P. 1
SEJARAH AGUNG PERJUANGAN UMMAH ACEH

SEJARAH AGUNG PERJUANGAN UMMAH ACEH

4.6

|Views: 6,388|Likes:

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Hilmy Bakar Almascaty on Feb 20, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

03/23/2014

The Acheh Renaissance Movement

(geumilang Aceh…. geumilang Islam)

Serial Penelitian Dan Penerbitan

Sejarah Perjuangan

Ummah
Aceh-Sumatra
Oleh

Al-Ustadz Hilmy Bakar Hasany Almascaty

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

1

Bismillahirrahmanirrahim Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Tentang Peneliti & Penulis
Al-Ustadz Hilmy Bakar Alhasany Almascaty, adalah Pendiri dan Presiden Hilal Merah sebagai rekomendasi Mudzakarah Nasional Ulama, Habaib dan Cendekiawan Muslim ke XI di Medan Sumut. Pernah menjabat sebagai: Panglima Operasi Kemanusiaan DPPFront Pembela Islam (FPI) dan Ormas Islam di NAD, Ketua DPP Front Pembela Islam, Wakil Ketua PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Ketua Umum Aliansi Peduli Aktivis, Kordinator Nasional Mudzakarah Ulama, Habaib dan Cendekiawan Muslim, Ketua Persaudaraan Pekerja Muslim (PPMI), Direktur R&D Universitas Islam Azzahra, Anggota Pleno Partai Bulan Bintang, Bendahara Umum Partai Daulat Rakyat, Preskom Madani Group, Pendiri dan Deputy Presiden Intelektual Muda Muslim Asia Tenggara, Direktur di beberapa Perusahaan Multinasional Malaysia dan beberapa jabatan dan konsultan di pemerintah. Dosen dan Direktur Institut Pendidikan Safa Malaysia, Ketum Yayasan Islam An-Nur NTB. Pernah aktiv di Pelajar Islam Indonesia (PII), Persekutuan Pelajar Islam Asia Tenggara (PEPIAT), Pengkajian Risalah Tauhid BKPMI, Darul Arqam dan Gerakan Mujahidin Ansharullah sebagai Kepala Staf KTWB. Lahir di NTB pada 01 Agustus 1966. Mendapat Pendidikan di SDN dan Madrasah Diniyah Mataram, Madrasah Tsanawiyah Mataram, Madrasah Aliyah Jogyakarta, Islamic College Malaysia, Ma’had Aly Al-Dakwah, Sekolah Tinggi Ilmu Islam, Diploma Madya Pentadbiran Perniagaan ITTAR Malaysia, Pasca Sarjana Fakultas Pentadbiran Perniagaan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Doktor EkonomiManajemen, International Institute of Management Studies akredetasi Assocations of University and College-USA. Menulis Risalah: Problematika Umat Islam Indonesia (Furqon Press, Yogya-1983), Studi Kritis Terhadap Idiologi Pancasila di Zaman Soeharto (Tanpa Penerbit, Yogya-1983), Risalah Panduan Jihad (Annur, 1987). Menulis buku : Ummah Melayu Kuasa Baru Abad 21 (Berita Publ. Malaysia-1994), Generasi Penyelamat Ummah (Berita Publ. Malaysia-1995), Panduan Jihad untuk Aktivis Islam (GIP-JKT, 2001), Membangun Kembali Sistem Pendidikan Kaum Muslimin (Azzahra Press, 2002). Buku yang akan terbit : Manhaj Tanzily dan Heurmenotika al-Qur’an Kontemporer dan The Acheh Renaissance. Mempersiapkan : Kecerdasan Ketujuh, Menggerakkan Kecerdasan Ilahiyah Menuju Manusia Sempurna. Menulis di berbagai koran dan majalah nasional dan regional, terutama Malaysia. Menjadi nara sumber di berbagai seminar/konferensi nasional dan regional. Pernah diwawancarai media masa lokal dan internasional, CNN, BBC, CNBC, AlJazeera, Spain TV, La Monde, TheWashington Post, Newsweek dll. Pada 2001 majalah internasional ASIAWEEK meletakkannya sebagai cover dan menjuluki sebagai tokoh jembatan Moderat Islam dengan Radikal Islam di Asia Tenggara.

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

2

Sekarang hilir mudik dari Aceh-Kuala Lumpur-Jakarta-Timur Tengah untuk mempersiapkan beberapa penelitian puncak sebagai hujung dari perjalanan spiritual yang tengah dilakukannya. Lihat websitenya : www.hilmybakar.co.cc

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra
Jilid I
Pengantar Penulis Latar Belakang Penulisan & Methodologi 1. Mendifinisikan Kembali Ummah Aceh-Sumatra Sebagai Entitas Peradaban Muslim 2. Kegemilangan Peradaban Ummah Aceh-Sumatra Pra-Islam 3. Dekonstruksi Teori Islamisasi Ummah Aceh-Sumatra 4. Kerajaan Islam Jeumpa (156 H / 770 M), Kerajaan Islam Pertama Di Wilayah Nusantara 5. Kerajaan Islam Perlak (225 H / 840 M) 6. Kerajaan Islam Pasai (1230 M) 7. Ketika Kerajaan Pasai-Sumatra Menggantikan Bagdad Sebagai Pusat Khilafah Islamiyah. 8. Ketika Kerajaan Islam Pasai Menaklukkan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit 9. Legenda Auliya Aceh : Dari Pasai Menaklukkan Hindu-Majapahit Dan Mendirikan Kerajaan Islam Demak Di Tanah Jawa

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra
Jilid II
10. Menghadapi Ancaman Imprialisme Barat Eropa (Portogis, Inggris, Francis, Belanda dan lain-lain) 11. Kebangkitan Kerajaan Aceh Darussalam (1514 M) 12. Puncak Kegemilangan Aceh : Sultan Iskandar Muda (1607-1636) 13. Awal Kemunduran Aceh : Dari Intrik Putro Phang, Kelemahan Iskandar Tsani, Konflik Teologi Raniry, Perpecahan Internal Elit Politik dan Perang Saudara. 14. Peran Ulama Dan Auliya Dalam Kebangkitan Ummah Aceh-Sumatra : Sayid Hussein Jamad al-Kubra, Maulana Malik Ibrahim, Maulana Abu Ishak, Makhdum Patakan, Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrany, Nuruddin alRaniry, Maulana Syiah Kuala dan Habib Dianjung

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

3

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra
Jilid III
15. Sejarah Kedermawanan Abadi Habib Bugak Asyi : Pewaqaf Baitul Asyi Makkah al-Mukarramah 16. Jihad Melawan Penjajah Kaphe Sepanjang 500 Tahun Dan Implikasinya Pada Ummah Aceh-Sumatra 17. Pergolakan dan Perubahan Sosial Ummah Aceh-Sumatra (Peran ”Kaum Muda” Padang Melalui Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) Dalam Pergolakan Sosial dan Perpecahan Ummah Aceh-Sumatra) 18. Masa Genting Menjelang Kemerdekaan Indonesia (Merdeka Sendiri atau Bergabung Dengan Indonesia) 19. Dialog Imajiner Dengan Pemangku Sultan Aceh Darussalam : Jika Aceh Tidak Bergabung Dengan Indonesia, Mungkin Lebih Hebat Dari Malaysia Dan Singapura

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra
Jilid IV
20. Memahami Dinamika Pergerakan Rakyat Aceh Pasca Kemerdekaan, Dari Jihad DI-TII, Proklamasi Republik Islam Aceh, Pendirian Aceh Merdeka, Perjuangan Gerakan Aceh Merdeka Sampai Perdamaian Helsinki 21. Bencana Tsunami Dan Jalan Kemenangan (Salman Bireuen) 22. Aceh Di Persimpangan Jalan : Merdeka Atau Aceh Renaissance 23. Teori ”The Aceh Renaissance” Dan Masa Depan Kegemilangan Ummah AcehSumatra. 24. Negeri Yang Dinantikan (Baldah al-Muntadzirah)

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

4

Pengantar Penulis
Ketika penulis mengikuti Konfrensi Internasional Pembangunan Aceh Ke 2 di Lhokseumawe, pada penghujung 2007 lalu yang diselenggarakan oleh Universitas Malikus Saleh, penulis menyaksikan bagaimana antusiasnya generasi muda Aceh, khususnya para cendekia muda untuk mengetahui secara pasti tentang Aceh, terutama sejarah keagungan dan peradaban yang telah dicapai oleh generasi pendahulu mereka. Maka sejak saat itu penulis berazam untuk membuat sebuah pengantar atau minimal sebuah rintisan untuk membuka kembali lembaran sejarah Aceh yang selama ini menjadi misteri bagi kebanyakan orang, bahkan bagi generasi Aceh sendiri. Hidup adalah perjuangan. Itulah kata bertuah yang senantiasa penulis dengar sejak kecil. Jadi jika kita berbicara tentang hidup, maka kita sebenarnya sedang membicarakan perjuangan. Demikian halnya, ketika kita ingin membicarakan sejarah kehidupan sebuah ummah, maka sebenarnya kita juga sedang membicarakan perjuangan mereka. Maka ketika penulis ingin meneliti sejarah Aceh, sebenarnya penulis ingin mengetahui lebih jauh tentang sejarah perjuangan ummah di Aceh yang sangat melegenda itu. Walaupun wilayah Aceh bukanlah asing bagi penulis, karena sejak tahun 1985 penulis sudah mulai menginjakkan kaki di bumi Serambi Mekah ini, namun terus terang penulis belum memberikan perhatian yang besar pada sejarah Aceh. Padahal pada saat itu penulis sedang mengadakan pemetaan dakwah bersama para aktivis pemuda Islam dari Jakarta dan Yogyakarta. Sampai akhir tahun 80-an, penulis masih gelap dengan sejarah Aceh. Yang penulis ketahui hanya sepintas tentang sejarah Kerajaan Pasai dan penyebaran Islam. Sebatas itu saja. Pada awal tahun 90-an, atau sekitar pertengahan 1991, penulis berkesempatan tinggal di Aceh bersama dengan para aktivis dakwah dari Malaysia. Namun sekali lagi penulis tidak mendapatkan gambaran yang jelas tentang sejarah Aceh, karena susahnya mendapatkan referensi yang memadai. Walaupun sepanjang tahun 1992-1993 penulis mengadakan penelitian tentang kebangkitan Islam di Asia Tenggara dengan fokus di sekitar Kedah (Malaysia), Pattani (Thailand) dan Aceh (Indonesia), namun secara umum penulis belum mendapatkan juga secara utuh gambaran sejarah Aceh. Mungkin pada saat itu penulis belum merasa perlu untuk mengetahui secara mendalam sejarah Aceh. Toh walaupun sampai dengan penghujung tahun 90-an sampai awal tahun 2003 penulis bolak balik dari Kuala Lumpur-Jakarta ke Aceh, baik mengurus investasi, politik ataupun penelitian, sampai sejauh itupun penulis belum masuk pada dataran ingin mengetahui sejarah Aceh secara menyeluruh. Keseriusan penulis kepada sejarah Aceh dimulai sejak peristiwa bencana tsunami pada 26 Desember 2004. Setelah selesai memberikan bantuan semaksimal mungkin pada masa tanggap darurat dan masa rekunstruksi fisik, tepatnya pada tahun 2006, penulis bersama dengan beberapa tokoh pemuda Aceh seperti Twk. Muhammad

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

5

Z. Narukaya, Muzakhir Rida, Baihaqi Abdul Majid, Tajudin Hasan, M. Ali Husein dan lain-lainnya berkeinginan memberikan sumbangan yang berharga untuk generasi muda Aceh. Tepatnya pada tanggal 1 Agustus 2006, bertepatan dengan usia 40 tahun, penulis menetapkan azam, berhijrah secara total ke Aceh, menjadi bagian dari suka duka dan dinamika masyarakat Aceh. Penulis ingin menjadi bagian dari Aceh yang tersimpan banyak misteri. Penulis berkeyakinan, hanya dengan menjadi bagian dari Aceh-lah, misteri Aceh akan terungkap, terutama sejarah masa lalu yang sangat penting artinya bagi kebangkitan kembali masyarakat Aceh, bahkan masyarakat Islam seluruhnya. Pasca tragedi bencana tsunami dan perdamaian Helsinki, penulis banyak melihat kemunculan pemuda-pemuda Aceh yang sangat berpotensi menggerakkan perubahan pada masyarakat Aceh. Namun karena panjangnya masa konflik yang menimbulkan berbagai trauma, menjadikan sebagian cendekia sangat berhati-hati dalam menyampaikan pendapat. Hal ini tentu memberikan pengaruh yang besar terhadap proses dinamisasi kebangkitan kembali masyarakat Aceh. Maka bersama dengan teman-teman yang telah bernaung di lambaga Hilal Merah (Red Crescent), penulis memulai sebuah gerakan yang kami namakan dengan Aceh Renaissance, renaisan Aceh, atau pencerahan kembali masyarakat Aceh dengan memiliki kesadaran akan keagungan masa lalu mereka untuk merancang kebangkitan masa depannya. Renaisan memang menjadi harapan generasi muda Aceh yang mulai tercerahkan, namun bagaimana memulainya? Untuk memulai sebuah renaisan, menurut hemat penulis, sebuah masyarakat wajib mengenal diri mereka, siapa mereka, potensi-potensi yang dimilikinya dan tentu sejarah masa lalu yang akan menjadi spirit dalam membangun masa depan. Maka dalam kontek inilah, penulis menekankan pentingnya sebuah sejarah bagi masyarakat yang ingin menggapai renaisan, atau kebangkitan kembali. Allah SWT telah memerintahkan kepada hamba-Nya: Maka ceritakanlah tentang sejarah-sejarah itu, agar mereka mengambil pelajaran darinya. Demikian pula halnya, secara pribadi sebagai orang luar Aceh yang ingin menjadi dan merasa sebagai bagian dari orang Aceh, hal pertama yang harus penulis lakukan adalah mengetahui tentang masyarakat Aceh itu sendiri. Karena masyarakat Aceh sangat spesial di mata masyarakat muslim Indonesia, bahkan mungkin tingkat Asia Tenggara ataupun dunia sekalipun. Sejak kecil penulis mendengar tentang Aceh yang Islami sebagai serambi Mekkah. Demikian pula halnya, ketika pemerintah memberikan kebebasan kepada masyarakat Aceh untuk menjalankan Syariat Islam di bawah jaminan undang-undang, penulis sangat tertarik menjadi bagian dari masyarakat yang berkesempatan menjalankan Syariat Islam. Sebagai orang yang pernah hidup di tengah derasnya arus masyarakat jahiliyah di Jakarta, secara spiritual penulis tentu merindukan sebuah tempat yang dapat mengantarkan penulis pada tingkat keimanan dan ketaqwaan yang sempurna sebagaimana dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Setelah penulis menjadi bagian dari Aceh-lah, barulah penulis mendapat gambaran-gambaran awal tentang Aceh. Walaupun pada tahap awal penulis merasa kecewa dengan kenyataan yang penulis lihat, namun penulis anggap itu sebagai bagian dari tugas seorang muslim terhadap masyarakatnya. Penulispun mulai mencari referensi tentang Aceh, mengadakan dialog dengan tokoh-tokoh Aceh dan mengadakan perjalanan keliling ke seluruh wilayah Aceh, terutama tempat-tempat bersejarah.

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

6

Termasuk mengunjungi maqam para Sultan, Habib, Ulama, Auliya, panglima dan lainnya. Semakin penulis meresapi dan terlibat secara mendalam, secara rohani dan spiritual dengan perjalanan sejarah Aceh, maka di luar dugaan, penulis mendapatkan gambaran-gambaran mengejutkan tentang sejarah Aceh dan keagungannya yang selama ini secara sengaja dan tersistematika disembunyikan dari buku-buku sejarah nasional. Ironisnya sebagian besar generasi muda Aceh tidak mengetahui tokoh-tokoh sejarahnya sendiri. Sampai dengan penghujung 2008, di tengah kesibukan mempromosikan investasi ke Aceh kepada para penguasa Malaysia dan Negara-negara muslim Timur Tengah, penulis tetap menyempatkan diri untuk melihat langsung monumen-monumen sejarah masyarakat Aceh. Bahkan secara spiritual terkadang monumen itu menceritakan sejarahnya kepada penulis dengan caranya sendiri. Terkadang dalam satu bulan dua kali penulis mengadakan perjalanan sepanjang Banda Aceh, Pidie, Bireuen, Aceh Utara sampai Perlak dan Langsa, dan sekitarnya. Perjalanan yang memberikan pengalamanpengalaman luar biasa dalam memahami sejarah dan dinamika masyarakat Aceh. Pengalaman-pengalaman spiritual inilah kemudian penulis terjemahkan dan analisis dengan fakta-fakta sejarah, merangkainya menjadi bahan-bahan awal untuk sejarah Aceh. Dengan harapan, rintisan awal ini akan membuka cakrawala para cendekia muda Aceh untuk melanjutkan penulisan sejarah, atau mungkin lebih tepat dikatakan sebagai analisis sejarah Aceh ini. Karena penulis tidak mencukupi hanya dengan memaparkan fakta sejarah, namun menganalisis juga. Sebagai seorang muslim, hamba Allah yang lemah, penulis berharap karya ini menjadi amal saleh yang bermanfaat untuk masyarakat Aceh, terutama para generasi muda yang akan menjadi pemimpin pergerakan masyarakat Aceh. Segala kekurangan dan kesalahan dari tulisan ini harap dimaafkan, karena bagian dari kelemahan dan kekuarangan penulis sebagai seorang manusia. Karena kebenaran itu mutlak hanyalah milik Allah SWT. Bugak, Bireuen, Nanggroe Aceh Darussalam 01-08-2008

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

7

Prolog Sejarah Perjuangan Aceh = Sejarah Heroisme & Konflik
Aceh saat ini jika dilihat dari segi statistik penduduknya adalah 99 % muslim namun ironisnya, menduduki tingkat no 2 termiskin dari seluruh propinsi di Indonesia. Di atas propinsi Papua di ujung timur Indonesia yang penduduknya masih banyak telanjang. Pasca bencana tsunami, menurut laporan Bank Dunia 2007-2008 diperkirakan Aceh menduduki rangking pertama dalam kemiskinan yang mencapai 40 %. Dari latar belakang sejarah, Aceh jika dibandingkan dengan Papua ataupun daerah lainnya di Indonesia, misalnya dalam pembangunan peradaban dan pengetahuan, Aceh pernah menjadi pusat penyebaran peradaban baru di Nusantara yang lahir dari asimilasi peradaban dunia dari Arab, Persia, India, Cina ataupun Eropah, yang kini menjadi budaya utama di Asia Tenggara, terutama di Indonesia dan Malaysia. Bahkan bahasa kebangsaan Indonesia, Malaysia dan Brunei adalah bahasa yang telah digunakan oleh Kerajaan-Kerajaan Islam awal di Aceh, baik di Jeumpa, Perlak, Pasai dan Aceh Darussalam. Artinya bahwa Aceh pernah menjadi pusat kegemilangan di Asia Tenggara, namun kenapa saat ini Aceh mengalami kemunduran drastis, jauh dari wilayah yang pernah menjadi wilayah taklukannya, seperti Malaysia dan mungkin juga daerah Jawa lainnya. Sebagian peneliti berkesimpulan bahwa kemunduran Aceh dalam segala lini adalah akibat konflik demi konflik yang telah melanda daerah tersebut. Bermula dari konflik internal pada masa Kerajaan Aceh Darussalam, konfik dan peperangan sepanjang 500 tahun dengan kolonialis dan imprialis kafir Barat, konflik internal antara Ulama Pembaharu dengan Ulama Tradasional yang didukung Uleebalang menjelang kemerdekaan Indonesia dan berlanjut dengan konflik yang disertai peperangan di era Soekarno dan Soeharto. Konflik yang telah memusnahkan potensi SDM dan peradaban masyarakat Aceh. Dan akhirnya konflik demi konflik telah melahirkan penekanan, penderitaan, kemiskinan, kemunduran masyarakat dalam segala lini kehidupannya. Keadaan ini diperparah dengan bencana tsunami pada 26 Desember 2004 lalu. Ketika kita mengunjungi Aceh sekarang, terutama tempat-tempat yang pernah dicatat sejarah sebagai pusat peradaban seperti Jeumpa, Perlak, Pasai dan Banda Aceh. Maka kita tidak akan percaya bahwa wilayah ini pernah menjadi pusat pengembangan peradaban selama berabad-abad. Di pusat Kerajaan Islam Pasai misalnya, di sekitar Geudong Kecamatan Samudra Aceh Utara, kita tidak akan melihat bekas-bekas kemegahan dan keagungan Kerajaan sebagaimana diceritakan Marco Polo dan Ibnu Batutah pada awal abad 14 M. Di sana kini tidak ada bekas-bekas istana ataupun puingpuingnya, kecuali hanya maqam-maqam para Sultan. Peninggalan Kerajaan Pasai tenggelam hilang ditelan bumi, kita tidak percaya di sana pernah ada pusat kerajaan terbesar di Asia Tenggara pada abad 12 sampai 15 M. Konon penjajah Belanda telah

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

8

menghilangkan semua bukti-bukti kegemilangan Pasai dan bahkan menjadikannya sebagai tempat pembuangan para penderita lepra. Sementara jika kita ke Banda Aceh, yang telah menjadi pusat Kerajaan Aceh Darussalam, kitapun tidak mendapatkan bekas-bekas keagungan peninggalan Sultan Iskandar Muda. Misalnya di mana letak Istana Darud Donya yang kemegahannya telah membuat terperangah para pengunjung dari Prancis ataupun Inggris itu. Pasca bencana tsunami, Banda Aceh, terutama yang ditengarai sebagai pusat Kerajaan Aceh Darussalam telah berubah menjadi komplek perumahan kumuh yang tidak teratur, penuh dengan rumah-rumah bantuan yang tidak layak huni. Demikian pula dengan tingkat kesadaran masyarakatnya yang sangat jauh tertibnya jika dibandingkan dengan masyarakat Melayu Kuala Lumpur misalnya. Kegemilangan Islam dan kesadaran keislaman pada masyarakat Aceh secara umum seakan telah sirna, walaupun secara formal diberlakukan syari’at Islam. Dayah yang menjadi kebanggaan Aceh sudah mulai sepi dan tidak diminati generasi muda lagi. Benarkah konflik demi konflik yang telah mengantarkan Aceh yang dulunya sebagai pusat pengembangan peradaban dan pengetahuan Islam menjadi sebagai propinsi paling tertinggal dan termiskin di Indonesia? Jika konflik telah menjadikan Aceh terpuruk sedemikian parahnya, apakah para pemimpin Aceh tidak menyadari, bahkan konflik telah menghancurkan masyarakat mereka sendiri, dan tidak berusaha keluar dari konflik demi konflik yang menambah keterpurukan dan kemunduran masyarakatnya. Jika konflik memang dianggap bertanggung jawab terhadap kemunduran, kenapa semua pihak, terutama seluruh komponen masyarakat Aceh, tidak mengakhiri konflik demi konflik ini, agar Aceh kembali bangkit dan meraih kegemilangannya kembali? Nah disinilah masalahnya, apakah konflik demi konflik yang telah menghancurkan Aceh ini hanya melibatkan internal masyarakat Aceh saja? Ternyata memang konflik demi konflik yang terjadi di Aceh tidak sesederhana yang kita fikirkan. Menurut pengamatan penulis, setelah mencoba meneliti, menelaah lebih jauh dan mendalam, konflik demi konflik yang menyebabkan keterbelakangan Aceh secara menyeluruh tidak lain adalah salah satu akibat dan buah dari sebuah skenario panjang upaya-upaya tersistematis untuk menghancurkan Aceh dengan sejarah kegemilangannya yang berlandaskan Islam. Konflik berkepanjangan yang terjadi di Aceh dirancang secara sistematis, terorganisir dan melibatkan banyak fihak yang bertujuan untuk menghilangkan eksistensi Aceh dengan segala perbendaharaan peradabadan dan sejarah kegemilangan masa lalunya yang sangat erat berkaitan dengan Islam. Sejarah mengungkapkan bahwa Aceh sejak awal abad ke 8 M adalah promotor dan benteng pertama Islamisasi di Asia Tenggara yang telah menggusur peran HinduBudha dengan peradaban dan budayanya. Pada era kolonialisasi, Aceh adalah benteng sekaligus garda terdepan melawan agresi penjajah kafir Portugis, Inggris, Belanda maupun Amerika. Ketika seluruh Nusantara sudah bertekuk lutut pada penjajah kafir, para pejuang mujahidin Aceh masih berperang sampai titik darah penghabisan mengusir musuh agama dan sekaligus musuh kemanusiaan itu. Aceh menjadi hambatan terbesar kolonialisasi, baratisasi, kafirisasi ataupun nasionalisasi yang diserukan penjajah kafir dan antek-anteknya yang telah mereka didik. Bahkan Aceh

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

9

menjadi benteng Islam dan Syareat Islam ketika negara nasionalis Pancasila diproklamirkan Soekarno dan diteruskan Soeharto dengan kebijakan asas tunggalnya. Akhirnya sampai saat ini, tidak diragukan Aceh menjadi benteng pertahanan terakhir Islam di Asia Tenggara yang menjadi incaran musuh-musuh Islam, baik kaum Salibis, Zionis dan sekutu-sekutunya. Perencanaan besar untuk menghapuskan masa lalu yang akan berdampak pada masa depan Aceh inilah yang patut dijadikan sebagai faktor utama yang telah menimbulkan dilemma Aceh, yang kemudian menimbulkan konflik demi konflik, perang demi perang, pemberontakan demi pemberontakan, intrik demi intrik, perpecahan demi perpecahan yang pada akhirnya mengantarkan Aceh pada jurang keterbelakangan, kemiskinan, kemunduran dan kebodohan sebagaimana yang dialaminya saat ini. Prof. Ismail R. Faruqi dalam sebuah kuliahnya pada awal tahun 80an telah mengingatkan bahwa diantara strategi musuh-musuh Islam untuk menghancurkan masa depan Islam adalah dengan memisahkan generasi muda muslim dari akar tradisi dan keagungan sejarah masyarakatnya. Generasi muda dihalang-halangi untuk mempelajari dan mengetahui keagungan sejarah nenek moyang mereka dan dirubah orientasinya agar bangga dengan keagungan penjajah, sistem penjajah, sejarah penjajah dan tokoh-tokoh penjajah. Agar generasi muda ini dapat menjadi boneka-boneka penjajah yang menyerukan ide-ide sesatnya, seperti apa yang dilakukan Mustafa Kemal Atta Turk yang telah menyerukan sekulerisasi untuk menghilangkan keagungan masa lalu Khalifah Ustmaniyah. Usaha-usaha pelumpuhan atau penaklukan peradaban Aceh yang dilakukan musuh-musuhnya sepanjang sejarah Aceh telah mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan masyarakat Aceh selanjutnya. Mengambil istilah Huntington, benturan peradaban (clash of civilization) inilah yang menjadi penyebab utama kemunduran Aceh, yang kemudian menimbulkan segala akibatnya. Dan kini ironisnya sebagaian besar generasi muda Aceh mulai tercabut dari akar masa lalunya, terputus dengan sejarah kegemilangan dan keagungan nenek moyangnya dan melupakan peninggalan peradaban yang diwarisi pendahulunya. Yang paling parah, sebagaian besar mereka tidak peduli dengan nilai-nilai kesempurnaan Islam yang telah mengantarkan generasi pendahulunya menuju keagungan dan kejayaan akibat lain dari masuknya faham sekulerisme kafir Barat yang dibawa relawan asing pasca tsunami. Sejak Aceh menggapai puncak kegemilangnnya, terutama sejak zaman pemerintahan Sultan Malikus Saleh di Pasai pada awal abad ke 13 M sampai Sultan Iskandar Muda di Aceh Darussalam pada awal abad ke 17 M, tidak henti-hentinya datang musuh-musuh yang ingin melumpuhkan dan menaklukkan gerakan kebangkitan Aceh sebagai pusat peradaban baru yang berdasarkan ajaran Islam. Demikian pula letak geografi Aceh di ujung barat pulau Sumatra yang sangat strategis, yang menjadi laluan perdagangan atau penyebaran peradaban antara dunia Eropa klasik, Arab dengan Cina melalui jalur laut sejak 2000 tahun sebelum masehi telah menarik banyak bangsa untuk menguasainya sebagai pertimbangan penguasan jalur ekonomi. Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit pada abad ke 13 M dibawah pimpinan Mahapatih Gajah Mada telah menyerang Kerajaan Islam Pasai yang sedang bangkit menjadi pusat Islamisasi di Nusantara, demikian pula halnya dengan Kerajaan Siam-

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

10

Budha di sebelah Barat. Kerajaan Hindu-Budha di Nusantara telah bersekutu untuk menghancurkan Kerajaan Islam Pasai sebagai pusat Islamisasi yang semakin berpengaruh dan kuat. Namun berkat kegigihan dan keberanian para mujahidin Kerajaan Pasai yang berjuang menegakkan kebenaran Islam telah mampu mengusir para tentara kafir tersebut dengan memperoleh kemenangan besar sebagaimana dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Kerajaan Pasai bangkit semakin kuat dan berpengaruh, terutama setelah kejatuhan Bagdad pada tahun 1258 M dan menjadi pusat Islamisasi di Asia Tenggara, bahkan menjadi pusat Khilafah Islamiyah untuk menentang keganasan tentara Mongol. Akhirnya kebesaran Pasai telah mengakhiri riwayat Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit dengan diproklamirkannya Kerajaan Islam Demak yang didukung oleh Wali Sembilan yang berasal dari Pasai. Kekuatan dan kebesaran Kerajaan Islam Pasai telah mendorong pula lahirnya Kerajan Islam di Champa, Pattani, Kelantan, Malaka, Borneo, Bugis-Makassar sampai di Maluku dan Fak-Fak di Papua yang memiliki kekerabatan dengan Pasai. Kemenangan Pasai yang telah mengislamkan Asia Tenggara menimbulkan dendam dan sakit hati para generasi penerus Kerajaan Hindu-Budha Majapahit dan pelanjut fanatik peradabannya yang panjang, saat ini di kenal dengan Kejawenisme. Sementara Kejawenisme adalah sebuah faham yang kemudian berkembang luas di kalangan masyarakat Jawa, sebagai sebuah singkritisme atau perpaduan antara semua aliran kepercayaan dan agama-agama, termasuk Islam dan Kristen. Para penerus Majapahit dan Kejawenisme yang dikalahkan Pasai menunggu waktu tepat untuk bangkit dengan peradaban mereka dan menguasai kembali serta mengadakan balas dendam peradaban terhadap Pasai atau penerusnya Aceh. Kemenangan bangsa Barat atas kaum Muslim di Yerusalem, yang dilanjutkan dengan pengusiran dan pembantaian Muslim di Eropa, dibawah komando Alfonso de Albuquerque dari Portogis, tentara Salib melanjutkan penaklukkannya ke Asia Tenggara, terutama Malaka dan Pasai yang dikenal sebagai pusat Islamisasi Nusantara. Pada tahun 1511 Portogis berhasil menguasai Malaka dan mendirikan benteng untuk memperkuat kedudukannya dalam menguasai pusat Islamisasi Nusantara di Pasai. Selanjutnya pada tahun 1520 Portogis menyerang Pidie dan mendudukinya. Melalui bentengnya di Malaka dan Pidie inilah Portugis berhasil menguasai Pasai pada tahun 1521. Kejatuhan Pasai ke tangan penjajah Kristen Portugis telah menghakhiri peran Pasai dan selanjutnya kedudukannya sebagai patron Kerajaan Islam Nusantara digantikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam yang berpusat di Bandar Aceh yang diproklamirkan oleh Sultan Ali Mugayyat Syah pada tahun 1514 M, atau bersamaan dengan mulai melemahnya kekudukan Pasai dalam menghadapi serangan Portugis. Untuk memperkuat posisinya sebagai pengganti peranan Kerajaan Islam Pasai, Kerajaan Aceh Darussalam menguasai kembali kerajaan-kerajaan kecil yang mulai memisahkan diri akibat lemahnya Pasai. Setelah memiliki kekuatan yang cukup, Kerajaan Aceh Darussalam membebaskan Pidie dari cengkraman Kolonialis Portogis dan mempersiapkan untuk membebaskan Pasai, Malaka dan lain-lainnya. Perang membebaskan Malaka yang diprakarsai Kerajaan Aceh Darussalam juga melibatkan Kerajan-Kerajaan Islam di Tanah Jawa sampai Bugis-Makassar, yang memang merupakan sebuah jaringan kekuatan Islam masa itu. Dalam menghadapi peperangan dengan Kerajaan Aceh, kaum kolonialis Barat, baik Portugis, Francis, Inggris maupun

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

11

Belanda telah bersekutu satu sama lainnya. Ada yang mengadakan perjanjian dagang secara halus seperti Inggris, sementara Belanda tetap menggunakan jalur peperangan. Namun hakikatnya para imprialis-kolonialis Barat Kristen ini memiliki misi yang sama, yaitu untuk menghancurkan Aceh sebagai benteng utama Islam di Asia Tenggara. Itulah sebabnya, setelah Belanda menguasai seluruh wilayah Indonesia, namun tetap nekad untuk menguasai Aceh walaupun dengan biaya besar atas dukungan sekutusekutu Kristen Baratnya. Sejarah membuktikan bahwa Aceh tidak mudah ditaklukkan, perlawanan demi perlawanan terus berkobar, yang pada akhirnya melemahkan logistik Belanda sendiri. Walaupun sudah berperang dengan Kerajaan Aceh sejak pertengahan abad 16 sampai awal abad 20, Belanda tidak berhasil menaklukkan Aceh secara total, hanya menguasai jalur perdagangan laut dan terus mendapat perlawanan sengit para pejuang Aceh. Kekalahan demi kekalahan yang dialami kolonialis Kristen Barat telah menimbulkan dendam mereka dan penerusnya, terutama penganut agama mereka yang menunggu waktu untuk membalas kekalahan pendahulu mereka. Itulah sebabnya tidak mengherankan, gerakan missionaris Kristen berlomba-lomba menyerang Aceh pasca bencana tsunami dengan berbagai kedok organisasi kemanusiaan. Karena hanya Acehlah yang tidak dapat dikristenkan oleh penjajah yang membawa agamanya, bahkan Aceh menjadi benteng terakhir bagi misi kristenisasi di Asia Tenggara. Ketika Indonesia akan memperoleh kemerdekaannya, para kolonialis Kristen ini telah mempersiapkan kader-kader terbaik mereka untuk menduduki jabatan penting dalam negara baru bernama Indonesia, berasal dari Hendos Nesos (Kepulauan Hindu). Para kader kolonialis ini telah bersatu dengan kader-kader penerus Majapahit dan Kejawenisme sebagai musuh Islam dan menghalangi Islam sebagai dasar negara Indonesia merdeka dan menggagas idiologi campuran yang bernama Pancasila. Dan sekali lagi masyarakat Aceh dibawah pimpinan para alim ulama menentang idiologi yang tidak mengakomodir Syareat Islam ini. Maka tampillah Tgk. M. Daud Beureueh memimpin perlawanan masyarakat Aceh sebagai benteng utama Islam dan Syareat Islam. Perlawanan masyarakat Aceh pasca kemerdekaan lebih bersifat idiologis, karena penolakan mereka terhadap dasar negara yang tidak mengakomodir pelaksanaan syariah Islam sebagaimana tuntutan masyarakat Aceh. Perlawanan historis dan idiologis masyarakat Aceh ironisnya dijawab para petinggi Indonesia yang dipimpin Soekarno maupun Soeharto dengan peperangan demi peperangan. Generasi Aceh menyambut tantangan perang dengan semangat membara, karena perang memang sudah menjadi tradisi dan jalan hidup masyarakat Aceh sejak ribuan tahun yang lalu. Mereka tidak gentar sedikitpun menghadapi perang yang dilancarkan Jakarta, bahkan perang telah membangkitkan kesadaran sejarah mereka sebagai sebuah bangsa penakluk yang mewarisi keberanian dan penaklukan generasi pendahulu mereka sejak zaman nabi Ibrahim as, Iskandar Zulkarnain, Muhammad saw dan para shahabatnya serta panglima-panglima agung dari Kerajaan Jeumpa, Kerajaan Perlak, Kerajaan Pasai dan Kerajaan Aceh Darussalam. Dan hanya masyarakat muslim Aceh-lah satu-satunya yang telah melahirkan panglima wanita gagah perkasa Laksamana Malahayati dengan pasukan tempurnya yang menakutkan penjajah Inong Bale.

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

12

Benturan Peradaban (clash of civilization) dalam tingkat lokal Indonesia tidak diragukan telah terjadi sejak diproklamirkannya kemerdekaan. Penghapusan sistem kesultanan dan kerajaan oleh Soekarno karena dianggap feodalisme, telah melahirkan sistem kepemimpinan tunggal secara nasional, yang pada hakikatnya adalah neofeodalisme yang dibalut demokrasi dengan nama demokrasi terpimpin. Penolakan secara terbuka Soekarno terhadap Syariat Islam telah membuktikan mulai terjadinya benturan antara peradaban yang eksis berdasarkan Islam seperti di Aceh dengan peradaban sekuler atau selanjutnya dikenal dengan idiologi Nasakom (Nasionalisme, Agama dan Komonisme). Pemaksaan idiologi ini terhadap masyarakat Aceh oleh Soekarno dengan berbagai cara, dapat diartikan sebagai upaya-upaya penghapusan peradaban Aceh yang berdasarkan pada ajaran Islam. Demikian halnya penerapan sistem sentralisasi kekuasaan dan penguatan idiologi nasional yang diterjemahkan secara kejawenisme oleh Soeharto yang selanjutnya dilanjutkan dengan pemberlakuan asas tunggal Pancasila telah meyakinkan generasi muda Islam bahwa Indonesia sedang diarahkan menuju negara Kejawenisme yang berbasiskan singkritisme Animisme, Dinamisme, Hindu, Budha, Islam, Kristen dan lainnya. Bahkan secara terbuka Soeharto telah menterjemahkan Pancasila sebagai Hanacaraka Datasawala. Hal ini telah menimbulkan pemberontakan demi pemberontakan generasi muda Islam. Dalam hal ini generasi Aceh mendapat momentum yang tepat, karena pergolakan menentang regime Jakarta telah berlangsung dari generasi demi generasi. Dan sekali lagi Aceh menjadi pusat sentral perlawanan terhadap Jakarta, dibawah Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Pasca Tsunami, kini sebenarnya Aceh telah menjadi semacam last frontier, benteng terakhir kaum Muslimin untuk mempertahankan tradisi dan peradaban Melayu-Sumatra yang berbasiskan Islam yang mana peradaban ini tidak sempat secara sempurna ditransformasikan kepada masyarakat Jawa, akibat masuknya kolonialisimprialis Portugis, Belanda dan lainnya. Akibatnya peradaban Kejawenisme berbasis Hindu-Budha bangkit kembali dan mulai menguasai peradaban baru yang mereka kemas dengan Pancasila dan Indonesia. Maka tidak diragukan, inilah tugas selanjutnya dari Ummah Aceh-Melayu-Sumatra untuk menyempurnakan proses Islamisasi yang telah dirintis para pendahulu kaum Muslimin. Dan tentu langkah ini mesti dimulai dari kebangkitan ummah Aceh-Melayu-Sumatra terlebih dahulu. Dan untuk bangkit, tidak diragukan bahwa sejarah perjuangan perlu difahami kembali dengan benar..... Wallahu a’lam..............

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

13

Mendifinisikan Kembali Aceh-Sumatra Dengan Pendekatan Islami
Para cendekia, baik Muslim atau non-Muslim jika mendefinisikan Aceh saat ini, kebanyakan dari mereka hanya membatasinya pada wilayah propinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang berjarak antara Sabang sampai Tamiang-Singkil. Atau secara historis hanya kembali kepada Kerajaan Aceh Darussalam yang didirikan Sultan Mugayat Syah pada tahun 1514an saja sebagaimana yang difahami sebagian besar generasi muda Aceh sekarang. Itulah sebabnya sebagaian besar masyarakat Aceh saat ini memahami mereka hanyalah sebuah bangsa yang berasal dari Kerajaan Aceh Darussalam yang mengalami kegemilangan pada zaman pemerintahan Sultan Iskandar Muda (w.1637) dan menggunakan bahasa Aceh yang ditetapkannya sebagai bahasa bangsanya secara meluas, dengan meninggalkan bahasa resmi yang telah diwariskan turun-temurun yang merupakan gabungan dari Bahasa Arab, Persia, India, Cina dan lainnya dengan penggunaan huruf Arab. Padahal jika diteliti lebih jauh, Kerajaan Aceh Darussalam adalah kelanjutan dari beberapa Kerajaan-Kerajaan sebelumnya, seperti Kerajaan Jeumpa (760 M), Kerajaan Perlak (840 M), Kerajaan Pasai (Abad 12 M), Kerajaan Pidier dan lain-lain yang telah menjadi tapak persemaian kegemilangan Peradaban baru, hasil asimilasi dan integrasi antara peradaban Islam Arab, Persia, Cina, Hindia dan Eropa yang telah melahirkan sebuah entitas peradaban baru. Yang jika dikembalikan secara historis, maka itulah yang disebut dengan Peradaban Aceh. Sebuah Peradaban baru yang menjadi pengganti peradaban-peradaban lama Animisme-Hindu-Budha dengan wilayah kekuasaan yang terbentang luas dari Pattani, Semenanjung Melayu, Pulau Sumatra sampai Kepulauan Maluku. Jika pemahaman Aceh, baik secara peradaban ataupun wilayah kekuasaannya hanya dibatasi sebagaimana yang difahami saat ini, hanya sebatas wilayah Kerajaan Aceh Darussalam saja, maka jelas hal ini akan menghilangkan mata rantai kegemilangan dan keagungan peradaban masyarakat Aceh sendiri yang mulai diasaskan di Jeumpa dan Pasai sejak 700 tahun sebelumnya. Peradaban yang merupakan hasil karya dan perjuangan generasi sebelumnya. Bahkan pembatasan ini sepatutnya dicurigai sebagai upaya sistematis kaum penjajah dan antek-anteknya untuk mengkerdilkan pencapaian dan kebesaran yang telah dimiliki oleh generasi terdahulu masyarakat Aceh sebagai pelopor, patron dan pejuang utama Islamisasi di Asia Tenggara. Itulah sebabnya, pemahaman dan pengertian Aceh sangat perlu didefinisikan kembali. Memberikan makna dan pengertian baru bukan hanya berdasarkan pemahaman salah selama ini yang telah mengecilkan makna Aceh, baik masyarakat, peradaban dan keagungan sejarahnya. Pengertian Aceh yang berdasarkan realitas

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

14

keagungan dan kebesaran sejarah masyarakat Aceh yang telah menghasilkan sebuah entitas peradaban baru yang berdasarkan pada ajaran Islam dan mendorong kegemilangan masyarakat dengan tumbuh berkembangnya Kerajaan-Kerajaan Islam seperti di Jeumpa, Perlak, Pasai dan lainnya dan mengalami puncaknya pada Kerajaan Aceh Darussalam. Pengertian yang lebih mendekati hakikat pertumbuhan dan perkembangan peradaban masyarakat Aceh terdahulu, jika dengan sangat terpaksa harus diidentifikasi, maka istilah masyarakat atau peradaban Aceh-Sumatra adalah yang lebih mendekati. Karena jika hanya menyebutkan Aceh saja, maka tentu akan disinonimkan hanya dengan Kerajaan Aceh Darussalam yang didirikan pada tahun 1514 M, namun dengan menambahkan kalimat Sumatra, maka akan bermakna lebih luas. Karena sebagaimana diketahui Sumatra sendiri adalah berasal dari nama sebuah Kerajaan yang berada diwilayah Aceh, yaitu Kerajaan Pasai-Samudra. Orang-orang asing menyebut Samodra dengan Samutra dan Sumatra. Namun kata terakhir inilah yang lebih populer karena digunakan oleh para penjajah Barat. Namun demikian penggunaan kata ”bangsa” kepada Aceh-Sumatra, adalah tidak tepat. Karena konsep bangsa sendiri adalah sebuah konsep Nasionalisme (kebangsaan) yang telah diperkenalkan Barat dengan akar Sekulerisme yang mereka anut. Sementara masyarakat Aceh-Sumatra telah berurat berakar pada tradisi Islam dengan sistem sosialnya sendiri yang memang menghapuskan Nasionalisme sebagai batas kebangsaan dan kenegaraan seseorang yang hanya didasarkan pada wilayah geografi, etnis dan keturunan semata. Konsep yang lebih tepat untuk masyarakat AcehSumatra adalah konsep Ummah, yang diperkenalkan Islam kepada pengikutnya dalam mengatur sistem sosialnya. Maka untuk mengganti istilah bangsa, akan digunakan istilah Ummah, yaitu Ummah Aceh-Sumatra. Istilah ini perlu diperkenalkan kembali kepada masyarakat Aceh yang hendak menggapai kegemilangan dengan sistem Islami dan sekaligus untuk membedakannya dengan mereka yang menghendaki kemenangan dengan menggunakan sistem Barat Sekuler yang belum terbukti keampuhannya untuk menjayakan kembali Aceh. Sedangkan sistem Islam terbukti telah menjadikan AcehSumatra sebagai sebuah Ummah yang menggerakkan kemajuan dan peradaban di Asia Tenggara. Sebenarnya konsep ummah ini bukanlah perkara baru, namun memang sudah ada sejak kedatangan Islam. Pada dunia kontemporer, istilah ummah ini diperkenalkan dengan inten oleh seorang intelektual Palestina yang berdomisili di Amerika, Prof. Ismail R. Faruqi. Menurutnya kata ummah, tidak dapat diterjemahkan dan harus digunakan dalam bentuk aslinya. Ia bukanlah sinonim kata masyarakat, bangsa, negara, atau berbagai sebutan yang ditentukan berdasarkan ras, geografi, bahasa, sejarah, ataupun berbagai kombinasi antara yang disebutkan itu. Ummah adalah trans-lokal, trans-geografi. Setiap bagian dari ummah adalah komunitas Islam, bagian dari ummah Islam walaupun tidak berada dalam kekuasaan negara Muslim. Itulah konsekwensi logis Islam sebagai agama universal, dan dengan demikian konsep ummah ini bertentangan dengan nasionalisme. Dan nasionalisme digunakan musuh-musuh Islam untuk memecah belah persatuan kaum Muslimin, dan isu nasionalisme ini digunakan pertama kali untuk memprovokasi dan menggoda pemuda Turki yang idialis dalam mengejar kemajuan lalu mendorong Arab untuk menentang kekhalifahan Usmaniyah.

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

15

Dan kenyataannya, di dunia Arab, penggerak utama nasionalisme Arab adalah minoritas Arab Kristen seperti Michel Aflaq yang mendirikan Partai Ba’ath kemudian menyebarkan virus kekesatannya kepada pemuda-pemuda Arab Muslim yang pada akhirnya memecah belah, melemahkan dan menghancurkan mereka. Dengan asumsi pemahaman dasar inilah, maka Aceh-Sumatra dalam kontek pandang Asia Tenggara dapat disebut sebagai sebuah qabilah, bagian entitas kesatuan dari ummah, yaitu sebuah komunitas yang menjadi pelopor kebangkitan sebagaimana kepeloporan Qabilah Qurasy dalam penyebaran Islam pertama. Karena realitasnya, Aceh-Sumatra adalah wilayah yang pertama tersentuh dakwah Islam, masyarakatnya menerima Islam dengan terbuka dan membangun Kerajaan-Kerajaan Islam yang penjadi pelopor Islamisasi hampir ke seluruh Asia Tenggara. Maka dalam kontek kekinian, dalam rangka proyek kebangkitan kembali Islam di Asia Tenggara yang didengungkan para pemimpin dan cendekiawannya, maka masyarakat Aceh-Sumatra dapat memainkan peranan sebagai Qurasy-nya Ummah di Asia Tenggara. Qabilah yang telah mendorong, mempelopori, memperjuangkan dan mempertahankan Peradaban Islam dengan segala potensi yang dimilikinya. Maka selanjutnya pada tulisan ini, Aceh-Sumatra diartikan bukan hanya sebatas wilayah geografis semata, baik pada saat ini, atau batas-batas geagrofis yang ditunjuk oleh kolonial Pertogis, Inggris ataupun Belanda. Tapi Aceh-Sumatra sebagai sebuah entitas Peradaban Islam yang terbentuk dari hasil dinamisasi masyarakat dengan segala potensi dan keutamaannya, yang telah melahirkan sebuah corak baru Peradaban Islam mainstrem, yang merupakan kelanjutan dari peradaban Islam di Mekkah, Syam, Persia dan Bagdad. Peradaban yang mulai berkembang sejak zaman Kerajaan Islam Jeumpa (760 M), diteruskan pada Kerajaan Islam Perlak (840 M) dan akhirnya mulai menampakkan keemasaannya pada Kerajaan Islam Pase dibawah Sultan Malik al-Salih (1240 M), dan menjadi pusat Khalifah Islamiyah menggantikan peran Bagdad ketika jatuh ke tangan Pasukan Mongol pada tahun 1258 M. Maka mulai saat itulah Peradaban Islam Aceh-Sumatra menjadi entitas peradaban Islam, yang selanjutnya menjadi pilar pembentukan Peradaban Islam Asia Tenggara atau Nusantara Raya, yang terbentang dari Champa-Pattani-Senggora-Kelantan-Johor-Aceh-Banten, Borneo-Sulu-MindanaoJawa-Makassar sampai Maluku dan ada yang menyebut sampai ke Papua dan Kepulauan Hawai, sebagai pewaris kerajaan Hindu Majapahit. Sebuah Peradaban agung yang berkembang dan mengalami keemasan selama 500 tahun, dan mencapai puncak kegemilangannya pada masa Sultan Iskandar Muda (1607 M) dan mulai menurun pada awal tahun 1700an M akibat konflik internal dan usaha kolonialisasi penjajah kafir Belanda. Ada di kalangan cendekia yang konfius antara Peradaban Aceh-Sumatra dengan Peradaban Melayu yang sedang digali dan dikembangkan para cendekia Malaysia kontemporer. Jika dilihat secara historis, Peradaban Melayu yang sekarang diwarisi Malaysia adalah bagian dari pada Peradaban Islam yang berasal Aceh-Sumatra yang mulai berkembang pada awal Islamisasi. Bahasa yang dikenal sebagai bahasa Melayu saat ini, tidak diragukan adalah bahasa asli Pase, yang merupakan gabungan antara bahasa Arab, Parsia, Hindia, Cina dan tentunya Eropa dan bahasa lokal. Dan bahasa ini menjadi bahasa Melayu ketika bangsawan-bangsawan utama Pasai diangkat menjadi Sultan di wilayah kekuasaan Kerajaan Pasai atau yang dilindunginya. Para Raja pendiri

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

16

Kesultanan Melayu, baik di Patani, Malaysia dan Borneo atau Sulu Mindanao secara genetis adalah keturunan Raja-Raja Pasai, katakanlah pendiri Kerajaan tertua Malaysia, Raja Kelantan pertama Wan Bo, Wan Abdullah atau Sultan Umdatuddin adalah anak dari Ali Nurul Alam atau cucu dari Sayyid Hussein Jamadil Kubra yang merupakan ipar dari Sultan Malik al-Zahir II, atau Sultan Pasai. Istilah Peradaban Melayu mulai naik daun ketika Aceh Darussalam mengalami serangkaian penjajahan dan penaklukan, bahkan ketika menjadi bagian Indonesiapun, entitas Peradaban Aceh-Sumatra yang gemilang tidak mendapatkan tempat sewajarnya. Secara gegrafis, Aceh-Sumatra adalah salah satu kawasan di wilayah dunia Islam yang senantiasa mendapat perhatian sejak dahulu kala sebagai pusat pertemuan budaya dan peradaban dunia. Letak strategis geografi Aceh di ujung barat pulau Sumatra telah menjadikanya sebagai wilayah lintasan peradaban dan budaya besar dunia yang dibuktikan dengan penemuan situs ataupun barang peninggalan dari budaya purbakala, Hindu, Budha maupun Islam. Sementara masyarakat Aceh-Sumatra adalah asimilasi dari masyarakat berperadaban tua, itulah sebabnya ada yang berpendapat bahwa Aceh adalah akronim dari Arab, Cina, Eropah dan Hindia, yang merupakan perwakilan etnis terbesar umat manusia. Bukti-bukti terbaru menunjukkan bahwa masyarakat Aceh-Sumatra telah berinteraksi dan berhubungan dengan dunia Arab, terutama Mesir sejak zaman Fir’aun kira-kira 2000 tahun sebelum Masehi atau 4000 tahun lalu. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya beberapa jenis bahan pengawet mummi Fir’aun Mesir, diantaranya kafuuro atau kapur barus yang terdapat di sekitar Aceh-Sumatra. Bahkan tidak diragukan bahwa Barus yang dimaksud adalah di Lamuri wilayah Aceh Besar. Claudius Ptolemaeus, ahli ilmu bumi klasik dari Mesir menyebut nama ”Barousai” sebagai negeri yang terletak di pinggir jalan menuju Tiongkok.1 Hubungan erat Aceh-Sumatra dengan dunia Arab juga dapat ditelusuri dari beberapa kata di dalam al-Qur’an. Sebagaimana diketahui al-Qur’an adalah kumpulan wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui perantaraan malaikat Jibril as sejak pertama diangkat menjadi Nabi di Gua Hira’ sampai beliau wafat di Madinah pada tahun 10 Hijriah. Telah disepakati para Ulama, bahwa al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, sebagaimana dinyatakan al-Qur’an sendiri. Namun bahasa Arab al-Qur’an adalah bahasa Arab tertinggi yang telah melahirkan gramatika bahasa Arab kontemporer. Para ulama juga berpendapat ada beberapa kata al-Qur’an yang bukan berasal dari bahasa Arab asli, namun bahasa non Arab yang sudah banyak digunakan dan dimengerti oleh masyarakat Arab.2
1

2

N.J. Kroom, Zaman Hindu, terjemahan Arief Effendi, Jakarta: Pembangunan, 1956, hlm. 10-12. D.G.E. Hall, A History of South East Asia, London: Macmillan & Co. Ltd., 1960, hlm. 1-5. D.H. Burger dan Prajudi, Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, Jakarta: Pradnya Paramita, 1960, hlm. 15. Ma Huan, Ying-yai Sheng-lan, terjemahan dan edisi J.V.G. Mills, Hakluyt Society, 1970, hlm. 120. W.P. Groeneveldt, Historical Notes on Indonesia & Malaya Compiled from Chinese Source, Jakarta: Bharata, 1960, hlm. 209. B. Schrieke, Indonesian Sociological Studies, Part Two, The Hauge-Bandung: W. Van Hoeve Ltd, 1957, hlm. 17. M.A.P. Meilink-Roelofsz, Asian Trade and European Influence in the Indonesian Archipelago between 1500 and abaout 1630, The Hague: Martinus Nijhoff, 1962, hlm. 354. Lebih terinci lihat misalnya : Dr. Subhi Shaleh, Mabahits fi ‘ulum al-Qur’an, Beirut : Dar Ilm li alMaliyin, tt. Syaikh Muhammad Ali al-Shabuni, al-Tibyan fi ‘ulum al-Qur’an, Damsyik : Maktabah alGhazaly, Thabaah Tsalist, 1981. Dr. M. Ali al-Hasan, al-Manar fi ‘ulum al-Qur’an, Amman : Matbaah alSyuruq, 1983. Dr. Shabir Thayyimah, Hazha al-Qur’an, Bairut : Dar al-Jiil, 1989. Syaikh Muhammad Rasyid Ridho, al-wahy al-Muhammady, Bairut : Dar al-Fiqr, 1968.

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

17

Salah satu bahasa Aceh-Sumatra yang sudah tersebar di dunia Arab, termasuk Mesir sejak zaman kekuasaan Ramses (Fir’aun) adalah kafuur. Kafuur min barus adalah sebuah komuditas mewah wangi-wangian yang berasal dari inti kayu kamfer yang dalam bahasa latin dikenal dengan champora. Tidak diragukan bahwa penghasil terbesar kapur zaman itu adalah wilayah yang terletak di ujung barat pulau Sumatera, yang sekarang berada di wilayah Aceh. Al-Qur’an surat al-Insan (76) ayat ke 5 menyebutkan: Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan akan meminum dari gelas, minuman yang dicampur kafuur. Kebanyakan mufassirin dalam tafsirnya masing-masing seperti Ibn. Abbas, Jalalain, al-Qurthubi, Ibn Katsir dan lain-lainnya, mengartikan kafuuro sebagai campuran dari minuman yang merehatkan, nikmat, yang dapat membuat tenang dan biasanya dijadikan obat. Walaupun ada yang menyebutkan sebagai nama mata air di syurga. Namun hampir semuanya sepakat bahwa kata ini bukan asli bahasa Arab, sebagaimana disebutkan Ibn Manzhur dalam Lisan al-Arab karena tidak ditemukan dalam bahasa Arab Jahiliyah atau bahasa Arab purba. Kata "kafuur", menurut Karel Steenbrink, secara pasti bukan istilah Arab. Akar kata "kafara" bisa berarti menghindari atau tidak berterima kasih. Sedangkan kata "kafur", yang berarti kapur barus atau kamper, berasal dari bahasa Melayu. Steenbrink menyimpulkan bahwa kata "kafur" bukan hanya penghubung secara etimologis antara al-Qur'an dan Nusantara, tetapi juga komoditas yang sejak abad ke-7 telah dibawa oleh pedagang Muslim dari AcehSumatra.3 Dengan adanya hubungan Aceh-Sumatra sejak 2000 sebelum Masehi lalu dengan Mesir, maka tidak mengherankan ketika nabi Muhammad saw membawa Islam pada awal abad ke 7 Masehi, langsung tersebar di kalangan para pedagang Nusantara Aceh yang memang sudah berhubungan melalui rute perdagangan di antara pelabuhan Yaman dan Hijaz Semenanjung Arabia. Dalam beberapa riwayat dari shahabat Nabi disebutkan sebuah bangsa dari sebelah timur yang bersama-sama berperang dan menyebarkan Islam. Penyebaran Islam secara langsung dilakukan para pedagang Nusantara-Aceh dan dilanjutkan dengan pengiriman misi dakwah dan perdagangan sejak zaman pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Demikian pula halnya ketika keturunan bani Umayyah, terutama sejak Yazid bin Muawiyah melakukan pembantaian terhadap keturunan Sayyidina Husein ra, maka perpindahan keturunan Nabi saw dan ulama-ulama yang setia padanya semakin banyak ke Nusantara, terutama Aceh yang terletak paling Barat dan karena masyarakatnya sudah menerima dan memeluk ajaran Islam. Tidak diragukan bahwa Islamisasi Nusantara, termasuk penaklukan kerajaan terbesar Jawa-Hindu, Majapahit, dirancang dan digerakkan dari Aceh-Sumatra silih berganti sejak awal abad VIII Masehi berpusat di Jeumpa, Pasai, Perlak dan lainnya bibawah pimpinan sultan-sultan Islam yang merupakan mata rantai gerakan Islamisasi dunia yang menjadikan Makkah al-Mukarramah sebagai porosnya yang mendapat dukungan penuh para Khalifah Islam turun temurun.4
3 4

Karel Steenbrink, Pondok Pesantren, Jakarta: LP3ES, hlm. 15 Rita Rose di Meglio, “Arab Trade with Indonesia and the Malay Peninsula from the 8th to the 16th Century”. Papers on Islamic History II, Islam and the Trade of Asia: A Colloquium, edited by D.S. Ricard, University of Pennsylvania Press 1970, hlm. 115 (catatan no.29). S.M.N. Al-Attas, “Prelimenary Statement on A General Theory of the Islamization”, dalam Islamization of the Malay-Indonesia Archipelago, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969, hlm. 11. Risalah Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia di Medan, Medan: Panitia Seminar, 1963, hlm. 87, 207. T.D. Situmorang dan A. Teeuw, Sejarah Melayu, Jakarta: Balai Pustaka, 1958, hlm. 65-66. T. Ibrahim Alfian (ed). Kronika Pasai, Yogjakarta: Gajah Mada University Press, 1973, hlm. 100. Mu-

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

18

Kegemilangan peradaban Aceh-Sumatra yang berkembang pesat sebelumnya telah memudahkan para pembawa Islam untuk memajukannya secara maksimal. Hal ini mengantarkan masyarakat Aceh-Sumatra sebagai bagian dari pergerakan internasional pembebasan umat manusia dari belenggu kegelapan yang membawanya sebagai masyarakat berperadaban tinggi berdasarkan nilai-nilai keuniversalan dan keagungan Islam. Dalam Bustanu’l Salatin, Syekh Nuruddin telah menggambarkan bagaimana tingginya pengetahuan dan pemikiran masyarakat Aceh-Sumatra, baik di kalangan para sultan, pejabat negara sampai kepada masyarakat umum sehingga banyak ulama yang datang ke Aceh-Sumatra harus kembali belajar agar cukup pengetahuannya untuk mengajar. Itulah sebabnya para pemuka Islam menjuluki Aceh sebagai “Serambi Mekkah”, sebagai satu-satunya serambi Mekkah di dunia, yang tidak lain bermakna sebenarnya adalah karena Aceh telah menjadi pusat rujukan ajaran dan fatwa Islam di Nusantara. Tradisi dan peradaban Islam di Aceh sudah berkembang pesat dan bahkan para ulama dan cerdik pandainya memiliki kaliber yang sederajad dengan para ulama Hijaz dan semenanjung Arabia lainnya. Kasus ini dapat dilihat pada diamnya (tawaquf) ulama-ulama Hijaz di Mekkah atas kepemimpinan wanita selama lebih 50 tahun pemerintahan 4 orang Sultanah Aceh atas dukungan fatwa Mufti dan Qadhi Malik alAdhil, Syekh Abdul Rauf al-Singkili (Maulana Syiah Kuala). Hal ini tidak lain untuk mengormati ijtihad beliau yang didasarkan pada pengetahuan mendalam dan luas terhadap ajaran Islam. Setiap utusan Syarief Mekkah yang datang kepada beliau harus mengakui ketinggian ilmunya serta kesahihan ijtihad dan fatwanya sehingga hujjahnya tak terpatahkan. Namun setelah beliau wafat, maka Ketua Mufti Mekkah mengeluarkan fatwa yang memakzulkan (memberhentikan) Sultanah Kamalat Ziatuddinsyah pada 1699 dengan hujjah bahwa syari’at Islam tidak membenarkan perempuan menjadi pemimpin negara.5 Pemikir Islam kontemporer Ismail R. Faruqi6 menjuluki muslim nusantara, terutama pejuang Aceh-Sumatra sebagai "One of the oldest and bloodiest struggle of the Muslims have waged against Christian-Colonialist aggression". Salah satu rumpun bangsa yang paling tertua dan paling berdarah diantara bangsa Muslim dalam menentang agresi kaum Kristen-Kolonialis. Karena realitas sejarah membuktikan hampir 500 tahun lebih masyarakat Muslim Aceh dibawah kepemimpinan para Sultan berperang silih berganti melawan kaum Imprialis-Kolonialis ”kaphe” yang hendak menjajah Aceh-Sumatra dan wilayah kekuasaannya. Dengan gagah perkasa dan senjata
hammad Yamin, Gajah Mada, Jakarta: Balai Pustaka, 1972, hlm. 60. Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad, Medan: Waspada, 1981. Teuku Iskandar, De Hikayat Atjeh, (S-gravenhage: NV. De Nederlanshe Boek-en Steendrukkerij V. H.L. Smits, 1959). Taufik Abdullah, Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia, (Jakarta: LP3ES, 1996) Husein Djajaningrat, Kesultanan Aceh: Suatu Pembahasan Tentang Sejarah Kesultanan Aceh Berdasarkan Bahan-bahan Yang Terdapat Dalam Karya Melayu, Teuku Hamid (terj.) (Banda Aceh: Depdikbud DI Aceh. 1983). Siti Hawa Saleh (edt), Bustanus as-Salatin, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1992). Denys Lombard, Kerajaan Aceh, Jaman Sultan Iskandar Muda 1607-1636, (terj), (Jakarta: Balai Pustaka,1992). C. Snouck Hurgronje, Een- Mekkaansh Gezantscap Naar Atjeh in 1683”, BKI 65, (1991) hlm. 144. Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, (Bandung: Mizan, 1995), hlm. 196. A. Hasymi, 59 Aceh Merdeka Dibawah Pemerintah Ratu (Jakarta: Bulan Bintang, 1997). Hlm. 32-40. Siddiq Fadhil, Rumpun Melayu Dalam Era Globalisasi, Makalah Seminar Serantau, (Kuala Lumpur: PEPIAT: 1993). Lihat juga karya beliau, Minda Melayu Baru, (Kuala Lumpur: IKD,1994). Hilmy Bakar Almascaty, Ummah Melayu Kuasa Baru Dunia Abad 21. (Kuala Lumpur: Berita Publishing, 1994)

5

6

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

19

apa adanya mereka bangkit melawan tentara-tentara Salib dari Portugis maupun Belanda yang telah memiliki persenjataan modern pada masa itu.7 Aceh-Sumatra dengan segala kegemilangan sejarah peradabannya sejak dahulu kala telah melahirkan tokoh-tokoh berkaliber dunia pada bidangnya masing-masing. Nama-nama besar dari Aceh telah menghiasi perjalanan sejarah umat manusia, diantaranya seperti Sultan Malikus Saleh, Sultan Iskandar Muda, Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, Nuruddin Ar-Raniri, Ratu Safiatuddin, Maulana Syiah Kuala, Laksamana Malahayati, Tgk. Chik Di Tiro, Teuku Umar, Cut Nya’ Dhien dan lain-lainnya.8

7

8

Lihat : Ali Hasymi, Perang Aceh, (Jakarta: Beuna: 1983). Ibrahim Alfian (edt), Perang Kolonial Belanda di Aceh, (Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh, 1997). Lihat juga, Perang Di Jalan Allah, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1987) Lihat misalnya : Edwin M. Luoeb, Sumatra Its History and People, (Kuala Lumpur: Oxford Univ. Press, 1972). Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad, Medan: Waspada, 1981. Muhammad Ibrahim, Sejarah Daerah Provinsi DI Aceh, (Jakarta: Depdikbud, 1991). Abdul Hadi Arifin, Malikussaleh, (Lhokseumawe: Univ. Malikussaleh Press, 2005). Zakaria Ahmad, Sekitar Keradjaan Atjeh Dalam Tahun 1520-1675, (Medan: Monara, tt). C. Snouck Hurgronje, The Acehnese, (Leiden: AWS. O’Sullivan, 1906). SMN. Al-Attas, The Mysticism of Hamzah Fansuri, (Kuala Lumpur: UM Press, 1970). C.A.O. van Nieuwenhuize, Samsu’l-Din van Pasai (Leiden, 1945). D.A. Rinkers, Abdurrauf van Singkel, (Leiden: 1909). Ahmad Daudi, Syekh Nuruddin Ar-Raniry, Sejarah Hidup, Karya dan Pemikiran (Banda Aceh: P3KI IAIN Ar-Raniry, 2006). Ismail Yakkub, Tgk. Tjik Di Tiro, (Jakarta: Bulan Bintang, 1952).

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

20

Kegemilangan Ummah Aceh-Sumatra Pra-Islam
Para kolonialis Barat dengan segala ambisinya sebagai penjajah telah merancang berbagai strategi untuk tetap menjadikan bangsa jajahannya sebagai masyarakat yang bodoh, tertinggal dan tidak memiliki harkat dan martabat. Salah satu cara efektif yang dilakukannya adalah dengan memotong sejarah peradaban bangsa yang dijajahnya. Peninggalan-peninggalan agung nenek moyang mereka dibawa kabur, dirampok bahkan dihancurkan agar generasi muda tidak memiliki jati diri lagi. Itulah sebabnya bangsa-bangsa penjajah, baik Inggris, Pertogis maupun Belanda telah membawa semua bukti peninggalan kegemilangan Islam Nusantara ke Eropa dengan alasan pengembangan pengetahuan. Selanjutnya mereka menjalankan politik belah bambu dan pecah belah lalu menguasai. Sebagaimana yang mereka telah lakukan di Nusantara. Bangsa Muslim Nusantara dipecah belah dengan pendekatan kesukuan dengan meniupkan fanatisme jahiliyah menggantikan ghirah Islamiyah. Bangsa yang tidak mau takluk dibawah jajahannya, diadu domba dengan saudaranya, seperti penjajah kaphe ini mengadu domba bangsa Padang dengan bangsa Aceh yang sama-sama diketahui sebagai pilar Islam Nusantara. Bangsa Padang direkrut menjadi tentara Belanda yang terkenal dengan Pasukan Marsose, lalu mereka diperintahkan untuk memerangi bangsa Aceh yang tidak mau tunduk kepada penjajah. Terjadilah pertumpahan darah sesama Muslim, yang satu menjadi antek kaphe Belanda dan yang satu sebagai pejuang yang berjihad melawan kezaliman Belanda. Berapa banyak mujahidien fie sabilillah di Aceh yang dibantai pasukan Marsose yang didirikan oleh antek Belanda Muhammad Syarief, tokoh Padang yang akhirnya mendapat medali penghargaan tertinggi dari Ratu Belanda karena berhasil membantai saudara Muslimnya di Aceh. Masyarakat Nusantara yang sudah tumbuh berkembang dengan keagungan peradabannya sejak beribu-ribu tahun lalu, digambarkan oleh para sejarawan kolonial sebagai sebuah bangsa bar-bar, nomaden, seperti keadaan orang-orang Papua di Lembah Baliem saat ini, yang telanjang dan tinggal di pohon-pohon. Padahal kenyataannya sangat jauh berbeda. Karena masyarakat Nusantara adalah salah satu rumpun bangsa tua yang telah berhasil membangun sebuah entitas budaya dan peradabannya sendiri, sesuai dengan kemajuan dan perkembangan zaman. Dari penemuan peninggalan-peninggalan situs sejarah dan benda-benda yang menyertainya dapat diketahui bahwa di Aceh pernah tumbuh berkembang sebuah peradaban yang digerakkan oleh Raja dari Kerajaan-Kerajaan Hindu seperti Kerajaan Indra Pura, Indra Purba, Indra Patra dan lain-lainnya. Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra
21

Di kalangan bangsa Yunani purba, Sumatera sudah dikenal dengan Taprobana. Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Claudius Ptolemeus, ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah ini dalam karyanya Geographike Hyphegesis. Ptolemeus menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri yang menjadi jalan ke Tiongkok, sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus. Disebutkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5000 tahun lalu. Naskah Yunani tahun 70, Periplous tes Erythras Thalasses, mengungkapkan bahwa Taprobana juga dijuluki chryse nesos, atau ‘pulau emas’. Sejak zaman purba para pedagang sekitar Laut Tengah sudah mendatangi Sumatera mencari emas, kemenyan (Styrax sumatrana) dan kapur barus (Dryobalanops aromatica) yang saat itu hanya ada di Sumatera. Para pedagang Nusantara sudah menjajakan komoditas mereka sampai ke Asia Barat dan Afrika Timur, tercantum pada naskah Historia Naturalis karya Plini abad pertama Masehi. Dalam kitab Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9, diterangkan bahwa Raja Solomon, raja Israil menerima 420 talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang berada dibawah kekuasaannya. Emas didapatkan dari negeri Ophir. Al-Qur’an, Surat Al-Anbiya’ 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s. berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya” (al-ardha l-lati barak-Na fiha). Di manakah gerangan letak negeri Ophir yang diberkati Allah ? Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir itu terletak di Sumatera. Kota Tirus merupakan pusat pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemeus pun menulis Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-15 dan ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan asumsi bahwa di sanalah letak negeri Ophir-nya King Solomon.9 Perdagangan antara negara-negara Timur dengan Timur Tengah dan Eropa berlangsung lewat dua jalur: jalur darat dan jalur laut. Jalur darat, yang juga disebut ”jalur sutra” (silk road), dimulai dari Cina Utara lewat Asia Tengah dan Turkistan terus ke Laut Tengah. Jalur perdagangan ini, yang menghubungkan Cina dan India dengan Eropa, merupakan jalur tertua yang sudah di kenal sejak 500 tahun sebelum Masehi. Sedangkan jalan laut dimulai dari Cina (Semenanjung Shantung) dan Indonesia, melalui Selat Malaka ke India; dari sini ke Laut Tengah dan Eropa, ada yang melalui Teluk Persia dan Suriah, dan ada juga yang melalui Laut Merah dan Mesir. Diduga perdagangan lewat
9

N.J. Krom, Zaman Hindu, terjemahan Arief Effendi, Jakarta: Pembangunan, 1956, hal. 10-12. (Nicholaas Johannes Krom, “De Naam Sumatra”, Bijdragen tot de Taal-, Land-, en Volkenkunde, deel 100, 1941). William Marsden, The History of Sumatra, Oxford University Press, Kuala Lumpur, cetak ulang 1975. D.G.E. Hall, A History of South East Asia, London: Macmillan & Co. Ltd., 1960, hlm. 1-5. D.H.
Burger dan Prajudi, Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, Jakarta: Pradnya Paramita, 1960, hlm. 15.

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

22

laut antara Laut Merah, Cina dan Indonesia sudah berjalan sejak abad pertama sesudah Masehi.10 Akan tetapi, karena sering terjadi gangguan keamanan pada jalur perdagangan darat di Asia Tengah, maka sejak tahun 500 Masehi perdagangan TimurBarat melalui laut (Selat Malaka) menjadi semakin ramai. Lewat jalan ini kapalkapal Arab, Persia dan India telah mondar mandir dari Barat ke Timur dan terus ke Negeri Cina dengan menggunakan angin musim, untuk pelayaran pulang pergi. Juga kapal-kapal Sumatra telah mengambil bagian dalam perdagangan tersebut. Pada zaman Sriwijaya, pedagang-pedagangnya telah mengunjungi pelabuhan-pelabuhan Cina dan pantai timur Afrika. Ramainya lalu lintas pelayaran di Selat Malaka, maka telah menumbuhkan kota-kota pelabuhan yang terletak di bagian ujung utara Pulau Sumatra. Perkembangan perdagangan yang semakin banyak di antara Arab, Cina dan Eropa melalui jalur laut telah menjadikan kota pelabuhan semakin ramai, termasuk di wilayah Aceh yang diketahui telah memiliki beberapa kota pelabuhan yang umumnya terdapat di beberapa delta sungai. Kota-kota pelabuhan ini dijadikan sebagai kota transit atau kota perdagangan.11 Ini artinya peradaban Aceh adalah diantara peradaban tua di wilayah Nusantara. Namun belum banyak bukti yang dapat dikemukakan tentang kegemilangan masa lalu peradaban Aceh, yang menurut beberapa penelitian para ahli disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya (i) belum diadakannya menggalian terhadap situs sejarah purba secara serius dan menyeluruh akibat pertimbangan politik ataupun konflik berkepanjangan (ii) hilangnya situs-situs penting, terutama dipinggir laut akibat terjadinya beberapa kali gelombang tsunami, sebagaimana tsunami 26 Desember 2004 lalu yang menghancurkan kota-kota purba Aceh yang umumnya dipinggir pantai yang berhadapan langsung dengan tsunami (iii) adalah menjadi tradisi sebagian masyarakat Aceh untuk memusnahkan peninggalan sejarah apabila sudah tidak dikehendaki penguasanya, contoh terdekat adalah pembakaran buku-buku ilmiyah karya Hamzah Fansuri dan ulama aliran Wujudiyah di depan Masjid Baiturrahman atas perintah Sultan Iskandar Tsani berdasarkan fatwa Syekh Nuruddin alRaniri, atau pembakaran Istana Super Megah yang didirikan Sultan Iskandar Muda, Darud Dunya akibat terjadinya pemberontakan pada masa Sultanah Inayat Syah. Dan terakhir adalah bumi hangus Istana pada zaman Sultan Muhammad Daud Syah agar jangan sampai dikuasai penjajah Belanda. Keadaan revolusioner dan dinamis yang terjadi di Aceh dari waktu ke waktu sepanjang 500 tahun terakhir telah memecah konsentrasi para pemimpin
10

D.H.Burger dan Prajudi, Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, Jakarta: Pradnya Paramita, 1960, hlm. 15.) M.A.P. Meilink-Roelofsz, Asian Trade and European Influence in the Indonesia Archipelago. The Hague: Martinus Nijhoff, 1962, hlm. 345 (catatan 122)

11

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

23

dan cendekiawan Aceh dalam memelihara peninggalan sejarahnya sehingga banyak yang terbengkalai, hilang, musnah bahkan sengaja dihilangkan dengan alasan keamanan. Penulis beberapa kali mendapatkan alasan ketakutan nara sumber yang memiliki peninggalan berharga berupa manuskrip penting, karena jika diketahui aparat akan diambil dan mereka dituduh sebagai pemberontak atau sparatis. Akibatnya banyak manuskrip-manuskrip penting peninggalan peradaban Aceh tertanam atau hilang. Namun demikian, dari sumber-sumber sekunder dapat diketahui kembali, walaupun masih tingkat awal mula, tentang sejarah kegemilangan Aceh, terutama pada masa pra-Islam. Data-data tersebut sangat penting untuk mengetahui sejauh mana tingkat peradaban dan pengetahuan masyarakat Aceh pra-Islam, baik zaman pra-Hindu-Budha ataupun sebelumnya. Mengingat letak geografi Aceh yang strategis sebagai laluan dalam perjalanan menuju pulau Jawa atau Timur Jauh lainnya dari sumber peradaban tua umat manusia, baik di sekitar Asia Tengah, Timur Tengah ataupun Afrika. Karena di Jawa atau Kalimantan banyak ditemukan peradaban manusia yang telah berusia ratusan ribu tahun. Dari sumber-sumber sekunder, sebagaimana telah disebutkan terdahulu, ternyata Aceh memiliki peranan penting dalam sejarah peradaban manusia. Salah satu bukti otentik yang tidak diragukan adalah perjalanan kapur Barus yang telah menembus peradaban Yunani, Rumawi sampai Mesir klasik. Produk unggulan Barus-Aceh ini telah menjadi komuditas primadona dunia yang tinggi nilainya, sehingga megantarkan Aceh sebagai salah satu bagian dari kegemilangan dan ketinggian peradaban klasik pra-Islam. Tentunya kedatangan manusia-manusia modern pada zaman itu ke Aceh telah membawa perubahan pada pengetahuan dan kebiasaan masyarakat, sebagaimana pengaruh kedatangan para relawan asing manca negara saat ini ke Aceh yang membawa berbagai bentuk pengetahuan, ilmu, budaya dan peradaban yang mempengaruhi pola hidup masyarakat. Kedatangan mereka sudah pasti akan membawa kemajuan dan kemakmuran kepada masyarakat Aceh, dan tidak diragukan bahwa kemakmuran akan mengantarkan kegemilangan peradaban umat manusia seperti apa yang dialami negara-negara maju seperti Amerika, Eropa maupun Jepang, India dan Cina saat ini. Kegemilangan masyarakat Aceh yang telah berkembang pesat sebelum kedatangan Islam dengan pencapaian-pencapaian peradabannya telah memudahkan para pembawa Islam untuk memajukannya secara maksimal. Karena lebih mudah mengajarkan Islam yang sempurna dan menyeluruh kepada orang-orang yang berperadaban, berpengatahuan dan menggunakan akalnya untuk berfikir. Itulah sebabnya, saat ini para pendakwah kita lebih mudah menyebarkan Islam kepada masyarakat modern di Amerika, Eropa ataupun Jepang dari pada masyarakat di pedalaman Papua atau Kalimantan Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra
24

yang masih hidup telanjang dan jauh dari peradaban. Sebagaimana tersebar cerita dikalangan pendakwah, jika di Eropa orang-orang bule cerdik-pandai berlomba-lomba meninggalkan gereja dan masuk Islam karena alasan rasional dan sesuai dengan perkembangan zaman, tapi di negeri ini orang-orang bodoh dan tolol bisa diajak masuk gereja karena sebungkus super mie. Sungguh benar sabda Rasul, kebodohan akan membawa kemiskinan dan kemiskinan akan menjadikan orang mudah kepada kekafiran. Masuknya Islam telah mengantarkan masyarakat Aceh sebagai bagian dari pergerakan internasional pembebasan umat manusia dari belenggu kegelapan yang membawanya sebagai masyarakat berperadaban tinggi berdasarkan nilai-nilai keuniversalan dan keagungan Islam. Dalam Bustanu’l Salatin, Syekh Nuruddin telah menggambarkan bagaimana tingginya pengetahuan dan pemikiran masyarakat Aceh, baik di kalangan para sultan, pejabat negara sampai kepada masyarakat umum sehingga banyak ulama yang datang ke Aceh harus kembali belajar agar cukup pengetahuannya untuk mengajar di tengah masyarakat Aceh yang kosmopolit masa itu. Itulah sebabnya para pemuka Islam menjuluki Aceh sebagai “Serambi Mekkah”, sebagai satusatunya serambi Mekkah di dunia, yang tidak lain bermakna sebenarnya adalah karena Aceh telah menjadi pusat rujukan ajaran dan fatwa Islam di Nusantara. Tradisi dan peradaban, terutama pemikiran Islam di Aceh sudah berkembang pesat dan bahkan para ulama dan cerdik pandainya memiliki kaliber yang sederajad dengan para ulama Hijaz dan semenanjung Arabia lainnya. Kasus ini dapat dilihat pada diamnya (tawaquf) ulama-ulama Hijaz di Mekkah atas kepemimpinan wanita selama lebih 50 tahun pemerintahan 4 orang Sultanah Aceh atas dukungan fatwa Mufti dan Qadhi Malik al-Adhil, Syekh Abdul Rauf al-Singkili (Maulana Syiah Kuala). Hal ini tidak lain untuk mengormati ijtihad beliau yang didasarkan pada pengetahuan mendalam dan luas terhadap ajaran Islam. Setiap utusan Syarief Mekkah yang datang kepada beliau harus mengakui ketinggian ilmunya serta kesahihan ijtihad dan fatwanya sehingga hujjahnya tak terpatahkan. Namun setelah beliau wafat, maka Ketua Mufti Mekkah mengeluarkan fatwa yang memakzulkan (memberhentikan) Sultanah Kamalat Ziatuddinsyah pada 1699 dengan hujjah bahwa syari’at Islam tidak membenarkan perempuan menjadi pemimpin negara.12 Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah saw telah berkata: ”Sebaik-baik kamu pada zaman jahiliyah, akan menjadi sebaik-baik manusia setelah memeluk Islam”. Ini adalah sebuah ungkapan yang telah menjadi kenyataan dalam sejarah
12

Husein Djajaningrat, Kesultanan Aceh: Suatu Pembahasan Tentang Sejarah Kesultanan Aceh Berdasarkan Bahan-bahan Yang Terdapat Dalam Karya Melayu, Teuku Hamid (terj.) (Banda Aceh: Depdikbud DI Aceh. 1983). Siti Hawa Saleh (edt), Bustanus as-Salatin, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1992). Denys Lombard, Kerajaan Aceh, Jaman Sultan Iskandar Muda 1607-1636, (terj), (Jakarta: Balai Pustaka,1992). C. Snouck Hurgronje, Een- Mekkaansh Gezantscap Naar Atjeh in 1683”, BKI 65, (1991) hlm. 144. Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, (Bandung: Mizan, 1995), hlm. 196. A. Hasymi, 59 Aceh Merdeka Dibawah Pemerintah Ratu (Jakarta: Bulan Bintang, 1997). Hlm. 32-40.

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

25

kegemilangan Islam yang telah dipimpin Rasulullah saw. Pada zaman pra-Islam, banyak sekali tokoh-tokoh berpotensi, seperti Umar bin Khattab dan Khalid bin Walid yang secara terang-terangan menentang Islam pada awal perkembangannya. Umar sendiri sempat mau membunuh Nabi Muhammad karena dianggapnya sebagai sumber perpecahan masyarakat Mekkah, namun akhirnya masuk Islam setelah membaca lembaran al-Qur’an yang dirampasnya dari adiknya yang sudah lebih dahulu masuk Islam. Setelah memeluk Islam, Umar adalah salah seorang pembela Islam yang berani dan telah menjadi Khalifah yang menyebarkan Islam ke seluruh pelosok dunia. Demikian pula dengan Khalid yang sempat memimpin kaum musyrikin melawan Nabi Muhammad sehingga kaum Muslim mengalami kekalahan di perang Uhud. Namun setelah Khalid masuk Islam, akhirnya dia digelar dengan ”Pedang Allah” yang telah menumbangkan kekuasaan-kekuasaan besar seperti Romawi dan Parsia. Masyarakat Arab sendiri sebelum kedatangan Islam adalah masyarakat yang terbelakang dari segi peradaban dan pengetahuan jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa lainnya, baik Mesir, Rumawi ataupun Persia. Bahkan alQur’an sendiri menyebut masyarakat Arab di sekitar Mekkah sebagai Ummiyun, masyarakat yang tidak memiliki peradaban dan kekuasaan. Dalam sejarah disebutkan bahwa masyarakat Arab di sekitar Mekkah jika terjadi musim kemarau panjang, mereka terkadang menjadi pengungsi dan pengemis di sekitar Kerajaan-kerajaan besar seperti Mesir, Habsyah ataupun Parsia. Masyarakat Arab pra-Islam digambarkan sebagai sebuah suku bangsa kecil yang terpecah belah, miskin lagi terbelakang dengan hidup yang berpindah-pindah. Namun berkat Islam, bangsa yang kecil dan tidak diperhitungkan ini, dalam waktu kurang dari 30 tahun sejak kebangkitan Nabi Muhammad, telah menjadi sebuah bangsa besar yang menggetarkan semua super power, dan akhirnya sejarah membuktikan bahwa semua super power itu tunduk kepada masyarakat ummy yang telah mendapatkan pencerahan dan kekuatan spiritualitas dari keagungan nilai-nilai Islam. Selanjutnya umat Islam menjadi mercusuar peradaban manusia, yang menghubungkan peradaban klasik paganis menjadi peradaban modern rasionalis.
Hal inilah yang terjadi pada masyarakat Aceh. Jika sebelum Islam mereka adalah sebuah bangsa yang sudah berperadaban maju, maka kedatangan Islam akan mendorong lebih kencang kemajuan dan pencapaian peradaban mereka sebagaimana dicatat sejarah. Jika sebelum Islam masyarakat Aceh hanya sebuah kerajaan-kerajaan kecil dibawah perlindungan Kerajaan Hindu seperti Sriwijaya, maka setelah Islam datang menyinari masyarakat Aceh, mereka bangkit menjadi sebuah kekuatan baru yang pada akhirnya menjadi pelopor dan penggerak Islamisasi di Nusantara. Termasuk menjadi sebab utama tumbang dan lenyapnya kerajaan-kerajaan Hindu-Budha, baik di Sumatra, Semenanjung Melayu, Kalimantan, Jawa, Sulawesi sampai ke Maluku dan Papua serta sampai di Sulu dan Mindanao yang telah mapan selama ribuan tahun.

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

26

Pusat Islamisasi Nusantara Aceh digerakkan oleh Kerajaan-Kerajaan Islam silih berganti yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Dimulai dari berdirinya Kerajaan Islam Jeumpa pada tahun 770 M oleh Sasaniah Salman, yang dilanjutkan perannya oleh Kerajaan Islam Perlak tahun 805 M yang didirikan anak Raja Islam Jeumpa bernama Meurah Syahr Nawi dikembangkan keponakannya Maulana Abdul Aziz Syah dan keturunannya, disambung oleh Kerajaan Pasai pada abad XII yang didirikan keturunan Raja Jeumpa dan Perlak bernama Meurah Silu atau Sultan Malik al-Salih. dan seterusnya yang mulai mendapat kegemilangan pada masa Kerajaan Aceh Darussalam yang menggabungkan semua Kerajaan Islam Aceh, menggapai puncaknya keagungannya pada zaman Sultan Iskandar Muda pada tahun 1607-1636 M yang menguasai seluruh pulau Sumatra dan Semenanjung Malaya serta menjadi pelindung Kerajaan-Kerajaan Islam lainnya, baik di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku sampai Sulu-Mindanao. Demikian pula para Sultan Aceh ikut berperan aktif mendirikan Kerajaan Islam Jawa terbesar, baik Demak, Mataram maupun Banten. Kerajaan Islam Perlak dan Pasai secara teratur dan berkala telah mengirimkan para pendakwah Islam ke tanah Jawa yang digerakkan oleh para ulama keturunan Nabi Muhammad silih berganti. Yang paling terkenal adalah sebuah gerakan Islamisasi dengan nama Wali Sembilan atau Wali Songo yang dipimpin oleh Maulana Malik Ibrahim (Syekh Maghribi) bersama beberapa keluarga dekat dan keponakannya seperti Sunan Ampel, Sunan Drajad, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati dan lainnya yang memiliki satu jalur keturunan dan bermuara pada Imam Ja’far Sadiq. Penaklukan mereka terhadap Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit yang dominan masa itu, tidak dilakukan secara perang konfrontatif mengingat kuatnya Majapahit. Penyebaran Islam dilakukan melalui jalur perdagangan, perubahan sosialbudaya, pendidikan, dakwah dan yang paling strategis melalui jalur perkawinan. Wali Songo mengawinkan Raja Majapahit terakhir, Brawijaya V dengan kader muslimah terbaiknya yang dikenal dengan nama ”Puteri Champa”, gadis cantik jelita dan cerdas, seorang Puteri Kerajaan Islam Jeumpa Aceh yang juga masih keponakan dari Sunan Ampel, yang ketika itu telah membuka lembaga kaderisasi dan pendidikan di Ampel Surabaya. Dari perkawinan ini lahirlah seorang putera bernama Raden Fatah, yang sejak kecil sudah diungsikan dari Istana Majapahit dan mendapat pendidikan langsung para Wali Songo, dan dibesarkan dalam lingkungan pendidikan Sunan Ampel. Ketika dewasa, Raden Fatah diangkat menjadi penguasa lokal di Demak, Jawa Tengah. Setelah menggalang kekuatan dan mendapat dukungan meluas, Wali Songo memproklamirkan berdirinya Kerajaan Islam Demak dan mengangkat Raden Fatah sebagai Sultan. Sejak saat itu, dimulailah penaklukan demi penaklukan yang telah mengakhiri dominasi Kerajaan Hindu-Budha di tanah Jawa dan mulai berdiri Kesultanan-Kesultanan Islam. Sementara Syarief Hidayatullah, tidak diragukan berasal dari keturunan keluarga besar Kesultanan Perlak-Pasai yang telah telah mendirikan Kesultanan Banten di Jawa bagian Barat.

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

27

Dekonstruksi Teori Islamisasi Aceh Versi Snouck Hourgronje
Sehubungan dengan proses Islamisasi di Aceh, ada beberapa teori yang hingga kini masih sering didiskusikan, baik oleh sarjana-sarjana Barat maupun kalangan intelektual Islam sendiri. Salah satunya adalah teori masuknya Islam ke Aceh dari Gujarat, disebut juga sebagai Teori Gujarat. Teori ini berasal dari seorang orientalis asal Belanda yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk menghancurkan Islam di Aceh yang tidak mampu dijajah Belanda. Orientalis ini bernama Snouck Hurgronje, yang demi mencapai tujuannya, ia mempelajari bahasa Arab dan Islam dengan sangat giat sampai ke Mesir dan Mekkah, mengaku sebagai seorang Ulama Muslim, dan bahkan mengawini seorang Muslimah, anak seorang tokoh di zamannya. Teori yang diusung oleh Snouck ini mengatakan Islam masuk ke Nusantara, termasuk Aceh dari wilayahwilayah di anak benua India seperti Gujarat, Bengali. Ironisnya Teori ini masih dipakai dalam buku-buku sejarah sampai sekarang yang menjadi buku pegangan bagi para pelajar kita, dari tingkat sekolah dasar hingga lanjutan atas, bahkan di beberapa perguruan tinggi. Dalam L’arabie et les Indes Neerlandaises, Snouck menyebutkan teori tersebut didasarkan pada pengamatan tidak terlihatnya peran dan nilai-nilai Arab yang ada dalam Islam pada masa-masa awal, yakni pada abad ke-12 atau 13. Snouck juga mengatakan, teorinya didukung dengan hubungan yang sudah terjalin lama antara wilayah Nusantara dengan daratan India. Sebetulnya, teori ini dimunculkan pertama kali oleh Pijnappel, seorang sarjana dari Universitas Leiden. Namun, nama Snouck yang paling besar memasarkan teori Gujarat ini. Salah satu alasannya adalah, karena Snouck dipandang sebagai sosok yang mendalami Islam. Teori ini diikuti dan dikembangkan oleh banyak sarjana Barat lainnya. Teori Gujarat yang dikembangkan bahkan dipaksakan Snouck bersama antekanteknya ini telah memberikan pengaruh yang besar terhadap sejarah dan jati di bangsa Aceh selanjutnya. Pengkerdilan ini telah memutuskan mata rantai spiritualitas keislaman yang telah berurat berakar pada tradisi, budaya dan peradaban Aceh sebagai tapak awal Islamisasi Nusantara. Dampak psikologis yang paling kentara adalah kesan bahwa Aceh adalah salah satu wilayah yang baru tersentuh Islam, yang maknanya bahwa perkembangan peradaban Islam di Aceh baru beberapa abad. Untuk mendekonstruksi sejarah sekaligus menguak kepalsuan Teori Gujarat yang disampaikan antek penjajah Snouck ini, ada beberapa teori yang ingin penulis sampaikan, diantaranya adalah: a. Teori Mekkah (Arab) Salah satu teori Islamisasi Aceh yang paling populer dan memiliki kekuatan fakta adalah teori yang dikembangkan oleh para pakar dan cendekiawan Muslim dan mendapat dukungan di kalangan cendekiawan non Muslim, teori ini di kenal dengan Teori Mekkah (Arab). Teori Mekkah (Arab) hakikatnya adalah koreksi terhadap teori Gujarat dan bantahan terhadap teori Persia. Di antara para ahli yang menganut teori ini

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

28

adalah T.W. Arnold, Crawfurd, Keijzer, Niemann, De Holander, SMN. Al-Attas, A. Hasymi, dan Hamka.13 Arnold menyatakan para pedagang Arab menyebarkan Islam ketika mereka mendominasi perdagangan Barat-Timur sejak abad awal Hijriyah, atau pada abad VII dan VIII Masehi. Meski tidak terdapat catatan-catatan sejarah, cukup pantas mengasumsikan bahwa mereka terlibat dalam penyebaran Islam di Indonesia. Asumsi ini lebih mungkin bila mempertimbangkan fakta-fakta yang disebutkan sumber Cina bahwa pada akhir perempatan ketiga abad VII M seorang pedagang Arab menjadi pemimpin sebuah pemukiman Arab di pesisir Sumatera. Sebagian mereka bahkan melakukan perkawinan dengan masyarakat lokal yang kemudian membentuk komunitas muslim Arab dan lokal. Anggota komunitas itu juga melakukan kegiatan penyebaran Islam. Argumen Arnold di atas berdasarkan kitab `Ajaib al-Hind, yang mengisaratkan adanya eksistensi komunitas muslim di Kerajaan Sriwijaya pada Abad X. Crawfurd juga menyatakan bahwa Islam Indonesia dibawa langsung dari Arabia, meski interaksi penduduk Nusantara dengan muslim di timur India juga merupakan faktor penting dalam penyebaran Islam di Nusantara. Sementara Keizjer memandang Islam dari Mesir berdasarkan kesamaan mazhab kedua wilayah pada saat itu, yakni Syafi’i. Sedangkan Nieman dan De Hollander memandang Islam datang dari Hadramaut, Yaman, bukan Mesir. Sementara cendekiawan senior Nusantara, SMN. Al-Attas menolak temuan epigrafis yang menyamakan batu nisan di Indonesia dengan Gujarat sebagai titik tolak penyebaran Islam di Indonesia. Batu-batu nisan itu diimpor dari Gujarat hanya semata-mata pertimbangan jarak yang lebih dekat dibanding dengan Arabia. Al-Attas menyebutkan bahwa bukti paling penting yang perlu dikaji dalam membahas kedatangan Islam di Indonesia adalah karakteristik Islam di Nusantara yang ia sebut dengan “teori umum tentang Islamisasi Nusantara” yang didasarkan kepada literatur Nusantara dan pandangan dunia Melayu.14 Menurut Al-Attas, sebelum abad XVII seluruh literatur Islam yang relevan tidak mencatat satupun penulis dari India. Pengarang-pengarang yang dianggap oleh Barat sebagai India ternyata berasal dari Arab atau Persia, bahkan apa yang disebut berasal dari Persia ternyata berasal dari Arab, baik dari aspek etnis maupun budaya. Namanama dan gelar pembawa Islam pertama ke Nusantara menunjukkan bahwa mereka orang Arab atau Arab-Persia. Diakui, bahwa setengah mereka datang melalui India, tetapi setengahnya langsung datang dari Arab, Persia, Cina, Asia Kecil, dan Magrib (Maroko). Meski demikian, yang penting bahwa faham keagamaan mereka adalah
13

Masalah Islamisasi Nusantara, lihat misalnya : S.M.N. Al-Attas, “Prelimenary Statement on A General Theory of the Islamization”, dalam Islamization of the Malay-Indonesia Archipelago, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969,. Risalah Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia di Medan, Medan: Panitia Seminar, 1963. T.D. Situmorang dan A. Teeuw, Sejarah Melayu, Jakarta: Balai Pustaka, 1958, hlm. 65-66. Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad, Medan: Waspada, 1981. Teuku Iskandar, De Hikayat Atjeh, (S-gravenhage: NV. De Nederlanshe Boek-en Steendrukkerij V. H.L. Smits, 1959). Husein Djajaningrat, Kesultanan Aceh: Suatu Pembahasan Tentang Sejarah Kesultanan Aceh Berdasarkan Bahan-bahan Yang Terdapat Dalam Karya Melayu, Teuku Hamid (terj.) (Banda Aceh: Depdikbud DI Aceh. 1983). Siti Hawa Saleh (edt), Bustanus as-Salatin, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1992). Denys Lombard, Kerajaan Aceh, Jaman Sultan Iskandar Muda 1607-1636, (terj), (Jakarta: Balai Pustaka,1992). C. Snouck Hurgronje, Een- Mekkaansh Gezantscap Naar Atjeh in 1683”, BKI 65, (1991). Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, (Bandung: Mizan, 1995), hlm. 196. A. Hasymi, 59 Aceh Merdeka Dibawah Pemerintah Ratu (Jakarta: Bulan Bintang, 1997). Azra, op.cit. hal. 28 29

14

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

faham yang berkembang di Timur Tengah kala itu, bukan India. Sebagai contoh adalah corak huruf, nama gelaran, hari-hari mingguan, cara pelafalan Al-Quran yang keseluruhannya menyatakan ciri tegas Arab.15 Argumen ini didukung sejarawan Azyumardi Azra dengan mengemukakan historiografi lokal meski bercampur mitos dan legenda, seperti Hikayat Raja-raja Pasai, Sejarah Melayu, dan lain-lain yang menjelaskan interaksi langsung antara Nusantara dengan Arabia.16 Hamka dalam pidatonya di acara Dies Natalis Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) ke-8 di Yogyakarta pada tahun 1958, melakukan koreksi terhadap Teori Gujarat. Teorinya disebut “Teori Mekah” yang menegaskan bahwa Islam berasal langsung dari Arab, khususnya Mekah. Teori ini ditegaskannya kembali pada Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia di Medan, 17-20 Maret 1963. Hamka menolak pandangan yang menyatakan bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 13 dan berasal dari Gujarat. Hamka lebih mendasarkan teorinya pada peranan bangsa Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia. Gujarat hanyalah merupakan tempat singgah, dan Mekah adalah pusat Islam, sedang Mesir sebagai tempat pengambilan ajaran. Hamka menekankan pengamatannya kepada masalah mazhab Syafi’i yang istimewa di Mekah dan mempunyai pengaruh besar di Indonesia. Sayangnya, hal ini kurang mendapat perhatian dari para ahli Barat. Meski sama dengan Schrike yang mendasarkan pada laporan kunjungan Ibnu Bathuthah ke Sumatera, Hamka lebih tajam lagi terhadap masalah mazhab yang dimuat dalam laporan Ibnu Batutah. Selain itu Hamka, juga menolak anggapan Islam masuk ke Indonesia pada abad XIII. Islam sudah masuk ke Nusantara jauh sebelumnya, yakni sekitar Abad VII.17 Pandangan Hamka sejalan dengan Arnold, Van Leur, dan Al-Attas yang menekankan pentingya peranan Arab, meski teori Gujarat tidak mutlak menolak peranan Arab dalam penyebaran Islam di Nusantara. Arnold sendiri telah mencatat bahwa bangsa Arab sejak abad kedua sebelum Masehi telah menguasai perdagangan di Ceylon (Srilangka). Memang tidak dijelaskan lebih lanjut tentang sampainya ke Indonesia. Tetapi, bila dihubungkan dengan kepustakaan Arab kuno yang menyebutkan Al-Hind (India) dan pulau-pulau sebelah timurnya, kemungkinan Indonesia termasuk wilayah dagang orang Arab kala itu. Berangkat dari keterangan Arnold, tidaklah mengherankan bila pada abad VII, telah terbentuk perkampungan Arab di sebelah barat Sumatera yang disebut pelancong Cina, seperti disebutkan Arnold dan Van Leur.18 b. Teori Champa (Jeumpa) Versi Raffles Gubernur Jendral Hindia Belanda dari Kerajaan Inggris yang juga seorang peneliti sosial, Sir TS. Raffles dalam bukunya The History of Java, menyebutkan bahwa Champa yang terkenal di Nusantara, bukan terletak di Kambodia sekarang sebagaimana dinyatakan oleh para peneliti Belanda. Tapi Champa adalah nama daerah di sebuah wilayah di Aceh, yang terkenal dengan nama ”Jeumpa”. Champa adalah
15 16 17

18

Al-Attas, op.cit. hal. 54-55 Azra, op.cit. hal.30 Ahmad Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah Wacana Pergerakan Islam di Indonesia; Bandung; Mizan; 1995; hal. 81. Op.cit, hal. 92-93 30

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

ucapan atau logat Jeumpa dengan dialek ”Jawa”. Jeumpa (Champa) biasanya dihubungkan dengan sebuah peristiwa pada zaman kerajaan Majapahit, terutama pada masa pemerintahan Brawijaya V yang memiliki seorang istri yang dikenal dengan ”Puteri Champa”. Puteri inilah yang melahirkan Raden Fatah, yang kemudian menyerahkan pendididikan putranya kepada seorang pamannya yang dikenal dengan Sunan Ampel di Surabaya. Sejarah mencatat, Raden Fatah menjadi Sultan pertama dari Kerajaan Islam Demak, Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa yang mengakhiri sejarah Kerajaan Hindu-Jawa Majapahit. Jeumpa yang dinyatakan Raffles sekarang berada di sekitar daerah Kabupaten Bireuen Aceh.19 Kerajaan Jeumpa Aceh, berdasarkan Ikhtisar Radja Jeumpa yang di tulis Ibrahim Abduh, yang disadurnya dari hikayat Radja Jeumpa adalah sebuah Kerajaan yang benar keberadaannya pada sekitar abad ke VIII Masehi yang berada di sekitar daerah perbukitan mulai dari pinggir sungai Peudada di sebelah barat sampai Pante Krueng Peusangan di sebelah timur. Istana Raja Jeumpa terletak di desa Blang Seupeueng yang dipagari di sebelah utara, sekarang disebut Cot Cibrek Pintoe Ubeuet. Masa itu Desa Blang Seupeueng merupakan permukiman yang padat penduduknya dan juga merupakan kota bandar pelabuhan besar, yang terletak di Kuala Jeumpa. Dari Kuala Jeumpa sampai Blang Seupeueng ada sebuah alur yang besar, biasanya dilalui oleh kapal-kapal dan perahu-perahu kecil. Alur dari Kuala Jeumpa tersebut membelah Desa Cot Bada langsung ke Cot Cut Abeuk Usong atau ke ”Pintou Rayeuk” (pintu besar).20 Menurut hasil observasi terkini di sekitar daerah yang diperkirakan sebagai tapak Maligai Kerajaan Jeumpa sekitar 80 meter ke selatan yang dikenal dengan Buket Teungku Keujereun, ditemukan beberapa barang peninggalan kerajaan, seperti kolam mandi kerajaan seluas 20 x 20 m, kaca jendela, porselin dan juga ditemukan semacam cincin dan kalung rantai yang panjangnya sampai ke lutut dan anting sebesar gelang tangan. Di sekitar daerah ini pula ditemukan sebuah bukit yang diyakini sebagai pemakaman Raja Jeumpa dan kerabatnya yang hanya ditandai dengan batu-batu besar yang ditumbuhi pepohonan rindang di sekitarnya. Berdasarkan silsilah keturunan Sultan-Sultan Melayu, yang dikeluarkan oleh Kerajaan Brunei Darussalam dan Kesultanan Sulu-Mindanao, Kerajaan Islam Jeumpa pada 154 Hijriah atau tahun 777 Masehi dipimpin oleh seorang Pangeran dari Parsia (India Belakang ?) yang bernama Syahriansyah Salman atau Sasaniah Salman yang kawin dengan Puteri Mayang Seulodong dan memiliki beberapa anak, antara lain Shahri Poli, Shahri Tanti, Shahri Nawi, Shahri Dito dan Puteri Makhdum Tansyuri yang menjadi ibu dari Sultan pertama Kerajaan Islam Perlak. Menurut penelitian pakar sejarah Aceh, Sayed Dahlan al-Habsyi, Shahri adalah gelar pertama yang digunakan keturunan Nabi Muhammad di Nusantara sebelum menggunakan gelar Meurah, Habib, Sayid, Syarief, Sunan, Teuku dan lainnya. Syahri diambil dari nama istri Sayyidina Husein bin Ali, Puteri Shahri Banun, anak Maha Raja Parsia terakhir. Mengenai keberadaan Shahri Nawi ini, disebutkan oleh Syekh Hamzah Fansuri. Syekh ini adalah Ulama Sufi dan sastrawan terkenal Nusantara yang berpengaruh
19

20

Sir Thomas Stamford Raffles, The History of Java, from the earliest Traditions till the establisment of Mahomedanism. Published by John Murray, Albemarle-Street. 1830. Vol II, 2nd Ed, Chap X, hal. 74. 122 Lihat : Modus, No.15/TH.V/23-29 Juli 2007 hal.31

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

31

dalam pembangunan Kerajaan Aceh Darussalam, yang juga merupakan guru Syamsuddin al-Sumatrani yang dikenal sebagai Syekh Islam Kerajaan Aceh Darussalam pada masa Iskandar Muda. A. Hasymi menyebutkan beliau juga adalah paman dari Maulana Syiah Kuala (Syekh Abdul Rauf al-Fansuri al-Singkili). Syekh Fansuri dalam beberapa kesempatan menyatakan asal muasalnya dan hubungannya dengan Shahri Nawi. Diantaranya syair : Hamzah ini asalnya Fansuri Mendapat wujud di tanah Shahrnawi Beroleh khilafat ilmu yang ’ali Daripada ’Abd al-Qadir Jilani Hamzah di negeri Melayu, Tempatnya kapur di dalam kayu Dari rangkaian syair ini, maka jelaslah bahwa ada hubungan antara bumi Shahrnawi (Shahr Nawi) dengan Fansur yang menjadi asal muasal kelahiran Syekh Hamzah Fansuri dan tempat yang terkenal kafur Barus. Sebagaimana disebutkan di atas, Shahrnawi atau Syahr Nawi adalah anak daripada Pangeran Salman (Sasaniah Salman) yang lahir di daerah Jeumpa, di Aceh Bireuen saat ini. Syahrnawi adalah salah satu tokoh yang berpengaruh dalam pengembangan Kerajaan Islam Perlak, bahkan beliau dianggap arsitek pendiri kota pelabuhan Perlak pada tahun 805 yang dipimpinnya langsung, dan diserahkan kepada anak saudaranya Maulana Abdul Aziz. Kerajaan Islam Perlak selanjutnya berkembang menjadi Kerajaan Islam Pasai dan mendapat kegemilangannya pada masa Kerajaan Aceh Darussalam. Maka tidak mengherankan jika Syekh Hamzah Fansuri, mengatakan kelahirannya di bumi Sharhnawi yang merupakan salah seorang generasi pertama pengasas Kerajaan-Kerajaan Islam Aceh yang dimulai dari Kerajaan Islam Jeumpa. Menurut beberapa data dan analisis yang akan dikemukakan nanti, bahwa hubungan antara Kerajaan-Kerajaan Islam di Aceh berkaitan satu dengan lainnya. Pernyataan Syekh Hamzah Fansuri ini juga menjadi hujjah yang menguatkan teori bahwa Jeumpa, asal kelahiran Shahrnawi adalah Kerajaan Islam pertama di Nusantara. c. Teori Hubungan Dagang Arab-Cina Peter Bellwood dalam Reader in Archaeology Australia National University, telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara. Bellwood menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima masehi, beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Cina. Dia menulis “Museum Nasional di Jakarta memiliki beberapa bejana keramik dari beberapa situs di Sumatera Utara. Selain itu, banyak barang perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM), berada dalam koleksi pribadi di London....”. Sifat perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar sesama pedagang, tanpa ikut campurnya kerajaan, jika yang dimaksudkan kerajaan adalah pemerintahan dengan raja dan memiliki wilayah yang luas. Sebab kerajaan Budha Sriwijaya yang berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 Masehi (Wolters 1967; Hall 1967, 1985).

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

32

Tapi bisa saja terjadi, “kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di beberapa pesisir pantai sudah berdiri, walau yang terakhir ini tidak dijumpai catatannya.21 Perdagangan antara negara-negara Timur dengan Timur Tengah dan Eropa berlangsung lewat dua jalur: jalur darat dan jalur laut. Jalur darat, yang juga disebut ”jalur sutra” (silk road), dimulai dari Cina Utara lewat Asia Tengah dan Turkistan terus ke Laut Tengah. Jalur perdagangan ini, yang menghubungkan Cina dan India dengan Eropa, merupakan jalur tertua yang sudah di kenal sejak 500 tahun sebelum Masehi. Sedangkan jalan laut dimulai dari Cina (Semenanjung Shantung) dan Indonesia, melalui Selat Malaka ke India; dari sini ke Laut Tengah dan Eropa, ada yang melalui Teluk Persia dan Suriah, dan ada juga yang melalui Laut Merah dan Mesir. Diduga perdagangan lewat laut antara Laut Merah, Cina dan Indonesia sudah berjalan sejak abad pertama sesudah Masehi.22 Seringnya terjadi gangguan keamanan pada jalur perdagangan darat, terutama di sekitar di Asia Tengah, maka sejak tahun 500 Masehi perdagangan TimurBarat melalui laut (Selat Malaka) menjadi semakin ramai. Lewat jalan ini kapal-kapal Arab, Persia dan India telah mondar mandir dari Barat ke Timur dan terus ke Negeri Cina dengan menggunakan angin musim, untuk pelayaran pulang pergi. Juga kapalkapal Sumatra telah mengambil bagian dalam perdagangan tersebut. Pada zaman Sriwijaya, pedagang-pedagangnya telah mengunjungi pelabuhan-pelabuhan Cina dan pantai timur Afrika. Ramainya lalu lintas pelayaran di Selat Malaka, maka telah menumbuhkan kota-kota pelabuhan yang terletak di bagian ujung utara Pulau Sumatra. Perkembangan perdagangan yang semakin banyak di antara Arab, Cina dan Eropa melalui jalur laut telah menjadikan kota pelabuhan semakin ramai, termasuk di wilayah Aceh yang diketahui telah memiliki beberapa kota pelabuhan yang umumnya terdapat di beberapa delta sungai. Kota-kota pelabuhan ini dijadikan sebagai kota transit atau kota perdagangan.23 Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara—terutama Sumatera dan Jawa —dengan Cina juga diakui oleh sejarahwan G.R. Tibbetts. Bahkan Tibbetts-lah orang yang dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara saat itu. “Keadaan ini terjadi karena kepulauan Sumatra telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi,” 24

21

Lihat juga: Peter Bellwood, Man’s Conquest of the Pacific. The Prehistory of Southeast Asia and Oceania, New York: Oxford University Press. 1979. Peter Bellwood, Prehistory of the IndoMalaysian Archipelago, Orlando, Florida: Academic Press. 1985.
D.H.Burger dan Prajudi, Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, Jakarta: Pradnya Paramita, 1960, hlm. 15.) M.A.P. Meilink-Roelofsz, Asian Trade and European Influence in the Indonesia Archipelago. The Hague: Martinus Nijhoff, 1962, hlm. 345 (catatan 122) Tibbetts; Pre Islamic Arabia and South East Asia, JMBRAS, 19 pt. 3, 1956, hal. 207. Dr. Ismail Hamid “Kesusastraan Indonesia Lama Bercorak Islam” .Jakarta: Pustaka Al-Husna cet. 1, 1989, hal. 11).

22

23

24

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

33

Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M—hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab—di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya. Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan sekelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air. HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika.25 Dalam kitab sejarah Cina yang berjudul Chiu T’hang Shu disebutkan pernah mendapat kunjungan diplomatik dari orang-orang Ta Shih, sebutan untuk orang Arab, pada tahun tahun 651 Masehi atau 31 Hijirah. Empat tahun kemudian, dinasti yang sama kedatangan duta yang dikirim oleh Tan mi mo ni’. Tan mi mo ni’ adalah sebutan untuk Amirul Mukminin. Dalam catatan tersebut, duta Tan mi mo ni’ menyebutkan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dan sudah tiga kali berganti kepemimpinan. Artinya, duta Muslim tersebut datang pada masa kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan. Para pengembara Arab ini tak hanya berlayar sampai di Cina saja, tapi juga terus menjelajah sampai di Timur Jauh. Jauh sebelum penjelajah dari Eropa punya kemampuan mengarungi dunia, terlebih dulu pelayar-pelayar dari Arab dan Timur Tengah sudah mampu melayari rute dunia dengan intensitas yang cukup padat. Pada masa Dinasti Umayyah, ada sebanyak 17 duta Muslim yang datang ke Cina. Pada Dinasti Abbasiyah dikirim 18 duta ke negeri Cina. Bahkan pada pertengahan abad ke-7 sudah berdiri beberapa perkampungan Muslim di Kanfu atau Kanton. Setelah abad ke-7 M, Islam sudah berkembang pesat, misalnya menurut laporan sejarah negeri Tiongkok bahwa pada tahun 977 M, seorang duta Islam bernama Pu Ali (Abu Ali) diketahui telah mengunjungi negeri Tiongkok mewakili sebuah negeri di Nusantara (Kerajaan Islam Perlak). 26 d. Teori Barus-Fansur Aceh Barus-Fansur adalah tempat yang dikaitkan dengan penghasil kayu kamper sebagai penghasil kapur (kamfer atau al-kafur dalam bahasa Arab) terdapat dalam banyak sumber asli Arab, Persia, dan China dalam berbagai buku perjalanan, botani, kedokteran, dan pengobatan. Kapur, yang dalam bahasa Latin disebut camphora, merupakan bagian dalam (inti) kayu kamfer yang padat berisi minyak yang harum. Masyarakat pra-Islam telah mengenal kafur yang masyhur itu, hal ini dibuktikan dengan penemuan penggunaan kata kafur yang disebut berkali-kali dalam syair-syair Arab sebelum lahirnya Nabi Muhammad SAW.27
25 26

27

Prof. Dr. HAMKA, Dari Perbendaharaan Lama; Jakrta: Pustaka Panjimas; cet.III; 1996; Hal. 4-5. F. Hirth dan W. W. Rockhill (terj), Chau Ju Kua, His Work On Chinese and Arab Trade in XII Centuries, St.Petersburg: Paragon Book, 1966, hal. 159. Lihat: artikel "Kafur", A. Dietrich, Ensiklopedia Islam (E.I) 2 hal: 435-436.

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

34

Dalam karya dua orang sejarawan, Ibn al-Atir (wafat tahun 1233 M), dan Ibn alBaladuri (wafat tahun 1473) tercatat bahwa pada tahun 16 H/637 M, sewaktu perebutan ibu kota Dinasti Sassanid, yaitu Ctesiphon, orang-orang Arab menemukan kamper/kafur yang dikira garam di antara rempah-rempah dan wangi-wangian.28 Ibn Gulgul, abad ke-10 M, seorang ahli biobibliografi dan ilmu kedokteran dari Andalusia, mencata kafur atau kamfer dalam 63 bahan obat-obatan baru yang belum dikenal sebelumnya sebagai obat, kecuali hanya pewangian dan alat-alat ritual semata di agama-agama paganisme. Ibn Sarabiyun pada abad ke-10 juga mulai memperkenalkan zat yang sangat ampuh ini. Ibn al-Baytar yang mengutip Ishaq ibn Imran yang hidup awal abad ke-9 M juga melakukan hal yang sama. Ketiganya melalui serangkaian eksperimen yang dilakukan berhasil menjelaskan berbagai fungsi dan kegunaan kafur dengan berbagai campuran untuk khasiat yang berbeda-beda. Fungsinya dalam berbagai bentuk olahan diantaranya adalah, sebagai balsem, penghobatan kandung empedu, radang hati, demam tinggi, berbagai penyakit mata, sakit kepala akibat liver, memperkuat organ dan indra, mengontrol syaraf, pembiusan alami, pendarahan, menguatkan gigi, dan lain-lain. Al-Kindi, salah seorang intelektual Arab, menyebutkan kapur barus sebagai salah satu unsur penting untuk membuat wangi-wangian. Sekitar abad ke-8, kapur barus merupakan salah satu dari lima rempah dasar dalam ilmu kedokteran Arab dan Persia. Empat unsur yang lain adalah kesturi, ambar abu-abu, kayu gaharu, dan safran. Pada zaman Abbasiyah, hanya orang kaya dan para pemimpin saja yang menggunakan pewangi dari air kapur barus untuk cuci tangan selepas perjamuan makan. Ibnu Sina atau yang dalam literatur Eropa dikenal sebagai Aveceena, dalam bukunya yang terkenal tentang ensiklopedia pengobatan dan obat-obatan, al-Qanun Fi al-Tib, mencatat manfaat kamfer sebagai obat penenang dan mendinginkan suhu badan yang tinggi. Kamfer juga dipakai sebelum dan sesudah pembedahan, sebagai obat liver, obat diare, sakit kepala, mimisan, dan sariawan. Aviceena menulis: "Jika kafur dipakai sedikit, maka obat ini dapat membantu menenangkan, karena bahan ini dingin. Kadang kala obat ini menurunkan suhu badan yang tinggi akibat badan kurang sehat karena lemah. Efek yang menguatkan dan menenangkan ini disertai efek harumnya. Efek pendinginannya dikurangi dengan kasturi dan ambar, dan kekeringannya dikurangi dengan minyak wangi dan pelunaknya, misalnya minyak cengkeh dan minyak bunga berwarna ungu lembayung. Kafur merupakan penangkal racun, khususnya racun panas. Berkat kafur pikiran menjadi lebih tajam dan terang; oleh karena itu kafur menguatkan dan menyenangkan. Efeknya serupa ambar kuning, tetapi lebih kuat dan lebih bermanfaat."29 Selain bangsa Arab, bangsa Persia juga berdatangan untuk meneliti kegunaan kafur dari Fansur ini. Buku tertua mengenai ilmu kedokteran yang ditulis dalam bahasa Persia adalah buku Muwaffak al-Din Abu Mansur Ali al-Harawi (abad ke-10 M), yang berjudul Kitab al-Abniya 'an haqa'iq al-Adwiya [Buku mengenai dasar dan kebenaran obat-obatan asli]. Dalam bukunya yang berjudul Hidayat al-muta'alimin fi al-tibb
28

29

W. Heyd, Histoire du commerce du Levant [Sejarah Pergadangan di Kawasan Syria-Libanon], edisi Prancis yang disusun kembali oleh Furcy Raynand, Amsterdam: Adolf M, Hakkert, 1967, tambahan I, hal 590). Ibn Baytar, Traite des Simples par Ibn el-Beithar. Terj. Dr. L. Leclerc, 3 jil. –Paris: 1881-1887.

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

35

(Panduan untuk mahasiswa ilmu kedokteran), al-Bukhori (abad ke-10) seorang mahasiswa Harawi dan dokter terkenal al-Razi (abad ke-9 dan 10 M) berhasil mengembangkan kafur dalam berbagai bentuk resep, sebanyak 31 resep. Salah satunya adalah dalam penanggulanagn penularan penyakit pes. Orang-orang Yunani telah terlibat secara intens dalam pengembangan ilmu kedokteran. Salah satu buku yang berhasil ditemukan seperti catatan Actius dari Amide dari abad ke-6 dan ke-7 M, menyebutkan kafur dalam karyanya Libri Medicinales. Salah satu surat pertama dari riga surat karya al-Kind yang berjudul al-rasail alhikmiyya fi asrul al-ruhaniyya [Risalah-risalah Hukum tentang Rahasia-Rahasia Batin], dikatakan bahwa kafur milik Devi Venus dan digunakan dalam pengasapan yang dipersembahkan kepadanya. "Allah Yang Maha Kuasa telah menciptakan Venus dari cahaya dan kecerahan; Venus memberi kebaikan dalam semua posisinya … di antaranya batu maha yang dimilikinya; dalam badan manusia, perut dan usus yang dimilikinya; dalam abjad tiga huruf yang dimilikinya ('ain, ha dan kaf); di antara bahan murni untuk pengasapan yang dimilikinya terdapat: ambar abu-abu, qust, tanaman fagara, kafur, bunga mawar kering, laudanum."30 Dijelaskan di Alf Layla wa layla (Seribu Satu Malam) oleh Sindbad, sang petualang yang terkenal: "Sesudah bangun keesokan harinya, kami pergi melewati gunung-gunung tinggi ke Pulau Riha yang kaya dengan pohon kafur. Setiap pohon dapat membayangi lebih dari 100 orang. Puncak pohonnya ditoreh dan air yang mengalir darinya dapat mengisi beberapa wadah. Kafur mulai menetes dan tetesannya mirip lem. Sesuadah itu kafur tidak meleleh lagi dan pohonnya menjadi kering." Riha adalah berarti kafur yang bermutu tinggi yang berarti al-Kafur al-Fansuri. Jadi Pulau Riha yang dimaksud adalah daerah Fansur. Kapur barus juga dipakai untuk memandikan jenazah sebelum dikuburkan. Variasi penggunaan kapur barus ini menyebabkan nilai jualnya sangat tinggi. Manfaat kapur barus ini kemudian menyebar ke Yunani dan Armenia karena pada periode tersebut ilmu kedokteran dari Arab dan Persia menjadi acuan dunia. Di akhir abad ke-4 M, istilah "P'o-lu" yang berarti Barus mulai dikenal oleh Bangsa Cina. Istilah ini diketahui sebagai rujukan kepada seluruh wilayah utara Sumatera. Barulah pada akhir abad ke-9, seorang ahli geografi Arab, Ibn Khurdadhbih menyebutkan nama Ram(n)i: "Di belakang Serendib terletak daerah Ram(n)I, dimana hewan badak dapat ditemukan… Pulau ini menghasilkan pohon bambu dan kayu Brazil, akar-akar yang dapat digunakan sebagai obat anti racun-racun mematikan…Di negeri ini juga tumbuh pohonpohon kapur yang tinggi,"31 Kira-kira pada abad yang sama, sebuah buku Akhbar al-Sin wa al-Hind juga menyebutkan nama Ramni: "Ramni (yang) terdapat didalamnya gajag-gajah dalam jumlah yang banyak berserta kayu Brazil dan bambu. Pulau itu dikelilingi oleh dua lautan..Harkand dan dan Salahit" . Nama Ramni atau Ram(n)I, kemungkinan besar, dengan melihat peta dan posisi Sri Lanka atau Serendib, adalah Sumatera bagian utara dan lebih tepatnya lagi timur laut Aceh. (The sea of Harkand was the Bay of Bengal. Salaht (or Salahit) is
30

31

G. Celentano, L.V. Vaglieri, "Trois Epitres d'al-Kindi: textes et traduction avec XIX plaches facsimile des trois epitres", dalam Annali dell Istituto universitario Orientale di Nipoli, jil 34, buku 3 (1974) hal 523-562. Tibbetts, Arabic Texts, hal. 27-28.

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

36

believed to be derived from the Malay word selat or Straits, i.e., what is now known as the Selat Melaka).32 Abu Zaid Hasan pada tahun 916 M, saat dia menjelaskan penguasa Maharaja Zabaj (Sriwijaya) menyebut juga Ranmi: "nama pulau tersebut adalah Rami (Ramni) yang luasnya delapan ratus parasangs (From the Persian farsakh, it was approximately 3 Y2 miles in extent) di daerah tersebut. Di sana dapat ditemukan kayu Brazil, kapur dan tumbuhan lainnya."33 Pada tahun 943, Masudi mencatat: “Kira-kira seribu parasangs (dari Serendib) masih terdapat sebuah pulau yang bernama Ramin (yakni Ramni) yang dihuni dan diperintah oleh raja-raja. Daerah tersebut penuh dengan tambang emas, dan dekat dengan tanah Fansur, yang menjadi asal kapur fansur, yang hanya dapat ditemukan di Fansur dengan jumlah yang besar dalam tahun-tahun yang penuh dengan topan dan gempa bumi.34 'Ajaib al-Hind', yang ditulis tahun 1000 M, menjelaskan banyak referensi mengenai Lambri. Muhammad ibn Babishad melaporkan: ”Di Pulau Lamuri terdapat zarafa yang tingginya tidak terkira. Dikatakan bahwa pelaut-pelaut yang terdampar di Fansur, terpaksa harus pindah ke Lamuri. Mereka mengungsi di waktu malam karena takut dengan zarafa; karena mereka tidak muncul di siang hari… Di pulau ini juga terdapat semut-semut raksasa dalam jumlah besar, terutama di kawasan Lamuri ”.... "Lububilank, yang merupakan sebuah teluk, (Tibbetts identifies this with Lho' Belang Raya (Telok Balang), 5°32f N, 95°17' E. Ibid., p. 141) terdapat orang-orang yang memakan manusia. Orang-orang kanibal ini mempunyai ekor, dan menghuni tanah antara Fansur dan Lamuri." 35 Lambri dalam karya para ahli geografi Arab tidak dijelaskan lebih lanjut. Ramni juga disebutkan oleh Biruni pada tahun 1030. Nama tersebut juga ditulis dalam teks Dimashqi di tahun 1325 dalam buku Cowan,"Lamuri," hal. 421. Satu-satunya sumber India menyebutkan Lambri dalam transkrip Tanjore dari Bangsa Tamil dalam pemerintahan Rajendra Cola, dimana nama "Ilamuridesam yang sangat murka terlibat dalam perang" disebutkan bersama toponim lain sebagai daerah target-target penggempuran mereka pada tahun 1025.36 Ahli geografi Cina Chou Ch'u-fei menulis, pada tahun 1178, nama Lan-li dimana kapal-kapal dari Canton atau Guangdong sering merapat sambil menunggu bulan purnama untuk memudahkan mereka berlayar menuju Lautan India tepatnya Sri Lanka dan India.37 Hampir lima puluh tahun kemudian, Chau Ju-kua menyebut Lan-wu-li, dan melaporkan bahwa; "Hasil-hasil produksi kerajaan Lan-wu-li adalah kayu sapan (Brazilwood (Caesalpinia sappan, Linn.), gading gajah dan rotan putih. Penduduknya

32 33 34 35 36 37

Wolters, Early Indonesian Commerce, hal. 178) Tibbetts, Arabic Texts, hal. 30 Ibid, hal. 37-38 Ibid, hal. 44-45 K. A. Nilakanta Sastri, History of Srivijaya (Madras: University of Madras, 1949), hal. 80, 81. Almut Netolitzky, Das Ling-wai Tai-ta von Chou-chu-fei,( Weisbaden: Heiner Verlag, 1977), hal. 40-41)

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

37

menyukai perang dan sering menggunakan panah beracun. Dengan angin utara, pelaut dapat berlayar selama dua puluh hari ke Silan…."38 Dia selanjutnya mendukung informasi yang diberikan oleh Chou Ch'u-fei: ”Ta-shi terletak di Timur Laut dari Ts'uan-chou dengan jarak yang sangat jauh, jadi kapal-kapal asing kesulitan untuk melakukan pelayaran langsung. Setelah kapal-kapal tersebut meninggalkan Ts'uan-chou mereka akan berlayar terlebih dahulu selama empat puluh hari ke Lan'li, dimana mereka akan menyempatkan diri untuk berdagang. Tahun berikutnya akan kembali ke laut, dengan dukungan angin mereka akan menghabiskan enam puluh hari untuk melanjutkan perjalanan.39 Marco Polo, sekembalinya dari Cina ke Eropa tahun 1292, menyebutkan, selain Perlak yang sudah memeluk Islam, nama Lambri bersama lima kerajaan kafir lainnya. Dia menulis bahwa; "Penduduknya penyembah berhala, dan menyebut dirinya hamba Kaan yang agung. Mereka memiliki kapur dalam jumlah yang besar dan sejumlah spesis lainnya. Mereka juga memiliki kayu brazil dalam jumlah yang besar…" Di tahun 1284 dan juga tahun 1286, Lambri dilaporkan mengirimkan upeti kepada Dinasti Yuan di China.40 Seorang musafir Persia, Rashiduddin, pada tahun 1310 menulis bahwa para saudagar dari berbagai negara sering datang ke Lamori, dan pada tahun 1323, Friar Odoric dari Pordenone menjelaskan bahwa Lambri merupakan pusat perdagangan di mana para saudagar dari negara-negara yang sangat jauh, dan kapur, emas dan pohon gaharu juga tersedia. Di sini dia kehilangan pandangan terhadap bintang utara.41 Wang Ta-yuan pada tahun 1349, menulis tentang Nan-wu-li, yang katanya: ”Tempat ini merupakan pusat perdagangan yang sangat penting di Nan-wu-li. Pegunungan raksasa bak gelombang terdapat dibelakangnya, terletak di pinggiran laut Jih-yueh wang yang sangat diragukan di sana ada tanah. Penduduk setempat hidup di sepanjang bukit, setiap keluarga tinggal di rumah masing-masing. Masing-masing lelaki dan wanita menggulung rambut mereka dalam sanggul di atas namun membiarkan bagian atas tubuh mereka terbuka, dan bagian bawah dibungkus sarung. Buminya sangat tandus, panennya sangat jarang, dan iklimnya sangat panas. Sebagai kebiasaan, mereka tunduk kepada bajak laut seperti orang-orang di Niu-tan-his (Tumasek). Komoditas lokal adalah sarang burug, cangkang kura-kura, cangkang penyu dan kayu laka, yang sangat bermutu dalam hal aroma. Komoditas yang biasanya diperdagangkan di sini adalah emas, perak, aksesoris besi, bunga mawar, muslin merah, kapur, porcelin dengan desain biru dan putih dan lain-lain.”42 Pada tahun 1365, Kronik Jawa, Negarakrtagama, menggambarkan Lamuri sebagai negara yang tergantung kepada Majapahit.43

38

39 40

41 42 43

Friedrich Hirth and W. W. Rockhill, Chau Ju-kua: His Work on the Chinese and Arab Trade in the Twelfth and Thirteenth Centuries, Entitled Chu-fan-chi (St. Petersburg: Imperial Academy of Sciences, 1911), hal. 72). Ibid, hal.114 Henry Yule and Henri Cordier, The Book of Ser Marco Polo, 2 vols. (Reprint, Amsterdam: Philo Press, 1975), 2:299) Ibid, hal. 300 ibid Th. C. Th. Pigeaud, Jam in the Fourteenth Century, 5 vols. (The Hague: Nyhoff, I960), 1:11

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

38

Ma Huan yang menulis pada awal tahun 15 M, menyebutkan Nan-po-li, yang dikunjungi oleh kapal induk dinasti Ming, dengan nakhoda Cheng Ho: ”Kerajaan ini terletak di samping laut, dan penduduknya terdiri dari hanya seribu keluarga. Semuanya Muslim, dan mereka sangat jujur dan tulus. Di bagian timur teritori itu, terletak sebuah negeri bersama Li-tai, dan di bagian barat dan utara terletak lautan luas; jika anda pergi ke selatan, terdapat pegunungan; dan di bagian selatan pegunungan tersebut terletak lagi lautan. Ma Huan juga menyebutkan nama Pulau Wei, sebuah pulau sekitar sembilan mil lauty di lepas pantai Timur Laut Aceh yang juga terdapat pelabuhan alami yang bagus, sekarang terdapat pelabuhan Sabang. Pulau Wei sering disebutkan dalam sumber-sumber sejarah dan dalam terjemahan bahasa Cina bernama "pulau Hat". Ch'ieh-nan-mao, sebuah daerah penghasil kayu gaharu.44 Ma Huan menggambarkan Pulau Wei: ”Terletak di arah laut Timur Laut Lambri, dimana terdapat pegunungan raksasa yang sangat curam, yang dapat dicapai dengan setengah hari perjalanan; namanya pegunungan Mao. Di bagian barat pegunungan ini, juga, terdapat lautan luas; ini namanya Samudra Barat yang disebut Samudra Nan-moli, kapal-kapal yang datang dari Samudra dari arah barat berlabuh di sini, dan mereka melihat pegunungan ini sebagai petunjuk arah. Di laut yang dangkal, sekitar dua cang dalamnya, di pinggir pegunungan, tumbuh pohon-pohon laut; penduduk di sana mengumpulkannya dan menjualnya sebagai komoditas yang berharga. Ini namanya karang. Kerajaan ini tunduk kepada jurisdiksi kerajaan Nan-po-li.45 Awal abad ke-16 M, Tome Pires memberikan gambaran yang lebih tepat mengenai lokasi Lambri. Dia mengatakan bahwa; "Aceh merupakan negara pertama di bagian pulau Sumatera, dan Lambri benar-benar di bagian kanannya, yang terletak menjorok ke darat dan tanah Biar (45) terletak antara Aceh dan Pidie, dan sekarang negeri-negeri ini tunduk kepada Aceh dan memerintah di kedua wilayah tersebut dan dialah raja satu-satunya di sana. Raja ini adalah Moo…".46 Istilah Lambri dan beberapa versi lainnya biasanya ditujukan kepada seluruh pantai utara Aceh, nampaknya hal tersebut di atas menunjukkan pada titik tertentu yang menjadi informasi kepada pelayaran yang aman dari ombak Teluk Bengal, sebuah sumber air segar. Buku Hikayat Atjeh juga memberikan petunjuk. Pada halaman 17 dari manuskrip tersebut, diterbitkan oleh Teuku Iskandar, terdapat sebuah petunjuk mengenai Lambri, "teluk Lambri".47 Chau Ju-kua tidak menyebutkan kapur diperdagangkan di Lambri, tapi diduga bahwa Ujung Pancu dan Kuala Pancu di Lhok Lambro dekat banda Aceh kemungkinan besar sangat berhubungan dengan Fansur. Kapal-kapal yang harus memutar di Ujung Pancu, harus melalui Lambri ke Barus. Nama Lambri dan Barus, makanya, sering dibingungkan dalam pelayaran kuno karena eratnya kedua kota ini. Sementara Chia Tan yang menulis buku pada era awal abad ke-8, menyebutkan pelabuhan P'o-lu, merupakan daerah yang kaya dengan emas, mercury dan kapur. Pelabuhan tersebut merupakan titip kepergian bagi kapal-kapal yang datang dari Sriwijaya barat melalui Samudera India ke Sri Langka.
44 45 46 47

Mills, Ma Huan, hal 122-123. Ibid, hal. 123-124 ibid T. Iskandar, Hikayat Atjeh, op.cit. hal. 17

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

39

f. Teori Kaafuro Dalam al-Qur’an Hubungan erat Aceh-Melayu dengan dunia Arab juga dapat ditelusuri dari beberapa kata di dalam al-Qur’an. Sebagaimana diketahui al-Qur’an adalah kumpulan wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui perantaraan malaikat Jibril as sejak pertama diangkat menjadi Nabi di Gua Hira’ sampai beliau wafat di Madinah pada tahun 10 Hijriah. Sampai saat ini tidak ada satupun manusia yang dapat menyanggah bahwa al-Qur’an dengan segala kemukjizatannya bukan berasal dari Allah Sang Pencipta. Karena mana mungkin seorang yang buta huruf seperti Nabi Muhammad dapat membuat sebuah kitab agung yang memiliki gaya bahasa Arab tertinggi dan tidak mampu dijangkau oleh seorang pujangga teragung sekalipun. Karena al-Qur’an bukan hanya kitab sastra, tapi kitab hukum, undang-undang, pengetahuan, politik dan seterusnya yang disampaikan dengan untaian indah. Terlalu banyak makhluk yang tertegun dengan keindahan al-Qur’an. Telah disepakati para Ulama, bahwa al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, sebagaimana dinyatakan alQur’an sendiri. Namun bahasa Arab al-Qur’an adalah bahasa Arab tertinggi yang telah melahirkan gramatika bahasa Arab kontemporer. Para ulama juga berpendapat ada beberapa kata al-Qur’an yang bukan berasal dari bahasa Arab asli, namun bahasa non Arab yang sudah banyak digunakan dan dimengerti oleh masyarakat Arab.48 Salah satu bahasa Aceh-Melayu yang sudah tersebar di dunia Arab, termasuk Mesir sejak zaman kekuasaan Ramses (Fir’aun) adalah kafur. Sebagaimana dijelaskan terdahulu dalam teori kafur Barus, bahwa kafur min barus adalah sebuah komuditas mewah wangi-wangian yang berasal dari inti kayu kamfer yang dalam bahasa latin dikenal dengan champora. Tidak diragukan bahwa penghasil terbesar kapur zaman itu adalah wilayah yang terletak di ujung barat pulau Sumatera, yang sekarang berada di wilayah Aceh. Bahkan dalam teori terdahulu telah disebutkan banyak dalil tentang Barus-Fansur awal, yang berada di sekitar Lamuri-Aceh. Pada al-Qur’an surat al-Insan (76) ayat ke 5 menyebutkan: Sesungguhnya orangorang yang berbuat kebajikan akan meminum dari gelas, minuman yang dicampur kafur. Kebanyakan mufassirin dalam tafsirnya masing-masing seperti Ibn. Abbas, Jalalain, alQurthubi, Ibn Katsir dan lain-lainnya, mengartikan kafur sebagai campuran dari minuman yang merehatkan, nikmat, yang dapat membuat tenang dan biasanya dijadikan obat. Walaupun ada yang menyebutkan sebagai nama mata air di syurga. Pendapat pertama lebih banyak dirujuk mengingat penggunaan kafur yang sudah umum sebagai bahan obat-obatan, wangi-wangian dan bahan perisa di dunia Arab praIslam seperti di Alexenderia Mesir dan lainnya. Namun hampir semuanya sepakat bahwa kata ini bukan asli bahasa Arab, sebagaimana disebutkan Ibn Manzhur dalam Lisan al-Arab karena tidak ditemukan dalam bahasa Arab Jahiliyah atau bahasa Arab purba. Maka dengan demikian, tidak diragukan bahwa kata kafur yang dimaksudkan al-Qur’an adalah kapur dari Barus sebagai lambang kemewahan pada zaman itu .
48

Lebih terinci lihat misalnya : Dr. Subhi Shaleh, Mabahits fi ‘ulum al-Qur’an, Beirut : Dar Ilm li al-Maliyin, tt. Syaikh Muhammad Ali al-Shabuni, al-Tibyan fi ‘ulum al-Qur’an, Damsyik : Maktabah al-Ghazaly, Thabaah Tsalist, 1981. Dr. M. Ali al-Hasan, al-Manar fi ‘ulum al-Qur’an, Amman : Matbaah al-Syuruq, 1983. Dr. Shabir Thayyimah, Hazha al-Qur’an, Bairut : Dar al-Jiil, 1989. Syaikh Muhammad Rasyid Ridho, al-wahy al-Muhammady, Bairut : Dar al-Fiqr, 1968.

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

40

Kata "kafur", menurut Karel Steenbrink, secara pasti bukan istilah Arab. Akar kata "kafara" bisa berarti menghindari atau tidak berterima kasih. Sedangkan kata "kafur", yang berarti kapur barus atau kamper, berasal dari bahasa Melayu. Steenbrink menyimpulkan bahwa kata "kafur" bukan hanya penghubung secara etimologis antara al-Qur'an dan Nusantara, tetapi juga komoditi yang sejak abad ke-7 telah dibawa oleh pedagang Muslim dari Nusantara.49 Dengan terdapatnya kata kafur di dalam al-Qur’an, maka dapat diartikan bahwa daerah penghasil kafur yang paling populer di seluruh dunia, seperti Barus, Fansur, Lamri dan sekitarnya di wilayah Aceh, tentu telah berhubungan erat dengan masyarakat tempat al-Qur’an diturunkan, yaitu masyarakat Arab. Saking populernya kafur dalam masyarakat Arab sebagai sebuah simbol kenikmatan, sehingga dimasukkan sebagai kata dalam al-Qur’an. Jika kita boleh mengambil hikmah dimasukkannya kata kafur ke dalam al-Qur’an, Sang Sumber al-Qur’an mudah-mudahan bermaksud untuk memberi perhatian dan kehormatan pada asal benda ini, Aceh, sebagai kawasan yang memiliki peranan penting dalam penyebaran agama-Nya. Dan memang sejarah telah membuktikan bahwa Aceh telah menjadi tapak persemaian penting Islam di Nusantara yang telah melahirkan Kerajaan-Kerajaan Islam yang sangat berpengaruh dalam proses Islamisasi dan menggusur peran Hindu-Budha. Hanya Allah Yang Maha Tahu.......... f. Teori Korespondensi Khalifah Abdul Aziz-Raja Sri Indravarman Ibn Abd Al Rabbih dalam karyanya Al Iqd al Farid sebagaimana dikutip Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII menyebutkan ada proses korespondensi yang berlangsung antara raja Sriwijaya kala itu Sri Indravarman dengan khalifah Umar bin Abdul Azis yang terkenal adil tersebut. “Dari Raja di Raja [Malik al Amlak] yang adalah keturunan seribu raja; yang istrinya juga cucu seribu raja; yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah; yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil; kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya,” Diperkirakan hubungan diplomatik antara kedua pemimpin wilayah ini berlangsung pada tahun 100 Hijriah atau 718 Masehi. Tak dapat diketahui apakah selanjutnya Sri Indravarman memeluk Islam atau tidak. Tapi hubungan antara Sriwijaya dan pemerintahan Islam di Arab menjadi penanda babak baru Islam di Nusantara. Jika awalnya Islam masuk memainkan peranan hubungan ekonomi dan dagang, maka kini telah berkembang menjadi hubungan politik keagamaan. Dan pada kurun waktu ini pula Islam mengawali kiprahnya memasuki kehidupan raja-raja dan kekuasaan di wilayah-wilayah Nusantara.50

49 50

Karel Steenbrink, Pondok Pesantren, Jakarta: LP3ES, Azyumardi Azra, op.cit.

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

41

g. Teori Kerajaan Islam Perlak Perlak pada tahun 805 Masehi adalah bandar pelabuhan yang dikuasai pedagang keturunan Parsi yang dipimpin seorang keturunan Raja Islam Jeumpa Pangeran Salman al-Parsi dengan Putri Manyang Seuludong bernama Meurah Shahr Nuwi. Sebagai sebuah pelabuhan dagang yang maju dan aman menjadi tempat persinggahan kapal dagang Muslim Arab dan Persia. Akibatnya masyarakat Muslim di daerah ini mengalami perkembangan yang cukup pesat, terutama sekali lantaran banyak terjadinya perkawinan di antara saudagar Muslim dengan wanitawanita setempat, sehingga melahirkan keturunan dari percampuran darah Arab dan Persia dengan putri-putri Perlak. Keadaan ini membawa pada berdirinya kerajaan Islam Perlak pertama, pada hari selasa bulan Muharram, 840 M. Sultan pertama kerajaan ini merupakan keturunan Arab Quraisy bernama Maulana Abdul Azis Syah, bergelar Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Azis Syah. Menurut Wan Hussein Azmi, pedagang Arab dan Persia tersebut termasuk dalam golongan Syi'ah.51 Wan Hussein Azmi dalam Islam di Aceh mengaitkan kedatangan mereka dengan Revolusi Syi'ah yang terjadi di Persia tahun 744-747. Revolusi ini di pimpin Abdullah bin Mu'awiyah yang masih keturunan Ja'far bin Abi Thalib. Bin Mu'awiyah telah menguasai kawasan luas selama dua tahun (744-746) dan mendirikan istana di Istakhrah sekaligus memproklamirkan dirinya sebagai raja Madian, Hilwan, Qamis, Isfahan, Rai, dan bandar besar lainnya. Akan tetapi ia kemudian dihancurkan pasukan Muruan di bawah pimpinan Amir bin Dabbarah tahun 746 dalam pertempuran Maru Sydhan. Kemudian banyak pengikutnya yang melarikan diri ke Timur Jauh. Para ahli sejarah berpendapat, mereka terpencar di semenanjung Malaysia, Cina, Vietnam, dan Sumatera, termasuk ke Perlak. Pendapat Wan Hussein Azmi itu diperkaya dan diperkuat sebuah naskah tua berjudul Idharul Haqq fi Mamlakatil Ferlah w'l-Fasi, karangan Abu Ishak Makarni alFasy, yang dikemukakan Prof. A. Hasjmi. Dalam naskah itu diceritakan tentang pergolakan sosial-politik di lingkungan Daulah Umayah dan Abbasiyah yang kerap menindas pengikut Syi'ah. Pada masa pemerintahan Khalifah Makmun bin Harun alRasyid (813-833), seorang keturunan Ali bin Abi Thalib, bernama Muhammad bin Ja'far Shadiq bin Muhammad Baqr bin Zaenal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, memberontak terhadap Khalifah yang berkedudukan di Baghdad dan memproklamirkan dirinya sebagai khalifah yang berkedudukan di Makkah. Khalifah Makmun berhasil menumpasnya. Tapi Muhammad bin Ja'far Shadiq dan para tokoh pemberontak lainnya tidak dibunuh, melainkan diberi ampunan. Makmun menganjurkan pengikut Syi'ah itu meninggalkan negeri Arab untuk meluaskan dakwah Islamiyah ke negeri Hindi, Asia Tenggara, dan Cina. Anjuran itu pun lantas dipenuhi. Sebuah Angkatan Dakwah beranggotakan 100 orang pimpinan Nakhoda Khalifah yang kebanyakan tokoh Syi'ah Arab, Persia, dan Hindi ---termasuk Muhammad bin Ja'far Shadiq--- segera bertolak ke timur dan tiba di Bandar Perlak pada waktu Syahir Nuwi menjadi Meurah (Raja) Negeri Perlak. Syahir Nuwi
51

Wan Huseein Azmi, Islam di Aceh, Kuala Lumpur: UKM. hal.

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

42

kemudian menikahkan Ali bin Muhammad bin Ja'far Shadiq dengan adik kandungnya, Makhdum Tansyuri. Dari perkawinan ini lahir seorang putra bernama Sayyid Abdul Aziz, dan pada 1 Muharram 225 H dilantik menjadi Raja dari kerajaan Islam Perlak dengan gelar Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Azis Syah. Dari beberapa teori di atas, dapatlah disimpulkan bahwa proses Islamisasi ke Aceh sudah terjadi sejak awal perkembangannya, ketika Nabi Muhammad saw masih hidup yang dilakukan oleh para saudagar Arab yang memang sudah hilir mudik berdagang dari Mesir, Aden, Muscat, Parsia, Gujarat ke Cina melalui Barus-Fansur yang dipastikan terletak di ujung barat pulau Sumatera. Para saudagar Arab pra-Islam diketahui sudah memiliki perkampungan di sekitar pesisir pulau Sumatera, terbentang dari Barus-Fansur, Jeumpa, Perlak sampai di Palembang pada zaman Kerajaan Hindu Sriwijaya. Islamisasi Aceh mengalami puncaknya pada zaman Khalifah al-Rasyidin, terutama di zaman pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab yang gencar mengirimkan para duta yang merangkap sebagai pendakwah Islam sampai ke negeri Cina, pada sekitar awal abad ke VII Masehi. Cina menjadi tujuan dakwah para Khalifah berkaitan dengan sebuah hadits Nabi yang populer: tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina. Karena Cina pada zaman itu telah mencapai keemasaanya, sebagaimana Rumawi, Yunani ataupun Mesir dan Parsia sebagai pusat-pusat perdagangan, peradaban dan kemakmuran dunia yang jejaknya masih terekam jelas pada peta jalur sutera (silk road). Jalur ini kemudian dipindahkan ke jalur laut karena berkembang pesatnya teknologi kelautan dengan kapal-kapalnya yang mampu berlayar lama. Para pembawa Islam datang langsung dari Semenanjung Arabia yang merupakan utusan resmi Khalifah atau para pedangan profesional Islam yang memang telah memiliki hubungan perdagangan dengan Aceh, sebagai daerah persinggahan dalam perjalanan menuju Cina. Hubungan yang sudah terbina sejak lama, yang melahirkan asimiliasi keturunan Arab-Aceh di sekitar pesisir ujung pulau Sumatra, telah memudahkan penyiaran Islam dengan bahasa asal mereka, yaitu bahasa Arab yang dengan al-Qur’an diturunkan. Pengaruh bahasa Aceh-Melayu dalam al-Qur’an dapat dijumpai pada kata kafuro, yang tidak pernah ada dalam bahasa Arab pra-Islam. Hubungan baik antara masyarakat Aceh dengan pendatang dari Arab telah mendorong tumbuhnya perkampungan yang membesar menjadi Kerajaan-Kerajaan Islam sebagai pengganti Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha. Kerajaan Islam pertama di Aceh, yang juga merupakan Kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah Kerajaan Islam Jeumpa yang didirikan oleh salah satu keturunan Nabi Muhammad yang melarikan diri dari Persia bernama Sasaniah Salman al-Parsi pada tahun 154 Hijriah atau sekitar tahun 777 Masehi. Kerajaan Jeumpa menjadi salah satu pusat Islamisasi di Nusantara, khususnya Aceh. Salah seorang Pangeran Jeumpa, Shahrnawi, yang namanya disebut oleh Syekh Hamzah Fansuri, menjadi pelopor pedirian Kerajaan Islam Perlak pada tahun 805 Masehi, dan mengangkat anak saudaranya, Maulana Abdul Aziz cicit dari Imam Ja’far Sidiq sebagai Sultan pertama Kerajaan Perlak pada tahun 840 M. Maka jelaslah kebohongan Teori Gujarat yang dipopulerkan Snouck bersama antek-anteknya. Karena ternyata Islam berkembang sejak awal abad ke VII Masehi, lebih awal 600 tahun dari yang dikemukakan Teori Gujarat Snouck. Selanjutnya diharapkan

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

43

para cendekiawan Muslim dapat mengadakan penelitian yang lebih mendalam lagi tentang sejarah masuknya Islam di Nusantara, terutama Aceh sebagai serambi Mekkah.

Kerajaan Jeumpa, Kerajaan Islam Pertama Di Nusantara
Sebagaimana dikemukakan terdahulu, bahwa sebelum Nabi Muhammad saw membawa Islam, Dunia Arab dengan Dunia Melayu sudah menjalin hubungan dagang yang erat sebagai dampak hubungan dagang Arab-Cina melalui jalur laut yang telah menumbuhkan perkampungan-perkampungan Arab, Parsia, Hindia dan lainnya di sepanjang pesisir pulau Sumatera. Karena letak gegrafisnya yang sangat strategis di ujung barat pulau Sumatra, menjadikan wilayah Aceh sebagai kota pelabuhan transit yang berkembang pesat, terutama untuk mempersiapkan logistik dalam pelayaran yang akan menempuh samudra luas perjalanan dari Cina menuju Persia ataupun Arab. Hadirnya pelabuhan transito sekaligus kota perdagangan seperti Barus, Fansur, Lamri, Jeumpa dan lainnya dengan komuditas unggulan seperti kafur, yang memiliki banyak manfaat dan kegunaan telah melambungkan wilayah asalnya dalam jejaran kota pertumbuhan peradaban dunia. ”Kafur Barus”, ”Kafur Fansur”, ”Kafur Barus min Fansur” yang telah menjadi idiom kemewahan para Raja dan bangsawan di Yunani, Romawi, Mesir, Persia dan lainnya. Kedudukan Barus-Fansur lebih kurang seperti kedudukan Paris saat ini yang terkenal dengan inovasi minyak wangi mewahnya. Hadirnya komuditas unggulan ini telah melahirkan berbagai teknologi pengolahan dalam penangannya. Karena sangat dibutuhkan sebagai bahan obat-obatan, wangi-wangian ataupun sebagai barang sakral dalam ritual keagamaan pagan, menjadikan asal kafur dan wilayah sekitarnya berkembang pesat. Tentu dari para petani, pedagang sampai para pengolah, peneliti, tabib sampai tukang sihir terlibat dalam proses pembuatan kafur yang bermutu. Tentu hal ini mengakibatkan hadirnya para pakar ke kota penghasil kafur dan membuat komunitas baru sesuai dengan peran masing-masing. Itulah sebabnya wajah orang Aceh berbeda dengan wajah orang Jawa, Makassar ataupun Melayu. Wajah mereka lebih kosmopolit yang merupakan perpaduan dari keturunan Arab, Cina, India, Parsi dan tentunya Eropa. Dan perpaduan ini telah berjalan berabad-abad sebelum kedatangan Islam di wilayah ini. Sehubungan dengan penyebaran Islam, tentu perkampungan para keturunan Arab lebih dominan, relatif lebih mudah dalam menerima kedatangan Islam, dengan beberapa alasan (i) sumber utama al-Qur’an dan pengajarannya menggunakan bahasa Arab, yang tentu lebih mudah difahami oleh mereka yang sudah terbiasa dengan bahasa Arab seperti keturunan Arab yang sudah menyebar di sepanjang Barus-FansurLamuri, (ii) hukum, budaya, pola hidup ataupun tradisi yang dibawa Islam lebih dekat dengan kebiasaan orang Arab yang memang sudah dilaksanakan sejak zaman Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as yang merupakan bapak kaum Arab, sehingga keturunan Arab pra-Islam ini mudah langsung mengikutinya karena sudah menjadi kebiasaan hidupnya, (iii) semangat kekeluargaan dan kesukuan sangat tinggi di kalangan bangsa Arab, termasuk Arab pra-Islam yang sangat menghormati dan menghargai sesamanya, itulah sebabnya banyak orang Arab yang membela Rasul walaupun tidak masuk Islam,

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

44

inilah yang terjadi pada keturunan perantauan Arab ini, ada kebanggaan kesukuan memeluk agama Islam yang dibawa dari tanah leluhurnya daripada mengikuti ajaran lain, (iv) tentu ajaran Islam yang rasional, adil, menawarkan persamaan kedudukan dan status menjadi daya tarik bagi masyarakat kosmopolit yang telah berbaur dengan berbagai peradaban besar sebagaimana yang dialami keturunan Arab (v) disamping kepandaian dan ketampanan para pembawa Islam keturunan Arab telah membuat jatuh hati para Raja dan Meurah, mengangkat mereka jadi menantu, penasihat atau panglima dan ada yang menggantikan kedudukan Raja atas dukungan komunitas Arab yang memang sudah mapan dan memiliki kedudukan terhormat. Jadi dengan demikian, tidak diragukan bahwa Islam telah tumbuh berkembang di Aceh, terutama di pesisirnya bersamaan dengan perkembangannya di semenanjung Arabia dan Parsia. Penyiaran ini utamanya dilakukan para pedagang Muslim asal Aceh yang bergagang ke Arab, ataupun pedagang Arab, Persia, India, Cina atau lainnya yang memang telah hilir mudik antara Dunia Arab Mesir sampai ke Tiongkok Cina melalui sebuah daerah yang oleh Claudius Ptolemaeus, disebut bernama ”Barousai”, yang tidak diragukan maksudnya adalah Barus di dekat Lamuri wilayah Aceh.52 Penyebaran Islam juga dilakukan oleh para diplomat yang di utus para Khalifah yang menggantikan kedudukan Nabi Muhammad, terutama di zaman Khalifah Umar bin Khattab yang terbukti telah mengutus beberapa orang shahabat ke Cina yang meninggal di sana. Di samping untuk berdakwah tentu untuk memberikan sebuah tawaran umum para Khalifah kepada semua Raja: ”Engkau memeluk Islam, artinya bersaudara dengan kami, jika tidak engkau membayar jizyah sebagai tanda ketundukan pada Islam, jika engkau menolak keduanya, berarti akan terjadi peperangan, karena sabda Nabi saw : ”Aku diperintah memerangi manusia pembangkang sehingga mereka mengakui tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusannya”. Cina menjadi salah satu tujuan dakwah Islam, karena pada masa itu Cina sudah menjadi salah satu Kerajaan besar. Tentu sebelum sampai ke Cina, para diplomat itu akan singgah di sekitar pesisir pantai Sumatra dan mencari perkampungan Arab dengan komunitasnya. Bukti-bukti ilmiah telah ditemukan bahwa perdagangan antara Timur dengan Timur Tengah dan Eropa berlangsung lewat dua jalur: jalur darat dan jalur laut. Jalur darat atau ”jalur sutra” (silk road), terbentang dari Cina Utara lewat Asia Tengah dan Turkistan terus ke Laut Tengah. Jalur menghubungkan Cina, India, Persia, Arab dengan Eropa, adalah jalur tertua yang di kenal sejak 500 tahun sebelum Masehi. Sedangkan jalan laut dimulai dari Cina (Semenanjung Shantung) dan Nusantara, melalui Selat Malaka (Fansur) ke India; selanjutnya ke Laut Tengah dan Eropa, ada pula jalur yang melalui Teluk Persia dan Suriah, dan melalui Laut Merah dan Mesir. Diduga perdagangan lewat laut antara Laut Merah, Cina dan Fansur (Sumatra) sudah berjalan sejak abad pertama sesudah Masehi.53
52

53

D.G.E. Hall, A History of South East Asia, London: Macmillan & Co. Ltd., 1960, hlm. 1-5. D.H. Burger dan Prajudi, Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, Jakarta: Pradnya Paramita, 1960, hlm. 15. Ma Huan, Yingyai Sheng-lan, terjemahan dan edisi J.V.G. Mills, Hakluyt Society, 1970, hlm. 120. W.P. Groeneveldt, Historical Notes on Indonesia & Malaya Compiled from Chinese Source, Jakarta: Bharata, 1960, hlm. 209. B. Schrieke, Indonesian Sociological Studies, Part Two, The Hauge-Bandung: W. Van Hoeve Ltd, 1957, hlm. 17. D.H.Burger dan Prajudi, Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, Jakarta: Pradnya Paramita, 1960, hlm. 15.

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

45

Gangguan-gangguan keamanan sering terjadi pada jalur perdagangan darat di Asia Tengah, maka sejak tahun 500 Masehi perdagangan Timur-Barat melalui laut (Selat Malaka/Fansur) menjadi semakin ramai. Lewat jalan ini kapal-kapal Arab, Persia dan India telah mondar mandir dari Barat ke Timur dan terus ke Negeri Cina dengan menggunakan angin musim, untuk pelayaran pulang pergi. Juga kapal-kapal Sumatra telah mengambil bagian dalam perdagangan tersebut. Pada zaman Sriwijaya atau sebelumnya, pedagang-pedagang Fansur atau Nusantara telah mengunjungi pelabuhanpelabuhan Cina, dan pantai timur Afrika.54 Ramainya lalu lintas pelayaran di Selat Malaka, telah menumbuhkan kota-kota pelabuhan yang terletak di bagian ujung utara Pulau Sumatra. Perkembangan perdagangan yang semakin banyak di antara Arab, Cina dan Eropa melalui jalur laut telah menjadikan kota pelabuhan semakin ramai, termasuk di wilayah Aceh yang diketahui telah memiliki beberapa kota pelabuhan yang umumnya terdapat di beberapa delta sungai. Kota-kota pelabuhan ini dijadikan sebagai kota transit atau kota perdagangan.55 Maka berdasarkan fakta sejarah ini pulalah, keberadaan Kerajaan Jeumpa Aceh yang diperkirakan berdiri pada abad ke 7 Masehi dan berada disekitar Kabupaten Bireuen sekarang menjadi sangat logis. Sebagaimana kerajaan-kerajaan purba pra-Islam yang banyak terdapat di sekitar pulau Sumatra, Kerajaan Jeumpa juga tumbuh dari pemukiman-pemukiman penduduk yang semakin banyak akibat ramainya perdagangan dan memiliki daya tarik bagi kota persinggahan. Melihat topografinya, Kuala Jeumpa sebagai kota pelabuhan memang tempat yang indah dan sesuai untuk peristirahatan setelah melalui perjalanan panjang. Kerajaan Jeumpa Aceh, berdasarkan Ikhtisar Radja Jeumpa yang di tulis Ibrahim Abduh, yang disadurnya dari hikayat Radja Jeumpa adalah sebuah Kerajaan yang benar keberadaannya pada sekitar abad ke 7 Masehi yang berada di sekitar daerah perbukitan mulai dari pinggir sungai Peudada di sebelah barat sampai Pante Krueng Peusangan di sebelah timur. Istana Raja Jeumpa terletak di desa Blang Seupeueng yang dipagari di sebelah utara, sekarang disebut Cot Cibrek Pintoe Ubeuet. Masa itu Desa Blang Seupeueng merupakan permukiman yang padat penduduknya dan juga merupakan kota bandar pelabuhan besar, yang terletak di Kuala Jeumpa. Dari Kuala Jeumpa sampai Blang Seupeueng ada sebuah alur yang besar, biasanya dilalui oleh kapal-kapal dan perahu-perahu kecil. Alur dari Kuala Jeumpa tersebut membelah Desa Cot Bada langsung ke Cot Cut Abeuk Usong atau ke ”Pintou Rayeuk” (pintu besar). Menurut hasil observasi terkini di sekitar daerah yang diperkirakan sebagai tapak Maligai Kerajaan sekitar 80 meter ke selatan yang dikenal dengan Buket Teungku Keujereun, ditemukan beberapa barang peninggalan kerajaan, seperti kolam mandi kerajaan seluas 20 x 20 m, kaca jendela, porselin dan juga ditemukan semacam cincin dan kalung rantai yang panjangnya sampai ke lutut dan anting sebesar gelang tangan. Di sekitar daerah ini pula ditemukan sebuah bukit yang diyakini sebagai pemakaman
54

55

M.A.P. Meilink-Roelofsz, Asian Trade and European Influence in the Indonesia Archipelago. The Hague: Martinus Nijhoff, 1962, hlm. 345 (catatan 122) Ibid

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

46

Raja Jeumpa dan kerabatnya yang hanya ditandai dengan batu-batu besar yang ditumbuhi pepohonan rindang di sekitarnya. Menurut legenda yang berkembang di sekitar Jeumpa, sebelum kedatangan Islam di daerah ini sudah berdiri salah satu Kerajaan Hindu Purba Aceh yang dipimpin turun temurun oleh seorang Meurah dan negeri ini sudah dikenal di seluruh penjuru dan mempunyai hubungan perdagangan dengan Cina, India, Arab dan lainnya. Sekitar awal abad ke 8 Masehi datanglah seorang pemuda tampan bernama Abdullah yang memasuki pusat Kerajaan di kawasan Blang Seupeueng dengan kapal niaga yang datang dari India belakang (Parsi ?) untuk berdagang. Dia memasuki negeri Blang Seupeueng melalui laut lewat Kuala Jeumpa. Selanjutnya Abdullah tinggal bersama penduduk dan menyiarkan agama Islam. Rakyat di negeri tersebut dengan mudah menerima Islam karena tingkah laku, sifat dan karakternya yang sopan dan sangat ramah. Dia dinikahkan dengan puteri Raja, dan Abdullah dinobatkan menjadi Raja menggantikan bapak mertuanya, yang kemudian wilayah kekuasaannya dia berikan nama dengan Kerajaan Jeumpa, sesuai dengan nama negeri asalnya di India Belakang (Persia) yang bernama ”Champia”, yang artinya harum, wangi dan semerbak. Menurut silsilah keturunan Sultan-Sultan Melayu, yang dikeluarkan oleh Kerajaan Brunei Darussalam dan Kesultanan Sulu-Mindanao, Kerajaan Islam Jeumpa dipimpin oleh seorang Pangeran dari Parsia (India Belakang ?) yang bernama Syahriansyah Salman atau Sasaniah Salman yang kawin dengan Puteri Mayang Seulodong dan memiliki beberapa anak, antara lain Syahri Poli, Syahri Tanti, Syahri Nuwi, Syahri Dito dan Makhdum Tansyuri yang menjadi ibu daripada Sultan pertama Kerajaan Islam Perlak yang berdiri pada tahun 805 Masehi. Menurut penelitian Sayed Dahlan al-Habsyi, Syahri adalah gelar pertama yang digunakan keturunan Nabi Muhammad di Nusantara sebelum menggunakan gelar Meurah, Habib, Sayid, Syarief, Sunan, Teuku dan lainnya. Syahri diambil dari nama istri Sayyidina Husein bin Ali, Puteri Syahribanun, anak Maha Raja Parsia terakhir yang ditaklukkan Islam. Sampai saat ini, penulis belum menemukan silsilah keturunan Pengeran Salman ke atas, apakah beliau termasuk dari keturunan Nabi Muhammad saw atau murni keturunan raja-raja Parsia yang telah memeluk Islam. Karena di silsilah yang dikeluarkan Kesultanan Brunei dan Kesultanan Sulu tidak disebutkan asal keturunannya. Namun menurut pengamatan pakar sejarah Aceh, Sayed Dahlan alHabsyi, beliau adalah termasuk keturunan Sayyidina Husein ra. Karena (i) beliau memberikan gelar Syahri kepada anak-anaknya, yang jelas menunjuk kepada moyang perempuannya Puteri Syahr Banun, Puteri Maharaja Kerajaan Parsi yang menjadi istri Sayyidina Husein bin Sayyidah Fatimah bin Muhammad Rasulullah saw (ii) beliau mengawinkan anak perempuannya dengan cucu Imam Ja’far Sadiq, yang menjadi tradisi para Sayid sampai saat ini (iii) anak beliau, Syahri Nuwi adalah patron dari rombongan Nakhoda Khalifah, bahkan ada yang menganggap kedatangan rombongan ini atas permintaan Syahri Nuwi untuk mengembangkan kekuatan Ahlul Bayt atau keturunan Nabi saw di Nusantara setelah mendapat pukulan di Arab dan Parsia. Itulah sebabnya, hubungan Syahri Nuwi dengan rombongan Nakhoda Khalifah yang bermazhab Syi’ah sangat dekat dan menganggap mereka sebagai bagian keluarga.

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

47

Terlepas dari perbedaan nama Raja pertama dari Kerajaan Islam Jeumpa tersebut, apakah Raja Abdullah atau Raja Salman, atau memang beliau menggunakan dua nama akibat menghindar dari kejaran para Penguasa Parsia yang sedang memburu pelarian keturunan Nabi, atau memang Pangeran Salman adalah bapak daripada Raja Abdullah, namun yang penting disepakati bahwa Islam telah bertapak di Kerajaan Jeumpa yang dipimpin oleh seorang Raja Muslim dan memiliki rakyat yang Muslim juga. Ini artinya Islam sudah mulai tersebar pada awal abad ke 8 atau sekitar tahun 150an Hijriah di wilayah Aceh dan memiliki hubungan dengan wilayah Islam lainnya. Hal ini jelas bertentangan dengan teori yang berkembang selama ini bahwa Islam masuk ke Aceh pada abad ke 12 Masehi dan Kerajaan Pasai adalah Kerajaan Islam pertama di Nusantara. Yang perlu dicermati, kenapa Pangeran Salman al-Parsi memilih kota kecil di wilayah Jeumpa sebagai tempat mukimnya, dan tidak memilih kota metropolitan seperti Barus, Fansur, Lamuri dan sekitarnya yang sudah berkembang pesat dan menjadi persinggahan para pedagang manca negara? Ada beberapa kemungkinan, (i) beliau diterima dengan baik oleh masyarakat Jeumpa dan memutuskan tinggal di sana, (ii) beliau merasa nyaman dan sesuai dengan penguasa (meurah), (iii) keinginan untuk mengembangkan wilayah ini setingkat Barus, Lamuri dan lainnya dan (iv) menghindar dari pandangan penguasa. Alasan terakhir ini, mungkin dapat diterima sebagai alasan utama. Mengingat Pangeran Salman adalah salah seorang pelarian politik dari Parsia yang tengah bergejolak akibat peperangan antara Keturunan Nabi saw yang didukung pengikut Syiah dengan Penguasa Bani Abbasiah masa itu (tahun 150an Hijriah). Beliau bersama para pengikut setianya memilih ujung utara pulau Sumatera sebagai tujuan karena memang daerah sudah terkenal dan sudah terdapat banyak pemeluk Islam yang mendiami perkampungan-perkampungan Arab atau Persia. Kemungkinan Jeumpa adalah salah satu pemukiman baru tersebut. Untuk menghindari pengejaran itulah, beliau memilih daerah pinggiran agar tidak terlalu menyolok dalam membangun kekuatan baru sebagai basis perjuangan Islamisasi dan membangun dinasti Ahlul Bayt di Nusantara. Itulah sebabnya, Pangeran Salman juga dikenal dengan nama-nama lainnya, seperti Meurah Jeumpa, atau ada yang mengatakan beliau sebagai Abdullah. Di bawah pemerintahan Pangeran Salman, Kerajaan Islam Jeumpa berkembang pesat menjadi sebuah kota baru yang memiliki hubungan luas dengan KerajaanKerajaan besar lainnya. Potensi, karakter, pengetahuan dan pengalaman Pangeran Salman sebagai seorang bangsawan calon pemimpin di Kerajaan maju dan besar seperti Persia yang telah mendapat pendidikan khusus sebagaimana lazimnya Pangeran Islam, tentu telah mendorong pertumbuhan Kerajaan Jeumpa menjadi salah satu pusat pemerintahan dan perdagangan yang berpengaruh di sekitar pesisir utara pulau Sumatra. Jeumpa sebagai Kerajaan Islam pertama di Nusantara memperluas hubungan diplomatik dan perdagangannya dengan Kerajaan-Kerajaan lainnya, baik di sekitar Pulau Sumatera atau negeri-negeri lainnya, terutama Arab dan Cina. Banyak tempat di sekitar Jeumpa berasal dari bahasa Parsi, yang paling jelas adalah Bireuen, yang artinya kemenangan, sama dengan makna Jayakarta, asal nama Jakarta yang didirikan Fatahillah, yang dalam bahasa Arab semakna, Fath mubin, kemenangan yang nyata.

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

48

Untuk mengembangkan Kerajaannya, Pangeran Salman telah mengangkat anakanaknya menjadi Meurah-Meurah baru. Ke wilayah barat, berhampiran dengan BarusFansur-Lamuri yang sudah berkembang terlebih dahulu, beliau mengangkat anaknya, Syahri Poli menjadi Meurah mendirikan Kerajaan Poli yang selanjutnya berkembang menjadi Kerajaan Pidie. Ke sebelah timur, beliau mengangkat anaknya Syahr Nawi sebagai Meurah di sebuah kota baru bernama Perlak pada tahun 804. Namun dalam perkembangannya, Kerajaan Perlak tumbuh pesat menjadi kota pelabuhan baru terutama setelah kedatangan rombongan keturunan Nabi yang dipimpin Nakhoda Khalifah berjumlah 100 orang. Syahr Nuwi mengawinkan adiknya Makhdum Tansyuri dengan salah seorang tokoh rombongan tersebut bernama Ali bin Muhammad bin Jafar Sadik, cicit kepada Nabi Muhammad saw. Dari perkawinan ini lahir seorang putra bernama Sayyid Abdul Aziz, dan pada 1 Muharram 225 H atau tahun 840 M dilantik menjadi Raja dari Kerajaan Islam Perlak dengan gelar Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Azis Syah. Melalui jalur perkawinan ini, hubungan erat terbina antara Kerajaan Islam Jeumpa dengan Kerajaan Islam Perlak. Karena wilayahnya yang strategis Kerajaan Islam Perlak akhirnya berkembang menjadi sebuah Kerajaan yang maju menggantikan peran dari Kerajaan Islam Jeumpa. Setelah tampilnya Kerajaan Islam Perlak sebagai pusat pertumbuhan perdagangan dan kota pelabuhan yang baru, peran Kerajaan Islam Jeumpa menjadi kurang menonjol. Namun demikian, Kerajaan ini tetap eksis, yang mungkin berubah fungsi sebagai sebuah kota pendidikan bagi kader-kader ulama dan pendakwah Islam. Karena diketahui bahwa Puteri Jeumpa yang menjadi ibunda Raden Fatah adalah keponakan dari Sunan Ampel. Berarti Raja Jeumpa masa itu bersaudara dengan Sunan Ampel. Sementara Sunan Ampel adalah keponakan dari Maulana Malik Ibrahim, yang artinya kakek, mungkin kakek saudara dari Puteri Jeumpa. Maka dari hubungan ini dapat dibuat sebuah kesimpulan bahwa, para wali memiliki hubungan dengan Kerajaan Jeumpa yang boleh jadi Jeumpa masa itu menjadi pusat pendidikan bagi para ulama dan pendakwah Islam Nusantara. Namun belum ditemukan data tentang masalah ini. Setelah berdirinya beberapa Kerajaan Islam baru sebagai pusat Islamisasi Nusantara seperti Kerajaan Islam Perlak (840an) dan Kerajaan Islam Pasai (1200an), Kerajaan Islam Jeumpa yang menjalin kerjasama diplomatik tetap memiliki peran besar dalam Islamisasi Nusantara, khususnya dalam penaklukkan beberapa kerajaan besar Jawa-Hindu seperti Majapahit misalnya. Di kisahkan bahwa Raja terakhir Majapahit, Brawijaya V memiliki seorang istri yang berasal dari Jeumpa (Champa), yang menurut pendapat Raffless berada di wilayah Aceh dan bukan di Kamboja sebagaimana difahami selama ini. Puteri cantik jelita yang terkenal dengan nama Puteri Jeumpa (Puteri Champa) ini adalah anak dari salah seorang Raja Muslim Jeumpa yang juga keponakan dari pemimpin para Wali di Jawa, Sunan Ampel dan Maulana Malik Ibrahim. Mereka adalah para Wali keturunan Nabi Muhammad yang dilahirkan, dibesarkan dan dididik di wilayah Aceh, baik Jeumpa, Perlak, Pasai, Kedah, Pattani dan sekitarnya. Dan merekalah konseptor penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit dengan gerakannya yang terkenal dengan sebutan Wali Songo atau Wali Sembilan. Perkawinan Puteri Muslim Jeumpa Aceh dengan Raja terakhir Majapahit melahirkan Raden Fatah, yang dididik dan dibesarkan oleh para Wali, yang selanjutnya dinobatkan sebagai Sultan pada Kerajaan Islam Demak, yang ketahui sebagai Kerajaan Islam pertama di pulau

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

49

Jawa. Kehadiran Kerajaan Islam Demak inilah yang telah mengakhiri riwayat kegemilangan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit. Sejarah ini dapat diartikan sebagai keberhasilan strategi Kerajaan Islam Jeumpa Aceh yang kala itu sudah berafiliasi dengan Kerajaan Islam Pasai yang telah menggantikan peranan Kerajaan Islam Perlak dalam menaklukkan dan mengalahkan sebuah kerajaan besar Jawa-Hindu Majapahit dan mengakhiri sejarahnya dan menjadikan pulau Jawa sebagai wilayah kekuasaan Islam di bawah Kerajaan Islam Demak yang dipimpin oleh Raden Fatah, yang ibunya berasal dari Kerajaan Jeumpa di Aceh. Jadi dapat dikatakan bahwa, Kerajaan Jeumpa Acehlah yang telah mengalahkan dominasi Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit dengan strategi penaklukan lewat perkawinan yang dilakukan oleh para Wali Sembilan, yang memiliki garis hubungan dengan Jeumpa, Perlak, Pasai ataupun Kerajaan Aceh Darussalam. Setelah Kerajaan Islam Perlak yang berdiri pada tahun 805 Masehi tumbuh dan berkembang, maka pusat aktivitas Islamisasi nusantarapun berpindah ke wilayah ini. Dapat dikatakan bahwa Kerajaan Islam Perlak adalah kelanjutan atau pengembangan daripada Kerajaan Islam Jeumpa yang sudah mulai menurun peranannya. Namun secara diplomatik kedua Kerajaan ini merupakan sebuah keluarga yang terikat dengan aturan Islam yang mengutamakan persaudaraan. Apalagi para Sultan adalah keturunan dari Nabi Muhammad yang senantiasa mengutamakan kepentingan agama Islam di atas segala kepentingan duniawi dan diri mereka. Bahkan dalam silsilahnya, Sultan Perlak yang ke V berasal dari keturunan Kerajaan Islam Jeumpa.

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

50

Putro Jeumpa Dewi Manyang Seuludang: Maha Ratu Islam Pertama Nusantara
Menurut penelitian terkini para ahli sejarah, diketahui bahwa sebelum datangnya Islam pada awal abad ke 7 M, Dunia Arab dengan Dunia Melayu-Sumatra sudah menjalin hubungan dagang yang erat sejak 2000 tahun SM atau 4000 tahun lalu. Hal ini sebagai dampak hubungan dagang Arab-Cina melalui jalur laut yang telah menumbuhkan perkampungan-perkampungan Arab, Parsia, Hindia dan lainnya di sepanjang pesisir pulau Sumatera. Karena letak geografisnya yang sangat strategis di ujung barat pulau Sumatra, menjadikan wilayah Aceh sebagai kota pelabuhan transit yang berkembang pesat, terutama untuk mempersiapkan logistik dalam pelayaran yang akan menempuh samudra luas perjalanan dari Cina menuju Persia ataupun Arab. Di antara pelabuhan transito sekaligus kota perdagangan adalah Barus, Fansur, Lamri, Jeumpa dan lainnya dengan komuditas unggulan seperti kafur, yang memiliki banyak manfaat dan kegunaan. Komuditas ini telah melambungkan wilayah asalnya dalam jajaran kota pertumbuhan peradaban dunia. ”Kafur Barus”, ”Kafur Fansur”, ”Kafur Barus min Fansur” yang telah menjadi idiom kemewahan para Raja dan bangsawan di Yunani, Romawi, Mesir, Persia dan lainnya. Kedudukan Barus-Fansur lebih kurang seperti kedudukan Paris saat ini yang terkenal dengan inovasi minyak wangi mewahnya. Kerajaan Jeumpa Aceh, berdasarkan Ikhtisar Radja Jeumpa yang di tulis Ibrahim Abduh, yang disadurnya dari hikayat Radja Jeumpa adalah sebuah Kerajaan yang benar keberadaannya pada sekitar abad ke 7 Masehi yang berada di sekitar daerah perbukitan mulai dari pinggir sungai Peudada di sebelah barat sampai Pante Krueng Peusangan di sebelah timur. Istana Raja Jeumpa terletak di desa Blang Seupeueng yang dipagari di sebelah utara, sekarang disebut Cot Cibrek Pintoe Ubeuet. Masa itu Desa Blang Seupeueng merupakan permukiman yang padat penduduknya dan juga merupakan kota bandar pelabuhan besar, yang terletak di Kuala Jeumpa. Dari Kuala Jeumpa sampai Blang Seupeueng ada sebuah alur yang besar, biasanya dilalui oleh kapal-kapal dan perahu-perahu kecil. Alur dari Kuala Jeumpa tersebut membelah Desa Cot Bada langsung ke Cot Cut Abeuk Usong atau ke ”Pintou Rayeuk” (pintu besar). Menurut legenda yang berkembang di sekitar Jeumpa, sebelum kedatangan Islam di daerah ini sudah berdiri salah satu Kerajaan Hindu Purba Aceh yang dipimpin turun temurun oleh seorang Meurah dan negeri ini sudah dikenal di seluruh penjuru dan mempunyai hubungan perdagangan dengan Cina, India, Arab dan lainnya. Sekitar awal abad ke 8 Masehi datanglah seorang pemuda tampan yang dikenal dengan Shahrianshah Salman al-Farisi atau Sasaniah Salman Al-Farisi sebagaimana disebut dalam Silsilah keturunan Sultan-Sultan Melayu, yang dikeluarkan oleh Kerajaan Brunei Darussalam dan Kesultanan Sulu-Mindanao dan juga disebutkan dalam Silsilah RajaRaja Aceh Darussalam oleh Dinas Kebudayaan NAD. Sebagian ahli sejarah menghubungkan silsilah Pangeran Salman dengan keturunan dari Sayyidina Hussein ra cucunda Nabi Muhammad Rasulullah saw yang telah menikah dengan Puteri Maharaja

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

51

Parsia bernama Syahribanun. Dari perkawinan inilah kemudian berkembang keturunan Rasulullah yang telah menjadi Ulama, Pemimpin Spiritual dan Sultan di Dunia Islam, termasuk Nusantara, baik di Aceh, Pattani, Sumatera, Malaya, Brunei sampai ke Filipina dan Kepulauan Maluku. Dikisahkan Pangeran Salman memasuki pusat Kerajaan di kawasan Blang Seupeueng dengan kapal niaga dengan segala awak, perangkat dan pengawal serta muatannya yang datang dari Parsi untuk berdagang dan utamanya berdakwah mengembangkan ajaran Islam, sebagai sebuah misi utama para keturunan Rasulullah saw. Dia memasuki negeri Blang Seupeueng melalui laut lewat Kuala Jeumpa. Sang Pangeran sangat tertarik dengan kemakmuran, keindahan alam dan keramahan penduduknya. Selanjutnya beliau tinggal bersama penduduk dan menyiarkan agama Islam yang telah menjadi anutan nenek moyangnya di Parsia. Rakyat di negeri tersebut dengan mudah menerima Islam karena tingkah laku, sifat dan karakternya yang sopan dan sangat ramah. Apalagi beliau adalah seorang Pangeran dari negara maju Parsia yang terkenal kebesaran dan kemajuannya masa itu. Keutamaan dan kecerdasan yang dimiliki Pangeran Salman yang tentunya telah mendapat pendidikan terbaik di Parsia negeri asalnya, sangat menarik perhatian Meurah Jeumpa dan mengangkatnya menjadi orang kepercayaan Kerajaan. Karena keberhasilannya dalam menjalankan tugas-tugasnya, akhirnya Pangeran Salman dinikahkan dengan puteri Raja dan dinobatkan menjadi Raja menggantikan bapak mertuanya. Setelah menjadi Raja, wilayah kekuasaannya diberikan nama dengan Kerajaan Jeumpa, sesuai dengan nama negeri asalnya di Persia yang bernama ”Champia”, yang artinya harum, wangi dan semerbak. Sejak saat Kerajaan Islam Jeumpa terkenal dan berkembang pesat menjadi kota perdagangan dan transit bagi pedagangpedagang Arab, Cina, India dan lainnya. Kerajaan Jeumpa menjadi maju dan makmur sekaligus menjadi pusat penyebaran Islam di wilayah Sumatra bahkan Nusantara. Shahrianshah Salman al-Farisi memproklamirkan Kerajaan Islam Jeumpa pada tahun 156 H atau sekitar tahun 770 an M. Maka tidak diragukan, Kerajaan Jeumpa adalah Kerajaan Islam pertama di seluruh Nusantara. Tentu di balik kesuksesan Pangeran Salman membangun dan memimpin Kerajaan Jeumpa, di dukung oleh seorang Maha Ratu yang sangat berperan, karena sebagaimana pepatah menyebutkan di setiap keberhasilan lelaki, pasti ada perempuan yang mendukung keberhasilannya. Siapakah wanita agung yang telah mendukung kegemilangan Maha Raja Jeumpa yang berhasil sebagai pendiri Kerajaan Islam pertama di Nusantara ini? Menurut Silsilah Sultan Melayu dan Silsilah Raja Aceh, beliau tidak lain adalah Putro Manyang Seulodong atau ada yang menyebutnya dengan Dewi Ratna Keumala, anak Meurah Jeumpa yang cantik rupawan serta cerdas dan berwibawa. Putro Jeumpa inilah yang telah mendukung karir dan perjuangan suaminya sehingga berhasil mengembangkan sebuah Kerajaan Islam yang berwibawa, yang selanjutnya telah melahirkan Kerajaan Islam di Perlak, Pasai, Pedir dan Aceh Darussalam. Tidak semua Puteri Raja menjadi pendukung keberhasilan suaminya, bahkan ada yang menjadi penyebab kehancurannya. Ingatlah sosok Cleopatra, Sang Maha Ratu Mesir yang penuh intrik dan telah menghancurkan karir Penakluk Agung Yulius Ceaser. Karena Yulius menikahi Cleopatra, maka karirnya sebagai Penguasa Agung atau Kaisar Agung Romawi hancur, dia dikhianati oleh pendukung dan pemujanya,

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

52

bahkan rakyatnya sendiri melecehkannya karena membawa Cleopatra ke Romawi. Akhirnya Yulius yang diagungkan dipecat senat Romawi bahkan dibantai oleh anggota Senat dihadapan dewan terhormat tersebut tanpa pembelaaan. Demikian pula yang telah menimpa Anthony, pengganti Yulius karena nekad menikahi Cleopatra, karirnya hancur dan bunuh diri di Mesir akibat intrik Cleopatra yang penuh tipu daya. Putro Manyang Seuludong bukanlah Cleopatra yang penuh intrik dan tipudaya, walaupun sama-sama Maha Ratu yang memiliki kekuasaan besar terhadap Kerajaan dan rakyatnya. Jika Cleopatra menggunakan kekuasaan, kecantikan dan kecerdasannya untuk memperdaya Yulius dan Anthony serta menghancurkannya, namun Putro Jeumpa ini menggunakannya untuk mendukung kesuksesan suaminya tercinta Pangeran Salman. Bersama suaminya, Sang Maha Ratu Jeumpa ini bahu membahu memajukan Kerajaannya sehingga menjadi sebuah Kerajaan yang terkenal di dunia internasional dan menjadi kota persinggahan para pedagang-pedagang dari Arab, Parsia, Cina, India dan lainnya. Apalagi geografi Jeumpa sangat strategis yang berdekatan dengan Barus, Lamuri, Fansur yang lebih dahulu berkembang di ujung barat pulau Sumatra. Menurut hasil observasi terkini di sekitar daerah yang diperkirakan sebagai tapak Maligai Kerajaan Jeumpa sekitar 80 meter ke selatan yang dikenal dengan Buket Teungku Keujereun, ditemukan tapak bangunan istana dan beberapa barang peninggalan kerajaan, seperti kolam mandi kerajaan seluas 20 x 20 m, kaca jendela, porselin dan juga ditemukan semacam cincin dan kalung rantai yang panjangnya sampai ke lutut dan anting sebesar gelang tangan. Semua ini tentu menggambarkan kemakmuran dan kemajuan dari Kerajaan Jeumpa 14 abad silam. Maha Ratu Manyang Seuludong bukan hanya berhasil menjadi pendamping suaminya dalam membangun Kerajaan Jeumpa, tetapi juga berhasil menjadi seorang pendidik agung yang telah melahirkan anak-anak yang melanjutkan perjuangannya menyebarkan dakwah Islamiyah. Sebagai seorang ibu, sudah sepatunya Maha Ratu Jeumpa ini dibanggakan, karena telah berhasil mencetak pemimpin-pemimpin agung untuk agama dan bangsanya. Sang Maha Ratu dikaruniai beberapa orang anak yang menjadi Raja dan Ratu yang sangat berpengaruh dalam perjalanan sejarah pengembangan Islam Nusantara. Anak beliau bernama Syahri Poli adalah pendiri dari Kerajaan Poli yang selanjutnya berkembang menjadi Kerajaan Pidier di wilayah Pidie sekarang yang wilayah kekuasaannya sampai ujung barat Sumatera. Syahri Tanti mengembangkan kerajaan yang selanjutnya menjadi asas perdirinya Kerajaan Samodra-Pasai. Syahri Dito, yang melanjutkan mengembangkan Kerajaan Jeumpa. Syahri Nuwi menjadi Meurah dan pendiri dari Kerajaan Perlak. Sementara putrinya Makhdum Tansyuri adalah ibu dari Sultan pertama Kerajaan Islam Perlak, Maulana Abdul Aziz Syah yang diangkat pada tahun 840 Masehi. Kecerdasan dan kecantikan Putro Jeumpa ini telah diwariskan kepada keturunannya yang menjadi lambang keagungan putri-putri Islam yang berjiwa penakluk dalam memperjuangkan tegaknya Islam di bumi Nusantara. Tidak diragukan bahwa Putro Manyang Seuludong telah menjadi inspirasi bagi perjuangan para Ratu dan putro-putro Jeumpa sesudahnya. Dari keturunan beliaulah telah berkembang puteri-puteri Jeumpa yang terkenal kecantikan dan kecerdasannya ke seluruh kerajaan

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

53

di Nusantara. Puteri-puteri Jeumpa telah menjadi lambang kewibawaan para Ratu Islam di istana-istana Perlak, Pasai, Malaka bahkan sampai Majapahit sekalipun. Itulah sebabnya dalam perjalanan sejarah Aceh, senantiasa dipenuhi dengan wanita-wanita agung yang berjiwa patriotik dan penakluk serta membuat sejarah kegemilangannya masing-masing yang tidak pernah dicapai oleh wanita-wanita lainnya di Nusantara, bahkan di negeri Arab sekalipun. Dalam sejarah Aceh selanjutnya, tidak diragukan Putro Jeumpa Manyang Seuludong telah memberikan inspirasi kepada anak keturunannya, dan telah melahirkan wanita-wanita agung yang sangat berpengaruh dan memiliki kharisma serta kecantikan. Di antaranya adalah Maha Ratu Kerajaan Perlak bernama Makhdum Tansyuri (ibunda Maulana Abdul Aziz Syah, Sultan Perlak pertama), Maha Ratu Kerajaan Pasai bernama Nahrishah, Maha Ratu Darwati (Dhawarawati) yang menjadi Maha Ratu Majapahit (ibunda Raden Fatah, Sultan Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa bernama Demak), Maha Ratu Tajul Alam Safiatuddin yang menjadi Maha Ratu Kerajaan Aceh Darussalam. Di samping itu ada yang menjadi panglima agung yang ditakuti musuh, seperti Laksamana Malahayati, Tjut Nyak Dhien, Tjut Muetia dan lainlainnya. Sepatutnya wanita-wanita agung inilah yang menjadi teladan bagi mereka yang memperjuangkan emansipasi wanita di Serambi Mekah ini. Bahwa kenyataannya, sebelum Barat melaungkan emansipasi, wanita-wanita Aceh telah menikmati kesetaraannya secara maksimal sebagai seorang Maha Ratu dan Panglima Tertinggi di bawah naungan kesempurnaan ajaran Islam, ketika wanita-wanita Barat masih dianggap sebagai budak pemuas oleh kaum lelakinya. Wajarlah jiwa wanita-wanita Barat itu menuntut haknya, tapi kenapa wanita Aceh membeo mengikutinya? Itulah paradoksnya, terkadang kita bangga dengan budaya dan sejarah asing namun melupakan keagungan budaya dan sejarah sendiri.

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

54

Kerajaan Islam Perlak
Setelah dewasa Syahri Nuwi, salah seorang anak Pengeran Salman, Raja Kerajaan Islam Jeumpa, berhasil mengembangkan sebuah perkampungan pelabuhan yang dihuni para pedagang keturunan Arab, Parsi, India dan lainnya di sekitar wilayah Perlak yang pada waktu itu sekitar tahun 805 menjadi sebuah kota pelabuhan yang sedang berkembang pesat. Dengan bimbingan dari ayahnya, Syahri Nuwi kemudian berhasil mengembangkan pelabuhan kecil ini menjadi sebuah bandar baru yang banyak disinggahi para pedagang dari seluruh penjuru dunia, terutama dari Arab, Persia, India dan Cina. Sejak saat itu, Bandar Perlak menjadi salah satu bandar terpenting di pulau Sumatra, bahkan menggantikan peranan Bandar Fansur ataupun Barus sebagai tempat persinggahan para pedagang yang belayar dari Cina menuju Arab maupun Eropa. Kepemimpinannya yang menonjol telah mengantarkan Syahri Nuwi menjadi penguasa baru di Kerajaan yang diberikannya nama dengan Kerajaan Peureulak (Perlak) dengan gelar Meurah Syahri Nuwi. Di bawah kepemimpinannya masyarakat Muslim di daerah ini mengalami perkembangan yang cukup pesat, terutama sekali lantaran banyak terjadinya perkawinan di antara saudagar Muslim dengan wanita-wanita setempat, sehingga melahirkan keturunan dari percampuran darah Arab dan Persia dengan putri-putri Perlak. Keadaan ini membawa pada berdirinya kerajaan Islam Perlak pertama, pada hari selasa bulan Muharram, 840 M. Sultan pertama kerajaan ini merupakan keturunan Arab Quraisy bernama Maulana Abdul Azis Syah, bergelar Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Azis Syah. Menurut Wan Hussein Azmi, pedagang Arab dan Persia tersebut termasuk dalam golongan Syi'ah.56 Wan Hussein Azmi dalam Islam di Aceh mengaitkan kedatangan mereka dengan Revolusi Syi'ah yang terjadi di Persia tahun 744-747. Revolusi ini di pimpin Abdullah bin Mu'awiyah yang masih keturunan Ja'far bin Abi Thalib. Bin Mu'awiyah telah menguasai kawasan luas selama dua tahun (744-746) dan mendirikan istana di Istakhrah sekaligus memproklamirkan dirinya sebagai raja Madian, Hilwan, Qamis, Isfahan, Rai, dan bandar besar lainnya. Akan tetapi ia kemudian dihancurkan pasukan Muruan di bawah pimpinan Amir bin Dabbarah tahun 746 dalam pertempuran Maru Sydhan. Kemudian banyak pengikutnya yang melarikan diri ke Timur Jauh. Para ahli sejarah berpendapat, mereka terpencar di semenanjung Malaysia, Cina, Vietnam, dan Sumatera, termasuk ke Perlak. Pendapat Wan Hussein Azmi itu diperkaya dan diperkuat sebuah naskah tua berjudul Idharul Haqq fi Mamlakatil Ferlah w'l-Fasi, karangan Abu Ishak Makarni alFasy, yang dikemukakan Prof. A. Hasjmi. Dalam naskah itu diceritakan tentang pergolakan sosial-politik di lingkungan Daulah Umayah dan Abbasiyah yang kerap
56

Wan Huseein Azmi, Islam di Aceh, op.cit.

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

55

menindas pengikut Syi'ah. Pada masa pemerintahan Khalifah Makmun bin Harun alRasyid (813-833), seorang keturunan Ali bin Abi Thalib, bernama Muhammad bin Ja'far Shadiq bin Muhammad Baqr bin Zaenal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, memberontak terhadap Khalifah yang berkedudukan di Baghdad dan memproklamirkan dirinya sebagai khalifah yang berkedudukan di Makkah. Khalifah Makmun berhasil menumpasnya. Tapi Muhammad bin Ja'far Shadiq dan para tokoh pemberontak lainnya tidak dibunuh, melainkan diberi ampunan. Makmun menganjurkan pengikut Syi'ah itu meninggalkan negeri Arab untuk meluaskan dakwah Islamiyah ke negeri Hindi, Asia Tenggara, dan Cina. Anjuran itu pun lantas dipenuhi. Sebuah Angkatan Dakwah beranggotakan 100 orang pimpinan Nakhoda Khalifah yang kebanyakan tokoh Syi'ah Arab, Persia, dan Hindi ---termasuk Muhammad bin Ja'far Shadiq--- segera bertolak ke timur dan tiba di Bandar Perlak pada waktu Syahir Nuwi menjadi Meurah (Raja) Negeri Perlak. Syahir Nuwi kemudian menikahkan Ali bin Muhammad bin Ja'far Shadiq dengan adik kandungnya, Makhdum Tansyuri. Dari perkawinan ini lahir seorang putra bernama Sayyid Abdul Aziz, dan pada 1 Muharram 225 H dilantik menjadi Raja dari kerajaan Islam Perlak dengan gelar Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Azis Syah.57 Pertanyaannya adalah, kenapa rombongan Nakhoda Khalifah yang dipimpin oleh para Keturunan Nabi Muhammad saw dan para pendukung setianya, baik dari Arab maupun Persia, yang datang dari Semenanjung Arabia itu memilih Perlak sebagai persinggahannya? Apakah mereka datang secara kebetulan dan mendarat sekenanya di Perlak kemudian berhasil merebut hati Meurah Perlak, dan selanjutnya keturunan mereka menjadi Sultan? Menurut analisis penulis, bahwa kedatangan rombongan ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah belaka. Namun merupakan sebuah perencanaan besar dari para pemimpin Ahlul Bayt saat itu yang sedang mencari wilayah baru bagi perkembangan Islam dan tentunya sebuah kerajaan yang mampu melindungi eksisitensi Ahlul Bayt sebagai sebuah entitas yang diamanahkan Allah dan Rasul-Nya sebagai penjaga Islam sepanjang masa. Dalam sebuah hadits (hadits tsaqolain) yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah saw bersabda agar pengikutnya berpegang teguh kepada dua perkara supaya tidak sesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah (al-Qur’an dan Sunnah) dan Itrah (Ahlul Bayt/keturunannya). Dua perkara inilah yang menjadi penghubung antara Rasulullah dengan umatnya, sehingga mereka diwajibkan membaca shalawat untuk beliau dan keluarga keturunannya. Karena Ahlul Bayt diamanahkan sebagai benteng utama Islam oleh Allah dan Rasul-Nya dan ummat diperintahkan untuk mencintai, menghormati dan berpegang teguh kepadanya, maka sejak awal kebangkitan Islam para Itrah Rasul mendapat kehormatan dan kedudukan masyarakat Muslim dimanapun mereka datang, baik di Persia, Afrika, Mesir, India, Cina dan tentunya termasuk di alam Nusantara. Apalagi di sepanjang pulau pesisir pulau Sumatra sudah tumbuh perkampunganperkampungan Arab ataupun Parsia sebelum kedatangan Islam, yang nantinya menjadi pendorong lahirnya Kerajaan Islam setelah kedatangan Islam yang dibawa para pedagang Muslim.
57

ibid

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

56

Ahli sejarah telah mencatat beberapa dinasti Kerajaan Ahlul Bayt Nusantara, baik di wilayah Sumatera, Semenanjung Melayu, Borneo-Kalimantan, Jawa, Sulawesi sampai ke Maluku dan Papua sekarang. Ditengarai, generasi awal datang dari Persia sekitar akhir abad pertama Hijriah atau sekitar abad VII Masehi, yang mendirikan kerajaan di sekitar Aceh-Sumatra, yang menjadi cikal bakal Kerajaan Perlak dan Pasai. Jika diurut silsilah para Sultan di Nusantara, sebagian besar akan bertemu pada jalur Imam Ja’far Sadiq yang sampai kepada Sayyidina Husein bin Sayyidah Fatimah binti Rasulullah saw, baik Maulana Abdul Aziz Syah (Perlak), Sultan Malik al-Shalih (Pasai), Mughayat Syah (Aceh), Syarif Hidayatullah (Banten), Sultan Wan Abdullah (Kelantan) dan lain-lainnya. Dan tidak diragukan, sebagaimana diperintahkan Allah dan RasulNya, diantara mereka senantiasa memelihara kekerabatan dan saling topang menopang dalam menegakkan Islam dalam sebuah jaringan Ahlul Bayt. Tokoh-tokoh Ahlul Bayt yang sudah memegang kekuasaan segera akan memberikan bantuan kepada yang lainnya. Ketika Ahlul Bayt di Semenanjung Arabia tengah mendapat kesulitan pada zaman Maulana Muhammad bin Ja’far Shidiq, maka segera keluarga mereka yang sudah mapan meminta kedatangan mereka ke Perlak yang tengah membangun kekuatan baru di bawah pimpinan generasi yang lebih awal datang, dalam hal ini Syahri Nuwi anak daripada Pangeran Salman yang datang dari Persia, yang tidak diragukan memiliki hubungan kekerabatan dengan rombongan yang datang. Itulah sebabnya Syahri Nuwi menikahkan adiknya Makhdum Tansyuri dengan Maulana Ali bin Muhammad bin Ja’far Shidiq. Perkawinan dua keluarga besar Ahlul Bayt ini telah melahirkan generasi baru, Maulana Abdul Aziz, yang dinobatkan menjadi Sultan pertama Kerajaan Islam Perlak, yang akhirnya menjadi pusat pergerakan Islamisasi di Nusantara, sekaligus menjadi penghubung dengan dinasti-dinasti Ahlul Bayt di seluruh dunia. Dan tidak diragukan bahwa perkembangan Kerajaan Perlak menjadi sebuah kota kosmopolitan baru di pesisir pulau Sumatra tidak lain disebabkan oleh kedatangan para pendukung Ahlul Bayt dari seluruh penjuru dunia untuk membesarkan Kerajaan Islam di Nusantara ini. Dengan segala kepakaran, pengetahuan, jaringan, logistik dan potensi lainnya yang mereka miliki, mereka curahkan untuk membangun sebuah pusat pergerakan baru bagi pertumbuhan Islam di Nusantara khususnya. Berbeda halnya dengan Kerajaan Islam Jeumpa yang didirikan lebih awal oleh para Ahlul Bayt secara sembunyi dan tidak diekspose, Kerajaan Perlak didirikan dengan kemegahan dan terang-terangan memberikan gelar Sayyid Maulana kepada Sultannya, sebagai sebuah proklamasi Kerajaan yang dipimpin Ahlul Bayt. Selanjutnya kegemilangan Kerajaan Islam Perlak dipimpin oleh Sultan keturunan dari Maulana Muhammad bin Ja’far Shadiq dan secara berganti dilanjutkan oleh keturunan dari Syahri Nuwi yang telah menggunakan gelar Makhdum, yang juga merupakan keluarga besar Ahlul Bayt. Terkadang para peneliti sejarah Islam terjebak dalam kebingungan peristilahan ini, akibat ketidakfahaman mereka dengan jaringan keluarga Ahlul Bayt yang sangat mengutamakan kekerabatan dan silaturrahmi di kalangan mereka. Pergantian dari satu Sultan dengan Sultan lainnya adalah hal yang biasa dalam dinamika kekuasaan Ahlul Bayt yang mengutamakan kualitas personal pemimpinnya. Contoh nyata adalah

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

57

bagaimana Syahri Nuwi rela menyerahkan kepemimpinan Kerajaan Perlak yang berkembang pesat kepada keponakannya, Maulana Abdul Aziz, dan setelah beberapa generasi Perlak dipimpin oleh keturunan Makhdum dari keluarga Syahri Nuwi kembali. Hal ini dinilai sebagai sebuah perebutan kekuasaan diantara para Sultan jika tidak dilihat dari sebuah perancangan besar dinasti Ahlul Bayt secara menyeluruh yang memiliki hirarki dan kepemimpinan spiritual sambung menyambung. Kerajaan Perlak telah menjadi basis Islamisasi Nusantara pada zamannya yang berhasil mengirim para pendakwah dan pembimbing Islam ke penjuru Nusantara. Namun sejauh ini, Kerajaan Perlak belum berhasil secara totalitas mengsilamkan beberapa Kerajaan Hindu-Budha di tanah Jawa yang menjadi penghalang utama Islamisasi Nusantara. Namun Kerajaan Islam Perlak telah berhasil membangun infrastruktur dan jaringan Islamisasi yang akan memudahkan Kerajaan Islam selanjutnya dalam mengislamisasikan Nusantara, sekaligus menghancurkan dominasi Kerajaan Hindu-Budha di tanah Jawa dan sekitarnya. Pada saat bersamaan, telah tumbuh pula pusat-pusat bandar Islam berpotensi yang dikembangkan oleh para keturunan dinasti Ahlul Bayt terdahulu, diantaranya adalah Pasai, yang akan melanjutkan peranan Kerajaan Islam Perlak sebagai pusat Islamisasi Nusantara. Para Sultan Perlak :
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18.

Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Azis Syah (840 – 864) Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Rahim Syah (864 – 888) Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abbas Syah (888 – 913) Sultan Alaiddin Sayid Maulana Ali Mughat Syah (915 – 918) Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Kadir Syah Johan Berdaulat (928 – 932) Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah Johan Berdaulat (932 – 956) Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Syah Johan Berdaulat (956 – 983) Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat (986 – 1023) Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Syah Johan Berdaulat (1023 – 1059) Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mansur Syah Johan Berdaulat (1059 – 1078) Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdullah Syah Johan Berdaulat (1078 – 1109) Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ahmad Syah Johan Berdaulat (1109 – 1135) Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Syah Johan Berdaulat (1135 – 1160) Sultan Makhdum Alaiddin Malik Usman Syah Johan Berdaulat (1160 – 1173) Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Syah Johan Berdaulat (1173 – 1200) Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Jalil Syah Johan Berdaulat (1200 – 1230) Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat (1230 – 1267) Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat (1267 – 1292)

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

58

Kerajaan Islam Pasai
Kerajaan Islam Pasai yang juga terkenal dengan Samodra Pasai adalah sebuah Kerajaan Islam di pesisir utara pulau Sumatra. Bahkan menurut ahli sejarah, perkataan Sumatra sendiri berasal dari perkataan Samodra, yang dalam loghat Arab berbunyi Samutra, dan ketika bangsa Eropa datang menyebutnya dengan Sumatra. Sejak itulah pulau besar ini disebut dengan Sumatra yang juga menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Samodra yang berpusat di Pasai. Sementara asal kata Pasai ada yang berpendapat berasal dari bahasa Aceh Pase (pasir) atau pohon Pase. Namun penelitian yang lebih mendekati, bahwa Pasai berasal dari kata Parsi (Persia), yang dilogatkan dalam bahasa masyarakat lokal Aceh sebagai Pasee. Hal ini berkaitan dengan banyaknya orang-orang dari Persia yang bermukim menempati wilayah Pasai masa itu, sehingga dinamakan dengan Pasee sebagai kebiasaan orang dulu untuk menamakan kampung halamannyanya jika menempati wilayah baru. Seperti di Kedah ada kampung Aceh, atau di beberapa tempat terdapat nama kampung Melayu, kampung Bugis atau kampung Jawa. Pendapat kata Pasai berasal dari Parsia ini dikuatkan dengan beberapa bukti sejarah, seperti hubungan erat Kerajaan Pasai dengan Persia masa itu. Demikian pula makam-makam para Sultan Pasai sangat mirip dengan makam-makam di Persia, bahkan ditemukan huruf Arab-Persia dan beberapa ukiran dan relief yang berbau Persia. Pada makam Sultan Malik al-Saleh dan makam Sultanah Nahrishah sendiri ditemukan beberapa kalimat dalam bahasa Persia dengan tulisan kaligrafi Arab-Persia. Demikian pula silsilah para Sultan di Pasai, sebagaimana juga Sultan di Perlak menyambung dengan Pangeran dari Persia bernama Syahriansyah Salman al-Parisi yang memiliki anak Shahr Nuwi dan menjadi Sultan di Perlak, yang menjadi nenek moyang para Sultan di Pasai. Dengan demikian tidak diragukan bahwa kata Pasai (Pasee) berasal dari kata Persia. Secara silsilah kekeluargaan, tidak diragukan bahwa Kerajaan Islam Pasai adalah kelanjutan dari Kerajaan Islam Perlak yang terlebih dahulu telah didirikan oleh Meurah Shahri Nuwi putra Sharianshah Salman al-Farisi (Raja Islam Jeumpa tahun 770 M di Bireuen). Dimana Kerajaan Perlak mulai mengalami kejayaan sejak dipimpin oleh Maulana Abdul Aziz Syah pada tahun 225 H atau 840 M. Salah seorang keturunan dari Sultan Perlak dari garis Shahri Nuwi, yang dikenal dengan Sultan Malik al-Salih (w. 1297 M) yang digelar sebagai Meurah Silu mengembangkan sebuah kawasan perdagangan baru di antara Kerajaan Jeumpa dengan Kerajaan Perlak, kemudian berkembang menjadi kekuatan politik baru dengan berdirinya Kerajaan Islam Pasai. Perkembangan yang cepat Kerajaan Pasai pada akhirnya menggantikan peranan Kerajaan Islam Perlak yang mulai menurun peranannya pada awal abad ke 13 Masehi. Di sini perlu diluruskan beberapa legenda yang menyatakan bahwa Meurah Silu bukan terlahir sebagai seorang Muslim, namun dia menganut Islam sesudah menjadi Raja Pasai sebagaimana yang dinyatakan dalam Sejarah Melayu berdasarkan kepada

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

59

hikayat Raja-Raja Pasai yang diragukan kredibilitasnya. Realitas ini sungguh bertentangan dengan fakta sejarah, karena jelas silsilah Meurah Silu (Malik al-Salih) menyambung kepada keturunan Ahlul Bayt, diperkirakan menyambung dengan Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Husein bin Sayyidah Fatimah binti Muhammad saw. Fakta ini diperkuat oleh peristiwa kedatangan Nakhoda Khalifah yang dipimpin oleh Sayyid Muhammad Diba’i bin Imam Ja’far Ash-Shaqid bin Imam Muhammad Al-Baqir, diterima baik oleh Shahir Nuwi di Perlak, bahkan anak Sayyid Muhammad bernama Sayyid Ali dikawinkan dengan Saudara Shahr Nuwi bernama Makhdum Tansyuri yang melahirkan Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah. Adapun silsilah Sultan Malik al-Saleh (Meurah Silu) adalah: Sultan Malik alSaleh (Meurah Silu) putra Meurah Makhdum Malik Ahmad (Raja Jeumpa) putra Meurah Makhdum Ahmad (Raja Samalanga) putra Meurah Makhdum Malik Ibrahim (Raja Jeumpa) putra Meurah Makhdum Malik Masir (Raja Isak-Gayo II) putra Muerah Makhdum Malik Isak (Raja pertama Isak-Gayo) putra Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Syah (Sultan Perlak VII) putra Sultan Makhdum Alaiddin Muhammad Amin Syah (Sultan Perlak VI) putra Sultan Makhdum Alaiddin Abdulkadir Syah (Sultan Perlak V) putra Meurah Makhdum Ahmad (Perdana Menteri Perlak pada masa Sultan Perlak II, Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdurrahman Syah) putra Meurah Makhdum Bahrum (Perdana Menteri Perlak pada masa Sultan Perlak I, Sultan Alaiddin Maulana Sayyid Abdul Aziz Syah) putra Meurah Shahri Nuwi (pendiri Perlak) putra Sahriansyah Salman al-Parisi (Raja Islam pertama Jeumpa) yang datang dari Persia. Menurut ahli sejarah beliau adalah keturunan dari Sayyidina Husein bin Sayyidina Ali, cucu Nabi Muhammad saw yang dilahirkan di Persia dan menjadi Raja di Jeumpa Bireuen. Penelitian para ahli sejarah Ahlul Bayt, seperti Tun Suzanna dari Malaysia menyimpulkan bahwa ada 2 gelombang kedatangan keturunan Nabi saw ke Nusantara. Yang pertama langsung dari Persia, umumnya keturunan dari Imam Ja’far Shadiq yang telah menjadi petinggi di Kerajaan Persia dengan menggunakan gelar Syah (Shah), dan di Aceh dikenal dengan Syahri seperti yang digunakan oleh Pangeran Salman al-Parisi kepada anak-anaknya Shahri Nuwi, Shahri Poli, Shahri Dito, Shahri Duli. Sementara keturunan Shahri Nuwi selanjutnya menggunakan gelar Makhdum kepada keturunannya. Sementara gelombang kedua yang datang dari Yaman atau Hadramaut dari keturunan Muhammad Isa al-Muhajir, sudah menggunakan gelar Sayyid dengan tambahan dibelakang marga seperti Jamalullail, Al-Habsyi, Al-Idrus dan lainnya. Dengan demikian jelas bahwa Sultan Makhdum Malik al-Salih adalah salah seorang Ahlul Bayt Nabi Muhammad yang memiliki hubungan dekat dengan para Sultan Kerajaan Perlak maupun Jeumpa yang menjadi penggerak Islamisasi Nusantara. Itulah sebabnya tidak mengherankan apabila Sultan Malik al-Salih begitu tampil memimpin Kerajaan Pasai, kemudian memproklamirkannya sebagai pusat Islamisasi Nusantara menggantikan peranan Kerajaan Perlak atau sebelumnya Kerajaan Jeumpa. Sebelumnya Pasai adalah sebuah perkampungan yang menjadi bandar transit bagi para pedagang yang menggunakan kapal layar dari negeri Arab menuju Cina ataupun sebaliknya. Namun dengan kemunculan Kerajaan Pasai pada awal abad 13

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

60

Masehi yang dipimpin Sultan Malik al-Salih, telah terjadi perubahan drastis dalam lalu lintas perdagangan di selat Malaka. Aceh yang dahulunya dikenal sebagai daerah penghubung, kini menjadi lebih aktif dalam perdagangan. Kerajaan Pasai menjadi pusat perdagangan dalam mengekspor hasil-hasil hutan dan pertanian. Komuditas Lada adalah diantara hasil pertanian yang sangat digemari oleh orang-orang Eropa, Arab dan Cina, yang telah menaikkan nama Kerajaan Pasai di seluruh dunia yang mendorong hadirnya saudagar-saudagar asing dari seluruh dunia. Berbagai kapal dagang dari seluruh dunia datang membawa bermacam-macam dagangan untuk diperjual-belikan di pelabuhan Pasai. Di bawah kepemimpinan Sultan Malik al-Salih yang memiliki kemampuan besar kepemimpinan serta berpegang teguh pada ajaran Islam, Kerajaan Pasai berkembang pesat bukan hanya sebagai bandar pelabuhan yang mengimpor berbagai komuditas di kawasan Selat Malaka pada saat itu, namun beliau mendorong rakyatnya menguasai berbagai teknologi. Dan terbukti masyarakatnya tergolong memiliki teknologi yang maju, khususnya dalam teknologi pertanian. Itulah sebabnya Kerajaan Pasai menjadi salah satu negeri pengekspor berbagai bentuk hasil pertanian, seperti lada, bawang, semangka, pisang, tebu, jeruk dan lain-lainnya. Pasai Sebagai Pusat Khilafah Islamiyah Bersamaan dengan kebangkitan Kerajaan Islam Pasai sekitar tahun 1250an M, pusat-pusat Khilafah Islamiyah yang berada di Bagdad, Persia, dan sekitarnya sedang mengalami masa-masa tersulit akibat penyerangan demi penyerangan yang dilakukan oleh pasukan bar-bar Mongolia yang dipimpin Jenghis Khan yang terkenal sadis dan haus darah. Setelah berhasil menguasai daratan Cina, maka pasukan bar-bar Mongolia Jenghis Khan menyerang pusat-pusat peradaban Islam yang tengah mengalami kelalaian akibat kemegahan yang mereka alami. Pada mulai tahun 1258 M, Bagdad sebagai pusat Khilafah Islamiyah jatuh ke tangan tentara Mongol dan mengalami penghancuran demi penghancuran. Para ahli sejarah menggambarkan Sungai Tigris dan Eufrat berubah menjadi hitam bercampur merah akibat darah kaum muslimin dan tinta dari buku-buku yang mengandung peradaban Islam yang mengalir ke sungai tersebut. Sementara pasukan Mongol tidak berhenti sampai di Bagdad, namun terus menguasai wilayah-wilayah Islam lainnya. Dan hampir semua dunia Islam Arab bertekuk lutut kepada kekejaman tentara bar-bar Mongol. Bahkan tentara bar-bar berhasil menguasai pusat-pusat peradaban Barat di Roma, Yunani dan lainnya. Itulah sebabnya Jenghis Khan dijuluki sebagai penakluk terbesar dengan wilayah jajahan 4 kali lebih besar dari jajahan yang dilakukan Alexander The Great (Iskandar Zulkarnain) ataupun penaklukan Muslim. Keadaan ini telah mendorong hijrah besar-besaran kaum muslimin, baik para pemimpin, ulama, cendekiawan, ilmuawan dan lainnya ke negeri muslim yang lebih aman dari pembantaian tentara Jenghis Khan. Salah satu pilihan terbaik adalah berhijrah ke Kerajaan Islam Pasai yang memang sudah menjadi bagian penting dari jaringan Khilafah Islamiyah yang diwariskan turun temurun oleh Kerajaan Islam di Sumatra sejakan zaman Khalifah Umar bin Khattab. Apalagi sebelumnya, para Raja

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

61

Muslim di Sumatra, termasuk di Pasai adalah berasal dari negeri Arab dan Persia yang memiliki hubungan kekerabatan dengan para penguasa di tanah Arab, terutama yang memiliki garis keturunan dengan Bani Quraisy, baik keturunan Rasulullah (Ahlul Bayt), Bani Umayyah ataupun Abbasyiah. Dengan datangnya para pemimpin, ulama, cendekiawan, ilmuawan dan lainnya ke Pasai, maka secara otomatis Pasai bangkit menjadi sebuah kekuatan baru di Pulau Sumatra. Kedatangan para Muslim dari Bagdad dan pusat-pusat peradaban Islam disekitarnya seperti Samarkand, Bukhara dan lainnya telah memberikan kedudukan baru kepada Pasai sebagai sebuah pusat pertumbuhan peradaban Islam di kawasan alam Asia Tenggara, yang terbentang dari Sumatra, Semenanjung Melayu, Borneo, Cilabes, Mindanao, Maluku sampai ke Australia dan Kepulauan Hawai. Kepemimpinan Sultan Malik al-Saleh yang didukung oleh kaum muslimin terbaik yang hijrah ke Pasai telah membangkitkan Kerajaan Pasai menjadi pusat sentral kekuatan dunia Islam di sebelah timur, baik kekuatan politik, ekonomi sekaligus sebagai pusat kebangkitan peradaban Islam, sebagai kelanjutan dan kesinambungan dari peradaban Islam yang telah berkembang di dunia Arab, baik Syam, Persia, Bagdad dan lainnya. Dan akhirnya, dengan kemajuan-kemajuan yang digapainya, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Kerajaan Islam Pasai menjadi Pusat Khilafah Islamiyah yang menggantikan peranan Bagdad, terutama sebagai pusat pengembangan kekuatan politik, pertahanan, ekonomi dan peradaban. Realitas inilah yang telah mengkwatirkan Kerajaan Hindu Jawa-Majapahit sehingga berniat untuk menyerang dan menaklukkan Pasai. Namun menaklukkan Pasai di puncak kegemilangannya dengan sumber daya manusia unggul dari penjuru dunia, bukanlah perkara mudah. Kegagalan Majapahit dalam menaklukkan Pasai inilah yang selanjutnya mendorong para pemimpin Kerajaan Pasai untuk menaklukkan Majapahit yang semakin melemah. Pada tahap awal, menaklukkan Jawa-Majapahit bukanlah menjadi prioritas dari Kerajaan Islam Pasai yang kini telah menjadi Pusat Khilafah Islamiyah di timur. Prioritas utama adalah menyelamatkan dunia Muslim Arab, khususnya Mekkah alMukarramah dari ancaman pasukan bar-bar Mongol yang haus darah. Sekaligus mengkonsolidasi kekuatan dunia Muslim dengan menggalang kerjasama dengan para pemimpin Islam, baik di dunia Arab, Persia sampai ke daratan Cina kecil. Berkat persatuan aliansi Kerajaan Islam di Dunia Arab, Persia dan Cina dengan pusat kordinasi di Pasai, maka kekuatan Mongolpun dapat dijinakkan, sekaligus mengislamkan pemimpinnya, Timur Lank, cucu dari Jenghis Khan. Dan sejak saat itu, kekuatan Islam terbentang dari dunia Afrika, Arab, Persia, Asia Tengah, Mongolia sampai ke Cina, dan tentu Pasai sebagai salah satu poros kekuatan di Asia Tenggara yang dikenal bangsa Arab dengan bilad Tahta Jawi atau Negeri Bawah Angin, yang akhirnya sisebut Jawi saja atau Jawa sekarang. Kebesaran dan kemegahan Kerajaan Islam Pasai, yang dikenal dengan Samudra Pasai, juga telah mempengaruhi nama dari pulau yang sekarang bernama Sumatra. Sebagaimana diterangkan terdahulu, Samudra, jika dibaca dengan lidah asing akan terdengar sebagai Samutra, yang akhirnya berevalusi menjadi Sumatra, yang menjadi

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

62

sebutan bagi pulau besar sebelah barat, yang terbentang sepanjang Salahit atau Selat, yang sekarang dinamakan dengan Selat Malaka. Letak georafi Kerajaan Pasai yang strategis, yang di dukung oleh alamnya yang subur, digerakkan oleh masyarakat kosmopolit dizamannya yang berhijrah pasca kejatuhan Bagdad serta dukungan kebijakan penguasa, telah mengantarkan Pasai menjadi salah satu bintang kebangkitan Islam di timur. Kebesaran nama Pasai telah mendorong kedatangan para cerdik pandai Muslim dari negeri Arab, Persia, India dan lainnya untuk membangun kekuatan baru, baik secara politik maupun ekonomi. Sepeninggal Sultan Malik al-Salih, Kerajaan Pasai berkembang dengan pesatnya di bawah kepemimpinan keturunan beliau yang tetap menjalankan kebijakan yang telah digariskan para pendahulunya, bahwa Pasai sebagai penggerak dan pusat Islamisasi Nusantara. Ibnu Batutah, seorang musafir dan peneliti sosial asal Maroko telah mengunjungi Kerajaan Pasai antara tahun 1345-1346 Masehi. Dia menyebutkan dalam catatannya bahwa kerajaan ini sudah maju dalam perdagangan; hubungan dagang telah diadakan secara luas dengan Tiongkok dan India. Sultan Malik al-Zahir, yang memerintah Kerajaan Pasai pada waktu itu, adalah seorang sultan yang saleh lagi sangat taat kepada agama. Ia bermazhab Syafie dan sangat gemar mengadakan pertemuan ilmiah, dengan para ulama untuk berdiskusi tentang masalah-masalah agama. Setiap hari jum’at ia pergi ke masjid dengan berjalan kaki. Ibnu Batutah juga menyebutkan sejumlah ulama menjadi pembesar istana, antara lain: Amir Daulasa dari Delhi, Qadi Amir Said dari Shiraz dan ahli hukum Tajudin dari Isfahan. Pengamatannya menyimpulkan bahwa pada saat itu, Kerajaan Pasai dalam kemakmuran dan kedamaian yang luar biasa. Hal ini dibuktikan ketika Sultan mengadakan acara pernikahan putra beliau yang menggambarkan kebesaran dan kemewahan istana Kerajaan Pasai. Perkembangan pesat Kerajaan Pasai yang telah mengantarkan kemakmuran dan kebesaran masyarakatnya, dan terutama kemampuannya sebagai pelopor dan penggerak Islamisasi di Nusantara, telah menimbulkan hasud dan dengki kerajaankerajaan lainnya, terutama kerajaan Budha Thailand yang bekerjasama dengan kerajaan Jawa-Hindu Majapahit yang telah merancang penyerangan dan penghancuran Kerajaan Pasai dengan berbagai cara agar melemahkan semangat Islamisasi di Nusantara. Pada pertengahan abad ke 14 Masehi Kerajaan Majapahit melakukan penyerangan terhadap Kerajaan Pasai yang mendapat perlawanan hebat dari para mujahidin Pasai yang telah mendapat pendidikan kerohanian dari para Wali, sehingga banyak menimbulkan korban di kedua belah pihak. Bahkan dikabarkan, Mahapatih Gadjah Mada yang memimpin penyerangan ke Pasai telah menjadi korban dan terbunuh ketika melarikan diri. Itulah sebabnya Kerajaan Pasai tetap eksis dan bangkit kembali menjadi salah satu Kerajaan Islam yang terkuat di Asia Tenggara. Kemakmuran dan kebesaran Pasai dalam abad-abad berikutnya, bukan saja telah menjadikannya sebagai pusat penyebaran agama Islam dengan mengirimkan para muballigh ke tempat-tempat yang diperlukan, terutama ke Patani, Malaka, Borneo, Jawa sampai Mindanao dan Maluku. Tetapi juga sebagai pusat pengajian tinggi Islam di mana berkumpul berbagai ulama dan sarjana yang mengajar dan membahas masalahmasalah agama serta menjawab pertanyaan-pertanyaan keagamaan yang muncul dan

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

63

datang dari daerah-daerah sekitar Asia Tenggara. Disebutkan dalam Sejarah Melayu bahwa seorang ulama sufi dari Mekkah, Syekh Abu Ishak telah menulis sebuah buku berjudul Durr al-Manzum, yang terdiri dari dua bab, pertama tetang zat Allah dan kedua tentang sifat Allah. Atas anjuran muridnya Maulana Abu Bakar, kitab tersebut ditambah bab ketiga tentang af’al Allah (perbuatan Allah). Kemudian Maulana Abu Bakar membawa kitab tersebut ke Sultan Malaka, Sultan Mansyur Syah. Sultan menerima kitab tersebut dengan upacara khusus kebesaran seperti menyambut tamu kehormatan Kerajaan. Selanjutnya kitab tersebut dikirim ke Pasai untuk diberi penjelasan lebih mendalam oleh seorang ulama Pasai bernama Makhdum Patakan. Pemahaman keislaman para Sultan, Ulama, Cendekiawan dan rakyat Pasai pada saat itu berkembang pesat, yang tidak hanya membahas aspek-aspek fiqih dan hukum semata, namun sudah mencapai pembahasan yang bersifat ”esoterik” sebagaimana yang dibuktikan dengan beberapa jawaban Ulama Pasai bernama Makhdum Muda kepada Sultan Malaka yang telah mengutus Tun Bija Wangsa. Kebesaran dan kemakmuran Kerajaan Pasai akhirnya telah mengantarkannya sebagai pusat rujukan dan pengembangan pemikiran Islam di timur jauh, tempat berkumpul para Ulama dan Cendekiawan membahas masalah-masalah keagamaan dan tentunya sebagai pusat pendidikan tingkat tinggi keislaman. Itulah sebabnya Kerajaan Pasai dianggap oleh daerah-daerah lain di Nusantara sebagai pusat rujukan dan fatwa yang berwenang dalam menyelesaikan masalah-masalah agama. Hal ini memang sangat memungkinkan, sebagaimana disebutkan Ibnu Batutah, bahwa di Kerajaan Pasai telah tinggal beberapa jenis Ulama dan Cendekiawan, seperti ahli hukum Islam, para penyair, para hukama (ahli filsafat) dan lain-lain. Peran sentral Kerajaan Pasai sebagai motor penggerak Islamisasi di Nusantara, terutama menjelang abad ke 15 Masehi semakin menonjol, sehingga banyak menarik minat para Cendekiawan Muslim dari seluruh penjuru dunia untuk datang. Di antara tokoh yang nantinya sangat berpengaruh dalam Islamisasi Nusantara, khususnya Islamisasi Jawa yang masih di bawah dominasi Kerajan Hindu-Budha, adalah Saiyid Hussein Jamadul Kubra dengan dua orang anaknya, Maulana Ishak dan Maulana Malik Ibrahim yang datang dari derah Samarkand, Parsia. Kedatangan tokoh-tokoh Ulama dan Cendekiawan besar dunia Islam, baik dari Yaman, Hadramaut, Maroko (Maghribi), Persia maupun India dan lain-lainnya, benar-benar telah menjadikan Pasai sebagai poros baru peradaban Islam, khususnya dalam pengembangan pemikiran keislaman atau selanjutnya berperan dalam melahirkan gerakan-gerakan seperti Wali Sembilan yang telah mengislamkan tanah Jawa dengan pendekatannya yang khas. Gerakan Auliya Sikureng (Wali Sembilan) Kerajaan Islam Pasai Bumi Aceh sangat terkenal dengan bumi para auliya. Namun tidak banyak di antara orang-orang Aceh sendiri yang dapat menyebutkan nama-nama para wali yang telah berperan mengembangkan Islam sehingga menjadikan Aceh sebagai bangsa maju dan besar, sehingga menjadi pelopor dalam dakwah Islamiyah. Ironisnya, ada di antara auliya yang berasal dari tanah Aceh, namun tidak dikenal oleh bangsa asalnya, namun sangat terkenal di tanah Jawa.

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

64

Misalnya Wali Sembilan, auliya sikureung, yang di tanah Jawa sangat terkenal dengan sebutan Wali Songo. Mereka adalah para tokoh penggerak Islamisasi di Nusantara yang telah berperan aktif dalam pendirian Kerajaan Demak, sebagai Kerajaan Islam pertama yang telah mengakhiri riwayat kegemilangan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit, simbol kemegahan masyarakat Hindu Jawa. Disamping itu mereka juga telah mendirikan Kerajaan Islam dari Pattani, Champa, Kelantan, Brunei, Sulu, Mindanao, Pontianak, Banten, Makassar sampai Maluku dan Fak-Fak Papua. Namun tidak banyak yang mengetahui, dari manakah asal para auliya ini dan dimanakah pusat gerakan mereka dalam mengislamisasikan Nusantara. Sampai sekarang banyak para peneliti, baik yang Muslim dan non Muslim berbeda pendapat tentang asal-usul mereka. Ada yang menyatakan mereka berasal dari negeri Cina, Turki, Bukhara (Rusia) dan lain-lainnya sehingga menimbulkan kekeliruan sejarah yang berdampak buruk pada kebenaran sejarah Islam yang sepatutnya menjadi teladan dan pengajaran generasi masa kini. Maka untuk meluruskan kekeliruan tersebut, diperlukan sebuah penelitian menyeluruh terhadap peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan sejarah para wali ini. Gerakan Wali Sembilan Awal Wali Sembilan awal, adalah para wali yang telah berperan menggerakkan dakwah Islamiyah terutama sebelum lahirnya gerakan Wali Sembilan (Wali Songo) yang terkenal di tanah Jawa. Menurut sejarahnya, para wali ini sangat berperan dalam mendorong lahirnya gerakan dakwah Islamiyah yang telah melahirkan gerakan Wali Songo. Boleh dikatakan bahwa wali sembilan awal ini pelopor dan peristis terbentuknya gerakan yang nantinya dikenal dengan Wali Songo. Bahkan mereka adalah kakek, bapak atau guru daripada Wali Songo yang telah berhasil mendirikan Kerajaan Islam Demak, kerajaan Islam pertama di tanah Jawa yang mengakhiri Kerajaan Hindu Majapahit. Di tanah Jawa memang sejarah mereka tidak banyak beredar sehingga nama mereka tidak dikenal luas, kecuali beberapa orang seperti Sayyid Jamaluddin al-Husein dan Maulana Malik Ibrahim. Tapi di Champa, Pattani, Kelantan dan Semenanjung Malaya nama mereka sangat terkenal, bahkan keturunan mereka sampai sekarang menjadi Sultan di Malaysia. Karena dalam tulisan ini hanya membahas peranan para wali di sekitar Kerajaan Pasai dan yang berperan atau berhubungan dengan gerakan Wali Songo di tanah Jawa, maka penulis hanya membatasinya dengan tokoh-tokoh yang hidup disekitar Pasai dan memiliki peranan langsung dengan Wali Songo. Menurut penelitian penulis, mereka yang dapat dikategorikan sebagai Wali Sembilan Awal adalah: (1).Sayyid Jamaluddin Syah Jalal, (2).Sayyid Qamaruddin Syah Jalal, (3).Sayyid Majduddin Syah Jalal, (4).Sayyid Tsanauddin Syah Jalal, (5).Maulana Malik Ibrahim, (6).Maulana Sayyid Ibrahim Sayyid Jamaluddin, (7).Sayyid Wan Abdullah Sayyid Jamaluddin (Wan Bo/Raja Champa), (8).Sayyid Ali Nurul Alam Sayyid Jamaluddin (Raja Kelantan), (9). Sultan Malik Al-Zahir II (Sultan Pasai). Sayyid Jamaluddin Kubra (Maulana Sayyid Akbar-Sayyid Hussein Jamadil Kubra) Martin Van Bruinessen telah memetik tulisan Sayyid ‘Al-wi Thahir al-Haddad, dalam bukunya Kitab Kuning, Pesantren ..“Putra Syah Ahmad, Jamaluddin dan saudara-

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

65

saudaranya (wali no 1 sd no 6) konon telah mengembara ke Asia Tenggara..... Jamaluddin sendiri pertamanya menjejakkan kakinya ke Aceh (Pasai) dan Kamboja, Pattani kemudian belayar ke Semarang dan menghabiskan waktu bertahun-tahun di Jawa, hingga akhirnya melanjutkan pengembaraannya ke Pulau Bugis, di mana dia meninggal.” (al-Haddad 1403 :8-11). Diriwayatkan pula anaknya, Sayyid Ibrahim (wali no 6) ditinggalkan di Aceh (Pasai) untuk mendidik masyarakat dalam ilmu keislaman. Kemudian, Sayyid Jamaluddin ke Majapahit, selanjutnya ke negeri Bugis, lalu meninggal dunia di Wajok (Sulawesi Selatan). Tahun kedatangannya di Sulawesi adalah 1452M dan tahun wafatnya 1453M”. Inilah tokoh utama Wali Sembilan Awal, atau yang menjadi jalan lahirnya Wali Sembilan atau Wali Songo yang terkenal di tanah Jawa. Sayyid Syah Ahmad atau ayahanda Sayyid Jamaluddin adalah seorang Gubernur di zaman Maharaja India dari Kesultanan Delhi yang bernama Sultan Muhammad Taghlug yang memerintah pada tahun 1325-1351. Beliau adalah keturunan dari Sayyid Ahmad Isa Al-Muhajir dari jalur Sayyid Abdul Malik Alawi yang lahir di kota Qasam, Hadramaut yang berhijrah ke India dan mendapat kedudukan terhormat di Kesultanan Islam India masa itu. Pada pertengahan abad 14 M, anak Sayyid Syah Ahmad yang bernama Sayyid Jamaluddin Al-Hussein meninggalkan India untuk mengembangkan dakwah Islamiyah ke sebelah timur, menuju Kerajaan Islam Pasai yang telah berkembang menjadi pusat Islamisasi Nusantara dan telah menggantikan peranan Bagdad yang hancur lebur akibat penyerangan tentara bar-bar Mongolia. Adapun silsilah lengkap Sayyid Jamaluddin adalah : Jamaluddin Al-Husain (Sayyid Hussein Jamadil Kubra ) bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alawi Amal Al-Faqih bin Muhammad Syahib Mirbath bin ‘Ali Khali’ Qasam bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bini Al-Syeikh Ubaidillah bin Ahmad Muhajirullah bin ‘Isa Al-Rumi bin Muhammad Naqib bin ‘Ali Al-Uraidhi bin Jaafar As-Sadiq bin Muhammad Al-Baqir bin ‘Ali Zainal Abidin bin Al-Hussein bin Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah SAW. Rombongan Sayyid Jamaluddin tiba di Kerajaan Islam Pasai diperkirakan pada zaman pemerintahan Sultan Malik al-Zahir II antara tahun 1360an M. Pada masa inilah masa-masa puncak kegemilangan Kerajaan Islam Pasai yang terkenal ke seluruh penjuru dunia sebagai Kerajaan Samodra yang berpusat di Pasai. Kegemilangnnya Kerajaan Samodra telah mempengaruhi nama dari pulau tempat Kerajaan Islam ini, Sumatera, (Samodra-Samotra(arab)-Sumatera(eropa). Rombongan para Sayyid dari Kerajaan Islam Tughlug India ini mendapat sambutan dan penghormatan besar di Kerajaan Islam Pasai, karena mereka adalah para Ulama dan Maulana yang menjadi guru pengajaran Islam. Apalagi Sultan Malik al-Zahir II dan ayahandanya, Sultan Malik al-Zahir atau kakeknya Sultan Malik al-Saleh adalah keturunan dari para Sultan Perlak (Maulana Abdul Aziz Syah) dan Raja Jeumpa (Syahir Nawi-Shahriansyah Salman) yang kedua-dunya bertemu pada jalur Ja’far Shadiq, cucu dari Sayyidina Hussein bin Fatimah binti Rasulullah saw. Menurut catatan Ibn Batutah dalam Rihlah Ibnu Batutah, jilid II, hal. 185-187 dan 209-210, Sultan Malik al-Zahir II, yang memerintah Kerajaan Pasai pada waktu itu, adalah seorang sultan yang saleh lagi sangat taat kepada agama dan sangat gemar mengadakan pertemuan ilmiah, dengan para ulama untuk berdiskusi tentang masalahmasalah agama. Setiap hari jum’at ia pergi ke masjid dengan berjalan kaki. Ibnu Batutah juga menyebutkan sejumlah ulama menjadi pembesar istana, antara lain: Amir Daulasa

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

66

dari Delhi, Qadi Amir Said dari Shiraz dan ahli hukum Tajudin dari Isfahan. Pengamatannya menyimpulkan bahwa pada saat itu, Kerajaan Pasai dalam kemakmuran dan kedamaian yang luar biasa. Hal ini dibuktikan ketika Sultan mengadakan acara pernikahan putra beliau yang menggambarkan kebesaran dan kemewahan istana Kerajaan Pasai. Itulah sebabnya mengapa rombongan Sayyid Jamaluddin dan Maulana Malik Ibrahim mendapat sambutan dan penghormatan luar biasa oleh Sultan dan para petinggi Kerajaan Pasai. Karena memang sebelumnya hubungan antara Pasai dengan Delhi, sebagai negeri asal rombongan Sayyid Jamaluddin, sudah terhubung rapat yang dibuktikan dengan adanya ulama besar dari Delhi di Kerajaan Pasai, Maulana Amir Daulasa sebagaimana disebutkan Ibnu Batutah. Mungkin saja kedatangan Sayyid Jamaluddin merupakan sebuah kelanjutan muhibbah antara Pasai dan Delhi. Maka tidak mengherankan apabila Sayyid Jamaluddin memilih Pasai sebagai tujuannya, karena kebesaran Pasai sudah menjadi legenda di Kerajaan Delhi. Sebagaimana kedudukan Maulana Amir Daulasa pada Kerajaan Pasai, maka tidak diragukan bahwa Sayyid Jamaluddin dengan rombongannya, termasuk Grand Master gerakan Wali Songo di tanah Jawa, Maulana Malik Ibrahim, juga mendapat kedudukan terhormat di Kerajaan Pasai. Mereka telah menjadi tokoh-tokoh utama dan sentral yang mempengaruhi kebijakan Kerajaan Islam Pasai, khususnya pada zaman pemerintahan Sultan Malik al-Zahir II, atau penggantinya Sultan Zainal Abidin dan Sultan Salahuddin. Peranan mereka bukan hanya sebagai tokoh agama saja, tapi juga mengurusi masalah-masalah politik internasional, membangun jaringan politik internasional yang menghubungkan antara dunia Arab, Parsia, India, Cina dengan dunia Islam Nusantara yang berpusat di Kerajaan Islam Pasai. Di antara fokus mereka adalah mengembangkan kekuasaan Kerajaan Islam Pasai ke seluruh Nusantara agar menjadi patron bagi Kerajaan Islam di seluruh Nusantara. Karena dengan semakin besarnya kekuasaan dan wilayah Kerajaan Pasai akan mempermudah gerakan Islamisasi Nusantara, termasuk startegi jitu untuk meredam perkembangan Kerajaan Budha Thailand di sebelah barat dan Kerajaan Hindu Majapahit di sebelah timur. Sayyid Jamaluddin menikah dengan salah seorang puteri di Kerajaan Pasai yang dikenal dengan ”Putri Jeumpa”, yang juga saudara ipar dari Sultan Malik al-Zahir II, Sultan Pasai. Jadi Sayyid Jamaluddin dengan Sultan Malik al-Zahir II sepengambilan (biras). Pernikahan Sayyid Jamaluddin ini melahirkan putera yang bernama Sayyid Ibrahim al-Akbar (bukan Maulana Malik Ibrahim). Selanjutnya Sayyid Ibrahim mendapat pendidikan dari Maulana dan Ulama Kerajaan Pasai. Beliau menikah dengan kerabat bangsawan Kerajaan Pasai, yang dikenal dengan julukan ”Putri Jeumpa” bernama Candra Wulan. Puteri inilah bersaudara dengan ”Puteri Jeumpa” dari kerabat Kerajaan Pasai yang terkenal bernama Darwati (Dwarawati) yang menjadi Maha Ratu dari Raden Brawijaya V dari Kerajaan Jawa-Majapahit. Perkawinan Sayyid Ibrahim dengan Putri Candra Wulan telah melahirkan dua orang putera yang menjadi Ulama besar, yaitu Maulana Sayyid Ishaq yang menjadi Ulama dan penasihat utama Sultan Pasai di zaman Sultan Zainal Abidin dan Sultan Salahuddin, dan beliau juga sekaligus ayahanda dari Raden Paku atau Sunan Giri, anggota Wali Songo. Putra yang lain adalah Maulana Sayyid Rahmatullah yang di tanah Jawa terkenal dengan Raden Sayyid

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

67

Rahmat atau Sunan Ampel yang menjadi pemimpin utama Wali Songo di tanah Jawa. Beliau lahir pada tahun 1401 M di lingkungan istana Kerajaan Pasai. Setelah mempersiapkan diri dengan berbagai perlengkapan dakwah di Kerajaan Islam Pasai, maka berangkatlah ke arah barat, Sayyid Jamaluddin Syah Jalal bersama beberapa Maulana untuk mengislamkan negeri Siam (Thailand), Cina Kecil dan Semenanjung Melayu. Beliau berhasil mengislamkan beberapa kawasan seperti Champa, Senggora, Pattani, Kelantan, Kedah dan sekitarnya. Kemudian beliau mendirikan Kerajaan Islam di Champa dan mengangkat anaknya bernama Wan Bo atau Wan Abdullah menjadi Sultan Champa pertama. Selanjutnya beliau mendirikan Kerajaan Islam di Pattani dan Kelantan. Walaupun secara politik beliau tidak dapat menaklukkan Kerajaan Budha Siam (Thailand) yang memiliki kekuatan besar, namun beliau telah meletakkan dasar-dasar dakwah Islamiyah di wilayah tersebut. Di Kelantan Sayyid Jamaluddin menikah dan memiliki putra bernama Sayyid Ali Nurul Alam. Sementara Sayyid Ali Nurul Alam memiliki dua orang putera yang menjadi Sultan, yaitu Syarif Hidayatullah yang dibesarkan di Pasai dan menjadi Sultan Kerajaan Islam Banten-Jawa Barat pertama dan Sultan Ba’abullah yang menjadi Sultan Ternate-Maluku. Selanjutnya Sayyid Jamaluddin berangkat ke Majapahit mendukung perjuangan Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu mengembangkan dakwah. Setelah beberapa lama beliau ke negeri Bugis, lalu meninggal dunia di Wajok (Sulawesi Selatan). Tahun kedatangannya di Sulawesi adalah 1452M dan tahun wafatnya 1453M”. Maulana Malik Ibrahim bin Sayyid Husein Jamadil Kubra Adapun Wali Sembilan Awal yang berdakwah ke timur (Jawa-Majapahit) adalah Maulana Malik Ibrahim. Beliau adalah tokoh paling senior dan Grand Master dalam gerakan para Wali yang di tanah Jawa dikenal dengan Wali Songo. Pada awal abad ke 14, beliau berangkat ke tanah Jawa dan memusatkan gerakan dakwahnya di daerah pelabuhan sekitar kota Gresik dan Tuban Jawa Timur, berdekatan dengan pusat Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit. Namun dakwahnya tidak mendapat sambutan akibat besarnya pengaruh Kerajaan Hindu-Majapahit terhadap rakyatnya, karena Raja Majapahit dianggap titisan Dewa oleh rakyatnya, sehingga mereka tidak berani untuk menentang atau berbeda pendapat dengan Maha Raja. Maulana Malik hanya dapat mengislamkan rakyat jelata dari kasta rendah, sementara kalangan istana Majapahit menolak dakwahnya. Sebagai seorang pejuang dan pendakwah Islam kawakan sekaligus sebagai utusan Kerajaan Islam Pasai, Maulana Malik tidak pernah berputus asa untuk berdakwah. Beliau bersama dengan para pendakwah lainnya mendirikan pusat Islamisasi dan pendidikan seperti sistem pondok pesantren untuk mendidik para pendakwah Islam Gresik Tuban Jawa Timur. Beliau juga mempelajari seluk beluk masyarakat Jawa secara mendalam, dan berkesimpulan bahwa dakwah Islam akan mudah diterima apabila telah dianut oleh kalangan Kerajaan Majapahit. Maka atas nama Kerajaan Pasai beliau datang sebagai utusan diplomatik sekaligus sebagai pendakwah Islam. Beliau juga merancang agar salah seorang Puteri Kerajaan Pasai terbaik yang sudah muslimah dan bertaraf kader dakwah dapat menjadi Permaisuri Kerajaan Majapahit. Tujuannya jelas agar Sang Puteri Pejuang ini dapat memberi jalan bagi perkembangan dakwah Islamiyah ke dalam istana Kerajaan Hindu-Majapahit

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

68

kelak. Maka bersama-sama dengan para alim ulama dan Sultan, diputuskan Puteri terbaik itu jatuh pada Putri Jeumpa Darwati (Dwarawati), saudara ipar dari Sayyid Ibrahim al-Akbar atau saudara ibunda Maulana Sayyid Rahmatullah (Sunan Ampel). Dipilihnya Putro Dwarawati sebagai pejuang garda terdepan dakwah Islamiyah ke jantung kekuatan Kerajaan Hindu terbesar Majapahit, tentu bukan asal-asalan, tapi tentu dengan pertimbangan fatwa agama dan politik tingkat tinggi. Karena tidak dimungkinkan seorang wanita muslimah untuk menikah dengan seorang Hindu. Tapi fatwa telah diputuskan oleh Ulama dan Maulana dari Kerajaan Pasai dengan pertimbangan fiqh yang lebih luas dan tingkat tinggi, demi untuk kepentingan dakwah dan perkembangan Islam. Berkat diplomasi ulungnya, maka Raden Prabu Brawijaya V, Maha Raja Majapahit menikah dengan Putro Darwati (Dwarawati), Puteri Jeumpa yang telah menjadi keluarga besar Kerajaan Islam Pasai. Pernikahan ini telah melahirkan Raden Fatah yang kelak menjadi Sultan Islam pertama di tanah Jawa. Setelah Raden Fatah lahir, maka Putro Darwati meninggalkan istana Majapahit menuju Kerajaan Islam Palembang untuk membesarkan anaknya dengan suasana yang Islam agar kelak menjadi pemimpin Islam di tanah Jawa. Maulana Malik Ibrahim meninggal tahun 1419 di Gresik, Tuban Jawa Timur. Raffles menyebutnya sebagai orang besar, sementara sejarawan G.W.J. Drewes menegaskan, Maulana Malik Ibrahim adalah tokoh yang pertama-tama dipandang sebagai wali di antara para wali. ''Ia seorang mubalig paling awal,'' tulis Drewes dalam bukunya, New Light on the Coming of Islam in Indonesia. Gelar Syekh dan Maulana, yang melekat di depan nama Malik Ibrahim, menurut sejarawan Hoessein Djajadiningrat, membuktikan bahwa ia ulama besar. Gelar tersebut hanya diperuntukkan bagi tokoh muslim yang punya derajat tinggi. Peran terbesar dari Wali Sembilan Awal ini adalah memperkuat sistem di Kerajaan Islam Pasai sehingga menjadi sebuah Kerajaan yang menjadi poros dan pusat Islamisasi di Nusantara. Kehadiran mereka memperkuat Kerajaan Islam Pasai yang sudah mulai mengalami kegemilangan di zaman Sultan Malik al-Saleh dan penggantinya Sultan Malik al-Zahir. Dengan pengetahun dan pengalaman yang mereka miliki di Kerajaan Delhi, para wali telah menjadi guru bagi bangsawan Pasai. Demikian pula, mereka telah berhasil mendirikan perwakilan atau jaringan Kerajaan Pasai di Champa (Kambodia), Pattani, Senggora (Thailand), Kedah, Kelantan, Malaka (Malaya) dan sampai ke Borneo dan Sulu-Mindanao di Filipina. Walaupun mereka tidak berhasil menaklukkan Kerajaan Budha Siam (Thailand), namun mereka sudah mengepung Kerajaan Budha ini dari sebelah barat dengan berdirinya Kerajaan Champa dan dari sebelah timur dengan berdirinya Kerajaan Pattani dan Senggora. Sehingga Kerajaan Budha Siam akan berpikir panjang untuk menyerang kembali Kerajaan Pasai sebagai jantung Islamisasi Nusantara. Maka tugas untuk menyempurnakan dakwah dan perjuangan mereka kini diembankan kepada generasi sesudah mereka yang di kemudian hari di kenal dengan Wali Songo. Wali Sembilan – Wali Songo di Tanah Jawa Istilah Wali Songo sangat populer di tanah Jawa, namun para ahli berbeda pendapat tentang asal usul mereka. Perbedaan ini terjadi karena kesalahan dalam

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

69

memahami Jeumpa di wilayah Aceh (Bireuen) sebagai Champa yang berada di Kamboja. Akibatnya banyak penyimpangan sejarah yang terjadi. Bahkan kemudian ada yang menyimpulkan bahwa para wali berasal dari Cina. Di antara ahli sejarah yang berpendapat ”Champa” sebagai asal para Wali juga merupakan wilayah yang terkenal dan berpengaruh pada proses Islamisasi Nusantara adalah Jeumpa di Aceh, seperti TS. Rafless, Prof. Hamka dan Prof. Saifuddin Zuhri, Prof. A. Hasymi dan lain-lainnya. Dengan pemahaman ini, maka sejarah dapat diluruskan sebagaimana adanya. Pendapat yang menyatakan bahwa para Wali, terutama Raden Rahmat (Sunan Ampel) berasal dari Champa di Kambodia, perlu diluruskan dengan beberapa fakta, diantaranya adalah: Keadaan Champa Kambodia ketika zaman Maulana Rahmatillah (awal abad 15 M) sedang huru hara dan terjadi pembantaian terhadap kaum Muslim yang dilakukan oleh Dinasti Ho yang membalas dendam atas kekalahannya pada pasukan Khulubay Khan, Raja Mongol yang Muslim. Keadaan ini sangat jauh berbeda dengan keadaan Jeumpa yang menjadi mitra Kerajaan Pasai pada waktu itu yang menjadi jalur laluan dan peristirahatan menuju kota besar seperti Barus, Fansur dan Lamuri dari Pasai ataupun Perlak. Kerajaan Pasai adalah pusat pengembangan dan dakwah Islam yang memiliki banyak ulama dan maulana dari seluruh penjuru dunia. Sementara para sultan adalah diantara yang sangat gemar berbahas tentang masalahmasalah agama, di istananya berkumpul sejumlah ulama besar dari Persia, India, Arab dan lain-lain, sementara mereka mendapat penghormatan mulia dan tinggi . Dan Sejarah Melayu menyebutkan bahwa ”segala orang Samudra (Pasai) pada zaman itu semuanya tahu bahasa Arab. Menurut beberapa catatan, Champa di Kambodia sedang di perintah oleh Chế Bồng Nga antara tahun 1360-1390 Masehi, dikenal dengan The Red King (Raja Merah) seorang Raja terkuat dan terakhir Champa. Tidak diketahui apakah Raja ini Muslim atau Budha sebagaimana mayoritas penduduk Kambodia masa ini dengan banyak peninggalan kuil-kuilnya. Beliau berhasil menyatukan dan mengkordinasikan seluruh kekuatan Champa pada kekuasaannya, dan pada tahun 1372 menyerang Vietnam melalui jalur laut. Champa berhasil memasuki kota besar Hanoi pada 1372 dan 1377. Pada penyerangan terakhir tahun 1388, dia dikalahkan oleh Jenderal Vietnam Ho Quy Ly, pendiri Dinasti Ho . Che Bong Nga meninggal dua tahun kemudian pada 1390. Tidak banyak catatan hubungan Penguasa Champa ini dengan Islam, apalagi tidak didapat bekas-bekas kegemilangan Islam, sebagaimana yang ditinggalkan para pendakwah di Perlak, Pasai ataupun Malaka. Tidak mungkin seorang ulama besar dapat lahir dalam suasana yang tidak kondusif seperti di Kambodia masa itu. Maka tidak diragukan bahwa Wali Sembilan Awal, Sayyid Hussein Jamadil Kubra, Maulana Malik Ibrahim ataupun Sayyid Ibrahim, ayahanda Maulana Rahmatullah, menjadikan Kerajaan Islam Pasai yang sudah berkembang pesat sebagai pusat pengajaran Islam menjadi basis awal perjuangan mereka dalam mengislamisasikan Nusantara. Apalagi diketahui para Sultan sejak Sultan Malik al-Salih adalah orang-orang yang alim dan taat beragama serta memiliki komitmen yang kuat terhadap penyebaran dakwah Islamiyah. Kerajaan Islam Pasai yang sudah menjadi patron kerajaan-kerajaan Islam yang baru berdiri di wilayah Nusantara sangat berkepentingan untuk membantu dakwah Islamiyah para Wali, disamping sebagai tuntutan agama sekaligus menjadi strategi untuk mempertahankan eksistensi kerajaan

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

70

Islam dari gangguan penyerangan Kerajaan Hindu Majapahit yang berambisi menguasai Kerajaan Pasai. Kepentingan Sultan Pasai dan para Wali bertemu pada satu titik utama, mengislamkan Majapahit atau memeranginya sehingga menjadi wilayah taklukan Kerajaan Islam Pasai. Gerakan dakwah Islamiyah yang juga sekaligus merupakan gerakan penaklukan kerajaan-kerajaan Hindu Nusantara dilakukan secara simultan dan teristematis oleh para Wali dan pengikutnya dengan dukungan penuh penguasa Pasai. Kebutuhan logistik para Wali sampai militer didukung oleh Kerajaan Pasai. Bahkan para Sultan dari kerajaan-kerajaan Islam yang baru berdiri, seperti di Champa, Pattani, Kelantan sampai Sulu, Mindanao, Banten, Makassar dan Maluku adalah para kerabat dekat istana Pasai yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan para Wali. Akhirnya memang gerakan dakwah Islamiyah para Wali menyatu dengan misi perluasaan wilayah kekuasaan Kerajaan Islam Pasai. Sebuah langkah strategis dan jenius yang telah menjadikan Nusantara sebagai wilayah Islam terbesar di dunia sampai saat ini. Jadi para Wali yang agung dan mulia ini bukan hanya mengajarkan ajaran agama semata sebagaimana difahami kebanyakan orang. Tapi mereka benar-benar telah menegakkan Islam secara menyeluruh sesuai dengan perkembangan zaman dan masyarakatnya. Mereka bukan hanya memahami Islam sebagai sebuah ritual kerohanian semata, tetapi mereka menegakkan Islam menjadi sebuah sistem sosial dan pemerintahan dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam yang menegakkan syareat Islam secara bertahap sesuai pemahaman masyarakat zamannya. Maulana Rahmatillah bin Sayyid Ibrahim (Sunan Ampel) Gerakan dakwah Islamiyah Wali Sembilan Awal yang digerakkan Sayyid Hussein Jamadil Kubra, yang selanjutnya diteruskan Maulana Malik Ibrahim yang telah wafat tahun 1419 di Gresik, Tuban Jawa Timur ke wilayah timur Pasai, dari Palembang dan tanah Jawa seterusnya dilanjutkan oleh para sahabat dan muridnya yang datang silih berganti dari Kerajaan Pasai. Diantara penggantinya yang paling menonjol adalah anak keponakannya bernama Maulana Rahmatullah, anak dari Sayyid Ibrahim yang dikenal di tanah Jawa dengan Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Beliau lahir pada tahun 1401 M di lingkungan istana Kerajaan Pasai dari pernikahan Sayyid Ibrahim bin Sayyid Jamaluddin al-Hussein dengan seorang Putri bangsawan Jeumpa di kerajaan Pasai yang bernama Chandra Wulan. Adapun silsilah keturunan Maulana Rahmat (Sunan Ampel) adalah : Maulana Rahmatullah bin Sayyid Ibrahim bin Jamaluddin Al-Husain (Sayyid Hussein Jamadil Kubra ) bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alawi Amal Al-Faqih bin Muhammad Syahib Mirbath bin ‘Ali Khali’ Qasam bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Al-Syeikh Ubaidillah bin Ahmad Muhajirullah bin ‘Isa Al-Rumi bin Muhammad Naqib bin ‘Ali AlUraidhi bin Jaafar As-Sadiq bin Muhammad Al-Baqir bin ‘Ali Zainal Abidin bin Al-Hussein bin Sayyidatina Fatimah (Sayyidina Ali bin Abi Thalib) binti Rasulullah SAW. Maulana Rahmatullah atau Raden Rahmat yang terkenal di Jawa dengan Sunan Ampel mendapat pendidikan terbaik dengan sistem terbaik dan termaju saat itu di Kerajaan Islam Pasai, tempat beliau dilahirkan dan dibesarkan. Karena pada saat itu Kerajaan Pasai sudah berkembang menjadi sebuah Kerajaan Islam yang kuat dan maju

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

71

serta makmur. Kemajuan dan kemakmuran inilah yang telah mendorong datangnya para ulama dan cendekiawan seluruh dunia, apalagi para Sultan Pasai adalah orangorang yang alim dan saleh yang sangat berminat pada pengembangan agama Islam. Pada awal abad ke 15 M, Kerajaan Pasai telah berkembang menjadi pusat pengajian tinggi Islam yang berhubungan langsung dengan pusat-pusat peradaban Islam di Makkah, Mesir, Persia, India, Andalusia dan lainnya. Di bawah asuhan para ulama, auliya dan cendekiawan besar di Kerajaan Pasai, Maulana Rahmat yang terkenal cerdas menjadi seorang ulama dan auliya yang disegani dan sangat diandalkan dalam penyebaran dakwah Islamiyah, khususnya ke tanah Jawa untuk meneruskan perjuangan kakeknya, Sayyid Hussein ataupun pamannya, Maulana Malik Ibrahim. Setelah mendapat pendidikan di Kerajaan Islam Pasai, Maulana Rahmat berdakwah di pulau Sumatera, bersama dengan para auliya lainnya telah mengislamkan Kerajaan Palembang. Selanjutnya Maulana Rahmat berhijrah pada tahun 1443 M ke Jawa. Kehadirannya membawa perubahan besar dalam dakwah Islamiyah di tanah Jawa. Karena kharisma dan ketinggian ilmunya, beliau sangat disegani oleh para petinggi Majapahit. Pada saat yang sama, saudara ibunya, Dwarawati sudah menjadi Maha Ratu Majapahit, yang semakin memudahkan gerakan dakwahnya. Bahkan bibinya inilah yang mengundang Maulana Rahmat datang ke Kerajaan Majapahit di tanah Jawa, karena kerajaan Hindu besar ini tengah mengalami masa-masa krisis yang ditimpa kemunduran akibat perpecahan, perang saudara, perbuatan amoral yang melanda masyarakat. Diharapkan dengan kehadiran Maulana Rahmat dengan ketinggian ajaran moralitas Islam keadaan dapat diperbaiki dan mengembalikan wibawa dan kegemilangan Majapahit. Dengan senang hati Maulana Rahmat datang berdakwah ke Majapahit, apalagi tujuan utama beliau adalah untuk mendirikan sebuah Kerajaan Islam di tanah Jawa sebagai ekspansi Kerajaan Islam Pasai, yang sekaligus dapat menjadi penaung gerakan Islamisasi khususnya di tanah Jawa dan sekitarnya. Namun seruannya untuk menjadikan Kerajaan Hindu-Majapahit sebagai Kerajaan Islam tidak mendapat sambutan dari Maha Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V. Maka beliau memulai gerakan besarnya dengan mendirikan sebuah lembaga pendidikan Islam dengan sistem pondok pesantren di Ampeldenta Surabaya. Dalam perjalanannya menuju Ampeldenta dari Majapahit, Maulana Rahmatullah berdakwah kepada masyarakat luas dan mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat Jawa yang tengah merindukan jalan kebenaran. Dengan pendekatan dakwahnya yang khas, beliau telah mendapatkan murid dan pengikut setia yang banyak. Karena ketinggian ilmu pengetahuan dan pengaruhnya yang besar, Bupati Tuban menikahkan beliau dengan putrinya dan Maulana Rahmatullah mendapatkan gelar Raden. Gelar bangsawan yang akan memudahkan dakwahnya di tengah-tengah masyarakat Jawa yang masih sangat feodal dan kental dengan budaya Hindu yang masih memakai sistem kasta. Lembaga pendidikan Islam model pondok pesantren yang didirikan Maulana Rahmatullah, berkembang pesat dan dijadikan sebagai basis untuk menggerakkan dakwah Islamiyah, terutama untuk mengislamisasikan tanah Jawa yang masih mayoritas beragama Hindu dan Budha. Di lembaga pendidikan ini diajarkan bukan hanya pelajaran agama dan moral saja, namun juga mengajarkan berbagai pengetahuan

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

72

yang berkembang masa itu, termasuk ilmu pemerintahan dan ilmu kemiliteran. Karena terbukti kemudian lulusan lembaga pendidikan ini adalah para pemimpin kerajaan dan panglima-panglima perang yang berpengaruh dalam menaklukkan beberapa kerajaan Hindu. Di antara murid terkemuka Maulana Rahmatullah adalah Raden Fatah yang juga saudara sepupunya, yaitu anak dari Putroe Dwarawati dengan Prabu Brawijaya V. Di samping itu beliau juga mendidik anak-anaknya sendiri serta beberapa pemudapemuda Islam lainnya yang kelak menjadi Sunan, seperti Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Giri dan lainnya. Setelah gerakan dakwahnya berkembang pesat dan pengikutnya bertambah banyak, Raden Rahmat membentuk sebuah gerakan yang beranggotakan para ulama dan auliya, dimana gerakan ini dikenal dengan Wali Songo atau Wali Sembilan. Gerakan Wali Sembilan dianggotai oleh : (1).Maulana Rahmatullah bin Sayyid Ibrahim (Raden Rahmat atau Sunan Ampel), (2).Maulana Makhdum Ibrahim bin Maulana Rahmatullah (Sunan Bonang), (3).Maulana Syarifuddin Hasyim bin Maulana Rahmatullah (Sunan Drajat), (4).Maulana Jaafar Sadiq bin Maulana Rahmatullah (Sunan Kudus), (5).Maulana Ahmad Hassan bin Maulana Rahmatullah (Sunan Lamongan), (6).Maulana Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq (Sunan Giri), (7).Syarif Hidayatullah bin Sayyid Ali Nurul Alam (Sunan Gunung Jati), (8).Raden Mas Syahid (Sunan Kalijaga menantu Maulana Rahmatullah) dan (9).Raden Umar Said (Sunan Muria). Para Wali yang sangat dekat dan menjadi kerabat istana Kerajaan Pasai ini, setelah berdakwah dan memiliki pengikut setia, akhirnya mempersiapkan berdirinya sebuah Kerajaan Islam di tanah Jawa. Sebagaimana tradisi masyarakat Jawa yang menghormati Maha Raja dan keturunannya, maka Raden Rahmat mempersiapkan murid, anak menantu, saudara sepupu dari jalur ibunya yang juga anak dari Raden Brawijaya V, Maha Raja Majapahit bernama Raden Fatah yang telah dididiknya di Pondok Pesantren Ampeldenta Surabaya sebagai calon Sultan dari Kerajaan Islam pertama di Jawa. Sebagai seorang Pangeran atau Prabu Majapahit, maka Raden Fatah berhak mendapat wilayah kekuasaan sendiri di wilayah Majapahit. Maka Raden Fatah diberikan wilayah kekuasaan di Bintaro Demak. Setelah mendapat dukungan kuat, Para Wali Sembilan di bawah pimpinan auliya dan kerabat Kerajaan Pasai, Maulana Raden Rahmat atau Sunan Ampel memproklamasikan berdirinya Kerajaan Islam Demak sebagai Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa dan mengangkat Raden Fatah sebagai Sultan Kerajaan Islam Demak dengan gelar Sultan Alam Akbar Al-Fattah pada tahun 1481 M. Selanjutnya Kerajaan Islam Demak menjadi patron kepada Islamisasi di pusat kekuasaan Kerajaan Hindu terbesar dan termegah, Majapahit. Berdirinya Kerajaan Demak telah melemahkan Majapahit yang terpecah belah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Maka tamatlah riwayat Kerajaan Hindu-Majapahit dan digantikan perannya oleh Kerajaan Demak yang menyebarkan Islam ke tanah Jawa. Akhirnya tercapailah cita-cita agung para auliya di Pasai untuk menaklukkan Kerajaan Hindu terbesar oleh kader terbaiknya Maulana Rahmat dan murid-muridnya. Darawati : Putri Jeumpa Pejuang Pasai Penakluk Majapahit

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

73

Tidak banyak yang mengenal apalagi mengetahui sejarah hidup Darwati (Dharawati), seorang Putro Jeumpa yang secara tidak langsung bertanggungjawab atas penaklukkan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit. Sejarah agung kehidupannya dapat dikenal dengan mengungkap misteri keberadaan seorang putri yang di tanah Jawa di kenal dengan ”Putri Champa”. ”Putri Champa” biasanya dihubungkan dengan istri Prabu Brawijaya V yang dalam Babad Tanah Jawi, disebutkan bernama Anarawati atau Dwarawati (Darawati) yang beragama Islam. Ada yang berpendapat bahwa putri inilah yang melahirkan Raden Fatah, yang kemudian menyerahkan pendididikan putranya kepada salah seorang keponakannya yang lahir di Pasai yang dikenal dengan Sunan Ampel (Raden Rahmat) di Ampeldenta Surabaya. Sejarah mencatat, Raden Fatah menjadi Sultan pertama dari Kerajaan Islam Demak, Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa yang mengakhiri sejarah kegemilangan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit. Menurut Gubernur Jendral Hindia Belanda dari Kerajaan Inggris yang juga seorang peneliti sosial, Sir TS. Raffles dalam bukunya The History of Java menyebutkan bahwa Champa bukan terletak di Kambodia, tapi Champa adalah nama daerah di sebuah wilayah di Aceh, yang terkenal dengan nama ”Jeumpa”. Champa adalah ucapan atau logat Jeumpa dengan dialek ”Jawa”, karena penyebutannya inilah banyak ahli yang keliru dan mengasosiasikannya dengan Kerajaan Champa di wilayah Kambodia dan Vietnam sekarang. Jeumpa yang dinyatakan Raffles sekarang berada di sekitar daerah Kabupaten Bireuen Aceh. Keadaan Jeumpa di sebelah barat pada masa kegemilangan Kerajaan Pasai menjadi jalur laluan dan peristirahatan menuju kota besar seperti Barus, Fansur dan Lamuri dari Pasai ataupun Perlak. Kerajaan Pasai adalah pusat pengembangan dan dakwah Islam yang memiliki banyak ulama dan maulana dari seluruh penjuru dunia. Sementara para sultan adalah diantara yang sangat gemar berbahas tentang masalahmasalah agama, di istananya berkumpul sejumlah ulama besar dari Persia, India, Arab dan lain-lain, sementara mereka mendapat penghormatan mulia dan tinggi. Dan Sejarah Melayu menyebutkan bahwa ”segala orang Samudra (Pasai) pada zaman itu semuanya tahu bahasa Arab. Jeumpa terkenal dengan putri-putrinya yang cerdas dan cantik jelita, buah persilangan antara Arab-Parsi-India dan Melayu, yang di Aceh sendiri sampai saat ini terkenal dengan Buengong Jeumpa, gadis cantik putih kemerah-merahan. Sampai saat ini Jeumpa masih menyisakan kecantikan putri-putrinya yang sekarang berada di sekitar Kabupaten Bireuen. Pada masa kegemilangan Pasai, istilah putri Jeumpa (Champa) sangat populer, mengingat sebelumnya ada beberapa Putri Jeumpa yang sudah terkenal kecantikan dan kecerdasannya. Putri Manyang Seuludang, Permaisuri Raja Muslim pertama Jeumpa asal Persia, Shahrianshah Salman al-Parisi, yang juga ibunda kepada Syahri Nuwi pendiri kota Perlak. Putri Jeumpa lainnya, Putri Makhdum Tansyuri (anak Pengeran Salman-Manyang Seuludong/Adik Syahri Nuwi) yang menikah dengan kepala rombongan Nakhoda Khalifah, Maulana Ali bin Muhammad bin Ja’far Shadik, yang melahirkan Maulana Abdul Aziz Syah, Raja pertama Kerajaan Islam Perlak. Putri Makhdum Khudawi, anak Shahr Nuwi dan istri Maulana Abdul Aziz Syah. Mereka

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

74

seterusnya menurunkan Raja dan bangsawan Perlak, Pasai sampai Aceh Darussalam. Demikian pula keturunan Syahri Nuwi dari Sultan Perlak bergelar Makhdum juga disebut sebagai Putri Jeumpa, karena beliau lahir di Jeumpa. Kecantikan dan kecerdasan putri-putri Jeumpa sudah menjadi legenda di antara pembesar-pembesar istana Perlak, Pasai, Malaka, bahkan sampai ke Jawa. Itulah sebabnya kenapa Maharaja Majapahit, Barawijaya V sangat mengidam-idamkan seorang permaisuri dari Jeumpa. Bahkan dalam Babat Tanah Jawi, disebutkan bagaimana mabok kepayangnya sang Prabu ketika bertemu dengan Putri Jeumpa yang datang bersama dengan rombongan Maulana Malik Ibrahim dan para petinggi Pasai yang datang untuk berdakwah ke pusat Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit. Pada masa hidup Putri Darwati dari Jeumpa, Kerajaan tempatnya tinggal di Pasai sudah menjadi pusat Islamisasi Nusantara dan sangat berkepentingan untuk menaklukkan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit karena ia adalah satu-satunya penghalang utama untuk pengislaman tanah Jawa secara menyeluruh. Maka para Sultan dan para Ulama serta cerdik pandai Kerajaan Pasai telah menyusun strategi terus menerus dengan segala jaringannya untuk menaklukkan Kerajaan Jawa-Hindu ini. Bahkan Kekaisaran Cinapun yang telah dikuasai Muslim ikut andil dalam Islamisasi ini, terbukti dengan mengirimkan Penglima Besar dan kepercayaan Kaisar yang bernama Laksamana Cheng Ho. Jalan peperangan tidak mungkin ditempuh, mengingat jauhnya jarak antara Pasai dengan Jawa Timur sebagai pusat Kerajaan Majapahit. Maka ditempuhlan jalan diplomasi dan dakwah para duta dari Kerajaan Pasai. Grand Master Wali Sembilan (Aulia Sikurueng), Maulana Malik Ibrahim sebagai utusan senior para pendakwah yang berpusat di Kerajaan Pasai, menemukan sebuah cara yang dianggap bijak, yaitu melalui jalur perkawinan. Maka dikawinkanlah iparnya yang bernama Dwarawati atau Putri Jeumpa yang cantik jelita dan cerdas tentunya, dengan Prabu Brawijaya V, yang konon masih memeluk Hindu. Kenapa Sang Bapak Para Wali Songo ini berani mengambil kebijakan itu. Tentu hanya Allah dan beliau yang tahu. Dan akhirnya sejarah kemudian mencatat, anak perkawinan Putri Jeumpa Dwarawati dengan Prabu Brawijaya V, bernama Raden Fatah adalah Sultan Kerajaan Islam Demak pertama yang telah mengakhiri dominasi Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit dan Kerajaan-Kerajaan Hindu lainnya. Mungkin pertimbangan Maulana Malik Ibrahim menikahkan iparnya Putri Jeumpa berdasarkan ijtihad beliau setelah mengadakan penelitian panjang terhadap tradisi dan budaya orang Jawa yang sangat menghormati dan patuh bongkokan kepada Raja atau Pangeran yang selama ini dianggap sebagai titisan para Dewata, sebagaimana cerita-cerita pewayangan di Jawa. Jika ada seorang Raja atau Pangeran yang masuk Islam, maka akan mudah bagi perkembangan Islam. Karena Jawa adalah salah satu daerah yang sangat sulit diislamkan sampai saat itu, mengingat kuatnya dominasi Kerajaan Hindu Majapahit. Itulah sebabnya, ketika Putri Jeumpa telah hamil, dia ditarik dari istana Majapahit, dihijrahkan ke wilayah Islam lainnya, kabarnya ke Kerajaan Melayu Palembang. Setelah lahir anaknya, Raden Fatah, Putri Jeumpa kembali ke Jawa Timur, tapi bukan ke istana Majapahit, tapi ke Ampeldenta Surabaya, ke tempat anak saudaranya Raden Rahmat (Sunan Ampel) untuk mendidik Raden Fatah agar menjadi

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

75

pemimpin Islam. Setelah dewasa, karena masih Raden Pangeran Majapahit, maka Raden Fatah berhak mendapat jabatan, dan beliau diangkat sebagai seorang Bupati di sekitar Demak. Saat itulah para Wali Sembilan yang sudah mapan mendeklarasikan sebuah Kerajaan Islam Demak, di Bintaro Demak, sebagai Kerajaan Islam pertama di Jawa. Karena Raden Fatah adalah titisan Raja Majapahit, maka orang-orang Jawapun dengan cepat mengikuti agamanya dan membela perjuangannya sebagaimana dicatat sejarah dalam buku Babat Tanah Jawi. ”Darwati Putri Jeumpa Penakluk Majapahit” ini adalah wanita luar biasa. Dia adalah seorang ibu yang tabah, besar hati, penyayang namun mewarisi semangat perjuangan yang tidak kalah hebat dengan wanita-wanita agung Aceh seperti Laksamana Malahayati, Tjut Nya’ Dhien, Tjut Mutia dan lainnya. Bagaimana tidak, dia harus berpisah jauh dari lingkungannya ke tanah Jawa yang asing baginya, tiada handai tolan, hidup dilingkungan masyarakat Jawa-Hindu yang berbeda budaya dan tradisi dengan negeri asalnya, bahkan ada yang menyatakan suaminyapun masih beragama Hindu dalam tradisi Kerajaan Majapahit yang feodalis. Namun karena para UlamaPejuang sekelas Maulana Malik Ibrahim atas dukungan para Sultan Muslim menugaskannya berdakwah dengan caranya, wanita agung inipun ikhlas melakoni peran perjuangannya. Demi kelanjutan agamanya, dia rela meninggalkan kegemerlapan istana Majapahit sebagai permaisuri agung untuk memastikan putranya dapat pendidikan terbaik agar menjadi seorang pemimpin Islam di Jawa. Raden Fatah kecil mendapat kasih sayang serta bimbingan ibundanya bersama para Wali yang dipimpin sepupunya Raden Rahmat (Sunan Ampel) yang juga dilahirkan di Kerajaan asal ibunya. Putri Darwati dari Jeumpa telah sukses gemilang menjalankan tugas agamanya, dia seorang ibu pendidik agung (madrasat al-kubra), pejuang suci (mujahidah fi sabilillah), pendakwah Islam (da’i) sekaligus sebagai penyebab (asbab) keruntuhan sebuah dinasti Hindu terbesar yang menjadi lambang keagungan dan kebesaran Jawa, dengan Mahapatih sadis Gadjah Mada itu. Dari sisi manapun kita nilai, wanita ini adalah wanita besar, namun terhijab peran agungnya oleh wanita selir Jawa sekelas RA. Kartini, seorang selir Bupati Rembang yang dijadikan tokoh wanita hanya karena bisa bahasa penjajah Belanda dan dekat dengan penjajah kaphe. Siapa Kartini jika disandingkan dengan Ratu Tajul Alam Syafiatuddin, Sultanah Aceh yang memimpin masyarakat kosmopilit masa itu dan memiliki kekuasaan seluruh Sumatra dan Semenjang Melayu? Raden Fatah: Ujung Tombak Walisongo Menaklukkan Majapahit Bagi masyarakat Hindu-Majapahit, tidak ada tokoh yang dibenci dan dicaci sedemikian hebatnya, selain Raden Fatah (Raden Patah) yang dituduh sebagai anak durhaka yang melawan orang tua dan menentang tradisi Hindu nenek moyangnnya, bahkan dituduh meruntuhkan kehebatan peradabannya sendiri di Kerajaan Majapahit yang menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Hindu. Raden Fatah dianggap bertanggung jawab bersama para Wali Songo mengubur peradaban Hindu-Jawa yang diangungagungkan selama berabad-abad dan menggantikannya dengan tradisi dan peradaban Islam. Itulah sebabnya pribadi agung ini senantiasa difitnah dan didiskreditkan, bahkan segaja disamarkan sejarah hidupnya yang agung dan mulia, dituduh sebagai anak

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

76

haram dan durhaka oleh mereka yang dendam terhadap keberhasilan proses Islamisasi tanah Jawa. Sebenarnya Raden Fatah adalah anak dari Maha Raja Majapahit Brawijaya V. Menurut Babat Tanah Jawi, ibunya adalah seorang puteri yang berasal dari Cina yang sangat cantik dan menjadi istri dari Prabu Brawijaya V, sehingga menimbulkan kecemburuan Permaisuri Kerajaan yang berasal Cempa (Jeumpa) bernama Darwati (Dharawati). Ketika sedang hamil, putri Cina tersebut diusir dari Istana Majapahit atas permintaan Permaisuri, diberikan kepada Aria Damar di Kerajaan Palembang, dan Raden Patah lahir di Palembang. Namun cerita Babat ini perlu dikritisi kebenarannya. Permaisuri Prabu Brawijaya V yang dikatakan berasal dari Cempa, bernama Darwati (Dharawati), sebenarnya adalah Puteri Jeumpa dan seorang Muslimah yang taat, seorang wanita pejuang dari Pasai yang dikirim oleh Maulana Malik Ibrahim dan para Wali di Pasai untuk memberikan jalan kepada dakwah Islamiyah di Kerajaan Majapahit. Wanita mulia ini rela berpisah dari sanak saudaranya dan berjuang di garda terdepan masyarakat Hindu-Majapahit, meninggalkan kepentingan pribadinya demi untuk pengembangan dakwah Islamiyah. Apakah wanita agung ini memiliki akhlak yang buruk dan perangai jahat sehingga rela mengusir saudaranya sendiri, apalagi Puteri Cina itu juga diketahui seorang Muslimah? Disinilah kejanggalan cerita Babat Tanah Jawi yang ditulis oleh cendekiawan Jawa ini.Bahkan sudah masuk kepada dataran fitnah terhadap seorang Muslimah pejuang agung Puteri Jeumpa Darwati yang memang diketahui memberikan dukungan terhadap Islamisasi Majapahit dan perlindungan terhadap para pendakwah Islam dari Pasai yang menyebarkan Islam. Wanita agung ini adalah saudara ibunda Maulana Rahmatillah (Raden Rahmat/Sunan Ampel), beliaulah juga yang mengundang dan memberikan dukungan kepada Sunan Ampel ini berdakwah ke tanah Jawa. Putri Jeumpa Darwati adalah kerabat dan kader Kerajaan Islam Pasai yang ditugaskan untuk memberikan jalan kepada proses Islamisasi Majapahit, atau minimal mencegah ambisi Majapahit untuk menyerang Kerajaan Pasai. Tidak mungkin seorang Muslimah yang sudah mengedepankan kepentingan Islam akan berbuat keji seperti itu. Itulah sebabnya, sejarah yang dikemukakan Babat Tanah Jawi, yang menjadi referensi utama masyarakat Jawa harus ditelaah ulang karena mengandung banyak sekali kejanggalan. Yang menjadi pertanyaan, kenapa dan bagaimana Raden Patah dapat menjadi murid utama dan menantu dari Sunan Ampel, darimanakah hubungan ini? Apakah ini terjadi dengan sendirinya dan apa hubungannya dengan grand strategi para Wali Pasai dalam menaklukkan Kerajaan Majapahit? Jika memang benar puteri Cina yang tidak jelas identitasnya itu telah melahirkan Raden Patah, maka Permaisuri Darwati adalah diantara orang yang telah merancang kepergian puteri Cina ini dari Majapahit menuju Kerajaan Islam Palembang mitra dari Kerajaan Islam Pasai saat itu, karena disana sudah ada keponakannya Maulana Rahmatillah yang menjadi Ulama. Sebagaimana diketahui bahwa masyarakat Jawa sangat patuh kepada Rajanya yang mereka anggap titisan para Dewa. Untuk menaklukkan Majapahit secara totalitas, harus digerakkan oleh keturunan dari Maha Raja Majapahit sendiri. Itulah sebabnya sebelum lahir putra mahkota ini, diungsikan ke Kerajaan Islam dengan harapan akan lahir dan besar sebagai seorang Muslim. Maka Raden Patahpun lahir di Palembang dan menjadi seorang Muslim yang taat serta

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

77

berguru kepada Maulana Rahmatillah (Sunan Ampel), dan menjadi murid setianya yang ikut ke Ampel Denta Surabaya. Menurut sumber lain, Raden Patah sebenarnya memiliki hubungan dengan Sunan Ampel dan juga para Wali Songo, sehingga mendapat kedudukan yang mulia dan terhormat di kalangan mereka. Bahkan Raden Patah dijadikan menantu oleh Maulana Rahmatillah. Itulah sebabnya ada yang menghubungkan bahwa sebenarnya yang dikatakan sebagai Puteri Cina itu adalah Puteri Jeumpa (Campa) Darwati sendiri. Karena sejarah hidup Putri Darwati yang menjadi Permaisuri Majapahit tidak banyak ditulis di Jawa, termasuk di Babat Tanah Jawi. Kisah hidup dan perjuangannya menjadi misterius dan tidak dikenal luas oleh masyarakat Jawa. Itulah sebabnya kemudian ada ahli sejarah yang menghubungkan bahwa Puteri Cina itu adalah Puteri Darwati yang berasal dari Cempa (Jeumpa). Apalagi di banyak manuskrip Jawa, istilah Cempa sering diidentikkan dengan Cina. Ketika kecil, Raden Patah juga dikenal dengan nama Pangeran Jin Bun, sebuah nama Cina, yang kemudian mengelirukan banyak orang tentang asalnya dari Cina. Boleh saja nama ini adalah nama panggilan atau nama samaran untuk menghindar dari hasad orang-orang Majapahit yang percaya kepada ramalan bahwa Majapahit akan diruntuhkan oleh salah seorang keturunan Majapahit sendiri, sebagaimana disebutkan Babat Tanah Jawi. Raden Patah mendapat pendidikan dari Maulana Rahmatillah dan para ulama di Kerajaan Islam Palembang sebelum beliau hijrah ke tanah Jawa. Ketika Maulana Rahmatillah sudah mendirikan pesantren di Ampel Denta Surabaya, Raden Patah ikut menyusul ke tanah Jawa dan tinggal di Ampel Denta berguru kepada Maulana Rahmatillah atau Sunan Ampel. Setelah memiliki pengetahuan yang memadai, Raden Patah diperintahkan gurunya untuk mengembangkan dakwah Islamiyah ke sebelah barat, kawasan hutan dan tanah subur yang bernama Bintara. Di daerah ini Raden Patah mendirikan pesantren dan mengajarkan Islam, banyak masyarakat yang memeluk Islam dan tinggal bersamanya sehingga Bintara menjadi ramai dan berkembang menjadi kota baru. Babat Tanah Jawi menceritakan perkembangan Bintara: Prabu Brawijaya mendengar berita bahwa ada orang yang bertempat tinggal di hutan Bintara, terkenal di mana-mana tentang kebesaran pedukuhan dan kesaktiannya. Raja memanggil para menteri untuk menanyakan benar-tidaknya kabar itu. Adipati Terung memang benar adanya berita itu. Sang Prabu lalu memerintahkan untuk memanggilnya……Raden Patah segera berangkat ke Majapahit. Sang Prabu sangat gembira, jatuh hatinya kepada Raden Patah sebab rupanya sangat mirip sang Prabu. Lalu diakui sebagai putra, diangkat menjadi adipati Bintara, serta diberi abdi sepuluh ribu orang….. Lama-lama pedukuhan Bintara (Demak) menjadi semakin gemah-ripah (makmursejahtera). Setelah memiliki pengikut yang banyak, maka sudah saatnya para Wali dan pengikutnya untuk mendirikan sebuah Kerajaan Islam di tanah Jawa sebagai pendukung gerakan dakwah Islamiyah dan sekaligus menjaga Islam dan pengikutnya dari gangguan Kerajaan Hindu, terutama Majapahit. Karena Bintara yang dipimpin Raden Patah telah berkembang pesat, maka para Wali memutuskan untuk mendirikan kerajaan Islam di Bintara, yang dinamakan dengan Kerajaan Islam Demak, sebagai Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa dan mengangkat Raden Patah sebagai Sultan

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

78

Kerajaan Islam Demak dengan gelar Sultan Alam Akbar Al-Fattah pada tahun 1481 M. Selanjutnya Kerajaan Islam Demak menjadi patron kepada Islamisasi di pusat kekuasaan Kerajaan Hindu terbesar dan termegah, Majapahit. Berdirinya Kerajaan Demak telah melemahkan Majapahit yang terpecah belah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Tentang keruntuhan Majapahit, Babat Tanah Jawi dalam Runtuhnya Majapahit, menceritakan bagaimana proses runtuhnya kerajaan Hindu terbesar di tanah Jawa tersebut akibat dari penyerangan yang dilakukan oleh para Wali dan Sultan Demak. Diceritakan bahwa seluruh kaum muslimin dari penjuru Jawa telah berkumpul di Bintara-Demak dengan kekuatan yang sangat besar. Lalu mereka berangkat menuju pusat Kerajaan Majapahit. Semuanya lalu bersama berangkat ke Majapahit. Banyaknya barisan tak terhitung. Kota Majapahit dikepung. Orang Majapahit banyak takluk kepada adipati Bintara, tak ada yang berani menyambut perang…Dikisahkan selanjutnya Prabu Brawijaya meninggalkan istana dan Kerajaan Majapahit akhirnya takluk dan runtuh oleh Kerajaan Islam Demak. Keruntuhan Majapahit oleh Kerajaan Islam Demak, telah mengakhiri kejayaan Kerajaan Hindu di tanah Jawa. Sejak saat itu pusat kekuasaan di tanah Jawa telah beralih dari Kerajaan Majapahit ke Kerajaan Islam Demak. Islamisasi di tanah Jawa terus dijalankan oleh para Wali dan murid-muridnya yang mendirikan banyak pondok pesantren di seluruh tanah Jawa. Sejak berdirinya Kerajaan Islam Demak, maka telah berdiri pula kerajaan-kerajaan Islam lainnya di tanah Jawa yang berafialiasi ke Kerajaan Demak. Pada saat yang sama, hubungan antara Kerajaan Demak dengan Kerajaan Palembang, dan khususnya dengan Kerajaan Islam Pasai semakin erat. Karena para petinggi, khususnya para Sunan yang memegang kendali spiritual di Kerajaan Demak adalah anak dan cucu dari para petinggi dan ulama di Kerajaan Pasai. Akhirnya memang tidak dapat dibantah bahwa Kerajaan Islam Pasai telah memiliki peran sentral dalam mengembangkan dakwah Islamiyah di Nusantara, terutama dalam melahirkan gerakan para Wali yang telah mendirikan Kerajaan Islam dan meruntuhkan dominasi Kerajaan Hindu-Majapahit. Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Raden Patah adalah ujung tombak Kerajaan Islam Pasai melalui Wali Songo dalam meruntuhkan Kerajaan Hindu-Majapahit yang telah menyerang Pasai sebelumnya. Sunan Gunung Jati: Melanjutkan Misi Pasai Di Tanah Jawa Setelah Sayyid Hussein Jamadil Kubra menyerahkan tugas dakwahnya kepada anaknya Sayyid Ibrahim (ayahanda Maulana Rahmatillah/Sunan Ampel) di Pasai, maka beliau berangkat berdakwah menuju barat untuk menahan serangan Kerajaan Budha Thailand (Siam) yang sangat berambisi menaklukkan Kerajaan Islam Pasai. Beliau berdakwah di wilayah yang sekarang dikenal dengan Senggora di wilayah Patani, Thailand selatan dan Kelantan di Malaysia. Beliau menikah dengan seorang puteri raja Patani dan mendapat anak bernama Maulana Ali Nurul Alam, yang menjadi ayahanda kepada Sayyid Abdullah atau dikenal dengan Wan Bo, Raja pertama Kerajaan Islam untuk wilayah Champa, Senggora, Patani dan Kelantan. Menurut Babat Cirebon, ketika Sayyid Abdullah berada di Mekkah, bertemu dengan seorang puteri dari Kerajaan Pajajaran bernama Rara Santang putri Prabu

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

79

Siliwangi, kemudian mereka menikah dan mempunyai anak yang sempat belajar ke Kerajaan Pasai dan memperdalam ilmu di Ampel Denta bernama Syarif Hidayatullah. Di tanah Jawa beliau dikenal dengan Raden Sunan Gunung Jati yang menjadi anggota dari Wali Songo. Beliau lahir sekitar tahun 1450 M, namun ada juga yang mengatakan bahwa beliau lahir pada sekitar 1448 M Adapun silsilah keturunan Syarief Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) adalah : Syarif Hidayatullah bin Sayyid Abdullah bin Maulana Ali Nurul Alam bin Jamaluddin AlHusain (Sayyid Hussein Jamadil Kubra ) bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alawi Amal Al-Faqih bin Muhammad Syahib Mirbath bin ‘Ali Khali’ Qasam bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Al-Syeikh Ubaidillah bin Ahmad Muhajirullah bin ‘Isa Al-Rumi bin Muhammad Naqib bin ‘Ali Al-Uraidhi bin Jaafar As-Sadiq bin Muhammad Al-Baqir bin ‘Ali Zainal Abidin bin Al-Hussein bin Sayyidatina Fatimah (Sayyidina Ali bin Abi Thalib) binti Rasulullah SAW. Sebagai seorang keturunan para Maulana dan Ulama Ahlul Bayt, Raden Syarif Hidayatullah mewarisi ketinggian pengetahuan keislaman yang telah dikembangkan nenek moyangnnya, sekaligus memiliki kecendrungan spiritual yang sangat tinggi, terutama dari kakek buyutnya Syekh Maulana Akbar (Sayyid Husien al-Akbar) yang terkenal sebagai tokoh sufi di Nusantara. Ketika telah selesai belajar agama di pesantren Syekh Kahfi maupun Ampel Denta, beliau meneruskan pelajarannya kepada Maulana dan Ulama ke Kerajaan Islam Pasai sebagai tempat pengajian tinggi Islam di Nusantara saat itu. Para Ulama dan Maulana di Pasai sendiri pada saat itu adalah kerabat beliau juga. Selanjutnya beliau meneruskan ke Timur Tengah, terutama Mekkah dan Madinah. Ada juga yang menyebutkan beliau belajar sampai Mesir, Bagdad, Persia dan India. Dalam usia muda Syarif Hidayatullah sudah menguasai ilmu keislaman yang tinggi, sekaligus memiliki kekuatan spiritual (karamah). Babad Cirebon menyebutkan ketika Pangeran Cakrabuwana, saudara ibunda Syarif Hidayatullah, membangun kota Cirebon dan tidak mempunyai pewaris, maka sepulang dari Timur Tengah Raden Syarif Hidayatullah mengambil peranan mambangun kota Cirebon dan menjadi pemimpin perkampungan Muslim yang baru dibentuk itu setelah saudara ibundanya wafat. Beliau menikahi adik dari Bupati Banten ketika itu bernama Nyai Kawunganten. Dari pernikahan ini beliau mendapatkan seorang putri yaitu Ratu Wulung Ayu dan Maulana Hasanuddin yang kelak menjadi Sultan Banten I. Sebagai seorang Maulana yang berpengaruh di sekitar Cirebon Jawa Barat, Syarif Hidayatullah yang sudah dikenal dengan Sunan Gunung Jati ikut bersama para Wali Songo memproklamasikan Kerajaan Islam Demak pada tahun 1481. Ada yang berpendapat bila Syarif Hidayatullah keturunan Syekh Maulana Akbar dari pihak ayah, maka Raden Patah adalah keturunan beliau juga tapi dari pihak ibu yang lahir di Cempa yang terkenal dengan nama Puteri Dharawati (Darwati) yang menjadi Permaisuri Maharaja Brawijaya V di Kerajaan Majapahit. Dengan diangkatnya Raden Patah sebagai Sultan di seluruh tanah Jawa menggantikan peranan Majapahit yang sudah runtuh dan bukan hanya di Demak, maka Cirebon menjadi semacam Negara Bagian bawahan dari Kerajaan Islam Demak. Hal ini terbukti dengan tidak adanya riwayat tentang pelantikan Syarif Hidayatullah secara resmi sebagai Sultan Cirebon. Hal ini sesuai dengan strategi yang telah digariskan

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

80

Maulana Rahmatillah atau Sunan Ampel, Ulama yang paling di-tua-kan dalam Wali Sembilan. Agama Islam akan disebarkan di seluruh tanah Jawa dengan Demak sebagai pusat pemerintahan. Pada saat yang sama para Wali tetap menjalin hubungan dengan Kerajaan Islam Pasai sebagai sentral gerakan Islamisasi di Asia Tenggara. Dalam banyak riwayat dan babad, Syarif Hidayatullah dilukiskan sebagai seorang Ulama kharismatik yang memiliki peranan penting dalam pengadilan Syekh Siti Jenar pada tahun 1508 di pelataran Masjid Demak. Beliau ikut membimbing Ulama berperangai ganjil itu untuk menerima hukuman mati dengan lebih dulu melucuti ilmu kekebalan tubuhnya. Eksekusi yang dilakukan Sunan Kalijaga akhirnya berjalan baik, dan dengan wafatnya Syekh Siti Jenar, maka salah satu duri dalam daging di Kesultana Demak telah tercabut. Setelah pendirian Kerajaan Islam Demak, antara tahun 1490 hingga 1518 adalah masa-masa paling sulit dalam perjuangan dakwah Islam di tanah Jawa, baik bagi Syarif Hidayatullah di Cirebon Jawa Barat maupun Raden Patah di Demak Jawa Timur. Karena pada masa ini proses Islamisasi secara damai mengalami gangguan internal dari kerajaan Hindu Pakuan dan Galuh (di Jawa Barat) dan Kerajaan Hindu Majapahit (di Jawa Tengah dan Jawa Timur), yang diperparah oleh gangguan external dari Portugis yang telah mulai expansi di Asia Tenggara. Awal abad 16, seiring masuknya Portugis di Malaka dan Pasai, Raja Pakuan merasa mendapat sekutu untuk mengurangi pengaruh Syarif Hidayatullah yang telah berkembang di Cirebon dan Banten. Hanya Sunda Kelapa yang masih dalam kekuasaan Pakuan. Di saat yang genting inilah Syarif Hidayatullah berperan membimbing Sultan Demak II Pati Unus, pengganti Raden Patah yang juga menantunya dalam pembentukan armada perang gabungan Kesultanan Banten, Demak, Cirebon di Jawa dengan misi utama mengusir Portugis di Malaka yang mengancam kedaulatan Kerajaan Islam Pasai. Namun armada perang ini dikalahkan oleh Portugis dan Pati Unus syahid di selat Malaka. Kegagalan expedisi jihad II Pati Unus yang sangat fatal di tahun 1521 memaksa Syarif Hidayatullah merombak Pimpinan Armada Gabungan yang masih tersisa dan mengangkat Tubagus Pasai dikenal dengan Fatahillah, untuk menggantikan Pati Unus yang syahid di Malaka, sebagai Panglima berikutnya dan menyusun strategi baru untuk memancing Portugis bertempur di Jawa. Ketika Raja Pakuan mengundang Portugis ke Sunda Kelapa, maka saatnya bagi tentara Muslim menyerang mereka. Maka pada tahun 1527 bulan Juni armada Portugis datang dihantam serangan dahsyat dari tentara gabungan Islam. Dengan ini jatuhlah Sunda Kelapa secara resmi ke dalam Kesultanan Banten-Cirebon dan di rubah nama menjadi Jayakarta dan Tubagus Pasai mendapat gelar Fatahillah. Sebelum wafat, Syarif Hidayatullah menuntaskan tugas dakwahnya dengan menguasai Kerajaan Pajajaran, menawan Pakuan ibu kota Kerajaan Sunda pada tahun 1568 atau setahun sebelum beliau wafat dalam usia yang sangat sepuh hampir 120 tahun (1569). Diriwayatkan dalam perundingan terakhir dengan para Pembesar istana Pakuan, Syarif Hidayatullah memberikan 2 opsi. Yang pertama Pembesar Istana Pakuan yang bersedia masuk Islam akan dijaga kedudukan dan martabatnya seperti gelar Pangeran, Putri atau Panglima dan dipersilakan tetap tinggal di keraton masing-masing. Yang ke dua adalah bagi yang tidak bersedia masuk Islam maka harus keluar dari

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

81

keraton masing-masing dan keluar dari ibukota Pakuan untuk diberikan tempat di pedalaman Banten wilayah Cibeo sekarang yang dikenal dengan suku Baduy. Pati Unus: Dari Jawa Memerangi Portugis Membela Pasai Nama asli Pati Unus adalah Raden Maulana Abdul Qadir bin Muhammad Yunus. Beliau dijuluki dengan Raden Adipati bin Yunus, dan orang Jawa menyingkat menjadi Pati Unus. Beliau juga terkenal dengan gelar Pangeran Sabrang Lor, artinya Pangeran Sebrang Lautan, karena beliau adalah Panglima besar yang memimpin langsung penyerangan penjajah Portugis di Malaka dan sekitarnya yang mulai mengancam eksistensi pusat Islamisasi Asia Tenggara di Kerajaan Islam Pasai bersamasama dengan aliansi angkatan perang dari Demak, Cirebon, Banten, Palembang, Makassar, Malaka dan tentunya Pasai. Pati Unus lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tahun 1480 dan menjadi Sultan Demak ke 2 pengganti Raden Patah dengan gelar Sultan Akbar Al-Fattah 2. Adapun silsilah Pati Unus adalah Maulana Abdul Qadir (Raden Pati Unus) bin Syekh Muhammad Yunus bin Syekh Khaliqul Idrus (Abdul Khaliq Al-Idrus) bin Syekh Muhammad Al-Alsiy (wafat di Parsi) bin Syekh Abdul Muhyi Al-Khayri (wafat di Palestina) bin Syekh Muhammad Akbar Al-Ansari (wafat di Madinah) bin Syekh Abdul Wahhab (wafat di Mekkah) bin Syekh Yusuf Al-Mukhrowi (wafat di Parsi) bin Imam Besar Hadramawt Syekh Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam. Imam Faqih Muqaddam seorang Ulama besar sangat terkenal di abad 12-13 M yang merupakan keturunan cucu Nabi Muhammad, Sayyidus Syuhada Imam Husayn putra Imam Besar Sayyidina Ali bin Abi Talib Karromallohu Wajhahu dengan Sayyidah Fatimah Al Zahra. Dari pihak ibu, Pati Unus masih berhubungan dengan para Maulana dan Ulama Pasai, terutama Maulana Sayyid Hussein Jamadil Kubra (Maulana Akbar). Menurut beberapa riwayat, kakek Pati Unus yang bernama Syekh Khalikul Idrus (Abdul Khaliq Al-Idrus) menikah dengan puteri Maulana Akbar di Kerajaan Islam Pasai. Itulah sebabnya Pati Unus masih memiliki darah Pasai karena ayahandanya (Maulana Syekh Muhammad Yunus) diperkirakan lahir dan mendapat pendidikan di Pasai dan ditugaskan menjadi Maulana di daerah Jepara Jawa Tengah untuk membantu saudara sepupu dari pihak ibunya, Maulana Rahmatillah atau Sunan Ampel. Pati Unus lahir dan besar dalam lingkungan Ahlul Bayt yang sudah menjadi para Ulama dan Maulana di Kerajaan Islam Demak. Beliau tumbuh dan belajar di tengahtengah pusat Islamisasi di tanah Jawa dan pada masa-masa puncak kejayaan Islam yang ditinggalkan oleh para Wali yang datang dari Kerajaan Islam Pasai, terutama Maulana Rahmatillah yang lahir di Pasai dan meninggal di Ampel Surabaya. Kejayaan Demak telah mempengaruhi kepribadian dan kepemimpinan Pati Unus sehingga menjadi seorang pemuda yang alim, cerdas serta berani. Itulah sebabnya Raden Patah, Sultan Demak I, mengangkatnya menjadi menantu dan ketika akan wafat mewasiatkan agar Pati Unus menggantikan beliau sebagai Sultan Kerajaan Islam Demak II atas persetujuan Para Wali yang pada saat itu dipimpin oleh Maulana Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Berkat pendidikan orang tuanya yang Maulana dan para guru-gurunya, terutama Maulana Syarif Hidayatullah, Pati Unus tumbuh menjadi seorang panglima

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

82

perang yang gagah berani dan diangkat menjadi bupati di Jepara. Namun berkat kepribadiannya yang menonjol, gabungan antara seorang Maulana, panglima perang dan administratur pemerintahan, karirnya terus menanjak dan diangkat menjadi Panglima angkatan perang Kerajaan Islam Demak pada zaman Raden Patah. Keutamaan yang dimilikinya pula telah memikat hati para Wali dan Sultan sehingga Maulana Abdul Qadir atau Pati Unus kemudiaan dinobatkan menjadi Sultan dari Kerajaan Islam Demak. Setelah Raden Abdul Qadir beranjak dewasa di awal 1500-an beliau diambil mantu oleh Raden Patah yang telah menjadi Sultan Demak I. Dari Pernikahan dengan putri Raden Patah, Abdul Qadir resmi diangkat menjadi Adipati wilayah Jepara (tempat kelahiran beliau sendiri). Karena ayahanda beliau (Raden Yunus) lebih dulu dikenal masyarakat, maka Raden Abdul Qadir lebih lebih sering dipanggil sebagai Adipati bin Yunus (atau putra Yunus). Kemudian hari banyak orang memanggil beliau dengan yang lebih mudah Pati Unus. Untuk mempererat hubungan dengan Cirebon-Banten, Pati Unus menikah lagi dengan Ratu Ayu putri Sunan Gunung Jati tahun 1511. Kemudian Pati Unus diangkat sebagai Panglima Gabungan Armada Islam membawahi armada Kesultanan Banten, Demak dan Cirebon, diberkati oleh mertuanya sendiri yang merupakan Pemimpin Spiritual umat Islam di tanah Jawa, Syekh Syarif Hidayatullah bergelar Sunan Gunung Jati yang telah menjadi pemimpin tertinggi para Wali tanah Jawa. Gelar Pati Unus yang baru adalah Senapati Sarjawala dengan tugas utama merebut kembali tanah Malaka yang telah jatuh ke tangan Portugis. Tidak diragukan bahwa Kerajaan Islam Demak, Cirebon dan Banten di tanah Jawa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Kerajaan Islam Pasai sebagai pusat Islamisasi di Asia Tenggara. Itulah sebabnya ketika penjajah kafir Portugis pada tahun 1511 menguasai Kerajaan Malaka dan mengancam eksistensi Kerajaan Islam Pasai, maka para Wali, Sultan dan petinggi Kerajaan Islam Demak mengatur strategi untuk menyerang penjajah kafir Portugis di Malaka. Di bawah kordinasi Kerajaan Islam Demak, angkatan mujahidin Islam dari Demak, Bugis, Makassar, Maluku-Ambon, Cirebon, Banten, Palembang, Patani, Tanah Malaya dan tentunya dari Pasai dan sekitar Aceh membentuk angkatan mujahidin gabungan untuk melakukan operasi Jihad ke Malaka. Maka tahun 1513 dikirim armada kecil, ekspedisi Jihad I yang mencoba mendesak masuk benteng Portugis di Malaka tapi gagal dan angkatan mujahidin balik kembali ke tanah Jawa. Kegagalan ini karena kurang persiapan menjadi pelajaran berharga untuk membuat persiapan yang lebih baik. Maka direncanakanlah pembangunan armada besar sebanyak 375 kapal perang di tanah Gowa, Sulawesi yang masyarakatnya sudah terkenal dalam pembuatan kapal. Tahun 1518 Raden Patah, Sultan Demak I, atas restu para Wali beliau berwasiat agar mantunya Pati Unus diangkat menjadi Sultan Demak berikutnya. Maka diangkatlah Pati Unus atau Raden Sayyid Abdul Qadir bin Yunus, Adipati wilayah Jepara yang garis nasab (Patrilineal)-nya adalah keturunan Ahlul Bayt menjadi Sultan Demak II bergelar Sultan Alam Akbar At-Tsaniy. Penjajah Portugis terus melakukan penaklukan demi penaklukan di sekitar Kerajaan Islam Pasai untuk mempermudah penguasaan Pasai sekaligus untuk meredam Islamisasi di Asia Tenggara dengan menguasai jantung kekuasaannya di Pasai. Pada

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

83

saat yang sama, akibat serangan demi serangan yang dilakukan Portugis, Kerajaan Pasai semakin lemah, apalagi Kerajaan Pidier di sebelah barat telah bersekutu dengan Portugis. Dalam keadaan yang mencekam ini, salah satu jaringan Kerajaan Islam di ujung barat Sumatra, memproklamirkan berdirinya sebuah kerajaan baru pada tahun 1514 yang bernama Kerajaan Aceh Darussalam yang dipimpin oleh Sultan Ali Mughayat Syah. Akhirnya Pasai jatuh ke Portugis pada tahun 1521, dan selanjutnya peranan Pasai sebagai pusat Islamisasi Nusantara digantikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam yang sudah semakin kuat. Kejatuhan Pasai ke tangan penjajah kafir Portugis telah menimbulkan kesedihan mendalam pada para petinggi Demak, Cirebon, Banten dan jaringan Kerajaan Islam lainnya. Terutama Pati Unus yang kini telah menjadi Sultan Demak. Beliau tidak rela tanah leluhurnya di Pasai terjajah oleh kaum kafir. Pada tahun itu juga, 1521, Pati Unus dengan kekuatan 375 kapal perang yang telah selesai dibangun di Wajo Sulawesi siap kembali berjihad melawan kafir Portugis membebaskan Pasai dan Malaka. Walaupun baru menjabat Sultan selama 3 tahun Pati Unus tidak sungkan meninggalkan segala kemewahan, kemudahan dan kehormatan dari kehidupan istana tanah Jawa bahkan ikut pula 2 putra beliau yang masih sangat remaja. Demi Islam, Sang Sultan Demak sendiri memimpin armada perang yang terdiri dari gabungan jaringan kerajaan Islam. Armada perang Islam siap berangkat dari pelabuhan Demak dengan mendapat pemberkatan dari Para Wali yang dipimpin oleh Sunan Gunung Jati. Armada perang yang sangat besar untuk ukuran dulu bahkan sekarang. Dipimpin langsung oleh Pati Unus bergelar Senapati Sarjawala, Sultan Demak II. Armada perang Islam yang sangat besar berangkat ke Malaka dan Portugis pun sudah mempersiapkan pertahanan menyambut Armada besar ini dengan puluhan meriam besar pula yang mencuat dari benteng Malaka. Ketika mendarat di Malaka, kapal yang ditumpangi Pati Unus terkena peluru meriam. Beliau gugur sebagai Syahid karena berperang melawan penjajah kafir dan kewajiban membela kaum Muslim yang tertindas. Sebagian pasukan Islam yang berhasil mendarat kemudian bertempur dahsyat hampir 3 hari 3 malam lamanya dengan menimbulkan korban yang sangat besar di pihak Portugis, karena itu sampai sekarang Portugis tak suka mengisahkan kembali pertempuran dahsyat di tahun 1521 ini. Armada Islam gabungan yang menderita banyak korban kemudian memutuskan mundur kembali ke tanah Jawa untuk membangun kekuatan dan strategi baru. Sementara jihad demi jihad terus dilanjutkan para mujahidin Islam terhadap penjajah kafir Portugis di bawah komando Kerajaan Aceh Darussalam yang bangkit menjadi bintang baru Islam di ujung barat Sumatra, sebagai kelanjutan Kerajaan Islam Pasai. Setelah Pati Unus gugur sebagai syahid di Malaka, maka komando armada gabungan Islam di tanah Jawa diambil alih oleh Fadhlulah Khan yang terkenal dengan julukan Tubagus Pasai atau Sang Pangeran Pasai atau Falathehan alias Fatahillah yang diangkat Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati sebagai Panglima Armada Gabungan yang baru. Sang Maulana gagah perkasa, Sayyid Abdul Qadir bin Syekh Muhammad Yunus, Adipati Yunus, Pati Unus dengan gelar Sultan Akbar Al-Fattah Al-Tsany sudah

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

84

menunaikan tugasnya, dan kembali kehadirat Illahi sebagai syuhada dalam membela agama, kaum muslimin dan tanah leluhurnya di Pasai.

Fatahillah: Pangeran Pasai Pendiri Jakarta Fatahillah adalah gelar yang diberikan kepada Maulana Fadhilah Khan Al-Pasee yang telah berhasil merebut pelabuhan Sunda Kelapa dari penjajah Portugis pada bulan juni 1527. Setelah direbutnya kota itu dinamakannya dengan Jaya Karta atau Kota Kemenangan (al-Fath), yang sekarang dikenal dengan Jakarta ibukota negara Indonesia. Sementara penjajah Portugis mengenalnya dengan nama Falatehan. Pribadinya yang memikat, cerdas, alim dan pemberani telah menjadikannya sebagai tokoh legendaris di Asia Tenggara. Sampai-sampai orang Malaya mengakuinya sebagai tokoh legenda Laksamana Hang Tuah dari Kerajaan Malaka pada masa Sultan Mahmud Syah yang memerintah kesultanan Malaka pada tahun 1488-1511 yang menjabat sebagai Panglima Pengawal Selat Malaka. Maulana Fadhilah lahir di Kerajaan Islam Pasai sekitar tahun 1471, itulah sebabnya beliau bergelar Fadhilah Khan Al-Pasee yang di tanah Jawa disebuat sebagai Tubagus Pasee atau Pangeran dari Pasai. Beliau lahir dari lingkungan kerabat istana Kerajaan Pasai dari pihak ibu, sementara ayahadanya adalah seorang Petinggi Pasai, Ulama dan Maulana yang terkenal dengan gelar Maulana Makhdum Patakan Ibrahim yang hidup pada masa pemerintahan Ratu Nahrishah (1424) sampai Sultan Mudzafar Syah (1497). Dalam sejarah Melayu, ayah beliau ini terkenal sebagai penterjemah kitab Durrul Manzum, karya Abu Ishaq ulama Mekkah yang diserahkan kepada Sultan Malaka Sultan Mansyur Syah dan meminta bantuan raja Pasai Sultan Muzafar Syah (wafat 1497) menerjemahkan kitab tersebut. Tugas ini dilakukan oleh Ulama besar Pasai Makhdum Patakan Ibrahim, ayahanda Maulana Fadhilah. Sementara Makhdum Patakan adalah cucu dari Maulana Sayyid Hussein Jamadil Kubra. Secara lengkap silsilah beliau adalah: Maulana Fadhilah Khan (Fatahillah) bin Maulana Makhdum Nuruddin Ibrahim Patakan bin Sayyid Maulana Alam Baraqat Syekh Maulana Ismail bin Sayyid Hussein Jamadil Kubra (Maulana Akbar Hussien) dan seterusnya yang bersambung sampai dengan Sayyidina Hussein bin Sayyidina Ali ra, cucu Nabi Muhammad saw. Jadi sebenarnya beliau juga adalah keluarga satu buyut dari Maulana Rahmatillah (Sunan Ampel) dan juga Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Maulana Fadhilah hidup dan berkembang di penghujung masa kegemilangan Kerajaan Pasai dengan segala kelimpahan dan kemakmurannya dan menjadi penaung bagi kerajaan-kerajaan Islam yang baru berkembang di Nusantara. Beliau belajar di bawah asuhan para Ulama dan Maulana yang menjadi rujukan utama kaum Muslimin dan sebagai pusat pengkajian Islam tingkat tinggi dengan sistem zawiyah yang kemudian di tanah Jawa di kenal dengan pesantren. Karena Maulana Fadhilah adalah anak seorang Maulana terkemuka Pasai, Maulana Makhdum Ibrahim Patakan, maka wajarlah jika ayahandanya mengharapkan beliau menjadi Ulama kelak. Namun Sang Pangeran lebih cendrung tumbuh sebagai seorang panglima gagah perkasa.

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

85

Setelah beranjak dewasa, Maulana Fadhilah hilir mudik berlayar dari Pasai ke Malaka. Ketenaran ayahandanya di Malaka sebagai Ulama besar Pasai telah menempatkannya di dalam lingkungan istana Malaka. Apalagi di Malaka Pangeran Pasai muda ini dengan gagah perkasa memperlihatkan kepiawaiannya sebagai pendekar ulung yang mampu menggerakan Jong (perahu layar) dan dengan lincah memburu setiap perompak yang mengacau di Selat Malaka. Maka tak mengherankan bila banyak para petinggi kerajaan, baik Pasai ataupun Malaka merasa hormat dan segan kepada Pangeran Pasai ini. Pada usinya yang ke 24, pada tahun 1495/6 diangkat menjadi Hulubalang Malaka oleh Sultan Mahmud Syah (1488 – 1528). Selanjutnya Maulana Fadhilah Sang Pangeran Pasai ini mendapat gelar Laksamana Hang Tuah, Panglima Pengawal Selat Malaka. Naskah Cina menyebutkan, bahwa Kaisar pernah memberikan hadiah khusus kepada Hang Tuah, karena keberhasilannya menyelamatkan kapal-kapal dagang Cina dari perompak di selatan Selat Malaka. Setelah 15 tahun berkarier sebagai Laksamana Hang Tuah, Fadhilah berhenti tahun 1508, dan pada tahun 1509 Sang Pangeran kembali ke Pasai tanah kelahirannya. Sekembalinya di Pasai, Sang Pangeran memperdalam pengetahuan keislaman kepada para Ulama, Maulana dan Auliya yang mendapat tempat terhormat di Kerajaan Pasai. Kecerdasan dan ketekunan yang didukung oleh garis keturunan (genetik unggul) telah mengantarkan Sang Pangeran sebagai seorang Maulana terkemuka di Pasai dengan kedudukan tinggi. Disebutkan ketika pasukan gabungan Islam pimpinan Pati Unus (Adipati bin Yunus atau Maulana Abdul Qadir) menyerang Malaka pada tahun 1513 yang sudah dikuasai Portugis sejak 1511, Maulana Fadhilah ikut andil sebagai salah seorang Panglima perang. Kegagalan mengalahkan Portugis pada ekspedisi Jihad I ini telah membulatkan tekad Sang Pangeran muda ini untuk belajar lebih giat menguasai teknologi perang. Karena Portugis memiliki teknologi perang yang canggih sehingga gabungan angkatan Islam kalah. Pasai tidak cukup baginya, dan atas dukungan Sultan dan para Ulama Pasai, sekitar tahun 1516 beliau berangkat memperdalam pengetahuan ke Gujarat India, tempat asal usul moyangnya, Maulana Syah Jalal Al-Akbar dan turunannya yang menjadi Petinggi Kerajaan Thaglug. Di Gujarat beliau mendapat gelar sebagai Maulana Fadhilah Khan. Selanjutnya beliau mengembara belajar menuju pusat-pusat ilmu Islam dan teknologi seperti Mekkah, Madinah, Mesir, Baghdad, Samarkand dan Turki. Di Turki beliau mempelajari teknologi persenjataan, terutama pembuatan meriam. Sang Pangeran dalam perjalanan belajarnya, diriwayatkan pernah ikut berperang bersama pasukan Turki sebagai salah seorang Panglima untuk menduduki Konstantinopel. Setelah pasukannya berhasil menduduki Konstantinopel dan merubahnya menjadi Istambul, nama beliau sangat terkenal. Beliau diundang pulang untuk bergabung untuk membesarkan Kesultanan Demak di tanah Jawa. Maulana Fadhilah diundang para pemimpin Wali Songo yang masih paman-pamannya sendiri agar bisa membawa para ahli pembuat meriam untuk bergabung dengan Kesultanan Demak dalam menghadapi Portugis. Tidak satupun kerajaan di Nusantara di masa itu yang memiliki tekhnologi pembuatan meriam.

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

86

Setelah 5 tahun belajar ke penjuru dunia, Maulana Fadhilah Khan pulang ke Pasai pada tahun 1521. Namun pada saat itu peperangan tengah berkecamuk yang dipicu oleh ambisi penjajah Portugis, sehingga kapal beliau tidak dapat berlabuh di Pasai dan langsung ke Palembang-Bengkulu sebagai pusat baru perlawanan kaum muslimin di sebelah timur. Sementara di barat berpusat pada Kerajaan Aceh Darussalam yang baru diproklamasikan oleh Sultan Ali Mughayyat Syah pada tahun 1514. Selanjutnya Maulana Fadhilah melanjutkan pelayarannya ke tanah Banten, tempat pamannya yang sudah menjadi Pemimpin Spiritual (Aulia) Kerajaan Islam DemakCirebon-Banten bernama Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, sebagai mana yang diungkapkan dalam buku catatan pelayaran Achmad Ghulam Khaan yang ditulis tahun 946 Hijriah atau 1539 M, dan ditulis ulang oleh Musthafa Khaan, India 1973. Kedatangan Maulana Fadhilah Khan Pangeran Pasai ke tanah Jawa disambut gembira oleh armada gabungan tentara Islam yang tengah mempersiapkan ekspedisi Jihad II untuk membebaskan Malaka dari penjajah Portugis yang dipimpin langsung oleh Sultan II Kerajaan Demak, Pati Unus. Sunan Gunung Jati sebagai Pemimpin tertinggi spiritual Wali Songo menunjuk Fadhilah Khan Al-Pasee sebagai Wakil Panglima angkatan perang gabungan Demak, Cirebon, Banten, Makassar, Palembang, Pasai, Malaka, Aceh dan lainnya. Pasukan berangkat dari pelabuhan Demak Jawa dengan kekuatan 375 kapal perang. Pada kesempatan ini Maulana Fadhillah Khan dianugrahi gelar Raden Hidayat Tubagus Pasai dari Kerajaan Banten dan Wong Ageng Pasai dari Kerajaan Demak. Ternyata ekspedisi Jihad II mengalami kekalahan telak setelah berperang 3 hari 3 malam, Sultan Demak II Pati Unus bersama 2 putranya syahid di Malaka. Komando tertinggi diambil alih Maulana Fadhilah dan memerintahkan pasukan mundur kembali ke tanah Jawa. Kekalahan ini telah memberi pengaruh mendalam kepada Tubagus Pasai Fadhullah Khan terhadap penjajah Portugis. Setelah Armada Gabungan kembali ke tanah Jawa, beliau diangkat menjadi pengganti Pati Unus sebagai Panglima Armada Islam Gabungan tanah Jawa dan dinikahkan oleh Sunan Gunung Jati dengan putri beliau, Ratu Ayu janda Pati Unus untuk memperkuat kekerabatan. Beliau menetap di Kerajaan Cirebon-Banten bersama dengan sisa-sisa pasukan perangnya untuk mengatur kembali strategi mengalahkan Portugis. Beliau ditugaskan mertuanya Maulana Syarif Hidayatullah memperkuat koalisi Kerajaan Islam di Jawa, terutama Demak-CirebonBanten dalam menghadapi Kerajaan Hindu Pakuan-Galuh-Pajajaran. Kegagalan ekspedisi Jihad II di Malaka 1521 membuat kerajaan-kerajaan Islam di tanah Jawa, terutama Demak-Cirebon-Banten mengambil sikap defensif dan memancing Portugis untuk datang menyerang ke tanah Jawa. Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu tiba jua setelah Kerajaan Hindu Galuh berkoalisi dengan penjajah Portugis. Bulan Juni 1527, Portugis yang telah merasa diatas angin mencoba menguasai pelabuhan Sunda Kelapa di wilayah Jakarta Utara sekarang. Dengan persiapan yang matang, gabungan armada Islam dibawah pimpinan Maulana Fadhullah Khan Tubagus Pasai, Wong Ageng Pasai langsung meluluhlantakkan penjajah kafir Portugis bersama pasukan dan antek-anteknya. Kemenangan besar berada di pihak Islam, Maulana Fadhullah Khan atau Tubagus Pasai diberi gelar baru Fatahillah, yang berarti Kemenangan Allah SWT.

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

87

Kemenangan besar ini kemudian dirayakan sebagai hari lahir Jayakarta dan kemudian disebut Jakarta sampai sekarang (22 Juni 1527). Setelah kemenangan ini Maulana Fadhullah Khan, Tubagus Pasai, Wong Ageng Pasai atau Fatahillah diangkat Sunan Gunung Jati sebagai Penasehat Agung Kesultanan Cirebon-Banten yang kini tengah berusia mendekati 60 tahun. Kota Jayakarta diserahkan ke menantu Fadhullah Khan, anak Maulana Hasanuddin atau cucu Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yang bergelar Tubagus Angke. Setelah wafatnya Tubagus Angke diserahkan kepada putra beliau Pangeran Jayakarta yang kemudian pada 1619 karena kalah dalam konflik dengan VOC-Belanda, meninggalkan Jayakarta yang dibumihanguskan. Akhir perjalanan panjang hidup Sang Pangeran Pasai yang gagah dan berani ini, sepanjang 40 tahun lebih, memilih tugas menyiarkan agama Islam sebagai da'i, pembimbing spiritual dan menjadi ulama dan maulana di Tanah Pasundan di Jawa Barat. Beliau sangat terkenal sebagai seorang Maulana yang menguasai ajaran-ajaran tasawwuf, namun beliau juga bergandeng bahu dengan Syarif Hidayatullah menaklukkan kerajaan-kerajaan Hindu yang tersisa di Jawa Barat sebagai penasihat dan pemimpin spiritual bagi Sultan-sultan muda Kerajaan Islam. Demikian pula bersama dengan Syarif Hidayatullah, Maulana Fadhilah Khan Tubagus Pasai ikut andil menaklukkan Kerajaan Sunda-Pakuan di wilayah Bogor Jawa Barat pada tahun 1568, atau dua tahun sebelum beliau wafat. Maulana Fadhilah Khan Al-Pasee, Tubagus Pasee, Wong Ageng Pasee, Fatahillah Al-Pasee putra Maulana Makhdum Patakan Ibrahim seorang ulama besar sufi yang hidup dimasa kejayaan Kerajaan Islam Pasai, juga dikenal dengan Maulana Fatahillah ibnu Sayyid Kamil Maulana Mukhdum Ibrahim (Makhdum Patakan Ibrahim) Rahmattullah ibnu Syeikh Nuruddin Ibrahim Maulana Ismail, wafat di tanah Pasundan Jawa Barat, tepatnya di Cirebon pada tahun 1570 dalam usia hampir 100 tahun. Beliau di makamkan berdampingan dengan keluarga, sahabat dan gurunya, seorang Auliya dan Maulana, Syarif Hidayatullah yang sudah wafat mendahului beliau dua tahun di komplek pemakaman Sunan Gunung Jati, di Gunung Sembung Cirebon.

BERSAMBUNG..................... Mohon doa agar Allah SWT selalu melapangkan penulis dalam menyelesaikan penelitian ini

Sejarah Perjuangan Ummah Aceh-Sumatra

88

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->