eridani Kartiko Adi Gatot Ismail Gufron Gilang Zahru Saputra Indah Budi Kartikarini Insan Fadilah Harvianto Ismalia Ramadhani Putri Muhammad Farid Abdurrahman Muhammad Roofi'l Adiyatma Nida Salma Hajaroh Nurfitri Andani Ragil Saputro Mujiono Rif'atul Widaan Khotibin Tamhid Royhan Ikbar Sekar Cendana Arum Nadila Fatimatuzzahra A.Lampiran 6 Data Penilain Produk Kelas I Nama Ade Firmansyah Daffa Malik Falaq Deandra Visto D M.A.Naufal Rizqita Rayhan Adikusuma Rizky Dafa P Aqlia Tsalisa Azmani Ashylla Paramadanti Cahyaningtyas Iftitah Chairunnisa Yulia W Dyah Pradina P Dyah Sekar Ayu K Fahra Prahastanti P Hana Fazah Nur S Keisha Amadea Nabila Permata Sari Nur Azizah Ranita Salsabila Ria Rahma Sukma W Septiana Tidar Andika Bagas Andi Maulana Ade Itko M Anindita Dara L David Revaru Vebrian Agung W Kurniawan Dwi Y M.

W Pradipta Wisnu Timur Dwi Indraja Agni Vasha Salsabila Alvira Niryana Aulia Astagina Dhiyaurrohmah Kamila Muyasaroh Melinia Debbytasari Noor Diana Arrasyid Oktaviana Rahindra Shafa Nabilla Haya Sheila Alfauziya P Yuliana Zahrajuncta Lusiana Martini Amelia Prisca Brigita Anggun Pratiwi Anisa Nur Rahmah Arviananda Ade H Bintang Nugrahani Galang Permataputra Galuh Intisari Muh. Abdul Gani Sarining Hanggani Kasih Teddy Arfansyah N Yuliana Larasari Dikta Wahyu Pratama Awang Pramono Isla Magda S Joko Bagus B Novia Permatasari Kusuma Nuraini Yulia Catur Wulandari Ikhsan Panji Irawan A'Issyatun Wahyu Ningsih Ainun Amaliya Paramita Arini Dewi Nuraini Chusnunnisa Suryanudin Ummu Habibah Halida Salsabila Hasna Maretta Sausana Hasna Ulfiaa Humairoh Rosida Akhir Khilmi Khayatun Nisha Kiki Dwi Widyasari Lutfina Aribah Miftakhurrohmah Nafisa Ainurrahmah Novryan Armawida Rizki Putri Utami Salman Kurnia Haq Sinta Primadita Siti Maryam S Wakhid Hasyim 1 4 2 1 3 4 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 3 2 4 4 4 2 4 4 3 4 2 3 4 2 3 2 3 3 3 2 3 3 4 4 1 4 4 2 3 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 2 3 1 Sutarno 2 3 3 3 3 3 2 2 4 2 3 2 2 3 2 1 4 4 2 2 3 4 3 3 4 1 4 4 2 4 1 3 3 1 3 4 3 3 1 2 2 2 3 4 3 3 3 4 4 2 4 4 3 3 4 4 2 4 4 4 2 3 3 4 3 4 1 3 3 3 4 1 2 3 1 4 2 2 4 4 3 4 3 3 3 4 3 2 2 2 1 3 2 2 3 4 3 2 1 2 4 3 3 4 4 4 2 4 2 4 4 3 4 2 4 3 2 4 2 4 4 4 Udawaty 1 4 2 1 3 4 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 3 2 4 4 4 2 4 4 3 4 2 3 4 4 3 2 3 3 3 2 3 3 4 4 1 4 4 2 3 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 2 3 1 2 3 3 3 3 3 2 2 4 2 3 2 2 3 2 1 4 4 2 2 3 4 3 3 4 1 4 4 2 4 1 3 2 1 3 4 3 3 1 2 2 2 3 4 3 3 3 4 4 2 4 4 3 3 4 4 2 4 4 4 2 3 3 4 3 4 1 4 3 3 4 1 2 3 1 4 2 2 4 4 3 4 3 3 3 4 3 4 2 2 1 3 2 3 3 4 3 2 1 2 4 3 3 4 4 4 2 4 2 4 4 3 4 2 4 3 2 4 2 4 4 4 1 Dodi 2 4 2 1 3 4 3 3 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 3 2 4 4 4 2 4 4 3 4 2 3 4 2 3 2 3 3 3 2 3 3 4 4 1 4 4 2 3 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 2 3 1 3 3 3 3 3 2 2 4 2 3 2 2 3 2 1 4 4 2 2 3 4 3 3 4 1 4 4 2 4 1 3 4 1 3 4 3 3 1 2 2 2 3 4 3 3 3 4 4 2 4 4 3 3 4 4 2 4 4 4 2 3 3 4 3 4 1 4 3 3 4 1 2 3 1 4 2 2 4 4 3 4 3 3 3 4 3 2 2 2 1 3 2 3 3 4 3 2 1 2 4 3 3 4 4 4 2 4 2 4 4 3 4 2 4 3 2 4 2 4 4 4 310 . Tsani Ihsani Y Muh. Aqib Husni Fadhli Muh.Lampiran 6 Data Penilain Produk Kelas II Nama Afkar Zaka Y Alif Fahmi Mahendra Azka Hikam Z M.Zauhar Nanda Naya P.

Zulfikar Muqni Aqsoinna Suryatama Gallang Aulia Rizki Dini Puspo Elfira Ciptaningtyas Elma Damarista Fadhila Khoirunisa Inna Salma Fahman Khanifah Noor Nur Amalia Andini Ratu Yeremenia S Syifa Azizah Ade Yoga Endy S Bekti Rachmawati Maria Sri Adiningsih Wahyu Praktika D Yunina Dea J Bilqies Amalia A Nova Puspitasari Anggita Wulandari Anjas Deva Felano Eria Putri Pratiwi Fitriyani Ika Purwaningsih Ilham Yusril Munawar Massayu Seilla Annisa Musriati Novianto Adi Saputra Rivan Pandu Adi Winata Muh.Ibrahim M.Fauzan M.Lampiran 6 Data Penilain Produk Kelas III Nama Alwi Izha Farandi David Aldi Saputra Laode Aldifan M.Afdan Nurul Hilman M. Miftahul Firdaus Anggi Dwina Siregar Rusmini Afiana Nurkholishotus Shohibah Andi Rahmat Wulansyah Eka Yuliani Fegi Tri Damayanti Fitri Nurul Hanifah Imam Zuhdi Inna Rahmatul Ulya Jalu Ukir Damatama Hilda Ayu Wibisana Ninggih Annisa Daniswara Pilar Paksi Pratama Rafli Khooinurizal Rapsanjani Riswa Rahman Fahmi Rivani Rahmania Afifah Rizki Nur Chaerani Rizqi Haritz Pebiantara Zanityara Syah Syadila Zetta Nillawati Reyka Putri Nurul Arifah 1 3 3 1 2 4 2 3 4 2 4 4 3 3 4 1 2 2 3 4 3 2 3 3 3 2 2 4 3 2 3 3 4 1 4 3 2 4 2 3 3 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 4 2 2 1 3 2 2 Sutarno 2 2 3 3 4 3 3 2 3 4 1 3 4 4 3 4 3 1 3 2 2 3 2 3 3 2 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 2 1 4 4 4 4 4 3 2 2 3 3 2 1 2 2 2 4 3 4 3 2 2 3 2 3 1 2 3 3 4 2 2 3 3 2 3 3 3 4 2 4 3 4 4 3 4 1 4 4 4 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 4 4 2 2 2 4 3 2 3 4 4 3 3 2 4 2 3 2 3 3 3 4 3 3 4 Udawaty 1 3 3 1 2 4 2 3 4 2 4 4 3 3 4 1 3 2 3 2 3 2 3 3 3 2 2 4 3 2 3 3 4 1 4 3 2 4 2 3 3 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 4 2 2 1 3 2 2 2 2 3 3 4 3 3 2 3 4 1 3 4 4 3 4 3 1 3 4 2 3 2 3 3 2 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 2 2 4 4 4 4 4 3 2 2 3 3 2 1 2 2 2 4 3 4 3 2 2 3 2 3 1 2 3 3 4 2 2 3 3 2 3 3 3 4 2 4 3 3 2 3 4 1 4 4 4 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 4 1 2 2 2 4 3 2 3 4 4 3 3 2 4 2 3 2 3 3 3 4 3 3 4 1 Dodi 2 3 3 1 2 4 2 3 4 2 4 4 3 3 4 1 2 2 3 4 3 2 3 3 3 2 2 4 3 2 3 3 4 1 4 3 2 4 2 3 3 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 4 2 2 1 2 2 2 2 3 3 4 3 3 2 3 4 1 3 4 4 3 4 3 1 3 2 2 3 2 3 3 2 3 1 3 3 4 4 4 4 4 3 2 2 4 4 4 4 4 3 2 2 3 3 2 1 2 2 2 4 3 4 3 2 3 3 2 3 1 2 3 3 4 2 2 3 3 2 3 3 3 4 3 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 4 4 2 2 2 4 3 2 3 3 4 3 3 2 4 2 3 2 3 3 3 4 3 3 4 311 .Farizi Gustaf M.

M 3 3 2 3 2 3 1 2 2 2 3 3 3 3 1 3 2 2 2 3 3 3 2 3 2 3 2 2 2 3 2 2 2 3 2 2 2 2 1 2 3 3 2 3 2 2 1 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 2 1 1 3 3 2 3 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 1 1 1 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 2 2 3 3 2 3 3 2 3 1 2 3 2 2 2 3 3 1 1 3 3 2 3 2 2 3 3 2 3 2 1 3 3 3 2 3 2 2 1 3 3 1 2 3 1 3 3 2 2 1 1 3 2 3 2 2 3 2 2 3 2 1 1 3 2 3 3 2 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 2 3 2 2 3 3 3 1 3 3 2 1 1 2 2 2 3 3 3 1 2 2 3 2 3 2 2 2 3 2 3 2 2 3 2 3 3 2 2 2 2 2 3 1 2 3 3 2 3 2 2 1 2 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 1 1 2 2 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 2 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 2 1 2 3 3 3 2 1 1 3 3 3 1 3 3 3 2 3 1 2 1 3 2 3 3 3 2 1 1 1 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 2 1 3 3 3 1 2 2 3 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 2 2 3 1 3 3 2 3 2 1 3 2 1 2 2 3 3 2 1 1 1 3 1 1 3 3 3 2 1 3 3 1 3 2 2 3 3 2 1 1 3 3 2 3 3 3 1 3 2 3 3 1 1 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 1 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 2 1 1 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 1 3 3 3 3 3 2 1 1 1 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 1 1 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 312 . Amelia Noor Putri M Artantri Widasari Chatarine Dyela Eillen R Dicky Armayuda Eridani Kartiko Adi Gatot Ismail Gufron Gilang Zahru Saputra Indah Budi Kartikarini Insan Fadilah Harvianto Ismalia Ramadhani Putri Muhammad Farid Abdurrahman Muhammad Roofi'l Adiyatma Nida Salma Hajaroh Nurfitri Andani Ragil Saputro Mujiono Rif'atul Widaan Khotibin Tamhid Royhan Ikbar Sekar Cendana Arum Nadila Fatimatuzzahra A.Lampiran 6 Data Penilaian Kelompok Kelas I Nama Siswa 1 3 2 Sutarno 2 3 1 3 2 2 4 3 3 5 1 1 1 1 2 Udawati 2 3 2 2 1 2 4 2 3 5 1 1 3 3 2 3 1 1 1 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 2 1 2 3 1 2 2 2 1 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 3 3 1 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 1 3 2 2 3 1 Dody 3 4 3 3 2 3 5 1 1 3 3 2 3 1 1 1 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 2 1 1 1 1 3 3 3 1 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 Ade Firmansyah Daffa Malik Falaq Deandra Visto D M. Malaghina Kusuma H Rio Satya Fauzi Freddy PP Siti Aziroh Rahmatika Shella Kumalasari Shelli Puspitasari Sugiharto. Dava Surya Abi Y.B.Lutfi Mahendra M.A.N Siska Tri W Yacinta Nararia S Karizma Putri R Salwa Sauzan R Alfia Rahma De Anissa N.Naufal Rizqita Rayhan Adikusuma Rizky Dafa P Aqlia Tsalisa Azmani Ashylla Paramadanti Cahyaningtyas Iftitah Chairunnisa Yulia W Dyah Pradina P Dyah Sekar Ayu K Fahra Prahastanti P Hana Fazah Nur S Keisha Amadea Nabila Permata Sari Nur Azizah Ranita Salsabila Ria Rahma Sukma W Septiana Tidar Andika Bagas Andi Maulana Ade Itko M Anindita Dara L David Revaru Vebrian Agung W Kurniawan Dwi Y M.

Tsani Ihsani Y Muh.W Pradipta Wisnu Timur Dwi Indraja Agni Vasha Salsabila Alvira Niryana Aulia Astagina Dhiyaurrohmah Kamila Muyasaroh Melinia Debbytasari Noor Diana Arrasyid Oktaviana Rahindra Shafa Nabilla Haya Sheila Alfauziya P Yuliana Zahrajuncta Lusiana Martini Amelia Prisca Brigita Anggun Pratiwi Anisa Nur Rahmah Arviananda Ade H Bintang Nugrahani Galang Permataputra Galuh Intisari Muh.Zauhar Nanda Naya P. Abdul Gani Sarining Hanggani Kasih Teddy Arfansyah N Yuliana Larasari Dikta Wahyu Pratama Awang Pramono Isla Magda S Joko Bagus B Novia Permatasari Kusuma Nuraini Yulia Catur Wulandari Ikhsan Panji Irawan A'Issyatun Wahyu Ningsih Ainun Amaliya Paramita Arini Dewi Nuraini Chusnunnisa Suryanudin Ummu Habibah Halida Salsabila Hasna Maretta Sausana Hasna Ulfiaa Humairoh Rosida Akhir Khilmi Khayatun Nisha Kiki Dwi Widyasari Lutfina Aribah Miftakhurrohmah Nafisa Ainurrahmah Novryan Armawida Rizki Putri Utami Salman Kurnia Haq Sinta Primadita Siti Maryam S Wakhid Hasyim 3 1 2 3 3 2 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 1 2 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 3 2 2 313 .Lampiran 6 Data Penilaian Kelompok Kelas II Nama Siswa 1 2 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 1 2 3 2 2 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 Sutarno 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 3 2 2 2 3 1 2 3 2 2 3 2 2 3 3 3 3 3 1 1 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 1 3 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 1 2 3 3 2 2 2 2 2 3 3 3 2 3 3 3 2 2 2 2 2 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 2 1 1 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Udawati 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 1 3 1 3 2 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 2 2 3 2 3 3 2 3 3 1 2 2 3 1 2 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 2 3 3 2 1 1 2 2 1 2 3 3 3 3 2 2 2 1 2 3 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 3 2 2 2 3 1 2 3 2 2 2 3 2 3 2 3 3 3 1 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 2 2 2 2 2 3 3 3 3 1 3 2 2 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 1 2 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Dody 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 3 2 2 3 3 1 2 3 2 2 3 2 2 3 3 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 1 3 3 2 2 3 1 3 1 3 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 Afkar Zaka Y Alif Fahmi Mahendra Azka Hikam Z M. Aqib Husni Fadhli Muh.

Farizi Gustaf M.Afdan Nurul Hilman M. Miftahul Firdaus Anggi Dwina Siregar Rusmini Afiana Nurkholishotus Shohibah Andi Rahmat Wulansyah Eka Yuliani Fegi Tri Damayanti Fitri Nurul Hanifah Imam Zuhdi Inna Rahmatul Ulya Jalu Ukir Damatama Hilda Ayu Wibisana Ninggih Annisa Daniswara Pilar Paksi Pratama Rafli Khooinurizal Rapsanjani Riswa Rahman Fahmi Rivani Rahmania Afifah Rizki Nur Chaerani Rizqi Haritz Pebiantara Zanityara Syah Syadila Zetta Nillawati Reyka Putri Nurul Arifah 1 3 2 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 2 2 1 2 3 3 3 3 3 2 1 2 3 3 3 2 3 2 1 2 3 3 3 3 3 2 3 2 2 2 3 2 2 2 Sutarno 3 4 2 2 3 2 2 3 3 3 2 1 1 2 2 3 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 1 3 1 3 3 1 2 2 3 3 2 2 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 1 2 3 3 1 3 2 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 1 1 2 2 2 3 2 2 3 1 2 2 3 3 2 5 2 1 3 1 2 3 2 3 2 2 3 1 3 2 2 2 2 2 2 3 2 2 3 1 1 3 3 2 3 3 3 2 3 1 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 1 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 1 3 2 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 3 2 3 1 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 1 3 3 3 3 2 1 2 3 3 3 2 3 2 1 2 3 3 3 3 3 2 3 2 2 2 3 2 2 2 Udawati 3 4 2 2 3 2 2 3 2 3 2 1 1 2 2 3 1 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 3 2 2 2 2 2 2 3 3 1 2 3 3 2 3 1 3 1 3 3 1 2 2 1 2 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 1 2 3 3 1 3 2 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 1 1 2 2 2 3 2 2 3 1 2 2 3 3 2 5 2 1 3 1 2 3 2 3 2 2 3 1 3 2 2 2 2 2 3 2 1 1 1 1 3 3 3 3 1 2 2 2 2 1 3 2 2 3 2 2 3 3 2 2 1 3 3 3 1 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 2 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 2 2 3 2 2 1 2 3 3 3 3 3 3 1 2 3 3 3 2 2 2 1 2 3 3 3 3 2 2 3 2 2 2 3 2 2 2 Dody 3 4 2 2 3 2 2 3 2 3 2 1 1 2 2 3 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 1 3 3 1 2 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 3 1 2 3 3 1 3 2 3 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 2 3 1 1 2 2 2 3 2 2 3 1 2 2 3 3 2 5 2 1 3 1 2 3 2 3 2 2 3 1 3 2 2 2 2 2 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 2 1 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 314 .Lampiran 6 Data Penilaian Kelompok Kelas III Nama Siswa Alwi Izha Farandi David Aldi Saputra Laode Aldifan M.Zulfikar Muqni Aqsoinna Suryatama Gallang Aulia Rizki Dini Puspo Elfira Ciptaningtyas Elma Damarista Fadhila Khoirunisa Inna Salma Fahman Khanifah Noor Nur Amalia Andini Ratu Yeremenia S Syifa Azizah Ade Yoga Endy S Bekti Rachmawati Maria Sri Adiningsih Novianto Adi Saputra Wahyu Praktika D Yunina Dea J Bilqies Amalia A Nova Puspitasari Anggita Wulandari Anjas Deva Felano Eria Putri Pratiwi Fitriyani Ika Purwaningsih Ilham Yusril Munawar Massayu Seilla Annisa Musriati Rivan Pandu Adi Winata Muh.Fauzan M.Ibrahim M.

A.M 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 Sutarno 2 3 4 2 2 3 2 1 3 2 3 2 3 2 3 3 2 3 2 3 3 2 2 3 3 1 2 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 2 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 2 1 2 3 2 1 3 2 2 2 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 1 3 3 1 2 2 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 1 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 2 3 1 1 2 2 3 3 1 3 2 2 1 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 5 2 2 3 3 1 2 1 3 1 2 3 3 3 3 2 2 1 1 3 3 3 2 2 3 1 2 3 3 3 2 2 2 3 2 3 2 1 2 3 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 Udawati 2 3 4 2 2 3 2 1 3 2 3 2 3 3 2 2 2 3 2 3 3 2 2 3 3 1 2 2 3 2 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 2 1 2 3 2 1 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 2 2 2 2 1 3 3 1 2 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 3 2 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 2 3 1 1 2 2 3 3 1 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 5 2 2 3 3 2 2 1 3 1 2 3 3 3 3 3 3 1 1 3 2 3 2 2 3 2 1 3 3 3 2 2 2 3 2 2 1 2 2 2 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 2 2 2 3 2 1 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 1 2 2 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 Dodi 3 4 1 2 3 2 1 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 2 2 1 3 3 1 2 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 1 1 2 2 3 3 1 3 1 3 1 3 3 3 3 1 3 3 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 5 2 2 3 3 2 2 1 3 1 2 3 3 3 3 3 1 1 1 3 3 3 2 2 3 1 2 3 3 3 2 2 2 3 2 3 1 1 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 315 . Amelia Noor Putri M Artantri Widasari Chatarine Dyela Eillen R Dicky Armayuda Eridani Kartiko Adi Gatot Ismail Gufron Gilang Zahru Saputra Indah Budi Kartikarini Insan Fadilah Harvianto Ismalia Ramadhani Putri Muhammad Farid Abdurrahman Muhammad Roofi'l Adiyatma Nida Salma Hajaroh Nurfitri Andani Ragil Saputro Mujiono Rif'atul Widaan Khotibin Tamhid Royhan Ikbar Sekar Cendana Arum Nadila Fatimatuzzahra A.Lutfi Mahendra M.N Siska Tri W Yacinta Nararia S Karizma Putri R Salwa Sauzan R Alfia Rahma De Anissa N.B. Dava Surya Abi Y.Naufal Rizqita Rayhan Adikusuma Rizky Dafa P Aqlia Tsalisa Azmani Ashylla Paramadanti Cahyaningtyas Iftitah Chairunnisa Yulia W Dyah Pradina P Dyah Sekar Ayu K Fahra Prahastanti P Hana Fazah Nur S Keisha Amadea Nabila Permata Sari Nur Azizah Ranita Salsabila Ria Rahma Sukma W Septiana Tidar Andika Bagas Andi Maulana Ade Itko M Anindita Dara L David Revaru Vebrian Agung W Kurniawan Dwi Y M. Malaghina Kusuma H Rio Satya Fauzi Freddy PP Siti Aziroh Rahmatika Shella Kumalasari Shelli Puspitasari Sugiharto.Lampiran 6 Data Penilaian Diri Kelas I Nama Ade Firmansyah Daffa Malik Falaq Deandra Visto D M.

Aqib Husni Fadhli Muh.Lampiran 6 Data Penilaian Diri Kelas II Nama 1 Afkar Zaka Y Alif Fahmi Mahendra Azka Hikam Z M. Abdul Gani Sarining Hanggani Kasih Teddy Arfansyah N Yuliana Larasari Dikta Wahyu Pratama Awang Pramono Isla Magda S Joko Bagus B Novia Permatasari Kusuma Nuraini Yulia Catur Wulandari Ikhsan Panji Irawan A'Issyatun Wahyu Ningsih Ainun Amaliya Paramita Arini Dewi Nuraini Chusnunnisa Suryanudin Ummu Habibah Halida Salsabila Hasna Maretta Sausana Hasna Ulfiaa Humairoh Rosida Akhir Khilmi Khayatun Nisha Kiki Dwi Widyasari Lutfina Aribah Miftakhurrohmah Nafisa Ainurrahmah Novryan Armawida Rizki Putri Utami Salman Kurnia Haq Sinta Primadita Siti Maryam S Wakhid Hasyim 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Sutarno 2 3 4 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 1 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 1 1 3 3 2 3 2 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 3 1 1 3 3 2 3 2 3 1 3 1 3 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 2 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Udawati 2 3 4 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 1 3 2 3 3 3 3 2 2 2 3 2 1 2 1 3 1 2 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 3 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 2 2 1 3 3 3 3 2 3 1 3 2 2 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 Dodi 3 4 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 1 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 2 3 3 3 2 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 1 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 2 3 1 3 1 3 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 316 .Zauhar Nanda Naya P.W Pradipta Wisnu Timur Dwi Indraja Agni Vasha Salsabila Alvira Niryana Aulia Astagina Dhiyaurrohmah Kamila Muyasaroh Melinia Debbytasari Noor Diana Arrasyid Oktaviana Rahindra Shafa Nabilla Haya Sheila Alfauziya P Yuliana Zahrajuncta Lusiana Martini Amelia Prisca Brigita Anggun Pratiwi Anisa Nur Rahmah Arviananda Ade H Bintang Nugrahani Galang Permataputra Galuh Intisari Muh. Tsani Ihsani Y Muh.

Afdan Nurul Hilman M.Farizi Gustaf M. Miftahul Firdaus Anggi Dwina Siregar Rusmini Afiana Nurkholishotus Shohibah Andi Rahmat Wulansyah Eka Yuliani Fegi Tri Damayanti Fitri Nurul Hanifah Imam Zuhdi Inna Rahmatul Ulya Jalu Ukir Damatama Hilda Ayu Wibisana Ninggih Annisa Daniswara Pilar Paksi Pratama Rafli Khooinurizal Rapsanjani Riswa Rahman Fahmi Rivani Rahmania Afifah Rizki Nur Chaerani Rizqi Haritz Pebiantara Zanityara Syah Syadila Zetta Nillawati Reyka Putri Nurul Arifah 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 Sutarno 2 3 4 2 3 3 3 3 2 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 2 2 2 2 3 3 3 2 3 2 2 3 3 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 2 3 3 2 2 2 2 2 1 3 3 2 2 2 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 5 2 3 3 3 3 1 2 3 3 3 1 1 2 3 3 3 3 2 3 2 2 2 2 2 3 1 1 3 2 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 1 3 3 2 2 1 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 1 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 1 1 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 Udawati 2 3 4 2 3 2 3 3 3 2 3 3 2 1 2 1 3 3 2 1 3 3 3 3 3 2 2 1 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 1 2 3 3 3 2 3 1 3 3 2 2 2 3 2 1 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 2 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 3 3 3 5 2 3 3 3 3 1 2 3 3 3 1 1 2 3 3 3 3 2 2 3 3 2 2 2 2 1 1 3 2 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 1 3 3 2 2 1 3 3 3 1 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 Dodi 2 3 4 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 2 2 1 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 2 3 3 2 2 2 2 2 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 5 2 3 3 3 3 1 2 3 3 3 1 1 2 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 2 3 1 1 3 2 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 1 3 3 2 2 1 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 317 .Ibrahim M.Lampiran 6 Data Penilaian Diri Kelas III Nama 1 Alwi Izha Farandi David Aldi Saputra Laode Aldifan M.Fauzan M.Zulfikar Muqni Aqsoinna Suryatama Gallang Aulia Rizki Dini Puspo Elfira Ciptaningtyas Elma Damarista Fadhila Khoirunisa Inna Salma Fahman Khanifah Noor Nur Amalia Andini Ratu Yeremenia S Syifa Azizah Ade Yoga Endy S Bekti Rachmawati Maria Sri Adiningsih Novianto Adi Saputra Wahyu Praktika D Yunina Dea J Bilqies Amalia A Nova Puspitasari Anggita Wulandari Anjas Deva Felano Eria Putri Pratiwi Fitriyani Ika Purwaningsih Ilham Yusril Munawar Massayu Seilla Annisa Musriati Rivan Pandu Adi Winata Muh.

Hanya saja. Hasil wawancara dengan guru A (20 Desember 2008) No 1 2 Pertanyaan Jawaban Bagaimana tanggapan bapak Menurut saya instrumen ini baik. sederhana dan komunakatif yang digunakan? Bagaimana dengan alokasi Sesuai dengan yang disiapkan. tentang IPSLA? Baik dalam hal apa? Baik dalam kaitan dengan: • Objektif • Dapat memberikan kemudahan dalam melakukan penilaian • Dapat dipertanggungjawabkan 3 4 Bagaimana dengan bahasa Mudah dipahami. waktu yang digunakan untuk untuk memahami dan mempelajari aplikasi melakukan penilaian? penilaian ini membutuhkan waktu tersendiri Apakah Bapak membutuhkan Tidak. saya dapat melakukannya sendiri bantuan tenaga lain dalam melakukan penilaian? Bagaimana dengan biaya Tidak ada masalah pelaksanaan penilaian? 5 6   319 .Lampiran 7 Tabel 3 Hasil Wawancara Keterpakaian Instrumen Penilaian Hasil Belajar Karya Seni Lukis Anak Komponen Guru A Guru B Guru C Keseluruhan Kepraktisan .Mudah .Sederhana Bahasa ‐ Baku ‐ Komunikatif ‐ Mudah dipahami Efisiensi ‐ Waktu ‐ Tenaga ‐ Biaya Mudah Cukup Ya Ya Ya Mudah Sederhana Ya Ya Ya Mudah Sederhana Ya Ya Ya Mudah Sederhana Ya Ya Ya Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Hasil wawancara dengan 3 orang guru sebagai rater sebagai berikut: 1.

alokasinya sudah cukup Tetapi. karena menurut saya pola penilaian ini berbeda dengan yang sering saya lakukan selama ini. Hasil wawancara dengan guru B (27 Desember 2008) No 1 Pertanyaan Jawaban Bagaimana tanggapan bapak Instrumen ini sudah baik. Secara pribadi.Lampiran 7 2. mudah dimengerti dan yang digunakan? sederhana serta menampung karakteristik seni sebagai ekspresi maupun imajinasi anak. Selain itu mudah diterapkan dan hasil penilaian didukung oleh bukti otentik penilaian. bantuan tenaga lain dalam melakukan penilaian? Bagaimana dengan biaya Biaya pelaksanaan menurut saya. tidak ada pelaksanaan penilaian? masalah. 6   320 . sudah dapat tentang IPSLA? menampung aspirasi saya sebagai guru untuk menilai karya lukisan anak didik. 2 Baik dalam hal apa? Instrumen ini lebih menunjukkan kondisi yang sudah mengurangi tingkat subyektivitas guru dalam menilai. saya menjadi lebih mudah melakukan penilaian karena kriterianya lebih jelas. 4 5 Apakah Bapak membutuhkan Saya cukup dapat melakukannya sendiri. 3 Bagaimana dengan bahasa Bahasanya jelas. waktu yang digunakan untuk akan lebih baik lagi jika ada waktu tersendiri melakukan penilaian? untuk memahmi cara penggunaan instrumen tersebut. Bagaimana dengan alokasi Menurut saya.

untuk memahami lebih lanjut tentang untuk melakukan penilaian? penerapan dari penilaian ini butuh waktu yang cukup. dari sudut efektivitas. efisiensi dan kejelasan bahasa yang digunakan pada butir-butir indikator dan deskriptor beserta kriteria yang dipakai dalam instrumen ini sudah dipandang layak untuk diterapkan sebagai sarana penilaian. Mereka mengatakan bahwa dengan hadirnya instrumen ini menjadikan pekerjaan penilaian karya seni lukis anak menjadi mudah karena ada dasar rujukannya dan obyektif. 5 Apakah bapak Tanpa bantuan orang lainpun. Pengalaman saya hanya menggunakan intuisi untuk memberikan nilai siswa. Hasil wawancara dengan guru C (3 Januari 2009) No 1 Pertanyaan Jawaban Bagaimana tanggapan Instrumen penilaian ini sangat membantu diri bapak tentang IPSLA? saya dalam melakukan penilaian karya seni lukis anak. 4 Bagaimana dengan alokasi Waktunya saya anggap sudah cukup memadai. Hal ini dikarenakan. saya dapat membutuhkan bantuan melakukannya sendiri tenaga lain dalam melakukan penilaian? Bagaimana dengan biaya Saya pikir tidak ada persoalan dengan biaya pelaksanaan penilaian? pelaksanaan 6 Dari ketiga hasil wawancara dengan para guru yang menjadi rater dalam uji coba instrumen penilaian karya seni lukis anak dapat disimpulkan bahwa semua rater menyatakan instrumen sudah memadai.   321 . 3 Bagaimana dengan bahasa Bahasa dari instrumen ini cukup mudah dicerna yang digunakan? dan dimengerti.Lampiran 7 3. waktu yang digunakan Namun. karena pada waktu sebelumnya tidak pernah saya menilai dengan instrumen yang baku. 2 Baik dalam hal apa? Instrumen ini memudahkan dalam menentukan kriteria nilai. Panduannya jelas sehingga mudah untuk diterapkan.

Robert L. Iowa 52242 VERSION 3. Brennan Principal Investigator. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Brennan.D. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Ed.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. PA 19104 Robert L. and no official endorsement should be inferred 322 .1 January. Director. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. however the authors can make no assurances that the program is totally without error.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City.D. Ed. GENOVA was developed in part under contract No. Crick.

21134 0.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 6004..RANDOM MODEL .55714 0..0) 0.RANDOM MODEL .50277 59 118 R 2 5874.0121476 ----------------------------------------------------------------------------- 323 .RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .M X (I:R) DESIGN ....OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 0.2801856 0.0282800 R 2 (0.58571 31.15714 158.75428 118 1062 MI:R 1062 9244...0) 0...45714 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 1259 3432...28019 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 5811.1304946 I:R 18 2.8357072 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 (0.56429 565.30476 3.0) (0.29286 0.1459530 0.....6380683 2.2801856 0.54286 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ G STUDY DATA SET 1 .0) (0..0042666 MI:R 1062 0.76190 193.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ..00000 297.27635 15.1426746 0.28571 24.20000 2854.93810 0.6380683 0...04286 62.M X (I:R) DESIGN .92582 18 1062 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 6092.19744 QF 2 QF 18 QF I:R 18 8728.

01334 0.14267 0. NO UNIV.24319 0.14267 0.17856 0.13896 0.97275 0.16213 0.14267 0.01557 0.15602 0.46809 001-007 60 3 7 0.15824 0.= INF.14920 0.30556 001-004 60 3 4 0. INF.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.12791 001-002 60 3 2 0.14267 0. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.17381 0.88329 0.19455 0.14267 0.18937 0.16135 0. INF.14267 0.91448 0.88424 0.04670 0.75341 0. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 0.03113 0.48638 0. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.22261 0.12822 0.42308 001-006 60 3 6 0.36976 001-005 60 3 5 0.16602 0.02335 0.50659 324 .09340 0.32425 0.22681 001-003 60 3 3 0.23607 0.60437 0.01868 0.90163 0.29602 0.82088 0.44283 0.85936 0.14267 0.

Ed. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Robert L. Ed. GENOVA was developed in part under contract No.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Brennan Principal Investigator.D. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). and no official endorsement should be inferred 325 . Iowa 52242 VERSION 3. however the authors can make no assurances that the program is totally without error.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Brennan. Director. PA 19104 Robert L. Crick.D.1 January. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output.

97698 9.56891 118 1062 MI:R 1062 868049..0192379 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 3.95000 204981.M X (I:R) DESIGN .8256646 0.8155720 MI:R 1062 17..92016 QF 2 QF 18 QF I:R 18 836923..2264384 4..65952 226469.8256646 3.RANDOM MODEL .M X (I:R) DESIGN .0690028 17.5130078 189.84947 667.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .0690028 0...95397 113234.4293997 190....28095 17.29444 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ G STUDY DATA SET 1 ...RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 413296.60386 3.00000 18127...02413 59 118 R 2 631942.42857 5174.2264384 1.84865 2.29048 11387....5130078 60.4293997 242.RANDOM MODEL .06900 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 405472..8337173 I:R 18 189..OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 4.62778 132.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .33333 7823..14127 43.1747172 R 2 242.7400351 ----------------------------------------------------------------------------- 326 .70556 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 1259 462576.16548 18 1062 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 644940.

19133 6. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.04223 001-006 60 3 6 4. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 4.63959 2.61040 0.63655 0.44580 0.03858 101.53441 0.99010 0.34649 4.12006 116.44994 2.16732 0.03500 001-003 60 3 3 4.65527 0.30019 96.22350 93.69764 99. NO UNIV.22644 6.22644 6. INF.85716 93.55466 0.22644 7. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.08803 91.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.51536 112.96489 150.94569 144.04322 001-007 60 3 7 4.22644 11.22644 6.56180 91.92226 89.93947 0.92408 2.57128 0.04396 327 .17178 105.39822 3.71795 0.22644 6.= INF.03868 001-004 60 3 4 4.31447 2.50637 0.66933 0.04082 001-005 60 3 5 4.37765 0. INF.22644 8.41316 95.02724 001-002 60 3 2 4.

PA 19104 Robert L. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Iowa 52242 VERSION 3. and no official endorsement should be inferred 328 . Director. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Crick. GENOVA was developed in part under contract No. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Robert L. Ed.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Brennan.D.D.1 January. Ed. Brennan Principal Investigator.

.1452227 1...71429 5130.14286 7701..1452227 4..20235 18 1062 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 594179.0424779 4...0424779 0.1832437 0.2480372 I:R 18 175.86190 103984.RANDOM MODEL .93095 9.6707246 175.42672 695.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .71905 207969.53027 3.28571 130.18324 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 373377.86372 118 1062 MI:R 1062 800302.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 4.85714 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 1259 426924..60476 15.00000 16124..70952 43..82499 QF 2 QF 18 QF I:R 18 771345.48059 2.M X (I:R) DESIGN ..00204 59 118 R 2 581347.3838259 222.68095 10555.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 381079...6707246 55..14286 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------G STUDY DATA SET 1 .6319846 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 4.40000 189997..1832437 15.M X (I:R) DESIGN .Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .RANDOM MODEL .8073981 MI:R 1062 15.3838259 175....6582771 ----------------------------------------------------------------------------- 329 .1567972 R 2 222..

87980 0.86075 0.28443 103.87803 107.04489 001-006 60 3 6 4.14522 6.61338 0.37993 88.14522 6.07050 84.17974 3.03720 001-003 60 3 3 4.14522 6.14522 6.94774 0.21573 2.14522 7.02894 001-002 60 3 2 4.66689 0.50493 2.55380 6.68143 93.59681 0.33623 2.51665 0.09342 132.63724 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.35971 88.14522 10.99303 0.14522 8.04594 001-007 60 3 7 4. INF.04339 001-005 60 3 5 4.03452 96. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.19101 86. INF.39277 0. NO UNIV.40857 139.56372 82. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.61276 91.65421 0.02326 3.= INF.19903 85.04111 001-004 60 3 4 4.07843 83.76657 0.75799 2.04673 330 .54012 0.57735 0. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 4.

Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Iowa 52242 VERSION 3.D. Ed. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. and no official endorsement should be inferred 331 . Ed.D. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E.1 January. Director. Brennan Principal Investigator. Brennan. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. PA 19104 Robert L. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Robert L. GENOVA was developed in part under contract No. Crick.

83475 2.01667 34039. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .44673 59 118 P 2 207726...25000 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES..25000 95492.1503453 2.2067797 2...33333 5248.9383863 ----------------------------------------------------------------------------- 332 .2067797 6.86130 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 112233.RANDOM MODEL .M X (K:P) DESIGN ..8612994 1..1238858 94..25000 8.2258624 K:P 6 94.75000 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 539 150357.00000 6421.0202936 MK:P 354 25..2807234 P 2 233.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 118655.6351956 188.00000 9154.29444 219.50000 47746..25000 108.38843 QF 2 QF 6 QF K:P 6 241766.83333 44..76667 5673.RANDOM MODEL ...2774647 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 6.48164 1.1238858 47.37391 6 354 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 219396.90000 25..72001 118 354 MK:P 354 262591.8612994 25..6351956 233.1503453 7.....OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 7.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .M X (K:P) DESIGN .

89535 0.21927 10.90588 0.47972 003-005 60 3 5 9.29683 1.21927 12.65976 0.21927 10.67196 0.23149 5.18733 003-002 60 3 2 9. NO UNIV.83970 8.94336 1.31022 19. 3 INF.03323 0.99901 6. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.21927 10.76238 0.37438 2.31555 003-003 60 3 3 9.51678 0.45732 0.09275 2.99506 31.61738 003-008 60 3 8 9. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 9.53543 003-006 60 3 6 9.44390 3.52949 4.65569 0.21927 13.43674 6.99753 15. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.40670 0.17710 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.64839 003-009 60 3 9 9.66584 5.84245 0.62043 39.45076 1.86517 0.= INF.21927 10.65601 1.65627 0.72409 7.67475 333 .88216 0.07755 4.15511 9.81053 0.71358 4.99938 4.33169 10.21927 17.91281 0.99877 8.21927 10.40882 003-004 60 3 4 9.09344 0.87348 13.95783 4.21927 11.68142 0.58037 003-007 60 3 7 9.

Brennan Principal Investigator. PA 19104 Robert L. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. GENOVA was developed in part under contract No. Iowa 52242 VERSION 3.D. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC).Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Ed. Ed. Robert L.1 January. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Crick. Director.D. Brennan. and no official endorsement should be inferred 334 .

M X (K:P) DESIGN .37778 6405..99658 0..34477 6 354 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 222531.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 4..53519 7.20044 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 116659.66667 4719.2004394 40.99493 118 354 MK:P 354 275197.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 121393.52624 QF 2 QF 6 QF K:P 6 251512.0131503 ----------------------------------------------------------------------------- 335 .4481586 1.RANDOM MODEL ..2433642 190.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ..00602 59 118 P 2 213078..00000 14230.RANDOM MODEL .9927976 MK:P 354 40.7131546 P 2 232.....79815 80..00000 4733.27222 96419.0) 1.0921532 53..95556 40. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .0) (0..2004394 3..20185 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 539 158537..65000 38434.72963 159.M X (K:P) DESIGN .2444968 232.79815 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES..4708098 4...3811039 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 (0.0921532 106.2190112 K:P 6 106.23387 2.07037 48209.59630 39..

39900 0.26733 003-005 60 3 5 4.21486 003-004 60 3 4 4.91487 4. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 4. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.35372 003-007 60 3 7 4.09552 4.84831 13.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.75284 7.19105 8.96631 5.02829 0.68152 2.19161 0. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.70007 24.38210 17.44816 6.49896 0. 3 INF.00537 0.67502 6.66152 0.44816 17.31323 003-006 60 3 6 4.= INF.62402 0.36247 1.12318 1. NO UNIV.44816 11.76420 35.24922 0.93706 1.46672 16.42188 003-009 60 3 9 4.14823 6.44816 6.25473 11.41824 4.72645 0.97098 0.44816 7.93660 0.79820 3.15805 0.66574 0.52256 0.12737 6.35004 12.69913 0.40015 48.44816 7.23336 8.74922 0.45084 336 .57041 0.44816 8.86783 0.15429 003-003 60 3 3 4.12819 2.91431 6.44816 6.38969 003-008 60 3 8 4.44816 5.08359 003-002 60 3 2 4.48891 5.68003 9.

Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Ed.D. Iowa 52242 VERSION 3. however the authors can make no assurances that the program is totally without error.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. PA 19104 Robert L. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia.D. Director. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Brennan Principal Investigator.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. and no official endorsement should be inferred 337 .1 January. Brennan. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Crick. GENOVA was developed in part under contract No. Robert L. Ed.

25556 91069.88889 5104..85926 86.RANDOM MODEL ..M X (K:P) DESIGN ..1329253 2.48889 32.22593 45534...0757167 221..RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 113876.76667 34407..02963 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 539 146747.93150 QF 2 QF 6 QF K:P 6 234248.5847308 K:P 6 95..8286649 P 2 221. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .7882273 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 2..58519 175.51111 5734.2747960 1.65110 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 108772.19597 118 354 MK:P 354 255520.6510986 32.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ..21571 59 118 P 2 199841.M X (K:P) DESIGN .0757167 179..4473033 ----------------------------------------------------------------------------- 338 .RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES ..61296 7.RANDOM MODEL .00000 4607.97037 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.04987 1.1329253 1.....6510986 2.0322348 47.8679808 MK:P 354 32..0322348 95..63223 6 354 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 209554.88519 39.52304 2.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 5.2747960 5..00000 11558.

98577 9.06446 0.88370 42.54059 1.29672 003-004 60 3 4 5.51222 6.81481 0.= INF.72092 10.64028 8.98577 8.98577 7.55481 6.76743 0.49609 003-008 60 3 8 5.34623 1.36046 5.18704 10.63963 0.08211 0.79381 0.19507 1. 3 INF.52944 003-009 60 3 9 5. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 5.36002 003-005 60 3 5 5.83193 0.40956 0.52380 0.98577 7.62790 14.56111 31.16251 2.08016 4.44185 21.62263 0.81395 7.98577 7.98577 8.65102 0.86947 10.02917 0.98577 16.68749 0.79972 1.35483 0.70670 2.71937 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.12330 003-002 60 3 2 5.98577 11.55865 339 .95857 0.20930 4.72901 3. NO UNIV.28056 16.47152 0.61367 3.45765 003-007 60 3 7 5.21953 003-003 60 3 3 5.98577 7.09352 5. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.41287 003-006 60 3 6 5.73332 0.17674 8.42762 5.32014 4.

Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). GENOVA was developed in part under contract No. Brennan Principal Investigator. Brennan.D. and no official endorsement should be inferred 340 . 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. PA 19104 Robert L. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Ed.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Crick. Ed.1 January.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Director. Robert L.D. Iowa 52242 VERSION 3.

9962241 101.00000 9405.. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .40000 6594.2849529 0.5744915 121.87111 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 193926.44222 43028.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 5..35778 35..RANDOM MODEL ...36667 87693.9244401 MI:R 708 13.15879 59 118 R 2 245471....05333 7307.3831865 R 2 118.87034 QF 2 QF 12 QF I:R 12 333164.52889 111.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ....77168 3.31333 86057..74667 13.5744915 46.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 166008.2849529 13.0345275 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 4.M X (I:R) DESIGN .9962241 118.0924859 5.M X (I:R) DESIGN .8367147 I:R 12 121.12889 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.38439 2.72111 5...75444 550.7050921 ----------------------------------------------------------------------------- 341 .RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .0924859 1.RANDOM MODEL .4198870 0..4198870 4.28495 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 159413..07756 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 256241...20000 4175..66349 118 708 MI:R 708 353340.

37699 49.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.89456 0.58001 0.09249 7.08319 001-004 60 3 4 5.09249 10.30772 0.66370 0.09249 8.61528 60.90161 86.77994 3.07412 001-003 60 3 3 5.68342 0.68745 63.94940 56.09222 342 . INF. NO UNIV.09249 7.46320 0.92450 0.63325 0. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 5.04189 2.= INF.37347 0. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.07416 0.45145 2. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.35896 50.12933 47.09249 8. INF.12309 53.58038 52.09185 80.99410 5.67286 2.08861 001-005 60 3 5 5.05585 001-002 60 3 2 5.

and no official endorsement should be inferred 343 . Brennan Principal Investigator. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Crick.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City.D. Ed. Robert L. Director. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). GENOVA was developed in part under contract No. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Ed.1 January.D. Brennan. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. PA 19104 Robert L.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Iowa 52242 VERSION 3.

23333 768.9841356 0.1445198 51.5069182 MI:R 708 10.9841356 1.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES ....OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 1..55443 59 118 R 2 270613.0598736 I:R 12 135.M X (I:R) DESIGN ..7222109 112.00000 7478.96222 47344...08333 97430. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 ..67889 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .RANDOM MODEL .5621469 0.93333 2885.7169002 1.20000 2259..82499 QF 2 QF 12 QF I:R 12 368044..61222 48.5621469 10.00000 10.90868 2..32111 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 204742.30444 19..M X (I:R) DESIGN .6129639 R 2 130.7169002 0.28333 94688.48111 5.80000 8119.RANDOM MODEL .56215 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 175924.1445198 135......RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 178809.5605806 ----------------------------------------------------------------------------- 344 .1463633 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 1..14665 1..81276 118 708 MI:R 708 380667.71051 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 275758.7222109 130.

72353 0.71526 88.65229 0.= INF.57735 0.02818 001-003 60 3 3 1.73001 1.60852 0.86015 52.98414 3.63805 0.53194 0.43081 66.27644 53.33266 68.98414 6. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.45963 0.28859 54. NO UNIV.09302 92. INF. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 1.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.03553 345 .03184 001-004 60 3 4 1.26058 1.89339 0. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.98414 4.98414 3.45248 56.74587 60.98414 3.43661 1.31679 2.17010 0.07715 4.33600 58.03405 001-005 60 3 5 1.02095 001-002 60 3 2 1. INF.32649 0.

D. Brennan Principal Investigator. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Iowa 52242 VERSION 3. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. GENOVA was developed in part under contract No. PA 19104 Robert L. Robert L. Ed. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Brennan. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Crick.D.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Ed.1 January. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). and no official endorsement should be inferred 346 . Director.

9738173 122.65151 2.RANDOM MODEL .Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .96222 44678.88042 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 167144.7628148 I:R 12 129.2295160 2.1082335 0.65667 89356.18833 603.26000 7775..3717985 48.......M X (I:R) DESIGN ..64383 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 263505.9738173 105..48111 5.6352875 MI:R 708 12.69444 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 198782..73806 QF 2 QF 12 QF I:R 12 349803.8804237 0.M X (I:R) DESIGN .30556 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.43889 70.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 3.. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .30444 24.....RANDOM MODEL .9790840 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 2.2295160 0.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 171313.40000 2835.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .34000 12.8775790 R 2 122.6836219 ----------------------------------------------------------------------------- 347 ..91667 93302.00000 9119.8804237 12..86547 118 708 MI:R 708 365927.1082335 3.3717985 129.02800 1..13333 4168..94038 59 118 R 2 256501.

45396 0.10823 4.44315 62.05125 001-004 60 3 4 3.03369 001-002 60 3 2 3.04534 001-003 60 3 3 3.14488 5.65991 0. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF. INF.25095 0.10823 5.17433 57.38162 0.05482 001-005 60 3 5 3.54025 55.92477 1.15185 84.05721 348 .10823 5.21793 49.10823 4.58839 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO. NO UNIV.60187 51.03665 89.= INF.99814 2. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 3.63114 0. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.58880 51.85434 0.71010 1. INF.88991 65.65321 0.10823 8.28256 2.81654 53.51820 0.69456 0.

PA 19104 Robert L.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Crick.D. Ed.1 January. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Brennan Principal Investigator. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Robert L. Iowa 52242 VERSION 3.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Ed. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. however the authors can make no assurances that the program is totally without error.D. GENOVA was developed in part under contract No. and no official endorsement should be inferred 349 . Director. Brennan. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City.

.13333 53272.6087719 K:P 12 73.7488701 0..9814237 4.12015 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 265917.20000 4439..91547 118 708 MK:P 708 331756.5502787 125.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ..... F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 ....9420122 ----------------------------------------------------------------------------- 350 .RANDOM MODEL .7994991 1.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .46772 2.74637 2....66667 7461.9814237 1..35000 250..5902820 P 2 162.92889 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.M X (K:P) DESIGN ...OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 4.7488701 17.93333 106476.M X (K:P) DESIGN .20000 17.59556 126.44399 59 118 P 2 252349.07111 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 185882..5502787 162.RANDOM MODEL ..07111 51.6933522 27.86222 53238.74887 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 145873.00000 12566.90125 QF 2 QF 12 QF K:P 12 305622.6933522 73.60000 6106.9652808 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 6.7994991 6.43111 11.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 153334.3493034 MK:P 708 17.

24792 8.24792 8. NO UNIV.24792 10.24037 12.24792 13.85966 0.83052 0.48074 24.97210 10.72700 1.05341 0.95815 15.32230 003-003 60 3 3 7.45233 0.47907 7.16025 8.55058 0.78611 0.20607 2.48748 003-005 60 3 5 7.18326 6.71016 0.28656 0.41635 003-004 60 3 4 7.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.16421 5.24792 9. 3 INF.09615 5. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 7.= INF.22002 1.34182 0.43118 1.62019 6.19211 003-002 60 3 2 7.54316 351 .91629 30.78385 0.

Brennan Principal Investigator. Brennan. Ed.D.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. GENOVA was developed in part under contract No. Iowa 52242 VERSION 3. Robert L. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. and no official endorsement should be inferred 352 .1 January.D. Crick. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Ed. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Director. PA 19104 Robert L.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E.

84667 13.23333 65190.9825944 P 2 189.56240 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 306093. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 ..24000 77.RANDOM MODEL .92000 62284.57944 392...7344855 ----------------------------------------------------------------------------- 353 .RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .4215348 4.3123446 34..96000 11.68000 35.8387665 0.RANDOM MODEL .4215348 0.9396860 MK:P 708 13.94644 2.60000 4558.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .25831 2.7541243 2.3123446 90....95333 5432.59752 118 708 MK:P 708 381082.......4342429 189.9665221 K:P 12 90.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 2.36000 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 208358.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 177281.20000 4241.2220360 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 4..28000 124569.7541243 0.8387665 13.00000 9797..14926 59 118 P 2 297293.M X (K:P) DESIGN .M X (K:P) DESIGN .41861 QF 2 QF 12 QF K:P 12 362484.64000 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.83877 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 172723...4342429 146...

67926 7. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.61572 0.15055 0.13080 0.71704 30.61292 34. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 4.47823 0.19586 003-003 60 3 3 4.53443 2.22797 8.82088 0.26759 003-004 60 3 4 4.22797 5.64703 0.53764 11.57235 10.32757 003-005 60 3 5 4.15323 8.10856 003-002 60 3 2 4.37846 354 .16096 0.30646 17.25146 0.22797 5.10667 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.73331 0.= INF.78569 0.22797 6. 3 INF.94341 6. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.35852 15.84089 4.76561 1.38120 1.22797 5. NO UNIV.92258 6.

Ed. Crick. Brennan.D.1 January.D. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Robert L. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Iowa 52242 VERSION 3. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. and no official endorsement should be inferred 355 . 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Brennan Principal Investigator. Director.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Ed. PA 19104 Robert L.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). GENOVA was developed in part under contract No.

OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 2.66667 4439.7446817 2.80000 4030.9151488 0.53444 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 184566.15637 1.M X (K:P) DESIGN ..M X (K:P) DESIGN ..84111 12.88333 53276.9151488 2.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .4329567 20.. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .72222 217.28242 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 263997.67163 118 708 MK:P 708 331741.6548211 27..9850545 P 2 165..Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .68222 54098.43296 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 147174...4846516 127.7446817 0.46556 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.53333 20.66667 4595...21667 108197.9676270 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 2..6348177 K:P 12 73..RANDOM MODEL .14764 QF 2 QF 12 QF K:P 12 308648.4846516 165.RANDOM MODEL .45111 34...13222 77..88360 2.9081929 MK:P 708 20..0844687 ----------------------------------------------------------------------------- 356 .4329567 1.00000 14466...6548211 73...28021 59 118 P 2 255372.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 151769.

28554 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.81099 31.36220 6.19224 1.53279 1.10037 2.19630 003-003 60 3 3 3.64103 6.23011 0.99686 0.72896 0.36259 24.83004 5.32818 003-005 60 3 5 3.83004 10. 3 INF.84065 6. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 3.23554 3.26813 003-004 60 3 4 3.62784 0.68130 12.27033 10.52934 0.83004 5. NO UNIV.37912 357 . SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.10883 003-002 60 3 2 3. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.83004 6.69224 0.73765 0.= INF.70275 7.45420 8.27252 4.39640 0.83004 7.35993 0.40549 15.

LEMBAR PENGESAHAN .

Educational research: An introduction. Ronald. Second edition. Allen Mary. Assessment for excellence. Borg.D. (1991). Seashore. W. (1979). Aspin. Brennan. Yogyakarta.. Alternative assessment. Hal D. London: The John Hopkins Press Ltd. A. Differential aptitude test manual. Dwi. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Babbie. Bambang Prihadi. California: Brooks Cole Publihsing Company. & Wesman. (1993). Brandy. (2005). Robert L. G. “ Children and their books: The right book for the right child I”. Affandi. the experience of children’s literature. Element of generalizability theory. Introduction to measurement theory.G. tidak diterbutkan. (2004). J. Phoenix AZ: The Oryx Press. 263 . Jakarta: Universitas Terbuka. Anugrah. A. H. (2005). Pengembangan instrumen pengukuran respons estetik siswa sekolah pertama menggunakan semantic diferential. Yogyakarta: Gama Media. K. New York: The Psychological Corporation. dalam Maurice Saxby & Gordon Winch (EDS). Assessment and education in the arts. J. (1983). Astin. Zainul. The practice of social research. Dewobroto. Iowa City: ACT Publication. Kompas. Universitas Negeri Yogyakara. Berk. New York: Longman. D. Performance assessment. E. Laure. Fourth edition. Melbourne: The Macmillan Company. W. (10 Agustus 2006).R. & Yen Wendy. Pergamon. M. Mengenal seni rupa anak. (2004). (1986). Tesis Magister. (1952). Give them wings. A.DAFTAR PUSTAKA Abdussalam Al-Khalili. & Gall. (1982). (1983). Fungsi pendidikan seni budaya di sekolah. Ch. Asmawi. Bennet. Mengembangkan kreativitas anak. (2007).. G. Dalam Malcom Ross The Aesthetic Imperative. Belmont CA: Wadworth Thomson Learning Inc.

(Terjemahan Tim Inisiasi). California: Dickenson Publishing Inc. (2003). Cut Kamaril. The DBAE handbook: An overview of disciplinebased art education. Bandung: Tonis. Estetika sebuah pengantar. Dali Gulo. dkk. Brown Company. 264 . Bandung: MSPI. Diambil pada tanggal 8 Nopember 2005. Isobel J. De Francesco-Italio. Charles D. Assessment criteria for art and design teaching.M. Standar nasional pendidikan. The process of art education in the elementary school. Steven Marks. Art for exceptional children. (1975). dan SMK. Djelantik. Art education its means and ends. (1998). CA. (2000). Dubuque. Wailling. Pendidikan seni rupa/ kerajinan tangan. (2002). Children and their art methods for the elementry Atlanta school. assessment criteria. SMA. (1964). Dobbs. (1968). Duane & Prebel. file: // J: Assessment Criteria. Rethinking how art is taught: A critical convergence. (1982). Harcourt Brace Jovanovich. dkk. Thousand Oaks. Donald. (1992). Penelitian kerja sama antara Lemlit IKIP Yogyakarta dan Balitbang Depdikas. Sistem penilaian kelas SD. htm. Art form: An introduction to the visual arts. (2005). Amerika: Prentice Hall Inc. (2006). Inc. R. dari. Depok: Inisisasi Press. SMP. M. Campbell. A. Iowa: W. Jakarta: BSNP. (1999). Jakarta: Universitas Terbuka. Conrad. Dirjen Dikdasmen. Uhlin. (1999). Jakarta. A. Gaitskell. (1975).BSNP. Inc. Multiple intelligences: Metode terbaru melesatkan kecerdasan. Donovan. The aesthetic hypothesis. Santa Monica CA: The Gety Center. Corwin Press. New York: Harper & Brother Publisher. George. Clive Bell. Depdiknas. Linda. (1958).M. Kamus psikologi. Djemari Mardapi. California: Chandler Publishing Company. Survei kegiatan guru dalam melakukan penilaian di kelas. (1967). Coney..

VA:NAEA. Yogyakarta: Galangpress Fernandes. (1997). (1975). History of art education. (1985).. Art in Indonesia. Gronlund. Dwarne. (1973). Charles. New York: Macmillan Publishing Company. Elliot W. “A structure of dicipline concepts for DBAE”. Eymeren.Edmund. Ralph. Ohio: Charles E. Publisher. New Jersey: PrenticeHall. (Eds. Iriaji.Hall. Burke Feldman. Inc. H. George. Jakarta: National Education Planning. Hardiman . Atlanta: Harcourt Brage Jovanovich. (1984). Herawati. Studies in art education. (1999). Pendidikan seni rupa. Educating artistic vision. Identifying resources from which children advance into pictorial innovation. N. N.” curricular considerations for visual arts education: rationale.). W. (1964). Megawati.J. Testing and measurement. the journal of issues and research: 25 (4). National Art Education Association. Dalam Teks-teks kunci estetika flsafat seni. & Nix. The process of art education in the elementary school. (1974). (1997). P 23-34 Gaitskell. Measurement and evaluation in teaching. The Board of Trutes: The Journal Aestetic Education. (1967). Educational assessment and reporting. J: Prentice. (1991). Inc.4 . (2005). Horovitz. NY: Cornell UP. Evaluation. Arthur D. Theodore Zernich. Conrad. New York and London: Teachers College. Claire. (1987). Studies in Art Education. Estetika sebagai kritik dan apresiasi seni. Inc.N. and Curiculum Development. I thaca. E. Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar.28 :227-233 Griffin. (1967). Winter Vol. Understanding children’s art for better teaching. Greer. Englewood Cliffs. Peter. (1990). IL: Stipes. A. Champion. dkk. D. development and evaluation.X. Efland. 251-258. George W. P. H. Eisner. 31 No. Merrill Publishing Company. Hoepfner. Art as image and idea. Children and their art. (1983). Freeman. London: Harcout Brace Javanovich. Reston. “Human behavior: Its implications for curriculum development in art. Holt. 265 . Departemen Pendidikan dan kebudayaan.

Lim Chin Choy. New York: Macmillan Publising Company. Jilid 1 Edisi Ke enam. New York: McGraw-Hill. Art & crafts for the classroom. Martini. (1976). Meitasari Tjandrasa dan Dra. Linn. Elizabeth B. Art. I/03. Kellogg. Jakarta: UNJ. Analisis lukisan karya anak-anak usia sekolah dasar : studi dokumenter hasil karya anak-anak sanggar lukis di kota Jakarta dan Semarang. (2000). K. (1991). California: CRM INC. 3.M. Frederick M. Dalam teks-teks kunci estetika flsafat seni. American Council on Education and Praeger Publishers. (1967). Chapman (1978). Rhoda and Scott O’Dell. B. (2001).Hurlock. Popham. (Terjemahan dr. P. artists and art education. (1995). Kane. 86-97. S. Michael T. Laura. Logan. H. and Lee H.). (2002). Classroom assessment what teacher need to know. Model pembelajaran terpadu berbasis kecerdasan jamak. Jurnal Bahasa dan Seni. Keindahan yang digemari dan pengejawantahannya. (1955). Kritik seni dan penciptaan seni rupa. (Eds. M. James. Focus groups: A practical guide for applied research. Jakarta: Erlangga Ismiyanto. Bandung: Penerbit ITB. & Casey. New York: Harper & Brother. Measurement and evaluation in teaching. Yogyakarta: Galangpress. Sumardjo. Earl. (2006). 266 . The psychology of chidren’s art. Lansing. R. Approach to art in education. (1990). A. Krueger. New York: Harcour Brace Jovanovich. (2000). Filsafat seni. Linderman. Perkembangan anak. (1991). A.. Validation. Jakob. Toronto: Nelson Thomson Learning. USA: Macmillan Publishing Company. ( 2005). Jurnal Seni. MA: A Simon & Schuster Company. N. 18. Kerlinger F. C. Growth of art in American schools. Sage Publications Kusnadi. Jamaris. (1977). Robert L. (2000). Foundations of behavioral research. Muchlichah Zarkasih).

W. New York: Pergamon Press. (1995). Membongkar seni rupa. (2005). Stuart. Oho. Peraturan pemerintah . Surakarta: Bringin 55. “Guidelines for evaluation and assessment in art and design education 5-18 Years”. Nomor 19. Journal of Art and Design Education. Myers. Peraturan Pemerintah RI. Peraturan menteri. 1990. Piaget. The psychology of intelligence. University of Maryland Libraries. Macdonald. Connie. Tri Hartiti. (2003). Novianto. Viktor. Newton. Mamannoor. The history and philosophy of art education. Seni rupa. (1970).”.Visual Arts Research. Pengembangan sumber daya manusia. Kamus lengkap Bahasa Indonesia. Creative and mental growth. Permendiknas RI. Garha. Concepts in art and education. tahun 2006. Inc. & Britain. Soekidjo.. (2003). New York: Harcourt. (1986). Spring 1989. Messick.Vol 15. Assessment in art education a necessary discipline or a loss of happiness?. (1970). J. Mikke Susanto.21 Maret 2005. nomor 22. No. ( 2002).1. New York: American Elsevier. Jakarta: Rora Karya. Maurice. tentang standar nasional pendidikan. (2007).3. Jakarta: PT Rineka Cipta. 267 . London: The Macmillan Company. Volume 9. (1950). George. New York: Macmillan Publishing Co.76-85. “Excellence in arts teaching and learning: A collaborative responsibility of maturing partnership. David. Yogyakarta: FBS UNY. P. tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. Validity of psychological assessment. S. Martono & Retnowati. Online.No. Pappas. Lambert. (2005). (2006). (1989). (1980). The board of trustees of the university of illinois. Strategi pembelajaran seni lukis anak usia dini di Sanggar Pratista Yogyakarta.Lowenfeld. (1982). Bandung: Nuansa. Barrett. Malcom Ross. Yogyakata: Jendela. New York: Analytic. tahun 2005. Brace & World. Wacana kritik seni rupa di Indonesia. Notoatmojo.

(1997). Yogyakarta: Sanggar Melati Suci. Pendidikan seni. A. (1983). Development research on/in educational development. Elementary school art for classroom teachers. Makalah disajikan dalam Seminar & Lokakarya Nasional Pendidikan Seni. di Jakarta.A: Simon & Schuster Custom Publishing. (2001). Jakarta: Depdikbud.Plomp.3 (1906). Yogyakarta: Badan Penerbit ISI Yogyakarta. M. 268 . (2000). S. Soesatyo. Ruta. (1973).. PL2LPTK. R. R. 183-192. Stark. (2005). Pepper. Survai terhadap kondisi guru-guru pendidikan kesenian di SLTP/SMU sumatera barat.A. Jurnal Rupa volume 4 no 1 September 2005. & Thomas. Assessment program evaluation. Contextualistic criticism. Trilogi seni penciptaan eksistensi dan kegunaan seni. vol 2 No 2. London: The Shenval Press. Syahrul. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah.(1970). Pendekatan ekspresi diri. (1994b). (1994a). Soeharjo. J. L’art de bambini. Corrado. Pedagogical Sem. Pratiknyo Prawironegoero. Ricci. Apresiasi seni lukis anak-anak. I Made. Dirjen Dikti.Yogyakarta:Aquarius Offset. Netherlands: Twente University. C. Bandung: STISI Press. Soedarso. Herbert. (2006). Penilaian dengan non tes dalam proses belajar mengajar. Sofyan. Rohidi. Salam. T. “Komposisi” Jurnal Pendidikan Bahasa Sastra dan Seni. Sawyer. Sanggar melati suci (1979-1994). Stephen. Implikasi garis dalam seni rupa. Soesatyo. Rohidi. (2005). Education through art. London: Harper & Row Publishers.302-307. Read. Pendidikan seni dari konsep sampai program. Tjetjep Rohendi. Kesenian dalam pendekatan budaya. Needham Heights. (2001). Malang: Balai Kajian Seni dan Desain. John. (1971). (2002). Tjetjep Rohandi & Retnowati. Tri Hartiti. disiplin dan multikultural dalam pendidikan seni rupa. (1994). Leipzig. New York: Reinhart and Winston Inc. J. (1960).

L.57. (2006). Diakses dari http://www.C.. (1959). M. Utami Munandar. Lexington: Personal Press. Edward. Elizabeth. Il: F. Kreativitas dan keberbakatan strategi mewujudkan potensi kreatif dan bakat. (1986). Section 01 and 02. pp. Waterman. Thorndike. (2001).coe. O. S & Semmel. “Objectivity and assessment in art” in assessment in arts education. 2001) 269 . Amri. S. D. Foley.D. Jakarta: Balai Seni Rupa Jakarta. (1991).Stufflebeam. & Provus. Constructive education for children. Measurement and evaluation in psychology and education . Suryahadi. Linda. Marriman.edu/ivc pada tanggal 1 Juli 2007.10.. Robert. UNY. I. R. J. (1971). (1999).. Gepard.. M. L. Wedwick. Yahya. J. (1979). Torrance. Evaluasi dalam perspektif pendidikan seni (Pidato Ilmiah. Itasca. Peacock. Early adolescent literacy learning fall 2006. New York : John Wiley & Sons. Yogyakarta: Unit Litbang P3G Thiagarajan. & Hagen. (2005). Toronto: Pergamon Press. Heyfron . (1974). A. Paris: Harrap London. (1981). Paul. Wall. Bunga rampai pendidikan seni. Educational evaluation amd decision making. P. Sudarmaji. Instructional development for training teachers of exceptional children: A sourcebook. W. Semmel. L.. M. (1975).. Victor. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. E. Agung. E. W. Guba. Paul Torrance test of creative thinking. W.. H. Hammond.ilstu. Dasar-dasar kritik seni rupa. Evalution of the art product. art education. D. Minneapolis Indiana University. G..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful