AUDIT SEKTOR PUBLIK

IMPLEMENTASI PELAKSANAAN PROSEDUR DAN PELAPORAN HASI REVIU

OLEH :

Dody Irawan Yusri Saris Indriani

MAGISTER AKUNTANSI UNIVERSITAS MATARAM 2012

IMPLEMENTASI PELAKSANAAN PROSEDUR DAN PELAPORAN HASIL REVIU

A. PENDAHULUAN Salah satu bentuk kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh inspektorat baik provinsi maupun kabupaten/kota saat ini adalah me-review laporan keuangan pemerintah daerah (LKPD), berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah, pasal 33 ayat (3) menyatakan bahwa : Aparat Pengawasan Intern Pemerintah pada Kementrian Negara/Lembaga/Pemerintah Daerah melakukan review atas Laporan Keuangan dan Kinerja dalam rangka meyakinkan keandalan informasi yang disajikan sebelum disampaikan oleh Menteri / Pimpinan

Lembaga/Gubernur/Bupati/Walikota kepada pihak-pihak sebagaimana diatur dalam pasal 8 dan pasal 11. Adapun pihak-pihak yang dimaksudkan dalam pasal 8 dan pasal 11 tersebut antara lain adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Hal itu sesuai dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, antara lain menetapkan bahwa Laporan Keuangan pemerintah pada gilirannya harus diaudit oleh BPK sebelum disampaikan kepada pihak legislatif sesuai dengan kewenangannya. Pemeriksaan BPK dimaksud adalah dalam rangka memberikan pendapat (opini) sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004. Kata kunci yang patut digarisbawahi disini adalah meyakinkan keandalan informasi. Artinya adalah laporan keuangan yang begitu rumit menyangkut dengan angka-angka, penjelasan dan perhitungan yang begitu teknis dalam jumlah yang relatif besar, mustahil seorang kepala daerah (gubernur/bupati/walikota) dapat meyakini sendiri bahwa semua transaksi keuangan tersebut telah dicatat dan disajikan secara benar sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005) tanpa dibantu oleh perangkatnya dalam hal ini adalah inspektorat. Dalam rangka memberikan keyakinan kepada kepala daerah itulah diperlukan inspektorat untuk melakukan review atas LKPD dimaksud. LKPD yang disampaikan kepada BPK tersebut oleh BPK akan dijadikan bahan/dokumen untuk melakukan pemeriksaan LKPD. Kemudian berdasarkan hasil pemeriksaannya, BPK harus memberikan pendapat (opini). Adapun opini yang diberikan adalah salah satu dari 4 macam opini yaitu : (1) Tidak Wajar; (2) Tidak Memberikan Pendapat (disclaimer); (3) Wajar Dengan Pengecualian (WDP); dan (4) Wajar Tanpa

Pengecualian (WTP). dalam hal pengadaan barang modal yang nilainya material. harus dilakukan pengujian bahwa prosedur pengadaan barang tersebut telah dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Opini yang terakhir ini merupakan opini yang sangat diharapkan oleh setiap pemerintah daerah maupun pusat. maka perlu diberikan pemahaman mengenai batasan-batasan yang membedakan antara kegiatan review dengan kegiatan audit. jelaslah bahwa didalam review tidak akan mengemukakan temuan-temuan yang berindikasi kerugian daerah/negara atau masalah-masalah yang berkaitan dengan unsur . bukti pembayaran/kuitansi. Review tidak mencakup suatu pengujian atas kebenaran substansi dokumen sumber seperti perjanjian kontrak pengadaan barang/jasa. dan prosedur lainnya yang biasanya dilaksanakan dalam sebuah audit. Perbedaan lain juga dapat dilihat berdasarkan tujuan Audit yaitu untuk memberikan dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan. Review atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah adalah prosedur penelusuran angka-angka. keabsahan informasi yang disajikan dalam Laporan Keuangan. indikasi perbuatan korupsi itu tetap ada meskipun laporan keuangannya mendapat opini WTP. dan pengujian atas respon terhadap permintaan keterangan melalui perolehan bahan bukti. Sebagai contoh. serta prosedur lainnya seperti yang dilaksanakan dalam suatu audit. serta berita acara fisik atas pengadaan barang/jasa. catatan akuntansi. Kenapa ? Karena laporan keuangan yang dinilai WTP oleh BPK merupakan indikator bahwa pengelolaan keuangan telah dilakukan dengan transparan dan akuntabel. Dalam praktiknya. permintaan keterangan dan analitis yang harus menjadi dasar memadai bagi Inspektorat untuk memberi keyakinan terbatas atas laporan keuangan bahwa tidak ada modifikasi material yang harus dilakukan atas laporan keuangan agar laporan keuangan tersebut disajikan berdasarkan Sistem Pengendalian Intern (SPI) yang memadai dan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). review tidak mencakup pengujian terhadap sistim pengendalian intern (SPI). Review atas LKPD pemerintah provinsi dilakukan oleh inspektorat provinsi sedangkan LKPD pemerintah kabupaten/kota dilakukan oleh inspektorat kabupaten/kota. proses review hanya meyakinkan bahwa pengadaan barang telah dicatat dalam aktiva tetap. sedang dalam audit. sedangkan tujuan review hanya sebatas memberikan keyakinan mengenai akurasi. meskipun hal itu belum menjamin bahwa tidak adanya unsur tindak pidana korupsi atau perbuatan yang merugikan keuangan daerah/negara dalam pelaksanaannya. Dengan demikian. Untuk menghindari hal tersebut. Sampai saat ini belum banyak pemerintah daerah yang memperoleh opini WTP tersebut. Berbeda dengan Audit. pelaksanaan kegiatan review seringkali memiliki persamaan dengan pelaksanaan kegiatan audit. keandalan. Atau dengan kata lain.

catatan dan laporan lain yang digunakan dalam sistem akuntansi di lingkungan pemerintah daerah yang bersangkutan. dan pelaporan telah sesuai dengan kebijakan akuntansi.Reviu kesesuaian laporan keuangan dengan SAP dilaksanakan melalui wawancara/kuesioner/permintaan penjelasan dan prosedur analitis laporan keuangan yang terdiri dari pengklasifikasian. entitas. Pengujian Laporan Keuangan  Pengujian kecocokan angka dalam laporan Untuk memastikan bahwa laporan keuangan tersebut sudah seimbang (balance) dan angka antar laporan yang saling berhubungan ditetapkan dengan benar. Kesesuaian angka akun LRA dengan LAK c. bentuk catatan akuntansi dan basis akuntansi yang digunakan dalam menyajikan laporan keuangan. pengukuran. pengakuan. demikian pula tujuannya juga tidak sama dan bentuk laporannya pun berbeda. PROSEDUR PELAKSAAN REVIU Ruang lingkup reviu atas laporan keuangan pemerintah daerah meliputi :   Penilaian terbatas terhadap keandalan Sistem Pengendalian Intern (SPI) Kesesuaian dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) Artinya. maka dilakukan penelaahan lebih lanjut. B. Secara umum materi review terdiri atas : 1. Pegawai Inspektorat harus memahami secara garis besar sifat transaksi. Kesesuaian angka Neraca dengan LAK d. yaitu: . buku pembantu. pengukuran dan pengungkapan. karena metodanya yang berbeda dengan metoda audit.tindak pidana korupsi. jika terdapat kelemahan dalam Sistem Pengendalian Intern. serta terdapat ketidaksesuaian laporan yang disajikan dibandingkan dengan SAP. Kesesuaian angka akun LRA dengan Neraca b. Penelaahan lebih lanjut dapat dilakukan dengan melihat kesesuaian antara angka-angka yang disajikan dalam laporan keuangan terhadap buku besar. Dalam melakukan reviu atas laporan keuangan. Kesesuaian angka LRA dan Neraca dengan CALK\  Pengujian fungsi check and balances Untuk memastikan bahwa rincian penjelasan dalam Catatan atas Laporan Keuangan didukung dengan dokumen eksternal dan dalam penilaian. sistem dan prosedur akuntansi. Pelaksanaan reviu kesesuaian laporan keuangan pemerintah daerah dengan SAP mencakup kegiatan persiapan dan pelaksanaan reviu. yaitu: a. Jadi sekali lagi dapat dikatakan bahwa proses review tidak sama dengan proses audit.

Peraturan KD Tentang Kode Nomor Rekening Anggaran dan Akun Laporan Keuangan e. Rekonsiliasi data dan laporan c. Perda Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah b. Peraturan KD Tentang Sisdur Akuntansi c. Peraturan KD Tentang Kebijakan Akuntansi d.a. Kertas Kerja Laporan Keuangan (Neraca Lajur) b. Buku Besar d. Peraturan KD Tentang Uang Persediaan dan Anggaran Kas f. BKU Kas Daerah Reviu LKPD dilakukan dalam 3 tahapan sebagai berikut yaitu : 1. yaitu: a. Kertas Kerja Konsolidasian c. Jurnal Penerimaan Kas e. Konfirmasi data dan laporan b. Pengujian SPI  Pengujian infrastruktur akuntansi keuangan Untuk memastikan bahwa proses pencatatan dan pembuatan laporan keuangan didukung dengan peraturan intern yang sesuai dengan SAP dan dilaksanakan oleh pejabat yang telah ditunjuk secara sah. Penilaian atas Sistem Pengendalian Intern c. . yaitu: a. Keputusan Tentang Pejabat Pengelolaan Keuangan  Pengujian kelengkapan sistem akuntansi dan pelaporan Untuk memastikan bahwa laporan keuangan tersebut dibuat berdasarkan dokumen formal proses pencatatan (komputerisasi atau manual) dan telah diotorisasi dengan benar. Hasil Stock Opname dan Cash Opname 2. Jurnal Pengeluaran Kas f. Jurnal Umum g. meliputi: a. Pemahaman atas entitas b. Perencanaan Reviu. Penyusunan program kerja reviu.

Disusun secara terstruktur dengan memperhatikan kesesuaian antara informasi utama dan data pendukung. d. c. Laporan Hasil Reviu disajikan dalam bentuk surat yang memuat ”Pernyataan Telah Direviu”. Penelusuran angka c. C. KERTAS KERJA REVIU (KKR) Mengingat adanya perbedaan keadaan pada setiap penugasan reviu atas laporan keuangan. baik yang telah ditindaklanjuti. Namun perlu diperhatikan bahwa KKR harus memuat masalah yang tercakup dalam permintaan keterangan dan prosedur analitis serta masalah yang dianggap tidak biasa selama melaksanakan reviu termasuk penyelesaiannya. Berisi permasalahan yang ditemukan. Kualitas hasil reviu akan lebih terjamin jika didukung oleh KKR yang baik. 3. Kertas kerja disusun pada saat kegiatan reviu berlangsung. Pernyataan Telah Direviu dapat berupa pernyataan dengan Paragraf Penjelas atau Tanpa Paragraf Penjelas. sekaligus menjadi dokumentasi pelaksanaan reviu. Relevan: Informasi yang dimuat dalam KKR harus berhubungan dengan tujuan reviu dan permasalahan yang dihadapi. Daftar isi KKR telah sesuai dengan fisik KKR-nya. . 3. Permintaan keterangan d. atau tidak dapat segera ditindaklanjuti oleh unit akuntansi yang bersangkutan. Pelaksanaan Reviu. dengan ketentuan sebagai berikut: a. b. masih dalam proses tindak lanjut. Mengacu kepada tahapan reviu yang telah ditetapkan. maka tidak mungkin menentukan bentuk atau isi KKR yang perlu dibuat. Kertas kerja disusun dengan lengkap. Pelaporan Reviu Hasil reviu berupa Laporan Hasil Reviu ditandatangani oleh Inspektur. meliputi: a. Memenuhi hal-hal sebagai berikut: a. Kegiatan reviu dituangkan dalam KKR sebagai pertanggungjawaban bahwa langkah kerja reviu telah dilaksanakan. Laporan Hasil Reviu disampaikan kepada Kepala Daerah dalam rangka penandatanganan Pernyataan Tanggung Jawab.2. Prosedur analitis. dengan kriteria sebagai berikut: 1. Persiapan b. 2.

b. Setiap halaman laporan keuangan yang telah direviu oleh Inspektorat harus memuat pengacuan berupa kalimat "Lihat Laporan Hasil Reviu Inspektorat". Reviu yang tidak lengkap bukanlah dasar yang memadai untuk menerbitkan Laporan Hasil Reviu. Judul harus jelas untuk setiap permasalahan/topik. d. maka reviu tersebut dianggap tidak lengkap. D. dan alur pikir yang kronologis. masalah yang terjadi dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan. Laporan hasil reviu ini disampaikan kepada Gubernur/Bupati/Walikota dalam rangka penandatanganan Pernyataan Tanggung Jawab. apabila diperlukan untuk menulis pada halaman sebaliknya. permasalahan dan rekomendasinya. pengorganisasian dan pengelolaan fisik KKR. LHR. Rapi: Berhubungan dengan tata ruang penulisan. c. Hasil reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) disampaikan kepada Gubernur/Bupati/Walikota dalam bentuk surat yang memuat pernyataan reviu. Efisien: Harus dihindari pembuatan daftar yang tidak perlu. harus dibuat petunjuk yang jelas. Mudah Dipahami: KKR harus menggunakan bahasa yang sederhana. Lengkap dan Cermat: lnformasi dan data dalam KKR harus lengkap dan cermat agar mendukung simpulan. Inspektorat tidak dapat melaksanakan wawancara/kuesioner/permintaan penjelasan dan prosedur analitis. Harus ditulis pada satu muka. dan dimungkinkan menggunakan salinan (copy) dari catatan obyek yang direviu. PELAPORAN HASIL REVIU Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa dalam pelaksanaan reviu. Sesuai dengan Program Kerja Reviu: Prosedur reviu dalam Program Kerja Reviu yang tidak dilaksanakan atau diubah perlu dibuat penjelasan yang memadai mengenai alasan pembatalan atau perubahannya. Apabila dalam proses reviu. Apabila kondisi ini terjadi. . Inspektorat cukup memberikan simbol (tickmark) untuk menandai reviu yang dilakukan. serta pemberian referensi yang jelas untuk menghubungkan informasi/data antar berbagai lembar KKR. penomoran dan pemberian indeks secara sistematis. serta koreksi yang telah dilakukan oleh Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD). rekomendasi. f. KKR harus diberi daftar isi. Inspektorat harus membuat Kertas Kerja Reviu (KKR) yang menjadi dasar bagi penyusunan laporan hasil reviu. maka tim reviu harus menyampaikannya kepada Gubernur/ Bupati/Walikota secara tertulis. e. ringkas. Simbol (tickmark) harus digunakan secara konsisten selama reviu serta diberi penjelasan yang memadai.

Pernyataan reviu dengan paragraf penjelas yang dibuat apabila:  Terjadi pembatasan dalam pelaksanaan reviu  Ditemukan adanya penyimpangan terhadap standar akuntansi dan entitas pelaporan tidak melakukan koreksi seperti yang direkomendasikan oleh Inspektorat Daerah. simpulan dan rekomendasi. tujuan. Pernyataan reviu tanpa paragraf penjelas yang dibuat apabila tidak ada modifikasi material yang harus dilakukan atas laporan keuangan agar laporan tersebut sesuai dengan SAP. dapat dibuktikan (quantifiability) dan tepat (accuracy) 2. Penulisan Laporan Dalam penulisan Laporan Hasil Reviu (LHR) hendaknya memperhatikan normanorma penulisan laporan yang berlaku maupun mekanisme pelaporan sehingga dapat efektif membantu manajemen dalam mengambil keputusan.Bentuk dan Isi Laporan Hasil Reviu (LHR) LHR disajikan dalam bentuk surat yang intinya memuat pernyataan reviu. LHR harus komunikatif sehingga mudah dimengerti. Pernyataan reviu merupakan tempat menuangkan hasil reviu dalam bentuk pernyataan telah direviu (PTD) yang dibuat Inspektorat/Bawasda Provinsi/Kabupaten/Kota. LHR disusun menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Pernyataan Telah Direviu (PTD) dapat berupa: 1. 3. LHR harus menyajikan data yang relevan. 2. 4. . sehingga baru dapat dilakukan pada periode berikutnya . antara lain: 1. sasaran. serta tindak lanjut hasil reviu). komentar dan informasi tambahan (dasar reviu. maupun karena kelalaian entitas yang bersangkutan.  Prosedur (teknik reviu) tidak dapat dilaksanakan. Koreksi tidak dapat dilakukan antara lain karena: membutuhkan waktu yang relatif lama. ruang lingkup. LHR hendaknya disusun sesegera mungkin (timeliness) agar dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin. Norma penulisan LHR. koreksi bukan wewenang entitas yang bersangkutan.

Routing slip b. Kesesuaian badan laporan dengan daftar isi dan lampiran e. namun disusun berdasarkan . Kertas Kerja Reviu (KKR) f. Pembantu Penanggung Jawab/Pengendali Mutu mereviu Konsep LHR dengan memperhatikan: a.Mekanisme Pelaporan Mekanisme pelaporan mulai dari konsep LHR sampai dengan penerbitannya tetap memperhatikan reviu berjenjang sebelum laporan disetujui/ditandatangani dengan prosedur sebagai berikut: 1. Ketepatan perhitungan aritmatika yang ada dalam LHR d. Pernyataan reviu (dua lembar. Supervisor/Pengendali Teknis mereviu Konsep LHR dengan memperhatikan: a. penulisan alamat. Kelengkapan dokumen pendukung c. e. Pernyataan Tanggung Jawab Pernyataan Tanggung Jawab (PTJ) adalah pernyataan atau asersi dari Gubernur/Bupati/Walikota yang menyatakan bahwa laporan keuangan pemerintah daerah telah disusun berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai dan disajikan sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan. 4. Inspektur mereviu Konsep LHR sebelum menandatanganinya. Fotokopi surat tugas c. Ketepatan materi dan rekomendasi. Kesesuaian LHR dengan norma pelaporan. 3. PTJ bukan merupakan bagian dari proses pelaksanaan reviu atas laporan keuangan pemerintah daerah. Notisi hasil reviu (koreksi) dan tindak lanjut yang telah dilakukan. Kelengkapan dan kesesuaian unsur-unsur permasalahan dalam LHR f. b. Konsep LHR sekurang-kurangnya dilengkapi dengan: a. satu lembar untuk laporan keuangan dan satu lembar untuk LHR) d. 2. Kesesuaian tata cara penulisan LHR dengan Petunjuk Teknis Tata Persuratan Dinas seperti bentuk dan ukuran huruf. tembusan dan penomoran. Kesesuaian bentuk dan susunan LHR dengan petunjuk/standar b. Lembar reviu konsep LHR (review sheet). Ketua Tim menyusun Konsep LHR segera setelah pekerjaan lapangan selesai dan diserahkan kepada Supervisor/Pengendali Teknis/Pengendali Teknis.

Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) untuk periode yang berakhir pada tanggal tersebut berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang . Soekarno Hatta No.2 Raba-Bima Telp/Fax. Laporan Realisasi Anggaran. CONTOH LAPORAN HASIL REVIU PEMERINTAH KOTA BIMA INSPEKTORAT Jln.laporan hasil reviu yang dibuat oleh Inspektorat/Bawasda sebagai aparat pengawas intern pemerintah daerah yang bertanggung jawab langsung kepada Gubernur/Bupati/Walikota. (0374) 45231 Nomor : 700/. E../INSP/ April 2011 Lampiran : 1 (satu) set Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bima Tahun 2011 Hal : Laporan Hasil Reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bima Tahun 2011 Yth. Reviu dilaksanakan sesuai dengan peraturan yang terkait. Walikota Bima diRaba-Bima Dengan ini kami sampaikan Laporan Hasil Reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bima Tahun 2010 berupa Neraca untuk tanggal 31 Desember 2011. Laporan Realisasi Anggaran. Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk periode yang berakhir pada tanggal tersebut. dengan hasil sebagai berikut: 1.. Pernyataan Reviu Kami telah mereviu Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bima Tahun 2010 berupa Neraca untuk tanggal 31 Desember 2011..

pengecualian pada masalah yang kami jelaskan dalam paragraf berikut.Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. tidak terdapat penyebab yang menjadikan kami yakin bahwa laporan keuangan yang kami sebutkan di atas. 2. Dasar Reviu Dasar pelaksanaan reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bima yang berakhir tanggal 31 Desember 2011 adalah berupa: . Semua permasalahan ini tidak dapat ditindaklanjuti dengan segera setelah proses reviu lapangan selesai. Semua informasi yang dimuat dalam laporan keuangan adalah penyajian manajemen Pemerintah Kota Bima. (b) Penerapan sistem dan prosedur akuntansi atas transaksi Penerimaan Kas SKPD dan SKPKD belum memadai. Reviu dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. dan (c) Pengendalian atas sisa penggunaan dana Tambahan Uang (TU) belum memadai. Berdasarkan hasil reviu kami. tidak disajikan berdasarkan Sistem Pengendalian Intern yang memadai dan tidak sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. terdapat beberapa hal-hal yang perlu mendapat perhatian untuk penyempurnaannya agar laporan keuangan disusun dengan Sistem Pengendalian Intern yang memadai dan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. permintaan keterangan kepada pejabat entitas pelaporan/pejabat pengelola keuangan daerah dan prosedur analitis yang diterapkan atas data keuangan. Seperti yang disajikan dan diungkapkan dalam Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bima per tanggal 31 Desember 2011. Oleh karena itu. sehingga perlu disempurnakan pada tahun berikutnya. Reviu terutama mencakup penelusuran angka. kami tidak memberi pendapat semacam itu. Reviu mempunyai lingkup yang jauh lebih sempit dibandingkan dengan lingkup audit yang dilaksanakan sesuai dengan peraturan terkait dengan tujuan untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan. yaitu: (a) Peraturan Walikota Peraturan Walikota tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan dan Barang Milik Daerah serta Kebijakan Akuntansi Pemerintah Kota Bima belum ada.

hari kerja terhitung mulai tanggal . Tujuan dan Sasaran Reviu Tujuan reviu adalah untuk memberikan keyakinan terbatas atas laporan keuangan yang disajikan berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai dan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.1) Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. 2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.. Sasaran reviu adalah untuk laporan keuangan yang disajikan oleh PPKD. 3. 5. Laporan Arus Kas (LAK) dan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK). dan 3) Surat Tugas Inspektur Kota Bima tentang Pelaksanaan Reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bima.. Ruang Lingkup Reviu Ruang lingkup reviu adalah penelaahan keandalan sistem pengendalian intern dalam penyajian laporan keuangan dan kesesuaian laporan keuangan dengan Sistem Akuntansi Pemerintah (SAP).. Laporan Realisasi Anggaran (LRA).... sampai dengan tanggal . Laporan keuangan dimaksud mencakup Neraca.... 4. Dengan demikian pelaksanaan reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bima yang berakhir tanggal 31 Desember 2011 sejalan dengan penyusunannya. Waktu Pelaksanaan Reviu Reviu dilaksanakan selama . Rancangan Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bima yang berakhir tanggal 31 Desember 2011 disampaikan kepada Tim Reviu pada tanggal 31 Maret 2012..... 6. Simpulan dan Rekomendasi Hasil reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bima yang berakhir tanggal 31 Desember 2011 adalah sebagai berikut: .

a. melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan daerah. menyusun kebijakan dan pedoman pelaksanaan APBD. menetapkan kebijakan tentang pelaksanaan APBD. Penelahaan keandalan sistem pengendalian intern 1) Peraturan Walikota tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan dan Barang Milik Daerah serta Kebijakan Akuntansi Pemerintah Kota Bima belum ada Peraturan Walikota tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan dan Barang Milik Daerah serta Kebijakan Akuntansi Pemerintah Kota Bima belum ditetapkan. Sampai dengan berakhirnya pelaksanaan reviu hanya ditemui rancangan dokumen Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan. Pasal 7 ayat (2) bahwa PPKD dalam melaksanakan fungsinya selaku BUD berwenang: a. melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan barang milik daerah. menetapkan kebijakan tentang pengelolaan barang daerah. 2) Penerapan Sistem dan Prosedur Akuntansi atas transaksi Penerimaan Kas SKPD dan SKPKD belum memadai Dari pengujian terhadap pengelolaan transaksi penerimaan kas ditemui sebagai berikut: . menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan keuangan daerah. Hal ini mengakibatkan pelaksanaan penatausahaan keuangan dan barang milik pemerintah kota bima belum memadai. Pasal 7 ayat (1) bahwa Kepala SKPKD selaku PPKD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (3) huruf b mempunyai tugas: a. b. j. Sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Pasal 5 ayat (2) bahwa Pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai kewenangan: a. h. Kondisi ini disebabkan Kegiatan Penyusunan Kebijakan Akuntansi Pemerintah Daerah dan Kegiatan Penyusunan Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah pada Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah yang dilaksanakan oleh Bagian Keuangan Sekretariat Daerah Pemerintah Kota Bima pada Tahun Anggaran 2011 tidak menghasilkan output.

Bendahara penerimaan pada SKPD tidak pernah menyampaikan laporan pertanggungjawaban penerimaan baik administratif maupun fungsional. evaluasi dan analisis atas laporan pertanggungjawaban bendahara penerimaan pada SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (5). ayat (5) pada SKPD bahwa Bendahara penerimaan secara fungsional atas wajib mempertanggungjawabkan pengelolaan uang yang menjadi tanggung jawabnya dengan menyampaikan laporan pertanggungjawaban penerimaan kepada PPKD selaku BUD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. Sesuai Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 Pasal 189 ayat (4) bahwa Bendahara penerimaan pada SKPD wajib mempertanggungjawabkan secara administratif dengan atas pengelolaan uang yang menjadi tanggung jawabnya kepada menyampaikan laporan pertanggungjawaban penerimaan pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK-SKPD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. ayat (7) bahwa PPKD selaku BUD melakukan verifikasi. b. 3) Terdapat sisa penggunaan dana Tambahan Uang (TU) yang belum disetor ke Kas Daerah per 31 Desember 2011 Dari pengujian terhadap saldo Kas di Bendahara Pengeluaran per 31 Desember 2011 terdapat saldo yang berupa kekurangan penyetoran dari pertanggungjawaban penggunaan dana Tambahan Uang (TU) sebagai berikut: .a. evaluasi dan analisis sebagaimana dimaksud pada ayat (7) dilakukan dalam rangka rekonsiliasi penerimaan. serta ayat (8) bahwa Verifikasi. Pencatatan atas transaksi penerimaan kas daerah dilaksanakan oleh 1 (satu) tenaga staf pada Dinas Pendapatan khusus transaksi pos Pendapatan Asli Daerah dan 1 (satu) staf pada Bagian Keuangan Sekretariat Daerah khusus transaksi pos Dana Perimbangan dan Lain-Lain Pendapatan Yang Sah dengan pembukuan yang sederhana dan tidak pernah dilakukan rekonsiliasi dengan Sub Bagian Akuntansi/Pelaporan Bagian Keuangan Sekretariat Daerah.

00 No.758.758.275.00 No.000.00 Rp18.00 Rp18.000.186.No.000.275. 1102/TU/2010 Tgl.000.709.00 Rp1.00 Rp300. 4209/TU/2010 Tgl. 4899/GU NIHIL/2010 Tgl.00 3. 1463/GU NIHIL/2010 Tgl. 28/12/2010 Rp20.00 Rp11. SKPD Dokumen SP2D TU Dokumen SP2D TU NIHIL Sisa TU yang harus disetor Penyetoran per 31 Desember 2010 Kekurangan Penyetoran per 31 Desember 2010 1.000. 08/12/2010 Rp39.724.409. 13/12/2010 Rp293. Dinas Kehutanan & Perkebunan No.000.00 Rp11.000. 05/05/2010 Rp15. 02/06/2010 Rp 14.482. Kelurahan Rite No.000. 28/12/2010 Rp282.000.00 2.00 .000.00 Rp1.00 Rp0.00 No.895. 3926/TU/2010 Tgl.714.989. Sekretariat DPRD No.000.000.00 Rp0.000. 4860/GU NIHIL/2010 Tgl.

97 . serta Pengurus Barang dan Penyimpan Barang. kegiatan yang pelaksanaannya melebihi 1 (satu) bulan. Rekomendasi: Terhadap permasalahan berkaitan dengan penelaahan keandalan sistem pengendalian intern tersebut diatas disarankan kepada Kepala Dinas Pengelolaan Pendapatan. Bendahara Pengeluaran.466. Deposito dan Kas di Bendahara Pengeluaran per 1 Januari 2010 yang masih dalam penelusuran Seperti diungkapkan dalam Catatan Atas Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bima Tahun 2010 terhadap saldo Kas Daerah. b. Reviu terhadap kesesuaian Laporan Keuangan dengan SAP 1) Terdapat saldo Kas Daerah. kegiatan yang mengalami penundaan dari jadwal yang telah ditetapkan yang diakibatkan oleh peristiwa di luar kendali PA/KPA. Keuangan dan Aset Daerah Kota Bima agar: 1) Mempercepat proses Rancangan Peraturan Walikota tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah dan Barang Milik Daerah serta Kebijakan Akuntansi untuk ditetapkan menjadi Peraturan Walikota. Hal ini disebabkan keterlambatan penetapan APBD Perubahan Pemerintah Kota Bima TA 2011 yaitu tanggal 26 November 2010 dan berpengaruh pada pelaksanaan penatausahaannya oleh BUD dan SKPD. Bendahara Penerimaan. Seperti diungkapkan dalam Catatan Atas Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bima Tahun 2010 terhadap saldo Kas Daerah yang disajikan sebagai Kas di Rekening Kas Daerah (Bank) sebesar Rp19. Deposito dan Kas di Bendahara Pengeluaran per 1 Januari 2010 dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut: a.109.603. 2) Menyelenggarakan sosialisasi serta pembinaan mengenai sistem dan prosedur akuntansi keuangan dan barang milik daerah kepada seluruh PPK-SKPD. maka sisa tambahan uang disetor ke rekening kas umum daerah dan ayat (4a) bahwa Ketentuan batas waktu penyetoran sisa tambahan uang sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dikecualikan untuk: a. b.Sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 Pasal 202 ayat (4) bahwa Dalam hal dana tambahan uang tidak habis digunakan dalam 1 (satu) bulan.

00 b. Seperti diungkapkan dalam Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bima Tahun 2009 masih terdapat saldo Kas Daerah yang disajikan sebagai Kas di Luar Bendahara Umum Daerah per 31 Desember 2009 senilai Rp3.00 362. Bima Rekening No. Bank BNI Cab. Bima Saldo senilai Rp500. Bank BNI Cab. Bima senilai Rp350. Bima Rekening No. Bank BNI Cab.00 yang belum ditelusuri dan dipastikan keberadaannya.000. Bank NTB Cab.753.000.000.00 masih dalam status sitaan Kejaksaan Negeri Raba Bima dan sertifikat deposito pada PT. Bank BNI Cab. Bima Rekening No. Saldo Kas di Bendahara Pengeluaran per 31 Desember 2009 senilai Rp1. 0136317196 pada PT.289.528. Bima Rekening No. Drs. c.972. 0136317866 pada PT. 0120647870 pada PT. Sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Pasal 1 bahwa Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 47.769.00 150.00 90.000. BUD membuka rekening kas umum daerah pada bank yang sehat. serta Pasal 179 ayat (2) Untuk mengelola kas daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1).950. Seperti diungkapkan dalam Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bima Tahun 2009 masih terdapat saldo Kas Daerah yang disajikan sebagai Kas di Bendahara Umum Daerah per 31 Desember 2009 senilai Rp2. Djalil Ar. d. Bima JUMLAH KURANG CATAT Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 147.M.00 463. Bima Rekening No.00 yang belum ditelusuri dan dipastikan keberadaannya.00 140.000. MM.437.277. e. 0136317334 pada PT.610.270.000.00 terdiri dari sertifikat deposito pada PT. Bank BNI 46 Cab.734.00 masih dalam penguasaan mantan BUD periode 2005 s/d 2006 An.000. . Rekening Kas Umum Daerah adalah rekening tempat penyimpanan uang daerah yang ditentukan oleh kepala daerah untuk menampung seluruh penerimaan daerah dan digunakan untuk membayar seluruh pengeluaran daerah pada bank yang ditetapkan dan Pasal 179 ayat (1) BUD bertanggung jawab terhadap pengelolaan penerimaan dan pengeluaran kas daerah.539.000.00 belum ditelusuri dan dipastikan keberadaannya.713.97 karena terdapat kurang catat atas saldo pada: Rekening No. 0136316283 pada PT.055. 0136318065 pada PT.00 2. Bac.seharusnya adalah Rp 19.484.328. Bank BNI Cab.H. Bank BNI Cab. Saldo Deposito per 31 Desember 2009 senilai Rp850.

2) Penyajian Laporan Realisasi Anggaran Pemerintah Kota Bima belum berdasarkan konsolidasian LRA-SKPD Laporan Realisasi Anggaran Pemerintah Kota Bima disusun menggunakan aplikasi SIMDA Keuangan. Apabila diterima pada periode berikutnya. b. Seksi Akuntansi/Pelaporan telah melakukan rekonsiliasi antara realisasi menurut Laporan Realisasi Anggaran sesuai SAP dengan Laporan SPJ Fungsional dari Bendahara Pengeluaran sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006. disarankan kepada Kepala Dinas Pengelolaan Pendapatan. nilai sertifikat deposito per 31 Desember 2009. dan nilai setoran dari Kas Bendahara Pengeluaran yang berasal dari TA 2009 pada TA 2010. Rekomendasi Berdasarkan permasalahan berkaitan dengan reviu kesesuaian dengan SAP tersebut diatas.Kondisi tersebut diatas mengakibatkan realisasi Penerimaan Pembiayaan atas Penggunaan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) Tahun Anggaran Sebelumnya pada Laporan Realisasi APBD Pemerintah Kota Bima TA 2010 hanya dapat diperhitungkan dari saldo Kas Daerah yang tersimpan pada rekening kas umum daerah per 31 Desember 2009. Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 Paragraf 45 bahwa koreksi atas pengeluaran belanja (penerimaan kembali belanja) yang terjadi pada periode pengeluaran belanja dibukukan sebagai pengurang belanja pada periode yang sama. Keuangan dan Aset Daerah Kota Bima agar: . Beberapa Laporan SPJ Fungsional dari Bendahara Pengeluaran belum memperhitungkan pengurangan realisasi belanja karena pengembalian belanja pada tahun berjalan. Dari hasil pengujian dengan metode sampling terhadap perhitungan realisasi belanja pada SKPD ditemui hal-hal sebagai berikut: a. Hal ini disebabkan PPK-SKPD belum memahami Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah. koreksi atas pengeluaran belanja dibukukan dalam pendapatan lain-lain. namun belum dilakukan koreksi terhadap Laporan SPJ Fungsional dari Bendahara Pengeluaran.

00 yang masih dalam status sitaan Kejaksaan Negeri Raba Bima dan sertifikat deposito pada PT.000. Sampai dengan tanggal laporan ini.00.M.00. I (IV/b) NIP 196506201989031023 .610. Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bima Tahun 2010 (Neraca. saldo Kas Daerah yang disajikan sebagai Kas di Bendahara Umum Daerah per 31 Desember 2009 senilai Rp2.000.000. Bima Saldo senilai Rp500.00 dan saldo Kas di Bendahara Pengeluaran per 31 Desember 2009 senilai Rp1. LAK.277. Bank BNI 46 Cab.528.00 yang masih dalam penguasaan mantan BUD periode 2005 s/d 2006 An. kecuali yang berkaitan dengan permasalahan dalam paragraf penjelas pada pernyataan reviu diatas. 3) Menginstruksikan Kepala Seksi Akuntansi/Pelaporan untuk melakukan rekonsiliasi antara LRA-SKPD dengan SPJ Fungsional dan menata arsip dokumen SP2D dan STS untuk memperlancar pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bima Tahun 2010 oleh BPK. Bac. LRA.289. Bank NTB Cab. Drs.000. Inspektur Kota Bima Ach Fathoni Pembina Tk. Bima senilai Rp350. 2) Segera mengurus dan mengamankan sertifikat deposito pada PT.000.270.H. Djalil Ar. CaLK) telah diperbaiki sesuai dengan rekomendasi diatas.055.972. MM.1) Segera menelusuri saldo Kas Daerah yang disajikan sebagai Kas di Luar Bendahara Umum Daerah per 31 Desember 2009 senilai Rp3.000. Demikian laporan hasil reviu ini disampaikan kepada Bapak untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

.depkeu. Dengan ini kami sampaikan Laporan Hasil Reviu atas Laporan Keuangan berupa Neraca untuk tanggal 31 Desember 2009...130.wordpress.com/doc/15503498/PerMenDagRi2008No-04Pedoman-PelaksanaanReviu-LKPD http://akisambudi.id/fullText/2010/41~PMK.. Laporan Realisasi Anggaran..id/produk-hukum/archieve/peraturan-menteri/tahun/2008 http://203.com/2008/11/17/materi-revew-lkpd-oleh-bawasda/ http://www. di ..151/~admin19/detail_artikel. Laporan Arus Kas dan .DAFTAR PUSTAKA http://evaputranugraha.go.scribd..wordpress.php?note_id=120599791310995 Yth : Bupati .com/2010/03/17/reviu-laporan-keuangan-pemda/ http://www.196.HTM http://www...go...facebook.09~2010Per.depdagri.php?id=64 http://www...sjdih.com/note.

Dasar Reviu . Kami telah mereviu Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Contoh berupa Neraca Per tanggal 31 Desember 2009. Reviu terutama terdiri dari wawancara/ kuesioner/permintaan penjelasan kepada pejabat entitas pelaporan/PPKAD dan prosedur analitik yang diterapkan atas data keuangan. Hasil reviu kami atas sistem pengendalian intern menunjukkan bahwa pengendalian intern pengelolaan keuangan Kabupaten Contoh masih belum sepenuhnya memadai. kami tidak memberi pendapat semacam itu. Berdasarkan reviu kami. Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk periode yang berakhir pada tanggal tersebut berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. 2. dengan pengecualian pada masalah yang kami jelaskan dalam paragrap berikut. Reviu dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2008 Tentang Pedoman Pelaksanaan Reviu Atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. tidak terdapat penyebab yang menjadikan kami yakin bahwa laporan keuangan yang sebutkan di atas. dengan hasil sebagai berikut : 1. tidak disajikan berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai dan tidak sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah. Laporan Realisasi Anggaran.Pernyataan Reviu.Catatan atas Laporan Keuangan untuk periode yang berakhir per 31 Desember 2009. Reviu dilaksanakan sesuai dengan peraturan yang terkait. Oleh karena itu. Reviu mempunyai lingkup yang jauh lebih sempit dibandingkan dengan lingkup audit yang dilakukan sesuai dengan peraturan terkait dengan tujuan untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan. Semua Informasi yang dimuat dalam laporan keungan adalah penyajian manajemen Pemerintah Kabupaten Contoh. dan perlu disempurnakan.

.. Sasaran reviu adalah untuk laporan keuangan yang disajikan oleh PPKD. Laporan Arus Kas.. Laporan keuangan dimaksud mencakup Neraca..... Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah..............Ruang Lingkup reviu Ruang Lingkup reviu adalah penelaahan keandalan sistem pengendalian intern dalam penyajian laporan keuangan... dan kesesuaian laporan keuangan dengan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP). 3.Tujuan dan Sasaran Reviu Tujuan reviu adalah untuk memberikan keyakinan terbatas atas laporan keuangan yang disajikan berdasarkan sistem pengendalian intern yag memadai dan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah. 3. Surat Perintah Tugas Inspektorat kabupaten Contoh Nomor 111/111/2010 tanggal 10 Mei 2010.. . ........... 4.Simpulan dan Rekomendasi . 5. Laporan Realisasi Anggaran.... 19 Mei 2010 INSPEKTUR KABUPATEN CONTOH ...... 2.. dan Catatan atas Laporan Keuangan.....1. Negeri Angin. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pedoman pelaksanaan reviu atas LKPD...

RE PEMBINA TK I / NIP 08126794xxx .