Lampiran 9

Gambar 1. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 1

Gambar 2. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 1

358

Lampiran 9

Gambar 3. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 2

Gambar 4. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 2

359

Lampiran 9

Gambar 5. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 3

Gambar 6. Hasil Karya Lukis Anak Kelas 3

360

ABSTRACT Tri Hartiti Retnowati. Developing of Assessment Instrument for Children’s Painting in Elementary School. Dissertation. Yogyakarta: Graduate School, Yogyakarta State University, 2009. This study aim at developing an assessment specification for children’s painting in elementary schools by developing a valid and reliable assessment instrument to measure the performance of children’s painting. The development of this assessment instrument was intended to guide the painting teachers in elementary schools in carrying out assessment objectively. This study is a development research which uses quantitative and qualitative approaches. The development process was carried out in five phases, covering initial study, defining, designing, developing, and dissemination phases. The subjects of this study were elementary schools’ teachers and pupils in the first grade to third grades and painting teachers in Muhammadiyah Sapen Yogyakarta elementary school, MIN (Islamic State Elementary School) Tempel, and Langen Sari Yogyakarta elementary school. The construct of the instrument consisting of instrument for process, product, self, and group assessment was developed based on the suggestion of art education, children’s art painting, evaluation, and painting experts. The reliability coefficient of the assessment instrument was computed based on generalizeability theory developed by Crick and Brennan consisting of G (generalized study) and D (decision study) theories with the variance of person, rater, item, person rater interaction, and error components using Genova computer package program, and interrater Cohen’s Kappa fomula. The findings of this study suggest that first, the specification of the assessment instrument for performance of children’s painting in elementary school is in the form of observation sheet consisting of indicators, descriptions, and rubrics (criteria). The components of assessment object are process, product, self assessment, and group assessment. Second, the characteristics of the performance assessment instrument of children’s painting in elementary school consisting of validity, reliability coefficient, and its implementation have been verified. The validity evidence is obtained through three focus group discussions and one seminar. The average of Cohen’s Kappa tend to be higher than genova coefficient and the estimation of Genova coefficient using a nonlinear equation tends to be more accurate than one using a linear equation. The highest coefficent of Genova for process assessment is in grade 1 with 7 items rated, that is 0.91, for product assessment in grade 1 with 3 items rated, that is 0.76, for self assessment, that is 0.68, and for group assessment in grades 1, that is 0.86. The average of cofficients genova is 0.71 and the average of Cohen’s Cappa is 0.73. Both of this value are higher than the minimum criteria, 0.70. Third, the guideline of using performance assessment instrument of children’s painting in elementary school is in the form of a booklet. It consists of background, rationale, components of assessment, guideline, and application sample. Forth, the requirements for elementary school teachers for using this instrument cover the relevant educational background, having experiences in art of paintings, good comprehension toward the guideline of performance assessment for children’s painting, and being responsive toward reformation and changes.

iii

ABSTRAK
Tri Hartiti Retnowati. Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak di Sekolah Dasar. Disertasi. Yogyakarta: Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta, 2009. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan spesifikasi penilaian karya seni lukis anak di sekolah dasar dengan mengembangkan instrumen penilaian yang sahih dan andal untuk mengukur hasil belajar seni lukis anak. Pengembangan instrumen penilaian hasil belajar seni lukis anak sekolah dasar ini dimaksudkan agar para guru seni lukis pada jenjang pendidikan dasar dapat melakukan penilaian secara objektif. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan yang menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Proses pengembangan dilakukan melalui lima tahap yaitu tahap studi awal, tahap pendefinisian, tahap perancangan, tahap pengembangan, dan tahap diseminasi. Penetapan konstruk instrumen yang terdiri atas instrumen penilaian proses, penilaian produk, penilaian diri, dan penilaian kelompok dilakukan melalui pendapat pakar pendidikan seni, pakar seni lukis anak, pakar pengukuran, dan praktisi lapangan. Subjek penelitian ini terdiri atas dua elemen yaitu pendidik dan peserta didik sekolah dasar kelas satu sampai dengan kelas tiga dan pendidik seni lukis anak di SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta, MIN Tempel, dan SDN Langen Sari Yogyakarta. Penentuan koefisien reliabilitas instrumen penilaian dilakukan dengan menggunakan paket program genova berdasarkan teori Generalizability yang dikembangkan oleh Cric dan Brennan yang terdiri atas teori G (Generalized study) dan D (Decision study) yang komponen variansinya adalah person, rater, item, interaksi person dan rater, dan kesalahan, serta dengan koefisien interrater Cohen’s Kappa. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah: 1). Spesifikasi instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD berbentuk lembar pengamatan yang terdiri atas indikator, deskripsi, dan rubrik (kriteria), serta komponen yang menjadi objek penilaian meliputi proses, produk, penilaian diri, dan penilaian kelompok, 2). Karakteristik instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak yang mencakup validitas, reliabilitas, dan keterpakaian di SD telah teruji. Validitas telah teruji melalui focus group discussion sebanyak 3 kali dan sekali seminar. Rata-rata koefisien Cohen’s Kappa cenderung lebih tinggi dibanding rata-rata koefisien genova dan koefisien genova dengan persamaan nonlinear cenderung lebih teliti dibanding dengan persamaan linear. Besar koefisien genova paling tinggi untuk penilaian proses di kelas 1 dengan 7 item yang dirating yaitu 0,91, penilaian produk di kelas 1 dengan 3 item yang dirating yaitu 0,76, penilaian diri di kelas 1 yaitu 0,68, sedang penilaian kelompok di kelas 1 yaitu 0,86. Ratarata koefisien Genova secara keseluruhan adalah 0,71. Adapun rata-rata koefisien Cohen’s Kappa yaitu 0,73. Kedua nilai rata-rata ini telah memenuhi kriteria minimum yang disyaratkan yaitu 0,70, 3). Pedoman penggunaan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak dalam bentuk booklet. Booklet terdiri atas latar belakang, rasional, komponen yang dinilai, petunjuk penggunaan, dan contoh aplikasi, 4). Persyaratan yang harus dipenuhi pendidik SD agar kompeten menggunakan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD meliputi latar belakang pendidikan yang relevan, memiliki pengalaman dalam bidang seni lukis, memahami pedoman penilaian hasil belajar karya seni lukis anak, dan responsip terhadap pembaharuan dan perubahan.

ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang dan Identifikasi Masalah Pada dasarnya manusia memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai estetika agar dapat hidup dengan baik di masyarakat dan memiliki rasa keindahan. Pengetahuan berkaitan dengan penalaran yang diperlukan dalam memecahkan masalah. Keterampilan berhubungan dengan gerak anggota badan dalam mengerjakan pekerjaan. Rasa keindahan atau kepekaan estetik berkaitan dengan seni, sehingga orang yang memiliki apresiasi terhadap seni merasakan indah dalam hidupnya. Oleh karena itu setiap orang harus memiliki kepekaan estetik agar dapat merasakan keindahan dalam hidupnya. Dalam perspektif pendidikan, seni dipandang sebagai salah satu alat atau media untuk memberikan keseimbangan antara intelektualitas dengan sensibilitas, rasionalitas dengan irrasionalitas, dan akal pikiran dengan kepekaan emosi. Bahkan dalam batas-batas tertentu, seni menjadi sarana untuk mempertajam

moral dan watak seseorang (Rohidi, 2000: 55). Pendidikan seni bertujuan mengembangkan kedewasaan diri anak didik yang utuh dan seimbang dengan cara memberikan perlakuan yang dapat merangsang kepekaan estetik dan kreativitas peserta didik. Dengan demikian untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan pengembangan estetik melalui pendidikan seni. Pengembangan kepekaan estetik merupakan bagian dari pengembangan kepribadian seseorang, yang dilakukan melalui pendidikan seni. Dalam Peraturan Pemerintah No 19 tahun 2005 (PP Nomor 19, 2005) tentang standar nasional

1

pendidikan,

masalah

kepekaan

estetik

memperoleh

penekanan

dalam

pengembangan kemampuan peserta didik melalui kelompok mata pelajaran estetika. Pada peraturan ini, kelompok mata pelajaran estetika yang harus dipelajari peserta didik mempunyai arah pengembangan untuk meningkatkan: (1) sensitivitas, (2) kemampuan mengekspresikan, dan (3) kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni. Kemampuan mengapresiasi dan mengekspresikan keindahan serta harmoni mencakup apresiasi dan ekspresi, baik dalam kehidupan individual sehingga mampu menikmati dan mensyukuri hidup, maupun dalam kehidupan kemasyarakatan sehingga mampu menciptakan kebersamaan yang harmonis (BSNP, 2006: 78-79). Kelompok mata pelajaran estetika merupakan pelaksanaan dari pendidikan seni yang tergolong unik karena melekatnya "pengalaman estetik" pada diri seseorang. Dalam pendidikan seni, pengalaman estetik merupakan

sesuatu yang esensial. Menurut Linderman (1984: 54), pengalaman estetik mencakup pengalaman-pengalaman perseptual, kultural, dan artistik. Pengalaman perseptual dikembangkan melalui kegiatan kreatif, imajinatif, dan intelektual. Pengalaman kultural melalui kegiatan pemahaman terhadap hasil warisan budaya lama dan baru, sedangkan pengalaman artistik melalui kegiatan kreatif dan

apresiatif. Dengan demikian pengalaman estetik memberi peluang bagi seseorang untuk memahami dunia dari sudut pandangan yang berbeda dengan aspek pengetahuan. Cara memahami dunia yang ditawarkan oleh seni bersifat intuitif, tak terduga, dan kreatif, serta dikomunikasikan dalam bahasa warna, bunyi, gerak, atau isyarat yang bersifat simbolis.

2

dan /atau pandangan anak terhadap sesuatu. dan muatan lokal yang relevan.Pada seni melekat kesediaan untuk mengimajinasikan segala kemungkinan. seni dan budaya. Melukis bagi anak-anak merupakan aktivitas psikologis dalam rangka mengekspresikan gagasan. 2006: 140). emosi. Kegiatan melukis bagi anak-anak seusia anak sekolah dasar merupakan kegiatan naluriah dan menjadi kesenangan anak karena muncul atas desakan perkembangan emosi artistik yang bersifat kodrati. mengeksplorasi ambiguitas. Karena itulah. Salah satu kegiatan seni yang dilaksanakan di sekolah dasar adalah seni lukis yang merupakan bagian dari seni rupa.” (BSNP. (2) untuk membentuk pribadi yang harmonis dalam berlogika dan beretika bagi elaborasi peserta didik untuk mencapai kecerdasan emosional. intelektual. Anak 3 . Standar kompetensi kelompok mata pelajaran estetika pada jenjang sekolah dasar adalah: ”menunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni dan budaya lokal.”. dan kreatif pada diri peserta didik secara komprehensif. Hal ini sesuai dengan pendapat Anugrah (2006) sebagai berikut. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. dan menerima keragaman pandangan. Pendidikan Seni Budaya di sekolah memiliki dua fungsi yaitu: (1) untuk menumbuhkan kepekaan rasa estetik dan artistik sehingga terbentuk sikap kritis. serta mentalitasnya. keterampilan. imajinasi. spiritual. perasaaan. Kelompok mata pelajaran estetika dilaksanakan pada semua jenjang pendidikan dari sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah atas atau yang sederajat dengan standar kompetensinya disebutkan dalam PP 19 tahun 2005 yaitu: ”membentuk karakter peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa seni dan pemahaman budaya. apresiatif. pendidikan seni amat menghargai pengalaman pribadi yang menantang anak untuk bertindak kreatif melalui pemecahan masalah artistik.

dan eksperimental. bebas. intuitif dan lebih dekat dengan sifat bermain pada anak. Pengetahuan dan pemahaman ini diperlukan agar pendidik mampu memberikan bimbingan dan menilai hasil belajar karya peserta didik . maka sifat-sifat yang demikian juga hadir dalam karya lukis anak. 2005). Penilaian proses antara lain melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan kompetensi peserta didik (PP Nomor 19. pikirkan dan khayalkan. Didukung oleh penalaran anak yang wajar. 4 . maka hasil karya anak tampak sungguh naif. Ungkapan pribadinya muncul melalui bentuk-bentuk dengan makna simbolik tertentu. Mereka melukis sebagai wujud pengungkapan pikiran dan perasaan tanpa terbatas pada apa yang dilihat oleh mata kepala saja. Mereka dengan asyik melakukan coret-mencoret. spontan. melainkan lebih pada apa yang mereka mengerti. mengekspresikan perasaannya melalui garis. 1994a: 31). gembira. Dalam konteks pendidikan. Sebagaimana kehidupan dan keadaan jiwa anak-anak yang pada umumnya bersifat bermain-main. Penggunaan unsur-unsur pada lukisannya tergantung pada keasyikan pemikiran dan fantasinya. 1994b: 32). seorang pendidik harus mempunyai pengetahuan dan pemahaman tentang makna karya seni lukis bagi peserta didik.melukis adalah menceritakan atau mengungkapkan (mengekspresikan) sesuatu yang ada pada dirinya secara intuitif dan spontan lewat media seni lukis (Soesatyo. warna dan sebagainya sesuai dengan suara batin dan lingkungan anak. Lebih banyak yang akan mereka ceritakan maka lebih banyak pula bentuk yang dimunculkan (Soesatyo. bidang. Hal ini sesuai dengan kompetensi yang dituntut sebagai seorang guru yaitu menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.

Kauman 5 .Nitikan SD Muh.Karangkajen SD Muh. sehingga kemampuan dalam menilai karya anak belum seperti yang diharapkan. Subjektivitas dalam penilaian karya seni lukis anak pada dasarnya disebabkan oleh kesulitan guru dalam menentukan kriteria penilaian. padahal pelajaran melukis bagi anak-anak adalah pelajaran yang menyenangkan. Hal ini diakui oleh dua puluh orang guru yang dapat ditemui dalam studi awal penelitian.Danunegaran SD Muh. Papringan SD Muh. Dengan demikian masalah subjektivitas menjadi masalah yang tidak dapat dihindari dalam penilaian karya lukis anak. Nitikan SD Muh. Gowongan SD Muh. Danunegaran SD Muh. (lihat Tabel 1) Tabel 1 Daftar Peserta Studi Awal No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Nama Guru (Singkatan) SW PB SR NH AG PN EL RL RP SW SS WA TR RH ET MR SR RP SL LP Umur (Tahun) 49 36 39 47 54 45 55 50 35 38 32 39 31 33 27 35 29 34 44 28 Pengalaman Mengajar (Tahun) 24 11 14 22 29 20 30 25 10 13 7 14 6 8 4 10 5 9 19 4 Nama Sekolah SD Lempuyangan 2 SD Lempuyangan 1 SD Lempuyangan 3 SD Tegal Panggung SDN Widoro SD Suryodiningratan 4 SD Langensari SD Samirono SD Suryodiningratan 3 SD Pujokusumon 3 SD Muh.Penumping SD Muh. Papringan SD Muh. Sebagian besar guru sekolah dasar merupakan guru kelas.Penelitian ini didasarkan pada asumsi bahwa pemahaman guru-guru terhadap hakekat pendidikan seni terutama pelaksanaan pembelajaran seni lukis sekolah dasar belum seperti yang diharapkan sehingga mereka cenderung membimbing secara kurang tepat antara lain menilai secara subjektif.

permasalahan penilaian karya lukis anak merupakan permasalahan yang sangat penting untuk dipecahkan karena akan 6 . (2) guru merasa kesulitan untuk menentukan kriteria dalam penilaian karya seni lukis anak. Sebagai guru kelas dan tidak pernah mendapat pelatihan tentang penilaian seni lukis sehingga guru mengalami kesulitan dalam menilai proses dan produk karya seni lukis. Hal ini lebih disebabkan karena tidak ada kriteria yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menilai proses dan produk karya seni lukis anak tersebut. dari jawaban dan pendapat yang dikemukakan para guru. Kedua aspek penilaian ini akan memberikan gambaran tentang kemampuan melukis siswa yang sebenarnya. Pada penilaian produk seorang guru dapat melihat hasil karya siswa setelah mengalami serangkaian proses pembuatan karya. (3) belum adanya pedoman yang dapat dijadikan pegangan guru untuk melakukan penilaian seni lukis anak yang sesuai dengan perkembangan anak. karena latar belakang pendidikan bukan dari bidang seni rupa. Berdasarkan studi awal yang dilakukan. Dalam konteks pendidikan. baik penilaian proses maupun produk karya seni lukis anak.Penilaian hasil karya lukis siswa perlu meninjau dua aspek yaitu proses pembuatan karya lukis dan hasil karya lukis itu sendiri. dapat dirinci permasalahan di lapangan dalam penilaian karya seni lukis anak sebagai berikut: (1) adanya faktor subjektivitas dalam menilai karya seni lukis anak. Kenyataan di lapangan menunjukkan penilaian proses dan produk dilakukan guru sebatas pengetahuan yang dimiliki guru tentang seni lukis. Pada penilaian proses seorang guru dapat mengamati bagaimana aktivitas siswa dalam membuat karya lukis.

khususnya di Indonesia. timbul perbedaan persepsi tentang instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar antara guru yang satu dengan lainnya.menjadi kendala dalam proses pembelajaran seni lukis anak. 7 . guru seni lukis menggunakan instrumen penilaian yang disusun secara mandiri. dan kreativitas peserta didik. B. khususnya pengajar seni lukis kesulitan menentukan kriteria penilaian seni lukis anak. tentunya tidak adil apabila hanya dilihat dari segi tampilan karya tersebut. ekspresi estetis. Oleh karena itu masalah seni lukis anak tidak dapat dipisahkan dari tinjauan ilmu jiwa anak terutama dalam hal ini anak sekolah dasar. Studi awal tersebut menggambarkan keadaan sesungguhnya di lapangan bagaimana guru-guru. dengan harapan agar penilaian mendekati objektivitas. dan dunia anak-anak itu sendiri. Hal inilah yang melandasi penelitian ini untuk mengembangkan instrumen penilaian karya seni lukis anak. belum tersedia. Selama ini. kehidupan anak. Rasional yang Mendasari Pentingnya Masalah Memahami karya lukis anak. juga harus dilihat dari segi atau sisi anak-anak itu sendiri yang menghasilkan karya yaitu dengan menghayati kondisi kejiwaan anak. Tetapi. Akibatnya. Merupakan dampak selanjutnya adalah tidak berfungsinya tujuan pendidikan seni budaya dan keterampilan dalam mengembangkan sensitivitas. kreativitas. terutama dari hakekat seni. Hingga saat ini instrumen penilaian karya seni lukis anak yang telah teruji secara ilmiah yang dapat digunakan oleh guru sekolah dasar.

Untuk melakukan penilaian yang objektif diperlukan instrumen penilaian. seorang guru harus mempunyai pengetahuan dan kemampuan apresiasi yang tinggi terhadap karya tersebut sehingga dapat mengerti. Kegiatan seni lukis anak memiliki wilayah tersendiri dan karenanya harus dilihat serta dinilai tersendiri (Soesatyo. evaluasi hasil belajar. Apalagi sampai pada suatu kesimpulan berupa penilaian yang dapat dipertanggungjawabkan. sehingga dapat memacu anak belajar seni lukis. dan 8 . menerima. perancangan dan pelaksanaan pembelajaran. Di samping hal tersebut. seorang guru harus pula mempunyai wawasan yang luas dan dapat mengerti kelemahan dan kekurangan hasil karya lukis anak. PP 19 tahun 2005 disebutkan bahwa seorang pendidik harus mempunyai kompetensi pedagogik yakni kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik. sehingga hasil dipertanggungjawabkan. baik proses maupun hasilnya.Cara pandang atau apresiasi guru terhadap hasil karya lukis anak berbeda dengan karya lukis orang dewasa. Penilaian merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran. Penilaian bertujuan untuk mengetahui proses dan hasil belajar mengajar seni luksi anak. Instrumen penilaian ini akan membantu guru dalam menilai karya lukis anak secara objektif. Agar penyelenggaraan proses belajar mengajar di sekolah memperoleh hasil yang penilaiannya dapat optimal hendaknya guru memiliki pengetahuan dalam menilai karya lukis anak. Untuk sampai pada penilaian karya lukis anak. 1994a: 33). dan menghargai yang didasari pengertian yang terkandung dalam karya. Dalam pasal 28 ayat (3) butir a.

dan kejiwaan anak perlu dipertimbangkan dalam menilai karya seni lukis anak. Keberhasilan pendidikan seni tidak lepas dari peranan guru dalam menilai karya lukis anak. Kegiatan penilaian memerlukan instrumen penilaian.pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Sistem penilaian kelompok mata pelajaran estetika harus memperhatikan esensi kelompok mata pelajaran itu sendiri. salah satu panduan penilaian yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan adalah panduan penilaian kelompok mata pelajaran estetika. Oleh karenanya faktor psikologis seperti dunia anak. sebab yang ada hanyalah tingkat kemampuan anak. Dalam berbagai kasus. atau tujuh atau delapan dalam menilai hasil belajar praktek seni lukis anak. Berkaitan dengan hal tersebut di atas. Kompetensi pedagogik mencakup kemampuan melaksanakan pembelajaran dan menilai proses dan hasil belajar peserta didik. Dalam penilaian karya seni lukis anak perlu ditegaskan tidak adanya hal yang salah. Dengan demikian diperlukan suatu instrumen yang dapat diacu untuk menilai karya seni lukis anak. agar hasil penilaian lebih akuntabel. Akibatnya. Hal ini dipertegas pada pasal 64 ayat 5 Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 tahun 2005 9 . sering terjadi penilaian karya seni khususnya karya seni lukis anak tidak berpijak pada argumen yang tepat. keliru atau betul. kehidupan anak. guru tidak mampu menjelaskan kriteria yang digunakannya dalam memberikan nilai enam. Penilaian yang dilakukan guru di sekolah saat ini belum menggunakan instrumen yang dapat dipertanggungjawabkan dilihat dari kriteria yang digunakan.

Dengan demikian. penilaian tidak akan terjebak menjadi like and dislike karena menggunakan ukuran yang jelas. Dengan demikian untuk memudahkan pendidik dalam menilai karya lukis anak. Untuk menentukan kadar keartistikan suatu lukisan diperlukan ukuran atau kriteria tertentu. Penilaiannya dapat diartikan sebagai upaya menentukan kadar keartistikan. Karena lukisan anak merupakan wujud ekspresi artistik. 2001: 15). atau rendah. diperlukan instrumen yang didalamnya terdapat kriteria yang telah ditetapkan lebih dahulu. 2001: 14).tentang Standar Nasional Pendidikan. Penegasan ini mengisyaratkan diperlukan cara penilaian yang bersifat khusus. sehingga hasil penilaian dapat objektif dan dapat dipertanggung jawabkan. Hal ini akan memudahkan pendidik untuk menilai karya seni lukis anak dengan membandingkan hasil karya dengan kriteria yang telah ditetapkan. Kriteria tersebut akan memudahkan penikmat dalam mengevaluasi lukisan (Yahya. sedang. maka di dalamnya terdapat dimensi keindahan. Dengan cara demikian. penilaian terhadap seni lukis anak harus merupakan upaya untuk menunjukkan nilai-nilai artistik lukisan tersebut. Hal inilah yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pendidikan seni (Yahya. apakah tinggi. bahwa “Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran estetika dilakukan melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan ekspresi psikomotorik peserta didik”. 10 .

2.C. dan keterpakaian di sekolah dasar? 3. Menentukan kriteria penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di sekolah dasar. 3. Bagaimana komponen instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di sekolah dasar? 2. Rumusan Masalah Masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Mengembangkan instrumen penilaian yang valid. Bagaimana bentuk dan isi pedoman penggunaan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak? 4. 11 . 4. Bagaimana karakteristik instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak yang mencakup validitas. reliabilitas. reliabel. Untuk menggunakan instrumen penilaian hasil belajar seni lukis anak sekolah dasar secara optimal. Mengembangkan komponen instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di sekolah dasar. Mengetahui persyaratan apa yang harus dipenuhi pendidik sekolah dasar. kompetensi apa yang perlu dikuasai guru? D. dan praktis untuk mengukur hasil belajar seni lukis anak. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1. untuk dapat menggunakan secara kompeten instrumen hasil belajar seni lukis anak.

waktu. 12 . Spesifikasi Produk Hasil penelitian dan pengembangan. Tahap awal mencakup indikator-indikator yang berhubungan dengan pengkondisian awal siswa sebelum melukis seperti kesiapan alat dan bahan yang diperlukan untuk melukis. Spesifikasi produk yang diharapkan adalah sebagai berikut: 1. Instumen penilaian tersebut diperlukan untuk membantu guru dalam memberikan penilaian yang objektif terhadap kemampuan seni lukis anak. maupun kondisi psikologis yang mempengaruhi kualitas karya yang dihasilkan seperti keberanian dan ketekunan. Tahap inti mencakup indikator yang berhubungan dengan aktivitas siswa dalam melukis baik dari segi kemampuan intelektual. Penilaian yang objektif akan membantu seorang guru mengidentifikasi kemampuan siswa dalam melukis. F. Penilaian proses Penilaian proses terdiri dari tahap awal dan tahap inti. Secara praktis hasil penelitian diharapkan akan menjadi acuan guru pengajar seni dalam melakukan penilaian hasil karya seni lukis anak. Manfaat Penelitian Hasil penelitian akan memberi sumbangan teori pada kriteria instrumen penilaian seni lukis anak yang teruji secara empirik.E. diharapkan mendapatkan produk berupa instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar yang valid dan reliabel.

3. serta pengalaman-pengalaman berharga mana yang berhasil dipelajari dalam kegiatan tersebut. Penilaian produk Penilaian produk mengungkap adanya unsur kreativitas. 4. bermanfaat atau tidak. Penilaian kelompok Penilaian kelompok memberikan kesempatan peserta didik menunjukkan satu atau dua karya mereka secara bergiliran. sehingga terkembangkan sikap oto kritis dalam memberikan penilaian terhadap hasil karya temannya. ekspresi. apakah suatu kegiatan melukis bagi dirinya menarik atau membosankan. Penilaian diri Penilaian diri mengungkap informasi dari tiap peserta didik. serta teknik melukis. 13 . Disamping itu. dalam penilaian kelompok peserta didik diharapkan dapat menangani problem. dan hasilnya memuaskan atau tidak. apakah mengerjakannya mudah atau sulit.2. sebagaimana tercantum dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk bidang seni yang terdiri dari gambar ekspresif dan imajinatif. kemudian peserta didik yang lain memberikan respons dalam bentuk bahasan kritis. dan keberhasilan karya temannya. kegagalan.

BAB III METODE PENELITIAN A. yang pengumpulannya dimulai sejak awal pengembangan konstruk. termasuk praktisi seni lukis dan guru seni lukis di sekolah dasar. Pendekatan ini digunakan. Konsep validitas bersifat “unity concept” yang dibangun dari teori yang melandasi konsep pengembangan. Penelitian pengembangan digunakan untuk menghasilkan instrumen yang baku dalam menilai karya lukis anak. karena pengembangan instrumen penilaian seni lukis anak harus dimulai dengan membangun konstruk yang diukur. Bukti validitas suatu instrumen harus memiliki validitas interpretasi hasil pengukurannya. sesuai dengan Standard for educational and psychological testing (1999) harus memiliki bukti validitas interpretasi hasil pengukuran. instrumen. Data kualitatif yang diperlukan merupakan landasan teoritis bangunan konstruk instrumen. Model Pengembangan Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Instrumen yang dikembangkan disertai dengan pedoman penggunaan instrumen. Data kuantitatif yang berupa hasil penilaian pendidik terhadap karya lukis anak 152 . Konstruk instrumen penilaian ini merupakan “tingkat ukuran” (yard stick) karya seni lukis anak. dan bukti empirik. melalui berbagai penelusuran dan diskusi pakar seni lukis dan pendidikan seni lukis. Bukti validitas interpretasi hasil pengukuran instrumen penilaian karya seni lukis anak memerlukan data kualitatif dan kuantitatif. Instrumen penilaian seni lukis anak.

(2) design. Setiap aspek diurai menjadi sejumlah indikator. penelitian ini menggunakan modifikasi model Semmel & Semmel dengan model Plomp. seperti berikut ini. 275-276) ada sepuluh langkah dalam melakukan R & D. dan model Borg & Gall. 6) Main field testing. Setelah indikator disusun menjadi item yang dirakit menjadi instrumen utuh. (5) evaluation and revision. 5) Main product revision. Semmel & Semmel dikenal dengan Four-D Model. 3) Develop preliminary form of product. Kriteria pengembangan konstruk instrumen mencakup aspek proses dan hasil karya lukis anak. 153 . dan dissemination atau yang dikenal dengan 4D. develop. 7) Operational product revision. yaitu dimulainya dengan tahap preliminary investigation yang dikemukakan oleh Plomp dan research & development menurut Semmel (1974:5). (3) realization construction. design. (4) test. 3) Preliminary field testing. 10) Dissemination and implementation. Tahapan pengembangannya meliputi: define. Thiagarajan. Menurut Borg & Gall ( 1983. Sesuai dengan tujuannya. Instrumen diujicobakan kepada sejumlah pendidik agar dapat diketahui keterpakaiannya dan diestimasi koefisien reliabilitas hasil ukurnya. Pengembangan instrumen ini dilakukan dengan mengadopsi model penelitian dan pengembangan pendidikan secara umum. Beberapa model penelitian dan pengembangan yang dipakai dalam penelitian dan pengembangan (R & D) antara lain: model Semmel & Semmel. Develop and Disseminate. and (6) implemention. Model Thiagarajan. Plomp. 9) Final product revision. yaitu Define. Menurut Plomp (1997: 78) langkah-langkah R & D adalah sebagai berikut: (1) preliminary investigation.diperlukan untuk memperoleh informasi tentang besarnya koefisien keandalan hasil ukur instrumen. Design. 1) Research and information collecting 2) Planning.8) Operstionsl field testing.

Kegiatan yang dilakukan tahap design adalah telaah konstruk instrumen oleh para pakar dan guru sekolah dasar seni budaya (seni lukis). deskripsi. kegiatan yang dilakukan adalah mengembangkan indikator. kegiatan yang dilakukan adalah uji coba instrumen terhadap guru sekolah dasar. Research & Develepment Model PRELIMINARY INVESTIGATION Identifikasi kebutuhan alat penilaian seni lukis Elaborasi kebutuhan alat penilaian seni lukis yang relevan DEFINE Merumuskan definisi konstruk instrumen Mengkaji konsep instrumen karya lukis anak berdasarkan teori Penentuan konstruk instrumen Telaah konstruk oleh pakar Mendesain konstruk instrumen Pengembangan indikator Penyusunan item instrumen Telaah item instrumen Perbaikan instrumen Uji coba instrumen Analisis instrumen Pembakuan instrumen FGD Sosialisasi instrumen karya lukis anak DESIGN DEVELOP DISSEMINATE Gambar 40. dan mengkaji konsep instrumen karya lukis anak berdasarkan teori dan hasil penelitian yang relevan. dan penyusunan item instrumen. dalam hal ini adalah kriteria karya lukis anak. kegiatan yang dilakukan adalah merumuskan definisi konstruk. Terakhir.Pada tahap define. Tahap develop. Secara rinci model pengembangan instrumen disajikan pada Gambar 40. kriteria. tahap dissemination. Model Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak 154 .

Selain itu. Tahap Studi Awal Pada tahap awal (preliminary investigation) ini. tentang pentingnya profesionalisme guru pendidikan seni dan komitmen terhadap tugas merupakan faktor penting untuk kelangsungan pembelajaran dan pencapaian kualitas hasil belajar anak didik. Substansi yang ditelaah pada tahap ini adalah mengkaji analisis kurikulum yang berlaku untuk matapelajaran seni budaya dan keterampilan. sasaran penilaian karya seni lukis. penjelajahan juga dilakukan terhadap hasil-hasil penelitian yang relevan untuk mendukung gagasan instrumen penilaian seni lukis yang sesuai dengan kebutuhan guru di lapangan. Demikian juga hasil penelitian Coney tahun 1999. Penelitian yang relevan tersebut. 1. Prosedur Pengembangan Berdasarkan model pengembangan pada Gambar 40. antara lain penelitian Ismiyanto tahun 2002 yaitu penelitian tentang visualisasi lukisan karya anak-anak usia sekolah dasar ditinjau dari tema dan subjek mencerminkan kehidupannya dan menunjukkan adanya upaya anak mengidentifikasi diri dalam karyanya. tahapan atau prosedur pengembangan lebih lanjut dapat dijabarkan sebagai berikut. dilakukan pengkajian pustaka yang berkaitan dengan identifikasi jenis. Penelitian Syahrul yang dilakukan tahun 2001. yang dilatarbelakangi bagaimana membuat suatu penilaian menjadi sebuah elemen pembelajaran yang aktif dan positif dari pengajaran.B. Hasil penelitian membuahkan tujuh kriteria untuk melihat kemajuan anak dalam berkarya seni yaitu: (1) kemampuan untuk mengamati dan merekam 155 .

yaitu mengolah ketiga unsur tersebut. (2) pengembangan ketrampilan teknis. Kemudian untuk mendapatkan kebutuhan realita di lapangan. Kajian Pustaka Analisis Kurikulum Masalah Riil Elaborasi Indikator Deskripsi Level Kriteria Gambar 41. (3) minat dan motivasi anak. Tahap Pendefinisian Tahap pendefinisian (define) adalah tindakan untuk menyusun definisi tentang unsur. Tahapan Studi Awal Pengembangan Instrumen Seni Lukis Anak 2. yaitu kajian pustaka. (6) menekankan kembali batasan-batasan dari suatu tugas. dan studi lapangan. sehingga diperoleh indikator dan deskripsi. Tahap pendefinisian merupakan tahap 156 . dan kriteria penilaian yang disajikan pada Gambar 41. (4) ekspresi dan kontrol atas ide-ide yang diungkapkan termasuk kreativitas. deskripsi. dan kriteria penilaiannya.pengalaman visual anak. level. (5) pencapaian sasaran pembelajaran. dan (7) komitmen anak dalam mengerjakan tugas rumah. Dengan demikian hasil karya seni lukis pada dasarnya dapat dinilai dari sudut kreativitas. sasaran penilaian seni lukis diikuti penjabaran indikator. maka dilakukan wawancara terhadap guruguru yang mengajar seni lukis di SD. analisis kurikulum. selanjutnya dilakukan elaborasi terhadap ketiga unsur tersebut. ekspresi dan teknik. Setelah dilakukan identifikasi pada ketiga hal tersebut.

Kisi-kisi yang dimaksudkan sebagai upaya memaparkan pola hubungan antara konstruk (dimensi yang diukur) dengan indikator. Indikator Deskripsi Kriteria Rubrik Bagan 42. kriteria. kelancaran penuangan ide. Tahap Perancangan Tahap perancangan (design) adalah tindakan merancang kisi-kisi instrumen alat pengukur karya seni lukis sehingga bisa diketahui dimensi yang diukur atau konten dan jabaran dari tiap-tiap unsur sasaran penilaian seni lukis. ekspresi. Tahapan Pendefinisian Instrumen Seni Lukis Anak 3. kemudian ditetapkan kriteria disertai rubrik penskoran. Dalam kaitan dengan ini. Selanjutnya masing-masing indikator dijabarkan menjadi deskripsi. keberanian menggunakan media. indikator yang terjaring ada 10 macam. dan teknik. kriteria. 157 . dan rubrik penskoran. yaitu pendefinisian tentang indikator. kesiapan alat dan bahan untuk melukis. Indikator menjadi acuan dalam mengembangkan item. Dengan demikian kisi-kisi dapat dipakai sebagai bukti pada proses validasi.lanjutan dari tahap awal. kreativitas. ketekunan. dan item. keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk. deskripsi. yaitu: tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat. deskripsi. pemanfaatan waktu. Setelah deskripsi dikembangkan secara operasional. Visualisasi proses ini disajikan pada Gambar 43.

perbaikan. dan perakitan kisi-kisi. .Proses . sikap. dan guru seni lukis dalam forum Focus Group Discussion (FGD). & Casey. Perangkat instrumen ini disebut prototipe awal instrumen penilaian seni lukis.Kajian Pustaka Kebutuhan Lapangan Dimensi (Kisi-kisi) . dengan bantuan seorang moderator/fasilitator untuk mendorong peserta mengungkapkan pendapat. Setelah prototipe awal diperoleh kemudian ditindaklanjuti dengan validasi ahli dengan teknik FGD sebanyak tiga putaran. (2000). dan pertimbangan tentang topik yang didiskusikan.Produk Konten Sasaran Gambar 43. pakar pendidikan seni.Berdasarkan hasil FGD. Tahapan Perancanganan Instrumen Seni Lukis Anak 4. R. FGD putaran pertama dilakukan 158 . Tujuan diskusi adalah untuk menggunakan dinamika kelompok. berdasarkan kisi-kisi Item yang disusun menjadi perangkat instrumen penilaian seni lukis. A. M. Pentelaahan kisi-kisi dilakukan oleh pakar seni lukis anak. selanjutnya kisi-kisi diperbaiki dan dirakit sehingga menjadi acuan dalam penyusunan item. Tahap Pengembangan Pada tahap pengembangan (development) dilakukan penyusunan kisikisi penelaahan. A. Menurut Krueger. FGD adalah suatu metode diskusi secara mendalam yang melibatkan kelompok kecil yang homogen (6-12 orang) untuk mendiskusikan topik tertentu.

dan 4 (empat) orang pendidik seni lukis sekolah dasar. Setelah direvisi kemudian digunakan untuk menyempurnakan prototipe 2 (dua) menjadi prototipe 3 (tiga) yaitu. Pada tahap 2 (dua) berdasarkan kriteria hasil FGD putaran kedua. Komponen proses terdiri 2 (dua) tahap. yaitu tahap awal dan tahap inti. Setelah memperhatikan saran dan temuan hasil FGD putaran pertama. selanjutnya dilakukan revisi sehingga diperoleh prototipe 1. Setelah prototipe 1 direvisi selanjutnya dilakukan FGD putaran 2. 1(satu) orang pakar seni lukis anak. dihadiri oleh 8 (delapan) orang terdiri dari 3 (tiga) orang pakar pengukuran. berupa kriteria seni lukis anak. kemudian diperoleh saran dan temuan berupa diskripsi dari masing-masing indikator.pada tanggal 26 Februari tahun 2008 di Pascasarjana UNY yang dihadiri oleh 7 (tujuh) peserta FGD terdiri dari: 1 (satu) orang pakar pendidikan seni. Berdasarkan saran dan temuan pada FGD putaran 2 (dua). 159 . dilakukan revisi. 1 (satu) orang pakar pendidikan seni. dan kemudian diperoleh bobot prosentase penilaian proses 60% dan produk 40%. sehingga diperoleh prototipe 2 (dua). Kesimpulan hasil FGD adalah bahwa penilaian dilakukan pada komponen proses dan komponen produk pembelajaran. dan 3 (tiga) pendidik seni lukis sekolah dasar. dan 4 (empat) orang pendidik seni lukis sekolah dasar. yang dilaksanakan pada tanggal 13 Maret 2008 dihadiri 7 (tujuh) orang terdiri dari: 2 (dua) orang pakar pendidikan seni. penilaian kelompok merupakan hasil dari FGD putaran 3 (tiga) yang diselenggarakan pada tanggal 10 April 2008. penilaian diri. 2 (dua) orang pakar seni lukis anak.

penilaian produk. Hasil dari seminar yang berupa instrumen penilaian seni lukis anak kemudian dipakai untuk pengambilan data uji coba penelitian.Selanjutnya hasil dari FGD tahap 3 (tiga) berupa prototipe 3 (tiga) diseminarkan pada tanggal 16 April 2008 di Pascasarjana UNY yang dihadiri oleh 10 orang terdiri dari 1 (satu) orang pakar pendidikan seni/promotor. 3 (tiga) pakar pengukuran. Indikator Deskripsi Level Kriteria Prototipe 1 FGD-1 Analisis Revisi Indikator Prototipe 2 FGD-2 Analisis Item Revisi Deskripsi Prototipe 3 FGD-3 Analisis Revisi Kriteria Prototipe Tentatif Gambar 44. Skema Tahap Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak 160 . Untuk kejelasan tahap-tahap pengembangan instrumen dapat dilihat pada Gambar 44. 6 (enam) mahasiswa S3 PEP UNY. tahap inti). sehingga diperoleh hasil instrumen penilaian seni lukis anak yang terdiri dari penilaian proses (tahap awal.

5. dan penampilan fisik. Tempat ini dipilih karena berbagai pertimbangan Yogyakarta: (1) memiliki cukup banyak sekolah dasar yang melaksanakan program pembelajaran seni lukis anak. (2) ketersediaan pendidik dalam bidang seni lukis. Tahapan diseminasi tersebut disajikan pada Gambar 45. Pedoman penilaian seni lukis anak divalidasi oleh pendidik seni lukis melalui FGD yang meliputi petunjuk penggunaan. Skema Tahap Diseminasi Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak C. Tahap Diseminasi (Disseminate) Setelah uji coba sampai dengan analisis data uji coba instrumen dan menghasilkan instrumen prototipe tentatif. (3) daerah ini dipilih juga karena banyak karya seni lukis yang berkembang di daerah ini. kriteria penilaian. yang ditandai banyaknya 161 . Desain Uji coba Uji coba ini dilakukan di Kota Yogyakarta. dan kelayakan penyajian yang meliputi sistematika. maka tahap selanjutnya adalah membuat pedoman instrumen penilaian seni lukis anak. Kemudian diadakan sosialisasi pada pendidik dan praktisi. keterbacaan. Uji coba Produk 1. Draf Pedoman FGD Analisis Revisi Pedoman Baku Gambar 45.

Uji coba ini bertujuan untuk memperoleh informasi dari lapangan tentang konstruk instrumen. Konstruk instrumen penilaian karya lukis anak merupakan kriteria penilaian karya lukis anak. Hasil uji coba yang berupa prototipe instrumen penilaian karya lukis anak dan kemudian diseminarkan pada tanggal 16 April 2008 yang dihadiri 12 (dua belas) orang terdiri dari promotor. Guru seni lukis yang terlibat diberi pelatihan sebelum melaksanakan uji coba. dan (4) frekuensi lomba seni lukis anak yang relatif cukup tinggi dibandingkan alur seperti Gambar 46. Hasilnya kemudian dianalisis dan direvisi sehingga menjadi instrumen baku. daerah lain. Desain Uji coba Intrumen Seni Lukis Desain uji coba seperti tampak pada Bagan 8 dilakukan di kelas 1. pakar pengukuran dan pakar pendidikan seni. Disain uji coba produk mengikuti Prototipe Instrumen Seminar Analisis Revisi Instrumen Baku Draf Panduan FGD Revisi Panduan Baku Gambar 46.sanggar seni lukis anak. 162 Selanjutnya . keterpakaian pedoman penggunaan instrumen. 2. dan 3 di tiga sekolah dengan melibatkan tiga orang guru seni lukis. dan proses pengembangan instrumen.

dan tiga.study dan tahap D-study. 2. dua. Ketiga sekolah tersebut tersebar pada kota Yogyakarta dan kabupaten Sleman. yaitu tahap G. Pendidik diperlukan sebagai subjek uji coba untuk memperoleh koefisien keandalan instrumen dan keterpakaian instrumen penilaian karya lukis anak. 163 dengan asumsi bahwa kedua . pemilihan subjek penelitian ditentukan berdasarkan koefisien G-study dalam wilayah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada tahap D-study. Subjek penelitian peserta didik dipilih melalui dua tahap. keterbacaan. Sekolah Dasar Negeri Langensari . Sekolah Dasar Muhammadiyah Sapen. Subjek penelitian adalah peserta didik yang terdiri dari tiga sekolah. Hasil FGD ini digunakan untuk memperbaiki pedoman penilaian sehingga menjadi pedoman guru dalam menilai seni lukis anak. jumlahnya sebanyak 20 orang di ambil secara random. dan Sekolah Dasar MIN Tempel. Pada tahap G-study dipilih tiga sekolah. dan kelayakan penyajian yang meliputi sistematika. Sedangkan masing-masing sekolah terdiri dari siswa kelas satu.disusun draft pedoman penggunaan instrumen seni lukis anak dan kemudian divalidasi oleh pendidik seni lukis anak melalui FGD yang meliputi petunjuk penggunaan. kriteria penilaian. masingmasing sekolah dipilih satu guru seni lukis. dan penampilan fisik. Subjek Coba Subjek uji coba adalah pendidik yang mengajar seni lukis anak yang ada di tiga sekolah di Kota Yogyakarta.

164 . dan tiga. Data kualitatif diperoleh melalui instrumen penilaian diri dan penilaian kelompok dalam bentuk jawaban terbuka dari subjek penelitian. Selain itu data kualitatif dan kuantitatif digunakan untuk menentukan keterpakaian instrumen. dan penilaian kelompok. dua. Data kuantitatif diperoleh melalui intrumen untuk menilai proses. penilaian diri. dan praktisi lapangan. produk. Data kuantiatif digunakan untuk memperoleh koefisien keandalan instrumen. dan tiga sebagai subjek ujicoba karena pada KTSP untuk tingkat Sekolah Dasar dalam mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan seni lukis hanya dilaksanakan pada kelas satu.kabupaten/kota tersebut dapat mewakili/representatif DIY. Penentuan tiga sekolah tersebut didasarkan pada pertimbangan sekolah yang melaksanakan pembelajaran seni sesuai dengan KTSP dengan didukung tenaga pendidik yang memiliki latar belakang pendidikan seni rupa. Dari ketiga sekolah tersebut dipilih kelas satu. 3. pakar pendidikan seni lukis. dua. Instrumen ini dilengkapi dengan pedoman penilaiannya. Data kualitatif digunakan untuk mengembangkan konstruk instrumen. Jenis Instrumen Pengumpul Data Data penelitian ini terdiri atas data kuantitatif dan kualitatif. Pedoman penilaian seni lukis anak merupakan acuan yang digunakan pendidik dalam menilai seni lukis anak. Data ini berupa hasil penilaian karya lukis anak yang dilakukan oleh pendidik. Data ini diperoleh melalui diskusi para pakar seni lukis.

yaitu universe berlakunya generalisasi D-study dengan suatu prosedur pengukuran tertentu. Pada G-study dilakukan estimasi sejumlah varians komponen. D-study menekankan estimasi. 4. Menurut Brennan (1983: 3). pakar bidang penilaian pendidikan. menskor. dan menafsirkan hasilnya. dan para praktisi lapangan. penggunaan. Pada teori ini ada G (generalized study) dan D (decision study). Menurut Thomson (2003: 43). Hal yang penting pada D-study adalah spesifikasi dari generalisasi universe. Pertemuan dengan kelompok yang berbeda dilakukan tiga kali untuk memperoleh masukan yang lebih banyak sehingga diperoleh hasil yang dapat diandalkan. Banyaknya komponen ditentukan oleh model yang digunakan. Teknik Analisis Data Pengujian konstruk instrumen dilakukan melalui pendapat para pakar bidang seni lukis. dan interpretasi dari varians komponen untuk membuat keputusan. Penentuan koefisien keandalan instrumen penilaian dilakukan dengan menggunakan paket program komputer Genova berdasarkan teori generalizability yang dikembangkan oleh Crick dan Brennan pada tahun 1983 yang disebut dengan A Generalized Analysis of Variance System. Hasil dari G-study digunakan pada D-study.Pedoman ini berisi cara menggunakan instrumen. dengan prosedur pengukuran yang baik. Beberapa keunggulan yang penting adalah: (1) memperhitungkan sumber 165 . teori generalizability adalah teori pengukuran modern yang memiliki keunggulan dibanding teori tes klasik.

maka dapat diestimasi varians sebenarnya (true variance). Estimasi varians setiap komponen 166 .kesalahan pengukuran yang jamak secara simultan. interaksi person dan rater. 2 2 σ p . Selanjutnya dapat diestimasi besarnya indek keandalan hasil pengukuran. G studynya menggunakan rancangan bersarang (nested design) dan D-study-nya juga menggunakan rancangan bersarang (nested design). varians kesalahan. r:i. (2) memperhatikan efek kesalahan pengukuran interaksi. Besarnya koefisien keandalan sebenarnya dan rasio antara varians sistematik atau varians menggunakan satu facet p x(i: r) G-study yang bersarang untuk mengestimasi varians komponen. dan (3) mengestimasi koefisien keandalan baik yang relatif maupun yang merupakan varians total.e = σ p + σ r2:i .r:i . termasuk varians kesalahan. i: r D-study.e Keterangan: p = person r = guru/rater i = item r:i = rater bersarang pada item e = kesalahan Setelah varians komponen diperoleh. generalizeability dan koefiesien phi untuk one-facet. dan kesalahan. Varians komponen yang berbaur pada rancangan bersarang (p. Penelitian ini absolut. rater. Penelitian ini menggunakan GENOVA yang komponen variansnya adalah person.e) adalah jumlah varians komponen dalam Gstudy bersarang yang dapat ditulis sebagai berikut. nested. item. yaitu rasio varians sebenarnya terhadap varians keseluruhan komponen.

Rancangan yang digunakan untuk G-study adalah px(i:r). sedang untuk efek interaksinya adalah varians person item. pr bersarang pada i. σ²(r : i) = σ²(r. ri)= σ²(r) + σ²(ri). 167 . yaitu item bersarang pada rater.dan besarnya indeks keandalan hasil pengukuran dengan instrumen yang dikembangkan peneliti menggunakan paket program GENOVA. varians rater. Cara penilai (rater) dalam menilai karya lukis anak (p) tergantung pada pendapat penilai terhadap item yang dinilai. r. Rancangan px(r:i) ini berdasarkan analisis varians efek random memiliki efek utama: p. Besarnya koefisien keandalan instrumen penilaian adalah: σ²(p) Eρ² = —————— σ²(p) + σ²(δ) Eρ² adalah nilai harapan koefisien keandalan instrumen. σ²(p) adalah varians person (peserta didik). σ²(δ) adalah varians kesalahan. varians rater yang bersarang pada item. Jadi ada varians person. Besarnya varians r bersarang pada i dapat ditulis sebagai berikut. penilai dalam menilai hasil karya lukis anak berinteraksi dengan anak yang bersarang pada item. sehingga dikatakan rater bersarang pada item. r:i dan efek interaksinya adalah pi. dan varians penilai bersarang pada i untuk efek utama.

varians item. Selanjutnya nilai koefisien κ yang dihasilkan dibandingkan dengan kriteria minimal yang diperkenankan. Untuk melihat reliabilitas dari kriteria instrumen penilaian seni lukis anak hasil uji coba. kelas 2. pada penilaian produk ada 3 (tiga) item. Untuk keperluan ini. sedangkan penilaian diri dan penilaian kelompok masing-masing ada 5 (lima) item. dan kelas 3. Besarnya varians ini diestimasi dengan menggunakan teknik analisis varians rancangan efek random. 168 . dan varians interaksi rater item. ada 7 (tujuh) item yang menjadi objek penilaian. Koefisien interrater adalah salah satu sarana untuk melihat tingkat konsistensi atau keajegan antar rater dalam memberikan rating terhadap unjuk kerja karya seni lukis siswa.70 (Linn.Varians kesalahan terdiri atas varians rater. digunakan koefisien Cohen’s Kappa. Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian instrumen seni lukis anak untuk kelas 1. Pada penilaian proses. digunakan analisis koefisien interrater. yaitu 0. 1990: 143).

kesadaran sosial. monumen. dan kesadaran kultural dalam kehidupan bermasyarakat (Rohidi. mosaik. teknik atau proses pembuatan. kreativitas. Dalam proses pembelajarannya. dengan segala watak. bangunan. Ditinjau dari tujuannya. 2000: 55). pendidikan seni rupa selain melatih keterampilan peserta didik agar lancar berkarya seni rupa. yaitu (1) seni rupa dua dimensi seperti gambar. 14 . Secara visual Soedarso (2006: 97) membagi seni rupa menjadi dua bagian besar. dan cita rasa estetik peserta didik. Pendidikan seni rupa berfungsi mengembangkan kepekaan rasa. pendidikan adalah membentuk manusia yang memiliki kepribadian yang kuat dan beradab sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan zaman. fotografi. pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan untuk dapat hidup di tengahtengah masyarakat dan kemudian dapat memberikan manfaat bagi lingkungan. Keduanya bisa dipecah berdasar atas medium. keramik dan sebagian besar seni kriya lainnya. Dengan demikian pendidikan seni rupa merupakan media untuk mencapai tujuan pendidikan secara umum. juga dimaksudkan sebagai sarana atau alat pendidikan.BAB II KAJIAN PUSTAKA A. dan kolase dan (2) seni rupa tiga dimensi seperti patung. tenun. lukisan. sulam. Pendidikan Seni Rupa 1. intarsia. mengembangkan etika. seni grafis. Pengertian Pendidikan Seni Rupa Pada hakekatnya pendidikan merupakan suatu proses untuk mempersiapkan peserta didik menuju ke kedewasaan. dan benda produknya.

Desain merujuk pada proses pembuatan karya yang maksud dan tujuannya telah ditentukan lebih dahulu. Istilah seni rupa secara etimologi merupakan padanan kata dari visual art (seni rupa yang dapat dilihat/diraba). Sedangkan pengertian seni rupa sendiri adalah suatu hasil interpretasi dan tanggapan pengalaman manusia dalam bentuk visual dan rabaan.Sejalan dengan hal tersebut di atas. Seni rupa murni menekankan pada ungkapan pikiran dan perasaan. tekstil. dan inovatif. Secara umum. seperti lukisan atau patung. meliputi seni lukis. dan seni grafis. dan lain-lain. seni kria. pembicaraan tentang seni rupa terkait dengan masalah keindahan. logam. ada pula yang menyebut sebagai pure art (seni murni). dan desain. Rohidi dan Hartiti (2002: 8-9) mengemukakan: seni rupa dapat dibedakan menjadi seni rupa murni. Keindahan adalah nilai-nilai estetik yang menyertai sebuah karya seni 15 . tanah liat. Dalam hal ini penciptaan benda hias yang mengutamakan nilai artistik dikenal dengan sebutan craft (seni kria). Seni kria menekankan pada keterampilan teknik pembuatan karya dengan hasil karya yang bersifat fungsional dan non fungsional. atau lingkungan yang didasarkan pada persyaratan-persyaratan tertentu. seni patung. Karya desain berupa rancangan gambar. fine art (seni indah). misalnya kayu. serta menggunakan media tertentu. yang mempunyai peranan memenuhi tujuan-tujuan tertentu dalam kehidupan manusia tidak hanya memenuhi kebutuhan estetik semata. ditinjau dari proses pembuatan dan bentuk karya yang dihasilkan. dalam hal ini menyatukan proses penciptaan karya yaitu antara sistematis. Namun istilah pure art di masa sekarang dipadankan dengan karya seni murni yang tidak memiliki kegunaan praktis. kreatif. benda.

dan kontras (contrast) sehingga menimbulkan perasaan nikmat. Sesungguhnyalah pengalaman estetik dapat menyebabkan timbulnya reaksi emosional atau respons estetik seseorang. Pendidikan seni rupa berperan tidak hanya dalam pembentukan pribadi yang harmonis dalam logika. untuk menentukan kualitas karya harus mempertimbangkan nilai-nilai keindahan yang disebut dengan prinsip-prinsip keindahan. adversitas (AQ) dan spiritual (SQ). pengalaman estetik adalah perasaan (positif atau negatif) yang merupakan reaksi seseorang. Disamping itu. ketika mengamati karya seni rupa. tetapi juga berperan dalam perkembangan anak untuk mencapai kecerdaan emosional (EQ). moral (MQ). serta etika. Prinsip-prinsip keindahan tersebut adalah unsur kesatuan (unity). dan konsep dalam penciptaan karya seni rupa. rasa estetik dan artristiknya. baik secara mental dan/atau pun fisik. Jalan yang ditempuh sesuai yang tercantum pada pedoman khusus mata 16 . Keindahan juga dipahami sebagai pengalaman estetik yang diperoleh ketika seseorang mencerap objek seni atau dapat dipahami sebagai sebuah objek yang memiliki unsur keindahan. bahan. kinestetika. Hal ini tentunya didukung oleh kemampuan pengungkapan ekspresi intuitif dan perasaan estetis seseorang melalui teknik. dan sebagainya bagi apresian. Reaksi ini mungkin sesuai atau tidak sesuai dengan pendapat orang tersebut. karya seni rupa dapat menimbulkan berbagai kesan misalnya indah. Dalam dunia kesenirupaan. haru. Menurut Pappas (2006: 3). bahagia. nyaman. keseimbangan (balance). keselarasan (harmony).rupa. intelektual (IQ). dan rasa senang. unik. yang menyebabkan reaksi emosional atau respons estetik. menarik.

tekstur. yang dilakukan melalui pengamatan dan pembahasan karya seni rupa. warna. Sedangkan pada kegiatan kreasi (creation). Kegiatan apresiasi bertujuan mengembangkan kesadaran. pemahaman. dan ruang untuk mewujudkan karya seni rupa. Kegiatan pembahasan untuk memperoleh kesadaran dan pemahaman tentang penciptaan karya seni rupa berdasarkan telaah tentang seniman dan zamannya. tujuan penciptaan. melalui pencerapan nilai intrinsik dari karya seni rupa tersebut. peserta didik diberi peluang untuk mengekspresikan pengalaman estetiknya dalam wujud karya seni rupa. 2006: 186). Kegiatan pengamatan dimaksudkan untuk memperoleh pengalaman estetik. dan penghargaan terhadap karya seni. garis. sehingga dapat memberikan penghargaan. bentuk. menghargai. dengan mengambil unsur-unsur titik. prinsip. baik tradisi maupun modern. sedangkan untuk tingkat SD 17 .pelajaran adalah dengan cara mempelajari elemen. media (teknik). Aktivitas yang dilakukan melalui kegitan eksplorasi dan eksperimen dalam mengolah gagasan (konsep). bidang. proses dan teknik berkarya sesuai dengan nilai budaya dan keindahan dengan tidak mengesampingkan aspek fungsi serta sesuai dengan konteks sosial budaya masyarakat sebagai sarana untuk menumbuhkan sikap saling memahami. Pengalaman estetik dalam pendidikan seni rupa di sekolah. Pendidikan seni di sekolah diimplementasikan dalam bentuk mata pelajaran Seni Budaya untuk tingkat SMA dan SMP. secara individual maupun kelompok. pengaruh seniman besar terhadap karya tersebut. volume. diimplementasikan dalam dua kegiatan yaitu apresiasi (appreciation) dan kreasi (creation). dan menghormati (BSNP.

Pembelajaran seni rupa di sekolah memiliki sasaran sebagai berikut. imajinasi dan keinginan peserta didik. Ekspresi dalam pendidikan seni adalah curahan jiwa/isi hati yang menekankan pada proses pengungkapkan pengalaman estetik peserta didik yang berkaitan dengan emosi. Dengan demikian kemampuan ekspresi perlu dikembangkan pada peserta didik sejak dini karena peserta didik dimungkinkan dapat mengungkapkan berbagai pengalaman atau berbagai hal yang menggejala dalam dirinya untuk dikomunikasikan kepada orang lain melalui senirupa khususnya sebagai sesuatu 18 . sehingga dapat dikatakan bahwa dengan berekspresi dapat meringankan ketegangan seseorang. daya pikir. dan seni drama. Sejalan dengan hal tersebut. Berekspresi dapat pula berfungsi sebagai katarsis. Namun demikian. tindakan atau lukisan adalah hal yang menyenangkan dan meringankan. Mengungkapkan sesuatu dengan kata. Mengembangkan Ekspresi Ekspresi pada dasarnya merupakan kebutuhan dalam hidup manusia untuk mencari kepuasan. Lim Chin Choy (2005: 293) mengatakan bahwa ekspresi bertujuan untuk mempertunjukkan kepada orang lain (to exhibit). seni musik.adalah Seni Budaya dan Ketrampilan. a. Mata pelajaran Seni Budaya tersebut mencakup seni rupa. dapat juga sebagai ekspresi diri yaitu ekspresi keindividuan seseorang. Sesuatu yang disampaikan berupa buah pemikiran dan perasaan yang diwujud inderakan dengan menggunakan sarana yang dapat diamati lewat panca indera. dan menjadi terapeutik atau menumbuhkan kreativitas. Menurut Soehardjo (2005: 120) ekspresi merupakan ungkapan penyampaian sesuatu dari seseorang kepada orang lain. seni tari.

Karya seni yang 19 . Hal ini dimaksudkan agar peserta didik terlatih dan mampu mengemukakan isi hati. Ia memberi kesempatan kepada anak untuk melahirkan pengalaman batinnya dengan leluasa. Di samping itu . Walaupun demikian. sehingga hasil karyanya terkesan jujur dan spontan. ide dan gagasan-gagasannya. daya menyesuaikan diri dalam segala situasi. sesungguhnya pengalaman estetik merupakan suatu pengalaman yang khas dan unik yang ditandai dengan terpuaskannya “hasrat akan sesuatu yang harmoni dan lengkap. Karena ketidaktahuan inilah anak cenderung lebih bebas dan merasa leluasa. maka pengalaman estetik kehilangan sifatnya yang khas. Dampak selanjutnya diharapkan peserta didik memiliki daya cipta. juga melatih keberanian mengungkapkan pengalaman estetik. kemampuan membuat analisis yang tepat. 2001: 1). melatih anak berpikir merdeka.yang ada maknanya. kualifikasi perlu di buat hubungan antara pengalaman estetik dengan pengalaman merasakan. Dengan demikian pengalaman berekspresi menunjang dasar-dasar kebebasan. membiasakan anak untuk mengeluarkan isi hatinya dengan bebas. tanpa paksaan. Anak biasanya lebih bebas dalam berekspresi untuk mewujudkan suatu karya seni rupa. tidak takut salah.” Kepuasan ini lahir dari proses keterlibatan batin. baik dalam proses kreasi maupun dalam kegiatan persepsi (Salam. seni lukis misalnya karena anak relatif belum banyak pengetahuan tentang aturan-aturan/norma-norma yang mengikatnya. kemampuan menanggapi suatu masalah. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Soedarso (1973: 5) bahwa pendidikan seni rupa adalah pendidikan ekspresi. Jika semua pengalaman dirasakan sebagai pengalaman estetik. Padahal.

Demikian juga kepekaan sosial terhadap lingkungan sekitar serta kemampuan bekerjasama dalam membuat karya kelompok dapat mengolah sikap dan perasaan sosial anak. dan indera peraba menjadi dasar cerapan dalam berkarya.dihasilkan menunjukkan kemurnian pengungkapan perasaan mereka. Peserta didik diberi kesempatan untuk menggunakan panca indera seperti mata. kepekaan menjadi terlatih sehingga apabila ada permasalahan peserta didik bisa merasakan dan diharapkan dapat mengatasi permasalahan tersebut. hidung. tetapi mencerminkan ekspresi kejiwaan yang kuat. Terutama peka terhadap lingkungan yang banyak mengandung permasalahan. Garis. Dengan melatih kepekaan rasa diharapkan kelak anak dapat menjadi anggota masyarakat yang dapat menjaga lingkungannya dan ikut melestarikan peninggalan seni dan budaya. dan cepat dapat menghayati sesuatu. menghargai dan dihargai dapat dipupuk. Dengan demikian sebelum berkarya peserta didik dimotivasi mengamati objek dengan berbagai masalahnya sebelum dituangkan dalam karyanya. b. Melalui aktivitas seni rupa. mudah menerima. Peran pendidik diharapkan dapat mengembangkan kepekaan atau sensitivitas yang dimiliki peserta didik. kemampuan anak dalam mengolah kesadarannya terhadap orang lain di lingkungan sekitar dalam berkomunikasi. 20 . bekerjasama. telinga. dan tekstur bukan lagi sebagai elemen fisik. warna. mudah mencerap suatu rangsangan. Mengembangkan Sensitivitas Sensitif artinya peka/perasa terhadap rangsangan. Peserta didik menjadi peka terhadap lingkungan.

keadaan mental yang sangat khusus sifatnya. lingkungan. yaitu proses penyempurnaan. pertumbuhan. Padahal sesuatu yang intuitif itu bersifat bawah sadar. yaitu: (1) Inception of an idea. suatu sikap. Adapun unsur pendorong dalam laku kreatif seperti yang diungkapkan Dix dan Ernst dalam Susanto (2003: 9) adalah adanya sarana. proses perenungan. Kreativitas bukan hanya muncul dari suatu hasil pemikiran dan dorongan perasaan. maupun proses mencipta dalam organisasi dari kehidupan subjektif pikiran dan praktis manusia. Mengembangkan Kreativitas Kreativitas adalah suatu kondisi. orisinalitas karya.c. apresiasi. mencari sumber gagasan. Dengan demikian proses kreatif merupakan pengejawantahan emosi dan representasi posisi pemikiran pembuat karya terhadap berbagai masalah yang dihadapi. Ada tiga tahap proses kreatif yang dikemukakan Chapman (1978: 45). sekaligus merupakan proses aktualisasi diri atau kapabilitas yang dihadirkan dalam karya seni. proses evolusi. inspirasi. merupakan tahap awal yaitu usaha menemukan gagasan. (3) Execution in a medium. keterampilan. merupakan tahap terakhir yaitu proses visualisasi dengan medium yang merupakan sarana untuk memvisualisaikan gagasan menjadi suatu karya seni. dan identitas. (2) Elaboration and refinement. namun juga melibatkan kepekaan intuitf. pengembangan dan pemantapan gagasan menjadi suatu gambaran pravisual untuk diwujudkan menjadi ujud yang konkrit. Berbicara mengenai sifat bawah sadar berarti memasuki wilayah proses kreatif yang menurut Susanto (2003: 8) yaitu wilayah proses perubahan. Unsur-unsur 21 .

keluwesan (fleksibilitas) dan orisinalitas dalam berpikir. sikap yang untuk tidak selalu puas dengan apa yang sudah ada dan sudah didapat. karena dihasilkan oleh diri sendiri pelaku seni. media untuk berkomunikasi. 2. Manfaat langsung yang dapat dirasakan adalah sebagai media untuk berekspresi. imajinasi serta keinginan anak tanpa memperhatikan apakah ungkapan yang tervisualisasi dalam karya tersebut dapat dimengerti oleh orang lain atau tidak. memperinci) suatu gagasan. karena melalui kegiatan seni rupa anak dapat mengungkapkan apa yang ada dalam dirinya yang berkaitan dengan emosi. media pengembangan bakat seni yang dimilikinya. karena belum pernah ada sebelumnya. karena dengan membuat karya seni rupa membentuk anak untuk berani mengambil resiko. daya pikir. serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan.tersebut saling berpadu dan saling mempengaruhi dan saling bergantung untuk menjalankan tahapan-tahapan dalam membentuk karya seni. asli (original). 22 . memperkaya. Dengan demikian melalui seni rupa kreativitas anak dapat berkembang. Tampilan karya yang kreatif selalu tampil tunggal (unicness). sikap untuk selalu mencari sesuatu yang orang lain belum mengetahuinya. Hal ini sangat berguna dalam pembentukan pribadi anak. dan ber-kebaruan (novelty). Sebagai media ekspresi. karena tidak terdapat kembarannya. Manfaat Pendidikan Seni Rupa Kegiatan seni mempunyai manfaat langsung maupun tidak langsung yang dapat dirasakan oleh peserta didik. media bereksplorasi. Hal ini didukung oleh Munandar (1999: 50) yang mengatakan bahwa kreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran.

melakukan tindakan sesuai dengan kebutuhan dan dapat menilai kesesuaian tindakannya dengan norma yang berlaku di masyarakat serta dapat memprediksi akibat yang diambil dari tindakan tersebut. kegiatan seni rupa memerlukan alat-alat atau bahan yang secara langsung maupun tidak langsung mengembangkan kemampuan bernalar bagi anak. maka anak akan positif tindakannya sesuai dengan perkembangan usianya. Sebagai media komunikasi.Dalam hal ini anak merasakan adanya kepuasan karena ada kebebasan dalam mengungkap apa yang ada dalam dirinya melalui pembuatan karya seninya. Bakat adalah kondisi atau rangkaian karakteristik yang 23 . melalui eksplorasi dengan bahan-bahan yang ada untuk membuat karya seni rupa. dan mampu bertingkah laku dengan penuh tanggung jawab serta mampu mempertanggungjawabkan tingkah lakunya dalam berkomunikasi. dalam aktivitas komunikasi terdapat unsur: pengirim pesan. Kematangan emosi anak menurut Wedwick (2006) adalah kemampuan untuk mengekspresikan perasaannya. Anak memiliki kebebasan dalam bereksperimen. isi pesan. Dengan demikian apabila kematangan emosi anak terlatih. Sebagai media pengembangan bakat. Dengan demikian seni rupa dapat dikatakan sebagai media komunikasi karena pengirim pesan dapat mengungkap isi pesan ke dalam simbol bermakna yang dapat diterima oleh orang lain sebagai penerima pesan. Sebagai media bereksplorasi. kegiatan seni rupa menawarkan beragam potensi. Pesan yang disampaikan dalam seni rupa adalah gagasan yang berupa simbol yang dituangkan dalam karya seni rupa. dan penerima pesan.

Ada tiga pendekatan dalam pendidikan seni rupa yang populer saat ini. dan estetik. yaitu penglihatan. Dengan demikian bakat anak yang terpupuk sejak awal akan lebih baik perkembangannya. kegiatan seni rupa melalui latihan-latihan membuat karya seni rupa memupuk bakat anak. dan kinestesi. kreatif. 1952: 12). Dengan demikian. pendidik haruslah menjadikan anak sebagai pusat. Adapun dimensi bakat meliputi persepsi. yaitu: a. Hal ini dapat dilihat pada dimensi bakat yang terkait dalam pembuatan karya seni rupa yaitu. maka bakat tersebut tidak akan berkembang bahkan menjadi bakat terpendam dan tidak dapat diwujudkan. Dimensi psikomotorik mencakup koordinasi dan fleksibilitas gerakan. Karena keunikannya ini dalam pendidikannya memerlukan pendekatan-pendekatan agar tujuan pendidikan seni rupa itu sendiri dapat tercapai. Sedangkan dimensi intelektual meliputi ingatan dan berpikir. psikomotorik dan intelektual. 3.dipandang sebagai gejala kemampuan individu untuk memperoleh pengetahuan. Pada waktu memberikan kesempatan berekspresi harus bertitik tolak dari anak. Pendekatan dalam Proses Pendidikan dan Pembelajaran Seni Rupa Pada hakekatnya pendidikan seni rupa bersifat unik. persepsi terkait dengan kepekaan dari masingmasing pancaindera yang berhubungan dengan perhatian. keterampilan atau serangkaian respon melalui latihan-latihan (Bennet. Pendekatan Berbasis Anak Pendekatan Berbasis Anak berpijak pada filosofi bahwa dalam mendidik anak melalui seni. Herbert Read 24 . dari pada seseorang yang mempunyai bakat kreatif namun tidak dipupuk. yaitu kegiatan yang bersifat ekspresif. pendengaran.

sesuatu yang tumbuh secara alamiah pada diri anak dalam mengkomunikasikan dirinya (Read. Tokoh yang dikenal dalam pendekatan ekspresi bebas ini adalah Frank Cizek dari Austria. Hal ini dimaksudkan untuk menyiapkan pengalaman belajar yang dapat merangsang ekspresi pribadi anak. 25 . Peranan pendidik sebagai fasilitator. Dengan demikian anak diberi kebebasan dalam kegiatan penciptaan karya sehingga anak dapat mengaktualisasikan dirinya dengan bebas tanpa pengaruh orang dewasa dalam proses pembuatan karyanya. memberikan kemudahan kepada anak dalam mempelajari atau melakukan apa yang menjadi keinginan anak agar anak berkembang secara alamiah melalui pengalaman seni. karena ekspresi diri anak sesungguhnyalah tidak bisa diajarkan oleh pendidik. Garha (1980: 60) mengatakan bahwa pendekatan ini sebagai ekspresi bebas yang memberikan keleluasaaan kepada anak-anak untuk dapat menyalurkan ungkapan perasaan tanpa dibatasi oleh aturan atau norma cipta konvensional dalam membuat gambar. dan pendampingan. Pada pendekatan berbasis anak ini tugas pendidik adalah memberikan pengalaman kepada anak yang dapat merangsang munculnya ekspresi pribadi anak. dengan peragaan. Dengan demikian cara pembelajarannyapun pendidik memberikan kemudahan pada anak dalam melaksanakan kegiatan belajar yang diinginkannya.dalam Education through Art yang menyatakan bahwa naluri berolah seni rupa anak adalah suatu yang universal. Ia merupakan orang yang pertama kali mengakui secara terbuka nilai intrinsik karya seni rupa anak. yaitu dengan pemberian motivasi. 1990: 195). karya seni rupa anak adalah karya seni yang hanya mampu dihasilkan oleh anak (Efland. 1970: 10).

Selanjutnya Lowenfeld mengatakan bahwa “…mental growth depends upon a rich and varied relationship between a child and his environment. Dalam merancang pembelajaran pendekatan ekspresi bebas secara murni. Menurut Viktor Lowenfeld. baik merupakan perasaan sedih atau gembira. Penekanan Read adalah bahwa ekspresi diri anak tidak dapat diajarkan dan peranan pendidik adalah sebagai fasilitator. emosional. such a relationship is a basic ingredient of a creative art experience” (Lowenfeld. ekspresi dalam proses pembuatan karya seni rupa yang dilaksanakan secara alamiah berdampak positif bagi perkembangan intelektual. Hal ini memperjelas bahwa pengaruh lingkungan menyebabkan adanya berbagai corak berdasarkan perkembangan dan temperamen jiwa anak. Dalam hal ini dihubungkan antara kegiatan seni rupa dengan kesehatan mental karena kegiatan seni rupa merupakan media untuk menyalurkan perasaan. Read (1970: 30) memberi penegasan bahwa dalam ekspresi bebas. pelaksanaan kegiatan pembelajarannya menggunakan model emerging curriculum yakni kegiatan pembelajaran yang tidak dirancang sebelumnya tetapi berkembang sesuai keinginan anak (Salam.Pendekatan ekspresi bebas ini kemudian didukung dan disebarluaskan oleh dua tokoh pendidik seni yaitu Viktor Lowenfeld dari Amerika Serikat dan Herbert Read dari Inggris. 1982: 6-7). 2001: 13). pendidik berperan sebagai pendamping dan memotivasi anak untuk menggali inspirasi anak. Dalam hal ini pendidik memenuhi apa 26 . kreativitas dan perkembangan sosial anak. Dengan demikian pendidikan seni rupa merupakan tempat pemberian pengalaman yang menarik yang menyadarkan anak akan lingkungannya.

bentuk bunga semakin ke ujung daun bunga semakin kecil permukaannya. tulang-tulang daun akan membentuk keartistikan tersendiri. Dari cerita dan dialog dengan anak akan timbul tema-tema cerita yang menyentuh kehidupan anak. (2) adanya kontak langsung anak dengan keadaan sekelilingnya. misal: detail dari bentuk daun. Lebih tepat bila dilaksanakan pada lembaga pendidikan yang bersifat non formal seperti sanggar. dan sebagainya. film. Pendidik kemudian memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk mengarahkan perhatian anak pada hal-hal yang dilihatnya tetapi diabaikan anak. dan 27 . waktu yang ditentukan sehingga menjadi terbatas pelaksanaannya. slide. Didukung oleh media yang dipersiapkan pendidik bisa berupa photo. Sesungguhnyalah pendekatan ekspresi bebas secara murni ini sangat sulit dilaksanakan pada sekolah formal karena terikat adanya jadwal. penerapan pendekatan ekspresi bebas di sekolah maka dikembangkan pendekatan ekspresi bebas yang bersifat “terarah”. Ada tumbuh-tumbuhan. pendidik pada awal pembelajaran memberikan motivasi dengan berbagai cara antara lain: (1) memberi kesempatan pada anak untuk bercerita tentang hal-hal yang menarik yang dialaminya. Untuk membangkitkan dan memotivasi ekspresi anak. yang merangsang untuk mengekspresikan nya lewat karya yang dibuatnya. dan sebagainya. Anak diberi kesempatan memperhatikan keadaan sekitar kelas atau sekolah.yang menjadi kemauan anak dan pendidik memfasilitasinya. kemudian ada dialog dengan pendidik. orang berlalu lalang. gambar-gambar. dan sebagainya. kursus-kurus. kendaraan. Untuk mengatasi hal tersebut di atas. Caranya adalah sebagai berikut: pelaksanaan pembelajaran seperti pada umunya pendidik melaksanakan pembelajaran sesuai dengan jadwal dan waktu yang ditetapkan.

builts on the premise that art can be 28 . Teori ini disebut sebagai Discipline-Based Art Education (DBAE). (3) pendidik mendemonstrasikan proses penciptaan karya pada anak. Pendekatan Berbasis Disiplin Pendekatan berbasis disiplin berpijak pada filosofi bahwa dalam mendidik anak melalui seni. pendidik meminta anak untuk mengekspresikan dirinya secara bebas dalam pembuatan karya seni rupa. Pendekatan berbasis disiplin ini berdasar pada teori pedagogi tentang pelaksanaan proses belajar mengajar yang dicetuskan pada tahun 1980 di Amerika . Penilaian yang diberikan pendidik bersifat apresiatif yaitu bersifat menerima dan menghargai apa yang diungkapkan atau diciptakan oleh anak dengan menunjukkan kemungkinan peningkatan kualitas dari karya yang diciptakannya tersebut (Salam. b. 2001: 14). Karena setiap subjek seni didekati dengan suatu premis bahwa setiap subjek seni memiliki kekhasan yang berbeda dengan subjek seni yang lain sehingga diperlukan suatu pendekatan sebagai suatu “discipline” ilmu yang mandiri. Dengan demikian pendekatan dari berbagai aspek dipadukan dengan proses pengalaman belajar yang terkoordinasi secara menyeluruh menjadi sangat diperlukan. Dengan demikian hasil penilaian tidak ada istilah salah atau benar karena ekspresi anak bersifat unik dan alamiah. Dalam hal ini pendidik berperan sebagai pendamping untuk memberikan bantuan pada anak. Menurut Brent Wilson “DBAE. Setelah pemberian motivasi.sebagainya. pendidik menjadikan disiplin ilmu seni sebagai hal yang harus dikuasai oleh anak. namun jangan sampai terjebak apa yang didemonstrasikan menjadi hal yang harus ditiru oleh anak.

Hal ini menyiratkan bahwa seni dapat diajarkan secara efektif bila mengintegrasikan makna empat dasar disiplin tersebut. Dialog ini paling baik diungkapkan dalam bidang filosofis estetika. kritik seni (art criticism) dan estetika/filsafat seni (aesthetics) dalam suatu pengalaman belajar yang menyeluruh. appreciating. 2000: 19). dan estetika. sejarah seni. Hal ini diperkuat dengan gagasan Eisner (1997:16) bahwa. and understanding. Eisner (1997: 20) membahas komponen estetika sebagai “berguna bagi anak-anak untuk menjadi reflektif tentang basis penilaian mereka berkaitan dengan kualitas karya seni. Tersurat pula dalam sebuah monograf dari The Getty Center for Education in the Arts. para peserta didik harus berusaha melakukan dialog berkelanjutan tentang hakikat dan makna seni dalam kehidupan mereka. critical. Dengan demikian pelaksanaan pendidikan seni rupa sesuai yang tersirat dalam DBAE pelaksanaannya tidak memilah keempatnya tetapi berusaha untuk mengintegrasikannya. sejarah seni (art history). produksi seni.taught most effectively by integrating content from four basic disciplines-art making. Pendidikan Seni Berbasis Disiplin. Aesthetic education therefore represented a balance among producing. art history.” Karena itu. kritik seni. memahami dan mengapresiasi seni. art criticism. and cultural and/or historical realms as necessary for leading the child to aesthetic experiences. Identified the productive. atau DBAE (Disciplin Based Art Education). sebagaimana tentang dunia visual di sekeliling mereka. mengarahkan untuk mencipta. yaitu: penciptaan seni (artistic creation). and aesthetics (the philosophy of art)-into a holistic learning experience” (Wailling. 29 .

penciptaan dan pembahasan keindahan rupa (visual). Dengan demikian seni rupa dapat dikatakan sebagai sebuah disiplin ilmu. c. konteks sosial masyarakat harus menjadi perhatian yang utama. suku. Dipandangnya seni rupa sebagai disipiln ilmu merupakan asumsi pokok yang mendasari pendekatan pendidikan seni rupa berbasis disiplin. karena memiliki isi pengetahuan (body of knowledge). (3) a set of characteristic procedures and ways of working that facilitate exploration and inquiry. (2) a community of scholars who study the discipline. kelas sosial. Pengenalan keragaman budaya tersebut dengan cara membuka diri terhadap berbagai budaya lain yang lahir atas dasar ras. adanya komunitas pakar yang mempelajari ilmu tersebut. pendekatan Berbasis Konteks yang menonjol adalah pendidikan seni multikultural.Pada hakekatnya seni adalah sebagai kegiatan artistik. karena sudah memenuhi tiga ciri disiplin ilmu yang dikemukakan oleh Dobbs (1992: 9) sebagai berikut: (1) a recognized body of knowledge or content. namun demikian seni rupa sebagai disiplin ilmu dalam pelaksanaannya tidak hanya memberikan kesempatan pada anak untuk mengekspresikan emosinya saja tetapi kegiatan mempelajari ilmu seni juga harus dilakukan. Pendekatan seni rupa berbasis multikutural merupakan salah satu bagian dari pendidikan multikultural yang bertujuan mengenalkan keragaman budaya melalui kegiatan penikmatan. Pendekatan Berbasis Konteks Pendekatan berbasis konteks berpijak pada filosofis bahwa dalam mendidik anak melalui seni. agama. Pada saat ini. adanya metode kerja yang memfasilitasi kegiatan eksplorasi dan penelitian. 30 .

Pendidikan berbasis multikultural dikelompokkan menjadi tiga. Merupakan ciri yang mendasar model kurikulum pendekatan multikultural yang harus dipertimbangkan yaitu adanya pluralisme sosial. Dengan demikian tidak identik dengan satu model program pembelajaran tertentu.jenis kelamin. Hal yang terpenting dalam hal ini adalah bahwa semangat untuk mempromosikan keragaman budaya dilakukan melalui kegiatan seni rupa. Sebagai konsep dasar. yaitu: 1) Model Pengenalan Model ini bertujuan memperkenalkan anak akan budaya lain. Dengan demikian menjadi fokus utama yang merupakan wacana pendidkan seni rupa multikultural adalah persoalan pluralisme sosial dan keragaman budaya. Dengan cakupan yang luas itulah pendekatan ini menggunakan berbagai bentuk teori dan praktek yang sesuai dengan konteks sosial dan budayanya. dimana beragam program pembelajaran dikembangkan. atau pendekatan. dan keterampilan seni yang difokuskan pada pengenalan seni kelompok (ras. sehingga cakupan menjadi luas. agama. Metode pembelajarannya bersifat pengenalan berbagai bentuk seni 31 . dan lain-lain. Anak menjadi luas wawasannya dan memahami karya seni rupa orang lain dan pencipta karya yang mungkin sangat berbeda karya tersebut dengan keyakinan dan tradisi yang ada pada anak lebih tepat diterapkan pada kelas yang tidak multikultur. gagasan besar. pendidikan seni rupa multikultural pada dasarnya merupakan sebuah filosofi. Materi pembelajarannya meliputi pengetahuan sikap. keragaman budaya/etnis dan kontekstualisme. dan sebagainya) lain agar memiliki sikap apresiatif terhadap kelompok yang menjadi fokus pembicaraan. etnis.

2) Model Pengamalan Tujuan model pengamalan adalah membangun kesadaran untuk hidup bersama dan tidak melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan konflik.dari kelompok lain melalui ceramah. Penerapan pembelajaran model pengamalan ini dalam praktek penciptaan karya seni rupa salah satu cara adalah dengan menggali tema dari peserta didik yang bervariasi sesuai dengan latar belakang peserta didik. ras. Evaluasi yang dilaksanakan dalam konteks untuk mengetahui sejauh mana anak dapat memahami dan mengapresiasi budaya/seni kelompok lain. dan lain-lain mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar. agama. Kemudian diwujudkan secara visual dengan media yang sesuai dengan kemauan peserta didik. Evaluasi yang dilakukan adalah untuk mengetahui sejauh mana anak dapat mengapresiasi budaya/seni kelompok lain yang ditunjukkan pada kemampuan untuk hidup bersama secara harmonis. Dengan demikian kegiatan pembelajarannya anak yang terdiri dari berbagai suku. maka perlu dukungan dari berbagai pihak antara lain: kebijakan sekolah (aturan. makna. peragaan. Apabila diterapkan dalam pembelajaran yang bersifat teoritis yaitu estetika. sejarah seni rupa. pendidik. Dalam hal ini tidak ada standar baku yang dapat diberlakukan untuk semua. karyawan menciptakan suasana yang kondusif merefleksi adanya keragaman budaya yang ada. golongan tertentu. Pelaksananan model pengamalan ini agar berhasil dengan baik. dan kriteria keindahannya masing-masing. kurikulum) tidak mencerminkan adanya diskriminasi. 32 . Model pengamalan ini lebih tepat diterapkan pada kelas yang bersifat multi kultur. diskusi dan praktek pembuatan karya. apresiasi (kritik seni rupa) juga harus mengingat pada keragaman prinsip.

agama. Pendukung kelompok model perombakan mengatakan bahwa budaya bukanlah suatu yang harus diterima dan tanpa perubahan.3) Model Perombakan Berdasarkan perlakuan yang tidak kondusif karena adanya ketidak adilan atas dasar ras. oleh karena itu perlu ada peninjauan. agama. dan menumbuhkan kepekaan semua pihak pada asumsi yang dianggap benar yang ada pada ideologi yang dominan. kelas sosial. usia. dan kesukuan. Mereka mencari pendekatan yang lebih demokratik yang memberikan peluang bagi kelompok yang terpinggirkan untuk menyuarakan dirinnya dalam proses pendidikan seni rupa. maka pendidik sudah selayaknya mengadakan perombakan dalam kurikulum dan pembelajarannya. politik. Menurut Salam (2001: 27) pendukung pendidikan seni rupa multikultural model perombakan ini tampaknya tergolong sebagai pengembang kurikulum yang dikelompokkan sebagai kaum rekonstruksionis sosial yang memandang pendidik sebagai politikus yang harus memilih dua pilihan: sebagai kelompok konservatif yang akan melayani sang penguasa atau sebagai kelompok perombak yang mencoba untuk mencari alternatif-alternatif. dalam Salam (2001: 29) menyatakan bahwa yang menjadi pendukung pendidikan seni rupa multikultural model perombakan ini menegaskan bahwa dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. jender. suku. jenis kelamin. Selanjutnya terdapat lima langkah dalam mengembangkan kurikulum pendidikan seni rupa berbasis multikultural. Wasson dkk. mereka memusatkan perhatian pada faktor-faktor yang dinamik dan kompleks yang mempengaruhi interaksi manusia yakni kemampuan fisik dan mental. kondisi sosial yang ada di masyarakat. Langkah pertama pendidik 33 .

Dimulai dengan kegiatan yang hanya mencakup menggambar di sekolah umum. tingkat kehidupan munusia. Pendidikan Seni Rupa di Sekolah Dasar di Indonesia a. membuat keputusan reflektif kemudian mengambil langkah nyata sesuai keputusan. Langkah keempat. maka pendidikan seni rupapun mengalami perkembangan terutama di Sekolah Dasar. Tindakan yang ditempuh dengan mengidentifikasi masalah sosial yang berkaitan dengan agama. Lima langkah yang dikemukakan oleh Wasson tersebut di atas merupakan salah satu cara penyusunan kurikulum pendidikan berbasis multikultural. pendidik dan peserta didik memilih bahan kurikulum relevan dan menarik. Tinjauan Historis Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan dinamika masyarakat yang senantiasa berkembang. dan lain-lain. Ketiga pendekatan pendidikan seni rupa yang telah diuraikan di atas merupakan tiga pendekatan utama yang mempengaruhi pemikiran dan praktek pendidikan seni rupa dewasa ini. jenis kelamin. Pestalozzi (1746-1827) 34 . pendidik dan peserta didik melakukan analisis situasi supaya akrab dengan masyarakat. suku. Merupakan langkah terakhir yaitu langkah kelima pendidik melaksanakan program evaluasi baik formatif maupun sumatif. Langkah kedua. mengklarifikasi. 4. Kemudian mengumpulkan data. pendidik dan peserta didik berkolaborasi mengadakan penyelidikan masalah-masalah yang ada kaitannya dengan bahan kurikulum yang dipilih. menanang nilai yang dianut peserta didik. Langkah ketiga.menganalisis dan memperbaiki sikap negatif yang mungkin mereka miliki terhadap pluralisme social dan keragaman suku.

35 . Hal ini diperkuat pernyataan Uhlin (1975:18) yang menyatakan bahwa International congresses were formed in those years to pool data and structure theories which would communicate just what it as that the child was resolving at a particular chronological age. Pada tahun-tahun tersebut. Perkembangan selanjutnya pada akhir abad ke 19. Sebuah gagasan tentang tahap-tahap pertumbuhan dalam perkembangan artistik anak muncul dalam studi ini.merupakan pakar yang berhasil memasukkan pelajaran menggambar di sekolah umum tersebut. Kemudian era studi anak pada akhir abad ini merupakan sebuah gerakan yang meluas dan berpusat pada pola-pola prilaku anak pada setiap perkembangannya. menggambar adalah sarana untuk mengembangkan pengamatan. dan berfungsi untuk melatih penguasaaan ketrampilan. Riset pertama yang membahas seni anak tepatnya dilaksanakan pada musim dingin pada tahun 1882 oleh Corrado Ricci seorang penyair Italia yang hasilnya merupakan dukungan studi tentang ekspresi seni sebagai suatu alat untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam pada pengalaman total anak-anak. Dengan demikian fungsi pelajaran menggambar adalah untuk mempersiapkan tenaga kerja pangsa pasar tertentu yang membutuhkan kemampuan seseorang menggambar bangun dan pengamatan yang tajam. sebagai hasil dari studi lahirlah pandangan baru tentang dunia anak yang amat besar pengaruhnya terhadap pendidikan seni rupa. Menurut pandangannya. lahir teori-teori yang berpusat pada pola-pola perilaku anak pada setiap tahap perkembangannya.

dengan terbitnya banyak jurnal pendidikan seni rupa sebagai hasil penelitian. 1970: 1). maka muncullah pandangan baru tentang pembelajaran seni rupa anak yang berfokus pada perkembangan alamiah anak dan pengalaman belajar anak. dan kerajinan. Mulailah adanya pengakuan karya seni rupa anak sebagai karya seni rupa yang sesungguhnya. salah satu hasilnya adalah ditemukannya pola perkembangan menggambar anak berdasarkan usia anak Sejalan dengan penemuan adanya pola kemampuan menggambar anak. adalah orang pertama yang memberikan pengakuan adanya nilai yang terkandung pada karya seni rupa anak. menurut Read hanya orang dewasalah yang memilki kematangan perasaan dan intelektual yang dipandang layak untuk menghasilkan karya seni (Read. Frank Cizek. Di Indonesia pada masa pemerintahan Belanda. Ia menegaskan bahwa seni rupa anak hanya mampu dihasilkan oleh anak dan anak menggambar harus diberi kesempatan untuk tumbuh bagaikan bunga yang berkembang dengan sendirinya secara alami.Pandangan baru ini melihat anak sebagai pribadi yang unik yang berbeda dengan orang dewasa. Memasuki abad ke 20 perkembangan seni rupa memasuki babak baru. bebas dari pengaruh orang dewasa. 36 . disain. seorang pendidik dan perupa dari Wina. Selanjutnya studi awal tentang anak dilakukan para ahli. didirikan sekolah khusus untuk anak-anak pribumi dengan tujuan menyiapkan tenaga siap pakai untuk dipekerjakan sebagai tenaga administrasi pada masa pemerintahan kolonial. Pada masa sebelumnya. Pendidikan seni rupa yang sebelumnya hanya terbatas pada kegiatan menggambar menjadi lebih luas mencakup pembelajaran apresiasi seni rupa.

menghargai budaya dan tradisi bangsa sendiri.Demikian juga pada pelajaran seni rupa. dan kerajinan tangan adalah mata pelajaran yang 37 . Buku-buku pelajaran yang dipakai adalah buku-buku yang merupakan gambar-gambar pemandangan di Belanda dengan kincir angin.M Soewadi Soerjaningrat atau dikenal dengan Ki Hajar Dewantoro mendirikan sekolah swasta untuk kepentingan anak-anak pribumi dan menurut pandangannya pendidikan seni rupa merupakan alat untuk menanamkan kepribadian Indonesia. di Sumatra Barat tepatnya di Kayutanam berdiri pula Indonesische-Nederlandsche School (INS) oleh Mohammad Syafei. Pelajaran menggambar. Pada prinsipnya Mohammad Syafei menentang pendidikan pemerintah kolonial yang hanya mengutamakan pendidikan intelektual dan kurang memperhatikan pengembangan kepribadian anak. Ekspresi diri. dan sadar budaya adalah dasar dari metode pendidikan seni rupa yang diterapkan di Taman Peserta didik (Holt. suasana peternakan dan bunga tulipnya. Bersamaan dengan didirikannya Taman Peserta didik. Akibat yang diinginkan anakanak Indonesia tidak dapat mengenal. waktu itu bentuk pelajarannya adalah pelajaran menggambar dengan orientasi pemberian keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja secara mandiri pada pemerintah kolonial. mencetak. menghargai budaya dan tradisinya sendiri. Kemudian oleh R. 1967: 195). tetapi menanamkan tradisi Barat sebagai suatu kemajuan. Hal ini mencerminkan sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia cenderung tidak menggambarkan keadaan atau suasana Indonesia. Namun yang terjadi selanjutnya timbul ketidakpuasan dari kaum pribumi terpelajar yang menginginkan perlunya anak-anak Indonesia mengenal. keaslian.

dan teknologi. Pendidikan seni rupa tidak dikenal sebagai istilah yang mandiri di Sekolah Dasar. dan menggambar ekspresi. Pada kelas-kelas untuk akhir. dan dijual untuk menambah beaya kegiatan sekolah. seni tari. Pembelajaran masih mengembangkan kemampuan anak melalui latihan koordinasi mata dan tangan. hanya objek gambar bukan lagi pemandangan di Belanda tetapi pemandangan alam Indonesia. anak-anak diajarkan keterampilan agar memiliki kemampuan membuat barang yang bersifat fungsional. 38 . Pada menggambar ekspresi. perspektif. seni teater. ilustrasi. Baru pada tahun 1964 istilah “menggambar” diganti dengan “seni rupa”. Pada masa awal kemerdekaan. Lingkup materi pembelajarannya meliputi seni rupa. Pada mata pelajaran menggambar meliputi menggambar alam benda. Perkembangan selanjutnya pendidikan menggambar yang menekankan pada teknik menggambar tidak digunakan sejalan dengan diterapkannya pendidikan seni rupa pada kurikulum sekolah (kurikulum tahun 1975) dan kurikulum sesudahnya dan pada kurikulum yang berlaku sekarang ini (KTSP). pelaksanaan pendidikan seni rupa tidak mengalami perubahan yang berarti. kerajinan. anak-anak diberi kebebasan untuk menyatakan ide dan perasaannya. Pendidik sebagai fasilitator memberikan kemudahan-kemudahan pada anak.dianggap penting. Dalam rumusan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) merupakan bagian dari kelompok mata pelajaran Estetika dan nama mata pelajarannya adalah Seni Budaya dan Keterampilan. yang kesemuanya bertujuan melatih pengamatan anak. seni musik.

sejalan dengan implementasi kurikulum tahun 1975. and aesthetics (Dobbs. dialami. Pada art production adalah suatu disiplin dalam hal penciptaan seni rupa. dieksplorasi oleh anak. art history. art criticism. dan penilaian. dan penilaian merupakan gambaran untuk memperoleh kualitas karya seni rupa yang diamati. yang merupakan babakan baru dalam sejarah pendidikan seni rupa di Indonesia. Keempat bidang tersebut tidak harus diajarkan secara terpisah tetapi diajarkan secara terpadu. 1992: 9). 1) Penerapan pendekatan disiplin Seperti telah dikemukakan dimuka bahwa pendekatan disiplin mempunyai ciri adanya program pembelajaran yang sistematik dan berkelanjutan dalam empat bidang yaitu: bidang penciptaan.b. sedangkan art criticism adalah disiplin yang memfokuskan perhatian pada persepsi dan deskripsi untuk menjawab pertanyaan tentang apa yang diamati pada suatu karya seni rupa. penikmatan. art production. Babakan baru tersebut menyangkut 2 hal pokok yakni: (1) penerapan “ pendekatan disiplin (DBAE)” dalam hal isi pembelajaran seni rupa. untuk menjelaskan makna dari apa yang diamati adalah melalui kegiatan analisis dan penafsiran. Art history adalah disiplin 39 . Dalam hal ini banyak yang dapat dipelajari. Keempat bidang tersebut dijabarkan dalam mata ajaran dan tercermin dalam kurikulum meliputi. merupakan proses kreatif melalui pengolahan bermacam-macam materi untuk menciptakan efek visual yang diinginkan. pemahaman. Pendekatan Pendidikan Seni Rupa yang dianut di Indonesia Diterapkannya pendidikan sistem di sekolah. dan (2) penerapan “pendekatan sistem” dalam rancangan kegiatan pembelajaran seni rupa.

Pendekatan sistem dalam terminologi Kurikulum 1975 dikenal sebagai PPSI. Menurut pendekatan sistem. pengalaman keindahan dan sumbangannya terhadap kehidupan dan kebudayaan manusia. Dengan demikian pendekatan disiplin memandang kegiatan pembelajaran di sekolah seyogyanya tidak hanya menyangkut kegiatan berkarya seni rupa seperti melukis. pandangan ini diakomodasi yang ditandai dengan meluasnya cakupan mata pelajaran seni rupa. dsb. mematung. Aesthetics adalah disiplin yang memfokuskan pada diskusi hakekat dan makna seni rupa. Kegiatan pembelajaran yang 40 .. politik dan budaya. Kurikulum selanjutnyapun yang muncul melanjutkan apa yang dimulai pada kurikulum tahun 1975 . Pendekatan sistem menuntut kegiatan pembelajaran yang berorientasi pada tujuan yang telah dirumuskan terlebih dahulu. dan estetika. 2) Penerapan pendekatan sistem Dalam kurikulum 1975 dituntut diterapkannya pendekatan sistem dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. mencetak. Dalam kurikulum tahun 1975. termasuk kegiatan penilaian hasil belajar. kritik seni rupa. tetapi juga mencakup sejarah senirupa. kegiatan pembelajaran terdiri atas berbagai komponen yang satu sama lain terikat dalam satu sistem dengan tujuan sebagai komponen utama yang memberi arah pada komponen lainnya. Demikian pula dengan KTSP yang berlaku saat ini mengacu pada Standar Isi yang kandungannya mencerminkan kekomprehensifan isi sebagaimana yang diamanatkan oleh pendekatan disiplin. Tujuan inilah yang menjadi acuan seluruh kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru.yang memfokuskan perhatian pada peran seni rupa dan seniman dalam konteks social.

tujuan pembelajaran identik dengan kompetensi tertentu yang diharapkan untuk dicapai oleh anak dalam kegiatan pembelajaran. komponen pelaksanaan pembelajaran. Tujuan pembelajaran menekankan kemampuan yang harus dikuasai oleh peserta didik yaitu: pengetahuan. sejarah seni. peragaan. Dalam hal ini pendekatan sistem merupakan kerangka acuan yang rasional dalam memadu komponen-komponen pembelajaran yang saling berkaitan. Sedangkan metode pembelajarannya yang memungkinkan anak memiliki pengetahuan. Dalam konteks KTSP. Sesuai tujuan pendekatan berbasis disiplin. Peranan pendidik dalam pendekatan ini dituntut dapat memberikan kemudahan bagi anak untuk mendapatkan pengetahuan. ketrampilan bidang seni rupa. sikap. kritik seni. dan ketrampilan bidang seni rupa meliputi: produksi/karya seni.beroreintasi pada tujuan ini berlanjut pada kurikulum yang diperkenalkan kemudian. diskusi. sikap dan keterampilan seni rupa seperti yang dirumuskan pada tujuan pembelajaran. Penerapan pendekatan disiplin dalam pendidikan seni rupa di sekolah di Indonesia. dan praktek membuat karya seni rupa. Evaluasinya dilihat dalam konteks sejauhmana anak memperoleh pengetahuan. sangat mempertimbangkan aspek psikologis anak sejalan dengan tumbuhnya kesadaran akan pentingnya menjadikan anak sebagai pusat perhatian guru dalam kegiatan pembelajaran. dan estetika. dan keterampilan seni rupa. Misal komponen tujuan pembelajaran. agar anak memiliki pengetahuan. 41 . komponen evaluasi saling berkaitan. sikap. dan keterampilan seni adalah ceramah. sikap. sikap.

sesuai dengan yang ada dalam Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) Sekolah Dasar antara lain: Menghargai keberagaman agama. Pemikiran anak dalam 42 . budaya. bahkan mereka diberikan pula cara memahami konteks dari sebuah karya seni rupa dari berbagai masa. Hal ini diharapkan akan berdampak pada tumbuhnya rasa penghargaan terhadap keragaman karya-budaya yang dimulai dari lingkungannnya. dimana anak mengalami masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju awal remaja. yaitu masa usia sekolah dasar sering disebut juga sebagai masa intelektual atau masa keserasian bersekolah. Pada rentang usia tersebut anak mengalami fase tertentu. suku. B. Karakteristik Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar Anak usia sekolah dasar pada umumnya ada pada usia 6 sampai dengan 12 tahun. dan golongan sosial ekonomi di lingkungan sekitarnya. tetapi juga memberikan pembelajaran cara mempelajari bagaimana menikmati suatu karya seni rupa. ras. Menurut Piaget (1950: 45-49) ”pada masa itu adalah anak mengalami yang disebut dengan tahap operasi konkret (concrete operations)” dicirikan dengan perkembangan sistem pemikiran yang didasarkan pada aturanaturan tertentu yang logis. Anak sudah dapat berpikir lebih menyeluruh dengan melihat banyak unsur dalam waktu yang bersamaan. Ditinjau dari sudut pandang psikologis masuk dalam kategori childhood.Dengan demikian pada hakekatnya pendekatan berbasis disiplin pada pendidikan seni rupa membawa anak tidak hanya diberi kesempatan untuk berekspresi seni rupa.

banyak hal sudah lebih teratur dan terarah karena sudah dapat berpikir seriasi. (c) menerima konsep secara benar (baik) berdasarkan hadiah dan persetujuan. ke cara berpikir tahap operasional konkret. (k) mulai menumbuhkan rasa keadilan dan menginginkan perasaan yang bebas dari orang 43 . (i) menunjukkan sensitivitas rasa dan sikap terhadap anak disekitarnya dan orang dewasa. dan tahap III pada usia 1012 tahun. dibagi menjadi tiga tahap. Secara umum pada usia sekolah dasar ini. (j) belajar berpartisipasi dalam suatu kelompok sebagai anggota. yaitu tahap I pada usia 6-7 tahun. hal ini juga didukung oleh Piaget yang mengemukakan. (b) anak mulai mempunyai pengalaman pada tahap kepandaian dan perasaan rendah diri. tahap ke II usia 8-9 tahun. (d) melanjutkan perkembangan pemerolehan bahasa. namun demikian perlu diketahui adanya perbedaan tingkat kecepatan kematangan anak sangat dipengaruhi oleh kehidupan lingkungan sosial budaya masyarakatnya. klasifikasi dengan lebih baik. mengemukakan ciri-ciri anak pada anak pada usia 6 dan 7 tahun sebagai berikut: (a) anak beralih dari daya pikir anak yang bersifat imajinatif. bahwa anak mulai berpikir tentang perbedaan bahkan menentang dan bersikap hati-hati. namun belajar lebih banyak terjadi berdasarkan pengalaman konkretnya. bahkan mengambil kesimpulan secara probabilitas. Berikut ini karakteristik anak usia sekolah dasar pada setiap tahapnya. Menurut Brady (1991: 35-37) yang didukung beberapa ahli yang lain. (f) belajar berangkat dari persepsi dan pengalaman langsung. (g) mulai berpikir abstrak. (h) lebih membutuhkan suatu pujian dan persetujuan dari orang dewasa. (e) sudah mulai memisahkan antara fantasi dari realitas.

(i) mempunyai ketertarikan pada hobi bahkan koleksi yang lebih bervariasi. (g) mulai menunjukkan minat pada aktivitas yang khusus. (g) menghargai petualangan imaginatif. (h) mulai menunjukkan minat dan keterampilan yang berbeda dengan kelompoknya. bahwa anak sudah dapat melihat hubungan yang lebih abstrak. (f) mulai mengembangkan konsep dan hubungan spasial. (h) mulai mencari 44 . Selanjutnya dikemukakan lagi oleh Brady (1991: 35-7) bahwa anak usia 8 dan 9 tahun: (a) pemfungsian tahap berpikir operasional konkret menurut Piaget. (d) memiliki perhatian dan penghormatan dari kelompok kini lebih penting. (c) mulai menerima konsep yang benar berdasarkan aturan. (f) mengadopsi orang lain menjadi model daripada orang tua. Perkembangan anak pada usia 10 sampai 12 tahun: (a) pemfungsian tahap operasional konkret menurut Piaget. (b) Erickson berpendapat bahwa anak mempunyai pengalaman pada tahap kepandaian dan perasaan rendah diri. (d) sudah mempunyai ketertarikan yang kuat dalam sebuah aktivitas sosial. (b) anak mulai berpengalaman pada tahap kepandaian dan perasaan rendah diri. (c) dapat menerima masalah yang benar berdasarkan ke-fairan. (e) mulai melihat sesuatu dengan sudut pandang orang lain bahkan sifat egosentris sudah semakin berkurang. bahwa anak sudah mulai berpikir lebih fleksibel dan hati-hati. (e) minat pada kelompok sudah lebih meningkat bahkan mencari kekariban dalam sebuah kelompok. dan (k) sudah mulai membentuk persahabatan yang khusus dengan temannya. (j) adanya peningkatan kemampuan mengutarakan sebuah ide ke dalam kata-kata. (l) menunjukkan perilaku yang egosentris bahkan sering menuntut apa yang menjadi keinginannya.dewasa.

Pada usia awal sekolah dasar anak-anak yang normal berada dalam masa yang energetic.persetujuan dan ingin mengesankan. dan sosial. emosional. sehingga hampir tidak pernah terlihat kesan lelah pada fisik mereka. 45 . (l) mempunyai citarasa keadilan bahkan kepedulian terhadap orang lain. yaitu mereka memiliki banyak energi untuk memenuhi keinginan mereka terutama bermain yang mereka senangi. (k) menunjukkan adanya perbedaan di antara individu. Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yaitu peningkatan ukuran struktur yang mempengaruhi perkembangan intelektual dan mental anak. Anak dalam usia 6 sampai 12 tahun memiliki karya seni rupa yang bersifat khas sebagai cerminan dari tingkat kemampuan dan kesenangannya. Berikut ini dibahas secara umum sisi perkembangan anak sekolah dasar secara singkat. Karena itu menurut Hurlock (1991: 150) melalui latihan yang berat anak dapat melepaskan tenaga yang tertahan dan membebaskan tubuh dari ketegangan. (i) ingin menunjukkan kemampuan serta kemauan untuk melihat sudut pandang orang lain. (j) mencari nilai-nilai. Pertumbuhan dan perkembangan realitasnya tidak dapat dipisahkan. dan (m) memahami dan menerima adanya aturan berdasarkan perbedaan jenis kelamin. yang secara otomatis mempengaruhi perkembangan fungsi-fungsi organ tubuh. kreativitas. Perkembangan fisik dan motorik Perkembangan fisik anak meliputi bertambah besar dan tingginya ukuran tubuh. a. Perkembangan anak meliputi perkembangan fisik intelektual. bertambahnya berat badan.

mengetahui perbedaan antara perasaan dan tindakan.kegelisahan. Anak usia 7-11 tahun sudah lebih mampu berpikir. b. baik secara fisik maupun secara psikologis. Pada diri anak-anak ketika kontrol emosionalnya masih labil dalam intensitas emosi yang tinggi. mengelola perasaan. Piaget merinci intelegensi dalam komponen isi (apa yang dipikirkan). reversibility (bolak-balik). seperti pemisahan. kognisi. klasifikasi. dan pengalaman hidup. Perkembangan intelektual Perkembangan intelektual dikenal dengan perkembangan intelegensi. Piaget menamakan usia ini sebagai periode operasional konkret. dimana anak-anak telah mampu menggunakan simbol-simbol untuk melakukan suatu operasi atau aktivitas mental. kemudian mereka mengendurkan diri. mengendalikan dorongan hati. karena proses kognitif mereka tidak terlalu egosentris lagi dan sudah lebih logis lagi. struktur (konsep atau pola pikir) dan fungsi (organisasi dan adaptasi). mengurangi stress. menunda pemuasan. menilai intensitas perasaan. dan keputusasaan. berlawanan dari aktivitas fisik yang selama ini diterapkan untuk memecahkan masalah atau untuk berpikir. c. mengingat. dan lain-lain. dan berkomunikasi. pendidikan. angka. Keterampilan emosional meliputi aktivitas: mengidentifikasi dan memberi nama perasaan-perasaan. belajar. konversi. Anak-anak sudah belajar mengembangkan konsep berpikir sederhana. identitas. kompensasi. seringkali 46 . Perkembangan emosional Emosionalitas seseorang mengalami perkembangan seiring bertambahnya usia. mengungkapkan peraaan. atau kecerdasan.

Perkembangan kreativitas peserta didik dapat distimulasi dengan banyak cara. tetapi lingkungan yang tidak mendukung dapat menghambat bahkan merusak potensi kreatif peserta didik tersebut. kreativitas itu muncul melalui 47 . Penelitian mengenai kreativitas menunjukkan bahwa bila anak-anak tidak dihalangi oleh rintangan-rintangan lingkungannya. masa berimajinasi tinggi dan masa bermain. atau cemoohan orang dewasa atau orang lain mereka akan mengarahkan tenaganya ke dalam kegiatan-kegiatan kreatif. Perkembangan kreativitas peserta didik dapat diamati pada proses dan karya kreatif peserta didik. lingkungannya. dan cara pertumbuhannya yaitu: 1) Ada beberapa cara yang dilakukan anak-anak kecil untuk mengungkapkan pemikirannya yang beragam. Untuk itu aktivitas bermain yang menantang dan latihanlatihan yang berat dinilai dapat menjadi alat katarsis emosinya. 1991: 147) atau masa “keemasan berekspresi kreatif” (Herawati. kehidupan. drama. Perkembangan kreativitas Anak usia sekolah dasar dinamai dengan “usia kreatif” (Hurlock. 1999: 9). senirupa.mereka merasa tertekan secara emosional akibat perlakuan dan batasan-batasan dari lingkungan mereka. Menurut Abdussalam (2005: 50-51) ada beberapa pilar kreativitas dan faktor yang mempengaruhi munculnya kepribadian seorang anak. Suatu rentang kehidupan dimana akan ditentukan apakah anak-anak menjadi konfomis atau mencipta karya yang baru dan orisinal. musik yang teratur dalam kurikulum. d. Sebagai contoh. kritik. Di sekolah diselenggarakan bermain yang mendidik yang mencakup kegiatan olah raga.

melukis. bercanda. menemukan dan menghasikan sesuatu. 2) Menikmati pengalaman-pengalaman. musik. mencontoh.beberapa perantara atau gambaran-gambaran akal. dan aktivitas yang berbeda-beda itu merupakan sesuatu yang penting dan pilar yang besar dalam membentuk kreativitas pada diri anak 3) Permulaan kreativitas itu ditandai dengan perolehan beberapa hal. menjelajahi tentang hal-hal yang unik dan belum pernah dibuat orang lain. baik yang berupa aktivitas melukis. dan gerakan. permainan. bermain. Imajinasi dituntun untuk berkembang melalui rangsang bentuk-bentuk dan struktur garis yang dikembangkan menjadi suatu bentuk yang dapat dikenali dan unik. Pada masa anak-anak ini. bertanya. beberapa aspek dari kreativitas dirangsang seperti kemampuan untuk 48 . membentuk. menirukan. penekanannya adalah pada rasa ingin tahu. Sedangkan kegiatan figural adalah pengembangan visual “ visual thinking” yaitu melalui bentuk dan garis. berbohong. berkhayal. atau melalui aktivitas seni. serta kemampuan untuk menyelesaikan sebagian permasalahan atau perlawanan ditengah-tengah beraktivitas. bernyanyi. bersukaria. dan produksi bentuk-bentuk yang baru. 4) Permainan anak-anak merupakan pilar pemikiran kreatif yang paling penting. pengembangan alternatif. Dalam kegiatan ini. mewarnai. Kegiatan verbal adalah pengembangan kreativitas dengan menyatakan ide melalui kata-kata. kita mendapati seorang anak itu dapat berbicara. dan membaca. Menurut Torrance (1981) mengembangkan kreativitas melalui dua kegiatan yaitu kegiatan verbal dan figural. mengikuti.

Product Improvement Activity. Misalnya dalam melihat sebuah gambar.memecahkan ide sebanyak mungkin. Usulan Uses Activity. kegiatan yang memberi kesempatan untuk mengembangkan ide-ide dari sesuatu yang telah ada. melengkapi dan memperjelas sesuatu. Berbeda dengan pengembangan ide secara verbal. misalnya kenapa Tuhan memilih buah apel untuk menggoda Siti Hawa. Pengembangan kreativitas melalui rangsangan verbal terdiri dari beberapa jenis yaitu: a. d. dicari sesuatu yang tidak terdapat dalam gambar. Ask and Guess Activity. Just Suppose Activity. pengembangan ide secara figural ada tiga macam yakni: 49 . b. kegiatan ini bertujuan mengembangkan fantasi yang tinggi dengan memberikan suatu gambaran atau ilustrasi yang mustahil dapat terjadi. misalnya berpikir tentang apa yang dapat digunakan terhadap sebuah kaleng susu selain untuk tempat susu. kemampua untuk mengkombinasikan. kegiatan ini bertujuan mengembangkan rasa keingintahuan tentang kemungkinan-kemungkinan serta kemampuan untuk memformulasikan hipotesa. kegiatan yang bertujuan untuk membeberkan pikiran dari sesuatu yang telah mapan. c. kegiatan ini dimaksudkan untuk mendapatkan berbagai macam rspon dari suatu pertanyaan yang tidak biasa. Usulan Quesstion Activity. e. kegiatan yang dilakukan adalah apa yang bisa dibuat atau dikembangkan berdasarkan rangsangan visual dari mainan tersebut. misalnya sebuah mainan anak-anak.

e. misalnya bentuk lingkaran. 50 . Dalam hal ini yang dikembangkan adalah kemampuan membuat variasi dari sebuah jenis rangsang visual. Picture Construction Activity. c. hanya saja kegiatan ini dikembangkan dari satu jenis unsur sebagai rangsang pengembang ide. kegaitan ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan untuk membuat struktur dan kesatuan. kegiatan ini mirip dengan Incomplete Figure Activity. Repeated Figure Activity. Misalnya diberikan rangsangan visual berbentuk buah. Biasanya ada sepuluh bentuk yang tak lengkap untuk disempurnakan dalam waktu yang terbatas. menciptakan ketegangan mental untuk keluar dari permasalahan dengan melengkapi gambar melalui cara yang sederhana dan semudah mungkin. Perkembangan sosial Perkembangan sosial adalah perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengaqn tuntutan sosial atau menjadi orang yang mampu bermasyarakat. garis sejajar dalam jumlah tertentu dan juga dalam gerakan terbatas. kegiatan ini dimaksudkan mengembangkan kemampuan dalam menemukan sesuatu yang belum memiliki maksud yang jelas dalam suatu rangsang visual. b. Hal ini dapat dilakukan dengan menambah elaborasi sehingga diketemukan cara pemecahan masalahnya. Incomplete Figure Activity. Untuk mendapatkan respon yang orisinal ketegangan emosi harus terkontrol.a. kemudian bentuk tersebut dikembangkan menjadi bentuk yang lengkap dan menceritakan sesuatu secara visual.

memainkan peran sosial yang dapat diterima. untuk memilih teman bermain.Walaupun pada dasarnya setiap manusia adalah makhluk sosial. tetapi untuk menjadi pribadi yang sosial mereka harus belajar dalam waktu yang tidak singkat. dan perkembangan sikap sosial. 51 . Berdasarkan karakteristik tingkat perkembangan tersebut di atas dan sesuai dengan tujuan pendidikan sekolah dasar. Pada anak usia sekolah dasar. mulai tertarik pada permainan kelompok. maka pendidikan seni di SD lebih menekankan pada pengembangan kemampuan dasar anak dalam mengolah kemampuan mental dan kesiapan belajar. pengolahan imajinasi dan kreasi. Mereka harus melalui paling tidak tiga proses sosialisasi seperti yang diungkapkan Hurlock (1991: 250) antara lain: belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial. di samping kriteria alam. rasa dan cipta. Mereka tidak begitu bergairah lagi bepergian bersama orang tuanya. banyak orang yang berhasil dalam perkembangan intelektual tetapi tidak berhasil lam perkembangan sosialnya. Penekanan kegiatan seni lebih pada ekspresi diri. anak menetapkan kriteria baru. Bentuk pengolahan kesadaran perseptual. anak semakin senang berada bersama-sama dengan kelompok-kelompok kecil anak-anak umur sebaya. pikir. karsa dan karya dilakukan dalam permainan melalui medium rupa. Penekanan pengolahan seni di SD terletak pada kegiatan bermain. bunyi dan gerak. Keberhasilan sosial tidak ditentukan semata-mata karena keunggulan intelektual.

52 . cat akrilik. Seni lukis adalah salah satu lingkup seni murni berwujud dua dimensi. umumnya dibuat di atas kain kanvas berpigura dengan bahan cat minyak. atau benda lainnya. bentuknya tidak nyata. a. warna. Pengertian dan Jenis Seni Lukis Seni lukis merupakan bagian dari bidang seni rupa murni yang berwujud dua dimensi. Dalam pembuatan sebuah karya seni lukis. tersamar.C. atau bahan lainnya. sehingga seni lukis merupakan karya yang terlepas dari unsur-unsur kegunaan praktis. Karya lukis bergaya ekspresionis (penuh perasaan) memiliki objek benda atau figur yang dibuat dengan garis dan warna yang bernuansa emosi pelukisnya. dan tekstur. binatang. karena garis yang pertama menentukan bentuk suatu karya lukis secara keseluruhannya. figur manusia. Pembelajaran Seni Lukis di Sekolah Dasar 1. yaitu elemen seni lukis dan kaidah-kaidah komposisi. Lebih jelas lagi seni lukis merupakan suatu pengucapan pengalaman artistik seseorang yang dicurahkan ke dalam bidang dua dimensi dengan menggunakan garis. tetapi mengandung berbagai alternatif rupa yang baru. Objek dan gaya lukisan sangatlah beragam. bidang. Elemen-elemen seni lukis 1) Garis Pada dasarnya garis merupakan elemen utama dalam seni lukis. ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Karya seni lukis bergaya naturalis (potret) dibuat persis seperti objek aslinya. seperti pemandangan alam. bahkan kurang dimengerti oleh orang awam. Karya seni lukis yang juga sering disebut dengan lukisan. Lukisan bergaya abstrak berasal dari khayalan kreatif senimannya.

Apabila dilihat dari bentuk garis. gerak. sedang warnanya berfungsi sebagai penunjang dan menambahkan kualitas tersendiri. garis ini dihasilkan dan terjadi karena suatu goresan. Yang satu memberi kesan yang kaku. Garis yang kencang memberikan perasaan yang berbeda dari garis yang berbelok atau melengkung. yaitu: (a) garis nyata. yaitu garis yang terjadi karena kesan yang dapat ditangkap oleh mata yang sesungguhnya merupakan batas limit suatu benda. sehingga meninggalkan bekas yang nyata. gelap terang. (b) garis semu. suasana. Djelantik (1999: 19) mengemukakan bahwa garis sebagai bentuk mengandung arti lebih daripada titik karena dengan bentuknya sendiri garis menimbulkan kesan tertentu pada pengamat. Sesuai dengan pendapat di atas. 53 . kumpulan dari beberapa titik dan sebuah bentuk yang mengandung arti yang melebihi daripada titik. warna. tebal-tipisnya. Garis adalah batas limit suatu benda. tekstur. dan susunan dari objek-objek. massa. irama. Wujud garis dapat dibedakan menjadi dua macam. dan susunan objek. dan dari letaknya terhadap garis-garis yang lain. karena bentuknya yang menimbulkan perasaan tertentu kepada si pengamat. keras. ruang. massa. ruang. Kesan yang diciptakan juga tergantung dari ukuran. warna. Selanjutnya Ruta (2005: 22) mengatakan bahwa garis dapat menyatakan bentuk. garis merupakan sebuah goresan. dan kontur. dan yang lain memberikan kesan luwes dan lemah lembut.Garis merupakan hasil suatu goresan yang diakibatkan oleh sebuah titik bergerak lurus sehingga membentuk jejak.

dibatasi oleh garis lengkung bebas yang mengesankan keceriaan dan pertumbuhan Gambar 2. 54 . Demikian juga dengan garis. bahwa garis dapat berupa bidang. dibatasi oleh beberapa garis lurus yang secara matematis tidak bertalian. Bidang Geometris (b) Bidang organik. Dengan demikian. baik garis nyata maupun garis semu.2) Bidang Bidang merupakan suatu area yang dibatasi oleh garis. namun bidang belum tentu titik. Bidang Organik (c) Bidang bersudut. titik dapat berupa bidang. namun bidang belum tentu berwujud garis. Jenis bidang dapat dibagi menjadi empat bagian yaitu: (a) Bidang geometris. dibuat secara terukur Gambar 1.

dibatasi oleh garis lurus dan lengkung yang secara matematis tidak bertalian. Gambar 4. Gambar 5.Gambar 3. Bidang Tak Beraturan 3) Ruang Ruang dapat diartikan sebagai keluasan yang dibatasi oleh limit baik keluasan positif maupun keluasan negatif. Bidang Bersudut (d) Bidang tak beraturan. Komposisi Ruang Negartif dan Positif 55 . Keluasan positif yaitu ruang yang sering menggambarkan objek sedangkan keluasan negatif yaitu keluasan dalam bentuk dua dimensi ruang negatif ini sering menjadi background.

satu bentuk menumpang pada bentuk lain. Ruang dengan Teknik Penumpangan (b) Pergantian warna. semakin jauh suatu benda warnanya semakin memudar atau warna panas akan berkesan mendekat. yaitu semakin jauh suatu bentuk akan terlihat semakin kecil. Gambar 8. sedangkan warna dingin berkesan menjauh.Beberapa teknik dalam pencapaian ruang dalam karya dua dimensi yaitu: (a) Penumpangan. Gambar 6. 56 . tekstur yang kasar akan tampak lebih dekat dibandingkan dengan tekstur halus. Bentuk yang nampak berada di depan atau di atas bentuk lain. Ruang dengan Teknik Pergantian Bentuk dan Ukuran (d) Pergantian tekstur. Ruang dengan Teknik Pergantian Warna (c) Pergantian bentuk dan ukuran. Gambar 7.

yaitu penambahan dapat dilakukan dibelakang atau di depan. Gambar 10. Gambar 11. hal in terjadi dengan menukarkan kedudukan bentuk untuk membangkitkan ruang maya.Gambar 9. Ruang dengan Teknik Pelengkungan (f) Penambahan bayangan pada bentuk. Gambar 12. Ruang dengan Teknik Pergantian Tekstur (e) Pelengkungan atau pelekukan. Ruang dengan Teknik Bayangan (g) Manipulasi dengan teknik gelap terang atau dengan perbedaan/perubahan tekstur. Ruang dengan Teknik Gelap Terang 57 .

5) Warna Warna yang sering kita lihat atau gunakan dalam kehidupan sehari-hari dapat dibedakan menjadi tiga dimensi. sebaliknya merubah value menjadi gelap dengan cara menambah warna hitam secara bertingkat disebut shade. Terangnya seluruh warna adalah putih dan gelapnya seluruh warna adalah hitam. halus. misalnya tekstur batu. yaitu kualitas dari suatu warna yang menunjukkan suatu hue. yaitu istilah yang digunakan untuk menunjukkan terang gelapnya warna. ada yang kasar. Nilai raba suatu permukaan benda tersebut dapat berbeda-beda. yaitu: tekstur nyata dan tekstur semu. kasap. (c) Intensity. tetapi tidak dapat dinilai atau dirasakan oleh alat indera raba. keras. (b) Value. yaitu: (a) Hue. yaitu istilah yang sering digunakan untuk menunjukkan nama dari suatu warna. Tekstur nyata yang dimaksud disini adalah nilai raba suatu permukaan benda secara fisik dapat dirasakan oleh indera raba. hijau. dan lain-lain. dan licin. kuning. Hue yang murni adalah 58 . berkaitan tentang cerah dan suramnya warna. Sedangkan tekstur semu adalah nilai raba suatu permukaan benda hanya dapat dinilai secara visual. lunak. Merubah value menjadi terang dapat dengan cara menambah warna putih secara bertingkat disebut tint. oranye. seperti merah.4) Tekstur Tekstur merupakan nilai raba suatu permukaan benda. Jenis tekstur ada dua macam. biru. Oleh karena itu putih dan hitam tidak termasuk dalam lingkaran warna.

ada beberapa hubungan antar warna. hiaju-biru. Hue dalam intensitasnya yang lebih rendah adalah lebih lembut. seperti hijau dengan kuning. Sedangkan warna dingin terdiri atas: kuning-hijau. yaitu hubungan warna yang saling bersebelahan pada lingkaran warna. dan sebagainya. Mengurangi intensutas suatu warna dapat dicapai dengan mencampur atau menambah hue yang murni dengan warna-warna netral seperti putih. oranye dengan merah. biru. kuning dengan oranye. (c) Komplementer. dan ungu merah. (b) Monocromatik. merah. hitam. yaitu sebagai berikut: (a) Analogus. yaitu campuran warna-warna dari ketiga variabel dimensi warna yang berasal dari satu warna yang berlainan nilai dan intensitasnya. dan abu-abu atau mencampur dengan warna komplemennya atau dapat juga dengan warna-warna yang ada disebelahnya. oranye-merah. sehingga menimbulkan sensasi visual panas dan dingin. dan violet. Semua warna memiliki temperatur. Selain dimensi warna yang telah dijelaskan di atas. yaitu susunan warna yang kontras atau bertentangan.cemerlang dan kuat. kuning-oranye. biru-violet. Klasifikasi temperatur warna tersebut dapat dilihat pada lingkaran warna: warna panas terdiri dari warna kuning. oranye. Untuk lebih jelasnya lingkaran warna dapat dilihat pada gambar berikut: 59 . hijau.

warna dengan tekstur. antar garis. artinya nilai dari sebuah karya seimbang.Gambar 13. antar bidang. Keseimbangan (Balance) Keseimbangan dalam karya seni rupa adalah keserasian bobot dari unsurunsur seni rupa itu sendiri. Kesatuan dapat dirinci menjadi kesatuan antar warna. walaupun mungkin wujud dan jumlahnya tidak sama atau bahkan 60 . Lingkaran Warna b. garis dengan bidang. kesatuan antar tekstur. yaitu sebagai berikut: 1. kesatuan antar garis dengan warna. 2. garis dengan tekstur. dan antar semua elemen. bidang dengan tekstur. Kaidah-kaidah Komposisi Ada beberapa kaidah komposisi yang perlu diperhatikan pembuatan sebuah karya lukis. Kesatuan (Unity) Nilai kesatuan dapat dicapai dengan mengkomposisikan elemen-elemen yang memiliki karakter yang sama.

atau cepat-lambat. irama dapat dibedakan menjadi dua. misalnya: proporsi manusia adalah 61 . bagian yang satu merupakan cerminan bagian yang lainnya. Keseimbangan simetris merupakan keseimbangan antara dua sisi sama kuatnya. Menurut sifatnya. 3. Keseimbangan asimetris merupakan keseimbangan yang dicapai dengan menyerasikan bobot antar unsur yang bersebelahan. Perubahan tersebut dapat juga terjadi karena adanya pengulangan. Irama yang monotone terjadi karena adanya pengulangan wujud dan jumlah yang sama. Keseimbangan dalam karya seni rupa dapat dibedakan menjadi dua bagian. sehingga mempunyai kesan yang tidak membosankan. Dengan kata lain.bertentangan. yaitu: keseimbangan simetris dan keseimbangan asimetris. seperti keras-lunak. namun wujud dan jumlahnya tidak sama. Irama (Rhythm) Irama merupakan perubahan-perubahan warna dan bentuk secara teratur yang membawa perasaan hanyut di dalam perubahan-perubahan yang terjadi. sehingga dalam irama ini terjadi penekanan-penekanan. Keseimbangan asimetris ini memberi kesan yang labil. 4. Sedangkan irama yang dinamis dapat terjadi karena adanya pengulangan bentuk yang sangat variatif. dinamis. Proporsi Proporsi merupakan hubungan-hubungan ukuran dari bagian-bagian dalam keseluruhan suatu bentuk atau objek. yaitu irama monotone dan irama dinamis. artinya antara sisi kanan dan sisi kiri dari sebuah karya seni rupa memiliki wujud dan jumlah yang sama kuatnya.

cahaya atau gelap terang. misalnya dalam warna terdapat keserasian yang bersifat karib (analog) dan keserasian kontras. 5. oranye-kuning. dan oranye. Keserasian karib pada warna ditandai dengan mendampingkan warna merah. Adapun tujuan keserasian adalah untuk menciptakan keselarasan dan keharmonisan dari unsur-unsur yang berbeda. Proporsi digunakan untuk menciptakan keteraturan yang dapat membentuk standar keindahan dan kesempurnaan. merah-kuning. Persoalan proporsi sangat berhubungan dengan ukuran atau dimensi anatar bagian yang satu dengan bagian yang lain dalam suatu karya seni. Pusat Perhatian (Center of Interest) Dalam komposisi seni diperlukan adanya pusat perhatian yang dapat memberikan aksentuasi yang disebut dengan dominasi dalam sebuah karya seni rupa. Dominasi dapat diciptakan melalui unsur utama yang didukung oleh dengan menampilkan unsur-unsur penunjang lainnya sehingga menghasilkan sesuatu yang kontras. bentuk dan jumlah elemenelemen seni rupa lainnya. 62 . 6. kontras dan silang dalam lingkaran warna. Hubungan proporsi ini misalnya mengenai warna. lebar bahu.antara ukuran kepala dengan tinggi badan. Sedangkan keserasian kontras yaitu pertentangan (komplementer) yang bersifat ganda. Keserasian Keserasian merupakan prinsip yang digunakan untuk menyatukan unsurunsur rupa walaupun berasal dari berbagai bentuk yang berbeda. atau panjang batang tubuh (torso).

dan pola pikir keilmuan (mencakup materi yang bersifat konsepsi. yang menyebutkan bahwa pendidik mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan harus mempunyai kompetensi: menguasai materi. warna dan tekstur bukan lagi sebagai elemen-elemen pisik tetapi mencerminkan ekspresi kejiwaan yang kuat bagi pembuat karya lukis tersebut. merupakan tanda-tanda positif karya bermutu. musik. sehingga diharapkan hasil penilaian yang dilakukan 63 . struktur. Konstruk yang tidak merusak harmoni dengan kemampuan membawakan kehidupan. teater) dan keterampilan (PP 19 tahun 2005). namun dalam kenyataan apabila sudah menjadi suatu bentuk karya seni lukis: elemen garis. Kusnadi (1991: 18) menyebutkan: bahwa pengolahan elemen-elemen tersebut mencerminkan ekspresi kejiwaan yang kuat. dalam membentuk imaji kreatif dari karya seni. Kadang-kadang lembut sampai immaterial. Dengan demikian untuk menentukan hasil karya seni lukis yang baik dari peserta didiknya tentunya seorang pendidik dituntut memiliki kompetensi sebagai pendidik mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan pada Sekolah Dasar. dan kreasi/rekreasi) yang mendukung pelaksanaan pembelajaran seni budaya (seni rupa. konsep. Hal ini sesuai dengan PP 19 tahun 2005 tentang Standar Penilaian Pendidikan. atau merupakan bahan-bahan kelahiran ekspresi kontrastik yang serba menyala. Berkenaan dengan pengolahan elemen-elemen dan kaidah komposisi sehingga merupakan tanda-tanda karya seni lukis yang bermutu. tari. apresiasi. Kesan unik. luar biasa atau langka. jelas dan dinamis.Demikian elemen-elemen seni lukis dan kaidah-kaidah komposisi yang ada dalam karya seni lukis.

intelektual. dapat memberikan suatu pandangan tingkah laku dan apresiasi pertumbuhan dan perkembangan bervariasi yang dialami anak. biru. Apa yang dituangkan dalam tema lukisannya adalah apa yang dilihatnya sesuai dengan lingkungan hidup yang nyata dan khayalnya. hitam dan seterusnya. yang dapat diterapkan pada 64 .pendidik memenuhi esensi yang dipersyaratkan pada penilaian karya seni anak. emosional. seprti fisik. perceptual. sesuai dengan “kacamata” anak. Demikian juga pada multiple intelegences gardner yang membagi karakteristik kecerdasan menjadi sembilan jalur yaitu: verbal/linguistic. karena lukisan anak itu sendiri mencerminkan segi kejiwaan anak. Goresannya spontan dan bebas: miring kesana kemari. Peran pendidikan seni yang multi dimensional pada dasarnya dapat mengembangkan kemampuan dasar manusia. Seni Lukis bagi Anak Usia Sekolah Dasar a. Seni Lukis sebagai Cerminan Isi Jiwa Mencermati lukisan anak dan cara mereka menggambarkan lingkungannya. logical/mathematical. Dengan lukisan anak dapat dibaca jiwa dan kehidupan anak-anak yang bersifat polos. naturalist. emosional. kecerdasan spiritual. 1982). sangat berani: merah kuning. Penggunaan warna sesuai dengan suasana hatinya. interpersonal. visual/spasial. social. Dengan kegiatan ini perlu diketahui apa yang dapat dikembangkan pada diri anak secara maksimal. dan estetik (Lowenfeld. dam krativitas anak. anak tidak ada rasa takut. Kegiatan seni di samping penting bagi perkembangan kognitif juga memberikan rangsangan bagi pertumbuhan persepsi. 2. social. kreativitas. Dalam proses melukis.

Intelektual. akan senang menggambar apa yang telah dibuatnya sehingga terjadi pengulangan-pengulangan yang kurang melibatkan emosi. cirinya adalah anak dapat memvisualisasikan imajinasi ke dalam kenyataan yang dituangkan dalam bentuk tulisan (Jamaris.lukisan anak-anak. penanaman dan pertumbuhan indrawi merupakan bagian yang sangat penting dalam kegiatan seni. Dapat dilihat dari beberapa banyak pengetahuan tentang objek yang digambarkan dan hubungannya dengan lingkungannya. perkembangan intelektual dapat dilihat pada gambar anak. Persepsi. Dalam membimbing anak. bersikap. dengan melukis anak mendapat kesempatan untuk menumbuhkan emosinya. Anak yang sulit menyesuaikan diri. Setiap perubahan situasi membutuhkan fleksibilitas berpikir. perlu diciptakan kondisi yang melatih anak mampu menyesuaikan dirinya. 2001). sering ia tuangkan ke dalam gambarnya. Seiring dengan kecerdasan visual/spasial yang merupakan salah satu karakteristik jalur kecerdasan. akan terlihat keterlibatan segi kejiwaan anak sehingga mencerminkan kondisi kejiwaan anak. dan berimajinasi. Sejauh mana ia menyadari lingkungannya. Apabila ia dekat dengan ibunya atau dengan temannya. Anak yang terlambat berkembang konsepsinya sesuai kemampuan usianya. Dalam kegiatan melukis. Semua ini merupakan indikator dari perkembangan intelektualnya. Kehidupan dan kemampuan untuk terus 65 . Emosi. Hal ini dapat dilihat bagaimana anak menggambarkan sesuatu yang menurutnya penting dan melibatkan emosinya. dimungkinkan terlambat pula perkembangan intelektualnya. Perkembangan intelektual seiring dengan perkembangan usianya.

Estetik. tekstur. Tujuannya untuk mengasah kepekaan rasa terhadap warna. Perkembangan persepsi dapat didentifikasi melalui gambar yang dibuat anak. temannya. warna. adiknya. dan menyusun sesuatu secara personal. Sosial. Observasi secara visual adalah kegiatan utama dalam seni rupa. kakaknya. dan ruang. bentuk. Dalam gambar atau 66 . dan tekstur disebut seni rupa termasuk di dalamnya seni lukis. Kepekaan tersebut dapat tercermin dari bagaimana anak menggunakan. bentuk. pertumbuhan kreativitas segera terlihat begitu anak mulai dapat membuat goresan.belajar tergantung dari kualitas indrawi manusia. Anak memiliki pengalaman dengan dirinya dan orang lain. atau situasi sosial lainnya. Biasanya anak menggambarkan wujud yang paling dikenalnya yaitu bentuk orang. Hal itu dapat dilihat dari sensitivitas anak dalam mengorganisasikan unsur-unsur rupa menjadi suatu susunan yang terpadu secara spontan dan intuitif. ruang. Mungkin orang tuanya. pertumbuhan sosial anak dapat diketahui melalui gambar yang dibuatnya. Hal ini menandakan usia dini telah memiliki kesadaran sosial. Kreatif. rasa estetik anak tumbuh secara alami. Oleh sebab itu penting memberikan kesempatan pada anak untuk mengasah kepekaan persepsinya. sebagai dasar kegiatan seni dapat diartikan sebagai cara mengorganisasikan pikiran dan perasaan yang dijadikan suatu ekpresi dan komunikasi dengan orang lain. menikmati. dan memberikan reaksi terhadap unsur visual tersebut. Organisasi garis. Dalam kegiatan seni. Anak yang jarang mendapat pengalaman persepsi akan memperlihatkan kemampuan yang rendah dalam melakukan observasi dan kesadaran akan suatu perbedaan kualitas visual benda.

Ciri Seni Lukis Anak Anak berbuat dan berkarya atas dasar daya nalar anak.lukisan anak. lebih banyak yang akan mereka ceritakan maka lebih banyak pula bentuk yang akan dimunculkannya. He recognized in these simple forms that the child draws a description of the subject according to his knowledge of that subject and not according to its visual appearance. tetapi memiliki suatu kebebasan dalam ekplorasi dan ekperimen bahan. Dalam berkarya. Dengan penalaran anak wajar 67 . Untuk menjadi kreatif. Banyak sedikitnya unsur pada lukisan sangat tergantung pada keasyikan pemikiran dan fantasinya. pertumbuhan kreatif dapat diidentifikasi melalui bagaimana karya itu dibuat secara imajinatif dan mandiri. serta menentukan tema. anak akan mengalami kemandegan kebebasan kreatifnya. Dengan demikian anak menggambar mulai yang paling sederhana yaitu dengan garis-garis dan berkembang menjadi bentuk-bentuk yang representasional dan detail sesuai dengan perkembangan usia sesuai dengan pengetahuannya sendiri bukan menurut penampakan visual. jika dipaksa untuk membuat sesuatu yang tidak berhubungan dengan dirinya. Perkembangan menggambar anak menurut Ricci (1960: 302-307): The child starts drawing with an “interlacing network of lines” and then moves on to simple representational foms which become more detailed with age. anak tidak harus terampil. pikirkan atau khayalkan. b. Mereka akan cenderung tergantung dan meniru pekerjaan orang lain. melainkan lebih pada apa yang mereka mengerti. Mereka mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam ujud karya seni rupa atau lukisan tanpa terbatas pada apa yang terlihat dengan mata kepala saja.

Mata. Pada tahun 1885-1886 Ebenezer Cooke melakukan penelitian tentang perkembangan gambar anak-anak yang pertama kalinya. dan ekor digambarkan tanpa pemahaman tentang jumlah dan hubungan antara bagian-bagian objek itu. tetapi menurut Cooke. tetapi ia menetapkannya antara umur empat sampai sembilan tahun. bulu. intuitif. dan lebih dekat pada sifat bermain. Cooke tidak memberikan gambaran yang menyeluruh tentang tahap keempat pada gambar anak-anak.dan spontan maka hasilnya tampak sungguh naif. 68 . c. kaki. Gambar anak bukan merupakan tiruan objek-objek di alam. Ungkapan pribadinya muncul melalui bentuk-bentuk dengan makna simbolik tertentu. anak belum memperhatikan ketepatan penggambarannya. ketika anak sangat aktif mempelajari bendabenda di sekelilingnya. melainkan didasarkan pada ingatan atau imajinasi. Perkembangan Gambar Anak Perhatian terhadap perkembangan gambar anak-anak merupakan hal yang baru. Perkembangan pertama berkisar antara umur dua sampai lima tahun. Hasil gambarnya baru merupakan coreng-moreng yang menunjukkan akibat gerakan otot. Gambar anak di sini meniru objek (representasional). Ia menemukan empat tahap perkembangan simbolik pada anak-anak. Pada masa itu anak telah mampu meniru benda-benda di alam dan menghasilkan gambar yang mencerminkan analisis terhadap benda-benda yang dilihatnya. Pada periode selanjutnya gambar anak menunjukkan bukti adanya unsur imajinasi dan kesadaran yang lebih tinggi terhadap gerakan linier. Cooke menyatakan bahwa pada tahap ketiga gambar anak telah menunjukkan adanya hubungan yang alami antarbagian tersebut.

Daftar ini bukan merupakan daftar lengkap para ahli yang telah memberikan sumbangan pengetahuan tentang urutan tahap-tahap dalam simbolisasi visual. Rouma (1913). Stern (1910). Götze (1898). Clark (1902).Ebenezer Cooke adalah guru Bahasa Inggris dan observasinya tidak begitu akurat. Namun. Sebagai contoh. tetapi tidak terdapat kesesuaian mengenai jumlah tahap perkembangan dan penyebab-penyebabnya. Herrick (1893). Eng (1931). Wuiff (1927). Lark-Horovitz (1959). O’Shea (1894). Pada tahun-tahun berikutnya. Lukens (1896). Sir Cyril Burt menyimpulkan adanya tujuh tahap perkembangan. Shinn (1897). Menurut Lansing (1976: 138139). 1) Gambar Anak pada Tahap Figuratif (3-12 Tahun) Pada dasarnya gambar anak mengalami tahap-tahap perkembangan tertentu sesuai dengan perkembangan umurnya. salah satu di antaranya tahap 69 . Brown (1897). namun daftar ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap karya gambar anak-anak telah muncul sejak tahun 1885. Krötzsch (1917). Kellogg (1955). Perez (1888). Luquet (1913). ditemukan tambahan informasi dari hasil observasi dan penelitian oleh Ricci (1887). Levenstein (1905). dan Eisner (1967). ia selayaknya mendapat penghargaan sebagai orang yang pertama kali menulis tentang gambar anak-anak. Sully (1896). Griffiths (1935). Baldwin (1894). Maitland (1895). Barnes (1893). Lowenfeld (1947). hasil-hasil penelitian terhadap gambar anak-anak menunjukkan adanya kesesuaian umum mengenai urutan dan wujud simbol visual perkembangan gambar anak. Kerschenstein (1905). Kebanyakan perhatian itu berasal dari tumbuhnya minat terhadap psikologi dan penelitian yang sistematik terhadap anak. Burt (1921).

Selanjutnya. perkembangan gambar anak pada dasarnya dapat disederhanakan menjadi tiga tahap pokok: (1) tahap coreng-moreng (umur dua sampai empat tahun). (2) subtahap figuratif 70 . Pada tahap figuratif anak membuat simbol-simbol visual sebagai cara untuk memahami benda-benda dan kejadian-kejadian dalam kehidupan nyata dan menggunakannya untuk memberikan informasi kepada orang lain. sesuai pendapat para ahli (Lansing. Pada tahap coreng-moreng anak membuat simbolsimbol visual karena rangsangan gerakan otot. kemudian mengontrol gerakangerakan otot itu. 1976: 138-139). hanya terdapat enam tahap perkembangan. (2) tahap figurative (umur empat sampai dua belas tahun).represi. dan akhirnya mengaturnya sehingga mengesankan “sesuatu hal”. dan kontinyu. sedangkan menurut Viktor Lowenfeld. Peneliti tertentu menganggap suatu susunan pada gambar anak sebagai karakteristik tahap perkembangan tertentu. sebagai cara untuk mengubah atau mempengaruhi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan budaya. tetapi peneliti yang lain hanya menganggapnya sebagai fase transisi. Pada tahap keputusan artistik anak membuat simbol-simbol visual sebagai cara untuk memahami konsep-konsep nyata maupun abstrak dan. Ketidaksesuaian mengenai jumlah tahapan tersebut pada dasarnya terjadi karena perkembangan gambar anak bersifat gradual. halus. Lansing (1976: 147-178) membagi tahap figuratif menjadi tiga subtahap: (1) subtahap figuratif awal (umur tiga sampai empat tahun). yang lebih penting. karena tahap represi sulit diprediksi. dan (3) tahap keputusan artistic (umur dua belas tahuh ke atas).

(a) Subtahap Figuratif Awal Subtahap figuratif awal terjadi pada anak umur tiga sampai enam tahun. Secara keseluruhan unsurunsur tersebut menggambarkan manusia secara umum. Pada umumnya anak pertama kali menggambarkan figur manusia. Dalam tahap perkembangan simbolik ini gambar anak menunjukkan hubungan dengan kenyataan visual. karena figur manusia itu digambarkan berdasarkan kombinasi dari coreng-moreng. Anak mungkin mengetahui bagian-bagian tubuh manusia yang lain. Gambar 14.tengah (umur empat sampai tujuh tahun). Oleh karena itu. Pada gambar 14 tampak usaha pertama anak untuk menggambarkan manusia. Art. Dengan kata lain. yaitu anak di kelompok bermain. kelas satu sekolah dasar. dan (3) subtahap figuratif akhir (umur tujuh sampai dua belas tahun) yang dapat diuraikan sebagai berikut. and Art Education) 71 . tetapi ia mampu atau tidak mengetahui cara menggambarkannya. Artist. Gambar Manusia oleh Anak Umur Empat Tahun (Sumber: Lansing. dan kadang-kadang juga di kelas dua sekolah dasar. gambar anak merupakan petunjuk kematangan intelektual yang bagus sampai umur sepuluh tahun. 1976. taman kanak-kanak. gambar anak menyerupai benda-benda di lingkungan nyata. Lingkaran menggambarkan kepala atau badan dan garis-garis lengkung menggambarkan kaki dan rambut. Subtahap figuratif awal ini berkembang dari tahap coreng-moreng secara hampir tidak tampak.

Dalam hal ini. kemudian melupakannya dan berganti memusatkan perhatiannya pada objek yang lain sampai selesai dan demikian seterusnya. pada masa perkembangan ini juga anak memasukkan unsur benda-benda yang lain untuk memenuhi bidang gambar. mula-mula anak memusatkan perhatiannya pada suatu objek sampai selesai. Sebagai contoh. demikian juga hasil gambarnya. meskipun mungkin memiliki kaitan antara objek yang satu dengan yang lain. Selain objek manusia. Konsep anak tentang benda-benda di lingkungannya berubah atau berkembang dan berangsur-angsur menjadi rinci. 72 . Pada gambar 15 figur-figur manusia digambarkan menggantung di langit bersama-sama dengan piring. Dengan demikian. benang.Pada subtahap figuratif awal kemampuan motorik anak terus berkembang dan aktivitas perseptualnya meningkat. Kecepatan perubahan gambar anak ini mengalami penurunan setelah anak mencapai umur lebih dari tujuh tahun. tetapi pada kesempatan lain menggunakan cara yang lain. Bilamana perlu. sedangkan objek-objek lainnya digambarkan terbalik. susunan objek-objek itu tidak memberikan hubungan makna. dalam menggambar suatu objek anak mulai menggunakan cara tertentu. Hal ini menjadikan objek-objek tertentu digambarkan tegak. dan rumah penyihir. Perubahan atau perkembangan gambar anak pada tahap ini berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan tahap-tahap perkembangan sebelum maupun sesudahnya. ia menggeser-geser atau mengubah-ubah posisi kertas untuk menjangkau bagian-bagian bidang gambar yang belum terisi.

Pada umumnya anak begitu senang menggambar dan bertahan pada masa perkembangan ini hingga waktu yang lama. gambar kepala orang lebih besar dari pada pohon atau gambar anak lebih besar dari rumah. Artist. 1976. Kaki dan tangan manusia hanya digambarkan dengan garis lurus. misanya wanita digambarkan dengan warna ungu. Dengan kata lain. Pada masa perkembangan ini. 73 .Gambar 15. gambar anak pada subtahap ini tidak begitu naturalistik. Kemiripan gambar anak dengan kenyataan baru menandakan objek-objek secara umum. and Art Education) Ciri lain gambar anak pada subtahap figuratif awal adalah penggambaran objek-objek dengan ukuran yang berlebihan. Sebagai contoh. Penggunaan unsur garis. Objek-objek digambarkan dan disusun dengan cara tertentu sesuai dengan perasaan atau intuisi anak. Gambar Anak Pada Awal Munculnya Tahap Figuratif dengan Objek-objek yang Menggantung di Langit (Sumber: Lansing. anak baru sedikit atau belum memiliki kesadaran untuk berpikir tentang keindahan. Art. warna. sedangkan anjingnya digambarkan dengan warna hijau. dan tekstur sedikit atau tidak memiliki hubungan dengan kenyataan.

Penempatan satu objek berkaitan dengan objek lain sekarang tampak jelas disengaja dan bermakna. Namun demikian. tiga. perlu diketahui guru bahwa gambar seperti ini mungkin muncul di berbagai jenjang sekolah dari playgroup sampai sekolah menengah pertama. Garis dasar ini dapat berupa garis yang dibuat oleh anak atau garis tepi kertas.(b) Subtahap Figuratif Tengah Gambar anak pada subtahap ini terutama dapat dijumpai di taman kanak- kanak dan di kelas satu. Garis ini disebut garis dasar (base line) dan merupakan ciri pokok tahap figuratif tengah. Dengan demikian. Hal ini berarti bahwa objek yang berada di bagian atas mengarah ke langit. dan empat sekolah dasar. 74 . Susunan ini dapat dilihat pada gambar 16. Gambar seperti ini merupakan satu-satunya tahap simbolisasi yang dapat dijumpai pada berbagai jenjang umur. Benda-benda yang terletak di tanah dalam kenyataan sekarang dibuat berdiri pada garis yang menggambarkan tanah. Perubahan yang paling penting dari subtahap sebelumnya dapat dilihat pada susunan simbol-simbol dalam gambar anak. sedangkan objek yang berada di bagian bawah bidang gambar mengarah ke tanah. jelas bahwa gambar anak sekarang telah memiliki orientasi bawah dan atas. Dalam masa perkembangan ini simbol visual anak bertambah rumit dan terus cenderung mengarah pada ketelitian.

Hasil Gambar Anak Umur Lima Tahun.Gambar 16. Karena gambar tanah dan kotak itu tampak menggantung. and Art Education) Gambar anak pada subtahap figuratif tengah dapat dilihat dengan jelas pada gambar 17. Artist. garis dasar terletak agak ke tengah bidang gambar dan anak serta bunga-bunga berdiri di atasnya. Gambar Anak Pada Subtahap Figuratif Tengah (Sumber: Lansing. Di atas anak terdapat corengan yang menggambarkan langit. Art. Artist. Simbol anak kecil itu tampak berdiri kokoh di atas tanah (garis dasar) yang tidak lagi menggantung di udara. Gambar 17. Tampak di sini simbol figur yang 75 . 1976. Yang Menunjukkan Masa Peralihan dari Subtahap Figuratif Awal ke Subtahap Figuratif Tengah (Sumber: Lansing. maka lebih tepat dikatakan bahwa gambar ini menunjukkan peralihan dari subtahap ini dan subtahap sebelumnya. dan beberapa kotak berada di tengah bidang gambar. Art. and Art Education) Pada gambar 16. 1976.

pada Gambar 18 kepala harimau digambarkan mirip wajah manusia. karena anak tidak mungkin melihatnya dari dekat. 1976. Pada masa perkembangan ini binatang semacam itu digambarkan anak dengan kepala seperti wajah manusia. Gambar 18. and Art Education) Gambar 19 menunjukkan gambar kereta dengan gerbong awak kereta (caboose) dan mesin di sebelah kiri serta orang di sebelah kanan. Anak tidak memiliki imajinasi yang kompleks tentang kepala binatang itu. Harimau dalam Kandang (Sumber: Lansing. 76 . Objek yang tidak sering ditemukan anak disimbolkan secara sederhana.lebih kompleks dibandingkan dengan simbol figur pada gambar-gambar sebelumnya. Kecenderungan kompleksitas ini dapat dilihat pada simbol-simbol yang paling sering ditemukan anak di lingkungannya. Art. Artist. Asap muncul di atas mesin dan matahari (objek yang banyak terdapat di dalam gambar anak) bersinar dengan terang. Sebagai contoh.

Gambar Kereta oleh Anak Umur Lima Tahun (Sumber: Lansing. Art. and Art Education) Meskipun gambar (simbol grafis) anak semakin kompleks atau rinci (detail). Artist. Gambar Anak Umur Lima Tahun Menunjukkan Objek-objek Yang Ada di dalam Maupun di luar Rumah (Sumber: Lansing. 1976. dalam periode perkembangan ini masih begitu naturalistik. Gambar 20 menunjukkan gambar anak yang hampir mencapai tahap selanjutnya (subtahap figuratif akhir). and Art Education) Gambar 20. karena anak telah menciptakan ilusi kedalaman dengan bentukbentuk yang tumpang tindih. Artist. Di sini anak masih menggunakan garis dasar. Perbandingan ini merupakan contoh perkembangan yang terjadi dalam suatu 77 .Gambar 19. 1976. Art.

subtahap. gambar figur yang dibuat anak semakin realistik. seperti ditunjukkan pada Gambar 22 dan 23. Gambar 20 merupakan karya anak umur lima tahun. Gambar Anak Umur Sepuluh Tahun (Sumber: Lansing. kecuali tahap coreng-moreng. sedangkan gambar 22 dibuat oleh anak umur sepuluh tahun. and Art Education) Ciri yang lain gambar anak pada tahap perkembangan ini adalah gambar sinar-x (x-ray drawing). Gambar 21. 78 . Artist. Art. Gambar itu masih datar dan kaku. Cara penggambaran ini biasanya ditemukan pada subtahap figuratif tengah. sedangkan gambar 23 ibu dan dua anak di dalam badannya. Gambar ini merupakan penggabungan penampakan dari dalam dan sekaligus dari luar suatu objek. Gambar 22 menunjukkan bus penuh dengan para penumpangnya. Jelas bahwa dengan kematangan perkembangan anak. 1976. Gambar 23 dibuat oleh anak umur lima tahun. tetapi pada akhir subtahap figuratif tengah gambar anak belum begitu mirip dengan kenyataan. tetapi dapat ditemukan juga pada semua tahap perkembangan. sedangkan gambar anak pada gambar 21 merupakan karya anak umur sepuluh tahun.

jalan dan kendaraan-kendaraan lainnya digambarkan secara tampak atas.Gambar 22. pada subtahap perkembangan ini juga ditemukan adanya kombinasi gambar tampak atas (plan) dan tampak sisi (elevation) dalam satu gambar. Lowenfeld menyebut cara menggambar ini gambar rebahan (folding over) yang juga merupakan ciri pokok subtahap figuratif tengah. Gambar X-ray oleh Anak Umur Lima Tahun yang Menunjukkan Ibu Dengan Dua Anak di Dalamnya (Sumber: Lansing. sedangkan rumah terletak pada garis dasar yang lain. Gambar rebahan 79 . Dalam gambar ini tampak gambar sebuah mobil terletak pada satu garis dasar. Gambar Bus Penuh Dengan Penumpang (Sumber: Lansing. Artist. and Art Education) Selain penggambaran secara sinar-x. 1976. untuk menggambarkan ruang. Art. Jadi. Ciri gambar semacam ini juga tampak pada Gambar 24. digunakan dua garis dasar. and Art Education) Gambar 23. 1976. Sementara itu. Art. seperti tampak pada gambar 22. Artist.

enam. dan tujuh. tetapi kebanyakan ditemukan pada anak kelas lima.misalnya digunakan anak untuk menggambarkan sisi jalan. pada umumnya gambar anak berhenti pada subtahap figuratif akhir. Gambar subtahap ini tidak terdapat lagi pada anak di atas kelas tujuh. Namun. Objek tidak lagi terletak pada garis dasar tetapi terletak di atas bidang yang tampak membentang ke belakang. Gambar 24. Gambar Anak yang Menunjukkan Penggabungan Antara Tampak Depan dan Tampak Atas (Sumber: Lansing. Setelah umur sebelas atau dua belas tahun anak biasanya tidak aktif menggambar lagi dan jika anak terus aktif menggambar. Anak juga membuat objek di tempat yang dekat dengan ukuran yang lebih besar dari pada objek di tempat yang jauh. mengesankan ruang. and Art Education) (c) Subtahap Figuratif Akhir Gambar pada subtahap figuratif akhir mungkin dimulai pada anak kelas tiga. meja. Art. 80 . dan lapangan sepak bola. sehingga lebih dekat dengan kenyataan. Artist. Selain itu. karyanya akan terus berkembang. Perbedaan yang paling penting antara subtahap figuratif tengah dan subtahap figuratif akhir adalah munculnya penggunaan perspektif sebagai pengganti garis dasar. 1976.

Pada gambar 26 tampak juga bahwa anak menggunakan perspektif linier untuk menggambarkan tempat duduk. Kadang-kadang anak pada subtahap ini telah menggunakan perspektif linier. Gambar yang Menunjukkan Penggunakan Perspektif Linier oleh Anak Kelas Lima (Sumber: Lansing. 1976. Art.anak tidak lagi menggambarkan objek-objek secara tembus pandang (gambar sinar-x). Pada gambar 25 anak menggambarkan setiap kendaraan dengan menggunakan perspektif linier. Art. Artist. Artist. kedua garis tepinya seolah-olah terus saling mendekat. Seperti tampak pada jalan yang menuju ke tempat yang jauh. Perspektif linier adalah cara menggambarkan garis-garis sejajar secara khusus untuk mengesankan kedalaman. Gambar 25. Gambar Bus Yang Penuh Sesak oleh Penumpang Yang Digambarkan Dengan Perspektif Linier (Sumber: Lansing. 1976. and Art Education) 81 . and Art Education) Gambar 26. Penggunaan perspektif linier ini ditunjukaan pada gambar 25 dan gambar 26.

dan jari-jari. badan. Rambut yang panjang. Pada umumnya anak belum merasa puas jika belum dapat menggambarkan dirinya sesuai dengan peran-peran itu secara cukup realistik.Selain perspektif linier. Bahkan kebanyakan bagian-bagian itu digambarkan dengan rinci. ibu. kaki. kontur tubuh. Anak perempuan misalnya mengidentifikasikan dirinya dengan perawat. dan pilot. anak telah menggambar seluruh unsur tubuh: kepala. dan lutut menunjukkan anak ciri-ciri perempuan. Anak pada subtahap ini juga mengidentikasikan dirinya dengan peran dalam bidang pekerjaan sesuai dengan jenis kelaminnya. Bagi anak-anak tertentu penggambaran secara realistik ini akan 82 . Pada subtahap figuratif akhir ini dalam menggambar orang anak telah membedakan ciri-ciri orang menurut jenis kelaminnya dengan lebih jelas. Untuk figur manusia. mata. hidung. leher. dan guru. sedangkan orang laki-laki dengan rambut pendek. pundak yang lebar. Anak laki-laki misalnya mengidentifikasikan dirinya sebagai pemain sepak bola. siku-siku. telapak tangan. dada. tentara. Pada tahap sebelumnya mungkin anak sudah menggambarkan orang perempuan dengan rok dan orang laki-laki dengan celana panjang. rambut. Pada Gambar 27 dua anak perempuan digambarkan sebagai pemain drumband. pada tahap perkembangan ini anak menggambarkan orang perempuan dengan rambut panjang yang berombak. kuping. Namun. bintang film. gambar anak pada subtahap figuratif akhir menunjukkan tingkat realisme yang lebih tinggi pada setiap objek. lengan. Gambar 28 menunjukkan gambar pemain tenis laki-laki dan perempuan yang dapat dibedakan dengan ciri-ciri yang jelas pada pakaiannya. bibir. dan otot-otot yang menonjol. polisi. dan bibir yang mencolok.

Gambar 27. Art. Gambar Anak Perempuan Yang Mengidentifikasi Dirinya dengan Pemain Drumband (Sumber: Lansing.terus berkembang. Art. dan sebagian lagi akan berhenti membuat simbol-simbol visual. Gambar Yang Menunjukkan Perbedaan Anak Laki-laki dan Perempuan Dengan Ciri-Ciri Pakaian yang Rinci (Sumber: Lansing. 1976. 1976. sebagian anak lainnya akan berganti dengan penggunaan simbol-simbol abstrak. Artist. and Art Education) 83 . Artist. and Art Education) Gambar 28.

belum dapat coretan berupa lingkaran. mencoreng tanpa melihat kertas. Art Activities for Children) (b) Corengan terkendali: anak mulai menemukan kendali visual terhadap coretan yang dibuatnya denagn kata lain sudah ada koordinasi antara perkembangan visual dan perkembangn motorik. 1981: 2. Corengan Tak Beraturan (Sumber: Hardiman. yaitu: (a) Corengan tak beraturan: bentuk sembarangan. adalah ciri tahapan mencoreng paling awal. Periode ini terbagi dalam 3 tahap. wujud gambarnya berupa goresan tebal tipis dengan arah yang belum terkendali. Pada tahap ini unsur warna belum penting. Pada masa ini merupakan pengalaman dari aktivitas motorik anak.Sedangkan menurut Lowenfeld & Britain dalam buku Creative Mental Growth (1982) membuat periodisasi lukisan anak sebagai berikut: 1) Periode Coreng Moreng (Scribbling Period) Periode ini berlaku bagi anak berusia 2 sampai 4 tahun (masa pra sekolah). Goresan dibuat dengan 84 . Di bawah ini adalah contoh gambar anak pada tahap corengan tidak beraturan: Gambar 29. anak bersemangat dalam membuat coretan.

Warna mulai menyita perhatian anak. Corengan Terkendali (Sumber: Hardiman. Cirinya: bentuk semakin bervariasi. vertical. Corengan Bernama (Sumber: Hardiman. anak mulai memberi nama pada hasil coretannya. Art Activities for Children) (c) Corengan bernama: merupakan tahap terakhir masa mencoreng. Terdapat pengulangan pencoretan garis. Gambar 31. Gambar 30. 1981: 2. 1981: 2. Art Activities for Children) Gambar di bawah ini merupakan salah satu karya anak periode coreng moreng pada usia 3 tahun. bahkan lingkaran.penuh semangat. 85 . lengkung . baik horixontal. menggunakan waktu yang semakin banyak.

gambar manusia. ataupun disiplin. Child Art Therapy) 2) Periode Pra Bagan (Pre Schematic Periode) Berlaku bagi anak berusia 4 sampai 7 tahun (taman kanak-kanak). pohon. menjelajah. 1973: 83). dan berbagai hal baru kaitannya dengan perkembangan jiwa. alat peraga. rumah. bereksperimen. maupun emosi mereka. Pada usia 5 tahun. gambar bersifat bagan makin dapat dikenali. mulai menggambar manusia walau masih sangat sederhana. pendidik. teman sekolah. 86 . dkk. Dengan demikian anak mulai menggambar bentukbentuk yang ada hubunganya dengan dunia sekitar dan membangun ikatan emosional dengan apa yang digambar. rasa. Gambar di bawah ini merupakan contoh periode pra bagan karya anak usia 7 tahun (Horovitz. Berbagai pengalaman berarti mereka temukan dengan adanya interaksi dengan dunia baru. Coreng Moreng Anak Usia 3 Tahun (Sumber: Rubin.Gambar 32. Pada periode ini anak mendapat kesempatan mencipta. 1978: 39. pelajaran. dan sebagainya. Usia 6 tahun.

yaitu: gambar yang menyertakan pula benda atau obyek di dalam ruang yang sebenarnya tidak kelihatan. dkk. 1973: 83. Pra Bagan Anak Usia 7 Tahun (Sumber: Horovitz. Muncul gejala yang disebut “sinar X” (Xray).Gambar 33. Creative and Mental Growth) 3) Periode Bagan (Schematic Period) Berlaku pada anak usia 7 sampai 9 tahun. Konsep ruang mulai nampak dengan adanya pengaturan atau hubungan antara obyek dengan ruang. Understanding Children’s Art for Better Teaching) Gambar 34. 87 . 1982: 430. Pra Bagan Anak Usia 4-7 Tahun (Sumber: Lowenfeld. Anak mulai menggambar obyek dalam suatu hubungan yang logis dengan obyek lain.

tetapi spontanitas menjadi hilang. dkk. 1982: 431. anak mulai mengekspresikan karakter sex. Bagan Anak Usia 10 Tahun (Sumber: Horovitz. gambar jadi kelihatan kaku. Creative and Mental Growth) 4) Periode Awal Realisme (Early Realism) Berlaku bagi anak berusia 9 sampai 12 tahun. 1973: 182 (Part 3). tetapi belum dapat menampilkan perubahan efek warna dan baying-bayang. lalaki dan wanita secara jelas. Bagan Anak Usia 7-9 Tahun (Sumber: Lowenfeld.Gambar 35. Gambar 36. Understanding Children’s Art for Better Teaching) 88 . mulai memeperhatikan detail. Kesadaran visual anak mulai berkembang. Karakteristik warna mulai mendapat perhatian anak.

dkk. Gambar 37. anak menjadi kritis terhadap karyanya sendiri. Understanding Children’s Art for Better Teaching) 6) Periode pengambilan keputusan Berlaku pada anak remaja usia 14 sampai 17 tahun Anak bersikap kritis terhadap diri sendiri. Seni rupa menjadi produk dari suatu usaha yang serius. Bagan Anak Usia 13 Tahun (Sumber: Horovitz.5) Periode Naturalistik Semu (Pseudo Naturalistic) Berlaku pada anak usia 12 sampai 14 tahun (masa pra puber) Merupakan akhir dari aktivitas spontan. 1973: 182 (Part 3). introspektif. idealistic dan mulai memikirkan hubungan dirinya dengan masyarakat. 89 . Anak tidak lagi menggambar apa yang diketahuinya tetapi apa yang dilihatnya.

Pengertian tipe visual adalah bahwa titik tolak penghayatan anak lebih banyak berdasar pengamatan atau konsepsi visual atas 90 . 1973: 182 (Part 3). Understanding Children’s Art for Better Teaching) d. tipologi oleh Victor Lowenfeld (1952). dkk. serta tinjauan secara psikoanalisis yang dikemukakan oleh Edmund Burke Feldman (1970). Beberapa penelitian tentang adanya bermacam tipe lukisan anak-anak ditinjau dari segi-segi tertentu dapat disebutkan antara lain: klasifikasi empirik atas perbedaan pure-style lukisan anak-anak oleh Herbert Read (1945). Tipe karya lukis anak dapat diidentifikasi berkat adanya berbagai studi yang dilakukan oleh para ilmuwan khususnya dalam bidang pendidikan dan psikologi. yaitu: “the visual type” dan “the haptic type”.Gambar 38. Bagan Anak Usia 14 Tahun (Sumber: Horovitz. Menurut Victor Lowenfeld ada dua tipe lukisan anak-anak. Tipologi Seni Lukis Anak Tipologi dalam seni lukis anak diartikan sebagai pembahasan tentang tipe atau gaya atau corak yang dapat diamati pada hasil karya lukis anak.

Dalam hal ini faktor internal lebih nampak berperan. menggunakan warna sebagai terjemahan objek secara material. tetapi lebih menyukai objek-objek yang statis. memperlihatkan plastisitas gerak objek dan proporsi visual. diam seperti halnya objek alam 91 . sedang penggunaan warna tidak sebagai terjemahan bahan objek melainkan lebih nyata sebagai simbol yang sesuai dengan perasaan subjektifnya. dan ternyata ciri-ciri lukisannya mengarah pada realisme naturalistik. Pada tipe haptic atau non visual titik tolak penghayatan anak lebih banyak berdasar “ideal concept”nya. Ke dua belas kategori tersebut sebagai berikut: 1) Organic: pelukisannya berdasarkan pengamatan visual dan menunjukkan hubungan yang akrab dengan objek-objek eksternal. kemudian diklasifikasikan. Dalam hal ini faktor eksternal relatif lebih berperan. bergerak dari pada objek yang terpisah dan diam. Secara lebih terperinci Herbert Read mendasarkan klasifikasi empiriknya atas perbedaan “pure style” lukisan anak-anak menjadi dua belas kategori lukisan sebagai hasil penelitian dari beribu-ribu gambar anak-anak dari berbagai tipe sekolah.bentuk alam sekitar atau objek lukisannya. tidak perspektivis. sebagai hubungan kesatuannya yang organis. tidak mengupayakan ilusi keruangan secara optis. 2) Lyrical: pernyataan bentuk objeknya sama atau serupa dengan yang organic. ciri-ciri lukisannya lebih menonjol sebagai ungkapan perasaan subjektif yang mengarah kepada corak non realistik. menunjukkan gerak dan proposi figur ekspresif. Lebih menyukai objek yang mengelompok.

lebih menonjol sebagai disain yang simbolik daripada penggambaran bagan secara realistik.benda (still-life) dengan pengerjaan yang halus. kurang menunjukkan perhatian terhadap bagian-bagian kecil (detail) yang terdapat pada objek. 8) Expressionist: terdapat kecenderungan yang menonjol untuk mendistorsi bentuk dan warna objek untuk mengungkapkan sensasi internal/subjektif anak secara spontan. 3) Impresionist: lebih banyak sekedar melukiskan hasil penangkapan kesan sesaat terhadap situasi atau suasana objek secara cepat. 5) Structural form: Kecenderungan anak untuk mendeformasi objek menjadi bentu-bentuk geometrik yang merupakan esensi bentuk-bentuk eksternal. Lebih menunjukkan karakteristik sebagai lukisan anak perempuan. 4) Rythmical pattern: berdasarkan hasil pengamatan terhadap bentuk-bentuk objek tersebut dibuat pola-pola bentuk objek tertentu yang diulang-ulang secara ritmis dengan berbagai variasi sehingga memenuhi bidang lukisan. 9) Enumerative: anak dengan penglihatannya secara cermat mengontrol objeknya. 7) Haptic: menunjukkan pelukisan yang tidak berdasar pada konsep pengamatan visual terhadap objek. lembut. Bentuk-bentuk bagan seperti pada periode awal anak melukis tetap digunakan. Aktivitas citra nonvisual dari 92 . tetapi merupakan representasi dunia internal anak sendiri. 6) Schematic: menggunakan bentuk-bentuk geometrik tetapi melepaskan diri dari ikatan struktur objek alam. merekam setiap detailnya sebanyak mungkin yang dapat dilihat dan diingat dan menggambarkannya dalam struktur yang kurang organis.

bentuk. haptic. 12) Literary: Anak menggunakan tema-tema dari cerita atau dongeng yang didapat sendiri dari bacaan atau dongeng dari guru. lirycal dan impressionist yang sama-sama menggunakan wujud atau bentuk alam sesuai dengan pegamatan visualnya. expressionist dan decorative dapat dimasukkan ke dalam golongan non realistik. dipadukan dengan rekonstruksi ingatan dan kenangannya terhadap sesuatu yang berhubngan dengan tema tersebut. tidak menampilkan ilusi keruangan/kedalaman guna menciptakan pola-pola manarik. 10) Decorative: anak memanfaatkan sifat-sifat dua dimensional. yang diungkap kembali lewat narasi bentuk dan warna. schematic. meskipun dalam kadar dan kecenderungan yang berbeda-beda. Sedangkan rythmical patern. meriah. Berdasarkan klasifikasi di atas dapat dikatakan bahwa cara pelukisan anakanak yang sepenuhnya berdasarkan basis realistik-naturalistik adalah tiga kategori yang pertama.mata lebih banyak sebagai alat perekam tanpa benyak melibatkan sensasi untuk menciptakan keutuhan suasana. 11) Romantic: Anak mengambil tema-tema kehidupan tetapi diintensifkan dengan fantasinya sendiri. baik dalam penampilan organisasi tema. yaitu: organic. structural form. Sesungguhnya klasifikasi tersebut diakui sendiri oleh Herbert Read kurang bersifat definitif dalam arti sebenarnya masih sangat mungkin terjadi reduksi atau perluasan kategori-kategori dalam kenyataan yang lebih luas maupun lebih khusus. pewarnaan yang bersifat datar. Oleh karena itu Herbert Read mereduksi ke-12 kategori lukisan anak-anak 93 .

associative. Di sini si pelukis memproyeksikan dan meleburkan dirinya ke dalam obyek lukisannya. Reduksi di atas tetap mempertimbangkan relevansinya yaitu: Pertama. (8) imaginative. Pada katagori organic anak tidak hanya merperhitungkan obyek yang dilukis seadanya tetapi juga memperhitungkan hubungan organisnya. (7) decorative. (6) enumerative. physiological/intrasubjective. character). yang obyektif/naturalistik tetapi vital dan organik. 94 . dengan demikian bersifat ekstroversif. dengan demikian bersifat introversif. intuition) beserta kecenderungan kerakterologis (extrovert. Hasilnya masih berupa lukisan. Kedua. Indera mata sekedar berfungsi sebagai alat perekam fakta fisik (obyek yang dilukis). Di sini tidak terdapat unsur diri (pribadi) si pelukis. (2) empathetic. Pada kategori organic indra mata lebih berfungsi sebagai saluran kamunikasi (penghubung) antar jiwa si pelukis dengan obyek yang diamati untuk ditulis. cenderung lebih banyak mengandalkan aktivitas intelektual yang berdasar kepada gejala faktual obyektif. sensation. Pada tipe fungsi mental: thinking. 4 tipe fungsi mental Jung (thinking. Dalam katagori enumeratif tidak terdapat proyeksi semacam itu. (4) structural form. (3) rhythmical pattern. introvert) dari fungsi-fungsi mental tersebut. Tipe fungsi mental yang demikian relevan dengan kecenderungan imitatif dalam penggambaran bentuk-bentuk obyek eksternal pada beberapa katagori lukisan anak-anak. 4 tipe apresiasi estetik Bullough (objective.di atas menjadi 8 kategori yaitu: (1) organic. (5) haptic. feeling.

Perasaan dapat diekspresikan secara lebih subjektif. tidak bertolak dari sifat-extroversif seperti pada kategori decorative. Bentuk-bentuk alami (natural) diubah (guna mengekspresikan perasaan riang. Kecenderungan introvert dapat dilihat pada katagori structural form. Anak yang bertipe fungsi mental: intuition nampak dalam kecenderungan mengembangkan aksen-aksen ritme spontan dalam lukisannya dengan motif-motif bentuk yang relevan. 95 . tidak harus sama dengan sifat-sifat fisik bentuk dan warna obyek secara "kasat mata".Tipe fungsi mental: feeling. dalam lukisannya diolah menurut perasaannya. di mana titik tolak ubahan bentuk obyek lukisannya diambil dari pola-pola bentuk yang abstrak geometrik. namun dari imajinasi anak sendiri seperti pada kategori imaginative.ukisan anak-anak dengan ekspresi extroverted feeling terdapat pada kategori decorative. dan "empathy" adalah aspek ekstrovert dari tipe fungsi mental yang sama. I. Misalnya bunga yang diberi warna cerah untuk mengekspresikan keriaan. melankolik dan lain-lain) dalam bentuk-bentuk motif yang merupakan simbolisasi perasaan anak. Apabila menanggapi bentuk dan warna obyek. Intuisi adalah fungsi mental yang banyak tampil pada ekspresi musikal. Ekspresi haptic adalah aspek introvert dari tipe fungsi mental: sensation. namun lebih banyak menurut suasana hati anak. maka menunjukkan ciri intuisi yang bersifat extrovert. Dalam hal anak menciptakan motif-motif yang didasarkan pada bentuk-bentuk eksternal/alam dan mengkonstruirnya dalam pola-pola yang ritmis. anak lebih banyak menggunakan perasaannya dalam menanggapi sesuatu hal.

Kedua tipe ini menurut Lowenfeld dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam menilai karya lukis anak.Dengan demikian hubungan antara 8 kategori lukisan anak-anak di atas dengan tipe-tipe psikologis dapat digambarkan sebagai berikut: Tabel 2. Tipe-Tipe Psikologis Anak & kategori lukisan anak Thinking Feeling Sensation Intuition : extrovert introvert : extrovert introvert : extrovert introvert : extrovert introvert = enumerative = organic = decorative = imaginative = empathetic = expressionist (haptic) = rhytmical pattern = structural form Anak dalam menuang ekspresi artistik senantiasa berbeda. ada dua tipe yang membedakannya yaitu tipe visual dan non visual. yang pada prinsipnya disenangi anak karena ada muatan nilai bermain. Sesuai dengan karakteristik mata pelajaran seni rupa seni lukis khususnya. Maka dibutuhkan kejelian pendidik dalam memilih 96 . Dengan demikian tujuan metode pembelajaran adalah merencanakan dan melaksanakan cara-cara yang efektif untuk mencapai tujuan. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan tentunya digunakan strategi atau teknik yang disebut dengan metode. Metode Pembelajaran Seni Lukis Anak Sekolah Dasar Dalam suatu pembelajaran tentunya ditetapkan terlebih dahulu tujuan pembelajaran. dan nilai rekreasi. Namun masing-masing secara khusus memiliki ciri tersendiri bila dilihat dari karya lukis yang dihasilkan. berekspresi. 3.

dan teknik sehingga mereka dapat membuat berbagai karya lukis. Untuk melaksanakan pembelajaran seni lukis pada peserta didik.metode yang tepat agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. a. memberi bekal life skill kepada peserta didik. dan gairah anak untuk berkarya. perhatian. 1) Pemberian Motivasi Pemberian motivasi merupakan upaya yang dilakukan untuk membangkitkan semangat dan minat anak terhadap tugas-tugas yang akan diberikan untuk dikerjakan. kreatif. yaitu metode pendidikan yang dapat mendukung pengembangan creative thingking peserta didik. Model-model motivasi sangat banyak tergantung pada tingkat usia anak. anak akan dapat mengenal berbagai bahan. dan menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan (Enjoyfull learning). nyanyian. sentuhan suasana yang aktual. perlu diketahui bahwa pada dasarnya setiap anak mempunyai potensi berkarya seni rupa yang berbeda-beda. keadaan lingkungan atau suasana. Langkah-langkah Pembelajaran Seni Lukis Salah satu jalan untuk membentuk pribadi anak yang sensitif. dan ekspresif adalah melalui kegiatan berkarya seni rupa. ataupun sebuah rekaman yang dapat mereka ungkapkan kembali. salah satunya adalah dengan berkarya seni lukis. dan arah tujuan dari pembelajaran. alat. 97 . Dalam proses membuat karya seni lukis. Berikut ini langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran seni lukis anak di sekolah dasar agar dapat berkarya sesuai dengan minat. Motivasi yang dapat diberikan untuk anak usia sekolah dasar misalnya: berupa cerita baik cerita dongeng maupun cerita yang sesuai dengan keadaan lingkungan mereka.

Pelatihan dapat diberikan setelah anak memahami apa yang diperagakan dan memahami tugas yang disampaikan oleh pendidik. Contoh karya tersebut bukan semata-mata untuk dicontoh. dan diakhiri dengan tahap penyelesaian. baik karya orang dewasa maupun karya anak-anak. Dalam hal ini anak diberi kebebasan menerima makna tugas dan mencoba menggunakan media yang ada. bebas.2) Pemberian Peragaan Peragaan merupakan mempertunjukkan atau menampilkan sebuah objek yang dapat diamati dan diperbincangkan sesuai dengan tugas yang akan dikerjakan oleh anak. Dalam kegiatan ini anak juga dapat langsung diajak mengamati dan menghayati karya-karya atau benda-benda yang ada disekitar mereka. Hal ini dilakukan agar anak selalu termotivasi untuk mempersiapkan diri dalam mengerjakan tugas yang diberikan. pengenalan dan percobaan penggunaan media. melainkan untuk memperjelas keterangan dan sekaligus memberikan daya tarik bagi anak. 3) Pemberian Pelatihan Pelatihan diberikan agar anak mempunyai pengalaman langsung dan diberi kebebasan berekspresi menggunakan media yang telah tersedia. dan gembira. Proses interaksi antara pendidik dan peserta didik harus selalu dikondisikan dalam suasana segar. Objek yang dapat dipertunjukkan dapat berupa contoh-contoh karya lukisan. Dalam proses pelatihan ini terjadi alur penciptaan yang meliputi penyusunan konsep dan penuangan ide. 98 . pengorganisasian unsur-unsur visual seperti pemilihan objek dan penyusunan komposisi.

Melalui tahap ini. Dapat juga anak diberi kesempatan untuk menceritakan hasil lukisannya sendiri. bertindak sebagai “Tut Wuri Handayani”. namun lebih mengarah pada bimbingan individual. pendidik dapat berdiskusi langsung dengan setiap anak sesuai dengan tingkat permasalahan atau kesulitan yang dihadapinya. apabila memungkinkan karya-karya tersebut dapat dibahas. Pendidik pada mulanya melakukan bimbingan secara klasikal atau kelompok. dikaji. Dalam pemantauan. 5) Pemaparan Karya Seni Lukis Anak Akhir dari proses pembelajaran seni lukis adalah megumpulkan karya anak kemudian memilih karya yang dapat dipamerkan atau dipertunjukkan untuk dapat diamati secara bersama-sama. dan didiskusikan oleh anak.4) Pemantauan Pemantauan dilakukan untuk mengetahui sejauh mana anak-anak dapat berekspresi menggunakan media yang ada. pendidik dapat memberikan pujian untuk hasil karya yang dikerjakan dengan baik. Diskusi lebih mengerah pada pemberian stimulasi untuk menemukan pemecahan permasalahan yang terdapat pada anak. Tahap ini dapat dikatakan sebagai tahap evaluasi karya. kelima langkah pembelajaran seni lukis di atas yang dapat diterapkan di sekolah dasar dapat digambarkan sebagai berikut: 99 . Pada tahap ini pendidik sangat berperan penuh. Untuk lebih jelasnya.

termasuk di dalamnya yang bersifat rekreatif (performance). dua kegiatan yang saling terkait satu sama lain yaitu apresiasi dan kreasi. disertai dengan tanya jawab. Seni Lukis sebagai indikator gambar ekspresi dalam KTSP Dalam kurikulum KTSP. Pelatihan yaitu kebebasan berekspresi dengan media yang ada Pemaparan karya. kemampuan mengekspresikan dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni. alat. dimaksudkan melatih perkembangan kepekaan rasa estetik peserta didik. Langkah-langkah Pembelajaran Seni Lukis 4. 2005) disebutkan tujuan mata pelajaran Seni Budaya dan Ketrampilan adalah untuk meningkatkan sensitifitas. dan penjelasan teknik secukupnya. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 (Peraturan Pemerintah. evaluasi dan pemberian pujian bagi hasil karya yang baik Pemantauan dan pembimbingan Gambar 39. Peserta didik berperan sebagai pengamat yang menghayati gejala keindahan yang ada dalam karya seni kemudian menanggapinya. mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan adalah nama dari kelompok mata pelajaran estetika yang dilaksanakan pada tingkat sekolah dasar. Pada kegiatan ini peserta 100 . Dalam hal ini tentunya keterlibatan intelektual dan pengalaman estetik peserta didik sangat berperan. sedangkan rekreasi menampilkan/menggelar karya seni. Dalam mata pelajaran tersebut. Kegiatan kreasi mempunyai makna menciptakan karya seni yang baru. Kegiatan apresiasi.Motivasi Peragaan yaitu mengamati dan menghayati objek disertai dengan pengenalan bahan.

terlihat dalam katakata yang diucapkan dan ungkapan jiwa melalui gambar. Reaksi yang bersifat subjektif dapat dilihat dari perbuatan anak yang serba spontan. ide 101 . Jacques Maritain dalam Sumardjo (2000: 51) menyebutkan adanya ekspresi intelektual yang diperlukan untuk mengubah bentuk menjadi struktur. dilaksanakan pada kelas satu semester dua. 2006: 4). Misalnya dalam pembuatan karya seni lukis dikenal adanya aspek bentuk yang diubah menjadi struktur. Menggambar ekspresi menurut tujuannya. Secara rinci khusus pelaksanaan seni lukis di sekolah dasar ada dalam penjabaran kompetensi Kreasi Seni Budaya dan Keterampilan dapat dilihat pada lampiran 2 halaman 275. disebutkan bahwa mengekspresikan diri melalui karya gambar ekspresif dan mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif. Dalam hal ini keterlibatan intelektual peserta didik sangat dominan. kelas dua semester satu dan semester dua. Pada kompetensi dasar di atas. Merupakan titik tolak dari menggambar ekspresi adalah kondisi kejiwaan anak. ilustrasi. relief. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran Seni Budaya dan Kerajinan Sekolah Dasar berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 yang meliputi kegiatan apresiasi dan kreasi secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 1 halaman 270. juga kelas tiga semester dua. dan sebagainya) (BSNP. Kamaril (2005: 7) mengungkapkan bahwa menggambar ekspresi adalah: usaha mengungkapkan dan mengkomunikasikan pikiran.didik secara aktif menghasilkan suatu karya seni (lukisan. Dengan sifat anak-anak yang subjektif. menjadikan semua tanggapan yang diterima oleh anak akan menimbulkan reaksi pada diri anak. Hal ini memerlukan kerja intelektual.

Merupakan hal yang terpenting dalam melukis untuk anak sekolah dasar adalah keberanian. manusia berkepala kuda . produk dari menggambar ekspresi disebut dengan karya seni lukis. 102 . didengar. kemauan. gagasan gejolak perasaan/emosi. Dalam hal ini guru seyogyanya tidak ikut campur dalam menentukan apa yang harus diungkapkan oleh peserta didik. dan sebagainya. Menggambar imajinatif adalah salah satu kegiatan menggambar/melukis yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menyatakan daya khayalnya. Salam (2001: 50) mengatakan bahwa kegiatan menggambar/melukis ekspresi di sekolah dipengaruhi oleh paham ekspresionisme yakni suatu paham yang meyakini bahwa dalam menggambar/melukis seseorang seyogyanya menggores secara berani dan spontan agar perasaannya dapat tersalur secara apa adanya tanpa dipengaruhi oleh kemampuan intelektualnya. kanvas. dan ketrampilan peserta didik dalam menggunakan bahan dan alat. Bahan dan alat tersebut adalah kertas. Bahan dan alat yang dimaksud disini adalah bahan dan alat yang digunakan untuk mencetuskan ide. peserta didik menggambar laba-laba raksasa yang besarnya melebihi ukuran pesawat terbang. Selanjutnya sesuai dengan tujuan dan kompetensi dasar yang ada dalam kurikulum. gejolak perasaan/emosi serta imajinasi dalam wujud dwimatra yang bernilai artistik dengan menggunakan garis dan warna. diraba secara langsung maupun tidak langsung. kuas. cat air. Sebagai contoh. piring yang bisa terbang. tinta. dan imajinasi yang diperoleh dari apa yang dilihat.gagasan. Hal-hal yang tidak ditemukan secara nyata di dunia ini ditampilkan oleh peserta didik melalui gambar imajinasi. Dengan demikian gambar/lukisan yang dihasilkan peserta didik bersifat sangat pribadi.

Dengan demikian anak mulai menggambar obyek dalam suatu hubungan yang logis dengan obyek lain. Muncul gejala yang disebut “sinar X” (X-ray) atau tembus pandang. Hasil gambar peserta didik merupakan wujud dari kreativitas dan ketrampilannya. Mereka telah memiliki konsep cerita yang sudah banyak. dan sebagainya. pengamatan semakin teliti dan semakin tahu siapa dirinya dalam hubungan dengan lingkungannya. Pada kelas satu sampai dengan kelas tiga sekolah dasar periodisasi mengggambar anak. anak pada masa ini menyebutnya sebagai tahap operasi konkret yang bercirikan bahwa perkembangan system pemikirannya didasarkan pada aturan-aturan tertentu yang logis. Dalam hal penggunaan warna disikapi sebagai bentuk yang mendekati pada warna yang sebenarnya.cat akrilik. 103 . yaitu: gambar yang menyertakan pula benda atau obyek di dalam ruang yang sebenarnya tidak kelihatan. kedudukan anak ada pada menurut periode bagan (schematic period) yaitu pada anak usia 7 sampai 9 tahun. Menurut Susanto (2003: 294): pada masa ini merupakan konsep tentang bentuk dasar dari pengalaman kreatif anak. pewarna alami misal daun. secara umum hasil karya lukis anak merupakan cerita yang luas dengan penampilan gambar yang lengkap dan dibuat dengan teknik yang mantap. Konsep ruang mulai nampak dengan adanya pengaturan atau hubungan antara obyek dengan ruang walaupun masih sederhana dengan meletakkan dalam satu garis vertical sebagai garis dasar. Sedangkan menurut Piaget. cat minyak. Anak sudah dapat berpikir lebih menyeluruh dengan melihat banyak unsur dalam waktu yang sama (decentering). buah. Mencermati ciri-ciri perkembangan anak pada usia masa ini.

Anak bekerja dengan tujuan sesuai apa yang ada dalam pikirannya bahwa apa yang dihasilkan sangat berarti bagi dia. Tipe-tipe perseptual menjadi nyata dalam seni pada anak usia sembilan tahun ketika ia matang secara sosial. Seiring dengan berjalannya waktu. atau memvariasi elemen-elemen tertentu menurut pada subjek yang sedang digambarkan. menguranginya. Sebelumnya ia telah mengumpulkan detil-detil dalam gambranya ketika ia tumbuh. tetapi ia sampai pada referensi rasional yang utuh dari bentuk dan ruang skematik pada usia tujuh tahun.Dimulai pada usia enam tahun anak mulai mapan di dalam dunia nyata dan menjadi bagian sosial dari interrelationship (hubungan di dalam struktur). pada tahapan simbolik anak pada usia 7-9 tahun membutuhkan koordinasi fisik yang cukup untuk memberikan pembelajaran cara pemakaian peralatan seni dan materi yang digunakan dalam membuat karya seninya. dan detil-detil tersebut mencerminkan pertumbuhan inteletualnya. dia menggunakan garis pergerakan dari tubuh dan bibir dari gambarnya. Dia mempunyai sebuah konsep jelas dari bentuk orang dan mulai lebih spesifik menggunakan kecenderungan untuk menunjukkan simbol misal. Kualitas estetik yang tinggi dari referensi fisik-emosionalnya pada tahun-tahun awal sekarang disubordinasikan pada pengisahan yang ideologis. 104 . Anak juga mempunyai tujuan memperoleh pengalaman dan pengetahuan memperbesar tendensi alaminya guna diwujudkan dalam ekspresi gambarnya. tapi menambahnya. Dia masih menggunakan bentuk geometrik untuk menggambarkan idenya.

Selanjutnya anak merasakan bahwa macam-macam objek dalam lingkungannya mempunyai warna berbeda-beda. anak belum menyadari bahwa ketika beberapa objek dipandang dari satu sudut. kemudian secara bertahap merasakan pentingnya hubungannya dengan objek. Selanjutnya menurut Kellogg ( 1967: 181-215) secara lebih jelas lagi menyatakan bahwa pada usia 7-9 tahun anak tersebut mengalami tahapan sebagai berikut: 1) 2) Periodisasi pada periode bagan ( Schematic period). Mempunyai konsep cerita yang banyak. satu objek mungkin sebagian tidak akan terlihat. objek terlihat secara fisik. dimana keduanya sesuatu yang abstrak dari ruangan dan sebuah rasa dari posisi dan direksi dari sesuatu dalam ruangan. menggambar 105 . Pada penggunaan warna. anak menggunakan secara emosional. Pada tipe sinar X dari ekspresi.Pada tahap ini juga anak menunjukkan sebuah rasa dari hubungan spatial. secara sebenarnya menurut pandangan visual mereka. Dia biasanya menggunakan sebuah garis dasar dalam gambarnya. Anak pada tahapan ini juga kekurangan sebuah realisasi dari hubungan ruang dan waktu dan biasanya beberapa kejadian dalam satu gambar. anak mengatur objek-objek dikedua tepi dari gambar dan langit dipandang sebagai pusat. Pada visualisasi kedalaman ekspresi. Pada waktu dia menimbun garis dasar untuk memberitahukan keseluruhan cerita atau menggambar garis dasar sekeliling tepi dari kertasnya untuk menunjukkan seluruh pemandangan. Pada karya anak terlihat bahwa semuanya penting dan harus terlihat serentak.

Identifikasi semacam itu akan mengarahkan anak laki-laki untuk melebih-lebihkan proyeksi diri menjadi berupa citra-citra yang mengerikan. Perkembangan selanjutnya anak akan menjadi ekstrovert perseptual-sosial apabila tergantung pada aspek visual daslam bidang seninya. Adanya garis vertikal sebagai garis dasar tempat objek. Secara umum hasil karya merupakan cerita yang luas dengan penampilan gambar yang lengkap dan teknik yang mantap. Adanya gejala tembus pandang (X-ray).3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Pengamatan semakin teliti. Ia akan masuk dalam kedua tipe tersebut. pembelajaran dan penilaian hasil karya seni lukis anak pada periode tersebut hendaknya mengacu pada perkembangan periode yang sedang dialami oleh anak. Penggunaan warna mendekati warna yang sebenarnya. atau ia akan menjadi introvert perseptual-sosial dan haptik dan tidak tergantung pada bidang dalam seninya. sementara anak gadis akan cenderung mengidealisasi dirinya sendiri dalam citra wanita yang glamor dan matang. dan pada kadar tertentu. Konsep ruang mulai nampak adanya pengaturan walaupun masih sederhana. Dengan demikian perlakuan. 106 . Semakin tahu siapa dirinya dalam hubungan dengan lingkungannya. akan menjadi berorientasi pada gang karena adanya kebutuhan untuk mengidentifikasi dengan lebih mendalam peran seksual-diri.

kepekaan rasa estetik. mencakup aspek kognitif. Dalam PP No 19 tahun 2005 disebutkan bahwa: penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik (BSNP. 2006: 7) Hal ini sesuai dengan pernyataan Gaitskell (1975: 62) sebagai berikut: Behaviorists in art education also recommend that the three major domains of learning be maintained. afektif. or classifications of learning… cognititive (knowledge. 2006: 5). implementasi pelaksanaan terlihat dalam Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Estetika disebutkan bahwa: standar kompetensi kreasi/rekreasi berkaitan dengan kemampuan peserta didik dalam menciptakan atau mengekspresikan diri melalui karya seni rupa. tari.D. affective (feelings and attitudes). and psychomotor (ability to handle specific processes involving physical coordination) skills. Dalam proses pembelajaran seni lukis ada pengalaman tertentu yang lebih 107 . Sehubungan dengan hal tersebut di atas. dan ketrampilan motorik yang tercermin pada karya seni yang dihasilkan atau dipertunjukkan (BSNP. fact. These domains. Penilaian dalam Pembelajaran Seni Lukis di Sekolah Dasar 1. 2006: 14). Penilaian pendidikan seni rupa ditujukan untuk menilai hasil belajar peserta didik secara menyeluruh. Pada karya seni rupa penuangan gambar ekspresi adalah karya seni lukis. Kemampuan ini terbentuk dari kombinasi pengetahuan. dan psikomotorik (BSNP DIKNAS. atau teater. musik. Fungsi Penilaian dalam Pendidikan Seni Pada umumnya penilaian dapat diartikan sebagai aktivitas pembandingan suatu hasil pengukuran terhadap acuan tertentu. intellectual abilities).

Selanjutnya pada Bab IV: Standar Proses Pasal 22 dijelaskan sebagai berikut: (1) penilaian hasil pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat 3 pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai. Dengan demikian untuk menilai karya seni lukis peserta didik diperlukan tidak hanya dari segi hasil saja tetapi juga proses pembuatan karya tersebut. teknik penilaian observasi secara individual sekurang-kurangnya dilaksanakan satu kali dalam satu semester. Karya seni lukis tentunya tidak relevan diukur dengan alat tes yang hanya mengukur aspek kognitif. sedangkan penampilan peserta didik dalam aspek afektif dan psikomotor sangat sulit datanya diukur melalui tes. dan penugasan perseorangan atau kelompok. dan teknik untuk berkomunikasi secara visual (Salam. pengalaman memahami dan mengaplikasikan alat. Apalagi bila dikaitkan tujuan pendidikan seni rupa adalah membina kemampuan peserta didik ber. Tingkah laku peserta didik di luar situasi tes lebih menunjukkan penampilan yang wajar dan non artificial dalam mengaplikasikan kemampuan kognitif.self expression secara kreatif-estetik lewat penggunaan media seni rupa. bahan. tes praktek. tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 64 ayat 5 menyatakan: “Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran estetika dilakukan melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan ekspresi psikomotor peserta didik”. 108 . observasi.ditekankan antara lain: pengalaman penghayatan dan penilaian terhadap nilai keindahan. afektif dan psikomotor yang banyak diantaranya tidak dapat terjaring oleh tes. (2) teknik penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat berupa tes tertulis. Hal ini sesuai dengan PP 19 tahun 2005. 2001: 8). (3) untuk mata pelajaran selain kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Beracuan kriteria. 109 . Menyeluruh dan berkesinambungan. yang mengacu pada Peraturan Menteri No 20 tahun 2007: a. dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan. Sahih. c. e. b. grup. adat istiadat. g. berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan. f. Pada dasarnya assessmen adalah kegiatan mengumpulkan informasi tentang kualitas dan kuantitas perubahan pada anak didik. Akuntabel. Terbuka. baik dari teknik. d. Dengan demikian untuk memecahkan permasalahan penilaian proses dan hasil karya peserta didik tersebut perlu digunakan pendekatan penilaian yaitu performance assessment. h. tenaga pendidik. atau administrator. budaya. maupun hasil. berarti penilaian seni rupa oleh pendidik seni rupa merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran. berarti prosedur penilaian. 2. Untuk mengetahui keberhasilan program pembelajaran selalu dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik. berarti penilaian oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai. Sistematis. berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapain kompetensi yang ditetapkan.Berikut ini prinsip penilaian karya senirupa pada jenjang pendidikan dasar. kriteria penilaian. antara lain peserta didik. berarti penilaian seni rupa tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama. berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku. berarti penilaian seni rupa didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur. status sosial ekonomi. Karakteristik Penilaian dalam Pendidikan Seni Pada uraian terdahulu telah disebutkan bahwa penilaian seni lukis anak meliputi penilaian proses dan penilaian hasil atau produk. Adil. dan gender. Terpadu. Objektif. untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik. prosedur. tidak dipengaruhi subjektivitas penilai. i. suku. berarti penilaian seni rupa didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas. Dengan melakukan kegiatan asesmen dapat diketahui perubahan yang terjadi pada anak didik.

Ada lima unsur-unsur kunci dalam definisi yang dikemukakan oleh Berk. using a variety of instruments and strategies. Zainul (2005: 4) menyatakan bahwa asesmen kinerja secara sederhana didefinisikan sebagai penilaian terhadap proses perolehan. Berdasarkan pendapat Berk di atas. The subject of the decision making is the individual. 5. 4. Selanjutnya Berk mengatakan bahwa dalam Performance assessment selalu terkait dengan adanya rubrik penilaian yang merupakan bagian dari Performance assessment: Subsumed under the rubric Performance assessment are a host of other related terms that are often used synonymously with it. pengetahuan dan ketrampilan. penerapan. not a program or product reflecting a group’s activity. The data are collected by means of systematic observation. Dimulai pada proses pembuatan karya seni lukis. Performance assessment is a process. 1986: ix). (Berk. yaitu: 1. sampai dengan hasil akhir atau produk seni lukis peserta didik. 2. melalui proses pembelajaran yang menunjukkan kemampuan peserta didik dalam proses dan produk. not a test or any single measurement device. Melengkapi pendapat tersebut. bila dihubungan dengan karakter mata pelajaran seni rupa khususnya seni lukis performance assessment sesuai untuk menilai karya seni lukis peserta didik. The data are integrated for the purpose of making specific decisions. 1986: ix). usually an employee or a student. 3. The focus of this process is data gathering.Sedangkan penilaian kinerja (performance assessment) menurut Berk sebagai berikut: performance assessment is the process of gathering data by systematic observation for making decisions about an individual (Berk. 110 .

Menurut Maertel yang dikutip oleh Zainul (2005: 3) bahwa pada prinsipnya performance assessment mempunyai dua karakteristik dasar yaitu: (a) peserta didik diminta mendemonstrasikan kemampuannya dalam membuat kreasi suatu produk atau terlibat dalam aktivitas perbuatan. (4) dengan mengetahui kriteria yang digunakan untuk mengukur dan menilai keberhasilan proses pembelajarannya. melalui proses pembelajaran yang menunjukkan kemampuan peserta didik dalam proses dan produk. namun pengertian yang dapat disampaikan antara lain dari Berk (1986: ix) yang mengatakan bahwa “Performance assessment is the process of gathering data by systematic observation for making decisions about an individual”. 111 . (b) hasil karya atau produk lebih penting dari pada perbuatan (performance)nya. yaitu: (1) asesmen kinerja yang didasarkan pada partisipasi aktif peserta didik. Melengkapi pendapat tersebut. (2) tugasugas yang diberikan atau dikerjakan oleh peserta didik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan proses pembelajaran. Selanjutnya dinyatakan pula bahwa asesmen kinerja diwujudkan berdasarkan empat asumsi pokok. Zainul (2005: 4) menyatakan bahwa asesmen kinerja secara sederhana didefinisikan sebagai penilaian terhadap proses perolehan. penerapan. Pengertian Performance Assessment Berbagai pengertian yang disampaikan para ahli evaluasi tentang Performance assessment. tetapi lebih dari itu. peserta didik akan secara terbuka dan aktif berupaya untuk mencapai tujuan pembelajaran. pengetahuan dan ketrampilan. (3) asesmen tidak hanya untuk mengetahui posisi peserta didik pada suatu saat dalam proses pembelajaran.a. asesmen juga untuk memperbaiki proses pembelajaran.

waktu . artinya apakah tugas yang diberikan kepada peserta didik telah mengukur lebih dari satu kemampuan-kemampuan yang diinginkan. atau social ekonomi. 4) Teachability. 3) Multiple foci. artinya tugas yang diberikan sudah adil untuk peserta didik tidak bias gender. dan peralatan yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas tersebut. 7) Scorability. suku bangsa. Popham (1995: 147) mengemukakan kriteria. apakah perbuatan dan produk sama penting atau dominan yang mana tergantung juga pada karakteristik bidang yang dinilai. Dalam menentukan domain ini perlu ada judgment dari pendidik. 6) Feasibility.Selanjutnya Messick (1995: 33) mengatakan bahwa dalam hal memilih. 5) Fairness. 112 .kriteria tersebut sebagai berikut: 1) Generalizability. artinya apakah tugas-tugas yang diberikan pada anak didik telah memadai untuk digeneralisasikan pada tugas-tugas lain yang sejenis. agama. Untuk melihat apakah Performance assessment yang dilakukan telah memenuhi standar kualitas. tempat. artinya tugas yang diberikan sudah relevan dengan yang diajarkan pendidik di kelas. 2) Authenticity. artinya apakah tugas-tugas yang diberikan relevan untuk dapat dilaksanakan mengingat faktor beaya. artinya apakah tugas yang diberikan dapat diskor dengan akurat dan reliabel. apakah yang akan dinilai itu produk atau perbuatan (performance) tergantung pada karakteristik domain yang diukur. artinya apakah tugas yang diberikan peserta didik sepadan dengan apa yang sering dialami dalam kehidupan sehari-hari.

2004: 144-145). Dengan demikian menjadi masalah pokok yang berkaitan dengan validitas instrumen adalah apakah instrumen tersebut menghasilkan informasi yang diinginkan secara tepat sesuai tujuan yang diperlukan. atau aspek apa saja yang akan diukur. validitas isi (content validity). 2000: 686. Sesungguhnyalah persoalan validitas instrumen berhubungan dengan pertanyaan. dan validitas criteria (criterion-related validity). apakah suatu instrumen mampu menggambarkan ciri-ciri. adalah dua makna yang terkandung dalam konsep validitas. tidak berlaku untuk tujuan yang lain juga untuk kondisi yang berbeda. (Kerlinger. sifat-sifat. Suatu instrumen dikatakan valid untuk tujuan tertentu. yaitu validitas konstruk (construct validity). Validitas dan Reliabilitas Instrumen Pengukuran Validitas dan reliabilitas merupakan hal utama yang harus dipenuhi untuk menentukan kualitas suatu instrumen penilaian. Sedangkan accuracy menunjuk pada ketepatan instrumen mengidentifikasi aspek-aspek yang akan diukur secara tepat. Relevans menunjuk pada kemampuan instrumen untuk memerankan fungsi untuk apa instrumen dimaksudkan. 1) Validitas Validitas instrumen dapat dimaknai sebagai ketepatan dalam memberikan interpretasi terhadap hasil pengukurannya. Relevans dan accuracy. Validitas konstruk menunjuk pada sejauh mana instrumen yang disusun 113 . Secara umum terdapat tiga macam validitas. Babbie. menggambarkan keadaan yang sebenarnya. sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.b.

diperlukan pendekatan logis dan empirik. Validitas isi berhubungan dengan kemampuan instrumen untuk menggambarkan secara tepat domain prilaku yang diukur. Validitas sampling berhubungan dengan pertanyaan seberapa jauh butir-butir instrumen merupakan sampel yang representatif dari keseluruhan aspek yang diukur. pertimbangan. Selanjutnya dimintakan pertimbangan kolega atau ahli yang berkompeten melalui forum diskusi antar ahli (focus group discussion). Validitas isi berhubungan dengan pertanyaan seberapa jauh butir-butir instrumen mencerminkan keseluruhan isi dari aspek yang hendak diukur. validitas butir dan validitas sampling. untuk 114 . Langkah selanjutnya pada validitas isi adalah menjabarkan dalam aspek yang terperinci selanjutnya didiskripsikan indikator- indilkatornya.mampu menghasilkan butir-butir pertanyaan yang dilandasi oleh konsep teoritik tertentu. Prosedur yang ditempuh untuk memperoleh validitas konstruk yang diharapkan. Untuk memantapkan validitas konstruk dibutuhkan expert judgment yaitu masukan. Validitas konstruk sendiri digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menjelaskan varians pada hasil pengukuran. Dimulai dengan dengan menyusun daftar keseluruhan isi materi atau domain yang dimaksud. Menurut Kerlinger (2000: 687) analisis faktor merupakan metode yang tidak terelakkan untuk meneliti validitas konstruk. Validitas konstruk disusun berdasarkan pada konsep teori yang sudah mapan dan pertimbangan-pertimbangan yang rasional. Dengan demikian analisis faktor digunakan untuk mencari bentuk validitas konstruk. dan kritik dari para ahli terkait. Ada dua makna dalam validitas isi yaitu.

memperoleh masukan. menggunakan korelasi intraklas (interclass correlation). konsestensi. Stabilitas diperoleh dengan mengkorelasikan skor siswa dari dua kali pelaksanaan tes. dapat ditarik suatu pengertian bahwa untuk pengembangan afektif dapat digunakan semua jenis validitas atau salah satu jenis validitas. Salah satu pendekatan dasar untuk mengukur reliabilitas adalah stabilitas. Dua kriteria yang digunakan pada validitas kriteria adalah kriteria konkuren dan kriteria prediktif. kritik. Berdasarkan uraian di atas. Pada penelitian ini digunakan validitas isi dan validitaas konstruk. Validitas kriteria menjawab pertanyaan sejauh mana suatu tes dapat memprediksi penampilan kemampuan pada waktu yang akan datang (validitas prediktif) dan mengestimasi kemampuan saat sekarang berdasarkan suatu pengukuran selain tes itu sendiri (Fernandes. Pada validitas kriteria diteliti dengan membandingkan suatu kriterium eksternal. walaupun dalam waktu dan kondisi yang berbeda. dan atau kehandalan instrumen untuk menggambarkan gejala seperti apa adanya. dimana kriterium yang ditetapkan harus sudah teruji secara empiris di lapangan dan mempunyai konsistensi yang cukup tinggi. keajegan. 115 . 1984: 44). saran. dan evaluasi guna menyempurnakan instrumen yang disusun. Secara konsep instrumen yang reliabel adalah apabila digunakan terhadap subjek yang sama akan menunjukkan hasil yang sama. 2) Reliabilitas Reliabilitas instrumen menunjukkan tingkat kestabilan.

Penggunaan bentuk reliabilitas tes-retes yang menjadi masalah adalah selang waktu pelaksanaan pengukuran. Cara lain untuk menilai reliabilitas adalah dengan menggunakan teknik intereter yaitu. Pada cara penilaian metode analytic apabila digunakan untuk menilai kemampuan ketrampilan yaitu dengan menggunakan checklist. 1984:35). 116 . 2003: 66). Sedangkan metode analytic adalah apabila para penskor memberikan penilaian dari setiap aspek yang berhubungan dengan hasil kinerja yang dinilai. subjek akan memberikan jawaban yang lain karena hasil belajar selama waktu selang tersebut.Penggunaan korelasi intraklas dimaksudkan untuk memberikan indeks mengukur kesamaan pasangan skor dalam hubungannya dengan variabilitas total dari seluruh skor (Fernandes. Sebaliknya jika selang waktu terlalu lama. Metode holistic adalah cara penilaian apabila para penskor (rater) memberikan penilaian secara keseluruhan dari hasil kinerja tes. dua peneliti menggunakan alat ukur yang sama untuk mengukur kemampuan seseorang kemudian hasil pengukuran tersebut dikorelasikan. c. Apabila selang waktu terlalu pendek subjek akan mengingat jawaban yang diberikan pada waktu pengkuran pertama. hal ini mengakibatkan meningkatnya koefisien reliabilitasnya. dan rating scales (Depdiknas. Penilaian “Performance Assessment” Karya Seni Lukis Anak Pendekatan yang digunakan dalam performance assessment adalah metode holistic dan metode analytic .

seluruh unsur-unsur pembentukannya harus mendukung ide atau ungkapan perasaan yang akan disampaikan penciptanya. struktur atau suatu konvigurasi terpadu yang memiliki sifat-sifat khusus tidak dapat diperoleh dari penjumlahan bagian-bagiannya secara terpisah. totalitet). Sudarmaji (1979: 23) mengemukakan bahwa Gestalt bersumber pada ilmu jiwa global (gestalt. disebut metode ganzheit. Gestalt merupakan suatu aliran dalam psikologi dengan pokok pikiran utamanya bahwa suatu keseluruhan adalah lebih besar dari pada penjumlahan bagiannya (Dali.Pelaksanaan kedua metode pendekatan tersebut dalam performance assessment karya seni lukis sebagai berikut: 1) Metode holistic Metode holistic dikenal juga dengan metode global yang bersumber dari ilmu jiwa global (Gestalt. Dengan demikian kesan keseluruhan dari karya tersebut menjadi salah satu pertimbangan memberikan penilaian suatu karya. Menurut Garha (1980: 115) karya seni sendiri merupakan suatu Gestalt. lepas dari perwutuhan 117 . Suatu hasil karya seni rupa keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh bentuk yang dicapai saja tetapi oleh keberhasilan penyusunan unsur-unsur pembentukannya menjadi suatu kesatuan ungkapan. Gestalt mempunyai sesuatu yang melebihi jumlah unsur-unsurnya. 1982: 8). dan Gestalt timbul terlebih dahulu dari bagian-bagiannya. totalitet) yang memandang bahwa suatu karya seni secara utuh yaitu keseluruhan bentuk. pola. Metode ini menganjurkan untuk menilai karya seni dari perwujudannya secara utuh. Tidak dari unsur-unsurnya yang dipandang tersendiri.

Hal ini berdasarkan pendapat Sudarmaji (1979: 23) yang mengatakan bahwa: pendekatan analitik menilai dengan secara terpisah bagian-bagiannya misal dilihat dari isi atau tema. dan volume. Masih diperlukan suatu analisa yang mendalam berdasar suatu prinsipPrinsip yang dimaksud dalam karya disini adalah penerapan prinsip seni. warna.Dengan demikian apabila dihubungkan dengan kualitas karya seni lukis. Hal ini mendukung yang dikemukakan oleh Duane dan Prebel (1967: 115) bahwa untuk mengukur kualitas artistik suatu karya seni dapat dilakukan dengan mengunakan prinsip seni. gelap terang. bentuk/shape. Untuk menilai suatu karya seni berpendapat bahwa secara objektif. Kemudian wujud dipisah-pisahkan lagi atas komposisi. kualitas karya secara keseluruhan tidak akan sama dengan kualitas unsurunsur yang membentuk karya tersebut. Sesungguhnyalah 118 . dan sebagainya. anatomi. Pendekatan ini. menilai karya seni lukis anak dengan memerinci unsur-unsurnya. garis. Ganzheit tidak mencukupi. memandang bahwa karya seni lukis anak dilihat sebagai suatu komposisi bentuk yang dapat dipahami melalui peranan elemenelemen bentuk seperti garis. kedua metode tersebut sebaiknya digunakan secara bersamaan. Dengan demikian dalam proses penilaian untuk mendekati objektivitas. hubungan antar unsur. Gelap terang. perspekif. pewarnaan. dan organisasi unsur. Soedarso (1987: 85) pada saat seseorang ingin mengadakan penilaian. 2) Metode analytic Penilaian dengan pendekatan penilaian analisis yaitu. proporsi.

In art education. a. namun perlu pula dilihat bagian-perbagian. Aspek yang Dinilai dalam Karya Seni Lukis Sesuai dengan prinsip performance assessment yang telah diuraikan di atas.penilaian karya seni lukis anak yang didasarkan pada objek secara keseluruhan (global). Agar pengamatan pendidik lebih 119 . Pelaksanaan penilaian dilakukan dengan mengamati peserta didik dalam melaksanakan tugas yang diberikan dalam proses pembelajaran dengan tidak mengganggu aktivitas belajar peserta didik. Berikut ini penilaian proses dan penilaian produk karya lukis peserta didik. 3. maka penilain proses sangat diperlukan apalagi proses penilaian merupakan bagian yang alami dari aktivitas seni. Dengan demikian penilaian karya seni lukis peserta didik meliputi dua aspek yaitu aspek proses pembuatan karya dan aspek hasil karya seni lukis peserta didik. performance assessment mempunyai dua karakteristik dasar yaitu: (a) peserta didik diminta mendemonstrasikan kemampuannya dalam membuat kreasi suatu produk atau terlibat dalam aktivitas perbuatan. (b) hasil karya atau produknya. the evaluation prosesses are natural parts of art activity. Penilaian Proses Karya Seni Lukis Tujuan penilaian proses karya adalah untuk mengamati kompetensi peserta didik dalam berkreasi membuat karya seni lukis.Karena proses penilaian membangun bimbingan terhadap peserta didik dan memperjelas tujuan dan pemenuhan dalam proses pembelajaran. Menurut Conrad (1964: 271) the processes of evaluation help to build guides and to define and clarity the purposes and accomplishments of the educational processes.

bagaimana peserta didik memanfaatkan waktu. cara maupun metode yang lain. perlu dilengkapi dilengkapi dengan instrumen non tes yaitu check list atau skala rentang. yaitu terutama penampilan-penampilan peserta didik dalam aspek afektif dan psikomotorik. bagaimana kelancaran ekspresi mareka.terarah. bagaimana penanganan alat dan bahan yang digunakan. bagaimana cara memecahkan masalah penciptaan yang mungkin mereka jumpai. Dengan instrumen teknik non tes akan diperoleh data akurat dengan tidak kehilangan aktivitas yang dilakukan oleh peserta didik. Non tes digunakan tatkala pengertian evaluasi tidak sekedar identik dengan testing tetapi mempunyai pengertian yang lebih luas yaitu suatu proses penentuan nilai-nilai fenomena-fenomena yang secara edukasional relevan (Eisner. 120 . dan lain sebagainya. tetapi apabila dikembangkan secara kreatif dan diinterpretasi secara bijaksana dapat memberikan informasi evaluatif yang memiliki tingkat kesahihan (valid) tinggi. bagaimana mereka membangun dan mengorganisasikan kesatuan-kesatuan estetis. sistematis. Sesungguhnya kemampuan-kemampuan peserta didik yang dikembangkan dalam pendidikan seni rupa lebih banyak dalam bentuk penampilan yang sulit diukur dengan tes. pendidik melakukan penilaian dengan secara langsung mengamati bagaimana peserta didik membuat karya lukis. 1997: 204). Teknik non tes bukannya tidak mengandung kelemahan seperti halnya teknik. Selama kegiatan proses belajar mengajar berlangsung dalam pembelajaran seni lukis. dan komprehensif untuk memperoleh data yang akurat dengan tidak kehilangan aktivitas yang dilakukan peserta didik.

Usaha menemukan kualitakualita berharga dari proses dan hasil kerja peserta didik dalam hal ini lebih banyak dapat ditempuh lewat non tes. bagaimana menyiapkan alat-alat dan bahan untuk melukis. penguasaan teoritis kesenirupaan dan keterampilan-keterampilan bersifat non ekspresif.Dalam pendidikan seni rupa. 121 . Inspirasi-inspirasi. melainkan dengan usaha menemukan kualita-kualita berharga dalam proses dan hasil kerja peserta didik. penemuan-penemuan ide. dan lain sebagainya. seperti kemungkinan-kemungkinan ekspresif-kreatifestetis dari lukisan. dan sebagainya. simbol-simbol personal. seni garfik. menyiapkan bahan dan alat untuk membuat patung. kemungkinan-kemungkinan penciptaan yang tidak terduga sebelumnya yang muncul dalam proses berekspresi dan berkreasi dengan media seni rupa merupakan hasil pendidikan seni rupa yang sulit diterapkan kriteria ekstrinsik dalam tujuan pendidikan. seperti dikatakan oleh Eisner (1997: 211) sebagai berikut: “Many of the most highly prized outcomes of art education are not capable of being stated in advance in the form of instruction objectives”. patung. Tidak mudah orang meramalkan secara pasti yang akan terjadi sebagai hasil aktivitas tersebut. Relatif tidak sulit untuk ditetapkan kriteria keberhasilan peserta didik yang dapat dikenakan pada hasil belajar yang dapat diukur secara objektif melalui tes. Penilaian di bidang ini lebih tepat tidak dengan penggunaan kriteria yang ditentukan terlebih dahulu untuk standar pencocokkan tingkah laku atau hasil kerja peserta didik. Tetapi kegiatan-kegiatan seni rupa yang bersifat ekspresif-kreatif-estetis sulit untuk terlebih dahulu ditetapkan kriteria keberhasilan objektif yang dapat diberlakukan secara klasikal. misalnya apresiasi.

dan catatan anecdotal. terutama hal-hal yang sangat bersifat personal seperti: kelancaran dan kepuasan ekspresinya. Melalui pengisian format seperti pada Tabel 3 oleh peserta didik. Data yang terkumpul adalah data yang tertangkap oleh kacamata pendidik.Di depan telah disebutkan bahwa instrumen non tes antara lain chek-list. Hal-hal yang bersifat personal dalam aktivitas penciptaan tersebut merupakan data pelengkap yang sangat diperlukan dalam rangka usaha penilaian untuk melihat peserta didik secara objektif. Mengingat kepekaan kacamata pendidik yang relatif terbatas dan bahwa proses dan hasil penciptaan karya seni rupa menyangkut segi jiwani yang kompleks. dan alasan-alasan kondisional lainnya. Karya seni rupa peserta didik sebagai visualisasi visi dan idea peserta didik tidak selalu dengan mudah dapat dibaca. Disini dapat dituliskan juga tentang alasan-alasan dari pendapat dan keterangan yang diberikan tentang karyanya seperti pada contoh format Tabel 3. rating scale. pendidik seni rupa dapat mengumpulkan data yang mungkin tidak terjaring oleh 122 . tentang nilai-nilai baru yang dapat dipetik dari pengalaman mencipta. yaitu suatu format yang dapat digunakan peserta didik untuk menerangkan hasil kegiatannya dalam bidang seni rupa sesuai dengan pendapat dan perasaannya. dapat dipastikan bahwa selalu ada data evaluatif yang sebenarnya relevan tetapi tidak sempat tertangkap oleh kacamata tersebut. Mekanisme penggunaan instrumen-instrumen tersebut pada dasarnya adalah sepenuhnya di tangan pendidik. Untuk keperluan tersebut De Francisco-Italio (1958: 224-227) mengembangkan apa yang disebut: Pupil’s Self-Evalution Form.

1958: 227) PUPIL’S SELF EVALUATION FORM Pupil ‘s Name __________________ Date ____________ Grade _________________________ Very Good I think my picture is I think my linoleum cut is I think my illustration is I think my modeling is I think my weaving is Good Fair Poor Reasons I Think So Sesungguhnya penilaian atas karyanya sendiri merupakan hal yang penting dalam bidang seni. Tentunya semua ini sesuai dengan tingkat 123 .kacamatanya. untuk mendapatkan masukkan data evaluatif dari pihak peserta didik De Francisco-Italio menggunakan yang disebut The Jury System yaitu. Selain dengan menggunakan format seperti di atas. Pendidik harus mempertimbangkan baik perkembangan personal maupun perkembangan akademik. Peserta didik perlu memahami proses pembelajaran. dan pendidik memahami apa yang dianggap peserta didik menarik atau penting dalam sebuah tugas yang diberikan Dalam hal ini perlu peserta didik menjadi mengetahui tentang dirinya sendiri. Pupil’s Self Evaluation Form (Sumber: Francisco. Tabel 3. tetapi merupakan sesuatu yang dihayati dan dirasakan oleh peserta didik yang bersangkutan. penjurian oleh sekelompok peserta didik bergantian menilai karya-karya seni rupa di kelasnya dan dapat pula dilengkapi dengan class discussion system yaitu diskusi kelas untuk membahas karya-karya tersebut.

Student Self Evaluation Form (Sumber: Eisner. This project was my: Worst piece Best piece of work ___ ___ ___ ___ ___ of work 5. serta pengalaman-pengalaman berharga mana yang berhasil dipelajari dalam kegiatan tersebut dan seterusnya seperti dapat dilihat pada Tabel 4. mudah atau sulit. Tabel 4. I found the work on it: 3. bermanfaat atau tidak. tetapi juga diperlukan dalam rangka peningkatan bimbingan peserta didik selanjutnya. I thought this project was: Boring ___ ___ ___ ___ ___ Exciting 2.perkembangan paserta didik tersebut. I think I learned: From this project Easy A lot ___ ___ ___ ___ ___ Difficult ___ ___ ___ ___ ___ A little 4. hasilnya baik atau buruk. 1997: 203) Student Self-Evaluation Form Name _________________________________ Date __________________________________ Name of Project ________________________________ Date Completed ________________________________ 1. Data yang terkumpul di atas tidak saja bermanfaat untuk melengkapi pertimbangan penentuan hasil penilaian. apakah suatu kegiatan seni rupa itu menarik atau membosankan. The most important things I got out of this project were: __________ __________________________________________________________ __________________________________________________________ Dengan pengisian dan pengumpulan format di atas. Untuk melengkapi objektivitas penilaian Eisner (1997: 223-204) menyarankan penggunaan format penilaian oleh peserta didik sendiri yang disebut: Student Self-evaluation form yang dapat memberikan informasi dari tiap peserta didik. pendidik dapat memperoleh informasi tentang pengaruh suatu kegiatan seni rupa bagi para 124 .

Selanjutnya Eisner sebagaimana menurut De Francesco-Italio. apa yang telah berhasil mereka pelajari dari kegiatan tersebut. Berdasarkan pengisian format di atas. tingkat kepuasan mereka dan lain sebagainya. kadar keterlibatan mereka dalam kegiatan. dengan demikian terkembangkan sikap oto kritis peserta didik. Kumpulan format-format yang masuk ketangan pendidik setiap kali selesai kegiatan akan merupakan rekaman data penilaian peserta didik sendiri terhadap perkembangannya secara kontinyu dalam olah seni rupa selama satu satu tahun akademik berlangsung. menyarankan penggunaan teknik lain yang juga berguna untuk evaluasi dalam pendidikan seni rupa adalah apa yang disebutnya The Group Critique. Dengan demikian proses pembelajaran merupakan titik tolak untuk pengajaran dan sebagai pendidik harus menanyakan tidak hanya apa yang perlu diketahui oleh pendidik. para peserta didik mendapatkan kesempatan untuk mengungkapkan apa yang telah dilakukan atau dihasilkan dari suatu kegiatan berkarya. prosedur demikian memungkinkan peserta 125 . Kedua.peserta didik. Beberapa keuntungan dengan cara demikian adalah: pertama. melainkan juga apa yang perlu peserta didik ketahui tentang dirinya sendiri. kemudian yang bersangkutan diminta menjelaskan karyanya dan selanjutnya kelompok peserta didik yang lain memberikan respons dalam bentuk bahasan kritis. yaitu peserta didik diminta menunjukkan satu atau dua karya mereka secara bergiliran. Menurut Barrett: “ In art the pupils perception of the learning process is the starting point for teaching” and “we must ask not only what we need to know as teachers but what the pupils need to know about themselves”.

Salah satunya pendapat Aspin dalam Ross (1982: 66) yang menyatakan bahwa: Work of art is correctly described as “unique particulars”. but the description prompts the question: how can something which is unique generate criteria for evaluating other unique objects? Sifat unik ini mempunyai sifat satu-satunya dan hanya 126 . Dalam hal ini pendidik memfokuskan perhatiannya pada hasil karya lukis yang diciptakan oleh peserta didik yang tentunya tidak terlepas dari proses penciptaannya. dan keberhasilan-keberhasilan dalam berkarya. Bagaimana mereka menangani problem-problem. Dengan demikian penetapan kriteria harus disesuaikan dengan perkembangan usia anak dan kriteria tidak bersifat kaku. Penilaian Produk Karya Seni Lukis Pada prinsipnya tujuan penilaian produk seni lukis adalah untuk melihat kompetensi peserta didik dalam membuat karya cipta seni lukis. New criteria must be formulated for each group of children because children are constantly growing and changing in their thinking.didik secara sistematis mengetahui bagaimana perkembangan peserta didik yang lain. b. The processes of evaluation help to build guides and to define and clarity the purposes and accomplishments of educational processes. Oleh karena itu kegiatan penilaian memerlukan kriteria. Ketiga. and their knowledges. kegagalan-kegagalan. Conrad (1964: 271) menjelaskan bahwa: Evaluation criteria are not rigid. their abilities. prosedur demikian memberikan kesempatan dan bahan bagi pendidik untuk menggunakan komentar-komentar peserta didik sebagai masukkan diagnostik dan remedial. Dengan demikian terkembangkan sikap apresiatif peserta didik. Kriteria untuk melakukan penilaian produk karya seni lukis cukup sulit karena adanya keragaman cara pandang terhadap karya seni.

Heyfron (1986: 56) berpendapat bahwa: … that the arts are not fundamentally different from other subjects in the curriculum (e. Dengan demikian pada waktu menentukan kualitas karya diperlukan kriteria-kriteria yang merupakan konsensus dan sudah dipertimbangkan terlebih dahulu. Namun demikian. dan setiap proses intersubjektif selalu mendatangkan konflik. Sehubungan dengan kriteria pada penilaian karya seni tersebut di atas. Pepper (1973: 451) berpendapat bahwa bisa saja perbedaan yang terjadi disebabkan oleh pandangan kontekstual yang tidak sama. Lebih jauh lagi dalam dokumen APU (“Aesthetic Development”. but also practicably desirable.berlaku untuk karya tersebut sehingga untuk menilai karya yang lain. meminjam dari penilaian kritik. It contends that judgements about the merits of art work can be justified with reference to publicly agreed criteria. Sumardjo (2000: 48) mengatakan bahwa meskipun seni itu kontekstual secara 127 .g. science) and that a high degree of consensus about criteria appropriate for judging art work is not only conceptually consistent with the notion of art. 1983: 5) menyebutkan bahwa: What matters most in the arts as in science. Hal ini menunjukkan bahwa penilaian dari suatu pekerjaan seni tidak hanya konsisten secara konseptual tetapi diperlukan juga praktisnya. is that judgements and interpretations should be informed with considerable consensus about the criteria to be applied when determining quality. karena masing-masing kepentingan tidak ada titik temu. Baik buruknya pekerjaan seni dibenarkan dengan adanya referensi dari kriteria-kriteria yang disetujui oleh khalayak umum. sulit menerapkan kriteria yang sama Perdebatan-perdebatan yang sering terjadi karena perbedaan pemahaman. Disini penilaian dapat dilihat sebagai suatu proses intersubjektif.

are not “sure alls” or “cure alls” for the making of the perfect art product.. Coney (1999: 2). relation of form to matter. etc. It is fundamental that teachers see assessment criteria as a means to support and sustain students' work. help us to understand art as a manifestation of experience. Assessment will go wrong from the outset if students or teachers see it as a way of controlling work and imposing ideas. ekspresivisme. however.bentuk dan isi. Berdasarkan sifat universal dari seni itu sendiri. which apply to the arts. 128 . It is essential that students see assessment criteria as a tool to help them progress in their work. subordination of ornamention to form. dan seni merupakan bentuk ungkapan manusia. Kriteria tersebut dapat membantu untuk memahami seni sebagai perwujudan suatu pengalaman. Ditinjau dari kebermaknaan keberadaan kriteria penilaian bagi pendidik dan peserta didik salah satu pendapat sebagai berikut.These criteria. Menurut Waterman (1959: 382-383) …there are a few criteria for judgment. Untuk memberikan dasar pertimbangan penilaian. maka dapatlah dibuat suatu pendekatan untuk membuat kriteria dari suatu penilaian hasil karya seni dalam hal ini karya seni lukis anak. which is just as important. disodorkan dasar pemahaman yang sama dalam metode pertimbangan penilaian suatu yakni formalisme. namun ada pula nilai-nilai yang sifatnya universal karena struktur jiwa manusia itu sepanjang sejarahnya sama. the unique use of the media…. They are complete exploitation of media. dan instrumentalisme. Mamannoor (2002: 49) mengatakan bahwa berdasarkan banyak referensi. They can. implicitly or explicitly recognized in analytical criticism and capable of formulation. Dengan demikian ada sejumlah kriteria untuk penilaian yang dapat diterapkan pada seni dan kriteria adalah eksplorasi total atas media dan penggunaan media yang unik.

bentuk-bentuk signifikan suatu karya seni rupa merupakan kualitas umum sebuah karya seni rupa. atau hasil 129 . texture dan sebagainya. Selanjutnya Feldman (1967: 459) memberikan contoh sederhana pada dunia ekspresi anak-anak sebagai berikut: bagi anak-anak.Pertimbangan penilaian formalisme. Dengan demikian pertimbangan penilaian formalisme menekankan pada tinjauan terhadap unsur-unsur visual yang terorganisasikan dalam komposisi sebuah karya seni rupa. Sehubungan dengan hal tersebut Feldman (1967: 446) menjelaskan. Pertimbangan penilaian ekspresivisme. pelaksanaannya menempatkan unsurunsur estetika sebagai tinjauan utamanya bersifat representatif dari bentuk-bentuk signifikan yang dikandung dalam karya seni tersebut. suatu pertimbangan penilaian yang cenderung melihat faktor pencipta karya sebagai orang yang melibatkan unsur-unsur pribadinya kedalam proses penciptaan karyanya. 1979: 33). Dengan demikian penilaian formalisme lebih mengutamakan pembahasan karya tanpa harus mendalami atau menelursuri apa yang ada didalamnya. Sudarmaji (1979: 33) menyatakan ukuran seni yang menitik beratkan pada factor wujud (form) disebut formalisme: yaitu bentuk. Bell (1968: 26) mengatakan bahwa. harmoni. termasuk unsurunsur yang dialami oleh pembuat karya. komposisi. dorongan untuk berkomunikasi menunjukkan kebutuhan dirinya sendiri yang lebih kuat dari pada keinginan untuk menghiasi. bahwa pertimbangan penilaian formalisme menempatkan mutu artistik pada suatu kualitas yang terintegrasi dalam pengorganisasian secara formal dari suatu karya seni rupa. Ekspresivisme adalah sebutan untuk apresian yang cenderung menilai karya seni dari segi ekspresi (Sudarmaji. memodivikasi.

perspekif. religi. pertama hal yang meliputi unsur-unsur visual yang terdapat pada karya tersebut antara lain: bentuk. melainkan suatu kajian yang berkaitan dengan hal-hal yang melatarbelakanginya.akhirnya sampai mencapai arti ‘keindahan’ yang dapat dimengerti oleh orang dewasa. 130 . karena karya-karya seni rupa kontemporer biasanya dilatarbelakangi motivasi tertentu. Mamannoor (2002: 52) mengatakan bahwa gagasan-gagasan orisinal seorang seniman (pencipta karya) yang ditampilkan melalui suatu karya seni rupa sangat penting untuk dijadikan sebagai kriteria penilaian. Pertimbangan penilaian instrumentalisme. Feldman (1967: 463) mengatakan bahwa penilaian instrumentalisme tidak hanya mengutamakan penyampaian gagasan dan pengejawantahan kehendak (seperti pada penilaian ekpresivisme). anatomi. dan sebagainya. proporsi. Seni rupa buatan anak-anak sering dinikmati melalui khayalan dan dirancang dengan warna bebas yang tak bisa dirintangi. Konsekuensinya dari hal tersebut di atas. mengandung makna kontekstual. komposisi. yaitu ketika proses penggubahan seni rupa mengacu pada unsurunsur yang melatarbelakangi pencipta seni misal budaya. gelap terang. sosial. Dengan demikian pengungkapan perasaan dan gagasan-gagasan menjadi pertimbangan yang utama dalam penilaian ekspresivisme. moral. dapatlah dirumuskan suatu pengertian bahwa untuk memberikan suatu penilaian pada karya seni dan sampai pada suatu keputusan diperlukan kriteria yang menjangkau tiga hal yaitu. Berdasarkan ketiga pertimbangan penilaian di atas. politik. Dengan demikian penilaian secara instrumental sering digunakan dalam penilaian karyakarya seni rupa kontemporer.

Selanjutnya berkaitan dengan penentuan kriteria. Untuk menentukan tingkat originalitas suatu karya lebih dititikberatkan pada ide. tidak ada kecenderungan untuk meniru karya orang lain. secara umum pada aspek original dituntut kreativitas dalam menciptakan karya seni. Suatu hasil karya seni akan berhasil apabila pembuat karya sensitif terhadap media yang digunakan. anak bekerja dengan kebebasan emosi dalam mengungkapkan isi hatinya. dan sebagainya. cocok untuk digunakan dengan teknik transparan. sensitivity to the appropriate use materials. and consistency of concept. design. dan kepribadian. Pada lukisan anak-anak dimana melukis merupakan suatu pengalaman berkarya. memiliki pengetahuan tentang karakter masing-masing media. Aspek tingkat original pada suatu hasil karya seni adalah terkait dengan sikap dari pembuat karya yang mengutamakan keaslian karya. Duane dan Prebel (1967: 127) mengemukakan bahwa: “…Criteria upon which many art professionals agree include degree of originality. keterlibatan unsur-unsur pribadi melalui proses pengungkapan perasaan dan gagasan-gagasan dari pembuat karya.pewarnaan. Kedua. bentuk visual. menggunakan konsep. Ketiga. atau pengalamannya sendiri. kreativitas. ide. teknik. and execution”. makna konstektual yaitu suatu kajian yang berkaitan dengan hal-hal yang melatar belakangi proses penggubahan karya. tidak meniru karya yang sudah ada atau karya orang lain. sehingga karyakarya mereka benar-benar murni. misal cat air mempunyai karakter lembut. Aspek sensitif menggunakan material berkaitan dengan penguasaan media yang digunakan untuk mewujudkan karya seni. Cat minyak 131 . Dengan demikian.

misal bagaimana penggunaan bahan dan alat dimulai dari persiapan sampai dengan sentuhan akhir dalam pembuatan karya. yaitu antara lain nilai kesatuan. kontras. dan sebagainya.yang mempunyai sifat menutup. dan sebagainya. Aspek kriteria desain menitik beratkan pada unsur desain yaitu kaidahkaidah komposisi. irama. Mereka akan semakin baik dalam penguasaan media. bahan . proporsi. Dikatakan tidak konsisten dengan konsep dalam membuat karya apabila karya yang dibuat bentuknya tidak menunjang tema. Aspek pelaksanaan. bagaimana anak dalam mengerjakan tugas apakah merasa senang. dan alat. Konsisten tidaknya pembuat karya terhadap suatu konsep tampak pada tema dan bentuk visual pada karyanya. Aspek konsistensi dengan konsep merupakan suatu karya seni yang mengandung suatu konsep dari pembuat karya yang disampaikan lewat hasil karya seninya. semakin bertambah pula pengalaman dan tingkat penalarannya. Dewobroto (2002: 9) berpendapat bahwa semakin bertambah umur si anak. keseimbangan. asyik. atau bahkan merasa 132 . Bahkan ada yang mengkombinasikan teknik goresan dengan teknik tempel dari elemen lain. dengan demikian masalah teknis pemakaian bahan dan alat serta umur anak merupakan sesuatu hal yang perlu diperhatikan dalam menilai lukisan anak. anak sering menggunakan lebih dari satu macam. dapat dilihat dari keseluruhan aktivitas peserta didik yang meliputi langkah-langkah dan prosedur dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh pendidik. Pada anak-anak dalam berkarya. sehingga akan memberikan efek pengamatan yang berbeda dari masing-masing karya.

Apresiasi terhadap karya anak-anak lain h. Kontribusi terhadap proyek kelompok c. Ada dua variasiyang dikemukakan.tertekan sehingga tidak lancar dalam penuangan idenya. Kemungkinan akan kerjasama d. social growth. Pemakaian dan pemilihan warna d. Kemampuan dalam menggunakan alat dan media e. social growth. Keaslian ide-ide c. Kerapian dan rupa secara umum dari sebuah karya seni f. dan yang kedua: personal growth. misal kebersihan karya tidak terkesan kotor merupakan sesuatu yang termasuk dalam aspek pelaksanaan. social growth. Tanggung jawab dalam perawatan bahan e. dan growth in art skills. Tanggung jawab terhadap penyelesaian sebuah karya seni g. Lain lagi yang dikemukakan Conrad (1964: 274) membuat kriteria dengan variasi yang meliputi: personal growth. Kerjasama dalam “cleaning up” setiap akhir periode 133 . Tertarik pada seni ekspresionis b. Sampai dengan penerapan kaidah etis dan etika. a. Kemampuan untuk mengikuti petunjuk umum b. Evaluasi atas usaha sendiri Social growth a. dan growth in art skills. pertama meliputi: personal growth. Variasi yang pertama dan indikator yang dikemukakan sebagai berikut: Personal growth.

Kerapian dan rupa secara umum dari sebuah karya seni e. c. Ketertarikan akan seni b. tinta. Ketrampilan mendesain kemampuan untuk mengorganisasi ide b. Berkenaan dengan penentuan kriteria yang ditetapkan untuk tujuan objektivitas penilaian. Tanggung jawab terhadap penyelesaian sebuah karya seni Social growth a. krayon. Penemuan e. d. Kerjasama dengan yang lain c.Variasi yang kedua meliputi: personal growth. Kontribusi terhadap kelompok b. Kemampuan dalam menggunakan alat dan media. Heyfron (1986: 69) menyarankan sebagai berikut: 1) the possibility of intersubjective agreement 134 . dan growth in art skills. dll. Ketrampilan menggunakan cat. Menghormati karya orang lain Growth in art skills a. masing-masing indikator sebagai berikut: Personal growth a. social growth. Ketrampilan dalam bahan tiga dimensi d. Pengalaman teknis Pengunaan dari masing-masing variasi dan indikatornya tergantung dari hasil diskusi yang disepakati bersama. Keaslian c. kapur.

Bahkan.2) truth to the nature of the phenomenan under investigation 3) the identification of “reasonable” grounds for supporting judgements Mengacu pada pendapat para ahli di atas. sedangkan karya seni rupa lebih dominan pada komponen emosi. dan pelaksanaannya sangat diperlukan. Hoepfner dkk. desain. E. dimana tes tersebut disesuaikan dengan sebuah tujuan kurikuler dan menunjukkan validitas isi yang paling besar. Seperti diketahui bahwa untuk menelaah suatu hasil karya seni rupa tentunya harus dapat dijelaskan secara rasio. dalam penelitiannya dengan mengadakan survei pada semua tes yang dipublikasikan bagi anak sekolah tingkat dasar. kemudian mengevaluasi setiap tes dengan kriteria tertentu. konsistensi konsep. sebagain besar testes yang diberikan pada tujuan-tujuan seni tidak dirancang sebagai tes-tes kesenian melainkan sebagai tes-tes untuk perkembangan kognitif. sedangkan kekayaan konsep yang ada pada anak diketahui melalui inklusi dan definisi 135 . Dalam hal ini seorang pendidik seni rupa dituntut untuk mempunyai kepekaan pengalaman estetik yang tinggi dan wawasan yang luas tentang perkembangan karya seni rupa. dalam penilaian karya seni rupa untuk melihat kualitas dan sampai pada baik dan tidak baik diperlukan suatu kriteria yang meliputi dua unsur yaitu fisiko plastik dan ideo plastik dan ada persetujuan antar subjek. Hasilnya kurang dari setengah dari tujuan-tujuan yang ada dalam kesenian memiliki tes-tes yang terstandarisasi. Hasil Penelitian Yang Relevan 1. kesesuaian penggunaan media atau material. Dengan demikian kepekaan pengalaman estetik seseorang untuk melihat tingkat original.

Sedangkan tes yang mengungkap kesukaan anak. Sedangkan perspektif yang digunakan adalah perspektif tutup menutup (realistis). wawancara. dan angular. tumpukan. simetri setangkup dan radial. memahami.anak-anak dalam upaya mereka menggambar orang dan benda-benda. 136 . (b) komposisi dan perspektif lukisan anak. (d) fenomena lukisan anak-anak usia SD dilihat dari aspek usia dan jenis kelamin. burung. dan dokumentasi. horizontal “segitiga”. Temuan penelitian ini adalah sebagai berikut: lukisan anak usia SD dilihat dari: (a) objek dan temanya mencerminkan kehidupannya dan menunjukkan adanya upaya anak untuk mengidentifikasikan diri dalam karyanya. bahan. diagonal. Hal ini menunjukkan bahwa sangat masuk akal untuk berpendapat bahwa sebagian besar dari tes-tes yang dievaluasi dalam bidang seni tidak terdapat di sini. Sedangkan analisis data yang digunakan adalah analisis isi dengan fokus pada telaah kritis visualisasi lukisan anak-anak. Penelitian Ismiyanto (2002) pada sanggar seni lukis “Pangudi Luhur” Semarang dan sanggar seni Lukis “Gramedia” Jakarta. Pengumpulan data yang digunakan adalah observasi. dan teknik yang digunakan anak-anak dalam berkarya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi. (c) alat . (b) komposisi yang ditampilkan yaitu komposisi vertikal. 1983: 251-256). 2. dan menjelaskan mengenai: (a) visualisasi lukisan karya anak-anak usia SD ditinjau dari tema dan objeknya. kendati validitas isinya diperingkatkan paling tinggi atau bahkan paling rendah (Ralph Hoepfner. mengetahui. tujuannya untuk mencerminkan keadaan-keadaan afeksional pada penyesuaian psikologis.

sifat alamiah seorang anak sering muncul dalam hasil lukisaanya. komposisi. Penggunaan semantik differential dapat aplikasikan untuk mengukur respon siswa tingkat SD terhadap hasil karya lukis yang dilihatnya. tetapi perbedaan tersebut tidak terdapat pada anak-anak kelompok kelas rendah pada usia SD. dalam melukis seorang anak berusaha untuk memvisualisasikan kehidupannya. 3. Hal ini dikarenakan. diperoleh informasi bahwa dalam melukis. Hal ini berarti bahwa respon estetik siswa dapat digunakan untuk menilai kualitas lukisan serta bentuk dan kesan gerak pada lukisan. Perbedaan ini tampak tertutama pada pewarnaan dan goresan. (d) berdasarkan kelompok usia tidak terdapat perbedaan dalam memvisualisasikan objek. spontanitasnya. Berdasarkan hasil penelitian ini. Ditinjau dari jenis kelamin terdapat perbedaan dalam pewarnaan dan goresan. Penelitian tentang instrumen pengukuran untuk mengukur respon estetik berdasarkan hasil penelitian Prihadi (2007) menyimpulkan bahwa penggunaan semantic differential ternyata mampu mengukur respon estetik peserta didik menurut faktor evaluatif. baik dalam pewarnaan. formal (potensi). perspektif. (c) media yang digunakan adalah krayon dan/atau mixed media dan teknik yang digunakan dussel dan out-line (garis-garis kontur). Adapun hasil lukisan anak ditempat tersebut dapat dibedakan antara lukisan hasil anak laki-laki dan hasil anak perempuan. dan simulatif (aktivitas).dan perpaduan perspektif burung dan tumpukan. Analisis varians hasil pengukuran menunjukkan ada perbedaan respon estetik siswa 137 . anak laki-laki lebih spontan dan dinamis.

Untuk penilaian proses indikator yang digunakan adalah: (1) kelancaran membuat sket (2) penuangan ide. (4) pemahaman tema. Hasil penelitian ini juga menunjukkan adanya interaksi pengaruh gaya dan tema lukisan terhadap respon estetik peserta didik. (5) harmoni keseluruhan. pemandangan alam. (4) pewarnaan. (3) kesiapan bahan dan alat. (7) percaya diri. wawancara. Pangumpulan data menggunakan metode observasi. Secara umum hasil melukis peserta didik di sanggar pratista menunjukkan adanya kedinamisan garis yaitu antara lain garis tebal dan kuat. dan potret wanita). (5) ketekunan. potret pria. Kombinasi media pastel dan cat air memberikan kesan mantap dan kuat dalam penggunaan warna. Penelitian lain dilakukan Martono dan Retnowati (2007) tentang strategi pembelajaran seni lukis anak di sanggar Pratista Yogyakarta dengan subjek penelitian adalah anak-anak yang belajar melukis di sanggar tersebut. Penilaian yang dilakukan meliputi penilaian proses dan penilaian produk atau hasil karya. semideformatif. Metode pemberian contoh dengan sket di kertas kerja peserta didik dimaksudkan untuk memotivasi peserta didik melukis bukan untuk dicontoh atau untuk ditiru. (3) originalitas. 4.berdasarkan gaya lukisan (naturalistic. (2) kreativitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang digunakan adalah menggunakan pendekatan individual dengan metode pemberian contoh. Sedangkan indikator penilaian produk sebagai berikut: (1) kesesuaian tema. dan deformatif) dan tema lukisan (alam benda. Karya 138 . (6) keseriusan. dan dokumentasi. yaitu anak-anak usia dini yang berjumlah 25 anak dengan usia antara 3 sampai dengan 7 tahun.

(2) untuk memeriksa baik peringkat verbal (pada diferensial semantik) maupun tanggapan-tanggapan non-verbal (looking time [LT] dan rating time [RT]). delapan. analisis variasi dengan pengukuran berulang. delapan. dan masingmasing dari 150 subjek diuji secara perorangan. Hasil penelitan menunjukkan bahwa anak-anak kelas lima memiliki evaluasi yang 139 . Masalah yang diperiksa dipilah ke dalam tujuantujuan sebagai berikut: (1) untuk memeriksa efek-efek perkembangan usia (kelas lima. Penelitian yang dilakukan Newton (1989) dari University of Missouri bertujuan untuk mengetahui/memeriksa tentang perubahan-perubahan perkembangan tanggapan estetis pada dimensi-dimensi stilistik dan isi rangsangan seni dengan menggunakan tanggapan verbal dan non-verbal. dan (4) untuk meletakkan dimensidimensi penting di dalam beragam skala diferensial semantik.lukis peserta didik menggambarkan dunia anak dengan tema pilihannya sendiri sesuai dengan pengalaman dalam kehidupannya. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis faktor. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan slide-slide lukisan secara bertahap pada subjek- subjek sekolah dasar dan menengah. (3) untuk menyelidiki efek-efek jenis-jenis rangsangan (dimensidimensi gaya dan isi slide-slide lukisan. dengan menggunakan pengukuran verbal dan non-verbal. 5. Tanggapan-tanggapan verbal diukur dengan instrumen diferensial semantik. dan pengukuran non-verbal memandang waktu dan rata-rata waktu (LT/RT). Tingkatan kelas subjek adalah kelas lima. dan the Fisher Least Significant Differenc. dan sebelas. dan sebelas) pada tanggapan subjek atas rangsangan seni.

Kriteria penilaian memberi suatu kerangka bagi pendidik dan peserta didik untuk menentukan teknik-teknik dan aspek-aspek dari karya mereka yang mereka kerjakann dengan benar. untuk membantu pendidik memahami bagaimana peserta didik beajar dari suatu proyek. baik kepada guru maupun siswa. Penilaian dengan mudah disertakan dalam setiap tahapan suatu proyek. arti dari bertambahnya pengetahuan yang sudah mereka kuasai. Suatu kriteria telah dikembangkan untuk mencapai tujuan ini. dan menggugah semangat siswa untuk mengekspresikan ide-ide mereka kapada guru dan kelompoknya. dan ketidakpastian/kemunculan yang lebih rendah (lebih familiar dan kurang kompleks). 6. untuk bicara 140 . Pendidik hendaknya memberikan penilaian menyeluruh atas karya siswa dengan menyertakan alasan-alasan. dilatarbelakangi bagaimana membuat suatu penilaian menjadi sebuah elemen pembelajaran yang aktif dan bagian positif dari pengajaran. Kriteria penilaian yang bagus memberikan suatu bahasan. Kriteria inipun bertujuan untuk membiarkan peserta didik membuat evaluasi sendiri mengenai kemajuan mereka. Sehingga siswa merasakan makna dari peningkatan. dan letak keunggulan dan kelemahan mereka.lebih tinggi. dengan cara membangun kepercayaan diri. dan LT/RT yang lebih panjang ketimbang anak-anak kelas delapan maupun sebelas. Hal ini menunjukkan bawah anakanak kelas lima menunjukkan kesiapan dan keterbukaan yang nampaknya berkurang ketika anak-anak menjadi dewasa. Penelitian yang dilaksanakan oleh Coney (1999) tentang pentingnya kriteria untuk menilai hasil karya seni lukis anak.

tugas rumah. dilakukan studi kasus yang dilakukan terhadap enam peserta didik dalam suatu proyek nyata. Banyak hasil pendidikan seni yang paling berharga tidak kapabel bila dibilang maju dalam bentuk tujuan-tujuan pengajarannya. Selanjutnya atas dasar hal tersebut di atas. Sebuah pandangan kompromis yang tercantum dalam tugas ini menerima prinsip penilaian.mengenai kemajuan dan pembelajaran dalan suatu cara yang penuh makna. penilaian diripun dibangkitkan demi membantu siswa memahami kemajuaanya sendiri. kolase. dan penilaian riil. Penilaian atas dasar kriteria yang dikembangkan dalam laporan ini. tetapi menemukakan pentingnya kreativitas. Dengan sebuah kerangka yang didesain untuk digunakan dalam setiap mata pelajaran selama berlangsungnya suatu proyek. sasaran. Sudah diterima secara luas bahwa penilaian harus mengevaluasi perkembangan siswa. yaitu: melukis. Sikap atas penilaian dalam bidang seni dan desain bisa bermacam-macam. padahal pendidikan seni penting sekali untuk memupuk spontanitas dan eksperimentasi. dan memepermudah guru memahami pendekatan yang diambil siswa secara individual. Proyek terdiri dari empat aspek. digunakan untuk merekam 141 . Pada proyek dilengkapi dengan judul. tujuan. Dalam menentukan serangkaian kriteria untuk mengevaluasi karya seni dan desain. perlulah kiranya menyeimbangkan kebebasan siswa untuk mengeksplorasi dan merespon pengalaman-pengalaman dengan kebutuhan untuk berkembang dan mempelajari ketrampilan-ketrampilan yang tepat. mulai dari sikap menerima hingga menolak secara total.

Dengan menggunakan model Karmiloff-Smith dikenal sebagai Representational Redescription Model (RRM). (7) komitmen untuk menunaikan tugas rumah sebagai bagian dari riset untuk suatu proyek. disalurkan dalam ranah perkembangan dengan pengaruh-pengaruh dari luar si anak maupun dari dalam anak.kemampuan masing-masing dengan tujuh kriteria sebagai berikut: (1) kemampuan untuk mengamati dan merekam suatu pengalaman visual. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: kriteria-kriteria yang dikembangkan dapat mengekspresikan elemen-elemen krusial dari kemajuan dalam seni dan desain. (2) pengembangan ketrampilan teknis dan penggunaan bahan. (6) menekankan kembali batasan-batasan dari suatu proyek. 7. dan memberi keuntungan baik pada pendidik maupun peserta didik. Penelitian Freeman (1997) bertujuan ingin menjelaskan bagaimana seorang anak didorong untuk mengerahkan segala kemampuan internalnya dalam berbagai wilayah yang berbeda. (4) ekspresi dan kontrol atas ide-ide. seperti pengamatan penuh selidik atas wajah manusia atau atas bunyi ucapan manusia. Model ini sudah umum dan telah diterapkan pada studi tentang bagaimana anak-anak menjadi kreatif dalam menggambar sesuatu yang belum pernah mereka coba sebelumnya. serta peralatan. (3) minat dan motivasi serta penggunaan bahasa seni dan desain. yang diharapkan terbukti cukup flesibel untuk tugas-tugas yang berbeda. (5) pencapaian sasaran pembelajaran. 142 . teknik. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan kemampuan- kemampuan awal dari anak-anak.

Cara terbaik untuk melihat apakah seorang anak memiliki kemampuan internal ataukah tidak adalah dengan menugasinya menggambar sesuatu yang diperkirakan belum pernah ia lihat dan ia gambar sebelumnya. tidak semua anak cukup eksplisit mengungkapkan penilaiannya. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen. Ini akan memudahkan untuk membedakan anak yang bertumpu pada kemampuan eksternal semisal “hantu” atau “raksasa” dari anak lain yang bertumpu pada sebuah kemampuan internal dan menciptakan sebuah lukisan yang sepenuhnya “keluar dari kepalanya sendiri. pertama melibatkan 62 anak usia lima tahunan dan 62 anak usia sembilan tahunan. oleh karena representasi-representasi mental tahap awal (a) tidak sepenuhnya eksplisit dan dengan demikian tidak mudah diakses semau-maunya oleh anak. Hal itu terjadi. Suatu imajinasi yang aktif atau fantasi kehidupan yang hidup tidak dengan sendirinya menjamin sebuah inovasi dalam ekspresi atau tindakan. Sayangnya.”. (c) dan berkaitan dengan penataan tindakan-tindakan praktis dan dengan demikian tidak mudah diuraikan untuk kepentingan pengaturan tindakantindakan inovatif. tetapi dari mereka yang 143 .’. (b) kemungkinan besar tersimpan dalam otak secara terpisah-pisah sehingga keterhubungannya tidak diketahui oleh anak. seturut model RRM. Tantangan tersebut biasanya dilontarkan dengan menyuruh si anak menggambar berdasarkan imajinasinya atau meminta si anak mengekspresikan fantasinya. Modifikasi yang dibuat hanyalah meminta anak menjelaskan bagaimana mereka berhasil menggambarkan “sosok manusia yang belum pernah ada.

mayoritas anak yang lebih muda usia (61 %) menyebut suatu karakter fiksional eksternal sebagai model mereka. dan barangkali bisa memantik ide-ide yang bermanfaat. bertambah pulalah meteri verbal yang diperoleh begitu saja (tanpa usaha keras) dari anak untuk tujuan pembahasan karya. Hal ini dapat dilihat pada: pertama. Hal itu menegaskan bahwa ketika kemampuan-kemampuan internal untuk inovasi grafis meningkat. Ini masuk akal mengingat kepercayaan atas suatu model eksternal tidak otomatis membuat anak akan lebih berhasil dalam membedakan lukisan. 144 . Eksperimen ini membuahkan hasil yang selaras dengan eksperimennya Karmiloff-Smith: hanya 8 % dari anak yang lebih muda usia berani membuat lukisan yang silang kategori bila dibandingkan dengan 39 % dari anak-anak yang lebih tua. Perbedaan ini secara statistik bersifat signifikan. dari lukisan normalnya mengenai sosok manusia apa adanya yang sudah dikumpulkan sebelum eksperimen dimulai. dan mayoritas anak yang lebih tua (67 %) menerangkan bagaimana mereka membuat inovasi dari kemampuan-kemampuan internal mereka.ternyata cukup eksplisit 36 anak usia lima tahunan dan 52 anak usia sembilan tahunan. di kalangan anak-anak yang bertumpu pada sebuah model yang disebutkan sebagai eksternal tidak ada hubungan terjadi antara seberapa terkait ungkapan verbal mereka dan seberapa kreatif hasil karya mereka itu dinilai.

Sesungguhnyalah produk seni harus membenarkan keberadaannya. 145 . Karya seni dilihat dari produknya mengandung nilai intrinsik dan nilai ekstrinsik. Tetapi penggunaan elemen-elemen desain atau prinsip-prinsip seni. Pada anak-anak biasanya lebih bebas dalam berekspresi dalam mewujudkan suatu karya seni rupa. Tidak mudah untuk menyerap hal-hal yang tidak memiliki nilai apapun. seni lukis misalnya karena anak relatif belum banyak pengetahuan tentang aturan-aturan/norma-norma yang mengikatnya. Kriteria tidak mengakhiri suatu proses kreatif karena kriteria bukanlah suatu batasan-batasan. Karena ketidaktahuan inilah anak cenderung lebih bebas dan merasa leluasa. Kerangka Pikir Pada prinsipnya menilai karya seni harus menentukan dulu dasar yang digunakan untuk melakukan penilaian.F. Nilai ekstrinsik satu produk tertentu hanya bisa dievaluasi oleh keberhasilan empiris. karena pada umumnya orang memiliki tujuan ketika melakukan penilaian. Dengan demikian untuk menilai suatu karya seni perlu pemahaman apa yang harus dilakukan bukan apa yang tidak bisa dilakukan. Pada karya sendiri terdapat elemen-elemen desain atau prinsip-prinsip seni yang tidak akan berubah. namun analisis histori membuktikan bahwa seni lazim merupakan alat untuk sesuatu yang lain. Karya seni yang dihasilkan menunjukkan kemurnian pengungkapan perasaan mereka. bahan akan berubah seiring dengan budaya dan filosofis sosial yang diungkapkannya. Nilai intrinsik suatu karya seni yang sempurna sekalipun tidak akan lepas dari kualitas bahan yang dipakainya. Garis. sehingga hasil karyanya terkesan jujur dan spontan. tidak takut salah.

Segi empat menyarankan 146 . Melukis bagi anak-anak sebentuk permainan. pengertian Lukisan tersebut dapat ditafsirkan dalam perkembangan dan dapat mengungkapkan informasi tentang kepribadian anak. Sementara bentukbentuk ini mungkin dengan mudah dapat dikenali dalam artian muncul dari karakter yang sederhana sampai ke karakter yang kompleks. Kegiatan anak-anak melukis adalah suatu cara untuk mengkomunikasikan perasaan dan gagasannya. tetapi mencerminkan ekspresi kejiwaan yang kuat. bentuk-bentuk tersebut juga merepresentasikan secara simbolis tugas-tugas kehidupan anak-anak yang masih kecil. dan sesungguhnyalah lukisan anak-anak mempunyai makna yang profan yaitu mengandung makna lebih dalam dari pada permukaannya. Bahkan hasil karya lukis anak dapat menunjukkan bagaimana seseorang anak berpikir dan menangani masalah. Mulai masa bayi sampai masa dewasa awal anak melalui beberapa fase dasar perkembangan sebagaimana tercermin dalam seni. sesuai dengan bertambahnya usia anak. sebuah kemampuan untuk memproduksi bentuk pun tercapai. dan tekstur bukan lagi sebagai elemen-elemen fisik. dalam pengertian gestalt visual-motor. Pengalaman-pengalaman paling awal atas bahan merupakan sebuah karakter sensori-motor. Lingkaran mengindikasikan secara simbolis anak yang sedang mengidentifikasi diri sebagai suatu entitas fisik yang terpisah dari ibu dan sekaligus terikat dalam ketergantungan personal dengan ibu tersebut. dan melalui manipulasi dan percobaan visual pada periode ini. perkembangan seni lukis anak ada tahapannya. Secara universal. dimana mereka mengembangkan daya ciptanya.warna.

Identifikasi semacam itu membuat kecendrungan anak laki-laki untuk melebih-lebihkan proyeksi diri menjadi berupa citra yang mengerikan. Namun 147 . Kualitas estetik yang tinggi dari referensi fisik-emosionalnya pada tahun-tahun awal sekarang disubordinasikan pada pengisahan yang ideologis. Tipe-tipe perseptual menjadi nyata dalam seni pada anak usia sembilan tahun ketika ia matang secara sosial. Kemungkinan akan terjadi anak masuk dalam kedua tipe tersebut. tetapi ia sampai pada referensi rasional yang utuh dari bentuk dan ruang skematik pada usia tujuh tahun. atau anak akan menjadi ekstrovert perseptual-sosial dan tergantung pada visual dalam seninya. dan pada kadar tertentu.penutupan-ego anak ketika ia mencoba mengklarifikasi diri dalam konteks lingkungannya. Pada usia enam tahun anak mulai mapan di dalam dunia nyata dan menjadi bagian sosial dari interrelationship (hubungan di dalam struktur). sedangkan anak perempuan akan cenderung mengidealisasi dirinya sendiri dalam citra wanita yang glamor dan matang. Sebelumnya ia telah mengumpulkan detil-detil dalam gambranya ketika ia tumbuh. Seorang anak akan menjadi introvert perseptual-sosial dan haptik dan tidak tergantung pada bidang dalam seninya. dan detil-detil tersebut mencerminkan pertumbuhan inteletualnya. Demikianlah perkembangan kepekaan artistik anak-anak yang terlihat dalam goresan-goresan karyanya pada usia 2 sampai dengan 6 tahun. akan menjadi berorientasi pada kelompok karena adanya kebutuhan untuk mengidentifikasi dengan lebih mendalam peran seksual-diri.

dan keberhasilannya. Karena di lapangan masih banyak kendala khususnya pendidik yang tidak memiliki pengalaman dan 148 .kepekaan artistik ini akhirnya akan lenyap disadari atau tidak disadari. pendidik dapat menilai tingkah laku peserta didik. kegagalankegagalan. pemanfaatan waktu. dan kepuasan anak. Kepekaan artistik anak akhirnya terdesak oleh kemampuan logika yang melihat seluruh isi alam tidak lagi dari penghayatan seni dan imajinasi anak. bagaimana sikap. Pendidikpun dapat menggunakan komentar peserta didik untuk masukkan diagnostik dan remedial. kelancaran dalam menggunakan media. meliputi penilaian proses dan produk. demikian juga untuk penilai/ penafsir dari karya lukis tersebut berdasar kriteria yang ada. maupun proses pendidikan. Mengingat seni sendiri sifatnya subjektif sehingga perlu suatu kesepakatan objektif dalam prosedur-prosedur yang diperlukan. Berdasarkan hal tersebut di atas. Untuk penilaian produk karya seni lukis peserta didik diperlukan kriteria. dan juga lingkungan. Penilaian proses meliputi student self evaluation yang menghasilkan data pengukuran diri sendiri. baik karena perkembangan anak sendiri. Selanjutnya pada waktu proses pembuatan karya lukis. the group critique untuk mengembangkan sikap oto kritis peserta didik dan mengetahui perkembangan peserta didik yang lain. penentuan kriteria pengukuran hasil karya lukis anak pada anak kelas 1 sampai dengan kelas 3 sekolah dasar sesuai yang tercantum dalam KTSP yaitu pada usia tujuh sampai dengan sembilan tahun kiranya harus melihat perkembangan usia dan tahapan perkembangan seni anak Dalam hal ini performance assessment yang digunakan untuk menilai kaya lukis anak. mengetahui masalah-masalah.

pendidikan khusus dalam bidang seni lukis,

maka perlu ada tindakan untuk

melatih pendidik menafsirkan karya lukis peserta didik dengan menggunakan kriteria yang sudah disepakati dan diujicoba. Penentuan kriteria instrumen seni lukis peserta didik yang dikembangkan tentunya harus memenuhi persayaratan instrumen yang baik yaitu persyaratan validitas dan reliabilitas. Validitas isi dan validitas konstruk yang digunakan untuk menguji kriteria instrumen ini. Untuk mencapai validitas isi, disusun kisikisi berdasar teori-teori yang melandasinya kemudian dibahas dalam suatu focus group discussion oleh para ahli di bidang seni rupa (expert judgment) khususnya seni rupa anak. Sedangkan untuk mengistimasi reliabilitas instrumen

menggunakan intereter dengan membandingkan antar penilai. Kriteria instrumen untuk menilai karya seni lukis peserta didik tentunya harus memenuhi komponen rasio dan emosi. Karena untuk menelaah suatu karya seni cenderung penjelasan secara rasio, sedangkan karya seni dominan dengan emosi yang pengungkapannya memerlukan kepekaan intuitif. Dengan demikian diperlukan kepekaan intuitif untuk menjelaskan secara rasional. Pendidik sebagai orang yang melakukan penilaian mestinya dituntut dengan kepekaan intuitif

tersebut, sehingga subjektivitas dalam penilaian dapat diminalisir. Kriteria instrumen digunakan untuk mengembangkan instrumen karya lukis anak yang mencakup proses dan hasilnya. Instrumen karya lukis anak yang dikembangkan harus diketahui karakteristiknya. Karakteristik instrumen penilaian meliputi kesahihan (validity), keandalan (reliability), dan rubrik, yaitu cara

149

pemberian skor. Selain itu hal yang penting adalah keterpakaian instrumen ini oleh guru di sekolah dasar.

G. Pertanyaan Penelitian Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka pikir di atas, maka pertanyaan penelitiannya adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. Bagaimana kriteria instrumen penilaian karya seni lukis anak? Bagaimana validitas konstruk instrumen penilaian karya seni lukis anak? Bagaimana reliabilitas kriteria instrumen yang dikembangkan? Bagaimana rubrik penilaian karya seni lukis anak? Sejauhmana instrumen penilaian karya lukis anak ini dapat digunakan oleh guru?

H. Hipotesis Uji Model Dalam rangka untuk melihat efektifitas model yang dibuat di lapangan, perlu dilakukan uji model. Untuk menguji model tersebut, digunakan hipotesis sebagai panduan untuk melakukan justifikasi apakah efektif atau tidak menurut pengguna. Uji model ini mencakup kriteria atau konstruk instrumen. Berdasarkan permasalahan penelitian dan kajian pustaka yang melandasi dan didukung oleh kerangka pikir, maka hipotesis penelitiannya sebagai berikut: 1. Konstruk instrumen penilaian proses seni lukis anak terdiri dari sikap,

pemanfatan waktu, cara menggunakan alat, kepuasan. 2. Konstruk instrumen penilaian hasil karya lukis anak terdiri atas kreativitas, ekspresi, ketrampilan penggunaan bahan dan alat (teknik). 150

3.

Instrumen yang dikembangkan berdasarkan konstruk instrumen penilaian proses dan produk akan menghasilkan penilaian yang andal (reliable).

4. Instrumen penilaian seni lukis anak yang dikembangkan dapat digunakan guru dalam menilai proses dan hasil karya lukis anak.

151

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Data Uji Coba Berdasarkan langkah-langkah tahapan pengembangan, data hasil uji coba disajikan secara berturut-turut berikut ini. 1. Data Studi Awal a. Hasil Analisis Kurikulum Analisis kurikulum dimaksudkan untuk mengetahui keterkaitan antara tujuan pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan (seni lukis) dengan standar kompetensi lulusan (SKL) tingkat satuan pendidikan sekolah dasar. Tujuan mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan di sekolah dasar dalam standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah adalah sebagai berikut. Mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan: (1) memahami konsep dan pentingnya seni budaya dan keterampilan; (2) menampilkan sikap apresiasi terhadap seni budaya dan keterampilan; (3) menampilkan kreativitas melalui seni budaya dan ketrampilan; (4) menampilkan peran serta dalam seni budaya dan keterampilan dalam tingkat lokal, regional, maupun global (BSNP, 2006:192). Dalam Permen 22 tahun 2006 dinyatakan bahwa Standar Kompetensi Lulusan (SKL) SD/MI secara umum adalah sebagai berikut. 1) Menjalankan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan anak 2) Mengenal kekurangan dan kelebihan diri sendiri 3) Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungannya 4) Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi di lingkungan sekitarnya 5) Menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kreatif

169

6) Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif, dengan bimbingan guru/pendidik 7) Menunjukkan rasa keingintahuan yang tinggi dan menyadari potensinya 8) Menunjukkan kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari 9) Menunjukkan kemampuan mengenali gejala alam dan sosial di lingkungan sekitar 10) Menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan 11) Menunjukkan kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa, negara, dan tanah air Indonesia 12) Menunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni dan budaya lokal 13) Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang 14) Berkomunikasi secara jelas dan santun 15) Bekerja sama dalam kelompok, tolong-menolong, dan menjaga diri sendiri dalam lingkungan keluarga dan teman sebaya 16) Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis 17) Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung Hasil analisis kurikulum menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan yang sangat erat antara tujuan pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan dengan

Standar Kompetensi Lulusan (SKL) tingkat satuan pendidikan sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah (SD/MI). Keterkaitan tersebut disajikan pada Tabel 5. Tabel 5 menunjukkan bahwa mata pelajaran Seni Budaya dan Ketrampilan mempunyai sumbangan yang cukup strategis terhadap pencapaian SKL SD. Hal ini berarti keberhasilan pembelajaran Seni Budaya akan mendukung keberhasilan pencapaian SKL SD, khususnya SKL No 5 sampai dengan 13, kemudian SKL No. 14 dan 15.

170

Tabel 5 Hubungan antara Tujuan Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan (PSB) dengan SKL Satuan Pendidikan SD No. Tjn. PSB 1 2 3 4 Nomor Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan SD 1 2 3 4 5 6 X X X X 7 X X X 8 X X X 9 10 11 12 13 14 15 16 X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X 17

X X X X X

b. Hasil Analisis Kebutuhan Lapangan Analisis kebutuhan lapangan melibatkan 20 orang guru yang mengajar mata pelajaran seni lukis. Ada 14 item yang diidentifikasi dalam studi awal ini, yaitu kurikulum, buku acuan, bahan dan alat, penentuan tema lukisan, minat anak, metode penilaian, prosedur penilaian, komponen yang dinilai, kriteria penilaian, penentuan skor, unsur kreativitas, kesulitan yang dihadapi, pandangan guru, dan partisipasi sekolah/anak dalam lomba lukis. Hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti berkaitan dengan masing-masing item tersebut dapat dielaborasi berikut. Pembelajaran seni lukis anak, 75% menggunakan kurikulum tingkat

satuan pendidikan (KTSP) dan sisanya 25% menggunakan gabungan KTSP dengan kurikulum sebelumnya. Informasi tersebut disajikan pada Gambar 47. KTSP yang dikembangkan berdasarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Permen No 22 tahun 2006 tentang standar isi pendidikan merupakan

kurikulum terbaru yang digunakan pada jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah. Kurikulum yang digunakan sebelumnya adalah kurikulum 2004, yaitu kurikulum berbasis kompetensi (KBK). KTSP pada dasarnya sama dengan

171

kurikulum 2004, perbedaannya hanya level standar kompetensi yang ingin dicapai dan cakupannya.

Gambar 47. Jenis Kurikulum Yang Digunakan Hasil Studi Awal Hasil wawancara menunjukkan bahwa hanya 5% guru menggunakan 85% guru,

buku acuan yang sesuai dengan KTSP. Sebagian besar guru, menggunakan

buku yang sesuai KTSP dan sumber lain, dan 10 % guru

menggunakan buku yang tidak sesuai KTSP. Infomasi kesesuaian buku yang digunakan dengan KTSP disajikan pada Gambar 48. Dalam kaitan dengan penyiapan alat dan bahan pembelajaran seni lukis, teridentifikasi ada 5 (lima) komponen yang menyiapkannya, yaitu

Gambar 48. Kesesuaian Buku Yang Digunakan Hasil Studi Awal

172

siswa. ada 30% tema ditentukan oleh guru sesuai dengan kurikulum. Data tersebut menunjukkan bahwa sekolah secara mandiri belum mampu menyediakan alat dan bahan yang diperlukan untuk pembelajaran Informasi tentang penyiapan alat dan bahan disajikan pada Gambar 49. Komponen pertama. komponen ketiga. komponen keempat. dan komponen kelima. 20% guru dan siswa yang menyiapkan alat dan bahan. 25% siswa yang menyiapkan alat dan bahan pembelajaran. Dalam kaitan dengan penentuan tema lukisan tersebut. 10% tema ditentukan oleh siswa. sekolah dan siswa. serta gabungan siswa. Subjek Yang Menyiapkan Alat dan Bahan Hasil Studi Awal pembelajaran. komponen kedua. Pembelajaran seni lukis diawali dengan penentuan tema yang akan dilukis oleh siswa. guru. dan sekolah. 173 . 10% guru. 40% sekolah dan siswa yang menyiapkan alat dan bahan. 5% guru yang menyiapkan alat dan bahan Gambar 49. Informasi ini disajikan pada Gambar 50. guru dan siswa. guru. dan sekolah yang menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam pembelajaran. dan 60% tema ditentukan bersama antara guru dan siswa. siswa.

Gambar 50. Distribusi minat siswa terhadap pelajaran seni lukis hasil studi awal disajikan pada Gambar 51. Hasil Studi Awal Subjek Yang Menentukan Tema Lukisan Penentuan tema merupakan tahap yang sangat krusial dalam pembelajaran seni lukis karena berkaitan dengan minat siswa. 174 . Minat Siswa dalam Belajar Hasil Studi Awal minat yang sangat tinggi. Hasil identifikasi melalui wawancara diperoleh bahwa menurut persepsi guru ada 75% siswa memiliki Gambar 51. dan 10% siswa tidak berminat dalam melukis. 15% anak kurang berminat.

15% guru menggabungkan metode pengamatan. pengamatan perbuatan. dan 5% guru tidak memahami metode penilaian. 5% 5% guru menggunakan tes perbuatan. Gambar 52.Metode yang digunakan guru dalam melakukan penilaian seni lukis siswa adalah 15% guru menggunakan metode pengamatan. 5% guru menggunakan portofolio. 175 . metode penilaian yang digunakan memiliki karakteristik yang berbeda. 30% guru menggunakan portofolio. Kesesuaian prosedur dalam melakukan penilaian setidaknya dapat memberikan patokan bagi guru dalam upaya menghindari subjektifitas penilai. Dalam melakukan penilaian 60% guru memberikan uraian prosedur yang sesuai dengan langkah-langkah penilaian dan 40% tidak memberikan uraian prosedur. Hasil Studi Awal Jenis Penilaian Yang Digunakan Guru Selanjutnya. portofolio dan tes perbuatan dalam memberikan penilaian terhadap siswa. Informasi tersebut dapat disajikan pada Gambar 52. Informasi tentang uraian dan prosedur dalam melakukan penilaian disajikan pada Gambar 53. 20% guru guru menggunakan pengamatan dan tes menggunakan portofolio dan tes perbuatan. termasuk uraian dan prosedur dalam memberikan penilaian.

Hasil Studi Awal Komponen Penilaian Guru komponen proses. dan 55% komponen proses dan produk.Gambar 53. Informasi hasil studi awal ini disajikan dalam bentuk grafik seperti Gambar 54. 5% Gambar 54. 176 . Hasil Studi Awal Kesesuaian Prosedur Yang Digunakan dalam Penilaian Dalam kaitan dengan komponen-komponen yang dinilai dalam pembelajaran seni lukis selama ini menunjukkan bahwa 40% hanya komponen produk. Gambar 54 memberikan gambaran bahwa secara umum gabungan komponen proses dan produk merupakan objek penilaian yang dilakukan oleh guru.

Setelah menetapkan kriteria untuk setiap komponen penilaian. dan yang menjawab tidak tahu (5%). cara mewarnai produknya. informasi ini disajikan pada Gambar 55. kesesuaian lukisan dengan tema sebesar 25% .Gambar 55. Hasil wawancara peneliti dengan guru 177 . baik. ada 5% guru memberikan kriteria proses yang meliputi cara melukis. semangat. Secara grafik. kombinasi angka dan huruf (5%). Kriteria proses meliputi sikap. pemberian huruf misalnya sangat baik. kesesuaian warna. dan komposisi bidang. Hasil studi awal menunjukkan bahwa ada dua macam penentuan skor dalam menilai karya lukis siswa yang dilakukan. Hasil Studi Awal Kriteria Penilaian Guru Komponen proses dan produk yang dinilai terdiri atas beberapa kriteria. komposisi bidang. Informasi tentang penentuan skor dalam penilaian seni lukis anak hasil studi awal ini disajikan pada Gambar 56. langkah selanjutnya adalah penentuan skor. Gambar 56 menunjukkan bahwa penentuan skor dalam penilaian seni lukis anak yang dilakukan oleh guru pada umumnya melalui pemberian angka. yaitu melalui pemberian angka (80%). kurang baik (10%). Kriteria produk meliputi komposisi warna. keberanian sebesar 70%. Di samping itu.

Gambar 56. Hasil Studi Awal Jenis Penentuan Skor Penilaian oleh Guru tentang apa makna angka yang diberikan misalnya 60. Hasil studi awal menunjukkan bahwa untuk melihat unsur kreativitas dalam sebuah produk hasil karya seni siswa. Hasil Studi Awal Unsur Kreativitas dalam Penilaian oleh Guru 178 . Skor angka yang diberikan pada hasil karya seni lukis anak belum dapat dijadikan sebagai dasar bagi guru untuk melihat kreativitas dari anak. 70% guru mengungkapkan dengan memperhatikan Gambar 57. semuanya serba kemungkinan. guru tersebut tidak memberikan jawaban yang pasti.

20% guru mengungkapkan dan 5% guru mengungkapkan tidak ada kesulitan. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa 40% guru mengungkapkan karena tidak ada pedoman yang Gambar 58. misalnya faktor-faktor yang dinilai kelengkapan peralatan dan bahan yang dibawa tidak memahami seni. semua guru menyarankan perlunya instrumen penilaian yang praktis untuk mempermudah dan menyeragamkan 179 . 35% guru mengungkapkan berasal dari siswa. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi guru dalam melakukan penilaian seni lukis anak ternyata cukup banyak. siswa. dan 30% guru belum mengungkapkan kriteria kreativitas anak. Informasi ini disajikan pada Gambar 58. dan keseriusan siswa. Kemudian peneliti menanyakan kepada guru tentang kesulitan yang dialami dalam melakukan penilaian seni lukis anak. Kesulitan Guru dalam Penilaian Hasil Studi Awal praktis untuk menilai. informasi ini dapat disajikan pada Gambar 57. Secara grafik.kesesuaian unsur-unsur rupa serta kemampuan anak dalam mengembangkan ide. Untuk mengatasi kesulitan tersebut.

Secara grafik. Sajian informasi tersebut dalam bentuk grafik dapat dilihat pada Gambar 60. Hasil Studi Awal Partisipasi Siswa atau Sekolah dalam Kegiatan Lomba 180 . dan 5% siswa tidak pernah mengikuti lomba. 20% siswa jarang mengikuti lomba lukis. Gambar 60. informasi tentang perlu tidaknya instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak disajikan pada Gambar 59. 50% siswa cukup mengikuti lomba lukis. Gambar 59.penilaian yang dilakukan guru. Hasil Studi Awal Tanggapan Guru Perlunya Instrumen Penilaian Partisipasi sekolah atau siswa dalam mengikuti kegiatan lomba seni lukis berdasarkan wawancara yang peneliti lakukan menunjukkan bahwa 25% siswa sering mengikuti lomba lukis.

Tabel 6 Daftar Peserta Studi Awal Inisial resp SW PB SR NH AG PN EL RL RP SW SS WA TR RH ET MR SR RP SL LP Usia (Tahun) 49 36 39 47 54 45 55 50 35 38 32 39 31 33 27 35 29 34 44 28 Asal Sekolah SD Lempuyangan 2 SD Lempuyangan 1 SD Lempuyangan 3 SD Tegal Panggung SDN Widoro SD Suryodiningratan 4 SD Langensari SD Samirono SD Suryodiningratan 3 SD Pujokusumon 3 SD Muh.Indonesia B. Nitikan SD Muh.Indonesia &IPS √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Agama & Sains B. tampak bahwa pembelajaran dan penilaian pendidikan seni lukis sungguh memprihatinkan. Sebaran guru dan latar belakang guru disajikan pada Tabel 6. Danunegaran SD Muh.Danunegaran SD Muh. 181 . terutama jika dilihat dari guru yang melaksanakan penilaian. Gowongan SD Muh. Kauman Jenis Guru Guru kelas Guru bidang studi Bidang Keahlian Seni lukis IPS Olah raga B. Papringan SD Muh.Penumping SD Muh. Papringan SD Muh.Berdasarkan temuan studi awal tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan penilaian seni lukis anak selama ini masih perlu perbaikkan dan peningkatan.Indonesia Psikologi Tek. Pendidikan Lukis & Tari Mencermati informasi yang disajikan pada Tabel 6.Perancis B. Pada umumnya (95%) guru yang mengajarkan dan melaksanakan penilaian seni lukis anak tidak memiliki latar belakang pendidikan atau pengalaman seni.Karangkajen SD Muh.Nitikan SD Muh.

Penyimpulan ini didasarkan pada perbedaan karakteristik pembelajaran seni yang dilakukan oleh setiap guru. 182 . Data Pendefinisian Pada langkah ini didapatkan definisi konstruk instrumen dan kajian atas konsep instrumen karya lukis anak yang dijabarkan dari kajian teori. Adanya perbedaan ini. Berdasarkan uraian hasil studi awal di atas. Gambar tersebut mengungkapkan secara eksplisit bahwa 100% guru yang diteliti menyatakan sangat perlu instrumen penilaian yang praktis sehingga untuk mempermudah dan menyeragamkan penilaian guru. Definisi konstruk instrumen karya seni lukis anak dijabarkan menurut indikator. Selain fakta yang ditunjukkan pada gambar dan tabel tersebut. Kenyataan ini merupakan suatu gambaran tentang pembelajaran dan penilaian seni lukis yang terjadi selama ini. dikhawatirkan akan memicu terjadinya penilaian yang cenderung subjektif. deskripsi. 2. sehingga memerlukan perhatian yang serius dari semua pihak yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan seni lukis. dapat ditarik kesimpulan bahwa instrumen penilaian seni lukis anak perlu dikembangkan untuk mempermudah guru dalam melakukan penilaian yang lebih objektif. perlunya pengembangan instrumen seni lukis didasarkan juga pada fakta yang disajikan pada gambar 59. sehingga kualitas pembelajaran dan penilaian seni lukis masih sangat rendah.Pendidik yang memiliki pemahaman dan pengetahuan tentang seni lukis sangat sedikit (hanya 5%) yaitu mereka yang berlatar belakang pendidikan seni. Perbedaan ini tampak pada Gambar 47-58 serta Tabel 6. Pendefisian ini pada dasarnya dihasilkan dari pendalaman literatur tentang seni dan strategi pendidikannya. kriteria dan rubrik penentuan skor.

c. aspek-aspek atau konsep-konsep yang akan dinilai dan gradasi mutu. Dengan demikian indikator merupakan suatu petunjuk atau acuan sehingga memudahkan guru dalam melakukan penilaian. Indikator keberhasilan karya seni lukis anak dapat dilihat pada lampiran 1 halaman 271. 2005:141). (Novianto. Dengan demikian kriteria atau rubrik merupakan panduan memberi skor. Kriteria atau Rubrik Kriteria atau rubrik adalah pedoman menilai kinerja atau hasil kerja. Novianto (2005: 230) mengemukakan bahwa indikator adalah alat untuk mengukur dan sebagai petunjuk. perbuatan. Dalam penelitian ini rubrik merupakan daftar kriteria yang diwujudkan dengan dimensi-dimensi kinerja. Kemudian. Deskripsi Deskripsi adalah suatu paparan dengan kata-kata yang terperinci (Novianto. b. ciri-ciri. Kriteria adalah kadar ukuran. 2002: 20). Dalam penelitian ini deskripsi didefinisikan sebagai paparan kata-kata yang secara terperinci dari indikator yang diturunkan yang digunakan sebagai dasar untuk mengamati objek penilaian. mulai dari tingkat yang paling sempurna sampai dengan tingkat yang paling rendah. Indikator merupakan tolok ukur (Rohandi.a. Rubrik dapat membantu seseorang untuk menentukan tingkat ketercapaian kinerja. Indikator Indikator adalah suatu karakteristik. 183 . jelas. 2005: 306). dan disepakati penilai dan siswa. patokan untuk mempertimbangkan atau menentukan sesuatu.

dimensi produk. unsur Ketekunan Waktu Kretivitas Ekspresi Teknik • • Penilaian diri Penilaian kelompok Gambar 61. sedangkan dimensi penilaian 184 . Masing-masing dapat disimak pada Gambar 61. Setelah itu dilakukan proses telaah dengan memanfaatkan validasi ahli untuk menperoleh kesepakatan dalam menentukan validasi ahli konstruk penilaian.3. Hasil digunakan sebagai dasar untuk merancang konstruk instrumen secara utuh. media Pengg. Instrumen Penilaian Seni Lukis Hasil Tahap Rancangan tahap sebelumnya ditetapkan menjadi konstruk instrumen pendidikan seni lukis anak. Dimensi penilaian proses adalah penilaian yang ditunjukkan untuk mengamati kompetensi peserta didik dalam berkreasi membuat karya seni lukis. Data Perancangan Pada tahap perancangan. Konfigurasi dari konstruk instrumen yang komprehensif dan utuh mengandung prototipe dimensi proses. konstruk instrumen yang telah didefinisikan pada Awal • • Tanggapan siswa Kesiapan alat Proses Guru Inti Karya Seni Guru Produk Siswa • • • • • • • • Penuangan ide Pengg. dan konten serta sasaran penilaian.

uji coba instrumen. Seminar dilaksanakan untuk mendapat masukan dan saran berkaitan dengan indikator. penyusunan item instrumen. perbaikan item. Kegiatannya meliputi pengembangan indikator. telaah item. dan teknik. Rangkuman hasil FGD kedua disajikan pada Tabel 7. 2) keberanian menggunakan media.produk adalah penilaian yang ditunjukkan untuk melihat kompetensi peserta didik dalam membuat karya cipta seni lukis. Indikator produk terdiri atas kreativitas. analisis dan pembakuan. 3) keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk. Langkah pengembangan berikutnya adalah seminar. ekspresi. Indikator proses teridiri atas tahap awal dan tahap inti. Data Pengembangan Tahapan ini merupakan tahap elaborasi lanjut setelah prototipe hasil perancangan diperoleh pada tahap sebelumnya. 4. Hasil FGD pertama adalah kesepakatan bahwa penilaian seni lukis anak terdiri atas komponen proses dan produk dengan perbandingan 60% untuk proses dan 40% untuk produk. deskripsi dan 185 . Hasil FGD kedua adalah kesepakatan tentang deskripsi masing-masing indikator yang ditemukan pada FGD pertama. Hasil FGD ketiga adalah kesepakatan tentang kriteria masing-masing indikator dan deskripsi yang diperoleh pada dua FGD sebelumnya. Indikator tahap inti meliputi: 1) kelancaran penuangan ide. 4) ketekunan. Tahap awal meliputi: 1) tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat. 2) kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis. 5) pemanfaatan waktu. Komponen proses terdiri atas 5 (lima) indikator dan komponen produk 3 (tiga) indikator.

unsur-unsur bentuk bidang. 3 186 . ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik 2 Kesiapan alat dan bahan Suatu kondisi peserta didik yang sudah yang akan digunakan siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk untuk melukis pembuatan karya lukisnya A.1 1 Indikator Komponen Proses Tahap Awal Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Deskripsi Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi.2 Tahap Inti 1 Kelancaran penuangan ide Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara kualitas ide yang dikembangkan dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut 2 Keberanian menggunakan Keberanian menggunakan media (alat dan media bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik inkonvensional dalam melukis Keberanian menggunakan Keberanian menggunakan titik.Tabel 7. A. serta kebersihan karya yang dihasilkan 3 4 5 B 1 2. Hasil FGD Pertama dan Kedua No A. kebaruan teknik dan konsep cerita Ekspresi Kejelasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema Teknik Kemampuan menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik. garis. kualitas cara penggambaran. Ketekunan Kondisi peserta didik untuk mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh-sungguh Pemanfaatan waktu Penggunaan waktu sebaik-baiknya untuk membuat karya lukis Komponen Produk Kreativitas Keaslian bentuk (kemampuan menciptakan bentuk yang khas).

penskorannya. tampak sejumlah perubahan yang mendasar pada kriteria untuk setiap level penilaian. Perubahan ini dimaksudkan untuk lebih menyederhanakan rubrik penskoran tanpa mengurangi maksud yang ingin dicapai yaitu menciptakan instrumen penilaian seni lukis yang valid dan andal. Hasil FGD Ketiga disajikan dalam Gambar 62. dan 1) kurang. Akhir dari tahap pengembangan adalah kegiatan melakukan uji empiris instrumen. Hasil kesepakatan dalam FGD adalah pedoman dapat digunakan di sekolah. 3) baik. sedangkan hasil seminar disajikan pada Gambar 63. 187 . kriteria penilaian. 5. khususnya berkaitan dengan kriteria dan rubrik penskoran. Pedoman penggunaan intrumen meliputi petunjuk penggunaan. dan kelayakan penyajian yang meliputi sistimatika. Adapun pada Gambar 63. Proses kesepakatan terkait dengan perubahan-perubahan pada instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar melalui FGD dan seminar dilakukan melalui pengkajian bersama yang dilandasi oleh kajian teori yang ada. Diseminasi Tahap diseminasi merupakan tahap sosialisasi instrumen dan pedoman penggunaan instrumen penilaian seni lukis anak pada pendidik seni lukis sekolah dasar. Ada beberapa perubahan mendasar yang diperoleh dari peserta seminar. keterbacaan dan penampilan fisik. Gambar 62 merupakan rubrik skor yang disusun untuk setiap indikator dengan masing-masing indikator terdiri dari 4 level/tingkatan penilaian yaitu: 4) sangat baik. 2) cukup. Data lengkap hasil FGD ini dapat dilihat pada Lampiran 3 halaman 276.kriteria yang telah disepakari pada tahap FGD.

Indikator Kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis • • • • Sangat baik Bertanya seperlunya seputar tema lukisan kepada guru Tidak pernah mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan sangat cepat Memperlihatkan kegairahan yang sangat tinggi untuk memulai melukis Deskripsi Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik Level Kurang • Sangat sering bertanya seputar tema lukisan kepada guru • Sering mengeluh dengan tema yang diberikan • Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan lambat • Memperlihatkan kegairahan yang kurang untuk memulai melukis Sangat baik • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan sangat lengkap • Alat dan bahan sangat siap untuk digunakan • Alat dan bahan sangat mendukung kegiatan melukis Deskripsi Suatu kondisi peserta didik yang sudah siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya Kurang • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan kurang lengkap • Alat dan bahan kurang siap untuk digunakan • Alat dan bahan kurang mendukung kegiatan melukis Level Baik • Jarang bertanya seputar tema lukisan kepada guru • Jarang mengeluh dengan tema yang diberikan • Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan cepat • Memperlihatkan kegairahan yang tinggi untuk memulai melukis Cukup • Sering bertanya seputar tema lukisan kepada guru • Cukup sering mengeluh dengan tema yang diberikan • Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan cukup cepat • Memperlihatkan kegairahan yang cukup tinggi untuk memulai melukis Baik • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan lengkap • Alat dan bahan siap untuk digunakan • Alat dan bahan mendukung kegiatan melukis Cukup • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan cukup lengkap • Alat dan bahan cukup siap untuk digunakan • Alat dan bahan sangat mendukung kegiatan melukis Gambar 62.1. Rangkuman Hasil FGD Ketiga 188 . Indikator Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Tahap Awal 2.

bidang) mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna tidak mendekati warna sebenarnya Kurang berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis • • • Tahap Inti 189 . bidang) mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna mendekati warna sebenarnya Berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis Level Cukup Variasi unsurunsur bentuk (garis. dan warna untuk menghasilkan bentuk yang orisional/khas Baik Variasi unsur-unsur bentuk(garis. bidang) sangat mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna sangat mendekati warna sebenarnya Sangat berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis • • • • Level Cukup • Cukup cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Cukup tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media cukup sesuai dengan karakteristiknya Deskripsi Kemampuan menggunakan media (alat dan bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik bebas dalam melukis 2. Indikator Kelancaran penuangan ide • Kurang Variasi unsurunsur bentuk sedikit (garis. bidang) cukup mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna cukup mendekati warna sebenarnya Cukup berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis • • Kurang • Lambat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Kurang tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media kurang sesuai dengan karakteristiknya • 1. Indikator Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk Deskripsi Kemampuan menggunakan titik. bidang. Indikator Keberanian menggunakan media Level Deskripsi Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara ide yang ada dalam diri siswa dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut 3.Lanjutan Gambar 62 Baik • Cepat dalam menemukan ide • Tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide • Cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Cukup • Cukup cepat dalam menemukan ide • Cukup tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide • Cukup cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media • Baik • Cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media sesuai dengan karakteristiknya Sangat baik • Sangat cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Sangat tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media sangat sesuai dengan karakteristiknya Sangat baik • Sangat cepat dalam menemukan ide • Sangat tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide • Sangat cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Kurang • Lambat dalam menemukan ide • Kurang tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide • Lambat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media • • Sangat baik Sangat baik Variasi unsur-unsur bentuk (garis. garis.

Lanjutan Gambar 62 4. Indikator Pemanfaatan waktu 5. Indikator Tahap Inti Ketekunan Deskripsi Penggunaan waktu sebaik-baiknya dilakukan untuk membuat karya lukis Sangat baik • Menyelesaikan karya lukis dengan sangat tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang sangat tuntas Kurang • Menyelesaikan karya lukis dengan kurang tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang kurang tuntas Cukup • Menyelesaikan karya lukis dengan cukup tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang cukup tuntas Sangat baik • Sangat serius dalam membuat karya lukis • Perhatian terhadap karya lukis sangat terfokus Deskripsi Kondisi peserta didik untuk mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh-sungguh Level Level Kurang • Tidak serius dalam membuat karya lukis • Perhatian terhadap karya lukis kurang terfokus Baik • Menyelesaikan karya lukis dengan tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang tuntas Baik • Serius dalam membuat karya lukis • Perhatian terhadap karya lukis terfokus Cukup • Cukup serius dalam membuat karya lukis • Perhatian terhadap karya lukis cukup terfokus 190 .

Indikator Ekspresi 3.Lanjutan Gambar 62 • • • • • Baik Jarang melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang tinggi memodifikasi objek Warna yang digunakan bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang tinggi menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang banyak dalam dalam Cukup • • • • • Cukup sering melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan cukup bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang cukup banyak Sangat baik • • • • • Tidak pernah melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang sangat tinggi dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan sangat bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang sangat tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang sangat banyak Kurang • • Level • • • Sering melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang kurang memodifikasi objek Warna yang digunakan kurang bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang kurang menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang kurang banyak dalam dalam Deskripsi Keaslian bentuk (kemampuan menciptakan bentuk-bentuk baru) 1. Indikator Kreativitas 2. Indikator Teknik Produk Deskripsi Sangat baik • Sangat jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Sangat tegas/ spontan dalam mengungkapkan garis Sangat berani dalam mengorganisasikan unsurunsur karya lukis Kejelasan dalam mengungkapkan isi/tema/konsep lukisan • Kurang Kurang jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Kurang tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Kurang berani dalam mengorganisasikan unsurunsur karya lukis • • • • Level Sangat baik • Alat dan bahan yang digunakan sangat sesuai karakteristiknya • Sangat teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan sangat bersih Deskripsi Kemampuan menggunakan alat dan bahan sesuai dengan karakteristiknya serta kebersihan karya yang dihasilkan Level Kurang • Alat dan bahan yang digunakan kurang sesuai karakteristiknya • Kurang teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan kurang bersih • Baik Jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Berani dalam mengorganisasikan unsurunsur karya lukis Cukup • Cukup jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Cukup tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Cukup berani dalam mengorganisasikan unsurunsur karya lukis • • • • Baik • Alat dan bahan yang digunakan sesuai karakteristiknya • Teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan bersih Cukup • Alat dan bahan yang digunakan cukup sesuai karakteristiknya • Cukup teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan cukup bersih 191 .

Indikator Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Tahap Awal 2. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik Deskripsi Suatu kondisi peserta didik yang sudah siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek Menerima Memahami Melaksanakan Sangat baik Terpenuhi 3 aspek Lengkap Relevan Siap digunakan Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek Lengkap Relevan Siap digunakan • • • Sangat baik Terpenuhi 3 aspek Menerima Memahami Melaksanakan Level • • • • • • Level • • • • • • Baik Terpenuhi 2 aspek Menerima Memahami Melaksanakan • • • Kurang Terpenuhi aspek Menerima Memahami Melaksanakan 1 • • • Baik Terpenuhi 2 aspek Lengkap Relevan Siap digunakan • • • Kurang Terpenuhi aspek Lengkap Relevan Siap digunakan 1 Gambar 63. Rangkuman Hasil Seminar Instrumen Penilaian Seni Lukis 192 . Indikator Kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis Deskripsi Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi.1.

Level Kurang Terpenuhi 1 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Berani • Tepat • Artistik Kurang Terpenuhi aspek • Berani • Tepat • Artistik 1 1. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik. Indikator Keberanian menggunakan media Level Deskripsi Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara ide yang ada dalam diri siswa dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut 3. Indikator Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk Deskripsi Keberanian menggunakan titik. Indikator Kelancaran penuangan ide Tahap Inti 193 .Lanjutan Gambar 63 Baik Terpenuhi 2 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Kurang Terpenuhi 1 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Baik Terpenuhi 2 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Lambat • Tepat • Sesuai dengan media Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Berani • Tepat • Artistik Baik Terpenuhi aspek • Berani • Tepat • Artistik 2 Level Deskripsi Kemampuan menggunakan media (alat dan bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik bebas dalam melukis 2. bidang. garis.

Lanjutan Gambar 63 4. Indikator Pemanfaatan waktu Tahap Inti Sangat baik • Menyelesaikan karya lukis dengan sangat tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang sangat tuntas Deskripsi Penggunaan waktu sebaik-baiknya dilakukan untuk membuat karya lukis Level Kurang • Menyelesaikan karya lukis dengan kurang tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang kurang tuntas Sangat baik Karya sebelum berakhir selesai waktu Deskripsi Penggunaan waktu sebaik-baiknya dilakukan untuk membuat karya lukis Sangat kurang Karya tidak selesai saat waktu berakhir Level Baik • Menyelesaikan karya lukis dengan tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang tuntas Cukup • Menyelesaikan karya lukis dengan cukup tepat waktu • Memperlihatkan hasil karya lukis yang cukup tuntas Baik Karya selesai tepat waktu Kurang Karya hampir selesai saat waktu berakhir 194 . Indikator Pemanfaatan waktu 5.

kualitas cara penggambaran.Lanjutan Gambar 63 Baik Terpenuhi 2 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Kurang Terpenuhi 1 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Level Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Deskripsi Keaslian bentuk (kemampuan menciptakan bentuk yang khas). serta kebersihan karya yang dihasilkan Level Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Level Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Baik Terpenuhi 2 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Kurang Terpenuhi 1 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Baik Terpenuhi 2 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Kurang Terpenuhi 1 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih 195 . Indikator Kreativitas 3. Indikator Ekspresi 1. Indikator Teknik Deskripsi Kejelasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Produk Sangat baik Terpenuhi 3 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Deskripsi Kemampuan menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya. kebaruan teknik dan konsep cerita 2.

Setelah koefisien G dapat diketahui. dan (3) data uji coba komponen penilaian diri.B. Hasil ujicoba instrumen ini disajikan pada bagian analisis data. penilaian diri dan penilaian kelompok pada pengguna di lapangan. Kegiatan uji coba ini dipaparkan data hasil uji coba pada keempat kawasan tersebut. Instrumen penilaian ini terdiri atas empat komponen utama yakni penilaian proses. Data Uji Coba Bagian ini mendeskripsikan tentang hasil uji coba penggunaan instrumen penilaian yang diujicobakan kepada tiga orang guru sebagai rater atau penilai terhadap penilaian karya seni lukis (beberapa hasil karya lukis anak dapat dilihat pada lampiran 9 hal. maka pada tahapan analisis lanjut (analisis D study) akan didapatkan informasi tentang keputusan seberapa jauh penggunaan 196 .358). Komponen-komponen yang digunakan sebagai acuan untuk melakukan rating oleh para rater telah diperoleh dari hasil pengembangan pada tahap sebelumnya dan dikenal dengan produk tentatif instrumen penilaian karya seni lukis. dalam pengembangan ini yakni sumber variansi murid (P). Analisis Data 1. penilai (R) dan item kriteria penilaian (I). dan (4) data uji coba komponen penilaian kelompok. (2) data uji coba komponen penilaian produk. Hasil analisis G study digunakan untuk mengetahui koefisien reliabilitas alat penilaian yang dikembangkan serta estimasi komponen variansi kesalahan yang diakibatkan oleh berbagai sumber variansi. Data uji coba terdiri dari 4 (empat) komponen yaitu (1) data uji coba komponen penilaian proses. penilaian produk.

48 PI:R ( Interaksi 9244.56 1062 0.90 8728.71 118 43.60 Catatan: JK1 = sums of squares for mean scores.29 Penilai (R) 631942.85 771345.00 16124.04 0. a.29 59 130.55 1259 193.76 193.instrumen yang telah diuji memiliki keberlakuan pada faset yang lebih luas terutama menyangkut kesamaan kondisi pengukuran. Hasil rangkuman analisis G study untuk penilaian proses di kelas 1. dan dapat diterimanya kondisi faset tersebut bagi rater atau penilai yang lain. kelas 2 dan di kelas 3 menunjukkan bahwa estimasi variance true skor yang terbesar dari faset yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) di kelas 1 adalah sumber variansi kesalahan pengukuran komponen item yang nested pada penilai (I:R) dengan proporsi 86.29 24.60 1062 15.60 381079. Hasil Analisis Genova Untuk Estimasi Komponen Variansi 1) Analisis Estimasi Komponen Varians Komponen Penilaian Proses Rangkuman analisis G study dari data uji coba komponen penilaian proses dapat disajikan sebagaimana pada Tabel 8.83 4.66 226469.73 3.98 0.18 35943.71 5130.64 189.43 5174.07 421.63 59 132.86 2 103984.07 15.07 Nested pada Penilai) 800302.00 100.21 dan Penilai) 644940.00 6004.40 457402.29 18 11387. 197 .15 3.69 0.20 2854.28 17. Hal yang sama Tabel 8 Estimasi Komponen Variansi Siswa.40 189997.04 52.18 3.38 2.51 175.29 3432.67 0.14 7701.15 1259 124816.94 118 0.00 297.15 0. JK2 = sums of squares for score effects.23 4.28 1062 17.00 53.84 0.85 594179.14 118 43.53 5874.33 7823.43 PR (Interaksi Murid 6092.28 Murid dan Item 868049.43 222.14 1259 114729.3 59 3.27% dari seluruh komponen varian harapan.95 204981.93 0.77 86.59 2 31.00 0.95 2 113235.16 18 158.00 3.14 4.96 9.60 100.42 % Total Varian 4.27 41.06 457.00 426924.00 242.72 207969.56 I:R 836923.40 31282540.04 62. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Proses Sumber Variansi Murid (P) Kelas 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 JK1 JK2 db KR Varian 0. Penilai.28 413296.62 Total 3395152.46 41.58 0.00 581347.00 18127.68 18 10555.00 100.

Hal ini dapat dipahami karena faktor pemahaman dan latihan atau pengalaman guru sangat dituntut untuk bisa melakukan penilaian yang benar sesuai konstruk yang dikandung oleh alat penilaian yang dikembangkan. Selain itu penggunaan alat penilaian yang dikembangkan ini merupakan cara baru yang berbeda dengan caracara konvensional sebagaimana yang lazim digunakan oleh para guru sebelum cara penilaian ini dikenalkan. 198 .77%.untuk di kelas 2 dan kelas 3 . Sumber variansi komponen yang lain yakni murid (P). interaksi murid dengan penilai (PR). kondisi semacam itu telah bergeser yakni bukan lagi komponen varians item yang bersarang pada penilai (I:R) yang dominan sebagai penentu varians kesalahan pengukuran melainkan penilai atau rater. Sumber variansi item yang bersarang pada penilai (I:R) merupakan komponen varian yang paling dominan. interaksi murid dan item nested pada penilai (PI:R) proporsinya tampak lebih kecil terhadap seluruh komponen variansi hasil penilaian proses kualitas karya seni lukis dibanding proporsi komponen varians penilai (R) dan kriteria penilaian yang nested pada penilai (I:R). dan yang terbesar adalah sumber variansi penilai (R) dengan proporsi masing-masing 53. Kondisi yang demikian berarti bahwa faset yang berkaitan dengan objek pengukuran untuk penilaian proses. Pada uji coba di kelas 2 dan di kelas 3.04% dan 52. hal ini diduga karena guru yang menjadi rater atau penilai baru mengenal model dan konstruk alat penilaian yang dikembangkan. yang dominan mempengaruhi variansi kesalahan pengukuran adalah item yang bersarang pada penilai (I:R) dan untuk uji coba di kelas 2 dan di kelas 3 adalah penilai (R).

33 222531.48 63.60 7.98 db 59 59 59 2 2 2 6 6 6 118 118 118 354 354 354 539 539 539 KR 108.73 5734.81 146747. JK2 = sums of squares for score effects.00 262591.64 62.05 10.23 34039.00 Catatan: JK1 = sums of squares for mean scores.00 275197.77 38434.65 27.96 11558.68 1.90 JK2 6421.07 25.61 5673.86 40.50 96419.00 113876.60 1013040.98 382.03 6.20 32.89 207726. 2) Analisis Estimasi Komponen Varian Komponen Penilaian Produk Rangkuman analisis G study dari data uji coba komponen penilaian produk dapat disajikan sebagaimana pada Tabel 9.00 100. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Produk Sumber Variansi Murid (P) Penilai (R) I:R PR (Interaksi Murid dan Penilai) PI:R ( Interaksi Murid dan Item Nested pada Penilai) Total Kelas 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 JK1 118655.70 26.08 94.52 47746.24 221.80 5104.70 51427.69 0.65 366.60 1083712.90 14230.45 5.67 60.13 25.49 150357.42 Varian 7.71 54775.59 44.48 40.95 1.05 25.25 48209.21 0.83 4719.86 40.29 6405.38 34407.00 39.60 4607.65 234248. Hasil rangkuman analisis Tabel 9 Estimasi Komponen Variansi Siswa.02 251512.25 158537.17 100.98 356.00 0.89 9154.65 53598.15 4.23 86. 199 . peranan penilai (R) merupakan sumber variansi kesalahan pengukuran terbesar.64 232.86 95492.00 121393.50 9. Latihan dan pengalaman bagi penilai dalam menggunakan alat penilaian untuk menilai kualitas karya seni lukis merupakan cara untuk mengurangi kesalahan pengukuran dan untuk meningkatkan tingkat konsistensi dan keajegan hasil penilaian.26 241766.00 100.54 45534.27 233.12 106.00 2.16 1.77 219396.16 % Total Varian 1.20 32.07 91069.25 4733. Penilai.09 95.27 199841.67 209554.Hasil uji coba ini menunjukkan bahwa pada penerapan alat penilaian karya seni lukis untuk komponen proses.00 1050134.83 80.25 213078.51 5248.00 255520.

dan di kelas 3 sebesar 62. Untuk itu masih dibutuhkan juga latihan dan pengalaman bagi penilai dalam menggunakan instrumen penilaian produk untuk menilai kualitas karya seni lukis siswa agar 200 . Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa faset yang berkaitan dengan objek pengukuran untuk penilaian produk.64%. interaksi murid dan item bersarang pada penilai (PI:R) proporsinya tampak lebih kecil terhadap variansi hasil penilaian proses kualitas karya seni lukis dibanding pengaruh kedua sumber variansi penilai (R) dan kriteria penilaian yang bersarang pada penilai (I:R).68%. Berdasarkan analisis ini penerapan alat penilaian karya seni lukis untuk komponen produk. faset yang dominan sebagai variansi kesalahan pengukuran adalah penilai (R) dan item yang bersarang pada penilai (I:R). dan di kelas 3 sebesar 26.67%. Kemudian berikutnya adalah sumber varians kesalahan untuk komponen item yang bersarang pada penilai (I:R) dengan proporsi komponen varians di kelas 1 sebesar 25. di kelas 2 sebesar 60. interaksi murid dengan penilai (PR). Sumber variansi komponen yang lain yakni murid (P).07%.65%.70%. di kelas 2 sebesar 27. peranan penilai (R) tetap merupakan sumber varians kesalahan pengukuran yang terbesar seperti halnya pada penilaian proses. Sumber variansi yang lain tidak begitu besar proporsinya sebagai komponen varians untuk penilaian produk. kelas 2 dan di kelas 3 menunjukkan bahwa estimasi varian true skor yang terbesar dari faset yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) adalah sumber variansi kesalahan pengukuran komponen penilai (R) dengan proporsi komponen varians di kelas 1 sebesar 63.G study untuk penilaian produk di kelas 1.

48 122.00 7478.68 dan Penilai) 2 275758.14 48.23 135.42 1.72 46.72 0.00 3 1407051.88 12. 201 .66 89356.28 5.72 119.98 0.97 1 333164. 3) Analisis Estimasi Komponen Varians Penilaian Diri Rangkuman analisis G study dari data uji coba komponen penilaian diri dapat disajikan sebagaimana pada Tabel 10.45 256501.08 97430.44 2 43028.15 1 245471.00 9405.30 118 19.19 Penilai (R) 2 270613. JK2 = sums of squares for score effects.04 Murid dan Item 2 380667.61 3 0.77 Nested pada Penilai) 3 4.23 PI:R ( Interaksi 1 353340.20 2259.37 87693.93 2885. Penilai.67 899 55542.26 12 7775.48 130.44 59 70.50 204742.40 6594.65 3.75 121.56 100.38 4.00 Total 2 1473892.00 708 10.13 899 50496.71 3 171313.24 3 47.09 1.36 118 35.76 365927.30 899 52561.36 100.03 2.61 59 48.30 118 24.67 3 45.15 1. Sumber varians penilai (R) Tabel 10 Estimasi Komponen Variansi Siswa.16 I:R 2 368044.53 59 111.31 86057.34 708 12.57 46.92 93302.77 5.13 4168.23 270.30 193926.00 45.91 1.00 9119.33 280.75 708 13.12 100.05 12 7307.56 10.28 94688.93 2 178809.96 2 44678.40 2835.90 263.dapat meningkatkan tingkat konsistensi dan keajegan hasil penilaian serta tingkat kesepakatan pemahaman terhadap konstruk sasaran penilaian karya seni lukis untuk komponen produk di antara para penilai.88 1 1354225. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Diri Sumber Variansi Murid (P) Kelas JK1 JK2 db KR Varian % Total Varian 1 166008.20 4175. Hasil rangkuman analisis G study untuk penilaian diri di kelas 1.82 263505.82 349803.00 Catatan: JK1 = sums of squares for mean scores.37 PR (Interaksi Murid 1 256241.10 198782.56 3.80 12 8119.19 129.28 13.96 2 47344.11 1. kelas 2 dan di kelas 3 menunjukkan bahwa estimasi skor true variance dari faset yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) komponennya lebih banyak pada sumber variansi kesalahan pengukuran komponen penilai (R) dan proporsi komponen memiliki item yang nested pada penilai (I:R).

dan di kelas 3 sebesar 47. interaksi murid dan item nested pada penilai (PI:R) proporsi komponen variannya tampak lebih kecil terhadap variansi hasil penilaian proses kualitas karya seni lukis dibanding pengaruh kedua sumber variansi penilai (R) dan kriteria penilaian yang bersarang pada penilai (I:R).45%. Penerapan alat penilaian karya seni lukis untuk komponen penilaian diri. di kelas 2 sebesar 48. Untuk itu masih dibutuhkan juga latihan dan pengalaman bagi penilai dalam menggunakan alat penilaian produk untuk menilai kualitas karya seni lukis siswa untuk dapat meningkatkan tingkat konsistensi dan keajegan hasil penilaian serta tingkat kesepakatan pemahaman terhadap konstruk sasaran penilaian karya seni lukis untuk komponen penilaian diri di antara para penilai. ternyata peranan penilai (R) dan item yang nested pada penilai (I:R) tetap merupakan sumber variansi kesalahan pengukuran yang dominan seperti halnya pada penilaian proses maupun produk. Kondisi yang demikian dapat dimaknai bahwa faset yang berkaitan dengan objek pengukuran untuk penilaian diri. 202 . dan di kelas 3 sebesar 45. yang dominan sebagai komponen variansi kesalahan pengukuran adalah penilai atau rater (R) dan item yang nested pada penilai (I:R). interaksi murid dengan penilai (PR). Sumber variansi komponen variansi kesalahan pengukuran yang lain yakni murid (P).19%. Sumber variansi komponen item yang bersarang pada penilai (I:R) mempunyai proporsi komponen varians di kelas 1 sebesar 46.proporsi komponen varians di kelas 1 sebesar 45.82%.16%. di kelas 2 sebesar 46.67%.24%.

99%.95 34.13 362484.45 12566.03 27.47 1.167%.35 5432.24 4595.22 % Total Varian 1. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Kelompok Sumber Variansi Murid (P) Penilai (R) I:R PR (Interaksi Murid dan Penilai) PI:R ( Interaksi Murid dan Item Nested pada Penilai) Total Kelas 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 JK1 153334.42 2.56 1.77 2.00 1308980.68 4030.60 306093.68 4.72 51.43 265.00 381082.84 20.48 73.60 7.60 151769.65 6.03 Varian 4.43 57873.13 106476.88 265917. Penilai.80 331756.75 35.70 100.64 184566.00 331741.4) Analisis Estimasi Komponen Varian Komponen Penilaian Kelompok Rangkuman analisis G study dari data uji coba komponen penilaian kelompok dapat disajikan sebagaimana pada Tabel 11.53 185882.20 65190.75 13.93 297293.80 4.84 4439.67 252349.67 177281.55 189.91 1. kelas 2 dan di kelas 3 menunjukkan bahwa estimasi varian true skor yang terbesar dari faset yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) adalah sumber varians kesalahan pengukuran komponen penilai (R) dengan proporsi komponen varian di kelas 1 sebesar 61.23 308648.03 6.26 77.60 4558.20 263997.39 27.84 20.87 0.92 162.30 1524234.46 db 59 59 59 2 2 2 12 12 12 118 118 118 708 708 708 899 899 899 KR 126.77 300.20 9797.39%.00 Catatan: JK1 = sums of squares for mean scores.28 255372.75 13.30 1311529.58 4439.00 100.21 305622.67 6106.00 100. dan di kelas 3 sebesar 62.47 77.92 108197.16 17.75 67844.75 265.74 17.59 58671.69 90.73 30.96 54098.16 62. 203 .86 124569.43 165.88 53238.68 53272. di kelas 2 sebesar 62.75 2.85 14466. Hasil rangkuman analisis G study untuk penilaian kelompok di kelas 1.31 73.60 JK2 7461.98 2.10 61.95 53276.07 4241.99 62. JK2 = sums of squares for score effects.93 208358.43 62284. Kemudian berikutnya adalah sumber varians kesalahan pengukuran untuk komponen item yang nested pada penilai (I:R) dengan proporsi komponen Tabel 11 Estimasi Komponen Variansi Siswa.

73%. varians kesalahan pengukuran yang dominan adalah penilai atau rater (R) dan item yang bersarang pada penilai (I:R). Kondisi yang demikian berarti faset yang berkaitan dengan objek pengukuran untuk penilaian kelompok. di kelas 2 sebesar 30. Untuk itu masih dibutuhkan juga latihan dan pengalaman bagi penilai dalam menggunakan alat penilaian kelompok untuk menilai kualitas karya seni lukis siswa untuk dapat meningkatkan tingkat konsistensi dan keajegan hasil penilaian serta tingkat kesepakatan pemahaman terhadap konstruk sasaran penilaian karya seni lukis untuk komponen penilaian kelompok di antara para penilai. Sumber varians komponen yang lain yakni murid (P). penilaian diri dan penilaian kelompok).03%. dapat disimpulkan bahwa komponen penilai (R) atau guru dan kriteria 204 . interaksi murid dan item bersarang pada penilai (PI:R) proporsinya tampak lebih kecil terhadap varians hasil penilaian kelompok kualitas karya seni lukis dibanding pengaruh kedua sumber varians penilai (R) dan kriteria penilaian yang bersarang pada penilai (I:R). produk.varians di kelas 1 sebesar 27. interaksi murid dengan penilai (PR). Dengan demikian penerapan alat penilaian karya seni lukis untuk komponen penilaian kelompok. Berdasarkan analisis komponen varians untuk dapat terbentuknya faset pengukuran yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admisible observations) kualitas karya seni lukis di kelas 1. peranan penilai (R) tetap merupakan sumber variansi kesalahan pengukuran yang terbesar seperti halnya pada komponen penilaian lainnya. kelas 2 dan di kelas 3 pada semua komponen penilaian (proses. dan di kelas 3 sebesar 27.77%.

produk.1989:106) agar memenuhi syarat bagi penggunaan pada faset yang lebih luas. Hasil analisis komponen varians untuk penilaian proses. 1978: 245. b. Oleh sebab itu dalam pengembangan ini. di atas memberi petunjuk bahwa pengembangan alat penilaian kualitas karya seni lukis sudah menunjukkan indikasi kebermaknaan untuk digunakan sebagai sarana melakukan observasi. Analisis Data Hasil G Study (Koefisien G) Hasil G study untuk mengetahui tingkat kebermaknaan penggunaan alat penilaian kualitas karya seni lukis dari uji coba di lapangan dapat dirangkum pada Tabel 12.penilaian yang nested pada penilai (I:R) merupakan sumber varians komponen varians kesalahan pengukuran yang utama.70 (Nunnaly. kedua sumber variansi ini harus diperhatikan secara seksama dalam usaha menyempurnakan alat penilaian kualitas karya seni lukis. Untuk mengetahui apakah hasil pengembangan tersebut telah memenuhi standar minimal. dipakai persyaratan minimal koefisien G Sebesar 0. Koefisien G dari komponen-komponen penilaian kualitas karya seni lukis hasil uji coba menunjukkan bahwa secara keseluruhan pengembangan model instrumen penilaian kualitas karya seni lukis dapat diterima untuk digunakan melakukan penilaian pada faset yang lebih luas atau dengan kata lain telah memenuhi untuk kepentingan faset pengukuran yang berkaitan dengan objek 205 . Untuk maksud tersebut dilakukan analisis lanjut terhadap hasil Genova (koefisien G) dan analisis tingkat perubahan koefisien G pada level analisis hasil D study. Linn. penilaian diri dan penilaian kelompok. Hasil Analisis dipaparkan pada uraian berikut.

Penilaian Diri 4.50 0.81* 0.76* 0.80* 0.65 0.70) >persyaratan <persyaratan <persyaratan >persyaratan <persyaratan <persyaratan <persyaratan <persyaratan <persyaratan >persyaratan >persyaratan >persyaratan >persyaratan <persyaratan <persyaratan Rerata Koefisien G 0.62 0. maka terapan model penilaian pada faset di kelas 1 sudah memberikan bukti bahwa model yang dikembangkan dapat digunakan untuk penilaian pada faset yang lebih luas.65* 0.71.61 0.67* 0.63 0. Produk 3. Proses 2.66* 0.71* *) memenuhi syarat menurut kriteria standard minimal Linn.86* 0. Semua komponen Sasaran Uji (Faset) Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Jumlah Item 7 7 7 3 3 3 5 5 5 5 5 5 15 15 15 Koefisien G 0. 0.68* 0.67* 0. Tabel 12 Rangkuman Hasil G Study dan Koefisien G Pada Berbagai Komponen dan Berbagai Faset Terapan Uji Coba Komponen 1.pengukuran (universe of admissible observations) pada kualitas karya seni lukis anak yakni ditunjukkan oleh indeks koefisien G sebesar 0.70.74* 0.91* 0.75* 0.67* Keterangan (Linn ≥ 0. Jika dilihat dari karakteristik faset uji coba untuk semua komponen. tetapi jika memperhatikan koefisien G pada terapan faset di kelas 2 dan di kelas 3. Penilaian Kelompok 5. keterampilan dan pengalaman agar diperoleh hasil pengukuran yang konsisten. maka model yang dikembangkan masih memerlukan penyempurnaan dalam hal administrasi penyelenggaraan yakni harus meningkatkan keterampilan guru sebagai penilai atau rater agar ada peningkatan pemahaman.82* 0. 206 .

c. Untuk menjawab pertanyaan ini dan tujuan tersirat didalamnya analisis pada setiap hasil D study dapat digunakan. Analisis Data Hasil D Study Tujuan analisis D study adalah untuk menjawab pertanyaan rancangan D study yang mana harus dipilih dan seberapa banyak butir komponen penilaian harus dicakup sebagai sarana mengukur dan menilai kualitas karya lukis sehingga dapat menunjukkan kebermaknaan untuk faset yang lebih luas. sedangkan untuk komponen penilaian produk dan penilaian diri masih memerlukan upaya penyempurnaan. 207 . Berdasarkan elaborasi sumber variansi komponen variansi kesalahan pengukuran sebagaimana telah dibahas di atas.Jika ditilik pada rerata komponen penilaian pada masing-masing kelompok ternyata untuk komponen penilaian proses dan penilaian kelompok telah memenuhi syarat untuk digunakan pada faset yang lebih luas. 1) D Study untuk Penilaian Proses Rangkuman hasil analisis D-Study Genova untuk uji coba penilaian proses berturut-turut dapat disajikan pada Tabel 13 sampai dengan Tabel 15. Dengan mencermati setiap tahap rancangan D study pada komposisi besar sampel tertentu maka akan dapat diperoleh informasi koefisien G dan juga diperoleh informasi berapa kenaikan indeks kebermaknaan pada koefisien G setelah satu butir komponen penilaian dilibatkan untuk mengukur atau menilai. Uraian berikut memaparkan hasil-hasil analisis D study ini. maka tindakan untuk melatih guru agar berpengalaman dalam menggunakan alat penilaian ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kebermaknaan penggunaan model ini pada faset yang lebih luas.

12791 0.01 Tabel 13 berturut-turut memberi gambaran tentang perubahan koefisien Generalizability untuk berbagai komposisi ukuran sampel P.60437 0. R.36976 0.75341 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0.Tabel 13 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Proses dan Tingkat Perubahan pada Kelas 1 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. penilai cukup menggunakan indikator 1 dan 2 saja Jika ingin meningkatkan tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi maka jumlah indikator penilaian 208 . R INF I INF.60.22681 0.70. yaitu 0.04 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 001-006 001-007 60 60 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 6 7 0.02 0.42308 0.91448 0. maka tingkat atau koefisien kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.88424 0.07 0. R = 3 dan I = 1) maka tingkat atau koefisien kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.02 0. dan I. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2 (dapat dilihat pada Tabel 6).82088 0. Untuk komponen penilaian proses di kelas 1 jika komposisinya hanya menggunakan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60.90163 0.30556 0. Artinya penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai sebesar 60%. demikian seterusnya untuk rancangan 001-003 diperoleh koefisien sebesar 0.50659 0. dengan P = 60.46809 0.15 0. Berdasarkan kenyataan ini maka dapat dikatakan bahwa untuk mencapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas.85936 0. GENERALIZABILITY COEF.75.82.

PHI Selisih Koefisien Genova 0. penilai harus menggunakan indikator 1.45%.04322 0.37765 0. 2. Artinya penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai sebesar 38%.13 0. 4 dan 5 sekaligus.harus ditambah.63655 0. Berdasarkan kenyataan ini maka dapat dikatakan bahwa untuk mencapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas.03 0. Jika ingin meningkatkan tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi maka 209 .51. jumlahnya tergantung pada kondisi faset yang bersangkutan Tabel 14 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Proses dan Tingkat Perubahan pada Kelas 2 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.57128 0.04223 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.66933 0. minimal 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2 memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. GENERALIZABILITY COEF. R INF I INF.06 0.04082 0. Tabel 14 memberi gambaran bahwa penilai dalam menggunakan komponen penilaian proses hanya dengan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60.03868 0.01 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 001-006 001-007 60 60 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 6 7 0.70.02 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (D study design nomor 001-002. 3.65527 0.04396 dalam konteks ini jika 7 (tujuh) indikator digunakan maka akan dicapai koefisien kesepahaman dan kesepakatan sebesar 91.38.04 0.03500 0.50637 0. dengan P = 60.61040 0.02724 0.

06 0.58. Berdasarkan kenyataan ini maka dapat dikatakan bahwa untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas.03720 0.04489 0.01 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 001-006 001-007 60 60 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 6 7 0.63724 0.04111 0.61338 0. dalam konteks ini jika 7 (tujuh) 210 .02 0. penilai harus menggunakan indikator 1 sampai dengan 6 secara simultan. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.Tabel 15 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Proses dan Tingkat Perubahan pada Kelas 3 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan kaoefisien sebesar 0. GENERALIZABILITY COEF.65421 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002. R INF I INF. PHI Selisih Koefisien Genova 0.04594 0.04339 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.02894 0.52.66689 0.51665 0.02 0.39.57735 0. dengan P = 60.04673 jumlah indikator penilaian harus ditambah.04 0.39277 0. jumlahnya tergantung pada kondisi faset yang bersangkutan Pada Tabel 15 memberi gambaran bahwa penilai dalam menggunakan komponen penilaian proses di kelas 3 jika hanya dengan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60. jumlahnya tergantung pada kondisi faset yang bersangkutan. Jika ingin meningkatkan tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi maka penggunaan indikator penilaian harus ditambah.12 0.

Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.08 001-001 001-002 001-003 60 60 60 3 3 3 1 2 3 0.69%. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.indikator digunakan semua dicapai koefisien kesepahaman dan kesepakatan mencapai 66.51678 0. R INF I INF.76238 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. begitu seterusnya untuk rancangan 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.76.40882 Tabel 16 memberi gambaran bahwa penilai dalam menggunakan komponen penilaian produk di kelas 1 jika hanya menggunakan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60. 2) D Study untuk Penilaian Produk Rangkuman hasil analisis D-Study Genova untuk uji coba penilaian produk berturut-turut dapat disajikan pada Tabel 16 sampai dengan Tabel 18. Menurut kenyataan ini maka dapat dikatakan bahwa untuk penggunaan komponen penilaian produk agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas. Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai sebesar 52%. dengan P = 60. penilai cukup menggunakan indikator 1 dan 2 saja.68. GENERALIZABILITY COEF.68142 0.16 0. Tabel 16 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Produk dan Tingkat Perubahannya pada Kelas 1 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.18733 0. Tetapi jika 211 . PHI Selisih Koefisien Genova 0.31555 0.52.

memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.15429 0. dengan P = 60.21486 Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai sebesar 25%.39900 0. Kenyataan ini menunjukkan bahwa untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas.49896 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2. GENERALIZABILITY COEF. R INF I INF. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.ingin diperoleh tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi maka penggunaan indikator 1 dan 2 bersama sekaligus dengan indikator nomor 3 sangat dianjurkan. Tabel 17 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian produk di kelas 2 hanya dengan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60.08359 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. penilai harus menggunakan semua indikator yang ada dan dianjurkan untuk menambah indikator lain yang sejenis untuk melengkapi jabaran konstruk yang ada sehingga 212 .40 begitu seterusnya untuk rancangan 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0.50.10 001-001 001-002 001-003 60 60 60 3 3 3 1 2 3 0.15 0.25. Tabel 17 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Produk dan Tingkat Perubahan pada Kelas 2 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.24922 0.

R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2. Penambahan indikator sejenis yang relevan untuk meningkatkan kebermaknaan penilaian produk di kelas 2 memerlukan telaah lanjut tersendiri.35.35483 0.62263 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0. dengan P = 60. R INF I INF. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas.29672 dapat dicapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi. Artinya 35% penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian yang dipakai. GENERALIZABILITY COEF.17 0.Tabel 18 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Produk dan Tingkat Perubahan pada Kelas 3 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.Tabel 18 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian produk di kelas 3 hanya dengan satu indikator (D study design nomor 001-001 dengan P = 60.62.52 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.10 001-001 001-002 001-003 60 60 60 3 3 3 1 2 3 0. 213 .21953 0. penilai harus menggunakan indikator yang ada dan ditambah lagi indikator lain untuk melengkapi jabaran konstruk yang ada sehingga dapat dicapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi. Jika penilai menggunakan dua indikator (D study design nomor 001-002. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.52380 0.12330 0.

63. dengan P = 60. Tabel 19 Tabel 19 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Diri dan Tingkat Perubahan pada Kelas 1 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.58 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.05585 0.08861 0. penilai paling tidak harus menggunakan indikator 1. 3 dan 4.05 0.3) D Study untuk Penilaian Diri Rangkuman hasil analisis D-Study Genova untuk uji coba penilaian diri berberturut-turut dapat disajikan pada Tabel 19 sampai dengan Tabel 21.09222 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian diri di kelas 1 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60.12 0.08319 0.58001 0. Artinya 46% penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian diri.07412 0. 214 .68342 0.63325 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0. Untuk mencapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi seyogianya semua indikator yang ada digunakan secara simultan. 2.46320 0.66370 0.03 0. R INF I INF. PHI Selisih Koefisien Genova 0.70). GENERALIZABILITY COEF. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.02 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0.46.

03553 memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.57735 0.70).45963 0.60852 0. dengan P = 60.03495 0.13 0. 215 . PHI Selisih Koefisien Genova 0.46 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.03 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0.53. penilai paling tidak harus menggunakan semua indikator yang ada.02818 0.33. R INF I INF. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangn D study nomor 001-002. GENERALIZABILITY COEF. Artinya penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian diri sebesar 33%. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0. Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Diri dan Tingkat Perubahan pada Kelas 2 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.05 0. R = 3 dan I = 1) Tabel 20.53194 0.03184 0.07 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0.Tabel 20 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian diri di kelas 2 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60.02095 0.32649 0. Untuk mencapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang lebih tinggi semua indikator yang ada dipakai dan jika memngkinkan ditambah lagi indikator lain dan digunakan secara simultan.

Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Diri dan Tingkat Perubahan pada Kelas 3 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.05125 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0. R INF I INF.38.58839 0. 4) D Study untuk Penilaian Kelompok Rangkuman hasil analisis D-Study Genova untuk uji coba penilaian kelompok berturut-turut dapat disajikan pada Tabel 22 sampai dengan Tabel 24. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.63114 0.Tabel 21.51820 0.04 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.52 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.03369 0.38162 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancngan D study nomor 001-002.04534 0.70). 216 .59.03 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0. dengan P = 60.65991 0.05721 Tabel 21 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian diri di kelas 3 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60. Artinya 38% penilai memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian diri yang dipakai.07 0.05482 0. GENERALIZABILITY COEF. penilai paling tidak harus menggunakan semua indikator yang ada.14 0.

70). memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. 217 . tetapi jika ingin mendapatkan tingkat kebermaknaan yang lebih tinggi penggunaan semua butir indikator yang ada lebih dianjurkan. Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian kelompok yang dipakai sebesar 55%. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.79. PHI Selisih Koefisien Genova 0.16 0.71 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.19211 0. GENERALIZABILITY COEF.55058 0.55. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0. penilai sudah cukup hanya menggnakan butir indikator 1 dan 2 saja. dengan P = 60.03 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0.85966 0.54316 Tabel 22 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian kelompok di kelas 1 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.08 0.48748 0.71016 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.32230 0.04 0.78611 0.83052 0.41635 0.Tabel 22 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Kelompok dan Tingkat Perubahan pada Kelas 1 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF. R INF I INF.

218 .64703 0.26759 0.04 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0. PHI Selisih Koefisien Genova 0. R = 3 dan I = 1) memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan (reliabilitas dalam koefisien G) sebesar 0.73. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0. dengan P = 60.09 0.19586 0.78569 0. tetapi jika ingin mendapatkan tingkat kebermaknaan yang lebih tinggi dianjurkan menggunakan semua butir indikator yang ada. Tabel 24 memberi gambaran bahwa jika penilai dalam menggunakan komponen penilaian kelompok di kelas 3 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60.10856 0.05 0. Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.32757 0. R INF I INF.47823 0. maka besarnya koefisien reliabilitas dalam koefisien G adalah sebesar 0. GENERALIZABILITY COEF. penilai sudah cukup hanya menggnakan butir indikator 1 dan 2 saja.17 0.36.65 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0.70).82088 0.Tabel 23 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Kelompok dan Tingkat Perubahan pada Kelas 2 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.48. Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian kelompok yang dipakai sebesar 48%. R = 3 dan I = 1).73331 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2.37840 Tabel 23 memberi gambaran bahwa jika penilai menggunakan komponen penilaian kelompok di kelas 2 hanya dengan satu indikator (rancangan D study nomor 001-001 dengan P = 60.

35993 0.63.73765 0.Tabel 24 Estimasi Koefisien Generalizability Penilaian Kelompok dan Tingkat Perubahan pada Kelas 3 D STUDY DESIGN NO SAMPLE SIZE $P INF.17 0. 2.26813 0.62784 0.06 0. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa ada beberapa rancangan dari hasil D study yang 219 .53 begitu seterusnya untuk design 001-003 didapatkan koefisien sebesar 0. 3 dan 4 saja. Untuk penggunaan komponen penilaian agar dicapai kesepahaman dan kesepakatan yang memenuhi tingkat observasi yang dapat diterima untuk faset yang lebih luas (0. Secara umum hasil analisis D study telah memberi petunjuk dan alternatif penggunaan alat penilaian kepada pengguna instrumen penilaian kualitas karya seni lukis untuk mempertimbangkan penggunaan indikator-indikator penilaian yang relevan dengan sasaran yang dinilai dan mempertimbangkan tingkat reliabilitas kebermaknaan hasil penilaian. PHI Selisih Koefisien Genova 0. R = 3 dan I = 2) yakni indikator 1 dan 2. dengan P = 60. GENERALIZABILITY COEF.10883 0.05 001-001 001-002 001-003 001-004 001-005 60 60 60 60 60 3 3 3 3 3 1 2 3 4 5 0.10 0. memiliki tingkat kesepahaman dan kesepakatan sebesar 0. tetapi jika ingin mendapatkan tingkat kebermaknaan yang lebih tinggi dianjurkan menggunakan semua butir indikator yang ada.32818 0.70). R INF I INF.37912 Artinya tingkat kesepahaman dan kesepakatan penilai terhadap penggunaan konstruk instrumen penilaian kelompok yang dipakai sebesar 36% Jika penilai menggunakan dua indikator (rancangan D study nomor 001-002.19630 0.52934 0.69224 0. penilai sudah cukup hanya menggunakan butir indikator 1.

Koefisien Interrater pada Penilaian Proses Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian proses instrumen pendidikan seni lukis anak untuk kelas 1. Rangkuman hasil perhitungan konsistensi dan kesepakatan tiga rater tersebut disajikan pada Tabel 25 untuk kelas 1. yaitu 0. Tabel 26 untuk kelas 2. berikut ini disajikan hasil analisis koefisien interrater.75.73. 2. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. a.mereferensikan perlunya penambahan indikator untuk komponen penilaian tertentu yaitu untuk komponen-komponen penilaian produk dan penilaian diri untuk sasaran penilaian kelompok tertentu.71 . peneliti menggunakan koefisien Cohen’s Kappa. Koefisien interrater merupakan salah satu sarana untuk melihat tingkat konsistensi atau keajegan antar penilai dalam memberikan rating terhadap unjuk kerja karya seni lukis siswa. dan antara UD dengan DI sebesar 0. 220 . yaitu sebesar 0. dan kelas 3.73. Data Uji Coba Koefisien Interrater Konfirmasi data hasil uji coba dari hasil Anava. ada 7 (tujuh) item yang menjadi objek penilaian. Tabel 25 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketujuh item yang dirating tersebut. Pada penilaian proses ini. dan Tabel 27 untuk kelas 3. Untuk keperluan ini. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai proses kelas 1 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. kelas 2.

Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 67%.77 0.75 0. Nilai koefisien κ 221 .72 2 0.65 0.78 0.78 0.82 3 ST 4 5 6 7 1 2 3 UD 4 5 6 7 UD DI 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 73% . Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan.68 0.67.Tabel 25 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Proses Kelas 1 Penilai 1 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.74 0.70.70 0. Tabel 26 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketujuh item yang dirating tersebut. yaitu 0.70 0.67.81 0.68 0.68 0. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas.71 0.70.79 0.72 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0. yaitu 0.81 0.64. yaitu sebesar 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai proses kelas 2 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.67 0.84 0.63 0.

61 0.66 0.69 0. syarat 1978:245 Linn.76 0.64 0.66 0. 1989:106).74 0.73 0.64 0.81 0.6 0.Tabel 26 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Proses Kelas 2 Penilai ST 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 1 0. yaitu 0.77 0.81 0.56 0.63 0.62 0.57 0.67 0.73 0.46 0.63 2 0.59 0.71 3 4 5 6 7 1 2 3 UD 4 5 6 7 UD DI 0.75 0.65 0.62 0.61 2 0.9 0.68 0. Tabel 27 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Proses Kelas 3 Penilai ST 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 1 0.76 0. sehingga instrumen tersebut mendekati koefisien reliabilitas.69 0.71 222 .67 0.85 0.68 0.70 0.7 0.65 3 4 5 6 7 1 2 3 UD 4 5 6 7 UD DI tersebut mendekati kriteria minimal yang digunakan.56 0.70 (Nunally.57 0.75 0.55 0.

88.73. Tabel 29 untuk kelas 2. yaitu sebesar 0. Pada penilaian produk ini.74. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai produk kelas 1 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. ada 3 (tiga) item yang menjadi objek penilaian.88.70. Tabel 28 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga item yang dirating tersebut. dan kelas 3. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.Tabel 27 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketujuh item yang dirating tersebut.63.68. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. yaitu 0. dan Tabel 30 untuk kelas 3. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menila proses kelas 3 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas. Rangkuman hasil perhitungan konsistensi dan kesepakatan tiga rater tersebut disajikan pada Tabel 28 untuk kelas 1. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. Koefisien Interrater pada Penilaian Produk Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian proses instrumen pendidikan seni lukis anak untuk kelas 1.88. dan antara UD dengan DI sebesar 0. kelas 2. yaitu 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0.88. b. 223 . Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 73%. yaitu sebesar 0. yaitu 0.

dan antara UD dengan DI sebesar 0. Pada Tabel 29 menunjukkan koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga item yang dirating tersebut.88 0. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas.88 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan.92 0.85 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.97.97.92 0. yaitu sebesar 0.Tabel 28 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Produk Kelas 1 Penilai ST 1 1 UD 2 3 1 DI 2 3 0. yaitu 0. 224 .70. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai produk kelas 2 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.92 0.70.97. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 97%. yaitu 0.85 0.96.88 2 3 1 UD 2 3 Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 88%. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas. yaitu 0.85 0.

90 0.98 0.93 0.98 2 3 1 UD 2 3 Tabel 30 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga item yang dirating tersebut.93 0.95 0.93 0.93.92. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.Tabel 29 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Produk Kelas 2 Penilai ST 1 1 UD 2 3 1 DI 2 3 0.89. dan antara UD dengan DI sebesar 0.95 0.98 0. yaitu sebesar 0.95 0. 225 .98 0.95 0.98 0.82 2 3 1 UD 2 3 secara keseluruhan dalam menilai produk kelas 3 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.98 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai Tabel 30 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Produk Kelas 3 Penilai ST 1 1 UD 2 3 1 DI 2 3 0.94.93 0. yaitu 0.93 0.98 0.

dan Tabel 33 untuk kelas 3.82. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan.70. Tabel 31 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas. ada 5 (lima) item yang menjadi objek penilaian. Koefisien Interrater pada Penilaian Diri Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian diri instrumen pendidikan seni lukis anak untuk kelas 1. Pada penilaian diri ini. 226 . yaitu 0. kelas 2. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas.82. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam menilai penilaian diri kelas 1 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. c.70.82. dan antara UD dengan DI sebesar 0. yaitu 0. Tabel 32 untuk kelas 2. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman yang sama terhadap konstruk penilaian sebesar 82%. yaitu 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.84. dan kelas 3. Rangkuman hasil perhitungan konsistensi dan kesepakatan tiga rater tersebut disajikan pada Tabel 31 untuk kelas 1. yaitu sebesar 0.Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman yang sama terhadap kostruk penilaian sebesar 92%.

yaitu 0.85 0.00 0.88 0.84 0.89 0.54 0.81 0.63 ST 3 4 5 1 2 UD 3 4 5 U D D I Tabel 32 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut.77 1.84. Tingkat konsistensi dan kesepakatan Tabel 32 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Diri Kelas 2 Penilai ST UD 1 2 3 4 5 1 2 3 4 1.86 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0.89 2 0.Tabel 31 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Diri Kelas 1 Penilai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 0.57 0.00 0.96 0.77 0.53 0.85 0.74 5 U D D I 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 0.92 0.76 0.66 0.67.88 0.65.88 0.87 0.73 227 . Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.56 0.73 0.50 0.55 0.74 0.

91 0.84.75.76 0. yaitu sebesar 0.82 2 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan.70.62 0. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat reliabilitas.0% ketiga penilai tersebut memiliki 228 .82 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa 75.76 0. yaitu 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman yang sama terhadap konstruk penilaian sebesar 72%.82 0.80 0. yaitu sebesar 0.75.penilai secara keseluruhan dalam menilai penilaian diri kelas 2 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.72. Tabel 33 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Diri Kelas 3 Penilai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 0.82 ST 3 4 5 1 2 UD 3 4 5 U D D I Tabel 33 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam peilaian diri kelas 3 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga pasangan tersebut.79 0. yaitu 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.91 0.85 0.76 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0.40 0.68.50 0.

2005: 143). dan antara UD dengan DI sebesar 0. Nilai koefisien κ tersebut lebih kecil dari kriteria minimal yang digunakan.51. Tabel 35 untuk kelas 2.48. Tabel 34 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam penilaian kelompok kelas 1 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa ketiga pasangan tersebut.70. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 51%.64 (Cohen & Swerdlik. sehingga instrumen tersebut memenuhi syarat reliabel. dan kelas 3.44.59. ada 5 (lima) item yang menjadi objek penilaian. yaitu 0. 229 . yaitu 0. Koefisien Interrater pada Penilaian Kelompok Ada 3 (tiga) orang rater yang memberikan rating pada penilaian kelompok instrumen pendidikan seni lukis anak untuk kelas 1. d. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0. yaitu sebesar 0. Pada penilaian kelompok ini. kelas 2. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. dan Tabel 36 untuk kelas 3. Rangkuman hasil perhitungan konsistensi dan kesepakatan tiga rater tersebut disajikan pada Tabel 34 untuk kelas 1.persepsi dan pemahaman yang sama terhadap kostruk penilaian. yaitu 0. sehingga instrumen tersebut belum memenuhi syarat koefisien reliabilitas.

48 0.34.33.61 5 0.67 0. yaitu 0.53 0. yaitu 0.38 0.29.46 Tabel 35 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut.54 0.29 0.U D D I 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Tabel 34 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Kelompok Kelas 1 Penilai ST UD 1 2 3 4 5 1 2 3 4 0.37.56 0.49 0.69 0. sehingga instrumen tersebut belum memenuhi syarat koefisien reliabilitas.70.52 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0.49 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam penilaian kelompok kelas 2 dapat diketahui dengan mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut.55 0. yaitu sebesar 0. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 33%. Nilai koefisien κ tersebut lebih kecil dari kriteria minimal yang digunakan. 230 .37 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.

27 0.32 0. Kemudian antara ST dengan DI sebesar 0.57 ST 3 4 5 1 2 UD 3 4 5 U D D I 231 . yaitu 0.20 0.48 2 0.82 0.21 0.39 ST 3 4 5 1 2 UD 3 4 5 U D D I Tabel 36 memberi gambaran bahwa koefisien κ (kappa) antara ST dengan UD diperoleh dengan mengambil rata-rata koefisien kappa kelima item yang dirating tersebut.65 0.71 0.75.46 0.41 0.55 0.76 0.76 0.74.26 0.14 0.77 0.76 0.78 0.72 0.62 0.69.83 0.86 0.45 0. Tingkat konsistensi dan kesepakatan penilai secara keseluruhan dalam penilaian kelompok kelas 3 dapat diketahui dengan Tabel 36 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Kelompok Kelas 3 Penilai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 0.Tabel 35 Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai pada Penilaian Kelompok Kelas 2 Penilai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 0.11 0. dan antara UD dengan DI sebesar 0.79 2 0.68 0.42 0.20 0.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya. deskripsi.73. 1. Penilaian Proses Penilaian proses instrumen penilaian seni lukis dilakukan oleh 3 (tiga) orang rater terhadap 60 orang siswa dengan 7 (tujuh) indikator instrumen. Tahap revisi dalam setiap tahap pengembangan berkaitan dengan revisi indikator. Namun demikian. Revisi Produk Bagian revisi produk dalam pengembangan instrumen penilaian seni lukis dalam disertasi ini mengikuti revisi produk dalam setiap tahap pengembangan. kriteria dan rubrik. sehingga C.mengambil rata-rata koefisien kappa tiga pasangan tersebut. instrumen tersebut memenuhi syarat koefisien reliabilitas. Kajian Produk Hasil analisis tingkat kesepahaman dan kesepakatan rater (reliabilitas interrater) dengan menggunakan koefisien Genova dan koefisien Cohen Kappa menunjukkan bahwa instrumen penilaian seni lukis telah memenuhi syarat/kriteria minimal reliabilitas yang digunakan. yaitu 0. dan pedoman penggunaan instrumen penilaian seni lukis pada tahap focus group discussion (FGD) dan seminar. yaitu sebesar 0. D. perbandingan kedua pendekatan tersebut disajikan berikut. Nilai koefisien κ tersebut lebih besar dari kriteria minimal yang digunakan. Nilai tersebut memberi gambaran bahwa ketiga penilai tersebut memiliki persepsi dan pemahaman terhadap konstruk penilaian sebesar 73%.70. analisis kesepakatan dan kesepahaman rater terhadap konstruk instrumen digunakan dua 232 .

peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan/menetapkan relibilitas antar penilai.04 Tabel 37 memberi gambaran bahwa koefesien Genova untuk kelas 1 pada penilaian proses lebih tinggi dibandingkan dengan koefisien kappa.67 0. Walaupun demikian. Dengan demikian. Oleh karena itu. Koefisien Genova untuk Kelas 2 sama dengan koefisien kappa.73 0. 233 . peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan relibilitas antar rater. Dalam kaitan dengan ini. Hal ini memberi gambaran bahwa kedua pendekatan yang digunakan memberikan hasil yang sama.67 Koefisien Kappa 0.91 0.73 Selisih 0.00 0. Jadi varians kesalahan dengan metode Genova lebih diperhitungkan dalam analisis. estimasi dengan Genova lebih memberikan hasil kesepakatan dan kesepahaman rater yang lebih kuat dibandingkan dengan koefisien kappa.67 0.pendekatan yaitu pendekatan Genova dan pendekatan Cohen Kappa. pendekatan Genova lebih lengkap karena melibatkan tiga dimensi sementara pendekatan kappa hanya dua dimensi. sementara metode Cohen kappa tidak diperhatikan.18 0. Rangkuman perbandingan koefisien kedua pendekatan tersebut disajikan pada Tabel 37 Tabel 37 Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Proses Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Koefisien Genova 0.

Sama dengan kasus kelas 2, koefisien Genova untuk kelas 3 lebih rendah dibandingkan dengan koefisien kappa. Dalam kasus ini, peneliti masih menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova dibandingkan dengan koefisien kappa. Hal tersebut disebabkan karena sumber varians kesalahan pada analisis koefisien kappa belum diperhatikan sehingga memberikan hasil yang lebih tinggi. Jika varians kesalahan diperhatikan maka kemungkinan akan memberikan hasil yang kurang lebih sama dengan yang diperoleh melalui koefisien Genova.
2. Penilaian Produk

Penilaian produk instrumen penilaian seni lukis dilakukan oleh 3 (tiga) orang rater terhadap 60 orang siswa dengan 3 (tiga) indikator instrumen. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, analisis kesepakatan dan kesepahaman rater terhadap konstruk instrumen digunakan dua pendekatan yaitu pendekatan Genova dan pendekatan Cohen Kappa. Rangkuman perbandingan koefisien kedua pendekatan tersebut disajikan pada Tabel 38. Tabel 38 Perbadingan koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Produk Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Koefisien Genova
0,76 0,49 0,62

Koefisien Kappa
0,88 0,97 0,92

Selisih 0,12 0,48 0,30

Tabel 38 memberi gambaran bahwa koefesien Genova untuk kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 pada penilaian produk lebih rendah dibandingkan dengan koefisien 234

kappa. Dalam kaitan dengan ini, estimasi dengan Genova lebih memberikan hasil kesepakatan dan kesepahaman rater yang lebih kuat dibandingkan dengan koefisien kappa. Oleh karena itu, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan relibilitas antar rater. Pendekatan Genova lebih lengkap karena melibatkan tiga dimensi, sementara pendekatan kappa hanya dua dimensi. Jadi varians kesalahan dengan metode Genova lebih diperhitungkan dalam analisis, sementara metode Cohen kappa tidak diperhatikan, Sumber varians kesalahan pada analisis koefisien kappa

belum diperhatikan sehingga memberikan hasil yang lebih tinggi. Jika varians kesalahan diperhatikan maka kemungkinan akan memberikan hasil yang kurang lebih sama dengan yang diperoleh melalui koefisien Genova. Dengan demikian, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan/menetapkan relibilitas antar penilai.
3. Penilaian Diri

Penilaian diri pada instrumen penilaian seni lukis dilakukan oleh 3 (tiga) orang rater terhadap 60 orang siswa dengan 5 (lima) indikator instrumen. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, analisis kesepakatan dan kesepahaman rater terhadap konstruk instrumen digunakan dua pendekatan yaitu pendekatan Genova dan pendekatan Cohen Kappa. Rangkuman perbandingan koefisien kedua pendekatan tersebut disajikan pada Tabel 39.

235

Tabel 39 Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Diri Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Koefisien Genova
0,68 0,61 0,66

Koefisien Kappa 0,82 0,72 0,75

Selisih 0,14 0,11 0,09

Tabel 39 memberi gambaran bahwa koefesien Genova untuk kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 pada penilaian diri lebih rendah dibandingkan dengan koefisien kappa. Dalam kaitan dengan ini, estimasi dengan Genova lebih memberikan hasil kesepakatan dan kesepahaman rater yang lebih kuat dibandingkan dengan koefisien kappa. Oleh karena itu, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan relibilitas antar rater, Pendekatan Genova lebih lengkap karena melibatkan tiga dimensi sementara pendekatan kappa hanya dua dimensi. Jadi varians kesalahan dengan metode Genova lebih diperhitungkan dalam analisis sementara metode Cohen kappa kesalahan pada analisis koefisien kappa

tidak diperhatikan, Sumber varians

belum diperhatikan sehingga memberikan hasil yang lebih tinggi. Jika varians kesalahan diperhatikan maka kemungkinan akan memberikan hasil yang kurang lebih sama dengan yang diperoleh melalui koefisien Genova. Dengan demikian, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan/menetapkan relibilitas antar penilai.

236

4. Penilaian Kelompok

Penilaian kelompok pada instrumen penilaian seni lukis dilakukan oleh 3 (tiga) orang rater terhadap 60 orang siswa dengan 5 (lima) indikator instrumen. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, analisis kesepakatan dan kesepahaman rater terhadap konstruk instrumen digunakan dua Tabel 40 Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Kelompok Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Koefisien Genova
0,86 0,82 0,74

Koefisien Kappa 0,51 0,33 0,73

Selisih 0,35 0,49 0,01

pendekatan yaitu pendekatan Genova dan pendekatan Cohen Kappa. Rangkuman perbandingan koefisien kedua pendekatan tersebut disajikan pada Tabel 40. Tabel 40 memberi gambaran bahwa koefesien Genova untuk kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 pada penilaian kelompok lebih tinggi dibandingkan dengan koefisien kappa. Dalam kaitan dengan ini, estimasi dengan Genova lebih memberikan hasil kesepakatan dan kesepahaman rater yang lebih kuat dibandingkan dengan koefisien kappa. Oleh karena itu, peneliti menganjurkan untuk menggunakan koefisien Genova sebagai dasar dalam menentukan relibilitas antar rater.
5. Tren Perkembangan Koefisien Genova

Tren perkembangan koefisien Genova hasil penilaian 3 (tiga) orang rater pada penilaian instrumen seni lukis baik untuk penilaian proses, produk, penilaian 237

diri, dan penilaian kelompok disajikan pada gambar berikut.
a. Penilaian Proses Kelas 1

Koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 1 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater, Gambar 64 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 1 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Sebagai bahan perbandingan, kedua persamaan disajikan sebagai berikut. Tabel 41 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 1 Persamaan Linear
y = 0,0461x + 0,6355

Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik)
y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985

dengan: y = estimasi koefisien Genova,
x = banyak item yang dirating oleh rater,

Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 82,34%, sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam

memprediksi sebesar 97,5% sebagaimana yang tampak pada Gambar 64. Berdasarkan tingkat determinasi ini, tampak bahwa persamaan non-linear memberikan besarnya koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 4 ditulis

238

x =4, maka koefisien Genova untuk masing-masing persamaan diperoleh dengan

mensubstitusikan x =4 pada kedua persamaan seperti ditunjukan berikut: Tabel 42 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =4 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0,0461x + 0,6355 = 0,0461(4) + 0,6355 = 0,8199 Persamaan non-linear y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985 = −0,0114(4) 2 + 0,1374(4) + 0,4985 = 0,8657

Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 4 menggunakan persamaan linear adalah 0,8199, sedangkan bila menggunakan persamaan non-linear adalah 0,8657. Adapun koefisien Genova yang

sesungguhnya untuk x =4 adalah 0,85936. Hasil ini menunjukkan bahwa persamaan non-linear memberikan hasil yang lebih akurat, namun penafsirannya
Y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985

R2 = 0,975

Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear

,

,

,

Gambar 64. Tren perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 1 adalah banyak item yang dirating maksimum 6, karena lebih dari itu ditafsirkan tidak banyak berubah, walau pada grafik menunjukkan penurunan. Karakteristik

ini muncul sebagai akibat sifat-sifat yang berlaku pada persamaan non-linear 239

(kuadratik). Pada jumlah item < 6, kurva cenderung naik itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. Namun kurva akan cenderung turun setelah mencapai titik kulminasi yaitu untuk x =6. Akibatnya untuk jumlah item>6 kecenderungan estimasi koefisien Genova akan mengalami penurunan. Secara matematik penentuan titik kulminasi atau titik maksimum dilakukan dengan menggunakan konsep turunan pertama fungsi sebagai berikut:

y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985 y 1 = 2.(−0,0114) x + 0,1374
Nilai x yang menyebabkan y bernilai maksimum diperoleh dengan mmbuat dengan nol ditulis y 1 = 0

y1

y 1 = 2.(−0,0114) x + 0,1374 0 = 2.(−0,0114) x + 0,1374 x= 0,1374 = 6,026 ≈ 6 2.0,0114

Jadi estimasi nilai koefisien Genova maksimum terjadi pada saat item yang dirating sebanyak 6 buah. Adapun nilai koefisien Genovanya dientukan sebagai berikut. y = −0,0114 x 2 + 0,1374 x + 0,4985

= −0,0114(6) 2 + 0,1374(6) + 0,4985 = 0,9125
b. Penilaian Proses Kelas 2

Koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 2 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang

240

0099 x 2 + 0.0442 x + 0. Tabel 43 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 2 Persamaan Linear y = 0. Berdasarkan tingkat determinasi ini. Sebagai bahan perbandingan. Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 85. maka koefisien Genova untuk masingmasing persamaan diperoleh dengan mensubstitusikan persamaan seperti ditunjukan berikut: x =6 pada kedua 241 . Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 6 ditulis x =6. Gambar 65 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 2 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik).dirating oleh rater. kedua persamaan disajikan sebagai berikut. sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam memprediksi sebesar 98. tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik.2798 dengan: y = estimasi koefisien Genova.3984 Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0.30%. x = banyak item yang dirating oleh rater.47%.1233 x + 0.

Tabel 44 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =6 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0.2798 = 0.6632 Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 6 menggunakan persamaan linear adalah 0.0099(6) 2 + 0. adanya pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti.3984 = 0.0442(6) + 0.6636 Persamaan non-linear y = −0.0442 x + 0.3984 = 0. kurva cenderung naik itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating.2798 = −0. Hasil ini menunjukkan bahwa persamaan non-linear memberikan hasil yang lebih akurat. Pada jumlah item < 6.1233 x + 0. Berdasarkan Gambar 65. Karakteristik ini muncul sebagai akibat sifatsifat yang berlaku pada persamaan non-linear (kuadratik). pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan karakteristik yang unik.6636.65527. Namun kurva akan cenderung turun setelah mencapai titik kulminasi yaitu u ntuk x = 6. Adapun koefisien Genova yang sesungguhnya untuk x =6 adalah 0. terutama untuk jumlah item yang banyak.0099 x 2 + 0.6632. Secara matematis penentuan titik kulminasi atau titik maksimum dilakukan dengan 242 . Akibatnya untuk jumlah item >6 kecenderungan estimasi koefisien Genova akan mengalami penurunan. Namun demikian. sedangkan menggunakan persamaan non-linear 0.1233(6) + 0.

y = − 0 ,0099 x 2 + 0 ,1233 x + 0 , 279

R2 = 0,983

Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear

,

,

,

Gambar 65. Tren perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 2 menggunakan konsep turunan pertama fungsi sebagai berikut:
y = −0,0099 x 2 + 0,1233x + 0,2798 y 1 = 2.(−0,0099) x + 0,1233

Nilai

x

yang menyebabkan

y

bernilai maksimum diperoleh dengan

menyamadengankan y 1 dengan nol ditulis y 1 = 0
y 1 = 2.(−0,0099) x + 0,1233 0 = 2.(−0,0099) x + 0,1233 x=

0,1233 = 6.227 ≈ 6 2.0,0099

Jadi estimasi nilai koefisien Genova maksimum terjadi pada saat item yang dirating sebanyak 6 buah. Adapun nilai koefisien Genovanya dientukan sebagai berikut.
y = −0,0099 x 2 + 0,1233 x + 0,2798

243

= −0,0099(6) 2 + 0,1233(6) + 0,2798 = 0,6632
c. Penilaian Proses Kelas 3

Koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 3 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater, Gambar 66 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian proses di kelas 3 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Sebagai bahan perbandingan, kedua persamaan disajikan sebagai berikut. Tabel 45 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 3 Persamaan Linear
y = 0,0413x + 0,4144

Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0,0095 x 2 + 0,1174 x + 0,3003

dengan:

y = estimasi koefisien Genova,
x = banyak item yang dirating oleh rater,

Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 84,64%, sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam

memprediksi sebesar 98,10% sebagaimana tampak pada Gambar 66. Berdasarkan tingkat determinasi ini, tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan 244

memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 3 ditulis
x =3, maka koefisien Genova untuk masing-masing persamaan diperoleh dengan

mensubstitusikan x =3 pada kedua persamaan seperti ditunjukan berikut: Tabel 46 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =3 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0,0413x + 0,4144 = 0,0413(3) + 0,4144 = 0,5383 Persamaan non-linear y = −0,0095 x 2 + 0,1174 x + 0,3003 = −0,0095(3) 2 + 0,1174(3) + 0,3003 = 0,567

Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 3 menggunakan persamaan linear adalah 0,5383, sedangkan bila menggunakan

y = − 0 , 0095 x 2 + 0 ,1174 x + 0 , 3003

R2 = 0,981

Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear

,

,

,

Gambar 66. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 3

245

persamaan non-linear sebesar 0,567.

Adapun koefisien Genova yang

sesungguhnya untuk x =3 adalah 0,57735. Dari hasil ini tampak persamaan nonlinear memberikan pendekatan yang lebih akurat. Namun demikian, adanya pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti, terutama untuk jumlah item yang banyak. Berdasarkan Gambar 66, pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan karakteristik yang unik. Karakteristik ini muncul sebagai akibat sifat-sifat yang berlaku pada persamaan non-linear (kuadratik). Pada jumlah item < 6, kurva cenderung naik itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. Namun kurva akan cenderung turun setelah mencapai titik kulminasi yaitu untuk x =6. Akibatnya untuk jumlah item>6 kecenderungan estimasi koefisien Genova akan mengalami penurunan. Secara matematis penentuan titik kulminasi atau titik maksimum dilakukan dengan menggunakan konsep turunan pertama fungsi sebagai berikut: y = −0,0095 x 2 + 0,1174 x + 0,3003 y 1 = 2.(−0,0095) x + 0,1174 Nilai
x

yang menyebabkan

y

bernilai maksimum diperoleh dengan

menyamadengankan y 1 dengan nol ditulis y 1 = 0
y 1 = 2.(−0,0099) x + 0,1174 0 = 2.(−0,0095) x + 0,1174 0,1174 x= = 6,179 ≈ 6 2.0,0095 Jadi estimasi nilai koefisien Genova maksimum terjadi pada saat item yang dirating sebanyak 6 buah. Adapun nilai koefisien Genovanya sebagai berikut.

246

y = −0,0095 x 2 + 0,1174 x + 0,3003 = −0,0095(6) 2 + 0,1174(6) + 0,3003 = 0,6627
d. Penilaian Produk Kelas 1

Koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 1 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater, Gambar 67 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 1 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Sebagai bahan perbandingan, kedua persamaan disajikan sebagai berikut. Tabel 47 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 1 Persamaan Linear y = 0,1228 x + 0,4079 Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0,0418 x 2 + 0,2902 x + 0,2685

dengan:

y = estimasi koefisien Genova,
x = banyak item yang dirating oleh rater,

Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 96,2%, sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam

memprediksi sebesar 100% sebagaimana tampak pada Gambar 67. Berdasarkan tingkat determinasi ini, tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan 247

memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 3 ditulis
x =3, maka koefisien Genova untuk masing-masing persamaan diperoleh dengan

mensubstitusikan x =3 pada kedua persamaan seperti ditunjukan berikut: Tabel 48 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =3 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0,1228 x + 0,4079 = 0,1228(3) + 0,4079 = 0,7763 Persamaan non-linear y = −0,0418 x 2 + 0,2902 x + 0,2685 = −0,0418(3) 2 + 0,2902(3) + 0,2685 = 0,7629

Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 3 menggunakan persamaan linear adalah 0,7763, sedangkan menggunakan persamaan non-linear 0,7629. Adapun koefisien Genova yang sesungguhnya

y = − 0 , 0418 x 2 + 0 , 2902 x + 0 , 268

R 2 = 1,000

Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear

,

,

,

Gambar 67. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 1

248

untuk x =3 adalah 0,76238. Hasil ini menunjukkan bahwa persamaan non-linear memberikan pendekatan yang lebih akurat. Namun demikian, adanya

pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti, terutama untuk jumlah item yang banyak. Berdasarkan Gambar 67, pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan kurva cenderung monoton naik untuk setiap jumlah item yang dirating, itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. Karena kecenderungan kurva yang monoton naik, maka nilai maksimum koefisien genova terjadi untuk banyaknya item yang dirating 3 atau x = 3 , adapun nilai koefisien Genovanya sebagai berikut: y = −0,0418 x 2 + 0,2902 x + 0,2685 = −0,0418(3) 2 + 0,2902(3) + 0,2685 = 0,7629
e. Penilaian Produk Kelas 2

Koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 2 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater, Gambar 68 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 2 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating. Sebagai bahan perbandingan, kedua persamaan disajikan sebagai berikut.

249

0249(2) 2 + 0. Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 98.0496 = −0.2245(2) + 0.3990 x =2 pada kedua 250 . maka koefisien Genova untuk masingmasing persamaan diperoleh dengan mensubstitusikan persamaan seperti ditunjukan berikut: Tabel 50 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =2 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0.0496 = 0.1327 = 0.1249 x + 0.2245 x + 0. tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik.0249 x 2 + 0.2245 x + 0.1249 x + 0. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 2 ditulis x =2.1327 Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0.1327 = 0. sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam memprediksi sebesar 100%.0249 x 2 + 0. x = banyak item yang dirating oleh rater.0496 dengan: y = estimasi koefisien Genova.69%.1249(2) + 0.3825 Persamaan non-linear y = −0. Berdasarkan tingkat determinasi ini.Tabel 49 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 2 Persamaan Linear y = 0.

2245 x + 0 .3990. Namun demikian.3990. Dari hasil ini tampak persamaan non-linear memberikan pendekatan yang lebih akurat. untuk Adapun koefisien Genova yang sesungguhnya x =2 adalah 0. maka nilai maksimum koefisien Genova terjadi untuk banyaknya item yang dirating 3 atau x = 3 . Gambar 68. Karena kecenderungan kurva yang monoton naik. itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. 0249 x 2 + 0 . adapun nilai koefisien Genovanya sebagai berikut: 251 .Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 2 menggunakan persamaan linear adalah 0. adanya pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 2 Gambar 68 menunjukkan bahwa pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan kurva cenderung monoton naik untuk setiap jumlah item yang dirating. y = − 0 . 0496 R 2 = 1. sedangkan menggunakan persamaan non-linear 0. . terutama untuk jumlah item yang banyak.3825.000 Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear . .

tampak dengan jelas bahwa persamaan non-linear akan memberikan hampiran koefisien Genova untuk jumlah item tertentu dengan lebih baik.0496 = 0. x = banyak item yang dirating oleh rater Tingkat determinasi model persamaan linear dalam memprediksi sebesar 97. Penilaian Produk Kelas 3 Koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 3 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh rater.2245 x + 0. Kedua persamaan itu memberikan pendekatan koefisien Genova yang berbeda untuk masing-masing banyaknya item yang dirating.2326 Persamaan non-linear ( Persaman Kuadratik) y = −0.1339 x + 0.1020 dengan: y = estimasi koefisien Genova.4989 f. kedua persamaan disajikan sebagai berikut.76%.0309 x 2 + 0.2245(3) + 0.0249 x 2 + 0.y = −0.0249(3) 2 + 0. sedangkan tingkat determinasi model persamaan non-linear dalam memprediksi sebesar 100%. Sebagai contoh untuk banyak item yang dirating ( x ) sebanyak 1 ditulis x =1. Sebagai bahan perbandingan. Berdasarkan tingkat determinasi ini.2416 x + 0. maka koefisien Genova untuk masing- 252 .0496 = −0. Gambar 69 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian produk di kelas 3 dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non-linear (kuadratik). Tabel 51 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 3 Persamaan Linear y = 0.

3665 Persamaan non-linear y = −0. Namun demikian.3127 Jadi estimasi koefisien Genova jika jumlah item yang dirating oleh penilai 2 menggunakan persamaan linear adalah 0. 2416 x + 0 . 000 Gambar 69. .0309 x 2 + 0. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 3 253 . Adapun koefisien Genova yang sesungguhnya untuk x =2 adalah 0.2416(1) + 0.0309(1) 2 + 0. 0309 x 2 + 0 .2416 x + 0. . Keterangan: Kurva Data Asli Kurva Linear Kurva Non-Linear y = − 0 . .1339 x + 0. sedangkan menggunakan persamaan non-linear 0.1339(1) + 0. adanya pengkuadratan item menyebabkan perhitungan harus dilakukan dengan lebih teliti.1 R 2 = 1 .1020 = 0.1020 = −0.3990.masing persamaan diperoleh dengan mensubstitusikan persamaan seperti ditunjukan berikut: x =1 pada kedua Tabel 52 Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =1 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear Persamaan Linear y = 0.2326 = 0.3825. Hasil ini menunjukkana bahwa persamaan non-linear memberikan pendekatan yang lebih akurat.3990.2326 = 0.

0496 = 0.0524 x + 0. Tabel 53 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Diri Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Linear y = 0. itu berarti koefisien Genova semakin bertambah seiring bertambahnya item yang dirating. Karena kecenderungan kurva yang monoton naik.355 y = −0. dan kelas 3 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh penilai.2902 x + 0.4989 g.0682 x + 0.0165 x 2 + 0.4475 non-linear y = −0.0496 = −0. maka nilai maksimum koefisien genova terjadi untuk banyaknya item yang dirating 3 atau x = 3 .1454 x + 0.0249 x 2 + 0.terutama untuk jumlah item yang banyak. Penilaian Diri Kecenderungan koefisien Genova pada penilaian diri di kelas 1.2685 254 .2245 x + 0. pendekatan dengan persamaan non-linear menunjukan kurva cenderung monoton naik untuk setiap jumlah item yang dirating. kelas 2.3390 y = 0.015 x 2 + 0.067 x + 0.2963 y = 0.1671x + 0.418 x 2 + 0.2245(3) + 0.0249(3) 2 + 0.1808 y = −0. Gambar 70 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian diri ketiga kelas dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non linear dengan rumusan sebagai berikut. Berdasarkan gambar di atas. adapun nilai koefisien genovanya sebagai berikut: y = −0.

0155x2 + 0. Hal ini dibuktikan oleh tren koefisien Genova yang lebih tinggi untuk setiap peningkatan jumlah item yang dirating dibandingkan dengan koefisien Genova di kelas 1.dengan tingkat determinasi model linear persamaan tersebut dalam memprediksi sebesar 88.60% (untuk kelas 2 ) dan 100% (untuk kelas 3). y = −0. 99. Berdasarkan koefisien determinasi tampak dengan jelas bahwa pendekatan dengan persamaan non-linear memberikan estimasi nilai koefisien Genova yang lebih baik.996 . Adapun nilai estimasi maksimum 255 .26% (untuk kelas 1 ).02% (untuk kelas 2 ) dan 90. 991 Keterangan Kurva Linear Kurva Non-Linear Kurva Data Asli Kelas 1 Kurva Data Asli Kelas 2 Kurva Data Asli Kelas 3 .2685 R2 = 1. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Diri Gambar 70 menunjukkan bahwa estimasi besarnya nilai koefisien Genova baik dengan persamaan non-linear maupun persamaan linear memberi gambaran bahwa konsistensi dan kestabilan rater dalam merating di kelas 2 dan kelas 3 lebih baik dibandingkan dengan di kelas 1.1808 x R 2 = 0.87% (untuk kelas 3). 92.0165x2 + 0.10% (untuk kelas 1 ). .0418 x 2 + 0. R 2 = 0 . . .2902 x + 0. y = −0. y = −0. sedangkan koefisien determinasi model non-linear persamaan tersebut dalam memprediksi sebesar 99.1454x + 0.3390 . . Begitu juga konsistensi rater dalam merating kelas 3 lebih baik dari kelas 2. .000 Gambar 70.1671 + 0. .

1671x + 0. Penilaian Kelompok Kecenderungan koefisien Genova pada penilaian kelompok di kelas 1. 256 .3390 = 0.418 x 2 + 0.1454(4) + 0.1808 = 0.koefisien Genova dengan pendekatan persamaan non-linear pada penilaian diri kelas 1. Gambar 71 memberikan gambaran bahwa kecenderungan perkembangan koefisien Genova pada penilaian diri ketiga kelas dapat didekati dengan persamaan linier maupun persamaan non linear dengan rumusan sebagai berikut.1454 x + 0.2902 x + 0.2685 =0.0165(5) 2 + 0.0155(4) 2 + 0.6745 h.0165 x 2 + 0.6726 Penilaian kelas 2: y = −0.1808 = −0. dan kelas 3 menunjukkan perkembangan yang meningkat seiring dengan peningkatan jumlah item yang dirating oleh penilai. Besarnya nilai koefisien genova tersebut dihitung sebagai berikut: Penilaian kelas 1: y = −0.0155 x 2 + 0. 5 buah.418(5) 2 + 0. 2 dan 3 berturut-turut terjadi pada saat jumlah item 4 buah.6038 Penilaian kelas 3: y = −0.2685 = −0. kelas 2.1671(5) + 0. dan 5 buah.2902(5) + 0.3390 = −0.

40% (untuk kelas 3).2953 .2114 x + 0.994 .3139 Non-linear y = −0.020 x 2 + 0. Dari koefisien determinasi tampak dengan jelas bahwa pendekatan dengan persamaan non-linear memberikan estimasi nilai koefisien Genova yang lebih baik.4458 y = 0.20% (untuk kelas 1 ). .2953 y = −0. y = −0.0918x + 0. . .0209 x 2 + 0.5259 y = 0. y = −0.21% (untuk kelas 1).2127 x + 0.2114 x + 0.70 % (untuk kelas 3).0824x + 0.3796 .997 Gambar 71.40% (untuk kelas 2 ) dan 99.3796 y = −0.0209 x 2 + 0. y = − 0.1992 x + 0.0215 x 2 + 0.1992 x + 0.1728 x R2 = 0.Tabel 54 Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Kelompok Kelas Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Linear y = 0.0215 x 2 + 0. sedangkan koefisien determinasi model non-linear persamaan tersebut dalam memprediksi sebesar 99. 90. R = 0. R2 = 0.1728 dengan tingkat determinasi model linear persamaan tersebut dalam memprediksi sebesar 89. 99.75% (untuk kelas 2) dan 93.2127x + 0. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Kelompok 257 .0739x + 0.0201 2 + 0.992 2 Keterangan Kurva Linear Kurva Non-Linear Kurva Data Asli Kelas 1 Kurva Data Asli Kelas 2 Kurva Data Asli Kelas 3 . . .

2127(5) + 0.3796 = −0.0215(5) 2 + 0.8153 Penilaian kelas 3: y = −0.1992(5) + 0.2114(5) + 0. Hal ini ditunjukkan oleh varians skor yang 258 .7365 Secara keseluruhan pendekatan persamaan nonlinear lebih akurat dibanding dengan persamaan linear.2953 = −0.1728 = −0.1728 =0. Setidaknya hal itu dibuktikan oleh tren koefisien Genova yang lebih tinggi untuk setiap peningkatan jumlah item yang dirating dibandingkan dengan koefisien Genova di kelas 1. Begitu juga konsistensi rater dalam merating kelas 2 lebih baik dari kelas 3 .1992 x + 0.2114 x + 0.0209 x 2 + 0.2127 x + 0.Pada Gambar 71 tampak bahwa pendekatan nilai koefisien Genova baik dengan persamaan non-linear maupun persamaan linear memberi gambaran bahwa konsistensi dan kestabilan rater dalam merating di kelas 2 dan kelas 3 lebih baik dibandingkan dengan di kelas 1.8523 Penilaian kelas 2: y = −0.2953 = 0. 2 dan 3 berturut-turut terjadi pada saat jumlah item 5 buah.020(5) 2 + 0.0215 x 2 + 0. Besarnya nilai koefisien genova tersebut dihitung sebagai berikut: Penilaian kelas 1: y = −0.0209(5) 2 + 0.3796 = 0. Adapun nilai hampiran maksimum koefisien Genova dengan pendekatan persamaan non-linear pada penilaian kelompok kelas 1.020 x 2 + 0.

Data-data yang diperoleh melalui ujicoba dianalisis untuk membuktikan validitas dan reliabilitas menggunakan program Genova. dapat diketahui instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar yang terdiri dari instrumen penilaian proses. walau pendekatan yang lebih akurat dibanding persamaan linear. 259 . dan instrumen penilaian kelompok telah mengalami serangkaian ujicoba. Koefisien G dari komponenkomponen penilaian kualitas karya seni lukis hasil uji coba menunjukkan. instrumen penilaian produk. secara keseluruhan pengembangan model instrumen penilaian karya seni lukis dapat diterima untuk digunakan melakukan penilaian pada faset yang lebih luas atau telah memenuhi untuk kepentingan faset pengukuran yang berkaitan dengan objek pengukuran (universe of admissible observations) pada kualitas karya seni lukis anak yakni ditunjukkan oleh indeks koefisien G sebesar 0. instrumen penilaian seni lukis anak sekolah dasar telah memenuhi syarat validitas dan reliabilitas untuk digunakan dalam proses penilaian secara luas. instrumen penilaian diri. Harga maksimum koefisien Genova adalah harga maksimum kurve persamaan nonlinear.71. Dengan demikian.dapat dijelaskan oleh persamaan nonlinear. Namun hal yang perlu diperhatikan bahwa jumlah item paling banyak yang dinilai adalah pada nilai maksimum koefisien reliabilitas. Berdasarkan uraian tentang hasil dan pembahasan. Setiap persamaan nonlinear menunjukkan ada penurunan keoefisein Genova bila jumlah item atau indikator ditambah. Oleh karena pembaca harus hati-hati dalam menafsirkan persamaan nonlinear.

Komponen proses terdiri atas 7 (tujuh) item. penilaian diri.BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. penggunaan bahasa. Komponen yang menjadi objek penilaian meliputi proses. Reliabilitas telah teruji melalui teknik generalizeability theory (Teori G) dan interrater Cohen’s Kappa. komponen yang dinilai. dan keterpakaian di SD telah teruji. 1. Spesifikasi instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD berbentuk lembar pengamatan yang di dalamnya terdiri atas indikator. Karakteristik instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak yang mencakup validitas. dan komponen penilaian kelompok 5 (lima) item. dan rubrik (kriteria). Buklet terdiri atas latar belakang. reliabilitas. Pedoman penilaian sudah divalidasi oleh guru pengguna yang meliputi keterpakaian. 3. komponen penilaian diri 5 (lima) item. 318) 260 . Koefisien Genova untuk instrumen ini sebesar 0. dapat disusun kesimpulan sebagai berikut. produk. komponen produk 3 (tiga) item. petunjuk penggunaan.70. Pedoman penggunaan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak dalam bentuk buklet. 2. dan penilaian kelompok. rasional.73 telah memenuhi kriteria minimal yang dipersyaratkan yaitu 0. dan contoh aplikasi. Validitas telah teruji melalui proses focus group discussion sebanyak 3 kali dan seminar sekali. Pengguna instrumen ini adalah pendidik sebagai rater. dan efisiensi (hasil validasi dapat dilihat pada Tabel 7 hal. deskripsi.71 dan koefisien interrater 0. Simpulan Tentang Produk Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dijelaskan pada BAB IV.

Saran Pemanfaatan Saran yng diajukan berdasarkan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pengembangan instrumen hanya sampai pada tahap pengembangan dan belum sampai pada tahap diseminasi agar instrumen hasil pengembangan dapat digunakan secara lebih luas. memiliki pengalaman dalam bidang seni lukis. sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut. memahami pedoman penilaian hasil belajar karya seni lukis anak. B. Persyaratan yang harus dipenuhi pendidik SD agar kompeten menggunakan instrumen penilaian hasil belajar karya seni lukis anak di SD meliputi latar belakang pendidikan yang relevan. 1. Penelitian ini didasarkan pada asumsi bahwa guru-guru seni lukis sekolah dasar cerendung memberikan penilaian secara subjektif. dan responsif terhadap pembaharuan dan perubahan agar kegiatan pembelajaran seni dapat menyesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan jaman. penelitian ini tidak menjangkau pembuktian asumsi tersebut. C. Tetapi. 2. Untuk sekolah hendaknya mengadakan pelatihan penggunaan instrumen penilaian seni lukis anak bagi guru mata pelajaran seni budaya dan 261 . 1. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan baik dari segi metode maupun aplikasi.4.

maka PGSD hendaknya mengadakan studi pilihan/paket bidang seni sehingga kelak tenaga guru yang dihasilkan bisa sebagai konsultan bagi guru yang lain. 3. Diseminasi. 2. Sekolah-Sekolah Dasar yang tidak memiliki guru khusus seni budaya dapat memberdayakan dosen pendidikan seni rupa di LPTK sebagai pendamping. 262 . sehingga diperoleh manfaat yang lebih besar. dan Pengembangan Produk Lebih Lanjut 1.keterampilan di sekolah dasar. Desiminasi pedoman penilaian karya lukis anak dapat dilakukan melalui musyawarah guru mata pelajaran seni budaya di sekolah dasar. 3. agar guru dapat memberikan penilaian secara objektif hasil seni lukis anak. Mengingat pentingnya bidang seni di sekolah dasar. 4. Untuk mengetahui lebih dalam tentang latar belakang penciptaan karya seni lukis anak agar penilaian lebih objektif maka guru hendaknya membiasakan anak untuk menilai karya lukis sendiri dan karya temannya. Instrumen yang telah dikembangkan ini divalidasi kembali dengan menggunakan sekolah yang berbeda agar diperoleh produk yang lebih baik. Untuk menguji keefektifan instrumen hasil pengembangan secara empirik masih diperlukan penelitian diseminasi pada daerah yang lebih luas. Bagi guru SD yang akan menggunakan instrumen penilaian ini hendaknya memahami dengan baik setiap item yang tercantum dalam instrumen penilaian seni lukis anak agar tercapai tingkat kesepahaman dan kesepakatan yang tinggi antar sesama pengguna. 2. 5. D.

.............. Gambar 8........................ Gambar 24.............. Ruang dengan Teknik Pelengkungan... Komposisi Ruang Negartif dan Positif.... Gambar Anak Pada Subtahap Figuratif Tengah…………………........... Gambar 19.......................... Gambar 3......................................... Lingkaran Warna..... Gambar 15....... Gambar 6................................. Gambar 2................................ Harimau Dalam Kandang........ Gambar Anak Umur Empat Sepuluh Tahun........... Gambar 14.......... Gambar X-ray Oleh Anak Umur Lima Tahun yang Menunjukkan Ibu Dengan Dua Anak di Dalamnya...................................... Gambar 4..................................... Gambar Anak yang Menunjukkan Penggabungan xv 79 77 78 79 75 75 76 77 73 54 54 55 55 55 56 56 56 57 57 57 57 60 71 ............... Gambar 21......................... Gambar 7. Ruang dengan Teknik Pergantian Tekstur............ Gambar 18....... Ruang dengan Teknik Bayangan................................................................... Gambar Bus Penuh Dengan Penumpang................................................................. Bidang Geometris........................ Gambar Anak Umur Lima Tahun Menunjukkan Objek-Objek yang Ada di Dalam Maupun di Luar Rumah.....................................DAFTAR GAMBAR Gambar 1.......... Hasil Gambar Anak Umur Lima Tahun.... Bidang Bersudut............................ Gambar 13.................... Bidang Tak Beraturan........................ Gambar 16....... Gambar 11.... Gambar 23............................................................. yang Menunjukkan Masa Peralihan dari Subtahap Figuratif Awal ke Subtahap Figuratif Tengah…………………………………………………… Gambar 17......... Gambar 10............ Ruang dengan Teknik Penumpangan........................................ Gambar Anak Pada Awal Munculnya Tahap Figuratif dengan Objek-Objek yang Menggantung di Langit....... Ruang dengan Teknik Pergantian Warna... Gambar 5..................................... Ruang dengan Teknik Gelap Terang... Ruang dengan Teknik Pergantian Bentuk dan Ukuran........ Gambar 12..... Gambar 22.............. Gambar 9.......................... Bidang Organik…………………………………………………….. Gambar Kereta oleh Anak Umur Lima Tahun............................ Gambar Manusia oleh Anak Umur Empat Tahun..................... Gambar 20...

...... Desain Ujicoba Intrumen Seni Lukis................... Gambar 40......... Corengan Bernama................................... Subjek yang Menyiapkan Alat dan Bahan Hasil Studi Awal..................... Jenis Kurikulum yang Digunakan Hasil Studi Awal.................................................... Gambar Bus yang Penuh Sesak Oleh Penumpang yang Digambarkan Dengan Perspektif Linier.Antara Tampak Depan dan Tampak Atas....................................... Gambar 39............................................... Kesesuaian Buku yang Digunakan Hasil Studi Awal……….................. Model Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak......... Gambar 30.... Gambar 48........................ Gambar 36................ Gambar 42... Gambar 33........................ Gambar yang Menunjukkan Perbedaan Anak Laki-laki dan Perempuan Dengan Ciri-Ciri Pakaian yang Rinci............ Skema Tahap Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak 160 Gambar 45. Corengan Tak Beraturan... Gambar 31............... Bagan Anak Usia 7-9 Tahun......................................... Bagan Anak Usia 14 Tahun.... Gambar 41.............................................. Pra Bagan Anak Usia 7 Tahun................................................................ Gambar yang Menunjukkan Penggunakan Perspektif Linier Oleh Anak Kelas Lima. Gambar 43..................... Skema Tahap Diseminasi Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak.......................... Gambar 34.. Tahapan Perancanganan Instrumen Seni Lukis Anak........... Gambar 25........... Corengan Terkendali................................................... Tahapan Studi Awal Pengembangan Instrumen Seni Lukis Anak............ Gambar 46.......... Langkah-Langkah Pembelajaran Seni Lukis.. Gambar 49................................. Gambar 28............................... Pra Bagan Anak Usia 4-7 Tahun................ Bagan Anak Usia 10 Tahun.. Bagan Anak Usia 13 Tahun...................... 80 81 81 83 83 84 85 85 86 87 87 88 88 89 90 100 154 156 157 158 Gambar 44.. Gambar 38............. Gambar 37........................ Gambar Anak Perempuan yang Mengidentifikasi Dirinya Dengan Pemain Drumband..... Gambar 26.. Gambar 27............ 161 162 172 172 173 xvi ............................ Coreng Moreng Anak Usia 3 Tahun.......................................... Gambar 32........... Gambar 29.............. Gambar 35.... Tahapan Pendefinisian Instrumen Seni Lukis Anak........................ Gambar 47......................................

.......... Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 3................................ Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 1................ Rangkuman Hasil FGD Ketiga.. Gambar 64.... Hasil Studi Awal Jenis Penilaian yang Digunakan Guru ... Hasil Studi Awal Partisipasi Siswa atau Sekolah dalam Kegiatan Lomba.... Instrumen Penilaian Seni Lukis Hasil Tahap Rancangan................................... Gambar 62............ Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 3.................................................. Gambar 61... Tren perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 2…………………………………………………… Gambar 66.............. Gambar 67.................... Hasil Studi Awal Tanggapan Guru Perlunya Instrumen Penilaian ................................. Gambar 57................................................ Kesulitan Guru dalam Penilaian Hasil Studi Awal.......................................................... Hasil Studi Awal Kriteria Penilaian Guru ... Gambar 55....................... Gambar 65....... Rangkuman Hasil Seminar Instrumen Penilaian Seni Lukis ........................ Gambar 51. Minat siswa dalam belajar Hasil Studi Awal......................... Gambar 56.......... Gambar 63................................ Hasil Studi Awal Komponen Penilaian Guru............................. Gambar 59.................... Tren perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Proses Kelas 1............... Gambar 60..................................................................Gambar 50.............. Hasil Studi Awal Kesesuaian Prosedur yang Digunakan dalam Penilaian ........... Gambar 58............ Gambar 68......... 174 174 175 176 176 177 178 178 179 180 180 184 188 192 239 243 245 248 251 253 xvii ....…………………...................................... Gambar 52.......................... Gambar 53............ Gambar 54..... Hasil Studi Awal Subjek yang Menentukan Tema Lukisan ................. Hasil Studi Awal Jenis Penentuan Skor Penilaian oleh Guru ...... Gambar 69. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Produk Kelas 2...... Hasil Studi Awal Unsur Kreativitas dalam Penilaian oleh Guru……………………………………………………................

.............. Gambar 71................................. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Diri....Gambar 70............................................................................... 257 255 xviii .............. Kecenderungan Perkembangan Koefisien Genova untuk Penilaian Kelompok......

.................................... Pendidikan Seni Rupa di Sekolah Dasar Di Indonesia ...........……………….DAFTAR ISI ABSTRAK.... 4..... Rasional yang Melandasi Pentingnya Masalah ……………............. 2..................................................…………..................………………………………………………………………................. PENDAHULUAN……………………………………………………… A............ LEMBAR PENGESAHAN ..….....................……....……………………………………………....................…………………………………………………………...……......………………………………………………..... …........ Pendidikan Seni Rupa ………......…… BAB II....……........... 1....................………..............….......……………………………………………………............................................... 2...................................... Spesifikasi Produk ……….......... DAFTAR LAMPIRAN ........................ ii iii iv v vii viii xi xv xix 1 1 7 11 11 12 12 14 14 14 22 24 34 42 52 52 64 viii ............ DAFTAR GAMBAR ................………………. DAFTAR TABEL . ABSTRACT................. DAFTAR ISI .....…............................ KATA PENGANTAR ......…... KAJIAN PUSTAKA …………...........………………………………………………………..... Pendekatan dalam Pendidikan Seni Rupa ................... Manfaat Pendidikan Seni Rupa .... BAB I............ Manfaat Penelitian ………...........…… B..…… E........................ Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini ............……… C............…………………. 1.........................……..........................… D... Pembelajaran Seni Lukis di Sekolah Dasar ………………………................… E. A............................….. 3....................................………………………………………………………………...... Seni Lukis bagi Anak Usia Sekolah Dasar .....………............. PERNYATAAN KEASLIAN ... Tujuan Penelitian ...... Pengertian dan Jenis Seni Lukis ....... Latar Belakang dan Identifikasi Masalah . B....... Rumusan Masalah…......... C... Pengertian Pendidikan Seni Rupa ..............

... 1...... D............... Penilaian dalam Pembelajaran Seni Lukis di Sekolah Dasar ..................................................... Fungsi Penilaian dalam Pendidikan Seni ......................... F.................................................................. Hasil Penelitian yang Relevan ……….. Jenis Instrumen Pengumpulan Data ................ Kerangka Pikir ….............. H............. Desain Uji Coba .. Data Studi Awal .................…… A.....................................…… 1...........................……..................................………………............................. 4......................................... 3................... ……………………………………... Teknik Analisis Data ............. Seni Lukis sebagai Indikator Gambar Ekspresi dalam KTSP ..... Tahap Pengembangan .................................... 2...................3........... 2..................... 96 100 107 107 109 119 135 145 150 150 152 152 155 155 156 157 158 161 161 161 163 164 165 169 169 169 182 184 185 .... Metode Pembelajaran Seni Lukis Anak Sekolah Dasar ...................................................… 1.. Karakteristik Penilaian dalam Pendidikan Seni .. Data Pendefinisian ...................…….......………........ Data Perancangan......... 3.......….........….............................. Tahap Perancangan ............ Hipotesis Uji Model ……….........…................……........ 5...........…..................................................................... Tahap Diseminasi ................................... D. Tahap Studi Awal ........................ Aspek yang Dinilai dalam Karya Seni Lukis. 2... BAB III. 4..................................... E.............. Model Pengembangan ...............……...…… A..... HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.......................…….......... Subjek Coba .………...………........... G.......... Data Uji Coba ……….............. 2.... Data Pengembangan .... METODE PENELITIAN ...... BAB IV...........……............... 4.................……………… B.......... Uji Coba Produk ……………………................................ Pertanyaan Penelitian ………................. Prosedur Pengembangan ………………………………………… 1. ix ....................…………..…….. 4.......................................... 3................................. Tahap Pendefinisian .. 3................

...........................…………................................... Diseminasi dan Pengembangan Produk Lebih Lajut ………...........………… C........... Penilaian Kelompok ................ Tren Perkembanagan Koefisien Genova ...........… ……………………………………......… 1........ C...……................ D....................................................................... Data Uji Coba...................................................... 2.…………………........ Data Uji Coba Koefisien Interrater ..........……....... Penilaian Diri................................ Analisis Data ................ 235 237 237 260 260 261 261 262 263 BAB V....……………… B.................. KESIMPULAN DAN SARAN ........... Penilaian Proses ....... Simpulan ..... Kajian Produk ................................. 187 196 196 220 232 232 232 234 ...........................................................….... 5........………..........................……………………………... Penilaian Produk ............... Keterbatasan Penelitian………………………………......... 1........ Diseminasi .................................................................. 3............................ x .................. Saran Pemanfaatan ……………………............ 2.......... B..............… D........ Revisi Produk…………………. 4..............…… A..................5..………....… DAFTAR PUSTAKA .........................

................................... Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Kelompok........................................................... Tipe-Tipe Psikologis Anak dan Katagori Lukisan Anak...... Tabel 11.................. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Produk..... Daftar Peserta Studi Awal........ Penilai...... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Produk Kelas 2 dan Tingkat Perubahannya...... Estimasi Komponen Variansi Siswa............. Estimasi Komponen Variansi Siswa........ Tabel 15......................... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Proses Kelas 3 dan Tingkat Perubahannya................ Tabel 9............ Tabel 17.... Tabel 2....................... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Produk Kelas 3 xi 212 211 210 209 208 206 203 201 199 197 171 181 186 5 96 123 124 ........... Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Proses........ Hubungan antara Tujuan Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan (PSB) dengan SKL Satuan Pendidikan SD................. Tabel 5................................................................ Estimasi Komponen Variansi Siswa.............................. Tabel 4............................................ Hasil FGD Pertama dan Kedua................... Tabel 18........... Tabel 3............................ Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Proses Kelas 2 dan Tingkat Perubahannya....... Penilai.. Daftar Peserta Studi Awal........... Penilai..................... Student Self Evaluation Form.............................. Penilai. Kriteria Penilaian dari Uji Kelompok Siswa ( n = 180 ) untuk Penilaian Diri..... Estimasi Komponen Variansi Siswa..................... Tabel 14......... Tabel 12.......... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Proses Kelas 1 dan Tingkat Perubahannya ........................ Pupil’s Self Evaluation Form......................................... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Produk Kelas 1 dan Tingkat Perubahannya............................................ Tabel 8................DAFTAR TABEL Tabel 1........................... Rangkuman Hasil G Study dan Koefisien G Pada Berbagai Komponen dan Berbagai Faset Terapan Uji Coba............. Tabel 16. Tabel 10.................................. Tabel 7................................................................................ Tabel 6.......................... Tabel 13........................

.............................................................................................. Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Diri Kelas 1 dan Tingkat Perubahannya ............. Tabel 26....... Tabel 22.... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Diri Kelas 2 dan Tingkat Perubahannya................ 225 Tabel 30................................................................................................................................................ Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Diri Kelas 1.................................... Tabel 28............................... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Kelompok Kelas 3 dan Tingkat Perubahannya... Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Kelompok Kelas 2 dan Tingkat Perubahannya ................ Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Produk Kelas 3.............. Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Kelompok Kelas 1 dan Tingkat Perubahannya...................... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Proses Kelas 2..... 227 Tabel 33........................ Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai 227 225 xii ................................ Tabel 29............................................................................................. Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Proses Kelas 1............................... Tabel 20....................................................... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Diri Kelas 2...................... Tabel 21........................................................... Tabel 23.. Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Proses Kelas.................................... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai 213 214 215 216 217 218 219 221 222 222 224 Pada Penilaian Produk Kelas 2.......................... Tabel 27................ Tabel 31... Tabel 19.......................................... Tabel 32...............................................dan Tingkat Perubahannya........................ Estimasi Koefisien Generalizability pada Penilaian Diri Kelas 3 dan Tingkat Perubahannya.............................................. Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Produk Kelas 1......... Tabel 25............................................................. Tabel 24......

............... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 3... Tabel 39................... Tabel 35........ Tabel 38...... Tabel 48........................................................................................... Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =2 228 230 231 231 233 234 236 237 238 239 241 242 244 245 247 248 250 xiii ...... Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Kelompok Kelas 1.. Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 1.......................... Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =3 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear ...................... Tabel 34......... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Proses Kelas 2........................ Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =6 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear ..................................................................... Perbadingan koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Produk ..................................... Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Diri................. Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Kelompok Kelas 3............... Tabel 43........ Tabel 44........................ Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Antar Penilai Pada Penilaian Kelompok Kelas 2................. Tabel 36... Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =4 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear....... Tabel 47............................. Tabel 42..... Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =3 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear .............................................................. Tabel 45....... Tabel 49......................... Tabel 37............... Tabel 50........................................................... Tabel 40.................Pada Penilaian Diri Kelas 3...... Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 2......................... Perbadingan koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Proses .......... Tabel 41.........Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 1............................................. Tabel 46.. Perbadingan Koefisien Genova dan Kappa pada Penilaian Kelompok.............

Perbandingan Hasil Estimasi Koefisien Genova untuk x =1 Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear ......... Tabel 54......................................................Menggunakan Persamaan Linear dan Non-Linear ................................................Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Kelompok....................................................... Tabel 53..... 250 252 253 254 257 xiv .............................. Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Produk Kelas 3................ Tabel 52.............. Estimasi Koefisien Genova dengan Persamaan Linear dan Non-Linear pada Penilaian Diri................ Tabel 51...........................

............................. Lampiran 10....................... Lampiran 4.................................................................... Hasil Analisis Genova... Hasil Wawancara Keterpakaian Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak Lampiran 8........................................... Lampiran 6.... Surat Ijin Penelitian... Lampiran 3............... Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak..... Contoh Hasil Karya Seni Lukis Anak................................. Daftar Hadir FGD dan Seminar.......... 270 275 276 293 296 306 318 321 358 361 365 xix .............. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Seni Budaya dalam KTSP Lampiran 2.................................................................... Lampiran 7..................... Lampiran 9............... Lampiran 11............................................................. Kompetensi Kreasi Seni Budaya dan Keterampilan............................................................. Hasil Seminar...........................DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1.................. Lampiran 5.............. Hasil FGD............................................................... Data Hasil Penilaian Seni Lukis Anak.............

PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ANAK DI SEKOLAH DASAR Oleh: Tri Hartiti Retnowati NIM. 04701261001 Disertasi ini ditulis untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk mendapatkan gelar Doktor Pendidikan Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA YOGYAKARTA 2009 i .

atas segala kebijaksanaan.D selaku promotor disertasi ini.D dan Prof. sehingga disertasi ini dapat diselesaikan.D selaku reviewer disertasi ini yang telah memberi masukan kepada penulis. 2. 7. Sofyan Salam. kemudahan. 4. perhatian. Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta beserta segenap staf administrasi. taufiq.KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas berkat limpahan rahmat. Ph. yang diberikan sehingga disertasi ini dapat selesai. yang telah memberikan kesempatan untuk melanjutkan studi S-3 pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta. reliabel. Disertasi ini bertujuan mengembangkan instrumen penilaian karya seni lukis anak yang valid.Pd. Kumaidi. 5. serta dorongan semangat kepada penulis sehingga disertasi ini dapat terwujud. hidayah. dan praktis untuk digunakan guru di sekolah dasar. dan inayahNya. sehingga disertasi ini menjadi lebih baik. kepala MIN Tempel Sleman yang telah memberikan ijin dan segenap bantuannya pada pelaksanaan ujicoba instrumen penilaian seni lukis anak. Dekan FBS Univesitas Negeri Yogyakarta beserta staf. Penyelesaian disertasi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. dan bimbingan yang sangat berharga. v . Rektor Universitas Negeri Yogyakarta.Pd. Suyata. dan Bapak Dodi Suyanto. Prof. atas perhatian dan dukungan sehingga disertasi ini selesai. Dalam kesempatan ini. penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada: 1. bantuan. kepala SDN Langensari Yogyakarta. Ph. Para guru yang telah membantu pelaksanaan ujicoba instrumen penilaian seni lukis anak yaitu Ibu Udawati S. Bapak Sutarno S. Kepala SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta. 6. 3. Ph.. Prof. yang telah memberikan arahan.

8. Para pakar pendidik seni dan seni lukis anak-anak serta guru seni lukis di sekolah dasar yang telah berpartisipasi dalam FGD sehingga instrumen ini dapat terwujud. 9. Segenap teman-teman Jurusan Pendidikan Seni Rupa FBS UNY dan mahasiswa angkatan tahun 2004 Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan S3 Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta yang dengan penuh keakraban memberikan dorongan moral dan segenap bantuan yang diberikan sehingga disertasi ini dapat selesai. Akhirnya rasa terimakasih yang sangat pribadi disampaikan kepada suami tercinta Prof. Djemari Mardapi Ph.D., dan anak-anak: Dian Puspita Sari dan suami, Febriaditya Agung Nugroho, dan Muhammad Harfiansyah Makarim yang dengan penuh pengertian dan pengorbanan selama penulis menyelesaikan studi. Semoga amal kebaikan bapak/ibu dan teman-teman semua

mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Amin.

Yogyakarta,

Mei 2009

Tri Hartiti Retnowati NIM. 04701261001

vi

PERNYATAAN KEASLIAN Yang bertandatangan di bawah ini Nama Mahasiswa Nomor Mahasiswa Program Studi Lembaga Asal : Tri Hartiti Retnowati : 04701261001 : Penelitian dan Evaluasi Pendidikan : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi ini merupakan hasil karya saya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya dalam disertasi ini tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Yogyakarta, April 2009 Yang membuat pernyataan

Tri Hartiti Retnowati

vii

Lampiran 1 Tabel 1. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Seni Budaya dan Kerajinan Sekolah Dasar Berdasarkan KTSP 2006 Kelas I, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengidentifikasi unsur rupa pada benda di alam sekitar 1.2 Menyatakan sikap apresiatif terhadap unsur rupa pada benda di alam sekitar 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresif 2.2 Mengekspresikan diri melalui teknik menggunting menempel KOMPETENSI DASAR

Kelas I, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya sent rupa 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengidentifikasi unsur rupa pada benda di alam sekitar 1.2 Menyatakan sikap apresiatif terhadap unsur rupa pada benda di alam sekitar 2.1 Mengekspresikan diri melalui karya seni gambar Ekspresif 2.2 Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa dua dimensi dengan teknik menempel KOMPETENSI DASAR

Kelas II, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya sent rupa 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengenal unsur rupa pada karya seni rupa 1.2 Menunjukkan sikap apresiatif terhadap unsur rupa pada Karya seni rupa 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar Ekspresif 2.2 Mengekspresikan diri melalui teknik cetak tunggal KOMPETENSI DASAR

270

Kelas II, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 2. Mengekspresikan diri melalui seni rupa. 1.1 Mengidentifikasi unsur rupa pada karya seni rupa 1.2 Menunjukkan sikap apresiatifterhadap unsur rupa pada karya seni rupa tiga dimensi 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresi 2.2 Menggunakan klise cetak timbul 2.3 Mengekspresikan diri melalui teknik cetak timbul KOMPETENSI DASAR

Kelas III, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 2. Mengekspresikan diri melalui seni rupa. 1.1 Menjelaskan symbol dalam karya seni rupa dua dimensi 1.2 Menunjukkan sikap apresiatif terhadap symbol dalam karya seni rupa dua dimensi 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif Mengenai diri sendiri 2.2 Mengekspresikan diri melalui gambar dekoratif dari motif Hias daerah setempat KOMPETENSI DASAR

Kelas III, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa KOMPETENSI DASAR

1.

Mengapresiasi karya seni rupa Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

1.1 Menjelaskan simbol dalam karya seni rupa tiga dimensi 1.2 Menunjukkan sikap apresiatifterhadap simbol dalam karya seni rupa tiga dimensi 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif mengenai alam sekitar 2.2 Memberi hiasan/warna pada benda tiga dimensi

2.

271

Kelas IV, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.1 Menjelaskan makna karya seni rupa terapan 1.2 Mengidentifikasi jenis karya seni rupa terapan yang ada di daerah setempat 1.3 Menunjukkan sikap apresiatif terhadap kesesuaian karya seni rupa terapan 1.4 Menunjukkan sikap apresiatif terhadap keartistikan karya seni rupa terapan 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 2.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi dengan tema benda alam: buah-buahan, tangkai, kerang, dsb 2.2 Memamerkan hasil gambar ilustrasi dengan tema benda alam: buah-buahan, tangkai, kerang, dsb di depan kelas KOMPETENSI DASAR

Kelas IV, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.1 1.2 1.3 Menjelaskan makna seni rupa murni Mengidentifikasi jenis karya seni rupa murni yang ada di daerah setempat Menampilkan sikap apresiatif terhadap karya seni rupa murni Membuat relief dari bahan plastis dengan pola motif hias Menyiapkan karya seni rupa yang dibuat untuk pameran kelas KOMPETENSI DASAR

2.

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

2.1 2.2

2.3

Menata karya seni rupa yang dibuat dalam bentuk pameran kelas

272

Kelas V, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.1 1.2 1.3 Menjelaskan makna motif hias Mengidentifikasi jenis motif hias pada karya seni rupa Nusantara daerah setempat Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan motif hias karya seni rupa Nusantara daerah setempat Mengekspresikan diri melalui gambar dekoratif dengan motif hias Nusantara 2.2 Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi dengan tema hewan dan kehidupannya 2.3 Membuat motif hias dasar jumputan pada kain KOMPETENSI DASAR

2.

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

2.1

Kelas V, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.2 1.3 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengekspresikan diri melalui gambar dekoratif dengan motif hias Nusantara Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi dengan tema hewan dan kehidupannya Membuat motif hias dasar jumputan pada kain Membuat topeng secara kreatif dalam hal teknik dan bahan Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi manusia dan kehidupannya KOMPETENSI DASAR

2.1 2.2

2.3

Menyiapkan karya seni rupa yang diciptakan untuk pameran kelas

2.4

Menata karya seni rupa yang diciptakan dalam bentuk pameran kelas/sekolah

273

Kelas VI, Semester 1

STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.1 1.2 1.3

KOMPETENSI DASAR Mengidentifikasi jenis motif hias pada karya seni rupa Nusantara daerah lain Menjelaskan cara membatik Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan motif hias karya seni rupa Nusantara daerah lain Membatik dengan teknik sederhana Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi dengan tema suasana di sekitar sekolah 2.3 2.4 Merancang boneka Membuat boneka berdasarkan rancangan

2.

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

2.1 2.2

Kelas VI, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 1.2 1.1 Mengidentifikasi jenis motif hias pada karya seni rupa Nusantara daerah lain Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan motif hias karya seni rupa Nusantara daerah lain Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi suasana alam sekitar KOMPETENSI DASAR

2.

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

2.1

2.2

Menyiapkan karya seni rupa yang dibuat untuk pameran kelas

2.3

Menata karya seni rupa yang dibuat untuk pameran kelas

274

3 Mengekspresikan diri melalui teknik cetak timbul KOMPETENSI DASAR Kelas III.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresi 1. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.2 Mengekspresikan diri melalui teknik cetak tunggal KOMPETENSI DASAR Kelas II. Semester 2 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1.2 Mengekspresikan diri melalui teknik menggunting menempel KOMPETENSI DASAR Kelas I. 1. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1.1 Mengidentifikasi unsur rupa pada benda di alam sekitar 1. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa 1. Kompetensi Kreasi Seni Budaya dan Keterampilan Kelas I.1 Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresif 2.1 Mengekspresikan diri melalui karya seni gambar Ekspresif 1. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa. Semester 2 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1. Mengapresiasi karya seni rupa 2.2 Menyatakan sikap apresiatif terhadap unsur rupa pada benda di alam sekitar 2.Lampiran 2 Tabel 2. Semester 2 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa KOMPETENSI DASAR 1. Semester 1 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1.2 Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa dua dimensi dengan teknik menempel KOMPETENSI DASAR Kelas II. Semester 1 STANDAR KOMPETENSI Seni Rupa 1.2 Menggunakan klise cetak timbul 1.1 Mengekspresikan diri melalui gambar Ekspresif 1.1 Mengekspresikan diri melalui gambar imajinatif mengenai alam sekitar 12 Memberi hiasan/warna pada benda tiga dimensi 275 .

276 .

Lampiran 3 FOCUS GROUP DISCUSSION TAHAP 1 “ PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. Latar belakang Pembelajaran seni lukis merupakan bagian penting dari aktivitas belajar di sekolah. Disertasi yang berjudul ” Pengembangan Instrumen Penilaian Seni Lukis Anak” merupakan representasi kebutuhan lapangan khususnya guru-guru pada jenjang pendidikan dasar yang mengkehendaki adanya suatu instrumen penilaian seni lukis yang valid dan reliabel sehingga dapat mengurangi subjektivitas guru dalam menilai karya siswa. dalam setiap pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kegiatan belajar seni lukis keikutsertaan para pakar seni lukis serta guru-guru pengampu di sekolah merupakan suatu kebutuhan yang mutlak. dilaksanakan FGD tahap 1 yang difokuskan untuk menjaring aspirasi yang berhubungan dengan tahap awal penyusunan instrumen penilaian seni lukis anak. Berdasarkan Performance Assesment dalam penilaian seni lukis anak terdapat dua unsur penting yaitu penilaian proses dan produk. 276 . Disamping itu. Oleh karenannya. keterlibatan berbagai pihak sangat diperlukan. persentase penilaian kedua unsur tersebut masih menjadi dilema yang perlu diputuskan dengan pertimbangan yang matang. Namun demikian. Mengingat instrumen merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran seni lukis. Kedua permasalahan tersebut merupakan topik yang akan dibahas dalam FGD tahap 1 sebagai langkah awal dalam penyusunan instrumen penilaian seni lukis anak. Dalam pelaksanaannya. indikator-indikator dari setiap penilaian baik proses maupun produk perlu ditetapkan dengan memperhatikan berbagai pemikiran yang disesuaikan dengan perkembangan jiwa dan perkembangan gambar anak untuk manentukan hasil penilaian seni lukis anak. mulai dari para pakar sebagai perumus materi sampai dengan guru mata pelajaran sebagai pelaksana sekaligus evaluator kegiatan pembelajaran. Berdasarkan alasan inilah. maka dalam proses penyusunannya perlu mempertimbangan pemikiran para pakar serta guru yang terlibat langsung dalam pembelajaran.

30 15.00-15.Sn Bambang Prihadi. M.45 Aktivitas Pembukaan mengutarakan maksud dan tujuan FGD diikuti dengan perkenalan peserta yang hadir Presentasi pengenalan topik yang akan dibahas yaitu menentukan bobot persentase dari penilaian karya seni lukis anak yang terdiri dari proses dan produk dan menentukan indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak.30 18. Menentukan indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak.Lampiran 3 B. Penyimpulan dan penyampaian hasil diskusi Penutupan dengan doa bersama 15.45-16.Affandi Dewobroto. Menentukan bobot persentase dari penilaian karya seni lukis anak yang terdiri dari proses dan produk. Adapun jalannya pelaksanaan FGD tersebut disajikan pada tabel berkut: Waktu 15.15 18. S. target dari FGD tahap 1 ini adalah: 1. M.15 16. M.15-18. 2. Deskripsi pelaksanaan FGD tahap I dilaksanakan pada tanggal 26 Februari 2008 bertempat di Ruang Sidang Program Pascasarjana UNY.15-18.30-18.Pd Dody S Dwi Susanto (Pakar pendidikan seni) ( Pakar seni lukis anak) (Pakar seni lukis anak UNY) (Guru pendidikan seni anak SD Sapen I) (Guru pendidikan seni anak SD Sapen II) (Guru pendidikan seni anak MIN Tempel) (Guru pendidikan seni anak Sekolah Dasar) D. Diskusi sesi 1 untuk memutuskan bobot persentase dari penilaian karya seni lukis anak yang terdiri dari proses dan produk Diskusi sesi 2 untuk menentukan indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak.Pd Enrizal. C.30-15. Peserta yang hadir Drs. S.40 277 . Target yang ingin dicapai Berdasarkan latar belakang.Pd Udawati.

S. Adapun penilain proses terdiri dari kreativitas dan ekspresi.Lampiran 3 E. Dewobroto.Sn Dalam penilaian proses pada tahap inti perlu adanya tambahan kriteria yaitu pemahaman tema karena tanpa adanya pemahaman tema akan sulit bagi siswa untuk dapat melukis dengan baik Bambang P.Pd Dalam penilaian proses untuk kegiatan inti perlu 278 Masukan peserta Sesi 2 Pertanyaan Masukan peserta . Tahap awal terdiri dari tanggapan anak terhadap tema dan kesiapan alat dan bahan.Affandi Penilaian proses dibagi menjadi tahap awal. Masukan peserta yang hadir Sesi 1 Pertanyaan Berapa persenkah bobot untuk penilaian proses dan produk Drs.Pd Penilaian proses dibagi menjadi dua tahap yaitu tahap awal dan tahap inti karena tahap akhir berupa penilaian diri dan kelompok bukan merupakan bagian dari proses seorang anak dalam berkarya Udawati. M. dengan kata lain apabila proses baik maka produk pun akan baik begitu juga jika produk baik maka proses pun baik Bambang P. keterampuilan mengorganisasikan keterampilan estetis. tahap inti.Pd Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% karena proses seseorang dalam berkarya lebih penting dari hasil yang diperoleh Enrizal.Pd Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% karena proses lebih memperlihatkan kesungguhan siswa dalam melukis Udawati. sedangkan tahap akhir terdiri dari penilian diri. tahap inti terdiri dari kelancaran penuangan ide. pemanfaatan waktu. M. M. S.Pd Dalam penilaian produk perlu adanya tambahan indikator yaitu teknik Enrizal. M. M. S.Affandi Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% mengingat proses lebih menentukan hasil karya yang diperoleh siswa Dewobroto.Pd Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% Dody S Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% karena proses cenderung memperlihatkan potensi seorang anak dalam berkarya seni Dwi Susanto Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 60% sedangkan produk 40% Apakah indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak Drs. S.Sn Bobot untuk penilaian proses minimal sebesar 50% sedangkan produk 50% hal ini dikarenakan antara proses dan produk terdapat keseimbangan . dan tahap akhir. M.

Kelancaran penuangan ide 2. Keberanian menggunakan media 3. Indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak 1. Kesimpulan 1. Ketekunan 5. Pemanfaatan waktu Tahap inti Kreativitas Produk Ekspresi Teknik Penilaian Diri Penilaian Kelompok 279 . Kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis Tahap awal Proses 1.Lampiran 3 adanya indikator ketekunan serta keberanian dalam menggunakan unsur-unsur bentuk Dalam penilaian proses untuk kegiatan inti perlu adanya indikator keberanian menggunakan media Penilaian diri dan penilaian kelompok bukan merupakan bagian dari proses seseorang dalam berkarya. Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat 2. Bobot persentase minimal untuk penilaian proses 60% dan produk 40% 2. Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk 4. jadi untuk penilaian proses dan penilaian kelompok lebih baik terpisah tetapi tetap merupakan bagian dari penialian karya seni lukis anak Dody S Dwi Susanto F.

S. Susapto Murdowo. selanjutnya perlu adanya deskripsi dari masing-masing indikator pada penilaian proses dan produk.Sn (Pakar pendidikan seni) (Pakar seni lukis anak UNY) (Guru pendidikan seni anak SD Sapen I) (Guru pendidikan seni anak SD) (Guru pendidikan seni anak SD Sapen II) (Guru pendidikan seni anak Sekolah Dasar) (Praktisi dan pakar seni lukis ) D. Adapun jalannya pelaksanaan FGD tersebut disajikan pada tabel berkut: 280 .Pd Udawati. M. diperlukan berbagai pemikiran yang didasari pemahaman konsep yang mendalam tentang karya seni lukis anak.Pd Dody S Drs. M.Pd Enrizal. S. C. Oleh karena itu keterlibatan para pakar seni lukis anak dan guru sangat diperlukan. Peserta yang hadir Drs. Suwarno Bambang P. Deskripsi indikator ini mencakup gambaran secara terperinci dari setiap indikator yang diperoleh dari FGD tahap I. Proses olah pikir dari para pakar dan guru untuk menentukan deskripsi dari setiap indikator dilaksanakan pada FGD tahap II.Pd Sutarno. Deskripsi pelaksanaan FGD tahap II dilaksanakan pada tanggal 13 Maret 2007 bertempat di Ruang Sidang Program Pascasarjana UNY. Latar belakang Menindaklanjuti hasil yang diperoleh dari FGD tahap I. S. Target yang ingin dicapai Berdasarkan latar belakang.Lampiran 3 FOCUS GROUP DISCUSSION TAHAP II “ PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. Untuk mendeskripsiakan indikator ini. target dari FGD tahap II ini adalah menentukan deskripsi dari setiap indikator pada penilaian proses dan produk. B.

ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik Drs.45-17.Lampiran 3 Waktu 15.00-15. Diskusi sesi 1 untuk menentukan deskripsi dari setiap indikator pada penilaian proses Diskusi sesi 2 untuk menentukan deskripsi dari setiap indikator pada penilaian produk.Sn Suatu kondisi peserta didik yang sudah siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya Bambang P.00 E. Penyimpulan dan penyampaian hasil diskusi Penutupan dengan doa bersama 15.Pd • Untuk tahap inti indikator 3 deskripsinya adalah: 281 Masukan peserta .30 18. S.30-18.50 18.Pd • Untuk tahap inti indikator 2 deskripsinya adalah: Keberanian menggunakan media dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik inkonvensional dalam melukis • Kemudian diperlengkap menjadi: Keberanian menggunakan media (alat dan bahan)dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik inkonvensional dalam melukis Udawati. M.45 Aktivitas Pembukaan mengutarakan maksud dan tujuan FGD diikuti dengan perkenalan peserta yang hadir Presentasi pengenalan topik yang akan dibahas yaitu menentukan deskripsi dari setiap indikator pada penilaian proses dan produk. S. Masukan peserta yang hadir Sesi 1 Pertanyaan Bagaimanakah deskripsi untuk indikator penilaian proses Drs.30 17.Pd • Untuk tahap inti indikator 1 deskripsinya adalah: Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara ide yang ada dalam diri siswa dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut • Kemudian diperlengkap menjadi: Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara kualitas ide yang dikembangkan dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut Enrizal. Susapto M.30-15.30 15. Untuk tahap awal indikator 2 deskripsinya adalah: M.30-18.50-19. Suwarno • Untuk tahap awal indikator 1 deskripsinya adalah: Reaksi peserta didik berupa perilaku yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik • Kemudian diperlengkap menjadi: Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi.

S. ketelitian dalam penyelesaian. Susapto M. Suwarno Untuk penilaian produk indikator 1 deskripsinya adalah: Suatu produk dari hasil pemikiran atau perilaku peserta didik yang merupakan kekuatan konseptual melalui karya lukisnya yaitu meliputi kepekaan pada suatu masalah. Deskripsi indikator 1 disederhanakan menjadi Keaslian M. keaslian. ide-ide.Sn bentuk (kemampuan menciptakan bentuk yang khas).Lampiran 3 Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik • Kemudian diperlengkap menjadi: Keberanian menggunakan titik. M. kualitas cara penggambaran. bentuk karya lukis peserta didik. kemampuan abstraksinya. dan keberanian dalam mengorganisasikan unsur-unsur rupa tersebut Enrizal. ketelitian dalam penyelesaian.Pd Untuk indikator no 2 deskripsinya adalah: Suatu kelancaran dalam penuangan ide yang dilihat dari ketegasan pada goresan. S. bidang. warna. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik Untuk tahap inti indikator 4 deskripsinya adalah: Kondisi peserta didik untuk mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh-sungguh Untuk tahap inti indikator 5 deskripsinya adalah: Penggunaan waktu sebaik-baiknya untuk membuat karya lukis Dody S Sutarno. S.Pd Untuk indikator 3 deskripsinya adalah: Kemampuan peserta didik dalam menyesuaikan antara media/alat yang digunakan dengan bentuk-bentuk yang dibuat dalam karya lukisnya.Pd Sesi 2 Pertanyaan Masukan peserta Bagaimanakah deskripsi untuk indikator penilaian hasil Drs. kebaruan teknik dan konsep cerita Bambang P. S. serta kebersihan karya yang dihasilkan Sutarno.Pd Deskripsi indikator 2 disederhanakan menjadi: Kejelasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema Udawati.Pd Untuk indikator 3 deskripsinya adalah: Kemampuan peserta didik dalam menyesuaikan antara media/alat yang digunakan dengan bentuk-bentuk yang dibuat dalam karya lukisnya. garis. dan keberhasilan karya Dody S Deskripsi indikator 3 disederhanakan menjadi: Kemampuan menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya. garis. dan kebersihan karya 282 . keberhasilan karya. dan kemampuan untuk menyesuaikan dengan perkembangan terkini serta kesesuaian dengan karakteristik bahan/material yang digunakan Drs.

A. 3 283 . dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik 2 Kesiapan alat dan bahan Suatu kondisi peserta didik yang sudah yang akan digunakan siap melakukan tugas dengan perlengkapan untuk melukis bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya A. Kesimpulan Hasil dari FGD 2 ini adalah sebagai berikut: No A. kebaruan teknik dan konsep cerita Ekspresi Kejelasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema Teknik Kemampuan menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya.Lampiran 3 F.1 1 Indikator Komponen Proses Tahap Awal Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Deskripsi Reaksi peserta didik berupa perilaku (ekspresi. unsur-unsur bentuk bidang.2 Tahap Inti 1 Kelancaran penuangan ide Kondisi peserta didik pada waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara kualitas ide yang dikembangkan dengan keterampilan untuk memvisualisasikan ide tersebut 2 Keberanian menggunakan Keberanian menggunakan media (alat dan media bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik inkonvensional dalam melukis Keberanian menggunakan Keberanian menggunakan titik. garis. serta kebersihan karya yang dihasilkan 3 4 5 B 1 2. kualitas cara penggambaran. Ketekunan Kondisi peserta didik untuk mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh-sungguh Pemanfaatan waktu Penggunaan waktu sebaik-baiknya untuk membuat karya lukis Komponen Produk Kreativitas Keaslian bentuk (kemampuan menciptakan bentuk yang khas).

C. maka dilaksanakan FGD tahap III untuk membahas rubrik skor penilaian proses dan produk serta instrumen awal penilaian diri dan kelompok. M.Si Bambang P. dan kereliabelan instrumen yang akan dibuat. Dalam proses penyusunan rubrik skor ini.Pd Dodi sudaryanto Dwi Udawati F (Ahli pengukuran ) (Ahli pengukuran) (Ahli pengukuran) ( Pakar seni lukis anak UNY) ( Guru seni lukis SD) ( Guru seni lukis MIN Tempel) ( Guru seni lukis SD Sapen II) 284 . kevalidan. Heri Retnowati Suratno Mansyur. Target yang ingin dicapai Berdasarkan latar belakang. B. Peserta yang hadir Dr. Kriteria ini merupakan penjabaran dari deskripsi setiap indikator yang terdapat dalam penilaian. selain diperlukan adanya pakar serta guru seni lukis. setelah menkentukan deskripsi indikator baik untuk penilian proses maupun penilaian produk langkah selanjutnya adalah pembuatan rubrik skor untuk menentukan kriteria dari setiap level penilaian yang diberikan. Latar belakang Sebuah penilaian yang baik mengandung kriteria yang berlaku secara umum. perlu juga adanya ahli pengukuran untuk memberikan masukan terkait dengan segi kepraktisan. target dari FGD tahap III ini adalah menentukan rubrik penskoran untuk masing-masing indikator dalam penilaian proses dan produk serta membahas instrumen penilaian diri dan kelompok. S.Pd Sutarno. Oleh karena itu. Berdasarkan alasan inilah.Lampiran 3 FOCUS GROUP DISCUSSION TAHAP III “ PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. M.

30 15. relevan.30 17. pembahasan instrumen penilaian diri dan kelompok Penyimpulan dan penyampaian hasil diskusi Penutupan dengan doa bersama 15.00-15.00 E. tidak relevan. Diskusi sesi 2 untuk menentukan rubrik penskoran penilaian produk. sangat relevan. lengkap. sangat siap digunakan Baik kriterianya: lengkap. tidak siap digunakan Sangat kurang kriterianya: kurang lengkap . dan kurang lengkap Suratno Kriteria untuk setiap level dibuat dengan sederhana. jarang.Lampiran 3 D.Pd 285 . Heri Retnowati Level penilaian bisa berupa: tidak pernah.45 Aktivitas Pembukaan mengutarakan maksud dan tujuan FGD diikuti dengan perkenalan peserta yang hadir Presentasi pengenalan topik yang akan dibahas yaitu menentukan rubrik penskoran untuk setiap indikator pada penilaian proses dan produk. sangat tepat. S.30 18. tidak siap digunakan Sebaiknya kriteria diganti menjadi sangat baik. dan sering atau sangat lengkap. sangat sesuai dengan media sedangkan untuk level lainnya menyesuaikan. misalnya untuk tahap awal indikator 2 Sangat baik kriterianya: sangat lengkap.Si Bambang P.45-19. baik. kurang. kurang relevan. Deskripsi pelaksanaan FGD tahap III dilaksanakan pada tanggal 10 April 2007 bertempat di Ruang Sidang Program Pascasarjana UNY.30-15. Mansyur. M.30-18.45-17. sangat kurang Untuk tahap inti indikator 1 level sangat baik kriteriannya adalah: sangat cepat.45 18. Masukan peserta yang hadir Sesi 1 Pertanyaan Masukan peserta Bagaimanakah kriteria rubrik skor untuk penilaian proses Dr. Adapun jalannya pelaksanaan FGD tersebut disajikan pada tabel berkut: Waktu 15. cukup lengkap.Pd Sutarno. Untuk tahap inti indikator 2 level sangat baik kriterianya adalah: sangat cepat. cukup. siap digunakan Kurang kriteriannya: kurang lengkap. pembahasan awal instrumen penilaian diri dan kelompok Diskusi sesi 1 untuk menentukan rubrik penskoran penilaian proses. sangat tepat. M.30-18.

Kesimpulan Kesimpulan FGD tahap III ini dapat dilihat pada tabel 286 .Si Untuk penilaian produk indikator 2 level sangat baik kriteriannya: Sangat jelas Bambang P. M.Lampiran 3 sangat sesuai dengan karakteristik media sedangkan untuk level lainnya menyesuaikan Untuk tahap inti indikator 3 level sangat baik kriterianya adalah:sangat berani. sangat berani dalam karya Untuk penilaian produk indikator 3 level sangat baik kriteriannya:sangat sesuai karakteristik media.Pd Dodi sudaryanto Dwi Udawati F F. sangat bersih Untuk penilaian diri dan penilaian kelompok katagori jawaban dapat dibuat dengan menggambar ekspresi muka baik itu marah.Pd Untuk penilaian produk indikator 2 level sangat baik kriteriannya: sangat jelas. sangat tegas. S. biasa-biasa. Heri Retnowati Untuk penilaian produk indikator 1 level sangat baik kriteriannya: bentuk yang diciptakan sangat khas. atau senang Masukan peserta Sutarno. sangat cermat. sangat tepat . teknik sangat inovatif. M. konsep cerita sangat kaya Mansyur. sangat artistik Untuk tahap inti indikator 4 level sangat baik kriterianya adalah:Sangat bersungguh-sungguh Untuk tahap inti indikator 5 level sangat baik kriterianya adalah:Karya selesai sebelum waktu berakhir Dodi sudaryanto Dwi Udawati F Sesi 2 Pertanyaan Bagaimanakah kriteria rubrik skor untuk penilaian produk Dr. teknik sangat inovatif Suratno Untuk penilaian produk indikator 1 level sangat baik kriteriannya: bentuk yang diciptakan sangat khas. sangat tegas Untuk penilaian produk indikator 2 level sangat baik kriteriannya: sangat jelas.

Sangat baik perilaku (ekspresi. Cukup • • • • 1. Kurang • • • • 287 . Baik 2. ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik 3.Lampiran 3 Tabel 3 Rangkuman Hasil FGD Ketiga No 1 Indiaktor Komponen Proses tahap Awal Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Deskripsi Level Kriteria • • • • • • • • Bertanya seperlunya seputar tema lukisan kepada guru Tidak pernah mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan sangat cepat Memperlihatkan kegairahan yang sangat tinggi untuk memulai melukis Jarang bertanya seputar tema lukisan kepada guru Jarang mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan cepat Memperlihatkan kegairahan yang tinggi untuk memulai melukis Sering bertanya seputar tema lukisan kepada guru Cukup sering mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan cukup cepat Memperlihatkan kegairahan yang cukup tinggi untuk memulai melukis Sangat sering bertanya seputar tema lukisan kepada guru Sering mengeluh dengan tema yang diberikan Dapat menangkap instruksi guru untuk diterjemahkan kedalam karya lukis dengan lambat Memperlihatkan kegairahan yang kurang untuk memulai melukis Reaksi peserta didik berupa 4.

Kurang No 3 Indiaktor Komopnen Deskripsi Level Proses tahap Inti Kelancaran penuangan Kondisi peserta didik pada 4. Baik untuk memvisualisasikan ide tersebut 2. Cukup Kriteria • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan sangat lengkap • Alat dan bahan sangat siap untuk digunakan • Alat dan bahan sangat mendukung kegiatan melukis • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan lengkap • Alat dan bahan siap untuk digunakan • Alat dan bahan mendukung kegiatan melukis • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan cukup lengkap • Alat dan bahan cukup siap untuk digunakan • Alat dan bahan sangat mendukung kegiatan melukis • Membawa alat dan bahan untuk melukis dengan kurang lengkap • Alat dan bahan kurang siap untuk digunakan • Alat dan bahan kurang mendukung kegiatan melukis Kriteria • • • • • • • • • • • Sangat cepat dalam menemukan ide Sangat tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide Sangat cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Cepat dalam menemukan ide Tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide Cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Cukup cepat dalam menemukan ide Cukup tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide Cukup cepat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media Lambat dalam menemukan ide Kurang tepat dalam menggunakan media sesuai dengan ide 1. Baik lukisnya 2. Sangat baik yang sudah siap melakukan tugas dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya 3. Kurang 288 .Lampiran 3 No 2 Indiaktor Kesiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melukis Deskripsi Level Suatu kondisi peserta didik 4. Sangat baik waktu membuat karya lukis ide yaitu adanya keseimbangan antara ide yang ada dalam diri siswa dengan keterampilan 3. Cukup 1.

dan warna untuk menghasilkan bentuk yang orisional/khas 3. Kurang Kriteria • Sangat cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Sangat tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media sangat sesuai dengan karakteristiknya • Cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media sesuai dengan karakteristiknya • Cukup cepat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Cukup tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media cukup sesuai dengan karakteristiknya • Lambat dalam memilih media yang akan digunakan untuk melukis • Kurang tepat dalam menggunakan variasi media • Penggunaan media kurang sesuai dengan karakteristiknya No 5 Indiaktor Keberanian menggunakan unsur bentuk Deskripsi Level Kemampuan menggunakan 4. bidang. bidang) mendukung pertimbangan estetik • Penggunaan warna mendekati warna sebenarnya 289 .Lampiran 3 • Lambat dalam membuat unsur-unsur karya lukis sesuai dengan media No 4 Indiaktor Keberanian menggunakan media Deskripsi Level Kemampuan menggunakan 4. Sangat baik media (alat dan bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik bebas dalam melukis 3. Sangat baik unsur. Baik 2. Baik Kriteria • Variasi unsur-unsur bentuk (garis.titik. garis. bidang) sangat mendukung pertimbangan estetik • Penggunaan warna sangat mendekati warna sebenarnya • Sangat berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis • Variasi unsur-unsur bentuk(garis. Cukup 1.

Sangat baik menciptakan bentuk-bentuk baru) Tidak pernah melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang sangat tinggi dalam memodifikasi objek 290 . Baik 2. Kurang 7 Ketekunan Kondisi peserta didik untuk 4. Cukup • • • 1. Sangat baik untuk 3. Kurang • • • 6 Pemanfaatan waktu Penggunaan waktu baiknya dilakukan membuat karya lukis sebaik. bidang) cukup mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna cukup mendekati warna sebenarnya Cukup berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis Variasi unsur-unsur bentuk sedikit (garis. Cukup 1.4. Cukup 1. bidang) mendukung pertimbangan estetik Penggunaan warna tidak mendekati warna sebenarnya Kurang berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis Menyelesaikan karya lukis dengan sangat tepat waktu Memperlihatkan hasil karya lukis yang sangat tuntas Menyelesaikan karya lukis dengan tepat waktu Memperlihatkan hasil karya lukis yang tuntas Menyelesaikan karya lukis dengan cukup tepat waktu Memperlihatkan hasil karya lukis yang cukup tuntas Menyelesaikan karya lukis dengan kurang tepat waktu Memperlihatkan hasil karya lukis yang kurang tuntas Sangat serius dalam membuat karya lukis Perhatian terhadap karya lukis sangat terfokus Serius dalam membuat karya lukis Perhatian terhadap karya lukis terfokus Cukup serius dalam membuat karya lukis Perhatian terhadap karya lukis cukup terfokus Tidak serius dalam membuat karya lukis Perhatian terhadap karya lukis kurang terfokus Keaslian bentuk (kemampuan 4. Kurang No 8 Indiaktor Komponen Produk Kreativitas Deskripsi Level • • • • • • • • • • • • • • • • Kriteria • • Berani dalam menggabungkan unsur-unsur bentuk dan warna pada karya lukis Variasi unsur-unsur bentuk (garis.3.Lampiran 3 • 2. Sangat baik mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguh. Baik sungguh 2.

Sangat baik mengungkapkan isi/tema/konsep lukisan 3. Cukup 1. Kurang No 9 Indiaktor Ekspresi Deskripsi Level Kejelasan dalam 4. Baik 2. Baik • Kriteria • Sangat jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan • Sangat tegas/ spontan dalam mengungkapkan garis • Sangat berani dalam mengorganisasikan unsur-unsur karya lukis • Jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan • Tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna 291 .Lampiran 3 • • • • • • • • • • • • • • • • • Warna yang digunakan sangat bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang sangat tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang sangat banyak Jarang melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang tinggi dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang banyak Cukup sering melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan cukup bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang cukup banyak Sering melakukan pengulangan bentuk Memperlihatkan kemampuan yang kurang dalam memodifikasi objek Warna yang digunakan kurang bervariasi Memperlihatkan kemampuan yang kurang dalam menciptakan bentuk-bentuk baru Mengandung konsep cerita yang kurang banyak 3.

Baik 2. Cukup No 10 Indiaktor Teknik Deskripsi Level Kemampuan menggunakan alat 4.Lampiran 3 • • • • 1. Sangat baik dan bahan sesuai dengan karakteristiknya serta kebersihan karya yang dihasilkan 3. Kurang Kriteria • Alat dan bahan yang digunakan sangat sesuai karakteristiknya • Sangat teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan sangat bersih • Alat dan bahan yang digunakan sesuai karakteristiknya • Teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan bersih • Alat dan bahan yang digunakan cukup sesuai karakteristiknya • Cukup teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan cukup bersih • Alat dan bahan yang digunakan kurang sesuai karakteristiknya • Kurang teliti dalam penyelesaian karya • Karya yang dihasilkan kurang bersih 292 . Kurang • • • Berani dalam mengorganisasikan unsur-unsur karya lukis Cukup jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Cukup tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Cukup berani dalam mengorganisasikan unsur-unsur karya lukis Kurang jelas dalam mengungkapkan lukisan sesuai dengan tema yang diberikan Kurang tegas/spontan dalam mengungkapkan garis dan warna Kurang berani dalam mengorganisasikan unsur-unsur karya lukis 2. Cukup 1.

Peserta yang hadir Prof.Pd Endang Sulistyowati.Pd Sujiatno. target dari seminar ini adalah untuk melakukan fiksasi terhadap instrumen penilaian seni lukis anak yang terdiri dari instrumen penilaian proses dan produk. dilaksanakanlah seminar instrumen dengan melibatkan pakar seni lukis anak .Pd Sudiyatno. Latar belakang Berdasarkan hasil yang diperoleh dari FGD tahap I. Oleh karena itu. C.D Dr. M. instrumen penilaian diri. Sofyan Salam.Pd Mansur.Pd Wasis. instrumen penilain diri. M. M. instrumen yang telah disusun tersebut masih memerlukan fiksasi dari ahli-ahli pengukuran. serta mahasiswa S3 program studi PEP. Ph. Namun demikian. maka disusunlah instrumen penilaian seni lukis anak yang terdiri dari instrumen penilaian proses dan produk. M. II. M. M. Heri Retnowati Suratno.Lampiran 4 SEMINAR “ PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. M. dan III.Pd (Pakar seni lukis anak/promotor) (Ahli pengukuran) (Ahli pengukuran) (Ahli pengukuran) ( Dosen dan Mahasiswa PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) ( Dosen dan Mahasiswa S3 PEP) 293 . B. dan instrumen penilaian kelompok. dan instrumen penilaian kelompok. ahli pengukuran. M.Pd Kulsum.Pd Harun. Target yang ingin dicapai Berdasarkan latar belakang.

Adapun kronologis pelaksanaan seminar tersebut disajikan pada tabel berkut: Waktu 08.40 E. Heri Retnowati Penentuan level dilakukan dengan menentukan banyaknya kriteria yang dipenuhi.Pd Dalam menentukan level dengan cara menentukan banyaknya kriteria yang dipenuhi.30-08.30 08.Pd Suatu instrumen harus disusun sesederhana mungkin tetapi mewakili apa yang ingin kita ketahui dengan instrumen itu.00-08. Oleh karena itu. instrumen penilaian diri. dan instrumen penilaian kelompok Diskusi sesi 1 untuk fiksasi instrumen penilaian proses dan produk Diskusi sesi 2 untuk fiksasi instrumen penilaian diri dan kelompok Penyimpulan dan penyampaian hasil diskusi Penutupan dengan doa bersama 08. M. kita tidak harus menggunakan sistem hierarkis artinya dari atas kebawahtetapi bebas kriteria yang terpenuhi Harun.15-10.15 09.D Kata-kata sangat atau segera dihilangkan karena indikator yang menyatakan sangat atau segera sangat sulit ditentukan Dr. M.15 10.30 10.Sofyan Salam. misalnya sebagai berikut: • Sangat baik jika ketiga kriteria terpenuhi • Baik jika hanya dua kriteria yang terpenuhi • Kurang jika hanya satu yang terpenuhi • Sangat kurang jika tidak ada satu pun kriteria yang terpenuhi Suratno.Pd Penentuan level dilakukan berdasarkan banyaknya keterpenuhan kriteria.Lampiran 4 D. Deskripsi pelaksanaan Seminar dilaksanakan pada tanggal 16 April 2008 bertempat di Ruang Diskusi Mahasiswa Program Pascasarjana UNY. Masukan peserta yang hadir Sesi 1 Pertanyaan Masukan peserta Berapa persenkah bobot untuk penilaian proses dan produk Prof. dengan demikian setiap level mengandung kriteria yang sama hanya tingkat keterpenuhannya yang berbeda Mansur. 294 .30-10.15-10.15 Aktivitas Pembukaan mengutarakan maksud dan tujuan seminar diikuti dengan perkenalan peserta yang hadir Presentasi pengenalan topik yang akan dibahas yaitu instrumen penilaian proses dan produk. Ph. M.15-09.

M.Sofyan Salam. netral berwarna kuning. Kesimpulan Kesimpulan dari seminar ini berupa draft instrumen penilaian seni lukis anak yang siap digunakan.Lampiran 4 kriteri ada baiknya dibatasi maksimal terdiri dari tiga buah kata Perlu dilakukan penyederhanaan kata-kata agar lebih mudah untuk digunakan Setiap kriteria tidak menunjukan tingkatan. sebaiknya gambar yang dimunculkan diberi aksen warna yang disesuaikan dengan gambar tersebut.Pd Soal berbentuk uraian cukup diberikan satu soal karena untuk menghindari kejenuhan siswa dalam menuliskan ungkapan ekspresinya Mansur. jadi keterpenuhan kriteria tidak harus dari atas ke bawah atau sebaliknya. Misal marah berwarna merah. M.D Penggunaan gambar pada sebuah angket merupakan sesuatu yang baru dan menarik serta mudah digunakan siswa Dr.Pd Sesi 2 Pertanyaan Masukan peserta Apakah indikator-indikator yang termasuk dalam penilaian proses dan penilaian produk seni lukis anak Prof. M.Pd Agar lebih menarik. sebuah angket perlu juga memperhatikan desainnya seperti identitas siswa hal ini dimaksudkan agar pengisian angket tidak dilakukan serta merta.Pd Instrumen penilaian yang dikombinasikan dengan gambar merupakan sesuatu yang baru dan menarik. 295 .Pd Wasis. Heri Retnowati Disamping adanya soal pilihan ganda. M. Ph. Kulsum.Pd Sudiyatno. M. senang berwarna hijau. M. praktisi yaitu guru seni akan lebih mudah dalam menggunakan instrumen ini Penentuan level penilaian dengan metode tingkat keterpenuhan kriteria akan mempermudah guru dan menghemat waktu penggunaanya Endang Sulistyowati. M. M. perlu juga ditambahkan adanya soal yang berbentuk uraian agar siswa dapat lebih mengekspresikan perasaanya Suratno. Instrumen tersebut akan berdampak pada tingkat keakuratan siswa dalam mengungkapkan perasaanya terkait dengan aktivitas seni rupa yang dilakukan F. Harun.Pd Sujiatno.Pd Selain dari segi konten. tetapi dapat diacak Dengan tidak memberlakukannya sistem hierarkis.

Kesiapan bahan dan alat yang akan digunakan untuk melukis Tahap inti 1. Keberanian menggunakan unsur-unsur bentuk 4. Kreativitas dari karya yang dihasilkan 2.Lampiran 5 KISI-KISI INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” KISI-KISI LEMBAR EVALUASI DIRI No 1 2 3 Indikator Perasaan siswa terhadap tugas yang diberikan Kemampuan siswa dalam mengerjakan tugas Perasaan siswa terhadap karya yang dihasilkan KISI-KISI LEMBAR EVALUASI KELOMPOK No 1 2 3 4 Indikator Kemampuan siswa dalam menggambar objek Kemampuan siswa dalam memilih warna Kebersihan karya Penilaian terhadap lukisan secara keseluruhan Butir 1 2 3 4 Butir 1 2.3 4 KISI-KISI ANGKET PENILAIAN PROSES DAN PRODUK No A. Indikator Tahap awal 1. Pemanfaatan waktu 5. Ketekunan dalam membuat karya Tahap akhir 1. 296 . Ekspresi dari karya yang dihasilkan 3. Teknik dari karya yang dihasilkan Butir 1 2 B. Tanggapan anak tentang tema lukisan yang akan dibuat 2. Kelancaran penuangan ide 2. Keberanian menggunakan media 3. 1 2 3 4 5 1 2 3 C.

ucapan) yang menunjukkan kegairahan peserta didik terhadap tema yang diberikan pendidik 3. Sangat baik yang akan digunakan sudah siap melakukan tugas untuk melukis dengan perlengkapan bahan dan alat yang dipilih untuk pembuatan karya lukisnya 3.Sangat kurang 2 Kesiapan alat dan bahan Suatu kondisi peserta didik yang 4. Baik 297 . Sangat baik perilaku (ekspresi. PROSES PEMBELAJARAN 1. Baik Kriteria Terpenuhi 3 aspek • Menerima • Memahami • Melaksanakan Terpenuhi 2 aspek • Menerima • Memahami • Melaksanakan Terpenuhi 1 aspek • Menerima • Memahami • Melaksanakan Tidak terpenuhi 3 aspek • Menerima • Memahami • Melaksanakan Terpenuhi 3 aspek • Lengkap • Relevan • Siap digunakan Terpenuhi 2 aspek • Lengkap • Relevan • Siap digunakan 2.Lampiran 5 RUBRIK SKOR RUBRIK SKOR PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN SENI LUKIS ANAK” A. Tahap Awal No 1 Indikator Tanggapan anak tentang tema lukisan yang dibuat Deskripsi Level Reaksi peserta didik berupa 4. Kurang 1.

Lampiran 5 2. Kurang 1. Kurang Terpenuhi 1 aspek • Lengkap • Relevan • Siap digunakan Tidak terpenuhi 3 aspek • Lengkap • Relevan • Siap digunakan 1. Tahap Inti No 1 Indikator Kelancaran ide Level penuangan Kondisi peserta didik pada 4.Sangat kurang 2 Keberanian menggunakan media Keberanian menggunakan media 4.Sangat kurang 2. Sangat baik (alat dan bahan) dengan menggunakan teknik konvensional atau teknik 298 . Baik memvisualisasikan ide tersebut Kriteria Terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Terpenuhi 2 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Terpenuhi 1 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan media Tidak terpenuhi 3 aspek • Lambat • Tepat • Sesuai dengan media Terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media 2. Sangat baik waktu membuat karya lukis yaitu adanya keseimbangan antara kualitas ide yang dikembangkan dengan keterampilan untuk 3.

Lampiran 5 inkonvensional dalam melukis 3. Sangat baik mengerjakan tugas membuat karya lukis dengan sungguhsungguh 3. 4. Kurang 1. 3. Kurang 1. Baik Bersungguh-sungguh .Sangat kurang 3 Keberanian menggunakan unsur bentuk Keberanian menggunakan titik. Baik 2.Sangat kurang 4 Ketekunan Kondisi peserta didik untuk 4.garis. dan warna secara tepat untuk menghasilkan bentuk yang artistik. Baik Terpenuhi 2 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Terpenuhi 1 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Tidak terpenuhi 3 aspek • Cepat • Tepat • Sesuai dengan karakteristik media Terpenuhi 3 aspek • Berani • Tepat • Artistik Terpenuhi 2 aspek • Berani • Tepat • Artistik Terpenuhi 1 aspek • Berani • Tepat • Artistik Tidak terpenuhi 3 aspek • Berani • Tepat • Artistik • • 299 Sangat bersungguh-sungguh 2. Sangat baik unsur. bidang.

Kurang 1. Baik • 2. PRODUK No Indikator 1 Kreativitas • • Karya selesai tepat waktu Karya hampir selesai saat waktu berakhir Karya tidak selesai saat waktu berakhir • Tidak bersungguh-sungguh Kurang bersungguh-sungguh Karya selesai sebelum waktu berakhir Level Keaslian bentuk (kemampuan 4. Kurang 300 .Lampiran 5 2. Sangat baik untuk 3.Sangat kurang • 5 Pemanfaatan waktu Penggunaan waktu baiknya dilakukan membuat karya lukis sebaik. kebaruan teknik dan konsep cerita 3.4. Kurang • 1. Baik Kriteria Terpenuhi 3 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Terpenuhi 2 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Terpenuhi 1 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya 2.Sangat kurang B. Sangat baik menciptakan bentuk yang khas).

Sangat kurang 3 Teknik Kemampuan menggunakan alat 4. Baik 301 . serta kebersihan karya yang dihasilkan 3. Kurang 1. Sangat baik dan bahan yang sesuai dengan karakteristiknya. Baik 2.Sangat kurang Tidak terpenuhi 3 aspek • Bentuk yang diciptakan khas • Teknik inovatif • Konsep cerita kaya Terpenuhi 3 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Terpenuhi 2 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Terpenuhi 1 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Tidak terpenuhi 3 aspek • Jelas • Tegas • Berani dalam karya Terpenuhi 3 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Terpenuhi 2 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih 2. Ekspresi Kejelasan dalam 4. Sangat baik mengungkapkan pikiran dan perasan dalam karya seni lukis sesuai dengan tema 3. kualitas cara penggambaran.Lampiran 5 1.

Lampiran 5 2. Kurang Terpenuhi 1 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih Tidak terpenuhi 3 aspek • Sesuai karakteristik media • Cermat • Bersih 1.Sangat kurang 302 .

................................. Teknik dari karya yang dihasilkan Catatan: .....................1 Proses Tahap awal Baik (3) Kurang (2) Sangat kurang (1) 1........... Kreativitas dari karya yang dihasilkan 2........... Kelancaran penuangan ide 2................................................................. Tanggapan anak tentang tema lukisan yang akan dibuat 2......... Pemanfaatan waktu 5................... Keberanian menggunakan unsurunsur bentuk 4.... Keberanian menggunakan media 3........ Ketekunan dalam membuat karya B Produk 1.............................. 303 .......... Kesiapan bahan dan alat yang akan digunakan untuk melukis A................2 Tahap inti 1............Lampiran 5 ANGKET PENILAIAN PROSES DAN PRODUK ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ANAK” Nama siswa : KODE G02 Kelas/semester : Nama tugas Tanggal Nama penilai : : : Berilah tanda v pada kolom yang sesuai dengan pilihan anda! No Indikator Sangat baik (4) A A.......................... Ekspresi dari karya yang dihasilkan 3...... ...............

..................................... 304 ................................. Ceritakanlah pengalaman menarikmu serta kendala-kendala yang dihadapi selama pembuatan karya lukis serta usaha-usaha untuk mengatasi kendala-kendala tersebut ! .. KODE S01 2............................................. 3...........terhadap hasil pekerjaan saya.............. Saya.....................................Lampiran 5 LEMBAR PENILAIAN DIRI ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ANAK” Nama : Tanggal : Nama tugas : Tanggal pengumpulan : Berilah tanda v pada kotak yang dipilih! 1............................................................................................................ dalam mengerjakan tugas................................ Saya.. ..... .................................................................................................... dalam proses penciptaan karya saya 4................ Saya ..........................terhadap tugas yang diberikan... Saya .....

........................................................................... Nama penilai: 305 ................... ........... Saya …………………terhadap komposisi warna yang digunakan................. Berilah saran dan pendapatmu terhadap karya lukis yang dibuat! . Saya ....................................... Saya…………………terhadap lukisan secara keseluruhan............terhadap bentuk objek lukisan.................Lampiran 5 LEMBAR PENILAIAN KELOMPOK (Peer Assessment) ”PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN SENI LUKIS ANAK” Nama pemilik : Tanggal : Nama tugas : Tanggal pengumpulan : Berilah tanda v pada kotak yang dipilih! 1... ...... Saya…………………...........................................terhadap kebersihan lukisan 4.................................................................................................................... 3.......................... KODE S02 2...

  Malaghina Kusuma H  Rio Satya Fauzi  Freddy PP  Siti Aziroh Rahmatika  Shella Kumalasari  Shelli Puspitasari  Sugiharto.Lutfi Mahendra  M. Farid Abdurrahman        Sutarno  1  3  3  4  4  3  4  3  3  2  4  3  4  4  4  4  3  3  3  4  3  4  1  4  3  3  4  4  3  4  4  2  2  4  4  3  3  4  4  2  4  4  4  2  4  4  4  4  4  4  4  4  2  4  4  4  4  4  4  4  4  2  2  4  4  3  4  2  3  2  4  4  4  4  3  4  4  3  1  4  3  4  4  2  3  3  3  4  3  4  4  2  2  4  4  4  3  4  4  3  3  4  4  2  2  4  4  4  4  4  4  4  2  4  4  3  3  3  3  2  4  2  3  4  4  2  4  2  2  2  3  3  3  4  3  4  3  2  3  3  2  3  3  3  3  3  4  4  3  3  4  2  2  4  4  3  3  3  4  3  4  4  3  3  3  4  4  3  4  4  4  4  4  4  3  3  4  3  4  3  4  1  3  4  4  3  4  2  3  2  3  3  4  4  3  3  3  2  3  3  3  3  3  3  2  3  4  4  4  4  4  2  2  4  4  3  2  4  3  3  4  4  3  3  4  4  4  3  4  4  3  4  3  4  3  3  4  3  4  2  4  1  2  4  4  2  4  2  3  1  2  3  3  4  3  3  2  2  3  4  1  3  2  2  2  3  4  4  4  3  4  2  2  4  4  3  2  4  3  4  4  4  3  3  3  3  4  3  4  4  3  4  2  4  3  3  4  3  4  4  4                  Udawati  2  3  4  4  2  4  2  2  2  3  3  3  4  3  4  2  2  3  3  3  3  3  3  3  3  4  4  3  3  4  2  2  4  3  3  3  3  3  3  4  4  3  3  3  4  4  4  4  4  4  4  4  4  3  3  3  3  4  3  4  1  3  4  4  3  4  2  3  2  3  4  3  4  3  3  3  2  3  3  3  3  3  3  2  3  4  4  4  4  4  2  3  4  3  3  3  4  3  3  4  4  3  3  4  4  4  3  4  4  3  4  3  4  3  3  3  3  3  2  4  1  2  4  4  2  4  2  3  1  3  3  3  4  3  3  3  2  3  3  1  3  2  2  2  3  3  4  4  3  4  2  2  4  2  3  3  4  3  4  4  4  3  3  3  3  4  4  4  4  3  4  2  4  3  3  3  3  4  3  4  2  3  2  4  3  2  3  3  3  4  2  3  4  3  3  2  3  4  2  3  2  2  4  3  3  3  4  3  3  4  2  3  3  3  3  3  4  3  4  4  4  3  3  3  4  4  3  4  3  3  4  2  4  4  3  4  4  4  2  4              Dodi  1  3  3  4  3  4  2  3  2  2  3  3  4  4  4  3  2  3  3  3  3  3  3  2  3  4  4  4  4  4  2  2  4  4  3  3  3  4  3  4  4  3  3  4  4  4  3  4  4  3  4  3  4  3  3  3  4  4  3  4  1  2  3  4  2  4  2  3  1  2  3  3  4  4  4  3  2  3  2  3  3  2  2  2  3  4  4  4  3  4  2  2  4  4  3  4  3  4  4  3  4  3  3  3  3  4  3  4  4  3  4  2  4  3  3  3  3  3  3  4      2  3  4  5  6  7  1  2  3  4  5  6  7  1  2  3  4  5  6  7  2  3  4  4  3  4  3  3  3  3  3  3  4  3  3  3  3  4  4  3  2  2  4  3  3  3  4  3  3  4  2  3  3  3  3  3  4  4  4  4  4  3  3  3  4  4  3  4  4  3  4  2  4  4  3  4  4  4  2  4  1  2  2  2  1  2  1  1  2  2  2  2  4  2  2  2  3  3  3  3  3  3  3  3  4  4  3  4  4  4  2  3  3  3  4  3  3  4  4  4  4  4  4  4  4  4  4  4  4  3  4  2  4  4  4  3  3  4  3  4  3  3  4  4  3  4  3  3  2  2  3  3  4  2  4  2  3  3  3  3  4  1  4  3  3  4  4  3  4  4  2  2  4  3  3  3  4  3  2  4  4  4  2  4  4  4  3  4  4  4  4  2  4  4  4  3  4  4  3  4  2  2  4  4  3  4  2  3  2  3  3  3  4  3  3  3  3  1  3  3  4  4  2  3  3  3  4  3  4  4  2  2  4  3  4  3  4  3  3  3  4  4  2  2  4  4  3  4  4  4  4  2  4  4  3  3  4  2  2  4  1  2  3  2  1  4  1  1  2  3  3  3  4  3  4  3  3  3  3  2  3  3  3  3  4  4  3  3  4  4  2  3  3  3  4  3  3  3  4  4  4  4  4  4  4  4  3  4  4  3  4  2  4  4  4  4  4  4  2  4  3  3  3  4  3  4  3  3  2  1  1  2  4  4  4  3  3  3  1  1  4  1  4  3  3  4  4  3  4  4  2  2  4  4  3  3  4  3  2  4  4  4  2  4  4  4  3  4  4  4  4  2  4  4  4  4  4  4  3  4  2  2  3  4  3  4  2  3  2  3  3  3  4  4  4  3  3  1  3  3  4  4  2  3  3  3  4  3  4  4  2  2  4  4  4  4  4  4  3  4  4  4  2  2  4  4  4  4  4  4  4  2  4  4  3  4  4  2  2  4  2  3  4  4  2  4  2  2  2  2  3  3  4  4  4  3  2  3  3  3  3  3  3  3  3  4  4  3  3  4  2  2  4  4  3  4  4  4  3  4  4  3  3  3  4  4  3  4  4  4  4  4  4  3  3  4  4  4  4  4  2  3  3  4  3  4  3  3  3  4  2  2  4  3  3  2  3  4  2  3  2  2  4  3  3  4  4  4  3  4  2  3  3  4  3  3  4  3  4  4  4  3  3  3  4  4  2  4  4  3  4  2  4  4  3  4  4  4  1  4  1  2  3  2  1  2  1  1  2  2  3  2  4  4  4  3  3  3  3  3  3  3  3  3  4  4  3  3  4  4  2  3  3  4  4  3  4  3  4  4  4  4  4  4  4  4  3  4  4  3  4  2  4  4  4  4  4  4  2  4  Muhammad Roofi'l A  Nida Salma Hajaroh  Nurfitri Andani  Ragil Saputro Mujiono  Rif'atul Widaan Khotibin Tamhid  Royhan Ikbar  Sekar Cendana Arum  Nadila Fatimatuzzahra A.Lampiran 6 Data Penilaian Proses Kelas I  Nama  Ade Firmansyah  Daffa Malik Falaq  Deandra Visto D  M.M  306 .B.A.  Amelia Noor Putri M  Artantri Widasari  Chatarine Dyela Eillen R  Dicky Armayuda  Eridani Kartiko Adi  Gatot Ismail  Gufron Gilang Zahru Saputra  Indah Budi Kartikarini  Insan Fadilah Harvianto  Ismalia Ramadhani Putri  M. Dava Surya Abi Y.N  Siska Tri W  Yacinta Nararia S  Karizma Putri R  Salwa Sauzan R  Alfia Rahma De  Anissa N.Naufal Rizqita  Rayhan Adikusuma  Rizky Dafa P  Aqlia Tsalisa Azmani  Ashylla Paramadanti  Cahyaningtyas Iftitah  Chairunnisa Yulia W  Dyah Pradina P  Dyah Sekar Ayu K  Fahra Prahastanti P  Hana Fazah Nur S  Keisha Amadea  Nabila Permata Sari  Nur Azizah  Ranita Salsabila  Ria Rahma Sukma W  Septiana Tidar  Andika Bagas  Andi Maulana  Ade Itko M  Anindita Dara L  David Revaru  Vebrian Agung W  Kurniawan Dwi Y  M.

Tsani Ihsani Y Muh.Lampiran 6 Data Penilaian Proses Kelas II Nama Afkar Zaka Y Alif Fahmi Mahendra Azka Hikam Z M.Zauhar Nanda Naya P. Aqib Husni Fadhli Muh. Abdul Gani Sarining Hanggani Kasih Teddy Arfansyah N Yuliana Larasari Dikta Wahyu Pratama Awang Pramono Isla Magda S Joko Bagus B Novia Permatasari Kusuma Nuraini Yulia Catur Wulandari Ikhsan Panji Irawan A'Issyatun Wahyu Ningsih Ainun Amaliya Paramita Arini Dewi Nuraini Chusnunnisa Suryanudin Ummu Habibah Halida Salsabila Hasna Maretta Sausana Hasna Ulfiaa Humairoh Rosida Akhir Khilmi Khayatun Nisha Kiki Dwi Widyasari Lutfina Aribah Miftakhurrohmah Nafisa Ainurrahmah Novryan Armawida Rizki Putri Utami Salman Kurnia Haq Sinta Primadita Siti Maryam S Wakhid Hasyim Sutarno 1 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 4 3 3 3 4 4 3 4 4 3 2 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 Udawati 6 4 4 2 4 2 2 3 3 4 4 3 3 4 3 4 4 4 4 4 3 2 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 3 4 2 3 4 4 4 3 3 4 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 2 4 4 Dodi 6 4 4 3 4 4 2 3 2 2 3 2 3 4 3 4 4 4 3 2 2 2 3 4 4 3 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 2 4 3 3 2 3 4 4 3 3 3 4 2 3 3 3 4 4 4 4 3 3 2 4 4 2 3 4 3 1 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 2 3 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 3 4 4 3 4 4 4 2 3 4 4 4 3 4 4 2 2 2 2 4 2 4 4 3 3 4 3 3 4 4 2 3 4 3 4 3 3 3 4 4 4 4 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 3 4 3 2 3 3 4 3 4 3 3 4 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 4 4 4 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 4 3 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 4 4 2 3 3 5 3 4 3 4 4 4 2 2 3 4 4 3 2 4 4 4 4 4 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 4 3 3 4 4 4 3 3 3 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 2 3 4 7 3 3 3 3 4 4 1 2 2 2 3 2 2 2 2 4 4 4 3 2 4 4 4 4 3 4 2 3 3 3 4 4 4 4 4 2 4 3 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 2 4 4 1 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 2 3 3 4 4 3 3 3 3 4 3 4 3 4 3 3 4 3 3 4 3 4 4 4 4 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 3 3 2 4 4 2 3 4 3 1 4 4 3 3 3 4 4 3 4 3 2 4 3 4 2 3 2 3 3 4 4 4 3 4 3 4 3 4 3 4 3 2 4 3 3 4 3 4 4 3 2 3 4 3 4 3 3 4 2 2 2 2 3 2 4 4 3 3 4 3 3 2 4 2 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 2 3 3 4 4 3 4 3 4 4 3 4 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 4 2 3 2 3 4 4 4 3 4 3 2 3 3 4 3 4 2 3 4 4 3 3 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 4 4 4 3 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 3 2 3 3 5 3 4 3 4 4 4 2 2 3 4 3 3 2 3 4 4 4 3 2 3 2 3 4 3 4 3 2 4 3 4 3 3 3 4 3 2 4 2 2 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 2 3 4 4 3 3 3 3 2 4 4 7 3 3 3 3 4 4 1 3 4 3 3 3 2 4 4 4 4 3 2 3 4 4 4 4 3 2 4 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 3 3 3 3 4 4 3 3 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 2 3 4 1 3 4 3 3 2 4 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 3 3 4 3 3 4 3 4 4 4 4 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 3 4 2 4 4 2 3 4 3 1 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 3 4 4 3 4 4 4 2 3 4 4 4 4 4 4 2 2 2 2 4 2 4 4 3 3 4 2 3 4 2 2 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 4 2 3 2 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 3 2 3 3 5 3 3 3 4 4 4 2 2 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 4 4 2 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 2 4 2 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 4 4 3 2 4 4 6 4 4 3 4 4 4 3 2 3 3 4 3 4 3 4 4 3 4 4 3 2 3 4 4 3 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 2 4 3 3 2 3 4 4 4 3 3 4 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 2 4 4 7 3 4 3 3 4 4 1 3 4 4 4 4 2 4 2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 2 4 3 4 3 3 4 4 4 3 3 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 2 3 4 307 .W Pradipta Wisnu Timur Dwi Indraja Agni Vasha Salsabila Alvira Niryana Aulia Astagina Dhiyaurrohmah Kamila Muyasaroh Melinia Debbytasari Noor Diana Arrasyid Oktaviana Rahindra Shafa Nabilla Haya Sheila Alfauziya P Yuliana Zahrajuncta Lusiana Martini Amelia Prisca Brigita Anggun Pratiwi Anisa Nur Rahmah Arviananda Ade H Bintang Nugrahani Galang Permataputra Galuh Intisari Muh.

Afdan Nurul Hilman  M.Lampiran 6 Data Penilaian Proses Kelas III  Nama  Alwi Izha Farandi  David Aldi Saputra  Laode Aldifan  M.Fauzan  M.Zulfikar  Muqni Aqsoinna  Suryatama Gallang  Aulia Rizki  Dini Puspo  Elfira Ciptaningtyas  Elma Damarista  Fadhila Khoirunisa  Inna Salma Fahman  Khanifah Noor  Nur Amalia Andini  Ratu Yeremenia S  Syifa Azizah  Ade Yoga Endy S  Bekti Rachmawati  Maria Sri Adiningsih  Novianto Adi Saputra  Wahyu Praktika D  Yunina Dea J  Bilqies Amalia A  Nova Puspitasari  Anggita Wulandari  Anjas Deva Felano  Eria Putri Pratiwi  Fitriyani  Ika Purwaningsih  Ilham Yusril Munawar  Massayu Seilla Annisa  Musriati  Rivan Pandu Adi Winata  Muh.Ibrahim  M. Miftahul Firdaus  Anggi Dwina Siregar  Rusmini  Afiana Nurkholishotus Shohibah  Andi Rahmat Wulansyah  Eka Yuliani  Fegi Tri Damayanti  Fitri Nurul Hanifah  Imam Zuhdi  Inna Rahmatul Ulya  Jalu Ukir Damatama  Hilda Ayu Wibisana  Ninggih Annisa Daniswara  Pilar Paksi Pratama  Rafli Khooinurizal  Rapsanjani  Riswa Rahman Fahmi  Rivani Rahmania Afifah  Rizki Nur Chaerani  Rizqi Haritz Pebiantara  Zanityara Syah Syadila  Zetta Nillawati Reyka Putri  Nurul Arifah        Sutarno  2  3  3  4  4  3  3  3  4  4  3  4  4  4  4  3  3  3  3  3  2  3  3  3  3  4  3  4  4  3  4  2  4  3  4  4  4  4  3  3  4  3  2  3  4  4  4  4  3  3  4  4  3  2  4  3  4  4  4  4  2  4  3  4  4  3  3  3  3  4  3  4  4  4  4  4  4  2  4  4  2  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  2  4  3  4  4  3  3  4  3  4  4  4  4  4  4  3  3  3  3  4  3  2  2  3  4  4  4  4  4  3  3  3  4  4  1  3  3  4  4  3  3  4  4  4  3  3  3  3  3  2  2  2  3  3  4  3  3  3  3  3  2  4  3  3  3  4  4  3  3  4  3  3  3  4  3  3  4  3  4  3  3  3  2  4  3  4  3  3  3  2  3  3  4  4  2  3  3  4  3  4  4  4  4  4  3  3  3  4  3  2  2  3  3  3  4  3  3  3  4  4  2  3  3  3  3  4  4  3  4  3  3  3  3  4  3  3  4  2  4  3  3  3  2  3  2  4  3  3  2  1  3  3  4  4  2  2  2  4  3  3  4  4  3  4  3  3  3  3  3  2  2  3  3  3  4  3  3  3  4  4  2  4  3  4  3  4  4  3  4  4  3  3  3  4  3  3  4  2  4  3  4  3  2  3  2  4  3  3  2  3  3  3  4  4  4  3  3  3  3  3  3  4  3  3  3  3  3  4  3  4  2  3  2  3  4  3  4  4  4  4  2  4  2  3  3  4  3  3  3  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  3  4  3  2  3  4  4  2  3  3                Udawati  3  3  3  4  4  3  3  3  3  4  3  3  4  4  4  3  3  3  3  3  2  2  2  3  3  4  3  3  3  2  4  2  3  3  3  3  4  4  3  3  4  4  3  3  4  3  3  4  3  4  3  3  3  2  3  3  4  3  3  3  2  3  3  4  4  3  3  3  3  3  3  4  4  4  4  3  3  3  4  3  2  2  3  3  3  4  3  3  3  3  4  2  3  3  3  3  3  4  3  4  4  3  3  3  4  3  3  4  2  4  3  3  3  2  3  3  3  3  3  2  1  3  3  4  4  3  3  3  3  4  3  4  4  3  4  3  3  3  3  3  2  2  3  3  3  4  3  4  3  2  4  2  3  3  4  2  4  4  3  4  4  3  3  3  4  3  3  4  2  4  3  4  2  2  3  3  3  3  3  2  3  3  3  4  4  4  3  3  3  3  3  3  4  3  3  3  3  3  4  3  4  2  3  2  3  4  4  4  4  3  4  2  3  2  3  4  4  3  3  3  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  3  4  3  2  3  3  4  2  3  3              Dodi  2  3  3  4  4  3  3  3  3  4  2  2  4  4  4  4  3  3  4  3  2  2  3  3  3  4  3  4  3  3  4  2  3  3  3  3  3  4  3  4  4  3  3  3  4  4  3  4  2  4  3  3  2  2  2  3  4  3  3  2  1  3  3  4  4  3  3  3  3  4  2  2  4  3  4  4  3  3  3  3  2  2  3  3  3  4  3  4  3  2  4  2  3  3  4  3  3  4  3  4  4  4  3  3  4  4  3  4  2  4  3  4  2  2  2  2  4  3  2  2      1  2  3  4  5  6  7  1  2  3  4  5  6  7  1  2  3  4  5  6  7  3  3  4  4  4  1  3  3  4  4  4  4  4  4  4  4  3  2  3  3  3  3  3  3  3  4  4  4  3  3  4  2  4  3  4  4  4  4  4  4  4  4  4  3  4  3  4  4  3  4  3  4  3  2  4  3  4  3  4  4  2  4  3  4  4  4  3  3  4  4  3  4  4  4  4  3  3  2  3  3  2  3  3  3  3  4  3  3  3  3  3  2  3  3  4  3  2  4  3  3  3  3  2  3  4  3  4  4  3  3  4  4  3  2  3  3  4  4  3  4  2  3  3  4  4  4  3  4  3  4  3  4  4  4  4  4  4  2  4  4  2  3  3  3  3  4  3  3  3  3  3  2  3  3  4  3  3  3  4  3  3  4  4  4  4  4  3  3  3  3  4  3  2  2  3  3  3  4  3  4  3  3  4  4  4  4  3  3  4  3  3  4  4  4  4  4  3  3  3  3  3  3  3  3  3  4  3  3  3  3  4  2  3  3  4  3  4  4  4  4  4  3  4  3  4  4  4  4  3  4  3  4  3  2  4  3  4  3  4  4  2  3  3  4  4  4  3  3  4  4  1  1  4  4  4  4  3  2  3  3  2  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  2  3  3  4  3  3  4  3  3  4  3  3  3  4  4  4  4  3  3  4  4  3  2  3  3  3  4  3  4  2  4  4  4  4  4  4  3  4  4  1  3  4  4  4  4  4  2  4  4  2  3  3  3  3  4  4  4  4  4  4  2  4  4  4  4  4  3  4  3  4  4  4  4  4  4  3  3  3  3  4  3  2  2  4  4  4  4  4  4  3  3  3  4  4  4  3  3  4  4  2  2  4  4  3  4  3  3  3  3  2  2  2  3  3  4  3  4  3  3  4  2  3  3  3  3  4  4  3  3  4  4  3  3  4  4  3  4  3  4  3  3  3  2  3  3  4  3  3  3  3  3  3  4  4  3  4  3  3  4  3  3  4  3  4  3  3  3  4  3  4  2  3  2  3  4  3  4  3  3  4  2  3  2  3  3  4  3  3  3  4  2  3  3  4  4  4  3  3  4  3  4  2  2  2  3  3  2  3  3  3  3  3  4  4  3  4  3  4  2  2  2  4  4  4  4  3  3  3  3  3  3  3  3  3  4  3  4  3  3  4  2  3  2  4  3  4  4  4  4  4  3  3  3  4  4  4  4  3  4  3  4  3  2  3  3  4  3  3  4  308 .Farizi Gustaf  M.

Amelia Noor Putri M Artantri Widasari Chatarine Dyela Eillen R Dicky Armayuda Eridani Kartiko Adi Gatot Ismail Gufron Gilang Zahru Saputra Indah Budi Kartikarini Insan Fadilah Harvianto Ismalia Ramadhani Putri Muhammad Farid Abdurrahman Muhammad Roofi'l Adiyatma Nida Salma Hajaroh Nurfitri Andani Ragil Saputro Mujiono Rif'atul Widaan Khotibin Tamhid Royhan Ikbar Sekar Cendana Arum Nadila Fatimatuzzahra A.Lampiran 6 Data Penilain Produk Kelas I Nama Ade Firmansyah Daffa Malik Falaq Deandra Visto D M.Lutfi Mahendra M. Malaghina Kusuma H Rio Satya Fauzi Freddy PP Siti Aziroh Rahmatika Shella Kumalasari Shelli Puspitasari Sugiharto.Naufal Rizqita Rayhan Adikusuma Rizky Dafa P Aqlia Tsalisa Azmani Ashylla Paramadanti Cahyaningtyas Iftitah Chairunnisa Yulia W Dyah Pradina P Dyah Sekar Ayu K Fahra Prahastanti P Hana Fazah Nur S Keisha Amadea Nabila Permata Sari Nur Azizah Ranita Salsabila Ria Rahma Sukma W Septiana Tidar Andika Bagas Andi Maulana Ade Itko M Anindita Dara L David Revaru Vebrian Agung W Kurniawan Dwi Y M.N Siska Tri W Yacinta Nararia S Karizma Putri R Salwa Sauzan R Alfia Rahma De Anissa N.M Sutarno 1 4 1 2 4 4 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 2 3 3 3 4 3 1 2 4 2 4 3 4 4 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 4 4 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 2 2 3 2 3 2 3 2 4 3 2 2 3 1 3 4 2 2 3 2 1 3 4 3 3 2 4 4 3 4 2 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 3 3 2 4 3 4 4 Udawaty 1 4 1 2 4 4 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 2 3 3 3 4 3 1 2 4 2 4 3 4 4 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 4 4 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 2 2 3 2 3 2 3 2 4 3 2 2 3 1 3 4 2 2 3 2 1 3 4 3 3 2 4 4 3 4 2 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 3 3 2 4 3 4 4 1 Dodi 2 4 1 2 4 4 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 2 3 3 3 4 3 1 4 2 4 3 4 4 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 4 4 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 2 2 3 2 3 2 3 2 4 3 2 2 3 1 3 4 2 2 3 2 1 3 4 3 3 2 4 4 3 4 2 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 3 3 2 4 3 4 4 309 .A.B. Dava Surya Abi Y.

Tsani Ihsani Y Muh. Abdul Gani Sarining Hanggani Kasih Teddy Arfansyah N Yuliana Larasari Dikta Wahyu Pratama Awang Pramono Isla Magda S Joko Bagus B Novia Permatasari Kusuma Nuraini Yulia Catur Wulandari Ikhsan Panji Irawan A'Issyatun Wahyu Ningsih Ainun Amaliya Paramita Arini Dewi Nuraini Chusnunnisa Suryanudin Ummu Habibah Halida Salsabila Hasna Maretta Sausana Hasna Ulfiaa Humairoh Rosida Akhir Khilmi Khayatun Nisha Kiki Dwi Widyasari Lutfina Aribah Miftakhurrohmah Nafisa Ainurrahmah Novryan Armawida Rizki Putri Utami Salman Kurnia Haq Sinta Primadita Siti Maryam S Wakhid Hasyim 1 4 2 1 3 4 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 3 2 4 4 4 2 4 4 3 4 2 3 4 2 3 2 3 3 3 2 3 3 4 4 1 4 4 2 3 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 2 3 1 Sutarno 2 3 3 3 3 3 2 2 4 2 3 2 2 3 2 1 4 4 2 2 3 4 3 3 4 1 4 4 2 4 1 3 3 1 3 4 3 3 1 2 2 2 3 4 3 3 3 4 4 2 4 4 3 3 4 4 2 4 4 4 2 3 3 4 3 4 1 3 3 3 4 1 2 3 1 4 2 2 4 4 3 4 3 3 3 4 3 2 2 2 1 3 2 2 3 4 3 2 1 2 4 3 3 4 4 4 2 4 2 4 4 3 4 2 4 3 2 4 2 4 4 4 Udawaty 1 4 2 1 3 4 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 3 2 4 4 4 2 4 4 3 4 2 3 4 4 3 2 3 3 3 2 3 3 4 4 1 4 4 2 3 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 2 3 1 2 3 3 3 3 3 2 2 4 2 3 2 2 3 2 1 4 4 2 2 3 4 3 3 4 1 4 4 2 4 1 3 2 1 3 4 3 3 1 2 2 2 3 4 3 3 3 4 4 2 4 4 3 3 4 4 2 4 4 4 2 3 3 4 3 4 1 4 3 3 4 1 2 3 1 4 2 2 4 4 3 4 3 3 3 4 3 4 2 2 1 3 2 3 3 4 3 2 1 2 4 3 3 4 4 4 2 4 2 4 4 3 4 2 4 3 2 4 2 4 4 4 1 Dodi 2 4 2 1 3 4 3 3 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 3 2 4 4 4 2 4 4 3 4 2 3 4 2 3 2 3 3 3 2 3 3 4 4 1 4 4 2 3 3 3 2 3 1 4 3 3 4 3 2 3 1 3 3 3 3 3 2 2 4 2 3 2 2 3 2 1 4 4 2 2 3 4 3 3 4 1 4 4 2 4 1 3 4 1 3 4 3 3 1 2 2 2 3 4 3 3 3 4 4 2 4 4 3 3 4 4 2 4 4 4 2 3 3 4 3 4 1 4 3 3 4 1 2 3 1 4 2 2 4 4 3 4 3 3 3 4 3 2 2 2 1 3 2 3 3 4 3 2 1 2 4 3 3 4 4 4 2 4 2 4 4 3 4 2 4 3 2 4 2 4 4 4 310 .Zauhar Nanda Naya P.W Pradipta Wisnu Timur Dwi Indraja Agni Vasha Salsabila Alvira Niryana Aulia Astagina Dhiyaurrohmah Kamila Muyasaroh Melinia Debbytasari Noor Diana Arrasyid Oktaviana Rahindra Shafa Nabilla Haya Sheila Alfauziya P Yuliana Zahrajuncta Lusiana Martini Amelia Prisca Brigita Anggun Pratiwi Anisa Nur Rahmah Arviananda Ade H Bintang Nugrahani Galang Permataputra Galuh Intisari Muh. Aqib Husni Fadhli Muh.Lampiran 6 Data Penilain Produk Kelas II Nama Afkar Zaka Y Alif Fahmi Mahendra Azka Hikam Z M.

Ibrahim M.Farizi Gustaf M.Lampiran 6 Data Penilain Produk Kelas III Nama Alwi Izha Farandi David Aldi Saputra Laode Aldifan M.Zulfikar Muqni Aqsoinna Suryatama Gallang Aulia Rizki Dini Puspo Elfira Ciptaningtyas Elma Damarista Fadhila Khoirunisa Inna Salma Fahman Khanifah Noor Nur Amalia Andini Ratu Yeremenia S Syifa Azizah Ade Yoga Endy S Bekti Rachmawati Maria Sri Adiningsih Wahyu Praktika D Yunina Dea J Bilqies Amalia A Nova Puspitasari Anggita Wulandari Anjas Deva Felano Eria Putri Pratiwi Fitriyani Ika Purwaningsih Ilham Yusril Munawar Massayu Seilla Annisa Musriati Novianto Adi Saputra Rivan Pandu Adi Winata Muh.Afdan Nurul Hilman M. Miftahul Firdaus Anggi Dwina Siregar Rusmini Afiana Nurkholishotus Shohibah Andi Rahmat Wulansyah Eka Yuliani Fegi Tri Damayanti Fitri Nurul Hanifah Imam Zuhdi Inna Rahmatul Ulya Jalu Ukir Damatama Hilda Ayu Wibisana Ninggih Annisa Daniswara Pilar Paksi Pratama Rafli Khooinurizal Rapsanjani Riswa Rahman Fahmi Rivani Rahmania Afifah Rizki Nur Chaerani Rizqi Haritz Pebiantara Zanityara Syah Syadila Zetta Nillawati Reyka Putri Nurul Arifah 1 3 3 1 2 4 2 3 4 2 4 4 3 3 4 1 2 2 3 4 3 2 3 3 3 2 2 4 3 2 3 3 4 1 4 3 2 4 2 3 3 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 4 2 2 1 3 2 2 Sutarno 2 2 3 3 4 3 3 2 3 4 1 3 4 4 3 4 3 1 3 2 2 3 2 3 3 2 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 2 1 4 4 4 4 4 3 2 2 3 3 2 1 2 2 2 4 3 4 3 2 2 3 2 3 1 2 3 3 4 2 2 3 3 2 3 3 3 4 2 4 3 4 4 3 4 1 4 4 4 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 4 4 2 2 2 4 3 2 3 4 4 3 3 2 4 2 3 2 3 3 3 4 3 3 4 Udawaty 1 3 3 1 2 4 2 3 4 2 4 4 3 3 4 1 3 2 3 2 3 2 3 3 3 2 2 4 3 2 3 3 4 1 4 3 2 4 2 3 3 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 4 2 2 1 3 2 2 2 2 3 3 4 3 3 2 3 4 1 3 4 4 3 4 3 1 3 4 2 3 2 3 3 2 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 2 2 4 4 4 4 4 3 2 2 3 3 2 1 2 2 2 4 3 4 3 2 2 3 2 3 1 2 3 3 4 2 2 3 3 2 3 3 3 4 2 4 3 3 2 3 4 1 4 4 4 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 4 1 2 2 2 4 3 2 3 4 4 3 3 2 4 2 3 2 3 3 3 4 3 3 4 1 Dodi 2 3 3 1 2 4 2 3 4 2 4 4 3 3 4 1 2 2 3 4 3 2 3 3 3 2 2 4 3 2 3 3 4 1 4 3 2 4 2 3 3 3 3 2 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 4 2 2 1 2 2 2 2 3 3 4 3 3 2 3 4 1 3 4 4 3 4 3 1 3 2 2 3 2 3 3 2 3 1 3 3 4 4 4 4 4 3 2 2 4 4 4 4 4 3 2 2 3 3 2 1 2 2 2 4 3 4 3 2 3 3 2 3 1 2 3 3 4 2 2 3 3 2 3 3 3 4 3 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 4 4 2 2 2 4 3 2 3 3 4 3 3 2 4 2 3 2 3 3 3 4 3 3 4 311 .Fauzan M.

Naufal Rizqita Rayhan Adikusuma Rizky Dafa P Aqlia Tsalisa Azmani Ashylla Paramadanti Cahyaningtyas Iftitah Chairunnisa Yulia W Dyah Pradina P Dyah Sekar Ayu K Fahra Prahastanti P Hana Fazah Nur S Keisha Amadea Nabila Permata Sari Nur Azizah Ranita Salsabila Ria Rahma Sukma W Septiana Tidar Andika Bagas Andi Maulana Ade Itko M Anindita Dara L David Revaru Vebrian Agung W Kurniawan Dwi Y M.Lutfi Mahendra M.N Siska Tri W Yacinta Nararia S Karizma Putri R Salwa Sauzan R Alfia Rahma De Anissa N.A.B. Dava Surya Abi Y. Malaghina Kusuma H Rio Satya Fauzi Freddy PP Siti Aziroh Rahmatika Shella Kumalasari Shelli Puspitasari Sugiharto.M 3 3 2 3 2 3 1 2 2 2 3 3 3 3 1 3 2 2 2 3 3 3 2 3 2 3 2 2 2 3 2 2 2 3 2 2 2 2 1 2 3 3 2 3 2 2 1 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 2 1 1 3 3 2 3 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 1 1 1 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 2 2 3 3 2 3 3 2 3 1 2 3 2 2 2 3 3 1 1 3 3 2 3 2 2 3 3 2 3 2 1 3 3 3 2 3 2 2 1 3 3 1 2 3 1 3 3 2 2 1 1 3 2 3 2 2 3 2 2 3 2 1 1 3 2 3 3 2 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 2 3 2 2 3 3 3 1 3 3 2 1 1 2 2 2 3 3 3 1 2 2 3 2 3 2 2 2 3 2 3 2 2 3 2 3 3 2 2 2 2 2 3 1 2 3 3 2 3 2 2 1 2 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 1 1 2 2 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 2 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 2 1 2 3 3 3 2 1 1 3 3 3 1 3 3 3 2 3 1 2 1 3 2 3 3 3 2 1 1 1 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 2 1 3 3 3 1 2 2 3 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 2 2 3 1 3 3 2 3 2 1 3 2 1 2 2 3 3 2 1 1 1 3 1 1 3 3 3 2 1 3 3 1 3 2 2 3 3 2 1 1 3 3 2 3 3 3 1 3 2 3 3 1 1 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 1 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 2 1 1 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 1 3 3 3 3 3 2 1 1 1 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 1 1 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 312 .Lampiran 6 Data Penilaian Kelompok Kelas I Nama Siswa 1 3 2 Sutarno 2 3 1 3 2 2 4 3 3 5 1 1 1 1 2 Udawati 2 3 2 2 1 2 4 2 3 5 1 1 3 3 2 3 1 1 1 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 2 1 2 3 1 2 2 2 1 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 3 3 1 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 1 3 2 2 3 1 Dody 3 4 3 3 2 3 5 1 1 3 3 2 3 1 1 1 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 2 1 1 1 1 3 3 3 1 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 Ade Firmansyah Daffa Malik Falaq Deandra Visto D M. Amelia Noor Putri M Artantri Widasari Chatarine Dyela Eillen R Dicky Armayuda Eridani Kartiko Adi Gatot Ismail Gufron Gilang Zahru Saputra Indah Budi Kartikarini Insan Fadilah Harvianto Ismalia Ramadhani Putri Muhammad Farid Abdurrahman Muhammad Roofi'l Adiyatma Nida Salma Hajaroh Nurfitri Andani Ragil Saputro Mujiono Rif'atul Widaan Khotibin Tamhid Royhan Ikbar Sekar Cendana Arum Nadila Fatimatuzzahra A.

Aqib Husni Fadhli Muh.Lampiran 6 Data Penilaian Kelompok Kelas II Nama Siswa 1 2 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 1 2 3 2 2 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 Sutarno 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 3 2 2 2 3 1 2 3 2 2 3 2 2 3 3 3 3 3 1 1 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 1 3 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 1 2 3 3 2 2 2 2 2 3 3 3 2 3 3 3 2 2 2 2 2 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 2 1 1 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Udawati 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 1 3 1 3 2 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 2 2 3 2 3 3 2 3 3 1 2 2 3 1 2 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 2 3 3 2 1 1 2 2 1 2 3 3 3 3 2 2 2 1 2 3 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 3 2 2 2 3 1 2 3 2 2 2 3 2 3 2 3 3 3 1 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 2 2 2 2 2 3 3 3 3 1 3 2 2 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 1 2 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Dody 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 3 2 2 3 3 1 2 3 2 2 3 2 2 3 3 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 1 3 3 2 2 3 1 3 1 3 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 Afkar Zaka Y Alif Fahmi Mahendra Azka Hikam Z M.W Pradipta Wisnu Timur Dwi Indraja Agni Vasha Salsabila Alvira Niryana Aulia Astagina Dhiyaurrohmah Kamila Muyasaroh Melinia Debbytasari Noor Diana Arrasyid Oktaviana Rahindra Shafa Nabilla Haya Sheila Alfauziya P Yuliana Zahrajuncta Lusiana Martini Amelia Prisca Brigita Anggun Pratiwi Anisa Nur Rahmah Arviananda Ade H Bintang Nugrahani Galang Permataputra Galuh Intisari Muh. Tsani Ihsani Y Muh. Abdul Gani Sarining Hanggani Kasih Teddy Arfansyah N Yuliana Larasari Dikta Wahyu Pratama Awang Pramono Isla Magda S Joko Bagus B Novia Permatasari Kusuma Nuraini Yulia Catur Wulandari Ikhsan Panji Irawan A'Issyatun Wahyu Ningsih Ainun Amaliya Paramita Arini Dewi Nuraini Chusnunnisa Suryanudin Ummu Habibah Halida Salsabila Hasna Maretta Sausana Hasna Ulfiaa Humairoh Rosida Akhir Khilmi Khayatun Nisha Kiki Dwi Widyasari Lutfina Aribah Miftakhurrohmah Nafisa Ainurrahmah Novryan Armawida Rizki Putri Utami Salman Kurnia Haq Sinta Primadita Siti Maryam S Wakhid Hasyim 3 1 2 3 3 2 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 1 2 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 3 2 2 313 .Zauhar Nanda Naya P.

Zulfikar Muqni Aqsoinna Suryatama Gallang Aulia Rizki Dini Puspo Elfira Ciptaningtyas Elma Damarista Fadhila Khoirunisa Inna Salma Fahman Khanifah Noor Nur Amalia Andini Ratu Yeremenia S Syifa Azizah Ade Yoga Endy S Bekti Rachmawati Maria Sri Adiningsih Novianto Adi Saputra Wahyu Praktika D Yunina Dea J Bilqies Amalia A Nova Puspitasari Anggita Wulandari Anjas Deva Felano Eria Putri Pratiwi Fitriyani Ika Purwaningsih Ilham Yusril Munawar Massayu Seilla Annisa Musriati Rivan Pandu Adi Winata Muh.Lampiran 6 Data Penilaian Kelompok Kelas III Nama Siswa Alwi Izha Farandi David Aldi Saputra Laode Aldifan M.Ibrahim M.Afdan Nurul Hilman M. Miftahul Firdaus Anggi Dwina Siregar Rusmini Afiana Nurkholishotus Shohibah Andi Rahmat Wulansyah Eka Yuliani Fegi Tri Damayanti Fitri Nurul Hanifah Imam Zuhdi Inna Rahmatul Ulya Jalu Ukir Damatama Hilda Ayu Wibisana Ninggih Annisa Daniswara Pilar Paksi Pratama Rafli Khooinurizal Rapsanjani Riswa Rahman Fahmi Rivani Rahmania Afifah Rizki Nur Chaerani Rizqi Haritz Pebiantara Zanityara Syah Syadila Zetta Nillawati Reyka Putri Nurul Arifah 1 3 2 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 2 2 1 2 3 3 3 3 3 2 1 2 3 3 3 2 3 2 1 2 3 3 3 3 3 2 3 2 2 2 3 2 2 2 Sutarno 3 4 2 2 3 2 2 3 3 3 2 1 1 2 2 3 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 1 3 1 3 3 1 2 2 3 3 2 2 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 1 2 3 3 1 3 2 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 1 1 2 2 2 3 2 2 3 1 2 2 3 3 2 5 2 1 3 1 2 3 2 3 2 2 3 1 3 2 2 2 2 2 2 3 2 2 3 1 1 3 3 2 3 3 3 2 3 1 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 1 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 1 3 2 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 3 2 3 1 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 1 3 3 3 3 2 1 2 3 3 3 2 3 2 1 2 3 3 3 3 3 2 3 2 2 2 3 2 2 2 Udawati 3 4 2 2 3 2 2 3 2 3 2 1 1 2 2 3 1 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 3 2 2 2 2 2 2 3 3 1 2 3 3 2 3 1 3 1 3 3 1 2 2 1 2 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 1 2 3 3 1 3 2 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 1 1 2 2 2 3 2 2 3 1 2 2 3 3 2 5 2 1 3 1 2 3 2 3 2 2 3 1 3 2 2 2 2 2 3 2 1 1 1 1 3 3 3 3 1 2 2 2 2 1 3 2 2 3 2 2 3 3 2 2 1 3 3 3 1 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 2 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 2 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 2 2 3 2 2 1 2 3 3 3 3 3 3 1 2 3 3 3 2 2 2 1 2 3 3 3 3 2 2 3 2 2 2 3 2 2 2 Dody 3 4 2 2 3 2 2 3 2 3 2 1 1 2 2 3 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 1 3 3 1 2 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 3 1 2 3 3 1 3 2 3 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 2 3 1 1 2 2 2 3 2 2 3 1 2 2 3 3 2 5 2 1 3 1 2 3 2 3 2 2 3 1 3 2 2 2 2 2 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 2 1 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 314 .Farizi Gustaf M.Fauzan M.

N Siska Tri W Yacinta Nararia S Karizma Putri R Salwa Sauzan R Alfia Rahma De Anissa N. Amelia Noor Putri M Artantri Widasari Chatarine Dyela Eillen R Dicky Armayuda Eridani Kartiko Adi Gatot Ismail Gufron Gilang Zahru Saputra Indah Budi Kartikarini Insan Fadilah Harvianto Ismalia Ramadhani Putri Muhammad Farid Abdurrahman Muhammad Roofi'l Adiyatma Nida Salma Hajaroh Nurfitri Andani Ragil Saputro Mujiono Rif'atul Widaan Khotibin Tamhid Royhan Ikbar Sekar Cendana Arum Nadila Fatimatuzzahra A.M 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 Sutarno 2 3 4 2 2 3 2 1 3 2 3 2 3 2 3 3 2 3 2 3 3 2 2 3 3 1 2 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 2 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 2 1 2 3 2 1 3 2 2 2 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 1 3 3 1 2 2 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 1 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 2 3 1 1 2 2 3 3 1 3 2 2 1 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 5 2 2 3 3 1 2 1 3 1 2 3 3 3 3 2 2 1 1 3 3 3 2 2 3 1 2 3 3 3 2 2 2 3 2 3 2 1 2 3 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 Udawati 2 3 4 2 2 3 2 1 3 2 3 2 3 3 2 2 2 3 2 3 3 2 2 3 3 1 2 2 3 2 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 2 1 2 3 2 1 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 2 2 2 2 1 3 3 1 2 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 3 2 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 2 2 3 1 1 2 2 3 3 1 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 5 2 2 3 3 2 2 1 3 1 2 3 3 3 3 3 3 1 1 3 2 3 2 2 3 2 1 3 3 3 2 2 2 3 2 2 1 2 2 2 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 2 2 2 3 2 1 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 1 2 2 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 2 Dodi 3 4 1 2 3 2 1 3 2 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 2 2 1 3 3 1 2 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 1 1 2 2 3 3 1 3 1 3 1 3 3 3 3 1 3 3 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 5 2 2 3 3 2 2 1 3 1 2 3 3 3 3 3 1 1 1 3 3 3 2 2 3 1 2 3 3 3 2 2 2 3 2 3 1 1 3 3 3 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 315 .Lutfi Mahendra M. Malaghina Kusuma H Rio Satya Fauzi Freddy PP Siti Aziroh Rahmatika Shella Kumalasari Shelli Puspitasari Sugiharto.A. Dava Surya Abi Y.Naufal Rizqita Rayhan Adikusuma Rizky Dafa P Aqlia Tsalisa Azmani Ashylla Paramadanti Cahyaningtyas Iftitah Chairunnisa Yulia W Dyah Pradina P Dyah Sekar Ayu K Fahra Prahastanti P Hana Fazah Nur S Keisha Amadea Nabila Permata Sari Nur Azizah Ranita Salsabila Ria Rahma Sukma W Septiana Tidar Andika Bagas Andi Maulana Ade Itko M Anindita Dara L David Revaru Vebrian Agung W Kurniawan Dwi Y M.B.Lampiran 6 Data Penilaian Diri Kelas I Nama Ade Firmansyah Daffa Malik Falaq Deandra Visto D M.

Aqib Husni Fadhli Muh.W Pradipta Wisnu Timur Dwi Indraja Agni Vasha Salsabila Alvira Niryana Aulia Astagina Dhiyaurrohmah Kamila Muyasaroh Melinia Debbytasari Noor Diana Arrasyid Oktaviana Rahindra Shafa Nabilla Haya Sheila Alfauziya P Yuliana Zahrajuncta Lusiana Martini Amelia Prisca Brigita Anggun Pratiwi Anisa Nur Rahmah Arviananda Ade H Bintang Nugrahani Galang Permataputra Galuh Intisari Muh.Lampiran 6 Data Penilaian Diri Kelas II Nama 1 Afkar Zaka Y Alif Fahmi Mahendra Azka Hikam Z M.Zauhar Nanda Naya P. Abdul Gani Sarining Hanggani Kasih Teddy Arfansyah N Yuliana Larasari Dikta Wahyu Pratama Awang Pramono Isla Magda S Joko Bagus B Novia Permatasari Kusuma Nuraini Yulia Catur Wulandari Ikhsan Panji Irawan A'Issyatun Wahyu Ningsih Ainun Amaliya Paramita Arini Dewi Nuraini Chusnunnisa Suryanudin Ummu Habibah Halida Salsabila Hasna Maretta Sausana Hasna Ulfiaa Humairoh Rosida Akhir Khilmi Khayatun Nisha Kiki Dwi Widyasari Lutfina Aribah Miftakhurrohmah Nafisa Ainurrahmah Novryan Armawida Rizki Putri Utami Salman Kurnia Haq Sinta Primadita Siti Maryam S Wakhid Hasyim 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Sutarno 2 3 4 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 1 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 1 1 3 3 2 3 2 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 3 1 1 3 3 2 3 2 3 1 3 1 3 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 2 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Udawati 2 3 4 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 1 3 2 3 3 3 3 2 2 2 3 2 1 2 1 3 1 2 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 3 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 2 2 1 3 3 3 3 2 3 1 3 2 2 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 Dodi 3 4 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 1 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 2 3 3 3 2 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 1 3 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 2 3 1 3 1 3 1 3 2 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 316 . Tsani Ihsani Y Muh.

Ibrahim M.Afdan Nurul Hilman M.Lampiran 6 Data Penilaian Diri Kelas III Nama 1 Alwi Izha Farandi David Aldi Saputra Laode Aldifan M.Zulfikar Muqni Aqsoinna Suryatama Gallang Aulia Rizki Dini Puspo Elfira Ciptaningtyas Elma Damarista Fadhila Khoirunisa Inna Salma Fahman Khanifah Noor Nur Amalia Andini Ratu Yeremenia S Syifa Azizah Ade Yoga Endy S Bekti Rachmawati Maria Sri Adiningsih Novianto Adi Saputra Wahyu Praktika D Yunina Dea J Bilqies Amalia A Nova Puspitasari Anggita Wulandari Anjas Deva Felano Eria Putri Pratiwi Fitriyani Ika Purwaningsih Ilham Yusril Munawar Massayu Seilla Annisa Musriati Rivan Pandu Adi Winata Muh. Miftahul Firdaus Anggi Dwina Siregar Rusmini Afiana Nurkholishotus Shohibah Andi Rahmat Wulansyah Eka Yuliani Fegi Tri Damayanti Fitri Nurul Hanifah Imam Zuhdi Inna Rahmatul Ulya Jalu Ukir Damatama Hilda Ayu Wibisana Ninggih Annisa Daniswara Pilar Paksi Pratama Rafli Khooinurizal Rapsanjani Riswa Rahman Fahmi Rivani Rahmania Afifah Rizki Nur Chaerani Rizqi Haritz Pebiantara Zanityara Syah Syadila Zetta Nillawati Reyka Putri Nurul Arifah 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 Sutarno 2 3 4 2 3 3 3 3 2 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 2 2 2 2 3 3 3 2 3 2 2 3 3 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 2 3 3 2 2 2 2 2 1 3 3 2 2 2 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 5 2 3 3 3 3 1 2 3 3 3 1 1 2 3 3 3 3 2 3 2 2 2 2 2 3 1 1 3 2 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 1 3 3 2 2 1 3 3 3 1 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 1 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 1 1 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 Udawati 2 3 4 2 3 2 3 3 3 2 3 3 2 1 2 1 3 3 2 1 3 3 3 3 3 2 2 1 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 1 2 3 3 3 2 3 1 3 3 2 2 2 3 2 1 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 2 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 3 3 3 5 2 3 3 3 3 1 2 3 3 3 1 1 2 3 3 3 3 2 2 3 3 2 2 2 2 1 1 3 2 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 1 3 3 2 2 1 3 3 3 1 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 1 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 Dodi 2 3 4 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 2 2 1 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 3 3 3 3 2 3 2 3 3 2 2 2 2 2 1 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 1 2 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 5 2 3 3 3 3 1 2 3 3 3 1 1 2 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 2 3 1 1 3 2 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 1 3 3 2 2 1 3 3 3 1 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 317 .Fauzan M.Farizi Gustaf M.

Mudah . saya dapat melakukannya sendiri bantuan tenaga lain dalam melakukan penilaian? Bagaimana dengan biaya Tidak ada masalah pelaksanaan penilaian? 5 6   319 . sederhana dan komunakatif yang digunakan? Bagaimana dengan alokasi Sesuai dengan yang disiapkan. Hanya saja. tentang IPSLA? Baik dalam hal apa? Baik dalam kaitan dengan: • Objektif • Dapat memberikan kemudahan dalam melakukan penilaian • Dapat dipertanggungjawabkan 3 4 Bagaimana dengan bahasa Mudah dipahami. waktu yang digunakan untuk untuk memahami dan mempelajari aplikasi melakukan penilaian? penilaian ini membutuhkan waktu tersendiri Apakah Bapak membutuhkan Tidak.Sederhana Bahasa ‐ Baku ‐ Komunikatif ‐ Mudah dipahami Efisiensi ‐ Waktu ‐ Tenaga ‐ Biaya Mudah Cukup Ya Ya Ya Mudah Sederhana Ya Ya Ya Mudah Sederhana Ya Ya Ya Mudah Sederhana Ya Ya Ya Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Efisien Hasil wawancara dengan 3 orang guru sebagai rater sebagai berikut: 1. Hasil wawancara dengan guru A (20 Desember 2008) No 1 2 Pertanyaan Jawaban Bagaimana tanggapan bapak Menurut saya instrumen ini baik.Lampiran 7 Tabel 3 Hasil Wawancara Keterpakaian Instrumen Penilaian Hasil Belajar Karya Seni Lukis Anak Komponen Guru A Guru B Guru C Keseluruhan Kepraktisan .

Hasil wawancara dengan guru B (27 Desember 2008) No 1 Pertanyaan Jawaban Bagaimana tanggapan bapak Instrumen ini sudah baik.Lampiran 7 2. alokasinya sudah cukup Tetapi. 2 Baik dalam hal apa? Instrumen ini lebih menunjukkan kondisi yang sudah mengurangi tingkat subyektivitas guru dalam menilai. 4 5 Apakah Bapak membutuhkan Saya cukup dapat melakukannya sendiri. 3 Bagaimana dengan bahasa Bahasanya jelas. tidak ada pelaksanaan penilaian? masalah. Selain itu mudah diterapkan dan hasil penilaian didukung oleh bukti otentik penilaian. bantuan tenaga lain dalam melakukan penilaian? Bagaimana dengan biaya Biaya pelaksanaan menurut saya. 6   320 . Secara pribadi. waktu yang digunakan untuk akan lebih baik lagi jika ada waktu tersendiri melakukan penilaian? untuk memahmi cara penggunaan instrumen tersebut. Bagaimana dengan alokasi Menurut saya. mudah dimengerti dan yang digunakan? sederhana serta menampung karakteristik seni sebagai ekspresi maupun imajinasi anak. sudah dapat tentang IPSLA? menampung aspirasi saya sebagai guru untuk menilai karya lukisan anak didik. karena menurut saya pola penilaian ini berbeda dengan yang sering saya lakukan selama ini. saya menjadi lebih mudah melakukan penilaian karena kriterianya lebih jelas.

Hal ini dikarenakan. Pengalaman saya hanya menggunakan intuisi untuk memberikan nilai siswa. saya dapat membutuhkan bantuan melakukannya sendiri tenaga lain dalam melakukan penilaian? Bagaimana dengan biaya Saya pikir tidak ada persoalan dengan biaya pelaksanaan penilaian? pelaksanaan 6 Dari ketiga hasil wawancara dengan para guru yang menjadi rater dalam uji coba instrumen penilaian karya seni lukis anak dapat disimpulkan bahwa semua rater menyatakan instrumen sudah memadai. untuk memahami lebih lanjut tentang untuk melakukan penilaian? penerapan dari penilaian ini butuh waktu yang cukup. 2 Baik dalam hal apa? Instrumen ini memudahkan dalam menentukan kriteria nilai. efisiensi dan kejelasan bahasa yang digunakan pada butir-butir indikator dan deskriptor beserta kriteria yang dipakai dalam instrumen ini sudah dipandang layak untuk diterapkan sebagai sarana penilaian. 3 Bagaimana dengan bahasa Bahasa dari instrumen ini cukup mudah dicerna yang digunakan? dan dimengerti.   321 . 4 Bagaimana dengan alokasi Waktunya saya anggap sudah cukup memadai.Lampiran 7 3. waktu yang digunakan Namun. Mereka mengatakan bahwa dengan hadirnya instrumen ini menjadikan pekerjaan penilaian karya seni lukis anak menjadi mudah karena ada dasar rujukannya dan obyektif. Panduannya jelas sehingga mudah untuk diterapkan. karena pada waktu sebelumnya tidak pernah saya menilai dengan instrumen yang baku. 5 Apakah bapak Tanpa bantuan orang lainpun. dari sudut efektivitas. Hasil wawancara dengan guru C (3 Januari 2009) No 1 Pertanyaan Jawaban Bagaimana tanggapan Instrumen penilaian ini sangat membantu diri bapak tentang IPSLA? saya dalam melakukan penilaian karya seni lukis anak.

GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Iowa 52242 VERSION 3. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Robert L. Ed.D. Director. PA 19104 Robert L.D. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Ed. and no official endorsement should be inferred 322 . Crick.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Brennan Principal Investigator. GENOVA was developed in part under contract No.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --.1 January. Brennan. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC).

OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 0.1426746 0.15714 158.0) 0.8357072 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 (0.0042666 MI:R 1062 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ..2801856 0.50277 59 118 R 2 5874.21134 0.28019 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 5811.56429 565..20000 2854.1459530 0.M X (I:R) DESIGN ..0282800 R 2 (0.M X (I:R) DESIGN ..92582 18 1062 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 6092...2801856 0.RANDOM MODEL .RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 6004..19744 QF 2 QF 18 QF I:R 18 8728.55714 0.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .RANDOM MODEL .93810 0...0) 0..28571 24.0121476 ----------------------------------------------------------------------------- 323 ...27635 15..00000 297.6380683 2.04286 62.30476 3.6380683 0...1304946 I:R 18 2..29286 0.54286 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ G STUDY DATA SET 1 ..0) (0.45714 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 1259 3432.75428 118 1062 MI:R 1062 9244...58571 31.0) (0.76190 193.

29602 0.88329 0.90163 0.15824 0.09340 0. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.44283 0. INF. NO UNIV.14267 0.16213 0.01868 0.14267 0.50659 324 .19455 0.85936 0.12791 001-002 60 3 2 0.14267 0.16602 0.60437 0.12822 0.16135 0.04670 0.01557 0.14267 0.17856 0.18937 0.30556 001-004 60 3 4 0.02335 0.88424 0.91448 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.22681 001-003 60 3 3 0.48638 0. INF.82088 0. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.42308 001-006 60 3 6 0.13896 0.22261 0.75341 0.14267 0.36976 001-005 60 3 5 0. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 0.14920 0.14267 0.97275 0.46809 001-007 60 3 7 0.23607 0.32425 0.01334 0.03113 0.14267 0.= INF.24319 0.17381 0.15602 0.

D. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Iowa 52242 VERSION 3. Ed. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. PA 19104 Robert L. Robert L. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy.D. GENOVA was developed in part under contract No.1 January. Brennan. Crick. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Brennan Principal Investigator. Director. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Ed.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. and no official endorsement should be inferred 325 .

RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .95000 204981...M X (I:R) DESIGN .Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .06900 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 405472.RANDOM MODEL ..RANDOM MODEL .OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 4.5130078 189...62778 132..7400351 ----------------------------------------------------------------------------- 326 .70556 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 1259 462576.5130078 60.92016 QF 2 QF 18 QF I:R 18 836923.0690028 0.2264384 4.16548 18 1062 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 644940..29048 11387.56891 118 1062 MI:R 1062 868049...2264384 1.8256646 0.97698 9.4293997 242...M X (I:R) DESIGN ..RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 413296.4293997 190.1747172 R 2 242.8256646 3..0690028 17.14127 43.02413 59 118 R 2 631942...8155720 MI:R 1062 17..95397 113234.33333 7823...42857 5174.84865 2.84947 667.0192379 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 3.29444 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ G STUDY DATA SET 1 .65952 226469.28095 17.8337173 I:R 18 189.60386 3..00000 18127.

Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.66933 0.50637 0.22350 93.34649 4.04396 327 .04082 001-005 60 3 5 4.04223 001-006 60 3 6 4. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 4.22644 6.41316 95.02724 001-002 60 3 2 4.96489 150.44994 2.03868 001-004 60 3 4 4.85716 93.31447 2.53441 0.55466 0.12006 116.17178 105.37765 0.03500 001-003 60 3 3 4.22644 7.22644 6.03858 101.16732 0. INF.22644 8.57128 0.94569 144.92408 2.92226 89.19133 6.99010 0.04322 001-007 60 3 7 4.56180 91. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.65527 0. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.61040 0.30019 96.= INF.93947 0.63655 0.69764 99.44580 0.22644 6.71795 0. NO UNIV.22644 6.22644 11.08803 91.63959 2.51536 112.39822 3. INF.

2001 GENOVA has been checked for accuracy of output.D.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Ed. GENOVA was developed in part under contract No.D.1 January. Ed. Director. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Robert L. Crick. Iowa 52242 VERSION 3.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Brennan Principal Investigator. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). PA 19104 Robert L. and no official endorsement should be inferred 328 . Brennan.

71429 5130..28571 130.68095 10555..00204 59 118 R 2 581347.18324 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 373377.60476 15.42672 695.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .14286 7701.1832437 0.3838259 222.70952 43.48059 2...00000 16124.93095 9.1452227 1..1452227 4.71905 207969.86372 118 1062 MI:R 1062 800302.86190 103984.6707246 55.M X (I:R) DESIGN ..1832437 15.RANDOM MODEL .6582771 ----------------------------------------------------------------------------- 329 ..3838259 175...RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES ....20235 18 1062 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 594179.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 7 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 381079.82499 QF 2 QF 18 QF I:R 18 771345.1567972 R 2 222.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 4.85714 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 1259 426924.0424779 0..0424779 4.40000 189997.14286 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------G STUDY DATA SET 1 ....RANDOM MODEL .6319846 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 4..2480372 I:R 18 175.8073981 MI:R 1062 15...6707246 175.53027 3.M X (I:R) DESIGN .

61276 91.66689 0.14522 6.75799 2.65421 0. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF. INF.14522 8.50493 2.35971 88.61338 0. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.57735 0.17974 3.56372 82. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 4.04594 001-007 60 3 7 4.09342 132.03452 96.14522 6.54012 0. NO UNIV.55380 6.87980 0.= INF. INF.14522 10.99303 0.94774 0.02326 3.19903 85.76657 0.37993 88.02894 001-002 60 3 2 4.14522 7.04339 001-005 60 3 5 4.19101 86.04489 001-006 60 3 6 4.07050 84.40857 139.59681 0.86075 0.14522 6.33623 2.04673 330 .Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.14522 6.21573 2.63724 0.51665 0.03720 001-003 60 3 3 4.07843 83.87803 107.68143 93.04111 001-004 60 3 4 4.39277 0.28443 103.

GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. PA 19104 Robert L. and no official endorsement should be inferred 331 . Iowa 52242 VERSION 3. Brennan Principal Investigator. GENOVA was developed in part under contract No.D. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Director. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Crick. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC).1 January. Robert L. Ed.D. Ed. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Brennan.

1238858 94.6351956 233..38843 QF 2 QF 6 QF K:P 6 241766.M X (K:P) DESIGN .25000 95492.9383863 ----------------------------------------------------------------------------- 332 ..M X (K:P) DESIGN ..72001 118 354 MK:P 354 262591.25000 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES..8612994 1..75000 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 539 150357....37391 6 354 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 219396.00000 6421.RANDOM MODEL .25000 8.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 7.83333 44.2258624 K:P 6 94.1503453 7.2807234 P 2 233.76667 5673. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 ...2067797 2.2067797 6.33333 5248...RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .1503453 2.25000 108.44673 59 118 P 2 207726.01667 34039...90000 25.RANDOM MODEL .0202936 MK:P 354 25.48164 1..50000 47746..29444 219...8612994 25.83475 2.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .86130 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 112233..1238858 47.6351956 188.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 118655.00000 9154.2774647 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 6.

51678 0.21927 10.31022 19.18733 003-002 60 3 2 9.71358 4.76238 0.53543 003-006 60 3 6 9.65627 0.67196 0.37438 2.94336 1.65601 1.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 9.62043 39.89535 0.40882 003-004 60 3 4 9.43674 6.68142 0.40670 0.65976 0.07755 4.90588 0. 3 INF.44390 3.47972 003-005 60 3 5 9.81053 0.21927 10.21927 11.15511 9.72409 7.87348 13. NO UNIV.67475 333 .66584 5.23149 5.= INF.21927 12.99901 6.91281 0.65569 0.58037 003-007 60 3 7 9.45732 0.64839 003-009 60 3 9 9.86517 0.31555 003-003 60 3 3 9.03323 0.09344 0.95783 4.21927 13.45076 1.52949 4.21927 10.84245 0. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.99938 4.99753 15.83970 8.21927 10.17710 0.21927 10.33169 10.09275 2.29683 1.21927 17.88216 0. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.99877 8.61738 003-008 60 3 8 9.99506 31.

however the authors can make no assurances that the program is totally without error. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. and no official endorsement should be inferred 334 .D. Ed. Crick. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. GENOVA was developed in part under contract No. Director.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Ed. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC).D. Robert L. Brennan. Brennan Principal Investigator. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output.1 January.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. PA 19104 Robert L. Iowa 52242 VERSION 3.

2444968 232..95556 40.0131503 ----------------------------------------------------------------------------- 335 .M X (K:P) DESIGN ..0921532 106...34477 6 354 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 222531.RANDOM MODEL .0921532 53.59630 39.... F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 ..7131546 P 2 232.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .00602 59 118 P 2 213078.65000 38434.4708098 4.00000 14230..M X (K:P) DESIGN .OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 4.2190112 K:P 6 106.79815 80.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .66667 4719.72963 159.4481586 1.3811039 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 (0..99493 118 354 MK:P 354 275197...99658 0.23387 2..20185 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 539 158537.37778 6405.RANDOM MODEL .0) (0.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 121393...79815 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.2004394 3...2004394 40.53519 7..27222 96419.0) 1.20044 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 116659.00000 4733.52624 QF 2 QF 6 QF K:P 6 251512.9927976 MK:P 354 40.2433642 190.07037 48209..

00537 0.23336 8.25473 11. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 4.38969 003-008 60 3 8 4.66574 0.21486 003-004 60 3 4 4.68152 2.68003 9.70007 24.44816 6. 3 INF.02829 0.44816 6.14823 6.76420 35.97098 0.42188 003-009 60 3 9 4.38210 17.= INF.75284 7.69913 0.24922 0.26733 003-005 60 3 5 4.44816 6.15805 0.74922 0.35004 12.12318 1.45084 336 .44816 7.35372 003-007 60 3 7 4.12819 2.66152 0. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.62402 0.08359 003-002 60 3 2 4.41824 4.96631 5.44816 5.79820 3. NO UNIV.49896 0.93706 1.39900 0.15429 003-003 60 3 3 4.46672 16.12737 6.36247 1.19105 8.44816 17.57041 0.84831 13.86783 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.40015 48.93660 0.09552 4.72645 0.31323 003-006 60 3 6 4.44816 11.44816 7.19161 0.67502 6.52256 0.91487 4.44816 8. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.48891 5.91431 6.

however the authors can make no assurances that the program is totally without error.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Crick. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. PA 19104 Robert L. Brennan Principal Investigator.D. Iowa 52242 VERSION 3.D. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Ed. Director. Ed. Brennan.1 January. GENOVA was developed in part under contract No. and no official endorsement should be inferred 337 . Robert L. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City.

.6510986 32.52304 2.RANDOM MODEL .1329253 1.21571 59 118 P 2 199841.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .97037 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.6510986 2.0322348 47..RANDOM MODEL .00000 4607.51111 5734.M X (K:P) DESIGN ...OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 5..88519 39.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES ..93150 QF 2 QF 6 QF K:P 6 234248.19597 118 354 MK:P 354 255520.63223 6 354 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 209554.65110 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 108772.8679808 MK:P 354 32. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 ...7882273 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 2...0322348 95.25556 91069.1329253 2..04987 1.2747960 1...88889 5104..00000 11558...8286649 P 2 221..0757167 221.58519 175.4473033 ----------------------------------------------------------------------------- 338 .2747960 5.5847308 K:P 6 95.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 3 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 113876..02963 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 539 146747..61296 7.85926 86.76667 34407.48889 32.22593 45534.M X (K:P) DESIGN .0757167 179.

PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 5.98577 7.81481 0.41287 003-006 60 3 6 5.34623 1.71937 0.95857 0.08016 4.70670 2.17674 8.86947 10.36002 003-005 60 3 5 5.51222 6.52380 0.18704 10.73332 0.98577 11.79381 0.98577 7.49609 003-008 60 3 8 5.65102 0.81395 7.62263 0.35483 0.20930 4.55481 6.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.98577 8.21953 003-003 60 3 3 5.72901 3. 3 INF.55865 339 .52944 003-009 60 3 9 5.06446 0.40956 0.29672 003-004 60 3 4 5.68749 0.76743 0.32014 4.64028 8.63963 0.98577 8.19507 1.72092 10.08211 0.62790 14.61367 3.= INF. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.98577 16.16251 2.02917 0.98577 9.98577 7.47152 0.42762 5.56111 31.09352 5. NO UNIV.45765 003-007 60 3 7 5. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.98577 7.83193 0.44185 21.36046 5.79972 1.88370 42.54059 1.12330 003-002 60 3 2 5.28056 16.

Brennan Principal Investigator. Robert L.D. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. and no official endorsement should be inferred 340 . Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Brennan. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Iowa 52242 VERSION 3.D. Ed. Crick. Ed. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC).1 January. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. GENOVA was developed in part under contract No. PA 19104 Robert L.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Director.

07756 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 256241.5744915 121.40000 6594..4198870 0.12889 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES..44222 43028.66349 118 708 MI:R 708 353340.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 5..RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 166008.52889 111.RANDOM MODEL ....0924859 5.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .0345275 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 4..77168 3..2849529 0.5744915 46..M X (I:R) DESIGN .05333 7307.87111 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 193926.4198870 4.8367147 I:R 12 121. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .00000 9405.0924859 1.36667 87693.9962241 118.9962241 101.15879 59 118 R 2 245471.7050921 ----------------------------------------------------------------------------- 341 .3831865 R 2 118.75444 550.72111 5..35778 35.28495 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 159413..87034 QF 2 QF 12 QF I:R 12 333164.38439 2.RANDOM MODEL .9244401 MI:R 708 13...31333 86057..74667 13..20000 4175..RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES ....2849529 13.M X (I:R) DESIGN .

Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.12309 53. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 5.07412 001-003 60 3 3 5.09249 8. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.12933 47.= INF.46320 0.08861 001-005 60 3 5 5.67286 2.09249 7.09185 80.92450 0.37347 0.45145 2.63325 0.58001 0.61528 60.08319 001-004 60 3 4 5.09249 10.30772 0. NO UNIV.89456 0.94940 56. INF.35896 50. INF.09249 8.99410 5.07416 0.58038 52.05585 001-002 60 3 2 5. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.90161 86.68342 0.66370 0.77994 3.09222 342 .68745 63.04189 2.09249 7.37699 49.

GENOVA was developed in part under contract No.D. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Director. Crick. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City.D.1 January. Robert L. Ed. PA 19104 Robert L. Brennan. Brennan Principal Investigator.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. and no official endorsement should be inferred 343 .Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Ed. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Iowa 52242 VERSION 3.

RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 178809.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 1.30444 19.96222 47344.90868 2.7169002 1..80000 8119...Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ..08333 97430.00000 7478..48111 5..7222109 112.RANDOM MODEL .6129639 R 2 130..93333 2885.5621469 10.5605806 ----------------------------------------------------------------------------- 344 .23333 768.55443 59 118 R 2 270613...00000 10..56215 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 175924.71051 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 275758...M X (I:R) DESIGN .9841356 0.20000 2259..81276 118 708 MI:R 708 380667.67889 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.61222 48.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .5621469 0.1445198 135.28333 94688.9841356 1.. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .5069182 MI:R 708 10.RANDOM MODEL .M X (I:R) DESIGN .32111 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 204742..1463633 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 1.7169002 0..1445198 51.14665 1.7222109 130..82499 QF 2 QF 12 QF I:R 12 368044...0598736 I:R 12 135.

03184 001-004 60 3 4 1. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.33266 68.27644 53.98414 3.07715 4.31679 2.74587 60.03553 345 .72353 0.45963 0.43081 66.65229 0.= INF. NO UNIV.02095 001-002 60 3 2 1. INF.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.43661 1.45248 56.89339 0.33600 58.32649 0.86015 52.26058 1.28859 54.57735 0.02818 001-003 60 3 3 1.71526 88.98414 3.63805 0. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 1.60852 0.53194 0.98414 3.98414 4.17010 0. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.73001 1.09302 92.98414 6. INF.03405 001-005 60 3 5 1.

Crick. Brennan. GENOVA was developed in part under contract No. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. and no official endorsement should be inferred 346 . Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. PA 19104 Robert L.D.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. Ed. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Robert L. Iowa 52242 VERSION 3. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC).1 January. Ed. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy.D.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Director. Brennan Principal Investigator.

..1082335 0.30556 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.65667 89356.96222 44678.26000 7775.OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 3.65151 2.02800 1.M X (I:R) DESIGN ...3717985 129.2295160 2... F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .RANDOM MODEL .8775790 R 2 122.8804237 0.3717985 48.RANDOM MODEL .34000 12.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES ..40000 2835...13333 4168.30444 24..RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M R I SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 171313....9738173 122..6836219 ----------------------------------------------------------------------------- 347 .1082335 3..2295160 0.M X (I:R) DESIGN .64383 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MR 118 263505.88042 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 167144.94038 59 118 R 2 256501..43889 70..6352875 MI:R 708 12.9738173 105..9790840 ----------------------------------------------------------------------------MR 118 2.18833 603.86547 118 708 MI:R 708 365927.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .48111 5.8804237 12.91667 93302..7628148 I:R 12 129.73806 QF 2 QF 12 QF I:R 12 349803.00000 9119.69444 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 198782.

88991 65.44315 62.= INF.14488 5.25095 0. NO UNIV. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.10823 5. INF.04534 001-003 60 3 3 3.05721 348 .15185 84.58880 51.81654 53.21793 49.10823 8. INF.10823 5.05125 001-004 60 3 4 3.60187 51.28256 2. 001 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M R I UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.69456 0.85434 0.10823 4.51820 0.71010 1.65991 0.92477 1.38162 0.17433 57.03665 89.99814 2.10823 4.58839 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------001-001 60 3 1 3.05482 001-005 60 3 5 3.03369 001-002 60 3 2 3.45396 0.65321 0.63114 0.54025 55.

Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. however the authors can make no assurances that the program is totally without error.1 January. and no official endorsement should be inferred 349 . Brennan Principal Investigator. Robert L. Director. Ed. PA 19104 Robert L. Iowa 52242 VERSION 3.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Brennan. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). Ed. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. GENOVA was developed in part under contract No.D. Crick.D.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --.

.RANDOM MODEL .43111 11.5502787 162.20000 17.M X (K:P) DESIGN .66667 7461.7488701 17.90125 QF 2 QF 12 QF K:P 12 305622...OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 4.6933522 73.5902820 P 2 162.RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .44399 59 118 P 2 252349.74637 2..07111 51...3493034 MK:P 708 17..7994991 1.86222 53238.46772 2.7994991 6..93333 106476. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 ....7488701 0.60000 6106.9420122 ----------------------------------------------------------------------------- 350 ..92889 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES..6087719 K:P 12 73.M X (K:P) DESIGN .00000 12566.35000 250.74887 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 145873.12015 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 265917.07111 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 185882.9652808 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 6...20000 4439.5502787 125.91547 118 708 MK:P 708 331756.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .RANDOM MODEL ..9814237 4..59556 126.9814237 1...13333 53272.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 153334.6933522 27.

16421 5.78385 0.24792 9.24792 8. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.47907 7.19211 003-002 60 3 2 7.48748 003-005 60 3 5 7.34182 0.= INF.24792 8.18326 6.55058 0.83052 0.09615 5.05341 0.24037 12.71016 0.22002 1. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 7.28656 0.78611 0.24792 10.85966 0.16025 8.24792 13.43118 1.62019 6. NO UNIV.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO.41635 003-004 60 3 4 7.95815 15.97210 10.32230 003-003 60 3 3 7.54316 351 .72700 1.45233 0.48074 24.91629 30. 3 INF.20607 2.

Robert L.-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --. GENOVA was developed in part under contract No.D. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC). GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City.D. Brennan Principal Investigator. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia.1 January. Brennan. Director. PA 19104 Robert L. and no official endorsement should be inferred 352 . Ed. Crick. Ed. Iowa 52242 VERSION 3. 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output.

..OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 2.4215348 4.7541243 0.8387665 13..RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .3123446 34.64000 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES....8387665 0.9825944 P 2 189.92000 62284.24000 77.94644 2.95333 5432..RANDOM MODEL .28000 124569.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 .00000 9797.M X (K:P) DESIGN .57944 392.4342429 189.96000 11.M X (K:P) DESIGN ..RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 177281..59752 118 708 MK:P 708 381082..56240 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 306093.20000 4241..83877 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 172723. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .14926 59 118 P 2 297293.2220360 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 4.84667 13..4215348 0.RANDOM MODEL .7541243 2.3123446 90.9665221 K:P 12 90.4342429 146...23333 65190..25831 2.60000 4558.41861 QF 2 QF 12 QF K:P 12 362484..36000 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 208358.7344855 ----------------------------------------------------------------------------- 353 ...9396860 MK:P 708 13.68000 35..

47823 0.61572 0.10667 0.19586 003-003 60 3 3 4. NO UNIV.37846 354 .82088 0.25146 0.94341 6.32757 003-005 60 3 5 4.38120 1.64703 0.15323 8.15055 0.30646 17. 3 INF.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.67926 7. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF.13080 0.57235 10.22797 8.22797 5.84089 4.71704 30.73331 0.26759 003-004 60 3 4 4.53443 2.61292 34. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 4.16096 0.78569 0.22797 6.53764 11.76561 1.92258 6.22797 5.22797 5.10856 003-002 60 3 2 4.= INF.35852 15.

D. Brennan. N00123-78-C-1206 with the Navy Personnel Research and Development Center (NPRDC).-GENOVA IS A FORTRAN 77 PROGRAM FOR ANALYSIS OF VARIANCE AND GENERALIZABILITY ANALYSES WITH BALANCED DESIGNS AUTHORS Joe E. Chief Technology & Information Officer Vice President Applications and Database Services National Board of Medical Examiners Philadelphia. Iowa Testing Program University of Iowa Iowa City. Ed. Crick. GENOVA was developed in part under contract No. and no official endorsement should be inferred 355 . 2001 GENOVA has been checked for accuracy of output. however the authors can make no assurances that the program is totally without error. Director. PA 19104 Robert L. Iowa 52242 VERSION 3.1 January. Brennan Principal Investigator. GENOVA does not necessarily reflect NPRDC positions or policy.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok GGGGGGGGGG GGGGGGGGGGGG GG G GG GG GG GG GG GG GGGG GG GGGG GG GG GG GG GG GG GG GG GGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGG EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEE EEEEEEEE EE EE EE EE EE EEEEEEEEEEEE EEEEEEEEEEEE NN NN NNN NN NNNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NNNN NN NNN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN NN OOOOOOOO OOOOOOOOOO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OO OOOOOOOOOO OOOOOOOO VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV VV V V VVVV VVVV VV AAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA AA A GENERAL PURPOSE ANALYSIS OF VARIANCE SYSTEM --.D. Ed. Robert L.

53333 20.46556 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------NOTE: FOR GENERALIZABILITY ANALYSES.28242 12 708 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MP 118 263997.00000 14466...28021 59 118 P 2 255372..67163 118 708 MK:P 708 331741.9151488 2.4329567 20..68222 54098.88333 53276.6548211 73..7446817 2.6548211 27.6348177 K:P 12 73.14764 QF 2 QF 12 QF K:P 12 308648....RUN 1 G STUDY RESULTS (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** QFM = QUADRATIC FORM ----------------------------------------------------------------------------M O D E L V A R I A N C E C O M P O N E N T S DEGREES .7446817 0.0844687 ----------------------------------------------------------------------------- 356 .80000 4030.4329567 1..84111 12.9081929 MK:P 708 20.72222 217.88360 2.RANDOM MODEL .9151488 0.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok G STUDY DATA SET 1 ..9850545 P 2 165.4846516 165.66667 4439.RANDOM MODEL .4846516 127.M X (K:P) DESIGN .15637 1..OF USING USING EMS STANDARD EFFECT FREEDOM ALGORITHM EQUATIONS ERROR ----------------------------------------------------------------------------M 59 2.43296 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MEAN 147174. F-STATISTICS SHOULD BE IGNORED G STUDY DATA SET 1 .21667 108197.RUN 1 ANOVA TABLE (** = INFINITE) M P K SAMPLE SIZE 60 3 5 UNIVERSE SIZE **** **** **** -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------DEGREES SUMS OF SUMS OF (QF = QUASI F RATIO) OF SQUARES FOR SQUARES FOR MEAN F F-TEST DEGREES OF FREEDOM EFFECT FREEDOM MEAN SCORES SCORE EFFECTS SQUARES STATISTIC NUMERATOR DENOMINATOR -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------M 59 151769...M X (K:P) DESIGN .66667 4595.53444 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------TOTAL 899 184566...13222 77..45111 34..9676270 ----------------------------------------------------------------------------MP 118 2...

72896 0.40549 15.Lampiran 8 Genova Hasil Penilaian Kelompok SUMMARY OF D STUDY RESULTS FOR SET OF CONTROL CARDS NO. 3 INF.81099 31.36259 24.69224 0.73765 0.36220 6.83004 7.35993 0.64103 6.83004 5.10037 2. SCORE SCORE DELTA DELTA MEAN COEF. 003 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------V A R I A N C E S SAMPLE SIZES -------------------------------------------------------D STUDY ------------------------------------EXPECTED LOWER UPPER DESIGN INDEX= $M P K UNIVERSE OBSERVED CASE CASE GEN.68130 12.10883 003-002 60 3 2 3.39640 0.27252 4.62784 0.83004 6.99686 0.28554 0.83004 5.32818 003-005 60 3 5 3.23554 3.84065 6.= INF.45420 8.19630 003-003 60 3 3 3.23011 0.52934 0.19224 1.26813 003-004 60 3 4 3.53279 1.70275 7.83004 10. NO UNIV. PHI --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------003-001 60 3 1 3.37912 357 .27033 10.

LEMBAR PENGESAHAN .

Aspin. Berk. Borg. Dalam Malcom Ross The Aesthetic Imperative. Belmont CA: Wadworth Thomson Learning Inc. Yogyakarta. Dwi. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. New York: The Psychological Corporation. D. Brennan. (10 Agustus 2006). Assessment and education in the arts. Babbie. Differential aptitude test manual. Give them wings. J. & Wesman. Pergamon. Introduction to measurement theory.D..R. Robert L. A. Affandi. W. G. Laure. the experience of children’s literature. Tesis Magister. Iowa City: ACT Publication. Second edition. J. Zainul. California: Brooks Cole Publihsing Company. K. (1991).. Performance assessment. (1982). (1986). Ronald. Pengembangan instrumen pengukuran respons estetik siswa sekolah pertama menggunakan semantic diferential. Bambang Prihadi. (1983). Mengenal seni rupa anak. Bennet. Astin. dalam Maurice Saxby & Gordon Winch (EDS). Kompas. Asmawi. New York: Longman. A. Yogyakarta: Gama Media. (2007). Anugrah. tidak diterbutkan.DAFTAR PUSTAKA Abdussalam Al-Khalili. Hal D. (2004). Jakarta: Universitas Terbuka. Phoenix AZ: The Oryx Press. Brandy. Dewobroto. Assessment for excellence. G. Ch. Alternative assessment. Allen Mary. 263 . Educational research: An introduction. M. Universitas Negeri Yogyakara. (2005). & Gall. The practice of social research. Fungsi pendidikan seni budaya di sekolah. “ Children and their books: The right book for the right child I”. Seashore.G. & Yen Wendy. Melbourne: The Macmillan Company. E. Element of generalizability theory. London: The John Hopkins Press Ltd. (2005). (1993). W. Mengembangkan kreativitas anak. A. (2004). (1952). Fourth edition. H. (1979). (1983).

De Francesco-Italio. Assessment criteria for art and design teaching. Conrad. Survei kegiatan guru dalam melakukan penilaian di kelas. Estetika sebuah pengantar. file: // J: Assessment Criteria. Brown Company. SMP. Depok: Inisisasi Press. Dobbs. Rethinking how art is taught: A critical convergence. Art for exceptional children. (Terjemahan Tim Inisiasi). dkk. assessment criteria. Steven Marks. Gaitskell. Duane & Prebel. Dubuque. (1998). Bandung: Tonis. Iowa: W. Santa Monica CA: The Gety Center. (1999). Donald. Depdiknas. Sistem penilaian kelas SD. Dali Gulo. (1982). The DBAE handbook: An overview of disciplinebased art education. George. Cut Kamaril. (1975). Coney. Clive Bell.. Jakarta: Universitas Terbuka. (2006). A.M. Dirjen Dikdasmen. (2002). Harcourt Brace Jovanovich. Penelitian kerja sama antara Lemlit IKIP Yogyakarta dan Balitbang Depdikas. (2005). Wailling. Jakarta. Djemari Mardapi. Jakarta: BSNP. Corwin Press. (1992). Kamus psikologi. 264 . htm.BSNP.M. Thousand Oaks. Campbell. The process of art education in the elementary school. Uhlin. Diambil pada tanggal 8 Nopember 2005. (1975). dkk. A. R. California: Chandler Publishing Company. dari. Multiple intelligences: Metode terbaru melesatkan kecerdasan. CA. Children and their art methods for the elementry Atlanta school. Pendidikan seni rupa/ kerajinan tangan. (1964). (2000). Art education its means and ends. Inc. (2003). Djelantik. California: Dickenson Publishing Inc. (1968). Inc. (1999). (1958). Isobel J. Amerika: Prentice Hall Inc. dan SMK. The aesthetic hypothesis. Art form: An introduction to the visual arts. M. New York: Harper & Brother Publisher. Charles D. Linda. Standar nasional pendidikan. Bandung: MSPI. Donovan. SMA. (1967).

J. Educational assessment and reporting. Arthur D. Departemen Pendidikan dan kebudayaan. development and evaluation. A. 31 No. Atlanta: Harcourt Brage Jovanovich. and Curiculum Development. Gronlund. Hoepfner. Herawati. Estetika sebagai kritik dan apresiasi seni. Inc. J: Prentice. (1973). Publisher. E. Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Winter Vol. Understanding children’s art for better teaching. (1987). Horovitz. Inc. dkk. Eisner. “Human behavior: Its implications for curriculum development in art. Identifying resources from which children advance into pictorial innovation. IL: Stipes. Iriaji.N. NY: Cornell UP. (1990). I thaca. H. George.). Evaluation. (1991). P. Art in Indonesia. Charles. National Art Education Association. (1999). Merrill Publishing Company. The process of art education in the elementary school.” curricular considerations for visual arts education: rationale. Jakarta: National Education Planning. New York and London: Teachers College. George W. (1967). Yogyakarta: Galangpress Fernandes. Testing and measurement. Measurement and evaluation in teaching. Freeman. VA:NAEA. Studies in Art Education. (1985). Dwarne. The Board of Trutes: The Journal Aestetic Education. History of art education. D. (1975). Pendidikan seni rupa. (1964). Reston.. N. 265 . & Nix. (Eds. Holt. Theodore Zernich.Edmund. (1997). Elliot W.4 . H.Hall. Ralph. Claire. Megawati. Educating artistic vision. Inc. (1983). Englewood Cliffs. (2005). the journal of issues and research: 25 (4). Studies in art education. (1997). New York: Macmillan Publishing Company. Children and their art. Greer. (1984). Burke Feldman.28 :227-233 Griffin. (1967).X. Art as image and idea. P 23-34 Gaitskell. 251-258. Peter. Conrad. “A structure of dicipline concepts for DBAE”. W. Champion. Eymeren. Hardiman . N. Efland. New Jersey: PrenticeHall. Ohio: Charles E. (1974). Dalam Teks-teks kunci estetika flsafat seni. London: Harcout Brace Javanovich.

H. C. Keindahan yang digemari dan pengejawantahannya. Meitasari Tjandrasa dan Dra. Logan. artists and art education. (2002). Linderman. Foundations of behavioral research. (1976). (2000). Bandung: Penerbit ITB. Art & crafts for the classroom. (1991). New York: Macmillan Publising Company. (2006). Analisis lukisan karya anak-anak usia sekolah dasar : studi dokumenter hasil karya anak-anak sanggar lukis di kota Jakarta dan Semarang. Muchlichah Zarkasih). Kerlinger F. (1977). ( 2005). (1967). Perkembangan anak. The psychology of chidren’s art. Martini. & Casey. Linn. (2000). USA: Macmillan Publishing Company. Kane. Jakarta: UNJ. Sumardjo. Lim Chin Choy. Frederick M. Laura. Robert L. and Lee H. Dalam teks-teks kunci estetika flsafat seni. 266 . (1991). Popham. New York: Harcour Brace Jovanovich. Model pembelajaran terpadu berbasis kecerdasan jamak. Rhoda and Scott O’Dell. Measurement and evaluation in teaching. New York: Harper & Brother. K. Jurnal Bahasa dan Seni. Jakob. Chapman (1978). 86-97. Michael T. American Council on Education and Praeger Publishers. Jamaris. Kritik seni dan penciptaan seni rupa. I/03.. Kellogg. Sage Publications Kusnadi. R. Jakarta: Erlangga Ismiyanto. A. Art. (2001). A. 3. Growth of art in American schools. Earl. Toronto: Nelson Thomson Learning. Krueger. California: CRM INC. Filsafat seni.M. (1955). 18. (2000). P. Approach to art in education. Classroom assessment what teacher need to know. (Eds. B. (1990). Elizabeth B.). (1995). Jurnal Seni. (Terjemahan dr. N. Yogyakarta: Galangpress. New York: McGraw-Hill. Focus groups: A practical guide for applied research. M. Jilid 1 Edisi Ke enam.Hurlock. S. James. Validation. MA: A Simon & Schuster Company. Lansing.

1. Yogyakarta: FBS UNY. Yogyakata: Jendela. Strategi pembelajaran seni lukis anak usia dini di Sanggar Pratista Yogyakarta. Creative and mental growth. Volume 9. Messick. tahun 2006. Journal of Art and Design Education.3. University of Maryland Libraries. Inc. J. tentang standar nasional pendidikan. Pappas. New York: Harcourt. W. The psychology of intelligence. New York: Analytic.Visual Arts Research. Jakarta: Rora Karya. Martono & Retnowati.”. Concepts in art and education. Jakarta: PT Rineka Cipta.76-85. (1980). Stuart. Maurice. (1995). Barrett. Piaget. Soekidjo. Lambert. Online. Pengembangan sumber daya manusia. (2003). The history and philosophy of art education. “Guidelines for evaluation and assessment in art and design education 5-18 Years”. (2005). nomor 22. & Britain. Viktor.Lowenfeld. 267 .. Peraturan menteri. Mamannoor. (1970). Wacana kritik seni rupa di Indonesia. (2007). S. New York: Macmillan Publishing Co.Vol 15. Myers. Mikke Susanto. Tri Hartiti. Notoatmojo. London: The Macmillan Company. Connie.21 Maret 2005. tahun 2005. Macdonald. Nomor 19. Permendiknas RI. (1989). Seni rupa. No. tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. Brace & World. Garha. 1990. Peraturan Pemerintah RI. P.No. New York: American Elsevier. Peraturan pemerintah . (1950). (2005). Membongkar seni rupa. (2006). Novianto. Assessment in art education a necessary discipline or a loss of happiness?. Spring 1989. George. Oho. Kamus lengkap Bahasa Indonesia. (1970). Newton. (2003). The board of trustees of the university of illinois. (1982). “Excellence in arts teaching and learning: A collaborative responsibility of maturing partnership. ( 2002). Malcom Ross. Surakarta: Bringin 55. New York: Pergamon Press. Validity of psychological assessment. (1986). Bandung: Nuansa. David.

Herbert. Leipzig. di Jakarta. A. Stephen. Pendidikan seni dari konsep sampai program. (2001). Read. Education through art.A: Simon & Schuster Custom Publishing.. Jurnal Rupa volume 4 no 1 September 2005. Salam. Jakarta: Depdikbud. Soeharjo. 183-192. Tjetjep Rohandi & Retnowati. Pendekatan ekspresi diri. (1973). PL2LPTK. disiplin dan multikultural dalam pendidikan seni rupa. (1997). (1994a). (1994). Penilaian dengan non tes dalam proses belajar mengajar. J. Makalah disajikan dalam Seminar & Lokakarya Nasional Pendidikan Seni. M. L’art de bambini. Stark. (2001). Rohidi. Dirjen Dikti. Ruta. Elementary school art for classroom teachers. Yogyakarta: Sanggar Melati Suci. Needham Heights. Bandung: STISI Press. London: The Shenval Press. R.A. Sanggar melati suci (1979-1994). Survai terhadap kondisi guru-guru pendidikan kesenian di SLTP/SMU sumatera barat.Plomp. S. Syahrul. vol 2 No 2. T. Tjetjep Rohendi. & Thomas. (2005). New York: Reinhart and Winston Inc. Ricci. Corrado. Trilogi seni penciptaan eksistensi dan kegunaan seni. Apresiasi seni lukis anak-anak. 268 . C. Development research on/in educational development. (2005). Soesatyo.(1970). Pendidikan seni. John. “Komposisi” Jurnal Pendidikan Bahasa Sastra dan Seni. Tri Hartiti. Soedarso.Yogyakarta:Aquarius Offset. Sawyer. (1971). (2002). (2006). Pepper. Implikasi garis dalam seni rupa. Pedagogical Sem. Sofyan. Kesenian dalam pendekatan budaya. (1983). (1994b). Netherlands: Twente University. J. Pratiknyo Prawironegoero. Rohidi. Malang: Balai Kajian Seni dan Desain. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah. Contextualistic criticism. (2000). R. Assessment program evaluation. (1960). Yogyakarta: Badan Penerbit ISI Yogyakarta. Soesatyo.302-307. London: Harper & Row Publishers. I Made.3 (1906).

E. Wall. E. (2001). (1959).. Itasca. & Hagen.D. (2006). Marriman. Educational evaluation amd decision making. M. I. (1974). Evalution of the art product. L. Suryahadi.ilstu. Dasar-dasar kritik seni rupa. W. J. Guba. Foley. Early adolescent literacy learning fall 2006. W. Gepard. Linda. (1975). 2001) 269 . (1979). M. & Provus. L. Toronto: Pergamon Press. (2005). Section 01 and 02. art education. Amri. (1991). A. Yogyakarta: Unit Litbang P3G Thiagarajan. Wedwick.. J. D. Agung. (1981). Constructive education for children. Diakses dari http://www. UNY. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Heyfron . H.. Sudarmaji. Paris: Harrap London. G.57. Utami Munandar. P. Robert. Thorndike. Evaluasi dalam perspektif pendidikan seni (Pidato Ilmiah. (1999). D. O. Elizabeth. Waterman. Instructional development for training teachers of exceptional children: A sourcebook. pp. Yahya. Paul Torrance test of creative thinking. L. Torrance. S. Victor.. Hammond. Jakarta: Balai Seni Rupa Jakarta. Il: F. Edward. W.edu/ivc pada tanggal 1 Juli 2007.. Peacock. Minneapolis Indiana University.. (1971).coe. (1986). S & Semmel. Semmel.C... Lexington: Personal Press. Paul. Measurement and evaluation in psychology and education . Kreativitas dan keberbakatan strategi mewujudkan potensi kreatif dan bakat. R. Bunga rampai pendidikan seni. New York : John Wiley & Sons.10. M.Stufflebeam. “Objectivity and assessment in art” in assessment in arts education.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful