P. 1
pemeriksaan feses

pemeriksaan feses

|Views: 40|Likes:
Published by Susianna Rismanda

More info:

Published by: Susianna Rismanda on Feb 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/31/2013

pdf

text

original

pemeriksaan feses

Selasa, 29 Maret 2011

PENDAHULUAN Definisi feses : Sisa hasil pencernaan dan absorbsi dari makanan yang kita makan, dikeluarkan lewat anus dari saluran cerna. Dalam keadaan normal dua pertiga tinja terdiri dari air dan sisa makanan, zat hasil sekresi saluran pencernaan, epitel usus, bakteri apatogen, asam lemak, urobilin, debris, celulosa gas indol, skatol,sterkobilinogen dan bahan patologis.Normal : 100 – 200 gram / hari. Frekuensi defekasi : 3x / hari – 3x / minggu. Pada keadaan patologik seperti diare didapatkan peningkatan sisa makanan dalam tinja, karena makanan melewati saluran pencernaan dengan cepat dan tidak dapat diabsorpsi secara sempurna. Bahan pemeriksaan tinja sebaiknya berasal dari defekasi spontan, jika pemeriksaan sangat diperlukan contoh tinja dapat diambil dengan jari bersarung dari rektum. Untuk pemeriksaan rutin dipakai tinja sewaktu dan sebaiknya tinja diperiksa dalam keadaan segar karena bila dibiarkan mungkin sekali unsur unsur dalam tinja menjadi rusak. Pemeriksaan tinja terdiri atas pemeriksaan makroskopik, mikroskopik dan kimia. Jenis makanan serta gerak peristaltik mempengaruhi bentuk, jumlah maupun konsistensinya. INDIKASI PEMERIKSAAN:
      Adanya diare dan konstipasi Adanya ikterus Adanya gangguan pencernaan Adanya lendir dalam tinja Kecurigaan penyakit gastrointestinal Adanya darah dalam tinja

SYARAT PENGUMPULAN FECES :
       Tempat harus bersih, kedap, bebas dari urine, diperiksa 30 – 40 menit sejak dikeluarkan. Bila pemeriksaan ditunda simpan pada almari es. Pasien dilarang menelan Barium, Bismuth, dan Minyak dalam 5 hari sebelum pemeriksaan. Diambil dari bagian yang paling mungkin memberi kelainan. Paling baik dari defekasi spontan atau Rectal Toucher  pemeriksaan tinja sewaktu Pasien konstipasi  Saline Cathartic Kasus Oxyuris  Schoth Tape & object glass Alur pemeriksaan : Pengumpulan bahan Pemeriksaan, Pengiriman dan Pengawetan bahan tinja, Pemeriksaan tinja, serta Pelaporan hasil pemeriksaan.

Jika akan memeriksa tinja, pilihlah selalu sebagian dari tinja itu yang memberi kemungkinan sebesar-besarnya untuk menemui kelainan umpamanya bagian yang tercampur darah atau lendir dan sebagainya. Oleh Karen unsure-unsur patologik biasanya tidak terdapat merata, maka hasil pemeriksaan mikroskopis tidak dapat dinilai derajat kepositifannya dengan tepat, cukup diberi tanda – (negative), +, ++ atau +++ saja.

lendir dan parasit. Butir lemak. kelainan dalam saluran pencernaan dan obat yang dimakan. Tinja yang berwarna merah muda dapat disebabkan oleh perdarahan yang segar dibagian distal. Urobilinogen. Makroskopis yang meliputi :Warna . Butir Karbohidrat. Keadaan tersebut mungkin didapat pada defisiensi enzim pankreas seperti pada steatorrhoe yang menyebabkan makanan mengandung banyak lemak yang tidak dapat dicerna dan juga setelah pemberian garam barium setelah pemeriksaan radiologik. Warna Tinja normal kuning coklat dan warna ini dapat berubah mejadi lebih tua dengan terbentuknya Urobilin lebih banyak. Lekosit. Makrofag. Pada diare konsistensi menjadi sangat lunak atau cair. Jumlah Dalam keadaan normal jumlah tinja berkisar antara 100-250gram per hari. mungkin pula oleh . Banyaknya tinja dipengaruhi jenis makanan bila banyak makan sayur jumlah tinja meningkat.PEMBAHASAN PEMERIKSAAN FECES 1. Parasit. Tinja yang berwarna hijau dapat disebabkan oleh sayuran yangmengandung khlorofil atau pada bayi yang baru lahir disebabkan oleh biliverdin dan porphyrin dalam mekonium. Telur dan larva cacing. Serat tumbuhan / otot Sel ragi. Eritrosit. Bau . Konsistensi Tinja normal mempunyai konsistensi agak lunak dan berbentuk. Konsistensi . Warna kuning dapat disebabkan karena susu. Lendir . bau. Kelabu mungkin disebabkan karena tidak ada urobilinogen dalam saluran pencernaan yang didapat pada ikterus obstruktif. darah. 4. Protozoa. PEMERIKSAAN MAKROSKOPIS Pemeriksaan makroskopik tinja meliputi pemeriksaan jumlah.jagung. Metode yang digunakan dengan penambahan larutan Cat antara lain: Lemak  Sudan III Protozoa  Eosin 1 – 2% Amylum  Lugol 1 – 2 % Lekosit  asam asetat 10 % Pemeriksaan rutin  NaCl 0. Nanah . Kristal. Bilirubin dalam feses / tinja Bakteriologis 1. Kimia : untuk mengetahui adanya Darah Samar. Urobilin. sedangkan sebaliknya tinja yang keras atau skibala didapatkan pada konstipasi. Selain urobilin warna tinja dipengaruhi oleh berbagai jenis makanan. b.9% 3. serta Makanan yang tidak tercerna 2. lemak dan obat santonin. Darah. a. Mikroskopis untuk mengetahui adanya Sel epitel. sisa makanan. warna. Peragian karbohidrat dalam usus menghasilkan tinja yang lunak dan bercampur gas c. tinja tersebut disebut akholis.

makanan seperti bit atau tomat. Leukosit Dalam keadaan normal dapat terlihat beberapa leukosit dalam seluruh sediaan. Epitel . rektum atau anus. Tinja yang berbau tengik atau asam disebabkan oleh peragian gula yang tidak dicerna seperti pada diare. kopi dan lain-lain. Enterobius vermicularis. bila konsistensi tinja cair baru didapatkan bentuk trofozoit. Lendir Dalam keadaan normal didapatkan sedikit sekali lendir dalam tinja. Anylostoma dan lain-lain yang mungkin didapatkan dalam tinja. Strongyloides stercoralis dan sebagainya c. leukosit. f. Kalau lendir itu hanya didapat di bagian luar tinja. Dari semua pemeriksaan ini yang terpenting adalah pemeriksaan terhadap protozoa dan telur cacing a. arang atau bismuth dan mungkin juga oleh melena. Pada disentri basiler. Terdapatnya lendir yang banyak berarti ada rangsangan atau radang pada dinding usus. Protozoa Biasanya didapati dalam bentuk kista. Sedangkan bila lokalisasi lebih proksimal eritrosit telah hancur. d. eritosit. Sedangkan pada perdarahan di bagian distal saluran pencernaan darah terdapat di bagian luar tinja yang berwarna merah muda yang dijumpai pada hemoroid atau karsinoma rektum f. g. ini disebut melena seperti pada tukak lambung atau varices dalam oesophagus. intususepsi dan ileokolitis bisa didapatkan lendir saja tanpa tinja. telur cacing. Reaksi tinja menjadi lindi oleh pembusukan semacam itu.coklat atau hitam. Pada disentri. d. Warna coklat mungkin disebabkan adanya perdarahan dibagian proksimal saluran pencernaan atau karena makanan seperti coklat. Parasit Diperiksa pula adanya cacing Ascaris. Trichuris trichiura. kristal dan sisa makanan. Pada perdarahan proksimal saluran pencernaan darah akan bercampur dengan tinja dan warna menjadi hitam.Eosinofil mungkin ditemukan pada bagian tinja yang berlendir pada penderita dengan alergi saluran pencenaan. Telur cacing Telur cacing yang mungkin didapat yaitu Ascaris lumbricoides. b. Reaksi tinja pada keadaan itu menjadi asam e. sel epitel. Bau busuk didapatkan jika dalam usus terjadi pembusukan protein yang tidak dicerna dan dirombak oleh kuman. PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS Pemeriksaan mikroskopik meliputi pemeriksaan protozoa. Warna coklat tua disebabkan urobilin yang berlebihan seperti pada anemia hemolitik. Bau Indol. Skatol dan Asam butirat menyebabkan bau normal pada tinja. Darah itu mungkin terdapat di bagian luar tinja atau bercampur baur dengan tinja. Darah Adanya darah dalam tinja dapat berwarna merah muda. Eritrosit Eritrosit hanya terlihat bila terdapat lesi dalam kolon. Necator americanus. lokalisasi iritasi itu mungkin terletak pada usus besar. Sedangkan bila lendir bercampur baur dengan tinja mungkin sekali iritasi terjadi pada usus halus. Sedangkan warna hitam dapat disebabkan obat yang yang mengandung besi. Adanya eritrosit dalam tinja selalu berarti abnormal. kolitis ulserosa dan peradangan didapatkan peningkatan jumlah leukosit. 2.

Sisa makanan sebagian berasal dari makanan daun-daunan dan sebagian lagi berasal dari hewan seperti serat otot. serat elastis dan lain-lain. Reaksi mungkin menjadi positif pada diare dan pada keadaan yang menghalangi perubahan • • • • • • . Tambahkan 1 ml larutan Hydrogen Peroksida 3% campur. Pemeriksaan darah samar dalam tinja dapat dilakukan dengan menggunakan tablet reagens. Tambahkan 2ml filtrat emulsi tinja kemudian campur. Masukkan benzidine basa 1 g. Jumlah sel epitel bertambah banyak kalau ada perangsangan atau peradangan dinding usus bagian distal g. Pemeriksaan bilirubin akan beraksi negatif pada tinja normal. Kristal Tripel Fosfat dan Kalsium Oksalat didapatkan setelah memakan bayam atau strawberi. Sebagai kelainan mungkin dijumpai kristal Charcoat Leyden Tinja Lugol Butir-butir amilum dan kristal hematoidin. Saring emulsi dan biarkan filtrat smpai dingin kembali. pisang dan preparat besi seperti Ferrofumarat dan Ferro Carbonat dapat menimbulkan reaksi positif palsu dengan tablet reagens. Menurut kepustakaan. kalsium oksalat dan asam lemak. Sisa makanan Hampir selalu dapat ditemukan juga pada keadaan normal. tetapi dalam keadaan tertentu jumlahnya meningkat dan hal ini dihubungkan dengan keadaan abnormal. karena bilirubin dalam usus akan berubah menjadi urobilinogen dan kemudian oleh udara akan teroksidasi menjadi urobilin. sedangkan kristal asam lemak didapatkan setelah banyak makan lemak. kemudian hasil dibaca dalam waktu 5 menit . Larutan jenuh Sudan III atau IV dipakai untuk menunjukkan adanya lemak netral seperti pada steatorrhoe. Pemeriksaan kimia tinja yang terpenting adalah pemeriksaan terhadap darah samar. Kristal Charcoat Leyden didapat pada ulkus saluran pencernaan seperti yang disebabkan amubiasis. Untuk identifikasi lebih lanjut emulsi tinja dicampur dengan larutan lugol untuk menunjukkan adanya amilum yang tidak sempurna dicerna. Dalam tinja normal mungkin terlihat kristal tripel fosfat. Kristal Kristal dalam tinja tidak banyak artinya. On akan mengoksidasi zat warna tertentu yang menimbulkan perubahan warna CARA KERJA (Metode Benzidine Basa) Buat emulsi tinja dengan air atau dengan larutan garam kurang lebih 10 ml kemudian panaskan hingga mendidih. PEMERIKSAAN KIMIA TINJA.kocok hingga larut. 3. Tablet Reagens banyak dipengaruhi beberapa faktor terutama pengaruh makanan yang mempunyai aktifitas sebagai peroksidase sering menimbulkan reaksi positif palsu seperti daging. Adanya darah dalam tinja selalu abnormal. Tambah 3 ml asam asetat . ikan sarden dan lain lain. Maka dianjurkan untuk menghindari makanan tersebut diatas selama 3-4 hari sebelum dilakukan pemeriksaan darah samar.Tes terhadap darah samar untuk mengetahui adanya perdarahan kecil yang tidak dapat dinyatakan secara makroskopik atau mikroskopik.Dalam keadaan normal dapat ditemukan beberapa sel epitel yaitu yang berasal dari dinding usus bagian distal. Sel epitel yang berasal dari bagian proksimal jarang terlihat karena sel ini biasanya telah rusak. Prinsip pemeriksaan ini hemoglobin yang bersifat sebagai peroksidase akan menceraikan hidrogen peroksida menjadi air dan 0 nascens (On). Pada perdarahan saluran pencernaan mungkin didapatkan kristal hematoidin h. Sisa makanan ini akan meningkat jumlahnya pada sindroma malabsorpsi.

Jumlah urobilin berkurang pada ikterus obstruktif. Test terhadap urobilin ini sangat inferiur jika dibandingkan dengan penetepan kuantitatif urobilinogen dalam tinja. . Adanya Urobilin nyata oleh timbul warna merah. jika obstruksif itu total. . 3. Taruh beberapa gram tinja dalam sebuah mortil dan campur dan larutkan HgCl2 10% yang volumenya sama banyaknya. karena dapat menjelaskan dengan angka mutlak jumlah Urobilinogen yang diekskresilkan per 24 jam sehingga bermaknadalam keadaan seperti Anemia Hemolitik dan Ikterus Obstruktif. karena itu jarang dilakukan di laboratorium. Penetapan kuantitatif urobilinogen dalam tinja memberikan hasil yang lebih baik jika dibandingkan terhadap tes urobilin. Cara kerja pemeriksaan Urobilin : 1. dan ikterus hepatoseluler. Bila masih diinginkan penilaian ekskresi urobilin dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan urobilin urin. Jumlah urobilin akan berkurang pada ikterus obstruktif. Tetapi pelaksanaan untuk tes tersebut sangat rumit dan sulit. 2. Tuanglah bahan itu ke dalam cawan datar agar lebih mudah menguap dan biarkan selama 6-24 jam. 4. Campurlah baik-baik dengan memakai alunya.bilirubin menjadi urobilinogen. mungkin memusnakan flora usus yang menyelenggarakan perubahan tadi. tinja berwarna kelabu disebut akholik. hasil test ini yang merah berarti positif. hasil test menjadi berarti negatif. Dalam tinja normal selalu ada urobilin. jika obstruktif total hasil tes menjadi negatif.Catatan : Dalam tinja normal selalu ada urobilin. seperti pengobatan jangka panjang dengan antibiotik yang diberikan peroral. Penetapan kuantitatif itu dapat mnejelaskan dengan angka mutlak jumlah urobilinogen yang diekskresikan/24jam sehingga bermakna dalam keadaan seperti anemia hemolitik. ikterus obstruktif.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->