ANALISIS KUALITATIF DAN KUANTITATIF VITAMIN A, D dan C

DISUSUN OLEH : 1. 2. 3. 4. 5. 6. MIKE TOBING YULIANA MANIK RIZKA SURYA PERMATA MERY GULTOM PALUPI DYAH ARUMSARI PUSPITA RINI (J2C006034) (J2C007055) (J2C009011) (J2C009027) (J2C009040) (J2C009057)

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS DIPONEGORO 2011

BAB I PENDAHULUAN

I. Latar Belakang Vitamin merupakan suatu molekul organik yang sangat diperlukan tubuh untuk proses metabolisme,pertumbuhan yang normal,transportasi oksigen dan anti oksidan. Vitamin membantu tubuh menggunakan karbohidrat, protein, dan lemak. Vitamin-vitamin tidak dapat dibuat oleh tubuh manusia dalam jumlah yang cukup,oleh karena itu harus diperoleh dari bahan pangan yang

dikonsumsi. Vitamin pada umumnya dapat dikelompokkan ke dalam 2 kelompok yaitu vitamin yang larut dalm lemak seperti, vitamin A,D,E,dan vitamin K ; serta vitamin yang larut dalam air seperti, vitamin B dan vitamin C. Sejak vitamin pertama kali diteliti pada tahun 1897 karena adanya penyakit beri-beri,sekarang ini semakin banyak dilakukan analisa terhadap vitamin,baik analisa kualitatif maupun analisa kuantitatif pada vitamin.

II. Rumusan Masalah Pentingnya vitamin dalam melangsungkan pertumbuhan normal serta memelihara kesehatan pada tubuh makhluk hidup, namun kebanyakan vitamin tidak dapat disintesis oleh tubuh maka banyak dilakukan analisa terhadap vitamin, sehingga dari uraian tersebut timbul masalah sebagai berikut, 2.1.Bagaimana analisa kualitatif pada vitamin ? 2.2 Bagaimana analisa kuantitatif pada vitamin?

III. Pembatasan Masalah Dari rumusan masalah yang telah disebutkan diatas,dapat dibatasi suatu masalah dalam pembahasan,”Bagaimana analisa kualitatif dan kuantitatif pada vitamin khususnya viatamin A,B,dan vitamin C?”

IV. Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan tulisan ilmiah ini adalah : 4.1. Mengetahui metode analisa kualitatif vitamin A,B,dan vitamin C. 4.2. Mengetahui metode analisa kuantitatif vitamin A,B,dan vitamin C.

Klasifikasi Vitamin Vitamin pada umumnya dapat dikelompokkan menjadi 2 golongan utama. dan terdapat dalam jumlah yang kecil dalam bahan makanan tetapi sangat penting peranannya bagi beberapa fungsi tertentu tubuh untuk menjaga kelangsungan kehidupan serta pertumbuhan. Vitamin A Vitamin A merupakan vitamin yang larut dalam lemak. maupun lemak. Vitamin merupakan suatu molekul organik yang sangat diperlukan tubuh untuk proses metabolisme.BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. III. Vitamin yang larut dalam air bergerak bebas dalam badan. Vitamin yang larut dalam lemak yaitu vitamin A. dan limpa. II. karena bersifat larut dalam air maka vitamin ini mudah rusak oleh pengolahan dan mudah hilang karena tercuci atau terlarut oleh air dan akhirnya keluar dari bahannya.D.pertumbuhan yang normal. sehingga akan menumpuk daalm tubuh bila dikonsumsi dalam jumlah banyak. yaitu vitamin yang larut dalam lemak dan vitamin yang larut dalam air. sedangkan vitamin yang larut dalam air yaitu vitamin B dan C. karena bersifat tidak larut dalam air maka vitamin ini tidak dikeluarkan dari dalam tubuh. transportasi oksigen dan anti oksidan. Merupakan jenis vitamin yang aktif dan terdapat dal beberapa bentuk : 1.E dan K. Vitamin yang larut dalam lemak akan disimpan oleh tubuh dalam hati. atau jaringan-jaringan lemak. Vitamin A alkohol (retinol) . Vitamin Vitamin dikenal sebagai suatu kelompok senyawa organic yang tidak termasuk dalam golongan protein. karbohidrat. darah.

Riboflavin (vitamin B2) yang berperan dalam membantu metabolisme tubuh. Vitamin A aldehida (retinal) Vitamin A asam (asam retinoat) Vitamin A ester (ester retinil) Vitamin A pada umumnya stabil terhadap panas.2. serta vitamin B12(sianokobalmin). dan alkali. 3. dan labu kuning. Niasin berperan untuk metabolisme energi. ubu jalar. Biotin berpartisipasi dalam proses karboksilasi.niasinamida). Tiamin (vitamin B1) merupakan vitamin yang larut dalam air yang merupakan kofaktor enzim yang berperan dalam metabolisme karbohidrat dan asam amino. biotin. sintesis asam lemak. Asam pantotenat yang berperan dalam metabolisme asam lemak. Vitamin A terdapat dalam bentuk provitamin yaitu karoten dalam tumbuhan. Kekurangan vitamin akan menyebabkan seseorang tidak dapat melihat dengan jelas dalam cahaya redup (rabun senja). sinar. dan reaksi deaminasi. asam. dan lemak yang sudah tengik. IV. Folasin berperan dalam biosintesis dan pemindahan satu satuan karbon seperti gugus metal. Sayuran dan buah-buahan yang berwarna hijau atau kuning biasanya banyak mengandung karoten seperti wortel.dan dalam reaksi fiksasi CO2 pada proses perubahan perurat menjadi oksaloasetat. dan penambahan gugus metil pada pirimidina sehingga terbentuk timin. kolina. namun mudah teroksidasi oleh udara dan akan rusak bila dipanaskan pada suhu tinggi bersama udara. dan respon imun tubuh. reproduksi. asam pantotenat. 4. niasin (asam nikotinat. Vitamin A berfungsi dalam proses melihat. Vitamin B Vitamin B termasuk dalam kelompok vitamin yang disebut vitamin B kompleks yang meliputi tiamin (vitamin B1). yaitu pada proses fotokimia pada retina. piridoksin (vitamin B6). riboflavin (vitamin B2). Vitamin B6 (piridoksin) berperan dalam . ekspresi gen. dekarboksilasi. sehingga dapat terjadi sintesis metionin. folasin (asam folat dan turunan aktifnya). selain itu juga berperan dalam proses oksidasi fenilanin menjadi tirosin. serta berperan pada siklus Krebs.

Vitamin C mudah larut dalam air namun mudah teroksidasi dan proses tersebut dipercepat dengan adanya panas. V. proses hidroksilasi dua asam amino prolin dan lisin menjadi hidroksi prolin dan hidroksilin. . serta oleh katalis tembaga dan besi. Vitamin B12 (sianokobalamin) yang berperan dalam metabolisme protein dan sel-sel darah. vitamin C merupakan vitamin yang paling mudah rusak. alkali. sinar. Oksidasi akan terhambat bila vitamin C dibiarkan dalam keadaan asam. oksidator. enzim. serta pada respirasi sel.metabolisme protein dan glikogen. Dari semua vitamin yang ada. atau pada suhu rendah. Asam askorbat sangat mudah teroksidasi secara reversible menjadi asam L-dehidroaskorbat yang dapat mengalami perubahan lebih lanjut menjadi asam L-diketogulonat yang tidak memiliki keaktifan vitamin C lagi. Vitamin C Vitamin C dapat berbentuk sebagai asm L-askorbat dan asam Ldehidroaskorbat. Peranan vitamin C adalah dalam pembentukan kolagen interseluler.

dan asma polien. terutama pada minyak ikan adalah vitamin A2. yakni satu disebelah kanan λmaks dan satunya lagi pada sebelah kiri λmaks.2 Analisis kuantitatif 1.16 nm dan 334.1 nm. skala spektrofotometer diperiksa terlebih dahulu. Absorbansi pada λmaks dikoreksi terhadap senyawa penggangu dengan menggunakan formula koreksi karena senyawa-senyawa ini akan ikut menyerap pada daerah UV. Pada vitamin A sintetik senyawa penganggu adalah senyawa-senyawa antar ( intermediet). Larutan vitamin a dalam isopropanol absorbansinya diukur pada λmaks dan pada dua titik. Analisis vitamin A 1. . terlindung dari cahaya. Dengan demikian senyawa penganggu ada vitamin A sintetik dengan minyak ikan yang berbeda.5 nm serta garis hidrogen pada 379. Sebagai pedoman dapat digunakan garis raksa pada 313. kitol. Beberapa penggangu.2.BAB III PEMBAHASAN I. Prosedur penetapan vitamin A secara spektrofotometri: Penetapan dilakukan secepat mugkin.1 Metode spektrofotometri Spektrum absorbsi ultraviolet vitamin A dan vitamin A secara asetat mempunyai absorbansi maksimal pada panjang gelombang antara 325 sampai 328 nm dalam berbagai pelarut. Apabila dianalisis menggunakan spektrometri panjang gelombang maksimum 325 sampai 328 nm 1. Kemudian ditambahkan 2 tetes asam asetat anhidrid (untuk menghilangkan air) dan 1 mL larutan SbCl3 (kondisi fresh).1 Analisis kualitatif Dalam uji kulaitatif sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan tetes demi tetes kloroform hingga larut. dan terlindung dari senyawa oksidator.7 nm dan 486. Sebelum dilakukan penetapan kadar. anhidro vitamin A.

maka penetapan dilakukan menurut cara yang tertera dalam akseforol lain.Ketepatan absorbansi yang telah dikoreksi lebih rendah jika dibandingkan dengan absorbanasi yang diamati langsung dan digunakan dalma perhitungan. Akseroftol dalam bentuk ester Zat yang tidak larut dalam sikloheksan dimurnikan dengan cara penyaringan atau cara lain yang tidak menggunakan cara penyabunan. a.550 0.811 0.000 0. Karena itu pengukuran absorbansi membutuhkan perhatian khusus dan sekurang-kurangnya harus dilakukan dua kali penetapan.299 . Absorbansi larutan diukur pada panjang gelombang yang tertera dalam daftar berikut dan dihitung sebagai absorbansi relatif terhadap absorbansi pada λ 328 nm. Jika cara pemurnian tersebut tidak dilakukan.907 1. Cara penetapan akseroftol murni adalah sebagai berikut: Sejumlah sampel atau sampel yang sudah dimurnikan ditimbang secara saksama lalu dilarutkan dalam sikloheksan secukupnya hingga diperoleh larutan yang mengandung antara 9 SI sampai 15 SI tiap mL dan ditetapkan panjang gelombang maksimalnya. Panjang gelombang 300 nm 316nm 328nm 340nm 360nm Absorbansi relatif 0.

Perhitungan potensi dilakukan sebagai berikut:  Jika panjang gelombang maksimal terletak antar 323 nm dan 327 nm dan perbandingan absorbansi pada 300 nm terhadap . [A328 nm (kor)] terletak dalam batas ± 3 % dan harga absorbansi yang belum dikoreksi maka perhitungan dilakukan dengan menggunakan harga absorbansi yang belum dikoreksi. 310 nm.  Jika harga absorbansi yang telah dikoreksi terletak lebih kecil dari 85% dan lebih besar daari 103% dari harga yang belum dikoreksi atu jika panjang gelombang absorbansi maksimal tidak terletak antara 326 nm sampai 329 nm. dicampur dengan 30 ml etanol mutlak dan m mL kalium hidroksida 50 %.  Jika harga absorbansi yang telah dikoreksi terletak antara 85% sampai 97% dari harga yang belum dikoreksi.Jika panjang gelombang absorbansi maksimal terletak antara 326 nm dan 329 nm. Absorbansi larutan diukur pada λ 300 nm. tetapai absorbansi relatif yang terbaca lebih besar dari 0. maka dihitung absorbansi pada 328 nm yang dikoreksi dengan rumus: A328 nm (kor) = 3. maka perhitungan dilakukan dengan menggunakan harga absorbansi yang belum dikoreksi. 325 nm dan 334 nm.002 dari harga yang tertera dalam daftar. Akseroftol lain Cara penentuan afseroftol lain: sejumlah zat yang ditimbang secara saksama (mengandung tidak kurang dari 500 SI akseroftol dan tidak lebih dari 1 gram lemak).52( 2A 328 nm – A316 nm – A340 nm)  Jika harga absorbansi yang telah dikoreksi. Selanjutnya dil. maka penetapan kadar dilakukan menurut cara yang tertera pada akseroftol lain. b.akukan penentuan panjang gelombang maksimal.

maka yang tidak tersabunkan dari zat yang diperiksa harus dimurnukan dengan cara kromatorafi. Reaksi ini terjadi antar antimon triklorid dengan rantai tidak jenuh dari akseroftol.555 A310 nm – 4.2. Metode Carr-price Metode ini berdasarkan atas reaksi akseroftol dengan antimon triklorida anhidrat dalam kloroform yang menghasilkan warna biru. 1.2 Metode Kolorimetri a. Karoten. Pada metode Budowski dan bondi.000  Jika absorbansi yang telah dikoreksi terletak dalam batas ± 3 % dari harga absorbansi yang belum dikoreksi. Warna yang terjadi intensitasnya cepat maksimun tetapi juga cepat pucat.  Jika panjang gelombang absorbansi maksimal tidak terletak antara 325 nm dan 327 nm atau jika perbandinganabsorbansi pada 300 nm terhadap absorbansi pada 327 nm lebih dari 0.26 A334 nm Potensi dalam SI tiap zat yang diperiksa dihitung dengan rumus: A325 nm (kor) x 18. akseroftol diubah menjadi anhidroakseroftol dalam pelarut benzen dengan katalisator asam . asam poliena dan beberapa senyawa dalam minyak ikan mengahasilkan warna biru juga.73.73.2. 815 A325 nm . perhitungan dilakukan dengan menggunakan harga absorbansi yang belum dikoreksi. Pengubahan akseroftol menjadi anhidroakseroftol Akseroftol mudah diubah menjadi anhidroakseroftol dengan bantuan sejumlah kecil asam mineral atau asam organik kuat. maka absorbanasi yang telah dikoreksi [A325 nm(kor)] dihitung dengan rumus: A325 nm (kor) = 6. b.absorbansi pada 327 nm tidak lebih dari 0.

dan 0. Saponifikasi dilakukan dengan mencampur 40 mL sampel yang telah dihomogenkan dengan 12 mL larutan KOH 60%.isomer gometri retinol 399 nm/ A377 nm sebesar (vitamin A)dipisahkan dengan kolom pengaman ( 7 x 2 mm i. Kenaikan absorbansi pada 399nm merupakan hasil dehidrasi yang berbanding langsung dengan jumlah akseroftol yang terkandung. Sebanyak 20 mL aliquot ditambahkan ke dalam cartidge Kiselguhr dan setelah 20 menit diekstraksi dengan 50 mL petroleumeter ringan. 11.2. dan 399 nm dalam benzen merupakan cara yang baik untuk mengetahui kemurnian akseroftol yakni dengan melihat bahwa A 0.0 gram) dihomogenkan. 80 mL etanol mutlak.5 gram asam askorbat untuk menghindari terjadinya oksidasi.pengukuran absorbansi pada 358 nm.toluen –p-sulfonat pada temperatur kamar.13-di- . Eluat selanjutnya diuapkan dan dilarutkan kembali dengan 2-50 mL isooktana (tergantung pada konsentrasi Vitamin A dalam sampel mula-mula).692. Karena panjang gelombang absorbsi maksimun isomer-isomer ini berbeda maka digunakan detektor photodiode array(PAD).d) yang keduanya berisi silika ggel dengan ukuran partikel 3 mikron. solut diencerkan samapi 250 mL dengan air etanol untuk memperoleh suatu rasio etanol:air(1:1 v/v). 377 nm.d) dan kolom analisis (100x 2mm i.etanolik 1%. Setelah selesai saponifikasi.10.3 Metode Kromatografi Aktivis isomer vitamin A cukup berbeda sehingga untuk pemisahannya dikembangkan dengan kolom mikrobore. Sampel diaduk pada suhu kamar selama 16 jam.868 dan A 358 nm / A 377 nm sebesar 0. 1.0.5 mL terbutilhidroksi toluen. 0. Sebanayk 30 mL air ditambahkan ke dalam sampel (jika sampelnya padat). Sampel ( 1. Metode ini telah sukses memisahkan 7 isomer vitamin A yakni: 11. Sebagai eluen adalah heksan yang mengandung 1-oktanol dalam konsentrasi rendah.cis.

vitamin B1 (Tiamin HCl) dapat ditemukan dalam bentuk bebas atau dalam bentuk kompleks dengan protein atau kompleks protein-fosfat.000.672.9. Analisis Vitamin B Vitamin B komplek merupakan thiamin. 0. dan 1. asam pantofenat. 0. Tiamin hidroklorid dalam keadaan kering cukup stabil dan pada pemanasan 100oC selama 1 jam tidak berkurang potensinya.0. Struktur dari vitamin B kompleks adalah sebagai berikut: Vitamin B2 Vitamin B1 Vitamin B5 Vitamin B6 2.1 Analisis Vitamin B1 Dalam makanan. pereduksi (vitamin B6). Larutan . 9-cis . 0.740.568.924. broflasin serta vitamin B12.13-di-cis.cis: 13-cis. dan semua trans-retinol dengan waktu retensi relatif terhadap trans-retinol masing-masing sebesar 0.877. II.7-cis. 0.510. riboflafin.

dan diukur fluoreseneinya. dan senyawa netral akan keluar dari kolom. . asam.tiamin hidroklorid dalam air dan suasana basa dapat disterilisasi pada 110oC. Untuk sampel yang mengandung protein diperlukan enzim proteolitik seperti pepsin. Satu gram tiamin hidroklorida kristal setara dengan 333. akan tetapi jika pH larutannya diatas 5. Vitamin B1 dioksida dengan kalium ferisianida dalam suasana basa membentuk tiokrom. 2.2 Uji Kualitatif Vitamin B1 : 1. Tiamin mononitrat padat lebih stabil daripada tiamin hidroklorida. Kemudian perhatikan larutan campuran tersebut di bawah lampu ultraviolet. Kemudian dikocok hingga bercampur rata. Kemudian tambhkan 3 tetes NaOH 30%. 2.1 Uji kuantitatif Vitamin B1 : Metode ini dilakukan dengan cara memasukkan sedikit serbuk (sampel) ke dalam tabung reaksi.6% dan 1 mL isobutanol. 3 tetes K3Fe(CN)6 0. Metode Spektrofluorometri Tiamin dalam makanan dan dalam sediaan farmasi harus disari lebih dahulu secara kuantitatif yang biasanya dengan mendidihkannya dalam asam encer kemudian tiamin dibebaskan dari persenyawaan kompleks dengan enzim fosfatase. Kemudian tiamin dielusi dari zeolit dengan kalium klorida yang diasamkan.5 maka akan cepat terhidrolisis. Intensitas fluoresensi sebanding dengan kadar vitamin B1.1.1.000 SI. Apabila hasil campuran tersebut menjadi berwarna biru maka uji positif pada sampel. Kandungan vitamin B1 dalam susu dilakukan dengan metode ini. Tiamin bebas perlu dimurnikan dari senyawa pengganggu dengan mengalirkannya melalui zeolit (suatu penukar ion anorganik) sehingga tiamin akan tertinggal dalam zeolit sedangkan senyawa lain seperti reduktor.

Akuades (H2O) harus bebas dari suspensi resin ketika didiamkan selama 15 detik. Larutan indikator diencerkan dengan H2O sampai 250 mL.  Indikator pH bromofenol biru dibuat dengan melarutkan 100 mg indikator dalam 3. . Kisaran warna indikator: kuning (3.05 N dengan penghangatan.0 mL NaOH 0. dibuat dengan melarutkan 250 gram KCl dalam air secukupnya hingga 1 L. pencucian diulang hingga diperoleh H2O sampai jernih. disiapkan dengan menambah 50 gram BioRex dengan 300mL HCl 2 N.Bahan-bahan yang digunakan untuk analisis vitamin B1 dalam susu adalah sebagai berikut:  Resin untuk kromatografi.5 mL HCl pada 1 L larutan kalium klorida di atas. Kisaran warna indikator: hijau (4. Larutan indikator diencerkan dengan H2O sampai 200 mL. dibuat dengan menambahkan 8.  Larutan kalium klorida-asam.6). disaring.  Indikator pH brom kresol hijau dibuat dengan melarutkan 100 mg indikator dalam 2.05 N dengan penghangatan. disiapkan dengan melarutkan 272 gram natrium asetat trihidrat dalam air secukupnya hingga 1 L.0) – biru (5.  Larutan enzim 10% (b/v) dibuat dengan melarutkan 10 gram enzim diastase dalam akuades dan mengencerkannya sampai 100. Larutan ini dibuat baru tiap hari. dibuat dengan melarutkan 1 gram K3Fe(CN)6 dalam air secukupnya lalu mengencerkannya sampai 100 mL. dan diulangi lagi dengan menambahkan 300 mL H2O.  Larutan kalium klorida netral 25% (b/v). Larutan ini dibuat baru setiap hari.  Larutan natrium asetat 2 N.8).0) – biru (4.0 mL.  Larutan kalium ferisianida 1%.0. diaduk selama 15 menit. disaring.8 mL NaOH 0. diaduk selama 1 menit. Jika terbentuk suspensi resin.5– 7. dan diulangi lagi sampai diperoleh pH H2O antara 4.

Larutan stok ini disimpan dalam labu berwarna merah atau kuning.5–4.5–4. Larutan baku ini disimpan dalam labu berwarna merah atau kuning. Prosedur penetapan kadar vitamin B1 secara spektrofluorometri: a.3 lalu mengencerkannya sampai batas tanda dengan alkohol yang telah . dibuat dengan menimbang secara seksama 50.100 µg/mL. dibuat dengan melarutkan 10 mg kinin sulfat dalam asam sulfat 0.1 N secukupnya hingga 1 L. Penyiapan kolom Kromatografi Kolom kromatografi disiapkan dengan cara memasukkan glass wool dari atas kolom sampai ujung kolom. dibuat dengan mengencerkan 3 mL asam asetat glasial dengan H2O sampai 100 mL. oleh karena itu berhati-hatilah selama menimbang untuk menghindari penyerapan lembab) lalu memindahkannya dalam labu takar 500 mL.0 mL larutan kalium ferisianida 1% dengan NaOH 15% secukupnya hingga 100 mL.3. Pereaksi pengoksidasi disiapkan dengan mencampur 4.  Isobutil alkohol. Penyiapan larutan baku Tiamin HCl i.0 mL larutan stok kinin sulfat di atas dengan H2SO4 0. Cairan dijaga untuk tidak berada di bawah permukaan resin selama proses adsorbsi. b. Tiamin HCl dilarutkan dalam larutan alkohol 20% yang telah diasamkan dengan HCl untuk mengatur pH larutan 3. Pereaksi ini digunakan dalam waktu 4 jam setelah pembuatan. Larutan ini ditambah HCl tetes demi tetes untuk mengatur pH-nya antara 3.1 N sampai 200 mL. Larutan baku stok (induk).0 mg baku tiamin HCl yang telah dikeringkan dalam desikator (Tiamin HCl bersifat higroskopik. suspensi resin dimasukkan dalam H2O sampai ketinggian 10 cm.  Larutan asam asetat 3%.  Alkohol yang diasamkan dibuat dengan mengencerkan 250 mL alkohol dengan H2O sampai 1 L. Dengan hati-hati.  Larutan baku kinin sulfat dibuat dengan mengencerkan 5.  Larutan stok kinin sulfat.

0 mL larutan baku antara lalu ditambah 50 mL HCl 0. dibuat dengan mengambil 10.0 mL larutan stok (induk) 100 µg/mL diatas sampai 1 L dengan alkohol 20% yang telah diasamkan dengan HCl untuk mengatur pH antara 3. Larutan disimpan dalam botol berwarna kuning atau merah dalam refigerator (Larutan ini stabil dalam beberapa bulan).diasamkan.1 N. dibuat dengan mengencerkan 100.0 mL larutan kerja (iii) sampai 100 mL dengan HCl 0. Larutan ini dibuat baru setiap kali pengujian. iii. iv. Larutan ini ditandai sebagai larutan baku uji dan dilanjutkan secara langsung dengan proses oksidasi. Larutan ini ditandai sebagai larutan baku uji (mengandung tiamin HCl 5 µg) dan dilanjutkan dengan proses oksidasi.0 mL larutan baku kerja lalu dilanjutkan dengan proses hidrolisis enzim dimulai dengan “larutan diencerkan dengan 65 mL”. Setelah selesai dilanjutkan dengan pemurnian hingga diperoleh larutan 25. Untuk sampel kering atau setengah kering yang mengandung senyawa basa dalam jumlah kecil.1 µg/mL. dibuat dengan mengencerkan 20.1 N.1 N. Larutan didinginkan dan diencerkan sampai 100 mL dengan HCl 0.0 mL. Larutan baku kerja. ii. dibuat dengan cara: mengambil 20.3. Larutan disimpan dalam botol tertutup yang kedap terhadap cahaya pada suhu 10oC. Larutan baku kerja untuk sampel-sampel yang mengandung tiamin bebas.5–4. c. penyiapan sampelnya: ditimbang .  Untuk sampel-sampel yang mengandung tiamin bebas (tidak digunakan untuk sampel yang mengandung tiamin pirofosfat). Larutan baku kerja untuk sampel-sampel yang mengandung tiamin pirofosfat. Penyiapan sampel (ekstraksi) i. Larutan selanjutnya didigesti selama 30 menit pada penangas uap pada suhu 95–100oC atau dalam penangas air mendidih selama 30 menit dengan sesekali diaduk. v. Larutan antara 10 µg/mL.

penyiapan sampel dilakukan dengan cara: ditimbang sejumlah sampel secara seksama yang setara dengan 15 µg tiamin HCl. Jika terjadi gumpalan. Campuran diaduk hingga sampel terdispersi dalam cairan. larutan digojog kuat hingga semua partikel padat bersentuhan dengan cairan.  Untuk sampel cair.1 N. dimasukkan dalam labu yang berukuran . larutan digojog kuat hingga semua partikel padat bersentuhan dengan cairan. campuran digojog hingga partikel terdispersi. dimasukkan dalam labu yang berukuran sesuai. Jika gumpalan masih terjadi. Tepi labu dicuci dengan HCl 0.1 N hingga mengandung ± 0. Jika gumpalan masih terjadi.2 µg/mL. Larutan ini ditandai sebagai larutan sampel uji. Larutan ini ditandai sebagai larutan sampel uji. Larutan selanjutnya diencerkan dalam labu takar dengan HCl 0.sejumlah sampel secara seksama yang setara dengan 15 µg tiamin HCl lalu dimasukkan dalam labu yang berukuran sesuai dan ditambah sejumlah mL HCl 0. Larutan selanjutnya didigesti selama 30 menit pada penangas uap pada suhu 95–100oC dengan seringkali diaduk lalu didinginkan.2 µg/mL. Jika terjadi gumpalan. Campuran ditambah 1 mL HCl 10 N tiap 100 mL cairan. ditambah HCl encer dalam sampel hingga pHnya ± 4.1 N sebanyak 10 kali berat sampel kering dalam gram.1 N hingga mengandung ± 0.1 N. Tepi labu dicuci dengan HCl 0. Larutan selanjutnya diencerkan dalam labu takar dengan HCl 0.  Untuk sampel kering atau setengah kering yang mengandung senyawa basa dalam jumlah cukup tinggi. ditambah sejumlah volume H2O hingga volumenya 10 kali berat sampel kering dalam gram. campuran digojog hingga semua partikel terdispersi. penyiapan sampel dilakukan dengan cara: diambil sejumlah tertentu sampel secara seksama yang setara dengan 15 µg tiamin HCl. Larutan selanjutnya didigesti selama 30 menit pada penangas uap pada suhu 95–100oC dengan seringkali diaduk lalu didinginkan.

Tepi labu dicuci dengan HCl 0. Larutan didigesti selama 30 menit pada penangas uap pada suhu 95–100oC dengan seringkali diaduk lalu didinginkan.0-4. Larutan ini ditandai sebagai larutan sampel uji. Larutan selanjutnya ditambah sejumlah volume H2O hingga volumenya 10 kali berat sampel dalam gram.1 N hingga mengandung ± 0. Larutan ini ditandai sebagai larutan sampel uji.sesuai. d.1 N. dan jika gumpalan masih terjadi campuran digojog.2–0. campuran digojog hingga partikel terdipersi.5 µg/mL. Tepi labu dicuci dengan HCl 0. Larutan ditambah 1 mL HCl 10 N tiap 100 mL cairan lalu diaduk hingga sampel terdispersi dalam cairan. Larutan diaduk hingga sampel terdispersi dalam cairan. pH masing-masing larutan diatur 4.1 N. Proses selanjutnya adalah dengan hidrolisis enzim dan dengan pemurnian. Untuk sampel-sampel yang mengandung tiamin pirofosfat. pH larutan diatur dengan penambahan HCl atau NaOH hingga pH ± 4. Jika terjadi gumpalan. dimasukkan ke dalam labu yang berukuran sesuai lalu ditambah sejumlah mL HCl 0. Larutan diencerkan dalam labu takar dengan HCl 0. Titik akhir ditandai dengan .1 N. Larutan diencerkan dalam labu takar hingga mengandung ± 0. penyiapan sampelnya dilakukan dengan cara: ditimbang sejumlah sampel secara seksama yang setara dengan 15 µg tiamin HCl. larutan digojog kuat. Jika gumpalan masih terjadi. ii. Jika terjadi gumpalan. larutan digojog kuat hingga semua partikel padat bersentuhan dengan cairan.5 dengan penambahan larutan natrium asetat 2 N menggunakan indikator bromkresol hijau.2 µg/mL. Hidrolisis dengan Enzim Sejumlah tertentu aliquot yang mengandung 10–25 µg tiamin diambil dan diencerkan dengan 65 mL HCl 0. Larutan selanjutnya didigesti selama 30 menit pada penangas uap pada suhu 95–100oC dengan seringkali diaduk lalu didinginkan.1 N sebanyak 10 kali berat sampel kering dalam gram.

5 gram NaCl dan 5 mL larutan baku uji (larutan dijaga dari cahaya karena akan merusak tiokrom). Permukaan cairan jangan dibiarkan berada di bawah permukaan resin. oksidasi tiamin menjadi tiokrom dilakukan dengan cara: Pada masing-masing 2 tabung 40 ml. dan diencerkan dengan larutan KCl-asam sampai batas volume. Permukaan cairan jangan dibiarkan berada di bawah permukaan resin.  Pipet dipindahkan dan tabung sekali lagi digoyangkan supaya bercampur.0–4. Larutan selanjutnya ditambah 5 mL larutan enzim.  Larutan digoyangkan ringan hingga terbentuk gerakan memutar dalam cairan dan segera ditambah 3 mL pereaksi pengoksidasi dengan pipet (gunakan pipet yang mampu mengeluarkan 3 mL pereaksi pengoksidasi dalam waktu 1-2 detik). Larutan ini ditandai sebagai larutan sampel uji.  Untuk larutan baku uji. Oksidasi Tiamin menjadi Tiokrom i. lalu didinginkan. f. dan pH-nya diatur ± 3. ditambah 1. didinginkan. . Kolom kromatografi dicuci 3 kali masing-masing dengan 5 mL H2O yag hampir mendidih. e.1 N sampai 100 mL dan disaring melalui kertas saring yang tidak menyerap tiamin. Larutan diencerkan dengan HCl 0. Tiamin dielusi dari resin dengan melewatkan 5 kali masing-masing 4. dicampur. Pemurnian Sejumlah aliquot larutan sampel yang telah disaring yang mengandung ± 5 µg tiamin dilewatkan pada kolom kromatografi yang telah dipersiapkan.perubahan warna biru yang tetap.5 mL larutan KClasam yang hampir mendidih (>60oC) melalui kolom. diinkubasikan pada suhu 45–50oC selama 3 jam. Eluat yang diperoleh dari hasil hidrolisis dan pemurnian larutan baku dikumpulkan dalam labu takar 25 mL.5 menggunakan indikator bromofenol biru.

Dengan segera. larutan ditambah 13 mL isobutanol lalu ditutup tabungnya. ditambah 1. dilakukan juga sampel blanko dengan mengganti 3 mL pereaksi pengoksidasi dengan 3 mL larutan NaOH 15%. Larutan selanjutnya digojog dengan kuat selama 2 menit.   Tabung disentrifugasi dengan kecepatan rendah sampai diperoleh supernatan yang jernih dari masing-masing tabung.0 mL ekstrak isobutanol (lapisan atas) dipipet untuk selanjutnya diukur fluoresensinya. ii.   Dengan segera. Untuk larutan sampel uji  Pada masing-masing 2 tabung 40 mL. Tabung disentrifugasi dengan kecepatan rendah sampai diperoleh supernatan yang jernih dari masing-masing tabung. dilakukan juga baku blanko dengan mengganti 3 mL pereaksi pengoksidasi dengan 3 mL larutan NaOH 15%.0 mL ekstrak isobutanol (lapisan atas) dipipet untuk selanjutnya diukur fluoresensinya. larutan ditambah 13 mL isobutanol lalu ditutup tabungnya dan digojog kuat selama 2 menit.  Tabung digoyangkan ringan hingga terbentuk gerakan memutar dalam cairan dan dengan segera.5 gram NaCl dan 5 mL larutan sampel uji (larutan dijaga dari cahaya karena cahaya akan merusak tiokrom). Pada salah satu tabung. larutan ditambah 3 mL pereaksi pengoksidasi dengan pipet (digunakan pipet yang mampu mengeluarkan 3 mL pereaksi pengoksidasi dalam waktu 1-2 detik).    Pipet dipindahkan dan tabung digoyangkan sekali lagi supaya bercampur. Pada salah satu tabung. . Sebanyak 10.  Sebanyak 10.

 Fluoresensi ekstrak isobutanol yang berasal dari larutan sampel uji yang ditambah pereaksi pengoksidasi (I) diukur. dengan kadar 100 kali lebih besar dari kadar tiamin tetap tidak mengganggu. triptopan. selanjutnya diukur juga fluoresensi ekstrak isobutanol yang berasal dari larutan baku uji yang ditambah 3 mL larutan NaOH 15 % h. asam nikotinat. maltosa. urea. Perhitungan µg Tiamin HCl tiap 5mL larutan uji = 2. gliserofosfat dan logam berat. piridoksin. tepung. pepton. Pereaksi 6-aminotimol dibuat dengan melarutkan 50 mg 6aminotimol dalam 50 mL asam klorida 0. asam pantotenat.g. selanjutnya diukur juga fluoresensi ekstrak isobutanol yang berasal dari larutan sampel uji yang ditambah 3 mL larutan NaOH 15 % (b). Pengukuran fluoresensi tiokrom Fluoresensi tiokrom diukur pada λ eksitasi 365 nm dan λ emisi 435 nm. Metode Kolorimetri Dasar metode ini adalah reaksi antara tiamin dengan 6-aminotimol yang telah didiazotasi.35% dan mengencerkannya dengan air secukupnya hingga 200 mL. Dekstrosa. laktosa. guanin. gelatin. Hasil peruraian tiamin tidak menghasilkan warna dengan pereaksi ini. Riboflavin. tirosin dan histidin yang terdapat dengan kadar 20 kali lebih besar daripada kadar tiamin juga tidak mengganggu. adenin. Reprodusibilitas fluorometer diatur dengan menggunakan larutan baku kinin sulfat. ( – ) . sukrosa. nikotinamid.  Fluoresensi ekstrak isobutanol yang berasal dari larutan baku uji yang ditambah pereaksi pengoksidasi (S) diukur. kasein.

Tiap mL NaOH 0. dilakukan penetapan seperti diatas kemudian warna yang terjadi disari dengan campuran pelarut yang terdiri atas 90 mL toluen yang telah didestilasi ulang (redestilasi) dan 10 mL n-butanol. Berat ekivalen (BE) tiamin hidroklorida pada penetapan secara alkalimetri adalah sama dengan berat molekulnya (BM). Larutan selanjutnya ditambah 5.0 mL natrium hidroksida 20% dan diencerkan dengan air secukupnya sampai 20.1%. Lapisan pelarut organik dipisahkan dan ditambah ± 1 gram natrium sulfat anhidrat untuk mengeringkan pelarut lalu diukur absorbansinya. 3. ditambah 2. dilarutkan dalam 75 mL air bebas CO2 lalu dititrasi dengan NaOH 0.Prosedur penetapan kadar tiamin murni dengan pereaksi 6aminotimol: Sejumlah 5.70 gram tiamin hidroklorida.1 N menggunakan indikator brom timol biru.0 pereaksi 6-aminotimol didinginkan dengan es.1 N menggunakan indikator brom timol biru. Sejumlah 1.1 N setara dengan 33.0 pereaksi ini ditambah 1. Prosedur penetapan kadar tiamin hidroklorida dengan metode alkalimetri: Lebih kurang 500 mg tiamin hidroklorida yang ditimbang seksama. Metode Alkalimetri Adanya hidroklorida pada tiamin hidroklorida dapat dititrasi dengan natrium hidroksida 0.0 mL natrium nitrit 0.0 larutan sampel.9 mL. Jika larutan sampel telah berwarna atau keruh. Digunakan larutan blanko. Hali ini . Setelah 5 menit larutan diencerkan dengan air untuk mendapatkan absorbansi yang sesuai. lalu dicampur dan didiamkan selama 1 menit.

dan ditambah 20 mL dioksan. Prosedur penetapan kadar tiamin dengan metode TBA: Lebih kurang 250 mg tiamin hidroklorida yang ditimbang seksama ditambah 10 mL asam asetat glasial. Kadar Tiamin HCl = 4.86 mg tiamin hidroklorida. merah kuinaldin. Berat ekivalen (BE) tiamin hidroklorida pada penetapan secara titrasi bebas air adalah setengah dari berat molekulnya (BM/2). Pada penetapan dengan metode Volhard suasananya harus asam sebab jika suasananya basa maka akan terjadi reaksi antara perak nitrat dengan basa . 10 mL raksa (II) asetat 5% dalam asam asetat glasial.disebabkan karena tiap 1 mol tiamin hidroklorida bereaksi dengan 1 mol NaOH. atau dengan kristal violet.1 N menggunakan indikator 3 tetes kristal violet sampai warna biru. Kadar Tiamin HCl = 5.1 N setara dengan 16. Selanjutnya larutan dititrasi dengan asam perklorat 0. Sebagai indikator dapat digunakan p-naftol benzen. Metode Titrasi Bebas Air (TBA) Tiamin hidroklorida dalam asam asetat glasial dapat dititrasi dengan asam perklorat dengan sebelumnya ditambah raksa (II) asetat berlebihan. Hali ini disebabkan karena tiap 1 mol tiamin hidroklorida bereaksi dengan 2 mol HClO4. Kedua atom nitrogen dalam tiamin hidroklorida tertitrasi sehingga berat ekivalennya setengah dari berat molekulnya. Tiap mL asam perklorat 0. Metode Argentometri Adanya klorida dalam tiamin hidroklorida dapat ditetapkan secara argentometri dengan menggunakan metode Volhard.

Pada larutan yang telah mendidih ini selanjutnya ditambah dengan cepat tetes demi tetes 4 mL asam silikowolframat yang baru disaring lalu dididihkan selama 4 menit.1 N menggunakan indikator besi (III) amonium sulfat. Metode Gravimetri Tiamin dalam tablet vitamin B1 dan dalam injeksi dapat ditetapkan secara gravimetri dengan cara mengendapkan larutan tiamin menggunakn asam silikowolframat.1 N setara dengan 16. Prosedur penetapan kadar vitamin B1 secara argentometri: Lebih kurang 100 mg tiamin hidroklorida yang ditimbang secara seksama dilarutkan dalam 20 mL air. akibatnya perak nitrat tidak hanya bereaksi dengan sampel tetapi juga bereaksi dengan basa. Berat ekivalen (BE) tiamin hidroklorida pada penetapan secara argentometri adalah setengah dari berat molekulnya (BM/2).86 mg tiamin hidorklorida. Prosedur penetapan kadar tiamin dengan metode gravimetri: Sejumlah tertentu tablet yang telah ditimbang secara seksama dan setara dengan lebih kurang 50 mg tiamin hidroksida. Tiap mL perak nitra 0.membentuk Ag(OH) yang pada tahap selanjutnya akan membentuk endapan putih Ag2O. diencerkan dengan air secukupnya hingga 50 mL lalu ditambah 2 mL asam klorida pekat dan dipanaskan hingga mendidih. Endapan yang terjadi disaring dan dicuci dengan air sampai tidak mengandung klorida. Filtrat selanjutnya dititrasi dengan larutan baku ammonium tiosianat 0.1 N. Larutan disaring melalui penyaring kaca masir lalu dicuci dengan 50 mL campuran mendidih yang terdiri atas 1 bagian volume asam klorida . 6. Larutan diasamkan dengan asam nitrat encer dan ditambah 10 mL perak nitrat 0. Hal ini disebabkan karena tiap 1 mol tiamin hidroklorida (yang mengandung 2 Cl-) bereaksi dengan 2 mol AgNO3.

Sisa dikeringkan pada suhu 105oC selama satu jam lalu didinginkan selama 10 menit dan dibiarkan dalam eksikator di atas larutan asam sulfat 38% dan ditimbang. 2. Kelarutan Riboflavin dalam air bervariasi dari 1 bagian riboflavin dalam 3000 bagian air sampai 1 bagian riboflavin dalam 15. Variasi ini disebabkan oleh variasi bentuk kristalnya. 2.000 bagian air. oksidator. riboflavin harus terhindar cahaya. Tiap gram sisa setara dengan 192.3.1 %. Riboflavin sangat mudah rusak oleh cahaya dan sinar ultraviolet.pekat dan 19 bagian air yang mengandung asam silikowolframat 0.3. Riboflavin larut dalam air dan member warna fluorosen kuning-kehijauan. Penyinaran dengan sinar ultraviolet atau cahaya tampak terhadap larutan riboflavin dalam basa menghasilkan lumiflavin sedangkan larutan riboflavin dalam suasana netral atau asam menghasilkan lumikrom yang berfluorsensi biru. kemudian dicuci 2 kali tiap kali dengan 5 mL aseton. Berdasarkan pada sifat-sifat di atas pada waktu penetapan kadar.2% (b/v). akan tetapi tahan terhadap panas. . dan asam.2 Analisis Vitamin B2 2. Metode spektrofluorometri Cara penetapan langsung dapat digunakan terhadap campuran yang bebas dari senyawa berwarna yang mengganggu atau senyawa pengganggu lain yang mengandung riboflavin lebih besar dari 0.2 Analisis kuantitatif Ribofavin (Vitamin B2) A.1 Analisis kualitatif Ribofavin (Vitamin B2) Vitamin B2 disebut juga riboflavin karena strukturnya mirip dengan gula ribose dan juga karena ada hubungan dengan kelompok flavin.9 mg tiamin hidroklorida.

5 x B. dibuat dengan mengencerkan 10. Larutan sampel : Sejumlah serbuk yang ditimbang seksama dan setara dengan lebih kurang 2. Larutan ditambah air secukupnya hingga 250 mL dan dicampur baik-baik. Pengukuran harus dilakukan secepat mungkin karena riboflavin terurai oleh sinar ultraviolet.0 mL larutan riboflavin baku persediaan I dengan asam asetat 0. Kadar dalam mg riboflavin dihitung dengan menggunakan rumus: 2. Larutan riboflavin baku persediaan I. Larutan riboflavin baku. Lalu dipanaskan di atas penangas air sambil sering dikocok hingga riboflavin larut lalu didinginkan hingga suhu 20ºC. . dibuat dengan cara menambah 10. Metode spektrometri Larutan riboflavin dalam pH 4.5 mg riboflavin dimasukkan ke dalam labu 250 mL lalu ditambah 1 mL asam asetat 32.0 menunjukkan absorbs maksimum (λ maks) pada 444 nm.02 N secukupnya hingga 100 mL. Cara ini digunakan untuk menetapkan kemurnian riboflavin atau untuk penetapan riboflavin dilakukan dengan cara terlindung dari cahaya.5% dan air secukupnya hingga 200 mL. dibuat dengan melarutkan 50 mg riboflavin yang telah dikeringkan pada suhu 105 ºC selama 2 jam dalam asetat 0.0 mL larutan riboflavin baku persediaan II dengan air secukupnya hingga 100 mL.Cara penetapan langsung dapat digunakan terhadap campuran yang tidak mengandung senyawa berfluorosensi atau senyawa berwarna yang larut dalam air atau dalam asam encer. Larutan riboflavin baku persediaan II.02 N secukupnya hingga 500 mL.

0 mL larutan ditambah 3. . Kadar vitamin B6 jumlah dalam larutan buffer ph 6.Prosedur penetapan kadar riboflavin tunggal secara spektrofotometri: Sekitar 100 mg riboflavin yang ditimbang seksama dilarutkan dengan pemanasan dalam campuran 2 mL asam asetat glacial dan 150 mL air. larutan diukur absorbansinya menggunakan kuvet dengan ketebalan 1 cm pada panjang gelombang maksimum (291 nm) 2.6-diklorop-benzokuin-4-kloromina dengan menghasilkan warna biru yang dapat disari dengan pelarut organik. Larutan selanjutnya diencerkan dengan air.1 N sambil diaduk.4 Analisis Vitamin B6 2.1 Metode spektrofotometri Pada daerah ultraviolet.5 mL natrium asetat 0. Prosedur penetapan dalam tablet tunggal secara spektrofotometri: Sebanyak 20 tablet ditimbang dan diserbuk. piridoksin. 2. piridokamin dan piridoksal menunjukkan daerah penyerapan yang karakteristik walaupun tidak ada maksimum untukketiganya. pada 10.4. didinginkan.2 Metode kolorimetri Metode ini didasarkan pada reaksi fenol dengan 2. kadarnya dihitung dengan menggunakan riboflavin baku sebagai pembanding.75 dapat diterapkan pada panjang gelombag 325 nm.1 M kemudian ditambah air secukupnya hingga 100 mL. piridoksin dan piridoksamin menunjukkan absorbansi maksimum. Larutan diencerkan dengan asam klorida secukupnya hingga 100 mL. ditambah air secukupnya hingga 1000 mL.4. Pada panjang gelombang ini. Pada sejumlah serbuk yang ditimbang seksama yang setara dengan lebih kurang 25 mg piridoksin hidroklorida ditambah 50 mL asam klorida 0. Reaksi ini merupakan reaksi umum untuk senyawa fenol berkedudukan para terhadap gugus hidroksil fenol tidak tersubsitusi.

Metode penetapan kadar vitamin (sianokobalamin) 2. Kristal vitamin B12 cepat menyerab lembab udara. dilarutkan dalam 40 mL asam asetat glacial lalu dititrasi dengan asam perklorat 0. Bila sianokobalamin dihidrolisis dengan asam maka akan menghasilkan 5.1 N setara dengan 20.4.56 mg piridoksin hidroklorida.6dimetilbenzimdazol.5 Analisis Vitamin B12 (sianokobalamin) Sianokobalamin.1 N menggunakan indicator 3 tetes Kristal violet samapai biru hijau. . merupakan senyawa kompleks dengan kordinat kobalt berberat molekul 1355. 361 nm dan 550 ±2 nm. Metode yang lebih peka ialah dengan melakukan penetapan pada panjang gelombang 361 nm.3 Metode titrasi bebas air Lebih kurang 300 mg piridoksin hidroklorida yang ditimbang seksama.2. tetapi metode ini hanya dapat digunakan terhadap sianokobalamin yang bebas senyawa pengganggu. Gugus ini dapat diganti dengan berbagai ion untuk menghasilkan senyawa baru seperti klorokobalamin dan hidroksokobalamin. 2.1 Metode spektrofotometri B12 Sianokobalamin dalam air menunjukkan absorbansi maksimun (λ maks) pada 278 ± 1nm. C63H88O14N14Pco.5.4 Metode kromatografi Kromatofrafi cair kinerja tinggi (KCKT) dengan detector fluorometri telah digunakan secara luas untuk analisis kuantitatif vitamin B6 dalam ayam dan bahan makanan lainnya. Metode yang paling sederhana adalah dengan menetapkan pada 550 nm. Tiam mL asam perklorat 0.4. Metode spektrofotometri tidak spesifik untuk sianokobalamina karena senyawa bewarna merah dan pseudosiokobalamin menunjukkan spektra absorbansi yang serupa.4. Sianokobalamin bersifat netral dan mengandung gugus sian. 2.

Elusi gradien dimulai dengan asetonitril: larutan amonium fosfat pH 3. Sianokobalamin diekstraksi dari sampel dengan mencampur 25 mL susu dengan 2-4 mL HCL 0. Harga E1cm1% pada 361 nm adalah 207 2. Sianokobalamain dengan asetonitril: iar(1:1 v/v) dan dipisahkan dengan kolom oktil silika. pH filtrat diatur 5. kemudian ditambahkan 2 tetes NaOH 10% dan 2 mL larutan FeSO4 5%.1 M pH 4. Konsentrasi vitamin B12 selanjutnya dengan metode radioassay. III. Campuran dipanaskan pada suhu 1200C selama 10 menit dan selanjtnya disaring.5 dengan natrium hidroksida 0. Kemudian dicampurkan hingga . dilarutkan dalam akuades secukupnya dan diencerkan hingga 50.0 (5:95) lalu konsentrasi asetonitril ditingkatkan samapi 30% selama 16 menit. Sianokobalamin selanjutnya dipekatkan pada cartridge oktadesil silan yang telah dikondisikan dengan 2 mL asetonitril dan dicuci dengan 6 mL akuades.Prosedur penetapan kadar sianokobalamin secara spekrofotometri: Lebih kurang 2 mg sianokobalamin yang ditimbang saksama.6. B2.1 M dan diencerkan dengan akuades sampai 50mL. Berbagai macam isomer vitamin B12 (sianokobalamin) yang ada dalam berbagai macam susu juga telah dipisahkan dengan menggunakan metode KCKT fase terbalik.1 Analisis kualitatif Vitamin C Langkah awal yang dilakukan adalah dengan memasukkan sampel ke dalam tabung reaksi sebanyak 2 mL.5.0 mL. Larutan diukur absorbansinya dengan kuvet 1 cm pada panjang gelombang 361 nm. dan campuran-campurannya dalam bebagai macam bahan makanan.2 Metode kromatografi Metode KCKT telah sukses digunakan untuk pemisahan dan analisis kuantitatif vitamin B1. Analisis Vitamin C 3. Filtrat selanjutnya dilewatkan melalui cartridge dan selanjutnya cartridge dicuci dengan 12 mL air.

2 Metode 2.1 N) dapat digunakan terhadap asam askorbat murni atau larutannya. Pada titik akhir titrasi. pengganggu adalah: 1.6-diklorofenolindofenol (DCIP) ini berdasarkan atas sifat mereduksi asam askorbat terhadap zat warna 2. Larutan dititrasi dengan iodium 0. Senyawa pengganggu tersebut riboflavin dll. Larutan pengekstraksi Larutan asam metafosfta-asam asetat dibuat dengan melarutkan 15 g asam metafosfat dalam 40 mL asam asetat .1 Metode iodimetri Dasar dari metode ini adalah sifat mereduksi asam askorbat. Uji positif timbul warna kuning.2.2. Metode iodometri (titrasi langsung dengan larutan baku 0. kelebihab zat warna yang tidak tereduksi akan berwarna merah muda dalam larutan asam. Metode ini tidak spesifik karena beberapa senyawa mereduksi lainnya dapat mengganggu penetapan.6-diklorofenolindofenol (DCIP) Metode 2. Jumlah senyawa mereduksi yang masih ada ditetapkan Bahan yang digunakan untuk metode ini adalah: a.rata kemudian mengamati perubahan yang terjadi. 3.6-diklorofenolindofenol membentuk larutan yang tidak berwarna. Prosedur penetapan kadar vitamin C secara iodometri: Sekitar 400 mg asam askorbat yang ditimbang seksama dilarutkan dalam campuran yang terdiri atas 100 mL air bebas oksigen dan 25 mL asam sulfat encer. 3.1 N menggunakan indikator kanji sampai terbentuk warna biru.2 Analisis kuantitatif vitamin C 3. Asam askorbat diubah menjadi asam dehidroaskorbat 2. tiosulfat. Cara untuk menghilangkan pengaruh senyawa adalah senyawa sulfhidril.

b.tablet. Penyiapan larutan sampel d. Prosedur penetapan kadar vitamin C dalam minuman menggunakan metode ini: a. melarutkannya dan mengencerkannya sampai batas tanda dengan larutan asam metafosfat-asam asetat. Perhitungan Mg asam askorbat/g.02 N dengan penghangatan. d.04% dibuat dengan menggunakan 100 mg biru timol dengan 10. Pembakuan larutan baku DCIP dengan larutan baku vitamin C b. Larutan baku diklorofenol-indofenol (DCIP) Dibuat dengan melarutkan 50 mg garam Na 2. Penetapan kadar e.dan 200 mL aquades dengan penggojogan lalu diencerkan sampai 500 mL. Indikator pH timol biru 0. Larutan baku asam askorbat Dibuat dengan menimbang seksama 50 mg asam askorbat baku yang telah disimpan dalam desikator dan dihindarkan dari pengaruh cahaya lalu memindahkannya ke labu takar 50 mL.75 mL NaOH 0.6- diklorofenolindofenol (DCIP) yang telah disimpan dalam desikator dalam 50 mL air yang telah ditambah 42 mg natrium bikarbonat. lalu digojog kuat. Uji pendahuluan adanya senyawa basa dalam jumlah cukup besar c. c.mL= (X-B) x x X = volume rata-rata DCIP untuk titrasi sampel B = volume rata-rata DCIP untuk titrasi blanko F = kesetaraan mg asam askorbat/mL DCIP E : jumlah g sampel V : volume larutan uji awal yang diambil Y : volume aliquot .

metode ini telah sukses digunakan untuk menetapkan kadar vitamin C dalam tablet suplemen vitamin. Lapisan air dan cairan hasil cucian dengan air diencerkan dengan air hingga 200 mL.6 x 10-8. Lapisan organic dicuci tiga kali dengan 15 mL natrium hidroksida 10%.01 N memiliki panjang gelombang maksimal 245 nm.0 x 10-6 .6 Metode kromatografi Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) telah dikembangkan untuk penentuan asam askorbat dalam minimum ringan dan jus apel menggunakan tris 2.2.2.2% diaduk hingga warna jingga hilang lalu ditambah 75 mL n-butil alcohol dan dicampur. batas deteksi metode ini 2.0 x 10-8 sampai 3. Asam askorbat dalam asam sulfat 0.3.5-2mg asam askorbat 0.3 Metode kolorimetri 4-metoksi-2-nitroanilin Sebanyak 2 mL pereaksi 4-metoksi-2-nitroanilin ditambah 2 mL natrium nitrit 0. 3. Selanjutnya larutan ditambah 25 mL natrium hidroksida 10% dan 150 mL dietil eter.5 x 10-7 m. absorbansi larutan diukur terhadap blangko pada 570 nm.2-bipiridin ruthenium II.5% dan dipindahkan ke dalam corong pemisah.2. 3.2. Panjang gelombang maksimum ini akan bergeser oleh adanya asam mineral. 3. Larutan ini selanjutnya ditambah 0.4 Metode spektrofotometri Asam askorbat dalam larutan air netral menunjukkan absorbansi maksimum pada 264 nm.0 x 10-7 sampai 6.5 Metode spektrofluorometri Metode ini digunakan untuk analisis kuantitatif vitamin C yang linier pada kisaran konsentrasi asam askorbat 9. Suatu hubungan linier diperoleh antara penurunan intensitas fluoroensi MB dan konsentrasi AA pada kisaran 3. Sampel disaring dan diencerkan sebelum dilakukan analisis .

Analisa Folat 4.dengan KCKT dan tidak ada pra-perlakuan lain yang dilakukan.1 M pH 6. Karena metode ini sensitive dan selektif maka metode ini diusulkan untuk digunakan dalam analisis kuantitatif asam askorbat dalam minuman ringan dan jus apel. Pemisajhan asam askorbat menggunakan kolom oktadesil silan (ODS. berikut hal yang dilakukan untuk melakukan analisa kuantitatif folat :  Sampel disiapkan kemudian ditambahkan natrium askorbat 1%. Dari sini dapat diketahui bahwa metode ini relative sederhana dengan batas deteksi asam askorbat 10pmol dan kurva kalibrasinya linier pada kisaran 0.5%   Kemudian diinkubasi pada suhu 37 selama 1 jam di tempat gelap pada air mendidih selama 15 menit dan Sampel disentrifuse.3 mL/menit. C18) menggunakan fase gerak larutan buffer NaH2PO4K2HPO4 (pH 6.0 yang mengandung natrium askorbat 0. Asam askorbat yang terelusi dicampur dengan (Ru(bpy)32+ 0. IV.1 Uji kuantitatif folat Uji kuantitatif pada folat dapat dilakukan dengan menggunakan metode KCKT. lalu memanaskannya mendinginkannya  Sebanyak 3 mL supernatant dicampur dengan konjugase yang berasal dari plasma manusia dan buffer fosfat 0.5 mM dan diosidasi pada 1. Aliran fase gerak 0.06 – 80 nmol.5). lalu dilewatkan dalam kolom penukar ion yang kuat yang telah dikondisikan dengan 1 volume yang terdiri atas methanol dan air .5 V (dengan elektroda Ag/AgCl).

Prosedur penetapan kadar niasinamid dengan metode spektrofotometri : 1. maka digojog supaya terdispersi dan dipanaskan selama 15 menit di penangas air mendidih)  Dilakukan pengenceran hingga diperoleh kadar kuran lebih dengan KH2PO4 0.0 mm i.3  Folat dideteksi berdasaarkan flourensinya menggunakan panjang gelombang eksitasi 310 nm dan emisi 352 nm V. lalu dimasukkan dalam erlenmeyer. Penyiapan sampel   Gerus sampai halus 5 tablet atau sejumlah volume tertentu sampel Sampel ditimbang. Larutan disaring bila diperlukan. kemudian folat dipindahkan dengan 1 mL larutan natrium klorida 10% yang mengandung natrium askorbat 1%  Folat dipisahkan dengan kolom pengaman 30 x 4. 2.3%. ukuran partikel 5 mikron)  Kolom dijaga suhunya pada 27 . Analisa Niasinamid 5. Kolom selanjutnya dicuci dengan 2 volume kolom yang terdiri atas air. Cara penetapan 5µg/mL . ditambah larutan KH2PO4 0.1 Uji kuantitatif niasinamid Uji kuantitatif pada niasinamid dilakukan dengan metode spektrofotometri.3% sejumlah 2 x mg niasinamid yang diperkirakan (jika sampel tidak mudah larut. denagn eluennya asetonitril 8% dalam asam aseta pH 2.d dan dilanjutkan dengan kolom analitik (keduanya berisi oktadesil silan.

Cartridge SPE dikondisiksn dengan mengalirinya menggunakan 10 mL methanol dan 10 mL air yang diatur pH nya 4.0 mL larutan uji dimasukkan dalam tabung.    Disiapkan secara terpisah sampel blanko untuk tiap sampel dengan mengganti CNBr dengan aquades Sebanyak 1. .2 untuk mengaktifkan fasa diamnya. 3. Perhitungan  Kadar niasinamid dalam sampel (mg) : A = Absorbansi larutan sampel A’ = Absorbansi larutan baku kerja 5 = µg niasinamid/mL larutan baku uji Kadar niasinamid dilaporkan dalam mg niasinamid/ tablet. dan absorbansinya dibaca pada gelombang 550 nm. kapsul atau mL cairan.5 mLlarutan CNBr. berikut langkah kerja yang dilakukan melalui metode KCKT :  Sebanyak 5 gram sampel ditambah dengan 20 gram air deionisasi. Metode KCKT juga digunakan untuk melakukan uji kuantitatif terhadap niasinamid. Campuran kemudian dihomogenkan dengan homogenizer pada kecepatan sedang selama 1 menit  Sampel kemudian disentrifuse selama 10 menit dengan kecepatan 14. ditambah 0. lalu dicampur dan dibiarkan selama 25 – 30 menit.000 xg. Kemudian larutan ditambah 10 mL larutan asam barbiturate dan dicampur Dibuat juga pereaksi blanko dengan mengganti CNBr dengan aquades. Sampel diperlakukan dengan SPE (solid phase extraction) untuk menghilangkan adanya gangguan dalam sampel yang mungkin akan mengganggu dalam analisis.

2) lalu dengan 10 mL etanol dengan kecepatan alir 1 mL/menit.6 mm dengan ukuran partikel 5 mikron).   Detector yang digunakan adalah UV-Vis diode array Fase gerak disaring melalui membrane 0.1 M (pH 7) methanol (90 – 10) dengan kecepatan alir fase gerak 0. larutan KH2PO4 0. kemudian asampel disaring dengan penyaring 0.7 mL/menit. Kolom dioperasikan pada suhu 25  Identifikasi sampel dengan membandingkan waktu retensi dan spectra UV dengan senyawa baku. . dan sebanyak 20 µL sampel diinjeksikan dalam kolom KCKT.45 mikron dan gas pada fase gerak dihilangkan dengan sonifikasi. Eluen dikumpulkan dalam botol. Kolom yang digunakan adalah kolom fase terbalik C18 (150 mm x 4.  Sebanyak 10 ml sampel dielusi dengan 5 mL air (pH 4.45 mikron. Fase gerak terdiri atas. lalu diuapkan hingga kering.

2 Saran Perlu dilakukan penelaahan lanjut mengenai analisis vitamin lain dengan berbagai metode berbeda .1 Simpulan Analisa kualitatif dan kuantitatif pada vitamin A. 4.B dan C menggunakan berbagai metode yang disesuaikan dengan tujuan analisis.BAB IV PENUTUP 4.

1994. Jakarta .F. Yogyakarta Winarno. Dasar-dasar Biokimia. Analisis Makanan. 2004.G. Analisa Bahan Pangan. Universitas Indonesia. Gajah Mada University Press. 2007. 1999. Erlangga.J. Doddy A. 1982. UI Press. Jakarta Poedjiadi.DAFTAR PUSTAKA Darmajana. Kamus Kimia. Kajian Analisa Kandungan Vitamin Dan Mineral Daintih. Jakarta Rohman. Abdul. Sumantri.

KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah SWT. Penulis berharap agar makalah ini dapat memberikan manfaat berupa tambahan wawasan bagi para pembaca. 2. Selain itu penulis juga mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca untuk penyempurnaan karya makalah. 3. Para pembaca yang budiman. taufik. karena tanpa adanya bantuan dari pihak-pihak tersebut penulis tidak akan dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini lebih baik. yang telah mencurahkan rahmat. Teman-teman yang telah bersedia memberikan masukan penuh manfaat yang dapat dijadikan acuan dalam menyempurnakan karya tulis ilmiah. Adapun pihak-pihak tersebut antara lain : 1. Terima kasih. dan hidayahnya sampai akhirnya penulis dapat menyelesaikan karya tulis imiah dengan judul ”Analisis Kualitatif dan Kuantitatif Vitamin A. baik dalam penulisan maupun penyampaian kalimat dalam makalah ini. Bapak Khabibi selaku dosen mata kuliah Analisa Pangan di Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Diponegoro Semarang yang telah membimbing dengan sepenuh hati demi keberhasilan penulis menyelesaikan makalah ini. . Tuhan semesta alam. Penulis memohon maaf jika terdapat kesalahan.B dan C” dengan lancar. Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam penyelesaian karya tulis ilmiah ini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful